patung emas kaki tunggal 02
Jilid 2
“HA HA HA…. itulah semacam obat
yang jarang terdapat, tumbuhnya di Sing-siok-hay di pesisir pasir
kuning di sebelah sumber air, dimana ada tumbuh semacam tanaman yang
bernama Ciu-Ceng, akar dari pohon ini ada tumbuh semacam bisul, akar
bisul ini dapat diperas getahnya lalu diramu dengan berbagai
obat-obatan rumput lain. maka jadilah semacam obat yang tidak
berwarna, tidak berbau dan tiada rasanya, obat ini dapat
menyembuhkan penyakit rheumatik dan penyakit tulang lainnya yang
sangat mujarab ….”
“Kalau obat mujarab kenapa bisa
menggebah bocah itu dan kenapa pain dia bakal mampus?” tanya Kok
Using tidak mengerti.
“Kalau cuma setetes memang
merupakan obat mujarab, tapi kalau sampai sepuluh tetes dapat
menghancurkan usus dan isi perut lainnya. Dalam dinding cangkir itu
sebelumnya sudah kupolesi obat itu, takarannya dapat sekaligus
memburuh puluhan orang, begitu obat ini masuk ke dalam perut segera
menjalar ke kaki tangan serta tulang-tulang seluruh badan, tiada
obat untuk menyembuhkannya.”
Kok Liang berpikir sebentar lalu
bertanya, “Bukankah Khong-ji sianseng sendiri juga ada minum arak
dari cangkir itu, kenapa kau tidak keracunan. ….?”
Khong Bun-ki terbahak-bahak,
ujarnya, “Dalam suhu udara biasa Ui-ho ciu-ce-sa itu tidak mudah
terbaur dalam cairan arak atau air, cuma setelah dipanaskan mendidih
dengan sendirinya arak itu jadi beracun, arak yang kuminum arak
dingin, maka aku sendiri tidak kurang suatu apapun.”
Kok Liang menepuk paha sambil
memuji, ujarnya, “Jadi Khong-ji sianseng menggunakan tenaga dalam
membuat arak itu mendidih kiranya punya maksud tertentu.”
“Benar, meski keparat itu berusia
muda tapi latihan Lwekangnya rasanya tidak kalah oleh Tokko Bing
dulu, kalau tidak menggunakan akalku itu, mana bisa mengalahkan dia.
Aku tahu kalau cuma mengandal Le-hwe-sin-kang tidak akan berhasil
menundukkan dia, maka terpaksa kugunakan sedikit akal muslihat.
Ternyata keparat itu kena diketahui, mimpi juga ia tidak akan
menyangka bahwa arak itu mengandung racun jahat.”
“Khong-ji sianseng mempunyai
rencana matang dengan perhitungan yang lihay. sungguh besar pahalamu
untuk menentramkan seluruh jagat ini.”
Para ketua atau pimpinan dari
berbagai golongan dan aliran memuji dan bersorak mengacungkan
jempol.
Cuaca sudah hampir terang tanah,
segera Khong Bun-ki bersoja ke sekelilingnya, ujarnya, “Urusan sudah
selesai, kita boleh bubar saja, maaf terpaksa siau-te harus
mendahului pulang.”
“Silahkan Khong sianseng!” Kok
Liang membungkukkan diri dengan hormat.
Karena dirangsang rasa terima
kasih, banyak kaum persilatan itu yang mengantarkan Khong Bun-ki
dengan laku hormat berkelebihan. Tapi Khong Bun-ki cukup
menganggukkan kepala dan membusungkan dada tinggal pergi sambil
menggoyang-goyangkan kipasnya.
Tak lama kemudian barisan
orang-orang gagah yang berkumpul di padang pasir itu sudah bubar dan
menghilang, tinggal Thong-sian Taysu dan para muridnya belum
bergeser dari tempatnya semula, lekas-lekas Lu Bu wi maju bertanya,
“Ciangbunjin, adakah sesuatu yang kurang beres menurut nalar Taysu?”
Thong-sian menunduk khidmat,
katanya, “Apakah dunia kini sudah aman dan damai, Lolap kuatir kaum
persilatan selanjutnya bakal dihadapi berbagai keonaran dan
keributan yang tiada habisnya.”
“Kemana juntrungan kata-kata
Ciangbunjin?” tanya Lu Bu-wi tidak mengerti.
“Firasat telah menyentuh, tapi
Lolap tidak bisa menunjukkan bukti-bukti secara kenyataan, semoga
Tuhan Yang Maha Esa suka memberi jalan kehidupan yang sempurna
kepada umatnya, kalau tidak …. aih!”
Lu Bu-wi ikut tenggelam dalam
keprihatinan, agaknya iapun dapat menyimpulkan apa-apa, katanya,
“Ucapan Ciangbunjin, juga terasakan oleh Losiu. Dari pertemuan malam
ini sudah kentara bahwa Loh-hun-kok punya angan-angan untuk menjagoi
dan bersimaharaja di Bulim. meskipun orang she Khong mewakili
merebut kembali tanda kebesaran kita, tapi entah bagaimana dalam
perasaan Losiu, sedikitpun tidak merasa simpati terhadapnya.”
Thong-sian taysu menghela napas
lalu mohon diri, bersama para muridnya pelan-pelan mereka beranjak
pergi tanpa bersuara, pertemuan yang, gegap gempita tadi, kini sudah
berubah sunyi dan sepi.
Memang dalam lubuk hati sementara
orang amat haru dan senang bahwa kedatangan mereka malam ini tanpa
mengeluarkan tenaga tapi adapula sementara orang yang merasa kasihan
dan sayang akan nasib Koan San-gwat, mereka sayang karena pemuda
gagah seperti Koan San-gwat harus menemui ajal tanpa ada tempat
untuk menguburnya.
Angin berlalu pasir pun
berterbangan merubah bentuk gundukan pasir yang melebar luas tak
berujung pangkal. Di tengah suara angin ribut dengan selingan pasir
berterbangan secara lapat-lapat terdengar suara kelintingan yang
nyaring, itulah suara kelintingan di bawah leher unta yang sedang
berlari kencang di tengah padang pasir.
Koan San-gwat memeluk punuk
untanya tanpa mampu mengeluarkan tenaga. Dia sudah bertahan selama
dua hari, selama dua hari dua malam dia disiksa dalam kesengsaraan
dari penderitaan yang luar biasa. Dia sendiri heran dan tidak habis
mengerti bahwa dirinya kuat bertahan sekian lamanya. Sebab setiap
orang yang terkena racun Ui-ho-ciu-ce-sa, tiada yang mampu hidup
lewat enam jam. Sebaliknya dia, kondisi badan yang luar biasa dengan
kekuatan batinnya yang menyala-nyala ternyata kuat bertahan dua hari
meski disiksa penderitaan yang kelewat batas.
Meski demikian, ia paham bahwa
tidak akan luput dari renggutan elmaut yang akan mencabut nyawanya.
Dan saat itu pula dia sedang menuju ke jalan kematian, malah semakin
lama semakin dekat pada puncak kematian.
“Oh, guru berbudi! Agaknya aku
harus menyia-nyiakan harapanmu, kalah di bawah akal licik sungguh
mati pun aku merasa penasaran dan tidak rela. Terpaksa aku
menghancur-leburkan harapan dan kebesaran namamu, bagaimana aku bisa
menentramkan arwahmu di alam baka….”
Dia ingin menyumpah dan sesambatan
kepada Tuhan, atau menggembor sekeras-kerasnya untuk melampiaskan
rasa penasaran hatinya, tapi tenggorokannya sudah kering merekah
karena racun, terpaksa hanya mengumpat caci dan mengeluh di dalam
hati.
Tiba-tiba di dalam deru angin
kencang didengarnya suara lain yang memburu datang, menurut
pengalamannya yang sudah lama bertempat tinggal di daerah gurun
pasir, ia tahu itulah suara derap kaki kuda yang dibedal pesat, ada
penunggang kuda mengejar datang di belakangnya.
“Siapakah mereka? Apakah
orang-orang gagah Bulim yang hendak mengejar dan membunuh aku?”
demikian pikirnya. “Lebih baik aku mati tanpa terkubur dengan
menjadi mangsa burung elang daripada terjatuh ke tangan mereka. Aku!
Generasi kedua dari Bing-tho-ling-cu! Mana boleh menghembuskan napas
yang penghabisan di hadapan musuh ….”
Ingin dia mengeprak tunggangannya
supaya berlari lebih pesat, tapi tenaga mengangkat jari saja tidak
mampu, terpaksa di dalam hati ia mengeluh, “Ahhh…. sahabat tuaku,
ayo lekas lari. Bing-tho-ling-cu II betapapun pantang mati di tangan
musuh. Meski aku bakal menjadi generasi terakhir dari Bing-tho
Ling-cu….”
Agaknya unta tunggangannya itu
dapat mendengar gemboran hatinya ternyata ia kerahkan tenaga larinya
lebih pesat dari angin.
Timbullah setitik harapan dalam
benak Koan San-gwat, diam-diam ia bersyukur, “Sahabat tuaku,
ternyata kau memang pintar, unta sakti tidak mengena usia tua,
tenaga baru semangat tetap menyala. Cuma sayang aku tak akan kuasa
menemani kau sepanjang masa….”
Setelah lari sekian lamanya
akhirnya ia jadi keheranan pula, sebab derap di belakangnya bukan
saja ketinggalan semakin jauh malah terdengar semakin dekat, karuan
hatinya menjadi gundah dan gugup.
“Ayah sahabat tua, kenapa kau
tidak becus lagi, di atas pasir masa kau tidak mampu menandingi
kecepatan lari kuda?”
Kecepatan lari unta tetap seperti
sedia kala, tapi derap kaki kuda di belakang semakin kencang. Tanpa
terasa ia menghela napas panjang dan gegetun, karena ia mendapati
bahwa tunggangannya tidak berlari sepenuh tenaga, maka lama-kelamaan
terkejar oleh kuda di belakangnya. Padahal tenaga untuk angkat jari
saja tak mampu dikerahkan, bila untanya berlari pesat, goncangan
tubuhnya tidak akan terkendalikan lagi, bukan mustahil ia bakal
terjungkal jatuh.
“Sahabat tua! Jangan hiraukan aku,
betapapun kita pantang jatuh ke tangan musuh …. ….”
Dengan watak kekerasan seekor
binatang, si unta mendengus rendah, tetapi kakinya tetap berlari
dengan kecepatan sama. Kuda di belakang itu sudah mengejar dekat,
dari punggung kuda tampak melesat sesosok bayangan orang meraih tali
kekang yang terikat di besi dan tergigit di mulut unta, leher
panjang si unta bergerak berusaha menghindar. Koan San-gwat yang
berada di punggungnya tidak kuasa mengendalikan badannya lalu
terjungkal jatuh.
Orang yang berusaha menghentikan
lari si unta cepat melompat ke belakang meraih tubuhnya. Samar-samar
di antara sadar tak sadar Koan San-gwat hanya melihat seraut wajah
yang putih halus dan seikal rambut panjang yang terkuncir di
belakang kepala. Selanjutnya apa yang terjadi tak diketahui olehnya.
Di kala ia siuman, baru dia tahu
bahwa dirinya telah terbaring di tengah padang rumput yang
menghijau, di sampingnya terdapat sebuah kolam air, itulah oase,
sumber air di padang rumput yang tumbuh subur di tengah padang
pasir.
Begitu siuman Koan San-gwat lalu
ingin membuktikan apakah dirinya masih hidup atau sudah mati. Orang
yang hidup di gurun pasir semuamengharap dapat menemui ajal di oase,
maka begitu ia melihat dirinya ada di padang rumput, ia jadi
menganggap bahwa dirinya sudah ajal.
Dengan susah payah ia berusaha
menggerakkan badan, tapi seluruh badannya terass sakit dan menderita
luar biasa, cuma semangatnya saja yang rada pulih kembali. Serta
merta ia menghela napas, keluhnya, “Kata orang, bila orang yang
sudah mati hilanglah segala penderitaannya, tapi kenapa badanku
masih begini sakit….?”
Tiba-tiba di belakangnya seseorang
berkata tertawa, “Orang yang takut melihat setan seumpama mati juga
tidak akan mendapatkan tempat yang sentosa.”
Dengan kejut Koan San-gwat
menoleh, dilihatnya seorang gadis remaja berusia tujuh belasan,
mengenakan pakaian gembala, wajahnya bundar putih, biji matanya yang
besar hitam dan bening, kuncir rambutnya panjang dan besar, itulah
raut wajah yang dilihatnya sekilas sebelum ia jatuh dari atas
tunggangannya di padang pasir itu, tanpa disadari ia jadi terlongong
sekian lamnnya, katanya tersendat, “Nona…. sebetulnya aku sekarang
masih hidup atau sudah mati?”
Gadis itu membelalakkan matanya
yang bundar, semprotnya sambil cemberut, “Kau sudah mati! Sekarang
kau sedang berhadapan dengan setan dan aku inilah setannya!”
Koan San-gwat tertegun dibuatnya,
dari sikap dan nada perkataan gadis di hadapannya ini ia tahu orang
sedang berkelakar dan menggoda dirinya, maka dengan sendirinya ia
sadar bahwa dirinya belum mati, lalu dengan menghela napas ia
berkata, “Hm, nona jangan marah, karena aku terluka parah dan aku
anggap diriku tidak tertolong lagi, maka begitulah jalan pikiranku
….”
“Kalau kau telah tahu terluka
berat,” sempot gadis itu pula dengan uring-uringan. “Kenapa
mendengar kami menyusul kau lari, kami kan bukan rampok, kalau tahu
begitu lebih baik kami tidak menolong kau saja.”
Terpaksa Koan San-gwat menyengir
kecut. Sebetulnya gadis itu marah ingin mengomelinya, tapi mendadak
dari samping didengarnya sebuah suara menyela, “Ah-ceng! Tuan ini
terkena racun dalam tubuhnya belum punah seluruhnya. Jangan kau
bikin ribut, cuma membuang energi dan tenaganya saja.”
Koan San-gwat cuma melihat sebuah
bayangam yang samar-samar, mendadak dirasakannya Ling-tay-hiat kena
tertutuk dan selanjutnya apapun tidak terlihat lagi, cuma kupingnya
lapat-lapat masih mendengar gadis itu bertanya, “Yah, sebetulnya ia
terkena racun jahat apa? masa Siau-tok-san mu yang mujarab itu tidak
mampu menyembuhkannya?”
Lalu didengarnya pula jawaban
seorang laki-laki pertengahan umur, “Jangan kau banyak tanya lagi,
racun macam itu merupakan tantangan bagi dunia pengobatanku,
terpaksa kita harus menggotongnya pulang ke gunung, dengan segala
daya upayaku, ingin kulihat apakah aku mampu mengendalikan racun
semacam itu.”
selanjutnya di antara sadar tak
sadar Koan San-gwat seperti merasa badannya terangkat, ingatannya
semakin kabur, dan akhirnya tak ingat apa-apa lagi.
0000)0(ooco
KHONG BUN-THONG majikan dari
Loh-hun-kok di Liok-cau-san waktu itu mengundang orang-orang gagah
kenamaan di seluruh dunia persilatan, di antaranya pada Ciangbunjin
dari sembilan Pay dan Para Pangcu dari berbagai Pang yang tersohor
untuk menghadiri perayaan hari ulang tahunnya yang ke enam puluh.
Pertemuan besar di gurun pasir pada malam itu kini sudah berselang
tiga tahun….
Berkat kelicikan Khong Bun-ki yang
berhasil meracuni Koan San-gwat murid tunggal Bing-tho-ling-cu
akhirnya seluruh golongan dan aliran yang hadir dapat mengambil
balik tanda kebesaran mereka masing-masing, untuk ini mau tidak mau
nama Liok-cau-san makin menonjol dan menempatkan darinya pada
kedudukan tertinggi sebagai datuk persilatan.
Liok-cau-san semula tidak pernah
diperhatikan khalayak ramai, dalam jangka tiga tahun itu menjadi
ramai, orang-orang gagah dari berbagai aliran berkunjung. Terutama
Kimsa-pocu Kok Liang dan beberapa golongan yang berdiri tunggal
serta para guru silat punya huhungan yang sangat akrab dengan
mereka.
Soalnya tenaga serta wibawa mereka
di kalangan Kangouw sudah pudar, tak mungkin membuka lembaran
sejarah yang gilang gemilang. Dengan rasa kepercayaan yang menjadi
landasan hidup berdampingan begi kaum persilatan, apalagi murid
mereka sering membuat onar dan bikin ribut di luaran, mereka tidak
angkat senjata dan mandah dihina dan terima nasib melulu, karena
kondisi yang buruk ini mau tidak mau mereka menjilat ke pihak
Liok-cau-san, paling juga ingin gagah-gagahan dan unjuk garang saja.
Sementara Ciangbunjin dan berbagai
Pay dan Pang besar, mengingat budi Khong Bun-ki dahulu karena
sungkan lalu mengalah terhadap Liok-cau-san, setiap kali timbul
pertikaian, asal salah seorang dari keluarga Khong unjuk diri untuk
menyelesaikan urusan itu, kedua belah pihak pasti memberi muka dan
anggap perkara itu tidak pernah terjadi.
Selama tiga tahun mendatang ini,
pihak Liok-cau-san sangat aktif di kalangan Kangouw. Kaki tangan
mereka semakin tersebar luas di mana-mana. Secara terbuka merekapun
anggap sebagai pimpinan tertinggi saja. Nama, gengsi dan perbawa
mereka jadi semakin menonjol dan besar.
Hari ulang tahun keenam puluh
majikan Loh-hun-kok Khong Bun-thong merupakan salah satu peristiwa
besar dalam kalangan Kangouw tahun ini, setengah tahun sebelumnya
mereka sudah menyebar luas undangan.
Sudah tentu para Ciangbunjin atau
Pangcu dari berbagai golongan dan aliran itu sama tahu bahwa dalam
perayaan hari ulang tahun itu, pihak Liok-cau-san pasti
mempertunjukkan sesuatu permainan yang bakal mengggemparkan. Tapi
karena soal muka serta gengsi, seumpama mereka sendiri tidak sudi
datang, terpaksa harus mengurus anak muridnya sebagai wakil
menyampaikan selamat hari ulang tahun.
Perayaan ulang tahun terjadi pada
tanggal tujuh belas bulan sembilan, pada tanggal enam belas, para
tamu yang diundang sudah datang, Liok-hun -kok di Liok-cau-san yang
biasanya sepi kini jadi ramai, dimana-mana didirikan barak-barak
darurat yang penuh sesak dihuni para tamu-tamu yang berdatangan,
mereka makan minum sepuasnya tak mengenal waktu, agaknya banyak di
antara mereka yang siap untuk berpesta pora semalam suntuk.
Mereka makan minum jor-joran.
Banyak tamu jadi sinting dan mabok. Begitulah keadaan Kim-sa-pocu
Kok Liang, mukanya merah padam, biji matanya mendadak menyala,
dengan sempoyongan ia berdiri dan mengeluarkan suara bagai bunyi
genta, teriaknya, “Para Losu dan sahabat sekalian, tiga tahun yang
silam Khong-ji sianseng dengan secangkir arak beracun berhasil
menundukkan Bing-tho-ling-cu sehingga kita berhasil memperoleh
kembali tanda kebesaran masing-masing, budi yang luhur ini, seluruh
sahabat Kangouw tidak ada seorangpun yang tidak merasa berterima
kasih ….”
Ucapannya ini terlalu menusuk
perasaan. Kontan hadirin merasa kurang senang, agaknya Kok Liang
menyadari omongannya tidak berkenan di hati mereka, cepat ia
melanjutkan, “Pertemuan hari itu, meski Tokko Bing sudah mampus,
tetapi murid tunggalnya Koan San-gwat ternyata membekal kepandaian
yang tiada taranya, jikalau kalian mengandal tenaga dan kepandaian
sendiri, siapa pula yang bakal bisa mengalahkan dia!”
Ucapannya ini memang kenyataan,
orang-orang yang kurang senang ini mau tidak mau harus menelan rasa
penasaran mereka. Setelah menanti sebentar melihat tiada orang yang
menyanggah pertanyaannya, Kok Liang lantas mengunjuk sikap
gagah-gagahan, serunya, “Besok adalah hari ulang tahun Khong Kokcu,
kami sudah menyiapkan kado untuk mewakili seluruh sahabat Kangouw
untuk menyatakan hormat dan kagum kepada beliau.” habis berkata ia
memberi tanda keluar, segera dua orang laki-laki menjunjung sebuah
pigura besar yang bercat kuning emas, di atas pigura ini ada diukir
lima huruf besar dengan cat emas yang berbunyi “Thian-he-te-it-keh.”
“Thian-he-te-it-keh” berarti
keluarga nomor satu di seluruh kolong langit.
Tanpa menanti reaksi orang banyak,
cepat-cepat Kok Liang menambahkan, “Thian-he-te-it-keh, kukira cuma
keluarca Khong dari Loh-hun-kok ini yang pantas mendapatkannya,
sekarang aku harap tuan rumah suka menerima kado ini.”
Ciong-lam Ciangbunjin Lu Bu-wi
yang duduk di sebelah Sim-sian Taysu yang mewakili Siau-lim-si tak
tahan lagi segera ia berjingkrak bangun, serunya, “Sungguh tak masuk
akal dan tidak punya aturan! Kalau kita diamkan saja keparat ini
menganugerahkan pigura itu berarti kami semua sama mengakui bahwa
dia memang Thian-he-te-it-keh. Apakah kelima nama ini dapat begitu
gampang diperoleh?”
Sim-sian adalah Suheng Thong-sian
Taysu, usianya pun lebih tua dari Thong-sian, cuma kepandaiannya
sedikit asor, tapi dia merupakan jago nomor dua dari dari
Siau-lim-pay, cuma dia rada rikuh untuk menyatakan pendapatnya
terpaksa dia tarik baju Lu Bu-wi serta katanya, “Lu-ciangbunjin
harap sabar, perbuatan Kok Liang ini meski harus dicela, tapi kukira
ucapannya itu pasti punya alasannya sendiri, tiga tahun yang lalu
jikalau Khong Bun-ki kalah bertanding, maka Ling-hu atau tanda
kebesaran dari berbagai golongan dan aliran tidak akan begitu mudah
diperoleh kembali.”
Tapi Lu Bu-wi tidak ambil perduli,
katanya, “Dalam keadaan yang memalukan itu meski mendapatkan kembali
Ling-hu kami, sebenarnya aku lebih rela milikku itu masih tetap
berada di tangan Bing-tho-ling-cu.”
Sim-sian Taysu menggeleng kepala,
ujarnya, “Meski kemenangan Khong Bun-ki kurang layak dan tidak bisa
dibanggakan, tapi dari jarak yang jauh dapat mendidihkan arak
sehingga menguap kering, memanaskan arak mencampur racun, dalam hal
latihan dan kesempurnaan pelajaran silat secara kenyataan memang
sudah teramat hebat dan sangat mengejutkan sekali.”
Lu Bu-wi menjadi keheranan,
tanyanya, “Siau-lim-pay sebagai aliran yang paling diagungkan dan
dijunjung tinggi oleh kaum persilatan, apakah Taysu juga mengakui
bahwa keluarga Khong merupakan keluarga nomor wahid di seluruh
jagat?”
“Orang beribadat seperti kami
sudah lepas dari kehidupan duniawi, tidak mengejar nama dan gengsi,
menurut pendapat kami siapa pun yang mendapat gelar
Thian-he-te-it-keh tiada menjadi soal, cuma kurasa keluarga Khong
tidak akan puas melulu mendapat gelar dan simbol yang kosong.”
“Mereka mau apa lagi? masakan kita
harus bertekuk lutut terhadap mereka?”
Alis Sim-sim Taysu berkerut
semakin dalam, katanya menghela napas, “Kalau hanya bertekuk lutut
dan patuh karena perintah sih lumayan, dunia bakal aman dan
tenteram, untuk itu Pinceng tidak merasa….”
Lu Bu-wi jadi patah semangat
mendengar uraian Si Hwesio tua ini, ia rasakan orang terlalu lemah
dan gampang terpengaruh. Tetapi tatkala itu Khong Bun-thong tuan
rumah yang merayakan hari ulang tahun itu sedang cengar-cengir
melangkah ke tengah siap menerima pigura besar itu, dari barak-barak
sekitarnya sudah terdengar tepuk tangan.
Khong Bun-thong tidak perduli
sambutan tepuk tangan itu hanya sebagian kecil kaki tangannya
belaka, serunya sambil tersenyum lebar, katanya, “Budi kebaikan
Kok-heng bagaimana juga sungguh aku tidak berani terima. Tiga tahun
yang lalu adikku cuma sedikit menyumbaang tenaganya, masa mengandal
kepandaian yang tak berarti itu kami berani menempatkan diri sebagai
keluarga agung nomor satu di seluruh jagat, maka harap pigura
sumbangan Kok-heng ini dianugerahkan kepada tokoh kosen yang sesuai
saja.”
Kok Liang mengulur leher
mengeraskan suara, serunya, “Pada jaman sekarang ini, tokoh kosen
mana yang bisa dibanding dan lebih kosen dari Khong-kokcu?”
“Bukan begitu persoalannya,” ujar
Khong Bun-thong. “Aku sendiri tidak berani mengakui sebagai seorang
kosen, kukira orang lain pun tidak akan berani sembarangan mengakui
dirinya orang kosen, kalau tidak percaya coba Kok-heng lihat air
muka para sahabat yang hadir.”
Kok Liang berpaling dan
menjelajahkan pandangannya ke segenap penjuru, memang dilihatnya
rona wajah banyak orang menunjukkan rasa kurang senang dan
penasaran, kecuali pihak Siau-lim-pay, para Ciangbunjin atau wakil
lain sembilan partai besar lainnya sama mengunjuk tawa dingin dan
mengejek.
Kok Liang jadi serba runyam, tapi
segera berteriak lantang, “Bila siapa yang tidak menyetujui
pandanganku ini, maka dia hanya manusia kerdil yang tidak mengenal
budi kebaikan.”
Ucapannya ini terlalu berat. Baru
saja lenyap suaranya, hampir berbareng ada lima orang menekan meja
bergegas berdiri, terutama Ciong-lam Ciangbunjin Lu Bu-wi tidak
tahan lagi, bentaknya dengan suara berat, “Oranng she Kok, Kau ini
manusia apa berani bertingkah dan main gembar-gembor dihadapan
sekian banyak orang-orang gagah!”
Baru saja Kok Liang hendak balas
memaki keburu Khong Bun-thong turun tangan mencegah, ujarnya, “Para
saudara demi ikut menghadiri hari ulang tahunku sam berkunjung ke
Liok-cau-san, untuk ini aku sudah merasa bersyukur dan
berterimakasih, jarang sekali karena urusan kecil sampai timbul
pertikaian merusak persahabatan, mari ku persembahkan secangkir arak
untuk menyatakan rasa terima kasih kami.”
Lalu ia bertepuk tangan berbareng
berteriak dengan suara lantang, “Bawa arak kemari.”
Dari luar barak sana segera
mendatangi empat laki-laki besar, dengan pikulan mereka sama
menggotong sebuah guci arak yang besar sekali, tinggi guci itu
kira-kira ada tiga kaki, panjang perutnya yang gendut itu ada
sembilan kaki, dengan dipikul empat orang kelihatan masih terasa
berat, maka dapatlah dibayangkan betapa berat seluruh arak di dalam
guci itu.
Guci itu baru diletakkan setelah
tiba di sampingnya, dua orang diantaranya bekerja sama membuka
tutupnya, benar juga di dalamnya terisi arak yang bagus, sambil
tersenyum lebar, Khong Bun-thong memegangi kedua pinggir guci besar
itu, katanya, “Karena hadirin terlalu banyak, terpaksa kugunakan
cara yang paling praktis saja untuk menyuguhkan arak ini.”
Bertepatan dengan lenyapnya
suaranya, arak dalam guci itu mendadak menyemprot keluar seperti
sebuah tonggak besar melambung tinggi dua tombak, lalu di tengah
udara seperti meledak berpencar ke empat penjuru menjadi titik-titik
bintang bertaburan. Maka di lain saat terdengarlah suara tak tik,
itulah hujan tetesan arak yang masuk ke dalam cangkir.
Seluruh hadirin sama mengeluarkan
seruan heran dan kagum, ada pula yang menghela napas, sebab sekejap
saja cangkir setiap hadirin sama sudah terisi penuh arak, persis
rata dengan mulut cangkir, tidak sampai luber.
Permainan Khong Bun-thong
menunjukkan bahwa Lwekangnya sudah mencapai tingkat paling sempurna.
Sekaligus ia sudah menunjukkan tiga macam permainan yang sulit
dilakukan.
Pertama arak yang dia tebarkan
menggunakan Lwekangnya cuma persis mengisi secangkir semua hadirin.
Apalagi duduk para tamunya itu terpencar lebar, meja yang mereka
tempati selain berisi bermacam-macam makanan masih banyak tempat
luang, tapi setetespun tidak ada yang tercecer di luar.
Kedua, bahwa cangkir sementara
orang masih ada sedikit sisa arak, tapi dia dapat mengisi cukup
sampai cangkir itu menjadi penuh saja, isi dari setiap cangkir itu
sama rata dengan mulut cangkir.
Ketiga, dengan cara menebarkan
arak ke tengah udara untuk mengisi arak ini, sekaligus ia kerjakan
terhadap ribuan tamu yang hadir dalam berbagai barak yang terpencar
luas, tapi tiada satupun yang ketinggalan.
Kim-sa-pocu yang memang bersifat
penjilat itu mendahului bertepuk tangan sekeras-kerasnya, mau tidak
mau hadirin yang lain juga ikut bertepuk tangan bahkan kagum, maka
tepuk tangan kali menjadi amat ramai dan lama sekali.
Terbayang senyum puas dan rasa
bangga pada wajah Khong Bun-thong, cepat ia lepas pegangannya terus
angkat tangan bersoja ke empat penjuru, berulang kali mulutnya
mengucapkan kata-kata merendah, lekas-lekas Kok Liang menjinjing
lagi pigura besar itu terus diangsurkan ke hadapannya, katanya,
“Kepandaian silat dan sastra Khong Kokcu tak ada bandingannya di
dunia ini, maka pigura ini sudah selayaknya kami persembahkan….”
Kali ini tak ada seorangpun yang
berani menentang, Lu Bu-wi jadi lesu dan patah semangat, tapi dalam
hati ia masih uring-uringan tapi pertunjukan kepandaian Khong
Bun-thong benar-benar sudah menciutkan nyali, sehingga ia tidak
berani banyak bercuit lagi.
Khong Bun-thong sengaja pura-pura
sangsi dan menolak, tapi setelah melihat tak ada orang yang
menantang lagi, dengan cengar-cengir ia mengulur tangan menerima,
katanya, “Banyak terima kasih akan anugrah yang sangat besar artinya
ini.”
Dengan diterimanya pigura itu
berarti semua hadirin diam-diam sudah mengakui bahwa keluarga Khong
merupakan Thian-he-te-it-keh, dengan mendapat anugerah yang memang
sudah lama dicita-citakan, sudah tentu Khong bun-thong teramat
senang, katanya, “Inilah anugrah dari para orang gagah yang hadir
hari ini, kalian harus hati-hati, serahkan kepada Jikong-cu untuk
disimpan.”
Orang-orang itu mengiyakan, baru
saja mereka hendak bergerak, dari samping sana muncullah Khong
Bun-ki yang tetap mengenakan pakaian sastrawan, katanya sambil
berseri tawa, “Toako! Sekarang sudah lewat tengah malam, sudah
tibalah saat upacara hari ulang tahunmu. Menurut pendapatku, lebih
baik gantung saja pigura itu di samping pendopo ini, kurasa lebih
serasi dan cocok dengan keadaan.”
“Jangan!” sahut Khong Bun-thong
menggeleng. “Cara ini kurasa terlalu takabur!”
“Tidak, tidak!” tersipu-sipu Kok
Liang lantas bicara. “Cuma pendopo upacara Kokcu yang cocok untuk
menempatkan pigura ini, kuharap cepatlah Ji-kokcu menggantungkannya
di sana, kami ingin segera menyampaikan selamat panjang umur.”
Khong Bun-ki tertawa ringan,
sebelah tangannya menyanggah bagian bawah pigura terus disendal ke
atas, kontan pigura itu terbang ke atas melampaui kepala para
hadirin dan tepat jatuh di atas belandar besar di atas pojok
pendopo.
Di atas belandar mungkin sudah
disediakan tempatnya, sehingga pigura itu tepat sekali menempel di
dinding, di lain saat cepat sekali ke empat laki-laki ini sama
mengayun sebelah tangan menimpukkan sebatang paku panjang yang
gemerlapan, masing-masing melesat ke empat pojok pigura itu dan
tepat sekali memanteknya di atas sana.
Hadirin sekali lagi bertepuk
tangan lebih keras dan gegap gempita. Cuma Lu Bu-wi dengan rasa
penasaran menggerutu, “Terang sekali semua ini sudah dipersiapkan
sebelumnya….”
Sim-sian Taysu menarik bajunya, ia
beri tanda supaya orang tidak terlalu banyak kata.
Terdengarlah Kok Liang mendahului
berteriak, “Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun. Ayo, harap
tuan rumah menempati tempat duduknya.”
Segera Khong Bun-ki mendorong
Khong Bun-thong berdiri di bawah pigura, seorang protokol segera
mengumrumkan upacara dimulai.
Maka beramai-ramai para hadirin
banngun berdiri, ada yang suka rela dan senang hati, tapi ada pula
yang terpaksa, tapi mereka sama membungkuk diri menjura kepada Khong
Bun-thong.
Khong Bun-thong tersenyum lebar,
mulutnya terbuka lebar, katanya, “Terima kasih, mana aku berani
terima penghormatan besar ini.” sambil balas menghormat dengan
membungkuk-bungkuk badan, tapi waktu dia angkat kepala, tiba-tiba
dilihatnya para hadirin berdiri melongo dan terbelalak mengawasi
pigura di atas kepalanya, cepat ia pun mendongak melihat ke atas,
kontan ia berjingkrak kaget dan hampir saja ia berteriak terkejut.
Ternyata di tengah antara kelima
huruf besar di atas pigura yang berbunyi “Thian-he-te-it-keh itu
kini bertambah dua huruf kecil berwarna putih yang menyolok sekali,
bunyinya, “Thian-he-te-it-bing-tho-keh.” (Keluarga unta sakti nomor
satu di seluruh jagat).
Sekian lama Khong bun-thong
keheranan dan tidak habis mengerti, akhirnya air mukanya menjadi
gelap dan merah padam. Serunya lantang dengan amarah yang
meluap-luap, “Sahabat manakah yang mencari gara-gara?”
Beruntun ia berkaok-kaok sampai
empat kalitanpa ada reaksi apa-apa. Dengan suara lebih lantang
menandakan amarah yang semakin memuncak ia berteriak lagi, “Hari ini
adalah ulang tahunku, dengan hati tulus dan sejujurnya kami undang
para sahabat Kangouw untuk ikut menikmati secangkir arak, tidak
lebih hanya ingin berkenalan dengan orang-orang gagah seluruh dunia
yang berkumpul hari ini, kalau mau menyampaikan selamat
sebetulnyalah aku tidak berani terima, bahwa kalian sudah hadir
dalam perjamuan ini berarti memberi muka kepadaku, tapi entah siapa
dengan cara yang memalukan mempermainkan aku, sungguh memalukan dan
menghina keluar batas.”
Setelah berkata mukanya semakin
membesi hijau, tapi keadaan masih tetap tenang dan sunyi. Selang
sejenak, mendadak dari tempat yang agak jauh terdengarlah gelak tawa
berkumandang, nada gelak tawa ini mengandung nada menghina dan
mencemooh.
Serempak pandangan semua hadirin
ditujukan ke arah datangnya gelak tawa, tampak di barak sebelah
timur seorang laki-laki pertengahan umur berpakaian seperti gembala
di luar perbatasan dengan perawakan tubuhnya yang kekar sedang
berdiri bertolak pinggang di atas meja, mukanya rada asing dan belum
dikenal, apalagi tempat duduk sebelah timur sana disediakan bagi
golongan kelas dua, maka hadirin heran dan kaget bahwa orang ini
berani bertingkah begitu kasar dan menghina kepada Khong Bun-thong.
Sambil memicingkan mata, Khong Bun
thong mendesis berkata, “Kawan ini siapa dan siapa namamu?”
Orang itu lalu tertawa tawar,
sahutnya, “Aku yang rendah Thio Hun-cu, bertempat tinggal di
Thian-san utara tidak lebih cuma seorang keroco kelas rendah saja.”
Sekian saat Khong Bun-thong
mengamatinya, tapi ia tidak berhasil menemukan asal-usul orang ini,
akhirnya dengan menarik muka ia menjengek, “Apa maksud gelak tawa
sahabat Thio tadi?”
Thio Hun-cu menengadah terkekeh
dua kali, ujarnya, “Untuk ini harus tanya kepada dirimu sendiri.
Tadi sudah mengudal mulut membuat sebuah cerita bohong yang
mengelabui orang banyak, kedengarannya memang cukup mengasyikan den
mengetuk hati semua orang, tapi apa pula maksud tindakan rahasia
saudara?”
Berubah hebat air mukanye Khong
Bun-thong, matanya menyorot sinar bengis dan buas, teriaknya
beringas, “Kawan Thio! Hari ini adalah hari baikku, bahwasanya aku
tidak akan membuat salah kepada pare sahabat, tapi sepak terjang
saudara tadi agaknya memang sengaja memaksa aku orang she Khong
untuk bertindak tidak mengenal kasihan lagi.”
“Khong-kokcu!” seru Thio Hun-cu
terloroh-loroh. “Tepat sekali ucapanmu! Hari ini memang hari baikmu,
sebab bukan saja hari ini hari ulang tahunmu, tapi juga merupakan
hari besar dimana kau dapat mengekang dan menindas kaum persilatan
serta menjagoi seluruh jagat ….
“Pembual!” hardik Khong Bun-thong
dengan amarah yang meluap-luap. “Meski pigura itu pemberian dari
para sahabat Kang-ouw tapi aku sendiri masih ragu-ragu apakah aku
orang she Khong sembabat mendapatkan simbol itu.”
“Tapi di bawah ancaman dan tekanan
jiwa, siapa yang berani membangkang dan tidak mendengar perintahmu?”
jengek Thio Hura-cu iambi’ tersenyum.
Rona wajah Kong Bun-thong berubah
lebih jelek, sinar matanya mengandung hawa membunuh yang tebal,
terutama Khöng Bun-ki yang berada di belakangnya sudah tidak bisa
menahan gejolak hatinya, sambil menghardik tubuhnya berkelebat maju
sambil angkat tangannya menyerang, mulutnya pun memaki keras,
“Bedebah berani mengacau perayaan hari ulang tahun Toakoku, sudah
bosan hidup ya….?”
Tangan kiri mengacungkan dua jari
menotok dada Thio Hun-cu, tipu yang digunakan cukup ganas dan keji,
tapi Thio Hun-cu yang tidak ternama cukup menurunkan pundak dan
menekuk lutut dengan mudah meluputkan diri.
Karuan tercekat hati Khong Bun-ki,
cepat kedua telapak tangannya bergerak bersama dari kiri kanan
mengatuk ke tengah berbareng ia menepuk pula satu kali, jurus
serangan ke dua ini jauh lebih berbahaya dan telengas, seolah-olah
saking gemasnya ia ingin sekali pukul membikin mampus lawannya.
Kelihatannya Thio Hun-cu sulit terhindar dari mara bahaya, sebab
serangan tangan Khong Bun-ki itu di sebelah atas menepuk
Thay-yang-hiat sedang bagian tengah mencengkeram lambungnya,
betapapun ia dapat mengkerutkan tubuhnya menjadi anak kecil juga tak
akan luput dari rangsakan hebat ini.
Akan tetapi di saat semua orang
menjerit kaget den kuatir itu, tampak badan Thio Hun-cu mendadak
berputar seperti gangsingan cepatnya, sekonyong-konyong badan yang
berputar kencang itu menerjang ke arah Khong Bun-ki, maka
terdengarlah benturan keras, entah dengan cara apa tahu-tahu badan
Khong Bun-ki yang meluncur ke depan ini ditolak mundur sempoyongan
lima enam tindak, lengan kanannya lemas semampai tidak bergerak
lagi, agaknya terluka oleh serangan musuh.
Maka terdengarlah dengus rendah
Khong Bun-thong. Tiba-tiba telapak tangannya terayun menepuk ke
punggung Thio Hun-cu, luncuran telapak tangannya keras tapi tidak
memperdengarkan suara. Seolah-olah Thio Hun-cu tidak bersiaga,
setelah telapak tangan memukul tiba baru ia berjingkrak kaget, tapi
sudah terlambat. Kontan ia tersuruk maju beberapa langkah oleh
tenaga pukulan yang hebat itu.
Tapi kepandaian orang ini agaknya
tidak lemah, di luar dugaan semua hadirin, setelah kena dibokong
oleh pukulan telak Khong Bun-thong, ternyata sedikitpun dia tidak
terluka, begitu menggeliatkan pinggang di lain saat ia sudah dapat
berdiri tegak pula, pelan-pelan ia membalik badan serta tersenyum,
katanya kepada Khong Bun-thong, “Orang she Khong, ingat akan
pukulanmu ini, nanti pasti akan kubalas sekali pukul kepada kau,
tapi dalam melancarkan pukulanku, kulakukan secara terang gamblang,
tidak akan kulancarkan secara membokong seperti perbuatanmu yang
rendah dan hina ini.”
Muka Khong Bun-thong jadi merah
padam karena sindiran ini, di samping itu hatinya pun kaget bukan
kepalang, baru sekarang ia insyaf bahwa lawannya bukan sembarang
tokoh, karena dapat menerima pukulan tangannya, padahal jarang ada
musuh yang mampu menerima genjotan lima bagian tenaganya, sungguh ia
tidak mau percaya bahwa di dunia ini ada manusia sekebal ini.
Bahwasanya nama Loh-hun-kok baru
tiga tahun ini menonjol di kalangan Kangouw tapi sebenarnya jauh
pada dua puluh tahun yang lalu, mereka punya angan-angan untuk
merajai dunia persilatan, setiap tokoh kosen persilatan sudah mereka
selidiki dengan sempurna, hasilnya mereka menganggap bahwa itu tidak
lebih cuma kelas kambing belaka, meski diantaranya membekal
kepandaian asli yang murni dari perguruan masing-masing, tapi masih
jauh bila dibandingkan Kungfunya, maka ia merasa puas akan bekal
sendiri dan bersiap melakukan suatu tindakan yang menggemparkan. Tak
nyana mendadak muncullah Bing tho-ling-cu Tokko Bing dalam suatu
partandingan yang tidak menyenangkan, sehingga ia kena dikalahkan
habis-habisan terpaksa ia harus pendam dulu angan-angan besarnya,
menyemhunyikan diri giat memperdalam ilmu. Tunggu punya tunggu
ternyata sampai dua puluh tahun.
Pertemuan dipariang pasir itu dulu
sebetulnya iapun ikut hadir, tapi karena takut terjungkal lagi dan
malu di hadapan sekian banyak orang, terpaksa ia menyamar dan
menyuruh adiknya yang menjadi wakilnya.
Sebuah berita yang membuat
semangatnya terbangkit adalah bahwa Tokko Bing sudah meninggal, tapi
murid tunggalnya Koan San-gwat ternyata juga bukan main hebatnya
dalam segala hal agaknya tidak kalah dibandingkan dengan Tokko Bing
dua puluh tahun yang lalu. Tapi betapapun pemuda ini masih berusia
muda cetek pengalaman dan pengetahuan. maka akhirnya ia terjungkal
dalam tipu daya dengan menenggak habis arak yang dicampuri racun
jahat, sejak saat itu kemenangan yang tidak tersangka-sangka itu
sekaligus telah menjunjung tinggi gengsi dan membuat nama
Loh-hun-kok menjulang tiada bandingannya.
Dengan segala daya upaya Khong
Bun-thong juga selama tiga tahun ini menghimpun diri memupuk
kekuatan, kebetulan meminjam hari ulang tahunnya yang keenam puluh,
kesempatan ini hendak ia gunakan untuk mengangkat diri dan
mengumumkan kepada dunia, demi mencapai cita-cita dan ambisinya yang
luar biasa.
Sungguh di luar tahunya pula bahwa
di tengah jalan usahanya ini kena dijegal pula dengan munculnya Thio
Hun-cu yang kurang dikenal namanya.
Beberapa patah kata Thio Hun-cu
hakikatnya telah menggerakkan akal dan perbuatan liciknya. Sekaligus
telah merusak nama baiknya pula, banyak diantara hadirin yang merasa
kurang senang dengan segala sepak terjangnya tadi, kalau hari ini
tidak melenyapkan keparat ini, selanjutnya tidak ada muka baginya
bercokol lagi…. ….
Sesaat lamanya termenung, lalu
akhirnya Khong Bun-thong berkata sinis, “Kepandaian saudara sungguh
membuat hatiku takluk. Dengan kepandaianmu tidak sulit angkat nama
di Bulim, tapi kenapa kau sengaja mengacau dalam perayaan hari ulang
tahunku ini….?”
Thio Hun-cu tertawa dingin
jengeknya, “Meski pun aku punya kepandaian silat tapi cuma untuk
menyehatkan badan saja, tiada pikiran untuk angkat nama atau junjung
gengsi segala. Hari ini karena terpaksa baru aku mencari perkara
kepada kau. Sebetulnya aku tak ingin terjadi bahwa hari ulang
tahunmu menjadi hawa kematian sekian banyak tokoh-tokoh Bulim yang
hadir dalam pertemuanmu ini.”
Berubah air muka Khong Bun-thong
hardiknya dengan bengis, “Kau membual apa lagi?”
“Hatimu sendiri kan paham,” jengek
Thio Hun-cu. “Permainan menyuguh arak yang sudah kau campuri
Ui-he-ciu-ce-sa masakah dapat menundukkan sekian banyak orang supaya
mendengar perintahmu, seumpama racunmu dapat membikin dua tiga orang
mampus, semangat juang dan jiwa kesatria golongan persilatan tidak
akan begitu mudah kau ancam dan kau kuasai.”
Seketika seluruh hadirin menjadi
ribut mendengar kata-kata Thio Hun-cu ini, mimpi juga mereka tak
menduga bahwa Khong Bun-thong telah mencampuri racun di dalam
araknya.
Ciong-lam Ciangbunjin Lu Bu-wi
yang sejak semula sudah sirik terhadapnya, sekarang tak kuasa
menahan amarahnya lagi, segera ia melompat menuding Khong Bun-thong,
teriaknya, “Khong Bun-thong! Bangsat kurcaci macammu ini berani
melakukan perbuatan keji yang memalukan….”
Melihat Thio Hun-cu sudah
membongkar rencana kejinya, lebih kaget Khong Bun-thong dibuatnya,
cuma ia berlaku tenang, terpaksa ia bertindak nekad, jengeknya,
“Lu-heng jangan mengumbar nafsu, racun itu tidak bakal mencabut
nyawamu dalam waktu dekat dekat, nanti tentu dapat kuberi obat
pemunahnya. Tapi bila kau marah-marah dan mengumbar adatmu, bila
kadar racunnya bekerja, itu menjadi resikomu sendiri.”
Secara tidak langsung ucapannya
terus mengakui bahwa araknya memang dicampur racun, karuan hadirin
berjingkrak gusar, yang beradat kadar malah membalikkan meja dan
memukul hancur semua perabotnya, berbondong-bondong mereka merubung
maju mengurung Khong Bun-thong, ingin rasanya mereka membuat
perhitungan dan adu jiwa.
Tapi Khong Bun-thong tidak
terpengaruh akan keadaan, sikapnya tetap tenang, sementara Khong
Bun-ki sambil menahan sakit berdiri di belakangnya siap dan waspada,
di samping itu banyak pula orang-orang Kangouw yang punya haluan
suka menjilat. Meski dirinya terkena racun tapi masih rela berdiri
di pihak Loh-hun-kok. Mereka jadi sama berhadapan saling pelotot dan
ancam seperti ayam aduan.
Thio Hun-cu yang menjadi gara-gara
semua keributan ini malah terhimpit ke samping tapi dengan sikap
acuh tak acuh dia berkata kepada Lu Bu-wi, “Lu Ciangbunjin! Memang
lebih baik kau jangan mengumbar adat, kalau tidak kau akan terima
akibatmu sendiri….”
Bahna gusarnya Lu Bu-wi jadi tidak
pandang bulu lagi, semprotnya dengan gusar, “Kaupun bukan manusia
baik-baik, kalau kau sudah tahu dalam arak dicampuri racun, kenapa
tidak sejak tadi kau bongkar kelicikannya, kau mandah saja melihat
kita ditipu mentah-mentah!”
Thio Hun-cu cengar-cengir, lalu
katanya, “Kurasa tidak perlu, karena kalian tidak terancam
jiwanya.Sebetulnya Khong Bun-thong tidak punya maksud mencelakai
jiwa kalian, cuma bertidak mengekang dan mengancam supaya kalian
suka dengar perintah dan rela jadi kaki tangannya. Dia sendiri sudah
menyiapkan obat pemunahnya, tapi obat itu cuma dapat menekan kadar
racun supaya tidak kumat dalam tubuh kalian, setiap setengah tahun
harus minum obat pemunahnya sekali. Jikalau kalian masih ingin
hidup, harus tunduk dan patuh akan semua kehendaknya….”
“Kentut!!!!” maki Lu Bu-wi. “Meski
harus mengadu jiwa sampai mati, masa kami mandah kena digencet dan
bertekuk lutut padanya!”
“Ciangbunjin terlalu mengecil
artikan nyawamu sendiri,” ujar Thio Hun-cu tersenyum sinis. “Kalian
adalah kesatria gagah dan tunas harapan Bulim pada masa kini, masa
begitu gampang harus mengorbankan jiwa, celaka kalau situasi dunia
selanjutnya bakal terjatuh ke dalam kekuasaan keluarga Khong yang
lalim ini….”
“Kau sendiri sebenarnya termasuk
aliran yang mana?” semprot Lu Bu-wi lebih gusar.
“Kenapa bicara plintat-plintut tak
punya pendirian, apa kau ingin kami tunduk dan bertekuk lutut
padanya?!”
“Bicara mengenai hati nurani aku
berdiri di pihak kalian, sebab aku mengutamakan hati yang lapang dan
jujur bijaksana, tapi dalam sepak terjang…. aku berdiri di pihaknya,
kaum persilatan malang melintang di Kangouw kecuali ilmu silat harus
pula menggunakan otak dan pikiran, mana boleh seperti kalian begini
tidak becus, begitu mudah dikerjai orang.”
“Bohong! apakah kau sendiri tidak
minum arak tadi?” teriak Lu Bu-wi pula lebih murka.
“Lain aku lain kalian,” sahut Thio
Hun-cu kalem. “Aku sudah tahu ada racun tapi sengaja aku minum juga
arak itu.”
Lu Bu-wi jadi melengak heran,
tanyanya, “Kau sengaja minum arak yang dicampuri racun!?”
“Tidak salah! Aku memang sengaja
meminumnya, ingin kulihat kecuali mati atau bertekuk lutut apakah
masih ada jalan ketiga untuk kupilih.”
Berputar biji mata Khong
Bun-thong, selanya dingin, “Terhadap kau! Cuma satu jalan saja,
yaitu kematian! Orang macammu ini kalau hidup terlalu lama tentu
sangat berbahaya, umpama kau mau tundukpun aku tidak akan mengampuni
kau!”
Mendadak Thio Hun-cu bergelak
tawa, ujarnya, “Jangan kau mimpi! Tiga tahun yang lalu aku pernah
menelan Ui-ho-ciu-ce-sa, kenyataannya aku tidak mati keracunan,
kalau hari ini kau hendak membunuhku, gunakan dengan cara yang
gemilang, selesaikan dengan kepandaian silatmu.”
“Tiga tahun yang lalu….” seru
Khong Bun-thong terkejut, “Lalu kau ini adalah….”
Di tengah gelak tawa Thio Hun-cu
yang berkumandang nyaring, tiba-tiba ia copot topi kepalanya,
telapak tangannya mengusap raut mukanya beberapa kali, mencabut
jenggot palsu di tengah dagunya sekejap saja kini ia sudah berubah
jadi seorang pemuda yang bersikap gagah dengan semangat
menyala-nyala.
Seketika terdengar seruan kaget
dari berbagai penjuru, tanpa berjanji mereka sama berteriak, “Koan
San-gwat!”
Masih segar da1am ingatan mereka,
pemuda di hadapan ini bukan lain adalah pemuda yang menunggang unta
sakti di padang pasir dulu dan mengaku sebagai murid tunggal
Bing-tho-ling-cu tiga tahun yang lalu itu.
Waktu itu dia terkena racun lalu
melarikan diri ditelan tabir malam di tengah gurun, semua orang
anggap jiwanya pasti sudah melayang, ada sementara orang merasa
kasihan dan sayang akan kematiannya itu.
Sungguh tidak dinyana, kini pemuda
muncul pula di hadapan mereka secara aneh dan mengejutkan.
Koan San-gwat tertawa lantang,
jarinya menuding ke arah pigura yang telah ia ganti huruf-hurufnya,
serunya, “Thian-he-te-it-bing-tho-keh! Harap kalian sama ingat, asal
suatu hari mampus, keempat huruf Thian-he-te-it-keh itu, jangan
harap bakal terjatuh di atas kepala orang lain!”
Laksana naga sakti saja Koan
San-gwat mendadak muncul dalam keadaan yang sangat kritis ini,
mengeluarkan pernyataan yang takabur dan gagah lagi, kontan semua
hadirin sama terpengaruh oleh perbawanya, seluruh hadirin jadi
bungkam dan sunyi merayap, tidak seorangpun berani mengeluarkan
suara.
Memang dia setimpal menerima
anugerah ini, jangan kata Tokko Bing pernah menundukkan dunia.
kepandaian silat yang diunjukkan di pertemuan di padang pasir itupun
tiada tandingannya.
Malam itu jikalau Khong Bun-ki
tidak menggunakan akal liciknya sehingga keracunan, siapapun tidak
berani membayangkau betapa akibatnya. Tapi kenyataan bocah ini
memang panjang umur, setelah terkena racun sedemikian jahatnya,
ternyata masih hidup sehat walafiat malah kini muncul kembali.
Setelah terlongong sekian lamanya,
akhirnya Khong Bun-thong tersentak sadar dari lamunannya, tanyanya
dengan suara yang hampir tidak mau percaya, “Koan San-gwat! Cara
bagaimana kau bisa tetap hidup setelah terkena racun Ui-ho
ciu-ce-sa?”
“Seluruh benda yang ada di
mayapada ini tiada satupun mutlak, ada racun pasti ada obat
pemunahnya, kalau tokh aku bisa selamat dan bisa hidup kembali
setelah terkena racun jahatmu itu sudah tentu aku sudah mendapatkan
obat pemunahnya.”
“Memang harus diakui bahwasanya
Tokko Bing berbakat dan berkepandaian, luas pengetahuan lagi, cuma d
aalam ilmu pengobatan sedikitpun
ia tidak paham, maka betapapun aku tidak percaya bahwa kau bisa
memunahkan racunku itu!”
Koan San-gwat manggut-manggut,
ujarnya, “Memang tidak salah ucapanmu, guruku tidak mahir ilmu
pengobatan, sehingga aku kau kelabui mentah-mentah, tapi di saat
jiwaku cuma tergantung pada seutas benang, aku ketemu orang kosen
yang mengasingkan diri, bukan saja beliau telah menolong jiwaku,
beliaupun berhasil menyelidiki cara memunahkan racun jahatmu itu!”
“Siapa orang itu?!” desak Khong
Bun-thong.
Koan San-gwat menuding seseorang
di sampingnya, katanya, “Orang kosen ini sangat terkesan dan kagum
kepada kau yang bisa meramu obat beracun macam Ui-ho-ciu-ce-sa itu,
kali ini ia ikut kemari untuk berkenalan dan cari pengalaman, tadi
aku menggunakan nama beliau. Sekarang marilah kuperkenalkan, beliau
adalah seorang tabib sakti yang sejak lama menyembunyikan diri di
puncak Thian-san, Thio Hun-cu Cianpwee adanya.”
Pandangan semua orang beralih ke
arah yang ditunjuk, tampak seorang laki-laki pertengahan umur
mengenakan pakaian gembala bermuka kuning seperti penyakitan, di
sebelahnya berdiri pula seorang nona remaja, pakaiannya seperti
gembala di padang rumput, hidungnya mancung matanya bening. Parasnya
yang cantik itu membayangkan wataknya yang keras dan sikapnya yang
gagah, raut wajahnya hampir mirip dengan laki-laki pertengahan umur
itu, sekali pandang dapat diketahui bahwa mereka ialah ayah beranak.
Sebetulnya Thio Hun-cu berdiri
agak jauh, begitu Koan San-gwat menuding ke arah dirinya, cepat ia
maju menghampiri sambil tersenyum lebar, orang-orang di
sekelilingnya menyingkir ke samping memberi jalan kepadanya,
akhirnya dia berdiri berendeng dengan Koan San-gwat.
Gadis remaja itu berada di
belakangnya, ujung mulutnya menyungging senyum manis, agaknya ia
jadi
tertarik akan keadaan yang
bergolak ini.
Khong Bun-thong menatap ke arah
Thio Hun-cu sampai orang berada di hadapannya, baru dia batuk-
batuk, kulit mukanya kelihatan rada gemetar jelas bahwa hatinya
sudah mulai tegang, dengan tertawa dibuat-buat ia berkata setenang
mungkin, “Tak nyana di puncak Thian-san masih ada tokoh yang
sembunyi di sana, kami menyambut kurang hormat, sungguh
keterlaluan!”
Thio Hun-cu tertawa ewa, katanya,
“Ah, kenapa Kokcu begitu sungkan, orang liar dari perbatasan seperti
kami bisa mendapat tempat duduk dalam meja perjamuan Kokcu sudah
merupakan suatu kehormatan bagi kami. Maklum dari tempat yang jauh
kami tak bisa menyediakan kado yang berarti, kami hanya bawa
beberapa butir buah Tho yang kutanam sendiri sebagai kado, tapi
karena Kokcu sangat repot, tiada kesempatan kupersembahkan sekarang.
Mohon Kokcu suka terima dengan senang hati!”
Lalu ia berpaling kepada gadis
remaja itu, “Ah-ceng! Persembahkan buah Tho kepada Kokcu yang
berulang tahun.
“
Dengan lemah gemulai gadis itu
menurunkan buntalan yang diikat di punggungnya, setelah dibuka
ternyata berisi lima enam buah Tho sebesar mangkok. Warnanya merah
bersemu kuning, dengan kedua tangannya si gadis mengangsurkan sebuah
di antaranya ke hadapan Khong Bun-thong. Katanya tertawa manis,
“Harap tuan rumah suka terima dan mencicipinya!”
Di hadapan sekian banyak tamunya
terpaksa Khong Bun-thong mengulurkan tangannya mengambil buah itu,
dengan terpaksa ia menyengir tawa, sahutnya, “Terima kasih!”
Thio Hun-cu juga tertawa, ujarnya,
“Buah Tho ini hasil dari puncak Thian-san, meski tidak berharga bila
dinilai dengan uang, tapi rasanya manis dan sedap. Kalau Kokcu sudi,
silahkan cicipi bagaimana rasanya.”
Khong Bun-thong mengamat-amati
buah Tho itu sekian lamanya, tidak terlihat adanya sesuatu yang
mencurigakan. tapi ia tahu bahwa buah Tho ini pasti bukan buah Tho
seperti buah-buahan umumnya,
maka sesaat lamanya ia jadi ragu
dan tak berani segera memakannya.
“Apakah Kokcu merasa sumbanganku
ini terlalu tidak berharga?”
Khong Bun-thong jadi serba runyam,
sahutnya dengan kikuk, “Mana, mana! Sebetulnya aku orang she Khong
sangat senng daen terpesona akan buah Tho sebesar ini, entah
bagaimana aku harus membalas pemberian ini. Aku yakin buah macam ini
tentu sulit didapat. Biarlah kusimpan saja pelan-pelan kunikmati
lain kesempatan saja.”
“Terserah pada kehendak Kokcu,
cuma sudah lama aku mendengar ketenaran nama Kokcu, katanya mampu
meramu Ui-ho-ciu-ce-sa pula, maka sengaja kupetikkan buah Tho itu
sebagai permainan. Mohon petunjuk kepada Kokcu, kalau Kokcu tidak
sudi memberi muka, anggap saja sia-sialah segala jerih payahku.”
Kedengarannya ia mengobrol
seenaknya saja, tapi bagi pendengaran Khong Bun-thong sangat menusuk
perasaannya dan menjatuhkan gengsi, sebetulnya ia memang kuatir bila
buah Tho itu ada rahasia apa-apa, tapi setelah ditantang dengan
sindiran tajam Thio Hun-cu, ia jadi lwbih tak enak kalau tak makan
buah itu, tapi dengan pura-pura sungkan ia berkata, “Kalau begitu
terpaksa aku terima pemberian ini.”
“Orang she Khong,” jengek Koan
San-gwat. “Jangan terlalu cepat kau melulusi permintaannya, buah Tho
itu tumbuh di puncak Thian-san, dinamakan Thinn-toh (buah langit).
Sesuai dengan namanya, bila kau berani makan, jiwamu segera bakal
melayang ke sorga, apakah kau benar-benar berani memakannya?”
Berubah air muka Khong Bun-thong,
teriaknya gusar, “Meski obat yang bisa menghancurkan isi perut,
orang she Khong juga tidak gentar!” segera ia angkat buah itu ke
mulutnya.
Dengan gugup Khong Bun-ki
merintangi, “Toako! buat apa kau menuruti perasaan hati!”
Tak terasa tangan Khong Bun-thong
jadi merandek. Cepat Thio Hun-cu tertawa ujarnya, “Kokcu kan seorang
ahli dalam menggunakan racun, tentu kau paham bahwa buah itu
sedikitpun tidak beracun, kalau Khong-jie Sianseng tidak percaya,
coba silahkan kau cicipi lebih dulu.”
Khong Bun-thong terloroh-loroh,
serunya, “Umpama mengandung racun aku orang she Khong juga tidak
takut!”
Lalu dengan dua jarinya ia pijat
sampai buah di tangannya pecah dan mengalirkan sari buahnya yang
bening, cepat ia menyedot dengan mulutnya, setelah ia kunyah habis
daging buahnya, ia lemparkan kulitnya, lalu bergelak tertawa,
serunya, “Wah, enak sekali, ternyata memang wangi dan segar buah ini….”
Bersambung ke Jilid 3