panji sakti 07
"Pertama engkau harus ikut aku pergi menemui
ayah angkatku itu!" ujar Tu Ci Yen melanjutkan. "Kalau tidak ….."
"Akan banjir darah di sini kan?" sambung Bwe
Hoa Sin Kiam Hua Hun.
"Apa boleh buat!" Tu Ci Yen tertawa. "Aku
tidak mau dicela oleh ayah angkatku, dan tidak mau ditertawakan
ketidak mampuanku memberesi urusan ini!"
"Sudahlah! Jangan banyak omong kosong di
sini!" tandas Bwe Hoa Sin Kiam. "Sebaiknya kalian cepat meninggalkan
tempat ini, kalau tidak ….."
"Kalau tidak ….." sambung Tu Ci Yen sambil
tertawa hambar. "Tentunya engkau akan menurunkan perintah untuk
mengusir kami, kan?"
"Bagus engkau mengerti!"
"Engkau sudah menghitung ada berapa banyak
orang yang berdiri di belakangku ini? Kalau belum, engkau boleh
hitung sekarang."
"Aku telah hitung dari tadi, termasuk engkau
berjumlah dua puluh dua orang, tidak kurang dan tidak lebih."
"Apakah kalian turun tangan mengusir kami?"
Tu Ci Yen tertawa. "Kalian cuma berjumlah enam betas orang."
"Meskipun cuma enam belas orang, kami mampu
mengusir kalian!" sahut Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun.
Mata Tu Ci Yen langsung menyorot tajam.
"Apakah engkau tidak percaya akan kekuatan kami?"
"Tidak salah, aku memang tidak percaya!"
"Kalau begitu, engkau ingin turun tangan
mencobanya?"
"Aku memang ingin turun tangan mencobanya,
tapi saat ini aku justru masih mempertimbangkannya!"
"Tidak perlu dipertimbangkan lagi! Pokoknya
kami tidak akan meninggalkan tempat ini!"
"Kalau begitu, engkau menginginkan aku
menurunkan perintah untuk usir kalian?"
"Itu terserah engkau!"
"Tahukah engkau bahwa aku sedang
mempertimbangkan apa?" tanya Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun.
"Silakan beritahukan!"
"Aku sedang mempertimbangkan, bagaimana agar
ruang tamu ini tidak ternoda darah!"
Tu Ci Yen tertawa gelak. "Menurut aku,
engkau tidak perlu mempertimhangkan itu lagi!"
"Mengapa?"
"Karena yang jelas, yang akan tercecer darah
para murid Hwa San!"
"Engkau yakin bukan darah orang-orangmu?"
tanya Bwe Hoa Sin Kiam dengan wajah berubah.
"Kalau kukatakan, engkau pun tidak akan
percaya! Setelah bertarung, engkau akan mengetahuinya!"
Memang benar apa yang dikatakan Tu Ci Yen,
namun bagaimana mungkin Bwe Hoa Sin Kiam akan mempercayainya. Lagi
pula Tu Ci Yen dan orang-orangnya, semua memakai kain penutup muka,
maka Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun tidak kenal siapa mereka.
Kalau ketua partai Hwa San itu tahu, pasti
terkejut dan betul-betul akan mempertimbangkannya. Akan tetapi, ia
justru tidak tahu.
"Engkau yakin bahwa kepandaian orang-orangmu
lebih tinggi dari pada murid-murid Hwa San ini?" tanya Bwe Hoa Sin
Kiam Hua Hun dingin.
"Kalau aku tidak yakin, bagaimana mungkin
kami berani ke mari?" sahut Tu Ci Yen, kemudian tertawa
terkekeh-kekeh. "He he he!"
"Engkau tahu siapa yang berdiri di
belakangku?" tanya Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun.
"Meskipun aku tidak kenal mereka aku tahu
siapa mereka, yang tidak lain lima pedang, sepasang pendekar dan
empat pemuda gagah. Mereka merupakan tenaga inti partai Hwa San!"
"Betul!" Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun tertawa.
"Bagus engkau tahu!"
"Jadi kau kira orang-orangku tidak mampu
melawan kalian?" Tu Ci Yen tertawa hambar.
"Tidak perlu bertanya padaku, engkau tahu
dalam hati!" sahut Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun dingin.
"Kalau begitu, engkau betul-betul ingin
bertarung dengan kami?" tanya Tu Ci Yen dingin.
"Itu kalau terpaksa!" sahut Bwe Hoa Sin Kiam
Hua Hun.
Partai Hwa San termasuk salah satu partai
besar dan terkemuka dalam bu lim.
Tentunya ketua Hwa san itu memiliki
kepandaian tinggi, begitu pula Lima Pedang Sepasang Pendekar dan
Empat Pemuda Gagah. Maka ketika ketua Hwa San, yaitu Bwe Hoa Sin
Kiam Hua Hun menyahut begitu, suasana di ruang tamu itu pun mulai
tegang mencekam, suatu pertarungan dahsyat pasti tak terelakan lagi.
-- o --
Bagian ke 43: Muncul Penolong
Sementara Tu Ci Yen menatap Bwe Hoa Sin Kiam
Hua Hun dengan sorot mata tajam.
"Apakah engkau sama sekali tidak akan
menyesal?"
"Sama sekali tidak!" sahut Bwe Hoa Sin Kiam
Hua Hun tegas.
"Baiklah!" Tu Ci Yen manggut-manggut,
kemudian bentaknya dengan suara ringan. "Pelindung pribadi kanan
dengar perintah!"
Seketika juga sosok bayangan merah
berkelebatan ke hadapan Tu Ci Yen. Ia adalah Thian Suan Sin Kun
(Malaikat Pemutar Langit).
"Hamba siap menerima perintah," ucapnya
sambil memberi hormat pada Tu Ci Yen.
"Sin Kun harus memperlihatkan sejurus dua
jurus pada ketua Hwa San, itu agar dia tahu!" ujar Tu Ci Yen.
"Ya," sahut Thian Suan Sin Kun.
Setelah itu, ia membalikan badannya, lalu
mendorongkan telapak tangannya ke arah dinding.
"Ketua Hwa San!" Thian Suan Sin Kun tertawa.
"Aku telah memperlihatkan sejurus pukulan!"
Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun segera menoleh ke
arah dinding itu. Betapa terkejut hatinya, karena pada dinding itu
tampak sebuah bekas telapak tangan warna hitam yang amat dalam.
"Hek Sin Ciang (Pukulan telapak hitam)!"
serunya dengan air muka berubah.
"Tidak salah!" Tu Ci Yen tertawa. "Itu
memang Hek Sin Ciang? Cukup tajam matamu, bisa mengenali pukulan
itu!"
"Hm!" dengus Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun.
"Jangan mendengus!" ejek Tu Ci Yen dan
melanjutkan. "Ketua Hwa San! Engkau boleh berdiri di sini
memperlihatkan pukulanmu! Kalau engkau mampu membuat dinding itu
berbekas telapak tanganmu, aku pasti segera meninggalkan tempat ini
dan selanjutnya tidak akan ke mari lagi!"
Dapatkah ketua Hwa San melakukannya?
Tentunya tidak, sebab ia belum memiliki tenaga dalam yang begitu
tinggi.
Tu Ci Yen memang licik. Ia tahu akan hal
itu, maka sengaja berkata begitu pada ketua Hwa San itu.
"Aku memang tidak mampu melakukan itu,
karena tenaga dalamku belum begitu tinggi! Tapi aku tidak akan ….."
"Tidak akan menyerah?" sambung Tu Ci Yen
dingin. "Seharusnya engkau tahu diri!"
"Aku harus tahu diri? Ha ha!" Bwe Hoa Sin
Kiam Hua Hun tertawa gelak. "Selagi aku masih bernafas, aku pantang
menyerah!"
"Bagus!" Tu Ci Yen manggut-manggut. "Engkau
cukup gagah, namun saying ….."
"Kenapa sayang?"
"Aku sama sekali tidak berniat melukai siapa
pun, tapi engkau begitu keras kepala!" Tu Ci Yen menarik nafas
panjang. "Maka lebih baik aku menangkapmu dulu, baru membicarakan
yang lain!"
Usai berkata begitu, Tu Ci Yen tampak agak
bermalas-malasan bangkit berdiri. Kelihatannya ia ingin turun tangan
terhadap ketua partai Hwa San itu.
Mendadak berkelebat sosok bayangan masuk ke
dalam ruangan. Bayangan itu ternyata seorang bertopi rumput lebar
yang menutupi sebagian mukanya. Dia adalah murid bungsu kesayangan
ketua partai Hwa San bernama Sih Ma Bun Cing.
Setelah memasuki ruang tamu itu, dia pun
segera memberi hormat pada Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun, ketua Hwa San
itu. Setelah itu, dia segera menghampiri Tu Ci Yen yang telah
bangkit berdiri.
Tu Ci Yen tidak mengenal orang itu, namun
ketika melihat dia mendekatinya, Tu Ci Yen tersentak sambil
membentak.
"Berhenti!"
Sungguh mengherankan, bentakan itu tidak
membuat Sih Ma Bun Cing berhenti, bahkan terus mengayunkan kakinya
ke arah Tu Ci Yen, tidak memperlihatkan rasa takut.
Yang merasa takut justru Bwe Hoa Sin Kiam
Hua Hun, ketua Hwa San itu. Karena ia telah menyaksikan pukulan
telapak Hitam tadi. Ia tahu jelas keadaan saat ini. Kalau kurang
berhati-hati, mungkin selanjutnya nama partai Hwa San akan terhapus
dari rimba persilatan. Orang yang menyebut dirinya Gin Tie merupakan
pemimpin rombongan itu, tentunya memiliki kepandaian yang amat
tinggi. Kini murid bungsu kesayangannya mendekati Gin Tie. Bukankah
murid itu akan cari mati?
"Nak Cing!" bentaknya. "Mau apa engkau?
Cepat kembali!"
Akan tetapi, entah kenapa Sih Ma Bun Cing
hari ini, ia sama sekali tidak menggubris bentakan gurunya dan terus
melangkah mendekati Tu Ci Yen.
Ketika Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun membentak,
Sih Ma Bun Cing pun telah berada dalam jarak lima meteran dari Tu Ci
Yen.
Setelah mengetahui orang itu murid Hwa San,
rasa kejut dalam hati Tu Ci Yen pun langsung sirna.
Pada saat Sih Ma Bun Cing berada dalam jarak
itu, sepasang mata Tu Ci Yen pun menyorot dingin ke arahnya.
"Setan kecil! Engkau mau cari mati ya?"
bentak Tu Ci Yen.
Di saat membentak, Tu Ci Yen pun mengerahkan
tenaga dalamnya menyerang Sih Ma Bun Cing.
Ketika melihat serangan itu, Bwe Hoa Sin
Kiam terkejut bukan main dan langsung berteriak. "Nak Hui! Cepat
mundur!"
Usai berteriak, ketua Hwa San itu pun tampak
siap melompat ke arah murid bungsunya untuk menolongnya.
Justru pada saat itu, tiba-tiba Sih Ma Bun
Cing membalikkan telapak tangannya ke arah ketua Hwa San itu.
Seketika juga ketua Hwa San merasa ada tenaga yang amat lunak
menahan dirinya, agar tidak melompat. Itu membuatnya terheran-heran
dan membatin. Apa gerangan ini …..?
Pada saat ia membatin, urusan aneh pun
terjadi. Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mungkin
ia tidak akan percaya bahwa itu merupakan hal yang nyata.
Ternyata ketika Tu Ci Yen menyerangnya
dengan tenaga dalam, Sih Ma Bun Cing sama sekali tidak terpental,
sebaliknya malah terus melangkah maju, dan sekonyong-konyong
tangannya bergerak secepat kilat ke arah muka Tu Ci Yen yang ditutup
dengan kain.
Gerakan tangannya tampak begitu sederhana,
tapi sesungguhnya itu adalah Ceng In Ci (Jari Seribu Bayangan).
"Hah?" Tu Ci Yen terkejut bukan main, namun
tidak gugup dan segera menggerakkan sepasang kakinya menghindari
serangan Sih Ma Bun Cing.
Gerakan itu bukan sembarangan gerak,
ternyata jurus Ti Cuan Pou (Bumi berputar) yang berhasil mengelak
Jari Seribu Bayangan Sih Ma Bun Cing itu.
Memang sungguh di luar dugaan Sih Ma Bun
Cing. Ia pun kagum akan kepandaian Tu Ci Yen. Sebaliknya Tu Ci Yen
yang terperanjat bukan main, sebab ia tidak menyangka murid Hwa San
itu memiliki kepandaian yang begitu tinggi.
"Bocah!" bentak Tu Ci Yen. "Siapa kau?"
"Aku adalah aku, kau anggap siapapun boleh!"
sahut Sih Ma Bun Cing dingin.
Suara Sih Ma Bun Cing membuat Bwe Hoa Sin
Kiam Hua Hun tercengang, karena suara itu bukan suara murid
bungsunya. Namun justru memakai baju Sih Ma Bun Cing. Itu membuatnya
terbengang-bengong.
"Siapa pemuda itu?" tanyanya dalam hati.
"Kenapa dia memakai baju anak Cing dan menyamar dirinya?"
Walau terbengang-bengong, ketua Hwa San
dapat berlega hati, karena kemunculan pemuda itu tidak berniat jahat
terhadap partai Hwa San.
Sebetulnya ia ingin membuka mulut untul
bertanya, namun mendadak hatinya bergerak sehingga merasa bukan
waktunya untuk bertanya tentang itu, lebih baik berdiam diri
menyaksikan perkembangan selanjutnya.
Oleh karena itu, ia pun mulai memandang
pemuda itu dengan penuh perhatian…..
Siapa yang menyamar sebagai murid Hwa San?
Tidak lain Pek Giok Liong, generasi kelima pemegang panji Jit Goat
Seng Sim Ki atau dipanggil sebagai ketua panji.
"Bocah!" Tu Ci Yen tertawa dingin. "Engkau
tidak punya marga dan nama?"
"Tentu ada!" sahut Pek Giok Liong dan ikut
tertawa dingin. "Hanya saja aku tidak mau memberitahukan padamu!"
"Engkau tidak berani sebut namamu?"
"Omong kosong, siapa tidak berani?"
"Kalau berani, sebutkanlah marga dan
namamu!"
"Engkau belum berderajat tahu namaku!"
"Kalau begitu, siapa yang berderajat tahu
namamu?"
"Hanya ada dua orang!"
"Dua orang? Siapa mereka itu?"
"Yang satu adalah Cit Ciat Sian Kun, yang
satu lagi Tu Ci Yen!"
Tergetar hati Tu Ci Yen, namun mendadak
suaranya berubah lunak.
"Mengapa harus mereka berdua yang tahu
namamu?" tanyanya.
"Engkau tidak perlu menanyakan itu!" sahut
Pek Giok Liong dingin. "Sekarang engkau mau bilang apa lagi?"
Pertanyaan Pek Giok Liong itu tiada ujung
pangkalnya, maka membuat Tu Ci Yen menjadi bingung.
"Memangnya harus bilang apa?"
"Engkau ingin bertarung denganku atau mau
menurut padaku?"
"Harus bagaimana menurut padamu?"
"Engkau harus membawa orang-orangmu pergi
dari Hwa San ini?"
"Oh?" Tu Ci Yen tertawa gelak. "Ucapanmu itu
seperti anak gadis sedang bernyanyi, namun aku justru tidak mau
mendengarnya!"
"Kalau begitu, engkau ingin bertarung
denganku?" tanya Pek Giok Liong dingin.
"Tidak salah!" sahut Tu Ci Yen. "Aku sudah
mengambil keputusan untuk mencuci Hwa San ini dengan darah!"
"Terlampau pagi engkau mengatakan demikian!"
Pek Giok Liong tertawa hambar dan melanjutkan, "Ayoh, mari kita
bertarung di luar!"
Pek Giok Liong melangkah ke luar. Tu Ci Yen
tertawa dingin sambil mengikuti Pek Giok Liong dari belakang,
menyusul sepasang pengawal pribadi dan lainnya.
Di luar terdapat sebidang tanah kosong yang
sangat luas, Pek Giok Liong berdiri tegar di situ. Tu Ci Yen berdiri
jarak dua meteran di hadapannya, dan sepasang pengawal pribadi
berdiri di belakangnya.
Sedangkan ketua Hwa San, Ngo Kiam, Siang
Hiap dan Kiu Eng yang sudah ikut ke luar itu berdiri agak jauh di
belakang Pek Giok Liong.
Sementara Pek Giok Liong dan Tu Ci Yen
saling memandang dengan dingin, berselang sesaat, Pek Giok Liong
berkata.
"Engkau sudah boleh turun tangan!"
Tu Ci Yen tertawa. "Bocah! Engkau perlu
meninggalkan pesan dulu?" ujarnya.
"Tidak perlu banyak bicara!" tandas Pek Giok
Liong. "Lebih baik engkau segera turun tangan!"
"Apakah engkau ingin buru-buru mati?
Baiklah, aku akan mengantarmu!" ujar Tu Ci Yen, lalu memberi
perintah pada salah seorang pelindung pribadinya. "Pelindung pribadi
kiri, cepat turun tangan habiskan dia."
"Baik," Pelindung pribadi kiri, Ti Kie Sin
Kun (Malaikat Penggetar Bumi) langsung menghampiri Pek Giok Liong.
"Berhenti!" bentak Pek Giok Liong.
"Engkau mau bicara apa?" tanya Ti Kie Sin
Kun.
Pek Giok Liong tidak menghiraukan pertanyaan
Ti Kie Sin Kun, cuma memandang Tu Ci Yen.
"Kenapa engkau tidak berani bertarung
denganku?" tanyanya sambil menatapnya.
"Aku belum perlu turun tangan sendiri,"
sahut Tu Ci Yen jumawa.
"Apakah aku tidak berderajat bertarung
denganmu?"
"Kenapa sudah tahu masih bertanya?"
"Benarkah aku tidak berderajat?"
"Kau kira masih ada alasan lain?"
Pek Giok Liong tertawa nyaring, kemudian
ujarnya sepatah demi sepatah, "Kau kira aku tidak tahu maksud
hatimu?"
Tu Ci Yen tersentak. Ia pun bertanya cepat.
"Aku punya maksud apa?"
"Hm!" dengus Pek Giok Liong dingin.
"Berdasarkan lwee kangmu tadi, engkau pasti sudah mengerti dalam
hati, maka engkau suruh orang lain untuk mencoba kepandaianku!
Begitu kan?"
"He he he!" Tu Ci Yen tertawa
terkekeh-kekeh, namun terkejut bukan main, karena Pek Giok Liong
dapat membaca pikirannya. "Engkau tidak perlu sok pintar! Kalau
menghendaki aku turun tangan sendiri memang tidak sulit, asal ….."
"Asal mampu mengalahkan kedua pelindung
pribadi itu kan?" sambung Pek Giok Liong.
"Betul! Kalau tidak, engkau sama sekali
tidak berderajat bertarung dengan diriku." Usai berkata begitu, Tu
Ci Yen pun terperanjat seraya bertanya, "Eh? Kok engkau tahu dua
pelindung pribadi itu?"
"Bukan cuma tahu itu, bahkan aku pun tahu
enam pengawal khusus!" sahut Pek Giok Liong sambil tertawa hambar.
"Bagaimana engkau bisa tahu?" Tu Ci Yen
terperanjat sekali. Ia menatap Pek Giok Liong dengan tajam.
"Tentang ini, engkau tidak perlu tanya!"
tandas Pek Giok Liong dan menambahkan, "Thian Suan Sin Kun dan Ti
Kie Sin Kun memang merupakan orang berkepandaian tinggi dalam bu lim
masa kini. Namun mereka berdua tidak akan mampu menyambut tiga jurus
seranganku, maka aku menasihatimu ….."
Apa yang dicetuskan Pek Giok Liong sangat
jumawa, itu membuat kedua pelindung prihadi menjadi gusar sekali.
Sepasang matanya pun langsung menyorot dingin ke arah Pek Giok
Liong.
"Diam, bocah!" bentak Ti Kie Sin Kun.
"Ti Kie Sin Kun!" sahut Pek Giok Liong
hambar. "Tidak percayakah kau akan apa yang kukatakan barusan?"
"He he!" Ti Kie Sin Kun tertawa terkekeh.
"Bocah! Betapa tinggi kepandaianmu, sehinga berani begitu jumawa dan
omong besar?"
"Ti Kie Sin Kun! Aku tidak jumawa dan tidak
omong besar! Nanti engkau akan mengetahuinya, maka jangan banyak
bicara!"
"Oh?" Ti Kie Sin Kun tertawa dingin. "Aku
tidak begitu sabar untuk menunggu! Sekarang juga aku ingin mencoba
kepandaianmu!"
Ti Kie Sin Kun mulai mengangkat sebelah
tangannya, kelihatannya ia sudah siap menyerang Pek Giok Liong.
Pek Giok Liong mengerutkan kening, lalu
membentak dengan suara dalam.
"Tunggu!"
"Engkau mau bicara apa? Bocah!" tanya Ti Kie
Sin Kun.
"Ti Kie Sin Kun!" Pek Giok Liong menatapnya
tajam. "Lebih baik engkau jangan memaksa diri untuk mencoba
kepandaianku!"
"Kenapa?" tanya Ti Kie Sin Kun berang.
"Sebab engkau akan celaka!"
"Apa?" Ti Kie Sin Kun tertawa gelak. "Aku
akan celaka?"
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk. "Sebab aku
akan memutuskan sebelah tanganmu!"
Ti Kie Sin Kun terkejut, tapi kemudian
tertawa terbahak-bahak sambil menuding Pek Giok Liong.
"Bocah! Kejumawaanmu memang sungguh di luar
dugaan, namun aku justru tidak percaya. Sebaliknya akulah yang akan
menghancurkan sebelah tanganmu!"
"Kalau begitu, engkau jangan menyalahkan
aku!" ujar Pek Giok Liong lalu menyerangnya dengan tenaga dalam.
Ti Kie Sin Kun segera menangkis dengan
tenaga dalam pula, dua macam tenaga dalam saling beradu, sehingga
menimbulkan suara benturan yang amat dahsyat. Ti Kie Sin Kun
terpental lima meteran ke belakang, sehingga terkejut bukan main.
Sedangkan Pek Giok Liong sama sekali tidak bergeming dari tempat,
dan cuma tertawa dingin.
"Ti Kie Sin Kun! Itu boleh dihitung satu
jurus! Aku akan membiarkanmu mencoba sampai tiga jurus, namun pada
jurus ketiga engkau harus berhati-hati, sebab aku menginginkan
sebelah tanganmu!"
Pek Giok Liong menghampiri Ti Kie Sin Kun
selangkah demi selangkah, itu membuat Tu Ci Yen, Thian Suan Sin Kun.
Tiga pemimpin aula dan enam pengawal khusus langsung menjadi tegang.
Tu Ci Yen sudah tahu pihak lawan memiliki
kepandaian tinggi, tapi sama sekali tidak menyangka, Ti Kie Sin Kun
akan terpental oleh serangan tenaga dalam itu. Kalau tidak
menyaksikan dengan mata kepala sendiri, Tu Ci Yen pasti tidak akan
percaya.
Bwe Hoa Sin Kiam, Ngo Kiam, Siang Hiap dan
Kiu Eng terbelalak menyaksikan kejadian itu, wajah mereka tampak
berseri-seri.
Meskipun dirinya sampai terpental, Tie Kie
Sin Kun belum juga percaya bahwa lawannya mampu memutuskan lengannya
pada jurus ketiga. Oleh karena itu, ketika Pek Giok Liong
mendekatinya, ia pun segera tertawa terkekeh.
"Bocah! Tenaga dalammu memang cukup tinggi,
tapi aku tidak takut!" Setelah berkata begitu, Ti Kie Sin Kun
langsung menyerang Pek Giok Liong.
Pek Giok Liong tertawa dingin, dan mendadak
tubuhnya melayang ke atas mengelak dari serangan lawan kemudian
balas menyerang dengan dua jari tangannya mengarah pada nadi di
tangan Ti Kie Sin Kun.
Betapa cepatnya serangan itu, sehingga sulit
dilukiskan. Tentunya membuat lawannya terkejut dan cepat-cepat
berjungkir balik menghindari serangan itu.
"Ti Kie Sin Kun!" bentak Pek Giok Liong
dingin. "Hati-hati lengan kirimu!"
Sekonyong-konyong Pek Giok Liong berputar
bagaikan angin puyuh, sekaligus menyerang lengan kiri Ti Kie Sin
Kun.
Ti Kie Sin Kun ingin mengelak dari serangan
itu, namun sudah terlambat. Pada saat yang krisis itu, tiba-tiba
terdengar suara seruan.
"Mohon ketua berbelas kasihan padanya!"
Begitu mendengar suara seruan itu, Pek Giok
Liong pun cepat-cepat menarik kembali serangannya, dan sekaligus
melompat mundur.
Pada waktu bersamaan, tampak sosok bayangan
berkelebat cepat, lalu melayang turun di hadapan Ti Kie Sin Kun.
Siapa orang itu, tidak lain adalah satu dari empat Arhat, yakni
Arhat pembasmi siluman Ban Kian Tong.
Ketika melihat orang tersebut, Ti Kie Sin
Kun berseru girang. Ternyata ia kenal Ban Kian Tong. "Saudara Ban
….."
Arhat pembasmi siluman tidak
menghiraukannya, melainkan memberi hormat pada Pek Giok Liong.
"Muna menghadap Ketua, terimakasih atas
kemurahan hati Ketua!" ucap Arhat pembasmi siluman, Ban Kian Tong.
"Saudara Ban, engkau tidak usah banyak
beradaban!" sahut Pek Giok Liong sambil membalas memberi hormat.
"Terimakasih, Ketua!" Ban Kian Tong memberi
hormat lagi.
Tak lama kemudian, tampak lima orang tua dan
seorang pemuda berjalan ke tempat itu. Mereka adalah Thian Koh Sing
Ma Hun, Thian Kang Sing Wie Kauw, Arhat penakluk iblis, Arhat
penangkap setan, Arhat pembunuh jin dan pemuda itu adalah Sih Ma Bun
Cing, murid bungsu Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun, ketua Hwa San.
"Nak Cing!" seru ketua Hwa San.
Sih Ma Bun Cing segera memberi hormat pada
ketua Hwa San, Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun.
"Teecu memberi hormat pada Guru!"
"Nak Cing!" Ketua Hwa San memegang tangan
Sih Ma Bun Cing seraya bertanya dengan suara rendah, "Siapa pemuda
itu?"
"Guru, nanti murid akan beritahukan
sejelas-jelasnya," jawab Sih Ma Bun Cing.
"Ng!" Ketua Hwa San mengangguk.
Sementara itu, Thian Koh Sing, Thian Kang
Sing dan tiga Arhat memberi hormat pada Pek Giok Liong, kemudian
berdiri di sampingnya.
Sedangkan Ti Kie Sin Kun terus memandang
Arhat pembasmi siluman, lalu tanyanya perlahan.
"Saudara Ban, sudah dua puluh tahun kita
tidak bertemu, apakah engkau baik-baik saja?"
"Saudara Phang!" Ban Kian Tong tersenyum.
"Aku baik-baik saja, bahkan melewati hari-hari yang amat tenang dan
damai."
"Oh! Selama itu Saudara berada di mana?"
tanya Ti Kie Sin Kun yang bernama Phang Kuang Yen. "Aku setengah
mati mencarimu."
"Aku ke Lam Hai."
"Saudara Ban tinggal di Lam Hai di tempat
mana?"
"Aku tinggal di ….." Ban Kian Tong melirik
Pek Giok Liong, seakan bertanya bolehkah berterus terang. Pek Giok
Liong tahu maksudnya, maka manggut-manggut.
"Saudara Ban tinggal di mana?" tanya Phang
Kuang Yen, si Malaikat Penggetar Bumi.
"Aku tinggal di Pulau Pelangi."
"Apa?!" Ti Kie Sin Kun Phang Kuang Yen
terbelalak. "Sungguhkah di Lam Hai terdapat pulau itu?"
"Engkau tidak percaya?"
"Saudara Ban yang bilang, tentunya aku
percaya," ujar Ti Kie Sin Kun Phang Kuang Yen sambil menatapnya.
"Sudah dua puluh tahun Saudara Ban tinggal di Pulau Pelangi, maka
aku yakin engkau telah berhasil menambah kepandaianmu."
"Cuma menambah sedikit-sedikit saja," sahut
Ban Kian Tong sambil tersenyum-senyum.
"Saudara Ban ….." Ti Kie Sin Kun Phang Kuang
Yen mengarah pada Pek Giok Liong seraya bertanya, "Apakah pemuda itu
majikan Pulau Pelangi?"
"Bukan." Ban Kian Tong memberitahukan. "Tapi
kedudukannya jauh lebih tinggi dari majikan Pulau Pelangi."
"Kalau begitu, mohon tanya apa
kedudukannya?"
"Ketua kami."
"Ketua kalian? Ketua Pulau Pelangi?"
"Saudara Phang, apakah engkau pernah dengar
partai Pulau Pelangi?"
"Tidak pernah!"
"Nah!" Ban Kian Tong tersenyum. "Kalau
begitu, kenapa engkau menduga itu?"
"Aku ….. aku memang cuma menduga."
"Justru dugaanmu itu salah." ujar Ban Kian
Tong sungguh-sungguh. "Partai kami tidak disebut partai Pulau
Pelangi!"
"Oh? Lalu partai apa?" tanya Ti Kie Sin Kun
Phang Kuang Yen.
"Saudara Phang, kelak engkau akan
mengetahuinya."
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Ti Kie Sin
Kun Phang Kuang Yen menatapnya dalam-dalam.
"Tentu boleh, tanyalah!"
"Apa kedudukan Saudara Ban dalam partai
itu?"
"Cuma bawahan saja."
"Yang kutanyakan kedudukanmu."
"Salah satu Arhat," jawab Ban Kian Tong.
"Ohya, apa kedudukanmu itu?"
"Aku bawahan Cih Seng Tay Tie," jawab Ti Kie
Sin Kun Phang Kuang Yen jujur. "Salah seorang pelindung pribadi."
"Kalau tidak salah, Cih Seng Tay Tie itu
adalah Cit Ciat Sin Kun. Benarkah?"
"Benar." Ti Kie Sin Kun Phang Kuang Yen
mengangguk. "Ohya, saudara Ban, bagaimana hubunganmu dengan aku?"
"Ha ha!" Ban Kian Tong tertawa. "Hubungan
kita sudah seperti saudara kandung."
"Betul." Ti Kie Sin Kun Phang Kuang Yer
tertawa gembira. "Oleh karena itu, aku ingin mohon bantuanmu."
"Apa yang bisa kubantu?"
"Kalau begitu, sebelumnya aku mengucapkan
terimakasih padamu." ucap Ti Kie Sin Kun Phang Kuang Yen.
"Tidak usah sungkan-sungkan, Saudara Pheng!"
ucap Ban Kian Tong dan balas menjura.
"Saudara Ban, aku mohon pihakmu jangan turut
campur urusan kami dengan partai Hwa San. Sudikah saudara Ban
mengabulkan permohonanku ini?"
"Saudara Phang!" Ban Kian Tong tersenyum.
"Maukah engkau mendengar nasihatku?"
"Silakan Saudara Ban berikan nasihat
padaku!"
"Saudara Phang, kita sama-sama sudah berusia
tujuh puluhan. Maka sudah waktunya bertobat."
"Maksud Saudara Ban?"
"Letakkan golok pembunuh, lalu jadilah orang
baik-baik!"
Phang Kuang Yen tertawa ringan, ia memandang
Ban Kian Tong seraya bertanya dengan suara rendah.
"Saudara Ban menghendaki aku melepaskan
kedudukanku ini?"
"Benar." Ban Kian Tong mengangguk.
"Ha ha!" Ti Kie Sin Kun Phang Kuang Yen
tertawa terbahak-bahak. "Berapa lama kita hidup di dunia, kalau kita
tidak mengerjakan sesuatu yang menggemparkan, itu berarti hidup kita
akan sia-sia."
"Oh?" Arhat pembasmi siluman Ban Kian Tong
menatapnya tajam.
"Cih Seng Tay Tie memiliki kepandaian
setinggi langit, begitu pula Kim Gin Siong Tie. Kalau Saudara Ban
mau bergabung dengan kami, aku berani menjamin engkau pasti hidup
senang."
Ucapan Ti Kie Sin Kun Phang Kuang Yen,
membuat kening Ban Kian Tong berkerut-kerut.
"Engkau harus tahu, bahwa aku sama sekali
tidak akan tergiur oleh kesenangan hidup, mungkin aku tidak punya
rejeki itu."
"Saudara Ban!" Ti Kie Sin Kun tertawa.
"Berhubung kita kawan lama, maka aku berterus terang padamu, itu
demi kebaikanmu."
"Aku tahu maksud baikmu, namun aku tidak
bisa menerimanya."
"Saudara Ban, aku harap engkau mau
mempertimbangkannya!"
"Aku telah mempertimbangkannya, aku sama
sekali tidak bisa menerima maksud baikmu itu."
"Saudara Ban ….." Phang Kuang Yen, Malaikat
Penggetar Bumi menarik nafas panjang. "Kelihatannya hubungan baik
kita puluhan tahun akan berakhir sampai di sini."
"Itu belum tentu," ujar Ban Kian Tong.
"Karena hubungan kita tidak terkait dengan urusan ini."
"Saudara Ban!" Ti Kie Sin Kun Phang Kuang
Yen menggeleng-gelengkan kepala. "Engkau harus mengerti, bahwa kita
berada di tempat yang berlawanan, maka kita akan menjadi musuh."
"Namun menurut aku, kita masih bisa
menghindari permusuhan ini."
"Apakah mungkin?"
"Tentu mungkin." Ban Kian Tong tersenyum.
"Seperti halnya keadaan sekarang ini, asal kita cari lawan yang
setimpal, bukankah kita tidak jadi musuh?"
"Apa yang engkau katakan itu memang masuk
akal, tapi bagaimana kalau ketuamu menyuruhmu agar mencabut
nyawaku?"
"Itu tidak mungkin."
"Aku bilang kalau."
"Tidak mungkin ada kalau."
"Saudara Ban kok begitu yakin?"
"Engkau harus tahu, ketua kami berhati bajik
dan berbudi luhur. Bagaimana mungkin ….."
Ti Kie Sin Kun Phang Kuang Yen maju
selangkah, kemudian ujarnya merendahkan suaranya.
"Saudara Ban, tadi Raja Emas menyampaikan
padaku suatu urusan yang amat menggelikan, apakah saudara Ban mau
dengar?"
"Urusan apa?" tanya Arhat pembasmi siluman,
Ban Kian Tong heran.
"Saudara Ban, Raja Emas bilang ….." Ti Kie
Sin Kun Phang Kuang Yen maju selangkah lagi, lalu mendadak secepat
kilat Ti Kie Sin Kun Phang Kuang Yen mencengkeram urat nadi ditangan
Ban Kian Tong.
Begitu cepat dan di luar dugaan, lagi pula
mereka berdua berada jarak yang sangat dekat. Walau kepandaian Ban
Kian Tong lebih tinggi, sudah tidak keburu berkelit. Urat nadi di
tangannya telah dicengkeram Ti Kie Sin Kun Phang Kuang Yen.
Betapa terkejutnya Thian Koh Sing Ma Hun,
Thian Kang Sing Whe Kauw dan ketiga Arhat lainnya. Ketika mereka
baru mau melompat ke arah Ti Kie Sin Kun Phang Kuang Yen, justru Pek
Giok Liong berseru mencegah mereka.
Sementara Ban Kian Tong gusar bukan main. Ia
menatap Phang Kuang Yen dengan sorotan tajam.
"Saudara Phang! Apa maksudmu ini? Cepat
lepaskan cengkeramanmu!" bentak Ban Kian Tong.
"He he!" Ti Kie Sin Kun Phang Kuang Yen.
"Maaf Saudara Ban, aku cuma diperintah!"
"Betulkah atasanmu perintahkan begitu?"
"Betul." Phang Kuang Yen mengangguk. "Kalau
tidak, bagaimana mungkin aku berani bertindak demikian terhadapmu?"
"Saudara Phang, lepaskan tanganku!"
Ti Kie Sin Kun Phang Kuang Yen menggelengkan
kepala, kemudian ujarnya perlahan-lahan.
"Aku mohon saudara Ban memaafkan aku Kalau
tiada perintah dari atasanku, bagaiman mungkin aku melepaskanmu?"
"Hm!" dengus Ban Kian Tong.
Pek Giok Liong maju selangkah ke hadapan Ti
Kie Sin Kun Phang Kuang Yen, ia menatapnya seraya bertanya.
"Harus bagaimana engkau baru mau
melepaskannya? Beritahukanlah!"
"Aku cuma menerima perintah dari atasanku,
maka tidak seharusnya engkau bertanya padaku."
"Maksudmu aku harus bertanya pada atasanmu?"
"Betul. Hanya atasanku yang dapat menjawab
pertanyaanmu."
Pek Giok Liong mengarah pada Tu Ci Yen dan
ujarnya.
"Katakanlah!"
"Engkau harus menjawab pertanyaanku!" sahut
Tu Ci Yen sambil tertawa hambar. "Juga harus menjawab dengan jujur!"
"Hanya pertanyaan saja?"
"Tentu tidak begitu sederhana!"
"Maksudmu?"
"Setelah aku bertanya, menyusul syarat!"
"Apa syaratmu?"
"Akan kuberitahukan setelah engkau menjawab
semua pertanyaanku."
"Haruskah begitu?"
"Memang harus."
"Kalau begitu, silakan tanya!"
Tu Ci Yen tertawa gelak, ia menatap Pek Giok
Liong tajam dan mulai bertanya.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Pertanyaan ini harus diajukan paling
betakang!"
"Tidak bisa! Engkau harus menjawab
pertanyaanku ini dulu!"
"Oh?" Pek Giok Liong mengerutkan kening.
"Jadi engkau ingin tahu siapa diriku?"
"Betul!"
"Lebih baik aku menyinggung sedikit
kesadaranmu."
"Maksudmu?"
"Kita sudah kenal."
"Apa?!" Tu Ci Yen melongo. "Kite sudah
kenal?"
"Ya." Pek, Giok Liong mengangguk.
"Kita pernah bertemu di mana?"
"Di suatu tempat, bahkan aku pernah menerima
satu pukulanmu yang nyaris membuat nyawaku melayang."
"Hah …..?" Tu Ci Yen tersentak. "Engkau …..
engkau Pek Giok Liong?"
"Tidak salah, aku memang Pek Giok Liong."
Usai berkata, Pek Giok Liong pun melepaskan topi rumputnya, lalu
menatap Tu Ci Yen dengan sorotan yang dingin sekali. "Nah, kini
engkau pun tidak bisa menyangkal lagi siapa dirimu kan?"
"Ha ha ha!" Tu Ci Yen tertawa gelak. "Benar!
Aku Tu Ci Yeng, lalu engkau mau apa? Ingin membalas pukulanku?"
"Mengenai pukulan itu, aku boleh balas dan
tidak. Tapi ….."
"Kenapa?"
"Aku ingin bertanya padamu, harap engkau
menjawab secara jelas!"
"Engkau ingin bertanya tentang keluarga
Siauw."
"Tidak salah. Beranikah engkau menjawab
secara jujur?"
"Bukan masalah berani atau tidak, melainkan
….." Tu Ci Yen menatapnya. "Itu urusan keluarga Siauw, kenapa engkau
ingin bertanya?"
"Karena aku mewakili seseorang."
"Oh?" Tu Ci Yen tersenyum sinis. "Mewakili
Hui Ceh atau mewakili Siauw Thian Lin?"
"Aku tidak mewakili mereka."
"Lalu mewakili siapa?"
"Dia orang tua pincang!"
"Oh? Orang tua pincang itu meninggalkan
pesan untukmu?"
"Setahun yang lalu, orang tua pincang itu
telah mengetahui engkau adalah orang yang licik dan berhati busuk.
Pada waktu itu, dia telah berpesan padaku."
"Oh, ya?" Tu Ci Yen tertawa. "Kau anggap
dirimu punya kemampuan untuk turut campur urusan keluarga Siauw?"
"Tidak salah, aku memang menganggap begitu."
"Pek Giok Liong!" bentak Tu Ci Yen mendadak.
"Kau bawa ke mana Hui Ceh dan ayahnya?"
"Engkau telah salah bertanya!" ujar Pek Giok
Liong sungguh-sungguh. Seharusnya engkau bertanya, aku menolong
mereka ke tempat mana?"
"Sungguhkah engkau menolong mereka?"
"Perlukah aku berbohong?"
"Tiada tujuan lain?"
"Tujuan lain? Kau anggap aku punya suatu
tujuan lain?"
"Apakah bukan karena Hui Ceh, maka engkau
menolong mereka?"
"Tu Ci Yen! Aku tidak seperti engkau yang
begitu kotor dan tak tahu malu!" ujar Pek Giok Liong dengan wajah
berubah dingin.
"Sudahlah!" Tu Ci Yen tertawa. "Jangan
pura-pura jadi ksatria, lelaki mana yang tidak suka pada gadis
cantik?"
"Hm!" dengus Pek Giok Liong dingin.
"Kalau ingin bertanya tentang keluarga
Siauw, sekarang juga engkau boleh mulai bertanya, jangan buang
waktu!"
"Tu Ci Yen, bagaimana keluarga Siauw
terhadapmu?"
"Baik dan tidak baik."
"Kenapa engkau katakan begitu?"
"Keluarga Siauw memang sangat baik
terhadapku, tapi dibalik baik itu terdapat pula ketidak baikan."
"Jelaskan!"
"Ketidak baikan itu yakni Siauw Thian Lin
tidak mempercayai diriku."
"Kenapa dia tidak mempercayai dirimu?"
"Dia menyimpan suatu rahasia."
"Rahasia apa?" .
"Kalau aku tahu, aku pun tidak akan
mengatakannya menyimpan suatu rahasia."
"Oleh karena itu ….." Pek Giok Liong tertawa
dingin. "….. Secara diam-diam engkau meracuninya dengan maksud
membunuhnya?"
"Tidak salah." Tu Ci Yen mengangguk. "Dia
membuatku membencinya dan tidak bisa bersabar lagi."
"Dia memeliharamu dari kecil, bahkan juga
mengangkatmu sebagai anak dan mengajarmu berbagai kepandaian, namun
karena dia menyimpan suatu rahasia, maka engkau tega meracuninya?
Engkau begitu tak kenal budi kebaikan orang?"
"Dia telah mengangkat aku sebagai anak,
justru harus mempercayaiku, tidak boleh menyimpan suatu rahasia ….."
lanjut Tu Ci Yen. "Dia tetap menganggapku sebagai orang luar, maka
aku pun tidak perlu ingat budi kebaikannya lagi."
"Tu Ci Yen!" Pek Giok Liong
menggeleng-gelengkan kepala. "Engkau sungguh berhati sempit!"
"Pek Giok Liong! Ini urusanku, engkau tidak
perlu turut campur! Kalau engkau masih punya pertanyaan lagi,
cepatlah bertanya!"
"Baik." Pek Giok Liong tertawa. "Apa
kesalahan Siauw Peng Yang, sehingga engkau pun ingin membunuhnya?"
"Dia tidak mau menurut perintahku, maka aku
ingin membunuhnya."
"Lalu bagaimana dengan orang tua pincang
itu? Dia tidak bermusuhan denganmu, tapi mengapa engkau
membunuhnya?"
"Dia sama sekali tidak menghormati aku,
sudah bagus aku tidak segera membunuhnya."
"Kalau begitu, mereka semua memang harus
mati?"
"Memang begitu." Tu Ci Yen menatapnya. "Pek
Giok Liong, sudah selesaikah engkau bertanya?"
"Sudah."
"Pek Giok Liong!" Tu Ci Yen tertawa
terkekeh. "Kini giliranku bertanya padamu!"
"Silakan engkau bertanya!"
"Sudahkah engkau pergi ke Pulau Pelangi
itu?"
"Betul." Pek Giok Liong mengangguk dan
memberitahukan. "Bahkan aku pun berhasil belajar kepandaian tingkat
tinggi di sana."
"Kalau begitu, engkau kenal Mei Kuei Ling
Cu?"
"Bukan cuma kenal, bahkan kami pun punya
hubungan erat!"
"Oh? Siapa Mei Kuei Ling Cu itu?"
"Dia marga Se, namanya Pit Han." Pek Giok
Liong memberitahukan. "Juga majikan muda Pulau Pelangi itu!"
"Orang-orang itu memanggilmu ketua,
sebetulnya engkau ketua dari partai apa?"
"Ketua Panji Hati Suci Matahari Bulan."
Tu Ci Yen tampak terkejut. "Kedudukanmu itu
lebih tinggi dari majikan Pulau Pelangi?"
"Betul, Majikan Pulau itu bawahan Jit Goat
Seng Sim Ki."
"Emmh!" Tu Ci Yen manggut-manggut. Sekarang
engkau harus dengar syaratku!"
"Beritahukanlah!"
"Pek Giok Liong!" Tu Ci Yen tertawa licik.
"Engkau harus segera mengajak orang-orangmu meninggalkan Hwa San!"
"Oh, ya?" Pek Giok Liong tertawa dingin.
"Dan juga ….. engkau pun harus perintahkan
Mei Kuei Ling Cu, kembali ke Pulau Pelangi bersamamu!"
"Tu Ci Yen!" Pek Giok Liong mengerutkan
kening. "Engkau sedang bermimpi?"
"Aku dalam keadaan sadar!"
"Jadi itu syaratmu?"
"Tidak salah!"
"Kau pikir aku akan setuju?"
"Tidak setuju pun harus setuju?"
"Kalau engkau tidak setuju ….." Tu Ci Yen
tertawa licik. "Ban Kian Tong akan segera mati di Hwa San ini!"
"Kau kira dengan nyawanya dapat menekan
diriku?" tanya Pek Giok Liong dengan alis terangkat.
"He he!" Tu Ci Yen tertawa terkekeh. "Dia
salah seorang dari empat Arhat, apakah kedudukannya itu kurang
tinggi?"
"Memang tinggi, lagi pula aku pun harus
memikirkan keselamatannya! Akan tetapi, di Hwa San ini terdapat
ratusan nyawa. Demi keadilan bu lim, nyawanya yang cuma satu itu
terhitung apa?" ujar Pek Giok Liong, kemudian menatap Tu Ci Yen
tajam dan dingin seraya melanjutkan, "Kalau engkau berani
menyentuhnya, aku pun tidak akan segan-segan membunuh! Aku akan
mengerahkan ilmu Ceng Thian Sin Ci (Telunjuk Sakti Penggetar Langit,
Tui Hun Ciang (Pukulan Pengejar Roh) dan Ling Khong Tiam Hoat
(Menotok Jalan Darah Jarak Jauh) untuk membunuh kalian semua! Engkau
tidak percaya, boleh coba!"
Mendengar itu, Tu Ci Yen, Thian Suan Sin
Kin, Ti Kie Sin Kun, tiga pemimpin aula dan lainnya menjadi
terperanjat bukan main.
Sebab ketiga ilmu yang dikatakan Pek Giok
Liong itu, merupakan ilmu tingkat tinggi yang tiada tanding di
kolong langit.
Akan tetapi, Tu Ci Yen masih berusaha
tenang, bahkan tertawa terbahak-bahak.
"Pek Giok Liong, kalau aku tidak yakin,
tentunya tidak akan mengajukan syarat itu!"
"Oh? Kenapa engkau begitu yakin?"
"Sebab aku masih memegang sesuatu yang amat
penting!"
"Apa itu?"
"Sesuatu itu cukup membuatku harus tunduk!"
"Oh?" Pek Giok Liong mengerutkan kening.
"Itu merupakan barang atau orang?"
"Orang!"
"Siapa dia?"
"Kedudukan orang itu jauh lebih tinggi dari
pada kedudukan Ban Kian Tong ini!" sahut Tu Ci Yen sambil tertawa
puas.
"Hm!" dengus Pek Giok Liong. "Kau kira aku
akan percaya?"
"Engkau mau tahu siapa orang itu?"
"Kalau engkau mau bilang, bilanglah!"
"He he he!" Tu Ci Yen tertawa terkekeh-
kekeh. "Nah, engkau dengar baik-baik! Orang itu adalah gurumu Kian
Kun Ie Siu!"
Betapa terkejutnya hati Pek Giok Liong.
"Di mana guruku itu?" tanyanya.
"Di sebuah goa yang amat rahasia."
"Di mana goa itu?"
"Di Gunung Seh Lian!"
Mendadak Pek Giok Liong tampak begitu
tenang, kemudian ia pun tertawa terbahak-bahak.
"Tu Ci Yen, masih ada omong kosong yang
lain?"
"Engkau tidak percaya?"
"Aku bukan anak kecil!"
"Engkau harus percaya! Kalau tidak ….."
"Tu Ci Yen!" bentak Pek Giok Liong. "Aku
peringatkan, cepat lepaskan Ban Kian Tong! Lalu bawa orang-orangmu
meninggalkan Hwa San! Engkau harus tahu, aku sudah mulai tidak
sabaran!"
"Oh?" Tu Ci Yen tertawa dingin.
"Tu Ci Yen, aku akan hitung sampai sepuluh!
Kalau kalian belum juga pergi, aku pun pasti membunuh kalian semua
di sini!"
"He he he!" Tu Ci Yen tertawa terkekeh.
"Satu ….. dua ….. tiga ….. empat ….." Pek
Giok Liong mulai menghitung.
Tu Ci Yen menatapnya tajam, dan tanyanya
dengan suara dalam.
"Pek Giok Liong! Engkau tidak akan
menyesal?"
Pek Giok Liong sama sekali tidak
menghiraukannya, ia terus menghitung.
"Lima ….. enam ….. tujuh ….. delapan …..
Sembilan ….." Ketika menghitung sampai sembilan, mendadak Pek Giok
Liong menyentilkan telunjuknya.
Seketika juga terdengar suara jeritan,
ternyata Ti Kie Sin Kun, yang menjerit. Lengan kirinya telah putus
dan darahnya pun mengucur. Otomatis tenaga cengkeramnya di tangan
kanannya berkurang. Kesempatan itu tidak disia-siakan Ban Kian Tong,
ia bergerak-gerak mencengkeram bahu Ti Kie Sin Kun.
Kejadian yang mendadak itu membuat Tu Ci
Yen, Thian Sua Sin Kun dan lainnya menjadi ciut nyalinya.
Sedangkan Pek Giok Liong sudah mengangkat
sebelah tangannya, siap menyerang mereka dengan Tui Hun Ciang.
Menyaksikan itu, Tu Ci Yen segera berseru.
"Pek Giok Liong, tunggu!"
"Engkau tidak perlu banyak bicara lagi,
cepatlah bawa orang-orangmu meninggalkan Hwa San!"
"Pek Giok Liong!" bentak Tu Ci Yen gusar.
"Engkau berbuat demikian, pasti menyesal nanti!"
"Aku tidak akan menyesal!" sahut Pek Giok
Liong. "Kalau engkau dan lainnya tidak segera meninggalkan Hwa San,
aku pasti segera menyerang kalian dengan ilmu (Pukulan Pengejar
Roh)!"
"Pek Giok Liong, engkau cukup bengis!"
teriak Tu Ci Yen, kemudian mengibaskan tangannya seraya berkata pada
Thian Sua Sin Kun. "Cepat papah Ti Kie Sin Kun, mari kita pergi!"
Thian Sua Sin Kun segera memapah Ti Kie Sin
Kun. Dalam sekejap mereka telah meninggalkan Hwa San.
Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun, sudah tahu
kedudukan Pek Giok Liong, maka segera menghampirinya sambil menjura
memberi hormat.
"Terimakasih atas pertolongan Ketua! Budi
pertolongan ini tak terlupakan selamanya. Aku mohon Ketua sudi ke
dalam untuk duduk-duduk sebentar!"
"Ketua Hua, engkau tidak perlu berlaku
begitu sungkan dan hormat!" Pek Giok Liong balas menjura pada ketua
Hwa San, kemudian melanjutkan, "Tu Ci Yen dan orang-orangnya pergi
dengan penasaran, mungkin mereka akan kembali ke mari lagi. Harap
ketua Hua bersiap-siap!"
"Ya." Ketua Hwa San, Hua Hun manggutmanggut.
"Tentang ini, aku akan berunding dengan para murid."
"Menurut pendapatku, demi menghindari
serangan Tu Ci Yen, lebih baik ketua Hua dan para murid pindah ke
tempat yang aman untuk sementara waktu. Bagaimana menurut ketua
Hua?"
"Terimakasih!" ucap ketua Hwa San. "Mengenai
ini akan kami rundingkan bersama!"
Pek Giok Liong tahu, bahwa tidak mungkin
ketua Hwa San akan mengajak para muridnya pindah ke tempat lain,
sebab perbuatan itu akan merendahkan nama partai Hwa San, maka Pek
Giok Liong pun berkata sambil tersenyum.
"Selama masih ada hutan, jangan khawatir
tiada kayu bakar! Ketua Hua, pertimbangkanlah apa yang kusarankan
tadi!"
"Baiklah." Ketua Hwa San mengangguk. "Aku
pasti pertimbangkannya."
"Maaf Ketua Hua, aku mau mohon diri!" ucap
Pek Giok Liong dan segera mengerahkan ginkangnya. Dalam sekejap ia
telah hilang dari tempat itu.
"Bukan main!" Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun,
ketua Hwa San itu menarik nafas panjang. "Sungguh tinggi ilmu
meringankan tubuhnya!"
-- o --
(Bersambung bagian 44)
Bagian ke 44: Goa Rahasia
Di gunung Seh Lian, terdapat sebuah goa. Di
dalam goa itu duduk berhadapan dua orang.
Salah seorang berdandan pelajar, usianya
sekitar empat puluhan, yang seorang lagi merupakan pemuda yang amat
tampan. Siapa pemuda itu? Tidak lain Pek Giok Liong.
Di luar goa itu, berdiri puluhan orang yang
berkepandaian tinggi. Sementara Pek Giok Liong dan orang itu terus
saling memandang dengan wajah serius. Suasana pun amat tegang dan
mencekam.
"Bagaimana?" tanya Pek Giok Liong. "Engkau
sudah siap belum?"
Orang itu tertawa ringan dan jawabnya
singkat.
"Sudah."
"Bagus." Pek Giok Liong manggut-manggut.
"Kawan-kawanmu itu telah datang semua?"
"Sudah, mereka menjaga di luar!"
"Bagaimana keputusanmu sekarang?"
"Asal engkau menyerahkan Jit Goat Seng Sim
Ki, semua urusan pasti beres!"
Pek Giok Liong menatap orang itu dengan
tajam, lalu tersenyum seraya bertanya.
"Kenapa tidak berani menyebut nama dan
asal-usulmu?"
"Itu tidak perlu."
"Takut kelak aku akan membalas dendam?"
"Tidak."
"Kalau begitu, kenapa engkau tidak berani
menyebut nama dan asal-usulmu?"
Orang itu tertawa gelak, ia menatap Pek Giok
Liong dalam-dalam seraya berkata.
"Engkau masih punya kesempatan untuk
membalas dendam?"
"Kenapa tidak?"
"Pertama, engkau tidak bisa hidup lewat tiga
hari."
"Kedua?"
"Kedua, meskipun engkau mampu memunahkan
racun yang ada di dalam tubuhmu, engkau pasti cacat seumur hidup."
"Oh?" Pek Giok Liong tersenyum. "Aku terkena
racun apa?"
"Engkau mau tahu?"
"Sebetulnya aku tidak mau tahu, namun engkau
mengatakan racun itu begitu lihay, maka aku pun ingin
mengetahuinya."
Orang itu diam saja, rupanya ia sedang
mempertimbangkan, boleh atau tidak memberitahukan pada Pek Giok
Liong. Karena cukup lama orang itu tidak membuka mulut, maka Pek
Giok Liong yang bertanya dengan nada menyindir.
"Engkau tidak berani memberitahukan padaku
kan?"
"Bukan masalah tidak berani, melainkan
engkau akan bertambah cemas mendengarnya, maka aku merasa tidak tega
memberitahukan."
"Kalau engkau tidak beritahukan, hatiku
malah semakin cemas."
"Karena engkau mendesak, seandainya aku
tidak memberitahukan, itu akan membuat hatiku merasa tidak enak."
"Nah!" Pek Giok Liong tersenyum. "Kalau
begitu, cepatlah beritahukan padaku, agar hatimu merasa enak!"
"Pek Giok Liong!" Orang itu tertawa licik.
"Bagaimana kalau kita membicarakan syarat saja?"
"Aku tidak bisa hidup lebih dari tiga hari,
masih ada syarat apa yang harus dibicarakan? Lebih baik engkau
katakan saja!"
"Berada di mana Jit Goat Seng Sim Ki itu
sekarang?"
"Bagaimana menurutmu?"
"Kalau aku tahu, bagaimana mungkin aku
bertanya padamu?"
"Benar." Pek Giok Liong manggut-manggut.
"Kalau engkau tahu, tentunya tidak akan bertanya padaku."
"Engkau memang cerdik!"
"Ha ha ha!" Mendadak Pek Giok Liong tertawa
keras, sehingga goa itu tergetar-getar.
"Kenapa engkau tertawa?" tanya orang itu
heran.
"Engkau telah terjebak," jawab Pek Giok
Liong, kemudian tertawa keras lagi.
"Eh?" Orang itu menatap Pek Giok Liong
dengan curiga. "Engkau sama sekali tidak……"
"Tentu tidak." Pek Giok Liong menatapnya
dingin. "Maka aku masih bisa tertawa keras."
Tidak salah, seharusnya saat ini Pek Giok
Liong sudah tidak bertenaga sekujur badannya akan tetapi……
Orang itu tersentak, tanpa sadar ia melompat
mundur. Ia tahu kepandaiannya masih di bawah kepandaiannya Pek Giok
Liong.
"Terkejut ya?" Pek Giok Liong tersenyum dan
berkata, "Walau engkau tidak menyebut namamu, aku sudah tahu siapa
dirimu."
Hati orang itu tersentak lagi, kemudian
tanyanya seakan tidak percaya apa yang dikatakan Pek Giok Liong.
"Engkau tahu aku siapa?"
"Engkau tidak percaya?"
"Aku memang tidak percaya."
"Aku justru tahu siapa dirimu." Pek Giok
Liong menatapnya dan melanjutkan ucapannya "Engkau adalah Cian Tok
Suseng (Pelajar Seribu Racun)."
"Bukan," jawab orang itu cepat. "Aku bukan
Cian Tok Suseng."
"Engkau tidak mengaku juga tidak apa-apa
sebab aku sudah tahu siapa dirimu."
"Engkau ngawur. Cian Tok Suseng itu telah
lama menghilang. Kalau masih ada orangnya, usianya pun sudah
mendekat seratus."
"Kenapa Cian Tok Suseng itu menghilang dari
bu lim, orang lain tidak tahu, tapi aku tahu."
"Engkau tahu sebabnya?"
"Tentunya engkau lebih jelas dari pada aku.
Kenapa harus bertanya lagi?" Pek Giok Liong tersenyum. "Baiklah,
kuberitahukan. Dia sangat beruntung mendapat semacam rumput obat.
Setelah makan rumput obat itu, dia pun tampak muda seperti berusia
empat puluhan, bahkan panjang umur."
"Kok engkau tahu itu?"
"Sudah pasti ada orang memberitahukan
padaku."
"Siapa orang itu?"
"Engkau bilang dirimu bukan Cian Tok Suseng,
kenapa harus bertanya begitu jelas? Percuma kan?"
"Aku sungguh merasa heran."
"Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui. Engkau masih
tidak mengaku?" bentak Pek Giok Liong mendadak.
"Aku bukan Cian Tok Suseng, kenapa harus
mengaku?"
"Ouw Beng Hui!" Pek Giok Liong tersenyum.
"Sepasang matamu telah memberitahukan padaku, kenapa kau masih tidak
mau mengaku?"
"Aku……"
"Ouw Beng Hui, lebih baik engkau mengaku.
Itu ada kebaikan bagimu."
"Ada kebaikan apa?"
"Kalau begitu, engkau telah mengaku?"
"Karena engkau bilang ada kebaikannya, maka
apa salahnya aku mengaku."
"Engkau jangan omong begitu! Mau mengaku
silakan, tidak mau mengaku juga tidak apa-apa. Namun…… alangkah
baiknya kalau engkau mau mempertimbangkan."
Orang itu berpikir lama sekali, akhirnya
mengangguk.
"Aku mengaku."
"Sungguhkah engkau mengaku?"
"Ya." Orang itu mengangguk lagi. "Aku
sungguh-sungguh mengaku."
"Tapi harus ada buktinya."
"Apa?! Bukti?" Tertegun orang itu.
"Tentu harus ada bukti. Kalau tidak,
bagaimana nanti kalau engkau tidak mengaku lagi?"
"Engkau boleh……" Orang itu diam mendadak,
sama sekali tidak berani melanjutkan ucapannya.
"Maksudmu aku boleh membunuhmu?"
"Be…… benar. Aku memang bermaksud begitu."
Justru Pek Giok Liong malah tertawa,
sehingga membuat orang itu terheran-heran.
"Relakah engkau mati?" tanya Pek Giok Liong
mendadak.
"Aku…… aku memang tidak rela untuk mati.
Namun……"
"Kalau keadaan memaksa, itu apa boleh buat
kan?"
"Benar." Orang itu mengangguk. "Semua orang
harus mati, begitu pula aku dan engkau."
"Bagus." Pek Giok Liong tertawa gelak. "Kini
pikiranmu telah terbuka."
"Itu karena aku kewalahan menghadapimu, maka
apa boleh buat." Orang itu menarik nafas panjang. "Aku terpaksa
harus begini."
"Kenapa engkau kewalahan menghadapiku?"
tanya Pek Giok Liong sambil tersenyum.
"Engkau sangat cerdik dan berkepandaian
tinggi. Oleh karena itu, aku pun jadi kewalahan menghadapimu."
"Tapi ada satu yang aku tidak bisa
menyamaimu."
"Maksudmu mengenai racun?"
"Benar." Pek Giok Liong manggut-manggut.
"Engkau pakar racun dengan julukan Cian Tok Suseng, jelas aku tidak
bisa menyamaimu."
"Sudahlah! Kini aku telah kenal jelas
dirimu. Mengenai racun, engkau pun tidak di bawahku."
"Apakah engkau merasa menyesal sekarang?"
"Aku memang merasa sedikit menyesal," ujar
orang itu jujur. "Kalau sebelumnya aku tahu engkau begitu lihay, aku
pun tidak berani mencarimu untuk minta Panji Hati Suci Matahari
Bulan itu."
"Jadi kini engkau sudah tidak berniat untuk
menjagoi rimba persilatan lagi?"
"Menjagoi bu lim? Itu sudah merupakan
kentut." Cian Tok Suseng menggeleng-gelengkan kepala. "Justru karena
itu, aku terjebak sehingga keluar dari tempat tinggalku."
"Cit Ciat Sin Kun yang menjebakmu keluar
kan?"
"Eh?" terbelalak Cian Tok Suseng. "Kok
engkau tahu?"
"Kalau aku tidak tahu, apakah engkau akan
kewalahan menghadapiku?" Pek Giok Liong tertawa.
"Heran! Itu sungguh mengherankan……" gumam
Cian Tok Suseng.
"Apa yang mengherankanmu?"
"Kelihatannya segala apa pun tidak dapat
mengelabuimu. Bukankah itu sangat mengherankan?"
"Masih ada lain yang lebih mengherankanmu."
"Oh?" Cian Tok Suseng terbelalak lagi. "Apa
itu?"
"Aku pun tahu cara bagaimana dia menjebakmu
keluar. Engkau percaya tidak?" Pek Giok Liong menatapnya sambil
tersenyum-senyum.
"Ini…… aku tidak percaya."
"Dia menjebakmu dengan suatu syarat. Setelah
engkau berhasil membantunya, dia pun akan memberimu semacam racun
yang paling ganas di kolong langit. Begitu kan syaratnya?"
"Haah……?" Mulut Cian Tok Suseng ternganga
lebar. "Tidak salah. Akkh! Engkau membuatku kagum dan salut."
"Nah!" Pek Giok Liong tertawa kecil. "Kini
sudah saatnya kita kembali pada pokok pembicaraan."
Cian Tok Suseng tertegun. "Pokok pembicaraan
yang bagaimana?"
"Engkau belum membuktikan, bahwa engkau Cian
Tok Suseng Ouw Beng Hui." ujar Pek Giok Liong memberitahukan.
"Bukankah aku sudah mengaku tadi? Masih
perlu membuktikan apa? Engkau khawatir aku Cian Tok Suseng palsu?"
"Engkau sudah lupa akan apa yang kukatakan
tadi?"
"Apa?" Cian Tok Suseng tercengang. "Engkau
katakan apa tadi?"
"Kalau engkau benar Cian Tok Suseng, maka
engkau akan memperoleh suatu kebaikan dariku."
"Oh, itu!" Cian Tok Suseng manggut-manggut.
"Kebaikan apa?"
"Cit Ciat Sin Kun mengabulkan apa padamu?"
"Racun yang paling ganas di kolong langit,"
jawab Cian Tok Suseng sambil menatapnya. "Engkau punya barang itu?"
"Aku memang punya, namun……" Pek Giok Liong
tersenyum. "Aku tidak bisa sembarangan memberikan padamu."
"Oh?" Cian Tok Suseng tampak girang. "Engkau
punya syarat?"
"Tiada syarat."
"Kalau begitu……" Cian Tok Suseng melongo.
"Engkau cukup bersumpah, bahwa akan menuruti
apa yang kukatakan." Pek Giok Liong memberitahukan.
"Baik." Cian Tok Suseng mengangguk.
"Cepatlah katakan, aku pasti menurut."
"Sungguh?"
"Sungguh!"
"Kalau begitu, engkau harus segera berlutut
mengarah ke barat, tangan kanan diangkat ke atas, tangan kiri
menunjuk dada sendiri……"
Sebelum Pek Giok Liong menyelesaikan
ucapannya, Cian Tok Suseng memberi hormat pada Pek Giok Liong.
"Harap diperlihatkan, agar teecu tidak
ragu!" ucapnya.
Pek Giok Liong manggut-manggut dengan wajah
serius, kemudian ia merogoh ke dalam bajunya mengeluarkan sebuah
panji kecil, dan sekaligus diangkat ke atas seraya berkata dengan
wibawa.
"Melihat panji sama seperti melihat kakek
guru, cepat berlutut!"
Cian Tok Suseng segera berlutut, lalu
ucapnya dengan hormat.
"Teecu Ouw Beng Hui menghadap Ketua panji!"
"Ouw Beng Hui, engkau tahu salah?"
"Teecu tahu."
"Bagaimana alasanmu?"
"Teecu ceroboh sehingga terjebak, mohon
Ketua panji menghukum teecu."
"Hm!" dengus Pek Giok Liong dingin "Karena
engkau telah mengaku ceroboh, maka engkau harus menebus itu! Ayoh,
cepat bangun!"
"Terimakasih Ketua panji!" ucap Ouw Beng Hui
sambil menarik nafas lega. Setelah itu, ia bangkit berdiri dengan
mulut membungkam.
Pek Giok Liong menyimpan panji itu ke dalam
bajunya, kemudian menatap Cian Tok Suseng, seraya bertanya.
"Kenapa engkau diam saja?"
"Teecu sudah siap menerima hukuman," jawab
Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui sambil menjura.
"Aku ingin bicara, bukan ingin menghukummu."
Pek Giok Liong tersenyum.
"Tapi teecu tetap harus menghormati Ketua
panji!"
"Aku masih muda, kalau engkau bersikap
begitu, lebih baik aku tidak bicara saja."
"Ya, teecu tidak akan bersikap begitu lagi."
"Nah! Mari kita duduk mengobrol!"
"Ya."
Mereka berdua lalu duduk berhadapan,
berselang sesaat, Pek Giok Liong memandangnya seraya bertanya.
"Saudara tua, tahukah engkau siapa Kim Gin
Siang Tie?"
"Tahu."
"Engkau pernah bertemu mereka?"
"Pernah bertemu satu kali."
"Tahukah engkau, siapa Kim Tie itu?"
Ouw Beng Hui, Pelajar Seribu Racun itu
menggelengkan kepala, namun kemudian ujarnya sambil mengerutkan
kening.
"Tidak tahu, tapi menurut dugaan teecu, dia
tergolong orang yang masuk hitungan dalam bu lim masa kini!"
"Kenapa engkau menduga begitu?"
"Sebab orang-orang yang berkepandaian
tingkat tinggi dalam bu lim dapat dihitung ada berapa banyak."
"Oh!" Pek Giok Liong mengangguk. "Apakah dia
memiliki ilmu dan kecerdasan yang amat tinggi?"
"Dia memang sangat cerdas, namun mengenai
kepandaiannya, teecu tidak begitu jelas."
"Kalau begitu, engkau menduga siapa dia?"
Ouw Beng Hui, si Pelajar Seribu Racun diam
saja. Kelihatannya ia ragu memberitahukan.
"Kenapa diam? Tidak leluasa memberitahukan?"
tanya Pek Giok Liong.
"Bukan tidak leluasa, melainkan teecu tidak
berani sembarangan memberitahukan, sebab tiada bukti."
"Itu tidak apa-apa. Beritahukan saja!"
"Menurut dugaan teecu dia mungkin bukan
berasal dari golongan hitam."
"Oh?" Pek Giok Liong tertegun. "Kenapa
engkau menduga begitu?"
"Setahu teecu, dalam golongan hitam tidak
pernah terdengar ada orang yang begitu cerdas dan tinggi
kepandaiannya."
"Apakah dia berasal dari golongan putih?"
"Itu sulit dikatakan."
Pek Giok Liong tampak termenung, kemudian
mengalihkan pembicaraan.
"Kata Tu Ci Yen, guruku dikurung di sini,
itu benar atau bohong?"
"Itu memang benar……"
"Di mana guruku sekarang?"
"Sudah tidak berada di sini lagi."
"Apakah Tu Ci Yen ke mari membawanya pergi?"
"Tu Ci Yen tidak ke mari, melainkan Cit Ciat
Sin Kun mengutus orang kepercayaannya ke mari untuk membawanya
pergi."
"Engkau tahu guruku dibawa ke mana?"
"Teecu tidak tahu, karena mereka tidak
bilang apa-apa ketika membawa gurumu pergi."
Pek Giok Liong mengerutkan kening, lama
sekali baru bertanya.
"Apakah mereka tahu aku mau ke mari?"
"Kalau tidak salah, Tu Ci Yen telah melapor
tentang kejadian di Hwa San pada Cit Ciat Sin Kun. Cit Ciat Sin Kun
mengira engkau tidak percaya, tapi engkau justru akan ke mari
menyelidikinya, maka Cit Ciat Sin Kun segera mengutus beberapa orang
kepercayaannya ke mari untuk membawa gurumu pergi ke tempat lain."
"Oooh!" Pek Giok Liong manggut-manggut. "Aku
tidak menduga Cit Ciat Sin Kun begitu cerdik."
"Dia memang cerdik dan banyak akal, maka
harus berhati-hati menghadapinya. Jangan bertindak ceroboh!"
Pek Giok Liong mengangguk dan bertanya
mendadak.
"Ohya! Bagaimana keadaan guruku?"
Bibir Ouw Beng Hui atau Pelajar Seribu Racun
tampak bergerak, namun tidak mengucapkan apa pun.
Melihat itu, wajah Pek Giok Liong berubah,
tapi masih berusaha agar bisa tenang.
"Tidak apa-apa, bicaralah!"
"Tubuhnya terkena racun, tenaga dalamnya pun
sudah musnah. Hanya mengandal pada suatu obat untuk menekan racun
yang ada di tubuhnya agar tidak menjalar, sekaligus menjaga nafas
jangan sampai putus," ujar Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
memberitahukan. "Sesungguhnya dia bagaikan pelita yang hampir habis
minyaknya."
"Apakah engkau sudah memeriksa dan benar
guruku terkena racun?" tanya Pek Giok Liong. "Apakah racun itu bisa
dipunahkan?"
"Hah?" tertegun Cian Tok Suseng tampak.
"Apakah Ketua belum tahu tentang itu?"
"Setahun yang lalu, aku berpisah dengan
guru, maka aku tidak tahu bahwa guruku terkena racun itu.
"Oh!" Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
manggut-manggut. "Itu racun mayat yang ada di dalam tanah ratusan
tahun."
"Haah……?" Betapa terkejutnya Pek Giok Liong.
Wajahnya pun langsung memucat seperti kertas.
"Itu tergolong racun yang amat ganas di
kolong langit, namun masih ada obat pemunahnya. Tapi……" Cian Tok
Suseng Ouw Beng Hui menarik nafas panjang. "Dia mendesak racun itu
berkumpul jadi satu dengan tenaga dalamnya, namun sudah sekian lama
dan lwee kangnya telah musnah, maka sudah tiada obatnya."
Pek Giok Liong mengerti, bahwa nyawa Kian
Kun Ie Siu sudah sulit ditolong. Hal itu membuat wajahnya menjadi
murung sekali, kemudian mendadak sepasang matanya menyorot dingin
seraya bertanya, "Siapa yang mahir menggunakan racun mayat itu?"
"Hanya Mu Khun, yang berjuluk Hwak Kiang Si
(Mayat hidup). Dia tinggal di bawah tanah bersama mayat-mayat yang
telah busuk. Oleh karena itu, dia mahir menggunakan racun mayat."
"Kalau begitu, pada waktu itu pasti Mu Khun
yang menggunakan racun mayat tersebut!"
"Tidak ada orang lain lagi."
"Tahukah engkau dia berada di mana
sekarang?"
"Sebetulnya dia tinggal di dalam sebuah
kuburan besar di Gunung Mou. Tapi sudah sekian tahun tiada kabar
beritanya. Kini dia masih tinggal di sana atau tidak, tidak bisa
dipastikan."
"Emmh!" Pek Giok Liong manggut-manggut,
setelah itu bertanya lagi. "Apakah engkau tahu Cit Ciat Sin Kun
tinggal di mana?"
Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui mengerutkan
kening seraya berpikir, berselang sesaat jawabnya agak ragu.
"Kalau tidak salah, sepertinya…… dia tinggal
di Kah Lan San (Gunung Kah Lan)."
"Kenapa engkau katakan sepertinya?"
"Ketika dia mengutus orang pergi menjemput
teecu, muka teecu ditutup dengan kain, dan sampai di tempat, barulah
kain penutup muka teecu dibuka. Ketika keluar, muka hamba juga
ditutup dengan kain. Pada waktu kain itu dibuka, teecu sudah berada
di Kota Gin Cuan. Maka teecu menduga, tempat tinggalnya berada di
Gunung Kah Lan."
"Berdasarkan apa engkau menduga begitu?"
"Karena Kota Gin Cuan berada tak jauh dari
Gunung Kah Lan, sehingga teecu menduga begitu."
"Oooh!" Pek Giok Liong manggut-manggut,
kemudian mengalihkan pembicaraan. "Ohya! Saat ini engkau, punya
rencana apa?"
"Apa?" Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
tertegun. "Maksud Ketua?"
"Orang-orang yang di luar itu."
"Teecu pasti terima perintah Ketua."
"Aku justru ingin tahu bagaimana rencanamu."
"Orang-orang yang di luar itu merupakan
penjahat yang berhati kejam, rencana teecu……" Cian Tok Suseng Ouw
Beng Hui memandang Pek Giok Liong. "Bagaimana menurut Ketua?"
"Itu terlampau sadis," jawab Pek Giok Liong
sambil menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan, "Tidak baik
melakukan itu."
"Ketua berhati bajik, padahal mereka sudah
banyak membunuh orang, apa salahnya kalau mereka kita basmi?"
"Mereka semua ada berapa orang?"
"Sekitar tiga belas orang."
"Siapa pemimpin mereka?"
"Teecu tidak tahu namanya, tapi pemimpin itu
punya lambang di bajunya."
"Lambang apa?"
"Lima kuntum bunga emas."
"Bisakah engkau menyuruhnya masuk?"
"Mungkin tidak jadi masalah, tapi……" Ucapan
Cian Tok Suseng berhenti sesaat. "Orang-orang bawahan Ketua pasti
tidak mengizinkannya masuk." lanjutnya.
"Itu gampang." Pek Giok Liong tersenyum "Aku
akan mengirim suara pada mereka, agar mereka tidak menghadangnya."
Cian Tok Suseng manggut-manggut, lalu
memandang Pek Giok Liong seraya bertanya dengar serius.
"Apakah Ketua ingin menyelidiki tempat
tinggal Cit Ciat Sin Kun melalui orang yang memakai lambang lima
kuntum bunga emas itu?"
"Ya." Pek Giok Liong mengangguk dan
menambahkan, "Bukan menyelidiki, melainkan memancingnya dengan
akal."
"Ketua sungguh cerdik!" puji Cian Tok Suseng
Ouw Beng Hui sambil tertawa.
Pek Giok Liong tersenyum, lalu berbicara
pada Siang Sing (Sepasang Bintang) dan Si Kim Kong (Empat Arhat)
dengan ilmu menyampaikan suara.
"Beres. Sekarang engkau boleh bicara."
ujarnya kemudian kepada Cian Tok Suseng.
Setelah berkata begitu, Pek Giok Liong pun
segera duduk di bawah bersandar pada dinding goa. Ouw Beng Hui atau
Pelajar Seribu Racun memandang mulut goa lalu berseru dengan suara
lantang.
"Dengar baik-baik orang-orang Lam Hai yang
ada di luar! Pek Giok Liong telah terkena racun dan kini telah
kukuasai! Kalian semua jangan bergerak! Kalau kalian bergerak, Pek
Giok Liong yang akan celaka duluan!"
Siang Sing dan Si Kim Kong berpura-pura
terkejut dengan air muka berubah cemas. Mereka kelihatan ingin
bergerak, tapi juga merasa takut.
"Pengecut!" bentak Thian Koh Sing gusar.
"Engkau betul-betul manusia rendah, hanya berani menggunakan racun!
Kalau engkau lelaki sejati, ayoh! Mari kita bertarung di sini!"
"Ha ha ha!" Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
tertawa gelak. "Kalau aku bukan pengecut, bagaimana mungkin Pek Giok
Liong akan jatuh di tanganku? Nah, lebih baik kalian diam!"
"Dasar pengecut!" Caci Thian Koh Sing.
"Harap Kiam Hoa Seh Cia (Duta Bunga Emas)
masuk untuk bicara!" seru Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui.
Tampak seseorang melangkah ke dalam goa. Ia
memakai kain hitam penutup muka dan di bajunya ada lambang lima
kuntum bunga emas. Badan orang itu tinggi kurus, tapi langkahnya
mantap ketika berjalan memasuki goa.
Sesampainya di ruang goa itu, ia pun menatap
tajam pada Pek Giok Liong yang duduk di bawah bersandar di dinding
goa itu. Kemudian menatap Cian Tok Suseng bertanya.
"Apakah kau sudah mendapatkan barang itu?"
"Belum." Cian Tok Suseng menggelengkan
kepala.
"Apa?!" Duta Bunga Emas tertegun. "Kenapa
belum?"
"Dia tidak membawa barang itu." Cian Tok
Suseng memberitahukan.
Duta Bunga Emas memandang Pek Giok Liong dan
bertanya pada Cian Tok Suseng. "Sudahkah kau geledah badannya?"
"Duta Bunga Emas, kau pikir aku tidak
menggeledah badannya!"
Duta Bunga Emas diam, rupanya ia sedan
berpikir keras. Berselang sesaat, sepasang matanya menyorot tajam
pada Pek Giok Liong.
"Berada di manakah barang itu?"
"Anda……" Pek Giok Liong berpura-pura lemah.
"Anda menanyakan barang apa?"
"Panji Hati Suci Matahari Bulan."
"Anda ingin tahu?"
"Cepat katakan!" bentak Duta Bunga Emas.
"Engkau simpan di mana barang itu?"
"Hm!" dengus Pek Giok Liong.
"Kenapa diam?" tanya Duta Bunga Emas berang.
"Ayoh, cepat katakan!"
"Aku tidak mau mengatakan!" sahut Pek Giok
Liong tegas.
Duta Bunga Emas menatapnya dingin. "Perlukah
aku menyiksamu?"
"Aku yakin engkau tidak berani menyiksaku!"
"Oh? He he!" Duta Bunga Emas tertawa
terkekeh. "Kalau begitu, aku justru ingin mencoba menyiksamu!"
Duta Bunga Emas mendekati Pek Giok Liong
yang duduk bersandar di dinding goa. Ketika melihat Duta Bunga Emas
sudah mendekat, Pek Giok Liong pun membentak.
"Berhenti!"
Duta Bunga Emas tidak mau berhenti,
melainkan terus mengayunkan kakinya mendekati Pek Giok Liong.
"Kalau engkau belum mau mati, cepatlah
berhenti!" bentak Pek Giok Liong lagi. "Cepat berhenti!"
Duta Bunga Emas berhenti. Ia tampak
tertegun, lalu melirik Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui. Setelah itu ia
memandang Pek Giok Liong sambil tertawa dingin.
Pek Giok Liong tersenyum hambar, ditatapnya
Duta Bunga Emas dengan mata redup.
"Walau aku telah terkena racun sehingga
tidak bisa mengerahkan tenaga dalamku, aku masih bisa membuatmu
mati!"
"Aku tidak percaya!" Duta Bunga Emas
tertawa. "Bagaimana mungkin engkau bisa membuatku mati?"
"Aku punya akal!"
"Akal apa?"
"Asal engkau masih berani maju dan
mengangkat tanganmu, aku pasti segera membunuh diri di sini!"
"Apa?" Duta Bunga Emas tertegun. "Itukah
akalmu?"
"Kalau sudah begitu, apakah engkau masih
bisa hidup?"
"Ha ha ha!" Duta Bunga Emas tertawa
terbahak-bahak. "Oooh, engkau ingin jadi setan penasaran setelah
mati demi mencabut nyawaku?"
"Aku tidak perlu jadi setan penasaran!"
sahut Pek Giok Liong dingin. "Kalau aku mati, majikanmu pasti
membalas dendamku! Dia pasti membunuhmu! Mengerti?"
"Aku tidak mengerti!"
"Engkau ingin mendengar penjelasanku?"
"Baik, jelaskan!"
"Aku ingin bertanya, mempunyai maksud apakah
kau ke mari?"
"Membantu Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
mengambil Jit Goat Seng Sim Ki!"
"Apakah panji itu sudah kau dapatkan?"
"Kok?" Duta Bunga Emas menatapnya. "Kenapa
engkau mulai omong kosong?"
"Aku tidak omong kosong, melainkan omong
yang berisi!" sahut Pek Giok Liong. "Kalau engkau sudah memperoleh
panji itu, tentunya engkau sudah pergi menemui Cit Ciat Sin Kun
untuk menerima imbalan!"
Duta Bunga Emas diam, Pek Giok Liong
melanjutkan ucapannya.
"Engkau belum memperoleh panji itu, lagi
pula cuma aku sendiri yang tahu panji itu berada di mana! Nah, kalau
engkau mendesak sampai aku bunuh diri, engkau akan membawa apa pergi
menemui Cit Ciat Sin Kun?"
"Ini……" Duta Bunga Emas tampak tersentak.
"Kalau aku mati, siapa lagi yang tahu panji
itu disimpan di mana? Bukankah akan menjadi teka-teki? Lagi pula Cit
Ciat Sin Kun pasti ingin tahu kenapa aku mati? Seandainya dia tahu
bagaimana kematianku, apakah dia akan mengampunimu? Nyawamu pasti
melayang!"
Merinding sekujur badan Duta Bunga Emas
setelah mendengar penjelasan itu. Kini ia sudah mengerti kenapa Pek
Giok Liong mengatakan masih bisa membuatnya mati. Itu memang tidak
salah, kalau Pek Giok Liong bunuh diri, pasti dia yang dituduh
membunuhnya.
"He he!" Duta Bunga Emas tertawa ringan.
"Untung engkau menyadarkanku! Kalau tidak, aku betul-betul ingin
cari mati."
"Oleh karena itu……," ujar Pek Giok Liong.
"Engkau harus berterimakasih padaku!"
"Kenapa?"
"Karena aku telah menolong nyawamu."
"Betul." Duta Bunga Emas tertawa licik. "Aku
memang harus berterimakasih padamu. Nah, Pek Giok Liong! Bagaimana
kita membicarakan syarat?"
"Syarat apa?"
"Engkau memberitahukan padaku, bahwa panji
itu disimpan di mana. Aku pun menjamin engkau bisa meninggalkan goa
ini dalam keadaan hidup."
"Engkau tidak mau menyiksa diriku lagi?"
Duta Bunga Emas tertawa, lalu dipandangnya
Pek Giok Liong seraya berkata, "Aku tidak tega menyiksa dirimu,
karena tubuhmu sudah terkena racun. Nah, aku cukup bijaksana kan?"
Pek Giok Liong tersenyum, namun kemudian
mendadak ia membentak dingin.
"Sekarang kuperintahkan agar engkau mundur
tiga langkah, setelah itu barulah engkau boleh bicara dengan aku!"
Sepasang mata Duta Bunga Emas menyorot
dingin, tapi ia terpaksa harus mundur tiga langkah.
"Apakah kalau aku memberitahukan padamu
tempat penyimpanan panji itu, engkau pun akan menjamin diriku bisa
pergi dari sini dalam keadaan hidup?"
"Aku berani jamin."
"Sungguh?"
"Tentu sungguh." Duta Bunga Emas mengangguk.
"Aku tidak akan membohongimu."
"Bisakah engkau mengambil keputusan itu?"
"Asal aku tahu panji itu disimpan di mana,
aku pun bisa mengambil keputusan."
"Oh, ya?" Pek Giok Liong menatapnya.
"Bagaimana aku mempercayaimu? Itu sulit sekali."
"Aku jamin dengan harga diriku."
"Harga dirimu? Ha ha ha!" Pek Giok Liong
tertawa gelak.
"Kenapa engkau tertawa?" tanya Duta Bunga
Emas heran. "Apa yang menggelikanmu?"
"Aku tertawa karena harga dirimu itu. Berapa
tinggi harga dirimu itu? Apakah bisa dijual?"
"Engkau……" Duta Bunga Emas tampak gusar
sekali, namun tetap harus bersabar, agar tidak menimbulkan hal-hal
yang tak diinginkan.
"Gusar ya?" Pek Giok Liong tersenyum. "Mau
membunuh aku?"
"Pek Giok Liong!" bentak Duta Bunga Emas.
"Cepatlah katakan tempat itu!"
"Bagaimana kalau aku berkeras tidak mau
beritahukan?"
"Kalau engkau berkeras begitu, aku pun tidak
akan berlaku sungkan terhadapmu!" sahut Duta Bunga Emas dingin.
"Engkau ingin memaksaku untuk
memberitahukan?"
"Tidak salah!"
"Engkau berani berbuat begitu terhadapku?"
"Demi mengorek keterangan itu, tentunya aku
berani berbuat begitu terhadapmu, maka engkau harus tahu diri!"
"Oh?" Pek Giok Liong tertawa. "Tapi engkau
harus ingat, begitu engkau maju dan mau bertindak, aku pasti segera
bunuh diri."
Duta Bunga Emas terkejut bukan main,
kemudian suaranya pun berubah agak lembut.
"Pek Giok Liong, lebih baik engkau tahu diri
dan situasi."
"Aku tahu itu." Pek Giok Liong
manggutmanggut. "Akan tetapi……"
"Kenapa?"
"Aku sungguh tidak begitu mempercayaimu."
Pek Giok Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Pek Giok Liong, biar bagaimana pun engkau
harus mempercayaiku, sebab sudah tiada pilihan lain bagimu."
"Menurut aku, masih ada pilihan lain, bahkan
engkau pun harus menurut pada pilihanku itu."
"Apa pilihanmu itu?"
"Aku ingin bicara langsung dengan Cit Ciat
Sin Kun," jawab Pek Giok Liong. "Nah, inilah pilihanku."
"Apa?" Duta Bunga Emas tertawa gelak.
"Engkau jangan bermimpi!"
"Kalau ingin tahu panji itu disimpan di
mana, dia mau tidak mau harus kemari bicara langsung denganku."
Duta Bunga Emas menatapnya tajam. "Engkau
ingin memberitahukan langsung padanya?"
"Selain Cit Ciat Sin Kun, jangan harap aku
akan membuka mulut memberitahukan mengenai tempat penyimpanan panji
itu."
Duta Bunga Emas diam, tiba-tiba Cian Tok
Suseng menyelak.
"Kalau begitu, kenapa Duta Bunga Emas tidak
mau melapor pada Cit Ciat Sin Kun? Biarlah dia ke mari."
Duta Bunga Emas berpikir lama sekali, lalu
mengarah pada mulut goa seraya berseru. "Nomor dua cepat memberi
isyarat!"
Di luar goa, tampak seseorang yang memakai
kain hitam penutup muka, segera melempar suatu benda ke atas. Benda
itu meletus di atas seperti bunga api petasan meluncur ke atas lagi.
Pada waktu bersamaan, Pek Giok Liong pun
bangkit berdiri, lalu memandang Duta Bunga Emas sambil tertawa.
"Engkau sudah terpedaya!"
"Haah……?" Sekujur badan Duta Bunga Emas
bergemetar. "Engkau tidak terkena racun?"
"Benar." Pek Giok Liong mengangguk. "Aku
sama sekali tidak terkena racun."
"Tapi……" Duta Bunga Emas mengarah pada Cian
Tok Suseng Ouw Beng Hui, seraya bertanya. "Saudara Ouw, apakah
engkau……"
"Aku sudah meracuninya," sahut Cian Tok
Suseng Ouw Beng Hui.
"Tapi kenapa dia masih……" Duta Bunga Emas
menatapnya dengan curiga.
"Aku pun seperti dirimu." Nada suara Cian
Tok Suseng Ouw Beng Hui agak dingin. "Sama sekali tidak mengerti
bisa begitu."
Akan tetapi, Duta Bunga Emas sudah sedikit
mengerti, maka wajah di balik kain hitam langsung berubah, dan
sekaligus membentak.
"Ouw Beng Hui! Engkau berani mengkhianati
Maharaja?"
"Engkau berani membentakku?" Cian Tok Suseng
Ouw Beng Hui melotot. "Cit Ciat Sin Kun masih tidak berani bersikap
demikian padaku, engkau tuh apa, berani bersikap sedemikian kurang
ajar terhadapku?"
"Tapi engkau telah mengkhianati Maharaja!"
Duta Bunga Emas menudingnya. "Kalau beliau ke mari, engkau pasti
mati!"
Cian Tok Suseng tidak menimpalinya. Ia
memberi hormat pada Pek Giok Liong.
"Mohon Ketua memberi perintah pada teecu!"
ucapnya.
"Asal dia masih bisa bernafas, lainnya
terserah engkau saja," sahut Pek Giok Liong.
"Teecu menerima perintah!" Cian Tok Suseng
menjura hormat.
Seketika juga Duta Bunga Emas merasa ada
sesuatu yang tak beres. Maka secepatnya ia melompat ke arah mulut
goa.
Akan tetapi, Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
bergerak lebih cepat. Ia mengerahkan ilmu peringan tubuhnya melompat
ke mulut goa menghadang Duta Bunga Emas.
"Ingin kabur?" Ouw Beng Hui tertawa dingin.
"Tidak begitu gampang!"
Betapa terperanjat Duta Bunga Emas, karena
Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui sudah berdiri di mulut goa
menghadangnya.
"Kembali!" bentak Cian Tok Suseng Ouw Beng
Hui sekaligus menyerang Duta Bunga Emas dengan jurus San Pang Ti
Liat (Gunung roboh bumi pecah).
Pukulannya mengandung tenaga dalam yang
dahsyat. Duta Bunga Emas tidak mampu mengelak, ia terpental ke dalam
goa sambil mendekap dadanya.
Pada waktu bersamaan, di luar pun terdengar
suara jeritan. Berselang sesaat, suasana kembali tenang, seperti
semula.
Tampak Sepasang Bintang dan Empat Arhat
berjalan memasuki goa. Mereka memberi hormat pada Pek Giok Liong.
"Sudahkah membuat mereka tak berdaya?" tanya
Pek Giok Liong sambil tersenyum.
"Ya," jawab Thian Koh Sing. "Mereka semua
sudah tak berdaya sama sekali. Harus bagaimana menghukum mereka,
mohon Ketua memberi perintah!"
"Bawa mereka semua ke dalam!" ujar Pek Giok
Liong.
"Ya." Keenam orang itu menjura, lalu keluar.
Tak lama mereka berenam sudah kembali,
masing-masing menjinjing seorang yang memakai kain hitam penutup
muka, seakan menjinjing suatu barang yang amat ringan.
Sementara itu, Duta Bunga Emas telah
tertotok jalan darahnya oleh Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui. Ia duduk
di bawah tak bergerak sama sekali.
Sedangkan Sepasang Bintang dan Empat Arhat
melempar orang-orang itu dekat dinding goa, lalu berdiri tegak di
samping Pek Giok Liong.
"Aku perkenalkan, ini Cian Tok Suseng Ouw
Beng Hui." Pek Giok Liong memperkenalkan mereka. "Sepasang Bintang
dan Empat Arhat."
Seketika juga Sepasang Bintang, Empat Arhat
dan Pelajar Seribu Racun saling memberi hormat. Setelah mereka
saling memberi hormat, Pek Giok Liong pun berkata pada Thian Koh
Sing Ma Hun.
"Sebentar lagi akan terjadi pertarungan,
kalian berenam bersembunyi di luar! Setelah ada perintah dariku
barulah kalian boleh muncul."
"Menerima perintah!" jawab Thian Koh Sing Ma
Hun sambil menjura, kemudian melangkah keluar, Thian Kang Sing Wie
Kauw dan Empat Arhat mengikutinya dari belakang.
Pek Giok Liong memandang Duta Bunga Emas,
lalu mengarahkan pandangannya pada Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui.
"Ouw Beng Hui, tanyalah marga dan namanya!"
"Ya." Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
mengangguk, lalu menatap Duta Bunga Emas dengan dingin. "Sebutkan
marga dan namamu!"
Duta Bunga Emas diam, tak menjawab.
Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui mengerutkan
kening, kemudian menyambar kain hitam penutup muka Duta Bunga Emas.
Ketika menyaksikan wajah Duta Bunga Emas, kening pakar racun itu
berkerut lagi.
"Wajahmu masih asing bagiku, lebih baik
engkau mengaku siapa dirimu!" ujar Cian Tok Suseng sambil tersenyum.
Duta Bunga Emas menundukkan kepala, diam.
"Hm!" dengus Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
dingin. "Kesabaranku sangat terbatas, maka kalau engkau masih tidak
mau buka mulut, aku terpaksa bertindak!"
Duta Bunga Emas memang keras kepala. Ia
tetap diam dengan kepala tertunduk.
"Engkau harus tahu rasa sekarang!" bentak
Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui sekaligus menggerakkan tangannya.
Akan tetapi, sudah terlambat. Sebab pada
waktu bersamaan, wajah Duta Bunga Emas telah berubah hitam dan
nafasnya pun putus seketika.
-- o --
Bagian ke 45: Algojo Langit
Kematian Duta Bunga Emas memang sungguh di
luar dugaan. Ternyata ia membunuh diri dengan cara menelan racun.
Ouw Beng Hui seorang pakar racun, namun
tidak mengetahui hal itu sebelumnya. Setelah wajah Duta Bunga Emas
berubah hitam, barulah ia tahu, namun sudah terlambat.
Ia membalikkan badannya, perlahan-lahan
menghampiri Pek Giok Liong dengan kepala tertunduk.
"Mohon ampun Ketua!" ucapnya. "Hamba sama
sekali tidak menduga akan hal itu."
"Aku pun tidak menduga!" Pek Giok Liong
menggeleng-gelengkan kepala. "Sehingga dia……"
Mendadak sepasang mata Pek Giok Liong
menyorot tajam, setelah itu ujarnya dengan suara rendah.
"Ada orang datang!"
Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui segera pasang
kuping, namun ia sama sekali tidak mendengar suara apa pun, maka
wajahnya tampak tercengang.
"Masih dalam jarak lima puluh meteran.
Sebentar lagi engkau pasti mendengar suara itu." Pek Giok Liong
memberitahukan sambil tersenyum.
Betapa terkejutnya Cian Tok Suseng Ouw Beng
Hui . Ia tahu bahwa Pek Giok Liong memiliki kepandaian tinggi, tapi
tidak terpikir ketika Pek Giok Liong sedang berbicara padanya, bahwa
daya pendengarannya masih mencapai jarak yang begitu jauh.
Itu membuktikan bahwa Pek Giok Liong telah
memiliki tenaga dalam yang sulit diukur.
Tak lama ia telah mendengar suara langkah
yang amat ringan. Pek Giok Liong segera memberi isyarat padanya,
lalu menggeserkan badannya ke samping pintu goa. Sedangkan Cian Tok
Suseng Ouw Beng Hui berdiri di tengah pintu goa.
Sesaat kemudian, tampak tiga orang berbaju
ungu dan memakai kain penutup muka warna ungu pula. Lima belas orang
memakai kain hitam penutup muka mengikuti mereka dari belakang.
Setelah berada di depan pintu goa, salah
seorang berbaju ungu menatap Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui seraya
bertanya.
"Bagaimana, Saudara Ouw? Sudah bereskan
urusan itu?"
"Baru setengah beres." jawab Cian Tok Suseng
Ouw Beng Hui.
"Apa?" Orang berbaju ungu itu tertegun.
"Jelaskan!"
"Engkau tidak mengerti?"
"Saudara Ouw, sudahlah! Jangan jual mahal,
bicaralah yang benar!"
"Orangnya sudah ditangkap, tapi barangnya
belum dapat."
"Kenapa?"
"Barang itu tidak berada padanya."
"Sungguh?"
Pertanyaan ini membuat Cian Tok Suseng Ouw
Beng Hui langsung melotot dengan kening berkerut.
"Apakah engkau tidak mempercayaiku?"
Orang berbaju ungu itu tampak tersentak. Ia
memang kurang percaya, tapi terhadap Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
tidak berani berlaku kasar. Oleh karena itu, ia pun segera tertawa.
"Ha ha! Saudara Ouw, aku mana berani tidak
percaya padamu?"
"Hm!" dengus Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
dingin.
"Tapi di mana bocah itu? Kok tidak
kelihatan?"
"Dia berada di dalam, di samping pintu goa
ini."
"Apakah dia sudah terkena racun?"
"Kalau belum, bagaimana mungkin aku
mengatakan telah menangkapnya?"
Sepasang mata orang berbaju ungu itu
berbinar, kemudian tertawa seraya berkata dengan suara dalam.
"Bocah itu memang lihay, namun bagaimana
mungkin dia bisa terhindar dari racunmu?"
"Ha ha ha!" Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
tertawa gelak. "Sejak kapan engkau belajar menepuk pantatku?"
"Saudara Ouw pandai bergurau!" ujar orang
berbaju ungu, lalu bertanya mendadak. "Kok tidak tampak Duta Bunga
Emas? Dia kemana?"
Wajah Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui langsung
berubah dingin. Ia menatap orang berbaju ungu seraya menjawab.
"Dia berada di dalam, sedang menjaga bocah
itu."
"Oh?" Orang berbaju ungu juga menatap Cian
Tok Suseng Ouw Beng Hui. "Apakah semua anak buahnya juga berada di
dalam?"
"Ya." Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
mengangguk. "Pek Giok Liong juga membawa enam orang yang
berkepandaian tinggi, maka bagaimana mungkin Duta Bunga Emas seorang
diri mampu mengawasi mereka bertujuh?"
"Apakah keenam orang itu juga sudah terkena
racun?"
"Tidak salah."
"Mereka semua sudah terkena racun, kenapa
masih harus……"
"Kalau aku tidak berhati-hati, siapa yang
akan bertanggung jawab?" tanya Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui dingin.
"Betul." Orang berbaju ungu tertawa. "Ohya!
Di mana bocah itu menyimpan barang yang kita inginkan? Saudara Ouw
sudah bertanya padanya belum?"
"Sudah, tapi dia tidak mau bilang."
"Maka Duta Bunga Emas menyalakan kembang api
isyarat, agar Taytie ke mari?" tanya orang berbaju ungu.
"Betul." Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
menatapnya, kemudian membentak pula "Siapakah kau?"
"Kepala pemimpin sepuluh aula." Orang
berbaju ungu memberitahukan. "Aku Thian Sat Tan Cu (Algojo langit)."
"Siapa kedua orang itu?"
"Mereka Ti Ling (Sukma bumi) dan Ngo Hok Tan
Cu (Lima peruntungan)." Thian Sat memberitahukan.
"Kenapa Taytie tidak ke mari?" tanya Cian
Tok Suseng mendadak.
"Kami sudah ke mari, itu sama juga kan?"
sahut Thian Sat.
"Tidak sama." Cian Tok Suseng menggelengkan
kepala.
"Kenapa tidak sama?" Thian Sat, menatapnya.
Cian Tok Suseng tidak menyahut, sebaliknya
malah bertanya sambil mengernyitkan kening.
"Taytie berada di mana sekarang?"
"Tidak tahu."
"Kalau begitu, kedatangan kalian bukan atas
perintah Taytie!"
"Justru beliau yang memberi perintah
langsung pada kami."
"Tapi kenapa engkau bilang tidak tahu Taytie
berada di mana?"
"Karena beliau sama sekali tidak ke luar."
"Maksudmu beliau masih berada di dalam
istana?"
"Ketika Taytie memberi perintah pada kami,
beliau masih berada di dalam istana. Sekarang masih ada atau tidak,
aku tidak mengetahuinya."
Cian Tok Suseng pura-pura berpikir keras
dengan kening berkerut-kerut, lalu bergumam sambil
menggeleng-gelengkan kepala.
"Inilah yang jadi repot……"
"Kenapa jadi repot?" tanya Thian Sat dingin.
"Pek Giok Liong ingin bicara langsung dengan
Taytie. Kalau tidak, dia tidak akan memberitahukan di mana tempat
penyimpanan barang itu."
"Oh? Aku justru tidak percaya."
"Apa?!" Cian Tok Suseng melotot. "Engkau
tidak percaya, apakah tidak percaya omonganku?"
"Jangan salah paham!" Thiat Sat tertawa.
"Aku tidak percaya kalau Taytie tidak datang, kita tidak bisa
memaksanya untuk memberitahukan tempat itu."
"Dia tidak mau beritahukan, engkau bias
apa?"
Thiat Sat tertawa ringan, ia menatap Cui
Tiap Beng Hui, lalu ujarnya serius.
"Harap Saudara Ouw menyuruh Duta Bunga Emas
membawanya ke luar untuk kulihat sebentar!"
"Mau kau apakan dia?"
"Aku ingin bertanya langsung padanya."
"Bagaimana kalau dia tidak mau bilang?"
Thiat Sat tertawa licik.
"Aku akan memperlihatkan caraku
menghadapinya." sahutnya dingin.
"Apakah engkau ingin menyiksanya?"
"Ingin tahu tubuhnya keras seperti apa."
"Tentunya tidak sekeras baja, namun……" Cian
Tok Suseng Ouw Beng Hui tertawa dingin. "Kau kira caramu itu akan
berhasil? Jangan sok pintar!"
"Oh? Apakah Saudara Ouw sudah……"
"Justru belum."
"Kalau begitu, kenapa engkau katakan cara
itu tidak akan berhasil?"
"Karena tiada gunanya dengan cara itu."
"Kenapa?"
"Duta Bunga Emas telah memikirkan cara itu,
tapi tidak berani menggunakannya, lantaran Pek Giok Liong mengatakan
sesuatu padanya."
"Pek Giok Liong mengatakan apa padanya?"
tanya Thiat Sat heran.
"Pek Giok Liong mengatakan, walau tubuhnya
sudah terkena racun dan tidak bisa mengerahkan tenaga dalamnya, dia
masih bisa membuat Duta Bunga Emas itu mati."
"Maka Duta Bunga Emas tidak berani
menyiksanya?"
"Apakah engkau berani?"
"Perkataan itu cuma dapat menakuti Duta
Bunga Emas, tapi tidak bisa menakuti aku."
"Oh?" Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui tertawa
dingin. "Kalau begitu, nyalimu lebih besar dibandingkan dengan Duta
Bunga Emas!"
"Aku tidak berani mengatakan begitu, namun
aku tidak akan takut oleh perkataannya itu."
"Oh, ya?" Ouw Beng Hui, si Pelajar Seribu
Racun tertawa dingin. "Kau kira Duta Bunga Emas tak bernyali dan
gampang ditakuti begitu saja?"
"Saudara Ouw, sebetulnya Pek Giok Liong
mengatakan apa?"
"Dia mengatakan bahwa ada satu cara yang
membuat Duta Bunga Emas mati."
"Cara apa itu?"
"Aku bertanya padamu, apa tujuan Taytie
perintahkanmu ke mari?"
"Menjemput Saudara Ouw dan Duta Bunga Emas."
"Tidak ada lain lagi?"
"Membawa pulang Panji Hati Suci Matahari
Bulan."
"Ngmm!" Cian Tok Suseng manggut-manggut.
"Walau sekarang Pek Giok Liong sudah berada di tangan kita, panji
itu justru tidak berada padanya. Kita tidak tahu disimpan di mana
panji itu. Lalu kita harus bagaimana?"
"Tentunya harus bertanya padanya di mana
tempat penyimpanan panji itu."
"Dengan cara apa pun kita bertanya padanya?"
"Kalau dia tidak mau bilang, itu apa boleh
buat."
"Bagaimana seandainya dia sama sekali tidak
mau bilang dan akhirnya malah membunuh diri?"
Thiat Sat tertegun. Itu yang tidak
dipikirkannya.
"Itu……" Ia tergagap.
"Bagaimana?" Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
menatapnya tajam.
"Kalau benar dia bunuh diri, sehingga kita
tidak tahu di mana tempat itu, Taytie pasti marah besar dan……"
Berkata sampai di sini, Thiat Sat pun menyadari satu hal. "Caranya
itu adalah bunuh diri?"
"Betul." Cian Tok Suseng Ouw Beng Hui
tersenyum dingin. "Nah, beranikah engkau menyiksanya?"
"Itu……"
"Karena kewalahan, maka Duta Bunga Emas
menyalakan kembang api isyarat, itu agar Taytie ke mari."
"Kalau begitu, apakah Saudara Ouw punya……"
"Aku sama sekali tidak punya akal," sahut
Ouw Beng Hui, si Pelajar Seribu Racun sambil menggeleng kepala.
"Tapi……"
"Bagaimana?" tanya Thiat Sat cepat.
"Kini cuma ada satu akal," jawab Cian Tok
Suseng Ouw Beng Hui.
"Akal apa?"
"Tanya pada Pek Giok Liong apa maunya."
"Apa? Kita bertanya demikian padanya?"
"Betul, itu yang paling tepat."
"Tapi……" ucapan Thiat Sat terputus.
Itu karena mendadak terdengar suara tawa
yang amat nyaring di samping pintu goa.
"Akal Cian Tok Suseng memang tepat! Itu akal
satu-satunya untuk menghadapi aku!"
Pek Giok Liong bangkit berdiri, lalu
menghampiri mereka selangkah demi selangkah.
Thiat Sat, Ti Ling dan Ngo Hok tergetar
hebat hatinya. Sedangkan Cian Tok Suseng segera mundur ke samping.
Pek Giok Liong menatap Thiat Sat dengan
tajam.
"Engkau ingin tahu apa mauku?" tanyanya
hambar.
"Katakan!" sahut Thiat Sat.
"Engkau harus segera menyuruh seseorang
untuk pergi melapor pada Cit Ciat Sian Kun, agar dia cepat-cepat
datang ke mari menemuiku!"
"He he!" Thiat Sat tertawa terkekeh. "Kau
kira Taytie akan menuruti kemauanmu?"
"Maksudku memang begitu," Pek Giok Liong
tertawa dingin. "Mau datang atau tidak, itu urusannya."
"Memang urusannya. Engkau bisa apa?" sahut
Thiat Sat.
"Dia tidak ke mari juga tidak apa-apa. Aku
masih bisa pergi mencarinya," ujar Pek Giok Liong.
"Oh? Engkau yakin dapat mencarinya?"
"Kalau tidak yakin, bagaimana mungkin aku
berkata begitu?"
"Tahukah engkau di mana istana Taytie.
"Tentu tahu." Pek Giok Liong tersenyum.
"Di mana?" Thiat Sat tidak percaya, kalau
Pek Giok Liong tahu letak istana Taytie.
"Di gunung Kah Lan."
Thiat Sat tersentak sehingga sepasang
matanya menyorotkan sinar aneh.
"Ini…… kok engkau……"
"Bagaimana aku bisa tahu kan?"
"Siapa yang beritahukan?"
"Ha ha!" Pek Giok Liong tertawa. "Karena
engkau bertanya demikian, berarti dugaanku tidak meleset!"
"Hah?" Thiat Sat tertegun. Ia tidak
menyangka pertanyaannya justru telah mengaku, bahwa istana Taytie
berada di Gunung Kah Lan.
"Aku harap engkau mau menjawab beberapa
pertanyaanku!" ujar Pek Giok Liong dengan wajah dingin.
"Bagaimana kalau aku tidak mau menjawab?"
"Itu gampang sekali." Pek Giok Liong
tersenyum hambar. "Engkau akan menemani Duta Bunga Emas."
Begitu Pek Giok Liong menyinggung itu,
seketika juga Thiat Sat, merasa ada sesuatu yang tak beres.
"Bagaimana dan di mana Duta Bunga Emas?"
"Dia telah berkorban demi Cit Ciat Sian
Kun."
"Apa? Engkau telah membunuhnya?"
"Aku tidak membunuhnya, itu akan mengotori
tanganku," sahut Pek Giok Liong dan menambahkan. "Dia sangat nekat,
membunuh diri dengan cara menelan pil racun yang ada di dalam
mulutnya."
"Yang lainnya?"
"Sedang istirahat di dalam, mereka masih
hidup."
"Engkau telah menotok jalan darah mereka?"
"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bilang
mereka sedang istirahat?"
"Oooh! Thiat Sat manggut-manggut. "Kalau
begitu, tentunya engkau tidak terkena racun kan?"
"Apakah aku tampak seperti orang terkena
racun?"
"Jadi……" Thiat Sat segera mengarah pada Ouw
Beng Hui, si Pelajar Seribu Racun. "Saudara Ouw, apa gerangannya
ini? Engkau……"
"Apa gerangannya, lebih baik engkau bertanya
padaku!" sahut Pek Giok Liong sambil tertawa hambar.
"Balk, katakan!" Thiat Sat menatap Pek Giok
Liong.
"Ketika aku memasuki goa ini, Ouw Beng Hui
langsung meracuni diriku. Melihat julukannya Cian Tok (Seribu
Racun), tentunya dia pakar racun. Cuma sayang sekali, dia bertemu
denganku yang lebih pakar mengenai racun. Maka racunnya tidak bisa
berfungsi apa-apa dalam tubuhku." Pek Giok Liong memberitahukan
sambil tersenyum-senyum.
"Oooh! Thiat Sat manggut-manggut.
"Nah, kini engkau telah memahaminya, maka
sudikah engkau menjawab beberapa pertanyaanku?"
"Tidak!" Thiat Sat menggelengkan kepala.
"Pokoknya aku tidak sudi!"
"Kalau begitu, engkau lebih rela mendampingi
Duta Bunga Emas?"
"Juga tidak!"
"Lalu engkau menghendaki aku melepaskanmu?"
"Tidak salah!" Thiat Sat tertawa. "Bukan
hanya melepaskan aku, sebaliknya aku pun ingin menangkapmu
hidup-hidup!"
"Engkau yakin bisa tangkap aku?"
"Kupikir tiada masalah!"
"Ha ha!" Pek Giok Liong tertawa. "Engkau
sudah menghitung, bisa melawanku berapa jurus?"
"Aku sudah dengar, kepandaianmu amat tinggi.
Mungkin aku tidak bisa melawanmu sampai tiga puluh jurus. Tapi
engkau harus tahu keadaanmu di depan mata."
"Maksudmu orangmu banyak, sedangkan aku cuma
seorang diri, maka kalian bisa mengeroyokku dan meraih kemenangan?"
"Tidak salah!" Thiat Sat tertawa gelak. "Ini
kesempatanku, aku tidak akan menyia-nyiakannya."
Pek Giok Liong tertawa dingin. Ia menatap
Thiat Sat tajam seraya berkata dengan hambar.
"Ini memang merupakan kesempatanmu, tapi……"
Mendadak Pek Giok Liong berseru. "Sepasang Bintang, Empat Arhat,
cepat kalian muncul!"
Tiba-tiba di belakang Thiat Sat muncul enam
orang tua memakai jubah abu-abu. Mereka menatap Thiat Sat lainnya
dengan dingin sekali.
Thiat Sat tergetar hebat ketika melihat
kemunculan mereka. Mereka berenam bersembunyi di tempat yang begitu
dekat, namun ia sama sekali tidak mendengar suara apa pun. Itu
membuktikan mereka berenam memiliki kepandaian tingkat tinggi.
"Engkau sudah lihat jelas? Apakah aku cuma
seorang diri?" tanya Pek Giok Liong sambil tertawa.
"Aku sudah lihat jelas!" sahut Thiat Sat dan
berusaha tenang. "Walau kalian berjumlah tujuh orang, tapi kami
berjumlah delapan belas orang. Tentunya engkau juga sudah melihat
jelas."
"Biar bagaimanapun, aku masih bisa
menangkapmu!" ujar Pek Giok Liong.
"Maksudmu?"
"Aku seorang mampu melawan kalian bertiga,
sedangkan para anak buahmu berjumlah lima belas orang, sama sekali
tidak mampu melawan orangku yang berenam itu!"
Tentunya Thiat Sat tidak percaya akan ucapan
Pek Giok Liong. Bagaimana mungkin Pek Giok Liong mampu melawan
mereka bertiga? Itu cuma omong kosong! Pikir Thiat Sat.
"Engkau tidak percaya kan?" Pek Giok Liong
tertawa. "Satu orangku mampu melawan tiga orangmu! Kalau engkau
tidak percaya, boleh coba!"
"Benar!" Thiat Sat tertawa terkekeh. "He he
he! Memang harus dicoba!"
"Silakan!" ucap Pek Giok Liong.
"Baik aku akan segera perintahkan tiga anak
buahku untuk melawan orangmu!" Thiat Sat langsung memberi perintah.
"Nomor tiga, lima dan sembilan! Kalian bertiga bertarung dengan
salah seorang itu!"
"Ya," sahut nomor tiga, lima dan sembilan
serentak. Mereka bertiga menghampiri Thian Kang Sing Wie Kauw.
"Ha ha ha!" Thian Kang Sing Wie Kauw tertawa
gelak. "Sepasang tanganku memang sudah gatal, cepatlah kalian
bertiga maju bareng!"
Ketiga orang berbaju hitam tertawa dingin,
kemudian mendadak menyerang Thian Kang Sing Wie Kauw dari tiga arah.
"Ha ha!" Thian Kang Sing Wie Kauw masih
tertawa. "Kalian bertiga ingin melawanku? Kepandaian kalian bertiga
masih rendah!"
Thian Kang Sing Wie Kauw juga tidak diam. Ia
segera mendorongkan sepasang tangannya ke kiri dan ke kanan. Itu
adalah jurus Sin Tiau Khay Yap (Rajawali sakti mengembangkan sayap).
Jurus ini penuh mengandung tenaga dalam, sehingga membuat dua
penyerangnya terpental. Setelah itu, ia pun menendang ke belakang
dengan jurus Ma Auh Pao (Tendangan kuda), penyerang yang di
belakangnya tertendang perutnya.
"Ha ha ha!" Thian Kang Sing Wie Kauw tertawa
terbahak-bahak. "Bagaimana? Kalian bertiga sudah kapok?"
Ketiga orang berbaju hitam itu sangat
penasaran. Mereka saling memandang dan mendadak menyerang serentak
ke arah Thian Kang Sing Wie Kauw.
Justru muncul kejadian aneh, karena
sekonyong-konyong tangan kiri Thian Kang Sing Wie Kauw menjulur
lebih panjang setengah meter dan langsung mencengkeram bahu salah
seorang berbaju hitam.
Orang berbaju hitam itu terkejut, dan
cepat-cepat menyerang Thian Kang Sing Wie Kauw dengan tenaga
dalamnya.
Pada waktu bersamaan, kedua orang berbaju
hitam pun menyerangnya dengan tenaga dalam pula.
Diserang dengan tenaga dalam yang cukup
dahsyat itu, Thian Kang Sing Wie Kauw sama sekali tidak gugup,
sebaliknya malah tertawa panjang sambil mengerahkan tenaga dalamnya
untuk menangkis serangan tenaga dalam dari tiga jurusan itu.
Buuuum! Tenaga dalam Thian Kang Sing Wie
Kauw beradu dengan tenaga dalam ketiga orang itu.
Thian Kang Sing Wie Kauw tetap berdiri tak
bergeming, sedangkan ketiga orang berbaju hitam telah terpental
bagaikan layang-layang putus tali.
Buuk! Ketiga orang berbaju hitam jatuh
duduk.
Setelah menyaksikan pertarungan itu, Thiat
Sat, Ti Ling dan Ngo Hok, tiga pemimpin aula, itu terperanjat bukan
main. Kini mereka sudah percaya akan ucapanan Pek Giok Liong tadi.
Ketiga orang berbaju hitam tidak terluka,
maka mereka bertiga masih bisa bangkit berdiri sambil saling
memandang. Mereka lalu menghampiri Thian Kang Sing Wie Kauw, dan
diam-diam mengerahkan tenaga dalamnya masing-masing sampai sepuluh
bagian, sehingga meninggalkan bekas kaki di tanah ketika melangkah.
Mereka bertiga semakin penasaran, dan ingin
membunuh Thian Kang Sing Wie Kauw dengan sekali pukul.
Pek Giok Liong mengerutkan kening ketika
menyaksikan hal itu.
"Kalian bertiga berhenti!" bentaknya
mengguntur.
Ketiga orang berbaju hitam menghentikan
langkahnya, sedangkan Pek Giok Liong memandang Thiat Sat seraya
berkata.
"Apakah engkau menghendaki mereka bertiga
mati?"
Thiat Sat tersentak. Ia lalu berseru dengan
suara dalam.
"Kalian bertiga cepat kembali ke tempat
masing-masing!"
Ketiga orang berbaju hitam memberi hormat,
lalu diam-diam melirik ke arah Pek Giok Liong dengan penuh rasa
terimakasih, sekaligus kembali ke tempat masing-masing.
"Kini engkau sudah percaya?" tanya Pek Giok
Liong pada Thiat Sat.
"Percaya bagaimana, tidak percaya
bagaimana?" Thiat Sat balik bertanya dengan suara dingin.
"Kalau engkau sudah percaya, haruslah
menjawab beberapa pertanyaanku!"
"Engkau ingin bertanya apa?"
"Jadi engkau bersedia menjawab dengan
jujur?"
"Itu tergantung pada pertanyaanmu!"
"Baiklah! Dengarkan baik-baik!" Pek Giok
Liong menatapnya. "Aku dengar kalian sepuluh Tan Cu (Pemimpin aula),
delapan itu adalah Pat Tay Hiong Jin! Apakah itu benar?"
Semula Thiat Sat mengira Pek Giok Liong
ingin mengajukan pertanyaan penting, tidak tahunya cuma merupakan
pertanyaan yang tak berarti.
"Tidak salah!" jawab Thiat Sat.
"Apakah engkau termasuk salah seorang Pat
Hiong Tay?" tanya Pek Giok Liong dengan mata menyorot tajam.
"Betul!"
"Engkau Pat Hiong ke berapa?"
"Yang pertama!"
"Oooh!" Pek Giok Liong manggut-manggut.
"Engkau adalah Jin Pin Mo Kun Ting Yuan?"
"Betul!" Ting Yuan atau si Algojo Langit
mengangguk.
Pek Giok Liong memandang Pat Tay Hiong Jin
seraya bertanya, "Apakah mereka berdua?"
"Ling Ming Cun Cia Ong Tia Kong dan Ngo Tok
Ceng Kun Hung Moh Chiang!" Ting Yuan memberitahukan.
"Kalau begitu, Siang Hiong Sam Kuai berlima
adalah pemimpin aula keempat, kelima, keenam, ketujuh dan
kedelapan!"
"Tidak salah!"
"Siapa pemimpin aula kesembilan dan
kesepuluh?"
"Pemimpin aula kesembilan adalah Kwan Gwa
Khui Eng Mu Tay Cuah!" Ting Yuan memberitahukan. "Pemimpin aula
kesepuluh adalah Cian San Hek Siu Ku Yung Chun!"
"Siang Hiong Sam Kuai berada di mana
sekarang?"
"Aku tidak tahu!"
"Apakah mereka tidak berada di dalam
istana?"
"Tidak!"
"Engkau tidak tahu jejak mereka?"
"Kalau tahu, apa salahnya aku
memberitahukanmu?"
Pek Giok Liong tercenung, kelihatannya ia
sedang berpikir.
"Aku bertanya sekali lagi, siapa Kim Tie
itu?" tanyanya kemudian.
"Entahlah!" Jin Pin Mo Kun menggelengkan
kepala. "Aku tidak tahu."
"Sungguhkah engkau tidak tahu?"
"Selain Taytie dan Gin Tie kami semua sama
sekali tidak tahu siapa Kim Tie itu!"
"Ting Yuan! Tahukah engkau asal usulku?"
Pek Giok Liong menatapnya tajam.
"Aku dengar, engkau anak Pek Mang Ciu,
majikan Ciok Lau San Cung!"
"Betul!" Pek Giok Liong mengangguk. "Karena
itu, engkau harus menjawab satu pertanyaanku lagi!"
"Tanyalah!"
"Engkau tahu siapa yang menyerang Ciok Lau
San Cung di malam itu?"
Jin Pin Mo Ting Yuan menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu."
"Ting Yuan!" Pek Giok Liong menatapnya
dingin. "Sungguhkah engkau tidak tahu?"
"Aku sungguh tidak tahu!"
"Hm!" dengus Pek Giok Liong dingin. "Ada
orang menyampaikan kabar padaku, memberitahukan engkau ingin tahu
kabar itu?"
"Kabar apa?"
"Orang itu bilang, para penyerang di malam
itu adalah kalian Pat Hiong."
Jin Pin Mo Kun Ting Yuan tampak tersentak.
"Siapa yang bilang itu?"
"Bun Fang!"
"Oh?" Jin Pin Mo Kun Ting Yuan tertegun.
"Orang tertua dari Thai Hang Ngo Sat."
"Tidak salah!" Pek Giok Liong tertawa
dingin. "Ting Yuan! kini engkau harus bagaimana?"
"Aku harus bagaimana?"
"Jadi engkau mengaku?"
"Tidak, aku tidak mengaku!"
"Kenapa engkau tidak berani mengaku?"
"Bukan tidak berani, melainkan bukan aku!"
"Lalu bagaimana dengan mereka berdua?" tanya
Pek Giok Liong sambil memandang Ling Ming Cun Cia Ong Tia Kong dan
Ngo Tok Ceng Kun Hung Moh Chiang.
"Pek Giok Liong!" bentak kedua orang itu
serentak. "Engkau jangan sembarangan memfitnah!"
"Kalau begitu, berarti Bun Fang yang
memfitnah kalian!"
"Benar!" Ngo Tok Ceng Kun Hung Moh Chiang
mengangguk.
"Pek Giok Liong!" Ting Yuan "Aku punya
bukti!"
"Bukti apa?"
"Malam itu ketika Ciok Liau San Cung
diserang, kami bertiga berada di vihara Siau Lim."
"Oh?" Pek Giok Liong menatapnya. "Maksudmu
padri Siau Lim dapat membuktikan itu?"
"Ya!" Ting Yuan mengangguk. "Kalau engkau
tidak percaya, silakan ke Siau Lim untuk bertanya tentang itu!"
"Bertanya pada siapa? Ketua Siau Lim atau
pengawas di sana?"
"Ketua maupun pengawas pun boleh!"
"Apakah masih ada padri lain yang mengetahui
masalah itu?"
"Ada!" Jin Pin Mo Kun Ting Yuan mengangguk.
"Siapa?"
"Pemimpin Lo Han Tong (Ruang Lo Han) dan
tetua yang di loteng penyimpanan kitab suci!"
Mendengar itu, hati Pek Giok Liong tergerak.
"Kenapa malam itu kalian berada di vihara
Siau Lim?"
"Pek Giok Liong!" Jin Pin Mo Kun Ting Yuan
tertawa dingin. "Engkau lelaki sejati atau bukan?"
"Memangnya kenapa?" tanya Pek Giok Liong
heran.
"Kalau engkau lelaki sejati, perbuatanmu
pasti bisa dipegang kan?"
"Tentu!" Pek Giok Liong tertegun. "Kenapa
engkau berkata begitu?"
"Bukankah engkau mengajukan satu pertanyaan
lagi? Kok masih terus bertanya tidak karuan?"
"Oooh!" Pek Giok Liong manggut-manggut.
"Maaf, aku lupa! Nah, kutarik kembali pertanyaan barusan!"
"Hm!" dengus Jin Pin Mo Kun Ting Yuan
dingin.
"Ting Yuan!" Pek Giok Liong menatapnya. "Aku
tidak ingin membunuh, lebih baik engkau bawa orang-orangmu pergi
sekarang!"
"Pek Giok Liong!" Jin Pin Mo Kun Ting Yuan
tertawa. "Engkau pikir aku akan pergi begitu saja?"
Pek Giok Liong mengerutkan kening, ia
menatapnya dengan mata menyorot dingin.
"Ting Yuan, aku peringatkan engkau! Jangan
tidak tahu diri!"
"He he!" Jin Pin Mo Kun Ting Yuan tertawa
terkekeh. "Engkau sangat pintar, maka harus tahu aku tidak akan
menuruti perintahmu!"
"Kalau begitu, engkau mau apa?"
"Pertama, aku ingin tahu panji itu berada
padamu atau tidak, kedua, aku ingin……" Jin Pin Mo Kun Ting Yuan
melirik Ouw Beng Hui, si Pelajar Seribu Racun. "Aku ingin dia pergi
bersama kami!"
"Jit Goat Seng Sim Ki ada padaku. Kalau Cit
Ciat Sin Kun menginginkan panji itu, dia harus menghadapi aku untuk
merebut panji tersebut! Mengenai Ouw Beng Hui, dia punya hubungan
denganku, maka aku tidak mengizinkannya ikut kalian!"
"Oh?" Jin Pin Mo Kun Ting Yuan menatap Pek
Giok Liong tajam. "Orang-orang Duta Bunga Emas itu, bolehkah aku
membawa mereka pergi?"
"Itu boleh!" Pek Giok Liong mengangguk,
kemudian ujarnya pada Cian Tok Suseng. "Ouw Beng Hui! Harap ke dalam
dan buka jalan darah mereka, lalu suruh mereka ke luar!"
"Teecu menerima perintah!" jawab Cian Tok
Suseng lalu melangkah ke dalam goa.
Tak seberapa lama kemudian, tampak dua belas
orang berbaju hitam berjalan ke luar dari dalam goa itu.
"Kalian ke mari!" seru Jin Pin Mo Kun Ting
Yuan.
Kedua belas orang berbaju hitam segera
menghampiri Jin Pin Mo Kun Ting Yuan dengan kepala tertunduk.
"Pek Giok Liong!" Mendadak Jin Pin Mo Kun
Ting Yuan tertawa licik. "Aku masih punya satu permintaan, apakah
engkau mau mengabulkan?"
"Apa permintaanmu itu?" tanya Pek Giok Liong
dingin.
"Aku tahu diriku bukan tandinganmu, namun
terpaksa oleh keadaan, maka aku harus bertanding denganmu!"
"Hanya engkau seorang diri?"
"Tentu tidak!" Jin Pin Mo Kun Ting Yuan
menggeleng kepala. "Kami bertiga akan bergabung!"
"Ting Yuan!" Pek Giok Liong menarik nafas.
"Engkau masih tidak percaya aku pasti menang bertanding dengan
kalian bertiga?"
"Aku percaya, bahkan percaya sekali!"
"Kalau begitu, kenapa……"
"Sudah kukatakan tadi, terpaksa oleh
keadaan, maka harus bertanding!"
Pek Giok Liong diam. Ia berpikir dan
kemudian manggut-manggut seraya berkata.
"Aku sudah mengerti! Baiklah! Kalian bertiga
boleh bergabung melawan aku, tapi cuma sepuluh jurus! Nah, kalian
bertiga boleh siap menyerang!"
Mereka bertiga saling memandang, kemudian
mulai mengerahkan tenaga dalam masing-masing.
Sedangkan Pek Giok Liong pun mulai
menghimpun Thai Tenaga Sakti Pelindung Badannya. Pada waktu
bersamaan mendadak ia mendengar suara yang amat halus di dalam
telinganya.
"Maafkan aku, Pendekar Muda! Tubuh kami
bertiga sudah diracuni, maka kami bertiga sangat terpaksa harus
melawanmu! Tentang kejadian Ciok Lau San Cung, asal Anda bertemu
Siang Hiong Sam Kuai segalanya pasti akan jelas! Maaf, sekarang aku
mulai menyerang, harap Pendekar Muda berhati-hati!"
Pek Giok Liong tahu, itu suara Jin Pin Mo
Kun Ting Yuan, ia pun segera menyahut dengan ilmu menyampaikan
suara.
"Terimakasih atas kebaikanmu!"
Sedangkan Jin Pin Mo Kun Ting Yuan sudah
membentak keras sambil menyerang kearah Pek Giok Liong. Ling Ming
Cun Cia dan Ngo Tok Ceng Kun juga tidak diam, mereka berdua pun
langsung menyerang dengan serentak.
Pek Giok Liong tertawa ringan, mendadak
badannya melayang ke atas, otomatis serangan-serangan itu gagal,
sebelum tubuh Pek Giok Liong turun, mereka bertiga pun menyerang
dengan serentak.
Pada waktu bersamaan, tubuh Pek Giok Liong
berputar-putar menghindari serangan-serangan itu.
Tak terasa empat jurus telah lewat. Dalam
empat jurus itu, Pek Giok Liong sama sekali tidak balas menyerang.
Namun ketika kelima sudah mulai, Pek Giok Liong pun berseru.
"Kalian bertiga harus berhati-hati, kini aku
akan balas menyerang!"
Sekonyong-konyong Pek Giok Liong berubah
menjadi sepuluh orang. Dia menggunakan ilmu Cian In Pou (Langkah
seribu bayangan). Jelas membuat mata ketiga orang berkunang-kunang,
tidak tahu harus menyerang ke mana?
Pada waktu bersamaan, entah bagaimana
terjadinya, tahu-tahu lengan Jin Pin Mo Kun telah tercengkeram Pek
Giok Liong.
Betapa terkejutnya Ling Ming Cun Cia dan Ngo
Tok Ceng Kun. Mereka berdua segera berhenti menyerang, bahkan juga
tidak tahu Jin Pin Mo Kun telah berbicara pada Pek Giok Liong dengan
ilmu menyampaikan suara.
Oleh karena itu, ketika melihat Jin Pin Mo
Kun telah dicengkeram Pek Giok Liong, mereka berdua pun merasa cemas
sekali dan siap menyerangnya.
"Kalau kalian berdua berani menyerangku,
Ting Yuan yang akan menjadi korban duluan!" ancam Pek Giok Liong.
Seketika juga kedua orang itu diam, sama
sekali tidak berani menyerang Pek Giok Liong.
"Hmm!" dengus Jin Pin Mo Kun Ting Yuan
dingin. "Engkau telah mencengkeram urat nadiku, mau bunuh silakan!"
"Aku sudah bilang dari tadi, aku tidak mau
membunuh!" sahut Pek Giok Liong sambil tersenyum. "Engkau harus
bersabar dan mengangguk bahwa engkau akan membawa pergi semua anak
buahmu, barulah aku akan melepaskanmu!"
"Hm!" dengus Jin Pin Mo Kun Ting Yuan
dingin.
"Bagaimana? Engkau setuju?"
"Pek Giok Liong, asal engkau melepaskan
diriku, aku pun pasti segera membawa pergi semua anak buahku! Tapi
engkau harus ingat, aku akan membalasmu kelak!"
"Itu urusan kelak!" Pek Giok Liong tertawa.
"Dan silakan engkau membalasku kelak!"
Usai berkata begitu, Pek Giok Liong pun
melepaskan Jin Pin Mo Kun Ting Yuan.
"Cepat kalian enyah dari sini!" bentaknya.
Jin Pin Mo Kun Ting Yuan segera melompat
pergi.
"Mari kita pergi!" serunya.
Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah
hilang dari pandangan Pek Giok Liong……