pedang darah bunga iblis 02

6. WANITA MISTERIUS SERBA HITAM.

Akan tetapi betapapun musuh perguruan harus ditumpas. Para durjana yang turun tangan keji mencelakai Suhunya mana bisa begitu saja dibiarkan lolos dari pembalasan. Setelah mengambil ketetapan hati dia memutar badan menghadapi kuburan dan kedua tangannya Iagi2 sudah berada ditengah udara.

Mendadak, diujung pandangan matanya terlihat sebuah bayangan seperti bayangan setan saja tengah melayang mendatangi sangat lambat kearah dimana ia tengah berada. waktu ia melebarkan mata dan melihat tegas, tanpa merasa ia menjedot hawa dingin, kedua tangan yang diangkatpun tanpa kuasa menjulai turun. Kalau saat itu diwaktu malam tentu disangkanya ia melihat setan. Sebab bangun tubuh itu bayangan itu benar2 mirip dengan setan gentayangan yang sering diceritakan orang.

Kiranya bayangan yang muncul ini adalah seorang wanita yang mengenakan pakaian serba hitam, rambutnya yang panjang dan hitam kelam menjulai turun dari atas kepalanya menutupi pundak dan dadanya, ditangannya menjinjing tergenggm bunga berwarna merah darah. Yang terlihat dari seluruh tubuhnya itu hanya kedua tangannya yang menjinjing bunga, pucat memutih bagai bunga salju, seakan tangan itu bukan tangan seorang hidup.

Tanpa sadar Suma Bing mundur beberapa langkah ke belakang. seakan tidak melihat kehadiran Suma Bing, sigadis hitam Ini langsung mendekati kedepan kuburan, dan meletakkan seonggok bunga itu didepan batu nisan.

Suma Bing berpikir: siapakah gerangan perempuan baju hitam ini, bagaimana bisa meletakkan bunga didepan kuburan Tiang-un Suseng?

Mendadak dilihatnya wanita itu menggelendot diatas batu nisan dan nangis sesenggukkan dengan sedihnya, suara tangisnya sedemikian memilukan hati, bagai pekikan orang hutan diatas pegunungan, juga seperti seorang kekasih yang ditinggal pergi kawan hidupnya tercinta.

Serta merta Suma Bing juga merasa pilu dan sedih hampir saja air matapun meleleh keluarr termenung ia memandang wanita misterius ini.

Entah sudah berselang berapa lama akhirnya siwanita baju hitam itu menghentikan tangisnya dan berkata menggumam, “Jiang-ko, kau pernah berkata seumpama dunia kiamat, lautan kering dan batu hancur lebur cintamupun takkan berobah, untuk sepercik harapan ini aku rela menderita segala siksaan selama tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun! Jiang-ko, seperti tiga ratus, laksana tiga ribu tahun, tapi juga seperti baru berlangsung tiga jam yang lalu, namun akhirnya, sekarang kau telah pergi, meninggalkan dunia fana ini, didalam segunduk tanah diantara semak belukar dalam hutan ini”

Diam2 terkejut hati Suma Bing, tidak perlu diragukan lagi bahwa wanita baju hitam ini pasti adalah tunangan Tiang-un Suseng. Demi cintanya ia rela menderita siksaan selama tiga puluh tahun lamanya. Tekad yang besar dan cinta yang murni ini agaknya akan selalu abadi selama hajat masih dikandung badan.

Mendadak siwanita baju hitam mendongak dan tertawa gelak2 bagai orang kesurupan suaranya serak dan menyedihkan penuh kegetiran hidup yang menyayatkan hati, lebih seram dan menusuk telinga dari suara tangisnya tadi, membuat siapa yang mendengar merinding dan bergidik seram.

Tiga puluh tahun merupakan hari2 yang cukup panjang dan kelebihan untuk menghilangkan masa remaja dan membawa jiwa manusia sampai titik pangkal terachir, wa nita yang teguh dalam lahir batin ini demi cinta dan cita2 rela tersiksa selama tigapuluh tahun. Sehari begitu ia terlepas dari belenggu kesengsaraan yang diperoleh kiranya hanyalah kehampaan dan putus segala harapan dan cita2, betapa pedih dan sedih hatinya dapatlah dibayangkan. Cinta murni yang abadi ini kiranya cukup meluluhkan setiap hati manusia yang mempunyai perasaan.

Sekonyong2 suatu tawanya terhenti dan mendadak wanita baju hitam itu mundur tiga langkah, terdengar mulutnya mengigau bagai orang bermimpi, “Jiang-ko, aku ingin melihat kau.” Membarengi kata2nya ia ayunkan sebelah tangan menghantam kearah kuburan itu.

Mimpipun Suma Bing tidak menduga bahwa siwanita baju hitam bisa berbuat begitu membongkar kuburan Tiang-un Suseng, tanpa merasa ia berseru kejut dan heran.

Ditengah suara mengguntur yang dahsyat tanah dan batu bergulung beterbangan, maka terlihat sebuah lobang sebesar satu tombak sedalam lima enam kaki.

“Eh!” tanpa merasa Suma Bing dan siwanita baju hitam berseru kejut berbareng dan tertegun dimasing2 tempatnya.

Kiranya bahwa liang kubur itu kosong melompong tiada jenazah atau benda apapun juga.

“Sibaju hitam tergetar dan berseru gemetar; “Kiranya dia tidak mati, eh. Jiang-koku tidak mati- Kenapa dia harus berbuat demikian?”

“Sebab dia takut mati, dia menghindari kematian.”

Perlahan2 sibaju hitam memutar tubuh, sinar matanya ingin menembus dari belakang rambut yang terurai menutup mukanya. keadaannya ini benar2 membuat orang merinding ketakutan.

“Apa yang kau katakan?”

Suaranya dingin melebihi es, tapi nyaring melengking Seperti suara seorang gadis remaja. Serta merta Suma Bing melangkah mundur lagi satu tindak tindak. Didengar dari suaranya usia wanita misterius ini agaknya belum terlalu lanjut, tapi dia sendiri tadi mengatakan telah tersiksa selama tigapuluh tahun, hal ini benar2 susah dibayangkan. sayang wajahnya tertutup oleh rambutnya yang hitam lebat susah dilihat wajahnya, mungkin….

“Hei, apa yang kau katakan tadi?” tanya siwanita baju hitam lagi.

Nada suara Suma Bing berat dan sinis, sahutnya, “Kukatakan ia takut mati, dia membangun kuburan kosong ini untuk menghindari kematian!”

“Siapa yang bilang?”

“Aku”

“Alasanmu?”

“Orang yang akan mencabut nyawanya adalah aku!” Bahna kaget siwanita baju hitam mundur melangkah. serunya bengis, “Kau berani?”

Sikap Suma Bing sangat temberang, sahutnya, “Kenapa tidak berani?”

Siwanita baju hitam mengekeh tawa panjang, nada tawanya mengandung nafsu membunuh yang besar, katanya; “Siaucu biar kuhancurkan kau lebih dulu!”

Wajah Suma Bing mengelam dan katanya hambar, “Aku kuatir kau tidak mampu.”

Wanita baju hitam itu menyeringai dingin, ujarnya “Tidak percaya, boleh kau coba2!” —- Bertepatan dengin kata2 terakhirnya kesepuluh jari tangannya ditekuk bagai cakar binatang langsung ia menerjang kearah Suma Bing pundak dan dada Suma Bing diancam cengkeraman maut.

Tergetar hati Suma Bing melihat cara penyerangan lawan, bahwa cengkeriaman lawan ini temyata begitu ganjil dan keji luar biasa, Yang lebih lihay lagi adalah sekali jarak seakan ada beberapa ratus cakar tajam sekaligus mengancam berbagai jalan darah penting diseluruh tubuhnya Rasanya susah dihindari atau ditangkis. lagipula sebelum ujung cakar mencengkeram tiba lebih dulu terasa angin di ngin msnerjang tiba menyusub kedalam badan.

Terpaksa ia jejakkan kedua kakinya, secepat anak panah tubuhnya melejit minggir delapan kaki jauhnya. Dan sebelum ia dapat punahkan diri hawa dingin dari cakar setan lawan sudah membayang tiba pula menungkrup tubuhnya Lagi2 Suma Bing harus menggeser kedudukan setombak lebih, maka kekuatan Kiu-yang-sin-kangpun sudah terhimpun dikedua telapak tangannya.

“Siaucu, boleh juga kepandaimu ya,’ seru wanita baju hitam melengking dingin. “Dapat kau menghindari dua kali cakaranku. Tapi ketahuilah bahwa dalam dunia persilatan yang dapat tetap hidup dibawah rangsangan Pek-pian cui-jiau dapat dihitung dengan jari!”

“Apa, Pek-pian-kui-jiau! (cakar setan Seratus perobahan)” lengking Suma Bing melonjak kaget.

“Tidak salah, tidaklah penasaran mati dibawah Pek-pian cui-jiau, apalagi kau sudah dapat menghindari dua jurus seranganku, kepandaianmu sudah boleh dibanggakan di kalangan Kangouw!”

Suma Bing membuyarkan Kiu-yang-sin-kang, teringat akan pesan Suhunya sebelum ajal, terasa omongan itu masih terngiang2 ditelinganya, meskipun dia tidak tahu mengapa Gurunya harus berbuat demikian, tapi perintah guru bagaimanapun harus ditaati.

Untuk ketiga kalinya siwanita baju hitam menjerang lagi, terpaksa Suma Bing harus berkelit dan main hindar saja tanpa berani balas menjerang.

“Siaucu, kau mampu balas menyerang, mengapa tidak menyerang?”

Susah bagi Suma Bing untuk memberi penjelasan, ter­paksa ia tetap bungkam seribu bahasa. Maka menjadi2lah serangan wanita baju hitam itu, bayangan cakar putih bagai berkelebatnya bayangan setan seakan jala berlapis2 mengurung sekitar tubuhnya.

“Kena!” berbareng dengan bentakan nyaring ini, terdengar pula Suma Bing berseru tertahan lima cakar jari tangan kanan siwanita hitam dengan telak mencengkeram dipundak kiri Suma Bing, kelima jarinya itu ambles sedalam satu dim, dari ujung cakar jarinya itu merembes keluar hawa dingin yang mengalir masuk kedalam tubuhnya merembes sampai ke tulang2nya.

Masih untung Suma Bing melatih Kiu-yang-sin-kang, hawa dingin masih belum seberapa hanya kelima cakar yang menusuk kedalam daging itulah terasa sangat sakit menembus jantung, seketika keringat dingin berketel2 membanjir keluar.

Wanita baju hitam menyeringai bengis, katanya, “Kau tadi mengatakan hendak membunuhnya lagi?”

Suma Bing mengertak gigi, sahutnya congkak, “Andaikan aku tidak mati, aku tetap akan membunuhnya!’

“Akan tetapi, sudah pasti bahwa kau sendiri akan mati hari ini.”

Kontan bergejolak perasaan Suma Bing, sungguh sedih dan perih hatinya susah dilukiskan. Bukan dia takut mati adalah ia merasa berat kalau mati begitu saja, karena dendam perguruan dan musuh keluarga masih belum tertumpas habis. Jikalau bukan mematuhi perintah gurunya, dengan Kiu-yang-sin-kang untuk menghadapi lawan serba hitanm ini, seumpama tak dapat menang, melarikan diri dengan selamat bukanlah hal yang sukar. Sekarang, semua telah terlambat, terasa seandainya ia matipun takkan meram. Wanita serba hitam mengangkat tangan kiri dan mengancam, “Siaucu, cakar ini akan mencengkram hancur batok kepalamu!”

Dengan tenang Suma Bing meramkan mata menanti ajal.

Dinanti2 siwanita serba hitam masih belum turunkan tangannya, malah terdengar suaranya mengkili2:” “Kau tidak takut mati?”

“Kalau memang sudah suratan takdir, perlu apa ditakuti!” debat Suma Bing ketus.

“Dengan usiamu yang masih muda dan kepandaianmu yang susah didapat ini, bukankah sayang kematianmu ini”

“Aku tidak akan minta belas kasihanmu!”

Tiba2 sikap wanita serba hitam ini menjadi lesu, ia turunkan tangan kirinya sambil menghela napas panjang, katanya seorang diri, “Persis benar dengan dia dulu! Dia belum mati, tapi kenapa tidak pergi mencari aku, apa dia betul2 menjadi seorang penakut? Tidak mungkin, tidak mungkin dia begitu takut mati seperti apa yang dikatakan Siaucu ini, pura-pura mati untuk mengelabui musuhnya tidak mungkin, tapi mengapa? Mengapa?”

Cengkeraman dipundak Suma Bing perlahan2 dilepaskan. Bergegas Suma Bing mundur tiga langkah lebar, Sebelah kiri tubuhnya sudah basah kujup oleh merah darah.

Setelah merenung sekian lamanya, wanita serba hitam membuka suara lagi, “Siapa namamu?”

“Suma Bing!”

“Dari perguruan mana?”

“Tidak dapat kuberitahukan.”

“Kenapa kau tidak turun tangan, kau mampu dan punya tenaga untuk balas menyerang?”

“Maaf, aku tidak dapat menerangkan!”

“Hm, aku tidak jadi membunuhmu, kau pergilah!”

“Apa kau tidak menyesal?”’

“Menyesal, mengapa menyesal?”

“Sebab aku tidak merobah pendirianku untuk membunuh Tiang_un Suseng.”

Sejenak wanita baju hitam melengak dan berpikir, lalu katanya, “Akupun perlu memperingatkan kau, lain kali bertemu lagi, jangan harap kau dapat tinggal pergi dengan masih bernyawa”

“Itu akan terukir dalam benakku.”

“Baik, kau boleh pergi”

Suma Bing menjejak tanah dan baru saja tubuhnya melesat ditengah udara, berserulah siwanita baju hitam me-manggilnya kembali- Tanpa merasa Suma Bing menghentikan luncuran tubuhnya dan berpaling balik. Disangkanya lawan merobah niatnya.

“Apa sedemikian besar hasratmu hendak membunuh Tiang-un Suseng Poh Jiang?”

“Tidak salah, kau menyesal?”

Wanita baju hitam tertawa terloroh2, jengeknya, “Apa yang sudah kuucapkan tidak akan kusesali. hanya maukah kau melulusi satu syaratku?”

“Syarat apa itu, coba katakan.”

“Setelah kau dapat menemukan Tiang-un Suseng, harap jangan kau segera turun tangan, kau harus tunggu setelah bertemu dengan aku, kita putuskan menurut kebenaran dan duduk perkara yang terang, kau akan mendapatkan kesempatan yang adil, dapatlah kau melulusi?”

“Boleh, tapi aku juga ada dua keterangan!”

“Coba katakan?”

“Pertama; begitu Tiang-un Suseng bertemu dengan aku, kalau dia yang turun tangan lebih dulu, susahlah aku untuk tidak membunuhnya.”

“Tidak bakal terjadi asal kau mengatakan, sahabat-lama di Te-jui-hong pada tiga puluh tahun yang lalu kini telah melihat sinar matahari, tentu dia takkan turun tangan menyerang kau!”

“Kedua, beritahu dulu alamat dan nama besarmu, kalau tidak sedemikian lebar dunia kangouw ini”

“Itupun tak perlu, karena dia pasti dapat membawamu, menemui aku. Kalau begitu jadi kau melulusi syaratku itu?”

“Baiklah!”

“Suma Bing- aku percaya kau?”

“Ucapan seorang Tianghu takkan dijilat lagi harap legakan hatimu!” —

Selesai kata2nya la memutar tubuh terus terbang cepat kedalam hutan. Sudah ada satu keteta-pan hati untuk langkah selanjutnya Tiang-un Suseng ada-lah salah satu tokoh dari Bu-lim-sip-yu (sepuluh kawan Kaum Bulim), dan Bu-lim-sip-yu ini adalah komplotan Loh Cu-gi itu murid murtad gurunya atau biang keladi dalam pengerojokan dan penganiajaan tcrhadap gurunya dulu, kecuali empat orang yang sudah mati, masih sisa enam orang berada di kalangan Kangouw, asal dapat mencari lima orang lainnya lagi, tidaklah sukar untuk mengejar jejak Tiang-un Suseng.

Baru saja tubuh Suma Bing melesat keluar dari hutanl dan belum menginjak kaki dijalan besar dari depan sana telah mendatangi sebuah tandu warna hijau mulus bagai terbang. Berdetak hati Suma Bing, karcna yang mendatangi itu bukan lain adalah Pek-hoat-sian-nio. Maka segera ia menghentikan langkah dan berdiri tenang menantikan apa yang bakal terjadi, dapatlah diduga bahwa kedatangan orang pasti mencari dirinya.

Benar juga terpaut lima tombak dari dirinya tandu hi jau itu berhenti, dan muncullah si gadis baju putih Ting Hoai yang beium lama ini terluka oleh pukulannya, sinar matanya bengis me-nyala2 penuh kebencian.

“Suma Bing majulah kedepan!” suara ini terucapkan dari dalam tandu.

Sejenak Suma Bing menenangkan gejolak hatinya, Ia lantas dengan sikap angkuh tanpa takut2 ia melangkah lebar kedepan tandu kira2 dua tombak jauhnya.

“Kau tadi yang melukai Hoan-ji?”

Sekilas Suma Bing melirik kearah Ting Hoan, lalu sahutnya, “Ja, memang begitulah telah terjadi!”

“Kau benar2 sangat takabur dan sombong?”

“Apa perkataan Sian-nio ini tidak terlalu berat sebelah.”dua harimau bertarung tidak mungkin tidak terluka!”

“Tapi dia menaruh belas kasihan lebih dulu membuang kesempatan untuk melukaimu.”

“Akupun tidak menghendaki jiwanya bukan.”

“Membongkar kuburan dan meusak jenazah, apa kau tidak merasa bahwa perbuatanmu itu sangat hina, rendah dan keji?”

“Cayhe hanya ingin membuktikan apakah musuhku itu benar2 mati atau pura2 mati, sedikitpun tiada niatku me-rusak jenazahnya.”

“Ada permusuhan apa antara kau dengan Tiang-un Su­seng Poh Jiang?”

“Dendam kesumat sedalam lautan!”

“Perguruanmu dari aliran mana”“

“Tentang itu…. aku tidak dapat memberi tahu”

Pek-Hoat-sian-nio tertawa terloroh2, serunya, “Hoan-ji, coba kau serang dia.”

Tanpa diminta kedua kalinya sigadis baju putih yitu Ting Hoan mendesak maju terus mengayn tangannya melancarkan sebuah pukulan jarak jauh.

Suma Bing maklum bahwa lawan hendak mengorek asal usul dirinya dari ilmu kepandaiannya. mka tanpa balas menjerang, sekali meleit tubuhnya melayang menghindar.

“Hoan-ji, gunakan jurus Ban-Iiu-kui-cong.” suara Pek-hoat-sian-nio bergema lagi.

Tubuh Ting Hoan menerjang maju sambil berputar, seketika bayangan pukulannya laksana bunga salju beterbangan memenuhi udara, melayang2 mengepung seluruh tu­buh Suma Bing, sedemikian rapatnya serangan ini seumpama hujan badaipuu takan tertcmbuskan. Diluar dugaan, tampak tubuh Suma Bing bergoyang guntai tahu2 bagai setan yang bisa menghilang tubuhnya sudah berkelebat menghindar dari bayangan pukulan lawan.

“Hoan-ji, mundur!”

Ting Hoan mendelik benci memandang Suma Bing, tanpa bersuara ia mengundurkan diri.

Dimana terlihat tirai rangkaian mutiara dipintu tandu itu tersingkap, seorang nenek tua berambut putih bagai perak dan wajah bersemu merah bagai wajyh seorang baji muncul dari dalam tandu.

Tergetar jantung Suma Bing, darahpun terasa berjalan. semakin cepat seumpama, Pek-hoat-sian-nio benar2 turun tangan sendiri, dapatkah dirinya tetap merahasiakan asal usul dirinya susahlah diduga.

Baru ia tengah berpikir terasa pandangannya kabur tahu2 Pek-hoat-sian-nio sudah berdiri dekat dihadapannya, demikian dekat sampai dijamahpun dapat dipegang. Gerak tubuh yang hebat luar biasa ini dia mengakui tak mungkin dirinya bisa melawan. Wajah kekanak2an Pek-hoat-sian-nio yang ke-merah2an itu mengunjuk sikap serius dan kaku menatap Suma Bing sampai sekian lamanya, katanya “benar2 kau sudah membongkar kuburan Tiang un Suseng”

“Memang kuburan itu sudah terbongkar, tapi….”

“Tapi apa?”

“Bukan aku yang membongkarnya!’1

Berkelebat rasa heran dan tak habis mengarti pada wa cljah Pek-hoat-sian-nio. tanyanya lagi, “Lalu siapa yang membongkar?”

“Seorang wanita serba hitam yang misterius”.

“Siapakah dia?”

“Aku tidak kenal!”

Dari samping Ting Hoan perdengarkan ejekannya, jengeknya, “Seorang laki2 berani berbuat berani bertanggung jawab, buat apa bohong mengelabui orang lain!”

Suma Bing melotot dengan rasa gusar meluap2, serunya keras: .Siapa dusta dan tidak berani bertanggung jawah?’1′

“Kau!

Pek-hoat-sian-nio ulapkan tangan menghentikan perkataan Ting Hoan, lalu katanya pula, “Suma Bing, tidak peduli sia­pa yang membongkar, bagaimana. dengan tulang kerangka nya….”

Suma Bjng berseru geram, “sebuah kuburan kosong, hakekatnya tiada tulang kerangka Tiang-Un Suseng Poh Jiang apa segala.”

Ucapannya ini benar2 diluar dugaan siapapun. Tidak ketinggalan Pek-hoat-sian-niopun kerutkan alisnya, tanyanya menegas, “Apa betul ucapanmu itu?”

“Apa perlu aku berdusta?” jengek Suma Bing mendongkol

Wajah Pek-hoat-sian-njo mengunjuk rasa curiga dau tidak percaya (sangsi), katanya seorang diri, “Aneh, mana mungkin terjadi. Mengapa dia berbuat begitu? Baiklah, kita doakan begitulah sesungguhnya.7′ selanjutnya berobahlah nada ucapannya, “Suma Bing, beritahukan perguruanmu’ — dua sinar mata yang dapat menyedot semangat orang menatap tajam kedua mata Suma Bing.

“Sudah kukatakan, tidak mungkin kuberitahukan,” sikapnya angkuh dan dingin luar biasa.

“Tidak kau katakan apa kau dapat mengelabui mata tuaku ini,” ditengah ucapannya secepat kilat sebuah tangannya menjelonong maju.

Suma Bing insaf tak mungkin dirinya dapat menghindar atau berkelit. secara langsung gerakan reflek tangannya maju menjongsong tangan lawan. Se-konjong2 Pek-hoat-sian-nio berseru kejut dan mundur selangkah besar, wajahnya yang merah bagai wajah orok itu berobah ber-ulang2, suaranya bengis dan tajam berkata, “Suma Bing, ilmu silatmu berasal dari “Lam-sia”. Tapi Siasin Kho Jiang sudah meninggal pada duapuluh tahun yang lalu, tentu tidak mungkin mempunyai seorang murid muda belia seperti kau ini….” sampai disini suaranya merandek, sinar matanya su­dah mengunjuk nafsu membunuh.

Tergetar semangat Suma Bing, nama Pek-hoat-sian-li yang tenar dan disegani bukan kosong belaka. dalam satu gebrak saja lantas dapat mengenali asal sumber ihnu silatnya maka dapatlah dibayangkan betapa luas dan tinggi kepandaiannya. Namun nafsu membunuh pada sinar matanya itu betul2 membuatnya tak habis mengerti.

Setelah berhenti sebentar suara Pek-hoat-sian-nio semakin bengis menakutkan, “Apa hubunganmu dengan Loh-Ju-gi?”

Lagi2 Suma Bing tertegun dibuatnya, tidak nyana bahwa Orang dapat menyebuttkan nama Suhengnya yang menghianat pada perguruan itu, entah apakah maksud tujuannya.

Dilihat dari sepak terjang orang, tentu mengandung mak­sud tidak baik. Akan tetapi sejak kecil dirinya dibesarkan dan dibimbing oleh Lam-sia, sedikit banyak ketularan sifat pembawaan gurunya yang aneh itu Timbullah perlawanan dan rasa tak puas terhadap sikap Pek-hoat-sian-nio yang menantang itu, maka sahutnya dengan congkaknya, “Tidak sudi aku memberi tahu.”’

Sikap kamarahan Pek-hoat-sian-nio semakin menjadi2, kedua matanya merah membara, sekali lagi ia menghardik, “Apakah Loh Cu-gi itu adalah Suhumu?”

“Tidak perlu kuberitahu.”

“Jangan sesalkan aku mengompes mulutmu.”

“Aku selamanya tidak senang diancam.”

“Dimana Loh Cu-gi sekarang berada?”

“Sekali lagi kukatakan tidak bisa kuterangkan.”

“Budak kecil, masa benar kau tidak mau menerangkan-” Wut, dilancarkannya sebuah pukulan membawa kekuatan dahsyat yang menggetarkan bumi.

Suma Bing berkelebat kesamping, menghindar sambil membalas kirim tiga pukulan- kekuatan tiga pukulannya inipun bukan olah2 hebatnya. Pek-hoat-sian-nio memutar kedua tangannya membuat sebuah lingkaran besar, maka lenyap sirnalah kekuatan tiga pukulan Suma Bing itu bagai tenggelam dalam lautan tanpa jejak. Wut- wut, Iagi2 lawan lancarkan dua kali pukulan berbareng.

Terpaksa Suma Bing menggertak gigi dan mengulur ta-ngan menyambut dua pukulan musuh ini. “Bum, Bum!” dua kali benturan yang menggeledek, Suma Bing tergetar mun-dur satu langkah besar.

Pek-hoat-sian-nio menggeram gusar, tubuhnya menerjang maju sambil ulurkan cakar tangannya mencengkeram kedada lawan, cara gerak turun tangan ini, hakekatnya tidak memandang musuh sebelah mata.

Selama limabelas tahun Suma Bing ditempa dan digembleng oleh Lam-sia, kepan-daiannyapun sudah bukan olah2 hebat, kedua tanganya membalik dan berputar cengkeraman Pek-hoat-sian-nio tertolak terhenti ditengah jalan. Kalau musuh tidak membatalkan Serangannya, sudah tentu Suma Bing tak mungkin terhindar dari mara bahaya kematian, namun demikian kedua tangan pek-hoat-sian-nio pun harus dikorbankan.

Tanpa merobah jurus serangannya, secepat kilat Pek-hoat-sian-nio merobah gerak jarinya dari mencengkeram ganti memukul, telapak tangannya tahu2 menggenjot kemuka musuh, sedang sebuah tangan yang lain jari2nya bergantian menjentik, melancarkan lima carik kekuatan tenaga angin berbareng tubuh juga ikut menyelonong maju membantu kecepatan serangannya.

Betapapun cepat reaksi Suma Bing sudak tak mungkin lagi dapat berkelit, dalam keadaan gawat itu cepat2 ia miringkan kepala dan menggeser kedudukan kakinya kesamping, perasaan sakit menembus tulang segera menyerang tubuhnya, dua jalur kekuatan selentikan jari lawan dengan telak menembus pundaknya, darah segar segera rnembanjir keluar bagai air mancur, tubuhnya terhuyung mundur delapan kaki hampir roboh, tapi dia mengertak gigi menahan sakit tanpa mengeluarkan keluhannya.

Pek-hoat-sian-niopun menghentikan serangannya, suaranya tetap mengancam, “Kau mau katakan atau tidak?”

Suma Bing menutuk jalan darahnya sendiri untuk mengurangi mengalirnya darah dilukanya itu, wajahnya yang putih cakap saat itupun penuh diselubungi hawa pembunuhan yang dalam, jawabannya tetap kaku dan garang, “Tidak kukatakan.”

“Pendek kata kau harus mengatakan.” ~ Habis berkata Pek-host-sian-nio melancarkan serangannya. Sungguh murka Suma Bing bukan alang kepalang, dua tangannya diangkat berbareng ia mendorong sekuatnya kedepan. Pukulannya ini mengandung seluruh tenaga Kiu-yang-sin-kang, maka gelombang panas bergulung2 bagai lahar gunung berapi yang meletus. Suara benturan mengguntur memekakkan telinga Sekali lagi Suma Bing terdesak mundur tiga langkah, tubuh Pek-hoat-sian-nio hanya ber-goyang2 saja, jengeknya dingin, “Kiu-yang-sin-kang, pelajaran tunggal dari Lam-sia, sayang latihanmu masih terpaut ter­lalu jauh.”

Suma Bing melihat bahwa pukulan Kiu-yang-sin-kang yang telah mengerahkan setaker tenaganya masih belum mampu merobohkan lawan malah seujung rambutpun tidak terluka, seketika luluhlah semangatnya, namun begitu hatinya ma­sih mantap untuk tidak mundur begitu saja.

Sambil berteriak panjang Pek-hoat-sian-nio lancarkan sebuah pukulan lagi. Kedua mata Suma Bing merah membara, tahu dia bahwa dirinya bukan tandingan orang, tapi bagaimanapun ia tidak mau mandah terima ajal, tangan diangkat lagi2 ia menangkis. “Blang” ditengah suara mengge­ledek itu, Suma Bing mengeluh panjang, darah segar me-nyembur keluar bagai anak panah, tubuhnyapun terbang tiga tombak jauhnya- Pucat pasi wajah Ting Hoan, tanpa me­rasa ia berseru kejut dan kuatir, keempat gadis pemikul tandupun tak urung ikut kaget dan berobah air mukanya.

Suma Bing merasakan kesakitan yang luar biasa menyerang seluruh tubuhnja, pandangan mata ber-kunang2, namun sifat angkuh dan kukuhnya masih tetap bertahan dalam be-naknya, seakan2 terkiang dipinggir kupingnya sebuah suara, “Jelek2, kau murid Lam-sia yang ditakuti, mana boleh ber­tekuk lutut dihadapan orang lain!” ~ Sambil mengertak gigi, tubuhnya terhuyung bangun, seluruh tubuh penuh berlepotan darah, kiranya luka dipundak kiri karena cengkeraman siwanita baju hitam itu dan lobang pundak kanan karena tusukan jari Pek-hoat-sian-nio itu pecah lagi dan mengeluarkan darah karena benturan adu kekuatan dahsyat ini. Ditambah noda darah dari mulutnya, keadaannya boleh dikatakan sangat seram dan mengenaskan seperti setan da­rah.

Kecut serta dingin perasaan Pelc-hoat-sian-nio melihat ke­angkuhan dan tekad anak muda yang besar ini.

“Suma Bing, selamanya aku orang tua tidak suka tu­run tangan kejam terhadap orang, tapi untuk menge­tahui jejak bajingan Loh Cu-gi itu, terpaksa aku me­langgar kebiasaanku. Kurasa kaupun tahu betapa enak me­rasakan menjungsang nadi memuntir urat?”

Bergidik dan gemetar tubuh Suma Bing mendengar pernyataan orang, namun ia tetap berkeras hati, “Pek-hoat-sian-nio, kau turun tanganlah, paling banyak aku Suma Bing mati di tanganmu.”

Mimik wajah Pek-hoat-sian-nio berobah tak menentu, dengan kedudukan dan namanya yang tenar kiranya tidak pa­tut ia turun tangan terhadap angkatan muda. Akan tetapi, untuk mengetahui dimana jejak Loh Cu-gi itu terpaksa dia harus berlaku sekejam mungkin, tidak peduli akan gengsi dan kedudukan apa segala.

Sebelum Pek-hoat-sian-nio turun tangan, Ting Hoan maju beberapa langkah dan berkata gemetar, “Suhu, lebih baik digusur pulang saja dan per-lahan2 ditanyai.”

Pek-hoat-sian-nio mendelik, “Apa kau sudah melupakan peraturan gurumu?”

“Murid tidak berani, hanya….”

“Bagaimana?’

“Mungkin dia bisa…. mati!”

“Kau jangan melupakan seorang yang lebih menderita daripada mati.”

Ting Hoan tidak berani bersuara lagi, sambil tunduk la mengundurkan diri.

Hakekatnya Suma Bing tidak tahu persoalan apa yang di percakapkan antara guru dan muridnya itu. Tapi sedikit banyak ia dapat menduga persoalan itu menyangkut per­buatan busuk Loh Cu-gi Suhengnya yang murtad itu. Kalau mau bicara terus terang, mungkin perkembangan selanjutnya akan berobah. Dasar sifat Suma Bing memang angkuh dan ketus sampai matipun dia takan bertekuk lutut.

Setelah merenung sekian lama, mendadak Pek-hoat-sian-nio menghardik lebih bengis lagi, “Ada guru tentu ada mu­rid, sifat pembawaan binatang serigala yang harus diberan­tas. Hoan-ji, musnahkan dia.”

Sekilas Ting Hoan memandang gurunya, dengan ragu2 ia mendekat kedepan Suma Bing bibirnya gemetar, “Suma Bing, mengapa tidak kau katakan saja?”

Suma Bing hanya pelototkan kedua matanya yang mengembang air darah, mulutnya terkancing rapat tak menggubris pertanyaan orang.

Wajah Ting Hoan penuh mengunjuk belas kasihan, de­ngan suara yang paling lirih hampir tak terdengar ia mem­bisiki, “Suma Bing, rebahlah mengikuti telunjuk jariku.” Lantas disusul suaranya membentak keras, “Kau mencari kematianmu sendiri, jangan sesalkan orang lain.” Ditengah suara bentakannya kedua jarinya dirangkapkan menutuk jalan darah kematian didada Suma Bing. Tanpa ber­suara Suma Bing roboh terkapar diatas tanah.

Pet-hoat-sian-nio ulapkan tangan terus membalik tubun masuk kedalam tandu lagi, segera keempat gadis baju hijau mengangkat tandu terus tinggal pergi. Diam2 Ting Hoan memandang iba kearah tubuh Suma Bing yang meng­geletak diatas tanah, terus tinggal pergi ikut dibelakang tandu.

Begitu bayangan Pek-hoat-syan-nio beramai menghilang. Suma Bing terhuyung bangun berdiri. Mulutnya menggu­mam, “Mengapa dia menolongku? Aku berhutang nyawa kepadanya, sebaliknya Suhunya berhutang darah padaku.”

Suma Bing menunduk melihat seluruh tubuhnya yang pe­nuh berlepotan darah, katanya tertawa sedih, “Aku sudah mati dan hidup sekali lagi.” dengan sempoyongan ia berjalan menyusur balik memasuki hutan, untung hutan ini tidak begitu besar, setelah sekian lama ubek2an ditengah rimba ditemukan sebuah gua cukup untuk menetap semen­tara waktu. Saat mana yang paling penting adalah menge­rahkan tenaga untuk berobat diri. Luka2nya terlalu berat, pukulan Pek-hoat-sian-nio itu hampir saja memutuskan seluruh urat nadinya, hawa murninya susut terlalu banyak, se­telah berkutetan sekian lama jalan darah tertembuskan semua rintangan dalam tubuhnya. Begitulah tanpa mengenal lelah ia semadi dan berobat diri, dua hari dua malam kemudian baru usahanya itu berhasil memuaskan. Tengah hari pada hari ketiga, dengan sikap gagah dan semangat menyala2 ia sudah melanjutkan perjalanannya ditengah jalan raya.

7. TANGBUN YU = PUTRA RACUN UTARA

Tujuan perjalanan kali ini adalah markas besar Ngo-ouw-pang.

Didepan pintu gerbang markas besar Ngo-ouw-pang terpancang sebuah bendera putih tanda duka-cita, semua anak murid perkumpulan itu mengunjuk rasa duka dan lesu.

Saat mana tiba waktu tengah hari, seorang pemuda ganteng yang bersikap agak angkuh dan kasar memasuki ruang menyambut tamu pada markas terdepan.

Seorang tua berwajah hitam sekian lama mengamat-amati orang yang baru datang ini, lalu maju menyapa, “Harap tanya nama Siauhiap yang mulia?”

“’Suma Bing.”

“Ada hubungan apa dengan Pangcu kami?” “Sahabat lama.”

“O, jadi kedatangan Siauhiap dari jauh ini tentu hendak ikut melawat, sepanjang jalan tentu melelahkan silahkan duduk dan minum teh untuk menyegarkan badan, nanti ….”

“Tidak usahlah.” tukas Suma Bing dingin. ‘Harap saja saudara mengundang orang untuk mengantarkan aku bagai­mana?”

“Ini…. baiklah, The-hiangcu!”

“Hamba berada disini.” Seorang laki2 pertengahan umur maju memberi hormat.

“Tuan Suma Siauhiap ini adalah sahabat kental Pangcu waktu masih hidup, dari jauh dia datang ikut melawat, iringilah pergi keruang lajon.”

Hiangcu she The itu mengiakan hormat terus memutar tubuh menghadapi Suma Bing dan merangkap tangan kata­nya, “Suma Siauhiap silahkan ikut aku yang rendah.”

Suma Bing mengangguk terus mengikuti dibelakang The-hiangcu, setelah keluar dari ruang penyambut tamu terus langsung menuju kemarkas besar, sepanjang jalan orang berlalu lalang tak putusnya, wajah mereka menunjuk rasa simpatik dan serius.

Diam2 Suma Bing tengah menimang2 satu persoalan yang penting. Seperti dugaan Suhu-nya semula ternyata bahwa Tiang-un Suseng benar2 pura2 mati untuk menghindari kematian. Sekarang Ngo-Jouw Pangcu Coh Pin juga mati bertepatan dengan kedatangannya ini. Inilah kebetulan atau mengikuti cara Tiang-un Suseng untuk mengelabui dirinya? Naga2-nya memang keadaan ini tak mungkin palsu, tapi pengalaman terdahulu membuatnya waspada, mana bisa ia membiarkan musuh lolos dengan secara licin. Demi mem­balas sakit hati Suhunya dia bersiap untuk menghadapi segala resiko meskipun dirinya harus menjadi mu­suh bersama kaum persilatan tapi tujuan pertama untuk membelah peti mati harus tetap dilaksanakan. Sudah tentu secara halus ia bisa minta supaya diberi kesempatan mem­buka peti mati untuk memeriksa, tapi itu tak mungkin terjadi. Setelah jenazah masuk peti dan dipaku rapat, pasti tidak mungkin dibuka lagi untuk diperiksa, maka jalan satu2-nya menggunakan kekerasan membelah peti mati itu.

Dia sudah dapat membayangkan akibat perbuatannya itu. Tanpa menimbulkan kecurigaan ia bertanya kepada The-hiang-cu yang membawa dirinya itu, “The-hiangcu, terse­rang penyakit apakah hingga Pangcu kalian meninggal dunia?”

“Ini…. eh angin duduk.”

“Angin duduk?”

“kejadian didunia ini susah diduga sebelumnya oleh manusia”.

Mulut Suma Bing menjebir ejek, sahutnya pura2 penuh perhatian, “Benar, kejadian dikolong langit ini kadang2 memang diluar dugaan orang.”

Tak lama kemudian tibalah mereka diluar gedung markas besar, gedung markas besar ini dibangun sedemikian megah dan angkernya. Walaupun dalam saat2 duka-cita tapi pen-jagaan diadakan sedemikian kuat dan keras. Tiba diluar pintu The-hiangcu menyingkir kesamping dan menyilahkan, “Siauhiap silakan!”

Suma Bing tidak mau bermain sungkan, sambil mengang­kat dada ia melangkah memasuki markas besar. Ruang lajon terletak ditengah bangunan gedung bertingkat dimana biasanya diadakan perundingan penting bagi kaum Ngo-ouw-pang. Suasana dalam gedung sesak berhimpitan kare­na tamu2 yang datang melawat kelewat banyak.

Sampai didalam ruang lajon Suma Bing menjadi sangsi, sukar dipastikan untuk menentukan benar2 mati atau pura2 matikan Ngo-ouw Pangcu Coh Pin ini. Coh Pin adalah satu. diantara Bu-lim-sip-yu, pemalsuan kuburan Tiang-un Suseng merupakan pengalaman pahit yang pertama, maka kalini dia harus berani benar turun tangan untuk membuk tikau kebenarannya. Tapi, dihadapan sekian banyak hadirin, hendak membelah peti mati, akfbatnya tentu akan menim­bulkan kemarahan massa- Lantas teringat olehnya bahwa kedatangannya ini adalah untuk penuntut balas sakit pergu­ruan, mengapa harus takut2 dan gentar menghadap; segala risiko. Tengah berpikir itu Ia sudah melangkah mendekati layon, seorang tua berjubah panjang warna hitam segera maju menyapa, “Banyak terima kasih atas kedatangan Siauhiap ikut memberi penghormatan kepada Pangcu.”

Hidung Suma Bing mendengus dingin sikapnya angkuh. Melihat gelagat Yang tidak baik ini berobah air muka si OTang tua jubah hitam, namun ia masih berlaku hormat dan merendah, “Siapakah Siauhiap Ini?”

“Aku yang rendah Suma Bing.”

“Suma Siauhiap dan Pangcu kita semasa hidup adalah….”

Wajah Suma Bing berobah kelam, sinar matanya beri­ngas penuh nafsu membunuh, dengan angkuh ia tukas kata2 orang, “Cayhe ingin menjenguk wajah jenazah Pangcu kalian.”’

Siorang tua melonjak kaget, serunya, “Jenazah Pangcu sudah masuk peti dan tertutup rapat.”

Sekali berkelebat Suma Bing memutar kesamping meja sembahyang terus maju mendekat lajon. Orang tua jubah hitam menghardik keras, “Berani kau-” sebat sekali memburu tiba dibelakang Suma Bing terpaut lima langkah Karena bentakan nyaring ini terkejutlah para hadirin dalam dan diluar gedung, beramai2 mereka merubung datang, maka dalam sekejap mata ribut dan gegerlah suasana dalam ruang lajon itu. Segera seorang tua yang berwajah angker berjenggot kambing melangkah kedepan, berhadapan de­ngan Suma Bing terpaut peti mati, nada kata2nya berat-”Siauhiap ini apakah tujuan kedatanganmu?”

Sekilas Suma Bing melirik dingin kearah orang tua beru­ban ini. sahutnya kaku, “Tidak apa2, hanya ingin kulihat jenazah Pangcu kalian.”

Buncahlah semua hadirin Yang mendengar ucapanya itu, semua mengunjuk rasa gusar. Alis putih siorang tua beruban berjengkit, serunya, “Lohu San Bok-sing Tongcu pejabat seksi hukum, Siauhiap ini siapa dan dari perguruan mana?”

“Aku Suma Bing.”

Dari perguruan mana?”

“Tidak perlu kuberitahu kepada kau.”

San Bok-sing Tongcu pejabat seksi hukum dari Ngo-ouw-pang menarik muka keren, sinar matanya berkilat2, serunya bengis, “Kedatangan tuan ini adalah hendak menuntut balas?”

“Tidak salah ucapanmu”

“Tidak perduli semasa hidup Pangcu kita ada permusuhan sebesar apa dengan kau. tapi pepatah mengatakan; orangnya mati permusuhan ludes. Masa tuan hendak membelah peti mati dan merusak jenazahnya?”

“Aku yang rendah hanya ingin memeriksa dia benar2 mau atau pura2 mati, tentang merusak jenazah itulah ucapan berkelebihan.”

Ketegangan dalam ruang lajon meruncing, saat mana datang pula tiga orang tua dan dua laki2 pertengahan umur mendesak dibelakang Suma Bing berdiri jejer dengan si orang tua jubah hitam tadi, semua mengangkat alis membelalakan mata, wajah serius penuh ketegangan bersiaga menghadapi setiap perobahan.

Suma Bing ganda mendengus sekali, tangan diangkat langsung mencengkram kearah peti mati….

“Siaucu kau cari mati.” Teriak Sing-tong Tongcu (Tong­cu seksi hukum) San Bok-sing. Berbareng kedua tangan­nya menjodok kedepan membawa kesiur angin dahsyat me-nerjang kearah Suma Bing. Tangan kiri Suma Bing dikiblatkan, sedang tangan kanan tetap mencengkram kearah peti mati. “Blang” San Bok-sing tertolak undur tiga langkah.

Hampir dalam waktu yang bersamaan enam jalur angin keras bersama melanda dari belakang menerjang ke arah punggung Cuma Bing. Betapa tinggipun kepandaian Suma Bing tak mungkin berani memandang enteng gabu­ngan tenaga enam tokoh silat tinggi, terpaksa ia melejit untuk menyingkir, kecepatan gerak tubuhnya ini hampir susah dilihat pandangan mata. Baru saja enam tokoh silat dari Ngo-ouw-pang melancarkan pukulannya lantas mereka kehilangan bayangan musuh, maka cepat2 mereka harus berusaha untuk menarik tenaganya, atau mungkin tenaga pukulan mereka sendiri yang akan membelah peti mati itu.

Di sebelah sana Sing-tong Tongcu San Bok-siang sudah memutar tubuh berhadapan lagi dengan Suma Bing. Nafsu membunuh semakin menegangkan.

Air muka Suma Bing beringas dan tebal diselubungi hawa membunuh, nada kata2nya dingin laksana es, “Cayhe hanya ingin membuktikan kematian Coh Pin, tiada hasratku untuk mengalirkan darah, kuharap kalian tahu diri.” — Sorot ma­tanya tajam ber-kilat2 menyapu kearah semua hadirin, bergidiklah semua orang yang dipandang sedemikian rupa. Tahulah mereka bahwa tiada seorangpun hadirin yang bakal mampu melawan kelihayan Suma Bing. Karena apa Suma Bing hendak membuka peti mati dan memeriksa jenazah? permusuhan apa dengan Pangcu mereka semasa masih hidup, semua bertanya2 dalam hati.

Akan tetapi betapa besar wibawa nama Pangcu dari Ngo-ouw-pang ini, setelah mati di kandang sendiri pula, peti matinya hendak dibelah orang, bukankah merupakan penghi­naan yang terbesar.

Ditengah suara bentakan yang riuh rendah itu, Sing-tong Tongcu San Bok-sing sudah merangsak maju lagi, “Wut” langsung ia kirim sebuah pukulan mengarah dada Suma Bing. Pukulan ini dilancarkan dengan himpunan seluruh tenaganya, kekuatannya benar2 membuat orang kagum dan mengelus dada.

Cepat” tangan Suma Bing berkelebat. “Blang” terdengar San Bok-sing berseru tertahan darah segar berhamburan dari mulutnya, tubuhnya terpental mundur menerjang din­ding dan terpental balik lagi. ~ San Bok-sing merupakan to­koh kelas satu, namun hanya satu gebrak saja sudah terluka muntah darah, keruan semua hadirin mengkirik ke­takutan.

Namun tidak demikian dengan empat orang tua dan dua laki2 pertengahan umur itu, demi melindungi nama baik perkumpulan, mereka rela berkorban segalanya termasuk jiwa raga sendiri. Maka sambil membentak2 serentak me­reka menubruk maju. Walaupun ruang lajon itu sangat besar tapi karena terlalu banyak orang yang hadir dalam ruang itu, tempat yang tinggal kosong tidak lebih hanya tiga tombak lebarnya, maka begitu berkelebat keenam orang itu sudah menerjang tiba. Suma Bingpun tidak mau unjuk kelemahan, kedua tangan bergerak membuat garis lintang beruntung ia lancarkan tiga kali pukulan menyam-but rangsakan musuh. Dimana angin pukulannya melandai segera terdengarlah keluhan sakit dari mulut2 penjerangnya, keempat orang tua terdesak mundur beberapa langkah, se­dang dua laki2 pertengahan umur itu terpental terbang se-jauh tiga tombak menerjang kearah kawan2nya yang te­ngah menonton.

Dan pada saat itulah sebat luar biasa Suma Bing berkelebat tiba didepan peti mati dan tangan sudah diajun, sesaat sebelum tangannya tiba pada sasarannya….

“Siaucu, kau terlalu menghina orangl” Dibarangi seruan itu, beberapa jalur desis angin selentikan jari secepat kilat menyerang dirinya.

Keruan kejut Suma Bing bukan kepalang, tahu dia bah­wa orang yang turun tangan ini tentu Lwekangnya hebat luar biasa, maka sebat sekali ia menggeser kesarnping lima’ kaki, dimana pandangan matanya tertuju, seketika ia terte­gun heran, karena orang yang melancarkan serangan selen­tikan jari ini kiranya adalah seorang nenek2 tua yang me­ngenakan pakaian berkabung. Sinar matanya berkilat2 mengandung penuh kebencian benar2 menciutkan nyali orang yang dipandang.

“Kau ini yang bernama Suma Bing?”

“Tidak salah, harap tanya….”

“Akulah janda tua Coh Pin, ada dendam dan sakit hati apakah suamiku itu terhadap kau hingga sedemikian tega kau menghadapi kematiannya?”

“Coh-hujin,” seru Suma Bing dingin. “Saat ini lebih baik jangan mempersoalkan tentang permusuhan, aku hanya ingin membuktikan kebenaran Kematian suamimu ini?”

“Cara bagaimana kau hendak membuktikan?”

“Membuka peti mati dan melihat jenasahnya.”

“Orang benar2 mati masa ada palsu atau tulen?”

“Aku yang rendah sudah pernah tertipu sekali”

“Tertipu?”

“Ya, Tiang-un Suseng membuat sebuah kuburan kosong untuk mengelabui mata hidung orang. Hanya sayang tipu muslihatnya yang llcik itu telah membuka kedoknya.”

Berobah hebat air muka Coh-hujin, serunya ketakutan”. “Jadi kau sudah membongkar kuburan Tiang-un Suseng? ‘

“Memang begitulah tujuanku, tapi secara kebetulan su­dah ada orang lain yang turun tangan.”

“Benar2 kau hendak membuka peti mati ini?”

“Maaf aku terpaksa harus berbuat demikian”

“Suma Bing, bila kau dapat mengatakan alasanmu, boleh kusilakan kau membuka peti mati ini untuk kau periksa.”

Otak Suma Bing bekerja cepat, setelah sangsi sekian lamanya akhirnya ia merogoh saku mengeluarkan Mo-hoan dan dipakai dijarinya tengah terus diangsurkan kehadapan orang, “Hujin sudah jelas?”

“Mo-hoan!” seru Coh-hujin ketakutan kontan wajah-nya pucat pasi.

Benda khas pertanda milik Sia-sin Kho Djiang itu tiada seorangpun dari kalangan Bu lim tidak mengetahui, andaikata belum pernah lihat juga pernah dengar. Seruan ini benar2 membuat kejut semua hadirin.

Siapa akan mengira benda khas pertanda milik Lam-sia itu bisa terdapat ditubuh anak muda berkepandaian tinggi ini, jelas kalau bukan muridnya tentu cucu muridnya, ten­tang mengapa datang hendak menuntut balas kepada Pangcu kecuali Coh-hujin seorang, mungkin tiada seorangpun yang tahu akan latar belakangnya.

“Suma Bing, peristiwa dulu itu merupakan salah paham yang berat.”

“Hujin, itulah kecerobohan, bukan salah paham.”

“Sekarang susah untuk dijelaskan, apa tujuanmu hanya mau memeriksa jenazah suamiku saja?”

Suma Bing mengiakan sambil menggut2.

“Suma Bing, baik kuijinkan kau memeriksa, tapi jangan sekali2 kau sentuh jenazahnya!”

“Syarat ini dapat kululusi.”

“Baik, silakan periksa”

Wajah Coh-hujin membesi kehijau2an, ia maju men­dekat disamping peti mati kedua tangannya menyanggah di tutup peti terus diangkat keras dan digeser kesamping satu kaki. Serunya sekali lagi, “Lihatlah.”

Dengan pandangan tajam Suma Bing memandang ke-dalam peti, terlihat olehnya seorang tua yang berwajah ke­ren berwibawa menjulur kaku didalam peti, wajahnya masih sedemikian hidup bagai tidur njenyak saja, segera alisnya dikerutkan dan bertanya, “Sudah berapa hari dia meninggal?”

“Tiga hari.”

“Tiga hari tapi wajahnya masih belum berobah?”

Serta merta tubuh Coh-hujin tergetar seperti kesetrom listrik, sahutnya, “Jenazahnya sudah kita lumuri obat anti membusuk.”

Suma Bing mengiakan dengan sangsi, katanya, “O, be­gitu.”

“Suma Bing, kau sudah puas?”….’

Dalam hati Suma Bing masih banyak persoalan yang me­nimbulkan kecurigaan. Pertama: Waktu kematian Coh Pin ini secara kebetulan terjadi setelah dirinya mulai menun­tut balas, bukankah sangat meragukan. Kedua: walaupun sudah dimasukan dalam peti mati, air mukanya masih ha­ngat seperti masih hidup. Ketiga; Dengan adanya pengala­man pahit Tiang-un Suseng itu, sukarlah diduga bahwa apa yang dialami hari inipun ada yang harus dicurigai. Namun dia sudah berjanji untuk tidak merusak jenazah, bagi kaum persilatan sangat menghargai ucapan yang harus dipercaya. Kalau tidak hanya dengan sebuah jarinya saja dapatlah ia menghapus rasa curiganya ini. Maka dengan dingin segera ia berkata, “Coh-hujin, begitulah untuk se­mentara.”

“Sementara, apa maksudmu?”

“Kuharap aku takan datang lagi kemari.”

Wajah tua Coh-hujin berobah2, bahwa ucapan musuh yang penuh mengandung arti itu membuat tubuhnya bergidik seram.

Habis berkata dengan langkah lebar dan membusung da­da Suma Bing berjalan pergi.

Perjalanan ke Ngo-ouw-pang kali ini boleh dikatakan menemui kegagalan lagi. Para durjana yang mengerojok dan menganiaja gurunya dulu itu masih ada Lo-san-siang-kiam, Leng Hun-seng Ciangbun dari Ceng-seng-pay dan Goan Hi Hwesio dari Siau-lim.

Setelah me-nimang2 dalam hati, Suma Bing memutar ha­luan meruju kearah Ceng-seng-san.

Hari itu matahari mulai doyong kebarat. baru saja Suma Bing menangsel perut dan melanjutkan perjalanan belum beberapa li jauhnya, tiba2 terlihat olehnya sebuah bayangan manusia berkelebat seperti kecepatan elang terbang, bayangan itu melesat memasuki sebuah biara bobrok, diketiak bayangan itu agaknya mengempit seorang wanita.

Karena heran dan ingin tahu segera Suma Bingpun menyusul kearah biara bobrok itu. Ditengah ruang sembayang yang tidak keruan keadaannya, terlihat olehnya seorang ga­dis cantik bagai bidadari terlentang rebah diatas tanah, kedua matanya dipejamkan. Disampingnya berdiri seorang pemuda yang berpakaian sastrawan lemah berusia 20-an, wajahnya dingin membeku, kedua matanya tengah menatap wajah sigadis tanpa berkedip.

Baru saja Suma Bing melangkah kedalam biara, sipemuda sudah mengetahui, tanpa berpaling ia berseru tanya, “Siapa itu?” “Orang lewat,”

“Pergi keluar!”

“Hm,” — Suma Bing sudah berkelebat tiba didalam ruang sembahyang itu, waktu ia pentang matanya tanpa merasa bergolaklah hawa amarahnya. Sebab gadis yang rebah diatas tanah itu bukan lain adalah Siang Siau-hun- Meskipun tiada sesuatu hubungan dengan Siang Siau-hun, hitung2 mereka sudah pernah bertemu satu kali.

Pemuda berpakaian sastrawan itu perlahan2 memutar tu­buh, melihat orang yang datang ini kiranya adalah seorang pemuda cakap ganteng bertubuh kekar, diapun tertegun heran, suaranya dingin sambil menyeriangi, “Siaucu, ku­suruh kau pergi dengar tidak?”

Sinar mata tajam dingin Suma Bing menatap garang, mendengus ejek sekali lalu menjawab, “Kau tidak berhak berkata demikian.”

“Ada tiada harganya segera kau akan tahu.”

“Siang hari bolong yang terang benderang ini kau hen­dak mengapakan gadis ini?’

“Kau tak berharga bertanya”

“Aku sudah pasti harus tahu.”

“Hahahaha, Siaucu. kalau begitu, kau sudah pasti mati,” sambil berkata dari kejauhan itu sebuah tangannya disodokkan mengirim serangan.

Serta merta Suma Bing juga mengangkat sebelah ta­ngan untuk menyambut pukulan musuh Mendadak terasa olehnya tenaga pukulan lawan sedemikian ringan’ melayang mengandung hawa dingin laksana es, sedikitpun pukulan dirinya itu belum mampu mendesak balik serangan lawan malah terasa hawa dingin bagai es itu menembus masuk kedalam tubuhnya sampai2 kesendi2 tulangnya, seketika se­luruh tubuh terasa dingin bagai berada didalam gua gunung salju.

Sungguh kejutnya bukan alang kepalang, cepat2 ia kerahkan Kiu-yang.sin-kang untuk bertahan, sejalur hawa hangat timbul dan melebar keseluruh tubuh dari pusarnya, kekuatan hawa dingin itu segera lenyap seluruhnya

Agaknya pemuda pelajar itu juga tercengang- bahwa Hawanya sedikitpun tiada menunjukkan reaksi pukulannya itu, dengan wajah penuh penasaran segera ia berseru lagi. “Siaucu, cobalah sambut ini lagi” — berbareng dengar ucapannya ini kedua tangan sudah bergantian dikiblatkan kedepan, gelombang angin dingin segera bergulung mener-jang kearah Suma Bing.

Tanpa ayal Suma Bing kerahkan kekuatan Kiu-yang-sin-kang, dimana kedua tangan ditarik lalu disodokkan kedepan, gelombang panas bagai gugur gunung melandai keluar. Sungguh ajaib begitu gelombang dingin saling bentur dengan gelombang panas kontan mengeluarkan suara “ces” nyaring sedikit tergelar kedua gelombang pukulan itu sirna menghilang tanpa bekas.

“Kiu-yang-sin-kang!” tanpa merasa sipemuda pelajar berseru kejut ketakutan.

Melihat lawan sekali gebrak lantas mengetahui asal-usui ilmu saktinya, diam2 Suma Bing terkejut juga, sahutnya dingin, “Tidak salah, luas juga pandanganmu.”

“Siaucu, jadi kau inilah, murid Lam-sia?” Pada saat itulah perlahan2 Siang Siau-hun membuka ke­dua matanya. setelah tertegun segera ia berseru marah, “Dia….dialah Tangbun Yu, putra Racun utara”

Melonjak kaget hati Suma Bing, batinnya, “Kiranya pemuda ini adalah putra Racun utara, tak heran Siang Siau-hun telah menemukannya. Racun tanpa bayangan yang membunuh Siang Siau-moay dan Li Bun-siang pastilah….” karena pikirannya ini wajahnya berobah bengis membesi, sambil tertawa dingin ia berkata, “Tangbun Yu, Tuhan sudah mengatur segalanya, aku tengah mencarimu.”

Tangan Yu melengak, tanyanya, “Bocah seperti kau ini mencari aku?”

“Benar, bukan saja mencari kau, malah hendak kubu­nuh kau.”

“Mulut yang takabur, sebutkanlah namamu dulu ““

“Suma Bing.”….

“Ada urusan apa kau mencari tuanmu.”

“Belum lama berselang, yang menggunakan ‘Racun tanpa bayangan’ membunuh adik nona Siang ini dan seorang pe­muda bernama Li Bun-siang apakah itu buah karyamu?”

“Kalau benar bagaimana? Kalau bukan kau mau apa?” Suma Bing maju satu langkah, suaranya mendesis hambar, “Kalau benar perbuatanmu, jangan harap kau dapat tinggal pergi dengan masih hidup.”

“Mengandal kau ini?”

“Tiada halangannya kau mencoba2-” — sebuah tangannya meluncur dengan sebuah serangan hebat kearah Tang-bun Yu, bukan saja cepat serangan inipun sangat aneh, sasaran yang diarah berbeda pada permainan silat umumnya.

Sebagai murid ‘Racun utara’ sudah tentu kepandaian Tangbun Yu juga tidak lemah, ringan sekali tubuhnya meng­geser kesamping menghindarkan pukulan dahsyat ini, berba­reng iapun kirim sebuah hantaman balas menjerang, serangannya inipun tidak kalah aneh dan kejinya dibanding pu­kulan musuh.

Segera Suma Bing angkat tangan untuk menangkis “Biang” kedua belah pihak mundur satu langkah. Dalam gebrak permulaan ini menunjukkan bahwa ke­pandaian dan tenaga dalam kedua pihak sama kuat alias berimbang.

Tangbun Yu perdengarkan suara tawa dingin, katanya, “Suma Bing. dalam dunia persilatan orang membanggakan bagaimana lihay dan ampuh Kiu-yang-sin-kang dari Lam-sia. Biar harini tuan mudamu menjajal sampai dimana kau bocah ini telah belajar ilmu yang diagul2kan itu.”

Tidak kurang garangnya Suma Bingpun balas menjemprot, “Bagus Sekali, aku juga ingin berkenalan sampai dimana kejam dan keji Hian-in-kang dari Racun utara”.

Setelah itu mereka masing2 mundur tiga langkah lalu ber­bareng mengangkat kedua tangan. Maka dilain kejap meng­gunturlah benturan dua tenaga dahsyat yang saling beradu debu berhamburan atap rumahpun tergetar. Kiranya Tang­bun Yu dan Suma Bing kerahkan duabelas bagian tenaga masing2 untuk mengadu pukulan ini. Kalau Suma Bing ma­sih dapat berdiri tegak ditempatnya, tidak demikian dengan Tangbun Yu ia terhujung mundur dua langkah. Kiu-yang-sin-kang termasuk pukulan positip sebaliknya Hiau-in-kang termasuk pukulan negatif. Perbedaan tenaga dalam kedua belah pihak berselisih tidak terlalu besar. Su­ma Bing cuma lebih unggul seurat, begitu saling bentur getaran tenaga pukulan itupun tidak terlalu berat, kalau sebaliknya mungkin rumah biara itu sudah runtuh berham­buran.

Sejak tadi Suma Bing sudah bermaksud untuk membu­nuh lawannya, akan dibuatnya supaya bocah keji berbisa ini tak dapat pergi dengan jiwa masih hidup. Sambil mengge­ram keras secepat kilat ia menubruk maju lagi kedua tanganny berputar membuat lingkaran dengan jurus Liu-kim-hoat-ciok (emas murni berobah batu) ia turunkan ta­ngan kejinya.

Jurus Liu-kim-hoat-ciok ini merupakan daya cipta Lam-sia yang telah menguras seluruh tenaga pikirannya selama ber-tahun2- meskipun hanya satu jurus, tapi perbawa pero-bahannya tak terhitung banyaknya, waktu melancarkan se­rangan ini harus mengandal kemurnian Kiu-yang-sin-kang sebagai landasan atau pendorong yang utama- Untuk masa itu tokoh2 silat dikalangan Kangouw yang mampu bertahan dari serangan jurus Liu-kim-hoat-ciok ciptaan Lam-sla ini mungkin dapat dihitung dengan jari. Walaupun tenaga dalam Suma Bing belum dapat menandingi gurunya, tapi be­gitu jurus ampuh ini dilancarkan, betapa dahsyat kekuatannya kiranya cukup juga menggetarkan dunia persilatan.

Arwah Tangbun Yu seakan terbang meninggalkan badan melihat kehebatan pukulan musuh, cepat2 ia lancarkan tipu Te-tong-thian-han (bumi membeku udara dingin) untuk menjaga diri melindungi tubuh.

Memang jurus Te-tong-thian-han ini diciptakan praktis untuk menjaga diri. Lagipula ciptaan Pak-tok ini memang khusus untuk menghadapi jurus serangan Liu-kim-hoat-ciok dari Lam-sia itu. Jurus Te-tong-thian-han ini selesai dan sempurna diciptakan setelah 20 tahun akhir2 ini, bahwasa-nya belum pernah saling diadu secara berhadapan. Bahwa Tangbun Yu menggunakan jurus itu tidak lebih hanya ber­harap dapat melindungi jiwanya. disamping itu karena te­naga dalamnya memang kalah setengah urat dibanding la­wan. Apalagi Kiu-yang-sin-kang justru merupakan ilmu sakti satu2nya yang dapat melumpuhkan Hian-in-kangnya itu.

Sambil berteriak kesakitan yang sangat mulut Tangbun Yu menyembur darah segar bagai anak panah, tubuhpun tergoyang gontai hampir roboh.

Suma Bing sendiripun merasa kaget, bahwa jurus ciptaan gurunya ini baru pertama kali ini dilancarkan ternyata keampuhannya begitu dahsyat diluar dugaannya.

Air muka Tangbun Yu yang memang sudah pucat dan membesi itu kini semakin jelek membeku bagai wajah setan, serunya sambil mengertak gigi. “Suma Bing, kau dengar, tubuhmu sekarang sudah terkena racun yang jahat, diseluruh kolong langit ini mungkin tiada seorangpun yang bisa mengobati….”

Suma Bing bergidik dia menjedot hawa dingin, sungguh dia tidak habis mengerti kapan lawannya telah menjebarkan racunnya.

Disamping sana Siang Siau-hun juga berseru kejut, na­mun suaranya lirih lemah.

Sekilas Tangbun Yu melirik kearah Siang Siau-hun dengan sorot mata penuh kebuasan lalu berkata kepada Suma Bing, “Kau masih dapat hidup selama seratus hari, jangka seratus hari ini cukup untuk kau menyelidiki siapakah yang menyebar bisa racun tanpa bayangan itu- Sudah jelas bukan, itu berarti bahwa keluarga Tangbun kita tiada pernah mengguna­kan Racun tanpa bayangan itu.”

Hal ini benar2 diluar sangkaan Suma Bing, serunya ka­get, “Jadi bukan kau yang membunuh Siang Siau-moay dan Li Bun-Siang?”

“Omonganku cukup sampai disini saja….”

Tangbun Yu, berilah penjelasan mengapa kau bawa nona Siang Siau-hun kemari?”

“Begitu bertemu dia terus menjerang dengan kalap, maka terpaksa Siauya meringkusnya dan tujuanku membawanya kemari, pertama untuk memberi penjelasan, kedua untuk mengobati lukanya itu.”

“Hm, gagah benar ucapanmu itu….”

“Suma Bing, kau jangan mengukur orang dari pandangan sela2 pintu, orang lain akan gepeng dalam pandanganmu. Aku Tangbun Yu bukan bangsa bejat yang suka berlaku tidak senonoh. Dia terluka oleh Hian-in-kangku, Kiu-yang-sin-kangmu itu cukup untuk menolongnya. Tapi kau jangan lupa, nyawamu hanya hidup untuk seratus hari saja.”

“Tangbun Yu,” teriak Siang Siau-hun mendelik, “Hatimu sungguh kejam, kau tidak….!”

Tangbun Yu ganda menyeringai seram ujarnya, “Memang sudah merupakan tradisi keluarga Tangbun selamanya menggunakan racun, kaum wanita lemah takkan mengarti dun paham. Kuberitanu kau, dalam dan luar seluruh tubuhnya sudah terkena racun, namun terhadap kau aku tidak meng­gunakan racun, sebab kau sendiri belum ada harganya.”

Saking gusar dan gugup, Siang Siau-hun muntahkan darah segar dan jatuh pingsan lagi.

Air muka Suma Bing mengelam penuh diselubungi hawa membunuh dengan geram dan murka sekali dia mengancam, “Binatang jahat, kau masih mengharap dapat pergi?”

Sambil mengusap darah di ujung mulutnya Tangbun Yu mengekeh tawa panjang lalu serunya dingin, “Siaucu, coba kau kerahkan tenaga dalammu?”

Mendengar itu berdirilah bulu roma Suma Bing, dicobalah menjedot hawa dan mengerahkan tenaga, benar juga hawa murninya tidak dapat tersalur keluar dari pusarnya, seketika dingin membeku seluruh tubuhnya diam2 ia mengeluh dalam hati-

“Siaucu, bagaimana, aku tidak bohong bukan?” seru Tangbun Yu puas sekali.

“Binatang jahat, cara turun tanganmu ini rendah hina dina….”

“Tutup mulutmu. Dalam dunia persilatan masa ini, yang berharga sampai Pak-tok ayah beranak terpaksa menggu­nakan racunnya hanya beberapa gelintir manusia saja, kau Siaucu ini harus merasa bangga akan hai ini”

“Binatang jahat, akan kubeset dan kucacah hancur tu­buhmu itu.”

“Sedikitnya sekarang kau tidak mampu”

“Tunggulah saatnya akan tiba.”

“Akan tetapi kau sudah terkena bisa “Pek-jit-kul” (seratus hari pulang), kalau kau hendak membunuh aku, harus kau lakukan dalam jangka seratus hari itu, kalau sudah lewat seratus hari, kau akan menyesal dan mungkin penasaran menghadap Giam-lo-ong.”

Gugup dan gusar merangsang benak Suma Bing hingga keringat dingin membasahi seluruh tubuh.

Selanjutnya Tangbun Yu berkata lagi, “Siaucu, dalam jangka seratus hari ini, carilah sampai ketemu manusia yang, menjebar Racun tanpa bayangan itu, tentang tenaga dalam­mu setengah peminuman teh lagi bisa pulih sendiri seperti sediakala. Maaf tidak kuucapkan lagi ’selamat bertemu’ ke­pada kau”. ~ Habis berkata tubuhnya melejlt terbang keluar biara.

Tinggal Suma Bing masih terlongong2 ditempatnya, sekian lama dia tak kuasa mengeluarkan suara. Dendam per­guruan belum terbalas, musuh2 keluargapun belum ditumpas Musuh2 keluarga yang ikut membunuh ayah-bundanya selaut Tang-mo yang telah merebut pedang berdarah itu, yang lain tiada seorangpun yang diketahui.

Nyawanya tinggal hidup seratus hari. Dalam jangka Seratus hari apa yang dapat diperbuatnya? Suhunya berpesan supaja dirinya mendapatkan Pedang berdarah dan Bunga iblis untuk melatih kepandaian tiada taranya didunia, supaya membersihkan nama perguruan, harapan besar ini agaknya akan terkatung2 sepanjang masa.

Tidak lama kemudian benar juga hawa murninya sudah berjalan lancar kembali. Hatinya benci benar terhadap Tangbun Yu, namun demikian mau tak mau ia memudar juga cara binatang kecll itu menggunakan racun serta kecerdikannya. Tadi kalau Tangbun Yu tidak membuat Suma Bing kehilangan tenaga untuk sementara waktu, pas­ti dia sukar meloloskan diri.

Kenyataan bahwa penyebar racun tanpa bayangan kiranya bukan perbuatan Pak-tok ayah beranak, ini benar2 diluar sangkanya, menurut nada ucapan bocah berbisa tad; seakan bukan saja mereka ayah beranak tidak mungkin menggu­nakan, malah rasanya belum kenal akan Racun tanpa bayangan itu. Dikolong langit ini masa ada manusia lain yang pandai menggunakan bisa melampaui Racun-utara?”

8. SI MALING BINTANG MEMBUKA TABIR RAHASIA.

Dalam pikiran tengah melayang2 itu, akhirnya sorot matanya menatap ketubuh Siang Siau-hun yang terlentang pingsan ditanah.

Tampak kedua matanya yang bundar itu tertutup rapat wajahnya pucat ke-hijau2an kaki tangannya mulai berkelejetan. Sejenak ia berkerut alis, lalu menghampiri dan berjongkok disampingnya, membalikkan tubuhnya hingga tengkurap lalu diulurkan tangannya tepat menempel di jalan darah Bing-bun-hiat, Kiu-yang-sin-kang mulai disalurkan.

Untuk pengobatan memang Kiu-yang-sin-kang sangat mujarab seumpama dapat menghidupkan orang mati- Akan tetapi orang yang mengobati sendiri pasti banyak kehilangan tenaga, selama lima tahun tak mungkin dia bisa berkelahi dengan orang lain. Justru sekarang Siang Siau-hun terluka oleh hawa dingin Hian-inkang. Kiu-yang-sin-kang merupakan satu2nya lawan pemunah dan adanya teori berlawanan antara panas dingin ini, Suma Bing tidak perlu lagi menge­rahkan tenaganya sedemikian besar, untuk menolong jiwa Siang Siau-liun, boleh dikata hanya sekali jamah saja su­dahlah cukup!

Air muka Siang Siau-hun berobah kuning lalu lama kelamaan bersemu merah, napasnyapun mulai lancar dan ter­atur. Setengah jam kemudian, mulut kecil Siang Siau-hun mengeluh lirih terus siuman kembali- Per-lahan2 Suma Bing-pun menarik tangannya.

Bergegas Siang Siau-hun membalik tubuh dan duduk diatas tanah, dengan rasa benci yang me-nyala2 ia bertanya. “Mana bocah berbisa itu?”

“Sudah pergi.”

“Suma-siangkong….”

“Ada urusan apa?”

“Kau…. untuk aku, kau terkena racun Pek-jit-kui, kau….kau hanya dapat hidup seratus hari lagi….”

Suma Bing tertawa pahit, sahutnya.: , Nona tidak perlu kuatir akan hal itu.’“

Suma Siangkong, kalau kau berkata begitu, matipun aku tidak tentram.”

“Nona Siang, selamat bertemu, selama hajat masih dikandung badan pasti aku akan melaksanakan janjiku itu, untuk menemukan sipenyebar Racun tanpa bayangan itu. Ta­pi dapat atau tidak terlaksana, susahlah dikatakan.”

“Tidak, kau tidak boleh pergi”

“Aku, tidak boleh pergi, mengapa?”

Sahut Siang Siau-hun penuh perasaan haru, “Aku akan selalu mengiringi kau selama seratus hari ini- Dalam jangka seratus harini kita mencari tabib ternama untuk memunah­kan racun yang mengeram dalam tubuhmu.”

Suma Bing tertawa kecut, ujarnya, “Apa kau tidak de­ngar Tangbun Yu mengatakan bahwa racunnya itu tiada seorangpun yang mampu memunahkan?”

“Tapi aku ingin bersama kau dalam seratus harini.”

“Mengapa? “

Merah jengah selebar wajah Siang Siau-hun. achirnya sahutnya tegas, “Sebab aku cinta padamu, aku ingin ber­samamu sampai akhir hidupmu.”

Ucapan ini benar2 diluar dugaan Suma Bing, sekian lama ia tertegun lantas katanya: ,-Nona Siang, tapi aku tidak mempunyai maksud demikian.”

Berobah wajah Siang Siau-hun, airmata meleleh semakin deras hingga kedua matanya merah, katanya gemetar, “Ya. memang kau takkan mencintai aku, tapi, aku cinta kau bukankah beres….”

“Bukankah tujuan nona hanya untuk menghibur hidupku yang takkan lama lagi ini?”

Siang Siau-hun menggigit bibir, sahutnya, “Aku tidak menyangkal ada sebab itu, tapi sejak pertama kali aku meli­hatmu, aku…. aku sudah tertarik olehmu”

Tersirap darah Suma Bing….

“Suma Siangkong ijinkanlah aku memanggilmu Bing-ko. dalam, seratus harini, segala milikku kupersembahkan kepa­damu. Tapi, aku harap kau jangan lantas anggap aku se­bagai wanita rendah yang tak bermartabat, seratus hari kemudian. Aku akan bunuh diri….” — airmata meleleh membasahi kedua pipinya-Suma Bing terperanjat hingga mundur satu langkah, serunya tergetar, “Nona Siang, selamanya Suma Bing akan berterima kasih akan rasa cintamu, tapi aku tidak dapat menerima cara perbuatanmu itu.”

“Bing-ko, seumpama kau bosan dan membenciku. Tapi hatiku sudah mantap tak mungkin dirobah lagi.’

“Apa cukup berharga aku Suma Bing untuk kau berbuat demikian?”

“Cukup dan malah berkelebihan-”

“Kau salah, aku tidak sudi terima segala pengorbanan kasih orang,”

“Pengorbanan kasih, apa maksudmu?”

“Kau anggap aku keracunan karena kau, hatimu menyesal. lantas kau berbuat seperti apa yang kau katakan untuk menambal sanubarimu yang tidak tentram itu!”’

“Tidak peduli bagaimana anggapanmu, aku cinta padamu, dari sejak sekarang ini, aku tidak akan berpisah setapakpun dengan kau.”

Akhirnya tergerak juga hati kecil Suma Bing atas ke­teguhan dan kesetiaan orang, tapi lantas terpikir juga oleh-nya: mengapa aku menggunakan tubuh yang hampir mati ini, membawa atau memendam kebahagiaan seumur hidup seorang gadis- Karena pikirannya ini segera ia merobah sikap, wajahnya kaku membesi ujarnya dingin, “Nona Siang, kebaikanmu itu kusimpan dalam lubuk hati. banyak urusan penting yang harus kuselesaikan dalam jangka wak­tu seratus harini, maaf aku tidak dapat melajani kau terlalu lama.” — habis berkata ia memutar tubuh dan baru saja hendak tinggal pergi….

Mendadak Siang Siau-hun mengeluh panjang serunya “Bing-ko, kau tetap tidak mau melulusi, baiklah biar Siau-moay pergi lebih dulu.”

Tergetar hati Suma Bing mendengar seruannya itu, secepat kilat ia memutar balik, terlihat Siang Siau-hun sudah angkat sebelah tangannya hendak mengepruk batok kepalanya sendiri, dalam gugupnya secepat kilat sebuah jarinya menjentik dari jauh, seketika tangan Siang Siau-hun yang sudah terangkat itu lemas semampai. Sungguh diluar dugaan bahwa Siang Siau-hun bisa mengambil jalan pendek, sa­king kejut keringat dingin membasahi seluruh tubuh.

“Nona Siang, kau….mengapa kau berbuat begitu?”

“Bing-ko….” seru Siang Siau-hun sambil berlari me­nubruk kedaiam pelukan Suma Bing dan pecahlah tangisnya ter-gerung2.

Selama hidup ini kapan Suma Bing pernah menghadapi adegan yang mendebarkan ini, kontan merah jengah seluruh wajahnya, jantung berdetak keras, kaki tanganpun lemas gemetar, entah apa yang harus diperbuatnya menjurungnya atau memeluknya.

Bau wangi khas seorang perawan merangsang hidungnya, dua tubuh hangat bersentuhan menimbulkan suatu perasaan mesra mengalir keseluruh tubuh. Karena tangisnya yang penuh perasaan hingga badannya tergetar naik turun, Suma Bing merasakan dada sinona yang padat dan lunak menempel diatas tubuhnya, membuat pikirannya melayang se­perti di awang-awang.

Lengan Suma Bing yang kokoh kuat akhirnya melingkar memeluk tubuh yang montok dan langsing menggiurkan, Akhirnya terangkap juga hati sepasang muda-mudi ini setelah mengalami segala lika-liku aral lintang. Tapi tidak dapat disangkal bahwa rangkapan jodoh mereka ini penuh mengandung sifat duka.

“Bing-ko, kalau kau….aku dapat melulusi segala permintaanmu.” suaranya penuh buaian mesra mengandung daya tarik yang tiada batasnya.

Semangat Suma Bing terombang-ambing, namun pikiran­nya masih sadar, bagaimana boleh begitu saja ia mengor­bankan jiwa seorang gadis demi menghibur jiwa hidupnya yang sudah tak lama lagi. Maka perlahan2 ia lepaskan pelukannya. Wajah Siang Siau-hun masih bersemu merah, kedua matanya penuh mengembeng air mata, katanya sam­bil sesenggukkan, “Bing-ko, untuk aku, kau mengorbankan jiwamu….”

“Tapi sekarang aku masih belum mati?”

“Memang belum, tapi seratus hari, betapa pendek jangka itu, aku….apa yang dapat kuberikan kepadamu?”

“Adik Hwi, hal itu terjadi diluar dugaan, sedikitpun aku tidak bermaksud mengorbankan jiwaku untuk kau, maka kaupun tidak perlu menaruh dalam hati, hidup memang menyenangkan, bagi seorang laki2 sejati matipun tidak perlu dibuat sedih, hanya….ai!”

“Bing-ko, bagaimana kau bisa menghapus kenyataan hakikatnya kau telah memberikan pengorbanan yang tiada taranya karena aku.”

Meskipun Suma Bing seorang laki2 yang Keras hati, akhir­nya toh dia mengeluh juga akan nasibnya itu, dendam per­guruan dan musuh keluarga bagai dua pisau tajam me­lintang didalam benaknya. Seratus hari, apa yang dapat di-perbuatnya? Apa ada muka ia menemui gurunya yang ber­budi dan ayah bundanya dialam baka? “Aku tidak boleh mati?” keluhannya ini seakan memperotes akan nasib yang sudah menentukan jalan hidupnya.

Siang Siau-hun merasa hatinya bagai di-iris2, namun mulutnya kehabisan kata2 untuk membujuk dan menghibur-nya, jikalau itu mungkin terjadi, besar harapannya ia rela menggantikan kematiannya itu, namun itu tak mungkin terlaksana.

“Bing-ko, sampai keujung langitpun kita harus mencari obat pemunah itu….”

Suma Bing membisu sambil goyang kepala, lalu katanya, “Adik Hun, itu tidak mungkin, walaupun jangka seratus hari ada batasnya, aku ada banyak urusan yang harus ku selesaikan, aku tidak boleh menghamburkan waktu sedetik pun. Mungkin semua itu tidak bisa terlaksana, namun seta­pak demi setapak akan kucapai dengan sekuat tenagaku, setelah mati baru hatiku merasa tentram.”

“Bing-ko!” Siang Siau-hun mengeluh pendek, suaranya mengandung penjesalan, cemas, menghibur dan putus ha­rapan….

Nafsu membunuh segera merangsang dalam benak Suma Bing, achirnya diambilnya ketetapan teguh. “Adik Hun, dimanakah tempat tinggal Racun utara ayah beranak?”

“Di lembah racun di belakang puncak ketujuh gunung Eu-san, ada apakah kau….

“Terlebih dahulu hendak kubunuh Racun Utara ayah ber­anak, baru menjelesaikan urusan yang lain.”

Saking kaget Siang Siau-hun mundur tiga langkah, mata-nya membelalak tanpa bicara.

Pada saat itulah, sebuah suara serak terdengar berkata, “Bujung, mendengar nama Racun utara ayah beranak saja kaum persilatan sudah lari menyingkir, sungguh takabur ucapanmu itu.”

Berobah kaget wajah Suma Bing dan Siang Siau-hun, sungguh diluar tahu mereka bahwa dalam biara bobrok itu kiranya masih ada orang ketiga yang sembunyi disitu. Segera sinar tajam Suma Bing menatap kearah dari mana suara itu terdengar, serunya, “Orang kosen dari manakah ini, si­lakan keluar untuk bicara.”

“Hahahaha, Siaucu, darimana kau tahu kalau aku ini seorang kosen?” ditengah gema suaranya ini, seorang tua beruban yang bertubuh buntak dan pendek, dengan ringan-nya melayang turun dari atas penglari yang penuh kotoran debu, sedemikian enteng bagai asap tubuhnya menginjak tanah tanpa mengeluarkan suara.

Tanpa merasa Suma Bing berseru kejut tertahan. Siang Siau-hunpun tidak kalah kaget dan malunya, bahwa orang tua pendek gemuk ini kiranya telah bersembunyi diatas penglari semalaman lamanya, terang segala gerak geriknya tadi tentu telah disaksikan olehnya, bersama itu iapun kagum akan kelihayan ringan tubuh orang.

Mulut siorang tua terbuka lebar tertawa besar, katanya, “Siaucu, apa benar kau ini adalah muridnya Kho-losia?”

“Bagaimana pendapat tuan?”

“Ja, anggap saja benar. Kau tahu siapa Lohu ini?” “To-sing-tau-gwat Si Ban-can.”

Dalam pertempuran memperebutkan pedang darah tempo hari, Suma Bing pernah melihat orang muncul memberi peringatan, lalu segera tinggal pergi lagi, maka segera ia bisa menyebutt nama julukan siorang tua.

To-sing-tau-gwat Si Ban-cwan manggut – manggut, “Tidak malu kau menjadi murid Lam-sia, pengalamanmu boleh juga.”

“Tadi tuan mengatakan apa?”

“O, bukankah barusan kau bermulut besar hendak mem­bunuh Pak-tok ayah beranak?”

“Tidak salah, tapi aku tidak takabur.” “Itu berarti kau ingin mempercepat kematianmu,” Berobah air muka Suma Bing, sahutnya lantang, “Kukira belum tentu.”

To-sing-tau-gwat (mencuri bintang merampok rembulan) Si Ban-cwan tertawa hambar katanya, “Siaucu, kepandaian Pak-tok seumpama Suhumu sendiri juga harus menghadapi sekuat tenaga, kemampuanmu terpaut terlalu jauh, dan lagi dalam lembah beracun itu segala tumbuhan termasuk rumputpun mengandung bisa, apa kau jakin dapat mema­suki lembah itu?”

Suma Bing merinding, serunya penuh kebencian, “Kalau aku tidak bunuh Pak-tok ayah beranak, belumlah terlampias rasa penasaran dalam hatiku.”

“Buyung, mungkin kau menganggap hidup seratus hari itu terlalu panjang?”

“Tuan bicaralah sopan dan tahu aturan.”

“Hihihihi, buyung, ini sudah sangat sungkan. Orang yang tidak masuk dalam pandangan Lohu, malas aku bicara dengan dia. Jangka seratus hari bukan waktu pendek, kau masih bisa menyelesaikan banyak urusan, buat apa kau main berlagak?”

“Lo-cianpwe,” tiba2 Siang Siau-hun menjelak, “Racun Pek-jit-kui itu, adakah obat pemunahnya?”

“Tentang ini….Kecuali dapat menemukan tertua dari Bu lim-sip-yu yang bernama Wi-thian-chiu Poh Jiang.”

Suma Bing merasa sangat terkejut, Bu-lim-sip-yu adalah musuh perguruannya, dia hanya tahu adanya Tiang-un Suseng Poh Jiang, namun belum pernah dengar adanya julukan Wi-thian-chiu (tangan membalik langit). Maka dengan penuh curiga ia bertanya, “Apa diantara Bu-lim-sip-yu itu ada terdapat dua Poh Jiang?”

“Tidak, satu saja.”

“Lalu “Tiang-un Suseng Poh Jiang….”

“Asal julukannya adalah Wi-thian-chiu, pandai menyamar dan pintar pertabiban, akhirnya entah mengapa dia berganti julukan menjadi Tiang-un Suseng. Kalau kalian dapat menemukan orang ini, mungkin masih ada sedikit harapan.”

Suma Bing mengiakan, hatinya berpikir, “Su seng adalah salah seorang musuh besar perguruan yang ha­rus dibunuh, kini dia mengumpet dan melarikan diri, sam­pai keujung langitpun pasti kupenggal kepalanya, mana bisa aku minta obat penawar padanya.”

Sebaliknya Siang Siau-hun berjingkrak kegirangan, seru­nya gemetar, “Bing-ko, singkirkan semua itu dulu, lebih pen­ting kita pergi mencari Tiang-un Suseng?”

Tawar2 Suma Bing mengangguk kepala, lantas terpikirkan juga akan wanita seragam hitam yang juga ingin segera menemui Tiang-sun Suseng- Dia pernah berkata bahwa untuk Tiang-un Suseng dia telah rela menderita selama tiga puluh tahun lamanya, meskipun hubungan mereka itu terikat olen rangkaian cinta yang belum diselesaikan. Demikian juga Pek-hoat-sian-nio, dia hendak mencari jejak Tiang-un Suseng, untuk apa hal ini belum jelas.

Setelah Pek-hoat-sian-nio mengetahui asal-usul perguruannya lantas dia mencecar menanyakan jejak Suhengnya Loh Cu-gi malah turun tangan keji terhadap dirinya, kalau gadis putih yang bernama Ting Hoan itu tidak membantunya secara diam2 mungkin dia sudah mati beberapa saat lamanya. inipun kenapa? Apa mungkin antara Pek-hoat-sian-nio dengan perguruannya ada permusuhan yang dalam?

Pikiran Suma Bing semakin tenggelam, lantas teringat pula akan Suhengnya Loh Cu-gi yang sudah menghianati perguruan, setelah merebut simbol teragung sebagai jago nomor satu diseluruh jagad terus menghilang sejak empat lima tahun yang lalu. entah dimana dia sekarang, diapun salah seorang yang harus dicari dan dibunuh menurut pesan gurunya.

Nyata2 simaling bintang Si Ban-cwan menghentikan tawanya katanya: -Siaucu, kalau kau dapat menemukan Tiang-un Suseng tentu kau takkan mati.”

Katanya tegas. “Aku tentu bisa, akan kucari dia dengan sekuat tenagaku” dimulut dia berkata begitu tapi maksud hati Suma Bing mengandung arti lain.

Siang Siau-hun kegirangan ujarnya tertawa, “Bing-ko, itulah baik, kita harus berpegang pada kesempatan hidup ini.”

Sudah tentu dia tidak mengetahui arti ucapan Suma Bing yang mempunyai maksud tertentu. Simaling bintang berkata kepada Siang Siau-hun, “Budak kecil, orang yang mati keracunan beberapa waktu yang lalu adalah adikmu?’

Air muka Siang Siau-hun berobah suram, sahutnya sedih “Ja, itulah adik kandungku Siang Siau-moay dan seorang kawannya bernama Li Bun-siang bersama menjadi korban.’

“Jadi karena itu kau mencari Bocah beracun itu?”

“Benar, menurut hematku Racun tanpa bayangan yang jahat itu selain Pak-tok ayah beranak mungkin….”

“Sudah tentu hal ini tidak bisa menyalahkan kau. Racun tanpa bayangan konon adalah semacam bisa paling jahat, mungkin Racun-utara sendiripun kewalahan menghadapinya, adikmu itu adalah korban yang penasaran.”

“Apa Lo-cianpwe mengetahui hal ihwal peristiwa itu.” tanya Siau-hun terkejut.

“Tidak banyak, kutahu kulitnya saja.”

“Harap Lo-cianpwe suka memeriahkan teka-teki ini?”

Sejenak simaling bintang berpikir, lalu katanya, “Cerita ini harus dimulai dari pedang darah itu….”

Tergugah semangat Suma Bing mendengar Pedang darah disinggung lagi, sebab ‘Pedang darah’ semestinya menjadi hak milik ayahnya Suma Hong, karena pedang darah itu pula maka ayah bundanya menemui ajal, untung dia sendiri dapat lolos dari kematian, maka Pedang darah itupun harus dike-jar kembali. Dan hutang darah yang timbulkan pedang da­rah itu juga harus ditagih. Disamping itu, sebelum meninggal Suhunya — Lam-sia pernah berpesan supaja dirinya merebut Pedang darah dan Bunga iblis supaja dapat melatih kepandaian mujijad yang tiada taranya untuk membersih­kan nama perguruan, sebab Suhengnya Loh Cu-gi yang ber-chianat itu telah mencuri sebutir Kiu-coan-hoan-yang-cau-ko, Lwekangnya sudah lebih tinggi dari gurunya sendiri. Ini boleh dikata sebagai harapan Sia-sin Kho Jiang sebelum mati, dan Suma Bing sendiri besar hasratnya untuk melaksa­nakan harapan itu.

Siang Siau-hun menyambung mulut, “Apa barang yang dititipkan kepada kita bertiga itu benar2 adalah ‘Hiat-kiam’ itu?”

Si maling bintang Si Ban-cwan membalik mata, sahutnya, “Jangan kau menyelak, dengarkan ceritaku ini; Lima belas tahun yang lalu Hiat-kiam pernah muncul sekali dan terjadilah penjembelihan besar2an, pemiliknya Su-hay-yu-hia.p Suma Hong suami-istri dan anaknya yang berusia kira2 tiga tahun mati mengenaskan, konon Hiat-kiam itu achirnya terebut oleh Tang-Mo (iblis timur).”

Setelah merandek sejenak lantas disambungnya lagi, “Be­lum lama ini dikalangan Kangouw tersiar kabar yang menga­takan bahwa Pedang darah itu berada ditangan Mo-san-ji-kui. Pada waktu itu Lohu merasa heran, bahwa Tang-mo termasuk salah satu tokoh dari Bu-lim-su-ih (empat gembong aneh dari Bu-lim), kepandaiannya berimbang dengar Lam-sia Pak-tok dan Se-kui, barang yang sudah mereka dapatkan, mana mungkin bisa terjatuh ditangan orang lain lagi. Selain itu dengan kemampuan Mo-san-ji-kui, mana mungkin dapat merebut Hiat-kiam itu dari tangan Tang-mo?….”

Lahirnya Suma Bing berlaku tenang, namun sanubarinya bergejolak susah tertahan.

“Bagaimana selanjutnya?” tanya Siang Siau-hun ingin tahu benar.

“Gembong2 silat dari aliran hitam dan putih pada melurus kesarang Mo-san-ji-kui digua Kim pitong, disana mereka menemukan jenazah kedua setan itu sudah menggeletak di luar gua, maka banyaklah mulut2 usil yang mengatakan bahwa Hiat-kiam itu sudah direbut pula oleh orang lain lagi.”

Simaling bintang menghela napas panjang lalu melanjutkan ceritanya, “Secara sangat kebetulan, seorang tua yang berseragam hitam tengah membawa sebuah buntalan kain minyak sepanjang satu kaki, maka timbullah serakah dan ketamakan orang ceroboh dan gegabah itu, dan terjadilah pengerojokan, siorang tua itu akhirnya dapat lolos dari kepungan dengan membawa luka2 berat, karena lukanya terlalu berat ditengah jalan ia roboh dan kebetulan ber­temu dengan kalian kakak beradik lantas ia menitipkan buntalan kain itu supaya disampaikan kepada ketua kelenteng Yok-tong-bio di Seng-toh….”

Siang Siau-hun manggut2 tak hentinya. “Kiranya lo-cianpwe sangat jelas akan duduk perkara peristiwa itu?”

“Orang yang meracun adikmu dan merebut buntalan kain itu menamakan dirinya sebagai Tok-tiong ci-tok (Racun di racun)….”

“Racun didalam racun?”

“Betul, sebelum ini belum pernah terdengar adanya se­orang tokoh macam ini didunia persilatan. Tapi racun tan-pa bayangan yang dia gunakan itu boleh terhitung sebagai racun diracun….”

“Apakah buntalan kain itu benar2 berisi Hiat-kiam?”

“Bukan, hanya sebatang jinsom yang berusia ribuan tahun.”

“Benar,” sahut Siang Siau-hun tersedar, “Wanpwe pernah menjelidiki ke Yok-ong-bio di Seng-toh, ketua biara itu kebetulan meninggal belum lama ini, mungkin jinsom itu adalah obat yang untuk mengobati penyakitnya…. sungguh tak terduga terjadilah peristiwa diluar dugaan ini.”

Sebaliknya Suma Bing tak habis mengarti, tanyanya “Apakah racun diracun dapat mengetahui bahwa apa yang dia rebut itu bukan Hiat-kiam? Atau mungkin tujuannya adalah memang Jinsom ribuan tahun itu?”

Mata simaling bintang Si Ban-cwan menatap tajam ke arah Suma Bing, katanya, “Setelah mendapatkan buntalan kain itu, segera ‘Racun diracun’ membuka buntalan itu, melihat hanya berisi sebatang Jinsom, dengan dongkol ia buang diatas tanah, entah karena pikirannya tergerak akhirnya ia kembali dan menjemputnya lagi. Dari kejadian in dapatlah disimpulkan bahwa ‘Racun diracun’ memang khusus mengincar Hiat-kiam itu?”

“Lalu bagaimana dengan peristiwa pedang berdarah palsu buatan Bwe-hwa-hwe itu?”

“Kejadian itu membuat orang susah mengarti, Lohu sendiripun belum jelas, mungkin Bwe-hwa-hwe mempunyai suatu muslihat….”

“Tuan pernah muncul memberi peringatan, untuk apa pula itu?”

“Kali ini Lohu salah melihat, aku tidak tahu bahwa Hiat kiam itu palsu, tujuanku mem-peringati mereka adalah ka­rena aku kuatir “Racun diracun” akan menjebarkan maut-nya untuk merebut pedang darah itu. Bukankah semua orang yang hadir akan mati konjol?”

Akhirnya sebagian pertanyaan dalam benak Suma Bing sudlah terjawab, tapi urusan agaknya semakin ruwet, de­ngan munculnya tokoh baru seperti “Racun diracun”. Siapa dan dari aliran manakah Racun diracun itu? Bwe-hwa-hwe menggunakan Hiat-kiam palsu untuk menimbulkan perebu­tan, tanpa sengajakah atau memang sudah dalam rencana mereka? Kalau memang sudah diatur demikian, apakah tujuannya? Lantas Hiat-kiam tulen masihkah berada ditangan Tang-mo? Mo-san-ji kui mati konyol disarangnya sendiri apakah berita itu benar bahwa kematiannya itu karena Hiat-kiam itu juga? Dia menggelengkan kepalanya dengan ham­pa.

Justru yang paling diperhatikan oleh Siang Siau-hun ada­lah racun Pek-jit-kui yang mengeram dalam tubuh Suma Bing itu, dengan sinar pandang yang penuh harapan ia me­natap kearah To-sing-tau-gwat Si Ban-cwan dan berkata, “Lo-cianpwe, dapatkah Tiang-un Suseng mengobati racun yang mengeram dalam tubuhnya itu?”

Si maling bintang melirik dan menyahut, “Aku orang tua tidak dapat memberi pertanggungan jawab, namun itulah jalan satu2nya yang harus kalian tempuh.”

“Jejak kau orang tua sudah kelana sampai dimana2. sukalah kau memberi petunjuk dimanakah kiranya kita da­pat menemukan Tiang-un Suseng?”

“Apa, jejakku tersebar diseluruh Kangouw. Budak kecil jadi kau mau maksudkan bahwa aku orang tua sudah mencuri diseluruh jagad ini?”

“Bukan begitu maksud Wanpwe.”

“Konon bahwa Tang-un Suseng Poh Jiang sudah me­ninggal dunia, namun waktu kuburannya dibongkar orang kiranya kosong.” — Dalam ber-kata2 Itu sengaja atau tidak matanya melirik kearah Suma Bing. Berdetak keras jantung Suma Bing.

Siang Siau-hun berkerut alis, katanya, “Kalau begitu berarti bahwa Tiang-un Suseng sengaja menghindarkan diri dari dunia ramai, untuk mencarinya mungkin sangat sukar”

“Semua kejadian dalam dunia tergantung pada djodoh, ucapanmu itu belum tentu.”

“Tangbun Yu bocah berbisa itu benar2 jahat, karena sedikit salah paham saja dia lantas turunkan tangan keji meracuni orang?”

“Kau hanya tahu satu tak tahu kedua- Ketahuilah bahwa Lam-sia dan Pak-tok selamanya tidak akur bertentangan se­perti api dan air, begitu ada kesempatan bertemu tentu ti­daklah sia2 digunakan. Apalagi temanmu sebelumnya ini su­dah melukainya”

“Kalau Pak-tok sudah merajai dalam dunia racun, siapa yang berani bermusuhan padanya.”

“Dia sejajar sebagai salah satu gembong aneh yang tinggi kepandaiannya, tanpa mengingat gengsi sendiri lantas turun tangan menggunakan racun, apalagi selama hidup situa bangka berbisa itu paling membanggakan kepintaran-nya itu.”

“Lo-cianpwe sudah sekian lama mengumpet diatas belandar itu bukan? Tentu kau orang tua juga takut akan racun, jadi sampai sekarang baru muncul?”

Wajah tua simaling bintang merah jengah. katanya, “Budak kecil runcing benar mulutmu. Akan tetapi bukan aku orang tua takut akan bisa itu, ada sebab lain maka aku tidak mau berurusan dengan bangsat tua beracun itu.”

Segera Suma Bing mengalihkan pembicaraan, “Bagai­manakah rupa atau bentuk orang yang mengaku sebagai Racun didalam racun itu?”

“Seorang aneh bertubuh tinggi lencir kurus kering seluruh tubuh kulitnya berwarna hitam gelap.”

Suma Bing manggut2 dan mengingat keterangan itu.

Kata Siang Siau-hun penuh kasih mesra, “Bing-ko sudah saatnya kita berangkat.”

“Benar kita harus segera berangkat.”

“Nanti dulu.” mendadak maling bintang perampok bulan Si Ban-cwan pentang tangannya.

“Tuan masih ada ucapan apa lagi?” tanya Suma Bing sambil mengerutkan alis.

“Apa kepergian kalian ini benar2 hendak mencari Tiang-un Suseng?”

“Sudah tentu,” selak Siang Siau-hun.

“Itulah baik, jikalau kalian lebih dulu dapat menemukan dia….”

Suma Bing menjadi heran dan bertanya, “Jadi kau juga tengah mencari Tiang-un Suseng.”

“Ja, tapi aku mendapat pesan orang lain, kalian tak perlu banyak tanya, jikalau kalian menemukan dia katakan saja bahwa Lohupun ingin segera menemuinya.”

“Itu boleh, adik Hun, mari berangkat,” habis berkata segera ia mendahului angkat langkah keluar dari biara bobrok itu. Sebelum pergi Siang Siau-hun membungkuk memberi hormat kepada Si Ban-cwan serta berkata, “Se­lamat bertemu”. ~ terus mengintil dibelakang Suma Bing meninggalkan tempat itu.

Sampai diluar segera Suma Bing menghentikan langkah, dan katanya, “Adik Hun, dunia sedemikian besar, Tiang-un Susengpun sengaja menghindarkan diri dari keramaian, mencari jejaknya berarti mencari jarum didalam laut….”

“Ja, memang. Tapi hanya itulah harapan satu2-nya, janganlah kita buang kesempatan ini.”

“Aku mempunyai sebuah cara.”

“Cara apa?”

“Kita berpisah mencarinya, begitu lebih gampang dan praktis.”

Berobah air muka Siang Siau-hun. katanya:”Bing-ko kau hendak meninggalkan aku?”

“Adik Hun dengarkan penjelasanku; kita membatasi waktu tiga bulan, tiga bulan kemudian kita bertemu lagi dikelenteng bobrok ini. Sebelum bertemu tidak berpisah.”

“Kalau…. kalau….”

“Bagaimana?”

“Kalau kau tidak datang?”

Pedih rasa hati Suma Bing seperti di-iris2, sebuah ucapan yang sederhana mengandung betapa besar rasa cinta kasih, pengharapan dan ketulusan hati. Apa benar dia tidak akan datang? Mengapa dia harus datang? Obat pemunah itu merupakan angan2 hampa yang tidak mungkin terlaksana, tiga bulan kemudian, hidup jiwanya akan sampai pada titik terachir…. tapi sekuatnya ia menguatkan hati dan unjuk senjum dibuat2, katanya, “Adik Hun, percayalah, aku pasti datang.”

Kedua mata Siang Siau-hun merah tergenang air mata, dengan suara yang memilukan hati ia berkata, “Bing-ko, aku percaya kepadamu. Tapi ingatlah ucapanku ini, kini jiwaku merupakan sebagian dari jiwamu sudah kupasrah-kan jiwaku kepada kau, itu berarti persamaan jiwa hanya sama akibatnya, tak mungkin ada dua akibat, tak peduli akibat itu baik atau buruk”.

Tergetar sanubari Suma Bing, walaupun dia tidak rela si nona belia ini menjadi pengiringnya masuk dalam liang kubur, tapi, apakah hanya dengan kata2 halus lantas dapat merobah tekadnya yang besar itu? Hatinya mendelu dia goyang2 kepala dengan hampa, sahutnya, “Aku tahu!”

Setelah berpandangan sekian lamanya, mereka berpisah tanpa kata2, tanpa kata2 perpisahan sebagaimana lazimnya, tanpa ucapan selamat tinggal!

Cinta pertama adalah perjalanan hidup manusia yang termahal, akan tetapi cinta pertama mereka ini adalah pa­hit getir. Suma Bing berusaha untuk menghilangkan ba-yangan kekasihnya ini dari sanubarinya untuk sementara, dia harus mengatur serapi mungkin akan acara yang harus di­lakukan selanjutnya. Pertama menuju ke Ceng seng-san mencari Leng Hun-seng Ciangbun dari Ceng-seng-pay. Dari mana menuju ke Siau-lim mencari Goan Hi Hwesio lalu memutar balik ke gunung Lo-san menemukan Lo-san siang-kiam. Terachir baru sekuat tenaga berdaja mencari jejak Tang-mo, dan mengejar para pembunuh ayah-bundanya sembari berusaha mencari Tiang-un Suseng. Tentang Hiat-kiam Mo-hoa dan mencuci nama perguruan mungkin tinggal suatu harapan hampa yang usah dicapai.

Setelah mengambil ketetapan hati bangkitlah semangatnya dibuangnya hal2 menakutkan dibenaknya, demi mencapai cita2nya dan untuk memperpendek waktu dia akan berlaku kejam telengas tak mengenal apa yang dinamakan kasihan atau welas-asih.

Dua hari kemudian jejaknya sudah berada di Sam-ceng-koan diatas Ceng-seng.san. Begitu ia sampai diluar pintu bangunan agung yang angker itu tanpa merasa kakinya merandek dan was2, pikirnya; apa mungkin sekali lagi aku menubruk tempat kosong? Pintu besar gedung megah itu tertutup rapat tanpa bayangan seorang jua. Sudah beberapa kali ia bersuara tanpa ada penyahutan. Setelah dipikir2 mendadak ia layangkan sebuah tangannya membelah kearah pintu besar itu, angin badai segera memberondong mener-jang kedepan terdengarlah suara gedubrakan yang nyaring, pecahan kaju beterbangan, pintu besar yang kokoh kuat itu sudah ambruk berkeping2 dan pecah berserakan diatas tanah.

Betapapun seorang yang tuli juga akan mendengar suara gedubrakan yang nyaring ini. Sungguh aneh dan menghe­rankan sedikitpun tidak tampak adanya reaksi apa2.

****************

Pengalaman apa lagi yang akan Suma Bing alami diatas gunung Ceng-song-san ini?

Tokoh jahat kejam apakah Racun diracun yang segera akan berhadapan dengan Ketua Bwe-hwa-hwe yang serba misterius itn?

Bwe-hwa-hwe menggunakan Pedang darah palsu menimbulkan keributan, ada latar-belakang apa dibalik muslihat ini?

 

[bersambung]