pedang darah bunga iblis 01
Karya : Khu Lung
Diceritakan oleh Gan KL
PENDAHULUAN
Darah yang mengalir memanjang sudah membeku
seperti beratur ekor ular hitam yang mati
kaku dibawah terik matahari.
Mayat-mayat dengan anggota tubuh yang tidak
lengkap bergelimpangan di puncak Hou-thouhong
(puncak kepala harimau) di gunung
Tiam-tjong-san; kepala, tangan atau kaki berserakan
dimana-mana mengeluarkan bau amis yang
memualkan.
Satu jam yang lalu beberapa ratus gembong
silat dari berbagai aliran atau golongan hitam dan
putih telah melakukan suatu upacara
penyembelian besar-besaran di puncak gunung ini, sekarang
keadaan sudah tenang, namun bau darah dan
keseraman masih meliputi bekas gelanggang jagal
manusia ini.
Seorang wanita yang mengemban seorang anak
kecil kira-kira berusia tiga tahun berjalan
keluar sempoyongan dari balik batu gunung
sana, walaupun rambutnya awut-awutan tubuhnya
penuh luka dan berlepotan darah, bajunya
koyak-koyak tak karuan, namun semua itu masih belum
dapat menutupi wajahnya yang ayu molek dan
tubuh yang langsing menggiurkan, dibelakangnya
muncul pula seorang laki-laki pertengahan
umur berdagu panjang dan berwajah putih halus sambil
berjalan dia sedang merapikan celana dan
bajunya.
Si wanita langsung mendekati sesosok mayat
yang penuh luka-luka dan susah dikenal lagi,
perlahan-lahan ia berlutut disamping mayat
dan menggumam dengan suara igauan seperti orang
bermimpi ”Hong-ko, aku tidak minta agar kau
memaafkan aku, tapi kau harus mengerti, demi
keturunan keluarga Suma, demi darah
dagingmu dan dendam kesumat ini, terpaksa aku berbuat
demikian, aku….”
Anak kecil dipelukannya mendadak menggigil
gemetar dan mengejang, mulutnya yang kecil
megap-megap, bibirnya gemetar tapi
sedikitpun tidak mampu mengeluarkan suara.
”Nak, apakah kau sangat menderita, ibumu
ingin menggantikan kau, oh ibumu relah menderita
segala kesengsaraan dalam dunia fana ini
asalkan dapat menggantikan jiwamu nak…. kau…. kau
jangan mati….” demikian ratap si wanita.
Anak itu tetap membisu, kedua matanya
terpejam, tubuhnya basah kuyup oleh keringat,
wajahnya penuh diliputi hawa hijau,
bibirnya mulai membiru dan tubuhnya tak henti-hentinya
berkelejetan, naga-naganya jiwa kecilnya
tengah berontak dari renggutan elmaut. Mendadak si
wanita angkat kepala dan berseru kepada
laki-laki pertengahan umur yang tengah berdiri kira-kira
dua tombak jauhnya, ”Kumohon padamu,
tolonglah jiwa anakku ini.”
”Menolong dia?” sahut si lelaki pertengahan
umur sambil menyeriangi.
”Suara si wanita penuh mengandung
permintaan dan harap” ” kau sendiri pernah berjanji
hendak menolong jiwanya?”
”Nadi pengantanya sudah putus, kalau aku
menolong jiwanya dengan menggunakan Kiu-yang –
sin-kang, tenaga murniku akan susut terlalu
banyak, dalam jangka waktu lima tahun aku tidak
dapat bergebrak dengan orang, padahal tahun
depan tibalah waktunya mengadu kepandaian di
puncak Hoa-san, aku tidak mau kehilangan
kesempatan memegang simbol teragung sebagai
tokoh silat nomor satu di dunia.!”
Wajah si wanita yang memang pucat kini
semakin pucat keabu-abuan, dengan suara hampir
menggila ia berseru ”tadi kau mengatakan
mau menolong anakku, kau menginginkan tubuhku,
aku sudah berikan padamu. Oh…. kumohon
padamu, tolonglah jiwanya, aku rela selama hidup ini
melayani kau, akan kupersembahkan segala
milikku, termasuk jiwa ragaku….”
”Tidak bisa!”
”Kau…. kau tidak boleh begitu, tolonglah,
tolonglah jiwanya….”
”Maaf, aku tidak dapat melulusi
permintaanmu!”
Seketika kedua mata si wanita mendelik,
sambil menuding laki-laki pertengahan umur itu
dengan suara
melengking menyeramkan ia memaki, ” Loh
Tju-gi, binatang kau, anjing…. kau manusia hinda
dina, tubuhku sudah kau nodai tapi kau….”
Sekilas wajah Lo Tju-gi berubah, tapi
lantas pulih lagi seperti semula, katanya, “San hoa li, aku
tidak mungkin menolongnya, tapi aku cinta
padamu.”
“Tutup mulut, binatang….”
”San hoa li, memang tidak salah aku telah
merasakan kenikmatan tubuhmu, akan tetapi jikalau
bukan karena aku, mungkin hari ini kamu
sudah menemui ajal!”
”Anjing, karena kau hendak melampiaskan
nafsu kebinatanganmu, tujuan kau anjing hina dina
ini, bukankah hendak mengangkangi
”Hiat-kiam” (Pedang darah)….”
Wajah si anak dari hijau telah berubah ungu
gelap, berkelejetan semakin menjadi-jadi, rasa
sakit yang sangat tengah menyiksa nyawa
kecil yang sudah diambang pintu kematian itu.
San hoa li memeluk anaknya semakin kencang,
kedua matanya yang redup kuyu mengalirkan
air darah dengan suara yang sangat
memilukan ia berkata, ”Nak, ibumu tak dapat menolong kau,
tapi aku dapat membuatmu tidak menderita
terlalu lama, nak kau tidak akan menderita lagi
selamanya!”
”Sret!” tangan San hoa li tahu-tahu sudah
menghunus sebilah cundrik yang berkilauan, sambil
menggertak gigi ia tusukkan cundrik itu ke
ulu hati anaknya, namun cundrik itu hanya menusuk
satu dim tangannya sudah gemetaran hampir
tak kuat lagi memegang cundrik itu, Setelah
berkelejetan dua kali lagi si anak kecil
itu berhenti bergerak.
”Anakku, kau tidurlah tenang menyusul
ayahmu….” Diletakkannya jenasah anakanya dipinggir
mayat yang penuh berlepotan darah itu, lalu
ia berdiri, ” Lo Tju-gi, kau ingat pada suatu hari
tentu cundrik ini akan menusuk kedalam ulu
hatimu, termasuk juga dada anak muridmu!”
Mendadak San hoa li mendongak dan tertawa
panjang histeris, sekali berkelebat dengan cepat
ia berlari turun gunung.
”Dia sudah gila!” Loh Tju-gi menggumam,
dimana tanganya menyapu jenasah anak kecil itu
terpental terbang masuk ke dalam jurang
yang dalam di samping sana, lalu sekali melejit
tubuhnyapun terbang menghilang dari
pandangan mata.
1. BANJIR DARAH DI KUIL KUNO
Hujan lebat disertai angin puyuh membuat
jagat remang-remang gelap, keadaan seluruh
kehidupan dalam dunia fana ini menjadi
sedemikian sunyi senyap yang terdengar hanyalah deru
angin dan hujan, jarang terlihat ada
manusia atau insan hidup berlalu lalang dibawah hujan lebat
ini.
Tapi didepan pintu sebuah biara
”Pek-hun-ko-sat” (biara kuno awan putih) berdirilah seorang
pemuda dengan tenangnya diterpa air hujan,
dengan nanar kedua matanya memandang pintu
biara kuno ini, pemuda ini kira-kira
berusia tujuh delapan belas tahun berwajah ganteng dan
membawa sedikit sifat keangkuhan, air
mukanya penuh diliputi hawa membunuh membuat siapa
yang bertemu pandangan bergidik seram
ketakutan.
” Masa para kepala gundul ini semua sudah
modar!”, si pemuda bicara seorang diri, tangan
diangkat dengan ringannya sebuah jarinya
menyentil dari kejauhan. ”Blang” gelang besi diatas
pintu biara itu mengeluarkan suara keras
yang menggetarkan telinga, tidak lama kemudian pintu
biara terpentang perlahan-lahan, seorang
hwesio beralis tebal bermata besar dengan marahmarah
melangkah keluar dari dalam, dan sebelum
sempat membentak sapa, sinar matanya
bentrok dengan pandangan si pemuda yang
berdiri dibawah hujan lebat di depan pintu biara,
tanpa merasa bulu kudunya mengkirik seran,
diam-diam hatinya berkata, “nafsu membunuh yang
besar!”
Dingin si pemudah menyapu pandang kearah si
hwesio, kaki diangkat ia langkahi undakan
didepan pintu biara, sejenak si hwesio
menenangkan hati lalu berkata dengan nada berat , “Sicu
(tuan) harap berhenti!”
Si pemuda berhenti di undakan paling atas.
“Apa keperluan sicu berkunjung ke biara
kita?”
”Mencari Tji Kong si hwesio tua!”
Berobah wajah si hwesio, semprotnya gusar:
dia, adalah taysu ketua, sicu bicaralah mengenal
aturan!”
”Ini, sudah terhitung paling beraturan1”
”Huh,” jengek si hwesio.
”Kau mengejek siapa?”
Sontak timbullah gelora kemarahan di benak
si hwesio, bentaknya keras, ”Pek hun ko sat bukan
tempat kau bertingkah tahu?”
Si pemuda melerok hina kearah si hwesio
serta ujarnya dingin, “Kau perlu memberitahukan
kedatanganku dulu atau aku harus masuk
sendiri?”
“Silahkan sicu sebutkan namamu.”
”Bu (go) Bing!”
”Bu bing? (tak bernama)”
“Lebih baik kau jangan cerewet!”
Si hwesio sudah tidak sabar menahan gusar,
teriaknya menggeledek, “Siaucu….”
”Plak!” seketika si hwesio terhuyung mundur
tiga langkah, pipinya berpeta jelas bekas lima jari
tangan, agaknya si pemuda masih berdiri
tenang di tempatnya, dan bagaimana si hwesio kena
ditempeleng dia sendiri tidak melihat,
tahu-tahu pipinya sudah bengap.
Nada si pemuda tetap sedingin es, ”berani
sekali lagi kau buka mulut kotor, akan kubuat kau
selamanya tidak bisa bicara”
Keder dan kuncuplah nyali si hwesio, tahu
dia bahwa si pemuda dihadapannya ini ternyata
berkepandaian silat sangat tinggi, tanpa
merasa ia berdiri termangu ditempatnya tanpa berani
membuka suara lagi.
Terdengan langkah berat mendatangai, dua
hwesio tua yang berusia 50an bergegas
mendatangi, selayang padang terhenyaklah
mereka beberapa langkah jauhnya, dua pasang mata
yang tajam berbareng menatap kearah si
pemuda. Segera si hwesio yang barusan kena
ditempeleng segera bersabda dan melapor
dengan suara lirih, “Lapor Susiok, sicu ini ingin
bertemu dengan ketua kita.”
Kedua hwesio tua mengiakan berbareng lalu
salah seorang diantaranya lantas bertanya, “Apa
sicu benar-benar hendak menemui ketua
kami?”
“Tidak salah!”
”Harap sukalah terangkan maksud
kedatanganmu ini!”
”Setelah bertemu dengan Tji Khong Hwesio
dia sendiri tentu akan tahu!”
Berbareng kedua hwesio tua menarik muka,
seorang yang lain segera menyahut, “Mengapa
datang-datang sicu lantas memukul anak
murid kami?”
”Itu hanya suatu hukuman kecil bagi
mulutnya yang kotor.”
lagi-lagi kedua hwesio tua ini bersungut
dongkol, salah seorang yang membuka suara dulu tadi
bicara pula dengan sabar, “Kalau sicu tidak
menerangkan maksud kedatanganmu, maaf pinceng
tidak dapat melayani?”
Si pemuda mendengus sekali, “Kalau begitu
terpaksa aku mencari sendiri.” habis berkata
dengan langkah lebar ia hendak memasuki
pintu besar biara.
”Mana boleh kamu bertingkah ditempat Budha
yang tenang suci.” kedua hwesio tua itu
menghardik berbareng dengan melayangkan
pukulan masing-masing.
Sipemuda tidak peduli dan bagai tak merasa
apa2, kakinya masih tetap melangkah maju, ”Plak
– plok: dua suara nyaring menggema,
seketika kedua hwesio tua merasakan pukulan mereka
membal atau dirutul balik menerjang mereka
sendiri, kontan tubuh mereka tergetar mundur
sempoyongan, ditengah suara keluhan mereka,
sipemuda sudah memasuki pintu biara dengan
tenangnya.
Karena ribut2 ini sudah menggemparkan para
hwesio lain dalam biara, waktu si pemuda
melenggang melalui samping patung pemujaan,
belasan hwesio sudah bersiaga mencegat
didepannya, dari belakang terdengan seruan
gusar kedua hwesio tua tadi; “Kedatanganya
bermaksud jahat, cegat dia!”
Serentak belasan hwesio itu berjajar
menghadang ditengah jalan, sambil berjalan si pemuda
berkata mengancam, “Kalau kalian tahu diri
lebih baik menyingkir, aku tidak ingin melukai kalian.”
”Bocah sombong rasakan ini!” serempat
kepelan dan jotosan beruntun dilancarkan untuk
merintanginya.
Sekilas berkelebat sinar merah dalam mata
sipemuda, sebelah tangan diangkat dan diayun,
seketika terbit angin badai menghembus
deras kedepan, sontak terdengar suara keluhan dan
kesakitan, beberapa hwesio yang
memberondong tiba terpental jauh oleh gulungan angin kencang
yang menerjang mereka, hanya sekali
berkelebat bayang sipemuda tahu2 sudah tiba
dipekarangan dalam.
”Tang-tang-tang!” lonceng tanda bahaya
bergema keras maka ributlah suasana dalam biara itu,
para hwesio yang tak terhitung banyaknya
bergegas berlarian keluar dari empat penjuru sambil
membekal golok dan pentungannya, mereka
berdiri rapi bagai pagar mengepung sipemuda.
“Kalian mundur!” mendengar suara keras
berwibawa ini serempat para hwesio membungkuk
tubuh dan merangkap tangan terus mundur
kesamping, Ditengah ruangan sana berdiri seorang
hwesio berusia lanjut mengenakana kas warna
merah marong, sepasang matanya berkilat2
menatap si pemuda, tanyanya “Siau-sicu
siapakah namamu?”
”Go bing!”
”Ada urusan apa kau mencari lolap?”
Pandangan dingin bagai aliran listrik Go
Bing mata menyorong kearah si hwesio tua, “Kau
inikah Tji Kong Hwesio!” tanyanya lantang.
Ucapannya ini menimbulkan gereman gusar
dari semua hwesio yang hadir, tidak ketinggalan si
hwesio itupun berobah air mukanya,
“Omitohud, itulah gelarang pinceng”.
Go Bing ulurkan jari tengah tangan
kanannya, secarik sinar terang mencorong keluar dari
tengah jarinya, katanya dingin “Apa kau
masih kenal ini?”
Seketika wajah Tji Kong Hwesio berobah
pucat lesi dan terhuyung mundur ketakutan, mulutnya
mendesis, “Mo hoan (cincin iblis)”.
“Tidak salah!”
Begitu ”Mo-hoan” disebut seketika gemparlah
seluruh hadirin, semua hwesio yang hadir
berobah pucak dan bergemetaran.
”Apa hubunganmua dengan Sia-Sin Kho
Djiang?” suara Tji Khong tergetar menahan gelora
hatinya.
”Muridnya!”
”Dia…. dia…. belum mati?”
Hawa membunuh diwajah Go bing semakin
memuncak, mendengus sekali dia menjawab, “ Hal
itu kau tidak perlu tahu!”
Otot dijidat Tji Kong Hwesio merongkol
keluar, keringatpun membajir membasahi tubuh,
tanyanya gemetar, “Kau…. apa maksud
kedatanganmu?”
”Mengambil batok kepalamu!”
Betapa keder dan takunya para hwesio
mendengar nama Sin-sin Kho Djiang, serta mendengan
sipemuda hijau ini berani hendak mengambil
batok kepala ketuanya, semua menggeram gusar,
masa mereka harus diam saja membiarkan
orang memenggal kepala ketuanya, satu bergerak
yang lain mengikuti beramai2 mereka
merubung tiba di depan ruang besar.
Dengan pandangan dingin Go Bing menyapu
pandang kearah para hwesio itu lalu serunya
dengan datar: Tji Khong Hwesio aku tidak
suka membunuh orang yang tidak berdosa, lebih baik
kau perintahkan mereka menyingkir saja!”
”Sudahlah!” teriak Tji Khong keras sambil
mengebutkan lengan jubahnya yang besar,
seruannya hampir mengeluh, “Saudara2 dan
semua anak muridku, lekas kalian mundur!”
Sejenak para hswesio itu merandek, tidak
mundur malah dengan nekad mereka maju lagi.
”Tji Khong maaf aku hendak turun tangan”,
habis ucapannya tubuhpun menerjang maju,
sebuah jotosan mengarah tepat kedada Tji
Khong. Serangan pukulan ini bukan saja sangat cepat
laksana kilat juga hebat dan seram,
meskipun kelihatannya hanya sekali pukulan namun
diantaranya mengandung banyak perobahan
yang susah diselami, seluruh halan darah didada
lawan sudah dalam incaran cengkeramannya.
Sudah tentu Tji Khong tidak mandah terima
binasa, akan tetapi kecepatan musuh turun tangan
tiada kesempatan lai untuk dirinya berkelit
atau balas menyerang, dalam saat-saat jiwa diambang
pintu kematian sekuatanya ia lintangkan
tangannya untuk menjaga didepan data. ”Blang” disertai
suara keras seperti orang hendak muntah
dari mulut Tji Kong tubuhnya terhuyung surut ting
langkah ke belakang.
Bersamaan dengan itu dua batang tongkat
besar dan tiga sinar pedang berbareng
memberondong mengurung tubuh Go Bing dengan
serangan yang tidak kalah hebatnya.
Tanpa berpaling lagi, sebelah tangan diajun
kebelakang terbitlah angin deras bergulung2
menerpa kebelakang hingga tujuh hwesio yang
menyerang didirnya terpental pontang panting
keempat penjuru, hampir saja mereka tidak
kuat lagi mencekal senjata masing2, masih untung Go
Bing masih belu mau turunkan tangan
jahatnya,
Sebat luar biasa tubuh Tji Khong berkelebat
lari memasuki Tay-hiong-po-tian.
”Tji Khong, kemana kau hendak lari?” seru
Go Bing, belum habis ucapannya tubuhnyapun
sudah melejit tiba bagai kilat menghadang
dihadapan Tji Khong.
Terasa semangat Tji Khong bagai terbang ke
awang2 dilihatnya bibit bencana yang menyertai
kedatangan anak muda ini berkepandaian
tidak kalah lihay dari Sia sin Kho Djiang dulu, jelas
bahwa dirinya tentu bukan tandingan musuh,
Elmaut kematian terbayang didepan matanya hingga
wajahnya yang pucat lesi berobah
kehijau2an.
Go Bing kerahkan tenaganya di jari tengah,
maka menyoronglah sinar dingin dari ”cincin Iblis”
itu lebih lebar dan terang, perlahan2
tangan bergerak dimana sinar dingin itu menyambar,
terdengarlah suara jeritan panjang yang
menyayat hati. Kepala Tji Khong yang gundul terbang
meninggalkan tubuhnya, darahpun menyembur
keras bagai mata air dari luka dillehernya,
mayatnya terkapar di lantai tanpa bergerak
lagi.
Seketika para hwesio yang memburu tiba
didepan pintu Tay hiong po tian terkesima
menyaksikan adengan pembunuhan yang aneh
dan kejam ini, Mereka terlongong bagai patung
dan kehilangan semangat dan kesadaran.
Dengan tenang dan seenaknya Go bing
mengeluarkan sebuah kantongan dan memasukkan
kepala Tji Khong kedalamnya, sekali melejit
tubuhnya terbang melewati kepala para hwesio dan
menghilang ditengah udara dalam sekejap
mata.
Sayup2 terdengar gema lonceng pertanda
dukacita dari pada biara pek hun ko sat.
Dalam pada itu begitu sampai diluar dengan
kecepatan yang susah diukur Go Bing berlarian
keras, cuaca masih tetap gelap, namun hujan
dan angin badai sudah lama berhenti, ditengah
keremangan cuaca itulah dia berlari tiba
didepan sebuah gua.
”Siapa?” bentakan dingin dan serak
terdengar dari dalam gua.
”Murid sudah kembali, Su….”
”Apa tugasmya sudah kau selesaikan?”
”Sudah selesai menurut perintah!”
”Masuklah!”
Sambil menjinjing kantongannya Go Bing
berkelebat memasuki gua, gua itu tidak terlalu dalam,
ditengah gua tersulut api unggun, dibawah
penerangan api unggun itulah terlihat dipojok dinding
sebelah dalam sana berduduk sila seorang
aneh yang rambut dan cambang bauknya menutupi
mukanya, matanya tinggal sebelah dan merem
melek, kedua kakinya sudah buntung tinggal
tulang keringnya saja yang masih kelihatan
memutih.
Go Bing meletakkan buntalan kantongnya
serta berkata, “Suhu….”
Mata tunggal si orang aneh mendelik sinar
matanya hijau mengancam desisnya gusar, “Bocah,
sekali lagi kau berani memanggil ”Suhu”,
kubunuh kau?”
Go bing menyahut sedih, “Budi kau orang tua
membesarkan murid selama lima belas tahun
ini….”
“Kentut!, dulu secara kebetulan kau
terjatuh dalam tanganku, itu pertanda ajalmu memang
belum tiba saatnya, Lohu menolong dan
memberi pelajaran silat kepadamu adalah supaya kau
kelak dapat menyelesaikan urusanku. Budi
apa segala….”
”Akan tetap…. suhu….”
Si orang aneh ayunkan tangannya, seketika
Go Bing tersurut mundur tiga langkah dengan
ketakutan, ”Bocah, ingat, panggil aku Kho
Lo-sia (Kho tua sesat), kau dengan tidak, dulu Lohu
sudah bersumpah untuk tidak terima murid
selama hidup!”
Dimulut Go Bing mengiyakan namun dalam hati
ia membatin; kau melarang aku memanggil
kalau dalam hati aku tetap menganggap kau
sebagai Suhu, bukankah beres. Selama lima belas
tahun ini berkawan dengan siorang aneh yang
cacat kedua kakinya dan sebuah matanya. Bermula
dia menyangka siorang aneh ini sudah gila
atau sinting, lama kelamaan menjadi kebiasaan. Dalam
ingatannya yang pertama memang gurunya ini
sangat aneh dan sesat tindak tanduk dan
ucapannya selalu bertentangan dengan adat
dan peraturan umum, selain kata “Sesat” susahlah
mengungkat keanehan wataknya itu.
Terhadap riwayat hidup suhunya ini boleh
dikata hanya samar2 saja diketahui dari mulut
orang2 dikelangan kang-ouw. Yang jelas
diketahui hanyalah bahwa nama Sia-sin Kho Djiang (Kho
Djiang si malaikat sesat) sudah sejak dua
puluh tahun yang lalu menggetarkan dan menciutkan
nyali setiap toko silat dari aliran hitam
maupun golong putih. Selama belasan tahun dirinya
dibimbing sampai beesar, mengajarkan
kepadaian silat lagi kepadanya hakikatnya hubungan
mereka adalah guru dan murid, naum dia
melarang mengaukui hubungan antara guru dan murid
ini.
Teringat sebelum dirinya melaksanakan
perintah suhunya pergi membunuh orang, si orang
aneh ini hanya menerangkan bahwa orang yang
harus dibunuhnya ini adalah salah satu
biangkeladi yang menggunakan akal muslihat
menyebabkan sebuah mata dan kedua kakinya
menjadi cacat selamanya. Selain itu apapun
tidak diterangkan.
”Buka kantongan itu!”
Segera Go Bing mengerjakan apa yang diminta
dan mengeluarkan batok kepala gundul itu.
Sia-sin Kho Djiang mengekeh tertawa,
serunya, ”Tidak salah, memang dialah Tji Khong si
kepala gundul itu, bawa kebelakang gua dan
direndam dalam obat supaya tidak membusuk.”
Go Bing mengiyakan terus masuk ke gua
belakang, tidak lama kemudian ia berjalan keluar lagi.
Sia-sin Kho Djiang ulapkan tangannya dan
berkata, ”Bocah kau duduklah”.
Go Bing duduk ditepi api unggun.
Terdengan Sia-sin Kho Djiang menyambung
katanya ”Siaucu, Lohu pernah melulusi setiap kali
kau selesai mengerjakan tugasmu, aku
menjawab satu pertanyaanmu, sekarang kau tanyalah?”
”Murid…. aku ingin mengetahui riwayat
hidupku!”
”Go Bing atau Bu Bing hampir sama nada
ucapannya dan itu berarti kau sendiri tidak
mempunyai nama, tentang riwayatmu
sedikitpun Lohu tidak mengetahui, sekarang pertanyaan
sudah selesai!”
Go Bing menjadi geli dan angkat pundak,
pertanyaannya menjadi sia-sia, baru saja ia hendak
membuka mulut lagi, Sia-sin Kho djiang
sudah menggoyang tangan, “Kalau maasih ada
pertanyaan, tanyakanlah setelah kau selesai
mengerjakan tugasmu.”
Go Bing menelan ludah dan mengurungkan
ucapannya, tapi lanatas timbullah rasa sedih dalam
benaknya bahwa ternyata dirinya adalah
insan yang harus dikasihani tanpa mengetahui riwayat
sendiri. Suhunya sendiripun tidak
mengetahui, bukankah teka-teki riwayat hidupnya takkan
terpecahkan selama hidup ini. Go Bing, Bu
bing (tak bernama) sungguh tak terduga hanya nama
saja dirinya tidak punya.
Bagaimana dirinya sampai dibimbing dan
dibesarkan oleh Sia-sin Kho Djiang, tiada pangkal
mulanya yang dapat diingat. Mungkin dari
permulaan apa yang pernah dialami, dapat dicari
pangkal sumbernya, akan tetapi dia tahu
akan sifat aneh gurunya, tiada gunanya banyak tanya.
Satu2nya jalan hanya menunggu kesempatan
lain yang akan datang.
Mata tunggal Sia-sin Kho Djiang berkedi2,
katanya, “Siaucu dengarlah orang kedua yang harus
kau bunuh adalah Tiang-un Suseng….”
”Tiang-un Suseng (pelajar nestapa)?”
”Tidak salah, apa kau pernah dengar tentang
orang itu dikalangan kangouw?”
”Pernah kudengar, nama pendekar dan
kepahlawaman Tiang-un Suseng….”
“Bohong, nama kosong dan perbuatan palsu
kaum keroco di kalangan bulim sangat banyak!”
“Aku hanya dengar dari cerita sementara
orang.”
”Tiang-un Suseng tiada mempunyai tempat
tinggal tetap, kau harus lebih banyak mengeluarkan
tenaga untuk mencari jejaknya”.
”Mengapa kau orang tua tidak secara total
menyebutkan nama2 orang yang harus kubunuh,
kalau dapat sekaligus kubereskan bukankah
menghemat tenaga dan waktu untuk pulang pergi….”
”Siaucu ambekmu terlalu besar, apa kau kira
setiap orang yang harus kau bunuh ini sama rata
dengan Tji Khong sikepala gundul yang tidak
becus ini?”
“Maksudku orang yang harus kucari itu
mungkin tidak ketemu dan secara kebetulan dapa
kebentrok dengan yang lain….”
“Memang omonganmua sangat beralasan, tapi
apa yang pernah Lohu ucapkan tidak pernah
kujilat kembali.”
Go bing tidak membuka suara lagi, dengan
langkah lebar dia meninggalkan gua itu, sejak kecil
hidup bersama Sia-sin Kho Djiang sedikit
banyak sifat aneh gurunya itu menular pada muridnya.
”Siaucu kau kembali!”
”Kau masih ada omongan lagi?” Walaupun
Sia-sin tidak mengijinkan dia memanggil Suhu dan
harus memanggil Kho Lo-sia, tapi dia tidak
mau secara terang2an menyebut itu, sebab meskipun
hubungan mereka tidak resmi, tapi
hakekatnya adalah guru dan murid, dan sebab yang lebih
penting adalah bahwa dirinya senantiasa
harus berkelana di kalangan kangouw, sifat menyendiri
yang aneh sudah berdarah daging dalam
tubuhnya. Membunuh tji Khong hwesio merupakan
tugasnya yang pertama kali, sebelumnya
belum ada seorangpun yang mengenal dirinya
dikalangan kangouw.
Terdengan Sia-sin berkata haru, “ kalau kau
bertemu dengan orang yang dapat menggunakan
”Pek-pian-kui-djiau”, tidak peduli siapa
dia dan apa kedudukannya, kau tidak boleh turun tangan,
lebih penting lagi jangan kau katakan
jejakku ini, ingatlah hal ini.”
“Lalu mengapa?”
”Kenapa? kau tidak perlu tahu!”
”Masa, murid Sia-sin Kho Djiang harus
takut….”
”Kentutu, siapa bilang bocah macammu ini
adalah muridku?”
”Akan tetap kepandaian silatku dan cincin
iblis ini bukankah itu berarti mencuri kelintingan
menutupi telinga sendiri?”
”Berani banyak bacot lagi kubunuh kau.”
Apa boleh buat Go Bing angkat pundak terus
tinggal pergi keluar gua.
Mala itu juga dia tinggalkan gunung dimana
Suhunya bersemayam dan menginap disebuah
hotel. Terdengar olehnya banyak para tamu
penginapan itu tengah ribut2 mempercakapkan
tentang murid Sia-sin Kho djiang yang
muncul lagi dikalangan kangouw. Sekali gebrak
menanggalkan batok kepala Tji Khong hwesio
ketua biara Pek-hun-ko-sat.
Selama malang melintang dulu Sia-sin Kho
Djiang selalu menuruti kata hatinya, sifatnya jahat2
jantan, dikatakan sesat bukan karena dia
adalah penjahat besar yang laknat, adalah karena
sifatnya yang aneh semua perbuatannya
bertentangan dengan kehendak umum, dan lagi ilmunya
sangat tinggim maka orang2 memberikan
julukan Sia-sin (malaikat sesat) padanya.
Timbullah dugaan dalam benak Go bing,
mungkin peristiwa pembunuhan di Pek-hun-ko-sat
telah menggemparkan seluruh bulim, untung
selain para hwesio itu tiada seorangpun yang
mengenal wajah dirinya. Kalau cincin iblis
ditangannya tidak diketahui orang, asal-usul dirinya
masih dapat dirahasiakan, kalau tidak tentu
membawa banyak kesukaran akan tugas yang harus
dilaksanakan itu. Maka terpaksa ia
tanggalkan Mo-hoan dari jarinya dan disimpan di dalam
kantong bajunya.
2. MAYAT JELITA DIDALAM HUTAN
Waktu terang tanah dia tinggalkan
penginapan dan berjalan seenaknya dijalanan raja tanpa
tujuan yang menentu, Tiang-Un Suseng tidak
mempunyai tempat tinggal yang tetap, sedemikian
besar kangouw ini mencari seorang berarti
mencari sebatang jarum dilautan, disamping itu nama
Tiang-Un Suseng sangat disanjung puji
sebagai seorang pendekar budiman yang tenar, sekali dia
menemui ajalnya, geombang heboh kematiannya
itu dapatlah dibayangkan, akan tetapi perintah
guru bagaimanapun harus dilaksanakan.
Tapi bila teringat kejadian betap kejam
waktunya suhunya dikorek sebuah matanya dan kedua
kakinya dikutungi, ia maklum akan dendam
kesumat suhunya ini, mereka lebih dulu mencelakai
gurunya dengan cara keji dan busuk, kini
kalau dirinya membunuh mereka agaknya sangat
setimpal dan tiada salahnya.
Bagaimana wajah dan perawakan Tiang-Un
Suseng sedikitpun dia belum mengetahui,
seumpama bertemu ditengah jalan juga tidak
mungkin mengenalnya, lagipula tidak mungkin ia
tidak mungkin bertanya pada orang lain….
Tengah bejalan sebuah suara yang melengking
mengerikan bergema ditengah udara dari
kejauhan sana, suara itu membuat bulu kuduk
orang mengkirik mendengarnya.
Terkesiap hati Go Bing terbangun semangat
dari lamunannya, lalu dengan cermat dia pasang
kuping, tapi setelah suara jeritan itu tak
terdengar lagi suara lain atau reaksi apa2, dari arah suara
yang melengking tinggi itu agaknya tidak
jauh didepan jalanan sana, maka sebat sekali tubuh Go
Bing berkelebat melayang kedepan dengan
kecepatan bagai anak panah. Sebelah samping kanan
dari jalan itu adalah sebuah hutan kecil,
sebelah kiri adalah padang rumput yang luas tak berujung
pangkal, sekilas ia berpikir cepat2 ia
memutar arah memasuki hutan didepannya ini, kedua
matanya bagai kilat menyapu keempat
penjuru. Kira2 sepuluh tombak didepan sana tampak
sesosok tubuh seorang wanita rebah membujur
diatas tanah, baju atasnya hancur lebur, sedang
bawah tubuhnya tanpa mengenakan seutas
benangpun.
Seketika merah padam wajah Go Bing, hati
berdetak keras napaspun memburu, baru saja
hendak putar tubuh tinggal pergi,
sekonyong2 tergeraklah hatinya, bukankah suara jeritan
panjang tadi adalah suara seorang wanita
apa mungkin dia ini…. karena pikirannya ini ia putar
balik lagi sambil menahan gelora hatinya ia
maju mendekat dan melihat lebih tegas. Terlihat
olehnya orang itu adalah seorang gadi
remaja, keduanya matanya tertutup rapat dari lobang
panca inderanya mengalir darah segara,
kedua tangannya mencengkram kencang kedalam tanah,
bawah tubuhnya merah bernoda darah.
Tergetar kecut hati Go Bing, batinnya,
“mayat seorang wanita yang diperkosa dulu sebelum
dibunuh.”
Meski menghadapi sesosok mayat, namun bagi
jiwa muda yang belum pengalaman mengalami
gelora hidup manusia dan usia yang baru
menanjak dewasa seperti Go Bing hampir2 tidak kuat
menahan gejolak hatinya, terasa jantungnya
hampir melonjak keluar.
Tapi itu kejadian dalam sekejap saja,
lantas terpikir olehnya inilah tragedi mengenaskan yang
penuh diliputi suasana seram mengerikan,
gadis remaja ini kira2 baru berusi lma – enam belas,
mengapa diperkosa dan dibunuh orang? Lalu
siapakah dia, orang dari kalangan persilatan atau….
”Siapakah algojo yang berbuat demikian
kejam?”, ”harus dibunuh!” demikian ia menggumam
seorang diri. Lalu terpikir dalam hatinya,
“gadis ini diperkosa dan dibunuh oleh bangsat rendah
yang tidak bertanggungjawab, enggenaskan
dan harus dikasihani, aku tidak bisa membiarkan
jenasanya demikian saja, aku harus
menguburkannya!”.
Baru saja hatinya mengambil ketetapan,
mendadak terdengar suara dingin mengejek
dibelakangnya, “bukankah perbuatan sarudara
ini sangat telengas!”
Sungguh kejut Go Bing bagai disengat kala,
lekas2 ia memutar tubuh, dilihatnya tiga tombak
jauhnya berdiri seorang pemuda gagah yang
mencoreng pedang tengah mengawasi dirinya,
wajahnya membeku geram dan penuh hawa
membunuh.
Diam2 Go bing mengeluh, “ celaka, kalau
orang salah paham bagaimanapun susah
menerangkan peristiwa ini.”
Dari itu diapun balas bertanya dingin, “Apa
yang kau katakan?”
”Disiang hari bolong, saudara berani
memperkosa dan membunuh seorang wanita lemah….”
”Tutup mulutmu!” hardi Go Bing dengan
amarah yang menggelora didada, ”Dengan alasan apa
kau memfitnah orang semena2?”
”He he he he, saudara tak perlu main debat,
kenyataan didepanmu itu membuktikan …………”
“Sekali lagi kau berani buka bacot kubunuh
kau!”
Wajah beku pemuda itu berobah abu2, maju
berapa langkah dia memandang atajam kearah
mayat wanitu itu, mendadak ia menggerung
gusar dan memaki, “bangsat cabul, beani kau
memperkosa dan membunuh tunanganku, kalau
hari ini aku tidak mencacah jiwam, aku
bersumpah tidak menjadi manusia!” sambil
berkata2 itu tubuhnya menerjang maju sambil
menggerakkan kedua tangannya melancarkan
serangan hebat.
Mendengar sikorban adalah tunangan orang,
timbullah rasa simpatik dalam benak Go Bing,
tanpa membalas dengan ringan sekali ia
berkelit kesamping delapan kaki sambil berseru; ”hai,
berhenti dulu!”
Bagai tidak mendengar sipemuda masih
lancarkan lagi dua pukulan keras dengan kalap.
Laig2 Go bing harus melejit kesamping,
“Sret” seketika sinar terang berkilatan, kiranya si
pemuda telah menjoreng pendang panjang, dan
belum sempat Go Bing membuka suara lagi, sei
pemuda telah berteriak panjang, pedang
ditangannya menusuk enteng kedepan, kelihatannya
tusukan ini biasa saja tapi sebenarnya
mengandung perubahan tersembunyi yang susah diukur
kehebatannya, sebelum ujung pedang menusuk
tiba didepan tubuh, susahlah diduga sasaran
mana yang diincarnya, dari sini dapatlah
diketahui bahwa ilmu pedang si pemuda sudah hebat dan
sempurna betul.
Bagai bayangan setan iblis lagi2 tubuh Go
Bing berkelebat menghilang, mulutnyapun berseru,
“Inilah jurus ketiga!”
Begitu sipemuda lancarkan tusukannya,
bayangan musuh seketika menghilang, mala suaranya
terdengar dibelakangnnya, keruan hatinya
tergetar kecut, sambil kertak gigi ia ayunkan
pedangnya kebelakang sambil memutar tubuh,
gerak perobahan yang cepat ini benar2 membuat
orang kagum meleletkan lidah, namun
demikian kepandaian lawan beberapa tingkat lebih tinggi
dari kemampuannya.
”Lepas tangan!” ditengah bentakan dingin
itu, sipemuda rasakan pergelangan tangan tergetar,
tahu2 pedang panjangnya sudah terampas oleh
lawan, saking kecut serasa jiwanya melayang ke
awang2, dengan ketakutan ia mundur beberapa
langkah. Ia menyesal karena memandang rendah
kepandaian musuhnya ini.
Go Bing membolang-balingkan pedang, lalu
melontarkan balik sambil berseru, “Sambutlah.”
Sipemuda menyambut pedang wajahnya berobah2
tak menentu.
Go bing mendengus sekali lalu bertanya,
“Sikorban ini benar2 adalah tunanganmu?”
“Tidak salah!” sahut sipemuda sambil kertak
gigi.
”Kau belum memeriksa lantas dengan alasan
apa kau menuduh orang seenakmu dewek?”
”Aku hanya melihat kau disini, masa bisa….”
”Aku mendengar teriakan mengerikan lalu
bergegas memburu tiba, selain si korban ini tak
kulihat bayangan seorangpun, kalu dia
benar2 adalah tunanganmu, tentu kau dapat mencari
sumber penyelidikanmu….”
Pada saat itulah sebuah bayangan langsing
terbang tiba dalam gelanggang pertempuran, waktu
Go Bing menoleh ternyata sipendatan ini
adalah seorang gadis ayu jelita, wajahnya cerah secantik
bidadari.
Si pemuda berseru girang dalam dukanya,
“Hun-ci, lihatlah adik Moay….”
Si Gadis memutar bola matanya melihat
jenasah diatas tanah, seketika ia terbelalak ngeri dan
berobah air mukanya, mulutnya memekik
keras, ”Li Bun siang apakah yang telah terjadi?”
Kirnya nama sipemuda adalah Li Bun siang.
Li Bun siang tergagap sambil menunjuk Go Bing,
“Dia….”
Bergegas sigadis maju sambil melepaskan
mantelnya terus ditutupkan ditubuh adiknya,
seketika air mata membanjir bagai air
mancur, pekiknya penuh duka, “Adik Moay, biar cicimu
membalas sakit hatimu ini”.
Memutar tubuh dia menghadapi Go Bing wajah
jelita itu menunjukkan nafsu membunuh yang
menggelora, serunya bengis, “Bangsat, aku
siang Siau-hun berumpah pasti membeset kulitmu dan
mencacah jiwamu”
Go Bing berseru gugup, “ Nona, aku….”
Saking dka hati Siang Siau hun terasa bagai
diiris2.
”Serahkan jiwamu!” bentaknya diserai
serangan kilat menjojoh muka Go Bing sedang tangan
yang lain bergerak seperti cakar garuda
mencengkram keuluh hatinya betapa kejam dan ganas
serangan ini sekaan2 sekali gebrak ingin
rasanya mengkeremus Go Bing.
Bagaimanapun tajam mulut Go bing susahlah
memberi penjelasan, baru saja ia berkelit
kesamping lantas terasa samberan angin
dingin dari belakangnya, tahu dia bahwa Li Bun siang
telah mencuri kesempatan ini untuk
membokong dirinya, dibawah gencatatan dari depan dan
belakang, musuhpun bukan lawan enteng, cara
turun tangannyapun secepat kilat, dalam keadaan
gawat itu, tak sempat serangan Siang Siau
hun dihiraukan sambil miringkan tubuh ia lancarkan
sebuah pukulan menerjang kearah Li Bun
Siang.
”Blang!” disertai suara tertahan pukulannya
membuat Bun siang terpental jauh membawa
pedangnya, tapi punggungnya sendiripun
tidak urung kena terpukul oleh serangan siang Siau hun
tubuhnya terhuyung maju.
Tergetar hati Siang Siau hun bahwa
pukulannya itu dilancarkan dalam kegusarannya yang
memuncak telah menggunakan seluruh
tenaganya, seumpama batu gunung yang keraspun pasti
hancur lebur, tapi tidak demikian dengan
lawan ini, bukan saja tidak terluka mala timbul suatu
tenaga mental balik dari tubuh lawan hingga
tangan sendiri tergetar dan linu kesakitan. Namun
gejolak hati ini hanya sekilas saja
merisaukan hati, pada lain kejap kedua tangannya bergerak dan
tubuh melejit menyerang Go Bing lagi.
Mau tak mau Go Bing harus ambil keputusan
nekat dan tegas, kalau lawan tidak ditundukkan
hakikatnya tiada kesempatan baginya untuk
memberi penjelasan, sebenarnya dengan
kepandaiannya gampang saja tinggal pergi
tapi dengan tuduhan dosa tak terampunkan itu kalau
tersiar luas dikalagan kangouw susahlah
dibayangkan akibatnya, sambil berpikir2 itu kedua tangan
bergerak melingkar dan menyapu, seruang
keras tertahan segera terdengar Siang Siau hun
tersurut mundur lima langkah, dari mulut
kecilnya melelh keluar darh segar. Gerak gerak Go bing
tidak berhenti sampai disitu, sebat luar
biasa ia memutar tubuh terus melesat tiba didepan Li Bun
siang, dari sampai dilancarkan sebuah
pukulan, tanpa sempat menggerakkan pedangnya Li Bun
siang mendem keras badannya meliuk dan
jatuh duduk diatas tanah.
Perlahan2 Go Bing putar tubuh menghadapi
Siang Siau hun ujarnya, “Siang-kohnio, maafkan
perbuatanku ini, aku tidak sengaja hendak
melukaimu, tapi kau terlalu mendesak hingga terpaksa
aku harus turun tangan.”
”Bangsat cabut, ingin nonamu ini mencacah
tubuhmu dan minum darahmu….”
”Nona sukalah kau dengan sepata kataku?”
Siang Siau hun sudah nekat, matanya merah
membara tubuhnya gemetar saking duka dan
gusarm wajahnya membesi tanpa ekspresi,
tangan diangkat lagi2 ia hendak lancarkan
serangannya….
Pada saat2 genting inilah sebuah bayangan
tinggi lencir mendadak terbang datang dari
belakang phon lima tombak sana, sekali
berkelebat bayanga ini sudah berdiri dihadapan mereka,
bayang ini ternyata adalah seorang yang
mengenakan pakaian hijau.
Siang siau hun sudah pasti bahwa si algojo
yang membunuh dan memperkosa adiknya adalah
Go bing, ingin rasanya menelan musuh ini
bulat2. makanya munculnya si orang berkedok ini
sedikitpun tidak dihiraukannya, adalah Go
Bing malah melihat tegas, cara orang baju hijau ini
bergerak sungguh sangat aneh dan
menakjubkan ginkang orang ini.
”Nona berhenti sebentar!” seru orang
berkedok itu, suaranya dingin menggiriskan tubuh
membuat bergidik pendengarnya.
Berdetak jantung Siang Siau hun,
serangannya dibatalkan lalu mundur satu langkah, baru
sekarang ia melihat kehadiran si baju hijau
berkedok yang berdiri didepannya. Suara kata dingin
tadi terang diucapkan olehnya, Maka dengan
gemes ia bertanya , “Siapa tuan ini?”
”Orang lewat!” sahut siorang berkedok
seenaknya.
”Hm, apa tujuan tuan muncul disini?’
”Untuk melerai!”
”Apa maksudmu?”
”Kepandaian nona tidak lemah, tapi kau
masih bukan lawan engkoh kecil ini!”.
Siang siau hun mengangkat alis, serunya
geram, “Aku ingin mencacah hancur tubuhnya.”
“Karena adikmu dibunuh dan diperkosa?”
”Ya, tuan orang lewat, silahkan lanjutkan
perjalananmu!”.
”Dengan alasan apa nona memastikan bahwa
engkoh kecil ini adalah sipembunuh yang
memperkosa adikmu itu?”
”Ini….” Siang siau hun melengak bungkam,
tergugahlah hatinya, karena pertanyaan ini seketika
ia terhenyak ditempatnya, bola matanya
melirik kearah Li bun siang yang berdiri disamping sana.
Dengan haru dan rasa terima kasih yang tak
terhingga Go Bing meliring kearah siorang
berkedok, terdengan si orang berkedok bicaa
lagi, “dalam peristiwa ini Lohu dapat menjadi saksi.”
“Saksi?” jengek Siau siau hun dengan
geramnya.
“Ya!”
”Punya bukti apa kau hendak menjadi saksi,
apa kau tahu siapa pembunuh itu?”
“Engkoh kecil ini datang kemari setelah
mendengar teriakan adikmu yang sudah menjadi
korban, ini Lohu melihat sendiri.”
Siang Siau hun mendesak maju dan berseru
haru, “jadi tuan mengetahui siapakah pembunuh
itu?”
“Sudah tentu!” sahutnya, dua jalur sinar
dingin mencorong keluar dari belakang kedoknya
menatap kearah Li Bun Siang.
Li Bun siang bergidik lemas, serunya gugup,
“Hun-ci waktu aku memburu tiba, kulihat bocah ini
tengah berdiri disamping jenasah adik Moay,
dia….”
Mata Go Bing pun tidak kalah tajamnya dan
bengisnya menyapu Li Bun siang, suaranya
mendesis, “Siaucu mengingat si korban ini
adalah tunanganmu, aku tidak ambil panjang urusan
ini, kalau tidak sejak tadi sudah kulumas
nyawamu, berani kau memfitnah semen2 tanpa bukti?”
Suara siorang berkedok dingin menyambung
ucapan Go Bing, “Tapi Lohu melihat kau berlari
pontang panting dan kembali lagi, waktu
engkoh kecil ini datang tadi kebetulan kau baru saja lari
pergi….”
“Bohong, dia adalah tunanganku, masa….”
Dengan penuh kecurigaan Siang Siau hun
bertanya pada orang berkedok, “Apakah keterangan
tuan ini dapat dipercaa?”
”Apa faedahnya aku berbohong!”
Pucat pias wajah Li Bun Siang, tubuhnya
gemetar keras.
Siang siau kun berbalik menghadapi Li Bun
siang, sinar matanya mengandung kebencian yang
menyala2, hardiknya bengis, “Li Bun siang
coba kau katakan!”
Mendadak Li Bun siang menggembor keras
bagai orang gila, tubuhnya terkapar jatuh, kedua
tangannya mencakar dan menggaruk keseluruh
tubuhnya hingga seketika itu bajunya dedel dowel
hancur lebur. Perobahan mendadak yang tidak
terduga ini membuat ketiga orang lainnya bercekat
hatinya dan berdiri kesima.
Gesit sekali tubuh orang berkedok melejit
maju mendekat, jari tangan menutuk dari jauh
mengarah jalan darah Tiong-tong, jalan
darah kematian didada Li Bun siang, setelah berkelejet
sekali tubuh Li Bun siang diam tak
bergerak, mati!
Bergetar hati Go Bing, sebelum sempatia
buka suara, Siang Siau hun sudah memburu maju
beberapa langkah, matanya menatap tajam
sambil menuding orang berkedok suaranya gemetar,
“Tuan, apa maksudmu ini?
“Membebaskan dia dari penderitaan!”
”Apa bebas dari penderitaan?”
”Ya.”
Ucapan ini seakan menhentikan napas Go Bing
dan Siang siau hun, wajah mereka
menunjukkan perasaan penuh curiga dan
ketakutan.
Siorang berkedok menggeleng kepala,
ujarnya, “Lohu terburu nafsu menyalahkan dia”
“Jadi dia mati terbokong?” tanpa merasa
tercetus pertanyaan dari mulut Go Bing.
Dengan suara sangat haru siorang berkedok
berkata kepada Siang Siau hun, “Nona siang, coba
kau lihat cara kematiannya itu apakah sama
dengan kematian adikmu?”
Go bing dan Siang Siau hun berseru kaget
hampir bersamaan, “tujuh lobang (panca indra)
keluar darah.”, memang darah melelh keluar
dari mata, hidung, kuping dan mulut Li Bun siang.
Suara siorang berkedok kini tidak lagi
dingin dan menggiriskan, tapi berobah haru dan sember,
“Adikmu ini bukan mati lantaran diperkosa,
tapi karena keracunan!”
“Keracunan?” tergetar suara Siang Siau hun.
”Ya, setelah Lohu meliat bocah ini baru
mendadak aku teringat, kalau dugaanku tidak salah
racun jahat ini adalah yang sering
dikabarkan sebagai bisa paling lihai bernama racun tanpa
bayangan….”
”Racun tanpa bayangan?”
”Ya, racun tanpa bayangan! racun tanpa
bayangan ini boleh dikata merupakan racun yang
paling jahat dikolong langit ini, kalau
racun ini bekerja dalam tubuh terasa sangat panas, seluruh
tubuh gatal2 susah ditahan, maka
sipenderita menggaruk dan mencakar badan sendiri, setelah
mati darah merembes keluar dari panca
indra, selayang pandang tidak kentara adanya bekas2
keracunan, hampir mirip benar karena mati
tergetar remuk oleh pukulan berat, maka itu
dinamaakan racun tanpa bayangan.”
Mendengar keterangan ini Go Bing menghela
napas dalam, sungguh ajaib bahwa didunia ini
ternyata ada bisa yang sedemikian jahat.
Siang Siau hun sesungukan menutupi mukanya,
Lagi2 suara siorang berkedok bertanya, “Apa
nona mempunyai musuh besar atau….”
”Tidak ada!” jawab Siang Siau hun sambil
mengusap air mata, “Apalagi adikku belum penuh
berusia enam belas, selama ini belum pernah
kelana di kangouw, sudah tentu tak perlu diragukan
adanya musuh besar apa segala, adalah
kematiannya ini yang membuat aku tak habis mengerti.”
”Lalu saudara kecil ini?”
”Dia bernama Li Bun siang, kawan karib
adikku sejak kanak2, diapun jarang kelana di Bulim.”
Go Bing turut bicara, “Apakah adikmu
membawa suatu benda apa yang bisa membuat tokoh
kangouw mengincar dan ingin merebutnya?”
”Ya, itu satu kemungkinan” sambungnya
siorang berkedok sambil manggut2.
Siang Siau hun mengiakan, tapi lantas
menggeleng kepala.
”Benar2 tidak!”
”Tidak!”
“Inilah mengherankan, mengapa orang
membunuh adikmu dan Li Bun siang ini, coba nona
pikir2 lagi, sebelum kalian tiba disini,
apakah suatu peristiwa terjadi yang harus diambil perhatian.”
Mendadak Siang siau hun melompat maju
menubruk kearah jenasah adiknya.
Siorang berkedok membentak keras” ”jangan
sentuh!” ~ disusul tubuhnya menyambar maju
dengan kecepatan yagn susah diukur ia
menghadang didepan Siang Siau hun, sekuatnya Siang
Siau hun menghentikan luncuran tubuhnya,
tanyanya kaget, “Mengapa jangan?”
”Menurut kabarnya, racun tanpa bayangan ini
melebar keseluruh tubuh sikorban, kalau nona
menyentuh kulitnya saja tentu kaupun akan
mengikuti jejak adikmu bersama Li Bun siang itu.”
Mengkirik bulu tengkuk Siang siau hun,
keringat dingin membasahi tubuhnya.
”Nona ada menemukan apa?” tanya siorang
berkedok lagi.
Dengan rasa pedih dan pilu Siang Siau hun
memandang jenasah adiknya, sahutnya, “Mendadak
teringat olehku suatu perstiwa….”
“Peristiwa apa?”
Karena heran dan ingin tahu perkembangan
selanjutnya Go Bing urungkan niatnya hendak
tinggal pergi, ia maju mendekat sambil
pasang kuping.
Kata Siang Siau hun, “Kira2 sepuluh li
didepan jalan tadi kita bertiga bertemu dengan seorang
tua yang sudah hampir menemui ajalnya,
karena terluka berat, dititipkan kepada kita bertiga
sebuah barang yang minta tolong supaya
dihantarkan ke Yok-ong bio diluar kota Seng-toh, barang
itu harus langsung diserahkan kepada ketua
kelenteng itu, karena kasihan kita….”
“Lalu kalian melulusi hendak menyampaikan
barang itu?” tukas siorang berkedok cepat.
”Ya, memang tujuan kitapun hendak ke
Seng-toh.”
”Barang apakah itu?”
”Agaknya sebuah kotak panjang yang
dibungkus kain berminyak.”
”Mana barang itu?”
”Disimpan oleh adikku!, justeru tadi aku
hendak memeriksa apa barang itu masih ada
ditubuhnya.”
”Coba nona periksa menggunakan dahan
pohon.”
Siang Siau hun menjemput sebatang dahan
pohon sebesar lengan lalu mengcungkil-cungkil
baju yang hancur lebur dan membalikkan juga
tubuh adiknya, tapi apapun tidak kelihatan, dengan
kejut dan keheranan ia berseru, “Sudah
hilang!”
Siorang berkedok manggut2, ujarnya,
“disitulah pangkal mula peristiwa ini, barang itu pasti
suatu benda berharga di bulim, mungkin
siorang tua yagn sudah dekat ajal itu memang terluka
berat dan terpaksa minta bantuan kalian
untuk mengantarkanb enda itu, dan juga mungkin karena
dikejar2 musuh besar, lalu pura2 terluka
berat dan hendak mati, menitipkan barang itu kepada
kalian adalah untuk mengelabuhi musuhnya
itu, tapi bagaimana adikmy lantas bisa keluyuran
seorang diri….”
”Adikku masih bersifat kanak2 karena
sedikit selisih mulut dia lantas berlari mendahului kita,
aku dan Li Bun siang tidak ambil perhatian,
berjalan seenaknya dibelakang, akhirnya karena kuatir
seorang diri Li Bun siang berlari menyusul
kedepan dan aku bejalan paling belakang, sungguh tak
terduga….” bicara sampai disitu Siang siau
hun tidak kuat lagi meneruskan penuturannya, air mata
mengucur semakin deras.
Siorang berkedok berdehem berat, lalu
katanya, “Benar, menurut dugaan Lohu, buntalan itu
pasti berisi suatu benda pusaka apa yang
sangat berharga di Bulim, sipembunuh mungkin adalah
siorang tua yang pura2 terluka dan hampir
mati itu, setelah tipunya dapat mengelabuhi
musuh2nya, secepat terbang dia menyusul
tiba dan membunuh adikmu untuk menutupi mulutnya,
bahwa dia menggunakan racun tanpa bayangan
tujuannya adalah hendak sekaligus secara tidak
langsung hendak membunuh kalin bertiga,
dalam perhtitungannya setelah adikmu mati tentu
kalian akan menyentu tubuhnya dan ini
berarti sekali panah terkena tiga ekor burung, akan tetapi
juga kemungkinan adalah perbuatan musuh
yang mengejar siorang tua hampir mati itu, setelah
dapat mengetahui tipu licik orang tua
hampir mati itu dia menyusul tiba terus membunuh adikmu!”
Tanpa terasa Go Bing mendengus sekali dan
menggumam, “jahat, harus dibunuh!”
Mendengar itu Siang siau hun melirik kearah
Go bing, tergerak hatinya baru kini didapatinya
pemuda yang salah sangkanya sebagai
pembunuh adiknya ini ternyata adalah seorang pemuda
yang cakep ganteng, tapi wajah yang ganteng
itu bersemu hawa pembunuhan yang lebat, daya
tarik laki2 jantan menyedot hatinya, tanpa
terasa ia membungkuk minta maaf; “Sukalah
dimaafkan kecerobohan ku tadi”
”Tidak menjadi soal,” sahut Go Bing kaku.
”Bolehkan kuketahui nama besarmu?”
Berputarlah otak Go Bing, waktu di Pek hun
ko sat ia pernah menyebut namanya sebagai Go
Bing kalau sekarang dikatakan bukankah akan
membuka rahasia dirinya, hal itu tentu tidak
menguntungkan dirinya untuk menuntut balas
sakit hati gurunya kelak. Apabila Go Bing itu berarti
dirinya tidak mempunyai nama, karena
pikiran ini dengan tawar dia menyahut, “Aku seorang
keroco dari kangouw, kiranya tidak perlu
nona mengetahui namaku.”
Merah jengah wajah siang Siau hun,
berpaling muka dia bertanya kepada siorang berkedok,
“Apakah cianpwe mengetahui siapa2 kiranya
yang menggunakan racun tanpa bayangan itu
dikalangan kangouw?”
Sejenak siorang berkedok berpikir lalu
berkata, “Racun tanpa bayangan hanya kudenganr dari
cerita orang saja, menurut keadaan kematian
adikmu itu persis benar dengan kabar cerita itu, jadi
itu hanya dugaanku saja, benar atau tidak
belum tentu dapat dipastikan, namun dikalangan
kangouw sekarang ini yang merajai
menggunakan racun berbisa terhitung Pak-tok Tangbun Lu
seorang….”
”Apa tidak mungkin Pak-tok (racun utara)
yang turun tangan?”
“Tidak mungkin!”
”Kenapa?”
”Selain pandai menggunakan racun juga ilmu
silat Tangbun Lu lihat jarang ada tandingannya
didunia persilatan. Selama hidup ini dia
hanya punya seorang musuh yang paling ditakuti, itulah
Sia-sin simalaikat sesat Kho Djiang yang
berjuluk Lam-sia (sesat dari selatan)….”
Bicara sampai disini dengan sengaja siorang
berkedok merandek dan entah sengaja atau tidak
matanya melerok kearah Go Bing.
Mendengar orang menyinggung nama gurunya,
tergerak hati Go Bing, namun sejak kecil dia
sudah digembleng simalaikat sesat, tindak
tanduk Sia-sin yang bertentangan dengan kebiasaan
umum sedikit banyak membawa pengaruh pada
jiwanya, perobahan perasaan hatinya tidak
kentara dari lahir wajahnya, pikirnya :
kalau kepandaian racun utara sudah jarang menemui lawan
didunia persilatan apalagi merupakan musuh
bebuyutan suhuna, bukankah itu berarti bahwa
kepandaian suhu mungkin lebih tinggi dari
racun utara ini, lalu bagaimana terjadinya suhu sampai
celaka dibawah tangan orang? Tanpa merasa
mulutnya terpentang bicara, “Antara sesat dari
selatan dan racun utara itu siapakah lebih
kuat dan lemah?”
”Ilmu Hian-In-kang dari racun utara boleh
dikata sukar dicari tandingannya, tapi Kiy-yan-sinkang
dari Lamsia justeru merupakan lawan
mematikan bagi ilmu Hian-In-kang itu, tapi karena
racun utara berkelbihan pandai menggunakan
bisa maka mereka masing2 memiliki kelebihan dan
kelemahan sendiri2”
”Tadi cianpwe belum memberi penjelasan
mengapa racun utara tidak mungkin turun tangan?”
Siang Siau hun mengajukan pertanyaan lagi.
Siorang berkedok manggut2, sahutnya,
“Pertama: racun utara sangat menjunjung tingkatan
dan kepandaianya tentu tidak mungkin ia
turunkan tangan jahat kepada tingkatan rendah, hal ini
semua orang dikalangan kangouw tentuk
maklum, kedua seumpama terdesak oleh keadaan
dengan kepandaian silatnyapun tidak perlu
dia menggunakan racun, ketiga, sudah belasan tahun
dia tidak pernah muncul didunia persilatan,
maka kukatakan….”
Bola mata Siang Siau hun berputar, “Apa
tidak mungkin perbuatan anak muridnya?”
Siorang berkedok ragu2, lalu sahutnya, “Ya,
itu kemungkinan.”
”Aku bersumpah harus mencari tahu perbuatan
siapa ini, untuk menuntut balas bagi kematian
adikku dan Li Bun siang.”
Suara Go Bing dingin kaku menyambung,
“Secara kebetulan aku memergoki peristiwa ini, akan
kubantu sekuat tenaga untuk menyelidiki
siapa pembunuh adikmu itu.”
Ucapan ini diluar dugaan Siang Siau hun,
sungguh dia tidak habis mengerti bagaimana watak
dan tindak tanduk pemuda ini sebenarnya,
bukan saja dingin dan garang serta congkak, namun
ucapannya itu menunjukkan pula sifat
jujurnya, sinar matanya lagi2 menatap wajah cakep
ganteng yang mengandung daya tarik bagi
semua lawan kelaminnya, lupa akan sifat dingin dan
congkak orang terhadap dirinya, dengan
suara lembut ia berkata, “Saudara menjunjung keadilan
dan kebenaran, biarlah sebelumnya aku
mengucapkan terima kasih.”
Go Bing ulapkan tangannya, ” itupun tidak
perlu, aku bukan pendekar yang suka menanam
budi, tadi sudah kukatakan secara kebetulan
saja aku memergoki peristiwa ini, terpaksa aku harus
ikut campur.”
Sahutan ini membuat Siang Siau hun hampir
susah bernapas saking dongkol, raut mukanya
mengelam dan sahutnya, “Kalau begitu tak
berani aku menyusahkan saudara.”
Go Bing menarik muka wajahnya membesi,
“turut campur atau tidak adalah urusanku, nona
tidak perlu banyak komentar, selamanya aku
melakukan apa kata isi hatiku, tiada sangkut pautnya
dengan orang lain dan orang lainpun tidak
perlu memberi pendapat.”
Ucapan yang seakan2 benar tapi juga seolah2
tidak mengenal perasaan ini membuat Siang Siau
hun serba susah, serunya jengkel, “ saudara
yang menjadi korban adalah adikku….”
”Adikmu adalah orang persilatan.” tukas Go
Bing tegas, “Sudah tentu sipembunuh itu jug
aorang persilatan, orang persilatan
mengurus persoalan bulim, lalu apanya lagi yang salah?”
”Orang aneh ucapannyapun aneh” gerutu Siang
Siau hun sambil berpaling muka, tapi setelah
mengatakan itu ia merasa ucapannya rada2
kurang sopan, merah jengahlah raut wajahnya.
Siorang berkedok turut bicara lagi, “Nona
Siang, urusan selanjutnya disini biarlah kau bereskan
sendiri, Lohu akan mencari jejak siorang
tua luka berat hampir mati itu, akan kuperiksa sepanjang
jalan sepuluh li ini, jikalau benar jenasah
orang itu itu berada disana, maka kau harus mencari
tahu ke Yong-ong-bio di Seng-toh itu, atau
sebaliknya inilah tipu muslihat orang2 licik dari dunia
persilatan, kalau tidak bisa mencari tahu
barang macam apakah dalam buntalan itu, maka
susahlah untuk mencari tahu siapakah
sipenyebar racun itu.”
Siang Siau hun terharu dan dan sangat
berterima kasih. ”Cianpwe seorang budiman yang suka
membantu kesukaran oran glain, tapi
bagaimana baik menyukarkan….”
“Hahahaha, nona Siang, bukankah
Thay-kek-tjhiu siang Se-ing adalah ayahmu?”
”Lho apa cianpwe kenal pada ayah?”
“Boleh dikata sahabat lama, maka sudah
tentuk dalam peristiwa ini Lohu harus turut campur!”
Merah kedua mata Siang Siau hun ia
membungkuk memberi hormat serta berkata, “Kalau
begitu cianpwe adalah seangkatan dengan
ayah, harap sukalah memberitahu nama….”
“Jangan, tak usah” tukas siorang berkedok,
“Sudah lama Lohu mengasingkan diri dan
melupakan nama sendiri.”
Lalu ia berputar berkata pada Gi Bing,
“Saudara kecil apa kau ada minat turut pergi menyelidiki
kedepan sana?”
Otak Go Bing berkerja cepat, “Agaknya orang
berkedok ini berpengalaman luas dikalangan
kangouw, menggunakan kesempatan ini baik
aku bersahabat dengan dia, dari mulutnya mungkin
aku dapat meencari tahu jejak Tiang-Un
Suseng!” oleh karena itu segera ia melulusi, “Memang
aku bermaksud demikian!”
“Kalau begitu marilah segera kita
berangkat.”
Dua sosok bayangan dengan kecepatan seperti
meteor terbang menghilang dari pandangan
mata, tanpa terasa lagi2 dari mulut Siang
Siau hun tercetus kata2nya, “manusia yang bersifat
aneh!” dalam benaknya terkandung suatu
perasaan yang menyegarkan tubuhnya, seakan2 ia
kehilangan sesuatu dan seolah2 menemukan
sesuatu apa pula!
3. MEMPEREBUTKAN PEDANG BERDARAH
Dalam pada itu, dengan kecepatan lari Go
Bing dan orang berkedok itu dalam waktu singkat
sepuluh li sudah dicapai, sepanjang jalan
sudah mereka teliti dan selidiki namun tidak diketemukan
seperti apa yang diceritakan Siang Siau hun
tentang orang tua yang terluka berat dan hampir
mati, jangan kata mayatnya bayangannya saja
tidak kelihatan.
Siorang berkedok menghela napas, katanya,
“gelombang perkitaian dikalangan kangouw sangat
berbahaya, agaknya lagi2 suatu peristiwa
yang susah dipecahkan.” Gerak kaki mereka semakin
lamban, Selama dalam perjalanan sudah
berulang kali Go bing hendak membuka mulut
menanyakan tentang jejak Tiang-Un Suseng,
tapi tidak tahu dia darimana ia harus membuka
mulut.
Siorang berkedok telah membuka mulut lagi,
“Saudara kecil kemanakah tujuanmu?”
”Tiada tujuan yang menentu, kemana2pun
boleh jadi.”
”Lohu ingin bersahabat dengan kau,
bagaimana pendapatmu?”
”Hal ini…. sudah tentu boleh!”
”Saudara kecil lulus dari perguruan mana?”
Go Bing ganda tersenyum, katanya, “Kita
mengikat persahabatan sejati saja, bagaimana?”
”Apa yang dinamakan persahabatan sejati?”
”Tuan tidak perlu menanyakan asal usul dan
riwayatku, akupun tidak usah menanyakan nama
atau gelaranmu, umpamanya kalau aku minta
kau menanggalkan kedokmu, itu bukankah
membuat kau serba susah, kalau tuan
mengenakan kedok itu tentu mempunyai kesukaran sendiri.
Maka itu kita mengikat persahabatan sejati,
dua belah pihak sama membawa keuntungan
masing2.”
Siorang berkedok tertawa gelak2, serunya,
“tepat, sungguh tepat! Tapi lantas bagaimana
memanggil nama masing@?”
”Dilihat dari usia tentu kau jauh lebih
tua, baiklah kupanggil kau Bong-bian-heng (kakak
berkedok), tentang aku, terserah kau mau
panggil aku apa?”
”Bagus sekali, aku lebih tua dan menjadi
kakak, baiklah kupanggil kau “Saudara kecil” saja?”
”Aku sih menurut saja.”
”Saudara kecil kalau kau tiada apa2 yang
perlu dikerjakan….”
”Yang dimaksud tiada tujuan tertentu adalah
sekarang ini,” demikian tukas Go Bing memberi
penjelasan, “Kelak tidak termasuk dalam
maksudku itu.”
”Baiklah kita persoalkan sekarang ini, kau
ikut aku pergi ke suatu tempat, lalu kita sama2 pergi
menyelidiki barang yang dititipkan non
Siang dan telah tercuri hilang itu, asal kita dapat
menemukan barang itu, tentu mudah saja kita
mengejar sipembunuh yang telah meracuni adik
nona Siang dan Li Bun siang itu.”
“Kemana Bong-bian-heng hendak pergi?”
panggilan ini boleh dikata tidak berarturan dalam
garis sopan santun, dasar murid Sia-sin
yang terkenal sesat dan suka membangkang dari garis
umum sedikit banyak Go Bing ketularan sifat
gurunya itu, sedikitpun ia tidak ambil peduli pendapat
itu, justeru siorang berkedokpun tidak
ambil perhatian malah ia tertawa geli dalam hati.
”Pergi menyambangi seorang sahabat lama.”
”orang macam apakah dia?”
”Sahabatku itu sudah meninggal dunia.”
”Lalu….”
”Pergi sembayang dideapan kuburannya.”
”Oh, jadi begitu!”
Selama dua jam Go Bing mengintil dibelakang
siorang berkedok sampailah mereka didepan
sebuah lereng gunung kecil, benar juga
disana dilihatnya sebuah gundukan tanah tinggi diantara
semak2 rumpun bambu.
”Inilah dia.”
”Berapa lama sahabatmu meninggal?”
”Belum lama ini.”
Dalam berkata2 itu mereka sudah tiba
dideapan kuburan, waktu Go Bing angkat kepala
memandang batu nisan, seketika tubuhnya
tergetar hebat, meski sudah sekuat tenaga ia menekan
gelora hatinya, tapi tidak urung air
mukanya berobah juga, sebab apa yang dihadapinya ini benar2
diluar dugaannya, hampir saja ia tidak
percaya akan apa yang dilihatnya.
Diatas batu nisan itu jelas tertulis
”Tempat istirahat Tiang-Un Suseng Po Djiang”. Delapan
hurup besar.
Dia mendapat tugas dari gurunya untuk
memenggal kepala Tiang-Un Suseng, sungguh tak
terduga olehnya bahwa orang yang tengah
dicari itu ternyata sudah terpendam dalam tanah.
Setiap kali ia menyelesaikan tugas gurunya
melulusi untuk menjawb satu pertanyaannya,
sebetulnya segala ap yang ingin diketahui
terlalu banyak, sekarang kesempatan untuk bertanya itu
mungkin sudah ludas, justeru yang paling
penting dan dikuatirkan mungkin gurunya akan
menyesal dan berdua karena kematian musuh
besarnya ini.
”Saudara kecil, agaknya kau sangat haru?”
tanya siorang berkedok.
Sadari dari lamunannya terkejutlah hati Gio
Bing, sahutnya segera, “ya, betul memang sangat
mengharukan!”
”Apa kau kenal dengan Tiang-Un Suseng?”
”Tidak kenal orangnya tapi pernah kudengar
namanya, menurut kabarnya dia seorang
pendekar yang menunjung pribudi, namanya
tegar dan cemerlang, entah mengapa dia meninggal
dunia?”
”Dia meninggal karena menghabisi jiwanya
sendiri.”
”Bunuh diri?”
“Ya, benar”
“Kenapa?”
”Julukannya saja Tiang-un (selalu berduka),
sudah tentu dia seorang yang membenci dunia
fana ini, akan tetapi yang mendorong dia
nekat membunuh diri karena akhir2 ini dia sadar bahwa
dahulu kala dia pernah melakukan perbuatan
tercela, maka dia bunuh diri untuk menebus dosanya
itu.”
Tergerak hati Go Bing, tanyanya lagi,
“entah perbuatan apakah itu, masa sedemikian berat?”
”Waktu dia bunuh diri aku tidak disana, ini
hanya menurut kabar yang tersiar dikalangan
kangouw!”
”Tahu salah tapi tidak memperbaiki, masa
dengan bunuh diri lantas bisa….”
”Saudara kecil, mungkin perbuatannya itu
merupakan kesalahan yang sudah ditolong lagi?”
”Kalau kesalahan tanpa sengaja, kalau sudah
salah memang salah, apa perlu ditakutkan lagi!”
”Seumpama kesalaha tanpa sengaja, lantas
melahirkan suatu akibat yang berat, umpamanya
membahayakan jiwa orang lain, lalu
bagaimana dia harus menerangkan perbuatannya itu kepada
sahabat2 di kangouw?”
Go bing bungkam seribu bahasa.
Siorang berkedok merubah haluan kata2nya,
“Akhir ini, kabarnya ada seorang pemuda yang
tidak diketahui namanya, ia mengaku sebagai
murid Sia-sin Kho Djiang, mendatangai Pek-hun-kosat
mengambil batok kepala Tji Khong hwesio,
apakah saudara kecil pernah dengar berita ini?’ ~
sinar matanya yang tajam dingin dengan
tajam menatap wajah Go Bing.
Terkesiap hati Go bing, waktu berada di
Pek-hun-ko-sat ia memperkenalkan diri sebagai Go
Bing, mungkin pihak sana salah dengar dan
menganggap Bu bing (tak bernama), maka kabar itu
mengatakan dirinya sebagai pemuda tak
bernama maka dengan pura2 heran dan kejut ia balas
bertanya, “Apa benar ada peristiwa itu?”
“Menurut hematku tidak mungkin kabar itu
bohong, akan tetapi urusan ini membuat orang
bertanya2.”
”Mengapa?”
“Menurut kabarnya, Kho Djiang sisesat dari
selatan itu sudah mati pada dua puluh tahun yang
lalu, semasa hidupnya ia mempunyai seorang
murid, bernama Lo Tju-gi, empat belas tahun yang
lalu waktu diadakan du kepandaian dipuncak
Hoa-san dia merbut kedudukan tokoh silat nomor
satu diseluruh jagat ini, sejak itu dia
terus menghilang dari dunia persilatan, lalu darimana pula
baru2 ini mendadak muncul soerang muridnya,
tapi menurut beritua itu katanya sipemuda tak
bernama itu membekal cincin iblis tanpda
pengenal dari Lam-sia dan hal ini tidak mungkin
palsu….”
Baru sekaranglah Go Bing mengetahui bahwa
gurunya ternyata pernah mempunyai seorang
murid lainnya, tapi menurut kata gurunya
bahwa pada dua puluh tahun yang lalu dia sudah
bersumpah untuk tidak menerima murid, apa
mungkin sumpahnya itu ada hubungan erat dengan
Lo Tju-gi atau suhengnya itu? Otaknya
berpikir demikian, namun mulutnya berkata ”Ya hal itu
benar2 membuat heran dan tak mengerti!”
Pada saat itulah tiba2 terdengar suara
bentakan2 nyaring dari kejauhan dibalik lereng sebelah
sana, sejenak siorang berkedok pasang
kuping, lalu berkata, “mari kita coba lihat!”
Berbareng mereka melesat dan berlari
kencang kebalik lereng sebelah sana, dibalik lereng ini
adalah sebuah tanah datar kira2 satu bau
luasnya, hutan lebat mengelilingi separoh tanah
berumput dan ditanah berumput inilah
berkelebat banyakan banyak orang, ada tosu ada hwesio
dan ada juga orang preman sekitara lima
puluhan orang.
Tiga orang tua berpakaian serba hitam
terkepung ditengah2 dan disebelah sana seorang laki2
pertengahan umur berbaju abu2 tengah
bertempur seru melawan seorang Thau-to (hwesio yang
memelihara rambut), teriakan dan bentakan
mereka yang keras terdengar sampai jauh.
Bergegas Go Bing dan siorang berkedok
menyembunyikan diri diantara rumpun lebat diatas
sebuah pohon besar dan dari ketinggian
inilah mereka diam2 menonton pertempuran seru ini.
Sebuah bentakan keras disertai suara
jeritan yang mengerikan menggetarkan seluruh hadirin,
darah segar menyembur deras bagai anak
panah dari mulut si Thau-to ”Blang” tubuhnya terkapar
keras diatas tanah.
Laki2 pertengahan umur baju abu2 menyapu
pandang keempat penjuru, suaranya dingin
melengking, “masih ada kawan mana yang
menginginkan pedang berdarah ini, silahkan….”
Seorang hwesio gendut yang menyeret
Hong-piang-djan (tongkat kaum hwesio) melangkah
maju masuk gelanggang.
Go Bing tidak tahan bertanya kepada siorang
berkedok dengan suara lirih, “Mereka tengah
memperebutkan ”pedang berdarah” apa….”
”Ya, pedang berdarah merupakan gbenda
pusaka dari dunia persilatan, juga benda keramat
yang membawa bencana.”
”Bagaimana maksudnya ini?”
”Setiap orang yang memiliki Pedang
berdarah, tiada seorangpun yang selamat jiwanya.”
Dalam gelanggang sana, si hwesio yang
bersenjata tongkat sudah bertempur seru melawan
laki2 berbaju abu2 itu, terlihat bayangan
tongkat diputar kencang bagai sebuah gunung, kesiur
angin pukulanpun tidak kalah hebatnya bagai
badai gelombang menderu2 menggetarkan bumi
memekakkan telinga.
Sekilas Go Bing menyapu keadaan gelanggang
pertempuran lalu berkata lagi , “Bong-bianheng,
harap sukalah kau memberi sedikit
penjalasan sekdaranya kepada siaute?”
“Menurut berita yang tersiar di Bulim,
pedang berdarah menyangkut sejilid buku Bu-lim-pit-kip,
bagi siapa yang mendapatkan rahasia buku
silat ini dapat malang melintang dikolong langit ini
tanpa tandingan, tapi kebenarannya siapapun
tidak tahu, lima belas tahun yang lalu pedang
berdarah itu pernah muncul didunia ini
untuk ketiga kalinya, pemiliknya adalah Swu-hay-yu-hiap
Suma Hong, begitu berita itu tersiar luas
maka semua tokoh2 silat dari segala aliran hitam atau
putih mengiri dan mengincar benda keramat
itu, akhirnya jejak suami istri Su-hay-yu-hiap Suma
Hong berdua ditemukan dipuncak gunung
Tiam-Tjong-san, maka dipuncak Hou-thau-hong
digunung Tiam-tjong-san itulah terbuka
suatu penyembelian besar2an untuk memperebutkan
benda berharga itu….”
Tanpa meresa tergerak hati Go Bing,
bukankah gua tempat tinggal gurunya berada dibawah
jurang disamping puncak Hou-thau hong
digunung Tian-tjong-san itu.
Siorang berkedok menyambung ceritanya lagi,
“Su-hay-yu-hiap Suma Hong (sikelana bebas
keempt penjuru angin, bersama istrinya
San-hoa-li (wanita penyebar bunga) Ong Fang Lan juga
terhitung tokoh silat kelasw satu, dibawah
kerubutah ratusan gembong2 silat mereka bertempur
dengan gigih sampai titik darah
penghabisan, akhirnya mereka rebah tak bergerak lagi dipuncak
itu, malah ada pula yang mengatakan ada
seorang anak kecil berusia tiga tahun ikut meregang
nyawa dalam keributan itu, korban dari
pihak pengeroyokpun tidak terhitung banyaknya.”
Diluar sadar Go Bing bergidik seram, dalam
dunia persilatan sudah menjadikan suatu peraturan
tidak resmi bahwa yang kuat pasti malang
melintang menindas yang lemah, bunuh membunuh
dan balas membalas tiada habisnya.
”Lalu selanjutnya bagaimana?”
”Akhirnya pedang berdarah itu terjatuh
ditangah Tang-mo (iblis timur) dan akhir2 ini katanya
berpindah ditangan penjahat besar dari
aliran hitam Mo-san-dji-kui bersaudara.”
”Lalu bagaiamana pula sekarang bisa
diperbutkan disini….”
”Kejadian di bulim susah diduga, banyak
perobahan terjadi diluar kehendak manusia, mungkin
Mo-san-dji-kui juga mengikuti jejak
Su-hay-yu-hiap suami istri sudah tamat riwayatnya.”
Terdengarlah sebuah jeritan lagi dari dalam
gelanggang sana, kiranya si hwesio gendut itu
sudah menemui ajalnya juga ditangan laki2
baju abu2 itu.
Kata siorang berkedok hambar, “Liau Sing,
hwesio bakpau dari Ngo-tai-san akhirnyapun mati
diatas pegunungan tanpa tempat kubur yang
layak karena ketamakan hatinya sendiri.”
”Kepandaian laki2 baju abu2 itu agaknya
tidak lemah, tiga orang berseragam hitam
dibelakangnya itu agaknya segolongan dengan
dia?”
”Apa kau tidak melihat tanda bergambar
diatas baju meraka.?”
”Oh, sekuntum bunga bwe, Bwe-hoa-hwe!”
“Laki2 baju abu2 itu berjuluk
Tjhit-ou-tjiu, Tjong lun, salah satu dari Tongcu luar dari
Bwe-hoabwe.”
”Tokoh macam apakah ketua dari Bwe-hoa-bwe
itu?”
”Mungkin tiada seorangpun yang tahu, belum
ada sepuluh tahun Bwe-hoa-bwe muncul didunia
persilatan, kekuatan mereka sudah menjagoi
sampai berbagai aliran dan golongan, gembong2 silat
tingkat tinggi yang lihat tak terhitung
banyaknya terhimpun dalam kumpulan itu….”
Tiba2 gelak tawa aneh yang ngekek
bergelombang memekakkan telinga dan menggetarkan
sukma mengiringi kedatangan tiga manusia
aneh berpakaian aneh pula rambut mereka awut2an
dengan langkah lebar memasuki gelanggang.
Go Bing berseru heran, “Ketiga orang tua
ini agaknya seperti Lam-hong-sang-hiong….”
”Tidak salah, pengalamanmu saudara kecil
cukup luas juga.”
Lam-hong-sang-hiong (tiga garang dari
gunung Lan diselatan) menghentikan langkah setombak
lebih didepan Tjit-ou-tjiu Tjong Lun.
Tjui-hun-siu (aki mengejar sukma) tertua dari manusia aneh
ini perdengarkan ejek tawanya, lalu serunya
bengis, “orang she Tjong, apa kau tahu maksud
kedatangan kami bersaudara kemari?”
Suara Tjit-ou-tjiu Tjong Lunpun tidak kalah
dinginnya, “ Semua kawan yang masuk gelanggang
hari ini semua satu tujuan, kiranya tidak
perlu aku banyak mulut lagi bukan?”
Tjiu-hun-siu mengumbar suaranya lebih
keras, “tjong Lun, apa kau tahu apa hubungan kami
bersaudara dengan Mo-san-dji-hiong?”
Mo-san-dji-kui dimulut Tjui-hui-siu menjadi
Mo-san-dji-hiong, dua setan menjadi dua gagah,
tanpa merasa Go Bing tertawa geli.
Suara Tjit-ou-tjhiu Tjong Lun masih tetap
dingin dan kaku, “Yang saudara maksudkan adalah
Mo-san-dji-kui?”
”Ya, tidak salah!” seru Tjui hun siu merah
padam.
”Justeru aku belum pernah dengar kalin
bersaudara ada hubungan erat apa segala dengan Mosan-
dji-kui?”
”He he, hubungan kita sangat erat bagai
saudara sepupu dengan Mo-san-dji-kui, kini Mo-sandji-
kui sudah menggeletak diluar Kim-pi-tong,
tapi pedang berdarah itu berada di tanganmu….”
”Lalu apa maksud kalian?”
“Menebus keadilan kepadamu.”
”Bagaimana aku harus membayar?”
”Serahkan dulu pedang berdarah, urusan
belakang.”
”Jadi tujuan kalian bertiga hendak menuntut
keadilan bagi Mo-san atau hendak minta pedang
berdarah?”
”Orang she Tjong, pedang berdarah itu
adalah milik sahabat kami, sudah selayaknya harus
kami minta kembali tentang utang darah itu
sudah tentu harus ditagih.”
Sekonyong2 diantara para hadirian diluar
gelanggang terdengar suara orang tertawa dingin
menjengel, suaranya tidak keras namun semua
hadirin mendengar dengan jelas, lalu disusul satu
suara dingin berkata, “Kiranya diseluruh
jagat ini masih ada manusia yang tidak kenal rasa malu
seperti kalian Lam-hon-sam-hiong!”
Lam-hon-sam-hiong sudah biasa malang
melintang dan bersimaharaja didaerah selatan, sudah
tentu mereka sangat mendongkol dan murka
mendengar ejekan yang menghina ini, berbarang
mereka memutar tubuh, segera To-bing-siu
(aki pencabut nyawa) tokoh nomor dua dari tiga
manusia aneh dari selatan itu membentak
gusar, “Kurcaci darimana yang bicara itu kalau berani
silahkan keluar, biar kita bertiga belajar
kenal.”
Belum habis kata2nya sebuah bayangan orang
seringan asap melayang berkelebat masuk
ditengah gelanggang, itulah seorang tua
berambut uban mengenakan baju kasar dan
dipunggungnya terselip sebatan joran dan
sebatang dayung.
Begitu melihat kehadiran orang tua ini,
berbareng Lam-hong-sam-hiong melengak heran, Tjui
Hun siu tertawa kaku dibuat2, “Kiranya
saudara Kwe Lih ada pengajaran apakah?”
Kiranya orang tua ini adalah Tang-hay-hi-hu
si nelayan lautan timur, Kwe lih yang
menggetarkan dunia persilatan daerah timur,
begitu melihat kehadiran Tang-hay-hi-hu ini semua
hadirin tercekat dan kuatir dalam hati.
Tedengar si nelayan dari lautan timur
tengah bicara, ” Song put tjwan, jangan kau sebut sadara
apa segala denga aku, kalian bertiga ada
persahabatan kentut apa dengan Mo-san, tujuan kalian
pergi ke Kim-pi tong bukankah hendak
mengincar pedang berdarah itu, tapi kalian kembali dengan
hampa karena didahului orang lain, ya
bukan?”
Merah jengah selebar muka Lam hong sikapnya
kikuk dan risi karena dikorek boroknya
dihadapan sekian banyak orang, dasar licik
dan tebal muka segera sip hun siu (aki penyedot
sukma) si buncit dari ketiga manusia aneh
itu bicara dengan suara serak, “orang she Kwe lalu apa
tujuan kau datang kemari?”
Tang-hay-hi-hu bergelak bebas, sahutnya :
aku orang tua selalu berterus terang dant idak perlu
menggunakan segala alasan tetek bengek,
tujuanku adalah pedang berdarah itu juga.”
Ributlah para tokoh silat yang turut hadir
dalam gelanggang itu, kala itu Tji ou tjiu tjong Lun
sudah mengundurkan diri dan berjajar dengan
tiga orang tua berseragam hitam itu.
Tjui hun siu mendengus keras, ejeknya, “Apa
tuan bermaksud menjajal kepandaian kami
bertiga?”
”Barang itu masih berada di tangan orang
lain, apa ada harganya perkelahian itu?”
”Lalu bagaimana pendapat tuan?”
”Mengandal kepandaian masing2, siapa
berkepandaian tinggi dia berhak memiliki benda itu”.
Setelah saling berpandangan Lam hong
berseru berbarang ”Baiklah!” mereka memutar tubuh
mengambil posisi masing2 menghadapi Tji ou
tjiu berempat.
Disebelah sana Tang-hay-hi-hu Kwe Lih pun
maju tiga langkah, suasana dalam arena seketika
menjadi tegang, semua tokoh 2 silat yang
hadir dengan mendelong mengawasi arena tanpa
berkedip, sinar mata mereka mengaundung
maksud yang sama, itulah sinar mata serakah, licik
dan buas bercampur aduk menjadi satu.
Dalam pada itu, Tjit ou tjiu dan tiga orang
tua seragam hitam sudah bersiap punggung
menduduki satu posisi tersendiri, mereka
siap waspada menghadapi segala kemungkinan.
Tiba2 Go Bing bertanya lirih kepada siorang
berkedok, “menurut pendapatmu siapa yang bakal
berhasil?”
”Sudah diduga, menurut situasi dalam arena,
kepandaian Tang-hay-hi-hu agak lebih tinggi, tapi
dalam jumlah Lam hong berada diatas angin,
akan tetapi tak peduli siapa yang bakal berhasil
mungkin susahlah dapat meninggalkan
gelanggang pertempuran ini, orang2 gagah diluar
gelanggang itu dimana ada kesempatan pasti
juga akan turun tangan dan entah masih berapa
banyak tokoh2 lihai lainnya yang main
sembunyi, lagipula keempat tokoh lihai dari anggota Bwe
hoa bwe itupun bukan olah2 hebat
kepandaiannya.”
”Apa kamu ada maksud turun campur?”
”Kau sendiri bagaimana?”
Go Bing menggeleng kepala, maka siorang
berkedok berkata, “Akupun demikian.”
Dimana terdengar suara bentakn riuh rendah,
Lam hong serentak turun tangan menyerang
kearah Tjiu ou tjiu, segera tiga orang tua
seragam hitam melompat maju menandangi serangan
mereka, adalah pada saat yang bersamaan itu
si nelayan dari timur telah menuburuk maju kearah
Tjong Lun, maka terbentanglah suatu
pertempuran mati2an yang seru dan gegap gempita.
Lam hong bertiga masing2 menandangi tiga
orang tua seragam hitam dari bwe hoa hwe,
kepandaian dan iwekang mereka agaknya
seimbang, maka susahlah dapat ditentukan siapa bakal
unggul dan siapa asor, lain halnya dengan
kepandaian Tang-hay-hi-hu agaknya sedikit unggul dari
Tjit ou tjium namun untuk mengambil
kemenangan dalam waktu dekat dan memperoleh barang
yang diperebutkan ia harus memeras keringat
juga.
Delapan orang terbagi dalam empat pasang
menunjukkan kepandaian masing2 yang paling
hebat dan simpanan yang paling lihai,
hingga angin menderu kerikil dan debu berterbangan
diselingi suara bentakan dan geraman, malah
terdengar juga suara menggeledek dari benturan
angin pukulan yang dahsyat.
Tiba2 siorang berkedok berseru kaget dan
menyatakan keheranannya.
Go Bing berpaling dan bertanya “Apa yang
mengherankan?”
”Gembong2 silat dari bwe hoa hwe tidak
terhitung banyaknya, tokoh berkepandaian lebih lihat
dari Tjong Lun tidak kurang jumlahnya,
benda berharga sangat penting seperti pedang berdarah
itu mengapa tidak dilindungi oleh para
jagoan yang lebih lihai, malah tidak terlihat adanya
penyambutan atau bantuan.”
Sekonyong2 terdengar sebuah suara serak
dari samping sebelah sana katanya, “tuan ini terlalu
banyak prihatin”
Go Bing dan orang berkedok terperanjat,
lekas2 mereka berpaling kearah datangnya suara,
tampak diatas sebuah pohon besar yang
jauhnya hanya tiga tombak dari tempat mereka sembunyi
duduk ongkang2 diatas sebuah dahan seorang
tua yang berpakaian serba kuning, siorang tua
berpakaian kuning ini sudah sejak tadi
sembunyi disitu atau baru saja tiba sedikitpun mereka tidak
mengetahui, jika dikatakan baru saja tiba
dan tidak diketahui sedikitpun oleh mereka amaka
kepadanaian ringan tubuh yang hebat ini
benar2 membuat orang merasa kagum dan meleletkan lidah.
Sekilas Go Bing dan orang berkedok melirik
kearah si baju kuning, lalu berpaling lagi
menyaksikan pertempuran seru dalam
gelanggang, mereka tidak bersuara lagi.
Karena sudah sekian lamanya belum dapat
mengalahkan ketiga lawan seragam hitan ini,
kumatlah sifat buat dan kegarangan Lam hong
mereka menggeram dan berteriak2 seperti
binatang buas, setiap jurus serangannya
adalah pukulan dahsyat yang mematikan, adalah ketiga
orang tua berseragam hitam itu masih
berlaku sabar dan tidak tamak kemenangan, meereka tetap
tenang dan menjaga diri dengan rapat, lebih
banyak membela diri daripada menyerang.
Disebelah sana, Tang hay hi hu mendesak
Tjit ou tjhiu Tjong Lun sedemikian rupa hingga yang
belakangan ini mencak2 kerepotan, setiap
saat jiwanya terancam bahaya, dimana tedengar
sebuah gerungan keras dan panjang, disusul
terdengar seruant ertahan dari empat penjuru, jubah
panjang didepan dada Tjit ou tjhiu Tjong
Lun tahu2 sudah sobek panjang dan bertepatan dengan
itu sebuah buntalan kain berminyak
sepanjang satu kaki menggelundung keluar dari dalam
bajunya dan jatuh ditengah gelanggang,
sedang Tjong Lun sendiripun terhuyung mundur
beberapa langkah.
Hati Go Bing berdetak keras, tanpa tertahan
iapun berseru heran, cepat2 siorang berkedok
sedikit menarik lengannya memberi tanda
supaya dia tidak bersuara lagi.
Sementara itu Tang hay hi hu sudah ulurkan
sebelah tangannya hendak meraup buntalan kain
diatas tanah itu…., tiga gelombang angin
deras bagai gugur gunung berbareng menerpa tiba
mengurung diseluruh tubuh Tang hay hi hu
tergetar mundur jumpalitan delapan kaki jauhnya.
Kiranya begitu melihat Tang hay hi hu dapat
mengalahkan Tjong Lun lalu hendak menjemput
buntalan diatas tanah itu, segera Sam hiong
tinggalkan musuhnya lalu berbareng meluruk tiba
bersama serta lancarkan tiga pukulan berat
kepada tang hay hi hu. Sam hiong (tiga jahat)
bertujuan sama cara turun tangannyapun
serentak dalam waktu yang sama pula.
Pada detik2 Tang hay hi hu terpental oleh
desakan pukulan gabungan Sam hiong itulah sebuah
bayangan orang dengan kecepatan yang susah
diukur terbang menyamber buntalan kain diatas
tanah itu, sekali raup tubuhnya terus
melejit tinggi….
Menubruk tiba, meraup buntalan ditanah lalu
melejit tinggi semua ini dilakukan sekaligus boleh
dikata secepat kilat.
”In Hong Lokoay, tinggalkanlah barang itu
untuk Toayamu” bersamaan dengan datangnya
suara, sebuah bayangan lain melesat tiba
pula dari tengah udara bagai meteor terbang dengan
cepatnya. ”Blang” kedua bayangan itu saling
tumbuk ditengah udara dan keduanya sama2
terpental jatuh diatas tanah, dan buntalan
kain itu juga terjatuh lagi diatas tanah ditengah2 antara
mereka, situasi yang menegangkan ini benar2
membikin orang menahan gelora hatinya yang
susah bernapas.
Kedua orang yang terpental jatuh itu salah
soerang adalah In Hong Lokoay dan yang lain
adalah Sang Gan Todjin dari Kong tong pay,
dan dalam kejap buntalan kain itu terjatuh diatas
tanah lagi, kebetulan jarak dimana Sip hun
siu satu diantara lam hong sam hiong kira2 hanya lima
kaki, gesit luar biasa tanganya diulur
hendak mengambil, tapi dengan kecapatan kilat Tang hay hi
hu mengayun sebelah tangannya, dimana angin
pukulannya menyamber buntalan kain itu
tergulung angin menggelundung jauh melesat
kearah Tjiu hun sui, hal ini sangat kebetulan bagi
tjui hun siu, girang luar biasa ia ulurkan
tangan menyambut…. ” Bluk” ”hoak” diselingi suara
jeritan ngeri tjhiu hun siu menyemburkan
darah segar dari mulutnya, tubuhpun sempoyongan
mundur delapan kaki jauhnya. Musuh licik
yang memukul mundur tjui hun suiu hingga luka berat
ini kiranya adalah In Hong Lokoay, sekali
lagi buntalan kain itu terjatuh ditengah gelanggang.
Karena menubruk tempat kosong, Tang hay hi
hu sangat gusar, tanpa menghentikan gerak
tubuhnya, kedua tangannya menerjang maju
kearah Sip hun siu dengan seluruh kekuatan
tenaganya maka pukulan ini seakan gugur
gunung dahsyatnya, saat mana Sip hun siu tengah
kesima karena tidak menduga bukan saja
tidak mendapatkan buntalan itu mala tjiu hun siu terluka
berat terbokong oleh In Hong Lokoay,
sedikitpun ia tidak emnduga bahwa pada saat itu juga
dirinya terancam bahaya pukulan Tang hay hi
hu waktu dia sadar dan coba berkelitu sudah tidak
keburu lagi…. sebuah jeritan panjang yang
menggema ditengah udara menambah keseraman
gelanggang pertempuran, tubuh Sip hun siu
terbang jauh dan muntah darah, bersamaam dengan
itu, Sam Gan Todjin dari Kong Tong pay
sudah melesat tiba menjangkau buntalan diatas tanah itu.
” Bkang” tanpa ampun Sam Gan Todjin pun
juga terhuyung mundur diterpa angin pukulan yang
bergulung tiba, agaknya tjit ou tjiu Tjong
Lun dari bwe hwa hwe juga tidak tinggal diam
melancarkan pukulan hebatnya.
Situasi dalam gelanggang semakin kacau
balau, para tokoh2 silat yang menontong diluar
gelanggangpun beramai2 merubung maju dan
bimbang untuk turut ikut campur, tapi merekapun
tidak rela tinggal pergi begitu saja karena
tengah ditunggunya kesempatan, ya siapa tahu bahwa
dirinya nanti yang bakal ketiban rejeki.
Dua diantara tiga dari Lam hong sam hiong
sudah terluka berat, kesempatan untuk menang
bagi mereka sudah nihil, terdengan To bing
siu mengerung keras, “In Hong Lokoay, Tang hay hi
hu kita bertemu pada lain kesempatan!”
Namun seruannya ini sudah tidak menimbulkan perhatian
orang, sebab perhatian orang tengha
dicurahkan kepada buntalan kain itu, segera Toh bing siu
memanggul sip hun siu dan mengemput tjui
hun siu mencawat ekor meninggalkan gelanggang.
Pada waktu itulah mendadak terdengar sebuah
suara keras bagai kitat menggeledek disiang
hari bolong menggelegar memekakkan telinga
semua hadirin, “Saudara2 sekalian harap berhenti
sebentar!”
Tanpa merasa para tokoh silat itu berbareng
hentikan pertempurand an berpaling kearah suara
itu tedengar, maka terlihat seorang tua
berambut putih pendek ekcil gendut lagi mendatangi
dengan cepat memasuki gelanggang seperti
bola menggelundung, seketika para hadirin
mengunjuk rasa heran dan kejut, sudah
sekian lama mereka kenal manusia kerdil buntak ini
merupakan seorang tokoh yang paling susah
dilayangi yaitu Tong sing to gwat (mencuri bintang
merampok rembulan) Si Ban-tjwan. Bintang
dilangitpun hendak dicurinya, amaka dapatlah
dibayangkan betapa aneh martabat manusia
aneh ini, barang berapa apapun bila sudah diincar
olehnya, jangan harap kau dapat melindungi
atau dapat menyimpannya dengan aman, sebelum
barang samapi ditangannya dia takkan
berhenti bekerja.
Segera sinelayan lau timur Kwe Lih angkat
tangan memberi salam hormat, “Silahkan Si heng,
apa kau juga….”
Tong sing to gwat Si Ban tjwan segera
goyangkan tangan seraya berkata, “ Eh, sipengail
kunasehatkan padamu jangan kau pancing ikan
ini.”
”Mengapa?”
”Duri ikan akan mencocok tanganmu.”
Disebelah samping Sam Gan Todjin tertawa
dingin jengeknya, “Maling tua apa maksud
ucapanmu itu?”
Setelah menyapu pandang keempat penjuru
segera Tou sing to gwat membuka suara lagi,
“entah mengapa hati Lohu hari ini tidak
tenteram dan timbul kewelas-asihan dalam benakku untuk
menasehati kepada kalian, kalau kalian
tidak mau mati konyol, ada lebih baik kalian jangan sentuh
benda keramat yang membawa banyak bencana
ini.”
Semua hadirin menjadi melongo heran dan
saling panang, tiaa seorangpun dapat menebak apa
juntrungannya ucapan sipencuri lihai itu?
Walaupun terkenal sebagai manusia yang sudah dilayani
dan susah diajak kompromi, tapi
perkataannya selamanya dapat dipercaya, belum pernah bicara
main2 atau ingkat janji.
Susana diseluruh gelanggang menjadi sunyi
senyap tanpa suara, adalah In Hong Lokoay
agaknya tidak percaya, serunya, “Maling
tua, kau jangan main gertak dengan ucapan teka-tekimu
itu, kenapa tidak kau terangkan sejelasnya
maksudmu itu?”
”Omonganku sampai disini saja, titik.
Percaya atau tidak terserah kalian, aku Maling tua minta
diri!” habis berkata benar2 dengan cepat ia
menggelundung pergi dan menghilang dalam sekejap
mata.
4. PEK HOAT SIAN NIO = DEWI BERAMBUT PUTIH
memang tidak mengherankan bahwa pedang
berdarah adalah sebuah benda keramat yang
dapat menyedot hati manusia, meskipun tahu
berbahaya tapi mereka ingin untuk memilikinya,
begitulah setelah saling merasa curiga,
kuatir dan bimbang, akhirnya pandangan semua mata
tertuju lagi kearah buntalan kain diatas
tanah itu.
Para tokoh silat yang berada ditengah
gelanggang itu rata2 adalah gembong penjahat yang
kejam dan telengas, siapa berani turun
tangan lebih dulu pasti lawan2nya akan serentak
menyerang menamatkan jiwanya, oleh karena
itu, beberapa saat itu suasana menjadi agak
tenang, dan semua orang mengambil sikap
untuk menonton saja sementara. Tahu2 seorang tua
baju kuning dengan langkah tenang dan tetap
berjalan memasuki gelanggang dan langsung
menghampiri kearah Tjiu ou tjiu Tjong Lun
berempat, dihadapan mereka ia hentikan langkahnya,
orang tua baju kuning ini bukan lain adalah
siorang tua yang sembunyi diatas pohon disamping Go
Bing dan orang berkedok it. Jubah panjang
didepan dadanya tersulam bunga bwe besar, jelas
menunjukkan kedudukannya.
Pertama2 In Hong Lokoay berseru kejut lalu
serunya, “eh, sungguh diluar dugaan bahwa It
tjiang toan hun (sekali pukul menamatkan
nyawa) Tjiu Eng lian kiranya juga sudah menjadi
anggota Bwe hwa hwe?”
It tjiang toan hun menyahut dingin,
“memangnya kenapa, apa tidak boleh?”
In Hong Lokoay menjengek hina, katanya,
“Setiap orang mempunyai cita2nya sendiri, ah buat
apa aku banyak mulut!”
Kedua mata It tjiang toan hun berkilat
menyapu pandang keseluruh gelanggang, serunya
lantang, “ buntalan kain ini menurut
perintah ketua kami harus dilindungi dan diantar kemarkas
besar, apa didalamnya adalah pedang
berdarah atau bukan, cayhe sendiripun tidak mengetahui,
kini kupersilahkan para hadirin sekalian
berpikir2 dulu sebelum bertindak, jikalau kalian mendengar
nasehat berharga dari simaling tua tadi dan
tidak turun memperebutkan buntalan ini lagi, biarlah
aku mewakili perkumpulan kami menyatakan
banyak terima kasih, atau sebaliknya cayhe sedang
tugas menurut perintah, terpaksa aku harus
melayani setiap kehdank kalian beramai.”
Keadaan dalam gelanggang menjadi hening
lelap.
Dengan penuh keharuan Go Bing berkata
keapda siorang berkedok, “bukankah buntalan kain
itu adalah benda yang dititipkan kepada
Siang Sian hun dari siorang tua yang hampir mati itu
hingga menyebakan kematian Siang Siau moay
dan Li bun siang?”
”Benar!”
“Jadi sipembunuh adalah orang dari Bwe hoa
bwe?”
”Belum tentu, ucapaan Tou sing to gwat Si
Ban tjwan tadi harus diperhatikan, mungkin ada
udang dibalik batu!”
”Aku ingin mengambil buntalan kain itu
untuk mengejar sipembunuh itu, kalau barang itu sudah
berada ditangan kita tidak perlu
disangsikan pasti sipembunuh itu akan muncul sendiri?”
”Saudara kecil, apa kau benar2 hendak turut
campur?”
“Aku pernah berjanji dihadapan nona Siang
untuk menyelidiki jejak sipembunuh itu, apalagi aku
sudah bersumpah hendak membunuh manusia
durjana yang menggunakan racun tanpa bayangan
itu, pada hakekatnya tujuan utamaku bukan
melulu merebut Pedang berdarah ini.”
”Saudara kecil apa kau ada pegangan untuk
dapat merebut barang itu?”
”Akan kucoba sekuat tenagaku”, sahut Go
Bing.
”Mereka adalah gembong2 besar yang
berkepandaian tinggi, kau akan menjadi sasaran empuk
bagi mereka!”
”Aku tidak peduli akan hal itu.”
Pada saat itulah sebuah bayangan kecil
lenjir melayang tiba dari tengah udara, setelah
jumpalitan tiga kali terus melayang dengan
entengnya memasuki gelanggang. Pertunjukan ilmu
ringan tubuh yang mengejutkan ini membuat
semua hadirin tergetar kesima. Orang yang berputar
ditengah udara dan hingga ditanah ini
ternyata adalah seorang gadis yang cantik molek
menggiurkan mengenakan baju serba putih.
Bahwa ilmu ringan tubuh jarang terlihat
didunia persilatan dipertontonkan oleh seorang gadis
muda belia dan cantik rupawan lagi, benar2
mengejutkan hati semua hadirin.
Go Bing sudah berdiri dan bersiap hendak
melompat turun, tapi siorang berkedok keburu
mencegah, katanya, “Saudara kecil,
kedatangan gadis ini sangat aneh dan mendadak, kenapa kau
tidak sabar sebentar, siapa tahu ada
sesuatu kejadian diluar dugaan!”
Terpaksa Go Bing duduk lagi diatas dahan
pohon.
Terdengar gadis cantik bagai bidadari itu
tengah berkata, “Sian nio segera akan tiba, sementara
kuharap kalian mundur lima tombak jauhnya!”
Ucapan ini menimbulkan suasana bunca dalam
gelanggang, tokoh2 silat yang berada ditengah
gelanggang mengunjuk rasa kejut dan heran,
beramai2 mereka mundur teratur dan menyingkir
memberi sebuah jalan, hanya Tang hay hi hu
dan beberapa orang yang menganggap dirinya
berkedudukan tinggi masih ragu2 tanpa
bergerak.
It tjiang toan hun mengekeh tawa dan
berseru, “Kalau Sian nio akan datang, memang kita
sekalian harus mengundurkan diri, maka
buntalan kain ini sementara waktu biar Lohu simpan
kembali, nanti biarlah kita rundingkan lagi
bagaimana cara menyelesaikan urusan ini?” ~ dalam
berkata2 itu ia melangkah maju dan ulurkan
tanganya hendak mengambil buntalan kain itu….
In Hong Lokoay dan Sam Gan Todjin berbareng
maju satu tindak, disebelah sana Tang hay hi
hu pun perlahan2 angkat kedua tangannya,
jikalau ti Tjiang toan hun benar2 mengambil buntalan
kain itu, ketiga orang ini pasti akan
melancarkan serangan berbareng, adalah Tjit ou tjiu dan
ketiga orang tua seragam hitampun merapat
dibelakang It tjiang toan hun bersiap menjaga segala
kemungkinan.
Maka suasana dalam gelanggang mulai tegang
mendebarkan hati.
Sepasang mata gadis cantik yang jeli itu
memancarkan sinar tajam yang aneh, suaranya tajam
tandas, “Silahkan kalian mundur lima tombak
jauhnya biarkan benda itu tetap ditempatnya!”
Sungguh tak nyana para gembong iblis yang
kejam dan ternama itu ternyata takut dan tunduk
betul karena bentakan gadis ini, tanpa
merasa mereka mundur teratur perlahan2 tapi mereka
masih ndablek tiada seorangpun yang mundur
sejauh lima tombak.
Go Bing terheran2 dan tak habis mengerti,
tanyanya, “ Bong bian heng, tokoh macam apakah
Sian nio itu?”
Siorang berkedok menekan suaranya
sedemikian lirih, sahutnya, “Pek hoat sian nio!”
”Pek hoat sian nio? (dewi rambut putih).
”Benar, Pek hoat sian nio, namanya sudah
menggoncangkan dunia kangouw pada 60 tahun
yang lampai, selamanya ia jarang muncul
didunia persilatan, tentang asal usul atau riwayatnya
mungkin tiada seorangpun yang mengetahui!.”
”Orang2 yang hadir hari ini adalah tokoh2
lihai yang besar namanya, sungguh tak nyana
sedemikian takut mereka terhadap Dewi
berambut putih itu….”
”Betapa tinggi kepandaian Pek hoat sian nio
susah diukur, gadis itu adalah muridnya
kepandaiannya saja agaknya lebih tinggi dan
lebih lihay dari siapa saja yang hadir dalam
gelanggang itu”
Diam2 Go bing menimang dalam hati, “Betapa
tinggipun kepandaian Pek hoat sian nio itu masa
bisa lebih tinggi dari kepandaian Suhu?”
Sementara itu wajah sigadis semakin kaku
dingin, suaranya mengancam, “Apa kaoian sudah
dengar omonganku?”
It tjiang toan hun mendadak mengulapkan
tangan bersama tjit ou tjiu berempat perlahan2
mereka mundur lima tombak jauhnya, terpaksa
Tang hay hi hu, In Hong Lokoay dan Sam Gan
Tojin tiga gembok iblis inipun turut mundur
tanpa berani banyak mulut.
Sedemikian sunyi dan hening lelap suasana
gelanggang pertarungan yang ramai tadi
seumpama jarun jatuhpun bisa terdengar,
namun demikian dalam keheningan ini terkandung
ketegangan hati yang menggetarkan semangat,
Bahwa Pek Hoat sian nio benar akan berkunjung
dan turut hadir tanpa diundang benar2
diluar dugaan semua orang, apakah tokoh misterius
berkepandaian tinggi susah diukur itu juga
hendak ikut merebut pedang darah.
Kalau Pek hoat sian nio benar2 mengincarnya
maka semua hadirin harus mengalah dan
mandah saja barang itu diambil olehnya.
Sebaliknya Go Bing berpikir, peduli apa
dewi atau dewa lebih penting aku mencari tahu jejak
sipembunuh dengan menggunakan racun itu
habis perkara, kalau dalam otaknya dia berpikir
begitu segera ia bertindak mendadak
tubuhnya melejit tinggi dan menubruk masuk kedalam
gelanggang, Siorang berkedok ingin mencegah
tapi sudah tidak keburu lagi, dan karena
kehadirannya yang mendadak ini membuat
semua orang terperanjat serta melihat tegas kiranya
hanya seorang muda yang masih hijau pelonco
ini, wajah mereka mengunjuk rasa heran dan
bertanya2.
Bola mata sigadis cantik berputar2 tergerak
hati kecilnya, sebesar usianya itu baru pertama kali
ini dilihatnya seorang pemuda yang gagah
ganteng mempunyai daya tarik yang meluluhkan hati
setiap insan lawannya, hanya sayang sikap
gagahnya itu mengandung kecongkakan.
Begitu menginjak tanah dan berdiri tegak Go
Bing langsung menghampiri buntalan kain itu
tanpa memperdulikan orang lain
dihadapannya.
”Behenti!” suara si gadis membentak halus.
Tanapa diminta lagi Go bing menghentikan
langkahnya dan bertanya, “Ada keperluan apa nona
menghentikan aku?’
”Apa yang hendak kau buat?”
“Mengurus pekerjaan!”
“Mengurus pekerjaan apa?”
“Tiada perlunya cayhe memberita kepadamu.”
Berobah kelam wajah si gadis, timbul hawa
membunuh pada air mukanya.
Sementara itu, sekali berkelebat tahu2 Go
Bing sudah menjemput buntalan kain itu
ditangannya, kecepatan gerak tubuhnya
benar2 membuat semua orang melelet lidah. Para tokoh
silat diluar gelanggangpun tunduk mundur
lima tombak jauhnya karena gentar mendengar nama
Pek ho sian nio, kini pemuda tak bernama
dan masih hijau ini secara terang2an berani merebut
barang incaran mereka dalam gelanggang, hal
ini merupakan suatu kesempatan bagi semua orang
malah mereka dapat mengganggap sipemudah
sebagai biang keladi dalam kekacauan yang berani
membangkang perintah sidewi rambut putih.
Adalah gadis ayu rupawan itu malah tertegun
kaget benar2 diluar dugaannya bahwa sipemuda
ini ternyata tidak memandang sebelah mata
perintah Pek hoat sian nio.
Maka terdengar In Hong Lokoay memelopori
membantak, “Siaucu letakkan buntalan itu!”
berbareng tubuhnyapun berkelebat menerjang
maju dengan kecepatan seperti angin lesus.
”Kembali! ` diselingi suara bentakan
nyaring ini terjangan langsing tubuh sigadis berkelebat
tangannya membuat sebuah lingkaran terus
disorong kedepan menyongsong kedatangan tubuh In
Hong Lokoay yang menerjang tdatang, dan
karena dorongan ini tubuh In Hong Lokoay terdampar
terbang balik ketempatnya, hampir dalam
waktu yang bersamaan Sam Gan Tojin pun sudah
menubruk tiba sambil mengayun tangan kanan
mengenjet muka Go Bing sedang tangan kiri
dengan kecepatn kilat mencengkram kearah
buntalan itu.
”Bum!” diselingi suara tertahan keras, San
Gan Tojin terhuyung mundur sepuluh langkah, dari
ujung mulutnya melelah darah segar, suasana
diluar gelanggang menjadi gempar.
Bahwa nama dan kedudukan Sam Gan Tojin
sangat tenar dan tinggi bukan nama kosong
belaka, tapi baru setengah jurus saja telah
dapat dikalahkan oleh seorang pemuda yang masih
hijau benar2 membuat semua orang sangsi
akan penglihat sendiri, apalagi cara bagaimana
sipemuda melukai Sam Gan Tojin mungkin
hanya beberapa orang saja yang dapat melihat tegas.
Hati sigadispun bukan alang kepalang
kejutnya, tahu dia bahwa kepandaian sipemuda ini
ternyata sangat mengejutkan, sambil
mengusap noktah dara dibibirnya Sam Gan Tojin berseru
dengan penuh kebencian, “Siaucu beritahukan
namamu?”
Go Bing menyebut dingin, “Kalau kau tahu
gelagat lekaslah mengelinding jauh sedikit!”
Hitung2 nama Sam Gan Tojin sangat ternama
dan sangat disegani dikalangan kangouw, mana
kuat ia menahan hinaan ini, apalagi
lawannya ini hanya seorang pemuda yang berusia belum lebih
dari dua puluh tahun, saking gusar ia
membentak keras, “Siaucu biar kubunuh kau!” ` sambil
mengerahkan setaker tenagannya tubuhnya
merangsak maju melancarkan pukulannya dengan
derasnya.
Go Bing ganda tertawa dingin dan membentak,
“Kau ingin cari mampus sendiri!” ` buntalan
dipindah ketangan kiri, tangan kananpun
membalik dan menyurung kedepan segulung gelombang
panas dengan perbawa bagai geledek
menyambar bergulung2 mendampar kedepan, maka
terdengarlah suara ledakan keras yang
memekakkan telinga dan menyedot semangat diselingi
teriakan panjang mengerikan menggetarkan
seluruh arena pertempuran, ditengah gelombang
terpaan angin keras itulah tubuh Sam Gan
Tojin terbawa terbang setinggi tiga tombak, mulutnya
menyembur darah dan terbanting keras tanpa
bergerak lagi.
Pukulan Go Bing ini telah menggunakan
kepandaian sakti Kiy yang sin kang yang menjagoi
seluruh dunia, namun karena selama hidup
dan mengembara Sia sin jarang menggunakan
kepandaian ini maka semua tokoh silat yang
hadir termasuk sigadis, tiada seorangpun tahu
kepandaian apa yang telah digunakan oleh
sipemuda ini.
Wajah gadis baju putih berobah asam,
sungguh sukar dibayangkan betapa tinggi kepandaian
silat pemuda ini, timbul suatu perasaan
yang susah dilukiskan dalam hatinya.
Sam Gan Tojin terhuyung2 berdiri perlahan2
dia tinggalkan gelanggang sambil beringsut2.
Gerak gerik sigadis baju putih adalah
sedemikian lemah gemulai terdengar suaranya tawar
bertanya kepada Go bing, ”Bolehkan saudara
memberitahukan namamu?”
”Ini…. agaknya tidak perlu!”
”Saudara datang untuk merebut Pedang darah
juga?”
”Boleh dikata betul, tapi juga tidak
benar.”
”Apa maksudmu ini?”
”Tujuan yang penting tidak terletak pada
Hiat kiam ini, tapi dari hiat kiam ini akau akan mencari
jejak seorang pembunuh.”
”Sian nio segera tiba, silahkan saudara
letakkan buntalan itu dan menyingkir keluar
gelanggang.”
Go Bing mendengus dan menyahut dingin,
“Selamanya aku tidak senang diperintah orang lain.”
Berobah air muka sigadis baju putih,
suranya mengancamg, “Apa kau dapat berbuat seenakmu
disini?”
”Aku bebas melakukan apa yang ingin
kuperbuat, tidak percaya, boleh kau coba2”
Suasana dalam gelanggang mencekik leher
lagi, kalau kedua muda mudi ini saling gebrak,
bakal terjadilah pertempuran yang dahsyat
yang jaring terlihat di bulim, siapa yang takkan senang
kalau dunia ini aman tentram tanpa perang,
adalah daya tarik hiat kiam itu sedemikian besar
sehingga susah menarik pikiran tamak untuk
tidak memilikinya.
Pada saat itulah sebuah tandu warna hijau
mulus berayun2 memasuki gelanggang, tandu
sedemikian besar dipukul begitu enteng
bagai memikul kapuk dengan cepat sekali dalam sekejap
mata tandu itu sudah tiba ditengah
gelanggang, kerai didepan tandu tertutup rapat, tidak
kelihatan siapa yang duduk didalamnya,
keempat orang pemikul tandu itu adalah gadis2 yang
masih muda belia dan cantik2 lagi
mengenakan seragam hijau mulus.
Sorot mata semua orang tertuju kearah tandu
yang baru datang ini, setelah tandu diletakkan
ditanah, keempat gadis baju hijau itu
berjajar didua pinggir pintu.
Suasana tegang dan seram meliputi seluruh
hadirin, air muka sigadis berobah pucat dengan
sinar kebencian yang sangat ia melerok
kerah Go Bing lalu berpaling dan menghampiri kedepan
tandu, tubuh sedikit membungkuk mulutnya
komat kamit mungkin tengah melapor keadaan yang
terjadi didalam gelanggang ini.
Tanpa merasa berdetak keras hati Go Bing,
tidak lama kemudian, gadis baju putih itu memutar
tubuh dan maju beberapa langkah terus
menggape kearah Go Bing dan berseru ”Sian nio
mengundang kau mendekat!”
Go Bing tertegun melongo, tanyanya, “Maksud
non adalah aku?”
“Siapa lagi kalau bukan kau!”
Diam2 Go bing membatin; ”justeru aku tidak
percaya segala kabar angin itu, Pek hoat sian nio
apa segala dapat mengapakan aku? Maka
sambil membusung dada dan mengangkat kepala ia
maju mendekat dengan langkah lebar kearah
tandu itu, diantara jarak delapan kaki dari tandu itu
segera salah satu gadis berbaju hijau itu
angkat tangan dan berseru, “Berhenti disitu!”
Go bing menurut menghentikan langkah,
dengan kencang ia masih memegang buntalan kain
yang diperebutkan itu.
Kerai tandu terbuat dari anyaman butir2
mutiara yang kecil lembut, orang didalam tandu dapat
melihat keluar dengan tegas namun orang
diluar susah melihat tembus kedalam tandu, dengan
sikap angkuh dingin Go Bing menatap pintu
tandu, diam2 hatinya berpikir akan kulihat kau dapat
berbuat apa terhadapku?”
Lama dan lama kemudian baru terdengar suara
lembut halus dari dalam tandu, “Siapa
namamu?”
Tanapa merasa tergerak hati Go Bing, Pak
hoat sian nio serasi dengan nama ini tentu dia
adalah seorang nenek2 tua yang sudah
berambut uban, tapi didengar dari suaranya yang halus
nyaring agaknya usianya masih muda, karena
itu dengan sikap kaku ia menyahut, “Aku yang
rendah adalah kaum keroco dikalangan
kangouw, reasanya tidak perlu menyebut nama apa
segala.”
”Kau dari perguruan mana?”
“Hal itu aku tidak dapat memberi tahu!”
”Hm, sedemikian congkak dan sombong kau
ini?”
”Jauh dari pada sombong dan congkat, karena
memang begini tabiatku!”
Keempat gadis baju hijau dipinggir tandu
itu bersama mengunjuk rasa heran dan kejut, baru
pertama kali ini mereka melihat dan dengar
ada orang berani main bantah dengan Sian nio,
lagipula nada ucapan Sian nio pun agak
berbeda dengan biasanya.
Sejenak Go Bing ragu2 lantas ia balas
bertanya, “Kau adalah Pek hoat sian nio yang disanjung
puji oleh dunia persilatan?”
”Ya, benar, kau datang untuk merebut hiat
kiam itu?”
”Bukan, harus dikatakan mencari jejak
seorang pembunuh!”
”Tapi hiat kiam itu sudah kau rebut?”
”Justeru dari benda inilah aku hendak
mencari jejak manusia kejam itu!”
“Apa kau tahu kedatangan semua yang hadir
disini justeru hendak merebut benda itu?”
”Itu aku tahu”
”Lalu bagaimana kau hendak menghadapi
mereka?”
”Setelah urusanku beres benda ini segera
kukembalikan kepada mereka, aku sendiri tidak
kepingin memiliki benda pembawa bencana
ini.”
”Hm, sementara aku dapat percaya ucapanmu
itu….”
”Apa kedatangan Sian nio juga hendak
merebut hiat kiam ini?”
”Tidak!”
Penyahutan pendek dan tegas ini membuat Go
Bing melengak, kalau pek hoat sian nio sendiri
berkata bahwa kedatangannya bukan karena
hendak merebut hiat kiam, hal itu sudah dapat
dipercaya, tapi untuk apa dia datang
kemari?
”Nak, kau tidak percaya bukan?”
Panggilan ”nak” ini membuat tergetar
seluruh tubuh Go Bing, baru pertama kali inilah selama
hidup ia mendengar orang memanggilnya
dengan sebutan itu, maklum selama bercampur dengan
suhunya, Sia sin Kho Djing selalu
memanggilnya dengan siaucu, sebutan ini menimbulan suatu
perasaan ganjil dalam sanubarinya, tapi
selang tak lama teringat olehnya kebiasaan watak Sia sin
serta tindak tanduknya, maka dengan sikap
kaku dingin ia menyahut, “Apakah panggilanmu itu
tidak berkelebihan.”
”Eh, apa makmudmu, usia setuaku ini apa
tidak boleh panggil kau anak?”
”Dalam dunia persilatan mengutamakan luhur
budi dan bijaksana.”
Keempat gadis hijau dipinggir tandu lekas2
menutup mulut dengan lengan bajunya, hampir saja
mereka tak kuat menahan rasa gelinya.
Berhenti sekian lamanya baru Pek hoat sian
nio bicara lagi, “Komentar aneh, boleh
dibandingkan dengan Lam sia dahulu.”
Go Bing menjadi tidak sabar, serunya, “ kau
memanggil aku kemari, hanya untuk omong
beberapa patah kata ini.?”
”Sekarang kau kembalikan buntalan
ditanganmu itu kedalam gelanggang.”
Go Bing menarik muka, suaranya ketus,
“tidak bisa!”
”Benda itu tiada membawa manfaat bagimu.”
”Seperti kukatakan aku hanya mengejar jejak
seorang pembunuh dengan benda ini.”
”Coba kau ceritakan, mungkin Sian nio dapat
memberi sedikit sumber penyelidikan untuk kau!”
Sejenak Go Bing bimbang, akhirnya ia
ceritakan juga pengalamannya didalam hutan kecil itu.
Nadi ucapan Sian nio tandas dan berat,
“menurut ceritamu itu, memang tidak salah sikorban itu
mati karena terkena racun tanpa bayangan,
tapi diseluruh jagat ini yang mungkin bisa
menggunakan racun tanpa bayangan itu hanya
racun utara seorang, dan lagi selain seorang putra
yang keliwat dimanjakan racun utara tidak
mempunyai seorang muridpun….”
”Maksud Sian nio adalah….”
”Tidak mungkin racun utara campur tangan.”
”Dengan bukti apa Sian nio berani
memastikan begitu!”
”Menurut martabat dan karakter racun utara
ayah beranak, barang apa yang sudah
ditangannya tak mungkin dilepas lagi,
apalagi benda yang sudah disentuh tangan mereka, tak
mungkin orang berani menjamahnya lagi,
selain itu juga tidak sedemikian gampang dan murah
mereka mau menggunakan racunnya!”.
”Maksud pertanyaan saya ialah siapakah
orangnya yang menyebar racun itu?”
”Mungkin sukar untuk mencari tahu!”
”namun terang gamblang barang ini berada
ditangan orang2 Bwe hoa hwe, tidakkan beres
mencari jejak siorang pembunuh ini dari
tubuh mereka?”
Pek hoat sian nio tertawa ringan, ujarnya,
“Kau bisa menyesal?”
“Mengapa?”
”Sebab pedang berdarah ditanganmu itu
adalah palsu!”
”Palsu?” tercetus serusan kaget dari mulut
Go bing.
”Ya, memang palsu, maka kusuruh kau
melempar kembali ketengah gelanggang.”
Otak Go Bing bekerja cepat, setelah itu
baru ia membuka lagi, “tulesn atau palsu tidak menjadi
soal, tujuanku yang utama adalah mengejar
jejak sipembunuh itu.”
”Kau masih hijau dan perbuatanmu ini
terlalu semberono.”
“Ha, dengan alasan apa kau berkata begitu?”
”Coba kau jelaskan, benda itu direbut orang
sebelum adik Siang Siau hun itu keracunan atau
setelah keracunan baru direbut orang, kau
tahu pasti tidak, lagipula hanya Pak tok Tang bun Lu
ayah beranak yang dapat menggunakan racun
tanpa bayangan itu, merekapun tidak sembarangan
menggunakan racun, dengan kepandaian silat
racun utara anak beranak untuk menghadapi non
sian itu kalau dia sampai menggunakan racun
apakah tidak menimbulkan cercaan dan tertawaan
orang bulim, bwe hwa bwe memamerkan pedang
berdarah palsu, apakah tujuannya belum dapat
diketahui, tapi menurut apa yang kita
hadapi ini, kalau pedang berdarah ini adalah tulen, betapa
banyak tokoh2 silat lihat yang terhimpun
dalam bwe hwa hwe tentu mereka takkan tinggal diam
barang yang sudah menjadi milik mereka
diperebutkan orang banyak.”
Analisa panjang lebar ini membuat Go bing
bungkam seribu bahasa, sekali ayun ia lemparkan
buntalan kain itu ketempat asalnya,
perbuatan diluar dugaan ini membuat semua orang yang hadir
melongo heran dan garuk2 kepala, sebab
mereka tidak tahu apa yang telah dipercakapkan Pek
hoat sian nio dan sipemuda aneh yang
berkepandaian hebat ini.
Setelah merandek sejenak Pek hoat sian nio
bicara lagi ” sekarang kau boleh undurkan diri!”
Sekali berkelebat tubuh Go bing melayang
mundur lima tombak jauhnya.
Gadis baju putih melangkah cepat kearah
tandu, setelah mendengarkan apa2 terus memutar
tubuh dan bicara lantang , “ Sian nio
mempersilahkan Tang hay hi hu dan Im hong Lokoay berdua
maju menjawab pertanyaan.”
Setelah saling berpandangan heran,
berbareng Tang hay dan Im Hong melangkah maju
kedepan tandu, entah apa yang dikatakan
oleh Sian nio, yang jelas setelah mendengar, Tang hay
dan Im Hong berseru kaget berbareng
tubuhnya sempoyongan mundur begitu memutar tubuh
terus melejit jauh hendak melarikan diri….
Kerai mutiara yang menjulai turun didepan
pintu terbuka sedikit lalu menutup kembali,
dibarengi suara jeritan ngeri yang
mendirikan bulu roma, tubuh Tang hay dan Im Hong yang
terbang tinggi terlempar jatuh bersama
terus tak bergerak lagi, mati. Dua gembong iblis durjana
bergelimpangan mati didepan tandu, kenapa
Pek hoat sian nio menamatkan jiwa kedua orang ini
tiada seorangpun yang tahu, semua hadirin
berobah air mukanya kuatir dan takut2, siapa tahu
ancaman elmaut itu juga akan menimpa
dirinya atau orang2 jahat lainhya? Rasa ketakutan dan
bayangan mau tercekam dalam benak masing2
bahwasannya nyawa adalah sangat berharga,
dalam keadaan ada sedikit kesempatan
menyelamatkan diri ini, banyaklah gembong2 silat itu yang
tidak menyia-nyiakan kesempatan itu secara
diam2 dan sembunyi2 mereka pergi. Siapa berani
mencabut gigi dimulut harimau, merebut
benda yang telah diincar oleh Sian nio kematianlah
hadiahnya.
Dalam pada itulah terdengar sigadis baju
putih mendadak berseru lantang, “Kawan2 dari Bwe
hwa hwe, perhatikan! Sampaikan kepada ketua
kalian, bahwa tipu muslihat kalian gagal total, cara
bekerja mencuri kelintingan menutupi
telinga adalah menipu diri sendiri dan sangat menggelikan.”
Karena dikorek borok dan akal liciknya, It
tjian toan hun Tjiu Eng lian bersama para kerabatnya
dari Bwe hwa hwe merah jengah dan malu luar
biasa, sikapnya kikuk dan serba runyam.
Keempat gadis baju hijau itu segera memikul
tandu dan tinggal pergi dengan cepat bagai
terbang, sedang buntalan yang diperebutkan
tadi masih tetap berada diatas tanah dan tiada orang
yang mau menyentuhnya lagi.
Sebelum pergi sepasang bola jeli sigadis
baju putih melirik kearah Go Bing sambil unjuk senyum
menggiurkan, namun hati Go Bing tetap
membeku bagai tak berperasaan, dalam hati ia tengah
membatin, “bahwasannya Pek hoat sian nio
siang2 sudah tahu kalau peang berdarah itu adalah
palsu, mengapa ia datang dan unjukan diri
juga, malah sekaligus ia bunuh juga Tang hay hi hu
dan Im Hong Lokoay?” ~ Lalu apa pula tujuan
Bwe hwa hwe memancing dengan pedang darah
palsu untuk menimbulkan perebutan dan
pertempuran yang menimbulkan banyak korban ini?
Siapa pula sipembunuh yang menurunkan
tangan jahatnya kepada Siang siau moay dan Li Bun
siang? Mendadak teringatlah sebuah
persoalan lainnya, tanpa merasa ia tertawa geli sendiri.
Hanya percaya pada sedikit cerita Siang
Siau hun yang kurang jelas itu lantas dirinya bertindak
serampangan menganggap buntalan kain ini
adalah benda yang dititipkan kepada mereka itu,
benar2 terlalu ceroboh dan semberono.
Pendapat Pek hoat sian nio ternyata sangat
tepat dan persis benar dengan uraian si orang
berkedok, racun utara Tang bun Lu ayah
beranak tidak mungkin turunkan tangan jahatnya, akan
tetapi racun tanpa bayangan itu hanya
terdapat dari satu aliran ini tanpa ada cabang atau orang
lain yang pandai menggunakan hal inilah
yang menjadi teka teki dan susah dipecahkan.
Go Bing berdri melongo tenggelam dalam
pikirannya, tidak diketahuinya bahwa semua hadirin
sudah menghilang tanpa kelihatan
bayangannya lagi, lalu timbullah suatu keingin aneh dalam
benaknya, meski benda ini palsu mengapa aku
tidak coba membuka dan memeriksanya maka
segera ia membungkuk membuka buntalan kain
itu, kiranya yang terbungkus itu sebuah kotak
kayu gepeng sepanjang satu kaki lebih,
perlahan2 dibukanya tutup kotak itu ternyata didalamnya
terletak sebilah pedang kecil panjang satu
kaki selain gagaknya panjang batang pedang kecil itu
tidak lebih dari enam dim.
Hati2 dilolosnya pedang kecil itu dari
sarungnya seketika secarik sinar merah marong
memancar keluar menembus ketengah udara,
pada saat itu juga terdengar seorang berseru kejut
dibelakangnya, cepat2 Go Bing memasukkan
kembali pedang kedalam sarungnya lalu perlahan2
memutar tubuh, kiranya siorang berkedoklah
yang berseru kaget tadi.
”Saudara kecil, mari kita bicara dalam
hutan?”
Dengan rasa heran dan tak habis mengerti Go
Bing memandang bayangan si orang berkedok,
setelah menjemput kain buntalan itu diapun
mengikuti jejak orang masuk kedalam rimba.
”Saudara kecil, keadaan ini sangat ganjil
dan perlu disangsikan.”
“Mengapa?”
”Mungkin pedang berdarah ini adalah tulen!”
”Apa benar? kurasa tak mungkin, bahkan Pek
hoat sian nio juga mengatakan bahwa benda ini
adalah palsu, sampaipun para tokoh2 lihai
dari Bwe hoa hwepun tinggal pergi tanpa ambil
perhatian lagi, bagaimana bisa….”
”Justeru disitulah sebab musabab keganjilan
itu”
”Aku tidak habis mengerti.”
”Kalau pedang ini palsu mana bisa
memancarkan sinar terang yang merah marong itu, harus
kau ingin Hiat Kiam merupakan benda keramat
yang berharga siapapun belum pernah ada yang
melihat, tulen atau palsu susah dibedakan,
lebih baik jangan kau buang, simpanlah untuk
sementara waktu, siapa tahu kelak ada
gunanya.”
Tawar2 Go Bing mengiyakan, ucapan siorang
berkedok tidak masuk dalam perhatiannya, tapi
akhirnya ia masukkan pedang berdarah itu
kedalam kotak dan dibungkus lagi lalu disimpan dalam
bajunya.
“Banyak kejadian didunia ini sukar
dijelaskan dengan alam pikiran yang sehat, untuk kedua
kalinya pedang berdarah muncul dipuncak
Tian tjong san terjatuh ditangan Tang mo (iblis timur),
cara bagaimana sampai terjatuh ketangan
Mosan ji kui tidak dapat diketahui, pendek kata segala
kemungkinan bisa terjadi!” demikian kata si
orang berkedok.
”Akan tetapi dimana letak keanehan dan
betapa tinggi harga pedang berdarah ini?”
“Mana dapat diketahui, menurut kabarnya
bila siapa dapat memiliki pedang berdarah lantas
dapat menemukan sejilid kitab pelajaran
silat yang tiada taranya, setelah dapat melatih sempurna
akan tiada lawannya diseluruh dunia.”
5. S1APAKAH AKU INI?
Go Bing semakin bingung dan pepat pikiran,
berbagai peristiwa yang beruntun terjadi ini
benar2 merupakan teka-teki yang susah
dipecahkan olehnya. Teringatlah akan tugas yang
dibebankan oleh Suhunya, jaitu harus
memenggal ke-pala Tiang-un Suseng, kenyataan bahwa
Tiang-un Suseng sekarang sudah mati, maka
ia harus segera kembali melaporkan hal ini dan
minta petunjuk sang guru selanjutnya.
Tentang kematian Siang Siau-moay dan Li Bun-siang
terpaksa ia harus menunda sementara waktu,
biar kelak dilanjutkan lagi penyelidikan ini pada lain
kesempatan.
Karena pikirannya ini segera ia berkata
kepada siorang ber-kedok, “Siaute masih banyak urusan
yang harus dikerja-kan, terpaksa kita harus
berpisah untuk sementara waktu!”
Dengan rasa berat siorang berkedok berkata,
“Apakah memerlukan tenagaku untuk
membantu?”
“Terima kasih, rasanya tidak perlu!”
“Ya, kuharap tidak lama lagi kita dapat
bertemu pula!” Sekali melompat tinggi Go Bing melesat
keluar dari dalam rimba terus berlari
kembali mengikuti jalan besar.
Hari kedua tibalah dia digua tempat
kediaman Gurunya, waktu memasuki gua tiada terdengar
bentakan gurunya yang sudah kebiasaan itu,
hatinya berdetak tidak tenteram, langkahnya
dipercepat memburu masuk, terlihat gurunya
tengah duduk menggelendot dinding, mata
tunggalnya sudah kehilangan sinar murni
yang biasa menjedot semangat orang.
“Kau sudah kembali?” suaranya kedengaran
sangat lelah.
Go Bing menyahut hampa, “Kau…. bagaimana
kau orang tua?”
“Aku sudah tak kuat lagi, kau kebetulan
kedatanganmu ini.”
“Apa, apa kau mengalami sesuatu?”
“Bagaimana tugasmu? “
“Tiang-un Suseng sudah mati bunuh diri.”
“Bunuh diri, mana batok kepalanya?”
“Murid…. eh, aku hanya melihat kuburannya.”
Mata tunggal Sia-sin Kho Jiang membelalak
besar, serunya tergetar , “Darimana kau ketahui
bahwa dia mati bunuh diri?”
“Kebetulan kujumpai seorang sahabatnya yang
sembahyang dikuburannya, dari mulutnyalah
kuketahui.”
“Hm, kepandaian dan kecerdikan Tiang-un
Suseng merupakan pentolan diantara sepuluh
kawannya, Bunuh diri? Apa kau melihat
sendiri jenazahnya?” Go Bing menggeleng kepalanya.
“Kau harus mengeduk kuburannya untuk
mengetahui kebenarannya. Kematian Ci Khong
sigundul itu, cukup membuat para kurcaci
ini waspada, mereka tidak akan sayang menggunakan
segala akal muslihat demi keselamatan
jiwa-nya sendiri. Siaucu, dulu waktu Lohu dicelakai
sebelumnya telah keracunan oleh mereka,
untung mengandal Sian-thian-sin-kang aku masih dapat
melindungi nadi jantungku, sehingga tidak
segera mati. Sekarang racun itu sudah luber dan
menjalar semakin dalam, Lohu sudah tidak
lama dapat hidup lagi.”
Rambut dan jenggot Sia-sin Kho Jiang
ber-gerak2, dia tengah paksakan diri unjuk bicara,
tangannya bergoyang cepat, katanya, “Dengar
kataku, dua puluh tahun yang lalu dipuncak Sin-lihong
(puncak dewi suci) digunung Bu-san, aku
disergap oleh tujuh orang diantara “Bui lim-sip-yu”
yang kenamaan didunia persilatan. Dalam
pertempuran itulah baru kuketahui bahwa sebelumnya
aku telah dibokong, tubuhku terkena racun
yang amat berbisa kepandaianku sudah susut separoh
lebih, untung saat itu aku dapat melindungi
nadi dan jalan darah terpenting menggunakan Kiu
yang-sin-kang, untuk sementara aku dapat
mencegah racun itu supaya tidak menjalar karena aku
hanya bertempur seru….”
Mendengar sampai disini, saking tegang
jantung Go Bing berdetak cepat darahpun bergolak
dalam tubuhnya.
Berhenti sejenak lalu Sia-sin Kho Jiang
melanjutkan ceritanya lagi, “Betapa gusar dan benci
Lohu waktu itu maka sewaktu turun tangan
akupun tidak kepalang tanggung lagi, sekaligus
kulukai lima diantara mereka, tapi karena
tubuh keracunan tenaga murni susah dikerahkan lagi,
maka aku mandah dikorek sebuah mataku dan
dikutungi kedua kakiku terus dibuang kedalam
jurang dipuncak Dewi suci….”
Sepasang mata Go Bing- merah membara
beringas. napaspun memburu cepat.
Setelah napasnya yang memburu tenang
kembali, Sia-sin kho Jiang melanjutkan lagi, “Untung
Tuhan maha pengasih jiwa Lohu belum tiba
ajal, aku tersangkut diatas pohon2 jalar dan tertolong
oleh seorang penebang kayu, setelah susah
payah secara sembunyi2 aku menyingkir dan
mengumpet di jurang Tiam-cong-san ini.
Teringat olehku akan keadaan pertempuran hari itu baru
aku insaf bahwa biang keladi semua
peristiwa ini kiranya adalah Suhengmu Loh Cu-gi itu, tidak
kau jangan pandang dia sebagai Suheng, kau
belum resmi menjadi muridku. Binatang rendah itu
waktu itu juga turut hadir, namun dia hanya
menggendong tangan menonton saja”
“Loh Cu-gi?”
“Ya, Benar, apa kau pernah dengar jejaknya
di kalangan Kangouw”
“Konon empat belas tahun yang lalu setelah
dia merebut kedudukan tokoh silat nomor satu dari
seluruh jagad ini terus menghilang tanpa
meninggalkan jejak”.
“Kau harus cari dia sampai ketemu, dan
bunuh serta cacah hancur tubuhnya.”
“Baik, pasti akan kulakukan.”
“Oleh karena itulah, dulu Lohu bersumpah
untuk tidak terima murid lagi seumur hidup. Selain Ci
Khong Hwesio, Tiang-un Suseng, masih ada
lima kurcaci lainnya “
“Siapakah kelima kurcaci itu?”
“Lo-san-siang-kiam. Leng Hun seng
ciangbunjin Ceng-seng-pay, Ngo-ouw Pangcu Coh Pin dan
Goan Hi dari Siau-lim”.
“Akan selalu kuingat kelima kurcaci ini!”
geram Go Bing.
Sejenak Sia-sin Kho Jiang pejamkan mata
untuk istirahat, lalu katanya lagi, “Siaucu, latihan
kiau-yang-sin-kang mu baru mencapai tingkat
keempat, pasti kau bukan tandingan Loh Cu-gi
murid durhaka itu”
“Dia sudah melatih sampai tingkat
keberapa?”
“Mungkin sudah sampai tingkat kesepuluh!”
Go Bing melonjak kaget, serunya, “Tingkat
kesepuluh Bukankah lebih tinggi dua tingkat dari
kau orang tua sendiri?”
“Latihan bajingan durhaka itu sebenarnya
sudah men-capai tingkat keenam, setelah aku celaka,
dia mencuri sejilid Kiu-yang-cin-keng dan
sebutir Kiu-coan-hoan-yang cau-ko yang kuperoleh
secara kebetulan”
Suma Bing tertegun heran memandangi wajah
Suhunya, dia belum pernah dengar perihal Kiucoan-
hoan-yang-cau ko segala.
Setelah istirahat sekian lamanya, Sia-sin
Kho Jiang ber kata lagi, “Sebutir Kiu-coan-hoan-yangcau-
ko kiranya cukup membantu untuk melatih
Kiu-yang-sin-kang sampai tingkat kesepuluh. Di
seluruh jagad pada saat ini mungkin tiada
seorangpun yang kuat melawannya, agaknya Lohu
harus membawa dendam nestapa ini kealam
baka!”
Kata Suma Bing penuh haru dan sedih, “Apa
benar2 tiada tandingan di seluruh jagad?”
“Ada, selain….”
“Selain apa?”
“Kecuali mendapat….ai, tidak mungkin, angan
kosong belaka.”
“Cobalah kau terangkan!”
“Hiat-kiam Mo-hoa!”
Kedua mata Suma Bing memancarkan sinar
aneh, kata-nya gemetar, “Hiat-kiam Mo-hoa?”
“Benar carilah Pedang berdarah dan Bunga
Iblis. Dua benda mestika di Bu-lim, bila siapa
mendapatkannya dapat melatih suatu ilmu
silat tiada taranya di seluruh kolong langit ini.”
“Pedang berdarah….”
“Bagaimana?”
“Tanpa sengaja aku mendapatkan sebilah
pedang, namun entah tulen atau palsu!”
“Mata tunggal Sia-sin membelalak bundar
besar, bibirnya tergetar sampai sekian lamanya baru
tercetus perkataannya, “Coba kulihat”
Lekas2 Go Bing merogoh kantong mengeluarkan
pedang berdarah itu, dengan kedua
tangannya ia angsurkan kehadapan Suhunya.
Cepat2 Sia-sin Kho Jiang menyambut dan
terus melolosnya keluar, seketika sinar merah
marong mencorong keluar menyilaukan mata
dan menerangi seluruh Ruangan.
“Siaucu, ambil secawan air.”
Sebentar Go Bing memandang Suhunya penuh
kecurigaan lalu berlari mengambil secawan air.
Sia-sin merendam ujung pedang kedalam air
dan tak lama kemudian lantas membantingnya
diatas tanah, serunya, “Palsu!”
“Palsu? Darimana kau orang tua berani
memastikan’
“Pedang berdarah yang tulen direndam dalam
air bisa berobah menjadi darah, itu berarti kalau
pedang berdarah Itu tulen maka air dalam
cawan itu segera berobah menjadi darah!”
“O, direndam menjadi darah!”
“Siaucu….kau harus mendapatkan Pedang
berdarah dan bunga iblis bunuh “ tubuh Sia Sin Kho
Jiang yang renta loyo semampai didinding
batu.
“Suhu, kau….”
“Siaucu, sesudah kau menyelesaikan tugas
yang belum terlaksana itu kau boleh kuijinkan
menjadi muridku….”
Go Bing maju memayang tubuh Suhunya yang
sudah lebih lunglai, tak tertahan air mata
membanjir keluar, siorang tua aneh yang
membesarkan dirinya ini agaknya sudah kehabisan
tenaga seumpama pelita kehabisan minyak
atau pohon yang sudah keropos tinggal menunggu
waktu saja.
Lam-sia salah seorang tokoh yang terkenal
lihay kepandaiannya dan aneh sifatnya, akan
mengakhiri hidupnya yang telah
menggemparkan dunia secara diam2!
“Suhu…. eh tidak dapatkah kau orang tua
menceritakan sedikit perihal asal usulku?”
Terbangun semangat Sia-sin. dengan susah
payah ia berkata, “Sudah tentu Lohu harus
memberi tahu kepadamu. Lima belas tahun
yang lalu, diluar gua kudengar dipuncak bukit
terdengar suara pertempuran yang gegap
gumpita, dua jam kemudian kau melayang jatuh dari
puncak bukit itu, dan kebetulan dapat
Lohu-tangkap hanya kebetulan saja, atau mungkin kau
sudah hancur lebur terjatuh diatas batu2
gunung itu. Kau saat itu mungkin tidak lebih berumur
tiga tahun, napasmu sudah berhenti, untung
nadi jantungmu masih belum putus, tulang igapun
patah lima seluruh urat nadi tergetar
putus….”
Tubuh Go Bing terasa membeku, giginya
berkereotan saling beradu.
“Didepan dadamu masih terdapat sebuah luka
lagi, terpaut setengah dim menembus jantung.
Selamanya Lohu tidak percaya akan adanya
nasib, itu hanya kebetulan saja, kebetulan! Terkecuali
ilmu Kiu-yang-sin-kang Lohu, seluruh jagad
ini tiada seorangpun yang dapat menarik kembali
nyawamu yang sudah dipinggir jurang
kematian….”
Go Bing semakin tenggelam dalam lamunannya.
Teringat olehnya akan cerita tentang
perihal pedang berdarah. Menurut cerita siorang
berkedok; lima belas tahun yang lalu
“Hiat-kiam” muncul lagi didunia persilatan untuk
ketigakalinya. pemiliknya adalah
Su-hey-yu-hiap Suma Hong suami-isteri.
Lantas terjadilah pertempuran besar2an
dipuncak kepala harimau digunung Tiam-coang-san,
dibawah kepungan dan keroyokkan beratus
gembong2 silat dari aliran putih dan hitam, Suma
Hong suami-istri bersama anaknya yang baru
berumur tiga tahun semua mati mengenaskan!
Waktu dan alamat peristiwa itu semuanya
cocok satu sama lain, apa tidak mungkin kalau dirinya
ini adalah titisan anak kecil itu? Ja,
takkan salah lagi pasti aku inilah anak yang dilempar kedalam
jurang dan secara kebetulan telah ditolong
oleh Suhu. Itu berarti bahwa dirinya adalah keturunan
Suma Hong, jadi ia harus she Suma juga.
Terbayanglah mayat bergelimang diantara merah darah
yang susah dikenal lagi didepan matanya.
Ayahnya Su-hay-yu-hiap Suma Hong dan ibunya Sanhoat-
li Ong Fang-Ian bertempur mati2an sampai
titik darah penghabisan dikepung sekian banyak
tokoh silat, akhirnya menemui ajal dan
pedang
berdarahpun direbut orang. “Pedang
berdarah”
sudah seharusnya menjadi milik warisan
orang tuanya, seumpama harus mengorbankan
jiwanyapun harus kurebut kembali. “Bunuh!
Biar darah mengalir, biar jiwa melayang tapi jiwa para
pengerojok itupun harus dicabut.”
Lama dan lama sekali ia berteriak2 histeris
bagai orang gila.
Sebuah helaan napas berat memulihkan
kesadarannya, waktu ia menunduk hampir2 ia jatuh
kelengar saking kaget sebab Suhunya atau
berarti juga penolong jiwanya, sudah berhenti
bernapas, kepalanya terkulai didepan
dadanya. ia meninggal dalam pelukannya!.
Lama dan lama sekali seakan dia kehilangan
perasaan, kedua matanya kuju dan redup
memandang ke Iangit2 gua. Saking bersedih
dia tidak bisa menangis juga tidak mengalirkan air
mata, Sungguh mengenaskan kematiannya ini,
namun lebih sengsara dengan penderitaan
hidupnya ini.
Dari terang keadaan dalam gua menjadi
gelap, dan dari gelap menjadi terang lagi. Itulah pagi
hari pada hari kedua. Kedua matanya penuh
tergenang air darah, terbayang suatu pikiran
menggila dalam benaknya; Bunuh, ja, bunuh!
Diangkatnya jenazah Suhunya lalu diletakkan di
tengah2 gua lalu dia berlutut dan berdoa,
“Suhu, sewaktu kau hidup kau melarang aku
menganggapmu sebagai guru, namun hakekatnya
aku adalah muridmu. Sekarang aku akan
memanggilmu demikian, budi mengasuh aku
hingga besar selama lima belas tahun, muridmu
bersumpah akan memberantas habis mereka itu
untuk membalas budimu, Suhu, istirahatlah
dengan tenang, harap dialam baka kau
mendapat tahu dan melihat muridmu pasti akan
melaksanakan tugas dan angan2mu yang belum
selesai itu.”
Baru sekarang dia bisa menangis
ter-gerung2, hingga lama sekali baru ia menghentikan
tangisnya, sekali lagi dipandangnya jenazah
Suhunya, dengan rasa pedih dan berat terpaksa ia
tinggal keluar dan menutup mulut gua dengan
batu2 besar dan rumput2 kering untuk menutupi
jejak.
Setelah itu dikembangkannya ilmu ringan
tubuhnya yang hebat berlarian cepat menuju
kepuncak Hou-thau-hong.
Tampak olehnya di mana2 diatas tanah
berserakan tulang2 manusia yang tidak lengkap,
rumput liarpun sudah tumbuh tinggi. Kedua
matanya mengembeng air mata, karena di antara
sekian banyak tulang2 itu ada kerangka
ayah-bundanya. Tapi cara bagaimana dirinya dapat
mengenali? Rasa dendam dan benci sudah
mencekam dalam hatinya. Akhirnya terpaksa ia turun
gunung, sepanjang jalan dia sudah mengatur
segala rencana untuk melaksanakan sumpahnya itu.
Nama2 para musuh yang ikut menganiaya
Suhunya sudah tercatat dan dapat dihitung, tidaklah
sukar untuk melak-sanakan tugasnya itu
menurut catatan itu. Terutama si durjana yang harus
dicarinya adalah Suhengnya Loh Cu-gi yang
telah menghianati perguruan dan perancang segala;
peristiwa penganiayaan itu, konon setelah
merebut simbol sebagai jago nomor satu di seluruh
jagad ini ia menghilang sejak empat belas
tahun yang lalu, terpaksa dia harus perlahan2 dan sabar
serta tahan uji untuk mencari jejaknya.
Bersama itu teringat olehnya ucapan gurunya
sebelum ajal bahwa Loh Cu-gi telah mencuri
sejilid buku Kiu-yang-sin-kang dan sebutir
Kiu-coan-hoan-yang-cau-ko yang susah dicari
keduanya.
Ilmu Kiu-yang-sin-kang itu mungkin sudah
dilatihnya sampai pada tingkat kesepuluh, masih
lebih tinggi dua tingkat dibanding Suhunya,
sudah tentu dirinya bukan tandingan orang.
Benar, kecuali memiliki Pedang berdarah dan
Bunga iblis, tapi apakah itu mungkin bisa terjadi!
Konon Hiat-kiam berada ditangan ‘iblis
timur’ cara bagaimana
bisa beralih ditangan Mo-san-jikui?
Susah diduga.
Berapa banyak musuh2 besarnya termasuk yang
turut ber-tempur di puncak Hou-thau-hong
digunung Tiam-cong-san pada lima belas
tahun yang lalu, yang terang “iblis timur” adalah salah
seorang dari mereka itu, kalau dapat
menemukan Iblis timur pasti dapat mengejar jejak musuh2
besar lainnya. Teringat akan Tang mo,
dingin dan bekulah hati Go Bing, nama iblis ini sejajar
dengan Suhunya Lam-sia, betapa tinggi
kepandaiannya dapatlah dibayangkan.
Sekarang tugas utama yang harus
diselesaikannya yaitu membuktikan apa benar Tiang-un
Suseng sudah mati atau hanya pura2 mati.
Tidak perlu disangsikan, karena kematian Ci Khong,
begitu mendengar berita ini para kawan2nya
yang ikut dalam pengeroyokan dulu itu pasti sudah
melarikan diri atau sudah pura2 meninggal
dunia.
Selama satu hari satu malam melakukan
perjalanan, akhirnya ia sampai juga didepan kuburan
Tiang-un Suseng.
Sejenak ia ragu2, achirnya diangkat juga
tangannya perIahan2 hendak dibongkarnya kuburan
dihadapannya ini untuk membuktikan
kecurigaan hatinya, di saat ia mengerahkan tenaga dan
hendak menghantamkan tangannya itulah tiba2
terdengar bentakan nyaring, “Perbuatan tuan ini
terlalu keji.”
Sungguh kejutnya bukan kepalang, memang
luar biasa bahwa ada orang menggeremet tiba
disampingnya tanpa diketahuinya. Terpaksa
ia tarik pulang tangannya dan membalik tubuh
secepat kilat, waktu ia angkat kepala
memandang kedepan tanpa merasa dia berdiri melongo.
Karena orang yang buka suara tak lain tak
bukan adalah gadis baju putih murid Pek-hoat-sian-nio
itu.
Bahwa sigadis baju putih ini mendadak
muncul disitu benar2 diluar dugaannya.
“Apa tuan hendak membongkar kuburan dan
menghancurkan jenazah?”
“Membongkar kuburan memang benar, tapi
belum tentu menghancurkan jenazah!”
“Mengapa?”
“Untuk membuktikan kebenaran orang dalam
liang kubur itu.”
“Inilah aneh, masa orang mati ada tulen
atau palsu?”
“Itu kan urusanku sendiri!”
“Apakah tuan bermusuhan dengan Tiang-un
Suseng?”
“Benar, memangnya kenapa?”
“Orangnya mati permusuhanpun ludas,
bukankah perbuatan tuan ini keterlaluan?”
“Itu bukan urusan nona”
Bola mata sigadis berputar lalu mengunjuk
senyum manis, ujarnya, “Tak perlu memperpanjang
urusan ini, aku….aku bernama Ting Hoan,
bolehkah aku mengetahui nama tuan yang besar?”
Bahwa tanpa diminta sigadis baju putih ini
langsung memperkenalkan diri membuat dia
melengak heran, hatinya membatin: Sekarang
asal usulku sudah terang namun aku punya she tak
punya nama, untuk mengenang guru tercinta
baiklah aku mengambil nama pemberian Suhu jaitu
‘Go Bing’ dipetik huruf ‘Bing’nya. Maka
lantas sahutnya dingin, “Aku yang rendah Suma Bing.”
“Suma Bing?”
“Apa saudara pasti harus membongkar kuburan
ini?”
“Terpaksa harus kulakukan.”
“Selama hidup Tiang-un Suseng Poh Jiang
banyak melakukan kebaikan dan banyak menanam
budi terhadap kalangan tertindas,
sebenarnya ada permusuhan besar apakah dengan saudara?”
“Untuk hal ini lebih baik nona Ting jangan
banyak tanya.”
“Tapi aku juga harus mengetahui?”
Berobah wajah Suma Bing (Go Bing sudah
merobah nama
aslinya) desaknya, “Lalu apa
maksud nona Ting?”
Ting Hoan sigadis baju putih membasut
rambut dikeningnya yang terhembus angin seraya
berkata, “Sebab Tian un Suseng berhubungan
erat dengan perguruanku.”
“Hubungan apa, itu?”
“Untuk hal itu kaupun tidak perlu
mengetahui.”
Suara Suma Bing semakin kaku ketus, “Kalau
aku tetap harus melakukannya?”
Ting Hoan menarik muka wajahnya berobah
mengelam.
“Suma Bing, ada salah apa jenazah itu
terhadap kau, mengapa harus kau bongkar kuburannya,
kecuali….”
“Bagaimana?”
“Kecuali aku sudah kehilangan tenaga untuk
merintangi perbuatan gilamu itu, atau jangan
harap keinginan edanmu itu bisa
terlaksana.”
“Jadi maksud nona memaksa hendak berkelahi
dengan aku?”
“Mungkin kalau terpaksa.”
Otak Suma Bing berputar cepat. Sudah tentu
dia harus mematuhi perintah gurunya, bila perlu
seumpama mesti bermuusuhan dengan
Pek-hoat-sian-nio pun akan ditandangi, asal seorangpun
musuh perguruan tidak sampai lolos dari
kematian.
Dalam geramnya tanpa banyak bicara lagi
mendadak ia angkat kedua, tangannya terus
menghantam sekuat tlenaga, gelombang tenaga
dalam bagai gugur gunung segera melanda
menerjang kearah kuburan Tiang-un Suseng.
“Tahan!” Berbareng hardikan ini, sebelah
tangan Tin Hon pun diayun, dari samping angin
pukulan bagai angin badai menerjang
kedepan, ditengah suara banturan mengeledek yang
menggetarkan bumi kedua orang ini masing2
tersurut mundur satu langkah lebar, masing2
terkejut atas kekuatan lawannya.
Suma Bing mendengus sekali lalu berkata
‘“Apa nona benar2 hendak merintangi perbuatanku?”
“Bukankah sudah kukatakan sejak tadi?”
“Kalau begitu jangan kau salahkan aku
karena berbuat kejam” dalam ber-kata2 itu wajahnya
penuh terselubung hawa membunuh.
Tanpa merasa kecut hati Ting Hoan,
betapapun dia tidak ingin bertempur mati2an terhadap
lawannya ini. Akan tetapi bagaimanapun dia
tidak mengijinkan orang merusak kuburan Tiang-un
Suseng. Selain itu, sebagai murid tersayang
Pek-hoat-sian-nio yang ditakuti dan disegani oleh
seluruh kaum persilatan mana boleh
mengunjuk kelemahan dihadapan orang, segera dengan
galaknya ia maju mendesak dua langkah
sambil menantang, “Boleh kau coba2-”
“Baik, sambutlah ini!” seru Suma Bing
dingin, sekaligus lancarkan tiga kali serangan berantai,
betapa kuat dan dahsyat pukulannya ini
sungguh mengejutkan dan menggetarkan sukma.
Cepat2 tangan Ting Hoan berputar membuat
sebuah garis lintang sambil menggeser
kedudukan kaki kearah kiri untuk memunahkan
hamparan angin pukulan musuh disamJ ping itu
juga dikirimnya sebuah pukulan menggeledek
yang tidak kalah hebatnya.
Terjadilah pertempuran seru yang jarang
terjadi didunia persilatan, kepandaian silat masing2
boleh dikata sudah mencapai tingkat
tertinggi masing2 lancarkan ilmu2 lihay dari perguruannya,
sebab yang satu adalah murid Lam-sian yang
sudah kenamaan sifat dan ilmu silatnya, dan yang
lain adalah murid Pek-hoat-sian-nio
tersayang yang sudah menggetarkan Bulim pada enam
puluhan tahun yang lalu, untuk menjaga nama
baik perguruan maka masing2 keluarkan simpanan
kepandaian perguruan yang paling ampuh dan
digdaja.
Angin disekitar gelanggang pertempuran
berputar demikian dahsyat dan deras bagai angin
lesus sehingga debu membumbung tinggi
keangkasa. lima tombak sekitar gelanggang dahan dan
daun pohon berguguran. Dalam sekejap mata
keduanya sudah bertempur lima puluh jurus, dan
masih belum kelihatan pihak mana yang bakal
unggul atau asor.
Tiba2 terdengar teriakan nyaring
melengking, mendadak Ting Hoan merobah permainan
silatnya, sekaligus ia pertunjukkkan lima
perobahan gerakan pelajaran tunggal perguruannya
hingga seketika bayangan pukulan
berkelebatan bagai bayangan gunung dan rapat tiada sedikit
lobangpun, selayang pandang seperti puluhan
kepalan berbareng melancarkan serangan yang
dapat menambal langit dan menutup bumi
merangsang kearah Suma Bing.
Bercekat hati Suma Bing terpaksa iapun
harus bergerak cepat melindungi seluruh tubuh dengan
rapat sekali.
Sekonyong2 tubuh Ting Hoan jumpalitan
mundur delapan kaki jauhnya, hal Ini membuat Suma
Bing terheran2, dan tengah Suma Bing
terlongo itulah tubuh Ting Hoan sudah merangsak maju
lagi secepat kilat, lima buah jarinya
menjentik beruntun, maka lima jalur angin kencang yang
tajam dengan suaranya yang memekakkan
telinga melesat bagai geledek, tidak sampai disitu ia
bergerak, tangan kiripun menyusul kirim
sebuah hantaman dahsyat juga. Serangan kali ini bukan
saja hebat juga sangat aneh, seakan2 lambat
namun sebenarnya cepat luar biasa.
Tergetar keras jantung Suma Bing, sebat
luar biasa tubuhnya berkelebat menghindari serangan
jari lawan, berbareng
tangan kanan didjodjohkan kedepan
menyambuti serangan tangan kiri
musuh, cara geraknya luar biasa, cepat dan
perobahan gerak tubuhnya benar2 membuat siapa
yang melihatnya merasa kagum dan melelet
lidah. Pada detik sebelum kedua pukulan mereka
saling bentur itulah, tiba2 Ting Hoan
unjukkan kepandaiannya yang luar biasa, hakekatnya kedua
pukulan itu pasti dan tentu akan saling
bentur tetapi dahsyatnya justru kali inilah Ting Hoan
unjukkan kemampuannya diluar kemampuan
orang lain, begitu tangan bergerak berputar
membuat satu lingkaran, tenaga dalam bagai
gelombang badai melanda keluar dari telapak
tangannya terus menerjang maju. “Blang”
disertai suara tertahan yang keras.
Kontan Suma Bing tergetar mundur tiga
langkah, darah segar hampir menyembur keluar dari
mulutnya. Tapi tenaga tolakan dari pukulan
Suma Bing juga membuat Ting Hoan tergetar
bergoyang gontai. “Suma Bing, kita sudahi
sampai disini saja, janganlah memperpanjang
persoalan itu lagi, bagaimana?”
“Tidak mungkin terjadi”
“Jikalau pukulanku tadi kutambah lagi tiga
bagian tenagaku, kau dapat membayangkan akan
akibatnya?”
“Jadi Itu berarti kau sudah menanam budi
atas keselamatan nyawaku?”
“Buat apa kita harus bertempur mati2an!”
“Aku Suma Bing tidak sudi terima belas
kasihanmu, budimu itu akupun tidak terima.”
Wajah Ting Hoan berobah gusar dan penuh
nafsu membunuh, suara dingin mencekam hati.
“Suma Bing, sebelum darah membanjir kau
tidak rela menghentikan pertempuran?”
“Kecuali kau tahu diri dan tinggal pergi!”
“Apa kau sangka aku bisa berbuat begitu?”
“Tentu kau bisa.” dengus Suraa Bing tidak
kalah angkuhnya. Tanganpun perlahan-lahan
diangkat lagi.
Alis Ting Hoan tegak berdiri, “Wut” tanpa
banyak cingcong lagi ia mendahului kirim
serangannya. Bertepatan dengan serangan
Ting Hoan ini. Kedua tangan Suma Bingpun sudah
diangkat setinggi dada terus disurung
kedepan, gelombang panas bagai gugur gunung
menggulung kedepan bagai hujan badai,
saking marahnya tanpa sungkan2 lagi ia gunakan Kiuyang-
sin-kang.
Begitu tenaga murni saling bentur, seketika
Ting Hoan insaf bahwa bahaya tengah mengancam
jiwanya, kontan air mukanya berobah pucat
pasi. “Bum!” meledaklah benturan yang lebih dahsyat,
hawa panas bergulung mengembang keempat
penjuru. Ditengah keluhan sakit, tubuh Ting Hoan
yang langsing itu terbang satu tombak
lebih, namun begitu tubuh menjentuh tanah segera ia
melompat bangun lagi, mulutnya yang kecil
bagai delima merekah itu bernoktah merah darah.
Tanpa merasa Suma Bing tertegun kejut
ditempatnya. Wajah Ting Hoan beringas dan penuh
kegusaran yang meluap2, dengan lengan
bajunya ia mengusap darah yang meleleh keluar dari
mulutnya serta desisnya bengis, “Suma Bing,
sekarang dapatlah kau berbuat sesuka hatimu. Tapi
kau ingat, pada suatu saat nonamu ini pasti
akan menghantammu juga hingga kau muntah
darah!” — Sekali melenting tubuhnya segera
melesat menghilang diantara bayangan pohon.
Sambil berkerut alis Suma Bing mengiringi
kepergian orang dengan pandangan mendelong.
Batinnya, “entah ada hubungan apakah antara
Pek-hoat-sian nio dengan Tiang-un Suseng? Hingga tanpa memperdulikan keselamatan sendiri
Ting Hoan rela berkorban untuk merintangi
perbuatannya yang tercela ini? Dan kalau
benar2 dirinya membongkar kuburan ini, itu berarti
dirinya harus bermusuhan juga dengan
Pek-hoat-sian-nio, teringat olehnya waktu memperebutkan Pedang berdarah tempo hari dengan mudah
saja Pek-hoat-sian-nio turun tangan membinasakan Tang-hay-hi-hu dan In Hong Lokoay dua
gembong iblis yang terkenal hebat dan ampuh kepandaiannya. Tanpa merasa bergidik dan
merindinglah seluruh tubuhnya.