panji sakti 11
"Teecu " Mendadak bibir Cian Tok suseng
bergerak tanda ia ingin bunuh diri dengan cara menggigit putus
lidahnya. Namun pada waktu bersamaan, mulutnya menjadi kaku tidak
bisa bergerak sama sekali.
"cian Tok suseng, aku Pek Giok Liong." orang
itu memberitahukan.
"Kini julukanku dirimba persilatan adalah
pendekar misterius."
"Aaaakh" Cian Tok suseng cuma bisa
mengeluarkan suara itu, karena mulutnya masih tidak bisa bergerak.
Tapi kemudian mendadak ia merasa mulutnya sudah tidak kaku lagi,
namun ia justru berdiri terpaku di tempat sambil menatap orang itu
dengan mata terbelalak.
"cian Tok suseng, aku benar Pek Giok Liong,"
ujar orang itu.
"Mukaku telah rusak terpukul oleh Kiu Thian
mo Cun."
"Tapi tadi engkau bilang Pek Giok Liong "
"Aku memang terpukul kejurang, namun tidak
mati " ujar Pek Giok Liong sekaligus menutur tentang semua kejadian
itu.
"oooh" Cian Tok suseng mendengarkan dengan
mata terbelalak. Jadi ketua pun telah berhasil mempelajari semua
ilmu itu? Juga memperoleh sebotol obat itu?"
"Tidak salah- Aku telah makan dua butir obat
itu, namun mukaku sama sekali tidak bisa sembuh- oleh karena itu,
aku harus menutup mukaku dengan kain. Mukaku sungguh menjijikan "
"Kok bisa begitu?"
"Terhantam pukulan Hek sim Tok Ciang yang
amat beracun itu."
"Tapi kok kini Ketua malah kebal terhadap
racun ganas apa pun?"
"Aku sendiri pun tidak habis berpikir,
kenapa bisa begitu?"
" Heran?" gumam Cian Tok suseng dan
melanjutkan.
"Jangan-jangan ketika Ketua pingsan, telah
terjadi sesuatu atas diri Ketua."
"Maksudmu?"
"Mungkin tergigit oleh semacam binatang yang
amat beracun, memusnahkan racun Hek sim Tok ciang dan membuat tubuh
Ketua menjadi kebal terhadap racun ganas apa pun."
"Entahlah-" Pek Giok Liong menggelengkan
kepala.
"Cian Tok suseng, kini pihak Pulau Pelangi
telah bergabung dengan Partai Pengemis, maka engkau harus sebera ke
Markas Pusat Kay Pang untuk bergabung, sebab di sana tiada tenaga
ahli racun, sedang pihak Kiu Thian Mo Kiong sangat ahli dalam hal
racun."
"ya. Ketua." Cian Tok suseng mengangguk,-
"Tapi engkau harus ingat, tidak boleh
memberitahukan pada siapa pun bahwa pendekar misterius adalah aku-
Ini adalah perintah-"
"Teecu menerima perintah"
"Dan juga "tambah Pek Giok Liong.
"Keberangkatanmu, ke Markas Kay Pang harus
berhati-hati, jangan sampai diketahui pihak Kiu Thian mo Kiong"
"ya."
"Sewaktu-watku kalau perlu, aku akan
menghubungimu dengan cian Li Gan Im (Menyampaikan suara Ribuan Mil)-
Engkau pun harus ingat, kalau mereka ingin menyerang Kiu Thian mo
Kiong, engkau harus berusaha mencegahnya, sebab banyak jebakan maut
di sana. Kalau mereka menyerang ke sana, pasti celaka."
"Tapi bagaimana kalau mereka bersikeras
ingin menyerang ke sana?" tanya Cian Tok suseng.
"Beritahukan bahwa di sana banyak jebakan
maut, lebih baik pancing Kiu Thian mo cun ke luar dari istananya.
Kalau Kiu Thian mo Cun itu muncul, aku pun pasti muncul untuk
membasminya. "
"Ya." cian Tok suseng mengangguk-
"Ingat jaga rahasia diriku" pesan Pek Giok
Liong dan mendadak ia telah meluncur pergi.
"Haah ?" Cian Tok suseng terbelalak dengan
mulut ternganga lebar.
Kini di sekitar markas Pusat Kay Pang telah
dipasang berbagai macam jebakan. Itu adalah usul se Khi, demi
menjaga pihak Kiu Thian mo Kiong menyerang justru mendadak muncul
seorang pria berusia empat puluhan, berendap-endap melangkah
memasuki wilayah Markas Pusat Kay Pang tersebut.
"Berhenti" Terdengar suara bentakan dan
muncul tiga orang pengemis berusia lima puluhan menghadang di
hadapan pria itu.
Pria itu segera berhenti, ia memandang
ketiga pemimpin itu sambil menjura dan berkata.
"Maaf, apakah aku bertemu murid-murid Kay
Pang?"
"Betul. Anda siapa dan mau apa ke mari?"
tanya salah seorang pengemis itu.
"Beritahukanlah pada ouw yang seng Tek.
bahwa aku Cian Tok suseng datang berkunjung"
"Heh Apa? Anda Cian Tok suseng?" Ketiga
pengemis itu terbelalak.
"Benar aku adalah Cian Tok suseng, cepatlah
kalian panggil ouw yang seng Tek ke mari"
" Kalau begitu, silakan Anda ikut kami" ujar
salah seorang pengemis itu.
"Kalian terlampau ceroboh" cian Tok suseng
menggeleng-gelengkan kepala-
"Begitu cepat mempercyai omongan orang
seandainya aku orang dari pihak Kiu Thian mo Kiong, kalian bertiga
bagaimana?"
"Hah?" Ketiga pengemis itu terkejut bukan
main.
"Kalian tentunya punya suatu tanda.
Pergunakan tanda itu untuk memanggil Tetua Kay Pang itu" ujar cian
Tok suseng.
Ketiga pengemis itu saling memandang,
kemudian salah seorang diantaranya mengeluarkan sesuatu, sekaligus
di lempar ke atas dan meledak- seketika juga meluncur ke atas
semacam kembang api.
Berselang beberapa saat kemudian, tampak
beberapa orang berlari cepat menuju tempat itu. Mereka ternyata ouw
yang seng Tek, se Khi, swat san LoJin dan Tetua Kay Pang.
"Eeeh?" seru ouw yang seng Tek terbelalak-
"Engkau cian Tok suseng?"
"Pengemis busuk, sudah lupakah engkau
padaku?" sahut Cian Tok suseng sambil tersenyum.
"Ha ha ha" swat san LoJin tertawa.
"Racun tua, engkau bertambah muda saja"
"orang tua pikun, tidak disangka kita akan
bertemu di sini" cian Tok suseng tertawa gelak-
"ohya siapa yang menyuruh mereka bertiga
memberi tanda gawat itu?" tanya ouw yang seng Tek mendadak-
"Aku," sahut cian Tok suseng, lalu
menggeleng-gelengkan kepala.
"untung yang datang aku, kalau bukan "
"Kenapa?" tanya ouw yang seng Tek-
"Ampun Tetua?" Tiga pengemis itu langsung
berlutut-
"Kami bertiga amat ceroboh dan gampang
mempercayai omongan orang "
"siapa yang bilang begitu pada kalian?"
tanya ouw yang seng Tek.
"Cian Tok suseng," sahut salah seorang
pengemis itu, kemudian mengaku apa yang akan dilakukannya.
"Kalian bertiga memang goblok" ouw yang seng
Tek marah-marah.
" Untung yang datang Cian Tok suseng.
seandainya dia orang Kiu Thian mo Cun, bukankah kalian akan celaka?"
"Sudahlah, pengemis busuk Aku baru sampai di
sini, tapi engkau malah marah-marah tidak karuan, aku jadi
tersinggung," ujar cian Tok suseng sambil tertawa.
"Jangan suka marah-marah"
"Kalau aku tidak marah-marah, bagaimana
keamanan di sini?" ouw yang seng Tek melotot.
"Pengemis tua, sudahlah Mari kita undang
cian Tok suseng ke Markas" sela swat san Lo Jin.
" Lagi pula masih ada pos kedua, pos ketiga
dan pos keempat, jadi keamanan di sini cukup terjamin."
"Betul." sambung se Khi.
"Mari kita ke Markas"
"Kalian bertiga harus berhati-hati lain
kali, jangan ceroboh lagi" pesan ouw yang seng Tek-
"ya. Tetua." Ketiga pengemis itu
mengangguk.-
ouw yang seng Tek lalu mengajak cian Tok
suseng ke markas. Kedatangan cian Tok suseng sungguh menggembirakan
pihak Kay Pang mau pun pihak Pulau Pelangi, sebab tenaga Cian Tok
suseng memang amat dibutuhkan.
"Li Hoa" seru swat san LoJin sambil tertawa
setelah berada di dalam markas.
"Lihatlah siapa yang datang?"
"Haah ?" Thian san Lolo terbelalak ketika
melihat Cian Tok suseng.
" Engkau Cian Tok suseng?"
"seratus persen asli," sahut Cian Tok suseng
sambil tersenyum.
"Gila" Thian san Lolo menggeleng-gelengkan
kepala.
"Kok engkau tidak bisa tua? Aku sudah jadi
nenek-nenek, sedangkan engkau masih tetap muda."
"Aku memang awet muda." Cian Tok suseng
tertawa.
"Ei Li Hoa, engkau sudah rujuk dengan sun
Hiong ya?"
"Apakah engkau senang melihat kami ribut
terus menerus?" sahut Thian san Lolo sambil melotot.
"Aku justru senang melihat kalian berdua
bisa akur." Cian Tok suseng tertawa gelak-
"Kini tua sama tua, tentunya lebih
mengasyikkan."
"Dasar tak tahu malu" Wajah Thian san Lolo
tampak kemerah-merahan.
"Cian Tok suseng Ayolah duduk jangan terus
berdiri" ujar ouw yang seng Tek-
"Terima kasih" Cian Tok suseng duduk,
kemudian mendadak menarik nafas panjang.
"Aku sungguh tak menyangka, Pek Giok Liong "
"Cian Tok suseng, jangan mengungkit itu
lagi" potong se Khi- Ia khawatir akan menimbulkan kesedihan se Pit
Han.
"Kok lo cianpwee tahu tentang itu?" tanya se
Pit Han.
" Walau aku hidup menyendiri di tempat
terpencil, tapi aku masih serlng ke kota untuk berbelanja, maka
mendengar berita itu," jawab Cian Tok suseng.
"oleh karena itu, aku sebera berangkat ke
mari."
"Lo cianpwee ingin bergabung dengan kami?"
tanya se Pit Han lagi.
"Tentu." Cian Tok suseng mengangguk-
" Walau kepandaianku tidak begitu tinggi,
namun aku punya keahlian khusus, yakni dalam hal racun"
"Cian Tok suseng Terima kasih atas
kesediaanmu bergabung dengan kami" ucap ouw yang seng Tek-
"Terus terang, kami memang kekurangan tenaga
ahli dalam hal racun, maka sungguh kebetulan engkau ke mari-"
"Pengemis busuk, ini bukan kebetulan. Aku
memang sengaja ke mari bergabung dengan kalian, sebab aku dengar
pihak Kiu Thian mo Kiong sering menggunakan racun, oleh karena itu,
aku pun membawa obat pemunah racun ke mari." Cian Tok suseng
mengeluarkan sebuah botol berukuran cukup besar, lalu diserahkan
pada ouw yang seng Tek-
"simpanlah baik-baik, obat ini dapat
memusnahkan racun ganas apa pun."
"Terima kasih" ucap ouw yang seng Tek sambil
mengambil botol itu sekaligus disimpannya di tempat yang aman.
"ohya" Mendadak swat san LoJin tampak
serius.
"Aku akan memperkenalkan muridku padamu."
"Eh? Kapan engkau punya murid?" tanya Cian
Tok suseng heran.
"sudah lama." swat san LoJin tertawa,
kemudian memberi isyarat pada se Pit Han, se Pit Han mengangguk,
lalu segera masuk- Tak seberapa lama kemudian, gadis itu sudah
kembali ke ruangan itu bersama Pek Giok Houw-
"Haah ?" Cian Tok suseng pura-pura terkejut,
sebab ia sudah tahu dari Pek Giok Liong tentang Pek Giok Houw.
"Pek.. Pek Giok Liong?"
"Lo cianpwee, terimalah hormatku" ucap Pek
Giok Houw sambil menjura.
"Eh? Ketua ,"
"Ha ha ha" swat san LoJin tertawa.
"Dia bukan Pek Giok Liong, dia Pek Giok
Houw, adik kembar Pek Giok Liong."
"Aku aku jadi bingung nih" Cian Tok suseng
terbelalak, sambil menatap Pek Giok Houw.
"Kok mirip sekali dengan Pek Giok Liong,
seperti pinang di belah dua"
"Mereka berdua kembar, tentunya mirip," ujar
se Pit Han.
" Hanya saja adik Liong lebih tinggi, lagi
pula adik Houw punya tanda merah di belakang telinganya."
"oooh" cian Tok suseng mengangguk-
"cian Tok suseng" ouw yang seng Tek
memberitahukan.
" Wanita yang duduk di sana itu Hek Ai Lan,
murid Thian Lolo, juga ibu angkat Pek Giok Houw."
"Oooh" Cian Tok suseng manggut-manggut.
"Gadis itu bernama Ling Ling, murid bungsu
Thian san Lolo." ouw yang seng Tek memberitahukan lagi.
"Dia sangat akrab dengan Pek Giok Houw."
"Mereka berdua memang merupakan pasangan
yang serasi," Cian Tok suseng tertawa.
"Nah sekarang mari kita makan dulur ujar ouw
yang seng Tek-
"Tentunya engkau sudah lapar."
"Aku memang sudah lapar sekali" sahut Cian
Tok suseng.
" Kalau begitu, mari kita makan sekarang"
ujar ouw yang seng Tek dan mempersilahkan cian Tok suseng ke
belakang.
Bagian ke 62 Menambah Kekuatan
cit ciat, Thian sat, Thian suan dan Ti Kie
sin Kun duduk di ruang dalam dengan wajah serius. Tampaknya mereka
sedang membicarakan sesuatu yang cukup penting.
"Tiada akal untuk mengorek rahasia
jebakan-jebakan itu dari mulut Mo Cun, sedangkan kini pihak Pulau
Pelangi telah bergabung dengan Kay Pang, mungkin mereka sudah siap
menyerang Kiu Thian mo Kiong, itu amat membahayakan mereka-"
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Thian
suan sin Kun dengan kening berkerut-
"Kita tidak bisa berbuat apa pun."
"Itulah yang amat mencemaskanku." Cit Ciat
sin Kun menarik nafas panjang.
"Kalau Kiu Thian mo Cun dibasmi, kita pun
bisa menikmati sisa hidup yang tenang. Tapi"
Mendadak melesat ke dalam sosok bayangan.
Betapa terkejutnya mereka berempat, namun setelah melihat siapa yang
muncul, seketika juga mereka menarik nafas lega. Ternyata yang
muncul itu pendekar misterius.
"Pek siauhiap" Cit Ciat sin Kun girang
sekali.
"Kalian tidak usah khawatir para penjaga di
sini sama sekali tidak tahu dan tidak melihat kedatanganku," ujar
Pek Giok Liong.
"Cit Ciat sin Kun, apakah engkau sudah tahu
mengenai jebakan-jebakan yang ada di Kiu Thian mo Kiong?"
"sama sekali tidak tahu." Cit Ciat sin Kun
menggeleng-gelengkan kepala.
"Tiada seorang pun yang tahu tentang rahasia
semua jebakan itu, kecuali Kiu Thian mo Cun sendiri sebab
orang-orang yang membuat semua jebakan itu telah dibunuhnya."
"Kalau begitu ," ujar Pek Giok Liong setelah
berpikir sejenak-
"Kalian harus berupaya mendesak Kiu Thian mo
Cun menyerang partai Kay Pang"
"Tapi kini pihak Pulau Pelangi telah
bergabung dengan Partai Kay Pang, mungkin mereka sudah siap untuk
menyerang Kiu Thian mo Kiong, itu amat membahayakan mereka."
"Aku akan berusaha mencegah mereka menyerang
Kiu Thian mo Kiong, tapi kalian harus mendesak Kiu Thian mo Cun
menyerang Partai Kay Pang"
"Ya." Cit Ciat sin Kun mengangguk.
"Baiklah- sampai di sini. ohya, mungkin
tidak lama lagi utusan Kiu Thian mo Cun akan sampai di sini. Kalau
tidak salah, Kiu Thian mo Cun akan menarik kalian kembali ke Kiu
Thian mo Kiong," ujar Pek Giok Liong, lalu melesat pergi secepat
kilat.
Mereka berempat saling memandang, berselang
sesaat Cit Ciat sin Kun membuka mulut bertanya pada Thian suan sin
Kun.
"Bagaimana menurut kalian kalau Mo Cun
menarik kita kembali ke Kiu Thian mo Kiong?"
"Itu lebih baik," jawab Thian Suan Sin Kun.
"Sebab kita akan mengetahui bagaimana
gerakannya."
"Benar" sambung Thian suan sin Kun.
"Kita pun bisa memberitahukan pada Pek
siauhiap."
"Bagaimana cara kita memberitahukannya?"
tanya Cit Ciat sin Kun.
"Aku yakin, kalau kita sudah berada di Kiu
Thian mo Kiong, Pek siauhiap pasti terus mengawasi Kiu Thian mo
Kiong dari jauh- Kita boleh mencari alasan untuk ke luar. Nah, Pek
siauhiap pasti muncul menemui kita."
"Ngmm" Cit Ciat sin Kun manggut-manggut.
"Tapi kita harus berhati-hati "
Mendadak salah seorang penjaga berlari ke
dalam, kemudian memberi hormat pada mereka dan melapor.
"Utusan mo Cun datang."
"oh Kami segera ke luar menyambutnya" sahut
Cit Ciat sin Kun sambil bangkit berdiri, lalu berjalan ke luar dan
diikuti Thian sat, Thian suan dan Ti Kie sin Kun dari belakang.
"Cit Ciat sin Kun menyambut kedatangan
utusan mo Cun" ucap cit Ciat sin Kun, sambil memberi hormat pada
Thian mo.
"Ada perintah dari mo cun, bahwa kalian
berempat harus ikut aku kembali ke Kiu Thian Mo Kiong."
"Kami menerima perintah" sahut Cit Ciat sin
Kun.
"Mengenai yang wie Kiong ini, engkau boleh
menunjuk seseorang sebagai wakil di sini," ujar Thian mo-
"ya." Cit Ciat sin Kun lalu berkata pada
Thian Suan sin Kun.
"Panggil Tiong Hong ke mari"
"Ya." Thian sat sin Kun segera ke dalam. Tak
lama ia sudah kembali bersama Tiong Hong tersebut.
"Teecu memberi hormat pada utusan mo Cun"
ucap Tiong Hong.
"Tiong Hong" sahut Cit Ciat sin Kun.
"Kami berempat akan berangkat ke Kiu Thian
mo Kiong, maka mulai sekarang engkau sebagai wakilku di sini."
"Tiong Hong menerima perintah"
"Nah, sekarang kalian berempat boleh ikut
aku ke Kiu Thian mo Kiong" ujar Thian mo sambil melesat pergi, Cit
Ciat, Thian sat, Thian Suan dan Ti Kie sin Kun segera mengerahkan
ginkang masing-masing mengikuti Thian mo menuju ke Kiu Thian mo
Kiong. Justru mendadak Cit Ciat sin Kun mendengar suara yang amat
halus, ternyata suara Pek Giok Liong.
"Ada sesuatu penting di Mo Kiong, engkau
harus segera memberitahukan padaku. Caranya engkau mengontrol semua
pos penjagaan, kalau engkau mendengar suaraku, barulah engkau
memberitahukan dengan ilmu menyampaikan suara, aku pasti dapat
mendengarnya "
-ooo00000ooo-
Malam ini, Kiu Thian mo Cun mengadakan rapat
di ruang dalam, yang ikut dalam rapat tersebut adalah Thian Ti siang
mo, Ngo Kui, Cit Ti sat, Kiu Mo Li, Cit Ciat, Thian sat, Thian suan
dan Ti Kie sin Kun.
"Belum lama ini, pihak Pulau Pelangi telah
bergabung dengan Partai Pengemis, itu berarti kekuatan Kay Pang
telah bertambah" ujar Kiu Thian mo Cun dan menambahkan,
"Bahkan swat san Lojin dan Thian san Lolopun
berada di sana. sedangkan kita hanya ada sekian orang, maka kalau
dibandingkan, berarti kekuatan kita masih berada di bawah pihak Kay
Pang. Nah, siapa di antara kalian yang punya saran"
"Mo Cun" ujar cit Ciat sin Kun mengemukakan
usulannya
"Bagaimana kalau kata menyerang Kay Pang
sekarang?"
"Kini kita memang sudah tahu berada di mana
Markas Pusat Kay Pang itu, tapi di tempat itu pun telah dipasang
berbagai macam jebakan. Kalau kita menyerang mereka sekarang,
tentunya pihak kita yang rugi," sahut Kiu Thian mo cun.
"Lagipula kekuatan kita masih belum menyamai
kekuatan mereka, sebab pihak Pulau Pelangi terdiri dari Se Pit Han,
se Khi, Thian Koh sing, Thian Kang sing, si Kim Kong, lima pelindung
pulau, sepasang pengawal dan Pat Kiam. Mereka semua rata-rata
memiliki kepandaian yang amat tinggi, terutama swat san LoJin, Thian
san Lolo dan pemuda yang mengaku dirinya Pek Giok Liong itu. Maka "
"Tapi kita bisa mempergunakan racun," ujar
Cit Ciat sin Kun mendesak Kiu Thian mo Cun untuk menyerang Markas
Kay Pang.
"Kita memang unggul dalam hal racun, tapi
pemuda yang mengaku dirinya Pek Giok Liong itu ternyata masih hidup,
padahal dia sudah terkena racun Thian Ti siang mo- Itu berarti pihak
Kay Pang pun memiliki orang yang ahli dalam hal racun," ujar Kiu
Thian mo Cun.
"oleh karena itu, kita pun tidak boleh
bertindak ceroboh untuk menyerang Markas Kay Pang."
"Mo Cun Aku punya usul" sela Thian mo-
"Apa usulmu?"
"Bagaimana kalau kita mengundang beberapa
tokoh tua dari golongan sesat?"
"Tokoh tua dari golongan sesat? siapa yang
dimaksudkan itu?" tanya Kiu Thian mo Cun yang tampak tertarik akan
usul tersebut.
"Mereka adalah Kai si mo ong (Iblis Tua
Pengacau Dunia), Pek Hoat Lo Thai (Nyonya Tua Rambut Putih), Im si
Lo Mo (Iblis Tua Akhirat) dan Im san Lak yau (Enam Jin Gunung Im
san)" Thian mo memberitahukan.
"Mereka semua masih hidup?"
"Setahuku, mereka semua masih hidup. Tapi
mungkin agak sulit undang mereka ke luar."
Ketika Thian mo menyebut para tokoh tua dari
golongan sesat, Cit Ciat sin Kun terkejut bukan main dalam hati-
"Begini" ujar Kiu Thian mo Cun.
"engkau dan Ti mo membawa lencanaku pergi
mengundang mereka, aku yakin mereka pasti mau ke mari."
"ya" sahut Thian mo-
"Kapan kami harus berangkat?"
"Lebih baik sekarang," jawab Kiu Thian mo
Cun, dan sekaligus menyerahkan lencananya pada Thian mo-
"Mereka masih harus menghargai lencanaku."
"Kami menerima perintah" Thian Ti siang mo
memberi hormat, lalu segera berangkat,
"setelah tokoh-tokoh tua dari golongan sesat
itu datang, kita akan berunding bersama, sekarang kalian boleh
kembali ke tempat masing-masing."
"ya" sahut mereka serentak-
"Mo Cun Bolehkah hamba memeriksa semua pos
penjagaan di sini?" tanya Cit Ciat sin Kun.
-ooo00000ooo-
"Engkau ragu akan penjagaan di sekitar Kiu
Thian mo Kiong ini?" Kiu Thian mo Cun balik bertanya.
"Bukan ragu, tapi alangkah baiknya kalau
berhati-hati" sahut Cit Ciat sin Kun.
"Begini saja, mulai besok engkau kuangkat
sebagai kepala keamanan di luar Kiu Thian Mo Kiong, tapi engkau
harus melaksanakan tugasmu dengan baik" teaas Kiu Thian mo Cun.
"Terima kasih, Mo Cun" cit Ciat sin Kun
memberi hormat.
"Thian sat, Tian suan dan Ti Kie sin Kun
tetap mendampingimu" tambah Kiu Thian mo Cun.
"ya, Mo Cun." Thian sat, Thian suan dan Ti
Kie sin Kun segera memberi hormat pada Kiu Thian mo Cun, mereka
girang bukan main dalam hati.
Keesokan harinya, Cit Ciat sin Kun mulai
mengontrol pos-pos penjagaan yang ada di luar Kiu Thian mo Kiong.
Ketika ia hampir sampai di pos pertama, tiba-tiba ia mendengar suara
yang amat halus.
"Bagaimana keadaan di dalam Kiu Thian mo
Kiong?" Itu suara Pek Giok Liong.
"Thian Ti siang Mo pergi mengundang Kai si
Mo ong, Pek Hoat Lo Thai, Im si Lo Mo dan Im san Lak ya u"jawab Cit
Ciat sin Kun dengan ilmu menyampaikan suara.
"Mereka semua dari golongan sesat,
kepandaian mereka setingkat lebih tinggi dari swat Sian Lo Jin
maupun Thian san Lolo"
"Terima kasih" ucap Pek Giok Liong.
"Engkau terus mengamati gerak-aerik Kiu
Thian mo Cun, kalau ada sesuatu penting, engkau harus memberitahukan
padaku"
"Ya," sahut Cit Ciat sin Kun.
-ooo00000ooo-
Tujuh hari kemudian, Thian Ti siang mo sudah
kembali bersama para tokoh tua dari golongan sesat.
"Ha ha ha" Kiu Thian mo Cun tertawa gelak
menyambut kedatangan mereka.
"Bagus Kalian semua telah datang"
"Kami mau datang karena melihat lencanamu,"
sahut Kai si Mo ong sambil menatapnya,
"silakan duduk" ucap Kiu Thian mo Cun.
"Terima kasih" sahut Kai si Mo ong lalu
duduk. Begitu pula yang lain, namun Kai si Mo ong masih terus
menatap Kiu Thian mo Cun dan ujarnya kemudian,
"mo Cun, usia kami sndah di atas seratus,
sebetulnya kami sudah tidak mau turut campur urusan rimba persilatan
lagi. Tapi lencanamu memaksa kami ke mari. sesungguhnya ada masalah
apa?"
"Aku harap kalian mau bergabung dengan Kiu
Thian mo Kiong ini," sahut Kiu Thian mo Cun singkat.
"Ha ha ha" Kai si Mo ong tertawa gelak-
"Kami ke mari cuma berkunjung, sama sekali
tiada berniat untuk bergabung."
"Kai si Mo ong" Kiu Thian mo Cun menatapnya
tajam.
"Aku mengundang kalian ke mari. justru
menghendaki kalian semua bergabung denganku."
"He he he" Pek Hoat Lo Thai tertawa
terkekeh-kekeh.
"Mo Cun ingin memaksa kami?"
"seandainya kalian tidak mau bergabung,"
sahut Kiu Thian mo Cun.
"Ha ha ha" Kai si Mo ong tertawa
terbahak-bahak-
"Guruku memang pernah memberi amanat padaku,
yakni harus tunduk pada lencana Kiu Thian mo Cun, tapi aku masih
ragu."
"Apa yang diragukan?" tanya Kiu Thian mo
Cun.
"Engkau bukan Kiu Thian mo Cun," sahut Kai
si Mo ong.
"sebab engkau memakai kedok iblis, kami
tidak bisa melihat wajah aslimu."
"Itu tidak jadi masalah, yang penting aku
bisa membuktikan bahwa diriku adalah Kiu Thian mo Cun."
"Caraka?" tanya Im si Lo Mo-
"Tentunya kalian semua tahu, aku memiliki
ilmu apa yang paling hebat?" Kiu Thian mo Cun menatap mereka satu
persatu.
"Tentu tahu," sahut Im san Lak yau-
"Kiu Thian mo Cun terkenal akan ilmu Hek sim
Tok Ciangnya-"
"Nah Untuk membuktikan bahwa diriku adalah
Kiu Thian mo Cun, maka aku akan memperlihatkan Hek sim sin Kang dan
Hek sim Tok Ciang ku- Bagaimana?" "Bagus- Memang harus begitu," Kai
si mo ong tertawa-
Kiu Thian mo Cun bangkit dari tempat
duduknya, lalu berjalan ke tengah ruang itu, dan berdiri di situ.
"Kalian perhatikan baik-baik, aku akan
memperlihatkan Hek sim sin Kang dan Hek sim Tok ciang"
Kiu Thian mo Cun mulai menghimpun Hek sim
sin Kangnya, sedangkan Kai si Mo ong, Pek Hoat Lo Thai, Im si Lo Mo
dan Im san Lak yau memperlihatkan dengan kening berkerut-kerut.
Tak seberapa lama kemudian, sekujur badan
Kiu Thian mo Cun memancarkan cahaya hitam, kemudian mendadak ia
memekik sambil mengibaskan tangannya ke arah sebuah patung batu.
Terjadilah hal yang amat mengejutkan, sebab
patung batu itu berubah kehitam-hitaman dan mengeluarkan asap hitam
pula- Tak lama patung batu itu pun berubah menjadi tepung.
Kai si Mo ong, Pek Hoat Lo Thai, Im si Lo Mo
dan Im san L«k yau menyaksikan itu dengan mata terbelalak-
"Aku telah memperlihatkan Hek sim sin Kang
dan Hek sim Tok Ciang, kalian sudah percaya bahwa aku adalah Kiu
Thian mo Cun?" tanyanya sambil kembali ke tempat duduknya.
"Kami percaya" sahut mereka serentak-
"Kalian bersedia bergabung denganku?" Kiu
Thian mo cun menatap mereka satu persatu-
"Baiklah-" Kai si Mo ong mengangguk.
"Kami bersedia bergabung dengan mo cun. Tapi
aku masih merasa heran"
"Kenapa heran?"
"Mo Cun sudah memiliki kepandaian yang tiada
tanding di kolong langit, kenapa masih menghendaki kami bergabung?"
"Kalian harus tahu, aku harus menghadapi
Partai Kay Pang."
"Partai Kay Pang?" Pek Hoat Lo Thai melongo-
"Bukankah gampang sekali Mo Cun menundukkan
partai itu?"
"Memang." Kiu Thian mo Cun manggut-manggut.
"Tapi kalian harus tahu, bahwa pihak cai
Hong to telah bergabung dengan Kay Pang untuk melawan Kiu Thian mo
Kiong, maka aku membutubkan tenaga kalian."
"Apa?" Im si Lo Mo terkejut.
"Pulau Pelangi itu telah bergabung dengan
Kay Pang?"
"Betul."
"Pantas Mo Cun membutuhkan tenaga kami" Pek
Hoat Lo Thai manggut-manggut.
"Lalu apa tugas kami?"
"Melindungi Kiu Thian mo Kiong." Kiu Thian
mo Cun memberitahukan.
"Kalau sudah waktunya, kita akan menyerang
Markas Pusat Kay Pang."
"Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang saja
kita menyerang ke sana?" tanya Im san Lak yau.
"Jadi kami tidak usah lama-lama di sini."
"Kalian perlu tahu, bahwa di Markas Pusat
Kay Pang itu telah dipasang berbagai macam jebakan. Maka kita tidak
boleh bertindak ceroboh, sebab itu akan merugikan pihak kita. oleh
karena itu, alangkah baiknya kita rundingkan nanti."
"Oooh" Kai si Mo ong manggut-manggut.
"Mo Cun" ujar Pek Hoat Lo Thai mendadak.
"Kami bersedia membantu Mo Cun menaklukkan
Kay Pang, tapi Mo Cun jangan memerintah kami sembarang membunuh.
Walau kami dari golongan sesat, tapi tidak pernah sembarangan
membunuh orang."
"Aku tidak akan perintahkan kalian
sembarangan membunuh- Kalian cukup memperkuat Kiu Thian mo Kiong ini
saja" sahut Kiu Thian mo Cun.
Diam-diam Cit Ciat, Thian sat, Thian Suan
dan Ti Kie sin Kun menarik nafas lega.
"Lalu apa tugas kami di sini?" tanya Im si
Lo Mo-
"Cukup makan tidur saja," sahut Kiu Thian mo
Cun sambil tertawa.
"Tapi kalian harus ingat, jangan sembarangan
berkeluyuran di dalam Kiu Thian mo Kiong ini"
"Lho? Kenapa?" tanya Kai si Mo ong heran.
"Karena di dalam istana ini telah dipasang
berbagai jebakan, siapa yang masuk ke dalam jebakan pasti mati." Kiu
Thian mo cun memberitahukan. "Maka aku harap kalian harus ingat
pesanku ini"
"Baik," Kai si Mo ong mengangguk,-
"ohya selain pihak Pulau Pelangi, masih ada
swat san Lojin dan Thian san Lolo" ujar Kiu Thian mo Cun.
"Apa?" Pek Hoat Lo Thai terbelalak.
"sun Hiong dan Li Hoa itu sudah akur?"
"Akur atau tidak aku tidak tahu, yang jelas
mereka berdua pun berada di Markas Pusat Kay Pang."
"Gila" Kai si Mo ong tertawa.
"Sudah tua baru akur, ketika masih muda
malah sering ribut sehingga berpisah-"
"Engkau pun begitu-" Pek Hoat Lo Thai
melototinya.
"Ha ha" Kai si Mo ong tertawa lagi.
"sama-sama. Ketika masih muda, engkau pun
pernah tergila-gila padaku."
"Engkau " Bukan main gusarnya Pek Hoat Lo
Thai.
"Mau kuhajar ya?"
"Kalian berdua jangan ribut" ujar Kiu Thian
mo Cun dengan suara parau karena merasa tidak senang.
"Di sini Kiu Thian mo Kiong, bukan tempat
untuk ribut."
"Maaf" ucap Kai si Mo ong dan Pek Hoat Lo
Thai serentak-
"ohya" Tiba-tiba Im si Lo Mo teringat
sesuatu-
"setahuku, Thian Ti siang mo telah di hukum
oleh gurunya tidak boleh menginjak rimba persilatan, tapi kenapa
kini"
"Aku yang menyuruh mereka keluar," sahut Kiu
Thian mo Cun.
"oooh" Im si Lo Mo manggut-manggut.
"pantas mereka berdua berani keluar,
ternyata karena lencana mo Cun"
"BetuL" Kiu Thian mo Cun tertawa.
"Begitu pula Ngo Kui dan cit Ti sat. Maka
kini mereka boleh membunuh para pendekar dari golongan putih."
"Itu memang hobi mereka," sahut Kai si Mo
ong dingin.
"ohya selain Thian san Lolo dan swat san
LoJin, masih terdapat seseorang berilmu amat tinggi, dia seorang
diri mampu mengalahkah Thian Ti siang mo-" Kiu Thian mo Cun
memberitahukan.
"oh?" Kai si Mo ong tampak terkejut.
"siapa orang itu?"
"Dia masih muda, tapi aku tidak tahu
namanya," sahut Kiu Thian mo Cun.
"oh?" Kai si Mo ong dan Pek Hoat Lo Thai
saling memandang, bahkan tampak tercengang.
"Kok Mo Cun tidak tahu namanya?" tanya Im si
Lo Mo-
"Aku memang tidak tahu, tapi kepandaiannya
cukup tinggi," sahut Kiu Thian mo Cun.
"Mo Cun" sela Cit Ciat sin Kun mendadak.
"Karena belum pasti, maka aku tidak berani
melapor"
"Lapor saja"
"Informasi yang pernah kami terima, pemuda
itu bernama Pek Giok Houw, adik kembar Pek Giok Liong."
"oh? Apakah dia mirip Pek Giok Liong?"
"Mereka berdua saudara kembar, tentunya
mirip seperti pinang di belah dua."
"Pek Giok Liong? siapa dia?" tanya Kai si mo
ong.
"Dia putra Pek Mang ciu, murid Kian Kun Ie
siu." Kiu Thian mo Cun memberitahukan.
" generasi kelima pemegang panji Hati suci
Matahari Bulan."
"Oh?" Kai si Mo ong, Pek Hoat Lo Thai, Im si
Lo Mo dan Im san Lak yau tampak terkejut.
"Dia berada di mana sekarang?" tanya Pek
Hoat Lo Thai-
"Sudah mati di dasar jurang, terpukul oleh
Hek sim Tok Ciang ku,"jawab Kiu Thian mo Cun.
"Oooh" Pek Hoat Lo Thai manggut-manggut
sambil melirik Kai si Mo ong. Apa arti lirikan itu? Hanya mereka
berdua yang mengetahuinya.
"Sudah hampir tujuh puluh tahun kami hidup
mengasingkan diri, maka kami tidak tahu semua itu," ujar Kai si Mo
ong sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Sebetulnya lawan berat kita bukan pihak
Pulau Pelangi yang telah bergabung dengan Kay Pang, juga bukan swat
san LoJin, Thian san Lolo maupun Pek Giok Houw, melainkan pendekar
misterius."
"Pendekar misterius?" Kai si Mo ong
tertegun,
"siapa dia?"
"Belum lama muncul di rimba persilatan, tapi
dia mampu membunuh jin Pin Mo Kun, Ling Ming Cun cia, Ngo Tok Ceng
Kun dan muridku hanya dalam satu jurus." Kiu Thian mo Cun
memberitahukan.
"Oh?" Pek Hoat Lo Thai terperanjat dan
bertanya,
"Apakah murid Mo Cun sudah menguasai ilmu
Hek sim Tok Ciang?"
"Belum, tapi telah menguasai ilmu Han Im
Ciangku."
"oh?" Kai si Mo ong terbelalak.
"Hanya satu jurus dia mampu membunuh murid
Mo Cun yang telah menguasai ilmu Han Im ciang itu?"
"Betul." Kiu Thian mo Cun mengangguk-
"Maka dapat dibayangkan betapa tinggi
ilmunya-"
"Pendekar misterius itu berada di mana
sekarang?" tanya Kai Si Mo ong.
"Kami ingin menjajal kepandaiannya."
"Sudah lama dia menghilang, maka amat
membingungkan kami," jawab Kiu Thian mo Cun.
"Menghilang? Mungkinkah dia menghilang?"
gumam Kai si Mo ong.
"Tentunya tidak mungkin."
"Kalau dia muncul, kami ingin menjajal
kepandaiannya," sela Pek Hoat Lo Thai.
"Betul." Kiu Thian mo Cun mengangguk-
"Bahkan kalian pun boleh membunuhnya-"
"Terima kasih, Mo Cun" ucap Pek Hoat Lo
Thai-
"Nah" Kiu Thian mo Cun mengibaskan
lengannya-
"Sekarang kalian semua boleh pergi
beristirahat- Tapi ingat, jangan berkeluyuran sembarangan"
"Kami ingat itu," sahut Kai si Mo ong.
"Aku telah menyiapkan kamar istimewa untuk
kalian." Kiu Thian mo Cun memberitahukan.
"Kai si Mo ong dan Im si Lo Mo satu kamar,
Im san Lak yau satu kamar, Pek Hoat Lo Thai bersam Kiu Mo Li."
"Baiklah-" Para tokoh tua dari golongan
sesat itu manggut-manggut.
"Thian Ti siang mo, antar mereka ke kamar"
Kiu Thian mo Cun memberi perintah kedua orang itu.
"Kami menerima perintah" sahut Thian Ti
siang mo-"
Kai si Mo ong duduk berhadapan dengan Im si
Lo Mo- Wajah mereka tampak serius. Mereka membungkam, namun bibir
mereka tampak bergerak, ternyata mereka sedang bercakap-cakap dengan
ilmu menyampaikan suara.
"Kiu Thian mo Cun menghendaki kita menumpas
Kay Pang, bagaimana menurut pendapatmu?" tanya Kai si Mo ong.
"Kita menurut saja," sahut Im si Lo Mo-
"Kita sama sekali tidak tahu, bahwa jit Goat
seng sim Ki itu telah muncul, namun Pek Giok Liong pemegang panji
itu sudah mati."
"Sayang sekali" Im si Lo Mo
menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau dia belum mati, kita harus bergabung
dengannya"
"Benar,« ujar Kai si Mo ong.
"Begitupula Pek Hoat Lo Thai dan Im san Lak
yau, sebab guru-guru kita pernah berhutang budi kebaikan seng sim
Tayhiap-"
"Aku masih merasa heran, betulkah orang yang
memakai kedok iblis itu Kiu Thian mo Cun?"
"Betul atau tidak kita tidak mengetahuinya,
yang jelas dia memiliki Hek sim sin Kang atau Hek Sim Tok Ciang yang
amat dahsyat serta beracun, kita sudah menyaksikan tadi kan?"
"Memang dahsyat sekali ilmu itu" Im Si Lo Mo
menggeleng-gelengkan kepala.
"Seandainya kita semua bergabung bertanding
dengan Kiu Thian mo Cun itu, aku yakin kita masih bukan
tandingannya."
"Tidak salah." Kai si Mo ong
manggut-manggut.
"oh y a, siapa pendekar misterius itu?
Apakah kepandaiannya begitu tinggi?"
"Kalau tidak, bagaimana mungkin membuat Kiu
Thian mo Cun tampak sangat khawatir?"
"Betul." Kai si Mo ong melanjutkan,
"Kiu Thian mo Cun itu memang licik, dia
memisahkan kita agar tidak bisa tukar pikiran."
"Tapi kita pun harus ingat satu hal" sahut
Im Si Lo Mo serius.
"Kita tidak boleh meninggalkan kamar ini,
sebab banyak jebakan."
"Aku mengkhawatirkan Pek Hoat Lo Thai, sebab
dia amat keras hati"
"Tidak apa-apa. untung dia satu kamar dengan
Kiu Mo Li, kalau dia ingin meninggalkan kamar itu, tentunya Kiu Mo
Li akan mencegahnya."
"Ohya Entah bagaimana dengan Im San Lak yau,
apakah mereka juga sedang bercakap-cakap seperti kita?"
"Mungkin."
Sementara di dalam kamar Im San Lak Yaujuga
sedang berlangsung percakapan serius dengan ilmu menyampaikan suara.
"Apakah benar orang itu Kiu Thian mo Cun?"
tanya Toa yau.
"Benar atau tidak, kita tidak
mengetahuinya," sahutji yau.
"Tapi kepandaiannya itu sungguh hebat luar
biasa. Kita semua bukan tandingannya, maka kita tidak boleh
bertindak gegabah-"
"Kita cuma membantunya menaklukkan Kay Pang,
itu tidak jadi masalah- sebab kita tidak akan sembarangan membunuh,
berarti kita tidak melanggar sumpah," ujar sam yau.
"Kita harus ingat satu hal" Toa yau
mengingatkan,
"jangan meninggalkan kamar ini, sebab di
luar sana banyak jebakan."
"Betul." si yau mengangguk-
"ohya, kita memang harus tunduk pada lencana
Kiu Thian Mo Cun. Lalu kita harus bagaimana seandainya jit Goat seng
sim Ki itu muncul?"
"Tentunya kita harus bergabung dengan panji
itu," sahut Toa yau.
"Sebab guru kita pernah menerima budi
kebaikan seng sim Tayhiap-"
"Tapi" Ngo yau menggeleng-gelengkan kepala-
"Bukankah membingungkan sekali? Kita harus
tunduk pada lencana Kiu Thian mo Cun, namun juga harus bergabung
dengan panji itu. Itu sungguh membingungkan."
"Begini, seandainya panji itu muncul, kita
bergabung saja," ujar Toa yau dan menambahkan.
" Karena muncul pula lencana Kiu Thian mo
Cun, maka kita berdiri di tengah-tengah. Beres kan?"
"ya."Ji yau mengangguk-
"Memang lebih baik begitu."
"Kiu Thian mo Cun itu sungguh licik, dia
memisahkan kita dengan Kai si Mo ong, Im si Lo Mo dan Pek Hoat Lo
That, jadi kita semua tidak bisa berunding sama sekali," ujar sam
yau.
"Sudahlah Lebih baik kita beristirahat,"
ujar Toa yau mengakhiri percakapan itu.
"Ingat, kita harus bersikap biasa."
(Bersambung bagian 63)
Bagian ke 63: Berunding
Di ruang dalam Markas Pusat Kay Pang, tampak
duduk belasan orang penting dengan wajah serius, kelihatannya mereka
sedang merundingkan sesuatu.
"Menurutku, lebih baik kita serang Kiu Thian
mo Kiong,-" ujar ouw yang Seng Tek.
"Kekuatan kita sudah cukup untuk melawan
pihaknya."
"Benar," sahut Thian San Lolo menyetujuinya.
"Kita harus menyerangnya."
"Kalau tidak salah, kekuatan inti Kiu Thian
mo Kiong itu tidak seberapa," ujar ouw yang Seng Tek dan
menambahkan,
"Thian Ti Siang Mo, Ngo Kui, Cit Ti Sat, Kiu
Mo Li, Cit Ciat, Thian Sat, Thian Suan dan Ti Kie Sin Kun. Kalau
kita menyerbu ke sana, kita pasti menang."
"Tidak salah," sahut Se Khi.
"Tapi akan banyak yang jadi korban, sebab di
sana banyak jebakan. Maka lebih baik kita pertimbangkan baik-baik,
jangan mati konyol di sana."
"Betul." sambung cian Tak Suseng.
"Lebih baik kita tunggu pihak Kiu Thian mo
Kiong yang menyerbu ke mari, barulah kita membasmi mereka."
"Aku sependapat dengan cian Tak Suseng,"
ujar Swat San LoJin dan melanjutkan,
"Lagi pula Kiu Thian mo Cun itu memiliki
kepandaian yang amat tinggi sekali, siapa yang akan melawannya? "
"Giok Houw yang akan melawan Kiu Thian mo
Cun," sahut Pek Giok Houw.
"Kalau tidak, percuma Giok Houw belajar
ilmu-ilmu tingkat tinggi di Pulau Pelangi."
"Memang engkau yang harus melawannya, sebab
kepandaianmu di atas kami semua, tapi kita jangan menyerang ke
sana," ujar cian Tak suseng.
"Kita harus bersabar."
"Bersabar sampai kapan?" Pek Giok Houw
menggeleng-gelengkan kepala.
"Adik Houw, biar bagaimana pun kita harus
bersabar." se Fit Han menasehatinya.
"sebab rimba persilatan berada di tangan
kita, kalau kita bertindak gegabah, rimba persilatan pun pasti
hancur di tangan kita pula-"
"Betul" sambung cian Tak suseng.
"ohya Kok tidak kelihatan Ling Ling?"
"Dia berada di luar, tidak mau ikut dalam
rapat ini,"jawab Pek Giok Houw memberitahukan.
"Jadi bagaimana keputusan rapat ini?" tanya
ouw yang seng Tek.
"Kita lihat perkembangan selanjutnya,
setelah itu barulah kita berunding lagi," sahut swat san Lojin.
" Kalau begitu " ucapan ouw yang seng Tek-
terputus, karena melihat Ling Ling berlari-lari ke dalam.
"Lapor Lapor " serunya sambil menghampiri
Thian san Lolo.
"Guru, murid harus melapor"
"Engkau ingin melaporkan apa?"
"Tadi ketika murid jalan-jalan di luar,
mendadak mendengar suara yang amat halus." Ling Ling memberitahukan.
"suara, apa itu," tanya Thian san Lolo.
"Suara orang," sahut Ling Ling.
"siapa orang itu?" tanya swat san LoJin
tegang.
"Aku masih mengenali suara itu, lagi pula
orang itu pun memberitahukan bahwa dia adalah pendekar misterius "
"Apa?" swat san LoJin tertegun, begitu pula
Thian san Lolo dan lainnya.
"Dia berbicara denganmu?" tanya Thian san
Lolo.
"ya." Ling Ling mengangguk-
"Dia menggunakan ilmu menyampaikan suara,
menyuruh Ling Ling melapor ke dalam, bahwa pihak Kiu Thian mo Kiong
telah menambah kekuatan."
"Kiu Thian mo Kiong telah menambah
kekuatan?" Thian san Lolo mengerutkan kening.
"Ling Ling,jelaskanlah"
"Kiu Thian mo Cun mengundang beberapa tokoh
tua dari golongan sesat, mereka adalah Kai si Mo ong, Im si Lo Mo,
Pek Hoat Lo Thai dan Im san Lak yau" ujar Ling Ling dan menambahkan,
"Pendekar misterius menyuruh Ling Ling
melaporkan ini, dan dia pun menyuruh Ling Ling menyampaikan pesannya
"
"Apa pesannya?" tanya ouw yang seng Tek.
"Pesannya yakni kita jangan menyerbu ke Kiu
Thian mo Kiong,"jawab Ling Ling.
"Itu itu sungguh di luar dugaan," ujar swat
san Lo Jin.
"Takoh-tokoh tua sesat itu sudah hampir
tujuh puluh tahun mengasingkan diri, tapi kini justru muncul
membantu Kiu Thian mo Cun. Kita harus bagaimana?"
"Tentunya jangan menyerbu ke Kiu Thian mo
Kiong." sahut Cian Tak suseng.
"Tapi kita harus bersiap-siap, mungkin tidak
lama lagi pihak Kiu Thian mo Cun akan menyerbu ke mari."
"Kita bakal celaka kalau mereka menyerbu ke
mari," ujar swat san LoJin sambil mengeleng-gelengkan kepala.
"sebab kepandaian tokoh-tokoh tua sesat itu
amat tinggi, kita tidak bisa melawan mereka."
"Memang." se Khi manggut-manggut.
"Kepandaianku masih kalah setingkat
dibandingkan dengan kepandaian mereka. Kalau aku ditambah Liok Tay
Gan danBu siang seng, barulah bisa bertanding seimbang dengan Kai si
Mo ong."
"Aku dan Thian san Lolo seimbang dengan Im
si Lo Mo," sambung swat san LoJin,
"Itu berarti tiga lawan satu"
"Heran?" gumam se Pit Han mendadak-
"Kenapa pendekar misterius itu tidak bertemu
langsung dengan kita? Bukankah kita bisa berunding bersama?"
"Iya Kenapa dia tidak mau bertemu langsung
dengan kita?" ouw yang seng Tek menggaruk-Garuk kepala.
"Mungkin belum waktunya. Kalau sudah
waktunya dia pasti menemui kita," sahut Cian Tok suseng.
"Terus terang, hanya dia yang mampu melawan
Kiu Thian mo Cun, kita lawan yang lain," ujar swat san LoJin.
"Menurutku, pendekar misterius itu pasti
punya rencana sendiri. Maka dia tidak mau menemui kita," ujar se Pit
Ha n, kemudian bergumam lagi,
"Sebenarnya siapa dia? Kenapa mukanya harus
ditutup dengan kain?"
"Sama seperti Kiu Thian mo Cun, bukankah Kiu
Thian mo Cun juga memakai kedok iblis?" sahut Cian Tak suseng sambil
tersenyum.
"Mungkin pendekar misterius itu ingin
menyaingi Kiu Thian mo Cun."
"Tidak mungkin begitu" se Pit Han
mengernyitkan kening.
"Aku yakin pendekar misterius itu kenal
kita, dia menutup mukanya dengan kain agar kita tidak mengenalinya,
ohya, bagaimana suaranya?"
"Kakak se bertanya padaku?" tanya Ling Ling.
"ya-" se Pit Han mengangguk-
"Hanya engkau yang pernah mendengar
suaranya."
"Suaranya seperti suara anak muda, tapi
berubah parau dan serak," jawab Ling Ling memberitahukan.
"Tapi aku yakin dia bukan orang tua, sebab
tadi dia masih memanggilku nona."
"Heran?" ouw yang seng Tek menggaruk-garuk
kepala.
" Kalau aku bertemu dia, aku pasti berusaha
membuka kain penutup mukanya itu."
"Pengemis busuk" tegur cian Tak suseng.
"Kepandaianmu masih rendah, sebelum engkau
mendekatinya, engkau pasti sudah terpental."
"Eh? Engkau " Wajah ouw yang seng Tek
kemerah-merahan.
"Aku tidak menghinamu." Cian Tak suseng
tersenyum.
"Apakah engkau mampu membunuhjin Pin mo Kun,
Ling Ming Cun cia dan Ngo Tak Ceng Kun hanya dalam satu jurus?"
"Benar." ouw yang seng Tek tertawa gelak-
"Kalau aku dikeroyok mereka bertiga, mungkin
aku yang kalah-"
"Maka engkau jangan berkata seperti tadi
lagi" Cian Tak suseng tersenyum-
"Racun tua" ouw yang seng Tek masih tertawa.
"Aku tadi cuma bercanda."
" Kini pendekar misterius itu telah berpesan
begitu pada kita, maka kita pun harus bersabar, tidak usah menyerbu
ke Kiu Thian mo Kiong," ujar- swat san LoJin.
"oleh karena itu, perundingan kita cukup
sampai di sini."
se Pit Han yang duluan meninggalkan ruang
itu, langsung menuju halaman belakang Markas Kay Pang tersebut, lalu
duduk di bawah pohon sambil melamun.
Timbul pula suara harapan dalam benaknya,
yakni berharap pendekar misterius itu Pek Giok Liong, Ia tahu itu
tidak mungkin, tapi tetap berharap.
Tiba-tiba terdengar suara langkah, gadis itu
segera menoleh, ternyata Cian Tak suseng sedang menghampirinya.
"Cian Tak lo cianpwee" panggil se Pit Han.
"Nona se" Cian Tak suseng berdiri di
hadapannya.
"Kenapa engkau duduk melamun di sini?"
"Aku ?" se Pit Han menundukkan kepala.
"Engkau teringat pada Pek Giok Liong?" cian
Tak suseng menatapnya.
"ya." se Pit Han mengangguk perlahan.
"Aku aku tidak bisa melupakannya begitu
saja."
"Tapi Pek Giok Liong telah mati setahun
lebih " Cian Tak suseng menarik nafas panjang.
"Cian Tak lo cianpwee, aku berharap" se Pit
Han tidak melanjutkan ucapannya melainkan menggeleng-gelengkan
kepala.
"Apa yang engkau harapkan?"
"Aku berharap pendekar misterius itu Pek
Giok Liong."
"oh?" Cian Tak suseng menatapnya
dalam-dalam.
"Kenapa bisa timbul harapan itu?"
"Menurut Ling Ling, pendekar misterius itu
masih muda. Lagi pula dia selalu memakai topi rumput lebar dan
menutup mukanya dengan kain putih. Kenapa dia harus menutup mukanya
dengan kain? Tentunya ada sebab musababnya," jawab se Pit Han.
"Aku yakin kita mengenalnya, maka dia muncul
dengan muka ditutupi kain putih itu"
"Mungkin klta mengenalnya, namun" cian Tak
suseng menarik nafas lagi.
"Tidak mungkin dia Pek Giok Liong. Kalau dia
Pek Giok Liong, kenapa tidak mau menemui kita dan harus pula menutup
mukanya dengan kain?"
"Kalau tidak salah, muka Pek Giok Liong juga
terhantam pukulan Hek sim Tak Ciang, maka kemungkinan besar mukanya
telah rusak, sehingga dia muncul harus menutup mukanya dengan kain."
"Tapi dia telah terpukul kejurang, bagaimana
mungkin dia masih hidup?" ujar cian Tok suseng.
"si Kim Kong telah mencari mayatnya di dasar
jurang itu, tapi tidak ada. oleh karena itu, aku berkesimpulan bahwa
adik Liong masih hidup, bahkan berhasil pula mempelajari suatu ilmu
tinggi."
"Nona se, janganlah terlampau berharap" cian
Tak suseng menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menambahkan,
"Tapi aku pun berharap pendekar misterius
itu Pek Giok Liong."
"Kalau bertemu dengannya, aku pasti
mengenalinya, karena aku tahu jelas bagaimana sikapnya dan gerak
geriknya."
"Tapi dia sama sekali tidak mau memunculkan
diri di hadapanmu, bagaimana mungkin engkau bisa melihatnya?"
"Aku yakin dia masih akan muncul, maka aku
harus mengajari Ling Ling suatu akal, agar pendekar misterius itu
memperlihatkan dirinya."
"Nona se" Cian Tak suseng menggelengkan
kepala,
"Itu tidak gampang, lagipula engkau tidak
tahu kapan pendekar misterius itu akan memberi pesan pada Ling
Ling."
"Apa salahnya aku coba?" ujar se Pit Han
sambil tersenyum getir.
"Namun itu cuma merupakan suatu harapan.
Bagaimana mungkin pendekar misterius itu Pek Giok Liong?"
"Engkau boleh berharap, tapi jangan
terlampau yakin" Cian Tak suseng merasa kasihan dan simpati pada
gadis itu, tapi ia tidak bisa membuka rahasia tentang pendekar
misterius itu.
"ohya Cian Tak lo cianpwee, apakah lo
cianpwee bisa mengobati semacam penyakit?" tanya se Pit Han
mendadak-
"Kalau berkaitan dengan racun, tentunya aku
bisa mengobatinya," sahut Cian Tak suseng-
"Kenapa engkau bertanya itu, apakah dirimu
mengidap suatu penyakit yang berkaitan dengan racun?"
"sama sekali tidak- Maaf lo cianpwee" ucap
se Pit Han.
"Kalau orang mempelajari suatu ilmu, lalu
ilmu itu membuat orang itu mati syahwat, apakah lo cianpwee bisa
mengobatinya?"
"Aku tidak bisa,"jawab Cian Tak suseng
jujur.
"Nona se, siapa orang itu?"
"Aku boleh memberitahukan pada lo cianpwee,
tapi lo cianpwee harus tutup mulut. Bagaimana?" se Pit Han serius.
"Baik, aku berjanji" Cian Tak suseng
mengangguk-
"Dia adalah adik kembar Pek Giok Liong."
"Pek Giok Houw?"
"ya."
"Kenapa dia?"
"Dia ingin menuntut balas kakak Liong, maka
mengambil keputusan untuk belajar Bu Kek sin Kang dan semua ilmu
yang ada di dalam Kitab Ajaib- sebelumnya kami telah
memberitahukannya bagaimana akibatnya nanti, namun dia tetap
berkeras mau belajar ilmu-ilmu itu. Kini dia telah mati
syahwat.Justru tak terduga sama sekali, dia bertemu Ling Ling "
"Maksudmu Ling Ling amat mencintainya?"
"Betul."
"Bu Kek sin Kang dan ilmu yang di Kitab
Ajaib " gumam Cian Tak suseng-
"Ilmu-ilmu itu membuat orang mati syahwat?"
"Tidak salah-" se Pit Han menarik nafas
panjang-
"Aku amat kasihan pada mereka, kalau Ling
Ling tahu akan hal itu, entah apa jadinya?"
"Ling Ling sama sekali tidak tahu tentang
itu?" tanya Cian Tak suseng-
"sama sekali tidak tahu." se Pit Han
menggeleng-gelengkan kepala.
"Adik Houw telah berpesan pada kami
semua,Jangan memberitahukan pada Ling Ling dan gurunya, sebab
khawatir akan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan."
"Kalau begitu, kapan Giok Houw akan berterus
terang pada Ling Ling?"
"Setelah Kiu Thian mo Cun dibasmi, adik Houw
akan berterus terang pada Ling Ling."
"Aaakh " keluh Cian Tak suseng.
"sungguh kasihan mereka berdua itu"
-ooo00000ooo-
Kiu Thian mo Cun, Kai si Mo ong, Pek Hoat Lo
Thai, Im si Lo Mo, Im san Luk yau, Thian Ti siang Mo, Ngo Kui, Cit
Ti sat, Cit Ciat, Thian sat, Thian suan, ji Kie sin Kun dan Kiu Mo
Li sedang berunding di ruang dalam. Wajah mereka tampak serius,
pertanda mereka sedang merundingkan sesuatu yang amat penting.
"Aku pikir sudah waktunya kita menyerbu
markas Pusat Kay Pang" ujar Kiu Thian mo Cun.
"Bagaimana pendapat kalian?"
"Kini kekuatan kita sudah lebih dari cukup,
maka memang sudah waktunya kita menyerbu ke Markas Pusat Kay Pang
itu," ujar cit Ciat sin Kun. "Bagaimana menurut engkau, Kai si Mo
ong?" tanya Kiu Thian mo Cun.
"Prinsipku cuma membantu, kapan mau menyerbu
ke Markas Kay Pang, aku pasti setuju."
"Lebih cepat lebih baik," sambung Pek Hoat
Lo Thai.
"Jadi aku tidak usah terus terikat di sini."
"Benar," sahut Im si Lo Mo-
"Kami pun setuju." sela Im san Lak yau.
"Menurut pendapatku, untuk sementara ini
kita masih tidak perlu menyerbu ke sana secara besar-besaran" ujar
Thian mo-
"Engkau punya usul?" tanya Kiu Thian mo Cun.
"Aku memang punya usul." Thian mo
mengangguk.
"Beritahukaniah usulmu itu" Kiu Thian mo Cun
menatapnya.
"Mo Cun memilih beberapa orang untuk
menyelidiki ke sekitar Markas Pusat Kay Pang itu, kemudian
menyebarkan racun ganas di sana. Tentunya racun itu akan terbawa
angin ke dalam markas itu "
"Ha ha ha" Kiu Thian mo Cun tertawa gelak-
"Engkau memang cerdik Dengan cara itu, semua
orang yang ada didalam markas itu pasti terkena racun, setelah itu
barulah kita menyerbu ke sana. Maksudmu begitu kan?"
"Betul, Mo Cun." Thian mo mengangguk.
"Kalau begitu, aku harus memilih beberapa
orang untuk ke sana."
Kiu Thian mo Cun mulai menatap mereka satu
persatu, lalu memanggil. "Cit ciat, Thian sat, Thian sua n, Ti Kie,
Ngo Kui dan cit Ti sat
"Kami siap menerima perintah" sahut mereka
serentak sambil bangkit berdiri
"Nanti tengah malam, kalian berangkat ke
Markas Pusat Kay Pang untuk menyebarkan bubuk racun sebelumnya
kalian harus makan obat pemunahnya, setelah itu barulah kalian
berangkat."
"Ya," sahut mereka serentak sambil memberi
hormat.
"Sekarang kalian boleh kembali ke tempat
masing-masing," ujar Kiu Thian mo Cun.
"Terima kasih, Mo Cun" Mereka semua bangkit
berdiri, memberi hormat pada Kiu Thian mo Cun dan kembali ke tempat
masing-masing.
Malam harinya, Cit Ciat Sin Kun mengadakan
pengontrolan lagi. Ia berharap Pek Giok Liong akan mengirimkan suara
padanya. Ketika ia hampir mendekati pos pertama, di situ ia
mendengar suara yang amat halus.
"Ada berita penting untukku?"
"Nanti tengah malam, Kiu Thian mo Cun
mengutus kami bersama Ngo Kui dan cit Ti sat ke Markas Pusat Kay
Pang untuk menyebarkan bubuk racun. Ngo Kui dan cit Ti sat amat
kejam, harap Pek siauhiap membunuh mereka."
"Baiklah, terima kasih"
Menjelang tengah malam, tampak belasan orang
berada di- ruang dalam, Kiu Thian mo Cun duduk di kursi
kebesarannya.
"Mo Cun" ujar cit Ciat sin Kun.
"Kami sudah siap berangkat ke Markas Pusat
Kay Pang."
"Ng" Kiu Thian mo Cun manggut-manggut.
"Thian Mo, berikan mereka masing-masing
sebutir pil anti racun"
"ya, Mo Cun." Thian mo segera memberi mereka
masing-masing sebutir pil anti racun.
"Kalian harus makan obat itu dulu" pesan Kiu
Thian mo Cun.
"ya" sahut mereka serentak sambil makan obat
tersebut.
"Ti Mo Berikan mereka masing-masing
sekantong bubuk racun" Kiu Thian mo Cun memberi perintah pada Ti mo-
"ya, Mo Cun." Ti mo melaksanakan perintah-
"Mo Cun" ujar Kai si Mo ong mendadak-
" Itu perbuatan pengecut. Bukankah lebih
baik kita secara terang-terangan menyerbu ke sana?"
"Setelah mereka menyebarkan racun itu,
barulah kita menyerbu ke sana secara terang-terangan," sahut Kiu
Thian mo Cun.
"Kita mengadu otak dengan mereka, maka tiada
istilah pengecut dalam hal tersebut."
"Mo Cun berkepandaian yang amat tinggi,
kenapa harus menggunakan racun?" Pek Hoat Lo Thai menatapnya.
"Kalian harus tahu, racun itu tidak akan
mematikan mereka, tapi cuma membuat mereka kehilangan tenaga." Kiu
Thian mo Cun memberitahukan,
"Itu pun perbuatan tak terpuji, boleh
dikatakan licik," sahut Im si Lo Mo-
"He he he" Kiu Thian mo Cun tertawa
terkekeh-kekeh.
"Apakah kalian pendekar sejati? Tujuh puluh
tahun yang lampau, bukankah kalian juga sering membunuh? Kenapa
sekarang kalian malah berani menasehatiku? ciuru-guru kalian masih
tidak berani menasehatiku, maka lebih baik kalian diam"
"Mo Cun kenal guru kami?" tanya Im san Lak
ya u mendadak.
"Tentu kenal. Kalau tidak, bagaimana mungkin
aku tahu kalian harus tunduk pada lencanaku?" sahut Kiu Thian mo Cun
dan menambahkan,
"Guru kalian adalah Tang shia (si sesat Dari
Timur), kan?"
Im san Lak yau terkejut, sebab tiada seorang
bu limpun yang mengetahui julukan guru mereka, namun Kiu Thian mo
cun mengetahuinya, apakah benar dia Kiu Thian mo Cun?
"Aku pun kenal guru Kai si Mo ong, Pek Hoat
Lo Thai dan Im siLo Mo, tidak lain adalah si shia (si sesat Dari
Barat), Lamshia (si sesat Dari selatan) dan pak shia (si sesat Dari
utara). Tidak salah kan?" ujar Kiu Thian mo Cun dan melanjutkan,
"Nama mereka berempat sejajar dengan nama
Mei Kuei Ling cu?"
Kai si Mo ong, Pek Hoat Lo Thai dan Im si Lo
Mo terperanjat bukan main, karena Kiu Thian mo Cun mengetahui
julukan guru mereka. Kalau begitu, orang berkedok iblis itu benar
Kiu Thian mo Cun.
"Maka kalian " tambah Kiu Thian mo Cun
dengan suara dingin-
"Jangan macam-macam di hadapanku guru-guru
kalian pernah bertanding denganku, dan maju semua, tapi mereka cuma
kuat bertahan sampai seratus jurus, setelah itu, mereka berempat
roboh di tanganku-"
"Haah?" Mulut mereka ternganga lebar. Pantas
guru mereka memberi amanat, apabila melihat lencana Kiu Thian mo
Cun, mereka harus tunduk-
"Ngo Kui, Cit Ti sat, kalian semua boleh
berangkat sekarang" Kiu Thian mo Cun memberi perintah-
"ya, Mo Cun." Mereka menjura, lalu
berangkat.
Di tengah jalan, mendadak mereka mendengar
suara tawa yang amat menusuk telinga, tentunya amat mengejutkan Ngo
Kui dan cit Ti sat.
"siapa?" bentak Taa Tauw Kui (setan Kepala
Besar).
Tiada sahutan, namun suara tawa itu masih
terus bergema, maka membuat mereka bersiap-siap menghadapi segala
kemungkinan.
"Hei Cepat keluar" bentak Ti sat gusar,
"jangan bersembunyi "
Mendadak melayang turun sosok bayangan,
memakai topi rumput lebar dan mukanya ditutup dengan kain putih.
"Pendekar misterius."
"Hah? Pendekar misterius"
Mereka kaget, sementara Cit Ciat, Thian sat,
Thian suan dan Ti Kie sin Kun pun berpura-pura terkejut.
"Engkau pendekar misterius?" Cit Ciat sin
Kun menudingnya.
"Ha ha ha" Pendekar misterius tertawa gelak-
"Aku muncul, kalian pasti mati"
"Pendekar misterius, jangan sombong" bentak
Toa Tauw Kui.
"Malam ini engkau yang mampus"
"Hmm" dengus pendekar misterius dingin-
"Kalian boleh maju semua, dalam sepuluh
jurus kalian pasti mati"
"Baiklah-" Toa Tauw Kui manggut-manggut.
"Mari kita serang dia"
seketika juga Ngo Kui dan cit Ti sat
menyerang pendekar misterius dengan jurus maut. Cit Ciat, Thian sat,
Thian suan dan Ti Kie sin Kun juga ikut menyerang.
Pek Giok Liong tertawa panjang sambil
berkelit secepat kilat. Tak terasa Ngo Kui dan Cit Ti sat telah
menyerangnya lima jurus, namun pendekar misterius itu masih tertawa
panjang sambil berkelit ke sana ke mari.
Hal itu membuat Ngo Kui dan cit Ti sat,
penasaran sekali, mereka saling memandang dengan suatu syarat.
Mendadak mereka merogoh ke dalam baju, ternyata mereka mengambil
bubuk racun yang ada di dalam kantong, secepat kilat mereka
menghamburkan bubuk racun itu ke arah pendekar misterius.
Betapa terkejutnya Cit Ciat, Thian sat,
Thian suan dan Ti Kie sin Kun, bahkan saking terkejutnya mereka
berdiri terpaku di tempat.
"Hmm" dengus pendekar misterius dingin-
"Racun itu tak berarti bagiku"
Ia membiarkan bubuk racun itu berhambur ke
arah badannya- Ngo Kui dan cit Ti sat girang bukan main, mereka
yakin pendekar misterius itu akan kehilangan tenaganya.
"He he he" Taa Tauw Kui tertawa terkekeh.
"Pendekar misterius Engkau telah terkena
bubuk racun, tenagamu pasti hilang"
"Ha ha ha" Pendekar misterius tertawa gelak-
"Kini sudah saatnya kalian mati"
Tiba-tiba pendekar misterius berkelebat ke
sana ke mari, seketika juga terdengar suara jeritan yang menyayat
hati-"Aaakh" "Aaaakh"
Dalam waktu yang begitu singkat, Ngo Kui dan
cit Ti sat telah tergeletak tak bernyawa lagi.
"Pek siauhiap" Cit Ciat sin Kun terbelalak-
"Aku kebal terhadap racun ganas apa pun."
Pendekar misterius memberitahukan.
"Oooh" Cit Ciat sin Kun manggut-manggut.
"Pek siauhiap, kami"
"Maaf" ucap pendekar misterius.
"Aku harus melukai kalian sampai parah
sekali. Kalau tidak, Kiu Thian mo Cun pasti bercuriga-"
"Ya." Cit Ciat sin Kun mengangguk-
Pendekar misterius segera mengibaskan
tangannya, Cit ciat, Thian sat, Thian suan dan Ti Kie sin Kun pun
menjerit seketika dengan mulut memuntahkan darah segar.
"Maaf" ucap pendekar misterius-
"Ti...tidak apa-apa" ujar cit Ciat Sin Kun
lemah-
"Kalau kami tidak terluka parah, Kiu Thian
mo Cun pasti bercuriga, terutama Thian Ti siang mo-"
"Kalian harus mengarang cerita bohong, bahwa
aku telah terkena bubuk racun itu. Kalau tidak- kalian pasti telah
dibunuh."
"ya."
"Dan juga " tambah pendekar misterius.
"Aku tidak bisa berikan kalian obat, itu
agar tidak menimbulkan kecurigaan Kiu Thian mo cun, lagi pula kalian
pun boleh beristirahat karena terluka parah, maka Kiu Thian mo Cun
tidak akan memberi perintah lagi pada kalian."
"Tapi bukankah aku tidak bisa memberi berita
lagi ?"
"Itu tidak jadi masalah, sebab setelah
kejadian ini, Kiu Thian mo Cun pasti menyerbu ke Markas Pusat Kay
Pang." usai berkata begitu, pendekar misterius pun melesat pergi
secepat kilat.
Cit Ciat, Thian sat, Thian suan dan Ti Kie
sin Kun melangkah ke dalam Kiu Thian mo Kiong dengan badan
sempoyongan, mulut mereka masih mengalirkan darah segar, akhirnya
mereka terkulai.
Pada waktu bersamaan, muncul Kiu Thian mo
Cun, Thian Ti siang mo, Kai si Mo ong, Pek Hoat Lo Thai, Im si Lo
Mo, Im san Lak yau dan Kiu Mo Li-
"Apa yang telah terjadi?" tanya Kiu Thian mo
Cun mengguntur.
"Kami kami bertemu pendekar misterius ,"
sahut Cit Ciat Sin Kun dengan muka pucat pias, dan memuntahkan darah
segar. "uaakh "
"Pendekar misterius?" Kiu Thian mo Cun
tampak murka sekali.
"Di mana Ngo Kui dan cit Ti sat?"
"Mereka mereka telah mati" sahut Cit Ciat
sin Kun.
"Apa?" sekujur badan Kiu Thian mo Cun
bergemetar saking gusarnya.
"Mereka telah dibunuh pendekar misterius
itu?"
"ya." Cit Ciat sin Kun mengangguk-
"Tapi dia juga terkena bubuk racun yang kami
hamburkan ke arahnya-"
"Dia langsung kabur." tambah Thian sat sin
Kun, kemudian memuntahkan darah segar. "Uakhh "
"Kalau tenaga dalamnya tidak berkurang, kami
pun pasti telah mati," sambung Thian suan sin Kun.
"Kai si Mo ong, kalian boleh kembali ke
kamar" ujar Kiu Thian mo Cun pada Kai si Mo ong, Pek Hoat Lo Thai,
Im si Lo Mo dan Im san Lak yau.
"Ya, Mo Cun." Mereka menjura lalu segera
meninggalkan tempat itu.
"Kiu Mo Li, kalian bawa mereka ke kamar" Kiu
Thian mo Cun memberi perintah-
"Ya" sahut Kiu Mo Li. Mereka lalu memapah
Cit Ciat, Thian sat, Thian suan dan Ti Kie sin Kun ke dalam.
"Thian Ti siang mo, kok kalian masih berdiri
di sini?" tanya Kiu Thian mo Cun karena melihat Thian Ti siang mo
masih belum beranjak dari situ.
"Maaf, kami ingin bicara sejenak dengan mo
Cun?" jawab Thian mo sambil memberi hormat.
"Tentang kejadian itu?" Kiu Thian mo Cun
menatap mereka.
"Ya," Thian mo mengangguk.-
"Ada sesuatu terganjel dalam hati kalian
mengenai kejadian itu?" tanya Kiu Thian mo Cun serius.
"Betul, Mo Cun." Thian mo mengangguk lagi.
"Utarakanlah"
"Kejadian di yang wie Kiong, mereka berempat
tidak mati, kali ini mereka pun cuma terluka parah "
"Engkau mencurigakan sesuatu?"
"ya, sebab aku masih merasa heran, kenapa
pendekar misterius itu bisa tahu mereka mau berangkat ke Markas
Pusat Kay Pang?"
"Maksudmu ada mata-mata di dalam Kiu Thian
mo Kiong?"
"Aku memang bercuriga begitu"
"Cit Ciat, Thian sat, Thian suan dan Ti Kie
sin Kun itu?"
"Betul." Thian mo mengerutkan kening.
"sebab cuma Ngo Kui dan cit Ti sat yang
mati, kenapa mereka hanya terluka?"
"Mereka telah bilang, pendekar misterius itu
terkena bubuk racun yang mereka bawa itu, sehingga membuat tenaga
dalam pendekar misterius jadi berkurang, maka dia segera kabur."
"Itu kata mereka" ujar Thian mo-
"oleh karena itu, aku punya usul."
"Apa usulmu?"
"Mo Cun harus memeriksa luka-luka mereka,
betulkah mereka terluka parah atau cuma berpura-pura."
"Ng" Kiu Thian mo Cun manggut-manggut.
"Baiklah Mari Kita ke kamar mereka, aku akan
memeriksa mereka secara seksama"
Kiu Thian mo Cun dan Thian Ti siang mo
segera menuju kamar tersebut. Cit Ciat, Thian sat, Thian suan dan Ti
Kie sin Kun berbaring di tempat tidur sambil merintih-rintih.
"Mo Cun " ucap Cit Ciat sin Kun ketika
melihat Kiu Thian mo Cun menghampirinya.
"Maaf, kami kami tidak kuat bangun untuk
memberi hormat."
"Tidak apa-apa." Kiu Thian mo Cun menatap
mereka satu persatu.
"Aku dan Thian Ti siang mo ke mari untuk
memeriksa luka kalian."
"Terima kasih, Mo Cun" ucap Cit Ciat sin
Kun.
Kiu Thian mo Cun mulai memeriksa Cit Ciat
sin Kun, Thian Ti siang Mo juga ikut memeriksa Thian sat, Thian suan
dengan sikap penuh perhatian.
Akan tetapi, Cit Ciat sin Kun dan lainnya
sudah tahu, bahwa Kiu Thian mo Cun dan Thian Ti siang mo mulai
bercuriga terhadap mereka berempat. Kalau Pek Giok Liong tidak
melukai mereka hingga begitu parah, tentunya
"Kalian betul-betul terluka parah, harus
segera makan obat" ujar Kiu Thian mo Cun.
"Kalian berempat harus beristirahat tiga
bulan, barulah bisa sembuh luka kalian itu."
"Terima kasih" ucap Cit Ciat sin Kun.
"Kalian beristirahatlah" ujar Thian Ti siang
Mopada Thian Sat, Thian Suan dan Ti Kie sin Kun.
"Terima kasih" ucap mereka bertiga serentak-
Kiu Thian mo Cun dan Thian Ti siang mo
meninggalkan kamar itu, kening Thian Ti sia Mo ampak berkerut-kerut.
"Memang parah sekali luka dalam mereka itu,"
ujarnya Thian mo-
"Kalau mereka tidak memiliki Iwee kang
tinggi, nyawa mereka sudah melayang."
"Benar." Kiu Thian mo Cun manggut-manggut.
"Karena itu, aku yakin mereka tidak
bersekongkol dengan pendekar misterius."
"ya" sahut Thian mo- "Maaf, aku telah
mencurigai mereka"
"Tidak apa-apa," ujar Kiu Thian mo Cun dan
bertanya,
"Kalian punya usul apa setelah kejadian
itu?"
"Begini" Ti Mo tampak serius-"untuk
mengetahui pendekar misterius itu terkena bubuk racun itu atau
tidak. Mo Cun harus memerintah belasan orang berkepandaian tinggi
membantai para murid Kay Pang di beberapa tempat. Kalau pendekar
misterius itu tidak muncul, berarti Iwee kangnya memang telah
hilang. Di samping itu, juga memancing emosi pihak Kay Pang pusat,
agar mereka menyerbu ke mari."
"Bagus Bagus" Kiu Thian mo Cun tertawa
gelak-
"Usulmu memang luar biasa"
Bagian ke 64: Pembantaian.
Para murid Kay Pang yang di beberapa tempat,
mulai mengalami bencana, mereka di bunuh oleh orang-orang
berkepandaian tinggi dari golongan hitam, sudah puluhan murid Kay
Pang terbunuh, sehingga membuat Tetua dan Ketua Kay Pang gusar
sekali.
"siapa yang perintahkan mereka membantai
para murid Kay Pang?" wajah ouw yang seng Tek merah padam saking
murkanya.
"Paman pengemis, aku menduga itu pasti
perintah dari Kiu Thian mo Cun," sahut se Pit Han.
"Kalau begitu, kita harus segera menyerang
Kiu Thian mo Kiang, membuat perhitungan dengan Kiu Thian mo Cun"
"Sabar, pengemis bau" ujar se Khi-
"Kita harus berpikir dengan kepala dingin,
jangan cepat emosi"
"Bukan cuma emosi, kemarahanku telah
meledak-" sahut ouw yang seng Tek dengan nafas memburu saking
marahnya.
"Aku yakin" ujar se Pit Han dan melanjutkan,
"Kiu Thian mo Cun bertindak begitu, tidak
lain untuk memancing kita, agar menyerbu ke sana."
"Begitu" Swat San LoJin manggut-manggut-
"Aku pun berpendapat begitu-"
"Lalu kita harus bagaimana?" ouw yang seng
Tek berjalan mondar-mandir.
"Apakah kita harus membiarkan mereka terus
membantai para murid Kay Pang?"
"Beri perintah pada semua pimpinan cabang,
untuk sementara ini mereka harus bersembunyi," sahut Thian san Lolo.
"Itu" ouw yang seng Tek berpikir lama
sekali, setelah itu ia mengangguk dan berkata pada Ketua Kay Pang.
" Cepat laksanakan perintah itu" katanya.
"ya" Ketua Kay Pang segera pergi.
"Aaakh " Keluh ouw yang seng Tek-
"Sudah puluhan murid Kay Pang terbunuh "
"Kalau sudah waktunya, kami pasti membantai
pihak Kiu Thian mo Kiong juga," ujar Thian san Lolo.
"Tapi kapan?" ouw yang seng Tek
menggeleng-gelengkan kepala.
"Kita bersabar dan terus bersabar, akhirnya
murid-murid Kay Pang yang jadi korban."
"Karena telah bersabar, maka harus bersabar
lagi" ujar Cian Tak Suseng.
"ohya" swat san LoJin teringat sesuatu.
"Belum lama ini pendekar misterius itu
membunuh Ngo Kui dan cit Ti sat, itu berarti kekuatan Kiu Thian mo
Kiong jadi berkurang. Tapi kenapa pendekar misterius itu menghilang
lagi?"
"Itu memang mengherankan." se Khi
menggeleng-gelengkan kepala.
"Mungkin," sela cian Tak suseng.
"Dia pun tidak berani menyerang Kiu Thian mo
Kiong, sebab banyak jebakan maut di sana. oleh karena itu, dia
menunggu mereka keluar dari Mo Kiong itu, barulah membunuh mereka."
"Kepandaiannya begitu tinggi, kenapa harus
takut ke Kiu Thian mo Kiong?" Pek Giok Houw mengernyitkan kening.
"Dia tidak takut," ujar Cian Tak suseng.
"Melainkan berpikir panjang. Kita harus
tahu, walau memiliki kepandaian tinggi, kalau sudah masuk kedalam
jebakan, kepandaian tinggi itu pun sudah tiada gunanya."
"Aku kurang percaya," sahut Pek Giok Houw-
"Giok Houw" Cian Tok suseng tersenyum.
"Seandainya engkau masuk ke sebuah jebakan
berupa kolam yang amat dalam, dinding-dinding kolam itu pun licin
sekali, nah, apa yang harus engkau lakukan?"
"Berusaha melompat ke atas," jawab Pek Giok
Houw.
"seandainya bagian atas telah tertutup?"
Cian Tok suseng menatapnya.
"Aku akan menghancurkan dinding kolam itu
dengan pukulan," sahut Pek Giok Houw.
"Apa yang akan terjadi kalau dinding kolam
itu terbuat dari baja yang amat tebal?" tanya Cian Tok suseng lagi.
"Aku" Pek Giok Houw tergagap.
"Lalu mendadak dinding kiri kanan kolam itu
bergerak merapat, sedangkan engkau berdiri di tengah-tengah, apa
akan terjadi?" cian Tok suseng melirik ouw yang seng Tek-
"Tentunya aku pasti mati terjepit,"jawab Pek
cjiok Houw sambil menundukkan kepala.
"Kiu Thian mo Kiong telah dilengkapi dengan
berbagai jebakan maut, kalau kita menyerang ke sana, sama juga
mengantar diri untuk mati- Maka sebelum kita melakukan penyerangan
ke sana, pikirkanlah baik-baik dan seksama jangan sampai mati
sia-sia di sana," ujar cian Tok suseng.
"Benar-" swat san Lo Jin manggut-manggut.
"Pihak Kiu Thian mo Kiong tidak menyerbu ke
mari, kita pun tidak menyerang ke sana, jadi bagaimana selanjutnya?"
ouw yang seng Tek menggeleng-gelengkan kepala-
"Apakah masing-masing pihak terus menerus
saling menunggu?"
"Pengemis bau" Se Khi tertawa.
"Engkau harus tahu, Kiu Thian mo Cun tidak
akan sesabar kita, percayalah"
"Maksudmu?" tanya ouw yang Seng Tek.
"Dia ingin membasmi kita, tentunya tidak
dapat bersabar lama untuk menunggu kita menyerang ke sana. Aku yakin
tidak lama lagi mereka pasti menyerbu ke mari. Maka kita harus
bersiap-siap menyambut serangan mereka." jawab se Khi.
"Betul." Swat San LoJin manggut- manggut dan
menambahkan,
"Kita harus memperhitungkan kekuatan mereka
dengan kekuatan kita Kekuatan mereka terdiri dari Kiu Thian mo Cun,
Thian Ti Siang Mo, Kai Si Mo ong, Pek Hoat Lo Thai, Im Si Lo Mo, Im
San Lak yau, Kiu Mo Li dan puluhan orang-orang berkepandaian tinggi
dari golongan hitam. sedangkan dari pihak kita yakni Pek Giok Houw,
Thian San Lolo, Cian Tak Suseng, Se Khi, Se Pit Han, Thian Koh Sing,
Thian Kang Sing, Si Kim Kong, lima pelindung pulau. Giok Cing, Giok
Ling, Pat Kiam, Thiat Jiau Kou Hun, Hek Ai Lan, Ling Ling dan aku.
Kalau dihitung jumlah orang-orang dari pihak kita memang lebih
banyak, tapi pihak sana rata-rata berkepandaian yang amat tinggi.
Seandainya terjadi pertarungan, akibatnya tidak dapat dibayangkan."
"Cepat atau lambat pasti terjadi," ujar
Thian San Lolo dan menambahkan,
"Terhadap Kai Si Mo ong, Pek Hoat Lo Thai,
Im Si Lo Mo dan Im San Lak yau, itu harus dua lawan satu. Kalau
tidak, kita pasti kalah, sebab kepandaian mereka tinggi sekali."
"Pek Giok Houw melawan Kiu Thian mo Cun, aku
masih ragu" Se Pit Han menarik nafas panjang.
" Kakak Han" Pek Giok Houw tersenyum getir.
"Pokoknya aku akan mati bersama Kiu Thian Mo
Cun."
" Kakak Houw " seru Ling Ling tak tertahan
sambil menatapnya cemas.
"Ling Ling " Pek Giok Houw
menggeleng-gelengkan kepala.
"Heeei" teriak ouw yang seng Tek mendadak
sambil melototi swat san Lojin.
" Kenapa barusan engkau tidak menyebut
namaku dan Ketua Kay Pang? Apakah kami tidak masuk hitungan?"
"Kalian berdua pemeran utama, tentunya aku
tidak perlu menyebut nama kalian berdua," sahut swat san LoJin
sambil tertawa.
"Aku justru masih merasa heran, kenapa
pendekar misterius itu muncul dan hilang mendadak, lagipula kenapa
dia tidak mau bergabung dengan kita?" ujar se Pit Han bergumam.
"Alangkah baiknya kalau dia bergabung dengan
kita" sahut swat san LoJin, dan ia pun bergumam.
"Tapi dia berada di mana sekarang?"
Padahal sesungguhnya, Pek Giok Liong sudah
tahu tentang pembantaian tersebut. Tapi ia tidak mau turun tangan
memhunuh para pembunuh itu, sebab ia dapat menerka tujuan Kiu Thian
mo Cun, tidak lain ingin mengetahui dirinya terkena racun atau
tidak, juga ingin memancing emosi pihak Kay Pang. Kalau ia membunuh
para pembunuh itu, pertanda dirinya tidak terkena racun, Ia tidak
memunculkan diri membunuh mereka, tentunya membuat Kiu Thian mo Cun
yakin bahwa dirinya telah terkena racun, oleh karena itu,
kemungkinan besar pihak Kiu Thian mo Kiong akan menyerang ke Markas
Pusat Kay Pang.
-ooo00000ooo-
Pek Giok Houw duduk di bawah pohon, tampak
seakan sedang memikirkan sesuatu, karena keningnya terus
berkerut-kerut.
"Kakak Houw " Muncul Ling Ling
menghampirinya.
"Kok melamun di situ?"
"Ling Ling " Pek Giok Houw memandangnya.
"sedang memikirkan apa sih. Kakak Houw?"
tanya Ling Ling sambil duduk di sisinya.
"Aku sedang berpikir, kapan akan terjadi
pertarungan itu," jawab Pek Giok Houw.
"Aku harus membunuh Kiu Thian mo Cun."
" Kakak Houw, aku aku jadi takut." Ling Ling
menggenggam tangannya erat-erat.
"Takut apa?"
"Seandainya engkau yang terbunuh, aku aku
pun tidak bisa hidup,"
"Ling Ling" Pek Giok Houw menatapnya sambil
tersenyum getir-
"Jangan berkata begitu seandainya aku mati,
engkau harus hidup"
"Tidak" Mata Ling Ling mulai basah-
"Pokoknya harus aku ikut mati"
"Ling Ling "
"Kakak Houw" Ling Ling terisak-
"Beberapa malam ini, aku sering bermimpi
buruk"
"Ling Ling, itu karena pikiranmu kacau,"
ujar Pek Giok Houw Lembut.
"Janganlah engkau banyak berpikir"
"Kakak Houw, aku aku takut" Ling Ling
memeluknya erat-erat.
"Aku tidak mau kehilanganmu"
Sementara Se Pit Han juga duduk termangu di
dalam kamar, sepasang matanya terus menatap lurus ke depan.
"Nona" Giok cing mendekatinya.
"Jangan terus melamun, itu akan mengganggu
kesehatanmu"
"Giok Cing" sePit Han menatapnya.
"Bagaimana menurut pandanganmu mengenai
pendekar misterius?"
"Dia memang misterius dan berkepandaian amat
tinggi," jawab Giok Cing.
"Bagaimana dugaanmu tentang dia?" tanya se
Pit Han.
"Maksud Nona?" Giok Cing tercengang.
"Menurut dugaanmu kira-kira siapa dia?"
"Nona" Giok Cing mengernyitkan kening.
"Aku tidak pernah bertemu dengannya, maka
tidak bisa menduga siapa dia"
"Apa sebabnya dia menutup mukanya dengan
kain? Kenapa dia tidak mau bergabung dengan kita dan tidak mau
menemui kita?"
"Mungkin dia ingin bergerak sendiri"
"Menurutku, tidaklah begitu," ujar se Pit
Han sambil mengerutkan kening.
"Dia pasti kenal kita, kita pun mengenalnya,
oleh karena itu, dia tidak mau bergabung maupun menemui kita. Dia
khawatir kita mengenalinya, kalau bukan karena itu, kenapa dia
menitip pesan pada Ling Ling dengan ilmu menyampaikan suara?
Bukankah dia bisa langsung menemui swat san LoJin?"
"Tapi swat san LoJin, Thian san Lolo dan
Ling Ling pernah melihatnya, hanya mereka sama sekali tidak tahu
siapa dia."
"Engkau harus tahu, mereka tidak begitu
dekat dengan adik Liong, jadi merasa sama sekali tidak tahu jelas
bagaimana sikap dan gerak-gerik adik Liong "
"Nona menduga pendekar misterius itu Pek
Giok Liong?" tanya cilik Cing terbelalak.
"Ya." se Pit Han mengangguk-
"Nona" Giok Cing menggeleng-gelengkan
kepala-
"Pek Giok Liong sudah mati setahun lebih,
maka tidak mungkin pendekar misterius itu Pek Giok Liong."
" Kalau pendekar misterius itu orang lain,
kenapa dia harus menutup mukanya dengan kain?"
"Itu " cilik Cing mengernyitkan kening.
"Pendekar misterius itu menutup mukanya
dengan kain, tentunya punya suatu sebab." ujar se Pit Han.
"Mungkin mukanya telah cacat."
"oh?" Giok Cing menatap se Pit Han sambil
menarik nafas panjang.
"Nona terlampau memikirkan Pek Giok Liong "
"Terus terang, aku tidak percaya nasibnya
begitu buruk, mati secara mengenaskan dan tanpa kuburan."
"Nona " Giok Cing menggeleng-gelengkan
kepala.
"Giok Cing, maukah engkau membantuku?" tanya
se Pit Han mendadak-
"Katakanlah Nona, apa yang dapat
kubantu?"jawab Giok Cing dan merasa heran, kenapa se Pit Han minta
bantuannya
"Aku ingin pergi cari pendekar misterius
itu"
"Apa?" Giok Cing terbelalak,
"Itu itu tidak boleh."
"Giok Cing "
"Kalau Nona pergi, aku pasti bunuh diri,"
ujar Giok Cing sungguh-sungguh.
"Sebab ketika mau berangkat, tocu telah
berpesan padaku dan Giok Ling, harus baik-baik menjaga Nona "
"Aku pergi tidak akan lama, lagi pula "
"Tidak bisa" potong Giok Cing.
"Kalau Nona pergi, aku dan Giok Ling pasti
bunuh diri."
"Betul," sahut Giok Ling yang baru masuk ke
kamar.
"Kalau Nona berkeras mau pergi, kami berdua
pasti bunuh diri."
"Kalian" Se Pit Han menarik nafas panjang.
"Kalian berdua sama sekali tidak
merasa kasihan padaku."
"Nona" ujar Giok Ling.
"Tidak usah sedig, pendekar misterius pasti
akan muncul."
"Betul," sambung Giok Cing.
"Dia telah membunuh Ngo Kui dan cit Ti Sat,
otomatis Kiu Thian mo Cun tidak akan melepaskannya."
"ohya" Tiba-tiba Se Pit Han teringat
sesuatu.
"Pendekar misterius itu cuma membunuh
orang-orang dari Kiu Thian m o Kiong, itu berarti dia punya dendam
pada Kiu Thian mo Cun"
"Maksud Nona pendekar itu Pek Giok Liong?"
tanya Giok Ling.
"ya." Se Pit Han mengangguk.
"Aku yakin pendekar misterius itu Pek Giok
Liong."
"Itu" Giok Ling berpikir keras, kemudian
manggut-manggut.
"Nona, kalau dipikirkan secara mendalam,
memang masuk akal pendekar misterius itu Pek Giok Liong. Dia menutup
mukanya dengan kain dan tidak mau menemui Nona, aku duga wajahnya
pasti ada masalah-"
"Benar." se Pit Han manggut-manggut dan
tampak bersemangat.
" Aku pun yakin wajahnya telah rusak, maka
dia merasa malu bertemu kita."
"Masuk akal," ujar Giok Cing.
"sebab ketika mengobati Pek Giok Houw, dia
cuma bicara dengan Ling Ling, bahkan dengan ilmu menyampaikan suara,
Itu berarti dia tidak menghendaki swat san Lo Jin mendengar
suaranya.. khawatir swat san Lo lin mengenali suaranya."
"Kalau benar begitu, adik Liong sungguh
salah-" se Pit Han menarik nafas panjang.
" Walau wajahnya rusak, aku aku tetap
mencintainya."
"Nona" Giok Ling menatapnya.
"sekarang wajah Pek Giok Liong rusak tidak
karuan, apakah Nona masih mencintainya?"
"Tentu" se Pit Han mengangguk-
"Tidak merasa jijik?" tanya Giok Ling lagi.
"sama sekali tidak," jawab se Pit Han pasti.
"Ha ha ha" Terdengar suara tawa di luar. se
Pit Han, Giok Cing dan Giok Ling seoera menoleh, mereka melihat Cian
Tak suseng berdiri di dekat pintu.
"cian Tak lo cianpwee" panggil se Pit Han.
"silakan masuk"
"Tidakkah mengganggu percakapan kalian?"
tanya Cian Tak suseng serius sambil menatap se Pit Han dalam-dalam.
"Masih bilang begitu," sahut Giok Cing
cemberut.
"Cian Tak lo cianpwee pasti telah mendengar
pembicaraan kami."
"Tidak salah-" Cian Tok suseng tertawa
sambil melangkah ke dalam lalu duduk.
"Kalian bertiga sama-sama menduga bahwa
pendekar misterius itu Pek Giok Liong yang telah mati itu?"
"Kami menduga begitu, pertanda Pek Giok
Liong belum mati," ujar Giok Ling.
" Kalau dipikir-pikir dan di renungkan,
memang masuk akal pendekar misterius itu Pek Giok Liong, sebab dia
begitu menaruh perhatian pada pihak kita."
"Betul." se Pit Han mengangguk dan tampak
semakin bersemangat,
"ohya" wajah Cian Tok suseng tampak serius.
"Aku ingin bicara empat mata denganmu"
" Kalau begitu " se Pit Han memandang Giok
Cing dan Giok Ling.
"Nona, kami ke depan saja," ujar Giok Cing,
lalu segera mengajak Giok Ling meninggalkan kamar itu.
"cian Tok lo cianpwee mau bicara apa
denganku?" tanya se Pit Han heran,
"sebelum aku mulai bicara, engkau harus
bersumpah dulu," sahut Cian Tok suseng.
"Aku harus bersumpah apa?" tanya se Pit Han.
"Engkau harus bersumpah, tidak akan
memberitahukan apa yang kukatakan pada siapa pun," jawab Cian Tok
suseng.
"Baiklah-" se Pit Han bersumpah, setelah itu
ia menatap Cian Tok suseng.
"Aku sudah bersumpah, silakan lo cianpwee
katakan"
"Ngmm" Cian Tok Suseng manggut-manggut.
"Nona se, tahukah engkau siapa yang
menyuruhku bergabung dengan Partai Kay Pang?"
"Jadi " se Pit Han tercengang. "Lo cianpwee
bergabung di sini bukan atas kehendak sendiri, melainkan disuruh
orang?"
"Engkau tahu kan? setelah Pek Giok Liong
berhasil membalas dendam kedua orang tuanya, aku pun kembali ke
tempatku dan sama sekali tidak mencampuri segala urusan rimba
persilatan lagi. Maka apa yang telah menimpa diri Pek Giok Liong,
aku tidak mengetahuinya "Lanjut Cian Tak suseng.
"Akan tetapi, pada suatu hari ketika aku
sedang asyik meniup seruling di pinggir kali, mendadak muncul
seseorang "
"siapa orang itu?"
Cian Tak suseng tidak menjawab, melainkan
melanjutkan penuturannya sambil menatap se Pit Han.
" orang itu memakai topi rumput lebar dan
menutup mukanya dengan kain putih "
"Pendekar misterius" seru se Pit Han
tertahan.
"ya." Cian Tak suseng mengangguk-
" orang itu memang pendekar misterius, dia
mengaku dirinya utusan Kiu Thian mo Cun "
"Hah? Apa?" se Pit Han terbelalak-
"Dia mengaku dirinya utusan Kiu Thian mo
Cun?"
"Benar, kemudian dia pun menceritakan
keadaan rimba persilatan yang telah dikuasai Kiu Thian mo Cun,
bahkan juga memberitahukan tentang Pek Giok Liong yang terpukul ke
jurang oleh Kiu Thian mo Cun, itu sungguh mengejutkanku."
"oh?" se Pit Han mengernyitkan kening.
"Dia menemuiku dengan maksud menarik diriku
untuk bergabung dengan Kiu Thian mo Kiong "
"Tapi lo cianpwee kok malah bergabung di
sini?"
"Aku menolak untuk bergabung dengan Kiu
Thian mo Kiong. Dia terus mendesakku, tapi aku tetap menolak-Bahkan
aku pun mengancam, apabila dia menggunakan kekerasan, aku akan bunuh
diri"
"Bagaimana dia setelah lo cianpwee mengancam
begitu?"
"Dia memang masih mendesak, dia pun
mengatakan akan memaksaku. Nah, aku segera mengambil pil racun.
Tetapi ketika baru mau kumasukkan ke dalam mulut, mendadak tangannya
bergerak dan tanganku pun jadi ngilu "
"setelah itu mendadak dia tertawa, lalu
mengeluarkan suatu benda dan diperlihatkan padaku."
"Benda apa itu?" "Jit Goat seng sim Ki."
"Apa?" se Pit Han tertegun.
"Panji Hati suci Matahari Bulan?"
"ya." Cian Tok suseng mengangguk-
"Dia pun menyuruhku berjanji, tidak akan
memberitahukan pada siapa pun. Karena aku merasa kasihan dan simpati
padamu, maka aku harus memberitahukan padamu agar kamu bisa tenang."
" Jadi " Mata se Pit Han berbinar-binar-
"Pedekar misterius itu benar adik Liong?"
"Benar." cian Tok suseng mengangguk-
"Karena tadi engkau bilang, walau wajahnya
rusak, namun engkau tetap mencintainya- oleh karena itu, aku pun
harus berterus terang. Dia memang Pek Giok Liong. Dia tidak mati
terpukul Hek Sim Tok ciang, tetapi sebaliknya malah menemukan kitab
pelajaran silat yang amat tinggi, hanya saja wajahnya telah rusak-"
"Dia memperlihatkan wajahnya pada lo
cianpwee?"
"Tidak- Dia cuma menyuruhku agar bergabung
dengan partai Kay Pang, sebab aku kenal racun."
"Lo cianpwee, terima kasih"
"Nona se, kini kepandaiannya bertambah
tinggi." cian Tak suseng memberitahukan.
"Apabila bertemu dia kelak, engkau harus
berusaha menahannya Karena kalau dia telah melesat pergi, sudah
sulit mengejarnya."
" Aku pasti ingat itu"
"Pokoknya engkau harus berusaha menahannya
dengan cara apa pun, jangan sampai dia pergi"
"Kapan dia akan memunculkan diri?"
"Manakala Kiu Thian mo Cun memunculkan diri,
dia pun pasti memunculkan diri," jawab Cian Tak suseng.
"Kini yang mampu menandingi kepandaian Kiu
Thian mo Cun, hanyalah dia-"
"Dia menemukan ilmu silat apa?"
"Aku tidak tahu-" Cian Tak suseng
menatapnya.
"Nona se, aku harap engkau jangan
memberitahukan pada siapa pun yang penting engkau sudah tahu
sekarang, sebab aku telah melanggar janji."
"Lo cianpwee tidak usah cemas" se Pit Han
tersenyum.
"Aku telah bersumpah tadi, tidak mungkin aku
akan melanggar sumpahku sendiri"
"Syukurlah" Cian Tak suseng manggut-manggut.
"oleh karena itu, engkau pun harus
membantuku "
"Membantu dalam hal apa?"
"Mencegah agar pihak kita jangan menyerbu
Kiu Thian mo Kiong, dia yang berpesan begitu padaku, karena banyak
jebakan maut di Kiu Thian mo Kiong."
"Ng" se Pit Han mengangguk dan bertanya,
"Dia tidak tahu Pek Giok Houw adalah adik
kembarnya?"
"Dia tidak tahu."
"Aaakh " keluh se Pit Han.
"sungguh kasihan Pek Giok Houw"
(Bersambung bagian 65)
Bagian ke 65: Menantang
Kiu Thian mo Cun dan lainnya duduk di ruang
dalam, kelihatannya mereka sedang membahas sesuatu, Hal itu dapat
dilihat dari wajah Thian Ti Siang Mo dan lainnya, sebab mereka
tampak serius sekali.
"Kini para murid Partai Kay Pang telah
menyembunyikan diri, mereka takut dibantai oleh pihak kita. Selama
pembantaian itu, pendekar misterius sama sekali tidak muncul, untuk
membunuh pihak kita, pertanda dia memang telah terkena bubuk racun
pelemah Iwee kang."
"Mo Cun" tanya Thian mo mendadak.
"Berapa lama orang yang terkena bubuk racun
itu akan pulih Iwee kangnya?"
"Pendekar misterius itu amat dalam Iwee
kangnya, mungkin dua bulan kemudian, Iwee kangnya akan pulih seperti
semula," jawab Kiu Thian mo Cun memberitahukan.
"Kalau begitu" Ujar Thian mo setelah
berpikir sejenak.
"Mumpung Iwee kang pendekar misterius itu
masih belum pulih, alangkah baiknya.... "
"Kita serbu Markas Pusat Kay Pang?" tanya
Kiu Thian mo Cun.
"Ya." Thlan mo mengangguk.
"Aku memang bermaksud begitu. Setelah itu,
barulah kita menghadapi pendekar misterius itu."
"Ngmm" Kiu Thian mo Cun manggut-manggut,
kemudian bertanya pada Kai Si Mo ong.
"Bagaimana menurutmu?"
"Menurut aku, lebih baik kita tantang
langsung pada mereka" sahut Kai Si Mo ong.
"Menantang langsung pada mereka?"
"Ya." Kai Si Mo ong mengangguk.
"Kita tantang pihak Kay Pang bertarung
secara terbuka di suatu tempat, jadi tidak perlu menelan banyak
korban."
"Aku setuju," sahut Pek Hoat Lo Thai.
"Memang lebih baik begitu," sambung Im Si Lo
Mo.
"Kami berenam saudara pun setuju begitu,"
sela Im San Lak Yau.
"Thian Ti Siang mo, bagaimana menurut kalian
berdua?" Kiu Thian mo Cun menatap mereka.
"Memang tidak ada salahnya kita menantang
mereka," jawab Thian mo.
"Tapi di mana kita mengambil tempat untuk
bertarung?"
"Bagaimana kalau di kaki Gunung Kah Lan San
yang tak jauh dari sini?" tanya Thian Mo mengusulkan.
"Boleh juga." Kiu Thian mo Cun
manggut-manggut.
"Kita dirikan sebuah panggung di sana untuk
adu silat, jadi kita pun harus memperhitungkan kekuatan pihak Kay
Pang."
"Betul, Mo Cun." Thian mo mengangguk.
"Pihak Kay Pang terdiri dari ouw Yang Seng
Tek, Ketua Kay Pang dan pihak Pulau Pelangi."
"Engkau tahu jelas siapa-siapa pihak Pulau
Pelangi itu?" tanya Kiu Thian mo Cun.
"Tahu." Thian mo mengangguk sekaligus
memberitahukan, -Se Pit Han, Se Khi, Thian Koh sing, Thian Kang
sing, si Kim Kong, lima pelindung, sepasang pengawal dan Pat Kiam,
ditambah swat san Lo Jin, Thian san Lolo, Hek siau Liong dan Ling
Ling"
"Masih ada satu orang" sambung Ti Mo-
"yakni Hek Ai Lan, ibu Hek siau Liong."
"Berarti mereka berjumlah dua puluh delapan
orang, sedangkan kita cuma dua puluh satu orang " ujar Kiu Thian mo
Cun.
"Mo Cun melawan Pek Giok Liong." Thian mo
memberitahukan.
"Kami berdua melawan Thian Koh sing dan
Thian Kang sing. Kiu Mo Li melawan Pat Kiam, Kai si Mo ong melawan
swat san LoJin dan Thian san Lolo, Pek Hoat Lo Thai dan Im si Lo Mo
melawan si Kim Kong, sedangkan Im san Lak yau melawan Lima pelindung
dan lainnya, pihak kita pasti menang."
"Benar." Kiu Thian mo Cun tertawa gelak-
"Setelah kita menaklukkan Partai Kay Pang
dan pihak Pulau Pelangi, maka rimba persilatan akan menjadi milik
Kiu Thian mo Kiong."
"Hahaha"Thian Ti siang Mojuga ikut tertawa.
"Kai si Mo ong, bagaimana menurut kalian?"
tanya Kiu Thian mo Cun karena melihat mereka diam saja.
"Kami setuju," sahut mereka serentak-
"Baiklah-" Kiu Thian mo Cun manggut-
manggut.
"Sekarang kalian boleh kembali ke kamar."
"Terima kasih, Mo Cun" ucap mereka lalu
segera pergi ke kamar.
"Kiu Mo Li, kalian pun boleh ke kamar," ujar
Kiu Thian mo Cun.
"Terima kasih, Mo Cun" Kiu Mo Li segera
berlenggang ke kamar.
Kini hanya tinggal Thian Ti siang Mo, maka
Kiu Thian mo Cun pun berkata dengan suara rendah.
"Aku akan menulis surat tantangan, kalian
antar surat tantanganku ke Markas Pusat Kay Pang"
"ya, Mo Cun" sahut Thian Ti siang Mo
"Thian Ti siang Mo" Kiu Thian mo Cun
tertawa.
"Tahukah kalian apa yang kupikirkan
sekarang?"
"Tahu." Thian mo mengangguk.
".Mo Cun ingin memhunuh mereka semua."
"Benar." Kiu Thian mo Cun manggut-manggut.
" Kalau mereka sudah berkumpul, tidak sulit
bagi kita untuk membunuh mereka."
"Betul," sahut Ti Mo sambil tersenyum licik,
".Mo Cun, sebelumnya kita harus menyebarkan
racun di tempat itu."
"Aku memang telah berpikir begitu, dan juga
kita pun harus memerintah tujuh partai besar untuk hadir" ujar Kiu
Thian mo Cun.
"Tujuan mo Cun?" tanya Thian mo-
"Aku akan menyuruh mereka membunuh para
murid Kay pang" Kiu Thian mo Cun cun.
"Jadi nanti kalian muncul duluan, aku
belakangan."
"Bagus." Thian mo tertawa.
"Mo Cun, aku khawatir Kai si Mo ong dan
lainnya tidak akan bersungguh-sungguh membantu kita, maka aku
usulkan, sebelum berangkat untuk bertanding, kita ajak mereka minum
dulu " ujar Ti Mo-
"oooh Aku sudah tahu maksudmu." Kiu Thian mo
Cun manggut-manggut.
"supaya diam-diam kalian akan menaruh racun
ke dalam minuman merekakan?"
"ya." Ti Mo mengangguk-
"Itu agar mereka bersungguh-sungguh membantu
kita-" Kiu Thian mo Cun tertawa-
"Memang harus begitu, bahkan aku pun akan
perintahkan mereka agar membunuh pihak Pulau Pelangi-"
"Betul-" Ti Mo tertawa gelak-
"Baiklah- Kalian berdua tunggu sebentar, aku
akan menulis surat tantangan untuk Partai Kay Pang"
-ooo00000ooo-
Kemunculan Thian Ti siang Mo di Markas Pusat
Kay Pang, itu sungguh mengejutkan. Namun mereka datang sebagai
utusan Kiu Thian mo Cun, tentunya disambut dengan baik, dan Ketua
Kay Pang pun mempersilahkan mereka duduk.-
"Terima kasih" ucap Thian mo angkuh.
"Ada apa Kiu Thian mo Cun mengutus kalian ke
mari?" tanya Kay Pang-
" Untuk mengantar surat tantangannya" sahut
Thian mo sambil menyerahkan sepucuk surat pada Ketua Kay Pang-
Ketua Kay Pang menerima surat itu dan
sekaligus membacanya, setelah itu diberikan pada ouw yang seng Tek-
surat itu berbunyi demikian.
Partai Pengemis:
Kami pihak Kiu Thian mo Kiong menantang
kalian pibu (Adu silat) pada pek gwe cap ngo (Tanggal lima belas
bulan delapan) pagi, di kaki gunung Kah Lan. Terima kasih
Tertanda:
Kiu Thian mo Cun
Usai membaca itu, ouw yang seng Tek lalu
menyerahkan pada swat san Lojin. setelah membaca surat tantangan
itu, swat san LoJin manggut-manggut.
"Thian Ti siang Mo" ujarnya-
"Beritahukaniah pada Kiu Thian mo Cun, bahwa
kami terima tantangannya"
"Baik" Thian mo mengangguk-
"ohya, tujuh partai besar juga hadir untuk
menyaksikan pibu itu"
"Bagus" swat san LoJin tertawa-
"Biar tujuh partai besar jadi saksi dalam
pibu itu."
"Maaf" ucap Thian mo-
"Kami mau pamit"
" Antar utusan Kiu Thian mo Cun" seru Ketua
Kay Pang.
setelah Thian Ti siang Mo pergi, suasana di
ruang itu pun menjadi ramai, tetapi swat san LoJin segera menyuruh
mereka tenang.
"Kita semua harus tenang, mari kita
rundingkan bersama"
"Lo cianpwee telah menyanggupinya, maka kita
jangan mundur" ujar Ketua Kay Pang.
"Benar-" swat san LoJin manggut-manggut.
"Aku khawatir" se Khi mengerutkan kening.
"Mereka akan memasang jebakan di tempat
itu."
"Cuma tinggal dua hari, pihak Kiu Thian mo
Kiong tidak sempat pasang jebakan," ujar Thian san Lolo.
" Lebih baik aku menyuruh beberapa orang
untuk mengawasi kaki gunung Kah Lan. Kalau melihat orang dari pihak
Kiu Thian mo Kiong, mereka harus segera pulang melapor. Bagaimana?"
tanya Ketua Kay Pang.
"Memang lebih baik begitu," sahut swat san
Lo Jin.
Ketua Kay Pang segera memerintah empat orang
untuk mengawasi tempat itu, sementara se Pit Han tampak
mengernyitkan kening.
"Pihak Kiu Thian mo Kiong memang tidak punya
waktu untuk membuat jebakan, tapi mereka pasti sempat menyebarkan
racun di sekitar tempat itu." ujar se Pit Han dan menambahkan,
"Maka kita harus siap untuk itu"
"sebelum berangkat, kita semua harus makan
obat anti racun," sahut Cian Tok suseng sambil tersenyum.
"Nona se, jangan mencemaskan itu"
"Racun tua" ujar se Khi-
"Apakah obatmu itu sungguh-sungguh manjur?
Kalau tidak manjur, klta semua pasti celaka."
"Ha ha ha" Cian Tok suseng tertawa.
"Julukanku pelajar seribu racun, kalau obat
anti racunku tidak manjur, julukanku pun, boleh dihapus-"
"Jangan tersinggung. Racun tua" se Khi
tersenyum-
"Aku tahu bahwa engkau pakar racun, maka aku
sengaja berkata begitu-"
"Aku tidak tersinggung, sebaliknya malah
berterima kasih padamu mengingatkanku," ujar Cian Tok suseng.
"Sekarang " sela swat san LoJin lantang.
"Mari klta membahas tentang pibu itu"
"Pihak Kiu Thian mo Kiong yang berkepandaian
tinggi berjumlah dua puluh satu orang. kita berjumlah dua puluh
delapan orang. Nah, bagaimana cara kita bertanding dengan mereka?"
ujar ouw yang seng Tek.
"Kalau satu lawan satu, pihak kita pasti
kalah," sahut swat san LoJin dan melanjutkan,
"Maka harus kita atur dua lawan satu, itu
pun belum tentu kita akan menang."
"Benar," ujar Thian san Lolo.
"Jadi bagaimana kalau begitu siang sing
yakni Thian Koh sing dan Thian Kang sing melawan Thian Ti siang Mo,
aku dan swat san LoJin melawan Kai si Mo ong. Pat Kiam melawan Kiu
Mo Li, Hok Mo Kim Kong dan cuh yau Kim Kong melawan Pek Hoat, Cuah
Kui Kim Kong dan cam Kuai Kim Kong melawan Im si Lo Mo, lima
pelindung, ThiatJiau Kou Hun, sepasang pengawal dan se Khi melawan
Im San Lak yau. Apakah kalian setuju?"
"setuju," sahut swat san LoJin dan ouw yang
seng Tek serentak.
"Aku kurang setuju," sahut cian Tok suseng.
"Racun tua" ouw yang seng Tek menatapnya.
"Kenapa engkau tidak setuju?"
"Karena namaku tidak disebut." Cian Tok
Suseng menggeleng-gelengkan kepala.
"Apakah aku di sana cuma makan angin dan
menonton?"
"Tugasmu mengawasi pihak Kiu Thian mo cun,
tentunya mengenai racun. Nah, bukankah engkau tidak makan angin dan
menonton lagi?" sahut ouw yang seng Tek sambil tertawa.
"Lalu apa tugasku?" tanya se Pit Han.
"Engkau dan Ling Ling harus
bersiap-siap"Jawab Cian Tok suseng.
"Apabila terjadi sesuatu di luar dugaan,
kalian berdua harus segera turun tangan membantu"
"Baiklah" se Pit Han mengangguk.
"Cara bertanding harus diadakan tujuh babak.
Babak terakhir Pek Giok Houw melawan Kiu Thian mo Cun," ujar swat
san LoJin.
"Aku yakin dalam enam babak itu, pihak kita
pasti kalah"
"Kalau begitu, percuma kita bertanding
dengan mereka?" Pek Giok Houw mengernyitkan kening.
"Kita harus menggunakan siasat," sahut se
Khi serius.
"Pertandingan enam babak itu harus dibatasi
dengan jumlah jurus, misalnya batas lima puluh jurus. Maksudku harus
ada yang seri, jadi kita masih punya harapan untuk menang."
"Bagaimana seandainya pihak Kiu Thian mo
Kiong tidak setuju?" tanya ouw yang seng Tek mendadak-
"Itu berarti akan terjadi pertarungan
mati-matian" sahut swat san LoJin.
"Aku yakin" sela se Pit Han.
"Pibu cuma merupakan suatu alasan,
sesungguhnya Kiu Thian mo Cun sudah siap membunuh kita semua."
"oh?" swat san LoJin mengernyitkan kening.
"Kalau begitu"
"Apa boleh buat" Thian san Lolo menatapnya.
"Kita harus bertarung mati-matian melawan
mereka"
"Itu sudah pasti." Pek Giok Houw menyelak-
"Aku ingin menuntut balas pada Kiu Thian Mo
Cun, tentunya kami berdua harus bertarung hingga ada yang mati."
"Kakak Houw" Ling Ling tampak cemas sekali-
"Ling Ling" Pek Giok Houw menatapnya sambil
menarik nafas.
"Engkau tidak perlu mencemaskan diriku, mati
atau hidup itu sudah ditakdirkan."
"Aaakh " Keluh Ling Ling, kemudian mendadak
ia berseru,
"Mudah-mudahan Pendekar misterius akan
muncul di saat itu"
"Benar," sahut swat san LoJin bersemangat.
"Aku yakin dia pasti muncul, sebab dia telah
membunuh Ngo Kui dan cit Ti sat, maka itu kesempatan baginya untuk
membasmi pihak Kiu Thian mo Kiong."
"Tidak salah," sambung Thian san Lolo. Nenek
tua itu pun tampak bersemangat sekali.
"Terus terang, kalau aku dan swat san LoJin
berdua maju bersama melawan pendekar misterius itu, aku yakin kami
cuma mampu bertahan sampai sepuluh jurus saja."
"yang benar?" ouw yang seng Tek tidak
percaya.
"Bagaimana mungkin aku mau merendahkan diri
sendiri?" Thian san Lolo melotot.
"Bukankah aku telah menceritakan, bahwa kami
berdua pernah menyerangnya dengan Iwee kang? Engkau harus tahu,
bahwa pada waktu itu aku telah mengerahkan Iwee kang ku hingga
sepuluh bagian. Begitu pula swat San LoJin, dan mendadak sekujur
badannya memancarkan cahaya putih dan seketika juga kami berdua
terpental jatuh duduk di lantai."
"Benar." Tiba-tiba Ling Ling tertawa geli-
"guruku dan swat san LoJin tidak mampu
bangkit berdiri, terus duduk di lantai dengan mata terbelalak-"
"Heran?" gumam ouw yang seng Tek-
"Sebetulnya ilmu apa yang dimiliki pendekar
misterius itu?1 Kok badannya bisa memancarkan cahaya putih?"
"Sekujur badan memancarkan cahaya putih?"
Mendadak se Pit Han teringat sesuatu.
"Apakah itu adalah ilmu "
"Ilmu apa?" tanya swat san LoJin cepat-
"Jit Cfiat Seng Sim Sin Kang (Tenaga Sakti
Hati Suci Matahari Bulan)" sahut Se Pit Han.
"Tapi yang memiliki ilmu itu cuma seng sim
Tayhiap, dan tidak pernah diwariskan pada generasi penerus. Lagi
pula pada masa itu, seng sim Tayhiap masih belum mencapai sampai
tingkat itu"
"Kok engkau tahu?" tanya swat san LoJin
heran.
"Kakekku pernah menceritakan padaku,"jawab
sePit Han dan diam-diam ia bergirang, karena Pek Giok Liong
memperoleh ilmu itu.
"Tidak salah," sela se Khi-
"Tapi pada masa itu, sekujur badan seng sim
Tayhiap masih belum bisa memancarkan cahaya putih."
"Kalau begitu, berarti pendekar misterius
mampu mengalahkan Kiu Thian mo cun?" ujar ouw yang seng Tek seakan
bertanya.
"Itu mudah-mudahan" sahut se Khi.
"Sebab Kiu Thian mo Cun memiliki Hek sim sin
Kang dan Hek sim Tok Ciang yang amat dahsyat. Kalau Hek sim (Hati
Hitam) bertemu seng sim (Hati suci), aku yakin seng sim pasti
menang."
"Benar-" swat san Lo Jin manggut-manggut.
"Tapi" ouw yang seng Tek
menggeleng-gelengkan kepala.
"Setelah membunuh Ngo Kui dan cit Ti sat,
pendekar misterius itu pun menghilang. Bagaimana mungkin dia akan
muncul di tempat pibu itu?"
"Percayalah" Cian Tok suseng serius.
"Dia pasti muncul, sebab aku yakin dia
menghendaki kemunculan Kiu Thian mo Cun. oleh karena itu, begitu Kiu
Thian mo Cun muncul, dia pasti muncul."
"Kok begitu yakin?" se Khi menatapnya tajam.
"sebab ketika Ngo Kui, Cit Ti sat dan
lainnya meninggalkan mo Kiong, dia pun memunculkan diri untuk
membunuh mereka. Dia tidak mau menyerang ke Kiu Thian mo Kiong,
tentunya karena banyak jebakan maut di sana."
"Benar Benar" ouw Yang seng Tek
manggut-manggut.
"Heran?" gumam se Khi mendadak-
"Tidak mungkin pendekar misterius itu seng
sim Tayhiap- sebetulnya siapa pendekar misterius itu?"
"ScTua sementara ini kita tidak perlu
memikirkan siapa dia, yang penting dia harus muncul tepat pada
waktunya," sahut ouw yang seng Tek-
"Ngmm" se Khi manggut-manggut.
"Mulai sekarang, kita harus banyak
istirahat" ucap swat san LoJin, tapi langsung dipotong oleh Thian
san Lolo.
"Bukan banyak istirahat, melainkan harus
banyak berlatih mempersiapkan diri untuk pibu itu," ujar Thian san
Lolo.
"Engkau memang sudah tua sehingga otak pun
jadi beku, sama sekali tidak bisa berpikir-"
"Eeeh ?" Wajah swat san LoJin
kemerah-merahan.
"Baiklah Mari kita mulai berlatih"
"Aku mau ke kamar dulu," ujar se Pit Han
sambil melangkah ke kamarnya, Cian Tok suseng segera menyusulnya.
"Nona se Dia pasti muncul di tempat pibu
itu, maka engkau harus berusaha menahannya agar dia tidak bisa
pergi"
"ya." se Pit Han mengangguk-
"Terima kasih, lo cianpwee"
sementara itu, di bawah pohon tampak duduk
dua orang, mereka Pek Giok Houw dan Ling Ling.
" Kakak Houw" Ling Ling menatapnya dengan
wajah murung.
"Dua hari lagi engkau akan bertarung dengan
Kiu Thian mo Cun, aku aku takut sekali "
"Engkau tidak usah takut," sahut Pek Giok
Houw sambil tersenyum lembut.
"Aku pasti dapat membunuhnya."
"Kakak Houw, jangan menghibur diriku" Mata
Ling Ling mulai basah-
"Tapi yah sudahlah"
"Ling Ling" Pek Giok Houw mengernyitkan
kening.
"Kenapa engkau mengucapkan begitu?"
"Kakak Houw mati, aku pun harus pasti
mati,"jawab Ling Ling sambil tersenyum dan mulai tampak tenang.
Mungkin karena ia telah mengambil keputusan untuk mati bersama Pek
Giok Houw.
"Ling Ling " Pek Giok Houw menggenggam
tangan Ling Ling erat-erat.
"Aku aku amat terharu, engkau sedemikian
mencintaiku, namun diriku"
"Kenapa dirimu. Kakak Houw?" tan a Ling Ling
karena Pek Giok Houw tidak melanjutkan ucapannya.
"Karena karena aku harus bertarung dengan
Kiu Thian mo Cun." Pek Giok Houw tidak berani berterus terang
padanya, ia tidak mau menimbulkan masalah lain.
"Pertarungan mati hidup"
"Aku tidak cemas lagi." Ling Ling tersenyum.
"Sebab kalau Kakak Houw mati, aku harus ikut
mati "
-ooo00000ooo-
Bagian ke 66 Pertarungan Mati Hidup
sebelum berangkat ke tempat pertarungan itu,
terlebih dahulu Kiu Thian mo Cun mengadakan acara minum-minum, Ia
mengangkat minumannya seraya tertawa dan berkata, "Mari kita minum
Ha ha ha Kita pasti menang"
Thian Ti siang mo, Kai si Mo ong, Pek Hoat
Lo Thai, Im si Lo Mo, Im san Lak yau dan lainnya segera mengangkat
minuman masing-masing.
"Demi kemenangan kita" ucap Thian mo sambil
meneguk minumannya, begitu pula yang lain.
"Ha ha ha" Kiu Thian mo Cun tertawa gelak
seusai meneguk minumannya..
"Mulai besok, seluruh rimba persilatan akan
menjadi milik kita. oleh karena itu, aku harap Kai si mo ong, Pek
Hoat Lo Thai, Im si Lo Mo dan Im san Lak yau bersungguh-sungguh
membantu"
"Tapi kami tidak mau sembarangan membunuh,"
sahut Kai si Mo ong.
" Aku justru menghendaki kalian membunuh
mereka," ujar Kiu Thian mo Cun dingin-
"Kita cuma pibu, kenapa harus membunuh
mereka?" tanya Pek Hoat Lo Thai kurang senang.
" Kalau kita tidak membunuh mereka,
bagaimana mungkin kita dapat menguasai seluruh rimba persilatan?"
Kiu Thian mo Cun menatap mereka tajam,
"oleh karena itu, aku harap kalian bantu
dengan sungguh-sungguh"
"Mo Cun" sahut Im san Lo Mo-
"Kami cuma pibu dengan mereka, kami sama
sekali tidak berniat membunuh-"
"Ha ha ha" Kiu Thian mo Cun tertawa.
"Tapi kalian harus ingat satu hal, minuman
yang kalian teguk barusan telah dicampuri racun. Kalau kalian tidak
membunuh mereka begitu aku memberi perintah, aku pun tidak akan
memberikan kalian obat pemunah racun itu."
"Haaah ?" Betapa terkejutnya Kai si Mo ong
dan lainnya.
"Kenapa Mo Cun berbuat begitu?" tanya Pek
Hoat Lo Thai.
"Itu sama juga memaksa kami melanggar
sumpah."
"sumpah?" Kiu Thian mo Cun tertawa-
"Kalian dari golongan sesat, maka tidak usah
menepati sumpah"
"Mo Cun " Kai si Mo ong ingin mengatakan
sesuatu, namun kemudian dibatalkannya-
"Hmm" dengus Kiu Thian mo Cun.
"Engkau jangan macam-macam, lebih baik
kalian menuruti perintahku Kalau tidak, kalian pasti mati"
Kai si Mo ong dan lainnya menundukkan
kepala, mereka terpaksa menurut karena diri mereka telah terkena
racun
"Kalian semua dengar baik-baik," ujar Kiu
Thian mo Cun lantang.
"Pibu cuma merupakan alasan, sesungguhnya
tujuan kita adalah membunuh mereka semua. Begitu ada perintah
dariku, kalian harus sebera membunuh mereka, aku akan membunuh Hek
siau Liong"
"ya" sahut mereka semua.
"Tentunya mereka menghendaki suatu cara
dalam pibu itu, kalian setuju saja, tidak perlu berdebat dengan
mereka" pesan Kiu Thian mo Cun.
"Ya" sahut mereka serentak-
"Kalian boleh berangkat sekarang, aku akan
menyusul" ujar Kiu Thian mo Cun dan menambahkan,
"Aku sudah mengutus beberapa orang di sana
untuk menyambut tujuh partai besar dan partai pengemis, nah
Berangkatlah kalian"
-ooo00000ooo-
Partai siau Lim sudah tiba di kaki gunung
tempat pibu itu, menyusul adalah partai Butong, Gobi, Hwa san, Khong
Tong, Kun Lun dan Tiam Cong. Tak seberapa lama kemudian, muncullah
Partai Pengemis bersama pihak Pulau Pelangi.
Pihak Kiu Thian mo Kiong yang diutus Kiu
Thian mo Cun segera menyambut mereka, sekaligus menunjukkan tempat
mereka.
sebelum berangkat. Partai Pengemis dan pihak
Pulau Pelangi telah makan obat anti racun, maka mereka sudah tidak
takut akan racun lagi.
Memang, di mana tempat yang ditunjuk itu
telah ditaburi semacam racun, orang-orang utusan Kiu Thian mo Cun
yang menaburkan racun tersebut.
Di tengah-tengah lapangan itu berdiri sebuah
panggung, tidak begitu tinggi tapi cukup besar dan terdapat sebuah
meja.
"Kok Kiu Thian mo Cun dan lainnya belum
datang?" tanya ouw yang seng Tek pada swat san LoJin.
"Mungkin sebentar lagi," ujar swat san Lo
Jin.
"Dia yang menyelenggarakan pibu ini,
seharusnya mereka datang duluan" ujar Thian san Lolo.
"Itu tidak jadi masalah," sela Cian Tok
suseng.
"yang jelas dia tidak pasang jebakan di
sini, tapi tempat kita berdiri ini telah ditaburi semacam racun
pelemah Iwee kang."
"Kalau begitu" Air muka ouw Yang seng Tek
berubah-
"Ha ha" Cian Tok suseng justru tidak
menyangka.
"Aku telah bergabung dengan pihak Kay Pang
jadi racun itu pun tiada gunanya"
"Untung engkau bergabung dengan kami, kalau
tidak " Thian san Lolo menarik nafas panjang.
"Racun tua" she Ki tersenyum.
"Tidak percuma julukanmu Pelajar Seribu.
Racun, hari ini telah membuktikan kehebatannya."
"se tua" Cian Tok suseng tertawa.
"Kepandaianku memang tidak bisa melawan
kepandaianmu, tapi kalau aku ingin membunuhmu dengan racun, itu
gampang sekali"
"Untung kita bukan musuh." she Kijuga
tertawa.
Mendadak mereka mendengar suara musik yang
amat merdu, tak lama muncullah rombongan Kiu Thian mo Cun. Thian Ti
siang mo berjalan di depan, disusul oleh Kai si Mo ong, Pek Hoat Lo
Thai, Im san Lo Mo dan Im san Lak yau. Di belakang mereka adalah Kiu
Mo Li. yang paling menarik perhatian adalah Kiu Mo Li, sebab mereka
memakai gaun panjang tapi tipis sekali- Mereka melangkah lemah
gemulai dengan mata mengerling genit ke sana ke mari, wajah Cap Pwee
Lo Han langsung memerah ketika melihat wanita-wanita itu.
"gila" ouw yang seng Tek
menggeleng-gelengkan kepala-
"Untung aku sudah tua, kalau masih muda,
celakalah diriku"
"Terangsang ya?" goda she Ki-
"Boleh saja engkau melawan mereka sambil
mencuci mata-"
"Ha ha" ouw yang seng Tek tertawa gelak"
"Kalau aku masih muda, mungkin akan
terangsang, tapi kini sudah tidak, karena aku sudah tua."
"Kok tidak tampak Kiu Thian mo Cun?" tanya
swat san LoJin.
"Mungkin," sahut Thian san Lolo.
"Dia belum mau memunculkan dirinya, atau
sedang mengatur suatu rencana busuk-"
"Kita semua harus berhati-hati" pesan swat
san LoJin,
sementara Thian mo melangkah ke panggung, ia
meloncat ke atas, lalu menjura keempat penjuru.
"Partai Pengemis dan pihak Pulau Pelangi
yang telah bergabung, hari ini Kiu Thian mo Kiong menyelenggarakan
pibu, harap para ketua tujuh partai manjadi saksi"
Thian mo memandang ke arah partai Pengemis,
kemudian tersenyum seraya melanjutkan,
"Apakah pihak partai Pengemis punya usul?"
" Kami punya usul," sahut Ketua Kay Pang,
mendadak ia meloncat ke atas panggung itu.
" Ketua Kay Pang punya usul apa?" tanya
Thian mo-
"Bagaimana cara pibu ini?" tanya Ketua Kay
Pang.
"Tentunya harus bertanding beberapa babak-
Bagaimana menurut Ketua Kay Pang?" Thian Mo menatapnya.
"Bagi tujuh babak, setiap babak dibatasi
sampai lima puluh jurus saja," sahut Ketua Kay Pang.
" Kalah atau menang cuma batas lima puluh
jurus?"
"ya."
"Tiada yang kalah dan menang dalam limapuluh
jurus, itu berarti seri?"
"Betul."
"Baiklah-" Thian mo mengangguk dan segera
mengumumkan peraturan pibu tersebut, kemudian menambahkan,
"Kami setuju"
"Berhubung kepandaian Kai si Mo ong, Pek
Hoat Lo Thai, Im san Lo mo dan Im san Lak yau amat tinggi, maka
harus dua lawan satu- Bagaimana?" tanya Ketua Kay Pang mendadak-
"Itu " Thian mo berpikir sejenak, kemudian
mengangguk-
"Baiklah, kami setuju babak pertama pihak
kami yang maju adalah Kai si Mo ong."
Usai berkata begitu, Thian Mopun meloncat
turun lalu kembali ke tempatnya dan berbisik-bisik nada Kai si mo
ong.
"Engkau maju duluan yakni satu lawan dua."
"ya." Kai si Mo ong mengangguk dan langsung
meloncat ke atas panggung, lalu menjura ke arah partai Kay Pang.
"Aku Kai si Mo ong menantang pihak Kay Pang"
seketika juga swat san LoJin dan Thian san
Lolo meloncat ke panggung, mereka lalu menjura pada Kai si Mo ong.
"sudah tujuh puluh tahun lebih kita tidak
bertemu, Mo ong baik-baik saja?" tanya swat san LoJin.
"Aku masih hidup dan sehat," sahut Kai si Mo
ong sambil tertawa-
"Itu berarti aku baik-baik saja-"
"Mo ong, kita bertanding hanya dengan batas
lima puluh jurus-" Thian san Lolo memberitahukan.
"Aku sudah tahu." Kai si Mo ong tersenyum.
"ohya, kalian berdua sudah akur ya?"
"Kami " Wajah Thian san Lolo kemerah
merahan.
"mo ong, mari kita mulai"
"Baiklah." Kai si Mo ong mengangguk.
Mulailah mereka bertanding, makin lama makin
seru- Akan tetapi, swat san LoJin dan Thian san Lolo jarang
menyerang, mereka berdua cuma bertahan. Kai si Mo ong tahu maksud
tujuannya, maka ia terus menyerang.
Pada jurus kelima puluh, swat san LoJin dan
Thian san Lobo terpental tiga meter, begitu pula Kai si Mo ong.
"Kalian mampu bertahan sampai lima puluh
jurus, lagi pula kita sama-sama terpental tiga meter, maka kita seri
dalam pertandingan ini." ujar Kai si mo ong.
"Terima kasih, Mo ong" ucap swat san LoJin.
Thian mo meloncat ke panggung, ia memandang
mereka, lalu mengumumkan dengan suara lantang.
"Babak pertama seri"
Kai si Mo ong meloncat turun, begitu pula
swat san LoJin dan Thian san Lolo.
"Kini adalah babak kedua" seru Thian mo-
"Pek Hoat Lo Thai dipersilakan naik ke
panggung"
Pek Hoat Lo Thai segera meloncat ke
panggung, Thian Mopun meloncat turun dan kembali ke tempat.
"Siapa yang akan melawanku?" tanya Pek Hoat
Lo Thai sambil menjura ke arah Partai Pengemis.
"Kami berdua akan melawan cianpwee-"
Meloncat ke panggung dua orang, yakni Hok.Mo Kim Kong dan cuh Yau
Kim Kong.
"oooh" Pek Hoat Lo Thai manggut-manggut.
"Arhat Penakluk Iblis dan Arhat Pembasmi
siluman dari Cai Hong to, selamat bertemu"
"selamat bertemu, cianpwee" sahut Hok .Mo
Kim Kong.
"Maaf, kami berdua melawan cianpwee"
"seperti tadi, kita bertanding hanya lima
puluh jurus" sahut Pek Hoat Lo Thai.
"ya." Hok .Mo Kim Kong mengangguk-
"Nah, kalian berdua boleh mulai menyerang"
ujar Pek Hoat Lo Thai.
",Maaf" ucap Hok .Mo dan cuh yau Kim Kong
serentak, dan sekaligus menyerang Pek Hoat LoThai.
Pertarungan yang amat seru pun mulai
berlangsung. Pada jurus kelima puluh, kedua Kim Kong itu terpental
tiga meter, sedangkan Pek Hoat Lo Thai pun terhuyung-huyung ke
belakang tujuh langkah, berarti seri lagi pertandingan babak kedua
itu.
"Terima kasih cianpwee telah mengalah pada
kami" ucap Hok .Mo Kim Kong setulus hati.
Thian mo meloncat ke panggung, ia menatap
tajam pada Pek Hoat Lo Thai, lalu mengumumkan dengan suara lantang,
"Pertandingan babak kedua juga seri. Babak
ketiga yang maju adalah Kiu.Mo Li, harap Kiu mo Li segera naik ke
panggung"
Kiu.Mo Li tidak meloncat, melainkan
melangkah lemah gemulai menuju panggung, setelah dekat, barulah
mereka meloncat dengan gaya yang mempesonakan. Babak ketiga ini
paling menarik perhatian, sebab KiuMo Li itu amat cantik, lagi pula
mereka memakai gaun panjang yang sangat tipis, sehingga lekuk badan
yang seksi tertampak jelas.
"Kami sembilan kakak beradik menantang pihak
Kay Pang itu, mau bertanding di panggung ini atau di ranjang, kami
siap" ujar Toa Mo Li dengan suara merdu.
Terdengar tawa geli di sana sini, tetapi Kiu
Mo Li tidak merasa malu, sebaliknya malah bergaya seperti peragawati
jaman sekarang.
"Kami Pat Kiam melawan kalian" seru Pat Kiam
dan langsung meloncat ke tanggung, lalu menjura pada Kiu Mo Li.
"Waduh" Toa Mo Li tertawa cekikikan.
"Kalian Pat Kiam kok ganteng-ganteng amat?
Rasanya kami tidak tega melukai kalian."
"Jangan banyak omong, mari kita bertanding"
sahut Pat Kiam serentak.
"Eeeh?" Toa mo Li tertawa genit.
"Kok kalian galak amat sih? Aku merasa takut
nih."
"Hm" dengus Pat Kiam.
"Kalian disebut Pat Kiam, tentunya ahli ilmu
pedang. Bagaimana kita bertanding dengan pedang saja?"
"Baik," Pat Kiam sebera menghunus medang
masing-masing.
Akan tetapi, Kiu Mo Li cuma berdiri diam
saja, tentunya mengherankan Pat Kiam.
"Mana senjata kalian?"
"Ada" sahut Toa Mo Li. "Adik,adik, mari kita
cabut pedang kita"
sembilan wanita iblis itu segera menyingkap
ujung gaun masing-masing, sehingga paha yang putih mulus itu
tertampak jelas.
Pat Kiam seaera membuang muka, itu membuat
sembilan wanita iblis itu tertawa cekikikan. Ternyata pedang mereka
dililitkan di pinggul, semuanya merupakan pedang lemas.
"Nah" Toa Mo Li tersenyum manis.
" Kami sudah mencabut pedang, mari kita
mulai bertanding"
" Hanya batas lima puluh jurus"
"Kok cepat, kami tidak akan merasa puas"
sahut Toa Mo Li sambil tertawa genit.
"setelah kita bertanding di panggung, kita
juga bertanding di tempat tidur ya?"
"Mari kita serang" teriak se Kiam Hong,
seketika juga pedang Pat Kiam berkelebat,
"ouuuh" seru Toa Mo Li.
"Ganas amat sih? Kalau kami terluka
bagaimana?"
sembilan wanita iblis menangkis, kemudian
mereka pun balas menyerang, dan sekaligus membentuk formasi Mo Li
Kiam Tin (Barisan Pedang wanita Iblis). Bukan main indahnya formasi
itu, sembilan wanita iblis itu tampak seakan sedang menari dengan
pedang, kaki diangkat, paha pun kelihatan. Manakala mengayunkan
pedang, sepasang payudara pun bergoyang-goyang, itu merupakan
pemandangan yang amat menyedapkan mata para penonton.
"Pat Kiam tidak mampu melawan Kiu Mo Li,"
ujar ouw yang seng Tek sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Mereka pasti terangsang" sahut se Khi dan
menarik nafas panjang.
"Aaakh " keluh swat san LoJin.
"Aku harus berterima kasih pada Kai si Mo
ong, sesungguhnya pada jurus kelima puluh itu, dia bisa membunuh
kami berdua, namun dia tidak melakukannya."
"Tidak salah," sambung Hok Mo Kim Kong.
"Kalau Pek Hoat Lo Thai mau membunuh kami
berdua, kami berdua pun sudah tergeletak jadi mayat."
"Walau mereka dari golongan sesat, tapi hati
mereka tidak begitu jahat," ujar Thian san Lolo.
sementara pertandingan di panggung semakin
seru dan mengasyikkan, sebab sembilan wanita iblis itu menyerang
dengan jurus yang amat merangsang, sehingga membuat Pat Kiam
betul-betul kewalahan.
"Cepat bentuk cat Hong Kiam Tin (barisan
Pedang Pelangi)" seru se Kiam Hong.
Tak lama, tampaklah berkelebat sinar pedang
yang membentuk pelangi, sembilan wanita iblis itu terdesak mundur,
mendadak Toa mo Li berseru.
" Cepat gunakan jurus Mo Li Ciau sin (Wanita
Iblis Menelentangkan Tubuh) " sembilan wanita iblis itu menjatuhkan
diri telentang di lantai panggung. Pat Kiam terheran-heran, apa lagi
ketika menyaksikan tubuh sembilan wanita iblis itu menggeliat begitu
merangsang, sehingga membuat mereka terbelalak dan terangsang.
sembilan wanita iblis itu bergerak cepat
mengayunkan pedang masing-masing dan terdengarlah suara, sreet sreet
sreet Ikat pinggang Pat Kiam putus, seketika juga celana mereka
merosot ke bawah, terlihatlah celana dalam mereka.
"Wuaah" seru Toa Mo Li sambil tertawa yang
kini telah bangkit berdiri
"gede amat"
Betapa malunya Pat Kiam, mereka segera
menarik celana masing-masing dan memandang Kian mo Li dengan mata
berapi-api.
"Jangan gusar" Toa Mo Li tertawa genit.
"Kami cuma memutuskan tali pengikat itu.
seandainya kami mau membunuh kalian, tentunya kalian telah menjadi
mayat."
"Lebih baik kalian bunuh kami" sahut se Kiam
Hong.
"Kalian masih begitu muda, tidak baik
cepat-cepat mati," sahut Toa Mo Li sambil tersenyum.
"Kiu Mo Li, kami mengaku kalah-" Pat Kiam
seoera meloncat turun,
"Maaf, maaf" ucap Toa Mo Li sambil menjura
ke arah partai Pengemis.
"Kami telah memenangkan babak ini""
sementara Pat Kiam mendekati se Pit Han,
wajah mereka pun tampak muram sekali.
"Nona Kami kami telah membuat malu Pulau
Pelangi"
"Itu tidak apa-apa." se Pit Han tersenyum
lembut.
"Memang tidak gampang melawan Kiu Mo Li.
Walau mereka genit, namun hati mereka masih baik-"
"Nona, lebih baik kami bunuh diri" ujar se
Kiam Hong.
"Jangan bodoh" kata se Pit Han serius.
"Kalau kalian berani bunuh diri, aku pun
akan bunuh diri pula"
"Nona"
Pada waktu bersamaan, mendadak muncul
puluhan orang berkepandaian tinggi dari golongan hitam. Kemunculan
mereka sungguh mengejutkan partai Pengemis, karena mereka langsung
mengepung para murid Kay Pang itu.
"Celaka" se Pit Han mengernyitkan kening.
Tepat pada saat itu, terdengar pula suara
tawa yang amat panjang dan kedengaran seram sekali.
Melayang turun seseorang di atas panggung,
orang itu memakai jubah bersulam iblis, dan memakai kedok iblis
juga.
"Kiu Thian mo Cun"
"Kiu Thian mo Cun"
gemparlah suasana seketika. Memang tidak
salah, orang itu Kiu Thian mo Cun.
"Bagus Bagus" ujarnya dengan suara
mengguntur.
"Partai Pengemis dan pihak Cai Hong To telah
berkumpul di sini semua Kalian orang-orang dari golongan hitam yang
baru muncul, cepatlah habiskan para murid Kay Pang"
"Ya, Mo Cun" sahut orang-orang dari golongan
hitam, dan mereka mulai menyerang para murid Kay Pang.
"Lawan mereka" seru Ketua Kay Pang.
"Tujuh partai dengar perintah, bantu mereka
membunuh para murid Kay Pang" Kiu Thian Mo Cun memberi perintah,
"Kai si Mo ong, Pek Hoat Lo Thai, Im si Lo
mo, Im san Lak yau dan Thian Ti siang mo Kalian harus membunuh pihak
Pulau Pelangi"
Begitu perintah tersebut diturunkan,
kacaulah keadaan di tempat itu, bahkan pihak Pulau Pelangi sudah
mulai terlibat pertarungan.
"Mo Cun Hari ini engkau harus mampus" Pek
Giok Houw langsung meloncat ke panggung.
"Bocah" Kiu Thian,mo cun tertawa gelak-
"Aku memang ingin membunuhmu,
bersiap-siaplah untuk mampus"
Kiu Thian mo Cun langsung menyerangnya
dengan Han Im Ciang, Pek Giok Houw menangkis dengan Bu Kek Ciang,
sehingga terjadilah pertarungan hebat di antara mereka.
yang paling kacau adalah pertarungan
orang-orang golongan hitam dengan para murid Kay Pang, sebab tujuh
partai besar itu mulai turut campur, mereka menyerang para murid Kay
Pang, tapi kemudian balik menyerang pihak golongan hitam, setelah
itu menyerang para murid Kay Pang lagi. Tujuh partai besar itu
menyerang ke sana ke mari, akan tetapi, sudah banyak murid Kay Pang
yang terbunuh.
yang tidak tampak dalam pertarungan itu
adalah se Pit Han dan cian Tok suseng, mereka berdua berdiri
berdekatan.
"Pek Giok Houw masih sanggup bertahan, tapi
kalau Kiu Thian mo Cun mengeluarkan Hek sim sin Kang, celakalah Pek
Giok Houw," ujar Cian Tok suseng.
"Heran? Kenapa dia belum muncul? Keadaan
sudah gawat begini" sahut se Pit Han cemas, yang dimaksudkan dia
adalah Pek Giok Liong.
"Mungkin sebentar lagi dia akan muncul,"
ujar cian Tok suseng.
sementara pertarungan antara Pek Giok Houw
dengan Kiu Thian mo Cun semakin seru, dahsyat dan menegangkan.
"Ha ha ha" Kiu Thian mo Cun tertawa.
"Bocah, kini saatnya engkau mampus"
"Engkau yang harus mampus" sahut Pek Giok
Houw.
"Bocah, berhati-hatilah" bentak Kiu Thian mo
Cun sambil menyerang, ia pun mulai mengerahkan Hek sim sin Kangnya.
Pek Giok Houw menangkis, sekaligus
mengerahkan Bu Kek sin Kangnya sampai pada puncaknya-
Mendadak, terdengar suara bentakan yang amat
keras dan tajam, memekakkan dan sangat menusuk telinga-
"Berhentiii"
orang yang sedang bertarung itu langsung
berhenti, karena saking terkejut oleh suara bentakan yang
menggetarkan jantung itu.
sekonyong-konyong dari jauh meluncur sebuah
benda bagaikan meteor ke arah meja yang di atas panggung.
Taaak Benda itu menancap di meja itu.
"Haah " seketika juga terdengar seruan kaget
di sana sini.
"jit Goat seng sim Ki "
"Jit Goat seng sim Ki "
Kiu Thian mo Cun dan Pek Giok Houw pun
berhenti bertarung, mereka berdua memandang ke arah panji Hati suci
Matahari Bulan itu.
yang paling gembira adalah se Pit Han dan
Cian Tok suseng, mereka yakin sebentar lagi Pek Giok Liong pasti
muncul, se Khi dan lainnya berdiri terbengong-bengong di tempat,
bahkan mereka pun saling pandang memandang.
Tiba-tiba darijauh meluncur datang sosok
bayangan, begitu cepat sehingga menyilaukan mata. Tak lama sosok
bayangan itu sudah berada di atas panggung, ternyata orang yang
memakai topi rumput lebar dan memakai kain penutup muka.
"Pendekar misterius" seru para ketua tujuh
partai.
"Pendekar misterius " Mulut swat san Lo Jin
dan Thian san Lolo tercengang lebar.
"Pendekar misterius" Thian Ti siang mo
terbelalak.
"Pendekar misterius?Jit Goat seng sim Ki?"
Kai si Mo ong, Pek Hoat Lo Thai dan lainnya berdiri mematung di
tempat.
" Engkaukah pendekar misterius?" tanya Kiu
Thian mo Cun sambil menatap orang itu dengan tajam.
"Itu adalah julukanku, sebetulnya aku adalah
seng sim Tayhiap" sahut Pek Giok Liong, yang tentunya amat
mengejutkan semua orang.
"Engkau seng sim Tayhiap?" Kiu Thian mo Cun
tertawa.
"Tidak mungkin seng sim Tayhiap masih
hidup,"
"Engkau bisa hidup hingga sekarang, kenapa
aku tidak?"
"He h e" Kiu Thian mo Cun tertawa terkekeh.
"Engkau jangan menyamar sebagai seng sim
Tayhiap"
"Engkau pun jangan menyamar sebagai Kiu
Thian mo Cun" sahut Pek Giok Liong sambil tertawa dingin.
"Aku Kiu Thian Mo Cun"
"Aku seng sim Tayhiap"
"Pendekar misterius" Kiu Thian mo Cun
menudingnya-
"Engkau jangan cari mati di sini, sebab
engkau telah terkena racun pelemah Iwee kang malam itu"
"Ha ha ha" Pendekar misterius tertawa gelak-
"Engkau kira aku begitu gampang terkena
racun itu? Hm Malam itu engkau perintahkan Hgo Kui- Cit Ti sat, Cit
Ciat dan lainnya ke Markas Pusat Kay Pang untuk menyebarkan racun,
maka aku menghadang mereka di tengah jalan, sekaligus membunuh Ngo
Kui, Cit Ti sat dan melukai Cit Giat "
"Jadi engkau cuma pura-pura terkena racun
itu?"
"Tidak salah" sahut pendekar misterius.
"setelah itu, engkau pun mengutus pihak
golongan hitam membantai para murid Kay Pang, engkau ingin
membuktikan apakah aku terkena racun itu atau tidak? Kalau aku
terkena racun, tentunya tidak akan muncul Nah, aku sengaja tidak
muncul agar engkau yakin bahwa aku terkena racun, maka engkau
menantang partai Pengemis sekarang aku ada kesempatan, mo Kiongmu
itu banyak jebakan maut, aku tidak mau ke sana"
"Pendekar misterius" tanya Kiu Thian mo Gun
membentak.
"Sebenarnya siapa engkau?"
"Aku seng sim Tayhiap"
"Baik" Kiu Thian mo Gun manggut-manggut.
"Siapa engkau, aku tidak usah tahu Pokoknya
hari ini engkau harus mampus di tanganku"
"Mo Cun" Pendekar misterius tertawa gelak-
"Engkaulah yang pasti mati hari ini"
"Lihat serangan" bentak Kiu Thian mo Gun
sambil menyerang dengan Han Im Ciang.
Pendekar misterius sebera menangkis dengan
Tat mo Giang. Kiu Thian mo Gun terkejut menyaksikan itu.
"Pukulan apa itu?"
"Tat Mo Giang"
"Hmm" dengus Kiu Thian mo Gun. Mendadak ia
menyerang pendekar misterius kembali dengan Han Im Giang lagi.
Pendekar misterius tetap menangkis dan balas
menyerang dengan Tat mo ciang. Ketua Partai siau Lim segera
mencurahkan perhatiannya pada pukulan Tat Mo Ciang itu.
Berselang beberapa saat kemudian, pendekar
misterius menangkis dengan Butong Hian Thian sin ciang, seketika
juga Ketua Partai Butong mencurah kan perhatiannya pada pukulan
tersebut.
"Pukulan apa itu?" tanya Kiu Thian mo Cun.
"Butong Hian Thian sin ciang" sahut pendekar
misterius.
"Nah, sekarang aku akan menyerangmu dengan
Gobi Bu siang sin ciang, Hwa san Thay Yang ciang dan Khong Tong Bie
Lek Ciang"
Kiu Thian mo Cun agak kewalahan juga
menghadapi serangan-serangan itu, tiba-tiba ia melompat mundur.
"Pendekar misterius, engkau memang hebat"
ujar Kiu Thian mo Cun sambil tertawa.
"Tapi kini saatnya engkau mampus"
Kiu Thian mo Cun mulai mengerahkan Hek sim
sin Kangnya. Menyaksikan utu, pendekar misterius pun mulai
mengerahkan jit Goat seng sim sin Kang. sekujur badan Kiu Thian mo
Cun mulai memancarkan cahaya hitam, sedangkan sekujur badan pendekar
misterius memancarkan cahaya putih.
"Tidak salah" ujar se Khi-
"Itu adalah Jit Goat seng sim sin Kang."
"Kalau begitu" swat san Lo jin mengerutkan
kening.
"Pendekar misterius itu seng sim Tahyiap?"
"Entah" se Khi menggelengkan kepala.
Mendadak terdengar pekikan yang amat keras.
Kiu Thian mo Cun memekik sekaligus menyerang pendekar misterius
dengan jurus Hek sim Cong Thian (Hati Hitam Menembus Langit).
Pendekar misterius pun memekik nyaring, dan
segera menangkis dengan jurusjit seng Goat Lok (Matahari Terbit
Bulan Tenggelam).
Tarrrr Terdengar benturan keras, namun kedua
orang itu tetap berdiri tegak di tempat, hanya panggung itu tampak
bergoyang-goyang.
"sambut lagi seranganku ini" bentak Kiu
Thian mo Cun, ia menyerang lagi dengan jurus Hek sim Bu to (Hati
Hitam Tiada Perasaan).
Pendekar misterius menangkis dengan jurusjit
Goat Lun Cuan (Matahari Bulan Berputar).
Daar Terdengar lagi suara benturan keras.
Kiu Thian mo cun segera menyerang
bertubi-tubi dengan jurus Hek sim Bi In (Hati Hitam Tanpa bayangan)
dan Hek sim Tui Hun (Hati Hitam Mengejar sukma).
Pendekar misterius menangkis dengan jurus
seng sim Bu Piam (Hati suci Tiada Batas) dan seng sim Bu shia (Hati
suci Tiada sesat). "Daar Daar" Terdengar dua kali hut»rR benturan
keras.
Kiu Thian mo Cun termundur-mundur lima
langkah, pendekar misterius pun termundur lima langkah pula.
Keadaan mulai tegang mencekam, para penonton
terbelalak dengan hati berdebar-debar. Begitu pula se Pit Han dan
lainnya.
"Pendekar misterius, sungguh hebat Jit cioat
Seng Sim Sin Kang mu" ujar Kiu Thian mo Cun.
"Hek sim sin Kang mu hebat sekali" sahut
pendekar misterius.
"Kali ini adalah jurang penentuan" ujar Kiu
Thian mo Cun dan mulai menggerak-gerakan sepasang tangannya.
sebaliknya pendekar misterius malah berdiri
tegak sambil memandang ke atas, namun cahaya putih yang terpancar
dari sekujur badannya semakin menyilaukan mata.
"sambut seranganku ini" seru Kiu Thian mo
Cun sambil menyerang dengan jurus yang paling ampuh, yakni Hek sim
Ban Tok Kuih Cong (Hati Hitam dan Racun Bersatu Padu), itu memang
merupa kan jurus yang paling ampuh dan dahsyat.
"Hiyaaaf pekik pendekar misterius nyaring,
Ia menangkis serangan itu denganjurus Jit Goat seng sim Kuih To
(Hati suci Matahari Bulan Mencapai Kesempurnaan), itu adalah jurus
terampuh dan terdahsyat dalam pukulan jit Goat seng sim Ciang Hoat
(Pukulan sakti Hati suci Matahari Bulan).
Daar Blaam Terdengar suara benturan yang
amat keras memekakkan telinga, seketika juga panggung itu pun
roboh-"Aaakh Jerit Kiu Thian mo Cun.
sedangkan pendekar misterius termundur-
mundur sampai tujuh langkah- Ia terus menatap Kiu Thian mo Cun yang
telah terkulai itu- cahaya hitam telah sirna sama sekali, kini badan
Kiu Thian mo Cun malah mengeluarkan asap hitam, Ia merintih menyayat
hati dan menggeliat. Berselang sesaat, badannya tak bergerak lagi.
Setelah itu, terjadilah hal yang amat
mengerikan, karena sekujur badan Kiu Thian mo Cun meleleh- Ternyata
tangkisan pendekar misterius membuat Hek sim Tok Ciang itu berbalik
menyerang dirinya sendiri, sehingga menyebabkannya mati secara
mengenaskan dan mengerikan.
Mendadak pendekar misterius melesat ke arah
Thian Ti siang mo dan seketika juga terdengar dua kali jeritan yang
menyayat hati-
Thian Ti siang mo terkulai dan nafas mereka
pun putus seketika. Bayangan putih berkelebat ke arah sembilan
wanita iblis, tanpa ampun lagi Kiu Mo Li itu terkulai, tapi tidak
mati.
"Kalian tidak begitu jahat, maka kuampuni
nyawa kalian," ujar pendekar misterius.
"Tapi kepandaian kalian telah musnah. Mulai
sekarang, kalian harus menjadi wanita baik-baik-"
"Terima kasih, Tayhiap" ucap sembilan wanita
iblis itu. sungguh mengherankan, setelah kepandaian mereka musnah,
sikap mereka pun tidak genit lagi, bahkan ketika menyaksikan gaun
yang dipakainya begitu tipis, mereka pun tampak merasa malu sekali.
Kai si Mo ong, Pek Hoat Lo Thai, Im si Lo Mo
dan Im san Lak yau menghampiri pendekar misterius, mereka segera
menjura dengan hormat.
"Kami memberi hormat pada Tayhiap" ucap
mereka serentak.
"Hm" dengus pendekar misterius.
"Ternyata kalian masih ingat akan amanat
guru masing-masing. Kalian tidak begitu jahat, lagi pula sudah
mengasingkan diri tujuh puluh tahun lebih, karena lencana Kiu Thian
mo Cun, maka kalian terpaksa bergabung dengan Kiu Thian mo Cun itu.
Aku mengampuni kalian."
"Terima kasih, Tayhiap Tapi " Kai si Mo ong
menundukkan kepala.
"Tayhiap" seru cit Giat sin Kun, yang
bersama lainnya muncul mendadak di tempat tersebut.
"oh, cit Giat" Pendekar misterius
manggut-manggut.
"Mereka terminum racun, kini Kiu Thian mo
Gun telah mati, maka mereka " Git Giat sin Kun memberitahukan.
"Tidak apa-apa." Pendekar misterius segera
memberikan Kai si Mo ong dan lainnya masing-masing dua butir pil.
"Makanlah obat pemunah racun itu"
"Terima kasih, Tayhiap" ucap mereka
serentak, lalu menelan obat pemunah racun tersebut.
"Kini Kiu Thian mo Gun telah mati, rimba
persilatan pun pasti aman dan damai- Tujuh partai besar pun bebas,
maka "
"Adik Liong " Mendadak se Pit Han
merangkulnya erat-erat-
"Engkau tidak boleh pergi"
"Nona siapa?"
"Adik Liong, aku tahu engkau adalah Pek Giok
Liong."
"Apa?" Pek Giok Houw terbelalak-
"Kakak Liong?"
"Adik Liong, dia Pek Giok Houw, adik
kembarmu." se Pit Han memberitahukan.
"Maaf Aku bukan Pek Giok Liong, aku adalah "
"Ketua" cian Tok suseng menghampirinya.
"Nona se amat mencintaimu, dia tahu wajahmu
telah rusak, tapi dia tetap mencintaimu. Kasihanilah dia Kalau
engkau pergi, aku yakin
dia pasti mati."
"cian Tok suseng" bentak Pek Giok Liong.
"Kenapa engkau membuka rahasia diriku?"
"Kalau Ketua mau menghukum mati diriku juga
tidak apa-apa. Terus terang aku tidak tega melihat Nona se terus
menderita memikirkanmu," ujar cian Tok suseng.
"omitohud" Ketua siau Lim mendekati Pek Giok
Liong.
"Pek siauhiap, tiga tetua titip pesan
untukmu."
"oh?"
"Tiga tetua bilang, Pek siau hiap jangan
melawan takdir, karena jodoh Pek siauhiap adalah Nona se" Ketua siau
Lim memberitahukan.
"Tapi" Pek Giok Liong menarik nafas panjang.
"Heiii" ouw yang seng Tek melompat ke
hadapan Pek Giok Liong,
"saudara kecil, jadi engkau Pek Giok Liong?"
"ya." Pek Giok Liong mengangguk-
"Kenapa mukamu harus ditutup dengan kain
putih? Takut masuk angin ya?" ouw yang seng Tek bergurau-
"Mukaku telah rusak-" Pek Giok Liong menarik
nafas panjang.
"Kita jangan bicara di sini" sela swat san
LoJin.
"Lebih baik kita kembali ke Markas Pusat Kay
Pang, kita bicara di sana"
"Betul Betul" ouw yang seng Tek tertawa
gelak-
"Pit Han Engkau harus terus merangkulnya
sampai ke Markas Pusat Kay Pang. Jangan sampai dia kabur"
"Paman pengemis " wajah sePit Han
kemerah-merahan.
"Aku bicara sejujurnya. Kalau dia melesat
pergi, tiada seorang pun yang mampu mengejarnya."
"Tidak salah" sahut swat san LoJin sambil
tertawa terbahak-bahak-
"Pit Han Hati-hati Jangan sampai terlepas"
-ooo00000oo-
Perlahan-lahan Pek Giok Liong melepaskan
kain yang menutup mukanya- Begitu kain itu dilepaskan, seketika juga
terdengar suara seruan kaget. ?
" Kakak Han" Pek Giok Liong menarik nafas
panjang.
"Mukaku sudah jadi begini macam, bagaimana
mungkin aku berani menemuimu?"
"Adik Liong" Mata se Pit Han bersimbah air.
Muka Pek Giok Liong memang menjijikkan, benjol-benjol merah seperti
sakit kusta.
"Aku aku tetap mencintaimu "
" Kakak Liong" panggil Pek Giok Houw.
" Kakak Han amat mencintaimu."
"Adik Houw Ling Ling pun amat mencintaimu,
bukankah dia telah berjanji akan sehidup semati denganmu?"
"Eeeh?" Ling Ling terbelalak.
"Kok Kakak Liong tahu sih?"
"Aku mendengar percakapan kalian dari tempat
yang jauh-" Pek Giok Liong tersenyum, namun senyumannya sungguh
menakutkan, lantaran mukanya rusak tidak karuan.
"Ketua" Cian Tok suseng menatapnya.
"Bolehkah aku memeriksa mukamu?"
"Tentu boleh" sahut Pek Giok Liong.
"Cian Tok lo cianpwee" tanya Se Pit Han
penuh harap-
"Muka adik Liong masih bisa disembuhkan?"
"Mudah-mudahan" jawab Cian Tok suseng dan
mulai memeriksa muka Pek Giok Liong, lama sekali barulah ia menarik
nafas panjang.
"Bagaimana?" tanya se Pit Han.
"Aku aku tidak mampu menyembuhkannya." Cian
Tok suseng menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa?"
"Ada dua jenis racun di muka Pek Giok Liong,
yakni racun Hek Sim dan racun ular yang amat ganas, Itu berarti Pek
Giok Liong pernah tergigit oleh racun ular itu." Cian Tok
suseng menjelaskan.
"Jadi racun ular itu memusnahkan racun Hek
sim sampai ke kulit muka, sehingga membuat muka Pek Giok Liong jadi
begitu "
"Jadi " Wajah se Pit Han tampak murung.
"yah, sudahlah Itu tidak jadi masalah
bagiku."
"Ada Ada Ada" Mendadak cian Tok suseng
berjingkrak-jingkrakan.
"Ada apa?" tanya ouw yang seng Tek heran.
" Ketua Mana obat yang engkau bawa itu?"
tanya cian Tok suseng mendadak-
"Nih" Pek Giok Liong menyerahkan botol yang
berisi obat tersebut pada cian Tok suseng.
cian Tok suseng mengendus-endus obat
tersebut, dan setelah membuka tutup botol itu, wajahnya pun tampak
berseri.
"Mungkin obat ini dapat menyembuhkan
mukamu," ujarnya.
"Percuma," sahut Pek Giok Liong.
"Aku telah makan obat itu, tapi mukaku tetap
begini-"
" Aku punya cara," ujar cian Tok suseng
serius.
" yakni menghancurkan obat ini, kemudian
mencampurkannya dengan semacam getah agar bisa menempel. Nah,
poleskan pada mukamu Mudah-mudahan mukamu bisa sembuh"
Cian Tok suseng segera mengerjakannya, lalu
memoleskan obat itu ke muka Pek Giok Liong, sekaligus membalutnya.
" Cukup satu jam, berhasil atau tidak kita
pasti mengetahuinya," ujar cian Tok suseng.
" Kalau tidak berhasil, seumur hidup wajah
Pek Giok Liong tetap begitu"
satujam termasuk waktu yang amat cepat
berlalu, tapi kalau menunggu, itu rasanya lama sekali.
semua orang menunggu dengan hati
berdebar-debar, terutama se Pit Pek Giok Liong, satu jam kemudian,
cian Tok suseng mulai membuka balutan itu, puluhan pasang mata
mengarah pada wajah Pek Giok Liong.
"Haah ?" seru mereka serentak setelah kain
pembalut itu dibuka.
"Adik Liong " Dengan air mata berderai-derai
saking gembiranya, se Pit Han merangkul Pek Giok Liong erat-erat.
"Adik Liong, mukamu telah sembuh-"
"oh?" Pek Giok Liong segera mengusap-ngusap
mukanya, begitu halus membuatnya girang bukan main.
Mendadak ouw yang seng Tek membawa sebuah
baskom yang berisi air, ia menghampiri Pek Giok Liong sambil tertawa
gelak,
"Karena tidak ada cermin, maka pakailah ini"
ujarnya.
"Terima kasih. Tetua Kay Pang" ucap Pek Giok
Liong dan segera memandang ke dalam baskom. Tampak seraut wajah yang
amat tampan, itu adalah wajah Pek Giok Liong.
"Haaah ?"
"Kakak Liong" Pek Giok Houw tersenyum sambil
memandang wajah kakak kembarnya.
"Kita seperti pinang dibelah dua, hanya saja
aku agak pendek-"
"Wuah" seru Ling Ling tak tertahan,
"sulit dibedakan, tapi Kakak Houw lebih
pendek "
"Ling Ling" Pek Giok Houw menatapnya dengan
wajah muram.
"Kiu Thian mo Cun telah mati, maka aku pun
harus berterus terang padamu, aku harus segera meninggalkanmu"
"Apa?" Wajah Ling Ling langsung berubah
pucat pias.
"Kenapa ?"
"Kakak Han, tolong beritahukan padanya" Pek
Giok Houw menundukkan kepala.
"Ling Ling "se Pit Han seoera menceritakan
tentang itu, lalu menambahkan.
"oleh karena itu, dia dia jadi mati
syahwat."
"Haah?" Ling Ling terbelalak, namun kemudian
tersenyum,
"Itu tidak apa-apa, yang penting aku tetap
bersamanya. Aku merasa bahagia walau tidak tidak"
"Ling Ling itu mana mungkin?" Pek Giok Houw
menggeleng-gelengkan kepala.
"Kakak Houw, walau engkau mati syahwat,
bagiku tidakjadi masalah- yang penting aku bisa senantiasa
mendampingimu-"
"Bagus Bagus" ujar Pek Giok Liong.
" cinta yang suci murni memang harus
begitu."
"Seperti Kakak Han mencintaimu," sahut Ling
Ling. Pek Giok Liong tersenyum, lalu mendadak ia berkata pada Pek
Giok Houw.
"Adik cepatlah engkau duduk bersila"
" Kakak Liong, kenapa ?" tanya Pek cilik
Houw.
"Aku akan menyembuhkan syahwatmu," sahut Pek
Giok Liong sambil tersenyum.
"Engkau belajar Bu Kek sin Kang dan
ilmu-ilmu dari Kitab Ajaib itu, akhirnya jadi begini- Tapi engkau
tidak perlu cemas, dalam waktu satu jam, aku pasti bisa
menyembuhkanmu."
"Kakak Liong, be...benarkah itu?" Pek Giok
Houw kurang percaya, namun sudah punya setitik harapan.
"Tentu benar. Bagaimana mungkin aku
bercanda? Aku akan menyembuhkanmu dengan jit Goat seng sim sin
Kang." Pek Giok Liong memberitahukan.
Pek Giok Houw segera duduk bersila, Pek Giok
Liong juga duduk bersila di hadapannya, lalu mengerahkan jit cioat
seng sim sin Kang, sehingga sekujur badannya memancarkan cahaya
putih.
Ia menaruh sepasang telapak tangannya di
dada Pek Giok Houw, tak lama sekujur badan Pek Giok Houw pun
mengucurkan keringat- Berselang beberapa saat kemudian, badan Pek
Giok Houw mulai bercahaya-
semua orang menahan nafas menyaksikannya-
Tepat satu jam, Pek Giok Liong menarik kembali Iwee kangnya dan
sekaligus membuyarkannya-
"Adik Houw" ujarnya sambil berdiri-
"Aku yakin engkau sudah normal"
"Terima kasih. Kakak Liong" ucap Pek Giok
Houw, namun ia tidak bangkit berdiri, masih tetap duduk bersila-
" Kakak Houw, kenapa engkau masih belum mau
bangun sih?" tanya Ling Ling heran.
"Ayolah Bangun"
"Sudah bangun, maka aku tidak berani bangkit
berdiri" sahut Pek Giok Houw dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Apanya yang bangun?" Ling Ling menatapnya.
"Anunya," sahut ouw yang seng Tek sambil
tertawa gelak-
"Ha a h ?" Wajah Ling Ling langsung memerah-
"Adik Houw" Pek Giok Liong memberitahukan.
"Tarik nafasmu dalam-dalam"
"ya." Pek Giok Houw segera menarik nafasnya
dalam-dalam, berselang sesaat, barulah ia bangkit berdiri-
"Kakak Liong, terima kasih "
"Kita berdua saudara kembar, kok mengucapkan
terima kasih?" Pek Giok Liong tersenyum.
"Nah semua urusan telah beres, kalian punya
rencana apa?" tanya Swat San LoJin mendadak-
"Kakak Liong, kita ke Pulau Pelangi dulu
ya?" ujar se Pit Han.
"Kita bikin kejutan."
"Baiklah-" Pek Giok Liong mengangguk.-
"Kejutan?" swat san LoJin tertawa-
"Akan ada dua pasang pengantin di Cai Hong
to Maka aku harus ikut"
"Aku bagnimana?" tanya Thian San Lolo.
"Kalian berdua boleh berbulan madu di sana"
sahut cian Tok suseng sambil tertawa gelak-
"Eh? Engkau mau kutendang ya?" Wajah swat
san LoJin kemerah-merahan.
"Aku juga ikut ah" sela ouw yang seng Tek
mendadak-
"Aku ingin minum sampai mabuk tujuh hari
tujuh malam "
setelah Kiu Thian mo Cun mati, rimba
persilatan pun menjadi tenang, cit Ciat, Thian sat, Thian suan dan
Ti Kie sin Kun pergi mengasingkan diri sedangkan Kai si Mo ong, Pek
Hoat Lo Thai, Im san Lo mo dan Im san Lak ya u kembali ke tempat
masing-masing. Bagaimana dengan sembilan wanita iblis itu? Ternyata
mereka telah hidup sebagai wanita baik-baik,
Pek Giok Liong, Pek Giok Houw dan lainnya
menuju Pulau Pelangi, tentunya merekapun melangsungkan pernikahan di
sana. setelah itu, Pek Giok Liong menyerahkan ciok Lau san Cung pada
Pek Giok Houw. Ia dan se pit Han lalu berangkat ke yan san, tempat
yang amat indah di mana Pek Giok Liong menemukan kerangka seng sim
tayhiap- Mereka berdua hidup mengasingkan diri di tempat yang indah
bagaikan sorga itu- sejak itu pula Pek Giok Liong dan se Pit Han
tidak mencampuri urusan rimba persilatan lagi
TAMAT