panji sakti 09
Tu Ci Yen maju selangkah, mendadak ia
menyerang dada Pek Giok Liong dengan sepasang telapak tangannya.
Pada waktu bersamaan, Lang San Sam Kuai juga
menyerang Pek Giok Liong dari tiga jurusan, begitu cepat bagaikan
kilat serangan mereka.
Pek Giok Liong tertawa panjang, badannya
berkelebat dan ia sudah lolos dari serangan-serangan mereka.
Padahal sesungguhnya, jurus pertama itu cuma
jurus tipuan belaka. Tu Ci Yen dan Lang San Sam Kuai sudah
memperhitungkan, Pek Giok Liong pasti berkelit, maka mereka berempat
baru menyerangnya dengan pukulan dahsyat.
Oleh karena itu, ketika badan Pek Giok Liong
bergerak, mereka berempat pun segera menyerangnya.
Betapa terkejutnya Pek Giok Liong, ia tidak
menduga akan serangan susulan itu. Ia cepat-cepat mengerahkan ilmu
peringan tubuhnya dengan jurus Hui In Phiau Su (Awan terbang capung
melayang). Tubuh Pek Giok Liong meluncur ke atas dan
melayang-layang, kemudian sekonyong-konyong ia pun balas menyerang.
Mulailah pertarungan yang amat seru dan
dahsyat. Pek Giok Liong seorang melawan empat orang yang
berkepandaian tingkat tinggi.
Tu Ci Yen dan Lang San Sam Kuai menyerang
Pek Giok Liong dengan jurus-jurus maut yang penuh mengandung lwee
kang. Sedangkan Pek Giok Liong pun mengerahkan Thai Ceng Sin Kang
(Tenaga sakti pelindung badan). Di samping itu ia juga mengerahkan
ginkangnya, sehingga tampak badannya berkelebat ke sana ke mari
dengan ringan menghindari serangan-serangan lawan.
Dalam waktu singkat, mereka bertarung sudah
belasan jurus. Justru Tu Ci Yen dan Lang San Sam Kuai semakin
terperanjat, karena mereka berempat tidak berada di atas angin,
sebaliknya malah di bawah angin.
Karena sudah lewat belasan jurus, maka Pek
Giok Liong pun mulai menyerang mereka dengan gencar, sekaligus
mengerahkan jurus Thian Hong Khuang Chien (Hembusan angin topan).
Jurus tersebut membuat Lang San Sam Kuai terdorong mundur beberapa
langkah.
"Tu Ci Yen!" ujar Pek Giok Liong. "Engkau
berhati-hatilah!"
Tubuh Pek Giok Liong berkelebat, ia sudah
berada di sisi Tu Ci Yen, sekaligus mencengkeram bahunya.
Betapa kagetnya Tu Ci Yen. Ia berkelit
secepat kilat dan menyerang dada Pek Giok Liong.
Pek Giok Liong tertawa ringan. Ia menyambut
serangan itu dengan pukulan, sehingga terdengar suara benturan.
Bum!
Sungguh di luar dugaan, mendadak badan Tu Ci
Yen melambung ke atas. Itu membuat Pek Giok Liong tertegun. Ketika
ia baru mau menyerang Tu Ci Yen, tiba-tiba ia mendengar suara angin
pukulan yang amat dahsyat di belakangnya. Ternyata Lang San Sam Kuai
telah menyerangnya.
"Waktu kalian bertiga telah sampai!" bentak
Pek Giok Liong.
Ia menggerakkan sepasang tangannya, itu
adalah jurus Ling Khong Huan In Cam (Pukulan tanpa bayangan) yang
tiada tandingannya.
Seketika juga terdengar suara jeritan yang
menyayat hati, Lang San Sam Kuai terpental belasan meter, darah
segar pun mengucur deras dari mulut mereka.
Kejadian itu sungguh mengejutkan Thian Suan
Sin Kun, Ti Kie Sin Kun dan enam pengawal khusus. Mata mereka
terbelalak dan mulut pun ternganga lebar.
Mendadak melayang turun sosok bayangan
dengan tangan menjinjing seseorang. Ternyata Bu Siang Seng
menjinjing Tu Ci Yen.
"Terimakasih, Bu Siang Seng!" ucap Pek Giok
Liong.
"Sama-sama!" sahut Bu Siang Seng sambil
tertawa.
"Dia sudah mati?"
"Belum." Bu Siang Seng melempar Tu Ci Yen ke
bawah, lalu memberi hormat pada Pek Giok Liong seraya berkata,
"Teecu mohon ampun!"
"Lho?" Pek Giok Liong heran. "Kenapa Siang
Seng ……?"
"Teecu sedikit lengah, sehingga membuat Giok
Ling terluka." Bu Siang Seng memberitahukan.
"Parahkah lukanya?" tanya Pek Giok Liong
cemas.
"Mungkin harus beristirahat sepuluh hari
baru bisa sembuh," jawab Bu Siang Seng dengan kepala tertunduk.
"Bertarung dengan lawan, terluka memang
tidak bisa dihindarkan, maka Siang Seng tidak bersalah dalam hal
ini."
"Terimakasih atas pengampunan Ketua!" ucap
Bu Siang Seng lalu mundur.
Pek Giok Liong memandang Thian Suan Sin Kun,
Ti Kie Sin Kun, enam pengawal khusus dan lainnya dengan tajam.
"Lebih baik kalian semua jangan mencoba
kabur!" ujar Pek Giok Liong. "Tetap berdiri di tempat
masing-masing!"
Thian Suan Sin Kun dan Ti Kie Sin Kun saling
memandang. Setelah itu Thian Suan Sin Kun bertanya.
"Mau kau apakan diri kami?"
Pek Giok Liong tersenyum dan sahutnya.
"Kalian boleh berlega hati, aku tidak akan
menyusahkan kalian semua, hanya harus menotok jalan darah kalian
masing-masing. Kalau hari sudah terang, totokan itu akan terbuka
sendiri!"
"Bagaimana setelah kami bebas dari totokan?"
tanya Thian Suan Sin Kun.
"Kalian mau ke mana, terserah!" jawab Pek
Giok Liong.
"Kenapa harus menunggu sampai hari terang?"
tanya Thian Suan Sin Kun.
"Karena sebelum hari terang, aku akan pergi
mencari Cit Ciat Sin Kun." Pek Giok Liong memberitahukan.
"Engkau khawatir kami akan memberitahukan
padanya tentang kejadian di sini?" tanya Ti Kie Sin Kun.
"Betul." Pek Giok Liong mengangguk. "Itu
agar dia tidak bisa meloloskan diri lagi, maka kalian harus ditotok
jalan darah masing-masing, dan akan bebas dengan sendirinya setelah
hari terang!"
"Engkau sudah tahu jejak Cit Ciat Sin Kun?"
tanya Thian Suan Sin Kun mendadak.
"Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong sudah
bergabung dengan kami, engkau pikir dia tidak akan berkata
sejujurnya?"
"Tahukah engkau ada berapa banyak orang
berkepandaian tinggi yang mendampingi Cit Ciat Sin Kun?"
"Naga, Harimau, Singa dan Macan tutul empat
pengawal pribadinya, delapan pelayan, Hui Eng Cap Ji Kiam, Thai Nai
Siang Hiong dan puluhan orang yang berkepandaian tinggi, jadi
semuanya berjumlah lima puluh lebih kan?"
"Betul." Thian Suan Sin Kun mengangguk.
"Oleh karena itu, engkau harus tahu kekuatan kalian yang hanya
belasan orang, bukankah ke sana cari mati?"
"Apa yang engkau katakan memang benar. Tapi
kalau aku tidak yakin, bagaimana mungkin berani pergi mencarinya?"
"Tapi ……" Thian Suan Sin Kun
menggeleng-gelengkan kepala.
"Ohya! Aku ingin minta bantuanmu, apakah
engkau sudi membantuku?" tanya Pek Giok Liong mendadak.
"Apa yang dapat kubantu?"
"Engkau perintahkan seseorang untuk
mengumpulkan semua orang, setelah hari terang, barulah kalian boleh
pergi."
Thian Suan Sin Kun berpikir sejenak, lalu
mengarah pada enam pengawal khusus seraya berkata, "Saudara,
laksanakanlah tugas ini!"
Pemimpin enam pengawal khusus itu memandang
Pek Giok Liong, kemudian mengangguk.
"Baiklah. Aku segera ke dalam." Ia melangkah
ke dalam untuk mengumpulkan semua orang.
Tak seberapa lama kemudian, pemimpin enam
pengawal khusus itu sudah kembali bersama puluhan orang.
"Sudah kumpul semua?" tanya Pek Giok Liong.
"Sudah!" Pemimpin enam pengawal khusus itu
mengangguk. "Kalau engkau tidak percaya, boleh perintahkan seseorang
untuk memeriksa ke dalam!"
"Itu tidak perlu." Pek Giok Liong tersenyum.
"Aku percaya padamu!"
"Terimakasih!" ucap pemimpin enam pengawal
khusus itu.
"Bu Siang Seng, Si Kim Kong! Kalian sudah
boleh menotok jalan darah tidur mereka!" ujar Pek Giok Liong.
"Ya," sahut mereka serentak, lalu badan
mereka berkelebat ke sana ke mari. Tak lama kemudian, puluhan orang
itu telah terkulai dalam keadaan tidur, Bu Siang Seng, Si Kim Kong
mendekati Pek Giok Liong, lalu mereka memberi hormat.
"Bu Siang Seng!" ujar Pek Giok Liong. "Atur
belasan orang di sini untuk menjaga mereka!"
"Ya." Bu Siang Seng mengangguk.
"Sepuluh orang menjaga di sekitar sini,
apabila melihat Cit Ciat Sin Kun kabur ke mari, harus segera memberi
isyarat dengan kembang api!" Pesan Pek Giok Liong.
"Ya." Bu Siang Seng mengangguk lagi.
"Dia ……" Pek Giok Liong menunjuk Tu Ci Yen
yang tergeletak di tanah. "Musnahkan ilmu silatnya, lalu serahkan
pada salah seorang kita untuk membawanya pergi!"
"Ya." Bu Siang Seng memberi hormat.
Sedangkan Pek Giok Liong sudah mengerahkan
ginkangnya menuju Kota Teng Hong ……
-- o --
(Bersambung bagian 51)
PANJI SAKTI (JIT GOAT SENG SIM KI)
(Panji Hati Suci Matahari Bulan)
Karya: Khu Lung
Bagian ke 51. Dendam Telah Balas
Di dalam ekspedisi Yang Wie, sama sekali
tidak tampak sinar lampu dan sangat sunyi. Mungkin semua orang yang
ada di dalam ekspedisi itu telah pulas.
Sekonyong-konyong berkelebat beberapa sosok
bayangan ke dalam halaman belakang ekspedisi itu. Mereka ternyata
Pek Giok Liong, Se Pit Han dan Si Kim Kong.
Pada waktu bersamaan, terdengar pula suara
bentakan keras di tempat yang gelap.
"Siapa? Tengah malam berani memasuki
ekspedisi Yang Wie!"
Dua sosok bayangan melompat ke luar dari
tempat gelap itu. Ternyata dua orang berbaju hitam dengan pedang
bergantung di punggung.
"Harap kalian berdua melapor pada Taytie,
bahwa siau tocu dari Cai Hong To datang berkunjung!"
Kedua orang berbaju hitam terperanjat. Tanpa
sadar mereka termundur dua langkah dengan mata terbelalak.
"Anda siau tocu dari Cai Hong To?" tanya
salah seorang berbaju hitam.
"Aku masih ada urusan lain, tidak bisa
membuang waktu! Cepatlah kalian melapor pada Taytie!"
"Bagaimana Anda bisa tahu bahwa Taytie
berada di sini?"
"Kim Tie yang beritahukan!"
"Anda sudah bertemu Kim Tie?"
"Kenapa engkau begitu cerewet?"
Orang berbaju hitam tertegun, kemudian
ujarnya sambil menarik nafas panjang.
"Maaf! Aku dalam tugas, maka harus bertanya
pada Anda sejelas-jelasnya!"
"Ngmm!" Pek Giok Liong manggut-manggut.
"Di mana Anda bertemu Kim Tie?"
"Ketika dia dalam perjalanan menuju ke Go Bi
San," sahut Pek Giok Liong dingin.
"Oh?" Orang berbaju hitam mengerutkan
kening. "Ada urusan apa Anda ingin bertemu Taytie?"
"Apakah engkau berhak bertanya begitu?"
Wajah Pek Giok Liong sudah berubah dingin. Air muka orang berbaju
hitam pun berubah, dan tampak tertegun pula.
"Cepatlah engkau melapor, jangan membuat
salah di sini!" tegas Pek Giok Liong sambil menatapnya tajam.
"Ya! Ya, harap Anda tunggu sebentar, aku
segera melapor!" Ketika orang berbaju hitam itu baru mau melangkah
masuk, mendadak terdengar suara yang amat dingin.
"Engkau tidak usah melapor lagi!"
Orang berbaju hitam itu tersentak, lalu
cepat-cepat memberi hormat. Dan pada waktu bersamaan, muncul
beberapa orang, yaitu Cit Ciat Sin Kun dan empat pengawal
pribadinya, yaitu Naga, Harimau, Singa dan Macan tutul.
"Pek Giok Liong!" Cit Ciat Sin Kun
menatapnya sambil tertawa dingin. "Nyalimu sungguh besar!"
"Karena aku berani menentangmu?" tanya Pek
Giok Liong sambil tersenyum hambar.
"Tidak salah." Cit Ciat Sin Kun
manggut-manggut. "Bahkan engkau pun begitu berani ke mari
mencariku!"
"Kau anggap aku ke mari mengantar kematian?"
"Betul!" Cit Ciat Sin Kun mengangguk. "Hari
ini engkau pasti mampus!"
Mendadak Pek Giok Liong tertawa gelak, ia
menatap Cit Ciat Sin Kun seraya berkata. "Tidak merasa dirimu sedang
omong besar?"
"Hm!" dengus Cit Ciat Sin Kun dingin. "Kau
apakan Kim Tie?"
"Aku mengutus orang menangkapnya."
"Dia berada di mana sekarang?"
"Dikurung di suatu tempat rahasia." Pek Giok
Liong memberitahukan. "Sebaliknya Tu Ci Yen ……"
"Bagaimana dia?" tanya Cit Ciat Sin Kun
cemas.
"Dia tidak kubunuh, melainkan ……" Pek Giok
Liong memberitahukan. "…… ilmu silatnya telah dimusnahkan!"
"Jadi ……" Air muka Cit Ciat Sin Kun berubah.
"Engkau telah pergi ke Siauw Keh Cung?"
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk. "Bahkan aku
pun telah membunuh Lang San Sam Kuai."
"Hah?" Cit Ciat Sin Kun melotot. "Bagaimana
yang lain?"
"Mereka sudah tidur pulas, setelah hari
terang, mereka pasti mendusin dengan sendirinya," sahut Pek Giok
Liong sambil tersenyum-senyum.
"Bocah" bentak Cit Ciat Sin Kun dengan wajah
merah padam, kelihatannya kemurkaannya telah memuncak. "Aku akan
mencabut nyawamu!"
Usai berkata begitu, Cit Ciat Sin Kun
langsung menyerang Pek Giok Liong dengan jurus maut.
Walau Pek Giok Liong memiliki kepandaian
yang amat tinggi, namun menghadapi Cit Ciat Sin Kun, ia pun
berhati-hati. Ia segera mengerahkan Thai Ceng Sin Kangnya, lalu
cepat-cepat melompat ke belakang seraya berseru.
"Tunggu!"
"Engkau masih ada pembicaraan apa?"
"Aku ingin memberi sedikit nasihat padamu,
harap engkau sudi mendengarnya!"
"Jangan banyak bicara!" bentak Cit Ciat Sin
Kun.
"Manusia hidup tidaklah lama, walau bisa
menjagoi bu lim, akhirnya tetap akan mati! Kini engkau sudah berusia
lanjut, untuk apa engkau masih ingin menguasai bu lim? Lebih baik
engkau bertobat!"
"Hm!" dengus Cit Ciat Sin Kun dingin. "Aku
memang tersentuh oleh kata-katamu, tapi ……"
"Engkau punya syarat?"
"Tidak salah!"
"Apa syaratmu?"
"Kita harus bertarung seratus jurus. Setelah
ada yang menang dan kalah, barulah membicarakan yang lain!"
"Kenapa engkau harus mengambil keputusan
ini?"
"Agar aku merasa puas!"
"Baiklah!" Pek Giok Liong mengangguk.
"Engkau menghendaki begitu, maka silahkan mulai!"
"He he!" Cit Ciat Sin Kun tertawa terkekeh.
"Bocah, berhati-hatilah!"
Cit Ciat Sin Kun langsung menyerang dada Pek
Giok Liong. Pek Giok Liong pun segera berseru.
"Cit Ciat Sin Kun! Engkau pun harus
berhati-hati!" Pek Giok Liong menyambut serangan itu.
Buumm! Terdengar benturan keras.
Badan Pek Giok Liong bergoyang, sedangkan
Cit Ciat Sin Kun tergempur mundur selangkah. Berdasarkan ini, sudah
dapat diketahui lwee kang Pek Giok Liong masih menang setingkat dari
Cit Ciat Sin Kun.
Betapa terkejutnya Cit Ciat Sin Kun. Ia
memang sudah mendengar bahwa Pek Giok Liong memiliki kepandaian yang
amat tinggi, tapi tidak menyangka lwee kangnya begitu dalam,
otomatis membuatnya menarik nafas dalam-dalam.
"Bocah, engkau memang hebat! Coba sambut
seranganku lagi!" bentaknya dan sekaligus menyerang Pek Giok Liong
dengan sepasang telapak tangannya yang mengandung lwee kang dahsyat.
Pek Giok Liong mengernyitkan kening, lalu
menangkis serangan itu dengan sepasang telapak tangannya.
Bum! Bum! Terdengar dua kali suara benturan
keras yang memekakkan telinga.
Pek Giok Liong termundur tiga langkah,
sedangkan Cit Ciat Sin Kun terpental lima langkah dan memuntahkan
darah segar.
"Bocah! Selagi engkau masih ada di bu lim,
aku tidak akan memunculkan diri dalam bu lim!" ujar Cit Ciat Sin Kun
dengan mulut masih mengalir darah segar. "Mari kita pergi!"
"Tunggu!" seru Pek Giok Liong.
Akan tetapi, Cit Ciat Sin Kun telah
berkelebat pergi. Pada saat bersamaan, Pek Giok Liong mendengar
suara yang amat halus, ternyata Cit Ciat Sin Kun berbicara padanya
dengan ilmu menyampaikan suara.
"Engkau memang memiliki kepandaian yang amat
tinggi, tapi aku ingatkan, engkau harus berhati-hati!"
Pek Giok Liong merasa heran, kenapa Cit Ciat
Sin Kun mengingatkannya begitu? Apakah itu merupakan suatu ancaman?
Pek Giok Liong tidak habis berpikir, dan mendadak ia berseru karena
melihat empat pengawal pribadi itu mau pergi.
"Kalian berempat tunggu!"
"Engkau ingin menahan kami?" tanya Si Naga
gusar.
"Kalian berempat jangan salah paham, aku
sama sekali tidak bermaksud menahan kalian!"
"Kalau begitu, kenapa engkau menyuruh kami
menunggu?"
"Karena aku ingin minta bantuan kalian?"
"Bantuan apa? Apakah kami mampu membantu?"
"Kalian berempat pasti dapat bantu." Pek
Giok Liong tersenyum. "Kalau tidak, bagaimana mungkin aku akan minta
bantuan kalian?"
"Engkau pikir kami akan membantumu?"
"Kalian berempat adalah pendekar sejati,
tentunya sudi membantuku!" ujar Pek Giok Liong dan menambahkan.
"Tapi kalau kalian berempat tidak membantu, itu juga tidak apa-apa.
Aku tidak akan memaksa kalian."
"Bagus. Kalau begitu, engkau tidak perlu
minta bantuan kami!"
"Namun kalian harus tahu dulu, aku minta
bantuan apa? Sebelum tahu, jangan menolak duluan!"
"Kalau begitu, beritahukanlah!"
"Tadi sore, aku sudah mengutus beberapa
orang ke istana Tay Tie."
"Hah?" Wajah Si Naga langsung berubah.
"Engkau mengutus beberapa orang untuk menghancurkan istana itu?"
"Tentu tidak, melainkan cuma menolong
orang."
"Menolong siapa? Menolong gurumu?"
"Guruku sudah mati bunuh diri. Yang akan
ditolong itu anak istri teman Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong."
"Oh?" Si Naga mengernyitkan kening. "Urusan
itu tiada kaitannya dengan kami."
"Memang tiada kaitannya dengan kalian
berempat, namun kini Cit Ciat Sin Kun sedang menuju ke istana,
mungkin akan berpapasan dengan orang-orang yang kuutus itu. Maka aku
minta bantuan kalian untuk menyampaikan pesanku padanya, agar dia
tidak mengganggu orang-orangku itu. Kalau orang-orangku itu belum
berhasil menolong anak dan ibu tersebut, aku harap kalian bersedia
membantuku melepaskan mereka!"
"Tentang itu ……" Si Naga tertawa. "Kenapa
engkau tidak bicara langsung dengan Cit Ciat Sin Kun?"
"Aku tidak menyangka Cit Ciat Sin Kun begitu
cepat pergi, maka aku terpaksa minta bantuan kalian."
"Aku bersedia membantu dalam hal ini ……"
"Kalau begitu, aku ucapkan terimakasih
padamu!"
"Jangan berterimakasih dulu! Ucapanku belum
usai!" Si Naga melanjutkan sambil menger nyitkan kening. "Kalau
sebelum pertarungan ini mungkin aku bisa membantu. Tapi kini Cit
Ciat Sin Kun mengalami kekalahan, tentunya hatinya sangat kesal,
maka mungkin ……"
"Kalau kalian berempat bermohon padanya dia
pasti mengabulkan."
"Tapi seandainya ……." Si Naga
menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu berarti Cit Ciat Sin Kun ……" tegas Pek
Giok Liong. "Hancur tidaknya istana itu, tergantung pada kalian
berempat ketika bicara dengan Cit Ciat Sin Kun."
"Itu ……"
"Nah, sekarang kalian berempat boleh pergi!"
"Baiklah!" Si Naga mengangguk, lalu mengajak
ketiga saudaranya meninggalkan tempat itu.
"Adik Liong!" Se Pit Han mendekatinya.
"Apakah Cit Ciat Sin Kun akan mendengar perkataan mereka berempat?"
"Itu tentu." Pek Giok Liong tersenyum.
"Karena dia tetap akan menjaga keutuhan istananya maka dia tidak
berani macam-macam."
"Menurutmu ….." Se Pit Han menatapnya.
"Apakah Cit Ciat Sin Kun masih berani bangki kembali?"
"Itu sulit dikatakan." Pek Giok Liong
menarik nafas panjang. "Tapi dalam beberapa tahun ini dia pasti
tidak berani berbuat apa-apa."
"Adik Liong, kalau begitu bukankah lebih
baik sekarang kita habiskan saja mereka?"
"Kak misan!" Pek Giok Liong tersenyum. "Kita
harus bisa memberi ampun pada siapa pun, lagi pula usia Cit Ciat Sin
Kun sudah lanjut, untuk apa kita membunuhnya? Biar sang waktu saja
yang membunuhnya."
"Adik Liong ……" Se Pit Han menatapnya
dalam-dalam. "Engkau sungguh berhati bajik dan mulia ……"
"Itu belum tentu." Pek Giok Liong tersenyum.
"Sebab aku tidak memberi ampun pada Siang Hiong."
Ketika Pek Giok Liong menyinggung Siang
Hiong, Se Pit Han pun merasa heran, karena tidak melihat Siang Hiong
itu.
"Adik Liong, Siang Hong itu ……" Ucapan Se
Pit Han terputus, karena melihat dua sosok bayangan melayang turun,
mereka berdua adalah salah satu orang pelindung pulau, Si Bun Kauw
dan Suan Cen Ji. Di ketiak masing-masing mengapit seseorang. Setelah
melempar orang yang diapit di ketiak, mereka berdua lalu memberi
hormat pada Pek Giok Liong.
"Teecu berdua menghadap Ketua!"
"Tidak usah sungkan-sungkan!" Pek Giok Liong
tersenyum. "Aku telah merepotkan kalian!"
"Ketua, kami telah berhasil menangkap Siang
Hiong ini!"
"Terimakasih!" ucap Pek Giok Liong, lalu
mengibaskan tangannya ke arah Siang Hiong itu, dan seketika juga
nyawa kedua orang itu melayang.
"Teecu memberi selamat pada Ketua!" ucap Si
Bun Kauw. "Karena Ketua telah berhasil membalas dendam berdarah
itu."
"Itu atas bantuan kalian."
"Ohya, apa rencana Ketua selanjutnya?"
"Sampaikan perintahku, semua orang Cai Hong
To harus pulang! Aku dan Se Pit Han akan menyusul belakangan."
"Teecu menerima perintah!" Si Bun Kauw dan
Suan Cen Ji segera meninggalkan Pek Giok Liong.
"Kak misan, mari kita ke vihara Si Hui
menemui Hui Ceh dan Cing Ji!" ujar Pek Giok Liong.
"Engkau sudah kangen pada mereka ya?" goda
Se Pit Han.
"Eh? Kak misan ……" Wajah Pek Giok Liong
kemerah-merahan.
Pek Giok Liong telah membalas dendam
berdarah itu, apakah selanjutnya bu lim akan tenang, tidak akan
terjadi sesuatu apa pun lagi? Justru sungguh di luar dugaan ……
-- o --
Cit Ciat Sin Kun sudah sampai di istananya.
Ia berdiri di ruang dalam menghadap dinding. Heran? Kenapa dia
berdiri di situ? Mendadak dinding itu bergerak, ternyata sebuah
pintu rahasia.
Tak lama muncul seorang berjubah kuning
bersulam muka iblis yang menyeramkan. Muka orang itu pun memakai
kedok iblis.
"Hamba memberi hormat pada Mo Cun (Muka
iblis)!" ucap Cit Ciat Sin Kun sambil menjura. Cit Ciat Sin Kun
adalah Ci Seng Tay Tie (Maha raja tersuci), namun ia masih harus
memberi hormat pada orang berkedok iblis itu. Lalu siapa sebenarnya
orang tersebut? Kenapa Cit Ciat Sin Kun menyebutnya Mo Cun?
"Bagaimana tugasmu, Tay Tie?" tanya Mo Cun
dengan suara parau.
"Gagal total," sahut Cit Ciat Sin Kun dengan
kepala tertunduk.
"Apa?" Mo Cun tampak murka sekali. "Engkau
adalah Cih Seng Tay Tie, tapi kenapa begitu tidak becus?"
"Hamba ……" Cit Ciat Sin Kun tidak berani
melanjutkan ucapannya.
"Laporkan semuanya!" bentak Mo Cun.
"Ya, Mo Cun." Cit Ciat Sin Kun mengangguk,
lalu melaporkan semua kejadian itu dan menambahkan, "Tu Ci Yen, anak
angkat hamba pun telah musnah ilmu silatnya."
"Jadi engkau kalah melawan Pek Giok Liong,
pemegang Jit Goat Seng Sim Ki itu?"
"Ya." Cit Ciat Sin Kun menarik nafas
panjang. "Malah hamba mengalami luka dalam pula."
"Hmm!" dengus Mo Cun dingin. "Aku harus
membunuhmu, setelah itu barulah aku akan menundukkan semua partai
besar di bu lim!"
"Apakah ilmu yang Mo Cun latih itu sudah
mencapai tingkat kesempurnaan?" tanya Cit Ciat Sin Kun mendadak.
"Cuma sampai tingkat ketujuh." Mo Cun
memberitahukan. "Masih harus naik tiga tingkat lagi, baru sempurna!"
"Kalau begitu ……"
"Aku masih bisa membunuh Pek Giok Liong itu,
tapi ……" Mo Cun tampak ragu.
"Kenapa?" Cit Ciat Sin Kun menatapnya.
"……" Mo Cun tidak menjawab, kelihatannya ia
sedang berpikir keras, berselang beberapa saat barulah berkata. "Hek
Sim Sin Kang (Tenaga sakti hati hitam) ku cuma mencapai tingkat
ketujuh, tapi itu sudah cukup untuk membunuh Pek Giok Liong!"
"Kalau begitu, apakah Mo Cun berniat
membunuhnya?"
"Ng!" Mo Cun mengangguk. "Aku memang harus
membunuhnya, karena dia merupakan rintangan berat bagi cita-citaku."
"Kapan Mo Cun akan turun tangan
membunuhnya?"
"He he he!" Mo Cun tertawa terkekeh-kekeh.
"Mungkin tidak lama lagi. Setelah membunuh
Pek Giok Liong, aku pun harus menutup diri untuk menyempurnakan
ilmuku, lalu menguasai bu lim."
"Tapi ……" Cit Ciat Sin Kun mengernyitkan
kening. "Kini Pek Giok Liong adalah ketua panji Hati Suci Matahari
Bulan, pihak Cai Hong To pun di bawah perintahnya, maka kekuatan
mereka ……"
"Hmm!" dengus Mo Cun dingin. "Aku akan
menunggu saat Pek Giok Liong bepergian seorang diri. Di saat itulah
aku akan membunuhnya."
"Bagaimana kalau pihak Cai Hong To kemari
menuntut balas?"
"Kalau aku sudah membunuh Pek Giok Liong,
sementara pihak Cai Hong To tidak begitu berani menuntut balas."
"Kenapa?"
"Engkau tahu siapa aku kan?"
"Ya."
"Nah, setelah pihak Cai Hong To tahu, apakah
mereka berani sembarangan menuntut balas? Kepandaian mereka masih di
bawah kepandaian Pek Giok Liong, tentunya mereka tidak berani
menuntut balas sementara itu. Sedangkan aku pun akan menutup diri
untuk memperdalam ilmu Hek Sim Sin Kang, sesudah mencapai tingkat
kesempurnaan, siapa di kolong langit mampu menandingiku?"
"Betul, Mo Cun!" Cit Ciat Sin Kun
manggut-manggut, kemudian mendadak menarik nafas panjang.
"Kenapa engkau?" Mo Cun menatapnya tajam.
"Anak angkatku itu ……"
"Ha ha ha!" Mo Cun tertawa gelak. "Engkau
tidak perlu cemas! Setelah ilmuku sampai di tingkat kesempurnaan,
aku pasti mampu memulihkan ilmu silatnya itu!"
"Oh?" Cit Ciat Sin Kun tampak girang.
"Terimakasih, Mo Cun!"
"Cukup sampai di sini pembicaraan kita, aku
masih harus berlatih." ujar Mo Cun, lalu melangkah ke dalam ruang
rahasia. Pintu ruang itu pun tertutup secara otomatis.
Cit Ciat Sin Kun berdiri termangu, lama
sekali barulah ia meninggalkan tempat itu menuju kamarnya.
"Nak!" Panggilnya ketika memasuki kamarnya,
ternyata Tu Ci Yen duduk di kursi dengan wajah pucat pias dan tampak
lemas.
"Ayah ……" sahut Tu Ci Yen tak bersemangat.
Maklum, semua ilmu kepandaiannya telah musnah.
"Mo Cun memberitahukan, kalau ilmunya sudah
mencapai tingkat kesempurnaan, maka dia akan memulihkan ilmu
silatmu."
"Oh?" Wajah Tu Ci Yen tampak girang. "Apakah
Mo Cun sanggup melakukan itu?"
"Sanggup." Cit Ciat Sin Kun mengangguk.
"Tapi harus menunggu ilmunya mencapai tingkat kesempurnaan."
"Kira-kira kapan?"
"Mo Cun tidak memberitahukan." Cit Ciat Sin
Kun menatapnya. "Nak, bukankah lebih baik engkau hidup seperti orang
biasa?"
"Tidak." Tu Ci Yen menggelengkan kepala.
"Pokoknya aku harus membalas dendam ini."
"Nak ……" Cit Ciat Sin Kun
menggeleng-gelengkan kepala. "Pek Giok Liong berhati bajik dan
berbudi luhur. Padahal dia bisa membunuh kita, namun dia tidak
melakukannya. Lalu …… kenapa engkau masih membalas dendam?"
"Ayah! Kalau salah satu diantara kami tidak
ada yang mati, urusan dendam ini tidak akan usai."
"Nak!" Cit Ciat Sin Kun menarik
nafas.'"Engkau yang memimpin Siang Hiong Sam Kuai membantai kedua
orang tuanya berikut seluruh penghuni Ciok Lau San Cung, namun dia
masih tidak membunuhmu, hanya memusnahkan ilmu silatmu. Seharusnya
engkau berterimakasih padanya."
"Oh?" Tu Ci Yen menatap Cit Ciat Sin Kun.
"Kenapa ayah berubah tak bersemangat ……"
"Ayah telah berhutang budi padanya, karena
dia tidak membunuh ayah," sahut Cit Ciat Sin Kun. "Kini Siang Hiong
dan Sam Kuai telah mati, maka lebih baik engkau hidup seperti orang
biasa jangan berkecimpung di bu lim lagi!"
"Ayah!" Sepasang mata Tu Ci Yen berapi-api.
"Pokoknya aku masih harus berdiri di bu lim, itu sesuai dengan
cita-cita Mo Cun."
"Nak ……" Cit Ciat Sin Kun
menggeleng-gelengkan kepala. "Engkau beristirahatlah!"
"Ya." Tu Ci Yen mengangguk.
Cit Ciat Sin Kun memang merasa berhutang
budi pada Pek Giok Liong, sebab Pek Giok Liong tidak membunuhnya.
Tapi kini, Mo Cun telah mengambil keputusan untuk membunuh Pek Giok
Liong, itu membuatnya salah tingkah. Meskipun ia telah
memperingatkan Pek Giok Liong, namun ……
-- o --
Bagian ke 52. Kiu Thian Mo Cun (Maha Iblis
Langit Sembilan)
Pek Giok Liong, Se Pit Han, Siauw Hui Ceh
dan Cing Ji sedang melakukan perjalanan menuju ke Lam Hai, itu atas
usul Se Pit Han.
"Kakak Han, kenapa kita harus ke Lam Hai?"
tanya Siauw Hui Ceh.
"Adik Hui!" Se Pit Han tersenyum. "Tentunya
ke Pulau Pelangi!"
"Tempat tinggalmu itu?"
"Ya." Se Pit Han mengangguk. "Engkau harus
tahu, pemandangan di Cai Hong To sangat indah, secara tidak langsung
dapat menghibur dirimu."
"Aaaakh ……" Siauw Hui Ceh menarik nafas
panjang. "Aku tidak menyangka, akhirnya ayahku meninggal juga!"
"Kita semua telah berusaha menolong ayahmu,
tapi ……" Se Pit Han menggeleng-gelengkan kepala. "Adik Hui,
sudahlah, jangan berduka!"
"Kakek pun sudah mati, kini aku tinggal
seorang diri ……" sela Cing Ji dengan wajah murung.
"Adik Cing!" Se Pit Han tersenyum. "Engkau
tidak tinggal seorang diri, masih ada kami bertiga bersamamu."
"Adik Cing, engkau tidak usah berduka!"
hibur Pek Giok Liong sambil tersenyum lembut. "Kami bertiga sangat
menyayangimu, jadi engkau tidak usah berduka lagi!"
"Ya, Kakak Liong." Cing Ji mengangguk.
"Kak misan!" Pek Giok Liong menatapnya.
"Mungkin Siang Sing, Si Kim Kong dan lainnya sudah tiba di Pulau
Pelangi."
"Mungkin." Se Pit Han manggut-manggut,
kemudian tersenyum. "Di Pulau Pelangi banyak terdapat tempat-tempat
yang amat indah, aku pasti mengajak kalian jalan-jalan kesemua
tempat itu."
"Bagus." Cing Ji tertawa gembira. "Aku sudah
merasa bosan berkeluyuran di bu lim, ingin beristirahat di Pulau
Pelangi saja."
"Aku pun berpikir begitu," sambung Siauw Hui
Ceh dan menambahkan. "Sebab Kakak Peng Yang sudah menjadi cung cu di
Siauw Keh Cung, dia pasti bisa mengurusi Siauw Keh Cung dengan
baik."
"Betul." Pek Giok Liong mengangguk. "Sayang
sekali Cian Tok Suseng tidak mau ikut ke Pulau Pelangi, dia malah
lebih senang kembali ke tempatnya."
"Begitu pula Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw
Tong, dia bersama teman baiknya pulang ke kwan gwa, dan kini Seng
Sim Bun pun bubar dengan sendirinya."
"Tentu." Se Pit Han tersenyum. "Kini bu lim
telah tenang dan aman, maka tidak perlu keberadaan partai Hati Suci
lagi."
"Tidak salah." Pek Giok Liong mengangguk.
"Namun apabila perlu, partai Hati Suci pasti berdiri lagi."
"Itu tidak mungkin."
"Kak misan, apa yang akan terjadi kelak,
siapa yang dapat mengetahuinya? Kini bu lim sudah tenang dan aman,
tapi bagaimana kelak, siapa bisa mengetahuinya?"
"Kakak Liong!" sela Cing Ji. "Aku lebih
senang hidup tenang di Pulau Pelangi. Kalau pun bu lim akan kacau
lagi kelak, aku tetap diam di Pulau Pelangi, tidak mau ke Tionggoan
lagi."
"Aku setuju," sambung Siauw Hui Ceh.
"Bagus." Se Pit Han tertawa gembira. "Mari
kita hidup bersama di Pulau Pelangi!"
"Termasuk aku kan?" tanya Pek Giok Liong
sambil tersenyum.
"Eh? Adik Liong ……" Se Pit Han menatapnya.
"Sebetulnya engkau mencintai siapa di antara kita bertiga?"
"Itu ……" Pek Giok Liong ragu menjawabnya,
malah tergagap. "Aku ……"
"Engkau mencintai kami bertiga?" tanya Se
Pit Han dengan wajah agak kemerah-merahan. "Lebih baik engkau
berterus terang saja!"
"Aku ……" Pek Giok Liong menundukkan kepala,
berselang sesaat bertanya dengan suara rendah, "Kalian bertiga
mencintaiku?"
"Kami mencintaimu," sahut Se Pit Han, Siauw
Hui Ceh dan Cing Ji serentak. Ketiga anak gadis itu pun saling
memandang, lalu menundukkan wajah masing-masing saking jengahnya.
"Kalau begitu ……" Pek Giok Liong menatap
mereka bertiga. "Aku harus bagaimana?"
Ketiga gadis itu tidak menyahut, mereka
bertiga malah berbisik-bisik seakan sedang merundingkan sesuatu,
kemudian wajah mereka bertiga berseri, kelihatan telah mencapai
suatu kesepakatan.
"Engkau memperistri kami bertiga saja!" ujar
Se Pit Han dengan suara hampir tak kedengaran.
"Apa?!" Pek Giok Liong terbelalak. "Aku ……
aku memperistri kalian bertiga ……?"
"Ya." Se Pit Han mengangguk. "Kami bertiga
memang sangat mencintaimu. Kalau engkau tidak memperistri kami
bertiga, lalu harus bagaimana?"
"Itu ……" Pek Giok Liong memandang jauh ke
depan. "…… terserah kalian bertiga."
"Kalau begitu, kita akan menikah di Cai Hong
To!" ujar Se Pit Han.
"Setuju." sahut Siauw Hui Ceh dan Cing Ji
dengan wajah berseri.
"Baiklah." Pek Giok Liong mengangguk,
kemudian berseru kagum. "Wah! Bukan main indahnya pemandangan Yan
San (Gunung Walet) ini, gumpalan awan putih menutupi puncaknya."
"Hati-hati adik Liong!" Se Pit Han
mengingatkan. "Jangan terlampau ke sana, mulut jurang yang ribuan
meter dalamnya menganga di situ! Kalau engkau terjatuh ke dalam
jurang itu, kami bertiga belum menikah denganmu malah akan jadi
janda."
"Hi hi hi!" Siauw Hui Ceh dan Cing Ji
tertawa geli.
"Kalian ……" Pek Giok Liong tersenyum, tapi
kemudian mengernyitkan kening dengan wajah tampak serius.
"Adik Liong!" Se Pit Han menatapnya heran.
"Kenapa engkau?"
"Ada orang datang!" sahut Pek Giok Liong.
"Oh?" Se Pit Han menengok ke sana ke mari,
tapi tidak tampak siapapun. "Tidak ada yang dating ……"
Mendadak terdengarlah suara tawa yang
melengking-lengking, begitu tajam menusuk telinga.
"Siapa yang tertawa itu?" Pek Giok Liong
heran. "Lwee kangnya dalam sekali, masih di atas Cit Khi Jin (Tujuh
orang aneh)!"
"Apakah musuh kita?" tanya Se Pit Han.
"Entahlah." Pek Giok Liong menggeleng
kepala. "Kita harus berhati-hati menghadapi segala kemungkinan!"
Sementara suara tawa yang
melengking-lengking itu terdengar semakin mendekat. Siauw Hui Ceh
dan Cing Ji terpaksa menutup telinga, karena tidak tahan mendengar
suara tawa itu.
"Adik Liong! Berhati-hatilah!" Pesan Se Pit
Han. "Yang datang itu pasti mengandung maksud tidak baik."
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk. Ia segera
merogoh ke dalam bajunya mengambil 'Kitab Ajaib', lalu diserahkan
pada Se Pit Han. "Kak misan, simpanlah 'Kitab Ajaib' ini!"
"Ya." Se Pit Han menerima kitab itu dan
sekaligus menyimpannya ke dalam bajunya. "Adik Liong, kenapa engkau
……"
Ucapan Se Pit Han terputus, karena ia
melihat empat sosok bayangan melayang turun. Empat sosok bayangan
itu ternyata Cit Ciat Sin Kun, Thian Sat, Thian Suan dan Ti Kie Sin
Kun.
"He he he!" Cit Ciat Sin Kun tertawa
terkekeh-kekeh. "Bocah! Hari ini engkau pasti mampus!"
"Cit Ciat Sin Kun!" Pek Giok Liong
menatapnya tajam. "Kenapa engkau muncul lagi?"
"Ha ha ha!" Cit Ciat Sin Kun tertawa gelak,
namun secara diam-diam ia berkata pada Pek Giok Liong dengan ilmu
menyampaikan suara. "Pek siauhiap, berhati-hatilah! Yang datang itu
berilmu amat tinggi, alangkah baiknya engkau cepat pergi bersama
tiga nona itu!"
"Ha ha!" Pek Giok Liong tertawa. "Padahal
aku telah mengampuni nyawa kalian, tapi kalian masih ke mari cari
mati!"
Sahut Pek Giok Liong dan ia pun bertanya
pada Cit Ciat Sin Kun dengan ilmu menyampaikan suara pula.
"Sin Kun, siapa orang itu?"
"Dia Mo Cun!" Cit Ciat Sin Kun
memberitahukan sambil tertawa. "Ha ha ha! Hari ini engkau pasti
mampus!"
"Kalian berempat sungguh tak tahu diri!
Sudah diampuni malah mau cari mati di sini!" bentak Se Pit Han.
"Nona, lebih baik engkau pergi!" Cit Ciat
Sin Kun menatapnya. "Kalau tidak, engkau pun akan mampus di gunung
Yan San ini!"
"Pergi?" Se Pit Han tertawa dingin. "Jangan
omong besar ……!"
"Cit Ciat Sin Kun tidak omong besar, kalian
memang harus mampus hari ini!" Terdengar suara sahutan yang
melengking tajam, menyusul tampak sosok bayangan melayang turun.
Orang itu memakai jubah dan memakai kedok iblis. "Pek Giok Liong!
Hari ini engkau pasti mampus!"
"Siapa Anda? Kenapa begitu berniat
membunuhku?" tanya Pek Giok Liong sambil menatapnya tajam.
"Bocah! Engkau ketua partai Hati Suci kan?"
"Betul!"
"Generasi kelima pemegang panji Hati Suci
Matahari Bulan?"
"Tidak salah!"
"He he he!" Orang berkedok iblis tertawa
terkekeh-kekeh. "Maka engkau harus mampus!"
"Anda punya dendam denganku?" tanya Pek Giok
Liong heran.
"Di antara kita tiada dendam, namun aku
punya dendam dengan Seng Sim Tayhiap (Pendekar Hati Suci)!" Orang
berkedok iblis memberitahukan.
"Apa?!" Pek Giok Liong terbelalak. "Anda
punya dendam dengan kakek guruku?"
"Betul!" Orang berkedok iblis mengangguk.
"Maka aku harus berbuat perhitungan denganmu!"
"Kalau begitu, siapa Anda yang terhormat?'
tanya Pek Giok Liong sopan.
"Bocah! Dengar baik-baik! Aku Kiu Thian Mo
Cun (Maha Iblis Langit Sembilan)!" Orang berkedok iblis
memberitahukan dengan suara parau.
"Haah?!" Pek Giok Liong terkejut, begitu
pula Se Pit Han, karena ayah Se Pit Han pernah bercerita tentang Kiu
Thian Mo Cun. Hampir dua ratus tahun yang lampau, pendekar Hati Suci
bertanding dengan Kiu Thian Mo Cun. Dalam pertandingan itu, pendekar
Hati Suci berhasil memukul Kiu Thian Mo Cun jatuh ke dalam jurang.
Setelah itu, para ketua partai besar masa itu bersepakat untuk
membikin panji Jit Goal Seng Sim Ki.
Akan tetapi, kejadian itu sudah begitu lama
bagaimana mungkin Kiu Thian Mo Cun masih hidup? Oleh karena itu, Pek
Giok Liong pun tertawa seraya berkata.
"Anda bercanda! Bagaimana mungkin Kiu Thian
Mo Cun masih hidup? Anda pasti bukan Kiu Thian Mo Cun itu, tapi
mungkin Anda pewarisnya!"
"Aku Kiu Thian Mo Cun!" ujar orang berkedok
iblis. "Nah, bocah! Engkau harus mati hari ini!"
"Oh, ya?" Pek Giok Liong tertawa hambar.
"Mungkin Anda yang akan mati di tanganku!"
"Hm!" dengus Kiu Thian Mo Cun dingin. "Cit
Ciat, Thian Sat, Thian Suang dan Ti Kie! Kalian berempat boleh
menyerang bocah itu sepuluh jurus, aku ingin tahu berapa tinggi
kepandaiannya!"
"Ya! Hamba berempat menerima perintah!"
sahut Cit Ciat berempat, lalu mengurung Pek Giok Liong.
Se Pit Han, Siauw Hui Ceh dan Cing mundur ke
belakang, yang paling tegang dan cemas adalah Se Pit Han, sebab ia
tahu betapa tingginya ilmu Kiu Thian Mo Cun. Namun ia masih tidak
yakin bahwa orang berkedok iblis itu Kiu Thian Mo Cun sendiri.
"Baiklah!" Pek Giok Liong menatap mereka
satu persatu. "Kalian berempat boleh menyerangku sampai sepuluh
jurus. Aku sama sekali tidak akan balas menyerang!"
"Kalau begitu, hati-hatilah!" ujar Cit Ciat
Sin Kun dan langsung menyerang Pek Giok Liong.
Pek Giok Liong cepat-cepat berkelit, namun
Thiat Sat, Thian Suan dan Ti Kie sudah menyerang dari tiga jurusan.
Sulit bagi Pek Giok Liong untuk berkelit lagi, maka dikerahkannya
ginkangnya, sehingga badannya meluncur ke atas.
Pada waktu bersamaan, Cit Ciat, Thian Sat,
Thian Suan dan Ti Kie Sin Kun segera menyerang ke atas dengan
pukulan yang penuh mengandung tenaga dalam.
Pek Giok Liong tidak gugup. Ia langsung
menyentilkan jari telunjuknya, itu adalah ilmu Ceng Thian Sin Ci
(Telunjuk sakti penggetar langit). Bukan main hebatnya ilmu itu,
mampu mematahkan serangan mereka berempat.
Mereka terus bertempur, tak terasa sudah
sampai jurus kesepuluh, seketika juga Kiu Thian Mo Cun menghardik.
"Berhenti!"
Cit Ciat, Thian Sat, Thian Suan dan Ti Kie
Sin Kun segera berhenti menyerang, dan sekaligus mundur ke sisi Kiu
Thian Mo Cun.
"Bocah!" Kiu Thian Mo Cun tertawa dingin.
"Kepandaianmu cukup tinggi, tapi tetap bukan lawanku!"
"Oh?" Pek Giok Liong tertawa hambar. "Anda
kok begitu yakin bahwa aku bukan lawanmu?"
"Karena aku sudah tahu berapa dalam lwee
kangmu dan berapa tinggi kepandaianmu!"
"Kita belum bertarung, maka janganlah begitu
yakin!" sahut Pek Giok Liong dingin.
"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak.
"Bocah! Bersiap-siaplah, aku akan mulai menyerangmu!"
"Baik!" Pek Giok Liong mulai mengerahkan
Thai Ceng Sin Kangnya.
Sedangkan Kiu Thian Mo Cun pun mulai
mengerahkan Han Im Sin Kang (Tenaga sakti hawa dingin). Ia akan
menyerang Pek Giok Liong dengan Han Im Ciang (Pukulan hawa dingin).
"Bocah! Berhati-hatilah!" hardik Kiu Thian
Mo Cun, lalu mendadak menyerang Pek Giok Liong dengan jurus Swat Hoa
Phiau-Phiau (Bunga salju berterbangan). Begitu cepat dan dahsyat
serangannya, bahkan mengandung hawa yang amat dingin.
Pek Giok Liong mengeluarkan ilmu Ceng Thian
Sin Ci untuk menangkis jurus itu. Memang hebat ilmu tersebut, sebab
mampu membuyarkan hawa dingin sekaligus mematahkan jurus itu.
"Bagus!" Kiu Thian Mo Cun tertawa panjang,
lalu menyerang Pek Giok Liong dengan jurus Leng Thian Hong Khi
(Hembusan angin dingin).
Pek Giok Liong berseru nyaring, dan
menangkis jurus itu dengan jurus Hong Khi Hun Yong (Angin berhembus
awan terbang), jurus tersebut pun dapat mematahkan jurus itu.
"Bocah!" Kiu Thian Mo Cun tertawa lagi.
"Engkau cukup tangguh! Sambutlah jurus ini!"
Kiu Thian Mo Cun menyerangnya dengan jurus
Man Thian Swat Hoa (Bunga salju di langit).
Pek Giok Liong tidak gugup, dan langsung
menangkis jurus itu dengan jurus Hoa Ih Pian Hun (Warna warni bunga
hujan).
Bummm! Terdengar suara benturan keras.
Pek Giok Liong terdorong mundur tiga
langkah, sedangkan Kiu Thian Mo Cun cuma terdorong mundur selangkah.
Itu membuktikan bahwa lwee kang Kiu Thian Mo Cun lebih tinggi.
Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak, Pek Giok
Liong diam saja, namun ia amat terkejut dalam hati.
"Adik Liong, bagaimana keadaanmu?" seru Se
Pit Han bertanya dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa!" sahut Pek Giok Liong.
"Gadis manis!" Kiu Thian Mo Cun tertawa
terkekeh-kekeh. "Sebentar lagi kekasihmu itu akan mampus!"
Se Pit Han mengernyitkan kening, sedangkan
Kiu Thian Mo Cun menatap Pek Giok Liong dengan tajam.
"Bocah! Sekarang engkau harus berhati-hati!
Aku akan sungguh-sungguh menyerangmu!"
"Baik!"
"Bersiap-siaplah menyambut seranganku!" Kiu
Thian Mo Cun memperingatkan Pek Giok Liong, lalu menarik nafas
dalam-dalam menghimpun Hek Sim Sin Kang (Tenaga sakti hati hitam),
ia akan menyerang Pek Giok Liong dengan ilmu Hek Sim Tok Ciang
(Pukulan beracun hati hitam). Setelah menghimpun tenaga sakti hati
hitam, badan Kiu Thian Mo Cun pun memancarkan cahaya hitam.
"Hati-hati Pek siau hiap!" pesan Cit Ciat
Sin Kun dengan ilmu menyampaikan suara. "Dia akan menyerangmu dengan
Hek Sim Tok Ciang!"
Hati Pek Giok Liong tegang juga. Ia segera
menghimpun Thai Ceng Sin Kang sampai pada puncaknya.
"Hiyaaat!" pekik Kiu Thian Mo Cun sambil
menyerang Pek Giok Liong dengan jurus Hek Sim Bu To (Hati hitam
tiada perasaan). Tampak cahaya hitam mengarah pada bagian dada Pek
Giok Liong.
Pek Giok Liong cepat-cepat menangkis jurus
itu dengan salah satu jurus Tiga jurus sakti pelindung panji.
Daaar! Terdengar suara ledakan dahsyat.
Pek Giok Liong terpental sejauh lima meteran
ke dekat bibir jurang, kemudian terkulai dengan muka kehitam-hitaman
dan mulutnya pun memuntahkan darah hitam.
"Kakak Liong!" seru Siauw Hui Ceh dan Cing
Ji cemas.
"Adik Liong ……" Wajah Se Pit Han pucat pias.
Gadis itu mau melompat ke arah Pek Giok Liong, namun keburu dihadang
oleh Cit Ciat Sin Kun dan Thian Sat Sin Kun.
"Engkau tidak boleh mendekatinya, mereka
sedang bertarung!" ujar Cit Ciat Sin Kun dingin.
Sementara Kiu Thian Mo Cun tertawa
terkekeh-kekeh dan menatap Pek Giok Liong dengan tajam.
"Bocah! Tiga jurus sakti pelindung panji
tidak dapat menandingi Hek Sim Tok Ciang (Pukulan beracun hati
hitam) ku! Engkau telah terluka parah dan terkena racun pula!"
Pek Giok Liong bangkit berdiri, mulutnya
masih mengalir darah hitam, mukanya pun tetap kehitam-hitaman.
"Sambut seranganku ini lagi!" hardik Kiu
Thian Mo Cun sambil menyerang Pek Giok Liong dengan jurus Hek Sim
Cong Thian (Hati hitam menembus langit).
Pada waktu bersamaan, tampak dua sosok
bayangan melompat ke arah Pek Giok Liong. Siapa mereka berdua? Tidak
lain Siauw Hui Ceh dan Cing Ji. Kedua gadis itu ingin melindungi Pek
Giok Liong dari serangan Kiu Thian Mo Cun.
"Aaaakh ……!" Jerit kedua gadis itu
menyayatkan hati. Muka mereka berdua telah berubah hitam dan mulut
terus menerus memuntahkan darah hitam.
"Adik Hui, adik Cing ……" Panggil Pek Giok
Liong dengan suara lemah. "Kalian ……"
"Adik Hui! Adik Cing!" teriak Se Pit Han.
Ketika ia baru mau melompat kedua gadis itu, Cit Ciat, Thian Sat,
Thian Suan dan Ti Kie Sin Kun segera menghadangnya.
Se Pit Han sudah tidak perduli. Ia langsung
menyerang mereka, akan tetapi dirinya justru yang terpental mundur,
karena serangannya tertangkis oleh keempat orang itu.
"Kalian cepat minggir!" bentak Se Pit Han.
"Nona!" Cit Ciat Sin Kun memperingatkannya
dengan ilmu menyampaikan suara. "Jangan cari mati secara sia-sia!"
Se Pit Han sama sekali tidak menghiraukan
peringatan Cit Ciat Sin Kun, ia langsung menyerang mereka berempat,
tapi ia terpental jatuh oleh tangkisan keempat orang itu.
"He he he!" Kiu Thian Mo Cun tertawa
terkekeh-kekeh. "Pek Giok Liong, kini sudah saatnya engkau mampus!"
Kiu Thian Mo Cun menyerangnya dengan jurus
Hek Sim Bu In (Hati hitam tanpa bayangan). Betapa dahsyatnya jurus
itu. Apa boleh buat, Pek Giok Liong terpaksa menangkis jurus itu
dengan tiga jurus sakti pelindung panji.
"Aaaakh!" Jerit Pek Giok Liong. Badannya
terpental melayang ke dalam jurang.
"Adik Liong! Adik Liong ……" Pekik Se Pit Han
histeris.
"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak.
"Pek Giok Liong, engkau pasti mati tanpa kuburan di dasar jurang
itu!"
"Adik Liong ……" Wajah Se Pit Han pucat pias
dan air matanya pun berderai. "Adik Liong ……"
Kiu Thian Mo Cun mendekati Se Pit Han
selangkah demi selangkah, kemudian mengangkat sebelah tangannya,
kelihatannya ia juga ingin membunuh Se Pit Han. Akan tetapi,
mendadak ia menurunkan tangannya kembali dan membalikkan badannya.
"Mari kita pergi!" ujarnya sambil melangkah.
Cit Ciat, Thian Sat, Thian Suan dan Ti Kie
Sin Kun saling memandang, lalu mengikutinya melangkah pergi.
Kenapa Kiu Thian Mo Cun tidak jadi membunuh
Se Pit Han? Apakah ia menaruh kasihan pada gadis itu? Tidak!
Melainkan karena ilmu Hek Sim Sin Kangnya belum mencapai tingkat
kesempurnaan, maka kalau ia menghimpun lwee kangnya untuk menyerang,
ia pun akan mengalami luka dalam yang cukup parah. Oleh karena itu,
ketika ia ingin menyerang Se Pit Han, dadanya terasa sakit sekali.
Ia harus segera pulang untuk mengobati luka dalamnya. Kalau tidak,
ia pasti mati oleh serangan balik Hek Sim Sin Kangnya sendiri.
Nyawa Se Pit Han masih panjang, tapi ia
sudah seperti orang gila berteriak-teriak histeris di pinggir
jurang.
"Adik Liong! Adik Liong ……!" Air matanya
berderai-derai. "Aku ikut ……"
Kelihatannya ia ingin melompat ke jurang
itu, namun pada waktu bersamaan, ia mendengar suara lirih
memanggilnya.
"Kakak Han ……"
"Kakak Han ……"
Ternyata Siauw Hui Ceh dan Cing Ji
memanggilnya. Wajah kedua gadis itu menghitam, darah hitam pun masih
mengalir ke luar dari mulut mereka.
"Adik Hui! Adik Cing ……" Se Pit Han segera
mendekati mereka.
"Kakak Han ……" Siauw Hui Ceh memandangnya
dengan mata redup. "Kakak Han ……"
"Adik Hui!" Se Pit Han menggenggam tangannya
dengan air mata bercucuran. "Bagaimana keadaanmu?"
"Kakak Han! Engkau …… Engkau harus hidup,
balas …… Balas dendam kami ……!" usai berkata begitu, nafas Siauw Hui
Ceh pun putus.
"Adik Hui ……" jerit Se Pit Han.
"Kakak Han ……" panggil Cing Ji lirih.
"Adik Cing!" Se Pit Han menggenggam
tangannya erat-erat. "Adik Cing ……"
"Kakak Han ……" Cing Ji memandangnya dengan
mata redup. "Engkau …… Engkau harus balas …… balas dendam kami!"
"Adik Cing! Aku …… aku pasti balas dendam
kalian," sahut Se Pit Han berjanji. "Pasti balas dendam kalian."
"Kakak Han, aku …… aku tidak bisa pergi ke
Cai Hong To, aku …… aku ……" Cing Ji tidak melanjutkan ucapannya
lagi, karena nafasnya telah putus.
"Adik Cing! Adik Cing! Adik Cing ……!" Jerit
Se Pit Han dan nyaris pingsan seketika.
Berselang beberapa saat kemudian, ia mulai
menggali sebuah lubang, lalu mengubur kedua jenazah itu di lubang
tersebut. Setelah itu, ia melangkah ke tepi jurang.
"Adik Liong! Tenanglah engkau di dasar
jurang!" gumamnya dengan air mata berderai. "Aku pasti membalas
dendammu, dan mulai saat ini, aku akan memakai baju hitam berkabung
untukmu ……"
-- o --
Se Pit Han melangkah memasuki Istana Pelangi
seperti kehilangan sukma. Se Khi, Giok Cing, Giok Ling, Pat Kiam dan
kepala pengurus istana segera mendekatinya dengan wajah cemas.
"Siau kiong cu ……" panggil Se Khi.
Namun Se Pit Han diam saja, dan terus
melangkah, lalu menghempaskan dirinya ke tempat duduk.
"Nona! Nona ……" panggil Giok Cing. "Nona
kenapa?"
Se Pit Han duduk dengan mata memandang jauh
ke depan, kemudian air matanya berderai-derai.
"Sudah mati! Sudah mati ……" gumamnya.
Betapa terkejutnya Se Khi, Giok Cing, Giok
Ling dan Pat Kiam. Sedangkan kepala pengurus istana segera pergi
memanggil Siang Sing, Si Kim Kong, Ngo Hu To dan Si Hong.
Tak seberapa lama kemudian, mereka semua
sudah berkumpul di ruang depan Istana Pelangi. Tiada seorang pun
yang membuka mulut, hanya memandang Se Pit Han dengan wajah cemas.
"Nona!" panggil Se Khi dan bertanya. "Apa
gerangan yang telah terjadi?"
"Siauw Hui Ceh dan Cing Ji sudah …… sudah
mati," sahut Se Pit Han sambil menangis sedih.
"Apa?" Betapa terkejutnya Se Khi, begitu
pula yang lain, kemudian Se Khi bertanya dengan hati berdebar-debar
tegang. "Di mana Pek Giok Liong?"
"Adik Liong ……" Se Pit Han langsung menangis
meraung-raung. Adik Liong …… adik ……"
"Dia …… dia kenapa?" Wajah Se Khi mulai
memucat.
"Dia …… dia terpukul jatuh ke dalam jurang."
Air mata Se Pit Han bercucuran.
"Haah ……?" Wajah Se Khi pucat pias, begitu
juga yang lainnya.
"Siapa yang membunuh Siauw Hui Ceh dan Cing
Ji?" tanya Thian Koh Sing yang tampak masih bisa tenang.
"Mereka berdua ingin melindungi adik Liong,
namun mereka berdua mati ……" Se Pit Han memberitahukan.
"Siapa yang memukul Pek Giok Liong sampai
jatuh ke dalam jurang?" tanya Thian Kong Sing dengan kening
berkerut-kerut. Ia terkejut bukan main karena ada orang mampu
memukul Pek Giok Liong sampai jatuh ke dalam jurang. Siapa orang
yang berkepandaian begitu tinggi? Thian Kong Sing tidak habis
berpikir.
"Orang itu mengaku dirinya Kiu Thian Mo
Cun." Se Pit Han memberitahukan.
"Haah...?" Betapa terperanjat mereka semua
ketika mendengar nama itu disebut Se Pit Han. Thian Kong Sing tidak
begitu percaya, maka ia langsung bertanya, "Betulkah orang itu Kiu
Thian Mo Cun?"
"Entahlah." Se Pit Han menggelengkan kepala.
"Orang itu memakai jubah bersulam iblis dan memakai kedok iblis
pula."
"Itu …… itu bagaimana mungkin?" gumam Se
Khi. "Sudah hampir dua ratus tahun, lagi pula pada masa itu Kiu
Thian Mo Cun telah terpukul jatuh ke dalam jurang oleh pendekar Hati
Suci, tidak mungkin kini dia muncul lagi!"
"Tapi orang itu berkepandaian amat tinggi,
entah ilmu apa yang digunakannya?" ujar Se Pit Han. "Ketika orang
itu mau menyerang adik Liong, sekujur badannya memancarkan cahaya
hitam."
"Hah?" Se Khi tampak terkejut sekali. "Itu
ilmu andalan Kiu Thian Mo Cun!"
"Apakah itu Hek Sim Sin Kang?" tanya Thian
Koh Sing.
"Tidak salah, itu pasti Hek Sim Sin Kang,"
jawab Se Khi. "Orang itu pasti menyerang Pek Giok Liong dengan Hek
Sim Tok Ciang, pukulan itu amat beracun."
"Kalau begitu ……" Thian Kong Sing
mengernyitkan kening. "Benarkah orang itu Kiu Thian Mo Cun?"
"Tidak mungkin." Se Khi menggelengkan
kepala. "Yang jelas orang itu pewaris Kiu Thian Mo Cun!"
"Nona!" Tanya Thian Koh Sing. "Orang itu
muncul seorang diri?"
"Dia muncul bersama Cit Ciat, Thian Sat,
Thian Suan dan Ti Kie Sin Kun." Se Pit Han memberitahukan. "Ketika
aku melihat adik Liong terluka, aku ingin mendekatinya, tapi Cit
Ciat dan Thian Sat menghalangiku!"
"Kenapa mereka berdua menghalangi Nona?"
tanya Se Khi.
"Entahlah." Se Pit Han menggelengkan kepala.
"Tapi ……"
"Kenapa?" tanya Thian Koh Sing.
"Cit Ciat memperingkanku dengan ilmu
menyampaikan suara," jawab Se Pit Han.
"Dia memperingatkan apa?" tanya Se Khi
heran.
"Agar aku tidak cari mati." Se Pit Han
memberitahukan. "Siauw Hui Ceh dan Cing Ji berpesan padaku, harus
membalas dendam mereka."
"Jenazah mereka berdua sudah dikubur?" tanya
Se Khi.
"Sudah." Se Pit Han mengangguk.
"Di mana kejadian itu?" tanya Se Khi lagi.
"Di Yan San," sahut Se Pit Han dan mulai
menangis lagi. "Adik Liong sudah terluka parah, bahkan jatuh ke
dalam jurang yang ribuan meter dalamnya, dia …… dia bagaimana
mungkin bisa hidup? Aaakh! Adik Liong ……"
"Kini bu lim akan dilanda banjir darah
lagi!" gumam Thian Koh Sing. "Karena Kiu Thian Mo Cun telah muncul,
siapa yang mampu melawannya?"
"Itu malapetaka bagi bu lim." Se Khi
menggeleng-gelengkan kepala. "Ohya, bagaimana sekarang? Majikan dan
nyonya majikan kita tidak ada di pulau, kita harus berbuat apa?"
"Bagaimana kalau kita memberi kabar pada
majikan melalui Sin Ku Ceh (Merpati sakti), agar majikan segera
pulang?"
"Ya." Se Khi mengangguk. "Merpati sakti
pasti mampu mencari majikan kita."
"Setelah majikan pulang, barulah kita
berunding," sambung Thian Koh Sing dan melanjutkan, "Ohya, mengenai
Pek Giok Liong yang jatuh ke jurang Yan San, bagaimana kalau kita
pergi mencarinya di dasar jurang itu?"
"Boleh juga." Se Khi manggut-manggut. "Kalau
begitu ……"
"Kami berempat yang ke Yang San," sahut Hok
Mo Kim Kong. "Yang lain harus berada di sini menjaga siau kiong cu."
"Baiklah." Se Khi manggut-manggut dan
berpesan pada Giok Cing dan Giok Ling. "Kalian berdua tidak boleh
meninggalkan siau kiong cu selangkah pun!"
"Ya, Giok Cing clan Giok Ling mengangguk.
"Adik Liong ……" gumam Se Pit Han. "Engkau
tidak mati kan? Engkau akan ke mari kan?"
"Siau kiong cu!" ujar Giok Cing. "Mari ke
kamar untuk beristirahat!"
"Aku tidak mau istirahat, mau menunggu adik
Liong ……" Se Pit Han menangis terisak-isak, sepasang matanya telah
membengkak.
"Siau kiong cu!" Se Khi membelainya. "Lebih
baik engkau ke kamar untuk beristirahat!"
"Se Khi ……" Se Pit Han memeluknya dengan air
mata berderai-derai. Kenapa nasib adik Liong begitu malang ……?"
-- o --
(Bersambung bagian 53)
Bagian ke 53. Saudara Kembar
Pemandangan di Heng San sangat indah
menakjubkan. Sayup-sayup terdengar suara air terjun dan suara arus
sungai. Keadaan di Heng San begitu tenang dan damai, tampak pula
beberapa ekor kelinci bercanda ria dan berlompat-lompatan.
Di tempat yang indah, tenang dan damai itu
terdapat sebuah gubuk berpagar garis bambu. Gubuk milik siapa itu?
Di tempat yang begitu sunyi kok ada gubuk?
Saat ini sang surya mulai merangkak ke atas.
Terdengar suara kicau burung yang amat merdu. Di halaman gubuk itu
tampak seseorang pemuda sedang berlatih ilmu pedang. Sungguh
mengherankan, wajah pemuda itu mirip wajah Pek Giok Liong, ternyata
pemuda itu Hek Siau Liong yang ditolong Swat San Lo Jin (Orang tua
gunung salju). Kini ia sudah menjadi murid orang tua tersebut.
Di teras gubuk itu, duduk seorang wanita
berusia empat puluhan. Walau sudah berusia sekian, namun wanita itu
masih tampak cantik, hanya saja di keningnya banyak terdapat garis
kerutan.
Siapa wanita itu? Dia adalah ibu Hek Siau
Liong bernama Hek Ai Lan dan julukannya adalah Hek Bi Jin (Wanita
cantik Hek).
Sementara Hek Siau Liong sudah selesai
berlatih ilmu pedang. Ia menghampiri Hek Ai Lan dengan wajah
berseri-seri.
"Ibu, bagaimana latihan Siau Liong? Sudah
ada kemajuan?" tanya Hek Siau Liong sambil tersenyum.
"Nak!" Hek Ai Lan menarik nafas panjang.
"Kenapa Ibu menarik nafas? Apakah Ibu tidak
senang melihat Siau Liong berlatih ilmu pedang?"
"Nak ……" Hek Ai Lan menggeleng-gelengkan
kepala. "Sebetulnya ibu tidak setuju engkau belajar ilmu silat, maka
……"
"Ibu tidak setuju?" Hek Siau Liong tertawa.
"Padahal ibu sendiri berilmu tinggi, tapi sama sekali tidak mengajar
Siau Liong. Setelah Siau Liong di tolong guru, barulah ibu mau
mengajar Siau Liong ilmu silat."
"Mungkin itu sudah merupakan takdir!" Hek Ai
Lan menarik nafas panjang lagi. "Hari itu engkau pergi secara
diam-diam, akhirnya dilukai orang. Kalau tidak ditolong oleh Swat
San Lo Jin, engkau pasti sudah mati."
"Betul, Bu." Hek Siau Liong mengangguk.
"Ohya, Siau Liong masih merasa heran, kenapa wajah Siau Liong mirip
sekali dengan wajah Siau Liong itu?"
"Entahlah." Hek Ai Lan menggelengkan kepala,
namun sekilas air mukanya tampak berubah.
"Itu …… itu mungkin kebetulan."
"Sungguh mengherankan!" Hek Siau Liong
tertawa. "Semua orang mengira Siau Liong adalah Siau Liong itu,
karena nama kami pun sama."
"Ibu sudah mengatakan, itu mungkin
kebetulan."
"Ibu!" Hek Siau Liong menatapnya. "Kalau ada
kesempatan, Siau Liong ingin bertemu Siau Liong itu."
"Lho? Memangnya kenapa?"
"Siau Liong ingin bertanya padanya ……"
"Mau bertanya apa padanya?"
"Apakah di belakang telinganya juga terdapat
tanda merah?" sahut Hek Siau Liong sambil tersenyum. "Ibu kan tahu,
di belakang telinga Siau Liong terdapat tanda merah, kalau dia juga
punya tanda merah itu …… Wah! Betul-betul aneh!"
"Nak!" Hek Ai Lan tersenyum lembut. "Bukan
waktunya engkau meninggalkan Heng San ini."
"Kapan Siau Liong boleh meninggalkan tempat
ini?"
"Nak!" Hek Ai Lan menatapnya dalam-dalam.
"Apakah engkau ingin berkelana di bu lim?"
"Ya." Hek Siau Liong mengangguk.
"Nak!" Hek Ai Lan menggeleng-gelengkan
kepala. "Justru itu, sebelum engkau di tolong oleh Swat San Lo Jin,
ibu sama sekali tidak mau mengajarmu ilmu silat, karena khawatir
engkau akan pergi berkelanan di bu lim."
"Ibu! Siau Liong ingin jadi pendekar!" ujar
Hek Siau Liong penuh semangat.
"Nak, ilmu silatmu masih rendah, belum
waktunya pergi berkelana." tandas Hek Ai Lan.
"Maka …… Siau Liong terus menerus berlatih,
kalau ilmu silat Siau Liong sudah tinggi, Siau Liong ingin jadi
pendekar."
"Bagus! Bagus! Engkau memang calon
pendekar!" Terdengar sahutan di sertai tawa gelak, tak lama melayang
sosok bayangan.
"Guru! Guru!" Seru Hek Siau Liong girang.
Ternyata yang melayang turun itu Swat San Lo Jin, orang tua itu
masih tertawa.
"Anak Liong, benarkah engkau ingin jadi
pendekar?"
"Ya, Guru."
"Anak Liong!" Swat San Lo Jin tertawa-tawa
lagi. "Engkau harus terus belajar, sebab kepandaianmu masih rendah."
"Ya, Guru." Hek Siau Liong mengangguk. "Siau
Liong memang belajar siang dan malam, sebab ingin sekali jadi
pendekar."
"Ngmm!" Swat San Lo Jin manggut-manggut,
kemudian wajahnya berubah serius. "Anak Liong, engkau terus berlatih
di sini, guru ingin bicara dengan ibumu."
"Ya." Hek Siau Liong mulai berlatih lagi.
Sedangkan Swat San Lo Jin mengajak Hek Ai Lan ke dalam gubuk.
Setelah berada di dalam gubuk, Hek Ai Lan segera menyuguhkan
secangkir teh untuk Swat San Lo Jin, lalu duduk di hadapannya.
"Ai Lan!" Swat San Lo Jin menatapnya seraya
berkata. "Mungkin tidak lama lagi, bu lim akan dilanda malapetaka."
"Bu Lim akan dilanda malapetaka?" Hek Ai Lan
terkejut. "Bukankah kini bu lim sudah aman? Kok lo cianpwee malah
bilang bu lim akan dilanda malapetaka?"
"Aaakh ……!" Swat San Lo Jin menarik nafas
panjang. "Pek Giok Liong, ketua partai Hati Suci atau generasi
kelima pemegang Jit Goat Seng Sim Ki itu telah dipukul jatuh ke
dalam jurang."
"Apa?" Wajah Hek Ai Lan berubah pucat pias.
"Pek …… Pek Giok Liong ……"
"Ai Lan!" Swat San Lo Jin menatapnya tajam.
"Kenapa wajahmu berubah begitu pucat? Apakah Pek Giok Liong punya
hubungan dengan dirimu?"
"Tidak ada." Hek Ai Lan menggelengkan
kepala. "Ohya, siapa yang memukul jatuh Pek Giok Liong ke dalam
jurang?"
"Kiu Thian Mo Cun!"
"Kiu Thian Mo Cun?" Hek Ai Lan tercengang.
"Siapa Kiu Thian Mo Cun itu?"
"Dia adalah ……" tutur Swat San Lo Jin dan
menambahkan, "Nah, bukankah bu lim akan dilanda malapetaka dengan
munculnya Kiu Thian Mo Cun?"
"Dia... dia begitu tinggi kepandaiannya,
sehingga mampu memukul jatuh Pek Giok Liong?"
"Kepandaian maha iblis itu memang tinggi
sekali." Swat San Lo Jin menarik nafas panjang. "Kalau aku dan bu
lim cit khi jin bergabung melawannya, belum tentu kami mampu
bertahan sampai tiga puluh jurus!"
"Haah?" Hek Ai Lan terbelalak. "Kalau
begitu, dia pasti bisa menguasai bu lim!"
"Tidak salah." Swat San Lo Jin mengangguk.
"Aku yakin tidak lama lagi , dia pasti menguasai bu lim."
"Seandainya Kiu Pat It Pang bergabung,
apakah mampu melawannya?" tanya Hek Ai Lan.
"Aku dan Cit Khi Jin masih tidak mampu
melawannya, apa lagi para ketua sembilan partai?"
"Kalau begitu, dia betul-betul tiada tanding
di kolong langit?"
"Pek Giok Liong bisa dipukul jatuh olehnya,
lalu siapa lagi yang mampu menandinginya?"
"Bagaimana dengan Cai Hong Tocu?"
"Kepandaian Cai Hong Tocu setingkat dengan
Pek Giok Liong, jadi engkau pun mengerti."
"Seandainya Cai Hong Tocu dan para
bawahannya mengeroyok Kiu Thian Mo Cun itu, apakah pihak Cai Hong To
akan menang?"
"Tetap kalah," jawab Swat San Lo Jin. "Terus
terang, tiada seorang pun yang mampu mengalahkannya, kecuali ……"
"Kecuali siapa?"
"Pendekar Hati Suci itu hidup lagi."
"Siapa pendekar Hati Suci itu?"
"Dia adalah ……" Swat San Lo Jin
memberitahukan, kemudian menarik nafas. "Tapi dia tidak mungkin
hidup kembali. Kini bu lim betul-betul berada di ambang kehancuran!"
"Kalau begitu, kemunculan Kiu Thian Mo Cun
pasti amat menggembirakan semua orang dari golongan hitam!"
"Itu sudah pasti, maka nyawa para pendekar
dari golongan putih sudah berada di ujung tanduk." ujar Swat San Lo
Jin. Mendadak keningnya berkerut seraya memberitahukan, "Ada orang
datang!"
"Siapa orang itu?" tanya Hek Ai Lan heran.
"Entahlah!" Swat San Lo Jin menggelengkan
kepala. "Orang itu memiliki kepandaian tingkat tinggi ……"
"Saudara tua, aku pengemis bau yang ke
mari!" Terdengar suara sahutan, menyusul berkelebat sosok bayangan
memasuki gubuk. Siapa orang itu? Ternyata Ouw Yang Seng Tek, tetua
Kay Pang. Biasanya ia suka tertawa, tapi kali ini wajahnya tampak
murung sekali.
"Hei! Pengemis bau! Mau apa engkau ke mari?"
tanya Swat San Lo Jin.
"Aaakh ……!" Ouw Yang Seng Tek menghempaskan
dirinya ke tempat duduk. "Terus terang, tadi aku menguntitmu sampai
di sini. Tapi aku tidak segera masuk, melainkan bersembunyi di balik
pohon melihat Hek Siau Liong itu berlatih ilmu pedang."
"Oooh!" Swat San Lo Jin manggut-manggut.
"Tadi aku sudah tahu ada orang menguntitku, ternyata engkau pengemis
bau!"
"Heran?" ujar Ouw Yang Seng Tek bergumam.
"Hek Siau Liong itu mirip sekali dengan Pek Giok Liong seperti
pinang dibelah dua!"
"Tidak salah. Kalau mereka berjalan bersama,
orang lain pasti mengira mereka adalah saudara kembar."
"Ohya! Saudara tua, sudahkah engkau tahu apa
yang menimpa diri Pek Giok Liong?"
"Kejadian itu sangat menggemparkan bu lim,
bagaimana mungkin aku tidak tahu?"
"Aaakh! Aku telah kehilangan seorang saudara
kecil ……" ujar Ouw Yang Seng Tek dengan mata bersimbah air. "Rasanya
aku ingin menangis ……"
"Kalau begitu, lehih baik engkau menangis!"
usul Swat San Lo Jin jang tahu akan kedukaan pengemis tua itu.
"Aku memang harus menangis," sahut Ouw Yang
Seng Tek, usai berkata begitu, ia betul-betul menangis
gerung-gerungan.
"Pengemis bau!" ujar Swat San Lo Jin setelah
lewat beberapa saat kemudian.
"Kukira engkau sudah boleh berhenti
menangis."
"Ya." Ouw Yang Seng Tek segera berhenti
menangis. "Saudara tua, bu lim akan dilanda banjir darah."
"Betul." Swat San Lo Jin mengangguk. "Itulah
yang amat mencemaskanku."
"Saudara tua, benarkah orang yang memukul
Pek Giok Liong jatuh ke jurang itu Kiu Thian Mo Cun?" tanya Ouw Yang
Seng Tek mendadak.
"Itu tidak mungkin." Swat San Lo Jin
menggelengkan kepala. "Tapi aku yakin bahwa dia pewaris Kiu Thian Mo
Cun!"
"Ngmm!" Ouw Yang Seng Tek manggut-manggut.
"Setelah Pek Giok Liong jatuh ke jurang, siapa lagi yang mampu
mengalahkan Kiu Thian Mo Cun?"
"Sama sekali tidak ada." Swat San Lo Jin
menarik nafas panjang. "Oleh karena itu, tidak lama lagi bu lim
pasti dikuasai Kiu Thian Mo Cun."
"Apakah kita harus membiarkannya menguasai
bu lim?"
"Tentu tidak. Biar bagaimana pun kita harus
mencari jalan untuk membasmi Kiu Thian Mo Cun itu," ujar Swat San Lo
Jin. "Terus terang, yang kukhawatirkan lagi yakni Kiu Thian Mo Cun
akan mengundang beberapa tokoh tua golongan hitam untuk
membantunya."
"Kalau begitu, bagaimana mungkin kita mampu
membasmi mereka?" Ouw Yang Seng Tek menggeleng-gelengkan kepala.
"Maka kita harus bergabung dengan Cai Hong
To."
"Bagaimana cara kita bergabung dengan Cai
Hong To?"
"Kita harus berangkat ke Lam Hai."
"Ngmm!" Ouw Yang Seng Tek manggut-manggut,
dan ia pun teringat sesuatu. "Ohya, aku masih merasa heran. Hek Siau
Liong yang di luar itu kok begitu mirip Pek Giok Liong?"
"Mungkin cuma kebetulan."
"Kalau pun kebetulan, tidak mungkin mereka
begitu mirip seperti saudara kembar."
"Aku sendiri pun tidak habis berpikir,
mungkin ……" Swat San Lo Jin memandang Hek Ai Lan. "Engkau bersedia
menjelaskan?"
"Lo cianpwee, aku memang menyimpan suatu
rahasia mengenai Hek Siau Liong." ujar Hek Ai Lan.
"Oh?" Swat San Lo Jin menatapnya. "Kalau
begitu, beritahukanlah!"
"Karena Pek Giok Liong mungkin sudah mati,
maka aku pun harus membeberkan rahasia itu." Hek Ai Lan memandang
jauh ke depan seakan sedang mengenang sesuatu. "Kira-kira depalan
belas tahun yang lalu, aku mulai berkelana dalam rimba persilatan,
dan memperoleh julukan Hek Bi Jin. Setahun kemudian aku bertemu Pek
Mang Ciu dan istrinya ……"
"Kedua orang tua Pek Giok Liong?" Ouw Yang
Seng Tek terbelalak.
"Ya." Hek Ai Lan mengangguk. "Entah apa
sebabnya, begitu melihat Pek Mang Ciu, aku pun jatuh cinta padanya.
Akan tetapi, dia lelaki sejati, sama sekali tidak tertarik padaku,
dan itu membuatku amat penasaran dan mulailah aku memikatnya dengan
berbagai cara ……"
"Kemudian bagaimana?" tanya Swat San Lo Jin.
"Dia tetap tidak terpikat, sehingga
membuatku amat membencinya. Setelah itu ……" Lanjut Hek Ai Lan. "Pek
Mang Ciu dan istrinya bertarung melawan Pat Hiong. Suami istri itu
mampu mengalahkan mereka, bahkan Thai Nia Siang Hiong dan Lang San
Sam Kuai terpukul jatuh ke dalam jurang ……"
"Tidak salah." sambung Ouw Yang Seng Tek.
"Setelah itu, Pek tayhiap dan istrinya membangun Ciok Lau San Cung,
kan?"
"Betul." Hek Ai Lan mengangguk. "Aku ke sana
menemui mereka untuk bermohon pada mereka agar aku diterima sebagai
pelayan. Namun …… Pek Mang Ciu tetap menolak. Coba bayangkan, betapa
sakitnya hatiku!"
"Kenapa engkau ingin jadi pelayan di sana?"
tanya Ouw Yang Seng Tek.
"Karena aku …… ingin berdekatan dengan Pek
Mang Ciu, aku amat mencintainya ……" jawab Hek Ai Lan dengan wajah
murung. "Lantaran aku diusir, maka aku pun mendendam pada mereka
suami istri."
"Engkau mencoba membunuh mereka?" tanya Swat
San Lo Jin mendadak.
"Aku sama sekali tidak berniat begitu." Hek
Ai Lan menarik nafas panjang. "Setahun kemudian, istri Pek Mang Ciu
melahirkan ……"
"Melahirkan Pek Giok Liong kan?" Ouw Yang
Seng Tek menatapnya.
"Istri Pek Mang Ciu melahirkan anak lelaki
kembar, kemudian diberi nama Pek Giok Liong dan Pek Giok Houw." Hek
Ai Lan memberitahukan. "Pek Giok Liong lahir lebih dulu, menyusul
adalah Pek Giok Houw ……"
"Jadi ……" Ouw Yang Seng Tek terbelalak. "Hek
Siau Liong yang di luar itu Pek Giok Houw?"
"Betul." Hek Ai Lan mengangguk. "Dua bulan
kemudian setelah anak kembar itu lahir, aku menyelinap ke dalam Ciok
Lau San Cung untuk mencuri salah satu bayi tersebut. Bahkan aku pun
meninggalkan sepucuk surat untuk Pek Mang Ciu dan istrinya,
menyatakan bahwa aku akan mengurus bayi yang kucuri itu."
"Heran?" ujar Ouw Yang Seng Tek sambil
menggaruk-garuk kepala. "Kenapa Pek Mang Ciu tidak menyiarkan kabar
tentang itu?"
"Mungkin mereka menjaga namaku, sekaligus
menjaga nama mereka pula," ujar Hek Ai Lan.
"Kenapa engkau mencuri bayi itu?" tanya Swat
San Lo Jin sambil menatap Hek Ai Lan.
"Lo cianpwee, aku amat mencintai Pek Mang
Ciu, maka rasanya akan puas mengurusi anak Pek Mang Ciu."
"Kok begitu?" Ouw Yang Seng Tek
menggaruk-garuk kepala.
"Itu yang disebut cinta." Swat San Lo Jin
menarik nafas. "Pengemis bau, pernahkah engkau jatuh cintai?"
"Tidak pernah." Ouw Yang Seng Tek
menatapnya. "Bagaimana dengan engkau? Pernahkah engkau jatuh cinta
ketika masih muda?"
"Pernah, tapi ……" Swat San Lo Jin
menggeleng-gelengkan kepala. "Sudahlah! Semua itu telah berlalu."
"Hek Bi Jin!" Ouw Yang Seng Tek
memandangnya. "Jadi engkau mengurusi Pek Giok Houw sampai belasan
tahun?"
"Ya." Hek Ai Lan mengangguk. "Dia ikut marga
Hek dan kuberi nama Siau Liong, namun sungguh di luar dugaan ….."
"Maksudmu tentang kematian Pek tayhiap dan
istrinya?" tanya Ouw Yang Seng Tek.
"Ng!" Hek Ai Lan mengangguk. "Setelah
mencuri bayi itu, setiap tahun aku selalu ke Ciok Lau San Cung
secara diam-diam ……"
"Lho? Kenapa engkau masih ke sana?" tanya
Ouw Yang Seng Tek heran.
"Ingin melihat Pek Mang Ciu dari jauh ……"
Hek Ai Lan menundukkan kepala. "Kira-kira dua tahun yang lalu, aku
ke sana lagi, justru melihat belasan orang yang memakai kain penutup
muka menuju sana. Aku pun mendengar pembicaraan mereka, bahwa ingin
membunuh Pek Mang Ciu dan istrinya, bahkan juga akan membantai semua
penghuni Ciok Lau San Cung. Betapa terkejutnya hatiku! Oleh karena
itu, aku pun menutup mukaku dengan kain, lalu menyelinap masuk ke
kamar Pek Giok Liong untuk menolongnya."
"Jadi engkau yang menolong Pek Giok Liong?"
Ouw Yang Seng Tek terbelalak.
"Ya." Hek Ai Lan mengangguk. "Aku menotok
jalan darah tidurnya, lalu membawanya ke suatu tempat yang aman. Aku
pun meninggalkan sepucuk surat menyuruhnya ke Lam Hai cari Pulau
Pelangi."
"Engkau sudah tahu Pek Mang Ciu dan istrinya
berasal dari pulau itu?" tanya Swat San Lo Jin.
"Guruku yang memberitahukan."
"Oooh!" Swat San Lo Jin manggut-manggut.
"Ohya, kenapa engkau tidak mau memberitahukan padaku siapa gurumu
itu?"
"Lo cianpwee, aku tidak tahu siapa guruku
itu," jawab Hek Ai Lan. "Namun dia seorang nenek yang sudah tua.
Walau aku sebagai muridnya, selama itu dia tidak pernah
memberitahukan padaku nama maupun julukannya."
"Aneh!" Swat San Lo Jin menggeleng-gelengkan
kepala. "Ohya, senjata apa yang dipakainya?"
"Sepasang pedang pendek."
"Apa?" Swat San Lo Jin tampak tersentak.
"Sepasang pedang pendek?"
"Ya." Hek Ai Lan mengangguk.
"Gurumu tinggal di Thian San?" tanya Swat
San Lo Jin dengan suara agak bergemetar.
"Kami memang tinggal di Thian San ……"
"Aaakh....!" Keluh Swat San Lo Jin.
"Ternyata dia ……"
"Mantan kekasihmu kan, saudara tua?" Ouw
Yang Seng Tek tertawa gelak.
"Eh? Pengemis bau!" Swat San Lo Jin melotot.
"Jangan menggodaku! Engkau ingin merasakan pukulanku ya?"
"Itu kalau terpaksa." Ouw Yang Seng Tek
masih tertawa gelak.
Swat San Lo Jin diam, sepasang matanya
memandang jauh ke depan, kelihatannya sedang mengenang masa lalunya.
"Aaakh ……" gumamnya mengeluh. "Sudah lima
puluh tahun tidak bertemu, apakah dia baik-baik saja dan …… apakah
masih cerewet seperti dulu?"
"Lo cianpwee, aku tidak tahu, karena sudah
belasan tahun aku tidak bertemu guruku itu."
"Apakah dia berjuluk Thian San Lolo?" tanya
Swat San Lo Jin.
"Ya." Hek Ai Lan mengangguk.
"Haah ……?" Ouw Yang Seng Tek terperanjat. Ia
menatap Hek Ai Lan seraya bertanya, "Nenek galak itukah gurumu?"
"Tidak salah."
"Aaakh!" Ouw Yang Seng Tek menarik nafas
panjang. "Enam puluh tahun yang lalu, gurumu amat terkenal, tapi
kemudian dia menghilang dari kang ouw. Tidak disangka dia menetap di
Thian San!"
"Itu ……" Swat San Lo Jin
menggeleng-gelengkan kepala. "…… itu gara-gara aku, maka dia
mengasingkan diri di Thian San."
"Kok gara-gara lo cianpwee?" tanya Hek Ai
Lan.
"Yaah!" Swat San Lo Jin menarik nafas. "Enam
puluh tahun yang lampau, kami masih muda dan berdarah panas. Walau
kami sudah saling mencinta, tapi justru tidak mau saling mengalah
dalam hal kepandaian. Oleh karena itu kami pun bertanding ratusan
jurus, dan akhirnya dia kalah. Sejak itulah dia menghilang entah ke
mana. Aku terus mencarinya, tapi tidak pernah ketemu, ternyata dia
mengasingkan diri di Thian San ……"
"Saudara tua!" Ouw Yang Seng Tek tertawa.
"Kalau begitu, engkau harus ke Thian San menemuinya, dan mohon
padanya untuk bergabung dengan kita demi melawan Kiu Thian Mo Cun!"
"Aku memang punya niat begitu, namun belum
tentu dia akan memaafkanku," ujar Swat San Lo Jin sambil
menggeleng-gelengkan kepala.
"Sudah sama-sama tua, tentunya tidak
berdarah panas lagi. Aku yakin dia pun merindukanmu, dan masih tetap
mencintaimu. Kalau tidak, kenapa dia tidak menikah?"
"Aaakh! Semua itu telah berlalu." Swat San
Lo Jin menarik nafas. "Ohya, mari kita kembali pada masalah pokok!"
"Saudara tua, kini kita sudah tahu asal-usul
Hek Siau Liong, maka aku punya suatu ide."
"Ide apa?" Swat San Lo Jin menatapnya.
"Panggil Hek Siau Liong ke mari, kita
beritahukan tentang asal usulnya!" jawab Ouw Yang Seng Tek. "Setelah
itu kita bawa dia ke Cai Hong To."
"Untuk apa membawanya ke Cai Hong To?" tanya
Hek Ai Lan heran.
"Dia famili majikan pulau itu, wajar kalau
kita membawanya ke sana," jawab Ouw Yang Seng Tek dan menambahkan,
"Sekaligus belajar ilmu tingkat tinggi di sana."
"Percuma." Swat San Lo Jin menggelengkan
kepala. "Pek Giok Liong yang berilmu begitu tinggi, tapi masih tidak
bisa melawan Kiu Thian Mo Cun, apa lagi Hek Siau Liong?"
"Saudara tua!" Ouw Yang Seng Tek serius.
"Siapa tahu di pulau itu masih tersimpan kitab silat yang belum di
pelajari oleh Pek Giok Liong, maka kita usulkan ……"
"Aku tahu maksudmu." Swat San Lo Jin
manggut-manggut, lalu memandang Hek Ai Lan. "Engkau ke depan panggil
Siau Liong ke mari!"
"Ya." Hek Ai Lan segera memanggil Hek Siau
Liong, dan tak lama ia sudah kembali bersama pemuda itu.
"Apakah Guru memanggil Siau Liong?" tanya
Hek Siau Liong.
"Ya." Swat San Lo Jin manggut-manggut. "Anak
Liong, cepat beri hormat pada paman pengemis!"
Hek Siau Liong menurut, lalu segera memberi
hormat pada Ouw Yang Seng Tek. Pengemis tua itu tertawa gelak. Ia
menatap Hek Siau Liong dengan penuh perhatian.
"Bagus! Bagus! Dia memiliki tulang dan bakat
yang amat bagus! Mungkin tidak akan mengecewakan harapan kita."
"Aku pun berpikir begitu." Swat San Lo Jin
tersenyum, lalu memandang Hek Siau Liong. "Anak Liong, tahukah
engkau asal-usulmu?"
"Siau Liong ……" Pemuda itu melongo, kemudian
memandang Hek Ai Lan. "Ibu kenapa guru bertanya begitu pada Siau
Liong?"
"Nak!" Hek Ai Lan menatapnya dalam-dalam,
lalu ujarnya perlahan. "Sebetulnya engkau bukan anakku ……"
"Apa?!" Hek Siau Liong terbelalak.
"Sesungguhnya engkau bernama Pek Giok Houw."
Hek Ai Lan memberitahukan. "Engkau adik kembar Pek Giok Liong."
"Oh? Pantas Siau Liong mirip dia!" Hek Siau
Liong tertawa kecil dan bertanya. "Kapan Siau Liong boleh bertemu
dia?"
"Engkau tidak akan bertemu dia lagi ……" Hek
Ai Lan menarik nafas.
"Kenapa?"
"Dia telah dipukul jatuh ke jurang oleh
musuhnya."
"Oh?" Wajah Hek Siau Liong tampak berduka.
"Siapa yang memukul jatuh Kakak Siau Liong ke dalam jurang?"
"Kiu Thian Mo Cun." Hek Ai Lan
memberitahukan.
"Siapa Kiu Thian Mo Cun itu?" tanya Hek Siau
Liong.
"Anak Liong!" Swat San Lo Jin menatapnya,
lalu menutur mengenai pendekar Hati Suci dan Kiu Thian Mo Cun itu.
"Haah?" Hek Siau Liong terkejut. "Betapa
tinggi kepandaian Kiu Thian Mo Cun itu? Tapi …… bagaimana mungkin
dia hidup sampai hampir dua ratus tahun?"
"Orang itu mungkin pewarisnya," sahut Ouw
Yang Seng Tek.
"Oooh!" Hek Siau Liong mengangguk.
"Nak!" Hek Ai Lan menatapnya lembut. "Mulai
sekarang engkau bernama Pek Giok Houw, sebab ……" Hek Ai Lan mulai
menutur tentang asal-usul pemuda itu, dan kemudian menambahkan,
"Oleh karena itu, kami ingin membawamu ke Pulau Pelangi untuk
belajar ilmu silat tingkat tinggi di sana."
"Ibu ……" Pek Giok Houw terbelalak. "…… jadi
Siau Houw famili majikan Cai Hong to itu?"
"Betul." Hek Ai Lan mengangguk. "Setelah
engkau berhasil, engkau harus membasmi Kiu Thian Mo Cun itu!"
"Siau Houw pasti membalas dendam Kakak
Liong!" ujar Pek Giok Houw dengan mata berapi-api.
"Lo cianpwee, kapan kita berangkat ke Pulau
Pelangi?" tanya Hek Ai Lan pada Swat San Lo Jin.
"Besok pagi," sahut Swat San Lo Jin sambil
mengarah pada Ouw Yang Seng Tek. "Pengemis bau, engkau mau ikut
kan?"
"Tentu." Ouw Yang Seng Tek mengangguk.
"Baiklah." Swat San Lo Jin manggut-manggut.
"Kalau begitu, kita pastikan berangkat besok."
-- o --
Bagian ke 54. Pertemuan di Pulau Pelangi
Se Ciang Cing dan istrinya telah kembali ke
Pulau Pelangi. Mereka berdua duduk di ruang depan istana dengan
wajah serius dan berduka. Se Pit Han duduk di sisi ibunya dengan
mata bersimbah air, bahkan wajahnya pun amat pucat.
Kepala pengurus istana, Se Khi, Giok Cing,
Giok Ling, Thian Koh Sing, Thian Kang Sing, Si Kim Kong, Si Hong dan
Pat Kiam pun duduk di ruang tersebut.
Tiada seorang pun membuka mulut, suasana pun
menjadi hening. Berselang beberapa saat kemudian, Se Ciang Cing,
majikan Pulau Pelangi mulai membuka mulut sambil memandang putrinya.
"Jadi benarkah Siauw Hui Ceh dan Cing Ji
telah mati?" tanya Se Ciang Cing dengan suara dalam.
"Ya." Se Pit Han mengangguk.
"Apakah ketika Pek Giok Liong terpukul jatuh
ke dalam jurang, dia pun telah terkena racun?" tanya Se Ciang Cing
lagi.
"Ya." Se Pit Han mulai menangis
terisak-isak.
"Benarkah orang itu Kiu Thian Mo Cun?" Wajah
Se Ciang Cing tampak serius sekali.
"Entahlah." Se Pit Han menggelengkan kepala.
"Orang itu mengenakan jubah bersulam iblis, mukanya pun memakai
kedok iblis."
"Si Kim Kong!" Se Ciang Cing menatap mereka.
"Apakah kalian berempat sudah ke Yan San?"
"Sudah," jawab Hok Mo Kim Kong dan
memberitahukan, "Kami pun sudah turun ke dasar jurang, tapi tidak
menemukan mayat Pek Giok Liong. Mungkin mayatnya telah dimangsa
binatang buas."
"Aaakh ……!" Se Ciang Cing menarik nafas
panjang." Kenapa nasib Pek Giok Liong begitu malang? Kematiannya pun
begitu mengenaskan ……"
Mendengar itu, Se Pit Han mulai menangis
sedih lagi dengan air mata berderai-derai.
"Adik Liong..." gumamnya.
"Nak!" hibur Nyonya Se Ciang Cing. "Jangan
berduka, karena tidak menemukan mayat Pek Giok Liong, siapa tahu dia
belum mati."
"Dia …… dia bagaimana mungkin belum mati?
Aku menyaksikannya terpukul oleh Kiu Thian Mo Cun, mukanya pun
kehitam-hitaman ……"
"Hek Sim Tok Ciang." Se Ciang Cing
menggeleng-gelengkan kepala. "Tiada satu ilmu pun yang dapat melawan
Hek Sim Tok Ciang itu."
"Bukankah kita masih menyimpan kitab Bu Kek
Cin Keng? Kitab itu berisi pelajaran lwee kang yang amat tinggi."
Nyonya Se Ciang Cing mengingatkan.
"Benar." Se Ciang Cing manggut-manggut.
"Aku tidak pernah mempelajarinya, tapi
menurutku, ilmu itu masih tidak bisa menandingi Hek Sim Tok Ciang."
"Tapi masih bisa membendung ilmu itu kan?"
"Benar. Tapi …… siapa yang akan mempelajari
ilmu itu?"
"Aku," sahut Se Pit Han mendadak. "Ayah,
Ibu! Aku harus mempelajari ilmu itu demi membalas dendam adik
Liong."
"Nak!" Se Ciang Cing menggeleng-gelengkan
kepala. "Engkau anak perempuan, tidak bisa mempelajari ilmu itu."
"Kenapa?"
"Hanya anak lelaki yang masih perjaka, yang
bisa mempelajari ilmu tersebut."
"Kalau begitu, kenapa dulu ayah tidak
menyuruh Pek Giok Liong belajar ilmu itu? Kalau dia belajar ilmu
itu, mungkin tidak akan mati ……"
"Kenapa?" tanya Se Pit Han heran.
"Nak!" Nyonya Se Ciang Cing berbisik di
telinga putrinya. "Anak perjaka yang belajar ilmu itu, akan jadi
impoten seumur hidup. Oleh karena itu, ibu dan ayah tidak mau
menyuruhnya belajar ilmu tersebut."
"Oooh!" Se Pit Han manggut-manggut.
"Kalian dengar semua!" seru Se Ciang Cing
mendadak. "Mulai saat ini, kalian semua dilarang memasuki Tiong
Goan, itu karena kemunculan Kiu Thian Mo Cun!"
"Ya," sahut mereka semua.
"Lima pelindung pulau, kalian dengar
baik-baik!" ujar Se Ciang Cing dengan suara lantang. "Mulai besok,
di seluruh pulau ini harus dipasang jebakan!"
"Ya." Sahut lima pelindung pulau serentak.
"Dan ……" tambah Se Ciang Cing. "Mulai saat
ini, kalian semua harus giat berlatih ilmu masing-masing, demi
menjaga kemunculan pihak Kiu Thian Mo Cun!"
"Kami menerima perintah!"
Tiba-tiba seseorang berlari memasuki rang
itu, lalu menjura pada Se Ciang Cing seraya melapor.
"Ada tamu ingin bertemu tocu!"
"Apa?!" Se Ciang Cing tercengang. "Siapa
tamu itu?"
"Swat San Lo Jin, Ouw Yang Seng Tek, Hek Ai
Lan dan Hek Siau Liong." Orang itu memberitahukan.
"Hek Siau Liong?" Se Ciang Cing
mengernyitkan kening.
"Tocu! Hek Siau Liong itu mirip Pek Giok
Liong ……" Se Khi memberitahukan tentang Hek Siau Liong itu.
"Oh?" Se Ciang Cing mengernyitkan kening
lagi. "Kalau begitu, cepat undang mereka masuk!"
Orang yang melapor itu segera menjura, lalu
pergi mengundang mereka masuk. Tak lama kemudian tampak Swat San Lo
Jin, Ouw Yang Seng Tek, Hek Ai Lan dan Pek Giok Houw memasuki ruang
istana.
"Ha ha ha!" Ouw Yang Seng Tek tertawa gelak.
"Sungguh indah dan mewah istana Pelangi ini!"
"Selamat datang Swat San Lo Jin, Ouw Yang
Seng Tek, Hek Bi Jin dan …… Hek Siau Liong!" ucap Se Ciang Cing
sambil menatap Pek Giok Houw dan membatin. Memang mirip Pek Giok
Liong, kok bisa mirip begitu?
"Apa kabar, Tocu?" tanya Swat San Lo Jin.
"Baik-baik saja," sahut Se Ciang Cing.
"Silakan duduk, lo cianpwee!"
Mereka duduk, sementara Se Pit Han
terus-menerus menatap Pek Giok Houw. Pemuda itu memang serupa dengan
Pek Giok Liong, hanya saja Pek Giok Liong agak tinggi.
"Maaf!" ucap Ouw Yang Seng Tek. "Kedatangan
kami telah mengganggu kalian!"
"Tidak apa-apa." Se Ciang Cing tersenyum.
"Kedatangan kalian tentunya mempunyai sesuatu yang penting,
kan?"
"Betul." Ouw Yang Seng Tek mengangguk.
"Yakni menyangkut Kiu Thian Mo Cun."
"Jadi kalian sudah tahu peristiwa Pek Giok
Liong?" tanya Se Ciang Cing.
"Justru karena itu, kami berkunjung ke
mari," sahut Swat San Lo Jin.
"Di samping itu, kami juga ingin
menyampaikan sesuatu yang amat penting." sambung Ouw Yang Seng Tek.
"Oh?" Se Ciang Cing menatapnya. "Tetua Kay
Pang ingin menyampaikan apa?"
"Mengenai Hek Siau Liong ini," jawab Ouw
Yang Seng Tek, lalu memandang Hek Ai Lan. "Hek Bi Jin,
beritahukanlah!"
"Se tocu!" ujar Hek Ai Lan. "Nama asli Hek
Siau Liong adalah Pek Giok Houw ……"
"Apa?" Se Ciang Cing terbelalak. "Nama
aslinya Pek Giok Houw? Jadi …… dia adalah ……"
"Adik kembar Pek Giok Liong." Hek Ai Lan
memberitahukan.
"Oh?" Nyonya Se Ciang Cing menatapnya. "Tapi
…… kenapa Pek Mang Ciu dan istrinya tidak pernah memberitahukan pada
kami, lagi pula …… Pek Giok Liong pun tidak tahu tentang ini."
"Benar." Hek Ai Lan manggut-manggut.
"Setelah istri Pek Mang Ciu melahirkan anak kembar ……"
Hek Ai Lan menutur tentang dirinya mencuri
salah satu bayi kembar itu. Se Ciang Cing dan istrinya mendengar
dengan mata terbelalak, begitu pula Se Pit Han dan lainnya.
"Kalau begitu, dia …… dia anak Pek Mang
Ciu!" Se Ciang Cing menatap Pek Giok Houw dengan penuh perhatian.
"Itu memang benar." ujar Hek Ai Lan.
"Ohya!" Se Ciang Cing menatapnya. "Kenapa
engkau menculik salah satu anak kembar Pek Mang Ciu?"
"Karena …… karena ……" Hek Ai Lan menundukkan
kepala.
"Hek Bi Jin sangat mencintai Pek Mang Ciu."
sambung Ouw Yang Seng Tek sambil tertawa, sekaligus menceritakan
tentang itu.
"Oooh!" Se Ciang Cing manggut-manggut.
"Ternyata begitu!"
"Nak!" ujar Hek Ai Lan pada Pek Giok Houw.
"Cepatlah engkau memberi hormat pada paman dan bibimu!"
"Giok Houw memberi hormat pada Paman dan
Bibi!" Pek Giok Houw segera memberi hormat.
"Anak baik!" Se Ciang Cing tertawa.
"Nak! Beri hormat pada kakak misanmu!" ujar
Hek Ai Lan.
"Kak misan, terimalah hormatku!" ucap Pek
Giok Houw sambil menjura pada Se Pit Han.
"Adik Houw ……" Mata Se Pit Han bersimbah
air. "Kakakmu telah mati ……"
"Aku sudah tahu, maka aku sudah mengambil
keputusan untuk membalas dendamnya," sahut Pek Giok Houw.
"Tapi …… kepandaiamu masih rendah." Se Pit
Han menggeleng-gelengkan kepala.
"Se tocu!" ujar Swat San Lo Jin. "Kami antar
Giok Houw ke mari untuk bertemu kalian, sekaligus agar dia bisa
belajar ilmu tingkat tinggi di sini."
"Ngmmm!" Se Ciang Cing manggut-manggut. "Itu
memang bagus, kami pasti menerimanya dengan senang hati."
"Terimakasih, Paman!" ucap Pek Giok Houw
cepat sambil memberi hormat.
"Ha ha!" Se Ciang Cing tertawa gembira.
"Giok Houw, engkau juga memiliki sifat seperti Giok Liong."
"Mereka saudara kembar, tentunya sama sifat
mereka," sahut Ouw Yang Seng Tek sambil tertawa gelak, kemudian
mendadak wajahnya berubah serius. "Pek Giok Liong tidak dapat
melawan Kiu Thian Mo Cun, lalu bagaimana dengan Pek Giok Houw?"
"Sebelum kemunculan kalian, kami telah
memikirkan hal ini." Se Ciang Cing memberitahukan. "Kami masih
menyimpan sebuah kitab."
"Oh?" Wajah Ouw Yang Seng Tek berseri.
"Kitab apa itu?"
"Bu Kek Cin Keng."
"Bu Kek Cin Keng?" Ouw Yang Seng Tek
mengernyitkan kening. "Apakah itu kitab doa?"
"Bukan." Se Ciang Cing menjelaskan. "kitab
Bu Kek Cin Keng ini memuat pelajaran ilmu lwee kang yang amat
tinggi, hanya anak perjaka yang boleh belajar tapi ……"
"Kenapa?" tanya Swat San Lo Jin.
"Perjaka mana pun yang belajar ilmu itu
seumur hidup tidak boleh kawin." Se Ciang Cing memberitahukan.
"Lho, Kenapa?" tanya Swat San Lo Jin heran.
"Karena …… akan impoten seumur hidup."
"Haah ……?" Swat San Lo Jin dan Ouw Yang Seng
Tek saling memandang, kemudian mereka mengarah pada Hek Ai Lan.
"Aku tidak bisa mengambil keputusan, itu
tergantung pada Pek Giok Houw." ujar Hek Ai Lan.
"Demi membalas dendam Kakak Liong, aku
bersedia belajar ilmu itu," sahut Pek Giok Houw sungguh-sungguh.
"Nak!" Hek Ai Lan menatapnya. "Tapi seumur
hidup engkau tidak bisa kawin. Maka alangkah baiknya pikirkanlah
masak-masak dulu!"
"Ibu, aku cuma memikirkan dendam Kakak
Liong, sama sekali tidak memikirkan soal kawin." tegas Pek Giok
Houw.
"Bagus! Bagus!" Ouw Yang Seng Tek tertawa
gelak.
"Apa yang bagus?" tegur Swat San Lo Jin
sambil melotot. "Apakah Giok Houw harus menempuh jalanmu tidak kawin
seumur hidup?"
"Menempuh jalan kita," sahut Ouw Yang Seng
Tek. "Bukankah saudara tua juga tidak kawin seumur hidup?"
"Paman, Bibi!" ujar Pek Giok Houw yang telah
mengambil keputusan. "Aku bersedia belajar Bu Kek Sin Kang."
"Ngmm!" Se Ciang Cing manggut-manggut.
"Ohya!" Se Pit Han teringat sesuatu, lalu
mengeluarkan sebuah kitab dan diserahkan pada Se Ciang Cing. "Ayah,
sebelum Kiu Thian Mo Cun muncul, adik Liong memberikan kitab ini
padaku, mungkin berguna untuk Adik Houw!"
"Oh?" Se Ciang Cing terbelalak setelah
melihat kitab itu, yang ternyata 'Kitab Ajaib'. Siapa yang belajar
ilmu di dalam kitab itu, maka seumur hidup tidak boleh kawin.
"Kitab apa itu?" tanya Nyonya Se Ciang Cing.
"Ini 'Kitab Ajaib'," Se Ciang Cing
memberitahukan. "Giok Houw boleh belajar ilmu yang ada di dalam
kitab ini."
"Se tocu! Kitab apa itu?" tanya Ouw Yang
Seng Tek.
"Kitab Ajaib." Se Ciang Cing memperlihatkan
kitab itu.
"Wuah!" seru Ouw Yang Seng Tek. "Kitab yang
luar biasa! Giok Houw memang berjodoh dengan kitab ajaib ini!"
"Se tocu!" Swat San Lo Jin menatapnya seraya
bertanya, "Kalau Giok Houw sudah berhasil belajar Bu Kek Sin Kang
dan Kitab Ajaib ini, apakah dia bisa mengalahkan Kiu Thian Mo Cun?"
"Entahlah." Se Clang Cing menggelengkan
kepala. "Sebab kita harus tahu, lwee kang Pek Giok Liong sudah
begitu tinggi, namun masih di bawah lwee kang Kiu Thian Mo Cun. Lagi
pula Kiu Thian Mo Cun memiliki Hek Sim Sin Kang dan Hek Sim Tok
Ciang yang amat dahsyat, bahkan juga amat beracun. Maka sulit bagi
Giok Houw mengalahkannya dengan ilmu Bu Kek Sin Kang dan ilmu yang
ada di dalam Kitab Ajaib ini."
"Kalau begitu ……" Ouw Yang Seng Tek tampak
lemas. "Percuma juga dia belajar ……"
"Tidak percuma," sahut Se Ciang Cing. "Sebab
dia masih bisa menjaga diri dengan ilmu-ilmu itu."
"Selain ilmu-ilmu itu, dia juga boleh
belajar ilmu Cai Hong To," tambah Nyonya Se Ciang Cing.
"Terimakasih Paman, terimakasih Bibi!" ucap
Pek Giok Houw haru dan berjanji, "Setelah aku berhasil belajar semua
ilmu itu, aku pasti pergi mencari Kiu Thian Mo Cun untuk menuntut
balas kematian Kakak Liong!"
"Bagus." Ouw Yang Seng Tek tertawa gelak.
"Pokoknya pihak Kay Pang pasti membantu dalam hal ini."
"Terimakasih, Paman pengemis!" ucap Pek Giok
Houw.
"Giok Houw ……" Ouw Yang Seng Tek menatapnya
dalam-dalam. "Engkau boleh dikatakan jelmaan Giok Liong."
"Paman pengemis, kami saudara kembar,
tentunya akan saling menjelma jadi satu." ujar Pek Giok Houw.
"Ohya! Kalau begitu, kami mau mohon diri!"
ujar Swat San Lo Jin, lalu memandang Hek Ai Lan. "Bagaimana engkau?
Mau tinggal di sini atau kembali ke Thian San?"
"Aku ……" Hek Ai Lan bimbang.
"Hek Bi Jin!" Nyonya Se Ciang Cing
tersenyum. "Lebih baik engkau tinggal di sini bersama Pek Giok
Houw!"
"Terimakasih, tocu hujin!" ucap Hek Ai Lan.
"Jangan sungkan-sungkan!" Nyonya Se Ciang
Cing tersenyum lagi. "Nanti akan kusuruh kepala pengurus istana
menyediakan sebuah kamar untukmu."
"Terimakasih!"
"Se tocu! Aku dan pengemis bau mau pergi.
Kalau ada berita apa pun di bu lim, kami pasti ke mari
memberitahukan," ujar Swat San Lo Jin.
"Lo cianpwee! Mulai besok di seluruh pulau
ini akan di pasang jebakan, maka aku akan berikan tanda pengenal
pada kallian," Kata Se Ciang Cing, lalu memberikan mereka tanda
pengenal.
"Eh?" Ouw Yang Seng Tek tercengang. "Semua
orang di sini sudah mengenal kami, kok masih harus punya tanda
pengenal?"
"Demi menjaga hal-hal yang tak diinginkan."
Se Ciang Cing memberitahukan. "Siapa tahu ada orang tertentu akan
menyamar sebagai diri kalian untuk menyusup ke mari, maka kami perlu
berhati-hati."
"Betul." Swat San Lo Jin manggut-manggut.
"Se tocu memang harus waspada, siapa tahu Kiu Thian Mo Cun akan
mengutus orangnya menyusup ke mari."
"Selain tanda pengenal, harus pula ada
kata-kata sandi." tambah Se Ciang Cing.
"Apa kata-kata sandi itu?" tanya Ouw Yang
Seng Tek.
"Jit Seng Tong Hong (Matahari terbit diufuk
timur)!" Se Ciang Cing memberitahukan.
"Akan kuingat kata-kata sandi itu." Ouw Yang
Seng Tek manggut-manggut.
"Memang lebih baik berhati-hati," ujar Swat
San Lo Jin. "Agar pihak Kiu Thian Mo Cun tidak bisa mengutus
orangnya menyusup ke mari. Baiklah, kami mau mohon diri!"
"Guru ……" Pek Giok Houw merasa berat
berpisah dengan Swat San Lo Jin.
"Giok Houw!" Swat San Lo Jin tersenyum.
"Kita pasti berjumpa lagi, baik-baiklah engkau belajar kepandaian
tingkat tinggi di sini, jangan mengecewakan kami!"
"Ya, Guru." Pek Giok Liong mengangguk.
"Se tocu, sampai jumpa!" ucap Swat San Lo
Jin.
"Selamat jalan, lo cianpwee!" sahut Se Ciang
Cing.
"Se tocu, aku mohon diri!" ucap Ouw Yang
Seng Tek, "Sampai berjumpa lagi kelak!"
"Selamat jalan, Ouw Yang Pang Cu!" Se Ciang
Cing mengantar mereka sampai di depan istana. Setelah mereka berdua
pergi jauh, barulah ia kembali ke dalam istana dan duduk. "Giok Houw
……"
"Ya, Paman!"
"Sungguhkah engkau ingin belajar Bu Kek Sin
Kang dan Kitab Ajaib itu?" tanya Se Ciang Cing sambil menatapnya
tajam.
"Sungguh, Paman." Pek Giok Houw mengangguk.
"Tentunya engkau tahu apa resikonya kan?"
"Tahu, Paman."
"Engkau tidak akan menyesal?"
"Demi membalas dendam Kakak Liong, aku sama
sekali tidak akan menyesal."
"Baiklah!" Se Ciang Cing manggut-manggut.
"Engkau boleh mulai belajar esok di ruang rahasia. Kalau sudah masuk
ke ruang rahasia itu, engkau tidak boleh ke luar, kecuali berhasil
belajar ilmu-ilmu itu."
"Ya, Paman."
"Ohya, Hek Bi Jin!" Se Ciang Cing tersenyum.
"Kepala pengurus istana akan menyiapkan sebuah kamar untukmu,
temanilah Giok Houw malam ini!"
"Terimakasih, Se tocu!" ucap Hek Ai Lan.
"Nah, sekarang kalian boleh beristirahat
dulu." Kemudian Se Ciang Cing berkata pada kepala pengurus istana.
"Ajak mereka ke dalam dan tunjukan kamar itu!"
"Ya." Kepala pengurus istana menjura, lalu
mengajak Hek Ai Lan dan Pek Giok Houw ke dalam.
"Pit Han!" panggil Se Ciang Cing.
"Ada apa, Ayah?" tanya Se Pit Han.
"Mulai besok, engkau pun harus memperdalam
kepandaianmu!" pesan Se Ciang Cing sungguh-sungguh.
"Ayah, kini adik Liong sudah tiada, untuk
apa aku memperdalam ilmu silat lagi?" Se Pit Han tampak tiada gairah
terhadap apa pun.
"Nak!" ujar Nyonya Se Ciang Cing sambil
tersenyum lembut, ia tahu maksud tujuan suaminya kenapa menyuruh Se
Pit Han memperdalam ilmu silatnya. Tidak lain agar Se Pit Han tidak
terlampau memikirkan Pek Giok Liong yang sudah tiada itu. "Kalau
ilmumu bertambah tinggi, kelak engkau kan boleh menuntut balas pada
Kiu Thian Mo Cun?"
"Baiklah!" Se Pit Han mengangguk.
Keesokan harinya, Pek Giok Houw diantar
kepala pengurus istana ke ruang rahasia, untuk belajar Bu Kek Sin
Kang dan ilmu-ilmu yang terdapat di dalam Kitab Ajaib. Sedangkan Se
Pit Han pun mulai memperdalam ilmu silatnya.
Sementara itu, Kiu Thian Mo Cun pun menutup
diri di sebuah ruang rahasia dalam istananya. Ia pun mulai berlatih
lagi ilmu Hek Sim Sin Kang dan Hek Sim Tok Ciang yang maha dahsyat
itu.
Lalu bagaimana nasib Pek Giok Liong yang
terpukul jatuh ke dalam jurang itu? Si Kim Kong bersusah payah turun
ke dasar jurang dengan tali, namun mereka tidak menemukan mayat Pek
Giok Liong. Betulkah mayat Pek Giok Liong telah dimangsa binatang
buas?
Ternyata tidak, ketika tubuh Pek Giok Liong
melayang turun ke jurang, ia sudah pingsan terpukul Kiu Thian Mo
Cun, bahkan mukanya pun terhantam pukulan itu pula, mengakibatkan
muka Pek Giok Liong jadi rusak terkena racun.
Masih untung ia memiliki Thai Ceng Sin Kang
melindungi jantungnya, kalau tidak, ia pasti sudah mati.
Pek Giok Liong memang belum ditakdirkan
mati. Tubuhnya menyangkut di sebuah pohon yang tumbuh di tebing
gunung. Dua hari dua malam ia menyangkut di dahan pohon itu dalam
keadaan pingsan.
Pada hari ketiga, mendadak turun hujan deras
membuat sekujur badannya basah kuyup, namun ia masih dalam keadaan
pingsan dan nafasnya pun mulai lemah.
Berselang beberapa saat kemudian, hujan
mulai reda. Di saat itu tampak seekor ular merayap di dahan tempat
Pek Giok Liong tersangkut.
Panjang ular itu cuma setengah meter, tapi
ular tersebut sungguh aneh dan amat indah. Di kepala ular itu
terdapat sebuah tanduk kecil yang memancarkan sinar putih
bergemerlapan, dan tujuh macam warna menghiasi sisik-sisiknya.
Ular apa itu? Ternyata Cian Nian Cit Sek Tok
Kak Coa (Ular tujuh warna bertanduk satu yang telah berusia seribu
tahun). Ular tersebut sangat beracun, namun juga sangat berkhasiat
bagi orang yang punya lwee kang.
Akan tetapi, siapa tergigit ular itu,
beberapa detik saja pasti mati terkena racunnya.
Sementara ular itu terus merayap mendekati
Pek Giok Liong. Setelah dekat, ular tersebut pun berhenti. Sepasang
matanya menatap Pek Giok Liong dengan tajam, kelihatanya ular itu
tertarik pada sesuatu yang ada di dalam tubuh Pek Giok Liong.
Sekoyong-konyong ular itu menggigit lengan
Pek Giok Liong. Sungguh mengherankan, ular itu tidak mau melepaskan
gigitan. Beberapa saat kemudian, sekujur tubuh Pek Giok Liong
bergetar seperti kena strom.
Berselang sesaat, terjadi lagi hal yang
aneh. Tanduk ular yang memancarkan sinar putih gemerlapan itu tampak
mulai suram, kemudian berubah hitam. Setelah itu, barulah ular
tersebut melepaskan gigitannya, lalu merayap pergi.
Tak seberapa lama kemudian, badan Pek Giok
Liong pun mulai bergerak. Ternyata racun ular itu telah memusnahkan
racun yang ada di dalam tubuh Pek Giok Liong. Bahkan ular itu pun
menyedot racun tersebut, sehingga membuat tanduk ular itu berubah
hitam.
Itu memang merupakan kejadian mujizat, sebab
kini Pek Giok Liong sudah kebal terhadap racun apa pun. Bahkan
tenaga dalamnya pun bertambah berlipat ganda.
Perlahan-lahan Pek Giok Liong membuka
matanya. Ia tampak tercengang ketika melihat tempat itu. Kemudian ia
pun teringat kembali apa yang telah terjadi atas dirinya, dan
seketika juga ia menarik nafas lega.
"Aaakh ……! Aku belum mati, tapi ……"
Tiba-tiba ia teringat pada Siauw Hui Ceh dan Cing Ji yang terkena
pukulan Kiu Thian Mo Cun lantaran ingin melindungi dirinya.
"Bagaimana keadaan mereka? Apakah mereka sudah mati atau masih hidup
……?"
Pek Giok Liong mulai turun. Ketika sampai di
bawah, ia pun terbelalak karena pohon itu tumbuh di tebing gunung.
Ia melihat ke bawah, betapa terperanjat hatinya, sebab jurang itu
masih belum terlihat dasarnya.
Bagaimana mungkin ia turun ke bawah atau
memanjat ke atas, karena tebing itu sangat licin. Meskipun ia
mengerahkan ginkangnya, juga tidak bisa sampai ke atas.
Ia menengok ke sana ke mari, tiba-tiba
matanya tertuju pada sisi pohon. Ternyata terdapat sebuah goa kecil
di situ. Segeralah ia mendekati goa itu dan memandang ke dalam.
Walau sangat gelap namun ia dapat melihat dengan jelas sekali.
Goa itu amat dalam, hanya terdapat batu
karang. Kalau mau masuk ke dalam, harus merangkak.
Pek Giok Liong berpikir sejenak, lalu
merangkak ke dalam goa itu. Sungguh tak terduga sama sekali, goa itu
mirip sebuah terowongan yang amat panjang. Pek Giok Liong terus
merangkak, entah berapa lama kemudian, ia melihat ada sinar di ujung
goa.
Bukan main girangnya Pek Giok Liong, karena
ia sudah mendekati mulut goa. Tak lama kemudian, ia sudah ke luar
dari mulut goa tersebut dan sepasang matanya terbelalak lebar.
Ternyata ia melihat pemandangan alam yang
amat indah, bunga-bunga liar yang berwarnawarni tumbuh teratur di
situ, sehingga tempat tersebut tampak semarak. Terdengar pula suara
air terjun, cepat-cepat Pek Giok Liong menuju ke tempat air terjun
itu karena ingin mencuci muka.
Ia menjongkokkan badannya sepasang tangannya
dijulurkan untuk mengambil air. Namun mendadak ia menjerit kaget
dengan mata terbelalak, mulutnya pun ternganga lebar.
"Mukaku …… mukaku ……" Pek Giok Liong
mengusap mukanya. "Kenapa mukaku berubah begitu buruk? Aaaakh ……!"
Pek Giok Liong jatuh duduk di situ.
Berselang sesaat barulah ia menyadari kenapa mukanya berubah begitu
buruk, penuh benjolan yang kehitam-hitaman.
Itu akibat terhantam pukulan Kiu Thian Mo
Cun, tapi kenapa ia tidak mati? Tentang ini membuatnya tidak habis
berpikir. Ketika ular beracun menggigitnya, ia masih dalam keadaan
pingsan.
"Aaakh ……" Pek Giok Liong menarik nafas
panjang. "Sudahlah! Wajahku rusak begini tidak apa-apa, yang penting
aku harus membunuh Kiu Thian Mo Cun, lalu mengasingkan diri di sini.
Karena wajahku telah rusak begini, aku pun tidak akan bertemu Kak
Han lagi ……"
Pek Giok Liong bangkit berdiri, ia
mengayunkan kakinya tanpa tujuan. Namun hatinya masih terhibur,
karena pemandangan di tempat itu amat indah menakjubkan.
Ia terus melangkah, tiba-tiba matanya
terbelalak karena melihat di tempat itu terdapat meja dan tempat
duduk yang terbuat dari batu. Itu pertanda tempat tersebut pernah
dihuni orang.
Di tempat itu juga terdapat sebuah goa yang
amat besar. Ia memandang ke dalam goa itu. Karena hatinya merasa
tertarik ia pun mamasuki goa tersebut.
Ruangan goa itu terang benderang. Yang
menerangi goa itu bukan sinar matahari, melainkan sinar yang amat
terang, yang dipancarkan oleh butir-butir mutiara yang menempel di
dinding goa.
Pek Giok Liong menengok ke sana ke mari.
Mendadak ia tampak terkejut karena melihat sosok bersandar pada
dinding goa. Bayangan itu ternyata tengkorak manusia yang masih utuh
dengan pakaiannya.
Perlahan-lahan Pek Giok Liong mendekati
rangka itu, lalu berlutut memberi hormat.
"Maafkan teecu, lo cianpwee!" ucapnya.
"Teecu tidak sengaja mendatangi tempat ini, sehingga mengganggu
ketenangan lo cianpwee!"
Ketika menundukkan kepalanya dalam-dalam,
Pek Giok Liong melihat tulisan pada batu di hadapan tengkorak itu,
lalu segera membacanya.
Siapa yang memasuki tempat ini, berarti
berjodoh denganku. Walau aku berhasil memukul Kiu Thian Mo Cun jatuh
ke jurang, namun aku pun terluka oleh pukulannya yang beracun. Itu
adalah pukulan Hek Sim Tok Ciang yang amat ganas dan beracun.
Beberapa partai besar sangat berterimakasih
padaku karena telah membasmi Maha Iblis Langit Sembilan itu, maka
para ketua partai besar itu bersepakat membuat sebuah panji untukku,
panji itu disebut Jit Goat Seng Sim Ki. Siapa yang berkaitan melihat
panji itu, harus bergabung dan tunduk pada pemegang panji.
Panji tersebut kuwariskan pada muridku,
setelah itu aku pun mengundurkan diri dari rimba persilatan. Tanpa
sengaja aku menemukan tempat yang amat rahasia dan indah ini. Tempat
ini berada di dalam perut Gunung Yan San, dan secara kebetulan aku
memperoleh semacam buah aneh. Khasiat buah tersebut dapat menambah
lwee kang orang, maka buah aneh itu kubikin jadi semacam obat.
Sungguh di luar dugaan, buah itu pun dapat memunahkan berbagai macam
racun ganas, kusimpan di dalam botol porselin di sisiku. Ingat!
Untuk menambah lwee kang, hanya boleh makan satu butir. Lebih banyak
dari satu butir, akan mati muntah darah. Kalau terkena racun ganas,
boleh makan dua butir. Kalau lebih dari dua butir, akan mati muntah
darah.
Setelah racun di dalam tubuhku punah, ilmu
silaiku pun ikut punah, itu karena racun pukulan Kiu Thian Mo Cun
telah lama mengidap di dalam tubuhku. Oleh karena itu, aku tetap
tinggal di sini.
Setelah lama mengasingkan diri di sini, aku
pun berfirasat bahwa Kiu Thian Mo Cun akan muncul di bu lim lagi,
tapi aku tidak tahu kapan dia akan muncul untuk menguasai bu lim.
Dikarenakan itu, aku meninggalkan sebuah buku untuk yang berjodoh.
Itu adalah buku Jit Goat Seng Sim Pit Kip,
yang memuat ilmu Jit Goat Seng Sim Sin Kang (Tenaga sakti Hati Suci
Matahari Bulan) dan Jit Goat Seng Sim Ciang Hoat (Ilmu pukulan
tangan kosong Hati Suci Matahari Bulan). Ilmu pukulan tersebut
terdiri dari tujuh jurus, dan setiap jurus mempunyai tujuh
perubahan. Ilmu ini amat dahsyat, maka jangan sembarangan
mempergunakannya.
Aku cuma sampai tingkat ketujuh, belum
mencapai tingkat kesepuluh, yakni tingkat kesempurnaan. Kalau sudah
mencapai tingkat kesepuluh, sekujur badan akan memancarkan cahaya
putih.
Karena Kiu Thian Mo Cun sudah mengganas di
bu lim, maka aku terpaksa memunculkan diri untuk membasminya. Namun
ilmuku cuma mencapai tingkat ketujuh, sehingga diriku pun terluka
oleh Hek Sim Tok Ciang yang dimiliki Kiu Thian Mo Cun itu.
Oleh karena itu, siapa yang berjodoh dengan
buku ini, haruslah belajar sampai tingkat kesepuluh, barulah bisa
membasmi Kiu Thian Mo Cun.
Setelah aku berhasil memukul jatuh Kiu Thian
Mo Cun kejurang, bu lim pun menjadi aman. Para ketua partai besar
amat berterimakasih padaku, dan mereka menghadiahkan kitab silat
tingkai tinggi padaku. Aku terpaksa menerimanya karena terus
mendesakku. Karena ilmu-ilmu tersebut amat tinggi dan sulit
dimengerti, maka para ketua partai cuma menyimpan saja, dan
dijadikan kitab pusaka partai masing-masing.
Aku khawatir, kitab-kitab itu akan rusak,
maka kusalin dihalaman belakang Jit Goat Seng Sim Pit Kip dengan
semacam getah pohon yang tidak akan luntur terkena air.
Aku tidak tahu siapa engkau yang berjodoh,
namun engkau pun boleh belajar ilmu-ilmu dari partai besar itu. Akan
tetapi, engkau pun harus mengembalikan dengan cara mengajar pada
para ketua partai.
Pergunakan ilmu-ilmu ini untuk kebaikan,
jangan melakukan kejahatan, sebab engkau akan mati oleh ilmu
sendiri.
Setelah engkau berhasil mencapai tingkat
kesepuluh, barulah engkau boleh meninggalkan tempat ini melalui
jalan yang engkau lalui ketika masuk itu. Dan engkau pun harus
mencari panji Hati Suci Matahari Bulan.
Jit Goat Seng Sim Pit Kip berada di bawah
batu yang di hadapanku. Setelah engkau membenturkan kepalamu tiga
kali di tanah, barulah engkau boleh mengambil buku itu? Selamat
belajar!
Seng Sim Tayhiap
Seusai membaca tulisan itu, Pek Giok Liong
merasa dirinya dalam mimpi. Sama sekali tidak menyangka akan menemui
tengkorak kakak gurunya di goa itu. Itu membuatnya girang bukan
main.
"Kakek guru, aku Pek Giok Liong cucu
muridmu." ucap Pek Giok Liong sambil memberi hormat dalam keadaan
berlutut. "Panji Hati Suci Matahari Bulan berada di tanganku. Karena
aku adalah generasi kelima pemegang panji itu. Aku bersumpah pasti
membasmi Kiu Thian Mo Cun itu. Kakek guru, terimalah sembah sujud
dari cucu muridmu!"
Pek Giok Liong membenturkan kepalanya tiga
kali ke tanah, mendadak ia mendengar 'Krak', batu yang di hadapan
tengkorak itu bergerak dan tampak sebuah lubang kecil. Di dalam
lubang itu terdapat sebuah kotak besi.
"Kakek guru, cucu murid akan mengambil kotak
besi itu," ucap Pek Giok Liong sambil menjulurkan tangannya
mengambil kotak besi tersebut.
Setelah itu, ia pun membuka mulut besi
tersebut. Di dalamnya berisi sebuah buku yang bertuliskan 'Jit Goat
Seng Sim Pit Kip'.
"Terimakasih, Kakek guru!" ucap Pek Giok
Liong dan menyembah lagi, barulah mengambil buku itu. Tampak secarik
kertas di situ, lalu dibacanya.
Engkau memang pemuda yang baik. Aku yakin
engkau pasti berhasil mencapai sampai tingkat kesepuluh. Mengenai
tulang belulangku, engkau tidak perlu menguburnya. Selamat belajar,
Nak!
Seng Sim Tayhiap
"Aku pasti belajar sampai mencapai tingkat
kesepuluh, dan tidak akan mengecewakan Kakek guru!" ucap Pek Giok
Liong, lalu mulai membuka buku tersebut. Pada waktu bersamaan,
mendadak ia teringat sesuatu sehingga langsung berseru.
"Obat yang ada di dalam botol porselin,
bukankah dapat memunahkan berbagai macam racun? Kalau begitu ……" Pek
Giok Liong segera mengambil botol porselin yang berisi obat
tersebut. "Aku harus makan dua butir, mudah-mudahan mukaku bisa
sembuh!"
Pek Giok Liong membuka tutup botol dan
menuang dua butir obat itu, kemudian di masukkan ke dalam mulutnya.
Setelah itu, ditutupnya kembali botor porselin itu, dan dikembalikan
pada tempatnya.
"Apakah mukaku akan pulih seperti semula?"
gumamnya. "Kalau tidak bisa pulih …… ya sudahlah! Aku akan menutup
mukaku dengan kain putih."
Pek Giok Liong mulai belajar Jit Goat Seng
Sim Sin Kang, dan membaca ilmu-ilmu yang tercantum di halaman
belakang Jit Goat Seng Sim Pit Kip. Setelah membaca, ia pun terkejut
karena semua ilmu itu merupakan ilmu simpanan beberapa partai besar.
Yakni Siau Lim Tat Mo Sin Kang, Tat Mo Kiam Hoat dan Tat Mo Ciang
Hoat. Butong Hian Thian Sin Kang, Hian Thian Kiam Hoat dan Hian
Thian Ciang Hoat. Hwa San Thay Yang Sin Kang, Thay Yang Kiam Hoat
dan Thay Yang Ciang Hoat. Gobi Bu Siang Sin Kang, Bu Siang Kiam Hoat
dan Bu Siang Ciang Hoat. Khong Tong Bie Lek Sin Kang, Bie Lek Kiam
Hoat dan Bie Lek Ciang Hoat. Semua ilmu itu adalah ilmu simpanan
partai-partai tersebut, namun tiada seorang pun dalam partai-partai
tersebut berhasil belajar ilmu simpanan itu.
Akan tetapi, Pek Giok Liong justru mampu dan
ia pun harus mengembalikan ilmu-ilmu itu pada para ketua partai
tersebut.
-- o --
(Bersambung bagian 55)
Bagian ke 55. Susunan Kedudukan
Tentang kemunculan Kiu Thian Mo Cun yang
telah memukul Pek Giok Liong masuk ke jurang,
itu sungguh mengejutkan beberapa partai
besar.
Siau Lim Pay, Butong Pay, Gobi Pay, Hwa San
pay dan Khong Tong Pay sudah bersiap-siap menghadapi segala
kemungkinan. Akan tetapi, justru sungguh mengherankan, Kiu Tnian Mo
Cun sudah tiada kabar beritanya lagi, entah menghilang ke mana.
Siapa pun tidak tahu, bahwa sesungguhnya Kiu
Thian Mo Cun menutup diri untuk memperdalam ilmu Hek Sim Sin
Kangnya. Sebelum menutup diri, ia pun memberi perintah pada para
anak buahnya jangan memunculkan diri dalam bu lim.
Oleh karena itu, bu lim Pun menjadi aman.
Hal tersebut tentunya sangat mengherankan para ketua partai,
termasuk Swat San Lo Jin dan Ouw Yang Seng Tek, Ketua Kay Pang.
"Heran?" gumam Ouui Yang Seng Tek yang
bertemu Swat San Lo Jin disebuah vihara tua.
"Kenapa Kiu Thian Mo Cun hilang begitu
saja?"
"Memang mengherankan," sahut Swat San Lo Jin
sambil mengernyitkan kening. "Mungkinkah dia juga terluka Parah oleh
pukulan Pek Giok Liong, maka sedang mengobati dirinya, sehingga
tidak muncul?"
"Itu mungkin." Ouui Yang Seng Tek mengangguk
dan menambahkan, "Tapi para anak buahnya
kok ikut hilang juga?"
"Mungkin Kiu Thian Mo Cun melarang mereka
menampakkan diri di bu lim," ujar Swat San
Lo Jin.
"itu memang mungkin." Ouui Yang Seng Tek
manggut-manggut. "Kini sembilan bulan telah
berlalu, entah Pek Giok Houui sudah berhasil
belum di Pulau Pelangi?"
"0-hya! Bagaimana kalau kita ke Pulau
pelangi untuk menengoknya?" tanya Swat San Lo Jin.
"Saudara tua, aku masih ada urusan lain,
engkau saja yang ke sana!" jawab Ouw Yang Seng Tek.
"Baiklah." Swat San Lo Jin mengangguk. "Aku
akan segera berangkat ke Lam Hai. Kalau ada berita penting, engkau
harus segera menyusul ke Lam Hai!"
"itu pasti." Ouui Yang Seng Tek tertawa.
"Saudara tua, aku mohon diri!"
"Sampai jumpa, Pengemis bau!" sahut Swat San
Lo Jin sambil tertawa.
"Ha ha!" Ouw Yang Seng Tek juga tertawa,
lalu meninggalkan vihara itu. Begitu sampai di luar, ia pun
mengerahkan ginkangnya.
Sementara Swat San Lo Jin duduk termangu di
dalam vihara tua itu. Orang tua itu tidak
habis berpikir kenapa Kiu Thian Mo Cun
menghilang begitu saja, bahkan para anak buahnya
pun ikut hilang pula- Cukup lama Swat San Lo
Jin berpikir, akhirnya mengambil keputuSan
untuk berangkat ke Lam Hai.
-- o --
Dengan penuh kegembiraan Se Ciang Cing dan
istrinya menyambut kedatangan Swat San Lo Jin. Mereka semua duduk di
ruang depan Istana pelangi. Swat San Lo Jin segera menutur tentang
situasi bu lim setelah Pek Giok Liong di pukul jatuh ke jurang.
"Kok bisa begitu?" Se Ciang Cing merasa
heran setelah mendengar penuturan Swat San Lo Jin.
"itu memang amat mengherankan," sahut Swat
San Lo Jin. "Menurut dugaanku, mungkin Kiu Thian Mo Cun juga terluka
parah oleh pukulan Pek Giok Liong, maka dia harus mengobati
lukanya."
"Itu memang masuk akal." Se Ciang Cing
manggut-manggut. "Kalau begitu, setelah lukanya
sembuh, dia pasti akan muncul lagi."
"Berarti bu lim akan mengalami bencana!"
"Mungkin begitu."
"Kalau begitu, setelah aku kembali ke Tiong
Goan, aku harus memberitahukan pada
beberapa ketua partai terkemuka di bu lim."
'itu agar mereka bersiap-siap menghadapi
segala kemungkinan-"
"Betul." Swat San Lo Jin manggut-manggut,
kemudian bertanya, "ohya, Se tocu! Bagaimana Pek Giok HoUui? Apakah
dia akan berhasil mencapai tingkat tinggi dalam hal ilmu silat?"
"itu sudah pasti." Se tocu tersenyum.
"Kira-kira kapan dia akan berhasil?"
"Mungkin tiga bulan lagi."
"Syukurlah!" Swat San Lo Jin menarik nafas
lega. "Lho? Kok Pit Han tidak kelihatan?"
"Dia a Sa S" Se tocu menarik nafas panjang,
"sejak Pek Giok Liong mati, dia pun tiada gairah hidup lagi. Setiap
hari cuma menyendiri di dalam kamar dan berlatih ilmu silat,"
"Kasihan Pit Han!" Swat San Lo Jin
menggeleng-gelengkan kepala- "O-hya, di mana Hek Ai
Lan?"
"Dia berada di dalam ruang rahasia menemani
Giok Houw."
"Se tocu!" Swat San Lo Jin menatapnya."
Mudah-mudahan Pek Giok Houw dapat membasmi Kiu Thian Mo Cun nanti!
Kalau tidak, entah apa jadinya bu lim nanti?"
"Tentunya pihak golongan hitam yang berkuasa
dalam bu lim." sahut Se Ciang Cing.
"Se tocu! Engkau tidak mau menginjak ke
dalam bu lim lagi?" tanya Swat San Lo jin
mendadak.
"Lo cianpwee!" Se Ciang Cing tersenyum
getir. "Aku tidak boleh melanggar sumpah."
"Kalau begitu, apakah engkau berniat
mengutus Se Pit Han menemani Pek Giok Houw pergi membasmi Kiu Thian
Mo Cun nanti?"
"Itu akan dipikirkan setelah Giok Houw
berhasil."
"Tentunya Se tocu tidak akan berpangku
tangan kan?"
"Meskipun aku berpangku tangan, para anak
buahku pasti tidak akan tinggal diam," ujar Se Ciang Cing. "Sampai
waktunya, aku pasti mengutus orang-orangku ke Tiong Goan."
"Ngmm!" Swat San Lo Jin manggut-manggut.
"pokoknya aku pasti membantu dalam hal
membasmi Kiu Thian Mo Cun!"
"Lo cianpwee» bukankah masih ada beberapa
tokoh tua golongan putih? Kenapa lo cianpwee
tidak mau mengundang mereka untuk bersama
membasmi Kiu Thian Mo Cun itu?"
'Akutidak tahu mereka mengasingkan diri di
mana, hanya satu yang kutahu." "SiaPa dia?"
"Thian San L0lo."
"Bukankah ia guru Hek Ai Lan?"
"Betul." Swat San Lo Jin mengangguk. "Nanti
aku akan pergi menemuinya bersama Hek fli
Lan."
"Kalau Thian San Lolo bersedia membantu, itu
sungguh baik sekali."
"Ohya!" Swat San Lo Jin teringat sesuatu.
"Kalau aku yang mengundangnya, mungkin dia
akan menolak. Bagaimana kalau aku atas nama
Cai Hong To?"
"Itu tentu boleh-" Se Ciang Cing mengangguk.
"Se tocu! Bolehkah aku menemui Giok Houui
sebentar?" tanya Swat San Lo Jin mendadak.
"Maaf, lo cianpwee!" ucap Se Ciang Cing.
"Untuk sementara ini lebih baik jangan, sebab
akan mengganggu konsentrasinya."
"Baiklah." Swat San Lo Jin mengangguk. "Se
tocu, aku mau moh0n diri, tiga bulan
kemudian aku akan ke mari lagi!"
"Lo cianpwee tidak mau tinggal beberapa hari
di sini?"
"itu a Sa S" Swat San Lo Jin berpikir
sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah! Mumpung Se tocu mengizinkan,
maka aku pun bisa menikmati keindahan Pulau Pelangi ini a Sa S"
-- o --
-- o --(0) (0) (0) (0)-- o --
Pada waktu Swat San Lo Jin kembali ke Tiong
Goan, ketika itu pula Kiu Thian Mo Cunpun
telah berhasil menyempurnakan ilmu_iimunya.
Cit Giat Sin KUn, Thiat San, Thian Suan, Ti
Kie Sin Kun, Jin Pin Mo Kun, Ling Ming Gun Cia, Ngo Tok Geng Kun,
empat pengawal pribadi, enam pengawal khusus dan Hui Eng Cap Ji Kiam
berdiri di ruang dalam dengan sikap hormat.
Kreeek! Pintu yang di dinding terbuka. Tak
lama kemudian tampak Kiu Thian M0 Cun melangkah ke luar, ia tetap
memakai kedok iblis.
"Kami mengucapkan selamat pada Mo Cun!" ucap
mereka serentak.
"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak.
"Terimakasih! Terimakasih a Sa s"
Kiu Thian Mo Cun menuju ke ruang khusus, Cit
Ciat Sin Kun dan lainnya mengikuti dari
belakang.
Begitu sampai di ruang itu, Kiu Thian Mo Cun
langsung duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Cit Ciat Sin Kun dan
lainnya masih berdiri dengan sikap hormat.
"Kalian semua duduklah!" ucap Kiu Thian Mo
Cun.
"Terimakasih, Mo Cun!" sahut mereka dan
duduk di kursi masing-masing.
"Mulai saat ini, Bun Jiu Kiong dan Tay Tie
Kiong ini dinamai Kiu Thian Mo Kiong (Istana Iblis Langit Sembilan)
saja!" ujar Kiu Thian Mo Cun dan menambahkan, "Aku pun akan
memulihkan kepandaian Tu Ci Yen, sekaligus kuterima sebagai murid."
"Terimakasih, Mo Cun!" ucap Cit Ciat Sin Kun
sambil memberi hormat.
"Cit Ciat Sin Kun!" Kiu Thian Mo Cun
menatapnya tajam.
"Hamba siap menerima perintah!" sahut Cit
Ciat Sin Kun sambil menjura.
"Bagaimana situasi bu lim ketika aku menutup
diri untuk menyempurnakan ilmu-iimuku?"
tanya Kiu Thian Mo Cun.
"Situasi bu lim tenang-tenang saja selama
itu," jawab Cit Ciat Sin Kun dan memberitahukan, "Namun lima partai
besar tampak bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan setelah Mo
Cun berhasil memukul Pek Giok Liong ke jurang."
"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa gelak.
"Lima partai besar?"
"Ya, Mo Cun," jawab Cit Ciat Sin Kun. "Yakni
partai Siau Lim, Butong, Gobi, Hwa San,
dan Khong Tong."
"Hmm!" dengus Kiu Thian Mo Cun dingin.
"Tidak lama lagi partai besar itu akan di bawah
perintah Kiu Thian Mo Ki0ng."
"Mo Cun! Kapan kita akan mulai menyerang
partai-partai itu?" tanya Cit Ciat Sin Kun.
"Kini belum waktunya," sahut Kiu Thian Mo
Cun. "Cit Ciat Sin Kun, aku memberi perintah
padamu!"
"Hamba siap menerima perintah." Cit Ciat Sin
Kun segera menjura.
"Engkau harus segera berangkat ke Hek in
San, Hong Lay San dan Ti Sat Tong untuk mengundang Thian Ti Siang Mo
(Sepasang Iblis Langit Bumi), Ngo Kui (Lima Setan) dan Cit Ti Sat
(Tujuh Algojo Akhirat)!"
"Ya." Cit Ciat Sin Kun menjura.
"Bawa lencanaku, agar mereka mau menurut!"
ujar Kiu Thian Mo Cun, lalu melempar sebuah lencana yang terbuat
dari perak berukir muka iblis, itu adalah Mo Cun Ling (Lencana Maha
Iblis).
Cit Ciat Sin Kun menyambut lencana itu
dengan sikap hormat, kemudian bangkit berdiri
seraya bertanya.
"Kapan hamba harus berangkat?" "Sekarang. '
"Hamba menerima perintah!" Cit ciat sin Kun
memberi hormat, lalu segera berangkat.
"Pengawal Naga!" Panggil Kiu Thian M0 Cun.
"Hamba siap menerima perintah!" Pengawal
Naga segera bangkit berdiri.
"Cepat ke ruang Mo Li (Iblis wanita),
panggil Kiu Mo Li (Sembilan wanita iblis) ke mari!"
"Ya!" Pengawal Naga menjura, lalu segera
menuju ke ruang Mo Li.
Berselang beberapa saat kemudian. Pengawal
Naga sudah kembali bersama sembilan wanita cantik jelita, namun gaun
mereka sangat tipis sehingga tembus pandang.
"Kiu Mo Li menghadap Mo Cun!" ucap Toa Mo Li
sambil memberi hormat.
"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa
terbahak-bahak. "Toa Mo Li, engkau bertambah
cantik saja!"
"Terimakasih atas pujian Mo Cun!" ucap Toa
Mo Li sambil tertawa cekikikan. Suara
tawanya amat merdu dan nyaring, bahkan
mengandung kekuatan.
"Toa Mo Li, bagaimana ilmu Mo Li Hun Tinmu
(Barisan pembetot sukma wanita iblis)?"
"Sudah berhasil, Mo Cun!" jawab Toa Mo Li.
"Bagus! Bagus!" Kiu Thian Mo Cun tertawa
gelak. "Lalu bagaimana dengan Mo Li Kiam Tin
(Barisan pedang wanita iblis) mu?"
"Juga sudah berhasil."
"Bagus! Bagus!" Kiu Thian Mo Cun tertawa
gelak lagi. "Mungkin tidak lama lagi, kalian akan membetot sukma
para kepala gundul dan para hidung kerbau (Ucapan penghinaan
terhadap para hweshio dan para pendeta To)!"
"Kami memang sedang menunggu kesempatan
itu," sahut Toa Mo Li sambil tertawa genit.
"Nah! Sekarang kalian boleh kembali ke ruang
kalian untuk beristirahat, tunggu
perintahku berikutnya!"
"Terimakasih, Mo Cun!" ucap Toa Mo Li, lalu
segera mengajak yang lain kembali ke ruang mereka. Ketika melangkah
ke dalam, badan mereka pun meliuk-liuk, sehingga membuat para anak
buah Kiu Thian Mo Cun melotot menyaksikannya-
"He he he!" Kiu Thian Mo Cun tertaWa
terkekeh, lalu berkata, "Setelah Cit Ciat Sin Kun pulang, aku akan
menyusun kedudukan kalian! Sekarang aku mau beristirahat, dan kalian
pun boleh kembali ke tempat masing-masing."
Kiu Thian Mo Cun telah memulihkan kepandaian
Tu Ci Yen, dan menerimanya sebagai murid,
tentunya sangat menggembirakan Tu Ci Yen-
"Teecu memberi hormat pada guru!" Tu Ci Yen
berlutut di hadapan Kiu Thian Mo Cun.
"Bangunlah muridku!" ujar Kiu Thian Mo Cun.
"Mulai sekacang engkau harus rajin belajar, agar engkau bisa bantu
guru untuk menguasai rimba persilatan!"
"Murid pasti rajin belajar, tidak akan
mengecewakan Guru!" ucap Tu ci Yen sungguh-sungguh, kemudian
bertanya, "Guru, betulkah Pek Giok Liong telah mati?"
"Betul." Kiu Thian Mo Cun tertawa. "Dia
sudah terkena pukulanku dan masuk ke jurang,
bagaimana mungkin dia bisa hidup?"
"Bagaimana dengan Siauw Hui Ceh, Cing Ji dan
Se pit Han?"
"Siauw Hui Ceh dan Cing Ji telah mati,
sedangkan Se Pit Han kembali ke pulau Pelangi."
"Guru a Sa S" Tu Ci Yen menarik nafas.
"Kenapa Guru membunuh Siauw Hui Ceh?"
"Sesungguhnya aku tidak membunuhnya, dia dan
Cing Ji berusaha melindungi pek Giok
Liong, maka terkena pukulanku."
"Hui Ceh a Sa S"
"Muridku, engkau mencintai gadis itu?"
"Ya."
"Ha ha ha!" Kiu Thian Mo Cun tertawa
terbahak_bahak. "Muridku, masih banyak gadis lain yang
cantik-cantik, engkau boleh bersenang-senang dengan para gadis itu
kelak."
"Guru tidak melarang?"
"Untuk apa aku melarang kesenangan murid?"
"Terimakasih, Guru!" ucap Tu Ci Yen girang.
"Terimakasih a Sa S"
"Baiklah!" Kiu Thian Mo Cun menatapnya tajam
seraya berkata, "Mulai sekarang, aku akan mengajarmu ilmu-ilmu yang
paling tinggi."
Maka Kiu Thian Mo Cun mulai mengajar Tu Ci
Yen dengan ilmu-ilmu simpanannya. Tidak
mengherankan kepandaian Tu Ci Yen bertambah
tinggi dan sempurna.
Lima belas hari kemudian, Cit Ciat Sin Kun
sudah kembali ke Kiu Thian Mo Cun bersama
belasan tokoh tua golongan hitam yang
berkepandaian amat tinggi.
"Lapor pada Mo Cun!" Cit Ciat Sin Kun
memberi hormat. "Hamba telah mengundang mereka
ke mari."
"Bagus! Bagus!" Kiu Thian Mo Cun tertauia
girang.
"Kami memberi hormat pada Mo Cun!" ucap para
tokoh tua golongan hitam itu-
"Silakan duduk!" ujar Kiu Thian Mo Cun.
"Terimakasih!" ucap mereka serentak lalu
duduk.
Para tokoh tua golongan hitam itu adalah
Thian Ti Siang Mo, Ngo Kui Yakni Toa Tauui Kui (Setan kepala besar),
Kiang Si Kui (Setan mayat), Tok Gan Kui (Setan mata satu), Tok Pie
Kui (Setan lengan tunggal), Tok Kah Kui (Setan kaki satu) dan Cit Ti
Sat (Tujuh algojo akhirat).
"Thian Ti Siang Mo, Ngo Kui dan Cit Ti Sat
ikut aku di Kiu Thian Mo Kiong ini!" ujar Kiu Thian Mo Cun
memberitahukan. "Cit Ciat Sin Kun kuangkat sebagai pemimpin di
ekspedisi Yang Wie. Thian Sat, Thian Suan, Ti Kie, Jin Pin Mo Kun,
|_ing Ming Cun cia, Ngo Tok Ceng Kun dan Hui Eng Cap Ji Kiam ikut
Cit Ciat Sin Kun!"
"Kami menerima perintah!" sahut mereka
sambil menjura.
"Mulai sekarang ekspedisi Yang Wie di namai
Yang Wie Kiong!" ujar Kiu Thian Mo Cun,
lalu memanggil Tu Ci Yen. "Muridku!"
"Ya, Guru!" Tu Ci Yen segera bangkit berdiri
sambil memberi hormat. "Murid siap
menerima perintah!"
"Engkau ke Siauui Keh Cung!" Kiu Thian Mo
Cun memberi perintah Pada Tu Ci Yen. "Siauw Keh Cung harus dijadikan
Siau Mo Kiong (Istana iblis kecil), dan mulai saat ini julukanmu
adalah Siau Mo Cun (Maha iblis kecil)!"
"Terimakasih, Guru!" ucap Tu Ci Yen.
"Mo Cun, kapan kami harus berangkat ke Yang
wie Kiong (Istana Yang Wie)?" tanya cit
Ciat Sin Kun.
"Sekarang," sahut Kiu Thian Mo Cun.
"Hamba menerima perintah!" Cit Ciat Sin Kun
segera melangkah pergi, sedangkan Thian
Sat Sin Kun dan lainnya langsung
mengikutinya.
"Guru, kapan murid harus berangkat ke Siau
Keh Cung?" tanya Tu Ci Yen.
"Sekarang," sahut Kiu Thian Mo Cun dan
menambahkan, "Naga, Harimau. Singa, Macan Tutul
dan enam pengawal khusus ikut engkau!"
"Ya, Guru!" Tu Ci Yen meninggalkan ruang Kiu
Thian Mo Kiong, empat pengawal prihadi
dan enam pengawal khusus mengikutinya dari
belakang.
-- o --
-- o --(0) (0) (0) (0)-- o --
Tu Ci Yen dan lainnya sudah sampai di Siauw
Keh Cung. Pintu rumah Siauw terbuka lebar,
mereka langsung melangkah ke dalam.
Dua penjaga segera menghadang, namun Tu Ci
Yen mengibaskan tangannya, dan kedua penjaga itu langsung menjerit.
"flaaakh a Sa S" Nyawa mereka pun melayang
seketika.
Tu Ci Yen tertawa dingin dan melangkah ke
dalam. Siauw Peng Yang, Siauw Kiam Meng dan
lainnya menyambut mereka dengan senjata di
tangan.
"He he he!" Tu Ci Yen tertawa terkekeh,
"selamat bertemu Siauw Peng Yang!"
"Engkau a Sa S" Siauw Peng Yang terbelalak,
"a Sa S Tu Ci Yen!"
"Siauw Peng Yang, kini kepandaianku telah
pulih!" Tu Ci Yen menatapnya dingin. "Engkau
pun sudah menjadi majikan di rumah ini, tapi
riwayatmu akan tamat hari ini!"
"Tu Ci Yen!" Siauw peng Yang terkejut.
"Engkau mau apa?"
"Mau apa?" Tu Ci Yen tertawa gelak- "Empat
Pengawal pribadi! Bunuh mereka semua!
Pokoknya yang bermarga Siauw harus
dibantai!"
"Ya," sahut keempat pengawal pribadi itu,
kemudian mereka bergerak cepat dan
terdengarlah jeritan yang menyayatkan hati.
"flaakh!"
"Aaakh a Sg S!"
Tak seberapa lama kemudian, Siauw Peng Yang,
siauw Kiam Meng dan semua orang yang bermarga Siauw sudah tergeletak
menjadi mayat, masih tersisa belasan orang yang bukan marga Siauw,
mereka berdiri dengan bergemetaran.
"Kubur mayat-mayat itu dan bersihkan tempat
ini!" Tu Ci Yen memberi perintah pada
mereda.
"Ya," sahut mereka serentak sambil menarik
nafas lega, karena Tu Ci Yen tidak membunuh
mereka.
Tu Ci Yen duduk di ruang dalam, empat
pengawal pribadi dan enam pengawal khusus
berdiri mendampinginya.
"Mulai saat ini, kalian semua harus
memanggilku Siau Mo Cun, tempat ini dinamai Siau
Mo Kiong!" ujar Tu Ci Yen.
"Ya."
"Kalian berempat kuangkat sebagai Si Hu Huat
(Empat pelindung) di Siau Mo Kiong ini."
"Terimakasih, Siau Mo Cun!" ucap keempat
orang itu sambil memberi hormat.
"Kalian berenam kuangkat sebagai Lak Mo."
ujar Tu Ci Yen pada keenam pengawal khusus.
"Terimakasih, Siau Mo Cun!" ucap mereka
berenam.
"Ha ha ha!" Tu Ci Yen tertawa gelak. "Si Hu
HUat!"
"Kami siap menerima perintah, siau Mo Cun!"
sahut keempat orang itu sambil memberi hormat. "Undang orang-orang
dari golongan hitam, aku akan mengadakan pesta malam in!"
"Ya." Si Hu Huat menjura, lalu segera pergi.
"Lak Mo!" panggil Tu Ci Yen.
"Kami siap menerima perintah!" Lak Mo
memberi hormat.
"Kalian harus mencari beberapa wanita cantik
untuk menemaniku malam ini!" Tu Ci Yen
memberi perintah-
"Ya." Lak Mo memberi hormat lalu pergi.
Ketika hari mulai menjelang malam, ramailah
di Siau Mo Kiong. Orang-orang dari
golongan hitam hadir semua, mereka berpesta
pora di situ-
Lak Mo pun telah melaksanakan tugas mereka
dengan baik, mereka membawa beberapa wanita
cantik ke dalam Siau Mo Kiong dan disekap di
sebuah kamar.
Ketika pesta berlangsung dengan meriah,
muncullah Tu Ci Yen bersama Si Hu Huat dan Lak
Mo.
Tu Ci Yen duduk, Si Hu Huat dan Lak M0
berdiri di sisinya. Tu Ci Yen memandang Si Hu Huat sambil
manggut-manggut memberi isyarat, seketika juga Toa Hu Huat berseru
lantang.
"Kawan-kawan, bersediakah kalian bergabung
dengan kami?"
"Bersedia!" sahut orang-orang golongan hitam
serentak.
Apakah kalian Pasti setia pada Siau Mo Cun?"
tanya Toa Hu Huat.
"Pasti setia!"
"Kalau begitu, mulai sekarang kalian semua
boleh tinggal di sini! Besok Siau Mo Cun
akan menyusun kedudukan kalian!"
"Terimakasih, Siau Mo Cun!"
"Nah! Sekarang kalian boleh
bersenang-senang!"
"Terimakasih!" Orang-orang golongan hitam
itu minum-minum lagi.
Tu Ci Yen tersenyum-senyum, Toa Mo (Saudara
tertua Lak Mo) segera berbisik-bisik
ditelinga Tu Ci Yen.
"Siau Mo Cun! Sarapan sudah disiapkan di
dalam kamar!"
"Sarapan apa?" tanya Tu Ci Yen heran.
"Wanita-wanita cantik itu." Toa Mo
memberitahukan.
"Oh? Ha ha ha!" Tu Ci Yen tertawa gembira.
"Bagus, bagus! Malam ini aku harus
bersenang-senang bersama dengan mereka."
Si Hu Huat dan Lak Mo saling memandang,
kemudian mereka tersenyum, lalu ikut minum
bersama orang-orang golongan hitam itu.
Sedangkan Tu Ci Yen sudah masuk ke dalam
menuju ke kamar tempat wanita-wanita cantik
tersebut disekap.
Sementara itu, di Yang Wie Kiong pun sedang
berlangsung pesta minum-minum, namun cuma
orang-orang Yang Wie saja-
Cit Ciat Sin Kun duduk di kursi
kebesarannya, sedangkan Thian Sat dan lainnya duduk di
sisi kiri kanannya-
"Thian Sat, Thian Suan! Mulai sekarang
kalian berdua kuangkat sebagai pelindung di
Yang Wie Kiong ini." ujar Cit Ciat Siri Kun.
"Terimakasih, Sin Kun!" Thian Sat dan Thian
Suan memberi hormat.
"Ti Kie, Jin Ping, Ling Ming dan Ngo Tok
kuangkat sebagai empat pengawal."
"Terimakasih, Sin Kun!" ucap mereka berempat
sambil memberi hormat.
"Hui Eng Cap Ji Kiam kuangkat sebagai
pemimpin orang-orang di sini."
"Terimakasih, Sin Kun|" ucap Hui Eng Cap Ji
Kiam serentak.
"Sin Kun, perlukah kita menundukkan semua
perguruan kecil yang ada di daerah sini?"
tanya Jin Pin Mo Kun.
"Itu tidak perlu." jawab cit Ciat Sin Kun
sambil tertawa."Mulai besok mereka pasti ke
mari untuk menyatakan takluk pada kita."
"Kok bisa begitu?" tanya Jin Pin Mo Kun
heran-
"Mereka sudah tahu siapa kita, kalau mereka
tidak ke mari menyatakan takluk pada kita,
tentunya kita akan menghabiskan mereka,
kan?" ujar Cit Ciat Sin Kun.
"Betul." Jin Pin Mo Kun tertawa-
"lapi kita pun tidak boleh sembarangan
bertindak." ujar Cit Ciat Sin Kun mengingatkan-
"Kenapa?" tanya Ngo Tok Ceng Kun.
"Yang Wie Kiong ini masih di bawah Perintah
Kiu Thian Mo Cun, maka kalau tiada perintah dari Kiu Thian Mo Cun,
kita tidak boleh sembarangan bertindak."
"Benar," sahut Thian Sat Sin Kun dan
menambahkan, "Kalau kita melanggar perintah Mo
Cun, nyawa kita pasti melayang."
"Kalau begitu a Sa S" Ngo Tok Ceng Kun
menarik nafas.
"Bukankah lebih baik kita makan tidur saja?"
ujar Cit Ciat Sin Kun sambil tertawa.
"Kalau ada perintah dari Mo Cun, barulah
kita bergerak."