panji sakti 10
"Betul." Ling Ming Cun Cia tertawa gelak.
"Maka kita santai-santai saja. Tapi sayang
sekali a Sa S"
"Kenapa?" tanya Cit Ciat Sin Kun.
"Di saat santai, justru tiada wanita," jawab
Ling Ming Cun Cia sambil
menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau engkau masih bernafsu terhadap
wanita, panggilan beberapa wanita pelacur ke
mari untuk teman tiduri" usul Cit Ciat sin
Kun.
"Sin Kun, bolehkah aku mencari wanita lain?"
tanya Ling Ming Cun Cia.
"Maksudmu wanita baik-baik?" Cit Ciat Sin
Kun menatapnya tajam.
"Ya." Ling Ming Cun Cia mengangguk.
"Itu tidak kuizinkan," tegas Cit Ciat Sin
Kun. "Dan ingat, kalau engkau sudah tidur
dengan wanita pelacur, engkau harus bayar!"
"Ya!" Ling Ming Cun Cia mengangguk.
"Kalian ingat, siapa yang berani main dengan
wanita baik-baik, pasti kuhukum!" tegas
Cit Ciat Sin Kun.
"Kami tidak berani," sahut mereka serentak.
"Nah, sekarang kalian boleh ikut minum, aku
mau pergi istirahat." Cit Ciat Sin Kun
meninggalkan tempat itu-
-- o --
-- o --fl A fl -- o --
Bagian ke 56. Bencana Melanda Rimba
Persilatan
Cit ciat Sin Kun, Thian sat, Thian Suan, Ti
Kie, Jin Pin Mo Kun, Ling Cun Cia dan Ngo
Tok Ceng Kun duduk di ruang dalam, tiba_tiba
masuk seseorang dan melapor-
"Thian Mo (Iblis Langit) datang!"
"Cepat suruh dia masuk!" sahut Cit Ciat Sin
Kun. Setelah itu ia pun bangkit berdiri,
begitu pula yang lain.
Tak lama kemudian tampak Thian Mo melangkah
ke dalam, Cit Ciat Sin Kun dan lainnya
segera memberi hormat.
"Silakan duduk, Thian M0!" Ucap Cit Ciat Sin
Kun.
Thian Mo duduk, ia menatap Cit Ciat Sin Kun
tajam, kemudian ujarnya dengan suara dalam.
"Mo Cun mengutusku ke mari untuk
menyampaikan perintahnya."
"Hamba siap menerima perintah dari Mo Cun!"
ucap Cit Ciat Sin Kun sambil memberi
hormat pada Thian Mo.
"Besok kalian harus berangkat ke Siau Lim,
beritahukan pada ketua Siau Lim bahwa Mo Cun akan berkunjung ke sana
tiga hari kemudian!" Thian Mo menyampaikan perintah dari Kiu Thian
Mo Cun-
"Hamba mesti melaksanakan perintah Mo Cun,"
ucap Cit Ciat Sin Kun sambil menjura.
"Suruh ketua Siau Lim bersiap-siap menyambut
kedatangan Mo Cun!" pesan Thian Mo.
"Ya." Cit ciat Sin Kun menjura lagi.
"Baiklah." Thian Mo bangkit berdiri. "Aku
harus segera Pulang ke Kiu Thian Mo Kiong,
laksanakan tugasmu itu dengan baik!"
"Ya." Cit Ciat Sin Kun mengangguk, lalu
diikuti yang lainnya mengantar Thian Mo sampai ke depan. Setelah
Thian Mo pergi, barulah ia masuk bersama Thian Sat dan lainnya.
"Besok kalian semua ikut aku ke Siau Lim,"
ujar Cit Ciat Sin Kun.
"Ya," sahut Thian Sat, Thian Suan dan
lainnya sambil menjura-
Keesokan harinya, berangkatlah mereka menuju
ke Siau Lim. Pihak Siau Lim tidak berani main-main, sebab mereka
adalah utusan Kiu Thian Mo Cun, maka ketua Siau Lim Pay segera
menyambut mereka, sekaligus mempersilahkan mereka duduk di ruang
dalam.
"Maaf!" Ucap ketua Siau Lim. "Ada
kepentingan apa kalian berkunjung ke mari?"
"Kepala gundul!" sahut Ngo Tok Ceng Kun
kasar. "Tentu penting! Kalau tidak, bagaimana
mungkin kami ke mari?"
"Kira-kira kepentingan apa?" tanya ketua
Sian Lim tetap sabar.
"Begini!" Cit Ciat Sin Kun memberitahukan.
"Kiu Thian Mo Cun mengutus kami ke mari untuk menyampaikan
pesannya."
"Mo Cun ada pesan apa untuk kami?" tanya
ketua Siau Lim dan tersentak dalam hati.
"Tiga hari kemudian, Mo Cun akan berkunjung
ke mari," jawab Cit Ciat Sin Kun. "Kalian
harus bersiap-siap menyambut kunjungannya!"
"Oh?" Ketua Siau Lim menarik nafas panjang.
"Kira-kira ada urusan apa Kiu Thian Mo Cun
berkunjung ke mari?"
"Aku tidak tahu," sahut Cit Ciat Sin Kun.
"Aku cuma menyampaikan pesannya."
"Baiklah." Ketua Siau Lim manggut-manggut.
"Kami pasti menyambut baik kunjungan Kiu
Thian Mo Cun."
"Terimakasih atas keramahan ketua!" ucap Cit
Ciat Sin Kun sambil bangkit berdiri.
"Kami mau mohon diri!"
"Selamat jalan!" ucap ketua Siau Lim.
Cit Ciat Sin Kun membalikkan badannya, dan
di saat itulah ia berpesan pada ketua Siau
Lim dengan ilmu menyampaikan suara.
"Ketua harus berhati-hati, Mo Cun ke mari
mempunyai niat tidak baik! Ilmunya sangat
tinggi!"
"Omitohud!" Ketua Siau Lim menyebut nama
kebesaran Buddha. "Selamat jalan Sin Kun!"
"Hmm!" Cit Ciat Sin Kun pura-pura mendengus
dingin, lalu melangkah pergi.
"Ketua!" ujar salah seorang pelindung Siau
Lim. "Tiga hari kemudian Kiu Thian Mo Cun
akan ke mari, kita harus bagaimana?"
"Tentunya harus menyambut kedatangan
mereka," jawab ketua Siau Lim.
"Tapi a Sa S" Pelindung itu mengernyitkan
kening. "Kiu Thian Mo Cun berilmu sangat
tinggi, kedatangannya pasti berniat jahat."
"Liau Khong a Sa S" Ketua Siau Lim menarik
nafas panjang. "Apa boleh buat, kita harus
mempertahankan Siau Lim!"
"Ketua!" ujar Liau Khong Taysu. "Bagaimana
kalau kita berunding dengan Sam tianglo? 1
"Ketiga ketua tidak akan keluar dari ruang
meditasi," Ketua Siau Lim menggeleng-gelengkan kepala.
"Tapi a Sg S" ujar Seng Khong Taysu
mengingatkan. "Yang akan kita hadapi adalah Kiu
Thian Mo Cun, maka lebih baik kita melapor
pada tiga tetua itu."
"Benar," sambung Hian Khong Taysu. "Mungkin
tiga tetua masih mampu melawan Kiu Thian Mo Cun."
"Ketua!" sela Ulie Khong Taysu. "Masalah ini
menyangkut Siau Lim Pay kita, oleh karena itu alangkah baiknya kalau
kita memberitahukan pada tiga tetua."
"Baiklah-" Ketua Siau Lim manggut-manggut.
"Kalian berempat ikut aku ke ruang meditasi
untuk menemui tiga tetua!"
Mereka berlima melangkah ke dalam menuju
ruang meditasi, yang merupakan tempat
terlarang bagi murid Siau Lim.
Setelah berada di depan pintu ruang
meditasi, ketua Siau Lim dan keempat pelindung
merapatkan kedua tangan masing-masing di
dada.
"Sam uii susiok (Tiga paman guru), kami
datang menghadap," ucap ketua Siau Lim.
"Masuklah!" terdengar suara sahutan dari
dalam.
Liau Khong Taysu membuka pintu ruang, ketua
Siau Lim melangkah ke dalam dan diikuti keempat pelindung itu-
"Kami memberi hormat pada susiok!" ucap
ketua Siau Lim.
"Duduk!" sahut salah seorang huieshio yang
sudah tua itu.
Ketua Siau Lim dan keempat pelindung segera
duduk, tetua Pertama menatap ketua Siau
Lim dengan tajam.
"Engkau ke mari menemui kami, tentunya ada
sesuatu Penting, kan?" tanya It tianglo.
"ya, siau susiok (paman guru kecil)!"
"Usia kami bertiga sudah hampir seratus,
kenapa engkau masih ke mari mengganggu
ketenangan kami bertiga?" tanya tetua kedua.
"Maaf, paman guru!" ucap ketua siau Lim dan
memberitahukan. "Tadi ada utusan dari Kiu
Thian Mo Cun ke mari a Sa S"
"Omitohud!" Ketiga tetua Siau Lim tampak
terkejut bukan main. "Utusan Kiu Thian Mo Cun?"
"Ya, Paman guru."
"Apakah Kiu Thian Mo Cun masih hidup?" tanya
tetua ketiga.
"Kami tidak tahu, tapi sepuluh bulan yang
lalu, Kiu Thian Mo Cun telah muncul dan
memukul jatuh Pek Giok Liong ke jurang."
"Siapa Pek Giok Liong itu?" tanya tetua
pertama.
"Pek Giok Liong adalah ketua panji Hati suci
Matahari Bulan." Ketua siau Lim
memberitahukan.
"Apa?!" Ketiga tetua Siau Lim tersentak,
"pek Giok Liong adalah pemegang Jit Goat Seng
Sim Ki?"
"Betul. Tapi a Sa S" Ketua Siau Lim menarik
nafas panjang.
"Omitohud! Jadi Pek Giok Liong sudah mati?"
tanya tetua kedua.
"Ya." Ketua Siau Lim mengangguk. "Bagaimana
dengan pihak Pulau Pelangi?" tanya tetua kedua mendadak.
"Belum bertindak apa-apa," jawab ketua Siau
Lim. "Karena tiga hari lagi Kiu Thian Mo
Cun akan ke mari, maka a Sa S"
"Baiklah. Sampai waktunya kami bertiga pasti
muncul," ujar tetua pertama berjanji.
"Terimakasih, paman guru!" Ketua Siau Lim
menarik nafas lega, karena ketiga paman
gurunya bersedia membantu dalam hal ini.
-- o --
-- o --A A A -- o --
Hari ini suasana vihara Siau Lim agak luar
biasa, para hweshio berbaris di undakan tangga di depan pintu vihara
tersebut. Barisan hweshio itu sampai di depan pintu masuk. Wajah
mereka tampak serius dan tegang-
Berselang beberapa saat kemudian,
terdengarlah lonceng berbunyi nyaring sekali, itu
pertanda tamu-tamu yang ditunggu telah
datang-
Tung! Tung! Tung!
Ketua dan empat pelindung Siau Lim segera
menuju ke pintu. Mereka berlima berdiri di
situ dengan perasaan tegang, sedangkan Cap
Pwe Lo Han (Delapan belas orang gagah)
berdiri di depan.
Tak seberapa lama kemudian, terdengarlah
suara musik yang amat merdu, suara suling membaur dengan suara Pipeh
dan khim, bahkan diiringi pula dengan suara nyanyian yang amat merdu
menggetarkan kalbu.
Muncul barisan Kiu Mo Li yang mengenakan
gaun tipis bersama para gadis pemain musik.
Begitu barisan Kiu Mo Li muncul, seketika
juga para hweshio yang berbaris melotot
dengan mulut ternganga lebar.
Sementara Kiu Mo Li berjalan
berlenggak-lenggok dan meliuk-liuk sambil tersenyum genit
pada para hweshio itu.
Tok! Tok! Tok! Tok! Mendadak dari dalam
vihara mengalun ke luar suara bokkie. Begitu
mendengar suara bokkie, para hweshio pun
segera membaca doa.
Berselang sesaat, muncul Cit Ti Sat, Ngo
Kui, menyusul Thian Ti Siang M0 dan Kiu Thian
Mo Cun.
Kiu M0 Li berhenti, Cit Ti Sat dan Ngo Kui
maju, lalu berdiri di hadapan ketua siau Lim.
"Kiu Thian Mo Cun telah tiba!" Cit Ti Sat
memberitahukan.
"Omitohud! Selamat datang!" ucap ketua Siau
Lim.
Thian Ti Siang Mo melangkah ke hadapan ketua
siau Lim, lalu berdiri di situ dengan wajah dingin.
"Tay Kak Hosiang!" ucap Kiu Thian Mo Cun
sambil tertawa. "Aku Kiu Thian Mo Cun
meluangkan waktu untuk berkunjung ke mari. '
"Omitohud! Terimakasih atas kunjungan Mo
Cun!" ucap Tay Kak Hosiang, ketua Siau Lim.
"Silakan masuk!"
"Tay Kak!" sahut Kiu Thian Mo Cun dingin-
"Kami tidak perlu masuk, cukup berdiri di
sini saja!"
"Kenapa?" Tay Kak Hosiang heran.
"Kami ke mari bukan untuk bertamu, melainkan
untuk memberi perintah padamu, ketua Siau
Lim!"
"Omitohud!" jay Kak Hosiang merapatkan kedua
tangannya di dada. "Kami pihak Siau Lim
tidak di bawah perintah Mo Cun!"
"Tay Kak!" Kiu Thian Mo Cun tertawa
terkekeh-kekeh- "Kalau engkau tidak menerima
perintahku, berarti Siau Lim Pay akan
musnah!"
"Omitohud!" Tay Kak Hosiang menarik nafas
panjang. "Selama ini kami pihak Siau Lim
senantiasa hidup tenang, janganlah Mo Cun
mengganggu ketenangan kami!"
"Tay Kak! Kedatangan kami justru ingin
menaklukkan Siau Lim!" ujar Kiu Thian Mo Cun
sungguh-sungguh, "perlukah banjir darah di
sini?"
"Apa kehendakmu, Mo Cun?"
"Siau Lim Pay harus di bawah perintah Kiu
Thian Mo Kiong!"
"Bagaimana kalau kami tidak mau?"
"Pasti banjir darah di sini!"
"Omitohud! Apakah tiada jalan lain?"
"Ada!" Kiu Thian Mo Cun tertawa. "Mari kita
bertanding tiga babak! Kalau pihakmu menang, kami pasti segera
meninggalkan tempat ini! Tapi kalau pihakmu kalah, harus takluk dan
di bawah perintah Kiu Thian Mo Kiong!"
"Omitohud!" Tay Kak Hosiang memandang Empat
pelindung. "Bagaimana menurut kalian?"
"K^tua! Keadaan amat terdesak, itu apa boleh
buat!" Jawab Liau Khong Taysu sambil menarik nafas Panjang.
"Baiklah!" ujar ketua Siau Lim Pada Kiu
Thian Mo cun. "Mari kita bertanding tiga babak!"
"Bagus!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak.
"Pihakmu siapa yang akan maju duluan?"
"Cap Pwe Lo Han!" jawab ketua Siau Lim-
"Baik! Mereka akan bertanding di halaman
ini!" ujar Kiu Thian Mo Cun.
"Mo Cun!" Ketua Siau Lim menatapnya. "Kenapa
Mo Cun memakai kedok iblis?"
"Tay Kakj Dari dulu aku sudah pakai kedok
iblis, kini pun harus Pakai kedok ini!"
sahut Kiu Thian Mo Cun- "Nah, suruh Cap Pwe
Lo Han bersiap-siap!"
"Cap pwe Lo Han, maju!" Ketua Siau Lim
memberi perintah pada Cap Pwe Lo Han itu.
"Ya, Ketua!" Cap Pwe Lo Han itu segera
menuju ke pelataran, lalu berdiri di situ.
"Kiu Mo Li, maju!" Kiu Thian Mo Cun memberi
perintah pada Kiu Mo Li itu.
"Ya, Mo Cun!" sahut Kiu Mo Li serentak,
mereka menuju ke pelataran dengan badan
meliuk-liuk menggiurkan.
Kiu Mo Li berdiri di situ sambil
tersenyum-senyum. Cap Pwe Lo Han langsung mengambil posisi
mengepung, sekaligus membentuk Cap Pwe Lo Han Tin (Barisan delapan
belas Lo Han), barisan tersebut amat terkenal dalam rimba
persilatan, sebab selama ini tiada seorang pun yang mampu menjebol
barisan itu.
Akan tetapi, begitu melihat Kiu Mo Li itu,
mata delapan belas Lo Han itupun melotot
lebar.
"Hi hi hi!" Toa Mo Li tertawa cekikikan. "Lo
Han yang baik, kita akan bertanding ya?"
"Ya," sahut salah seorang Lo Han.
"Kalau begitu, cepatlah mulai!" ujar Toa Mo
Li sambil tersenyum genit. "Lo Han yang
baik, badanmu begitu kekar, pasti kuat
bertanding di ranjang!"
"Awas!" bentak |_o Han itu- "Kami akan mulai
menyerang!" 8nbsp;
"Kok buru-buru amat sih? Lebih baik kami
menari dulu!" ujar Toa Mo Li sambil
mengerling Lo Han itu. Kerlingan itu membuat
Lo Han tersebut jadi berdebar-debar hatinya.
"Adik! Adik!" ujar Toa Mo Li pada
saudarasaudaranya. "Mari kita menari untuk para Lo
Han yang baik hati itu!"
"Baik, Kak," sahut mereka serentak sambil
tersenyum genit.
Tak lama terdengarlah suara nyanyian yang
amat merdu. Sembilan wanita iblis itu mulai menari. Bukan main!
Mirip tarian strip-tease jaman sekarang. Begitu merangsang sehingga
membuat delapan belas Lo Han itu berdiri dengan mata terbelalak.
Delapan belas Lo Han itu tidak tahu, bahwa
itu Mo Li Mi Hun Tin (Barisan pembetot
sukma wanita iblis).
Tarian itu lebih hot dan merangsang dari
pada tarian strip-tease jaman sekarang. Bayangkan! Sembilan wanita
iblis itu menari sambil menyingkap ujung gaun masing-masing,
kemudian membuka kaki mereka lebar-lebar dan bergoyang-goyang.
Bahkan di antaranya ada
pula yang telentang sambil membuka
lebar-lebar kakinya, sekaligus menggoyang-goyangkan
pantat-
Mana tahan! Delapan belas Lo Han itu
betul-betul tidak tahan, bahkan timbul hasrat
untuk memeluk Kiu Mo Li itu.
"Serang mereka!" seru Tay Kak Hosiang, ketua
Siau Lim.
Delapan belas Lo Han tersentak. Mereka mulai
membentuk barisan, dan mulai menyerang.
"Hi hi hi!" Sembilan wanita iblis itu
tertawa cekikikan- "Tega amat sih kalian
menyerang kami! Lo Han yang baik hati,
rabalah dadaku!"
Toa M0 Li menghadapi salah seorang Lo Han,
lalu mengangkat dadanya untuk menyenggol
lengan Lo Han itu.
"rjh-ouh!" Hampir saja Lo Han itu berseru
demikian. Cepat-cepat ia menjatuhkan diri
menyerang Toa Mo Li dengan jurus Lo Han
tidur.
Ketika Lo Han itu menjatuhkan diri, Toa Mo
Li pun mengeluarkan jurus perangsangnya, yakni mengangkat sebelah
kakinya menghadap Lo Han itu, sekaligus menyingkap gaunnya, sehingga
yang di dalam selangkangan itu terlihat semua.
Jurus tersebut membuat Lo Han itu tidak
mampu berdiri lagi. Ia terus membaringkan dirinya dalam jurus Lo Han
tidur. Namun sepasang matanya melotot mengarah pada seiangkangan itu
sambil menelan ludah, sehingga membuat Toa Mo Li tertawa cekikikan,
dan mulailah menggoyang-goyangkan
pinggulnya.
Sukma Lo Han itu betul-betul terbetot ke
luar, dan ia pun bergoyang-goyang seakan
sedang bermain dengan Toa Mo Li itu.
Bagaimana Lo Han yang lain? Mereka tidak
beda jauh dengan Lo Han itu. Salah seorang Lo Han menyerang Ji Mo Li
(wanita iblis kedua) dengan jurus Lo Han memukul lonceng, sepasang
tangan Lo Han itu memukul ke depan. Ji Mo Li justru pasang dada
menyambut pukulan itu. Ketika melihat sepasang payudara Ji Mo Li
yang amat montok, luiee kang Lo Han yang telah disalurkan pada
sepasang tangannya pun buyar entah ke mana. Bahkan sepasang telapak
tangannya melekat pada sepasang payudara Ji Mo Li, sekaligus
meraba-rabanya. Saking asyik meraba, ia menjadi lupa diri, Ji Mo Li
langsung menotok jalan darahnya.
"Hi hi hi!" Ji Mo Li tertawa geli, karena
melihat Lo Han itu sudah berdiri seperti
patung terkena totokannya.
Barisan delapan belas Lo Han siau Lim yang
sangat terkenal itu, justru tak berkutik
sama sekali terhadap barisan pemikat sukma
sembilan wanita iblis itu.
"Berhenti!" bentak ketua Siau Lim dengan
wajah merah padam saking merasa malu
menyaksikan hal tersebut.
"Ha ha hal" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak.
"Ketua Siau Lim, babak ini pihakmu telah
kalah!"
"Omitohud!" sahut ketua Siau Lim. "Cap Pwe
Lo Han Tin kami memang telah kalah."
"Nah, sekarang kita mulai babak kedua!"
"Baiklah!" Ketua Siau Lim mengangguk. "Si Hu
Huat, kalian berempat maju!"
"Ya," sahut Liau Khong Taysu.
Sementara delapan belas Lo Han itu telah
bebas dari totokan, mereka kembali ke tempat, Kiu Mo Li pun kembali
ke tempat sambil melirik delapan belas Lo Han itu sambil tersenyum
genit. Wajah delapan belas Lo Han memerah, cepat-cepat mereka
menundukkan kepala.
"Ngo Kui!" panggil Kiu Thian M0 Cun. "Kalian
berlima melawan Siau Lim si Hu Huat itu!"
'Va, Mo Cun." Toa Tauui Kui memberi hormat
pada Kiu Thian Mo Cun, lalu menghampiri
empat pelindung Siau Lim.
"Kita bertanding dengan senjata atau tangan
kosong?" tanya Setan kepala Besar.
"Tangan kosong saja!" sahut Liau Khong
Taysu.
"Baiklah!" Setan Kepala Besar tertawa
panjang. "Saudara-saudaraku, mari kita serang
keempat kepala gundul itu!"
"Baik!" sahut keempat saudara Toa Tauw Kui.
Mereka berlima langsung menyerang Siau Lim
Si Hu Huat, empat pelindung Siau Lim itu
langsung berkelit.
"Omitohud!" Liau Knong Taysu menyebut
kebesaran nama Buddha. "Sungguh hebat serangan
kalian!"
"Kepala gundul! Sambut lagi serangan kami!"
bentak Toa Tauw Kui sambil menyerang.
Terjadilah pertarungan yang amat seru.
Keempat pelindung Siau Lim mengeluarkan ilmu
andalan mereka, yakni Siau Lim Hok Mo Sin
Ciang (pukulan Sakti Penakluk Iblis).
Ngo Kui juga mengeluarkan ilmu andalan,
yakni Ngo Kui Ciang (Pukulan Lima Setan), dan
mengurung empat pelindung Siau Lim dengan
Ngo Kui Tin (Barisan Lima Setan).
Tak seberapa lama kemudian, empat pelindung
Siau Lim mulai tampak kewalahan menghadapi Ngo Kui, akhirnya mereka
berempat mengeluarkan ilmu simpanan Siau Lim, yakni Liong Houui Sin
Ciang (Cakar Sakti Naga Harimau).
Ngo Kui terkejut, lalu segera melompat
mundur beberapa langkah. Setelah itu mereka berlima mendadak
menyerang serentak dengan ilmu Ku Lu Ciang (Pukulan Tengkorak) yang
amat ganas. Empat pelindung Siau Lim menyambut pukulan-pukulan itu
dengan Cakar Sakti Naga Harimau, terdengarlah benturan keras.
Ngo Kui termundur tiga langkah, sedangkan
empat pelindung Siau Lim terpental sejauh
lima meteran dengan mulut mengeluarkan darah
segar.
"Ha ha hal" Kiu Thian Mo Cun tertawa. "Ketua
Siau Lim, babak kedua dimenangkan pihak
kami lagi I Perlukah bertanding lagi?"
"Memang perlu!" Terdengar sahutan tajam dari
dalam vihara. Tampak tiga hweshio tua berjalan ke luar- Mereka
adalah tiga tetua Siau Lim.
"Paman guru!" Ketua Siau Lim segera memberi
hormat seraya melapor, "Pihak kita sudah
kalah dua babak;11
"Omitohud!" Tetua pertama menatap Kiu Thian
Mo Cun dengan tajam. "Engkau adalah Kiu
Thian M0 Cun?"
"Tidak salah!" sahut Kiu Thian Mo Cun sambil
tertawa. "Aku tahu kalian bertiga masih
hidup, maka aku harus ke mari!"
"Mo Cun," ujar tetua pertama dengan sabar.
"Kalau engkau benar Kiu Thian Mo Cun, lebih baik engkau pergi
bertapa! Jangan menyia-nyiakan usiamu yang hampir dua ratus itu!"
"Kepala gundui!" Kiu Thian Mo Cun tertata
terkekeh-kekeh. "Hui Beng H0siang, guru
kalian itu masih tidak berani berkata
demikian padaku! Tahu?"
"Omitohud! jadi a Sa S" Tetua Pertama
tersentak, sebab siapa pun tidak tahu guru mereka, namun orang
berkedok iblis itu justru tahu, benarkah dia Kiu Thian Mo Cun?
"Kepala gundul, tidakkah kalian yakin bahwa
aku Kiu Thian Mo Cun?"
"Omitohud! Setelah engkau dipukul jatuh ke
jurang oleh Seng Sim Tayhiap, tidak mati,
malah bisa hidup sekian lama, seharusnya
engkau bertobat!"
"Kepala gundul! Kalian tidak perlu
menasehatiku!" bentak Kiu Thian Mo Cun gusar. "Mari kita bertanding!
Kalau kalian bertiga kalah, maka partai Siau Lim harus di bawah
perintah Kiu Thian Mo Kiong!"
"Omitohud! Kenapa Mo Cun mendesak kami?"
"Sudahlah! Jangan banyak omong, mari kita
bertanding!"
"Omitohud! Demi nama baik partai Siau Lim,
kami bertiga terpaksa bertanding dengan M0
Cun!"
"Bagus! Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa
gelak sambil melangkah ke pelataran.
"Omitohud!" Tiga tetua Siau Lim juga
melangkah ke sana.
"Hati-hati, Paman guru!" pesan ketua siau
Lim.
"Tidak perlu cemas, segala apa pun sudah
merupakan takdir," sahut tetua pertama-
"Betul!" Kiu Thian Mo Cun tertawa terkekeh.
"Hari ini pasti Siau Lim ditakdirkan harus
di bawah perintah Kiu Thian Mo Kiong!"
"Mo Cun, bagaimana kalau kita mengadu lwee
kang?" tanya tetua pertama-
"Baik!" Kiu Thian Mo Cun mengangguk. "Kalian
bertiga boleh menyerangku dengan tenaga dalam!"
"Kalau begitu, berhati-hatilah!" ujar tetua
pertama.
Tiga tetua siau Lim segera menghimpun Thay
Im sin Kang, sedangkan Kiu Thian Mo Cun mengerahkan Hek Sim Sin Kang
(Tenaga Sakti Hati Hitam). Karena cuma mengerahkan tujuh bagian,
maka badannya cuma memancarkan sedikit cahaya hitam.
"Omitohud!" Tetua pertama tersentak- "Hek
Sim Sin Kang!"
"Betul!" Kiu Thian Mo Cun mengangguk.
"Berhati-hatilah kalian bertiga!"
"Omitohud!" Tiga tetua Siau Lim menyerang
serentak dengan Thay Im sin Kang. Betapa dahsyatnya tenaga sakti
mereka, namun Kiu Thian Mo Cun malah tertawa panjang, sekaligus
mengibaskan tangannya.
Bumm! Terdengar suara benturan yang
memekakkan telinga.
Kiu Thian Mo CUn berdiri tak bergeming,
sebaliknya tiga tetua Siau Lim terpental beberapa meter dengan mulut
mengeluarkan darah hitam, dan wajah mereka tampak kehitam-hitaman.
Mereka bertiga telah terluka dalam, bahkan
terkena racun pukulan lawan. Kalau Kiu Thian Mo Cun menambah satu
bagian lwee kangnya, tiga tetua Siau Lim pasti mati seketika.
"Paman guru!" Ketua Siau Lim cemas bukan
main- "Bagaimana luka Paman guru bertiga?"
"Ti a Sa S tidak aPa-apa," sahut tetua
Pertama sambil memejamkan matanya untuk
mengatur pernafasannya.
"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa
terbahak-bahak. "Nah! Mulai sekarang partai Siau
Lim sudah berada di bawah perintah Kiu Thian
Mo Kiong!"
"Mo Cun! Kita masih belum bertanding!" Ketua
Siau Lim gusar sekali.
"Tay Kak!" Kiu Thian Mo Cun menudingnya.
"Ketiga paman gurumu sudah roboh di tanganku,
bagaimana mungkin engkau mampu melawanku?"
"Tay Kak a Sa S" ujar tetua pertama sambil
membuka matanya. "Kami bertiga telah kalah,
maka mulai saat ini pasti Siau Lim berada di
bawah perintah Kiu Thian Mo Kiong!"
"Bagus! Bagus!" Kiu Thian Mo Cun tertawa
terbahak-bahak. "Ketua Siau Lim, kalau ada perintah dari Kiu Thian
Mo Kiong, kalian partai Siau Lim harus melaksanakannya dengan baik!"
"Omitohud!" Ketua Siau Lim menarik nafas
panjang.
"Baiklah! Aku mau kembali ke Mo Kiong!" ujar
Kiu Thian Mo Cun. "Mari kita pergi!"
-- o --
-- o --A A A -- o --
Kiu Thian Mo Cun duduk di kursi
kebesarannya, Thian Ti Siang Mo, Ngo Kui, Cit Ti Sat
dan Kui Mo Li duduk berderet di depannya.
"Kami menghatur selamat pada Mo Cun!" ucap
mereka serentak.
"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak.
"Terimakasih! Kini partai Siau Lim telah kita taklukkan. Mengenai
partai lain tidak sulit, maka aku tidak perlu turun tangan sendiri-"
"Mo Cun, partai apa yang perlu kita taklukan
lagi?" tanya Thian Mo.
"Partai Bu Tong, Gobi, Hwa San dan Khong
Tong," sahut Kiu Thian Mo Cun memberitahukan.
"Kita harus menaklukkan partai-partai itu
juga."
"Betul." Thian Mo manggut-manggut sambil
tertawa. "Setelah kita menaklukkan partai-partai itu, maka Kiu Thian
M0 Kiong yang berkuasa di bu lim."
"itu memang tujuan kita." Kiu Thian Mo Cun
tertawa gelak. "Nah, Thian Mo ke Yang Ulie Kiong menyampaikan
perintahku, Cit Ciat Sin Kun dan bawahannya harus menaklukan partai
Gobi!"
"Ya, Mo Cun," sahut Thian Mo.
"Ti Mo harus ke Siau Mo Kiong (Istana Iblis
Kecil) menyampaikan perintahku, Siau Mo Cun Tu Ci Yen dan bawahannya
harus menaklukkan partai Hwa San."
"Ti Mo terima perintah," sahut Ti Mo.
"Mo Cun, siapa yang akan menaklukan Partai
Butong dan Khong Tong?" tanya Thian Mo.
"Partai Butong amat kuat, maka harus kalian
berdua dan Ngo Kui yang ke sana
menaklukkannya," jawab Kiu Thian Mo Cun.
"Ya, Mo Cuh," sahut Thian Ti Siang Mo dan
Ngo Kui.
"Cit Ti Sat dan Kiu Mo Li ke partai Khong
Tong! Kalian harus menaklukkan Partai itu!"
"Ya, Mo Cun," sahut Cit Ti Sat dan Kiu Mo
Li.
"Kalian semua harus tahu, kenapa aku harus
turun tangan juga menaklukkan partai Siau Lim?" ujar Kiu Thian Mo
Cun. "Itu dikarenakan tiga tetua Siau Lim itu masih hidup, kalian
bukan lawannya."
"Betul." Thian Mo mengangguk. "Hek Sim Sin
Kang Mo Cun amat hebat, aku yakin ilmu itu
sudah tiada tanding di kolong langit-"
"Tidak salah." Kiu Thian Mo Cun
manggut-manggut. "Oleh karena itu, mulai sekarang
seluruh bu lim akan menjadi milik kita."
"Betul." Ti Mo tertawa terbahak-bahak. "Ha
ha ha! Secara tidak langsung Mo Cun adalah
Bu Lim Beng Cu (Ketua rimba persilatan)!"
"Kami semua mendukung," ujar yang iain
dengan sungguh-sungguh.
"Pokoknya Kiu Thian Mo Kiong yang menjadi
Pemimpin bu lim!" sahut Kiu Thian Mo Cun sambil tertawa gelak.
"Selama dua ratus tahun ini, pihak golongan putih yang berkuasa di
bu lim. Tapi kini sudah tidak, golongan hitamlah yang berkuasa!"
"Hidup Kiu Thian Mo Cun! Hidup golongan
hitam!" seru mereka serentak, kemudian terdengar suara tawa Kiu
Thian Mo Cun yang terbahak-bahak bergema ke mana-mana, disusul suara
tepuk sorak yang riuh gemuruh.
-- o --
Partai Gobi termasuk partai kuat dan
terkemuka di bu lim. Ketua partai tersebut bernama Pek Bie Siang Jin
yang amat terkenal ilmu Gobi Sin Kangnya. Yang Yang Siang Jin dan
Ngie Yang Siang Jin adalah adik seperguruannya. Kepandaian mereka
berdua juga amat tinggi, begitu pula para murid.
Hari ini Gunung Gobi kedatangan tamu-tamu
yang di luar dugaan, yakni dari Yang Wie Kiong. Ketua Gobi dan kedua
adik seperguruannya segera menyambut kedatangan mereka. Dalam hati
ketua Gobi dan kedua adik seperguruannya sudah menduga apa kehendak
pihak Yang Wie Kiong, sebab mereka sudah mendengar berita tentang
partai Siau Lim yang telah ditaklukkan Kiu Thian Mo Kiong.
"Maaf!" ucap Pek Bie Siang Jin atau ketua
Gobi. "Ada urusan apa sehingga Cit Ciat Sin
Kun berkunjung ke mari?"
"Pek Bie!" Cit Ciat Sin Kun tertawa gelak.
"Tentunya engkau sudah tahu tujuan kami,
partai Siau Lim adalah contoh!"
"Jadi a Sg S" Pek Bie Siang Jin menatapnya
tajam. "Kalian adalah utusan dari Kiu Thian Mo Cun?"
"Tidak salah!" sahut Cit Ciat Sin Kun. "Oleh
karena itu, aku harap engkau jangan mengadakan perlawanan, agar
partai Gobi masih bisa berdiri di bu lim!"
"Sin Kun!" sela Jin Pin Mo Kun. "Kita tidak
perlu banyak bicara, habiskan saja mereka!"
"Betul!" sambung Ling Ming Cun Cia. "Kita
tidak usah membuang waktu, kalau mereka
tidak mau tunduk, mari kita habiskan
mereka!"
"Aku setuju!" ujar Ngo Tok Ceng Kun.
"Tanganku sudah gatal!"
"Jadi kedatangan kalian untuk menaklukkan
kami partai Gobi?" tanya Pek Bie Siang Jin
dingin.
"Tidak salah!" sahut Cit Ciat Sin Kun
dingin. "Kalau kalian tidak mau tunduk, apa
boleh buat! Kami terpaksa bertindak!"
"Apakah kalian yakin mampu menaklukkan
kami?" tanya Yang Yang Siang Jin, adik
seperguruan ketua Gobi.
"Kalian ingin bertanding dengan kami?" tanya
Cit Giat Sin Kun.
"Betul!" Yang Yang Siang Jin mengangguk.
"Baiklah!" Cit Ciat Sin Kun mengangguk.
"Bagaiman cara kita bertanding?"
"Kita bertanding tiga babak! Kalau pihakmu
kalah, harus segera angkat kaki dari sini!" sahut Pek Bie Siang Jin.
"Seandainya pihakmu yang kalah?" tanya Cit
Ciat Sin Kun.
"Tentunya kami akan tunduk!" jawab Pek Bie
Siang Jin.
"Baiklah!" cit Ciat Sin Kun manggut-manggut.
"pihakmu siapa yang maju duluan?"
"Aku!" sahut Yang Yang Siang Jin sambil
melangkah ke tengah. "Aku yang maju duluan!"
"Sin Kunl" ujar Jin Pin Mo Kun sambil
bangkit berdiri, "izinkanlah aku melawannya!"
"Silakan!" cit Ciat Sin Kun mengangguk.
Jin pin Mo Kun maju ke tengah, matanya
memandang Yang Yang Siang Jin sambil tertawa.
"Kita bertanding dengan tangan kosong atau
senjata?' tanyanya.
"Tangan kosong!" sahut Yang Yang Siang Jin.
"Baiklah! Engkau boleh menyerangku
sekarang!" ujar Jin Pin Mo Kun sambil mengerahkan lwee kangnya.
"Engkau adalah tamu. silakan menyerang
duluan!" sahut Yang Yang Siang Jin dan mulai
mengerahkan lwee kangnya.
"Baiklah!" Jin Pin M0 Kun langsung
menyerangnya.
Yang Yang Siang Jin segera berkelit dan
balas menyerang Pula, terjadilah pertarungan yang amat seru.
Tak terasa pertarungan sudah lewat puluhan
jurus, Jin Pin Mo Kun amat penasaran karena belum dapat mengalahkan
Yang Yang Siang Jin. Maka ia berpekik keras sambil menyerang Yang
Yang Siang Jin dengan jurus l_ui Tian Son Ti (Kilat Menyambar Bumi),
yakni jurus andalannya. Sungguh dahsyat dan cepat gerakannya-
Yang Yang Siang Jin terkejut bukan main. Ia
cepat-cepat berkelit, namun sudah terlambat, dadanya terpukul telak
sehingga terpental beberapa meter.
"Aaakh a Sa S!" Jeritnya dengan mulut
memuntahkan darah segar dan wajahnya pucat pias.
"Suheng!" Ngie Yang Siang Jin segera
mendekatinya, lalu memapahnya ke tempat duduk.
"Bagaimana lukamu?"
"Tidak apa-apa," sahut Yang Yang Siang Jin
lemah.
"Ha ha ha!" Jin Pin Mo Kun tertawa gelak.
"Aku sudah memenangkan babak pertama! Siapa yang akan maju untuk
babak kedua?"
"Aku!" jawab Pek Bie Siang Jin, ketua Gobi
sambil maju ke depan.
"Jin Pin, mundur!" seru Cit Ciat Sin Kun.
"Biar Thian Sat yang melawan ketua Gobi itu!"
"Ya," Jin pin Mo Kun segera mundur.
Thian Sat Sit Kun melangkah ke depan,
matanya menatap pek Bie Siang Jin dengan tajam
seraya bertanya.
"Mau bertanding dengan tangan kosong atau
senjata?"
"Tangan kosong!" sahut Pek Bie Siang Jin.
"Baiklah!" Thian Sat Sit Kun segera
mengerahkan lwee kangnya. "Berhati-hatilah! Aku
akan segera menyerang!"
"Silakan!" Pek Bie Siang Jin sambil
mengerahkan Gobi Sin Kang-
"Ha ha ha!" Thian Sat Sit Kun tertawa
panjang, lalu mulai menyerang Pek Bie Siang Jin.
Ketua .Gobi tidak merasa gentar. Disambutnya
serangan itu, sekaligus balas menyerang
pula.
Pertarungan yang amat seru pun mulai
berlangsung. Kira-kira dua puluh jurus kemudian, mendadak Thian Sat
Sit Kun memekik keras sambil menyerang Pek Bie Siang Jin dengan
jurus Ngo Gak Ap Ti (Lima Gunung menindih
Bumi) yang penuh mengandung tenaga dalam.
Pek Bie Siang Jin tidak berkelit, sebaliknya
malah menyambut serangan itu dengan jurus
Kong Ciak Khay Peng (Merak Mengembangkan
Sayap).
Daar! Terdengar suara benturan keras.
Pek Bie Siang jin terdorong mundur beberapa
langkah, sedangkan Thian Sat Sin Kun cuma
terdorong mundur satu langkah.
Untung Thian Sat Sin Kun tidak berniat
melukainya, maka Pek Bie Siang Jin tidak
teriuka dalam.
"Aku mengaku kalah!" ujar pek Bie Siang Jin
dengan wajah lesu.
"Terimakasih!" sahut Thian Sat Sin Kun .
"Pihak kami telah memenangkan dua babak,
kini masih ada satu babak, pihakmu siapa yang akan maju?" tanya Cit
Ciat Sin Kun.
"Pertandingan babak ketiga tidak perlu
dilanjutkan lagi!" Ujar Pek Bie Siang Jin sambil menarik nafas
panjang. "Pihak kami sudah kalah a Sa S"
"Kalau begitu a Sa S" Jin pin Mo Kun tertawa
gelak. "Mulai saat ini, partai Gobi sudah
berada di bawah Perintah Kiu Thian Mo
Kiong!"
"Ya," Pek Bie Siang Jin mengangguk.
"Kalau ada perintah dari Kiu Thian Mo Kiong,
kalian harus melaksanakan perintah itu dengan baik!" tegas Ling Ming
Cun Cia sambil tertawa terkekeh-kekeh, matanya menatap Pek Bie Siang
Jin yang tak bersemangat itu.
"Ya!" Pek Bie Siang Jin mengangguk lagi-
-- o --
-- o --(0) (0) (0) (0)-- o --
Suasana di Butong San amat tegang mencekam,
itu dikarenakan kehadiran Thian Ti Siang
Mo dan Ngo Kui sebagai utusan Kiu Thian M0
Cun.
Hian Beng Tocu, yakni ketua partai Butong
berdiri dengan kening berkerut-kerut seakan sedang mempertimbangkan
sesuatu.
"Bagaimana?" tanya Thian Mo sambil
menatapnya tajam. "Engkau tidak mau takluk pada Kiu
Thian Mo Cun?"
"Thian Mo!" sahut Hian Beng Tocu. "Kami
tidak akan takluk begitu saja! Lebih baik kita
bertanding!"
"Baik!" Thian Mo tertawa gelak. "Mau
bertanding berapa babak?"
"Cukup satu babak saja!" jawab Hian Beng
Tocu. "Satu babak itu akan menentukan partai
Butong takluk atau kaiian yang harus enyah
dari sini!"
"Bagus!" Thian Mo tertawa lagi. "Kalau
begitu, pihakmu siapa yang akan maju untuk
bertanding?"
"Aku!" sahut Hian Beng Tocu.
"Baiklah!" Thian Mo manggut-manggut.
"Suheng! Biarlah aku yang maju bertanding dengan
hidung kerbau itu!" ujar Ti Mo.
"Sute!" tegas Thian Mo. "Engkau jangan
mempermalukan Kiu Thian Mo Kiong, dalam tiga
puluh jurus, engkau harus sudah mengalahkan
ketua Butong itu!"
"Yaj" Ti Mo mengangguk, lalu maju sambil
menjura pada Hian Beng Tosu- "Mari kita
mulai! Dalam tiga puluh jurus aku pasti
mengalahkanmu!"
"Bagaimana kalau tidak?" tanya Hian Beng
Tosu.
"Kami akan segera meninggalkan tempat ini!"
sahut Ti Mo.
"Baiklah!" Hian Beng ToSu mengangguk.
"Silakan Ti Mo menyerang duluan!"
"Kalau begitu, berhati-hatilah!" ujar Ti Mo
dan langsung menyerang Hian Beng Tosu
dengan jurus-jurus ampuh.
Hian Beng Tosu berkelit, mengelak dan
menghindar, bahkan balas menyerang.
Tak terasa mereka bertanding sudah dua puluh
lima jurus, mendadak Ti Mo berhenti.
"Engkau cukup tangguh!" ujarnya sambil
menatap Hian Beng Tosu. "Kini tinggal lima
jurus, maka engkau harus lebih
berhati-hati!"
"Terimakasih atas peringatan Ti Mo!" ucap
Hian Beng Tosu.
Ti Mo mulai menarik nafas dalam menghimpun
Ti Mo Sin Kangnya, sedangkan Hian Beng Tosu juga menghimpun luiee
kangnya, yakni Sam Yang Sin Kang.
"Hiyaaat!" Pekik Ti Mo keras sambil
menyerang Hian Beng Tosu dengan jurus Ti Mo Seng Thian (Iblis Bumi
Naik ke Langit). Sungguh dahsyat jurus itu, membuat Hian Beng T°su
harus mundur dua langkah, sekaligus menyambut pukulan itu dengan
jurus Pat Sian Nau Hai (Delapan Dewa Mengacau Laut).
Bumm! Terdengar suara benturan keras.
Hian Beng ToSu terdorong ke belakang empat
langkah, sedangkan Ti Mo tetap berdiri di
tempat, tak bergeming sama sekali.
"Sambut lagi seranganku ini!" seru Ti Mo
sekaligus menyerang Hian Beng Tosu dengan jurus Ti Mo Ban In (Seribu
Bayangan Iblis Bumi).
Hian Beng Tosu terkejut bukan main, karena
mendadak puluhan Ti Mo menyerangnya dari
delapan penjuru.
Snbsp!
Apa boleh buat, Hian Beng Tosu terpaksa
menyambut serangan itu dengan jurus sin Liong
Cut Hai (Naga Sakti ke Luar Laut).
Blamm! Terdengar suara benturan yang lebih
keras lagi-
Hian Beng Tosu terpental sepuluh meter,
sedangkan Ti Mo cuma termUndur tiga langkah.
"Uaaakh a Sa S!" Hian Beng Tosu memuntahkan
darah segar, namun masih bertahan agar
badannya tidak roboh.
"Ketua Butong, engkau telah kalah!" ujar Ti
Mo.
"Ya!" Hian Beng Tosu mengangguk.
"Ketua Butong!" Thian Mo menatapnya. "Mulai
saat ini, partai Butong berada di bawah
Perintah Kiu Thian Mo Kiong!"
"Ya!" Hian Beng Tosu mengangguk lagi.
"Baiklah!" Thian Mo tertawa. "Kami sudah
harus Pulang ke Kiu Thian Mo Kiong, kalau ada
perintah dari sana. kalian harus
melaksanakannya dengan baik!"
"Ya!"
Setelah Thian Ti Siang Mo dan Ngo Kui pergi,
Hian Beng Tosu terkulai jatuh. Dari tadi ia terus bertahan agar
tidak roboh, otomatis membuat luka dalamnya bertambah parah.
Sementara itu, partai Khong Tong telah
ditaklukkan Cit Ti Sat dan Kiu Mo Li. Namun tiada pertandingan sama
sekali. Kenapa begitu? Ternyata Khong Khong Hoatsu, ketua Khong Tong
berotak cerdas. Ketika rombongan Kiu Thian Mo Cun tiba, ketua Khong
Tong menyambut kedatangan mereka dengan penuh keramahan, bahkan
langsung mempersilakan mereka masuk ke ruang dalam, sekaligus
menyuguhkan teh.
"Khong Khong Hoatsu!" ujar Toa Ti Sat
(Algojo Akhirat tertua). "Kami ke mari bukan ingin bertamu,
melainkan menyampaikan Perintah dari Kiu Thian Mo Cun, bahwa partai
Khong Tong harus takluk pada Kiu Thian Mo Kiong."
"oh, itu!" Khong Khong Hoatsu tertawa.
"Takluk dalam arti apa?"
"Artinya partai Khong Tong harus di bawah
perintah Kiu Thian Mo Cun, bahwa partai Khong Tong harus di bawah
perintah Kiu Thian Mo Kiong." Toa Ti Sat memberitahukan.
"Khong Khong Hoatsu yang baik, janganlah
engkau melawan kami!" ujar Toa Mo Li sambil tersenyum genit. "Lebih
baik kalian takluk langsung dari pada harus bertanding. Percayalah,
pihakmu yang rugi."
"Betul, Sianii (Dewi)." sahut Khong Khong
Hoatsu sambil mengangguk. "Kami pasti
menurut pada Sianii."
"Hi hi hi!" jog Mo Li tertawa cekikikan-
"Khong Khong Hoatsu, aku bukan Sianli (Dewi), melainkan Mo Li (Iblis
wanita), panggil saja Toa Mo Li padaku! Aku tidak akan marah kok."
"Terimakasih atas kebesaran hati Toa Mo Li!"
ucap Khong Khong Hoatsu.
Sikap ketua Khong Tong itu membuat tiga adik
seperguruannya terheran-heran dan tak habis berpikir, kenapa kakak
seperguruan mereka itu begitu pengecut, bahkan tampak menepuk-nepuk
pantat para utusan Kiu Thian Mo Cun itu pula.
Karena kakak seperguruan mereka itu adalah
seorang ketua, maka mereka pun diam, tak
berani turut berbicara.
"Khong Khong Hoatsu, engkau masih tampak
muda dan gagah." ujar Toa Mo Li sambil menatapnya genit. "Perlukah
aku menemanimu tidur?"
Ketiga adik seperguruan Khong Khong Hoatsu
tampak gusar sekali ketika mendengar ucapan
Toa Mo Li, namun Khong Khong Hoatsu sendiri
malah tertawa gelak.
"Aku sungguh senang kalau Toa Mo Li bersedia
menemaniku tidur, tapi a Sg S" Khong Khong Hoatsu
menggeieng-gelengkan kepala. "Usiaku sudah lima puluh lebih, sudah
tiada nafsu lagi!"
"Oh, ya?" Toa Ti Sat tertawa. "Aku masih
mampu membangkitkan nafsumu-"
"Ha ha ha|" Khong Khong Hoatsu tertawa.
"Engkau sungguh pandai bergurau dan menggodai"
"Khong Khong Hoatsu!" Toa Mo Li tampak
serius. "Itu disebabkan penyambutanmu amat
ramah, maka kami pun merasa senang."
"Betul." Toa Mo Li tertawa- "Kalau terjadi
bentrokan, kalianlah yang celaka."
"Kalian semua adalah utusan Kiu Thian Mo
Cun, jelas kami harus menghormati kalian,"
sahut Khong Khong Hoatsu sambil menjura.
"Hi hi hi!" Toa Mo Li tertawa cekikikan.
"Karena kalian begitu ramah, maka kami Kiu Mo
Li bersedia menari untuk kalian."
"Menari?" Khong Khong Hoatsu terperangah.
"Khong Khong Hoatsu!" Toa Ti Sat tertawa
terbahak-bahak. "Itu tarian yang amat
istimewa, aku berani jamin kalian pasti
merasa Puas."
"Oh?" Khong Khong Hoatsu terbelalak, begitu
pula ketiga adik seperguruannya.
"Adik-adikku!" ujar Toa Mo Li kepada yang
lain. "Mari kita menari untuk partai Khong
Tong!"
"Ya, Kakak." jawab mereka serentak,
Kiu Mo Li melangkah meliuk-liuk ke
tengah~tengah ruangan. Mereka menjura kepada ketua Khong Tong sambil
tersenyum, lalu mengerling genit pada ketiga adik seperguruan ketua
Khong Tong.
Setelah itu, mulailah mereka bernyanyi.
Suara mereka begitu merdu, membuat hati ketiga
adik seperguruan Khong Khong Hoatsu
berdebar~debar tidak karuan.
Berselang sesaat, Kiu Mo Li mulai menari.
Begitu mulai, ketiga adik seperguruan Khong Khong Hoatsu langsung
terbeliak, begitu pula para murid partai Khong T0ng itu.
Tarian mereka begitu merangsang, membuat
ketiga adik seperguruan Khong Khong Hoatsu tak henti-hentinya
menelan air liur. Itu tak lepas dari mata Khong Khong Hoatsu, dan
diam-diam ia bersyukur telah bertindak benar. Kalau pihaknya
melawan. Pasti celaka dan akan tak berkutik terhadap tarian Kiu Mo
Li yang amat merangsang itu.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah
Kiu Mo Li berhenti menari, lalu menjura pada Khong Khong Hoatsu.
"Bagaimana tarian kami?" tanya Toa Mo Li
sambil tersenyum manis.
"Bukan main!" sahut Khong Khong Hoatsu
sambil tertawa. Sesungguhnya ketua Khong Tong itu pun terangsang
oleh tarian tersebut, namun tidak sehebat ketiga adik
seperguruannya, yang wajah mereka telah memerah penuh gairah nafsu
birahi.
"Apanya yang bukan main?" tanya Toa Mo Li
sambil tertawa cekikikan.
"Tarian kalian," jawab Khong Khong Hoatsu.
"Kalau tidak salah, tarian itu merupakan
suatu barisan kan?"
"Betul," Toa Mo Li mengangguk. "Sungguh
tajam mata Khong Khong Hoatsu. Tarian kami
adalah Mo Li Mi Hun Tin (Barisan Pembetot
Sukma Wanita Iblis)."
"Oh?" Khong Khong Hoatsu tersentak, namun
masih tertawa. "Sungguh luar biasa barisan
itu!"
"Bukan cuma luar biasa, bahkan amat
merangsang kan?" Toa Mo Li tertawa genit.
"Betul." Khong Khong Hoatsu mengangguk.
"Baiklah. Sudah waktunya kami kembali ke Kiu
Thian Mo Kiong, sampai jumpa!" ucap Toa
Mo Li.
"Khong Khong Hoatsu! Kami mohon diri!" ucap
Toa Ti Sat sambil tertawa- "Betul kan,
tarian itu telah membuat kalian merasa
puas?"
"Terimakasih!" Khong Khong Hoatsu tersenyUm.
Cit Ti Sat dan Kiu Mo Li meninggalkan tempat
itu. Begitu mereka sudah tidak tampak, Khong Khong Hoatsu langsung
jatuh duduk di kursi sambil menarik nafas panjang.
"Kenapa kita tidak melawan?" tanya salah
seorang adik seperguruannya.
"Melawan pakai apa?" Khong Khong Hoatsu
balik bertanya. "Kaiau kita melawan, kita pula
yang celaka."
"Tapi a Sa S"
"Maksudmu partai kita akan malu?"
"Ya."
"Malu untuk bangkit, itu tidak masalah."
"Aku tidak mengerti."
"Partai Siau Lim yang begitu kuat pun masih
bisa mereka taklukkan. Nah, pikirkanlah! Apakah kita mampu melawan
mereka? Dari pada harus ada yang terluka, bukankah lebih baik kita
menyatakan takluk? Lagi pula aku yakin, pihak Kiu Thian Mo Cun pun
pasti telah menaklukkan partai besar lainnya."
"Tapi kita masih belum bertanding dengan
mereka."
"Untung belum bertanding," ujar Khong Khong
Hoatsu. "Kalau bertanding, kita yang akan
dipermalukan. Apakah kalian bertiga mampu
melawan Mo Li Mi Hun Tin itu?"
"Itu a Sa S"
"Aku sudah bilang, malu untuk bangkit," ujar
Khong Khong Hoatsu. "Kalau kita masih bernafas, tentunya masih punya
kesempatan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Kiu Thian Mo Kiong.
Kalian mengerti?"
"Mengerti," sahut ketiga adik
seperguruannya. "Memang untung kita tidak melawan mereka. Kalau kita
melawan mereka a Sa S"
"Tentunya kita yang celaka." Khong Khong
Hoatsu menarik nafas panjang, kemudian
bergumam, "Entah bagaimana nasib partai lain
a Sa S"
Yang paling parah adalah partai Hwa San,
sebab Buiee Hoa Sin Kiam, ketua Hwa San itu amat keras hatinya,
begitu pula murid-muridnya. Mereka sama sekali tidak mau menyerah,
bahkan siap bertarung sampai titik darah penghabisan.
"Ketua Hwa San!" Tu ci Yen menatapnya
dingin. "Jadi engkau betul-betul tidak mau
takluk pada Kiu Thian Mo Kiong?"
"Pokoknya tidak!" sahut Buiee Hoa Sin Kiam.
"Engkau ingin melihat para muridmu mati?"
tanya Tu Ci Yen dingin.
"Kami semua siap mati demi menjaga nama baik
partai Hwa San!" sahut para murid Hwa San
Pay.
"Baik!" Tu Ci Yen manggut-manggut. "Empat
pelindung dan Lak Mo dengar perintah, bunuh
mereka semua!"
"Ya, Siau Mo Cun!" sahut empat pelindung dan
enam iblis itu serentak, lalu mencabut
senjata masing-masing, dan sekaligus
menyerang para murid Hwa San.
"Hiyaat!"
"AaakM"
"Aaakh a Sg S!"
Dalam sekejap sudah belasan murid Hwa San
tergeletak jadi mayat. Buiee Hoa Sin Kiam marah bukan main, dan
langsung maju untuk membantu para muridnya. Tapi mendadak Tu Ci Yen
melompat ke hadapannya.
"Mau bertarung?" ujarnya sambil tersenyum.
"Ya!" Bwee Hoa Sin Kiam mengangguk, lalu
segera menghunus pedangnya. "Mari kita bertarung dengan senjata!"
"Ketua Hwa San!" Tu Ci Yen tertawa gelak.
"Aku cukup dengan tangan kosong!"
"Baiklah!" Bwee Hoa Sin Kiam menatapnya
dengan mata berapi-api, kemudian mendadak menyerangnya dengan jurus
Bwee Hoa Sen Knay (Bunga Bwee Memekar), yakni salah satu jurus ampuh
dari Bwee Hoa Kiam Sut (Ilmu Pedang Bunga Bwee).
"Ha ha ha!" Tu Ci Yen tertawa panjang, lalu
segera berkelit dan balas menyerang Bwee Hoa Sin Kiam dengan jurus
Swat Hoa Phiau-Phiau (Bunga salju berterbangan), salah satu jurus
dari Han im Ciang (Pukulan hawa dingin), yakni ilmu andalan Kiu
Thian Mo Cun yang diajarkan pada Tu Ci Yen.
"Plaakh a Sa S!" jerit Bwee Hoa Sin Kiam
terkena pukulan itu. Ia termundur-mundur sambil mendekap dadanya,
lalu memuntahkan darah segar dan sekujur badan menggigil kedinginan.
"Guru! Guru a Sa s" Beberapa murid
mendekatinya- "Bagaimana keadaan Guru?"
"Ti a Sa S tidak apa-aPa," jawab Bwee Hoa
Sin Kiam. Mulutnya memuntah darah segar
lagi, dan wajahnya pucat pias seperti
kertas.
"Ha ha ha!" Tu Ci Yen tertawa gelak.
"Bagaimana ketua Hwa San? Engkau takluk atau
tidak pada Kiu Thian Mo Kiong?"
"Ba a Sa S baik! Aku a Sa S aku takluk!"
Bwee Hoa Sin Kiam mengangguk. Kalau tidak demi murid-muridnya yang
masih tersisa itu, mungkin Bwee Hoa Sin Kiam akan membunuh diri
seketika juga.
"Bagus!" Tu Ci Yen tertawa. "Mulai sekarang,
partai Hwa San sudah berada di bawah Perintah Kiu Thian Mo Kiong!
Siapa berani membangkang, pasti dibunuh!"
Usai berkata begitu, Tu Ci Yen meninggalkan
Hwa San, diikuti empat pelindung, enam
iblis dan belasan orang berkepandaian tinggi
dari golongan hitam.
-- o --
-- o --(0) (0) (0) (0)-- o --
(Bersambung bagian 57)
Bagian ke 57. Mulai Berkelana
Ketika lima partai besar ditaklukkan Kiu
Thlan mo Kiong, pada waktu bersamaan, Pek Giok Houw telah berhasil
menuntut ilmu Bu Kek sin Kang, Bu Kek Ciang Hoat. Bu Kek Kiam Sut
dan ilmu yang ada di dalam Kitab Ajaib.
Akan tetapi, setelah berhasil menuntut
ilmu-ilmu tersebut, ia menjadi impoten, namun tidak mempengaruhi
siIatnya sebagai anak lelaki.
Hek Ai Lan amat prihatin mengetahui hal
tersebut, tapi karena itu atas kemauan Pek Giok Houw sendiri, maka
wanita yang menjadi ibu angkatnya itu cuma bisa menarik nafas secara
diam-diam.
Se Ciang Cing dan istrinya sudah mengetahui
akan keberhasilan Pek Giok Houw. Walau mereka merasa girang,
tapijuga merasa iba dan simpati padanya.
"Anak Houw" Se Ciang Cing menatapnya.
"Kini engkau telah berhasil, lalu apa
rencanamu?"
"Paman, Giok Houw harus segera ke Tiong Goan
untuk membalas dendam Kakak Liong," jawab Pek Giok Houw yang telah
mengambil keputusan.
"Anak Houw, bukankah lebih baik engkau
menunggu swat San Lojin? Sebab orang tua itu pernah berjanji akan ke
mari."
"Paman, Giok Houw sudah tidak sabar lagi-
Giok Houw ingin cepat-cepat berangkat ke Tiong cioan."
" Kalau begitu " se Ciang Cing menatapnya
dalam-dalam.
" Engkau boleh berangkat, se Pit Han akan
menunggu swat san LoJin, nanti mereka akan menyusulmu."
"Terima kasih, Paman" ucap Pek Giok Houw dan
menambahkan,
"setelah Giok Houw berhasil membalas dendam,
Giok Houw pun akan akan mengasingkan diri di suatu tempat
terpencil."
"Nak " Hek Ai Lan menatapnya dengan mata
bersimbah air.
"Ibu" Pek Giok Houw tersenyum. Jangan
mencemaskan Giok Houw, pokoknya Giok Houw harus berhasil membunuh
Kiu Thian mo Cun"
"Nak, bolehkah ibu menyertaimu?" tanya Hek
Ai Lan.
"Itu akan merepotkan Giok Houw, lebih baik
ibu tetap di sini," jawab Giok Houw tegas.
"Tapi"
"HekBiJin" ujar Nyonya se Ciang Cing.
"Nanti engkau berangkat bersama se Pit Han
saja"
"Baiklah" Hek Ai Lan mengangguk-
"Adik Houw" se Pit Han menghampirinya.
"Biar bagaimana pun engkau harus
berhati-hati."
"ya. Kakak Han." Pek Giok Houw menatapnya.
" Kakak Han jangan terus menerus memikirkan
Kakak Liong, badan Kakak Han sudah semakin kurus."
"Aaakh " se Pit Han menarik nafas panjang.
"Adik Houw, mudah-mudahan engkau dapat
membalas dendam Adik Liong"
"Pokoknya aku pasti mengadu nyawa dengan Kiu
Thian mo Cun" ujar Pek Giok Houw.
"Aku bersumpah itu"
"Adik Houw " Mata se Pit Han mulai bersimbah
air.
" Adik Liong pasti girang mendengarnya."
"Kakak Houw diri baik-baik Besok aku akan
berangkat ke Tiong Goan." Pek Giok Houw memberitahukan.
"Adik Houw pun harus berhati-hati, sebab Kiu
Thian mo Cun berilmu amat tinggi."
"ya" Pek Giok Houw mengangguk-
"Setelah sampai di daratan tengah, aku akan
memakai nama Pek Giok Liong "
Ketika hampir tiba di kota Wie An, mendadak
Pek Giok Houw mendengar suara langkah yang amat ringan terus
mengikutinya, itu membuatnya mulai waspada-
Ia pura-pura tidak tahu, dan tetap berjalan
dengan santai- Kemudian ia mempercepat langkahnya, tetapi langkah
ringan yang mengikutinya juga bertambah cepat-
Pek Giok Houw tersenyum dingin, berselang
beberapa saat kemudian, ia berhenti seraya berkata-
"Sobat Aku sudah tahu engkau terus
mengikutiku- Kalau engkau lelaki, cepatlah memperlihatkan diri"
Tiada seorang pun yang muncul, Pek Giok Houw
mengernyitkan kening dan tampak penasaran.
"Hai banci Kenapa engkau tidak berani
memperlihatkan diri?" teriaknya dengan keras.
Namun tetap tiada seorang pun yang muncul.
Akhirnya ia mengayunkan kakinya dengan santai. Pek Giok Houw
betul-betul penasaran karena suara langkah ringan itu terdengar
lagi.
"Aku tahu, engkau pasti pengecut, maka tidak
berani memperlihatkan diri" seru Pek Giok Houw.
"Aku bukan pengecut" terdengar suara sahutan
yang amat nyaring dan merdu, lalu tampak sosok bayangan ramping
berkelebat ke hadapan Pek Giok Houw.
Pek Giok Houw tertegun, karena yang muncul
itu ternyata seorang gadis cantik yang lincah berusia sekitar enam
belas. Gadis itu terus menatap Pek Giok Houw dengan mulut cemberut,
lalu menegurnya dengan wajah tidak senang.
"Kenapa engkau mengatai aku pengecut?"
"Engkau memang pengecut," sahut Pek Giok
Houw.
"Kenapa tadi engkau tidak berani muncul?"
"Bagaimana mungkin aku muncul?"
"Memangnya kenapa?"
"Engkau bilang kalau lelaki cepat
memperlihatkan diri. Aku bukan lelaki, bagaimana mungkin aku
muncul?" ujar gadis itu sambil tertawa, dan tawanya sungguh menawan
hati.
"Lagi pula aku pun bukan banci"
"Eh? Nona " Pek Giok Houw menatapnya
terbelalak.
"Engkau gadis liar dari mana? Kenapa dari
tadi terus menerus mengikutiku?"
"Kok tahu?" gadis itu tertawa geli-
"Tahu apa?" Pek Giok Houw yang
terheran-heran.
"Tahu bahwa aku gadis liar," sahut gadis itu
sambil tersenyum-
"Engkau gadis liar?" Pek Giok Houw
menatapnya. Padahal tadi Pek Giok Houw mencacinya, namun gadis itu
justru mengaku benar pula, itu sungguh di luar dugaannya.
"Kok malah bertanya lagi?" gadis itu menatap
heran pada Pek Giok Houw, sekaligus memberitahukan,
"sejak kecil aku sudah yatim piatu, hidup
terlunta-lunta, sehingga nyaris mati lantaran tiga hari tidak makan,
untung ditolong oleh seorang nenek tua, kemudian aku diterima jadi
muridnya."
"oooh" Pek Giok Houw memandangnya simpati.
"Dulu aku amat jelek, dekil dan ingusan,"
ujar gadis itu sambil tertawa.
"Tapi sungguh mengherankan, setelah aku
berusia sepuluh tahun di bawah asuhan guruku, diriku pun mulai
berubah cantik. Nah, engkau sudah lihat sekarang, bukankah aku
cantik sekali?"
"Betul." Pek Giok Houw mengangguk- Ia amat
senang pada keluguan gadis itu-
" Engkau memang cantik, tapi kenapa dulu
engkau jelek?"
"Dulu aku jarang mandi, sebulan cuma mandi
sekali-" gadis itu memberitahukan.
"Lagi pula aku sering kelaparan, setiap aku
minta nasi semang kok pada orang kaya, tidak pernah diberi,
sebaliknya malah diusir seperti anjing, oleh karena itu, aku amat
benci pada para hartawan, setengah tahun yang lalu, aku mulai
berkelana. Kalau aku kehabisan uang, aku pasti mencuri di rumah para
hartawan."
"Pantas pakaianmu begitu indah" Pek Giok
Houw tertawa.
"Akujuga mencuri pakaian para putri
hartawan." gadis itu tertawa geli-
"Nah, kini aku tidak pernah kelaparan lagi,
selalu makan enak dan memakai baju bagus."
"Tapi " Pek Giok Houw menggelengkan kepala.
"Tidak baik mencuri-"
"Mencuri di rumah hartawan, itu tidak
apa-apa," sahut gadis itu-
"Lagi pula hasil curianku sering kuberikan
pada fakir miskin."
"Jadi engkau ingin menjadi maling budiman?"
tanya Pek Giok Houw sambil tersenyum.
"Tidak juga." ciadis itu menarik nafas
panjang,
"ohya, namaku Ling Ling, julukanku Thian san
sianli (Bidadari Thian san)"
"Engkau memang pantas memperoleh julukan
itu," ujar Pek Giok Houw sungguh-sungguh.
"Sebab wajahmu secantik bidadari."
"oh, ya?" Ling Ling tertawa gembira.
"Ei? Kenapa engkau belum memberitahukan
namamu?"
"Namaku Pek Giok Liong." Pek Giok Houw
menggunakan nama tersebut.
"Pek Giok Liong?" Ling Ling terbelalak-
"Engkau Pek Giok Liong?"
"Engkau kenal Pek Giok Liong?" Pek Giok Houw
heran.
"Aku tidak pernah bertemu maupun kenai Pek
Giok Liong, tapi pernah dengar tentang dia," ujar Ling Ling.
"Dia ketua partai Hati suci, pemegang panji
Hati suci Matahari Bulan, namun dia telah mati di dasar jurang,
karena terpukul kejurang oleh Kiu Thian Mo Cun."
"Engkau" Pek Giok Houw menatapnya tajam.
"Kalau begitu, engkau tahu tentang Kiu Thian
mo Cun?"
"Tahu." Ling Ling mengangguk-
"Belum lama ini lima partai besar telah
ditaklukkan pihak Kiu Thian mo Kiong."
"oh?" Pek Giok Houw terkejut.
"Kiu Thian mo Kiong?"
"Kiu Thian mo Kiong adalah istana Mo Cun."
Ling Ling menjelaskan.
"Juga ada yang Wie Kiong dan siau Mo Kiong."
"yang Wie Kiong dan siau Mo Kiong? Kedua
istana itu punya hubungan dengan Kiu Thian Mo Kiong?"
"Tidak salah-"
"siapa pemimpin yang Wie Kiong dan siau Mo
Kiong?"
"Cit Ciat sin Kun pemimpin yang Wie Kiong,
sedangkan Siau Mo Kiong dipimpin siau Mo Cun."
"Siau Mo Cun? siapa dia?"
"Aku tidak tahu namanya, dia murid tunggal
Kiu Thian mo Cun."
"oh?" sepasang mata Pek Giok Houw
menyorotkan sinar tajam.
"Engkau tahu di mana yang Wie Kiong dan siau
Mo Kiang?"
"Tahu." Ling Ling mengangguk-
"yang Wie Kiong dulunya adalah ekspedisi
yang Wie, sedangkan siau Mo Kiong adalah rumah keluarga siauw, tapi
keluarga siauw telah musnah dibantai oleh siau mo Cun."
"Dari sini mana yang lebih dekat, yang Wie
Kiong ataukah siau Mo Kiong?" tanya Pek Giok Houw mendadak.
"Lebih dekat yang wie Kiong."
"Kalau begitu, aku harus ke sana."
"Ke sana? Engkau tahu jalannya?"
"Tidak tahu."
"Kalau tidak tahu, bagaimana mungkin engkau
ke sana?"
"Itu " Pek Giok Houw mengernyitkan kening
sambil berpikir.
" Engkau sudi membawaku ke sana?"
"sudi sih sudi, tapi aku punya syarat,"
sahut Ling Ling serius.
"Apa syaratmu?"
"Engkau harus beritahukan namamu."
"Aku Pek Giok Liong."
"Ei" Ling Ling menatapnya melotot.
"Aku paling tidak senang orang yang
berbohong"
"Aku memang Pek Giok Liong."
"Engkau tidak bisa membohongiku Kalau engkau
Pek Giok Liong, kok tidak tahu di mana Yang Wie Kiong dan siau Mo
Kiong?"
"Itu" Pek cilok Houw menundukkan kepala.
"Kalau engkau mau berteman denganku, lebih
baik jujur" tegas Ling Ling. Jangan membohongiku
"Aku" Akhirnya Pek Giok Houw memberitahukan
sejujurnya.
"Namaku Pek Giok Houw, sedangkan Pek Giok
Liong adalah kakak kembarku."
"oh?" Ling Ling menatapnya penuh perhatian.
"Jadi kalian serupa?"
"ya." Pek Giok Houw mengangguk-
"Tapi aku lebih pendek sedikit dan punya
tanda merah di belakang telinga "
"Oooh" Ling Ling manggut-manggut, kemudian
tanyanya.
"Jadi engkau baru mulai berkelana?"
"Betul. Aku ingin menuntut balas pada Kiu
Thian mo Cun."
"Apa?" Ling Ling terbelalak-
"Engkau ingin menuntut balas pada Kiu Thian
mo Cun?"
"ya" Pek Giok Houw mengangguk-
"Apakah kepandaianmu sudah setinggi Kiu
Thian mo Cun?" tanya Ling Ling sambil menatapnya dalam-dalam.
"Mungkin kepandaianku masih lebih rendah
dari Kiu Thian mo Cun, tapi aku harus menuntut balas padanya."
"Itu namanya nekad dan ingin cari mati."
Ling Ling menggeleng-gelengkan kepala.
"Lebih baik kau pertimbangkan lagi"
"Sebelum berangkat, aku sudah
mempertimbangkannya," ujar Pek Giok Houw dan menambahkan,
"Maka kini tidak perlu dipertimbangkan
lagi."
"Ei Kakak Houw, engkau datang dari mana?"
"Pulau Pelangi."
"Pulau yang amat terkenal Tapi kenapa tiada
seorang pun menyertaimu?"
"Tidak lama lagi mereka akan menyusul."
"oooh" Ling Ling manggut-manggut.
"Ling Ling" Pek Giok Houw memandangnya
seraya bertanya,
"Engkau tahu di mana Kiu Thian mo Kiong
itu?"
"Aku tidak tahu."
" Kalau begitu, aku harus ke Yang Wie Kiong
bertanya pada Cit Giat Sin Kun. Dia pasti tahu," ujar Pek Giok Houw
dan mendadak ia melompat pergi sambil mengerahkan ginkangnya.
"sampai jumpa "
" Kakak Houw Kakak Houw " teriak Ling Ling.
gadis itu pun segera mengerahkan ginkangnya untuk mengejar Pek Giok
Houw.
Kenapa Pek Giok Houw pergi mendadak?
Ternyata ia tidak mau berdekatan dengan Ling Ling, sebab ia pemuda
impoten.
-ooo00000ooo-
Pek Giok Houw sudah tiba di Kota Wie An.
keadaan sudah gelap, maka ia menginap di rumah penginapan An An.
Ketika ia baru mau merebahkan dirinya ke
tempat tidur, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang.
"siapa?" tanyanya kesal. Tiada sahutan.
Pek Giok Houw mengernyitkan kening,
terdengar lagi suara ketukan. Pek Giok Houw segera membuka pintu
kamar itu, seketika juga ia terbelalak, karena yang mengetuk pintu
itu ternyata Thian san sianii Ling Ling.
"Eeeh?" Pek Giok Houw mengernyitkan kening.
"Kenapa engkau masih mengikutiku?"
"Engkau pergi tanpa sebab, tentunya aku amat
penasaran," sahut Ling Ling sambil melangkah ke dalam, lalu duduk
dengan wajah cemberut.
"Kenapa engkau meninggalkanku begitu saja?"
"Aku " Pek Giok Houw tergagap.
" Kalau engkau merasa tidak senang padaku,
berterus teranglah Jangan pergi seakan merasa jijik padaku" ujar
Ling Ling sengit.
"Engkau merasa malu jalan bersamaku?"
"Ling Ling, tidak baik "
"Tidak baik kita jalan berduaan?"
"ya."
"Apa alasanmu? Kalau engkau tidak berikan
alasan yang tepat, aku pasti membencimu seumur hidup,"
"Lho?" Pek Giok Houw terbelalak, kemudian
menarik nafas panjang.
"Ling Ling, kelak aku pasti beritahukan
padamu."
" Kalau begitu, sekarang kita boleh jalan
bersama kan?" wajah Ling Ling mulai berseri-
"Itu " Pek Giok Houw tampak ragu.
"Tidak mau?" Ling Ling langsung melotot-
"Ling Ling " Pek Giok Houw
menggeleng-gelengkan kepala-
"Aku "
"oooh" Ling Ling manggut-manggut dan
wajahnya tampak kecewa-
"Engkau sudah punya pacar kan?"
"Aku tidak punya pacar."
"Kalau engkau tidak punya pacar, kenapa
berusaha menghindariku? Apakah aku kurang cantik?"
"Engkau cantik sekali. Tapi aku"
" Heran?" Ling Ling menatapnya.
"Kenapa sih engkau? Tidak mau berteman
denganku?"
"Ling Ling "
"Kalau engkau bilang tidak mau berteman
denganku, aku pasti segera pergi" ujar Ling Ling dan suaranya pun
kedengaran mulai terisak-
"Seumur hidup aku tidak akan berteman
denganmu lagi"
"Ling Ling " Pek Giok Houw ingin
memberitahukan tentang dirinya yang impoten, namun merasa malu dan
tidak pantas, maka dibatalkannya-
"Baiklah, Aku mau berteman denganmu."
"oh?" Ling Ling girang bukan main.
"Engkau sungguh baik, aku aku gembira
sekali."
"ssst" Mendadak Pek Giok Houw memberi
isyarat agar Ling Ling diam.
"Di luar ada tiga orang berendap-endap
menuju ke mari"
"oh?" Ling Ling mengernyitkan kening.
Pek Giok Houw tersenyum dingin, tangannya
menyambar beberapa biji kacang tanah yang di atas meja, lalu
disambitkan ke arah jendela.
"Aduuuh" Terdengar suara jeritan kesakitan
di luar.
Pek Giok Houw segera ke luar dan diikuti
Ling Ling dari belakangnya. Tampak tiga orang berbaju hitam
mengaduh-aduh kesakitan dekat jendela.
"siapa kalian bertiga?" bentak Pek Giok
Houw.
"Kami kami anak buah yang wie Kiong " sahut
salah seorang berbaju hitam.
"Jadi kalian menguntitku?" tanya Pek Giok
Houw dingin.
"Ya." orang baju hitam mengangguk.
"Kenapa kalian menguntitku?"
"Karena engkau engkau mirip Pek siau hiap
yang telah mati itu."
"Aku memang Pek Giok Liong"
"Apa?" Ketiga orang berbaju hitam itu
terbelalak-
"Engkau engkau tidak mati di jurang itu?"
"Ha ha" Pek Giok Houw tertawa dingin.
"Aku tidak begitu gampang mati Beritahukan
pada cit Giat sin Kun, bahwa aku akan berkunjung ke yang wie Kiong"
"ya, ya." Ketiga orang berbaju hitam
mengangguk-
"HaYo, kalian boleh pergi" bentak Pek Giok
Houw.
"Terima kasih, Pek siau hiap" ucap ketiga
orang berbaju hitam, lalu pergi dengan langkah tertatih-tatih.
Pek Giok Houw kembali ke dalam kamar, lalu
duduk sambil berpikir- Ling Ling duduk di hadapannya, memperhatikan
Pek Giok Houw, lama sekali barulah bertanya.
"Kapan Kakak Houw berangkat ke yang wie
Kiong?"
"Besok- Kita berangkat bersama-"
"Itu sudah tentu-" Ling Ling tersenyum.
"Tapi kita tidak perlu bertempur dengan
pihak yang wie Kiong, kita ke sana cuma ingin bertanya berada di
mana Kiu Thian mo Kiong itu, kan?"
"Ng" Pek Giok Houw mengangguk-
"Tapi kalau terpaksa, aku harus bertarung
dengan mereka-"
"Kakak Houw, alangkah baiknya engkau
menghindari pertarungan yang tak perlu" pesan Ling Ling.
"Aku sudah bilang, kalau terpaksa."
" Kakak Houw" Ling Ling tersenyum manis.
"Aku siap membantumu dan selalu
mendampingimu."
"Ling Ling " Pek Giok Houw mengernyitkan
kening.
"Kakak Houw" Ling Ling cemberut.
"Kenapa engkau mengernyitkan kening? Tidak
senangkah aku menyatakan begitu?"
"sesungguhnya aku senang sekali, tapi "
"Kenapa?"
"Ling Ling" Pek Giok Houw berusaha senyum.
"Kelak aku pasti beritahukan padamu."
"Heran?" Ling Ling cemberut lagi.
"Kenapa sih engkau begitu misterius? Tidak
boleh beritahukan sekarang?"
"Tidak boleh, memang harus kelak-"
"Baiklah-" Ling Ling tersenyum-
"yang penting engkau tidak punya pacar, jadi
apa yang akan engkau beritahukan kelak, tentunya tidak akan membuat
hatiku remuk-"
"Eh? Ling Ling "
"Aku" Wajah Ling Ling langsung memerah-
gadis itu cepat-cepat menundukkan kepala-
Menyaksikan itu, diam-diam Pek Giok Houw
menarik nafas panjang, Ia sungguh tak menyangka, baru sampai di
daratan tengah, justru bertemu gadis tersebut.
-ooo0000ooo-
Pek Giok Houw dan Ling Ling berdiri di depan
yang wie Kiong. Berselang sesaat tampak dua belas orang dengan
pedang bergantung di punggung berjalan ke luar menghampiri mereka.
Tak lama kemudian, muncul lagi empat orang yang berusia cukup
lanjut, mereka adalah Cit Giat sin Kun, Thian sat, Thian sua n dan
Ti Kie sin Kun. Keempat orang itu menatap Pek Giok Houw dengan tajam
dan penuh perhatian.
"Betulkah engkau adalah Pek Giok Liong?"
tanya Git Ciat sin Kun.
"BetuL" Pek Giok Houw mengangguk.
"Kenapa engkau ke mari? Bukankah kita sudah
tidak punya urusan lagi?" tanya Cit Ciat sin Kun.
"Aku ke mari ingin bertanya, berada di mana
Kiu Thian mo Kiong itu?"
Pertanyaan tersebut membuat Cit Ciat sin Kun
dan lainnya saling memandang, kemudian Cit Ciat sin Kun tersenyum.
"Engkau bukan Pek Giok Liong, melainkan Hek
siau Liong"
Pek Giok Houw tersentak, sebab Cit Ciat sin
Kun sudah tahu tentang dirinya, maka ia pun tersenyum dingin.
"Aku Pek Giok Liong, aku tidak mati di dasar
jurang"
"oh?" Cit Ciat sin Kun menatapnya,
"jadi engkau ke mari cuma ingin menanyakan
Kiu Thian mo Kiong?"
"Tidak salah"
"Baiklah" Cit Ciat sin Kun manggut-manggut.
"Aku pasti beritahukan. Kiu Thian mo Kiong
itu berada di Kah Lan san"
"Terima kasih" ucap Pek Giok Houw.
"Gadis itu temanmu?" tanya Cit Ciat sin Kun
mendadak-
"Betul," sahut Ling Ling.
"Aku teman baiknya, dan selalu
mendampinginya."
"oooh" Cit Ciat sin Kun manggut-manggut,
kemudian berpesan pada gadis itu dengan ilmu menyampaikan suara.
"Nona, engkau harus mencegahnya ke Kiu Thian
mo Kiong, sebab di sana banyak jebakan. Kalau dia ke sana pasti
mati."
" Kakak Houw." panggil Ling Ling sambil
manggut-manggut.
"Mari kita pergi"
"Baiklah" ucap Pek Giok Houw.
"Terima kasih sin Kun"
Pek Giok Houw dan Ling Ling segera
meninggalkan tempat itu- Cit Ciat sin Kun masuk ke dalam dan diikuti
Thiat sat, Thian suan dan Ti Kie sin Kun dari belakang. Mereka duduk
di ruang dalam, Thian sat terus menerus memandang cit Ciat sin Kun.
"Apa yang dilaporkan ketiga anak buah itu
memang benar, kini Pek Giok Liong telah muncul. Maka kemarin aku
menyuruh jin pin mo Kun, Ling Ming Cun cia dan Hgo TOk Ceng
Kun ke siau Mo Kiong untuk melapor."
"Tapi " Thian sat mengernyitkan kening.
"Pemuda itu memang serupa dengan Pek Giok
Liong, menurutku dia bukan Pek Giok Liong."
"Dia Hek siau Liong, namun kenapa dia
mengaku dirinya Pek Giok Liong? Apakah dia punya hubungan dengan Pek
Giok Liong itu?"
"jangan-jangan mereka saudara kembar" ujar
Thian suan sin Kun.
" Aku pun berpendapat begitu," sela Ti Kie
sin Kun.
"cit Ciat" Mendadak Thian sat menatapnya
tajam.
"Tadi Cit Ciat berbicara pada gadis itu
dengan ilmu meryampaikan suara kan?"
"jadi engkau sudah tahu?" Air muka Cit Ciat
sin Kun berubah-
"Ya-" Thian sat mengangguk-
"Bolehkah kami bertiga tahu apa yang engkau
bicarakan pada gadis itu?"
"Hmm" dengus cit Ciat sin Kun.
"Kalian bertiga ingin melapor pada Kiu Thian
mo Cun?"
"cit Ciat" Thian sat tersenyum getir.
"Kami tidak akan berbuat begitu, terus
terang, sebelum Pek Giok Liong mati, aku pernah berbicara padanya
dengan ilmu menyampaikan suara. Mungkin karena itu, maka dia pun
tidak membunuh kami bertiga."
"oh?" Cit Ciat sin Kun menatapnya heran.
"Sudah lama kami bertiga mengikutimu. Pada
waktu itu engkau dikenal sebagai Cih seng Tay Tie- sungguh di luar
dugaan, ternyata engkau masih dikendalikan Kiu Thian mo Cun," ujar
Thian sat-
"Itu tidak salah-" Cit Ciat sin Kun menarik
nafas panjang.
"Akhirnya akupun yang menyebabkan kematian
Kian Kun Le siu. Gara-gara Kiu Thian mo Cun menghendaki panji Hati
suci Matahari Bulan untuk menundukkan pihak Pulau Pelangi."
"Jadi mengenai pembantaian ciok Lau san cung
itu bukan atas kemauanmu?" tanya Thian suan mendadak.
"Itu atas kemauan siang Hiong sam Kuai.
kemudian kebetulan Kiu Thian mo Cun memberi perintah padaku untuk
memunahkan ciok Lau san cung. Maka aku mengutus siang Hiong sam Kuai
dan tu Ci yen ke Ciok Lau san cung."
"ooooh" Thiat suan manggut-manggut.
"cit Ciat, tadi engkau berbicara apa pada
gadis itu?" tanya Ti Kie sin Kun mendadak.
"Agar gadis itu mencegah Hek Siau Liong ke
Kiu Thian mo Kiong. Kalian tahu kan, di sana banyak jebakan, kalau
Hek siau Liong ke sana pasti mati."
"BetuL" Thian sat manggut-manggut.
"Tapi apakah gadis itu akan berhasil
mencegahnya?"
"gadis itu amat cerdik, aku yakin dia pasti
berhasil" sahut Cit Ciat sin Kun dan menambahkan,
"ohya Tentang ini semua, kita harus berusaha
mengelabui Jin pin, Ling Ming dan Hgo Tok Ceng Kun. sebab mereka
bertiga cukup dekat dengan Kiu Thian mo Cun, kalau mereka melapor
pada Kiu Thian mo cun tentang ini semua, nyawa kita pasti melayang."
"Ya." Thian sat mengangguk-
"Engkau sebagai pemimpin yang wie Kiong ini,
apakah tiada jalan untuk menyingkirkan mereka?"
"Tiada jalan. Lagi pula masih ada Hui Eng
Cap Ji Kiam." Cit Ciat sin Kun memberitahukan,
"oleh karena itu, kita harus berhati-hati.
Aku telah menduga Hek siau Liong yang mengaku Pek Giok Liong pasti
ke mari, maka kemarin aku mengutus jin pin, Ling Ming dan Hgo Tok
Ceng Kun ke siau Mo Kiong."
"Oooooo" Thian sat, Thian suan dan Ti Kie
sin Kun manggut-manggut.
sementara itu, Pek Giok Houw dan Ling Ling
sudah sampai di rumah penginapan Peng An, mereka duduk berhadapan di
dalam kamar.
"Kakak Houw mau berangkat ke Kiu Thian mo
Kiong?" tanya Ling Ling mendadak-
"ya." Pek Giok Houw mengangguk-
"Itu amat menempuh bahaya, maka engkau tidak
boleh ikut-"
"Engkau sudah tahu itu amat menempuh bahaya,
kenapa masih mau ke sana?" Ling Ling mengernyitkan kening.
"Aku harus membalas dendam kakakku."
"Itu memang harus, tapi kalau ke sana cuma
untuk cari mati, apa gunanya ke sana?"
"Ling Ling, biar bagaimana pun aku harus ke
sana untuk membasmi Kiu Thian mo Cun."
"Kakak Houw" Ling Ling tetap berusaha
mencegahnya.
" Itu percuma, oh y a, bukankah engkau
bilang tidak lama lagi pihak Pulau Pelangi akan menyusulmu?"
"Betul."
"Nah" Wajah Ling Ling berseri.
" Lebih baik kita menunggu mereka, lalu
berunding dengan mereka."
"Itu"
"Kakak Houw, kalau ingin bertindak sesuatu,
terlebih dahulu harus dipertimbangkan dengan seksama, jangan
bertindak ceroboh, pergunakan akal sehat"
"Engkau" Pek Giok Houw menatapnya, kemudian
tertawa seraya berkata,
"Engkau merupakan penasihatku"
"Demi keselamatanmu, sebab kalau engkau
mati, aku bagaimana?" Ling Ling menundukkan kepala.
"Ling Ling " Pek Giok Houw berkeluh dalam
hati- Ia memang suka pada gadis itu, namun dirinya
Bagian ke 58. Pendekar Misterius
Bagaimana dengan Pek Giok Liong yang sedang
belajar jit Goat Seng Sim Sin Kang? Ternyata ia telah berhasil
mencapai tingkat kesepuluh, termasuk jit Goat seng sim Cit Ciang dan
ilmu-ilmu dari lima partai besar yang tercantum di halaman belakang
buku jit Goat seng sim Pit Kip tersebut.
setelah berhasil, ia menyembah di hadapan
tulang belulang seng sim Tayhiap, lalu meninggalkan tempat itu
melalui goa kecil yang dilaluinya ketika masuk.
satu hal yang membuatnya kecewa, yakni
mukanya tidak bisa sembuh walau ia telah makan pil mujarab
peninggalan seng sim Tayhiap. Ketika meninggalkan tempat itu, ia
membawa obat tersebut yang berada di dalam botol porselin.
Keluar dari goa kecil itu, ia langsung
mengerahkan ginkangnya meluncur ke atas. Bukan main Tubuhnya
meluncur begitu cepat bagaikan kilat, dalam sekejap ia sudah berada
di atas.
Pek Giok Liong menengok ke sana ke mari,
mendadak sepasang matanya bentrok dengan dua gundukan tanah-
segeralah ia mendekati dua gundukan tanah itu, dan seketika ia pun
terbelalak dengan wajah pucat pias-
Ternyata dua gundukan tanah itu adalah
kuburan siauw Hui Ceh dan cing ji, se Pit Han yang memakamkan mereka
di situ.
"Hui Ceh Cing ji Hui Ceh Cingji" teriak Pek
Giok Liong histeris dengan air mata berderai.
"Aaakh Kalian berdua telah mati "
Pek Giok Liong menangis sedih, berselang
sesaat ia mengepalkan tinju seraya berkata:
"Kiu Thian mo Cun, aku pasti membunuhmu"
Pek Giok Liong mengambil sehelai kain putih,
kemudian ia menutup mukanya dengan kain putih itu, lalu segera
meninggalkan tempat tersebut.
Ia tidak langsung menuju Li Mo Kiong,
melainkan menuju vihara siau Lim. Ia harus melaksanakan amanat seng
sim Tayhiap, yakni mengembalikan ilmu-ilmu itu pada beberapa ketua
partai.
Dalam perjalanan menuju siau Lim, ia sudah
mendengar bahwa pihak Kiu Thian mo Kiong telah menaklukkan lima
partai besar, bahkan beberapa hari yang lalu, partai Kun Lun dan
Tiam Ceng pun telah ditaklukkannya pula.
Pek Giok Liong tidak begitu terkejut ketika
mendengar berita tersebut, karena sebelumnya ia sudah tahu bahwa Kiu
Thian mo Cun ingin menguasai seluruh rimba persilatan. Dalam
perjalanan ini, ia memakai topi rumput yang lebar, dan menutup
mukanya dengan kain putih-
Dua hari kemudian, Pek Giok Liong sampai di
vihara siau Lim. Ia berdiri di depan pintu vihara itu, dua hweshio
menghampirinya dengan sikap takut-takut.
"Maaf tuan ke mari mau sembahyang?" tanya
salah seorang hweshio itu.
"Aku ke mari bukan mau sembahyang, melainkan
mau bertemu ketua kalian," jawab Pek Giok Liong.
"Apakah tuan utusan dari Kiu Thian mo
Kiong?" tanya hweshio itu dengan suara bergemetar.
"Kalian berdua tidak usah tahu siapa aku,
yang penting kalian berdua harus segera ke dalam melapor"
"ya." Kedua hweshio itu segera berlari ke
dalam.
Berselang beberapa saat kemudian, muncul
empat pelindung siau Lim, yakni Liau Khong Taysu, seng Khong Taysu,
Hian Khong Taysu, dan wie Khong Taysu-
"omitohud Apakah Anda utusan dari Kiu Thian
mo Kiong?" tanya Liau Khong Taysu-
"Betul. Cepat panggil ketua kalian, ada
perintah dari Kiu Than mo Cun" sahut Pek Giok Liong. Kalau ia tidak
menyatakan demikian, tentunya sulit baginya bertemu ketua siau Lim.
"ya-" Liau Khong Taysu mengangguk-
"Silakan masuk"
Pek Giok Liong melangkah ke dalam, dan Liau
Khong Taysu cepat-cepat pergi memanggil ketua siau Lim.
"silakan duduk, utusan Kiu Thian mo Cun"
ucap seng Khong Taysu.
"Terima kasih, Taysu" Pek Giok Liong duduk.
Tak seberapa lama kemudian, muncullah ketua
siau Lim bersama Liau Khong Taysu-
"Maaf, maaf" ucap ketua siau Lim-
"Aku terlambat menyambut kedatangan Anda"
"Tidak apa-apa-" Pek Giok Liong tertawa.
"Ketua siau Lim, aku ingin bicara empat
mata."
"oh?" Ketua siau Lim melirik empat
pelindung.
"Kami berempat akan meninggalkan ruang ini,"
sahut Liau Khong Taysu cepat.
"Tidak usah" ujar Pek Giok Liong.
"Ketua siau Lim, di mana ruanganmu? Aku
ingin bicara di dalam ruanganmu."
"Itu " Ketua siau Lim tampak ragu.
"Tay Kak Hosiang, engkau berani melawan
perintahku" bentak Pek Giok Liong mendadak-
"Baik, baik Mari ikut aku ke dalam"
"Terima kasih" ucap Pek Giok Liong, lalu
mengikuti ketua siau Lim menuju sebuah ruangan. Empat pelindung juga
ikut ke dalam dengan hati berdebar-debar.
setelah berada di dalam ruangan itu, mereka
semua duduk bersila, begitu Pek Giok Liong, Ia duduk bersila di
hadapan ketua siau Lim dan empat pelindung itu.
"Maaf, ada perintah dari mo Cun?" Tanya
ketua siau Lim.
"Tidak ada perintah apa pun," jawab Pek Giok
Liong.
"oh?" Ketua siau Lim dan empat pelindung
saling memandang, kemudian bertanya pada Pek Giok Liong.
" Kalau begitu, ada urusan apa Mo Cun
mengutus Anda ke mari?"
"Aku bukan utusan mo Cun," Pek Giok Liong
memberitahukan.
"Aku mengaku sebaaai utusan mo Cun, itu agar
gampang menemuimu, ketua siau Lim"
"Jadi..." Ketua siau Lim menatapnya.
Bagaimana mungkin ketua siau Lim melihat wajah Pek Giok Liong, sebab
muka pemuda itu ditutup dengan kain putih, bahkan memakai topi
rumput yang lebar-
" Anda siapa?"
"Aku ke mari khususnya untuk mengembalikan
ilmu Tat Mo sing Kang, Kiam sut dan cian Hoat padamu, ketua siau
Lim"
"Apa?" Ketua siau Lim terbelalak, begitu
pula keempat pelindung itu.
" Anda jangan bercanda Kitab pelajaran itu
telah diserahkan pada seng sim Tayhiap ada ratusan tahun yang lalu."
"Tidak salah-" Pek Giok Liong mengangguk-
"olen karena itu, kini sudah waktunya
dikembalikan pada siau Lim."
"Mana kitab itu?" tanya ketua siau Lim
tegang.
"Kitab itu telah rusak," sahut Pek Giok
Liong.
" Kalau begitu " Ketua siau Lim menarik
nafas panjang.
"Aku akan mengajarkan ilmu itu pada kalian,"
ujar Pek Giok Liong.
"Tapi ilmu itu sangat tinggi, maka aku harap
kalian belajar dengan sungguh-sungguh-"
"Apakah Anda telah berhasil mempelajari Tat
Mo sin Kang itu?" tanya ketua siau Lim kurang percaya, sebab selama
ratusan tahun ini, tiada seorang pun yang berhasil mempelajarinya -
"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku mengajar
kalian?" sahut Pek Giok Liong.
" Kalau begitu, bolehkah aku tahu siapa
Anda?" tanya ketua siau Lim.
"itu tidak perlu," jawab Pek Giok Liong.
"Nah, kalian berlima dengar baik-baik, aku
akan mulai menurunkan ilmu itu"
Ketua siau Lim dan empat pelindung itu
segera mencurahkan perhatian, walau mereka masih kurang percaya.
"Tat Mo sin Kang berdasarkan ketenangan "
Pek Giok Liong mulai menurunkan ilmu tersebut.
Ketua siau Lim dan empat pelindung
mendengarkan dengan penuh perhatian, semakin mendengarkan hati
mereka semakin girang dan terkejut. Kira-kira dua jam kemudian, Pek
tiiok Liong berhenti dan bertanya.
"Apakah kalian sudah mengerti?"
"Masih kurang mengerti,"jawab ketua siau
Lim.
"Kalian harus ingat baik-baik, setelah itu
dicatatlah" pesan Pek Giok Liong dan memulai menjelaskan tentang Tat
Mo sin Kang. sesudah itu, ia menurunkan Tat Mo Kiam sut (Ilmu Pedang
Tatmo) dan Tat Mo Ciang Hoat (Ilmu pukulan Tatmo).
"Bagaimana?" tanya Pek Giok Liong.
"Kalian sudah ingat semua?"
"sudah ingat, hanya kurang mengerti," jawab
ketua siau Lim.
".Memang tidak begitu mudah belajar ilmu
itu, lebih baik kalian catat, lalu mohon petunjuk pada tiga tetua "
"Tiga tetua kami masih dalam keadaan luka
dalam, sekujur badan mereka pun mulai kehitam-hitaman." Ketua siau
Lim memberitahukan.
"Tiga tetua kalian terluka oleh pukulan Hek
sim Tok Ciang. Ilmu pukulan itu memang amat beracun, untung tiga
tetua kalian memiliki Iwee kang tinggi, maka masih bisa bertahan
hingga sekarang" ujar Pek Giok Liong.
"omitohud Anda kok tahu?" Ketua siau Lim
heran.
"Bawa aku ke ruang meditasi mereka" Pek Giok
Liong bangkit berdiri.
"ya." Ketua siau Lim mengangguk, lalu
bersama empat pelindung membawa Pek Giok Liong ke ruang meditasi
tiga tetua siau Lim.
Pintu ruang meditasi tidak ditutup. Ketua
siau Lim melangkah ke dalam, kemudian melapor tentang kehadiran Pek
Giok Liong.
"Persilahkan dia masuk" ujar Toa tianglo
dengan suara lemah-
"Tayhiap" ucap ketua siau Lim-
"Silakan masuk"
Pek Giok Liong melangkah masuk- lalu duduk
bersila di hadapan tiga tetua Siau Lim itu.
"Aku memberi hormat pada tiga tetua" ucap
Pek Giok Liong sambil menjura-
"Bagaimana keadaan kalian bertiga?"
"omitohud sudah waktunya kami menghadap pada
yang Mulia sang Buddha," sahut Toa tiang lo.
"Ngoh Beng, jangan berkata begitu" ujar Pek
Giok Liong.
Betapa terkejutnya Toa tianglo, karena Pek
Giok. Liong tahu gelarnya. Begitu pula ketua siau Lim dan empat
pelindung, mereka memandang Pek niok Liong dengan mata terbelalak-
"omitohud Bolehkah aku tahu nama Anda?"
tanya Toa tianglo.
"Ngoh Beng, matahari terbit di timur, bulan
memperlihatkan diri di malam purnama, hati suci rimba persilatan
damai," jawab Pek Giok Liong.
"omitohud omitohud omitohud" ucap tiga
tianglo itu serentak, kemudian Toa tianglo melanjutkan,
"Maaf kami bertiga tidak bisa member hormat,
karena kami bertiga telah terluka oleh Hek sim Tok ciang"
Pek Giok Liong manggut-manggut, lalu
mendadak dalam keadaan duduk bersila ia bergerak menepuk punggung
tiga tianglo siau Lim itu.
Ketua siau Lim dan empat pelindung
terbelalak, mereka terheran-heran dan tidak tahu apa gerangan yang
telah terjadi-
setelah menepuk punggung tiga tetua itu, Pek
Giok Liong bangkit berdiri, lalu mengambil sebuah botol kecil dari
dalam bajunya, kemudian menuang enam butir obat yang ada di dalam
botol kecil itu.
"Ngoh Beng, Ngoh In, Hgoh Hun Makan obat
ini, kalian bertiga pasti sembuh dalam waktu singkat" ujar Pek Giok
Liong sambil memasukkan dua butir obat itu ke dalam mulut tiga tetua
siau Lim.
"omitohud Terima kasih" ucap Toa tiang lo.
"Ngoh Beng, rahasiakan semua ini" pesan Pek
Giok Liong.
"omitohud" sahut Toa tiang lo.
"Baiklah Aku mohon diri" ucap Pek Giok Liong
lalu melangkah ke luar- Ketua siau Lim dan empat pelindung
mengantarnya sampai di depan pintu vihara-
"selamat jalan Tayhiap" ucap ketua siau Lim.
"sampai jumpa" sahut Pek Giok Liong dan
berpesan.
"Mulai sekarang kalian harus giat belajar
Tat Mo sin Kang, jangan memperlihatkan sikap yang tidak patuh
terhadap pihak Kiu Thian mo Kiong, sebab akan mencelakakan kalian
semua"
"ya." Ketua siau Lim mengangguk-
"ohya bolehkah aku tahu nama besar Tayhiap?"
" Kelak kalian akan mengetahuinya," jawab
Pek Giok Liong. Mendadak ia mengerahkan gin kangnya, seketika juga
tubuhnya meluncur pergi secepat kilat.
Mulut ketua siau Lim ternganga lebar. "Bukan
main"
Pek Giok Liong menuju Butong. Ia menemui
ketua Butong, juga mengaku dirinya sebagai utusan Kiu Thian mo Cun.
setelah bertemu ketua partai Butong, barulah berkata sejujurnya.
"HianBeng tosu, sesungguhnya aku bukan
utusan Kiu Thian mo Cun."
"oh?" HianBeng tosu menatapnya dengan mata
redup, ternyata luka dalamnya masih belum sembuh-
"Lalu siapa Anda?"
"Aku ke mari untuk mengembalikan ilmu
simpanan partai kalian." Pek Giok Liong memberitahukan.
"Ilmu simpanan apa?" tanya HianBeng tosu
heran.
"Hian Thian sin Kang" sahut Pek Giok Liong.
"Hah? Apa?" HianBeng tosu terbelalak-
"Hian Thian sin Kang? Apakah Anda tidak
bercanda?"
" Aku tidak bercanda," ujarPek Giok Liong.
"HianBeng tosu, cepat pusatkan perhatian
untuk mendengarkan"
"ya." HianBeng tosu segera memusatkan
perhatiannya, sedangkan Pek Giok Liong mulai menguraikan Hian Thian
sin Kang, termasuk ilmu pedang dan ilmu pukulan.
"Bagaimana? sudah ingat semua?"
"sudah Terima kasih" ucap HianBeng tosu,
namun kemudian menarik nafas pamjang.
"sayang sekali, aku tidak bisa melatih,
sebab "
"Jangan khawatir" Pek Giok Liong
memberikannya sebutir obat.
"Makanlah obat ini, dalam waktu singkat
lukamu pasti sembuh- Ingat, jangan bersikap melawan pada pihak Kiu
Thian mo Kiong, bersabarlah"
"Terima kasih, Tayhiap" ucap HianBeng tosu.
Setelah meninggalkan Butong San, Pek Giok
Liong langsung menuju Gobisan. Ia mengajarkan ilmu Bu siang sin Kang
pada Pek Bie siangjin. Betapa girangnya ketua partai itu. Ia sama
sekali tidak menyangka ilmu simpanan partainya bias kembali padanya.
"Terima kasih, Tayhiap" ucap PekBie
siangjin.
"siangjin" pesan Pek Giok Liong.
" untuk sementara ini, partaimu lebih baik
berdiam diri, jangan coba-coba melawan perintah dari Kiu Thian mo
cun."
"Ya." PekBie siang jin mengangguk,-
Pek Giok Liong lalu berpamit. Ia lalu
mendatangi partai Khong Tong untuk mengembalikan Khong Tong Bie Lek
sin Kang pada ketua partai tersebut, tentunya amat menggirangkan
Khong Khong Hoatsu ketua partai itu.
"Terima kasih, Tayhiap" ucapnya.
" Ketua Khong Tong" ujar Pek Giok Liong
sambil manggut-manggut.
"Engkau sungguh cerdik, begitu pihak Kiu
Thian mo cun muncul, langsung menyatakan takluk jadi kalian
terhindar dari suatu bentrokan, aku kagum padamu"
"Tayhiap" Khong Khong Hoatsu menarik nafas
panjang.
"Kalau aku tidak bertindak begitu, partaiku
ini pasti sudah celaka. Pihak Kiu Thian mo Kiong memang lihay,
termasuk Kiu Mo Li itu, mereka membentuk suatu barisan yang amat
merangsang "
"Ngmm" Pek Giok Liong manggut-manggut lagi.
"Ilmu Bie Lek sin Kang itu tidak gampang
dipelajari, mungkin harus memakan waktu setahun, itu pun cuma bisa
sampai ketingkat empat."
"Maaf, apakah Tayhiap telah berhasil
mencapai tingkat kesepuluh?" tanya Khong Khong Hoatsu.
"sudah." Pek Giok Liong mengangguk-
"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku mengajar
padamu?"
"Tayhiap sungguh hebat Padahal selama
ratusan tahun ini, tiada seorang ketua pun yang berhasil mempelajari
ilmu itu-"
"Kalau engkau tekun, dalam waktu lima tahun
pasti berhasil mencapai ketingkat itu"
"Terima kasih, Tayhiap" ucap Khong Khong
Hoatsu.
"ohya Aku tidak perlu berpesan apa pun,
sebab engkau amat cerdik-" Pek Giok Liong menatapnya.
"Mengertikah engkau apa maksudku?"
"Maksud Tayhiap agar kami jangan melawan
perintah Kiu Thian mo cun, kan?"
"Betul. Engkau betul betul cerdik," Pek Giok
Liong manggut-manggut, lalu berpamit.
"Tayhiap, bolehkah aku tahu nama besarmu?"
"Kelak engkau akan mengetahuinya," sahut Pek
Giok Liong sambil mengerahkan ginkangnya meninggalkan tempat itu.
"Haah?" Khong Khong Hoatsu terbelalak ketika
melihat tubuh Pek Giok Liong meluncur pergi bagaikan kilat.
"Luar biasa, sungguh luar biasa"
Terakhir Pek Giok Liong menuju Hwa san.
Partai Hwa san masih dalam keadaan berkabung. Kali ini Pek Giok
Liong tidak mengaku sebagai utusan dari Kiu Thian mo Kiong, hanya
mengatakan mau melawat, setelah itu, ia pun pergi menengok Ketua Hwa
san yang terluka parah itu.
"Siapa Tayhiap?" tarnya Bwe Hoa sin Kiam,
Ketua Hwa san dengan wajah yang masih pucat pias.
"Aku bukan musuhmu," jawab Pek Giok Liong.
"Aku ke mari dengan maksud dan niat yang
baik,"
"Terima kasih" ucap Ketua Hwa san.
"Maaf, aku tidak bisa bangun untuk menyambut
kedatangan Tayhiap"
"Tidak apa-apa." Pek Giok Liong menatapnya.
"Engkau terluka oleh Han Im Ciang, siapa
yang menggunakan Han Im ciang itu?"
"Siau Mo Cun."
"siau Mo Cun?" Mendadak sepasang mata Pek
Giok Liong menyorotkan sinar yang membara.
"Siau Mo Cun yang membantai siauw Keh Cung
itu?"
"ya." Ketua Hwa san mengangguk,-
"Hmm" dengus Pek Giok Liong dingin.
"Apakah siau Mo Cun itu tu Ci yen?"
"Maaf Aku tidak tahu" Ketua Hwa san
menggelengkan kepala.
"Ketua Hwa san" Pek Giok Liong menarik nafas
panjang.
"Engkau terlampau keras hati. sudah tahu
pihakmu tidak kuat melawan pihak Kiu Thian mo Kiong, tapi masih
mengadakan perlawanan, itu konyol. Akhirnya puluhan muridmu yang
menjadi korban."
"Tayhiap, itu menyangkut nama baik Hwa san."
"Lalu bagaimana dengan nama baik siau Lim
dan partai lainnya? Bukankah partai-partai itu juga takluk pada
pihak Kiu Thian mo Kiong? Ketua Hwa san, bertindak sesuatu haruslah
dipikirkan baik-baik, jangan ceroboh"
"yaah" Ketua Hwa san menarik nafas panjang.
"Kini rimba persilatan telah dikuasai
golongan hitam, banyak golongan putih yang dibunuh "
" Ketua Hwa san" Pek Giok Liong menatapnya,
kemudian memberikannya sebutir pil mujarab.
"Makanlah pil ini, engkau pasti sembuh dalam
waktu singkat."
"Terima kasih, Tayhiap" ucap Ketua Hwa san,
ia menerima obat tersebut dan langsung ditelannya. Tak seberapa lama
kemudian, ia sudah tidak merasa dingin lagi, bahkan merasa badannya
segar sekali.
" Ketua Hwa san" tanya Pek Giok Liong.
"Apakah Hwa san punya ilmu sakti?"
"Ilmu sakti?" Ketua Hwa san heran akan
pertanyaan tersebut.
"Memang ada, tapi telah dihadiahkan pada
seng sim Tayhiap kira-kira hampir dua ratus tahun yang lampau, lagi
pula pihak Hwa san tiada satu ketua pun yang mampu belajar ilmu
sakti itu"
"Hwa san Taay yang sin Kang (Ilmu sakti sang
surya) kan?"
"Kok Tayhiap tahu?"
"Aku ke mari justru ingin mengembalikan ilmu
itu pada Ketua. Harap dipelajari baik-baik,"
"Itu percuma." Ketua Hwa san menggelengkan
kepala.
"Bagaimana mungkin aku bisa mempelajari ilmu
sakti itu?"
"Aku akan mengajarkan padamu."
"Apa?" Ketua Hwa san terbelalak.
"Tayhiap akan mengajarkan padaku?"
"Betul" Pek Giok Llong mengangguk-
"Kalau engkau mempelajarinya dengan tekun,
dalam waktu lima tahun, pasti bisa mencapai keberhasilan ilmu sakti
itu-"
"oh?" Ketua Hwa San tampak ragu, namun
wajahnya berseri-seri-
"Dari mana Tayhiap memperoleh ilmu simpanan
partai kami itu?"
" Ketua Hwa san, engkau tidak perlu
mengetahuinya- yang penting sekarang curahkanlah perhatianmu, aku
akan mulai menguraikan ilmu Tay yang sin Kang itu-"
"ya-" Ketua Hwa san segera mencurahkan
perhatiannya-
"Thay yang sin Kang mengandung unsur panas "
Pek Giok Liong mulai menguraikan inti pelajaran ilmu sakti tersebut.
Ketua Hwa san mendengarkan penuh perhatian,
sedangkan Pek Giok Liong terus menguraikan ilmu sakti itu, sekaligus
menerangkannya- Kira-kira dua jam kemudian, usailah Pek Giok Liong
menguraikan dan menerangkan ilmu sakti tersebut.
"sudah mengerti?"
" Cukup mengerti-"
"Lebih baik dicatat agar tidak lupa-" Pesan
Pek Giok Liong.
"Dan ingat, jangan coba-coba melawan
perintah dari pihak Kiu Thian mo Kiong, itu demi keselamatan
partaimu"
"Ya, Tayhiap" Ketua Hwa san mengangguk-
"Terima kasih Bolehkah aku tahu nama besar
Tayhiap?"
" Kalau sudah waktunya, engkau akan
mengetahuinya-"
"Maaf, Tayhiap" Ketua Hwa san menatapnya.
"Kenapa Tayhiap memakai topi rumput yang
lebar dan menutup muka dengan kain putih?"
"Tentu ada sebabnya. Kelak engkau pun akan
mengetahuinya," sahut Pek Giok Liong lalu berpamit.
Ketua Hwa San mengantarnya sampai di depan
pintu, Itu sungguh mengejutkan murid-murid Hwa san, karena kini
ketua mereka tampak sehat dan segar.
Pek Giok Liong menuju ke yang wie Kiong.
sesungguhnya ia ingin langsung menuju siau Mo Kiong, namun harus
melewati yang wie Kiong tersebut, maka ia pun mampir sebentar.
"siapa engkau?" Hui Eng Cap Ji Kiam
menghadang di hadapan Pek Glok Liong.
"Mau apa engkau ke mari?"
"siapa pemimpin yang wie Kiong ini?" tanya
Pek Giok Liong dengan stueye. parau.
"Cit Ciat sin Kun"
"Kalau begitu, suruh dia keluar menemuiku"
"Apa?" salah seorang Hui Eng Cap Ji Kiam itu
melotot-
"Engkau tahu apa? Berani mengatakan begitu?"
"Jadi kalian tidak mau ke dalam menyuruh cit
Ciat sin Kun keluar?" tanya Pek Giok Liong dingin-
"Tidak salah"
"Kalian melihat sepasang mata singa batu
itu?"
"Kenapa?"
"Tentunya badan kalian tidak sekeras singa
batu itu kan?" Pek Giok Liong tertawa, lalu menyentilkan jari
telunjuknya ke arah sebuah singa batu itu.
"Ha ha ha" salah seorang Hui Eng cap Ji Kiam
tertawa gelak-
"Engkau ingin memamerkan kepandaian? singa
batu itu sama sekali tidak bergeming"
"Engkau boleh coba meraba singa batu itu"
sahut Pek Giok Liong.
orang itu mengernyitkan kening, kemudian
mendekati singa batu itu dan sekaligus merabanya.
"Haah ?" orang itu terkejut bukan main,
sebab singa batu itu telah roboh dan berubah jadi tepung.
"Bagaimana? Maukah kalian ke dalam menyuruh
Cit Ciat sin Kun keluar menemuiku?" tanya Pek Giok Liong dingin.
Hui Eng Cap Ji Kiam saling memandang, lalu
berlari ke dalam. Berselang beberapa saat, tampak mereka berjalan ke
luar, dan disusul oleh jin pin mo Kun, Ling Ming Cun Cia, Ngo
Tok Ceng Kun, Thiat sat sin Kun, Thian Suan sin Kun, Tie Kie sin Kun
dan cit Ciat sin Kun.
Begitu sampai di luar, mereka pun berdiri
mengurung Pek Giok Liong, cit Ciat sin Kun menatapnya tajam. Namun
karena Pek Giok Liong memakai topi rumput yang lebar dan memakai
kain putih penutup muka, maka Cit Ciat sin Kun dan lainnya sama
sekali tidak mengenalinya.
"siapa engkau?" tanya Cit Ciat sin Kun
membentak.
"Ada urusan apa engkau ingin menemuiku?"
"cit Ciat sin Kun" Pek Giok Liong tertawa.
"Kini kedudukanmu telah diturunkan menjadi
pemimpin yang wie Kiong, tidak menjabat sebagai cih seng Tay Tie
lagi?"
"Diam" bentak Cit Ciat sin Kun.
"Buka kain penutup mukamu itu, agar kami
tahu siapa engkau"
"cit ciat sin Kun, aku ke mari cuma ingin
bertanya, siapa siau Mo Cun itu? Apakah dia tu ci yen?"
"Engkau tidak berhak mengetahuinya" sahut
Cit Ciat sin Kun.
"sin Kun" ujar jin pin mo Kun.
"Tidak perlu banyak bicara dengannya, mari
kita habiskan saja dia"
"Habiskan?" Pek Giok Liong tertawa.
"Kalian ingin membunuhku?"
"Betul" sahut jin pin mo Kun.
"Ha ha ha" Pek Giok Liong tertawa
terbahak-bahak, namun secara diam ia berbicara pada Cit Ciat sin Kun
dengan ilmu menyampaikan syarat.
"Cit Ciat, aku Pek Giok Liong."
"He he he" Cit Ciat sin Kun tertawa
terkekeh-kekeh.
"Engkau berani mengacau di sini, berarti
cari mampus" usai berkata begitu, ia pun bertanya pada Pek Giok
Liong dengan ilmu menyampaikan suara pula-
"Betulkah engkau Pek siau hiap?"
"Kalian yang harus mampus di tanganku" sahut
Pek Giok Liong dan berbicara lagi dengan ilmu menyampaikan suara.
"Aku memang Pek Giok Liong, aku tidak mati
di jurang"
"Syukurlah" sahut Cit Ciat sin Kun dengan
ilmu menyampaikan suara.
"Siau Mo Cun adalah tu Ci Yen, dia dan
orang-orangnya yang membantai siauw Keh Cung"
"Hei" bentak Ling Ming Cun cia.
"Engkau tidak tahu tempat apa ini?"
"Yang wie Kiong, aku sudah tahu," sahut Pek
Giok Liong dingin.
"Cabang dari Kiu Thian mo Kiong kan?"
"Engkau sudah tahu, kok masih berani
mengacau di sini?" Hgo Tok Ceng Kun menatapnya tajam.
"siapa engkau, beritahukan namamu"
"Aku ke mari untuk membasmi kalian" sahut
Pek Giok Liong, kemudian bertanya pada Cit Ciat sin Kun dengan ilmu
menyampaikan suara.
"Bagaimana sifat ketiga orang ini?"
"Pek siau hiap, mereka bertiga dan Hui Eng
Cap Ji Kiam harus di bunuh" ujar cit Ciat sin Kun dengan ilmu yang
sama. setelah itu ia pun terkekeh-kekeh-
"Engkau ingin membasmi kami? Hmm Engkaulah
yang harus dibasmi"
"oh? Kalau begitu, kalian boleh maju
bersama" tantang Pek Giok Liong.
"Tidak perlu maju bersama, cukup kami dan
Hui Eng Cap Ji Kiam saja" sahut jin pin mo Kun.
Pek Giok Liong memang menghendaki begitu,
maka ia pun tertawa panjang seraya berkata,
"Baiklah Kalian bertiga dan Hui Eng Cap Ji
Kiam boleh maju"
"Mari kita maju" seru jin pin mo Kun.
Ling Ming Cun cia, Ngo Tok Ceng Kun dan Hui
Eng Cap Ji Kiam langsung maju, sedangkan Cit Ciat sin Kun, Thian
sat, Thian Suan dan Ti Kie sin Kun mundur beberapa langkah-
"Bersiap-siaplah engkau" ujar jin pin mo
Kun.
"Kami akan mulai"
"silakan" Pek Giok Liong tetap berdiri di
tempat,
"serang" seru jin pin mo Kun.
seketika juga mereka bertiga dan Hui Eng Cap
Ji Kiam dengan pedang penyerang Pek Giok Liong.
"Ha ha ha" Pek Giok Liong tertawa panjang,
kemudian mendadak tubuhnya berkelebat ke sana ke mari bagaikan kilat
menyambar. Terdengarlah suara jeritan yang menyayat hati di sana
sinu "Aaakh" "Auuh" "Aaaakh"
Dalam waktu sekejap jin pin Mo Kun, Ling
Ming Cun cia, Ngo Tok Ceng Kun dan Hui Eng Cap Ji Kiam telah
tergeletak menjadi mayat.
Bukan main terkejutnya Cit Ciat, Thian sat,
Thian Suan dan Ti Kie sin Kun, mereka berempat menatap Pek Giok
Liong dengan mata terbelalak-
setelah membunuh lima belas orang itu, Pek
Giok Liong lalu menghampiri Cit Ciat sin Kun.
Thian sat, Thian Suan dan Ti Kie sin Kun
langsung bersiap-siap, namun cit Ciat sin Kun segera menggoyangkan
tangannya.
"Dia Pek Giok Liong." bisik Cit Ciat sin
Kun.
"oh?" Thian sat, Thian Suan dan Ti Kie sin
Kun tertegun, tapi kemudian wajah mereka tampak berseri.
"Aku tidak akan membunuh kalian berempat,
karena kalian telah bertobat," ujar Pek Giok Liong.
"Terima kasih" ucap Cit Ciat sin Kun sambil
menjura.
"Kami amat girang, sebab Pek siau hiap masih
hidup,"
"Pek siau hiap, ilmu apa yang engkau
pergunakan tadi?" tanya Thian sat sin Kun.
"siau Lim Tat Mo sin ciang." Pek Giok Liong
memberitahukan.
"Haah?" Thian sat terkejut.
"Itu "
"Thian sat, tentang ini engkau tidak perlu
tahu. yang penting kalian harus merahasiakan tentang kemunculanku.
Kalian boleh lapor pada Kiu Thian mo cun, bahwa aku mahir ilmu Tat
Mo sin ciang, Butong Hian Thian ciang Hoat, Gobi Bu siang sin Kang,
Hwa san Thay Yang ciang Hoat dan Khong Tong Bie Lek sin Kang."
"Pek siau hiap " Cit Ciat sin Kun terbeliak.
"semua ilmu itu dapat menandingi Hek Sim TOk
Ciang, ilmu rahasia^ Kiu Thian mo Cun itu?"
"Boleh dikatakan setanding, namun belum
tentu dapat mengalahkannya," jawab Pek Giok Liong.
" Kalau begitu " Wajah Cit Ciat sin Kun
tampak kecewa.
"Bagaimana mungkin Pek siau hiap dapat
membasmi Kiu Thian mo Cun?"
"Aku masih memiliki ilmu lain yang dapat
membasmi Kiu Thian mo Cun." Pek Giok Liong memberitahukan.
"Ilmu apa itu?" tanya Cit Ciat sin Kun
girang.
"Jit Goat seng sim sin Kang," jawab Pek Giok
Liong.
"Ilmu tersebut khusus untuk melawan ilmu Hek
sim sin Kang."
"syukurlah" ucap Cit Ciat sin Kun.
"ohya, belum lama ini muncul seorang pemuda
mengaku dirinya adalah Pek siau hiap, dia didampingi seorang gadis
yang cantik manis."
"Engkau tahu siapa dia?" tanya Pek Giok
Liong heran.
"Dia memang mirip Pek siau hiap- Kalau tidak
salah dia bernama Hek siau Liong yang ditolong swat san Lo Jin." cit
Ciat sin Kun memberitahukan, "sungguh mengherankan, Pek siau hiap
dan dia seperti pinang dibelah dua."
"oh? Mau apa dia ke mari?"
"Menanyakan tentang Kiu Thian mo Kiong. Aku
memberitahukan berada di mana Kiu Thian Mo Kiong itu, tapi juga
berpesan pada gadis yang mendampinginya dengan ilmu menyampaikan
suara, agar gadis itu mencegah Hek siau Liong pergi ke istana Mo Cun
itu"
"Engkau memang baik hati." Pek Giok. Liong
manggut-manggut dan bertanya.
"Kenapa engkau berpesan begitu pada gadis
itu?"
" Kalau Hek siau Liong itu ke Kiu Thian mo
Kiong, dia pasti mati," sahut Cit Ciat sin Kun.
"oh? Kenapa?"
"sebab di istana mo Cun itu telah dipasang
berbagai jebakan."
"Engkau tahu jelas mengenai semua jebakan
itu?"
"sama sekali tidak tahu."
"Cobalah selidiki semua jebakan itu"
"ya." Cit Ciat sin Kun mengangguk-
"Oh y a, rumah keluarga siauw telah
dijadikan siau Mo Kiong. siauw Mo Cun adalah TU Ci yen, anak
angkatkujuga murid kesayangan Kiu Thian Mo Cun. Dia dan para anak
buahnya membunuh semua marga siauw, bahkan mereka sering membunuh
para pendekar dari golongan putih dan memperkosa pula, maka Pek siau
hiap harus membasmi mereka."
"Itu sudah pasti" sahut Pek Giok Liong.
"Baiklah Aku harus segera berangkat ke siau
Mo Kiong"
"Pek siau hiap tunggu" seru Cit Ciat sin
Kun.
"Ada urusan apa?" tanya Pek Giok Liong.
"Pek siau hiap harus melukai kami berempat."
Cit Ciat sin Kun memberitahukan dengan sungguh-sungguh.
"oooh" Pek Giok Liong manggut-manggut
mengerti-
" Kalau begitu, aku harus melukai kalian
sampai parah sekali-"
"Memang harus begitu" Cit Ciat sin Kun
mengangguk-
"Baiklah" Pek Giok Liong mengibaskan
tangannya ke arah empat orang itu, dan seketika juga terdengar suara
jeritan.
"Aaakh"
Cit Ciat, Thiat sat, Thian suan dan Ti Kie
sin Kun terpental, lalu terkulai dengan mulut mengalirkan darah
segar. Mereka berempat telah terluka dalam.
"Terima kasih" ucap Cit Ciat sin Kun lemah-
"Engkau harus melapor pada Kiu Thian mo Cun
dalam keadaan luka parah, dan cukup engkau seorang diri yang pergi
lapor," ujar Giok Liong.
"Ya." Cit Ciat sin Kun mengangguk-
"Aku telah menaruh obat ke dalam saku baju
kalian, seusai melapor, barulah kalian makan obat itu, dan dalam
waktu singkat kalian pasti sembuh-"
"oh?" Cit Ciat sin Kun dan lainnya saling
memandang, kemudian cit Ciat sin Kun bertanya,
"Kapan Pek siau hiaup menaruh obat itu ke
dalam saku baju kami?"
"Ketika aku mengibaskan tanganku ke arah
kalian." Pek Giok Liong memberitahukan.
"Bukan main "ujar Cit Ciat Sin Kun takjub.
-ooo00000ooo-
Pek Giok Liong berdiri di depan pintu Siau
Mo Kiong, seketika juga bayangan Siauw Hui Ceh muncul di pelupuk
matanya, begitu cantik dan lembut. Namun kini, gadis itu telah
tiada.
Itu adalah rumah keluarga Siauw, tapi kini
telah dijadikan Siau Mo Kiong yang juga menyerupai tempat maksiat.
"Hei" bentak empat orang yang menjaga di
situ.
"Mau apa engkau berdiri di situ?"
Pek Giok Liong menatap mereka, itu merupakan
wajah asing, berarti bukan mantan orang-orang Siauw Keh Cung.
"Aku mau ke dalam," sahut Pek Giok Liong
sambil mengayunkan kakinya.
"Sebutkan namamu Kalau tidak, engkau tidak
boleh masuk" Keempat orang itu menghadang Pek Giok Liong.
"Hmm" dengus Pek Giok Liong dingin sambil
mengibaskan tangannya.
"Akhh " terdengar suara yang menyayatkan
hati, keempat orang itu terpental sejauh belasan meter, terkulai dan
nafas pun putus seketika.
Pek Giok Liong melangkah ke dalam, salah
seorang menyaksikan kejadian tersebut, langsung berlari ke dalam
untuk melapor.
"Berhenti" bentak lima orang bersenjata
golok.
"Siapa engkau? Kok begitu berani masuk"
Pek Giok Liong mengibaskan tangannya, kelima
orang itu terpental dan mati seketika tanpa mengeluarkan suara
jeritan.
"siapa berani mengacau di siau Mo Kiong? Mau
Cari mampus ya" Muncul empat pelindung dan enam iblis, setelah itu
tu Ci yen pun muncul, Ia menatap Pek Giok Liong tajam, lalu mengarah
pada mayat-mayat itu seraya bertanya.
"Engkau yang membunuh mereka?"
"Tidak salah" sahut Pek Giok Liong dengan
suara parau, agar tu Ci yen tidak mengenali suaranya,
"siapa engkau?"
"Aku adalah aku"
"Hm" dengus tu Ci yen dingin-
"Kenapa mukamu ditutup dengan kain putih?
Takut dikenali orang?"
"Itu urusanku" sahut Pek Giok Liong.
"Engkau dan orang-orangmu yang membunuh
semua marga siauw?"
"Betul" tu ci yen mengangguk-
"Engkau siapa? Ada hubungan apa dengan
keluarga siauw?"
"Engkau tidak perlu tahu yang jelas hari ini
kalian semua harus mati"
"Kami semua harus mati" tu Ci yen tertawa
terkekeh-kekeh-
"Hehe he, engkaulah yang akan mampus"
"siauMo Cun, kita tidak perlu banyak bicara
dengannya-" ujar empat pelindung.
"Habiskan saja dia"
"Ng" tu Ci yen manggut-manggut.
"Kalian berempat dan enam iblis harus segera
membunuhnya "
" ya." sahut mereka serentak-
"Apakah para anak buahmu sudah berkumpul di
sini?" tanya Pek Giok Liong mendadak-
"sudah" sahut Tu Ci yen.
"Bagus Bagus" Pek Giok Liong tertawa.
"Nah, kalian boleh maju bersama"
"serang" seru tu ci yen-
Empat pelindung, enam iblis dan para anak
buahnya langsung menyerang Pek Giok Liong.
"Ha ha ha" Pek Giok Liong tertawa panjang.
Tiba-tiba tubuhnya berkelebat kian kemari, dan seketika juga
terdengar suara yang menyayat hati di sana-sini. "Aaakh" "Aaakh "
Hanya dalam waktu beberapa detik, empat
pelindung, enam iblis dan para anak buah tu Ci yen itu semuanya
telah menjadi mayat.
Menyaksikan kejadian itu, wajah tu Ci yen
langsung berubah pucat, Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa orang
itu memiliki kepandaian yang begitu tinggi, sehingga membuat
nyalinya jadi ciut.
"Engkau siapa? Aku murid Kiu Thian mo Cun"
tu Ci yen menyebut nama gurunya, agar membuat orang tersebut mundur.
"Aku sudah tahu bahwa engkau murid Kiu Thian
mo Cun, kepandaianmu dipulihkan olehnya. Engkau mantan murid
almarhum siauw Thian Lin, anak angkat Cit Ciat sin Kun, kan?"
"Kok engkau tahu?" tu ci yen terkejut.
"Kini cuma tinggal engkau seorang diri, lagi
pula engkau pun harus mati" ujar Pek Giok Liong sepatah demi
sepatah.
"Maka kuberitahukan pada mu siapa diriku
ini"
"Beritahukalah"
"Aku Pek Giok Liong"
"Apa?" tu Ci yen tersentak-
"Engkau Pek Giok Llong?"
"Tidak salah" Pek Giok Liong mengangguk-
"Aku tidak mati terpukul kejurang, maka aku
ke mari untuk mencabut nyawamu"
"Pek Pek Giok Liong?" Tu Ci yen masih kurang
percaya-
"siauw Hui Ceh dan cingji mati di tangan
gurumu, oleh karena itu aku pun harus membunuhnya "
"Itu urusan guruku, tiada kaitannya dengan
diriku" sahut tu Ci yen yang mulai ketakutan.
"Engkau pun harus mati sebelumnya aku telah
mengampunimu, namun engkau malah membantai semua marga siauw yang
ada di rumah ini tu Ci yen" bentak Pek Giok Liong.
"Nah, bersiap-siaplah untuk mati"
"Hm" dengus tu Ci yen dingin,, "Kalau engkau
berani, lawanlah guruku"
"Sekarang aku membunuhmu, setelah itu
barulah aku membunuh gurumu" sahut Pek Giok Liong.
"Karena engkau sudah begitu jahat, maka
engkau harus mati"
"Engkau pengecut, tidak berani melawan
guruku" ejek tu Ci yen, itu agar Pek Giok Liong melepaskannya.
"Begini saja Kalau engkau bisa menahan satu
jurus seranganku, aku pasti melepaskanmu"
"sungguh?" tu Ci yen bergirang dalam hati.
"Sungguh" sahut Pek Giok Liong dan
menambahkan.
"Bahkan engkau pun boleh menyerang diriku"
"Baiklah" tu Ci yen segera menghimpun Han Im
sin Kang (Tenaga sakti Hawa Dingin), ia ingin menyerang Pek Giok
Liong dengan Han Im ciang.
"oooh, Han Im sin Kang"
"Betul" tu Ci yen tertawa dingin.
"Engkau takut?"
"Takut?" Pek Giok Liong tertawa gelak-
"Ha ha ha Engkau boleh menyerangku dengan
jurus Han Im ciang, aku tidak akan balas menyerangmu"
"Baik Bersiap-siaplah" tu Ci yen langsung
menyerang dengan Han Im ciang jurus swat Hoat Phiau-Phiau (Bunga
salju Berterbangan).
Pek Giok Liong tertawa panjang, secepat
kilat ia mengelak mematahkan jurus itu.
tu Ci yen penasaran sekali, cepat-cepat ia
menyerang lagi dengan jurus Leng Thian Hong Khi (Hembusan Angin
Dingin). Betapa dinginnya hawa pukulan itu, namun Pek Giok Liong
sama sekali tidak merasakan itu Mendadak tubuhnya meluncur ke atas
sehingga tu Ci yen menyerang tempat kosong. Ketika tubuh Pek Giok
Liong mulai melayang turun, tu Ci yen tidak mau menyia-nyiakan
kesempatan, ia langsung menyerang Pek Giok Liong dengan jurus Man
Thian swat Hoa (Bunga salju di Langit).
Terjadi sesuatu yang amat mengejutkan tu Ci
yen, karena mendadak tubuh Pek Giok Liong kembali meluncur ke atas,
sehingga membuat serangan tu Ci yen terluput.
"TU Ci yen, sudah tiga jurus" ujar Pek Giok
Liong yang tubuhnya mulai melayang turun.
"Kini aku akan menyerangmu satu jurus Kalau
engkau dapat mengelak, aku pasti melepaskanmu"
Usai berkata begitu, Pek Giok Liong pun
menyentilkan jari telunjuknya ke arah TU ci yen. Itu adalah ilmu
Ceng Thian sin ci (Telunjuk sakti Penggetar Langit)-
TU Ci yen merasa heran dan ketika ia baru
mau melompat ke belakang, tahu-tahu sekujur badannya sudah kaku,
sama sekali tidak bisa bergerak dan merasa dadanya seperti tertusuk
ribuan jarum.
"Aaaakh" TU Ci yen mengerang sambil mendekap
dadanya, kemudian memuntahkan darah segar. "uaaakh"
"TU Ci yen" Pek Giok Liong tertawa dingin.
"Nyawamu cuma tinggal beberapa detik lagi,
engkau mau pesan apa?"
"Betulkah engkau Pek Giok Liong?" tanya tu
Ci yen lemah-
"Betul" Pek Giok Liong mengangguk-
"Kenapa mukamu ditutup dengan kain putih?"
"Mukaku telah rusak terhantam pukulan Hek
sim TOk Ciang, ilmu rahasia gurumu, Kiu Thian mo Cun"
"Engkau, engkau " Mendadak sepasang mata tu
Ci yen mendelik dan tak lama nafasnya pun putus.
Pek Giok Liong memandang mayat tu Ci yen, ia
menggeleng-gelengkan kepala sambil menarik nafas, lalu melangkah
pergi.
(Bersambung bagian 59)
Bagian ke 59 Menggemparkan
Kematianjin Pin mo Kun, Ling Ming Cun cia,
Ngo Tok Ceng Kun, Hui Eng Cap ji Kiam, Tu Ci yen, empat pelindung,
enam iblis dan para anak buah Tu Ci yen, itu sungguh menggemparkan
rimba persilatan.
Para pendekar dari golongan putih bersorak
penuh kegembiraan, sedangkan para penjahat dari golongan hitam mulai
ketakutan. Tiada seorang pun tahu siapa orang yang memakai topi
rumput lebar dengan wajah ditutup kain putih, oleh karena itu, maka
ia diiuluki Pendekar Misterius.
Tentang peristiwa tersebut juga telah sampai
di telinga beberapa ketua partai besar. Para ketua itu merasa girang
bukan main, terutama Ketua Siau Lim. yang paling murka adalah Kiu
Thian mo Cun. Ketika menerima laporan dari Cit Ciat Sin Kun yang
terluka parah itu, ia langsung memukul meja sehingga meja itu hancur
berkeping-keping.
"Siapa pendekar misterius itu?" tanya Kiu
Thian mo Cun pada Cit Ciat Sin Kun dengan suara gusar.
"Maaf, hamba sama sekali tidak tahu" jawab
cit Ciat Sin Kun, kemudian menambahkan,
"Tapi orang itu mahir ilmu partai siau Lim,
Butong, go Bi, Hwa San dan Khong Tang."
"oh?" Kiu Thian mo Cun diam sejenak,
berselang sesaat baru bertanya.
"Ilmu-ilmu apa itu?"
"siau Lim Tat Mo sin Kang, Butong Hian Thian
sin Kang, Gobi Bu siang sin Kang, Hwa san Thay yang sin Kang dan
Khong Tong Bie Lek sin Kang" jawab Cit Ciat sin Kun memberitahukan.
"Omong kosong" hardik Kiu Thian mo Cun.
"Bagaimana mungkin orang itu menguasai ilmu
tersebut?"
"Benar." cit Ciat sin Kun mengangguk- Jin
Pin Mo Kun, Ling Ming Cun cia, Ngo Tok Ceng Kun dan Hui Eng Cap ji
Kiam terbunuh oleh Tat Mo Ciang (Pukulan Tatmo)"
"oh?" Bagaimana ekspresi wajah Kiu Thian mo
Cun pada saat itu, tiada seorang pun yang tahu, sebab dia memakai
kedok iblis.
"Kalian berempat terluka oleh pukulan apa?"
"Butong Hian Thian sin ciang (Pukulan sakti
Hian Thian)."
"Pantas lukamu begitu parah Baiklah-
sekarang engkau boleh kembali ke yang Wie Kiong untuk beristirahat-"
"Terima kasih, Mo Cun" ucap cit Ciat sin
Kun.
"ohya, bagaimana jebakan-jebakan yang di
sini?"
"Kenapa engkau menanyakan itu?" suara Kiu
Thian mo Cun bernada tidak senang.
"Apakah ada sesuatu?"
"Benar, mo Cun" cit ciat sin Kun mengangguk-
"Sebelum muncul pendekar misterius itu,
terlebih dahulu muncul Pek Giok Liong "
"Apa?" Kiu Thian mo Cun tertegun.
"Pek Giok Liong? Dia belum mati di jurang?"
"Hamba yakin bahwa dia bukan Pek Giok Liong,
hanya mirip Pek Giok Liong saja" ujar Cit Ciat sin Kun
memberitahukan.
"sebab dia menanyakan berada di mana Kiu
Thian mo Kiong, itu pertanda dia bukan Pek Giok Liong."
"oh, lalu apa jawabmu?"
"Tentunya hamba memberitahukan berada di
mana Kiu Thian mo Kiong ini. mo Cun pasti tahu maksud tujuan hamba
kan?"
"Ngmm" Kiu Thian mo Cun manggut-manggut.
" Kalau orang yang mengaku dirinya Pek Liong
berani ke mari, dia pasti mati"
"Tapi jebakan-jebakan"
"seandainya pendekar misterius itu ke mari,
dia pun pasti mati." Kiu Thian mo Cun tertawa dingin.
"sebab semua jebakan yang ada di sini amat
rahasia, tiada seorang pun yang tahu, kecuali aku."
"oh? Tapi yang membuat jebakan-jebakan itu?"
"setelah selesai, aku pun membunuh mereka
semua. Nah, siapa yang bisa tahu rahasia semua jebakan itu?" Kiu
Thian mo Cun tertawa puas.
cit ciat sin Kun merasa kecewa sekali,
karena ia tidak berhasil mengorek rahasia jebakan itu dari mulut Kiu
Thian mo Cun.
"Mo Cun" tanya Thian mo mendadak.
"Kapan kita akan menyerbu partai Kay Pang?"
"Akan kupertimbangkan, sebab kita masih
belum tahu berada di mana markas pusat partai itu," sahut Kiu Thian
mo Cun dan menambahkan,
"Thian mo, engkau dan Ti mo harus segera
menyampaikan perintah ku pada tujuh ketua partai, agar segera
mencari pendekar misterius sekaligus membunuhnya."
"Thian mo menerima perintah" sahut Thian mo
dan bertanya,
" Kapan kami harus berangkat?"
"Sekarang."
"Cit ciat, sekarang engkau pun boleh kembali
ke yang Wie Kiong untuk mengobati lukamu."
"Terima kasih Mo Cun" cit Ciat sin Kun
memberi hormat, lalu meninggalkan Kiu Thian mo Kiong dengan perasaan
kecewa, karena Kiu Thian mo Cun tidak memberitahukan tentang semua
jebakan yang ada di Kiu Thian mo Kiong itu.
-ooo00000ooo-
Peristiwa mengenai yang Wie Kiong dan siau
mo Kiong juga masuk ke telinga swat san Lo Jin. orang tua itu segera
ke markas pusat Kay Pang untuk menemui ouw yang seng Tek, tetua Kay
Pang itu. untung swat san Lo Jin cepat tiba, kalau tidak, ia pasti
tidak bertemu tetua Kay Pang itu, sebab ouw yang seng Tek sudah siap
pergi-
"saudara tua" ouw yang seng Tek girang bukan
main ketika melihat swat san Lo Jin.
"Tumben, engkau ke mari"
"Pengemis bau, tentunya engkau sudah dengar
berita tentang pendekar misterius itu kan?" swat san Lo Jin
menatapnya.
"Tentu." ouw yang seng Tek tertawa,
"Itu merupakan peristiwa yang amat
menggemparkan, bagaimana mungkin Kay Pang tidak mengetahuinya?"
Mereka justru tidak tahu kemunculan Pek Giok
Houw, karena selama ini Ling Ling selalu mengajak Pek Giok Houw
pesiar di tempat-tempat yang indah sambil menunggu kedatangan
orang-orang Pulau Pelangi.
"Itu sungguh mengherankan" gumam swat san Lo
Jin.
"siapa sebenarnya pendekar misterius itu?
Kenapa dia selalu memakai topi rumput dan menutup mukanya dengan
kain putih?"
"Kalau tidak begitu, tentunya dia tidak akan
dijuluki pendekar misterius." sahut ouw yang seng Tek-
"yang jelas dia pendekar dari golongan
putih-"
"Benar." swat san Lo Jin mengangguk-
"Dia telah membunuhjin Pin Mo Kun, Ling Ming
Cun cia, Ngo Tok Ceng Kun, Hui Eng Cap ji Kiam dan tu Ci yen serta
yang lainnya. Ha ha Hati Kiu Thian mo Cun pasti terpukul berat oleh
peristiwa itu"
"Benar." ouw yang seng Tek tertawa gelak-
"Kalau dia punya jenggot, pasti kebakaran
jenggot saking murkanya"
"Tidak salah-" swat san Lo Jinjuga tertawa,
"ohya, entah bagaimana dengan Pek Giok Houw?
Bagaimana kalau kita ke Pulau Pelangi untuk menengoknya dan
mengabarkan pada tocu tentang peristiwa itu?"
"Setuju." ouw yang seng Tek mengangguk-
"Aku memang berniat ke sana-"
"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang"
ajak swat san Lo Jin.
"Baik," ouw yang seng Tek mengangguk lagi.
"mari berangkat"
se ciang cing dan isterinya serta yang
lainnya menyambut kedatangan swat san Lo Jin dan ouw yang seng Tek
dengan penuh kegembiraan.
"se tocu" ouw yang seng Tek tertawa gelak-
"Apa kabar selama ini?"
"Baik-baik saja,"jawab se Ciang Cing sambil
tersenyum.
"Bagaimana dengan kalian?"
"Kami pun baik-baik saja," sahut swat san Lo
Jin.
"ohya, bagaimana dengan Pek Giok Houw?
Apakah dia telah berhasil?"
"Dia telah berangkat ke Daratan Tengah-" se
Ciang Cing memberitahukan.
"Kalian tidak mendengar kabar beritanya?"
"Haah ?" swat san Lo Jin dan ouw yang seng
Tek saling memandang.
"Pek Giok Houw sudah ke Tiong tioan?"
"Betul." se ciang Cing mengangguk-
"Padahal aku sudah menyuruhnya agar
menunggu, tapi dia berkeras mau pergi juga-"
"Heran?" gumam ouw yang seng Tek-
"Kok tiada kabar beritanya sama sekali?
seharusnya kami tahu itu-"
"Dia telah berhasil mencapai tingkat
tertinggi ilmu-ilmu itu?" tanya swat san Lo Jin.
"Dia memang telah berhasil."
"Se tocu" swat san Lo Jin menatapnya seraya
bertanya,
"Kalau Pek Giok Houw bertanding melawan jin
pin mo Kun, Ling Ming Cun cia, Ngo Tok Ceng Kun dan Hui Eng Cap Ji
Kiam, apakah Pek Giok Houw akan menang?"
"Bisa menang, tapi cukup kewalahan
juga,"jawab se Ciang Cing, kemudian bertanya.
"Kenapa lo cianpwee menanyakan hal itu?"
"Karena belum lama ini telah muncul seorang
pendekar misterius yang berilmu amat tinggi." swat san Lo Jin
memberitahukan.
"Dalam sekejap dia mampu membunuh mereka."
"oh?" se Ciang Cing terkejut,
"siapa pendekar misterius itu?"
"Aku kira dia Pek Giok Houw, ternyata
bukan." swat san Lo Jin menjelaskan..
"Bahkan dia pun telah membunuh empat
pelindung, enam iblis dan siau Mo cun."
"oh?" se ciang cing bertambah terkejut.
"Lo cianpwee tidak kenal pendekar misterius
itu?"
"Tiada seorang pun yang mengenalnya," sahut
ouw yang seng Tek-
"Lho?" se ciang cing terheran-hera n.
"Kok begitu?"
"Tidak usah heran" ujar swat san Lo Jin.
"sebab dia selalu memakai topi rumput lebar
dan menutup mukanya dengan kain putih."
"Kenapa dia berbuat bagitu?" se Ciang Cing
tidak habis berpikir-
"Mungkinkah dia tidak menghendaki orang lain
mengenalnya?"
"Mungkin-" ouw yang seng Tek mengangguk dan
menambahkan,
"yang paling mengejutkan adalah dia mampu
membunuh siau Mo Cun hanya dalam satu jurus."
"ohya Ilmu apa yang dipergunakannya?" tanya
se Ciang Cing mendadak.
"Justru amat membingungkan." swat san Lo Jin
menarik naIas.
"Aku dengar, dia mahir siau Lim Tat Mo Ciang
"
"Apa?" se Ciang Cing terperanjat.
"Pendekar misterius itu mahir ilmu siau Lim
Tat Mo Ciang?"
"Betul."
"Itu sungguh tak masuk akal"
"Bahkan" tambah swat san Lo Jin.
"Dia pun mahir Butong Hian Thian sin Kang,
Hwa san Thay yang sin Kang, GobiBu siang sin Kang, Khong Tong Bie
Lek sin Kang dan ilmu lain."
"Haah ?" se Ciang Cing terbeliak-
"Itu lebih tak masuk akal. Itu itu bagaimana
mungkin?"
"Memang tidak mungkin, namun nyatanya
begitu"
"Padahal semua kitab pusaka berbagai partai
itu telah dihadiahkan pada seng sim Tayhiap, kini pendekar misterius
itu mahir semua ilmu itu. Bukankah mengherankan sekali?"
"Kita tidak perlu heran, yang penting dia
bukan musuh kita," ujar ouw yang seng Tek-
"Kini Kiu Thian mo Cun itu sudah punya lawan
berat, dan membuatnya tidak enak makan dan tidak bisa tidur
nyenyak-"
"Tapi kini, pendekar misterius itu justru
menghilang lagi-" swat san Lo Jin menggeleng-gelengkan kepala-
"Alangkah baiknya kalau dia langsung pergi
membasmi Kiu Thian mo Cun"
"Aku pikir," ujar ouw yang seng Tek-
"Dia pasti punya rencana sendiri"
"Betul-" swat san Lo Jin manggut-manggut.
"Entah apa rencananya?"
"saudara tua bertanya pada siapa?" ouw yang
seng Tek menatapnya sambil tertawa.
"Bertanya diriku sendiri," sahut swat san Lo
Jin, kemudian mengarah pada se ciang Cing seraya bertanya,
"Se tocu, kapan engkau akan mengatur
orang-orangmu ke Tiong Goan?"
"Itu akan kami rundingkan."
"Begini" ujar ouw yang Seng Tek mengusulkan.
" Kalau pihak kalian berangkat ke Daratan
Tengah, alangkah baiknya kalau langsung menuju Markas Pusat Kay
Pang."
"Baiklah-" se Ciang Cing mengangguk menerima
usul itu.
"Kapan pihak se tocu akan berangkat?" tanya
swat san Lo Jin.
"Bagaimana kalau berangkat bersama kami?"
"Itu menyangkut masalah besar, maka harus
kami rundingkan," jawab se Ciang Cing.
"Namun tidak akan lama."
"Kalau begitu, kami akan menunggu di Markas
Pusat Kay Pang saja," ujar swat san Lo Jin.
"Bukankah lebih baik lo cianpwee cari Pek
Giok Houw?" ujar se Ciang Cing menyarankan.
"Ng" swat san Lo Jin manggut-manggut.
" Kalau begitu, kami harus segera kembali ke
Tiong cioan."
"Pihak kami pasti segera menyusul," ujar se
Ciang Cing berjanji.
"Terima kasih, se tocu" ucap ouw yang seng
Tek.
"sama-sama." sahut se Ciang Cing.
-ooo00000ooo-
swat san Lo Jin dan ouw yang seng Tek sudah
sampai di daratan Tengah, mereka berdua duduk di warung teh.
"saudara tua" ujar ouw yang seng Tek sambil
menatapnya.
"Kiu Thian mo Kiong berkekuatan besar, kalau
kita bergabung dengan pihak Pulau Pelang i, aku khawatir kekuatan
kita masih di bawah Kiu Thian mo Kiong, maka aku punya usul."
"Usul apa?"
"Lebih baik saudara tua ke Thian san."
"Mau apa ke Thian san?" swat san Lo Jin
mengernyitkan kening.
"Pergi menemui Thian san Lolo, mantan
kekasih mandara tua itu," ujar ouw yang seng Tek sungguh-sungguh-
"Kalau dia bersedia bergabung dengan kita,
itu berarti kekuatan kita bertambah-"
"Dia pasti menolak." sahut swat san Lo Jin
sambil menarik naIas.
"Lagi pula Thian san begitu luas, ke mana
mencarinya?"
"saudara tua" ouw yang seng Tek tersenyum-
"Aku sudah tahu tempatnya."
"oh?" swat san Lo Jin tampak girang.
"Di mana tempatnya?"
"Dia berada di Cian Im Tong (Goa seribu
suara), saudara tua, carilah dia di goa itu"
"Tapi " swat san Lo Jin masih tampak ragu.
"saudara tua, demi keselamatan bu lim, apa
salahnya engkau merendah di hadapannya?"
"Itu " swat san Lo Jin berpikir, lama sekali
barulah mengangguk-
"Baiklah- Aku akan seoera berangkat ke Thian
san."
" Kalau begitu, aku kembali ke Markas Pusat
Kay Pang untuk menunggumu," ujar ouw yang seng Tek-
"saudara tua, semoga berhasil"
"Mudah-mudahan" sahut swat san Lo Jin.
Mereka berdua berpisah di warung teh itu,
swat san Lo Jin menuju Thian san sedangkan ouw yang seng Tek menuju
ke Markas Pusat Kay Pang-
Beberapa hari kemudian, Swat San Lo Jin tiba
di Thian San. Walau hawa di sana dingin, namun orang tua itu tampak
tidak merasakannya, setelah beristirahat sejenak, barulah ia menuju
goa seribu suara.
Swat san Lo Jin sudah sampai di goa
tersebut, namun orang tua itu tidak berani masuk, hanya berdiri di
depan goa.
"Li Hoa Aku sun Hiong datang mengunjungimu"
seru Swat san Lo Jin dengan tenaga dalam.
Mendadak berkelebat sosok bayangan ke
hadapan Swat san Lo Jin, ang tidak lain adalah Thian san Lolo.
"Engkau " Thian san Lolo menudingnya. Wajah
perempuan tua itu tampak dingin tapi bergirang dalam hati. Mereka
berdua berpisah selama enam puluhan tahun, kini mendadak swat san Lo
Jin muncul di situ, maka membuat perasaannya langsung bergejolak-
"Li Hoa" Swat san Lo Jin menatapnya lemhut.
"Tak terasa kita berpisah sudah enam puluh
tahun lebih, untung kita panjang umur. Kalau tidak, kita pasti tidak
berjumpa lagi."
"sun Hiong" bentak Thian san Lolo sengit.
"Mau apa engkau ke mari? Mau bertanding ya?"
"Li Hoa" ujar Swat san Lo Jin lembut.
"Dulu aku yang bersalah, sama sekali tidak
mau mengalah padamu. Hari ini aku mengaku kalah dan salah
terhadapmu."
"Engkau " Mata Thian san Lolo bersimhah air.
"Kenapa dulu engkau tidak bersikap seperti
sekarang? Kalau dulu engkau begini, kita pasti sudah punya cucu."
"Li Hoa, maafkanlah aku" Mata Swat san Lo
Jinpun bersimbah air-
"Li Hoa, bolehkah aku masuk?"
"Masuklah Kenapa harus bertanya?" Thian san
Lolo cemberut. Gila sudah begitu tua masih bisa cemberut.
Swat san Lo Jin melangkah ke dalam sambil
menarik naIas lega, lalu duduk dan menengok ke sana kemari.
Tiba-tiba ia terbelalak karena melihat suatu barang yang bergantung
di dinding goa.
"Itu"
"Burung cenderawasih batu giok, hadiah
darimu." Thian san Lolo memberitahukan.
"Tentunya engkau masih ingat kan?"
" Ingat" Swat san Lo Jin mengangguk.
"Kenapa digantung di situ?"
"Karena " Thian san Lolo menundukkan kepala.
"Aku selalu duduk di sini sambil memandang
barang itu "
"Li Hoa " Betapa harunya Swat san Lo Jin,
itu pertanda Thian san Lolo amat mencintainya.
"Aku aku bersalah terhadapmu sehingga
membuat hidupmu merana dan penuh kesepian."
"sun Hiong, aku pun bersalah terhadapmu.
Dulu aku amat keras hati, akhirnya kita berpisah "
"Li Hoa, kini kita sama-sama sudah tua.
Lupakanlah kejadian yang tidak enak itu, mari kita hidup rukun
sekarang"
"Ya." Thian san Lolo mengangguk,
"ohya Kalau tidak salah, engkaupunya seorang
murid bernama Hek Ai Lan kan?"
"Betul, tapi sudah belasan tahun tiada kabar
beritanya. Kok engkau tahu?" tanya Thian san Lolo.
" Aku pernah bertemu dengannya," ujar Swat
san Lo Jin dan menutur, lalu menambahkan,
"Kini dia berada di Pulau Pelangi."
"Syukurlah kalau dia baik-baik saja" ucap
Thian san Lolo sambil menarik naIas lega.
"Cintanya itu sama denganmu." Swat san Lo
Jin menatapnya lembut.
"Namun kita masih beruntung, karena kita
sudah bertemu."
"Betul." Thian san Lolo mengangguk-
"Oh y a, kira-kira dua belas tahun lalu, aku
menerima murid baru, dia tidak tahu marga dan namanya, maka kuberi
nama Ling Ling padanya- Dia sudah mulai berkelana di bu lim, entah
bagaimana keadaannya sekarang?"
"Anak gadis?"
"ya-" Thian san Lolo manggut-manggut.
"Dia baru berusia belasan, wajahnya sangat
cantik,"
"Kenapa engkau melepaskannya pergi
berkelana?" Swat san Lo Jin menggeleng-gelengkan kepala.
"Memangnya kenapa?" tanya Thian san Lolo
heran, karena Swat san Lo Jin kelihatan kurang setuju.
"Li Hoa" Swat san Lo Jin menarik naIas
panjang.
"Engkau sama sekali tidak tahu, bahwa kini
rimba persilatan telah dikuasai golongan hitam."
"Oh?" Thian san Lobo terkejut.
"Kiu Thian mo Cun telah menaklukkan tujuh
partai besar" Swat San Lo Jin memberitahukan, sekaligus menutur
tentang Pek Giok Liong dan lain sebagainya, sehingga membuat Thian
san Lolo terbeliak mendengarnya-
"Rimba persilatan sudah jadi begitu?"
"Benar." Swat san Lo Jin mengangguk-
"oleh karena itu, aku ingin mengajakmu ".
"Kembali ke rimba persilatan?"
"Betul-"
"Itu " Thian san Lolo mengangguk setelah
berpikir cukup lama.
"Baiklah- Aku memang harus mencari murid
bungsuku itu-"
" Aku pun harus mencari Pek Giok Houw."
"Jadi Pek Giok Liong yang telah mati itu
pemegang Panji Hati suci Mata h ari Bulan?"
"Tidak salah, tapi " Swat san Lo Jin menarik
naIas.
"Dia telah mati terkena pukulan Kiu Thian mo
Cun "
"sun Hiong" Thian san Lolo menatapnya.
"Kalau kita dan Kay Pang bergabung dengan
Pulau Pelangi, apakah pihak kita cukup kuat untuk melawan pihak Kiu
Thian mo Kiong?"
"Terus terang" Swat san Lo Jin
menggeleng-gelengkan kepala.
"Kita semua masih bukan tandingannya."
"Kalau begitu "
"Hanya ada satu orang yang dapat
melawannya."
"siapa orang itu?"
"Pendekar misterius."
"Pendekar misterius?"
"ya," Swat san Lo Jin mengangguk, lalu
memberitahukan tentang sepak terjang pendekar misterius tersebut.
"Begitu tinggi kepandaiannya?" Thian san
Lolo terbelalak.
"Justru masih ada satu hal tak masuk akal,
yang membuat aku tidak habis berpikir-"
"Hal apa?"
"Dia juga mahir siau Lim Tat Mo Ciang,
Butong Hian Thian sin Kang, ciobiBu siang sin Kang, Hwa san Thay
Yang sin Kang dan Khong Tong Bie Lek sin Kang. Bukankah itu amat
mengherankan? Padahal semua kitab ilmu tersebut telah dihadiahkan
pada seng sim Tayhiap kira-kira hampir dua ratus tahun yang lalu,
namun pendekar misterius itu justru mahir semua ilmu itu"
"Mungkinkah " Duga Thian san Lolo.
"Pendekar misterius itu seng sim Tayhiap?"
"Itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin
seng sim Tayhiap bisa hidup sekian lama?"
"Kalau begitu, bagaimana dengan Kiu Thian mo
Cun itu? Bukankah dia masih hidup?"
"Mungkin orang itu bukan Kiu Thian mo Cun,
melainkan pewarisnya," ujar Swat san Lo Jin dan menambahkan,
" Lagi pula orang itu memakai kedok iblis,
maka tiada seorang pun tahu siapa dia."
"ohya Engkau tidak pernah bertemu pendekar
misterius itu?"
"Tidak pernah-"
"Menurut dugaanku, dia pewaris seng sim
Tayhiap-
"oh ya, bagaimana rupa wajahnya?"
"Tiada seorang pun tahu."
"Kenapa?"
"Karena dia menutupi mukanya dengan kain
putih, jadi tiada seorang pun pernah menyaksikan wajahnya."
" Heran?" gumam Thian san Lolo.
"Kiu Thia Mo Cun memakai kedok iblis,
sedangkan pendekar misterius itu memakai kain putih, kenapa begitu?"
"Mungkin agar tidak dikenali orang." Swat
san Lo Jin tertawa.
"Apabila perlu, kita pun boleh memakai
kedok-"
"Memangnya tiada yang tahu ilmu silat kita?"
Thian san Lolo tersenyum-
"Sun Hiong, kalau dulu kita begini, tentunya
kita bahagia sekali-"
"Masih belum terlambat-" Swat san Lo Jin
menggenggam tangannya
"Kini kita sudah bertemu dan "
"Idiih Kok pegang tanganku?" Thian san Lolo
tertawa geli-
Memang menggelikan, usia mereka sudah hampir
seratus tahun, namun saat ini sikap mereka justru mirip sepasang
kekasih remaja yang saling memadu cinta.
Bagian ke 60: Terkena Racun
Pek Giok Houw dan Ling Ling duduk di bawah
pohon di kaki gunung cing yang. Betapa indahnya Pemandangan di
tempat itu, Ling Ling memandang keindahan alam itu dengan penuh
kekaguman.
Akan tetapi, sebaliknya Pek Giok Houw cuma
duduk diam, tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.
" Kakak Houw, kenapa sih engkau?"
"Aku " Pek iniok Houw tersentak-
"Dari tadi engkau duduk melamun, memikirkan
apa sih?" Ling Ling menatapnya-
"Aku sedang berpikir, kenapa pihak Pulau
Pelangi masih belum datang di Daratan Tengah ini? Aku aku sudah
tidak sabar menunggu, ingin seaera berangkat ke Kiu Thian mo Kiong."
" Lebih baik bersabar" ujar Ling Ling sambil
tersenyum.
"Karena Kiu Thian mo Cun itu tidak akan
lari, kan?"
"Tapi " Pek tniok Houw mengernyitkan kening.
"Aku harus cepat-cepat membalas dendam Kakak
Liong."
"Aku tahu, mungkin tidak lama lagi pihak
Pulau Pelangi akan muncul."
Ling Ling tetap berusaha menghalangi niatnya
untuk pergi ke Kiu Thian mo Kiong.
"Ling Ling, sebetulnya aku " Tidak jadi
dicetuskan, cuma wajahnya tampak murung.
"Kenapa engkau?" tanya Ling Ling lembut.
Pek Giok Houw menundukkan kepala, bagaimana
mungkin ia memberitahukan mengenai dirinya yang mati syahwat itu? Ia
tidak ingin mengecewakan gadis tersebut, namun bagaimana
selanjutnya?
" Kakak Houw" Ling Ling menatapnya
dalam-dalam.
"Aaakh " Keluh Pek Giok Houw mengalihkan
pembicaraan.
" Kapan aku membalas dendam itu?"
"Tenang saja. Kakak Houw" Ling Ling
menggenggam tangannya.
" Kalau Pihak Pulau Pelangi sudah datang,
engkau boleh berunding dengan mereka."
"Tapi " Ucapan Pek Giok Houw terputus,
karena mendengar suara tawa yang menyeramkan.
"He he he" Menyusul melayang turun dua sosok
bayangan, ternyata Thian Ti siang mo. Pek Giok Houw dan Ling Ling
segera bangkit berdiri sambil menatap tajam pada kedua orang itu,
sementara Thian Ti siang mo masih terus tertawa seram.
"Engkau Pek Giok Liong?" tanya Thian mo-
"Betul." Pek Giok Houw mengangguk dan
bertanya.
"siapa kalian?"
"Kami Thian Ti siang mo" sahut Thian mo
dingin.
"Kami diutus Kiu Thian mo Cun untuk membunuh
mu"
"Oh?" Pek Giok Houw tertawa dingin-
"Memang kebetulan kemunculan kalian berdua,
jadi aku tidak usah bersusah payah mencari kalian di Kiu Thian mo
Kiong"
"He he he" Thian mo tertawa terkekeh kekeh.
"Bocah Kini sudah waktunya engkau mampus"
"Kalianlah yang akan mati" sahut Pek Giok
Houw dingin.
"Bocah Mari kita bertarung" tantang Thian
mo-
"Engkau berani bertarung denganku?"
"Kenapa tidak?"
"Baik Mari kita bertarung"
"Ling Ling" Pesan Pek Giok Houw.
"Engkau menyingkir agak jauh, aku akan
bertarung dengan mereka"
"Hati-hati, Kakak Houw" ujar Ling Ling
sambil mundur beberapa langkah, ia pun tampak cemas.
"Thian Mo" bentak Pek Giok Houw.
"Engkau boleh mulai serang aku duluan"
"Baiklah" Thian mo mulai menghimpun tenaga
dalamnya, setelah itu ia pun mulai menyerang Pek Giok Houw.
Pek Giok Houw cepat-cepat berkelit, kemudian
balas menyerang.
"Ha ha ha" Thian mo tertawa.
"Engkau cukup hebat, bocah Dapat mengelak
pukulanku itu, coba engkau sambut lagi"
Thian mo menyerang Pek Giok Houw, namun Pek
Giok Houw segera melompat ke samping, sekaligus balas menyerang.
Mereka mulai bertarung dengan sengit, tak
terasa sudah lewat puluhan jurus- Thian mo tampak penasaran sekali,
sebab masih belum mampu menjatuhkan Pek Giok Houw-
Mendadak ia melompat mundur, menatap Pek
Giok Houw tajam sambil mengerahkan Thian mo sin Kang (Tenaga sakti
Iblis Langit).
Pek Giok Houw mengernyitkan kening, tahu
Thian mo akan mengeluarkan ilmu kepandaiannya, Ia pun cepat-cepat
mengerahkan Bu Kek sin Kang, siap menyambut serangan Thian mo-
"Hiyaaa" pekik Thian mo sambil menyerang Pek
Giok Houw dengan jurus Thian mo Khay Bun (Iblis Langit Membuka
Pintu).
Kali ini Pek Giok Houw tidak berkelit, ia
menyambut serangan itu dengan jurus Kian Kun Toh Coan {Jagat
Berputar Balik), salah satu jurus Bu Kek Ciang (Pukulan Bu
Kek)-"Blam" Terdengar benturan keras.
Thian mo termundur-mundur beberapa langkah,
sedangkan Pek Giok Houw berdiri tak bergeming.
Betapa terkejutnya Thian Ti siang mo, mereka
tidak menyangka bahwa Pek Giok Houw memiliki kepandaian begitu
tinggi.
"Bagaimana, Thian mo?" tanya Pek Giok Houw
dingin.
"Bocah" bentak Thian mo-
"Pokoknya hari ini engkau harus mampus"
Thian mo maju lagi, pada waktu bersamaan Ti
Mopun maju. Itu sangat mengejutkan Ling Ling, dan buru-buru ia
menghadang Ti mo-
"Hei" bentaknya.
"Kalian mau main keroyok ya?"
"gadis kecil. Lebih baik engkau mundur Kalau
tidak, engkau pun harus ikut mampus"
"Hmm" dengus Ling Ling dingin.
"Memangnya aku gampang mampus"
"gadis kecil, minggir" bentak Ti Mo sambil
mengibaskan tangannya. Kibasan tangan Ti Mo membuat Ling Ling
terhuyung ke belakang.
"Ling Ling" seru Pek Giok Houw.
"Mundurlah"
Ling Ling menurut, lalu seaera mundur sambil
memandang Thian Ti siang mo-
"Huh" ejek Ling Ling.
"Dasar tak tahu malu, sudah tahu masih main
keroyok Dasar tak tahu malu"
"Diam" bentak Ti Mo sambil maju ke hadapan
Pek Giok Houw.
"Memang lebih baik kalian maju berdua, agar
menghemat waktu" ujar Pek Giok Houw.
"He he he" Ti Mo tertawa terkekeh.
"Bocah Engkau memang ditakdirkan mati hari
ini"
" Lihat saja siapa yang mati" sahut Pek Giok
Houw dingin.
"Baiklah Engkau harus berhati-hati" ujar Ti
mo sambil mengerahkan Ti mo In Kang (Tenaga sakti Iblis Bumi)nya,
kemudian menyerang Pek Giok Liong dengan jurus Ti mo seng Thian
(Iblis Bumi Naik Ke Langit). Pada waktu bersamaan, Thian Mo juga
menyerangnya dengan jurus Thian Mo Jip Ti (Iblis Langit Menyusup
keBumi).
Menghadapi kedua serangan yang dahsyat itu,
Pek Giok Houw sama sekali tidak gugup, Ditangkisnya kedua serangan
itu dengan jurus Hai Lang Yong Yong (ombak Menderu), jurus dari Bu
Kek ciang.
Baaar Terdengar suara benturan yang
memekakkan telinga. Thian Ti siang mo termundur beberapa langkah,
Pek Giok Houw mundur dua langkah-Betapa terkejutnya Thian Ti siang
mo, mereka saling memandang dan menyerang Pek Giok Houw lagi-
Thian mo dengan jurus Thian mo Hui Khong
(Iblis Langit Terbang Di Angkasa), sedangkan Ti mo dengan jurus Ti
mo Ceng Thian (Iblis Bumi Menggetarkan Langit).
Bukan main dahsyatnya kedua serangan itu,
sehingga membuat ranting pohon bergoyang-goyang dan dedaunan rontok
berterbangan ke angkasa.
Pek Giok Houw tidak mengelak, di sambutnya
kedua serangan itu dengan jurus Thian Khong Ti Khong (Langit Kosong
Bumi Kosong).
"Terjadi benturan keras lagi, Thian Ti siang
mo terpental, sejauh lima meteran, sedangkan Pek Giok Houw terdorong
mundur tiga langkah-
Wajah Thian Ti siang mo pucat pias,
tampaknya mereka berdua telah menderita luka dalam.
"Bagaimana?" tanya Pek Giok Houw.
"Aku yang akan mampus atau kalian berdua
yang akan mati?"
Pek Giok Houw mendekati mereka, siap
membunuh dengan Bu Kek Ciang.
sekonyong-koyong Thian Ti siang mo
mengayunkan tangan masing-masing, seketika juga meluncur cepat dua
benda ke arah Pek Giok Houw. Pek Giok Houw terkejut dan langsung
mengibaskan tangannya. Kedua benda itu meledak dan tampak bubuk
putih berhamburan.
"Aaakh" jerit Pek Giok Houw terkena bubuk
putih itu.
" Kakak Houw " teriak Ling Ling sambil
berlari mendekatinya.
Pek Giok Houw roboh, ia menggeliat dan
wajahnya pun mulai berubah hitam. Betapa cemasnya Ling Ling
menyaksikan itu.
" Kakak Houw Kakak Houw " jerit gadis itu
dengan wajah pucat pias-
"Hehehe" ThianTi siang mo tertawa
terkekeh-kekeh.
"Dia telah terkena racun ganas, tidak lama
lagi pasti mampus"
"Kalian curang" bentak Ling Ling.
"gadis kecil" sahut Thian mo sambil tertawa
seram.
"Engkau pun harus mampus"
Thian Ti siang mo menghampiri mereka. Pada
waktu bersamaan, melayang turun dua sosok bayangan Thian Ti siang mo
terkejut, dan ketika baru siap menyerang, kedua bayangan itu telah
meluncur pergi dengan mengapit Pek ciiong Liong dan Ling Ling di
ketiak. Ti Mo ingin mengejar, tapi dicegah oleh Thian mo dengan
kening berkerut-kerut.
"Percuma mengejar mereka, karena kita sudah
menderita luka dalam," ujar Thian mo-
"siapa kedua orang itu?" tanya Ti mo-
"Kalau tidak salah, mereka swat san Lo Jin
dan Thian san Lolo,"jawab Thian mo-
"Hah? Mereka ?" Ti mo tampak terkejut.
"Kita harus segera kembali ke Kiu Thian mo
Kiong untuk melapor pada Kiu Thian mo Cun," ujar Thian mo-
"Jangan membuang waktu di sini"
Di sebuah gubuk yang terpencil, sayup,sayup
terdengar suara isak tangis, siapa yang menangis terisak-isak itu?
Ternyata Ling Ling, ia duduk di sisi tempat tidur sambil memandang
Pek Giok Houw yang berbaring dalam keadaan pingsan.
"guru Tolonglah dia" Mohon Ling Ling dengan
air mata bercucuran.
"Mukanya semakin hitam."
"Ling Ling" Thian san Lolo menarik naIas
panjang,
" guru mau menolongnya, tapi"
"Kenapa?"
"Dia telah terkena racun ganas, guru tidak
mengerti soal racun." Thian san Lolo mengarah pada swat san Lo Jin.
"Sun Hiong, kita harus bagaimana?"
"Aku " swat san Lo Jin tampak cemas.
"Aku pun tidak tahu harus bagaimana."
"siapa yang dapat memusnahkan racun itu?"
"Hanya ada satu orang."
"siapa orang itu?"
"Cian Tok suseng."
"Dia?" Wajah Thian san Lolo berseri.
"Engkau tahu di mana dia berada?"
"Tidak tahu." swat San Lo Jin menggelengkan
kepala sambil menarik naIas panjang.
"Kalaupun tahu juga percuma."
"Kenapa?" tanya Thian san Lolo.
"sebab sudah tiada waktu untuk ke sana."
Wajah swat san Lo Jin tampak murung sekali, kemudian bergumam,
"Aku tidak menyangka nasib Pek Giok Houw
akan berakhir dengan demikian."
"Lo cianpwee, apakah kakak Houw tidak
tertolong lagi?" tanya Ling Ling dengan air mata berderai.
" Kalau dia mati, aku pun tidak mau hidup
lagi."
"Haah ?" Thin san Lolo terkejut bukan main.
"Ling Ling "
"Kakak Houw Engkau tidak boleh mati, kalau
engkau mati aku pasti ikut mati "
swat san Lo Jin mengernyitkan kening, Gadis
itu amat mencintai Pek Giok Houw, padahal Pek Giok Houw swat san Lo
Jin tidak bisa memikirkan itu lagi, sebab keadaan Pek Giok Houw
sudah kritis.
Mendadak melayang ke dalam sosok bayangan
swat san Lo Jin dan Thian san Lolo terkejut bukan main, sebab mereka
tidak mendengar suara apa pun, tahu-tahu bayangan itu telah melayang
turun.
bayangan itu ternyata orang memakai topi
rumput lebar dan kain putih penutup muka. Karena dalam keadaan panik
menyaksikan keadaan Pek Giok Houw, maka swat san Lo Jin lupa akan
ciri khas itu, ia malah mengira orang itu dari pihak Kiu Thian mo
Kiong.
oleh karena itu, ketika melihat orang itu
mendekati Pek Giok Houw, tanpa berpikir panjang lagi swat san Lo Jin
langsung menyerangnya dengan Iwee kang. Begitu pula Thian san Lolo,
ia pun mengira orang itu dari pihak Kiu Thian mo Kiong yang ingin
membunuh Pek giok Houw.
Betapa dahsyatnya serangan Iwee kang itu
dari dua jurusan, akan tetapi, orang itu tetap melangkah mendekati
Pek giok Houw, hanya mendadak sekujur badan orang itu memancarkan
cahaya putih-
Pada waktu bersamaan, Thian san Lolo dan
swat san Lo Jin pun terpental jatuh duduk.-Mereka terbelalak dengan
mulut ternganga lebar saking kagetnya, tapi keduanya masih bisa
bangkit- Namun saking kagetnya, membuat tetap duduk di lantai dan
memandang orang itu dengan mata tak berkedip-
"Mau apa engkau?" bentak Ling Ling.
"Nona, aku akan menolong kekasihmu," sahut
orang itu dengan ilmu menyampaikan suara, lalu secepat kilat menotok
beberapa jalan darah di tubuh Pek giok Houw- setelah itu, ia pun
memasukkan sebutir obat ke dalam mulutnya, kemudian berkata pada
Ling Ling dengan ilmu menyampaikan suara.
"Nona, setengah jam kemudian kekasihmu pasti
sadar dan sembuh-"
Usai berkata begitu, tanpa membalikkan
badan, orang itu langsung meluncur pergi bagaikan meteor-
"Haah ?" Mulut swat san Lo Jin dan Thian san
Lolo ternganga lebar lagi menyaksikannya -
"guru, locianpwee" seru Ling Ling.
"Kok masih duduk di lantai?"
"Eeeh?" Wajah swat san Lo Jin dan Thian san
Lolo memerah, mereka segera bangkit berdiri
"sun Hiong" ujar Thian san Lolo.
"Jangan-jangan kita melihat hantu"
"Guru" sahut Ling Ling.
" orang itu bukan hantu, mungkin dia
pendekar misterius "
"Haah" swat san Lo Jin menepuk keningnya
sendiri
"Tidak salah, dia pasti pendekar misterius.
Dia memakai topi rumput lebar dan menutup mukanya dengan kain putih
"
"Guru Dia tadi memasukkan sebutir obat ke
mulut Kakak Houw, katanya setengah jam kemudian Kakak Houw akan
sadar dan sembuh"
"Kapan dia bicara denganmu?" tanya Thian san
Lolo heran.
"Eh?" Ling Ling tertegun.
"Dia bicara dengan suara begitu keras, kok
guru tidak mendengarnya? "
"Dia pasti menggunakan ilmu menyampaikan
suara," ujar swat san Lo Jin.
"Tapi "
"Kita harus memperhatikannya, tidak melihat
bibirnya bergerak " sambung Thian san
"Li Hoa" swat San Lo Jin tertawa.
"Bibirnya tertutup kain putih, bagaimana
mungkin kita melihat bibirnya?"
"Aku " Wajah Thian san Lolo kemerah-merahan.
"sungguh tinggi ilmu penyampai suaranya itu"
ujar swat San Lo Jin.
"sebab kita sama sekali tidak bisa menangkap
suaranya itu."
"Heran?" gumam Thian san Lolo.
"Kenapa sekujur badannya bisa memancarkan
cahaya putih dan membuat serangan Iwee kang kita berbalik? Kalau dia
ingin membunuh kita tentunya gampang sekali, siapa lo cianpwee itu?"
"Guru" sahut Ling Ling.
"Dia bukan lo cianpwee-"
"Kok engkau tahu?" tanya Thian san Lobo
heran.
"Sebab dia memanggilku nona, maka aku yakin
dia bukan lo cianpwee-" Ling Ling memberitahukan.
"Mungkin dia masih muda."
"Masih muda?" Thian san Lolo mengernyitkan
kening.
"siapa dia? sungguh membingungkan"
"Memang membingungkan." swat san Lo Jin
menggeleng-gelengkan kepala-
setelah hampir setengah jam, muka Pek Giok
Houw yang kehitam-hitaman itu mulai berubah- Berselang sesaat,
badannya pun mulai bergerak-
"Guru" seru Ling Ling girang.
"Kakak Houw"
swat san Lo Jin dan Thian san Lolo segera
mengarah pada Pek Giok Houw. Muka Pek Giok Houw sudah tampak seperti
biasa dan segar. Perlahan-lahan ia membuka sepasang matanya, dan
ketika melihat swat san Lo Jin, ia pun langsung melompat turun
sekaligus berlutut di hadapannya.
"guru guru"
" Giok Hauw" swat san Lo Jin tertawa
gembira.
"Bangunlah"
Pek Giok Houw segera bangkit berdiri, dan
Ling Ling langsung mendekatinya dengan wajah berseri-
"Kakak Houw" panggilnya sambil tersenyum-
"Ling Ling "Pek Giok Houw girang sekali-
" Giok Houw, cepat beri hormat pada Thian
san Lolo, dia adalah guru Ling Ling" ujar swat san Lo Jin.
"Lo cianpwee, terimalah hormatku" ucap Pek
Giok Houw sambil memberi hormat pada Thian san Lolo.
"syukurlah" Thian san Lolo tersenyum.
"Engkau telah selamat"
"Terima kasih atas pertolongan lo cianpwee
dan guru" ucap Pek Giok Houw.
"Giok Houw" swat san Lo Jin menatapnya.
"Memang kami berdua yang membawamu ke mari,
namun yang menyembuhkanmu bukanlah kami."
"siapa yang menyembuhkan Giok Houw, Guru?"
tanya Pek Giok Houw heran.
"Dia pendekar misterius," sahut Ling Ling.
"Dia dia sungguh hebat"
"Pendekar misterius?" Pek Giok Houw
tertegun.
"Guru kenal dia?"
"Tidak kenal." swat san Lo Jin menggelengkan
kepala-
"dia muncul mendadak di sini, lalu
menyembuhkanmu dari racun ganas itu- Kalau tidak, mungkin engkau
sudah mati sekarang."
"Di mana pendekar misterius itu sekarang?"
"Dia sudah pergi," sahut Ling Ling.
"Aaakh" Keluh Pek Giok Houw.
"Giok Houw masih belum menghaturkan terima
kasih padanya."
"Giok Houw Mendadak swat san Lo Jin
menatapnya dalam-dalam.
"Cara bagaimana engkau bertemu Ling Ling?"
"Kami" Pek Giok Houw segera memberitahukan.
"oooh" swat san Lo Jin manggut-manggut.
"Giok Houw, untung kami muncul tepat pada
waktunya. Kalau tidak, kalian berdua pasti sudah di bunuh Thian Ti
siang mo-"
"Gutu, padahal aku sudah merobohkan mereka,
tetapi mereka lalu menggunakan racun."
"Benar." swat san Lo Jin manggut-manggut.
"oleh karena itu, lain kali engkau harus
berhati-hati. setiap pertarungan, pasti ada kecurangan."
"ya. Guru." Pek Giok Houw mengangguk,-
"Li Hoa Tolong ajak Ling Ling keluar dulu
Aku ingin bicara empat mata dengan muridku ini," ujar swat san Lo
Jin pada Thian san Lolo.
"Ling Ling Mari kita ke depan dulu, mereka
mau membicarakan sesuatu yang rahasia." Thian san Lolo seoera
menarik Ling Ling keluar.
"Giok Houw" bisik swat san Lo Jin.
"Ling Ling kelihatan amat mencintaimu.
Engkau harus bagaimana?"
"Guru" Wajab Pek Giok Houw, tampak murung,
"sebaiknya Gurujangan memberitahukan pada
mereka tentang diriku yang "
"Baiklah-" swat san Lo Jin manggut-manggut
sambil menarik naIas panjang.
"Aku harap engkau baik-baik mengatasi
persoalan ini"
"ya. Guru." Pek Giok Houw mengangguk"
"Giok Houw, mari kita semua berangkat ke
markas Pusat Kay Pang untuk menunggu kedatangan pihak Pulau Pelangi"
ujar swat san Lo jin.
"Kita berunding di sana saja."
"ya, Gutu." Pek Giok Houw mengangguk lagi.
Betapa murkanya Kiu Thian mo Cun ketika
menerima laporan dari Thian Ti siang mo-sepasang matanya menyorotkan
sinar yang berapi-api-
Jadi kedua orang itu swat san Lo Jin dan
Thian san Lolo?" tanya Kiu Thian mo Cun berang.
"ya, Mo Cun." Thian mo mengangguk-
"Kalau mereka berdua tidak muncul, Pek Giok
Liong dan gadis itu pasti sudah mati di tangan kami-"
"Hmm" dengus Kiu Thian mo Cun dingin-
"Mereka berdua berani cari gara-gara
denganku"
"Tapi " sela Ti Mo- "Kami yakin Pek Giok
Liong itu pasti mati, sebab dia telah terkena racun ganas-"
"Ngmm" Kiu Thian mo Cun manggut-manggut.
"Ohya, bagaimana luka kalian?"
"Tidak begitu parah, beristirahat beberapa
hari pasti sembuh,"jawab Thian mo dengan hormat.
"Begini Mulai sekarang aku akan menurunkan
ilmuku pada kalian" ujar Kiu Thian mo Cun lantang.
"Jadi kalian bisa menghadapi swat san Lo Jin
atau Thian san Lolo."
"Terima kasih, Mo Cun" sahut mereka serentak
dengan penuh kegirangan.
"Mulai sekarang kalian harus giat berlatih"
lanjut Kiu Thian mo Cun sungguh-sungguh-
"Setelah itu kita akan menyerang Partai Kay
Pang."
"Mo Cun" ujar Thian mo-
"Kita pun harus menghadapi pendekar
mistetius itu."
"Hmm" dengus Kiu Thian mo Cun.
"Dia pasti tidak mampu melawan Hek sim Tok
Ciangku. oleh karena itu, mulai sekarang aku akan menurunkan Hek sim
sin Kang pada kalian berdua." "Terima kasih, Mo Cun" ucap Thian Ti
siang mo serentak-
"Kalian tidak tahu berada di mana pendekar
misterius itu?" tanya Kiu Thian mo Cun.
"Kami tidak tahu,"jawab Thian mo-
"Lagipula sudah cukup lama dia menghilang."
"Aku yakin dia tidak menghilang, hanya
mungkin berada di suatu tempat yang rahasia.
"Tapi kenapa dia tidak muncul lagi?" Kiu
Thian mo Cun mengernyitkan kening.
"Itu memang mengherankan," ujar Ti mo-
"Mungkinkah dia sedang menyelidiki kekuatan
kita?"
"Mungkin." Kiu Thian mo Cun manggut-manggut.
"Tapi itu tidak perlu dikhawatirkan. Aku
malah berharap dia ke mari."
" Kalau dia berani ke mari, berarti cari
mati." Thian mo tertawa.
"sebab banyak jebakan di sini."
"Betul. Ha ha ha" Kiu Thian mo Cun tertawa
gelak-
"Maka aku yakin dia tidak berani ke mari-"
(Bersambung bagian 61)
Bagian ke 61: Kedaratan Tengah
Se Pit Han duduk termenung di dalam
kamarnya. Gadis itu tampak semakin kurus, sehingga mencemaskan Se
Ciang cing dan istrinya. Mereka btreiua terus menerus menghiburnya,
namun Se Pit Han tetap tampak murung.
"Pit Han Sudahlah Jangan- memikirkan Giok
Liong lagi, sebab dia sudah tiada," ujar Se Ciang Cing sambil
memandangnya.
"Ayah Aku" Mata Se Pit Han mulai basah.
"Aku ingin jadi biarawati."
"Nak" Se Ciang cing tersentak mendengar
ucapan puterinya.
"Nak" Nyonya Se Ciang cing membelainya.
"Engkau tidak perlu jadi biarawati, tetaplah tinggal di Cai Hong To
ini saja"
"Aku aku tidak bisa tenang, bayangan adik
Liong masih sering muncul di pelupuk mataku. Aaakh Alangkah baiknya
kalau aku mati di waktu itu"
"Nak" Nyonya Se Ciang cing menarik nafas.
"Ohya, ibu dan ayah telah berjanji pada swat
San LoJin, akan mengutus beberapa orang ke daratan Tengah untuk
bergabung dengan Kay Pang. Engkau mau ke daratan Tengah menemui adik
Houw-mu itu?"
"Benar," sahut Se Pit Han dengan mata
membara.
"Aku harus membalas dendam adik Liong"
"Jadi engkau mau ke daratan Tengah?" tanya
Se Ciang cing.
"ya." se Pit Han mengangguk-
" Kalau begitu, ayah harus mengutus se Khi,
Thian Koh sing, Thian Kang sing, si Kim Kong, lima pelindung pulau,
Pat Kiam dan sepasang pengawal menyertaimu. Bagaimana?"
"Terima kasih, Ayah" ucap se Pit Han.
" Kapan engkau akan berangkat?" tanya Nyonya
se Ciang Cing.
"Besok pagi,"jawab se Pit Han.
"Nak" se Ciang Cing menatapnya.
"Besok pagi ayah akan menghadiahkan baju
wasiat padamu?"
"Apa?" se Pit Han terkejut.
"Bukankah ayah yang harus memakai baju
wasiat itu?"
"Nak, sudah waktunya ayah berikan padamu,"
se Ciang Cing tersenyum.
"engkau harus tahu, baju wasiat itu tahan
bacok dan tahan terhadap pukulan apa pun."
"Terima kasih, Ayah" ucap se Pit Han, namun
kemudian menggeleng-gelengkan kepala seraya bertanya,
"Kenapa dulu Ayah tidak memberikan pada adik
Liong? Kalau Ayah berikan padanya, mungkin "
"Pit Han" se Ciang Cing tersenyum getir.
"engkau harus tahu, pada waktu itu,
kepandaian Giok Liong sudah begitu tinggi, dia tidak membutuhkan
baju wasiat ini lagi. Kalaupun dia pakai baju wasiat ini juga tidak
bisa melindungi dirinya dari serangan Hek sim TOk Ciang."
"Kenapa?"
"Baju wasiat ini cuma melindungi bagian
dada, punggung dan perut- sedangkan Hek sim TOk Ciang merupakan
pukulan yang amat beracun, oleh karena itu " se Ciang Cing menarik
nafas.
"Tentunya engkau mengerti kan?"
"ya." se Pit Han mengangguk-
"Kalau begitu, percuma saja pakai baju
wasiat ini."
"Itu tidak percuma, sebab masih bisa
melindungimu dari serangan gelap," sahut se Ciang Cing.
"Besok pagi sebelum berangkat, engkau harus
memakai baju wasiat ini."
"ya. Ayah-"
"ohya" se Ciang Cing teringat sesuatu.
"Ai Lan, ibu angkat Giok Houw juga harus
ikut ke Daratan Tengah, sebab dia kelihatan sudah rindu sekali pada
Giok Houw-"
"Baik, Ayah-" se Pit Han mengangguk-
Keesokan harinya, berangkatlah mereka menuju
Daratan Tengah- sungguh diluar dugaan, di tengah jalan rombongan
pulau Pelangi itu bertemu Thiat jiau Kou Hun song yauw Tong.
"Nona se" Thiat jiau Kou Hun memberi hormat
pada se Pit Han dan lainnya.
"Sungguh tak terduga, kita bertemu di sini"
"Benar-" se Pit Han mengangguk-
"song tayhiap mau ke mana?"
"Aaakh" Thiat jiau Kou Hun menarik nafas
panjang.
"Sebetulnya aku sudah hidup tenang di Kwan
Gwa, tapi belum lama ini aku dengar tentang ketua panji"
"Pek Giok Liong " Mata se Pit Han bersimbah
air.
"Dia dia sudah tiada, terpukul jatuh ke
jurang oleh Kiu Thian mo Cun."
Jadi " Wajah Thiat jiau Kou Hun tampak
berduka.
"Ketua panji benar sudah mati?"
"Benar-"
"Nona se, apakah benar Kiu Thian mo Cun itu
masih hidup?"
"Aku kurang jelas tentang itu, namun
kepandaiannya amat tinggi." se Pit Han memberitabukan.
"Terutama Hek sim Tok Ciangnya."
"ohya Aku dengar" Thiat jiau Kou Hun
memandang se Pit Han.
"Pek Giok Liong telah muncul lagi di bu lim,
benarkah itu?"
"Dia bukan Pek Giok Liong, melainkan Pek
Giok Houw, adik kembar Pek Giok Liong." se Pit Han menjelaskan dan
menutur tentang Pek Giok Houw.
"oooh" Thiat jiau Kou Hun manggut-manggut.
"Ternyata begitu. oh y a, aku pun dengar
tentang kemunculan pendekar misterius. Nona se tahu siapa pendekar
misterius itu?"
"Tiada seorang pun yang tahu siapa dia,"
jawab se Pit Han dan bertanya,
"song tayhiap mau ke mana?"
"Aku juga bingung, entah mau ke mana," sahut
Thiat jiau Kou Hun sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Mungkin aku akan ke Kiu Thian mo Kiong
mencari Kiu Thian Mo Cun itu"
"song tayhiap" usul se Pit Han.
"Lebih baik bergabung dengan kami, sebab
kami sedang menuju ke Markas Kay Pang."
"Baiklah." Thiat jiau Kou Hun mengangguk,
lalu bergabung dengan rombongan pulau Pelangi itu menuju ke Markas
Pusat Partai Pengemis.
-ooo00000ooo-
Ketua dan Tetua Kay Pang menyambut
kedatangan mereka dengan penuh kegembiraan, terutama Pek Giok Houw
yang memang sudah amat rindu pada ibu angkatnya.
"Ibu " panggil Pek Giok Houw dengan mata
bersimbah air saking girangnya-
"Nak," Hek Ai Lan tersenyum lembut, namun
betapa kagetnya ketika melihat Thian San Lolo. Ia segera berlutut,
"guru "
"Ai Lan" Thian san Lolo tersenyum.
"Bangunlah"
"Guru, ampunilah murid karena sudah belasan
tahun tidak mengunjungi Guru, murid mohon ampun" Hek Ai Lan
terisak-isak-
"Guru telah mengampunimu, bangunlah" ujar
Thian san Lolo.
"Terima kasih, Guru" Hek Ai Lan bangkit
berdiri
"Ai Lan" Thian san Lolo tersenyum.
"Dia Ling Ling, adik seperguruanmu."
"oh?" Hek Ai Lan segera memandang Ling Ling
yang cantik jelita itu.
"sumoi ?"
"suci (Kakak seperguruan), Ling Ling memberi
hormat padamu" ucap Ling Ling sambil memberi hormat pada Hek Ai Lan.
"Sumoi" Hek Ai Lan langsung terkesan baik
padanya, namun ada satu hal yang membuatnya cemas, yakni Ling Ling
tampak begitu akrab dengan Pek Giok Houw.
"Ini bagaimana sih?" Mendadak swat san LoJin
menggaruk-garuk kepala.
"Pek Giok Houw muridku, tapi dia adalah anak
angkat Hek Ai Lan. sedangkan Ling Ling adik seperguruan Hek Ai Lan.
Lalu mereka harus saling memanggil apa?"
"Kenapa repot?" ouw yang seng Tek tertawa.
"Pek Giok Houw tetap panggil ibu pada Hek Ai
Lan, sedangkan Ling Ling tetap Kakak Houw pada Pek Giok Houw, beres
kan?"
"jangan terlampau terikat oleh suatu
peradaban yang tak perlu, maka aku setuju apa yang dikatakan Tetua
Kay Pang," ujar Thian san Lolo.
"Benar-" swat san Lo Jin tertawa.
"Ei" Sela Se Khi mendadak-
"Pengemis bau, apakah Markas Pusat Kay Pang
ini dapat menampung kami semua?"
"Jangan khawatir" ouw yang seng Tek tertawa,
"sebelum kalian sampai di sini, kami telah
menyiapkan beberapa kamar untuk kalian."
"Kalau begitu, aku menghaturkan terima kasih
padamu, pengemis bau" ucap se Khi. 'se tua' ouw yang seng Tek
tertawa gelak-
"Kok engkau jadi sungkan?"
"Bukan sungkan." se Khi tertawa
terbahak-bahak-
"Melainkan merasa kurang enak merepotkan
kalian Partai Kay Pang."
"sama sekali tidak." sahut ouw yang seng Tek
sungguh-sungguh.
"Kita bergabung justru punya tujuan sama,
yakni menumpas Kiu Thian mo Cun."
"Pengemis bau, se Khi menatapnya seraya
bertanya,
"Bagaimana dengan pendekar misterius itu?
Apakah pihak Kay Pang sudah memperoleh kabar beritanya?"
"swat san LoJin, Thian san Lolo dan Ling
Ling sudah bertemu pendekar misterius itu," jawab ouw yang seng Tek-
"Untuk jelasnya, lebih baik engkau bertanya
pada yang bersangkutan."
"oh?" se Khi segera mengarah pada Swat san
LoJin.
"Kami bertiga memang telah melihat pendekar
misterius itu," ucap Swat San LoJin.
"Kalau pendekar misterius itu tidak muncul
tepat di waktu itu, kini Pek Giok Houw pasti sudah mati."
"Apa?" se Pit Han terkejut.
"Kenapa adik Houw waktu itu?"
"Aku dan Ling Ling bertemu Thian Ti siang
Mo- Aku bertarung dengan mereka berdua." tutur Pek Giok Houw.
"Aku dapat merobohkan mereka, tapi Thian Ti
siang Mo itu mempergunakan racun. Di saat itulah muncul guru dan
Thian san Lolo menolongku serta Ling
Ling."
"Engkau keracunan?" se Pit Han manatapnya.
"Benar, Kakak Han," sahut Ling Ling.
"Guru dan swat san LoJin membawa kami ke
sebuah gubuk, tapi- Kakak Houw telah pingsan, bahkan tangan dan
kakinya berubah hitam "
"saat itu ," sambung swat san LoJin.
"Pek Giok Houw sudah gawat sekali justru di
saat itu mendadak muncul seseorang memakai topi rumput lebar dan
menutup mukanya dengan kain putih. Aku tidak menduga bahwa dia
pendekar misterius, maka ketika dia mendekati Giok Houw, aku pun
langsung menyerangnya dengan tenaga dalam "
"Ketika aku melihat dia menyerang orang itu
dengan tenaga dalam, aku pun menyerangnya dengan tenaga dalampula."
tambah Thian san Lolo.
"Apa?" se Khi terbelalak.
"Kalian berdua menyerangnya dengan tenaga
dalam? Bagaimana mungkin dia dapat bertahan?"
"Justru telah terjadi sesuatu yang amat
mengherankan," sahut swat san LoJin dan melanjutkan,
"Mendadak sekujur badan orang itu
memancarkan cahaya putih dan seketika juga kami berdua
terpentaljatuh duduk di lantai"
"Haah ?" Betapa terkejutnya se Khi.
"Sekujur badannya memancarkan cahaya putih?"
"ya." swat san LoJin mengangguk-
"Hingga saat ini kami berdua tidak habis
berpikir tentang itu-"
"Aku yakin, itu semacam ilmu," ujar se Khi-
"Akupun menduga begitu, namun" swat San
LoJin menggeleng-gelengkan kepala,
"Ilmu apa itu?"
"Setelah itu bagaimana?" tanya se Pit Han.
"Dia menotok beberapa jalan darah di tubuh
Pek Giok Houw, kemudian memasukkan sebutir obat ke mulutnya,"jawab
Thian san Lolo.
"Bahkan orang itu pun sempat berkata pada
Ling Ling"
"Benar." Ling Ling mengangguk-
"Dia memanggilku nona dan katanya, setengah
jam kemudian Kakak Houw pasti sadar dan sembuh-"
"Dia memanggilmu nona?" se Pit Han
mengernyitkan kening.
"Kalau begitu, dia pasti belum tua."
"Betul-" Ling Ling tertawa.
"Aku pun berpendapat begitu. Kalau dia sudah
tua, tidak mungkin memanggilku nona, kan?"
"Heran?" gumam se Pit Han.
"siapa pendekar misterius itu? Kenapa dia
harus menutup mukanya dengan kain?"
"sulit diduga siapa dia," kata Swat San
LoJin.
"Lagi pula ilmu peringan tubuhnya sungguh
mengejutkan. Dari dalam gubuk dia mampu meluncur pergi secepat
kilat."
"siapa pendekar misterius itu?" se Khi
mengerutkan kening.
"Kenapa dia tidak ke Kiu Thian mo Kiong
mencari mo Cun?"
"Mungkin dia tidak bemusuhan dengan Kiu
Thian mo Cun," sahut swat san LoJin.
"Tapi kita pun harus bersyukur bahwa dia
bukan musuh kita. Kalau dia musuh kita, celakalah kita semua."
"Dia telah membunuh Jin Pin Mo Kun, Ling
Ming Cun cia, Hgo Tok Ceng Kun, Siau Mo Cun dan lainnya, Itu membuat
Kiu Thian mo Cun murka sekali, maka dia memberi perintah pada tujuh
partai besar untuk mencari pendekar misterius itu, sekaligus
membunuhnya." ouw yang seng Tek memberitahukan. "Tapi pendekar
misterius itu justru menghilang entah ke mana? Hingga kini tiada
kabar beritanya lagi-"
"Dia menghilang?" tanya se Khi-
"Kenapa menghilang?"
"Ha ha ha" ouw yang seng Tek tertawa gelak-
"se tua Tiada seorang pun bisa menjawabnya -
"
"Lalu apa tindakan kita sekarang?" tanya se
Khi.
"Lebih baik kalian beristirahat dulu- Kita
harus bertindak bagaimana, akan dirundingkan nanti" sahut ouw yang
seng Tek-
"Kalau begitu, kami akan beristirahat dulu,"
ujar se Khi.
Rombongan Pulau Pelangi berjalan ke dalam,
ouw yang seng Tek menunjuk kamar ini dan itu.
Hek Ai Lan, se Pit Han, Giok Cing dan Giok
Ling sama-sama dalam satu kamar. Ketika memasuki kamar itu, Hek Ai
Lan pun menarik Pek Giok Houw ke dalam- Ling Ling tidak mau
ketinggalan, ia pun langsung masuk.
"Ling Ling" Hek Ai Lan tersenyum lembut.
"Engkau dan siang wie ke depan dulu, kami
bertiga ingin membicarakan sesuatu."
" Eh? Bibi " Ling Ling memanggil Hek Ai Lan
bibi, itu telah disetujui swat san LoJin dan Thian san Lolo.
"Ling Ling" Pek Giok Houw menatapnya.
"Engkau harus menurut pada ibu angkatku"
"ya. Kakak Houw" Ling Ling menurut dan
segera keluar diikuti Giok Cing serta Giok Ling.
"Nak" Hek Ai Lan menatapnya.
" Engkau dan Ling Ling saling mencintai?"
"Ibu " Wajah Pek Giok Houw tampak murung.
"Kami memang saling mencinta, namun Giok
Houw tahu "
"Engkau tidak ingin menyakiti hati Ling Ling
kan?« tanya se Pit Han.
"ya." Pek Giok Houw mengangguk.
"Kalau aku beritahukan sekarang, aku
khawatir akan terjadi sesuatu atas dirinya, lantaran merasa kecewa."
" Kalau begitu bagaimana caramu mengatasinya
nanti?" Hek Ai Lan menatapnya dalam-dalam.
"Setelah kita berhasil membasmi Kiu Thian mo
Cun, aku akan berterus terang padanya, sekarang lebih baik jangan,
sebab kita harus menghadapi Kiu Thian mo Cun, jangan menimbulkan hal
lain"
"Ngmm" Hek Ai Lan manggut- manggut.
"Nak. itu sudah merupakan takdir, sebelumnya
ka sudah menyuruhmu untuk memikirkan baik-baik, agar tidak
menyesal."
"Aku tidak menyesal, hanya saja " Pek Giok
Houw menarik nafas.
"Aku sama sekali tidak menyangka akan
bertemu Ling Ling."
"Adik Houw, kenapa engkau tidak
menghindarinya pada waktu itu?" tanya se Pit Han mendadak-
"Aku sudah berusaha menghindarinya, tapi tak
disangka kami bertemu di rumah penginapan lagi," jawab Pek Giok Houw
memberitahukan.
"Aaakh " Keluh se Pit Han. «Padahal dia
gadis yang baik dan cantik jelita, memang cocok dan serasi denganmu,
namun"
"Kakak Han" Wajah Pek Giok Houw tampak
murung sekali.
"Aku aku "
"Kami tahu, engkau amat menderita dalam hal
ini" ujar Hek Ai Lan.
"Tapi bia bagaimana pun engkau harus tabah."
"ya." Pek Giok Houw mengangguk-
"Ibu. Kakak Han, lebih baik aku ke luar
sekarang menemuinya. Kalau lama-lama di sini, mungkin akan
menimbulkan kecurigaannya-"
"Baiklah.." Hek Ai Lan mengangguk-
"Kalau dia bertanda kita membicarakan apa,
jawab saja kami berdua menanyakan tentang dirinya-"
"ya-" Pek Giok Houw mengangguk, lalu
meninggalkan kamar itu dengan kepala tertunduk-
"Kakak Houw" seru Ling Ling sambil
berlari-lari menghampirinya-
"Kok lama sih kalian bercakap-cakap di dalam
kamar?"
"Memang agak lama," sahut Pek Giok Houw.
"Apa sih yang kalian bicarakan?" Ling Ling
menatapnya, dan tampak bercuriga.
"Ibu angkat dan kakak misanku itu bertanya
padaku tentang dirimu," jawab Pek Giok Houw sambil tersenyum.
"Tentang apa?"
"Tentang kita bertemu di mana. sudah berapa
lama kita berkenalan dan lain sebagainya."
"Oh, ya?" Ling Ling tertawa geli-
"Begitu teliti ibu angkat dan kakak misanmu
itu"
"Itu berarti mereka memperhatikan kita."
"ohya Kakak misanmu itu cantik sekali, terus
terang dia jauh lebih cantik dariku."
"Ling Ling" Pek Giok Houw
menggeleng-gelengkan kepala,
"selama ini aku tidak pernah menceritakan
padamu, sekarang aku harus menceritakan."
"Mengenai apa?" Ling Ling tampak agak
tegang.
"Kakak misanku itu amat mencintai..... "
"Mencintaimu?" Wajah Ling Ling langsung
berubah pucat.
"Engkau pun mencintainya? Lalu aku
bagaimana?"
"Ling Ling" Pek Giok Houw tersenyum.
"Jangan memotong ucapanku, kakak misanku itu
amat mencintai Kakak Liong, tapi kakak Liong sudah tiada "
"Oh?" Ling Ling menarik nafas lega.
"Kakak Houw, maaf ya aku tadi salah paham"
"Ling Ling" Pek Giok Houw menatapnya
dalam-dalam.
"Seandainya aku mati bertarung melawan Kiu
Thian mo Cun, bagaimana engkau?"
" Aku pasti bunuh diri" sahut Ling Ling
tanpa berpikir lagi, bahkan tampak berniat begitu.
"Ling Ling " Terharu dan cemas dalam hati
Pek Giok Houw, apa yang akan terjadi, kalau Ling Ling tahu dirinya
mati syahwat?
"Kakak Houw, aku" Wajah Ling Ling
kemerah-merahan.
"Aku cuma mencintaimu, engkau hidup aku
hidup, engkau mati aku pun pasti mati."
"Ling Ling " Pek Giok Houw nyaris menangis
seketika, betapa tersiksa hatinya ketika mendengar apa yang
dikatakan Ling Ling yang merupakan ikrar itu.
-ooo00000ooo-
Di kaki gunung yang amat indah itu, tampak
sebuah sungai kecil. Airnya yang begitu bening terus mengalir.
Terdengar cula kicauan burung yang sangat nyaring dan merdu,
sayup,sayup terdengar suara seruling
mengiringi suara kicauan burung, sehingga sangat menyedapkan
telinga, seorang lelaki berusia empat puluhan duduk di atas batu di
dekat sungai itu. Tria tersebut sedang meniup seruling.
sekonyong-konyong melayang turun seseorang
dihadapannya. Betapa kagetnya pria itu, ia langsung meloncat bangun
sambil menatap orang yang berdiri di hadapannya, memakai topi rumput
lebar dan mukanya ditutupi kain putih.
"siapa Anda? Mau apa ke mari?" tanya pria
itu was-was.
"Cian Tok suseng Aku utusan dari Kiu Thian
mo Cun" sahut orang itu.
"Apa?" Lelaki berusia empat puluhan yang
ternyata Cian Tok suseng itu terbeliak-
"Engkau utusan Kiu Thian mo Cun? Bagaimana
mungkin Kiu Thian mo Cun masih hidup?"
"He he he" orang itu tertawa terkekeh-kekeh.
"cian Tok suseng, usianya sudah berusia
seratus lebih dikit, kok masih tampak begitu muda? Nah, engkau bisa
awet muda, tentunya Kiu Thian mo Cunjuga bisa hidup hingga
sekarang."
"Tapi Kiu Thian Mo Cun "
"Dia tidak mati terpukul kejurang oleh seng
sim Tayhiap, sebaliknya malah masih hidup sampai sekarang, bahkan
juga telah menguasai rimba persilatan."
"oh?" Cian Tok suseng terkejut bukan main.
"Kiu Thian mo Cun telah berhasil memukul Pek
Giok Liong kedalam jurang "
"Apa?" Wajah Cian Tok suseng berubah pucat
pias.
"Maksudmu Pek Giok Liong telah mati?"
"Ya." orang itu mengangguk-
"sejak Pek Giok Liong berhasil membunuh
siang Hiong sam Kuai, engkau pun hidup mengasingkan diri di sini.
Akan tetapi, tidak lama kemudian, muncullah Kiu Thian mo Cun."
"Giok Liong, ketua panji" sepasang mata Cian
Tok suseng tampak bersimbah air-
"siau Hui Ceh dan cing li telah mati di
tangan Kiu Thian mo Cun "
"Bagaimana dengan Nona se?" tanya Cian Tok
suseng cepat dan cemas.
"Dia berhasil meloloskan diri kembali ke Cai
Hong to-" orang itu memberitahukan.
"Kini tujuh partai besar telah takluk pada
Kiu Thian mo Kiong, engkau hidup menyendiri di sini, tentunya tidak
tahu akan hal itu."
"oh?" Cian Tok suseng menarik nafas lega
ketika mendengar se Pit Han dapat meloloskan diri kembali ke Pulau
Pelangi, tapi terkejut bukan main begitu mendengar bahwa tujuh
partai besar telah takluk pada Kiu Thian mo Kiong.
"Kiu Thian mo Kiong?"
"Dulu Bunjiu Kiong atau Tay Tie Kiong, namun
kini telah dijadikan Kiu Thian mo Kiong."
"Lalu apa tujuanmu ke mari?" tanya Cian Tok
suseng sambil menatapnya tajam.
"Karena Kiu Thian mo Kiong kekurangan tenaga
ahli racun, maka tenagamu amat dibutuhkan di sana,"jawab orang itu
dan menambahkan,
"engkau tahu maksudku kan?"
"Maksudmu ingin menarikku ke sana?"
"Tidak salah-"
"Hm" dengus cian Tok suseng dingin-
"Engkau jangan bermimpi di siang hari
bolong"
"Engkau menolak?"
"ya-"
"Engkau harus tahu, kalau engkau mengabdi
pada Kiu Thian mo cun, hidupmu pasti senang "
"Aku sudah cukup senang hidup di tempat ini,
tidak perlu kesenangan lain lagi." tandas Cian Tok suseng.
"Jadi aku harus meringkusmu?"
"Engkau ingin meringkusku?" cian Tok suseng
tertawa gelak-
"Tahukah engkau, tubuhmu telah keracunan?"
"Tubuhku telah keracunan?" orang itu tertawa
terbahak-bahak-
"Itu omong kosong"
"Kalau engkau tidak percaya, cobalah engkau
tarik nafasmu dalam-dalam" ujar cian Tok suseng.
orang itu menarik nafas dalam-dalam, Cian
Tok suseng memperhatikannya, namun keningnya tampak berkerut.
"Aku telah menarik nafas dalam-dalam, sama
sekali tidak merasa ada gejala keracunan."
"sebelum engkau ke mari, engkau sudah makan
obat pemunah racun?" tanya Cian Tok suseng terbelalak-
"sama sekali tidak-" orang itu tertawa.
"Perlu engkau ketahui, aku kebal terhadap
racun ganas apa pun"
"oh?" cian Tok suseng terkejut.
"Nah sekarang engkau harus ikut aku ke Kiu
Thian mo Kiong" tegas orang itu
"Jangan sampai aku turun tangan terhadapmu"
"Ha ha ha" Cian Tok suseng tertawa-
"Engkau ingin memaksaku?"
"ya."
"Engkau tidak bisa memaksaku" ujar cian Tok
suseng.
"Aku cuma turut pada perintah ketua panji.
Kalau engkau memaksaku untuk bergabung dengan Kiu Thian mo Kiong,
lebih baik aku mati"
"Engkau telah berhadapan denganku, maka
engkau tidak bisa mati." ujar orang itu.
"sebab sebelum engkau berbuat sesuatu, aku
pasti bergerak cepat "
"Aku tahu kepandaianmu tinggi sekali, tapi
jarak kita dua meter lebih, maka engkau tidak bisa berbuat sesuatu"
cian Tok suseng tertawa, kemudian mendadak ia meroboh ke dalam
bajunya mengambil sesuatu, setelah itu secepat kilat ia menggerakkan
tangannya ke mulutnya sendiri-
Akan tetapi, tiba-tiba orang itu
menyentilkan telunjuknya dan seketika juga tangan Cian Tok suseng
tidak bisa bergerak lagi-
"cian Tok suseng" orang itu tertawa gelak-
"Jari tanganku lebih cepat kan?"
"Engkau " Cian Tok suseng menatapnya dengan
mata berapi-api.
"Pokoknya aku tidak mau bergabung dengan Kiu
Thian mo Kiong"
"Barusa n engkau mau berbuat apa?" tanya
orang itu.
"Aku ingin bunuh diri dengan menelan racun"
sahut Cian Tok suseng.
"Kenapa engkau begitu nekad?" orang itu
menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku sudah bilang, pokoknya aku tidak mau
bergabung dengan Kiu Thian mo Kiong. Karena engkau memaksaku, maka
lebih baik aku bunuh diri"
"Cian Tok suseng, kenapa engkau begitu setia
pada Pek Giok Liong? Padahal dia sudah mati"
"Aku memang harus setia padanya, sebab dia
pernah melepaskan budinya padaku Lagi pula kalau aku bergabung
dengan Kiu Thian mo Kiong, tentunya secara tidak langsung akan
melakukan kejahatan, aku tidak menghendaki itu"
"Maka engkau mau bunuh diri?"
"Bagus Bagus" orang itu tertawa gelak lalu
mendadak ia mengeluarkan suatu benda, yaitu jit Goat seng sim Ki.
"cian Tok suseng, lihatlah apa ini?"
"Haah ?" Wajah Cian Tok suseng berubah pucat
pias.
"Teecu menghadap panji dan memberi hormat
pada ketua"
"cian Tok suseng, tahukah engkau siapa aku?"
"Teecu tidak tahu, tapi tadi ketua bilang "
"Aku utusan Kiu Thian mo Cun kan?"
"Betul."
"Kini engkau mau turut perintahku?"