pedang gadis yueh
Pedang Gadis Yueh
Karya: Jin Yong (Louis Cha)
LATAR BELAKANG:
Cerita ini berdasar peristiwa sejarah nyata
yang terjadi di sepanjang abad ke 5 Sebelum Masehi.
Suatu periode yang dikenal sebagai periode
di antara Periode Musim Semi dan Musim Gugur,
dengan Periode Peperangan antar
Kerajaan-Kerajaan1. Negeri Cina belum disatukan oleh Chin
Shi Huangdi2. Yang disebut suku Han3 juga
belum ada. Negeri Cina masih terbagi-bagi menjadi
kerajaan kecil dan besar, daerah atau
propinsi dengan para penguasanya yang satu dengan lainnya
selalu berperang terus menerus.
Cerita ini dimulai ketika raja Chuh
berselingkuh dengan tunangan putranya. Suatu perbuatan jelek, di
jaman apapun juga. Sekarang raja Chuh takut kalau putranya akan
berbalik melawan dia. Ketakutannya diwujudkan dalam tindakan berupa
tuduhan palsu, melalui salah satu menterinya yang paling ambisius
untuk menghancurkan komplotan pangeran mahkota. Hasilnya pembersihan
yang membinasakan banyak keluarga keluarga besar dan rumah tangga.
Salah satu keluarga, yang memiliki banyak harta kekayaan, adalah
keluarga Wu. Putra Wu termuda, Wu Tzu-Shi, berhasil lolos dan
bersumpah akan membalas dendam.
Setelah perjalanan yang panjang dan
berbahaya melalui beberapa kerajaan yang menolak untuk
membantu, ia tiba di kerajaan Wu yang baru
saja berdiri. (Huruf Cina untuk Wu pada Wu Tzu-
Shi berbeda dari huruf Wu pada kerajaan Wu).
Ia membantu Pangeran Ho Lu untuk membunuh
kemenakannya yang menjadi raja dalam suatu
perebutan tahta. Kemudian ia membangun
kerajaan Wu dari suatu kerajaan yang baru
saja berdiri menjadi kerajaan modern dengan angkatan
perang yang paling terlatih baik di dunia
yang dikenal saat itu. Sun Tzu5, penulis buku ‘Seni
Perang’ yang terkenal, hidup dan mengabdi di
kerajaan Wu pada saat itu.
Saat Wu Tzu-Shi sudah siap, ia mengatur
rencana untuk meyakinkan Raja Ho Lu agar menyerbu
kerajaan Chuh. Saat itu kerajaan Chuh adalah
satu negara adikuasa sedangkan Wu hanya kerajaan
kecil, tetapi kerajaan kecil sudah berani
merencanakan menyerang kerajaan Chuh yang besar.
Sayangnya, balas dendam Wu Tzu-Shi mengalami
kegagalan. Obyek tujuan balas dendamnya
telah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Dengan murkanya Wu Tzu-Shi menggali mayat sang
raja dan mencincangnya sampai hancur
berkeping-keping.
Kerajaan Wu terbukti tidak mampu menahan
serbuan kerajaan Chuh yang jauh lebih besar,
maka Wu Tzu-Shi harus terlebih dulu menarik
angkatan perangnya kembali ke negeri Wu.
Kemudian, Ho Lu memulai serangkaian
peperangan lagi untuk kembali mengukuhkan
kekuasaannya atas sisa-sisa Negeri Cina
lainnya. Pada salah satu dari sekian banyak peperangan, ia
berhadapan dengan kerajaan Yueh. Orang-orang
Yueh pada saat itu masih tertinggal jauh
1 Periode Musim Semi dan Musim Gugur (722 SM
– 481 SM) terdiri dari kurang lebih 170 kerajaan kecil-kecil, antara
lain Qi, Lu, Jin, Qin, Chu, Wu, Yue dan lain-lain. Diberi nama
demikian sesuai judul buku “The Spring and Autums Annals” yang
ditulis oleh Kong Hu Cu (Confucius) yang hidup pada masa-masa itu.
Periode Peperangan Antar Kerajaan (The Warring Kingdoms atau Warring
States 481 SM - 212 SM). Negara-negara yang terlibat Zhao, Yan, Chu,
Han, Wei, Qi dan Qin sehingga disebut “Seven Overlords”. Pemenangnya
adalah negara Qin dan rajanya, Zheng, memberi nama dirinya Shi
Huangdi (Kaisar Pertama). Ahli sejarah menyebutnya Qin Shi Huang.
2 Qin Shi Huangdi adalah pemersatu negara
China pada saat itu. China berasal dari kata Chin (Qin). Sayangnya
kerajaan Qin hanya bertahan 5 tahun (221 SM – 206 SM) saja. Ialah
yang mengawali pembangunan Tembok Besar China pertama kali (terakhir
kali oleh Dinasti Ming, seluruhnya kuranglebih 6000 kilometer)
dengan maksud menahan serbuan suku-suku nomaden dari utara, terutama
suku Xiongnu yang disebut suku barbar.
3 Suku Han disebut-sebut sesudah Kerajaan
Han berdiri dan berjaya (206 SM – 220 M). Kerajaan Han didirikan
oleh Liu Bang (Liu Pang) salah satu panglima Kerajaan Qin, sesudah
Qin runtuh dengan wafatnya Qin Shi Huangdi
4 Chuh (Chu) salah satu kerajaan yang
terkuat di zaman itu.
5 Periode di saat Sun Tzu hidup masih banyak
perdebatan, terutama jika peralatan perang yang digambarkan dalam
bukunya ternyata jauh lebih maju dibandingkan zaman kerajaan Wu saat
itu, bahkan ada yang menganggapnya hanya tokoh rekaan saja
6 Kerajaan Yueh (Yue) terkenal dengan
kerajinan logamnya, terutama pedang.
dibandingkan Wu, tetapi mereka
pejuang-pejuang yang hebat. Kerajaan Yueh diperintah oleh
Raja Kou Chiang. Pada salah satu
pertempuran, Raja Ho Lu terkena panah beracun dan
meninggal.
Fu Chai putra Ho Lu menjadi raja. Ia
bertekad membalas dendam untuk bapaknya. Satu
pengawal pribadinya dipesan untuk selalu
mengingatkannya akan kejadian ini di saat-saat tertentu
dengan mengatakan, "Fu Chai, apakah Anda
melupakan balas dendam kematian ayahandamu?".
Kemudian Fu Chai mulai mengumpulkan angkatan
perangnya dan membinasakan angkatan
perang Yueh. Raja Kou Chiang menjadi tawanan
Fu Chai untuk beberapa tahun. Tetapi Fu Chai
ternyata bukan seorang manusia kejam.
Sebagai ganti dikuasainya kerajaan Yueh dan menjadikan
Kou Chiang seorang budak, ia berkenan
melepaskan Kou Chiang setelah Kou Chiang bersumpah
melepaskan statusnya sebagai raja Yueh.
Sayangnya, kebaikan hati ini tidak diterima di hati oleh
Raja Kou Chiang. Kou Chiang, seperti Wu
Tzu-Shi dan Fu Chai sebelumnya, dirasuki keinginan
yang berkobar-kobar untuk membalas dendam
pada orang yang telah mengalahkannya.
Kou Chiang mengangkat dua pria pandai dari
kerajaan Chuh. Satunya adalah Feng Li, lainnya
adalah Wen Chung. Keduanya mulai membangun
kerajaan Yueh yang masih tertinggal agar suatu
hari bisa menghadapi pengaruh kekuasaan
kerajaan Wu. Banyak dongeng dihubungkan dengan
periode sejarah ini. Salah satu dari dongeng
itu adalah Dongeng Gadis Yueh.
CERITA:
"Silahkan!."
"Silahkan!."
Kedua pendekar itu menurunkan ujung pedang
mereka ke bawah. Telapak tangan kanan mereka
memegang gagang pedang, telapak tangan kiri
menangkup ke telapak tangan kanan, dan
kemudian mereka membungkuk dalam-dalam ke
arah satu sama lainnya dalam suatu pemberian
hormat khas prajurit.
Sebelum keduanya sempat meluruskan badan,
mendadak suatu kilatan cahaya putih melintas di
langit, disusul bunyi gemuruh. Kedua
pendekar masing-masing mundur selangkah. Para
pengunjung bertepuk tangan. Pendekar berbaju
biru menebaskan pedangnya tiga kali. Pendekar
lawannya menangkis setiap tebasan tersebut.
Pendekar berbaju biru berteriak dan menebaskan
pedangnya dari sudut kiri bawah langsung
lurus ke atas. Tebasan tersebut sangat kuat dan cepat.
Lawannya pendekar berseragam ternyata sulit
dikenai. Dengan satu lompatan sederhana ia
berhasil menghindarinya. Tubuhnya segera
melenting begitu kakinya menyentuh tanah. Dia
mengembalikan dua tebasan. Pendekar berbaju
biru tetap tersenyum-simpul. Dia segera
menggerakkan kembali pedangnya dengan sangat
cepat dan menangkis serangan itu.
Pendekar berseragam tiba-tiba mulai lari
berputar mengelilingi pendekar berbaju biru. Ia berlari
cepat dan makin cepat. Pendekar berbaju biru
mengawasi gerak pedang musuhnya. Ia siap untuk
menangkis kapanpun juga serangan akan
datang. Pendekar berseragam pada mulanya berlari ke
satu arah, kemudian mulai berbalik dan
berbalik lagi. Pendekar berbaju biru sedikit merasa
pusing dan berkata, "Hei, kau mau berkelahi,
atau mau kabur?" Pendekar berseragam terus saja
berlari. Pendekar berbaju biru berkali-kali
mencoba memotong arah larinya, tetapi pedangnya
selalu luput.
Pendekar berbaju biru menarik pedangnya
kembali ke samping badannya lalu menekuk kaki
kanannya dengan cepat. Pendekar berseragam
melihat suatu celah di sisi bahu kiri musuhnya.
Pendekar berbaju biru terlihat memberi umpan
pada musuhnya. Pedangnya lalu berputar dan
satu tusukan menusuk lurus ke dalam
kerongkongan pendekar berseragam. Tusukan itu sulit
untuk dihindari. Pendekar berseragam
terkejut. Ia segera melontarkan pedangnya ke arah jantung
musuhnya. Pendekar berseragam berharap bisa
memaksa pendekar berbaju biru membatalkan
tusukannya agar jiwanya bisa diselamatkan.
Tidak terduga, pendekar berbaju biru tidak
mencoba untuk menangkis. Dengan menggerakkan
lengan tangannya, ujung pedangnya menghunjam
ke dalam kerongkongan pendekar berseragam.
Baru sesaat kemudian pedang yang dilemparkan
pendekar berseragam menghantam dadanya, dan
dengan suara nyaring jatuh ke tanah.
Pendekar berbaju biru tertawa dingin dan segera mencabut
pedangnya. Ternyata ia memakai plat besi di
depan dadanya, tepat di belakang pakaiannya. Itulah
sebabnya mengapa pedang tidak mampu
melukainya. Kerongkongan pendekar berpakaian
seragam menyemburkan darah dan badannya
jatuh menggelosor. Para pelayan masuk ke arena
untuk memindahkan mayat dan segera
membersihkan darah di tempat itu.
Pendekar berbaju biru menyarungkan
pedangnya. Ia maju ke depan dan membungkukkan
badannya ke arah utara menghadap aula di
mana raja bertahta. Raja mengenakan jubah berwarna
ungu. Ia tampak aneh. Lehernya terlihat
panjang dan mulutnya tampak seperti paruh burung.
Raja tersenyum dan berkata dengan suara
serak, "Orang hebat pasti memiliki ilmu pedang sangat
hebat. Beri dia hadiah sepuluh tael emas."
Pendekar berbaju biru berlutut dengan bertumpu pada
kaki kanannya lalu membungkuk "Terimakasih
untuk hadiahnya." Raja melambaikan tangan
kirinya. Seorang pejabat di sisi kanannya
berteriak, "Pendekar Wu dan pendekar Yueh,
pertarungan kedua!"
Dari pojok di sisi timur aula, seorang
pendekar berseragam keluar dari dari kelompoknya.
Orangnya jangkung dan memegang pedang besar.
Pedangnya hampir empat kaki panjangnya.
Mata pedangnya sangat tebal dan tentu saja
berat. Dari sisi barat aula, seorang pendekar berbaju
biru berjalan memasuki arena. Tingginya
sedang-sedang saja. Mukanya penuh codetan sedikitnya
duabelas atau tigabelas garis pedang yang
meninggalkan parut-parut. Mukanya tidak tampak lagi
seperti manusia. Mungkin ia telah
beratus-ratus kali bertempur dengan para pendekar yang tak
terhitung jumlahnya.
Keduanya berlutut memberi hormat kepada
raja, lalu mereka memberi hormat satu sama lainnya.
Pendekar berbaju biru meluruskan badannya
dan tersenyum. Senyuman tersebut membuat
tampangnya tampak makin kejam dan buruk.
Pendekar jangkung merasa gentar. Kemudian ia
terbatuk-batuk dan memegang erat-erat
pedangnya dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba pendekar berbaju biru berteriak
keras seperti seekor serigala dan menusukkan
pedangnya. Pendekar jangkung juga berteriak,
mengangkat pedang besarnya dan membacokkan
ke arah kepala lawannya. Pendekar berbaju
biru mengelak sembari membolang-balingkan
pedangnya dari kiri ke kanan. Pendekar
jangkung mengangkat pedang besarnya lalu memutarnya,
menimbulkan bunyi angin gemuruh. Berat
pedang besarnya tidak membuatnya lambat sewaktu
membacok.
Keduanya sudah tigapuluh kali saling
berbenturan. Pendekar berbaju biru mulai tidak mampu
menahan berat pedang lawannya. Ia mundur
terus-menerus. Semua pendekar berseragam
menunjukkan harapan di wajah mereka dan
menduga kemenangan kali ini jatuh di pihak mereka.
Pendekar jangkung berteriak keras seperti
bunyi guntur dan membuat tebasan mendatar dengan
pedang besarnya. Pendekar berbaju biru tidak
mampu menghindarinya. Ia hanya bisa menahan
dengan pedangnya dan mengerahkan semua
kekuatannya. Traang!!. Suara gemerincing dua pedang
beradu terdengar. Pedang besar patah dan
separuhnya hilang entah kemana. Pedang pendekar
berbaju biru ternyata sangat tajam. Pendekar
berbaju biru menebaskan pedangnya lurus keatas ke
arah kerongkongan pendekar berseragam yang
terbuka sampai terpotong seluruhnya. Pendekar
jangkung mendengkur dan terus mendengkur
sampai ia jatuh tersungkur ke tanah. Pendekar
berbaju biru melirik sebentar ke arah lawan
yang baru dikalahkannya lalu mengembalikan pedang
ke dalam sarungnya. Kemudian ia berlutut ke
arah raja. Mukanya tidak bisa menyembunyikan
kegembiraan atas kemenangannya.
Si Pejabat berkata, "Kepandaian bermain
pedang yang sangat mengesankan. Hadiahnya sepuluh
tael emas." Pendekar berbaju biru berterima
kasih dengan membungkukkan badan. Hanya ada
delapan pendekar berbaju biru dibandingkan
dengan lima puluh pendekar berseragam yang
berada di sisi timur aula, tentu saja mereka
tampak lebih sedikit karena kalah jauh jumlahnya.
Si Pejabat berkata lagi, "Pendekar Wu dan
pendekar Yueh, pertarungan ke tiga."
Sekali lagi, seorang pendekar dari
masing-masing pihak berjalan ke tengah arena. Pedang pendekar
berbaju biru tampak berkilat-kilat dan
bersinar seperti sinar sang surya. Si Pejabat berkata,
"Pedang yang bagus!" Pendekar berbaju biru
berterimakasih atas pujiannya. Pejabat itu berkata
lagi, "Kita sudah melihat pertarungan satu
lawan satu. Kali ini, dua lawan dua!"
Dua orang pendekar kembali memasuki arena.
Sekali lagi ke empat pendekar menghormat
kepada raja, baru menghormat ke arah
lawannya masing-masing.. Pedang langsung berkelebat
begitu pertempuran dimulai. Pada pertarungan
ini, masing-masing kelompok pendekar harus
saling bekerja sama satu dengan lainnya.
Setelah beberapa saat lewat, pedang salah satu pendekar
berseragam sudah terpotong separuh oleh
pedang musuhnya. Pendekar berseragam ini ternyata
sangat pemberani. Sambil membawa potongan
pedangnya ia menerjang ke arah musuhnya.
Pedang lawannya berkelebat dan memotong
tangan kanannya bersama bahu kanannya, baru
kemudian pedang itu menusuk jantungnya.
Pasangan lain masih berkelahi. Sang pemenang
si Pendekar berbaju biru menonton sebentar,
kemudian pedangnya berkelebat lagi. Sekali
lagi, pedang pendekar berseragam terpotong separuh,
dan badannya terbuka lebar. Pedang musuh
menusuk dadanya dan tembus ke punggungnya.
Raja tertawa dan bertepuk tangan,
"Pedang-pedang yang hebat! Ilmu pedang yang hebat. Hadiahi
mereka emas dan anggur. Mari kita lihat
pertarungan empat melawan empat!"
Empat pendekar dari masing-masing pihak
mulai bertempur. Pendekar dari sisi timur telah
kehilangan tiga pertarungan. Ke empat
pendekar ini dengan putus-asa mulai melancarkan semua
serangan dengan semua keahlian yang mereka
miliki. Sekalipun mereka akhirnya mati, mereka
ingin memenangkan sedikitnya satu
pertarungan. Dua pendekar berbaju biru mengkonsentrasikan
serangannya pada satu pendekar berseragam.
Dua pendekar berbaju biru lainnya bertahan
melawan tiga pendekar berseragam.
Pendekar-pendekar berbaju biru ini melulu hanya bertahan.
Tapi pertahanan mereka tak dapat ditembus.
Mereka juga tidak berusaha untuk menyerang,
mereka semua hanya mencegah serangan dari ke
tiga lawannya yang berusaha membantu teman
mereka. Tentu saja dua pendekar berbaju biru
dengan mudah membunuh lawan satu-satunya.
Kemudian mengulangi siasat mereka sekali
lagi dan berhasil membunuh satu pendekar
berseragam lainnya .
Para pendekar berseragam di sisi timur aula
mulai marah melihat kematian teman-teman mereka.
Mereka segera melolos pedangnya dan
bersiap-siap membantu teman-teman mereka untuk
mencincang para pendekar berbaju biru
menjadi potongan-potongan kecil.
Si Pejabat berteriak dengan suara nyaring,
"Mereka yang belajar jalan pedang, harus patuh hukum
pedang!"
Suaranya sangat berwibawa. Para pendekar
berseragam mulai tenang kembali. Pada saat ini semua
orang bisa melihat bahwa para pendekar
berbaju biru memang memiliki ilmu pedang yang sangat
berbeda. Dua orang khusus untuk bertahan.
Dua lainnya khusus untuk menyerang. Para
pendekar penyerang tampak lebih unggul
dibandingkan para musuhnya karena punggungnya
selalu dilindungi oleh para pendekar
lainnya. Pedang-pedang para pelindung ini membentuk
jaring pertahanan pedang yang rapat dan
mampu menghadapi lima serangan bahkan enam
serangan secara mudah.
Sekarang, dua pendekar yang bertahan sudah
berhasil memojokkan lagi seorang pendekar
berseragam, jadi dia sudah tak berdaya.
Dengan cepat dua pendekar penyerang berhasil
membunuh pendekar berseragam ke tiga. Ke dua
pendekar yang bertahan mulai memisahkan diri
ke kanan dan ke kiri dan mengawasi jika ada
musuh lainnya sewaktu ke dua pendekar penyerang
meneruskan serangannya ke satu-satunya
pendekar berseragam yang masih tersisa. Tapi walaupun
pendekar berseragam ini tidak memiliki
harapan menang, ia tetap tidak mau menjatuhkan
pedangnya untuk mengaku kalah. Tiba-tiba ke
empat pendekar berbaju biru berteriak nyaring
dan dengan berbarengan pedang mereka menusuk
pendekar berseragam dari empat arah.
Pendekar berseragam mati seketika. Matanya
terbuka lebar seperti mangkuk. Mulutnya juga
terbuka lebar. Ke empat pendekar berbaju
biru mencabut pedang mereka berbarengan. Lalu ke
empatnya mengesutkan pedang ke telapak kaki
sepatunya, dan mengembalikan pedang ke
sarungnya. Semua gerakan dilakukan
berbarengan.
Raja tertawa dan sekali lagi bertepuk
tangannya, "Ilmu pedang yang hebat. Para pendekar
Kerajaan Agung memang sungguh-sungguh tak
terkalahkan. Hanya di hari ini kita diberi
pertunjukan besar seperti itu. Hadiahi
mereka masing-masing sepuluh tael emas." Keempatnya
berterima kasih dengan membungkukkan badan.
Mereka membungkuk dengan sudut yang sama.
Tak seorangpun tahu berapa lama mereka
berlatih untuk mencapai ketepatan seperti itu.
Seorang pendekar berbaju biru maju, membawa
suatu kotak panjang bercat keemasan dan
berkata, "Raja kami berterima kasih atas
hadiah yang berharga dari Paduka. Yang Mulia
memerintahkan kami untuk menyerahkan hadiah
berupa satu pedang berharga. Pedang ini baru
saja di tempa di kerajaan kami untuk
kesenangan Paduka."
Raja tersenyum, "Terimakasih. Menteri Feng,
bawalah barang itu ke sini."
Raja itu adalah Kou Chiang, Raja Yueh. Sang
Pejabat adalah Feng Li, penasehat kerajaan.
Pendekar berseragam adalah Pengawal Raja
Yueh. Ke delapan pendekar berbaju biru adalah
utusan yang dikirim oleh Fu Chai, Raja Wu.
Kou Chiang pernah dikalahkan oleh Fu Chai dan ia
sedang menanti-nantikan kesempatan untuk
membalas dendam. Di depan ia bersikap tunduk
kepada Kerajaan Wu, tetapi dengan diam-diam
ia melatih para tentaranya untuk bersiap-siap
menyerang Wu. Dalam rangka menguji
ketrampilan para pendekar Wu, ia mengirim pendekarpendekar
terbaiknya. Tapi ia tidak mengira kalau para
pendekar Wu dengan mudah membunuh
ke delapan pendekar terbaiknya. Ia terkejut
dan marah, tetapi ia mampu menyembunyikannya.
Sebagai gantinya, malahan ia memuji
ketrampilan pedang para pendekar Wu dan
memperlihatkan kebaikan hatinya.
Feng Li mengambil kotak panjang keemasan
itu. Kotak itu terasa sangat ringan, bisa saja di duga
isinya kosong. Ia membuka tutup kotak.
Sebelum orang lain di aula bisa melihat apa yang ada di
dalam kotak itu, terlihat wajah Feng Li
diselimuti oleh cahaya biru yang berkilauan. Semua orang
berteriak dengan terkejut.
Feng Li membawa kotak itu ke Kou Chiang dan
membungkuk, "Silahkan dilihat, Yang Mulia".
Kou Chiang melihat kalau kotak itu dilapisi
dengan sutera merah. Pedang di dalamnya
mempunyai mata pisau yang sangat tipis.
Cahaya yang dipantulkan dipermukaannya terlihat
mengalir seperti aliran air. Ia berkata,
"Pedang yang hebat!". Ia memegang gagangnya dan
mengangkat pedang itu. Mata pedang terlihat
rapuh, seolah-olah bisa patah hanya dengan
mengibaskan pergelangan tangannya. Ia pikir
"Mata pisau pedang terlalu tipis. Kelihatannya saja
hebat, tetapi tidak punya manfaat praktis."
Pemimpin pendekar berbaju biru mengambil
satu potongan kain kasa tipis dari sakunya dan
melemparkannya ke udara. "Silahkan Paduka,
hadapkan sisi tajam pedang ke atas sehingga kain
kasa tipis ini akan melewatinya. Paduka akan
melihat bahwa pedang ini benar-benar berbeda."
Kain kasa tipis jatuh di atas sisi tajam
pedang, tetapi kain kasa tipis tidak berhenti. Ia tetap jatuh,
tetapi sudah terpotong menjadi dua kain kasa
tipis yang terpisah. Semua orang di aula bersoraksorai.
Pendekar berbaju biru berkata, "Mata pisau
pedang ini boleh jadi tipis, tetapi tidak akan patah
walaupun untuk menahan senjata yang berat."
Kou Chiang berkata, "Menteri Feng, cobalah."
Feng berkata, "Baik". Ia berjalan di depan
salah satu pendekar berseragam, menghunus pedangnya
dan berkata, "Hunus pedangmu, Ayo kita
coba." Pendekar berseragam membungkuk, lalu
menghunus pedangnya, tetapi ia tidak berani
memulai menyerang. Feng Li berteriak "Serang!" Si
pendekar membacokkan pedangnya dari atas ke
bawah. Feng menahan dengan pedangnya. Dua
pedang saling berbenturan. Mata pisau dari
pendekar berseragam patah menjadi dua potongan.
Sebelum salah satu potongan melayang ke
arahnya, Feng Li sudah menghindar dengan gesit.
Orang-orang di aula bersorak-sorai. Apakah
mereka memuji ketajaman mata pisau, atau kegesitan
Feng?
Feng Li mengembalikan pedang ke kotaknya dan
meletakkan kotak itu di kaki raja. Kou Chiang
berkata, "Para pendekar Kerajaan Agung,
kalian diundang ke aula berikut untuk pesta dan
pemberian hadiah pertarungan." Ke delapan
pendekar berbaju biru membungkukkan badan dan
meninggalkan aula itu. Kou Chiang
melambaikan tangannya, lalu semua pendekar, para pembantu dan
menterinya pergi, kecuali Feng Li.
Kou Chiang memperhatikan pedang itu dan
darah di tanah lalu berkata, "Apa yang kau pikirkan?"
Feng Li berkata, "Tidak semua tentara Wu
hebat seperti yang delapan ini. Tidak semua pedang
yang dipakai mereka sama tajam seperti yang
ini. Tetapi dari contoh kecil ini, kita dapat melihat
sebagian kecilnya. Sisi paling mengerikan
adalah teknik mereka berkelahi berkelompok. Mereka
menggunakan metode Sun Tzu. Aku percaya
bahwa mereka sekarang ini tidak punya tandingan
di dunia."
Kou Chiang berkata, "Fu Chai mengirim ke
delapan orang ini hanya untuk memberiku pedang
ini….apa ia bermaksud……..?"
Feng Li berkata, "Ia ingin kita tahu, betapa
sukarnya membalas dendam."
Kou Chiang menjadi marah. Ia memungut pedang
itu dan membuat bacokan ke belakang.
Bacokan itu memotong separuh sandaran
kursinya. Ia berteriak, "Sekalipun seribu kesukaran,
bahkan sepuluh ribu kali lebih besar
sekalipun, Kou Chiang tidak akan mundur dari tujuannya!
Suatu hari, aku akan menangkap Fu Chai, raja
Wu, memotong kepalanya dengan pedangnya
sendiri." Bacokan pedang lainnya memotong
kursi menjadi separuh.
Feng Li membungkuk dan berkata, "Selamat,
Yang Mulia."
Kou berkata dengan terkejut, "Setelah
melihat kemampuan pendekar Wu, untuk apa pemberian
selamat itu?"
Feng Li berkata, "Jika Yang Mulia mempunyai
keinginan, maka apapun dapat terjadi. Mengenai
kesukaran ini, aku harus membicarakannya
dengan Menteri Wen."
Kou Chiang berkata, "Baik, panggil Menteri
Wen."
Feng Li meninggalkan istana dan
memerintahkan pembantu istana untuk memanggil Menteri
Wen Chung. Sebentar kemudian, dengan cepat
Wen Chung tiba dengan kuda, lalu keduanya
berjalan kembali ke istana.
Feng Li sebenarnya penduduk Wan, di Kerajaan
Chuh. Dia bukan orang yang senang dengan basa
basi ataupun sopan-santun. Sering, ia
melakukan hal-hal di luar perkiraan orang-orang. Orangorang
dari daerah asalnya memanggilnya "Feng si
gila". Saat Wen Chung menjadi pejabat di Wan,
ia mendengar reputasi Feng Li. Lalu ia
mengirim bawahannya untuk mengundang Feng. Para
bawahannya berkata, "Feng itu manusia gila
yang sangat terkenal di daerah ini. Tidak ada yang dia
buat mampu dimengerti orang lain." Wen Chung
tersenyum, "Ketika seorang manusia mencoba
melakukan sesuatu yang berbeda, orang lain
selalu mengatakan bahwa ia gila. Ketika ia
mempunyai suatu pendapat berharga, umum
memanggilnya bodoh. Bagaimana mungkin kamu
bisa memahami Guru Feng?"
Maka Wen Chung pergi mengunjungi Feng
sendirian, tetapi Feng berusaha menghindarinya. Feng
sudah menduga kalau Wen tidak mudah
menyerah, maka ia meminjam pakaian yang pantas dari
saudara laki-lakinya. Saat Wen kembali lagi,
Feng menyambutnya. Keduanya berbicara dan
menemukan bahwa mereka berdua ternyata
memiliki banyak kesamaan.
Mereka berdua merasa kerajaan sangat lemah.
Kerajaan Chuh besar, tetapi kacau. Satu-satunya
kerajaan yang bisa naik untuk menguasai
sisanya; terletak di bagian tenggara. Wen Chung
meletakkan jabatannya dan pergi ke kerajaan
Wu bersama Feng Li. Saat itu.pejabat kesayangan
raja Wu adalah Wu Tzu-Shi. Lalu keduanya
tinggal di ibukota untuk beberapa bulan dan melihat
bahwa Wu Tzu-Shi orang yang bijaksana.
Mereka merasa tidak lebih baik daripada dia.
Setelah beberapa diskusi, mereka memutuskan
bahwa walaupun Yueh suatu kerajaan lebih kecil,
tetapi mereka bisa memakai bakat mereka di
sana. Kou Chiang menerima mereka dengan hangat
dan memberi keduanya posisi tinggi.
Kou Chiang mengabaikan nasihat Wen Chung dan
memulai perang dengan Wu. Angkatan
perangnya dikalahkan di pinggir sungai
Chiang Tang. Kou Chiang terkepung di gunung Kuai Chi
dan hampir saja meninggal bersama dengan
kerajaannya, tetapi ia mendengar nasihat Feng Li dan
Wen Chung, lalu menyuap Perdana Menteri Wu.
Fu Chai ternyata lebih mendengar nasihat
Perdana Menteri daripada nasihat Wu Tzu-Shi
yang bijaksana dan menyetujui perjanjian damai.
Kou Chiang hidup di Wu sebagai sandera untuk
beberapa tahun, tetapi kemudian ia dilepaskan.
Untuk mengingat penghinaan yang dideritanya
Kou Chiang tidur beralaskan cabang-cabang
pohon berduri dan makan empedu sapi yang
pahit. Ia menggunakan Sembilan Metoda Wen
Chung untuk menumbangkan Wu dan memperkuat
Yueh.
Sembilan metodenya. Satu, menghormati para
dewa dan para roh. Dua, memberi Fu Chai
sejumlah besar uang agar ia merasa senang
dan menjadi lemah karena kemewahan. Tiga,
meminjam makanan dari Wu dan
mengembalikannya berupa benih yang tidak akan bisa
tumbuh, dan menyebabkan kelaparan di Wu.
Empat, memberi Fu Chai wanita-wanita cantik
seperti Si Shi dan Cheng Dang, maka Fu Chai
akan lebih memperhatikan wanita-wanita cantik
daripada persoalan-persoalan negara. Lima,
memberi Fu Chai para ahli bangunan maka ia akan
membangun istana-istana mahal yang akan
merusak perekonomian negara. Enam, menyuap para
menteri Wu. Tujuh, menjauhkan Fu Chai dari
para menterinya yang bijaksana. Wu Tzu-Shi yang
bijaksana secepatnya dipaksa bunuh diri
sebagai hukuman atas pengkhianatan palsu. Delapan,
menimbun makanan agar kerajaan Yueh
mempunyai timbunan makanan yang besar. Sembilan,
membuat senjata-senjata, melatih para
prajurit dan menunggu kesempatan. Delapan metode
sudah berhasil, tetapi metode kesembilan
menemui kesulitan besar.
Semua orang bisa bercerita kalau delapan
para prajurit Wu lebih baik dibanding siapapun juga
yang dihasilkan Yueh. Feng Li menceritakan
kepada Wen Chung hasil dari pertarungan. Wen
Chung mengerutkan dahi, "Saudara Feng,
ketajaman pedang mereka adalah masalah utama, juga
cara para pendekar mereka bekerja
bersama-sama dalam kelompok, cocok dengan Seni
Peperangan Sun Tzu."
Feng Li berkata, "Ya, pada jaman dahulu,
saat Sun Tzu membantu raja Wu. Mereka berhasil
menghancurkan Chuh, kerajaan paling kuat di
dunia saat itu. Di dalam bukunya, ia berkata, "Jika
aku mengkonsentrasikan kekuatanku dan
kekuatan musuhku terbagi-bagi menjadi sepuluh
bagian, maka aku dapat menggunakan
kekuatanku yang terkonsentrasi untuk menyerang ke
sepuluh bagian satu demi satu. Kekuatanku
akan melebihi kekuatan musuhku dan pertempuran
akan cepat selesai." Wu menggunakan prinsip
ini untuk mendapatkan kemenangan melawan para
pendekar kita."
Saat mereka berbicara mereka tiba di depan
Kou Chiang. Kou Chiang sedang menatap pedang
hadiah itu. Selang beberapa lama, Kou Chiang
mengangkat kepalanya dan berkata, "Menteri Wen.
Bertahun-tahun lalu, Wu mempunyai penempa
pedang suami-isteri, Keng Chiang dan Mo Yeh.
Yueh mempunyai O-Yeh Tzu. Sekarang,
ketiganya sudah meninggal semua. Wu masih memiliki
penempa pedang yang baik, tetapi kita tidak
punya satu orangpun yang ahli seperti O-Yeh Tzu."
Wen Chung berkata, "Aku sudah mendengar
kalau O-Yeh Tzu mempunyai dua orang murid.
Seorang bernama Fong Hu-Tzu, yang lain Hsieh
Chu. Fong Hu-Tzu di kerajaan Chuh. Sedangkan
Hsieh masih di Yueh."
Kou menjadi gembira dan berkata, "Panggil
dia. Dan juga perintahkan seseorang pergi ke Chuh.
Dengan emas maka kita dapatkan Fong Hu-Tzu
juga."
Pagi berikutnya, Wen Chung melaporkan bahwa
ia telah mengirim seseorang ke Chuh.
Sementara itu, Hsieh Chu telah berada di
sini. Kou Chiang menerima kunjungan Hsieh dan
bertanya, "Gurumu O-Yeh Tzu, dahulu menerima
perintah ayahku dan menempa lima pedang.
Bagaimana Anda menilai ke lima pedang itu?"
Hsieh berkata, "Aku sudah mendengar guruku
berkata bahwa ia menempa lima pedang untuk
raja. Tiga pedang besar dan dua pedang
kecil. Mereka adalah Alang-alang Berayun, Tepian Murni,
Penumpas Kejahatan, Pengail Ikan dan Menara
Agung. Sekarang, Alang-alang Berayun berada di
Chuh. Penumpas Kejahatan dan Pengail Ikan di
Wu. Yang Mulia masih memiliki Tepian Murni
dan Menara Agung."
Bertahun-tahun yang lalu, Pangeran Ho Lu
dari Wu mendengar tentang pedang-pedang itu dan
meminta ayah Kou Chiang sebagian pedang itu.
Ayah Kou Chiang takut kekuatan Wu dan
memberi Ho Lu Alang-alang Berayun, Penumpas
Kejahatan dan Pengail Ikan. Dengan
menggunakan Pengail Ikan, Ho Lu membunuh
raja kemenakannya dan mengambil mahkotanya.
Alang-alang Berayun jatuh ke sungai dan
diambil oleh raja Chuh. Raja Chin mendengar semua ini
dan kemudian memintanya. Tetapi bahkan
setelah perang berkali-kali, raja Chuh masih tetap
menolak untuk memberikannya.”
Hsieh berkata, "Guruku berkata, dari ke lima
pedang, Penumpas Kejahatan memiliki nilai paling
tinggi. Tepian Murni dan Alang-alang Berayun
yang berikutnya. Selanjutnya Pengail Ikan
sedangkan Menara Agung yang terakhir. Ketika
Menara Agung ditempa, campuran logamnya
sudah tidak murni, maka ia hanya pedang yang
tajam, bukan pedang yang berharga."
Kou Chiang berkata, "Kau berkata kalau
Tepian Murni dan Menara Agung milikku bukan
tandingan Penumpas Kejahatan dan Pengail
Ikan milik Fu Chai?"
Hsieh memang takut mengatakan kalau pedang
Kou Chiang lebih jelek, tetapi Kou Chiang sudah
tahu jawabannya.
Feng Li berkata, "Kau mewarisi keahlian
gurumu. Kau juga dapat menempa sendiri beberapa
pedang. Mereka kemungkinan tidak lebih jelek
dari yang dimiliki oleh Wu."
Hsieh berkata, "Aku tidak bisa menempa
pedang lagi."
Feng Li bertanya, "Mengapa?"
Hsieh mengangkat tangannya. Pada kedua
tangannya, segera terlihat ke empat jarinya sudah
hilang. Ia berkata amat sedih, "Ibu jari dan
telunjuk diperlukan untuk menempa pedang. Aku
sudah tak memilikinya."
Kou Chiang berkata, "Apakah musuh yang
memotong jarimu?"
Hsieh berkata, "Bukan, teman seperguruanku
yang melakukannya."
"Teman seperguruanmu? Maksudmu Fong Hu-Tzu?
Mengapa ia melakukannya? Ah! Tentunya
kamu mempunyai keahlian yang lebih besar
dibandingkan dia. Ia cemburu dan memotong jarimu."
Hsieh diam saja.
Kou Chiang berkata, "Aku sedang berpikir
mengundang Fong dari Chuh, tetapi sekarang aku
tahu ia tidak akan datang sebab ia takut
pembalasan dendammu."
Hsieh berkata, “Yang Mulia sangat bijaksana,
tetapi Fong tidak lagi di Chuh. Ia ada di Wu.”
Kou Chiang berkata, "Dia…..dia ada di Wu?
Apa yang dikerjakannya di sana?"
Hsieh berkata, "Tiga tahun yang lalu, Fong
datang ke rumahku dan membawa satu pedang
berharga agar aku mau menilainya. Aku sangat
terkejut. Pedang itu ditempa oleh guruku untuk
Chuh. Namanya Mata Air Mengalir. Mata
pisaunya penuh dengan ukiran seperti aliran air. Aku
mendengar dari guruku ia menempa tiga pedang
untuk Chuh. Itu salah satunya, yang lain Naga
Musim Semi dan Desiran Bambu."
Kou Chiang berkata, "Tentunya raja Chuh
telah memberikannya ke Fong."
Hsieh berkata, "Secara tidak langsung, ya.
Fong berkata setelah angkatan perang Wu berhasil
mendobrak masuk ke ibukota Chuh. Wu Tzu-shi
mengambil pedang itu dari kuburan raja
sebelumnya. Ketika ia kembali ke Wu, ia
mendengar tentang keahlian Fong, maka ia memberikan
pedang itu kepadanya sebagai hadiah. Ia
berkata pedang itu buatan guru kita dan Fong adalah
pemiliknya yang syah."
Kou Chiang berkata, "Wu Tzu-Shi membiarkan
pedang itu pergi? Ia sungguh-sungguh seorang
pahlawan agung untuk membiarkan harta
berharga seperti itu pergi." Kemudian ia tertawa,
"Untung, Fu Chai sudah memperhatikan dia
untukku." Kemudian ia bertanya, "Apa yang Wu
Tzu-Shi inginkan sebagai balasan dari Fong?"
Hsieh berkata, "Wu Tzu-Shi hanya berkata ia
menghormati guru kami. Fong merasa berterima
kasih setelah menerima pedang, maka ia pergi
ke Wu dan berterimakasih kepada Wu Tzu-Shi
sendiri. Wu Tzu-Shi memperlakukannya sebagai
tamu terhormat."
Kou Chiang berkata, "Itu adalah cara
bagaimana ia membuat orang-orang menjadi setia
kepadanya, bahkan sampai mati."
Hsieh berkata, "Yang Mulia sungguh
bijaksana, tetapi Fong tidak paham maksud Wu Tzu-shi
sebenarnya, maka ia bertanya berulang-ulang
bertanya bagaimana ia bisa membayar kembali budi
kebaikan yang besar yang diterimanya. Wu
Tzu-shi tetap mengatakan ia tidak akan meminta
apapun dari tamu terhormatnya."
Kou Chiang berkata, "Si rubah tua!"
Hsieh berkata, "Fong akhirnya berkata kepada
Wu Tzu-Shi kalau ia mempunyai sedikit
ketrampilan menempa pedang. Sebagai penukar
kebaikan Wu Tzu-Shi, ia akan menempa
beberapa pedang berharga untuknya."
Kou menampar pahanya dan berkata, "Kena
dia!"
Hsieh berkata, "Tetapi Wu Tzu-shi berkata
kerajaan Wu sudah mempunyai banyak pedang
berharga dan tidak butuh lagi yang lain. Di
samping itu, menempa pedang berharga butuh tenaga
kerja luar biasa. Bertahun-tahun yang lalu,
saat Keng Chiang dan Mo Yeh sedang menempa
pedang, pedang tidak berhasil dibuat sampai
Mo Yeh melemparkan dirinya sendiri ke dalam api.
Wu Tzu-shi tidak ingin tragedi semacam itu
terjadi lagi."
Kou Chiang berkata, "Ia tidak ingin Fong
menempa pedang untuknya? Aneh."
Hsieh berkata, "Fong juga kebingungan.
Kemudian Wu Tzu-shi mengunjungi dia lagi. Dia berkata
angkatan perang Wu mampu berperang dengan
negara adikuasa seperti kerajaan Chi dan Jin. Para
prajurit Wu pemberani, tetapi ketrampilan
mereka berperang di atas kereta sangat buruk. Lebih
dari itu, tombak dan pedang mereka tidak
cukup tajam. Fong mulai bicara dengan Wu Tzu-Shi
tentang cara-cara menempa pedang. Apa yang
Wu Tzu-Shi inginkan bukan beberapa pedang
berharga dengan kekuatan-kekuatan ajaibnya,
apa yang ia inginkan adalah ribuan bahkan
berpuluh-puluh ribu pedang tajam."
Kou Chiang memahaminya dan melihat ke arah
Feng Li dan Wen Chung. Keraguan terlihat di
wajah Wen Chung. Kou Chiang bertanya,
"Menteri Feng, apa pendapat anda?"
Feng Li berkata, "Sungguhpun Wu Tzu-Shi
licik, ia tidak cukup pandai untuk lepas dari perangkap Yang Mulia."
Kou Chiang tertawa, "Aku hanya takut kalau
aku terjebak oleh Wu Tzu-Shi."
Feng Li berkata, "Wu Tzu-Shi telah mati. Apa
yang bisa ia lakukan untuk mengancam Yueh?"
Kou Chiang tertawa, "Benar! Hsieh Chu,
apakah Fong mulai menempa pedang?"
Hsieh berkata, "Ya. Ia pergi ke Gunung Mo
Keng. Ia menyaksikan seribu penempa pedang
bekerja di sana. Ia memperbaiki dan
meningkatkan teknik mereka. Sejak saat itu, setiap pedang
Wu menjadi lebih tajam dari pedang manapun
buatan kerajaan lain."
Kou Chiang mengangguk, "Jadi itulah
sebabnya."
Hsieh berkata, "Selang satu tahun, Fong
menjadi terlalu lelah untuk terus bekerja, maka ia
menceritakan kepada Wu Tzu-Shi namaku. Wu
Tzu-Shi menyiapkan hadiah dan meminta Fong
untuk mengundang aku agar mau bekerja untuk
dia juga. Aku ingat kebencian di antara Wu dan
Yueh. Jika pedang Wu yang tajam mampu
membunuh orang-orang Chi dan Jin, maka mereka
juga dapat membunuh orang-orang di rumahku,
maka aku menasihati Fong untuk tidak kembali
ke Wu."
Kou mengangguk setuju, "Kau punya pandangan
ke masa depan."
Hsieh yang berkata, "Terima kasih untuk
pujianmu, Yang Mulia, tetapi ia tidak mendengarkan
aku. Malam itu ia tidur di dalam rumahku.
Pada tengah malam, tiba-tiba ia meletakkan
pedangnya dileherku, lalu ia memotong
keempat jariku, maka aku tidak bisa menempa pedang
yang lain ."
Kou Chiang menjadi marah, "Jika ia jatuh ke
tanganku, akan kucincang dia menjadi perkedel
daging!"
Wen Chung berkata, "Guru Hsieh, sungguhpun
kau tidak bisa menempa pedang sendiri, tetapi
kau dapat memberi didikan pada para penempa
pedang kita. Akhirnya, kita juga dapat membuat
banyak pedang tajam seperti pedang Wu."
Hsieh berkata, "Menteri Wen, Yueh dan Wu,
keduanya menghasilkan besi yang perlu untuk
mata pisau pedang, tetapi Yueh menghasilkan
tembaga dan Wu menghasilkan seng."
Feng Li berkata, "Wu Tzu-Shi menjaga
pertambangan seng dan melarang pribadi manapun untuk
menambang, apakah hal itu benar?"
Hsieh menunjukkan kejutan pada mukanya,
"Jadi, Anda sudah tahu."
Feng Li tersenyum, "Tidak, aku hanya
berspekulasi. Sejak ia wafat, perintahnya tidak mungkin
diikuti orang lagi. Sekarang kita dapat
membeli seng, jika kita membayarnya."
Kou Chiang berkata, "Tetapi sumber air yang
jauh tidak bisa memadamkan kebakaran besar yang
dekat. Pada saat kita berhasil mengumpulkan
semua bahan baku, melatih para penempa pedang
dan memulai produksi, sedikitnya dua atau
tiga tahun akan lewat. Itupun jika tidak menghitung
kemunduran yang sudah terjadi. Jika Fu Chai
meninggal sebelum semuanya siap, tidakkah itu
menjadi penyesalan yang terbesar di dalam
hidup kita?"
Feng Li dan Wen Chung membungkuk
dalam-dalam, "Baiklah, Yang Mulia, kita akan temukan
cara yang lain."
Feng Li berjalan keluar dari istana, sambil
berpikir "Yang Mulia tidak bisa menunggu lagi dua
atau tiga tahun lagi? Mengapa, aku juga
tidak bisa menanti satu hari lagi...." Rasa nyeri
menghantam dadanya jika ia mengingat sesosok
wanita cantik yang tiada bandingannya dan
dengan kecantikannya mampu mengguncangkan
dunia.
Namanya Si Shi. Dia tinggal di dekat sungai
Huan Sha.
Feng Li sudah menemukan wanita yang mampu
menyatukan seluruh kecantikan dari negeri
Yueh di dalam diri seseorang, dan dia
sendiri yang mengantarkannya ke istana Wu.
Perjalanan dari ibukota Yueh ke ibukota Wu
tidaklah lama, hanya beberapa hari melalui sungai,
tetapi itu tidak cukup lama untuk cinta yang
mulai tumbuh tak terkendali. Wajah putih Si Shi
dipenuhi air mata seperti mutiara dan
suaranya lembut bagai arus sungai yang beriak, "Shao Bo,
berjanjilah padaku bahwa kamu akan datang
dan bawalah aku pergi secepat mungkin. Aku akan
menantikanmu siang dan malam. Katakanlah
bahwa kamu tidak pernah melupakan aku untuk
selama-lamanya."
Balas dendam terhadap Wu bisa menunggu, dan
sejauh ini Feng Li mampu menahannya, tetapi
Yi Kwan, nama pemberiannya untuk Si Shi,
sekarang berada di pelukan Raja Fu Chai. Api
cemburu dan cinta terus menggerogoti
hatinya. Ia harus menemukan cara untuk membuat
pedang sebanyak mungkin, bahkan lebih tajam
dari yang digunakan oleh para pendekar Wu yang
tak terkalahkan.
Ia melangkah tanpa tujuan di atas jalan itu.
Delapan belas pengawal bersenjata mengikuti dia
dengan setia.
Tiba-tiba terdengar seseorang menyanyi suatu
nyanyian Wu, "Pedangku tajam! Musuhku tak
punya nyali! Pedangku tajam! Musuhku tak
punya kepala!"
Delapan orang laki-laki berpakaian biru,
dengan saling bergandengan tangan muncul di jalanan,
tidak peduli para pejalan kaki lain yang
sedang tergesa-gesa menghindar arah jalan mereka.
Mereka delapan pendekar Wu. Mereka
sungguh-sungguh sangat mabuk.
Feng Li mengerutkan dahi. Ia bisa merasakan
hawa kemarahannya mulai naik.
Ke delapan pendekar berhenti di depan Feng
Li. Salah satu dari mereka menyipitkan sebelah
mata mabuknya dan berkata, "Kau...kau
Menteri Feng?" Kemudian ia tertawa sinis.
Dua pengawal melompat di depan Feng Li dan
berkata, "Jangan tidak sopan. Berilah jalan!"
Ke delapan pendekar hanya tertawa dan
mengulangi kata-kata mereka, "Jangan tidak sopan.
Berilah jalan!"
Dua pengawal mencabut pedang mereka dan
berteriak, "Demi kehormatan kerajaan, mereka
yang berani mengganggu Menteri Feng harus di
bunuh!"
Salah satu badan pendekar Wu
bergoyang-goyang miring ke kiri dan ke kanan saat ia berkata,
"Membunuhmu, atau aku?"
Pikiran Feng bekerja, "Mereka orang-orang
penting dari Wu. Sungguhpun mereka tidak sopan,
kita tidak bisa berkelahi dengan mereka."
Sebelum ia bisa memerintahkan pengawalnya mundur,
sinar pedang sudah berkelebat. Para pengawal
menjerit, pedang mereka berjatuhan ke atas tanah.
Salah satu dari pendekar Wu terlihat
mengembalikan pedang ke dalam sarungnya. Mukanya
terlihat penuh rasa bangga. Sisa pengawal
Feng Li segera mencabut pedang mereka dan
mengepung ke delapan pendekar Wu.
Sang Pemimpin mengangkat kepalanya dan
tertawa, "Kita toh tidak pernah punya rencana
kembali ke Wu dengan hidup-hidup. Mari kita
lihat seberapa banyak tentara yang kalian
perlukan untuk membunuh kami semua" Dengan
satu teriakan, serentak delapan pedang dilolos
ke luar dari sarungnya. Ke delapan pendekar
itu berdiri saling memunggungi, membentuk satu
lingkaran.
Feng Li berpikir, "Jika orang tidak mampu
sedikit bersabar, orang tidak akan pernah mencapai
hal-hal yang besar." Ia berteriak: "Ke
delapan orang ini utusan-utusan Kerajaan Agung. Jangan
perlakukan mereka dengan tidak sopan.
Mundur!" Ia sendiri menyingkir ke pinggir jalan. Semua
pengawalnya sangat marah sampai seperti
muncul api dari mata mereka, tetapi mereka tidak
berani untuk tidak mentaatinya. Dengan rasa
enggan mereka juga mundur ke pinggir jalan.
Sekonyong-konyong mereka semua mendengar
suara sekelompok kambing. Seorang gadis muda
berpakaian jubah hijau berwarna pucat
menggembalakan sepuluh kambing di jalan. Kambingkambing
mulai mengelilingi ke delapan pendekar Wu.
Salah satu pendekar merasa ditantang
berkelahi, maka pedangnya segera berkelebat
dan seekor kambing terpotong menjadi dua.
Potongannya sangat rapi, bahkan sejak dari
hidung kambing sampai ke ekor terpotong menjadi
dua bagian yang persis sama. Ke tujuh
temannya bersorak. Bahkan Feng Li-pun tidak bisa
menyangkal ketrampilannya memainkan pedang.
Tongkat bambu si gadis muda bergerak dan
menggiring sisa kambing di belakangnya. Kemudian
dia berkata, "Mengapa engkau membunuh
kambingku?" Suaranya jernih dan halus, tetapi juga
mengandung kemarahan.
Si pembunuh kambing mengobat-abitkan
pedangnya beberapa kali ke udara dan tertawa, "Gadis
kecil, aku akan membelahmu menjadi dua
seperti kambing itu!"
Feng Li berteriak, "Nona, cepatlah kemari.
Mereka sedang mabuk."
Gadis itu berkata, "Sekalipun kau mabuk,
tidak ada maaf untuk tindakan kasar."
Pedang pendekar itu diobat-abitkan di atas
kepala gadis itu. "Aku sudah berpikir memenggal
kepalamu, tetapi saat kulihat kau sungguh
cantik, maka kuubah pikiranku." Ke tujuh temannya
tertawa-tawa lagi.
Feng Li memperhatikan gadis itu. Dia
mempunyai muka bujur telur, bulu mata yang lentik dan
panjang, kulit yang putih bersih. Mukanya
cantik dan badannya langsing, bahkan terlihat lemahgemulai.
Ia berteriak lagi, "Nona, ke atas sini."
Gadis itu berkata, "Tentu saja."
Pedang pendekar Wu berkelebat ke depan dan
nyaris mengenai sabuk di pinggang gadis itu.
"Mengapa........" Sebelum ia bisa
menyelesaikan kata-katanya, tongkat bambu gadis sudah lebih
dulu bergerak cepat dan menusuk pergelangan
tangannya. Pendekar itu hanya merasakan
kesakitan mendadak di pergelangan tangannya
dan segera menjatuhkan pedangnya. Tongkat
bambu dengan cepat terangkat naik, disusul
satu tikaman masuk ke dalam mata kanan pendekar
itu. Pendekar itu menjerit kesakitan sambil
menutupi matanya yang telah buta.
Gerakan gadis itu boleh jadi sederhana,
tetapi ternyata pendekar Wu itu tidak mampu
menghalangi atau menghindari tongkat
bambunya. Ke tujuh pendekar lainnya terkejut. Salah satu
dari mereka segera melolos pedangnya dan
ditusukkan ke arah mata kanan gadis itu. Ketika
pedang dengan cepat menusuk ke depan, semua
orang bisa mendengar suara desingan nyaring,
menandakan besarnya kekuatan yang menyertai
tusukan itu.
Gadis itu sama sekali tidak menggerakkan
kakinya. Tongkat bambunya bergerak lagi. Kali ini dia
menikam di bahu pendekar itu. Tikaman
tersebut sangat cepat walaupun di mulai setelah
tusukan pedang. Tusukan datang sebelum
tikaman pedang mengenainya. Si Pendekar menjerit
kesakitan ketika semua kekuatan tikamannya
mendadak lenyap seketika. Kemudian si gadis
menggerakkan pergelangan tangannya dan
tongkat bambunya menusuk mata kanan si pendekar.
Si Pendekar menjerit seperti babi disembelih
dan ke dua kepalan tangannya bergerak-gerak tanpa
tujuan.
Sekarang, si gadis membuat empat gerakan
lagi dan dua pendekar Wu kembali dilumpuhkan.
Penonton hanya melihat beberapa gerakan
tongkat bambunya. Sungguhpun dia bergerak sangat
cepat tetapi masih dapat dilihat dengan
jelas. Tampak jika teknik yang dia gunakan, jelas
diperoleh dari beberapa gerakan ilmu pedang
tingkat tinggi.
Feng gembira dan sekaligus terkejut, tetapi
sekarang ia melihat gadis itu harus berhadapan dengan
enam pendekar Wu. Dengan tergopoh-gopoh ia
berkata, "Para pendekar Wu. Tidak baik bagi
kehormatan Wu jika kamu berenam mengeroyok
seorang anak perempuan yang hanya
mempertahankan diri. Lebih-lebih jika
kemenangan diperoleh dari banyaknya jumlah...." Ia
menepukkan tangannya. Pengawal-pengawalnya
melompat ke jalan dan berusaha mengepung
pendekar-pendekar Wu.
Gadis itu tersenyum, "Walaupun kalian
berenam melawan satu, jumlah kalian masih belum
cukup." Tangan kirinya terangkat. Tongkat
bambu di tangan kanannya bergerak lagi menusuk ke
arah mata pendekar lainnya. Dia juga
menggerakkan tongkatnya dan menikam lurus ke arah dada
pendekar yang lain. Tiga pedang maju
menghadangnya. Dia bergerak dengan lincah menghindari
ke tiga pedang itu, kemudian menyerang
kembali. Seorang pendekar tertusuk di pergelangan
tangannya dan kehilangan pedangnya.
Pengawal Feng Li bersiap-siap melompat ke
dalam pertempuran, tetapi mereka tidak mampu
menembus lingkaran pedang yang dibentuk oleh
pendekar-pendekar Wu.
Gadis itu bergerak lincah di antara ke enam
pendekar. Lengan baju dan sabuk panjangnya
melambai-lambai tertiup angin dengan
indahnya. Kemudian terdengar satu persatu teriakan
kesakitan dari para pendekar Wu tepat
bersamaan saat pedang mereka ikut berjatuhan ke tanah.
Pertempuran selesai. Setiap pendekar Wu
kehilangan satu matanya. Beberapa kehilangan mata
kanannya. Beberapa kehilangan mata kirinya.
Gadis itu menarik kembali tongkat bambunya
dan berkata, "Kalian sudah membunuh
kambingku. Sekarang, ganti kerugianku."
Pendekar-pendekar Wu merasa takut sekaligus
marah. Beberapa bahkan meraung-raung keras.
Beberapa lainnya menggigil ketakutan. Ke
delapan pendekar ini sebenarnya veteran-veteran
berbagai perang hebat. Biasanya mereka tidak
akan kehilangan kendali, sekalipun seseorang
memotong kedua tangan mereka, tetapi apa
yang terjadi pada mereka sungguh di luar dugaan
dan mereka tidak pernah punya pikiran
bagaimana itu dapat terjadi.
Gadis itu berkata, "Jika kalian tidak
mengganti kerugian kambingku, aku akan mengambil
matamu yang lain." Otomatis
pendekar-pendekar Wu melompat ke belakang.
Feng Li berkata, "Nona, aku akan memberimu
seratus kambing, tetapi biarkan ke delapan lakilaki
ini pergi."
Gadis itu tersenyum, "Kau seorang laki-laki
yang baik. Aku tidak ingin seratus kambing. Aku
hanya ingin satu."
Feng Li berkata kepada pengawal, "Kawal para
utusan Kerajaan Agung kembali ke istana. Panggil
tabib untuk mengobati luka mereka."
Ke delapan pendekar Wu pergi dengan kuyu,
persis seperti ayam jantan yang keok di suatu
perkelahian.
Feng Li berjalan ke arah gadis itu dan
berkata, "Nona, siapakah namamu yang terhormat?"
Gadis itu berkata, "Apa yang kamu katakan?"
Feng Li sekali lagi bertanya, "Siapakah
namamu?."
Gadis itu berkata, "Oh, namaku Ah Ching.
Siapakah namamu?"
Feng Li tersenyum dan berpikir, "Jadi dia
hanya satu anak perempuan desa sederhana yang tidak
tahu sopan-santun. Sekalipun begitu dia
telah mempelajari ketrampilan pedang dewa. Aku hanya
harus tahu siapa gurunya, kemudian aku dapat
mengundang gurunya untuk melatih para prajurit
Yueh. Wu tidak akan mampu menghadapi kita."
Hatinya terasa menghangat saat ia menyadari
bahwa ia semakin dekat untuk membawa Si Shi
kembali.
Kemudian ia berkata, "Aku dipanggil Feng Li.
Nona, kenapa kamu tidak menginginkan makanan
di rumahku?"
Ah Ching berkata, "Tidak, karena aku harus
menggembalakan kambing-kambingku."
Feng Li berkata, "Aku mempunyai halaman
berumput yang luas di rumahku. Kambingmu dapat
diberi makan di sana. Aku juga akan
mengganti kerugianmu dengan sepuluh kambing gemukgemuk."
Ah Ching bertepuk tangan dan tertawa, "Kau
mempunyai halaman berumput yang luas? Bagus,
tetapi aku tidak ingin kambing apapun
darimu. Kau tidak membunuh kambing ini." Dia berlutut
di atas tanah dan membelai-belai kambing
yang mati itu. Kemudian dia berkata dengan suara
memilukan, "Si Putih Tua, orang jahat
membunuhmu. Aku tidak bisa menyelamatkanmu."
Feng Li memerintahkan pengawalnya, "Jahit
dan satukan badan kambing itu dan kuburkan di
dekat rumah nona ini."
Ah Ching berdiri. Mukanya dipenuhi oleh air
mata, tetapi matanya kelihatan berbahagia. "Feng
Li, kau tidak membiarkan mereka memakan si
Putih Tua?."
Feng Li berkata, "Tentu saja tidak. Itu si
Putih Tua-mu. Tak seorangpun diijinkan untuk
memakannya."
Ah Ching mengguman, "Kau baik sekali. Aku
selalu membenci orang lain yang dibiarkan
membunuh kambingku sehingga mereka dapat
memakan dagingnya, tetapi ibu berkata kecuali
kita menjual kambing, kita tidak akan punya
uang untuk membeli beras."
Feng Li berkata, "Sejak hari ini, aku akan
meminta orang untuk mengirimkan beras kepada
ibumu dan juga pakaian yang baik. Kau tidak
perlu menjual kambingmu lagi."
Ah Ching menjadi gembira dan memeluk Feng
Li, "Kau laki-laki yang baik."
Feng Li memegang erat tangannya, takut kalau
dia menghilang seperti beberapa dewi dalam
dongengan. Kambing-kambing mengikuti mereka
kembali ke suatu gedung yang sangat besar.
Ketika Ah Ching menggiring
kambing-kambingnya memasuki halaman gedung besar itu, lalu dia
berkata, "Rumahmu sangat besar! Bagaimana
mungkin kamu hidup di sini sendirian?"
Feng Li tersenyum, "Ya, aku berpikir rumah
ini memang terlalu besar untuk aku. Maukah kau
datang dan tinggal di sini bersama dengan
ibumu? Siapakah lagi keluarga yang kau miliki?"
Ah Ching berkata, "Hanya aku dan ibuku. Aku
tidak tahu jika ibuku bersedia datang. Dia selalu
mengatakan bahwa aku seharusnya tidak
bertemu dengan laki-laki tak dikenal, tetapi kau seorang
laki-laki yang baik. Kau tidak akan
menyakiti kami."
Feng Li mempersilahkan Ah Ching membawa
kambing-kambing ke dalam kebun dan
memerintahkan para pembantunya untuk
mengambil makanan-makanan yang terenak untuk Ah
Ching. Para pembantu merasa terkejut saat
melihat kambing-kambing mulai beraksi memakan
bunga-bunga mahal yang tumbuh di kebun.
Mereka bahkan lebih terkejut lagi saat mereka
melihat sang majikan menyaksikan pemusnahan
itu dengan senyuman bahagia.
Ah Ching menikmati kue kering dan meminum
tehnya. Feng Li berbicara dengan dia dan tahu
kalau dia masih murni dari segala
pernak-pernik kehidupan dunia. Akhirnya ia bertanya, "Ah
Ching, siapakah yang mengajarimu ilmu
pedang?"
Mata Ah Ching yang besar dan jernih terbuka
lebar, lalu ia berkata, "Ilmu pedang? Tak
seorangpun pernah mengajari aku."
Feng Li berkata, "Cara kau menggunakan
tongkat bambu itu ilmu pedang. Siapakah yang
mengajarimu?."
Ah Ching menggeleng-gelengkan kepalanya,
"Tak seorangpun. Aku tahu bagaimana cara
bermain-main dengan tongkat bambu."
Feng Li melihat dia masih lugu untuk
berdusta dan kemudian berpikir, "Apakah surga akhirnya
menurunkan suatu keajaiban?" Ia bertanya
lagi, "Apakah kamu tahu cara bermain-main dengan
bambu ini sejak kamu masih kanak-kanak?"
Ah Ching berkata, "Tidak. Ketika aku berumur
tigabelas, Kakek Putih datang menunggangi
kambingku. Aku tidak membiarkannya dan
memukulinya dengan tongkat bambuku. Ia
membalasnya dengan tongkat bambu juga. Aku
kemudian berkelahi dengan dia. Pada mulanya, ia
memukul lebih banyak dari aku bahkan aku
tidak bisa memukul satu kalipun padanya. Aku
memainkannya setiap hari. Sekarang, aku
mampu memukul lebih banyak dari dia dan
pukulannya tidak pernah melebihi pukulanku.
Tapi sekarang dia tidak pernah datang sesering
sebelumnya."
Feng berpikir. Akhirnya ia memikirkan
sesuatu dan berkata, "Di mana Kakek Putih tinggal?
Dapatkah kau mengantarkanku kepadanya?"
Ah Ching berkatakan, "Ia hidup di
pegunungan. Kau tidak akan bisa menemukan dia. Biasanya ia
sendiri yang datang dan menemuiku. Aku tidak
pernah mencoba untuk menemuinya."
Feng Li berkata, "Aku ingin menemuinya.
Adakah suatu cara?"
Ah Ching berkata, "Hmm. Kau dapat mengikuti
aku sewaktu menggembala. Kita akan
menunggunya di sisi gunung. Tapi aku tidak
tahu kapan ia akan muncul." Dia berkata lirih, "Aku
belum menjumpainya beberapa waktu terakhir
ini."
Feng Li berkata pada dirinya sendiri, "Ini
untuk Yi Kwan dan kerajaan Yueh. Kambing kecil yang
sedang digembalakan tak akan pernah
dilukai." Maka ia berkata, "Baik, Aku akan menemanimu
dan menantikan si Kakek Putih." Ia pikir,
"Si Kakek Putih yang mengajari anak perempuan ini
seharusnya seorang ahli pedang. Ia
semestinya menyukai kemudaan dan keluguannya, maka ia
menggunakan permainan untuk memberi
pengajaran kepadanya. Jika ia dapat membuat seorang
anak perempuan muda menjadi ahli seperti
itu, maka ia pasti bisa membuat para prajurit kita
mampu menghancurkan Wu.
Setelah makan, Feng Li mengikuti dia ke
gunung untuk menggembalakan kambingkambingnyanya.
Para bawahannya tidak mengerti alasannya.
Mereka semua bingung. Dari hari
demi hari, Feng Li pergi bersama Ah Ching
untuk menggembalakan kambing dan menyanyikan
nyanyian, menanti si Kakek Putih.
Pada hari yang ke lima, Wen Chung tiba di
rumah Feng Li dan melihat beberapa pejabat kerajaan
yang sedang cemas. Ia bertanya, "Aku tidak
melihat Menteri Feng untuk beberapa hari ini. Raja
merasa cemas dan aku diperintahkan untuk
mengunjunginya. Apakah Menteri Feng sedang
sakit?"
Pejabat kerajaan itu berkata, "Menteri Feng
sehat-sehat saja, tetapi…...tetapi…...."
“Tetapi apa…..?"
"Menteri Wen teman baik Menteri Feng. Anda
dapat mengatakan sesuatu kepadanya yang kami
tidak bisa mengatakannya. Mengapa Anda tidak
mencoba untuk membujuknya?"
Wen Chung kebingungan, "Bujukan? Apa yang
terjadi dengan Menteri Feng?"
“Menteri Feng telah jatuh cinta dengan
perempuan penggembala miskin. Tiap pagi ia pergi
bersamanya dan tidak kembali sebelum
matahari terbenam. Ia tidak mengijinkan pengawal
siapapun mengikuti dia. Ia tidak ingin
diganggu bahkan ketika aku mempunyai masalah-masalah
penting."
Wen Chung tertawa dan berpikir, "Saat
saudara Feng tinggal di kerajaan Chuh, semua orang
memanggilnya Feng si Gila. Ia tidak berbuat
sesuatu seperti orang-orang lain."
Pada waktu itu, Feng Li sedang duduk-duduk
di suatu padang rumput di sisi gunung dan
menceritakan pada Ah Ching cerita tentang
dewi Hsiang Fei. Ah Ching yang sedang duduk dekat
sisinya dan mendengarkan dia dengan baik,
matanya yang indah dan besarnya tidak pernah
meninggalkan mukanya. Tiba-tiba dia berkata
"Benarkan Hsiang Fei sungguh-sungguh cantik?"
Feng Li berkata, "Matanya bening dan
berkilauan laksana aliran air di pegunungan ..."
Ah Ching berkata, "Apakah dia punya ikan di
matanya?"
Feng Li melanjutkan, "Kulitnya seperti awan,
tetapi lebih putih."
Ah Ching berkata, "Adakah burung-burung yang
terbang di antara awan-awan itu ?"
Feng Li melanjutkan secara tidak sadar,
"Bibirnya lebih lembut dibandingkan untaian bunga dan
berwarna kemerah-merahan. Bibirnya basah,
lebih basah dibandingkan embun yang menempel di
atas bunga ini. Saat Hsiang Fei berdiri di
pinggir sungai, kecantikannya memantul di seluruh
tepian sungai membuat bunga-bunga menjadi
malu. Bahkan ikan-ikanpun takut berenang di air
karena pantulan kecantikannya. Ketika tangan
putihnya masuk ke sungai, tangan itu terlihat
sangat lembut bahkan hampir meleleh di dalam
air..."
Ah Ching berkata, "Kau sudah melihatnya,
benarkah? Jika tidak bagaimana kau dapat
menggambarkannya dengan begitu jelas?"
Feng Li berkata, "Aku sudah melihatnya. Aku
sudah melihatnya dengan sangat…… sangat jelas."
Tentu saja, ia mengacu pada Si Shi, bukan
dewi Hsiang Fei.
Ia melihat ke arah utara. Pandangan matanya
menerawang ke luar di kejauhan, mengarungi
sungai-sungai dan bukit-bukit. “Apakah si
cantik sedang berada di istana raja Wu. Apakah dia
bersama Raja Fu Chai? Apakah dia masih
mengingatku?”
Ah Ching berkata, "Feng Li! Jenggotmu aneh,
bolehkah aku menyentuhnya?"
Feng Li melamun, "Apakah dia sedang sedih,
atau gembira?"
Ah Ching berkata, "Feng Li, kau mempunyai
dua gumpal jenggot putih, seperti kambingku saja."
Feng Li masih melamun, "Saat kita berpisah,
dia menangis di atas bahuku. Airmatanya
membasahi separuh jubahku. Aku tidak pernah
ingin mencuci jubah itu. Airmataku bercampur
air matanya di atas jubah itu ."
Ah Ching berkata, "Feng Li. Bolehkah aku
mencabut salah satu jenggotmu? Aku akan
mencabutnya dengan lemah-lembut. Kau tidak
akan merasakan apapun juga."
Feng Li tetap melamun, "Dia berkata dia suka
naik perahu dan mengarungi sungai dengan
pelahan-lahan. Setelah aku membawanya
kembali, aku tidak akan menjabat menteri lagi. Aku
akan naik perahu bersamanya, mengarungi
danau-danau dan sungai-sungai, menghabiskan sisa
hidupku."
Tiba-tiba, ia merasakan sakit yang hebat di
atas dagunya. Ah Ching mencabut segumpal
jenggotnya. Dia tertawa dengan manisnya.
Tiba-tiba tertawanya terputus dan dia berkata, "Kau di
sini lagi!"
Suatu bayang-bayang hijau berkelebat saat Ah
Ching melesat ke depan. Suatu bayang-bayang
hijau dan bayang-bayang putih bergerak
dengan cepat berkutat satu sama lain.
Feng Li berteriak dengan gembira, "Si Kakek
Putih di sini!" Cukup membutuhkan waktu
sebentar saja saat kedua petarung itu
bergerak lambat agar dia dapat mempunyai pandangan yang
jelas. Ternyata ia mendapat kejutan besar.
Sesuatu yang sedang berkelahi dengan Ah
Ching bukan manusia. Ia seekor kera putih.
Si Kera Putih, juga memegang tongkat bambu.
Si Kera Putih mengeluarkan jurus-jurus pedang
yang canggih. Bunyi berdesing dari tongkat
menunjukkan betapa besarnya kekuatan yang
menyertai setiap jurusnya. Tetapi setiap
kali ia menyerang, Ah Ching selalu mampu menghadang
atau membalas setiap serangan dengan
jurus-jurus yang lebih canggih lagi .
Sewaktu Ah Ching berkelahi dengan para
pendekar Wu, jurus-jurus yang dia gunakan hanya
sedikit.. Tapi sekarang ini Feng Li
menyaksikan ketrampilan Ah Ching sebenarnya. Feng Li
bukan ahli pedang, tetapi ia telah
menyaksikan para pendekar Yueh berlatih pedang selama
bertahun-tahun. Sekarang, ia menyadari bahwa
pendekar Yueh yang terbaikpun tidak lebih baik
dari kanak-kanak yang sedang bermain jika
dibandingkan Ah Ching dan si Kakek.
Serangan-serangan kera putih semakin cepat
dan semakin cepat. Ah Ching mulai memperlambat
gerakannya, dan akhirnya berdiri tenang,
tetapi setiap kali ia menusuk dengan tongkat bambunya,
si kera putih terpaksa melompat ke belakang.
Ah Ching memaksa si Kera Putih mundur tiga
langkah, kemudian ia menggerakkan tongkatnya
dan diam tidak bergerak. Si Kera Putih
memegang tongkat dengan ke dua tangannya lalu
melompat untuk menyerang. Feng Li melihat
kedahsyatan serangan itu dan menjerit keras,
"Awas!" Tongkat Ah Ching bergerak terlalu
cepat untuk dilihat. Dua bunyi keras terdengar, dan
tongkat bambu si Kera Putih jatuh ke tanah.
Si Kera Putih memekik keras dan melompat ke
pohon di dekatnya, kemudian pergi
menghilang. Pekikan itu keras sekali, dan semakin lama
semakin mengecil saat si Kera Putih semakin
menjauh. Bahkan pekikan itu masih bergema lama
sekali walaupun Si Kera Putih sudah tak
terlihat lagi.
Ah Ching membalikkan badan dan berkata
lirih, “Kakek patah kedua lengannya. Sekarang ia tidak
akan datang bermain-main denganku lagi."
Feng Li berkata, "Kau mematahkan lengannya?"
Ah Ching mengangguk, "Kakek sangat marah
hari ini. Sudah tiga kali ia mencoba untuk
melompat dan membunuhmu."
Feng Li berkata dengan terkejut,
"Membunuhku? Mengapa?"
Ah Ching mengeleng-gelengkan kepalanya, "Aku
tidak tahu."
Feng Li diam-diam menjadi takut, "Jika Ah
Ching tidak menghentikannya, kera putih itu dapat dengan mudah
membunuhku, segampang meniup segundukan abu!"
Pagi berikutnya, Ah Ching berhadapan dengan
duapuluh pendekar Yueh yang terbaik sendirian.
Feng Li tahu kalau Ah Ching tidak bisa
memberi pengajaran kepada orang lain bagaimana cara
menggunakan pedang seperti cara yang dia
lakukan, sehingga satu-satunya cara adalah agar
pendekar Yueh menirunya. Masalah tidak ada
satupun pendekar Yueh yang mampu bertahan
lebih dari tiga kali serangannya. Pada saat
tongkat bambu Ah Ching bergerak, lawan manapun
akan kehilangan pedangnya, atau mendapat
tikaman di berbagai tempat yang penting di badan.
Hari berikut, dia mengalahkan tigapuluh
pendekar. Hari yang ketiga, lebih dari tiga puluh kalah.
Pada hari yang ke empat, Feng Li ingin
meminta kepada Ah Ching pelajaran lainnya, tapi ia tidak
bisa menemukannya. Ia pergi ke rumahnya,
tetapi rumah sudah kosong. Feng Li mengirim
beratus-ratus para pembantu dan pengawalnya
ke atas pegunungan untuk mencarinya, tetapi tak
seorangpun bisa menemukan jejaknya.
Ke delapanpuluh pendekar Yueh memang tidak
belajar ilmu pedang sesungguhnya dari Ah
Ching, tetapi mereka sudah melihat sebagian
kecil dari ilmu pedang yang diperlukan. Semua
pendekar sekarang tahu bagaimana ilmu
bermain pedang yang sebenarnya. Ke delapanpuluh
pendekar sekarang mencoba untuk mengajari
sedikit bagian kecil yang mereka bisa pahami
kepada teman-teman mereka. Walaupun ini
hanya sedikit dari yang sedikit tetapi sudah cukup.
Pendekar-pendekar Yueh menjadi tak
terkalahkan.
Raja Kou Chiang segera memerintahkan Hsieh
Chu untuk menempa beribu-ribu pedang tajam.
Tiga tahun kemudian, Kou Chiang menyerang
Wu. Angkatan perang Yueh dan Wu bertempur
di dekat suatu danau. Lima ribu
pendekar-pendekar Yueh berbaris maju. Pendekar-pendekar Wu
memapakinya. Pedang Yueh berkelebat dan
angkatan perang Wu hancur berantakan.
Raja Fu Chai mundur ke Gunung Yu Hong.
Tentara Yueh terus mengejarnya. Pertempuran
kedua terjadi. Sekali lagi tentara Wu
berhasil dikalahkan. Fu Chai akhirnya bunuh diri untuk
menghindari pembalasan dendam yang kejam
dari Kou Chiang yang sudah disiapkan untuknya.
Yueh menguasai ibukota Wu.
Feng Li memimpin sekitar seribu pendekar dan
terus menyerbu istana kediaman Raja Fu Chai.
Itulah tempat di mana Si Shi bertempat
tinggal. Ia lari masuk ke istana dan berteriak: "Yi Kwan!
Yi Kwan!"
Ia berlari cepat di sepanjang lorong,
langkah kakinya terdengar dengan jelas. Lorong tersebut
memiliki lubang-lubang di bawahnya. Si Shi
berjalan dengan ringan, irama langkah-langkahnya
jauh lebih memikat dibanding musik manapun.
Fu Chai-lah yang membangun istana ini. Lorong
ini memang dibuat dengan maksud agar irama
langkah-langkah kaki Si Shi terdengar.
Di ujung lorong, terdengar suara musik,
seperti bunyi mandolin yang riang gembira, seperti bunyi
yang jernih suatu harpa. Satu suara lembut
berkata, "Shao Bo, apakah itu benar-benar kamu?"
Feng Li merasakan aliran darahnya naik dari
dada dan berteriak, "Ini aku! Ini aku! Aku datang
untukmu." Suaranya tampak seperti suara
orang asing, yang muncul dari kejauhan. Ia berlari maju
dengan langkah-langkah tak teratur.
Suara musik terdengar menuruni tangga, dan
tubuh yang lembut masuk ke dalam pelukannya.
Malam-malam di musim semi meleleh hangat.
Keharuman bunga mengalir memasuki kamarkamar
istana. Feng Li dan Si Shi sudah lama
berbicara tentang keinginan mereka berdua.
Tiba-tiba terdengar suara embikan kambing
menembus kesadaran mereka.
Feng Li berkata, "Apakah kau tidak bisa
melupakan tanah tumpah darahmu? Apakah kau punya
kambing di sini?"
Si Shi menggelengkan kepalanya. Dia heran
tentang kambing-kambing itu, tetapi dia tidak
berpikir yang aneh-aneh di depan laki-laki
yang ia cintai. Dia memegang tangan Feng Li, dan
merasakan aliran darah mengalir cepat di
jalan darah mereka.
Tiba-tiba, terdengar suara seorang perempuan
berbunyi, "Feng Li! Bawalah keluar Si Shi-mu. Aku
akan membunuhnya!"
Feng Li berdiri. Si Shi merasa telapak
tangan Feng Li tiba-tiba menjadi dingin. Feng Li mengenali
suara Ah Ching, suaranya datang dari luar
istana.
Feng Li bingung dan takut, "Kenapa dia ingin
membunuh Yi Kwan? Yi Kwan belum pernah
punya kesalahan padanya." Kemudian ia paham,
"Dia bukan seorang anak perempuan desa yang
lugu. Dia menyukaiku." Pemahaman itu membuat
dia menjadi lebih takut.
Ia telah mampu melalui banyak, banyak sekali
keputusan yang sulit dalam berbagai situasi yang
berbahaya. Ketakutan yang pernah dia rasakan
sewaktu ia terkepung bersama Kou Chiang di Wu,
tidak jauh dari apa yang ia bisa rasakan
sekarang.
Si Shi merasa telapak tangan Feng Li
gemetaran dan dipenuhi keringat dingin.Feng Li tidak takut
kematiannya sendiri. Ketakutannya hanya
untuk Si Shi.Feng Li berhasil mengendalikan diri kembali dan
berkata, "Aku akan mencari orang ini." Ia melepaskan tangan Si Shi
dan berjalan keluar istana.
Delapan belas pendekar mengikutinya. Mereka
semua mendengar tangisan Ah Ching. Mereka
semua kebingungan dan penuh rasa ingin tahu.
Feng Li hanya melihat sinar bulan yang terang di
luar, tetapi tak seorangpun terlihat.
Ia berteriak dengan nyaring, "Nona Ah Ching,
silahkan masuk. Kita punya banyak hal untuk
dibicarakan." Tetapi ia tidak mendengar
jawaban apapun. Ia menunggu dan menunggu, tetapi Ah
Ching tidak datang. Lalu ia memerintahkan
seribu tentara bersenjata lengkap dan seribu pendekar
pilihan untuk menjaga istana.
Ia balik ke Si Shi dan memegang tangannya.
Ia tidak berkata apapun. Dia memikirkan suatu
rencana yang belum pernah ia pikirkan
sebelumnya., "Apakah aku perlu membiarkan salah satu
pelayan wanita menyamar Si Shi dan
membiarkan Ah Ching membunuhnya? Perlukah aku
membunuh diri di depan Ah Ching agar dia
membiarkan Si Shi hidup? Perlukah aku
memerintahkan dua ribu pemanah mengepung
tempat ini dan memanah Ah Ching jika dia
mencoba memaksa masuk?"
Tiap-tiap rencana pasti punya kelemahan. Ia
tidak ingin membunuh Ah Ching, yang telah
memungkinkan penghancuran Wu. Ia menoleh ke
arah Shi Si, dan tiba-tiba ia merasakan
kehangatan di dalam hatinya, "Baiklah jika
kita harus mati dengan cara ini. Kita masih punya
sedikit waktu berduaan sebelum akhirnya kita
mati bersama."
Jam demi jam telah lewat. Si Shi merasa
bahwa tangan Feng menjadi lebih hangat. Ketakutan
Feng mulai hilang dan ia mulai tersenyum.
Matahari terbit mulai menyinarkan cahayanya melalui jendela.
Tiba-tiba bunyi pertempuran datang dari luar
pintu istana. Disusul bunyi kerontangan senjata
yang berjatuhan di tanah. Bunyi itu semakin
dekat dan semakin dekat, seperti ular raksasa yang
menyelinap memasuki istana. Kemudian bunyi
senjata yang berjatuhan datang dari lorong di
dekat ruangan di mana mereka berada. Dua
ribu prajurit ternyata tidak cukup untuk
menghentikan Ah Ching.
Suara Ah Ching terdengar, "Feng Li, di
manakah kau?"
Feng Li berkata dengan tenang, "Ah Ching,
aku di sini."
Sebelum Feng Li sempat menyelesaikan kata
"di sini", tirai mendadak terpotong dan suatu
bayang-bayang hijau datang melesat ke dalam.
Ah Ching, berpakaian hijau seperti biasanya,
berdiri di hadapan mereka. Dia menodongkan
tongkat bambunya ke arah Si Shi. Wajahnya persis
berada di depan wajah Shi Si. Hawa
pembunuhan yang mengamuk di wajahnya pelan-pelan
menghilang, di ganti rasa kecewa dan
hilangnya rasa percaya diri, lalu berubah menjadi keheranan,
rasa hormat dan akhirnya pujian. Dia
berbisik, "Lihat... lihat kecantikan yang sesungguhnya di
kolong langit! Feng Li, dia bahkan
lebih...lebih cantik dibandingkan yang kau ceritakan."
Pinggangnya yang langsing berputar, lalu
dengan menangis Ah Ching melesat melalui jendela.
Suara tangisannya terdengar menjauh dan
menjauh sampai hanya gemanya yang tertinggal.
Para pengawal yang selamat berlari memasuki
ruangan itu. Salah satu dari mereka membungkuk,
"Menteri, apakah Anda baik-baik saja?" Feng
Li membubarkan mereka dengan melambaikan
tangannya. Kemudian ia memegang tangan Si
Shi dan berkata, "Mari kita berganti pakaian biasa.
Kita akan pergi berperahu mengarungi Danau
Tai dan tidak akan pernah kembali ke tempat ini."
Kebahagiaan bersinar dari mata Si Shi.
Tiba-tiba ia terjatuh dan kedua tangannya menempel di
depan jantungnya. Tongkat bambu Ah Ching
memang tidak menyentuhnya, tetapi tenaga dalam
dari tongkat telah masuk ke tubuhnya dan
membuat luka dalam yang serius.
Dua ribu tahun berikutnya, semua orang tahu
kalau gambar paling indah di dunia adalah saat Si
Shi meletakkan tangan di depan dadanya.
PENUTUP:
Di manakah mereka sekarang?
Raja Kou Chiang akhirnya berhasil membalas
dendam, tetapi sesuatu telah terjadi kepadanya.
Selama bertahun-tahun satu-satunya emosi
yang bisa ia rasakan adalah kebencian. Feng Li telah
merasakan hal itu. Ia mundur dari jabatannya
dan menasihati sahabatnya Wen Chung untuk
mundur bersama-sama dengan dia. Ia berkata,
"Kou Chiang adalah seseorang di mana kamu dapat
tergantung pada masa-masa kesusahan, tetapi
mustahil untuk berbagi masa-masa yang
menyenangkan dengan dia." Wen Chung tidak
percaya dengan sahabatnya, ia percaya bahwa ia
bisa menikmati hadiah yang layak
diterimanya.
Feng Li menghilang dari sejarah. Beberapa
cerita mengatakan ia menjadi pertapa. Beberapa cerita
mengatakan ia menjadi seorang pedagang yang
memiliki kekayaan berlimpah. Si Shi menjadi
Helena versi Cina. Kecantikan yang
membinasakan suatu kerajaan besar. Beberapa cerita
mengatakan Si Shi pergi dengan Feng Li dan
mereka berdua hidup bahagia. Cerita lainnya
mengatakan Si Shi meninggal ketika isteri
Kou Chiang takut kehilangan suaminya, lalu ia
mengikatkan batu karang ke punggung Si Shi
dan menenggelamkannya ke dalam danau, sambil
berteriak, "Sekarang, kau tidak akan pernah
menjadi tua." Anda dapat saja mengakhiri cerita
sesuka hati Anda.
Kou Chiang akhirnya tepat seperti ramalan
Feng Li, tidak kenal ampun dan kejam. Wen Chung
terpaksa bunuh diri ketika ia didakwa
bersalah karena berkhianat. Nasib yang ia rencanakan pada
Wu Tzu-shi akhirnya seperti nasibnya
sendiri. Kou Chiang menjadi sombong. Ia memulai perang
dengan negara besar di utara Negeri China.
Peperangan tidak membawa kemenangan yang
menentukan. Kemudian ia meninggal. Setelah
kematiannya, kerajaannya ikut runtuh. Dengan
cepat Chuh mengambil wilayah Wu dan Yueh.
Orang-orang Yueh melarikan diri ke selatan.
Berabad-abad kemudian, mereka dipaksa lebih
jauh ke selatan oleh kekaisaran-kekaisaran Cina
berikutnya sampai akhirnya mereka memasuki
daerah yang masa kini disebut Vietnam8. Mereka
masih ada di sana.
Baru-baru ini, suatu penggalian arkeologis
di Hunan menemukan dua pedang perunggu. Salah
satunya diduga pedang Fu Chai. Yang lain
dihubungkan dengan pedang yang pernah dimiliki
oleh Kou Chiang. Legenda-legenda tentang
kesaktian pedang memang mempunyai beberapa fakta
kebenaran. Jadi jika seseorang mengetahui
lebih banyak tentang penemuan arkeologis, silahkan
kirim e-mail kepadaku. Pedang Pengail Ikan
dan Penumpas Kejahatan memang dikuburkan
bersama Raja Ho Lu, Ayah Fu Chai. Penduduk
setempat bersumpah bahwa mereka pada waktuwaktu
tertentu melihat harimau putih berdiri di
atas makam Ho Lu. Harimau putih adalah
lambang logam, sehingga penduduk setempat
percaya kalau harimau merupakan penjelmaan
pedang sakti yang terpendam di bawahnya.
Percayalah atau tidak.
Tentang si Gadis Yueh, dia tidak pernah ada
dalam kisah sejarah nyata. Dia hanya hidup dalam
dunia dongeng dan dongeng tentang dia akan
selalu diceritakan. Dia telah melakukan banyak
perbuatan-perbuatan yang besar,
perbuatan-perbuatan yang tak dikenal sampai generasi-generasi mendatang dan sampai para pendongeng siap
untuk mendongengkannya .
Tamat