panji sakti 08
Bagian ke 46: Kemunculan Tetua Partai
Pengemis
Ouw Beng Hui, si Pelajar Seribu Racun
menatap Pek Giok Liong, lama sekali barulah membuka mulut sambil
menggeleng-gelengkan kepala.
"Ketua terlampau baik hati."
"Menurutmu, aku tidak boleh melepaskan
mereka bertiga?" tanya Pek Giok Liong sambil tersenyum.
"Pat Hiong sering membunuh. Sekarang Ketua
melepaskan mereka, tentunya di belakang hari mereka akan membunuh
lagi."
"Benar." Pek Giok Liong manggut-manggut.
"Namun aku harap, setelah aku melepaskan mereka kali ini, mereka pun
mau bertobat!"
"Hati Ketua sangat bajik, mudah-mudahan
mereka bertiga mau bertobat, agar tidak mengecewakan Ketua!"
Pek Giok Liong tersenyum, dan memandang Cian
Tok Suseng seraya berkata.
"Walau mereka bertiga sering melakukan
pembunuhan, mereka tetap punya perasaan. Mungkin……" Mendadak
sepasang mata Pek Giok Liong menyorot tajam. "Ada orang datang!"
Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui segera
mendongakan kepala. Tampak sosok bayangan berkelebat cepat menuju
kearah mereka.
Tak lama sosok bayangan itu sudah melayang
ke hadapan mereka, ternyata adalah Ouw Yang Seng Tek atau si Tongkat
Sakti, Tetua Partai Pengemis.
Itu sungguh di luar dugaan, juga amat
menggembirakan. Pek Giok Liong langsung menjura.
"Aku memberi hormat pada Ouw Yang lo
cianpwe!" ucap Pek Giok Liong.
"Ketua Panji!" Pengemis tua itu tertawa
gelak. "Aku pengemis busuk mana pantas menerima hormatmu!"
Panji Hati Suci Matahari Bulan berkembang,
rimba persilatan di kolong langit bergabung menjadi satu. Pek Giok
Liong adalah generasi kelima pemegang panji tersebut, otomatis
kedudukannya sangat tinggi.
Meskipun pengemis tua itu tetua partai namun
ia masih harus memberi hormat pada Pek Giok Liong. Akan tetapi,
pengemis tua itu justru tidak melakukannya.
Pek Giok Liong tahu jelas sifat aneh
pengemis tua itu, maka ia pun tidak memasalahkan hal itu pula.
"Ouw Yang lo cianpwe?"
"Eh?" Pengemis tua itu mengerutkan kening.
"Ketua tidak boleh panggil aku lo cianpwe, lebih baik diubah saja!"
"Panggil saja aku pengemis tua!" sahut Ouw
Yang Seng Tek sambil tertawa gelak.
"Ini……" Pek Giok Liong tampak ragu.
"Kalau Ketua merasa ragu, bagaimana panggil
aku saudara tua saja?" usul pengemis tua itu sungguh-sungguh. "Lalu
aku pun memanggilmu saudara kecil."
"Baiklah." Pek Giok Liong mengangguk.
"Saudara kecil, engkau memang keterlaluan!"
tegur Ouw Yang Seng Tek mendadak.
"Eh? Saudara tua, kenapa aku keterlaluan?"
"Gara-gara engkau, sepasang kakiku nyaris
patah, tahu?"
"Lho? Kenapa?"
"Aku dari Hong Yang berlari ke vihara Si
Hui, dari vihara Si Hui berlari-lari ke Hwa San. Dari Hwa San
berlari dan terus berlari ke mari. Coba bayangkan! Apakah kedua
kakiku tidak akan patah berlari begitu jauh?"
"Buktinya sepasang kaki saudara tua belum
patah kan?" Pek Giok Liong tertawa.
"Masih tertawa?" Ouw Yang Seng Tek melotot.
"Dasar setan kecil…… maaf, dasar saudara kecil!"
"Saudara tua, engkau cari aku ada urusan
apa?"
"Itu……" Ouw Yang Seng Tek tertawa. "Aku
bertemu seseorang, dia minta tolong padaku untuk mencarimu."
"Siapa orang itu?" tanya Pek Giok Liong.
"Dia Tui Hun It Kiam (Pedang Pengejar Roh) Kang Ceng Sam!"
"Apa?" Pek Giok Liong tertegun. "Kang Ceng
Sam, si Pedang Pengejar Roh?"
"Eh? Saudara kecil! Apakah engkau tidak
kenal mengenalnya?" Ouw Yang Seng Tek tercengang.
"Tidak kenal." Pek Giok Liong menggelengkan
kepala. "Apakah dia titip pesan untukku?"
"Ya." Ouw Yang Seng Tek mengangguk. "Katanya
dia pernah titip sebuah kunci padamu, entah engkau sudah terima
belum? Kalau sudah terima harus dibawa ke Kiu Hwa San!"
Sepasang mata Pek Giok Liong berbinar-binar.
"Saudara tua, apakah dia orang tua pincang?"
tanyanya.
Ouw Yang Seng Tek mengangguk.
"Benar. Tapi kini kepalanya sudah botak!"
Ouw Yang Seng Tek tertawa gelak.
"Lho?" Pek Giok Liong bingung. "Kok
kepalanya bisa botak?"
"Dicukur. Karena dia sudah mengabdi pada
Sang Buddha, kini dia adalah hweshio kaki pincang!"
"Oh?" Wajah Pek Giok Liong tampak gembira
sekali. "Saudara tua bertemu dia di mana?"
"Di dalam Kota An Hui Hong Yang!"
"Apakah orang tua itu masih berada di sana?"
"Wah! Aku bukan peramal, bagaimana mungkin
tahu itu?"
"Saudara tua……"
"Ohya!" Ouw Yang Seng Tek menatap Pek Giok
Liong. "Engkau sudah terima kuncinya itu?"
"Sudah!" Pek Giok Liong mengangguk. "Apakah
Saudara tua sudah menemukan jejak Siang Hiong?"
"Aaakh!" keluh Ouw Yang Seng Tek. "Jangan
kau singgung lagi, aku sungguh kehilangan muka."
"Kenapa? Tiada hasilnya?"
"Aku terus mengejar, tapi akhirnya orang
kukejar itu malah menghilang begitu saja. Nah, bukankah aku telah
kehilangan muka?"
"Jadi Saudara tua tidak tahu ke mana orang
itu?"
"Kalau tahu, tentunya aku tidak akan bilang
aku telah kehilangan muka."
"Ketika Saudara tua ke mari, apakah melihat
segerombolan orang?"
"Lihat." Ouw Yang Seng Tek mengangguk.
"Kalau tidak ingin cepat-cepat menemuimu, aku pasti cari gara-gara
dengan mereka. karena mereka semua memakai kain penutup muka, aku
ingin tahu siapa mereka itu."
"Mereka para anak buah Cit Ciat Sin Kun."
Pek Giok Liong memberitahukan.
"Tiga orang itu kelihatan berilmu tinggi.
Siapa mereka itu?" tanya Ouw Yang Seng Tek.
"Mereka bertiga adalah Mo, Cun dan Tok. Tiga
dari Pat Hiong." jawab Pek Giok Liong.
"Saudara kecil melepaskan mereka bertiga?"
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk. "Aku tidak
mau sembarangan membunuh, maka mereka kulepaskan."
"Aduuuh!" Ouw Yang Seng Tek
menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa kau lepaskan mereka? Padahal
mereka sering membunuh orang."
"Aku melepaskan mereka, agar mereka mau
bertobat."
"Bertobat?" Ouw Yang Seng Tek tertawa sampai
badannya bergoyang-goyang. "Bagaimana mungkin mereka akan bertobat?
Lagi pula…… kemungkinan besar mereka yang membunuh kedua orang
tuamu."
"Aku sudah bertanya pada Jin Pin Mo Kun
tentang itu. Dia bilang pada malam itu mereka sama sekali tidak ikut
menyerang Ciok Lau San Cung.
"Apakah engkau percaya?"
"Percaya, karena Jin Pin Mo Kun tidak
berdusta."
"Eh?" Ouw Yang Seng Tek menatapnya tajam.
"Kenapa engkau yakin pada Ting Yuan?"
"Dia pun mengatakan, bahwa pada malam itu,
mereka bertiga berada di vihara Siau Lim. Ketua, pemimpin Lo Han
Tong dan tetua yang di loteng penyimpan kitab suci akan menjadi
saksi."
"Kalau begitu, mereka bertiga sungguh tidak
ikut menyerang Ciok Lau San Cung?"
"Betul."
"Tapi menurut aku, lebih baik engkau harus
mengutus seseorang ke vihara Siau Lim untuk menanyakan tentang itu!"
"Itu memang harus." Pek Giok Liong
mengangguk. "Ohya, bolehkah aku minta tolong pada saudara tua?"
"Bilang saja!"
"Aku harap saudara tua bersedia memberi
perintah pada pemimpin cabang untuk menyelidiki jejak Siang Hiong
Sam Kuai. Asal tahu jejak mereka, harus segera memberitahukan
padaku!"
"Itu tidak jadi masalah. Aku pasti segera
memberi perintah pada mereka."
"Terimakasih, saudara tua!" ucap Pek Giok
Liong sambil menjura.
"Aku tidak berani menerima penghormatanmu,"
sahut Ouw Yang Seng Tek. "Saudara kecil, lain kali jangan bersikap
begitu lagi!"
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk.
"Saudara kecil!" Ouw Yang Seng Tek
menatapnya. "Aku dengar engkau ke mari untuk menemui gurumu. Apakah
gurumu berada di dalam goa?"
Pek Giok Liong menggeleng-gelengkan kepala
sambil menarik nafas panjang.
"Aku terlambat datang, sehingga guruku sudah
dibawa pergi oleh utusan Cit Ciat Sin Kun."
"Kalau begitu, goa ini merupakan suatu
jebakan."
"Betul." Cit Ciat Sin Kun telah mengundang
Ouw Beng Hui dan para anak buahnya untuk menunggu di sini. Tujuan
mereka hendak meracuni diriku, lalu mengambil Jit goat Seng Sim Ki."
"Oh?" Ouw Yang Seng Tek segera memandang Ouw
Beng Hui, si Pelajar Seribu Racun. "Engkau sudah tua bangka, kok
masih mau menjual nyawamu pada Cit Ciat Sin Kun itu? Engkau sudah
pikun ya? Padahal tampangmu baru berusia empat puluhan!"
"Pengemis busuk! Aku belum pikun!" Ouw Beng
Hui tertawa getir. "Kalau aku sudah pikun, justru tidak akan
menuruti perintah Cit Ciat Sin Kun!"
"Lalu kenapa engkau menuruti perintahnya?"
"Aku ditipu."
"Ditipu dengan suatu syarat, kan?"
"Betul."
"Ha ha!" Ouw Yang Seng Tek tertawa gelak.
"Syarat itu pasti sangat menggiurkan hatimu! Kalau tidak……"
"Memang begitu."
"Syarat apa itu?"
"Kalau aku berhasil, dia akan memberiku Toan
Hun Coh (Rumput pemutus nyawa)."
"Apakah karena itu, maka engkau menerima
syarat itu?"
Ouw Beng Hui diam saja, sedangkan Ouw Yang
Seng Tek malah melotot.
"Dasar tua bangka! Sudah sekian tahun engkau
hidup tenang dan damai di tempatmu, tapi demi rumput pemutus nyawa,
engkau masih merangkak ke luar untuk diperdaya setan itu! Dasar
pikun!"
"Saudara tua, urusan itu telah berlalu,
tidak perlu diungkit lagi!" sela Pek Giok Liong agar Ouw Beng Hui
tidak terus dipermalukan pengemis tua itu.
"Ohya!" Ouw Yang Seng Tek menatap Pek Giok
Liong. "Tahukah engkau gurumu dibawa ke mana?"
"Tidak tahu!"
"Tua bangka!" Ouw Yang Seng Tek mengarah
pada Ouw Beng Hui. "Engkau tahu?"
"Kalau aku tahu, sudah kubilang dari tadi,"
sahut Ouw Beng Hui.
"Sungguhkah engkau tidak tahu?"
"Pengemis busuk! Engkau tidak percaya aku?"
"Hm!" dengus Ouw Yang Seng Tek. "Bagaimana
mungkin aku percaya?"
"Saudara tua!" ujar Pek Giok Liong. "Dia
sungguh tidak tahu."
"Eeeh?" Ouw Yang Seng Tek terbelalak.
"Kenapa engkau membelanya? Apakah pikiranmu telah diracuninya?"
"Saudara tua!" Pek Giok Liong tertawa. "Kini
dia sudah menjadi orang kita, maka dia tidak berani berdusta
padaku."
"Dia…… tua bangka yang tak mau tua itu sudah
menjadi orang kita?" Ouw Yang Seng Tek melongo.
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk, Ouw Beng
Hui pun menyelak mendadak.
"Pengemis busuk! Tahukah engkau
perguruanku?"
"Tentu tahu. Engkau berasal dari perguruan
Tok Seng (Maha racun), benar kan?"
"Benar." Ouw Beng Hui mengangguk dan
melanjutkan, "Pernahkah engkau dengar Tok Seng Kim Leng (Tanda
perintah Maha racun)?"
"Pernah." sahut Ouw Yang Seng Tek. "Kakek
guru partai Tok Seng yang membunuh Tok Seng Kim Leng. "Para murid
partai itu kalau melihat tanda perintah tersebut, harus menurut……
Eh? Kenapa engkau bertanya padaku tentang itu?"
"Pengemis busuk, engkau harus tahu! Pek Siau
hiap bukan cuma mendapat Panji Hati Suci Matahari Bulan, melainkan
dia pun Tek Seng Kim Leng Cu (Pemilik tanda perintah Maha Racun)
itu."
"Oooh!" Ouw Yang Seng Tek memandang Pek Giok
Liong. "Saudara kecil, engkau juga memperoleh tanda perintah itu?"
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk. "Aku
memperoleh tanda perintah itu di dalam ruang rahasia Istana
Pelangi."
"Oooh!" Ouw Yang Seng Tek manggut-manggut
lagi, lalu menjura pada Ouw Beng Hui.
"Tua bangka, aku minta maaf!"
"Sudahlah! Kita sama-sama sudah tidak kenal
tata krama, kenapa engkau masih menjura padaku? Lagi pula sebelumnya
kita cuma salah paham, kini sudah saling mengerti."
"Betul, betul." Ouw Yang Seng Tek tertawa
terbahak-bahak, kemudian memandang Pek Giok Liong seraya bertanya.
"Saudara kecil, kini engkau siap ke mana?"
"Aku ingin ke Kiu Hwa San. Saudara tua mau
ke mana?"
"Aku ingin jalan-jalan ke vihara Siau Lim."
"Ohya, bagaimana kalau Saudara tua
menanyakan tentang Jin Pin Mo Kun Ting Yuan itu, aku ingin tahu dia
berbohong atau tidak?"
"Baiklah. Aku pun ingin memberitahukan pada
Tay Kak Hosiang mengenai perkembangan rimba persilatan kini."
"Kalau begitu, aku mengucapkan terimakasih
pada Saudara tua!" ucap Pek Giok Liong.
"Eh? Mulai lagi! Aku tidak terima itu."
sahut Ouw Yang Seng Tek sambil melotot.
Pek Giok Liong cuma tersenyum, lalu
memandang Ouw Beng Hui.
"Engkau mau ke mana?" tanyanya.
"Teecu ingin ikut Ketua."
"Tidak usah!" tolak Pek Giok Liong. "Lebih
baik engkau kembali ke tempat tinggalmu."
"Apakah Ketua menganggap teecu berkepandaian
rendah?"
"Bukan begitu, aku tidak ingin
merepotkanmu."
"Kalau begitu, ijinkanlah hamba ikut Ketua,
mungkin ada gunanya." ujar Ouw Beng Hui sungguh-sungguh.
"Itu……" Pek Giok Liong ragu.
"Saudara kecil!" sela Ouw Yang Seng Tek.
"Dia sudah merengek-rengek, ajaklah dia! Kalau tidak, dia pasti
ngambek. Sebab dia tua bangka yang tidak mau tua."
"Baiklah!" Pek Giok Liong mengangguk.
"Terimakasih Ketua!" ucap Ouw Beng Hui.
"Eh? Tua bangka, kenapa engkau tidak
berterimakasih padaku?" tanya Ouw Yang Seng Tek mendadak.
"Bukankah engkau selalu menolak ucapan
terimakasih dari siapa pun? Nah, bagaimana mungkin aku mengucapkan
terimakasih padamu?" sahut Ouw Beng Hui sambil tertawa gelak.
"Hah? Senjata makan tuan!" keluh Ouw Yang
Seng Tek sambil menggaruk-garuk kepala. "Dasar tua bangka licik……!"
-- o --
Bagian ke 47: Kitab Ajaib
Kiu Hwa San terletak di sebelah selatan Kota
An Hui. Pemandangan Kiu Hwa San itu sangat indah menakjubkan.
Tentunya sangat menarik perhatian para pelancong.
Hari ini di Kiu Hwa San tersebut kedatangan
seorang pemuda tampan, tampak pula enam orang tua dan seorang
berusia empat puluhan berjalan di belakang pemuda itu.
Mereka adalah Pek Giok Liong, Cian Tok
Suseng Ouw Beng Hui, Siang Sing dan Si Kim Kong.
Berselang beberapa saat kemudian, mendadak
Pek Giok Liong berhenti dan memandang Ouw Beng Hui seraya bertanya.
"Engkau pernah datang di gunung ini?"
"Beberapa tahun lalu pernah ke mari satu
kali," jawab Ouw Beng Hui memberitahukan.
"Masih ingatkah situasi gunung ini?"
"Cuma ingat sedikit."
"Emmh!" Pek Giok Liong manggut-manggut, lalu
mengeluarkan selembar peta lokasi dari tetua Kay Pang Ouw Yang Seng
Tek, Tui Hun It Kiam menitip peta lokasi itu untuk Pek Giok Liong.
"Coba lihatlah peta lokasi ini!" ujar Pek
Giok Liong sambil menyerahkan peta lokasi tersebut pada Ouw Beng
Hui. "Mungkin engkau masih ingat tempat-tempat tertentu."
Ouw Beng Hui menerima peta lokasi itu,
kemudian memperhatikannya dengan seksama. Berselang sesaat, ia
memberitahukan.
"Tempat yang akan kita tuju itu,
kelihatannya terletak di sebelah timur." Ouw Beng Hui mengembalikan
peta lokasi itu pada Pek Giok Liong. "Mari ikut teecu saja!"
Pek Giok Liong mengangguk. Ouw Beng Hui
melangkah duluan, Pek Giok Liong dan lainnya mengikutinya dari
belakang.
Satu jam kemudian, mereka sudah sampai di
lereng gunung itu. Pek Giok Liong berhenti sambil menengok ke sana
ke mari. Tempat itu memang mirip seperti yang ada di dalam peta
lokasi, namun Pek Giok Liong malah menggeleng kepala.
"Adakah yang tak beres?" tanya Ouw Beng Hui.
"Kelihatannya memang tempat ini, hanya
saja……" Pek Giok Liong tampak berpikir, lalu melanjutkan, "Kunci itu
untuk membuka pintu ruang batu yang ada di dalam goa, tapi di tempat
ini tidak ada goa sama sekali."
Sementara Siang Sing dan Si Kim Kong sudah
mulai memeriksa kesana kemari dengan cermat sekali. Mendadak Chua
Kui Kim Kong (Arhat penangkap setan) Ih Cong Khie menunjuk pada
sebuah batu berbentuk aneh di belakang pohon siong.
"Ketua, lihatlah batu itu!" serunya.
Pek Giok Liong segera menengok ke sana,
sedangkan Ouw Beng Hui sudah melompat ke sana, lalu membuang
akar-akar tua yang membelit batu itu.
Sungguh di luar dugaan, tak lama tampak
sebuah goa di balik batu itu. Betapa girangnya Pek Giok Liong
melihat goa tersebut. Ketika ia baru mau melompat ke goa itu,
tiba-tiba Thian Koh Sing Ma Hun mencegahnya.
"Tunggu sebentar, Ketua!" ujarnya. "Biar
teecu dan Ouw Beng Hui memeriksa dulu goa itu!"
"Baiklah." Pek Giok Liong mengangguk.
Thian Koh Sing Ma Hun langsung melompat ke
samping Ouw Beng Hui, mereka berdua lalu memasuki goa itu.
"Kalian harus hati-hati!" seru Pek Giok
Liong berpesan.
"Ya," sahut Thian Koh Sing Ma Hun dan Ouw
Beng Hui serentak. Berselang beberapa saat kemudian, mereka berdua
sudah melangkah ke luar.
"Bagaimana? Apakah kalian menemukan sesuatu
di dalam goa?" tanya Pek Giok Liong.
"Harap Ketua ke dalam untuk periksa
sendiri!" jawab Thian Koh Sing Ma Hun dengan hormat.
"Baik." Pek Giok Liong mengangguk, lalu
memandang Si Kim Kong seraya berkata, "Kalian berempat menjaga di
sini, aku bersama Siang Sing dan Ouw Beng Hui ke dalam."
"Ya," sahut Si Kim Kong sambil menjura.
Pek Giok Liong segera memasuki goa itu,
diikuti oleh Siang Sing dan Ouw Beng Hui.
Goa itu tidak gelap, karena setiap lima
meter terdapat sebutir mutiara di dinding goa sebagai pengganti
lampu.
Ouw Beng Hui dan Thian Koh Sing Ma Hun sudah
memeriksa goa itu, maka baru berani mempersilahkan Pek Giok Liong
masuk untuk periksa sekali lagi.
Setelah sampai di ujung goa, Pek Giok Liong
berhenti dengan kening berkerut, karena di dalam goa tidak terdapat
pintu, melainkan hanya terdapat sebuah meja dan empat buah tempat
duduk yang terbuat dari batu.
"Heran?" gumam Pek Giok Liong. "Kok tidak
ada pintu?"
"Menurut teecu……" ujar Ouw Beng Hui setelah
berpikir sejenak. "Di sini pasti terdapat ruang rahasia."
Pek Giok Liong mengangguk, dan sepasang
matanya lalu menyapu ke sekeliling dinding goa, kemudian mengerutkan
kening lagi.
"Tidak tampak ada pintu……" Pek Giok Liong
menggeleng-geleng kepala.
"Kalau gampang dilihat, itu tidak akan
disebut pintu rahasia," sahut Ouw Beng Hui sambil tersenyum.
Setelah itu, ia mendekati dinding goa, dan
sekaligus mengeluarkan sebuah pisau belati, lalu mulai mengetuk
dinding goa dengan pisau itu.
Melihat itu, Siang Sing sudah tahu maksud
Ouw Beng Hui, maka mereka berdua pun mulai mengetuk dinding goa
dengan batu kecil.
Tak! Tak! Tok! Tok!
Menyusul terdengar suara ketukan yang agak
lain. Seketika juga Thian Kang Sing Wie Kauw tampak girang sekali,
dan terus mengetuk dinding goa itu.
Tung! Tung! Tung!
"Ketua!" serunya. "Dengarlah suara ini!"
"Tung! Tung! Tung!" Thian Kang Sing Wie Kauw
mengetuk lagi. "Tung! Tung……"
Suara itu membuktikan, bahwa di balik
dinding itu kosong. Wajah Pek Giok Liong pun tampak berseri.
"Kelihatannya di balik dinding ini terdapat
ruang rahasia," ujarnya girang.
"Benar." Thian Kang Sing Wie Kauw
mengangguk.
Thian Koh Sing Ma Hun dan Ouw Beng Hui
segera memeriksa dinding itu, tapi beberapa saat kemudian, wajah
mereka tampak kecewa.
Sementara Pek Giok Liong terus memandang
dinding itu. Ia mengerutkan kening sambil berpikir keras. Dibalik
dinding itu kosong, berarti ruang rahasia berada di situ. Tapi
kenapa tiada pintunya? Pek Giok Liong tidak habis berpikir. Tiada
pintu, tentunya harus ada lubang kunci……
Mendadak sepasang mata Pek Giok Liong
berbinar-binar, ternyata ia melihat sebuah lubang kecil pada dinding
batu yang agak menonjol. Ia cepat-cepat mendekati dinding batu itu
dengan wajah berseri, kemudian mengeluarkan kunci yang dibawanya.
"Mudah-mudahan lubang ini……" Pek Giok Liong
membatin, lalu memasukkan kunci itu ke dalam lubang tersebut.
Krek! Krek! Pek Giok Liong memutar kunci
itu.
Kraaak! Mendadak dinding batu itu bergerak,
ternyata dinding batu itu merupakan pintu rahasia.
Pek Giok Liong segera melangkah ke dalam dan
diikuti oleh Siang Sing dan Ouw Beng Hui.
Ruangan itu cukup besar. Di dalamnya
terdapat tempat tidur, meja dan tempat duduk yang dibuat dari batu.
Di tempat tidur itu terdapat sebuah bantal yang sudah kumal.
Di atas meja batu itu terdapat sebuah kotak
besi. Pek Giok Liong mendekati meja batu itu, kemudian mencoba
membuka kotak besi tersebut.
Kraaak! Kotak besi itu terbuka. Di dalamnya
terdapat sebuah kitab tipis bertulisan. 'Kitab Ajaib'.
Pek Giok Liong mengambil kitab itu, lalu
dibukanya. Ia terbelalak, karena melihat selembar surat, dan segera
membacanya.
Siau Liong, apakah engkau sudah berhasil
belajar ilmu silat tingkat tinggi? Kalau belum, engkau boleh
mempelajari, ilmu silat yang ada di dalam kitab ajaib ini. Akan
tetapi, aku harus memberitahukan, kalau sudah berhasil belajar ilmu
silat tingkat tinggi, janganlah engkau mempelajari ilmu silat yang
ada di dalam kotak ajaib ini lagi. Sebab kalau engkau
mempelajarinya, engkau tidak boleh kawin, selamanya tidak punya anak
Apabila engkau kawin, akibatnya engkau pasti mati secara
mengenaskan.
Hal lain mengenai peristiwa Ciok Lau San
Cung. Siapa pembunuh kedua orang tuamu, mungkin Tu Ci Yen tahu
jelas. Engkau harus menyelidiki melalui dia. Namun engkau harus
berhati-hati, karena Tu Ci Yen memiliki kepandaian tinggi yang bukan
bersumber pada ilmu Siauw cung cu. Sebelum engkau berhasil belajar
ilmu silat tingkat tinggi, engkau jangan melawannya!
Setelah engkau memasuki ruang rahasia ini,
mungkin aku sudah di bunuh, tapi mungkin juga masih hidup dan kita
akan bertemu kelak, baik-baiklah engkau menjaga diri.
Orang tua pincang.
Sesudah membaca surat itu hati Pek Giok
Liong pun bergelora. Kini ia telah berhasil belajar ilmu silat
tingkat tinggi, tentunya tidak perlu belajar ilmu silat yang ada di
dalam kitab ajaib itu. Namun ia tetap berterimakasih pada orang tua
pincang itu.
Pek Giok Liong menyimpan kitab ajaib itu ke
dalam bajunya, lalu melangkah ke luar. Siang Sing dan Ouw Beng Hui
mengikutinya.
Setelah berada di luar, Pek Giok Liong pun
menutup pintu rahasia itu dan menguncinya.
Mereka meninggalkan goa itu. Pek Giok Liong
ingin langsung menuju gunung Kah Lan untuk menyelidiki istana Cit
Ciat Sin Kun, namun Siang Sing dan Si Kim Kong mencegahnya, dan
sekaligus menyarankan agar Pek Giok Liong ke vihara Si Hui dulu.
Setelah itu, barulah ke Kah Lan San menyelidiki istana tersebut.
Pek Giok Liong menerima baik saran itu, lalu
berangkat ke vihara Si Hui untuk menemui Se Pit Han.
-- o --
Di ruang belakang vihara Si Hui, tampak
beberapa orang sedang duduk dengan wajah serius. Mereka adalah Pek
Giok Liong, Se Pit Han, Siauw Hui Ceh dan Cing Ji.
"Adik Liong!" Se Pit Han menatapnya seraya
bertanya, "Bagaimana keadaan Hwa San? Apakah engkau telah membongkar
kedok Tu Ci Yen?"
"Tepat pada waktunya aku sampai di Hwa San.
Gin Tie itu memang benar Tu Ci Yen……," jawab Pek Giok Liong.
Kemudian ia pun menutur tentang apa yang dialaminya di Seh Lian San
dan Kiu Hwa San.
Ketika mendengar Kian Kun Ie Siu dipindahkan
ke tempat lain, hati Cing Ji pun girang-girang cemas.
Girang karena kakeknya masih hidup, cemas
lantaran tidak tahu kakeknya di pindahkan ke mana.
Walau ia yakin para bawahan Pek Giok Liong
mampu menolong kakeknya, tapi ia masih tetap merasa khawatir, sebab
tidak tahu kapan kakeknya dapat ditolong.
"Kak misan!" tanya Pek Giok Liong seusai
menutur. "Setelah engkau sampai di Bu Tong, bagaimana keadaan di
sana?"
Se Pit Han menarik nafas panjang.
"Aku terlambat, murid-murid Bu Tong mati dua
puluh orang, tapi memperoleh sesuatu yang sungguh di luar dugaan."
jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Oh?" Pek Giok Liong menatapnya. "Sesuatu
yang bagaimana?"
"Berkaitan dengan Kim Tie itu," jawab Se Pit
Han sambil tersenyum.
"Oh?" Sepasang mata Pek Giok Liong langsung
berbinar. "Kak misan tahu siapa orang itu?"
"Hanya menilai dari ilmu silatnya, namun
belum berani memastikan."
"Jadi Kak misan cuma menduga saja?"
"Ya."
"Kira-kira siapa dia?"
"Berdasarkan ilmu silatnya ……" Se Pit Han
memberitahukan. "…… dia mungkin salah seorang Bu Lim Cit Khi (Tujuh
orang aneh rimba persilatan)."
"Apa?!" Pek Giok Liong tertegun. "Itu ……
bagaimana mungkin?"
"Bukankah aku sudah bilang, belum berani
memastikan, cuma menduga saja. Belum ada buktinya."
"Engkau sudah menduga kira-kira siapa dia?"
"Aku curiga …… dia adaah Huan In Sin Jiau
(Cakar bayangan) Jen Siau Hien!"
"Apa?!" Pek Giok Liong melongo. "Itu sungguh
sulit dipercaya. Huan In Sin Jiau Jen Siau Hien memang bertabiat
aneh, tapi kenapa dia merelakan dirinya di bawah perintah Cit Ciat
Sin Kun? Padahal kedudukannya amat tinggi dalam bu lim!"
"Adik Liong!" Se Pit Han tersenyum. "Memang
benar apa yang engkau katakan, tapi ……"
"Kenapa?"
"Segala urusan di kolong langit, sangat
sulit diduga, begitu pula tentang ini."
"Emmh!" Pek Liong manggut-manggut dan
mengalihkan pembicaraan. "Kak misan, aku akan segera pergi
menyelidiki istana Cit Ciat Sin Kun. Bagaimana menurut pendapatmu?"
"Aku tidak setuju." Se Pit Han menggelengkan
kepala.
"Lho?" Pek Giok Liong tertegun. "Memangnya
kenapa?"
"Tidak kenapa-napa, cuma tidak setuju saja,"
sahut Se Pit Han sambil menatapnya.
"Kak misan!" Pek Giok Liong mengerutkan
kening. "Apa alasanmu, haruslah dijelaskan!"
"Alasanku sangat sederhana. Kita tidak tahu
jelas tempat itu dan situasinya, maka kita gampang mendapat serangan
gelap. Itu amat membahayakan."
"Tapi …… kalau kita akan masuk sarang macan,
bagaimana mungkin mendapat anaknya? Walau harus menempuh bahaya ……"
"Pokoknya aku melarangmu pergi menempuh
bahaya." tegas Se Pit Han.
"Kak misan ……" Pek Giok Liong memandangnya
bodoh.
"Engkau tidak mau dengar kata-kataku?" Se
Pit Han melotot.
"Aku ……" Pek Giok Liong tersenyum. "Aku mana
berani tidak dengar kata-katamu?"
"Kalau begitu, engkau tidak perlu banyak
bicara lagi!" tandas Se Pit Han.
"Kak Han!" sela Siauw Hui Ceh merasa tidak
tega. "Sudahlah! Engkau jangan menekannya lagi!"
"Adik Hui!" Se Pit Han tertawa kecil.
"Engkau merasa tidak tega dalam hatinya?"
Wajah Siauw Hui Ceh langsung memerah, dan
cepat-cepat menundukkan kepalanya.
Ketika mendengar pembicaraan mereka, hati
Pek Giok Liong pun tergerak dan ujarnya sambil tersenyum.
"Kak misan, kalau aku punya salah, engkau
jangan gusar dan ……"
"Omong kosong!" potong Se Pit Han. "Aku
tidak gusar, lagi pula bagaimana mungkin aku berani gusar?"
"Kalau begitu ……" Pek Giok Liong tersenyum
lebar. "Maafkanlah aku!"
"Eh?" Se Pit Han tertawa geli. "Engkau tidak
bersalah terhadapku, kenapa engkau harus minta maaf padaku?"
"Itu ……" Pek Giok Liong tertegun. "Kalau aku
membuat engkau gusar, aku …… minta maaf!"
"Kakak Han!" sela Cing Ji mendadak. "Kakak
Liong sudah mengaku salah, maka maafkanlah dia!"
"Eh?" Se Pit Han menatap Cing Ji sambil
tertawa. "Engkau juga merasa tidak tega?"
"Aku ……" Cing Ji menundukkan wajahnya
dalam-dalam.
"Kalian berdua berhati lembut," ujar Se Pit
Han sambil tersenyum. "Kelak kalian bagaimana ……"
"Kak misan!" Pek Giok Liong terbelalak. Ia
tidak tahu kenapa Se Pit Han mengatakan begitu.
"Baiklah!" Se Pit Han tersenyum lagi.
"Karena kedua adik itu merasa tidak tega, maka aku pun tidak akan
banyak bicara, namun engkau harus mengabulkan satu permintaan kami!"
"Baik." Pek Giok Liong mengangguk. "Asal kak
misan tidak marah lagi, aku pasti mengabulkan."
"Permintaanku ini walau sederhana, namun
agak sulit dilaksanakan."
"Oh?" Pek Giok Liong menatapnya. "Permintaan
apa itu?"
"Selanjutnya urusan apa pun, sebelum engkau
bertindak, terlebih dahulu harus kau berunding dengan kami bertiga
seperti sekarang ini. Jangan mengambil keputusan sendiri atau
menempuh bahaya."
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk.
"Kalau engkau berani melanggar syarat
permintaan kami ini, jangan menyalahkan kami kalau kami tidak
menghiraukanmu lagi selanjutnya!"
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk lagi.
"Adik Liong, tahukah engkau ketika orang
lain mengetahui engkau langsung berangkat ke Seh Lian San dari Hwa
San, itu sungguh mencemaskan."
Setelah mendengar ini, barulah Pek Giok
Liong sadar kenapa tadi Se Pit Han tampak gusar, justru membuat
hatinya terharu.
"Kak misan, aku mengaku salah," ucap Pek
Giok Liong. "Selanjutnya aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Ng!" Se Pit Han manggut-manggut. "Engkau
tidak perlu mengaku salah padaku, sebaliknya ……" Se Pit Han melirik
Siauw Hui Ceh dan Cing Ji seraya melanjutnya. "Kedua adik itu sampai
tidak bisa makan dan tidak bisa tidur. Mereka berdua kelihatannya
ingin terbang ke Seh Lian San! Coba bayangkan perasaan mereka waktu
itu!"
"Eeeh?" sela Cing Ji. "Kakak Han, kenapa
kami berdua yang menjadi sasaran omonganmu?"
"Tapi aku tidak omong kosong kan?" Se Pit
Han tertawa kecil.
"Kakak Han!" Siauw Hui Ceh tersenyum.
"Kenapa tidak mau membicarakan diri sendiri?"
"Aku justru tidak menghiraukannya," sahut Se
Pit Han.
"Hi hi!" Siauw Hui Ceh tertawa geli.
"Sungguhkah kakak Han tidak menghiraukannya?"
Se Pit Han mengerutkan sepasang alisnya,
sebaliknya Pek Giok Liong malah tertawa ringan seraya berkata, "Kak
misan, itu memang kesalahanku sehingga membuat kakak Han dan kedua
adik itu jadi cemas. Di sini aku mengucapkan terimakasih atas
perhatian kalian bertiga!" Pek Giok Liong segera menjura pada
mereka.
"Eh?" Se Pit Han melolot. "Siapa suruh
engkau menjura hormat pada kami?"
"Jadi …… kak misan masih marah?"
"Siapa yang marah?"
"Kalau begitu ……" Pek Giok Liong menatapnya.
"Kenapa tidak dilanjutkan?" tanya Se Pit
Han.
"Kalau kak misan sudah tidak marah, kupikir
……" Pek Giok Liong tidak melanjutkan ueapannya lagi.
"Engkau pikir apa?" tanya Se Pit Han sambil
menatapnya dalam-dalam.
"Sudahlah!" Pek Giok Liong menggelengkan
kepala. "Lebih baik aku tidak bilang, agar engkau tidak marah lagi."
"Eh?" Se Pit Han menatapnya dengan mata agak
terbelalak. "Engkau begitu takut aku marah?"
"Tentu." Pek Giok Liong mengangguk. "Kalau
tidak, aku sudah bilang."
"Bagaimana kalau aku menghendaki engkau
bilang?"
"Ini ……"
"Engkau tidak mau bilang juga?"
"Lebih baik aku tidak bilang."
"Tapi ……" Se Pit Han menatapnya. "Sekarang
aku menghendaki engkau bilang, harus bilang!"
"Kak misan!" Pek Giok Liong mengerutkan
kening. "Kenapa harus begitu?"
"Baik!" Wajah Se Pit Han berubah. "Kalau
engkau tidak mau bilang, selanjutnya aku tidak akan memperdulikanmu
lagi."
"Kakak Liong!" sela Cing Ji. "Cepatlah
engkau bilang!"
Pek Giok Liong tersenyum ke arah Cing Ji,
kemudian memperhatikan Se Pit Han seraya bertanya, "Kak misan,
betulkah engkau menghendaki aku bilang?"
"Kalau engkau menghendaki aku tidak
memperdulikanmu lagi, engkau boleh tidak bilang?"
"Kak misan tidak akan marah?"
"Hm!" dengus Se Pit Han: "Hatiku tidak
begitu sempit, lagi pula aku bukan pemarah."
"Kalau begitu, baiklah!" Pek Giok Liong
tersenyum. "Kini kak misan sudah tidak marah, maka ku piker ……
alangkah baiknya kak misan tertawa dikit!"
Se Pit Han tertegun. Ternyata Pek Giok Liong
menggodanya, dan itu membuat air mukanya berubah.
"Siapa akan tertawa padamu ……" Walau mulut
berkata demikian, namun ia justru tertawa.
Begitu Se Pit Han tertawa, Pek Giok Liong
memandangnya seperti kehilangan sukma, sehingga membuat wajah Se Pit
Han memerah.
"Kenapa engkau memandangku seperti orang
linglung?"
"Wuaah!" Pek Giok Liong tertawa. "Sungguh
indah mempesonakan tawa kak misan itu?"
"Eh? Mulai merayu ya?" tegur Se Pit Han
dengan wajah bertambah merah, namun hatinya berbunga-bunga.
"Aku tidak merayu, melainkan tawamu itu
memang sangat indah dan memukau." sahut Pek Giok Liong dan tertawa
lagi.
"Idih! Mukamu sungguh tebal! Dasar tak tahu
……" Se Pit Han ingin mengatakan 'Dasar tak tahu malu', tapi tidak
dicetuskan.
"Dasar tak tahu malu kan?" sambung Pek Giok
Liong sambil menatapnya. "Dari dulu hingga kini, berapa banyak
ksatria yang bertekuk lutut di hadapan wanita cantik?"
"Kok bicaranya makin ngawur?" Se Pit Han
cemberut. "Kalau engkau masih melanjutkan, aku tidak memperdulikanmu
lagi."
"Kakak Han!" Cing Ji tersenyum. "Apa yang
dikatakan Kakak Liong memang benar, tadi tawamu itu sungguh indah
mempesona. Kalau aku adalah lelaki, betul-betul akan bertekuk lutut
di hadapanmu!"
"Eh? Adik Cing!" Se Pit Han melotot. "Kenapa
engkau jadi membelanya?"
"Aku tidak membelanya, apa yang kukatakan
memang sungguh. Kalau Kakak Han tidak percaya, boleh bertanya pada
Kakak Hui!"
"Tidak salah." sambung Siauw Hui Ceh cepat.
"Tadi ketika Kakak Han tertawa, memang sungguh menawan hati."
"Apakah kalian berdua terpikat oleh tawaku
itu?" tanya Se Pit Han sambil tersenyum.
"Terpikat," sahut Cing Ji. "Tapi aku dan
Kakak Hui bukan Kakak Liong, maka percuma terpikat."
"Eh?" Wajah Se Pit Han memerah. Ia tidak
menyangka bahwa Cing Ji begitu pandai menggoda orang. "Dasar budak
kecil, sama sekali tidak merasa jengah mengatakan begitu!"
"Kenapa harus jengah? Di sini tiada orang
luar, lagi pula ……" Cing Ji tersenyum dan melanjutkan, "…… cuma kita
bertiga ……"
"Berempat lho!" sahut Pek Giok Liong.
"Apakah aku tidak masuk hitungan?"
"Sudahlah!" tandas Siauw Hui Ceh. "Rasanya
sudah cukup kita bercanda, sekarang lebih baik kita membicarakan hal
penting!"
"Hal penting apa?" tanya Cing Ji.
"Mengenai Cit Ciat Sin Kun itu, harus
bagaimana cara menghadapinya," jawab Siauw Hui Ceh.
"Benar." Se Pit Han manggut-manggut, lalu
memandang Pek Giok Liong seraya bertanya. "Adik Liong, bagaimana
pendapatmu?"
"Aku siap mendengar petunjuk kak misan,"
jawab Pek Giok Liong.
"Adik Liong!" Se Pit Han tertawa kecil.
"Engkau marah padaku ya?"
"Bagaimana mungkin aku akan marah pada kak
misan?" Pek Giok Liong.
"Tapi kenapa barusan engkau bicara begitu?"
"Lho?" Pek Giok Liong tertawa. "Bukankah
tadi kak misan bilang, urusan apa pun harus kita rundingkan
bersama!"
"Ini namanya senjata makan tuan!" Se Pit Han
menarik nafas.
"Kak misan, aku sama sekali tidak bermaksud
begitu," ujar Pek Giok Liong sungguh-sungguh. "Kak misan lebih
berpengalaman, maka aku mohon petunjuk."
"Terimakasih atas pujianmu, adik Liong!" Se
Pit Han tersenyum. "Ohya, tahukah engkau kenapa aku melarangmu pergi
menyelidiki istana Cit Ciat Sin Kun?"
"Tentunya kak misan tidak menghendaki aku
menempuh bahaya, kan?" Pek Giok Liong menatapnya.
"Itu merupakan salah satu sebab, masih ada
sebab lain."
"Oh? Kak misan, tolong beritahukan sebab
lain itu!"
"Sebab lain itu adalah ……" Se Pit Han
memberitahukan. "Tidak perlu menempuh jarak, cukup mengambil jalan
pintas saja."
"Maksud kak misan?"
"Pepatah mengatakan ……" Se Pit Han
tersenyum. "Mau memanah orang harus memanah kudanya dulu."
Pek Giok Liong mengerutkan kening, tampaknya
is kurang mengerti akan maksud ucapan Se Pit Han. Sementara Se Pit
Han cuma tersenyum-senyum.
-- o --
Bagian ke 48: Menyusun Rencana
Setelah termenung beberapa saat, Pek Giok
Liong lalu menatap Se Pit Han seraya bertanya.
"Kak misan, aku tidak mengerti maksudmu,
bolehkah engkau menjelaskannya?"
"Adik. Liong, asal dapat mencari Cit Ciat
Sin Kun, bukankah tidak perlu pergi menyelidiki istananya lagi?"
"Betul." Pek Giok Liong mengangguk,
tiba-tiba hatinya tergerak. "Kak misan, apakah Cit Ciat Sin Kun
telah meninggalkan istananya?"
"Kalau tidak, Kenapa aku harus bilang
begitu?" Se Pit Han memberitahukan. "Aku dengar, dia sudah berada di
sekitar daerah sini."
"Dia berada di mana?"
"Tahukah engkau tentang ekspedisi Yang Wie
di dalam kota Teng Hong?"
"Aku pernah dengar itu," jawab Pek Giok
Liong, lalu memandang Se Pit Han. "Kalau tidak salah, pemilik
ekspedisi itu Sia Houw Kian Nguan. Dia sangat antusias terhadap
siapa pun, dan tergolong pendekar sejati dalam bu lim."
"Engkau dengar dari siapa?" tanya Se Pit Han
sambil tersenyum.
"Apakah tidak benar?"
"Aku cuma sekedar bertanya."
"Kakak Liong!" sela Siauw Hui Ceh. "Aku tahu
engkau dengar dari orang tua pincang itu, kan?"
"Benar." Pek Giok Liong mengangguk. "Aku
memang dengar dari orang tua pincang itu."
"Aku dengar ……" sambung Se Pit Han. "Orang
tua pincang itu adalah Tui Hun It Kiam yang pernah menggetarkan bu
lim masa lalu. Benar ya?"
"Kok kak misan tahu?" tanya Pek Giok Liong
heran.
"Se Khi yang beritahukan."
"Dia memang banyak mulut."
"Jangan menyalahkan Se Khi!" Se Pit Han
tersenyum. "Aku yang bertanya, bagaimana mungkin dia berani tidak
menjawab? Lagi pula …… engkau pun tidak akan mengelabuiku kan?"
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk.
"Ohya!" tanya Se Pit Han mendadak.
"Bagaimana dengan 'Kitab ajaib' itu?"
"Bagaimana menurut kak misan?" Pek Giok
Liong balik bertanya.
"Aku bertanya padamu justru ingin tahu
bagaimana pendapatmu, kok engkau malah balik bertanya?"
"Menurut aku ……" Pek Giok Liong berpikir
sejenak. "Lebih baik di musnahkan saja, 'Kitab ajaib' itu."
"Apa?" Se Pit Han terbelalak. "Engkau ingin
memusnahkan 'Kitab ajaib' itu?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Sebab ilmu silat yang dimuat di dalamnya
agak menyesatkan."
"Agak menyesatkan?" Cing Ji bingung. "Kenapa
menyesatkan?"
"Sudahlah!" Pek Giok Liong menggelengkan
kepala. "Tidak perlu kujelaskan."
Cing Ji cemberut, lalu memandang Se Pit Han
seraya ujarnya merengek.
"Kakak Han, beritahukanlah!"
"Aku pun tidak tahu." Se Pit Han tersenyum.
"Lebih baik dia yang beritahukan."
Cing Ji mengarah pada Pek Giok Liong,
kemudian melotot.
"Huh! Siapa menghendaki dia yang
beritahukan, dia tidak beritahukan juga tidak apa-apa."
"Kalau begitu ……" Se Pit Han tertawa kecil.
"Bukankah engkau sama sekali tidak tahu?"
"Aku justru ingin tahu," sahut Cing Ji.
"Apakah engkau ingin bertanya pada orang
lain?" Se Pit Han menatapnya.
"Ya." Cing Ji mengangguk.
"Engkau ingin bertanya pada siapa?" tanya Se
Pit Han.
"Paman Siauw pasti tahu!" Cing Ji tersenyum.
"Paman Siauw mungkin tahu, namun aku
mengingatkan, lebih baik engkau jangan bertanya padanya!"
"Kenapa?"
"Aku yakin Paman Siauw juga tidak akan
memberitahukan padamu."
"Lho?" Cing Ji tercengang. "Kenapa begitu?
Aku jadi bingung."
"Kakak Han, seandainya aku yang bertanya,
apakah ayah akan memberitahukan?" tanya Siauw Hui Ceh mendadak.
"Engkau memang putri satu-satunya paman
Siauw, tapi belum tentu ayahmu akan memberitahukan."
"Apakah ayah tidak leluasa memberitahukan?"
tanya Siauw Hui Ceh heran.
"Ya." Se Pit Han mengangguk.
"Kalau begitu, Kakak Han sudah tahu, tapi
juga merasa kurang leluasa memberitahukan?"
"Betul." Se Pit Han tersenyum.
"Oooh!" Siauw Hui Ceh manggut-manggut sambil
tersenyum. "Kini aku sudah mulai mengerti."
"Oh, ya?" Se Pit Han tersenyum.
"Tentunya 'Kitab ajaib' itu berkaitan dengan
kaum wanita. Benar kan?" ujar Siauw Hui Ceh.
"Engkau memang pintar. Engkau kok bisa
menduga ke situ?"
"Aku cuma sembarangan menduga."
Sedangkan Cing Ji terus berpikir, akhirnya
ia pun menyadari sesuatu, sehingga ia bergumam. "Oooh, ternyata itu
……"
"Adik Cing!" Se Pit Han tersenyum. "Engkau
sudah mengerti?"
"Kakak Han jahat!" Cing Ji tertawa.
"Berbisik padaku saja! Jadi aku tidak usah berpikir begitu lama!"
"Engkau harus banyak berpikir, itu yang
disebut mengasah otak." ujar Se Pit Han sambil tersenyum.
"Akan tajam kan?" Cing Ji tersenyum dan
mengarah pada Pek Giok Liong. "Kakak Liong juga jahat ……"
"Adik Cing, kenapa engkau menyalahkan
diriku?" Pek Giok Liong menggeleng-geleng kepala. "Padahal aku ……"
"Engkau egois!" Cing Ji menudingnya. "Aku
……"
"Sudahlah Adik Cing!" sela Se Pit Han.
"Jangan bergurau lagi!"
"Ya." Cing Ji mengangguk.
"Adik Liong!" Se Pit Han memandangnya.
"Apakah engkau tidak tahu keistimewaan ilmu silat yang ada di dalam
'Kitab ajaib' itu?"
"Aku tidak tahu."
"Engkau sudah membaca buku yang mencatat
ilmu silat dari berbagai partai di dalam ruang rahasia?"
"Sudah, tapi tidak selesai," jawab Pek Giok
Liong dan bertanya, "Kak misan, apa keistimewaan ilmu silat dalam
'Kitab ajaib' itu?"
"Cara melatih lwee kang, agak berlawanan
dengan cara yang biasa." Se Pit Han memberitahukan. "Tapi kalau
bertarung dengan mengerahkan lwee kang itu, tujuh hari tujuh malam
bertarung pun tidak akan merasa lelah."
"Oooh!" Pek Giok Liong mengerutkan kening.
"Oleh karena itu, kak misan tidak mengijinkanku memusnahkan 'Kitab
ajaib' itu?"
"Sungguh sayang kalau 'Kitab ajaib' itu
dimusnahkan."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kukembalikan
ke tempat semula, agar ditemukan orang yang berjodoh dengan kitab
ajaib itu?"
"Itu tidak perlu, aku justru khawatir kitab
ajaib itu akan jatuh ke tangan pendekar berhati licik. Bukankah bu
lim akan kacau?"
"Betul."
"Menurut pendapatku, lebih baik kau simpan
saja kitab ajaib itu. Bukankah lebih aman?"
Pek Giok Liong berpikir sesaat, kemudian
mengangguk.
"Baiklah," ujarnya dan mengalihkan
pembicaraan. "Kak misan, tadi engkau menyinggung Ekspedisi Yang Wie.
Apakah Cit Ciat Sin Kun berada di ekspedisi itu?"
"Benar." Se Pit Han mengangguk. "Aku telah
memperoleh informasi yang dapat dipercaya, bahwa Cit Ciat Sin Kun
memasuki ekspedisi Yang Wie, hingga saat ini dia belum keluar."
Seketika juga Pek Giok Liong tampak
bersemangat.
"Sudahkah kak misan mengutus orang untuk
mengawasinya?"
"Ng!" Se Pit Han mengangguk.
Mendadak Pek Giok Liong bangkit berdiri.
"Kak misan, mari kita pergi!" ujarnya.
"Mau ke mana?" tanya Se Pit Han tidak
beranjak sama sekali.
"Ke Kota Teng Hong!"
"Mau apa ke sana?"
"Eh?" Pek Giok Liong mengernyitkan kening.
"Kak misan sudah tahu, kok masih bertanya?"
"Adik Liong!" Se Pit Han tersenyum.
"Duduklah! Jangan terburu nafsu!"
Pek Giok Liong duduk kembali, mulutnya
membungkam dengan mata terus menatap Se Pit Han tanpa berkedip.
"Lho?" Wajah Se Pit Han kemerah-merahan.
"Kenapa engkau terus menerus menatapku begitu? Kepalaku tumbuh
tanduk ya?"
"Aku ingin tahu, kenapa engkau sudah tahu
tapi masih bertanya?" ujar Pek Giok Liong. "Bolehkah aku tahu sebab
musababnya?"
"Jadi engkau tidak tahu?"
"Aku sangat bodoh, lebih baik Kak misan
jelaskan!"
"Adik Liong, engkau ingin ke sana dengan
maksud menyelidiki ekspedisi Yang Wie kan?"
"Bukan menyelidiki, melainkan secara
terang-terangan."
"Kalau begitu, apakah engkau sudah siap
menemui mereka secara terang-terangan?"
"Bukan menemui, melainkan mengunjungi."
"Apakah kunjunganmu dengan cara bu lim?"
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk. "Apakah itu
tidak baik?"
"Itu memang baik, tapi ……" Se Pit Han
menatapnya. "Apakah engkau ingin langsung mengunjungi Cit Ciat Sin
Kun?"
"Aku akan mengunjungi pemilik ekspedisi itu,
kemudian ……"
"Kunjungan itu memang baik," potong Se Pit
Han sambil tersenyum. "Tapi kini pemilik ekspedisi itu sudah bukan
Sia Houw Kian Nguan lagi."
"Apa?" Pek Giok Liong terkejut. "Sia Houw
Kian Nguan sudah di bunuh Cit Ciat Sin Kun?"
"Adik Liong!" Se Pit Han
menggeleng-gelengkan kepala. "Jangan terlampau emosi!"
"Maksud Kak misan?"
"Sia Houw Kian Nguan masih hidup, Cit Ciat
Sin Kun sama sekali tidak membunuhnya."
"Kalau begitu, dia berada di mana sekarang?
Apakah masih berada di ekspedisi Yang Wie?"
"Setengah tahun yang lalu, dia pergi ke Kota
Kim Ling."
"Mau apa dia ke sana?"
"Untuk memimpin ekspedisi yang di Kota itu."
"Ekspedisi yang mana?"
"Ekspedisi Kim Ling."
"Oh?" Pek Giok Liong mengernyitkan kening.
"Apakah informasi itu dapat dipercaya?"
"Dapat dipercaya sepenuhnya."
"Diakah yang membuka ekspedisi itu?"
"Tentang itu, aku kurang jelas."
Pek Giok Liong berpikir lama sekali, setelah
itu ia bertanya.
"Apakah Kak misan tahu siapa yang menjadi
kepala pemimpin ekspedisi Yang Wie sekarang?"
"Aku dengar yang menggantikan Sia Houw Kian
Nguan adalah Thiat Jiau Kou Hun (Cakar besi pembetot sukma) Song
Yauw Tong, penjahat besar dari kwan gwa (Luar perbatasan).
"Kalau begitu, secara tidak langsung dia
pemilik ekspedisi itu!"
"Sebenarnya, pemilik ekspedisi Yang Wie
tetap Sia Houw Kian Nguan."
"Heran? Kenapa dia malah pindah ke Kota Kim
Ling untuk memimpin ekspedisi di sana?" Pek Giok Liong tidak habis
berpikir.
"Hanya ada satu kemungkinan."
"Kemungkinan apa?"
"Dia berada dalam pandangan Cit Ciat Sin
Kun, sehingga terpilih." Se Pit Han menjelaskan. "Maka Cit Ciat Sin
Kun memerintahkan agar dia ke ekspedisi Kim Ling. Walau dia tahu
maksud tujuan Cit Ciat Sin Kun, namun terpaksa harus menuruti
perintah itu."
"Kalau begitu, dia pasti tertekan oleh Cit
Ciat Sin Kun!"
"Mungkin dan masuk akal."
"Kalau begitu masalahnya, Sia Houw Kian
Nguan termasuk orang yang takut mati!" Pek Giok Liong
menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak juga. Mungkin dia punya kesulitan."
"Kesulitan apa?"
"Sia Houw Kian Nguan punya anak istri.
Ketika dia berangkat ke Kota Kim Ling, anak istrinya tidak ikut,
juga tidak berada di ekspedisi Yang Wie."
"Oh? Kalau begitu, apakah anak istrinya
telah disandera oleh Cit Ciat Sin Kun?"
"Sia Houw Kian Nguan adalah pendekar sejati,
dia lebih mau mati dari pada harus menuruti perintah itu. Namun demi
keselamatan anak istrinya, maka dia terpaksa menunduk."
"Nah! Bolehkah aku pergi mengunjungi Thiat
Jiau Kou Hun Song Yauw Tong?" tanya Pek Giok Liong mendadak.
"Percuma."
"Kenapa percuma?"
"Engkau tidak akan dapat menemuinya."
"Tentunya aku punya akal untuk menemuinya."
"Apa akalnya?"
"Itu rahasia, tidak boleh dibocorkan."
"Adik Liong!" Se Pit Han menatapnya. "Engkau
punya akal apa, lebih baik beberkan! Setelah itu, barulah engkau
melaksanakannya."
"Baiklah." Pek Giok Liong mengangguk. "Aku
akan menyamar sebagai pedagang, lalu menemuinya untuk membicarakan
soal pengiriman barang. Bagaimana menurut pendapat kak misan
mengenai akalku ini?"
"Cukup baik, tapi dia tetap tidak akan
menemuimu."
"Itu urusan bisnis, bagaimana mungkin dia
tidak akan menerima kehadiranku?"
"Itu tidak salah. Tapi ekspedisi Yang Wie
yang sekarang ini tidak seperti yang dulu lagi. Meskipun engkau
pergi membicarakan soal pengiriman barang, namun belum tentu Thian
Jiau Kou Hun Song Yauw Tong akan menemuimu."
"Lho? Kenapa?"
"Mungkin dia akan menyuruh wakilnya untuk
menemuimu."
"Tapi tidak akan mengatakan ingin bertemu
langsung dengan Song Yauw Tong."
"Itu tidak mungkin."
"Kalau begitu, bagaimana menurut pendapat
kak misan?"
"Engkau sudi kalau kuatur?"
"Kak misan akan mengatur bagaimana?"
"Adik Liong ……" Se Pit Han tersenyum. "Akan
kuberitahukan nanti, yang penting sekarang engkau setuju apa tidak
kuatur?"
"Baiklah, aku setuju."
"Tapi engkau masih harus mengabulkan satu
syaratku!"
"Katakanlah!"
"Setelah memasuki ekspedisi Yang Wie dan
bertemu Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong, engkau tidak boleh
bertindak berdasarkan emosi. Bagaimana?"
"Baiklah!" Pek Giok Liong mengangguk. "Aku
menurut."
-- o --
Hari ini, tampak lima orang menunggang kuda
berhenti di depan ekspedisi Yang Wie.
Orang yang pertama merupakan seorang pemuda
berwajah agak pucat, namun sikapnya angkuh sekali. Kuda yang
ditunggangnya berbulu putih seperti salju, kuda jempolan dari kwan
gwa.
Di belakang pemuda berwajah pucat, tampak
pula empat orang berusia tiga puluhan. Keempat orang itu menunggang
kuda berbulu hitam mengkilap.
Pemuda wajah pucat dan keempat orang itu
melompat turun. Setelah menambatkan kuda masing-masing, mereka
berlima lalu menuju ke ekspedisi Yang Wie.
Di depan pintu ekspedisi Yang Wie, berdiri
empat lelaki berbaju hitam. Ketika melihat kedatangan mereka, salah
seorang lelaki berbaju hitam itu pun membentak.
"Harap berhenti!"
Mereka berhenti. Pemuda berwajah pucat lalu
memandang laki-laki yang membentak itu seraya berkata.
"Ada urusan apa?"
"Engkau usaha apa?" tanya lelaki itu.
Pemuda wajah pucat tertawa, ia memandang
dirinya sendiri, lalu balik bertanya dengan nada dingin.
"Engkau lihat aku seperti orang usaha apa?"
Lelaki itu menatap pemuda wajah pucat dengan
penuh perhatian, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau tidak bilang, bagaimana mungkin aku
tahu?" sahutnya.
"Kalau begitu, akan kuberitahukan, aku ke
mari mau mencari orang!"
"Siapa yang kau cari?"
"Siapa pemimpin kalian disini?"
Lelaki itu tersentak, lalu memandang pemuda
wajah pucat dengan mata terbelalak.
"Engkau ke mari mencari pemimpin kami?"
"Tidak salah. Aku ke mari khususnya untuk
mencari pemimpin kalian itu!"
"Apakah engkau kenal pemimpin kami?"
"Belum pernah bertemu."
"Oh?" Lelaki itu mengernyitkan kening.
"Kalau begitu, bolehkah aku tahu margamu?"
"Aku marga Lie!"
"Ada urusan apa engkau mencari pemimpin
kami?"
"Percuma aku beritahukan padamu, lebih baik
engkau ke dalam dan melapor!"
"Maaf!" ucap lelaki itu. "Kalau engkau tidak
memberitahukan maksud tujuanmu, aku tidak bisa melapor."
Pemuda wajah pucat menoleh ke belakang pada
orang berbaju hijau, lalu ujarnya dengan suara dalam.
"Beritahukanlah padanya!"
"Ya," sahut orang berbaju hijau sambil
menjura, setelah itu ia mendekati lelaki penjaga pintu tersebut,
lalu memperlihatkan suatu benda sambil tertawa dingin. "Sobat,
engkau pernah melihat benda ini?"
Lelaki itu tertegun, lalu memperhatikan
benda yang ada di tangan orang berbaju hijau.
"Apa itu?" tanyanya.
"Engkau tidak kenal benda ini?" Orang. baju
hijau tertawa dingin lagi.
"Tidak kenal. Lelaki itu menggelengkan
kepala.
"Ini tanda pengenal pengawal khusus
kerajaan. Sungguhkah engkau tidak kenal?" Orang berbaju hijau
menatapnya tajam.
"Hah?" lelaki itu terperanjat. "Kalau
begitu, Anda adalah ……"
"Pengawal khusus istana," sahut orang
berbaju hijau dingin.
"Oh?" Lelaki itu lalu memandang pemuda
berwajah pucat. "Tuan muda ini ……?"
"Dia pangeran." Orang berbaju hijau
memberitahukan. "Kini engkau sudah tahu kan?"
"Haah ……" Lelaki itu terkejut bukan main.
Ternyata ia berhadapan dengan pangeran, cepat-cepat ia memberi
hormat. "Hamba menghadap Pangeran, karena hamba tidak tahu kehadiran
Pangeran, maka tadi telah berlaku kasar, mohon Pangeran mengampuni
hamba!"
Pemuda berwajah pucat mengibaskan tangannya,
dan memandang lelaki itu seraya berkata. "Engkau tidak tahu maka
tidak bersalah. Aku mengampunimu."
"Terimakasih, Pangeran!" ucap lelaki itu
sambil menarik nafas lega.
"The Yong Sun! Kini engkau boleh ke dalam
melapor!" bentak orang berbaju hijau itu dengan dingin.
"Ya! Ya! Hamba segera ke dalam melapor!" The
Yong Sung langsung berlari ke dalam untuk melapor.
Tak seberapa lama kemudian, tampak beberapa
orang ekspedisi Yang Wie berhambur ke luar.
Salah seorang berusia lima puluhan, berbadan
tinggi besar dan sepasang matanya bersinar tajam, namun kelihatan
licik.
Siapa orang itu? Tidak lain Thian Jiau Kou
Hun Song Yauw Tong, penjahat besar dari kwan gwa.
"Hamba Song Yauw Tong memberi hormat pada
Pangeran!" ucap Thiat Jiau Kou Hun sambil menjura pada pemuda wajah
pucat. "Karena tidak tahu kedatangan Pangeran, maka tidak menyambut
dengan meriah."
"Tidak perlu sungkan-sungkan, Song Yauw
Tong!" sahut pemuda wajah pucat. "Aku ke mari karena ada sedikit
urusan."
"Urusan apa, harap Pangeran memberitahukan
pada hamba!" ucap Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong dan menambahkan.
"Silakan masuk, Pangeran!"
"Jalan duluan!" Ujar pemuda wajah pucat.
"Hamba terima perintah!" Thiat Jiau Kou Hun
Song Yauw Tong menjura, lalu melangkah ke dalam.
Pemuda wajah pucat dan keempat pengawalnya
mengikuti dari belakang. Ketika sampai di pintu ruang, dua orang
berbaju hijau berhenti lalu berdiri di luar pintu itu. Sedangkan dua
orang berbaju hijau lainnya mengikuti pemuda berwajah pucat memasuki
ruang tersebut.
"Kalian semua harus berdiri di sini!" ujar
dua orang berbaju hijau yang berdiri dekat pintu pada orang-orang
ekspedisi Yang Wie. "Kalian semua di larang masuk!"
Orang-orang ekspedisi Yang Wie tercengang,
namun mereka menurut berdiri dekat kedua orang berbaju hijau itu.
"Silakan duduk, Pangeran!" ucap Thiat Jiau
Kou Hun Song Yauw Tong hormat.
Pemuda berwajah pucat duduk, kedua
pengawalnya berdiri di belakangnya. Pemuda berwajah pucat memandang
Song Yauw Tong sambil tersenyum.
"Engkau boleh duduk!" katanya.
"Hamba tidak berani," sahut Thiat Jiau Kou
Hun Song Yauw Tong, si Cakar Besi Pembetot Sukma.
"Duduklah!" desak pemuda berwajah pucat.
"Aku ingin bicara denganmu!"
"Ya." Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong
menjura, lalu duduk di hadapan pemuda berwajah pucat itu. "Maaf,
Pangeran menghendaki hamba mengerjakan apa?"
"Ada suatu barang yang harus segera diantar
ke ibu kota, maka merepotkanmu untuk melindungi barang itu ke sana."
"Ya, ya." Hamba merasa bangga sekali."
"Berapa biayanya, aku pasti bayar, tapi ……"
Pemuda berwajah pucat memberi isyarat pada salah seorang
pengawalnya.
Pengawal itu segera menaruh sebuah kotak
besi ke atas meja.
"Barang yang ada di dalam kotak. besi itu
merupakan barang yang amat berharga, maka harus engkau yang turun
tangan melindungi kotak besi itu. Jangan sampai di rampok di tengah
jalan, kalau kotak besi itu dirampok ……" ujar pemuda berwajah pucat
dengan serius sambil memandang kotak besi tersebut.
Tersentak hati Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw
Tong, kemudian ujarnya dengan hati-hati sekali.
"Pangeran berkata begitu, apakah sudah
menerima berita bahwa ada orang bu lim ingin merebut kotak besi
itu?"
"Apakah engkau takut?"
Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong
mengernyitkan kening, tampaknya tersinggung oleh ucapan pemuda wajah
pucat itu.
"Pangeran, hamba sudah tiga puluh tahun
lebih malang melintang di kwan gwa. Selama itu dan kini belum pernah
merasa takut terhadap siapa pun."
"Bagus." Pemuda berwajah pucat tertawa. "Aku
kagum padamu."
"Terimakasih atas pujian Pangeran!" ucap
Song Yauw Tong sambil tertawa gelak saking gembira. Kemudian ia pun
melanjutkan ucapannya, "Hamba tidak omong besar, tiada seorang bu
lim pun berani mengusik ekspedisi Yang Wie."
"Sungguh?" tanya pemuda berwajah pucat
kurang percaya.
"Kalau tidak sungguh, bagaimana mungkin
hamba berani mengatakannya?" jawab Song Yauw Tong.
"Kalau begitu, apakah kepandaianmu sudah
tiada tanding di kolong langit?" tanya pemuda berawajah pucat
mendadak.
"Pangeran, di atas gunung masih ada gunung.
Walau hamba berkepandaian tinggi, masih ada yang berkepandaian lebih
tinggi lagi."
"Kalau begitu, kenapa engkau yakin tiada
seorang bu lim pun berani mengusik ekspedisi Yang Wie ini?"
"Tentunya masih ada sebab lain."
"Masih ada sebab lain? Jelaskanlah!"
"Sesungguhnya hamba masih punya atasan."
"Oh?" Pemuda berwajah pucat menatapnya.
"Engkau masih punya atasan? Siapa atasanmu itu?"
"Pelindung ekspedisi Yang Wie ini!"
"Kalau begitu, dia adalah ……" Pemuda
berwajah pucat tersenyum. "…… dia adalah Sia Houw Kian Nguan?"
"Sia Houw Kian Nguan juga seperti hamba."
Song Yauw Tong memberitahukan sambil tertawa.
"Oh?" Pemuda berwajah pucat memandang Song
Yauw Tong. "Kalau begitu, pelindung ekspedisi Yang Wie ini
berkepandaian tinggi sekali?"
"Ya." Song Yauw Tong mengangguk.
"Siapa dia?"
"Maaf, Pangeran ……"
"Tidak leluasa engkau memberitahukan?"
"Ya."
"Kini Sia Houw Kian Nguan itu berada di
mana?"
"Di utus ke Kota Kim Ling."
"Sebagai pemimpin di sana?"
"Betul."
"Emmh!" Pemuda berwajah pucat
manggut-manggut: "Engkau cukup baik dan mau berterus terang, lain
kali kalau ada kesempatan, engkau boleh ke ibu kota menemuiku!"
"Terimakasih, Pangeran! Kalau punya
kesempatan, hamba pasti ke ibu kota mengunjungi Pangeran."
"Aku pasti menyambutmu sebagai teman."
Pemuda berwajah pucat tertawa, tentunya sangat menggembirakan Song
Yauw Tong.
"Terimakasih, Pangeran!" ucapnya.
"Ohya!" Pemuda berwajah pucat menatapnya
seraya bertanya. "Kapan engkau akan berangkat?"
"Paling lambat besok sore."
"Besok sore?" Pemuda berwajah pucat
mengernyitkan kening. "Kenapa harus menunggu sampai besok sore.
Apakah tidak bisa lebih cepat?"
"Karena hamba yang mengantar, maka harus
melapor pada pelindung ekspedisi Yang Wie ini!"
"Harus melapor?"
"Ya."
"Pelindung itu tidak berada di sini?"
"Dia tidak tinggal di sini, tapi kebetulan
ada sedikit urusan, maka dia ke mari."
"Dia tinggal di mana?"
"Di belakang ekspedisi Yang Wie ini."
"Kalau begitu, bukankah sekarang engkau
boleh pergi melapor, tidak usah tunggu sampai besok sore kan?"
"Dia tidak ada sekarang."
"Dia sudah pergi?"
"Pagi ini dia pergi."
"Engkau tahu kapan dia pulang?"
"Tidak dapat dipastikan," jawab Song Yauw
Tong jujur. "Mungkin malam, mungkin juga subuh."
"Kalau besok dia tidak pulang, berarti besok
sore engkau tidak bisa berangkat kan?"
"Dia tidak akan pulang esok."
"Aku bilang seandainya."
"Harap Pangeran tenang, kalau pun dia tidak
pulang malam ini, besok sore hamba pasti berangkat."
"Kalau begitu ……" Pemuda berwajah pucat
manggut-manggut sambil tersenyum. "Aku pun bisa berlega hati!"
"Pangeran memang tidak perlu cemas." Song
Yauw Tong tertawa.
"Baiklah." Pemuda berwajah pucat berdiri.
"Aku mau pergi, engkau harus berhati-hati dalam perjalananmu besok
sore!"
"Ya." Song Yauw Tong mengangguk sambil
memberi hormat.
-- o --
(Bersambung bagian 49)
Bagian ke 49. Lereng Gunung Lima Harimau
Sore ini, tampak tujuh orang menunggang kuda
ke luar dari ekspedisi Yang Wie. Salah seorang dari mereka berbadan
tinggi besar berusia lima puluhan, yakni Thiat Jiau Kou Hun Song
Yauw Tong. Sedangkan enam orang lainnya adalah pengawal pilihan
ekspedisi. Tampak pula sebuah bungkusan kecil terikat pada punggung
kuda Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong.
Bungkusan yang diikat pada punggung Thiat
Jiau Kou Hun Song Yauw Tong itu adalah sebuah kotak besi, barang
kiriman untuk ke ibu kota dari pemuda berwajah pucat yang menyebut
dirinya pangeran.
Malam harinya setelah pangeran itu pergi,
Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong dan beberapa orang pengawal itu
berhasrat sekali membuka kotak besi untuk melihat barang yang ada di
dalamnya. Namun karena barang itu kiriman pangeran, akhirnya mereka
pun tidak berani membukanya.
Sementara ketujuh ekor kuda itu terus
berlari kencang, melewati kaki gunung Song menuju ke Ho Pak dan
langsung menuju ibu kota.
Song San merupakan tempat yang amat
terkenal, karena di gunung itu berdiri sebuah vihara, yakni vihara
Siau Lim, tentunya di daerah itu sangat aman.
Perlu diketahui, partai Siau Lim merupakan
kepala dari cit pay (Tujuh partai besar) it pang (Satu perkumpulan),
yakni Kay Pang.
Oleh karena itu, siapa yang berani membuat
kasus di daerah tersebut? Bukankah akan menjadi musuh cit pay it
pang?
Justru sungguh di luar dugaan, di tempat
yang amat aman ini telah terjadi sesuatu. Ketika Thiat Jiau Kou Hun
Song Yauw Tong dan enam anak buahnya melewati lereng gunung Lima
Harimau, mendadak muncul lima orang tua berjubah abu-abu menghadang
mereka.
Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong segera
mengeluarkan lambang ekspedisi Yang Wie, bahkan menyebut nama dan
julukannya. Namun kelima orang tua berjubah abu-abu sama sekali
tidak bergeming.
Apa boleh buat! Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw
Tong dan enam anak buahnya terpaksa turun tangan. Akan tetapi,
sungguh mengejutkan, hanya dalam tiga jurus, mereka bertujuh sudah
tertotok jalan darah masing-masing, sehingga tidak bisa bergerak.
Setelah itu, kelima orang tua berjubah
abu-abu tersebut membawa mereka ke Gunung Lima Harimau.
Seorang pemuda tampan berdiri di situ,
sepasang matanya bersinar-sinar. Siapa dia? Tidak lain Pek Giok
Liong. Di sampingnya berdiri Thian Kang Sing Wie Kauw dan Pat Kiam.
Lalu siapa kelima orang tua berjubah abu-abu
itu? Tentunya adalah Thian Koh Siang Ma Hun dan Si Kim Kong. Mereka
melempar tujuh orang itu ke bawah, lalu menjura pada Pek Giok Liong.
"Teecu berlima telah melaksanakan tugas
dengan baik." ucap Thian Koh Sing Ma Hun.
"Terimakasih!" sahut Pek Giok Liong. "Jadi
mereka cuma bertujuh?"
"Ya." Thian Koh Sing Ma Hun mengangguk.
"Mereka cuma bertujuh."
"Ma Hun, buka jalan darah Song Yauw Tong!"
Ujar Pek Giok Liong.
Thian Koh Siang Ma Hun segera membuka jalan
darah Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong. Laki-laki setengah baya itu
langsung bangkit berdiri lalu memandang Pek Giok Liong dan Thian Koh
Siang Ma Hun seraya bertanya.
"Kenapa aku di bawa ke mari?"
"Aku cuma melaksanakan perintah," sahut
Thian Koh Siang Ma Hun.
"Perintah dari siapa?" tanya Song Yauw Tong.
"Perintah dariku." sela Pek Giok Liong. "Aku
ingin bicara denganmu!"
"Maaf!" Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong
menatapnya. "Siapa Anda?"
Pek Giok Liong tersenyum. "Kemarin kita
bertemu, kok engkau sudah lupa sekarang?" jawabnya kemudian.
"Apa?" Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong
tertegun. "Kemarin kita bertemu?"
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk. "Bahkan
kita pun mengobrol cukup lama. Tentunya engkau belum lupa kan?"
Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong
tercengang. Ia menatap Pek Giok Liong dengan penuh perhatian dan
mendadak hatinya tergerak. Namun ketika ia baru mau membuka mulut,
Pek Giok Liong telah mendahuluinya.
"Kemarin aku mengunjungi ekspedisi Yang Wie
……" Pek Giok Liong tersenyum dan melanjutkan, "Ingatkah kau
sekarang?"
"Ooh! Jadi Anda Pangeran itu?"
"Tidak salah, dia memang aku!"
"Kalau begitu, Anda bukan seorang Pangeran?"
"Seandainya aku seorang Pangeran, bagaimana
mungkin berada di sini, dan mengutus beberapa orang untuk meringkus
kalian?"
"Aku mau bertanya ……"
"Tanyalah!"
"Dari mana anak buahmu memperoleh tanda
pengenal khusus istana?"
"Kini aku pula yang bertanya, pernahkah
engkau melihat tanda pengenal itu?" Pek Giok Liong balik bertanya
sambil tertawa.
"Tidak pernah."
"Kalau engkau tidak pernah melihat tanda
pengenal itu, maka engkau pun harus mengerti!"
"Apakah tanda pengenal itu palsu?"
"Engkau sudah banyak bertanya." Pek Giok
Liong tersenyum hambar.
"Anda sungguh bernyali, berani memalsukan
tanda pengenal istana! Hukumannya ……"
"Kemarin engkau cuma merupakan seorang
hamba, lagi pula engkau sendiri yang mengaku sebagai hamba, kan?"
Wajah Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong
langsung memerah.
"Kenapa Anda menyamar sebagai pangeran?
Kenapa Anda berbuat begitu?" tanyanya.
"Kalau aku tidak menyamar sebagai pangeran
dan tidak berbuat begitu, apakah engkau mau menemuiku dan mengantar
kotak besi itu?"
"Sungguhkah Anda menghendaki aku mengantar
kotak besi ini ke ibu kota?" tanya Song Yauw Tong sambil menatapnya.
"Tentu tidak."
"Kalau begitu, apa maksud tujuan Anda?"
"Agar engkau ke luar dari ekspedisi Yang
Wie."
Kening Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong
berkerut, lalu menatap Pek Giok Liong tajam.
"Ini karena apa?"
"Ingin bicara denganmu."
"Bukankah kemarin bisa bicara di dalam
ekspedisi Yang Wie?"
"Itu tidak leluasa."
"Ohya! Siapakah Anda sebenarnya?"
"Kupikir engkau sudah dapat menduga."
"Aku …… sangat bodoh, tidak bisa menduga
siapa Anda."
"Cobalah engkau terka!"
"Otakku tumpul, tidak bisa menerka, lebih
baik Anda yang memberitahukan!"
"Baiklah." Pek Giok Liong manggut-manggut.
"Aku marga Pek, namaku Pek Giok Liong."
"Apa?" Wajah Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw
Tong langsung memucat. "Engkau Pek Giok Liong?"
"Tidak salah." Pek Giok Liong tersenyum.
"Kini engkau sudah tahu siapa aku. Apakah engkau masih bersedia
mengobrol sejenak denganku?"
"Engkau ingin membicarakan orang?"
"Mengenai orang yang melindungi ekspedisi
Yang Wie."
"Oh? Apakah engkau ingin tahu siapa dia?"
"Aku sudah tahu. Kalau tidak, untuk apa
membicarakannya." Pek Giok Liong tersenyum.
"Haruskah membicarakannya?"
"Memang harus."
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Mau tidak mau harus mau."
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Song Yauw Tong!" Pek Giok Liong tertawa.
"Sudah lama engkau berkecimpung di kang ouw, maka engkau pun pasti
tahu keadaan di depan matamu ini!"
"Memangnya kenapa?"
"Hanya ada satu jalan bagimu!"
"Apa?" Song Yauw Tong tersentak. "Jalan
kematian?"
"Dugaanmu itu meleset!" Pek Giok Liong
tersenyum.
"Oh?" Song Yauw Tong tertegun. "Apakah
dugaanku meleset?"
"Memang meleset." Pek Giok Liong tersenyum.
"Lalu ……" Song Yauw Tong menatapnya bingung.
"…… mau kau apakan diriku?"
"Tidak akan kuapa-apakan. Engkau tidak perlu
cemas, hanya saja aku menghendakimu memberitahukan semuanya."
"Anda kira aku akan memberitahukan?"
"Aku punya akal untuk membuatmu membuka
mulut memberitahukan!"
"Akal apa?"
"Song Yauw Tong!" Pek Giok Liong tersenyum
serius sambil menatapnya tajam. "Pernahkah engkau dengar ilmu Ban Ih
Cang Sim (Ribuan semut menggerogoti hati)?"
"Apa?" Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong
tersentak. "Engkau ingin menghadapi dengan ilmu itu?"
"Maaf! Demi keselamatan bu lim di kolong
langit, aku terpaksa menggunakan ilmu tersebut menghadapimu, agar
engkau mau menceritakan semuanya!"
"Hmm!" dengus Song Yauw Tong dingin. "Kau
kira aku akan takluk terhadap ilmu itu?"
Pek Giok Liong tersenyum hambar, ia menatap
Song Yauw Tong dalam-dalam seraya berkata.
"Aku tahu engkau seorang pendekar dari kwan
gwa, mungkin cara itu tidak akan membuatmu takluk. Tapi ……"
"Kenapa?" tanya Song Yauw Tong dingin.
"Walau engkau bukan pendekar dari golongan
putih, namun aku yakin engkau masih memiliki hati yang bijak. Oleh
karena itu, aku harap engkau jangan mendesakku sampai bertindak di
luar batas terhadapmu ……"
"Hm!" dengus Song Yauw Tong dingin, dan
menatap Pek Giok Liong tajam. "Pokoknya hatiku tidak akan tergerak
oleh omongan manismu."
"Aku bicara sungguh-sungguh berdasarkan
suara hati!"
"Aku tidak percaya!"
"Song Yauw Tong!" Pek Giok Liong
mengernyitkan kening. "Aku masih menghargai dirimu sebagai seorang
pendekar, maka aku ……"
"Engkau mengatakan demi keselamatan bu lim.
Aku bertanya, bagaimana penjelasan mengenai perkataanmu itu?"
"Aku punya bukti dan itu memang merupakan
kenyataan."
"Aku bertanya tentang ucapanmu tadi!"
"Song Yauw Tong! Lebih baik engkau menjawab
beberapa pertanyaanku!"
"Sebetulnya engkau mau bertanya tentang
apa?"
"Apakah pelindung ekspedisi Yang Wie adalah
Cit Ciat Sin Kun?" Pek Giok Liong mulai bertanya.
"Tidak salah!" Song Yauw Tong mengangguk,
kemudian tanyanya, "Engkau sudah tahu kok masih bertanya?"
"Apakah sekarang dia masih berada di
ekspedisi Yang Wie?"
"Seharusnya masih berada di ekspedisi itu!"
"Kemarin ketika aku berkunjung ke sana,
benarkah dia tidak ada?"
"Aku tidak pernah bohong."
Pek Giok Liong mengernyitkan kening sambil
berpikir, setelah itu ia menatap Song Yauw Tong seraya bertanya.
"Benarkah di gedung ekspedisi Yang Wie
terdapat jalan rahasia?"
"Entahlah!" Song Yauw Tong menggelengkan
kepala. "Kelihatannya tidak ada, kalau ada, aku pasti tahu."
"Ini justru sangat mengherankan."
"Apa yang mengherankan?"
"Sejak Cit Ciat Sin Kun memasuki ekspedisi
Yang Wie, para murid partai kami terus menerus mengawasi ekspedisi
Yang Wie. Hingga kemarin aku berkunjung ke sana, para murid partai
kami sama sekali tidak melihat dia ke luar. Padahal sesungguhnya dia
sudah ke luar, entah dia melalui mana?"
"Maka engkau anggap ada jalan rahasia di
sana?"
"Betul." Pek Giok Liong mengangguk. "Kalau
dia tidak ke luar melalui jalan rahasia, tentunya para murid partai
kami mengetahuinya."
"Jangan-jangan para murid partaimu itu tak
berguna!" ujar Song Yauw Tong sambil tertawa.
"Mungkin mereka tak berguna, namun aku
percaya mereka tidak akan melalaikan tugas."
"Apakah engkau begitu percaya terhadap para
murid partaimu itu?"
"Ya."
"Kalau begitu, aku ingin bertanya."
"Silakan!"
"Kalian dari partai mana?"
"Seng Sim Bun (Partai Hati Suci)."
"Partai Hati Suci?" Air muka Thiat Jiau Kou
Hun Song Yauw Tong tampak berubah. "Heran, aku tidak pernah dengar
partaimu itu."
"Sekarang baru tahu juga tidak terlambat
kan?" Pek Giok Liong tersenyum, kemudian bertanya, "Pernahkah engkau
mendengar Jit Goat Seng Sim Ki?"
"Pernah." Song Yauw Tong mengangguk. "Jadi
partai Hati Suci berasal dari Panji Hati Suci Matahari Bulan?"
"Benar."
"Apakah ketua partai tersebut adalah orang
yang memegang Panji Hati Suci Matahari Bulan itu?"
"Tidak salah."
Sungguh mengherankan, mendadak sepasang mata
Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong berbinar-binar.
"Mohon tanya di mana ketua itu?"
"Dia berada di hadapanmu."
"Oh?" Song Yauw Tong memandang Pek Giok
Liong, lalu menjura dengan hormat. "Maaf, aku tadi telah berlaku
tidak sopan!"
"Tidak apa-apa." Pek Giok Liong tersenyum.
"Engkau tidak usah sungkan-sungkan dan banyak peradaban! Karena aku
tadi berlaku kasar padamu, aku pun minta maaf!"
"Ketua jangan membuat aku jadi malu!"
"Ohya! Aku harap engkau bersedia
memberitahukan semua itu, agar tidak ……"
"Aku pasti memberitahukan, tapi ……" Song
Yauw Tong memandang Pek Giok Liong. "Aku. punya satu permohonan,
harap Ketua mengabulkannya!"
"Apa permohonanmu, beritahukanlah!"
"Mohon Ketua memperlihatkan panji itu!" ujar
Song Yauw Tong. "Aku ingin menyaksikannya."
"Ingin menyaksikan panji itu ataukah ……" Pek
Giok Liong menatapnya tajam. "…… ada suatu maksud lain?"
Wajah Song Yauw Tong kemerah-merahan,
kemudian menundukkan kepala seraya berkata.
"Aku memang punya maksud tertentu."
Hati Pek Giok Liong tergerak, lalu tersenyum
sambil merogoh ke dalam bajunya. Ia mengeluarkan panji tersebut dan
berkata sungguh-sungguh.
"Ini Panji Hati Suci Matahari Bulan, silakan
menyaksikannya!"
Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong
memperhatikan panji itu, setelah itu mendadak ia berlutut.
"Teecu Song Yauw Tong menghadap panji dan
memberi hormat pada ketua!" ucapnya.
Pek Giok Liong menyimpan kembali panji itu
ke dalam bajunya, lalu ia menatap Song Yauw Tong.
"Silakan bangun!" katanya.
"Terimakasih, Ketua!" Song Yauw Tong segera
bangkit berdiri.
"Song Yauw Tong, apakah ada hubungan engkau
dengan Jit Goat Seng Sim Ki?" tanya Pek Giok Liong.
"Guru teecu meninggalkan amanat, asal Jit
Goat Seng Sim Ki muncul, teecu harus bergabung dan sekaligus
mengabdi pada panji itu."
"Oh? Siapa gurumu?"
"Teecu tidak tahu, sebab guru teecu tidak
pernah memberitahukan."
"Oh?"
"Tapi sebelum guru menghembuskan nafas
penghabisan, teecu diberikan semacam tanda pengenal, agar kelak
diserahkan pada ketua panji."
Song Yauw Tong mengeluarkan sebuah tanda
pengenal yang terbuat dari batu giok, lalu diserahkannya pada Pek
Giok Liong dengan hormat.
Pek Giok Liong menerima tanda pengenal itu
lalu diperiksanya. Sepasang matanyapun tampak berbinar-binar.
"Ternyata gurumu salah satu Siang Ciang
(Sepasang jenderal) yang di sisi kiri kanan generasi keempat
pemegang panji ini, dan engkau murid Yu Ciang Kun (Jenderal kiri)
Yam Ban Seng."
"Oh?" Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong
tampak gembira sekali.
"Song Yauw Tong!" panggil Pek Giok Liong.
"Teecu siap terima perintah!" Song Yauw Tong
menjura.
"Bersediakah engkau meneruskan kedudukan
mendiang gurumu itu?" tanya Pek Giok Liong serius.
"Teecu bersedia."
"Kalau begitu ……" Pek Giok Liong
mengembalikan tanda pengenal itu pada Song Yauw Tong seraya berkata,
"Mulai saat ini, engkau adalah jenderal kiri dalam partai Hati
Suci."
"Terimakasih, Ketua!" Song Yauw Tong menjura
dengan hormat.
"Nah, sekarang engkau harus bicara
sejujurnya!" tegas Pek Giok Liong sambil memandangnya.
"Ya." Song Yauw Tong mengangguk. "Dugaan
Ketua memang tidak meleset. Di gedung ekspedisi Yang Wie terdapat
jalan rahasia."
"Masuk dari mana?"
"Di dalam bangunan yang ada di halaman
belakang bangunan besar ekspedisi itu." Song Yauw Tong
memberitahukan. "Tapi pintu ke luarnya malah ada lima."
"Semua jalan rahasia itu tembus di mana?"
"Yang paling dekat ada dua tempat, yakni
sebelah selatan tembus ke toko kain Yong Heng Kie, dan yang sebelah
utara tembus ke penjualan kuda."
"Ngmm!" Pek Giok Liong manggut-manggut.
"Siapa pun tidak akan menaruh perhatian pada kedua tempat itu. Tiga
jalan rahasia lainnya pasti menembus ke pinggir kota. Ya, kan?"
"Salah satu jalan rahasia itu tembus ke
pelabuhan."
"Oooh!" Pek Giok Liong manggut-manggut lagi.
"Dua jalan rahasia lagi justru sungguh di
luar dugaan tembusnya, karena yang satu menembus ke pekuburan di
pinggir kota, satu lagi menembus ke vihara Lian Hoa."
"Oh?" Pek Giok Liong tertawa. "Kelinci yang
pintar pun cuma punya tiga liang, sedangkan Cit Ciat Sin Kun malah
punya lima jalan rahasia! Itu sungguh di luar dugaan! Dia memang
cerdik dan licik!"
"Benar." Song Yauw Tong mengangguk.
"Benarkah vihara Lian Hoa di huni oleh para biarawati?" tanya Pek
Giok Liong.
"Ya." Song Yauw Tong mengangguk lagi. "Para
biarawati itu datang dari Istana Lemah Lembut."
"Kalau begitu, para biarawati itu bukan asli
biarawati vihara Lian Hoa?"
"Memang bukan."
"Ke mana para biarawati vihara Lian Hoa?"
"Sebetulnya di vihara itu terdapat tiga
biarawati, tapi sudah mati semua."
"Sudah mati semua," Pek Giok Liong mengerti
itu, tentunya telah dibunuh oleh anak buah Cit Ciat Sin Kun.
"Hm!" dengus Pek Giok Liong dingin. "Sungguh
kejam Cit Ciat Sin Kun itu, para biarawati yang tak berdosa pun
dibunuhnya!"
Song Yauw Tong diam saja.
"Tahukah engkau siapa Kim Tie itu?" tanya
Pek Giok Liong mendadak.
"Teecu tidak pernah melihat wajah aslinya."
"Engkau tahu dia berada di mana sekarang?"
"Mungkin dalam perjalanan menuju ke Ciang
Pek San (Gunung Ciang Pek)."
"Pergi cari gara-gara dengan partai Ciang
Pek?"
"Entahlah!" Song Yauw Tong menggelengkan
kepala. "Teecu tidak begitu jelas tentang itu."
"Kapan dia berangkat?"
"Semalam."
"Berapa orang yang menyertainya?"
"Empat pengawal khusus dan dua pemimpin
aula, bahkan ikut pula belasan orang yang berkepandaian tinggi. Jadi
semuanya berjumlah dua puluh orang."
Pek Giok Liong berpikir lama sekali, lalu
memandang Thian Koh Sing Ma Hun seraya berkata.
"Engkau segera kembali ke dalam kota, dan
sampaikan perintahku pada tiga pelindung pulau dan dua belas
pengawal, agar segera berangkat mengejar Kim Tie!"
"Hamba terima perintah!" Thian Koh Sing Ma
Hun menjura, lalu mengerahkan ginkangnya meninggalkan tempat itu.
Setelah Thian Koh Sing Ma Hun pergi, Pek
Giok Liong kembali mengarah pada Song Yauw Tong.
"Tahukah engkau, Siang Hiong Sam Kuai berada
di mana sekarang?"
"Siang Hiong berada di dalam ekspedisi Yang
Wie, sedangkan Sam Kuai pergi bersama Gin Tie." Song Yauw Tong
memberitahukan.
"Tu Ci Yen berada di mana sekarang?"
"Tu Ci Yen?" Song Yauw Tong tertegun. "Siapa
Tu Ci Yen?"
"Tu Ci Yen adalah Gin Tie. Apakah engkau
tidak tahu?" Pek Giok Liong heran.
"Teecu tidak tahu namanya. Sekarang dia
berada di Siau Keh Cung."
"Ada berapa orang yang bersamanya?"
"Kira-kira dua puluh orang."
"Masih ada berapa orang di ekspedisi Yang
Wie?"
"Kurang lebih empat puluh orang."
"Thiat Sat, Ti Ling dan Ngo Hok, mereka
bertiga berada di mana sekarang?"
"Ketiga pemimpin aula itu bertugas
melindungi Tay Tie Kiong (Istana Maha Raja)."
"Engkau pernah pergi ke Istana Maha Raja
itu?"
"Teecu justru pindahan dari Istana Maha Raja
itu."
"Kalau begitu, tentunya engkau tahu jelas
mengenai Istana Maha Raja itu?"
"Sebagian besar teecu tahu."
"Berarti masih ada sebagian kecil yang
engkau tidak tahu?"
"Ya." Song Yauw Tong mengangguk. "Yakni
mengenai tempat yang amat penting dan rahasia."
"Tempat apa itu?"
"Itu adalah kamar tidur Cit Ciat Sin Kun."
"Oooh!" Pek Giok Liong manggut-manggut. Ia
teringat sesuatu dan segera bertanya, "Engkau tahu Kian Kun Ie Siu
di kurung di mana?"
"Apakah dia orang tua buta itu?"
"Ya!" Pek Giok Liong memberitahukan. "Orang
tua itu adalah generasi keempat pemegang panji Jit Goat Seng Sim
Ki."
"Haah ……?" Song Yauw Tong terperanjat.
"Orang tua itu sudah meninggal."
"Apa?" Wajah Pek Giok Liong langsung
berubah. "Engkau bilang apa?"
"Orang tua itu sudah meninggal."
"Aaakh!" Pek Giok Liong menarik nafas
panjang. "Kapan orang tua itu meninggal?"
"Empat hari yang lalu, orang tua itu
mendadak membunuh diri."
"Haah? Aaakh ……" Wajah Pek Giok Liong
memucat.
"Orang tua itu terkena racun yang amat
ganas, namun Cit Ciat Sin Kun memberikannya Ban Ling Tan (Pil
mujarab) sebutir setiap hari, itu agar nafas orang tua tersebut
tidak putus. Orang tua itu tahu maksud tujuan Cit Ciat Sin Kun, maka
lalu membunuh diri dengan cara menggigit lidah sendiri. Sampai
putus."
"Hah ……" Pek Giok Liong menarik nafas
panjang, sesaat kemudian bertanya. "Jenazahnya di makamkan di mana?"
"Di gunung Kah Lan, di belakang Istana Tay
Tie."
"Ngmm!" Pek Giok Liong manggut-manggut.
"Ohya, sudah berapa lama engkau mengabdi pada Cit Ciat Sin Kun?"
"Tiga tahun."
"Waktu itu cukup lama, tentunya engkau tahu
bagaimana ambisinya, kan?"
"Ya!" Song Yauw Tong mengangguk. "Sudah lama
teecu tahu ambisinya."
"Kalau begitu, kenapa engkau masih mau
mengabdi padanya?"
Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong
menggeleng-gelengkan kepala, lalu menarik nafas panjang sambil
tersenyum getir.
"Walau teecu tahu tentang itu, namun
tertekan oleh keadaan, maka tidak bisa apa-apa ……"
"Tertekan oleh keadaan?" Pek Giok Liong
menatapnya. "Apakah dengan suatu cara dia mengendalikan dirimu?"
"Ya!" Song Yauw Tong mengangguk. "Teecu
punya seorang saudara angkat, sudah lama meninggal, anak istrinya
jatuh di tangan Cit Ciat Sin Kun, mereka dijadikan sandera."
"Kalau engkau tidak mengabdi padanya, maka
dia akan membunuh mereka?" tanya Pek Giok Liong.
"Ya." Song Yauw Tong menarik nafas panjang.
"Sebelum saudara angkat teecu itu mati, dia berpesan pada teecu agar
menjaga anak istrinya baik-baik. Demi keselamatan mereka ibu dan
anak, teecu terpaksa mengabdi pada Cit Ciat Sin Kun! Yaah! Apa boleh
buat!"
"Engkau tahu mereka di kurung di mana?"
"Di ruang belakang Istana Tay Tie."
"Engkau pernah melihat mereka?"
"Tiga bulan sekali, teecu diizinkan menengok
mereka."
"Oooh!" Pek Giok Liong manggut-manggut
sambil berpikir, tiba-tiba terlintas sesuatu dalam benaknya.
"Sementara ini siapa lagi yang berada di dalam istana selain tiga
pemimpin aula?"
"Belasan orang yang berkepandaian tinggi."
Song Yauw Tong memberitahukan. "Pemimpin mereka adalah Im Sih Siu
Cai (Pelajar akhirat) Ouw Mung Ceng."
"Bagaimana kepandaiannya dibandingkan dengan
Thian Sat Sin Kun?"
"Masih setingkat di atas kepandaian Thian
Sat."
"Memanfaatkan kesempatan di saat Cit Ciat
Sin Kun tidak berada di istana, aku perintahkan beberapa orang untuk
menolong mereka, bagaimana menurutmu?"
"Mungkin tidak bisa."
"Penjagaan di sana sangat ketat, sehingga
orang luar sulit menyelinap ke dalam?"
"Ya." Song Yauw Tong mengangguk dan
memberitahukan, "Ke luar masuk istana itu, harus memiliki tanda
pengenal, kalau tidak, sama sekali tidak bisa masuk."
"Engkau punya tanda pengenal itu?" tanya Pek
Giok Liong mendadak.
"Teecu memang dari sana, maka punya sebuah
tanda pengenal itu." Song Yauw Tong mengeluarkan tanda pengenal
tersebut yang terbuat dari perak, lalu diserahkan pada Pek Giok
Liong dengan hormat.
Pek Giok Liong menerima tanda pengenal itu,
lalu mengarah pada enam orang ekspedisi Yang Wie seraya bertanya.
"Mereka berenam juga memiliki tanda pengenal
untuk masuk istana?"
Song Yauw Tong mengangguk, lalu segera
merogoh ke dalam baju mereka. Setelah mengambil enam buah tanda
pengenal itu, ia pun langsung menyerahkannya pada Pek Giok Liong.
"Thian Kang Sing dan Pat Kiam dengar
perintah!" ujar Pek Giok Liong sesudah menerima enam buah tanda
pengenal itu.
"Teecu siap menerima perintah!" sahut Thian
Kang Sing Wie Kauw dan Pat Kiam serentak.
"Thian Koh Sing dan Pat Kiam harus segera
berangkat ke gunung Kah Lan dengan membawa tujuh buah tanda pengenal
ini, memasuki istana Tay Tie untuk menolong anak istri teman Song
Yauw Tong!"
"Ya!" sahut mereka serentak.
Pek Giok Liong memberikan tujuh buah tanda
pengenal itu pada Thian Kang Sing Wie Kauw.
"Lima orang masuk ke istana, empat orang
menjaga di luar!" pesan Pek Giok Liong. "Kalian semua harus
berhati-hati!"
"Ya!" sahut Thian Kang Sing Wie Kauw sambil
menerima tujuh buah tanda pengenal itu.
"Song Yauw Tong!" Pek Giok Liong menatapnya.
"Teecu siap menerima perintah!" Song Yauw
Tong segera memberi hormat.
"Engkau harus memberitahukan pada Thian Kang
dan Pat Kiam, bagaimana seluk beluk dan keadaan gunung Kah Lan. Baju
apa yang harus di pakai dan bagaimana bahasa kode serta isyarat yang
digunakan di sana?"
"Menurut teecu, itu …… amat membahayakan.
Harap Ketua pertimbangkan lagi!" ujar Song Yauw Tong.
"Maksudmu kekuatan mereka tidak cukup untuk
menolong anak istri temanmu itu?"
"Ya." Song Yauw Tong mengangguk. "Lebih baik
jangan menempuh bahaya!"
"Engkau boleh berlega hati!" Pek Giok Liong
tersenyum. "Asal Thian Sat Sin Kun bersedia membantu, tentunya tidak
ada masalah. Lagi pula kekuatan Thian Kang Sing dan Pat Kiam cukup
kuat, maka aku yakin mereka pasti bisa menolong anak istri temanmu
itu."
"Kalau mereka terjadi sesuatu di luar
dugaan, bukankah teecu ……"
"Aku tahu bagaimana perasaanmu. Kini engkau
sudah bergabung dengan kami, maka kami pun harus menolong anak istri
temanmu."
"Tapi ……"
"Nah! Sekarang engkau harus menjelaskan pada
mereka mengenai baju, bahasa kode dan isyarat di sana!" tegas Pek
Giok Liong.
"Ketua ……" Saking terharu, Song Yauw Tong
langsung berlutut. "Terimakasih Ketua, teecu harap bisa berangkat
bersama mereka!"
"Itu …… Baik juga, engkau bangunlah!"
"Terimakasih, Ketua!" Song Yauw Tong bangkit
berdiri.
"Ohya!" Pek Giok Liong teringat sesuatu,
maka langsung bertanya, "Apakah Engkau tahu tentang kejadian Ciok
Lau San Cung?"
"Tahu." Song Yauw Tong mengangguk dan
memberitahukan, "Itu adalah perbuatan Tu Ci Yen dan Siang Hiong Sam
Kuai atas perintah Cit Ciat Sin Kun."
"Hanya mereka berenam?"
"Masih ada tiga puluh orang yang
berkepandaian tinggi menyertai mereka berenam menyerbu Ciok Lau San
Cung di malam itu."
"Ngmm!" Pek Giok Liong manggut-manggut, lalu
mengarah pada enam orang yang masih tergeletak itu. "Keenam orang
itu sering membunuh?"
"Dua di antara mereka adalah teman baik
teecu, yang lain adalah penjahat dari golongan hitam. Mereka berhati
kejam dan sering membunuh?"
"Harus bagaimana membereskan kedua teman
baikmu itu?"
"Teecu akan bertanya pada mereka. Kalau
mereka mau bergabung dengan kita, maka teecu akan mohon pada Ketua
untuk mengampuni mereka berdua. Apabila mereka tidak mau bergabung,
teecu akan menyuruh mereka pulang ke kwan gwa. Bagaimana menurut
Ketua?"
"Baiklah." Pek Giok Liong mengangguk. "Lalu
bagaimana dengan yang empat itu?"
"Mohon pada Ketua, mereka jangan diberi
ampun!" jawab Song Yauw Tong. "Sebab sudah banyak orang mati di
tangan mereka."
"Aku tidak akan mengampuni mereka, bahkan
akan suruh mereka berempat menyampaikan masalah ini pada Cit Ciat
Sin Kun," ujar Pek Giok Liong dan mengarah pada Thian Kang Sing Wie
Kauw. "Buka jalan darah kedua teman Song Yauw Tong!"
"Ya." Thian Kang Sing Wie Kauw memberi
hormat pada Pek Giok Liong, kemudian bertanya pada Song Yauw Tong.
"Saudara Song, yang mana teman-temanmu?"
"Tuh!" Song Yauw Tong menunjuk dua orang
yang tergeletak itu. "Mereka berdua temanku."
Thian Kang Sing Wie Kauw segera membuka
jalan darah kedua orang itu. Song Yauw Tong pun mendekati mereka,
lalu menceritakan tentang dirinya yang telah bergabung dengan Pek
Giok Liong.
"Kalian berdua mau bergabung atau pulang ke
kwan gwa?" tanyanya.
"Sudah sekian tahun kami bersamamu, hidup
mau pun mati harus tetap bersama. Maka kami tetap ikut bergabung,"
jawab salah seorang itu.
"Kalau begitu, cepatlah kalian berdua
memberi hormat pada ketua partai Hati Suci!" ujar Song Yauw Tong.
"Ya." Mereka berdua lalu berlutut di hadapan
Pek Giok Liong. "Teecu Ciu Cun menghadap Ketua!"
"Teecu Ong Leh Cin menghadap Ketua!"
"Bagus." Pek Giok Liong manggut-manggut.
"Nah, kalian bangunlah!"
Pek Giok Liong mengangkat kedua tangannya,
seketika juga kedua orang itu terangkat bangun. Bukan main
terkejutnya kedua orang itu, mereka tidak menyangka Pek Giok Liong
memiliki tenaga dalam yang begitu hebat.
"Song Yauw Tong!" panggil Pek Giok Liong.
"Teecu siap menerima perintah!" sahut Song
Yauw Tong sambil menjura.
"Sekarang engkau harus menjelaskan yang
kukatakan tadi pada Thian Kang Sing dan Pat Kiam!"
"Teecu menerima perintah!" Song Yauw Tong
lalu berbisik-bisik pada Thian Kang Sing dan Pat Kiam, sesudah itu
ia berkata dengan hormat pada Pek Giok Liong. "Teecu sudah
menjelaskan pada mereka!"
"Ng!" Pek Giok Liong manggut-manggut. "Nah,
sekarang kalian boleh berangkat ke istana Tay Tie!"
"Teecu menerima perintah!" sahut mereka
serentak.
-- o --
Bagian ke 50. Mulai Bergerak
Hari sudah senja, Pek Giok Liong dan Se Pit
Han duduk berhadapan di dalam sebuah kuil tua, yang terletak di
sebelah selatan Kota Teng Hong.
Sementara itu, Bu Siang Seng. Giok Cing Giok
Ling, Si Hong (Empat phoenix), Thian Koh Sing Ma Hun, Cian Tok
Suseng, Ouw Beng Hui, lima pelindung aula dan belasan anak buah
Pulau Pelangi, terus menerus mengawasi rumah Siauw, itu agar Tu Ci
Yen dan Sam Kuai (Tiga siluman) jangan sampai lobos.
Kedua daun pintu rumah Siauw tertutup rapat,
namun tampak empat orang berbaju hitam berdiri di depan pintu dengan
golok di tangan.
Ketika hari sudah malam, Pek Giok Liong dan
Se Pit Han melangkah perlahan menuju rumah terebut, Si Kim Kong
mengikuti dari belakang.
"Berhenti!" terdengar suara bentakan keras.
Pek Giok Liong berhenti. Salah seorang
berbaju hitam mendekatinya, dan sekaligus memandang Pek Giok Liong
serta Se Pit Han dengan penuh perhatian.
"Siapa kalian?"
"Datang dari tempat jauh," sahut Pek Giok
Liong.
"Mau apa kalian kemari?"
"Mau mencari orang."
"Siapa yang kau cari?"
"Siau cung cu (Majikan muda)."
Orang berbaju hitam itu tertegun, ia menatap
Pek Giok Liong dengan mata tak berkedip.
"Anda kenal majikan muda kami?"
"Kenal baik."
"Anda teman majikan muda kami?"
"Laporlah padanya, bahwa ada teman lama
datang berkunjung, dia harus segera ke luar menemui kami!"
Ketika mendengar nada ucapan Pek Giok Liong,
orang berbaju hitam itu sudah merasa ada sesuatu yang tak beres.
"Anda siapa?" tanya orang berbaju hitam
dingin.
"Engkau tidak perlu bertanya. Setelah
majikan muda kalian bertemu denganku, dia pasti kenal."
"Kalau begitu, maaf, aku tidak bisa
melapor!"
"Jadi engkau tidak mau melapor?"
"Anda tidak menyebut nama, bagaimana mungkin
aku melapor?"
"Kalau begitu, aku akan mencari orang lain
untuk melapor." Pek Giok Liong melangkah maju.
Orang berbaju hitam itu terbelalak, dan pada
waktu bersamaan, terdengar suara bentakan mengguntur.
"Berhenti!" Muncul seorang berbaju hitam
lainnya.
"Engkau pun tidak mau melapor ke dalam?"
tanya Pek Giok Liong dingin.
"He he!" Orang baju hitam yang baru muncul
itu tertawa terkekeh. "Engkau ingin cari gara-gara di sini?"
"Kalau ya kenapa?" tanya Pek Giok Liong
menantang.
"Kau kira gampang masuk ke dalam?" Orang
berbaju hitam itu tertawa dingin. "Tempat ini bukan milik kakek
moyangmu! Tahu?"
"Aku tidak percaya kalau tidak bisa masuk!"
Sahut Pek Giok Liong dengan wajah dingin.
"Engkau tidak melihat bahwa pintu itu
tertutup?"
"Walau pintu tertutup, aku pun bisa masuk!"
"Oh?" Orang berbaju hitam itu tertawa.
"Engkau tidak melihat kami berempat di sini?"
"Kalian berempat ingin menghalangiku?"
"Tentu, karena memang tugas kami di sini!"
"Meskipun ditambah belasan orang lagi,
kalian tetap tidak mampu menghalangiku! Engkau percaya?"
"Jangan omong besar di sini!" Orang berbaju
hitam itu tampak gusar, sehingga sepasang matanya melotot.
"Itu benar!"
"Kami justru tidak percaya!"
"Kalau begitu, silakan coba!"
"Tentu!" Orang berbaju hitam itu tertawa
dingin. "Kami memang harus mencoba!"
"Saudara tua!" sela teman orang berbaju
hitam itu. "Tidak perlu banyak omong dengannya, mari kita habiskan
saja dia!"
"Jangan terburu nafsu, biar aku mencobanya
dulu!" Usai berkata begitu, orang berbaju hitam itu pun langsung
menyerang ke arah dada Pek Giok Liong.
Pek Giok Liong tertawa ringan, dan
menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata, "Pukulanmu tidak
bertenaga, engkau harus belajar dua puluh tahun lagi!" Pek Giok
Liong segera bergerak, dan seketika juga urat nadi di lengan orang
berbaju hitam itu sudah dicengkeram Pek Giok Liong.
Betapa terkejutnya orang berbaju hitam itu,
wajahnya pun memucat karena dirinya sudah tertangkap.
Tiga temannya juga terkejut. Mereka segera
maju siap menyerang Pek Giok Liong.
"Kalian bertiga jangan bergerak!" bentak Pek
Giok Liong dingin. "Kalau kalian bertiga berani bergerak, orang ini
pasti mati duluan!"
Ketiga orang berbaju hitam langsung diam,
salah seorang menatap Pek Giok Liong dengan kening berkerut-kerut.
"Sebetulnya Anda mau apa?" tanyanya.
"Asal kalian menurut, aku tidak akan turun
tangan!" sahut Pek Giok Liong. "Cepat ketuk pintu itu!"
Pek Giok Liong melepaskan cengkeramannya.
Orang berbaju hitam itu pun segera mencabut golok yang terselip di
pinggangnya, dan menyerang Pek Giok Liong. Pek Giok Liong
mengernyitkan kening.
Ketiga orang berbaju hitam juga tidak diam.
Mereka pun langsung menyerang Pek Giok Liong dengan golok.
Pek Giok Liong tertawa panjang. Tiba-tiba ia
mengibaskan tangannya, dan seketika juga keempat orang berbaju hitam
itu terpental, golok pun terlepas dari tangan masing-masing.
Pada saat bersamaan, pintu itu terbuka. Tiga
orang tua berjubah hijau berdiri di situ, enam pasang mata menatap
Pek Giok Liong.
"Sobat!" tanya salah seorang tua berjubah
hijau itu. "Siapa kau?"
"Tu Ci Yen kenal aku!" sahut Pek Giok Liong.
Wajah ketiga orang tua berjubah hijau
berubah, dan salah seorang di antaranya segera bertanya.
"Benarkah engkau kenal majikan muda kami?"
"Kenal!"
"Apakah engkau ke mari mencari dia?"
"Tidak salah! Cepatlah panggil dia ke luar!"
"Ada urusan apa engkau mencari siau cung
cu?"
"Dia akan tahu setelah bertemu denganku!"
"Tidak boleh memberitahukan padaku?"
"Percuma, engkau tidak bisa mewakilinya."
"Kalau begitu, sebutlah namamu, aku akan
menyuruh orang untuk melapor, pada siau cung cu!"
"Maaf, sebelum bertemu Tu Ci Yen, aku tidak
akan memberitahukan siapa diriku!"
"Sama-sama!" Orang tua berjubah hijau
tertawa dingin. "Engkau pun jangan harap aku akan menyuruh orang
untuk melapor pada siau cung cu!"
"Kalau begitu, lebih baik aku yang masuk!"
"He he!" Orang tua berjubah hijau tertawa
dingin. "Engkau sulit memasuki pintu ini."
"Oh, ya?" Pek Giok Liong tertawa hambar.
"Apakah kalian bertiga akan menghalangiku?"
"Betul!" Orang tua berjubah hijau
mengangguk. "Ada kami bertiga di sini, siapa pun jangan harap bisa
masuk."
"Kalau begitu ……" Pek Giok Liong tertawa
ringan. "Aku harus melewati rintangan ini, barulah bisa bertemu Tu
Ci Yen?"
"Bagus engkau tahu!" Orang tua berjubah
hijau tertawa dingin.
Pek Giok Liong memandang empat orang berbaju
hitam yang terpental tadi, lalu ujarnya sambil tersenyum.
"Tahukah engkau apa yang dikatakan keempat
orang itu?"
"Mereka mengatakan apa?"
"Seperti kalian bertiga, tidak mau ke dalam
melapor, bahkan juga menghalangiku, akhirnya ……"
"Akhirnya mereka berempat tidak mampu
melawanmu kan?"
"Betul! Aku cuma mengibaskan tanganku,
mereka berempat sudah terpental lima meter jauh."
"Ha ha!" Orang tua berjubah hijau tertawa
gelak. "Jadi kau anggap kami bertiga seperti mereka?"
"Kira-kira begitulah!"
"Kawan!" Orang tua berjubah hijau melotot.
"Engkau jangan omong besar di hadapan kami!"
"Tadi mereka berempat juga berkata
demikian!" Pek Giok Liong tersenyum. "Akhirnya mereka yang
terpental!"
"Kalau begitu ……" Orang tua berbaju hijau
tertawa terkekeh. "He he! Aku ingin mencoba kepandaianmu."
Ketika orang tua berjubah hijau baru mau
menyerang, tiba-tiba dari dalam mengalun ke luar suara seruan.
"Kie Cong! Siapa di luar?"
Kie Cong dan kedua orang tua berjubah hijau
itu tiga bersaudara. Dua orang berjubah hijau itu bernama Kie Yong
dan Kie Hun. Tong Cu Sam Siung (Tiga Pendekar Tong Cu) adalah
mereka. Ketika mendengar suara itu, Kie Cong pun segera menghadap ke
dalam sambil menjura.
"Lapor pada cong koan! Ada orang ingin
bertemu siau cung cu!"
"Siapa orang itu?"
"Dia tidak mau memberitahukan namanya."
"Ada urusan apa dia ingin bertemu majikan
muda?"
"Dia bilang, setelah majikan bertemu
dengannya, majikan muda pasti tahu."
"Oh?" Terdengar suara langkah, kemudian
muncul seseorang berusia enam puluhan berjubah merah.
Orang tua berjubah merah menatap Pek Giok
Liong dan Se Pit Han dengan mata tak berkedip, lama sekali barulah
membuka mulut.
"Kalian ingin bertemu siau cung cu?"
tanyanya.
"Betul. Engkau siapa?" Pek Giok Liong
memandangnya dengan penuh perhatian.
"Aku Ku Ing Chiu, kepala pengurus di sini."
Orang tua berjubah merah memberitahukan.
"Oh, ternyata Ku cong koan! Maaf, aku
berlaku kurang hormat!" ucap Pek Giok Liong.
"Jangan sungkan-sungkan! Aku ingin bertanya
……"
"Ku cong koan pernah dengar Pulau Pelangi
yang tersiar dalam bu lim?" tanya Pek Giok Liong mendadak.
Begitu mendengar nama pulau tersebut, wajah
Ku Ing Chiu langsung berubah dan tampak tersentak.
"Engkau datang dari pulau itu?"
Pek Giok Liong mengangguk, lalu menunjuk Se
Pit Han seraya berkata, "Dia adalah siau tocu dari Pulau Pelangi."
Ku Ing Chiu terbelalak, ia menatap Se Pit
Han dengan mata menyorotkan sinar aneh.
"Siau tocu mau bertemu siau cung cu ……?"
"Ku cong koan tidak perlu banyak bertanya,
lebih baik ke dalam melapor saja!" Ujar Se Pit Han.
"Ini ……" Ku Ing Chiu tampak ragu.
"Ini menyangkut urusan besar, maka lebih
baik Ku cong koan ke dalam melapor saja! Kalau tidak ……" Se Pit Han
tidak melanjutkan, melainkan mengarah pada Pek Giok Liong seraya
berkata, "Sudahlah! Kita tidak perlu banyak urusan, mari kita
pergi!"
Se Pit Han mengayunkan kakinya. Pek Giok
Liong tertegun, namun sesaat ia sudah dapat menduga maksudnya, maka
ia pun mengayunkan kakinya mengikuti Se Pit Han. Beberapa langkah
kemudian, mereka mendengar suara seruan di belakang.
"Siau tocu harap tunggu!"
Se Pit Han berhenti, lalu menoleh memandang
Ku Ing Chiu seraya bertanya, "Ada apa, Ku cong koan?"
"Aku akan ke dalam melapor," jawab Ku Ing
Chiu, lalu segera berjalan ke dalam.
Pek Giok Liong dan Se Pit Han saling
memandang, lalu tersenyum. Berselang beberapa saat, terdengar suara
langkah yang tergesa-gesa. Dua pemuda berbaju hijau membawa lentera
di depan, di tengah adalah Tu Ci Yen, yang di belakang adalah Ku Ing
Chiu. Tampak pula dua pemimpin aula dan enam pengawal khusus.
Begitu melihat mereka, Tong Ciu Sam Siung
dan empat orang berbaju hitam langsung memberi hormat pada Tu Ci
Yen.
Tu Ci Yen berdiri tegak, ia mengibaskan
tangannya ketika Tong Ciu Sam Siung dan empat orang berbaju hitam
memberi hormat.
Wajah Tu Ci Yen tampak berubah begitu
melihat Pek Giok Liong dan Si Kim Kong. Ku Ing Chiu melapor bahwa
Cai Hong To siau tocu berkunjung, maka Tu Ci Yen segera ke luar. Ia
yakin kedatangan siau tocu itu pasti berkaitan dengan urusan Pek
Giok Liong.
Namun ia sama sekali tidak menyangka kalau
Pek Giok Liong berada di situ. Setelah kejadian di Hwa San, Tu Ci
Yen sudah tahu Pek Giok Liong memiliki kepandaian yang amat tinggi,
dan yakin dirinya bukan tandingan Pek Giok Liong, maka ia mulai
takut kepadanya.
Wajah Thian Suan Sin Kun, Ti Kie Sin Kun dan
enam pengawal khusus itu pun telah berubah, bahkan hatinya pun
berdebar-debar tegang.
Meskipun Tu Ci Yen takut pada Pek Giok
Liong, sikapnya masih jumawa, dan sekilas dalam hatinya timbul suatu
ide.
Apa idenya? Tidak lain ingin meloloskan
diri. Bagaimana caranya? Kalau terjadi pertarungan, di saat itulah
ia akan meloloskan diri.
Akan tetapi, Tu Ci Yen mana tahu Pek Giok
Liong sudah mengatur agar Tu Ci Yen dan Sam Kuai tidak dapat
meloloskan diri. Oleh karena itu, ide Tu Ci Yen jelas tidak dapat
terlaksana.
"He he he!" Tu Ci Yen tertawa terkekeh. "Pek
Giok Liong, engkau sungguh bernyali berani ke mari!"
"Sungguh di luar dugaanmu kan?" sahut Pek
Giok Liong hambar.
"Sama sekali tidak di luar dugaan.
Sebelumnya aku sudah menduga ini! Tapi ……"
"Tidak sangka aku ke mari kan?"
"Betul! Engkau sungguh cepat ke mari, ini
memang di luar dugaanku."
"Tu Ci Yen." Pek Giok Liong tertawa. "Engkau
masih ada pembicaraan?"
"Tentu ada," sahut Tu Ci Yen sambil
menatapnya. "Aku bertanya, di mana Siauw Thian Lin dan putrinya?"
"Apakah engkau ingin bertemu mereka?"
"Engkau harus menyerahkan mereka padaku."
"Engkau pikir aku akan mengabulkannya?"
"Engkau memang harus mengabulkan."
"Oh?" Pek Giok Liong tertawa dingin. "Apa
alasanmu?"
"Kalau tiada alasan, apakah aku tidak boleh
mengatakan begitu?"
"Itu sudah pasti."
"Pek Giok Liong! Kenapa engkau begitu usil
mencampuri urusan keluarga Siauw ini?" tanya Tu Ci Yen mendadak.
"Engkau pikir aku ke mari karena usil
mencampuri urusan keluarga Siauw?" Pek Giok Liong balik bertanya.
"Selain urusan ini, apakah masih ada urusan
lain?"
"Hm!" dengus Pek Giok Liong dingin.
"Tentunya engkau mengerti dalam hati!"
"Demi gurumu?" tanya Tu Ci Yen setelah
berpikir sejenak.
"Bukan!" Pek Giok Liong menggelengkan
kepala.
"Bukan?" Tu Ci Yen mengernyitkan kening.
"Kalau begitu ……"
"Tu Ci Yen!" Pek Giok Liong tertawa dingin.
"Engkau tidak ingat lagi? Begitu cepat engkau melupakan sesuatu."
"Aku ……" Tu Ci Yen menggelengkan kepala.
"Aku sungguh tidak ingat lagi."
"Cobalah kau ingat! Mungkin engkau akan
ingat kembali!" Pek Giok Liong menatapnya tajam.
"Aku ……" Mendadak air muka Tu Ci Yen
berubah. "Apakah engkau sudah tahu urusan itu ……"
"Urusan apa?"
"Ti …… tidak ada urusan apa-apa!" sahut Tu
Ci Yen licik. "Ohya, Pek Giok Liong! Bagaimana kalau kita
membicarakan syarat?"
"Engkau pikir masih ada syarat yang harus
kita bicarakan?"
"Tentu masih ada!" Tu Ci Yen mengangguk.
"Bahkan merupakan syarat yang amat engkau butuhkan!"
"Oh? Syarat apa itu? Beritahukanlah!"
"Kalau engkau mau menyerahkan Siauw Thian
Lin dan putrinya serta Siauw Peng Yang padaku, aku pun akan
menyerahkan seseorang yang amat engkau perlukan. Bagaimana?"
"Tiga tukar satu?"
"Ya !"
"Itu sangat menguntungkan dirimu."
"Padahal sesungguhnya tidak begitu
menguntungkan diriku."
"Apa alasanmu mengatakan begitu?"
"Karena Siauw Thian Lin dan putrinya serta
Siauw Peng Yang tiada hubungan erat dengan dirimu! Nah, engkau
paham?"
"Kalau begitu, orang yang akan kau tukarkan
dengan aku, pasti punya hubungan erat dengan diriku!"
"Tidak salah." Tu Ci Yen manggut-manggut.
"Dia memang punya hubungan erat denganmu."
"Siapa orang itu?"
"Kian Kun Ie Siu!" sahut Tu Ci Yen sambil
tersenyum licik. "Gurumu itu."
Mendengar itu, mendadak Pek Giok Liong
tertawa gelak.
"Ha ha! Berada di mana sekarang guruku?"
"Di dalam istana Tay Tie."
"Bagaimana keadaan guruku?"
"Dia baik-baik saja. Ayah angkatku
memperlakukannya dengan baik sekali."
"Oh, ya?" Pek Giok Liong tertawa hambar. "Tu
Ci Yen, apakah engkau berkata sesungguhnya?"
Pertanyaan itu membuat hati Tu Ci Yen
tersentak, namun wajahnya masih tampak tenang dan serius.
"Aku berkata sesungguhnya," ujarnya dan
menambahkan, "Bagaimana syarat yang kusebutkan barusan? Apakah
engkau setuju?"
Pek Giok Liong sudah tahu bahwa Kian Kun Ie
Siu, gurunya itu telah membunuh diri. Sedangkan Tu Ci Yen mengajukan
syarat itu, tentunya Pek Giok Liong tahu apa maksud dan tujuan Tu Ci
Yen.
"Aku tidak setuju," sahut Pek Giok Liong
tegas.
"Apa?!" Tu Ci Yen melongo. "Engkau tidak
setuju?"
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk. "Aku tidak
setuju."
Tu Ci Yen menatapnya tajam. Ia sama sekali
tidak mengerti, kenapa Pek Liong tidak setuju akan syarat itu.
"Apakah engkau tidak memikirkan gurumu dan
tidak mau menolongnya?"
"Tu Ci Yen!" Pek Giok Liong tertawa. "Aku
bukan anak kecil, engkau tidak bisa menekan diriku dengan itu."
"Hm!" dengus Tu Ci Yen dingin. "Aku tidak
menekanmu, melainkan …… mengancammu! Tahu?"
"Itu terserah!" Pek Giok Liong tersenyum
hambar. "Namun aku yakin engkau mengerti dalam hati."
"Kau pikir aku tidak berani mencabut nyawa
gurumu?"
"Aku justru yakin engkau tidak berani."
"Pek Giok Liong!" Tu Ci Yen tertawa dingin.
"Jangan kau kira aku tidak berani, aku akan tidak mempedulikan
segala apa pun untuk mencabut nyawanya!"
"Itu urusanmu." sahut Pek Giok Liong acuh
tak acuh. "Nyawa guruku cuma ada satu, lagi pula cuma bisa mati satu
kali!"
Ucapan Pek Giok Liong itu mengandung suatu
arti, tapi Tu Ci Yen tidak mengetahuinya.
"Pek Giok Liong!" Tu Ci Yen tertawa. "Ini
adalah kesempatan emas bagi gurumu."
"Aku tahu itu kesempatan bagi guruku, tapi
……"
"Tapi kenapa?"
"Aku tetap tidak setuju dengan syaratmu
itu."
"Engkau tidak akan menyesal."
"Apa yang harus disesalkan?" Pek Giok Liong
menggeleng-gelengkan kepala. "Pokoknya aku tidak akan menyesal."
"Oh?" Tu Ci Yen mengernyitkan kening.
"Terus terang!" Pek Giok Liong menatapnya
sambil melanjutkan. "Tidak sulit engkau menghendaki aku menyerahkan
Siauw Thian Lin dan putrinya serta Siauw Peng Yang padamu, namun aku
justru punya syarat lain."
"Syarat lain?" Tu Ci Yen tercengang.
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk.
"Apa syaratmu?" tanya Tu Ci Yen cepat.
Pek Giok Liong tidak menyahut, melainkan
mengarah pada tiga orang tua berjubah merah yang berdiri di belakang
Tu Ci Yen. Ketiga orang tua berjubah merah itu bertampang seram.
"Ketiga orang itu juga anak buahmu?" tanya
Pek Giok Liong.
"Kalau mereka bertiga bukan anak buahku,
bagaimana mungkin berdiri di belakangku?" sahut Tu Ci Yen sambil
tersenyum jumawa. "Mereka bertiga pemimpin aula keenam, ketujuh dan
kedelapan."
"Oooh!" Pek Giok Liong manggut-manggut.
"Pek Giok Liong! Cepatlah ajukan syaratmu!"
Tu Ci Yen tampak tidak sabar.
Pek Giok Liong diam, ia menatap ketiga orang
tua berjubah merah itu. Kini ia sudah tahu jelas, bahwa ketiga orang
tua berjubah merah itu Lang San Sam Kuai (Tiga siluman gunung Lang
San).
"Syaratku ……" Pek Giok Liong tertawa. "……
adalah tiga tukar empat!"
"Apa?" Tu Ci Yen tertegun. "Tiga tukar
empat?"
"Tidak salah!"
"Siapa empat orang yang ingin engkau tukar
itu?"
"Engkau dan Lang San Sam Kuai!"
"Pek Giok Liong ……" Wajah Tu Ci Yen berubah.
"Apa maksudmu?"
"Engkau belum mengerti?" Pek Giok Liong
tertawa dingin. "Cobalah berpikir sejenak, pasti mengerti!"
"Aku justru tidak mengerti!"
"Kalau begitu, biar kujelaskan!" Mendadak
sepasang mata Pek Giok Liong berapi-api. "Engkau dan Lang San Sam
Kuai adalah pembunuh-pembunuh di Ciok Lau San Cung!"
Tu Ci Yen tersentak, namun ia masih dapat
mengendalikan diri, sehingga kelihatan tenang.
"Engkau dengar dari siapa?"
"Engkau tidak berani mengaku?"
"Aku lelaki sejati, berani berbuat berani
bertanggung jawab! Kenapa aku tidak berani mengakuinya?"
"Kalau begitu, engkau telah mengaku?"
"Pek Giok Liong!" Tu Ci Yen tertawa.
"Menyatakan sesuatu harus punya bukti, tiada bukti berarti
memfitnah!"
"Oh? Jadi engkau menginginkan bukti?"
"Tentu!"
"Aku punya bukti!"
"Apa buktimu itu?"
"Orang! Dia merupakan saksi!"
"Orang itu merupakan saksi?" Tu Ci Yen
mengerutkan kening. "Siapa orang itu?"
"Dia kepala pemimpin ekspedisi Yang Wie,
Thiat Jiau Kou Hun Song Yauw Tong! Dengan adanya saksi itu, engkau
pun tidak bisa bicara apa-apa lagi, maupun menyangkalnya!"
Tu Ci Yen terkejut bukan main dalam hati,
tapi kemudian ia malah tertawa gelak. "Pek Giok Liong, engkau telah
tertipu oleh orang itu!"
"Bagaimana aku tertipu olehnya?"
Tu Ci Yen tertawa lagi, lalu balik bertanya.
"Dia berada di mana sekarang?"
"Engkau tidak perlu tahu!"
"Dia sudah jatuh ke tanganmu?"
"Kalau ya kenapa?"
"Sungguh licik Song Yauw Tong itu!" ujar Tu
Ci Yen sambil tertawa. "Dia menghendaki engkau ke mari, itu agar
engkau terjebak!"
"Maksud Song Yauw Tong ……" Pek Giok Liong
tersenyum.
"Adik Liong!" Sela Se Pit Han tidak sabaran.
"Jangan membuang waktu, cepatlah turun tangan!"
"Benar kak misan!" Pek Giok Liong
mengangguk, lalu menatap Tu Ci Yen dengan dingin dan tajam. "Tu Ci
Yen! Aku masih memberi kesempatan padamu dan Sam Kuai!"
"Kesempatan apa?" tanya Tu Ci Yen dengan air
muka berubah.
"Engkau dan Sam Kuai boleh bergabung
melawanku! Asal kalian berempat bisa bertahan sampai tiga puluh
jurus, maka aku akan melepaskan kalian!"
"Sungguh?" tanya Tu Ci Yen girang.
"Sungguh!" Pek Giok Liong mengangguk. "Aku
sudah berbicara begitu, pasti aku tepati!"
"Baik!" Tu Ci Yen manggut-manggut, lalu
mengarah pada Lang San Sam Kuai seraya berkata, "Tiga pemimpin aula,
Pek Giok Liong menghendaki begitu, kita setuju saja!"
"Kami menerima perintah!" sahut Lang San Sam
Kuai.
Sedangkan Pek Giok Liong pun mengarah pada
Se Pit Han, ia memandang Se Pit Han seraya berkata.
"Kak misan, engkau dan Si Kim Kong mundur
saja!"
"Ya." Se Pit Han mengangguk dan berpesan.
"Hati-hati Adik Liong!"
Pek Giok Liong mengangguk sambil tersenyum.
"Kak misan, tenang saja! Aku pasti
berhati-hati!"
Se Pit Han dan Si Kim Kong mundur. Tu Ci Yen
dan Lang San Sam Kuai segera mengepung Pek Giok Liong.
Pek Giok Liong menatap mereka berempat
dengan tajam, kemudian ujarnya dengan dingin.
"Tu Ci Yen, kalian boleh mulai!"
Tu Ci Yen tertawa terkekeh-kekeh.
"He he! Pek Giok Liong, engkau
berhati-hatilah!"