Bagian 1

Cuaca cerah menjelang senja. Liok Siau-hong berjalan di tanah pasir berwarna kuning, memperhatikan noda darah mengering yang bercampur tanah berpasir itu. Dengan kedua jarinya ia mencongkel tanah bernoda darah itu, jarinya yang terkenal, jari yang telah mematahkan berpuluh senjata lawan. Ia yakin darah yang mengering bercampur pasir itu adalah darah sahabatnya.

Terakhir kali Liok Siau-hong minum arak bersama It-kiam-seng-hong (pedang sakti menunggang angin) Liu Ji-kong terjadi tujuh bulan berselang. Saat Ji-kong hampir mabuk, ia masih sempat menuang dua cawan besar arak, memaksa Siau-hong menghabiskannya.

"Hari ini harus minum sampai mabuk, bisa jadi selanjutnya kita takkan bertemu lagi, bahkan untuk selamanya," kata Ji-kong.

"Kenapa?" tanya Siau-hong heran.

"Karena besok pagi aku harus pergi, pergi ke suatu tempat dimana bunga tak harum, burung tak berkicau, ayam tak berkeliaran, anjing tak berlarian dan kelinci pun tak bisa buang air."

"Untuk apa ke sana?"

Ji-kong tertawa, lalu katanya, "Kau kan tahu apa pekerjaanku, sudah seharusnya kau tahu untuk apa aku ke sana."

Liu Ji-kong adalah murid angkatan pertama Pa-san-pay, walau dirinya bukan tokoh nomor satu dalam dunia persilatan, namun termasuk juga dalam lima besar. Ilmu andalannya adalah Hwe-hong-wu-liu-kiam dan ilmu meringankan tubuh yang andal. Ilmu pedangnya terdiri dari 7x7 = 49 jurus. Walau kedua ilmu andalannya dibuat kagum baik kawan maupun lawan, namun yang utama adalah wataknya, la seorang yang lemah lembut, namun bisa juga keras bagai baja. la pandai mengendalikan diri, cara berpikirnya cerdik.

Liok Siau-hong tahu, orang macam apakah dirinya.

Kata Siau-hong pula, "Pekerjaan yang akan kau lakukan tentu sangat berbahaya."

Ji-kong tidak menjawab, diam artinya mengiakan.

"Bolehkah aku tahu?" lanjut Siau-hong.

Ji-kong tetap bungkam. la tak ingin Liok Siau-hong tahu apa yang akan dilakukannya, tak ingin rahasianya diketahui siapa pun. Walau terhadap sahabatnya macam Liok Siau-hong, ia tak ingin mengatakannya.

Tanya Siau-hong pula, "Tempat macam apakah hingga kelinci buang air pun tak bisa?"

Ji-kong termangu-mangu, sampai lama baru katanya, "'Walau kukatakan pun belum tentu kau tahu. Tempat itu hanyalah sebuah kota kecil di perbatasan, perbatasan sebelah barat laut. Kota kecil Ui-sik (batu kuning)."

Setelah perpisahan itu, Liu Ji-kong seakan lenyap, tak pernah muncul kembali. Tiada seorang pun tahu ia berada dimana, kecuali Liok Siau-hong. Karena hanya Siau-hong lah orang yang bisa diajak merundingkan sesuatu, memecahkan segala kesulitan. Namun begitu, Siau-hong tetap saja tidak tahu apa yang akan ia lakukan di kota kecil terpencil itu. Siau-hong pun tak tahu sebab apa tiba-tiba saja Ji-kong lenyap begitu saja.

Bukan rahasia lagi, Liok Siau-hong suka mencampuri urusan orang lain, ia juga sangat setia kawan. Begitu tahu Lui Ji-kong lenyap tanpa bekas, ia pun berangkat menuju kota kecil itu, Ui-sik.

Dataran tinggi dengan tanah berwarna kuning. Angin bertiup kencang membawa pasir. Sejauh mata memandang, hanya gundukan pasir kuning yang tertampak. Di situlah kota Ui-sik.

Konon di suatu tempat tak jauh dari kota ini tersimpan harta karun yang tak ternilai harganya, harta karun berupa batangan emas. Tak ada yang tahu berapa banyak harta yang terpendam di situ. Namun tiada yang pernah menemukan harta terpendam itu, melihat pun tiada, yang terlihat hanyalah hamparan pasir kuning yang beterbangan terbawa angin gurun.

Emas memang selalu didambakan setiap orang, namun hamparan pasir kuning yang tidak bertepian adalah momok yang ditakuti semua orang. Mereka yang mencari harta karun itu telah pergi, pergi bersama impian harta karun emas itu. Suasana kota kecil itupun lambat-laun sepi kembali, menjadi kota terbengkalai, jarang ada orang yang mau berkunjung ke kota itu lagi.

Penduduk yang tinggal di kota kecil ini hanyalah mereka yang siap mati di tempat itu, rumah lain mereka tak punya, kemana lagi mereka akan tinggal? Mereka senang bila ada orang berkunjung ke kota ini, namun ketika Siau-hong tiba di sana, mereka hanya memandangnya dengan dingin, tiada orang yang menyambut kedatangannya.

Saat Siau-hong masuk ke kota ini, yang terlihat hanyalah jalanan sepi, hanya terlihat seorang pengemis rudin. Pengemis rudin dengan perawakan kecil, tidak lebih tinggi dari seorang bocah tanggung, pakaian yang dikenakannya pun sudah penuh sobekan. la duduk dengan kemalas-malasan di bawah emper sebuah rumah di sudut jalan. Ia duduk melingkar bagai ulat bulu, mirip anak kura-kura yang sedang menyembunyikan kepala di dalam tempurungnya.

Ia kelihatan sungguh rudin, teman tak punya, sanak pun tiada, apapun ia tak punya. Ia kelihatan ketakutan, duduk melingkar di situ, melingkar bagai seonggok daging, seolah menghindari kemiskinan, kelaparan, hinaan dan pukulan batin yang sedang ia alami. Ia hanyalah seorang bocah, apa yang dialaminya tak mungkin bisa dihindari, walau sepanjang hari duduk meringkuk di sana.

Ketika melihat Liok Siau-hong datang, tiba-tiba matanya berbinar, memancarkan sinar terang. Sepasang mata yang besar dan indah. Waktu memandang Siau-hong, sikapnya segera berubah, seperti seekor anjing kelaparan yang melihat seonggok tahi atau mirip bangsat yang melihat sebutir kedelai.

Liok Siau-hong bukan seonggok tahi, juga bukan sebutir kedelai. Siau-hong tetap berjalan mendekati pengemis rudin itu, ada sesuatu yang ingin ditanyakan kepadanya.

Bila seorang pergi ke suatu tempat asing dan berencana tinggal beberapa hari di sana, tentu yang pertama kali dicari adalah rumah penginapan dan tempat untuk mengisi perut.

"Penginapan?" tanya pengemis rudin itu tertawa terpingkal-pingkal hingga ingusnya meleleh, "kau mencari rumah penginapan? Tempat ini sedemikian miskinnya, kelinci pun tak bisa buang air di sini, lalat dan tikus pun mati kelaparan, mana ada rumah penginapan di sini."

"Satu pun tak ada?"

"Sebuah? Setengah saja tidak ada."

"Lalu kalau ada yang kemalaman di sini, mereka menginap dimana?"

"Tidak kemana-mana," sahut pengemis itu, "memang tidak ada orang yang mau ke sini, mereka lebih suka memutar puluhan li daripada lewat jalanan ini."

Cukup lama Siau-hong mengawasi pengemis cilik dekil ini, kemudian tanyanya, "Begitu miskinnya kota ini?"

Pengemis cilik itu menghela napas panjang, sahutnya, "Bukan cuma miskin, bahkan saking miskinnya semua orang hampir mampus. Aku pun sudah hampir mampus, orang lain walau belum mampus, tapi sudah setengah mampus."

"Tapi kau kan belum mampus."

"Karena aku punya sedikit kemampuan."

"Kemampuan apa?"

"Ingat, aku seorang pengemis, dalam keadaan seperti apapun aku bisa bertahan hidup."

Siau-hong tertawa, lalu katanya, "Tadi kau katakan, semua orang di sini hampir mampus, mana ada yang mau bersedekah kepadamu?"

Pengemis cilik ikut tertawa. "Toaya," ujarnya, "kau adalah tuan besar, mana tahu urusan pengemis cilik macamku ini."

"Oya?"

"Pengemis cilik hidup di tempat seperti ini, orang pun ingin menyembelih aku untuk dijadikan bakso, nyatanya aku masih bisa hidup sampai sekarang, tentunya karena aku memiliki pekerjaan sambilan."

"Pekerjaan sambilan? Apa?"

"Untuk melakukan pekerjaan sambilan itu, orang mesti punya kemampuan, kecerdasan dan pengetahuan yang hebat," kata pengemis cilik sambil membusungkan dada, lalu ia duduk dengan tegak. "Dalam hal ini, akulah ahlinya."

Makin lama Siau-hong makin tertarik.

Kembali kata pengemis cilik itu, "Dari sekian banyak pekerjaan sambilanku, ternyata yang benar-benar bisa menghasilkan uang cuma ada dua macam saja."

"Apa itu?"

"Pertama, jika berjumpa orang yang baru datang ke kota ini macam dirimu, kalau tidak untung ya buntung, walau bisa mendapat uang pun tak ada gunanya," katanya sambil menuding Siau-hong.

"Luar biasa," kata Siau-hong sambil tertawa getir, "sungguh aku kagum kepadamu."

Setelah berhenti sejenak, ia pun kembali bertanya, "Kalau tak ada orang datang, cara bagaimana kau mengatasi hidup?"

"Terpaksa aku menggantungkan pada cara kedua, yaitu mencuri. Begitu melihat uang langsung kucuri, caraku mencuri pun tak pandang bulu, milik siapa pun dan berapa pun jumlahnya akan kucuri ludes."

Rupanya dengan cara seperti itu si pengemis cilik mengatasi hidup.

Siau-hong terperangah, namun apa yang bisa ia perbuat, saat itu justru terlintas rasa sedih dan duka dalam hatinya. Bukankah di dunia ini masih banyak orang yang kelakuannya mirip si pengemis kecil ini, tak tahu malu!

Ui-sik memang kota kecil yang miskin. Meski Siau-hong sudah terbiasa berkelana ke segenap penjuru, namuh belum pernah dijumpainya kota yang lebih miskin, gersang dan mengenaskan daripada kota ini.

Ia tak habis mengerti, untuk apa Liu Ji-kong datang ke kota seperti ini? Kenapa pula ia harus mendatangi kota yang tak bernilai ini, bahkan dengan mempertaruhkan nyawanya? Kota kecil yang miskin.

Pendekar pedang tersohor.

Mestinya kedua hal itu tiada hubungan sama sekali, nyatanya Liu Ji-kong justru mempunyai hubungan erat dengan tempat ini. Liu Ji-kong justru lenyap di kota ini, lenyap menguap tanpa bekas.

Liok Siau-hong datang ke kota ini untuk menyelidiki, menyelidiki hubungan yang terjalin antara kota kecil ini dengan sahabatnya.

Sampai saat ini, yang dijumpainya hanyalah seorang pengemis rudin, pengemis dekil yang membuat iba bagi yang melihat, tapi juga menyenangkan.

Sudah banyak tempat yang didatangi Liok Siau-hong, pulau terpencil, kota besar maupun dusun terpencil pun pernah ia singgahi. Dimana pun ia singgah, paling tidak pasti ada toko kelontong. Sekalipun di sana tidak ada rumah penginapan, tempat plesiran, toko kain, penjual kuda ataupun toko penjual makanan. Toko kelontong yang menjual segala kebutuhan pokok penduduk setempat.

Selama hidup, Siau-hong pernah juga menjumpai beberapa toko kelontong aneh, hanya menjual kebutuhan khusus bagi orang-orang tertentu. Di sini pun, di kota kecil ini, Siau-hong menjumpai sebuah toko kelontong yang aneh pula. Toko kelontong dengan merek "Toa-yan" (mata besar).

Papan yang menjadi merek toko itu sudah kusam, kusam karena debu pasir yang bercampur dengan asap minyak yang menempel hingga mirip batu nisan sebuah kuburan. Pada papan kusam itu terukir gambar sebuah mata yang besar, lambang toko kelontong itu.

Si pengemis cilik itupun membawa Siau-hong ke sana.

"Mata besar, toko kelontong si Mata besar," gumam Siau-hong sambil menggeleng kepala, aneh benar nama toko ini."

"Sedikitpun tidak aneh," sahut si pengemis cilik, "pemilik toko kelontong ini bernama Ong Toa-yan (Ong si Mata besar), maka orang menyebut tokonya begitu."

Walau sudah mendengar penjelasan si pengemis cilik, Siau-hong masih terheran-heran, seakan tidak paham. Memang aneh nama itu, sebelum orang melihat sendiri pemilik toko kelontong itu, orang takkan percaya.

Orang seperti Ong Toa-yan memang jarang bisa dijumpai. Setiap menjelang senja, toko kelontong Ong Toa-yan selalu ramai, banyak orang membeli kebutuhan sehari-hari, arak pun tersedia.

Di depan toko, disediakan tempat untuk berteduh yang terbuat dari ilalang, tiga buah meja besar dengan delapan bangku panjang. Di situlah biasanya orang duduk santai sambil menikmati bebek panggang, berbincang-bincang sambil menenggak arak. Kehidupan berat dengan begitu bisa dilewatkan dengan riang. Tempat inilah satu-satunya tempat untuk bersantai di kota kecil ini.

Ong Toa-yan tampil sebagai tuan rumah yang baik, ramah dan rajin, dengan senyum lebar ia berputar di antara para tetamunya. Mereka yang datang adalah langganan lama, bahkan adalah para sahabatnya. Orang yang melihatnya untuk pertama kali, pasti akan dibuat terperanjat. Perawakan Ong Toa-yan memang tinggi besar dan gemuk, tapi bongkok. Mata sebelah kiri tidak berbeda dengan mata pada umumnya, namun mata sebelah kanan justru amat mengerikan, biji mata melotot sebesar telur ayam, seakan ingin melompat dari kelopak matanya.

Di lain kesempatan, ada orang bertanya kepada Siau-hong, "Apa kesanmu ketika pertama kali melihat dia?"

"Memang tampangnya jelek sekali, tapi bila sudah mengobrol, bagaimanapun jelek mukanya, segera akan kau lupakan," demikian pendapat Siau-hong.

"Tak heran ia bisa mempersunting seorang bini yang binal, begitu menggiurkan, setiap lelaki normal pasti ingin mengajaknya naik ranjang begitu melihatnya."

Di belakang toko terdapat rumah kecil terbuat dari kayu, sebelumnya dipakai untuk gudang kayu bakar, sekarang dipakai untuk kamar tidur. Kamar dengan ranjang kayu, sprei yang tidak berwarna putih lagi tertata cukup rapi. Di sudut ranjang ditempel sehelai kertas, di atasnya tertulis:

"Disewakan, seorang 50 tahil semalam. Satu bulan selaksa. Dua orang 80 tahil semalam".

Pinggul Laopan Nio bergoyang tiada hentinya, membawa Liok Siau-hong ke situ, sepasang matanya 'merem-melek' mengawasi lelaki itu sambil tersenyum menggoda.

"Kongcu, kudengar si telur busuk tua tadi mengatakan kau she Liok, benarkah itu?"

"Ya, benar."

"Liok-kongcu, pengemis telur busuk kecil itu mengajakmu ke sini, sesungguhnya kau telah datang ke tempat yang tepat."

Membaca kertas yang tertempel di ujung ranjang, Siau-hong tertawa lebar. Katanya, "Kukira tempat ini bukanlah tempat yang tepat, begitu melihat tarif yang tertera, kukira ini adalah kedai gelap."

"Kau keliru besar, di sini kau bebas makan atau main perempuan sepuasnya, aku bisa melayani apapun maumu, masakah pelayanan begini tak pantas dibayar mahal?"

Siau-hong hanya tertawa getir. Ia mengawasi ranjang kayu yang tampaknya sudah Japuk, sewaktu-waktu bisa ambruk, kain sprei juga sudah tidak diketahui lagi warna aslinya, entah putih, abu-abu atau kuning.

"Jika setiap malam aku harus membayar 50 tahil untuk tidur di ranjang seperti ini, bagaimanapun rasanya sih seperti orang sedang dirampok."

Seperti tidak sengaja, Laopan Nio menuding ke arah tulisan "dua orang" yang tertera di kertas itu, jari jemari yang ramping dan indah.

Katanya pula, "Bagaimana jika kau bayar 80 tahil semalam?"

Liok Siau-hong memandang wajahnya sekejap, mengawasi tangannya, mengamati pinggangnya, lalu menghela napas panjang.

"Kalau kau mau melayani aku, rasanya 80 tahil tidaklah mahal," katanya setengah berbisik. "Cma sayang ...."

"Sayang bagaimana?" tukas Laopan Nio.

Siau-hong tidak menjawab.

Laopan Nio mengawasinya, sepasang matanya yang sipit dan genit tiba-tiba mendelik, melotot sebesar gundu.

"Liok-kongcu, ada sesuatu yang ingin kutanyakan, rasanya memang harus kutanyakan."

"Silakan bertanya."

"Untuk apa kau datang ke kota miskin ini?"

"Memangnya orang seperti apa yang datang kemari?"

"Hanya ada dua jenis manusia."

"Dua jenis yang mana?"

"Pertama, orang yang kemaruk harta, anggapan mereka di sekitar kota ini benar-benar ada harta karun yang tak ternilai, mereka datang karena ingin cepat kaya. Kami paling senang menyambut kedatangan manusia jenis ini, meskipun mereka gagal menjadi kaya raya, paling tidak mendatangkan rezeki bagi kami."

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya, "Sayang, makin hari makin jarang manusia begini datang kemari."

"Lalu jenis kedua?"

"Jenis kedua adalah orang yang dikejar-kejar, buronan yang dicari petugas kerajaan atau orang yang dikejar musuh besarnya, tak ada lagi tempat untuk bersembunyi, terpaksa mereka datang kemari untuk bersembunyi," kata Laopan Nio sambil menatap tajam Siau-hong.

Siau-hong balas menatapnya. "Menurutmu, aku termasuk jenis yang mana?"

Laopan Nio menghela napas panjang, sahutnya, "Aku rasa kau tidak termasuk dalam kedua jenis manusia itu, namun rasanya juga mirip."

Sekali lagi Siau-hong mengawasi Laopan Nio itu, dari kepala ke ujung kaki, lalu balik lagi ke kepala. Sambil menggeleng kepala berulang kali, tak lupa tangannya mengelus kumisnya yang mirip alis itu.

"Laopan Nio, tampaknya kau sangat memahami kaum lelaki, tapi penilaianmu keliru besar."

"Oya?"

"Terlepas aku termasuk manusia jenis yang mana, sekarang aku telah berubah jadi manusia jenis ketiga."

"Ketiga?" tanya Laopan Nio, "jenis manusia yang bagaimana?"

"Termasuk juga jenis manusia buronan."

Liok Siau-hong memandang liar seluruh tubuh Laopan Nio, setiap lekuk dan sudut tubuhnya diamatinya dengan seksama, akhirnya matanya menatap sepasang pahanya lekat-lekat.

"Coba tebak, dosa apa yang telah mereka perbuat?" kata Siau-hong sambil memicingkan mata.

Diawasi semacam itu, wajah Laopan Nio langsung merah jengah, tanpa sadar ia merapatkan sepasang pahanya yang jenjang dan berotot.

"Aku paling tak suka manusia jenis ini," sepasang matanya menyipit hingga tinggal segaris, "namun kuyakin kau bukan termasuk jenis ini."

Kebanyakan lelaki tahu, perempuan paling senang mengucapkan perkataan yang justru bertentangan dengan jalan pikirannya. Ketika mereka mengatakan tidak suka, mungkin mereka justru suka, bahkan suka setengah mati.

Tentu saja Siau-hong bukan lelaki yang tidak memahami sifat wanita, jika dibilang dia tidak memahami, orang lain pasti tak akan percaya, bahkan sampai mati pun tak percaya. Tapi sekarang wajahnya berubah serius, seakan tidak memahami sifat wanita.

"Aku sendiri tidak suka jenis manusia ini, tentu saja aku bukan manusia begitu."

"Oya?"

"Sebenarnya tujuan kedatanganku adalah mencari seorang temanku," kata Siau-hong, "seorang teman yang kemaruk harta."

"Oh, kau pun punya teman yang kemaruk harta?"

"Setiap orang ingin cepat kaya, tentu saja aku pun punya teman yang kemaruk harta, siapa sih yang tak ingin cepat kaya?" ujar Siau-hong, "aku punya seorang teman, dia pun tahu di sekitar sini terdapat harta karun terpendam, dia pinjam modal kepadaku sebesar lima ratus tahil perak sebagai ongkos jalan, siapa tahu setelah pergi hingga kini tak pernah nampak batang hidungnya."

"Jadi kau kemari untuk mencarinya?"

"Bukan cuma ingin mencarinya, aku harus minta balik uangku," sekali lagi Siau-hong mengawasi sepasang paha Laopan Nio, "dengan lima ratus tahil perak, aku bisa tidur berduaan selama beberapa ratus hari di ranjangmu."

Tiba-tiba Laopan Nio membuang muka, lalu pergi dari situ tanpa berpaling lagi, jangankan menegur, melirik sekejap ke arah Siau-hong pun malas.

Baru saja Siau-hong hendak mengejar, mendadak ia saksikan ada sebuah mata yang besar sedang mengawasinya dari luar pintu. Bila tidak memperhatikan wajah Ong Toa-yan, dengan sikapnya yang lemah lembut dan cara bicaranya yang sopan, siapa pun pasti berpendapat ia seorang lelaki yang pandai bergaul, pandai mencari rezeki.

"Liok-kongcu, kutahu siapa yang kau cari," ujar Ong Toa-yan. "Bukankah sahabatmu itu she Liu?"

"Darimana kau tahu?"

"Dialah yang menyewa kamar ini sebelum kedatanganmu."

"Sekarang kemana orangnya?"

Wajah Ong Toa-yan tidak memperlihatkan perubahan, hanya dari sinar matanya yang normal terpancar sinar kesedihan dan rasa menyesal yang dalam.

"Liu-tayhiap orang yang setia kawan, terbuka, jujur, ringan tangan, seorang Hohan sejati. Sayang, kedatanganmu terlambat."

"Terlambat?"

"Ehm."

"Memangnya dia sudah mati?"

"Ehm."

Setelah hening sejenak, Ong Toa-yan berkata pula dengan suara lembut dan sopan, "Liok-kongcu, terimalah kenyataan ini, tentunya kau tahu, orang mati pasti jenazahnya disimpan dalam peti mati."

Siau-hong termenung, kemudian menjawabnya, "Kalau begitu, aku tak mungkin bertemu dengannya?"

"Rasanya sih begitu."

"Boleh kulihat jenazahnya?"

"Boleh saja."

"Dimana peti matinya?"

"Kalau kau ingin mencari peti mati, maka harus pergi ke toko penjual peti mati," ujar Ong Toa-yan tetap sopan dan lembut.

Toko penjual peti mati tidak seumum toko kelontong. Tak terduga di kota kecil miskin ini terdapat juga sebuah toko penjual peti mati. Ketika pertama kali Siau-hong masuk kota ini, sudah ia lihat ada toko penjual peti mati. Di atas sebuah bangku besar kuno dan bobrok di luar toko penjual peti mati, berbaring sesosok tubuh.

Setelah Liok Siau-hong mendekat, baru ia tahu orang yang berbaring di bangku itu bukanlah mayat, dialah Lopan toko penjual peti mati ini. Lantaran terlalu sering mengurusi jenazah, sekilas dia sendiri mirip mayat yang sudah mati tujuh delapan hari.

Toko penjual peti mati ini persis berada di seberang toko kelontong si Mata besar, Lopan toko bernama si Buta Tio. Selama ini dia hanya duduk di situ bagai sesosok mayat, mimpi pun tak pernah menyangka akan ada orang mengunjungi tokonya.

Tempat miskin sekecil ini memang sudah tak banyak penghuninya, tentu saja orang mati pun tak banyak jumlahnya, tak heran dia segera melompat bangun dari bangkunya begitu melihat kedatangan Liok Siau-hong.

"Kongcu, apakah kau baru kehilangan sanak keluarga? Mau beli peti mati macam apa?"

Paras mukanya memang dingin kaku bagai wajah sesosok mayat, sedikitpun tak ada warna merah darah, tak ada perubahan wajah. Tapi sekarang ia justru menampilkan sekulum senyuman, namun senyuman itu kelewat dibuat-buat sehingga paras mukanya nampak aneh, menyeramkan dan misterius.

Siau-hong tertawa getir, kemudian katanya, "Tak ada sanak keluargaku yang mati, aku kemari untuk menjenguk seseorang."

Si Buta Tio segera menarik kembali senyumannya, ia pun duduk kembali, bahkan logat bicaranya pun berubah dingin dan hambar.

"Kalau begitu kau salah tempat," katanya ketus, "di sini kecuali aku, yang ada tinggal orang mati."

"Aku tidak salah tempat," kata Siau-hong cepat, "yang ingin kujenguk memang orang mati."

"Sayang sekali, di sini sekarang hanya tinggal satu orang mati," ujar si Buta Tio sembari merapatkan sepasang matanya, mata yang lebih banyak warna putih daripada hitamnya.

"Mungkin dialah yang akan kujenguk!"

"Jadi kau kenal Liu-toaya," tiba-tiba si Buta Tio melompat bangun, "kau datang untuk mengurus jenazahnya?"

"Benar!" Siau-hong mengangguk.

Si Buta Tio menghembuskan napas, seakan baru saja menurunkan beban yang amat berat dan atas pundaknya.

"Silakan ikut aku!" seru si Buta Tio.

Bangku tempat duduk si Buta Tio terletak di luar toko, di bawah emper yang teduh. Dalam ruangan hanya ada dua peti mati yang sudah selesai dipernis, lima enam buah yang masih belum jadi.

Setelah melewati ruang itu, terbentang halaman kecil yang dipenuhi tumpukan balok kayu, hampir seluruh halaman dipenuhi paku bengkok serta serbuk kayu. Sebuah gergaji besar tersandar di atas sebuah rak kayu yang aneh bentuknya. Begitu besar gergaji itu, hanya seorang raksasa yang bisa menggunakannya. Di sisi gergaji tergeletak sebuah peti mati, peti mati yang belum selesai dibuat.

Kembali hati Siau-hong tergerak, terdorong rasa ingin tahu, tak tahan tanyanya kepada si Buta Tio, "Besar amat gergaji itu, hanya orang bertenaga luar biasa yang bisa menggunakannya?"

"Rasanya sih begitu."

"Siapa yang menggunakan? Kenapa aku tidak melihatnya?"

"Sudah kau lihat," kata si Buta Tio sambil menunjuk hidung sendiri, "akulah orangnya!"

Siau-hong tertegun.

Dengan santai si Buta Tio melanjutkan, "Semua peti mati ini adalah hasil karyaku."

Meski wajahnya jelek mirip mayat, perawakannya tinggi besar walau sedikit bongkok, namun tingginya di atas rata-rata orang. Tubuhnya berotot, menandakan sudah terlatih. Ketika pertama kali melihatnya, orang pasti beranggapan telah melihat mayat, namun setelah lama melihat, tentu akan terbiasa dan semakin tidak mirip orang mati.

Di halaman belakang terdapat dua deret bangunan, sebelah kiri terdiri dari dua ruangan, sementara sebelah kanan pun terdiri dari dua bilik. Deretan bangunan sebelah kiri digunakan sebagai dapur, gudang kayu bakar serta kamar pembantu, sedang deretan ruangan sebelah kanan gelap gulita, bahkan daun jendela pun ditempeli kertas berwarna hitam. Kedua buah ruang sebelah kanan seakan terselubung semacam warna hitam yang amat pekat, jangankan di tengah malam, biarpun siang juga mendatangkan rasa seram dan ngeri.

"Di sinilah kami letakkan layon sebelum diberangkatkan ke kuburan," si Buta Tio menerangkan sembari menyulut obor, "bila ada orang mati di kota ini, sebelum dikebumikan, jenazahnya dititipkan di sini, karenanya kami sebut kedua bilik itu rumah setan."

"Rumah setan?" tanya Siau-hong, "ruangan mana yang pernah digegerkan setan?"

Di bawah sorot api obor, wajah si Buta Tio yang pucat tampak seperti wajah setan. Ia pun menggeleng.

"Tentu saja di toko ini tidak ada setannya, toko ini kan mengurusi orang mati. Orang mati adalah setan, mengurus orang mati berarti mengurus setan. Akulah yang mengurus mereka, mana mau mereka membikin geger tempat ini?" jawab si Buta Tio.

Ucapannya memang masuk akal. Walau Siau-hong malas mengakuinya, terpaksa ia pun harus menerima penjelasan itu.

Ketika Siau-hong tiba di depan kedua ruangan itu, ia segera merasakan munculnya segulung angin dingin yang menggidikkan, merambat dari punggungnya dan mengalir ke dasar telapak kaki.

Tentu saja Siau-hong bukan orang bernyali kecil. Nyalinya memang besar, ibarat 'Langit pun dia lawan'. Tidak ada urusan yang tidak berani dikerjakan Siau Hong, semua orang mengakui hal ini.

Dengan obor di tangan, si Buta Tio mengajak Siau-hong memasuki ruang sebelah kiri, tanpa terasa keringat dingin membasahi telapak kaki Siau-hong. Di bawah pencaran sinar obor yang redup, hakikatnya ruangan ini mirip liang kuburan. Rasanya memang mirip memasuki sebuah liang kubur.

Dalam ruangan hanya terdapat sebuah peti mati, peti mati yang membujur di atas sebuah altar rendah, altar yang terbuat dari batu bata, di depan altar terpampang sebuah Leng-pay (papan nama di meja pemujaan) yang masih baru.

Di atas leng-pay itu tertulis: "Liu Ji-kong".

Dengan perasaan dingin Siau-hong membaca tulisan di atas Leng-pay. Begitu membaca tulisan itu, siapa pun dia akan beranggapan Liu Ji-kong benar-benar telah mati. Entah karena terpengaruh suasana menyeramkan yang terpancar dari ruangan itu, perasaan Siau-hong diliputi perasaan aneh yang misterius. Dia berpendapat, besar kemungkinan Liu Ji-kong akan melompat keluar dari dalam peti mati secara tiba-tiba, bangkit dari kematiannya.

"Tolong buka tutup peti mati itu!" katanya kemudian.

"Apa kau bilang?" teriak si Buta Tio kaget, "kau minta aku membuka tutup peti mati ini? Atas dasar apa kau minta aku melakukannya?"

"Karena aku ingin melihat orang mati, bukan melihat peti mati."

Peti mati telah dibuka. Liok Siau-hong telah melihat mayat Liu Ji-kong yang terbujur kaku di situ. Paras orang mati memang berbeda dengan orang hidup. Orang mati itu memang benar adalah Liu Ji-kong, wajahnya masih menampilkan rasa takut, ngeri dan seram. Jelas sebelum ajal Liu Ji-kong mengalami ketakutan yang luar biasa.

"Benarkah dia yang kau cari?" tanya si Buta Tio.

Siau-hong tidak menjawab. Ia telah melihat luka di tubuh Liu Ji-kong, luka yang mengakibatkan kematiannya. Luka tusukan di hulu hatinya. Luka tusukan sebilah pisau yang tajam. Ia sudah banyak melihat orang mati, pengalamannya dalam hal ini cukup banyak.

Dalam hati ia ragu dan bimbang, berulang kali ia menggeleng kepala, gumamnya, "Tidak mungkin, tidak mungkin ...."

Berulang kali pula ia menggumamkan perkataan itu.

Si Buta Tio memang seorang penyabar, orang yang sering berhadapan dengan orang mati harus memiliki kesabaran yang luar biasa. Ditunggunya sampai Siau-hong berhenti mengucapkan kata itu, lalu tanyanya, "Apanya yang tidak mungkin?"

Siau-hong tidak menjawab, malah tanyanya, "Tahukah kau siapa yang berbaring dalam peti mati itu?"

Tanpa menunggu jawaban si Buta Tio, Siau-hong menjawab sendiri pertanyaannya, "Dia It-kiam-seng-hong Liu Ji-kong, Ginkang dan ilmu pedangnya selisih tidak banyak dibanding Sebun Jui-soat. Dia tewas lantaran hulu hatinya ditusuk, hanya dengan sekali tusukan, kesempatan membalas pun tak ada, biar kepalaku dipenggal juga aku tidak percaya."

Namun apa yang terpampang di depan mata sudah tak bisa disangkal lagi. Jenazah yang berbaring dalam peti mati telah diberi pakaian bersih, darah di sekitar luka pun telah dibersihkan dan dibenahi dengan baik.

Panjang luka tusukan hanya sekitar tiga senti saja, jelas si pembunuh menggunakan pisau, pisau yang sempit. Luka mematikan itu dilakukan secara berhadapan, langsung ke arah hulu hati, jelas bukan dengan cara membabat, karena lukanya tidak memanjang.

Siau-hong menganggap hal ini mustahil terjadi, rasanya tidak ada orang yang mampu melukai hulu hati Liu Ji-kong hanya dengan sekali tusuk. Kecuali pembunuhnya adalah sahabat atau orang kepercayaan, hingga Ji-kong tidak menduga akan diserang secara tiba-tiba. Tapi mana mungkin Ji-kong punya sahabat di kota sekecil ini, apalagi ia baru datang juga di kota ini?

Siau-hong kembali mengawasi wajah si Buta Tio, kemudian tanyanya, "Tahukah kau dimana dia mati?"

"Tentu saja aku tahu," jawab si Buta Tio.

"Dimana?" desak Siau-hong.

"Di lorong sempit yang gelap, setitik cahaya pun tak nampak, dia tewas setelah lewat kentongan ketiga."

"Siapa penemu jenazahnya?"

"Pengemis cilik, pengemis yang pernah kau ajak bicara di ujung jalan itu."

"Kapan jenazahnya ditemukan?"

"Waktu langit belum begitu terang."

"Saat seperti itu kenapa si pengemis cilik bisa ke sana? Mau apa dia di sana?"

"Aku tak tahu."

"Siapa yang menggotong jenazahnya sampai di sini?"

"Kulakukan sendiri," si Buta Tio menjelaskan. "Liu-tayhiap orang baik, royal dan suka membantu, aku sudah menganggapnya sebagai sahabat."

Setelah berhenti sebentar, kemudian ia melanjutkan, "Walau belum lama Liu-tayhiap datang ke sini, sahabatnya sudah cukup banyak."

Hanya teman yang sangat akrab baru bisa menghadiahkan tusukan langsung dari hadapannya, menusuk di saat dia tidak menduga. Siapakah sahabatnya?

Siau-hong menghela napas panjang, kemudiannya tanyanya, "Waktu kau menggotongnya, bukankah pisau itu masih menancap di dadanya?

"Darimana kau tahu?" tanya si Buta Tio terkejut dan heran.

"Lukanya berada di antara tulang iga keenam dan ketujuh, jarak kedua tulang ini dekat sekali, jika pisau itu tepat menusuk ke situ, tentu akan sulit mencabutnya. Setelah membunuh Lui Ji-kong, pembunuh itu akan panik dan dia tidak yakin apakah tusukannya itu bisa langsung menewaskan jago pedang tersohor itu, maka dia akan berusaha mencabut pisaunya, namun karena sulit dicabut, lantas saja dia tinggalkan pisau itu tetap menancap di sana," demikian Siau-hong menerangkan.

Setelah terdiam sejenak, dengan tenang Siau-hong kembali melanjutkan dengan nada dingin, "Pisau semacam itu hanya bisa dicabut dalam keadaan santai, orang yang bisa melakukan dengan santai begitu, biasanya adalah Lopan penjual peti mati semacam dirimu."

Si Buta Tio menghela napas panjang, lalu katanya pula, "Aku belum tahu siapa kau sebenarnya, dapat kupastikan kau adalah seorang luar biasa."

"Benarkah begitu?"

"Tentu."

"Jadi kau yang mencabut pisau itu?"

"Ya."

"Mana pisaunya?"

"Pisau yang mana?" si Buta Tio seakan lupa apa yang sedang mereka bicarakan.

Siau-hong tertawa. Tentu saja ia paham bagaimana cara menghadapi orang macam si Buta Tio ini.

Uang!

Setelah menjejalkan sekeping uang perak ke tangan si Buta Tio, kembali Siau-hong mengulangi pertanyaannya, "Mana pisaunya?"

"Sudan kusembunyikan."

"Dimana?"

Wajah si Buta Tio tiba-tiba menampilkan senyuman, lalu jawabnya, "Jika aku ingin menyembunyi suatu barang, tentu akan kusembunyikan di tempat yang tidak mudah ditemukan orang."

Lantai di bawah peti mati terbuat dari batu bata, bentuknya mirip altar pemujaan, ternyata ada beberapa batu bata yang agak kendor. Ketika batu bata itu dicongkel, terlihat sebuah liang yang bisa digunakan menyembunyikan barang rahasia.

Orang tentu takkan menyangka batu bata di bawah altar itu ada yang kendor, orang juga takkan tahu batu bata mana yang kendor, tentu sulit bagi orang lain untuk menemukan barang yang disembunyikan di situ.

Tangan si Buta Tio merogoh ke dalam liang itu, ketika ditarik, dapat dipastikan tangannya menggenggam sebilah pisau.

Siau-hong memang ingin melihat pisau itu, pisau yang dipakai membunuh Liu Ji-kong, seperti apakah bentuknya?

Si Buta Tio tidak segera menarik tangannya, seakan tangannya digigit ular beracun hingga tak sanggup ditarik kembali. Wajahnya yang pucat bertambah putih, tampak sangat menyeramkan.

Siau-hong menatapnya, tiba-tiba parasnya berubah.

"Mana pisaunya?" tanyanya.

"Pisau? Pisau apa?"

Sungguh dongkol Siau-hong tak terkatakan, ingin sekali tendang mampuskan si buta ini. Belum sempat Siau-hong melakukan sesuatu, mendadak si Buta Tio menjatuhkan diri berlutut.

Katanya pula dengan wajah seperti orang menangis, "Sumpah, aku benar-benar menyembunyikan pisau itu di sini, tapi ... sekarang pisau itu sudah tidak ada."

Melihat tampangnya yang memelas, Siau-hong tidak tega turun tangan. Tanyanya dengan wajah serius, "Coba kau ingat-ingat lagi."

Si Buta Tio hanya diam saja.

"Apakah ada orang lain yang tahu?"

Kepala si Buta Tio sudah membentur lantai, ketika mendengar pertanyaan Siau-hong, sekonyong-konyong ia mendongakkan kepala, matanya berbinar.

"Betul, memang ada yang tahu, bahkan ia menyaksikan ketika kusembunyikan pisau itu di sini."

"Siapa?" seru Siau-hong sembari membangunkan si buta.

"Dia ... dia adalah ...."

Belum selesai ia berkata, dari luar meluncur dua tiga puluh bintik cahaya. Semua kejadian berlangsung hanya sekejap, Siau-hong lihat ada bermacam-macam warna sinar menyambar tiba. Di luar dugaan Siau-hong, berbagai bintik sinar itu ternyata ada yang berwarna tembus pandang, hingga susah dilihat..

Senjata rahasia itu disambitkan melalui ketiga buah jendela ruangan itu. Sasarannya bukan Liok Siau-hong, tapi si Buta Tio. Siau-hong menyambar tubuh si buta yang masih berlutut menyembah kepadanya, terus dilemparkan ke atas, menembus atap rumah, meninggalkan sebuah lubang besar di atap.

Senjata rahasia melesat di bawah badan si buta, maka terluputlah si buta dari kematian. Semua senjata tidak berhasil mengenai sasarannya, termasuk senjata rahasia yang tembus pandang.

Menyusul Siau-hong melesat keluar melalui jendela ruangan yang masih terbuka. Ketika Siau-hong sampai di tengah halaman, tubuh si Buta Tio pun meluncur turun.

Kembali cahaya tajam menyambar dari balik tumpukan kayu bakar, menyambar ke arah si Buta Tio. Agaknya memang sasarannya si Buta Tio, jelas tujuannya untuk membungkam mulutnya.

Siau-hong menyambar selembar papan dan berjumpalitan ke tengah udara, memapak datangnya serangan senjata rahasia dengan papan yang disambarnya itu. Diiringin suara dentingan nyaring, seluruh senjata rahasia menancap pada papan kayu itu. Kembali Siau-hong melempar tubuh si Buta Tio masuk ke lubang atap yang jebol tadi.

"Sungguh Ginkang yang hebat!" terdengar suara di balik tumpukan kayu bakar.

"Siapa kau?"

Sambil membentak, segera tubuhnya meluncur ke arah datangnya suara. Baru saja tubuhnya bergerak, tiba-tiba sebilah golok membabat ke arah tubuhnya. Sambaran golok yang cepat dan telengas, tidak memberi kesempatan kepada Siau-hong untuk bergeser.

Siau-hong tidak menghentikan gerakannya, ia malah menyongsong datangnya golok. Si penyerang tampak terkesiap, segera ia membalik goloknya dan membabat tenggorokan Siau-hong. Entah cara bagaimana tahu-tahu kedua jari Siau-hong telah menjepit golok itu, lalu didorongnya ke depan, si penyerang tak kuasa menahan tenaga dorongan golok itu, gagang golok pun menyodok ke dada sendiri.

Dalam terkesiapnya, tulang iga si penyerang telah patah tersodok. Harus diakui, ilmu menjepit dengan dua jari Siau-hong tak ada bandingannya di kolong langit.

Dalam waktu singkat, tubuh si penyerang telah terjengkang, dari tenggorokannya terdengar suara seperti binatang yang sekarat mendekati ajal.

Golok telah berada di tangan Siau-hong, mengancam tenggorokan si penyerang. Padahal Ginkang dan ilmu golok si penyerang tidaklah rendah, terhitung jago kelas satu dunia persilatan.

"Tak tersangka, di tempat seperti ini ada juga jago sehebat ini," gumam Siau-hong.

Setelah mengawasi sejenak si penyerang yang mengenakan pakaian dan kerudung hitam, katanya pula, "Siapa kau? Siapa yang menyuruhmu? Kenapa kalian ingin membunuh si Buta Tio?"

Dengan kaget dan ketakutan, orang itu mengawasi Siau-hong dengan kelopak mata berkerut.

Mendadak Siau-hong melihat ada bayangan berkelebat diiringi sambaran pedang. Reaksinya sungguh cepat, sambil membalikkan badan, ia pun mengayunkan goloknya menangkis sambaran pedang itu. Namun tak urung pakaiannya pun tersambar oleh pedang lawan sehingga terobek.

Di antara sambaran pedang lawan, dilihatnya si pembokong adalah seorang nenek berbaju ungu, rambut telah beruban, raut mukanya tak terlihat jelas. Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap, ia tak sempat melihat dengan jelas.

Ketika Siau-hong membalikkan badan dan menangkis pedang pembokong itu, si pembunuh bergolok tadi menggelinding jauh, menyingkir dengan iga patah.

Belum sempat Siau-hong mengejar, pedang si nenek kembali menusuk, terpaksa Siau-hong mundur sampai di tumpukan kayu bakar. Siau-hong berencana menyerang balik, namun sebelumnya ia telah mempersiapkan jalan mundur seandainya serangannya gagal.

la tidak mendahului menyerang, juga tidak menghindar atau mundur lagi.

Sekonyong-konyong mukanya berubah hebat, dilihatnya pedang yang digunakan si nenek adalah pedang Liu Ji-kong.

Saat itulah pedang si nenek sudah menusuk ke arah dadanya, ke arah jantung. Keadaan Siau-hong sungguh berbahaya, sudah tak ada jalan mundur baginya. Jantung adalah organ vital manusia, bila tertusuk, tidak ada ampun lagi, orang itu pasti akan mampus.

"Untung tusukan itu diarahkan ke jantungku, kalau tidak, mungkin aku sudah mampus," demikian Siau-hong bercerita di kemudian hari.

Bagaimana mungkin?

Ternyata saat tusukan itu tiba, kebetulan tangan kanan Siau-hong berada di depan dada, meski ujung pedang telah menembus bajunya, namun tak sanggup diteruskan. Kedua jari Siau-hong telah menjepit ujung pedang itu, dalam keadaan begitu, siapa pun takkan sanggup meneruskan tusukannya.

Di kemudian hari pun ada orang bertanya kepadanya, "Apakah sudah kau perhitungkan serangannya itu akan diarahkan ke jantungmu? Apakah hanya secara kebetulan saja tangan kananmu berada di dekat dada?"

Kedua jari tangannya seakan sudah mempunyai ikatan batin dengan pikiran, tiap kali terpikir, pedang lawan pasti akan terjepit oleh kedua jarinya, betapapun cepatnya gerak pedang lawan.

Sesama orang persilatan pasti mengagumi kehebatan kedua jari Liok Siau-hong.

Pertanyaan itu memang sulit dijawab, Siau-hong pun akan bungkam atau hanya tertawa saja. Di kala seorang mengalami ancaman maut, banyak kejadian yang sulit dijelaskan. Mungkin hal itu merupakan hasil pengalaman, kecerdasan atau instingnya yang tajam, atau juga nasib baiknya.

Jika pedang seorang pendekar terjepit lawan, ibarat kaki tangannya terikat tali, perasaannya pasti akan kalut dan berat. Tak dapat disangkal, si nenek berbaju ungu itu adalah jago pedang lihai. Bukan saja gerakannya gesit, serangan pedangnya cepat, perhitungannya juga tepat.

Saat Siau-hong berhasil menjepit pedangnya, segera ia melepaskan pedangnya dan dengan gesit melesat mundur. Ia melompat ke atas untuk menghindari serangan balasan Siau-hong.

Sewaktu melejit ke atas tadi, ia pun berjumpalitan beberapa kali terus melarikan diri, nampaknya ia seorang yang sangat teliti dan berhati-hati, arah yang dituju pun tak terduga oleh Siau-hong.

Ia mengenakan gaun panjang dan berlapis-lapis, biasanya perempuan yang mengenakan gaun seperti ini, bagian dalamnya sudah tidak mengenakan apa-apa lagi. Ketika tadi ia melejit ke atas, gaunnya tersingkap hingga kakinya yang jenjang sampai pangkal paha terlihat jelas. Ketika Siau-hong mendongak, terlihatlah dengan jelas kaki yang masih kencang dan indah itu, tidak mirip kaki seorang nenek.

Melihat rambut nenek yang sudah beruban dan wajah penuh keriput, namun memiliki kaki yang kencang dan indah, terasa seperti milik dua orang perempuan yang berbeda. Ketajaman penglihatan Siau-hong termasuk luar biasa, apalagi dalam hal menilai seorang perempuan, ia memiliki keahlian khusus.

Sempat dilihatnya tadi gerakan otot paha yang masih kencang, jarang ia bisa menikmati gerakan semacam itu.

Pedang yang digunakan nenek berbaju ungu adalah pedang Liu Ji-kong, sedangkan si pembunuh berbaju hitam adalah seorang jago golok. Walau Siau-hong seorang bodoh pun, ia pasti bisa menduga bahwa antara mereka berdua ada hubungan erat dengan kematian Liu Ji-kong.

Tak diragukan lagi kedua orang itu pasti tinggal di kota kecil ini, walaupun sekarang telah berhadapan, namun dia perlu waktu untuk menyelidiki dan menelusurinya. Tapi apa yang harus dilakukan untuk menyelidiki kejadian ini? Wajah si jago golok berkerudung kain hitam, sementara si nenek pun pasti sudah menyamar. Kini satu-satunya tanda yang bisa dilihat Siau-hong hanyalah pahanya yang putih mulus itu.

la yakin paha itu pasti bukan paha seorang nenek yang rambutnya telah beruban, kalau ia dapat menyelidiki siapa pemilik paha mulus itu, berarti ia pun bisa menelusuri siapakah pembunuh yang telah menghabisi nyawa Liu Ji-kong.

Hanya ini satu-satunya petunjuk yang diperoleh Siau-hong, juga satu-satunya tindakan yang bisa ia lakukan. Tapi apa yang dapat dia lakukan? Apakah ia harus menyingkap gaun seluruh perempuan yang ada di kota kecil ini dan diperiksa pahanya?

Sejujurnya Siau-hong bukannya tak ingin berbuat begitu, hanya sayang ia tak bisa melakukannya, terpaksa ia pergi mencari si Buta Tio. Sayang, sampai mati pun si Buta Tio enggan mengucapkan sepatah kata pun, dia benar-benar ketakutan setengah mati, saking takutnya sampai terkencing-kencing dalam celana.

Kota Pakkhia bukan dibangun dalam satu hari, untuk mengungkap misteri pembunuhan yang amat misterius inipun tak mungkin bisa ia kerjakan dalam waktu satu dua hari. Terpaksa Siau-hong balik ke kamarnya dan tidur.

Siapa tahu ketika tiba di kamarnya yang bobrok itu, dilihatnya sepasang kaki menjulur keluar dari kolong tempat tidurnya. Kaki yang dekil penuh lumpur, kaki yang sudah tujuh delapan bulan tak pernah dicuci. Baunya bisa membikin orang tidak doyan makan tiga hari, seperti kaki yang baru saja dicabut dari timbunan tahi anjing.

Sambil menyengir dan menggeleng kepala Siau-hong duduk di bangku, persis di depan ranjangnya. Akhirnya orang yang bersembunyi di kolong ranjang merangkak keluar perlahan-lahan, rambutnya awut-awutan seperti sarang burung.

"Pengemis cilik!" tegur Siau-hong setelah berdehem.

Ketika mendengar teguran itu, saking kagetnya hampir saja kepalanya membentur ranjang. Setelah tahu yang menegur adalah Liok Siau-hong, ia pun menghembuskan napas lega.

"Hampir saja kau membuatku kaget setengah mati, nyaris jantungku melompat keluar."

"Oya?"

"Tentu," kata si pengemis cilik sambil menepuk dada. "Hampir aku mati ketakutan."

"Jika begitu aku harus minta maaf dan mesti memberi ganti rugi!"

"Maaf sih tidak perlu, tapi ganti rugi harus kuterima."

"Ganti rugi macam apa?"

"Uang, arak wangi dan nona cilik."

Siau-hong tertegun sejenak.

"Hanya itu yang bisa meredam rasa kaget seseorang," lanjut si pengemis cilik.

Akhirnya Siau-hong tersenyum, selain tersenyum apa pula yang bisa dilakukannya. Begitu senyumannya hilang, dicengkeramnya pakaian si pengemis cilik, lalu diangkatnya ke atas hingga persis kura-kura yang ditarik dari dalam air.

"Di tengah malam buta, kau berani menyelinap ke kamarku, menggeledah barang-barangku dan bersembunyi di kolong ranjang, apa tujuanmu?" bentak Siau-hong.

"Aku ...."

"Maknya, masih berani kau menggertak dan minta ganti rugi segala kepadaku."

Belum sempat si pengemis cilik bicara, kembali Siau-hong mengumpat sambil tertawa dingin, "Sial, justru harusnya kau yang memberi ganti rugi kepadaku."

Si pengemis cilik meringis menahan tangis, rengeknya memelas, "Aku ke sini bukan untuk mencuri, aku murid Kay-pang, mana berani mencuri barang milik Liok Siau-hong?"

Semua orang tahu, Siau-hong adalah sahabat Kay-pang, mana berani anak murid Kay-pang main gila mengincar barangnya.

"Benar kau anggota Kay-pang?"

"Benar."

Siau-hong menurunkan si pengemis cilik yang sejak tadi tergantung, dengan gerakan yang indah segera si pengemis cilik menjura pada Siau-hong.

"Murid Kay-pang angkatan kedua puluh tiga, Ui Siau-cong memberi hormat kepada Liok Siau-hong, Liok-tayhiap."

"Kau dari ruang dan ranting mana?"

"Ruang Hian-kui-tong, ranting kedua puluh tujuh wilayah Tiangkang di bawah bimbingan Ong-loyacu, sudah sejak tiga tahun lalu bertugas di sini."

"Mengapa kau ditugaskan di sini?"

"Dalam organisasi apapun, selalu saja ada orang yang bernasib seperti aku," katanya sambil menghela napas.

Kay-pang memang mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan Siau-hong, hampir semua anggota Kay-pang boleh dibilang sahabatnya. Terhadap sahabat, biasanya Liok Siau-hong jarang menaruh curiga.

Dari mulut pengemis cilik ini, kembali Siau-hong berhasil membuktikan beberapa hal. Liu Ji-kong memang tewas di lorong gelap, memang si Buta Tio yang memberesi jenazahnya, waktu itu pisau yang digunakan untuk membunuh masih tertinggal di dada Liu Ji-kong.

"Yang benar, bukan aku orang pertama yang menemukan jenazah Liu-toaya," dengan suara meyakinkan pengemis cilik menegas.

"Oya?"

"Biarpun aku senang keluyuran di tengah malam buta, tapi ketika tiba dalam lorong itu, di sana paling tidak sudah hadir dua orang lebih dulu."

"Oya?"

"Sebetulnya aku tak punya rencana pergi ke lorong itu, justru lantaran mendengar jeritan ngeri Liu-toaya, maka buru-buru aku menyusul ke situ."

"Ketika tiba di sana, kau menyaksikan ada dua orang di sana?"

"Benar."

"Macam apa kedua orang itu?"

"Di tengah malam buta, aku sendiri tak jelas bagaimana muka mereka, apalagi waktu melihat kemunculanku, mereka segera kabur terbirit-birit, tapi berani kupastikan mereka satu laki satu wanita."

"Satu laki satu wanita?"

Siau-hong segera terbayang pada kedua orang yang dijumpai di halaman belakang rumah si Buta Tio, pembunuh berkerudung hitam serta perempuan yang menyamar sebagai nenek peyot tapi memiliki paha yang indah itu.

Bersambung ke bagian 2

Bagian 2

Kamarnya sangat sederhana, hanya ada sebuah meja bobrok yang tidak dipernis, ranjangnya pun bobrok, bisa ambruk sewaktu-waktu. Dalam kamar tidak ada teman, arak juga tiada, apalagi di atas ranjang mana ada orang.

Sebenarnya Siau-hong sudah tidak kerasan tinggal dalam kamar itu, rasanya sulit untuk memejamkan mata di atas ranjang semacam ini. Namun sekarang Siau-hong sudah naik ke ranjang.

Liu Ji-kong adalah sahabatnya. Kematian Liu Ji-kong terlalu misterius, terlalu aneh. Kota kecil nun jauh di pinggir perbatasan, bertepian dengan gurun pasir seakan dipenuhi kemisteriusan serta keanehan.

Bila urusan semacam inipun Siau-hong enggan mencampuri, urusan apa lagi yang mau dia urus? Bila urusan begini enggan dilakukan Siau-hong, maka Liok Siau-hong bukanlah Liok Siau-hong. Untuk mencampuri persoalan ini, terlebih dulu dia harus memahami banyak persoalan lain.

Sampai sekarang, titik terang yang berhasil dihimpun Siau-hong hanya berasal dari si pengemis kecil serta si Buta Tio. Apa yang dikatakan kedua orang itu rasanya tidak bohong, tapi anehnya, semua keterangan itu seakan saling bertentangan. Dimana letak pertentangan itu? Siau-hong sendiri pun tak tahu, ada banyak hal yang belum dipahaminya.

Di saat dia sedang bingung, mendadak terdengar suara yang aneh sekali. Tiba-tiba saja jantungnya terasa berdebar keras. Siapa pun tahu, Siau-hong bukanlah seorang yang jantungnya mudah berdebar, tapi sekarang detak jantungnya benar-benar berdebar keras. Debar jantung Siau-hong masih berdentum, jauh lebih kencang daripada biasanya, secara tiba-tiba ia mendengar debar jantung orang lain.

Terdengar suara orang berdehem lirih, kemudian pintu kamar dibuka orang dan muncul suara yang merdu, suara merdu seorang perempuan yang memikat hati. Siau-hong segera mengenali suara perempuan itu, suara Laopan Nio yang berpinggang ramping, si nyonya rumah yang pinggangnya selalu meliuk bagai seekor ular ketika sedang berjalan.

Dia muncul dari halaman depan dan masuk ke dalam kamar, ketika tiba di pintu, dia bersandar dengan napas terengah dan jantung berdebar keras.

Di tengah malam buta begini, mau apa dia masuk ke dalam kamar seorang tamu asing? Siau-hong tak berani membayangkan. Seorang tamu datang dari jauh, pikirannya selalu terbayang hal-hl semacam ini, mana mungkin bisa tidur nyenyak?

Siau-hong tak bisa tidur, sebab Laopan Nio sudah mendorong pintu dan berjalan masuk. Pintu kamar memang tidak dikunci, maka Laopan Nio bisa langsung membuka pintu dan masuk, malah dia merapatkan pintu pula.

Seperti orang mati Siau-hong tidur di ranjang, bergerak pun tak berani. Untung saja detak jantungnya masih bergerak. Sebagai lelaki normal, sehat dan kesepian di malam hari, jika dalam kondisi dan situasi semacam ini hatinya masih bisa tenang, bisa dipastikan orang itu benar-benar sudah mati.

Siau-hong sengaja tidak bergerak, dia ingin tahu sebenarnya apa yang hendak dilakukan Laopan Nio yang genit dan merangsang ini di tengah malam buta begini?

Dia muncul karena mau memeriksa gudangnya? Membunuhnya? Atau mau merayu dan menggaetnya? Tentu saja Siau-hong berharap maksud kedatangannya adalah karena alasan terakhir. Hal ini merupakan suatu kebanggaan, harga diri bagi setiap lelaki, dan semua lelaki pasti berpendapat begitu.

Untung Siau-hong tidak sependapat. Andai kedatangan Laopan Nio karena ingin membunuhnya, paling tidak dia dapat membuktikan antara perempuan ini dengan Liu Ji-kong terjalin hubungan erat, maka Siau-hong tak perlu meyelidiki lebih lanjut.

Namun ternyata Laopan Nio tak berniat membunuhnya.

Lentera dalam kamar telah padam, cahaya lentera di luar jendela pun remang-remang menyinari pinggang Laopan Nio yang ramping serta pahanya yang mulus, setiap lekuk badannya yang naik turun seakan terpampang dari balik gaunnya yang tipis.

Tiba-tiba kata Siau-hong, "Seharusnya kau cari dulu lentera!"

Laopan Nio sangat terperanjat, tangannya yang putih mulus menepuk dada sendiri yang montok.

"Oh, sungguh mengagetkan," serunya genit, "apa yang salah dengan keadaan ini? Kenapa aku mesti menyulut lentera?"

"Karena aku ingin melihat pahamu!".

Laopan Nio tertawa cekikikan.

"Ada apa dengan pahaku? Jangan, aku tak mau menunjukkan padamu!"

"Aku senang melihatnya, justru mau kulihat, bahkan tidak bisa tidak harus kulihat."

Akhirnya Laopan Nio menghela napas panjang. "Ai, kau ... benar-benar menjengkelkan."

la mendekati lentera di meja dan menyulutnya. Setelah itu Laopan Nio menggeser badannya persis di muka cahaya lentera, sambil mengerling genit serunya, "Sudan cukup belum?"

"Belum."

"Belum cukup? Kenapa?"

"Sebab yang kulihat hanya gaunmu yang panjang, aku masih belum nampak pahamu yang mulus."

"Apa lagi yang kau inginkan?" kerlingan mata Laopan Nio semakin binal dan liar, "masa kau suruh aku menyingkap gaunku dan menggulungnya ke atas?"

"Ya," kata Siau-hong sambil tertawa, "memang itulah yang kuinginkan."

"Kau benar-benar jahat," seru Laopan Nio sambil menggigit bibir.

Bila seorang wanita menganggap kau jahat, maka bolehlah kau lega. Terhadap semua permintaan yang diajukan si musuh besar, kaum wanita tak pernah menampik, itulah sebabnya dalam waktu singkat Siau-hong telah menyaksikan paha Laopan Nio.

Sepasang paha yang mulus, halus dan sempurna, tak ada cacad. Sekalipun orang itu sangat pemilih, pasti mereka akan merasa puas. Tapi Siau-hong justru menghela napas panjang, ia malah kecewa. Ternyata sepasang paha di hadapannya ini bukanlah paha yang ingin dilihatnya. Yang ingin ia lihat adalah sepasang paha yang kuat, mulus kenyal, penuh tenaga muda yang liar.

Sepasang paha Laopan Nio termasuk putih, mulus dan lembut, tapi sayang sudah mulai mengendor, sekalipun masih memiliki daya rangsang untuk membangkitkan birahi lelaki, namun tidak memiliki kekenyalan.

Liok Siau-hong tidak berusaha menutupi kekecewaannya, sementara Laopan Nio juga tidak memperhatikan hal ini.

Tanya Laopan Nio dengan genit, "Sekarang kau ingin aku berbuat apa lagi?"

Siau-hong memejamkan mata. "Sekarang kuingin kau menurunkan kembali gaunmu, padamkan lentera di meja, lalu angkat kaki dari sini."

Kontan Laopan Nio marah sekali, kali ini ia betul-betul marah, ingin sekali cekik mampuskan si alis tipis ini.

"He, apa-apaan kau?" jeritnya.

"Rasanya sudah kukemukakan semua keinginanku dengan jelas," kata Siau-hong pelan, "rasanya sudah kau dengar dengan jelas pula."

Ia sangka perempuan ini pasti akan sinting gara-gara jengkel, bahkan bisa jadi akan menjotosnya beberapa kali atau menggigitnya berulang kali. Namun ia tak peduli. Untuk menghadapi perempuan sinting semacam ini, paling tidak ia mempunyai seratus macam cara mengatasinya.

Di luar dugaan Laopan Nio bukan saja tidak menjadi sinting, sebaliknya ia malah tertawa terkekeh-kekeh.

"Ah, kau ini!" serunya sambil tertawa keras, "kau memang bukan orang baik, busuk dan bukan manusia. Untung aku masih punya akal untuk menghadapi manusia macam kau."

"Oya?"

"Aku jamin bila hari ini kau biarkan aku keluar pintu ini, maka kau bakal menyesal seumur hidup."

Suaranya berubah sangat tenang dan halus, sama sekali tidak marah atau mendongkol. Reaksi yang sama sekali di luar dugaan ini kontan membuat Siau-hong heran.

"Jadi jika malam ini aku tidak menahanmu di sini, maka aku bakal menyesal seumur hidup?"

"Rasanya sudah kukemukakan semua keinginanku dengan jelas, rasanya sudah kau dengar dengan jelas pula," katanya menirukan perkataan Siau-hong tadi. Laopan Nio memperlihatkan giginya yang putih dan rata sambil tertawa lebar.

"Baik, anggap kali ini aku menyerah," ia mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah. "Dapatkah kau beritahu padaku, kenapa aku bakal menyesal seumur hidup?"

"Karena hanya aku seorang yang dapat memberitahukan kepadamu bagaimana keadaan Liu Ji-kong ketika tewas?"

Perkataan itu bagaikan sebuah cambuk, Siau-hong merasa tubuhnya seolah-olah dicambuk orang dengan keras, bahkan ia sempat melompat bangun dari atas ranjang.

"Kau tahu siapa pembunuhnya?"

"Mungkin aku ada sedikit informasi."

Sekujur tubuh Siau-hong serasa mengejang, namun suaranya jauh lebih lembut.

"Kalau begitu boleh kau beritahukan padaku sekarang?".

"Boleh, kau musuh besarku, kau suruh aku melakukan perbuatan apapun, aku pasti akan melakukannya," ujar Laopan Nio, setelah menghela napas, lanjutnya, "Namun sebelumnya paling tidak harus kau biarkan aku melakukan satu pekerjaan dulu."

"Pekerjaan apa?"

Laopan Nio menatapnya lekat-lekat, kemudian katanya sedih, "Lepaskan celanamu, biar kunikmati sepasang kakimu!"

Liok Siau-hong duduk seperti orang bodoh lantaran kaget setengah mampus.

"Gampang, pekerjaan apa lagi yang lebih gampang daripada seorang lelaki melepas celananya karena permintaan seorang wanita cantik? Asal dapat membuatmu senang, biar kucopot pun tak jadi soal."

Dia memang tidak berbohong. Belum selesai perkataan itu diucapkan, celananya sudah dilepas.

"Sekarang kau ingin aku berbuat apa lagi?"

Kerlingan mata Laopan Nio makin liar, makin genit, katanya, "Sekarang kuingin kau lempar jauh-jauh celanamu, padamkan lentera, lalu dekati aku dan peluk tubuhku."

Untuk melaksanakan satu pekerjaan, perlu pengorbanan. Demi seorang sahabat, pengorbanan sebesar apapun tetap akan ia lakukan. Liok Siau-hong termasuk orang yang berprinsip, dan itulah prinsip hidupnya. Maka lampu lentera pun segera padam.

Seorang pria dan seorang wanita berada dalam sebuah kamar, ketika lentera telah padam, banyak sekali perbuatan yang bisa mereka lakukan, ada kemungkinan juga perbuatan apa pun tidak mereka lakukan. Tapi bagaimana dengan mereka berdua?

Hanya ada satu hal yang benar, Liok Siau-hong pasti telah bertanya kepada Laopan Nio, "Darimana kau tahu, siapa pembunuh Liu Ji-kong?"

"Sebab di kota kecil dimana burung pun tak dapat bertelur di sini, hanya satu orang yang dapat membunuhnya."

Tentu jawabannya butuh keterangan yang jelas. Penjelasan Laopan Nio adalah kota Ui-sik terpencil, gersang dan jauh di perbatasan, sejak dongeng harta karun terbukti hanya kabar angin yang tak bisa dipercaya, semakin sedikit orang yang datang, apalagi jalan di kota kecil ini memang tidak berhubungan dengan mana pun.

Penduduknya hampir semuanya lahir, hidup dan mati di situ, mereka sudah terbiasa hidup dalam kemiskinan tapi aman sentosa, seandainya diharuskan pindah keluar daerah, belum tentu mereka dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat yang ramai, megah, mewah, penuh persaingan dan penuh kesibukan itu.

Laopan Nio kembali melanjutkan, "Misalnya si gendut mampus itu, sejak lahir dia hanya bercokol terus dalam toko kelontongnya, sudah berapa generasi mereka hidup dalam keadaan begini, jika sekarang kau suruh dia pergi, biarpun dapat meraih keuntungan yang amat banyak pun belum tentu dia punya nyali melakukannya, asal keluar satu langkah saja dari kota kecil ini, kakinya langsung lemas dan tidak bertenaga."

Sebagian besar penduduk kota kecil ini mempunyai problem yang sama, kehidupan miskin membuat mereka kehilangan semangat juang, semangat untuk berusaha, mereka sudah tidak punya keinginan mencari kebanggaan, mencari status sosial yang lebih tinggi.

Mereka memang tidak tahu kenikmatan apa yang bisa diraih dari gemerlapnya uang serta kemewahan. Semenjak beberapa ratus tahun berselang mereka sudah berdiam di kota kecil ini, hubungan antar keluarga melebihi hubungan saudara sendiri.

"Kecuali satu orang itu," kata Laopan Nio.

"Siapa?"

"Dia she Sah, nama aslinya sudah dilupakan orang, kita menyebutnya Sah Toa-hu!"

"Sah Toa-hu? Kenapa orang memanggilnya Sah Toa-hu?" tanya Siau-hong.

"Semua yang ada di kota Ui-sik, sampai sumur pun miliknya, kalau tidak memanggilnya Sah Toa-hu, lantas harus dipanggil apa?"

"Kenapa Sah Toa-hu membunuh Liu Ji-kong?"

"Aku tak pernah bilang dia membunuh Liu Ji-kong, aku hanya bilang, di kota Ui-sik orang yang bisa membunuh Liu Ji-kong pastilah Sah Toa-hu."

"Kenapa?"

"Karena aku tahu Liu-toaya juga jago pedang, padahal di kota ini begitu ada orang mencabut senjata, mereka sudah ketakutan."

Setelah berhenti sejenak, tegasnya, "Kecuali Sah-lopan, di Ui-sik tak ada orang lain yang berani mengusik Liu-toaya. Sebab selain Sah-lopan, tiada orang lain yang memiliki kemampuan sehebt itu."

"Kemampuan apa?"

"Sebenarnya dia sendiri pun tidak punya kemampuan."

Tadi Laopan Nio datang dengan membawa seguci arak, dia minum bersama Liok Siau-hong, rasanya sulit bagi Laopan Nio untuk tidak mabuk. Kata-katanya mulai melantur dan membingungkan.

"Sah-lopan memang jauh lebih tangguh dibandingkan orang lain," kata Laopan Nio, "dia punya banyak emas, mutiara dan mutu manikam."

"Apa sangkut-pautnya dengan kematian Liu Ji-kong?" Tanya Siau-hong.

Laopan Nio merangkul tengkuknya dan menepuk pipinya seperti seorang ibu menepuk pipi anaknya.

"Tahukah kau, ada banyak manusia persis seperti lalat, begitu melihat seonggok tahi, mereka segera datang merubung dan menghisapnya tanpa menghiraukan nyawa sendiri."

"Siapa lalat-lalat itu?"

"Perampok, buronan, pembunuh, jay-hoa-cat serta orang yang senang menjual teman sendiri, ketika didesak hingga tak punya jalan lain untuk menghindar, maka berubahlah mereka jadi lalat, mulai terbang berdenging menuju ke atas onggokan tahi."

Dia teguk habis arak terakhir dari dalam guci.

"Onggokan tahi yang berada di kota Ui-sik, tentu onggokan tahi yang paling jauh," katanya pula.

Siau-hong tahu, sebentar lagi perempuan ini akan berubah jadi kucing mabuk, dia tahu arak dalam guci itu merupakan arak yang sangat keras, mumpung dia belum mabuk, dia harus mengorek lebih banyak keterangan dari mulutnya.

"Di antara kawanan lalat yang kau sebut tadi, apakah ada di antaranya jago kelas satu?"

"Rasanya memang begitu."

"Kau anggap di antara perampok dan pembunuh yang bergabung di bawah pimpinan Sah Toa-hu, ada di antaranya sanggup membunuh Liu Ji-kong?"

"Aku sendiri tidak tahu," sepasang mata Laopan Nio nyaris merapat, "bila ingin tahu, kenapa tidak ke sana melihatnya sendiri?"

Selesai bicara, sepasang mata Laopan Nio sudah tak mampu dibuka lagi.

Terhadap seorang perempuan yang sudah mabuk, Siau-hong tak mampu berbuat apa-apa. Ia pun tinggal pergi mencari Sah Toa-hu, dia memang tak punya pilihan lain.

Nama asli Sah Toa-hu tentu saja bukan Toa-hu (si gedung besar), dia memang she Sah. Ayah, kakek, kakek buyutnya semuanya bernama Sah Toa-hu. Bagi keluarga mereka, kecuali "Toa-hu", rasanya memang tak ada sebutan lain yang lebih cocok untuk mereka.

Kakek moyang mereka, Sah Man-kok, cerdas dan suka belajar, usia tiga belas sudah menguasai ilmu sastra dan syair, usia delapan belas lulus ujian negara. Orangnya supel, suka bergaul dan tentu saja romantis. Tapi sayang keromantisannya harus dibayar mahal.

Keromantisan Sah Man-kok akhirnya harus dibayar dengan dibuangnya mereka ke perbatasan sebagai orang buangan, bahkan sepanjang masa tak boleh kembali. Keluarga Sah sebagai orang buangan akhirnya tiba di Ui-sik, sejak itu mereka hidup di kota ini, namun kehidupan mereka tetap sebagai keluarga bangsawan.

Karena Sah Man-kok adalah orang terpelajar, tak sampai setahun di kota Ui-sik, mereka berhasil menggali harta karun emas lantakan. Barang apa yang lebih berharga dari emas? Seseorang mungkin tak kenal berapa nilai sebuah lukisan, tembikar atau tulisan kuno, tapi siapa yang tak kenal emas? Kalau ada orang di dunia ini yang tak kenal betapa bernilainya sekeping emas, itu baru aneh namanya.

Sejak keluarga Sah kaya mendadak, kota Ui-sik pun dilanda demam emas, orang yang ingin kaya berbondong-bondong datang, dalam semalam kota Ui-sik jadi ramai dan hidup. Sayang kejayaan Ui-sik tidak bertahan lama, kecuali Sah Toa-hu, hanya segelintir orang yang berhasil menemukan emas itu. Sebagian besar pergi dengan kecewa, kota Ui-sik tetap seperti sedia kala.

Ketika Liok Siau-hong bertemu Sah Toa-hu, ini terjadi pada hari kedua setibanya di kota Ui-sik. Saat itu Sah Toa-hu sedang meneguk arak, selesai makan siang biasanya dia minum sedikit arak yang ringan, arak Sau-seng, yang khusus dia datangkan dari jauh.

Arak semacam ini memang ringan waktu diminum, tapi reaksinya luar biasa hebatnya, orang yang menemaninya minum adalah Sun-sianseng, konon dulunya orang ini adalah bupati, tingkah lakunya sopan, lembut dan sangat terpelajar.

Orang yang memberi lapor adalah Nyo Ngo, hari itu dia bertugas menjaga pintu.

Tangan kiri Sah Toa-hu memegang cawan arak, tangan yang lain memegang sumpit, matanya mengawasi sepotong paha ayam di atas piring, mendengar laporan itu ia segera menegur Nyo Ngo dengan ketus, "Kau kan tahu, setiap kali sedang bersantap aku paling benci menerima tamu?"

"Aku tahu."

"Kenapa tidak kau suruh orang itu pergi?"

"Sebenarnya ingin kucengkeram tengkuknya dan kulempar dia keluar."

"Kenapa kau tidak lakukan?"

"Aku tak sanggup, untung dia tidak melempar balik aku."

Sah Toa-hu berpaling, ditatapnya orang itu dengan matanya yang sipit. "Kukira kau hebat dan bisa diandalkan, ternyata begitu tak berguna?"

Biarpun berhadapan dengan sang majikan, cara bicara Nyo Ngo sama sekali tidak sungkan. "Aku masih tangguh, aku memang tak ingin mengusik orang ini."

"Sebenarnya siapa tamu itu?"

"Dia bukan manusia luar biasa, hanya seorang yang punya empat alis, Liok Siau-hong!"

Selama ini lagak dan gaya Sah Toa-hu amat sok, begitu kata "Liok Siau-hong" disebut, seakan secara mendadak ia berubah menjadi orang lain. Nama itu seperti mendatangkan pengaruh yang amat besar dan sangat istimewa.

Liok Siau-hong sendiri pun paham, meski cukup lama ia menunggu, namun ia yakin begitu Sah Toa-hu mendengar namanya, dia pasti akan muncul dan menyambut kedatangannya, bahkan akan menjamunya serta mengundang perempuan cantik untuk menemaninya. Terhadap masalah ini, dia sangat yakin dan percaya.

Suatu ketika, sehabis minum arak hingga mabuk, ia pernah bertanya kepada Lau-sit Hwesio, "Tahukah kau, manusia macam apa aku ini?" Tidak menunggu Lau-sit Hwesio menjawab, ia sudah lebih dulu menjelaskan, "Aku adalah orang yang ahli berbohong, membohongi orang untuk bicara, membohongi orang untuk makan minum. Cukup mengandalkan nama, aku bisa makan gratis dimana saja."

Lau-sit Hwesio tertawa, "Ternyata kau orang jujur."

Arak wangi, hidangan lezat telah disiapkan, Sah Toa-hu menyambut sendiri kedatangan Siau-hong, tamu yang hadir dalam perjamuan pun sangat banyak sehingga memenuhi ruang gedung. Siapa yang mau melewatkan kesempatan baik ini? Siapa yang tak ingin bertemu Liok Siau-hong?

Dengan lagak minta maaf Sah Toa-hu mengisi cawan arak Siau-hong. "Liok-heng, bukankah suasana di sini mirip pasar?"

"Ya."

Sah Toa-hu tertawa tergelak. "Padahal tempat ini sebetulnya tenang, penduduk sini pun bukan orang yang tak tahu aturan, tapi ketika mendengar Liok Siau-hong yang punya empat alis dan bisa mematahkan senjata dengan jari tangan berkunjung kemari, semua berebut ingin melihatmu, aku berusaha mencegah tapi tak berhasil, mau kuusir juga gagal, akhirnya terpaksa aku biarkan saja mereka hadir di sini."

Siau-hong menghela napas panjang. "Benar, hal ini memang susah diatasi, siapa suruh aku begitu terkenal? Maka hal semacam ini harus sering kujumpai."

Semua tertawa tergelak. Dari sekian orang yang hadir, hanya seorang yang tertawa paksa, seorang lelaki setengah umur yang bertubuh kurus kering, kecil dan mengenakan pakaian pelajar berwarna biru.

Siau-hong tidak memperhatikan orang itu, katanya kepada Sah Toa-hu, "Bagaimanapun keadaanku, semuanya sangat terkenal, aku percaya kau pun tahu bukan?"

"Ya."

"Lantas kenapa tidak kau tanya diriku, mengapa kutempuh perjalanan ribuan li untuk kemari?"

Sah Toa-hu menghela napas panjang. "Tempat ini miskin, yang datang pun makin sedikit, mimpi pun tidak menyangka, tokoh tersohor seperti dirimu juga mau berkunjung kemari."

Muka yang selalu tampil serius dan berwibawa, kini tersungging sekulum senyuman nakal, persis senyuman Liok Siau-hong. "Sudah kuduga kau pasti akan kemari."

"Oya?"

"Benar!"

"Darimana kau tahu?"

"Tahu, kedatanganmu karena sahabat, sahabatmu tewas di tempat ini."

"Tidak sedikit persoalan yang kau ketahui?"

"Biarpun tempat ini miskin, aku bukan pengemis!" Sah Toa-hu tersenyum, "bagi orang berduit, tidak sulit mencari informasi. Banyak orang yang kemari dan memberitahukan banyak hal kepadaku."

Tawanya makin lama makin bertambah riang, lalu ia pun melanjutkan, "Orang berduit tak beda dengan orang termashur, persoalan apapun lebih gampang dan lancar ketimbang orang lain."

Dalam hal ini siapa pun harus mengakui. Tiap kali Siau-hong mendengar perkataan yang masuk akal, ia akan kagum.

"Tampaknya kau punya sedikit kepandaian."

"Masih banyak kepandaianku yang lain," katanya sok pintar.

"Kecuali itu, apa lagi yang kau ketahui? Apakah kau juga tahu aku kemari karena sebilah pisau?"

"Mana mungkin aku tidak tahu," jawab Sah Toa-hu ketus, "mana mungkin ada persoalan di kota ini yang tidak kuketahui?"

Siau-hong menatapnya tajam, ujarnya pula, "Berarti kau pun tahu siapakah kedua orang itu?"

"Dua orang? Yang mana?" Sah Toa-hu berkerut kening.

"Jadi kau tidak tahu kedua orang yang ingin kutanyakan?"

"Tidak, biarpun tempat ini kecil dan orangnya sedikit, mana aku tahu orang yang kau maksud?"

"Rupanya ada juga urusan yang tidak kau ketahui?" jengek Siau-hong.

la hanya mengatakan hendak mencari dua orang, tapi dua orang yang mana? la tidak menjelaskan nama maupun asal-usulnya, juga tidak mengatakan bagaimana bentuk badan dan raut mukanya. Kalau ada orang bisa menjawab siapa gerangan kedua orang itu, ini baru hebat. Kenyataan memang begitu, mungkin hanya Siau-hong seorang yang sanggup mengatakannya.

la tahu Sah Toa-hu pasti akan marah, ucapan Siau-hong memang sering membikin jengkel orang. Lau-sit Hwesio yang pandai membawa diri, penyabar dan punya iman kuat pun sering dibuat mencak-mencak, apalagi Sah Toa-hu.

"Sebenarnya dua orang macam apa yang hendak kau cari?" sambil menahan sabar Sah Toa-hu bertanya.

"Seorang lelaki dan seorang perempuan."

"Kau ingin mencari seorang lelaki dan seorang perempuan? Bagus, bagus sekali."

Saking jengkelnya Sah Toa-hu tertawa keras, katanya pula, "Kebetulan penghuni dunia ini ada setengahnya adalah lelaki dan setengahnya perempuan, sekarang orang yang hendak kau cari adalah seorang lelaki dan seorang perempuan, bukankah sangat kebetulan?"

la marah, tapi Siau-hong sama sekali tidak marah, selama ini ia hanya pandai membikin orang marah, tapi jarang membuat marah diri sendiri.

Melihat tampang tamunya yang begitu gembira, Sah Toa-hu yang sedang marah pun tiba-tiba tertawa. "Hahaha, aku sudah tertipu olehmu."

"Tertipu olehku?"

"Kau sengaja membuat aku kheki, bukankah aku jadi seperti orang tolol?"

Padahal dia tidak goblok, tanpa sebab musabab tak mungkin Siau-hong membuatnya jengkel dan marah. Sejak bertemu, cara bicara kedua orang ini ngelantur dan tidak pakai aturan, persis seperti dua orang jago persilatan yang sedang beradu jurus, sama-sama berupaya menjatuhkan lawan.

"Ternyata kau persis aku, suka mencari menang sendiri," kembali Sah Toa-hu berkata, "kebetulan aku paling suka orang macam begitu."

"Tapi sayang kau berkumis," sengaja Siau-hong menghela napas panjang, "mungkin kau pun tahu aku hanya suka perempuan cantik."

Kali ini Sah-lopan tidak marah, marah bukan perbuatan baik, apalagi bisa mengganggu kesehatan. Sah-lopan selalu memperhatikan kesehatannya, maka tanyanya, "Laki dan perempuan yang sedang kau cari itu apakah memiliki ciri berbeda dengan orang lain?"

"Yang lelaki pandai menggunakan pisau."

"Koki di rumahku juga pandai menggunakan pisau," Sah-lopan tertawa tergelak, "apalagi kemampuannya memotong daging, dia sanggup mengiris setipis kertas."

Kemudian tanyanya lagi, "Jadi orang yang kau cari adalah kokiku?"

Siau-hong tidak menjadi gusar, balas tanyanya, "Apakah kokimu pandai membunuh orang?"

"Tentu saja tidak, dia hanya tahu mengiris daging."

"Mengiris daging apa?"

"Segala daging," kata Sah Toa-hu kemudian setelah berhenti sejenak, "hanya satu macam daging yang tak pernah diirisnya."

"Daging manusia?"

"Tepat sekali!" Sah Toa-hu tertawa keras, "daging manusia lebih kecut daripada daging kuda, aku tak akan mengizinkan kokiku mengiris daging manusia."

Sekali lagi Siau-hong menghela napas panjang. "Kau sendiri belum pernah mencicipi daging manusia, darimana tahu daging manusia rasanya kecut? Aneh sekali!"

Sah-lopan tidak menyahut, sebab ia sewot lagi. "Kalau yang lelaki memakai pisau, bagaimana dengan yang perempuan?"

"Yang perempuan lebih aneh lagi, rambutnya beruban, seperti nenek berusia enam tujuh puluh tahun, tapi memiliki sepasang paha yang indah, seperti paha nona berusia enam tujuh belas tahun."

Paha semacam ini, bila orang melupakannya dengan cepat setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, orang itu pasti bukan seorang lelaki. Tidak menyaksikan paha seindah ini, tampak Sah-lopan sangat menyesal.

Biarpun usianya sudah tua, bagaimanapun dia tetap seorang lelaki, malah biasanya semakin tua lelaki itu, makin suka dia menyaksikan paha mulus perempuan, biarpun cuma melirik sebentar.

Sah-lopan menghela napas, ia membayangkan paha mulus yang pernah dilihatnya, rasanya dirinya jadi muda kembali. "Apakah kau sempat melihat wajahnya?" tanya Sah-lopan.

"Tidak!"

Waktu itu Siau-hong memang tak sempat melihat mukanya, terlihat pun tak ada gunanya.

Warna rambut bisa dicat, paras muka dapat diubah, apalagi waktu itu langit sangat gelap, nyawa pun berada di ujung tanduk, mana mungkin dia dapat mengawasi mukanya?

Sudah barang tentu Sah-lopan tidak memahami situasi waktu itu. "Kenapa tidak kau perhatikan mukanya?"

"Karena aku seorang lelaki," jawab Siau-hong hambar, "ketika seorang lelaki sedang menikmati paha mulus, siapa yang punya waktu memperhatikan wajahnya?"

Pertanyaan yang tidak masuk akal, dijawab dengan jawaban telak.

Sah Toa-hu tertawa tergelak. "Sekarang aku paham, dimana letak kesulitanmu itu, perempuan semacam ini tak mungkin bisa kau temukan, kecuali kau melepas gaun yang dikenakan semua perempuan di kota ini dan memeriksa paha mereka."

"Ssssttt! Terus terang aku ingin memberitahukan kepadamu, aku bermaksud berbuat begitu," bisik Siau-hong dengan wajah serius dan suara lirih.

"Jika kau benar-benar akan melakukannya, jangan lupa beritahukan padaku, dengan begitu aku bisa ikut nonton ...."

Kedua orang itu sudah bicara setengah harian, tapi orang tidak tahu, mereka sedang adu mulut atau adu otak?

Liok Siau-hong ternyata hanya begitu saja, tak ada sesuatu yang istimewa, maka orang-orang yang berkumpul dalam ruangan pun mulai jenuh, satu per satu mereka pergi meninggalkan tempat itu.

Pelajar berbaju biru itu memang sejak tadi tak bisa tertawa, sekarang keadaannya bertambah runyam.

Tiba-tiba Siau-hong berteriak, "Kim-lo-jit, orang lain boleh pergi, tapi kau tak boleh!"

Siapa Kim-lo-jit? Tak ada yang tahu, tak heran semua orang terkejut. Bila orang terkejut, maka langkah kakinya otomatis berhenti. Semua orang mulai celingukan, ingin tahu siapa sih orang yang disapa Liok Siau-hong? Kenapa ia menahannya? Begitu juga yang dilakukan si pelajar berbaju biru itu.

Sekarang semua orang tahu, dialah yang sedang ditegur Siau-hong. Siau-hong mengawasi wajahnya tanpa berkedip.

"Liok-tayhiap, siapa yang kau panggil?"

"Aku bukan Tayhiap apa segala, seperti juga kau bukan Siucay. Yang kupanggil adalah begal kenamaan dunia persilatan yang bisa 'malam mencuri seribu rumah, pagi menyatroni seratus hartawan' Kim Jit-liang."

"Aku tidak kenal orang ini."

"Kau tidak kenal, tapi aku kenal," Siau-hong menandaskan, "kau adalah Kim Jit-liang!"

Nama Kim Jit-liang bukannya muncul tanpa alasan, nama itu hanyalah julukannya. Orang persilatan sudah terbiasa punya julukan, nama boleh busuk macam tahi anjing, tapi julukan tak boleh sembarangan, julukan harus didasari alasan kuat. Liok Siau-hong bukan kecil (siau) dan bukan angin (hong). Begitu juga dengan Sebun Jui-soat, tentu saja dia tidak benar-benar bisa meniup (jui) salju (soat). Li Sin-hoan (mencari kesenangan) justru seringkali yang dicari adalah kemurungan, Li Huai (jahat) ternyata tidak jahat, Oh thi-hoa (bunga besi) dan sekuntum thi-hoa pun tidak terjalin hubungan apa-apa.

Tapi Sah Toa-hu, jelas adalah Sah Toa-hu, pengemis cilik tetap pengemis cilik, telur busuk tak mungkin berubah jadi ikan busuk. Lantas kenapa Kim Jit-liang dipanggil orang Kim Jit-liang? Sebenarnya nama asli Kim Jit-liang adalah Kim Man-tong, (man = penuh, tong = gedung), dia mampu memenuhi satu gedung dengan emas.

Tapi sayang, emas yang dimiliki keluarganya sekarang, jangankan segedung, seteko pun tak penuh. Oleh sebab itulah sejak kecil dia sudah belajar silat, kepandaian yang paling diandalkan adalah Ginkang. Bila Ginkang telah dikuasai, maka kemana pun ia pergi tak ada yang mampu menghalangi, mau mengambil harta milik orang lain segampang merogoh barang dalam saku sendiri, bukankah hal ini jauh lebih menyenangkan ketimbang memiliki emas segedung?

Oleh karena sejak kecil dia sudah memiliki cita-cita setinggi langit, maka Ginkang benar-benar dilatihnya sempurna, bahkan dalam dunia persilatan ada orang mengatakan, asal Kim Man-tong menggunakan Ginkangnya, dia bisa hinggap di tanah tanpa suara, tubuhnya enteng dan dapat terbang di udara bagai kapas seberat tujuh liang, itulah sebabnya ia dipanggil Kim Jit-liang.

Biarpun perawakan Kim Jit-liang tidak tinggi dan kekar, tapi wajahnya bersih, gigi putih dan bibir merah, sejak kecil sudah disukai orang, kalau tidak, mana mungkin ada perampok, hui-cat (penjahat terbang) yang mau mewariskan Ginkang kepadanya?

Tapi Siucay ini kurus kering dan wajahnya kuning seperti orang penyakitan, apa benar dialah Kim Jit-liang? Atau mungkin Liok Siau-hong salah lihat?

"Aku tak bakal salah lihat," tandas Siau-hong, "ia mengenakan topeng kulit manusia, meskipun topeng yang bagus, aku percaya topeng itu harganya ratusan tahil, tapi jangan harap bisa mengelabui aku."

Siau-hong menghampirinya, Siucay itu menatapnya tanpa berkedip, tiba-tiba ia menghela napas panjang. "Liok Siau-hong, aku benar-benar heran, kenapa kau belum juga mampus? Apakah selamanya kau tak bakal mati?"

Kim Jit-liang jelas adalah seorang pintar. Jika seorang tahu tak mungkin dirinya bisa membohongi orang, maka dia akan memutuskan untuk tidak berbohong lagi. Si Siucay melepas topeng yang dikenakannya. "Liok Siau-hong, kau mampu mengenaliku, apa yang bisa kukatakan lagi?" kata Kim Jit-liang, "tapi ketahuilah topeng ini jauh lebih mahal dari dugaanmu."

"Oya?"

Kim Jit-liang membelai topengnya yang tipis dan lembut itu bagaikan seorang ayah membelai anak gadisnya. "Topeng ini barang asli dari 'Ang-khek', kutukar dengan lukisan asli Go-tocu dan sebuah kristal setinggi empat kaki untuk mendapatkannya, paling tidak nilainya beberapa ribu tahil."

"Sungguh?"

"Tentu."

Siau-hong hanya bisa meringis. "Jika topeng itu benar kau dapatkan dengan menukar kedua barang itu, lebih baik kau lekas gantung diri."

"Kenapa? Memangnya topeng ini palsu?"

"Kalau topeng itu tidak palsu, aku yang akan gantung diri."

Kim Jit-liang tertegun.

"Bila itu adalah topeng Ang-khek asli, jangankan manusia, dewa dan malaikat pun tak bakal mengenalimu."

Ang-khek adalah nama lain Cu Ting, Cu Ting adalah manusia luar biasa, dia pun sahabat Liok Siau-hong.

Kini ganti Kim Jit-liang yang meringis, rasanya orang tertipu kadang jauh lebih menderita ketimbang makan tahi kucing, sekarang tahi sudah masuk perut, mana mungkin bisa ditumpahkan keluar? Menangis tak bisa, mau tumpah pun tak dapat, mulut Kim Jit-liang terasa kering dan bau.

Siau-hong mengawasinya, lalu ditepuknya bahu si Siucay. "Kau tak perlu marah, juga tak usah sedih, asal kau bersedia bicara jujur, akan kuhadiahkan selembar topeng Ang-khek asli."

"Jika kau ingin bertanya siapa perempuan itu, kau telah salah orang, sebab aku tidak pernah memperhatikan paha perempuan."

"Aku tahu! Selama ini kau hanya suka melihat paha lelaki."

Pada masa itu, pria suka pria, perempuan suka perempuan adalah kejadian biasa dan lumrah.

NamuN toh wajah Kim Jit-liang berubah.

Topeng asli Ang-khek belum tentu bisa menggerakkan hatinya, tapi pandangan Siau-hong serta cara bicaranya membuat rasa rendah dirinya lenyap, juga membuatnya merasa telah bertemu sahabat yang bisa menyelami perasaannya. Perasaan semacam ini memang susah disembunyikan, tentu saja Siau-hong dapat melihatnya.

"Kau tahu Liu Ji-kong?"

"Tahu, dia datang tahun lalu, bahkan tewas di sini."

"Apa sebab kematiannya?"

"Mati ditusuk pisau."

Tiba-tiba paras muka Kim Jit-liang berubah sedih, katanya pula, "Kejadian ini mirip ketika aku menusuk mati cucu Thian-toaya di sebuah lorong gelap, kejadian yang tidak jelas penyebabnya."

"Jadi lantaran kau telah membunuh Thian si kecil, maka kau kabur kemari?" tanya Siau-hong.

"Bila kau telah membunuh seorang yang tidak pantas dibunuh dan tak boleh dibunuh, satu-satunya jalan adalah kabur," ujar Kim jit-liang sedih, "hidup sebagai buronan itu tidak enak, susah dan sengsara, akhirnya toh bakal ketahuan dan tertangkap."

"Kenapa?"

"Setelah membunuh, pikiran pasti kalut, dalam kekalutan pasti akan meninggalkan jejak, betapapun lihainya Ginkangmu, betapa cepatnya kau melarikan diri, asal ada sedikit jejak, orang pasti dapat mengejarmu, pasti dapat membekukmu."

"Jadi pembunuh Liu Ji-kong telah meninggalkan jejak, apa itu?"

"Sebilah pisau, pisau yang sangat istimewa."

Dalam pandangan orang persilatan, pisau tetap pisau, manusia adalah manusia, semua manusia bisa terbunuh, pisau pun bisa untuk membunuh. Prinsip semacam inilah yang selalu dipegang dan dianut orang persilatan. Bila mereka mengatakan pisau itu sangat istimewa, maka pisau itu pasti istimewa.

"Apa keistimewaan pisau itu?"

"Pisau itu sebetulnya bukan sebilah pisau."

Siau-hong tidak tuli, ia juga tidak mabuk, bahkan hari ini setetes arak pun belum ia minum. Kim Jit-liang memang tidak berbohong, pisau itu memang lebih tepat dikatakan badik. Bentuknya indah, buatannya juga halus, jelas harganya mahal. Gagang badik terbuat dari gading gajah berukir gadis telanjang. Tiap lekuk tubuhnya, garis badannya terukir jelas dan sempurna, seperti hidup, bila ukiran itu ditatap agak lama, akan terlihat alis mata gadis itu seakan sedang berkedip, kerlingan matanya menggoda, menantang. Warna gading itupun persis warna kulit seorang gadis, hangat, lembut dan berkilauan.

Jika payudaranya ditekan pelan, dari balik gagang badik akan melejit mata badik yang amat tajam, mata badik itu berwarna hitam, dan akan memancarkan sinar berkilauan ketika darah mengering. Tak bisa dipungkiri, badik itu merupakan hasil karya pemahat ulung, bahkan usianya sudah tua sekali, sebuah badik antik yang langka.

Sah Toa-hu mengeluarkan badik itu dari kamar bacanya, dari balik rak buku, dalam sebuah ruang rahasia di belakang rak itu. Ketika tombol ditekan, mata badik segera akan keluar, cahaya tajam brkilauan terang dan menyeramkan bagai cahaya darah.

"Inilah senjata yang telah menghabisi nyawa Liu-tayhiap," Sah Toa-hu menerangkan, "terhadap benda setajam ini, tentu aku baru lega jika menyimpannya sendiri, menyimpan di sini tentu jauh lebih aman ketimbang disimpan di toko peti mati."

Setelah berhenti sejenak, katanya pula, "Aku tak ingin benda ini terjatuh ke tangan orang lain, karena aku ingin menyerahkan sendiri kepadamu."

Siau-hong menggenggam gagang badik, tiba-tiba ia menghela napas. "Tampaknya kau memang orang baik," katanya kepada Sah Toa-hu, "bila aku jadi kau, tak akan kuserahkan benda ini kepada orang lain, apalagi diberikan secara gratis."

Setelah tertawa, ia pun melanjutkan, "Bila kau tahu betapa mahalnya badik ini serta darimana asalnya, belum tentu akan kau serahkan kepadaku begitu saja."

"Oya?"

"Badik ini barang kuno yang antik sekali, usianya lebih tua dari usia kakek buyutnya kakek buyutku!"

"Soal itu sih sudah kuketahui, manusia punya asal-usul, begitu juga dengan badik."

"Kau tahu asal-usul badik ini?"

"Tidak."

"Badik itu muncul karena ditembakkan dari balik gagangnya. Tukang pandai besi di daratan Tionggoan tak bakal mau bersusah payah membuat senjata serumit ini, padahal kalau bukan pandai besi kenamaan, mustahil bisa membuat badik setajam ini. Karena itu dapat kusimpulkan benda ini berasal dari Persia."

"Persia? Bukankah orang Persia memakai golok lengkung?"

"Memangnya ini golok?"

Memang bukan golok, hanya sebilah badik, terpaksa Sah Toa-hu tertawa getir. Sialan benar orang ini, suruh orang mengambil batu lalu dilemparkan ke atas kaki sendiri?

"Aku pernah hidup di tengah samudra, asalkan tempat itu berhubungan dengan laut, mereka pasti pernah mendatangi. Tempat terjauh yang mereka singgahi ibarat sudah mencapai ujung langit, aku percaya perkataan mereka, biarpun tidak semua orang baik, ada yang buas, kejam dan tidak pakai aturan, tapi terhadap kawan sendiri tak pernah berbohong," kata Siau-hong.

Mereka tentu saja bukan perompak semua. Di antara teman-temannya terdapat juga perompak, hal ini tidak mengherankan. Jika kawannya hanya sebangsa Kuncu saja, itu baru aneh namanya.

"Di antara orang-orang itu terdapat seorang pelaut tua, saking tuanya sampai dia lupa nama aslinya, orang tua itu memiliki sebilah badik seperti ini," lanjut Siau-hong.

Pelaut tua itu sudah pasti bukan pelaut kapal nelayan, di sekitar laut Persia banyak kapal-kapal megah yang membawa bendera kerajaan, tetap saja tak terhindar dari perompakan.

Darimana pelaut tua itu memperoleh badik itu? Rasanya tak sulit ditebak. Ia sendiri pun tidak menyangkal.

"Badik ini biasa ditemukan dalam istana!"

Dalam istana, para putra mahkota saling gontok berebut kursi kebesaran, para selir berebut menarik perhatian sang kaisar, para pembesar saling sikut untuk meraih kekuasaan lebih besar, dari dulu sampai kini hampir semua kerajaan mengalami kejadian seperti ini, bahkan tidak membedakan daerah maupun negara. Untuk meraih ambisinya, orang menghalalkan segala cara, mengirim pembunuh bayaran, mencampuri makanan dengan racun, kejadian ini sudah biasa dan lumrah.

Bila secara tiba-tiba ada pangeran mati terbunuh atau selir mendadak hilang, maka seluruh pengawal istana serta para pejabat yang berwenang akan berusaha merahasiakan peristiwa ini, mereka tak akan membiarkan berita itu tersebar, bahkan jangan sampai sang Baginda tahu, dalam kalangan istana memang tak boleh ada berita yang memalukan.

Bila ada orang melakukan penyelidikan, maka perbuatannya bukan saja telah melanggar pantangan dan larangan, bahkan akan memancing kemarahan orang banyak. Demi melindungi keselamatan diri sendiri, jika perlu turun tangan terlebih dahulu terhadap orang lain. Pangeran dan selir kesayangan yang punya kekuatan pasti akan memelihara banyak jagoan, pengawal serta pembunuh bayaran.

"Tidak setiap orang bebas keluar masuk dalam istana dengan membawa senjata, maka badik maut yang mirip perhiasan akan menjadi barang kesayangan, barang berharga pembunuh bayaran," tutur tukang perahu tua itu.

Sudah pasti benda tajam seperti ini tidak gampang diperoleh. Kembali tukang perahu tua itu menerocos, "Di saat situasi dalam kerajaan Persia tidak stabil, harga badik ini bisa mencapai lima ribu lima ratus tahil emas."

"Di pasaran budak, seorang budak perempuan berambut pirang harganya paling tinggi tujuh delapan tahil, apalagi bila bukan perawan, nilainya tak sampai setengahnya."

Lima ribu tahil emas untuk sebilah badik kecil, bagaimana mungkin barang antik yang tak ternilai harganya di Persia itu bisa terdampar di kota kecil pinggir gurun pasir? Siapa yang membawanya? Dalam kota sekecil ini, siapa yang pantas dan punya kemampuan melakukannya?

Di kalangan istana negeri Persia, siapa pula yang pantas dan berhak menggunakannya? Hanya ada sejenis orang yang pantas, dan hanya sejenis orang yang sanggup menggunakan senjata maut seperti ini. Tentu saja orang yang mampu menggunakan senjata itu pandai memanfaatkan kesempatan, begitu turun tangan tak pernah meleset sasaran.

Biasanya orang semacam ini mempunyai gaya dan kebiasaan khas yang tak bisa ditiru orang lain, jauh berbeda bila dibandingkan cara kerja pembunuh bayaran pada umumnya. Karena biasanya orang semacam ini seringkali keluar masuk dalam istana. Mereka selalu tampak sopan, penuh tata krama dan halus budi, semua itu harus dipelajari dan dilakukan saban hari agar menjadi kebiasaan. Itulah sebabnya orang yang bergaul dengan mereka adalah golongan masyarakat kelas atas, bangsawan atau keluarga kerajaan.

Hanya pembunuh bayaran semacam ini yang bisa keluar masuk dengan bebas dalam istana, ruang tidur kaum bangsawan, bisa membunuh tanpa suara dan lolos tanpa meninggalkan bekas. Jauh berbeda dibanding pembunuh bayaran dunia persilatan. Pembunuh bayaran dunia persilatan memiliki penampilan sederhana, raut muka mereka tak boleh memiliki ciri khas yang gampang diingat orang, juga tak boleh memiliki gaya atau kebiasaan yang khas, agar orang lain tidak menduga keberadaan mereka.

Bila kau sama sekali tak dapat merasakan kehadiran manusia semacam ini, bagaimana mungkin mewaspadainya? Maka sering dikatakan, "Bila orang yang akan kau bunuh adalah seorang telur busuk, maka langkah pertama yang harus kau lakukan adalah jadikan dirimu seorang telur busuk lebih dahulu".

"Sekarang kita sudah tahu lebih banyak tentang badik itu," kata Siau-hong, "kita sudah tahu harganya sangat tinggi, bahkan merupakan barang antik istana Persia, dapat dipastikan orang daratan yang tahu hal ini amat sedikit."

Dengan luasnya pengetahuan, pengalaman serta pergaulannya, ia sendiri pun hanya pernah melihat dua kali.

"Pemakai senjata itu, status sosialnya pasti tinggi, ilmu silatnya tangguh dan serangannya cepat," ujar Siau-hong, "bila tidak memiliki keyakinan berhasil dalam sekali serangan, orang itu tetap bersikeras menggunakan senjata itu untuk membunuh, hakikatnya orang itu takkan menyia-nyiakan kehebatan senjata mestika itu."

Lalu sambil berpaling ke arah Sah Toa-hu, tanyanya hambar, "Menurut pandanganmu, siapa jagoan di sini yang pantas dan cocok menggunakan senjata ini?"

"Rasanya hanya ada satu orang," kata Sah Toa-hu sambil tertawa getir, "dan orang itu adalah aku!"

"Benar, namun ini hanya dugaan saja," kata Siau-hong sambil menghela napas.

"Kenapa?" teriak Sah Toa-hu nyaring, amarahnya kembali meledak, "memang aku tidak pantas?"

"Sepantasnya memang kau, tapi rasanya kau takkan sanggup membunuh Liu Ji-kong dalam sekejap mata."

"Aku tak sanggup?"

"Tidak hanya kau, hampir tidak ada yang mampu, apalagi membunuh Liu Ji-kong dari depan dan dengan sekali tusukan."

Sah Toa-hu mengawasi Siau-hong, tiba-tiba badik di tangan Siau-hong telah direbutnya.

Siau-hong berdiri tertegun.

Sambil tertawa, seru Sah Toa-hu, "Liok Siau-hong, kali ini kau keliru, akulah pembunuh Liu Ji-kong, kau tidak percaya?"

Paras muka Siau-hong berubah hebat, seakan dia melihat ada sekuntum bunga terompet yang tumbuh di hidung seseorang.

Tampangnya ini membuat marah Sah-lopan memuncak, diiringi bentakan nyaring, badik dalam genggamannya ditusukkan ke hulu hati Siau-hong dengan cepat. Tentu bukan pekerjaan sulit baginya untuk membunuh seseorang dari jarak sedekat itu. Serangan ini dilancarkan mendadak dan di luar dugaan Siau-hong, tampaknya ujung badik itu segera akan menusuk hulu hatmya. Saat itulah kedua jarinya menyambar ke depan menyongsong datangnya tusukan maut itu. Tidak jelas darimana datangnya kedua jari itu, seakan tiba-tiba muncul dari balik hulu hati, tahu-tahu kedua jari itu sudah menjepit ujung badik. Dalam waktu singkat badik itu sudah berpindah tangan, pindah ke tangan Siau-hong.

Kali ini paras muka Sah-lopan berubah hebat, sementara Liok Siau-hong tertawa lebar.

"Sekarang aku baru tahu, ternyata memang bukan kau pembunuh Liu Ji-kong. Kalau kau sanggup membunuh Liu Ji-kong dengan sekali tusukan, maka aku pun sanggup meniup seekor kerbau ke negeri Persia."

Sah-lopan memandangnya dengan mata melotot, parasnya berubah merah karena gusar, tiba-tiba ia tersenyum. "Liok Siau-hong, kau memang hebat, aku takluk padamu," katanya, "tapi ada satu hal yang aku tak mengerti."

"Soal apa?"

"Kau bilang tak seorang pun di kolong langit yang sanggup membunuh Liu Ji-kong dengan sekali tusukan, kenyataan Liu Ji-kong tewas dalam sekali tusukan, tusukan langsung dari depan, apa yang sebenarnya terjadi?"

Tanpa pikir Siau-hong menjawab, "Karena pembunuhnya punya hubungan dekat dengannya, tak pernah dicurigai, tak diwaspadai, seorang sahabat karibnya."

"Aku pun sahabatnya."

"Tapi hubungan kalian tidak akrab."

"Teman macam apa baru bisa sangat akrab?".

"Mestinya kau pun tahu, sahabat yang tidak diwaspadai, tidak dicurigai, biasanya pasti bukan sahabatnya, juga bukan seorang laki-laki."

"Kalau bukan sahabatnya, lalu apanya?"

"Kekasih, kekasih gelap."

Sah-lopan tampak semakin bodoh, gumamnya, "Jadi Liu Ji-kong punya kekasih gelap di tempat ini?"

Tampaknya hanya sebuah pertanyaan yang berlebihan. Bila seorang lelaki menginap di suatu tempat, kemungkinan dia akan punya kekasih gelap. Tidak peduli lelaki macam apa, termasuk Liu Ji-kong. Lalu siapa kekasih gelapnya? Apakah Laopan Nio? Mendadak timbul perasaan aneh, sejak awal Siau-hong seperti merasa ada golok yang dipalangkan di tengkuknya. la tidak ingin menyentuh perempuan itu walau seujung rambutnya.

Ternyata keadaan Sah-lopan tak jauh berbeda, ia bergidik. Mungkin karena dia pun mempunyai hubungan khusus dengan Laopan Nio yang genit itu.

Berpikir sampai di sini, hati Siau-hong makin tak enak, ternyata apa yang dibayangkan semula, kenyataan jauh di luar dugaan. Titik terang penyebab kematian Liu Ji-kong ternyata jauh di luar harapannya. Sebetulnya setiap orang yang ada di situ patut dicurigai, dari mereka mungkin bisa diperoleh petunjuk atau titik terang yang membawanya ke pembunuh sebenarnya. Tapi kecurigaan dan titik terang yang berhasil dihimpun akhirnya dimentahkan kembali olehnya sendiri.

Misalnya pengemis kecil itu, ketika pertama kali tiba di kota ini, dialah orang pertama yang dijumpai. Baik she maupun nama pengemis itu tak jelas, ilmu silatnya juga tak jelas, tingkah lakunya mencurigakan, dia selalu kasak-kusuk berlagak seperti maling kecil yang mau mencuri barang. Ada kalanya dia menerobos masuk ke bawah ranjang Siau-hong, namun tak tahu apa yang sedang dia cari.

Orang pertama yang dijumpai Siau-hong memang dia, orang yang pertama kali menemukan jenazah Liu Ji-kong juga dia. Sebenarnya orang ini paling mencurigakan, sekalipun bukan pembunuh sebenarnya, paling tidak dia adalah pembantu dalam pembunuhan itu. Apa mau dikata, ternyata orang ini adalah anak murid Kay-pang, perkumpulan yang berhubungan akrab dengan Siau-hong.

Jenazah Liu Ji-kong masih terbaring dalam toko peti mati, demikian juga senjata pembunuhnya. Bagaimana mungkin si pemilik toko peti mati tidak dicurigai terlibat dalam pembunuhan ini? Tapi kemudian senjata pembunuh itu hilang. Dari mimik si pemilik toko peti mati, rasanya dia pun tidak mirip seorang yang pandai membunuh.

Laopan Nio toko kelontong suka menggaet lelaki, suka main serong dengan pria, setiap orang dapat menidurinya, setiap orang dapat mengajaknya naik ranjang, tapi berbuat serong bukanlah membunuh orang. Apalagi pahanya ternyata bukan paha mulus yang dicari!

Ong Toa-yan, si mata gede, dia lebih mirip lelaki buta, bininya main serong dengan lelaki lain pun sama sekali tak diketahuinya. Kalau dibilang orang ini yang membunuh Liu Ji-kong dari depan, dalam sekali tusukan, itu baru aneh.

Sah-lopan adalah orang yang paling pantas dan mampu membunuh Liu Ji-kong, dia punya duit, bisa kungfu, juga ada orang yang bersedia menjual nyawa baginya, senjata pembunuh pun ditemukan di rumahnya. Tapi penampilannya seperti bos besar.

Yang lebih penting lagi, orang-orang itu adalah penduduk pribumi, mereka tak punya dendam pada Liu Ji-kong, sedikitpun tak ada hubungan. Tidak ada alasan untuk membunuhnya, sialnya Liu Ji-kong justru mati di tempat mereka.

Lalu siapa pembunuhnya? Kenapa dibunuh? Siau-hong tahu, di balik semua ini pasti terdapat kunci rahasia yang belum terpikirkan oleh siapa pun. Kunci rahasia itu pasti tersembunyi di sudut buntu pikiran manusia.

Apa yang dia pikirkan memang benar. Sayang ketika jalan pikirannya memasuki sudut buntu itu, ketika menemukan kunci rahasia itu, dia sudah mati.

Mana mungkin Liok Siau-hong mati?

-00-

Bersambung ke bagian 3

Bagian 3

Matahari awal musim semi dengan kemalas-malasan muncul dari balik awan, langit dan udara di kota Ui-sik terasa cerah dan segar.

Dari kediaman Sah Toa-hu menuju toko kelontong Ong Toa-yan, orang harus melewati jalan berpasir yang cukup jauh. Cairan salju membuat tanah berpasir berubah jadi lumpur, bila berjalan di atasnya, kaki akan penuh lumpur. Perasaan semacam ini selalu mendatangkan ketidak-nyamanan bagi siapa pun.

Liok Siau-hong tidak ingin menggunakan Ginkang, dia ingin menikmati suasana hening dan terpencil di tempat ini, udara bersih dan dingin semacam ini sangat membantu menjernihkan pikirannya.

Cepat dicarinya dua potong kayu, dengan menggunakan badiknya ia buat sepasang egrang, lalu diikat di sepatunya, dengan begitu dapatlah

ia melewati jalanan berlumpur itu dengan gembira dan bersih. Untuk pertama kali inilah ia memanfaatkan badik itu.

Sekarang sudah tengah hari, angin berhembus terasa hangat dan segar, walaupun pikiran Liok Siau-hong masih dicekam beberapa persoalan, namun ia masih bisa menikmati suasana segar ini.

Ia bukan termasuk jenis orang yang setiap saat selalu menjaga hartanya, juga bukan termasuk orang yang suka memendam segala kegundahan dan keruwetan pikiran. Prinsipnya, segala kegundahan dan keruwetan ibarat harta kekayaan, makin cepat buyar semakin baik.

Angin berhembus, meniup ranting-ranting yang berderet sepanjang jalan, ranting gundul yang belum ditumbuhi daun, menimbulkan suara gemerasak ramai. Siau-hong tidak menghentikan langkahnya, sambil mengangkat kepala ia memanggil, "Kim Jit-liang!"

"Liok Siau-hong!" Kim Jit-liang berdiri di bawah pohon, sepintas mirip kapas seberat tujuh Hang.

Ia memandang Siau-hong sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Sepantasnya namamu bukan Liok Siau-hong, karena kau tidak mirip seekor burung, lebih mirip ayam cilik."

Siau-hong tertawa. Ia sendiri pun merasa, dengan memasang dua tongkat panjang di bawah kakinya, memang mirip seekor ayam.

"Kim Jit-liang, mau apa kau kemari? Mengejarku?"

"Mengejarmu? Untuk apa mengejar ayam jago, enakan mengejar ayam babon. Aku terdesak dan kehabisan akal, terpaksa aku kabur ke sini."

"Siapa yang memaksamu?"

"Tak ada orang yang bisa memaksaku, hanya kemarahan yang bisa membuat aku menyingkir."

"Siapa yang marah?"

"Tentu saja Sah-lopan, hanya dia yang bisa memaksa orang menyingkir."

"Sah-lopan sedang marah?'

"Bukan hanya marah, bahkan marahhya setengah mati."

"Marah kepada siapa?"

"Tentu saja padamu, dia sudah berpesan ke dapur agar menyiapkan hidangan yang paling lezat untuk menjamumu, tapi kau bersikeras menolak undangannya, coba kalau kau jadi dia, masaah kau tidak marah?"

"Tidak, aku takkan marah, malah gembira setengah mati."

"Gembira?"

"Aku menolak undangannya berarti dia bisa menghemat arak, juga hidangan, kenapa dia tidak gembira? Kenapa mesti marah?"

"Kau bukan dia, maka kau bisa bicara begitu. Kau harus tahu, Sah-lopan gila hormat, sok gengsi, Liok Siau-hong datang ke wilayahnya, tapi menolak makan di rumahnya, penolakan ini adalah penghinaan baginya, rasa jengkelnya mungkin melebihi saat bininya dicuri orang, karena itu aku pun tak tega meneruskan makanku."

"Pantas kau pergi begitu saja dan mencari aku. Jadi kau ingin aku mentraktirmu?"

Kim Jit-liang tertawa. "Akulah yang ingin mentraktirmu, tapi jika kau ngotot, aku perlu memberi muka kepadamu bukan?"

Siau-hong ikut tertawa. "Aku memang benar-benar ingin mentraktirmu, sayang di sini tak ada rumah makan."

"Asal kau bersedia keluar uang, aku bisa mengatur segalanya, jika menghamburkan uang orang lain aku tak sanggup, percuma aku bernama Kim Jit-Iiang, mending jadi Kim Toh-kau saja (Kim si anjing buduk)."

Ternyata dia memang punya akal. Ketika sepuluh tahil perak diserahkan ke tangan Ong Toa-yan, tak sampai satu jam, arak dan hidangan sudah siap di atas meja dalam kamar tidur Liok Siau-hong.

Biarpun kualitas araknya tidak bagus, masakannya ternyata lezat dan sedap, terutama angsio ayamnya, benar-benar menambah selera makan, Siau-hong yang biasanya bawel dalam hal makanan pun puas.

"Tak tersangka, Laopan Nio pandai memasak."

"Kau keliru, ini bukan masakan Laopan Nio, tapi Ong-lopan sendiri yang turun ke dapur."

Kim Jit-liang mengawasi Siau-hong, lanjutnya, "Tampaknya apa saja akan dia makan."

Siau-hong tidak menjawab, sepasang matanya mengawasi angsio ayam.

Kim Jit-liang mengawasinya, tertawa geli dan tiba-tiba menghela napas panjang, "Orang lain mencuri sebutir telur di tokonya dapat dilihatnya dengan jelas, namun ketika bininya dicuri, dia seakan tak melihat. Tahukah kau, apa kata orang di kota ini tentang dirinya?"

"Apa?"

"Si Buta Tio memiliki mata pencoleng yang dapat melihat apa pun, justru si mata besar Ong yang sebetulnya buta."

Kembali Kim Jit-liang tertawa terbahak-bahak, seakan baru saja mengatakan lelucon yang paling menggelikan, sayang ia tak bisa tertawa lagi ketika Siau-hong membungkam mulutnya dengan sepotong paha ayam.

Setiap kali menyinggung Laopan Nio, Siau-hong selalu berharap bisa mengalihkan pembicaraan ke hal lain, tak disangka kali ini vang mengalihkan pembicaraan bukan dia, melainkan Kim Jit-liang.

"Liok Siau-hong, terus terang, walau belum lama kita berjumpa, namun aku sudah menganggapmu sebagai sahabat," kata Kim Jit-liang, "sekalipun kau tidak menganggapku sebagai teman, kau tetap sahabatku."

Tampaknya takaran minum orang ini tidak terlalu hebat, setelah meneguk beberapa cawan, ia mulai mabuk.

"Aku tahu, kau pasti heran, kenapa aku melarikan diri ke tempat ini, dunia begitu luas, aku mampu pergi kemana pun, dimana aku berada, orang menganggapku sebagai tamu agung, melayani aku bagaikan bos besar, tapi kenapa aku kabur kemari dan bergabung dengan si anjing jadah yang sok gengsi, sombong, jumawa dan takabur itu?"

Arak rupanya membangkitkan keberaniannya yang selama ini terpendam, Sah-lopan tiba-tiba berubah jadi anjing jadah. Ucapan semacam ini sudah banyak didengar Siau-hong, kejadian seperti inipun sudah sering dihadapi pemuda itu.

Tiba-tiba ia bertanya, "Kenapa kau kabur kemari?"

"Gara-gara seekor ular, ular beracun yang seratus kali lipat lebih beracun ketimbang ular bergaris merah."

Tentu saja bukan ular sungguhan, tak mungkin ada ular yang lebih beracun ketimbang ular bergaris merah. Tanpa sadar Siau-hong teringat sesuatu, katanya, "Ular beracun yang kau maksud pasti Coa Long-kun (si murid ular)!"

Usia Coa Long-kun tidak muda, dua puluh lima tahun lalu, Congpiautau Lian-eng-piau-kiok yang membawahi tujuh propinsi di selatan dan enam propinsi di utara, In-ji-thay-san (mapan bagai bukit Thay-san) Khong Thay-san pernah menyebar Bu-lim-tiap untuk memburunya, bahkan dengan perintah "Bunuh tanpa ampun".

Peristiwa besar ini sangat menghebohkan sehingga hampir semua orang persilatan tahu. Yang tidak diketahui adalah mengapa Khong-congpiautau begitu marah dan dendam terhadap pemuda ingusan yang belum lama terjun ke dunia persilatan itu.

Orang yakin dan percaya, Khong-congpiautau tak akan mengambil langkah tegas bila tidak didasari alasan kuat, sekarang dia ingin membunuh Coa Long-kun, berarti dia memang pantas dibunuh.

"Orang ini lebih beracun dari ular beracun, lebih licin daripada ular, aku sudah membuntutinya tujuh delapan bulan, belakangan ini aku baru dengar dia muncul di sini. Aku dengar di sini ada orang bernama Sah-lopan, asal ada orang persilatan yang punya sedikit nama tiba di sini, betapa besar dan beratnya kasus yang menimpa orang itu, Sah-lopan bersedia menampungnya."

"Maka kau berpendapat si ular licin itu pasti bersembunyi di rumah Sah Toa-hu?"

"Siapa pun pasti punya pikiran begitu, rasanya begitu juga kau? Sepasang laki perempuan yang sedang kau cari pun rasanya ditampung Sah-lopan."

"Benar."

"Kau salah besar."

"Salah? Darimana kau tahu orang yang sedang kucari bukan buronan yang berada di sini?"

"Mereka mengira aku yang telah membunuh Siau-thian, mengira Thian-toaya bersumpah akan mencabut nyawaku, maka persoalan apapun tak pernah dirahasiakan. Mereka menganggap aku komplotannya, siapa pun tak menyangka aku sebetulnya hanya penonton."

"Jika orang yang ingin kau bunuh adalah si telur busuk, maka kau harus jadi telur busuk dulu, jika kau ingin menyelinap ke dalam rombongan kura-kura untuk menyelidiki rahasianya, ubah dulu dirimu jadi kura-kura."

"Sah-lopan punya kegemaran sok rahasia, sok misterius untuk memberitahu kepada orang lain bahwa di rumahnya bersembunyi para perampok, pembunuh yang sedang buron, bahkan secara tidak sengaja, seakan kurang hati-hati, dia bocorkan nama orang, nama yang dia sebut memang jago-jago yang pernah menggemparkan sungai telaga."

Setelah berhenti sejenak, ia pun meneruskan, "Setiap kali menyaksikan reaksi orang setelah mendengar nama-nama itu, Sah-lopan merasa gembira."

Siau-hong tertawa. "Bisa menyembunyikan pentolan bajingan dan perompak yang tersohor dalam rumah memang memuaskan, bukan saja dia sendiri merasa mantap, orang lain pun akan menganggap dia punya muka dan bergengsi."

"Setiap lopan memang suka cari muka dan gengsi, tapi Sah-lopan sedikit kelewatan," kata Kim Jit-liang sambil menghela napas.

"Kelewatan bagaimana?"

"Nyaris dia kehilangan mukanya."

"Kenapa?"

"Karena kumpulan perampok kenamaan yang bersembunyi di rumahnya tak lebih cuma perampok gadungan. Mereka sangat memahami tabiat Sah-lopan, maka mereka pun memanfaatkan kelemahannya itu. Ada yang mengaku perampok anu di tempat anu, ada yang mengaku pernah membunuh si anu di daerah anu ...."

"Kenyataan?"

Kim Jit-liang tertawa getir. "Kenyataan mereka tak lebih hanya bandit cilik, kaum copet, begal kecil-kecilan yang tak punya nama, jangankan jagoan nomor wahid macam Coa Long-kun, ujung hidungnya pun tak ada."

Setelah berpaling ke arah Siau-hong, sambungnya, "Di tengah kerumunan telur busuk cilik yang sok gagah dan bisanya cuma mendompleng makan minum gratis, mana mungkin kau bisa menemukan orang?"

Siau-hong melengak. Ketika mendengar hal ini, ia merasa geli dan ingin tertawa keras, tapi sekarang justru tak mampu tertawa. Sebenarnya kawanan buronan itu orang-orang yang paling mencurigakan, titik terang utama dan sangat diharapkannya, tapi sekarang ... lagi-lagi petunjuk itu putus di tengah jalan.

Pembunuh Liu Ji-kong seakan lenyap tak berbekas, bahkan seakan tak pernah ada pembunuh gelap itu.

Kim Jit-liang memahami perasaannya, ia mengangkat cawan araknya dan meneguk habis isinya. "Liok Siau-hong, kau tak perlu sedih," ia menuang penuh cawan Siau-hong, "nasib kita setali tiga uang, daripada menempuh perjalanan sia-sia, lebih baik kita segera pulang saja!"

Tiba-tiba Siau-hong tertawa. "Tempat ini sangat indah dan menyenangkan, aku merasa berat meninggalkannya."

"Tempat ini menyenangkan?" Kim Jit-liang tertegun.

"Tentu saja menyenangkan, bahkan sangat menyenangkan!"

Ucapan Siau-hong memang tidak bohong. Makin berbahaya makin merangsang, semakin menyenangkan, persoalan yang makin sulit diurai biasanya makin menarik perhatian Siau-hong. Begitulah kebiasaan Liok Siau-hong, sudah menjadi prinsip hidupnya.

Ketika ia mengucapkan perkataan itu, mimpi pun ia tak menyangka akan mati di situ. Tentu saja Siau-hong belum tahu kalau ia bakal mati, ia belum putus asa.

"Kecuali rampok gadungan itu, memangnya orang lain adalah penduduk pribumi yang tinggal di sini?"

"Tampaknya begitu," jawab Kim Jit-liang, setelah berpikir sejenak, tambahnya, "rasanya masih ada satu orang lagi bukan?"

"Siapa?"

"Kiong So-so!"

Baru pertama kali ini Siau-hong mendengar nama itu, jelas nama yang indah, anggun dan nama masyarakat tingkat atas, nama yang gampang memancing rasa ingin tahu lelaki, tak mungkin seorang perempuan penjual babi.

Siau-hong segera bertanya, "Manusia macam apa perempuan itu?"

"Perempuan ini anggun, sopan dan menjunjung tinggi tatakrama, ia pintar dan sangat terpelajar, bukan saja pandai bersyair, bernyanyi dan berpantun, ilmu memetik khim, main catur, melukis dan menulis kaligrafi juga hebat."

Sengaja Kim Jit-liang menghela napas panjang, setelah berhenti sejenak lanjutnya, "Hanya ada satu hal yang jelek."

"Hal apa?"

"Dia suka minum arak, suatu hari kulihat ia menghabiskan seguci arak Lian-hoa-pek, ternyata mukanya sama sekali tidak berubah."

Lalu dengan merendahkan suaranya dan dengan lagak amat rahasia, katanya lebih jauh, "Bila kau bertanya kenapa bisa bercokol di tempat seperti ini, maka aku bisa beritahukan bahwa ia bukan datang karena keinginan sendiri dan ia pun tak sanggup pergi meninggalkan tempat ini."

"Kenapa?"

"Karena dulu ia adalah selir kesayangan raja muda, lantaran melakukan pelanggaran besar sehingga membuat gusar Ong-ya, akhirnya ia diusir dan diasingkan di sini."

Siau-hong menghela napas panjang, ujarnya, "Aku tahu, aku tahu kau sedang mencelakai aku."

"Sedang mencelakaimu? Kenapa?"

"Kau toh tahu, setiap kali mendengar di suatu tempat ada perempuan macam ini, aku tak bisa tidur sebelum pergi melihatnya, sekarang kau suruh aku bagaimana?"

"Bagaimana? Gampang saja, kalau ingin bertemu, aku akan membawamu ke sana, akan kusuruh ia mengundangmu minum."

Ketika mereka berjalan keluar dari toko kelontong, paras Laopan Nio kelihatan dingin dan kaku, seakan ingin mencekiknya hingga mampus. Siau-hong tidak berpaling, melirik pun tidak.

Pagar bambu berjajar rapi mengelilingi separoh halaman bunga Bwe, ketika mengintip dari balik pagar bambu, lamat-lamat terlihat tiga buah bangunan rumah terbuat dari kayu.

Dalam bayangan Liok Siau-hong, biarpun seorang selir telah dibuang, diasingkan dari pergaulan, paling tidak tempat tinggalnya pasti lebih megah, indah dan mewah daripada tempat ini.

Kelihatannya selir raja ini bukan orang yang terlalu mempedulikan hal itu, tidak seperti Sah-lopan yang mati-matian menjaga gengsi, asal bisa hidup tenang, tenteram, hatinya sudah puas.

Tak heran Liok Siau-hong menaruh perasaan simpatik terhadapnya walau belum pernah bertemu. Seorang selir raja yang dikucilkan, sebuah tubuh halus yang lembut bagai bunga Bwe, sepotong kisah masa lampau yang tak banyak diketahui orang, serta sebuah impian lama yang tak pernah terlupakan, semuanya nampak misterius, romantis.

Siau-hong yang tidak sedang mabuk pun seolah sudah mabuk, Kim Jit-liang mengawasi terus perubahan mukanya, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata, "Sekarang aku tahu, tidak seharusnya aku membawamu kemari."

"Kenapa?"

"Aku takut kau akan kehilangan kesadaran, lupa diri setelah berjumpa dengannya nanti, bila berbicara di depan dia, sedikit saja salah bicara bisa berakibat orang lain celaka."

"Kau tak usah kuatir, manusia macam apapun pernah kulihat," ujar Siau-hong sambil menepuk bahunya.

Kim Jit-liang masih tetap kuatir, ia masih juga menghela napas.

"Aku pun tahu, kau banyak bertemu orang, bermacam manusia pernah kau jumpai, sayang orang yang akan kau jumpai sekarang sebetulnya bukan manusia."

"Bukan manusia?"

"Seorang bidadari cantik yang turun dari kahyangan."

Di bawah pintu pagar terdapat sebuah keleningan, lama setelah dentingan keleningan baru nampak ada orang membuka pintu. Yang membuka pintu bukan seorang bocah lelaki, tapi seorang nenek tua rambutnya telah beruban, seluruh badannya telah mengering, bahkan gigina paling juga tinggal tiga lima biji.

Dengan sikap sangat hormat Kim Jit-liang menjura ke arah nenek itu, kemudian dengan nada yang amat sopan, ujarnya, "Nenek, aku she Kim, tempo hari pernah kemari, tentunya kau masih ingat bukan? Waktu itu kau juga yang membukakan pintu."

Si nenek mengawasi wajahnya, entah lupa atau tak mendengar jelas apa yang dikatakan, atau tidak melihat jelas siapa tamunya ....

Kim Jit-liang seakan sudah kenal baik nenek itu, sambil merangkul bahu Siau-hong, katanya, "Dia adalah sahabatku, Liok Siau-hong, aku mengajaknya kemari karena ia ingin bertemu Kiongcu, tolong sampaikan kepada Kiongcu kalian, beliau mengundangnya minum, paling tidak harus minum beberapa cawan arak wangi."

Nenek itu masih saja berdiri bodoh, bingung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan, sebaliknya Kim Jit-liang berlagak seakan usahanya telah berhasil. Ia segera berpaling ke arah rekannya dan berseru, "Liok Siau-hong, jaga dirimu baik-baik, kau mesti hati-hati, semoga kita dapat bersua kembali."

Mendadak Siau-hong melompat mundur, seakan ditusuk pantatnya secara tiba-tiba hingga membuatnya terperanjat. "Maksudmu ... kau hendak meninggalkan aku?"

"Benar."

"Kau tak boleh pergi!"

"Kenapa? Bukankah kau ingin bertemu Kiong So-so? Aku telah membawamu kemari, bahkan sudah minta kepadanya agar mengundang kau makan dan minum arak, apa yang kusanggupi telah kulaksanakan, kalau tidak pergi sekarang, harus menunggu sampai kapan?"

Begitu bilang mau pergi ia langsung pergi, malah perginya cepat sekali.

Nenek tua itu masih menghadang di depan pintu dengan wajah murung dan mata sipit, sama sekali tak ada niat membiarkan Siau-hong masuk ke dalam.

Seandainya orang yang menghadang di depan pintu adalah seorang lelaki kekar berperawakan tinggi, berotot dan gagah perkasa, mungkin ia masih bisa menghadapinya, tapi menghadapi seorang nenek yang giginya nyaris habis, ia benar-benar menyerah.

Tampaknya nenek itu sudah mengambil keputusan untuk tidak mengizinkan Siau-hong masuk, perkataan Kim Jit-liang tadi bukannya tidak terdengar olehnya, tapi ia anggap ucapannya itu bagai kentut busuk.

Siau-hong memahami hal ini. Berada dalam situasi seperti ini, setiap orang yang tahu diri pasti akan segera angkat kaki dari situ, sayang Siau-hong bukan saja tak tahu diri, seakan sejak lahir sudah kepala batu, tak menyerah sebelum tercebur di sungai Huang-ho.

Lagi pula ia selalu menganggap dirinya ahli soal perempuan, setiap perempuan asal bertemu dengannya, ibarat siluman babi Ti-pat-kay menelan buah dewa Jim-som-ko, pasti akan mabuk kepayang, bahkan sulit membedakan mana utara, selatan, timur dan barat, dari cewek usia delapan tahun sampai nenek delapan puluh tahun, semua sama saja.

Kini ia sudah menghimpun semangatnya dan siap menghadapi nenek tua ini, ia sudah mempunyai rencana matang. Menghadapi nenek ini, paling baik adalah menganggapnya seperti bocah perempuan, seperti ketika kau berhadapan dengan bocah perempuan, jangan sekali-kali mengatakan ia belum dewasa.

Tentu saja ia pun sudah menyiapkan sebuah cerita, cerita yang enak didengar.

Mendadak ia merasa ada seseorang berdiri di ujung kebun, mengawasinya dengan mata melotot dan penuh gusar. Seorang perempuan berusia dua puluh enam tujuh tahun, tidak termasuk muda, sudah jauh meninggalkan batas usia seorang perempuan remaja.

Siau-hong percaya, sekalipun masih berusia lima enam belas tahun, tak ada orang yang tertarik perempuan ini, karena lagaknya, penampilannya sok serius, wajahnya selalu cemberut, keningnya selalu berkerut, seolah seluruh penghuni dunia ini berhutang kepadanya.

Selama hidup, perempuan semacam inilah yang paling ditakuti Siau-hong, tiap kali bersua perempuan jenis ini, kepalanya langsung pusing tujuh keliling. Perempuan itu mengawasinya tanpa berkedip, dari kepala hingga ujung kaki, dari ujung kaki kembali ke kepala, sepasang biji matanya yang bulat berkilat bagaikan dua butir bola gas yang baru keluar dari gua salju, mencorong dan mengawasinya lekat-lekat.

"He, mau apa kau kemari?" tegur perempuan itu dengan logat Pakkhia, nadanya lembut, merdu dan sedap didengar.

Waktu itu seluruh tubuh Siau-hong sudah merinding lantaran diawasi orang, sahutnya, "Aku khusus datang untuk menyambangi Kiongcu, temanku bilang Kiongcu pasti akan menemui aku."

"Temanmu itu barang busuk apaan? Kau sendiri barang apa? Atas dasar apa berani kemari?"

"Aku bukan barang, aku manusia," sahut Siau-hong sambil menghela napas panjang, "perkataan semacam ini sudah sering aku katakan, anehnya kenapa orang belum juga tahu hal ini."

"Untung aku tahu."

"Soal apa?"

"Kau memang bukan barang, karena itu lebih baik cepat pergi sebelum aku marah."

"Aku memang mau pergi, kalau kau adalah Kiongcu sudah dari tadi aku kabur. Sejak tadi aku pun tahu."

"Tahu apa?"

"Kau bukan Kiongcu, dari kepala sampai ke ujung kaki, kau tidak punya gaya seorang Kiongcu."

Merah padam wajah perempuan itu, pancaran api amarah mencorong dari matanya, ia begitu gusar, tampaknya bola gas sudah tersulut dan sebentar lagi akan meledak.

Siau-hong berlagak seakan tidak tahu, kembali ujarnya, "Aku tak berniat menyalahkanmu, biarpun kau berteriak dan berkoar-koar macam anjing gila, sewot seperti perempuan gila, aku bersedia memaafkan dirimu."

Ucapan Siau-hong begitu ramah dan halus, seakan amat memahami lawan hingga menaruh simpatik kepadanya. "Karena aku tahu, bila perempuan seusiamu dan tak laku kawin, api amarah selalu lebih besar ketimbang perempuan lain," lanjut Siau-hong.

Jika reaksi Siau-hong terlambat sedikit, mungkin perkataannya itu akan menjadi perkataannya yang terakhir. Sebilah pisau pendek nyaris menembus hulu hatinya. Serangan itu datangnya cepat sekali, jauh lebih cepat dari yang dibayangkan Siau-hong semula.

Padahal waktu itu ia berdiri beberapa kaki jauhnya di kebun bunga, tak nyana dalam sekejap ia sudah tiba di hadapan Siau-hong, bukan saja tangannya sudah bertambah dengan sebilah pisau, mata pisau itupun tahu-tahu sudah menusuk ke hulu hatinya. Serangan ini bukan saja cepat, bahkan aneh, sasaran yang dipilih pun aneh dan di luar dugaan.

Sulit untuk menghindarkan diri dari serangan semacam ini, karena itu Siau-hong tak sempat lagi berkelit. Ia hanya menggerakkan kedua jarinya, lalu menjepit perlahan. Kedua jari Siau-hong ini sebenarnya jari macam apa? Apakah pernah diberi jampi-jampi sehingga memiliki kekuatan sihir yang luar biasa? Apakah jarinya memiliki tenaga iblis?

Tidak ada yang tahu.

Tapi setiap orang persilatan tahu bahwa harga kedua jari itu sepuluh kali lipat lebih mahal ketimbang butiran zamrud, konon ada orang berani membayar lima puluh laksa tahil untuk membeli kedua jari itu. Karena jepitan kedua jarinya itu sanggup menjepit benda apa saja yang mustahil bisa dijepit di dunia ini, sekalipun mata golok yang cepatnya melebihi sambaran petir pun dapat dijepit olehnya.

Konon kedua jarinya sudah sehati dengan pikiran dan perasaannya, entah sudah berapa banyak senjata jago lihai yang terjepit patah di tangannya, entah sudah berapa kali menyelamatkan jiwanya.

Kali inipun tidak terkecuali. Tentu saja mata pisau yang menusuknya berhasil dijepit olehnya.

Perempuan yang melancarkan tusukan itu dengan jelas melihat pisaunya bersarang telak di hulu hati Siau-hong, ia sangat yakin dan percaya pada kecepatan tusukan pisaunya itu, tak mungkin tusukan pisau itu meleset.

Tapi kenyataan tusukan itu tak berhasil mengenai sasaran, tiba-tiba ia merasa seperti sedang menusuk sebuah batu cadas, lalu senjatanya sudah dijepit lawan. Seketika itu juga paras mukanya berubah pucat pias.

Selama hidup ia tak pernah menyangka tusukan pisaunya bakal dijepit lawan dengan kedua jarinya. Kejadian seperti ini sebetulnya tak mungkin terjadi.

Dengan sekuat tenaga ia mencabut pisaunya, tapi gagal, ia coba menusuk ke depan lebih kuat, pisaunya juga tetap tidak bergeming. Pisaunya seakan sudah mengakar di jari tangan Liok Siau-hong, seolah sudah menyatu dengan tangan lawan.

Ia mencoba menendang dengan kaki kiri, ketika menendang, bahunya tak bergerak, mata pun tak berkedip, serangan dilancarkan tanpa pertanda apapun dan menggunakan jurus serangan Bu-im-tui (tendangan tanpa bayangan) yang maha sakti.

Hasilnya? Lagi-lagi kaki kirinya tercengkeram oleh Siau-hong. Kakinya mengenakan sepatu lunak terbuat dari kulit tipis, bila ada yang mencengkeram, maka akan terasa seolah sedang menggenggam sebuah kaki telanjang.

Paras mukanya yang semula pucat kini berubah merah jengah, bukan cuma pipinya yang merah, dengus napasnya pun ikut tersengal-sengal, seakan baru saja berlari jauh.

Tiba-tiba Siau-hong merasa penampilan perempuan ini tidak memuakkan, bahkan terasa menggoda, merangsang dan menarik.

Sayang nada bicaranya galak sekali, galak seperti anjing yang baru melahirkan.

"Mau apa kau?"

"Aku tidak mau apa-apa."

"Kenapa kau pegangi kakiku?"

"Karena kau menendangku."

"Lepaskan!"

"Tidak, aku tak mau melepaskan."

"Kenapa?"

"Karena aku tak ingin mati."

Selama ini si nenek ompong hanya mengawasi mereka berdua dengan tersenyum, seolah sedang menonton sandiwara, Siau-hong semula mengira nenek itu bisu, tak disangka tiba-tiba ia bertanya, "Kau enggan melepaskan kakinya, memangnya kaki itu mau kau pegangi terus?"

Paras muka perempuan itu semakin merah, detak jantungnya semakin berdebar.

Pada saat itulah dari balik rumah kecil di tengah tanaman bunga itu terdengar seseorang berseru, "Kiong Peng, jangan bergurau lagi dengan Liok-kongcu, cepat persilakan ia masuk!"

Suara itu anggun dan berwibawa, halus, lembut dan manis didengar, tak usah melihat orangnya pun dapat membayangkan bagaimana wajah orang itu.

Lamat-lamat Siau-hong merasa wajah sendiri tiba-tiba ikut berubah merah. Bagaimanapun situasinya, memegangi kaki seorang gadis di depan umum memang bukan perbuatan yang pantas dilakukan seorang lelaki sejati.

"He, anak muda," terdengar nenek ompong itu berseru sambil tertawa, "kalau aku jadi kau, tak akan kulepaskan cengkeraman itu, sebab begitu kau lepas, aku jamin perutmu bakal ditendang orang."

Tapi Siau-hong tetap melepaskan tangannya. Baginya bukan masalah perutnya ditendang orang, sekalipun ditendang tujuh delapan kali juga tak akan mematikan, sebaliknya kalau dipandang rendah seorang perempuan anggun, cantik dan pandai minum arak, itu baru mematikan!

Nenek ompong itu masih mengawasinya, kerutan di bawah matanya nampak lebih dalam, katanya, "Liok Siau-hong, ternyata memang tak becus, aku si nenek yang sudah tua dan hampir buta pun dapat melihatnya."

Kiong Peng bukan saja tidak menendang perut Siau-hong, bahkan ia seakan tak berani memandang sekejap pun ke arahnya, kepalanya tertunduk terus sepanjang langkahnya menuju ke dalam.

Siau-hong mengikut dari belakang.

Di dunia ini terdapat dua jenis perempuan, pertama adalah perempuan yang sewaktu berjalan lurus kaku bagaikan peti mati, kedua adalah perempuan yang selalu meliukkan pinggulnya saat berjalan hingga mirip sekuntum bunga segar yang dihembus angin lembut.

Kiong Peng termasuk jenis perempuan kedua, tapi ia justru berusaha mengendalikan goyangan pinggulnya, sengaja berlagak seolah berjalan kaku dan lurus bagai peti mati, ia tidak membiarkan pinggulnya meliuk, ia tak ingin orang yang berada di belakangnya melihat goyangan itu.

Gerak-gerik seseorang memang sudah merupakan ciri khas yang sukar diubah, tak seorang pun dapat mengubah gaya berjalannya yang kaku bagaikan peti mati menjadi lembut, begitu juga tak ada orag yang bisa mengubah sekuntum bunga menjadi peti mati.

Hal ini membuat Siau-hong yang mengintil di belakangnya gembira, semenjak tiba di kota kecil dimana burung pun tak dapat bertelur, belum pernah perasaannya seriang ini.

Ketika bertemu Kiong So-so, penderitaan yang dirasakan jauh lebih sakit ketimbang perutnya betul-betul ditendang orang. Dalam ruangan tak ada bunga, juga tak ada dupa, tapi terendus bau harum semerbak yang dipancarkan dari pepohonan yang seolah baru ditebang di dalam hutan.

Seorang perempuan berbaju ungu bergaun panjang warna biru berdiri membelakangi pintu, berdiri di depan sebuah lukisan yang terbentang di dinding. Lukisan itu menggambarkan seorang raja sedang menunggang kuda putih tinggi besar, tangannya memegang busur, anak panah tergantung di pinggangnya, burung elang bertengger di bahunya, sementara para pengawalnya berteriak di belakang kudanya dan anjing pemburu sedang menggonggong di sisinya.

Langit terlihat cerah, raja itu nampak angkuh berwibawa semua kegagahannya seolah terpantul dari balik lukisan itu. Sementara orang yang sedang menikmati lukisan itu justru mengenakan pakaian tipis.

Siau-hong menghela napas panjang. Tentu saja ia dapat menebak siapa gerangan raja dalam lukisan itu, sementara perempuan yang sedang menikmati lukisan itu tak lain adalah Kiong So-so, perempuan yang ingin dijumpainya.

Kedua orang itu, satu dalam lukisan, satu dalam impian, Kenangan lama bagai segulung asap, belai kasih sayang seolah terjadi kemarin ....

Siau-hong menegur diri sendiri, haruskah ia muncul di saat seperti ini mengganggu lamunannya? Tapi ia harus bertemu dengannya. Perasaan itu membuat ia benci pada diri sendiri, ingin sekali ia tampar muka sendiri.

Menanti perempuan itu membalikkan tubuh, dalam hati Siau-hong hanya tersisa satu perasaan, merasa dirinya tak beda dengan seekor burung tolol. Kiongcu ini sudah jelas bukan orang yang sedang dicari. Biarpun rambut perempuan itu hitam berkilat, badannya terawat bagus, gaya dan tingkah lakunya anggun dan indah, walau usianya sudah lanjut. Bicara usianya, ia masih pantas menjadi ibu Siau-hong.

Terhadap perempuan semacam ini, siapa pun takkan curiga ia tersangkut pembunuhan yang menghebohkan itu. Kini Siau-hong bagai orang bodoh telah menerjang masuk ke dalam ruangan, bahkan lagaknya seakan harus bertemu dengannya, karena kalau tidak bertemu seolah ia bakal mampus. Tapi sekarang ia tak berani mengangkat wajah, keberanian untuk melirik pun tak ada.

Kiong So-so sedang memandangnya, sekulum senyuman yang sangat anggun tersungging di ujung bibir.

"Liok-kongcu, kita tak pernah kenal dan berhubungan, tapi memaksa bertemu aku, apakah ada suatu persoalan istimewa yang hendak kau sampaikan?"

"Tidak ada," lekas Siau-hong menggeleng, "sama sekali tak ada persoalan apapun."

"Lantas mengapa kau memaksa bertemu aku?"

Siau-hong tertawa getir. Tentu saja ia tak dapat memberitahu orang bahwa ia ditipu kemari oleh sahabatnya, terlebih tak dapat mengatakan maksud kedatangannya untuk menyelidiki kasus pembunuhan, ada kalanya bicara bohong pun ia tak dapat. Dia hanya bisa berdiri bodoh di situ, tingkah lakunya tak beda dengan bocah yang baru saja ketahuan melakukan kesalahan.

Tiba-tiba dari balik sorot mata Kiong So-so terpancar sinar simpatik serta pengertian. "Kini kau pasti sangat kecewa karena tak mengira aku sudah setua ini," senyumannya begitu halus dan lembut, "perempuan yang sudah tua, seperti arak yang sudah kehilangan bau harumnya, Liok-kongcu pasti tidak tertarik."

Saat ini Siau-hong ingin sekali menggali sebuah lubang dan menerobos masuk ke dalamnya, atau mencari tempat yang tak ada penghuninya dan membenturkan kepalanya di dinding. Seandainya pada saat itu Kim Jit-liang berada di sisinya, ia pasti akan menggantungnya dengan seutas tali sampai mampus.

Kembali Kiong So-so berkata sambil tertawa, "Aku pun sudah lama mengagumi nama besar Liok-kongcu, kini setelah berkunjung kemari, aku ingin mengundangmu minum secawan dua cawan arak, tapi aku pun tahu, arak ini pasti akan kau tenggak dengan perasaan amat menderita."

Perempuan ini benar-benar memahami lelaki, perempuan semacam ini pada dasarnya memang tak banyak jumlahnya, rasanya makin lama semakin sedikit.

Tiba-tiba Sau-hong mendongakkan kepala, lalu dengan berat ujarnya, "Aku ingin sekali mengucapkan beberapa patah kata, tapi tidak tahu harus kuutarakan atau tidak?"

"Katakan saja."

"Terlepas usiamu sudah lanjut, kau adalah perempuan paling halus, lembut dan hangat yang pernah kujumpai," kata Siau-hong sambil menatap wajahnya, "aku bicara jujur, apakah kau percaya?"

"Tentu."

Setelah tertawa, kembali Kiong So-so menambahkan "Sekalipun kau ucapkan perkataan itu hanya untuk menghiburku aku tetap akan menganggapnya sebagai ungkapan jujur."

Siau-hong tertawa, senyumannya telah pulih seperti sedia kala, gembira dan cerah. "Aku pun berharap ucapan Kiongcu tadi adalah ucapan yang jujur, kau memang berniat mengundangku minum arak."

"Kalau jujur kenapa?"

"Aku berharap Kiongcu bukan cuma menyuguh secawan arak saja, bisa minum arak bersama perempuan cantik macam Kiongcu, paling tidak aku harus minum tiga ratus cawan."

Wajah Kiong So-so merah jengah, sinar matanya seakan ikut berbinar. "Tak heran orang mengatakan Liok Siau-hong seorang lelaki yang menyenangkan, aku pun menyukainya, apalagi nona-nona cilik."

Minum arak sangat menyenangkan, tak heran selalu ada orang minum arak, bahkan jumlahnya tak lebih sedikit daripada mereka yang tidak minum.

Orang yang minum arak terbagi menjadi dua jenis. Pertama adalah mereka yang begitu minum lantas mabuk, begitu mabuk lantas muntah, bicara tidak keruan, bergulingan di lantai, berlari sambil telanjang, bahkan membakar rumah, perbuatan apapun sanggup mereka lakukan.

Kedua adalah mereka yang tidak gampang mabuk, sekalipun mabuk, orang lain tidak tahu, berapa pun banyaknya arak yang telah diminum, bukan saja tidak muntah, tidak membuat onar, tidak gila bahkan mukanya pun tidak berubah, bukan saja kesadarannya masih baik, reaksi tubuhnya juga lebih cepat ketimbang keadaan biasa.

Siau-hong termasuk jenis kedua.

la sendiri pun tidak menyangkal, ketika tiba di sana, otak serta kesadarannya tak jernih, bahkan agak kalut.

Sebuah badik mestika dari Persia yang tak ternilai harganya, kasus pembunuhan yang aneh, ditambah selir yang dikucilkan .... otaknya seakan dipenuhi sebaskom kuah amis yang memusingkan kepala.

Tapi setelah ia meneguk tujuh delapan cawan arak Tiok-yap-cing, semua kebingungan dan kekalutan seakan tersapu bersih dari benaknya. Pikirannya tiba-tiba menjadi jernih dan bersih, persoalan yang tadinya sama sekali tak diperhatikan, tiba-tiba melintas, bahkan secara tiba-tiba menjadi hal yang penting.

Mula-mula yang teringat olehnya adalah paha Kiong Peng. Ketika memegang kakinya tadi, dirasakan tenaga pantulan yang muncul dari pahanya, ia merasa otot dan kulit paha itu sangat kenyal dan kencang. Seharusnya saat itu ia menghubungkan dengan paha mulus dan kenyal yang pernah dilihatnya dari balik gaun panjang berwarna ungu itu. Seharusnya pada waktu itu juga ia mesti mencari akal untuk memeriksa paha Kiong Peng.

Baru pertama kali bertemu seorang perempuan, ternyata pahanya yang diperhatikan lebih dulu, mesti tindakan semacam ini agak keterlaluan, namun demi kematian sahabat karibnya, sekalipun ia harus melakukan perbuatan yang keterlaluan pun semestinya tindakan itu dapat dimaafkan.

Tanpa terasa Siau-hong teringat suara Kiong So-so. Nada suaranya lembut, halus dan penuh sopan santun, rasanya hanya seorang perempuan yang berpendidikan tinggi saja yang bisa berbicara begitu menawan hati. Ketika mendengar suaranya untuk pertama kali, Siau-hong masih berada di jalan setapak di luar halaman bunga, sementara suaranya berasal dari dalam ruangan rumah kayu itu, "Kiong Peng, jangan bergurau lagi dengan Liok-kongcu, cepat persilakan ia masuk".

Waktu itu mereka belum bertemu, darimana ia tahu orang yang datang adalah Liok Siau-hong? Antara rumah kayu dengan jalan setapak itu berjarak cukup jauh, suara yang lembut, halus dan manis itu sudah pasti bukan diucapkan sambil berteriak. Biarpun ia berbicara dengan suara lembut, namun Siau-hong yang berada di kejauhan dapat menangkap setiap perkataannya dengan sangat jelas, seakan orang berdiri di sisinya.

Tiba-tiba Siau-hong sadar, teman yang sebenarnya bukan teman itu sengaja menipunya datang ke sini.

Walaupun minum sedikit arak kadang dapat membuat orang lebih jernih dan tajam pikirannya, namun waktu tidak banyak. Bila seorang telah minum arak hingga mencapai keadaannya semacam ini, biasanya jarak waktu mabuk sudah tak lama. Kadang walau ia merasa pikirannya amat jernih bagai pikiran Han Sim yang pandai mengatur strategi perang, dapat menduga gerakan musuh, tapi tak lama kemudian ia akan mabuk berat hingga tak tahu apa yang telah diucapkan dan diperbuatnya barusan.

Keadaan Siau-hong persis seperti itu.

Selama ini Kiong Peng berdiri di samping Kiong So-so, ketika melihat Siau-hong mengawasi terus pahanya, lama kelamaan paras muka gadis itu berubah pucat, pucat karena menahan rasa gusar dan dongkol.

Sebaliknya Siau-hong masih tetap memandang ke arahnya sambil cengar-cengir tertawa tengik, lalu katanya, "Nona Peng, aku rasa kau akan lebih menarik bila memakai gaun daripada celana, tanpa memakai apa-apa tentu akan lebih menarik lagi."

Perkataan tahi anjing apaan ini? Tiba-tiba Kiong Peng turun tangan, dari balik ikat pinggangnya ia cabut sebilah golok tipis yang segera digetarkan di udara dan langsung menusuk mata Siau-hong.

Banyak orang berpendapat sepasang mata Siau-hong pantas ditusuk hingga buta. Jika buta, maka ia takkan mampu lagi menjepit senjata orang dengan kedua jari mautnya. Jika buta, banyak rahasia orang lain yang akan terjaga untuk selamanya, rahasia mereka yang enggan diketahui orang lain pun tak nanti bisa dilihat olehnya.

Sayang tiada hal yang sempurna di dunia ini, Thian pun seringkali tak mengabulkan harapan serta permintaan orang banyak. Sepasang mata Siau-hong belum buta. Oleh karena itu ia dapat melihat sebuah batu kemala terjatuh dari pinggang Kiong Peng ketika melolos golok tadi. Begitu melihat batu kemala itu, paras mukanya seketika berubah hebat, seakan tubuhnya benar-benar ditusuk orang dengan sebilah golok tajam, bahkan tertusuk tepat pada bagian tubuh yang mematikan.

Jurus serangan golok yang digunakan persis seperti jurus serangan badik, perubahannya cepat, serangannya buas, memang inilah tujuan utama penyerangan memakai pisau pendek.

Kiong Peng membalikkan tangan menggenggam pisaunya, dengan ibu jari menekan gagang pisau, ketika gagal dengan tusukan pertama, mata pisau segera mencungkil sambil membabat dari samping, kali ini mengarah wajah lawan.

Ditinjau dari kecepatannya perubahan jurus, terlalu gampang baginya untuk membuat garis 'X' di wajah musuh, sementara kalau ingin menusuk jantung musuh, hal inipun tidak sukar baginya.

Sayang serangan yang dilancarkan olehnya gagal mencapai sasaran, bahkan keinginannya untuk menggeser senjata pun tidak mungkin. Karena secara tiba-tiba goloknya sudah dijepit kedua jari Siau-hong. Padahal selama melancarkan serangan, Kiong Peng sudah mewaspadai kedua jari lawan, setelah mendapat pelajaran satu kali, ia yakin tak akan mengalami kejadian untuk kedua kalinya.

Tapi entah darimana, tiba-tiba saja kedua jari itu muncul dan tahu-tahu sudah menjepit senjatanya, jari itu seakan muncul dari tengah udara saja. Yang lebih celaka, ternyata kali ini Siau-hong tidak bersikap sungkan lagi kepadanya. Bukan saja ia telah menjepit senjatanya dengan dua jari kanan, tangan kirinya juga mencekik tengkuknya. Sementara itu kakinya secepat kilat menginjak kaki gadis itu, membuat Kiong Peng benar-benar mati kutu.

Tak terlukiskan rasa gusar Kiong Peng menghadapi perlakuan seperti itu, matanya berapi-api lantaran marah, tapi tubuhnya sama sekali tak mampu berkutik.

Mendadak terdengar Kiong So-so menghela napas panjang, "Liok-kongcu, selama ini aku dengar orang mengatakan kau sangat pandai menyayangi perempuan, tapi melihat perbuatanmu sekarang ... rasanya kau tak pantas dihargai."

Kemudian setelah menghela napas lagi, terusnya, "Aku sangat kecewa melihat ulahmu itu."

Siau-hong ikut menghela napas panjang, katanya pula, "Terus terang, aku sendiri pun kecewa terhadap ulahku ini."

"Menurut pendapatku, sikap pemikul tahi manusia jauh lebih baik ketimbang sikapmu."

"Ya benar, memang jauh lebih baik."

"Kenapa kau berbuat begitu, memangnya kau sudah mabuk?"

"Tidak, aku berani jamin, aku masih lebih sadar ketimbang pemikul tahi mana pun."

"Sebenarya apa yang kau inginkan?"

Siau-hong tertawa menyeringai. "Aku tak ingin berbuat apa-apa, cuma ingin ia menggulung celananya agar aku bisa melihat kemulusan pahanya."

Perkataan kentut anjing macam apa pula itu? Pada hakikatnya jauh lebih bau ketimbang kentut anjing. Apa orang ini sudah gila? Ia tidak gila, justru Kiong Peng yang hampir gila dibuatnya.

Kiong So-so sangat terkejut, ia pun mengawasi wajahnya, memandang dari ujung kaki hingga kepala, lalu menghela napas panjang. "Sekarang aku baru tahu apa yang sebenarnya terjadi."

"Oya?"

"Liok Siau-hong tak akan melakukan perbuatan semacam ini, perbuatanmu menyebalkan, maka aku yakin kau bukan Liok Siau-hong yang sebenarnya."

"Aku bukan Liok Siau-hong? Mainan apa lagi aku ini?"

"Kau pun bukan mainan, kau tak lebih cuma orang sinting yang menyebalkan."

Sesudah berhenti sejenak, katanya pula, "Jika ada perempuan sinting menyebalkan, mungkin kaum lelaki akan menyukainya, beda jika lelaki yang sinting, kaum perempuan biasanya hanya ada satu cara untuk menghadapinya."

"Cara bagaimana?"

"Inilah caranya!"

Begitu selesai bicara, ada lima jenis benda melesat ke depan dan menghajar tubuh Siau-hong.

Kelima jenis barang itu adalah sepasang sumpit, cawan arak, piring kecap kecil serta mangkuk besar berisi kuah panas. Mangkok datang lebih dulu sebab masih berisi separuh kuah ayam masak lobak, ketika mangkuk meluncur datang, kuah panas muncrat kemana-mana, walau tidak membasahi mata Siau-hong, paling tidak menghalangi pandangannya. Dengan begitu ia tak akan melihat jelas benda lain yang menyusul datang menyerangnya.

Jurus serangan yang digunakan lawan memang tak mungkin bisa dihindarkan oleh mereka yang tidak punya pengetahuan hebat. Menyusul cawan arak meluncur datang, namun cawan itu sudah hancur menjadi tujuh delapan puluh keping, seakan hujan senjata rahasia berhamburan.

Dua batang sumpit bagaikan paku terbang, sebatang meluncur ke tangan Siau-hong yang menggenggam pisau, sementara yang lain meluncur ke arah pinggangnya.

Piring yang masih berminyak bercampur kecap berputar kencang, tak tahu sasaran mana yang dituju dan bagian tubuh Siau-hong mana yang diancam.

Piring bundar itu berputar seperti gasing, siapa yang bisa memastikan sasaran yang diarah?

Ternyata Siau-hong tidak salah menilai, bekas selir raja muda yang kelihatan lemah lembut tak bertenaga itu ternyata benar adalah seorang jago silat berilmu tinggi.

Sudah jelas orang itu berbicara dari jauh, tapi setiap kata terdengar jelas seakan diucapkan dari sisi telinganya, kemampuan ini jelas tak mungkin dilakukan oleh kebanyakan orang.

Kini setelah ia melancarkan serangan, semakin membuktikan perempuan ini bukan sembarang orang.

Lima jenis alat makan yang sederhana ternyata telah berubah menjadi senjata pembunuh yang menakutkan, ketika serangan dilancarkan, semua jalan mundur lawan ditutup dan dikunci mati.

Kalau ia hanya bekas selir raja muda yang dikucilkan, kenapa memiliki kepandaian silat yang begitu dahsyat dan menakutkan? Mengapa jurus serangannya begitu rapat, dahsyat dan mematikan?

Mungkin hal ini disebabkan pengalamannya dalam membunuh orang sudah matang, bahkan di luar dugaan siapa pun?

Ditinjau dari caranya melancarkan serangan, bisa diduga setiap pembunuhan yang dilakukannya di masa lalu pasti jarang meleset, kali ini ia pun yakin akan keberhasilan serangannya.

Segalanya telah ia perhitungkan secara cermat, tapi ada yang lupa diperhitungkan.

Ia sama sekali tidak memperhitungkan kuah ayam dalam mangkuk besar itu.

Pandangan orang terhadap kuah ayam berbeda-beda, tapi sikap kuah ayam terhadap manusia adalah sama. Ketika kuah ayam disiramkan ke wajahnya, tentu saja kuah itu akan menghalangi pandangan Siau-hong, bahkan mempengaruhi pandangan Kiong

So-so sendiri.

Ketika kuah ayam mulai berjatuhan ke tanah, tiba-tiba Kiong So-so sudah tidak melihat bayangan Siau-hong. Lenyapnya Siau-hong tidak terlalu penting, ternyata Kiong Peng pun ikut hilang, bahkan batu kemala yang semula terjatuh di lantai pun ikut lenyap.

Yang lebih menakutkan adalah keinginan Siau-hong untuk menyingkap gaun Kiong Peng serta melihat kemulusan pahanya.

OooOOooo0

Bila seseorang hendak pergi, ada banyak barang yang tidak harus dibawa, bahkan telinga, hidung, mata dan lengan boleh saja ditinggal, namun kedua kaki mau tak mau harus dibawa. Tanpa kaki bagaimana bisa berjalan?

Kali ini tentu saja Kiong Peng dibawa pergi beserta kedua kakinya, hanya keadaannya berbeda. Biarpun ia tak berkaki pun tetap dapat berjalan, karena ia digendong oleh Siau-hong. Tentu saja Siau-hong takkan meninggalkan sepasang kakinya. Perempuan itu boleh meninggalkan bagian tubuh yang lain, tapi kedua kakinya harus ikut bersamanya.

Bagi perempuan ini, sepasang kakinya jauh lebih penting ketimbang kepala. Kepala merupakan bagian penting tubuh manusia, di dalamnya terdapat otak, mata, hidung, mulut dan telinga. Tetapi dalam pandangan perempuan, bagian tubuh yang paling berharga tidak terletak di kepala.

Kiong Peng merapatkan sepasang pahanya dengan kencang, ia putuskan untuk melindungi tempat itu mati-matian, ia lebih suka mati ketimbang membiarkan orang lain mengusik bagian tubuhnya itu, ia lebih suka mati daripada celananya dilepas orang. Namun tenaga untuk mempertahankan bagian tubuhnya itu sudah tidak banyak.

Ketika ia mendengar majikannya mengucapkan "Inilah caranya!" tadi, ia merasa empat lima buah Hiat-to di tubuhnya sudah dikuasai oleh Siau-hong, meski bukan Hiat-to mematikan.

Perempuan macam dia, bila secara tiba-tiba kehilangan tenaga perlawanan, perasaannya waktu itu pasti amat sakit dan sedih.

Tatkala mendengar majikannya menyebut kata "Inilah" tadi, badannya sudah terjatuh di bawah kendali lawan. Ketika perkataan "Inilah caranya" lengkap diutarakan, tubuhnya sudah dikuasai penuh oleh Siau-hong, bahkan sudah dipanggul di atas bahunya.

Waktu itu ia merasa seolah sedang duduk di atas punggung seekor burung hong dan terbang melayang di tengah udara.

la pernah mendengar bahwa orang yang memiliki Ginkang paling hebat di kolong langit adalah si pencuri sakti, Sukong Ti sing, pencuri yang setiap saat dapat mengubah diri dengan penampilan berbeda-beda. Pernah pula didengarnya Gin-hu dari Thay-soat-san yang baru muncul dalam dunia persilatan, dengan Ginkangnya berjalan di atas salju tebal, bisa melesat ringan tanpa meninggalkan jejak kaki, seakan dewa yang sedang melayang di atas permukaan tanah.

Tentu saja ada juga orang bilang, Bok-tojin dari Bu-tong, Lau-sit Hwesio yang suka berkelana di sungai telaga, Hoa Ban-lau yang buta juga memiliki Ginkang yang tiara tara.

Kemudian Sebun Jui-soat yang mahir ilmu pedang, paling tidak dalam dunia persilatan masih terdapat tiga belas orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh kelas wahid.

Semua kabar itu tentu saja bukannya tanpa dasar dan fakta. Sekarang Kiong Peng tahu, kabar yang selama ini ia anggap kabar angin, kenyataan memang bukan omong kosong.

Kini ia tahu siapa jago yang memiliki Ginkang paling top di kolong langit, bahkan ia telah merasakan sendiri dan bukan hanya mendengar cerita orang. Ketika Siau-hong melayang di udara, ia merasa seakan melayang di balik awan tebal. Menembus jendela, melewati halaman kecil, melalui pagar bambu, Kiong Peng merasa semuanya dilewati dengan cepat.

Ia merasa tubuhnya seakan kehilangan bobot, apalagi ketika angin dingin menerpa badannya, ia merasa seakan ujung pisau yang tajam menusuk badannya, merasuk hingga ke tulang, membuat ia terangsang, gembira dan tegang.

Ketika seorang gadis yang penuh percaya diri tiba-tiba kehilangan seluruh kekuatannya, seakan seekor domba yang terjatuh ke mulut serigala lapar, yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah dan terima nasib.

Tentu saja kondisi semacam ini cukup tragis, bahkan sering membuat si gadis gemetar, menggigil karena tegang dan terangsang.

Kecepatan gerak juga merupakan sejenis rangsangan yang menegangkan.

Ketika berada di atas bahu Siau-hong, ketika tubuhnya melesat di udara, setiap perasaan yang dihayati Kiong Peng merupakan rangsangan yang menegangkan, rangsangan itu cukup membuat dinding pertahanannya jebol, bahkan dapat pula menjebol watak sombong, angkuh, keras kepala dan tertutup yang dimiliki seorang perempuan.

Rangsangan yang menegangkan itu dapat membangkitkan dan menggairahkan nafsu birahi paling purba yang terkandung di dasar tubuhnya.

Rangsangan nafsu birahi seperti ini biasanya selalu disimpan rapat oleh setiap perempuan, tak ada yang berharap perasaan itu diketahui orang, bahkan diri sendiri pun sering enggan mengakui.

Kiong Peng telah menggunakan semua kekuatannya untuk merapatkan sepasang pahanya, tapi ia sadar, sekujur badannya saat ini sudah lemas dan pertahanannya mulai kendor.

Tahun ini ia berusia dua puluh sembilan tahun.

Ia adalah seorang gadis yang matang, setiap bagian tubuhnya berkembang amat subur dan sehat, ia pun sudah tahu banyak kehidupan muda-mudi.

Karena itulah ia melatih diri secara ketat agar tubuhnya tetap langsing, singset dan kenyal. Untuk itu setiap malam ia selalu mandi dengan air dingin.

Seorang gadis berusia 29 tahun bila belum punya lelaki, meski di siang hari semua kesepian dapat dihalau dengan mudah, tapi bila senja telah menjelang, bila malam mulai mencekam, saat-saat seperti itu akan terasa amat berat dan menyiksa.

Bersambung ke bagian 4

Bagian 4

Memang perasaan semacam ini biasanya mulai tumbuh ketika seorang gadis berusia 16 tahun, sampai usia 21 tahun merupakan satu periode dan hingga usia 29 tahun merupakan periode berikut, lalu sampai umur 35 tahun terhitung satu periode lagi, bila sudah mencapai usia 45 tahun, maka saat itu bisa dianggap merupakan akhir dari seluruh periode yang ada.

Bila periode-periode itu mesti dilewatkan tanpa didampingi seorang pria yang dapat

menyenangkan hati, berada pada periode mana pun bagi seorang perempuan merupakan saat yang paling hampa, tawar dan paling menderita.

Perasaan perempuan memang susah diraba, ibarat meraba sebatang jarum di dasar samudra, bukan kaum lelaki saja yang beranggapan begitu, kaum perempuan sendiri pun memiliki cara pandang yang sama.

Kiong Peng tidak menyangka pikiran semacam itu dapat muncul di saat ia berada dalam kondisi seperti ini, ia mengharapkan sebuah impian yang tak pernah dirasakan.

Menanti tersadar kembali dari lamunannya, dilihatnya Siau-hong sedang menatapnya dengan pandangan aneh. Tiba-tiba ia merasa pipinya panas lantaran jengah.

Siau-hong sedang tertawa, senyumannya cabul, pipi Kiong Peng semakin panas, debar jantungnya bertambah cepat. Jangan-jangan orang jahat ini telah mengetahui apa yang sedang ia pikirkan? Sebetulnya apa yang hendak dilakukan orang jahat ini terhadapnya?

"Nona Kiong, bila kau anggap aku akan melakukan perbuatan yang tidak sopan, maka kau keliru besar, percayalah kepadaku, aku adalah orang yang mengerti aturan dan sopan santun."

Sebetulnya Kiong Peng sudah mengambil keputusan tak akan bicara lagi dengan orang jahat ini, namun ia justru tak tahan.

"Jika kau tahu aturan dan sopan santun, kenapa menculikku?"

Tempat itu merupakan sebuah tempat yang indah dan nyaman, tak kelihatan manusia, cahaya pun sangat redup. Bila seorang lelaki ingin berbuat tak senonoh terhadap seorang perempuan, tempat ini sangat cocok.

Dalam keadaan seperti ini, perempuan sehebat apapun pasti akan ketakutan. Selain takut, akan terasa pula perasaan gembira, terangsang dan menegangkan.

Hanya seorang lelaki yang amat memahami perempuan yang dapat merasakan betapa menarik dan nyamannya suasana ini.

Oleh karena itu kembali Siau-hong tertawa.

"Nona Kiong, ketika pertama kali melihatmu, terus terang aku tidak merasakan apa-apa, namun setiap kali aku memandangmu setiap kali pula perasaan yang timbul selalu berbeda, makin banyak memandangmu, aku merasa kau semakin menawan, aku percaya, pandangan Liu-sianseng pasti sama seperti pandanganku."

"Liu-sianseng? Siapa dia?"

"Sekarang Liu-sianseng memang hanya sesosok mayat, orang yang telah mati, tapi sewaktu hidup dulu, ia adalah seorang yang luar biasa."

"Luar biasa bagaimana?"

"Paling tidak ia tak bakal mati di dalam lorong gelap dengan sekali tusukan yang datang dari depan, kecuali pelakunya adalah orang yang dicintainya, bahkan sedemikian besar cintanya sampai batu kemala yang selalu digembolnya dihadiahkan kepadanya."

"Maksudmu dia seorang perempuan?"

"Betul."

"Kau maksudkan aku?"

"Ya."

"Batu kemala yang kau maksud apakah batu kemala yang tadi terjatuh dari sakuku?"

Siau-hong menghela napas panjang. "Nona Kiong, bukan aku mengumpakmu, terus terang kau lebih cerdas dari yang kubayangkan semula."

Kiong Peng ikut menghela napas. "Liok-siauya, bukannya aku mengumpakmu, ternyata kau jauh lebih bodoh dari yang kubayangkan."

Napsu, cinta dan birahi memang mudah lenyap dan dingin, apalagi kalau datangnya terlalu cepat, perginya pun amat cepat.

Nada suara maupun sikap Kiong Peng berubah amat dingin, kaku tapi lebih tenang.

"Aku tahu Liu-sianseng yang kau maksud adalah Liu Ji-kong, tentu kau mengira aku memperoleh batu kemala itu darinya, hubunganku dengannya tentu sangat akrab, sangat mesra, lantaran itu ia tidak waswas terhadapku, maka aku punya kesempatan untuk membunuhnya."

Kemudian ia berpaling ke arah Siau-hong, tanyanya, "Apakah kau berpendapat begitu?"

"Benar!"

"Oleh karena itu kau culik aku, kau memang lelaki tolol."

"Oya?"

"Kalau aku yang membunuh Liu Ji-kong, kenapa batu kemala itu mesti kugembol? Memangnya aku tidak kuatir suatu hari nanti kau tahu akulah pembunuh sahabatmu itu?"

Siau-hong terbungkam dan tak mampu menjawab. Apa yang dikatakan Kiong Peng bukannya tanpa dasar.

Kenyataan batu kemala yang selalu digembol Liu Ji-kong saat ini berada di sakunya.

"Baiklah, aku memang tolol, tapi bersediakah memberitahu padaku, kenapa batu kemala itu bisa lari dari saku Liu Ji-kong ke sakumu?"

"Lagi-lagi kau keliru, mana mungkin batu kemala itu bisa lari?" kata Kiong Peng menirukan logat Siau-hong.

Siau-hong tertawa getir, tentu batu kemala tak bisa lari.

"Tapi kenapa bisa berada di tubuhmu?"

"Tentu saja ada alasannya."

"Alasan apa?"

"Batu kemala itu tak mungkin lari sendiri, tak mungkin aku mencurinya, darimana aku mendapatkannya? Mestinya kau paham, asal mau berpikir, kau pasti mengerti."

"Oya?"

"Di saku seorang perempuan yang menawan hati sering ditemukan benda-benda yang tak jelas asal-usulnya, tahukah kau kenapa bisa begitu?"

Kiong Peng segera menjawab sendiri, "Karena ada banyak lelaki, biarpun ia rudin dan pelit jika disuruh mentraktir, ia akan berteriak seperti nyawanya mau dicabut, tapi begitu bersua perempuan yang disukai, biarpun perempuan itu menghendaki nyawanya, dengan suka hati ia akan memberikannya."

"Aku mengerti, kau tentu mendapatkan batu kemala itu lantaran diberi."

"Seorang lelaki memberi hadiah seorang perempuan, hal ini adalah sangat lumrah, aku bersedia menerima pemberiannya saja sudah cukup membuatnya girang setengah mati."

"Betul,tepat sekali! Di dunia ini memang banyak lelaki yang suka berbuat begitu, yang ingin kutahu adalah lelaki mana yang telah menghadiahkan batu kemala itu kepadamu."

"Kau tak bakal tahu."

"Kenapa?"

"Sebab aku tak ingin memberitahu kepadamu."

Siau-hong tidak jengkel atau mendongkol, bahkan ingin marah pun tidak.

"Aku paHam, kau tak ingin memberitahu karena kau tidak bersedia, bahkan merasa tak senang, bukan?"

"Benar."

Jika ada seorang perempuan menolak permintaan seorang lelaki, si lelaki pasti akan melototkan mata dan memandangnya dengan gusar.

"Kuncinya hanya rasa senang, jika seorang perempuan tak senang melakukan sesuatu, jangan harap ada yang bisa memaksanya melakukan secara sukarela."

"Kau keliru, justru lantaran di dunia terdapat perempuan yang tidak pakai aturan dan mau cari menang sendiri, maka muncul lelaki yang ahli menghadapi perempuan macam ini."

Setelah tertawa mengejek, terusnya sembari menunjuk hidung sendiri, "Aku termasuk lelaki jenis ini!"

"Kau?" Kiong Peng tertawa dingin, "apa yang bisa kau lakukan terhadapku?"

"Tentu aku pun tak bisa berbuat apa apa, paling tidak aku masih bisa mencopot celanamu dan menonton kemulusan pahamu."

Sebenarnya cara ini terlalu kuno, cenderung pelecehan, tapi justru paling manjur untuk menghadapi perempuan macam itu.

Berubah hebat paras Kiong Peng, ia berusaha menenangkan hatinya dan berlagak wajar, katanya, "Kau tak usah main gertak, aku tak bakal takut."

"Oya?"

"Kau terhitung lelaki bergengsi, mana berani berbuat begitu."

la menggunakan kata-kata untuk mengendalikan tingkah laku Siau-hong.

"Apa salahnya berbuat begitu? Bila kau seorang tabib dan ingin memeriksa luka pada paha pasien perempuan, memangnya kau tidak membantunya melepaskan celananya lebih dulu?"

Jawaban ini sudah jelas dan tak bisa dibantah lagi, hampir saja membuatnya semaput.

"Begitu pula dengan aku," lanjut Siau-hong.

"Tapi... kau toh bukan tabib, sedang pahaku tidak terluka, kenapa kau memaksa melihat pahaku?"

Sambil menghela napas dan tersenyum Siau-hong menggeleng berulang kali, seperti baru saja mendengar ada bocah bertanya yang kelewat kekanak-kanakan.

"Tadi tak pernah kubilang harus seorang tabib baru boleh memeriksa paha orang?"

Tentu saj ia tak pernah berkata begitu.

"Kau mesti mengerti, bila lelaki ingin melihat paha seorang perempuan, ia tak butuh alasan apapun," dengan riang Siau-hong melanjutkan, "aku bukan seorang lelaki yang tidak pakai aturan."

Kiong Peng nyaris gila saking jengkel dan dongkolnya, sambil menggigit bibir ia mengamati pemuda itu, akhirnya tak tahan tanyanya lagi, "Baik, lalu apa alasanmu berbuat begitu?"

Tiba-tiba sikap serta paras Siau-hong berubah amat kereng dan serius, ujarnya, "Karena aku harus menemukan pembunuh Liu Ji-kong, hingga kini aku baru berhasil menemukan dua petunjuk, batu kemala merupakan satu di antaranya, sedang petunjuk lain adalah sepasang paha perempuan yang putih dan kenyal. Gara-gara urusan ini, kemarin aku nyaris mati satu kali, mati di tangan seorang perempuan yang menyamar hingga tak nampak wajah aslinya, namun secara tak sengaja aku telah melihat pahanya."

"Masakah kau bisa mengenali kembali sepasang paha itu?"

"Tentu saja bisa, paha seperti itu tak bakal dilupakan lelaki mana pun yang pernah melihatnya, terutama lelaki berpengalaman seperti aku."

Sepasang matanya kembali menjelajahi sepasang paha Kiong Peng, seakan sepasang paha itu sudah berada dalam keadaan bugil.

"Lantaran kau enggan menyebut asal-usul batu kemala itu, maka aku harus memeriksa pahamu, jika tak diperbolehkan mencopot celanamu, darimana aku bisa melihat pahamu?"

Kiong Peng tidak bicara lagi, sekarang ia baru paham, Siau-hong yang tampak seperti orang sinting ini bukan lelaki hidung belang yang seks maniak, juga bukan sedang bergurau, ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan yang menyangkut nyawa seseorang, yang juga adalah sahabatnya.

Lelaki macam Siau-hong, jika berhasil memegang setitik petunjuk, ia tak bakal melepaskan petunjuk itu begitu saja.

Ia mengamati terus perubahan mimik Kiong Peng, kemudian ujarnya, "Bila kau sudah memahami maksudku, maka semestinya kau pun tahu celanamu tetap harus dicopot."

Ternyata Kiong Peng tidak marah, katanya, "Benar, aku memahami maksudmu, seandainya kau bukan Liok Siau-hong, mungkin sedari tadi celanaku sudah dicopot."

Siau-hong tetegun, seakan tidak percaya perkataan itu keluar dari mulut perempuan ini.

Tentu saja Kiong Peng pun dapat melihat perubahan mimik muka lawan, tak tahan tegurnya, "Kenapa kau mengamati aku seperti itu?"

"Karena aku tidak menyangka kau adalah perempuan yang sangat tahu aturan."

Kiong Peng tertawa.

"Tidak semua perempuan tahu aturan," katanya, "selama kau bicara dengan alasan yang jelas, aku pasti akan menerima dengan ikhlas."

"Bagus, bagus sekali."

Siau-hong memang patut gembira berjumpa perempuan yang pakai aturan, hal ini merupakan kejadian yang patut digirangkan.

"Bila kau bersedia membantuku hingga pembunuh Liu Ji-kong tertangkap, aku pasti akan berterima kasih kepadamu."

"Aku tahu."

"Darimana kau dapatkan batu kemala itu?"

"Aku tak ingin memberitahu padamu, juga tak bisa memberitahukan kepadamu."

Mimpi pun ia tak menyangka jawaban Kiong Peng sama seperti jawabannya tadi.

"He, bukankah kau sudah berjanji akan membantuku?" teriak Siau-hong mencak-mencak.

"Betul, kan sudah kukatakan dan pasti akan kulakukan."

Dengan nada suara semerdu kiongcunya tadi, Kiong Peng berkata lembut, "Rasanya sekarang terpaksa akan kubiarkan kau mencopot celanaku."

Kembali Siau-hong tertegun.

Tiba-tiba ia sadar, gadis yang berada di hadapannya sekarang sudah bukan gadis yang tadi, dalam waktu singkat, ia seakan telah berubah beberapa kali, kadang berubah agak binal, sangat pakai aturan, seperti nenek tua, dan kadang seperti seekor rase kecil yang licin dan licik.

Ketika Siau-hong memandangnya untuk pertama kali tadi, rasanya gadis ini sama sekali tak punya daya tarik, kelebihan gadis ini adalah bagaimana mempermainkan seorang lelaki, sehingga lelaki yang bertemu dengannya pasti akan berusaha melarikan diri secepatnya.

Tapi Siau-hong berbeda.

Bila ada perempuan semacam itu dapat memaksa lelaki seperti Liok Siau-hong menaruh kesan berbeda terhadapnya, perempuan begini sungguh menakutkan. Perempuan ini memang beda dibanding perempuan Iain, perbedaannya bukan hanya dalam satu hal.

Dengan nada seakan menyayangkan kemampuan Siau-hong, kembali Kiong Peng berkata, "Liok Siau-hong, aku tahu semenjak sepuluh tahun lalu kau sudah tersohor di kolong langit, selain hebat Ginkang dan kemampuan kedua jari tanganmu menjepit, dalam hal perempuan pun namamu amat tersohor."

Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya sambil menghela napas panjang, "Setiap orang beranggapan kau sangat memahami perempuan... tapi sekarang aku tahu sampai dimana tingkat pemahamanmu atas perempuan, ternyata kau tak jauh beda dengan lelaki pada umumnya."

Alis Siau-hong menegang kaku, ia sewot setengah mati, selama hidup belum pernah ia mendengar ada perempuan berani bicara begitu di hadapannya.

Kiong Peng berkata lebih lanjut, "Aku yakin kau pasti tak puas, mana mungkin Liok Siau-hong yang sudah berpengalaman bisa tidak memahami perempuan?"

Tiba-tiba nada suaranya berubah amat simpati, "Terus terang kukatakan, kau sama sekali tidak memahami perasaan perempuan, aku tidak bohong, kalau tidak, masa kau tetap akan melakukan perbuatan semacam itu terhadapku?"

"Apa yang kulakukan terhadapmu?" tanya Siau-hong.

"Ketika aku enggan bicara, ternyata kau gunakan berbagai muslihat untuk membuat aku percaya bahwa kau akan mencopot celanaku. Aku orang yang sangat tahu aturan, kau pun begitu."

"Ya," sahut Siau-hong seolah tak sadar.

"Itulah sebabnya sekarang aku rela kau mencopot celanaku, eh, kelihatannya kau malah seperti lupa hal ini?"

Meniru gaya Siau-hong, Kiong Peng tersenyum, menghela napas dan menggeleng kepala sambil berkata, "Lalu apa maksudmu berbuat begitu? Pernahkah kau berpikir, bagi seorang perempuan perbuatan ini merupakan kejadian yang menyakitkan hati, sebuah pelecehan yang amat menghina."

Ucapan itu memang benar dan beralasan, lelaki mana pun tak bisa membantah.

Yang seharusnya dikerjakan ternyata tidak dilakukan, yang tidak seharusnya dilakukan justru telah dikerjakan, sebenarnya apa yang terjadi?

Bila seorang perempuan mengucapkan kata-kata semacam itu di hadapan lelaki, ibarat mukanya ditempeleng dengan keras. Muka Siau-hong bukan saja tidak mirip orang yang baru kena tampar, malah ia memperlihatkan wajah yang sangat gembira.

"Terima kasih banyak, kau sangat menarik, sudah sepantasnya aku berterima kasih kepadamu."

Kiong Peng kembali dibuat kebingungan oleh sikapnya yang aneh itu, tak tahan ia bertanya, "Apa-apaan kau? Apa maksudmu? Kenapa berterima kasih kepadaku?"

"Sebab kau memberi dorongan kepadaku!"

"Memberi dorongan? Dorongan apa?"

"Mendorong aku agar secepatnya melepas celanamu dan menolong pahamu terbebas dari kurungan."

Perkataan busuk apa lagi ini? Padahal maksud perkataan itu sudah sangat jelas, setiap orang pasti paham, paling tidak perkataan itu jauh lebih sopan daripada "aku segera akan melepas celanamu".

Untuk mengubah ucapan tidak senonoh menjadi perkataan yang lebih berbudaya, memang dibutuhkan pengetahuan yang hebat dan kemampuan yang luar biasa.

"Memang mustahil bagiku melakukan perbuatan ini, bukankah kau sendiri pun mengakui bahwa aku suka gengsi? Berhubung kau berulang kali memberi dorongan dan menambah semangatku, tentu saja keadaan pun berbeda."

Tangannya mulai melakukan gerakan untuk melaksanakan hal "yang berbeda" itu. Dalam keadaan berbeda, setiap perempuan akan merasakan sedikit perbedaan itu ... mungkin bukan hanya satu perbedaan.

Dalam situasi semacam ini, kejadian apapun bisa terjadi. Semua perbuatan yang terpikir, setiap saat bisa terjadi di situ. Kejadian macam apa yang mungkin terjadi dalam situasi seperti ini?

Dapat dipastikan peristiwa yang terjadi adalah kejadian yang merangsang, menegangkan dan menghebohkan. Tapi apa yang akan dilakukan Siau-hong dan Kiong Peng dalam situasi seperti ini?

Bagi mereka, berada dimana pun tetap sama saja keadaannya. Karena mereka tetap bisa melakukan perbuatan yang sama. Karena tempat memang bukan faktor penting! Yang penting mereka melakukan apa? Bagaimana akhirnya?

Mereka tidak melakukan apa-apa, Siau-hong hanya sempat nyentuh ikat pinggang Kiong Peng, lalu tak dapat melakukan apa-apa lagi. Sebab pada saat bersamaan ia mendengar ada orang berkata di pintu, "Dia tak dapat memberitahukan siapa yang telah menghadiahkan batu kemala itu kepadanya, karena akulah yang telah menghadiahkan benda itu kepadanya."

"Siapa kau?"

"Aku percaya sekarang kau sudah tahu siapa aku? Sekalipun kau belum melihat wajahku, semestinya sudah mendengar suaraku bukan?"

Siau-hong tak bisa menyangkal, ia memang sudah mendengar suara orang itu. Suara orang itu halus, lembut dan anggun, lelaki mana pun yang pernah mendengar suara itu pasti takkan bisa melupakannya, persis seperti lelaki yang tak dapat melupakan sepasang paha mulus, halus, panjang dan kenyal yang pernah dilihatnya.

Orang yang telah menyerahkan batu kemala Liu Ji-kong kepada Kiong Peng tak lain selir raja muda yang dikucilkan itu.

Tentu saja Kiongcu hanya sebuah sebutan, mana ada kiong (istana) di sini? Istana seperti apa yang bisa didirikan di tempat gersang dimana burung pun tak bisa bertelur? Tak ada istana, mana ada pemilik istana? Mana ada Kiongcu? Tapi selir raja muda adalah sebuah kenyataan.

Hubungan rahasia apakah yang sebenarnya telah terjalin antara selir raja muda dengan Liu Ji-kong yang asal-usul serta jejaknya serba misterius itu? Bila mereka punya hubungan, darimana datangnya hubungan itu?

Tak seorang pun mengetahui jawaban pertanyaan ini, paling tidak bagi Siau-hong, ia telah mengetahui satu hal. Sampai mati Kiong Peng tetap enggan mengatakan asal-usul batu kemala itu, tak lain karena ia ingin melindungi Kiongcunya. Dia tak ingin Kiongcunya terseret dalam kasus pembunuhan ini, tentu saja di antara kedua orang perempuan ini pasti mempunyai hubungan yang luar biasa. Hubungan istimewa ini seperti apa? Bukan saja Siau-hong tak bakal bertanya, dipikir pun tidak.

Orang yang selalu ingin membongkar dan mengetahui rahasia orang lain ibarat seekor anjing yang gemar makan tahi, siapa pun tak tahu siapa yang senang mengetahui rahasia orang, sama seperti tak ada yang tahu anjing mana yang suka makan tahi. Manusia dan anjing macam ini merupakan makhluk yang paling dibenci Siau-hong, itulah sebabnya ia bertanya, "Sebenarnya darimana datangnya batu kemala itu?"

ia hanya mengajukan pertanyaan ini, karena pertanyaan itu merupakan kunci utama untuk mengungkap kasus pembunuhan ini. Kiong So-so tidak keberatan menjawab pertanyaan itu, hanya saja jawabannya jauh di luar dugaan Siau-hong. Jawaban Kiong So-so ternyata sama seperti jawaban Kiong Peng tadi.

"Dalam saku seorang perempuan memang selalu ditemukan barang yang tak jelas asal-usulnya, tentu saja barang-barang itu kebanyakan adalah hadiah dari lelaki."

Sama seperti Kiong Peng, kembali ia menegas, "Lelaki memberi hadiah kepada perempuan, kejadian yang sangat lumrah, bukankah lelaki macam kau pun kadangkala memberi hadiah juga kepada kaum perempuan?"

Siau-hong tertawa getir. Tentu saja ia pernah memberi hadiah, bahkan sering, apapun dihadiahkan. Hanya semacam barang yang tak pernah diberikan kepada orang lain. Barang yang diperoleh dari orang mati tak pernah diberikan kepada orang lain, apalagi jika orang itu tewas di tangannya. Kalau barang semacam ini diberikan kepada seorang perempuan yang menarik, bukan saja tak sopan, bahkan sangat memalukan. Bila kau berikan barang itu kepada seorang perempuan yang membosankan dan kau benci, maka perbuatan itu benar-benar sangat goblok.

Berapa banyak perempuan yang pandai menyimpan rahasia? Setiap lelaki yang berpengalaman tentu paham akan hal ini, orang ang mampu membunuh Liu Ji-kong tentulah bukan perempuan yang tak punya pengalaman. Bila batu kemala itu bukan pemberiannya, berarti Kiong So-so sedang berbohong. Teori itu sebetulnya sangat sederhana, segampang satu tambah satu adalah dua.

Siau-hong sangat jarang membongkar kebohongan seorang perempuan, tapi hari ini ia ingin sekali melanggar kebiasaan itu, walau sekali ini saja.

"Padahal sekalipun tidak kau tanya, sudah menjadi kewajibanku memberitahu kapadamu, batu kemala ini pemberian Liu Ji-kong untukku."

"Oya?"

"Begitu tiba di sini, ia langsung mengetahui asal-usulku, kebetulan hari itu adalah hari ulang tahunku, maka ia memberi sedikit hadiah untukku, dan aku pun mengundangnya minum arak."

Kata-kata Kiong So-so ini telah menyumpal mulut Siau-hong sehingga tak sanggup bicara.

Kiong So-so melemparkan sekulum senyuman manis ke arah Siau-hong, lalu katanya pula, "Biasanya orang yang datang kemari untuk pertama kalinya selalu membawa sedikit hadiah untukku, tak ada pengecualian."

Siau-hong tak mampu bicara, wajahnya merah padam. Ia tak memberi hadiah, malah makan gratis dan melarikan anggota keluarga tuan rumah, jangankan Liok Siau-hong, orang yang paling tebal mukanya di jagad inipun pasti akan rikuh, untung ada orang membantunya lolos dari kesulitan, Kiong Peng seakan sedang membantunya bicara.

Tapi belum sempat gadis itu buka mulut, mendadak dari luar jendela meluncur puluhan titik cahaya terang, tenaga serangan, sasaran dan sudut ancaman berbeda, mengancam puluhan tempat mematikan di tubuhnya. Cahaya maupun bentuk senjata rahasia itupun bermacam-macam. Keadaan yang dialaminya saat ini persis seperti saat berada di toko penjual peti mati milik si Buta Tio.

Hanya kali ini keadaan Kiong Peng jauh lebih berbahaya, ia sudah dicengkeram orang, untuk bergerak pun tak mampu. Kiong Peng tahu, tak mungkin Siau-hong membiarkannya mati, namun ia tak mengerti, dengan cara apa pemuda itu akan menyelamatkan jiwanya. Ia hanya merasa ada serangkum angin tajam dan kuat menggulung lewat di sisinya, seakan sebuah senjata lembek yang aneh dengan membawa deru angin meluncur lewat, benda itu belum pernah dilihatnya, namun sangat berguna.

Ada berbagai jenis senjata tajam yang menembus masuk lewat jendela tergulung deru angin tajam itu, bahkan terpukul hancur oleh senjata lembek yang aneh itu. Sisanya menyambar ke arah Siau-hong, tapi dengan kedua jari seolah sedang menjepit lalat, tahu-tahu senjata rahasia itu sudah jatuh ke tangannya.

Menyusul Siau-hong menjengek sambil tertawa dingin, "Besi rongsok semacam ini juga dibuat mainan."

Kiong Peng hanya diam.

"Kau tahu siapa yang membokong?"

"Tahu sedikit."

"Apakah orang yang membokong si Buta Tio?"

"Kemungkinan begitu. Bukankah kau sedang mencari jejak mereka? Sekarang telah muncul lagi, kenapa tidak kau kejar?"

Pertanyaan Kiong Peng ini memang masuk akal dan lumrah.

Siau-hog hanya menjawab hambar, "Biarpun kukejar juga tak bakal tertangkap."

Jawaban yang bagus, tapi seakan bukan keluar dari mulut Siau-hong. Ia memang bukan manusia seperti ini.

Jelas tak mungkin dilakukan, tapi tetap nekat melakukannya, entah sudah berapa kali ia berbuat seperti ini. Tak ada alasan yang dapat mencegahnya?

Kiong Peng tidak mendesak, tiba-tiba matanya melotot dan serunya, "Apa ... apa yang kau pegang?"

Ia sangat mengenal benda yang berada di genggaman pemuda itu, mana mungkin ada perempuan yang tidak mengenali tali ikat pinggang sendiri?

Siau-hong seperti mendadak berubah jadi orang tolol, seakan belum paham maksudnya, malah katanya santai, "Ikat pinggang ini yang kau maksud? Ya, baru saja aku ambil dari pinggangmu."

Kini ganti Kiong Peng yang tiba-tiba berubah jadi orang tolol, ia tidak menyangka senjata lembek yang dipakai memukul jatuh senjata rahasia itu tak lain adalah ikat pinggangnya, tak kuasa lagi wajahnya jadi merah padam.

Paras Siau-hong lamat-lamat kelihatan bersemu merah juga, bagaimanapun ikat pinggang itu memang ia yang lolos dari tubuh si gadis.

Mendadak terdengar Kiong Peng menjerit tertahan, tiba-tiba ia sadar, dalam ruangan itu sudah berkurang satu orang.

"Mana Kiongcu?"

"Rasanya ia sudah pergi."

"Kapan perginya?"

"Tadi!"

"Kapan?"

"Tadi, sewaktu ...."

Siau-hong memandang ikat pinggang dalam genggamannya. Biarpun jawaban itu tak jelas, tapi yang dimaksud adalah saat ia melepas ikat pinggang gadis itu, yakni di saat mati hidup Kiong Peng di ujung tanduk.

"Kau melihat sendiri ketika ia pergi?"

"Ehmm!"

"Kenapa ia pergi?"

"Darimana aku tahu?"

Kiong Peng menghela napas panjang.

"Tentu saja kau tidak tahu, tapi aku malah tahu."

Ia memandang Siau-hong sekejap, sinar matanya sangat lembut dan penuh kehangatan.

Sebenarnya apa yang telah diketahui Kiong Peng? Kiong Peng bukan saja tidak goblok, ia justru sangat pintar, apa yang ia ketahui ternyata jauh lebih banyak daripada apa yang dibayangkan Siau-hong semula.

"Kau sengaja tidak mengejar pembokong itu lantaran kau ingin melindungi aku, bukan saja takut mereka turun tangan sekali lagi, bahkan kuatir orang lain akan mencelakai aku."

"Orang lain? Siapa?"

"Tentu saja Kiong So-so yang selama ini bersikap sangat baik kepadaku."

"Mana mungkin ia mencelakaimu?"

Kembali Kiong Peng menghela napas panjang.

"Semestinya kau sudah tahu."

Siau-hong tidak menyangkal, ia hanya diam saja.

"Sebenarnya aku sendiri tak yakin ia akan mencelakai aku, tapi sekarang ...." kata Kiong Peng pula dengan tersenyum getir. "Sekarang aku malah mulai curiga, jangan-jangan orang yang membokongku tadi punya hubungan khusus dengannya, bahkan kemungkinan besar mereka adalah pembunuh bayaran yang ia beli."

"Apa alasannya membunuhmu?"

"Ada!"

"Apa?"

"Akulah satu-satunya orang yang tahu siapa yang telah menghadiahkan batu kemala itu kepadanya, oleh sebab itu ia hendak membunuhku, untuk membungkam mulutku selamanya."

Hanya orang mati yang bisa menyimpan rahasia, inilah salah satu alasan paling kuat kenapa orang membunuh.

"Kalau toh ia sudah tahu batu kemala itu kemungkinan besar akan menjadi petunjuk penting dalam mengungkap pembunuhan ini, kenapa ia tetap menghadiahkannya kepadamu?"

"Pertama, waktu itu ia tidak menyangka ada orang akan mengusut kasus pembunuhan ini, terlebih tak mengira kalau yang datang adalah kau."

Setelah menarik napas, lanjutnya, "Kedua, karena ia tahu batu kemala yang diperoleh dari jenazah adalah benda yang tidak bagus, kebetulan ia melihat aku amat senang ketika melihat benda itu, maka ia pun menghadiahkan benda itu kepadaku. Bukan saja ia tahu asal-usul batu kemala itu, bahkan bisa jadi mempunyai hubungan dengan pembunuh Liu Ji-kong."

Sekarang tinggal satu pertanyaan lagi. Bagaimana batu kemala itu bisa muncul di tempat ini?

Penyelidikan telah berkembang.

"Tak mungkin batu kemala itu diberikan sendiri oleh Liu Ji-kong, karena sampai mati pun ia tetap menggembol batu kemala itu."

"Lantas siapa yang menghadiahkan batu kemala itu padanya?"

"Sah Toa-hu!"

--0o0--

Siapa pun tak ada yang menyangka Kim Jit-liang adalah orang jujur, untuk kedua kalinya Siau-hong telah membuktikan bahwa apa yang ia katakan adalah sejujurnya.

Dari sekian banyak begundal Sah-lopan, ternyata tak satu pun yang berguna, kalau tidak, bukan satu pekerjaan mudah bagi Siau-hong untuk menyusup ke dalam kamar tidur Sah-lopan. Sekarang ia dapat masuk dengan leluasa, seakan memasuki suatu daerah yang tak berpenghuni, andaikata ia mau tidur di ranjang Sah-lopan pun rasanya bukan satu perbuatan yang sulit baginya.

Akan tetapi Siau-hong adalah seorang kuncu sejati, tidak mungkin ia melakukan hal-hal yang tidak sopan, paling tidak ia harus mengetuk pintu lebih dahulu sebelum masuk ke kamar tidur pribadi seseorang. Apalagi dari dalam kamar terdengar dengus napas orang lain, dengus napas seorang perempuan. Bagi Siau-hong, dengus napas semacam ini sudah tak asing lagi. Bagi pria macam Sah-lopan, memang sudah sepantasnya jika dalam kamar tidurnya terdengar dengus napas.perempuan, katau tidak ada malah aneh.

Siau-hong menunggu di depan kamar, menunggu sampai dengus napas dalam kamar itu berhenti, kemudian baru ia mengetuk pintu. Baru dua ketukan, sumpah serapah sudah keluar dari mulut Sah-lopan.

"Enyah dari sini, siapa pun dan apapun tujuan kedatanganrnu, lebih baik cepat menggelinding pergi sebelum aku korek keluar kedua kuning telurmu!"

Siau-hong tidak menggelinding pergi, ia tetap mengetuk pintu. Pintu kamar mendadak dibuka, tahu-tahu Sah-lopan yang telanjang bulat sudah muncul dari balik pintu. Bayangkan bagaimana mimik wajahnya ketika itu.

Siau-hong tak ingin berpikir, juga tak ingin membayangkan, dengan sikap sopan ia membungkukkan badan memberi hormat dan tersenyum ramah.

"Maaf, kedatanganku secara tak sengaja telah mengusik kesenanganmu."

Keadaan Sah-lopan waktu itu persis seorang yang mulutnya dijejali tahi anjing, biarpun ingin disemburkan ke wajah Siau-hong, namun tak berani.

"Maaf, aku bukan telur ayam, juga bukan telur bebek, maka tak memiliki kuning telur yang dapat kau korek, aku khusus kemari karena ada persoalan yang ingin kutanyakan padamu."

"Soal apa?" akhirnya Sah-lopan buka mulut.

Siau-hong menjulurkan tangan, di antara kedua jarinya terjepit seutas tali merah, di ujungnya tergantung batu kemala dari batu pualam yang indah warna dan bentuknya.

"Sebelum ini, pernahkah kau melihat benda ini?"

Tanpa pikir Sah-lopan langsung menjawab, "Tentu saja pernah kulihat, bahkan akulah yang memberikan benda itu pada Kiongcu."

Siau-hong melengak, termangu dibuatnya. Baginya hal ini merupakan petunjuk yang sangat penting, karena menyangkut sebuah kasus pembunuhan yang penuh misteri. Sama sekali tak dinyana Sah-lopan menjawab dengan enteng, bahkan tidak nampak kaget, terkejut apalagi gugup.

Rasa gugup dan kaget memang tak nampak, namun api amarah mulai berkobar.

"Hanya untuk bertanya hal ini saja kau berani menyelonong masuk ke kamarku di tengah malam buta, mungkin sulit bagimu untuk keluar lagi dalam keadaan hidup."

Sambil tertawa getir Siau-hong menghela napas.

"Kalau begitu aku ingin bertanya satu hal lagi."

"Hal apa?"

"Sebenarnya batu kemala ini milikmu atau bukan?"

"Bukan, aku sering memberi hadiah kepada orang lain, orang pun sering memberi hadiah kepadaku."

Dengan jengkel ia pelototi Siau-hong, lalu katanya pula, "Kau ingin bertanya lagi siapa yang menghadiahkan kepadaku?"

"Benar."

"Kalau aku tak mau menjawab, mau apa kau?"

"Kalau begitu keadaan bakal runyam, bila aku lepas tangan, batu kemala ini segera akan terjatuh ke tanah"

"Lalu kenapa?"

"Tidak apa-apa, perlu kau ketahui, sebelum batu kemala ini hancur, kujamin kau sudah jadi mayat."

Selama ini Siau-hong jarang menggertak orang, jelas ini bukan gertak sambal belaka. Tentu saja Sah-lopan sangat memahami hal ini. Paras mukanya berubah hebat, sementara batu kemala itu segera akan terlepas dari genggaman Siau-hong.

Saat itulah tiba-tiba Siau-hong mendengar ada seorang perempuan berseru, "Aku yang menghadiahkan batu kemala itu kepadanya."

Seorang perempuan telanjang bulat melompat keluar dari balik selimut di ranjang Sah-lopan, sambil bercekak pinggang ia berdiri di hadapan Siau-hong.

"Itu pemberian suamiku, aku senang menghadiahkan kepada siapa itu adalah hakku, kecuali suamiku yang mirip kura-kura itu, siapa pun tak berhak mengurus aku, sekalipun aku suka main serong, orang lain tak perlu ikut campur."

Kemudian sambil mengerling genit kembali serunya, "Liok Siau-hong, benar tidak perkataanku? Menurut kau, siapa yang berhak mengurus aku?"

Belum habis ia berkata, Siau-hong sudah ambil langkah seribu, seakan baru saja bertemu setan yang amat menyeramkan.

-0O0-

Ketika Liok Siau-hong menemukan Ong Toa-yan, lopan toko kelontong yang gemar mengenakan topi hijau ini (maksudnya bininya suka serong) sedang mabuk berat, muntahan yang sangat bau mengotori seluruh tubuhnya, sepatu yang dikenakan penuh lumpur, tapi ia berbaring telentang di ranjang sambil mendengkur keras, ruangan itu benar-benar sangat bau hingga cukup untuk meracuni orang.

Orang bebal mustahil bisa menjadi pembunuh bayaran, apalagi membunuh Liu Ji-kong, pendekar kenamaan dunia persilatan. Siau-hong sendiri pun tidak percaya.

Laopan Nio yang muncul dari balik selimut ranjang orang lain dalam keadaan telanjang bulat jelas mengatakan bahwa batu kemala itu diperoleh dari suaminya, tentu saja Siau-hong tak bisa tidak harus datang dan menanyakan hal ini kepadanya. Terlepas apapun perbuatannya, yang pasti ia cuma punya seorang suami.

Agar orang yang mabuk berat bagai babi mampus mendusin, cara terbaik adalah mengguyurkan sebaskom air dingin ke atas kepalanya, terutama pada cuaca seperti ini, cara ini pasti berhasil.

Tapi Siau-hong tak tega. Ia tahu, orang yang patut dikasihai sering kali melakukan perbuatan keji, tapi setiap kali bertemu orang seperti ini, perasaannya berubah jadi lembek. Oleh sebab itu ia harus mengeluarkan tambahan tenaga, cara lain untuk menyadarkan Ong-toaya dari mabuknya.

Sebenarnya ia ingin menunggu sampai ia benar-benar sadar sebelum mengajukan pertanyaan, siapa tahu begitu Ong Toa-yan melihat batu kemala itu, ia segera menjerit keras.

"Barang itu telah kuhadiahkan kepada biniku, kenapa bisa jatuh ke tanganmu?"

Siau-hong tertawa getir. Hal ini sulit dijelaskan, ia sendiri pun enggan menjelaskan, akan ia gunakan cara yang paling sederhana, yang biasanya jarang digunakan untuk menghadapi orang yang patut dikasihani ini. Cara itu biasanya sangat manjur, orang mau tak mau harus berterus terang, begitu juga dengan Ong Toa-yan, ia mengakui asal-usul batu kemala itu.

"Aku membelinya."

"Siapa yang menjualnya?"

"Selain si telur busuk itu, siapa lagi? Biasanya telur busuk itu miskin, tapi sejak kematian Liu-toaya, ia jadi kaya, sangat boros dan royal, selama ini aku sudah curiga kepadanya, jangan-jangan ia mendapatkan harta itu dari membunuh."

Benar tidaknya perkataan itu, ia harus mencari si pengemis cilik.

Titik terang sudah mulai tampak, sebentar lagi pasti akan terungkap, dan ia percaya misteri pembunuhan ini segera akan terkuak.

Itulah sebabnya ia harus mencari si pengemis cilik. Ong Toa-yan mengantar Siau-hong mencari pengemis itu.

"Tak ada orang lain yang lebih jelas kemana si telur busuk cilik itu mengendon."

Tapi ia tak berhasil menemukan, sudah beberapa tempat telah ditelusuri, namun tak nampak juga bayangan tubuhnya. Si telur busuk cilik itu seolah lenyap tak berbekas. Mana mungkin orang bisa hilang tak berbekas? Jangan-jangan ada yang menjadikannya kambing hitam hingga ia telah dibunuh dan dimusnahkan mayatnya? Atau lantaran ia sudah tahu hal ini hingga melarikan diri?

Siau-hong tak dapat memastikan. Hingga kini ia belum berhasil mendapatkan setitik bukti pun. Siau-hong memang tak mau mengambil kesimpulan secara sembarangan, biarpun ia tahu orang itu adalah pembunuhnya, sebelum memperoleh bukti yang jelas, ia tak akan buka suara. la tak ingin menuduh secara sembarangan.

Banyak orang bilang, ia mirip tokoh setengah dewa yan pernah tersohor di masa lalu, Coh Liu-hiang si pendekar harum padahal mereka adalah dua tokoh yang berbeda. Coh Liu-hiang romantis, sementara Liok Siau-hong liar tak pakai aturan, watak kedua orang ini juga berbeda, tentu saja cara kerja mereka pun berbeda. Hanya dalam satu hal mereka mempunyai persamaan. Mereka sama-sama tahu tata krama, tidak pernah berniat membongkar rahasia orang, tidak pernah mengambil kesimpulan secara gegabah dan tidak membuat orang penasaran atau terfitnah. Itulah sebabnya mereka selalu aman dan tenteram, karena tak pernah membohongi suara hati sendiri.

Bagaimanapun juga kini si pengemis cilik sudah menjadi salah satu tersangka pembunuhan. Kalau orang semacam dia adalah pembunuh bayaran, siapa lagi penghuni di kota kecil ini yang bisa dipercaya? Justru di kota kecil ini tak ada seorang pun yang mempunyai alasan atau niat untuk mencelakai Liu Ji-kong, terlebih tak seorang pun yang memiliki kemampuan untuk melakukan pembunuhan. Terkecuali Kiong So-so!

Teringat Kiong So-so, terbayang kembali wajah Kiong Peng, paras muka Siau-hong segera berubah. Ketika berpisah dengan Kiong Peng tadi, ia merasa kuatir. Gadis itu harus balik ke samping Kiong So-so, padahal dirinya bersumpah akan menelusuri asal-usul batu kemala itu hingga tuntas, tak seorang pun memiliki alasan untuk mencegahnya. Ia kuatir, karena tahu Kiong So-so sesungguhnya adalah tokoh yang sangat berbahaya.

Maka ia putuskan untuk mencari Kiong So-so.

Mencari seseorang termasuk kejadian yang aneh, kadang kau tak ingin menemui seseorang, tapi tiba-tiba ia muncul, ketika ingin menjumpainya, dicari sampai ke ujung kota pun tidak ditemukan.

Demikian pula keadaan Siau-hong.

Ketika tiba di kediaman Kiong So-so, Siau-hong tidak memukan perempuan itu, bukan saja tidak ditemukan, bahkan Kiong Peng ikut lenyap, si nenek berambut putih yang menerima tamu pun lenyap. Ruangan yang semula tertata rapi, indah dan anggun, kini berantakan dan kacau sekali, seakan baru saja ada puluhan monyet yang berjumpalitan di situ dan memporak-porandakan seluruh isi ruangan.

Hati Siau-hong seakan tenggelam, namun mendadak berbinar sepasang matanya. Ia telah melihat sesuatu benda, biarpun suasana dalam ruangan kacau-balau, namun benda itu tetap menyolok.

Liok Siau-hong menemukan segumpal rambut. Segumpal rambut yang diikat dengan kain belacu, tali yang semestinya berwarna kuning kecoklat-coklatan, kini telah berubah hitam pekat, entah sudah berapa lama dikenakan tanpa pernah dicuci.

Rambut yang semula hitam pekat kini telah berubah kecoklatan, berdebu, berlumpur, berminyak dan berpasir. Siau-hong sangat kenal gumpalan rambut itu. Rambut yang seharusnya berada di kepala pengemis cilik, tapi sekarang telah rontok dan berserakan di antara vas bunga serta lentera kristal yang telah hancur.

Biarpun rambut itu diikat secara acak-acakan, namun bekas potongannya kelihatan rapi dan rata. Rambut yang terurai di kepala tak mungkin rontok tanpa sebab yang jelas. Tentu rambut itu dipangkas dengan 'menggunakan sebilah pisau yang amat tajam.

Ketika Liok Siau-hong memungut rambut itu serta mengamati bekas pangkasannya, tiba-tiba kelopak matanya menyusut kencang.

"Sebuah ayunan pisau yang amat cepat!"

Apakah kecepatan babatan pisau itu cukup untuk menembus jantung Liu Ji-kong hanya dalam sekali tusukan? Siapa pemilik pisau itu? Apakah pengemis cilik itu telah datang ke kediaman Kiong So-so? Apakah benar rambutnya dipangkas putus oleh sebuah ayunan pisau yang sangat cepat dari seseorang? Bagaimana pula nasibnya? Kabar tentang Kiong So-so serta Kiong Peng tak jelas, apa yang sebenarnya telah terjadi? Kecuali mereka bertiga, tak mungkin ada orang lain tahu.

Sambil memegangi kutungan rambut pengemis cilik, Siau-hong berdiri termangu, mendadak ia teringat suatu hal. Jelas bukan tiga orang, tapi empat orang. Selain Kiong So-so, Kiong Peng dan pengemis cilik itu, masih ada lagi si nenek berambut putih. Kenapa si nenek pun ikut lenyap? Seorang nenek yang saking tuanya hingga pinggangnya pun tak dapat ditegakkan, mungkinkah terlibat kasus pembunuhan ini? Ia tahu semua pertanyaan itu tak mungkin segera terjawab.

Pada saat itulah tiba-tiba kelopak matanya kembali menyusut kencang. Bukan lantaran ia telah melihat sesuatu benda, tapi suara yang amat menusuk pendengaran. Sebetulnya suara itu tidak keras, hanya berupa rintihan yang sangat Iirih dan lemah. Namun bagi pendengarannya justru jauh lebih menusuk ketimbang tusukan jarum, karena ia segera mengenali suara itu berasal dari mulut Kiong Peng. Jadi Kiong Peng masih berada di situ, kenapa ia merintih? Mungkinkah ia terluka parah? Yang membuat ia lega adalah orang masih dapat bersuara, menandakan orang itu belum mati.

Siau-hong menarik napas, berusaha mengendalikan detak jantung dan napasnya yang memburu.

Malam semakin kelam, suasana makin hening ....

Ketika suara debar jantung dan dengus napasnya berhasil dikendalikan, nyaris di sana tak terdengar suara lain. Oleh karena itu ketika suara rintihan itu berkumandang lagi, Siau-hong segera dapat mengenali dari arah mana suara itu berasal.

Langit menjelang datangnya fajar sangat gelap. Waktu gelap sebelum sinar pertama muncul di ufuk timur, tak ada lentera, juga bintang dan tak nampak rembulan. Halaman mungil yang indah, kini dicekam warna hitam pekat dan rnencekam, apapun tidak kelihatan. Tapi Liok Siau-hong dapat menemukan Kiong Peng dengan cepat, gadis itu tergeletak di sebuah tempat yang tak mudah ditemukan orang.

Di sisi dinding halaman belakang terdapat tujuh delapan buah gentong air yang amat besar, gentong air untuk memelihara ikan emas. Di ibu kota orang gemar memelihara ikan emas, hal ini merupakan kebiasaan, juga trend atau mode. Biarpun kejayaan di masa lampau telah berlalu, tak mudah mengubah kebiasaan, gaya hidup yang sudah telanjur mengakar.

Padahal tidak gampang mendapatkan ikan emas, apalagi mendapatkan air jernih di tempat gersang dimana burung pun tak dapat bertelur, karena itu di halaman milik bekas selir raja muda ini hanya tertinggal sederet gentong kosong.

Tubuh Kiong Peng ditemukan dalam gentong ketiga dari sebelah kiri. Tentu saja bukan atas kemauan sendiri ia bersembunyi di situ, siapa yang rela menyusupkan tubuh sendiri ke dalam gentong ikan emas yang sempit?

Saat paling gelap telah berlalu, setitik cahaya terang mulai muncul di ufuk timur, tampak sebuah jarum perak membiaskan cahaya ketika terlimpa sinar.

Siau-hong mengernyitkan alis. Ia tahu jarum perak yang mengenai jalan darah Kiong Peng dilepaskan dengan ilmu melepaskan Am-gi yang hebat. Tidak diragukan lagi orang inilah yang telah melepaskan Am-gi dari luar jendela ketika berada di toko peti mati tempo hari. Memang tak banyak jago lihai senjata rahasia yang masih hidup, tapi siapakah dia?

Setelah jarum perak dicabut, Kiong Peng baru dapat berbicara.

"Aku tahu kau pasti menguatirkan keselamatanku, padahal aku sendiri tak pernah kuatir karena aku selalu berpendapat Kiong So-so tak bisa berbuat apa-apa terhadap diriku, tapi mimpi pun aku tak mengira Kho Lo-thay sanggup merobohkan aku dalam waktu singkat."

"Kho Lo-thay? Siapa dia?"

"Nenek peyot yang membukakan pintu itu."

Mendadak Siau-hong teringat seseorang, memang tak banyak jago silat dalam dunia persilatan yang mahir menggunakan senjata rahasia, tak lebih dari sepuluh orang, yang perempuan paling dua tiga orang. Seorang di antaranya bukan hanya mahir senjata rahasia. juga mahir menyamar dan pencuri sakti, orang menyebutnya Sam-jiu-sian-ci (nenek Dewi bertangan tiga) Kho Pat, ketika masih muda berjuluk Sian-koh (bibi dewi), nama besarnya menggemparkan sungai telaga.

Apakah benar si nenek peyot yang kempot ini adalah Kho-sian-koh yang dahulu tersohor karena lincah dan cekatan bagai seorang dewi? Kenapa ia muncul di tempat seperti ini? Kenapa bisa menjadi budak bekas selir yang dikucilkan? Dari nama besar, ilmu silat dan kedudukannya dalam dunia persilatan, sepantasnya bekas selir raja yang mencuci kakinya.

Siapa pun tidak mengira, seorang yang tujuh jalan darah pentingnya tertotok bahkan sudah dijejalkan ke dalam gentong ikan mas, ternyata berhasil diselamatkan orang. Kiong Peng belum mampus, Kiong So-so memang tidak berniat membunuhnya, ia hanya menginginkan orang itu merasakan sedikit siksaan. Tapi bagaimana dengan pengemis cilik?

"Apakah kau melihat pengemis cilik?" tanya Siau-hong.

"Ya, aku tak menyangka ia ternyata mau menyerempet bahaya menyelamatkan aku."

"Apakah ia sudah dicelakai orang?"

"Biarpun masih hidup, rasanya hidupnya tak lama lagi."

"Kenapa?"

"Karena ia telah mengetahui dan menyaksikan kejadian yang tidak semestinya ia saksikan."

Rhasia ini tentu saja ada sangkut-pautnya dengan penyebab kematian Liu Ji-kong.

"Kini pengemis cilik berada dimana?"

"Sudah digelandang oleh Kiong So-so dan Kho Lo-thay."

"Kenapa mereka menggelandangnya pergi? Kenapa tidak dibantai di sini saja?"

"Jika kau ingin membunuh orang, apakah kau akan melakukan dalam rumahmu sendiri?"

"Tentu saja tidak."

"Bukankah lebih mudah menggotong sesosok mayat dan memindahkannya ke tempat lain daripada meminta seseorang untuk berjalan sendiri ke tempat lain?"

"Betul."

Kini Siau-hong mengerti, pengemis cilik telah digelandang ke tempat lain oleh Kiong So-so, di situ ia dibungkam, dibantai.

Orang lain takkan menemukan tempat itu, siapa pun tak ada yang tahu dimana tempat itu.

Siau-hong pun tidak tahu.

Ia sudah banyak melakukan pekerjaan yang tak mampu dikerjakan orang lain, ia minum arak bagai minum air, bermain nyawa seperti main kartu, menggunakan kedua jarinya menjepit senjata lawan, bahkan di saat nyawanya berada di ujung tanduk pun masih bergurau. Namun bagaimanapun ia tetap manusia, tetap banyak hal yang tak mungkin bisa dikerjakannya.

Di tengah hembusan angin fajar yang dingin, dari balik kabut putih yang menyelimuti udara, tiba-tiba muncul sebuah layang-layang di hadapannya.

Tak pernah terbayang, pertanda apa layang-layang ini. Layang-layang itu sangat besar, mirip seekor burung elang raksasa yang

terbang di atas puncak bukit bersalju.

Dalam keremangan pergantian malam yang kelam menuju fajar yang cerah, terbaca beberapa huruf besar tertera di atas layang-layang besar itu:

"Untuk menemukan bibit bencana, pecahkan gentong ikan".

Apa maksud tulisan itu? Apakah sebuah lelucon seperti cerita burung yang tak bisa bertelur?

"Untuk menemukan bibit ikan, pecahkan gentong ikan", kata-kata ini masih masuk akal, sekalipun di dalam gentong tidak terlihat bayangan ikan. Tapi "untuk menemukan bibit bencana, pecahkan gentong ikan", perkataan ini tak jelas.

Untuk membuat layang-layang sebesar ini bukan pekerjaan yang gampang, untuk menulis huruf-huruf sebesar itupun pasti cukup sulit dan membutuh cukup banyak biaya.

Siapa yang rela membuang uang dan tenaga untuk melakukan gurauan kentut anjing yang justru merugikan diri sendiri?

Siau-hong tidak merasa geli, justru paras mukanya berubah keren dan serius. Jelas ini bukan sembarang gurauan.

Ia segera menghampiri deretan gentong ikan itu dan mulai memeriksanya satu per satu, kedelapan gentong itu sama bentuk, warna dan ukurannya, tidak ada berbeda dengan gentong ikan yang sering dijumpai di ibukota, satu-satunya yang perbedaan adalah umur gentong-gentong ikan itu.

Delapan buah gentong ikan telah diperiksa dengan teliti, kecuali tanah, debu dan lumpur, tidak dijumpai sesuatu yang aneh.

Kiong Peng tidak ikut mendekat, dari atas tanah ia pungut sebuah batu, lalu dilemparkan ke depan dengan kuat. Diiringi suara keras, sebuah gentong hancur berantakan.

Ketika gentong ditimpuk hancur, apa yang bisa ditemukan?

Tidak seharusnya gentong itu ditimpuk hancur.

Siau-hong tertawa getir, ujarnya sambil menggeleng kepala berulang kali, "Inilah hasil pekerjaan perempuan, ia selalu menganggap dirinya pintar dan hebat. Perempuan yang benar-benar melakukan sesuatu hingga membuat kaum lelaki merasa kagum dan bangga, maka perempuan itu bukanlah perempuan."

Kiong Peng tidak menanggapi ejekan itu, melirik sekejap pun tidak, seolah-olah tidak mendengar ucapan pemuda itu.

Sejak tadi ia hanya mengawasi terus gentong ikan yang disambitnya itu.

Apa bagusnya gentong yang telah hancur?

Mendadak dari dasar gentong yang pecah itu tertampak sebuah lubang bawah tanah.

Perlahan-lahan Kiong Peng berpaling, mengawasi wajah Siau-hong, lalu tanyanya, "Apa yang barusan kau katakan?"

"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa. Rasanya baru saja aku kentut!"

Lorong di dasar gentong ikan itu tentu saja jalan masuk sebuah lorong rahasia, bila Kiong Peng tidak kebetulan bernasib baik hingga sekali sambit menemukan lubang rahasia itu, maka mereka harus memecahkan seluruh gentong ikan itu.

Mulut lorong itu amat sempit, tapi setelah turun bertambah luas dan lebar, di situ terdapat ruang tamu kecil yang terbuat dari batu hijau.

Ruang tamu itu kosong, hanya terlihat sebuah pintu, pintu dari tembaga. Melewati pintu tembaga itu tampak sebuah ruangan besar dengan pintu di ujung ruangan, dalam ruangan terdapat beberapa perangkat alat siksa kuno, bahkan ada alat siksa paling kejam zaman dulu. Banyak di antara alat siksaan itu hanya pernah terdengar dalam cerita saja, tapi hari ini Liok Siau-hong menyaksikan dengan matakepala sendiri.

Tiba-tiba ia ingin muntah, biarpun yang dipajang hanya alat siksa tanpa orang, namun perutnya terasa mual, ingin muntah.

Pintu kedua ternyata tak dapat dibuka, di atas pintu itu tergantung sebuah papan bertuliskan beberapa huruf kecil: "Bila kau seorang kuncu, harap ketuk pintu".

Siau-hong pun mengetuk pintu. Kadang Siau-hong memang seorang penurut, suruh ia minum arak, ia pun minum, suruh ia mengetuk pintu, ia pun mengetuk pintu, apalagi mengetuk pintu rumah seorang gadis jelita, ia mengetuk jauh lebih cepat ketimbang siapa pun, bahkan menoel lebih nyaring dari siapa pun.

Baru saja pintu diketuk, ternyata yang membukakan adalah seorang gadis cantik.

Paling tidak dua puluh tahun berselang ia adalah seorang gadis cantik.

Laopan Nio!

Siau-hong berdiri tertegun.

Ia bukan dibuat bodoh lantaran bertemu Laopan Nio di situ, tapi dibuat bodoh lantaran ruang batu di bawah tanah.

Pada pandangan pertama, Siau-hong telah menyaksikan si telur busuk cilik itu. Ia sama sekali tak menyangka lagak si pengemis cilik saat ini tak ubahnya seorang bos besar, duduk di sebuah bangku lebar, tangan kiri-kanan memegang kepala orang.

Mimpi pun Siau-hong tidak menyangka batok kepala kedua orang itu bisa ditekan pengemis cilik dengan seenaknya. Kedua orang itu tak lain adalah Sah Toa-hu yang kaya raya serta Sam-jiu-sian-koh Kho Pat yang amat termashur. Yang lebih aneh, ternyata si Buta Tio, Ong Toa-yan, Kho Lo-thay serta Kiong So-so berkumpul di situ, sama seperti keadaan Sah Toa-hu, mereka telah menjadi tawanan si pengemis cilik.

Siau-hong mengernyitkan alis.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Pengemis cilik hanya tertawa tak bersuara, yang bicara justru Laopan Nio, ujarnya, "Liu Ji-kong adalah sahabatmu, juga sahabal kami, kematiannya mengenaskan, kami pun ingin menemukan pembunuhnya sehingga dapat membalas dendam sakit hatinya."

Yang dimaksud "kami" adalah Kiong Peng, pengemis cilik serta ia sendiri.

Sisanya patut dicurigai sebagai pembunuh. Paling tidak salah seorang adalah pembunuhnya.

"Sah Toa-hu, si Buta Tio, Kho Lo-thay, Kiong So-so serta suamiku yang memuakkan, bisa jadi salah satu di antara mereka adalah pembunuh Liu Ji-kong. Hari ini kau melihatku di ranjang Sah Toa-hu, karena aku sedang berusaha mengorek keterangan dari mulutnynya.”

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya, "Aku percaya kau pun paham, untuk bisa mengorek keterangan dari lelaki macam Sah Toa-hu, aku harus naik ranjang lebih dulu dengannya."

Siau-hong tidak mengerti, baru sekarang mulai sedikit mengerti hal yang sebenarnya.

Tiba-tiba si pengemis cilik berkata, "Bila sudah naik ranjang, persoalan apapun akan meluncur keluar dari mulutnya, kalau orang macam Sah Toa-hu saja masuk perangkap, apalagi si telur busuk tua itu?"

Dia menuding ke arah Kiong So-so dan Kho Pat.

"Lain dengan kedua orang nenek tua itu, paling tidak aku telah menggunakan siasat Bi-lam-ki (siasat lelaki tampan)."

Siau-hong tertawa. Di saat ia tertawa, tiba-tiba dua jenis senjata mematikan meluncur ke arah tubuhnya, mengancam tempat mematikan. Sebuah adalah tangan Laopan Nio, sedang yang lain adalah kaki Kiong Peng.

Sepuluh jari Laopan Nio runcing dan tajam, setiap kuku jari dilapisi sarung yang terbuat dari lempengan tembaga tipis, tajamnya melebihi pedang. Sementara kaki Kiong Peng dibalut sepatu berlapis lempengan baja, bila terkena tendangan mautnya, batu cadas pun akan hancur. Kedua jenis senjata itu memang merupakan senjata khas kaum perempuan, seperti juga hati perempuan, keji, ganas, buas, telengas dan susah ditebak.

Seandainya Siau-hong bukan Liok Siau-hong, kemungkinan ia sudah mampus, tak perlu menunggu sampai hari ini, paling tidak ia sudah mampus tiga ratus tujuh puluh delapan kali. Malah ada orang yang beranggapan bahwa Siau-hong tidak bakal mampus.

"Sepanjang hidupku, banyak sekali kejadian kritis dan berbahaya kualami, bahkan nyaris mampus, tapi keadaan paling berbahaya adalah sekarang. Aku tidak pernah menyangka Kiong Peng dan Laopan Nio akan membunuhku, terlebih tak pernah mengira serangan yang mereka lancarkan begitu ganas, buas dan telengas!"

"Bila sekarang aku harus menentukan perempuan mana yang ilmu silatnya paling menakutkan, aku akan memasukkan kedua orang ini, tidak banyak orang persilatan yang dapat mengungguli kedua perempuan ini," kata Siau-hong pada suatu ketika.

la memang berkata jujur.

Bisa lolos dari lubang jarum pada keadaan seperti ini memang sesuatu yang luar biasa.

Ternyata Laopan Nio lebih terperanjat ketimbang Siau-hong. la telah berlatih ilmu silatnya dengan tekun, untuk mencapai taraf sehebat itu, telapak tangan dan kakinya ibarat sudah 'kapalan'. Agar tetap cantik, mulus dan halus, disukai lelaki, ia harus mengeluarkan banyak tenaga dan biaya untuk menghilangkan 'kapalan' itu dalam larutan obat.

Untuk itu ia sudah banyak menderita, mengeluarkan tenaga, maka ia percaya dan yakin dengan kemampuannya, sekalipun ia tahu Liok Siau-hong bukan orang yang gampang dihadapi, namun ia tetap yakin dengan kemampuan dan keberhasilannya.

Tapi dalam waktu singkat ia segera sadar bahwa dugaannya keliru, perkiraannya meleset.

Sewaktu melancarkan serangan tadi, sasarannya adalah pinggang Siau-hong, dengan menggunakan kelima jarinya yang terbungkus sarung tembaga tipis bagai pisau, ia mencengkeram jalan darah Siau-yau-hiat di pinggang lawan.

Siapa sangka sasarannya tahu-tahu berubah jadi mengarah celana Kiong Peng. Enlah bagaimana tahu-tahu Siau-hong sudah melejit ke udara dan menyingkir jauh ke sana.

Celana Kiong Peng langsung tersambar hingga robek besar, pahanya kontan terlihat jelas. Sepasang paha yang kuat, mulus, dan kenyal! Paha indah yang tak akan terlupakan oleh pria yang pernah menyaksikannya.

Siau-hong juga pernah menyaksikan paha mulus semacam ini! Ketika berada di halaman belakang toko penjual peti mati, saat gaun panjang berwarna ungu tersingkap oleh hembusan angin, ia telah menyaksikan paha mulus itu, tak mungkin pandangannya salah.

Ia termangu, tertegun dibuatnya.

Bila secara tiba-tiba menyaksikan paha halus dan mulus, muncul dari balik celana panjang yang robek, lelaki mana pun pasti akan tertegun dibuatnya. Namun yang membuat Siau-hong tertegun berbeda dengan alasan kebanyakan lelaki di dunia ini. Ia tertegun karena sejak berkenalan dengan Kiong Peng, sama sekali tak pernah menyangka paha yang pernah dilihatnya dari balik gaun panjang si nenek berbaju ungu itu ternyata tak lain adalah paha Kiong Peng.

Perasaan seseorang kadang mirip penutup mata, seringkali menutupi mata agar tak bisa melihat hal-hal yang seharusnya dapat disaksikan dengan jelas. Untung sekarang ia telah melihatnya, yang tidak beruntung pun kini terlihat semua.

Jarak antara untung dan tidak untung seringkali merupakan sebuah halaman kosong.

Saat kosong adalah saat tertegun, saat terkesima. Ketika tertegun, itulah kesempatan emas bagi orang lain.

Mendadak semua orang yang tadinya tak berkutik, telah dapat bergerak dengan bebas, bahkan gerakan mereka cepat, juga ganas, telengas dan tepat sasaran. Gerakan macam ini mustahil bisa dilakukan oleh sekawanan manusia pribumi yang sejak lahir hidup di kota kecil yang terpencil itu.

Bila serangan itu begitu cepat, tepat sasaran dan telengas, bisa dipastikan mereka termasuk di antara lima puluh jagoan tangguh dunia persilatan.

Pada saat itulah mendadak Siau-hong roboh terkapar.

Bila ada orang yang tidak roboh ketika dikerubut banyak jago tangguh dalam situasi dan kondisi yang sama sekali tak terduga ini maka di dunia ini mungkin tak ada lagi orang yang bisa roboh terkapar.

Bagi seorang yang sudah lama berkelana dalam dunia persilatan, memiliki nama besar, punya banyak teman dan musuh, roboh terkapar artinya mati.

Benarkah Liok Siau-hong mati?

Tidak seorang pun percaya Liok Siau-hong mati, sekalipun ada orang melintangkan golok di atas tengkuknya, tak ada yang mau percaya bahwa Liok Siau-hong telah menemui ajalnya.

Tapi kali ini Liok Siau-hong benar-benar telah tewas, berangkat ke langit barat.

Sebenarnya apa yang telah terjadi?

Bersambung ke bagian 5

Bagian 5

Malam yang gelap di musim semi, hujan membasahi seluruh tanah perbukitan gunung Pa-san. Hujan di musim semi memang selalu mendatangkan kemurungan, apalagi bila berada di gunung Pa-san, tanah perbukitan yang sepi, jalan setapak yang berliku-liku, tebing dengan lumut yang hitam...

Banyak kejadian tragis yang menimpa para jago kenamaan dunia persilatan, terkubur di balik lumut tebal itu, entah berapa banyak kuntum bunga yang gagal mekar dan berubah jadi lumpur? Di atas tanah berlumpur tersisa bekas telapak kaki, tertinggal ketika hujan berhenti.

Malam ini hujan turun dengan derasnya. Hujan turun begitu deras hingga membentuk lapisan kabut berwarna putih, di ujung jalan setapak yang berliku-liku, berdiri sebuah To-koan (kuil kaum Tosu), sudah lama tak ada yang berziarah ke sana, jarang ada orang berkunjung ke sana hingga suasana angker di masa lampau kini mulai memudar.

Semenjak jago pedang dari bukit Pa-san yang sangat menggetarkan sungai telaga dengan ilmu pedangnya Si-cap-kau-jiu-hwe-hong-wu-liu-kiam (empat puluh sembilan jurus ilmu pedang tarian Hu), Ku-tojin, lenyap tak ada kabar beritanya, anak muridnya membubarkan diri. Dengan bubarnya para anggota kuil itu, lambat-laun kuil itu pun sepi dan terpencil, yang tersisa hanya cerita serta bekas guratan pedang di atas lapisan lumut.

Dalam dua tahun terakhir, setiap menjelang malam bulan purnama, para pemburu dan pencari kayu yang berdiam di sekitar sana kerap menyaksikan dari dalam ruang To-koan itu lamat-lamat muncul secercah cahaya lentera.

Ada lentera berarti ada orang. Siapa yang tinggal di situ? Kenapa?

Ketika hujan turun dengan derasnya, kembali cahaya lentera muncul di tempat itu. Seseorang duduk di bawah cahaya lentera, ia bukan anggota Pa-san-bun, juga bukan seorang Tosu. Ternyata orang yang berdiam di kuil To-koan yang hening dan telantar selama dua tahun ini adalah seorang Hwesio. Seorang Hwesio yang sering tidak makan sampai berhari-hari dan tidak mandi selama berbulan-bulan. Bahkan Hwesio ini tidak bicara dengan siapa pun sepanjang tahun.

Malam itu ternyata ada dua orang lagi yang muncul dalam To-koan itu. Dua orang itu mempunyai perawakan seimbang, mengenakan jas hujan berwarna hitam dengan topi bulu berwarna hitam pula, topi lebar dikenakan rendah hingga nyaris menutupi seluruh mukanya.

Berjalan dari jalan setapak yang meliuk-liuk hingga ke tempat itu, entah berapa banyak rontokan bunga yang mereka injak hingga hancur, salah seorang di antaranya kelihatan amat lelah, sementara seorang yang lain harus sering berhenti untuk menggandengnya.

Hwesio di bawah lentera itu tahu kedatangan mereka. Tapi ia tidak bergerak, berpaling pun tidak. Walaupun cahaya lentera berkedip terhembus angin, Hwesio itu tetap tidak bergeming, bahkan bereaksi pun tidak, menanti kedua orang itu menyeberangi halaman di depan To-koan dan tiba di depan rumah kecil itu, Hwesio itu tetap tidak menunjukkan reaksi apapun, seakan sedang bersemedi.

Ketika ketukan pintu tidak ditanggapi, dua orang yang sedang kehujanan itu segera membuka pintu ruangan. Walaupun cahaya lentera tidak terlampau terang, namun lebih dari cukup untuk menerangi wajah kedua orang itu, juga menerangi mulut serta janggut mereka yang disembunyikan di bawah topi bulu. Janggut kedua orang itu runcing dengan guratan halus dan lembut, bibir mereka pun indah dan menawan.

Hanya perempuan yang memiliki bibir semacam ini, perempuan dengan bibir seindah itu jelas perempuan yang memiliki daya tarik luar biasa. Dua orang perempuan cantik, di tengah malam hujan deras naik ke bukit Pa-san untuk bertemu seorang Hwesio yang duduk bersemedi. Apakah mereka sudah gila? Atau punya penyakit?

Kalau mereka tidak gila, tidak berpenyakit, kedatangannya pasti karena suatu masalah yang gawat dan serius. Persoalan apa yang telah memaksa kedua perempuan cantik itu naik ke atas gunung sepi untuk bertemu seorang Hwesio? Ketika kedua orang perempuan datang menemui seorang Hwesio, peristiwa apa yang bakal terjadi?

Hwesio yang belum kelihatan tua itu masih duduk tenang bagaikan pendeta tua.

Perempuan yang berjalan lebih cepat, kondisi badannya lebih baik dan perawakannya lebih tinggi, menggerakkan tangannya yang putih, gerakan yang indah bagai seorang penari, melepas topi bulu yang dikenakan di kepalanya, ketika tangannya diayunkan, butiran air hujan segera berhamburan dari topinya, di bawah cahaya lentera, butiran air itu mirip seuntai mutiara yang berkilauan.

Rambut panjangnya yang semula terikat di balik topi segera terurai bersama dengan rontoknya butiran air hujan, lagi-lagi menutupi separoh wajahnya, tapi separoh   wajahnya  yang  lain terlihat jelas, alis matanya yang hitam memanjang, matanya yang haius bening dengan sekulum senyuman yang lebih cerah daripada matahari di musim semi.

Hwesio itu tetap duduk tenang dengan mata memandang hidung, memandang ke hati, seakan tidak melihat di hadapannya telah berdiri seorang perempuan cantik.

Kelihatannya perempuan itu kenal si Hwesio, malah dengan sikap yang ramah dan hangat berseru, "Hwesio, orang lain bilang kau Lau-sit (JuJur) walau di dunia terdapat sepuluh laksa manusia, paling tidak ada sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang mengatakan kau jujur."

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, "Tapi menurut aku, kau sama sekali tidak jujur!"

Perempuan ini memiliki perawakan tinggi semampai, ayu dan indah, bahkan gerak-geriknya halus dan lembut, hanya perempuan keturunan bangsawan atau berpendidikan tinggi yang memiliki penampilan seperti ini. Tapi begitu ia mulai berbicara dengan Hwesio rudin yang aneh dan misterius itu, sikapnya tiba-tiba berubah seperti seorang nikoh cilik yang tiap hari luntang-lantung dalam kuil Hwesio.

"Bagian mana yang tidak jujur?" akhirnya Hwesio itu buka suara.

"Terhadap orang lain kau mengaku hendak bersemedi di gunung Ngo-thay-san, tapi kau justru bersembunyi dalam To-koan ini, untuk menemukan kau, aku mesti naik ke langit turun ke bumi sampai berbulan bulan sebelum akhirnya menemukan kau, coba katakan, apakah ini jujur?"

Hwesio itu menghela napas panjang.

"Mau apa kau mencari aku?" tanyanya dengan wajah masam, "aku toh tidak suka makan kuah daging."

Ternyata perempuan ini tak lain adalah si Kuah daging yang belakangan termashur namanya karena kenakalan serta keusilannya. Bahkan belakangan ada orang yang secara diam-diam memberi julukan lain kepadanya, si gula manis terbungkus kulit kerbau.

"Padahal kau seharusnya mengerti, aku mencarimu sudah pasti bukan kejadian baik."

"Omitohud, semoga Buddha melindungi, aku hanya berharap kedatanganmu kali ini bukan lantaran urusan jelek."

"Tidak, malah bagus sekali."

"Oya?"

"Kedatanganku karena ingin mewujudkan cita-citamu melakukan perbuatan setia-kawan, amal serta menanam kebajikan, bila kau bersedia melakukan dua kali lebih banyak, cepat atau lambat cita-citamu menjadi seorang Hohan pasti akan terwujud."

"Jadi Hohan? Hohan pencuri ayam?"

Si Kuah daging mengedipkan mata sambil tertawa cekikikan.

"Jadi Hohan pencuri ayam pun bagus, besar atau kecil tetap seorang Hohan, tidak selisih banyak jika dibanding Ciang-liong-hu-hou (menjinakkan naga menaklukkan harimau)."

"Siocia, ampunilah aku kali ini, kau kira aku benar-benar tak tahu apa maksud kedatangan kalian?"

"Jadi kau tahu?"

"Biarpun dipikir pakai pantat juga aku tahu, kalian datang pasti lantaran Liok Siau-hong hilang bukan? Maka sengaja minta aku pergi mencarinya. Namun aku tak akan melakukan perbuatan tolol itu."

Tiba-tiba sorot mata si Kuah daging berubah, bahkan seakan mengandung perasaan gelisah dan cemas.

 "Kau memang tidak salah duga, Liok Siau-hong memang lenyap, hanya saja berbeda dengan keadaan sebelumnya."

"Apa bedanya?"

"Sebelum kepergjannya, ia tidak mengajakku cekcok, kepergiannya juga bukan lantaran perempuan lain. Sesaat sebelum pergi, aku sempat bertemu dengannya, konon ia pergi lantaran seorang sahabat karibnya tiba-tiba lenyap, ia ingin pergi ke tempat yang jauh sekali untuk mencari jejaknya, bahkan besar kemungkinanakan menjumpai mara bahaya."

Tampangnya seperti orang yang mau menangis. Katanya pula, "Sebetulnya aku sudah memutuskan untuk ikut pergi bersamanya, tapi diam-diam ia telah mengeluyur pergi, sejak itu, berita tentang dirinya hilang tak berbekas, coba, membikin cemas tidak?"

"Tidak, sedikitpun tidak mencemaskan, aku pernah meramal nasibnya, ia tak bakal mati."

"Bagaimanapun juga kau harus pergi mencarinya."

"Kenapa?"

"Karena kau adalah sahabat karibnya, siapa yang tidak tahu Lau-sit Hwesio adalah sahabat karib Liok Siau-hong, jika ia menjumpai bahaya dan kau menolak pergi mencarinya, apa kau tidak takut orang lain akan mati karena geli?"

Hwesio ini memang pendekar pengelana nomor wahid dari kalangan Buddha, orang memanggilnya Lau-sit Hwesio. Konon sepanjang hidup ia tak pernah mengucapkan kata-kata yang tidak jujur, tapi bila ada orang memaksanya bicara jujur, kemungkinan besar dalam waktu singkat orang itu sudah tak sanggup membuka mulut lagi.

Suatu ketika ia naik perahu menyeberangi sungai Huang-ho dan bertemu kawanan penyamun, ia bilang kantongnya kosong tak ada isinya, penyamun pun percaya perkataannya, ketika mereka pergi, ia segera menyusulnya sambil mengaku ia berbohong, bahkan menyerahkan uang perak yang dimilikinya kepada penyamun itu. Keesokan harinya, kawanan penyamun itu ditemukan tewas secara misterius dalam sarangnya.

Untuk menarik perhatian orang, si Kuah daging telah bersilat lidah mengemukakan banyak hal, sayang Lau-sit Hwesio seakan tak mendengar perkataannya itu.

"Percuma kau banyak bicara, aku sudah bilang tidak pergi. sampai mati pun tetap tidak pergi."

"Sungguhkah?"

"Sungguh!"

"Tidak bohong?"

"Tidak."

Si Kuah daging menghela hapas panjang.

"Kalau begitu terpaksa aku harus bercerita."

Setelah menarik napas panjang, ia mulai bercerita, "Dulu ada seorang Hwesio, orang bilang ia sangat jujur, selama hidup tidak pernah makan barang berjiwa, terlebih tak pernah dekat perempuan bila bertemu perempuan, melirik pun tak berani ia lakukan, sebab sekali memandang, paling tidak ia akan memandang tujuh delapan ratus kali. Suatu kali, ternyata ia mulai berbicara soal cinta dengan seorang gadis, gadis cilik itu bernama Siau-to si kedelai kecil. Latar belakang kehidupan gadis cilik itu memang sangat mengenaskan, ia lahir dan tumbuh dewasa dalam rumah hiburan, badannya lemah dan penyakitan, maka si Hwesio yang konon amat jujur ini menaruh simpati kepadanya, kasihan kepadanya. Kalau terbatas kasihan saja sih tidak mengapa, lantaran kasihan tumbuh perasaan cintanya, sekali jatuh cinta habis sudah segalanya.

"Satu-satunya masalah yang patut disesali adalah ia lahir sebagai seorang Hwesio, tentu saja mustahil baginya untuk menebus gadis cilik itu dari rumah hiburan dengan uang tebusan ribuan tahil perak, tentu saja ia pun tak bisa merebut gadis itu secara terang-terangan dan membawanya lari dari situ. Maka si Hwesio yang sedang kasmaran itu terpaksa pergi dengan air mata bercucuran, ia bersembunyi di suatu tempat yang dianggapnya tak mungkin bisa ditemukan orang, menyesali semua perbuatan yang telah dilakukannya."

Bicara sampai di sini, si Kuah daging menghentikan ceritanya dan menatap wajah Lau-sit Hwesio sambil bertanya, "Menurut kau, menarik tidak cerita ini?"

Waktu itu paras Lau-sit Hwesio telah berubah pucat-pasi, kemudian baru ia menjawab, "Tidak menarik."

"Ya, sama sekali tidak menarik, aku paling tidak suka mendengar cerita sedih yang memilukan hati."

Setelah menghela napas panjang, katanya pula, "Cerita ini adalah sebuah kisah nyata, ada orangnya dan kejadian sebenarnya."

"Oya?"

Kembali si Kuah daging menatap Hwesio itu, mendadak ia bertanya lagi, "Tahukah kau, siapa si Hwesio yang kuceritakan tadi?"

"Aku ... ak tahu.”

"Katakan saja!"

Keringat sebesar kedelai mulai bercucuran membasahi jidat Lau-sit Hwesio, jawabnya, "Hwesio itu adalah aku!"

Si Kuah daging segera tersenyum dan menghela napas panjang.

"Bagaimanapun Lau-sit Hwesio tetap adalah Lau-sit Hwesio, ternyata ia memang tak pernah berbohong."

Tiba-tiba ia menarik perempuan bermantel hitam di sisinya itu ke hadapan Lau-sit Hwesio, membantu melepas topi bulunya hingga tampak wajahnya yang kurus lemah dan basah oleh air mata.

"Coba kau perhatikan, siapa dia?"

Lau-sit Hwesio tertegun. Tentu saja ia tahu siapa perempuan itu, biar langit gersang bumi menua, rembulan sirna bintang berguguran, ia tak pernah akan melupakan perempuan ini.

Siau-to-cu, si kedelai cilik.

Air mata Siau-to-cu bercucuran membasahi pipinya bagaikan biji kedelai.

Menyaksikan wajah mereka berdua, sebetulnya si Kuah daging ingin tertawa, namun tak sanggup tertawa. Ia bahkan ingin pergi, pergi ke tempat yang jauh, agar mereka berdua bisa melakukan pertemuan tanpa diganggu siapa pun, agar mereka saling meluapkan perasaannya tanpa canggung.

Belum sempat ia berlalu, tiba-tiba Lau-sit Hwesio berseru, "Aku pun punya sebuah benda yang ingin kutunjukkan kepadamu."

"Apa itu?"

Lau-sit Hwesio tidak menjawab, ia hanya menyingkap jubah pendetanya yang lebar dan bobrok itu perlahan, memperlihatkan sepasang kakinya.

Sekali lagi si Kuah daging tertegun. Ia saksikah sepasang kaki itu tidak mirip kaki, lebih tepat kalau dibilang dua batang ranting pohon yang baru ditebang, selain kurus dan lemah, pada hakikatnya seperti lapuk. Yang lebih tak terduga lagi adalah kedua kaki itu telah diborgol dengan seutas rantai yang besar.

"Gembokan ini buatan Jit-kiau-tong, sementara anak kuncinya telah kubuang ke dasar jurang, tak seorang pun di dunia ini yang sanggup membukanya lagi," Lau-sit menerangkan, "tiap hari dari bawah bukit sana akan datang seorang penebang kayu yang mengantar semangkuk nasi dan sayur serta sebotol air."

"Mengapa kau berbuat begitu?" tak tahan si Kuah daging bertanya.

Padahal ia pun tahu, tidak seharusnya ia bertanya, lagi pula pertanyaan itu cuma membuang waktu saja. Seseorang yang hidup terpencil di bawah cahaya lentera, di bawah hujan, di tengah gunung Pa-san, namun pikiran dan perasaannya justru berada di sisi seorang perempuan yang patut dikasihani, yang hidup di rumah bordil ....

Dalam keadaan seperti ini, mampukah ia mengendalikan diri? Sanggupkah ia mencegah keinginannya untuk bertemu kekasih hatinya?

Jika seseorang yang belum pernah jatuh cinta tiba-tiba jatuh hati, maka luapan perasaan cintanya pasti sukar dibendung, mampukah ia membendung luapan arus cinta yang tiba-tiba menjebol bendungan dan meluap kemana mana?

Bagaimanapun Lau-sit Hwesio adalah manusia, bahkan hidup dalam dunia persilatan, Rasul saja susah membendung perasaan cinta apalagi orang biasa?

Itulah sebabnya terpaksa ia gunakan cara itu untuk membelenggu diri sendiri, agar tidak menyusahkan orang lain, juga menyulitkan diri sendiri.

Kelopak mata si Kuah daging mulai basah, basah oleh linangan air mata. Apa lagi yang bisa ia katakan? Terpaksa ia pergi dari situ, tak disangka tiba-tiba Lau-sit Hwesio memanggilnya kembali.

Tentu saja dalam keadaan seperti ini sulit baginya untuk pergi mencari Liok Siau-hong, biarpun ia hadir, belum tentu Liok Siau-hong dapat tertolong.

Maka ujarnya kepada si Kuah daging, "Biarpun Liok Siau-hong liar, tidak pakai aturan dan suka cengar-cengir, bahkan kadangkala bicara ngawur dan seenaknya sendiri, namun ada kalanya ia pun bicara tulus dan jujur. Suatu ketika dalam mabuknya ia pernah mengucapkan sepatah kata, yang hingga kini tak pernah kulupakan."

"Apa itu?"

"Ia bilang, di hadapan orang ini, ia tak pernah bicara sembarangan"

"Kenapa?"

"Karena hanya orang ini yang sanggup membunuhnya, bila sudah tiba saat yang paling berbahaya dan kritis, hanya dia seorang yang sanggup menolongnya."

"Siapa?"

"Sebun Jui-soat!"

--00--

Sebun Jui-soat, baju putihnya bersih bagai salju, perasaannya juga dingin dan membeku bagaikan salju. Sepanjang hidup belum pernah ia mencintai seseorang, sekalipun pernah jatuh cinta, ia tak pernah mau mengenang kembali kisah masa lampau yang memedihkan hati itu. Ia tak punya sanak saudara, juga tak punya teman, bahkan musuh besar pun tak punya, kecuali sebilah pedang, ia tak memiliki apapun.

Bagaimana mungkin menggerakkan hati orang semacam ini?

"Aku tahu, suatu kali hanya gara-gara ingin menjajal apakah kedua jari Liok Siau-hong mampu menjepit pedangnya, ia bahkan tak segan menantangnya berduel," ujar si Kuah daging, "ia bahkan tak ragu membantai Siau-hong."

"Aku pun pernah mendengar cerita ini, peristiwa itu terjadi setelah kejadian di Yu-leng-san-ceng (perkampungan roh), tepatnya tepi Ciat-kiam-ti (kolam melepaskan pedang) Bu-tong-san."

"Tapi ia toh tidak turun tangan?"

"Ya, karena ia anggap perasaan Siau-hong sudah mati, artinya orangnya pun sudah mati."

"Tapi sekarang kemungkinan besar Liok Siau-hong benar-benar sudah mati," ujar si Kuah daging sedih.

"Selama ia belum mati, hanya Sebun Jui-soat yang dapar menyelamatkan jiwanya, aku tak pernah berbohong, ilmu pedarig Sebun Jui-soat bukan cuma nomor satu, ketenangan serta kecerdasannya pun tiada tandingan di kolong langit."

"Hwesio, kau jujur, aku percaya padamu, tapi aku tidak tahu dengan cara apa membujuknya agar ia mau pergi menolong Liok Siau-hong?"

"Aku sendiri tak tahu."

"Mana mungkin kau tidak tahu?" desak si Kuah daging.

"Karena aku kehabisan akal, biarpun kau bisa menyuruh orang mati bicara lagi, terhadapnya benar-benar tak ada cara lain."

Dengan sorot mata jujur terselip kelicikan dan kemisteriusan, ditatapnya si Kuah daging beberapa saat, lalu ujarnya, "Aku punya satu perkataan untukmu dan kau mesti mengingatnya baik-baik."

Apa yang diucapkan Lau-sit Hwesio tentu saja merupakan kata yang jujur, biasanya perkataan jujur banyak gunanya, tak heran si Kuah daging mendengarkan perkataannya dengan seksama.

Siapa sangka Lau-sit Hwesio hanya mengucapkan delapan patah kata, cukup membuat orang mati lantaran dongkol.

"Kalau tak ada cara, berarti pasti ada cara".

Hwesio memang suka bicara terselubung, dialah Hwesio yang tahu aturan. Namun dalam pendengaran si Kuah daging, ucapan itu tak beda dengan serentetan kentut, kentut yang paling bau!

--00—

Waktu itu Sebun Jui-soat sedang duduk di sebuah batu karang di puncak bukit sambil memandang kejauhan.

Menjelang senja, awan tipis melayang di atas permukaan nan menyelimuti seluruh pemandangan, tak ada yang bisa dilihat, apapun tak terlihat.

Bagi pandangan seseorang yang kehidupannya belum dimulai atau sudah puas dengan kehidupannya, pemandangan semacam ini nanyalah selapis kehampaan, mungkin juga sebuah lukisan belaka, yang dapat membuat gembira,  memperoleh  sedikit kenikmatan dalam ketenangan.

Namun bagi pandangan Sebun Jui-soat, lapisan kehampaan itu justru wadah kehidupan itu sendiri.

Dari balik kehampaan, ia dapat melihat banyak hal yang tak dapat dilihat di tempat lain, pada saat dan keadaan seperti ini, ia bisa melihat bagian mana dari dirinya yang paling sempurna.

Dalam sepuluh tahun terakhir, Sebun Jui-soat nyaris tak punya kesempatan melihat diri sendiri, karena hati serta matanya sudah tertutup oleh lapisan darah, juga selapis salju. Salju yang sangat dingin dan membeku.

Manusia seperti apakah Sebun Jui-soat? Orang tahu siapa Sebun Jui-soat, tapi berapa banyak di antara mereka yang mengetahui asal-usul, pikiran, perasaaan serta masa lalunya?

Jangankan orang lain, ia sendiri pun tidak tahu. Bukannya tak tahu, tapi sudah melupakannya.

Mampukah ia melupakannya? Dalam kehidupan, hal apa lagi yang lebih sulit daripada melupakan semua urusan?

Ia harus membayar mahal untuk melupakan segalanya.

Tiba-tiba Sebun Jui-soat teringat Liok Siau-hong, tidak seharusnya dalam keadaan dan saat seperti ini teringat padanya.

Kesedihan paling besar manusia adalah seringkali teringat orang yang tidak seharusnya diingat dan masalah yang tidak seharusnya dibayangkan.

Sudah hampir dua puluh tahun lamanya Sebun Jui-soat kenal Liok Siau-hong.

Dua puluh tahun adalah waktu yang sangat panjang, ada orang yang begitu dilahirkan langsung mati, ada yang baru hidup beberapa hari sudah mati, bagi mereka, dua puluh tahun boleh dibilan waktu yang luar biasa.

Bagi seorang istri yang belum lama dinikahi, bila suaminya mati setelah tiga tahun menempuh perkawinan yang bahagia, maka dua puluh tahun akan amat menyiksa dan tak bahagia.

Bagi seorang tua renta, walaupun ia tahu mustahil hidup dua puluh tahun lagi, namun kenangan dua puluh tahun berselang tetap akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan.

Karena dalam kehidupan, tentu terdapat dua puluh tahun kehidupan yang penting, tiap hari selama dua puluh tahun itu bisa terjadi suatu peristiwa yang dapat mengubah jalan hidupnya.

Itulah sebabnya tiba-tiba Sebun Jui-soat teringat Liok Siau-hong.

Sudah dua puluh tahun ia berkenalan dengan Siau-hong, tapi pengetahuannya tentang orang itu tetap amat sedikit.

Ia belum pernah tahu Liok Siau-hong dilahirkan dari keluarga macam apa, ia pun tak tahu orang yang bernama Siau-hong ini tumbuh dewasa dalam lingkungan bagaimana.

Mungkin disebabkan ia memang tak pernah mencari tahu.

Keadaan seperti ini memang sering terjadi antar teman, biarpun sering berkumpul dan bergaul, namun tak pernah terlintas dalam benak mereka untuk menggali lebih jauh masa lalu sahabatnya, terlebih ingin tahu rahasia pribadinya.

Pergaulan dalam dunia persilatan didasari rasa saling percaya serta setia-kawan, selama kau menghadapi aku dengan sikap seorang jantan, biarpun kau cuma seorang telur busuk, hal itu bukan masalah.

Sayang di dunia ini tidak banyak lelaki yang benar-benar jantan, tak banyak lagi yang berjiwa ksatria.

Kalau ada orang mengatakan Liok Siau-hong bukan lelaki jantan, bukan seorang ksatria, lebih baik orang itu segera bersembunyi di kuil tengah gunung dan minta perlindungan Buddha agar ia tidak ditemukan para sahabat Siau-hong.

Minta perlindungan Buddha agar tidak ditemukan Sebun Jui-soat.

Sebun Jui-soat sanggup melakukan perjalanan jauh, tidak mandi tidak tidur, puasa lima hari lima malam dan melakukan pembunuhan demi seorang yang sama sekali tak dikenalnya, bahkan demi seseorang yang belum pernah dijumpainya.

Ia melakukan karena rela dan senang. Dan ia tidak pernah memikirkan berhasil atau gagal, menang atau kalah, mati atau hidup dalam tugasnya itu.

Bagaimana kalau ia tak mau?

Kalau begitu, menyerah saja, karena biarpun kau ajak semua temannya, berlutut tujuh hari tujuh malam di depan pintu rumahnya, ia akan menganggap dirimu seperti angin, seakan tak ada bayangan manusia di situ. Termasuk demi Liok Siau-hong sekalipun!

Bila ia tak mau, sekalipun ada orang menusuk mampus Liok Siau-hong di depan matanya, ia pun seakan tidak melihat.

Yang terlihat oleh Sebun Jui-soat hanya pedangnya!

Matahari senja tiba-tiba muncul dari balik kabut putih yang menyelimuti permukaan tanah, sinar yang terpancar tampak berwarna merah.

Di saat matahari senja memancarkan sinarnya yang paling merah, itulah pertanda sang surya akan tenggelam.

Bagaimana dengan manusia? Apakah manusia pun akan menunjukkan gejala seperti ini?

Sebun Jui-soat tak pernah berpikir ke situ, tak ada manusia yang bisa lolos dari kesedihan, kenapa harus dipikirkan? Kalau sudah dipikir, lantas apa yang dapat diperbuat?

Ia hanya tahu, sekarang tentu sudah ada orang hendak menantangnya berduel.

Meski pikiran itu hanya merupakan firasatnya.

Sudah dua puluh tahun ia malang melintang di sungai telaga, tak terhitung berapa kali keluar masuk antara mati dan hidup, kini ia masih segar bugar, tentunya sama seperti para pembunuh lain yang termashur di kolong langit, memiliki firasat, memiliki daya cium melebihi hewan buas.

Kali ini dengan menempuh perjalanan ribuan li, tanpa tidur tanpa mandi, bahkan berpuasa, mendatangi puncak bukit ini kedatangannya karena ia punya janji.

Janji pada saat ini, bertemu di tempat ini.

Ia tidak tahu siapa yang telah membuat janji dengannya, tapi orang itu berani mengundangnya, tentu orang yang berbobot, penuh percaya diri, percaya pada kekuatan serta ilmu pedangnya.

Tidak semua orang dapat berbuat demikian, tak semua orang punya keberanian untuk berbuat begitu.

Siapakah dia?

MenGapa ia mengundang Sebun Jui-soat yang tak pernah kalah, tak pernah meninggalkan mangsanya dalam keadaan hidup untuk bertemu di sini?

Di saat matahari senja mulai tenggelam di balik bukit, cahayanya merah bagai pipi seorang gadis pemalu, tapi kini lebih mirip darah segar yang menetes dari tubuh seorang musuh besar.

Seseorang perlahan-Iahan berjalan menaiki puncak bukit itu.

Jika ia meluncur datang dengan menggunakan Ginkang atau melompati tebing dengan gerakan tubuh yang lincah dan gesit, orang ini belum terhitung lawan yang patut diperhatikan.

Orang itu berjalan sangat lambat, seperti seorang suami yang sedang menuntun bininya balik ke dalam kamar di tengah malam buta, begitu ringan, lambat dan hati-hati, seakan takut bersuara, berjalan dengan melepas sepatu agar tidak bersuara.

Tapi orang yang berjalan naik ke puncak bukit justru mengenakan sepatu laras panjang yang amat berat, rasanya tidak ada yang lebih berat dari sepatu itu.

Sepatunya itu terbuat dari besi.

Seandainya di situ hadir seorang pandai besi berpengalaman dan menyuruhnya memperkirakan berat sepatu yang dikenakan orang itu, paling tidak berbobot lebih dari paha orang tergemuk di dunia.

Bobotnya memang sulit diperkirakan, paling tidak mencapai empat belas kati.

Jika bobot sebuah kaki adalah sepuluh kati, berarti sepasang kaki dua puluh kati, dengan mengenakan sepatu besi berbobot dua puluh kati, tentu akan menimbulkan suara gemuruh, apalagi rnenelusuri jalanan gunung yang berliku-liku, naik turun dan curam, terlebih lagi orang ini termasuk super gemuk.

Si super gemuk dengan sepasang sepatu besinya itu dapat berjalan santai menelusuri jalan perbukitan yang curam, bahkan suaranya begitu ringan, nyaris tidak menimbulkan suara, seperti seorang yang sedang menyelinap ke dalam dapur untuk mencuri makanan.

Perawakan orang ini tinggi besar, kekar dan gendut, tapi bisa bergerak seenteng kupu-kupu.

Kepala besar dengan telinga lebar, alis tipis, muka bersih, sekulum senyuman selalu menghias ujung bibirnya hingga mirip Buddha tertawa, tapi begitu tahu orang ini, orang lebih suka melihat setan jelek ketimbang bertemu dengannya.

Sebun Jui-soat tidak berpaling, baginya tak seorang pun di dunia ini yang berharga untuk ditengok.

Orang itu tak berniat mengusiknya, juga tidak menendangnya memakai sepatu besinya, pelan-pelan dari bungkusan kain di punggungnya ia keluarkan sepotong daging sapi, dua ekor ayam goreng, delapan belas potong daging panggang Cha-siu, seekor babi panggang utuh, empat puluh biji bakpao, tujuh puluh potong kue lapis, ditatanya dengan rapi di atas selembarkain bersih, kemudian ia duduk di sisinya dengan tenang.

Duduk di situ, tidak menggerakkan tangan, tidak pula menggerakkan mulut, duduk persis berhadapan dengan tumpukan makanan yang lezat, ia hanya menonton tanpa mencicipi.

Sebun Jui-soat tidak bergerak, apalagi meliriknya, tiba-tiba katanya, "He, si kurus, aku tahu bukan kau, maka kau tak bakal mati, tapi tidak seharusnya kau kemari."

Orang bersepatu besi itu tiba-tiba gemetar keras, persis seekor babi yang sedang direndam dalam kuali berminyak.

Ia bukan si kurus, ia sangat gemuk, kalau Sebun Jui-soat sedang memperingatkan si kurus, kenapa si gemuk yang ketakutan?

Si gemuk takut kurus, karena sejak kecil ia kurus, maka ia mengenakan sepatu besi yang besar, karena itu setiap hari ia melalap berbagai hidangan yang bisa membuatnya gemuk.

Jika seorang bersantap dengan cara begini, bagaimana mungkin tidak menjadi gemuk?

Demi menambah bobot badannya, sejak kecil ia mulai membiasakan diri berjalan memakai sepatu besi, kalau manusia semacam ini tidak memiliki Ginkang yang tinggi, siapa yang mau percaya?

Sekarang ia sudah gemuk, sedemikian gendutnya hingga tak mungkin lebih gemuk lagi.

Biarpun ia membawa berbagai hidangan kegemarannya, ia hanya bisa menonton, tak bisa mencicipinya.

Si kurus ceking ini tak lain adalah Toa-ku (si Genderang besar), pembunuh bayaran paling tersohor yang telah menggetarkan sungai telaga sejak tiga tahun berselang.

Perutnya memang gemuk bagai genderang, napasnya juga keras seperti genderang, bahkan bentuk tubuhnya tak jauh beda dengan sebuah genderang.

Orang itu sangat bersahaja, tak ada yang aneh, tak ada yang mencolok dan menarik perhatian, siapa yang menaruh waspada terhadap manusia macam ini?

Tidak heran dalam sembilan belas bulan terakhir, jagoan tangguh yang tewas di tangannya melebihi orang yang tewas di ujung pedang Sebun Jui-soat.

Tapi Sebun Jui-soat tahu, kedatangan orang ini bukanlah untuk memenuhi janji.

Si kurus yang-sangat gemuk ini, biar sudah menelan obat pemabuk milik Mokau pun tak akan berani mengusik Sebun Jui-soat.

Lalu siapa yang berani mengganggu Sebun Jui-soat?

Tiba-tiba dari bawah tebing kembali berkumandang suara derap langkah manusia, suara langkah yang amat berat, seakan ada orang gemuk dengan berat delapan ratus kati sedang berjalan dengan memakai sepatu besi.

Belum orang itu tiba di atas puncak bukit, Sebun Jui-soat sudah tahu orang ini tidak gemuk, tidak berat, bahkan memakai sepasang sepatu sulam yang halus, tipis dan lembut.

Begitu mendengar suara langkah orang itu, perasaan tegang yang semula mencekam wajah manusia bersepatu besi itu lambat-laun kendor kembali, sebaliknya sorot mata Sebun Jui-soat justru berubah merah bagai darah, dingin bagai salju.

Seorang perempuan muncul di puncak bukit, perawakannya tinggi kurus dengan wajah tirus, alis matanya lentik, di balik kegarangan terselip sifat genit. Biarpun tidak cantik, tapi penuh daya tarik.

Dia hanya mengenakan mantel bulu rase yang pendek sekali, sedemikian pendeknya sampai kelihatan sepasang kakinya yang ramping dan jenjang, mengenakan sepatu kain bersulam bunga.

Perempuan itu begitu ramping, tinggi semampai, mengapa waktu berjalan justru menimbulkan suara langkah yang lebih nyaring ketimbang langkah si Genderang besar?

Jawabannya hanya satu.

Ia memang sengaja berbuat begini, sengaja menarik perhatian, untuk memamerkan kepandaian silatnya.

Gwakangnya sangat istimewa, kepandaian yang sudah lama punah dari dunia persilatan, di saat diperlukan, ia mampu merubah tubuhnya menjadi lebih berat beberapa ratus kati.

Belum pernah ada perempuan berlatih Gwakang, terlebih belum ada perempuan yang berhasil mempelajarinya.

Itulah sebabnya ia selalu bangga atas kemampuannya ini.

Ia menyebut diri si Sepatu bersulam bunga.

Tentu saja itu bukan nama asli, tapi mereka yang kenal perempuan ini, siapa pun tidak tahu ia masih memiliki nama lain.

Ketika si Sepatu bersulam bunga naik ke atas bukit, sama halnya si Genderang besar, ia pun membawa sejumlah barang yang sangat aneh.

Tentu saja barang yang dibawanya bukan makanan.

Yang ia bawa adalah sebuah sending, almari sisir, seperangkat alat judi yang disimpan dalam sebuah kotak gading, di antaranya termasuk juga sepasang gundu, seperangkat kartu pay-kiu serta empat pasang kartu.

Di belakang perempuan itu mengintil seorang bocah lelaki bertampang ganteng, ia memikul seperangkat kain selimut dan sebuah permadani.

Seorang perempuan yang benar-benar sangat aneh.

Sebun Jui-soat masih memandang kejauhan, tak berpaling.

Paras muka si Genderang besar mulai berubah, sepasang matanya melotot.

Mereka tahu asal-usul serta latar belakang perempuan ini.

Ia termasuk salah satu pembunuh besar yang muncul beberapa tahun belakangan ini, kemampuannya melebihi si Genderang besar, ia menguasai kepandaian istimewa yang tak dapat dilakukan orang lain.

Konon uang yang berhasil ia kumpulkan jauh lebih banyak ketimbang gabungan uang yang dikumpulkan keempat rekannya.

Begitu bersua si Genderang besar, si Sepatu bersulam bunga tertawa, ketika tertawa ia nampak genit dan merangsang.

"Genderang besar, orang bilang bila hati lega badan pun gemuk, kelihatannya kau selalu hidup lega dan gembira sehingga badanmu makin lama semakin bertambah mekar."

"Apa gunanya badan bertambah mekar, berapa sih harga sekilo daging? Kalau bisa membuat kaya, itu baru kepandaian."

"Betul juga perkataanmu."

"Makin hari kau makin bertambah kaya, bahkan beberapa bank di wilayah San-say pinjam uang darimu?"

"Memang benar apa yang kau dengar, biarpun duit makin banyak tapi masalah makin menumpuk, aku memang sejak lahir sudah berbakat mencari duit."

Dengan bersungguh-sungguh, tanyanya lagi, "Pernahkah kau mendengar uang yang berhasil kukumpulkan jauh lebih banyak ketimbang uang kalian?"

"Ya, betul."

"Padahal kau tahu, tarifku membunuh orang sama seperti tarif yang kalian tawarkan?"

"Aku tahu."

"Kenapa bisa begitu?"

Tanpa menunggu jawaban, ia meneruskan, "Sebab aku pandai mencari duit, pekerjaan apapun kukerjakan, tidak seperti kalian, hanya mau mengerjakan pekerjaan kuno nomor dua saja, padahal pekerjaan kuno nomor satu pun tetap kulakukan."

"Aku tahu pekerjaan kuno nomor dua adalah membunuh orang, tapi apa pekerjaan kuno nomor satu?"

"Tentu saja menjual badan!" sahut si Sepatu dengan wajah tak berubah, "usaha dagang paling kuno sepanjang sejarah adalah menjual badan."

Si Genderang tersenyum mirip senyuman orang yang mau muntah. Tapi si Sepatu seperti belum merasakan hal itu.

"Apa yang diinginkan orang lain, aku berusaha memenuhi, minta aku membunuh orang, boleh saja, asal membayar sepuluh laksa tahil, akan kucabut nyawa orang itu dan tak bakal meleset. Minta aku berjudi, boleh saja, aku punya sekeping lencana, siapa pun yang mau bertaruh denganku pasti akan kulayani, peduli uangnya baru digali dari kuburan nenek moyangnya atau bukan, aku tetap akan menangkan habis-habisan."

"Bagus," puji si Genderang sambil bertepuk tangan.

"Orang lain ingin aku menyanyi, asal mau membayar lima ribu tahil per lagu, aku akan menyanyi untuknya."

"Lima ribu tahil per lagu? Apa tidak terlalu mahal?"

"Tidak, malah terlalu murah."

"Siapa yang sudi membayar lima ribu tahil perak hanya untuk mendengar sebuah lagumu?"

"Banyak."

"Memangnya mereka sudah gila?"

"Tidak."

"Apakah suaramu lebih merdu daripada orang lain?"

"Tidak, bedanya hanya status si penyanyi, coba bayangkan, betapa bangga dan bergengsinya para orang kaya mendadak itu bila dapat mengundang salah satu pembunuh bayaran paling tersohor membawakan sebuah lagu dalam pestanya?"

"Betul juga perkataanmu."

"Jika mereka mau membayar, lantas kau bernyanyi?"

"Tentu."

"Jadi lumrah bukan uang yang berhasil kukumpulkan jauh lebih banyak ketimbang kalian? Apalagi aku pun bersedia tidur dengan orang."

"Tak heran kau selalu membawa permadani dan selimut."

"Betul, kalau permadani dan selimut selalu tersedia, aku jadi lebih leluasa, kalau kau ingin tidur denganku, boleh saja, bayar sepuluh laksa tahil, begitu uang kuterima, aku segera buka celana."

"Masa harga menidurimu sama mahalnya dengan membunuh orang?"

"Tentu."

Si Genderang besar mengamati perempuan itu dari atas hingga ke bawah berulang kali, kemudian menggeleng kepala sambil bergumam, "Tidak kusangka, sungguh tidak kusangka."

"Aku paham maksudmu," Sepatu bersulam mengangguk sambil tertawa, ia sama sekali tak marah, "kau anggap wajahku jelek, badanku kurang montok dan menurutmu tak berharga sepuluh laksa tahil, cuma ...."

Belum perempuan itu selesai bicara, si Genderang segera menyela, "Cuma lantaran kau adalah si Sepatu bersulam bunga yang termashur, biar mukamu jelek, badan kerempeng, payudara lembek, umur sudah tua, tapi masih banyak orang yang mau tertipu dan mengajak kau tidur?"

"Tepat sekali. Bila kau ingin mencicipi badanku, boleh saja, aku akan memberi diskon separoh harga."

Langit lambat laun bertambah gelap, malam sudah tiba, Sebun Jui-soat masih duduk tak bergerak, duduk di atas batu cadas bagai sebuah patung.

"Siapa sih orang itu?" bisik si Sepatu bersulam bunga tiba-tiba.

"Masa kau tidak tahu?"

"Sejak tadi hanya kau yang kuperhatikan."

"Dan sekarang?"

"Seorang yang bukan patung batu juga bukan patung kayu, tapi duduk tanpa gerak sejak tadi, biarpun tidak menarik terpaksa harus kau perhatikan juga, apalagi setiap kali aku memandang ke situ, tanpa terasa badanku bergidik."

"Kalau begitu, aku ingin bertanya."

"Tanyakan saja."

"Apa maksud kedatanganmu? Apa ada orang menyewamu untuk membunuh orang?"

"Mungkin begitu! Orang itu sudah membayar sepuluh laksa tahil, memangnya aku disuruh kemari untuk menemaninya tidur?"

"Jadi kau sudah tahu siapa korbanmu?"

"Belum."

"Kalau begitu, cepatlah berdoa kepada Buddha untuk mohon perlindungannya."

"Berdoa kepada Buddha?"

"Ya, berdoa pada Buddha minta perlindungan. Langgananmu belum gila, jadi tak mungkin dia menjadi sasaranmu."

Tanpa terasa si Sepatu bersulam bunga berpaling, orang itu masih duduk mematung di atas batu cadas.

"Darimana kau tahu kalau bukan dia? Siapa dia?"

"Sebun Jui-soat!"

Sepatu bersulam bunga tertegun, benar-benar terkesima dan berdiri mematung.

Sebun Jui-soat? Belum pernah ia ketakutan sehebat ini sehabis mendengar nama itu, padahal selama hidup ia tak pernah takut kepada siapa pun.

Tapi kini tiba-tiba tubuhnya membeku, menggigil kedinginan, bulu kuduknya berdiri.

Di balik kegelapan malam yang mulai mencekam, baju putih Sebun Jui-soat nampak bersih bagaikan salju.

Saat itulah sekonyong konyong muncul dua buah cahaya lentera membelah kegelapan, sambil menggendong tangan di belakang, mereka muncul dari ujung jalan dan berjalan mendekat, mereka pun mengenakan baju serba putih.

Kedua orang yang membawa lentera itu adalah perempuan cantik dengan dandanan keraton, rambutnya disanggul tinggi pinggangnya ramping, kakinya jenjang dan mulus, penampilannya anggun, sekalipun bukan dayang keraton, paling tidak mereka adalah "perempuan cantik berkarya" yang dididik Ban-hujin.

Kedua orang gadis itu tidak hanya cantik dan indah dalam penampilan, mereka pun memiliki gerak tubuh yang ringan dan lincah, jelas kepandaiannya cukup hebat, kalau tidak, mana mungkin mereka dapat menelusuri jalan perbukitan di tengah malam buta dengan ringannya.

Di belakang mereka menyusul seorang berbaju putih, seorang pemuda berwajah putih dengan pakaian putih bagai salju, putih wajahnya tak beda dengan putihnya baju.

Sebuah ikat pinggang melilit di pinggangnya dengan sebilah pedang tergantung di sana, baik pedang maupun ikat pinggang, semuanya tak ternilai.

"Menurutmu bagaimana dengan orang irii?" kembali si Sepatu bertanya kepada si Genderang.

"Orang ini ganteng sekali, benar-benar menarik, bukan cuma tampangnya, lagaknya pun hebat, penuh semangat."

"Dia pun berduit!"

"Benar."

"Diakah yang telah membayarmu?"

"Tepat sekali."

"Kebetulan sekali, aku pun disewa olehnya, maka sejak tadi aku sudah berdoa minta perlindungan Buddha," kata si Genderang sambil tertawa getir.

Tiba-tiba pemuda berbaju putih itu tersenyum, katanya, "Aku tidak minta kalian datang membunuh Sebun Jui-soat, hanya orang gila yang akan berbuat begitu!"

Tampaknya si Sepatu merasa tidak puas, tanyanya cepat, "Kau anggap Sebun Jui-soat takkan mempedulikan kita?"

"Bukan begitu maksudku, bila sekarang aku minta kalian membunuh Sebun Jui-soat, kalian pasti akan membunuhku terlebih dulu."

Sambil tersenyum ia pun melanjutkan, "Membunuhku tentu jauh lebih mudah ketimbang membunuhnya."

"Benar," Sebun Jui-soat yang sejak tadi bungkam tiba-tiba bicara, "membunuh kau gampang, membunuh aku susah!"

Lalu dengan suara yang lebih dingin dari es, katanya pula, "Sayang, mereka pun tak sanggup mernbunuhmu!"

"Kenapa?"

"Sebab begitu mereka bergerak, kedua orang itu akan tewas lebih dulu di ujung pedangku."

"Pedangmu?"

"BeNar, pedangku!"

"Kenapa aku tidak melihat pedangmu?"

Sebun Jui-soat tidak menjawab, ia memang tak perlu menjawab, untuk apa ia memperlihatkan pedangnya?

"Kau tak ingin mereka membunuhku, lalu untuk apa mereka kemari?" tanyanya dingin.

"Karena aku ingin kau tahu bahwa aku adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat, bukan cuma bisa mengundangmu kemari, bahkan dapat pula memerintahkan kedua orang pembunuh kenamaan itu membukakan jalan bagiku dan menanti kedatanganku di sini," jelas pemuda berbaju putih itu, "paling tidak aku ingin kau paham bahwa aku bukan manusia sederhana."

"Oh, jadi kau menghamburkan uang hanya untuk mengundang mereka, ingin menunjukkan kepadaku status sosialmu?"

"Benar."

"Kalau kau memang berkedudukan tinggi, apa pula maumu datang kemari? Kenapa mengundangku untuk bertemu di sini?"

"Menurut kau?"

"Menurut pendapatku, kedatanganmu hanya untuk mengantar kematian."

Pemuda berbaju putih itu tertawa keras.

"Jika aku yang masih muda, banyak duit, gagah, ganteng, punya kedudukan, bahkan punya kekayaan berlimpah ingin mati, mungkin orang lain di dunia ini sudah mampus semua."

Memang ucapan ini benar dan sangat tepat.

Katanya pula, "Maksud kedatanganku tak lain hanya ingjn meminjam pedangmu."

Sebun Jui-soat tidak menjawab, ia bungkam. Yang bisa ia lakukan memang hanya tutup mulut karena tak tahu harus bicara apa. Sejenak kemudian baru ia berkata, "Pedangku hanya untuk membunuh manusia."

Ia memang hanya mampu mengucapkan beberapa patah kata, sebab sudah lama tidak bicara.

"Bagus," pemuda berbaju putih itu bertepuk tangan memuji, "pedang ksatria kalau bukan dipakai untuk membunuh orang, memangnya mau dipakai membunuh babi atau anjing? Aku ingin meminjam pedangmu karena ingin memintamu pergi membunuh orang."

"Membunuh siapa?"

"Membunuh orang yang ingin mencelakai jiwa Liok Siau-hong."

Liok Siau-hong? Sudah lama ia tak bersua dengan Liok Siau-hong, sejak duel dua jago pedang di istana terlarang, entah sudah berapa tahun mereka tak berjumpa.

Sorot mata Sebun Jui-soat mencorong terang, namun dingin dan membeku, menatap pemuda berbaju putih itu.

"Bila kau ingin membunuh orang yang berencana mencelakai Liok Siau-hong, tidak seharusnya kau datang mencariku."

"Kenapa?"

"Karena yang menjadi sasaran adalah Liok Siau-hong, bukan aku, apa sangkut-pautnya dengan aku," jawab Sebun Jui-soat ketus. "Bila kau ingin membunuhnya, carilah orang lain."

"Siapa?"

"Liok Siau-hong! Bila kau ingin membunuh musuh besarnya, tentu saja harus mencari dia lebih dulu."

Ucapan yang masuk akal dan sejujurnya. Tapi intinya adalah "Urusan yang dapat ditangani Liok Siau-hong, kenapa aku mesti ikut campur?"

"Kalau dia sendiri pun tak sanggup menangani?"

"Biarkan saja dia mati!"

"Kalau aku nekat memaksamu melakukan pekerjaan ini, apakah kau akan membunuhku lebih dulu?"

"Benar."

"Dan aku harus segera mati?"

"Benar."

Jawaban Sebun Jui-soat memang selalu singkat, langsung dan tegas, persis seperti gerakannya ketika membunuh orang.

Pemuda berbaju putih itu tertawa. Apabila Sebun Jui-soat memutuskan untuk membunuh, berarti orang itu pasti mati. Kini Sebun Jui-soat memutuskan akan membunuhnya, tapi ia masih sanggup tertawa, bahkan riang sekali suara tawanya.

Kejadian yang mencengangkan, bahkan si Genderang besar serta si Sepatu bersulam bunga pun ikut terkesima.

"Sebun Jui-soat, aku tahu kau memang hebat, kemampuanmu membunuh orang ibarat orang lain memotong wortel, bila ingin membunuhku, gampang sekali," kata pemuda baju putih.

Suara tawa pemuda berbaju putih bukan saja sangat riang, bahkan membuat orang lain merasa gembira.

"Tadi kau mengatakan ilmu silatku sangat cetek, sedang si Genderang besar dan si Sepatu bersulam bunga walau terhitung pembunuh bayaran kelas satu, namun berhadapan dengan Sebun Jui-soat, mungkin mau bergerak pun mereka tak berani."

Si Genderang maupun si Sepatu tak bisa menyangkal, juga tak berani menyangkal.

Maka pemuda berbaju putih melanjutkan, "Ketika mendengar kau akan membunuhku, semestinya aku merasa ketakutan setengah mati, tapi nyatanya aku tidak takut kepadamu."

Lalu tanyanya pada Sebun Jui-soat, "Kau tahu kenapa?"

Sebun Jui-soat memandangnya. sorot matanya tidak sedingin tadi, seakan tidak melihat apapun, seolah sedang melihat sebuah kekosongan.

"Aku tidak takut kepadamu karena aku tahu kau tak akan membunuhku, dan tak bisa membunuhku," kembali pemuda ilu melanjutkan.

Ternyata Sebun Jui-soat memang tidak mencabut pedangnya.

"Sebun Jui-soat membunuh orang dalam sekejap mata, dalam sekedipan mata dapat membunuh berpuluh orang, tapi terhadap seorang rakyal kecil yang lemah tak berdaya, atas dasar apa aku katanya Sebun Jui-soat tak berani membunuhku?"

Kembali pemuda berbaju putih itu memperlihatkan sinar mata aneh, lanjutnya, "Tentu saja aku berani bicara karena punya alasan paling tidak, ada beberapa alasan."

Tak seorang pun dapat menduga apa alasannya, karena setiap kali Sebun Jui-soat ingin membunuh orang, tak ada alasan apapun di dunia ini yang sanggup menghalangi niatnya.

Tapi pemuda berbaju putih itu begitu yakin, benarkah alasan itu sangat manjur? Apa alasannya?

Alasan yang dikemukakan pemuda berbaju putih itu tentu saja sangat kuat, bahkan alasan yang tidak terduga siapa pun.

Masih banyak persoalan yang hendak diucapkan, siapa sangka Sebun Jui-soat telah menukas, "Padahal kau tak punya alasan apapun, sedang aku pun tak akan melukai seujung rambutmu."

"Sungguh?"

Tentu saja sungguh, setiap perkataan yang diucapkan Sebun Jui-soat memang tak perlu diragukan siapa pun.

"Jika Sebun Jui-soat ingin membunuh orang, ia tidak butuh alasan, begitu juga jika Sebun Jui-soat tak ingin membunuh orang."

"Itu memang benar dan aku percaya," pemuda berbaju putih itu mengangguk.

"Bila Sebun Jui-soat ingin membunuhmu, biar kau adalah seorang perempuan lemah, biar kau adalah kekasih Liok Siau-hong atau si Kuah daging, sekarang kau sudah tewas di ujung pedangku."

"Kenapa sampai sekarang aku belum mati?"

"Karena alasan yang sangat bagus, aku percaya tak ada alasan lain yang lebih bagus daripada alasan itu."

"Oya?"

"Ehmm!"

"Apa alasannya? Kenapa?"

"Sebab biarpun kau bukan lelaki, biarpun kau adalah si Kuah daging yang paling disukai Liok Siau-hong,  sayang, aku bukan Sebun Jui-soat, sedikitpun tak mirip Sebun Jui-soat."

Si Genderang besar, si Sepatu bersulam bunga, si Kuah daging berdiri bodoh.

Ia cukup tahu Sebun Jui-soat, tampang, gaya dan gerak-gerik orang itu semuanya adalah Sebun Jui-soat, ia menyendiri, kesepian dan dingin.

Sudah jelas ia adalah Sebun Jui-soat, si Dewa pedang yang tiada duanya di kolong langit, mengapa bicara seperti itu? Bila Sebun Jui-soat menghendaki kematian seseorang, mengapa orang itu bisa hidup hingga kini?

"Sekarang aku tahu, kau memang bukan Sebun Jui-soat," ujar si Kuah daging sambil menatap tajam orang itu, "kalau kau bukan dia, siapa kau?"

Ia percaya orang ini adalah Sebun Jui-soat, karena ia sudah mulai merasakan keangkuhan, keseriusan serta dinginnya Sebun Jui-soat, ia pun dapat merasakan hawa pedangnya yang tajam, dahsyat dan tiada duanya itu.

Selain Sebun Jui-soat, siapa lagi yang dapat memberikan perasaan semacam ini kepada orang lain?

"Wajah Sebun Jui-soat macam orang mati, selain pucat, ia tak memiliki mimik lain," kata si Kuah daging, "orang sudah ketakutan setengah mati dan kakinya lemas ketika melihat manusia berbaju putih dari kejauhan, apalagi orang itu membawa sebilah pedang sempit dan panjang, siapa lagi yang berani memandang wajahnya."

Katanya pula setelah menghela napas, "Bukan pekerjaan yang sulit untuk berperan sebagai Sebun Jui-soat."

Kata-katanya memang masuk akal, maka si Kuah daging berkata lebih lanjut, "Kenyataan, berperan sebagai Sebun Jui-soat adalah perbuatan yang amat sulit."

"Kenapa?"

"Karena hawa pedangnya."

Siapa pun yang bertemu dengannya, segera akan merasakan hawa pedang yang sangat menggidikkan, bahkan perasaan orang itu segera akan tergetar.

"Tidak banyak orang di dunia ini yang sanggup menyamar sebagai Sebun Jui-soat, menurut pendapatku, rasanya cuma ada tiga orang."

"Tiga orang yang mana?"

"Giok-lo-sat dari Se-hong, Liok Siau-hong serta Sukong tising," si Kuah daging menjelaskan, "Giok-lo-sat dari barat adalah Mokau-kaucu wilayah barat, Sukong Ti-sing adalah si pencuri sakti, sementara Liok Siau-hong adalah Liok Siau-hong si pendekar empat alis."

"Semenjak peristiwa Rumah judi pancing perak, rasanya Giok-lo-sat sudah tak mungkin muncul lagi," kata pemuda berbaju putih itu.

"Rasanya memang begitu."

"Oleh sebab itu pasti bukan dia."

"Memang bukan."

"Juga tak mungkin Liok Siau-hong si telur busuk itu."

"Aku rasa tidak mirip!"

"Pasti dia adalah Sukong Ti-sing."

"Kemungkinan besar memang dia."

Pemuda berbaju putih itu menghela napas panjang, katanya. "Pandanganmu memang bagus, sayang kau salah dalam satu hal."

"Hal apa?"

"Sukong Ti-sing bukan pencuri biasa, ia pencuri sakti, raja segala pencuri, sampai Liok Siau-hong pun dibuat pusing tujuh keliling. Selain dia, tidak ada orang kedua yang sanggup menyuruh Liok Siau-hong merangkak di dalam lumpur mencari 680 ekor cacing."

Tiba-tiba Sukong Ti-sing tertawa terbahak-bahak, hawa membunuh yang dingin, begitu menggidikkan seketika hilang tak berbekas.

Kini si Kuah daging baru percaya dengan perkataan Liok Siau-hong, si Raja di antara raja pencuri memang seorang berbakat, mau menyamar jadi siapa pun dapat diperankan dengan pas.

Bersambung ke 6

Bagian 6

Liok Siau-hong pernah bercerita, "Ketika berada di Yu-leng-san-ceng, aku sempat melihat seorang menyamar menjadi seekor anjing, tapi orang itu mengatakan kepandaiannya baru sepertiga kemampuan Sukong Ti-sing."

Kini si Genderang dan si Sepatu betul-betul berdiri bodoh, meskipun nama besar Sukong Ti-sing sering mereka dengar, dan mereka pun tahu nama besar si Raja pencuri tak kalah dengan Sebun Jui-soat, namun mereka tidak mengira si Raja pencuri bisa menyamar jadi Dewa pedang, bahkan berhasil mengelabui mereka.

Padahal mereka pun pandai menyamar, syarat mutlak bagi orang yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran.

Mereka tak menyangka kemampuan orang ini mengubah nada suara serta hawa membunuh dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Untuk menyamar adalah pekerjaaan mudah, tapi untuk mengubah suara dan logat, jelas bukan pekerjaan gampang, ia mesti belajar mengendalikan otot-otot tenggorokannya, kepandaian langka yang sudah lama punah.

Si Genderang besar tidak bicara lagi, dari sakunya ia ambil setumpuk uang kertas, lalu diangsurkan ke hadapan si Kuah daging, dan bagaikan seekor kupu-kupu yang gemuk, pergi meninggalkan tempat itu.

Si Sepatu bersulam bunga juga tidak bicara, ia ikut angkat kaki dari situ, suara langkahnya jauh lebih enteng bila dibandingkan sewaktu datang tadi.

Memandang kepergian kedua orang itu, Sukong Ti-sing tertawa, tiba-tiba tanyanya kepada si Kuah daging, "Kenapa kau tidak berusaha menahannya?"

"Untuk apa?"

"Sepertinya ia lupa memberikan suatu barang padamu!" yang dimaksud Sukong Ti-sing adalah duit, seperti yang dilakukan si Genderang besar, "Dalam hal ini, tidak seharusnya ia lupa, kau pun bukan seorang pelupa? Kalian pun sama-sama perempuan."

Sesudah berhenti sejenak, kembali kata Sukong Ti-sing, "Biarpun pengalamanku tentang perempuan tidak sehebat Liok Siau-hong, tapi terhitung tidak rendah juga, menurut pengalamanku, jika emas, perak dan intan berlian sudah berada di tangan perempuan, ibarat satu guci arak Li-ji-ang masuk ke perut Liok Siau-hong, jangan harap bisa menyuruhnya memuntahkan keluar."

"Kau keliru besar," tukas si Kuah daging.

"Oya?"

"Justru lantaran aku pun perempuan, maka tak menahannya."

"Kenapa?"

"Karena aku pun seorang pelupa," sahut si Kuah daging tertawa cerah, secerah bunga mawar yang sedang mekar, "aku pun lupa menyerahkan uang kepadanya."

"Kau tidak lupa memberi si Genderang besar segepok duit masakah lupa memberinya pula?''

"Ehmm."

"Kenapa?"

"Sebab ia perempuan, kalau ada orang mengatakan perempuan mesti waspada terhadap kaum pria, pendapat itu keliru besar."

"Jadi yang mesti diwaspadai kaum perempuan adalah perempuan?" sela Sukong Ti-sing.

"Tepat sekali!"

Perempuan memang lebih mengerti kaumnya. "Kini tinggal satu hal yang belum kupahami, dapatkah kau beritahukan kepadaku?" pinta si Kuah daging pada si Pencuri sakti.

"Dapat!" Sukong Ti-sing mengangguk, "biarpun aku bukan Liok  Siau-hong, tapi aku pun tak bisa menampik permintaan seorang gadis cantik yang menawan."

"Aku lihat kau punya kesamaan dengannya, mulutmu semanis mulutnya," si Kuah daging tertawa.

Kau sudah mencicipi mulutnya, apakah ingin juga mencicipi mulutku?

Si Kuah daging selain cantik dan menawan, juga pandai, tentu saja apa yang sedang dibayangkan lelaki busuk macam Liok Siau-hong serta Sukong Ti-sing dapat dipahami olehnya, kendati belum mereka utarakan.

Oleh sebab itu ia tak memberi kesempatan kepada lelaki itu unluk bicara, segera ujarnya, "Darimana kau bisa membaca surat tantangan duelku dengan Sebun Jui-soat yang kuminta Lau-sit Hwesio membuat?"

"Darimana kau tahu aku telah membacanya?"

"Kalau belum membaca, kenapa kau bisa menyamar sebagai Sebun Jui-soat menungguku di sini?"

"Jawabannya mudah," Sukong Ti-sing menghela napas panjang, "aku yakin kau pun pasti beranggapan memang begitu kejadiannya. Sayang, dugaanmu kali ini keliru."

"Jadi bukan begitu?"

"Ya."

"Lantas bagaimana?"

"Aku tak ingin menjawab pertanyaanmu, sekarang aku hanya ingin mencicipi semangkuk besar kuah daging yang masih panas dan mengepul ...."

"Bahkan harus aku sendiri yang menyediakan untukmu."

"Tepat sekali," Sukong Ti-sing tertawa tergelak.

--0o0--

Kuah daging sapi telah dihidangkan, masih panas dan mengepul, bahkan memakai mangkuk besar ukuran istimewa, kuahnya kental melebihi tajin beras, daging yang digunakan juga daging sapi yang paling lembut, dari jenis sapi terbaik.

Kuah daging semacam ini bila dikombinasi dengan tiga biji kue keras, semangkuk sawi dari Yinlam, ditambah sepiring tahu, sebungkus kacang serta seguci arak wangi, biar ditukar dengan 286 jenis sayur lain pun jawabannya tetap satu, "ogah ah!".

Tentu saja tak boleh ditukar, ia bukan seekor kura-kura.

Sukong Ti-sing bukan kura-kura, juga bukan telur busuk, Sukong Ti-sing hanya seorang tamu yang ditraktir makan, seorang penikmat makanan, bahkan ahli di bidang makanan.

Setelah meneguk beberapa suap kuah dan mengunyah daging, ia pejamkan mata dan pelan-pelan menghembuskan napas.

"Daging has dalam ditambah daging paha dicampur sedikit koyor, wah, sedapnya, apakah sapinya sejak kecil sudah disusui arak?" tanya Sukong Ti-sing sambil menghela napas.

"Benar."

"Apakah kuah daging ini sudah di tim selama empat lima jam?"

"Benar."

"Baru saja aku duduk, kuah daging ini sudah kau hidangkan."

"Sebelum berangkat, kuah daging sudah kusiapkan lebih dulu aku tak pernah melupakan kata-kata nenekku."

"Apa ia bilang?"

"Dia sering mengatakan, bila ingin menangkap hati seorang lelaki, cara tercepat adalah memperlancar lambung dan ususnya lebih dulu."

"Tepat sekali," Sukong Ti-sing lertawa terbahak-bahak, "aku yakin kakekmu pasti lelaki paling bahagia di dunia ini."

"Ia pun lelaki paling gemuk di dunia ini," sambung si Kuah daging sambil tertawa.

Sukong Ti-sing tertawa, si Kuah daging juga tertawa, tiba-tiba gelak tawa mereka terhenti, menyusul kau pandang aku dan aku memandangmu.

Lama kemudian baru Sukong Ti-sing buka suara lebih dulu, ia sudah menghabiskan kuah daging, ia tahu kuah daging itu bukan disajikan kepadanya dengan percuma.

"Semestinya kau tahu orang macam apa Sebun Jui-soat," katanya pelan, "memangnya surat yang ditujukan kepadanya bisa sembarangan dilihat orang?"

"Tentu saja tidak."

"Aku pun tak sempat melihat isi surat itu, aku telah bertemu Lau-sit Hwesio, si Hwesio jujur yang tidak jujur."

"Hwesio itu memang tidak terlalu jujur," si Kuah daging menimpali sambil tertawa.

"Tapi ia cerdik, jauh lebih cerdik ketimbang kau."

"Lebih cerdik dari aku?"

"Dia tahu Sebun Jui-soat sudah membaca surat itu, surat itu membuat seorang gadis ingin bunuh diri."

"Maksudmu?"

"Kau tahu kenapa si gadis ingin bunuh diri?"

"Karena perasaannya hancur."

"Begitu pula dengan surat itu," sela Sukong Ti-sing sambil tertawa, "surat itu sudah dihancurkan oleh Sebun Jui-soat."

Si Kuah daging ingin tertawa, namun tak dapat tertawa.

"Dia tahu, Sebun Jui-soat pasti tak akan berangkat memenuhi janji duel dengan bocah ingusan tak ternama."

"Jika dia selalu memenuhi tantangan duel semacam ini, bisa jadi waktu untuk bikin anak pun tak punya."

"Lantaran ia pasti tak datang, maka kau yang datang?" tanya si Kuah daging, "kenapa kau menggantikannya?"

"Karena aku adalah sahabat Liok-sam-tan (tiga telur), kalau Sebun Jui-soat enggan pergi menolongnya, tentu aku yang harus berangkat."

"Liok-sam-tan?" si Kuah daging heran, "siapa dia?"

"Liok-sam-tan adalah Liok Siau-hong, sebab bukan saja ia telur busuk, si telur miskin, bahkan seorang telur goblok!"

Kembali si Kuah daging ingin tertawa, tapi tak sanggup tertawa.

"Lagi-lagi kau keliru besar, Liok Siau-hong pasti bukan sebutir telur, mungkin saja ia adalah barang busuk yang lain, tapi aku berani jamin ia pasti bukan sebutir telur."

"Bukan telur lalu apa?"

Si Kuah daging tertawa tergelak.

"Kau pernah melihat sebutir telur yang tumbuh di alis? Kau pernah melihat sebutir telur memiliki empat alis?"

Sukong Ti-sing tak pernah menyerah, biarpun berduel lawan Liok Siau-hong, ia tak pernah menyerah. Tapi kali ini ia benar-benar menyerah.

Sebun Jui-soat belum pernah meniup salju (jui-soat), di dunia ini memang tak seorang pun mau meniup salju. Yang ditiup Sebun Jui-soat hanya darah, darah di ujung pedangnya, darah musuhnya.

 --00—

Air dalam bak mandi masih terasa hangat, lamat-lamat terendus pula bau harum bunga yang semerbak. Sebun Jui-soat selesai membersihkan tubuh dengan seksama, debu yang semula melekat sudah bersih.

Sekarang ia mengenakan pakaian dan berdandan,  kukunya digunting dan dibersihkan. la mengenakan pakaian baru, dari pakaian dalam sampai jubah panjang berwarna putih, putih bagai salju.

la bahkan sudah 'mutih' selama dua hari, hanya makan segumpal nasi putih dan segelas air putih. la beranggapan pekerjaan yang hendak dilakukannya adalah pekerjaan yang paling sakral, pekerjaan suci. la akan pergi membunuh orang.

Cong-goan-lau merupakan rumah makan terbesar di kota ini, selain ramai juga paling gaduh. Saat bersantap, suasana Cong-goan-lau yang semula ribut secara tiba-tiba berubah tenang.

Rupanya ada dua orang muncul dari anak tangga bawah. Orang yang berjalan di depan adalah seorang nona cantik, badannya sehat, kuat penuh daya lentur serta sifat liar. Perempuan semacam ini selalu menjadi pusat perhatian siapa pun, muncul dimana pun tetap akan menarik perhatian.

Tapi hari ini, orang yang hadir dalam rumah makan itu seakan tak ada yang memandang ke arahnya, seakan tak seorang pun yang menaruh perhatian kepadanya.

Begitu orang kedua muncul, sinar mata semua orang nyaris terhisap padanya. Orang ini berwajah pucat, kurus, dingin, angkuh dan sadis, pakaian yang dikenakan berwarna putih, seputih salju. Dari balik badannya seolah terpancar hawa dingin yang menggidikkan, seakan bisa membuat beku semua suara dan tawa seliap orang yang hadir di situ.

Mereka tak lain adalah Sukong Ti-sing serta si Kuah daging.

Kemunculan Sukong Ti-sing selalu memancing perhatian orang, padahal ia paling tak senang bila diperhatikan. Yang paling ia sukai adalah menyelesaikan pekerjaan yang harus dilakukan dalam keadaan aman, tenang dan tanpa menarik perhatian siapa pun. Maklum pekerjaan yang ia lakukan adalah mencuri.

Jika seorang selalu mendapat perhatian berlebihan, bagaimana mungkin ia bisa mencuri? Mana mungkin jadi raja pencuri?

Jika ia melakukan pencurian, mustahil baginya muncul dalam rumah makan yang terang benderang, sudah pasti ia akan meringkuk dalam penjara yang sempit dan gelap, yang cuma bisa berharap suatu hari nanti bisa melihat cahaya matahari secara bebas, tidak seperti saat dalam sel dimana cahaya hanya bisa masuk lewat jendela kecil, berharap suatu saat bisa bebas dari gigitan kutu busuk dan kutu rambut.

Seorang yang berpengalaman dalam hal ini pernah berkata, bila di badanmu terdapat dua tiga ekor kutu busuk, maka gigitannya bisa membuat kau gatal sampai mampus. Tapi jika terdapat dua tiga ratus ekor, kau tak bakal merasa gatal walau digigit sampai semua kutu busuk itu mampus.

Benarkah Sukong Ti-sing termasuk orang yang selalu diperhatikan? Tak ada yang tahu, siapa pun tak pernah melihat tampang aslinya.

Semua orang tahu, dimana pun ia muncul, tampangnya selalu mirip kakek yang tak menyenangkan atau nenek yang menyebalkan, biarpun ia berlutut di depan orang dan minta kepada mereka untuk memperhatikan sekejap, belum tentu orang mau.

Tapi penampilannya hari ini sangat berbeda. Hari ini ia bukan seekor ulat mengenaskan yang patut dikasihani, bukan orang tengik yang tidak diperhatikan orang, hari ini ia juga bukan Sukong Ti-sing. Hari ini ia bukan siapa-siapa, kini ia tampil sebagai Sebun Jui-soat.

Sebun Jui-soat yang tiada duanya di kolong langit. Si Dewa pedang yang tiada tandingannya!

Ketika pedang tergantung di pinggang, ibarat anak panah di atas busur. Sebelum usia tiga puluh tahun, pedang Sebun Jui-soat selalu tergantung di belakang punggung, diikat dengan sebuah tali yang kuat dan indah, disarungkan dalam sebuah sarung pedang yang sempit panjang, antik dan kuno.

Menurutnya, bila pedang digembol dengan cara begini, maka ia bisa bergerak lebih lincah, bertindak lebih cekatan, ia pun bisa mencabut pedangnya dalam waktu singkat.

Tapi sekarang kelincahan maupun kecepatan sudah bukan hal penting baginya. Dalam hal ini ia sudah jauh melampaui kemampuan sendiri, melampaui kemampuan pedang itu. Ia telah melampaui titik batas kemampuan sendiri, melampaui titik batas kemampuan pedang.

Melampaui bukan pekerjaan yang sederhana, tidak mudah mencapainya, bila ingin melampaui segala sesuatu, maka harus membayar dengan mahal, penuh pengorbanan.

Mandi, berpakaian rapi, menyisir rambut, memelihara kuku ... pekerjaan tetek-bengek semacam ini semestinya tak bakal dilakukan Sebun Jui-soat.

Perempuan cantik, pelacur kenamaan atau perempuan apapun, mungkin akan membantunya melakukan serriua pekerjaan itu, tapi ia sendiri tak akan melakukannya, karena ia adalah Dewa pedang.

Bahkan Liok Siau-hong pernah mengatakan: Sebun Jui-soat sesungguhnya bukan manusia!

Pekerjaan yang disukai orang tidak ia sukai, pekerjaan yang dilakukan orang, tidak ia lakukan, seakan ia sudah meninggalkan keduniawian, pedang serta pribadinya seolah sudah terpisah dari kehidupan dunia.

Ia sendiri berharap dirinya bisa berbuat begitu.

Di luar dugaan ia telah bertemu seorang gadis, gadis yang memaksanya balik ke kehidupan duniawi.

Peristiwa yang susah dihindari siapa pun, termasuk Sebun Jui-soat!

Oleh sebab itu ia melaksanakan semua pekerjaan sebagai seorang manusia, jatuh cinta, menikah, berkeluarga dan punya anak. Bahkan ia pun sudah memiliki perasaan sebagai manusia.

Gara-gara itu ia nyaris kalah, hampir mati. Kekalahan adalah kematian. Dalam pertarungan sengit, duel maut di istana terlarang,

Di bawah sinar bulan purnama, ia nyaris tewas di ujung pedang Pek-in sengcu Yap Koh-seng.

Bagi Sebun Jui-soat, ia boleh mati tapi tak boleh kalah. Pedang Sebun Jui-soat selamanya tak boleh kalah, ia harus berhasil dengan serangannya. Ia wajib mempertahankan, sebab ini adalah kewajiban serta tanggungjawabnya, juga nasibnya.

Untuk itu ia merasa perlu sekali lagi memasuki "alam dewa", dewa pedang, ia harus berpisah dengan kehidupan duniawi.

Ketika istrinya melahirkan, melahirkan darah daging yang akan meneruskan keturunannya, ia pun berpisah dengan mereka. Inilah pengorbanan terbesar yang harus ia bayar!

Tanpa menimbulkan suara Sebun Jui-soat menggantung pedangnya, berjalan keluar pintu sempit rumahnya. Tidak peduli pintu itu dimana, pintu itu tetap jadi miliknya, karena dia adalah Sebun Jui-soat, karena pintu itu adalah pintu kehidupannya.

Di luar pintu hanya ada bulan, bulan yang sedang purnama.

Sukong Ti-sing telah memesan hidangan.

Pelayan rumah makan berdiri di hadapannya dengan sikap sangat menghormat, berdiri menunggu tamunya memesan hidangan, biarpun tubuhnya tegak, namun sepasang kakinya justru gemetar keras.

Ketika hidangan telah disampaikan, tampang pelayan itu seketika sedikit berubah.

Hidangan yang dipesan Sukong Ti-sing adalah sepiring ca sawi putih, sepiring tahu kukus, dua butir elur ayam, dua biji bakpao kosong dan sepoci air putih.

Di dunia ini terdapat banyak kota, kota kecil dan dusun, di setiap tempat entah ada berapa banyk warung dan rumah makan, entah ada berapa banyak pelayan.

Jika paras sang pelayan tidak berubah setelah mendengar tamunya hanya memesan beberapa macam hidangan itu, itu baru aneh namanya.

Paras si pelayan rumah makan Cong-goan-lau yang sedang mengawasi wajah Sukong Ti-sing saat ini persis seperti muka lelaki hidung belang yang tiba-tiba menemukan dirinya telah berubah jadi seorang thaykam, thaykam yang sedang didampingi seorang gadis cantik dalam keadaan telanjang bulat.

Si Kuah daging tidak terperanjat, mukanya juga tak berubah mengenaskan, walau sempat sedikit berubah.

"Eh, apa yang kau pesan?" teriaknya kepada Sukong Ti-sing.

"Kau tuli?"

"Tidak."

"Lantas tidak kau mendengar apa pesananku tadi?"

"Mendengar, aku cuma sangsi."

"Sangsi bagaimana?"

"Aku sangsi, jangan-jangan kau bukan si Raja pencuri yang memandang emas bagai sampah."

"Oya?"

"Konon si Raja pencuri mesti tak pernah mencuri barang berharga, namun duitnya lebih banyak dari siapa pun, karena ia hanya mencuri atas dasar pesanan, untuk mengundangnya mencuri barang pesanan, orang mesti mengeluarkan banyak uang. Aku dengar suatu kali ia mencuri sebuah toilet untuk seseorang, ternyata orang itu membayar 50 laksa tahil."

Sambil berpaling ke arah Sukong Ti-sing, tanyanya pula, "Apa benar ada kejadian itu?"

Sukong Ti-sing menghela napas panjang.

"Jika seorang nona cilik cantik dan menyenangkan bersikeras mengatakan ada kejadian ini, apa yang bisa kukatakan?"

Kuah daging tertawa. Senyumannya ternyata tidak mirip sapi, tapi bila ada orang mengatakan sewaktu tertawa ia mirip semangkuk kuah, yang jelas kuah itu pasti bukan kuah daging tapi semangkuk kuah bunga terate yang merah, segar dan manis.

"Kalau untuk mencuri sebuah toilet saja ia bisa memperoleh 50 laksa tahil perak, mestinya si Raja pencuri punya banyak uang?

"Semestinya begitu."

"Orang berduit biasanya pelit, lebih hitungan dan rewel, tapi orang ini terkecuali."

"Oya?"

"Apalagi caranya memakai uang persis seperti Liok Siau-hong, malah kadang ia lebih royal."

"Mencari duit bukan pekerjaan hebat, pandai menghamburkan duit baru hebat, tapi kalau bisanya hanya menghambur tanpa mampu mencari, itu namanya telur busuk, telur busuk yang paling memuakkan!"

Si Kuah daging tertawa tergelak.

"Mendingan jadi telur busuk ketimbang telur busuk yang paling memuakkan."

"Sudah pasti!"

"Makanya kau adalah telur busuk yang paling memuakkan, kau bukan telur busuk yang bisa menghambur tak bisa cari duit, kau juga bukan Raja pencuri yang bisa mencuri barang berharga, kau tak lebih hanya seorang telur busuk yang bisa cari duit tapi tak mampu menghamburkan, kau adalah raja telur busuk."

Sukong Ti-sing dibikin termangu oleh umpatan itu, selama hdup belum pernah ia diumpat orang.

Ia adalah Raja pencuri, raja copet, seperti juga Dewa pedang Sebun Jui-soat, seperti juga Liok Siau-hong adalah Liok Siau-hong.

Mana ada orang berani mengumpatnya? Atau mungkin si Kuah daging sudah mabuk air kata-kata?

"He, kau sudah mabuk?" tegur Sukong Ti-sing.

"Mana ada air putih yang bisa membikin orang mabuk? Aku hanya heran, orang yang bisa mencari 50 laksa tahil perak hanya untuk mencuri sebuah toilet, kenapa hanya memesan serba putih ketika mengundang makan seorang gadis cantik?"

"Serba putih?"

"Sawi putih, tahu putih, bakpao putih, ditambah air putih? Menurutku, hidangan yang disantap Lau-sit Hwesio yang Put-lausit (tidak jujur) jauh lebih enak ketimbang pesananmu."

"Kenapa?"

"Kalau hanya makan hidangan seperti ini, mana punya tenaga untuk membuat seorang Hwesio cilik?"

Sukong Ti-sing tidak tertawa, justru menghela napas panjang. "Sekarang aku baru tahu kenapa Liok-siau-khe (ayam cilik) menyukaimu, caramu bicara persis dia."

"Sebetulnya dia itu Liok-sam-tan atau Liok-siau-khe?"

"Sama saja, kadang ia bernama Liok Siau-hong, malah sering jadi Liok-siau-kau (anjing cilik). Sebab penciumannya amat tajam, seonggok tahi yang berada delapan ribu li dari hadapannya pun sanggup ia endus secara tepat."

Si Kuah daging manahan tawa, ditatapnya Sukong Ti-sing dengan mata melotot.

"Bagaimana dengan kau? Namamu sebetulnya Sukong Ti-sing atau Boan-te-cia-say (makan tahi yang menumpuk di tanah)?"

"Mana ada manusia begitu?" sahut Sukong Ti-sing tertegun. "Sukong dan boan-te kan sama artinya, begitu juga Ti-sing dan cia-say kan serasi, apalagi makanan yang kau santap selama ini lebih banyak ketimbang tahi anjing yang berserakan di tanah."

"Kau keliru," ternyata Sukong Ti-sing tidak marah, "aku sengaja memesan hidangan seperti ini lantaran saat ini aku bukan Sukong Ti-sing."

"Lantas siapa kau?"

"Sebun Jui-soat! Jadi boan-te bagi Sebun dan cia-say untuk Jui-soat, lebih pas."

"Betul," mendadak seseorang menimpali, "saking pasnya sampai ia berhak menikmati seonggok tahi anjing ditambah satu bacokan golok."

Di belakang sebuah meja di sudut rumah makan, duduk sepasang suami istri, usia mereka sudah lanjut, yang lelaki kurus kecil sementara si nenek gemuk dan putih, jika si kakek selalu bermuram durja sebaliknya si nenek penuh senyum keriangan.

Banyak sekali suami istri di dunia ini bertampang begitu, bila suami istri melakukan pekerjaan bersama, maka sang suami selalu yang dirugikan, sang suami selalu berusaha menyenangkan sang bini, sampai-sampai badan sendiri kurus kering dan wajah pucat.

Sebetulnya suami istri itu duduk di sudut ruangan yang jauh, tiba-tiba saja si kakek kurus itu sudah duduk di samping Sukong Ti-sing serta si Kuah daging.

Ucapan itu tentu saja berasal dari mulut kakek kurus ini.

"Barusan kau bilang aku harus dibacok dengan golok?" tegur Sukong Ti-sing.

"Betul."

"Kenapa?"

"Sebab kau bukan Sebun Jui-soat, jika kau adalah dia, maka akulah yang akan makan tahi anjing."

Sekali lagi Sukong Ti-sing tertegun.

Sebetulnya kakek itu duduk di tempat yang jauh, sementara suara pembicaraannya dengan si Kuah daging sangat lirih, bahkan orang yang duduk di meja samping pun tidak mendengar, tapi si kakek itu justru dapat mendengar dengan jelas.

Siapakah kakek itu? Seandainya Sukong Ti-sing tahu, mungkin ia akan langsung jatuh pingsan.

Kejadian apa di dunia ini yang mampu membuat Sukong Ti-sing pingsan?

Seandainya ada orang berkata ilmu menyamar Sukong Ti-sing bukan nomor satu di dunia, mungkin tak ada lagi manusia di dunia ini yang berani mengaku ilmu menyamarnya adalah nomor wahid di kolong langit.

Ilmu menyamar memang misterius, selalu mendatangkan perasaan seakan ada sangkut-pautnya dengan suatu misteri, serasa terlibat dalam persekongkolan busuk dunia persilatan.

Padahal ilmu menyamar, hanya tehnik mengubah wajah yang sangat biasa, gadis muda yang cantik jelita dapat berperan sebagai seorang lelaki penuh cambang.

Sama seperti mempelajari kepandaian lain, tidak sulit untuk mempelajarinya, sulit bila ingin menguasai secara sempurna.

Sampai taraf mana ilmu menyamar Sukong Ti-sing? Susah untuk dijelaskan, seperti halnya dua jari Liok Siau-hong, pedang Sebun Jui-soat. Tak ada tahu sampai taraf mana kepandaian mereka, bahkan tak seorang pun bisa membayangkannya.

Paling tidak, bisa dipastikan ilmu menyamar ada batasnya. Tak ada ilmu menyamar di dunia ini yang sanggup mengubah orang menjadi orang lain, bahkan dapat mengelabui sahabat serta keluarganya yang paling dekat.

Ilmu menyamar tingkat tinggi yang paling sempurna, tak lebih hanya mampu mengubah menjadi seorang lain yang sesungguhnya tak ada, atau menjadi seorang yang di sekitarnya tak ada keluarga atau sahabat karibnya, agar orang lain tidak mengenalinya. Asal dapat mencapai ke tingkat itu, maka ilmu menyamarnya sudah memiliki nilai dan pantas serta berharga untuk dipelajari.

Ilmu menyamar Sukong Ti-sing telah mencapai ke taraf itu, bahkan sudah melebihi, ia bahkan rnampu membuat Liok Siau-hong tidak mengenalinya lagi. Kalau bisa membuat Liok Siau-hong sisetan licik yang jeli matanya dan cerdas pun tidak mengenalinya, maka kepandaian itu sudah luar biasa.

Sekarang seorang kakek kurus kering; yang duduk di sudut rumah makan itu dapat mengenalinya, bukankah kepandaian kakek itu luar biasa hebatnya?

Kehebatan kakek kurus itu sudah cukup membuat Sukong Ti-sing terperaiijat. Kakek kurus itu sanggup mendengar pembicaraan mereka, walau dalam ruangan yang hiruk pikuk dan terpisah oleh berpuluh meja. Kenyataannya Sukong Ti-sing sama, sekali  tak mengetahui asal-usul kakek itu, bagaimana ia tidak terkesiap?

Akhirnya ia menghela napas dan berkata sambil tertawa getir, "Aku kagum kehebatanmu, aku tabu kau juga telah menyamar, hanya aku belum mengetahui siapa kau, sebaliknya kau justru telah tahu siapa aku.". 

Kakek kurus itu mencibir, javvabnya, "Kau tak perlu kagum, juga tak perlu tahu siapa aku, aku pun tak ingin tahu siapa kau. Aku hanya tahu satu hal, kau seratus persen bukan Sebun Jui-soat."

Dengan sikap sangat memuakkan,.kembali kakek kurus itu berkata, "Tak masalah kau adalah Thio Sam, Li Su atau kura-kura telur busuk, yang penting aku tahu kau bukan Sebun Jui-soat, aku rasa bukan hanya aku yang mengetahui hal ini."

Setelah berhenti sejenak, kembali katanya, "Orang persilatan yang tajam pendengaran dan luas pergaulannya pasti tak percaya jika saat ini Sebun Jui-soat mau menemani seorang nona cilik yang cantik jelita untuk bersantap bakpao tanpa isi di tempat seperti ini."

"Kenapa?"

"Karena mereka tahu saat ini Sebun Jui-soat tidak berada di wilayah Kanglam, juga tidak berada di Tionggoan, bagaimana mungkin bisa muncul seorang Sebun Jui-soat lagi di tempat ini?"

Jawaban pertanyaan ini hanya satu, Sebun Jui-soat yang ini pasti gadungan!

"Maka aku tahu bahwa kau bukan Sebun Jui-soat, apalagi dengan ilmu menyamarmu, siapa yang bisa mengetahui?"

Sukong Ti-sing benar-benar takluk, ia mulai merasa kakek kurus itu tidak terlalu memuakkan, bahkan menyenangkan.

"Kalau Sebun Jui-soat memang tak ada di Kanglam, juga tidak berada di daratan Tionggoan, lalu dimana dia?"

"Pergi ke sebuah tempat yang ada setannya."

"Apakah tempat yang ada setannya itu berada di luar perbatasan?"

Sukong Ti-sing dan Kuah daging saling pandang sekejap.

"Benar."

"Dan tempat itu bernama Ui-sik?"

"Benar."

Kembali si Kuah daging saling pandang dengan Sukong Ti-sing, mereka tertegun.

"Biarpun Sebun Jui-soat hanya minum air putih serta dahar hidangan paling sederhana, namun ia amat memperhatikan masalah sekecil apapun, ia juga pandai menikmati," kata Sukong Ti-sing, "tapi kenapa kali ini ia meninggalkan perkampungannya yang makmur dan indah, justru pergi mendatangi tempat setan dimana burung tak bisa berkicau, kelinci tak bisa berak itu? Mau apa ia ke sana dan karena apa?"

"Tahukah kau, hanya demi seorang yang tak dikenalnya, ia pun rela melakukan perjalanan ribuan li hanya untuk membalas dendam sakit hatinya?"

"Pernah kudengar cerita itu."

Bukan hanya Sukong Ti-sing yang pernah mendengar cerita itu, hampir semua orang pernah mendengar kisah ini.

"Demi seorang jago yang bernama It-to-tin-kiu-ciu (golok menggetarkan sembilan telaga) Tio Kong, ia pernah naik kuda siang malam selama tiga hari tiga malam untuk membunuh Yang-tiam-to (golok berpijar) Ang To, padahal ilmu golok Giok-lian-hoan-yang-tiam-pat-to (ilmu golok Berpijar kemala berantai) Ang To sangat mematikan dan jarang membiarkan korbannya lolos dalam keadaan hidup, sementara Tio Kong hanya seorang asing yang belum pernah dijumpai sebelumnya," kata Sukong Ti-sing. "Dia seringkali melakukan perbuatan semacam ini hanya karena alasan kecil."

Kemudian tanyanya, "Menurut kau, ia hebat tidak?"

"Tidak, sama sekali tidak hebat, semua orang bisa melakukan hal yang membingungkan, tidak terkecuali kau."

"Berarti kepergian Sebun Jui-soat ke kota Ui-sik juga lantaran alasan yang membingungkan?"

"Benar, kali inipun ia pergi lantaran seseorang, hanya saja ia lelah melanggar satu kebiasaannya."

"Melanggar kebiasaan?"

"Ya."

"Apa itu?"

"Selama ini ia selalu turun tangan demi orang lain, jarang demi sahabat sendiri, nyaris ia tak punya teman, biarpun ada teman juga tak mungkin minta pertolongannya, ia hanya mau berjuang demi orang lain."

"Ia selalu menganggap tindakannya itu adalah demi din sendiri, belum pernah kujumpai orang yang begitu jumawa macam dia, paling tidak demi kepentinganku."

Kakek kurus itu tertawa tergelak.

Sukong Ti-sing tak pernah menghargai Sebun Jui-soat, semua jago dunia persilatan mengetahui hal ini masalahnya Sebun Jui-soat juga tak pernah menghargainya.

"Apa yang kau ucapkan memang benar, tapi kali ini bukan derni diri sendiri juga bukan demi orang asing, ia lakukan demi seorang sahabatnya."

Sukong Ti-sing menenggak habis air putih dalam cawan bagai rnenenggak arak, jengeknya sambil tertawa dingin, "Masakah Dewa pedang mau melakukan demi seorang sahabatnya?"

"Benar."

"Temannya tidak banyak, orang yang mati dibunuhnya seratus kali lipat lebih banyak ketimbang sahabatnya."

"Mungkin tak sampai seratus kali lipat, sebab temannya mungkin cuma seorang."

"Berarti temannya pasti Liok-siau-kau si anjing kecil itu?"

"Liok-siau-kau tentu sama dengan Liok-siau-khe si ayam cilik, Liok-siau-jong si ulat kecil, Liok-siau-kui si setan cilik dan-Liok-sam-tan si tiga telur atau dari gabungan anjing, ayam, ulat, setan dan telur terbentuklah seorang Liok Siau-hong."

Selama pembicaraan, penampilan si Kuah daging nampak alim, tenang dan pendiam, mirip penampilan seorang nona besar keluarga bangsawan. Mendadak ia melompat bangun, seperti seekor kucing betina yang mendadak ekornya diinjak orang, melompat sambil melototi kakek kurus itu, tapi sekejap kemudian dengan alim, lembut dan halus ia duduk kembali, menutup rapat mulutnya, tak sepatah kata pun yang diucapkan. Seakan seorang gadis yang betul-betul alim, ingin kentut pun takberani.

"Kau bilang Sebun Jui-soat pergi ke kota Ui-sik demi Liok Siau-hong?" teriak Sukong Ti-sing sambil mengawasi kakek itu, "he, apakah kau sedang kentut?"

"Tidak, berada di hadapanmu, aku belum pantas untuk kentut, mau kentut pun harus ditahan, kalau sekarang ada yang kentut, dapat dipastikan bukan aku."

Bukan ia yang kentut, berarti Sukong Ti-sing yang kentut.

Waktu itu Sebun Jui-soat sedang membuka pintu dan berjalan keluar. Di luar pintu adalah selapis 'pasir kuning bagaikan emas', rembulan bulat bagai roda.

Sukong Ti-sing melahap bakpao tanpa isi, makan lantaran perutnya lapar, kelaparan setengah mati, di saat harus memeras otak dan perang mulut, perut memang lebih gampang lapar. Bagaimanapun ia memeras otak, tetap saja tidak diketahuinya siapa gerangan kakek kurus di hadapannya, darimana ia tahu begitu banyak persoalan?

Sekalipun otaknya sudah diperas sedemikian rupa, hasilnya tetap nihil. Sebaliknya kakek kurus itu bukan cuma tahu apa yang sedang ia pikirkan, bahkan tahu siapa dirinya.

"Sukong-heng, sekarang apakah kau sudah bisa mengundang nona yang cantik jelita ini untuk menikmati hidangan yang tidak putih?"

Sukong Ti-sing nyaris terjatuh dan tempat duduknya.

"Apa kau bilang?" teriaknya.

"Mungkin Sukong Ti-sing bukan satu orang, bisa jadi Sukong Ti-sing ada beberapa puluh orang, karena ilmu menyamar Raja pencuri ini sangat hebat dan sempurna, belum ada yang mampu menandingi kepandaiannya di dunia ini."

Menjilat pantat memang bisa membuat pantat seseorang jadi dingin, apalagi jilatan pantat kakek kurus itu bertubi-tubi.

"Aku tahu kau bukan Sebun Jui-soat karena aku tahu Dewa pedang itu berada di luar perbatasan," kakek kurus itu berkata pula, "aku pun tahu kau adalah Sukong Ti-sing, karena aku tahu selain Sukong Ti-sing di kolong langit tak ada orang kedua yang sanggup menyamar sebagai Sebun Jui-soat, lagi pula tak ada yang berani melakukan hal itu."

Sukong Ti-sing tertawa, ia mulai merasa kakek kurus yang misterius itu makin menarik, yang menjadi persoalan sekarang adalah siapa gerangan kakek itu?

Selama pertanyaan ini belum terjawab, biarpun Sukong Ti-sing adalah seekor kuda dan pantatnya dicambuk orang, ia tetap tak akan melepaskan kakek kurus itu.

"Sekarang kau sudah tahu siapa aku, boleh aku tahu siapa dirimu?" tanyanya kemudian.

"Boleh saja."

"Boleh? Sungguh?"

"Sungguh."

"Kalau begitu bolehkah beritahukan padaku sekarang?"

"Tidak boleh!"

"Kenapa?"

"Karena aku sendiri pun tak tahu siapakah aku, darimana aku bisa memberitahukan kepadamu?"

"Apakah masih ada orang lain yang bisa memberitahukan padaku?"

"Ada satu."

"Siapa?"

"Nenek yang duduk di sudut ruangan itu."

Semua nenek sama bentuknya. Begitu juga dengan nenek yang duduk di sudut ruangan itu.

Mungkin ia belum terlalu tua, mungkin juga sudah tua, mungkin ia berwajah menarik tapi mungkin juga berwajah kurang menarik.

Terlepas ia sudah tua atau tidak, menarik atau tidak, yang pasti ketika orang melihat ia hanya duduk dengan sopan di sudut ruangan, biarpun belum pernah melihat seorang perempuan, mereka tetap akan menganggapnya sebagai seorang nenek.

Sejak awal Sukong Ti-sing sudah merasa ia tidak mirip seorang nenek, tiada sesuatu yang janggal, tapi indera keenamnya mengatakan begitu. Tiga biji bintang.

Sukong Ti-sing tahu, orang yang sedang dihadapi bukan manusia, tapi sebiji bintang.

Seperti juga Liok Siau-hong, Sebun Jui-soat, Yap Koh-seng, bintang-bintang yang cemerlang.

Sepeti juga dirinya, sebuah bintang gemerlapan! Tapi ketika ia sadar bintang apa yang sebenarnya sedang ia petik, ia tak sadarkan diri.

Di kemudian hari si Kuah daging bercerita, "Dengan mata kepala sendiri kusaksikan Sukong Ti-sing berjalan menghampirj nenek itu, si nenek membisikkan sesuatu di sisi telinganya."

"Kemudian?"

"Kemudian aku lihat Sukong Ti-sing yang menyamar sebagai Sebun Jui-soat dan sengaja berlagak dingin, sadis tanpa perasaan berubah hebat wajahnya, dengan mata melotot ia mengawasi nenek itu tanpa berkedip, begitu besar matanya melotot, nyaris kedua bin matanya rontok ke tanah."

"Lalu?"

"Lalu aku lihat ia duduk di kursi, peluh bercucuran, matanya mendelong seperti orang kehilangan sukma, kemudian setelah menenangkan diri ia berdiri, tapi mulutnya komat-kamit seperti Tosu yang sedang membaca doa, entah sedang bicara dengan siapa?"

"Kau tidak mendengar apa yang ia komat-kamitkan?"

"Tidak."

"Sebenarnya siapa sih nenek itu?"

"Selama hidup kau tak bakal menyangka, biar Cukat Liang hidup kembali juga ia takkan bisa menebak siapa nenek itu. Ketika Sukong Ti-sing balik ke sisiku, mukanya persis orang yang baru ketemu setan berkepala besar, kepala yang lebih gede dari gilingan tahu."

Begitu melihat muka Sukong Ti-sing yang amat tak sedap dipandang itu, tidak tahan si Kuah daging bertanya, "Memangnya barusan kau melihat setan berkepala besar?"

"Tidak ... sayang, di sini mana ada setan kepala besar?"

"Sayang? Apa maksudmu?"

"Aku lebih suka berjumpa dengan setan berkepala besar."

"Jadi nenek itu jauh lebih menakutkan ketimbang setan berkepala besar?"

"Hmm!"

"Siapa dia?"

"Hmm!"

"Apa maksudmu?"

"Biarpun aku tahu juga takkan kukatakan, apalagi aku tidak tahu."

"Tampaknya kau sedang berbohong.”

Sukong Ti-sing ingin mendengus pun tak sanggup lagi.

Sesudah menghela napas panjang si Kuah daging berkata pula, "Sungguh tak disangka Sukong Ti-sing tak lebih orang macam begini, selain pintar berbohong juga pengecut bernyali kecil, baru saja orang membisikkan sesuatu, ia sudah ketakutan setengah mati macam cucu kura-kura saja, jangankan bicara, mau kentut pun tidak berani."

Mendadak Sukong Ti-sing berdiri, katanya, "Selamat tinggal!"

Belum selesai perkataan itu diucapkan, tubuhnya sudah tak kelihatan lagi.

Kini tinggal si Kuah daging duduk termangu-mangu di situ, percuma ia marah dan tertegun, semua berakhir tanpa hasil.

Jika Sukong Ti-sing ingin pergi, tak seorang pun bisa menghalangi, tak seorang pun dapat menyusulnya. Biar kemampuan si Kuah daging lebih hebat lagi, ia juga cuma bisa menyaksikan dengan mata terbelalak.

Bisa dibayangkan betapa dongkol dan gusarnya gadis itu.

Padahal pencuri itu sudah berjanji akan menemaninya pergi ke kota Ui-sik, tapi sekarang ia pergi begitu saja. Apa gunanya ia marah? Kecuali marah pada diri sendiri, apa yang bisa ia lakukan?

Suami istri misterius itu masih duduk di sudut ruangan sambil komat-kamit, kadang mereka menoleh ke arahnya dan tertawa.

Akhirnya si Kuah daging tak kuasa menahan diri, tiba-tiba badannya melejit ke udara, dengan langkah lebar ia menghampiri meja di sudut ruangan itu.

Begitu tiba di situ, si Kuah daging dibuat makin mendongkol dan gusar.

Ternyata hidangan yang disantap si kakek berwajah kuning dan si nenek berbadan bongkok itu jauh lebih banyak ketimbang jatah makan dua ekor kuda.

Hidangan yang mereka santap semuanya hidangan paling lezat yang biasa dimakan orang yang pandai menikmati masakan enak.

Kebetulan si Kuah daging termasuk orang yang pandai menikmati hidangan lezat, saat ini ia sedang kelaparan.

Yang membuatnya dongkol adalah kedua kura-kura tua itu tidak mempersilakan ia duduk, bahkan mengundangnya bersantap pun tidak.

Hati si Kuah daging tenang kembali.

Tiba-tiba ia duduk, duduk di bangku bekas Sukong Ti-sing, kemudian disambarnya sumpit di hadapannya dan tanpa sungkan lagi ia mulai menyikat hidangan di atas meja.

Dengan terperanjat nenek itu mengawasinya, lalu setelah menghela napas panjang, katanya, "Rasanya banyak perubahan yang telah terjadi tahun ini, padahal sewaktu masih nona, aku tak pernah berbuat begitu."

"Bagaimana keadaan kalian waktu itu?" si Kuah daging bertanya.

"Waktu itu walau ada orang mengundang makan pun belum tentu kami berani mengambil sumpit."

"O, jadi kalian tak berani mengambil sumpit? Berarti waktu itu kalian makan dengan tangan telanjang?"

Si kakek tertawa, sementara si nenek mendelik karena mendongkol, sebaliknya si Kuah daging tertawa cekikikan tiada hentinya, saking gelinya sampai sepotong ayam yang sudah disumpitnya lupa dimasukkan ke mulut.

Tiba-tiba ia merasa kedua kura-kura tua itu ternyata tidak memuakkan seperti yang dibayangkan semula.

Baru selesai ingatan itu melintas, mendadak si nenek menggenggam tangan gadis itu, lalu memandangnya dengan sinar mata iba dan simpati, ujarnya, "Nona cilik, pikiranmu harus lebih terbuka, jangan sekali-kali kau merasa bersedih."

"Sedih?" si Kuah daging tertegun, "siapa bilang aku sedang sedih?"

"Kau tidak sedih?"

"Kenapa aku mesti sedih? Nyonya tua, masa kau tidak tahu bahwa aku adalah seorang yang sangat terbuka?"

Si nenek menghela napas, kali ini ia tidak bicara lagi.

Si Kuah daging juga tidak bicara, ia siap melanjulkan santapannya, namun tiba-tiba mengurungkan niatnya.

Di antara si kakek dan si nenek yang misterius itu seakan-akan muncul sesuatu benda, yang membuat ia tak mampu menelan sisa hidangan yang ada.

Benda itu merupakan semacam perasaan yang sangat aneh, bahkan aneh luar biasa.

Dorongan perasaan yang sangat aneh itulah yang membuat si Kuah daging meletakkan sumpitnya.

"Nyonya tua, bukankah tadi kau mengatakan agar aku tidak bersedih," katanya.

"Hmm," nenek itu tidak menjawab, hanya menghela napas.

"Kalau begitu tolong tanya, untuk apa aku bersedih?"

"Aku sendiri tidak tahu, keadaan belakangan ini telah banyak berubah, aku sendiri tidak tahu apakah urusan semacam ini dapat membuat orang bersedih."

Kemudian setelah menghela napas lagi, lanjutnya, "Aku hanya tahu, sewaktu kami masih kecil, bila menghadapi kejadian seperti ini bukan saja hati kami amat sedih, bahkan secara diam-diam menangis."

Si Kuah daging mulai panik, ia mulai gelisah, lalu desaknya, "Nyonya tua, sebenarnya apa yang terjadi?"

"Tahukah kau Sebun Jui-soat telah tiba di kota Ui-sik?"

"Ya, baru saja kudengar berita itu."

"Tahukah kau apa sebabnya ia pergi ke sana?"

"Katanya pergi mencari Liok Siau-hong, bagaimanapun juga ia adalah sahabatnya."

"Kau keliru, dia ke sana bukan untuk mencari Liok Siau-hong, karena di dunia ini tak ada orang yang bisa menemukan Liok Siau-hong."

"Kenapa?"

"Sebab orang hidup tak mungkin bisa menemukan orang mati, jika orang hidup ingin menemukan orang mati, maka ia mesti mati lebih dulu. Sebun Jui-soat bukan pergi untuk mati, ia pergi untuk membalas dendam bagi Liok Siau-hong."

Liok Siau-hong sudah tewas di kota Ui-sik, tak bisa disangkal berita itu dengan cepat menyebar ke seluruh dunia persilatan.

Tampaknya si kakek dan si nenek bukan termasuk orang yang suka berbohong, kalau tidak, mana mungkin mereka bisa membuat kaget Sukong Ti-sing hingga kabur terbirit-birit?

Si Kuah daging sendiri tidak tahu dengan cara bagaimana ia menuruni rumah makan itu, lebih-lebih tak tahu bagaimana reaksinya waktu mendengar berita itu.

Ia hanya tahu saat ini sudah duduk di bawah sebatang pohon besar dan rindang, bahkan sudah menangis hingga berubah jadi seorang gadis penuh air mata.

Zaman dulu sampai sekarang sama saja keadaannya, seorang gadis normal yang punya perasaan pasti akan bersedih untuk lelaki yang dicintainya.

Dalam hal yang lain mungkin sikap serta tindakan si Kuah daging agak berbeda dengan orang kebanyakan, tapi perasaannya sama sekaii tidak di bawah perasaan perempuan mana pun.

Air matanya yang bercucuran, tidak lebih sedikit ketimbang air mata orang lain.

--00—

Angin berhembus kencang menerbangkan pasir kuning di tepi perbatasan. Kota Ui-sik, sebuah kota yang terlupakan oleh waktu, penduduk kota Ui-sik memang sengaja melupakan waktu.

Terlepas dilupakan atau melupakan, ada satu persamaan di antara keduanya, yaitu kota Ui-sik sama sekali tidak berubah.

Ketika pertama kali mengayunkan langkah memasuki kota Ui-sik, yang terlihat pertama kali oleh Sebun Jui-soat adalah seorang pengemis yang berbaring di tepi jalan.

Tentu saja si pengemis itu adalah anak murid angkatan kedua puluh tiga Kay-pang, Ui Siau-cong. Ketika Ui Siau-cong melihat kehadiran Sebun Jui-soat, sinar matanya yang berbinar persis sama ketika melihat Liok Siau-hong.

Tapi Sebun Jui-soat bukan Liok Siau-hong.

Kalau  Liok  Siau-hong  segera  mencari  tahu  dimana  letak rumah penginapan, Sebun Jui-soat hanya menatapnya dengan sorot mata dingin.

Sinar mata dingin itu seakan anak panah yang langsung menghujam hati Ui Siau-cong.

"Kau ingin mencari rumah penginapan?" tanyanya kemudian.

Sebun Jui-soat tidak menjawab, kadangkala membungkam merupakan semacam jawaban, paling tidak bagi orang macam Ui Siau-cong yang sudah terbiasa bicara menurut perubahan wajah orang, kebungkaman Sebun Jui-soat dianggap sebagai jawaban.

Rumah kelontong milik si Mata besar yang terbuat dari kayu masih tetap seperti sedia kala, di situ masih tersedia sebuah ranjang kayu, di atas ranjang terbentang seprei berwarna putih, hanya bedanya, seprei itu nampak bersih, baru dan sangat putih, seputih pakaian yang dikenakan Sebun Jui-soat.

Ui Siau-cong mengawasi mata Sebun Jui-soat tanpa berkedip, sementara sorot mata Sebun Jui-soat terpancang pada kertas merah yang ditempelkan di atas ranjang kayu, kertas yang bertuliskan beaya sewa kamar dan makanan.

Ui Siau-cong ingin mencari tahu sesuatu dari perubahan wajah Sebun Jui-soat, tapi wajah orang itu seakan salju beku berusia ribuan tahun, dingin dan keras, seakan ditusuk dengan pedang pun tak tembus, apalagi hanya dengan sepasang mata?

Terpaksa Ui Siau-cong berkata sambil tertawa, "Inilah satu-satunya tempat menginap di kota Ui-sik, Kongcu puas bukan?”

“Tentu saja puas, selain tidur dan makan, permintaan apapun dapat kami layani dengan baik, masakah tidak puas?"

Tentu saja yang menjawab bukan Sebun Jui-soat, karena suara itu merdu dan nyaring, sudah jelas suara seorang perempuan.

Menyusul Laopan Nio berjalan masuk sambil meliuk-liukkan badannya.

Dengan senyuman genit dan goyangan pantat merangsang ia berjalan ke hadapan Sebun Jui-soat, "Kongcu ...."

Tiba-tiba Laopan Nio menutup mulut, bukan saja perkataannya tidak diselesaikan, senyuman genit di wajahnya pun seketika hilang tak berbekas.

Salju, bila bertemu cahaya matahari yang hangat pasti akan mencair, akan tetapi bila bongkahan salju yang telah membeku ribuan tahun, jangankan mencair, malah sebaliknya cahaya matahari yang berubah, berubah jadi dingin dan suram.

Wajah Sebun Jui-soat yang dingin sudah cukup membuai Laopan Nio tak tahan, jangankan menanggapi, melirik sekejap ke arah perempuan itupun tidak, ia segera membalikkan badan dan pergi dari situ.

Dalam keadaan begini, bagaimana mungkin Laopan Nio dapat melanjutkan perkataannya dan senyumnya tidak lenyap?

"Kongcu ... Kongcu ...." Ui Siau-cong memanggil sambil mengintil di belakangnya.

Sebun Jui-soat seperti orang tuli, ia melanjutkan langkahnya menuju ke depan pintu toko kelontong

Bagi Ui Siau-cong, tindakan semacam ini termasuk juga jawaban.

Ui Siau-cong kecewa pada Ong Toa-yan dan Laopan Nio, sikapnya apa boleh buat, lalu ia pentang mulut hendak mencaci-maki Sebun Jui-soat.

Mulutnya sudah terpentang lebar, namun keburu tertegun, dengan mata terbelalak ia mengawasi pintu toko tanpa berkedip.

Sebun Jui-soat! Baru saja kakinya melangkah masuk, tiba-tiba ia memutar badan dan kembali keluar.

Sekulum senyuman tersungging di ujung bibir Laopan Nio, senyumannya secerah bunga yang mekar di musim semi.

Sayang Sebun Jui-soat adalah Sebun Jui-soat, ia masih juga tidak memandang ke arah Laopan Nio. Sorot matanya tidak melihat manusia tapi benda.

Tangannya bergerak, bergerak mengikuti sorot matanya, lalu mengambil sebuah obor dan mercon dari atas rak.

Dengan tangan kiri ia comot obor serta mercon itu, sementara tangan kanan menyentil ke depan, sekeping uang segera terjatuh di atas meja kasir.

Tingkah laku Sebun Jui-soat menarik rasa ingin tahu Laopan Nio, tak kuasa ia ikut keluar.

Buat apa Sebun Jui-soat membeli obor dan mercon?

Ketika Sebun Jui-soat melangkah di jalanan berpasir di kota Ui-sik, mercon dalam genggamannya tiba-tiba mendesis, lalu meluncur ke tengah udara.

Ketika meledak, mercon itu memancarkan cahaya api ke empat penjuru, kemudian terhembus angin berpasir dan lenyap.

Kemana Sebun Jui-soat akan pergi?

Laopan Nio sekalian tahu, arah yang dituju bukan meninggalkan kota itu.

Ia tidak meninggalkan kota Ui-sik, bahkan mencari sebuah batu besar di tepi jalan dan duduk di situ bagai seorang pendeta tua, mirip sebongkah es yang sepanjang tahun tak pernah ketemu cahaya.

--00—

Bersambung ke 7

Bagian 7

Matahari telah tenggelam di balik bukit, cahaya senja merah menghiasi seluruh langit, ketika cahaya membias di atas tubuh Sebun Jui-soat yang putih, terpantullah selapis cahaya berkilauan yang memedihkan mata.

Angin berhembus makin kencang. Suaranya keras, namun tak dapat menutupi suara derap kaki kuda yang sangat ramai.

Menyusul dua puluh empat ekor kuda telah muncul di jalan berpasir menuju kota Ui-sik.

Kuda-kuda itu berlari sangat cepat dan tiba-tiba berhenti, berhenti di luar kota Ui-sik.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun semua penunggang kuda itu melompat turun, kedua puluh empat ekor kuda membentuk garis memanjang.

Siapa mereka? Mau apa datang kemari?

Pertanyaan ini melintas dalam benak Laopan Nio sekalian.

Kedua puluh empat orang melompat turun dari kuda dengan gerakan sangat terlatih, mulai melakukan tugas dan pekerjaan, bangga pengemis cilik itu berkata.

"Kau tahu?"

"Ya."

"Coba katakan mau apa mereka kemari?"

"Mereka datang mengantar air untuk mandi."

Kontan Laopan Nio mengangkat tangan siap menjitak batok kepala pengemis cilik itu, tapi tidak benar-benar dilakukan, bukan lantaran pengemis cilik itu mengegos, melainkan karena secara tiba-tiba Laopan Nio telah memahami sesuatu.

Sekarang ia tahu, pengemis cilik itu bukan sedang mengerjai dirinya. Kedatangan rombongan itu memang khusus mengantar air mandi.

Maka dengan mata terbelalak dan mulut melongo ia berseru, "Jadi ia benar-benar adalah Sebun Jui-soat?"

"Omong kosong, selain Sebun Jui-soat, siapa lagi yang berani masuk ke kota Ui-sik tanpa mengucapkan sepatah kata pun?"

"Betul. Kecuali Sebun Jui-soat, siapa lagi yang suka kebersihan? Siapa lagi yang enggan menginap di hotel paling megah di kota Ui-sik ... toko kelontong milikku?" Lopan toko kelontong itu seakan berubah jadi sangat pintar.

"Untuk sampai di kota Ui-sik, orang harus menempuh perjalanan sehari penuh dengan diterpa pasir kuning, kecuali Sebun Jui-soat, siapa lagi yang teringat untuk mandi dan ganti pakaian?" kata si pengemis cilik dengan bangga.

Mendadak Laopan Nio mengernyitkan alis.

"He, kenapa kau?" pengemis cilik menegur.

"Kenapa? Masa kau tidak melihat, berapa banyak anak buah yang diajak Sebun Jui-soat?"

"Soal itu kau tak perlu kuatir," tukas pengemis cilik sambil tertawa, "jika Sebun Jui-soat meraih kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak, dari dulu ia sudah bukan Sebun Jui-soat. Selama hidup ia selalu melakukan sepak terjangnya seorang diri."

"Lalu bagaimana dengan orang-orang berbaju hitam itu?"

"Mereka tak lebih hanya sekawanan pelayan yang khusus bertugas melayani keperluannya. Penampilan Sebun Jui-soat tak ubahnya seperti hartawan kaya, bukan seorang pendekar pedang."

Kening Laopan Nio yang semula berkerut kencang kini kembali normal.

Ternyata kawanan berbaju hitam itu memang datang untuk mengantar air mandi buat Sebun Jui-soat, begitu semuanya siap, Sebun Jui-soat bangkit berdiri dan berjalan menuju tenda.

"Mari kita pergi!" kata Lopan toko kelontong ketika melihat Sebun Jui-soat masuk ke dalam tenda, lalu ia berbalik dan kembali ke tokpnya.

"Pergi? Kalau mau pergi, kalian boleh pergi lebih dulu," jawab Laopan Nio.

"Kenapa? Memangnya kau ingin melihat Sebun Jui-soat mandi?" pengemis cilik membelalakkan mata.

"Dasar anak pintar, sekali tebak sudah benar," Laopan Nio tertawa cekikikan.

"Apa bagusnya melihat orang mandi?" tanya Lopan toko kelontong.

"Kalau orang lain yang mandi memang tidak menarik, tapi yang mandi adalah jago pedang kenamaan macam Sebun Jui-soat, jelas peristiwa ini merupakan pertunjukan yang sangat langka."

Dengan kening berkerut Lopan toko kelontong segera membalikkan badan, siap meninggalkan tempat itu.

"Tunggu sebentar!" tiba-tiba pengemis cilik berteriak.

"Ada apa? Memangnya kau pun ingin mengintip Sebun Jui-soat mandi?"

"Sstt, coba dengar!"

Suara derap kaki kuda.

Lopan toko kelontong segera memandang ke arah pengemis kecil, si pengemis memandang ke arah Laopan Nio, sedang Laopan Nio berbalik memandang Lopan toko kelontong.

Tak aneh kalau mereka saling pandang, tenda sudah didirikan, air mandi sudah digotong masuk, pakaian bersih sudah diantar, keempat nona yang melayani mandi pun sudah tiba, lalu mau apa pendatang itu kemari?

Dengan cepat kuda itu mulai kelihatan, juga penunggangnya.

Kali ini bukan lelaki berbaju hitam yang menunggang kuda, melainkan seorang nona berbaju kembang-kembang.

Nona itu melarikan kudanya amat kencang dan mendekati tenda, begitu melompat turun, langsung menyelinap masuk ke balik tenda.

Hanya sebentar ia berada dalam tenda itu, lalu keluar kembali. Sesudah keluar, ia tidak lagi menungggang kudanya, melainkan menuntun kuda itu mendekati Laopan Nio.

"Itu dia, kau bakal dapat order," ujar pengemis cilik kepada Lopan toko kelontong.

"Order apa?"

"Kama bobrok di belakang rumahmu bakal disewa orang malam ini."

"Darimana kau tahu?"

"Masa kau tidak melihat perempuan itu hanya masuk sebentar lalu keluar lagi? Ia pasti ingin numpang menginap dalam tenda Sebun Jui-soat tapi segera diusir keluar, Sebun Jui-soat pasti sudah memberitahukan satu-satunya kamar mewah yang ada dalam toko kelontongmu kepadanya, kamar paling megah di kota Ui-sik."

"Sejak kau melihat Sebun Jui-soat, sudah berapa patah kata yang ia ucapkan?" tanya Lopan toko kelontong.

"Tak sepatah kata pun."

"Kau sangka Sebun Jui-soat bakal mengobral kata untuk memberitahukan kamar mewahku kepada perempuan itu?"

Pengemis cilik garuk-garuk kepalanya yang tak gatal, segera katanya lagi, "Diberitahu atau tidak bukan masalah, toh di kota Ui-sik hanya kamar di tokomu yang bisa disewa, jika ia ingin mondok malam ini, berarti kau bakal mendapat order."

Lopan toko kelontong tidak menanggapi perkataannya, karena perempuan itu sudah mendekati mereka.

"Kau ingin mencari kamar pondokan?" tiap kali melihat nona berparas cantik, mata pengemis cilik selalu nampak berkilauan.

"Memang aku mau cari tempat menginap, tapi itu urusan kedua."

"Aku tahu apa urusanmu yang perlama," wajah pengemis cilik semakin bersinar.

"Kau benar-benar tahu?"

"Tentu saja, biasanya orang yang mencari penginapan adalah orang yang melakukan perjalanan, perutnya tentu lapar, pekerjaan pertama yang ingin ia lakukan pasti menangsal perut, maka persoalan pertamamu adalah ingin tahu dimana bisa membeli makanan enak, bukankah begitu?"

"Salah!"

"Oya?"

"Pertama, kalau ingin makan, aku pasti akan makan rangsum yang kubawa sendiri. Kedua, sebelum datang kemari aku sudah makan kenyang."

"Lantas kau ...."

"Aku kemari untuk menyampaikan pesan."

"Menyampaikan pesan? Pesan siapa?"

"Pesan Sebun Jui-soat."

Pengemis cilik tak mampu berkata lagi, ia hanya melongo.

"Pesan apa yang hendak disampaikan?" akhirnya Laopan Nio bertanya.

"Ketika aku masuk ke dalam tenda, tahukah kau apa yang ia katakan?"

"Apa yang ia katakan?" tanya pengemis cilik.

"Enyah!"

"Maka kau pun datang kemari? Berarti ia tidak menyuruhmu menyampaikan pesan!"

"Ada!"

"Ada? Aku tak mengerti," pengemis cilik itu garuk-garuk kepala lagi.

"Sebentar kau bakal mengerti. Karena yang disuruh enyah bukan aku, melainkan kalian!"

"Darimana kau tahu kalau bukan kau yang disuruh enyah? Mana mungkin ia menyuruh kami enyah? Toh kau yang memasuki tendanya?"

"Benar, tapi memasuki tenda orang bukan pelanggaran, yang melanggar adalah mengintip orang sedang mandi."

Perempuan itu menengok ke arah Laopan Nio, lalu melanjutkan, "Walaupun yang ingin ia sampaikan hanya kata 'enyah', tapi arti sesungguhnya adalah minta kalian segera enyah dari sini, jangan mengintip lelaki sedang mandi."

"Apa hubunganmu dengannya?" tanya Laopan Nio, "apakah kau cacing pita dalam perutnya? Kalau tidak, darimana kau tahu maksudnya?"

"Tentu saja aku tahu."

"Kenapa?"

"Karena ia adalah sahabatku, Sebun Jui-soat belum pernah menyuruh temannya enyah dari hadapannya."

Laopan Nio tidak bicara lagi, pengemis cilik serta Lopan toko kelontong juga tak bicara.

--00—

Selesai membaca kertas merah Jiang tertempel di dinding bagian dalam rumah kecil di belakang toko kelontong, perempuan itu berkata kepada Laopan Nio, "Kuputuskan untuk menyewa kamar ini, apakah harus bayar di rnuka?"

"Tentu saja," jawab pengemis cilik cepat.

"Aku bukan bertanya kepadamu, siapa yang menjadi Lopan tempat ini?"

Pengemis cilik tidak bicara lagi.

Setelah menerima 50 keping mata uang, Laopan Nio mengerling sekejap ke arah pengemis cilik, kemudian beranjak keluar kamar.

"Tunggu sebentar," tiba-tiba perempuan itu berseru.

"Ada apa? Ingin menyampaikan pesan Sebun Jui-soat lagi?"

"Heran, darimana kau tahu?"

Benarkah pesan Sebun Jui-soat?

Sambil garuk-garuk kepala, seru pengemis cilik, "Bukankah ia hanya mengucapkan kata 'enyah'?"

"Benar, tapi tahukah kau bahwa perkataan itu mengandung arti yang sangal luas?"

"Darimana aku tahu? Kau benar-benar tak tahu aturan!"

"Sekarang baru kau tahu? Tahukah kau siapa namaku? Aku bernama si Kuah daging, nama ini sudah cukup bukan?"

Lagi-lagi pengemis cilik tak sanggup bicara.

"Dengarkan baik-baik, kata Sebun Jui-soat seluruh penghuni kota ini mulai besok pagi hingga matahari menyinari pantat kalian, secara bergilir kalian harus mendatangi tendanya, ia ingin rnengajukan pertanyaan."

"Dia sangka siapa dirinya? Memangnya kaisar?" jengek pengemis cilik sinis.

"Tepat, mulai saat ini dialah kaisar kota Ui-sik!" si Kuah daging menegas.

"Kalau kami tak bersedia?" tanya Iopannio.

"Tidak bersedia? Boleh saja, mungkin di kemudian hari sudah tak ada kesempatan lagi."

"Kenapa?"

"Bagaimana mungkin orang yang tak berkaki bisa berjalan ke sana?"

--00—

Cahaya matahari membuat debu yang beterbangan nampak jelas. Cahaya matahari pun membuat tenda putih yang berdiri di luar kota Ui-sik nampak lebih menyolok.

Kain tenda di bagian depan tersingkap sedikit ke samping, terlihal jelas sebuah meja yang tertata rapi di tengah tenda, tampak pula dua orang yang sedang duduk di tepi meja.

Seorang berwajah dingin kaku tak lain adalah Sebun Jui-soat. sedang yang lain menebar senyuman cerah, si Kuah daging.

Di atas meja tersedia sayur, juga penganan. Di situ pun terdapat arak, tentu saja arak keras.

Sambil menuding bayangan manusia yang sedang berjalan mendekat dari kota Ui-sik, bisik si Kuah daging, "Sudah datang!!"

Wajah Sebun Jui-soat tetap dingin, kaku, tanpa perasaan.

Kelihalannya si Kuah daging sama sekali tak keberatan dengan sikapnya yang dingin kaku itu, katanya dengan suaranya yang merdu bagaikan lonceng, "Semalam aku mengumpulkan seluruh penghuni kota Ui-sik untuk datang menghadap satu per satu, coba lihat. sekarang orang pertama sudah datang."

Sebun Jui-soat belum bicara, ia mengangkat cawannya, lalu perlahan-lahan menghirup arak dalam cawan.

"Bila mereka sudah datang, aku mewakilimu mengajukan pertanyaan, mencari tahu kabar Liok Siau-hong, bagaimana menurut pendapatmu?"

Masih belum ada jawaban.

"Tapi aku mesti jelaskan lebih dulu, apa yang kukatakan berdasarkan pendapatmu, bila pembicaraan kurang lancar hingga mereka ingin bertarung, itu urusanmu."

Sebun Jui-soat masih belum bicara, ia hanya menggunakan sorot matanya yang dingin, mengawasi orang yang sedang berjalan masuk ke dalam tenda.

"Siapa yang datang?" tegur si Kuah daging.

Orang itu memandang sekejap ke arah Sebun Jui-soat, tapi begitu menatap sorot mata yang dingin bagaikan mata panah, segera ia alihkan sorot matanya ke wajah si Kuah daging .

"Aku she Tio, si Buta Tio."

"Matamu tidak buta, kenapa dipanggil si Buta Tio?"

"Sama seperti nona, aku tidak mengendus bau daging, juga tidak melihat ada kuah daging yang mengepul, kenapa disebut si Kuah daging?"

"Ehm, lihai benar mulutmu, aku malas bersilat lidah, sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan, dengarkan baik-baik, pertanyaan ini bukan pertanyaanku, aku hanya mewakili Sebun Jui-soat, jadi kau mesti menjawab sejujurnya, kalau tidak, hm, jangan sampai dirimu berubah seperti julukanmu."

"Berita apa yang ingin nona ketahui?"

"Bukan aku yang ingin tahu, Sebun-tayhiap yang ingin tahu."

"Ya!"

"Baik, pernahkah kau berjumpa Liok Siau-hong?"

"Pernah."

"Dimana?"

"Di sini."

"Bagus, dimana dia sekarang?"

"Sudah mati."

"Mati?" si Kuah daging membelalakkan mata dengan mulut melongo.

Sementara Sebun Jui-soat masih tidak menunjukkan reaksi apapun.

"Kau tidak membohongi aku?" suara si Kuah daging terdengar gemetar.

"Bila tidak percaya, boleh kau tanya pada orang berikutnya."

"Tentu saja aku tak percaya, siapa yang percaya Liok Siau-hong mati? Kau percaya?"

Si Kuah daging menengok ke arah Sebun Jui-soat, suaranya masih gemetar.

Sebun Jui-soat tidak menjawab, matanya mengawasi orang yang muncul di jalan raya kota Ui-sik.

Orang itu adalah si pengemis cilik.

Selanjutnya Lopan toko kelontong, lalu Laopan Nio. Mereka memberikan jawaban yang sama.

"Liok Siau-hong sudah mati."

Apakah si Kuah daging percaya?

"Aku tidak percaya, masih ada seorang lagi, jika dia pun mengatakan. Liok Siau-hong sudah mati, mungkin aku bakal percaya."

"Siapa?" sebelum meninggalkan pintu Laopan Nio bertanya.

"Sah Toa-hu!"

Sah Toa-hu tidak datang, yang muncul salah satu kacungnya. Kacung keluarga Sah datang dengan membawa sepucuk surat undangan, ditujukan kepada Sebun Jui-soat yang sangat dikagumi, mengundangnya makan malam bersama.

Selesai membaca tulisan yang tertera di undangan itu, si Kuah daging mendongkol bercampur panik, tiba-tiba ia mengeluarkan tiga buah tanda waktu dari pasir.

Ia letakkan ketiga tanda waktu itu di atas meja, lalu ujarnya kepada kacung itu, "Sudah kau lihat ketiga tanda waktu itu?"

Kacung itu mengangguk.

"Bila kubalik, maka pasir akan mulai mengalir ke bagian bawah, ketika pasir itu habis, berarti sudah saatnya kau balik ke rumah Sah Toa-hu, mengerti?"

Kacung itu mengangguk.

"Tanda waktu yang kedua akan kubalik" saat yang pertama habis, ketika pasir habis, berarti saatnya Sah Toa-hu tiba di sini mengerti?"

Kembali kacung itu mengangguk.

"Tanda ketiga tak perlu digunakan lagi jika Sah Toa-hu telah datang, tapi bila ia menolak datang, maka sebelum pasir ketiga habis, batok kepalanya pasti sudah melayang meninggalkan raga, kau percaya tidak?"

"Aku percaya."

"Kalau begitu cepatlah pulang, sekarang juga aku akan mulai menuang pasir yang pertama."

Kacung itu ketakutan hingga mukanya pucat, bagaikan seekor anjing digebuk, ia kabur terbirit-birit.

Tanda waktu pasir pertama sudah hampir habis tertuang, si Kuah daging memandang Sebun Jui-soat sekejap, lalu tanyanya, "Seharusnya kacung itu sudah tiba di rumah bukan?"

Sebun Jui-soat tidak menjawab, matanya bahkan tak pernah melirik sekejap pun ke arah tanda waktu itu.

Si Kuah daging telah membalik tanda waktu kedua, tangannya sedikit gemetar.

Apakah ia takut akan kedatangan Sah Toa-hu? Ataukah takut jika Sah Toa-hu pun mengatakan Liok Siau-hong telah mati?

Akhirnya Sah Toa-hu datang.

Pasir mesin waktu kedua sudah hampir habis tertuang.

Dari jauh tampak bayangan Sah Toa-hu sedang mendekat dengan langkah terburu-buru.

Sekujur tubuh si Kuah daging mulai gemetar, menggigil.

Kali ini Sebun Jui-soat pun dapat merasakan si Kuah daging sedang menggigil, katanya, "Tenang!"

Biarpun hanya sepatah kata, namun mendatangkan reaksi yang cukup menghangatkan badan, si Kuah daging tidak menggigil lagi.

Si Kuah daging benar-benar tenang kembali, dengan nada amat tenang, ujarnya kepada Sah Toa-hu yang sedang mendekati tenda.

"Jadi kau yang bernama Sah Toa-hu?"

"Betul, setiap penghuni kota ini memanggil aku Sah Toa-hu."

"Ehm, kau memang mirip dari keluarga besar."

"Nona terlalu memuji."

"Aku tidak memujimu, sebagai kepala keluarga sebuah keluarga besar, kau mesti tahu diri, orang yang tidak tahu diri mana mungkin bisa menjadi kepala keluarga di tempat semacam ini?"

Sah Toa-hu tertawa.

Kembali si Kuah daging berkata, "Apakah selanjutnya kau masih bisa menjadi kepala keluarga, itu belum pasti."

"Oya? Kenapa?"

"Sebab harus dibuktikan dulu, apakah sekarang kau sudah tahu diri dan pandai menyesuaikan diri dengan kenyataan."

"Kalau aku tak tahu diri, tak pandai menyesuaikan diri dengan kenyataan, buat apa berdiri di sini?"

"Bagus sekali, kalau begitu sekarang aku mewakili Sebun-tayhiap mengajukan pertanyaan kepadamu, kau harus menjawab dengan sejujurnya."

"Pertanyaan apa? Apakah sama seperti pertanyaan yang hari ini kau ajukan kepada seluruh penghuni kota?"

"Kalau memang sudah tahu. langsung saja jawab."

"Aku mesti menjawab apa?"

"Jawab saja sejujurnya."

"Sejujurnya? Biar aku menjawab sejujurnya pun kalian tetap tak percaya!"

Paras si Kuah daging berubah hebat, pucat-pasi. Mulutnya ternganga lebar, namun tak sepatah kata pun sanggup diucapkan.

Setetes air mata mengembeng di ujung matanya dan makin lama makin bertambah besar, akhirnya perlahan-lahan meleleh ke bawah rnembasahi pipinya.

Kembali ia berkata dengan suara terisak, "Maksudmu ... dia ... dia sudah ... sudah mati?"

"Ya, dia sudah mati!" tiba-tiba suara Sah Toa-hu berubah sangat dingin.

Si Kuah daging tidak sanggup bicara lagi, dengan sepasang tangannya ia menutupi wajah.

Kembali Sebun Jui-soat bertanya, "Kau punya bukti?"

"Punya!"

Bukti terbaik tentu saja kalau dapat melihat jenazah Liok Siau-hong. Untuk melihat jenazah Liok Siau-hong, tentu saja harus berkunjung ke toko penjual peti mati. Ini menurut pandangan Sah Toa-hu.

Biasanya jenazah akan dikebumikan di pekuburan, kenapa untuk melihat jenazah harus berkunjung ke toko penjual peti mati?

Sebab tak ada orang yang mengurusi jenazah, penghuni kota Ui-sik tak bakal mengubur jenazah orang yang telah mati.

Itupun menurut Sah Toa-hu.

Sah Toa-hu sudah selesai berkata, mereka pun tiba di toko penjual peti mati, segala sesuatu telah diperhitungkan dengan matang, mereka sudah berdiri di depan pintu..

Si Buta Tio sudah tahu mereka bakal datang ke situ, sambi! mendengus dingin, katanya, "Perkataanku tidak kalian percaya, ucapan Sah Toa-hu baru kalian percaya. Ini namanya jawaban yang benar pun tergantung status sosial."

Perkataannya sangat masuk akal, tak ada yang bicara, semua orang tidak menaruh perhatian kepadanya, sama sekali tidak peduli kehadirannya, mereka hanya mengayunkan langkah, memasuki toko penjual peti mati.

Kali ini si Kuah daging benar-benar menangis, isak tangisnya keras sekali.

Ia sudah melihat peti mati, telah melihat pula meja abu yang berada di depan peti mati, siapa yang tidak sedih?

Malah Sebun Jui-soat yang selalu tampil dingin, kaku, tanpa perasaan pun kelihatan wajahnya sedikit berubah.

Sebab di atas leng-pay tertulis: "Sahabat lama Liok Siau-hong".

Kata Sebun Jui-soat, "Buka!"

"Sudah kuduga pasti ada yang akan datang menengoknya," kata si Buta Tio, "oleh sebab itu tutup peti mati ini tak dipaku."

"Buka!" kata Sebun Jui-soat singkat dan sederhana.

Si Buta Tio memandang Sah Toa-hu sekejap, lekas mereka menggeser penutup peti mati itu.

Suara tangis si Kuah daging bertambah keras dan nyaring.

Tiba-tiba si Buta Tio menatap si Kuah daging, tegurnya, "Buat apa kau menangis, apakah kau yakin tubuh yang terbaring dalam peti mati itu Liok Siau-hong?"

Si Kuah daging tidak menangis lagi, dengan melotot ia mengawasi si Buta Tio. Lalu perlahan-lahan berjalan menuju ke tepi peti mati.

Dengan seksama si Kuah daging memeriksa jenazah dalam peti mati itu, ia periksa wajahnya, luka mematikan di atas dadanya.

Kemudian tiba-tiba ia tertavva.

Ia mendongakkan kepala sambil terlawa terbahak-bahak, lalu menuding si Buta Tio, serunya, "Kau memang sangat menarik, kau bilang ia bukan Liok Siau-hong ...."

Mendadak suara tawanya berubah amat mengenaskan.

Lama sekali Sebun Jui-soat mengawasi tubuh Liok Siau-hong, parasnya sama sekali tak berubah.

Ia memandang terus, hingga suara tawa si Kuah daging yang mengenaskan berubah jadi jeritan tangis, lalu sesenggukan, setelah itu baru ia berkata, "Tutup!"

Ketika peti mati ditutup si Kuah daging pun tidak menangis lagi, tiba-tiba Sebun Jui-soat berkata pula, "Turun!"

Sewaktu mengucapkan perkataan itu, kepala Sebun Jui-soat sama sekali tidak menengadah. Justru yang menengadah adalah si Kuah daging, Sah Toa-hu serta si Buta Tio.

Begitu mendongak, mereka lihat orang itu bergelantungan di wuwungan rumah, wajahnya menghadap jendela.

Orang itu melompat turun.

"Pengemis cilik!" tegur si Buta Tio, "mau apa kau sembunyi di luar jendela? Ingin mencuri peti matiku?"

"Sialan, tutup bacot busukmu, buat apa aku mencuri peti mati. Kalau terpaksa mencuri, buat siapa lagi kalau bukan untukmu?"

"Lantas mau apa kau di situ?"

"Tak apa-apa, hanya datang mengantar surat undangan."

"Mengantar surat undangan? Untuk siapa?"

"Bukan untukmu, tampang busukmu menyeramkan, siapa yang mau memberi undangan? Aku mengantar undangan untuk Sebun-tayhiap."

Isi undangan hanya terdiri beberapa patah kata: "Lama mengagumi nama besar Tayhiap, meski aku hidup terasing kehadiranmu harus disambut, besok tengah hari, dengan air teh khusus menyambut kedatanganmu".

Apakah Sebun Jui-soat akan datang memenuhi undangan?

Tentu saja tak mungkin ia datang untuk mencari Liok Siau-hong, kini Liok Siau-hong sudah mati dan ia harus menyelidiki sebab kematiannya, mana ada selera minum teh?

Tapi ia tetap akan menghadirinya.

Sebab di surat undangan itu masih tertera sebaris tulisan, "Aku mengetahui sedikit kabar sebab kematian Liok-tayhiap."

Bila ingin tahu siapa yang paling tidak sopan, jawabannya mudah sekali.

Sebun Jui-soat.

Seorang yang tidak banyak bicara, tentu saja ia pun tak bakal mengucapkan perkataan basa-basi yang tak berguna.

Asal memahami watak dan kebiasaan Sebun Jui-soat, mereka tak bakal menganggapnya seorang yang tak tahu sopan santun.

Oleh sebab itu dalam dunia persilatan tinggal tersisa satu orang yang benar-benar tak mengerti sopan santun.

Si Kuah daging.

Bukan saja ia tak kenal sopan santun, bahkan ia pun tak mau membicarakan soal sopan santun.

Maka ketika berjumpa Kiong So-so, dengan nada mendesak ia menegur, "Kau tahu sebab kematian Liok Siau-hong?"

Dalam hal mengendalikan diri, Kiong So-so adalah yang terbaik.

Sehabis mendengar kata-kata si Kuah daging, Kiong So-so tidak menjadi gusar, bahkan parasnya sama sekali tak berubah, ia masih tampil dengan sikapnya yang anggun, dingin dan cantik.

Sesudah menghela napas panjang, ujarnya, "Orang baik kenapa justru mati dalam usia muda?"

"Siapa yang mernbunuhnya?" tanya si Kuah daging.

Kembli Kiong So-so menghela napas panjang.  "Liok Siau-hong adalah orang yang paling kukagumi, ternyala ia tewas di kota Ui-sik, aku sungguh merasa sedih."

"Seharusnya akulah yang paling sedih," sela si Kuah daging.

"Kenapa?"

"Masa kau tidak tahu hubunganku dengannya? Cepat katakan, siapa pembunuhnya? Aku pasti membalaskan dendam baginya."

"Siapa pembunuhnya? Siapa yang mampu membunuh Liok Siau-hong? Tentu hanya orang yang paling dekat dengannya, hanya dialah yang dapat membuatnya lengah."

"Siapa?"

"Kau akan segera mengetahuinya. Aku telah mengutus orang mengundangnya, sebelum mereka kemari, bagaimana kalau kita minum satu dua cawan, anggap saja sebagai penghormatan kita bagi arwah Liok-tayhiap?"

Kembali Kiong So-so menghela napas panjang, ia mengambil cawannya dan meneguk habis isinya

Kuah daging meneguk juga isi cawannya hingga habis.

Bahkan Sebun Jui-soat pun dengan cepat menenggak habis arak dalam cawan, lalu meletakkan kembali cawan itu di atas meja.

Saat tangan kanannya masih memegang cawan, dari balik tirai sutera, persis di belakang tubuhnya, tiba-tiba meluncur seseorang.

Seorang perempuan yang menggenggam pedang.

Saat Sebun Jui-soat meletakkan cawan adalah kesempatan terbaik untuk menghabisi nyawanya. Ia baru selesai menghabiskan isi cawannya, seluruh konsentrasinya belum terpusat, bahkan ia sedang meletakkan cawan, tangan kanannya dalam keadaan tak berjaga-jaga.

Tampaknya perempuan itu sudah memperhitungkan secara tepat, serangan itu pasti akan mengenai sasaran.

Sayang dugaannya keliru besar.

Kalau segampang itu Sebun Jui-soat tertusuk serangan gelap, namanya bukan Sebun Jui-soat lagi, seharusnya bernama sesosok mayat busuk.

Mayat busuk tak bisa bergerak, tapi Sebun Jui-soat mampu bergerak.

Tubuh Sebun Jui-soat bergeser miring ke sisi kanan, dengan meminjam kekuatan di saat ia meletakkan cawan ke atas meja, ia meluncur dengan kecepatan tinggi, menghindari tusukan maut itu.

Ketika serangan gelap itu gagal mengenai sasaran, perempuan itu tidak melanjutkan kembali bokongannya, ia hanya berdiri tegak di tengah ruangan, berhadapan langsung dengan Sebun Jui-soat.

Sebun Jui-soat masih berdiri dengan sikap dingin, seakan-akan sama sekali tidak melihat kehadiran perempuan itu.

Dalam pada itu Kiong So-so telah melompat bangun sambil membentak nyaring, "Kiong Peng, apa yang kau lakukan?"

"Aku dengar ilmu pedang Sebun-kongcu telah mencapai tingkatan tanpa pedang, aku ingin menjajal kemampuannya."

"Hm! Rupanya kau sudah bosan hidup," ejek si Kuah daging.

Jangankan menanggpi, memandang sekejap ke arah si Kuah daging pun tidak, Kiong Peng hanya menatap tajam wajah Sebun Jui-soat sambil ujarnya, "Cabut pedangmu!"

"Agaknya kau benar-benar sudah bosan hidup," kembali si Kuah daging berkata, "berani amat kau suruh Sebun-tayhiap mencabut pedangnya? Kau tahu apa akibatnya bila ia mencabut pedangnya?"

Kiong Peng tetap tidak menggubris.

"Kali ini kau pasti mampus," kembali si Kuah daging berseru.

Kiong Peng tertawa dingin.

"Setiap persoalan pasti ada pengecualian," katanya.

Begitu selesai berkata ia menggetarkan pedangnya dan melancarkan serangan, dalam waktu singkat ia telah melancarkan dua puluh empat jurus.

Sebun Jui-soat dengan cepat menghindar, kemudian terlihat cahaya pedang berkelebat.

Tak seorang pun yang melihat dengan cara apa Sebun Jui-soat mencabut pedangnya, juga tak seorang pun melihat dengan cara apa pedang Sebun Jui-soat menusuk tubuh Kiong Peng, mereka hanya sempat melihat cahaya berkelebat.

Kiong Peng roboh terjungkal, tanpa sempat mengeluarkan suara.

Sah Toa-hu masuk sambil bergelak tertawa dan bertepuk tangan, katanya, "Ilmu pedang yang hebat, ternyata tingkatan tanpa pedang Sebun Jui-soat memang bukan nama kosong belaka."

Di belakang Sah Toa-hu menyusul Laopan Nio, Lopan toko kelontong serta Ui Siau-cong, si pengemis cilik

Lopan toko kelontong memandang Sebun Jui-soat dan si Kuah daging sekejap, kemudian katanya, "Padahal sejak awal aku sudah tahu pembunuhnya."

"Siapa?" tanya si Kuah daging.

Lopan toko kelontong hanya tertawa tanpa menjawab, yang menjawab malah Laopan Nio, "Padahal ia sama sekali tak tahu siapa pembunuhnya."

"Siapa bilang aku tidak tahu pembunuhnya?'

"Kalau tahu, mengapa tidak kau katakan sejak awal?"

"Kalau sejak awal kukatakan, memangnya aku masih bisa hidup hingga sekarang?"

"Kau tidak kuatir sang pembunuh akan membunuhmu untuk menghilangkan saksi?" tiba-tiba pengemis cilik menimbrung.

"Membungkam aku? Bukankah kedoknya akan terbongkar?"

"Sebenarnya siapa pembunuhnya?" desak si Kuah daging.

"Banyak orang yang terlibat dalam pembunuhan ini."

Ucapan itu berkumandang dari luar pintu.

"Kenapa?" tanya pengemis cilik pada si Buta Tio yang sedang melangkah masuk.

"Kenapa? Semakin banyak orang terlibat berarti semakin banyak orang yang akan membeli peti mati, bukankah daganganku semakin laris?"

Dari wajah Sebun Jui-soat yang dingin, mendadak terlintas tawa dingin, katanya, "Benar, pembunuhnya memang banyak."

Siapa pun yang mendengar kata-katanya pasti akan terkesiap.

Semua orang berdiri melengak, termasuk si Kuah dagin sorot mata mereka serentak dialihkan ke wajah Sebun Jui-soat.

Si Kuah daging tak kuasa menahan diri lagi, desaknya, "Siapa orangnya?"

"Dia!" Sebun Jui-soat menuding ke arah Sah Toa-hu.

"Dia!" kembali Sebun Jui-soat menuding Lopan toko kelontong, lalu menuding Laopan Nio, si Buta Tio dan pengemis cilik.

"Masih ada lagi," Sebun Jui-soat menambahkan.

"Masih ada?" si Kuah daging membelalakkan matanya.

"Dia!" Sebun Jui-soat menuding ke arah Kiong So-so.

Mendadak gelak tawa berkumandang di seluruh ruangan.

Tentu saja bukan Sebun Jui-soat atau si Kuah daging yang tertawa, melainkan seluruh orang yang ditunjuk Sebun Jui-soat.

Mereka tertawa dengan penuh rasa bangga, suara tawa yang membuat si Kuah daging tercengang, sebab ia tahu ilmu silat orang-orang itu masih bukan tandingan Sebun Jui-soat, tapi mengapa mereka tertawa? Apakah karena mereka bukan pembunuhnya?

Tiba-tiba Kiong So-so berhenti tertawa dan berkata, "Sebun Jui-soat, tebakanmu tepat sekali. Setiap penghuni kota Ui-sik adalah pembunuh Liok Siau-hong."

"Sayang kau terlambat mengetahuinya," sambung Laopan Nio.

"Tidak, belum terlambat," sela si Buta Tio.

"Kenapa?" tanya pengemis cilik.

"Sebab masih sempat berbaring sendiri dalam peti mati."

Wajah mereka kembali riang dan puas.

Wajah Sebun Jui-soat berubah hebat.

Bukan hanya berubah, peluh dingin juga mulai membasahi jidatnya.

Menyaksikan perubahan wajah Sebun Jui-soat, paras si Kuah daging ikut berubah, ia sudah membuka mulut, namun tak sepatah kata pun yang sanggup diucapkannya.                               

Kiong So-so memandang si Kuah daging sekejap,. Kemudian ujarnya dengan bangga,  "Bukankah kau ingin bertanya,  apakah dalam arak dicampuri racun?"

Mata si Kuah daging terbelalak semakin lebar.

"Aku beritahukan kepadamu, arak itu memang beracun." Gelak tawa Kiong So-so makin keras, semakin bangga. Pengemis cilik berjalan menghampiri si Kuah daging,  lalu meraba pipi perempuan itu, ujarnya sambil tertawa terkekeh, "Bukankah sekarang kau merasa semakin tak jelas menyaksikan benda di sekelilingmu?"

Kembali pengemis cilik meraba wajah si Kuah daging, ejeknya, "Apakah sekarang kau masih bisa berlagak? Apakah masih ada pesan dari, Sebun-tayhiap yang ingin  disampaikan  kepada kami?"

Si Kuah daging berusaha meronta, berusaha berjalan menuju ke hadapan Sebun Jui-soat, tapi baru melangkah dua tindakan, ia sudah roboh terjungkal, kebetulan jari tangannya menyentuh sepatu Sebun Jui-soat.

Tangan yang lemas tak bertenaga, sentuhan lembut yang tak berkuatan, seolah-olah ada benda ribuan kati yang jatuh menimpa, membuat tubuh Sebun Jui-soat ikut terjungkal.

Sekali lagi gelak tawa berkumandang memenuhi seluruh ruangan.

-- 0o0 --

Di tengah jalan kota yang penuh sesak, dalam sebuah warung arak yang ramai, siapa yang mau peduli dengan kehadiran sepasang kakek nenek berusia lanjut? Biarpun tak ada yang memperhatikan, kakek nenek bertubuh kecil itu duduk disudut yang gelap, suara pembicaraan mereka amat lirih. Dengan kening berkerut si kakek memandang si nenek sekejap, lalu bisiknya, "Sekarang kau akan berangkat ke Ui-sik?"

"Kalau tidak berangkat sekarang, kapan lagi?"

"Tentu saja kita berangkat setelah situasi diketahui dengan jelas."

"Aku takut ekadaan sudah terlambat."

"Mana mungkin terlambat?''

"Biarpun sampai saatnya kasus ini terbongkar, namun sahabat kecil kita mungkin ikut celaka."

"Masakah Sebun Jui-soat bisa celaka?"

"Ya, dia yang kumaksud."

"Dia bisa celaka?"

"Kau anggap hal ini menggelikan?"

"Tidak, jangan lupa, Liu Ji-kong tewas dan Liok Siau-hong tewas di kota Ui-sik."

Kening si kakek berkerut makin kencang, tiba-tiba ia bangkit.

"Mau apa kau?" si nenek menariknya.

"Mau apa? Tentu saja pergi ke Ui-sik."

--0o0—

Dari seluruh perusahaan ekspedisi di tiga belas propinsi utara dan selatan sungai besar, andaikata Congpiauthau Tiong-goan-piau-kiok, Pek-li Tiang-cing, tampil dan mengatakan perusahaan ekspedisinya hanya sebuah perusahaan kecil, berarti di kolong langit tiada perusahaan ekspedisi yang berani mengatakan perusahaannya besar.

Pek-li Tiang-cing hanya berani mengatakan perusahaannya nomor dua.

Sebenarnya Tiong-goan-piau-kiok memiliki berapa kantor cabang? Jangankan orang lain, Pek-li Tiang-cing sendiri pun tak jelas.

Kelewat banyak kantor cabang dan tersohor. Semua itu sudah cukup menjamin kehidupan Pek-li Tiang-cing, cukup membuatnya hidup santai, setiap hari ia bisa memelihara burung, menikmati bunga sambil tiduran.

Sudah tujuh belas tahun Pek-li Tiang-cing tidak mengawal barang, setiap order ia serahkan pada Kim Bong sang Hu-congpiauthau untuk mengurusnya. Kim Bong telah menjadi tangan kanannya, belum pernah ia melakukan kesalahan.

Oleh sebab itu ketika Kim Bong melapor segala sesuatunya telah siap, ia seharusnya manggut-manggut sambil tertawa puas.

Tapi kali ini ia sama sekali tidak tertawa, bahkan dengan wajah serius bertanya, "Apakah semua rute telah diperiksa dengan seksama?"

"Sudah, dan aman," jawab Kim Bong, "kami telah membuat persiapan hampir satu tahun lamanya, Congpiauthau boleh lega."

"Untung ada kau, selama ini kau tak pernah melakukan kesalahan, aku memang seharusnya lega, tapi barang yang harus kita kawal kali ini sangat penting, sangat mempengaruhi kelangsungan hidup kita."

"Aku mengerti, tiga puluh juta lima ratus ribu tahil emas merupakan jumlah yang bisa digunakan untuk apapun, bisa menghidupi delapan puluh keturunan kita."

"Benar, itulah sebabnya kali ini kita tak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun, kalau tidak, jangankan kita berdua, mungkin usaha ekspedisi kita bakal jatuh dan musnah, bahkan kita akan dijatuhi hukuman pancung."

"Aku tahu, karena itu secara khusus pihak kerajaan telah mengirim Liu Ji-kong sejak tujuh bulan lalu untuk mengatur rute yang akan kita lalui."

"Apakah dari Liu Ji-kong sudah ada berita yang dikirim kemari?"

"Setiap lima belas hari sekali pasti ada berita yang dikirim," jawab Kim Bong, "tapi semuanya hanya berisi sepatah kata."

"Sepatah kata?"

"Ya, aman."

Kalau memang jalur yang akan dilalui sudah terkendali dan aman, berarti sudah waktunya mereka berangkat.

Perjalanan kali ini dipimpin langsung oleh Pek-li Tiang-cing.

-- 0o0 --

Si Kuah daging betul-betul gelisah, selama hidup belum pernah ia merasa sedemikian gelisah seperti ini.

Lebih baik mampus dibacok golok daripada terkurung dalam penjara besar, menunggu pelaksanaan hukuman.

Saat menanti hanya akan mendatangkan kegelisahan, gelisah mendatangkan rasa duka dan tersiksa.

Ia mulai tak tahan, tak sanggup mengendalikan diri.

Sekuat tenaga ia menghantam dinding penjara, menggedor sekeliling ruangan, ia pun mulai menjerit.

Namun selain suara pantulan yang menggema dalam ruang penjara, jawaban yang diperoleh hanya tatapan mata.

Tatapan mata yang dingin.

Tatapan mata yang belum tentu memandang ke arahnya, mungkin yang dipandang hanya kekosongan di belakang tubuhnya.

Sebun Jui-soat memang manusia begitu, tak acuh terhadap keadaan sekelilingnya, keadaan di situ seakan tidak membuatnya goyah atau sedih.

Tiba-tiba si Kuah daging berhenti berteriak dan menggedor, ia berdiri di hadapan Sebun Jui-soat.

Dengan sorot mata putus asa ia pelototi wajah Sebun Jui-soat yang dingin.

"Mereka bakal membunuh kita?" tanyanya.

Jangankan menanggapi, memandang sekejap ke arahnya pun tidak, seolah-olah pertanyaan itu tak pantas untuk dijawab.

"Apakah mereka bakal membunuh kita?"

Sekali lagi si Kuah daging mengulangi pertanyaannya, kali ini sambil menggoyang bahu Sebun Jui-soat.

"Tidak.”

Jawaban itu seakan bukan diucapkan Sebun Jui-soat, seolah-olah keluar karena goncangan si Kuah daging, melompat keluar dari perut, melalui kerongkongan dan melompat dari sela-sela giginya.

Biarpun jawaban itu seakan diucapkan tanpa tenaga, namun mendatangkan pengharapan yang tak terhingga bagi si Kuah daging.

Sinar keputus-asaan tiba-tiba hilang dari balik matanya, terpancar cahaya berkilau.

"Sungguh? Mereka tak akan membunuh kita?"

Sebun Jui-soat tidak menggeleng, juga tidak mengangguk.

Tapi si Kuah daging hampir saja menari dan menyanyi saking girangnya, kembali katanya, "Aku mengerti maksudmu, mereka hanya mencampuri arak dengan obat pemabuk, bukan racun jahat, jadi mereka tak ingin menghabisi nyawa kita, bukankah begitu?"

"Salah," kembali si Kuah daging mengoceh, "kalau mereka tak ingin membunuh kita, mengapa menyekap kita di sini?"

Kelihatannya hal ini satu persoalan yang pantas dipikirkan secara mendalam. Kenapa mereka menyekap si Kuah daging dan Sebun Jui-soat, dan bukannya dibacok mampus? Mereka sama sekali tak ada harganya.

Liok Siau-hong sudah mati, mereka datang untuk menuntut balas, tidak membunuh mereka berarti akan menambah ancaman bahaya, sama sekali tak ada faedahnya.

Si Kuah daging mustahil mengetahui persoalan ini, biar otaknya pecah pun tak mungkin tahu.

Sebab jawabannya berada dalam otak gerombolan pembunuh di kota Ui-sik.

Kelihatannya Sebun Jui-soat mengetahui hal ini, maka ia lebih memilih memejamkan mata.

"Mengapa Sebun Jui-soat tidak dibunuh saja?" Pertanyaan itu diajukan Sah toa-hu. Kelihatannya Sah Toa-hu sendiri tidak memahami hal ini.

"Betul, kenapa tidak kita bunuh Sebun Jui-soat?" Pertanyaan ini diajukan Lopan toko kelontong dan Lopan toko peti mati.

Kelihatannya hanya satu orang yang mengetahui jawabannya. Sorot mata orang yang mengajukan pertanyaan itu tertuju ke wajah scseorang.

"Kita tidak membunuhnya karena kita butuh kiam-boh (kitab pedang) miliknya," kata Kiong So-so sambil bangkit berdiri.

"Kiam-boh?" tanya Sah Toa-hu tercengang, "buat apa kiam-boh miliknya?"

"Kau tak ingin mempelajari ilmu pedangnya yang tiada tandingan di kolong langit?"

"Sehetulnya ingin, tapi sekarang tidak." 

"Kenapa?"

"Sebab kita segera akan menjadi hartawan yang kaya raya, buat apa mempelajari ilmu pedang?"

"Setelah berduit, lantas kau tak ingin mempelajari ilmu silat?" tanya Kiong So-so.

"Betul. Tahukah kau, berapa banyak bagian kita?"

"Aku tak mampu menghitungnya."

"Aku pun tak sanggup menghitungnya, tapi aku tahu, uang bagian kita bisa digunakan untuk menghidupi delapan puluh generasi keturunan kita."

Sesudah memandang semua yang hadir dalam ruangan, kembali Sah Toa-hu berkata, "Dengan bekal uang sebanyak itu, kalau tidak dipakai makan-minum sepuasnya, buat apa mesti bersusah-payah berlatih pedang?"

Paras Lopan toko peti mati yang semula pucat bagai mayat, sekarang berubah cerah, seakan telah berubah menjadi manusia lain, berubah dari sesosok mayat menjadi seorang kaisar. Dengan gembira serunya, "Betul, setelah berduit, kita bisa berfoya-foya, berpesta pora, peduli apa dengan ilmu pedang?"

"Apalagi dengan menahan Sebun Jui-soat, berarti menambah ancaman untuk kita," kata Sah Toa-hu.

"Kalian tak usah kuatir, penjara itu sangat kuat, jangankan Sebun Jui-soat, setan pun jangan harap bisa melarikan diri," Kiong So-so memandang sekejap wajah rekan-rekannya, katanya pula, "baiklah, bila yang kalian pikirkan cuma duit, biarlah urusan kiam-boh dan Sebun Jui-soat kuselesaikan sendiri."

"Tapi...." Sah Toa-hu ingin mengatakan sesuatu, tapi urung.

"Kau takut ia kabur dari penjara? Jangan kuatir, serahkan urusan ini padaku."

"Kenapa harus diserahkan padamu seorang? Sepantasnya urusan ini kita pikul bersama."

Tiba-tiba pengemis cilik muncul dengan setengah berlari, begitu masuk ke dalam ruangan, katanya, "Tahukah kau, persoalan apa yang sedang kita bicarakan?"

"Persoalan apa?" tanya Kiong So-so.

"Persoalan yang sudah kita bicarakan secara baik-baik!"

"Jadi mereka sudah d'atang?"

"Benar," pengemis cilik mengangguk.

Mereka? Siapakah mereka?

-- 0o0

Kelihatannya si kakek kecil sangat menguasai jalanan di kota Ui-sik, la sengaja berputar kian kemari, ketika sampai di luar kota, waktu sudah mendekati senja.

"Coba lihat, benar bukan perkataanku," ujar si kakek sambil memandang matahari senja, "kan sudah kubilang, kita tiba di kota Ui-sik waktu pasti menjelang senja, aku tidak bohong bukan?"

"Kau memang tidak membohongi aku, tapi membohongi dalam hal lain," kata si nenek.

"Yang lain? Soal apa?"

"Kau membohongi aku hingga mesti menempuh perjalanan setengah harian dengan percuma."

"Aku tidak membohongimu, aku hanya bilang, ketika tiba di kota Ui-sik, paling tidak matahari sudah turun gunung, tapi kau bersikeras mengatakan kalau saat itu tentu tengah hari."

Panji kebesaran Tiong-goan-piau-kiok berkibar terhembus angin malam, angin kencang membuat panji berkibar menimbulkan suara gemerisik. Pek-li Tiang-cing duduk di atas kudanya sambil mengawasi sekeliling tempat itu dengan sorot mata tajam.

"Kim Bong, apakah di depan sana adalah kota Ui-sik?"

"Benar."

"Apakah dijamin aman?"

"Orang-orang kita selalu melakukan penyelidikan setiap tiga bulan sekali, semua penghuni kota bertampang lugu kecuali orang yang bernama Sah Toa-hu."

"Sah Toa-hu?"

"Sah Toa-hu adalah seorang bangsawan yang dibuang kemari, ia berhasil menggali emas dalam jumlah besar di atas bukit di luar kota Ui-sik, sejak itu ia tinggal di sini. Karena orang ini berduit, maka terkadang ia menampung para pelarian yang kebetulan lewat di sini.

"Ilmu silat para pelarian itu tidak cukup tangguh buat kita, cukup dengan sebuah jari pun sanggup merobohkan mereka."

"Kalau begitu malam ini kita bisa tidur dengan nyenyak."

"Aku pun berpendapat begitu."

"Bagaimana pendapatmu?" tanya si kakek.

"Aku pikir, bila mereka bisa tidur dengan tenang dan nyenyak, maka hanya ada semacam keadaan," sahut si nenek.

"Keadaan apa?"

"Hanya orang mati yang bisa tidur tenang dan nyenyak."

"Kenapa mereka mati?"

"Berani membawa begitu banyak uang dan mendatangi kota Ui-sik yang sepintas nampak tenang, namun di balik ketenangan justru tersembunyi gelombang yang maha dahsyat, kalau bukan cari mati lantas apa?"

"Darimana kau tahu mereka membawa banyak uang?"

"Masa tidak kau periksa bekas roda kereta mereka? Coba lihat, betapa dalamnya bekas itu? Mungkin barang yang mereka kawal adalah emas murni."

"Aku rasa bukan."

"Oya?"

"Kalau emas, masakah hanya membawa beberapa pengawal?"

"Lantas barang apa yang sedang mereka kawal?"

"Batu!"

"Batu?"

"Benar, batu."

"Darimana kau tahu?"

"Aku rasa barang yang berada dalam kereta pasti batu. Justru karena mengangkut batu, maka mereka bernyali, berani memasuki Ui-sik dengan membawa beberapa orang saja."

"Kau tahu, siapakah mereka?"

"Siapa?"

"Mereka adalah Pek-li Tiang-cing, Kim Bong, Go-bi Lihiap Suto Hong, Suto Hun, Suto Yan dan jago pedang dari Cing-shia, Hian-tocu."

"Sungguh?"

"Memangnya mataku rabun?"

"Jadi barang yang mereka angkut adalah emas murni?"

"Aku tidak tahu."

"Aku tahu, cara terbaik adalah pergi ke sana dan periksa sendiri."

Gedung tempat tinggal Sah Toa-hu terang bermandikan cahaya lentera.

Bagi Sah Toa-hu, hari ini merupakan hari terpenting baginya sepanjang hidup. Bisa menjamu seorang Congpiauthau perusahaan ekspedisi terbesar di tiga belas propinsi utara dan selatan sungai besar, jelas merupakan kejadian yang tak pernah dibayangkannya.

Sementara ia perintahkan koki menyiapkan hidangan paling lezat untuk menjamu tamunya, ia sendiri sejak awal sudah berdiri menanti di pintu gerbang, menyambut kedatangan Pek-li Tiang-cing.

Bukan hanya dia, hampir seluruh penghuni kota Ui-sik telah berdiri berjajar di depan pintu, menyambut kedatangan tamunya.

Senyum bangga menghiasi wajah setiap orang.

Pada saat itulah terdengar pengemis cilik berseru lantang, "Mereka telah datang."

Tentu saja yang dimaksud "mereka" adalah orang-orang Tiong-goan-piau-kiok.

Padahal yang dimaksud pengemis cilik adalah barang kawalan yang berada dalam kereta rombongan.

Emas murni yang bisa menghidupi delapan puluh generasi keturunan mereka.

"Mereka telah memasuki gedung Sah Toa-hu," ujar si kakek kecil.

"Benar, sang ikan sudah masuk jaring."

"Bagaimana selanjutnya?"

"Tentu saja menonton pertunjukan."

"Dalam keadaan seperti ini kita hanya menonton?"

"Kalau bukan begitu, apa yang hendak kau lakukan?"

"Tentu saja pergi menolong orang."

"Menolong orang? Siapa?"

"Mereka!"

"Mereka? Sekarang keadaan mereka belum berbahaya, belum makan kenyang, belum minum sampai mabuk, mana mungkin berbahaya?"

"Lalu ...." si kakek mulai bingung, tak tahu apa yang mesti diperbuat.

"Kita pergi menolong orang," ajak si nenek.

"Bukankah kau mengatakan mereka tidak berbahaya?"

"Bukan mereka yang kumaksud, tapi orang lain."

"Orang lain? Siapa?"

"Sebun Jui-soat."

"Dia? Kau tahu dimana dia sekarang?"

"Tentu tahu, jika tidak, buat apa kuusulkan menolongnya?"

"Kenapa ia butuh pertolongan?"

"Karena ia tidak berada dalam tenda, kulihat Sah Toa-hu sekalian amat senang, kalau Sebun Jui-soat masih berada di luar, mana mungkin mereka bisa sedemikian gembira?"

"Kenapa harus menolong Sebun Jui-soat?"

"Bukankah sudah kukatakan, ia adalah sobat kecilku?"

"Karena sobat kecilmu maka harus ditolong?"

"Karena sobat kecilku ini bisa membantu kita melakukan banyak pekerjaan, misalnya memeriksa isi kereta itu, berisi batu atau emas murni?"

"Kalau begitu, kenapa tidak cepat sedikit?"

Belum selesai perkataan itu diucapkan, si kakek sudah beranjak lebih dulu. Tapi ia tak mampu berlalu, karena kerah bajunya sudah ditarik si nenek.

"Apa-apaan kau?"

"Seharusnya pertanyaan itu aku yang ajukan kepadamu?"

"Tentu saja menolong orang."

"Menolong orang? Kalau ingin menolong orang, larinya ke arah situ."

--00—

Bersambung ke 8

Bagian 8

Malam semakin kelam, malam tanpa rembulan. Biasanya penjara yang amat menyeramkan akan nampak lebih menggidikkan di tengah malam semacam ini.

Menyaksikan betapa seramnya rumah penjara itu, alis si kakek kecil berkenyit, bahkan si nenek pun ikut mengernyitkan dahi.

"Kenapa kau mengernyitkan dahi?" tanya si kakek.

"Karena kau mengernyitkan alis."

"Apa sangkut-pautnya?"

"Tentu saja ada."

"Apa hubungannya?"

"Karena kerutan alismu mirip seseorang."

"Siapa?"

"Liok Siau-hong!"

"Sungguh? Aku mirip Liok Siau-hong?"

"Betul, cuma alismu berwarna abu-abu."

Si kakek tertawa, tampaknya ia merasa sangat bangga,

"Asal mirip Liok Siau-hong, peduli amat alis abu-abu atau kuning?"

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, lanjutnya,  "Hanya sayang ...."

"Liok Siau-hong sudah mati?"

"Itu alasan pertama."

"Lalu alasan kedua?"

"Sayang saat ini kita sedang melakukan tugas penting, kalau tidak, aku pasti akan mengundangmu minum sepuasnya."

"Kenapa?"

"Karena belum pernah ada orang mengatakan aku mirip Liok Siau-hong."

"Apa bagusnya mirip Liok Siau-hong? Malah ada orang memanggil Liok Siau-hong sebagai Liok-siau-khe, apalagi Liok Siau-hong sudah mati, apa bagusnya kau mirip orang mati?"

Si kakek tidak bicara lagi, ia berjalan menuju ke pintu penjara dengan mulut bungkam.

Lagi-lagi tangannya ditarik si nenek.

"Apa-apaan kau ini?" tegur si kakek.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Bukankah kita akan menolong orang? Kini Liok Siau-hong sudah mati, bagaimanapun Sebun Jui-soat tak boleh rnampus."

"Tiba-tiba aku merasa ada satu hal yang jauh lebih penting ketimbang menolong Sebun Jui-soat. Lebih baik kita menolongnya seusai menyelesaikan pekerjaan itu saja."

"Pekerjaan apa?"

Si nenek tak menjawab, hanya melempar senyuman misterius.

--00—

Malam semakin larut, malam tanpa rembulan yang gelap. Perjamuan dimulai menjelang malam, seharusnya tengah malam perjamuan usai.

Perjamuan yang diselenggarakan di ruang tengah gedung Sah Toa-hu sudah tiba saat bubar.

Perjamuan yang diselenggarakan Sah Toa-hu adalah untuk menyambut kedatangan tamu agung dari Tiong-goan-piau-kiok.

Ketika perjamuan usai, para tetamu bersiap meninggalkan ruang perjamuan.

Para tetamu sudah berdiri, tiba-tiba Sah Toa-hu mengangkat cawannya, katanya, "Ada satu hal aku merasa perlu minta maaf."

"Saudara Sah telah menjamu kami, budi kebaikan ini sudah membuat kami berterima kasih, kenapa kau minta maaf?" sahut Pek-li Tiang-cing sambil menjura.

"Hidangan kami sederhana, Congpiautau mau mencicipinya sudah memberi muka kepada kami. Oleh sebab itu aku harus didenda secawan arak sebagai ungkapan permintaan maaf."

"Soal apa?" tanya Pek-li Tiang-cing.

"Rumah kami kelewat kecil."

"Apa hubungannya?"

"Tentu saja ada, karena kami hanya bisa melayani tiga orang pengawal perusahaanmu."

Sebelum Pek-li Tiang-cing sempat mengucapkan sesuatu, Lopan toko kelontong menimpali, "Tidak jadi masalah, tempatku bisa menampung dua orang."

"Benar," sambung Kiong So-so pula, "biar kedua Cici ini tinggal selama beberapa hari di rumahku."

Lopan toko peti mati tak mau kalah, selanya pula, "Bila kalian ada yang bernyali besar dan tak takut tidur dalam peti mati, boleh tinggal di tokoku."

Bagi Pek-li Tiang-cing, tentu saja tawaran ini disambut dengan terima kasih. Maka anggota Tiong-goan-piau-kiok pun terpisah-pisah dan tinggal di tiga gedung yang berbeda. Dengan demikian kekuatan Tiong-goan-piau-kiok terpecah.

Sekalipun malam itu kelam tanpa rembulan, kereta barang yang berjajar di depan rumah Sah Toa-hu masih nampak jelas. Bukan cuma kereta barang saja yang terlihat jelas, bahkan para penjaga yang bertugas mengawal kereta pun terlihat jelas.

Salah seorang penjaga yang sedang berdiri di samping kereta mendadak mengalihkan pandangannya ke balik pepohonan tak jauh di hadapannya. la seolah menyaksikan sesosok bayangan manusia berkelebat, kemudian lenyap.

la sama sekali tidak berteriak, mendengus pun tidak, sebab disangkanya ia salah lihat. Orang yang terlalu banyak minum arak, terkadang matanya kabur.

Andaikata ia ingin menjerit pun percuma, karena sudah tak sempat menjerit lagi. Sebatang jarum emas yang lembut dan kecil meluncur dari balik pepohonan bersamaan dengan lenyapnya bayangan itu. Jarum emas melesat cepat, langsung menyambar tenggorokan penjaga itu. Ia hanya bisa membelalakkan mata, menjerit pun tak sempat, sementara tangan kanannya berusaha melolos golok.

Lalu sabetan golok menggorok tenggorokan penjaga lain.

Sementara seutas tali rnenjerat tengkuk penjaga ketiga.

Malam semakin kelam, sepi, hening, tak terdengar sedikitpun suara.

Biarpun di tengah malam buta, bangunan rumah Kiong So-so masih terang benderang.

Cahaya lentera mendatangkan kehangatan dan keramahan bagi tetamu.

Paling tidak kedua orang piausu perempuan Tiong-goan-piau-kiok mempunyai perasaan semacam ini.

Sejak melangkah masuk ke dalam ruang tengah rumah Kiong So-so, mereka telah merasakan kehangatan dan kenyamanan. Orang yang merasa nyaman biasanya akan berusaha mengungkapkan perasaannya.

Kiong So-so hanya tersenyum, dengan tenang mendengarkan kata pujian dan sanjungan yang diberikan tamunya.

Kemudian katanya, "Sulit untuk bertemu dengan nona berdua, bagaimana kalau kita menghabiskan waktu dengan berbincang?"

Ketika seseorang berada dalam suasana hangat dan nyaman, bagaimana bisa menampik ajakan ini?

Tentu saja sulit.

Kiong So-so pun bertepuk tangan dua kali. Tak lama kemudian makanan kecil dan arak pun dihidangkan, tertata rapi di atas meja.

Seorang nenek mengantar arak dan sayur. Langkah nenek itu amat gesit dan lincah, sedikitpun tidak mirip gerak-gerik seorang nenek.

Jika gaun nenek itu disingkap, akan terlihat sepasang kaki yang halus, mulus dan kenyal, persis kaki gadis muda belia.

Sayang kedua piausu perempuan itu tidak melihatnya. Kedua orang itu tidak memperhatikannya, malah tiada rasa waswas atau curiga, ketika Kiong So-so menghormati mereka dengan secawan arak, kedua orang itu segera meneguk habis isinya.

Reaksi si nenek sangat cepat, segera kembali menuang penuh kedua cawan itu dengan arak.

Kini sudah cawan ketiga.

Ketika mengisi cawan untuk keempat kalinya, tiba-tiba nenek itu mengangkat tinggi poci arak di tangan kanannya, lalu sekuat tenaga dihantamkan ke atas kepala kedua piausu perempuan yang berada di sampingnya.

Dengan wajah berubah, cepat kedua piausu perempuan itu mengangkat tangan kanannya menangkis. Sayang, tangannya sudah tak mampu digerakkan lagi.

Parasnya berubah hebat, jelek dan tak sedap dipandang.

Ia tak tahu, paras muka rekannya yang duduk di samping telah berubah jauh lebih jelek. Karena batok kepalanya telah hancur, hancur dihajar poci arak.

Rekannya sudah berusaha menggerakkan tangan menangkis datangnya ancaman, tapi sayang, tenaganya telah hilang.

Tiba-tiba sekujur badannya sudah kaku, tak mampu bergerak. Satu-satunya bagian tubuhnya yang masih normal hanya tinggal pendengarannya.

Ia dengar suara tawa Kiong So-so yang dingin, penuh kebanggaan dan rasa puas.

Lalu seluruh penerangan dalam rumah Kiong so-so padam.

Malam makin larut, terasa menyeramkan dan menggidikkan,

Sebetulnya yang menyeramkan dan menggidikkan adalah peti mati serta suara tawa si Buta Tio.

"Kalian berani tidur di sini?" tanya si Buta Tio.

"Tentu saja berani, kami sudah terbiasa melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, tidur di tanah kuburan pun sudah pernah, kenapa mesti takut dengan peti mati?"

Sambil berkata piausu itu menyikut rekannya.

Rekannya segera menimpali, "Benar, apalagi peti mati ini masih baru."

"Justru karena masih baru, maka aku bertanya."

"Kenapa?"

"Karena peti mati baru hanya untuk orang yang baru mati."

"Kau jangan bergurau.."

"Bergurau?"

"Memangnya bukan?"

"Bukan."

Jawaban terakhir berasal dari seseorang yang secara tiba-tiba melompat keluar dari balik sebuah peti mati.

Kedua orang piausu itu benar-benar terperanjat.

Di saat mereka masih tercekat, seseorang telah melompat keluar dari dalam peti mati itu.

Sementara sepasang tangan si Buta Tio telah berubah menjadi cakar harimau, langsung mencakar tubuh piausu yang berada di hadapannya.

Hanya dengan dua kali benturan, nyawa kedua piausu itupun seketika berakhir.

Si Buta Tio segera menyambar tubuh kedua piausu itu, ketika didorong ke belakang, mayat kedua orang itupun dengan tepat masuk ke dalam kedua peti mati itu.

Sekulum senyuman menghiasi wajah si Buta Tio, teriaknya kepada orang yang baru melompat keluar dari dalam peti mati, "Pengemis cilik, tidak jelek bukan?"

"Tentu, jago macam begitu saja ingin mengawal barang?"

"Lantas mereka cocok jadi apa?"

"Jadi begini," sahut si pengemis cilik sambil menuding ke arah peti mati.

"Tepat sekali, aku rasa bukan hanya mereka berdua saja, semua orang pantas tidur dalam peti matiku. Eh, pengemis cilik, masih ada berapa banyak peti mati kosong?"

"Rasanya sudah tidak terlalu banyak."

"Tentu saja tidak banyak, hanya tersisa enam buah."

"Enam buah? Masa sebanyak itu?"

"Dalam toko kelontong ada dua, di rumah Sah-lopan ada dua.

"Bukankah di rumah Sah-lopan ada tiga?"

"Ada tiga? Memangnya kau pun ingin membunuh Lotoa?"

"Mana berani, berarti baru empat, lantas siapa dua orang yang lain?"

"Kau lupa? Si Kuah daging dan Sebun Jui-soat."

"Mana bisa lupa? Siapa yang bisa melupakan Sebun Jui-soat?"

Betul, siapa yang dapat melupakan Sebun Jui-soat?

Paling tidak si kakek kecil tak dapat melupakantvya.

Selesai melaksanakan tugas yang diberikan si nenek, kakek kecil itu sudah mendesak si nenek, "Sekarang sudah saatnya menolong Sebun Jui-soat bukan?"

"Tentu, sekarang memang saatnya kita menolong dia."

"Kenapa?"

"Karena semua penghuni kota Ui-sik sedang memusatkan seluruh kekuatan dan perhatiannya untuk menghadapi orang-orang Tiong-goan-piau-kiok, mereka takkan  mengutus orang menjaga rumah penjara itu."

"Apa semua orang itu akan mereka bunuh?"

"Bisa jadi."

"Lantas kenapa kau tidak berusaha menolong mereka?"

"Memangnya kau punya akal untuk menolong mereka?"

Kakek kecil itu tidak bicara, karena tak sanggup rnenjawab pertanyaan ilu. Mampukah mereka mcnyelamatkan orang-orang Ku hanya mengandalkan kekualan mereka berdua?

Selain itu, mereka pun tak bisa tampil secara terang-terangan, karena belum berhasil menemukan biang keladinya.

Sebelum berhasil melacak biang keladinya, siapa percaya perkataan si kakek dan nenek? Siapa percaya kalau sekelompok manusia jujur dan polos yang tinggal di Ui-sik adalah kelompok penjahat yang mencelakai anggola Tiong-goan-piau-kiok?

Justru karena Liok Siau-hong pun tak percaya maka terbunuh di sana.

"Menurut kau, siapa dalangnya?" tanya si kakek.

"Bcrdasarkan keadaan di depan mata, hanya dua orang yang paling pantas dicurigai."

"Siapa?"

"Pek-li Tiang-cing dan Kim Bong."

"Mereka? Kenapa? Mereka kan Congpiauthau dan Hu-congpiauthau perusahaan itu, masa ingin membegal barang kiriman sendiri?"

"Kenapa tidak? Tahukah kau nilai barang kawalannya?"

"Berapa?"

"Tiga puluh lima juta lima ratus ribu tahil emas."

"Seberapa banyak itu?"

"Jumlah yang tak akan habis unluk menghidupi delapan puluh generasi keturunanmu!"

"Wah, banyak sekali. Uang siapa itu?"

"Menurut apa yang kuketahui uang itu biaya persiapan peperangan milik kerajaan."

"Kenapa harus diangkut kemari?"

"Konon daerah selatan sedang dilanda pemberontakan, maka uang itu dikirim kemari sebagai persiapan biaya peperangan."

"Kenapa tidak langsung diangkut ke sana?"

"Kuatir menyolok, hingga memancing perhatian orang, bila pihak pemberontak mengetahui pengiriman ini, bisa jadi akan terjadi peristiwa yang tak diinginkan."

"Maka tanggung jawab pengiriman diserahkan ke pihak Tiong-goan-piau-kiok?"

"Benar," si nenek membenarkan.

"Kelihatannya mereka sudah merencanakan segalanya sejak setengah tahun lalu, darimana mereka tahu sedini itu?"

"Itulah sebabnya aku curiga dalang peristiwa ini kalau bukan Pek-li Tiang-cing pastilah Kim Bong."

"Oh!" kakek itu mengangguk, "memang mereka berdua yang mengetahui terlebih dulu rencana pengiriman uang ini, tapi ... bukankah uang mereka tak ada habisnya, kenapa mesti membegal barang kiriman?"

Si nenek tertawa, katanya, "Apakah sekarang kau punya duit?"

"Punya."

"Bisa digunakan berapa lama?"

"Sampai mati pun tidak habis."

"Andaikata di depan matamu terdapat sepuluh juta tahil emas, apakah kau menginginkannya?"

"Aneh kalau tidak mau."

"Nah, itu dia, siapa sih yang tak ingin harta lebih banyak."

"Ada seseorang!"

"Siapa?"

"Liok Siau-hong!"

Kembali si nenek tertawa, katanya pula, "Tentu saja orang yang sudah mati tak perlu menumpuk harta lebih banyak lagi."

Si kakek ikut tertawa.

"Benarkah Liok Siau-hong sudah mati?" tanyanya.

"Memangnya belum?"

Si kakek tidak rnenjawab, tiba-tiba ia menempelkan jarinya di atas bibir sambil berbisik, "Ssttt!"

Rupanya mereka sudah tiba di luar kamar penjara, itulah sebabnya si kakek memberi tanda agar si nenek tidak bersuara.

 

Padahal sekalipun suara si kakek dan nenek itu lebih keras lagi, orang yang berada dalam penjara tak bakal mendengar.

Karena penjara itu memang tak ada penjaganya. Yang ada hanya Sebun Jui-soat dan si Kuah daging yang tersekap di sana, seandainya mereka mendengar suara pembicaraan itupun tak masalah.

Jika ada yang berpendapat begitu, maka orang itu keliru besar.

Karena Sebun Jui-soat sudah mendengar suara manusia di luar pintu, bahkan ia sudah memadamkan lentera dalam kamar penjara.

Menyusul ia dekap mulut si Kuah daging dengan tangannya dan berbisik di sisi telinganya, "Jangan berisik!"

Setelah itu tanpa menimbulkan suara, ia tempelkan badannya di dinding dekat pintu penjara.

Perlahan-lahan pintu penjara didorong orang.

Arah pintu yang terdorong itu kebetulan ke arah tubuh Sebun Jui-soat yang menempel di dinding penjara.

Baru saja pintu penjara terdorong setengah, si kakek sudah berseru tertahan.

Ia lihat suasana dalam penjara gelap gulita, lalu terdengar ia bergumam, "Kita datang terlambat, Sebun Jui-soat sudah tak ada."

"Siapa bilang aku tak ada?"

Bersamaan dengan itu, segulung havva pedang telah menusuk ke tubuh si kakek.

Cepat tubuh si kakek merandek dan secepat kilat melayang mundur ke belakang.

Pedang Sebun Jui-soat dengan kecepatan tak terkirakan kembali menusuk ke arah si nenek.

Si nenek sama sekali tidak mundur, dengan gerakan yang amat cepat ia mengangkat tangannya. Kedua jarinya tahu-tahu sudah menjepit pedang Sebun Jui-soat.

"Ah, rupanya kau!" Sebun Jui-soat menjerit kaget.

"Bukan aku," jawaban si nenek pun membingungkan.

"Betul, kau!" kembali Sebun Jui-soat berseru.

Kemudian perlahan-lahan ia mencabut kembali pedangnya dari jepitan jari si nenek dan cahaya api pun menerangi ruangan.

Cahaya lentera telah menerangi seluruh tempat, dengan kening berkerut si Kuah daging memandang nenek itu sekejap, kemudian serunya, "Ternyata kau?"

"Nona masih ingat aku?"

"Tentu saja ingat, ketika Sukong Ti-sing bertemu denganmu, seperti bertemu setan saja, mana mungkin aku melupakan dirimu?"

"Kau kenal dengannya?" tanya Sebun Jui-soat.

"Kenal."

"Siapakah dia?"

"Jadi kau tidak mengenalnya?"

"Darimana aku tahu?"

"Seharusnya kau pun tahu siapa dia."

"Oya? Lantas siapa dia?"

Sebun Jui-soat diam, hanya mengawasi wajah nenek itu.

Si nenek pun tidak bicara, mengawasi wajah si Kuah daging.

Mendadak si Kuah daging merasa pipinya merah dan panas, seakan yang memandang wajahnya bukan seorang nenek, melainkan seorang pemuda romantis.

"Kau adalah ...."

"Benar," suara si nenek mendadak berubah jadi lebih muda. "memang aku!"

Tidak salah, ia memang Liok Siau-hong, Liok Siau-hong yang tiada duanya.

“Bukankah Liok Siau-hong sudah mati?”

"Mati? Mana mungkin Liok Siau-hong mati'?" si nenek tertawa riang.

Begitu si Kuah daging menyaksikan senyuman si nenek, sorot matanya yang nakal, ia segera tahu si nenek tak lain adalah Liok Siau-hong.

Mengetahui Liok Siau-hong belum mati, seharusnya si Kuah daging merasa amat gembira, tapi ia justru melototkan sepasang matanya dengan garang dan berteriak penuh amarah, "Kenapa Liok Siau-hong tak bisa mati? Paling baik jika Liok Siau-hong mampus!"

"Benarkah paling baik Liok Siau-hong mampus?" kakek yang berada di samping si nenek menyela.

"Siapa kau? Apa urusannya denganmu?" seru si Kuah daging.

"Aku? Aku bukan siapa-siapa, cuma kalau tak ada aku, Liok Siau-hong terpaksa harus benar-benar mampus."

"Kenapa?"

"Karena aku paling ahli mengubah wajah."

"Kau? Jadi kau adalah Sukong Ti-sing?"

"Betul."

"Lantas ...." si Kuah daging terbelalak dengan mulut melongo, "lanlas siapa pula Sukong Ti-sing yang berada di atas loteng rumah makan itu?"

"Dia? Dia adalah si setan mampus Liok Siau-hong."

"Bukankah dia pun Liok Siau-hong?" seru si Kuah daging sambil menuding nenek itu, ia benar-benar bingung dibuatnya.

"Dia adalah Liok Siau-hong hidup."

"Lalu sewaktu hidup, siapakah si setan mampus Liok Siau-hong?"

"Lausit Hvvesio!"

"Lausit Hwesio?"

"Betul, padahal ia lebih panlas disebut Put-lausit Hwesio."

"Kenapa?"

"Sebab dia seharusnya berbaring tanpa gerak dalam peti mati, tapi dia justru datang mencariku, minta aku mengubah wajahnya agar seperti Sebun Jui-soat. Katanya tidak enak menyamar sebagai Sebun Jui-soat, dia pun menyamar sebagai aku, coba bayangkan, bukankah dia sangat tidak jujur?" kata Sukong Ti-sing.

"Berarti orang yang kami saksikan berada dalam peti mati itu adalah Lausit Hwesio?"

"Betul, Lausit Hwesio asli."

"Tapi orang dalam peti mati itu jelas adalah sesosok mayat."

"Tentu saja sesosok mayat, kalau tidak, mana mungkin bisa mengelabui kawanan perampok dari Ui-sik?"

"Kalau ia sudah mati, kenapa sekarang bisa hidup kembali?"

"Karena ia adalah Lausit Hwesio yang tiada duanya dalam dunia persilatan."

"Jadi Lausit Hwesio bisa hidup kembali?"

"Tentu saja."

"Kenapa?"

"Sebab Lausit Hwesio pandai Kui-si-kang (ilmu pernapasan kura-kura)."

"Aku mengerti sekarang."

"Kau benar-benar mengerti?"

"Tentu saja, karena Lausit Hwesio pandai ilmu pernapasan kura-kura, maka Liok Siau-hong mencari Lausit Hwesio dan minta ia menyamar sebagai dirinya dan pura-pura mati, begitu bukan?"

"Tepat sekali, bukankah waktu itu kau sempat mengintip?"

"Ah, kau ...." teriak si Kuah daging , "tapi masih ada satu hal yang tidak kupahami."

"Kau tidak mengerti kenapa aku mencari Lausit Hwesio dan memintanya pura-pura mati bukan?"

"Benar."

"Sebenarnya Ui-sik merupakan kota kecil yang tak menarik perhatian orang, ketika aku tiba di sini, hampir setiap orang berusaha menyembunyikan ilmu silatnya, aku segera tahu di balik semua ini pasti ada persoalan yang tidak beres."

"Darimana kau tahu mereka menyembunyikan ilmu silatnya?"

"Jangan lupa, aku adalah seorang nenek, sepasang mataku sudah banyak melihat kejadian besar, kau sangka si nenek hidup percuma selama puluhan tahun?"

"Benar, maaf kalau begitu, aku tidak tahu kau memiliki mata yang amat lihai," tak tahan si Kuah daging tertawa cekikikan,

Liok Siau-hong memandang Sebun Jui-soat sekejap, kemudian katanya lagi, "Maka aku pun pergi mencari Sukong Ti-sing, minta ia membekal bahan untuk menyamar dan ikut aku. Ternyata tanpa bicara sepatah kata pun ia ikut aku pergi mencari Lausit Hwesio.

"Begitu bertemu Lausit Hwesio, aku langsung memukul kepalanya sambil berkata, 'He, Hwesio, tanggalkan seluruh pakaian yang kau kenakan. Tahukah kau apa reaksi Lausit Hwesio begitu mendengar pcrkataanku itu?"                                 <

"Pasti sangat terperanjat," jawab si Kuah daging.

"Keliru, ternyata tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia tanggalkan seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat, kemudian katanya kepadaku, 'Napsu adalah kosong, kosong adalah napsu. Sungguh tak kusangka Liok Siau-hong pun sudah bosan dengan keduniawian dan sekarang ingin mengenakan pakaian Hwesio untuk hidup dalam pengasingan.' Coba bayangkan, kau jengkel tidak mendengar perkataan itu?"

"Sama sekali tidak," sahut si Kuah daging.

"Oya? Kenapa tidak jengkel?"

"Karena kau mencarinya dan minta menggantikan posisimu pergi mati, apa salahnya dia pun mengejekmu dengan beberapa patah kata? Kenapa mesti jengkel?"

Mendadak Siau-hong memandang si Kuah daging lekat-lekat.

"Apa yang kau lihat?"

"Secara tiba-tiba aku merasa kau berubah begitu memahami perasaan orang. Itulah sebabnya ingin kubuktikan, benarkah kau adalah si Kuah daging yang asli."

"Menurut pendapatmu?"

"Susah untuk dijawab, apalagi setelah melakukan perjalanan bersama Sukong Ti-sing."

Pada saat itulah Sebun Jui-soat yang jarang bicara berkata, "Aku mengerti sekarang."

"Mengerti apa?"

"Karena mengira kau sudah mati maka penjagaan mereka pun semakin kendor, dan kau pun secara diam-diam mulai melacak dan menyelidiki rencana busuk mereka."

"Ternyata kau benar-benar mengerti."

"Sebenarnya rencana busuk apa pula yang sedang mereka lakukan?" tanya si Kuah daging.

"Sekarang juga akan kuajak kalian menyaksikan rencana busuk mereka."

-- 00 --

Ruang utama gedung Sah Toa-hu.

Di atas tiang penglari terikat tubuh seseorang dengan rambut awut-awutan dan sekujur tubuh terluka. Tampaknya orang itu berhasil dibekuk dan diikat setelah pertempuran yang amat sengit.

Orang itu tak lain adalah Pek-li Tiang-cing.

Suasana dalam ruangan terasa amat hening dan mencekam.

Napas Pek-li Tiang-cing masih tersengal, matanya melotot penuh gusar.

Sah Toa-hu sambil menggendong tangan berjalan mondar-inandir dalam ruangan dengan kepala tertunduk.

Kiong So-so dan Laopan Nio duduk di atas bangku, mereka sama sekali tak bergerak.

Pengemis cilik dan si Buta Tio hanya berdiri saling pandang, mereka pun tak mengucapkan sepatah kata pun.

Suasana yang mencekam serasa amat menyesakkan napas, membuat orang ingin menarik napasnya yang terengah.

Akhinrya si Buta Tio tak tahan menghadapi suasana seperti ini, tiba-tiba ia melompat bangun dan serunya, "Kenapa Kim-lotoa minta kami mengampuni jiwanya?"

Sah Toa-hu membalikkan badan menghadap si Buta Tio, sahutnya, "Kim-lotoa berbuat begitu sudah pasti ia punya maksud tertentu."

"Benar."

Kim Bong berjalan keluar dari balik ruangan, ia mengenakan pakaian yang sangat indah dan mevvah dengan renda terbuat dari emas murni.

Pakaian yang dikenakan Kim Bong mewah dan menyilaukan mata, namun raut wajahnya justru gelap, murung dan menyeramkan, membuat siapa pun enggan memandang ke arahnya.

"Tahukah kalian, kenapa aku tetap membiarkan dia hidup?"

Dengan sorot mata gusar ia melotot ke arah Pek-li Tiang-cing. Sementara Pek-li Tiang-cing pun balas melotot gusar ke arahnya.

"Aku telah membuang banyak pikiran dan tenaga untuk merancang rencana yang tiada duanya irii," sorot mata Kim Bong perlahan-lahan dialihkan ke wajah setiap orang yang berada dalam ruangan, "kita sudah banyak membunuh orang sebelum kota Ui-sik terjatuh ke tangan kita, tapi sekarang semua usaha kita sia-sia, tahukah kalian apa sebabnya?"

Tak seorang pun menjawab, karena tak ada yang tahu kenapa Kim Bong mengucapkan perkataan itu, bahkan mereka tak jelas apa yang dimaksud dengan ucapannya itu.

Semua tidak paham, terpaksa Kim Bong mengajak mereka keluar gedung, menghampiri kereta barang yang parkir di tepi lapangan.

"Buka!" perintah Kim Bong.

Peti yang termuat dalam kereta barang pun dibuka.

Emas lantakan yang seharusnya berwarna kuning serta memancarkan sinar berkilauan, tiba-tiba berubah jadi tak bersinar lagi. Ternyata semua emas murni itu telah berubah menjadi besi rongsok yang hitam pekat.

Mereka pun balik ke ruang utama.

Kini suasana dalam ruangan semakin mencekam dan suram, bukan saja membuat napas jadi sesak, bahkan membuat kepala setiap orang tak sanggup diangkat kembali.

Semua orang menundukkan kepala, mengawasi besi rongsok berwarna hitam yang dibawa Kim Bong dan kini diletakkan di atas meja.

Sejenak kemudian sinar mata semua orang dialihkan kembali ke wajah Lotoa mereka, Kim Bong.

"Ini membuktikan di anlara kita ada yang telah membocorkan rahasia ini."

"Siapa yang menjadi pengkhianat di antara kita?" tanya Sah Toa-hu.

"Siapa?" seru Laopan Nio.

Dengan sorot mata berapi-api Laopan Nio menatap tajam wajah si ButaTio.

Si Buta Tio terperanjat, ia balas menatap wajah Laopan Nio, kemudian secara tiba-tiba berpaling ke arah pengemis cilik.

Pengemis cilik pun memandang ke arah Kiong So-so.

Kiong So-so balas menengok Lopan toko kelontong, sang Lopan berbalik memandang Laopan Nio.

Kini semua orang saling pandang, saling mengawasi dengan penuh curiga.

Suasana makin mencekam, serius dan menggidikkan.

Tiba-tiba Kim Bong melompat bangun, katanya, "Sebenarnya yang penting saat ini bukan menemukan siapa pengkhianatnya."

Sambil berkata ia menghampiri Pek-li Tiang-cing, katanya pula, "Yang penting sekarang adalah mencari tahu dimana emas murni yang telah tertukar ini disimpan."

Mendadak ia menarik rambut Pek-li Tiang-cing dan ujarnya lagi, "Sekarang tentu kau tahu bukan kenapa aku membiarkanmu tetap hidup? Asal kau bersedia menunjukkan dimana emas itu kau sembunyikan, bukan saja aku akan membebaskan dirimu, akan kubebaskan juga seluruh anak buahmu, aku pun takkan menyelidiki siapa pengkhianat itu, malahan akan kubagikan satu bagian emas untuk bekalmu."

Pek-li Tiang-cing mengangkat kepala, memandang Kim Bong sekejap, mendadak ia menyemburkan ludah ke wajahnya.

"Bagus!" mendadak seseorang berseru dari luar pintu.

Semua orang segera berpaling, dialihkan ke wajah orang yang barusan bicara.

Tak seorang pun kenal si pembicara, karena ia hanya seorang nenek bertubuh kecil.

Kembali si nenek berkata; "Kalau kau anggap benar-benar ada orang bakal mempercayai perkataanmu, itu namanya bertemu setan di siang hari bolong."

"Siapa kau?" tegur Kim Bong gusar.

"Aku? Aku hanya seorang yang sudah mati."

"Kurang ajar!"

Kim Bong melambung ke udara. sebuah pukulan dilontarkan menyerang tubuh si nenek. Dengan cekatan si nenek mengegos ke samping, kembali ejeknya, "Sebelum tahu siapa aku, kau sudah menyerang lebih dulu, jika menderita kerugian, bagaimana jadinya?"

Kim Bong tak mempedulikan ejekan itu, pukulan dilancarkan semakin dahsyat, angin serangan menderu-deru, yang dituju bagian mematikan.

Si nenek hanya berkelit sambil tersenyum, tak sejurus pun ia membalas.

Semua orang yang menonton jalannya pertarungan nyaris tak percaya dengan pemandangan yang terpampang di depan mata.

Di kolong langit dewasa ini, rasanya hanya ada seorang yang mampu menghadapi tiga puluh jurus serangan Kim Bong secara beruntun tanpa membalas.

Liok Siau-hong!

Bukankah Liok Siau-hong sudah mampus?

Dalam benak setiap orang nyaris dipenuhi oleh pertanyaan itu, tiba-tiba pengemis cilik teringat sesuatu, teringat akan perkataan pertama sewaktu si nenek muncul tadi.

Aku hanya seorang yang sudah mati.

Tiba-tiba sekujur badan pengemis cilik itu gemetar keras.

"Dia ... dia ... dia adalah Liok Siau-hong!"

Si Buta Tio dan rekan-rekannya terkesiap, perasaan mereka bergetar keras setelah mendengar teriakan itu.

Si nenek yang sedang berkelit kian kemari, mendadak melambung ke udara, kemudian setelah berjumpalitan, sahutnya, "Tepat sekali, akulah Liok Siau-hong."

Sewaktu tubuh si nenek melayang turun ke tanah, sebagian besar dandanan wajahnya telah rontok.

Ketika berdiri kembali, wajah aslinya pun segera terpampang jelas.

"Kau belum mampus?" jerit Kiong So-so kaget.

"Tentu saja aku belum mati, mana mungkin Liok Siau-hong mati? Kalau mampus, bukankah rencana busuk kalian akan sukses?"

"Tapi...."

"Kalian pasti ingin tahu bukan siapa yang telah mampus?"

Tak ada yang menjawab, sebab semua memang ingin tahu.

"Baiklah, biar kuberitahukan kepada kalian, tak ada yang mati. Yang ada hanya orang yang pura-pura mati."

"Pura-pura mati?"

"Yang pura-pura mati adalah Lausit Hwesio,"  Siau-hong menjelaskan, "aku minta kepada Sukong Ti-sing untuk mengubah wajahnya, menyamar menjadi aku, kemudian di atas dadanya kuikat sebuah lempengan baja serta sebuah bungkusan berisi cairan merah seperti darah ....”

"Masih ingat peristiwa pengeroyokan kalian terhadapku di senja itu? Padahal yang kalian kerubut bukan aku, tapi Lausit Hwesio, sementara aku sendiri telah bersembunyi di sisi arena sambil mengamati ulah kalian.

"Kulihat Sah Toa-hu mahir ilmu golok Sin-hong-to-hoat (ilmu golok angin sakti) dari samudra timur, seketika itu juga aku sadar, ternyata kalian memang kawanan perompak lautan timur yang termashur, membunuh orang tanpa berkedip.”

"Waktu itu sudah menjelang senja, Lausit Hwesio sengaja berkelit ke kiri menghindar ke kanan, sampai akhirnya ia tabrakkan dadanya ke ujung pedang Kiong Peng. Karena benturan itu, bungkusan yang berisi cairan merah pun pecah, darah pun segera mengucur dari dadanya, saat itulah si Hwesio segera menggunakan ilmu pernapasan kura-kuranya untuk berlagak mampus.”

"Ketika ia tergeletak di tanah, langit sudah bertambah gelap, tentu saja kalian tak bisa menyaksikan keadaannya dengan jelas, apalagi kalian kelewat yakin dengan tusukan pedang Kiong Peng."

"Oleh sebab itulah ia tewas di ujung pedang Sebun Jui-soat," sambung Sah Toa-hu.

"Dia mampus karena terlalu yakin dengan kemampuannya, kegagalan kalian pun dikarenakan kebiasaan buruk manusia, siapa sih yang bakal menambahi sebuah tusukan pada sesosok mayat? Tidak ada, maka dari itu usaha si Hwesio yang pura-pura mati pun berhasil dengan sukses."

"Kau jangan senang dulu," ejek Laopan Nio, "jangan lupa, Sebun Jui-soat dan si Kuah daging masih berada di tangan kami."

"Benarkah begitu?" kembali dari luar pintu terdengar seorang berseru.

Tentu saja suara itu berasal dari si Kuah daging yang mengejek dengan bangga.

Sebun Jui-soat yang selamanya jarang bicara, kali ini kembali berkata, "Kalau aku tidak sengaja berlagak masuk perangkap hingga tertawan, bagaimana mungkin rahasia Kim Bong bisa terbongkar?"

Tak ada yang menjawab, sebab paras muka semua orang telah berubah, seakan tercebur dalam pecomberan.

"Masih ada satu hal yang tidak kupahami," tiba-tiba Kim Bong berkata.

"Soal apa?" tanya Siau-hong.

"Jadi kalian yang telah mengganti emas itu dengan besi rongsokan?"

"Benar."

"Hanya mengandaikan kau seorang dapat mengganti seluruh emas itu?"

"Pa'ahal sama sekali tidak kuganti emas itu."

"Aku tidak mengerti"

"Sederhana sekali."

Siau-hong berjalan menghampiri sekeping besi rongsok yang tergeletak di meja, diambilnya kepingan besi itu, lalu dari sakunya ia mengeluarkan sebuah kipas, dengan kipas itu ia gosok besi rongsok tadi.

Tak lama kemudian warna hitam yang melapisi besi itu mengelupas, dari balik warna hitam itu muncullah sinar kuning emas yang menyilaukan mata.

Lagi-lagi semua orang terperangah.

"Padahal aku hanya melapisi emas itu dengan warna khas, warna hitam seperti besi berkarat," Siau-hong menjelaskan.

"Tapi mana mungkin kau lakukan seorang diri?"

"Tentu saja tidak mungkin," kembali dari luar berkumandang suara seseorang.

Lausit Hwesio telah mengenakan kembali jubah pendetanya, Sukong Ti-sing pun telah mengenakan pakaian ringkasnya yang siap digunakan untuk memetik bintang.

"Tanpa bantuan Lau-sit Hwesio, mana mungkin Liok Siau-hong dapat melumuri seluruh emas murni itu?"

"Tanpa Sukong Ti-sing memangnya kalian mampu melumuri seluruh emas murni itu?"

Tak ada yang bicara lagi, siapa yang masih mampu bicara? Dalang rencana busuk ini sudah terungkap, apalagi yang perlu dibicarakan?

Satu-satunya yang bisa mereka lakukan hanya menggunakan nyawa dan darah untuk melampiaskan rasa gusar, kecewa dan dongkolnya.

Secara tiba-tiba Kim Bong melolos pedangnya, langsung menyerang Siau-hong.

Sah Toa-hu dan si Buta Tio menyerang Sebun Jui-soat.

Laopan Nio menyerang si Kuah daging.

Kiong So-so menyerang Sukong Ti-sing.

Si pengemis cilik menyerang Pek-li Tiang-cing yang masih terikat di belandar rumah.

Di antara sekian banyak orang, yang paling punya harapan berhasil dalam serangannya hanya pengemis cilik.

Karena Pek-li Tiang-cing sudah kehilangan kemampuannya untuk melawan.

Tapi sayang dugaan si pengemis cilik keliru besar.

Tiba-tiba ikatan tali yang melilit tubuh Pek-li Tiang-cing terlepas, di saat si pengemis cilik menyangka serangannya bakal berhasil, tinju Pek-li Tiang-cing dengan telak bersarang di atas dadanya.

Pengemis cilik itupun roboh terjungkal, ketika tubuhnya terpelanting, ia sempat mendengar Pek-li Tiang-cing berkata, "Ketika Liok Siau-hong menghindari gempuran Kim Bong secara diam-diam ia telah memutuskan tali di tubuhku."

Pertarungan tak seimbang pun berakhir dalam waktu singkat.

Siapa yang mampu menandingi Liok Siau-hong dan Sebun Jui-soat saat ini? Apalagi mereka turun tangan bersama? Bukan cuma itu, masih ada Sukong Ti-sing serta Lausit Hwesio!

--O0O—

Fajar telah menyingsing, pagi diselimuti kabut. Fajar di kota Ui-sik terasa tenang, tiada angin berhembus. Tak ada pasir kuning yang beterbangan.

Mungkin sang angin tahu gejolak yang melanda kota Ui-sik sudah reda?

Lambat-laun sang surya pun muncul, menyinari seluruh jagat.

Sinar mentari memancarkan cahayanya menerangi seluruh jagad, menyinari tanah pasir berwarna kuning.

Pek-li Tiang-cing tertawa puas, tersenyum sambil mengawasi anak buahnya mengangkut peti berisi emas murni.

Tiba-tiba seorang piausu mendongakkan kepala dan bertanya kepada Pek-li Tiang-cing, "Siapa yang telah menyelamatkan kita?"

"Kecuali dia, siapa lagi?"

"Dia? Siapa?"

"Aku."

Semua piausu berdiri bodoh, ada tiga orang yang menjawab pertanyaan itu.

Si kakek kecil telah menghapus penyamarannya, Liok Siau-hong!

Si nenek pun muncul dengan wajah aslinya, Lausit Hwesio!

Sedang Liok Siau-hong adalah penyamaran Sukong Ti-sing!

Semua piausu pun tertawa, tertawa terbahak-bahak.

Terlebih si Kuah daging, tertawa terpingkal-pingkal.

Di antara gelak tawa mereka, yang paling nyaring adalah suara tawa Liok Siau-hong. Karena ia mendengar suara tawa seseorang dan orang itu belum pernah tertawa.

Sebun Jui-soat!

T A  M  A  T