pedang darah bunga iblis 01

 

Karya : Khu Lung

Diceritakan oleh Gan KL

PENDAHULUAN

Darah yang mengalir memanjang sudah membeku seperti beratur ekor ular hitam yang mati

kaku dibawah terik matahari.

Mayat-mayat dengan anggota tubuh yang tidak lengkap bergelimpangan di puncak Hou-thouhong

(puncak kepala harimau) di gunung Tiam-tjong-san; kepala, tangan atau kaki berserakan

dimana-mana mengeluarkan bau amis yang memualkan.

Satu jam yang lalu beberapa ratus gembong silat dari berbagai aliran atau golongan hitam dan

putih telah melakukan suatu upacara penyembelian besar-besaran di puncak gunung ini, sekarang

keadaan sudah tenang, namun bau darah dan keseraman masih meliputi bekas gelanggang jagal

manusia ini.

Seorang wanita yang mengemban seorang anak kecil kira-kira berusia tiga tahun berjalan

keluar sempoyongan dari balik batu gunung sana, walaupun rambutnya awut-awutan tubuhnya

penuh luka dan berlepotan darah, bajunya koyak-koyak tak karuan, namun semua itu masih belum

dapat menutupi wajahnya yang ayu molek dan tubuh yang langsing menggiurkan, dibelakangnya

muncul pula seorang laki-laki pertengahan umur berdagu panjang dan berwajah putih halus sambil

berjalan dia sedang merapikan celana dan bajunya.

Si wanita langsung mendekati sesosok mayat yang penuh luka-luka dan susah dikenal lagi,

perlahan-lahan ia berlutut disamping mayat dan menggumam dengan suara igauan seperti orang

bermimpi ”Hong-ko, aku tidak minta agar kau memaafkan aku, tapi kau harus mengerti, demi

keturunan keluarga Suma, demi darah dagingmu dan dendam kesumat ini, terpaksa aku berbuat

demikian, aku….”

Anak kecil dipelukannya mendadak menggigil gemetar dan mengejang, mulutnya yang kecil

megap-megap, bibirnya gemetar tapi sedikitpun tidak mampu mengeluarkan suara.

”Nak, apakah kau sangat menderita, ibumu ingin menggantikan kau, oh ibumu relah menderita

segala kesengsaraan dalam dunia fana ini asalkan dapat menggantikan jiwamu nak…. kau…. kau

jangan mati….” demikian ratap si wanita.

Anak itu tetap membisu, kedua matanya terpejam, tubuhnya basah kuyup oleh keringat,

wajahnya penuh diliputi hawa hijau, bibirnya mulai membiru dan tubuhnya tak henti-hentinya

berkelejetan, naga-naganya jiwa kecilnya tengah berontak dari renggutan elmaut. Mendadak si

wanita angkat kepala dan berseru kepada laki-laki pertengahan umur yang tengah berdiri kira-kira

dua tombak jauhnya, ”Kumohon padamu, tolonglah jiwa anakku ini.”

”Menolong dia?” sahut si lelaki pertengahan umur sambil menyeriangi.

”Suara si wanita penuh mengandung permintaan dan harap” ” kau sendiri pernah berjanji

hendak menolong jiwanya?”

”Nadi pengantanya sudah putus, kalau aku menolong jiwanya dengan menggunakan Kiu-yang –

sin-kang, tenaga murniku akan susut terlalu banyak, dalam jangka waktu lima tahun aku tidak

dapat bergebrak dengan orang, padahal tahun depan tibalah waktunya mengadu kepandaian di

puncak Hoa-san, aku tidak mau kehilangan kesempatan memegang simbol teragung sebagai

tokoh silat nomor satu di dunia.!”

Wajah si wanita yang memang pucat kini semakin pucat keabu-abuan, dengan suara hampir

menggila ia berseru ”tadi kau mengatakan mau menolong anakku, kau menginginkan tubuhku,

aku sudah berikan padamu. Oh…. kumohon padamu, tolonglah jiwanya, aku rela selama hidup ini

melayani kau, akan kupersembahkan segala milikku, termasuk jiwa ragaku….”

”Tidak bisa!”

”Kau…. kau tidak boleh begitu, tolonglah, tolonglah jiwanya….”

”Maaf, aku tidak dapat melulusi permintaanmu!”

Seketika kedua mata si wanita mendelik, sambil menuding laki-laki pertengahan umur itu

dengan suara

melengking menyeramkan ia memaki, ” Loh Tju-gi, binatang kau, anjing…. kau manusia hinda

dina, tubuhku sudah kau nodai tapi kau….”

Sekilas wajah Lo Tju-gi berubah, tapi lantas pulih lagi seperti semula, katanya, “San hoa li, aku

tidak mungkin menolongnya, tapi aku cinta padamu.”

“Tutup mulut, binatang….”

”San hoa li, memang tidak salah aku telah merasakan kenikmatan tubuhmu, akan tetapi jikalau

bukan karena aku, mungkin hari ini kamu sudah menemui ajal!”

”Anjing, karena kau hendak melampiaskan nafsu kebinatanganmu, tujuan kau anjing hina dina

ini, bukankah hendak mengangkangi ”Hiat-kiam” (Pedang darah)….”

Wajah si anak dari hijau telah berubah ungu gelap, berkelejetan semakin menjadi-jadi, rasa

sakit yang sangat tengah menyiksa nyawa kecil yang sudah diambang pintu kematian itu.

San hoa li memeluk anaknya semakin kencang, kedua matanya yang redup kuyu mengalirkan

air darah dengan suara yang sangat memilukan ia berkata, ”Nak, ibumu tak dapat menolong kau,

tapi aku dapat membuatmu tidak menderita terlalu lama, nak kau tidak akan menderita lagi

selamanya!”

”Sret!” tangan San hoa li tahu-tahu sudah menghunus sebilah cundrik yang berkilauan, sambil

menggertak gigi ia tusukkan cundrik itu ke ulu hati anaknya, namun cundrik itu hanya menusuk

satu dim tangannya sudah gemetaran hampir tak kuat lagi memegang cundrik itu, Setelah

berkelejetan dua kali lagi si anak kecil itu berhenti bergerak.

”Anakku, kau tidurlah tenang menyusul ayahmu….” Diletakkannya jenasah anakanya dipinggir

mayat yang penuh berlepotan darah itu, lalu ia berdiri, ” Lo Tju-gi, kau ingat pada suatu hari

tentu cundrik ini akan menusuk kedalam ulu hatimu, termasuk juga dada anak muridmu!”

Mendadak San hoa li mendongak dan tertawa panjang histeris, sekali berkelebat dengan cepat

ia berlari turun gunung.

”Dia sudah gila!” Loh Tju-gi menggumam, dimana tanganya menyapu jenasah anak kecil itu

terpental terbang masuk ke dalam jurang yang dalam di samping sana, lalu sekali melejit

tubuhnyapun terbang menghilang dari pandangan mata.

 

1. BANJIR DARAH DI KUIL KUNO

Hujan lebat disertai angin puyuh membuat jagat remang-remang gelap, keadaan seluruh

kehidupan dalam dunia fana ini menjadi sedemikian sunyi senyap yang terdengar hanyalah deru

angin dan hujan, jarang terlihat ada manusia atau insan hidup berlalu lalang dibawah hujan lebat

ini.

Tapi didepan pintu sebuah biara ”Pek-hun-ko-sat” (biara kuno awan putih) berdirilah seorang

pemuda dengan tenangnya diterpa air hujan, dengan nanar kedua matanya memandang pintu

biara kuno ini, pemuda ini kira-kira berusia tujuh delapan belas tahun berwajah ganteng dan

membawa sedikit sifat keangkuhan, air mukanya penuh diliputi hawa membunuh membuat siapa

yang bertemu pandangan bergidik seram ketakutan.

” Masa para kepala gundul ini semua sudah modar!”, si pemuda bicara seorang diri, tangan

diangkat dengan ringannya sebuah jarinya menyentil dari kejauhan. ”Blang” gelang besi diatas

pintu biara itu mengeluarkan suara keras yang menggetarkan telinga, tidak lama kemudian pintu

biara terpentang perlahan-lahan, seorang hwesio beralis tebal bermata besar dengan marahmarah

melangkah keluar dari dalam, dan sebelum sempat membentak sapa, sinar matanya

bentrok dengan pandangan si pemuda yang berdiri dibawah hujan lebat di depan pintu biara,

tanpa merasa bulu kudunya mengkirik seran, diam-diam hatinya berkata, “nafsu membunuh yang

besar!”

Dingin si pemudah menyapu pandang kearah si hwesio, kaki diangkat ia langkahi undakan

didepan pintu biara, sejenak si hwesio menenangkan hati lalu berkata dengan nada berat , “Sicu

(tuan) harap berhenti!”

Si pemuda berhenti di undakan paling atas.

“Apa keperluan sicu berkunjung ke biara kita?”

”Mencari Tji Kong si hwesio tua!”

Berobah wajah si hwesio, semprotnya gusar: dia, adalah taysu ketua, sicu bicaralah mengenal

aturan!”

”Ini, sudah terhitung paling beraturan1”

”Huh,” jengek si hwesio.

”Kau mengejek siapa?”

Sontak timbullah gelora kemarahan di benak si hwesio, bentaknya keras, ”Pek hun ko sat bukan

tempat kau bertingkah tahu?”

Si pemuda melerok hina kearah si hwesio serta ujarnya dingin, “Kau perlu memberitahukan

kedatanganku dulu atau aku harus masuk sendiri?”

“Silahkan sicu sebutkan namamu.”

”Bu (go) Bing!”

”Bu bing? (tak bernama)”

“Lebih baik kau jangan cerewet!”

Si hwesio sudah tidak sabar menahan gusar, teriaknya menggeledek, “Siaucu….”

”Plak!” seketika si hwesio terhuyung mundur tiga langkah, pipinya berpeta jelas bekas lima jari

tangan, agaknya si pemuda masih berdiri tenang di tempatnya, dan bagaimana si hwesio kena

ditempeleng dia sendiri tidak melihat, tahu-tahu pipinya sudah bengap.

Nada si pemuda tetap sedingin es, ”berani sekali lagi kau buka mulut kotor, akan kubuat kau

selamanya tidak bisa bicara”

Keder dan kuncuplah nyali si hwesio, tahu dia bahwa si pemuda dihadapannya ini ternyata

berkepandaian silat sangat tinggi, tanpa merasa ia berdiri termangu ditempatnya tanpa berani

membuka suara lagi.

Terdengan langkah berat mendatangai, dua hwesio tua yang berusia 50an bergegas

mendatangi, selayang padang terhenyaklah mereka beberapa langkah jauhnya, dua pasang mata

yang tajam berbareng menatap kearah si pemuda. Segera si hwesio yang barusan kena

ditempeleng segera bersabda dan melapor dengan suara lirih, “Lapor Susiok, sicu ini ingin

bertemu dengan ketua kita.”

Kedua hwesio tua mengiakan berbareng lalu salah seorang diantaranya lantas bertanya, “Apa

sicu benar-benar hendak menemui ketua kami?”

“Tidak salah!”

”Harap sukalah terangkan maksud kedatanganmu ini!”

”Setelah bertemu dengan Tji Khong Hwesio dia sendiri tentu akan tahu!”

Berbareng kedua hwesio tua menarik muka, seorang yang lain segera menyahut, “Mengapa

datang-datang sicu lantas memukul anak murid kami?”

”Itu hanya suatu hukuman kecil bagi mulutnya yang kotor.”

lagi-lagi kedua hwesio tua ini bersungut dongkol, salah seorang yang membuka suara dulu tadi

bicara pula dengan sabar, “Kalau sicu tidak menerangkan maksud kedatanganmu, maaf pinceng

tidak dapat melayani?”

Si pemuda mendengus sekali, “Kalau begitu terpaksa aku mencari sendiri.” habis berkata

dengan langkah lebar ia hendak memasuki pintu besar biara.

”Mana boleh kamu bertingkah ditempat Budha yang tenang suci.” kedua hwesio tua itu

menghardik berbareng dengan melayangkan pukulan masing-masing.

Sipemuda tidak peduli dan bagai tak merasa apa2, kakinya masih tetap melangkah maju, ”Plak

– plok: dua suara nyaring menggema, seketika kedua hwesio tua merasakan pukulan mereka

membal atau dirutul balik menerjang mereka sendiri, kontan tubuh mereka tergetar mundur

sempoyongan, ditengah suara keluhan mereka, sipemuda sudah memasuki pintu biara dengan

tenangnya.

Karena ribut2 ini sudah menggemparkan para hwesio lain dalam biara, waktu si pemuda

melenggang melalui samping patung pemujaan, belasan hwesio sudah bersiaga mencegat

didepannya, dari belakang terdengan seruan gusar kedua hwesio tua tadi; “Kedatanganya

bermaksud jahat, cegat dia!”

Serentak belasan hwesio itu berjajar menghadang ditengah jalan, sambil berjalan si pemuda

berkata mengancam, “Kalau kalian tahu diri lebih baik menyingkir, aku tidak ingin melukai kalian.”

”Bocah sombong rasakan ini!” serempat kepelan dan jotosan beruntun dilancarkan untuk

merintanginya.

Sekilas berkelebat sinar merah dalam mata sipemuda, sebelah tangan diangkat dan diayun,

seketika terbit angin badai menghembus deras kedepan, sontak terdengar suara keluhan dan

kesakitan, beberapa hwesio yang memberondong tiba terpental jauh oleh gulungan angin kencang

yang menerjang mereka, hanya sekali berkelebat bayang sipemuda tahu2 sudah tiba

dipekarangan dalam.

”Tang-tang-tang!” lonceng tanda bahaya bergema keras maka ributlah suasana dalam biara itu,

para hwesio yang tak terhitung banyaknya bergegas berlarian keluar dari empat penjuru sambil

membekal golok dan pentungannya, mereka berdiri rapi bagai pagar mengepung sipemuda.

“Kalian mundur!” mendengar suara keras berwibawa ini serempat para hwesio membungkuk

tubuh dan merangkap tangan terus mundur kesamping, Ditengah ruangan sana berdiri seorang

hwesio berusia lanjut mengenakana kas warna merah marong, sepasang matanya berkilat2

menatap si pemuda, tanyanya “Siau-sicu siapakah namamu?”

”Go bing!”

”Ada urusan apa kau mencari lolap?”

Pandangan dingin bagai aliran listrik Go Bing mata menyorong kearah si hwesio tua, “Kau

inikah Tji Kong Hwesio!” tanyanya lantang.

Ucapannya ini menimbulkan gereman gusar dari semua hwesio yang hadir, tidak ketinggalan si

hwesio itupun berobah air mukanya, “Omitohud, itulah gelarang pinceng”.

Go Bing ulurkan jari tengah tangan kanannya, secarik sinar terang mencorong keluar dari

tengah jarinya, katanya dingin “Apa kau masih kenal ini?”

Seketika wajah Tji Kong Hwesio berobah pucat lesi dan terhuyung mundur ketakutan, mulutnya

mendesis, “Mo hoan (cincin iblis)”.

“Tidak salah!”

Begitu ”Mo-hoan” disebut seketika gemparlah seluruh hadirin, semua hwesio yang hadir

berobah pucak dan bergemetaran.

”Apa hubunganmua dengan Sia-Sin Kho Djiang?” suara Tji Khong tergetar menahan gelora

hatinya.

”Muridnya!”

”Dia…. dia…. belum mati?”

Hawa membunuh diwajah Go bing semakin memuncak, mendengus sekali dia menjawab, “ Hal

itu kau tidak perlu tahu!”

Otot dijidat Tji Kong Hwesio merongkol keluar, keringatpun membajir membasahi tubuh,

tanyanya gemetar, “Kau…. apa maksud kedatanganmu?”

”Mengambil batok kepalamu!”

Betapa keder dan takunya para hwesio mendengar nama Sin-sin Kho Djiang, serta mendengan

sipemuda hijau ini berani hendak mengambil batok kepala ketuanya, semua menggeram gusar,

masa mereka harus diam saja membiarkan orang memenggal kepala ketuanya, satu bergerak

yang lain mengikuti beramai2 mereka merubung tiba di depan ruang besar.

Dengan pandangan dingin Go Bing menyapu pandang kearah para hwesio itu lalu serunya

dengan datar: Tji Khong Hwesio aku tidak suka membunuh orang yang tidak berdosa, lebih baik

kau perintahkan mereka menyingkir saja!”

”Sudahlah!” teriak Tji Khong keras sambil mengebutkan lengan jubahnya yang besar,

seruannya hampir mengeluh, “Saudara2 dan semua anak muridku, lekas kalian mundur!”

Sejenak para hswesio itu merandek, tidak mundur malah dengan nekad mereka maju lagi.

”Tji Khong maaf aku hendak turun tangan”, habis ucapannya tubuhpun menerjang maju,

sebuah jotosan mengarah tepat kedada Tji Khong. Serangan pukulan ini bukan saja sangat cepat

laksana kilat juga hebat dan seram, meskipun kelihatannya hanya sekali pukulan namun

diantaranya mengandung banyak perobahan yang susah diselami, seluruh halan darah didada

lawan sudah dalam incaran cengkeramannya.

Sudah tentu Tji Khong tidak mandah terima binasa, akan tetapi kecepatan musuh turun tangan

tiada kesempatan lai untuk dirinya berkelit atau balas menyerang, dalam saat-saat jiwa diambang

pintu kematian sekuatanya ia lintangkan tangannya untuk menjaga didepan data. ”Blang” disertai

suara keras seperti orang hendak muntah dari mulut Tji Kong tubuhnya terhuyung surut ting

langkah ke belakang.

Bersamaan dengan itu dua batang tongkat besar dan tiga sinar pedang berbareng

memberondong mengurung tubuh Go Bing dengan serangan yang tidak kalah hebatnya.

Tanpa berpaling lagi, sebelah tangan diajun kebelakang terbitlah angin deras bergulung2

menerpa kebelakang hingga tujuh hwesio yang menyerang didirnya terpental pontang panting

keempat penjuru, hampir saja mereka tidak kuat lagi mencekal senjata masing2, masih untung Go

Bing masih belu mau turunkan tangan jahatnya,

Sebat luar biasa tubuh Tji Khong berkelebat lari memasuki Tay-hiong-po-tian.

”Tji Khong, kemana kau hendak lari?” seru Go Bing, belum habis ucapannya tubuhnyapun

sudah melejit tiba bagai kilat menghadang dihadapan Tji Khong.

Terasa semangat Tji Khong bagai terbang ke awang2 dilihatnya bibit bencana yang menyertai

kedatangan anak muda ini berkepandaian tidak kalah lihay dari Sia sin Kho Djiang dulu, jelas

bahwa dirinya tentu bukan tandingan musuh, Elmaut kematian terbayang didepan matanya hingga

wajahnya yang pucat lesi berobah kehijau2an.

Go Bing kerahkan tenaganya di jari tengah, maka menyoronglah sinar dingin dari ”cincin Iblis”

itu lebih lebar dan terang, perlahan2 tangan bergerak dimana sinar dingin itu menyambar,

terdengarlah suara jeritan panjang yang menyayat hati. Kepala Tji Khong yang gundul terbang

meninggalkan tubuhnya, darahpun menyembur keras bagai mata air dari luka dillehernya,

mayatnya terkapar di lantai tanpa bergerak lagi.

Seketika para hwesio yang memburu tiba didepan pintu Tay hiong po tian terkesima

menyaksikan adengan pembunuhan yang aneh dan kejam ini, Mereka terlongong bagai patung

dan kehilangan semangat dan kesadaran.

Dengan tenang dan seenaknya Go bing mengeluarkan sebuah kantongan dan memasukkan

kepala Tji Khong kedalamnya, sekali melejit tubuhnya terbang melewati kepala para hwesio dan

menghilang ditengah udara dalam sekejap mata.

Sayup2 terdengar gema lonceng pertanda dukacita dari pada biara pek hun ko sat.

Dalam pada itu begitu sampai diluar dengan kecepatan yang susah diukur Go Bing berlarian

keras, cuaca masih tetap gelap, namun hujan dan angin badai sudah lama berhenti, ditengah

keremangan cuaca itulah dia berlari tiba didepan sebuah gua.

”Siapa?” bentakan dingin dan serak terdengar dari dalam gua.

”Murid sudah kembali, Su….”

”Apa tugasmya sudah kau selesaikan?”

”Sudah selesai menurut perintah!”

”Masuklah!”

Sambil menjinjing kantongannya Go Bing berkelebat memasuki gua, gua itu tidak terlalu dalam,

ditengah gua tersulut api unggun, dibawah penerangan api unggun itulah terlihat dipojok dinding

sebelah dalam sana berduduk sila seorang aneh yang rambut dan cambang bauknya menutupi

mukanya, matanya tinggal sebelah dan merem melek, kedua kakinya sudah buntung tinggal

tulang keringnya saja yang masih kelihatan memutih.

Go Bing meletakkan buntalan kantongnya serta berkata, “Suhu….”

Mata tunggal si orang aneh mendelik sinar matanya hijau mengancam desisnya gusar, “Bocah,

sekali lagi kau berani memanggil ”Suhu”, kubunuh kau?”

Go bing menyahut sedih, “Budi kau orang tua membesarkan murid selama lima belas tahun

ini….”

“Kentut!, dulu secara kebetulan kau terjatuh dalam tanganku, itu pertanda ajalmu memang

belum tiba saatnya, Lohu menolong dan memberi pelajaran silat kepadamu adalah supaya kau

kelak dapat menyelesaikan urusanku. Budi apa segala….”

”Akan tetap…. suhu….”

Si orang aneh ayunkan tangannya, seketika Go Bing tersurut mundur tiga langkah dengan

ketakutan, ”Bocah, ingat, panggil aku Kho Lo-sia (Kho tua sesat), kau dengan tidak, dulu Lohu

sudah bersumpah untuk tidak terima murid selama hidup!”

Dimulut Go Bing mengiyakan namun dalam hati ia membatin; kau melarang aku memanggil

kalau dalam hati aku tetap menganggap kau sebagai Suhu, bukankah beres. Selama lima belas

tahun ini berkawan dengan siorang aneh yang cacat kedua kakinya dan sebuah matanya. Bermula

dia menyangka siorang aneh ini sudah gila atau sinting, lama kelamaan menjadi kebiasaan. Dalam

ingatannya yang pertama memang gurunya ini sangat aneh dan sesat tindak tanduk dan

ucapannya selalu bertentangan dengan adat dan peraturan umum, selain kata “Sesat” susahlah

mengungkat keanehan wataknya itu.

Terhadap riwayat hidup suhunya ini boleh dikata hanya samar2 saja diketahui dari mulut

orang2 dikelangan kang-ouw. Yang jelas diketahui hanyalah bahwa nama Sia-sin Kho Djiang (Kho

Djiang si malaikat sesat) sudah sejak dua puluh tahun yang lalu menggetarkan dan menciutkan

nyali setiap toko silat dari aliran hitam maupun golong putih. Selama belasan tahun dirinya

dibimbing sampai beesar, mengajarkan kepadaian silat lagi kepadanya hakikatnya hubungan

mereka adalah guru dan murid, naum dia melarang mengaukui hubungan antara guru dan murid

ini.

Teringat sebelum dirinya melaksanakan perintah suhunya pergi membunuh orang, si orang

aneh ini hanya menerangkan bahwa orang yang harus dibunuhnya ini adalah salah satu

biangkeladi yang menggunakan akal muslihat menyebabkan sebuah mata dan kedua kakinya

menjadi cacat selamanya. Selain itu apapun tidak diterangkan.

”Buka kantongan itu!”

Segera Go Bing mengerjakan apa yang diminta dan mengeluarkan batok kepala gundul itu.

Sia-sin Kho Djiang mengekeh tertawa, serunya, ”Tidak salah, memang dialah Tji Khong si

kepala gundul itu, bawa kebelakang gua dan direndam dalam obat supaya tidak membusuk.”

Go Bing mengiyakan terus masuk ke gua belakang, tidak lama kemudian ia berjalan keluar lagi.

Sia-sin Kho Djiang ulapkan tangannya dan berkata, ”Bocah kau duduklah”.

Go Bing duduk ditepi api unggun.

Terdengan Sia-sin Kho Djiang menyambung katanya ”Siaucu, Lohu pernah melulusi setiap kali

kau selesai mengerjakan tugasmu, aku menjawab satu pertanyaanmu, sekarang kau tanyalah?”

”Murid…. aku ingin mengetahui riwayat hidupku!”

”Go Bing atau Bu Bing hampir sama nada ucapannya dan itu berarti kau sendiri tidak

mempunyai nama, tentang riwayatmu sedikitpun Lohu tidak mengetahui, sekarang pertanyaan

sudah selesai!”

Go Bing menjadi geli dan angkat pundak, pertanyaannya menjadi sia-sia, baru saja ia hendak

membuka mulut lagi, Sia-sin Kho djiang sudah menggoyang tangan, “Kalau maasih ada

pertanyaan, tanyakanlah setelah kau selesai mengerjakan tugasmu.”

Go Bing menelan ludah dan mengurungkan ucapannya, tapi lanatas timbullah rasa sedih dalam

benaknya bahwa ternyata dirinya adalah insan yang harus dikasihani tanpa mengetahui riwayat

sendiri. Suhunya sendiripun tidak mengetahui, bukankah teka-teki riwayat hidupnya takkan

terpecahkan selama hidup ini. Go Bing, Bu bing (tak bernama) sungguh tak terduga hanya nama

saja dirinya tidak punya.

Bagaimana dirinya sampai dibimbing dan dibesarkan oleh Sia-sin Kho Djiang, tiada pangkal

mulanya yang dapat diingat. Mungkin dari permulaan apa yang pernah dialami, dapat dicari

pangkal sumbernya, akan tetapi dia tahu akan sifat aneh gurunya, tiada gunanya banyak tanya.

Satu2nya jalan hanya menunggu kesempatan lain yang akan datang.

Mata tunggal Sia-sin Kho Djiang berkedi2, katanya, “Siaucu dengarlah orang kedua yang harus

kau bunuh adalah Tiang-un Suseng….”

”Tiang-un Suseng (pelajar nestapa)?”

”Tidak salah, apa kau pernah dengar tentang orang itu dikalangan kangouw?”

”Pernah kudengar, nama pendekar dan kepahlawaman Tiang-un Suseng….”

“Bohong, nama kosong dan perbuatan palsu kaum keroco di kalangan bulim sangat banyak!”

“Aku hanya dengar dari cerita sementara orang.”

”Tiang-un Suseng tiada mempunyai tempat tinggal tetap, kau harus lebih banyak mengeluarkan

tenaga untuk mencari jejaknya”.

”Mengapa kau orang tua tidak secara total menyebutkan nama2 orang yang harus kubunuh,

kalau dapat sekaligus kubereskan bukankah menghemat tenaga dan waktu untuk pulang pergi….”

”Siaucu ambekmu terlalu besar, apa kau kira setiap orang yang harus kau bunuh ini sama rata

dengan Tji Khong sikepala gundul yang tidak becus ini?”

“Maksudku orang yang harus kucari itu mungkin tidak ketemu dan secara kebetulan dapa

kebentrok dengan yang lain….”

“Memang omonganmua sangat beralasan, tapi apa yang pernah Lohu ucapkan tidak pernah

kujilat kembali.”

Go bing tidak membuka suara lagi, dengan langkah lebar dia meninggalkan gua itu, sejak kecil

hidup bersama Sia-sin Kho Djiang sedikit banyak sifat aneh gurunya itu menular pada muridnya.

”Siaucu kau kembali!”

”Kau masih ada omongan lagi?” Walaupun Sia-sin tidak mengijinkan dia memanggil Suhu dan

harus memanggil Kho Lo-sia, tapi dia tidak mau secara terang2an menyebut itu, sebab meskipun

hubungan mereka tidak resmi, tapi hakekatnya adalah guru dan murid, dan sebab yang lebih

penting adalah bahwa dirinya senantiasa harus berkelana di kalangan kangouw, sifat menyendiri

yang aneh sudah berdarah daging dalam tubuhnya. Membunuh tji Khong hwesio merupakan

tugasnya yang pertama kali, sebelumnya belum ada seorangpun yang mengenal dirinya

dikalangan kangouw.

Terdengan Sia-sin berkata haru, “ kalau kau bertemu dengan orang yang dapat menggunakan

”Pek-pian-kui-djiau”, tidak peduli siapa dia dan apa kedudukannya, kau tidak boleh turun tangan,

lebih penting lagi jangan kau katakan jejakku ini, ingatlah hal ini.”

“Lalu mengapa?”

”Kenapa? kau tidak perlu tahu!”

”Masa, murid Sia-sin Kho Djiang harus takut….”

”Kentutu, siapa bilang bocah macammu ini adalah muridku?”

”Akan tetap kepandaian silatku dan cincin iblis ini bukankah itu berarti mencuri kelintingan

menutupi telinga sendiri?”

”Berani banyak bacot lagi kubunuh kau.”

Apa boleh buat Go Bing angkat pundak terus tinggal pergi keluar gua.

Mala itu juga dia tinggalkan gunung dimana Suhunya bersemayam dan menginap disebuah

hotel. Terdengar olehnya banyak para tamu penginapan itu tengah ribut2 mempercakapkan

tentang murid Sia-sin Kho djiang yang muncul lagi dikalangan kangouw. Sekali gebrak

menanggalkan batok kepala Tji Khong hwesio ketua biara Pek-hun-ko-sat.

Selama malang melintang dulu Sia-sin Kho Djiang selalu menuruti kata hatinya, sifatnya jahat2

jantan, dikatakan sesat bukan karena dia adalah penjahat besar yang laknat, adalah karena

sifatnya yang aneh semua perbuatannya bertentangan dengan kehendak umum, dan lagi ilmunya

sangat tinggim maka orang2 memberikan julukan Sia-sin (malaikat sesat) padanya.

Timbullah dugaan dalam benak Go bing, mungkin peristiwa pembunuhan di Pek-hun-ko-sat

telah menggemparkan seluruh bulim, untung selain para hwesio itu tiada seorangpun yang

mengenal wajah dirinya. Kalau cincin iblis ditangannya tidak diketahui orang, asal-usul dirinya

masih dapat dirahasiakan, kalau tidak tentu membawa banyak kesukaran akan tugas yang harus

dilaksanakan itu. Maka terpaksa ia tanggalkan Mo-hoan dari jarinya dan disimpan di dalam

kantong bajunya.

 

2. MAYAT JELITA DIDALAM HUTAN

Waktu terang tanah dia tinggalkan penginapan dan berjalan seenaknya dijalanan raja tanpa

tujuan yang menentu, Tiang-Un Suseng tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, sedemikian

besar kangouw ini mencari seorang berarti mencari sebatang jarum dilautan, disamping itu nama

Tiang-Un Suseng sangat disanjung puji sebagai seorang pendekar budiman yang tenar, sekali dia

menemui ajalnya, geombang heboh kematiannya itu dapatlah dibayangkan, akan tetapi perintah

guru bagaimanapun harus dilaksanakan.

Tapi bila teringat kejadian betap kejam waktunya suhunya dikorek sebuah matanya dan kedua

kakinya dikutungi, ia maklum akan dendam kesumat suhunya ini, mereka lebih dulu mencelakai

gurunya dengan cara keji dan busuk, kini kalau dirinya membunuh mereka agaknya sangat

setimpal dan tiada salahnya.

Bagaimana wajah dan perawakan Tiang-Un Suseng sedikitpun dia belum mengetahui,

seumpama bertemu ditengah jalan juga tidak mungkin mengenalnya, lagipula tidak mungkin ia

tidak mungkin bertanya pada orang lain….

Tengah bejalan sebuah suara yang melengking mengerikan bergema ditengah udara dari

kejauhan sana, suara itu membuat bulu kuduk orang mengkirik mendengarnya.

Terkesiap hati Go Bing terbangun semangat dari lamunannya, lalu dengan cermat dia pasang

kuping, tapi setelah suara jeritan itu tak terdengar lagi suara lain atau reaksi apa2, dari arah suara

yang melengking tinggi itu agaknya tidak jauh didepan jalanan sana, maka sebat sekali tubuh Go

Bing berkelebat melayang kedepan dengan kecepatan bagai anak panah. Sebelah samping kanan

dari jalan itu adalah sebuah hutan kecil, sebelah kiri adalah padang rumput yang luas tak berujung

pangkal, sekilas ia berpikir cepat2 ia memutar arah memasuki hutan didepannya ini, kedua

matanya bagai kilat menyapu keempat penjuru. Kira2 sepuluh tombak didepan sana tampak

sesosok tubuh seorang wanita rebah membujur diatas tanah, baju atasnya hancur lebur, sedang

bawah tubuhnya tanpa mengenakan seutas benangpun.

Seketika merah padam wajah Go Bing, hati berdetak keras napaspun memburu, baru saja

hendak putar tubuh tinggal pergi, sekonyong2 tergeraklah hatinya, bukankah suara jeritan

panjang tadi adalah suara seorang wanita apa mungkin dia ini…. karena pikirannya ini ia putar

balik lagi sambil menahan gelora hatinya ia maju mendekat dan melihat lebih tegas. Terlihat

olehnya orang itu adalah seorang gadi remaja, keduanya matanya tertutup rapat dari lobang

panca inderanya mengalir darah segara, kedua tangannya mencengkram kencang kedalam tanah,

bawah tubuhnya merah bernoda darah.

Tergetar kecut hati Go Bing, batinnya, “mayat seorang wanita yang diperkosa dulu sebelum

dibunuh.”

Meski menghadapi sesosok mayat, namun bagi jiwa muda yang belum pengalaman mengalami

gelora hidup manusia dan usia yang baru menanjak dewasa seperti Go Bing hampir2 tidak kuat

menahan gejolak hatinya, terasa jantungnya hampir melonjak keluar.

Tapi itu kejadian dalam sekejap saja, lantas terpikir olehnya inilah tragedi mengenaskan yang

penuh diliputi suasana seram mengerikan, gadis remaja ini kira2 baru berusi lma – enam belas,

mengapa diperkosa dan dibunuh orang? Lalu siapakah dia, orang dari kalangan persilatan atau….

”Siapakah algojo yang berbuat demikian kejam?”, ”harus dibunuh!” demikian ia menggumam

seorang diri. Lalu terpikir dalam hatinya, “gadis ini diperkosa dan dibunuh oleh bangsat rendah

yang tidak bertanggungjawab, enggenaskan dan harus dikasihani, aku tidak bisa membiarkan

jenasanya demikian saja, aku harus menguburkannya!”.

Baru saja hatinya mengambil ketetapan, mendadak terdengar suara dingin mengejek

dibelakangnya, “bukankah perbuatan sarudara ini sangat telengas!”

Sungguh kejut Go Bing bagai disengat kala, lekas2 ia memutar tubuh, dilihatnya tiga tombak

jauhnya berdiri seorang pemuda gagah yang mencoreng pedang tengah mengawasi dirinya,

wajahnya membeku geram dan penuh hawa membunuh.

Diam2 Go bing mengeluh, “ celaka, kalau orang salah paham bagaimanapun susah

menerangkan peristiwa ini.”

Dari itu diapun balas bertanya dingin, “Apa yang kau katakan?”

”Disiang hari bolong, saudara berani memperkosa dan membunuh seorang wanita lemah….”

”Tutup mulutmu!” hardi Go Bing dengan amarah yang menggelora didada, ”Dengan alasan apa

kau memfitnah orang semena2?”

”He he he he, saudara tak perlu main debat, kenyataan didepanmu itu membuktikan …………”

“Sekali lagi kau berani buka bacot kubunuh kau!”

Wajah beku pemuda itu berobah abu2, maju berapa langkah dia memandang atajam kearah

mayat wanitu itu, mendadak ia menggerung gusar dan memaki, “bangsat cabul, beani kau

memperkosa dan membunuh tunanganku, kalau hari ini aku tidak mencacah jiwam, aku

bersumpah tidak menjadi manusia!” sambil berkata2 itu tubuhnya menerjang maju sambil

menggerakkan kedua tangannya melancarkan serangan hebat.

Mendengar sikorban adalah tunangan orang, timbullah rasa simpatik dalam benak Go Bing,

tanpa membalas dengan ringan sekali ia berkelit kesamping delapan kaki sambil berseru; ”hai,

berhenti dulu!”

Bagai tidak mendengar sipemuda masih lancarkan lagi dua pukulan keras dengan kalap.

Laig2 Go bing harus melejit kesamping, “Sret” seketika sinar terang berkilatan, kiranya si

pemuda telah menjoreng pendang panjang, dan belum sempat Go Bing membuka suara lagi, sei

pemuda telah berteriak panjang, pedang ditangannya menusuk enteng kedepan, kelihatannya

tusukan ini biasa saja tapi sebenarnya mengandung perubahan tersembunyi yang susah diukur

kehebatannya, sebelum ujung pedang menusuk tiba didepan tubuh, susahlah diduga sasaran

mana yang diincarnya, dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu pedang si pemuda sudah hebat dan

sempurna betul.

Bagai bayangan setan iblis lagi2 tubuh Go Bing berkelebat menghilang, mulutnyapun berseru,

“Inilah jurus ketiga!”

Begitu sipemuda lancarkan tusukannya, bayangan musuh seketika menghilang, mala suaranya

terdengar dibelakangnnya, keruan hatinya tergetar kecut, sambil kertak gigi ia ayunkan

pedangnya kebelakang sambil memutar tubuh, gerak perobahan yang cepat ini benar2 membuat

orang kagum meleletkan lidah, namun demikian kepandaian lawan beberapa tingkat lebih tinggi

dari kemampuannya.

”Lepas tangan!” ditengah bentakan dingin itu, sipemuda rasakan pergelangan tangan tergetar,

tahu2 pedang panjangnya sudah terampas oleh lawan, saking kecut serasa jiwanya melayang ke

awang2, dengan ketakutan ia mundur beberapa langkah. Ia menyesal karena memandang rendah

kepandaian musuhnya ini.

Go Bing membolang-balingkan pedang, lalu melontarkan balik sambil berseru, “Sambutlah.”

Sipemuda menyambut pedang wajahnya berobah2 tak menentu.

Go bing mendengus sekali lalu bertanya, “Sikorban ini benar2 adalah tunanganmu?”

“Tidak salah!” sahut sipemuda sambil kertak gigi.

”Kau belum memeriksa lantas dengan alasan apa kau menuduh orang seenakmu dewek?”

”Aku hanya melihat kau disini, masa bisa….”

”Aku mendengar teriakan mengerikan lalu bergegas memburu tiba, selain si korban ini tak

kulihat bayangan seorangpun, kalu dia benar2 adalah tunanganmu, tentu kau dapat mencari

sumber penyelidikanmu….”

Pada saat itulah sebuah bayangan langsing terbang tiba dalam gelanggang pertempuran, waktu

Go Bing menoleh ternyata sipendatan ini adalah seorang gadis ayu jelita, wajahnya cerah secantik

bidadari.

Si pemuda berseru girang dalam dukanya, “Hun-ci, lihatlah adik Moay….”

Si Gadis memutar bola matanya melihat jenasah diatas tanah, seketika ia terbelalak ngeri dan

berobah air mukanya, mulutnya memekik keras, ”Li Bun siang apakah yang telah terjadi?”

Kirnya nama sipemuda adalah Li Bun siang. Li Bun siang tergagap sambil menunjuk Go Bing,

“Dia….”

Bergegas sigadis maju sambil melepaskan mantelnya terus ditutupkan ditubuh adiknya,

seketika air mata membanjir bagai air mancur, pekiknya penuh duka, “Adik Moay, biar cicimu

membalas sakit hatimu ini”.

Memutar tubuh dia menghadapi Go Bing wajah jelita itu menunjukkan nafsu membunuh yang

menggelora, serunya bengis, “Bangsat, aku siang Siau-hun berumpah pasti membeset kulitmu dan

mencacah jiwamu”

Go Bing berseru gugup, “ Nona, aku….”

Saking dka hati Siang Siau hun terasa bagai diiris2.

”Serahkan jiwamu!” bentaknya diserai serangan kilat menjojoh muka Go Bing sedang tangan

yang lain bergerak seperti cakar garuda mencengkram keuluh hatinya betapa kejam dan ganas

serangan ini sekaan2 sekali gebrak ingin rasanya mengkeremus Go Bing.

Bagaimanapun tajam mulut Go bing susahlah memberi penjelasan, baru saja ia berkelit

kesamping lantas terasa samberan angin dingin dari belakangnya, tahu dia bahwa Li Bun siang

telah mencuri kesempatan ini untuk membokong dirinya, dibawah gencatatan dari depan dan

belakang, musuhpun bukan lawan enteng, cara turun tangannyapun secepat kilat, dalam keadaan

gawat itu, tak sempat serangan Siang Siau hun dihiraukan sambil miringkan tubuh ia lancarkan

sebuah pukulan menerjang kearah Li Bun Siang.

”Blang!” disertai suara tertahan pukulannya membuat Bun siang terpental jauh membawa

pedangnya, tapi punggungnya sendiripun tidak urung kena terpukul oleh serangan siang Siau hun

tubuhnya terhuyung maju.

Tergetar hati Siang Siau hun bahwa pukulannya itu dilancarkan dalam kegusarannya yang

memuncak telah menggunakan seluruh tenaganya, seumpama batu gunung yang keraspun pasti

hancur lebur, tapi tidak demikian dengan lawan ini, bukan saja tidak terluka mala timbul suatu

tenaga mental balik dari tubuh lawan hingga tangan sendiri tergetar dan linu kesakitan. Namun

gejolak hati ini hanya sekilas saja merisaukan hati, pada lain kejap kedua tangannya bergerak dan

tubuh melejit menyerang Go Bing lagi.

Mau tak mau Go Bing harus ambil keputusan nekat dan tegas, kalau lawan tidak ditundukkan

hakikatnya tiada kesempatan baginya untuk memberi penjelasan, sebenarnya dengan

kepandaiannya gampang saja tinggal pergi tapi dengan tuduhan dosa tak terampunkan itu kalau

tersiar luas dikalagan kangouw susahlah dibayangkan akibatnya, sambil berpikir2 itu kedua tangan

bergerak melingkar dan menyapu, seruang keras tertahan segera terdengar Siang Siau hun

tersurut mundur lima langkah, dari mulut kecilnya melelh keluar darh segar. Gerak gerak Go bing

tidak berhenti sampai disitu, sebat luar biasa ia memutar tubuh terus melesat tiba didepan Li Bun

siang, dari sampai dilancarkan sebuah pukulan, tanpa sempat menggerakkan pedangnya Li Bun

siang mendem keras badannya meliuk dan jatuh duduk diatas tanah.

Perlahan2 Go Bing putar tubuh menghadapi Siang Siau hun ujarnya, “Siang-kohnio, maafkan

perbuatanku ini, aku tidak sengaja hendak melukaimu, tapi kau terlalu mendesak hingga terpaksa

aku harus turun tangan.”

”Bangsat cabut, ingin nonamu ini mencacah tubuhmu dan minum darahmu….”

”Nona sukalah kau dengan sepata kataku?”

Siang Siau hun sudah nekat, matanya merah membara tubuhnya gemetar saking duka dan

gusarm wajahnya membesi tanpa ekspresi, tangan diangkat lagi2 ia hendak lancarkan

serangannya….

Pada saat2 genting inilah sebuah bayangan tinggi lencir mendadak terbang datang dari

belakang phon lima tombak sana, sekali berkelebat bayanga ini sudah berdiri dihadapan mereka,

bayang ini ternyata adalah seorang yang mengenakan pakaian hijau.

Siang siau hun sudah pasti bahwa si algojo yang membunuh dan memperkosa adiknya adalah

Go bing, ingin rasanya menelan musuh ini bulat2. makanya munculnya si orang berkedok ini

sedikitpun tidak dihiraukannya, adalah Go Bing malah melihat tegas, cara orang baju hijau ini

bergerak sungguh sangat aneh dan menakjubkan ginkang orang ini.

”Nona berhenti sebentar!” seru orang berkedok itu, suaranya dingin menggiriskan tubuh

membuat bergidik pendengarnya.

Berdetak jantung Siang Siau hun, serangannya dibatalkan lalu mundur satu langkah, baru

sekarang ia melihat kehadiran si baju hijau berkedok yang berdiri didepannya. Suara kata dingin

tadi terang diucapkan olehnya, Maka dengan gemes ia bertanya , “Siapa tuan ini?”

”Orang lewat!” sahut siorang berkedok seenaknya.

”Hm, apa tujuan tuan muncul disini?’

”Untuk melerai!”

”Apa maksudmu?”

”Kepandaian nona tidak lemah, tapi kau masih bukan lawan engkoh kecil ini!”.

Siang siau hun mengangkat alis, serunya geram, “Aku ingin mencacah hancur tubuhnya.”

“Karena adikmu dibunuh dan diperkosa?”

”Ya, tuan orang lewat, silahkan lanjutkan perjalananmu!”.

”Dengan alasan apa nona memastikan bahwa engkoh kecil ini adalah sipembunuh yang

memperkosa adikmu itu?”

”Ini….” Siang siau hun melengak bungkam, tergugahlah hatinya, karena pertanyaan ini seketika

ia terhenyak ditempatnya, bola matanya melirik kearah Li bun siang yang berdiri disamping sana.

Dengan haru dan rasa terima kasih yang tak terhingga Go Bing meliring kearah siorang

berkedok, terdengan si orang berkedok bicaa lagi, “dalam peristiwa ini Lohu dapat menjadi saksi.”

“Saksi?” jengek Siau siau hun dengan geramnya.

“Ya!”

”Punya bukti apa kau hendak menjadi saksi, apa kau tahu siapa pembunuh itu?”

“Engkoh kecil ini datang kemari setelah mendengar teriakan adikmu yang sudah menjadi

korban, ini Lohu melihat sendiri.”

Siang Siau hun mendesak maju dan berseru haru, “jadi tuan mengetahui siapakah pembunuh

itu?”

“Sudah tentu!” sahutnya, dua jalur sinar dingin mencorong keluar dari belakang kedoknya

menatap kearah Li Bun Siang.

Li Bun siang bergidik lemas, serunya gugup, “Hun-ci waktu aku memburu tiba, kulihat bocah ini

tengah berdiri disamping jenasah adik Moay, dia….”

Mata Go Bing pun tidak kalah tajamnya dan bengisnya menyapu Li Bun siang, suaranya

mendesis, “Siaucu mengingat si korban ini adalah tunanganmu, aku tidak ambil panjang urusan

ini, kalau tidak sejak tadi sudah kulumas nyawamu, berani kau memfitnah semen2 tanpa bukti?”

Suara siorang berkedok dingin menyambung ucapan Go Bing, “Tapi Lohu melihat kau berlari

pontang panting dan kembali lagi, waktu engkoh kecil ini datang tadi kebetulan kau baru saja lari

pergi….”

“Bohong, dia adalah tunanganku, masa….”

Dengan penuh kecurigaan Siang Siau hun bertanya pada orang berkedok, “Apakah keterangan

tuan ini dapat dipercaa?”

”Apa faedahnya aku berbohong!”

Pucat pias wajah Li Bun Siang, tubuhnya gemetar keras.

Siang siau kun berbalik menghadapi Li Bun siang, sinar matanya mengandung kebencian yang

menyala2, hardiknya bengis, “Li Bun siang coba kau katakan!”

Mendadak Li Bun siang menggembor keras bagai orang gila, tubuhnya terkapar jatuh, kedua

tangannya mencakar dan menggaruk keseluruh tubuhnya hingga seketika itu bajunya dedel dowel

hancur lebur. Perobahan mendadak yang tidak terduga ini membuat ketiga orang lainnya bercekat

hatinya dan berdiri kesima.

Gesit sekali tubuh orang berkedok melejit maju mendekat, jari tangan menutuk dari jauh

mengarah jalan darah Tiong-tong, jalan darah kematian didada Li Bun siang, setelah berkelejet

sekali tubuh Li Bun siang diam tak bergerak, mati!

Bergetar hati Go Bing, sebelum sempatia buka suara, Siang Siau hun sudah memburu maju

beberapa langkah, matanya menatap tajam sambil menuding orang berkedok suaranya gemetar,

“Tuan, apa maksudmu ini?

“Membebaskan dia dari penderitaan!”

”Apa bebas dari penderitaan?”

”Ya.”

Ucapan ini seakan menhentikan napas Go Bing dan Siang siau hun, wajah mereka

menunjukkan perasaan penuh curiga dan ketakutan.

Siorang berkedok menggeleng kepala, ujarnya, “Lohu terburu nafsu menyalahkan dia”

“Jadi dia mati terbokong?” tanpa merasa tercetus pertanyaan dari mulut Go Bing.

Dengan suara sangat haru siorang berkedok berkata kepada Siang Siau hun, “Nona siang, coba

kau lihat cara kematiannya itu apakah sama dengan kematian adikmu?”

Go bing dan Siang Siau hun berseru kaget hampir bersamaan, “tujuh lobang (panca indra)

keluar darah.”, memang darah melelh keluar dari mata, hidung, kuping dan mulut Li Bun siang.

Suara siorang berkedok kini tidak lagi dingin dan menggiriskan, tapi berobah haru dan sember,

“Adikmu ini bukan mati lantaran diperkosa, tapi karena keracunan!”

“Keracunan?” tergetar suara Siang Siau hun.

”Ya, setelah Lohu meliat bocah ini baru mendadak aku teringat, kalau dugaanku tidak salah

racun jahat ini adalah yang sering dikabarkan sebagai bisa paling lihai bernama racun tanpa

bayangan….”

”Racun tanpa bayangan?”

”Ya, racun tanpa bayangan! racun tanpa bayangan ini boleh dikata merupakan racun yang

paling jahat dikolong langit ini, kalau racun ini bekerja dalam tubuh terasa sangat panas, seluruh

tubuh gatal2 susah ditahan, maka sipenderita menggaruk dan mencakar badan sendiri, setelah

mati darah merembes keluar dari panca indra, selayang pandang tidak kentara adanya bekas2

keracunan, hampir mirip benar karena mati tergetar remuk oleh pukulan berat, maka itu

dinamaakan racun tanpa bayangan.”

Mendengar keterangan ini Go Bing menghela napas dalam, sungguh ajaib bahwa didunia ini

ternyata ada bisa yang sedemikian jahat.

Siang Siau hun sesungukan menutupi mukanya,

Lagi2 suara siorang berkedok bertanya, “Apa nona mempunyai musuh besar atau….”

”Tidak ada!” jawab Siang Siau hun sambil mengusap air mata, “Apalagi adikku belum penuh

berusia enam belas, selama ini belum pernah kelana di kangouw, sudah tentu tak perlu diragukan

adanya musuh besar apa segala, adalah kematiannya ini yang membuat aku tak habis mengerti.”

”Lalu saudara kecil ini?”

”Dia bernama Li Bun siang, kawan karib adikku sejak kanak2, diapun jarang kelana di Bulim.”

Go Bing turut bicara, “Apakah adikmu membawa suatu benda apa yang bisa membuat tokoh

kangouw mengincar dan ingin merebutnya?”

”Ya, itu satu kemungkinan” sambungnya siorang berkedok sambil manggut2.

Siang Siau hun mengiakan, tapi lantas menggeleng kepala.

”Benar2 tidak!”

”Tidak!”

“Inilah mengherankan, mengapa orang membunuh adikmu dan Li Bun siang ini, coba nona

pikir2 lagi, sebelum kalian tiba disini, apakah suatu peristiwa terjadi yang harus diambil perhatian.”

Mendadak Siang siau hun melompat maju menubruk kearah jenasah adiknya.

Siorang berkedok membentak keras” ”jangan sentuh!” ~ disusul tubuhnya menyambar maju

dengan kecepatan yagn susah diukur ia menghadang didepan Siang Siau hun, sekuatnya Siang

Siau hun menghentikan luncuran tubuhnya, tanyanya kaget, “Mengapa jangan?”

”Menurut kabarnya, racun tanpa bayangan ini melebar keseluruh tubuh sikorban, kalau nona

menyentuh kulitnya saja tentu kaupun akan mengikuti jejak adikmu bersama Li Bun siang itu.”

Mengkirik bulu tengkuk Siang siau hun, keringat dingin membasahi tubuhnya.

”Nona ada menemukan apa?” tanya siorang berkedok lagi.

Dengan rasa pedih dan pilu Siang Siau hun memandang jenasah adiknya, sahutnya, “Mendadak

teringat olehku suatu perstiwa….”

“Peristiwa apa?”

Karena heran dan ingin tahu perkembangan selanjutnya Go Bing urungkan niatnya hendak

tinggal pergi, ia maju mendekat sambil pasang kuping.

Kata Siang Siau hun, “Kira2 sepuluh li didepan jalan tadi kita bertiga bertemu dengan seorang

tua yang sudah hampir menemui ajalnya, karena terluka berat, dititipkan kepada kita bertiga

sebuah barang yang minta tolong supaya dihantarkan ke Yok-ong bio diluar kota Seng-toh, barang

itu harus langsung diserahkan kepada ketua kelenteng itu, karena kasihan kita….”

“Lalu kalian melulusi hendak menyampaikan barang itu?” tukas siorang berkedok cepat.

”Ya, memang tujuan kitapun hendak ke Seng-toh.”

”Barang apakah itu?”

”Agaknya sebuah kotak panjang yang dibungkus kain berminyak.”

”Mana barang itu?”

”Disimpan oleh adikku!, justeru tadi aku hendak memeriksa apa barang itu masih ada

ditubuhnya.”

”Coba nona periksa menggunakan dahan pohon.”

Siang Siau hun menjemput sebatang dahan pohon sebesar lengan lalu mengcungkil-cungkil

baju yang hancur lebur dan membalikkan juga tubuh adiknya, tapi apapun tidak kelihatan, dengan

kejut dan keheranan ia berseru, “Sudah hilang!”

Siorang berkedok manggut2, ujarnya, “disitulah pangkal mula peristiwa ini, barang itu pasti

suatu benda berharga di bulim, mungkin siorang tua yagn sudah dekat ajal itu memang terluka

berat dan terpaksa minta bantuan kalian untuk mengantarkanb enda itu, dan juga mungkin karena

dikejar2 musuh besar, lalu pura2 terluka berat dan hendak mati, menitipkan barang itu kepada

kalian adalah untuk mengelabuhi musuhnya itu, tapi bagaimana adikmy lantas bisa keluyuran

seorang diri….”

”Adikku masih bersifat kanak2 karena sedikit selisih mulut dia lantas berlari mendahului kita,

aku dan Li Bun siang tidak ambil perhatian, berjalan seenaknya dibelakang, akhirnya karena kuatir

seorang diri Li Bun siang berlari menyusul kedepan dan aku bejalan paling belakang, sungguh tak

terduga….” bicara sampai disitu Siang siau hun tidak kuat lagi meneruskan penuturannya, air mata

mengucur semakin deras.

Siorang berkedok berdehem berat, lalu katanya, “Benar, menurut dugaan Lohu, buntalan itu

pasti berisi suatu benda pusaka apa yang sangat berharga di Bulim, sipembunuh mungkin adalah

siorang tua yang pura2 terluka dan hampir mati itu, setelah tipunya dapat mengelabuhi

musuh2nya, secepat terbang dia menyusul tiba dan membunuh adikmu untuk menutupi mulutnya,

bahwa dia menggunakan racun tanpa bayangan tujuannya adalah hendak sekaligus secara tidak

langsung hendak membunuh kalin bertiga, dalam perhtitungannya setelah adikmu mati tentu

kalian akan menyentu tubuhnya dan ini berarti sekali panah terkena tiga ekor burung, akan tetapi

juga kemungkinan adalah perbuatan musuh yang mengejar siorang tua hampir mati itu, setelah

dapat mengetahui tipu licik orang tua hampir mati itu dia menyusul tiba terus membunuh adikmu!”

Tanpa terasa Go Bing mendengus sekali dan menggumam, “jahat, harus dibunuh!”

Mendengar itu Siang siau hun melirik kearah Go bing, tergerak hatinya baru kini didapatinya

pemuda yang salah sangkanya sebagai pembunuh adiknya ini ternyata adalah seorang pemuda

yang cakep ganteng, tapi wajah yang ganteng itu bersemu hawa pembunuhan yang lebat, daya

tarik laki2 jantan menyedot hatinya, tanpa terasa ia membungkuk minta maaf; “Sukalah

dimaafkan kecerobohan ku tadi”

”Tidak menjadi soal,” sahut Go Bing kaku.

”Bolehkan kuketahui nama besarmu?”

Berputarlah otak Go Bing, waktu di Pek hun ko sat ia pernah menyebut namanya sebagai Go

Bing kalau sekarang dikatakan bukankah akan membuka rahasia dirinya, hal itu tentu tidak

menguntungkan dirinya untuk menuntut balas sakit hati gurunya kelak. Apabila Go Bing itu berarti

dirinya tidak mempunyai nama, karena pikiran ini dengan tawar dia menyahut, “Aku seorang

keroco dari kangouw, kiranya tidak perlu nona mengetahui namaku.”

Merah jengah wajah siang Siau hun, berpaling muka dia bertanya kepada siorang berkedok,

“Apakah cianpwe mengetahui siapa2 kiranya yang menggunakan racun tanpa bayangan itu

dikalangan kangouw?”

Sejenak siorang berkedok berpikir lalu berkata, “Racun tanpa bayangan hanya kudenganr dari

cerita orang saja, menurut keadaan kematian adikmu itu persis benar dengan kabar cerita itu, jadi

itu hanya dugaanku saja, benar atau tidak belum tentu dapat dipastikan, namun dikalangan

kangouw sekarang ini yang merajai menggunakan racun berbisa terhitung Pak-tok Tangbun Lu

seorang….”

”Apa tidak mungkin Pak-tok (racun utara) yang turun tangan?”

“Tidak mungkin!”

”Kenapa?”

”Selain pandai menggunakan racun juga ilmu silat Tangbun Lu lihat jarang ada tandingannya

didunia persilatan. Selama hidup ini dia hanya punya seorang musuh yang paling ditakuti, itulah

Sia-sin simalaikat sesat Kho Djiang yang berjuluk Lam-sia (sesat dari selatan)….”

Bicara sampai disini dengan sengaja siorang berkedok merandek dan entah sengaja atau tidak

matanya melerok kearah Go Bing.

Mendengar orang menyinggung nama gurunya, tergerak hati Go Bing, namun sejak kecil dia

sudah digembleng simalaikat sesat, tindak tanduk Sia-sin yang bertentangan dengan kebiasaan

umum sedikit banyak membawa pengaruh pada jiwanya, perobahan perasaan hatinya tidak

kentara dari lahir wajahnya, pikirnya : kalau kepandaian racun utara sudah jarang menemui lawan

didunia persilatan apalagi merupakan musuh bebuyutan suhuna, bukankah itu berarti bahwa

kepandaian suhu mungkin lebih tinggi dari racun utara ini, lalu bagaimana terjadinya suhu sampai

celaka dibawah tangan orang? Tanpa merasa mulutnya terpentang bicara, “Antara sesat dari

selatan dan racun utara itu siapakah lebih kuat dan lemah?”

”Ilmu Hian-In-kang dari racun utara boleh dikata sukar dicari tandingannya, tapi Kiy-yan-sinkang

dari Lamsia justeru merupakan lawan mematikan bagi ilmu Hian-In-kang itu, tapi karena

racun utara berkelbihan pandai menggunakan bisa maka mereka masing2 memiliki kelebihan dan

kelemahan sendiri2”

”Tadi cianpwe belum memberi penjelasan mengapa racun utara tidak mungkin turun tangan?”

Siang Siau hun mengajukan pertanyaan lagi.

Siorang berkedok manggut2, sahutnya, “Pertama: racun utara sangat menjunjung tingkatan

dan kepandaianya tentu tidak mungkin ia turunkan tangan jahat kepada tingkatan rendah, hal ini

semua orang dikalangan kangouw tentuk maklum, kedua seumpama terdesak oleh keadaan

dengan kepandaian silatnyapun tidak perlu dia menggunakan racun, ketiga, sudah belasan tahun

dia tidak pernah muncul didunia persilatan, maka kukatakan….”

Bola mata Siang Siau hun berputar, “Apa tidak mungkin perbuatan anak muridnya?”

Siorang berkedok ragu2, lalu sahutnya, “Ya, itu kemungkinan.”

”Aku bersumpah harus mencari tahu perbuatan siapa ini, untuk menuntut balas bagi kematian

adikku dan Li Bun siang.”

Suara Go Bing dingin kaku menyambung, “Secara kebetulan aku memergoki peristiwa ini, akan

kubantu sekuat tenaga untuk menyelidiki siapa pembunuh adikmu itu.”

Ucapan ini diluar dugaan Siang Siau hun, sungguh dia tidak habis mengerti bagaimana watak

dan tindak tanduk pemuda ini sebenarnya, bukan saja dingin dan garang serta congkak, namun

ucapannya itu menunjukkan pula sifat jujurnya, sinar matanya lagi2 menatap wajah cakep

ganteng yang mengandung daya tarik bagi semua lawan kelaminnya, lupa akan sifat dingin dan

congkak orang terhadap dirinya, dengan suara lembut ia berkata, “Saudara menjunjung keadilan

dan kebenaran, biarlah sebelumnya aku mengucapkan terima kasih.”

Go Bing ulapkan tangannya, ” itupun tidak perlu, aku bukan pendekar yang suka menanam

budi, tadi sudah kukatakan secara kebetulan saja aku memergoki peristiwa ini, terpaksa aku harus

ikut campur.”

Sahutan ini membuat Siang Siau hun hampir susah bernapas saking dongkol, raut mukanya

mengelam dan sahutnya, “Kalau begitu tak berani aku menyusahkan saudara.”

Go Bing menarik muka wajahnya membesi, “turut campur atau tidak adalah urusanku, nona

tidak perlu banyak komentar, selamanya aku melakukan apa kata isi hatiku, tiada sangkut pautnya

dengan orang lain dan orang lainpun tidak perlu memberi pendapat.”

Ucapan yang seakan2 benar tapi juga seolah2 tidak mengenal perasaan ini membuat Siang Siau

hun serba susah, serunya jengkel, “ saudara yang menjadi korban adalah adikku….”

”Adikmu adalah orang persilatan.” tukas Go Bing tegas, “Sudah tentu sipembunuh itu jug

aorang persilatan, orang persilatan mengurus persoalan bulim, lalu apanya lagi yang salah?”

”Orang aneh ucapannyapun aneh” gerutu Siang Siau hun sambil berpaling muka, tapi setelah

mengatakan itu ia merasa ucapannya rada2 kurang sopan, merah jengahlah raut wajahnya.

Siorang berkedok turut bicara lagi, “Nona Siang, urusan selanjutnya disini biarlah kau bereskan

sendiri, Lohu akan mencari jejak siorang tua luka berat hampir mati itu, akan kuperiksa sepanjang

jalan sepuluh li ini, jikalau benar jenasah orang itu itu berada disana, maka kau harus mencari

tahu ke Yong-ong-bio di Seng-toh itu, atau sebaliknya inilah tipu muslihat orang2 licik dari dunia

persilatan, kalau tidak bisa mencari tahu barang macam apakah dalam buntalan itu, maka

susahlah untuk mencari tahu siapakah sipenyebar racun itu.”

Siang Siau hun terharu dan dan sangat berterima kasih. ”Cianpwe seorang budiman yang suka

membantu kesukaran oran glain, tapi bagaimana baik menyukarkan….”

“Hahahaha, nona Siang, bukankah Thay-kek-tjhiu siang Se-ing adalah ayahmu?”

”Lho apa cianpwe kenal pada ayah?”

“Boleh dikata sahabat lama, maka sudah tentuk dalam peristiwa ini Lohu harus turut campur!”

Merah kedua mata Siang Siau hun ia membungkuk memberi hormat serta berkata, “Kalau

begitu cianpwe adalah seangkatan dengan ayah, harap sukalah memberitahu nama….”

“Jangan, tak usah” tukas siorang berkedok, “Sudah lama Lohu mengasingkan diri dan

melupakan nama sendiri.”

Lalu ia berputar berkata pada Gi Bing, “Saudara kecil apa kau ada minat turut pergi menyelidiki

kedepan sana?”

Otak Go Bing berkerja cepat, “Agaknya orang berkedok ini berpengalaman luas dikalangan

kangouw, menggunakan kesempatan ini baik aku bersahabat dengan dia, dari mulutnya mungkin

aku dapat meencari tahu jejak Tiang-Un Suseng!” oleh karena itu segera ia melulusi, “Memang

aku bermaksud demikian!”

“Kalau begitu marilah segera kita berangkat.”

Dua sosok bayangan dengan kecepatan seperti meteor terbang menghilang dari pandangan

mata, tanpa terasa lagi2 dari mulut Siang Siau hun tercetus kata2nya, “manusia yang bersifat

aneh!” dalam benaknya terkandung suatu perasaan yang menyegarkan tubuhnya, seakan2 ia

kehilangan sesuatu dan seolah2 menemukan sesuatu apa pula!

 

3. MEMPEREBUTKAN PEDANG BERDARAH

Dalam pada itu, dengan kecepatan lari Go Bing dan orang berkedok itu dalam waktu singkat

sepuluh li sudah dicapai, sepanjang jalan sudah mereka teliti dan selidiki namun tidak diketemukan

seperti apa yang diceritakan Siang Siau hun tentang orang tua yang terluka berat dan hampir

mati, jangan kata mayatnya bayangannya saja tidak kelihatan.

Siorang berkedok menghela napas, katanya, “gelombang perkitaian dikalangan kangouw sangat

berbahaya, agaknya lagi2 suatu peristiwa yang susah dipecahkan.” Gerak kaki mereka semakin

lamban, Selama dalam perjalanan sudah berulang kali Go bing hendak membuka mulut

menanyakan tentang jejak Tiang-Un Suseng, tapi tidak tahu dia darimana ia harus membuka

mulut.

Siorang berkedok telah membuka mulut lagi, “Saudara kecil kemanakah tujuanmu?”

”Tiada tujuan yang menentu, kemana2pun boleh jadi.”

”Lohu ingin bersahabat dengan kau, bagaimana pendapatmu?”

”Hal ini…. sudah tentu boleh!”

”Saudara kecil lulus dari perguruan mana?”

Go Bing ganda tersenyum, katanya, “Kita mengikat persahabatan sejati saja, bagaimana?”

”Apa yang dinamakan persahabatan sejati?”

”Tuan tidak perlu menanyakan asal usul dan riwayatku, akupun tidak usah menanyakan nama

atau gelaranmu, umpamanya kalau aku minta kau menanggalkan kedokmu, itu bukankah

membuat kau serba susah, kalau tuan mengenakan kedok itu tentu mempunyai kesukaran sendiri.

Maka itu kita mengikat persahabatan sejati, dua belah pihak sama membawa keuntungan

masing2.”

Siorang berkedok tertawa gelak2, serunya, “tepat, sungguh tepat! Tapi lantas bagaimana

memanggil nama masing@?”

”Dilihat dari usia tentu kau jauh lebih tua, baiklah kupanggil kau Bong-bian-heng (kakak

berkedok), tentang aku, terserah kau mau panggil aku apa?”

”Bagus sekali, aku lebih tua dan menjadi kakak, baiklah kupanggil kau “Saudara kecil” saja?”

”Aku sih menurut saja.”

”Saudara kecil kalau kau tiada apa2 yang perlu dikerjakan….”

”Yang dimaksud tiada tujuan tertentu adalah sekarang ini,” demikian tukas Go Bing memberi

penjelasan, “Kelak tidak termasuk dalam maksudku itu.”

”Baiklah kita persoalkan sekarang ini, kau ikut aku pergi ke suatu tempat, lalu kita sama2 pergi

menyelidiki barang yang dititipkan non Siang dan telah tercuri hilang itu, asal kita dapat

menemukan barang itu, tentu mudah saja kita mengejar sipembunuh yang telah meracuni adik

nona Siang dan Li Bun siang itu.”

“Kemana Bong-bian-heng hendak pergi?” panggilan ini boleh dikata tidak berarturan dalam

garis sopan santun, dasar murid Sia-sin yang terkenal sesat dan suka membangkang dari garis

umum sedikit banyak Go Bing ketularan sifat gurunya itu, sedikitpun ia tidak ambil peduli pendapat

itu, justeru siorang berkedokpun tidak ambil perhatian malah ia tertawa geli dalam hati.

”Pergi menyambangi seorang sahabat lama.”

”orang macam apakah dia?”

”Sahabatku itu sudah meninggal dunia.”

”Lalu….”

”Pergi sembayang dideapan kuburannya.”

”Oh, jadi begitu!”

Selama dua jam Go Bing mengintil dibelakang siorang berkedok sampailah mereka didepan

sebuah lereng gunung kecil, benar juga disana dilihatnya sebuah gundukan tanah tinggi diantara

semak2 rumpun bambu.

”Inilah dia.”

”Berapa lama sahabatmu meninggal?”

”Belum lama ini.”

Dalam berkata2 itu mereka sudah tiba dideapan kuburan, waktu Go Bing angkat kepala

memandang batu nisan, seketika tubuhnya tergetar hebat, meski sudah sekuat tenaga ia menekan

gelora hatinya, tapi tidak urung air mukanya berobah juga, sebab apa yang dihadapinya ini benar2

diluar dugaannya, hampir saja ia tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

Diatas batu nisan itu jelas tertulis ”Tempat istirahat Tiang-Un Suseng Po Djiang”. Delapan

hurup besar.

Dia mendapat tugas dari gurunya untuk memenggal kepala Tiang-Un Suseng, sungguh tak

terduga olehnya bahwa orang yang tengah dicari itu ternyata sudah terpendam dalam tanah.

Setiap kali ia menyelesaikan tugas gurunya melulusi untuk menjawb satu pertanyaannya,

sebetulnya segala ap yang ingin diketahui terlalu banyak, sekarang kesempatan untuk bertanya itu

mungkin sudah ludas, justeru yang paling penting dan dikuatirkan mungkin gurunya akan

menyesal dan berdua karena kematian musuh besarnya ini.

”Saudara kecil, agaknya kau sangat haru?” tanya siorang berkedok.

Sadari dari lamunannya terkejutlah hati Gio Bing, sahutnya segera, “ya, betul memang sangat

mengharukan!”

”Apa kau kenal dengan Tiang-Un Suseng?”

”Tidak kenal orangnya tapi pernah kudengar namanya, menurut kabarnya dia seorang

pendekar yang menunjung pribudi, namanya tegar dan cemerlang, entah mengapa dia meninggal

dunia?”

”Dia meninggal karena menghabisi jiwanya sendiri.”

”Bunuh diri?”

“Ya, benar”

“Kenapa?”

”Julukannya saja Tiang-un (selalu berduka), sudah tentu dia seorang yang membenci dunia

fana ini, akan tetapi yang mendorong dia nekat membunuh diri karena akhir2 ini dia sadar bahwa

dahulu kala dia pernah melakukan perbuatan tercela, maka dia bunuh diri untuk menebus dosanya

itu.”

Tergerak hati Go Bing, tanyanya lagi, “entah perbuatan apakah itu, masa sedemikian berat?”

”Waktu dia bunuh diri aku tidak disana, ini hanya menurut kabar yang tersiar dikalangan

kangouw!”

”Tahu salah tapi tidak memperbaiki, masa dengan bunuh diri lantas bisa….”

”Saudara kecil, mungkin perbuatannya itu merupakan kesalahan yang sudah ditolong lagi?”

”Kalau kesalahan tanpa sengaja, kalau sudah salah memang salah, apa perlu ditakutkan lagi!”

”Seumpama kesalaha tanpa sengaja, lantas melahirkan suatu akibat yang berat, umpamanya

membahayakan jiwa orang lain, lalu bagaimana dia harus menerangkan perbuatannya itu kepada

sahabat2 di kangouw?”

Go bing bungkam seribu bahasa.

Siorang berkedok merubah haluan kata2nya, “Akhir ini, kabarnya ada seorang pemuda yang

tidak diketahui namanya, ia mengaku sebagai murid Sia-sin Kho Djiang, mendatangai Pek-hun-kosat

mengambil batok kepala Tji Khong hwesio, apakah saudara kecil pernah dengar berita ini?’ ~

sinar matanya yang tajam dingin dengan tajam menatap wajah Go Bing.

Terkesiap hati Go bing, waktu berada di Pek-hun-ko-sat ia memperkenalkan diri sebagai Go

Bing, mungkin pihak sana salah dengar dan menganggap Bu bing (tak bernama), maka kabar itu

mengatakan dirinya sebagai pemuda tak bernama maka dengan pura2 heran dan kejut ia balas

bertanya, “Apa benar ada peristiwa itu?”

“Menurut hematku tidak mungkin kabar itu bohong, akan tetapi urusan ini membuat orang

bertanya2.”

”Mengapa?”

“Menurut kabarnya, Kho Djiang sisesat dari selatan itu sudah mati pada dua puluh tahun yang

lalu, semasa hidupnya ia mempunyai seorang murid, bernama Lo Tju-gi, empat belas tahun yang

lalu waktu diadakan du kepandaian dipuncak Hoa-san dia merbut kedudukan tokoh silat nomor

satu diseluruh jagat ini, sejak itu dia terus menghilang dari dunia persilatan, lalu darimana pula

baru2 ini mendadak muncul soerang muridnya, tapi menurut beritua itu katanya sipemuda tak

bernama itu membekal cincin iblis tanpda pengenal dari Lam-sia dan hal ini tidak mungkin

palsu….”

Baru sekaranglah Go Bing mengetahui bahwa gurunya ternyata pernah mempunyai seorang

murid lainnya, tapi menurut kata gurunya bahwa pada dua puluh tahun yang lalu dia sudah

bersumpah untuk tidak menerima murid, apa mungkin sumpahnya itu ada hubungan erat dengan

Lo Tju-gi atau suhengnya itu? Otaknya berpikir demikian, namun mulutnya berkata ”Ya hal itu

benar2 membuat heran dan tak mengerti!”

Pada saat itulah tiba2 terdengar suara bentakan2 nyaring dari kejauhan dibalik lereng sebelah

sana, sejenak siorang berkedok pasang kuping, lalu berkata, “mari kita coba lihat!”

Berbareng mereka melesat dan berlari kencang kebalik lereng sebelah sana, dibalik lereng ini

adalah sebuah tanah datar kira2 satu bau luasnya, hutan lebat mengelilingi separoh tanah

berumput dan ditanah berumput inilah berkelebat banyakan banyak orang, ada tosu ada hwesio

dan ada juga orang preman sekitara lima puluhan orang.

Tiga orang tua berpakaian serba hitam terkepung ditengah2 dan disebelah sana seorang laki2

pertengahan umur berbaju abu2 tengah bertempur seru melawan seorang Thau-to (hwesio yang

memelihara rambut), teriakan dan bentakan mereka yang keras terdengar sampai jauh.

Bergegas Go Bing dan siorang berkedok menyembunyikan diri diantara rumpun lebat diatas

sebuah pohon besar dan dari ketinggian inilah mereka diam2 menonton pertempuran seru ini.

Sebuah bentakan keras disertai suara jeritan yang mengerikan menggetarkan seluruh hadirin,

darah segar menyembur deras bagai anak panah dari mulut si Thau-to ”Blang” tubuhnya terkapar

keras diatas tanah.

Laki2 pertengahan umur baju abu2 menyapu pandang keempat penjuru, suaranya dingin

melengking, “masih ada kawan mana yang menginginkan pedang berdarah ini, silahkan….”

Seorang hwesio gendut yang menyeret Hong-piang-djan (tongkat kaum hwesio) melangkah

maju masuk gelanggang.

Go Bing tidak tahan bertanya kepada siorang berkedok dengan suara lirih, “Mereka tengah

memperebutkan ”pedang berdarah” apa….”

”Ya, pedang berdarah merupakan gbenda pusaka dari dunia persilatan, juga benda keramat

yang membawa bencana.”

”Bagaimana maksudnya ini?”

”Setiap orang yang memiliki Pedang berdarah, tiada seorangpun yang selamat jiwanya.”

Dalam gelanggang sana, si hwesio yang bersenjata tongkat sudah bertempur seru melawan

laki2 berbaju abu2 itu, terlihat bayangan tongkat diputar kencang bagai sebuah gunung, kesiur

angin pukulanpun tidak kalah hebatnya bagai badai gelombang menderu2 menggetarkan bumi

memekakkan telinga.

Sekilas Go Bing menyapu keadaan gelanggang pertempuran lalu berkata lagi , “Bong-bianheng,

harap sukalah kau memberi sedikit penjalasan sekdaranya kepada siaute?”

“Menurut berita yang tersiar di Bulim, pedang berdarah menyangkut sejilid buku Bu-lim-pit-kip,

bagi siapa yang mendapatkan rahasia buku silat ini dapat malang melintang dikolong langit ini

tanpa tandingan, tapi kebenarannya siapapun tidak tahu, lima belas tahun yang lalu pedang

berdarah itu pernah muncul didunia ini untuk ketiga kalinya, pemiliknya adalah Swu-hay-yu-hiap

Suma Hong, begitu berita itu tersiar luas maka semua tokoh2 silat dari segala aliran hitam atau

putih mengiri dan mengincar benda keramat itu, akhirnya jejak suami istri Su-hay-yu-hiap Suma

Hong berdua ditemukan dipuncak gunung Tiam-Tjong-san, maka dipuncak Hou-thau-hong

digunung Tiam-tjong-san itulah terbuka suatu penyembelian besar2an untuk memperebutkan

benda berharga itu….”

Tanpa meresa tergerak hati Go Bing, bukankah gua tempat tinggal gurunya berada dibawah

jurang disamping puncak Hou-thau hong digunung Tian-tjong-san itu.

Siorang berkedok menyambung ceritanya lagi, “Su-hay-yu-hiap Suma Hong (sikelana bebas

keempt penjuru angin, bersama istrinya San-hoa-li (wanita penyebar bunga) Ong Fang Lan juga

terhitung tokoh silat kelasw satu, dibawah kerubutah ratusan gembong2 silat mereka bertempur

dengan gigih sampai titik darah penghabisan, akhirnya mereka rebah tak bergerak lagi dipuncak

itu, malah ada pula yang mengatakan ada seorang anak kecil berusia tiga tahun ikut meregang

nyawa dalam keributan itu, korban dari pihak pengeroyokpun tidak terhitung banyaknya.”

Diluar sadar Go Bing bergidik seram, dalam dunia persilatan sudah menjadikan suatu peraturan

tidak resmi bahwa yang kuat pasti malang melintang menindas yang lemah, bunuh membunuh

dan balas membalas tiada habisnya.

”Lalu selanjutnya bagaimana?”

”Akhirnya pedang berdarah itu terjatuh ditangah Tang-mo (iblis timur) dan akhir2 ini katanya

berpindah ditangan penjahat besar dari aliran hitam Mo-san-dji-kui bersaudara.”

”Lalu bagaiamana pula sekarang bisa diperbutkan disini….”

”Kejadian di bulim susah diduga, banyak perobahan terjadi diluar kehendak manusia, mungkin

Mo-san-dji-kui juga mengikuti jejak Su-hay-yu-hiap suami istri sudah tamat riwayatnya.”

Terdengarlah sebuah jeritan lagi dari dalam gelanggang sana, kiranya si hwesio gendut itu

sudah menemui ajalnya juga ditangan laki2 baju abu2 itu.

Kata siorang berkedok hambar, “Liau Sing, hwesio bakpau dari Ngo-tai-san akhirnyapun mati

diatas pegunungan tanpa tempat kubur yang layak karena ketamakan hatinya sendiri.”

”Kepandaian laki2 baju abu2 itu agaknya tidak lemah, tiga orang berseragam hitam

dibelakangnya itu agaknya segolongan dengan dia?”

”Apa kau tidak melihat tanda bergambar diatas baju meraka.?”

”Oh, sekuntum bunga bwe, Bwe-hoa-hwe!”

“Laki2 baju abu2 itu berjuluk Tjhit-ou-tjiu, Tjong lun, salah satu dari Tongcu luar dari Bwe-hoabwe.”

”Tokoh macam apakah ketua dari Bwe-hoa-bwe itu?”

”Mungkin tiada seorangpun yang tahu, belum ada sepuluh tahun Bwe-hoa-bwe muncul didunia

persilatan, kekuatan mereka sudah menjagoi sampai berbagai aliran dan golongan, gembong2 silat

tingkat tinggi yang lihat tak terhitung banyaknya terhimpun dalam kumpulan itu….”

Tiba2 gelak tawa aneh yang ngekek bergelombang memekakkan telinga dan menggetarkan

sukma mengiringi kedatangan tiga manusia aneh berpakaian aneh pula rambut mereka awut2an

dengan langkah lebar memasuki gelanggang.

Go Bing berseru heran, “Ketiga orang tua ini agaknya seperti Lam-hong-sang-hiong….”

”Tidak salah, pengalamanmu saudara kecil cukup luas juga.”

Lam-hong-sang-hiong (tiga garang dari gunung Lan diselatan) menghentikan langkah setombak

lebih didepan Tjit-ou-tjiu Tjong Lun. Tjui-hun-siu (aki mengejar sukma) tertua dari manusia aneh

ini perdengarkan ejek tawanya, lalu serunya bengis, “orang she Tjong, apa kau tahu maksud

kedatangan kami bersaudara kemari?”

Suara Tjit-ou-tjiu Tjong Lunpun tidak kalah dinginnya, “ Semua kawan yang masuk gelanggang

hari ini semua satu tujuan, kiranya tidak perlu aku banyak mulut lagi bukan?”

Tjiu-hun-siu mengumbar suaranya lebih keras, “tjong Lun, apa kau tahu apa hubungan kami

bersaudara dengan Mo-san-dji-hiong?”

Mo-san-dji-kui dimulut Tjui-hui-siu menjadi Mo-san-dji-hiong, dua setan menjadi dua gagah,

tanpa merasa Go Bing tertawa geli.

Suara Tjit-ou-tjhiu Tjong Lun masih tetap dingin dan kaku, “Yang saudara maksudkan adalah

Mo-san-dji-kui?”

”Ya, tidak salah!” seru Tjui hun siu merah padam.

”Justeru aku belum pernah dengar kalin bersaudara ada hubungan erat apa segala dengan Mosan-

dji-kui?”

”He he, hubungan kita sangat erat bagai saudara sepupu dengan Mo-san-dji-kui, kini Mo-sandji-

kui sudah menggeletak diluar Kim-pi-tong, tapi pedang berdarah itu berada di tanganmu….”

”Lalu apa maksud kalian?”

“Menebus keadilan kepadamu.”

”Bagaimana aku harus membayar?”

”Serahkan dulu pedang berdarah, urusan belakang.”

”Jadi tujuan kalian bertiga hendak menuntut keadilan bagi Mo-san atau hendak minta pedang

berdarah?”

”Orang she Tjong, pedang berdarah itu adalah milik sahabat kami, sudah selayaknya harus

kami minta kembali tentang utang darah itu sudah tentu harus ditagih.”

Sekonyong2 diantara para hadirian diluar gelanggang terdengar suara orang tertawa dingin

menjengel, suaranya tidak keras namun semua hadirin mendengar dengan jelas, lalu disusul satu

suara dingin berkata, “Kiranya diseluruh jagat ini masih ada manusia yang tidak kenal rasa malu

seperti kalian Lam-hon-sam-hiong!”

Lam-hon-sam-hiong sudah biasa malang melintang dan bersimaharaja didaerah selatan, sudah

tentu mereka sangat mendongkol dan murka mendengar ejekan yang menghina ini, berbarang

mereka memutar tubuh, segera To-bing-siu (aki pencabut nyawa) tokoh nomor dua dari tiga

manusia aneh dari selatan itu membentak gusar, “Kurcaci darimana yang bicara itu kalau berani

silahkan keluar, biar kita bertiga belajar kenal.”

Belum habis kata2nya sebuah bayangan orang seringan asap melayang berkelebat masuk

ditengah gelanggang, itulah seorang tua berambut uban mengenakan baju kasar dan

dipunggungnya terselip sebatan joran dan sebatang dayung.

Begitu melihat kehadiran orang tua ini, berbareng Lam-hong-sam-hiong melengak heran, Tjui

Hun siu tertawa kaku dibuat2, “Kiranya saudara Kwe Lih ada pengajaran apakah?”

Kiranya orang tua ini adalah Tang-hay-hi-hu si nelayan lautan timur, Kwe lih yang

menggetarkan dunia persilatan daerah timur, begitu melihat kehadiran Tang-hay-hi-hu ini semua

hadirin tercekat dan kuatir dalam hati.

Tedengar si nelayan dari lautan timur tengah bicara, ” Song put tjwan, jangan kau sebut sadara

apa segala denga aku, kalian bertiga ada persahabatan kentut apa dengan Mo-san, tujuan kalian

pergi ke Kim-pi tong bukankah hendak mengincar pedang berdarah itu, tapi kalian kembali dengan

hampa karena didahului orang lain, ya bukan?”

Merah jengah selebar muka Lam hong sikapnya kikuk dan risi karena dikorek boroknya

dihadapan sekian banyak orang, dasar licik dan tebal muka segera sip hun siu (aki penyedot

sukma) si buncit dari ketiga manusia aneh itu bicara dengan suara serak, “orang she Kwe lalu apa

tujuan kau datang kemari?”

Tang-hay-hi-hu bergelak bebas, sahutnya : aku orang tua selalu berterus terang dant idak perlu

menggunakan segala alasan tetek bengek, tujuanku adalah pedang berdarah itu juga.”

Ributlah para tokoh silat yang turut hadir dalam gelanggang itu, kala itu Tji ou tjiu tjong Lun

sudah mengundurkan diri dan berjajar dengan tiga orang tua berseragam hitam itu.

Tjui hun siu mendengus keras, ejeknya, “Apa tuan bermaksud menjajal kepandaian kami

bertiga?”

”Barang itu masih berada di tangan orang lain, apa ada harganya perkelahian itu?”

”Lalu bagaimana pendapat tuan?”

”Mengandal kepandaian masing2, siapa berkepandaian tinggi dia berhak memiliki benda itu”.

Setelah saling berpandangan Lam hong berseru berbarang ”Baiklah!” mereka memutar tubuh

mengambil posisi masing2 menghadapi Tji ou tjiu berempat.

Disebelah sana Tang-hay-hi-hu Kwe Lih pun maju tiga langkah, suasana dalam arena seketika

menjadi tegang, semua tokoh 2 silat yang hadir dengan mendelong mengawasi arena tanpa

berkedip, sinar mata mereka mengaundung maksud yang sama, itulah sinar mata serakah, licik

dan buas bercampur aduk menjadi satu.

Dalam pada itu, Tjit ou tjiu dan tiga orang tua seragam hitam sudah bersiap punggung

menduduki satu posisi tersendiri, mereka siap waspada menghadapi segala kemungkinan.

Tiba2 Go Bing bertanya lirih kepada siorang berkedok, “menurut pendapatmu siapa yang bakal

berhasil?”

”Sudah diduga, menurut situasi dalam arena, kepandaian Tang-hay-hi-hu agak lebih tinggi, tapi

dalam jumlah Lam hong berada diatas angin, akan tetapi tak peduli siapa yang bakal berhasil

mungkin susahlah dapat meninggalkan gelanggang pertempuran ini, orang2 gagah diluar

gelanggang itu dimana ada kesempatan pasti juga akan turun tangan dan entah masih berapa

banyak tokoh2 lihai lainnya yang main sembunyi, lagipula keempat tokoh lihai dari anggota Bwe

hoa bwe itupun bukan olah2 hebat kepandaiannya.”

”Apa kamu ada maksud turun campur?”

”Kau sendiri bagaimana?”

Go Bing menggeleng kepala, maka siorang berkedok berkata, “Akupun demikian.”

Dimana terdengar suara bentakn riuh rendah, Lam hong serentak turun tangan menyerang

kearah Tjiu ou tjiu, segera tiga orang tua seragam hitam melompat maju menandangi serangan

mereka, adalah pada saat yang bersamaan itu si nelayan dari timur telah menuburuk maju kearah

Tjong Lun, maka terbentanglah suatu pertempuran mati2an yang seru dan gegap gempita.

Lam hong bertiga masing2 menandangi tiga orang tua seragam hitam dari bwe hoa hwe,

kepandaian dan iwekang mereka agaknya seimbang, maka susahlah dapat ditentukan siapa bakal

unggul dan siapa asor, lain halnya dengan kepandaian Tang-hay-hi-hu agaknya sedikit unggul dari

Tjit ou tjium namun untuk mengambil kemenangan dalam waktu dekat dan memperoleh barang

yang diperebutkan ia harus memeras keringat juga.

Delapan orang terbagi dalam empat pasang menunjukkan kepandaian masing2 yang paling

hebat dan simpanan yang paling lihai, hingga angin menderu kerikil dan debu berterbangan

diselingi suara bentakan dan geraman, malah terdengar juga suara menggeledek dari benturan

angin pukulan yang dahsyat.

Tiba2 siorang berkedok berseru kaget dan menyatakan keheranannya.

Go Bing berpaling dan bertanya “Apa yang mengherankan?”

”Gembong2 silat dari bwe hoa hwe tidak terhitung banyaknya, tokoh berkepandaian lebih lihat

dari Tjong Lun tidak kurang jumlahnya, benda berharga sangat penting seperti pedang berdarah

itu mengapa tidak dilindungi oleh para jagoan yang lebih lihai, malah tidak terlihat adanya

penyambutan atau bantuan.”

Sekonyong2 terdengar sebuah suara serak dari samping sebelah sana katanya, “tuan ini terlalu

banyak prihatin”

Go Bing dan orang berkedok terperanjat, lekas2 mereka berpaling kearah datangnya suara,

tampak diatas sebuah pohon besar yang jauhnya hanya tiga tombak dari tempat mereka sembunyi

duduk ongkang2 diatas sebuah dahan seorang tua yang berpakaian serba kuning, siorang tua

berpakaian kuning ini sudah sejak tadi sembunyi disitu atau baru saja tiba sedikitpun mereka tidak

mengetahui, jika dikatakan baru saja tiba dan tidak diketahui sedikitpun oleh mereka amaka

kepadanaian ringan tubuh yang hebat ini benar2 membuat orang merasa kagum dan meleletkan lidah.

Sekilas Go Bing dan orang berkedok melirik kearah si baju kuning, lalu berpaling lagi

menyaksikan pertempuran seru dalam gelanggang, mereka tidak bersuara lagi.

Karena sudah sekian lamanya belum dapat mengalahkan ketiga lawan seragam hitan ini,

kumatlah sifat buat dan kegarangan Lam hong mereka menggeram dan berteriak2 seperti

binatang buas, setiap jurus serangannya adalah pukulan dahsyat yang mematikan, adalah ketiga

orang tua berseragam hitam itu masih berlaku sabar dan tidak tamak kemenangan, meereka tetap

tenang dan menjaga diri dengan rapat, lebih banyak membela diri daripada menyerang.

Disebelah sana, Tang hay hi hu mendesak Tjit ou tjhiu Tjong Lun sedemikian rupa hingga yang

belakangan ini mencak2 kerepotan, setiap saat jiwanya terancam bahaya, dimana tedengar

sebuah gerungan keras dan panjang, disusul terdengar seruant ertahan dari empat penjuru, jubah

panjang didepan dada Tjit ou tjhiu Tjong Lun tahu2 sudah sobek panjang dan bertepatan dengan

itu sebuah buntalan kain berminyak sepanjang satu kaki menggelundung keluar dari dalam

bajunya dan jatuh ditengah gelanggang, sedang Tjong Lun sendiripun terhuyung mundur

beberapa langkah.

Hati Go Bing berdetak keras, tanpa tertahan iapun berseru heran, cepat2 siorang berkedok

sedikit menarik lengannya memberi tanda supaya dia tidak bersuara lagi.

Sementara itu Tang hay hi hu sudah ulurkan sebelah tangannya hendak meraup buntalan kain

diatas tanah itu…., tiga gelombang angin deras bagai gugur gunung berbareng menerpa tiba

mengurung diseluruh tubuh Tang hay hi hu tergetar mundur jumpalitan delapan kaki jauhnya.

Kiranya begitu melihat Tang hay hi hu dapat mengalahkan Tjong Lun lalu hendak menjemput

buntalan diatas tanah itu, segera Sam hiong tinggalkan musuhnya lalu berbareng meluruk tiba

bersama serta lancarkan tiga pukulan berat kepada tang hay hi hu. Sam hiong (tiga jahat)

bertujuan sama cara turun tangannyapun serentak dalam waktu yang sama pula.

Pada detik2 Tang hay hi hu terpental oleh desakan pukulan gabungan Sam hiong itulah sebuah

bayangan orang dengan kecepatan yang susah diukur terbang menyamber buntalan kain diatas

tanah itu, sekali raup tubuhnya terus melejit tinggi….

Menubruk tiba, meraup buntalan ditanah lalu melejit tinggi semua ini dilakukan sekaligus boleh

dikata secepat kilat.

”In Hong Lokoay, tinggalkanlah barang itu untuk Toayamu” bersamaan dengan datangnya

suara, sebuah bayangan lain melesat tiba pula dari tengah udara bagai meteor terbang dengan

cepatnya. ”Blang” kedua bayangan itu saling tumbuk ditengah udara dan keduanya sama2

terpental jatuh diatas tanah, dan buntalan kain itu juga terjatuh lagi diatas tanah ditengah2 antara

mereka, situasi yang menegangkan ini benar2 membikin orang menahan gelora hatinya yang

susah bernapas.

Kedua orang yang terpental jatuh itu salah soerang adalah In Hong Lokoay dan yang lain

adalah Sang Gan Todjin dari Kong tong pay, dan dalam kejap buntalan kain itu terjatuh diatas

tanah lagi, kebetulan jarak dimana Sip hun siu satu diantara lam hong sam hiong kira2 hanya lima

kaki, gesit luar biasa tanganya diulur hendak mengambil, tapi dengan kecapatan kilat Tang hay hi

hu mengayun sebelah tangannya, dimana angin pukulannya menyamber buntalan kain itu

tergulung angin menggelundung jauh melesat kearah Tjiu hun sui, hal ini sangat kebetulan bagi

tjui hun siu, girang luar biasa ia ulurkan tangan menyambut…. ” Bluk” ”hoak” diselingi suara

jeritan ngeri tjhiu hun siu menyemburkan darah segar dari mulutnya, tubuhpun sempoyongan

mundur delapan kaki jauhnya. Musuh licik yang memukul mundur tjui hun suiu hingga luka berat

ini kiranya adalah In Hong Lokoay, sekali lagi buntalan kain itu terjatuh ditengah gelanggang.

Karena menubruk tempat kosong, Tang hay hi hu sangat gusar, tanpa menghentikan gerak

tubuhnya, kedua tangannya menerjang maju kearah Sip hun siu dengan seluruh kekuatan

tenaganya maka pukulan ini seakan gugur gunung dahsyatnya, saat mana Sip hun siu tengah

kesima karena tidak menduga bukan saja tidak mendapatkan buntalan itu mala tjiu hun siu terluka

berat terbokong oleh In Hong Lokoay, sedikitpun ia tidak emnduga bahwa pada saat itu juga

dirinya terancam bahaya pukulan Tang hay hi hu waktu dia sadar dan coba berkelitu sudah tidak

keburu lagi…. sebuah jeritan panjang yang menggema ditengah udara menambah keseraman

gelanggang pertempuran, tubuh Sip hun siu terbang jauh dan muntah darah, bersamaam dengan

itu, Sam Gan Todjin dari Kong Tong pay sudah melesat tiba menjangkau buntalan diatas tanah itu.

” Bkang” tanpa ampun Sam Gan Todjin pun juga terhuyung mundur diterpa angin pukulan yang

bergulung tiba, agaknya tjit ou tjiu Tjong Lun dari bwe hwa hwe juga tidak tinggal diam

melancarkan pukulan hebatnya.

Situasi dalam gelanggang semakin kacau balau, para tokoh2 silat yang menontong diluar

gelanggangpun beramai2 merubung maju dan bimbang untuk turut ikut campur, tapi merekapun

tidak rela tinggal pergi begitu saja karena tengah ditunggunya kesempatan, ya siapa tahu bahwa

dirinya nanti yang bakal ketiban rejeki.

Dua diantara tiga dari Lam hong sam hiong sudah terluka berat, kesempatan untuk menang

bagi mereka sudah nihil, terdengan To bing siu mengerung keras, “In Hong Lokoay, Tang hay hi

hu kita bertemu pada lain kesempatan!” Namun seruannya ini sudah tidak menimbulkan perhatian

orang, sebab perhatian orang tengha dicurahkan kepada buntalan kain itu, segera Toh bing siu

memanggul sip hun siu dan mengemput tjui hun siu mencawat ekor meninggalkan gelanggang.

Pada waktu itulah mendadak terdengar sebuah suara keras bagai kitat menggeledek disiang

hari bolong menggelegar memekakkan telinga semua hadirin, “Saudara2 sekalian harap berhenti

sebentar!”

Tanpa merasa para tokoh silat itu berbareng hentikan pertempurand an berpaling kearah suara

itu tedengar, maka terlihat seorang tua berambut putih pendek ekcil gendut lagi mendatangi

dengan cepat memasuki gelanggang seperti bola menggelundung, seketika para hadirin

mengunjuk rasa heran dan kejut, sudah sekian lama mereka kenal manusia kerdil buntak ini

merupakan seorang tokoh yang paling susah dilayangi yaitu Tong sing to gwat (mencuri bintang

merampok rembulan) Si Ban-tjwan. Bintang dilangitpun hendak dicurinya, amaka dapatlah

dibayangkan betapa aneh martabat manusia aneh ini, barang berapa apapun bila sudah diincar

olehnya, jangan harap kau dapat melindungi atau dapat menyimpannya dengan aman, sebelum

barang samapi ditangannya dia takkan berhenti bekerja.

Segera sinelayan lau timur Kwe Lih angkat tangan memberi salam hormat, “Silahkan Si heng,

apa kau juga….”

Tong sing to gwat Si Ban tjwan segera goyangkan tangan seraya berkata, “ Eh, sipengail

kunasehatkan padamu jangan kau pancing ikan ini.”

”Mengapa?”

”Duri ikan akan mencocok tanganmu.”

Disebelah samping Sam Gan Todjin tertawa dingin jengeknya, “Maling tua apa maksud

ucapanmu itu?”

Setelah menyapu pandang keempat penjuru segera Tou sing to gwat membuka suara lagi,

“entah mengapa hati Lohu hari ini tidak tenteram dan timbul kewelas-asihan dalam benakku untuk

menasehati kepada kalian, kalau kalian tidak mau mati konyol, ada lebih baik kalian jangan sentuh

benda keramat yang membawa banyak bencana ini.”

Semua hadirin menjadi melongo heran dan saling panang, tiaa seorangpun dapat menebak apa

juntrungannya ucapan sipencuri lihai itu? Walaupun terkenal sebagai manusia yang sudah dilayani

dan susah diajak kompromi, tapi perkataannya selamanya dapat dipercaya, belum pernah bicara

main2 atau ingkat janji.

Susana diseluruh gelanggang menjadi sunyi senyap tanpa suara, adalah In Hong Lokoay

agaknya tidak percaya, serunya, “Maling tua, kau jangan main gertak dengan ucapan teka-tekimu

itu, kenapa tidak kau terangkan sejelasnya maksudmu itu?”

”Omonganku sampai disini saja, titik. Percaya atau tidak terserah kalian, aku Maling tua minta

diri!” habis berkata benar2 dengan cepat ia menggelundung pergi dan menghilang dalam sekejap

mata.

 

4. PEK HOAT SIAN NIO = DEWI BERAMBUT PUTIH

memang tidak mengherankan bahwa pedang berdarah adalah sebuah benda keramat yang

dapat menyedot hati manusia, meskipun tahu berbahaya tapi mereka ingin untuk memilikinya,

begitulah setelah saling merasa curiga, kuatir dan bimbang, akhirnya pandangan semua mata

tertuju lagi kearah buntalan kain diatas tanah itu.

Para tokoh silat yang berada ditengah gelanggang itu rata2 adalah gembong penjahat yang

kejam dan telengas, siapa berani turun tangan lebih dulu pasti lawan2nya akan serentak

menyerang menamatkan jiwanya, oleh karena itu, beberapa saat itu suasana menjadi agak

tenang, dan semua orang mengambil sikap untuk menonton saja sementara. Tahu2 seorang tua

baju kuning dengan langkah tenang dan tetap berjalan memasuki gelanggang dan langsung

menghampiri kearah Tjiu ou tjiu Tjong Lun berempat, dihadapan mereka ia hentikan langkahnya,

orang tua baju kuning ini bukan lain adalah siorang tua yang sembunyi diatas pohon disamping Go

Bing dan orang berkedok it. Jubah panjang didepan dadanya tersulam bunga bwe besar, jelas

menunjukkan kedudukannya.

Pertama2 In Hong Lokoay berseru kejut lalu serunya, “eh, sungguh diluar dugaan bahwa It

tjiang toan hun (sekali pukul menamatkan nyawa) Tjiu Eng lian kiranya juga sudah menjadi

anggota Bwe hwa hwe?”

It tjiang toan hun menyahut dingin, “memangnya kenapa, apa tidak boleh?”

In Hong Lokoay menjengek hina, katanya, “Setiap orang mempunyai cita2nya sendiri, ah buat

apa aku banyak mulut!”

Kedua mata It tjiang toan hun berkilat menyapu pandang keseluruh gelanggang, serunya

lantang, “ buntalan kain ini menurut perintah ketua kami harus dilindungi dan diantar kemarkas

besar, apa didalamnya adalah pedang berdarah atau bukan, cayhe sendiripun tidak mengetahui,

kini kupersilahkan para hadirin sekalian berpikir2 dulu sebelum bertindak, jikalau kalian mendengar

nasehat berharga dari simaling tua tadi dan tidak turun memperebutkan buntalan ini lagi, biarlah

aku mewakili perkumpulan kami menyatakan banyak terima kasih, atau sebaliknya cayhe sedang

tugas menurut perintah, terpaksa aku harus melayani setiap kehdank kalian beramai.”

Keadaan dalam gelanggang menjadi hening lelap.

Dengan penuh keharuan Go Bing berkata keapda siorang berkedok, “bukankah buntalan kain

itu adalah benda yang dititipkan kepada Siang Sian hun dari siorang tua yang hampir mati itu

hingga menyebakan kematian Siang Siau moay dan Li bun siang?”

”Benar!”

“Jadi sipembunuh adalah orang dari Bwe hoa bwe?”

”Belum tentu, ucapaan Tou sing to gwat Si Ban tjwan tadi harus diperhatikan, mungkin ada

udang dibalik batu!”

”Aku ingin mengambil buntalan kain itu untuk mengejar sipembunuh itu, kalau barang itu sudah

berada ditangan kita tidak perlu disangsikan pasti sipembunuh itu akan muncul sendiri?”

”Saudara kecil, apa kau benar2 hendak turut campur?”

“Aku pernah berjanji dihadapan nona Siang untuk menyelidiki jejak sipembunuh itu, apalagi aku

sudah bersumpah hendak membunuh manusia durjana yang menggunakan racun tanpa bayangan

itu, pada hakekatnya tujuan utamaku bukan melulu merebut Pedang berdarah ini.”

”Saudara kecil apa kau ada pegangan untuk dapat merebut barang itu?”

”Akan kucoba sekuat tenagaku”, sahut Go Bing.

”Mereka adalah gembong2 besar yang berkepandaian tinggi, kau akan menjadi sasaran empuk

bagi mereka!”

”Aku tidak peduli akan hal itu.”

Pada saat itulah sebuah bayangan kecil lenjir melayang tiba dari tengah udara, setelah

jumpalitan tiga kali terus melayang dengan entengnya memasuki gelanggang. Pertunjukan ilmu

ringan tubuh yang mengejutkan ini membuat semua hadirin tergetar kesima. Orang yang berputar

ditengah udara dan hingga ditanah ini ternyata adalah seorang gadis yang cantik molek

menggiurkan mengenakan baju serba putih.

Bahwa ilmu ringan tubuh jarang terlihat didunia persilatan dipertontonkan oleh seorang gadis

muda belia dan cantik rupawan lagi, benar2 mengejutkan hati semua hadirin.

Go Bing sudah berdiri dan bersiap hendak melompat turun, tapi siorang berkedok keburu

mencegah, katanya, “Saudara kecil, kedatangan gadis ini sangat aneh dan mendadak, kenapa kau

tidak sabar sebentar, siapa tahu ada sesuatu kejadian diluar dugaan!”

Terpaksa Go Bing duduk lagi diatas dahan pohon.

Terdengar gadis cantik bagai bidadari itu tengah berkata, “Sian nio segera akan tiba, sementara

kuharap kalian mundur lima tombak jauhnya!”

Ucapan ini menimbulkan suasana bunca dalam gelanggang, tokoh2 silat yang berada ditengah

gelanggang mengunjuk rasa kejut dan heran, beramai2 mereka mundur teratur dan menyingkir

memberi sebuah jalan, hanya Tang hay hi hu dan beberapa orang yang menganggap dirinya

berkedudukan tinggi masih ragu2 tanpa bergerak.

It tjiang toan hun mengekeh tawa dan berseru, “Kalau Sian nio akan datang, memang kita

sekalian harus mengundurkan diri, maka buntalan kain ini sementara waktu biar Lohu simpan

kembali, nanti biarlah kita rundingkan lagi bagaimana cara menyelesaikan urusan ini?” ~ dalam

berkata2 itu ia melangkah maju dan ulurkan tanganya hendak mengambil buntalan kain itu….

In Hong Lokoay dan Sam Gan Todjin berbareng maju satu tindak, disebelah sana Tang hay hi

hu pun perlahan2 angkat kedua tangannya, jikalau ti Tjiang toan hun benar2 mengambil buntalan

kain itu, ketiga orang ini pasti akan melancarkan serangan berbareng, adalah Tjit ou tjiu dan

ketiga orang tua seragam hitampun merapat dibelakang It tjiang toan hun bersiap menjaga segala

kemungkinan.

Maka suasana dalam gelanggang mulai tegang mendebarkan hati.

Sepasang mata gadis cantik yang jeli itu memancarkan sinar tajam yang aneh, suaranya tajam

tandas, “Silahkan kalian mundur lima tombak jauhnya biarkan benda itu tetap ditempatnya!”

Sungguh tak nyana para gembong iblis yang kejam dan ternama itu ternyata takut dan tunduk

betul karena bentakan gadis ini, tanpa merasa mereka mundur teratur perlahan2 tapi mereka

masih ndablek tiada seorangpun yang mundur sejauh lima tombak.

Go Bing terheran2 dan tak habis mengerti, tanyanya, “ Bong bian heng, tokoh macam apakah

Sian nio itu?”

Siorang berkedok menekan suaranya sedemikian lirih, sahutnya, “Pek hoat sian nio!”

”Pek hoat sian nio? (dewi rambut putih).

”Benar, Pek hoat sian nio, namanya sudah menggoncangkan dunia kangouw pada 60 tahun

yang lampai, selamanya ia jarang muncul didunia persilatan, tentang asal usul atau riwayatnya

mungkin tiada seorangpun yang mengetahui!.”

”Orang2 yang hadir hari ini adalah tokoh2 lihai yang besar namanya, sungguh tak nyana

sedemikian takut mereka terhadap Dewi berambut putih itu….”

”Betapa tinggi kepandaian Pek hoat sian nio susah diukur, gadis itu adalah muridnya

kepandaiannya saja agaknya lebih tinggi dan lebih lihay dari siapa saja yang hadir dalam

gelanggang itu”

Diam2 Go bing menimang dalam hati, “Betapa tinggipun kepandaian Pek hoat sian nio itu masa

bisa lebih tinggi dari kepandaian Suhu?”

Sementara itu wajah sigadis semakin kaku dingin, suaranya mengancam, “Apa kaoian sudah

dengar omonganku?”

It tjiang toan hun mendadak mengulapkan tangan bersama tjit ou tjiu berempat perlahan2

mereka mundur lima tombak jauhnya, terpaksa Tang hay hi hu, In Hong Lokoay dan Sam Gan

Tojin tiga gembok iblis inipun turut mundur tanpa berani banyak mulut.

Sedemikian sunyi dan hening lelap suasana gelanggang pertarungan yang ramai tadi

seumpama jarun jatuhpun bisa terdengar, namun demikian dalam keheningan ini terkandung

ketegangan hati yang menggetarkan semangat, Bahwa Pek Hoat sian nio benar akan berkunjung

dan turut hadir tanpa diundang benar2 diluar dugaan semua orang, apakah tokoh misterius

berkepandaian tinggi susah diukur itu juga hendak ikut merebut pedang darah.

Kalau Pek hoat sian nio benar2 mengincarnya maka semua hadirin harus mengalah dan

mandah saja barang itu diambil olehnya.

Sebaliknya Go Bing berpikir, peduli apa dewi atau dewa lebih penting aku mencari tahu jejak

sipembunuh dengan menggunakan racun itu habis perkara, kalau dalam otaknya dia berpikir

begitu segera ia bertindak mendadak tubuhnya melejit tinggi dan menubruk masuk kedalam

gelanggang, Siorang berkedok ingin mencegah tapi sudah tidak keburu lagi, dan karena

kehadirannya yang mendadak ini membuat semua orang terperanjat serta melihat tegas kiranya

hanya seorang muda yang masih hijau pelonco ini, wajah mereka mengunjuk rasa heran dan

bertanya2.

Bola mata sigadis cantik berputar2 tergerak hati kecilnya, sebesar usianya itu baru pertama kali

ini dilihatnya seorang pemuda yang gagah ganteng mempunyai daya tarik yang meluluhkan hati

setiap insan lawannya, hanya sayang sikap gagahnya itu mengandung kecongkakan.

Begitu menginjak tanah dan berdiri tegak Go Bing langsung menghampiri buntalan kain itu

tanpa memperdulikan orang lain dihadapannya.

”Behenti!” suara si gadis membentak halus.

Tanapa diminta lagi Go bing menghentikan langkahnya dan bertanya, “Ada keperluan apa nona

menghentikan aku?’

”Apa yang hendak kau buat?”

“Mengurus pekerjaan!”

“Mengurus pekerjaan apa?”

“Tiada perlunya cayhe memberita kepadamu.”

Berobah kelam wajah si gadis, timbul hawa membunuh pada air mukanya.

Sementara itu, sekali berkelebat tahu2 Go Bing sudah menjemput buntalan kain itu

ditangannya, kecepatan gerak tubuhnya benar2 membuat semua orang melelet lidah. Para tokoh

silat diluar gelanggangpun tunduk mundur lima tombak jauhnya karena gentar mendengar nama

Pek ho sian nio, kini pemuda tak bernama dan masih hijau ini secara terang2an berani merebut

barang incaran mereka dalam gelanggang, hal ini merupakan suatu kesempatan bagi semua orang

malah mereka dapat mengganggap sipemudah sebagai biang keladi dalam kekacauan yang berani

membangkang perintah sidewi rambut putih.

Adalah gadis ayu rupawan itu malah tertegun kaget benar2 diluar dugaannya bahwa sipemuda

ini ternyata tidak memandang sebelah mata perintah Pek hoat sian nio.

Maka terdengar In Hong Lokoay memelopori membantak, “Siaucu letakkan buntalan itu!”

berbareng tubuhnyapun berkelebat menerjang maju dengan kecepatan seperti angin lesus.

”Kembali! ` diselingi suara bentakan nyaring ini terjangan langsing tubuh sigadis berkelebat

tangannya membuat sebuah lingkaran terus disorong kedepan menyongsong kedatangan tubuh In

Hong Lokoay yang menerjang tdatang, dan karena dorongan ini tubuh In Hong Lokoay terdampar

terbang balik ketempatnya, hampir dalam waktu yang bersamaan Sam Gan Tojin pun sudah

menubruk tiba sambil mengayun tangan kanan mengenjet muka Go Bing sedang tangan kiri

dengan kecepatn kilat mencengkram kearah buntalan itu.

”Bum!” diselingi suara tertahan keras, San Gan Tojin terhuyung mundur sepuluh langkah, dari

ujung mulutnya melelah darah segar, suasana diluar gelanggang menjadi gempar.

Bahwa nama dan kedudukan Sam Gan Tojin sangat tenar dan tinggi bukan nama kosong

belaka, tapi baru setengah jurus saja telah dapat dikalahkan oleh seorang pemuda yang masih

hijau benar2 membuat semua orang sangsi akan penglihat sendiri, apalagi cara bagaimana

sipemuda melukai Sam Gan Tojin mungkin hanya beberapa orang saja yang dapat melihat tegas.

Hati sigadispun bukan alang kepalang kejutnya, tahu dia bahwa kepandaian sipemuda ini

ternyata sangat mengejutkan, sambil mengusap noktah dara dibibirnya Sam Gan Tojin berseru

dengan penuh kebencian, “Siaucu beritahukan namamu?”

Go Bing menyebut dingin, “Kalau kau tahu gelagat lekaslah mengelinding jauh sedikit!”

Hitung2 nama Sam Gan Tojin sangat ternama dan sangat disegani dikalangan kangouw, mana

kuat ia menahan hinaan ini, apalagi lawannya ini hanya seorang pemuda yang berusia belum lebih

dari dua puluh tahun, saking gusar ia membentak keras, “Siaucu biar kubunuh kau!” ` sambil

mengerahkan setaker tenagannya tubuhnya merangsak maju melancarkan pukulannya dengan

derasnya.

Go Bing ganda tertawa dingin dan membentak, “Kau ingin cari mampus sendiri!” ` buntalan

dipindah ketangan kiri, tangan kananpun membalik dan menyurung kedepan segulung gelombang

panas dengan perbawa bagai geledek menyambar bergulung2 mendampar kedepan, maka

terdengarlah suara ledakan keras yang memekakkan telinga dan menyedot semangat diselingi

teriakan panjang mengerikan menggetarkan seluruh arena pertempuran, ditengah gelombang

terpaan angin keras itulah tubuh Sam Gan Tojin terbawa terbang setinggi tiga tombak, mulutnya

menyembur darah dan terbanting keras tanpa bergerak lagi.

Pukulan Go Bing ini telah menggunakan kepandaian sakti Kiy yang sin kang yang menjagoi

seluruh dunia, namun karena selama hidup dan mengembara Sia sin jarang menggunakan

kepandaian ini maka semua tokoh silat yang hadir termasuk sigadis, tiada seorangpun tahu

kepandaian apa yang telah digunakan oleh sipemuda ini.

Wajah gadis baju putih berobah asam, sungguh sukar dibayangkan betapa tinggi kepandaian

silat pemuda ini, timbul suatu perasaan yang susah dilukiskan dalam hatinya.

Sam Gan Tojin terhuyung2 berdiri perlahan2 dia tinggalkan gelanggang sambil beringsut2.

Gerak gerik sigadis baju putih adalah sedemikian lemah gemulai terdengar suaranya tawar

bertanya kepada Go bing, ”Bolehkan saudara memberitahukan namamu?”

”Ini…. agaknya tidak perlu!”

”Saudara datang untuk merebut Pedang darah juga?”

”Boleh dikata betul, tapi juga tidak benar.”

”Apa maksudmu ini?”

”Tujuan yang penting tidak terletak pada Hiat kiam ini, tapi dari hiat kiam ini akau akan mencari

jejak seorang pembunuh.”

”Sian nio segera tiba, silahkan saudara letakkan buntalan itu dan menyingkir keluar

gelanggang.”

Go Bing mendengus dan menyahut dingin, “Selamanya aku tidak senang diperintah orang lain.”

Berobah air muka sigadis baju putih, suranya mengancamg, “Apa kau dapat berbuat seenakmu

disini?”

”Aku bebas melakukan apa yang ingin kuperbuat, tidak percaya, boleh kau coba2”

Suasana dalam gelanggang mencekik leher lagi, kalau kedua muda mudi ini saling gebrak,

bakal terjadilah pertempuran yang dahsyat yang jaring terlihat di bulim, siapa yang takkan senang

kalau dunia ini aman tentram tanpa perang, adalah daya tarik hiat kiam itu sedemikian besar

sehingga susah menarik pikiran tamak untuk tidak memilikinya.

Pada saat itulah sebuah tandu warna hijau mulus berayun2 memasuki gelanggang, tandu

sedemikian besar dipukul begitu enteng bagai memikul kapuk dengan cepat sekali dalam sekejap

mata tandu itu sudah tiba ditengah gelanggang, kerai didepan tandu tertutup rapat, tidak

kelihatan siapa yang duduk didalamnya, keempat orang pemikul tandu itu adalah gadis2 yang

masih muda belia dan cantik2 lagi mengenakan seragam hijau mulus.

Sorot mata semua orang tertuju kearah tandu yang baru datang ini, setelah tandu diletakkan

ditanah, keempat gadis baju hijau itu berjajar didua pinggir pintu.

Suasana tegang dan seram meliputi seluruh hadirin, air muka sigadis berobah pucat dengan

sinar kebencian yang sangat ia melerok kerah Go Bing lalu berpaling dan menghampiri kedepan

tandu, tubuh sedikit membungkuk mulutnya komat kamit mungkin tengah melapor keadaan yang

terjadi didalam gelanggang ini.

Tanpa merasa berdetak keras hati Go Bing, tidak lama kemudian, gadis baju putih itu memutar

tubuh dan maju beberapa langkah terus menggape kearah Go Bing dan berseru ”Sian nio

mengundang kau mendekat!”

Go Bing tertegun melongo, tanyanya, “Maksud non adalah aku?”

“Siapa lagi kalau bukan kau!”

Diam2 Go bing membatin; ”justeru aku tidak percaya segala kabar angin itu, Pek hoat sian nio

apa segala dapat mengapakan aku? Maka sambil membusung dada dan mengangkat kepala ia

maju mendekat dengan langkah lebar kearah tandu itu, diantara jarak delapan kaki dari tandu itu

segera salah satu gadis berbaju hijau itu angkat tangan dan berseru, “Berhenti disitu!”

Go bing menurut menghentikan langkah, dengan kencang ia masih memegang buntalan kain

yang diperebutkan itu.

Kerai tandu terbuat dari anyaman butir2 mutiara yang kecil lembut, orang didalam tandu dapat

melihat keluar dengan tegas namun orang diluar susah melihat tembus kedalam tandu, dengan

sikap angkuh dingin Go Bing menatap pintu tandu, diam2 hatinya berpikir akan kulihat kau dapat

berbuat apa terhadapku?”

Lama dan lama kemudian baru terdengar suara lembut halus dari dalam tandu, “Siapa

namamu?”

Tanapa merasa tergerak hati Go Bing, Pak hoat sian nio serasi dengan nama ini tentu dia

adalah seorang nenek2 tua yang sudah berambut uban, tapi didengar dari suaranya yang halus

nyaring agaknya usianya masih muda, karena itu dengan sikap kaku ia menyahut, “Aku yang

rendah adalah kaum keroco dikalangan kangouw, reasanya tidak perlu menyebut nama apa

segala.”

”Kau dari perguruan mana?”

“Hal itu aku tidak dapat memberi tahu!”

”Hm, sedemikian congkak dan sombong kau ini?”

”Jauh dari pada sombong dan congkat, karena memang begini tabiatku!”

Keempat gadis baju hijau dipinggir tandu itu bersama mengunjuk rasa heran dan kejut, baru

pertama kali ini mereka melihat dan dengar ada orang berani main bantah dengan Sian nio,

lagipula nada ucapan Sian nio pun agak berbeda dengan biasanya.

Sejenak Go Bing ragu2 lantas ia balas bertanya, “Kau adalah Pek hoat sian nio yang disanjung

puji oleh dunia persilatan?”

”Ya, benar, kau datang untuk merebut hiat kiam itu?”

”Bukan, harus dikatakan mencari jejak seorang pembunuh!”

”Tapi hiat kiam itu sudah kau rebut?”

”Justeru dari benda inilah aku hendak mencari jejak manusia kejam itu!”

“Apa kau tahu kedatangan semua yang hadir disini justeru hendak merebut benda itu?”

”Itu aku tahu”

”Lalu bagaimana kau hendak menghadapi mereka?”

”Setelah urusanku beres benda ini segera kukembalikan kepada mereka, aku sendiri tidak

kepingin memiliki benda pembawa bencana ini.”

”Hm, sementara aku dapat percaya ucapanmu itu….”

”Apa kedatangan Sian nio juga hendak merebut hiat kiam ini?”

”Tidak!”

Penyahutan pendek dan tegas ini membuat Go Bing melengak, kalau pek hoat sian nio sendiri

berkata bahwa kedatangannya bukan karena hendak merebut hiat kiam, hal itu sudah dapat

dipercaya, tapi untuk apa dia datang kemari?

”Nak, kau tidak percaya bukan?”

Panggilan ”nak” ini membuat tergetar seluruh tubuh Go Bing, baru pertama kali inilah selama

hidup ia mendengar orang memanggilnya dengan sebutan itu, maklum selama bercampur dengan

suhunya, Sia sin Kho Djing selalu memanggilnya dengan siaucu, sebutan ini menimbulan suatu

perasaan ganjil dalam sanubarinya, tapi selang tak lama teringat olehnya kebiasaan watak Sia sin

serta tindak tanduknya, maka dengan sikap kaku dingin ia menyahut, “Apakah panggilanmu itu

tidak berkelebihan.”

”Eh, apa makmudmu, usia setuaku ini apa tidak boleh panggil kau anak?”

”Dalam dunia persilatan mengutamakan luhur budi dan bijaksana.”

Keempat gadis hijau dipinggir tandu lekas2 menutup mulut dengan lengan bajunya, hampir saja

mereka tak kuat menahan rasa gelinya.

Berhenti sekian lamanya baru Pek hoat sian nio bicara lagi, “Komentar aneh, boleh

dibandingkan dengan Lam sia dahulu.”

Go Bing menjadi tidak sabar, serunya, “ kau memanggil aku kemari, hanya untuk omong

beberapa patah kata ini.?”

”Sekarang kau kembalikan buntalan ditanganmu itu kedalam gelanggang.”

Go Bing menarik muka, suaranya ketus, “tidak bisa!”

”Benda itu tiada membawa manfaat bagimu.”

”Seperti kukatakan aku hanya mengejar jejak seorang pembunuh dengan benda ini.”

”Coba kau ceritakan, mungkin Sian nio dapat memberi sedikit sumber penyelidikan untuk kau!”

Sejenak Go Bing bimbang, akhirnya ia ceritakan juga pengalamannya didalam hutan kecil itu.

Nadi ucapan Sian nio tandas dan berat, “menurut ceritamu itu, memang tidak salah sikorban itu

mati karena terkena racun tanpa bayangan, tapi diseluruh jagat ini yang mungkin bisa

menggunakan racun tanpa bayangan itu hanya racun utara seorang, dan lagi selain seorang putra

yang keliwat dimanjakan racun utara tidak mempunyai seorang muridpun….”

”Maksud Sian nio adalah….”

”Tidak mungkin racun utara campur tangan.”

”Dengan bukti apa Sian nio berani memastikan begitu!”

”Menurut martabat dan karakter racun utara ayah beranak, barang apa yang sudah

ditangannya tak mungkin dilepas lagi, apalagi benda yang sudah disentuh tangan mereka, tak

mungkin orang berani menjamahnya lagi, selain itu juga tidak sedemikian gampang dan murah

mereka mau menggunakan racunnya!”.

”Maksud pertanyaan saya ialah siapakah orangnya yang menyebar racun itu?”

”Mungkin sukar untuk mencari tahu!”

”namun terang gamblang barang ini berada ditangan orang2 Bwe hoa hwe, tidakkan beres

mencari jejak siorang pembunuh ini dari tubuh mereka?”

Pek hoat sian nio tertawa ringan, ujarnya, “Kau bisa menyesal?”

“Mengapa?”

”Sebab pedang berdarah ditanganmu itu adalah palsu!”

”Palsu?” tercetus serusan kaget dari mulut Go bing.

”Ya, memang palsu, maka kusuruh kau melempar kembali ketengah gelanggang.”

Otak Go Bing bekerja cepat, setelah itu baru ia membuka lagi, “tulesn atau palsu tidak menjadi

soal, tujuanku yang utama adalah mengejar jejak sipembunuh itu.”

”Kau masih hijau dan perbuatanmu ini terlalu semberono.”

“Ha, dengan alasan apa kau berkata begitu?”

”Coba kau jelaskan, benda itu direbut orang sebelum adik Siang Siau hun itu keracunan atau

setelah keracunan baru direbut orang, kau tahu pasti tidak, lagipula hanya Pak tok Tang bun Lu

ayah beranak yang dapat menggunakan racun tanpa bayangan itu, merekapun tidak sembarangan

menggunakan racun, dengan kepandaian silat racun utara anak beranak untuk menghadapi non

sian itu kalau dia sampai menggunakan racun apakah tidak menimbulkan cercaan dan tertawaan

orang bulim, bwe hwa bwe memamerkan pedang berdarah palsu, apakah tujuannya belum dapat

diketahui, tapi menurut apa yang kita hadapi ini, kalau pedang berdarah ini adalah tulen, betapa

banyak tokoh2 silat lihat yang terhimpun dalam bwe hwa hwe tentu mereka takkan tinggal diam

barang yang sudah menjadi milik mereka diperebutkan orang banyak.”

Analisa panjang lebar ini membuat Go bing bungkam seribu bahasa, sekali ayun ia lemparkan

buntalan kain itu ketempat asalnya, perbuatan diluar dugaan ini membuat semua orang yang hadir

melongo heran dan garuk2 kepala, sebab mereka tidak tahu apa yang telah dipercakapkan Pek

hoat sian nio dan sipemuda aneh yang berkepandaian hebat ini.

Setelah merandek sejenak Pek hoat sian nio bicara lagi ” sekarang kau boleh undurkan diri!”

Sekali berkelebat tubuh Go bing melayang mundur lima tombak jauhnya.

Gadis baju putih melangkah cepat kearah tandu, setelah mendengarkan apa2 terus memutar

tubuh dan bicara lantang , “ Sian nio mempersilahkan Tang hay hi hu dan Im hong Lokoay berdua

maju menjawab pertanyaan.”

Setelah saling berpandangan heran, berbareng Tang hay dan Im Hong melangkah maju

kedepan tandu, entah apa yang dikatakan oleh Sian nio, yang jelas setelah mendengar, Tang hay

dan Im Hong berseru kaget berbareng tubuhnya sempoyongan mundur begitu memutar tubuh

terus melejit jauh hendak melarikan diri….

Kerai mutiara yang menjulai turun didepan pintu terbuka sedikit lalu menutup kembali,

dibarengi suara jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma, tubuh Tang hay dan Im Hong yang

terbang tinggi terlempar jatuh bersama terus tak bergerak lagi, mati. Dua gembong iblis durjana

bergelimpangan mati didepan tandu, kenapa Pek hoat sian nio menamatkan jiwa kedua orang ini

tiada seorangpun yang tahu, semua hadirin berobah air mukanya kuatir dan takut2, siapa tahu

ancaman elmaut itu juga akan menimpa dirinya atau orang2 jahat lainhya? Rasa ketakutan dan

bayangan mau tercekam dalam benak masing2 bahwasannya nyawa adalah sangat berharga,

dalam keadaan ada sedikit kesempatan menyelamatkan diri ini, banyaklah gembong2 silat itu yang

tidak menyia-nyiakan kesempatan itu secara diam2 dan sembunyi2 mereka pergi. Siapa berani

mencabut gigi dimulut harimau, merebut benda yang telah diincar oleh Sian nio kematianlah

hadiahnya.

Dalam pada itulah terdengar sigadis baju putih mendadak berseru lantang, “Kawan2 dari Bwe

hwa hwe, perhatikan! Sampaikan kepada ketua kalian, bahwa tipu muslihat kalian gagal total, cara

bekerja mencuri kelintingan menutupi telinga adalah menipu diri sendiri dan sangat menggelikan.”

Karena dikorek borok dan akal liciknya, It tjian toan hun Tjiu Eng lian bersama para kerabatnya

dari Bwe hwa hwe merah jengah dan malu luar biasa, sikapnya kikuk dan serba runyam.

Keempat gadis baju hijau itu segera memikul tandu dan tinggal pergi dengan cepat bagai

terbang, sedang buntalan yang diperebutkan tadi masih tetap berada diatas tanah dan tiada orang

yang mau menyentuhnya lagi.

 

Sebelum pergi sepasang bola jeli sigadis baju putih melirik kearah Go Bing sambil unjuk senyum

menggiurkan, namun hati Go Bing tetap membeku bagai tak berperasaan, dalam hati ia tengah

membatin, “bahwasannya Pek hoat sian nio siang2 sudah tahu kalau peang berdarah itu adalah

palsu, mengapa ia datang dan unjukan diri juga, malah sekaligus ia bunuh juga Tang hay hi hu

dan Im Hong Lokoay?” ~ Lalu apa pula tujuan Bwe hwa hwe memancing dengan pedang darah

palsu untuk menimbulkan perebutan dan pertempuran yang menimbulkan banyak korban ini?

Siapa pula sipembunuh yang menurunkan tangan jahatnya kepada Siang siau moay dan Li Bun

siang? Mendadak teringatlah sebuah persoalan lainnya, tanpa merasa ia tertawa geli sendiri.

Hanya percaya pada sedikit cerita Siang Siau hun yang kurang jelas itu lantas dirinya bertindak

serampangan menganggap buntalan kain ini adalah benda yang dititipkan kepada mereka itu,

benar2 terlalu ceroboh dan semberono.

Pendapat Pek hoat sian nio ternyata sangat tepat dan persis benar dengan uraian si orang

berkedok, racun utara Tang bun Lu ayah beranak tidak mungkin turunkan tangan jahatnya, akan

tetapi racun tanpa bayangan itu hanya terdapat dari satu aliran ini tanpa ada cabang atau orang

lain yang pandai menggunakan hal inilah yang menjadi teka teki dan susah dipecahkan.

Go Bing berdri melongo tenggelam dalam pikirannya, tidak diketahuinya bahwa semua hadirin

sudah menghilang tanpa kelihatan bayangannya lagi, lalu timbullah suatu keingin aneh dalam

benaknya, meski benda ini palsu mengapa aku tidak coba membuka dan memeriksanya maka

segera ia membungkuk membuka buntalan kain itu, kiranya yang terbungkus itu sebuah kotak

kayu gepeng sepanjang satu kaki lebih, perlahan2 dibukanya tutup kotak itu ternyata didalamnya

terletak sebilah pedang kecil panjang satu kaki selain gagaknya panjang batang pedang kecil itu

tidak lebih dari enam dim.

Hati2 dilolosnya pedang kecil itu dari sarungnya seketika secarik sinar merah marong

memancar keluar menembus ketengah udara, pada saat itu juga terdengar seorang berseru kejut

dibelakangnya, cepat2 Go Bing memasukkan kembali pedang kedalam sarungnya lalu perlahan2

memutar tubuh, kiranya siorang berkedoklah yang berseru kaget tadi.

”Saudara kecil, mari kita bicara dalam hutan?”

Dengan rasa heran dan tak habis mengerti Go Bing memandang bayangan si orang berkedok,

setelah menjemput kain buntalan itu diapun mengikuti jejak orang masuk kedalam rimba.

”Saudara kecil, keadaan ini sangat ganjil dan perlu disangsikan.”

“Mengapa?”

”Mungkin pedang berdarah ini adalah tulen!”

”Apa benar? kurasa tak mungkin, bahkan Pek hoat sian nio juga mengatakan bahwa benda ini

adalah palsu, sampaipun para tokoh2 lihai dari Bwe hoa hwepun tinggal pergi tanpa ambil

perhatian lagi, bagaimana bisa….”

”Justeru disitulah sebab musabab keganjilan itu”

”Aku tidak habis mengerti.”

”Kalau pedang ini palsu mana bisa memancarkan sinar terang yang merah marong itu, harus

kau ingin Hiat Kiam merupakan benda keramat yang berharga siapapun belum pernah ada yang

melihat, tulen atau palsu susah dibedakan, lebih baik jangan kau buang, simpanlah untuk

sementara waktu, siapa tahu kelak ada gunanya.”

Tawar2 Go Bing mengiyakan, ucapan siorang berkedok tidak masuk dalam perhatiannya, tapi

akhirnya ia masukkan pedang berdarah itu kedalam kotak dan dibungkus lagi lalu disimpan dalam

bajunya.

“Banyak kejadian didunia ini sukar dijelaskan dengan alam pikiran yang sehat, untuk kedua

kalinya pedang berdarah muncul dipuncak Tian tjong san terjatuh ditangan Tang mo (iblis timur),

cara bagaimana sampai terjatuh ketangan Mosan ji kui tidak dapat diketahui, pendek kata segala

kemungkinan bisa terjadi!” demikian kata si orang berkedok.

”Akan tetapi dimana letak keanehan dan betapa tinggi harga pedang berdarah ini?”

“Mana dapat diketahui, menurut kabarnya bila siapa dapat memiliki pedang berdarah lantas

dapat menemukan sejilid kitab pelajaran silat yang tiada taranya, setelah dapat melatih sempurna

akan tiada lawannya diseluruh dunia.”

 

5. S1APAKAH AKU INI?

Go Bing semakin bingung dan pepat pikiran, berbagai peristiwa yang beruntun terjadi ini

benar2 merupakan teka-teki yang susah dipecahkan olehnya. Teringatlah akan tugas yang

dibebankan oleh Suhunya, jaitu harus memenggal ke-pala Tiang-un Suseng, kenyataan bahwa

Tiang-un Suseng sekarang sudah mati, maka ia harus segera kembali melaporkan hal ini dan

minta petunjuk sang guru selanjutnya. Tentang kematian Siang Siau-moay dan Li Bun-siang

terpaksa ia harus menunda sementara waktu, biar kelak dilanjutkan lagi penyelidikan ini pada lain

kesempatan.

Karena pikirannya ini segera ia berkata kepada siorang ber-kedok, “Siaute masih banyak urusan

yang harus dikerja-kan, terpaksa kita harus berpisah untuk sementara waktu!”

Dengan rasa berat siorang berkedok berkata, “Apakah memerlukan tenagaku untuk

membantu?”

“Terima kasih, rasanya tidak perlu!”

“Ya, kuharap tidak lama lagi kita dapat bertemu pula!” Sekali melompat tinggi Go Bing melesat

keluar dari dalam rimba terus berlari kembali mengikuti jalan besar.

Hari kedua tibalah dia digua tempat kediaman Gurunya, waktu memasuki gua tiada terdengar

bentakan gurunya yang sudah kebiasaan itu, hatinya berdetak tidak tenteram, langkahnya

dipercepat memburu masuk, terlihat gurunya tengah duduk menggelendot dinding, mata

tunggalnya sudah kehilangan sinar murni yang biasa menjedot semangat orang.

“Kau sudah kembali?” suaranya kedengaran sangat lelah.

Go Bing menyahut hampa, “Kau…. bagaimana kau orang tua?”

“Aku sudah tak kuat lagi, kau kebetulan kedatanganmu ini.”

“Apa, apa kau mengalami sesuatu?”

“Bagaimana tugasmu? “

“Tiang-un Suseng sudah mati bunuh diri.”

“Bunuh diri, mana batok kepalanya?”

“Murid…. eh, aku hanya melihat kuburannya.”

Mata tunggal Sia-sin Kho Jiang membelalak besar, serunya tergetar , “Darimana kau ketahui

bahwa dia mati bunuh diri?”

“Kebetulan kujumpai seorang sahabatnya yang sembahyang dikuburannya, dari mulutnyalah

kuketahui.”

“Hm, kepandaian dan kecerdikan Tiang-un Suseng merupakan pentolan diantara sepuluh

kawannya, Bunuh diri? Apa kau melihat sendiri jenazahnya?” Go Bing menggeleng kepalanya.

“Kau harus mengeduk kuburannya untuk mengetahui kebenarannya. Kematian Ci Khong

sigundul itu, cukup membuat para kurcaci ini waspada, mereka tidak akan sayang menggunakan

segala akal muslihat demi keselamatan jiwa-nya sendiri. Siaucu, dulu waktu Lohu dicelakai

sebelumnya telah keracunan oleh mereka, untung mengandal Sian-thian-sin-kang aku masih dapat

melindungi nadi jantungku, sehingga tidak segera mati. Sekarang racun itu sudah luber dan

menjalar semakin dalam, Lohu sudah tidak lama dapat hidup lagi.”

Rambut dan jenggot Sia-sin Kho Jiang ber-gerak2, dia tengah paksakan diri unjuk bicara,

tangannya bergoyang cepat, katanya, “Dengar kataku, dua puluh tahun yang lalu dipuncak Sin-lihong

(puncak dewi suci) digunung Bu-san, aku disergap oleh tujuh orang diantara “Bui lim-sip-yu”

yang kenamaan didunia persilatan. Dalam pertempuran itulah baru kuketahui bahwa sebelumnya

aku telah dibokong, tubuhku terkena racun yang amat berbisa kepandaianku sudah susut separoh

lebih, untung saat itu aku dapat melindungi nadi dan jalan darah terpenting menggunakan Kiu

yang-sin-kang, untuk sementara aku dapat mencegah racun itu supaya tidak menjalar karena aku

hanya bertempur seru….”

Mendengar sampai disini, saking tegang jantung Go Bing berdetak cepat darahpun bergolak

dalam tubuhnya.

Berhenti sejenak lalu Sia-sin Kho Jiang melanjutkan ceritanya lagi, “Betapa gusar dan benci

Lohu waktu itu maka sewaktu turun tangan akupun tidak kepalang tanggung lagi, sekaligus

kulukai lima diantara mereka, tapi karena tubuh keracunan tenaga murni susah dikerahkan lagi,

maka aku mandah dikorek sebuah mataku dan dikutungi kedua kakiku terus dibuang kedalam

jurang dipuncak Dewi suci….”

Sepasang mata Go Bing- merah membara beringas. napaspun memburu cepat.

Setelah napasnya yang memburu tenang kembali, Sia-sin kho Jiang melanjutkan lagi, “Untung

Tuhan maha pengasih jiwa Lohu belum tiba ajal, aku tersangkut diatas pohon2 jalar dan tertolong

oleh seorang penebang kayu, setelah susah payah secara sembunyi2 aku menyingkir dan

mengumpet di jurang Tiam-cong-san ini. Teringat olehku akan keadaan pertempuran hari itu baru

aku insaf bahwa biang keladi semua peristiwa ini kiranya adalah Suhengmu Loh Cu-gi itu, tidak

kau jangan pandang dia sebagai Suheng, kau belum resmi menjadi muridku. Binatang rendah itu

waktu itu juga turut hadir, namun dia hanya menggendong tangan menonton saja”

“Loh Cu-gi?”

“Ya, Benar, apa kau pernah dengar jejaknya di kalangan Kangouw”

“Konon empat belas tahun yang lalu setelah dia merebut kedudukan tokoh silat nomor satu dari

seluruh jagad ini terus menghilang tanpa meninggalkan jejak”.

“Kau harus cari dia sampai ketemu, dan bunuh serta cacah hancur tubuhnya.”

“Baik, pasti akan kulakukan.”

“Oleh karena itulah, dulu Lohu bersumpah untuk tidak terima murid lagi seumur hidup. Selain Ci

Khong Hwesio, Tiang-un Suseng, masih ada lima kurcaci lainnya “

“Siapakah kelima kurcaci itu?”

“Lo-san-siang-kiam. Leng Hun seng ciangbunjin Ceng-seng-pay, Ngo-ouw Pangcu Coh Pin dan

Goan Hi dari Siau-lim”.

“Akan selalu kuingat kelima kurcaci ini!” geram Go Bing.

Sejenak Sia-sin Kho Jiang pejamkan mata untuk istirahat, lalu katanya lagi, “Siaucu, latihan

kiau-yang-sin-kang mu baru mencapai tingkat keempat, pasti kau bukan tandingan Loh Cu-gi

murid durhaka itu”

“Dia sudah melatih sampai tingkat keberapa?”

“Mungkin sudah sampai tingkat kesepuluh!”

Go Bing melonjak kaget, serunya, “Tingkat kesepuluh Bukankah lebih tinggi dua tingkat dari

kau orang tua sendiri?”

“Latihan bajingan durhaka itu sebenarnya sudah men-capai tingkat keenam, setelah aku celaka,

dia mencuri sejilid Kiu-yang-cin-keng dan sebutir Kiu-coan-hoan-yang cau-ko yang kuperoleh

secara kebetulan”

Suma Bing tertegun heran memandangi wajah Suhunya, dia belum pernah dengar perihal Kiucoan-

hoan-yang-cau ko segala.

Setelah istirahat sekian lamanya, Sia-sin Kho Jiang ber kata lagi, “Sebutir Kiu-coan-hoan-yangcau-

ko kiranya cukup membantu untuk melatih Kiu-yang-sin-kang sampai tingkat kesepuluh. Di

seluruh jagad pada saat ini mungkin tiada seorangpun yang kuat melawannya, agaknya Lohu

harus membawa dendam nestapa ini kealam baka!”

Kata Suma Bing penuh haru dan sedih, “Apa benar2 tiada tandingan di seluruh jagad?”

“Ada, selain….”

“Selain apa?”

“Kecuali mendapat….ai, tidak mungkin, angan kosong belaka.”

“Cobalah kau terangkan!”

“Hiat-kiam Mo-hoa!”

Kedua mata Suma Bing memancarkan sinar aneh, kata-nya gemetar, “Hiat-kiam Mo-hoa?”

“Benar carilah Pedang berdarah dan Bunga Iblis. Dua benda mestika di Bu-lim, bila siapa

mendapatkannya dapat melatih suatu ilmu silat tiada taranya di seluruh kolong langit ini.”

“Pedang berdarah….”

“Bagaimana?”

“Tanpa sengaja aku mendapatkan sebilah pedang, namun entah tulen atau palsu!”

“Mata tunggal Sia-sin membelalak bundar besar, bibirnya tergetar sampai sekian lamanya baru

tercetus perkataannya, “Coba kulihat”

Lekas2 Go Bing merogoh kantong mengeluarkan pedang berdarah itu, dengan kedua

tangannya ia angsurkan kehadapan Suhunya.

Cepat2 Sia-sin Kho Jiang menyambut dan terus melolosnya keluar, seketika sinar merah

marong mencorong keluar menyilaukan mata dan menerangi seluruh Ruangan.

“Siaucu, ambil secawan air.”

Sebentar Go Bing memandang Suhunya penuh kecurigaan lalu berlari mengambil secawan air.

Sia-sin merendam ujung pedang kedalam air dan tak lama kemudian lantas membantingnya

diatas tanah, serunya, “Palsu!”

“Palsu? Darimana kau orang tua berani memastikan’

“Pedang berdarah yang tulen direndam dalam air bisa berobah menjadi darah, itu berarti kalau

pedang berdarah Itu tulen maka air dalam cawan itu segera berobah menjadi darah!”

“O, direndam menjadi darah!”

“Siaucu….kau harus mendapatkan Pedang berdarah dan bunga iblis bunuh “ tubuh Sia Sin Kho

Jiang yang renta loyo semampai didinding batu.

“Suhu, kau….”

“Siaucu, sesudah kau menyelesaikan tugas yang belum terlaksana itu kau boleh kuijinkan

menjadi muridku….”

Go Bing maju memayang tubuh Suhunya yang sudah lebih lunglai, tak tertahan air mata

membanjir keluar, siorang tua aneh yang membesarkan dirinya ini agaknya sudah kehabisan

tenaga seumpama pelita kehabisan minyak atau pohon yang sudah keropos tinggal menunggu

waktu saja.

Lam-sia salah seorang tokoh yang terkenal lihay kepandaiannya dan aneh sifatnya, akan

mengakhiri hidupnya yang telah menggemparkan dunia secara diam2!

“Suhu…. eh tidak dapatkah kau orang tua menceritakan sedikit perihal asal usulku?”

Terbangun semangat Sia-sin. dengan susah payah ia berkata, “Sudah tentu Lohu harus

memberi tahu kepadamu. Lima belas tahun yang lalu, diluar gua kudengar dipuncak bukit

terdengar suara pertempuran yang gegap gumpita, dua jam kemudian kau melayang jatuh dari

puncak bukit itu, dan kebetulan dapat Lohu-tangkap hanya kebetulan saja, atau mungkin kau

sudah hancur lebur terjatuh diatas batu2 gunung itu. Kau saat itu mungkin tidak lebih berumur

tiga tahun, napasmu sudah berhenti, untung nadi jantungmu masih belum putus, tulang igapun

patah lima seluruh urat nadi tergetar putus….”

Tubuh Go Bing terasa membeku, giginya berkereotan saling beradu.

“Didepan dadamu masih terdapat sebuah luka lagi, terpaut setengah dim menembus jantung.

Selamanya Lohu tidak percaya akan adanya nasib, itu hanya kebetulan saja, kebetulan! Terkecuali

ilmu Kiu-yang-sin-kang Lohu, seluruh jagad ini tiada seorangpun yang dapat menarik kembali

nyawamu yang sudah dipinggir jurang kematian….”

Go Bing semakin tenggelam dalam lamunannya.

Teringat olehnya akan cerita tentang perihal pedang berdarah. Menurut cerita siorang

berkedok; lima belas tahun yang lalu “Hiat-kiam” muncul lagi didunia persilatan untuk

ketigakalinya. pemiliknya adalah Su-hey-yu-hiap Suma Hong suami-isteri.

Lantas terjadilah pertempuran besar2an dipuncak kepala harimau digunung Tiam-coang-san,

dibawah kepungan dan keroyokkan beratus gembong2 silat dari aliran putih dan hitam, Suma

Hong suami-istri bersama anaknya yang baru berumur tiga tahun semua mati mengenaskan!

Waktu dan alamat peristiwa itu semuanya cocok satu sama lain, apa tidak mungkin kalau dirinya

ini adalah titisan anak kecil itu? Ja, takkan salah lagi pasti aku inilah anak yang dilempar kedalam

jurang dan secara kebetulan telah ditolong oleh Suhu. Itu berarti bahwa dirinya adalah keturunan

Suma Hong, jadi ia harus she Suma juga. Terbayanglah mayat bergelimang diantara merah darah

yang susah dikenal lagi didepan matanya. Ayahnya Su-hay-yu-hiap Suma Hong dan ibunya Sanhoat-

li Ong Fang-Ian bertempur mati2an sampai titik darah penghabisan dikepung sekian banyak

tokoh silat, akhirnya menemui ajal dan pedang

berdarahpun direbut orang. “Pedang berdarah”

sudah seharusnya menjadi milik warisan orang tuanya, seumpama harus mengorbankan

jiwanyapun harus kurebut kembali. “Bunuh! Biar darah mengalir, biar jiwa melayang tapi jiwa para

pengerojok itupun harus dicabut.”

Lama dan lama sekali ia berteriak2 histeris bagai orang gila.

Sebuah helaan napas berat memulihkan kesadarannya, waktu ia menunduk hampir2 ia jatuh

kelengar saking kaget sebab Suhunya atau berarti juga penolong jiwanya, sudah berhenti

bernapas, kepalanya terkulai didepan dadanya. ia meninggal dalam pelukannya!.

Lama dan lama sekali seakan dia kehilangan perasaan, kedua matanya kuju dan redup

memandang ke Iangit2 gua. Saking bersedih dia tidak bisa menangis juga tidak mengalirkan air

mata, Sungguh mengenaskan kematiannya ini, namun lebih sengsara dengan penderitaan

hidupnya ini.

Dari terang keadaan dalam gua menjadi gelap, dan dari gelap menjadi terang lagi. Itulah pagi

hari pada hari kedua. Kedua matanya penuh tergenang air darah, terbayang suatu pikiran

menggila dalam benaknya; Bunuh, ja, bunuh! Diangkatnya jenazah Suhunya lalu diletakkan di

tengah2 gua lalu dia berlutut dan berdoa, “Suhu, sewaktu kau hidup kau melarang aku

menganggapmu sebagai guru, namun hakekatnya aku adalah muridmu. Sekarang aku akan

memanggilmu demikian, budi mengasuh aku hingga besar selama lima belas tahun, muridmu

bersumpah akan memberantas habis mereka itu untuk membalas budimu, Suhu, istirahatlah

dengan tenang, harap dialam baka kau mendapat tahu dan melihat muridmu pasti akan

melaksanakan tugas dan angan2mu yang belum selesai itu.”

Baru sekarang dia bisa menangis ter-gerung2, hingga lama sekali baru ia menghentikan

tangisnya, sekali lagi dipandangnya jenazah Suhunya, dengan rasa pedih dan berat terpaksa ia

tinggal keluar dan menutup mulut gua dengan batu2 besar dan rumput2 kering untuk menutupi

jejak.

Setelah itu dikembangkannya ilmu ringan tubuhnya yang hebat berlarian cepat menuju

kepuncak Hou-thau-hong.

Tampak olehnya di mana2 diatas tanah berserakan tulang2 manusia yang tidak lengkap,

rumput liarpun sudah tumbuh tinggi. Kedua matanya mengembeng air mata, karena di antara

sekian banyak tulang2 itu ada kerangka ayah-bundanya. Tapi cara bagaimana dirinya dapat

mengenali? Rasa dendam dan benci sudah mencekam dalam hatinya. Akhirnya terpaksa ia turun

gunung, sepanjang jalan dia sudah mengatur segala rencana untuk melaksanakan sumpahnya itu.

Nama2 para musuh yang ikut menganiaya Suhunya sudah tercatat dan dapat dihitung, tidaklah

sukar untuk melak-sanakan tugasnya itu menurut catatan itu. Terutama si durjana yang harus

dicarinya adalah Suhengnya Loh Cu-gi yang telah menghianati perguruan dan perancang segala;

peristiwa penganiayaan itu, konon setelah merebut simbol sebagai jago nomor satu di seluruh

jagad ini ia menghilang sejak empat belas tahun yang lalu, terpaksa dia harus perlahan2 dan sabar

serta tahan uji untuk mencari jejaknya.

Bersama itu teringat olehnya ucapan gurunya sebelum ajal bahwa Loh Cu-gi telah mencuri

sejilid buku Kiu-yang-sin-kang dan sebutir Kiu-coan-hoan-yang-cau-ko yang susah dicari

keduanya.

Ilmu Kiu-yang-sin-kang itu mungkin sudah dilatihnya sampai pada tingkat kesepuluh, masih

lebih tinggi dua tingkat dibanding Suhunya, sudah tentu dirinya bukan tandingan orang.

Benar, kecuali memiliki Pedang berdarah dan Bunga iblis, tapi apakah itu mungkin bisa terjadi!

Konon Hiat-kiam berada ditangan ‘iblis timur’ cara bagaimana

bisa beralih ditangan Mo-san-jikui?

Susah diduga.

Berapa banyak musuh2 besarnya termasuk yang turut ber-tempur di puncak Hou-thau-hong

digunung Tiam-cong-san pada lima belas tahun yang lalu, yang terang “iblis timur” adalah salah

seorang dari mereka itu, kalau dapat menemukan Iblis timur pasti dapat mengejar jejak musuh2

besar lainnya. Teringat akan Tang mo, dingin dan bekulah hati Go Bing, nama iblis ini sejajar

dengan Suhunya Lam-sia, betapa tinggi kepandaiannya dapatlah dibayangkan.

Sekarang tugas utama yang harus diselesaikannya yaitu membuktikan apa benar Tiang-un

Suseng sudah mati atau hanya pura2 mati. Tidak perlu disangsikan, karena kematian Ci Khong,

begitu mendengar berita ini para kawan2nya yang ikut dalam pengeroyokan dulu itu pasti sudah

melarikan diri atau sudah pura2 meninggal dunia.

Selama satu hari satu malam melakukan perjalanan, akhirnya ia sampai juga didepan kuburan

Tiang-un Suseng.

Sejenak ia ragu2, achirnya diangkat juga tangannya perIahan2 hendak dibongkarnya kuburan

dihadapannya ini untuk membuktikan kecurigaan hatinya, di saat ia mengerahkan tenaga dan

hendak menghantamkan tangannya itulah tiba2 terdengar bentakan nyaring, “Perbuatan tuan ini

terlalu keji.”

Sungguh kejutnya bukan kepalang, memang luar biasa bahwa ada orang menggeremet tiba

disampingnya tanpa diketahuinya. Terpaksa ia tarik pulang tangannya dan membalik tubuh

secepat kilat, waktu ia angkat kepala memandang kedepan tanpa merasa dia berdiri melongo.

Karena orang yang buka suara tak lain tak bukan adalah gadis baju putih murid Pek-hoat-sian-nio

itu.

Bahwa sigadis baju putih ini mendadak muncul disitu benar2 diluar dugaannya.

“Apa tuan hendak membongkar kuburan dan menghancurkan jenazah?”

“Membongkar kuburan memang benar, tapi belum tentu menghancurkan jenazah!”

“Mengapa?”

“Untuk membuktikan kebenaran orang dalam liang kubur itu.”

“Inilah aneh, masa orang mati ada tulen atau palsu?”

“Itu kan urusanku sendiri!”

“Apakah tuan bermusuhan dengan Tiang-un Suseng?”

“Benar, memangnya kenapa?”

“Orangnya mati permusuhanpun ludas, bukankah perbuatan tuan ini keterlaluan?”

“Itu bukan urusan nona”

Bola mata sigadis berputar lalu mengunjuk senyum manis, ujarnya, “Tak perlu memperpanjang

urusan ini, aku….aku bernama Ting Hoan, bolehkah aku mengetahui nama tuan yang besar?”

Bahwa tanpa diminta sigadis baju putih ini langsung memperkenalkan diri membuat dia

melengak heran, hatinya membatin: Sekarang asal usulku sudah terang namun aku punya she tak

punya nama, untuk mengenang guru tercinta baiklah aku mengambil nama pemberian Suhu jaitu

‘Go Bing’ dipetik huruf ‘Bing’nya. Maka lantas sahutnya dingin, “Aku yang rendah Suma Bing.”

“Suma Bing?”

“Apa saudara pasti harus membongkar kuburan ini?”

“Terpaksa harus kulakukan.”

“Selama hidup Tiang-un Suseng Poh Jiang banyak melakukan kebaikan dan banyak menanam

budi terhadap kalangan tertindas, sebenarnya ada permusuhan besar apakah dengan saudara?”

“Untuk hal ini lebih baik nona Ting jangan banyak tanya.”

“Tapi aku juga harus mengetahui?”

Berobah wajah Suma Bing (Go Bing sudah merobah nama

aslinya) desaknya, “Lalu apa

maksud nona Ting?”

Ting Hoan sigadis baju putih membasut rambut dikeningnya yang terhembus angin seraya

berkata, “Sebab Tian un Suseng berhubungan erat dengan perguruanku.”

“Hubungan apa, itu?”

“Untuk hal itu kaupun tidak perlu mengetahui.”

Suara Suma Bing semakin kaku ketus, “Kalau aku tetap harus melakukannya?”

Ting Hoan menarik muka wajahnya berobah mengelam.

“Suma Bing, ada salah apa jenazah itu terhadap kau, mengapa harus kau bongkar kuburannya,

kecuali….”

“Bagaimana?”

“Kecuali aku sudah kehilangan tenaga untuk merintangi perbuatan gilamu itu, atau jangan

harap keinginan edanmu itu bisa terlaksana.”

“Jadi maksud nona memaksa hendak berkelahi dengan aku?”

“Mungkin kalau terpaksa.”

Otak Suma Bing berputar cepat. Sudah tentu dia harus mematuhi perintah gurunya, bila perlu

seumpama mesti bermuusuhan dengan Pek-hoat-sian-nio pun akan ditandangi, asal seorangpun

musuh perguruan tidak sampai lolos dari kematian.

Dalam geramnya tanpa banyak bicara lagi mendadak ia angkat kedua, tangannya terus

menghantam sekuat tlenaga, gelombang tenaga dalam bagai gugur gunung segera melanda

menerjang kearah kuburan Tiang-un Suseng.

“Tahan!” Berbareng hardikan ini, sebelah tangan Tin Hon pun diayun, dari samping angin

pukulan bagai angin badai menerjang kedepan, ditengah suara banturan mengeledek yang

menggetarkan bumi kedua orang ini masing2 tersurut mundur satu langkah lebar, masing2

terkejut atas kekuatan lawannya.

Suma Bing mendengus sekali lalu berkata ‘“Apa nona benar2 hendak merintangi perbuatanku?”

“Bukankah sudah kukatakan sejak tadi?”

“Kalau begitu jangan kau salahkan aku karena berbuat kejam” dalam ber-kata2 itu wajahnya

penuh terselubung hawa membunuh.

Tanpa merasa kecut hati Ting Hoan, betapapun dia tidak ingin bertempur mati2an terhadap

lawannya ini. Akan tetapi bagaimanapun dia tidak mengijinkan orang merusak kuburan Tiang-un

Suseng. Selain itu, sebagai murid tersayang Pek-hoat-sian-nio yang ditakuti dan disegani oleh

seluruh kaum persilatan mana boleh mengunjuk kelemahan dihadapan orang, segera dengan

galaknya ia maju mendesak dua langkah sambil menantang, “Boleh kau coba2-”

“Baik, sambutlah ini!” seru Suma Bing dingin, sekaligus lancarkan tiga kali serangan berantai,

betapa kuat dan dahsyat pukulannya ini sungguh mengejutkan dan menggetarkan sukma.

Cepat2 tangan Ting Hoan berputar membuat sebuah garis lintang sambil menggeser

kedudukan kaki kearah kiri untuk memunahkan hamparan angin pukulan musuh disamJ ping itu

juga dikirimnya sebuah pukulan menggeledek yang tidak kalah hebatnya.

Terjadilah pertempuran seru yang jarang terjadi didunia persilatan, kepandaian silat masing2

boleh dikata sudah mencapai tingkat tertinggi masing2 lancarkan ilmu2 lihay dari perguruannya,

sebab yang satu adalah murid Lam-sian yang sudah kenamaan sifat dan ilmu silatnya, dan yang

lain adalah murid Pek-hoat-sian-nio tersayang yang sudah menggetarkan Bulim pada enam

puluhan tahun yang lalu, untuk menjaga nama baik perguruan maka masing2 keluarkan simpanan

kepandaian perguruan yang paling ampuh dan digdaja.

Angin disekitar gelanggang pertempuran berputar demikian dahsyat dan deras bagai angin

lesus sehingga debu membumbung tinggi keangkasa. lima tombak sekitar gelanggang dahan dan

daun pohon berguguran. Dalam sekejap mata keduanya sudah bertempur lima puluh jurus, dan

masih belum kelihatan pihak mana yang bakal unggul atau asor.

Tiba2 terdengar teriakan nyaring melengking, mendadak Ting Hoan merobah permainan

silatnya, sekaligus ia pertunjukkkan lima perobahan gerakan pelajaran tunggal perguruannya

hingga seketika bayangan pukulan berkelebatan bagai bayangan gunung dan rapat tiada sedikit

lobangpun, selayang pandang seperti puluhan kepalan berbareng melancarkan serangan yang

dapat menambal langit dan menutup bumi merangsang kearah Suma Bing.

Bercekat hati Suma Bing terpaksa iapun harus bergerak cepat melindungi seluruh tubuh dengan

rapat sekali.

Sekonyong2 tubuh Ting Hoan jumpalitan mundur delapan kaki jauhnya, hal Ini membuat Suma

Bing terheran2, dan tengah Suma Bing terlongo itulah tubuh Ting Hoan sudah merangsak maju

lagi secepat kilat, lima buah jarinya menjentik beruntun, maka lima jalur angin kencang yang

tajam dengan suaranya yang memekakkan telinga melesat bagai geledek, tidak sampai disitu ia

bergerak, tangan kiripun menyusul kirim sebuah hantaman dahsyat juga. Serangan kali ini bukan

saja hebat juga sangat aneh, seakan2 lambat namun sebenarnya cepat luar biasa.

Tergetar keras jantung Suma Bing, sebat luar biasa tubuhnya berkelebat menghindari serangan

jari lawan, berbareng

tangan kanan didjodjohkan kedepan menyambuti serangan tangan kiri

musuh, cara geraknya luar biasa, cepat dan perobahan gerak tubuhnya benar2 membuat siapa

yang melihatnya merasa kagum dan melelet lidah. Pada detik sebelum kedua pukulan mereka

saling bentur itulah, tiba2 Ting Hoan unjukkan kepandaiannya yang luar biasa, hakekatnya kedua

pukulan itu pasti dan tentu akan saling bentur tetapi dahsyatnya justru kali inilah Ting Hoan

unjukkan kemampuannya diluar kemampuan orang lain, begitu tangan bergerak berputar

membuat satu lingkaran, tenaga dalam bagai gelombang badai melanda keluar dari telapak

tangannya terus menerjang maju. “Blang” disertai suara tertahan yang keras.

Kontan Suma Bing tergetar mundur tiga langkah, darah segar hampir menyembur keluar dari

mulutnya. Tapi tenaga tolakan dari pukulan Suma Bing juga membuat Ting Hoan tergetar

bergoyang gontai. “Suma Bing, kita sudahi sampai disini saja, janganlah memperpanjang

persoalan itu lagi, bagaimana?”

“Tidak mungkin terjadi”

“Jikalau pukulanku tadi kutambah lagi tiga bagian tenagaku, kau dapat membayangkan akan

akibatnya?”

“Jadi Itu berarti kau sudah menanam budi atas keselamatan nyawaku?”

“Buat apa kita harus bertempur mati2an!”

“Aku Suma Bing tidak sudi terima belas kasihanmu, budimu itu akupun tidak terima.”

Wajah Ting Hoan berobah gusar dan penuh nafsu membunuh, suara dingin mencekam hati.

“Suma Bing, sebelum darah membanjir kau tidak rela menghentikan pertempuran?”

“Kecuali kau tahu diri dan tinggal pergi!”

“Apa kau sangka aku bisa berbuat begitu?”

“Tentu kau bisa.” dengus Suraa Bing tidak kalah angkuhnya. Tanganpun perlahan-lahan

diangkat lagi.

Alis Ting Hoan tegak berdiri, “Wut” tanpa banyak cingcong lagi ia mendahului kirim

serangannya. Bertepatan dengan serangan Ting Hoan ini. Kedua tangan Suma Bingpun sudah

diangkat setinggi dada terus disurung kedepan, gelombang panas bagai gugur gunung

menggulung kedepan bagai hujan badai, saking marahnya tanpa sungkan2 lagi ia gunakan Kiuyang-

sin-kang.

Begitu tenaga murni saling bentur, seketika Ting Hoan insaf bahwa bahaya tengah mengancam

jiwanya, kontan air mukanya berobah pucat pasi. “Bum!” meledaklah benturan yang lebih dahsyat,

hawa panas bergulung mengembang keempat penjuru. Ditengah keluhan sakit, tubuh Ting Hoan

yang langsing itu terbang satu tombak lebih, namun begitu tubuh menjentuh tanah segera ia

melompat bangun lagi, mulutnya yang kecil bagai delima merekah itu bernoktah merah darah.

Tanpa merasa Suma Bing tertegun kejut ditempatnya. Wajah Ting Hoan beringas dan penuh

kegusaran yang meluap2, dengan lengan bajunya ia mengusap darah yang meleleh keluar dari

mulutnya serta desisnya bengis, “Suma Bing, sekarang dapatlah kau berbuat sesuka hatimu. Tapi

kau ingat, pada suatu saat nonamu ini pasti akan menghantammu juga hingga kau muntah

darah!” — Sekali melenting tubuhnya segera melesat menghilang diantara bayangan pohon.

Sambil berkerut alis Suma Bing mengiringi kepergian orang dengan pandangan mendelong.

Batinnya, “entah ada hubungan apakah antara Pek-hoat-sian nio dengan Tiang-un Suseng? Hingga tanpa memperdulikan keselamatan sendiri Ting Hoan rela berkorban untuk merintangi

perbuatannya yang tercela ini? Dan kalau benar2 dirinya membongkar kuburan ini, itu berarti

dirinya harus bermusuhan juga dengan Pek-hoat-sian-nio, teringat olehnya waktu memperebutkan Pedang berdarah tempo hari dengan mudah saja Pek-hoat-sian-nio turun tangan membinasakan  Tang-hay-hi-hu dan In Hong Lokoay dua gembong iblis yang terkenal hebat dan ampuh kepandaiannya. Tanpa merasa bergidik dan merindinglah seluruh tubuhnya.

[bersambung]