patung emas kaki tunggal 01
PATUNG
EMAS KAKI TUNGGAL/UNTA SAKTI
(Tok Kak Cin
Jin)
Diceritakan Oleh: Gan K. H.
Jilid 1
SELAYANG PANDANG
pasir menguning terbentang luas tidak berujung pangkal, jejak
sejarah telah terbenam di bawah tebaran pasir yang bergulung tertiup
angin tak pernah berhenti.
Sang sunya
memancarkan cahayanya yang merah menguning menyinari padang pasir
yang semakin dingin ditaburi kabut malam. Tatkala itu, di padang
pasir nan luas tak berujung pangkal itu, berkumpul banyak sekali
orang-orang gagah dan Para Enghiong dan empat penjuru, mereka
terdiri dari berbagai aliran dan golongan yang satu sama lain
berlainan haluan dan cita-cita. Tapi jelas bahwa mereka sama
mempunyai pengalaman juang dalam mengarungi kehidupan kaum
persilatan yang penuh diliputi mara bahaya dan elmaut. Pengalaman
gagah dan perbuatan yang perwira mereka sama dilandasi dan dengan
segala pengorbanan yang besar, entah darah, keringat, pengalaman dan
keyakinan yang teguh, dan yang terutama mereka mempertaruhkan jiwa
dan raga.
Apakah tujuan
mereka mengadakan pencarian besar di tengah padang pasir yang serba
kekurangan ini?
Tabir malam sudah
menyelimuti seluruh alam semesta. Para gembala yang jauh berada di
padang pasir sana mulai mengumpulkan kotoran untuk membikin api
unggun, menyambut kedatangan kabut malam yang sudah menyelimuti
seluruh penghuni dunia ini.
Bintang mulai
bermunculan berkelap-kelip di tengah cakrawala, putri malampun mulai
menongolkan mukanya yang cantik molek laksana raut wajah seorang
putri remaja yang sedang memadu cinta.
Para gembala
sedang bergembira ria, menyanyi dan menari, ada yang memetik harpa
ada pula yang menggesek biola dan menyebul tanduk, mereka sama
melagukan nyanyian kisah perjuangan kaum gembala yang gagah perwira,
suasana semakin riang dan gegap gempita.
Kelompok
orang-orang gagah yang sedang meringkuk tersebar membentuk sebuah
bundaran diam tak bersuara, suasana sunyi dan kelam, kadang-kadang
terdengar suara gerutu dan umpat caci penasaran tapi itu hanya
terjadi selintas lalu saja.
Apakah yang mereka
sedang nantikan?
Dari gundukan
pasir tinggi sebelah sana mendadak terdengar dengusan rendah lirih,
disusul sebuah bayangan yang ditimpa cahaya rembulan muncul dari
kejauhan, bayangan tinggi dan besar, itulah seorang sebatangkara
yang bercokol di punuk unta.
Orang-orang yang
meringkuk ada yang duduk ada yang berbaring itu jadi gempar dan
ribut, dalam batin mereka sama berkata, “Datang. Akhirnya datang?”
Hadirin menjadi
tegang serasa hampir susah bernapas tapi tiada seorangpun yang
berani mengeluarkan suara keras, begitulah sementara bayangan unta
itu sudah semakin mendekat masuk ke tengah bundaran di antara
mereka.
Di bawah cahaya
rembulan yang terang benderang semua orang dapat melihat tegas,
orang yang bercokol di atas punggang unta itu ternyata seorang
pemuda, meskipun ia sudah menanjak usia lima enam belasan, tapi
usianya yang masih muda ini, sungguh membuat semua hadirin menjadi
heran dan hampir tak percaya akan pandangan mata sendiri.
Menghadapi sekian
banyak orang-orang gagah yang kenamaan dalam Bulim, ketenangan si
pemuda hampir sulit dipercaya. Pelan-pelan ia menghentikan
tunggangannya, sepasang bijimatanya memancarkan sinar terang setajam
ujung pisau menyapu pandang ke sekitarnya, lalu dengan suara yang
kalem ia berkata, “Maafkanlah keterlambatanku sehingga tuan-tuan
lama menunggu. Apakah kalian sudah lengkap semua….?”
Suasana
sekelilingnya tetap sunyi, tidak terdengar jawaban seorangpun,
pemuda itu menunggu sebentar lalu berseru pula dengan lantang,
“Bagaimana kalian ini, sebelumnya Cayhe sudah memberi pengumuman,
bahwa Kiu-sun-sam-pay, Cit-kok Cap-si-po, asal ada salah seorang
dari mereka yang tidak hadir, maka pertemuan ini kuanggap batal!”
Sesaat lamanya
keadaan masih sunyi senyap, mendadak terdengar sebuah suara serak
dan ketua-tuaan berteriak, “Matamu kan tidak picak, apakah semua
sudah hadir atau belum masa kau tidak bisa lihat sendiri?”
Pemuda itu
tersenyum, tanyanya, “Siapa yang bicara? berdiri!”
Di sebelah samping
kiri berdiri seorang laki-laki tua tinggi besar, serunya dengan
suara serak, “Lohu Kok Liang dari Kim-sapo!”
Seperti kilat biji
mata si pemuda menyapu pandang ke arahnya, ditatap sinar mata yang
tajam itu Kok Liang jadi merinding dan berdiri bulu kuduknya, ia tak
habis mengerti pengalaman puluhan tahun di kalangan Kangouw entah
kenapa hatinya jeri dan kuncup nyalinya menghadapi pemuda gagah di
atas unta itu,
Tampak si pemuda
tersenyum ramah, katanya, “Oo, kiranya Kok-pocu, pengalamanmu sangat
luas, minta tolong untuk memeriksanya sebentar, apakah orang-orang
dari semua aliran dan golongan yang kusebut tadi sudah hadir semua.
Soalnya Cayhe baru pertama kali ini bersua dengan kalian, terpaksa
aku bertanya lebih dulu.”
Seru Kok Liang
dengan nada dongkol. “Tak perlu diperiksa lagi, Lohu berani tanggung
seorangpun tidak akan kurang. Selama dua puluh tahun, seluruh
sahabat Bulim menantikan pertemuan malam ini, tak mungkin mereka
yang berkepentingan tidak hadir pada saat ini.”
“Kalau begitu
bagus!” seru si pemuda sambil tertawa keras. “Marilah kita mulai
menyelesaikan urusan kita! Siapa yang maju lebih dulu?”
Sesaat lamanya
suasana sunyi mencekam mata, baru saja Kok Liang hendak membuka
suara, tiba-tiba seorang di sampingnya keburu berseru, “Kok-pocu
harap berhenti sebentar! Pinceng punya persoalan yang perlu dibikin
jelas lebih dulu.”
Kok Liang
berpaling dengan laku hormat berkata, “Silakan Ciangbunjin!”
Orang itu maju
beberapa langkah, jubahnya yang besar gerombyongan dari kain kasar
merupakan seragam keagamaannya, itulah dia Siau-lim Ciangbun yang
menjagoi dunia Kangouw masa ini, Thong-sian Taysu, beliau sudah
berusia delapan puluhan, suaranya keras berisi, serunya sambil
merangkap tangan di depan dada, “Omitohud! terhadap asal-usul Sicu
tetap masih rada curiga.”
“Jadi Taysu
menyangsikan Cayhe bukan Bing-tho-ling-cu yang tulen?” tanya si
pemuda tertawa lebar.
Thong sian Taysu
manggut-manggut, sahutnya, “Dua puluh tahun yang lalu, Lohu
beruntung pernah melihat wajah asli Bing-tho-ling-cu, sebaliknya
siau Sicu….”
Pemuda itu
bergelak tertawa, ujarnya, “Dua puluh tahun yang lalu aku berusia
lima puluh tahun, yang Taysu jumpai sudah tentu bukan aku, sang
waktu berlalu dengan cepat, kini guruku sudah mangkat, maka janji
beliau kepada tuan-tuan sekalian terpaksa menjadi tanggung jawabku.”
Hadirin menjadi
ribut bisik-bisik dan bersuara heran. Agaknya mereka tidak mau
percaya bahwa tokoh kosen gagah perwira yang pernah malang melintang
menjagoi dunia persiltan dua puluh tahun yang lalu kini sudah
berpulang ke tempat asal….
Ujar Thong-sian
Taysu dengan kejut-kejut heran, “Tokko-siansing masih berusia sedang
dan bertubuh sehat walafiat, mana bisa meninggalkan dunia fana di
tengah jalan ….”
Dengan rasa rawan
si pemuda menjawab, “Ya, guruku memang seorang genius yang tiada
taranya, bakatnya tak ada yang dapat menandingi, sayang ….”
“Sungguh Lolap
merasa sayang dan ikut berbela sungkawa akan nasib Tokko-sianseng
yang malang itu. Tapi dapatkah Sicu membuktikan bahwa kau
betul-betul murid Bing-tho-ling-cu yang asli?”
Si pemuda
tersenyum dengan angkuh, dari buntalan yang tergantung di punggung
tunggangannya ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kuning, ia buka
kain pembalut di sebelah luar, seketika mereka semua hadirin
terbelalak kiranya buntalan itu berisi sebuah patung kaki tunggal
berbentuk manusia yang terbuat dari emas, di bawah pancaran sinar
rembulan, menyorot sinar kemilau yang menyilaukan mata.
Sambil angkat
patung emas ke atas, pemuda itu berseru lantang tapi khidmat,
“Orangnya sudah mati tapi untanya belum mati. Kalau tulang bisa
menjadi keropos maka senjata ini akan tetap abadi, unta yang
kutunggangi ini adalah peninggalan dari guruku almarhum.
Tok-ga-kim-sin yang kupegang ini kukira Taysu tidak melupakannya
bukan!?”
“Benar!” sahut
Thong-sian Taysu dengan sungguh-sungguh. “Memang senjata itu milik
Tokko-sianseng dulu, apakah lolap boleh pinjam lihat sebentar?”
Si pemuda bergelak
tertawa, serunya; “Taysu tidak perlu curiga lagi, di atas jidat
Kimsin ini ada melekuk tiga lobang, ini kan hasil kanya tangan Taysu
dulu, waktu guru almarhum masih hidup beliau sangat mengindahkan
Taysu. Dalam kolong langit ini tokoh yang dapat meninggalkan bekas
di atas senjatanya ini cuma Taysu seorang.”
Dengan sikap
hormat Thong-sian Taysu merangkap tangan pula, cepat ia menjura ke
arah Kim-sin di tangan si pemuda. serunya “Lolap tak curiga lagi.
Dua puluh tahun yang lalu gurumu Tokko sianseng menerjang ke
Siau-lim-si, dimana dia berhasil memecahkan Lo han-tin, syukurlah
mengandal segala kemampuan Lolap selama puluhan tahun, aku hanya
terkalahkan oleh gurumu, dengan suka rela kami menyerahkan Ling-hu
dari partai kami. Meski peristiwa ini merupakan kejadian yang
memalukan bagi kejayaan Siau-lim-pay kami selama ratusan tahun, tapi
Lolap pribadi sangat segan dan menghargai gurumu, tak nyana takdir
Tuhan menentukan dia harus mangkat lebih dulu, sungguh Lolap merasa
sangat menyesal dan ikut berduka cita.”
Si pemuda tertawa
tawar, ujarnya, “Taysu terlalu sungkan, dalam masa dua puluh tahun
ini tentu Taysu telah melatih dan menciptakan ilmu yang tiada
taranya.”
“Mencipta ilmu apa
segala sungguh Lolap tidak berani menerima pujian ini. Cuma untuk
merebut kembali Ling-hu perguruan kami, terpaksa nanti Lolap akan
minta sedikit pelajaran dari Sicu….”
“Taysu tidak usah
sungkan, bukan saja perguruan Taysu, Kiu-hun-lam-pai,
Jit-ko-cap-si-po, seluruhnya berjumlah tiga puluh tiga Ling-hu
atautanda kepercayaan, seluruhnya sudah diserahkan kepadaku oleh
guru almarhum. Setengah tahun yang lalu tujuanku menyebar
Bing-tho-ling (perintah unta sakti), adalah untuk mengembalikan
semua barang-barang itu. Tapi…. kalian harus dapat memenuhi syarat
yang diajukan oleh guruku almarhum.”
Dengan tajam
Thong-sian Taysu menatapnya, katanya dengan suara heran, “Kapan Sicu
ingin membereskan semua urusan itu?”
“Kukira semua
orang sudah menunggu dengan gelisah, sudah tentu lebih cepat lebih
lebih baik. Maka kupikir harus segera dimulai.”
Thong-sian Taysu
agaknya masih kurang percaya, tanyanya, “Dulu gurumu mengandal
bakatnya yang tiada taranya ia tokh harus makan waktu setengah tahun
baru berhasil menundukkan sekian banyak golongan dan aliran. Tapi
Sicu seorang diri malam ini hendak menghadapi tiga puluh tokoh kosen
secara bergantian?”
Si pemuda
menengadah sambil tertawa, serunya, “Dulu kalian berpencar terlalu
jauh, guruku harus satu persatu meluruk ke tempat kalian, maka
akhirnya menghabiskan waktu begitu lama, tapi sekarang aku lebih
beradat keras dan ingin lekas selesai, maka sekaligus kuundang
kalian semua untuk menyelesaikan urusan ini bersama.”
Perasaan
Thong-sian Taysu rada tergetar oleh rasa sombong dan congkak pemuda
di hadapannya ini, setelah terlongong sekian lamanya ia berkata pula
dengan menggeleng kepala, “Mengandal kekuatan jasmani sicu sekarang
yang perkasa, kau hendak angkat diri dan menciptakan rekor yang luar
biasa, meski lohu percaya bila Sicu punya kemampuan itu, pihak kami
tidak akan sudi meminta kembali Ling-hu kami dalam keadaan yang
demikian, maka terpaksa Lolap mohon mengundurkan diri saja dari
pertemuan malam ini.”
Mengawasi jenggot
memutih di depan dada si padri tua ini, timbul rasa hormat si
pemuda, segara ia menjura serta katanya hormat, “Taysu punya
perasaan yang luhur dan mengenal kebijaksanaan, sungguh Cayhe sangat
kagum. kalau Taysu tidak sudi mengambil keuntungan ini, Cayhe tidak
berani main paksa. silahkan Taysu menonton dari samping, nanti
setelah Cayhe selesai mengurus persoalan di sini, kalau Taysu masih
anggap Cayhe punya tenaga biarlah nanti kita lanjutkan babak
terakhir saja.”
Thong-sian Thaysu
geleng-geleng kepala, tanpa bicara lagi cepat ia menyingkir ke
samping.
Dengan seenaknya
si pemuda melompat turun dari atas punggung unta, lalu menepuk paha
belakangnya, katanya lembut “Sahabat tua, carilah tempat untuk
istirahat, tidak akan lama aku pasti sudah menyelesaikan semua
urusan di sini.”
Agaknya unta
cerdik yang Sakti itu seperti bisa mendengar ucapan majikannya,
dengan mengeluh rendah perlahan-lahan ia jalan pergi meninggalkan
gelanggang sambil mengobat-abitkan ekornya.
Dulu
Bing-tho-ling-cu Tokko Bing dengan kepandaian silatnya yang maha
tinggi berhasil menundukkan banyak golongan dan aliran silat serta
berhasil merebut tanda kebesaran dan kepercayaan berbagai golongan
dan waktu itu ia berjanji dua puluh tahun yang akan datang,
mengundang berbagai golongan dan aliran itu untuk mengambil pulang
Ling-hu atau tanda kebesaran mereka dengan kepandaian masing-masing.
Sudah tentu kejadian itu merupakan suatu penghinaan besar terhadap
berbagai kaum persilatan itu, maka mereka rela berlatih dan rajin
belajar memperdalam ilmu masing-masing untuk menagih malu dan
penghinaan dua puluh tahun yang lalu.
Siapa nyana dua
puluh tahun kemudian, hari ini mereka mendengar bahwa Tokko Bing
sudah ajal, pemuda congkak dan takabur yang mengaku sebagai murid
tunggalnya akan menyelesaikan pertikaian lama itu.
Sikap dan tingkah
laku si pemuda yang sombong dan pongah sungguh menimbulkan kemarahan
massa, mereka tak kuasa menahan hawa amarah.
Kim-sa-pocu Kok
Liang yang berangasan lebih tidak kuasa menahan gajolak hatinya,
dengan berjingkrak gusar ia berseru, “Keparat, kau terlalutakabur
dan pandang rendah kami semua.”
Si pemuda tertawa
angkuh, sahutnya, “Aku toh ahli waris dari Bing-tho-ling-cu, sudah
tentu cukup setimpal untuk bersikap angkuh.”
“Lohu ingin tampil
lebih dulu!” teriak Kok Liang murka.
“Sudah tentu
boleh.” jawab si pemuda acuh tak acuh. “Coba kau serahkan dulu Bing
tho-ling yang kukirim kepada kau itu.”
Dengan muka merah
padam, Kok Liang merogoh keluar sekeping tembaga dari kantong
bajunya terus dilempar di depan kaki si pemuda.
Tembaga itu
sebesar tiga centi persegi berbentuk bundar sebelah atasnya, di
balik yang mengkilap diukir seekor unta, itulah lambang tunggangan
si pemuda.
Perlahan-lahan si
pemuda mengeluarkan sebuah lempitan kertas terus dibeber. Ia membaca
di bawah sinar rembulan, “Kim-sa-po. Satu lembar Panji kuning
sutera, harap maaf Pocu tua, mainanmu itu terlalu besar tak bisa
kugembol jadi terpaksa kulempit dan kusimpan di bawah tempat duduk
tungganganku itu. Kalau kau dapat mengalahkan aku, segera kuserahkan
barang milikmu itu.”
Saking murka muka
Kok Liang sampai pucat dan membiru, teriaknya, “Jikalau Lohu yang
menang, maka jiwa bocah keparat ini pasti melayang.”
“Bagus sekali.
Orang lain kurasa tidak perlu menggunakan banyak tenaga lagi, di
atas kertas ini ada daftar gambar milik kalian, semua boleh silahkan
ambil sendiri milik masing-masing, seluruhnya kusimpan di atas
tungganganku itu, harap nanti kau kembalikan menurut daftar yang
tertulis disini.”
Kok Liang
menjengek gusar, semprotnya, “Keparat tidak perlu banyak mulut,
boleh kau mulai saja!”
Dengan acuh tak
acuh si pemuda berkata, “Nanti dulu, kau belum lagi mencari tahu
namaku! terlanjur kau menghadapi Giam-lo-ong di akherat, cara
bagaimana kau hendak mengadukan kepadanya, apakah kau tidak
penasaran nanti? Lo-pocu dengarlah supaya jelas, aku she Koan
bernama San-gwat! Bing tho-ling-cu ke II.”
“Sreng.” Kok Liang
melolos golok bergigi di atas punggungnya. Di sebelah atasnya ada
sembilan gelang tembaga yang mengeluarkan suara gemerincing nyaring,
sekali digerakkan terdengarlah suara ribut yang memekakkan kuping,
teriaknya, “Bocah keparat, serahkanlah jiwamu!”
Dengan tenang Koan
San-gwat mengangkat Kim-sin di tangannya ujarnya, “Kok-pocu jangan
mengumbar adat, kalau bertempur paling pantang marah, demi nama dan
gengsimu, kalau hari ini kau terjungkal di tanganku, kau harus
tunggu lagi dua puluh tahun, usiamu kan sudah lanjut, apakah kau
mampu menunggu sekian lamanya ….?”
Ia mengoceh
seenaknya, nada ucapannya pun sangat sombong, tapi setiap arti
kata-katanya justru cukup beralasan dan punya aturan karenanya Kok
Liang jadi melengak dan tertegun, cepat ia kendalikan perasaan
hatinya, setelah longgar ia menjengek dingin, “Kalau hari ini Lohu
kalah, panji kebesaran Kim-sapo kau hancurkan saja. Lohu pun tidak
akan menunggu dua puluh tahun lagi.”
“Kurasa tidak
perlu begitu, Kim-sapo kalian toh sudah angkat nama dan cukup tenar
di daerah Ko-liok, panji kebesaran Kim-sa-po kalian juga sudah
kenamaan puluhan tahun di Bulim, untuk memperoleh kebesaran ini
kukira bukan persoalan yang sepele, maka bolehkah kuberi kesempatan
kepada keturunanmu kelak!”
Kok Liang jadi
melongo, sesaat barulah bersuara, “Terima kasih akan kemurahan
hatimu.” tanpa banyak bacot golok bajanya terangkat terus membacok
dari depan, sekian lama Kok Liang angkat nama di Kangouw mengandal
tenaga yang besar, golok bajanya ini terbuat dari baja murni yang
beratnya ada enam puluh kati ditambah kekuatan latihan tenaga
pergelangan tangannya selama puluhan tahun, jurus serangan goloknya
ini benar-benar laksana gunung Thaysan menindih batok kepala.
Seluruh hadirin
tumplek perhatiannya menyaksikan pertempuran mereka. Bahwa pemuda
yang bernama Koan San-gwat ini mewakili Bing-tho-ling-cu Tokko Bing
yang digjaya itu, bahwa perbawa dan sikap si pemuda sejak permulaan
memang sudah menggerakkan sanubari banyak hadirin, maka sekarang
tibalah saat mereka membuktikan kepandaian silatnya yang sejati.
Koan San-gwat
mandah tersenyum manis. Patung malaikat kaki tunggal di tangannya
diangkat dan sedikit digentak, maka terdengarlah suara “trang” yang
tidak begitu keras, bacokan golok Kok Liang yang membawa tenaga
laksaan kati itu dengan mudah dipecahkan, tiada seorang pun yang
melihat tegas dengan Jurus apa ia mematikan sarangan golok yang
hebat itu.
Walaupun Kok Lang
sendiri merasa takjup tapi rasa kuatirnya malah jadi berkurang,
serunya sambil tertawa keras, “Tak heran kau berani mengagulkan
diri, kiranya kau mahir kepandaian dari aliran sesat, kalau berani
mari kau sambut jurus serangan Lohu secara kekerasan.”
Hadirin serempak
memberi dukungan atas tantangan Kok Liang, mereka sama senang tapi
juga rada kecewa, jelas mereka anggap bahwa Lwekang Koan San-gwat
betapapun masih terbatas, paling Tokko Bing cuma mengajar beberapa
jurus pelajaran kembangan belaka dalam hal penggunaan tenaga
betapapun masih terlalu rendah.
Mereka senang
karena hari ini bakal menebus rasa malu dan penghinaan dulu, mereka
kecewa pula karena Koan San-gwat cuma kuat di dalam tapi keropos di
dalam.
Cuma Thong-sian
Taysu seoranglah yang menghela napas gegetun, tapi hanya beberapa
orang di sekitarnya saja yang mendengar.
Sementara itu,
Koan San-gwat sedang tertawa ringan, sambil mengulapkan tangan,
katanya, “Anggapanmu aku tidak mampu menyambut sejurus seranganmu?!”
Kok Liang
mengangguk, katanya, “Coba waktu aku bertanding dengan Tokko Bing.
Cuma sejurus saja golokku terpental lepas dari cekalan, meski kalah
Lohu tunduk lahir batin….”
Koan San-gwat
menarik muka, katanya dengan nada berat, “Dulu guruku memberi muka
kepadamu, kau kira tenagamu sendiri betul-betul hebat? Tapi aku
tidak akan menggunakan cara guruku dulu. kalau kau tidak percaya,
silahkan kau bermain beberapa jurus dengan senjataku ini!!”
Tiba-tiba ia ulur
tangan mengangsurkan ke hadapan hidung Kok Liang, jarak mereka cuma
beberapa tindak, ujung kepala Kim-sin tepat menyodok ke hidung Kok
Liang, karuan berubah rona wajah Kok Liang, cepat ia menyampok
dengan goloknya, tak nyana gerakan Koan San-gwat jauh lebih cepat,
dimana tahu-tahu golok Kok Liang sudah terampas sementara Kim-sin di
tangan kanan masih diulurkan kepada Kok Liang.
Kok Liang sendiri
tidak tahu cara bagaimana goloknya dirampas orang, cepat kedua
tangannya menyanggah ke atas dan mencengkram kepala Kim-sin yang
dijulurkan kepadanya itu, tapi seketika berubah air mukanya,
badannya terhuyung mundur beberapa tindak ke belakang.
Ternyata tak kuasa
tangannya memegang Kim-sin hingga jatuh di atas pasir dan “Blesss”
amblas ke dalam pasir separo lebih.
Dengan ayunan
tangan seenaknya Koan San-gwat membuang golok Kok Liang
sejauh-jauhnya, terus membungkuk menjemput Kim-sinnya, katanya,
“Sekarang kau pasti tidak berani mengagulkan tenagamu sendiri.
Guruku menaruh belas kasihan kepadamu, cuma menggetar terbang
senjatamu saja, kalau beliau balas menyerang, yakin tulang
belulangmu sudah remuk redam.”
Pucat dan
berkeringat selebar muka Kok Liang, katanya menghela napas panjang,
“Ai, tamat sudah seluruhnya! Untuk selanjutnya biarlah nama
Kim-sa-po dihapus dari percaturan Bulim.”
Golok bergiginya
tidak sempat dijemput lagi, sekali menggelundung jauh dan beberapa
kali loncatan, bayangannya lenyap ditelan tabir malam.
Kedua orang ini
cuma berhantam sejurus belaka, tapi di luar cara yang ditentukan
semula ternyata sudah berhasil menentukan kalah dan menang, seluruh
hadirin kembali dicekam rasa tegang, rasa girang seketika tersapu
bersih, rasa kecewa sebaliknya semakin bertambah tebal! Tapi rasa
kecewa yang terakhir ini berlainan, karena terselip juga rasa kejut
dan heran yang mulai menghantui perasaan mereka.
Terdengar Lu Bu-wi
Ciang bunjin Ciong-lam-pay yang berdiri di samping Thong-sian Taysu
menghela napas, katanya, “Dula waktu Losiu bertanding dengan Tokko
Bing, ia menggunakan Kim-sin itu, bertanding enam puluh jurus
lamanya, akhirnya ia menang karena permainan tipu jurusnya yang
banyak ragamnya, sunggah di luar tahuku bahwa benda itu ternyata
begitu berat!”
Thong-sian Taysu
menggeleng kepala, katanya, “Entah terbuat dari Logam apa Kim-sin
itu. Malam itu Tokko Bing meluruk ke Siau-lim, ia bertanding dengan
Suteku Tay-lik sin Ngo-seng. Sute kuatir senjatanya terlalu enteng
maka ia memberi peringatan kepadanya, tidak nyana sambil
tertawa-tawa ia ajak tukar mempergunakan Senjata dengan Suteku untuk
membedakan milik siapa yang lebih berat, ternyata Kim-sin ini satu
kali lipat lebih berat dari senjata tongkat besi besar milik Suteku
itu….”
Berubah air muka
Lu Bu-wi, katanya terkejut, “Tay-lik sin-ceng terkenal pembawaan
tenaganya yang besar, kabarnya besar tongkat besi dinginnya itu ada
lima ratusan kati, jadi Kim-sin sepanjang tiga kaki itu ada ribuan
kati lebih beratnya. ….
Thong-sian Taysu
manggut-manggut, katanya, “Kalau penilaian Lolap tak salah, Kim-sin
ini paling sedikit ada dua ribu kati, bocah ini dapat menarikannya
seenteng seperti main gala yang terbuat dari gabus tanpa menggunakan
tenaga sedikitpun, kelihatannya ia sudah mendapat warisan tunggal
Tokko Bing, pertemuan malam ini, akan banyak pihak yang menghadapi
rasa kekecewaan pula.”
Lu Bu-wi menunduk
diam, pikirannya kacau-balau, sikapnya terharu. Didengarnya Koan
San-gwat yang bertolak pinggang di tengah gelanggang sedang berseru,
“Selanjutnya siapa lagi yang ingin memberi petunjuk?”
Suasana hening
sebentar, tampak seorang perempuan pertengahan umur yang mengenakan
pakaian serba hijau melayang maju ke tengah gelanggang, tangannya
menghunus pedang baju warna hijau, gerak langkahnya enteng dan
lincah, begitu melihat orang melayang tiba, segera Koan San-gwat
menyapa dengan tertawa, “Saudara ini tentu Ya-li-kiam Han Lihiap
dari Thian-bok-san bukan?”
Perempuran
pertengahan umur itu cuma sedikit menganggukkan kepala, sahutnya,
“Benar, dua puluh tahun yang lalu beruntung mendapat petunjuk
sejurus dari gurumu, hingga selama ini aliran Thian Bok kami
menyembunyikan diri dari Bulim. Malam ini, aku Han Ji-ing ingin
mohon petunjuk dari ahli waris Bing-tho yang tunggal.”
Koan San-gwat
tertawa, katanya, “Guru almarhum sangat kagum dan memuji pada ilmu
pedang Han lihiap, karena Han-lihiap sudi mengalah, maka Ci kim
Hong-ce tanda kebesaran Han-lihiap itu kusimpan di dalam kantong
bajuku. semoga Han-lihiap nanti berhasil merebutnya kembali.”
Merah jengah muka
Han Ji-ing, serunya dengan uring uringan, “Bocah keparat banyak
cerewet, dua puluh tahun yang lalu pelajaran ilmu pedangku memang
belum sempurna sehingga terkalahkan oleh Tokko Bing. Dalam jangka
dua puluh tahun ini, setiap saat setiap detik aku bersumpah untuk
berlatih lebih giat mempertinggi pelajaran pedang untuk melampiaskan
rasa dongkol dan penghinaan itu, tak kira Tokko Bing sudah mampus,
maka perhitungan ini terpaksa kutagih kepadamu!”
Koan San-gwat
tetap bersikap tawar, katanya, “Agaknya Han-lihiap suka mengumbar
napsu, meskipun guruku almarhum berhasil mengambil Ci-kim-hong-ce mu
itu, tetapi tidak anggap sebagai benda rampasan dari hasil
kemenangannya, tapi beliau anggap sebagai tanda kenang-kenangan.
Sebelum beliau ajal, setiap hari ia suka mengeluarkan benda itu.
Sikap kasar Lihiap apakah tidak membuat kecewa perasaan guruku….?”
Meskipun usia Han
Ji-ing sudah menanjak pertengahan, tapi dia masih perawan suci belum
pernah menikah, karuan ia malu serta gusar mendengar ocehan Koan
San-gwat, teriaknya bengis, “Keparat bergajul yang tidak tahu malu,
kalau hari ini aku tidak memecah luluh tubuhmu aku bersumpah tidak
akan jadi manusia….!!!”
Seiring dengan
bentakannya pedang panjang di tangannya sudah membabat pergi datang
bolak-balik, bayangan pedangnya menggugus tinggi laksana gunung,
setiap jurus pasti mengarah tempat-tempat penting mematikan di
seluruh tubuh Koan San-gwat.
Meski bentuk tubuh
Koan San-gwat terkurung rapat di dalam sinar pedangnya, tetapi
sikapnya masih tenang, seenaknya saja ia angkat Kim-sin di
tangannya, entah menyambut atau menyampok dan menindih, dengan mudah
ia dapat memunahkan setiap rangsakan pedang lawan yang hebat dan
deras laksana hujan lebat.
Kini hadirin tahu
bahwa Kim-sin berkaki situ di tangan Koan San-gwat itu ribuan kati
beratnya, sekarang mereka menyaksikan benda berat itu dimainkan
begitu enteng dan lincah sekali, sudah tentu hati mereka mendelu dan
berkuatir pula.
Ada beberapa Pay,
Pang, Bun dan Keh yang hadir mereka-reka dalam hati bahwa kekuatan
mereka tidak lebih unggul dibanding Kok Liang, diam-diam sudah putus
asa dan mengaku asor saja, bahwasanya selama dua puluh tahun ini
berarti mereka menanti dengan sia-sia saja.
Apalagi menurut
tafsiran mereka bahwa tenaga si bocah yang harus mereka hadapi ini
agaknya tidak lebih rendah dari gurunya dulu, lebih ciut nyali
mereka.
Dalam pada itu,
pertempuran di tengah gelanggang sudah mencapai puncak yang tidak
terkendalikan lagi, semakin bertempur Han Ji-ing semakin bernapsu
dan gagah berani, pedang panjangnya beruntun merangsak dan
menggempur dengan berbagai tipu pedang yang ganas dan licik, setiap
jurusnya mengandung perubahan yang lihay dan sulit diselami, semua
menjurus ke tempat mematikan di tubuh lawannya.
Tapi Koan San-gwat
sedikitpun tak menjadi gugup karenanya, ia seperti tidak ambil
perhatian terhadap seluruh gempuran pedang lawan, seenaknya saja ia
mainkan senjata malaikat emasnya yang berat itu, jarang sekali ia
gunakan ajaran gurunya untuk balas menyerang tapi cukup serangan
satu jurusnya saja, pasti berhasil menyusup ke dalam lobang
kelemahan pihak musuh, karuan Han Ji-ing dibuat mencak-mencak dan
harus mengurungkan setiap kali serangan nekadnya untuk menyelamatkan
dirinya lebih dulu.
Enam puluh jurus
dilampaui. Samar-samar sudah kelihatan Han Ji-ing mulai payah,
sebaliknya Koan San-gwat masih segar bugar dan seperti tidak terjadi
apa-apa, tak kelihatan sedikitpun merasa lelah, napasnya pun tidak
memburu.
Para penonton di
luar gelanggang banyak yang menjadi kabur pandangannya, ada pula
yang melotot saking asyik dan ada pula yang menghela napas gegetun
memikirkan nasibnya sendiri.
Ciong-lam-pay
Ciangbunjin Lu Bu-wi berbisik kepada Thong-sian Taysu. “Di antara
sungai dan gunung, seluas dunia persilatan ini tidak sedikit jumlah
orang-orang yang suka mengagulkan kepandaian dan bernama kosong
belaka, tapi tidak sedikit pula yang berkepandaian sejati.
Thian-bok-pay terletak di daerah yang bersembunyi, jarang
berkecimpung di kalangan Kangouw, tetapi latihan ilmu pedang
Han-lihiap benar-benar sudah mencapai tingkat sempurna, dibanding
para pentolan yang lain seperti Kim-sa-pocu. Kok Liang tadi, entah
berapa tingkat lebih unggul.”
Dengan prihatin
Thong-sian Taysu mengangguk, ujarnya, “Yali-kiam-hoat diciptakan
pada jaman Chun-ciu, turun temurun secara tunggal diturunkan ke
generasi muda dalam lingkungan kekeluargaan sendiri sampai sekarang
sudah ratusan tahun, sudah tentu tidak boleh dipandang ringan atau
dianggap ilmu pedang pasaran belaka. Tapi yang Lolap khawatirkan
justru pemuda itu, naga-naganya dia jauh lebih hebat dibanding Tokko
Bing dulu.”
“Meski murid
Bing-tho tidak jelek, tapi bergebrak sebanyak enam puluh jurus ini,
menurut pandangan Losiu tiada tanda-tanda dimana letak
kelihaiannya,” demikian Lu Bu-wi memberi tanggapan.”
“Lu-heng cuma
melihat lahiriah atau kulitnya saja, harus diketahui senjata yang
digunakan Han-lihiap adalah pedang, paling berat cuma dua puluh
kati, tapi senjata Tok-ga-kim-sin bocah itu beratnya mungkin ada
ratusan kali lipat, untuk pertandingan berat antara kedua senjata
ini saja adalah cukup mengejutkan.”
Merah muka Lu
Bu-wi, rasa kagumnya terhadap Thong-sian Taysu bertambah tebal,
orang tidak malu sebagai seorang pemuka dari sebuah aliran murni
yang kenamaan, pandangannya memang jauh lebih tajam dan
berpengalaman dari dirinya.
Setelah menonton
sekian lamanya, akhirnya Thong-sian menghela napas panjang, katanya,
“Selama ratusan tahun belakangan ini kaum Bu-lim mengidamkan hidup
aman sentosa dan sejahtera, menutup pintu memperdalam kepandaian
silat masing-masing, semua senang dihinggapi angan-angan kosong yang
muluk-muluk, untung Tokko Bing muncul sehingga mereka sadar. Kalau
tidak, mungkin mereka bakal tenggelam oleh angan-angan bahwa
kepandaian sendiri sebetulnya sampai di tingkat mana. Lolap rasa
pertemuan malam inilah saatnya yang paling baik.”
Baru saja Lu Bu-wi
hendak membuka mulut, tiba-tiba dalam gelanggang terdengar suara
bentrokan lirih, terlihat pedang panjang Han Ji-ing sudah terpental
terbang dan jatuh ke tanah, seketika ia menjublek di tempatnya.
Ternyata pada
gebrakan kesembilan puluh sembilan, permainan Koan San-gwat mendadak
berubah, Tok-ga-kim-sin mendadak menyodok ke ulu hati Han Ji-Ing,
yang di arah adalah lobang kelemahan lawan, sudah tentu Han Ji-ing
jadi kelabakan dan tak sempat menangkis atau menghindar lagi. Di
saat senjata kepala musuh sudah menyentuh kain bajunya ia sudah
pejamkan mata dan menunggu ajal saja, tanpa merasa ia mengendorkan
cekalan senjatanya.
Tak nyana cara
Koan San-gwat melancarkan serangannya memang hebat, tapi caranya
membatalkan serangan serta menariknya balik justru lebih menakjupkan
lagi, jarak tinggal beberapa mili saja, mendadak ia tarik
mentah-mentah tenaga sodokannya, terus mundur dua langkah, serunya
tertawa, “Kuucapkan selamat kepada Han-lihiap, Yali-kiam-hoat
ternyata berlipat ganda lebih maju setelah kau latih selama dua
puluh tahun, kini ilmu pedang Li-hiap sudah cukup untuk menjagoi
dunia persilatan….”
Sekian lama rona
wajah Han Ji-ing masam gelap, dengan susah payah baru ia kuasa
membuka suara, “Bocah keparat, terhitung kau yang menang! Tapi
jangan mulutmu sembarangan bicara….!”
Cepat Koan
San-gwat menggoyangkan Tangan, tukasnya, “Lihiap salah paham,
sebenarnya Cayhe tidak punya maksud menghina, pedang sebagai raja
dari segala senjata, tombak sebagai pimpinan dari semua senjata
panjang. Yang pendek tidak akan menang dari yang panjang. Ini sudah
merupakan suatu hal yang jamak. Terpaksa Cayhe harus melancarkan
jurus Tiang-liong-ni-coan dari ajaran ilmu tombak Liok-sim-cio-hoat
yang paling lihai ….”
“Bohong!” semprot
Han ji-ing dengan berjingkrak gusar. “Senjatamu tiga kaki, mana
dapat kau gunakan sebagai tombak?”
Dengan sabar dan
kalem, Koan San-gwat coba menerangkan, “Tergantung dari pemakainya,
Kim-sin ini kuperoleh dari guruku, aku percaya dia tidak asor
dibanding tombak yang panjang, sebaliknya kalau ganti orang lain,
seumpama dia benar-benar memegang sebatang tombak aslipun belum
tentu kuat menghadapi pedang panjang Lihiap itu.”
Han ji-ing jadi
melongo, akhirnya dia membungkuk menjemput pedangnya, katanya dengan
suara keretekan, “Bocah, semoga umurmu panjang dapat hidup melewati
malam ini. Cukup tiga tahun pasti akan kudidik seorang murid, tetap
dengan Yali-kiam-hoat ini untuk mwngalahkan kau.”
“Aku percaya akan
datang hari yang diharapkan itu.” demikian ujar Koan San-gwat dengan
lapang dada. “Kuharap Han-lihiap tidak putus asa, lebih giat dan
rajin….”
Han Ji-ing
mendengus gemas terus tinggal pergi dan menghilang di dalam kelompok
orang orang banyak.
Sambil menenteng
senjata beratnya, Koan San-gwat menyapu pandang ke sekelilingnya.
Beruntung dia sudah barhasil mengalahkan dua tokoh Bulim, perbawanya
sudah cukup menggetarkan nyali semua hadirin, tetapi sikapnya yang
semula angkuh dan congkak kini berganti menjadi dingin dan tenang,
membuka suara pun rasanya ogah.
Keadaan menjadi
sepi, yang terdengar cuma pernapasan orang saja, Ciong-lam-pay
Ciangbunjin Lu Bu-wi tidak tahan lagi, katanya keras, “Losiu ingin
maju, meski aku tidak punya harapan menang, betapa pun waktu yang
kutunggu-tunggu selama dua puluh tahun jangan sampai tersia-sia ….”
“Nanti dulu
Lu-heng.” kata Thong-sian Taysu menarik tangannya.
Dengan tidak
mengerti, Lu Bu-wi pandang muka orang. Dengan merendahkan suaranya
Thong-sian Taysu berkata lirih, “Lolap bisa main hitung nasib orang,
kulihat nasib dan watak bocah ini lain dari yang lain, gebrak
selanjutnya aku kuatir bahayanya jauh lebih besar.”
Tengah Lu Bu-wi
keheranan, dari depan sana dilihatnya berjalan keluar seseorang
dengan langkah goyang gontai, orang itu mengenakan pakaian
sastrawan, sikapnya lemah lembut, seluruh hadirin seketika melongo.
Sebab orang ini teramat asing, agaknya tak pernah menongolkan
kepalanya di dunia persilatan.
Dengan pandangan
dingin Koan San-gwat menyambut kedatangan laki-Laki sastrawan ini,
katanya, “Saudara ini dari golongan mana?”
Perlahan-lahan
laki-laki sastrawan itu membuka kipasnya, serunya bersenandung,
“Rumah tinggal di Liok-cau, she aku turunan Ni-san.”
Tergerak hati Koan
San-gwat, katanya, “Oo, kiranya Khong-kokcu dari Liok-cau-san dalam
lembah Loh-hun-kok.”
Laki-laki
sastrawan itu terkekeh tertawa, ujarnya, “Beliau adalah engkohku
Khong Bun-thong, aku yang rendah Khong Bun-ki tidak berani menerima
penghormatan itu.”
Berdiri alis Koan
San-gwat, tanyanya, “Kenapa engkohmu sendiri tidak datang?”
Khong Bun-ki
mengebas-ngebaskan kipasnya, katanya, “Tuan menyebar Bing-tho-ling,
engkohku sudah menduga apa maksud saudara. Seumpama Tokko bing tidak
akan unjukkan diri, maka hari ini akulah yang mewakili beliau.”
Hadirin ribut dan
berbisik-bisik, keluarga Khong di Loh-hun-kok di puncak gunung Liok
Cau-san merupakan keluarga misterius bagi kaum persilatan. Sepak
terjang mereka aneh dan main sembunyi sulit diraba juntrungannya,
ilmu silat mereka pun tersendiri berbeda dari aliran mana pun juga.
Tiada orang luar
yang pernah memasuki Loh-hun-kok (lembah sukma gentayangan), kadang
kala cuma Khong bun-thong pernah muncul di kalangan Kangouw,
melenyapkan beberapa pentolan penjahat-penjahat besar yang sering
mengganggu keselamatan umum, nama kebesaran mereka mulai ternama
karena beberapa peristiwa besar yang menggemparkan itu.
Kata-kata Khong
Bun-ki sangat mengejutkan semua hadirin, sebab sejak tadi baru dia
yang berani bersikap kasar dan main sindir dengan tajam terhadap
Koan San-gwat. Karuan hadirin senang seolah-olah mendapat imbalan
yang cukup melegakan sanubari, tapi melihat tindak-tanduknya yang
lemah lembut itu, mau tidak mau mereka kuatir juga atas keselamatan
dirinya.
Tapi Koan San-gwat
tidak menghiraukan perkataan orang. Dengan nada tawar ia bertanya,
“Bagus sekali, saudara ingin menggunakan cara apa untuk merebut
kembali Pi-seng-cu milik kalian?”
Khong Bun-ki
membalikkan mata, lalu balas bertanya, “Dulu cara bagaimana Tokko
Bing merampas dari tangan kami?”
Melotot mata Koan
San-gwat, katanya, “Dalam hal pelajaran silat dan sastra sudah tentu
aku tidak bisa dibanding guruku, tapi kalau saudara ingin
menggunakan cara lama, aku yang rendah dengan senang hati akan
melayani segala seleramu.”
“Baik! Baik!” seru
Khong Bun-ki tertawa besar. “Tokko Bing seorang terpelajar yang
tinggi ilmunya, mana mungkin murid didikannya seorang berotak
tumpul.”
Tiba-tiba Koan
San-gwat bersuit nyaring, unta saktinya itu segera bergegas berdiri
dan berlari datang dengan cepat ke sampingnya. Dari lehernya, Koan
San-gwat mengambil sebuah kantong kulit, lalu menepuk paha untanya
itu, tanpa diperintah unta itu menyingkir ke tempat tadi.
Dari sebelah
belakang Khong Bun-ki dengan cermat mengawasi unta itu, serunya
memuji, “Bagus, hebat, memang seekor unta yang sakti!”
“Tuan tak usah
main sindir. Kalau kena aku kau kalahkan, pertaruhan guruku dulu
masih tetap berlaku, bukan saja tungganganku itu boleh kau bawa
pulang, senjata Kim-sinku ini pun akan kuserahkan sekalian.”
“Saudara tidak
perlu berpura-pura royal, kalau malam ini kau tidak bisa
mengenyahkan aku, jangan harap kau dapat mengangkangi barang-barang
itu lagi.”
Mendengarkan
percakapan yang membingungkan ini perhatian hadirin tertuju ke arah
kantong kulit yang dipegang Koan San-gwat. Entah apa isi kantong
kulit itu? Demikian semua orang bertanya-tanya.
Perlahan-lahan
Koan San-gwat membuka tali pengikat mulut kontong itu, bau harum
semerbak seketika tersebar luas menyampok hidung. Bau dari arak
wangi yang sudah disimpan puluhan tahun lamanya.
Koan San-gwat
mengangsurkan kantong kulitnya kepada Khong Bun-ki, katanya, “Di
padang pasir yang terpencil begini sulit mencari arak yang paling
bagus, sudah tentu arak bekalku ini tidak bisa dibanding arak buatan
Loh-hun-kok kalian, coba saudara periksa apakah arakku ini bisa
dipergunakan sebagai alat untuk permainan kita nanti?”
Khong Bun-ki
menerima kantong itu terus diendus ke depan hidung, serunya dengan
tertawa besar, “Boleh, boleh. Saudara masih berusia muda belia,
kepandaian memilih arak ternyata tidak lebih asor dari Tokko Bing.
Bau arak ini cukup baik, kalau dugaanku tidak salah sari airnya
terbuat dari sumber air dingin di puncak Thian-san bukan?”
Koan San-gwat
tertawa ringan, katanya, “Tokoh-tokoh dari Loh-hun-kok ternyata
memang hebat, cangkir sinar malam saudara apakah dibawa serta?”
Khong Bun-ki
tersenyum lebar, dari dalam lengan bajunya ia mengeluarkan sebuah
cangkir jade, lalu menuang penuh secangkir arak, katanya tertawa,
“Memang sebelumnya sudah kupersiapkan, saudara silahkan….”
Koan San-gwat
meletakkan Kim-sin di atas pasir, dia sendiri lantas duduk bersimpuh
di atas pasir, matanya menatap tajam Khong Bun-ki, serunya sambil
tertawa lantang, “Bulan sabit kembali akan menjadi saksi dari dua
pertandingan seperti kejadian masa yang sudah silam. Masih segar
dalam ingatanku, sewaktu pertandingan dulu, saudara tuamu yang mulai
lebih dulu. Maka sekarang kuharap saudara mulai lebih dulu pula.”
Khong Bun-ki
tersenyum perlahan-lahan ia dorong telapak tangannya kedepan, make
cangkir diatas telapak tangannya itu tahu-tahu terbang lurus ke
depan, seolah-olah disanggah dari bawah pelan-pelan maju ke depan
Koan San-gwat.
Cangkir itu
terbuat dari jade putih bersemu hijau yang tembus sinar, di bawah
pancaran sinar bulan sabit yang cukup terang kelihatan memancarkan
cahaya kemilau yang berwarna kelabu.
Sementara cangkir
itu tiba di atas Koan San-gwat kira-kira terpaut satu setengah kaki
mendadak berhenti sendiri terus berputar-putar seperti gangsingan di
tengah udara.
Dari jauh
sekonyong-konyong Khong Bun-ki sedikit mengulap dan mengayunkan
kedua tangannya, karuan cangkir yang berputar berhenti di tengah
udara itu sedikit bergetar, maka terlihatlih selarik arak kemilau
keluar dari dalam cangkir terus melesat ke arah Koan San-gwat.
Koan San-gwat
duduk tenang tak bergerak, tiba-tiba ia ayun sebelah tangan memapak
ke depan, kontan arak itu kena ditampar berpercik menjadi
titik-titik kecil berterbangan balik menungkup ke arah Khong Bun-ki.
Jangan dikira cuma
percikan arak yang menjadi titik-titik kecil tapi daya terbangnya
ternyata mengeluarkan desir angin yang keras berpencar lebar maka
dapatlah diperkirakan berapa besar tenaga yang dikerahkan.
Tapi Khong Bun-ki
mandah bergelak tawa, sikapnya yang lemah lembut tadi berubah
menjadi beringas dan garang, sepasang biji matanya memancarkan
cahaya buas yang dilandasi kemarahan, mendadak ia pentang mulutnya
menyedot keras-keras. Titik-titik arak yang beterbangan memenuhi
angkasa itu kena disedot masuk ke dalam mulutnya tanpa ada setetes
pun yang ketinggalan, lalu ia sodorkan pula telapak tangannya
menarik balik cangkirnya. Sekali lagi ia menuang penuh secangkir
arak terus diangkat tinggi di depan kepalanya, serunya, “Murid
tunggalnya Bing-tho-ling-cu ternyata memang hebat, untuk jurus
pertama ini aku mengaku kalah. Tapi pertemuan malam ini bukan
pertemuan asal ketemu saja, apakah saudara masih sudi memberi
pelajaran lebih lanjut….?”
“Khong-ji sianseng
kenapa sungkan, sejak tadi aku yang rendah sudah siap menanti
petunjuk selanjutnya.”
Khong Bun-ki
berhenti bergerak, pelan-pelan ia pejamkan mata. seolah-olah sedang
berpikir mencari daya cara bagaimana ia harus mulai dengan jurus
permainannya.
Tak tahan lagi
Ciong-lam-pay Ciangbunjin Lu Bu-wi bertanya kepada Thong-sian Taysu,
“Tadi kedua pihak sama mengeluarkan tenaga dalam yang sembabat
kelihatannya sama kuat dan sebanding, kenapa Khongji sianseng
mengaku kalah?”
“Mungkin Lu-heng
tidak perhatikan,” demikian sahut Thong-sian Taysu. “Orang she Khong
itu mengumpulkan arak menjadi selarik benang meluncur ke depan,
kekuatannya terpusatkan pada satu titik permulaan belaka, sebaliknya
Koan San-gwat masih mampu memukul balik tenaganya itu, malah
titik-titik arak yang tersebar luas di tengah udara ini memencarkan
daya tenaga pukulannya. Tetapi orang she Khong cuma mampu menyambuti
dan tidak mampu balas menyerang, sudah tentu dia terhitung kalah
seurat.”
Berubah air muka
Lu Bu-wi, katanya, “Bocah ini masih berusia muda, lwekangnya
ternyata sudah sedemikian hebat. Naga-naganya jerih payah kami
selama dua puluh tahun tak akan berguna lagi. Bagaimana nanti kami
mampu menyelesaikan uruusan lama ini.”
Thong-sian
menggeleng kepala, katanya serius, “Lu-heng tidak usah putus asa,
urusan toh belum sampan ctitik penentuan. Menurut penglihatan Lolap,
orang she Khong agaknya belum lagi menggunakan seluruh kemampuannya,
siapa duga bakal terjadi sesuatu peristiwa yang menggemparkan.”
Lu Bu-wi curiga
dan setengah percaya, dengan cermat ia perhatikan pertandingan di
tengah gelanggang, demikian pula seluruh hadirin yang lain, mereka
insyaf akan kemampuan sendiri, maka mereka tumplek seluruh harapan
kepada Khong Bun-ki yang akan menentukan nasib mereka selanjutnya.
Suasana tenang
sesaat lamanya, mendadak Khong Bun-ki membuka mata, katanya
pelan-pelan, “Sekarang mulai babak kedua, harap saudara perhatikan.”
lalu dengan suara lantang ia bersenandung memetik syair-syair
gubahan pujangga-pujangga kuno.
Lenyap suaranya
tiba-tiba kedua tangan yang menyanggah cangkir dilepas, Ya-kong-pek
(cangkir sinar malam) yang penuh berisi arak itu kembali terbang
lurus ke depan ke arah Koan San-gwat, daya luncurannya tidak pesat
tapi juga tidak lambat.
Koan San-gwat
agaknya tertegun, ia tak dapat menyelami makna senandung orang, tapi
sang waktu tidak mengijinkan ia memeras otak, terpaksa dia siap
waspada menanti perkembangan lebih lanjut.
Bila cangkir itu
dua kaki di hadapannya ia masih belum merasakan adanya tekanan
apa-apa. Pelan-pelan ia ulur tangannnya meraih dengan mudah sekali
ia pegang cangkir arak itu, tak tertahan ia berseru heran, “Apakah
maksud tindakan Khong-ji sianseng?”
Tanpa menunjukkan
perasaannya Khong Bun-ki menyahut, “Asal saudara berani minum arak
itu tentu kau akan paham apa maksud dan tindakanku.”
Di bawah sinar
rembulan, Koan San-gwat mengawasi dan memeriksa cangkir arak di
tangannya, sedikitpun tiada sesuatu yang ganjil. Arak adalah
bekalnya sendiri, sudah tentu akan terjadi sesuatu, cuma cangkir
adalah milik Khong Bun-ki, tadi juga sudah digunakan minum araknya
itu, tak mungkin dia bisa berbuat licik atau mengatur tipu daya.
Setelah berpikir sejenak, ia angkat cangkir itu terus hendak diteguk
habis, tapi baru saja tiba di dekat bibir, tiba-tiba terjadilah
sesuatu kejadian yang aneh.
Kiranya mendadak
terasa telapak tangannya tersalur suhu hangat dari cangkir arak
kemudian arak di dalam cangkirnya itu bergolak mendidih seperti
dimasak, sebentar saja secangkir arak menguap jadi asap dan
menghilang ke tengah udara.
Koan San-gwat
tersenyum takjup, ujarnya, “Agaknya Khong-ji sianseng sudah sempurna
melatih Le-hwe-sin-kang dari kerajaan Lam-bing yang terkenal itu.
Secangkir arak ini jadi sulit kuhirup lagi!”
Khong Bun-ki cuma
tersenyum tanpa bersuara. Koan San-gwat pun tertawa-tawa tanpa
berkata apa-apa pula, ia biarkan secangkir arak itu semakin susut
dan akhirnya kering menjadi asap, sebentar saja cangkir di tangannya
sudah menjadi kosong.
Koan San-gwat
menjungkir balikkan mulut cangkir itu ke bawah, ternyata setetes pun
tidak ketinggalan lagi. Seketika terdengarlah sorak-sorai yang gegap
gempita.
Hadirin kagum dan
memuji akan kepandaian Khong Bun-ki yang sempurna. Jarak ke dua
pihak ada beberapa tombak, tetapi jarak sejauh itu ia mampu
mengerahkan tenaga dalam sehingga cangkir arak itu mendidih dan
menguap kering, pertunjukan yang aneh dan ajaib laksana permainan
sulap ini sungguh sulit dipercaya. Siapapun tidak menyangka keluarga
Khong dari Loh-hun-kok yang jarang berkecimpung di dunia persilatan
ternyata adalah tokoh kosen yang luar biasa.
Di samping kagum
merekapun senang karena dalam gebrak kedua ini Koan San-gwat jelas
sudah kalah. Cangkir berada di tangannya tapi orang dari jarak
sedemikian jauh tapi arak itu dapat mendidih kering, Bahwa pemuda
yang bersikap sombong dan takabur ini terjungkal, siapa takkan
merasa senang dan terharu.
Dalam pada itu,
tanpa menunjukkan sesuatu perasaan Koan San-gwat membalik cangkir di
tangannya, mulut menghadap langit, lalu dengan tersenyum ia berkata,
“Permainan sakti Khong-jie siansing sungguh membuat aku takluk, cuma
aku kurang paham makna senandung saudara tadi.”
“Bukankah tadi
sudah kujelaskan, setelah saudara menenggak habis secangkir arak
itu, kau akan paham sendiri. Sekarang….”
Mendadak Koan
San-gwat mendongak ke langit, serta menukas kata-katanya, “Heeey,
bulan bercokol di langit, udara cerah tanpa mega mendung kenapa bisa
hujan!?”
Para hadirin
tertegun mendengar ucapan yang tanpa juntrungan ini. Ada sementara
orang yang mengulur tangan, tapi udara tetap kering, sesuai dengan
keadaan padang pasir yang panas, mana ada setitikpun air hujan!
Tapi ada beberapa
orang yang pandangannya tajam seketika berubah hebat air mukanya,
beramai-ramai mereka berseru heran dan terkejut, semuanya kesima
mengawasi Koan San-gwat, boleh dikata mereka hampir tidak percaya
akan penglihatan mata sendiri.
Kelima jari Koan
San-gwat menyanggah pantat cangkir sambil duduk tenang tak bergerak,
di atas kepalanya bergulung gulung uap merah tebal, uap merah ini
semakin tebal dan akhirnya meneteskan cairan warna merah pula semua
menetes masuk ke dalam cangkir, suaranya berbunyi tak tik
pelan-pelan sangat menusuk pendengaran.
Bagi yang
berpengalaman luas sekali pandang lantas paham bahwa kabut merah di
atas kepala Koan San-gwat itu adalah uap arak dari cangkir yang
dipegangnya tadi, tapi kini kena dikendalikan oleh tenaga dalam Koan
San-gwat yang hebat menjadi kabut yang bergulung-gulung di atas
kepalanya, akhirnya didinginkan menjadi cairan kembali dan menetes
ke tempat semula.
Bahwa arak yang
sudah menguap dicairkan kembali menjadi arak adalah suatu kejadian
yang luar biasa. apalagi dapat dikendalikan oleh tenaga dalam
sehingga tidak kering tersirap udara. Kejadian ini sungguh seperti
dongeng dalam cerita khayal belaka, adalah tidak heran bila semua
hadirin melongo dan takjup.
Tidak Lama
kemudian cangkir ini telah penuh terisi arak lagi. Kabut di atas
kepala Koan San-gwat pun sudah sirna, di lain saat sekali menenggak
ia habiskan arak di dalam cangkir itu, serunya dengan tertawa besar,
“Untung guruku almarhum di alam baka melindungi diriku, sehingga aku
tidak konyol karenanya. Terima kasih akan persembahan arakmu ini.
Cuma aku tidak selihai Khong-ji sianseng. Harap kaupun dengar
senandung syairku ini.” Begitulah ia pun bersenandung menanggapi
keadaan pihaknya yang menang total.
Berubah rona wajah
Khong Bun-ki, sambil menyeringai ia berkata, “Bagus sekali, kiranya
kau membekal kepandaian silat yang luar biasa, aku harus mengaku
asor saja, cuma kaupun jangan dapat bersimaharaja selamanya.”
Koan San-gwat
mengangguk, tapi tiba-tiba air mukanya berubah hebat, cangkir di
tangannya kontan dibantingnya hancur, teriaknya dengan mata
mendelik, “Kau taruh apa dalam arak merahku itu?”
Khoag Bun-ki
tertawa sadis, jengeknya, “Tidak apa-apa, cuma sedikit kupolesi
sesuatu.”
Jawaban Khong
Bun-ki seketika membuat hadirin gempar, sungguh mereka tidak menduga
akan perubahan yang lihai ini.
Koan San-gwat
sendiripun gugup tanyanya tak sabar, “Sesuatu apa?”
“Kukira murid
tunggal Bing-tho-ling-cu cukup cerdik dan serba bisa, ternyata ada
pula sesuatu yang tidak diketahuinya. Kalau begitu baiklah
kujelaskan. Dalam cangkir itu ada kupoles getah Ui-ho-ciu-ce-sa,
bukankah nama obat ini kusebut dalam senandungku?”
Seketika berubah
pucat dan berkeringat selebar muka Koan San-gwat, tiba-tiba bibirnya
mencibir bersuit panjang mengundang unta saktinya itu, bergegas unta
itu berlari masuk gelanggang.
Dari bawah tempat
duduk unta itu Koan San-gwat menurunkan berbagai barang besar kecil
lalu merogoh kantong dalam baju membuang seluruh isinya, terus
melompat naik ke punggung tunggangannya, dengan bersoja keempat
penjuru ia berkata dengan tertawa getir, “Semua barang saudara sudah
kutinggalkan, aku percaya kalian bisa menemukan sendiri dan tidak
akan salah ambil milik orang lain….”
Semua hadirin
terkesima dan menjublek di tempat masing-masing oleh hasil
pertandingan yang menakjubkan itu, sehingga lupa bergerak dan tak
bersuara, mereka membiarkan saja unta itu mencongklang pergi dengan
cepat dan sebentar saja lenyap dari pandangan mata.
Setelah bayangan
Koan San-gwat dengan tunggangannya lenyap barulah Khong Bun-ki
memperdengarkan gelak tawa panjang seperti serigala yang kelaparan,
cepat-cepat ia mendahului maju mengotak-atik barang-barang yang
ditinggalkan di atas pasir, mengambil sebutir mutiara sebesar telur
burung, dengan hati-hati ia simpan di dalam bajunya, terus
mengangkat tangan soja ke sekitarnya, serunya, “Berkat doa dan
harapan saudara-saudara sekalian, aku berhasil dalam pertandingan
ini, sekaligus telah merebut balik separuh barang milik
saudara-saudara sekalian silahkan saudara-saudara ambil milik kalian
masing-masing.”
Sesaat semua orang
berdiam diri lalu beramai-ramai maju ke tengah gelanggang. Tak
tertahan lagi Lu Bu-wi menghela napas, serunya, “Sungguh tidak
dikira pertandingan ini bisa berakhir dalam keadaan yang mengenaskan
ini.”
Thong-sian Taysu
geleng-geleng kepala tak bersuara, cuma dengan isyarat mata ia
perintahkan salah seorang muridnya mengambil tanda kebesaran Siau-lim-pay
yaitu Giok-ji-i.
Sementara itu,
Kim-sa-pocu Kok Liang pun sudah mengambil panji kuning sutranya,
tanyanya ingin tahu, “Khong-ji sianseng dapat melampiaskan rasa
penasaran kami selama beberapa tahun ini, sungguh Lohu sangat
berterima kasih. Tapi kenapa harimau ganas itu dibiarkan pulang ke
gunung, apakah kelak tidak mendatangkan bibit bencana….?”
“Kok-heng tak usah
kuatir,” ujar Khong Bun-ki tertawa. “Dalam jangka enam jam, padang
pasir ini bakal ketambah sesosok mayat yang sudah membusuk, raja
akhirat bakal kedatangan seorang penghuni baru yang penasaran.”
Kok Liang terkejut,
tanyanya, “Sebetulnya barang macam apakah itu? Masa begitu lihai?”
Bersambung ke
Jilid 2