panji sakti 10

"Betul." Ling Ming Cun Cia tertawa gelak. "Maka kita santai-santai saja. Tapi sayang

sekali a Sa S"

"Kenapa?" tanya Cit Ciat Sin Kun.

"Di saat santai, justru tiada wanita," jawab Ling Ming Cun Cia sambil

menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Kalau engkau masih bernafsu terhadap wanita, panggilan beberapa wanita pelacur ke

mari untuk teman tiduri" usul Cit Ciat sin Kun.

 

"Sin Kun, bolehkah aku mencari wanita lain?" tanya Ling Ming Cun Cia.

"Maksudmu wanita baik-baik?" Cit Ciat Sin Kun menatapnya tajam.

"Ya." Ling Ming Cun Cia mengangguk.

"Itu tidak kuizinkan," tegas Cit Ciat Sin Kun. "Dan ingat, kalau engkau sudah tidur

dengan wanita pelacur, engkau harus bayar!"

"Ya!" Ling Ming Cun Cia mengangguk.

"Kalian ingat, siapa yang berani main dengan wanita baik-baik, pasti kuhukum!" tegas

Cit Ciat Sin Kun.

"Kami tidak berani," sahut mereka serentak.

"Nah, sekarang kalian boleh ikut minum, aku mau pergi istirahat." Cit Ciat Sin Kun

meninggalkan tempat itu-

 

-- o --

-- o --fl A fl -- o --

 

 

Bagian ke 56. Bencana Melanda Rimba Persilatan

Cit ciat Sin Kun, Thian sat, Thian Suan, Ti Kie, Jin Pin Mo Kun, Ling Cun Cia dan Ngo

Tok Ceng Kun duduk di ruang dalam, tiba_tiba masuk seseorang dan melapor-

 

"Thian Mo (Iblis Langit) datang!"

"Cepat suruh dia masuk!" sahut Cit Ciat Sin Kun. Setelah itu ia pun bangkit berdiri,

begitu pula yang lain.

 

Tak lama kemudian tampak Thian Mo melangkah ke dalam, Cit Ciat Sin Kun dan lainnya

segera memberi hormat.

"Silakan duduk, Thian M0!" Ucap Cit Ciat Sin Kun.

Thian Mo duduk, ia menatap Cit Ciat Sin Kun tajam, kemudian ujarnya dengan suara dalam.

"Mo Cun mengutusku ke mari untuk menyampaikan perintahnya."

"Hamba siap menerima perintah dari Mo Cun!" ucap Cit Ciat Sin Kun sambil memberi

hormat pada Thian Mo.

 

"Besok kalian harus berangkat ke Siau Lim, beritahukan pada ketua Siau Lim bahwa Mo Cun akan berkunjung ke sana tiga hari kemudian!" Thian Mo menyampaikan perintah dari Kiu Thian Mo Cun-

"Hamba mesti melaksanakan perintah Mo Cun," ucap Cit Ciat Sin Kun sambil menjura.

"Suruh ketua Siau Lim bersiap-siap menyambut kedatangan Mo Cun!" pesan Thian Mo.

"Ya." Cit ciat Sin Kun menjura lagi.

"Baiklah." Thian Mo bangkit berdiri. "Aku harus segera Pulang ke Kiu Thian Mo Kiong,

laksanakan tugasmu itu dengan baik!"

"Ya." Cit Ciat Sin Kun mengangguk, lalu diikuti yang lainnya mengantar Thian Mo sampai ke depan. Setelah Thian Mo pergi, barulah ia masuk bersama Thian Sat dan lainnya.

"Besok kalian semua ikut aku ke Siau Lim," ujar Cit Ciat Sin Kun.

"Ya," sahut Thian Sat, Thian Suan dan lainnya sambil menjura-

Keesokan harinya, berangkatlah mereka menuju ke Siau Lim. Pihak Siau Lim tidak berani main-main, sebab mereka adalah utusan Kiu Thian Mo Cun, maka ketua Siau Lim Pay segera menyambut mereka, sekaligus mempersilahkan mereka duduk di ruang dalam.

"Maaf!" Ucap ketua Siau Lim. "Ada kepentingan apa kalian berkunjung ke mari?"

"Kepala gundul!" sahut Ngo Tok Ceng Kun kasar. "Tentu penting! Kalau tidak, bagaimana

mungkin kami ke mari?"

 

"Kira-kira kepentingan apa?" tanya ketua Sian Lim tetap sabar.

"Begini!" Cit Ciat Sin Kun memberitahukan. "Kiu Thian Mo Cun mengutus kami ke mari untuk menyampaikan pesannya."

 

"Mo Cun ada pesan apa untuk kami?" tanya ketua Siau Lim dan tersentak dalam hati.

"Tiga hari kemudian, Mo Cun akan berkunjung ke mari," jawab Cit Ciat Sin Kun. "Kalian

harus bersiap-siap menyambut kunjungannya!"

 

"Oh?" Ketua Siau Lim menarik nafas panjang. "Kira-kira ada urusan apa Kiu Thian Mo Cun

berkunjung ke mari?"

 

"Aku tidak tahu," sahut Cit Ciat Sin Kun. "Aku cuma menyampaikan pesannya."

"Baiklah." Ketua Siau Lim manggut-manggut. "Kami pasti menyambut baik kunjungan Kiu

Thian Mo Cun."

 

"Terimakasih atas keramahan ketua!" ucap Cit Ciat Sin Kun sambil bangkit berdiri.

"Kami mau mohon diri!"

 

"Selamat jalan!" ucap ketua Siau Lim.

Cit Ciat Sin Kun membalikkan badannya, dan di saat itulah ia berpesan pada ketua Siau

Lim dengan ilmu menyampaikan suara.

 

"Ketua harus berhati-hati, Mo Cun ke mari mempunyai niat tidak baik! Ilmunya sangat

tinggi!"

 

"Omitohud!" Ketua Siau Lim menyebut nama kebesaran Buddha. "Selamat jalan Sin Kun!"

"Hmm!" Cit Ciat Sin Kun pura-pura mendengus dingin, lalu melangkah pergi.

"Ketua!" ujar salah seorang pelindung Siau Lim. "Tiga hari kemudian Kiu Thian Mo Cun

akan ke mari, kita harus bagaimana?"

 

"Tentunya harus menyambut kedatangan mereka," jawab ketua Siau Lim.

"Tapi a Sa S" Pelindung itu mengernyitkan kening. "Kiu Thian Mo Cun berilmu sangat

tinggi, kedatangannya pasti berniat jahat."

 

"Liau Khong a Sa S" Ketua Siau Lim menarik nafas panjang. "Apa boleh buat, kita harus

mempertahankan Siau Lim!"

 

"Ketua!" ujar Liau Khong Taysu. "Bagaimana kalau kita berunding dengan Sam tianglo? 1

"Ketiga ketua tidak akan keluar dari ruang meditasi," Ketua Siau Lim menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Tapi a Sg S" ujar Seng Khong Taysu mengingatkan. "Yang akan kita hadapi adalah Kiu

Thian Mo Cun, maka lebih baik kita melapor pada tiga tetua itu."

 

"Benar," sambung Hian Khong Taysu. "Mungkin tiga tetua masih mampu melawan Kiu Thian Mo Cun."

"Ketua!" sela Ulie Khong Taysu. "Masalah ini menyangkut Siau Lim Pay kita, oleh karena itu alangkah baiknya kalau kita memberitahukan pada tiga tetua."

"Baiklah-" Ketua Siau Lim manggut-manggut. "Kalian berempat ikut aku ke ruang meditasi

untuk menemui tiga tetua!"

 

Mereka berlima melangkah ke dalam menuju ruang meditasi, yang merupakan tempat

terlarang bagi murid Siau Lim.

 

Setelah berada di depan pintu ruang meditasi, ketua Siau Lim dan keempat pelindung

merapatkan kedua tangan masing-masing di dada.

 

"Sam uii susiok (Tiga paman guru), kami datang menghadap," ucap ketua Siau Lim.

"Masuklah!" terdengar suara sahutan dari dalam.

 

Liau Khong Taysu membuka pintu ruang, ketua Siau Lim melangkah ke dalam dan diikuti keempat pelindung itu-

"Kami memberi hormat pada susiok!" ucap ketua Siau Lim.

"Duduk!" sahut salah seorang huieshio yang sudah tua itu.

Ketua Siau Lim dan keempat pelindung segera duduk, tetua Pertama menatap ketua Siau

Lim dengan tajam.

 

"Engkau ke mari menemui kami, tentunya ada sesuatu Penting, kan?" tanya It tianglo.

"ya, siau susiok (paman guru kecil)!"

"Usia kami bertiga sudah hampir seratus, kenapa engkau masih ke mari mengganggu

ketenangan kami bertiga?" tanya tetua kedua.

 

"Maaf, paman guru!" ucap ketua siau Lim dan memberitahukan. "Tadi ada utusan dari Kiu

Thian Mo Cun ke mari a Sa S"

 

"Omitohud!" Ketiga tetua Siau Lim tampak terkejut bukan main. "Utusan Kiu Thian Mo Cun?"

 

"Ya, Paman guru."

"Apakah Kiu Thian Mo Cun masih hidup?" tanya tetua ketiga.

"Kami tidak tahu, tapi sepuluh bulan yang lalu, Kiu Thian Mo Cun telah muncul dan

memukul jatuh Pek Giok Liong ke jurang."

 

"Siapa Pek Giok Liong itu?" tanya tetua pertama.

"Pek Giok Liong adalah ketua panji Hati suci Matahari Bulan." Ketua siau Lim

memberitahukan.

 

"Apa?!" Ketiga tetua Siau Lim tersentak, "pek Giok Liong adalah pemegang Jit Goat Seng

Sim Ki?"

 

"Betul. Tapi a Sa S" Ketua Siau Lim menarik nafas panjang.

"Omitohud! Jadi Pek Giok Liong sudah mati?" tanya tetua kedua.

"Ya." Ketua Siau Lim mengangguk. "Bagaimana dengan pihak Pulau Pelangi?" tanya tetua kedua mendadak.

 

"Belum bertindak apa-apa," jawab ketua Siau Lim. "Karena tiga hari lagi Kiu Thian Mo

Cun akan ke mari, maka a Sa S"

 

"Baiklah. Sampai waktunya kami bertiga pasti muncul," ujar tetua pertama berjanji.

"Terimakasih, paman guru!" Ketua Siau Lim menarik nafas lega, karena ketiga paman

gurunya bersedia membantu dalam hal ini.

 

-- o --

-- o --A A A -- o --

Hari ini suasana vihara Siau Lim agak luar biasa, para hweshio berbaris di undakan tangga di depan pintu vihara tersebut. Barisan hweshio itu sampai di depan pintu masuk. Wajah mereka tampak serius dan tegang-

Berselang beberapa saat kemudian, terdengarlah lonceng berbunyi nyaring sekali, itu

pertanda tamu-tamu yang ditunggu telah datang-

 

Tung! Tung! Tung!

Ketua dan empat pelindung Siau Lim segera menuju ke pintu. Mereka berlima berdiri di

situ dengan perasaan tegang, sedangkan Cap Pwe Lo Han (Delapan belas orang gagah)

berdiri di depan.

 

Tak seberapa lama kemudian, terdengarlah suara musik yang amat merdu, suara suling membaur dengan suara Pipeh dan khim, bahkan diiringi pula dengan suara nyanyian yang amat merdu menggetarkan kalbu.

Muncul barisan Kiu Mo Li yang mengenakan gaun tipis bersama para gadis pemain musik.

Begitu barisan Kiu Mo Li muncul, seketika juga para hweshio yang berbaris melotot

dengan mulut ternganga lebar.

 

Sementara Kiu Mo Li berjalan berlenggak-lenggok dan meliuk-liuk sambil tersenyum genit

pada para hweshio itu.

 

Tok! Tok! Tok! Tok! Mendadak dari dalam vihara mengalun ke luar suara bokkie. Begitu

mendengar suara bokkie, para hweshio pun segera membaca doa.

 

Berselang sesaat, muncul Cit Ti Sat, Ngo Kui, menyusul Thian Ti Siang M0 dan Kiu Thian

Mo Cun.

 

Kiu M0 Li berhenti, Cit Ti Sat dan Ngo Kui maju, lalu berdiri di hadapan ketua siau Lim.

 

"Kiu Thian Mo Cun telah tiba!" Cit Ti Sat memberitahukan.

"Omitohud! Selamat datang!" ucap ketua Siau Lim.

Thian Ti Siang Mo melangkah ke hadapan ketua siau Lim, lalu berdiri di situ dengan wajah dingin.

"Tay Kak Hosiang!" ucap Kiu Thian Mo Cun sambil tertawa. "Aku Kiu Thian Mo Cun

meluangkan waktu untuk berkunjung ke mari. '

 

"Omitohud! Terimakasih atas kunjungan Mo Cun!" ucap Tay Kak Hosiang, ketua Siau Lim.

"Silakan masuk!"

 

"Tay Kak!" sahut Kiu Thian Mo Cun dingin- "Kami tidak perlu masuk, cukup berdiri di

sini saja!"

 

"Kenapa?" Tay Kak Hosiang heran.

"Kami ke mari bukan untuk bertamu, melainkan untuk memberi perintah padamu, ketua Siau

Lim!"

 

"Omitohud!" jay Kak Hosiang merapatkan kedua tangannya di dada. "Kami pihak Siau Lim

tidak di bawah perintah Mo Cun!"

 

"Tay Kak!" Kiu Thian Mo Cun tertawa terkekeh-kekeh- "Kalau engkau tidak menerima

perintahku, berarti Siau Lim Pay akan musnah!"

 

"Omitohud!" Tay Kak Hosiang menarik nafas panjang. "Selama ini kami pihak Siau Lim

senantiasa hidup tenang, janganlah Mo Cun mengganggu ketenangan kami!"

 

"Tay Kak! Kedatangan kami justru ingin menaklukkan Siau Lim!" ujar Kiu Thian Mo Cun

sungguh-sungguh, "perlukah banjir darah di sini?"

 

"Apa kehendakmu, Mo Cun?"

"Siau Lim Pay harus di bawah perintah Kiu Thian Mo Kiong!"

"Bagaimana kalau kami tidak mau?"

"Pasti banjir darah di sini!"

"Omitohud! Apakah tiada jalan lain?"

"Ada!" Kiu Thian Mo Cun tertawa. "Mari kita bertanding tiga babak! Kalau pihakmu menang, kami pasti segera meninggalkan tempat ini! Tapi kalau pihakmu kalah, harus takluk dan di bawah perintah Kiu Thian Mo Kiong!"

"Omitohud!" Tay Kak Hosiang memandang Empat pelindung. "Bagaimana menurut kalian?"

"K^tua! Keadaan amat terdesak, itu apa boleh buat!" Jawab Liau Khong Taysu sambil menarik nafas Panjang.

"Baiklah!" ujar ketua Siau Lim Pada Kiu Thian Mo cun. "Mari kita bertanding tiga babak!"

"Bagus!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak. "Pihakmu siapa yang akan maju duluan?"

"Cap Pwe Lo Han!" jawab ketua Siau Lim-

"Baik! Mereka akan bertanding di halaman ini!" ujar Kiu Thian Mo Cun.

"Mo Cun!" Ketua Siau Lim menatapnya. "Kenapa Mo Cun memakai kedok iblis?"

"Tay Kakj Dari dulu aku sudah pakai kedok iblis, kini pun harus Pakai kedok ini!"

sahut Kiu Thian Mo Cun- "Nah, suruh Cap Pwe Lo Han bersiap-siap!"

 

"Cap pwe Lo Han, maju!" Ketua Siau Lim memberi perintah pada Cap Pwe Lo Han itu.

"Ya, Ketua!" Cap Pwe Lo Han itu segera menuju ke pelataran, lalu berdiri di situ.

"Kiu Mo Li, maju!" Kiu Thian Mo Cun memberi perintah pada Kiu Mo Li itu.

"Ya, Mo Cun!" sahut Kiu Mo Li serentak, mereka menuju ke pelataran dengan badan

meliuk-liuk menggiurkan.

 

Kiu Mo Li berdiri di situ sambil tersenyum-senyum. Cap Pwe Lo Han langsung mengambil posisi mengepung, sekaligus membentuk Cap Pwe Lo Han Tin (Barisan delapan belas Lo Han), barisan tersebut amat terkenal dalam rimba persilatan, sebab selama ini tiada seorang pun yang mampu menjebol barisan itu.

Akan tetapi, begitu melihat Kiu Mo Li itu, mata delapan belas Lo Han itupun melotot

lebar.

 

"Hi hi hi!" Toa Mo Li tertawa cekikikan. "Lo Han yang baik, kita akan bertanding ya?"

"Ya," sahut salah seorang Lo Han.

"Kalau begitu, cepatlah mulai!" ujar Toa Mo Li sambil tersenyum genit. "Lo Han yang

baik, badanmu begitu kekar, pasti kuat bertanding di ranjang!"

"Awas!" bentak |_o Han itu- "Kami akan mulai menyerang!" 8nbsp;

"Kok buru-buru amat sih? Lebih baik kami menari dulu!" ujar Toa Mo Li sambil

mengerling Lo Han itu. Kerlingan itu membuat Lo Han tersebut jadi berdebar-debar hatinya.

 

"Adik! Adik!" ujar Toa Mo Li pada saudarasaudaranya. "Mari kita menari untuk para Lo

Han yang baik hati itu!"

 

"Baik, Kak," sahut mereka serentak sambil tersenyum genit.

Tak lama terdengarlah suara nyanyian yang amat merdu. Sembilan wanita iblis itu mulai menari. Bukan main! Mirip tarian strip-tease jaman sekarang. Begitu merangsang sehingga membuat delapan belas Lo Han itu berdiri dengan mata terbelalak.

Delapan belas Lo Han itu tidak tahu, bahwa itu Mo Li Mi Hun Tin (Barisan pembetot

sukma wanita iblis).

 

Tarian itu lebih hot dan merangsang dari pada tarian strip-tease jaman sekarang. Bayangkan! Sembilan wanita iblis itu menari sambil menyingkap ujung gaun masing-masing, kemudian membuka kaki mereka lebar-lebar dan bergoyang-goyang. Bahkan di antaranya ada

pula yang telentang sambil membuka lebar-lebar kakinya, sekaligus menggoyang-goyangkan

pantat-

Mana tahan! Delapan belas Lo Han itu betul-betul tidak tahan, bahkan timbul hasrat

untuk memeluk Kiu Mo Li itu.

 

"Serang mereka!" seru Tay Kak Hosiang, ketua Siau Lim.

Delapan belas Lo Han tersentak. Mereka mulai membentuk barisan, dan mulai menyerang.

"Hi hi hi!" Sembilan wanita iblis itu tertawa cekikikan- "Tega amat sih kalian

menyerang kami! Lo Han yang baik hati, rabalah dadaku!"

 

Toa M0 Li menghadapi salah seorang Lo Han, lalu mengangkat dadanya untuk menyenggol

lengan Lo Han itu.

 

"rjh-ouh!" Hampir saja Lo Han itu berseru demikian. Cepat-cepat ia menjatuhkan diri

menyerang Toa Mo Li dengan jurus Lo Han tidur.

 

Ketika Lo Han itu menjatuhkan diri, Toa Mo Li pun mengeluarkan jurus perangsangnya, yakni mengangkat sebelah kakinya menghadap Lo Han itu, sekaligus menyingkap gaunnya, sehingga yang di dalam selangkangan itu terlihat semua.

 

Jurus tersebut membuat Lo Han itu tidak mampu berdiri lagi. Ia terus membaringkan dirinya dalam jurus Lo Han tidur. Namun sepasang matanya melotot mengarah pada seiangkangan itu sambil menelan ludah, sehingga membuat Toa Mo Li tertawa cekikikan,

dan mulailah menggoyang-goyangkan pinggulnya.

Sukma Lo Han itu betul-betul terbetot ke luar, dan ia pun bergoyang-goyang seakan

sedang bermain dengan Toa Mo Li itu.

 

Bagaimana Lo Han yang lain? Mereka tidak beda jauh dengan Lo Han itu. Salah seorang Lo Han menyerang Ji Mo Li (wanita iblis kedua) dengan jurus Lo Han memukul lonceng, sepasang tangan Lo Han itu memukul ke depan. Ji Mo Li justru pasang dada menyambut pukulan itu. Ketika melihat sepasang payudara Ji Mo Li yang amat montok, luiee kang Lo Han yang telah disalurkan pada sepasang tangannya pun buyar entah ke mana. Bahkan sepasang telapak tangannya melekat pada sepasang payudara Ji Mo Li, sekaligus meraba-rabanya. Saking asyik meraba, ia menjadi lupa diri, Ji Mo Li langsung menotok jalan darahnya.

"Hi hi hi!" Ji Mo Li tertawa geli, karena melihat Lo Han itu sudah berdiri seperti

patung terkena totokannya.

 

Barisan delapan belas Lo Han siau Lim yang sangat terkenal itu, justru tak berkutik

sama sekali terhadap barisan pemikat sukma sembilan wanita iblis itu.

"Berhenti!" bentak ketua Siau Lim dengan wajah merah padam saking merasa malu

menyaksikan hal tersebut.

 

"Ha ha hal" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak. "Ketua Siau Lim, babak ini pihakmu telah

kalah!"

 

"Omitohud!" sahut ketua Siau Lim. "Cap Pwe Lo Han Tin kami memang telah kalah."

"Nah, sekarang kita mulai babak kedua!"

"Baiklah!" Ketua Siau Lim mengangguk. "Si Hu Huat, kalian berempat maju!"

"Ya," sahut Liau Khong Taysu.

Sementara delapan belas Lo Han itu telah bebas dari totokan, mereka kembali ke tempat, Kiu Mo Li pun kembali ke tempat sambil melirik delapan belas Lo Han itu sambil tersenyum genit. Wajah delapan belas Lo Han memerah, cepat-cepat mereka menundukkan kepala.

"Ngo Kui!" panggil Kiu Thian M0 Cun. "Kalian berlima melawan Siau Lim si Hu Huat itu!"

 

'Va, Mo Cun." Toa Tauui Kui memberi hormat pada Kiu Thian Mo Cun, lalu menghampiri

empat pelindung Siau Lim.

 

"Kita bertanding dengan senjata atau tangan kosong?" tanya Setan kepala Besar.

"Tangan kosong saja!" sahut Liau Khong Taysu.

 

"Baiklah!" Setan Kepala Besar tertawa panjang. "Saudara-saudaraku, mari kita serang

keempat kepala gundul itu!"

 

"Baik!" sahut keempat saudara Toa Tauw Kui.

Mereka berlima langsung menyerang Siau Lim Si Hu Huat, empat pelindung Siau Lim itu

langsung berkelit.

 

"Omitohud!" Liau Knong Taysu menyebut kebesaran nama Buddha. "Sungguh hebat serangan

kalian!"

 

"Kepala gundul! Sambut lagi serangan kami!" bentak Toa Tauw Kui sambil menyerang.

Terjadilah pertarungan yang amat seru. Keempat pelindung Siau Lim mengeluarkan ilmu

andalan mereka, yakni Siau Lim Hok Mo Sin Ciang (pukulan Sakti Penakluk Iblis).

Ngo Kui juga mengeluarkan ilmu andalan, yakni Ngo Kui Ciang (Pukulan Lima Setan), dan

mengurung empat pelindung Siau Lim dengan Ngo Kui Tin (Barisan Lima Setan).

 

Tak seberapa lama kemudian, empat pelindung Siau Lim mulai tampak kewalahan menghadapi Ngo Kui, akhirnya mereka berempat mengeluarkan ilmu simpanan Siau Lim, yakni Liong Houui Sin Ciang (Cakar Sakti Naga Harimau).

Ngo Kui terkejut, lalu segera melompat mundur beberapa langkah. Setelah itu mereka berlima mendadak menyerang serentak dengan ilmu Ku Lu Ciang (Pukulan Tengkorak) yang amat ganas. Empat pelindung Siau Lim menyambut pukulan-pukulan itu dengan Cakar Sakti Naga Harimau, terdengarlah benturan keras.

Ngo Kui termundur tiga langkah, sedangkan empat pelindung Siau Lim terpental sejauh

lima meteran dengan mulut mengeluarkan darah segar.

 

"Ha ha hal" Kiu Thian Mo Cun tertawa. "Ketua Siau Lim, babak kedua dimenangkan pihak

kami lagi I Perlukah bertanding lagi?"

 

"Memang perlu!" Terdengar sahutan tajam dari dalam vihara. Tampak tiga hweshio tua berjalan ke luar- Mereka adalah tiga tetua Siau Lim.

 

"Paman guru!" Ketua Siau Lim segera memberi hormat seraya melapor, "Pihak kita sudah

kalah dua babak;11

 

"Omitohud!" Tetua pertama menatap Kiu Thian Mo Cun dengan tajam. "Engkau adalah Kiu

Thian M0 Cun?"

 

"Tidak salah!" sahut Kiu Thian Mo Cun sambil tertawa. "Aku tahu kalian bertiga masih

hidup, maka aku harus ke mari!"

 

"Mo Cun," ujar tetua pertama dengan sabar. "Kalau engkau benar Kiu Thian Mo Cun, lebih baik engkau pergi bertapa! Jangan menyia-nyiakan usiamu yang hampir dua ratus itu!"

"Kepala gundui!" Kiu Thian Mo Cun tertata terkekeh-kekeh. "Hui Beng H0siang, guru

kalian itu masih tidak berani berkata demikian padaku! Tahu?"

 

"Omitohud! jadi a Sa S" Tetua Pertama tersentak, sebab siapa pun tidak tahu guru mereka, namun orang berkedok iblis itu justru tahu, benarkah dia Kiu Thian Mo Cun?

"Kepala gundul, tidakkah kalian yakin bahwa aku Kiu Thian Mo Cun?"

"Omitohud! Setelah engkau dipukul jatuh ke jurang oleh Seng Sim Tayhiap, tidak mati,

malah bisa hidup sekian lama, seharusnya engkau bertobat!"

"Kepala gundul! Kalian tidak perlu menasehatiku!" bentak Kiu Thian Mo Cun gusar. "Mari kita bertanding! Kalau kalian bertiga kalah, maka partai Siau Lim harus di bawah perintah Kiu Thian Mo Kiong!"

"Omitohud! Kenapa Mo Cun mendesak kami?"

"Sudahlah! Jangan banyak omong, mari kita bertanding!"

"Omitohud! Demi nama baik partai Siau Lim, kami bertiga terpaksa bertanding dengan M0

Cun!"

 

"Bagus! Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak sambil melangkah ke pelataran.

 

"Omitohud!" Tiga tetua Siau Lim juga melangkah ke sana.

"Hati-hati, Paman guru!" pesan ketua siau Lim.

"Tidak perlu cemas, segala apa pun sudah merupakan takdir," sahut tetua pertama-

"Betul!" Kiu Thian Mo Cun tertawa terkekeh. "Hari ini pasti Siau Lim ditakdirkan harus

di bawah perintah Kiu Thian Mo Kiong!"

"Mo Cun, bagaimana kalau kita mengadu lwee kang?" tanya tetua pertama-

"Baik!" Kiu Thian Mo Cun mengangguk. "Kalian bertiga boleh menyerangku dengan tenaga dalam!"

"Kalau begitu, berhati-hatilah!" ujar tetua pertama.

Tiga tetua siau Lim segera menghimpun Thay Im sin Kang, sedangkan Kiu Thian Mo Cun mengerahkan Hek Sim Sin Kang (Tenaga Sakti Hati Hitam). Karena cuma mengerahkan tujuh bagian, maka badannya cuma memancarkan sedikit cahaya hitam.

"Omitohud!" Tetua pertama tersentak- "Hek Sim Sin Kang!"

"Betul!" Kiu Thian Mo Cun mengangguk. "Berhati-hatilah kalian bertiga!"

"Omitohud!" Tiga tetua Siau Lim menyerang serentak dengan Thay Im sin Kang. Betapa dahsyatnya tenaga sakti mereka, namun Kiu Thian Mo Cun malah tertawa panjang, sekaligus mengibaskan tangannya.

Bumm! Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga.

 

Kiu Thian Mo CUn berdiri tak bergeming, sebaliknya tiga tetua Siau Lim terpental beberapa meter dengan mulut mengeluarkan darah hitam, dan wajah mereka tampak kehitam-hitaman.

Mereka bertiga telah terluka dalam, bahkan terkena racun pukulan lawan. Kalau Kiu Thian Mo Cun menambah satu bagian lwee kangnya, tiga tetua Siau Lim pasti mati seketika.

"Paman guru!" Ketua Siau Lim cemas bukan main- "Bagaimana luka Paman guru bertiga?"

"Ti a Sa S tidak aPa-apa," sahut tetua Pertama sambil memejamkan matanya untuk

mengatur pernafasannya.

 

"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa terbahak-bahak. "Nah! Mulai sekarang partai Siau

Lim sudah berada di bawah perintah Kiu Thian Mo Kiong!"

 

"Mo Cun! Kita masih belum bertanding!" Ketua Siau Lim gusar sekali.

"Tay Kak!" Kiu Thian Mo Cun menudingnya. "Ketiga paman gurumu sudah roboh di tanganku,

bagaimana mungkin engkau mampu melawanku?"

 

"Tay Kak a Sa S" ujar tetua pertama sambil membuka matanya. "Kami bertiga telah kalah,

maka mulai saat ini pasti Siau Lim berada di bawah perintah Kiu Thian Mo Kiong!"

"Bagus! Bagus!" Kiu Thian Mo Cun tertawa terbahak-bahak. "Ketua Siau Lim, kalau ada perintah dari Kiu Thian Mo Kiong, kalian partai Siau Lim harus melaksanakannya dengan baik!"

"Omitohud!" Ketua Siau Lim menarik nafas panjang.

"Baiklah! Aku mau kembali ke Mo Kiong!" ujar Kiu Thian Mo Cun. "Mari kita pergi!"

-- o --

-- o --A A A -- o --

Kiu Thian Mo Cun duduk di kursi kebesarannya, Thian Ti Siang Mo, Ngo Kui, Cit Ti Sat

dan Kui Mo Li duduk berderet di depannya.

 

"Kami menghatur selamat pada Mo Cun!" ucap mereka serentak.

"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak. "Terimakasih! Kini partai Siau Lim telah kita taklukkan. Mengenai partai lain tidak sulit, maka aku tidak perlu turun tangan sendiri-"

"Mo Cun, partai apa yang perlu kita taklukan lagi?" tanya Thian Mo.

"Partai Bu Tong, Gobi, Hwa San dan Khong Tong," sahut Kiu Thian Mo Cun memberitahukan.

"Kita harus menaklukkan partai-partai itu juga."

 

"Betul." Thian Mo manggut-manggut sambil tertawa. "Setelah kita menaklukkan partai-partai itu, maka Kiu Thian M0 Kiong yang berkuasa di bu lim."

"itu memang tujuan kita." Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak. "Nah, Thian Mo ke Yang Ulie Kiong menyampaikan perintahku, Cit Ciat Sin Kun dan bawahannya harus menaklukan partai Gobi!"

"Ya, Mo Cun," sahut Thian Mo.

"Ti Mo harus ke Siau Mo Kiong (Istana Iblis Kecil) menyampaikan perintahku, Siau Mo Cun Tu Ci Yen dan bawahannya harus menaklukkan partai Hwa San."

"Ti Mo terima perintah," sahut Ti Mo.

"Mo Cun, siapa yang akan menaklukan Partai Butong dan Khong Tong?" tanya Thian Mo.

"Partai Butong amat kuat, maka harus kalian berdua dan Ngo Kui yang ke sana

menaklukkannya," jawab Kiu Thian Mo Cun.

"Ya, Mo Cuh," sahut Thian Ti Siang Mo dan Ngo Kui.

"Cit Ti Sat dan Kiu Mo Li ke partai Khong Tong! Kalian harus menaklukkan Partai itu!"

"Ya, Mo Cun," sahut Cit Ti Sat dan Kiu Mo Li.

"Kalian semua harus tahu, kenapa aku harus turun tangan juga menaklukkan partai Siau Lim?" ujar Kiu Thian Mo Cun. "Itu dikarenakan tiga tetua Siau Lim itu masih hidup, kalian bukan lawannya."

"Betul." Thian Mo mengangguk. "Hek Sim Sin Kang Mo Cun amat hebat, aku yakin ilmu itu

sudah tiada tanding di kolong langit-"

 

"Tidak salah." Kiu Thian Mo Cun manggut-manggut. "Oleh karena itu, mulai sekarang

seluruh bu lim akan menjadi milik kita."

 

"Betul." Ti Mo tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha! Secara tidak langsung Mo Cun adalah

Bu Lim Beng Cu (Ketua rimba persilatan)!"

 

"Kami semua mendukung," ujar yang iain dengan sungguh-sungguh.

 

"Pokoknya Kiu Thian Mo Kiong yang menjadi Pemimpin bu lim!" sahut Kiu Thian Mo Cun sambil tertawa gelak. "Selama dua ratus tahun ini, pihak golongan putih yang berkuasa di bu lim. Tapi kini sudah tidak, golongan hitamlah yang berkuasa!"

"Hidup Kiu Thian Mo Cun! Hidup golongan hitam!" seru mereka serentak, kemudian terdengar suara tawa Kiu Thian Mo Cun yang terbahak-bahak bergema ke mana-mana, disusul suara tepuk sorak yang riuh gemuruh.

-- o --

 

Partai Gobi termasuk partai kuat dan terkemuka di bu lim. Ketua partai tersebut bernama Pek Bie Siang Jin yang amat terkenal ilmu Gobi Sin Kangnya. Yang Yang Siang Jin dan Ngie Yang Siang Jin adalah adik seperguruannya. Kepandaian mereka berdua juga amat tinggi, begitu pula para murid.

Hari ini Gunung Gobi kedatangan tamu-tamu yang di luar dugaan, yakni dari Yang Wie Kiong. Ketua Gobi dan kedua adik seperguruannya segera menyambut kedatangan mereka. Dalam hati ketua Gobi dan kedua adik seperguruannya sudah menduga apa kehendak pihak Yang Wie Kiong, sebab mereka sudah mendengar berita tentang partai Siau Lim yang telah ditaklukkan Kiu Thian Mo Kiong.

 

"Maaf!" ucap Pek Bie Siang Jin atau ketua Gobi. "Ada urusan apa sehingga Cit Ciat Sin

Kun berkunjung ke mari?"

 

"Pek Bie!" Cit Ciat Sin Kun tertawa gelak. "Tentunya engkau sudah tahu tujuan kami,

partai Siau Lim adalah contoh!"

 

"Jadi a Sg S" Pek Bie Siang Jin menatapnya tajam. "Kalian adalah utusan dari Kiu Thian Mo Cun?"

"Tidak salah!" sahut Cit Ciat Sin Kun. "Oleh karena itu, aku harap engkau jangan mengadakan perlawanan, agar partai Gobi masih bisa berdiri di bu lim!"

"Sin Kun!" sela Jin Pin Mo Kun. "Kita tidak perlu banyak bicara, habiskan saja mereka!"

"Betul!" sambung Ling Ming Cun Cia. "Kita tidak usah membuang waktu, kalau mereka

tidak mau tunduk, mari kita habiskan mereka!"

 

"Aku setuju!" ujar Ngo Tok Ceng Kun. "Tanganku sudah gatal!"

"Jadi kedatangan kalian untuk menaklukkan kami partai Gobi?" tanya Pek Bie Siang Jin

dingin.

 

"Tidak salah!" sahut Cit Ciat Sin Kun dingin. "Kalau kalian tidak mau tunduk, apa

boleh buat! Kami terpaksa bertindak!"

 

"Apakah kalian yakin mampu menaklukkan kami?" tanya Yang Yang Siang Jin, adik

seperguruan ketua Gobi.

 

"Kalian ingin bertanding dengan kami?" tanya Cit Giat Sin Kun.

"Betul!" Yang Yang Siang Jin mengangguk.

"Baiklah!" Cit Ciat Sin Kun mengangguk. "Bagaiman cara kita bertanding?"

"Kita bertanding tiga babak! Kalau pihakmu kalah, harus segera angkat kaki dari sini!" sahut Pek Bie Siang Jin.

"Seandainya pihakmu yang kalah?" tanya Cit Ciat Sin Kun.

"Tentunya kami akan tunduk!" jawab Pek Bie Siang Jin.

"Baiklah!" cit Ciat Sin Kun manggut-manggut. "pihakmu siapa yang maju duluan?"

"Aku!" sahut Yang Yang Siang Jin sambil melangkah ke tengah. "Aku yang maju duluan!"

"Sin Kunl" ujar Jin Pin Mo Kun sambil bangkit berdiri, "izinkanlah aku melawannya!"

"Silakan!" cit Ciat Sin Kun mengangguk.

Jin pin Mo Kun maju ke tengah, matanya memandang Yang Yang Siang Jin sambil tertawa.

"Kita bertanding dengan tangan kosong atau senjata?' tanyanya.

"Tangan kosong!" sahut Yang Yang Siang Jin.

"Baiklah! Engkau boleh menyerangku sekarang!" ujar Jin Pin Mo Kun sambil mengerahkan lwee kangnya.

"Engkau adalah tamu. silakan menyerang duluan!" sahut Yang Yang Siang Jin dan mulai

mengerahkan lwee kangnya.

 

"Baiklah!" Jin Pin M0 Kun langsung menyerangnya.

 

Yang Yang Siang Jin segera berkelit dan balas menyerang Pula, terjadilah pertarungan yang amat seru.

 

Tak terasa pertarungan sudah lewat puluhan jurus, Jin Pin Mo Kun amat penasaran karena belum dapat mengalahkan Yang Yang Siang Jin. Maka ia berpekik keras sambil menyerang Yang Yang Siang Jin dengan jurus l_ui Tian Son Ti (Kilat Menyambar Bumi), yakni jurus andalannya. Sungguh dahsyat dan cepat gerakannya-

Yang Yang Siang Jin terkejut bukan main. Ia cepat-cepat berkelit, namun sudah terlambat, dadanya terpukul telak sehingga terpental beberapa meter.

"Aaakh a Sa S!" Jeritnya dengan mulut memuntahkan darah segar dan wajahnya pucat pias.

"Suheng!" Ngie Yang Siang Jin segera mendekatinya, lalu memapahnya ke tempat duduk.

"Bagaimana lukamu?"

 

"Tidak apa-apa," sahut Yang Yang Siang Jin lemah.

"Ha ha ha!" Jin Pin Mo Kun tertawa gelak. "Aku sudah memenangkan babak pertama! Siapa yang akan maju untuk babak kedua?"

"Aku!" jawab Pek Bie Siang Jin, ketua Gobi sambil maju ke depan.

"Jin Pin, mundur!" seru Cit Ciat Sin Kun. "Biar Thian Sat yang melawan ketua Gobi itu!"

 

"Ya," Jin pin Mo Kun segera mundur.

Thian Sat Sit Kun melangkah ke depan, matanya menatap pek Bie Siang Jin dengan tajam

seraya bertanya.

 

"Mau bertanding dengan tangan kosong atau senjata?"

"Tangan kosong!" sahut Pek Bie Siang Jin.

"Baiklah!" Thian Sat Sit Kun segera mengerahkan lwee kangnya. "Berhati-hatilah! Aku

akan segera menyerang!"

 

"Silakan!" Pek Bie Siang Jin sambil mengerahkan Gobi Sin Kang-

"Ha ha ha!" Thian Sat Sit Kun tertawa panjang, lalu mulai menyerang Pek Bie Siang Jin.

Ketua .Gobi tidak merasa gentar. Disambutnya serangan itu, sekaligus balas menyerang

pula.

 

Pertarungan yang amat seru pun mulai berlangsung. Kira-kira dua puluh jurus kemudian, mendadak Thian Sat Sit Kun memekik keras sambil menyerang Pek Bie Siang Jin dengan

jurus Ngo Gak Ap Ti (Lima Gunung menindih Bumi) yang penuh mengandung tenaga dalam.

Pek Bie Siang Jin tidak berkelit, sebaliknya malah menyambut serangan itu dengan jurus

Kong Ciak Khay Peng (Merak Mengembangkan Sayap).

 

Daar! Terdengar suara benturan keras.

Pek Bie Siang jin terdorong mundur beberapa langkah, sedangkan Thian Sat Sin Kun cuma

terdorong mundur satu langkah.

 

Untung Thian Sat Sin Kun tidak berniat melukainya, maka Pek Bie Siang Jin tidak

teriuka dalam.

 

"Aku mengaku kalah!" ujar pek Bie Siang Jin dengan wajah lesu.

"Terimakasih!" sahut Thian Sat Sin Kun .

"Pihak kami telah memenangkan dua babak, kini masih ada satu babak, pihakmu siapa yang akan maju?" tanya Cit Ciat Sin Kun.

"Pertandingan babak ketiga tidak perlu dilanjutkan lagi!" Ujar Pek Bie Siang Jin sambil menarik nafas panjang. "Pihak kami sudah kalah a Sa S"

 

"Kalau begitu a Sa S" Jin pin Mo Kun tertawa gelak. "Mulai saat ini, partai Gobi sudah

berada di bawah Perintah Kiu Thian Mo Kiong!"

 

"Ya," Pek Bie Siang Jin mengangguk.

"Kalau ada perintah dari Kiu Thian Mo Kiong, kalian harus melaksanakan perintah itu dengan baik!" tegas Ling Ming Cun Cia sambil tertawa terkekeh-kekeh, matanya menatap Pek Bie Siang Jin yang tak bersemangat itu.

"Ya!" Pek Bie Siang Jin mengangguk lagi-

-- o --

-- o --(0) (0) (0) (0)-- o --

Suasana di Butong San amat tegang mencekam, itu dikarenakan kehadiran Thian Ti Siang

Mo dan Ngo Kui sebagai utusan Kiu Thian M0 Cun.

 

Hian Beng Tocu, yakni ketua partai Butong berdiri dengan kening berkerut-kerut seakan sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Bagaimana?" tanya Thian Mo sambil menatapnya tajam. "Engkau tidak mau takluk pada Kiu

Thian Mo Cun?"

"Thian Mo!" sahut Hian Beng Tocu. "Kami tidak akan takluk begitu saja! Lebih baik kita

bertanding!"

 

"Baik!" Thian Mo tertawa gelak. "Mau bertanding berapa babak?"

"Cukup satu babak saja!" jawab Hian Beng Tocu. "Satu babak itu akan menentukan partai

Butong takluk atau kaiian yang harus enyah dari sini!"

 

"Bagus!" Thian Mo tertawa lagi. "Kalau begitu, pihakmu siapa yang akan maju untuk

bertanding?"

 

"Aku!" sahut Hian Beng Tocu.

"Baiklah!" Thian Mo manggut-manggut. "Suheng! Biarlah aku yang maju bertanding dengan

hidung kerbau itu!" ujar Ti Mo.

 

"Sute!" tegas Thian Mo. "Engkau jangan mempermalukan Kiu Thian Mo Kiong, dalam tiga

puluh jurus, engkau harus sudah mengalahkan ketua Butong itu!"

 

"Yaj" Ti Mo mengangguk, lalu maju sambil menjura pada Hian Beng Tosu- "Mari kita

mulai! Dalam tiga puluh jurus aku pasti mengalahkanmu!"

"Bagaimana kalau tidak?" tanya Hian Beng Tosu.

"Kami akan segera meninggalkan tempat ini!" sahut Ti Mo.

"Baiklah!" Hian Beng ToSu mengangguk. "Silakan Ti Mo menyerang duluan!"

"Kalau begitu, berhati-hatilah!" ujar Ti Mo dan langsung menyerang Hian Beng Tosu

dengan jurus-jurus ampuh.

 

Hian Beng Tosu berkelit, mengelak dan menghindar, bahkan balas menyerang.

Tak terasa mereka bertanding sudah dua puluh lima jurus, mendadak Ti Mo berhenti.

"Engkau cukup tangguh!" ujarnya sambil menatap Hian Beng Tosu. "Kini tinggal lima

jurus, maka engkau harus lebih berhati-hati!"

 

"Terimakasih atas peringatan Ti Mo!" ucap Hian Beng Tosu.

Ti Mo mulai menarik nafas dalam menghimpun Ti Mo Sin Kangnya, sedangkan Hian Beng Tosu juga menghimpun luiee kangnya, yakni Sam Yang Sin Kang.

 

"Hiyaaat!" Pekik Ti Mo keras sambil menyerang Hian Beng Tosu dengan jurus Ti Mo Seng Thian (Iblis Bumi Naik ke Langit). Sungguh dahsyat jurus itu, membuat Hian Beng T°su harus mundur dua langkah, sekaligus menyambut pukulan itu dengan jurus Pat Sian Nau Hai (Delapan Dewa Mengacau Laut).

Bumm! Terdengar suara benturan keras.

Hian Beng ToSu terdorong ke belakang empat langkah, sedangkan Ti Mo tetap berdiri di

tempat, tak bergeming sama sekali.

 

"Sambut lagi seranganku ini!" seru Ti Mo sekaligus menyerang Hian Beng Tosu dengan jurus Ti Mo Ban In (Seribu Bayangan Iblis Bumi).

Hian Beng Tosu terkejut bukan main, karena mendadak puluhan Ti Mo menyerangnya dari

delapan penjuru.

Snbsp!

Apa boleh buat, Hian Beng Tosu terpaksa menyambut serangan itu dengan jurus sin Liong

Cut Hai (Naga Sakti ke Luar Laut).

 

Blamm! Terdengar suara benturan yang lebih keras lagi-

Hian Beng Tosu terpental sepuluh meter, sedangkan Ti Mo cuma termUndur tiga langkah.

"Uaaakh a Sa S!" Hian Beng Tosu memuntahkan darah segar, namun masih bertahan agar

badannya tidak roboh.

 

"Ketua Butong, engkau telah kalah!" ujar Ti Mo.

"Ya!" Hian Beng Tosu mengangguk.

"Ketua Butong!" Thian Mo menatapnya. "Mulai saat ini, partai Butong berada di bawah

Perintah Kiu Thian Mo Kiong!"

 

"Ya!" Hian Beng Tosu mengangguk lagi.

"Baiklah!" Thian Mo tertawa. "Kami sudah harus Pulang ke Kiu Thian Mo Kiong, kalau ada

perintah dari sana. kalian harus melaksanakannya dengan baik!"

 

"Ya!"

 

Setelah Thian Ti Siang Mo dan Ngo Kui pergi, Hian Beng Tosu terkulai jatuh. Dari tadi ia terus bertahan agar tidak roboh, otomatis membuat luka dalamnya bertambah parah.

Sementara itu, partai Khong Tong telah ditaklukkan Cit Ti Sat dan Kiu Mo Li. Namun tiada pertandingan sama sekali. Kenapa begitu? Ternyata Khong Khong Hoatsu, ketua Khong Tong berotak cerdas. Ketika rombongan Kiu Thian Mo Cun tiba, ketua Khong Tong menyambut kedatangan mereka dengan penuh keramahan, bahkan langsung mempersilakan mereka masuk ke ruang dalam, sekaligus menyuguhkan teh.

"Khong Khong Hoatsu!" ujar Toa Ti Sat (Algojo Akhirat tertua). "Kami ke mari bukan ingin bertamu, melainkan menyampaikan Perintah dari Kiu Thian Mo Cun, bahwa partai Khong Tong harus takluk pada Kiu Thian Mo Kiong."

"oh, itu!" Khong Khong Hoatsu tertawa. "Takluk dalam arti apa?"

"Artinya partai Khong Tong harus di bawah perintah Kiu Thian Mo Cun, bahwa partai Khong Tong harus di bawah perintah Kiu Thian Mo Kiong." Toa Ti Sat memberitahukan.

"Khong Khong Hoatsu yang baik, janganlah engkau melawan kami!" ujar Toa Mo Li sambil tersenyum genit. "Lebih baik kalian takluk langsung dari pada harus bertanding. Percayalah, pihakmu yang rugi."

"Betul, Sianii (Dewi)." sahut Khong Khong Hoatsu sambil mengangguk. "Kami pasti

menurut pada Sianii."

 

"Hi hi hi!" jog Mo Li tertawa cekikikan- "Khong Khong Hoatsu, aku bukan Sianli (Dewi), melainkan Mo Li (Iblis wanita), panggil saja Toa Mo Li padaku! Aku tidak akan marah kok."

"Terimakasih atas kebesaran hati Toa Mo Li!" ucap Khong Khong Hoatsu.

Sikap ketua Khong Tong itu membuat tiga adik seperguruannya terheran-heran dan tak habis berpikir, kenapa kakak seperguruan mereka itu begitu pengecut, bahkan tampak menepuk-nepuk pantat para utusan Kiu Thian Mo Cun itu pula.

Karena kakak seperguruan mereka itu adalah seorang ketua, maka mereka pun diam, tak

berani turut berbicara.

 

"Khong Khong Hoatsu, engkau masih tampak muda dan gagah." ujar Toa Mo Li sambil menatapnya genit. "Perlukah aku menemanimu tidur?"

 

Ketiga adik seperguruan Khong Khong Hoatsu tampak gusar sekali ketika mendengar ucapan

Toa Mo Li, namun Khong Khong Hoatsu sendiri malah tertawa gelak.

 

"Aku sungguh senang kalau Toa Mo Li bersedia menemaniku tidur, tapi a Sg S" Khong Khong Hoatsu menggeieng-gelengkan kepala. "Usiaku sudah lima puluh lebih, sudah tiada nafsu lagi!"

"Oh, ya?" Toa Ti Sat tertawa. "Aku masih mampu membangkitkan nafsumu-"

"Ha ha ha|" Khong Khong Hoatsu tertawa. "Engkau sungguh pandai bergurau dan menggodai"

"Khong Khong Hoatsu!" Toa Mo Li tampak serius. "Itu disebabkan penyambutanmu amat

ramah, maka kami pun merasa senang."

 

"Betul." Toa Mo Li tertawa- "Kalau terjadi bentrokan, kalianlah yang celaka."

"Kalian semua adalah utusan Kiu Thian Mo Cun, jelas kami harus menghormati kalian,"

sahut Khong Khong Hoatsu sambil menjura.

 

"Hi hi hi!" Toa Mo Li tertawa cekikikan. "Karena kalian begitu ramah, maka kami Kiu Mo

Li bersedia menari untuk kalian."

 

"Menari?" Khong Khong Hoatsu terperangah.

"Khong Khong Hoatsu!" Toa Ti Sat tertawa terbahak-bahak. "Itu tarian yang amat

istimewa, aku berani jamin kalian pasti merasa Puas."

 

"Oh?" Khong Khong Hoatsu terbelalak, begitu pula ketiga adik seperguruannya.

"Adik-adikku!" ujar Toa Mo Li kepada yang lain. "Mari kita menari untuk partai Khong

Tong!"

 

"Ya, Kakak." jawab mereka serentak,

Kiu Mo Li melangkah meliuk-liuk ke tengah~tengah ruangan. Mereka menjura kepada ketua Khong Tong sambil tersenyum, lalu mengerling genit pada ketiga adik seperguruan ketua Khong Tong.

Setelah itu, mulailah mereka bernyanyi. Suara mereka begitu merdu, membuat hati ketiga

adik seperguruan Khong Khong Hoatsu berdebar~debar tidak karuan.

 

Berselang sesaat, Kiu Mo Li mulai menari. Begitu mulai, ketiga adik seperguruan Khong Khong Hoatsu langsung terbeliak, begitu pula para murid partai Khong T0ng itu.

Tarian mereka begitu merangsang, membuat ketiga adik seperguruan Khong Khong Hoatsu tak henti-hentinya menelan air liur. Itu tak lepas dari mata Khong Khong Hoatsu, dan diam-diam ia bersyukur telah bertindak benar. Kalau pihaknya melawan. Pasti celaka dan akan tak berkutik terhadap tarian Kiu Mo Li yang amat merangsang itu.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah Kiu Mo Li berhenti menari, lalu menjura pada Khong Khong Hoatsu.

 

"Bagaimana tarian kami?" tanya Toa Mo Li sambil tersenyum manis.

"Bukan main!" sahut Khong Khong Hoatsu sambil tertawa. Sesungguhnya ketua Khong Tong itu pun terangsang oleh tarian tersebut, namun tidak sehebat ketiga adik seperguruannya, yang wajah mereka telah memerah penuh gairah nafsu birahi.

"Apanya yang bukan main?" tanya Toa Mo Li sambil tertawa cekikikan.

"Tarian kalian," jawab Khong Khong Hoatsu. "Kalau tidak salah, tarian itu merupakan

suatu barisan kan?"

 

"Betul," Toa Mo Li mengangguk. "Sungguh tajam mata Khong Khong Hoatsu. Tarian kami

adalah Mo Li Mi Hun Tin (Barisan Pembetot Sukma Wanita Iblis)."

 

"Oh?" Khong Khong Hoatsu tersentak, namun masih tertawa. "Sungguh luar biasa barisan

itu!"

 

"Bukan cuma luar biasa, bahkan amat merangsang kan?" Toa Mo Li tertawa genit.

"Betul." Khong Khong Hoatsu mengangguk.

"Baiklah. Sudah waktunya kami kembali ke Kiu Thian Mo Kiong, sampai jumpa!" ucap Toa

Mo Li.

 

"Khong Khong Hoatsu! Kami mohon diri!" ucap Toa Ti Sat sambil tertawa- "Betul kan,

tarian itu telah membuat kalian merasa puas?"

 

"Terimakasih!" Khong Khong Hoatsu tersenyUm.

Cit Ti Sat dan Kiu Mo Li meninggalkan tempat itu. Begitu mereka sudah tidak tampak, Khong Khong Hoatsu langsung jatuh duduk di kursi sambil menarik nafas panjang.

"Kenapa kita tidak melawan?" tanya salah seorang adik seperguruannya.

"Melawan pakai apa?" Khong Khong Hoatsu balik bertanya. "Kaiau kita melawan, kita pula

yang celaka."

 

"Tapi a Sa S"

"Maksudmu partai kita akan malu?"

 

"Ya."

 

"Malu untuk bangkit, itu tidak masalah."

"Aku tidak mengerti."

"Partai Siau Lim yang begitu kuat pun masih bisa mereka taklukkan. Nah, pikirkanlah! Apakah kita mampu melawan mereka? Dari pada harus ada yang terluka, bukankah lebih baik kita menyatakan takluk? Lagi pula aku yakin, pihak Kiu Thian Mo Cun pun pasti telah menaklukkan partai besar lainnya."

"Tapi kita masih belum bertanding dengan mereka."

"Untung belum bertanding," ujar Khong Khong Hoatsu. "Kalau bertanding, kita yang akan

dipermalukan. Apakah kalian bertiga mampu melawan Mo Li Mi Hun Tin itu?"

 

"Itu a Sa S"

 

"Aku sudah bilang, malu untuk bangkit," ujar Khong Khong Hoatsu. "Kalau kita masih bernafas, tentunya masih punya kesempatan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Kiu Thian Mo Kiong. Kalian mengerti?"

"Mengerti," sahut ketiga adik seperguruannya. "Memang untung kita tidak melawan mereka. Kalau kita melawan mereka a Sa S"

 

"Tentunya kita yang celaka." Khong Khong Hoatsu menarik nafas panjang, kemudian

bergumam, "Entah bagaimana nasib partai lain a Sa S"

 

Yang paling parah adalah partai Hwa San, sebab Buiee Hoa Sin Kiam, ketua Hwa San itu amat keras hatinya, begitu pula murid-muridnya. Mereka sama sekali tidak mau menyerah, bahkan siap bertarung sampai titik darah penghabisan.

"Ketua Hwa San!" Tu ci Yen menatapnya dingin. "Jadi engkau betul-betul tidak mau

takluk pada Kiu Thian Mo Kiong?"

 

"Pokoknya tidak!" sahut Buiee Hoa Sin Kiam.

"Engkau ingin melihat para muridmu mati?" tanya Tu Ci Yen dingin.

"Kami semua siap mati demi menjaga nama baik partai Hwa San!" sahut para murid Hwa San

Pay.

 

"Baik!" Tu Ci Yen manggut-manggut. "Empat pelindung dan Lak Mo dengar perintah, bunuh

mereka semua!"

 

"Ya, Siau Mo Cun!" sahut empat pelindung dan enam iblis itu serentak, lalu mencabut

senjata masing-masing, dan sekaligus menyerang para murid Hwa San.

 

"Hiyaat!"

 

"AaakM"

 

"Aaakh a Sg S!"

Dalam sekejap sudah belasan murid Hwa San tergeletak jadi mayat. Buiee Hoa Sin Kiam marah bukan main, dan langsung maju untuk membantu para muridnya. Tapi mendadak Tu Ci Yen melompat ke hadapannya.

"Mau bertarung?" ujarnya sambil tersenyum.

"Ya!" Bwee Hoa Sin Kiam mengangguk, lalu segera menghunus pedangnya. "Mari kita bertarung dengan senjata!"

"Ketua Hwa San!" Tu Ci Yen tertawa gelak. "Aku cukup dengan tangan kosong!"

"Baiklah!" Bwee Hoa Sin Kiam menatapnya dengan mata berapi-api, kemudian mendadak menyerangnya dengan jurus Bwee Hoa Sen Knay (Bunga Bwee Memekar), yakni salah satu jurus ampuh dari Bwee Hoa Kiam Sut (Ilmu Pedang Bunga Bwee).

 

"Ha ha ha!" Tu Ci Yen tertawa panjang, lalu segera berkelit dan balas menyerang Bwee Hoa Sin Kiam dengan jurus Swat Hoa Phiau-Phiau (Bunga salju berterbangan), salah satu jurus dari Han im Ciang (Pukulan hawa dingin), yakni ilmu andalan Kiu Thian Mo Cun yang diajarkan pada Tu Ci Yen.

"Plaakh a Sa S!" jerit Bwee Hoa Sin Kiam terkena pukulan itu. Ia termundur-mundur sambil mendekap dadanya, lalu memuntahkan darah segar dan sekujur badan menggigil kedinginan.

"Guru! Guru a Sa s" Beberapa murid mendekatinya- "Bagaimana keadaan Guru?"

"Ti a Sa S tidak apa-aPa," jawab Bwee Hoa Sin Kiam. Mulutnya memuntah darah segar

lagi, dan wajahnya pucat pias seperti kertas.

 

"Ha ha ha!" Tu Ci Yen tertawa gelak. "Bagaimana ketua Hwa San? Engkau takluk atau

tidak pada Kiu Thian Mo Kiong?"

 

"Ba a Sa S baik! Aku a Sa S aku takluk!" Bwee Hoa Sin Kiam mengangguk. Kalau tidak demi murid-muridnya yang masih tersisa itu, mungkin Bwee Hoa Sin Kiam akan membunuh diri seketika juga.

"Bagus!" Tu Ci Yen tertawa. "Mulai sekarang, partai Hwa San sudah berada di bawah Perintah Kiu Thian Mo Kiong! Siapa berani membangkang, pasti dibunuh!"

Usai berkata begitu, Tu Ci Yen meninggalkan Hwa San, diikuti empat pelindung, enam

iblis dan belasan orang berkepandaian tinggi dari golongan hitam.

 

-- o --

-- o --(0) (0) (0) (0)-- o --

(Bersambung bagian 57)

Bagian ke 57. Mulai Berkelana

Ketika lima partai besar ditaklukkan Kiu Thlan mo Kiong, pada waktu bersamaan, Pek Giok Houw telah berhasil menuntut ilmu Bu Kek sin Kang, Bu Kek Ciang Hoat. Bu Kek Kiam Sut dan ilmu yang ada di dalam Kitab Ajaib.

Akan tetapi, setelah berhasil menuntut ilmu-ilmu tersebut, ia menjadi impoten, namun tidak mempengaruhi siIatnya sebagai anak lelaki.

Hek Ai Lan amat prihatin mengetahui hal tersebut, tapi karena itu atas kemauan Pek Giok Houw sendiri, maka wanita yang menjadi ibu angkatnya itu cuma bisa menarik nafas secara diam-diam.

Se Ciang Cing dan istrinya sudah mengetahui akan keberhasilan Pek Giok Houw. Walau mereka merasa girang, tapijuga merasa iba dan simpati padanya.

"Anak Houw" Se Ciang Cing menatapnya.

"Kini engkau telah berhasil, lalu apa rencanamu?"

"Paman, Giok Houw harus segera ke Tiong Goan untuk membalas dendam Kakak Liong," jawab Pek Giok Houw yang telah mengambil keputusan.

"Anak Houw, bukankah lebih baik engkau menunggu swat San Lojin? Sebab orang tua itu pernah berjanji akan ke mari."

"Paman, Giok Houw sudah tidak sabar lagi- Giok Houw ingin cepat-cepat berangkat ke Tiong cioan."

" Kalau begitu " se Ciang Cing menatapnya dalam-dalam.

" Engkau boleh berangkat, se Pit Han akan menunggu swat san LoJin, nanti mereka akan menyusulmu."

"Terima kasih, Paman" ucap Pek Giok Houw dan menambahkan,

"setelah Giok Houw berhasil membalas dendam, Giok Houw pun akan akan mengasingkan diri di suatu tempat terpencil."

"Nak " Hek Ai Lan menatapnya dengan mata bersimbah air.

"Ibu" Pek Giok Houw tersenyum. Jangan mencemaskan Giok Houw, pokoknya Giok Houw harus berhasil membunuh Kiu Thian mo Cun"

"Nak, bolehkah ibu menyertaimu?" tanya Hek Ai Lan.

"Itu akan merepotkan Giok Houw, lebih baik ibu tetap di sini," jawab Giok Houw tegas.

"Tapi"

"HekBiJin" ujar Nyonya se Ciang Cing.

"Nanti engkau berangkat bersama se Pit Han saja"

"Baiklah" Hek Ai Lan mengangguk-

"Adik Houw" se Pit Han menghampirinya.

"Biar bagaimana pun engkau harus berhati-hati."

"ya. Kakak Han." Pek Giok Houw menatapnya.

" Kakak Han jangan terus menerus memikirkan Kakak Liong, badan Kakak Han sudah semakin kurus."

"Aaakh " se Pit Han menarik nafas panjang.

"Adik Houw, mudah-mudahan engkau dapat membalas dendam Adik Liong"

"Pokoknya aku pasti mengadu nyawa dengan Kiu Thian mo Cun" ujar Pek Giok Houw.

"Aku bersumpah itu"

"Adik Houw " Mata se Pit Han mulai bersimbah air.

" Adik Liong pasti girang mendengarnya."

"Kakak Houw diri baik-baik Besok aku akan berangkat ke Tiong Goan." Pek Giok Houw memberitahukan.

"Adik Houw pun harus berhati-hati, sebab Kiu Thian mo Cun berilmu amat tinggi."

"ya" Pek Giok Houw mengangguk-

"Setelah sampai di daratan tengah, aku akan memakai nama Pek Giok Liong "

Ketika hampir tiba di kota Wie An, mendadak Pek Giok Houw mendengar suara langkah yang amat ringan terus mengikutinya, itu membuatnya mulai waspada-

Ia pura-pura tidak tahu, dan tetap berjalan dengan santai- Kemudian ia mempercepat langkahnya, tetapi langkah ringan yang mengikutinya juga bertambah cepat-

Pek Giok Houw tersenyum dingin, berselang beberapa saat kemudian, ia berhenti seraya berkata-

"Sobat Aku sudah tahu engkau terus mengikutiku- Kalau engkau lelaki, cepatlah memperlihatkan diri"

Tiada seorang pun yang muncul, Pek Giok Houw mengernyitkan kening dan tampak penasaran.

"Hai banci Kenapa engkau tidak berani memperlihatkan diri?" teriaknya dengan keras.

Namun tetap tiada seorang pun yang muncul. Akhirnya ia mengayunkan kakinya dengan santai. Pek Giok Houw betul-betul penasaran karena suara langkah ringan itu terdengar lagi.

"Aku tahu, engkau pasti pengecut, maka tidak berani memperlihatkan diri" seru Pek Giok Houw.

"Aku bukan pengecut" terdengar suara sahutan yang amat nyaring dan merdu, lalu tampak sosok bayangan ramping berkelebat ke hadapan Pek Giok Houw.

Pek Giok Houw tertegun, karena yang muncul itu ternyata seorang gadis cantik yang lincah berusia sekitar enam belas. Gadis itu terus menatap Pek Giok Houw dengan mulut cemberut, lalu menegurnya dengan wajah tidak senang.

"Kenapa engkau mengatai aku pengecut?"

"Engkau memang pengecut," sahut Pek Giok Houw.

"Kenapa tadi engkau tidak berani muncul?"

"Bagaimana mungkin aku muncul?"

"Memangnya kenapa?"

"Engkau bilang kalau lelaki cepat memperlihatkan diri. Aku bukan lelaki, bagaimana mungkin aku muncul?" ujar gadis itu sambil tertawa, dan tawanya sungguh menawan hati.

"Lagi pula aku pun bukan banci"

"Eh? Nona " Pek Giok Houw menatapnya terbelalak.

"Engkau gadis liar dari mana? Kenapa dari tadi terus menerus mengikutiku?"

"Kok tahu?" gadis itu tertawa geli-

"Tahu apa?" Pek Giok Houw yang terheran-heran.

"Tahu bahwa aku gadis liar," sahut gadis itu sambil tersenyum-

"Engkau gadis liar?" Pek Giok Houw menatapnya. Padahal tadi Pek Giok Houw mencacinya, namun gadis itu justru mengaku benar pula, itu sungguh di luar dugaannya.

"Kok malah bertanya lagi?" gadis itu menatap heran pada Pek Giok Houw, sekaligus memberitahukan,

"sejak kecil aku sudah yatim piatu, hidup terlunta-lunta, sehingga nyaris mati lantaran tiga hari tidak makan, untung ditolong oleh seorang nenek tua, kemudian aku diterima jadi muridnya."

"oooh" Pek Giok Houw memandangnya simpati.

"Dulu aku amat jelek, dekil dan ingusan," ujar gadis itu sambil tertawa.

"Tapi sungguh mengherankan, setelah aku berusia sepuluh tahun di bawah asuhan guruku, diriku pun mulai berubah cantik. Nah, engkau sudah lihat sekarang, bukankah aku cantik sekali?"

"Betul." Pek Giok Houw mengangguk- Ia amat senang pada keluguan gadis itu-

" Engkau memang cantik, tapi kenapa dulu engkau jelek?"

"Dulu aku jarang mandi, sebulan cuma mandi sekali-" gadis itu memberitahukan.

"Lagi pula aku sering kelaparan, setiap aku minta nasi semang kok pada orang kaya, tidak pernah diberi, sebaliknya malah diusir seperti anjing, oleh karena itu, aku amat benci pada para hartawan, setengah tahun yang lalu, aku mulai berkelana. Kalau aku kehabisan uang, aku pasti mencuri di rumah para hartawan."

"Pantas pakaianmu begitu indah" Pek Giok Houw tertawa.

"Akujuga mencuri pakaian para putri hartawan." gadis itu tertawa geli-

"Nah, kini aku tidak pernah kelaparan lagi, selalu makan enak dan memakai baju bagus."

"Tapi " Pek Giok Houw menggelengkan kepala.

"Tidak baik mencuri-"

"Mencuri di rumah hartawan, itu tidak apa-apa," sahut gadis itu-

"Lagi pula hasil curianku sering kuberikan pada fakir miskin."

"Jadi engkau ingin menjadi maling budiman?" tanya Pek Giok Houw sambil tersenyum.

"Tidak juga." ciadis itu menarik nafas panjang,

"ohya, namaku Ling Ling, julukanku Thian san sianli (Bidadari Thian san)"

"Engkau memang pantas memperoleh julukan itu," ujar Pek Giok Houw sungguh-sungguh.

"Sebab wajahmu secantik bidadari."

"oh, ya?" Ling Ling tertawa gembira.

"Ei? Kenapa engkau belum memberitahukan namamu?"

"Namaku Pek Giok Liong." Pek Giok Houw menggunakan nama tersebut.

"Pek Giok Liong?" Ling Ling terbelalak-

"Engkau Pek Giok Liong?"

"Engkau kenal Pek Giok Liong?" Pek Giok Houw heran.

"Aku tidak pernah bertemu maupun kenai Pek Giok Liong, tapi pernah dengar tentang dia," ujar Ling Ling.

"Dia ketua partai Hati suci, pemegang panji Hati suci Matahari Bulan, namun dia telah mati di dasar jurang, karena terpukul kejurang oleh Kiu Thian Mo Cun."

"Engkau" Pek Giok Houw menatapnya tajam.

"Kalau begitu, engkau tahu tentang Kiu Thian mo Cun?"

"Tahu." Ling Ling mengangguk-

"Belum lama ini lima partai besar telah ditaklukkan pihak Kiu Thian mo Kiong."

"oh?" Pek Giok Houw terkejut.

"Kiu Thian mo Kiong?"

"Kiu Thian mo Kiong adalah istana Mo Cun." Ling Ling menjelaskan.

"Juga ada yang Wie Kiong dan siau Mo Kiong."

"yang Wie Kiong dan siau Mo Kiong? Kedua istana itu punya hubungan dengan Kiu Thian Mo Kiong?"

"Tidak salah-"

"siapa pemimpin yang Wie Kiong dan siau Mo Kiong?"

"Cit Ciat sin Kun pemimpin yang Wie Kiong, sedangkan Siau Mo Kiong dipimpin siau Mo Cun."

"Siau Mo Cun? siapa dia?"

"Aku tidak tahu namanya, dia murid tunggal Kiu Thian mo Cun."

"oh?" sepasang mata Pek Giok Houw menyorotkan sinar tajam.

"Engkau tahu di mana yang Wie Kiong dan siau Mo Kiang?"

"Tahu." Ling Ling mengangguk-

"yang Wie Kiong dulunya adalah ekspedisi yang Wie, sedangkan siau Mo Kiong adalah rumah keluarga siauw, tapi keluarga siauw telah musnah dibantai oleh siau mo Cun."

"Dari sini mana yang lebih dekat, yang Wie Kiong ataukah siau Mo Kiong?" tanya Pek Giok Houw mendadak.

"Lebih dekat yang wie Kiong."

"Kalau begitu, aku harus ke sana."

"Ke sana? Engkau tahu jalannya?"

"Tidak tahu."

"Kalau tidak tahu, bagaimana mungkin engkau ke sana?"

"Itu " Pek Giok Houw mengernyitkan kening sambil berpikir.

" Engkau sudi membawaku ke sana?"

"sudi sih sudi, tapi aku punya syarat," sahut Ling Ling serius.

"Apa syaratmu?"

"Engkau harus beritahukan namamu."

"Aku Pek Giok Liong."

"Ei" Ling Ling menatapnya melotot.

"Aku paling tidak senang orang yang berbohong"

"Aku memang Pek Giok Liong."

"Engkau tidak bisa membohongiku Kalau engkau Pek Giok Liong, kok tidak tahu di mana Yang Wie Kiong dan siau Mo Kiong?"

"Itu" Pek cilok Houw menundukkan kepala.

"Kalau engkau mau berteman denganku, lebih baik jujur" tegas Ling Ling. Jangan membohongiku

"Aku" Akhirnya Pek Giok Houw memberitahukan sejujurnya.

"Namaku Pek Giok Houw, sedangkan Pek Giok Liong adalah kakak kembarku."

"oh?" Ling Ling menatapnya penuh perhatian.

"Jadi kalian serupa?"

"ya." Pek Giok Houw mengangguk-

"Tapi aku lebih pendek sedikit dan punya tanda merah di belakang telinga "

"Oooh" Ling Ling manggut-manggut, kemudian tanyanya.

"Jadi engkau baru mulai berkelana?"

"Betul. Aku ingin menuntut balas pada Kiu Thian mo Cun."

"Apa?" Ling Ling terbelalak-

"Engkau ingin menuntut balas pada Kiu Thian mo Cun?"

"ya" Pek Giok Houw mengangguk-

"Apakah kepandaianmu sudah setinggi Kiu Thian mo Cun?" tanya Ling Ling sambil menatapnya dalam-dalam.

"Mungkin kepandaianku masih lebih rendah dari Kiu Thian mo Cun, tapi aku harus menuntut balas padanya."

"Itu namanya nekad dan ingin cari mati." Ling Ling menggeleng-gelengkan kepala.

"Lebih baik kau pertimbangkan lagi"

"Sebelum berangkat, aku sudah mempertimbangkannya," ujar Pek Giok Houw dan menambahkan,

"Maka kini tidak perlu dipertimbangkan lagi."

"Ei Kakak Houw, engkau datang dari mana?"

"Pulau Pelangi."

"Pulau yang amat terkenal Tapi kenapa tiada seorang pun menyertaimu?"

"Tidak lama lagi mereka akan menyusul."

"oooh" Ling Ling manggut-manggut.

"Ling Ling" Pek Giok Houw memandangnya seraya bertanya,

"Engkau tahu di mana Kiu Thian mo Kiong itu?"

"Aku tidak tahu."

" Kalau begitu, aku harus ke Yang Wie Kiong bertanya pada Cit Giat Sin Kun. Dia pasti tahu," ujar Pek Giok Houw dan mendadak ia melompat pergi sambil mengerahkan ginkangnya.

"sampai jumpa "

" Kakak Houw Kakak Houw " teriak Ling Ling. gadis itu pun segera mengerahkan ginkangnya untuk mengejar Pek Giok Houw.

Kenapa Pek Giok Houw pergi mendadak? Ternyata ia tidak mau berdekatan dengan Ling Ling, sebab ia pemuda impoten.

-ooo00000ooo-

Pek Giok Houw sudah tiba di Kota Wie An. keadaan sudah gelap, maka ia menginap di rumah penginapan An An.

Ketika ia baru mau merebahkan dirinya ke tempat tidur, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang.

"siapa?" tanyanya kesal. Tiada sahutan.

Pek Giok Houw mengernyitkan kening, terdengar lagi suara ketukan. Pek Giok Houw segera membuka pintu kamar itu, seketika juga ia terbelalak, karena yang mengetuk pintu itu ternyata Thian san sianii Ling Ling.

"Eeeh?" Pek Giok Houw mengernyitkan kening.

"Kenapa engkau masih mengikutiku?"

"Engkau pergi tanpa sebab, tentunya aku amat penasaran," sahut Ling Ling sambil melangkah ke dalam, lalu duduk dengan wajah cemberut.

"Kenapa engkau meninggalkanku begitu saja?"

"Aku " Pek Giok Houw tergagap.

" Kalau engkau merasa tidak senang padaku, berterus teranglah Jangan pergi seakan merasa jijik padaku" ujar Ling Ling sengit.

"Engkau merasa malu jalan bersamaku?"

"Ling Ling, tidak baik "

"Tidak baik kita jalan berduaan?"

"ya."

"Apa alasanmu? Kalau engkau tidak berikan alasan yang tepat, aku pasti membencimu seumur hidup,"

"Lho?" Pek Giok Houw terbelalak, kemudian menarik nafas panjang.

"Ling Ling, kelak aku pasti beritahukan padamu."

" Kalau begitu, sekarang kita boleh jalan bersama kan?" wajah Ling Ling mulai berseri-

"Itu " Pek Giok Houw tampak ragu.

"Tidak mau?" Ling Ling langsung melotot-

"Ling Ling " Pek Giok Houw menggeleng-gelengkan kepala-

"Aku "

"oooh" Ling Ling manggut-manggut dan wajahnya tampak kecewa-

"Engkau sudah punya pacar kan?"

"Aku tidak punya pacar."

"Kalau engkau tidak punya pacar, kenapa berusaha menghindariku? Apakah aku kurang cantik?"

"Engkau cantik sekali. Tapi aku"

" Heran?" Ling Ling menatapnya.

"Kenapa sih engkau? Tidak mau berteman denganku?"

"Ling Ling "

"Kalau engkau bilang tidak mau berteman denganku, aku pasti segera pergi" ujar Ling Ling dan suaranya pun kedengaran mulai terisak-

"Seumur hidup aku tidak akan berteman denganmu lagi"

"Ling Ling " Pek Giok Houw ingin memberitahukan tentang dirinya yang impoten, namun merasa malu dan tidak pantas, maka dibatalkannya-

"Baiklah, Aku mau berteman denganmu."

"oh?" Ling Ling girang bukan main.

"Engkau sungguh baik, aku aku gembira sekali."

"ssst" Mendadak Pek Giok Houw memberi isyarat agar Ling Ling diam.

"Di luar ada tiga orang berendap-endap menuju ke mari"

"oh?" Ling Ling mengernyitkan kening.

Pek Giok Houw tersenyum dingin, tangannya menyambar beberapa biji kacang tanah yang di atas meja, lalu disambitkan ke arah jendela.

"Aduuuh" Terdengar suara jeritan kesakitan di luar.

Pek Giok Houw segera ke luar dan diikuti Ling Ling dari belakangnya. Tampak tiga orang berbaju hitam mengaduh-aduh kesakitan dekat jendela.

"siapa kalian bertiga?" bentak Pek Giok Houw.

"Kami kami anak buah yang wie Kiong " sahut salah seorang berbaju hitam.

"Jadi kalian menguntitku?" tanya Pek Giok Houw dingin.

"Ya." orang baju hitam mengangguk.

"Kenapa kalian menguntitku?"

"Karena engkau engkau mirip Pek siau hiap yang telah mati itu."

"Aku memang Pek Giok Liong"

"Apa?" Ketiga orang berbaju hitam itu terbelalak-

"Engkau engkau tidak mati di jurang itu?"

"Ha ha" Pek Giok Houw tertawa dingin.

"Aku tidak begitu gampang mati Beritahukan pada cit Giat sin Kun, bahwa aku akan berkunjung ke yang wie Kiong"

"ya, ya." Ketiga orang berbaju hitam mengangguk-

"HaYo, kalian boleh pergi" bentak Pek Giok Houw.

"Terima kasih, Pek siau hiap" ucap ketiga orang berbaju hitam, lalu pergi dengan langkah tertatih-tatih.

Pek Giok Houw kembali ke dalam kamar, lalu duduk sambil berpikir- Ling Ling duduk di hadapannya, memperhatikan Pek Giok Houw, lama sekali barulah bertanya.

"Kapan Kakak Houw berangkat ke yang wie Kiong?"

"Besok- Kita berangkat bersama-"

"Itu sudah tentu-" Ling Ling tersenyum.

"Tapi kita tidak perlu bertempur dengan pihak yang wie Kiong, kita ke sana cuma ingin bertanya berada di mana Kiu Thian mo Kiong itu, kan?"

"Ng" Pek Giok Houw mengangguk-

"Tapi kalau terpaksa, aku harus bertarung dengan mereka-"

"Kakak Houw, alangkah baiknya engkau menghindari pertarungan yang tak perlu" pesan Ling Ling.

"Aku sudah bilang, kalau terpaksa."

" Kakak Houw" Ling Ling tersenyum manis.

"Aku siap membantumu dan selalu mendampingimu."

"Ling Ling " Pek Giok Houw mengernyitkan kening.

"Kakak Houw" Ling Ling cemberut.

"Kenapa engkau mengernyitkan kening? Tidak senangkah aku menyatakan begitu?"

"sesungguhnya aku senang sekali, tapi "

"Kenapa?"

"Ling Ling" Pek Giok Houw berusaha senyum.

"Kelak aku pasti beritahukan padamu."

"Heran?" Ling Ling cemberut lagi.

"Kenapa sih engkau begitu misterius? Tidak boleh beritahukan sekarang?"

"Tidak boleh, memang harus kelak-"

"Baiklah-" Ling Ling tersenyum-

"yang penting engkau tidak punya pacar, jadi apa yang akan engkau beritahukan kelak, tentunya tidak akan membuat hatiku remuk-"

"Eh? Ling Ling "

"Aku" Wajah Ling Ling langsung memerah- gadis itu cepat-cepat menundukkan kepala-

Menyaksikan itu, diam-diam Pek Giok Houw menarik nafas panjang, Ia sungguh tak menyangka, baru sampai di daratan tengah, justru bertemu gadis tersebut.

-ooo0000ooo-

Pek Giok Houw dan Ling Ling berdiri di depan yang wie Kiong. Berselang sesaat tampak dua belas orang dengan pedang bergantung di punggung berjalan ke luar menghampiri mereka. Tak lama kemudian, muncul lagi empat orang yang berusia cukup lanjut, mereka adalah Cit Giat sin Kun, Thian sat, Thian sua n dan Ti Kie sin Kun. Keempat orang itu menatap Pek Giok Houw dengan tajam dan penuh perhatian.

"Betulkah engkau adalah Pek Giok Liong?" tanya Git Ciat sin Kun.

"BetuL" Pek Giok Houw mengangguk.

"Kenapa engkau ke mari? Bukankah kita sudah tidak punya urusan lagi?" tanya Cit Ciat sin Kun.

"Aku ke mari ingin bertanya, berada di mana Kiu Thian mo Kiong itu?"

Pertanyaan tersebut membuat Cit Ciat sin Kun dan lainnya saling memandang, kemudian Cit Ciat sin Kun tersenyum.

"Engkau bukan Pek Giok Liong, melainkan Hek siau Liong"

Pek Giok Houw tersentak, sebab Cit Ciat sin Kun sudah tahu tentang dirinya, maka ia pun tersenyum dingin.

"Aku Pek Giok Liong, aku tidak mati di dasar jurang"

"oh?" Cit Ciat sin Kun menatapnya,

"jadi engkau ke mari cuma ingin menanyakan Kiu Thian mo Kiong?"

"Tidak salah"

"Baiklah" Cit Ciat sin Kun manggut-manggut.

"Aku pasti beritahukan. Kiu Thian mo Kiong itu berada di Kah Lan san"

"Terima kasih" ucap Pek Giok Houw.

"Gadis itu temanmu?" tanya Cit Ciat sin Kun mendadak-

"Betul," sahut Ling Ling.

"Aku teman baiknya, dan selalu mendampinginya."

"oooh" Cit Ciat sin Kun manggut-manggut, kemudian berpesan pada gadis itu dengan ilmu menyampaikan suara.

"Nona, engkau harus mencegahnya ke Kiu Thian mo Kiong, sebab di sana banyak jebakan. Kalau dia ke sana pasti mati."

" Kakak Houw." panggil Ling Ling sambil manggut-manggut.

"Mari kita pergi"

"Baiklah" ucap Pek Giok Houw.

"Terima kasih sin Kun"

Pek Giok Houw dan Ling Ling segera meninggalkan tempat itu- Cit Ciat sin Kun masuk ke dalam dan diikuti Thiat sat, Thian suan dan Ti Kie sin Kun dari belakang. Mereka duduk di ruang dalam, Thian sat terus menerus memandang cit Ciat sin Kun.

"Apa yang dilaporkan ketiga anak buah itu memang benar, kini Pek Giok Liong telah muncul. Maka kemarin aku menyuruh  jin pin mo Kun, Ling Ming Cun cia dan Hgo TOk Ceng Kun ke siau Mo Kiong untuk melapor."

"Tapi " Thian sat mengernyitkan kening.

"Pemuda itu memang serupa dengan Pek Giok Liong, menurutku dia bukan Pek Giok Liong."

"Dia Hek siau Liong, namun kenapa dia mengaku dirinya Pek Giok Liong? Apakah dia punya hubungan dengan Pek Giok Liong itu?"

"jangan-jangan mereka saudara kembar" ujar Thian suan sin Kun.

" Aku pun berpendapat begitu," sela Ti Kie sin Kun.

"cit Ciat" Mendadak Thian sat menatapnya tajam.

"Tadi Cit Ciat berbicara pada gadis itu dengan ilmu meryampaikan suara kan?"

"jadi engkau sudah tahu?" Air muka Cit Ciat sin Kun berubah-

"Ya-" Thian sat mengangguk-

"Bolehkah kami bertiga tahu apa yang engkau bicarakan pada gadis itu?"

"Hmm" dengus cit Ciat sin Kun.

"Kalian bertiga ingin melapor pada Kiu Thian mo Cun?"

"cit Ciat" Thian sat tersenyum getir.

"Kami tidak akan berbuat begitu, terus terang, sebelum Pek Giok Liong mati, aku pernah berbicara padanya dengan ilmu menyampaikan suara. Mungkin karena itu, maka dia pun tidak membunuh kami bertiga."

"oh?" Cit Ciat sin Kun menatapnya heran.

"Sudah lama kami bertiga mengikutimu. Pada waktu itu engkau dikenal sebagai Cih seng Tay Tie- sungguh di luar dugaan, ternyata engkau masih dikendalikan Kiu Thian mo Cun," ujar Thian sat-

"Itu tidak salah-" Cit Ciat sin Kun menarik nafas panjang.

"Akhirnya akupun yang menyebabkan kematian Kian Kun Le siu. Gara-gara Kiu Thian mo Cun menghendaki panji Hati suci Matahari Bulan untuk menundukkan pihak Pulau Pelangi."

"Jadi mengenai pembantaian ciok Lau san cung itu bukan atas kemauanmu?" tanya Thian suan mendadak.

"Itu atas kemauan siang Hiong sam Kuai. kemudian kebetulan Kiu Thian mo Cun memberi perintah padaku untuk memunahkan ciok Lau san cung. Maka aku mengutus siang Hiong sam Kuai dan tu Ci yen ke Ciok Lau san cung."

"ooooh" Thiat suan manggut-manggut.

"cit Ciat, tadi engkau berbicara apa pada gadis itu?" tanya Ti Kie sin Kun mendadak.

"Agar gadis itu mencegah Hek Siau Liong ke Kiu Thian mo Kiong. Kalian tahu kan, di sana banyak jebakan, kalau Hek siau Liong ke sana pasti mati."

"BetuL" Thian sat manggut-manggut.

"Tapi apakah gadis itu akan berhasil mencegahnya?"

"gadis itu amat cerdik, aku yakin dia pasti berhasil" sahut Cit Ciat sin Kun dan menambahkan,

"ohya Tentang ini semua, kita harus berusaha mengelabui Jin pin, Ling Ming dan Hgo Tok Ceng Kun. sebab mereka bertiga cukup dekat dengan Kiu Thian mo Cun, kalau mereka melapor pada Kiu Thian mo cun tentang ini semua, nyawa kita pasti melayang."

"Ya." Thian sat mengangguk-

"Engkau sebagai pemimpin yang wie Kiong ini, apakah tiada jalan untuk menyingkirkan mereka?"

"Tiada jalan. Lagi pula masih ada Hui Eng Cap Ji Kiam." Cit Ciat sin Kun memberitahukan,

"oleh karena itu, kita harus berhati-hati. Aku telah menduga Hek siau Liong yang mengaku Pek Giok Liong pasti ke mari, maka kemarin aku mengutus jin pin, Ling Ming dan Hgo Tok Ceng Kun ke siau Mo Kiong."

"Oooooo" Thian sat, Thian suan dan Ti Kie sin Kun manggut-manggut.

sementara itu, Pek Giok Houw dan Ling Ling sudah sampai di rumah penginapan Peng An, mereka duduk berhadapan di dalam kamar.

"Kakak Houw mau berangkat ke Kiu Thian mo Kiong?" tanya Ling Ling mendadak-

"ya." Pek Giok Houw mengangguk-

"Itu amat menempuh bahaya, maka engkau tidak boleh ikut-"

"Engkau sudah tahu itu amat menempuh bahaya, kenapa masih mau ke sana?" Ling Ling mengernyitkan kening.

"Aku harus membalas dendam kakakku."

"Itu memang harus, tapi kalau ke sana cuma untuk cari mati, apa gunanya ke sana?"

"Ling Ling, biar bagaimana pun aku harus ke sana untuk membasmi Kiu Thian mo Cun."

"Kakak Houw" Ling Ling tetap berusaha mencegahnya.

" Itu percuma, oh y a, bukankah engkau bilang tidak lama lagi pihak Pulau Pelangi akan menyusulmu?"

"Betul."

"Nah" Wajah Ling Ling berseri.

" Lebih baik kita menunggu mereka, lalu berunding dengan mereka."

"Itu"

"Kakak Houw, kalau ingin bertindak sesuatu, terlebih dahulu harus dipertimbangkan dengan seksama, jangan bertindak ceroboh, pergunakan akal sehat"

"Engkau" Pek Giok Houw menatapnya, kemudian tertawa seraya berkata,

"Engkau merupakan penasihatku"

"Demi keselamatanmu, sebab kalau engkau mati, aku bagaimana?" Ling Ling menundukkan kepala.

"Ling Ling " Pek Giok Houw berkeluh dalam hati- Ia memang suka pada gadis itu, namun dirinya

 

Bagian ke 58. Pendekar Misterius

 

Bagaimana dengan Pek Giok Liong yang sedang belajar jit Goat Seng Sim Sin Kang? Ternyata ia telah berhasil mencapai tingkat kesepuluh, termasuk jit Goat seng sim Cit Ciang dan ilmu-ilmu dari lima partai besar yang tercantum di halaman belakang buku jit Goat seng sim Pit Kip tersebut.

setelah berhasil, ia menyembah di hadapan tulang belulang seng sim Tayhiap, lalu meninggalkan tempat itu melalui goa kecil yang dilaluinya ketika masuk.

satu hal yang membuatnya kecewa, yakni mukanya tidak bisa sembuh walau ia telah makan pil mujarab peninggalan seng sim Tayhiap. Ketika meninggalkan tempat itu, ia membawa obat tersebut yang berada di dalam botol porselin.

Keluar dari goa kecil itu, ia langsung mengerahkan ginkangnya meluncur ke atas. Bukan main Tubuhnya meluncur begitu cepat bagaikan kilat, dalam sekejap ia sudah berada di atas.

Pek Giok Liong menengok ke sana ke mari, mendadak sepasang matanya bentrok dengan dua gundukan tanah- segeralah ia mendekati dua gundukan tanah itu, dan seketika ia pun terbelalak dengan wajah pucat pias-

Ternyata dua gundukan tanah itu adalah kuburan siauw Hui Ceh dan cing ji, se Pit Han yang memakamkan mereka di situ.

"Hui Ceh Cing ji Hui Ceh Cingji" teriak Pek Giok Liong histeris dengan air mata berderai.

"Aaakh Kalian berdua telah mati "

Pek Giok Liong menangis sedih, berselang sesaat ia mengepalkan tinju seraya berkata:

"Kiu Thian mo Cun, aku pasti membunuhmu"

Pek Giok Liong mengambil sehelai kain putih, kemudian ia menutup mukanya dengan kain putih itu, lalu segera meninggalkan tempat tersebut.

Ia tidak langsung menuju Li Mo Kiong, melainkan menuju vihara siau Lim. Ia harus melaksanakan amanat seng sim Tayhiap, yakni mengembalikan ilmu-ilmu itu pada beberapa ketua partai.

Dalam perjalanan menuju siau Lim, ia sudah mendengar bahwa pihak Kiu Thian mo Kiong telah menaklukkan lima partai besar, bahkan beberapa hari yang lalu, partai Kun Lun dan Tiam Ceng pun telah ditaklukkannya pula.

Pek Giok Liong tidak begitu terkejut ketika mendengar berita tersebut, karena sebelumnya ia sudah tahu bahwa Kiu Thian mo Cun ingin menguasai seluruh rimba persilatan. Dalam perjalanan ini, ia memakai topi rumput yang lebar, dan menutup mukanya dengan kain putih-

Dua hari kemudian, Pek Giok Liong sampai di vihara siau Lim. Ia berdiri di depan pintu vihara itu, dua hweshio menghampirinya dengan sikap takut-takut.

"Maaf tuan ke mari mau sembahyang?" tanya salah seorang hweshio itu.

"Aku ke mari bukan mau sembahyang, melainkan mau bertemu ketua kalian," jawab Pek Giok Liong.

"Apakah tuan utusan dari Kiu Thian mo Kiong?" tanya hweshio itu dengan suara bergemetar.

"Kalian berdua tidak usah tahu siapa aku, yang penting kalian berdua harus segera ke dalam melapor"

"ya." Kedua hweshio itu segera berlari ke dalam.

Berselang beberapa saat kemudian, muncul empat pelindung siau Lim, yakni Liau Khong Taysu, seng Khong Taysu, Hian Khong Taysu, dan wie Khong Taysu-

"omitohud Apakah Anda utusan dari Kiu Thian mo Kiong?" tanya Liau Khong Taysu-

"Betul. Cepat panggil ketua kalian, ada perintah dari Kiu Than mo Cun" sahut Pek Giok Liong. Kalau ia tidak menyatakan demikian, tentunya sulit baginya bertemu ketua siau Lim.

"ya-" Liau Khong Taysu mengangguk-

"Silakan masuk"

Pek Giok Liong melangkah ke dalam, dan Liau Khong Taysu cepat-cepat pergi memanggil ketua siau Lim.

"silakan duduk, utusan Kiu Thian mo Cun" ucap seng Khong Taysu.

"Terima kasih, Taysu" Pek Giok Liong duduk.

Tak seberapa lama kemudian, muncullah ketua siau Lim bersama Liau Khong Taysu-

"Maaf, maaf" ucap ketua siau Lim-

"Aku terlambat menyambut kedatangan Anda"

"Tidak apa-apa-" Pek Giok Liong tertawa.

"Ketua siau Lim, aku ingin bicara empat mata."

"oh?" Ketua siau Lim melirik empat pelindung.

"Kami berempat akan meninggalkan ruang ini," sahut Liau Khong Taysu cepat.

"Tidak usah" ujar Pek Giok Liong.

"Ketua siau Lim, di mana ruanganmu? Aku ingin bicara di dalam ruanganmu."

"Itu " Ketua siau Lim tampak ragu.

"Tay Kak Hosiang, engkau berani melawan perintahku" bentak Pek Giok Liong mendadak-

"Baik, baik Mari ikut aku ke dalam"

"Terima kasih" ucap Pek Giok Liong, lalu mengikuti ketua siau Lim menuju sebuah ruangan. Empat pelindung juga ikut ke dalam dengan hati berdebar-debar.

setelah berada di dalam ruangan itu, mereka semua duduk bersila, begitu Pek Giok Liong, Ia duduk bersila di hadapan ketua siau Lim dan empat pelindung itu.

"Maaf, ada perintah dari mo Cun?" Tanya ketua siau Lim.

"Tidak ada perintah apa pun," jawab Pek Giok Liong.

"oh?" Ketua siau Lim dan empat pelindung saling memandang, kemudian bertanya pada Pek Giok Liong.

" Kalau begitu, ada urusan apa Mo Cun mengutus Anda ke mari?"

"Aku bukan utusan mo Cun," Pek Giok Liong memberitahukan.

"Aku mengaku sebaaai utusan mo Cun, itu agar gampang menemuimu, ketua siau Lim"

"Jadi..." Ketua siau Lim menatapnya. Bagaimana mungkin ketua siau Lim melihat wajah Pek Giok Liong, sebab muka pemuda itu ditutup dengan kain putih, bahkan memakai topi rumput yang lebar-

" Anda siapa?"

"Aku ke mari khususnya untuk mengembalikan ilmu Tat Mo sing Kang, Kiam sut dan cian Hoat padamu, ketua siau Lim"

"Apa?" Ketua siau Lim terbelalak, begitu pula keempat pelindung itu.

" Anda jangan bercanda Kitab pelajaran itu telah diserahkan pada seng sim Tayhiap ada ratusan tahun yang lalu."

"Tidak salah-" Pek Giok Liong mengangguk-

"olen karena itu, kini sudah waktunya dikembalikan pada siau Lim."

"Mana kitab itu?" tanya ketua siau Lim tegang.

"Kitab itu telah rusak," sahut Pek Giok Liong.

" Kalau begitu " Ketua siau Lim menarik nafas panjang.

"Aku akan mengajarkan ilmu itu pada kalian," ujar Pek Giok Liong.

"Tapi ilmu itu sangat tinggi, maka aku harap kalian belajar dengan sungguh-sungguh-"

"Apakah Anda telah berhasil mempelajari Tat Mo sin Kang itu?" tanya ketua siau Lim kurang percaya, sebab selama ratusan tahun ini, tiada seorang pun yang berhasil mempelajarinya -

"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku mengajar kalian?" sahut Pek Giok Liong.

" Kalau begitu, bolehkah aku tahu siapa Anda?" tanya ketua siau Lim.

"itu tidak perlu," jawab Pek Giok Liong.

"Nah, kalian berlima dengar baik-baik, aku akan mulai menurunkan ilmu itu"

Ketua siau Lim dan empat pelindung itu segera mencurahkan perhatian, walau mereka masih kurang percaya.

"Tat Mo sin Kang berdasarkan ketenangan " Pek Giok Liong mulai menurunkan ilmu tersebut.

Ketua siau Lim dan empat pelindung mendengarkan dengan penuh perhatian, semakin mendengarkan hati mereka semakin girang dan terkejut. Kira-kira dua jam kemudian, Pek tiiok Liong berhenti dan bertanya.

"Apakah kalian sudah mengerti?"

"Masih kurang mengerti,"jawab ketua siau Lim.

"Kalian harus ingat baik-baik, setelah itu dicatatlah" pesan Pek Giok Liong dan memulai menjelaskan tentang Tat Mo sin Kang. sesudah itu, ia menurunkan Tat Mo Kiam sut (Ilmu Pedang Tatmo) dan Tat Mo Ciang Hoat (Ilmu pukulan Tatmo).

"Bagaimana?" tanya Pek Giok Liong.

"Kalian sudah ingat semua?"

"sudah ingat, hanya kurang mengerti," jawab ketua siau Lim.

".Memang tidak begitu mudah belajar ilmu itu, lebih baik kalian catat, lalu mohon petunjuk pada tiga tetua "

"Tiga tetua kami masih dalam keadaan luka dalam, sekujur badan mereka pun mulai kehitam-hitaman." Ketua siau Lim memberitahukan.

"Tiga tetua kalian terluka oleh pukulan Hek sim Tok Ciang. Ilmu pukulan itu memang amat beracun, untung tiga tetua kalian memiliki Iwee kang tinggi, maka masih bisa bertahan hingga sekarang" ujar Pek Giok Liong.

"omitohud Anda kok tahu?" Ketua siau Lim heran.

"Bawa aku ke ruang meditasi mereka" Pek Giok Liong bangkit berdiri.

"ya." Ketua siau Lim mengangguk, lalu bersama empat pelindung membawa Pek Giok Liong ke ruang meditasi tiga tetua siau Lim.

Pintu ruang meditasi tidak ditutup. Ketua siau Lim melangkah ke dalam, kemudian melapor tentang kehadiran Pek Giok Liong.

"Persilahkan dia masuk" ujar Toa tianglo dengan suara lemah-

"Tayhiap" ucap ketua siau Lim-

"Silakan masuk"

Pek Giok Liong melangkah masuk- lalu duduk bersila di hadapan tiga tetua Siau Lim itu.

"Aku memberi hormat pada tiga tetua" ucap Pek Giok Liong sambil menjura-

"Bagaimana keadaan kalian bertiga?"

"omitohud sudah waktunya kami menghadap pada yang Mulia sang Buddha," sahut Toa tiang lo.

"Ngoh Beng, jangan berkata begitu" ujar Pek Giok Liong.

Betapa terkejutnya Toa tianglo, karena Pek Giok. Liong tahu gelarnya. Begitu pula ketua siau Lim dan empat pelindung, mereka memandang Pek niok Liong dengan mata terbelalak-

"omitohud Bolehkah aku tahu nama Anda?" tanya Toa tianglo.

"Ngoh Beng, matahari terbit di timur, bulan memperlihatkan diri di malam purnama, hati suci rimba persilatan damai," jawab Pek Giok Liong.

"omitohud omitohud omitohud" ucap tiga tianglo itu serentak, kemudian Toa tianglo melanjutkan,

"Maaf kami bertiga tidak bisa member hormat, karena kami bertiga telah terluka oleh Hek sim Tok ciang"

Pek Giok Liong manggut-manggut, lalu mendadak dalam keadaan duduk bersila ia bergerak menepuk punggung tiga tianglo siau Lim itu.

Ketua siau Lim dan empat pelindung terbelalak, mereka terheran-heran dan tidak tahu apa gerangan yang telah terjadi-

setelah menepuk punggung tiga tetua itu, Pek Giok Liong bangkit berdiri, lalu mengambil sebuah botol kecil dari dalam bajunya, kemudian menuang enam butir obat yang ada di dalam botol kecil itu.

"Ngoh Beng, Ngoh In, Hgoh Hun Makan obat ini, kalian bertiga pasti sembuh dalam waktu singkat" ujar Pek Giok Liong sambil memasukkan dua butir obat itu ke dalam mulut tiga tetua siau Lim.

"omitohud Terima kasih" ucap Toa tiang lo.

"Ngoh Beng, rahasiakan semua ini" pesan Pek Giok Liong.

"omitohud" sahut Toa tiang lo.

"Baiklah Aku mohon diri" ucap Pek Giok Liong lalu melangkah ke luar- Ketua siau Lim dan empat pelindung mengantarnya sampai di depan pintu vihara-

"selamat jalan Tayhiap" ucap ketua siau Lim.

"sampai jumpa" sahut Pek Giok Liong dan berpesan.

"Mulai sekarang kalian harus giat belajar Tat Mo sin Kang, jangan memperlihatkan sikap yang tidak patuh terhadap pihak Kiu Thian mo Kiong, sebab akan mencelakakan kalian semua"

"ya." Ketua siau Lim mengangguk-

"ohya bolehkah aku tahu nama besar Tayhiap?"

" Kelak kalian akan mengetahuinya," jawab Pek Giok Liong. Mendadak ia mengerahkan gin kangnya, seketika juga tubuhnya meluncur pergi secepat kilat.

Mulut ketua siau Lim ternganga lebar. "Bukan main"

Pek Giok Liong menuju Butong. Ia menemui ketua Butong, juga mengaku dirinya sebagai utusan Kiu Thian mo Cun. setelah bertemu ketua partai Butong, barulah berkata sejujurnya.

"HianBeng tosu, sesungguhnya aku bukan utusan Kiu Thian mo Cun."

"oh?" HianBeng tosu menatapnya dengan mata redup, ternyata luka dalamnya masih belum sembuh-

"Lalu siapa Anda?"

"Aku ke mari untuk mengembalikan ilmu simpanan partai kalian." Pek Giok Liong memberitahukan.

"Ilmu simpanan apa?" tanya HianBeng tosu heran.

"Hian Thian sin Kang" sahut Pek Giok Liong.

"Hah? Apa?" HianBeng tosu terbelalak-

"Hian Thian sin Kang? Apakah Anda tidak bercanda?"

" Aku tidak bercanda," ujarPek Giok Liong.

"HianBeng tosu, cepat pusatkan perhatian untuk mendengarkan"

"ya." HianBeng tosu segera memusatkan perhatiannya, sedangkan Pek Giok Liong mulai menguraikan Hian Thian sin Kang, termasuk ilmu pedang dan ilmu pukulan.

"Bagaimana? sudah ingat semua?"

"sudah Terima kasih" ucap HianBeng tosu, namun kemudian menarik nafas pamjang.

"sayang sekali, aku tidak bisa melatih, sebab "

"Jangan khawatir" Pek Giok Liong memberikannya sebutir obat.

"Makanlah obat ini, dalam waktu singkat lukamu pasti sembuh- Ingat, jangan bersikap melawan pada pihak Kiu Thian mo Kiong, bersabarlah"

"Terima kasih, Tayhiap" ucap HianBeng tosu.

Setelah meninggalkan Butong San, Pek Giok Liong langsung menuju Gobisan. Ia mengajarkan ilmu Bu siang sin Kang pada Pek Bie siangjin. Betapa girangnya ketua partai itu. Ia sama sekali tidak menyangka ilmu simpanan partainya bias kembali padanya.

"Terima kasih, Tayhiap" ucap PekBie siangjin.

"siangjin" pesan Pek Giok Liong.

" untuk sementara ini, partaimu lebih baik berdiam diri, jangan coba-coba melawan perintah dari Kiu Thian mo cun."

"Ya." PekBie siang jin mengangguk,-

Pek Giok Liong lalu berpamit. Ia lalu mendatangi partai Khong Tong untuk mengembalikan Khong Tong Bie Lek sin Kang pada ketua partai tersebut, tentunya amat menggirangkan Khong Khong Hoatsu ketua partai itu.

"Terima kasih, Tayhiap" ucapnya.

" Ketua Khong Tong" ujar Pek Giok Liong sambil manggut-manggut.

"Engkau sungguh cerdik, begitu pihak Kiu Thian mo cun muncul, langsung menyatakan takluk jadi kalian terhindar dari suatu bentrokan, aku kagum padamu"

"Tayhiap" Khong Khong Hoatsu menarik nafas panjang.

"Kalau aku tidak bertindak begitu, partaiku ini pasti sudah celaka. Pihak Kiu Thian mo Kiong memang lihay, termasuk Kiu Mo Li itu, mereka membentuk suatu barisan yang amat merangsang "

"Ngmm" Pek Giok Liong manggut-manggut lagi.

"Ilmu Bie Lek sin Kang itu tidak gampang dipelajari, mungkin harus memakan waktu setahun, itu pun cuma bisa sampai ketingkat empat."

"Maaf, apakah Tayhiap telah berhasil mencapai tingkat kesepuluh?" tanya Khong Khong Hoatsu.

"sudah." Pek Giok Liong mengangguk-

"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku mengajar padamu?"

"Tayhiap sungguh hebat Padahal selama ratusan tahun ini, tiada seorang ketua pun yang berhasil mempelajari ilmu itu-"

"Kalau engkau tekun, dalam waktu lima tahun pasti berhasil mencapai ketingkat itu"

"Terima kasih, Tayhiap" ucap Khong Khong Hoatsu.

"ohya Aku tidak perlu berpesan apa pun, sebab engkau amat cerdik-" Pek Giok Liong menatapnya.

"Mengertikah engkau apa maksudku?"

"Maksud Tayhiap agar kami jangan melawan perintah Kiu Thian mo cun, kan?"

"Betul. Engkau betul betul cerdik," Pek Giok Liong manggut-manggut, lalu berpamit.

"Tayhiap, bolehkah aku tahu nama besarmu?"

"Kelak engkau akan mengetahuinya," sahut Pek Giok Liong sambil mengerahkan ginkangnya meninggalkan tempat itu.

"Haah?" Khong Khong Hoatsu terbelalak ketika melihat tubuh Pek Giok Liong meluncur pergi bagaikan kilat.

"Luar biasa, sungguh luar biasa"

Terakhir Pek Giok Liong menuju Hwa san. Partai Hwa san masih dalam keadaan berkabung. Kali ini Pek Giok Liong tidak mengaku sebagai utusan dari Kiu Thian mo Kiong, hanya mengatakan mau melawat, setelah itu, ia pun pergi menengok Ketua Hwa san yang terluka parah itu.

"Siapa Tayhiap?" tarnya Bwe Hoa sin Kiam, Ketua Hwa san dengan wajah yang masih pucat pias.

"Aku bukan musuhmu," jawab Pek Giok Liong.

"Aku ke mari dengan maksud dan niat yang baik,"

"Terima kasih" ucap Ketua Hwa san.

"Maaf, aku tidak bisa bangun untuk menyambut kedatangan Tayhiap"

"Tidak apa-apa." Pek Giok Liong menatapnya.

"Engkau terluka oleh Han Im Ciang, siapa yang menggunakan Han Im ciang itu?"

"Siau Mo Cun."

"siau Mo Cun?" Mendadak sepasang mata Pek Giok Liong menyorotkan sinar yang membara.

"Siau Mo Cun yang membantai siauw Keh Cung itu?"

"ya." Ketua Hwa san mengangguk,-

"Hmm" dengus Pek Giok Liong dingin.

"Apakah siau Mo Cun itu tu Ci yen?"

"Maaf Aku tidak tahu" Ketua Hwa san menggelengkan kepala.

"Ketua Hwa san" Pek Giok Liong menarik nafas panjang.

"Engkau terlampau keras hati. sudah tahu pihakmu tidak kuat melawan pihak Kiu Thian mo Kiong, tapi masih mengadakan perlawanan, itu konyol. Akhirnya puluhan muridmu yang menjadi korban."

"Tayhiap, itu menyangkut nama baik Hwa san."

"Lalu bagaimana dengan nama baik siau Lim dan partai lainnya? Bukankah partai-partai itu juga takluk pada pihak Kiu Thian mo Kiong? Ketua Hwa san, bertindak sesuatu haruslah dipikirkan baik-baik, jangan ceroboh"

"yaah" Ketua Hwa san menarik nafas panjang.

"Kini rimba persilatan telah dikuasai golongan hitam, banyak golongan putih yang dibunuh "

" Ketua Hwa san" Pek Giok Liong menatapnya, kemudian memberikannya sebutir pil mujarab.

"Makanlah pil ini, engkau pasti sembuh dalam waktu singkat."

"Terima kasih, Tayhiap" ucap Ketua Hwa san, ia menerima obat tersebut dan langsung ditelannya. Tak seberapa lama kemudian, ia sudah tidak merasa dingin lagi, bahkan merasa badannya segar sekali.

" Ketua Hwa san" tanya Pek Giok Liong.

"Apakah Hwa san punya ilmu sakti?"

"Ilmu sakti?" Ketua Hwa san heran akan pertanyaan tersebut.

"Memang ada, tapi telah dihadiahkan pada seng sim Tayhiap kira-kira hampir dua ratus tahun yang lampau, lagi pula pihak Hwa san tiada satu ketua pun yang mampu belajar ilmu sakti itu"

"Hwa san Taay yang sin Kang (Ilmu sakti sang surya) kan?"

"Kok Tayhiap tahu?"

"Aku ke mari justru ingin mengembalikan ilmu itu pada Ketua. Harap dipelajari baik-baik,"

"Itu percuma." Ketua Hwa san menggelengkan kepala.

"Bagaimana mungkin aku bisa mempelajari ilmu sakti itu?"

"Aku akan mengajarkan padamu."

"Apa?" Ketua Hwa san terbelalak.

"Tayhiap akan mengajarkan padaku?"

"Betul" Pek Giok Llong mengangguk-

"Kalau engkau mempelajarinya dengan tekun, dalam waktu lima tahun, pasti bisa mencapai keberhasilan ilmu sakti itu-"

"oh?" Ketua Hwa San tampak ragu, namun wajahnya berseri-seri-

"Dari mana Tayhiap memperoleh ilmu simpanan partai kami itu?"

" Ketua Hwa san, engkau tidak perlu mengetahuinya- yang penting sekarang curahkanlah perhatianmu, aku akan mulai menguraikan ilmu Tay yang sin Kang itu-"

"ya-" Ketua Hwa san segera mencurahkan perhatiannya-

"Thay yang sin Kang mengandung unsur panas " Pek Giok Liong mulai menguraikan inti pelajaran ilmu sakti tersebut.

Ketua Hwa san mendengarkan penuh perhatian, sedangkan Pek Giok Liong terus menguraikan ilmu sakti itu, sekaligus menerangkannya- Kira-kira dua jam kemudian, usailah Pek Giok Liong menguraikan dan menerangkan ilmu sakti tersebut.

"sudah mengerti?"

" Cukup mengerti-"

"Lebih baik dicatat agar tidak lupa-" Pesan Pek Giok Liong.

"Dan ingat, jangan coba-coba melawan perintah dari pihak Kiu Thian mo Kiong, itu demi keselamatan partaimu"

"Ya, Tayhiap" Ketua Hwa san mengangguk-

"Terima kasih Bolehkah aku tahu nama besar Tayhiap?"

" Kalau sudah waktunya, engkau akan mengetahuinya-"

"Maaf, Tayhiap" Ketua Hwa san menatapnya.

"Kenapa Tayhiap memakai topi rumput yang lebar dan menutup muka dengan kain putih?"

"Tentu ada sebabnya. Kelak engkau pun akan mengetahuinya," sahut Pek Giok Liong lalu berpamit.

Ketua Hwa San mengantarnya sampai di depan pintu, Itu sungguh mengejutkan murid-murid Hwa san, karena kini ketua mereka tampak sehat dan segar.

Pek Giok Liong menuju ke yang wie Kiong. sesungguhnya ia ingin langsung menuju siau Mo Kiong, namun harus melewati yang wie Kiong tersebut, maka ia pun mampir sebentar.

"siapa engkau?" Hui Eng Cap Ji Kiam menghadang di hadapan Pek Glok Liong.

"Mau apa engkau ke mari?"

"siapa pemimpin yang wie Kiong ini?" tanya Pek Giok Liong dengan stueye. parau.

"Cit Ciat sin Kun"

"Kalau begitu, suruh dia keluar menemuiku"

"Apa?" salah seorang Hui Eng Cap Ji Kiam itu melotot-

"Engkau tahu apa? Berani mengatakan begitu?"

"Jadi kalian tidak mau ke dalam menyuruh cit Ciat sin Kun keluar?" tanya Pek Giok Liong dingin-

"Tidak salah"

"Kalian melihat sepasang mata singa batu itu?"

"Kenapa?"

"Tentunya badan kalian tidak sekeras singa batu itu kan?" Pek Giok Liong tertawa, lalu menyentilkan jari telunjuknya ke arah sebuah singa batu itu.

"Ha ha ha" salah seorang Hui Eng cap Ji Kiam tertawa gelak-

"Engkau ingin memamerkan kepandaian? singa batu itu sama sekali tidak bergeming"

"Engkau boleh coba meraba singa batu itu" sahut Pek Giok Liong.

orang itu mengernyitkan kening, kemudian mendekati singa batu itu dan sekaligus merabanya.

"Haah ?" orang itu terkejut bukan main, sebab singa batu itu telah roboh dan berubah jadi tepung.

"Bagaimana? Maukah kalian ke dalam menyuruh Cit Ciat sin Kun keluar menemuiku?" tanya Pek Giok Liong dingin.

Hui Eng Cap Ji Kiam saling memandang, lalu berlari ke dalam. Berselang beberapa saat, tampak mereka berjalan ke luar, dan disusul oleh  jin pin mo Kun, Ling Ming Cun Cia, Ngo Tok Ceng Kun, Thiat sat sin Kun, Thian Suan sin Kun, Tie Kie sin Kun dan cit Ciat sin Kun.

Begitu sampai di luar, mereka pun berdiri mengurung Pek Giok Liong, cit Ciat sin Kun menatapnya tajam. Namun karena Pek Giok Liong memakai topi rumput yang lebar dan memakai kain putih penutup muka, maka Cit Ciat sin Kun dan lainnya sama sekali tidak mengenalinya.

"siapa engkau?" tanya Cit Ciat sin Kun membentak.

"Ada urusan apa engkau ingin menemuiku?"

"cit Ciat sin Kun" Pek Giok Liong tertawa.

"Kini kedudukanmu telah diturunkan menjadi pemimpin yang wie Kiong, tidak menjabat sebagai cih seng Tay Tie lagi?"

"Diam" bentak Cit Ciat sin Kun.

"Buka kain penutup mukamu itu, agar kami tahu siapa engkau"

"cit ciat sin Kun, aku ke mari cuma ingin bertanya, siapa siau Mo Cun itu? Apakah dia tu ci yen?"

"Engkau tidak berhak mengetahuinya" sahut Cit Ciat sin Kun.

"sin Kun" ujar  jin pin mo Kun.

"Tidak perlu banyak bicara dengannya, mari kita habiskan saja dia"

"Habiskan?" Pek Giok Liong tertawa.

"Kalian ingin membunuhku?"

"Betul" sahut  jin pin mo Kun.

"Ha ha ha" Pek Giok Liong tertawa terbahak-bahak, namun secara diam ia berbicara pada Cit Ciat sin Kun dengan ilmu menyampaikan syarat.

"Cit Ciat, aku Pek Giok Liong."

"He he he" Cit Ciat sin Kun tertawa terkekeh-kekeh.

"Engkau berani mengacau di sini, berarti cari mampus" usai berkata begitu, ia pun bertanya pada Pek Giok Liong dengan ilmu menyampaikan suara pula-

"Betulkah engkau Pek siau hiap?"

"Kalian yang harus mampus di tanganku" sahut Pek Giok Liong dan berbicara lagi dengan ilmu menyampaikan suara.

"Aku memang Pek Giok Liong, aku tidak mati di jurang"

"Syukurlah" sahut Cit Ciat sin Kun dengan ilmu menyampaikan suara.

"Siau Mo Cun adalah tu Ci Yen, dia dan orang-orangnya yang membantai siauw Keh Cung"

"Hei" bentak Ling Ming Cun cia.

"Engkau tidak tahu tempat apa ini?"

"Yang wie Kiong, aku sudah tahu," sahut Pek Giok Liong dingin.

"Cabang dari Kiu Thian mo Kiong kan?"

"Engkau sudah tahu, kok masih berani mengacau di sini?" Hgo Tok Ceng Kun menatapnya tajam.

"siapa engkau, beritahukan namamu"

"Aku ke mari untuk membasmi kalian" sahut Pek Giok Liong, kemudian bertanya pada Cit Ciat sin Kun dengan ilmu menyampaikan suara.

"Bagaimana sifat ketiga orang ini?"

"Pek siau hiap, mereka bertiga dan Hui Eng Cap Ji Kiam harus di bunuh" ujar cit Ciat sin Kun dengan ilmu yang sama. setelah itu ia pun terkekeh-kekeh-

"Engkau ingin membasmi kami? Hmm Engkaulah yang harus dibasmi"

"oh? Kalau begitu, kalian boleh maju bersama" tantang Pek Giok Liong.

"Tidak perlu maju bersama, cukup kami dan Hui Eng Cap Ji Kiam saja" sahut  jin pin mo Kun.

Pek Giok Liong memang menghendaki begitu, maka ia pun tertawa panjang seraya berkata,

"Baiklah Kalian bertiga dan Hui Eng Cap Ji Kiam boleh maju"

"Mari kita maju" seru  jin pin mo Kun.

Ling Ming Cun cia, Ngo Tok Ceng Kun dan Hui Eng Cap Ji Kiam langsung maju, sedangkan Cit Ciat sin Kun, Thian sat, Thian Suan dan Ti Kie sin Kun mundur beberapa langkah-

"Bersiap-siaplah engkau" ujar jin pin mo Kun.

"Kami akan mulai"

"silakan" Pek Giok Liong tetap berdiri di tempat,

"serang" seru  jin pin mo Kun.

seketika juga mereka bertiga dan Hui Eng Cap Ji Kiam dengan pedang penyerang Pek Giok Liong.

"Ha ha ha" Pek Giok Liong tertawa panjang, kemudian mendadak tubuhnya berkelebat ke sana ke mari bagaikan kilat menyambar. Terdengarlah suara jeritan yang menyayat hati di sana sinu "Aaakh" "Auuh" "Aaaakh"

Dalam waktu sekejap jin pin Mo Kun, Ling Ming Cun cia, Ngo Tok Ceng Kun dan Hui Eng Cap Ji Kiam telah tergeletak menjadi mayat.

Bukan main terkejutnya Cit Ciat, Thian sat, Thian Suan dan Ti Kie sin Kun, mereka berempat menatap Pek Giok Liong dengan mata terbelalak-

setelah membunuh lima belas orang itu, Pek Giok Liong lalu menghampiri Cit Ciat sin Kun.

Thian sat, Thian Suan dan Ti Kie sin Kun langsung bersiap-siap, namun cit Ciat sin Kun segera menggoyangkan tangannya.

"Dia Pek Giok Liong." bisik Cit Ciat sin Kun.

"oh?" Thian sat, Thian Suan dan Ti Kie sin Kun tertegun, tapi kemudian wajah mereka tampak berseri.

"Aku tidak akan membunuh kalian berempat, karena kalian telah bertobat," ujar Pek Giok Liong.

"Terima kasih" ucap Cit Ciat sin Kun sambil menjura.

"Kami amat girang, sebab Pek siau hiap masih hidup,"

"Pek siau hiap, ilmu apa yang engkau pergunakan tadi?" tanya Thian sat sin Kun.

"siau Lim Tat Mo sin ciang." Pek Giok Liong memberitahukan.

"Haah?" Thian sat terkejut.

"Itu "

"Thian sat, tentang ini engkau tidak perlu tahu. yang penting kalian harus merahasiakan tentang kemunculanku. Kalian boleh lapor pada Kiu Thian mo cun, bahwa aku mahir ilmu Tat Mo sin ciang, Butong Hian Thian ciang Hoat, Gobi Bu siang sin Kang, Hwa san Thay Yang ciang Hoat dan Khong Tong Bie Lek sin Kang."

"Pek siau hiap " Cit Ciat sin Kun terbeliak.

"semua ilmu itu dapat menandingi Hek Sim TOk Ciang, ilmu rahasia^ Kiu Thian mo Cun itu?"

"Boleh dikatakan setanding, namun belum tentu dapat mengalahkannya," jawab Pek Giok Liong.

" Kalau begitu " Wajah Cit Ciat sin Kun tampak kecewa.

"Bagaimana mungkin Pek siau hiap dapat membasmi Kiu Thian mo Cun?"

"Aku masih memiliki ilmu lain yang dapat membasmi Kiu Thian mo Cun." Pek Giok Liong memberitahukan.

"Ilmu apa itu?" tanya Cit Ciat sin Kun girang.

"Jit Goat seng sim sin Kang," jawab Pek Giok Liong.

"Ilmu tersebut khusus untuk melawan ilmu Hek sim sin Kang."

"syukurlah" ucap Cit Ciat sin Kun.

"ohya, belum lama ini muncul seorang pemuda mengaku dirinya adalah Pek siau hiap, dia didampingi seorang gadis yang cantik manis."

"Engkau tahu siapa dia?" tanya Pek Giok Liong heran.

"Dia memang mirip Pek siau hiap- Kalau tidak salah dia bernama Hek siau Liong yang ditolong swat san Lo Jin." cit Ciat sin Kun memberitahukan, "sungguh mengherankan, Pek siau hiap dan dia seperti pinang dibelah dua."

"oh? Mau apa dia ke mari?"

"Menanyakan tentang Kiu Thian mo Kiong. Aku memberitahukan berada di mana Kiu Thian Mo Kiong itu, tapi juga berpesan pada gadis yang mendampinginya dengan ilmu menyampaikan suara, agar gadis itu mencegah Hek siau Liong pergi ke istana Mo Cun itu"

"Engkau memang baik hati." Pek Giok. Liong manggut-manggut dan bertanya.

"Kenapa engkau berpesan begitu pada gadis itu?"

" Kalau Hek siau Liong itu ke Kiu Thian mo Kiong, dia pasti mati," sahut Cit Ciat sin Kun.

"oh? Kenapa?"

"sebab di istana mo Cun itu telah dipasang berbagai jebakan."

"Engkau tahu jelas mengenai semua jebakan itu?"

"sama sekali tidak tahu."

"Cobalah selidiki semua jebakan itu"

"ya." Cit Ciat sin Kun mengangguk-

"Oh y a, rumah keluarga siauw telah dijadikan siau Mo Kiong. siauw Mo Cun adalah TU Ci yen, anak angkatkujuga murid kesayangan Kiu Thian Mo Cun. Dia dan para anak buahnya membunuh semua marga siauw, bahkan mereka sering membunuh para pendekar dari golongan putih dan memperkosa pula, maka Pek siau hiap harus membasmi mereka."

"Itu sudah pasti" sahut Pek Giok Liong.

"Baiklah Aku harus segera berangkat ke siau Mo Kiong"

"Pek siau hiap tunggu" seru Cit Ciat sin Kun.

"Ada urusan apa?" tanya Pek Giok Liong.

"Pek siau hiap harus melukai kami berempat." Cit Ciat sin Kun memberitahukan dengan sungguh-sungguh.

"oooh" Pek Giok Liong manggut-manggut mengerti-

" Kalau begitu, aku harus melukai kalian sampai parah sekali-"

"Memang harus begitu" Cit Ciat sin Kun mengangguk-

"Baiklah" Pek Giok Liong mengibaskan tangannya ke arah empat orang itu, dan seketika juga terdengar suara jeritan.

"Aaakh"

Cit Ciat, Thiat sat, Thian suan dan Ti Kie sin Kun terpental, lalu terkulai dengan mulut mengalirkan darah segar. Mereka berempat telah terluka dalam.

"Terima kasih" ucap Cit Ciat sin Kun lemah-

"Engkau harus melapor pada Kiu Thian mo Cun dalam keadaan luka parah, dan cukup engkau seorang diri yang pergi lapor," ujar Giok Liong.

"Ya." Cit Ciat sin Kun mengangguk-

"Aku telah menaruh obat ke dalam saku baju kalian, seusai melapor, barulah kalian makan obat itu, dan dalam waktu singkat kalian pasti sembuh-"

"oh?" Cit Ciat sin Kun dan lainnya saling memandang, kemudian cit Ciat sin Kun bertanya,

"Kapan Pek siau hiaup menaruh obat itu ke dalam saku baju kami?"

"Ketika aku mengibaskan tanganku ke arah kalian." Pek Giok Liong memberitahukan.

"Bukan main "ujar Cit Ciat Sin Kun takjub.

-ooo00000ooo-

Pek Giok Liong berdiri di depan pintu Siau Mo Kiong, seketika juga bayangan Siauw Hui Ceh muncul di pelupuk matanya, begitu cantik dan lembut. Namun kini, gadis itu telah tiada.

Itu adalah rumah keluarga Siauw, tapi kini telah dijadikan Siau Mo Kiong yang juga menyerupai tempat maksiat.

"Hei" bentak empat orang yang menjaga di situ.

"Mau apa engkau berdiri di situ?"

Pek Giok Liong menatap mereka, itu merupakan wajah asing, berarti bukan mantan orang-orang Siauw Keh Cung.

"Aku mau ke dalam," sahut Pek Giok Liong sambil mengayunkan kakinya.

"Sebutkan namamu Kalau tidak, engkau tidak boleh masuk" Keempat orang itu menghadang Pek Giok Liong.

"Hmm" dengus Pek Giok Liong dingin sambil mengibaskan tangannya.

"Akhh " terdengar suara yang menyayatkan hati, keempat orang itu terpental sejauh belasan meter, terkulai dan nafas pun putus seketika.

Pek Giok Liong melangkah ke dalam, salah seorang menyaksikan kejadian tersebut, langsung berlari ke dalam untuk melapor.

"Berhenti" bentak lima orang bersenjata golok.

"Siapa engkau? Kok begitu berani masuk"

Pek Giok Liong mengibaskan tangannya, kelima orang itu terpental dan mati seketika tanpa mengeluarkan suara jeritan.

"siapa berani mengacau di siau Mo Kiong? Mau Cari mampus ya" Muncul empat pelindung dan enam iblis, setelah itu tu Ci yen pun muncul, Ia menatap Pek Giok Liong tajam, lalu mengarah pada mayat-mayat itu seraya bertanya.

"Engkau yang membunuh mereka?"

"Tidak salah" sahut Pek Giok Liong dengan suara parau, agar tu Ci yen tidak mengenali suaranya,

"siapa engkau?"

"Aku adalah aku"

"Hm" dengus tu Ci yen dingin-

"Kenapa mukamu ditutup dengan kain putih? Takut dikenali orang?"

"Itu urusanku" sahut Pek Giok Liong.

"Engkau dan orang-orangmu yang membunuh semua marga siauw?"

"Betul" tu ci yen mengangguk-

"Engkau siapa? Ada hubungan apa dengan keluarga siauw?"

"Engkau tidak perlu tahu yang jelas hari ini kalian semua harus mati"

"Kami semua harus mati" tu Ci yen tertawa terkekeh-kekeh-

"Hehe he, engkaulah yang akan mampus"

"siauMo Cun, kita tidak perlu banyak bicara dengannya-" ujar empat pelindung.

"Habiskan saja dia"

"Ng" tu Ci yen manggut-manggut.

"Kalian berempat dan enam iblis harus segera membunuhnya "

" ya." sahut mereka serentak-

"Apakah para anak buahmu sudah berkumpul di sini?" tanya Pek Giok Liong mendadak-

"sudah" sahut Tu Ci yen.

"Bagus Bagus" Pek Giok Liong tertawa.

"Nah, kalian boleh maju bersama"

"serang" seru tu ci yen-

Empat pelindung, enam iblis dan para anak buahnya langsung menyerang Pek Giok Liong.

"Ha ha ha" Pek Giok Liong tertawa panjang. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat kian kemari, dan seketika juga terdengar suara yang menyayat hati di sana-sini. "Aaakh" "Aaakh "

Hanya dalam waktu beberapa detik, empat pelindung, enam iblis dan para anak buah tu Ci yen itu semuanya telah menjadi mayat.

Menyaksikan kejadian itu, wajah tu Ci yen langsung berubah pucat, Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa orang itu memiliki kepandaian yang begitu tinggi, sehingga membuat nyalinya jadi ciut.

"Engkau siapa? Aku murid Kiu Thian mo Cun" tu Ci yen menyebut nama gurunya, agar membuat orang tersebut mundur.

"Aku sudah tahu bahwa engkau murid Kiu Thian mo Cun, kepandaianmu dipulihkan olehnya. Engkau mantan murid almarhum siauw Thian Lin, anak angkat Cit Ciat sin Kun, kan?"

"Kok engkau tahu?" tu ci yen terkejut.

"Kini cuma tinggal engkau seorang diri, lagi pula engkau pun harus mati" ujar Pek Giok Liong sepatah demi sepatah.

"Maka kuberitahukan pada mu siapa diriku ini"

"Beritahukalah"

"Aku Pek Giok Liong"

"Apa?" tu Ci yen tersentak-

"Engkau Pek Giok Llong?"

"Tidak salah" Pek Giok Liong mengangguk-

"Aku tidak mati terpukul kejurang, maka aku ke mari untuk mencabut nyawamu"

"Pek Pek Giok Liong?" Tu Ci yen masih kurang percaya-

"siauw Hui Ceh dan cingji mati di tangan gurumu, oleh karena itu aku pun harus membunuhnya "

"Itu urusan guruku, tiada kaitannya dengan diriku" sahut tu Ci yen yang mulai ketakutan.

"Engkau pun harus mati sebelumnya aku telah mengampunimu, namun engkau malah membantai semua marga siauw yang ada di rumah ini tu Ci yen" bentak Pek Giok Liong.

"Nah, bersiap-siaplah untuk mati"

"Hm" dengus tu Ci yen dingin,, "Kalau engkau berani, lawanlah guruku"

"Sekarang aku membunuhmu, setelah itu barulah aku membunuh gurumu" sahut Pek Giok Liong.

"Karena engkau sudah begitu jahat, maka engkau harus mati"

"Engkau pengecut, tidak berani melawan guruku" ejek tu Ci yen, itu agar Pek Giok Liong melepaskannya.

"Begini saja Kalau engkau bisa menahan satu jurus seranganku, aku pasti melepaskanmu"

"sungguh?" tu Ci yen bergirang dalam hati.

"Sungguh" sahut Pek Giok Liong dan menambahkan.

"Bahkan engkau pun boleh menyerang diriku"

"Baiklah" tu Ci yen segera menghimpun Han Im sin Kang (Tenaga sakti Hawa Dingin), ia ingin menyerang Pek Giok Liong dengan Han Im ciang.

"oooh, Han Im sin Kang"

"Betul" tu Ci yen tertawa dingin.

"Engkau takut?"

"Takut?" Pek Giok Liong tertawa gelak-

"Ha ha ha Engkau boleh menyerangku dengan jurus Han Im ciang, aku tidak akan balas menyerangmu"

"Baik Bersiap-siaplah" tu Ci yen langsung menyerang dengan Han Im ciang jurus swat Hoat Phiau-Phiau (Bunga salju Berterbangan).

Pek Giok Liong tertawa panjang, secepat kilat ia mengelak mematahkan jurus itu.

tu Ci yen penasaran sekali, cepat-cepat ia menyerang lagi dengan jurus Leng Thian Hong Khi (Hembusan Angin Dingin). Betapa dinginnya hawa pukulan itu, namun Pek Giok Liong sama sekali tidak merasakan itu Mendadak tubuhnya meluncur ke atas sehingga tu Ci yen menyerang tempat kosong. Ketika tubuh Pek Giok Liong mulai melayang turun, tu Ci yen tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung menyerang Pek Giok Liong dengan jurus Man Thian swat Hoa (Bunga salju di Langit).

Terjadi sesuatu yang amat mengejutkan tu Ci yen, karena mendadak tubuh Pek Giok Liong kembali meluncur ke atas, sehingga membuat serangan tu Ci yen terluput.

"TU Ci yen, sudah tiga jurus" ujar Pek Giok Liong yang tubuhnya mulai melayang turun.

"Kini aku akan menyerangmu satu jurus Kalau engkau dapat mengelak, aku pasti melepaskanmu"

Usai berkata begitu, Pek Giok Liong pun menyentilkan jari telunjuknya ke arah TU ci yen. Itu adalah ilmu Ceng Thian sin ci (Telunjuk sakti Penggetar Langit)-

TU Ci yen merasa heran dan ketika ia baru mau melompat ke belakang, tahu-tahu sekujur badannya sudah kaku, sama sekali tidak bisa bergerak dan merasa dadanya seperti tertusuk ribuan jarum.

"Aaaakh" TU Ci yen mengerang sambil mendekap dadanya, kemudian memuntahkan darah segar. "uaaakh"

"TU Ci yen" Pek Giok Liong tertawa dingin.

"Nyawamu cuma tinggal beberapa detik lagi, engkau mau pesan apa?"

"Betulkah engkau Pek Giok Liong?" tanya tu Ci yen lemah-

"Betul" Pek Giok Liong mengangguk-

"Kenapa mukamu ditutup dengan kain putih?"

"Mukaku telah rusak terhantam pukulan Hek sim TOk Ciang, ilmu rahasia gurumu, Kiu Thian mo Cun"

"Engkau, engkau " Mendadak sepasang mata tu Ci yen mendelik dan tak lama nafasnya pun putus.

Pek Giok Liong memandang mayat tu Ci yen, ia menggeleng-gelengkan kepala sambil menarik nafas, lalu melangkah pergi.

(Bersambung bagian 59)

Bagian ke  59 Menggemparkan

Kematianjin Pin mo Kun, Ling Ming Cun cia, Ngo Tok Ceng Kun, Hui Eng Cap ji Kiam, Tu Ci yen, empat pelindung, enam iblis dan para anak buah Tu Ci yen, itu sungguh menggemparkan rimba persilatan.

Para pendekar dari golongan putih bersorak penuh kegembiraan, sedangkan para penjahat dari golongan hitam mulai ketakutan. Tiada seorang pun tahu siapa orang yang memakai topi rumput lebar dengan wajah ditutup kain putih, oleh karena itu, maka ia diiuluki Pendekar Misterius.

Tentang peristiwa tersebut juga telah sampai di telinga beberapa ketua partai besar. Para ketua itu merasa girang bukan main, terutama Ketua Siau Lim. yang paling murka adalah Kiu Thian mo Cun. Ketika menerima laporan dari Cit Ciat Sin Kun yang terluka parah itu, ia langsung memukul meja sehingga meja itu hancur berkeping-keping.

"Siapa pendekar misterius itu?" tanya Kiu Thian mo Cun pada Cit Ciat Sin Kun dengan suara gusar.

"Maaf, hamba sama sekali tidak tahu" jawab cit Ciat Sin Kun, kemudian menambahkan,

"Tapi orang itu mahir ilmu partai siau Lim, Butong, go Bi, Hwa San dan Khong Tang."

"oh?" Kiu Thian mo Cun diam sejenak, berselang sesaat baru bertanya.

"Ilmu-ilmu apa itu?"

"siau Lim Tat Mo sin Kang, Butong Hian Thian sin Kang, Gobi Bu siang sin Kang, Hwa san Thay yang sin Kang dan Khong Tong Bie Lek sin Kang" jawab Cit Ciat sin Kun memberitahukan.

"Omong kosong" hardik Kiu Thian mo Cun.

"Bagaimana mungkin orang itu menguasai ilmu tersebut?"

"Benar." cit Ciat sin Kun mengangguk- Jin Pin Mo Kun, Ling Ming Cun cia, Ngo Tok Ceng Kun dan Hui Eng Cap ji Kiam terbunuh oleh Tat Mo Ciang (Pukulan Tatmo)"

"oh?" Bagaimana ekspresi wajah Kiu Thian mo Cun pada saat itu, tiada seorang pun yang tahu, sebab dia memakai kedok iblis.

"Kalian berempat terluka oleh pukulan apa?"

"Butong Hian Thian sin ciang (Pukulan sakti Hian Thian)."

"Pantas lukamu begitu parah Baiklah- sekarang engkau boleh kembali ke yang Wie Kiong untuk beristirahat-"

"Terima kasih, Mo Cun" ucap cit Ciat sin Kun.

"ohya, bagaimana jebakan-jebakan yang di sini?"

"Kenapa engkau menanyakan itu?" suara Kiu Thian mo Cun bernada tidak senang.

"Apakah ada sesuatu?"

"Benar, mo Cun" cit ciat sin Kun mengangguk-

"Sebelum muncul pendekar misterius itu, terlebih dahulu muncul Pek Giok Liong "

"Apa?" Kiu Thian mo Cun tertegun.

"Pek Giok Liong? Dia belum mati di jurang?"

"Hamba yakin bahwa dia bukan Pek Giok Liong, hanya mirip Pek Giok Liong saja" ujar Cit Ciat sin Kun memberitahukan.

"sebab dia menanyakan berada di mana Kiu Thian mo Kiong, itu pertanda dia bukan Pek Giok Liong."

"oh, lalu apa jawabmu?"

"Tentunya hamba memberitahukan berada di mana Kiu Thian mo Kiong ini. mo Cun pasti tahu maksud tujuan hamba kan?"

"Ngmm" Kiu Thian mo Cun manggut-manggut.

" Kalau orang yang mengaku dirinya Pek Liong berani ke mari, dia pasti mati"

"Tapi jebakan-jebakan"

"seandainya pendekar misterius itu ke mari, dia pun pasti mati." Kiu Thian mo Cun tertawa dingin.

"sebab semua jebakan yang ada di sini amat rahasia, tiada seorang pun yang tahu, kecuali aku."

"oh? Tapi yang membuat jebakan-jebakan itu?"

"setelah selesai, aku pun membunuh mereka semua. Nah, siapa yang bisa tahu rahasia semua jebakan itu?" Kiu Thian mo Cun tertawa puas.

cit ciat sin Kun merasa kecewa sekali, karena ia tidak berhasil mengorek rahasia jebakan itu dari mulut Kiu Thian mo Cun.

"Mo Cun" tanya Thian mo mendadak.

"Kapan kita akan menyerbu partai Kay Pang?"

"Akan kupertimbangkan, sebab kita masih belum tahu berada di mana markas pusat partai itu," sahut Kiu Thian mo Cun dan menambahkan,

"Thian mo, engkau dan Ti mo harus segera menyampaikan perintah ku pada tujuh ketua partai, agar segera mencari pendekar misterius sekaligus membunuhnya."

"Thian mo menerima perintah" sahut Thian mo dan bertanya,

" Kapan kami harus berangkat?"

"Sekarang."

"Cit ciat, sekarang engkau pun boleh kembali ke yang Wie Kiong untuk mengobati lukamu."

"Terima kasih Mo Cun" cit Ciat sin Kun memberi hormat, lalu meninggalkan Kiu Thian mo Kiong dengan perasaan kecewa, karena Kiu Thian mo Cun tidak memberitahukan tentang semua jebakan yang ada di Kiu Thian mo Kiong itu.

-ooo00000ooo-

Peristiwa mengenai yang Wie Kiong dan siau mo Kiong juga masuk ke telinga swat san Lo Jin. orang tua itu segera ke markas pusat Kay Pang untuk menemui ouw yang seng Tek, tetua Kay Pang itu. untung swat san Lo Jin cepat tiba, kalau tidak, ia pasti tidak bertemu tetua Kay Pang itu, sebab ouw yang seng Tek sudah siap pergi-

"saudara tua" ouw yang seng Tek girang bukan main ketika melihat swat san Lo Jin.

"Tumben, engkau ke mari"

"Pengemis bau, tentunya engkau sudah dengar berita tentang pendekar misterius itu kan?" swat san Lo Jin menatapnya.

"Tentu." ouw yang seng Tek tertawa,

"Itu merupakan peristiwa yang amat menggemparkan, bagaimana mungkin Kay Pang tidak mengetahuinya?"

Mereka justru tidak tahu kemunculan Pek Giok Houw, karena selama ini Ling Ling selalu mengajak Pek Giok Houw pesiar di tempat-tempat yang indah sambil menunggu kedatangan orang-orang Pulau Pelangi.

"Itu sungguh mengherankan" gumam swat san Lo Jin.

"siapa sebenarnya pendekar misterius itu? Kenapa dia selalu memakai topi rumput dan menutup mukanya dengan kain putih?"

"Kalau tidak begitu, tentunya dia tidak akan dijuluki pendekar misterius." sahut ouw yang seng Tek-

"yang jelas dia pendekar dari golongan putih-"

"Benar." swat san Lo Jin mengangguk-

"Dia telah membunuhjin Pin Mo Kun, Ling Ming Cun cia, Ngo Tok Ceng Kun, Hui Eng Cap ji Kiam dan tu Ci yen serta yang lainnya. Ha ha Hati Kiu Thian mo Cun pasti terpukul berat oleh peristiwa itu"

"Benar." ouw yang seng Tek tertawa gelak-

"Kalau dia punya jenggot, pasti kebakaran jenggot saking murkanya"

"Tidak salah-" swat san Lo Jinjuga tertawa,

"ohya, entah bagaimana dengan Pek Giok Houw? Bagaimana kalau kita ke Pulau Pelangi untuk menengoknya dan mengabarkan pada tocu tentang peristiwa itu?"

"Setuju." ouw yang seng Tek mengangguk-

"Aku memang berniat ke sana-"

"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang" ajak swat san Lo Jin.

"Baik," ouw yang seng Tek mengangguk lagi.

"mari berangkat"

se ciang cing dan isterinya serta yang lainnya menyambut kedatangan swat san Lo Jin dan ouw yang seng Tek dengan penuh kegembiraan.

"se tocu" ouw yang seng Tek tertawa gelak-

"Apa kabar selama ini?"

"Baik-baik saja,"jawab se Ciang Cing sambil tersenyum.

"Bagaimana dengan kalian?"

"Kami pun baik-baik saja," sahut swat san Lo Jin.

"ohya, bagaimana dengan Pek Giok Houw? Apakah dia telah berhasil?"

"Dia telah berangkat ke Daratan Tengah-" se Ciang Cing memberitahukan.

"Kalian tidak mendengar kabar beritanya?"

"Haah ?" swat san Lo Jin dan ouw yang seng Tek saling memandang.

"Pek Giok Houw sudah ke Tiong tioan?"

"Betul." se ciang Cing mengangguk-

"Padahal aku sudah menyuruhnya agar menunggu, tapi dia berkeras mau pergi juga-"

"Heran?" gumam ouw yang seng Tek-

"Kok tiada kabar beritanya sama sekali? seharusnya kami tahu itu-"

"Dia telah berhasil mencapai tingkat tertinggi ilmu-ilmu itu?" tanya swat san Lo Jin.

"Dia memang telah berhasil."

"Se tocu" swat san Lo Jin menatapnya seraya bertanya,

"Kalau Pek Giok Houw bertanding melawan jin pin mo Kun, Ling Ming Cun cia, Ngo Tok Ceng Kun dan Hui Eng Cap Ji Kiam, apakah Pek Giok Houw akan menang?"

"Bisa menang, tapi cukup kewalahan juga,"jawab se Ciang Cing, kemudian bertanya.

"Kenapa lo cianpwee menanyakan hal itu?"

"Karena belum lama ini telah muncul seorang pendekar misterius yang berilmu amat tinggi." swat san Lo Jin memberitahukan.

"Dalam sekejap dia mampu membunuh mereka."

"oh?" se Ciang Cing terkejut,

"siapa pendekar misterius itu?"

"Aku kira dia Pek Giok Houw, ternyata bukan." swat san Lo Jin menjelaskan..

"Bahkan dia pun telah membunuh empat pelindung, enam iblis dan siau Mo cun."

"oh?" se ciang cing bertambah terkejut.

"Lo cianpwee tidak kenal pendekar misterius itu?"

"Tiada seorang pun yang mengenalnya," sahut ouw yang seng Tek-

"Lho?" se ciang cing terheran-hera n.

"Kok begitu?"

"Tidak usah heran" ujar swat san Lo Jin.

"sebab dia selalu memakai topi rumput lebar dan menutup mukanya dengan kain putih."

"Kenapa dia berbuat bagitu?" se Ciang Cing tidak habis berpikir-

"Mungkinkah dia tidak menghendaki orang lain mengenalnya?"

"Mungkin-" ouw yang seng Tek mengangguk dan menambahkan,

"yang paling mengejutkan adalah dia mampu membunuh siau Mo Cun hanya dalam satu jurus."

"ohya Ilmu apa yang dipergunakannya?" tanya se Ciang Cing mendadak.

"Justru amat membingungkan." swat san Lo Jin menarik naIas.

"Aku dengar, dia mahir siau Lim Tat Mo Ciang "

"Apa?" se Ciang Cing terperanjat.

"Pendekar misterius itu mahir ilmu siau Lim Tat Mo Ciang?"

"Betul."

"Itu sungguh tak masuk akal"

"Bahkan" tambah swat san Lo Jin.

"Dia pun mahir Butong Hian Thian sin Kang, Hwa san Thay yang sin Kang, GobiBu siang sin Kang, Khong Tong Bie Lek sin Kang dan ilmu lain."

"Haah ?" se Ciang Cing terbeliak-

"Itu lebih tak masuk akal. Itu itu bagaimana mungkin?"

"Memang tidak mungkin, namun nyatanya begitu"

"Padahal semua kitab pusaka berbagai partai itu telah dihadiahkan pada seng sim Tayhiap, kini pendekar misterius itu mahir semua ilmu itu. Bukankah mengherankan sekali?"

"Kita tidak perlu heran, yang penting dia bukan musuh kita," ujar ouw yang seng Tek-

"Kini Kiu Thian mo Cun itu sudah punya lawan berat, dan membuatnya tidak enak makan dan tidak bisa tidur nyenyak-"

"Tapi kini, pendekar misterius itu justru menghilang lagi-" swat san Lo Jin menggeleng-gelengkan kepala-

"Alangkah baiknya kalau dia langsung pergi membasmi Kiu Thian mo Cun"

"Aku pikir," ujar ouw yang seng Tek-

"Dia pasti punya rencana sendiri"

"Betul-" swat san Lo Jin manggut-manggut.

"Entah apa rencananya?"

"saudara tua bertanya pada siapa?" ouw yang seng Tek menatapnya sambil tertawa.

"Bertanya diriku sendiri," sahut swat san Lo Jin, kemudian mengarah pada se ciang Cing seraya bertanya,

"Se tocu, kapan engkau akan mengatur orang-orangmu ke Tiong Goan?"

"Itu akan kami rundingkan."

"Begini" ujar ouw yang Seng Tek mengusulkan.

" Kalau pihak kalian berangkat ke Daratan Tengah, alangkah baiknya kalau langsung menuju Markas Pusat Kay Pang."

"Baiklah-" se Ciang Cing mengangguk menerima usul itu.

"Kapan pihak se tocu akan berangkat?" tanya swat san Lo Jin.

"Bagaimana kalau berangkat bersama kami?"

"Itu menyangkut masalah besar, maka harus kami rundingkan," jawab se Ciang Cing.

"Namun tidak akan lama."

"Kalau begitu, kami akan menunggu di Markas Pusat Kay Pang saja," ujar swat san Lo Jin.

"Bukankah lebih baik lo cianpwee cari Pek Giok Houw?" ujar se Ciang Cing menyarankan.

"Ng" swat san Lo Jin manggut-manggut.

" Kalau begitu, kami harus segera kembali ke Tiong cioan."

"Pihak kami pasti segera menyusul," ujar se Ciang Cing berjanji.

"Terima kasih, se tocu" ucap ouw yang seng Tek.

"sama-sama." sahut se Ciang Cing.

-ooo00000ooo-

swat san Lo Jin dan ouw yang seng Tek sudah sampai di daratan Tengah, mereka berdua duduk di warung teh.

"saudara tua" ujar ouw yang seng Tek sambil menatapnya.

"Kiu Thian mo Kiong berkekuatan besar, kalau kita bergabung dengan pihak Pulau Pelang i, aku khawatir kekuatan kita masih di bawah Kiu Thian mo Kiong, maka aku punya usul."

"Usul apa?"

"Lebih baik saudara tua ke Thian san."

"Mau apa ke Thian san?" swat san Lo Jin mengernyitkan kening.

"Pergi menemui Thian san Lolo, mantan kekasih mandara tua itu," ujar ouw yang seng Tek sungguh-sungguh-

"Kalau dia bersedia bergabung dengan kita, itu berarti kekuatan kita bertambah-"

"Dia pasti menolak." sahut swat san Lo Jin sambil menarik naIas.

"Lagi pula Thian san begitu luas, ke mana mencarinya?"

"saudara tua" ouw yang seng Tek tersenyum-

"Aku sudah tahu tempatnya."

"oh?" swat san Lo Jin tampak girang.

"Di mana tempatnya?"

"Dia berada di Cian Im Tong (Goa seribu suara), saudara tua, carilah dia di goa itu"

"Tapi " swat san Lo Jin masih tampak ragu.

"saudara tua, demi keselamatan bu lim, apa salahnya engkau merendah di hadapannya?"

"Itu " swat san Lo Jin berpikir, lama sekali barulah mengangguk-

"Baiklah- Aku akan seoera berangkat ke Thian san."

" Kalau begitu, aku kembali ke Markas Pusat Kay Pang untuk menunggumu," ujar ouw yang seng Tek-

"saudara tua, semoga berhasil"

"Mudah-mudahan" sahut swat san Lo Jin.

Mereka berdua berpisah di warung teh itu, swat san Lo Jin menuju Thian san sedangkan ouw yang seng Tek menuju ke Markas Pusat Kay Pang-

Beberapa hari kemudian, Swat San Lo Jin tiba di Thian San. Walau hawa di sana dingin, namun orang tua itu tampak tidak merasakannya, setelah beristirahat sejenak, barulah ia menuju goa seribu suara.

Swat san Lo Jin sudah sampai di goa tersebut, namun orang tua itu tidak berani masuk, hanya berdiri di depan goa.

"Li Hoa Aku sun Hiong datang mengunjungimu" seru Swat san Lo Jin dengan tenaga dalam.

Mendadak berkelebat sosok bayangan ke hadapan Swat san Lo Jin, ang tidak lain adalah Thian san Lolo.

"Engkau " Thian san Lolo menudingnya. Wajah perempuan tua itu tampak dingin tapi bergirang dalam hati. Mereka berdua berpisah selama enam puluhan tahun, kini mendadak swat san Lo Jin muncul di situ, maka membuat perasaannya langsung bergejolak-

"Li Hoa" Swat san Lo Jin menatapnya lemhut.

"Tak terasa kita berpisah sudah enam puluh tahun lebih, untung kita panjang umur. Kalau tidak, kita pasti tidak berjumpa lagi."

"sun Hiong" bentak Thian san Lolo sengit.

"Mau apa engkau ke mari? Mau bertanding ya?"

"Li Hoa" ujar Swat san Lo Jin lembut.

"Dulu aku yang bersalah, sama sekali tidak mau mengalah padamu. Hari ini aku mengaku kalah dan salah terhadapmu."

"Engkau " Mata Thian san Lolo bersimhah air.

"Kenapa dulu engkau tidak bersikap seperti sekarang? Kalau dulu engkau begini, kita pasti sudah punya cucu."

"Li Hoa, maafkanlah aku" Mata Swat san Lo Jinpun bersimbah air-

"Li Hoa, bolehkah aku masuk?"

"Masuklah Kenapa harus bertanya?" Thian san Lolo cemberut. Gila sudah begitu tua masih bisa cemberut.

Swat san Lo Jin melangkah ke dalam sambil menarik naIas lega, lalu duduk dan  menengok ke sana kemari. Tiba-tiba ia terbelalak karena melihat suatu barang yang bergantung di dinding goa.

"Itu"

"Burung cenderawasih batu giok, hadiah darimu." Thian san Lolo memberitahukan.

"Tentunya engkau masih ingat kan?"

" Ingat" Swat san Lo Jin mengangguk.

"Kenapa digantung di situ?"

"Karena " Thian san Lolo menundukkan kepala.

"Aku selalu duduk di sini sambil memandang barang itu "

"Li Hoa " Betapa harunya Swat san Lo Jin, itu pertanda Thian san Lolo amat mencintainya.

"Aku aku bersalah terhadapmu sehingga membuat hidupmu merana dan penuh kesepian."

"sun Hiong, aku pun bersalah terhadapmu. Dulu aku amat keras hati, akhirnya kita berpisah "

"Li Hoa, kini kita sama-sama sudah tua. Lupakanlah kejadian yang tidak enak itu, mari kita hidup rukun sekarang"

"Ya." Thian san Lolo mengangguk,

"ohya Kalau tidak salah, engkaupunya seorang murid bernama Hek Ai Lan kan?"

"Betul, tapi sudah belasan tahun tiada kabar beritanya. Kok engkau tahu?" tanya Thian san Lolo.

" Aku pernah bertemu dengannya," ujar Swat san Lo Jin dan menutur, lalu menambahkan,

"Kini dia berada di Pulau Pelangi."

"Syukurlah kalau dia baik-baik saja" ucap Thian san Lolo sambil menarik naIas lega.

"Cintanya itu sama denganmu." Swat san Lo Jin menatapnya lembut.

"Namun kita masih beruntung, karena kita sudah bertemu."

"Betul." Thian san Lolo mengangguk-

"Oh y a, kira-kira dua belas tahun lalu, aku menerima murid baru, dia tidak tahu marga dan namanya, maka kuberi nama Ling Ling padanya- Dia sudah mulai berkelana di bu lim, entah bagaimana keadaannya sekarang?"

"Anak gadis?"

"ya-" Thian san Lolo manggut-manggut.

"Dia baru berusia belasan, wajahnya sangat cantik,"

"Kenapa engkau melepaskannya pergi berkelana?" Swat san Lo Jin menggeleng-gelengkan kepala.

"Memangnya kenapa?" tanya Thian san Lolo heran, karena Swat san Lo Jin kelihatan kurang setuju.

"Li Hoa" Swat san Lo Jin menarik naIas panjang.

"Engkau sama sekali tidak tahu, bahwa kini rimba persilatan telah dikuasai golongan hitam."

"Oh?" Thian san Lobo terkejut.

"Kiu Thian mo Cun telah menaklukkan tujuh partai besar" Swat San Lo Jin memberitahukan, sekaligus menutur tentang Pek Giok Liong dan lain sebagainya, sehingga membuat Thian san Lolo terbeliak mendengarnya-

"Rimba persilatan sudah jadi begitu?"

"Benar." Swat san Lo Jin mengangguk-

"oleh karena itu, aku ingin mengajakmu ".

"Kembali ke rimba persilatan?"

"Betul-"

"Itu " Thian san Lolo mengangguk setelah berpikir cukup lama.

"Baiklah- Aku memang harus mencari murid bungsuku itu-"

" Aku pun harus mencari Pek Giok Houw."

"Jadi Pek Giok Liong yang telah mati itu pemegang Panji Hati suci Mata h ari Bulan?"

"Tidak salah, tapi " Swat san Lo Jin menarik naIas.

"Dia telah mati terkena pukulan Kiu Thian mo Cun "

"sun Hiong" Thian san Lolo menatapnya.

"Kalau kita dan Kay Pang bergabung dengan Pulau Pelangi, apakah pihak kita cukup kuat untuk melawan pihak Kiu Thian mo Kiong?"

"Terus terang" Swat san Lo Jin menggeleng-gelengkan kepala.

"Kita semua masih bukan tandingannya."

"Kalau begitu "

"Hanya ada satu orang yang dapat melawannya."

"siapa orang itu?"

"Pendekar misterius."

"Pendekar misterius?"

"ya," Swat san Lo Jin mengangguk, lalu memberitahukan tentang sepak terjang pendekar misterius tersebut.

"Begitu tinggi kepandaiannya?" Thian san Lolo terbelalak.

"Justru masih ada satu hal tak masuk akal, yang membuat aku tidak habis berpikir-"

"Hal apa?"

"Dia juga mahir siau Lim Tat Mo Ciang, Butong Hian Thian sin Kang, ciobiBu siang sin Kang, Hwa san Thay Yang sin Kang dan Khong Tong Bie Lek sin Kang. Bukankah itu amat mengherankan? Padahal semua kitab ilmu tersebut telah dihadiahkan pada seng sim Tayhiap kira-kira hampir dua ratus tahun yang lalu, namun pendekar misterius itu justru mahir semua ilmu itu"

"Mungkinkah " Duga Thian san Lolo.

"Pendekar misterius itu seng sim Tayhiap?"

"Itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seng sim Tayhiap bisa hidup sekian lama?"

"Kalau begitu, bagaimana dengan Kiu Thian mo Cun itu? Bukankah dia masih hidup?"

"Mungkin orang itu bukan Kiu Thian mo Cun, melainkan pewarisnya," ujar Swat san Lo Jin dan menambahkan,

" Lagi pula orang itu memakai kedok iblis, maka tiada seorang pun tahu siapa dia."

"ohya Engkau tidak pernah bertemu pendekar misterius itu?"

"Tidak pernah-"

"Menurut dugaanku, dia pewaris seng sim Tayhiap-

"oh ya, bagaimana rupa wajahnya?"

"Tiada seorang pun tahu."

"Kenapa?"

"Karena dia menutupi mukanya dengan kain putih, jadi tiada seorang pun pernah menyaksikan wajahnya."

" Heran?" gumam Thian san Lolo.

"Kiu Thia Mo Cun memakai kedok iblis, sedangkan pendekar misterius itu memakai kain putih, kenapa begitu?"

"Mungkin agar tidak dikenali orang." Swat san Lo Jin tertawa.

"Apabila perlu, kita pun boleh memakai kedok-"

"Memangnya tiada yang tahu ilmu silat kita?" Thian san Lolo tersenyum-

"Sun Hiong, kalau dulu kita begini, tentunya kita bahagia sekali-"

"Masih belum terlambat-" Swat san Lo Jin menggenggam tangannya

"Kini kita sudah bertemu dan "

"Idiih Kok pegang tanganku?" Thian san Lolo tertawa geli-

Memang menggelikan, usia mereka sudah hampir seratus tahun, namun saat ini sikap mereka justru mirip sepasang kekasih remaja yang saling memadu cinta.

 

Bagian ke 60: Terkena Racun

 

Pek Giok Houw dan Ling Ling duduk di bawah pohon di kaki gunung cing yang. Betapa indahnya Pemandangan di tempat itu, Ling Ling memandang keindahan alam itu dengan penuh kekaguman.

Akan tetapi, sebaliknya Pek Giok Houw cuma duduk diam, tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.

" Kakak Houw, kenapa sih engkau?"

"Aku " Pek iniok Houw tersentak-

"Dari tadi engkau duduk melamun, memikirkan apa sih?" Ling Ling menatapnya-

"Aku sedang berpikir, kenapa pihak Pulau Pelangi masih belum datang di Daratan Tengah ini? Aku aku sudah tidak sabar menunggu, ingin seaera berangkat ke Kiu Thian mo Kiong."

" Lebih baik bersabar" ujar Ling Ling sambil tersenyum.

"Karena Kiu Thian mo Cun itu tidak akan lari, kan?"

"Tapi " Pek tniok Houw mengernyitkan kening.

"Aku harus cepat-cepat membalas dendam Kakak Liong."

"Aku tahu, mungkin tidak lama lagi pihak Pulau Pelangi akan muncul."

Ling Ling tetap berusaha menghalangi niatnya untuk pergi ke Kiu Thian mo Kiong.

"Ling Ling, sebetulnya aku " Tidak jadi dicetuskan, cuma wajahnya tampak murung.

"Kenapa engkau?" tanya Ling Ling lembut.

Pek Giok Houw menundukkan kepala, bagaimana mungkin ia memberitahukan mengenai dirinya yang mati syahwat itu? Ia tidak ingin mengecewakan gadis tersebut, namun bagaimana selanjutnya?

" Kakak Houw" Ling Ling menatapnya dalam-dalam.

"Aaakh " Keluh Pek Giok Houw mengalihkan pembicaraan.

" Kapan aku membalas dendam itu?"

"Tenang saja. Kakak Houw" Ling Ling menggenggam tangannya.

" Kalau Pihak Pulau Pelangi sudah datang, engkau boleh berunding dengan mereka."

"Tapi " Ucapan Pek Giok Houw terputus, karena mendengar suara tawa yang menyeramkan.

"He he he" Menyusul melayang turun dua sosok bayangan, ternyata Thian Ti siang mo. Pek Giok Houw dan Ling Ling segera bangkit berdiri sambil menatap tajam pada kedua orang itu, sementara Thian Ti siang mo masih terus tertawa seram.

"Engkau Pek Giok Liong?" tanya Thian mo-

"Betul." Pek Giok Houw mengangguk dan bertanya.

"siapa kalian?"

"Kami Thian Ti siang mo" sahut Thian mo dingin.

"Kami diutus Kiu Thian mo Cun untuk membunuh mu"

"Oh?" Pek Giok Houw tertawa dingin-

"Memang kebetulan kemunculan kalian berdua, jadi aku tidak usah bersusah payah mencari kalian di Kiu Thian mo Kiong"

"He he he" Thian mo tertawa terkekeh kekeh.

"Bocah Kini sudah waktunya engkau mampus"

"Kalianlah yang akan mati" sahut Pek Giok Houw dingin.

"Bocah Mari kita bertarung" tantang Thian mo-

"Engkau berani bertarung denganku?"

"Kenapa tidak?"

"Baik Mari kita bertarung"

"Ling Ling" Pesan Pek Giok Houw.

"Engkau menyingkir agak jauh, aku akan bertarung dengan mereka"

"Hati-hati, Kakak Houw" ujar Ling Ling sambil mundur beberapa langkah, ia pun tampak cemas.

"Thian Mo" bentak Pek Giok Houw.

"Engkau boleh mulai serang aku duluan"

"Baiklah" Thian mo mulai menghimpun tenaga dalamnya, setelah itu ia pun mulai menyerang Pek Giok Houw.

Pek Giok Houw cepat-cepat berkelit, kemudian balas menyerang.

"Ha ha ha" Thian mo tertawa.

"Engkau cukup hebat, bocah Dapat mengelak pukulanku itu, coba engkau sambut lagi"

Thian mo menyerang Pek Giok Houw, namun Pek Giok Houw segera melompat ke samping, sekaligus balas menyerang.

Mereka mulai bertarung dengan sengit, tak terasa sudah lewat puluhan jurus- Thian mo tampak penasaran sekali, sebab masih belum mampu menjatuhkan Pek Giok Houw-

Mendadak ia melompat mundur, menatap Pek Giok Houw tajam sambil mengerahkan Thian mo sin Kang (Tenaga sakti Iblis Langit).

Pek Giok Houw mengernyitkan kening, tahu Thian mo akan mengeluarkan ilmu kepandaiannya, Ia pun cepat-cepat mengerahkan Bu Kek sin Kang, siap menyambut serangan Thian mo-

"Hiyaaa" pekik Thian mo sambil menyerang Pek Giok Houw dengan jurus Thian mo Khay Bun (Iblis Langit Membuka Pintu).

Kali ini Pek Giok Houw tidak berkelit, ia menyambut serangan itu dengan jurus Kian Kun Toh Coan {Jagat Berputar Balik), salah satu jurus Bu Kek Ciang (Pukulan Bu Kek)-"Blam" Terdengar benturan keras.

Thian mo termundur-mundur beberapa langkah, sedangkan Pek Giok Houw berdiri tak bergeming.

Betapa terkejutnya Thian Ti siang mo, mereka tidak menyangka bahwa Pek Giok Houw memiliki kepandaian begitu tinggi.

"Bagaimana, Thian mo?" tanya Pek Giok Houw dingin.

"Bocah" bentak Thian mo-

"Pokoknya hari ini engkau harus mampus"

Thian mo maju lagi, pada waktu bersamaan Ti Mopun maju. Itu sangat mengejutkan Ling Ling, dan buru-buru ia menghadang Ti mo-

"Hei" bentaknya.

"Kalian mau main keroyok ya?"

"gadis kecil. Lebih baik engkau mundur Kalau tidak, engkau pun harus ikut mampus"

"Hmm" dengus Ling Ling dingin.

"Memangnya aku gampang mampus"

"gadis kecil, minggir" bentak Ti Mo sambil mengibaskan tangannya. Kibasan tangan Ti Mo membuat Ling Ling terhuyung ke belakang.

"Ling Ling" seru Pek Giok Houw.

"Mundurlah"

Ling Ling menurut, lalu seaera mundur sambil memandang Thian Ti siang mo-

"Huh" ejek Ling Ling.

"Dasar tak tahu malu, sudah tahu masih main keroyok Dasar tak tahu malu"

"Diam" bentak Ti Mo sambil maju ke hadapan Pek Giok Houw.

"Memang lebih baik kalian maju berdua, agar menghemat waktu" ujar Pek Giok Houw.

"He he he" Ti Mo tertawa terkekeh.

"Bocah Engkau memang ditakdirkan mati hari ini"

" Lihat saja siapa yang mati" sahut Pek Giok Houw dingin.

"Baiklah Engkau harus berhati-hati" ujar Ti mo sambil mengerahkan Ti mo In Kang (Tenaga sakti Iblis Bumi)nya, kemudian menyerang Pek Giok Liong dengan jurus Ti mo seng Thian (Iblis Bumi Naik Ke Langit). Pada waktu bersamaan, Thian Mo juga menyerangnya dengan jurus Thian Mo Jip Ti (Iblis Langit Menyusup keBumi).

Menghadapi kedua serangan yang dahsyat itu, Pek Giok Houw sama sekali tidak gugup, Ditangkisnya kedua serangan itu dengan jurus Hai Lang Yong Yong (ombak Menderu), jurus dari Bu Kek ciang.

Baaar Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga. Thian Ti siang mo termundur beberapa langkah, Pek Giok Houw mundur dua langkah-Betapa terkejutnya Thian Ti siang mo, mereka saling memandang dan menyerang Pek Giok Houw lagi-

Thian mo dengan jurus Thian mo Hui Khong (Iblis Langit Terbang Di Angkasa), sedangkan Ti mo dengan jurus Ti mo Ceng Thian (Iblis Bumi Menggetarkan Langit).

Bukan main dahsyatnya kedua serangan itu, sehingga membuat ranting pohon bergoyang-goyang dan dedaunan rontok berterbangan ke angkasa.

Pek Giok Houw tidak mengelak, di sambutnya kedua serangan itu dengan jurus Thian Khong Ti Khong (Langit Kosong Bumi Kosong).

"Terjadi benturan keras lagi, Thian Ti siang mo terpental, sejauh lima meteran, sedangkan Pek Giok Houw terdorong mundur tiga langkah-

Wajah Thian Ti siang mo pucat pias, tampaknya mereka berdua telah menderita luka dalam.

"Bagaimana?" tanya Pek Giok Houw.

"Aku yang akan mampus atau kalian berdua yang akan mati?"

Pek Giok Houw mendekati mereka, siap membunuh dengan Bu Kek Ciang.

sekonyong-koyong Thian Ti siang mo mengayunkan tangan masing-masing, seketika juga meluncur cepat dua benda ke arah Pek Giok Houw. Pek Giok Houw terkejut dan langsung mengibaskan tangannya. Kedua benda itu meledak dan tampak bubuk putih berhamburan.

"Aaakh" jerit Pek Giok Houw terkena bubuk putih itu.

" Kakak Houw " teriak Ling Ling sambil berlari mendekatinya.

Pek Giok Houw roboh, ia menggeliat dan wajahnya pun mulai berubah hitam. Betapa cemasnya Ling Ling menyaksikan itu.

" Kakak Houw Kakak Houw " jerit gadis itu dengan wajah pucat pias-

"Hehehe" ThianTi siang mo tertawa terkekeh-kekeh.

"Dia telah terkena racun ganas, tidak lama lagi pasti mampus"

"Kalian curang" bentak Ling Ling.

"gadis kecil" sahut Thian mo sambil tertawa seram.

"Engkau pun harus mampus"

Thian Ti siang mo menghampiri mereka. Pada waktu bersamaan, melayang turun dua sosok bayangan Thian Ti siang mo terkejut, dan ketika baru siap menyerang, kedua bayangan itu telah meluncur pergi dengan mengapit Pek ciiong Liong dan Ling Ling di ketiak. Ti Mo ingin mengejar, tapi dicegah oleh Thian mo dengan kening berkerut-kerut.

"Percuma mengejar mereka, karena kita sudah menderita luka dalam," ujar Thian mo-

"siapa kedua orang itu?" tanya Ti mo-

"Kalau tidak salah, mereka swat san Lo Jin dan Thian san Lolo,"jawab Thian mo-

"Hah? Mereka ?" Ti mo tampak terkejut.

"Kita harus segera kembali ke Kiu Thian mo Kiong untuk melapor pada Kiu Thian mo Cun," ujar Thian mo-

"Jangan membuang waktu di sini"

Di sebuah gubuk yang terpencil, sayup,sayup terdengar suara isak tangis, siapa yang menangis terisak-isak itu? Ternyata Ling Ling, ia duduk di sisi tempat tidur sambil memandang Pek Giok Houw yang berbaring dalam keadaan pingsan.

"guru Tolonglah dia" Mohon Ling Ling dengan air mata bercucuran.

"Mukanya semakin hitam."

"Ling Ling" Thian san Lolo menarik naIas panjang,

" guru mau menolongnya, tapi"

"Kenapa?"

"Dia telah terkena racun ganas, guru tidak mengerti soal racun." Thian san Lolo mengarah pada swat san Lo Jin.

"Sun Hiong, kita harus bagaimana?"

"Aku " swat san Lo Jin tampak cemas.

"Aku pun tidak tahu harus bagaimana."

"siapa yang dapat memusnahkan racun itu?"

"Hanya ada satu orang."

"siapa orang itu?"

"Cian Tok suseng."

"Dia?" Wajah Thian san Lolo berseri.

"Engkau tahu di mana dia berada?"

"Tidak tahu." swat San Lo Jin menggelengkan kepala sambil menarik naIas panjang.

"Kalaupun tahu juga percuma."

"Kenapa?" tanya Thian san Lolo.

"sebab sudah tiada waktu untuk ke sana." Wajah swat san Lo Jin tampak murung sekali, kemudian bergumam,

"Aku tidak menyangka nasib Pek Giok Houw akan berakhir dengan demikian."

"Lo cianpwee, apakah kakak Houw tidak tertolong lagi?" tanya Ling Ling dengan air mata berderai.

" Kalau dia mati, aku pun tidak mau hidup lagi."

"Haah ?" Thin san Lolo terkejut bukan main.

"Ling Ling "

"Kakak Houw Engkau tidak boleh mati, kalau engkau mati aku pasti ikut mati "

swat san Lo Jin mengernyitkan kening, Gadis itu amat mencintai Pek Giok Houw, padahal Pek Giok Houw swat san Lo Jin tidak bisa memikirkan itu lagi, sebab keadaan Pek Giok Houw sudah kritis.

Mendadak melayang ke dalam sosok bayangan swat san Lo Jin dan Thian san Lolo terkejut bukan main, sebab mereka tidak mendengar suara apa pun, tahu-tahu bayangan itu telah melayang turun.

bayangan itu ternyata orang memakai topi rumput lebar dan kain putih penutup muka. Karena dalam keadaan panik menyaksikan keadaan Pek Giok Houw, maka swat san Lo Jin lupa akan ciri khas itu, ia malah mengira orang itu dari pihak Kiu Thian mo Kiong.

oleh karena itu, ketika melihat orang itu mendekati Pek Giok Houw, tanpa berpikir panjang lagi swat san Lo Jin langsung menyerangnya dengan Iwee kang. Begitu pula Thian san Lolo, ia pun mengira orang itu dari pihak Kiu Thian mo Kiong yang ingin membunuh Pek giok Houw.

Betapa dahsyatnya serangan Iwee kang itu dari dua jurusan, akan tetapi, orang itu tetap melangkah mendekati Pek giok Houw, hanya mendadak sekujur badan orang itu memancarkan cahaya putih-

Pada waktu bersamaan, Thian san Lolo dan swat san Lo Jin pun terpental jatuh duduk.-Mereka terbelalak dengan mulut ternganga lebar saking kagetnya, tapi keduanya masih bisa bangkit- Namun saking kagetnya, membuat tetap duduk di lantai dan memandang orang itu dengan mata tak berkedip-

"Mau apa engkau?" bentak Ling Ling.

"Nona, aku akan menolong kekasihmu," sahut orang itu dengan ilmu menyampaikan suara, lalu secepat kilat menotok beberapa jalan darah di tubuh Pek giok Houw- setelah itu, ia pun memasukkan sebutir obat ke dalam mulutnya, kemudian berkata pada Ling Ling dengan ilmu menyampaikan suara.

"Nona, setengah jam kemudian kekasihmu pasti sadar dan sembuh-"

Usai berkata begitu, tanpa membalikkan badan, orang itu langsung meluncur pergi bagaikan meteor-

"Haah ?" Mulut swat san Lo Jin dan Thian san Lolo ternganga lebar lagi menyaksikannya -

"guru, locianpwee" seru Ling Ling.

"Kok masih duduk di lantai?"

"Eeeh?" Wajah swat san Lo Jin dan Thian san Lolo memerah, mereka segera bangkit berdiri

"sun Hiong" ujar Thian san Lolo.

"Jangan-jangan kita melihat hantu"

"Guru" sahut Ling Ling.

" orang itu bukan hantu, mungkin dia pendekar misterius "

"Haah" swat san Lo Jin menepuk keningnya sendiri

"Tidak salah, dia pasti pendekar misterius. Dia memakai topi rumput lebar dan menutup mukanya dengan kain putih "

"Guru Dia tadi memasukkan sebutir obat ke mulut Kakak Houw, katanya setengah jam kemudian Kakak Houw akan sadar dan sembuh"

"Kapan dia bicara denganmu?" tanya Thian san Lolo heran.

"Eh?" Ling Ling tertegun.

"Dia bicara dengan suara begitu keras, kok guru tidak mendengarnya? "

"Dia pasti menggunakan ilmu menyampaikan suara," ujar swat san Lo Jin.

"Tapi "

"Kita harus memperhatikannya, tidak melihat bibirnya bergerak " sambung Thian san

"Li Hoa" swat San Lo Jin tertawa.

"Bibirnya tertutup kain putih, bagaimana mungkin kita melihat bibirnya?"

"Aku " Wajah Thian san Lolo kemerah-merahan.

"sungguh tinggi ilmu penyampai suaranya itu" ujar swat San Lo Jin.

"sebab kita sama sekali tidak bisa menangkap suaranya itu."

"Heran?" gumam Thian san Lolo.

"Kenapa sekujur badannya bisa memancarkan cahaya putih dan membuat serangan Iwee kang kita berbalik? Kalau dia ingin membunuh kita tentunya gampang sekali, siapa lo cianpwee itu?"

"Guru" sahut Ling Ling.

"Dia bukan lo cianpwee-"

"Kok engkau tahu?" tanya Thian san Lobo heran.

"Sebab dia memanggilku nona, maka aku yakin dia bukan lo cianpwee-" Ling Ling memberitahukan.

"Mungkin dia masih muda."

"Masih muda?" Thian san Lolo mengernyitkan kening.

"siapa dia? sungguh membingungkan"

"Memang membingungkan." swat san Lo Jin menggeleng-gelengkan kepala-

setelah hampir setengah jam, muka Pek Giok Houw yang kehitam-hitaman itu mulai berubah- Berselang sesaat, badannya pun mulai bergerak-

"Guru" seru Ling Ling girang.

"Kakak Houw"

swat san Lo Jin dan Thian san Lolo segera mengarah pada Pek Giok Houw. Muka Pek Giok Houw sudah tampak seperti biasa dan segar. Perlahan-lahan ia membuka sepasang matanya, dan ketika melihat swat san Lo Jin, ia pun langsung melompat turun sekaligus berlutut di hadapannya.

"guru guru"

" Giok Hauw" swat san Lo Jin tertawa gembira.

"Bangunlah"

Pek Giok Houw segera bangkit berdiri, dan Ling Ling langsung mendekatinya dengan wajah berseri-

"Kakak Houw" panggilnya sambil tersenyum-

"Ling Ling "Pek Giok Houw girang sekali-

" Giok Houw, cepat beri hormat pada Thian san Lolo, dia adalah guru Ling Ling" ujar swat san Lo Jin.

"Lo cianpwee, terimalah hormatku" ucap Pek Giok Houw sambil memberi hormat pada Thian san Lolo.

"syukurlah" Thian san Lolo tersenyum.

"Engkau telah selamat"

"Terima kasih atas pertolongan lo cianpwee dan guru" ucap Pek Giok Houw.

"Giok Houw" swat san Lo Jin menatapnya.

"Memang kami berdua yang membawamu ke mari, namun yang menyembuhkanmu bukanlah kami."

"siapa yang menyembuhkan Giok Houw, Guru?" tanya Pek Giok Houw heran.

"Dia pendekar misterius," sahut Ling Ling.

"Dia dia sungguh hebat"

"Pendekar misterius?" Pek Giok Houw tertegun.

"Guru kenal dia?"

"Tidak kenal." swat san Lo Jin menggelengkan kepala-

"dia muncul mendadak di sini, lalu menyembuhkanmu dari racun ganas itu- Kalau tidak, mungkin engkau sudah mati sekarang."

"Di mana pendekar misterius itu sekarang?"

"Dia sudah pergi," sahut Ling Ling.

"Aaakh" Keluh Pek Giok Houw.

"Giok Houw masih belum menghaturkan terima kasih padanya."

"Giok Houw Mendadak swat san Lo Jin menatapnya dalam-dalam.

"Cara bagaimana engkau bertemu Ling Ling?"

"Kami" Pek Giok Houw segera memberitahukan.

"oooh" swat san Lo Jin manggut-manggut.

"Giok Houw, untung kami muncul tepat pada waktunya. Kalau tidak, kalian berdua pasti sudah di bunuh Thian Ti siang mo-"

"Gutu, padahal aku sudah merobohkan mereka, tetapi mereka lalu menggunakan racun."

"Benar." swat san Lo Jin manggut-manggut.

"oleh karena itu, lain kali engkau harus berhati-hati. setiap pertarungan, pasti ada kecurangan."

"ya. Guru." Pek Giok Houw mengangguk,-

"Li Hoa Tolong ajak Ling Ling keluar dulu Aku ingin bicara empat mata dengan muridku ini," ujar swat san Lo Jin pada Thian san Lolo.

"Ling Ling Mari kita ke depan dulu, mereka mau membicarakan sesuatu yang rahasia." Thian san Lolo seoera menarik Ling Ling keluar.

"Giok Houw" bisik swat san Lo Jin.

"Ling Ling kelihatan amat mencintaimu. Engkau harus bagaimana?"

"Guru" Wajab Pek Giok Houw, tampak murung,

"sebaiknya Gurujangan memberitahukan pada mereka tentang diriku yang "

"Baiklah-" swat san Lo Jin manggut-manggut sambil menarik naIas panjang.

"Aku harap engkau baik-baik mengatasi persoalan ini"

"ya. Guru." Pek Giok Houw mengangguk"

"Giok Houw, mari kita semua berangkat ke markas Pusat Kay Pang untuk menunggu kedatangan pihak Pulau Pelangi" ujar swat san Lo jin.

"Kita berunding di sana saja."

"ya, Gutu." Pek Giok Houw mengangguk lagi.

Betapa murkanya Kiu Thian mo Cun ketika menerima laporan dari Thian Ti siang mo-sepasang matanya menyorotkan sinar yang berapi-api-

Jadi kedua orang itu swat san Lo Jin dan Thian san Lolo?" tanya Kiu Thian mo Cun berang.

"ya, Mo Cun." Thian mo mengangguk-

"Kalau mereka berdua tidak muncul, Pek Giok Liong dan gadis itu pasti sudah mati di tangan kami-"

"Hmm" dengus Kiu Thian mo Cun dingin-

"Mereka berdua berani cari gara-gara denganku"

"Tapi " sela Ti Mo- "Kami yakin Pek Giok Liong itu pasti mati, sebab dia telah terkena racun ganas-"

"Ngmm" Kiu Thian mo Cun manggut-manggut.

"Ohya, bagaimana luka kalian?"

"Tidak begitu parah, beristirahat beberapa hari pasti sembuh,"jawab Thian mo dengan hormat.

"Begini Mulai sekarang aku akan menurunkan ilmuku pada kalian" ujar Kiu Thian mo Cun lantang.

"Jadi kalian bisa menghadapi swat san Lo Jin atau Thian san Lolo."

"Terima kasih, Mo Cun" sahut mereka serentak dengan penuh kegirangan.

"Mulai sekarang kalian harus giat berlatih" lanjut Kiu Thian mo Cun sungguh-sungguh-

"Setelah itu kita akan menyerang Partai Kay Pang."

"Mo Cun" ujar Thian mo-

"Kita pun harus menghadapi pendekar mistetius itu."

"Hmm" dengus Kiu Thian mo Cun.

"Dia pasti tidak mampu melawan Hek sim Tok Ciangku. oleh karena itu, mulai sekarang aku akan menurunkan Hek sim sin Kang pada kalian berdua." "Terima kasih, Mo Cun" ucap Thian Ti siang mo serentak-

"Kalian tidak tahu berada di mana pendekar misterius itu?" tanya Kiu Thian mo Cun.

"Kami tidak tahu,"jawab Thian mo-

"Lagipula sudah cukup lama dia menghilang."

"Aku yakin dia tidak menghilang, hanya mungkin berada di suatu tempat yang rahasia.

"Tapi kenapa dia tidak muncul lagi?" Kiu Thian mo Cun mengernyitkan kening.

"Itu memang mengherankan," ujar Ti mo-

"Mungkinkah dia sedang menyelidiki kekuatan kita?"

"Mungkin." Kiu Thian mo Cun manggut-manggut.

"Tapi itu tidak perlu dikhawatirkan. Aku malah berharap dia ke mari."

" Kalau dia berani ke mari, berarti cari mati." Thian mo tertawa.

"sebab banyak jebakan di sini."

"Betul. Ha ha ha" Kiu Thian mo Cun tertawa gelak-

"Maka aku yakin dia tidak berani ke mari-"

(Bersambung bagian 61)

Bagian ke 61: Kedaratan Tengah

Se Pit Han duduk termenung di dalam kamarnya. Gadis itu tampak semakin kurus, sehingga mencemaskan Se Ciang cing dan istrinya. Mereka btreiua terus menerus menghiburnya, namun Se Pit Han tetap tampak murung.

"Pit Han Sudahlah Jangan- memikirkan Giok Liong lagi, sebab dia sudah tiada," ujar Se Ciang Cing sambil memandangnya.

"Ayah Aku" Mata Se Pit Han mulai basah.

"Aku ingin jadi biarawati."

"Nak" Se Ciang cing tersentak mendengar ucapan puterinya.

"Nak" Nyonya Se Ciang cing membelainya. "Engkau tidak perlu jadi biarawati, tetaplah tinggal di Cai Hong To ini saja"

"Aku aku tidak bisa tenang, bayangan adik Liong masih sering muncul di pelupuk mataku. Aaakh Alangkah baiknya kalau aku mati di waktu itu"

"Nak" Nyonya Se Ciang cing menarik nafas.

"Ohya, ibu dan ayah telah berjanji pada swat San LoJin, akan mengutus beberapa orang ke daratan Tengah untuk bergabung dengan Kay Pang. Engkau mau ke daratan Tengah menemui adik Houw-mu itu?"

"Benar," sahut Se Pit Han dengan mata membara.

"Aku harus membalas dendam adik Liong"

"Jadi engkau mau ke daratan Tengah?" tanya Se Ciang cing.

"ya." se Pit Han mengangguk-

" Kalau begitu, ayah harus mengutus se Khi, Thian Koh sing, Thian Kang sing, si Kim Kong, lima pelindung pulau, Pat Kiam dan sepasang pengawal menyertaimu. Bagaimana?"

"Terima kasih, Ayah" ucap se Pit Han.

" Kapan engkau akan berangkat?" tanya Nyonya se Ciang Cing.

"Besok pagi,"jawab se Pit Han.

"Nak" se Ciang Cing menatapnya.

"Besok pagi ayah akan menghadiahkan baju wasiat padamu?"

"Apa?" se Pit Han terkejut.

"Bukankah ayah yang harus memakai baju wasiat itu?"

"Nak, sudah waktunya ayah berikan padamu," se Ciang Cing tersenyum.

"engkau harus tahu, baju wasiat itu tahan bacok dan tahan terhadap pukulan apa pun."

"Terima kasih, Ayah" ucap se Pit Han, namun kemudian menggeleng-gelengkan kepala seraya bertanya,

"Kenapa dulu Ayah tidak memberikan pada adik Liong? Kalau Ayah berikan padanya, mungkin "

"Pit Han" se Ciang Cing tersenyum getir.

"engkau harus tahu, pada waktu itu, kepandaian Giok Liong sudah begitu tinggi, dia tidak membutuhkan baju wasiat ini lagi. Kalaupun dia pakai baju wasiat ini juga tidak bisa melindungi dirinya dari serangan Hek sim TOk Ciang."

"Kenapa?"

"Baju wasiat ini cuma melindungi bagian dada, punggung dan perut- sedangkan Hek sim TOk Ciang merupakan pukulan yang amat beracun, oleh karena itu " se Ciang Cing menarik nafas.

"Tentunya engkau mengerti kan?"

"ya." se Pit Han mengangguk-

"Kalau begitu, percuma saja pakai baju wasiat ini."

"Itu tidak percuma, sebab masih bisa melindungimu dari serangan gelap," sahut se Ciang Cing.

"Besok pagi sebelum berangkat, engkau harus memakai baju wasiat ini."

"ya. Ayah-"

"ohya" se Ciang Cing teringat sesuatu.

"Ai Lan, ibu angkat Giok Houw juga harus ikut ke Daratan Tengah, sebab dia kelihatan sudah rindu sekali pada Giok Houw-"

"Baik, Ayah-" se Pit Han mengangguk-

Keesokan harinya, berangkatlah mereka menuju Daratan Tengah- sungguh diluar dugaan, di tengah jalan rombongan pulau Pelangi itu bertemu Thiat jiau Kou Hun song yauw Tong.

"Nona se" Thiat jiau Kou Hun memberi hormat pada se Pit Han dan lainnya.

"Sungguh tak terduga, kita bertemu di sini"

"Benar-" se Pit Han mengangguk-

"song tayhiap mau ke mana?"

"Aaakh" Thiat jiau Kou Hun menarik nafas panjang.

"Sebetulnya aku sudah hidup tenang di Kwan Gwa, tapi belum lama ini aku dengar tentang ketua panji"

"Pek Giok Liong " Mata se Pit Han bersimbah air.

"Dia dia sudah tiada, terpukul jatuh ke jurang oleh Kiu Thian mo Cun."

Jadi " Wajah Thiat jiau Kou Hun tampak berduka.

"Ketua panji benar sudah mati?"

"Benar-"

"Nona se, apakah benar Kiu Thian mo Cun itu masih hidup?"

"Aku kurang jelas tentang itu, namun kepandaiannya amat tinggi." se Pit Han memberitabukan.

"Terutama Hek sim Tok Ciangnya."

"ohya Aku dengar" Thiat jiau Kou Hun memandang se Pit Han.

"Pek Giok Liong telah muncul lagi di bu lim, benarkah itu?"

"Dia bukan Pek Giok Liong, melainkan Pek Giok Houw, adik kembar Pek Giok Liong." se Pit Han menjelaskan dan menutur tentang Pek Giok Houw.

"oooh" Thiat jiau Kou Hun manggut-manggut.

"Ternyata begitu. oh y a, aku pun dengar tentang kemunculan pendekar misterius. Nona se tahu siapa pendekar misterius itu?"

"Tiada seorang pun yang tahu siapa dia," jawab se Pit Han dan bertanya,

"song tayhiap mau ke mana?"

"Aku juga bingung, entah mau ke mana," sahut Thiat jiau Kou Hun sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Mungkin aku akan ke Kiu Thian mo Kiong mencari Kiu Thian Mo Cun itu"

"song tayhiap" usul se Pit Han.

"Lebih baik bergabung dengan kami, sebab kami sedang menuju ke Markas Kay Pang."

"Baiklah." Thiat jiau Kou Hun mengangguk, lalu bergabung dengan rombongan pulau Pelangi itu menuju ke Markas Pusat Partai Pengemis.

-ooo00000ooo-

Ketua dan Tetua Kay Pang menyambut kedatangan mereka dengan penuh kegembiraan, terutama Pek Giok Houw yang memang sudah amat rindu pada ibu angkatnya.

"Ibu " panggil Pek Giok Houw dengan mata bersimbah air saking girangnya-

"Nak," Hek Ai Lan tersenyum lembut, namun betapa kagetnya ketika melihat Thian San Lolo. Ia segera berlutut,

"guru "

"Ai Lan" Thian san Lolo tersenyum.

"Bangunlah"

"Guru, ampunilah murid karena sudah belasan tahun tidak mengunjungi Guru, murid mohon ampun" Hek Ai Lan terisak-isak-

"Guru telah mengampunimu, bangunlah" ujar Thian san Lolo.

"Terima kasih, Guru" Hek Ai Lan bangkit berdiri

"Ai Lan" Thian san Lolo tersenyum.

"Dia Ling Ling, adik seperguruanmu."

"oh?" Hek Ai Lan segera memandang Ling Ling yang cantik jelita itu.

"sumoi ?"

"suci (Kakak seperguruan), Ling Ling memberi hormat padamu" ucap Ling Ling sambil memberi hormat pada Hek Ai Lan.

"Sumoi" Hek Ai Lan langsung terkesan baik padanya, namun ada satu hal yang membuatnya cemas, yakni Ling Ling tampak begitu akrab dengan Pek Giok Houw.

"Ini bagaimana sih?" Mendadak swat san LoJin menggaruk-garuk kepala.

"Pek Giok Houw muridku, tapi dia adalah anak angkat Hek Ai Lan. sedangkan Ling Ling adik seperguruan Hek Ai Lan. Lalu mereka harus saling memanggil apa?"

"Kenapa repot?" ouw yang seng Tek tertawa.

"Pek Giok Houw tetap panggil ibu pada Hek Ai Lan, sedangkan Ling Ling tetap Kakak Houw pada Pek Giok Houw, beres kan?"

"jangan terlampau terikat oleh suatu peradaban yang tak perlu, maka aku setuju apa yang dikatakan Tetua Kay Pang," ujar Thian san Lolo.

"Benar-" swat san Lo Jin tertawa.

"Ei" Sela Se Khi mendadak-

"Pengemis bau, apakah Markas Pusat Kay Pang ini dapat menampung kami semua?"

"Jangan khawatir" ouw yang seng Tek tertawa,

"sebelum kalian sampai di sini, kami telah menyiapkan beberapa kamar untuk kalian."

"Kalau begitu, aku menghaturkan terima kasih padamu, pengemis bau" ucap se Khi. 'se tua' ouw yang seng Tek tertawa gelak-

"Kok engkau jadi sungkan?"

"Bukan sungkan." se Khi tertawa terbahak-bahak-

"Melainkan merasa kurang enak merepotkan kalian Partai Kay Pang."

"sama sekali tidak." sahut ouw yang seng Tek sungguh-sungguh.

"Kita bergabung justru punya tujuan sama, yakni menumpas Kiu Thian mo Cun."

"Pengemis bau, se Khi menatapnya seraya bertanya,

"Bagaimana dengan pendekar misterius itu? Apakah pihak Kay Pang sudah memperoleh kabar beritanya?"

"swat san LoJin, Thian san Lolo dan Ling Ling sudah bertemu pendekar misterius itu," jawab ouw yang seng Tek-

"Untuk jelasnya, lebih baik engkau bertanya pada yang bersangkutan."

"oh?" se Khi segera mengarah pada Swat san LoJin.

"Kami bertiga memang telah melihat pendekar misterius itu," ucap Swat San LoJin.

"Kalau pendekar misterius itu tidak muncul tepat di waktu itu, kini Pek Giok Houw pasti sudah mati."

"Apa?" se Pit Han terkejut.

"Kenapa adik Houw waktu itu?"

"Aku dan Ling Ling bertemu Thian Ti siang Mo- Aku bertarung dengan mereka berdua." tutur Pek Giok Houw.

"Aku dapat merobohkan mereka, tapi Thian Ti siang Mo itu mempergunakan racun. Di saat itulah muncul guru dan Thian san Lolo menolongku serta Ling

Ling."

"Engkau keracunan?" se Pit Han manatapnya.

"Benar, Kakak Han," sahut Ling Ling.

"Guru dan swat san LoJin membawa kami ke sebuah gubuk, tapi- Kakak Houw telah pingsan, bahkan tangan dan kakinya berubah hitam "

"saat itu ," sambung swat san LoJin.

"Pek Giok Houw sudah gawat sekali justru di saat itu mendadak muncul seseorang memakai topi rumput lebar dan menutup mukanya dengan kain putih. Aku tidak menduga bahwa dia pendekar misterius, maka ketika dia mendekati Giok Houw, aku pun langsung menyerangnya dengan tenaga dalam "

"Ketika aku melihat dia menyerang orang itu dengan tenaga dalam, aku pun menyerangnya dengan tenaga dalampula." tambah Thian san Lolo.

"Apa?" se Khi terbelalak.

"Kalian berdua menyerangnya dengan tenaga dalam? Bagaimana mungkin dia dapat bertahan?"

"Justru telah terjadi sesuatu yang amat mengherankan," sahut swat san LoJin dan melanjutkan,

"Mendadak sekujur badan orang itu memancarkan cahaya putih dan seketika juga kami berdua terpentaljatuh duduk di lantai"

"Haah ?" Betapa terkejutnya se Khi.

"Sekujur badannya memancarkan cahaya putih?"

"ya." swat san LoJin mengangguk-

"Hingga saat ini kami berdua tidak habis berpikir tentang itu-"

"Aku yakin, itu semacam ilmu," ujar se Khi-

"Akupun menduga begitu, namun" swat San LoJin menggeleng-gelengkan kepala,

"Ilmu apa itu?"

"Setelah itu bagaimana?" tanya se Pit Han.

"Dia menotok beberapa jalan darah di tubuh Pek Giok Houw, kemudian memasukkan sebutir obat ke mulutnya,"jawab Thian san Lolo.

"Bahkan orang itu pun sempat berkata pada Ling Ling"

"Benar." Ling Ling mengangguk-

"Dia memanggilku nona dan katanya, setengah jam kemudian Kakak Houw pasti sadar dan sembuh-"

"Dia memanggilmu nona?" se Pit Han mengernyitkan kening.

"Kalau begitu, dia pasti belum tua."

"Betul-" Ling Ling tertawa.

"Aku pun berpendapat begitu. Kalau dia sudah tua, tidak mungkin memanggilku nona, kan?"

"Heran?" gumam se Pit Han.

"siapa pendekar misterius itu? Kenapa dia harus menutup mukanya dengan kain?"

"sulit diduga siapa dia," kata Swat San LoJin.

"Lagi pula ilmu peringan tubuhnya sungguh mengejutkan. Dari dalam gubuk dia mampu meluncur pergi secepat kilat."

"siapa pendekar misterius itu?" se Khi mengerutkan kening.

"Kenapa dia tidak ke Kiu Thian mo Kiong mencari mo Cun?"

"Mungkin dia tidak bemusuhan dengan Kiu Thian mo Cun," sahut swat san LoJin.

"Tapi kita pun harus bersyukur bahwa dia bukan musuh kita. Kalau dia musuh kita, celakalah kita semua."

"Dia telah membunuh Jin Pin Mo Kun, Ling Ming Cun cia, Hgo Tok Ceng Kun, Siau Mo Cun dan lainnya, Itu membuat Kiu Thian mo Cun murka sekali, maka dia memberi perintah pada tujuh partai besar untuk mencari pendekar misterius itu, sekaligus membunuhnya." ouw yang seng Tek memberitahukan. "Tapi pendekar misterius itu justru menghilang entah ke mana? Hingga kini tiada kabar beritanya lagi-"

"Dia menghilang?" tanya se Khi-

"Kenapa menghilang?"

"Ha ha ha" ouw yang seng Tek tertawa gelak-

"se tua Tiada seorang pun bisa menjawabnya - "

"Lalu apa tindakan kita sekarang?" tanya se Khi.

"Lebih baik kalian beristirahat dulu- Kita harus bertindak bagaimana, akan dirundingkan nanti" sahut ouw yang seng Tek-

"Kalau begitu, kami akan beristirahat dulu," ujar se Khi.

Rombongan Pulau Pelangi berjalan ke dalam, ouw yang seng Tek menunjuk kamar ini dan itu.

Hek Ai Lan, se Pit Han, Giok Cing dan Giok Ling sama-sama dalam satu kamar. Ketika memasuki kamar itu, Hek Ai Lan pun menarik Pek Giok Houw ke dalam- Ling Ling tidak mau ketinggalan, ia pun langsung masuk.

"Ling Ling" Hek Ai Lan tersenyum lembut.

"Engkau dan siang wie ke depan dulu, kami bertiga ingin membicarakan sesuatu."

" Eh? Bibi " Ling Ling memanggil Hek Ai Lan bibi, itu telah disetujui swat san LoJin dan Thian san Lolo.

"Ling Ling" Pek Giok Houw menatapnya.

"Engkau harus menurut pada ibu angkatku"

"ya. Kakak Houw" Ling Ling menurut dan segera keluar diikuti Giok Cing serta Giok Ling.

"Nak" Hek Ai Lan menatapnya.

" Engkau dan Ling Ling saling mencintai?"

"Ibu " Wajah Pek Giok Houw tampak murung.

"Kami memang saling mencinta, namun Giok Houw tahu "

"Engkau tidak ingin menyakiti hati Ling Ling kan?« tanya se Pit Han.

"ya." Pek Giok Houw mengangguk.

"Kalau aku beritahukan sekarang, aku khawatir akan terjadi sesuatu atas dirinya, lantaran merasa kecewa."

" Kalau begitu bagaimana caramu mengatasinya nanti?" Hek Ai Lan menatapnya dalam-dalam.

"Setelah kita berhasil membasmi Kiu Thian mo Cun, aku akan berterus terang padanya, sekarang lebih baik jangan, sebab kita harus menghadapi Kiu Thian mo Cun, jangan menimbulkan hal lain"

"Ngmm" Hek Ai Lan manggut- manggut.

"Nak. itu sudah merupakan takdir, sebelumnya ka sudah menyuruhmu untuk memikirkan baik-baik, agar tidak menyesal."

"Aku tidak menyesal, hanya saja " Pek Giok Houw menarik nafas.

"Aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu Ling Ling."

"Adik Houw, kenapa engkau tidak menghindarinya pada waktu itu?" tanya se Pit Han mendadak-

"Aku sudah berusaha menghindarinya, tapi tak disangka kami bertemu di rumah penginapan lagi," jawab Pek Giok Houw memberitahukan.

"Aaakh " Keluh se Pit Han. «Padahal dia gadis yang baik dan cantik jelita, memang cocok dan serasi denganmu, namun"

"Kakak Han" Wajah Pek Giok Houw tampak murung sekali.

"Aku aku "

"Kami tahu, engkau amat menderita dalam hal ini" ujar Hek Ai Lan.

"Tapi bia bagaimana pun engkau harus tabah."

"ya." Pek Giok Houw mengangguk-

"Ibu. Kakak Han, lebih baik aku ke luar sekarang menemuinya. Kalau lama-lama di sini, mungkin akan menimbulkan kecurigaannya-"

"Baiklah.." Hek Ai Lan mengangguk-

"Kalau dia bertanda kita membicarakan apa, jawab saja kami berdua menanyakan tentang dirinya-"

"ya-" Pek Giok Houw mengangguk, lalu meninggalkan kamar itu dengan kepala tertunduk-

"Kakak Houw" seru Ling Ling sambil berlari-lari menghampirinya-

"Kok lama sih kalian bercakap-cakap di dalam kamar?"

"Memang agak lama," sahut Pek Giok Houw.

"Apa sih yang kalian bicarakan?" Ling Ling menatapnya, dan tampak bercuriga.

"Ibu angkat dan kakak misanku itu bertanya padaku tentang dirimu," jawab Pek Giok Houw sambil tersenyum.

"Tentang apa?"

"Tentang kita bertemu di mana. sudah berapa lama kita berkenalan dan lain sebagainya."

"Oh, ya?" Ling Ling tertawa geli-

"Begitu teliti ibu angkat dan kakak misanmu itu"

"Itu berarti mereka memperhatikan kita."

"ohya Kakak misanmu itu cantik sekali, terus terang dia jauh lebih cantik dariku."

"Ling Ling" Pek Giok Houw menggeleng-gelengkan kepala,

"selama ini aku tidak pernah menceritakan padamu, sekarang aku harus menceritakan."

"Mengenai apa?" Ling Ling tampak agak tegang.

"Kakak misanku itu amat mencintai..... "

"Mencintaimu?" Wajah Ling Ling langsung berubah pucat.

"Engkau pun mencintainya? Lalu aku bagaimana?"

"Ling Ling" Pek Giok Houw tersenyum.

"Jangan memotong ucapanku, kakak misanku itu amat mencintai Kakak Liong, tapi kakak Liong sudah tiada "

"Oh?" Ling Ling menarik nafas lega.

"Kakak Houw, maaf ya aku tadi salah paham"

"Ling Ling" Pek Giok Houw menatapnya dalam-dalam.

"Seandainya aku mati bertarung melawan Kiu Thian mo Cun, bagaimana engkau?"

" Aku pasti bunuh diri" sahut Ling Ling tanpa berpikir lagi, bahkan tampak berniat begitu.

"Ling Ling " Terharu dan cemas dalam hati Pek Giok Houw, apa yang akan terjadi, kalau Ling Ling tahu dirinya mati syahwat?

"Kakak Houw, aku" Wajah Ling Ling kemerah-merahan.

"Aku cuma mencintaimu, engkau hidup aku hidup, engkau mati aku pun pasti mati."

"Ling Ling " Pek Giok Houw nyaris menangis seketika, betapa tersiksa hatinya ketika mendengar apa yang dikatakan Ling Ling yang merupakan ikrar itu.

-ooo00000ooo-

Di kaki gunung yang amat indah itu, tampak sebuah sungai kecil. Airnya yang begitu bening terus mengalir. Terdengar cula kicauan burung yang sangat nyaring dan merdu,

sayup,sayup terdengar suara seruling mengiringi suara kicauan burung, sehingga sangat menyedapkan telinga, seorang lelaki berusia empat puluhan duduk di atas batu di dekat sungai itu. Tria tersebut sedang meniup seruling.

sekonyong-konyong melayang turun seseorang dihadapannya. Betapa kagetnya pria itu, ia langsung meloncat bangun sambil menatap orang yang berdiri di hadapannya, memakai topi rumput lebar dan mukanya ditutupi kain putih.

"siapa Anda? Mau apa ke mari?" tanya pria itu was-was.

"Cian Tok suseng Aku utusan dari Kiu Thian mo Cun" sahut orang itu.

"Apa?" Lelaki berusia empat puluhan yang ternyata Cian Tok suseng itu terbeliak-

"Engkau utusan Kiu Thian mo Cun? Bagaimana mungkin Kiu Thian mo Cun masih hidup?"

"He he he" orang itu tertawa terkekeh-kekeh.

"cian Tok suseng, usianya sudah berusia seratus lebih dikit, kok masih tampak begitu muda? Nah, engkau bisa awet muda, tentunya Kiu Thian mo Cunjuga bisa hidup hingga sekarang."

"Tapi Kiu Thian Mo Cun "

"Dia tidak mati terpukul kejurang oleh seng sim Tayhiap, sebaliknya malah masih hidup sampai sekarang, bahkan juga telah menguasai rimba persilatan."

"oh?" Cian Tok suseng terkejut bukan main.

"Kiu Thian mo Cun telah berhasil memukul Pek Giok Liong kedalam jurang "

"Apa?" Wajah Cian Tok suseng berubah pucat pias.

"Maksudmu Pek Giok Liong telah mati?"

"Ya." orang itu mengangguk-

"sejak Pek Giok Liong berhasil membunuh siang Hiong sam Kuai, engkau pun hidup mengasingkan diri di sini. Akan tetapi, tidak lama kemudian, muncullah Kiu Thian mo Cun."

"Giok Liong, ketua panji" sepasang mata Cian Tok suseng tampak bersimbah air-

"siau Hui Ceh dan cing li telah mati di tangan Kiu Thian mo Cun "

"Bagaimana dengan Nona se?" tanya Cian Tok suseng cepat dan cemas.

"Dia berhasil meloloskan diri kembali ke Cai Hong to-" orang itu memberitahukan.

"Kini tujuh partai besar telah takluk pada Kiu Thian mo Kiong, engkau hidup menyendiri di sini, tentunya tidak tahu akan hal itu."

"oh?" Cian Tok suseng menarik nafas lega ketika mendengar se Pit Han dapat meloloskan diri kembali ke Pulau Pelangi, tapi terkejut bukan main begitu mendengar bahwa tujuh partai besar telah takluk pada Kiu Thian mo Kiong.

"Kiu Thian mo Kiong?"

"Dulu Bunjiu Kiong atau Tay Tie Kiong, namun kini telah dijadikan Kiu Thian mo Kiong."

"Lalu apa tujuanmu ke mari?" tanya Cian Tok suseng sambil menatapnya tajam.

"Karena Kiu Thian mo Kiong kekurangan tenaga ahli racun, maka tenagamu amat dibutuhkan di sana,"jawab orang itu dan menambahkan,

"engkau tahu maksudku kan?"

"Maksudmu ingin menarikku ke sana?"

"Tidak salah-"

"Hm" dengus cian Tok suseng dingin-

"Engkau jangan bermimpi di siang hari bolong"

"Engkau menolak?"

"ya-"

"Engkau harus tahu, kalau engkau mengabdi pada Kiu Thian mo cun, hidupmu pasti senang "

"Aku sudah cukup senang hidup di tempat ini, tidak perlu kesenangan lain lagi." tandas Cian Tok suseng.

"Jadi aku harus meringkusmu?"

"Engkau ingin meringkusku?" cian Tok suseng tertawa gelak-

"Tahukah engkau, tubuhmu telah keracunan?"

"Tubuhku telah keracunan?" orang itu tertawa terbahak-bahak-

"Itu omong kosong"

"Kalau engkau tidak percaya, cobalah engkau tarik nafasmu dalam-dalam" ujar cian Tok suseng.

orang itu menarik nafas dalam-dalam, Cian Tok suseng memperhatikannya, namun keningnya tampak berkerut.

"Aku telah menarik nafas dalam-dalam, sama sekali tidak merasa ada gejala keracunan."

"sebelum engkau ke mari, engkau sudah makan obat pemunah racun?" tanya Cian Tok suseng terbelalak-

"sama sekali tidak-" orang itu tertawa.

"Perlu engkau ketahui, aku kebal terhadap racun ganas apa pun"

"oh?" cian Tok suseng terkejut.

"Nah sekarang engkau harus ikut aku ke Kiu Thian mo Kiong" tegas orang itu

"Jangan sampai aku turun tangan terhadapmu"

"Ha ha ha" Cian Tok suseng tertawa-

"Engkau ingin memaksaku?"

"ya."

"Engkau tidak bisa memaksaku" ujar cian Tok suseng.

"Aku cuma turut pada perintah ketua panji. Kalau engkau memaksaku untuk bergabung dengan Kiu Thian mo Kiong, lebih baik aku mati"

"Engkau telah berhadapan denganku, maka engkau tidak bisa mati." ujar orang itu.

"sebab sebelum engkau berbuat sesuatu, aku pasti bergerak cepat "

"Aku tahu kepandaianmu tinggi sekali, tapi jarak kita dua meter lebih, maka engkau tidak bisa berbuat sesuatu" cian Tok suseng tertawa, kemudian mendadak ia meroboh ke dalam bajunya mengambil sesuatu, setelah itu secepat kilat ia menggerakkan tangannya ke mulutnya sendiri-

Akan tetapi, tiba-tiba orang itu menyentilkan telunjuknya dan seketika juga tangan Cian Tok suseng tidak bisa bergerak lagi-

"cian Tok suseng" orang itu tertawa gelak-

"Jari tanganku lebih cepat kan?"

"Engkau " Cian Tok suseng menatapnya dengan mata berapi-api.

"Pokoknya aku tidak mau bergabung dengan Kiu Thian mo Kiong"

"Barusa n engkau mau berbuat apa?" tanya orang itu.

"Aku ingin bunuh diri dengan menelan racun" sahut Cian Tok suseng.

"Kenapa engkau begitu nekad?" orang itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku sudah bilang, pokoknya aku tidak mau bergabung dengan Kiu Thian mo Kiong. Karena engkau memaksaku, maka lebih baik aku bunuh diri"

"Cian Tok suseng, kenapa engkau begitu setia pada Pek Giok Liong? Padahal dia sudah mati"

"Aku memang harus setia padanya, sebab dia pernah melepaskan budinya padaku Lagi pula kalau aku bergabung dengan Kiu Thian mo Kiong, tentunya secara tidak langsung akan melakukan kejahatan, aku tidak menghendaki itu"

"Maka engkau mau bunuh diri?"

"Bagus Bagus" orang itu tertawa gelak lalu mendadak ia mengeluarkan suatu benda, yaitu jit Goat seng sim Ki.

"cian Tok suseng, lihatlah apa ini?"

"Haah ?" Wajah Cian Tok suseng berubah pucat pias.

"Teecu menghadap panji dan memberi hormat pada ketua"

"cian Tok suseng, tahukah engkau siapa aku?"

"Teecu tidak tahu, tapi tadi ketua bilang "

"Aku utusan Kiu Thian mo Cun kan?"

"Betul."

"Kini engkau mau turut perintahku?"

 

[bersambung]