panji sakti 09

Tu Ci Yen maju selangkah, mendadak ia menyerang dada Pek Giok Liong dengan sepasang telapak tangannya.

 

Pada waktu bersamaan, Lang San Sam Kuai juga menyerang Pek Giok Liong dari tiga jurusan, begitu cepat bagaikan kilat serangan mereka.

 

Pek Giok Liong tertawa panjang, badannya berkelebat dan ia sudah lolos dari serangan-serangan mereka.

 

Padahal sesungguhnya, jurus pertama itu cuma jurus tipuan belaka. Tu Ci Yen dan Lang San Sam Kuai sudah memperhitungkan, Pek Giok Liong pasti berkelit, maka mereka berempat baru menyerangnya dengan pukulan dahsyat.

 

Oleh karena itu, ketika badan Pek Giok Liong bergerak, mereka berempat pun segera menyerangnya.

 

Betapa terkejutnya Pek Giok Liong, ia tidak menduga akan serangan susulan itu. Ia cepat-cepat mengerahkan ilmu peringan tubuhnya dengan jurus Hui In Phiau Su (Awan terbang capung melayang). Tubuh Pek Giok Liong meluncur ke atas dan melayang-layang, kemudian sekonyong-konyong ia pun balas menyerang.

 

Mulailah pertarungan yang amat seru dan dahsyat. Pek Giok Liong seorang melawan empat orang yang berkepandaian tingkat tinggi.

 

Tu Ci Yen dan Lang San Sam Kuai menyerang Pek Giok Liong dengan jurus-jurus maut yang penuh mengandung lwee kang. Sedangkan Pek Giok Liong pun mengerahkan Thai Ceng Sin Kang (Tenaga sakti pelindung badan). Di samping itu ia juga mengerahkan ginkangnya, sehingga tampak badannya berkelebat ke sana ke mari dengan ringan menghindari serangan-serangan lawan.

 

Dalam waktu singkat, mereka bertarung sudah belasan jurus. Justru Tu Ci Yen dan Lang San Sam Kuai semakin terperanjat, karena mereka berempat tidak berada di atas angin, sebaliknya malah di bawah angin.

 

Karena sudah lewat belasan jurus, maka Pek Giok Liong pun mulai menyerang mereka dengan gencar, sekaligus mengerahkan jurus Thian Hong Khuang Chien (Hembusan angin topan). Jurus tersebut membuat Lang San Sam Kuai terdorong mundur beberapa langkah.

 

"Tu Ci Yen!" ujar Pek Giok Liong. "Engkau berhati-hatilah!"

 

Tubuh Pek Giok Liong berkelebat, ia sudah berada di sisi Tu Ci Yen, sekaligus mencengkeram bahunya.

 

Betapa kagetnya Tu Ci Yen. Ia berkelit secepat kilat dan menyerang dada Pek Giok Liong.

 

Pek Giok Liong tertawa ringan. Ia menyambut serangan itu dengan pukulan, sehingga terdengar suara benturan.

 

Bum!

 

Sungguh di luar dugaan, mendadak badan Tu Ci Yen melambung ke atas. Itu membuat Pek Giok Liong tertegun. Ketika ia baru mau menyerang Tu Ci Yen, tiba-tiba ia mendengar suara angin pukulan yang amat dahsyat di belakangnya. Ternyata Lang San Sam Kuai telah menyerangnya.

 

"Waktu kalian bertiga telah sampai!" bentak Pek Giok Liong.

 

Ia menggerakkan sepasang tangannya, itu adalah jurus Ling Khong Huan In Cam (Pukulan tanpa bayangan) yang tiada tandingannya.

 

Seketika juga terdengar suara jeritan yang menyayat hati, Lang San Sam Kuai terpental belasan meter, darah segar pun mengucur deras dari mulut mereka.

 

Kejadian itu sungguh mengejutkan Thian Suan Sin Kun, Ti Kie Sin Kun dan enam pengawal khusus. Mata mereka terbelalak dan mulut pun ternganga lebar.

 

Mendadak melayang turun sosok bayangan dengan tangan menjinjing seseorang. Ternyata Bu Siang Seng menjinjing Tu Ci Yen.

 

"Terimakasih, Bu Siang Seng!" ucap Pek Giok Liong.

 

"Sama-sama!" sahut Bu Siang Seng sambil tertawa.

 

"Dia sudah mati?"

 

"Belum." Bu Siang Seng melempar Tu Ci Yen ke bawah, lalu memberi hormat pada Pek Giok Liong seraya berkata, "Teecu mohon ampun!"

 

"Lho?" Pek Giok Liong heran. "Kenapa Siang Seng ……?"

 

"Teecu sedikit lengah, sehingga membuat Giok Ling terluka." Bu Siang Seng memberitahukan.

 

"Parahkah lukanya?" tanya Pek Giok Liong cemas.

 

"Mungkin harus beristirahat sepuluh hari baru bisa sembuh," jawab Bu Siang Seng dengan kepala tertunduk.

 

"Bertarung dengan lawan, terluka memang tidak bisa dihindarkan, maka Siang Seng tidak bersalah dalam hal ini."

 

"Terimakasih atas pengampunan Ketua!" ucap Bu Siang Seng lalu mundur.

 

Pek Giok Liong memandang Thian Suan Sin Kun, Ti Kie Sin Kun, enam pengawal khusus dan lainnya dengan tajam.

 

"Lebih baik kalian semua jangan mencoba kabur!" ujar Pek Giok Liong. "Tetap berdiri di tempat masing-masing!"

 

Thian Suan Sin Kun dan Ti Kie Sin Kun saling memandang. Setelah itu Thian Suan Sin Kun bertanya.

 

"Mau kau apakan diri kami?"

 

Pek Giok Liong tersenyum dan sahutnya.

 

"Kalian boleh berlega hati, aku tidak akan menyusahkan kalian semua, hanya harus menotok jalan darah kalian masing-masing. Kalau hari sudah terang, totokan itu akan terbuka sendiri!"

 

"Bagaimana setelah kami bebas dari totokan?" tanya Thian Suan Sin Kun.

 

"Kalian mau ke mana, terserah!" jawab Pek Giok Liong.

 

"Kenapa harus menunggu sampai hari terang?" tanya Thian Suan Sin Kun.

 

"Karena sebelum hari terang, aku akan pergi mencari Cit Ciat Sin Kun." Pek Giok Liong memberitahukan.

 

"Engkau khawatir kami akan memberitahukan padanya tentang kejadian di sini?" tanya Ti Kie Sin Kun.

 

"Betul." Pek Giok Liong mengangguk. "Itu agar dia tidak bisa meloloskan diri lagi, maka kalian harus ditotok jalan darah masing-masing, dan akan bebas dengan sendirinya setelah hari terang!"

 

"Engkau sudah tahu jejak Cit Ciat Sin Kun?" tanya Thian Suan Sin Kun mendadak.

 

"Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong sudah bergabung dengan kami, engkau pikir dia tidak akan berkata sejujurnya?"

 

"Tahukah engkau ada berapa banyak orang berkepandaian tinggi yang mendampingi Cit Ciat Sin Kun?"

 

"Naga, Harimau, Singa dan Macan tutul empat pengawal pribadinya, delapan pelayan, Hui Eng Cap Ji Kiam, Thai Nai Siang Hiong dan puluhan orang yang berkepandaian tinggi, jadi semuanya berjumlah lima puluh lebih kan?"

 

"Betul." Thian Suan Sin Kun mengangguk. "Oleh karena itu, engkau harus tahu kekuatan kalian yang hanya belasan orang, bukankah ke sana cari mati?"

 

"Apa yang engkau katakan memang benar. Tapi kalau aku tidak yakin, bagaimana mungkin berani pergi mencarinya?"

 

"Tapi ……" Thian Suan Sin Kun menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Ohya! Aku ingin minta bantuanmu, apakah engkau sudi membantuku?" tanya Pek Giok Liong mendadak.

 

"Apa yang dapat kubantu?"

 

"Engkau perintahkan seseorang untuk mengumpulkan semua orang, setelah hari terang, barulah kalian boleh pergi."

 

Thian Suan Sin Kun berpikir sejenak, lalu mengarah pada enam pengawal khusus seraya berkata, "Saudara, laksanakanlah tugas ini!"

 

Pemimpin enam pengawal khusus itu memandang Pek Giok Liong, kemudian mengangguk.

 

"Baiklah. Aku segera ke dalam." Ia melangkah ke dalam untuk mengumpulkan semua orang.

 

Tak seberapa lama kemudian, pemimpin enam pengawal khusus itu sudah kembali bersama puluhan orang.

 

"Sudah kumpul semua?" tanya Pek Giok Liong.

 

"Sudah!" Pemimpin enam pengawal khusus itu mengangguk. "Kalau engkau tidak percaya, boleh perintahkan seseorang untuk memeriksa ke dalam!"

 

"Itu tidak perlu." Pek Giok Liong tersenyum. "Aku percaya padamu!"

 

"Terimakasih!" ucap pemimpin enam pengawal khusus itu.

 

"Bu Siang Seng, Si Kim Kong! Kalian sudah boleh menotok jalan darah tidur mereka!" ujar Pek Giok Liong.

 

"Ya," sahut mereka serentak, lalu badan mereka berkelebat ke sana ke mari. Tak lama kemudian, puluhan orang itu telah terkulai dalam keadaan tidur, Bu Siang Seng, Si Kim Kong mendekati Pek Giok Liong, lalu mereka memberi hormat.

 

"Bu Siang Seng!" ujar Pek Giok Liong. "Atur belasan orang di sini untuk menjaga mereka!"

 

"Ya." Bu Siang Seng mengangguk.

 

"Sepuluh orang menjaga di sekitar sini, apabila melihat Cit Ciat Sin Kun kabur ke mari, harus segera memberi isyarat dengan kembang api!" Pesan Pek Giok Liong.

 

"Ya." Bu Siang Seng mengangguk lagi.

 

"Dia ……" Pek Giok Liong menunjuk Tu Ci Yen yang tergeletak di tanah. "Musnahkan ilmu silatnya, lalu serahkan pada salah seorang kita untuk membawanya pergi!"

 

"Ya." Bu Siang Seng memberi hormat.

 

Sedangkan Pek Giok Liong sudah mengerahkan ginkangnya menuju Kota Teng Hong ……

 

-- o --

 

 

(Bersambung bagian 51)

PANJI SAKTI (JIT GOAT SENG SIM KI)

(Panji Hati Suci Matahari Bulan)

  Karya: Khu Lung

Bagian ke 51. Dendam Telah Balas

 

Di dalam ekspedisi Yang Wie, sama sekali tidak tampak sinar lampu dan sangat sunyi. Mungkin semua orang yang ada di dalam ekspedisi itu telah pulas.

 

Sekonyong-konyong berkelebat beberapa sosok bayangan ke dalam halaman belakang ekspedisi itu. Mereka ternyata Pek Giok Liong, Se Pit Han dan Si Kim Kong.

 

Pada waktu bersamaan, terdengar pula suara bentakan keras di tempat yang gelap.

 

"Siapa? Tengah malam berani memasuki ekspedisi Yang Wie!"

 

Dua sosok bayangan melompat ke luar dari tempat gelap itu. Ternyata dua orang berbaju hitam dengan pedang bergantung di punggung.

 

"Harap kalian berdua melapor pada Taytie, bahwa siau tocu dari Cai Hong To datang berkunjung!"

 

Kedua orang berbaju hitam terperanjat. Tanpa sadar mereka termundur dua langkah dengan mata terbelalak.

 

"Anda siau tocu dari Cai Hong To?" tanya salah seorang berbaju hitam.

 

"Aku masih ada urusan lain, tidak bisa membuang waktu! Cepatlah kalian melapor pada Taytie!"

 

"Bagaimana Anda bisa tahu bahwa Taytie berada di sini?"

 

"Kim Tie yang beritahukan!"

 

"Anda sudah bertemu Kim Tie?"

 

"Kenapa engkau begitu cerewet?"

 

Orang berbaju hitam tertegun, kemudian ujarnya sambil menarik nafas panjang.

 

"Maaf! Aku dalam tugas, maka harus bertanya pada Anda sejelas-jelasnya!"

 

"Ngmm!" Pek Giok Liong manggut-manggut.

 

"Di mana Anda bertemu Kim Tie?"

 

"Ketika dia dalam perjalanan menuju ke Go Bi San," sahut Pek Giok Liong dingin.

 

"Oh?" Orang berbaju hitam mengerutkan kening. "Ada urusan apa Anda ingin bertemu Taytie?"

 

"Apakah engkau berhak bertanya begitu?" Wajah Pek Giok Liong sudah berubah dingin. Air muka orang berbaju hitam pun berubah, dan tampak tertegun pula.

 

"Cepatlah engkau melapor, jangan membuat salah di sini!" tegas Pek Giok Liong sambil menatapnya tajam.

 

"Ya! Ya, harap Anda tunggu sebentar, aku segera melapor!" Ketika orang berbaju hitam itu baru mau melangkah masuk, mendadak terdengar suara yang amat dingin.

 

"Engkau tidak usah melapor lagi!"

 

Orang berbaju hitam itu tersentak, lalu cepat-cepat memberi hormat. Dan pada waktu bersamaan, muncul beberapa orang, yaitu Cit Ciat Sin Kun dan empat pengawal pribadinya, yaitu Naga, Harimau, Singa dan Macan tutul.

 

"Pek Giok Liong!" Cit Ciat Sin Kun menatapnya sambil tertawa dingin. "Nyalimu sungguh besar!"

 

"Karena aku berani menentangmu?" tanya Pek Giok Liong sambil tersenyum hambar.

 

"Tidak salah." Cit Ciat Sin Kun manggut-manggut. "Bahkan engkau pun begitu berani ke mari mencariku!"

 

"Kau anggap aku ke mari mengantar kematian?"

 

"Betul!" Cit Ciat Sin Kun mengangguk. "Hari ini engkau pasti mampus!"

 

Mendadak Pek Giok Liong tertawa gelak, ia menatap Cit Ciat Sin Kun seraya berkata. "Tidak merasa dirimu sedang omong besar?"

 

"Hm!" dengus Cit Ciat Sin Kun dingin. "Kau apakan Kim Tie?"

 

"Aku mengutus orang menangkapnya."

 

"Dia berada di mana sekarang?"

 

"Dikurung di suatu tempat rahasia." Pek Giok Liong memberitahukan. "Sebaliknya Tu Ci Yen ……"

 

"Bagaimana dia?" tanya Cit Ciat Sin Kun cemas.

 

"Dia tidak kubunuh, melainkan ……" Pek Giok Liong memberitahukan. "…… ilmu silatnya telah dimusnahkan!"

 

"Jadi ……" Air muka Cit Ciat Sin Kun berubah. "Engkau telah pergi ke Siauw Keh Cung?"

 

"Ya." Pek Giok Liong mengangguk. "Bahkan aku pun telah membunuh Lang San Sam Kuai."

 

"Hah?" Cit Ciat Sin Kun melotot. "Bagaimana yang lain?"

 

"Mereka sudah tidur pulas, setelah hari terang, mereka pasti mendusin dengan sendirinya," sahut Pek Giok Liong sambil tersenyum-senyum.

 

"Bocah" bentak Cit Ciat Sin Kun dengan wajah merah padam, kelihatannya kemurkaannya telah memuncak. "Aku akan mencabut nyawamu!"

 

Usai berkata begitu, Cit Ciat Sin Kun langsung menyerang Pek Giok Liong dengan jurus maut.

 

Walau Pek Giok Liong memiliki kepandaian yang amat tinggi, namun menghadapi Cit Ciat Sin Kun, ia pun berhati-hati. Ia segera mengerahkan Thai Ceng Sin Kangnya, lalu cepat-cepat melompat ke belakang seraya berseru.

 

"Tunggu!"

 

"Engkau masih ada pembicaraan apa?"

 

"Aku ingin memberi sedikit nasihat padamu, harap engkau sudi mendengarnya!"

 

"Jangan banyak bicara!" bentak Cit Ciat Sin Kun.

 

"Manusia hidup tidaklah lama, walau bisa menjagoi bu lim, akhirnya tetap akan mati! Kini engkau sudah berusia lanjut, untuk apa engkau masih ingin menguasai bu lim? Lebih baik engkau bertobat!"

 

"Hm!" dengus Cit Ciat Sin Kun dingin. "Aku memang tersentuh oleh kata-katamu, tapi ……"

 

"Engkau punya syarat?"

 

"Tidak salah!"

 

"Apa syaratmu?"

 

"Kita harus bertarung seratus jurus. Setelah ada yang menang dan kalah, barulah membicarakan yang lain!"

 

"Kenapa engkau harus mengambil keputusan ini?"

 

"Agar aku merasa puas!"

 

"Baiklah!" Pek Giok Liong mengangguk. "Engkau menghendaki begitu, maka silahkan mulai!"

 

"He he!" Cit Ciat Sin Kun tertawa terkekeh. "Bocah, berhati-hatilah!"

 

Cit Ciat Sin Kun langsung menyerang dada Pek Giok Liong. Pek Giok Liong pun segera berseru.

 

"Cit Ciat Sin Kun! Engkau pun harus berhati-hati!" Pek Giok Liong menyambut serangan itu.

 

Buumm! Terdengar benturan keras.

 

Badan Pek Giok Liong bergoyang, sedangkan Cit Ciat Sin Kun tergempur mundur selangkah. Berdasarkan ini, sudah dapat diketahui lwee kang Pek Giok Liong masih menang setingkat dari Cit Ciat Sin Kun.

 

Betapa terkejutnya Cit Ciat Sin Kun. Ia memang sudah mendengar bahwa Pek Giok Liong memiliki kepandaian yang amat tinggi, tapi tidak menyangka lwee kangnya begitu dalam, otomatis membuatnya menarik nafas dalam-dalam.

 

"Bocah, engkau memang hebat! Coba sambut seranganku lagi!" bentaknya dan sekaligus menyerang Pek Giok Liong dengan sepasang telapak tangannya yang mengandung lwee kang dahsyat.

 

Pek Giok Liong mengernyitkan kening, lalu menangkis serangan itu dengan sepasang telapak tangannya.

 

Bum! Bum! Terdengar dua kali suara benturan keras yang memekakkan telinga.

 

Pek Giok Liong termundur tiga langkah, sedangkan Cit Ciat Sin Kun terpental lima langkah dan memuntahkan darah segar.

 

"Bocah! Selagi engkau masih ada di bu lim, aku tidak akan memunculkan diri dalam bu lim!" ujar Cit Ciat Sin Kun dengan mulut masih mengalir darah segar. "Mari kita pergi!"

 

"Tunggu!" seru Pek Giok Liong.

 

Akan tetapi, Cit Ciat Sin Kun telah berkelebat pergi. Pada saat bersamaan, Pek Giok Liong mendengar suara yang amat halus, ternyata Cit Ciat Sin Kun berbicara padanya dengan ilmu menyampaikan suara.

 

"Engkau memang memiliki kepandaian yang amat tinggi, tapi aku ingatkan, engkau harus berhati-hati!"

 

Pek Giok Liong merasa heran, kenapa Cit Ciat Sin Kun mengingatkannya begitu? Apakah itu merupakan suatu ancaman? Pek Giok Liong tidak habis berpikir, dan mendadak ia berseru karena melihat empat pengawal pribadi itu mau pergi.

 

"Kalian berempat tunggu!"

 

"Engkau ingin menahan kami?" tanya Si Naga gusar.

 

"Kalian berempat jangan salah paham, aku sama sekali tidak bermaksud menahan kalian!"

 

"Kalau begitu, kenapa engkau menyuruh kami menunggu?"

 

"Karena aku ingin minta bantuan kalian?"

 

"Bantuan apa? Apakah kami mampu membantu?"

 

"Kalian berempat pasti dapat bantu." Pek Giok Liong tersenyum. "Kalau tidak, bagaimana mungkin aku akan minta bantuan kalian?"

 

"Engkau pikir kami akan membantumu?"

 

"Kalian berempat adalah pendekar sejati, tentunya sudi membantuku!" ujar Pek Giok Liong dan menambahkan. "Tapi kalau kalian berempat tidak membantu, itu juga tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa kalian."

 

"Bagus. Kalau begitu, engkau tidak perlu minta bantuan kami!"

 

"Namun kalian harus tahu dulu, aku minta bantuan apa? Sebelum tahu, jangan menolak duluan!"

 

"Kalau begitu, beritahukanlah!"

 

"Tadi sore, aku sudah mengutus beberapa orang ke istana Tay Tie."

 

"Hah?" Wajah Si Naga langsung berubah. "Engkau mengutus beberapa orang untuk menghancurkan istana itu?"

 

"Tentu tidak, melainkan cuma menolong orang."

 

"Menolong siapa? Menolong gurumu?"

 

"Guruku sudah mati bunuh diri. Yang akan ditolong itu anak istri teman Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong."

 

"Oh?" Si Naga mengernyitkan kening. "Urusan itu tiada kaitannya dengan kami."

 

"Memang tiada kaitannya dengan kalian berempat, namun kini Cit Ciat Sin Kun sedang menuju ke istana, mungkin akan berpapasan dengan orang-orang yang kuutus itu. Maka aku minta bantuan kalian untuk menyampaikan pesanku padanya, agar dia tidak mengganggu orang-orangku itu. Kalau orang-orangku itu belum berhasil menolong anak dan ibu tersebut, aku harap kalian bersedia membantuku melepaskan mereka!"

 

"Tentang itu ……" Si Naga tertawa. "Kenapa engkau tidak bicara langsung dengan Cit Ciat Sin Kun?"

 

"Aku tidak menyangka Cit Ciat Sin Kun begitu cepat pergi, maka aku terpaksa minta bantuan kalian."

 

"Aku bersedia membantu dalam hal ini ……"

 

"Kalau begitu, aku ucapkan terimakasih padamu!"

 

"Jangan berterimakasih dulu! Ucapanku belum usai!" Si Naga melanjutkan sambil menger nyitkan kening. "Kalau sebelum pertarungan ini mungkin aku bisa membantu. Tapi kini Cit Ciat Sin Kun mengalami kekalahan, tentunya hatinya sangat kesal, maka mungkin ……"

 

"Kalau kalian berempat bermohon padanya dia pasti mengabulkan."

 

"Tapi seandainya ……." Si Naga menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Itu berarti Cit Ciat Sin Kun ……" tegas Pek Giok Liong. "Hancur tidaknya istana itu, tergantung pada kalian berempat ketika bicara dengan Cit Ciat Sin Kun."

 

"Itu ……"

 

"Nah, sekarang kalian berempat boleh pergi!"

 

"Baiklah!" Si Naga mengangguk, lalu mengajak ketiga saudaranya meninggalkan tempat itu.

 

"Adik Liong!" Se Pit Han mendekatinya. "Apakah Cit Ciat Sin Kun akan mendengar perkataan mereka berempat?"

 

"Itu tentu." Pek Giok Liong tersenyum. "Karena dia tetap akan menjaga keutuhan istananya maka dia tidak berani macam-macam."

 

"Menurutmu ….." Se Pit Han menatapnya. "Apakah Cit Ciat Sin Kun masih berani bangki kembali?"

 

"Itu sulit dikatakan." Pek Giok Liong menarik nafas panjang. "Tapi dalam beberapa tahun ini dia pasti tidak berani berbuat apa-apa."

 

"Adik Liong, kalau begitu bukankah lebih baik sekarang kita habiskan saja mereka?"

 

"Kak misan!" Pek Giok Liong tersenyum. "Kita harus bisa memberi ampun pada siapa pun, lagi pula usia Cit Ciat Sin Kun sudah lanjut, untuk apa kita membunuhnya? Biar sang waktu saja yang membunuhnya."

 

"Adik Liong ……" Se Pit Han menatapnya dalam-dalam. "Engkau sungguh berhati bajik dan mulia ……"

 

"Itu belum tentu." Pek Giok Liong tersenyum. "Sebab aku tidak memberi ampun pada Siang Hiong."

 

Ketika Pek Giok Liong menyinggung Siang Hiong, Se Pit Han pun merasa heran, karena tidak melihat Siang Hiong itu.

 

"Adik Liong, Siang Hong itu ……" Ucapan Se Pit Han terputus, karena melihat dua sosok bayangan melayang turun, mereka berdua adalah salah satu orang pelindung pulau, Si Bun Kauw dan Suan Cen Ji. Di ketiak masing-masing mengapit seseorang. Setelah melempar orang yang diapit di ketiak, mereka berdua lalu memberi hormat pada Pek Giok Liong.

 

"Teecu berdua menghadap Ketua!"

 

"Tidak usah sungkan-sungkan!" Pek Giok Liong tersenyum. "Aku telah merepotkan kalian!"

 

"Ketua, kami telah berhasil menangkap Siang Hiong ini!"

 

"Terimakasih!" ucap Pek Giok Liong, lalu mengibaskan tangannya ke arah Siang Hiong itu, dan seketika juga nyawa kedua orang itu melayang.

 

"Teecu memberi selamat pada Ketua!" ucap Si Bun Kauw. "Karena Ketua telah berhasil membalas dendam berdarah itu."

 

"Itu atas bantuan kalian."

 

"Ohya, apa rencana Ketua selanjutnya?"

 

"Sampaikan perintahku, semua orang Cai Hong To harus pulang! Aku dan Se Pit Han akan menyusul belakangan."

 

"Teecu menerima perintah!" Si Bun Kauw dan Suan Cen Ji segera meninggalkan Pek Giok Liong.

 

"Kak misan, mari kita ke vihara Si Hui menemui Hui Ceh dan Cing Ji!" ujar Pek Giok Liong.

 

"Engkau sudah kangen pada mereka ya?" goda Se Pit Han.

 

"Eh? Kak misan ……" Wajah Pek Giok Liong kemerah-merahan.

 

Pek Giok Liong telah membalas dendam berdarah itu, apakah selanjutnya bu lim akan tenang, tidak akan terjadi sesuatu apa pun lagi? Justru sungguh di luar dugaan ……

 

-- o --

 

 

Cit Ciat Sin Kun sudah sampai di istananya. Ia berdiri di ruang dalam menghadap dinding. Heran? Kenapa dia berdiri di situ? Mendadak dinding itu bergerak, ternyata sebuah pintu rahasia.

Tak lama muncul seorang berjubah kuning bersulam muka iblis yang menyeramkan. Muka orang itu pun memakai kedok iblis.

 

"Hamba memberi hormat pada Mo Cun (Muka iblis)!" ucap Cit Ciat Sin Kun sambil menjura. Cit Ciat Sin Kun adalah Ci Seng Tay Tie (Maha raja tersuci), namun ia masih harus memberi hormat pada orang berkedok iblis itu. Lalu siapa sebenarnya orang tersebut? Kenapa Cit Ciat Sin Kun menyebutnya Mo Cun?

 

"Bagaimana tugasmu, Tay Tie?" tanya Mo Cun dengan suara parau.

 

"Gagal total," sahut Cit Ciat Sin Kun dengan kepala tertunduk.

 

"Apa?" Mo Cun tampak murka sekali. "Engkau adalah Cih Seng Tay Tie, tapi kenapa begitu tidak becus?"

 

"Hamba ……" Cit Ciat Sin Kun tidak berani melanjutkan ucapannya.

 

"Laporkan semuanya!" bentak Mo Cun.

 

"Ya, Mo Cun." Cit Ciat Sin Kun mengangguk, lalu melaporkan semua kejadian itu dan menambahkan, "Tu Ci Yen, anak angkat hamba pun telah musnah ilmu silatnya."

 

"Jadi engkau kalah melawan Pek Giok Liong, pemegang Jit Goat Seng Sim Ki itu?"

 

"Ya." Cit Ciat Sin Kun menarik nafas panjang. "Malah hamba mengalami luka dalam pula."

 

"Hmm!" dengus Mo Cun dingin. "Aku harus membunuhmu, setelah itu barulah aku akan menundukkan semua partai besar di bu lim!"

 

"Apakah ilmu yang Mo Cun latih itu sudah mencapai tingkat kesempurnaan?" tanya Cit Ciat Sin Kun mendadak.

 

"Cuma sampai tingkat ketujuh." Mo Cun memberitahukan. "Masih harus naik tiga tingkat lagi, baru sempurna!"

 

"Kalau begitu ……"

 

"Aku masih bisa membunuh Pek Giok Liong itu, tapi ……" Mo Cun tampak ragu.

 

"Kenapa?" Cit Ciat Sin Kun menatapnya.

 

"……" Mo Cun tidak menjawab, kelihatannya ia sedang berpikir keras, berselang beberapa saat barulah berkata. "Hek Sim Sin Kang (Tenaga sakti hati hitam) ku cuma mencapai tingkat ketujuh, tapi itu sudah cukup untuk membunuh Pek Giok Liong!"

 

"Kalau begitu, apakah Mo Cun berniat membunuhnya?"

 

"Ng!" Mo Cun mengangguk. "Aku memang harus membunuhnya, karena dia merupakan rintangan berat bagi cita-citaku."

 

"Kapan Mo Cun akan turun tangan membunuhnya?"

 

"He he he!" Mo Cun tertawa terkekeh-kekeh.

 

"Mungkin tidak lama lagi. Setelah membunuh Pek Giok Liong, aku pun harus menutup diri untuk menyempurnakan ilmuku, lalu menguasai bu lim."

 

"Tapi ……" Cit Ciat Sin Kun mengernyitkan kening. "Kini Pek Giok Liong adalah ketua panji Hati Suci Matahari Bulan, pihak Cai Hong To pun di bawah perintahnya, maka kekuatan mereka ……"

 

"Hmm!" dengus Mo Cun dingin. "Aku akan menunggu saat Pek Giok Liong bepergian seorang diri. Di saat itulah aku akan membunuhnya."

 

"Bagaimana kalau pihak Cai Hong To kemari menuntut balas?"

 

"Kalau aku sudah membunuh Pek Giok Liong, sementara pihak Cai Hong To tidak begitu berani menuntut balas."

 

"Kenapa?"

 

"Engkau tahu siapa aku kan?"

 

"Ya."

 

"Nah, setelah pihak Cai Hong To tahu, apakah mereka berani sembarangan menuntut balas? Kepandaian mereka masih di bawah kepandaian Pek Giok Liong, tentunya mereka tidak berani menuntut balas sementara itu. Sedangkan aku pun akan menutup diri untuk memperdalam ilmu Hek Sim Sin Kang, sesudah mencapai tingkat kesempurnaan, siapa di kolong langit mampu menandingiku?"

 

"Betul, Mo Cun!" Cit Ciat Sin Kun manggut-manggut, kemudian mendadak menarik nafas panjang.

 

"Kenapa engkau?" Mo Cun menatapnya tajam.

 

"Anak angkatku itu ……"

 

"Ha ha ha!" Mo Cun tertawa gelak. "Engkau tidak perlu cemas! Setelah ilmuku sampai di tingkat kesempurnaan, aku pasti mampu memulihkan ilmu silatnya itu!"

 

"Oh?" Cit Ciat Sin Kun tampak girang. "Terimakasih, Mo Cun!"

 

"Cukup sampai di sini pembicaraan kita, aku masih harus berlatih." ujar Mo Cun, lalu melangkah ke dalam ruang rahasia. Pintu ruang itu pun tertutup secara otomatis.

 

Cit Ciat Sin Kun berdiri termangu, lama sekali barulah ia meninggalkan tempat itu menuju kamarnya.

 

"Nak!" Panggilnya ketika memasuki kamarnya, ternyata Tu Ci Yen duduk di kursi dengan wajah pucat pias dan tampak lemas.

 

"Ayah ……" sahut Tu Ci Yen tak bersemangat. Maklum, semua ilmu kepandaiannya telah musnah.

 

"Mo Cun memberitahukan, kalau ilmunya sudah mencapai tingkat kesempurnaan, maka dia akan memulihkan ilmu silatmu."

 

"Oh?" Wajah Tu Ci Yen tampak girang. "Apakah Mo Cun sanggup melakukan itu?"

 

"Sanggup." Cit Ciat Sin Kun mengangguk. "Tapi harus menunggu ilmunya mencapai tingkat kesempurnaan."

 

"Kira-kira kapan?"

 

"Mo Cun tidak memberitahukan." Cit Ciat Sin Kun menatapnya. "Nak, bukankah lebih baik engkau hidup seperti orang biasa?"

 

"Tidak." Tu Ci Yen menggelengkan kepala. "Pokoknya aku harus membalas dendam ini."

 

"Nak ……" Cit Ciat Sin Kun menggeleng-gelengkan kepala. "Pek Giok Liong berhati bajik dan berbudi luhur. Padahal dia bisa membunuh kita, namun dia tidak melakukannya. Lalu …… kenapa engkau masih membalas dendam?"

 

"Ayah! Kalau salah satu diantara kami tidak ada yang mati, urusan dendam ini tidak akan usai."

 

"Nak!" Cit Ciat Sin Kun menarik nafas.'"Engkau yang memimpin Siang Hiong Sam Kuai membantai kedua orang tuanya berikut seluruh penghuni Ciok Lau San Cung, namun dia masih tidak membunuhmu, hanya memusnahkan ilmu silatmu. Seharusnya engkau berterimakasih padanya."

 

"Oh?" Tu Ci Yen menatap Cit Ciat Sin Kun. "Kenapa ayah berubah tak bersemangat ……"

 

"Ayah telah berhutang budi padanya, karena dia tidak membunuh ayah," sahut Cit Ciat Sin Kun. "Kini Siang Hiong dan Sam Kuai telah mati, maka lebih baik engkau hidup seperti orang biasa jangan berkecimpung di bu lim lagi!"

 

"Ayah!" Sepasang mata Tu Ci Yen berapi-api. "Pokoknya aku masih harus berdiri di bu lim, itu sesuai dengan cita-cita Mo Cun."

 

"Nak ……" Cit Ciat Sin Kun menggeleng-gelengkan kepala. "Engkau beristirahatlah!"

 

"Ya." Tu Ci Yen mengangguk.

 

Cit Ciat Sin Kun memang merasa berhutang budi pada Pek Giok Liong, sebab Pek Giok Liong tidak membunuhnya. Tapi kini, Mo Cun telah mengambil keputusan untuk membunuh Pek Giok Liong, itu membuatnya salah tingkah. Meskipun ia telah memperingatkan Pek Giok Liong, namun ……

 

-- o --

 

 

 

Bagian ke 52. Kiu Thian Mo Cun (Maha Iblis Langit Sembilan)

 

Pek Giok Liong, Se Pit Han, Siauw Hui Ceh dan Cing Ji sedang melakukan perjalanan menuju ke Lam Hai, itu atas usul Se Pit Han.

 

"Kakak Han, kenapa kita harus ke Lam Hai?" tanya Siauw Hui Ceh.

 

"Adik Hui!" Se Pit Han tersenyum. "Tentunya ke Pulau Pelangi!"

 

"Tempat tinggalmu itu?"

 

"Ya." Se Pit Han mengangguk. "Engkau harus tahu, pemandangan di Cai Hong To sangat indah, secara tidak langsung dapat menghibur dirimu."

 

"Aaaakh ……" Siauw Hui Ceh menarik nafas panjang. "Aku tidak menyangka, akhirnya ayahku meninggal juga!"

 

"Kita semua telah berusaha menolong ayahmu, tapi ……" Se Pit Han menggeleng-gelengkan kepala. "Adik Hui, sudahlah, jangan berduka!"

 

"Kakek pun sudah mati, kini aku tinggal seorang diri ……" sela Cing Ji dengan wajah murung.

 

"Adik Cing!" Se Pit Han tersenyum. "Engkau tidak tinggal seorang diri, masih ada kami bertiga bersamamu."

 

"Adik Cing, engkau tidak usah berduka!" hibur Pek Giok Liong sambil tersenyum lembut. "Kami bertiga sangat menyayangimu, jadi engkau tidak usah berduka lagi!"

 

"Ya, Kakak Liong." Cing Ji mengangguk.

 

"Kak misan!" Pek Giok Liong menatapnya. "Mungkin Siang Sing, Si Kim Kong dan lainnya sudah tiba di Pulau Pelangi."

 

"Mungkin." Se Pit Han manggut-manggut, kemudian tersenyum. "Di Pulau Pelangi banyak terdapat tempat-tempat yang amat indah, aku pasti mengajak kalian jalan-jalan kesemua tempat itu."

 

"Bagus." Cing Ji tertawa gembira. "Aku sudah merasa bosan berkeluyuran di bu lim, ingin beristirahat di Pulau Pelangi saja."

 

"Aku pun berpikir begitu," sambung Siauw Hui Ceh dan menambahkan. "Sebab Kakak Peng Yang sudah menjadi cung cu di Siauw Keh Cung, dia pasti bisa mengurusi Siauw Keh Cung dengan baik."

 

"Betul." Pek Giok Liong mengangguk. "Sayang sekali Cian Tok Suseng tidak mau ikut ke Pulau Pelangi, dia malah lebih senang kembali ke tempatnya."

 

"Begitu pula Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong, dia bersama teman baiknya pulang ke kwan gwa, dan kini Seng Sim Bun pun bubar dengan sendirinya."

 

"Tentu." Se Pit Han tersenyum. "Kini bu lim telah tenang dan aman, maka tidak perlu keberadaan partai Hati Suci lagi."

 

"Tidak salah." Pek Giok Liong mengangguk. "Namun apabila perlu, partai Hati Suci pasti berdiri lagi."

 

"Itu tidak mungkin."

 

"Kak misan, apa yang akan terjadi kelak, siapa yang dapat mengetahuinya? Kini bu lim sudah tenang dan aman, tapi bagaimana kelak, siapa bisa mengetahuinya?"

 

"Kakak Liong!" sela Cing Ji. "Aku lebih senang hidup tenang di Pulau Pelangi. Kalau pun bu lim akan kacau lagi kelak, aku tetap diam di Pulau Pelangi, tidak mau ke Tionggoan lagi."

 

"Aku setuju," sambung Siauw Hui Ceh.

 

"Bagus." Se Pit Han tertawa gembira. "Mari kita hidup bersama di Pulau Pelangi!"

 

"Termasuk aku kan?" tanya Pek Giok Liong sambil tersenyum.

 

"Eh? Adik Liong ……" Se Pit Han menatapnya. "Sebetulnya engkau mencintai siapa di antara kita bertiga?"

 

"Itu ……" Pek Giok Liong ragu menjawabnya, malah tergagap. "Aku ……"

 

"Engkau mencintai kami bertiga?" tanya Se Pit Han dengan wajah agak kemerah-merahan. "Lebih baik engkau berterus terang saja!"

 

"Aku ……" Pek Giok Liong menundukkan kepala, berselang sesaat bertanya dengan suara rendah, "Kalian bertiga mencintaiku?"

 

"Kami mencintaimu," sahut Se Pit Han, Siauw Hui Ceh dan Cing Ji serentak. Ketiga anak gadis itu pun saling memandang, lalu menundukkan wajah masing-masing saking jengahnya.

 

"Kalau begitu ……" Pek Giok Liong menatap mereka bertiga. "Aku harus bagaimana?"

 

Ketiga gadis itu tidak menyahut, mereka bertiga malah berbisik-bisik seakan sedang merundingkan sesuatu, kemudian wajah mereka bertiga berseri, kelihatan telah mencapai suatu kesepakatan.

 

"Engkau memperistri kami bertiga saja!" ujar Se Pit Han dengan suara hampir tak kedengaran.

 

"Apa?!" Pek Giok Liong terbelalak. "Aku …… aku memperistri kalian bertiga ……?"

 

"Ya." Se Pit Han mengangguk. "Kami bertiga memang sangat mencintaimu. Kalau engkau tidak memperistri kami bertiga, lalu harus bagaimana?"

 

"Itu ……" Pek Giok Liong memandang jauh ke depan. "…… terserah kalian bertiga."

 

"Kalau begitu, kita akan menikah di Cai Hong To!" ujar Se Pit Han.

 

"Setuju." sahut Siauw Hui Ceh dan Cing Ji dengan wajah berseri.

 

"Baiklah." Pek Giok Liong mengangguk, kemudian berseru kagum. "Wah! Bukan main indahnya pemandangan Yan San (Gunung Walet) ini, gumpalan awan putih menutupi puncaknya."

 

"Hati-hati adik Liong!" Se Pit Han mengingatkan. "Jangan terlampau ke sana, mulut jurang yang ribuan meter dalamnya menganga di situ! Kalau engkau terjatuh ke dalam jurang itu, kami bertiga belum menikah denganmu malah akan jadi janda."

 

"Hi hi hi!" Siauw Hui Ceh dan Cing Ji tertawa geli.

 

"Kalian ……" Pek Giok Liong tersenyum, tapi kemudian mengernyitkan kening dengan wajah tampak serius.

 

"Adik Liong!" Se Pit Han menatapnya heran. "Kenapa engkau?"

 

"Ada orang datang!" sahut Pek Giok Liong.

 

"Oh?" Se Pit Han menengok ke sana ke mari, tapi tidak tampak siapapun. "Tidak ada yang dating ……"

 

Mendadak terdengarlah suara tawa yang melengking-lengking, begitu tajam menusuk telinga.

 

"Siapa yang tertawa itu?" Pek Giok Liong heran. "Lwee kangnya dalam sekali, masih di atas Cit Khi Jin (Tujuh orang aneh)!"

 

"Apakah musuh kita?" tanya Se Pit Han.

 

"Entahlah." Pek Giok Liong menggeleng kepala. "Kita harus berhati-hati menghadapi segala kemungkinan!"

 

Sementara suara tawa yang melengking-lengking itu terdengar semakin mendekat. Siauw Hui Ceh dan Cing Ji terpaksa menutup telinga, karena tidak tahan mendengar suara tawa itu.

 

"Adik Liong! Berhati-hatilah!" Pesan Se Pit Han. "Yang datang itu pasti mengandung maksud tidak baik."

 

"Ya." Pek Giok Liong mengangguk. Ia segera merogoh ke dalam bajunya mengambil 'Kitab Ajaib', lalu diserahkan pada Se Pit Han. "Kak misan, simpanlah 'Kitab Ajaib' ini!"

 

"Ya." Se Pit Han menerima kitab itu dan sekaligus menyimpannya ke dalam bajunya. "Adik Liong, kenapa engkau ……"

 

Ucapan Se Pit Han terputus, karena ia melihat empat sosok bayangan melayang turun. Empat sosok bayangan itu ternyata Cit Ciat Sin Kun, Thian Sat, Thian Suan dan Ti Kie Sin Kun.

 

"He he he!" Cit Ciat Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh. "Bocah! Hari ini engkau pasti mampus!"

 

"Cit Ciat Sin Kun!" Pek Giok Liong menatapnya tajam. "Kenapa engkau muncul lagi?"

 

"Ha ha ha!" Cit Ciat Sin Kun tertawa gelak, namun secara diam-diam ia berkata pada Pek Giok Liong dengan ilmu menyampaikan suara. "Pek siauhiap, berhati-hatilah! Yang datang itu berilmu amat tinggi, alangkah baiknya engkau cepat pergi bersama tiga nona itu!"

 

"Ha ha!" Pek Giok Liong tertawa. "Padahal aku telah mengampuni nyawa kalian, tapi kalian masih ke mari cari mati!"

 

Sahut Pek Giok Liong dan ia pun bertanya pada Cit Ciat Sin Kun dengan ilmu menyampaikan suara pula.

 

"Sin Kun, siapa orang itu?"

 

"Dia Mo Cun!" Cit Ciat Sin Kun memberitahukan sambil tertawa. "Ha ha ha! Hari ini engkau pasti mampus!"

 

"Kalian berempat sungguh tak tahu diri! Sudah diampuni malah mau cari mati di sini!" bentak Se Pit Han.

 

"Nona, lebih baik engkau pergi!" Cit Ciat Sin Kun menatapnya. "Kalau tidak, engkau pun akan mampus di gunung Yan San ini!"

 

"Pergi?" Se Pit Han tertawa dingin. "Jangan omong besar ……!"

 

"Cit Ciat Sin Kun tidak omong besar, kalian memang harus mampus hari ini!" Terdengar suara sahutan yang melengking tajam, menyusul tampak sosok bayangan melayang turun. Orang itu memakai jubah dan memakai kedok iblis. "Pek Giok Liong! Hari ini engkau pasti mampus!"

 

"Siapa Anda? Kenapa begitu berniat membunuhku?" tanya Pek Giok Liong sambil menatapnya tajam.

 

"Bocah! Engkau ketua partai Hati Suci kan?"

 

"Betul!"

 

"Generasi kelima pemegang panji Hati Suci Matahari Bulan?"

 

"Tidak salah!"

 

"He he he!" Orang berkedok iblis tertawa terkekeh-kekeh. "Maka engkau harus mampus!"

 

"Anda punya dendam denganku?" tanya Pek Giok Liong heran.

 

"Di antara kita tiada dendam, namun aku punya dendam dengan Seng Sim Tayhiap (Pendekar Hati Suci)!" Orang berkedok iblis memberitahukan.

 

"Apa?!" Pek Giok Liong terbelalak. "Anda punya dendam dengan kakek guruku?"

 

"Betul!" Orang berkedok iblis mengangguk. "Maka aku harus berbuat perhitungan denganmu!"

 

"Kalau begitu, siapa Anda yang terhormat?' tanya Pek Giok Liong sopan.

 

"Bocah! Dengar baik-baik! Aku Kiu Thian Mo Cun (Maha Iblis Langit Sembilan)!" Orang berkedok iblis memberitahukan dengan suara parau.

 

"Haah?!" Pek Giok Liong terkejut, begitu pula Se Pit Han, karena ayah Se Pit Han pernah bercerita tentang Kiu Thian Mo Cun. Hampir dua ratus tahun yang lampau, pendekar Hati Suci bertanding dengan Kiu Thian Mo Cun. Dalam pertandingan itu, pendekar Hati Suci berhasil memukul Kiu Thian Mo Cun jatuh ke dalam jurang. Setelah itu, para ketua partai besar masa itu bersepakat untuk membikin panji Jit Goal Seng Sim Ki.

 

Akan tetapi, kejadian itu sudah begitu lama bagaimana mungkin Kiu Thian Mo Cun masih hidup? Oleh karena itu, Pek Giok Liong pun tertawa seraya berkata.

 

"Anda bercanda! Bagaimana mungkin Kiu Thian Mo Cun masih hidup? Anda pasti bukan Kiu Thian Mo Cun itu, tapi mungkin Anda pewarisnya!"

 

"Aku Kiu Thian Mo Cun!" ujar orang berkedok iblis. "Nah, bocah! Engkau harus mati hari ini!"

 

"Oh, ya?" Pek Giok Liong tertawa hambar. "Mungkin Anda yang akan mati di tanganku!"

 

"Hm!" dengus Kiu Thian Mo Cun dingin. "Cit Ciat, Thian Sat, Thian Suang dan Ti Kie! Kalian berempat boleh menyerang bocah itu sepuluh jurus, aku ingin tahu berapa tinggi kepandaiannya!"

 

"Ya! Hamba berempat menerima perintah!" sahut Cit Ciat berempat, lalu mengurung Pek Giok Liong.

 

Se Pit Han, Siauw Hui Ceh dan Cing mundur ke belakang, yang paling tegang dan cemas adalah Se Pit Han, sebab ia tahu betapa tingginya ilmu Kiu Thian Mo Cun. Namun ia masih tidak yakin bahwa orang berkedok iblis itu Kiu Thian Mo Cun sendiri.

 

"Baiklah!" Pek Giok Liong menatap mereka satu persatu. "Kalian berempat boleh menyerangku sampai sepuluh jurus. Aku sama sekali tidak akan balas menyerang!"

 

"Kalau begitu, hati-hatilah!" ujar Cit Ciat Sin Kun dan langsung menyerang Pek Giok Liong.

 

Pek Giok Liong cepat-cepat berkelit, namun Thiat Sat, Thian Suan dan Ti Kie sudah menyerang dari tiga jurusan. Sulit bagi Pek Giok Liong untuk berkelit lagi, maka dikerahkannya ginkangnya, sehingga badannya meluncur ke atas.

 

Pada waktu bersamaan, Cit Ciat, Thian Sat, Thian Suan dan Ti Kie Sin Kun segera menyerang ke atas dengan pukulan yang penuh mengandung tenaga dalam.

 

Pek Giok Liong tidak gugup. Ia langsung menyentilkan jari telunjuknya, itu adalah ilmu Ceng Thian Sin Ci (Telunjuk sakti penggetar langit). Bukan main hebatnya ilmu itu, mampu mematahkan serangan mereka berempat.

 

Mereka terus bertempur, tak terasa sudah sampai jurus kesepuluh, seketika juga Kiu Thian Mo Cun menghardik.

 

"Berhenti!"

 

Cit Ciat, Thian Sat, Thian Suan dan Ti Kie Sin Kun segera berhenti menyerang, dan sekaligus mundur ke sisi Kiu Thian Mo Cun.

 

"Bocah!" Kiu Thian Mo Cun tertawa dingin. "Kepandaianmu cukup tinggi, tapi tetap bukan lawanku!"

 

"Oh?" Pek Giok Liong tertawa hambar. "Anda kok begitu yakin bahwa aku bukan lawanmu?"

 

"Karena aku sudah tahu berapa dalam lwee kangmu dan berapa tinggi kepandaianmu!"

 

"Kita belum bertarung, maka janganlah begitu yakin!" sahut Pek Giok Liong dingin.

 

"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak. "Bocah! Bersiap-siaplah, aku akan mulai menyerangmu!"

 

"Baik!" Pek Giok Liong mulai mengerahkan Thai Ceng Sin Kangnya.

 

Sedangkan Kiu Thian Mo Cun pun mulai mengerahkan Han Im Sin Kang (Tenaga sakti hawa dingin). Ia akan menyerang Pek Giok Liong dengan Han Im Ciang (Pukulan hawa dingin).

 

"Bocah! Berhati-hatilah!" hardik Kiu Thian Mo Cun, lalu mendadak menyerang Pek Giok Liong dengan jurus Swat Hoa Phiau-Phiau (Bunga salju berterbangan). Begitu cepat dan dahsyat serangannya, bahkan mengandung hawa yang amat dingin.

 

Pek Giok Liong mengeluarkan ilmu Ceng Thian Sin Ci untuk menangkis jurus itu. Memang hebat ilmu tersebut, sebab mampu membuyarkan hawa dingin sekaligus mematahkan jurus itu.

 

"Bagus!" Kiu Thian Mo Cun tertawa panjang, lalu menyerang Pek Giok Liong dengan jurus Leng Thian Hong Khi (Hembusan angin dingin).

 

Pek Giok Liong berseru nyaring, dan menangkis jurus itu dengan jurus Hong Khi Hun Yong (Angin berhembus awan terbang), jurus tersebut pun dapat mematahkan jurus itu.

 

"Bocah!" Kiu Thian Mo Cun tertawa lagi. "Engkau cukup tangguh! Sambutlah jurus ini!"

 

Kiu Thian Mo Cun menyerangnya dengan jurus Man Thian Swat Hoa (Bunga salju di langit).

 

Pek Giok Liong tidak gugup, dan langsung menangkis jurus itu dengan jurus Hoa Ih Pian Hun (Warna warni bunga hujan).

 

Bummm! Terdengar suara benturan keras.

 

Pek Giok Liong terdorong mundur tiga langkah, sedangkan Kiu Thian Mo Cun cuma terdorong mundur selangkah. Itu membuktikan bahwa lwee kang Kiu Thian Mo Cun lebih tinggi.

 

Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak, Pek Giok Liong diam saja, namun ia amat terkejut dalam hati.

 

"Adik Liong, bagaimana keadaanmu?" seru Se Pit Han bertanya dengan cemas.

 

"Aku tidak apa-apa!" sahut Pek Giok Liong.

 

"Gadis manis!" Kiu Thian Mo Cun tertawa terkekeh-kekeh. "Sebentar lagi kekasihmu itu akan mampus!"

 

Se Pit Han mengernyitkan kening, sedangkan Kiu Thian Mo Cun menatap Pek Giok Liong dengan tajam.

 

"Bocah! Sekarang engkau harus berhati-hati! Aku akan sungguh-sungguh menyerangmu!"

 

"Baik!"

 

"Bersiap-siaplah menyambut seranganku!" Kiu Thian Mo Cun memperingatkan Pek Giok Liong, lalu menarik nafas dalam-dalam menghimpun Hek Sim Sin Kang (Tenaga sakti hati hitam), ia akan menyerang Pek Giok Liong dengan ilmu Hek Sim Tok Ciang (Pukulan beracun hati hitam). Setelah menghimpun tenaga sakti hati hitam, badan Kiu Thian Mo Cun pun memancarkan cahaya hitam.

 

"Hati-hati Pek siau hiap!" pesan Cit Ciat Sin Kun dengan ilmu menyampaikan suara. "Dia akan menyerangmu dengan Hek Sim Tok Ciang!"

 

Hati Pek Giok Liong tegang juga. Ia segera menghimpun Thai Ceng Sin Kang sampai pada puncaknya.

 

"Hiyaaat!" pekik Kiu Thian Mo Cun sambil menyerang Pek Giok Liong dengan jurus Hek Sim Bu To (Hati hitam tiada perasaan). Tampak cahaya hitam mengarah pada bagian dada Pek Giok Liong.

 

Pek Giok Liong cepat-cepat menangkis jurus itu dengan salah satu jurus Tiga jurus sakti pelindung panji.

 

Daaar! Terdengar suara ledakan dahsyat.

 

Pek Giok Liong terpental sejauh lima meteran ke dekat bibir jurang, kemudian terkulai dengan muka kehitam-hitaman dan mulutnya pun memuntahkan darah hitam.

 

"Kakak Liong!" seru Siauw Hui Ceh dan Cing Ji cemas.

 

"Adik Liong ……" Wajah Se Pit Han pucat pias. Gadis itu mau melompat ke arah Pek Giok Liong, namun keburu dihadang oleh Cit Ciat Sin Kun dan Thian Sat Sin Kun.

 

"Engkau tidak boleh mendekatinya, mereka sedang bertarung!" ujar Cit Ciat Sin Kun dingin.

 

Sementara Kiu Thian Mo Cun tertawa terkekeh-kekeh dan menatap Pek Giok Liong dengan tajam.

 

"Bocah! Tiga jurus sakti pelindung panji tidak dapat menandingi Hek Sim Tok Ciang (Pukulan beracun hati hitam) ku! Engkau telah terluka parah dan terkena racun pula!"

 

Pek Giok Liong bangkit berdiri, mulutnya masih mengalir darah hitam, mukanya pun tetap kehitam-hitaman.

 

"Sambut seranganku ini lagi!" hardik Kiu Thian Mo Cun sambil menyerang Pek Giok Liong dengan jurus Hek Sim Cong Thian (Hati hitam menembus langit).

 

Pada waktu bersamaan, tampak dua sosok bayangan melompat ke arah Pek Giok Liong. Siapa mereka berdua? Tidak lain Siauw Hui Ceh dan Cing Ji. Kedua gadis itu ingin melindungi Pek Giok Liong dari serangan Kiu Thian Mo Cun.

 

"Aaaakh ……!" Jerit kedua gadis itu menyayatkan hati. Muka mereka berdua telah berubah hitam dan mulut terus menerus memuntahkan darah hitam.

 

"Adik Hui, adik Cing ……" Panggil Pek Giok Liong dengan suara lemah. "Kalian ……"

 

"Adik Hui! Adik Cing!" teriak Se Pit Han. Ketika ia baru mau melompat kedua gadis itu, Cit Ciat, Thian Sat, Thian Suan dan Ti Kie Sin Kun segera menghadangnya.

 

Se Pit Han sudah tidak perduli. Ia langsung menyerang mereka, akan tetapi dirinya justru yang terpental mundur, karena serangannya tertangkis oleh keempat orang itu.

 

"Kalian cepat minggir!" bentak Se Pit Han.

 

"Nona!" Cit Ciat Sin Kun memperingatkannya dengan ilmu menyampaikan suara. "Jangan cari mati secara sia-sia!"

 

Se Pit Han sama sekali tidak menghiraukan peringatan Cit Ciat Sin Kun, ia langsung menyerang mereka berempat, tapi ia terpental jatuh oleh tangkisan keempat orang itu.

 

"He he he!" Kiu Thian Mo Cun tertawa terkekeh-kekeh. "Pek Giok Liong, kini sudah saatnya engkau mampus!"

 

Kiu Thian Mo Cun menyerangnya dengan jurus Hek Sim Bu In (Hati hitam tanpa bayangan). Betapa dahsyatnya jurus itu. Apa boleh buat, Pek Giok Liong terpaksa menangkis jurus itu dengan tiga jurus sakti pelindung panji.

 

"Aaaakh!" Jerit Pek Giok Liong. Badannya terpental melayang ke dalam jurang.

 

"Adik Liong! Adik Liong ……" Pekik Se Pit Han histeris.

 

"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak. "Pek Giok Liong, engkau pasti mati tanpa kuburan di dasar jurang itu!"

 

"Adik Liong ……" Wajah Se Pit Han pucat pias dan air matanya pun berderai. "Adik Liong ……"

 

Kiu Thian Mo Cun mendekati Se Pit Han selangkah demi selangkah, kemudian mengangkat sebelah tangannya, kelihatannya ia juga ingin membunuh Se Pit Han. Akan tetapi, mendadak ia menurunkan tangannya kembali dan membalikkan badannya.

 

"Mari kita pergi!" ujarnya sambil melangkah.

 

Cit Ciat, Thian Sat, Thian Suan dan Ti Kie Sin Kun saling memandang, lalu mengikutinya melangkah pergi.

 

Kenapa Kiu Thian Mo Cun tidak jadi membunuh Se Pit Han? Apakah ia menaruh kasihan pada gadis itu? Tidak! Melainkan karena ilmu Hek Sim Sin Kangnya belum mencapai tingkat kesempurnaan, maka kalau ia menghimpun lwee kangnya untuk menyerang, ia pun akan mengalami luka dalam yang cukup parah. Oleh karena itu, ketika ia ingin menyerang Se Pit Han, dadanya terasa sakit sekali. Ia harus segera pulang untuk mengobati luka dalamnya. Kalau tidak, ia pasti mati oleh serangan balik Hek Sim Sin Kangnya sendiri.

 

Nyawa Se Pit Han masih panjang, tapi ia sudah seperti orang gila berteriak-teriak histeris di pinggir jurang.

 

"Adik Liong! Adik Liong ……!" Air matanya berderai-derai. "Aku ikut ……"

 

Kelihatannya ia ingin melompat ke jurang itu, namun pada waktu bersamaan, ia mendengar suara lirih memanggilnya.

 

"Kakak Han ……"

 

"Kakak Han ……"

 

Ternyata Siauw Hui Ceh dan Cing Ji memanggilnya. Wajah kedua gadis itu menghitam, darah hitam pun masih mengalir ke luar dari mulut mereka.

 

"Adik Hui! Adik Cing ……" Se Pit Han segera mendekati mereka.

 

"Kakak Han ……" Siauw Hui Ceh memandangnya dengan mata redup. "Kakak Han ……"

 

"Adik Hui!" Se Pit Han menggenggam tangannya dengan air mata bercucuran. "Bagaimana keadaanmu?"

 

"Kakak Han! Engkau …… Engkau harus hidup, balas …… Balas dendam kami ……!" usai berkata begitu, nafas Siauw Hui Ceh pun putus.

 

"Adik Hui ……" jerit Se Pit Han.

 

"Kakak Han ……" panggil Cing Ji lirih.

 

"Adik Cing!" Se Pit Han menggenggam tangannya erat-erat. "Adik Cing ……"

 

"Kakak Han ……" Cing Ji memandangnya dengan mata redup. "Engkau …… Engkau harus balas …… balas dendam kami!"

 

"Adik Cing! Aku …… aku pasti balas dendam kalian," sahut Se Pit Han berjanji. "Pasti balas dendam kalian."

 

"Kakak Han, aku …… aku tidak bisa pergi ke Cai Hong To, aku …… aku ……" Cing Ji tidak melanjutkan ucapannya lagi, karena nafasnya telah putus.

 

"Adik Cing! Adik Cing! Adik Cing ……!" Jerit Se Pit Han dan nyaris pingsan seketika.

 

Berselang beberapa saat kemudian, ia mulai menggali sebuah lubang, lalu mengubur kedua jenazah itu di lubang tersebut. Setelah itu, ia melangkah ke tepi jurang.

 

"Adik Liong! Tenanglah engkau di dasar jurang!" gumamnya dengan air mata berderai. "Aku pasti membalas dendammu, dan mulai saat ini, aku akan memakai baju hitam berkabung untukmu ……"

 

-- o --

 

 

Se Pit Han melangkah memasuki Istana Pelangi seperti kehilangan sukma. Se Khi, Giok Cing, Giok Ling, Pat Kiam dan kepala pengurus istana segera mendekatinya dengan wajah cemas.

 

"Siau kiong cu ……" panggil Se Khi.

 

Namun Se Pit Han diam saja, dan terus melangkah, lalu menghempaskan dirinya ke tempat duduk.

 

"Nona! Nona ……" panggil Giok Cing. "Nona kenapa?"

 

Se Pit Han duduk dengan mata memandang jauh ke depan, kemudian air matanya berderai-derai.

 

"Sudah mati! Sudah mati ……" gumamnya.

 

Betapa terkejutnya Se Khi, Giok Cing, Giok Ling dan Pat Kiam. Sedangkan kepala pengurus istana segera pergi memanggil Siang Sing, Si Kim Kong, Ngo Hu To dan Si Hong.

 

Tak seberapa lama kemudian, mereka semua sudah berkumpul di ruang depan Istana Pelangi. Tiada seorang pun yang membuka mulut, hanya memandang Se Pit Han dengan wajah cemas.

 

"Nona!" panggil Se Khi dan bertanya. "Apa gerangan yang telah terjadi?"

 

"Siauw Hui Ceh dan Cing Ji sudah …… sudah mati," sahut Se Pit Han sambil menangis sedih.

 

"Apa?" Betapa terkejutnya Se Khi, begitu pula yang lain, kemudian Se Khi bertanya dengan hati berdebar-debar tegang. "Di mana Pek Giok Liong?"

 

"Adik Liong ……" Se Pit Han langsung menangis meraung-raung. Adik Liong …… adik ……"

 

"Dia …… dia kenapa?" Wajah Se Khi mulai memucat.

 

"Dia …… dia terpukul jatuh ke dalam jurang." Air mata Se Pit Han bercucuran.

 

"Haah ……?" Wajah Se Khi pucat pias, begitu juga yang lainnya.

 

"Siapa yang membunuh Siauw Hui Ceh dan Cing Ji?" tanya Thian Koh Sing yang tampak masih bisa tenang.

 

"Mereka berdua ingin melindungi adik Liong, namun mereka berdua mati ……" Se Pit Han memberitahukan.

 

"Siapa yang memukul Pek Giok Liong sampai jatuh ke dalam jurang?" tanya Thian Kong Sing dengan kening berkerut-kerut. Ia terkejut bukan main karena ada orang mampu memukul Pek Giok Liong sampai jatuh ke dalam jurang. Siapa orang yang berkepandaian begitu tinggi? Thian Kong Sing tidak habis berpikir.

 

"Orang itu mengaku dirinya Kiu Thian Mo Cun." Se Pit Han memberitahukan.

 

"Haah...?" Betapa terperanjat mereka semua ketika mendengar nama itu disebut Se Pit Han. Thian Kong Sing tidak begitu percaya, maka ia langsung bertanya, "Betulkah orang itu Kiu Thian Mo Cun?"

 

"Entahlah." Se Pit Han menggelengkan kepala. "Orang itu memakai jubah bersulam iblis dan memakai kedok iblis pula."

 

"Itu …… itu bagaimana mungkin?" gumam Se Khi. "Sudah hampir dua ratus tahun, lagi pula pada masa itu Kiu Thian Mo Cun telah terpukul jatuh ke dalam jurang oleh pendekar Hati Suci, tidak mungkin kini dia muncul lagi!"

 

"Tapi orang itu berkepandaian amat tinggi, entah ilmu apa yang digunakannya?" ujar Se Pit Han. "Ketika orang itu mau menyerang adik Liong, sekujur badannya memancarkan cahaya hitam."

 

"Hah?" Se Khi tampak terkejut sekali. "Itu ilmu andalan Kiu Thian Mo Cun!"

 

"Apakah itu Hek Sim Sin Kang?" tanya Thian Koh Sing.

 

"Tidak salah, itu pasti Hek Sim Sin Kang," jawab Se Khi. "Orang itu pasti menyerang Pek Giok Liong dengan Hek Sim Tok Ciang, pukulan itu amat beracun."

 

"Kalau begitu ……" Thian Kong Sing mengernyitkan kening. "Benarkah orang itu Kiu Thian Mo Cun?"

 

"Tidak mungkin." Se Khi menggelengkan kepala. "Yang jelas orang itu pewaris Kiu Thian Mo Cun!"

 

"Nona!" Tanya Thian Koh Sing. "Orang itu muncul seorang diri?"

 

"Dia muncul bersama Cit Ciat, Thian Sat, Thian Suan dan Ti Kie Sin Kun." Se Pit Han memberitahukan. "Ketika aku melihat adik Liong terluka, aku ingin mendekatinya, tapi Cit Ciat dan Thian Sat menghalangiku!"

 

"Kenapa mereka berdua menghalangi Nona?" tanya Se Khi.

 

"Entahlah." Se Pit Han menggelengkan kepala. "Tapi ……"

 

"Kenapa?" tanya Thian Koh Sing.

 

"Cit Ciat memperingkanku dengan ilmu menyampaikan suara," jawab Se Pit Han.

 

"Dia memperingatkan apa?" tanya Se Khi heran.

 

"Agar aku tidak cari mati." Se Pit Han memberitahukan. "Siauw Hui Ceh dan Cing Ji berpesan padaku, harus membalas dendam mereka."

 

"Jenazah mereka berdua sudah dikubur?" tanya Se Khi.

 

"Sudah." Se Pit Han mengangguk.

 

"Di mana kejadian itu?" tanya Se Khi lagi.

 

"Di Yan San," sahut Se Pit Han dan mulai menangis lagi. "Adik Liong sudah terluka parah, bahkan jatuh ke dalam jurang yang ribuan meter dalamnya, dia …… dia bagaimana mungkin bisa hidup? Aaakh! Adik Liong ……"

 

"Kini bu lim akan dilanda banjir darah lagi!" gumam Thian Koh Sing. "Karena Kiu Thian Mo Cun telah muncul, siapa yang mampu melawannya?"

 

"Itu malapetaka bagi bu lim." Se Khi menggeleng-gelengkan kepala. "Ohya, bagaimana sekarang? Majikan dan nyonya majikan kita tidak ada di pulau, kita harus berbuat apa?"

 

"Bagaimana kalau kita memberi kabar pada majikan melalui Sin Ku Ceh (Merpati sakti), agar majikan segera pulang?"

 

"Ya." Se Khi mengangguk. "Merpati sakti pasti mampu mencari majikan kita."

 

"Setelah majikan pulang, barulah kita berunding," sambung Thian Koh Sing dan melanjutkan, "Ohya, mengenai Pek Giok Liong yang jatuh ke jurang Yan San, bagaimana kalau kita pergi mencarinya di dasar jurang itu?"

 

"Boleh juga." Se Khi manggut-manggut. "Kalau begitu ……"

 

"Kami berempat yang ke Yang San," sahut Hok Mo Kim Kong. "Yang lain harus berada di sini menjaga siau kiong cu."

 

"Baiklah." Se Khi manggut-manggut dan berpesan pada Giok Cing dan Giok Ling. "Kalian berdua tidak boleh meninggalkan siau kiong cu selangkah pun!"

 

"Ya, Giok Cing clan Giok Ling mengangguk.

 

"Adik Liong ……" gumam Se Pit Han. "Engkau tidak mati kan? Engkau akan ke mari kan?"

 

"Siau kiong cu!" ujar Giok Cing. "Mari ke kamar untuk beristirahat!"

 

"Aku tidak mau istirahat, mau menunggu adik Liong ……" Se Pit Han menangis terisak-isak, sepasang matanya telah membengkak.

 

"Siau kiong cu!" Se Khi membelainya. "Lebih baik engkau ke kamar untuk beristirahat!"

 

"Se Khi ……" Se Pit Han memeluknya dengan air mata berderai-derai. Kenapa nasib adik Liong begitu malang ……?"

 

-- o --

 

 

(Bersambung bagian 53)

Bagian ke 53. Saudara Kembar

 

Pemandangan di Heng San sangat indah menakjubkan. Sayup-sayup terdengar suara air terjun dan suara arus sungai. Keadaan di Heng San begitu tenang dan damai, tampak pula beberapa ekor kelinci bercanda ria dan berlompat-lompatan.

 

Di tempat yang indah, tenang dan damai itu terdapat sebuah gubuk berpagar garis bambu. Gubuk milik siapa itu? Di tempat yang begitu sunyi kok ada gubuk?

 

Saat ini sang surya mulai merangkak ke atas. Terdengar suara kicau burung yang amat merdu. Di halaman gubuk itu tampak seseorang pemuda sedang berlatih ilmu pedang. Sungguh mengherankan, wajah pemuda itu mirip wajah Pek Giok Liong, ternyata pemuda itu Hek Siau Liong yang ditolong Swat San Lo Jin (Orang tua gunung salju). Kini ia sudah menjadi murid orang tua tersebut.

 

Di teras gubuk itu, duduk seorang wanita berusia empat puluhan. Walau sudah berusia sekian, namun wanita itu masih tampak cantik, hanya saja di keningnya banyak terdapat garis kerutan.

 

Siapa wanita itu? Dia adalah ibu Hek Siau Liong bernama Hek Ai Lan dan julukannya adalah Hek Bi Jin (Wanita cantik Hek).

 

Sementara Hek Siau Liong sudah selesai berlatih ilmu pedang. Ia menghampiri Hek Ai Lan dengan wajah berseri-seri.

 

"Ibu, bagaimana latihan Siau Liong? Sudah ada kemajuan?" tanya Hek Siau Liong sambil tersenyum.

 

"Nak!" Hek Ai Lan menarik nafas panjang.

 

"Kenapa Ibu menarik nafas? Apakah Ibu tidak senang melihat Siau Liong berlatih ilmu pedang?"

 

"Nak ……" Hek Ai Lan menggeleng-gelengkan kepala. "Sebetulnya ibu tidak setuju engkau belajar ilmu silat, maka ……"

 

"Ibu tidak setuju?" Hek Siau Liong tertawa. "Padahal ibu sendiri berilmu tinggi, tapi sama sekali tidak mengajar Siau Liong. Setelah Siau Liong di tolong guru, barulah ibu mau mengajar Siau Liong ilmu silat."

 

"Mungkin itu sudah merupakan takdir!" Hek Ai Lan menarik nafas panjang lagi. "Hari itu engkau pergi secara diam-diam, akhirnya dilukai orang. Kalau tidak ditolong oleh Swat San Lo Jin, engkau pasti sudah mati."

 

"Betul, Bu." Hek Siau Liong mengangguk. "Ohya, Siau Liong masih merasa heran, kenapa wajah Siau Liong mirip sekali dengan wajah Siau Liong itu?"

 

"Entahlah." Hek Ai Lan menggelengkan kepala, namun sekilas air mukanya tampak berubah.

 

"Itu …… itu mungkin kebetulan."

 

"Sungguh mengherankan!" Hek Siau Liong tertawa. "Semua orang mengira Siau Liong adalah Siau Liong itu, karena nama kami pun sama."

 

"Ibu sudah mengatakan, itu mungkin kebetulan."

 

"Ibu!" Hek Siau Liong menatapnya. "Kalau ada kesempatan, Siau Liong ingin bertemu Siau Liong itu."

 

"Lho? Memangnya kenapa?"

 

"Siau Liong ingin bertanya padanya ……"

 

"Mau bertanya apa padanya?"

 

"Apakah di belakang telinganya juga terdapat tanda merah?" sahut Hek Siau Liong sambil tersenyum. "Ibu kan tahu, di belakang telinga Siau Liong terdapat tanda merah, kalau dia juga punya tanda merah itu …… Wah! Betul-betul aneh!"

 

"Nak!" Hek Ai Lan tersenyum lembut. "Bukan waktunya engkau meninggalkan Heng San ini."

 

"Kapan Siau Liong boleh meninggalkan tempat ini?"

 

"Nak!" Hek Ai Lan menatapnya dalam-dalam. "Apakah engkau ingin berkelana di bu lim?"

 

"Ya." Hek Siau Liong mengangguk.

 

"Nak!" Hek Ai Lan menggeleng-gelengkan kepala. "Justru itu, sebelum engkau di tolong oleh Swat San Lo Jin, ibu sama sekali tidak mau mengajarmu ilmu silat, karena khawatir engkau akan pergi berkelanan di bu lim."

 

"Ibu! Siau Liong ingin jadi pendekar!" ujar Hek Siau Liong penuh semangat.

 

"Nak, ilmu silatmu masih rendah, belum waktunya pergi berkelana." tandas Hek Ai Lan.

 

"Maka …… Siau Liong terus menerus berlatih, kalau ilmu silat Siau Liong sudah tinggi, Siau Liong ingin jadi pendekar."

 

"Bagus! Bagus! Engkau memang calon pendekar!" Terdengar sahutan di sertai tawa gelak, tak lama melayang sosok bayangan.

 

"Guru! Guru!" Seru Hek Siau Liong girang. Ternyata yang melayang turun itu Swat San Lo Jin, orang tua itu masih tertawa.

 

"Anak Liong, benarkah engkau ingin jadi pendekar?"

 

"Ya, Guru."

 

"Anak Liong!" Swat San Lo Jin tertawa-tawa lagi. "Engkau harus terus belajar, sebab kepandaianmu masih rendah."

 

"Ya, Guru." Hek Siau Liong mengangguk. "Siau Liong memang belajar siang dan malam, sebab ingin sekali jadi pendekar."

 

"Ngmm!" Swat San Lo Jin manggut-manggut, kemudian wajahnya berubah serius. "Anak Liong, engkau terus berlatih di sini, guru ingin bicara dengan ibumu."

 

"Ya." Hek Siau Liong mulai berlatih lagi. Sedangkan Swat San Lo Jin mengajak Hek Ai Lan ke dalam gubuk. Setelah berada di dalam gubuk, Hek Ai Lan segera menyuguhkan secangkir teh untuk Swat San Lo Jin, lalu duduk di hadapannya.

 

"Ai Lan!" Swat San Lo Jin menatapnya seraya berkata. "Mungkin tidak lama lagi, bu lim akan dilanda malapetaka."

 

"Bu Lim akan dilanda malapetaka?" Hek Ai Lan terkejut. "Bukankah kini bu lim sudah aman? Kok lo cianpwee malah bilang bu lim akan dilanda malapetaka?"

 

"Aaakh ……!" Swat San Lo Jin menarik nafas panjang. "Pek Giok Liong, ketua partai Hati Suci atau generasi kelima pemegang Jit Goat Seng Sim Ki itu telah dipukul jatuh ke dalam jurang."

 

"Apa?" Wajah Hek Ai Lan berubah pucat pias. "Pek …… Pek Giok Liong ……"

 

"Ai Lan!" Swat San Lo Jin menatapnya tajam. "Kenapa wajahmu berubah begitu pucat? Apakah Pek Giok Liong punya hubungan dengan dirimu?"

 

"Tidak ada." Hek Ai Lan menggelengkan kepala. "Ohya, siapa yang memukul jatuh Pek Giok Liong ke dalam jurang?"

 

"Kiu Thian Mo Cun!"

 

"Kiu Thian Mo Cun?" Hek Ai Lan tercengang. "Siapa Kiu Thian Mo Cun itu?"

 

"Dia adalah ……" tutur Swat San Lo Jin dan menambahkan, "Nah, bukankah bu lim akan dilanda malapetaka dengan munculnya Kiu Thian Mo Cun?"

 

"Dia... dia begitu tinggi kepandaiannya, sehingga mampu memukul jatuh Pek Giok Liong?"

 

"Kepandaian maha iblis itu memang tinggi sekali." Swat San Lo Jin menarik nafas panjang. "Kalau aku dan bu lim cit khi jin bergabung melawannya, belum tentu kami mampu bertahan sampai tiga puluh jurus!"

 

"Haah?" Hek Ai Lan terbelalak. "Kalau begitu, dia pasti bisa menguasai bu lim!"

 

"Tidak salah." Swat San Lo Jin mengangguk. "Aku yakin tidak lama lagi , dia pasti menguasai bu lim."

 

"Seandainya Kiu Pat It Pang bergabung, apakah mampu melawannya?" tanya Hek Ai Lan.

 

"Aku dan Cit Khi Jin masih tidak mampu melawannya, apa lagi para ketua sembilan partai?"

 

"Kalau begitu, dia betul-betul tiada tanding di kolong langit?"

 

"Pek Giok Liong bisa dipukul jatuh olehnya, lalu siapa lagi yang mampu menandinginya?"

 

"Bagaimana dengan Cai Hong Tocu?"

 

"Kepandaian Cai Hong Tocu setingkat dengan Pek Giok Liong, jadi engkau pun mengerti."

 

"Seandainya Cai Hong Tocu dan para bawahannya mengeroyok Kiu Thian Mo Cun itu, apakah pihak Cai Hong To akan menang?"

 

"Tetap kalah," jawab Swat San Lo Jin. "Terus terang, tiada seorang pun yang mampu mengalahkannya, kecuali ……"

 

"Kecuali siapa?"

 

"Pendekar Hati Suci itu hidup lagi."

 

"Siapa pendekar Hati Suci itu?"

 

"Dia adalah ……" Swat San Lo Jin memberitahukan, kemudian menarik nafas. "Tapi dia tidak mungkin hidup kembali. Kini bu lim betul-betul berada di ambang kehancuran!"

 

"Kalau begitu, kemunculan Kiu Thian Mo Cun pasti amat menggembirakan semua orang dari golongan hitam!"

 

"Itu sudah pasti, maka nyawa para pendekar dari golongan putih sudah berada di ujung tanduk." ujar Swat San Lo Jin. Mendadak keningnya berkerut seraya memberitahukan, "Ada orang datang!"

 

"Siapa orang itu?" tanya Hek Ai Lan heran.

 

"Entahlah!" Swat San Lo Jin menggelengkan kepala. "Orang itu memiliki kepandaian tingkat tinggi ……"

 

"Saudara tua, aku pengemis bau yang ke mari!" Terdengar suara sahutan, menyusul berkelebat sosok bayangan memasuki gubuk. Siapa orang itu? Ternyata Ouw Yang Seng Tek, tetua Kay Pang. Biasanya ia suka tertawa, tapi kali ini wajahnya tampak murung sekali.

 

"Hei! Pengemis bau! Mau apa engkau ke mari?" tanya Swat San Lo Jin.

 

"Aaakh ……!" Ouw Yang Seng Tek menghempaskan dirinya ke tempat duduk. "Terus terang, tadi aku menguntitmu sampai di sini. Tapi aku tidak segera masuk, melainkan bersembunyi di balik pohon melihat Hek Siau Liong itu berlatih ilmu pedang."

 

"Oooh!" Swat San Lo Jin manggut-manggut. "Tadi aku sudah tahu ada orang menguntitku, ternyata engkau pengemis bau!"

 

"Heran?" ujar Ouw Yang Seng Tek bergumam. "Hek Siau Liong itu mirip sekali dengan Pek Giok Liong seperti pinang dibelah dua!"

 

"Tidak salah. Kalau mereka berjalan bersama, orang lain pasti mengira mereka adalah saudara kembar."

 

"Ohya! Saudara tua, sudahkah engkau tahu apa yang menimpa diri Pek Giok Liong?"

 

"Kejadian itu sangat menggemparkan bu lim, bagaimana mungkin aku tidak tahu?"

 

"Aaakh! Aku telah kehilangan seorang saudara kecil ……" ujar Ouw Yang Seng Tek dengan mata bersimbah air. "Rasanya aku ingin menangis ……"

 

"Kalau begitu, lehih baik engkau menangis!" usul Swat San Lo Jin jang tahu akan kedukaan pengemis tua itu.

 

"Aku memang harus menangis," sahut Ouw Yang Seng Tek, usai berkata begitu, ia betul-betul menangis gerung-gerungan.

 

"Pengemis bau!" ujar Swat San Lo Jin setelah lewat beberapa saat kemudian.

 

"Kukira engkau sudah boleh berhenti menangis."

 

"Ya." Ouw Yang Seng Tek segera berhenti menangis. "Saudara tua, bu lim akan dilanda banjir darah."

 

"Betul." Swat San Lo Jin mengangguk. "Itulah yang amat mencemaskanku."

 

"Saudara tua, benarkah orang yang memukul Pek Giok Liong jatuh ke jurang itu Kiu Thian Mo Cun?" tanya Ouw Yang Seng Tek mendadak.

 

"Itu tidak mungkin." Swat San Lo Jin menggelengkan kepala. "Tapi aku yakin bahwa dia pewaris Kiu Thian Mo Cun!"

 

"Ngmm!" Ouw Yang Seng Tek manggut-manggut. "Setelah Pek Giok Liong jatuh ke jurang, siapa lagi yang mampu mengalahkan Kiu Thian Mo Cun?"

 

"Sama sekali tidak ada." Swat San Lo Jin menarik nafas panjang. "Oleh karena itu, tidak lama lagi bu lim pasti dikuasai Kiu Thian Mo Cun."

 

"Apakah kita harus membiarkannya menguasai bu lim?"

 

"Tentu tidak. Biar bagaimana pun kita harus mencari jalan untuk membasmi Kiu Thian Mo Cun itu," ujar Swat San Lo Jin. "Terus terang, yang kukhawatirkan lagi yakni Kiu Thian Mo Cun akan mengundang beberapa tokoh tua golongan hitam untuk membantunya."

 

"Kalau begitu, bagaimana mungkin kita mampu membasmi mereka?" Ouw Yang Seng Tek menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Maka kita harus bergabung dengan Cai Hong To."

 

"Bagaimana cara kita bergabung dengan Cai Hong To?"

 

"Kita harus berangkat ke Lam Hai."

 

"Ngmm!" Ouw Yang Seng Tek manggut-manggut, dan ia pun teringat sesuatu. "Ohya, aku masih merasa heran. Hek Siau Liong yang di luar itu kok begitu mirip Pek Giok Liong?"

 

"Mungkin cuma kebetulan."

 

"Kalau pun kebetulan, tidak mungkin mereka begitu mirip seperti saudara kembar."

 

"Aku sendiri pun tidak habis berpikir, mungkin ……" Swat San Lo Jin memandang Hek Ai Lan. "Engkau bersedia menjelaskan?"

 

"Lo cianpwee, aku memang menyimpan suatu rahasia mengenai Hek Siau Liong." ujar Hek Ai Lan.

 

"Oh?" Swat San Lo Jin menatapnya. "Kalau begitu, beritahukanlah!"

 

"Karena Pek Giok Liong mungkin sudah mati, maka aku pun harus membeberkan rahasia itu." Hek Ai Lan memandang jauh ke depan seakan sedang mengenang sesuatu. "Kira-kira depalan belas tahun yang lalu, aku mulai berkelana dalam rimba persilatan, dan memperoleh julukan Hek Bi Jin. Setahun kemudian aku bertemu Pek Mang Ciu dan istrinya ……"

 

"Kedua orang tua Pek Giok Liong?" Ouw Yang Seng Tek terbelalak.

 

"Ya." Hek Ai Lan mengangguk. "Entah apa sebabnya, begitu melihat Pek Mang Ciu, aku pun jatuh cinta padanya. Akan tetapi, dia lelaki sejati, sama sekali tidak tertarik padaku, dan itu membuatku amat penasaran dan mulailah aku memikatnya dengan berbagai cara ……"

 

"Kemudian bagaimana?" tanya Swat San Lo Jin.

 

"Dia tetap tidak terpikat, sehingga membuatku amat membencinya. Setelah itu ……" Lanjut Hek Ai Lan. "Pek Mang Ciu dan istrinya bertarung melawan Pat Hiong. Suami istri itu mampu mengalahkan mereka, bahkan Thai Nia Siang Hiong dan Lang San Sam Kuai terpukul jatuh ke dalam  jurang ……"

 

"Tidak salah." sambung Ouw Yang Seng Tek. "Setelah itu, Pek tayhiap dan istrinya membangun Ciok Lau San Cung, kan?"

 

"Betul." Hek Ai Lan mengangguk. "Aku ke sana menemui mereka untuk bermohon pada mereka agar aku diterima sebagai pelayan. Namun …… Pek Mang Ciu tetap menolak. Coba bayangkan, betapa sakitnya hatiku!"

 

"Kenapa engkau ingin jadi pelayan di sana?" tanya Ouw Yang Seng Tek.

 

"Karena aku …… ingin berdekatan dengan Pek Mang Ciu, aku amat mencintainya ……" jawab Hek Ai Lan dengan wajah murung. "Lantaran aku diusir, maka aku pun mendendam pada mereka suami istri."

 

"Engkau mencoba membunuh mereka?" tanya Swat San Lo Jin mendadak.

 

"Aku sama sekali tidak berniat begitu." Hek Ai Lan menarik nafas panjang. "Setahun kemudian, istri Pek Mang Ciu melahirkan ……"

 

"Melahirkan Pek Giok Liong kan?" Ouw Yang Seng Tek menatapnya.

 

"Istri Pek Mang Ciu melahirkan anak lelaki kembar, kemudian diberi nama Pek Giok Liong dan Pek Giok Houw." Hek Ai Lan memberitahukan. "Pek Giok Liong lahir lebih dulu, menyusul adalah Pek Giok Houw ……"

 

"Jadi ……" Ouw Yang Seng Tek terbelalak. "Hek Siau Liong yang di luar itu Pek Giok Houw?"

 

"Betul." Hek Ai Lan mengangguk. "Dua bulan kemudian setelah anak kembar itu lahir, aku menyelinap ke dalam Ciok Lau San Cung untuk mencuri salah satu bayi tersebut. Bahkan aku pun meninggalkan sepucuk surat untuk Pek Mang Ciu dan istrinya, menyatakan bahwa aku akan mengurus bayi yang kucuri itu."

 

"Heran?" ujar Ouw Yang Seng Tek sambil menggaruk-garuk kepala. "Kenapa Pek Mang Ciu tidak menyiarkan kabar tentang itu?"

 

"Mungkin mereka menjaga namaku, sekaligus menjaga nama mereka pula," ujar Hek Ai Lan.

 

"Kenapa engkau mencuri bayi itu?" tanya Swat San Lo Jin sambil menatap Hek Ai Lan.

 

"Lo cianpwee, aku amat mencintai Pek Mang Ciu, maka rasanya akan puas mengurusi anak Pek Mang Ciu."

 

"Kok begitu?" Ouw Yang Seng Tek menggaruk-garuk kepala.

 

"Itu yang disebut cinta." Swat San Lo Jin menarik nafas. "Pengemis bau, pernahkah engkau jatuh cintai?"

 

"Tidak pernah." Ouw Yang Seng Tek menatapnya. "Bagaimana dengan engkau? Pernahkah engkau jatuh cinta ketika masih muda?"

 

"Pernah, tapi ……" Swat San Lo Jin menggeleng-gelengkan kepala. "Sudahlah! Semua itu telah berlalu."

 

"Hek Bi Jin!" Ouw Yang Seng Tek memandangnya. "Jadi engkau mengurusi Pek Giok Houw sampai belasan tahun?"

 

"Ya." Hek Ai Lan mengangguk. "Dia ikut marga Hek dan kuberi nama Siau Liong, namun sungguh di luar dugaan ….."

 

"Maksudmu tentang kematian Pek tayhiap dan istrinya?" tanya Ouw Yang Seng Tek.

 

"Ng!" Hek Ai Lan mengangguk. "Setelah mencuri bayi itu, setiap tahun aku selalu ke Ciok Lau San Cung secara diam-diam ……"

 

"Lho? Kenapa engkau masih ke sana?" tanya Ouw Yang Seng Tek heran.

 

"Ingin melihat Pek Mang Ciu dari jauh ……" Hek Ai Lan menundukkan kepala. "Kira-kira dua tahun yang lalu, aku ke sana lagi, justru melihat belasan orang yang memakai kain penutup muka menuju sana. Aku pun mendengar pembicaraan mereka, bahwa ingin membunuh Pek Mang Ciu dan istrinya, bahkan juga akan membantai semua penghuni Ciok Lau San Cung. Betapa terkejutnya hatiku! Oleh karena itu, aku pun menutup mukaku dengan kain, lalu menyelinap masuk ke kamar Pek Giok Liong untuk menolongnya."

 

"Jadi engkau yang menolong Pek Giok Liong?" Ouw Yang Seng Tek terbelalak.

 

"Ya." Hek Ai Lan mengangguk. "Aku menotok jalan darah tidurnya, lalu membawanya ke suatu tempat yang aman. Aku pun meninggalkan sepucuk surat menyuruhnya ke Lam Hai cari Pulau Pelangi."

 

"Engkau sudah tahu Pek Mang Ciu dan istrinya berasal dari pulau itu?" tanya Swat San Lo Jin.

 

"Guruku yang memberitahukan."

 

"Oooh!" Swat San Lo Jin manggut-manggut. "Ohya, kenapa engkau tidak mau memberitahukan padaku siapa gurumu itu?"

 

"Lo cianpwee, aku tidak tahu siapa guruku itu," jawab Hek Ai Lan. "Namun dia seorang nenek yang sudah tua. Walau aku sebagai muridnya, selama itu dia tidak pernah memberitahukan padaku nama maupun julukannya."

 

"Aneh!" Swat San Lo Jin menggeleng-gelengkan kepala. "Ohya, senjata apa yang dipakainya?"

 

"Sepasang pedang pendek."

 

"Apa?" Swat San Lo Jin tampak tersentak. "Sepasang pedang pendek?"

 

"Ya." Hek Ai Lan mengangguk.

 

"Gurumu tinggal di Thian San?" tanya Swat San Lo Jin dengan suara agak bergemetar.

 

"Kami memang tinggal di Thian San ……"

 

"Aaakh....!" Keluh Swat San Lo Jin. "Ternyata dia ……"

 

"Mantan kekasihmu kan, saudara tua?" Ouw Yang Seng Tek tertawa gelak.

 

"Eh? Pengemis bau!" Swat San Lo Jin melotot. "Jangan menggodaku! Engkau ingin merasakan pukulanku ya?"

 

"Itu kalau terpaksa." Ouw Yang Seng Tek masih tertawa gelak.

 

Swat San Lo Jin diam, sepasang matanya memandang jauh ke depan, kelihatannya sedang mengenang masa lalunya.

 

"Aaakh ……" gumamnya mengeluh. "Sudah lima puluh tahun tidak bertemu, apakah dia baik-baik saja dan …… apakah masih cerewet seperti dulu?"

 

"Lo cianpwee, aku tidak tahu, karena sudah belasan tahun aku tidak bertemu guruku itu."

 

"Apakah dia berjuluk Thian San Lolo?" tanya Swat San Lo Jin.

 

"Ya." Hek Ai Lan mengangguk.

 

"Haah ……?" Ouw Yang Seng Tek terperanjat. Ia menatap Hek Ai Lan seraya bertanya, "Nenek galak itukah gurumu?"

 

"Tidak salah."

 

"Aaakh!" Ouw Yang Seng Tek menarik nafas panjang. "Enam puluh tahun yang lalu, gurumu amat terkenal, tapi kemudian dia menghilang dari kang ouw. Tidak disangka dia menetap di Thian San!"

 

"Itu ……" Swat San Lo Jin menggeleng-gelengkan kepala. "…… itu gara-gara aku, maka dia mengasingkan diri di Thian San."

 

"Kok gara-gara lo cianpwee?" tanya Hek Ai Lan.

 

"Yaah!" Swat San Lo Jin menarik nafas. "Enam puluh tahun yang lampau, kami masih muda dan berdarah panas. Walau kami sudah saling mencinta, tapi justru tidak mau saling mengalah dalam hal kepandaian. Oleh karena itu kami pun bertanding ratusan jurus, dan akhirnya dia kalah. Sejak itulah dia menghilang entah ke mana. Aku terus mencarinya, tapi tidak pernah ketemu, ternyata dia mengasingkan diri di Thian San ……"

 

"Saudara tua!" Ouw Yang Seng Tek tertawa. "Kalau begitu, engkau harus ke Thian San menemuinya, dan mohon padanya untuk bergabung dengan kita demi melawan Kiu Thian Mo Cun!"

 

"Aku memang punya niat begitu, namun belum tentu dia akan memaafkanku," ujar Swat San Lo Jin sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Sudah sama-sama tua, tentunya tidak berdarah panas lagi. Aku yakin dia pun merindukanmu, dan masih tetap mencintaimu. Kalau tidak, kenapa dia tidak menikah?"

 

"Aaakh! Semua itu telah berlalu." Swat San Lo Jin menarik nafas. "Ohya, mari kita kembali pada masalah pokok!"

 

"Saudara tua, kini kita sudah tahu asal-usul Hek Siau Liong, maka aku punya suatu ide."

 

"Ide apa?" Swat San Lo Jin menatapnya.

 

"Panggil Hek Siau Liong ke mari, kita beritahukan tentang asal usulnya!" jawab Ouw Yang Seng Tek. "Setelah itu kita bawa dia ke Cai Hong To."

 

"Untuk apa membawanya ke Cai Hong To?" tanya Hek Ai Lan heran.

 

"Dia famili majikan pulau itu, wajar kalau kita membawanya ke sana," jawab Ouw Yang Seng Tek dan menambahkan, "Sekaligus belajar ilmu tingkat tinggi di sana."

 

"Percuma." Swat San Lo Jin menggelengkan kepala. "Pek Giok Liong yang berilmu begitu tinggi, tapi masih tidak bisa melawan Kiu Thian Mo Cun, apa lagi Hek Siau Liong?"

 

"Saudara tua!" Ouw Yang Seng Tek serius. "Siapa tahu di pulau itu masih tersimpan kitab silat yang belum di pelajari oleh Pek Giok Liong, maka kita usulkan ……"

 

"Aku tahu maksudmu." Swat San Lo Jin manggut-manggut, lalu memandang Hek Ai Lan. "Engkau ke depan panggil Siau Liong ke mari!"

 

"Ya." Hek Ai Lan segera memanggil Hek Siau Liong, dan tak lama ia sudah kembali bersama pemuda itu.

 

"Apakah Guru memanggil Siau Liong?" tanya Hek Siau Liong.

 

"Ya." Swat San Lo Jin manggut-manggut. "Anak Liong, cepat beri hormat pada paman pengemis!"

 

Hek Siau Liong menurut, lalu segera memberi hormat pada Ouw Yang Seng Tek. Pengemis tua itu tertawa gelak. Ia menatap Hek Siau Liong dengan penuh perhatian.

 

"Bagus! Bagus! Dia memiliki tulang dan bakat yang amat bagus! Mungkin tidak akan mengecewakan harapan kita."

 

"Aku pun berpikir begitu." Swat San Lo Jin tersenyum, lalu memandang Hek Siau Liong. "Anak Liong, tahukah engkau asal-usulmu?"

 

"Siau Liong ……" Pemuda itu melongo, kemudian memandang Hek Ai Lan. "Ibu kenapa guru bertanya begitu pada Siau Liong?"

 

"Nak!" Hek Ai Lan menatapnya dalam-dalam, lalu ujarnya perlahan. "Sebetulnya engkau bukan anakku ……"

 

"Apa?!" Hek Siau Liong terbelalak.

 

"Sesungguhnya engkau bernama Pek Giok Houw." Hek Ai Lan memberitahukan. "Engkau adik kembar Pek Giok Liong."

 

"Oh? Pantas Siau Liong mirip dia!" Hek Siau Liong tertawa kecil dan bertanya. "Kapan Siau Liong boleh bertemu dia?"

 

"Engkau tidak akan bertemu dia lagi ……" Hek Ai Lan menarik nafas.

 

"Kenapa?"

 

"Dia telah dipukul jatuh ke jurang oleh musuhnya."

 

"Oh?" Wajah Hek Siau Liong tampak berduka. "Siapa yang memukul jatuh Kakak Siau Liong ke dalam jurang?"

 

"Kiu Thian Mo Cun." Hek Ai Lan memberitahukan.

 

"Siapa Kiu Thian Mo Cun itu?" tanya Hek Siau Liong.

 

"Anak Liong!" Swat San Lo Jin menatapnya, lalu menutur mengenai pendekar Hati Suci dan Kiu Thian Mo Cun itu.

 

"Haah?" Hek Siau Liong terkejut. "Betapa tinggi kepandaian Kiu Thian Mo Cun itu? Tapi …… bagaimana mungkin dia hidup sampai hampir dua ratus tahun?"

 

"Orang itu mungkin pewarisnya," sahut Ouw Yang Seng Tek.

 

"Oooh!" Hek Siau Liong mengangguk.

 

"Nak!" Hek Ai Lan menatapnya lembut. "Mulai sekarang engkau bernama Pek Giok Houw, sebab ……" Hek Ai Lan mulai menutur tentang asal-usul pemuda itu, dan kemudian menambahkan, "Oleh karena itu, kami ingin membawamu ke Pulau Pelangi untuk belajar ilmu silat tingkat tinggi di sana."

 

"Ibu ……" Pek Giok Houw terbelalak. "…… jadi Siau Houw famili majikan Cai Hong to itu?"

 

"Betul." Hek Ai Lan mengangguk. "Setelah engkau berhasil, engkau harus membasmi Kiu Thian Mo Cun itu!"

 

"Siau Houw pasti membalas dendam Kakak Liong!" ujar Pek Giok Houw dengan mata berapi-api.

 

"Lo cianpwee, kapan kita berangkat ke Pulau Pelangi?" tanya Hek Ai Lan pada Swat San Lo Jin.

 

"Besok pagi," sahut Swat San Lo Jin sambil mengarah pada Ouw Yang Seng Tek. "Pengemis bau, engkau mau ikut kan?"

 

"Tentu." Ouw Yang Seng Tek mengangguk.

 

"Baiklah." Swat San Lo Jin manggut-manggut. "Kalau begitu, kita pastikan berangkat besok."

 

-- o --

 

 

 

Bagian ke 54. Pertemuan di Pulau Pelangi

 

Se Ciang Cing dan istrinya telah kembali ke Pulau Pelangi. Mereka berdua duduk di ruang depan istana dengan wajah serius dan berduka. Se Pit Han duduk di sisi ibunya dengan mata bersimbah air, bahkan wajahnya pun amat pucat.

 

Kepala pengurus istana, Se Khi, Giok Cing, Giok Ling, Thian Koh Sing, Thian Kang Sing, Si Kim Kong, Si Hong dan Pat Kiam pun duduk di ruang tersebut.

 

Tiada seorang pun membuka mulut, suasana pun menjadi hening. Berselang beberapa saat kemudian, Se Ciang Cing, majikan Pulau Pelangi mulai membuka mulut sambil memandang putrinya.

 

"Jadi benarkah Siauw Hui Ceh dan Cing Ji telah mati?" tanya Se Ciang Cing dengan suara dalam.

 

"Ya." Se Pit Han mengangguk.

 

"Apakah ketika Pek Giok Liong terpukul jatuh ke dalam jurang, dia pun telah terkena racun?" tanya Se Ciang Cing lagi.

 

"Ya." Se Pit Han mulai menangis terisak-isak.

 

"Benarkah orang itu Kiu Thian Mo Cun?" Wajah Se Ciang Cing tampak serius sekali.

 

"Entahlah." Se Pit Han menggelengkan kepala. "Orang itu mengenakan jubah bersulam iblis, mukanya pun memakai kedok iblis."

 

"Si Kim Kong!" Se Ciang Cing menatap mereka. "Apakah kalian berempat sudah ke Yan San?"

 

"Sudah," jawab Hok Mo Kim Kong dan memberitahukan, "Kami pun sudah turun ke dasar jurang, tapi tidak menemukan mayat Pek Giok Liong. Mungkin mayatnya telah dimangsa binatang buas."

 

"Aaakh ……!" Se Ciang Cing menarik nafas panjang." Kenapa nasib Pek Giok Liong begitu malang? Kematiannya pun begitu mengenaskan ……"

 

Mendengar itu, Se Pit Han mulai menangis sedih lagi dengan air mata berderai-derai.

 

"Adik Liong..." gumamnya.

 

"Nak!" hibur Nyonya Se Ciang Cing. "Jangan berduka, karena tidak menemukan mayat Pek Giok Liong, siapa tahu dia belum mati."

 

"Dia …… dia bagaimana mungkin belum mati? Aku menyaksikannya terpukul oleh Kiu Thian Mo Cun, mukanya pun kehitam-hitaman ……"

 

"Hek Sim Tok Ciang." Se Ciang Cing menggeleng-gelengkan kepala. "Tiada satu ilmu pun yang dapat melawan Hek Sim Tok Ciang itu."

 

"Bukankah kita masih menyimpan kitab Bu Kek Cin Keng? Kitab itu berisi pelajaran lwee kang yang amat tinggi." Nyonya Se Ciang Cing mengingatkan.

 

"Benar." Se Ciang Cing manggut-manggut.

 

"Aku tidak pernah mempelajarinya, tapi menurutku, ilmu itu masih tidak bisa menandingi Hek Sim Tok Ciang."

 

"Tapi masih bisa membendung ilmu itu kan?"

 

"Benar. Tapi …… siapa yang akan mempelajari ilmu itu?"

 

"Aku," sahut Se Pit Han mendadak. "Ayah, Ibu! Aku harus mempelajari ilmu itu demi membalas dendam adik Liong."

 

"Nak!" Se Ciang Cing menggeleng-gelengkan kepala. "Engkau anak perempuan, tidak bisa mempelajari ilmu itu."

 

"Kenapa?"

 

"Hanya anak lelaki yang masih perjaka, yang bisa mempelajari ilmu tersebut."

 

"Kalau begitu, kenapa dulu ayah tidak menyuruh Pek Giok Liong belajar ilmu itu? Kalau dia belajar ilmu itu, mungkin tidak akan mati ……"

 

"Kenapa?" tanya Se Pit Han heran.

 

"Nak!" Nyonya Se Ciang Cing berbisik di telinga putrinya. "Anak perjaka yang belajar ilmu itu, akan jadi impoten seumur hidup. Oleh karena itu, ibu dan ayah tidak mau menyuruhnya belajar ilmu tersebut."

 

"Oooh!" Se Pit Han manggut-manggut.

 

"Kalian dengar semua!" seru Se Ciang Cing mendadak. "Mulai saat ini, kalian semua dilarang memasuki Tiong Goan, itu karena kemunculan Kiu Thian Mo Cun!"

 

"Ya," sahut mereka semua.

 

"Lima pelindung pulau, kalian dengar baik-baik!" ujar Se Ciang Cing dengan suara lantang. "Mulai besok, di seluruh pulau ini harus dipasang jebakan!"

 

"Ya." Sahut lima pelindung pulau serentak.

 

"Dan ……" tambah Se Ciang Cing. "Mulai saat ini, kalian semua harus giat berlatih ilmu masing-masing, demi menjaga kemunculan pihak Kiu Thian Mo Cun!"

 

"Kami menerima perintah!"

 

Tiba-tiba seseorang berlari memasuki rang itu, lalu menjura pada Se Ciang Cing seraya melapor.

 

"Ada tamu ingin bertemu tocu!"

 

"Apa?!" Se Ciang Cing tercengang. "Siapa tamu itu?"

 

"Swat San Lo Jin, Ouw Yang Seng Tek, Hek Ai Lan dan Hek Siau Liong." Orang itu memberitahukan.

 

"Hek Siau Liong?" Se Ciang Cing mengernyitkan kening.

 

"Tocu! Hek Siau Liong itu mirip Pek Giok Liong ……" Se Khi memberitahukan tentang Hek Siau Liong itu.

 

"Oh?" Se Ciang Cing mengernyitkan kening lagi. "Kalau begitu, cepat undang mereka masuk!"

 

Orang yang melapor itu segera menjura, lalu pergi mengundang mereka masuk. Tak lama kemudian tampak Swat San Lo Jin, Ouw Yang Seng Tek, Hek Ai Lan dan Pek Giok Houw memasuki ruang     istana.

 

"Ha ha ha!" Ouw Yang Seng Tek tertawa gelak. "Sungguh indah dan mewah istana Pelangi ini!"

 

"Selamat datang Swat San Lo Jin, Ouw Yang Seng Tek, Hek Bi Jin dan …… Hek Siau Liong!" ucap Se Ciang Cing sambil menatap Pek Giok Houw dan membatin. Memang mirip Pek Giok Liong, kok bisa mirip begitu?

 

"Apa kabar, Tocu?" tanya Swat San Lo Jin.

 

"Baik-baik saja," sahut Se Ciang Cing. "Silakan duduk, lo cianpwee!"

 

Mereka duduk, sementara Se Pit Han terus-menerus menatap Pek Giok Houw. Pemuda itu memang serupa dengan Pek Giok Liong, hanya saja Pek Giok Liong agak tinggi.

 

"Maaf!" ucap Ouw Yang Seng Tek. "Kedatangan kami telah mengganggu kalian!"

 

"Tidak apa-apa." Se Ciang Cing tersenyum. "Kedatangan kalian tentunya mempunyai sesuatu  yang penting, kan?"

 

"Betul." Ouw Yang Seng Tek mengangguk. "Yakni menyangkut Kiu Thian Mo Cun."

 

"Jadi kalian sudah tahu peristiwa Pek Giok Liong?" tanya Se Ciang Cing.

 

"Justru karena itu, kami berkunjung ke mari," sahut Swat San Lo Jin.

 

"Di samping itu, kami juga ingin menyampaikan sesuatu yang amat penting." sambung Ouw Yang Seng Tek.

 

"Oh?" Se Ciang Cing menatapnya. "Tetua Kay Pang ingin menyampaikan apa?"

 

"Mengenai Hek Siau Liong ini," jawab Ouw Yang Seng Tek, lalu memandang Hek Ai Lan. "Hek Bi Jin, beritahukanlah!"

 

"Se tocu!" ujar Hek Ai Lan. "Nama asli Hek Siau Liong adalah Pek Giok Houw ……"

 

"Apa?" Se Ciang Cing terbelalak. "Nama aslinya Pek Giok Houw? Jadi …… dia adalah ……"

 

"Adik kembar Pek Giok Liong." Hek Ai Lan memberitahukan.

 

"Oh?" Nyonya Se Ciang Cing menatapnya. "Tapi …… kenapa Pek Mang Ciu dan istrinya tidak pernah memberitahukan pada kami, lagi pula …… Pek Giok Liong pun tidak tahu tentang ini."

 

"Benar." Hek Ai Lan manggut-manggut. "Setelah istri Pek Mang Ciu melahirkan anak kembar ……"

 

Hek Ai Lan menutur tentang dirinya mencuri salah satu bayi kembar itu. Se Ciang Cing dan istrinya mendengar dengan mata terbelalak, begitu pula Se Pit Han dan lainnya.

 

"Kalau begitu, dia …… dia anak Pek Mang Ciu!" Se Ciang Cing menatap Pek Giok Houw dengan penuh perhatian.

 

"Itu memang benar." ujar Hek Ai Lan.

 

"Ohya!" Se Ciang Cing menatapnya. "Kenapa engkau menculik salah satu anak kembar Pek Mang Ciu?"

 

"Karena …… karena ……" Hek Ai Lan menundukkan kepala.

 

"Hek Bi Jin sangat mencintai Pek Mang Ciu." sambung Ouw Yang Seng Tek sambil tertawa, sekaligus menceritakan tentang itu.

 

"Oooh!" Se Ciang Cing manggut-manggut. "Ternyata begitu!"

 

"Nak!" ujar Hek Ai Lan pada Pek Giok Houw. "Cepatlah engkau memberi hormat pada paman dan bibimu!"

 

"Giok Houw memberi hormat pada Paman dan Bibi!" Pek Giok Houw segera memberi hormat.

 

"Anak baik!" Se Ciang Cing tertawa.

 

"Nak! Beri hormat pada kakak misanmu!" ujar Hek Ai Lan.

 

"Kak misan, terimalah hormatku!" ucap Pek Giok Houw sambil menjura pada Se Pit Han.

 

"Adik Houw ……" Mata Se Pit Han bersimbah air. "Kakakmu telah mati ……"

 

"Aku sudah tahu, maka aku sudah mengambil keputusan untuk membalas dendamnya," sahut Pek Giok Houw.

 

"Tapi …… kepandaiamu masih rendah." Se Pit Han menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Se tocu!" ujar Swat San Lo Jin. "Kami antar Giok Houw ke mari untuk bertemu kalian, sekaligus agar dia bisa belajar ilmu tingkat tinggi di sini."

 

"Ngmmm!" Se Ciang Cing manggut-manggut. "Itu memang bagus, kami pasti menerimanya dengan senang hati."

 

"Terimakasih, Paman!" ucap Pek Giok Houw cepat sambil memberi hormat.

 

"Ha ha!" Se Ciang Cing tertawa gembira. "Giok Houw, engkau juga memiliki sifat seperti Giok Liong."

 

"Mereka saudara kembar, tentunya sama sifat mereka," sahut Ouw Yang Seng Tek sambil tertawa gelak, kemudian mendadak wajahnya berubah serius. "Pek Giok Liong tidak dapat melawan Kiu Thian Mo Cun, lalu bagaimana dengan Pek Giok Houw?"

 

"Sebelum kemunculan kalian, kami telah memikirkan hal ini." Se Ciang Cing memberitahukan. "Kami masih menyimpan sebuah kitab."

 

"Oh?" Wajah Ouw Yang Seng Tek berseri. "Kitab apa itu?"

 

"Bu Kek Cin Keng."

 

"Bu Kek Cin Keng?" Ouw Yang Seng Tek mengernyitkan kening. "Apakah itu kitab doa?"

 

"Bukan." Se Ciang Cing menjelaskan. "kitab Bu Kek Cin Keng ini memuat pelajaran ilmu lwee kang yang amat tinggi, hanya anak perjaka yang boleh belajar tapi ……"

 

"Kenapa?" tanya Swat San Lo Jin.

 

"Perjaka mana pun yang belajar ilmu itu seumur hidup tidak boleh kawin." Se Ciang Cing memberitahukan.

 

"Lho, Kenapa?" tanya Swat San Lo Jin heran.

 

"Karena …… akan impoten seumur hidup."

 

"Haah ……?" Swat San Lo Jin dan Ouw Yang Seng Tek saling memandang, kemudian mereka mengarah pada Hek Ai Lan.

 

"Aku tidak bisa mengambil keputusan, itu tergantung pada Pek Giok Houw." ujar Hek Ai Lan.

 

"Demi membalas dendam Kakak Liong, aku bersedia belajar ilmu itu," sahut Pek Giok Houw sungguh-sungguh.

 

"Nak!" Hek Ai Lan menatapnya. "Tapi seumur hidup engkau tidak bisa kawin. Maka alangkah baiknya pikirkanlah masak-masak dulu!"

 

"Ibu, aku cuma memikirkan dendam Kakak Liong, sama sekali tidak memikirkan soal kawin." tegas Pek Giok Houw.

 

"Bagus! Bagus!" Ouw Yang Seng Tek tertawa gelak.

 

"Apa yang bagus?" tegur Swat San Lo Jin sambil melotot. "Apakah Giok Houw harus menempuh jalanmu tidak kawin seumur hidup?"

 

"Menempuh jalan kita," sahut Ouw Yang Seng Tek. "Bukankah saudara tua juga tidak kawin seumur hidup?"

 

"Paman, Bibi!" ujar Pek Giok Houw yang telah mengambil keputusan. "Aku bersedia belajar Bu Kek Sin Kang."

 

"Ngmm!" Se Ciang Cing manggut-manggut.

 

"Ohya!" Se Pit Han teringat sesuatu, lalu mengeluarkan sebuah kitab dan diserahkan pada Se Ciang Cing. "Ayah, sebelum Kiu Thian Mo Cun muncul, adik Liong memberikan kitab ini padaku, mungkin berguna untuk Adik Houw!"

 

"Oh?" Se Ciang Cing terbelalak setelah melihat kitab itu, yang ternyata 'Kitab Ajaib'. Siapa yang belajar ilmu di dalam kitab itu, maka seumur hidup tidak boleh kawin.

 

"Kitab apa itu?" tanya Nyonya Se Ciang Cing.

 

"Ini 'Kitab Ajaib'," Se Ciang Cing memberitahukan. "Giok Houw boleh belajar ilmu yang ada di dalam kitab ini."

 

"Se tocu! Kitab apa itu?" tanya Ouw Yang Seng Tek.

 

"Kitab Ajaib." Se Ciang Cing memperlihatkan kitab itu.

 

"Wuah!" seru Ouw Yang Seng Tek. "Kitab yang luar biasa! Giok Houw memang berjodoh dengan kitab ajaib ini!"

 

"Se tocu!" Swat San Lo Jin menatapnya seraya bertanya, "Kalau Giok Houw sudah berhasil belajar Bu Kek Sin Kang dan Kitab Ajaib ini, apakah dia bisa mengalahkan Kiu Thian Mo Cun?"

 

"Entahlah." Se Clang Cing menggelengkan kepala. "Sebab kita harus tahu, lwee kang Pek Giok Liong sudah begitu tinggi, namun masih di bawah lwee kang Kiu Thian Mo Cun. Lagi pula Kiu Thian Mo Cun memiliki Hek Sim Sin Kang dan Hek Sim Tok Ciang yang amat dahsyat, bahkan juga amat beracun. Maka sulit bagi Giok Houw mengalahkannya dengan ilmu Bu Kek Sin Kang dan ilmu yang ada di dalam Kitab Ajaib ini."

 

"Kalau begitu ……" Ouw Yang Seng Tek tampak lemas. "Percuma juga dia belajar ……"

 

"Tidak percuma," sahut Se Ciang Cing. "Sebab dia masih bisa menjaga diri dengan ilmu-ilmu itu."

 

"Selain ilmu-ilmu itu, dia juga boleh belajar ilmu Cai Hong To," tambah Nyonya Se Ciang Cing.

 

"Terimakasih Paman, terimakasih Bibi!" ucap Pek Giok Houw haru dan berjanji, "Setelah aku berhasil belajar semua ilmu itu, aku pasti pergi mencari Kiu Thian Mo Cun untuk menuntut balas kematian Kakak Liong!"

 

"Bagus." Ouw Yang Seng Tek tertawa gelak. "Pokoknya pihak Kay Pang pasti membantu dalam hal ini."

 

"Terimakasih, Paman pengemis!" ucap Pek Giok Houw.

 

"Giok Houw ……" Ouw Yang Seng Tek menatapnya dalam-dalam. "Engkau boleh dikatakan jelmaan Giok Liong."

 

"Paman pengemis, kami saudara kembar, tentunya akan saling menjelma jadi satu." ujar Pek Giok Houw.

 

"Ohya! Kalau begitu, kami mau mohon diri!" ujar Swat San Lo Jin, lalu memandang Hek Ai Lan. "Bagaimana engkau? Mau tinggal di sini atau kembali ke Thian San?"

 

"Aku ……" Hek Ai Lan bimbang.

 

"Hek Bi Jin!" Nyonya Se Ciang Cing tersenyum. "Lebih baik engkau tinggal di sini bersama Pek Giok Houw!"

 

"Terimakasih, tocu hujin!" ucap Hek Ai Lan.

 

"Jangan sungkan-sungkan!" Nyonya Se Ciang Cing tersenyum lagi. "Nanti akan kusuruh kepala pengurus istana menyediakan sebuah kamar untukmu."

 

"Terimakasih!"

 

"Se tocu! Aku dan pengemis bau mau pergi. Kalau ada berita apa pun di bu lim, kami pasti ke mari memberitahukan," ujar Swat San Lo Jin.

 

"Lo cianpwee! Mulai besok di seluruh pulau ini akan di pasang jebakan, maka aku akan berikan tanda pengenal pada kallian," Kata Se Ciang Cing, lalu memberikan mereka tanda pengenal.

 

"Eh?" Ouw Yang Seng Tek tercengang. "Semua orang di sini sudah mengenal kami, kok masih harus punya tanda pengenal?"

 

"Demi menjaga hal-hal yang tak diinginkan." Se Ciang Cing memberitahukan. "Siapa tahu ada orang tertentu akan menyamar sebagai diri kalian untuk menyusup ke mari, maka kami perlu berhati-hati."

 

"Betul." Swat San Lo Jin manggut-manggut. "Se tocu memang harus waspada, siapa tahu Kiu Thian Mo Cun akan mengutus orangnya menyusup ke mari."

 

"Selain tanda pengenal, harus pula ada kata-kata sandi." tambah Se Ciang Cing.

 

"Apa kata-kata sandi itu?" tanya Ouw Yang Seng Tek.

 

"Jit Seng Tong Hong (Matahari terbit diufuk timur)!" Se Ciang Cing memberitahukan.

 

"Akan kuingat kata-kata sandi itu." Ouw Yang Seng Tek manggut-manggut.

 

"Memang lebih baik berhati-hati," ujar Swat San Lo Jin. "Agar pihak Kiu Thian Mo Cun tidak bisa mengutus orangnya menyusup ke mari. Baiklah, kami mau mohon diri!"

 

"Guru ……" Pek Giok Houw merasa berat berpisah dengan Swat San Lo Jin.

 

"Giok Houw!" Swat San Lo Jin tersenyum. "Kita pasti berjumpa lagi, baik-baiklah engkau belajar kepandaian tingkat tinggi di sini, jangan mengecewakan kami!"

 

"Ya, Guru." Pek Giok Liong mengangguk.

 

"Se tocu, sampai jumpa!" ucap Swat San Lo Jin.

 

"Selamat jalan, lo cianpwee!" sahut Se Ciang Cing.

 

"Se tocu, aku mohon diri!" ucap Ouw Yang Seng Tek, "Sampai berjumpa lagi kelak!"

 

"Selamat jalan, Ouw Yang Pang Cu!" Se Ciang Cing mengantar mereka sampai di depan istana. Setelah mereka berdua pergi jauh, barulah ia kembali ke dalam istana dan duduk. "Giok Houw ……"

 

"Ya, Paman!"

 

"Sungguhkah engkau ingin belajar Bu Kek Sin Kang dan Kitab Ajaib itu?" tanya Se Ciang Cing sambil menatapnya tajam.

 

"Sungguh, Paman." Pek Giok Houw mengangguk.

 

"Tentunya engkau tahu apa resikonya kan?"

 

"Tahu, Paman."

 

"Engkau tidak akan menyesal?"

 

"Demi membalas dendam Kakak Liong, aku sama sekali tidak akan menyesal."

 

"Baiklah!" Se Ciang Cing manggut-manggut. "Engkau boleh mulai belajar esok di ruang rahasia. Kalau sudah masuk ke ruang rahasia itu, engkau tidak boleh ke luar, kecuali berhasil belajar ilmu-ilmu itu."

 

"Ya, Paman."

 

"Ohya, Hek Bi Jin!" Se Ciang Cing tersenyum. "Kepala pengurus istana akan menyiapkan sebuah kamar untukmu, temanilah Giok Houw malam ini!"

 

"Terimakasih, Se tocu!" ucap Hek Ai Lan.

 

"Nah, sekarang kalian boleh beristirahat dulu." Kemudian Se Ciang Cing berkata pada kepala pengurus istana. "Ajak mereka ke dalam dan tunjukan kamar itu!"

 

"Ya." Kepala pengurus istana menjura, lalu mengajak Hek Ai Lan dan Pek Giok Houw ke dalam.

 

"Pit Han!" panggil Se Ciang Cing.

 

"Ada apa, Ayah?" tanya Se Pit Han.

 

"Mulai besok, engkau pun harus memperdalam kepandaianmu!" pesan Se Ciang Cing sungguh-sungguh.

 

"Ayah, kini adik Liong sudah tiada, untuk apa aku memperdalam ilmu silat lagi?" Se Pit Han tampak tiada gairah terhadap apa pun.

 

"Nak!" ujar Nyonya Se Ciang Cing sambil tersenyum lembut, ia tahu maksud tujuan suaminya kenapa menyuruh Se Pit Han memperdalam ilmu silatnya. Tidak lain agar Se Pit Han tidak terlampau memikirkan Pek Giok Liong yang sudah tiada itu. "Kalau ilmumu bertambah tinggi, kelak engkau kan boleh menuntut balas pada Kiu Thian Mo Cun?"

 

"Baiklah!" Se Pit Han mengangguk.

 

Keesokan harinya, Pek Giok Houw diantar kepala pengurus istana ke ruang rahasia, untuk belajar Bu Kek Sin Kang dan ilmu-ilmu yang terdapat di dalam Kitab Ajaib. Sedangkan Se Pit Han pun mulai memperdalam ilmu silatnya.

 

Sementara itu, Kiu Thian Mo Cun pun menutup diri di sebuah ruang rahasia dalam istananya. Ia pun mulai berlatih lagi ilmu Hek Sim Sin Kang dan Hek Sim Tok Ciang yang maha dahsyat itu.

 

Lalu bagaimana nasib Pek Giok Liong yang terpukul jatuh ke dalam jurang itu? Si Kim Kong bersusah payah turun ke dasar jurang dengan tali, namun mereka tidak menemukan mayat Pek Giok Liong. Betulkah mayat Pek Giok Liong telah dimangsa binatang buas?

 

Ternyata tidak, ketika tubuh Pek Giok Liong melayang turun ke jurang, ia sudah pingsan terpukul Kiu Thian Mo Cun, bahkan mukanya pun terhantam pukulan itu pula, mengakibatkan muka Pek Giok Liong jadi rusak terkena racun.

 

Masih untung ia memiliki Thai Ceng Sin Kang melindungi jantungnya, kalau tidak, ia pasti sudah mati.

 

Pek Giok Liong memang belum ditakdirkan mati. Tubuhnya menyangkut di sebuah pohon yang tumbuh di tebing gunung. Dua hari dua malam ia menyangkut di dahan pohon itu dalam keadaan pingsan.

 

Pada hari ketiga, mendadak turun hujan deras membuat sekujur badannya basah kuyup, namun ia masih dalam keadaan pingsan dan nafasnya pun mulai lemah.

 

Berselang beberapa saat kemudian, hujan mulai reda. Di saat itu tampak seekor ular merayap di dahan tempat Pek Giok Liong tersangkut.

 

Panjang ular itu cuma setengah meter, tapi ular tersebut sungguh aneh dan amat indah. Di kepala ular itu terdapat sebuah tanduk kecil yang memancarkan sinar putih bergemerlapan, dan tujuh macam warna menghiasi sisik-sisiknya.

 

Ular apa itu? Ternyata Cian Nian Cit Sek Tok Kak Coa (Ular tujuh warna bertanduk satu yang telah berusia seribu tahun). Ular tersebut sangat beracun, namun juga sangat berkhasiat bagi orang yang punya lwee kang.

 

Akan tetapi, siapa tergigit ular itu, beberapa detik saja pasti mati terkena racunnya.

 

Sementara ular itu terus merayap mendekati Pek Giok Liong. Setelah dekat, ular tersebut pun berhenti. Sepasang matanya menatap Pek Giok Liong dengan tajam, kelihatanya ular itu tertarik pada sesuatu yang ada di dalam tubuh Pek Giok Liong.

 

Sekoyong-konyong ular itu menggigit lengan Pek Giok Liong. Sungguh mengherankan, ular itu tidak mau melepaskan gigitan. Beberapa saat kemudian, sekujur tubuh Pek Giok Liong bergetar seperti kena strom.

 

Berselang sesaat, terjadi lagi hal yang aneh. Tanduk ular yang memancarkan sinar putih gemerlapan itu tampak mulai suram, kemudian berubah hitam. Setelah itu, barulah ular tersebut melepaskan gigitannya, lalu merayap pergi.

 

Tak seberapa lama kemudian, badan Pek Giok Liong pun mulai bergerak. Ternyata racun ular itu telah memusnahkan racun yang ada di dalam tubuh Pek Giok Liong. Bahkan ular itu pun menyedot racun tersebut, sehingga membuat tanduk ular itu berubah hitam.

 

Itu memang merupakan kejadian mujizat, sebab kini Pek Giok Liong sudah kebal terhadap racun apa pun. Bahkan tenaga dalamnya pun bertambah berlipat ganda.

 

Perlahan-lahan Pek Giok Liong membuka matanya. Ia tampak tercengang ketika melihat tempat itu. Kemudian ia pun teringat kembali apa yang telah terjadi atas dirinya, dan seketika juga ia menarik nafas lega.

 

"Aaakh ……! Aku belum mati, tapi ……" Tiba-tiba ia teringat pada Siauw Hui Ceh dan Cing Ji yang terkena pukulan Kiu Thian Mo Cun lantaran ingin melindungi dirinya. "Bagaimana keadaan mereka? Apakah mereka sudah mati atau masih hidup ……?"

 

Pek Giok Liong mulai turun. Ketika sampai di bawah, ia pun terbelalak karena pohon itu tumbuh di tebing gunung. Ia melihat ke bawah, betapa terperanjat hatinya, sebab jurang itu masih belum terlihat dasarnya.

 

Bagaimana mungkin ia turun ke bawah atau memanjat ke atas, karena tebing itu sangat licin. Meskipun ia mengerahkan ginkangnya, juga tidak bisa sampai ke atas.

 

Ia menengok ke sana ke mari, tiba-tiba matanya tertuju pada sisi pohon. Ternyata terdapat sebuah goa kecil di situ. Segeralah ia mendekati goa itu dan memandang ke dalam. Walau sangat gelap namun ia dapat melihat dengan jelas sekali.

 

Goa itu amat dalam, hanya terdapat batu karang. Kalau mau masuk ke dalam, harus merangkak.

 

Pek Giok Liong berpikir sejenak, lalu merangkak ke dalam goa itu. Sungguh tak terduga sama sekali, goa itu mirip sebuah terowongan yang amat panjang. Pek Giok Liong terus merangkak, entah berapa lama kemudian, ia melihat ada sinar di ujung goa.

 

Bukan main girangnya Pek Giok Liong, karena ia sudah mendekati mulut goa. Tak lama kemudian, ia sudah ke luar dari mulut goa tersebut dan sepasang matanya terbelalak lebar.

 

Ternyata ia melihat pemandangan alam yang amat indah, bunga-bunga liar yang berwarnawarni tumbuh teratur di situ, sehingga tempat tersebut tampak semarak. Terdengar pula suara air terjun, cepat-cepat Pek Giok Liong menuju ke tempat air terjun itu karena ingin mencuci muka.

 

Ia menjongkokkan badannya sepasang tangannya dijulurkan untuk mengambil air. Namun mendadak ia menjerit kaget dengan mata terbelalak, mulutnya pun ternganga lebar.

 

"Mukaku …… mukaku ……" Pek Giok Liong mengusap mukanya. "Kenapa mukaku berubah begitu buruk? Aaaakh ……!"

 

Pek Giok Liong jatuh duduk di situ. Berselang sesaat barulah ia menyadari kenapa mukanya berubah begitu buruk, penuh benjolan yang kehitam-hitaman.

 

Itu akibat terhantam pukulan Kiu Thian Mo Cun, tapi kenapa ia tidak mati? Tentang ini membuatnya tidak habis berpikir. Ketika ular beracun menggigitnya, ia masih dalam keadaan pingsan.

 

"Aaakh ……" Pek Giok Liong menarik nafas panjang. "Sudahlah! Wajahku rusak begini tidak apa-apa, yang penting aku harus membunuh Kiu Thian Mo Cun, lalu mengasingkan diri di sini. Karena wajahku telah rusak begini, aku pun tidak akan bertemu Kak Han lagi ……"

 

Pek Giok Liong bangkit berdiri, ia mengayunkan kakinya tanpa tujuan. Namun hatinya masih terhibur, karena pemandangan di tempat itu amat indah menakjubkan.

 

Ia terus melangkah, tiba-tiba matanya terbelalak karena melihat di tempat itu terdapat meja dan tempat duduk yang terbuat dari batu. Itu pertanda tempat tersebut pernah dihuni orang.

 

Di tempat itu juga terdapat sebuah goa yang amat besar. Ia memandang ke dalam goa itu. Karena hatinya merasa tertarik ia pun mamasuki goa tersebut.

 

Ruangan goa itu terang benderang. Yang menerangi goa itu bukan sinar matahari, melainkan sinar yang amat terang, yang dipancarkan oleh butir-butir mutiara yang menempel di dinding goa.

 

Pek Giok Liong menengok ke sana ke mari. Mendadak ia tampak terkejut karena melihat sosok bersandar pada dinding goa. Bayangan itu ternyata tengkorak manusia yang masih utuh dengan pakaiannya.

 

Perlahan-lahan Pek Giok Liong mendekati rangka itu, lalu berlutut memberi hormat.

 

"Maafkan teecu, lo cianpwee!" ucapnya. "Teecu tidak sengaja mendatangi tempat ini, sehingga mengganggu ketenangan lo cianpwee!"

 

Ketika menundukkan kepalanya dalam-dalam, Pek Giok Liong melihat tulisan pada batu di hadapan tengkorak itu, lalu segera membacanya.

 

Siapa yang memasuki tempat ini, berarti berjodoh denganku. Walau aku berhasil memukul Kiu Thian Mo Cun jatuh ke jurang, namun aku pun terluka oleh pukulannya yang beracun. Itu adalah pukulan Hek Sim Tok Ciang yang amat ganas dan beracun.

 

Beberapa partai besar sangat berterimakasih padaku karena telah membasmi Maha Iblis Langit Sembilan itu, maka para ketua partai besar itu bersepakat membuat sebuah panji untukku, panji itu disebut Jit Goat Seng Sim Ki. Siapa yang berkaitan melihat panji itu, harus bergabung dan tunduk pada pemegang panji.

 

Panji tersebut kuwariskan pada muridku, setelah itu aku pun mengundurkan diri dari rimba persilatan. Tanpa sengaja aku menemukan tempat yang amat rahasia dan indah ini. Tempat ini berada di dalam perut Gunung Yan San, dan secara kebetulan aku memperoleh semacam buah aneh. Khasiat buah tersebut dapat menambah lwee kang orang, maka buah aneh itu kubikin jadi semacam obat. Sungguh di luar dugaan, buah itu pun dapat memunahkan berbagai macam racun ganas, kusimpan di dalam botol porselin di sisiku. Ingat! Untuk menambah lwee kang, hanya boleh makan satu butir. Lebih banyak dari satu butir, akan mati muntah darah. Kalau terkena racun ganas, boleh makan dua butir. Kalau lebih dari dua butir, akan mati muntah darah.

 

Setelah racun di dalam tubuhku punah, ilmu silaiku pun ikut punah, itu karena racun pukulan Kiu Thian Mo Cun telah lama mengidap di dalam tubuhku. Oleh karena itu, aku tetap tinggal di sini.

 

Setelah lama mengasingkan diri di sini, aku pun berfirasat bahwa Kiu Thian Mo Cun akan muncul di bu lim lagi, tapi aku tidak tahu kapan dia akan muncul untuk menguasai bu lim. Dikarenakan itu, aku meninggalkan sebuah buku untuk yang berjodoh.

 

Itu adalah buku Jit Goat Seng Sim Pit Kip, yang memuat ilmu Jit Goat Seng Sim Sin Kang (Tenaga sakti Hati Suci Matahari Bulan) dan Jit Goat Seng Sim Ciang Hoat (Ilmu pukulan tangan kosong Hati Suci Matahari Bulan). Ilmu pukulan tersebut terdiri dari tujuh jurus, dan setiap jurus mempunyai tujuh perubahan. Ilmu ini amat dahsyat, maka jangan sembarangan mempergunakannya.

 

Aku cuma sampai tingkat ketujuh, belum mencapai tingkat kesepuluh, yakni tingkat kesempurnaan. Kalau sudah mencapai tingkat kesepuluh, sekujur badan akan memancarkan cahaya putih.

 

Karena Kiu Thian Mo Cun sudah mengganas di bu lim, maka aku terpaksa memunculkan diri untuk membasminya. Namun ilmuku cuma mencapai tingkat ketujuh, sehingga diriku pun terluka oleh Hek Sim Tok Ciang yang dimiliki Kiu Thian Mo Cun itu.

 

Oleh karena itu, siapa yang berjodoh dengan buku ini, haruslah belajar sampai tingkat kesepuluh, barulah bisa membasmi Kiu Thian Mo Cun.

 

Setelah aku berhasil memukul jatuh Kiu Thian Mo Cun kejurang, bu lim pun menjadi aman. Para ketua partai besar amat berterimakasih padaku, dan mereka menghadiahkan kitab silat tingkai tinggi padaku. Aku terpaksa menerimanya karena terus mendesakku. Karena ilmu-ilmu tersebut amat tinggi dan sulit dimengerti, maka para ketua partai cuma menyimpan saja, dan dijadikan kitab pusaka partai masing-masing.

 

Aku khawatir, kitab-kitab itu akan rusak, maka kusalin dihalaman belakang Jit Goat Seng Sim Pit Kip dengan semacam getah pohon yang tidak akan luntur terkena air.

 

Aku tidak tahu siapa engkau yang berjodoh, namun engkau pun boleh belajar ilmu-ilmu dari partai besar itu. Akan tetapi, engkau pun harus mengembalikan dengan cara mengajar pada para ketua partai.

 

Pergunakan ilmu-ilmu ini untuk kebaikan, jangan melakukan kejahatan, sebab engkau akan mati oleh ilmu sendiri.

 

Setelah engkau berhasil mencapai tingkat kesepuluh, barulah engkau boleh meninggalkan tempat ini melalui jalan yang engkau lalui ketika masuk itu. Dan engkau pun harus mencari panji Hati Suci Matahari Bulan.

 

Jit Goat Seng Sim Pit Kip berada di bawah batu yang di hadapanku. Setelah engkau membenturkan kepalamu tiga kali di tanah, barulah engkau boleh mengambil buku itu? Selamat belajar!

 

Seng Sim Tayhiap

 

Seusai membaca tulisan itu, Pek Giok Liong merasa dirinya dalam mimpi. Sama sekali tidak menyangka akan menemui tengkorak kakak gurunya di goa itu. Itu membuatnya girang bukan main.

 

"Kakek guru, aku Pek Giok Liong cucu muridmu." ucap Pek Giok Liong sambil memberi hormat dalam keadaan berlutut. "Panji Hati Suci Matahari Bulan berada di tanganku. Karena aku adalah generasi kelima pemegang panji itu. Aku bersumpah pasti membasmi Kiu Thian Mo Cun itu. Kakek guru, terimalah sembah sujud dari cucu muridmu!"

 

Pek Giok Liong membenturkan kepalanya tiga kali ke tanah, mendadak ia mendengar 'Krak', batu yang di hadapan tengkorak itu bergerak dan tampak sebuah lubang kecil. Di dalam lubang itu terdapat sebuah kotak besi.

 

"Kakek guru, cucu murid akan mengambil kotak besi itu," ucap Pek Giok Liong sambil menjulurkan tangannya mengambil kotak besi tersebut.

 

Setelah itu, ia pun membuka mulut besi tersebut. Di dalamnya berisi sebuah buku yang bertuliskan 'Jit Goat Seng Sim Pit Kip'.

 

"Terimakasih, Kakek guru!" ucap Pek Giok Liong dan menyembah lagi, barulah mengambil buku itu. Tampak secarik kertas di situ, lalu dibacanya.

 

Engkau memang pemuda yang baik. Aku yakin engkau pasti berhasil mencapai sampai tingkat kesepuluh. Mengenai tulang belulangku, engkau tidak perlu menguburnya. Selamat belajar, Nak!

 

Seng Sim Tayhiap

 

"Aku pasti belajar sampai mencapai tingkat kesepuluh, dan tidak akan mengecewakan Kakek guru!" ucap Pek Giok Liong, lalu mulai membuka buku tersebut. Pada waktu bersamaan, mendadak ia teringat sesuatu sehingga langsung berseru.

 

"Obat yang ada di dalam botol porselin, bukankah dapat memunahkan berbagai macam racun? Kalau begitu ……" Pek Giok Liong segera mengambil botol porselin yang berisi obat tersebut. "Aku harus makan dua butir, mudah-mudahan mukaku bisa sembuh!"

 

Pek Giok Liong membuka tutup botol dan menuang dua butir obat itu, kemudian di masukkan ke dalam mulutnya. Setelah itu, ditutupnya kembali botor porselin itu, dan dikembalikan pada tempatnya.

 

"Apakah mukaku akan pulih seperti semula?" gumamnya. "Kalau tidak bisa pulih …… ya sudahlah! Aku akan menutup mukaku dengan kain putih."

 

Pek Giok Liong mulai belajar Jit Goat Seng Sim Sin Kang, dan membaca ilmu-ilmu yang tercantum di halaman belakang Jit Goat Seng Sim Pit Kip. Setelah membaca, ia pun terkejut karena semua ilmu itu merupakan ilmu simpanan beberapa partai besar. Yakni Siau Lim Tat Mo Sin Kang, Tat Mo Kiam Hoat dan Tat Mo Ciang Hoat. Butong Hian Thian Sin Kang, Hian Thian Kiam Hoat dan Hian Thian Ciang Hoat. Hwa San Thay Yang Sin Kang, Thay Yang Kiam Hoat dan Thay Yang Ciang Hoat. Gobi Bu Siang Sin Kang, Bu Siang Kiam Hoat dan Bu Siang Ciang Hoat. Khong Tong Bie Lek Sin Kang, Bie Lek Kiam Hoat dan Bie Lek Ciang Hoat. Semua ilmu itu adalah ilmu simpanan partai-partai tersebut, namun tiada seorang pun dalam partai-partai tersebut berhasil belajar ilmu simpanan itu.

 

Akan tetapi, Pek Giok Liong justru mampu dan ia pun harus mengembalikan ilmu-ilmu itu pada para ketua partai tersebut.

 

-- o --

 

 

(Bersambung bagian 55)

Bagian ke 55. Susunan Kedudukan

Tentang kemunculan Kiu Thian Mo Cun yang telah memukul Pek Giok Liong masuk ke jurang,

itu sungguh mengejutkan beberapa partai besar.

 

Siau Lim Pay, Butong Pay, Gobi Pay, Hwa San pay dan Khong Tong Pay sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Akan tetapi, justru sungguh mengherankan, Kiu Tnian Mo Cun sudah tiada kabar beritanya lagi, entah menghilang ke mana.

Siapa pun tidak tahu, bahwa sesungguhnya Kiu Thian Mo Cun menutup diri untuk memperdalam ilmu Hek Sim Sin Kangnya. Sebelum menutup diri, ia pun memberi perintah pada para anak buahnya jangan memunculkan diri dalam bu lim.

Oleh karena itu, bu lim Pun menjadi aman. Hal tersebut tentunya sangat mengherankan para ketua partai, termasuk Swat San Lo Jin dan Ouw Yang Seng Tek, Ketua Kay Pang.

"Heran?" gumam Ouui Yang Seng Tek yang bertemu Swat San Lo Jin disebuah vihara tua.

"Kenapa Kiu Thian Mo Cun hilang begitu saja?"

"Memang mengherankan," sahut Swat San Lo Jin sambil mengernyitkan kening. "Mungkinkah dia juga terluka Parah oleh pukulan Pek Giok Liong, maka sedang mengobati dirinya, sehingga tidak muncul?"

"Itu mungkin." Ouui Yang Seng Tek mengangguk dan menambahkan, "Tapi para anak buahnya

kok ikut hilang juga?"

 

"Mungkin Kiu Thian Mo Cun melarang mereka menampakkan diri di bu lim," ujar Swat San

Lo Jin.

 

"itu memang mungkin." Ouui Yang Seng Tek manggut-manggut. "Kini sembilan bulan telah

berlalu, entah Pek Giok Houui sudah berhasil belum di Pulau Pelangi?"

 

"0-hya! Bagaimana kalau kita ke Pulau pelangi untuk menengoknya?" tanya Swat San Lo Jin.

"Saudara tua, aku masih ada urusan lain, engkau saja yang ke sana!" jawab Ouw Yang Seng Tek.

"Baiklah." Swat San Lo Jin mengangguk. "Aku akan segera berangkat ke Lam Hai. Kalau ada berita penting, engkau harus segera menyusul ke Lam Hai!"

 

"itu pasti." Ouui Yang Seng Tek tertawa. "Saudara tua, aku mohon diri!"

"Sampai jumpa, Pengemis bau!" sahut Swat San Lo Jin sambil tertawa.

"Ha ha!" Ouw Yang Seng Tek juga tertawa, lalu meninggalkan vihara itu. Begitu sampai di luar, ia pun mengerahkan ginkangnya.

Sementara Swat San Lo Jin duduk termangu di dalam vihara tua itu. Orang tua itu tidak

habis berpikir kenapa Kiu Thian Mo Cun menghilang begitu saja, bahkan para anak buahnya

pun ikut hilang pula- Cukup lama Swat San Lo Jin berpikir, akhirnya mengambil keputuSan

untuk berangkat ke Lam Hai.

 

-- o --

 

Dengan penuh kegembiraan Se Ciang Cing dan istrinya menyambut kedatangan Swat San Lo Jin. Mereka semua duduk di ruang depan Istana pelangi. Swat San Lo Jin segera menutur tentang situasi bu lim setelah Pek Giok Liong di pukul jatuh ke jurang.

"Kok bisa begitu?" Se Ciang Cing merasa heran setelah mendengar penuturan Swat San Lo Jin.

 

"itu memang amat mengherankan," sahut Swat San Lo Jin. "Menurut dugaanku, mungkin Kiu Thian Mo Cun juga terluka parah oleh pukulan Pek Giok Liong, maka dia harus mengobati lukanya."

"Itu memang masuk akal." Se Ciang Cing manggut-manggut. "Kalau begitu, setelah lukanya

sembuh, dia pasti akan muncul lagi."

 

"Berarti bu lim akan mengalami bencana!"

"Mungkin begitu."

"Kalau begitu, setelah aku kembali ke Tiong Goan, aku harus memberitahukan pada

beberapa ketua partai terkemuka di bu lim."

 

'itu agar mereka bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan-"

"Betul." Swat San Lo Jin manggut-manggut, kemudian bertanya, "ohya, Se tocu! Bagaimana Pek Giok HoUui? Apakah dia akan berhasil mencapai tingkat tinggi dalam hal ilmu silat?"

"itu sudah pasti." Se tocu tersenyum.

"Kira-kira kapan dia akan berhasil?"

"Mungkin tiga bulan lagi."

"Syukurlah!" Swat San Lo Jin menarik nafas lega. "Lho? Kok Pit Han tidak kelihatan?"

"Dia a Sa S" Se tocu menarik nafas panjang, "sejak Pek Giok Liong mati, dia pun tiada gairah hidup lagi. Setiap hari cuma menyendiri di dalam kamar dan berlatih ilmu silat,"

"Kasihan Pit Han!" Swat San Lo Jin menggeleng-gelengkan kepala- "O-hya, di mana Hek Ai

Lan?"

 

"Dia berada di dalam ruang rahasia menemani Giok Houw."

"Se tocu!" Swat San Lo Jin menatapnya." Mudah-mudahan Pek Giok Houw dapat membasmi Kiu Thian Mo Cun nanti! Kalau tidak, entah apa jadinya bu lim nanti?"

"Tentunya pihak golongan hitam yang berkuasa dalam bu lim." sahut Se Ciang Cing.

"Se tocu! Engkau tidak mau menginjak ke dalam bu lim lagi?" tanya Swat San Lo jin

mendadak.

 

"Lo cianpwee!" Se Ciang Cing tersenyum getir. "Aku tidak boleh melanggar sumpah."

"Kalau begitu, apakah engkau berniat mengutus Se Pit Han menemani Pek Giok Houw pergi membasmi Kiu Thian Mo Cun nanti?"

"Itu akan dipikirkan setelah Giok Houw berhasil."

"Tentunya Se tocu tidak akan berpangku tangan kan?"

"Meskipun aku berpangku tangan, para anak buahku pasti tidak akan tinggal diam," ujar Se Ciang Cing. "Sampai waktunya, aku pasti mengutus orang-orangku ke Tiong Goan."

"Ngmm!" Swat San Lo Jin manggut-manggut. "pokoknya aku pasti membantu dalam hal

membasmi Kiu Thian Mo Cun!"

 

"Lo cianpwee» bukankah masih ada beberapa tokoh tua golongan putih? Kenapa lo cianpwee

tidak mau mengundang mereka untuk bersama membasmi Kiu Thian Mo Cun itu?"

 

'Akutidak tahu mereka mengasingkan diri di mana, hanya satu yang kutahu." "SiaPa dia?"

"Thian San L0lo."

"Bukankah ia guru Hek Ai Lan?"

"Betul." Swat San Lo Jin mengangguk. "Nanti aku akan pergi menemuinya bersama Hek fli

Lan."

 

"Kalau Thian San Lolo bersedia membantu, itu sungguh baik sekali."

"Ohya!" Swat San Lo Jin teringat sesuatu. "Kalau aku yang mengundangnya, mungkin dia

akan menolak. Bagaimana kalau aku atas nama Cai Hong To?"

 

"Itu tentu boleh-" Se Ciang Cing mengangguk. "Se tocu! Bolehkah aku menemui Giok Houui

sebentar?" tanya Swat San Lo Jin mendadak.

 

"Maaf, lo cianpwee!" ucap Se Ciang Cing. "Untuk sementara ini lebih baik jangan, sebab

akan mengganggu konsentrasinya."

 

"Baiklah." Swat San Lo Jin mengangguk. "Se tocu, aku mau moh0n diri, tiga bulan

kemudian aku akan ke mari lagi!"

 

"Lo cianpwee tidak mau tinggal beberapa hari di sini?"

 

"itu a Sa S" Swat San Lo Jin berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah! Mumpung Se tocu mengizinkan, maka aku pun bisa menikmati keindahan Pulau Pelangi ini a Sa S"

-- o --

-- o --(0) (0) (0) (0)-- o --

Pada waktu Swat San Lo Jin kembali ke Tiong Goan, ketika itu pula Kiu Thian Mo Cunpun

telah berhasil menyempurnakan ilmu_iimunya.

 

Cit Giat Sin KUn, Thiat San, Thian Suan, Ti Kie Sin Kun, Jin Pin Mo Kun, Ling Ming Gun Cia, Ngo Tok Geng Kun, empat pengawal pribadi, enam pengawal khusus dan Hui Eng Cap Ji Kiam berdiri di ruang dalam dengan sikap hormat.

Kreeek! Pintu yang di dinding terbuka. Tak lama kemudian tampak Kiu Thian M0 Cun melangkah ke luar, ia tetap memakai kedok iblis.

 

"Kami mengucapkan selamat pada Mo Cun!" ucap mereka serentak.

"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak. "Terimakasih! Terimakasih a Sa s"

 

Kiu Thian Mo Cun menuju ke ruang khusus, Cit Ciat Sin Kun dan lainnya mengikuti dari

belakang.

Begitu sampai di ruang itu, Kiu Thian Mo Cun langsung duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Cit Ciat Sin Kun dan lainnya masih berdiri dengan sikap hormat.

"Kalian semua duduklah!" ucap Kiu Thian Mo Cun.

"Terimakasih, Mo Cun!" sahut mereka dan duduk di kursi masing-masing.

"Mulai saat ini, Bun Jiu Kiong dan Tay Tie Kiong ini dinamai Kiu Thian Mo Kiong (Istana Iblis Langit Sembilan) saja!" ujar Kiu Thian Mo Cun dan menambahkan, "Aku pun akan memulihkan kepandaian Tu Ci Yen, sekaligus kuterima sebagai murid."

"Terimakasih, Mo Cun!" ucap Cit Ciat Sin Kun sambil memberi hormat.

"Cit Ciat Sin Kun!" Kiu Thian Mo Cun menatapnya tajam.

"Hamba siap menerima perintah!" sahut Cit Ciat Sin Kun sambil menjura.

"Bagaimana situasi bu lim ketika aku menutup diri untuk menyempurnakan ilmu-iimuku?"

tanya Kiu Thian Mo Cun.

 

"Situasi bu lim tenang-tenang saja selama itu," jawab Cit Ciat Sin Kun dan memberitahukan, "Namun lima partai besar tampak bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan setelah Mo Cun berhasil memukul Pek Giok Liong ke jurang."

"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak. "Lima partai besar?"

"Ya, Mo Cun," jawab Cit Ciat Sin Kun. "Yakni partai Siau Lim, Butong, Gobi, Hwa San,

dan Khong Tong."

 

"Hmm!" dengus Kiu Thian Mo Cun dingin. "Tidak lama lagi partai besar itu akan di bawah

perintah Kiu Thian Mo Ki0ng."

 

"Mo Cun! Kapan kita akan mulai menyerang partai-partai itu?" tanya Cit Ciat Sin Kun.

"Kini belum waktunya," sahut Kiu Thian Mo Cun. "Cit Ciat Sin Kun, aku memberi perintah

padamu!"

 

"Hamba siap menerima perintah." Cit Ciat Sin Kun segera menjura.

"Engkau harus segera berangkat ke Hek in San, Hong Lay San dan Ti Sat Tong untuk mengundang Thian Ti Siang Mo (Sepasang Iblis Langit Bumi), Ngo Kui (Lima Setan) dan Cit Ti Sat (Tujuh Algojo Akhirat)!"

 

"Ya." Cit Ciat Sin Kun menjura.

"Bawa lencanaku, agar mereka mau menurut!" ujar Kiu Thian Mo Cun, lalu melempar sebuah lencana yang terbuat dari perak berukir muka iblis, itu adalah Mo Cun Ling (Lencana Maha Iblis).

Cit Ciat Sin Kun menyambut lencana itu dengan sikap hormat, kemudian bangkit berdiri

seraya bertanya.

 

"Kapan hamba harus berangkat?" "Sekarang. '

"Hamba menerima perintah!" Cit ciat sin Kun memberi hormat, lalu segera berangkat.

"Pengawal Naga!" Panggil Kiu Thian M0 Cun.

"Hamba siap menerima perintah!" Pengawal Naga segera bangkit berdiri.

"Cepat ke ruang Mo Li (Iblis wanita), panggil Kiu Mo Li (Sembilan wanita iblis) ke mari!"

 

"Ya!" Pengawal Naga menjura, lalu segera menuju ke ruang Mo Li.

Berselang beberapa saat kemudian. Pengawal Naga sudah kembali bersama sembilan wanita cantik jelita, namun gaun mereka sangat tipis sehingga tembus pandang.

"Kiu Mo Li menghadap Mo Cun!" ucap Toa Mo Li sambil memberi hormat.

"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa terbahak-bahak. "Toa Mo Li, engkau bertambah

cantik saja!"

 

"Terimakasih atas pujian Mo Cun!" ucap Toa Mo Li sambil tertawa cekikikan. Suara

tawanya amat merdu dan nyaring, bahkan mengandung kekuatan.

 

"Toa Mo Li, bagaimana ilmu Mo Li Hun Tinmu (Barisan pembetot sukma wanita iblis)?"

"Sudah berhasil, Mo Cun!" jawab Toa Mo Li.

"Bagus! Bagus!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak. "Lalu bagaimana dengan Mo Li Kiam Tin

(Barisan pedang wanita iblis) mu?"

 

"Juga sudah berhasil."

 

"Bagus! Bagus!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak lagi. "Mungkin tidak lama lagi, kalian akan membetot sukma para kepala gundul dan para hidung kerbau (Ucapan penghinaan terhadap para hweshio dan para pendeta To)!"

"Kami memang sedang menunggu kesempatan itu," sahut Toa Mo Li sambil tertawa genit.

"Nah! Sekarang kalian boleh kembali ke ruang kalian untuk beristirahat, tunggu

perintahku berikutnya!"

 

"Terimakasih, Mo Cun!" ucap Toa Mo Li, lalu segera mengajak yang lain kembali ke ruang mereka. Ketika melangkah ke dalam, badan mereka pun meliuk-liuk, sehingga membuat para anak buah Kiu Thian Mo Cun melotot menyaksikannya-

"He he he!" Kiu Thian Mo Cun tertaWa terkekeh, lalu berkata, "Setelah Cit Ciat Sin Kun pulang, aku akan menyusun kedudukan kalian! Sekarang aku mau beristirahat, dan kalian pun boleh kembali ke tempat masing-masing."

Kiu Thian Mo Cun telah memulihkan kepandaian Tu Ci Yen, dan menerimanya sebagai murid,

tentunya sangat menggembirakan Tu Ci Yen-

 

"Teecu memberi hormat pada guru!" Tu Ci Yen berlutut di hadapan Kiu Thian Mo Cun.

 

"Bangunlah muridku!" ujar Kiu Thian Mo Cun. "Mulai sekacang engkau harus rajin belajar, agar engkau bisa bantu guru untuk menguasai rimba persilatan!"

"Murid pasti rajin belajar, tidak akan mengecewakan Guru!" ucap Tu ci Yen sungguh-sungguh, kemudian bertanya, "Guru, betulkah Pek Giok Liong telah mati?"

"Betul." Kiu Thian Mo Cun tertawa. "Dia sudah terkena pukulanku dan masuk ke jurang,

bagaimana mungkin dia bisa hidup?"

 

"Bagaimana dengan Siauw Hui Ceh, Cing Ji dan Se pit Han?"

"Siauw Hui Ceh dan Cing Ji telah mati, sedangkan Se Pit Han kembali ke pulau Pelangi."

"Guru a Sa S" Tu Ci Yen menarik nafas. "Kenapa Guru membunuh Siauw Hui Ceh?"

"Sesungguhnya aku tidak membunuhnya, dia dan Cing Ji berusaha melindungi pek Giok

Liong, maka terkena pukulanku."

 

"Hui Ceh a Sa S"

"Muridku, engkau mencintai gadis itu?"

 "Ya."

 

"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa terbahak_bahak. "Muridku, masih banyak gadis lain yang cantik-cantik, engkau boleh bersenang-senang dengan para gadis itu kelak."

"Guru tidak melarang?"

"Untuk apa aku melarang kesenangan murid?"

"Terimakasih, Guru!" ucap Tu Ci Yen girang. "Terimakasih a Sa S"

"Baiklah!" Kiu Thian Mo Cun menatapnya tajam seraya berkata, "Mulai sekarang, aku akan mengajarmu ilmu-ilmu yang paling tinggi."

Maka Kiu Thian Mo Cun mulai mengajar Tu Ci Yen dengan ilmu-ilmu simpanannya. Tidak

mengherankan kepandaian Tu Ci Yen bertambah tinggi dan sempurna.

 

Lima belas hari kemudian, Cit Ciat Sin Kun sudah kembali ke Kiu Thian Mo Cun bersama

belasan tokoh tua golongan hitam yang berkepandaian amat tinggi.

 

"Lapor pada Mo Cun!" Cit Ciat Sin Kun memberi hormat. "Hamba telah mengundang mereka

ke mari."

"Bagus! Bagus!" Kiu Thian Mo Cun tertauia girang.

"Kami memberi hormat pada Mo Cun!" ucap para tokoh tua golongan hitam itu-

"Silakan duduk!" ujar Kiu Thian Mo Cun.

"Terimakasih!" ucap mereka serentak lalu duduk.

Para tokoh tua golongan hitam itu adalah Thian Ti Siang Mo, Ngo Kui Yakni Toa Tauui Kui (Setan kepala besar), Kiang Si Kui (Setan mayat), Tok Gan Kui (Setan mata satu), Tok Pie Kui (Setan lengan tunggal), Tok Kah Kui (Setan kaki satu) dan Cit Ti Sat (Tujuh algojo akhirat).

"Thian Ti Siang Mo, Ngo Kui dan Cit Ti Sat ikut aku di Kiu Thian Mo Kiong ini!" ujar Kiu Thian Mo Cun memberitahukan. "Cit Ciat Sin Kun kuangkat sebagai pemimpin di ekspedisi Yang Wie. Thian Sat, Thian Suan, Ti Kie, Jin Pin Mo Kun, |_ing Ming Cun cia, Ngo Tok Ceng Kun dan Hui Eng Cap Ji Kiam ikut Cit Ciat Sin Kun!"

"Kami menerima perintah!" sahut mereka sambil menjura.

"Mulai sekarang ekspedisi Yang Wie di namai Yang Wie Kiong!" ujar Kiu Thian Mo Cun,

lalu memanggil Tu Ci Yen. "Muridku!"

 

"Ya, Guru!" Tu Ci Yen segera bangkit berdiri sambil memberi hormat. "Murid siap

menerima perintah!"

 

"Engkau ke Siauui Keh Cung!" Kiu Thian Mo Cun memberi perintah Pada Tu Ci Yen. "Siauw Keh Cung harus dijadikan Siau Mo Kiong (Istana iblis kecil), dan mulai saat ini julukanmu adalah Siau Mo Cun (Maha iblis kecil)!"

"Terimakasih, Guru!" ucap Tu Ci Yen.

"Mo Cun, kapan kami harus berangkat ke Yang wie Kiong (Istana Yang Wie)?" tanya cit

Ciat Sin Kun.

 

"Sekarang," sahut Kiu Thian Mo Cun.

"Hamba menerima perintah!" Cit Ciat Sin Kun segera melangkah pergi, sedangkan Thian

Sat Sin Kun dan lainnya langsung mengikutinya.

 

"Guru, kapan murid harus berangkat ke Siau Keh Cung?" tanya Tu Ci Yen.

"Sekarang," sahut Kiu Thian Mo Cun dan menambahkan, "Naga, Harimau. Singa, Macan Tutul

dan enam pengawal khusus ikut engkau!"

 

"Ya, Guru!" Tu Ci Yen meninggalkan ruang Kiu Thian Mo Kiong, empat pengawal prihadi

dan enam pengawal khusus mengikutinya dari belakang.

 

-- o --

-- o --(0) (0) (0) (0)-- o --

Tu Ci Yen dan lainnya sudah sampai di Siauw Keh Cung. Pintu rumah Siauw terbuka lebar,

mereka langsung melangkah ke dalam.

 

Dua penjaga segera menghadang, namun Tu Ci Yen mengibaskan tangannya, dan kedua penjaga itu langsung menjerit.

"flaaakh a Sa S" Nyawa mereka pun melayang seketika.

Tu Ci Yen tertawa dingin dan melangkah ke dalam. Siauw Peng Yang, Siauw Kiam Meng dan

lainnya menyambut mereka dengan senjata di tangan.

 

"He he he!" Tu Ci Yen tertawa terkekeh, "selamat bertemu Siauw Peng Yang!"

"Engkau a Sa S" Siauw Peng Yang terbelalak, "a Sa S Tu Ci Yen!"

"Siauw Peng Yang, kini kepandaianku telah pulih!" Tu Ci Yen menatapnya dingin. "Engkau

pun sudah menjadi majikan di rumah ini, tapi riwayatmu akan tamat hari ini!"

 

"Tu Ci Yen!" Siauw peng Yang terkejut. "Engkau mau apa?"

"Mau apa?" Tu Ci Yen tertawa gelak- "Empat Pengawal pribadi! Bunuh mereka semua!

Pokoknya yang bermarga Siauw harus dibantai!"

 

"Ya," sahut keempat pengawal pribadi itu, kemudian mereka bergerak cepat dan

terdengarlah jeritan yang menyayatkan hati.

 

"flaakh!"

 

"Aaakh a Sg S!"

Tak seberapa lama kemudian, Siauw Peng Yang, siauw Kiam Meng dan semua orang yang bermarga Siauw sudah tergeletak menjadi mayat, masih tersisa belasan orang yang bukan marga Siauw, mereka berdiri dengan bergemetaran.

"Kubur mayat-mayat itu dan bersihkan tempat ini!" Tu Ci Yen memberi perintah pada

mereda.

"Ya," sahut mereka serentak sambil menarik nafas lega, karena Tu Ci Yen tidak membunuh

mereka.

 

Tu Ci Yen duduk di ruang dalam, empat pengawal pribadi dan enam pengawal khusus

berdiri mendampinginya.

 

"Mulai saat ini, kalian semua harus memanggilku Siau Mo Cun, tempat ini dinamai Siau

Mo Kiong!" ujar Tu Ci Yen.

 

"Ya."

 

"Kalian berempat kuangkat sebagai Si Hu Huat (Empat pelindung) di Siau Mo Kiong ini."

"Terimakasih, Siau Mo Cun!" ucap keempat orang itu sambil memberi hormat.

"Kalian berenam kuangkat sebagai Lak Mo." ujar Tu Ci Yen pada keenam pengawal khusus.

"Terimakasih, Siau Mo Cun!" ucap mereka berenam.

"Ha ha ha!" Tu Ci Yen tertawa gelak. "Si Hu HUat!"

 

"Kami siap menerima perintah, siau Mo Cun!" sahut keempat orang itu sambil memberi hormat. "Undang orang-orang dari golongan hitam, aku akan mengadakan pesta malam in!"

"Ya." Si Hu Huat menjura, lalu segera pergi.

"Lak Mo!" panggil Tu Ci Yen.

"Kami siap menerima perintah!" Lak Mo memberi hormat.

"Kalian harus mencari beberapa wanita cantik untuk menemaniku malam ini!" Tu Ci Yen

memberi perintah-

 

"Ya." Lak Mo memberi hormat lalu pergi.

Ketika hari mulai menjelang malam, ramailah di Siau Mo Kiong. Orang-orang dari

golongan hitam hadir semua, mereka berpesta pora di situ-

 

Lak Mo pun telah melaksanakan tugas mereka dengan baik, mereka membawa beberapa wanita

cantik ke dalam Siau Mo Kiong dan disekap di sebuah kamar.

 

Ketika pesta berlangsung dengan meriah, muncullah Tu Ci Yen bersama Si Hu Huat dan Lak

Mo.

 

Tu Ci Yen duduk, Si Hu Huat dan Lak M0 berdiri di sisinya. Tu Ci Yen memandang Si Hu Huat sambil manggut-manggut memberi isyarat, seketika juga Toa Hu Huat berseru lantang.

 

"Kawan-kawan, bersediakah kalian bergabung dengan kami?"

"Bersedia!" sahut orang-orang golongan hitam serentak.

Apakah kalian Pasti setia pada Siau Mo Cun?" tanya Toa Hu Huat.

 

"Pasti setia!"

"Kalau begitu, mulai sekarang kalian semua boleh tinggal di sini! Besok Siau Mo Cun

akan menyusun kedudukan kalian!"

 

"Terimakasih, Siau Mo Cun!"

"Nah! Sekarang kalian boleh bersenang-senang!"

"Terimakasih!" Orang-orang golongan hitam itu minum-minum lagi.

Tu Ci Yen tersenyum-senyum, Toa Mo (Saudara tertua Lak Mo) segera berbisik-bisik

ditelinga Tu Ci Yen.

 

"Siau Mo Cun! Sarapan sudah disiapkan di dalam kamar!"

"Sarapan apa?" tanya Tu Ci Yen heran.

"Wanita-wanita cantik itu." Toa Mo memberitahukan.

"Oh? Ha ha ha!" Tu Ci Yen tertawa gembira. "Bagus, bagus! Malam ini aku harus

bersenang-senang bersama dengan mereka."

 

Si Hu Huat dan Lak Mo saling memandang, kemudian mereka tersenyum, lalu ikut minum

bersama orang-orang golongan hitam itu.

 

Sedangkan Tu Ci Yen sudah masuk ke dalam menuju ke kamar tempat wanita-wanita cantik

tersebut disekap.

 

Sementara itu, di Yang Wie Kiong pun sedang berlangsung pesta minum-minum, namun cuma

orang-orang Yang Wie saja-

 

Cit Ciat Sin Kun duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Thian Sat dan lainnya duduk di

sisi kiri kanannya-

"Thian Sat, Thian Suan! Mulai sekarang kalian berdua kuangkat sebagai pelindung di

Yang Wie Kiong ini." ujar Cit Ciat Siri Kun.

 

"Terimakasih, Sin Kun!" Thian Sat dan Thian Suan memberi hormat.

"Ti Kie, Jin Ping, Ling Ming dan Ngo Tok kuangkat sebagai empat pengawal."

"Terimakasih, Sin Kun!" ucap mereka berempat sambil memberi hormat.

"Hui Eng Cap Ji Kiam kuangkat sebagai pemimpin orang-orang di sini."

"Terimakasih, Sin Kun|" ucap Hui Eng Cap Ji Kiam serentak.

"Sin Kun, perlukah kita menundukkan semua perguruan kecil yang ada di daerah sini?"

tanya Jin Pin Mo Kun.

 

"Itu tidak perlu." jawab cit Ciat Sin Kun sambil tertawa."Mulai besok mereka pasti ke

mari untuk menyatakan takluk pada kita."

 

"Kok bisa begitu?" tanya Jin Pin Mo Kun heran-

 

"Mereka sudah tahu siapa kita, kalau mereka tidak ke mari menyatakan takluk pada kita,

tentunya kita akan menghabiskan mereka, kan?" ujar Cit Ciat Sin Kun.

 

"Betul." Jin Pin Mo Kun tertawa-

"lapi kita pun tidak boleh sembarangan bertindak." ujar Cit Ciat Sin Kun mengingatkan-

"Kenapa?" tanya Ngo Tok Ceng Kun.

"Yang Wie Kiong ini masih di bawah Perintah Kiu Thian Mo Cun, maka kalau tiada perintah dari Kiu Thian Mo Cun, kita tidak boleh sembarangan bertindak."

"Benar," sahut Thian Sat Sin Kun dan menambahkan, "Kalau kita melanggar perintah Mo

Cun, nyawa kita pasti melayang."

 

"Kalau begitu a Sa S" Ngo Tok Ceng Kun menarik nafas.

"Bukankah lebih baik kita makan tidur saja?" ujar Cit Ciat Sin Kun sambil tertawa.

"Kalau ada perintah dari Mo Cun, barulah kita bergerak."

 

[bersambung]