panji sakti 06

"Seng Sin Khi mungkin merupakan nama samarannya."

 

"Kalau begitu ….." Siauw Hui Ceh pura-pura tertegun. "Siapa dia dan siapa nama aslinya?"

 

"Adik Hui!" Mendadak Siauw Kiam Meng balik bertanya. "Bagaimana kesanmu terhadapku?"

 

Siauw Hui Ceh adalah gadis yang cerdas, maka ia telah menduga sesuatu, namun pura-pura bingung.

 

Kenapa Kakak menanyakan itu?"

 

"Adik Hui, jangan bertanya! Jawab dulu pertanyaanku tadi!" Siauw Kiam Meng menatapnya sambil tersenyum. "Bagaimana kesanmu terhadapku?"

 

"Itu ….."

 

"Adik Hui, kita kakak beradik, maka kuharap engkau menjawab secara terus terang! Tentunya engkau mengerti maksudku kan?"

 

"Aku mengerti."

 

"Bagus." Siauw Kiam Meng tersenyum. "Nah, jawablah sekarang!"

 

"Terus terang, Kakak suka pelesir, namun tidak jahat."

 

"Bagaimana diriku dibandingkan dengan kakak tertua dan kakak kedua?" tanya Siauw Kiam Meng lagi.

 

"Engkau ingin dibandingkan dengan mereka?" Wajah Siauw Hui Ceh berubah dingin.

 

"Adik Hui!" Siauw Kiam Meng tersenyum. "Jangan salah paham, aku cuma sekedar bertanya!"

 

"Hmm!" dengus Siauw Hui Ceh. "Mereka berdua tidak berharga untuk dibicarakan, juga tidak perlu dibanding-bandingkan. Kalau harus begitu, aku pun tidak mengijinkan engkau duduk di dalam kamarku."

 

"Oooh!" Siauw Kiam Meng manggut-manggut. "Kalau begitu, bolehkah aku dibandingkan dengan Siauw Peng Yang?"

"Dia sangat jujur dan terbuka, bisa dipercaya dan lebih berpendirian dari padamu," ujar Siauw Hui Ceh sungguh-sungguh.

 

"Emmh!" Siauw Kiam Meng tersenyum. "Pandanganmu memang tidak salah, namun aku ingin bertanya ….."

 

"Mau bertanya apa?"

 

"Apakah aku terhitung orang yang dapat dipercaya?"

 

"Masih boleh dipercaya. Tapi kenapa engkau menanyakan itu?"

 

"Kalau begitu ….." Siauw Kiam Meng tersenyum lagi. "Kesanmu terhadapku tidak begitu buruk?"

 

"Juga tidak begitu baik," sambung Siauw Hui Ceh.

 

"Ohya!" Siauw Kiam Meng menatapnya. "Dalam hatimu paling merindukan siapa? Bolehkah aku tahu?"

 

Seketika juga wajah Siauw Hui Ceh berubah dingin, kemudian tegurnya dengan nada tidak senang.

 

"Kenapa engkau bertanya begitu?"

 

"Adik Hui, jangan gusar! Aku bertanya begitu tentunya punya suatu alasan tertentu."

 

"Alasan apa?"

 

"Pemuda berbaju hitam yang menangkap Ho cong koan itu, kemungkinan besar adalah orang yang sangat kau rindukan."

 

Siauw Hui Ceh tersentak, namun wajahnya tetap tampak tenang, bahkan kemudian menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata hambar.

 

"Kakak Kiam Meng, di dalam hatiku sama sekali tidak merindukan siapa pun. Engkau jangan menduga yang bukan-bukan! Siapa pemuda baju hitam itu, lebih baik kau beritahukan saja!"

 

"Adik Hui!" Siauw Kiam Meng menatapnya tajam. "Dia Hek Siau Liong."

 

Meskipun Siauw Hui Ceh telah menduga juga bahwa pemuda berbaju hitam yang menangkap Ho cong koan itu Pek Giok Liong, namun ia berpura-pura terkejut.

 

"Siapa yang bilang?"

 

"Tu Ci Yen."

 

"Kakak Kiam Meng, menurutmu, mungkinkah dia?"

 

Siauw Kiam Meng menggelengkan kepala.

 

"Adik Hui, sesungguhnya aku pun tidak percaya. Tapi ….. Peng Yang ditahan di penjara bawah tanah, justru karena urusan itu. Maka ….."

 

"Maka engkau percaya bahwa pemuda berbaju hitam itu Hek Siau Liong. Ya, kan?" Siauw Hui Ceh menatapnya.

 

"Ya." Siauw Kiam Meng mengangguk dan menambahkan, "Alangkah baiknya jika pemuda berbaju hitam itu Hek Siau Liong."

 

"Kenapa?" tanya Siauw Hui Ceh dengan mata berbinar.

 

"Kalau dia benar Hek Siau Liong, tidak perlu takut Tu Ci Yen lagi."

 

"Kau kira kepandaiannya di atas Tu Ci Yen?"

 

"Dia mampu dengan satu jurus menangkap Ho cong koan, itu membuktikan bahwa kepandaiannya berada di atas Tu Ci Yen." Siauw Kiam Meng memberitahukan. "Sebab belum tentu Tu Ci Yen mampu menangkap Ho cong koan dalam satu jurus."

 

"Kakak Kiam Meng, sungguhkah engkau berharap dia adalah Hek Siau Liong?"

 

"Adik Hui!" Siauw Kiam Meng tampak sungguh-sungguh. "Engkau masih tidak mempercayaiku?"

 

"Bagaimana aku tidak mempercayaimu?" sahut Siauw Hui Ceh, ia mendongakkan kepala seraya berseru, "Kakak Liong, turunlah menemui Kakak Kiam Meng!"

 

"Adik Hui ….." Siauw Kiam Meng juga ikut mendongakkan kepala.

 

"Kakak Kiam Meng!" Siauw Hui Ceh menatapnya. "Engkau harus ingat bahwa dirimu adalah anak cucu keluarga Siauw!"

 

"Aku tentu ingat itu." Siauw Kiam Meng tertawa.

 

Siauw Hui Ceh berseru lagi.

 

"Kakak Liong, turunlah!"

 

Pek Giok Liong yang bersembunyi dapat mendengar jelas pembicaraan mereka. Bahkan ia telah melihat jelas pula mimik Siauw Kiam Meng yang tampaknya tak begitu beres.

 

Akan tetapi, karena Siauw Hui Ceh telah berseru memanggilnya, maka terpaksa ia harus menemui Siauw Kiam Meng.

 

Oleh karena itu, ia segera melayang turun dari tempat persembunyiannya. Begitu sepasang kakinya menginjak lantai, ia langsung menjura pada Siauw Kiam Meng.

 

"Aku memberi hormat padamu, Saudara Kiam Meng!" ucapnya.

 

"Oooh!" Betapa terkejutnya Siauw Kiam Meng, tapi wajahnya tetap tampak tenang dan berseri. "Adik Liong, ternyata memang engkau!"

 

"Saudara Kiam Meng merasa di luar dugaan?" tanya Pek Giok Liong sambil tersenyum.

 

"Ya." Siauw Kiam Meng tertawa gelak. "Sungguh di luar dugaan. Ohya, cara bagaimana engkau ke mari?"

 

"Saudara Kiam Meng!" Pek Giok Liong menatapnya curiga. "Kenapa engkau menanyakan itu?"

 

"Terus terang, aku merasa heran," jawab Siauw Kiam Meng serius.

 

"Kenapa kau merasa heran?"

 

"Sebab penjagaan di sini sangat ketat, bahkan seekor burung terbang pun pasti ketahuan. Tapi engkau bisa sampai di sini. Nah, bukankah sangat mengherankan?"

 

Pek Giok Liong tertawa-tawa.

 

"Engkau perlu heran! Tentunya aku berjalan ke mari."

 

"Tiada seorang pun melihatmu?" Siauw Kiam Meng mengerutkan kening.

 

"Kalau ada orang melihat diriku, apakah aku masih bisa bicara denganmu di sini?"

 

Ucapan yang masuk akal, beralasan dan nyata, maka membuat sepasang bola mata Siauw Kiam Meng berputar-putar.

 

"Adik Liong, tahukah engkau tentang urusan Peng Yang?" tanya Siauw Kiam Meng mendadak.

 

"Apakah dia telah ditahan?"

 

"Engkau sudah tahu?"

 

"Sebelumnya aku tidak tahu, tapi aku tadi mendengar engkau yang mengatakan."

 

"Oh?" Siauw Kiam Meng menatapnya dalam-dalam. "Adik Liong, kini bagaimana rencanamu?"

 

"Maksudmu?"

 

"Peng Yang ditahan karena urusanmu, apakah engkau diam saja, tidak mau menolongnya?"

 

"Bagaimana menurutmu?"

 

"Eh?" Siauw Kiam Meng tertegun, ia tak menyangka bahwa Siau Liong akan balik bertanya begitu. "Menurut pendapatku, tentunya engkau akan pergi menolongnya. Ya, kan?"

 

"Alasannya karena diriku?"

 

"Ya." Siauw Kiam Meng mengangguk. "Namun masih ada alasan lain."

 

"Apa alasan lain itu?"

 

"Adik Liong!" Siauw Kiam Meng tersenyum. "Dulu engkau pernah tinggal di sini beberapa bulan. Ketika itu semua keluarga Siauw memujimu berhati bajik dan solider ….."

 

"Oooh!" Pek Giok Liong manggut-manggut sambil tersenyum. "Terimakasih, engkau mengingatkan hal itu padaku. Akan tetapi ….."

 

"Kenapa?"

 

"Ada dua orang setengah justru tidak seperti mereka, menganggap diriku seperti duri dalam matanya!"

 

"Dua orang setengah?" Siauw Kiam Meng tercengang. "Apa maksudmu?"

 

"Memang dua orang setengah."

 

"Kok begitu?" Siauw Kiam Meng bingung. "Adik Liong, jelaskanlah!"

 

"Dua orang sangat tidak puas terhadap diriku, dan seorang lagi cuma setengah tidak puas. Nah, engkau mengerti sekarang?"

 

"Oh!" hati Siauw Kiam Meng tersentak. "Aku mengerti."

 

"Bagus engkau mengerti."

 

"Apakah dua orang itu Tu Ci Yen dan Siauw Sauw Nam?"

 

"Betul." Pek Giok Liong mengangguk. "Memang mereka berdua."

 

"Lalu siapa yang setengah itu?"

 

"Saudara Kiam Meng." Pek Giok Liong tertawa. "Engkau tidak bisa menerkanya ya?"

 

Siauw Kiam Meng menggelengkan kepala.

 

"Ya. Aku tidak bisa menerka."

 

"Saat ini engkau tidak bisa menerkanya, lain kali saja terkalah perlahan-lahan! Suatu hari nanti, engkau pasti dapat menerkanya."

 

"Adik Liong ….."

 

"Saudara Kiam Meng, karena dua alasan itu, maka engkau yakin aku akan pergi menolong Peng Yang?" tanya Pek Giok Liong mendadak.

 

"Ya." Siauw Kiam Meng mengangguk. "Aku tahu sifatmu. Tentunya engkau akan pergi menolongnya!"

 

Pek Giok Liong tertawa hambar.

 

"Saudara Kiam Meng, sifat seseorang terhadap orang lain, akan berubah terpengaruh oleh situasi dan keadaan. Engkau tahu itu kan?"

 

"Adik Liong ….." Siauw Kiam Meng tertegun. "Jadi ….. engkau tidak mau menolong Peng Yang?"

 

"Bukan begitu, melainkan ….." Pek Giok Liong menggelengkan kepala. "….. karena ….."

 

Melainkan dan karena apa, Pek Giok Liong tidak melanjutkan ucapannya, cuma menatap Siauw Kiam Meng.

 

"Eh? Adik Liong, kok tidak dilanjutkan?" tanya Siauw Kiam Meng.

 

"Saudara Kiam Meng, karena sesungguhnya aku punya kesulitan." sahut Pek Giok Liong dengan suara dalam.

 

"Karena itu, maka engkau membiarkan Peng Yang tetap ditahan di penjara bawah tanah itu?"

 

"Yaah." Pek Giok Liong menarik nafas panjang. "Itu terpaksa."

 

"Terpaksa?"

 

"Betul." Pek Giok Liong mengangguk. "Peng Yang adalah orang yang berpengertian, maka apabila tahu kesulitanku, dia pasti mau memaafkanku."

 

"Adik Liong!" Siauw Kiam Meng menatapnya. "Sebetulnya apa kesulitanmu itu? Bolehkah aku tahu?"

 

"Saudara Kiam Meng, pertama aku tidak tahu di mana letak penjara bawah tanah itu ….."

 

"Itu bukan kesulitan," sambung Siauw Kiam Meng cepat.

 

"Saudara Kiam Meng, jangan dipotong dulu! Tunggu ucapanku selesai, barulah kemukakan pendapatmu!" ujar Pek Giok Liong dan melanjutkan, "Kedua, aku cuma seorang diri. Maka kalau pergi menolong Peng Yang, itu sungguh membahayakan diriku, lagi pula belum tentu dapat berhasil. Oleh karena itu, lebih baik aku menunggu kesempatan."

 

"Ooh, ternyata begitu!" Siauw Kiam Meng tampak berpikir, kemudian ujarnya, "Apa yang engkau katakan memang masuk akal, tapi ada pepatah mengatakan, Kalau tidak masuk sarang macan, bagaimana mungkin mendapatkan anaknya. Nah, engkau takut menempuh bahaya, itu bukan sifat kesatria."

 

"Saudara Kiam Meng." Pek Giok Liong tertawa. "Ada pepatah lain mengatakan, Tidak bisa bersabar akan merusak rencana besar. Menempuh bahaya tapi tiada hasilnya, itu konyol."

 

Siauw Kiam Meng mengerutkan kening, nada suaranya pun mulai dingin.

 

"Adik Liong, aku sungguh kecewa terhadapmu."

 

Pek Giok Liong malah tersenyum.

 

"Benar. Apa yang kukatakan tadi memang mengecewakanmu, namun ….." Mendadak Pek Giok Liong menatapnya tajam. "Saudara Kiam Meng, sudikah engkau membantu aku?"

 

"Kalau pergi menolong Peng Yang, itu tidak akan kutolak. Namun mengenai yang lain, maaf! Aku tidak akan membantu," sahut Siauw Kiam Meng tegas.

 

"Saudara Kiam Meng, aku tidak akan minta bantuanmu untuk urusan lain, aku cukup tahu diri."

 

"Oh?" Siauw Kiam Meng tersenyum.

 

"Nah, aku pastikan begini saja. Mengenai penjara bawah tanah itu, akan kita bicarakan nanti. Sekarang lebih baik engkau beristirahat."

 

Usai berkata begitu, mendadak Pek Giok Liong menyentil jari telunjuknya ke arah Siauw Kiam Meng. Siauw Kiam Meng terbelalak dan kemudian terkulai.

 

Pek Giok Liong bergerak cepat, dipapahnya tubuh Siauw Kiam Meng sekaligus ditaruhnya di kursi.

 

"Kakak Liong ….." Siauw Hui Ceh terperangah. "Kenapa engkau berbuat begitu terhadap Kakak Kiam Meng?"

 

"Adik Hui!" Pek Giok Liong tersenyum. "Engkau begitu gampang mempercayainya?"

 

"Kakak Liong ….." Siauw Hui Ceh menatapnya heran. "Apakah tidak boleh aku mempercayainya?"

 

"Ketika kalian berbicara, aku memperhatikan air muka saudara Kiam Meng terus menerus berubah. Maka aku yakin ada sesuatu yang tak beres pada dirinya. Oleh karena itu, kita tidak boleh mempercayainya sepenuhnya."

 

"Ooh!" Siauw Hui Ceh manggut-manggut.

 

"Adik Hui, aku ingin bertanya padamu mengenai suatu urusan yang sangat penting, maka aku harus menotok jalan darah tidurnya, agar dia tidak mendengar."

 

"Oh, ternyata begitu!" Kemudian Siauw Hui Ceh mengalihkan pembicaraan. "Kakak Liong, apakah penyakit ayah benar perbuatan orang?"

 

"Sulit dipastikan," jawab Pek Giok Liong dengan kening berkerut. "Namun aku pikir, itu memang mungkin."

 

"Kakak Liong, apakah Tu Ci Yen berani ….."

 

"Adik Hui, sebelum ada bukti, janganlah menuduh sembarangan!" tegas Pek Giok Liong. "Tentunya engkau mengerti, kan?"

 

Siauw Hui Ceh mengangguk dengan wajah agak kemerah-merahan.

 

"Aku ….. aku mengerti. Tentang ini, ayah pun pernah mengatakan padaku?"

 

"Oh, ya?" Pek Giok Liong menatapnya. "Ayahmu pernah mengatakan apa?"

"Tentang dirimu, Kakak Liong!"

 

"Tentang diriku?" Terbelalak Pek Giok Liong.

 

"Ayahku mengatakan, engkau keras di luar, namun lembut di dalam." Siauw Hui Ceh memberitahukan. "Cerdik dan tenang, menghadapi urusan apa pun masih dapat mengendalikan diri, sama seperti ayahmu."

 

"Oh?" Pek Giok Liong tertawa.

 

"Ayah juga menghendaki agar aku selanjutnya tetap bersamamu, harus pula mendengar kata-katamu."

 

"Adik Hui, ayahmu terlampau memandang tinggi diriku."

 

"Kakak Liong, ada satu hal, yang aku masih merasa heran dan tidak mengerti."

 

"Mengenai hal apa?"

 

"Ketika berbicara denganku, nada suara ayah seakan kenal baik dengan ayahmu. Tapi aku justru merasa heran, pada waktu engkau meninggalkan tempat ini, kenapa ayahku tidak mau menahanmu?"

 

"Adik Hui!" Pek Giok Liong menatapnya dalam-dalam. "Kapan engkau mulai merasa heran tentang itu?"

 

"Setelah engkau pergi."

 

"Engkau tidak bertanya pada ayahmu?"

 

"Aku pernah tanya, tapi setiap kali aku bertanya, ayahku selalu mengelak dan katanya ….."

 

"Apa kata ayahmu?"

 

"Katanya, kelak setelah aku bertemu denganmu otomatis akan mengerti itu."

 

"Oh! Kalau begitu, apakah sekarang engkau sudah mengerti?"

 

"Cuma mengerti sedikit."

 

"Emmh!" Pek Giok Liong manggut-manggut, kemudian tanyanya mendadak, "Tahukah engkau bagaimana orang tua pincang itu meninggal?"

 

"Karena sakit. Memangnya kenapa?"

 

"Adik Hui!" Pek Giok Liong mengerutkan kening. "Terus terang, aku bercuriga tentang itu."

 

"Engkau bercuriga apa?"

 

"Mengenai kematiannya."

 

"Kakak Liong!" Siauw Hui Ceh menatapnya. "Engkau bercuriga bahwa orang tua pincang itu mati dibunuh orang?"

 

"Ya." Pek Giok Liong mengangguk. "Aku memang bercuriga begitu."

 

"Kakak Liong!" Siauw Hui Ceh serius. "Aku punya suatu cara untuk menyelidikinya, entah engkau setuju atau tidak?"

 

"Cara apa itu?" tanya Pek Giok Liong cepat.

 

"Menggali mayat untuk diperiksa."

 

"Apa?" Pek Giok Liong tergetar. "Menggali mayat untuk diperiksa?"

 

"Bagaimana dengan cara ini?"

 

Pek Giok Liong tampak tertegun.

 

"Kenapa engkau bisa memikirkan cara itu?" tanyanya heran.

 

Siauw Hui Ceh tidak menyahut, melainkan balik bertanya.

 

"Kakak Liong, baik atau tidak cara itu?" Pek Giok Liong menggelengkan kepala sambil menarik nafas panjang.

 

"Itu mana boleh?"

 

"Kenapa tidak?"

 

"Orang tua pincang itu telah mati, bagaimana boleh digali mayatnya?" ujar Pek Giok Liong sungguh-sungguh. "Itu perbuatan yang tidak baik."

 

"Kalau begitu, jangan mengharap bisa tahu sebab musabab kematiannya!" ujar Siauw Hui Ceh dan menambahkan, "Biar kematiannya merupakan teka-teki dan tidak bisa tenang di sana!"

 

"Adik Hui ….." Pek Giok Liong menarik nafas.

 

"Menggali mayat orang tua pincang itu memang tidak baik, namun demi menyelidiki kematiannya, itu sudah lain urusan. Maka Kakak Liong, pikirkanlah!"

 

Pek Giok Liong berpikir keras, kemudian hatinya mulai tergerak dan sepasang matanya pun menyorot tajam.

 

"Adik Hui, mengenai caramu itu sungguh membuat aku merasa heran, juga tidak begitu mengerti."

 

"Apakah aku terlampau emosi?"

 

"Ya."

 

"Kakak Liong!" Siauw Hui Ceh tersenyum. "Setelah menggali mayat itu engkau akan mengetahuinya."

 

"Oh, ya? Apa alasannya?"

 

"Alasannya ….. setelah menggali mayat itu, engkau akan mengetahuinya."

 

Pek Giok Liong mengerutkan kening sambil berpikir, lama sekali barulah mengangguk seraya berkata.

 

"Baiklah. Kalau begitu, besok malam kita pergi menggali kuburan orang tua pincang itu."

 

Siauw Hui Ceh tersenyum, akan tetapi, senyumannya agak aneh.

 

"Kini telah lewat tengah malam, kita harus mengerjakan sesuatu yang amat penting." Ujar Pek Giok Liong serius.

 

"Maksudmu?"

 

"Menolong orang dan menemui ayahmu. Kedua urusan itu harus diselesaikan sebelum subuh."

 

"Oh?"

 

"Adik Hui, tolong ambilkan kertas dan pit (Pensil Cina kuno)!"

 

"Ya." Siauw Hui Ceh segera mengambil kertas dan sebatang pit, lalu diberikan pada Pek Giok Liong.

 

"Terimakasih!" ucap Pek Giok Liong lalu segera menulis beberapa huruf di kertas itu.

 

Sementara nyawamu dititipkan, selanjutnya harus memperbaiki diri. Lain kali kalau masih berani bertindak licik terhadapku, kepandaianmu pasti kumusnahkan!

 

"Eh?" Siauw Hui Ceh terheran-heran. "Buat siapa tulisan itu?"

 

"Kini tidak usah bertanya, nanti engkau akan mengetahuinya." Pek Giok Liong tersenyum.

 

Setelah itu, Pek Giok Liong mendekati Siauw Kiam Meng, dan sekaligus membuka jalan darahnya yang ditotoknya tadi.

 

"Aaakh!" Siauw Kiam Meng membuka sepasang matanya, kemudian bangkit berdiri sambil menatap Pek Giok Liong dengan wajah gusar. "Hei! Siau Liong, apa maksudmu?"

 

"Saudara Kiam Meng!" Pek Giok Liong tersenyum. "Jangan gusar, aku akan menjelaskan."

 

"Oh? Baiklah. Aku siap mendengarkan."

 

"Saudara Kiam Meng, di saat aku menjelaskan dan ada perkataan yang menyinggung perasaanmu, aku harap engkau mau memaafkan!"

 

"Asal beralasan, aku tidak akan menyalahkanmu."

 

"Kalau begitu, terlebih dahulu aku ucapkan terimakasih padamu!" Pek Giok Liong menjura.

 

"Tidak usah sungkan-sungkan!" Siauw Kiam Meng pun membalas menjura. "Cepat jelaskan!"

 

-- o --

 

 

(Bersambung Bagian 38)

Bagian ke 38: Pelayan Pribadi

 

Pek Giok Liong tidak segera menjelaskan, melainkan menatap Siauw Kiam Meng dengan penuh perhatian.

 

"Saudara Kiam Meng, bagaimana sikapmu terhadap orang, tentunya engkau tahu kan?" tanyanya kemudian.

 

"Eh?" Siauw Kiam Meng mengerutkan kening. "Kenapa engkau menanyakan itu?"

 

"Jangan bertanya, jawab saja!"

 

"Ketika engkau bersembunyi, sudah pasti telah mendengar semua pembicaraanku dengan Hui Ceh!"

 

"Ng!" Pek Giok Liong mengangguk. "Aku memang telah mendengar dengan jelas sekali."

 

"Kalau begitu, kenapa engkau masih bertanya tentang itu?" Wajah Siauw Kiam Meng tampak tidak senang.

 

"Jadi engkau mengaku sikapmu sangat jujur dan terbuka, terhadap orang?"

 

"Memang begitulah sikapku." Siauw Kiam Meng mengangguk, lalu menatap Pek Giok Liong tajam seraya bertanya. "Apakah itu ada kaitannya dengan tindakanmu menotok jalan darahku?"

 

"Tentu ada kaitannya," sahut Pek Giok Liong sungguh-sungguh. "Karena dulu engkau tidak begitu jujur, maka tidak dapat dipercaya sepenuhnya."

 

"Tentang itu, bukankah telah kubicarakan dengan Hui Ceh? Walau aku tidak begitu jujur dan lurus, namun tetap anak cucu keluarga Siauw. Aku tidak akan kehilangan hati nuraniku."

 

"Bagus." Pek Giok Liong tertawa. "Engkau yang mengatakannya sendiri. Akan tetapi, laut dapat diduga, hati orang siapa tahu. Tentunya engkau mengerti itu."

 

"Oh?" Kening Siauw Kiam Meng berkerut-kerut. "Kalau begitu, engkau masih bercuriga dan tidak mempercayaiku?"

 

"Kejujuranmu belum terbukti, maka lebih baik aku berhati-hati."

 

"Adik Liong!" Siauw Kiam Meng menggeleng-gelengkan kepala. "Engkau terlampau banyak bercuriga!"

 

"Mungkin. Namun itu ada baiknya ….."

 

"Ohya!" potong Siauw Kim Meng. "Engkau menghendaki bukti apa, agar bisa mempercayaiku?"

 

"Itu sulit dikatakan. Namun ….." Pek Giok Liong menatapnya tajam. "Asal engkau bersedia memberitahukan padaku siapa sebenarnya Tu Ci Yen itu, maka aku pun mempercayaimu."

 

Hati Siauw Kiam Meng tergetar, namun air mukanya sama sekali tidak berubah.

 

"Tu Ci Yen adalah Tu Ci Yen, tidak mungkin orang lain. Aku ….. tidak mengerti maksudmu."

 

"Seharusnya dia punya julukan lain."

 

"Setahuku tidak, kalau engkau tidak percaya, silakan bertanya pada Hui Ceh!"

 

"Seandainya Hui Ceh bisa tahu, itu sudah tidak mengherankan lagi." Pek Giok Liong tertawa.

 

"Siau Liong!" Mendadak Siauw Kiam Meng tertawa dingin. "Engkau harus tahu! Kalau aku satu jalur dengan Tu Ci Yen, apakah aku akan memperbolehkan engkau berada di sini?"

 

"Betul." Pek Giok Liong tertawa ringan. "Tentang ini, aku pun bisa menjelaskan."

 

"Jelaskanlah!"

 

"Aku ingin bertanya, bagaimana kepandaianmu dibandingkan dengan kepala pengurus Ho?"

 

"Hanya kalah setingkat."

 

"Nah!" Pek Giok Liong tersenyum. "Aku mampu menangkapnya hanya satu jurus. Maka bagaimana mungkin engkau macam-macam di hadapanku?"

 

"Tapi engkau pun harus tahu, bahwa di empat penjuru lantai bawah, banyak terdapat orang yang berkepandaian tinggi. Asal aku memberi isyarat, segera akan muncul belasan orang berkepandaian tinggi ke mari."

 

"Aku percaya itu. Namun engkau harus berpikir baik-baik, sebab yang akan celaka duluan adalah dirimu, mungkin engkau akan segera melayang ke bawah dan tak bernyawa lagi!"

 

Hati Siauw Kiam Meng tersentak, tapi ia justru tertawa dingin.

 

"Engkau pun tidak bisa kabur dalam keadaan hidup!"

 

"Oh, ya?" Pek Giok Liong tertawa hambar. "Engkau harus ingat, kalau aku tidak yakin mampu pergi dari sini, tentunya aku tidak berani ke mari seorang diri!"

 

"Jadi ….." Siauw Kiam Meng menatapnya tajam. "….. engkau telah mengatur sesuatu?"

 

Pek Giok Liong tidak menyahut, melainkan cuma tersenyum dingin. Itu justru membuat hati Siauw Kiam Meng kebat-kebit tidak karuan. Hening dalam kamar itu, suasana pun tampak mulai mencekam.

 

"Kakak Kiam Meng!" ujar Siauw Hui Ceh mendadak memecahkan keheningan. "Walau kakak Liong berkata begitu dan sangat berhati-hati, tapi itu demi kebaikan kita! Sudahlah Kakak Kiam Meng!"

 

"Adik Hui! Kalau bukan demi kebaikan kita, bagaimana mungkin aku sedemikian sabar? Lagi pula ….." Mendadak Siauw Kiam Meng menggeleng-gelengkan kepala dan menarik nafas sambil tersenyum getir.

 

"Kalau begitu ….." Pek Giok Liong menjura pada Siauw Kiam Meng. "Aku sangat berterima-kasih atas kelapangan hatimu!"

 

"Sudahlah!"

 

"Saudara Kiam Meng!" Pek Giok Liong mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana kalau sekarang kita merundingkan bagaimana cara menolong Peng Yang? Apakah engkau punya akal?"

 

"Kalau aku punya akal, sudah kutolong dia," sahut Siauw Kiam Meng dan menambahkan, "Padahal sesungguhnya, kita tidak perlu berunding soal itu."

 

"Maksudmu?"

 

"Aku akan menemanimu ke penjara bawah tanah itu, adapun bagaimana cara engkau menolong Peng Yang, itu urusanmu. Sebab kepandaianmu jauh lebih tinggi dariku, maka aku cuma menurut saja."

 

"Kalau begitu, aku yang mengatur, dan engkau cuma menurut?"

 

"Ya." Siauw Kiam Meng mengangguk. "Itu agar engkau tidak mencurigaiku."

 

"Emmh!" Pek Giok Liong manggut-manggut, kemudian mengarah pada Siauw Hui Ceh. "Ohya, di mana Hiang Bwee?"

 

Hiang Bwee adalah pelayan kesayangan Siauw Hui Ceh, hubungan mereka bagaikan kakak beradik.

 

Begitu Pek Giok Liong bertanya tentang Hiang Bwee, wajah Siauw Hui Ceh berubah muram. "Sudah empat bulan dia hilang."

 

"Oh?" Pek Giok Liong tertegun. "Bagaimana hilangnya?"

 

"Alangkah baiknya kalau aku tahu."

 

"Lalu siapa yang melayanimu sekarang?"

 

"Pelayan baru, namanya Hoa Giok."

 

"Hoa Giok? Tu Ci Yen yang mencari untukmu?"

 

"Ya." Siauw Hui Ceh mengangguk. "Tapi aku tidak tahu dia mencari di mana."

 

"Hoa Giok itu dari mana, aku justru pernah membicarakannya dengan Tu Ci Yen." Sela Siauw Kiam Meng memberitahukan. "Kalau tidak salah, dia membeli dengan harga ratusan tael perak."

 

"Oooh!" Pek Giok Liong manggut-manggut, kemudian mengarah pada Siauw Hui Ceh seraya bertanya, "Dia baik terhadapmu?"

 

"Cukup baik." Siauw Hui Ceh mengangguk. "Tapi aku merasa dia agak misterius."

 

"Oh?" Pek Giok Liong mengerutkan kening. "Dia bisa silat?"

"Kelihatannya ….. tidak bisa."

 

"Dia berada di mana sekarang, kok tidak kelihatan?" Pek Giok Liong mengerutkan kening lagi.

 

"Dia berada di kamar sebelah." Siauw Hui Ceh memberitahukan. "Telah kutotok jalan darah tidurnya."

 

"Saudara Kiam Meng! Mari kita ke kamar sebelah melihat-lihat!" ajak Pek Giok Liong.

 

"Mau apa melihatnya?" tanya Siauw Kiam Meng.

 

"Melihat-lihat saja. Nanti baru dibicarakan!"

 

"Sudahlah!" Siauw Kiam Meng menggelengkan kepala. "Mana ada waktu untuk pergi melihatnya? Lebih baik kita mengurusi pekerjaan yang penting."

 

"Saudara Kiam Meng, itu termasuk urusan penting." Pek Giok Liong memberitahukan dengan sungguh-sungguh.

 

"Siau Liong!" Siauw Kiam Meng menatapnya heran. "Engkau sungguh sulit dimengerti."

 

"Oh?" Pek Giok Liong tersenyum.

 

"Siau Liong, kalau engkau ingin melihatnya, pergilah sendiri! Aku dan Hui Ceh menunggu di sini."

 

Pek Giok Liong menggelengkan kepala.

 

"Aku menginginkan kalian ikut juga."

 

"Siau Liong!" Siauw Kiam Meng mengerutkan kening. "Kenapa engkau begitu memaksa orang?"

 

"Kakak Liong!" Siauw Hui Ceh menyela, "Dia tidak mau pergi ya sudahlah! Aku akan ikut."

 

"Kalau begitu, biar aku sendiri di sini," sahut Siauw Kiam Meng.

 

"Saudara Kiam Meng, kalau engkau tidak mau ikut, itu sudah tiada artinya lagi." kata Pek Giok Liong.

 

"Oh?" Siauw Kiam Meng tercengang. "Lalu apa artinya aku ikut?"

 

"Engkau akan mengetahuinya setelah sampai di sana."

 

"Aku tidak paham akan maksudmu." Siauw Kiam Meng menggeleng-gelengkan kepala. "Sebetulnya engkau mau apa?"

 

"Aku ingin membuat suatu kejutan," sahut Pek Giok Liong sambil tertawa ringan. "Ayolah! Mari kita ke sana, jangan membuang waktu lagi!"

 

Siauw Hui Ceh merasa ada keanehan, sebab air muka Pek Giok Liong memang tampak aneh, maka ia pun mendesak Siauw Kiam Meng untuk ikut.

 

"Kakak Kiam Meng, ayolah ikut!"

 

Sesungguhnya Siauw Kiam Meng tidak mau ikut, tapi karena didesak oleh Siauw Hui Ceh, ia terpaksa mengangguk.

 

"Baiklah."

 

Mereka bertiga lalu menuju kamar sebelah.

 

Hoa Giok berbaring di tempat tidur, sepasang matanya terpejam dan nafasnya pun begitu tenang, pertanda dia sangat pulas.

 

Pek Giok Liong mendekatinya, kemudian menjulurkan tangannya untuk memegang nadi di lengan Hoa Giok.

 

Berselang sesaat, Pek Giok Liong memandang Siauw Hui Ceh seraya bertanya.

 

"Adik Hui, betulkah engkau menotok jalan darah tidurnya?"

 

"Betul." Siauw Hui Ceh mengangguk. "Apakah ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya?"

 

Pek Giok Liong tertawa ringan, lalu mengarah pada Hoa Giok yang berbaring itu seraya berkata.

 

"Nona Hoa Giok, tidak usah berpura-pura lagi! Cepatlah bangun dan mari kita bicara baik-baik!"

 

Kini Siauw Kiam Meng telah mengerti, sehingga hatinya tersentak. Justru pada waktu bersamaan mendadak Hoa Giok membalikkan badannya, sekaligus mencengkeram urat nadi di lengan kiri Pek Giok Liong.

 

"Hek Siau Liong!" Hoa Giok tertawa dingin. "Engkau memang luar biasa, namun kini engkau telah jatuh di tanganku!"

 

Menyaksikan itu, Siauw Hui Ceh terkejut bukan main dan segera membentak.

 

"Hoa Giok! Cepat lepaskan dia!"

 

Hoa Giok menggelengkan kepala.

 

"Nona, maafkan aku tidak menurut perintahmu!" sahutnya.

 

"Hoa Giok ….." Siauw Hui Ceh ingin memarahinya, namun mendadak ia mendengar suara Pek Giok Liong mengiang di dalam telinganya. Ternyata Pek Giok Liong berbicara padanya dengan ilmu menyampaikan suara.

 

"Adik Hui, jangan khawatir! Dia tidak bisa melukaiku."

 

Seketika juga Siauw Hui Ceh merasa lega. Justru pada saat itu terdengar suara bentakan Siauw Kiam Meng.

 

"Hoa Giok, kenapa engkau berani membangkang? Nona Hui begitu baik terhadapmu, tapi engkau begitu berani tidak menurut perintahnya!"

 

"Tuan muda Kiam Meng!" sahut Hoa Giok dengan alis terangkat. "Engkau jangan turut campur urusan ini!"

 

"Engkau ….." Wajah Siauw Kiam Meng merah padam.

 

Hoa Giok tidak menimpalinya, sekonyong-konyong ia menotok jalan darah Pek Giok Liong. Tentunya Pek Giok Liong tidak bisa mengelak, karena urat nadinya dicengkeram.

 

Setelah menotok Pek Giok Liong, Hoa Giok pun tertawa puas.

 

"Hek Siau Liong, engkau bisa apa sekarang?" ujarnya sepatah demi sepatah.

 

Pek Giok Liong tampak tenang, ia tersenyum hambar sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Engkau telah menotok jalan darahku sehingga aku tidak bisa bergerak sama sekali, lalu aku masih bisa apa?"

 

"Hmm!" dengus Hoa Giok dingin.

 

"Engkau telah menotok jalan darahku, kenapa masih tidak mau melepaskan cengkeramanmu?"

 

Jalan darah lumpuh Pek Giok Liong telah tertotok. Walau ia memiliki kepandaian tinggi, namun bisa berbuat apa?

 

Oleh karena itu, Hoa Giok pun tersenyum. Ia memandang Pek Giok Liong sejenak, lalu melepaskan cengkeramannya.

 

Pada waktu bersamaan, mendadak air muka Hoa Giok berubah aneh. Siapa pun tidak tahu akan hal itu, hanya Pek Giok Liong yang tahu. Ia pura-pura batuk, kemudian memandang Hoa Giok dengan penuh perhatian.

 

"Nona Hoa Giok, sekarang kita boleh bicara baik-baik kan?"

 

Hoa Giok tersenyum.

 

"Engkau ingin bicara apa denganku?"

 

"Bagaimana kalau membicarakan tentang dirimu?"

 

"Engkau ingin tahu asal-usulku kan?"

 

"Tidak salah." Pek Giok Liong tertawa. "Nona Hoa Giok sangat cerdas, aku amat kagum padamu."

 

"Terimakasih atas pujianmu!"

 

"Nona Hoa Giok, mengenai asal-usulmu, aku telah menduganya dalam hati! Namun tepat atau tidak, aku tidak berani memastikannya."

 

"Oh?" Hoa Giok tertawa cekikikan. "Coba beberkan dugaanmu itu, aku datang dari mana!"

 

"Kalau tidak salah, Nona pasti datang dari Bun Jiu Kiong (Istana Lemah Lembut)! Ya, kan?"

 

Air muka Hoa Giok langsung berubah, kemudian tanyanya dengan nada terkejut.

 

"Engkau tahu tentang Bun Jiu Kiong itu?" Pek Giok Liong tersenyum.

 

"Kalau begitu, dugaanku tidak meleset kan?"

 

Hoa Giok menggertak gigi dan jawabnya dingin.

 

"Benar! Aku memang datang dari Istana Lemah Lembut!"

 

"Nona, aku ingin menasihatimu, entah engkau sudi mendengar atau tidak?" Pek Giok Liong menatapnya.

 

"Engkau ingin menasihatiku agar meninggalkan istana itu?"

 

"Benar." Pek Giok Liong mengangguk. "Engkau memiliki kepandaian yang cukup tinggi, kenapa mau membiarkan dirimu tetap kotor di sana?"

 

"Hi hi hi!" Hoa Giok tertawa cekikikan. "Nasihatmu sungguh menyentuh hati, tapi tidak tepat pada waktunya."

 

"Maksud Nona?"

 

"Kalau jalan darahmu itu belum kutotok, mungkin aku akan mempertimbangkan nasihatmu itu!"

 

"Oooh!" Pek Giok Liong tersenyum. "Kau kira jalan darahku sudah tertotok maka aku tidak bisa apa-apa lagi?"

 

Hoa Giok terkejut. Ia menatap Pek Giok Liong dengan tajam.

 

"Apakah aku belum dapat mengendalikan jalan darahmu?"

 

"Tidak salah."

 

"Aku tidak percaya!"

 

"Nona tidak percaya?"

 

"Ya." Hoa Giok mengangguk. "Aku memang tidak percaya!"

 

"Kalau begitu ….." Pek Giok Liong tersenyum. "Aku akan membuktikannya."

 

Usai berkata begitu, Pek Giok Liong pun menyentilkan jari telunjuknya ke arah dinding.

 

Cess! Dinding itu langsung berlubang.

 

"Haah?" Wajah Hoa Giok berubah pucat pias. "Engkau ….. engkau bisa membuka jalan darah itu dengan hawa murnimu?"

 

"Ya." Pek Giok Liong mengangguk. "Lagi pula aku pernah belajar semacam ilmu pemindahan jalan darah, maka ketika engkau menotok jalan darahku itu, totokanmu meleset."

 

Hoa Giok tertegun, ditatapnya Pek Giok Liong dengan mata terbelalak lebar, lama sekali barulah membuka mulut.

 

"Aku tetap tidak percaya!" Tiba-tiba Hoa Giok menotok jalan darah di dada Pek Giok Liong.

 

Pek Giok Liong sama sekali tidak bergerak, dan malah tertawa ringan seraya berkata, "Nona Hoa Giok, percayakah engkau sekarang?"

 

Hoa Giok termangu. Kini ia baru tahu jelas, bahwa Pek Giok Liong memiliki kepandaian yang amat tinggi. Kemudian diliriknya Siauw Kiam Meng, pemuda itu berpura-pura tidak tahu.

 

"Nona Hoa Giok!" ujar Pek Giok Liong dengan suara rendah. "Lebih baik engkau kembali ke jalan yang benar, pikirkanlah itu!"

 

"Engkau ….." Hoa Giok melotot.

 

Pek Giok Liong tersenyum, lalu mendadak menggerakkan jari telunjuknya. Seketika juga empat jalan darah penting Hoa Giok telah tertotok. Begitu cepat membuat Hoa Giok sendiri nyaris tidak percaya. Tapi buktinya sekujur badannya telah semutan dan mulutnya pun jadi kaku. Kemudian Pek Giok Liong mengibaskan tangannya, dan tubuh Hoa Giok pun melayang dan jatuh di tempat tidur dalam posisi berbaring.

 

Bukan main! Itu membuat sekujur badan Siauw Kiam Meng menggigil ketika menyaksikannya.

 

"Adik Hui!" ujar Pek Giok Liong. "Tolong ambilkan pakaian Hoa Giok!"

 

"Ya." Siauw Hui Ceh segera mengambil pakaian Hoa Giok yang di dalam lemari, lalu diberikan pada Pek Giok Liong.

 

"Terima kasih!" Ucap Pek Giok Liong, lalu cepat-cepat memakai pakaian itu. Setelah itu ia bertanya pada Siauw Hui Ceh, "Bagaimana? Cukup mirip kan?"

 

"Hi hi!" Siauw Hui Ceh tertawa geli. "Lumayan!"

 

"Nah! Adik Hui, cepat ambilkan beberapa buah buku untukku!"

 

"Kakak Liong!" tanya Siauw Hui Ceh heran. "Buat apa buku-buku itu?"

 

"Mendapat perintah dari nona, mengantar buku untuk Tuan Muda Peng Yang." sahut Pek Giok Liong.

 

"Hi hi!" Siauw Hui Ceh tertawa geli lagi. "Siau Liong!" sela Siauw Kiam Meng. "Engkau membuatku salut!"

 

"Apa boleh buat! Harus mengelabui mata para penjaga," ujar Pek Giok Liong sambil tertawa. "Meskipun aku bersamamu, tetap tidak akan terlepas dari kecurigaan para penjaga. Maka aku harus menyamar."

 

"Oooh!" Siauw Kiam Meng manggut-manggut.

 

"Adik Hui!" pesan Pek Giok Liong. "Setelah aku pergi bersama Kiam Meng, engkau harus ke tempat ayahmu, dan tunggu kami di sana!"

 

"Ya, tapi ….. Kakak Liong harus berhati-hati!"

 

"Adik Hui boleh berlega hati!" Pek Giok Liong tersenyum. "Bersama Kiam Meng, tentunya tiada bahaya."

 

-- o --

 

 

 

Bagian ke 39: Pembicaraan Rahasia

 

Ketika Pek Giok Liong dan Siauw Kiam Meng menuju penjara bawah tanah, pada waktu bersamaan, di bangunan kecil di halaman belakang ekspedisi Yang Wie, telah terjadi pembicaraan rahasia antara Kim Tie dan Gin Tie.

 

"Bukankah engkau telah pulang, kok balik ke mari lagi?" tanya Kim Tie bernada heran.

 

"Telah terjadi sesuatu yang di luar dugaan di rumah," jawab Gin Tie memberitahukan.

 

"Oh? Apa gerangan yang telah terjadi?"

 

"Ho cong koan ditangkap orang."

 

"Apa?!" Kim Tie terkejut. "Ho cong koan ditangkap orang?"

 

"Ya."

 

"Siapa orang itu?"

 

"Dia bernama Seng Sin Khi."

 

"Apa?!" Kim Tie terkejut bukan main. "Seng Sim Ki (Panji Hati Suci)?"

 

"Nadanya hampir sama." sahut Gin Tie. "Kata beberapa orang di rumah, Seng Sin Khi itu mirip Hek Siau Liong."

 

"Engkau percaya?"

 

"Percaya tapi juga kurang percaya!"

 

"Apa alasanmu kurang percaya?"

 

"Cuma berpisah satu tahun, maka aku kurang percaya Hek Siau Liong telah memiliki kepandaian yang begitu tinggi."

 

"Dia mampu menangkap Ho cong koan, itu membuktikan bahwa kepandaiannya memang tinggi."

 

"Kalau diceritakan, mungkin tiada seorang pun akan percaya."

 

"Maksudmu?"

 

"Dia menyuruh Ho cong koan menyerangnya sepuluh jurus, bahkan dengan syarat dia tidak akan membalas dan tidak akan bergeser dari tempat duduknya ….."

 

"Ho cong koan menyerangnya?"

 

"Ya." Gin Tie mengangguk. "Namun sampai sebelas jurus, Ho cong koan sama sekali tidak mampu mendesaknya tergeser dari tempat duduk."

 

"Oh?"

 

"Sebaliknya dia mampu menangkap Ho cong koan cuma dalam satu jurus." Gin Tie memberitahukan.

 

"Hah?" Kim Tie terkejut bukan main. "Siapa yang memberitahukan padamu?"

 

"Siauw Peng Yang."

 

Dugaan Pek Giok Liong memang tidak salah, Gin Tie itu tidak lain adalah Tu Ci Yen. Lalu siapa Kim Tie?

 

"Siauw Peng Yang menyaksikan dengan mata sendiri?" tanya Kim Tie yang kelihatan kurang percaya.

 

"Dia memang menyaksikan dengan mata sendiri," jawab Gin Tie dan melanjutkan, "Ketika Seng Sin Khi mau membawa Ho cong koan pergi, Siauw Peng Yang ingin mencegahnya, namun kepandaiannya jauh di bawah orang itu, maka sebaliknya malah dia yang tertotok jalan darahnya ….."

 

"Tunggu!" potong Kim Tie mendadak.

 

"Ada apa?" tanya Gin Tie.

 

"Ucapanmu itu kurang beres."

 

"Kurang beres?"

 

"Ya. Aku ingin bertanya, bagaimana kekuatan pukulan Siauw Peng Yang?"

 

"Dapat menghancurkan batu."

 

"Siauw Peng Yang mencegah orang itu dengan apa?"

 

"Pukulan."

 

"Nah! Kalau begitu, kok orang itu tidak apa-apa? Bagaimana mungkin tubuhnya lebih keras dari batu?"

 

"Maksudmu ….. pukulan itu tidak mengandung lwee kang …..?"

 

"Ya. Tapi kalau pukulan itu mengandung lwee kang, kecuali orang itu ….." Kim Tie tidak melanjutkan ucapannya, melainkan berpikir keras, kemudian menggeleng-gelengkan kepala. "Hanya ada satu kemungkinan."

 

"Kemungkinan apa?"

 

"Berapa usia orang itu?" tanya Kim Tie mendadak.

 

"Sekitar enam belas."

 

"Ngmm!" Kim Tie manggut-manggut. "Tahukah engkau ilmu apa yang membuat tubuh tidak mempan segala pukulan?"

 

"Menurut ayah angkat, itu semacam lwee kang pelindung badan," jawab Gin Tie.

 

"Untuk mencapai tingkat itu, harus berlatih berapa lama?"

 

"Itu ….. lama sekali!"

 

"Nah! Dalam bu lim siapa yang berhasil mencapai tenaga dalam pelindung tubuh?"

 

"Menurut ayah angkat, hanya majikan Ciok Lau San Cung yang telah mati itu, namun dia cuma mencapai tingkat kelima. Dalam bu lim masa kini, tiada orang kedua yang mencapai tingkat."

 

"Sekarang engkau sudah mengerti, kenapa aku barusan mengatakan hanya ada satu kemungkinan?"

 

"Aku sudah mengerti."

 

"Ohya. Kenapa dia seorang diri ke sana? Engkau tahu apa maksud tujuannya?" tanya Kim Tie mendadak.

 

"Aku sudah menyelidiki persoalan itu. Seng Sin Khi mengatakan bahwa keluarga Siauw mempunyai hutang padanya," jawab Gin Tie.

 

"Mungkinkah Siauw cung cu punya hutang padanya?"

 

"Yang ditagihnya justru bukan harta benda."

 

"Oh?" Kim Tie tertegun. "Apakah hutang nyawa?"

 

Gin Tie mengangguk.

 

"Dia memang menagih hutang nyawa. Katanya, Siauw cung cu berhutang tujuh nyawa padanya."

"Apa?! Siauw cung cu berhutang tujuh nyawa padanya?" Kim Tie tampak terkejut, namun kemudian menggeleng-gelengkan kepala. "Itu ….. itu tidak mungkin. Sebab Siauw cung cu tidak pernah membunuh orang."

 

Tu Ci Yen atau Gin Tie diam saja. Ia terus mendengar dengan penuh perhatian. Sedangkan Kim Tie telah melanjutkan.

 

"Sejak kecil engkau ikut Siauw cung cu, bahkan kemudian diangkat anak. Pernahkah selama itu engkau mendengar, bahwa dia punya musuh?" lanjut Kim Tie.

 

"Tidak pernah."

 

"Kalau Siauw cung cu berhutang nyawa padanya, seharusnya dia cari majikan Siauw. Tapi kenapa menangkap Ho cong koan? Lagi pula sama sekali tidak melukai siapa pun?"

 

"Semula aku pun merasa heran tentang itu, setelah kutanya secara teliti, barulah kutahu sebab musababnya."

 

"Apa sebab musabab?"

 

"Sebab Ho cong koan menyerangnya dengan jurus Chui Sim Ciang (Pukulan penghancur hati)."

 

"Karena Chui Sim Ciang itu, maka dia menangkap Ho cong koan?"

 

"Ya." Tu Ci Yen mengangguk. "Karena orang itu pun mahir jurus tersebut, bahkan kehebatan pukulannya jauh di atas pukulan Ho cong koan."

 

"Kalau begitu, dia pasti seperguruan dengan Ho cong koan,"

 

"Tidak." Tu Ci Yen menggelengkan kepala. "Nada ucapannya kedengaran tidak mungkin seperguruan dengan Ho cong koan."

 

"Bagaimana nada ucapannya?"

 

"Ketika mau pergi, dia bilang harus membawa Ho cong koan untuk diserahkan pada temannya."

 

"Oh? Dia tidak bilang siapa temannya itu?"

 

"Tidak." Lanjut Tu Ci Yen. "Tapi aku telah menduga, siapa temannya itu."

 

"Siapa temannya itu?"

 

"Mungkin Liok Tay Coan."

 

"Kenapa engkau menduga Liok Tay Coan?"

 

"Aku dengar, ketika Ho cong koan mengerahkan jurus Chui Sim Ciang itu, dia pun bertanya pada Ho cong koan, ada hubungan apa dengan Liok Tay Coan?" Tu Ci Yen memberitahukan. "Maka kuduga, temannya itu pasti Liok Tay Coan."

 

"Tapi ….. bagaimana jawab Ho cong koan?"

 

"Tidak mengaku kenal dengan Liok Tay Coan."

 

Mendadak Gin Tie menarik nafas panjang, kemudian menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata, "Ho cong koan itu sungguh bodoh. Pengakuannya justru membuktikan bahwa dia kenal dengan Liok Tay Coan." Kim Tie menarik nafas lagi, "Kalau diserahkan pada Liok Tay Coan, Ho cong koan pasti mati." lanjutnya.

 

"Apakah Liok Tay Coan guru Ho cong koan?"

 

"Ya." Kim Tie mengangguk dan memberitahukan. "Ketika Liok Tay Coan berkecimpung di bu lim, dia selalu bergerak seorang diri. Tidak mau bergaul dengan siapa pun, lagi pula dia pun amat sadis. Kemudian dia menerima Ho cong koan sebagai murid."

 

"Kalau begitu ….."

 

"Dua puluh tahun lalu, mendadak Liok Tay Coan menghilang dari bu lim. Ho cong koan pun tidak tahu jejak gurunya itu. Justru sungguh di luar dugaan, ternyata Liok Tay Coan masih hidup. Nah, kalau Ho cong koan berada di tangannya, bukankah akan mati?"

 

"Lain pula dengan pendapatku, Ho cong koan ….." Tu Ci Yen tidak melanjutkan ucapannya melainkan menatap Kim Tie.

 

"Menurutmu, Ho cong koan tidak akan mati?"

 

"Aku memang berpendapat begitu."

 

"Apa alasanmu mengatakan begitu?" tanya Kim Tie sambil tertawa.

 

"Meskipun cong koan orang kita, namun dia tidak banyak berbuat dosa, maka Liok Tay Coan tidak akan sembarangan membunuhnya, dia pasti menyelidiki dulu, lagi pula mereka itu guru dan murid."

 

"Ngmm!" Kim Tie manggut-manggut sambil tersenyum. "Cukup masuk akal, tapi engkau telah melupakan satu hal."

 

"Hal apa?"

 

"Hal yang amat kecil, tapi bagi Liok Tay Coan merupakan hal yang amat besar." ujar Kim Tie dan melanjutkan, "Seharusnya dia jangan mengaku tidak kenal Liok Tay Coan. Cobalah engkau pikir! Seorang murid yang tidak mau mengaku gurunya, bukankah termasuk murid murtad? Lagi pula Liok Tay Coan berhati sadis dan tak kenal ampun. Nah, bagaimana mungkin dia akan mengampuni murid yang tidak mengakunya guru? Oleh karena itu, kalau Ho cong koan jatuh di tangannya, apakah masih ada harapan untuk hidup?"

 

"Sungguh teliti engkau!" Tu Ci Yen tertawa. "Aku masih tidak begitu teliti."

 

"Sudahlah!" Kim Tie tertawa gelak. "Jangan memuji diriku. Padahal engkau lebih pintar dariku, hanya saja engkau tidak mau berpikir."

 

"Yang jelas engkau jauh lebih pintar dariku!" Tu Ci Yen masih tertawa.

 

"Berdasarkan itu ….." ujar Kim Tie melanjutkan, "Kemungkinan besar pemuda baju hitam itu murid baru Liok Tay Coan, jadi dia bukan Hek Siau Liong."

 

"Hek Siau Liong atau bukan, belum bisa dipastikan. Tapi menurutku, dia bukan murid Liok Tay Coan."

 

"Oh?" Kim Tie tertegun. "Mengapa? Bukankah dia juga mahir jurus Pukulan Penghancur Hati? Lalu kenapa dia bukan murid Lick Tay Coan?"

 

"Karena dia juga memiliki ilmu-ilmu rahasia partai lain."

 

"Oh, ya?" Kim Tie tercengang. "Ilmu apa lagi yang dimilikinya?"

 

"Siau Lim Kim Kong Ci dan Bu Tong Liu Sing Hui Jiau."

 

"Apa?"

 

"Kim Kong Ci dan Liu Sing Hui Jiau merupakan ilmu tunggal Siau Lim dan Bu Tong. Kecuali ketua partai dan tetua, para murid sama sekali tidak belajar ilmu-ilmu itu."

 

"Siapa yang bilang dia memiliki kedua ilmu itu?"

 

"Siauw Peng Yang."

 

"Oh?" Kim Tie heran. "Kok dia tahu?"

 

"Ketika Ho cong koan mengeluarkan jurus Pukulan penghancur hati, pemuda berbaju hitam itu menangkis dengan jurus Jari Sakti Arhat. Ho cong koan segera bertanya padanya murid Siau Lim atau bukan, pemuda berbaju hitam tidak mengaku, bahkan kemudian memperlihatkan jurus Cakar Terbang, setelah itu mengeluarkan jurus Pukulan Penghancur Hati. Itu untuk membuktikannya bukan murid Siau Lim maupun Bu Tong Pay."

 

"Kalau begitu ….." gumam Kim Tie. "Murid siapakah dia sebetulnya?"

 

"Karena pemuda baju hitam itu memiliki kepandaian yang begitu tinggi, lagi pula belum tahu asal-usul dan perguruannya, maka aku kembali ke mari untuk melaporkan itu, agar engkau bisa segera memberi kabar pada Taytie."

 

"Tentang ini, kita rundingkan nanti saja." ujar Kim Tie dan kemudian bertanya. "Bagaimana Siauw Peng Yang? Engkau apakan dia?"

 

"Bagaimana menurutmu?" Tu Ci Yen balik bertanya sambil tertawa ringan.

 

"Masih harus dibilang?" Kim Tie tertawa. "Dari dulu engkau memang sudah ingin melenyapkannya, hanya saja tiada alasan dan kesempatan. Kini Ho cong koan ditangkap dan cuma dia seorang diri di tempat, maka aku yakin engkau akan memanfaatkan kesempatan itu, kan?"

 

"Ha ha ha!" Tu Ci Yen tertawa gelak. "Engkau memang memahami diriku."

 

"Engkau apakan dia sekarang?" tanya Kim Tie mendadak dengan nada suara agak berubah.

 

Pertanyaan itu membuat Tu Ci Yen tertegun. Ia menatap Kim Tie seraya bertanya.

 

"Apakah engkau tidak setuju aku memanfaatkan kesempatan itu untuk melenyapkannya?"

 

"Engkau sudah melenyapkannya?"

 

"Belum."

 

"Kalau begitu, engkau pasti mengurungnya di penjara bawah tanah kan?"

 

"Ya." Tu Ci Yen mengangguk. "Aku menahannya di ruang istirahat."

 

Kim Tie menggelengkan-gelengkan kepala. "Urusan kau kacaukan lagi!" gumamnya.

 

"Apa? Maksudmu?" Tu Ci Yen terkejut. Karena Kim Tie mengatakannya begitu, tentunya membuat Tu Ci Yen terkejut dan tidak mengerti.

 

"Kalau dugaanku tidak meleset, pemuda berbaju hitam itu Hek Siau Liong. Kalaupun bukan, dia pasti punya hubungan erat dengan cung cu Siauw Thian Lin. Seandainya engkau tidak menahan Siauw Peng Yang, cepat atau lambat pemuda berbaju hitam itu pasti akan menemui Siauw Peng Yang. Nah, bukankah cukup menyuruh seseorang untuk mengawasinya, dan sekaligus menyelidiki pemuda berbaju hitam itu? Engkau menahan Siauw Peng Yang, bukankah urusan malah jadi kacau?"

 

Tu Ci Yen tersenyum.

 

"Apa yang kau katakan memang benar. Justru itu, aku pun sudah mengatur sesuatu."

 

"Engkau sudah mengatur apa?"

 

"Kalau pemuda berbaju hitam itu benar Hek Siau Liong, maka diam-diam dia pasti pergi menemui Siauw Hui Ceh. Oleh karena itu, aku telah mengatur suatu jebakan di sekitar lantai bawah rumah itu, bahkan juga menyuruh Siauw Kiam Meng menyelidiki keadaan di tempat itu"

 

"Memang bagus apa yang kau atur itu, namun ….." Pemuda berbaju kuning emas itu menatapnya. "Bagaimana seandainya dia bukan Hek Siau Liong?"

 

"Itu ….." Tu Ci Yen menggeleng-gelengkan kepala. "Aku belum memikirkan itu."

 

"Sudahlah! Tapi lain kali kalau menghadapi suatu urusan, engkau harus berpikir matang baru bertindak, jangan sembarangan lagi!"

 

"Ya." Tu Ci Yen mengangguk. "Terimakasih atas petunjukmu!"

 

Kim Tie tersenyum, kemudian ujarnya serius.

 

"Urusan itu mungkin masih bisa diatur kembali. Setelah engkau pulang, cepatlah melepaskan Siauw Peng Yang!"

 

"Ya."

 

"Masih ada urusan lain yang sangat penting, sebetulnya aku ingin menyuruh seseorang memberitahukan padamu sebelum hari terang, tapi engkau justru telah ke mari.

 

"Oh?"

 

"Setelah engkau pulang, harus segera memerintahkan para anak buah yang berada di dalam jarak lima ratus li, dilarang pergi ke mana-mana, harus bersembunyi. Siapa yang berani keluar, pasti dihukum berat."

 

Tu Ci Yen terkejut. Ia memandang Kim Tie seraya bertanya, "Itu kenapa?"

 

"Apakah engkau masih ingat, setahun lalu muncul pemuda baju ungu itu?"

 

"Ingat." Tu Ci Yen mengangguk. "Tapi dia telah menuju selatan."

 

"Semalam aku menerima berita, bahwa dia datang di Kota Ling Ni lagi."

 

"Oh?" Tu Ci Yen terperanjat.

 

"Sekarang dia berada di vihara Si Hui." Kim Tie memberitahukan.

 

Tu Ci Yen tertegun. Ia menatap Raja Emas seraya bertanya, "Dia seorang diri berada di vihara itu?"

 

"Kalau dia cuma seorang diri, apakah engkau ingin bertarung dengan dia? Dia diikuti banyak orang."

 

"Aku tidak akan begitu ceroboh, dalam hal ini aku harap engkau boleh berlega hati!"

 

Kim Tie tertawa. "Apa yang terkandung dalam hatimu, tak akan bisa mengelabui mataku?"

 

"Aku ….." Tu Ci Yen menundukkan kepala.

 

"Jangan bertindak ceroboh, itu akan menimbulkan musibah! Akhirnya yang celaka dirimu sendiri, bahkan para anak buahmu akan menjadi korban pula." Raja Emas memberitahukan.

 

Akan tetapi, Tu Ci Yen justru merasa penasaran dan tidak mempercayai apa yang dikatakan Kim Tie. Oleh karena itu, ia mengambil keputusan untuk bertarung dengan pemuda baju ungu itu.

 

Sementara Kim Tie terus memandangnya, lalu tersenyum seraya bertanya, "Engkau tidak percaya akan perkataanku?"

 

Tu Ci Yen menggelengkan kepala. Ia tidak mau berterus terang, lebih-lebih mengenai keputusannya itu.

 

"Mana berani aku tidak percaya?"

 

"Engkau tidak perlu mengaku, sebab dari sepasang matamu, aku sudah tahu niat dalam hatimu." ujar Kim Tie sambil tersenyum.

 

"Ohya?" Tu Ci Yen tertawa. "Apakah kepandaiannya amat tinggi?"

 

Kim Tie tidak segera menjawab, melainkan berpikir sesaat dan ujarnya sambil tersenyum.

 

"Aku belum pernah bertemu dengannya, maka bagaimana mungkin bisa tahu bagaimana kepandaiannya tinggi atau rendah? Tapi ….."

 

"Kenapa?"

 

"Kalau dugaanku tidak meleset, engkau tidak akan mampu melawannya dalam tiga puluh jurus."

 

Tu Ci Yen semakin penasaran dan tidak percaya, namun kali ini sepasang matanya tidak mencerminkan apa-apa.

 

"Apakah engkau sudah tahu asal-usulnya?"

 

"Aku tidak tahu. Tapi Taytie akan menyelidikinya."

 

"Apakah beliau telah menyelidikinya?"

 

"Kalau tidak salah, memang sudah. Tapi belum begitu jelas, hanya sudah dapat menduganya."

 

"Kalau cuma menduga ….."

 

"Engkau harus tahu, beliau tidak akan menduga sesuatu yang masih samar-samar."

 

"Oh?"

 

"Berdasarkan informasi, kali ini yang menyertainya lebih banyak dari setahun lalu, bahkan kebanyakan telah berusia tujuh puluhan dan rata-rata memiliki kepandaian amat tinggi."

 

"Tahukah engkau orang-orang tua itu?"

 

"Aku sudah menyuruh beberapa anak buah untuk menyelidikinya. Mungkin tidak lama lagi ada informasi masuk."

 

"Dengan adanya kemunculan mereka, apakah semua kegiatan kita harus dihentikan?"

 

"Agar tidak menimbulkan hal-hal yang mencurigakan, maka harus dihentikan," ujar Kim Tie dan menambahkan, "Kecuali urusan yang amat penting, urusan lain harus ditangguhkan untuk sementara."

 

"Baiklah." Tu Ci Yen mengangguk. "Aku akan melaksanakan tugasku sesuai instruksimu."

 

"Bagus." Kim Tie manggut-manggut.

 

"Apakah masih ada perintah lain?"

 

"Tidak ada. Tapi aku harus memberitahukan urusan yang sangat penting padamu."

 

"Urusan apa!"

 

"Pemuda berbaju hitam yang mengaku bernama Seng Sin Khi itu tidak lain Hek Siau Liong."

 

"Apa?" Tu Ci Yen tersentak. "Engkau memastikan itu?"

 

"Ya." Kim Tie mengangguk. "Seng Sin Khi memang Hek Siau Liong."

 

"Bolehkah aku tahu alasanmu memastikan itu?"

 

"Tahukah engkau kedudukan Hek Siau Liong sekarang?"

 

"Apa kedudukannya sekarang?"

 

"Apakah engkau lupa, bahwa dia adalah pemegang Jit Goat Seng Sim Ki generasi kelima?"

 

"Oooh!" Tu Ci Yen tersadar sekarang. "Seng Sim Ki, Seng Sim Ki! Itu tidak salah, ternyata nada suaranya sama. Kalau engkau tidak mengatakan, aku pun tidak menyadari hal itu."

 

"Kini engkau sudah tahu, maka harus tahu pula apa maksud tujuannya ke mari. Dia telah memiliki kepandaian yang begitu tinggi, sekarang muncul lagi pemuda baju ungu bersama beberapa orang tua, mungkin juga untuk membantunya."

 

"Oh?" Tu Ci Yen terbelalak.

 

"Oleh karena itu, engkau harus berhati-hati, jangan sampai bertindak ceroboh," pesan Kim Tie.

 

"Ya." Tu Ci Yen mengangguk. "Aku pasti menuruti perkataanmu."

 

"Emmh!" Kim Tie manggut-manggut. "Pokoknya kita semua harus berhati-hati."

 

-- o --

 

 

 

Bagian ke 40: Akal Dilawan Akal

 

Pek Giok Liong menyamar sebagai Hoa Giok. Tangannya membawa beberapa buah buku, dan bersama Siauw Kiam Meng menuju penjara bawah tanah.

 

Status Hoa Giok adalah pelayan pribadi Siauw Hui Ceh. Gadis itu berasal dari Bun Jiu Kiong (Istana Lemah Lembut), maka jelas setelah menjadi pelayan, derajatnya jadi tinggi. Maka para penjaga tiada seorang pun berani melarangnya ke penjara bawah tanah itu.

 

Tak lama kemudiam, mereka berdua telah sampai di penjara bawah tanah itu.

 

"Adik Peng Yang, Siau Liong dan aku ke mari menolongmu," bisik Siauw Kiam Meng.

 

Siauw Peng Yang tertegun. Ia segera menatap Hoa Giok dengan penuh perhatian.

 

"Saudara Hek!" tegurnya. "Kenapa engkau menempuh bahaya ini, engkau sungguh ….."

 

Pek Giok Liong segera memberi isyarat agar dia diam.

 

"Saudara Peng Yang, kini bukan saatnya berbicara demikian," ujar Pek Giok Liong lalu mengarah pada Siauw Kiam Meng seraya bertanya, "Siauw Kiam Meng, coba engkau cari akal, kita harus bagaimana ke luar dari sini."

 

"Siau Liong!" Siauw Kiam Meng tersenyum. "Sudah kukatakan tadi, engkau sangat cerdik dan memiliki kepandaian tinggi, bagaimana kita harus keluar, aku cuma menurut saja."

 

"Saudara Kiam Meng, sungguhkah engkau bersedia menurut padaku?" Pek Giok Liong menatapnya tajam.

 

"Tentu." Siauw Kiam Meng mengangguk. "Lebih baik sekarang engkau berunding dulu dengan adik Peng Yang, aku akan menjaga di luar."

 

Usai berkata begitu, Siauw Kiam Meng segera mengayunkan kakinya, namun Pek Giok Liong cepat-cepat menarik tangannya.

 

"Saudara Kiam Meng, jangan menjaga di luar!"

 

"Kenapa?" tanya Siauw Kiam Meng heran.

 

"Sebetulnya ….." Pek Giok Liong tersenyum. "Aku sudah punya cara untuk ke luar dari sini. Barusan aku cuma sekedar bertanya."

 

"Oh?" Siauw Kiam Meng menatapnya. "Bagaimana caramu?"

 

"Dengan cara akal dilawan akal." jawabnya sambil tersenyum.

 

Siauw Kiam Meng tidak mengerti, namun kemudian air mukanya tampak berubah.

 

"Apa artinya akal dilawan akal?" tanyanya.

 

Pek Giok Liong tidak menyahut, hanya sekilas wajahnya tampak aneh dan misterius.

 

"Engkau akan segera tahu."

 

Siauw Kiam Meng telah merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Baru saja ia mau menerjang ke luar, tapi Pek Giok Liong justru bergerak lebih cepat menotok jalan darahnya.

 

Kini Siauw Kiam Meng sudah tahu jelas apa artinya akal dilawan akal, tapi terlambat baginya, karena sekujur badannya sudah tidak bisa bergerak, dan wajahnya berubah pucat pias.

 

Ia amat menyesal, kenapa tadi ia tidak turun tangan duluan terhadap Pek Giok Liong. Kini dirinya malah dikendalikan, maka ia melototi Pek Giok Liong dengan penuh kebencian.

 

"Saudara Kiam Meng!" Pek Giok Liong tertawa ringan. "Biar bagaimana pun engkau harus memaafkanku. Sebab kalau aku tidak bertindak demikian tentunya sulit bagi Peng Yang untuk meninggalkan penjara bawah tanah ini. Setelah pagi dan Tu Cin Yen mengetahui akan hal ini, paling juga dia cuma mencacimu tak berguna, tidak akan menghukummu dengan berat dan engkau akan dikeluarkan dari sini."

 

Siauw Kiam Meng diam saja, memang sudah tiada yang harus dikatakannya.

 

"Aku mengerti, saat ini engkau pasti menyesal sekali," lanjut Pek Giok Liong sambil menatapnya tajam. "Menyesal karena engkau tidak turun tangan duluan terhadap diriku. Sesungguhnya engkau tidak perlu menyesal, sebaliknya engkau malah harus merasa beruntung. Kalau engkau turun tangan duluan, mungkin aku pun akan memusnahkan seluruh kepandaianmu."

 

Mendengar ucapan itu, sekujur badan Siauw Kiam Meng menggigil. Sebab bagi orang yang memiliki ilmu silat, lebih baik mati dari pada kepandaiannya dimusnahkan.

 

"Kini engkau tidak terluka dan belum musnah kepandaianmu, maka baik-baik engkau jadi anak cucu keluarga Siauw! Nah, selamat tinggal, dan aku akan tetap memanggilmu saudara. Kalau tidak ….."

 

Wajah Pek Giok Liong berubah dingin. Ia melanjutkan ucapannya dengan suara dingin pula, membuat Siauw Kiam Meng merinding.

 

"Tentunya engkau mengerti, aku pun tidak perlu banyak bicara lagi." Kemudian Pek Giok Liong mengarah pada Siauw Peng Yang. "Saudara Peng Yang, cepatlah engkau lucuti pakaiannya lalu pakailah! Kita harus segera meninggalkan tempat ini."

 

Siauw Peng Yang menurut. Ia sangat kagum akan kecerdasan Siau Liong. Setelah memakai pakaian Siauw Kiam Meng, ia memakaikan pakaiannya ke tubuh Siauw Kiam Meng itu.

 

"Saudara Siau Liong, apakah kita biarkan dia di sini?"

 

Pek Giok Liong mengangguk, lalu secepat kilat ia menotok jalan darah tidur di badan Siauw Kiam Meng. Setelah itu, barulah ia mengajak Siauw Peng Yang pergi.

 

Keluar dari penjara bawah tanah, mereka berdua segera menuju tempat cung cu Siauw Thian Lin.

 

Sebetulnya cung cu Siauw Thian Lin sudah tidur, tapi Siauw Hui Ceh membangunkannya dan menceritakan tentang Hek Siau Liong yang telah kembali.

 

Ketika mendengar Hek Siau Liong telah kembali, wajah cung cu Siauw Thian Lin yang pucat pias tampak berseri dengan penuh harapan. Namun juga merasa di luar dugaan, bagaimana mungkin Hek Siau Liong begitu cepat kembali?

 

Tak seberapa lama kemudian, muncullah Pek Giok Liong bersama Siauw Peng Yang. Begitu melihat Pek Giok Liong, Siauw Hui Ceh pun tampak tercengang.

 

"Kakak Liong, di mana kakak Peng Yang? Engkau tidak menolongnya?"

 

Pek Giok Liong tersenyum, sambil menunjuk Siauw Peng Yang yang menyamar Siauw Kiam Meng.

 

"Adik Hui, lihatlah baik-baik siapa dia?"

 

Siauw Hui Ceh menatap Siauw Peng Yang dengan penuh perhatian, kemudian serunya girang.

 

"Haah! Kakak Peng Yang?"

 

Siauw Peng Yang mengangguk sambil tersenyum getir.

 

"Aku memang Peng Yang. Aku justru tidak habis pikir, kenapa Tu Ci Yen begitu licik dan busuk."

 

"Kakak Peng Yang!" Siauw Hui Ceh menarik nafas. "Hanya Kakak Liong yang bisa menandingi kelicikannya."

 

"Benar." Siauw Peng Yang mengangguk.

 

"Kakak Liong!" Siauw Hui Ceh menatapnya. "Apakah kakak Kiam Meng di tinggal di dalam penjara bawah tanah itu?"

 

"Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin aku dan saudara Peng Yang bisa meninggalkan penjara bawah tanah?"

 

"Kalau begitu ….." Siauw Hui Ceh mengerutkan kening. "Kakak Kiam Meng ….."

 

"Harap Adik Hui berlega hati!" sambung Pek Giok Liong cepat. "Dia tidak apa-apa, besok Tu Ci Yen pasti mengeluarkannya."

 

"Oooh!" Siauw Hui Ceh manggut-manggut.

 

"Siau Liong memberi hormat pada cung cu!" ucap Pek Giok Liong sambil menjura pada cung cu Siauw Thian Lin.

 

"Nak Liong, engkau tidak usah banyak peradaban!" sahut cung cu Siauw Thian Lin sambil tersenyum. "Ketika aku mendengar bahwa engkau sudah kembali, hatiku sungguh gembira sekali. Namun juga merasa heran, kenapa engkau begitu cepat kembali. Apakah engkau telah pergi ….."

 

Berkata sampai di sini, nafas cung cu Siauw Thian Lin mulai sesak.

 

Kening Pek Giok Liong berkerut. "Cung cu jangan banyak bicara, izinkanlah Siau Liong memeriksa nadi cung cu!" ujarnya.

 

Tentang Pek Giok Liong ingin memeriksa nadinya, Siauw Hui Ceh pun sudah memberitahukan, maka ia segera menjulurkan lengannya yang kurus itu.

 

Padahal cung cu Siauw Thian Lin baru berusia lima puluhan, bahkan memiliki kepandaian tinggi, maka seharusnya berbadan sehat. Akan tetapi ….., Pek Giok Liong tersentak hatinya dan membatin ketika melihat lengan cung cu Siauw Thian Lin. Nafas sesak apa itu? Tidak sampai setahun tubuh cung cu Siauw Thian Lin sudah begitu kurus. Itu tidak mungkin. Penyakit tersebut tidak akan membuat orang jadi begitu kurus, lagi pula cung cu Siauw Thian Lin memiliki tenaga dalam yang tinggi, maka tidak seharusnya …..

 

Meskipun sedang berpikir, tiga jari Pek Giok Liong pun memegang nadi di pergelangan lengan cung cu Siauw Thian Lin. Diperiksanya nadi cung cu itu dengan cara Ceng Khi Siu Hoat (Hawa murni menembus jalan darah).

 

Itu sungguh mengejutkan cung cu Siauw Thian Lin, sebab orang yang mampu memeriksa nadi dengan cara tersebut, harus memiliki tenaga dalam tingkat tinggi.

 

Padahal usia Pek Giok Liong masih muda. Mungkinkah ia telah memiliki tenaga dalam yang begitu tinggi? Siauw Hui Ceh telah memberitahukan pada cung cu Siauw Thian Lin, bahwa Hek Siau Liong memiliki ilmu yang amat tinggi. Tapi cung cu Siauw Thian Lin tidak begitu percaya, karena dipikirnya baru berpisah satu tahun, bagaimana mungkin Hek Siau Liong belajar ilmu silat yang begitu tinggi?

 

Setelah melihat dengan mata kepala sendiri cara Pek Giok Liong memeriksa nadinya, maka ia pun percaya, bahkan merasa tenaga dalam Pek Giok Liong jauh di atas tenaga dalamnya sendiri.

 

Betapa gembiranya cung cu Siauw Thian Lin, sehinga sepasang matanya tampak berbinar-binar.

 

Berselang beberapa saat kemudian, Pek Giok Liong melepaskan jari tangannya dari pergelangan lengan cung cu Siauw Thian Lin, lalu menarik nafas.

 

"Bagaimana, Kakak Liong?" tanya Siauw Hui Ceh.

 

"Ternyata dugaanku tidak meleset," jawab Pek Giok Liong serius.

 

Seketika juga sepasang mata Siauw Hui Ceh yang indah itu menyorotkan sinar yang penuh mengandung kebencian.

 

"Sungguh tak berbudi dan berhati srigala!" caci Siauw Hui Ceh sengit.

 

"Eh? Adik Hui!" Pek Giok Liong menatapnya. "Engkau mencaci siapa?"

 

"Tentu Tu Ci Yen!" sahut Siauw Hui Ceh dengan wajah bengis.

 

"Adik Hui!" Pek Giok Liong tercengang. "Berdasarkan apa engkau mencarinya demikian?"

 

"Dia meracuni ayahku, apakah aku tidak harus mencarinya?"

 

Pek Giok Liong tersenyum.

 

"Engkau berani memastikan dia yang meracuni ayahmu?"

 

"Tentu berani. Di rumah ini selain dia, siapa yang berani berbuat begitu?"

 

"Adik Hui, apakah engkau punya bukti?" Siauw Hui Ceh tertegun sehingga tergagapgagap.

 

"Itu ….. itu ….."

 

"Adik Hui!" Pek Giok Liong menatapnya. "Apakah engkau sudah lupa akan apa yang kukatakan tadi? Urusan apa pun, sebelum ada bukti, jangan menuduh sembarangan! Harus tenang dan berpikir lebih cermat."

 

"Kakak Liong ….." Siauw Hui Ceh menundukkan kepala.

 

"Walau itu perbuatan Tu Ci Yen, namun engkau tidak punya bukti, lalu bisa bertindak apa terhadapnya? Bertanya padanya, tentu dia tidak akan mengaku, sebaliknya dia malah akan menuntut bukti. Nah, bagaimana engkau pada waktu itu? Lagi pula engkau mencacinya di sini, dia tidak akan mendengar. Itu sama juga bohong, maka apa gunanya engkau mencacinya begitu?"

 

"Kakak Liong ….." Wajah Siauw Hui Ceh kemerah-merahan.

 

"Ha ha!" Cung cu Siauw Thian Lin tertawa. "Nak Hui, apa yang dikatakan Kakak Liongmu memang tidak salah. Oleh karena itu, engkau harus ingat selalu!"

 

Siauw Hui Ceh diam, dan wajahnya tampak agak cemberut.

 

"Adik Liong!" Siauw Peng Yang menatapnya seraya bertanya. "Sebetulnya paman terkena racun apa? Bisakah dipunahkan?"

 

Pek Giok Liong mengangguk.

 

"Bisa. Tapi ….."

 

"Kenapa, Adik Liong?" tanya Siauw Peng Yang agak cemas.

 

"Kita harus segera meninggalkan tempat ini, agar bisa memunahkan racun di dalam tubuh Cung cu."

 

"Apa?" Siauw Hui Ceh tertegun. "Meninggalkan tempat ini?"

 

"Ya." Pek Giok Liong mengangguk. "Sebelum hari terang kita sudah harus berada di tempat lain."

 

"Mengapa?" Siauw Hui Ceh tidak mengerti.

 

"Adik Hui, itu demi keselamatan ayahmu dan saudara Peng Yang." Pek Giok Liong memberitahukan.

 

"Nak Hui!" sambung cung cu Siauw Thian Lin. "Apa yang dikatakan Siau Liong memang benar. Demi keselamatan, kita harus meninggalkan rumah ini sebelum hari terang."

 

"Tapi ….." Kening Siauw Hui Ceh berkerut. "Kita akan pergi ke mana?"

 

"Adik Hui!" Pek Giok Liong tersenyum. "Tentang itu engkau tidak perlu cemas. Tentunya aku bisa mengatur suatu tempat yang aman untuk kalian."

 

"Tapi ….." Siauw Peng Yang menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak gampang bagi kita berjalan ke luar dari sini."

 

"Aku sudah memikirkan hal itu. Aku akan memapah cung cu, kalian berdua ikut di belakangku," ujar Pek Giok Liong. "Kita lewat pintu halaman belakang."

 

Usai berkata begitu, Pek Giok Liong lalu memapah cung cu Siauw Thian Lin. Siauw Peng Yang dan Siauw Hui Ceh mengikuti dari belakang. Baru saja sampai di halaman belakang, mendadak terdengar bentakan dari tempat gelap.

 

"Siapa? Mau ke mana?"

 

Pek Giok Liong sama sekali tidak menghiraukan suara bentakan itu. Ia terus melangkah menuju pintu belakang halaman.

 

Tiba-tiba dari tempat gelap berkelebat ke luar tiga sosok bayangan, ternyata tiga orang berbaju hitam. Mereka berdiri menghadang di hadapan Pek Giok Liong.

 

"Jangan bergerak!" bentak salah seorang. Pek Giok Liong berhenti.

 

"Kalian mau apa?" tanyanya dingin.

 

Ketiga, orang berbaju hitam tertegun, lalu menjura dengan hormat.

 

"Oh, ternyata Nona Hoa Giok, maaf kami tidak melihat jelas dari tempat gelap!"

 

Pek Giok Liong mengenakan pakaian Hoa Giok, maka ketiga orang berbaju hitam itu mengiranya Hoa Giok, sehingga bersikap hormat padanya.

 

Kesempatan ini tidak di sia-siakan Pek Giok Liong. Ia mendengus dengan dingin.

 

"Hm! Kalian bertiga kenal aku, kenapa masih menghadang di depan? Cepat minggir!"

 

Walau ketiga orang berbaju hitam berlaku hormat, tapi mereka tetap tak bergeming dari tempat.

 

"Nona Hoa Giok mau ke mana?" tanya salah seorang dari mereka sambil tertawa.

 

"Kalian berani mencampuri urusanku?" sahut Pek Giok Liong dingin.

 

Orang berbaju hitam itu masih tertawa, kemudian ujarnya sambil tersenyum.

 

"Nona Hoa Giok, kedudukanmu memang istimewa, tentunya kami bertiga tidak berani mencampuri urusanmu, tapi ….."

 

"Jangan banyak omong! Kalian mau minggir atau tidak?" bentak Pek Giok Liong dengan suara dalam.

 

"Mohon Nona Hoa Giok memaafkan!" ucap orang berbaju hitam yang merupakan pemimpin. "Kami bertiga tidak berani melalaikan tugas."

 

Pek Giok Liong tertawa dingin. Ditatapnya mereka dengan sorot mata.

 

"Apakah kalian bertiga mampu menghalangiku?" ujarnya.

 

"Nona Hoa Giok engkau harus mengerti! Mungkin kami bertiga tidak dapat menghalangimu, tapi masih banyak orang lain yang mampu menghalangimu."

 

"Jadi kalian bertiga tidak mau minggir?"

 

"Maaf, kami sungguh tidak bisa menuruti kehendakmu!"

 

"Kalau begitu ….." Kening Pek Giok Liong berkerut. "Kalian bertiga jangan menyalahkan diriku!"

 

Air muka ketiga orang berbaju hitam itu langsung berubah, bahkan sekaligus mundur selangkah.

 

Sekonyong-konyong terdengar tawa yang dingin, tampak sosok bayangan berkelebat ke samping tiga orang berbaju hitam itu.

 

Sosok bayangan itu orang berjubah hijau, berusia lima puluhan, bertampang licik dan sepasang matanya bersinar tajam.

 

"Tidak lemah, tenaga dalam orang itu, entah siapa dia?" Pek Giok Liong membatin sambil menatap orang itu.

 

"Bocah! Siapakah kau?" tanya orang berbaju hijau.

 

Sungguh tajam mata orang berbaju hijau itu. Begitu melihat sudah tahu bahwa Pek Giok Liong menyamar wanita.

 

"Engkau tidak bisa melihat?" Pek Giok Liong balik bertanya dengan nada dingin pula.

 

"He he!" Orang berjubah hijau tertawa terkekeh. "Aku sudah melihat dengan jelas, engkau bukan Hoa Giok!"

 

"Kalau begitu, engkau kira aku siapa?"

 

"Lebih baik sebutkan namamu!"

 

Pek Giok Liong tertawa dingin.

 

"Engkau belum berderajat mendengar namaku."

 

"Oh?" Orang berjubah hijau tampak gusar sekali.

 

"Lebih baik engkau minggir!"

 

"He he he!" Orang berjubah hijau tertawa terkekeh-kekeh. "Kau pikir bisa ke luar dari sini?"

 

"Engkau mau menghalangiku?"

 

"Tidak salah!" sahut orang berjubah hijau jumawa. "Bahkan akan menangkapmu!"

 

"Oh?" Pek Giok Liong tertawa gelak. "Apakah engkau yakin dapat menangkapku?"

 

"He he he!" Orang berjubah hijau tertawa melengking-lengking. "Sungguh besar nyalimu! Aku ingin mencoba kepandaianmu, karena engkau berani omong besar di hadapanku!"

 

"Oh, ya!" Pek Giok Liong tertawa gelak.

 

"Sambut seranganku ini!" bentak orang berjubah hijau lalu secepat kilat mendorongkan telapak tangannya ke arah dada Pek Giok Liong.

 

Pek Giok Liong tertawa dingin, dan sekaligus mengibaskan tangannya. Kibasan yang begitu sederhana, namun justru penuh mengandung lwee kang yang amat dahsyat. Itu adalah Bu Siang Kang Khi (Tenaga Dalam Tanpa Wujud).

 

Orang jubah hijau itu telah dua puluh tahun lebih berkecimpung dalam kang ouw. Pengalamannya pun lebih dari cukup. Melihat usia Pek Giok Liong masih begitu muda, maka ia meremehkannya, sama sekali tidak menyangka bahwa Pek Giok Liong memiliki lwee kang yang begitu tinggi. Namun sudah terlambat baginya, sebab kedua lwee kang itu telah saling beradu.

 

"Baam!" terdengar suara yang memekakkan telinga.

 

Pek Giok Liong berdiri tak bergeming dari tempat, sedangkan orang jubah hijau itu telah terpental beberapa meter.

 

"Uaaakh!" Orang jubah hijau memuntahkan darah segar. Wajahnya pun berubah amat menakutkan.

 

Ketiga orang berbaju hitam terkejut bukan main. Mereka bertiga segera menghampiri orang berjubah hijau.

 

"Bagaimana lukamu, saudara Chi!" tanyanya. Orang baju jubah hijau itu bernama Chi Yong Kuang, julukannya Thiat Ciang Khay Pik (Telapak Besi Pembelah Batu). Dari julukannya dapat diketahui bahwa pukulannya sangat dahsyat dan telah menggetarkan dunia bu lim.

 

Namun hari ini ia terjungkal di tangan pemuda yang begitu muda, bahkan hanya dalam satu jurus dan sekaligus membuatnya memuntahkan darah segar. Sungguh menyedihkan kekalahannya itu. Karena gengsi, maka ketika ditanya ia masih berusaha tertawa.

 

"Tidak apa-apa, lukaku tidak begitu parah," ujarnya.

 

Sementara Pek Giok Liong berbisik pada Siauw Hui Ceh dan Siauw Peng Yang dengan suara serius.

 

"Kalian berdua cepat pergi, melompat tembok pun boleh. Aku akan segera menyusul."

 

Pada waktu bersamaan, salah seorang berbaju hitam menyalakan sebuah kembang api. Ternyata ia memberi isyarat pada teman-temannya.

 

Siauw Peng Yang dan Siauw Hui Ceh segera mengerahkan ginkangnya namun tiba-tiba melayang turun tiga sosok bayangan, sekaligus menyerang mereka berdua dengan telapak tangan yang mengadung lwee kang tinggi. Seketika juga Siauw Peng Yang dan Siauw Hui Ceh terdesak, sehingga terpaksa melompat mundur.

 

Menyusul muncul lagi belasan bayangan melayang turun di tempat itu dengan posisi mengurung Pek Giok Liong berempat.

 

Mata Pek Giok Liong menyapu mereka semua, tujuh belas orang yang rata-rata memiliki ilmu tinggi.

 

Pek Giok Liong terkejut juga. Keningnya pun berkerut-kerut. Sebetulnya ia tidak merasa gentar menghadapi mereka semua. Kalau ia mau pergi, tentunya gampang sekali, tiada seorang pun mampu menghalanginya.

 

Akan tetapi, ia harus memikirkan Cung cu Siauw Thian Lin, Peng Yang dan Hui Ceh. Ia harus melindungi mereka, itulah yang menyulitkan Pek Giok Liong. Menyadari akan situasi itu, Pek Giok Liong segera berbicara pada Siauw Hui Ceh dan Siauw Peng Yang dengan ilmu menyampaikan suara.

 

"Kini kita telah terkepung, tanpa melukai orang tentunya kita sulit meninggalkan tempat ini. Maka kalian berdua harus bersiap-siap mengikutiku menerjang ke luar."

 

Usai berbicara itu, Pek Giok Liong langsung memandang para pengepung itu dengan sorot mata dingin dan membentak.

 

"Siapa sebagai pemimpin harap ke luar bicara denganku!"

 

Salah seorang berjubah kuning maju selangkah, wajahnya tampak dingin tak berperasaan. "Aku pemimpin mereka. Engkau mau bicara apa?"

 

"Siapa engkau?" Pek Giok Liong menatapnya tajam.

 

"Aku sudah bilang barusan, aku pemimpin mereka! Engkau tuli?" sahut orang berjubah kuning itu dengan nada sinis.

 

"Aku bertanya namamu!"

 

"Engkau belum berderajat mengetahui namaku."

 

"Oh?" Pek Giok Liong tertawa dingin. "Kalau aku tidak berderajat mengetahui namamu, berarti tiada orang lain dalam rimba persilatan yang berderajat mengetahui namamu!"

 

Benar. Sebab kedudukan Pek Giok Liong sebagai ketua Panji Hati Suci Matahari Bulan. Kalau ia tidak berderajat mengetahui nama orang berjubah kuning itu, lalu siapa yang berderajat?

 

"Bocah!" Orang berjubah kuning tertawa terkekeh. "Kau sungguh jumawa! Siapa namamu?"

 

"Engkau lebih-lebih tidak berderajat mengetahui namaku, apa lagi engkau tidak berani bertemu orang dengan wajah asli!"

 

Orang berjubah kuning terkejut. Ia menatap Pek Giok Liong dengan tajam sekali seraya berkata.

 

"Kau anggap aku pakai kedok atau merias wajah?"

 

"Ilmu merias wajahmu itu tidak dapat mengelabui mataku!"

 

"Bocah!" Orang berjubah kuning tertawa. "Sungguh tajam matamu! Jangan banyak bicara! Engkau mau menyerah atau aku harus turun tangan?"

 

Pek Giok Liong tertawa hambar, kemudian tanyanya dengan acuh tak acuh.

 

"Bagaimana menurutmu?"

 

"Menurut aku, lebih baik engkau menyerah!"

 

"Seandainya aku tidak setuju?"

 

"He he!" Orang berjubah kuning tertawa dingin. "Engkau sudah di kepung! Kecuali engkau punya sayap, baru bisa terbang pergi dari sini! Kalau tidak, engkau pasti mampus di tempat ini!"

 

"Kalian berjumlah belasan orang, kalau kita bertarung, aku memang sulit meninggalkan tempat ini ….."

 

"Oleh karena itu, lebih baik engkau menyerah!" tandas orang berjubah kuning itu sambil tertawa dingin.

 

"Kalau engkau menghendaki aku menyerah, itu tidak masalah. Namun engkau harus menjawab beberapa pertanyaanku dulu! Kalau jawabanmu beralasan, aku pun bersedia menyerah! Kalau tidak, lebih baik aku bertarung mati-matian!"

 

"Bocah!" Orang berjubah kuning menatapnya dingin. "Saat ini engkau masih membicarakan syarat denganku?"

 

"Sebelum bertarung dan belum tahu siapa kalah dan menang, tentunya aku masih berhak membicarakan syarat!" sahut Pek Giok Liong.

 

"Oh, ya?" Orang jubah kuning, lalu tertawa gelak. "Kematianmu sudah berada di depan mata, tapi masih berani banyak omong!"

 

"Itu belum tentu!" sahut Pek Giok Liong dan menambahkan, "Kalau aku mati, kalian pun harus menyertaiku!"

 

"Engkau yakin itu? He he! Kepandaianmu lebih tinggi dariku?"

 

"Kalau aku katakan lebih tinggi, tentunya engkau tidak akan percaya!" Pek Giok Liong tertawa jumawa, itu memang sengaja.

 

"Oh?" Orang berjubah kuning melotot.

 

"Nah, aku akan memperlihatkan satu jurus, setelah menyaksikannya, engkau pasti mengerti!"

 

Usai berkata begitu, Pek Giok Liong pun mengangkat tangan kirinya, kemudian didorongkan ke depan ke arah sebuah pohon yang berjarak tujuh meteran.

 

Pohon itu sama sekali tidak bergoyang. Menyaksikan itu, orang jubah kuning pun segera tertaw menghina.

 

"Pukulan apa itu? Aku tidak mengerti, lebih baik engkau pertontonkan ….."

 

Kraaaak! Terdengar suara gemuruh, ternyata pohon itu telah roboh.

 

"Haah …..?" Orang berjubah kuning terperanjat dan matanya pun terbelalak. "Ling Khong Huan In Cam (Pukulan Tanpa Bayangan)!"

 

"Betul." Pek Giok Liong mengangguk. "Tajam juga matamu, dapat mengenali pukulanku ini!"

 

Orang jubah berkuning terdiam, sedangkan Pek Giok Liong tersenyum seraya bertanya dengan suara dalam.

 

"Bagaimana pukulanku tadi? Engkau bisa?" Orang berbaju kuning itu sudah tenang kembali, sepasang matanya menyorot tajam.

 

"Setiap ilmu silat punya kelebihan dan kekurangan. Meskipun aku tidak memiliki pukulan seperti itu, belum tentu lwee kangmu lebih tinggi dari lwee kangku."

 

"Oh?"

 

"Kalau engkau ingin menakuti aku dengan pukulan itu, terus terang, engkau telah keliru!"

 

Pek Giok Liong tertawa hambar. "Engkau berdiri cuma satu setengah meter di hadapanku, kalau aku ingin mencabut nyawamu dengan pukulan itu, engkau pasti sudah tergeletak tak bernyawa di sini!"

 

Pek Giok Liong mengangkat sebelah tangannya, seketika juga orang berjubah kuning melompat mundur dengan wajah pucat. Pukulan tanpa bayangan merupakan pukulan tingkat tinggi dalam bu lim. Orang jubah kuning tahu akan kelihayan pukulan itu, maka ia segera melompat mundur.

 

"Pukulanku mencapai jarak tujuh meter, kini engkau berdiri cuma jarak lima meter, itu berarti engkau masih dalam jangkauan pukulanku!" ujar Pek Giok Liong sambil tertawa.

 

Mendengar ucapan itu, orang berjubah kuning langsung melompat mundur lagi sejauh delapan meteran sehingga membuat Pek Giok Liong tertawa gelak.

 

"Ha ha ha! Kenapa engkau begitu ketakutan? Kalau aku ingin mencabut nyawamu, mungkinkah aku menjelaskan tentang itu? Tidak mungkin aku akan membiarkanmu melompat mundur dua kali, kan?"

 

Tidak salah apa yang dikatakan Pek Giok Liong. Kalau ia ingin mencabut nyawa orang berjubah kuning itu, sudah dari tadi orang berjubah kuning itu tergeletak tak bernyawa.

 

Kini orang berjubah kuning baru menyadari, bahwa Pek Giok Liong cuma mempermainkan dirinya. Tentunya ia sangat gusar, sehingga sepasang matanya melotot berapi-api.

 

"Kau kira aku takut?" bentaknya.

 

"Aku tidak bilang engkau takut, tapi ….." Pek Giok Liong tersenyum. "Takut atau tidak, engkau tahu sendiri dalam hati! Maka tidak perlu dicetuskan, itu pertanda engkau sudah ketakutan!"

 

"Bocah …..!" Betapa gusarnya orang berjubah kuning itu.

 

"Tenang!" Pek Giok Liong tersenyum. "Sekarang aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan!"

 

"Engkau ingin bertanya apa?"

 

"Kalau begitu, engkau pasti bersedia menjawab, kan?"

 

"Seandaianya aku menjawab dengan beralasan, apakah engkau akan menepati janji?"

 

"Tentu." Pek Giok Liong mengangguk. "Aku tidak ingkar janji dan menyesal!"

 

"Bagus. Kalau begitu, engkau boleh bertanya sekarang."

 

 

Pek Giok Liong tersenyum, lalu mulai mengajukan pertanyaan.

 

"Apakah engkau orang keluarga Siauw?"

 

"Betul. Aku memang orang keluarga Siauw."

 

"Apa kedudukanmu dalam keluarga Siauw?"

 

"Kepala penjaga halaman."

 

"Bagaimana kedudukanmu dibandingkan dengan Ho cong koan?" tanya Pek Giok Liong mendadak.

 

Orang jubah kuning tampak tertegun. "Engkau kenal dia?"

 

"Jangan bertanya, jawab saja pertanyaanku!"

 

"Jadi ….." Mendadak hati orang berjubah kuning tersentak. "Engkau Seng Sin Khi?"

 

"Sudah kukatakan, jawab pertanyaanku tadi!"

 

"Kedudukan kami memang tidak sama. Dia kepala pengurus dalam rumah, sedangkan aku kepala penjaga halaman. Tapi, aku memang mengenalnya."

 

"Kalau begitu, engkau kenal siapa yang kupapah ini?" tanya Pek Giok Liong sambil tersenyum.

 

"Dia cung cu Siauw Thian Lin."

 

"Siapa yang berdiri di belakangku itu?"

 

"Nona Hui Ceh dan majikan muda Kiam Meng!"

 

Ternyata orang jubah kuning itu tidak melihat jelas Kiam Meng, yang tidak lain adalah Peng Yang.

 

"Kalau begitu, kenapa kalian mengepung kami? Apakah cung cu Siauw Thian Lin tidak bebas bergerak, harus dikekang olehmu yang kedudukanmu cuma sebagai kepala penjaga halaman?"

 

Orang berjubah kuning tertegun.

 

"Tentunya aku punya alasan!" jawabnya kemudian.

 

"Apa alasanmu?"

 

Orang jubah kuning tertawa dingin.

 

"Aku tidak mengenalmu. Lagi pula kenapa engkau memapah cung cu Siauw Thian Lin? Aku adalah kepala penjaga halaman, tentunya berhak melarangmu membawa pergi cung cu."

 

"Oh?" Pek Giok Liong tersenyum. "Cukup masuk akal alasanmu itu, tapi engkau justru telah keliru."

 

"Keliru mengenai apa?" Orang berjubah kuning mengerutkan kening.

 

"Karena bersama Nona Hui Ceh dan majikan muda kedua, maka alasanmu itu tidak bisa dipakai lagi! Engkau mengerti?"

 

"Aku mengerti, namun aku pun harus menjelaskan!"

 

"Jelaskanlah!"

 

"Cung cu berada di tanganmu, maka Nona Hui Ceh dan majikan muda kedua terkendalikan. Demi keselamatan cung cu, tentunya mereka berdua harus menurut padamu!"

 

"Kalau begitu, kau kira aku memaksa mereka berdua bersamaku?"

 

"Memang begitu."

 

"Kenapa engkau tidak bertanya pada mereka berdua?"

 

"Itu tidak perlu. Karena mereka berdua dibawah kendalimu, tentunya mereka tidak akan menjawab dengan jujur."

 

"Hei! Penjaga halaman!" bentak Siauw Hui Ceh mendadak. "Siapa yang mengangkatmu sebagai kepala penjaga halaman di sini?"

 

Orang berjubah kuning tertegun, namun cepat pula menjawah.

 

"Telah disetujui cung cu."

 

"Ayah!" Siauw Hui Ceh memandang cung cu Siauw Thian Lin. "Apakah ayah menyetujuinya menjadi kepala penjaga halaman?"

 

"Nak Hui! Percuma engkau bertanya. Aku setuju atau tidak sama saja," sahut cung cu Siauw Thian Lin.

 

Secara tidak langsung jawaban itu telah menjelaskan, bahwa meskipun ia tidak setuju, juga harus setuju karena terpaksa.

 

Siapa yang berani memaksa cung cu Siauw Thian Lin, ini tidak perlu diberitahukan sudah bisa tahu, pasti tiada orang kedua lagi.

 

"Nona!" ujar orang berjubah kuning. "Cung cu telah mengaku, itu pertanda aku tidak bohong."

 

Siauw Hui Ceh menatapnya dingin, kemudian dengusnya seraya membentak dengan suara keras.

 

"Hei! Kepala penjaga halaman! Kini aku perintahkan engkau harus minggir! Kami mau pergi, engkau menurut perintahku?"

 

"Maaf, aku tidak bisa menurut perintah Nona," sahut orang berjubah kuning.

 

Siauw Hui Ceh tertawa dingin. "Aku mau tanya, di dalam rumah kami ini, engkau menurut pada perintah siapa?"

 

"Siapa yang mengundangku ke mari, itulah yang kuturut perintahnya."

 

"Siapa orang itu? Kenapa engkau tidak berani menyebut namanya?" tanya Siauw Hui Ceh bernada menegurnya.

 

"Kenapa Nona harus bertanya tentang itu?"

 

"Hm!" dengus Siauw Hui Ceh dingin. "Kalau kau tidak berani bilang, biar aku yang bilang!"

 

"Nona ….." orang berjubah kuning mengerutkan kening.

 

"Dia orang yang tak kenal budi, berhati licik dan busuk!" Caci Siauw Hui Ceh. "Orang itu adalah Tu Ci Yen, kan?"

 

Orang jubah kuning tampak salah tingkah.

 

"Tidak Nona seharusnya Nona mencetuskan cacian itu. Kalau Nona bukan ….." Orang berjubah kuning tidak melanjutkan ucapannya.

 

"Kenapa tidak kau lanjutkan ucapanmu?" tanya Siauw Hui Ceh sambil menatapnya dengan tajam sekali.

 

"Sudahlah! Aku tidak mau berbuat salah terhadapmu, Nona!" sahut orang berjubah kuning sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Oh?" Siauw Hui Ceh tersenyum dingin. "Engkau tidak mau berbuat salah padaku, sebaliknya aku malah ingin berbuat salah padamu! Aku ingin tahu, Tu Ci Yen berani bertindak apa terhadap diriku!"

 

Setelah berkata begitu, Siauw Hui Ceh pun menghunus pedang, dan sekaligus menghampiri orang berjubah kuning.

 

"Harus bagaimana nih?" Orang jubah kuning membatin dengan cemas, namun kemudian sepasang matanya bersinar tajam seakan telah menemukan suatu jalan. Benar, ia telah menemukan suatu jalan yang sangat menguntungkan dirinya, yakni ingin menangkap Siauw Hui Ceh, lalu memaksa Pek Giok Liong melepaskan cung cu Siauw Thian Lin.

 

Pada waktu bersamaan, Siauw Hui Ceh telah menyerangnya dengan pedang. Orang jubah kuning terkejut, dan secepat kilat mengelak serangan itu. Dengan kesempatan ini, ia pun menjulurkan tangannya untuk menangkap Siauw Hui Ceh.

 

Akan tetapi, mendadak ia mendengar tawa yang dingin. Tampak sosok bayangan berkelebat, dan seketika juga ia merasa ada tenaga dalam yang amat dahsyat mengarah padanya, sehingga membuatnya termundur beberapa langkah.

 

Ternyata Pek Giok Liong telah berdiri di hadapannya. Tidak usah dikatakan lagi, yang menyerangnya tentu Pek Giok Liong.

 

Itu membuat orang berjubah kuning semakin terkejut. Berapa tinggi ilmu Pek Giok Liong, ia pun tidak jelas lagi.

 

"Adik Hui!" Pek Giok Liong menegurnya. "Engkau terlampau menempuh bahaya!"

 

Siauw Hui Ceh cemberut dengan kening berkerut.

 

"Aku sangat gusar padanya!"

 

Pek Giok Liong tersenyum.

 

"Apa gunanya engkau gusar? Mampukah engkau melukainya?"

 

"Walau aku tidak mampu melukainya, aku akan membacoknya beberapa kali, agar aku merasa puas!"

 

Pek Giok Liong tersenyum lagi, lalu mengarah pada orang berjubah kuning seraya berkata.

 

"Aku telah bersabar dari tadi, sebab aku sama sekali tidak punya niat melukai siapa pun. Lagi pula kita bukan musuh yang harus saling membunuh. Aku mengulur waktu hanya menunggu kemunculan Tu Ci Yen. Namun hingga saat ini dia belum muncul juga. Kini sudah hampir subuh, aku masih punya urusan lain, tidak bisa lama-lama di sini lagi."

 

"Oh?" Orang berjubah kuning itu mengerutkan kening.

 

"Sekarang aku memperingatkan kalian, pada saat aku melangkah pergi, janganlah kalian menghadang! Sebab aku sudah mulai mau turun tangan pada siapa yang berani menghadang diriku!"

 

Orang berjubah kuning diam saja.

 

Pek Giok Liong menoleh memandang Siauw Hui Ceh dan Siauw Peng Yang seraya berpesan.

 

"Kalian berdua ikut di belakangku dalam jarak tiga langkah!" Usai berpesan, Pek Giok Liong pun mulai mengayunkan kakinya sambil memapah cung cu Siauw Thian Lin.

 

Orang berjubah kuning atau kepala penjaga halaman sudah tahu betapa tingginya kepandaian Pek Giok Liong. Namun bagaimana mungkin ia membiarkan mereka pergi begitu saja? Kalau Tu Ci Yen pulang dan bertanya tentang hal ini, ia harus bagaimana menjawabnya? Oleh karena itu, ia terpaksa berseru.

 

"Kita maju semua!"

 

Seketika juga berkelebat bayangan-bayangan mengarah pada Pek Giok Liong.

 

Kening Pek Giok Liong berkerut-kerut. "Minggir!" bentaknya mengguntur.

 

Ketika membentak, Pek Giok Liong pun mengerahkan tenaga saktinya untuk menyapu sekelilingnya. Tampak beberapa orang terpental beberapa meter. Padahal ia cuma menggunakan lima bagian tenaga saktinya. Kalau ditambah dua bagian lagi, para penyerang itu pasti sudah tergeletak tak bernyawa.

 

Kelima orang penyerangnya berdiri dengan wajah pucat pias, karena telah menyaksikan satu hal yang amat mengejutkan. Ternyata yang lain pun berdiri seperti patung di tempat, sama sekali tidak bisa bergerak.

 

Kejadian itu juga membuat Siauw Hui Ceh dan Siauw Peng Yang terbeliak. Mereka berdua sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi.

 

Memang tiada seorang pun yang tahu apa gerangan yang telah terjadi, hanya Pek Giok Liong sendiri yang tahu. Ia menatap kelima orang itu sambil tersenyum-senyum, kemudian ujarnya.

 

"Kalian berlima cukup mujur, hanya terkejut. Namun belasan orang itu tidak sama seperti kalian berlima. Mereka semua telah kutotok jalan darahnya, sehingga tidak bisa bergerak sama sekali. Setelah hari terang, jalan darah masing-masing itu akan terbuka sendiri. Akan tetapi, ilmu totokku itu sangat istimewa, secara tidak langsung telah merusak hawa murni mereka. Oleh karena itu, mereka harus beristirahat beberapa hari, barulah bisa pulih seperti semula."

 

Kelima orang itu diam, hanya saling memandang seakan tidak percaya akan kejadian itu. Akan tetapi, kenyataannya memang telah terjadi.

 

"Sekarang aku mau pergi, harap kalian berlima jangan menghalangiku! Kalau masih berani menghalangiku, kalian pasti kutotok seperti mereka! Nah, selamat tinggal!"

 

Pek Giok Liong memapah Cung cu Siauw Thian Lin sambil melangkah pergi, Siauw Peng Yang dan Siauw Hui Ceh mengikutinya dari belakang.

 

Kelima orang itu sama sekali tidak berani menghalanginya. Mereka tahu betapa tinggi kepandaian Pek Giok Liong. Mereka berlima cuma berdiri diam ditempat sambil memandang kepergian Pek Giok Liong yang memapah cung cu Siauw Thian Lin. Mereka pun tidak berani menghalangi Siauw Peng Yang dan Siauw Hui Ceh.

 

Setelah Pek Giok Liong mereka berempat meninggalkan halaman belakang itu, mendadak di halaman belakang itu berkelebat lima sosok bayangan secepat kilat menuju ke arah Pek Giok Liong.

 

Itu tidak terlepas dari mata kelima orang yang tadi menyerang Pek Giok Liong. Dapat dibayangkan, bagaimana terkejutnya mereka.

 

"Siapa kelima orang itu?" tanya salah seseorang pada temannya. "Ginkang mereka begitu tinggi ….."

 

"Heran!" sahut temannya yang bersuara serak. "Kenapa tadi mereka tidak muncul, setelah orang-orang itu pergi, baru mengejar? Itu sama juga pengecut!"

 

"Ei! Kau kira mereka berlima itu orang kita?" ujar orang yang bersuara dingin.

 

"Kalau bukan orang kita, apakah musuh kita?"

 

"Aku berani memastikan, mereka berlima bukan cuma musuh kita, bahkan teman pemuda tadi itu."

 

"Kenapa engkau berani memastikan begitu?"

 

"Karena ginkang mereka sangat tinggi. Di rumah ini tiada seorang pun memiliki ginkang yang begitu tinggi. Lagi pula pemuda itu bukan malaikat. Walau dia memiliki kepandaian yang amat tinggi, tidak mungkin dia mendorong mundur kita, dan sekaligus menotok jalan darah belasan orang itu. Menurut aku, itu pasti perbuatan kelima orang itu."

 

Teman-temannya mengangguk. Apa yang diuraikan orang itu memang masuk akal, maka teman-temannya jadi diam.

 

-- o --

 

 

(Bersabung bagian 41)

PANJI SAKTI (JIT GOAT SENG SIM KI)

(Panji Hati Suci Matahari Bulan)

  Karya: Khu Lung

Bagian ke 41: Membongkar Kuburan Membuka Peti Mati

 

Malam semakin larut, di sebuah perkuburan yang terletak di luar perkampungan Siauw, muncul enam sosok bayangan. Ternyata Pek Giok Liong, Siauw Hui Ceh dan Si Kim Kong (Empat Arhat) yang berusia lanjut.

 

Keempat Arhat itu membawa pacul dan perkakas lainnya. Mereka mengikuti Pek Giok Liong dan Siauw Hui Ceh dari belakang. Tak seberapa lama kemudian, Siauw Hui Ceh berhenti di depan sebuah kuburan.

 

"Kakak Liong, di sini!" ujar Siauw Hui Ceh, kini gadis itu telah tahu nama asli Siau Liong dan asal-usulnya.

 

Pek Giok Liong memandang batu nisan kuburan. Pada batu nisan itu terdapat tulisan berbunyi:

 

Kuburan Siauw Seng, yang mendirikan batu nisan Siauw Thian Lin

 

"Apakah ayahmu yang menyuruh orang membuat nisan itu?" tanya Pek Giok Liong sambil memandang kuburan tersebut.

 

Siauw Hui Ceh menggelengkan kepala. "Setelah menderita sakit, ayah sama sekali tidak mencampuri urusan apa pun." Siauw Hui Ceh memberitahukan. "Tiga hari kemudian, ayah baru tahu tentang kematian orang tua pincang itu, namun jasad orang tua pincang telah di kubur."

 

"Oooh!" Pek Giok Liong manggut-manggut.

 

"Bahkan nisan ini pun sudah dibikin." tambah Siauw Hui Ceh. "Justru membuat ayah jadi bingung."

 

"Kalau begitu, mungkin Tu Ci Yen yang membikin nisan ini atas nama ayahmu." ujar Pek Giok Liong menduga.

 

"Mungkin." Siauw Hui Ceh mengangguk.

 

Pek Giok Liong tidak bicara lagi. Ia berdiri dengan sikap hormat di hadapan kuburan tersebut.

 

"Orang tua, aku sudah kembali. Hanya berpisah satu tahun, tapi engkau malah telah meninggal. Akan tetapi, aku mencurigai kematianmu, maka harus membuktikan sesuatu, sehingga Siau Liong terpaksa membongkar kuburanmu, aku mohon ampun sebelumnya!" ucap Pek Giok Liong, kemudian mengarah pada keempat orang tua yang berdiri di sampingnya. "Kalian berempat boleh mulai menggali kuburan itu."

 

"Ya," sahut keempat orang itu serentak, lalu mulai menggali.

 

Berselang beberapa saat kemudian, sudah tampak peti mati di dalam kuburan itu. Pek Giok Liong memberi isyarat agar keempat orang tua itu berhenti menggali.

 

Setelah itu, Pek Giok Liong mengangkat kedua tangannya ke arah peti mati tersebut, sekaligus mengerahkan tenaga dalamnya pada kedua telapak tangannya.

 

"Naik!" teriak Pek Giok Liong.

 

Seketika juga tutup peti mati itu terangkat, lalu jatuh ke bawah. Pada waktu bersamaan, terbelalaklah enam pasang mata yang mengarah ke dalam peti mati itu.

 

Peti mati itu ternyata kosong, hanya terdapat kertas sembahyang, tidak tampak mayat orang tua pincang itu.

 

"Adik Hui!" Pek Giok Liong memandang Siauw Hui Ceh dengan wajah penuh keheranan. "Apa gerangan ini?"

 

Wajah Siauw Hui Ceh tampak bingung, ia menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Kakak Liong, aku pun tidak tahu!"

 

"Heran!" gumam Pek Giok Liong. "Ke mana mayat orang tua pincang itu? Apakah ….."

 

Mendadak Pek Giok Liong teringat sesuatu, ia segera menatap Siauw Hui Ceh dalam-dalam.

 

"Adik Hui! Bukankah engkau bilang setelah membongkar kuburan ini akan mengetahuinya?"

 

"Benar." Siauw Hui Ceh mengangguk. "Tapi yang bilang begitu adalah orang tua pincang itu sendiri ketika masih hidup."

 

"Oh? Orang tua pincang itu bilang apa padamu? Bolehkah engkau memberitahukan lebih jelas?"

 

Siauw Hui Ceh mengangguk, kemudian mencoba mengingat ucapan orang tua pincang padanya.

 

"Tiga bulan yang lalu, pada suatu sore, orang tua pincang itu berkata padaku, bahwa dia sudah tua dan kapan waktu ajal pasti datang menjemputnya. Kalau dia sudah mati dan engkau kembali, dia menyuruhku agar memberitahukan padamu. Seandaianya ingin tahu kematiannya engkau harus menggali kuburannya untuk melihat peti matinya. Dengan demikian engkau akan mengetahuinya. Sepuluh hari kemudian, tibalah ajalnya.

 

"Oh?" Pek Giok Liong mengerutkan kening, kemudian tanyanya setelah berpikir sejenak. "Dia berpesan apa lagi?"

 

"Dia bilang, engkau pernah berjanji kelak akan kembali, dan pasti singgah di. Siauw Keh Cung untuk menengoknya. Oleh karena itu dia menyuruhku bersabar terhadap urusan apa pun, dan baik-baik menjaga diri menunggu engkau kembali."

 

"Tiada pesan lain lagi?"

 

Siauw Hui Ceh menggelengkan kepala. "Tidak ada."

 

Pek Giok Liong tampak berpikir keras, sehingga keningnya berkerut-kerut. Sesaat kemudian sepasang matanya bersinar dan langsung melayang ke dalam peti mati itu. Setelah itu ia pun meraba-raba kertas sembahyang yang ada di dalam peti mati, dan seketika juga ia berseru girang.

 

"Dugaanku tidak meleset!" serunya girang. Ternyata tangannya telah memegang sebuah kotak besi kecil, lalu melompat ke atas.

 

"Kakak Liong!" Mata Siauw Hui Ceh berbinar. "Kok engkau bisa menduga di dalam tumpukan kertas sembahyang terdapat kotak besi?"

 

"Itu cuma sekedar dugaan!" sahut Pek Giok Liong sambil tersenyum.

 

"Kalau begitu, cepatlah engkau buka, di dalam kotak besi itu berisi apa?" Siauw Hui Ceh tampak tidak sabaran.

 

Pek Giok Liong mengangguk, namun kemudian mengerutkan kening.

 

"Kenapa, Kakak Liong? Apakah kotak besi itu tidak bisa dibuka?" tanya Siauw Hui Ceh sambil memandangnya.

 

"Ya." Pek Giok Liong mengangguk. "Kotak besi ini dikunci secara rahasia, kalau tidak ada kuncinya, maka sulit membukanya."

 

"Oh?" Siauw Hui Ceh kebingungan.

 

"Adik Hui ….." Pek Giok Liong menyerahkan kotak besi itu padanya. "Coba kau pikir, apakah punya akal untuk membukanya?"

 

Siauw Hui Ceh menerima kotak besi itu. Kemudian ia terbelalak seraya berkata.

 

"Sungguh berat kotak besi ini!" ujar Siauw Hui Ceh.

 

"Kotak itu terbuat dari besi, sudah pasti amat berat." Pek Giok Liong tertawa.

 

Sementara Siauw Hui Ceh sudah mulai memperhatikan kotak besi itu, bahkan membolak-balikkannya.

 

"Kakak Liong! Coba lihat lubang kunci ini berbentuk apa?" tanya Siauw Hui Ceh sambil tertawa.

 

Pek Giok Liong memperhatikan lubang kunci itu, lalu menjawab.

 

"Mirip kepala burung cenderawasih."

 

Siauw Hui Ceh manggut-manggut sambil tertawa lagi seraya berkata.

 

"Benar, memang mirip kepala burung cendrawasih." Siauw Hui Ceh melanjutkan." Kakak Liong, orang tua pincang itu sangat teliti dan berhati-hati. Semua ini pasti sudah diaturnya, bahkan juga dalam perhitungannya."

 

"Adik Hui!" Hati Pek Giok Liong tergerak. "Apakah dia telah menyerahkan kunci padamu?"

 

Siauw Hui Ceh tersenyum.

 

"Sebulan setelah engkau pergi, dia menghadiahkan padaku sebuah tusuk konde burung cenderawasih. Katanya tusuk konde itu tidak berharga, tapi justru menyangkut suatu urusan yang amat penting. Maka dia menyuruhku agar baik-baik menyimpannya. Dia pun berpesan padaku, jangan memberitahukan pada orang lain, termasuk ayahku sendiri."

 

Seketika juga wajah Pek Giok Liong berseri. "Kalau begitu, tusuk konde itu pasti kunci kotak besi ini." ujarnya gembira.

 

Siauw Hui Ceh manggut-manggut, kemudian mengeluarkan tusuk konde itu dari dalam bajunya dan dimasukkannya ke dalam lubang kunci kotak besi itu.

 

Krak! Kotak besi itu terbuka.

 

Pek Giok Liong dan Siauw Hui Ceh melongo ketika memandang ke dalam kotak besi, karena di dalam kotak besi itu cuma terdapat sebuah kunci.

 

Kunci apa itu dan apa gunanya? Pek Giok Liong dan Siauw Hui Ceh tidak habis berpikir. Namun mereka tahu bahwa kunci itu pasti amat penting. Kalau tidak, bagaimana mungkin orang tua pincang itu menyimpannya di dalam kotak besi tersebut?

 

Pek Giok Liong dan Siauw Hui Ceh saling memandang, kemudian Pek Giok Liong menjulurkan tangannya mengambil kunci tersebut. Sungguh di luar dugaan, ternyata di bawah kunci itu terdapat selembar kertas yang merupakan sebuah lukisan pemandangan. Di sisi lukisan itu terdapat beberapa baris tulisan.

 

Giok Liong, akhirnya engkau kembali juga! Apakah, engkau sudah ke Pulau Pelangi itu? Apakah engkau sudah belajar ilmu silat tingkat tinggi? Syukur kalau sudah, kalau belum, engkau jangan putus asa.

 

Kecurigaanmu memang tidak salah. Aku dibunuh orang, mayatku dimasukkan ke dalam peti mati. Akan tetapi, sesungguhnya aku belum mati, cuma terkena racun. Aku telah menduga akan terjadi itu, maka aku pun sudah punya rencana.

 

Kunci yang di dalam kotak besi, kegunaannya untuk membuka sebuah goa yang terdapat dalam lukisan ini. Di dalam goa itu tersimpan suatu barang yang diluar dugaanmu dan suatu rahasia yang amat penting.

 

Baiklah. Engkau tidak perlu mencariku, kelak kita pasti bertemu.

 

Setelah membaca surat itu, Pek Giok Liong tampak termangu. Ia tidak habis berpikir, kenapa orang tua pincang itu harus berlaku begitu misterius, meninggalkan suatu teka-teki padanya, dan masih harus diselidiki.

 

"Kakak Liong, bagaimana bunyi tulisan itu?" tanya Siauw Hui Ceh, sebab ia melihat Pek Giok Liong diam saja.

 

"Adik Hui!" Pek Giok Liong menyerahkan lukisan itu. "Bacalah sendiri, teka-teki bertambah banyak."

 

Setelah memberikan lukisan itu pada Siauw Hui Ceh, Pek Giok Liong pun menyimpan kunci tersebut ke dalam bajunya. Kemudian ia membawa kotak besi itu, dan melayang turun ke dalam peti mati. Ditaruhnya kembali kotak besi itu ke bawah tumpukan kertas sembahyang lalu melompat ke atas.

 

Pek Giok Liong berdiri di pinggir lubang kuburan. Ia mengerahkan tenaga dalamnya dan sepasang tangannya diarahkannya pada tutup peti mati yang ada di sisi peti mati itu.

 

"Naik!" teriak Pek Giok Liong.

 

Tutupan peti mati itu terangkat naik, lalu menutup peti mati tersebut.

 

"Harap kalian urug kembali seperti semula!" ujar Pek Giok Liong pada keempat orang tua.

 

"Ya," sahut keempat orang tua itu serentak sambil menjura.

 

-- o --

 

 

Di ruang belakang vihara Si Hui, duduk berhadapan Pek Giok Liong dan Se Pit Han. Sepasang pengawal Giok Cing Giok Liong dan Se Khi berdiri disamping mereka dengan sikap hormat.

 

"Adik Liong!" Se Pit Han menatapnya. "Bagaimana setelah membongkar kuburan dan membuka peti mati?"

 

"Memperoleh sebuah lukisan dan sebuah kunci." Pek Giok Liong memberitahukan.

 

"Oh?" Se Pit Han tercengang.

 

"Engkau akan mengerti setelah melihat lukisan ini." Pek Giok Liong memperlihatkan lukisan itu pada Se Pit Han.

 

Se Pit Han memandang lukisan itu dengan penuh perhatian, kemudian ujarnya dengan suara rendah.

 

"Rupanya orang tua pincang itu bersembunyi di suatu tempat rahasia untuk mengobati dirinya yang terkena racun itu."

 

"Benar." Pek Giok Liong manggut-manggut. "Aku pun berpikir begitu."

 

"Adik Liong." Se Pit Han menatapnya sambil tersenyum. "Bagaimana rencanamu membereskan masalah-masalah itu? Harus membereskan yang mana dulu?"

 

Pek Giok Liong tidak segera menjawab. Ia tampak berpikir keras, sesaat kemudian baru menjawab.

 

"Pertama, aku harus mencari Cit Ciat Sin Kun untuk membalas dendam guruku. Setelah itu, aku akan menyelidiki jejak Pat Hiong."

 

Se Pit Han manggut-manggut setuju.

 

"Adik Liong, urusan itu memang sangat penting, namun masih ada urusan lain yang tak kalah penting."

 

"Oh? Urusan apa itu?"

 

"Membangun kembali tempat tinggalmu."

 

"Tempat tinggalku yang lama itu?"

 

"Betul."

 

"Itu memang penting sekali."

 

"Justru karena penting sekali, maka tidak boleh membuang waktu lagi, harus segera melaksanakannya," ujar Se Pit Han. "Adik Liong, aku tidak pernah datang di tempatmu itu, ada berapa luas tanah itu?"

 

"Hampir lima hektar." Pek Giok Liong memberitahukan. "Rumah hampir dua puluh buah. Kenapa engkau menanyakan itu?"

 

Se Pit Han tersenyum.

 

"Adik Liong, rumah harus ditambah seratusan buah lagi."

 

"Apa?" Pek Giok Liong tertegun. "Kok harus ditambah begitu banyak?"

 

"Adik Liong!" Se Pit Han tersenyum lembut. "Tentunya engkau tahu apa kedudukanmu sekarang, kan?"

 

Pek Giok Liong tercengang. "Apakah ada kaitannya membangun rumah lama dengan kedudukanku?"

 

"Engkau sebagai ketua Panji Hati Suci Matahari Bulan, maka harus memperhatikan tempat tinggal para anak buah."

 

"Jadi ….." Pek Giok Liong menatapnya dalam-dalam. "Kelak tidak usah kembali ke Lam Hai lagi?"

 

"Itu urusan kelak, sekarang ini bagaimana?" Se Pit Han tersenyum lagi. "Kapan kembali ke Lam Hai, itu tidak bisa dipastikan. Sementara ini apakah engkau akan membiarkan para anak buah terus tinggal di vihara ini? Bukankah akan mengganggu ketua vihara dan para hweshio?"

 

"Benar katamu, Kak Han." Pek Giok Liong manggut-manggut. "Tapi ada kesulitan untuk membangun rumah lama itu."

 

"Kesulitan apa?"

 

"Biayanya sangat besar. Bukankah itu merupakan kesulitan?"

 

"Adik Liong, tentang itu engkau tidak perlu cemas! Pulau Pelangi masih mampu membantu dalam hal itu. Lagi pula ….." lanjut Se Pit Han serius. "Sebelum meninggalkan pulau itu, aku telah memikirkan hal tersebut dan sudah siap."

 

"Oh?" Pek Giok Liong girang bukan main. "Kak Han, engkau sungguh baik terhadapku."

 

"Adik Liong, kenapa harus berkata begitu?" Se Pit Han tersenyum manis. "Jangankan kita masih punya hubungan famili, dengan kedudukanmu sekarang, Cai Hong To pun boleh dikatakan milikmu."

 

Pek Giok Liong tidak menyahut, cuma tersenyum-senyum dengan mata berbinar-binar.

 

Menyaksikan itu, hati Se Pit Han pun berbunga-bunga dan tersenyum lembut penuh mengandung cinta kasih yang amat dalam, sehingga membuat wajahnya tampak kemerah-merahan.

 

Itu membuat Pek Giok Liong tertegun dan membatin. Sungguh tampan Kakak Han …..

 

"Adik Liong, apakah engkau tidak memikirkan lukisan dan kunci pembuka goa itu?" tanya Se Pit Han mendadak, itu agar menghilangkan rasa jengahnya.

 

"Urusan itu tidak begitu penting, nanti saja akan kupikirkan."

 

"Bukankah urusan itu sangat penting?"

 

"Oh?" Pek Giok Liong tertegun. "Bagaimana menurut pandangan Kak Han?"

 

"Orang tua pincang itu meninggalkan kedua macam barang tersebut tentunya berkaitan dengan urusan yang amat penting. Oleh karena itu, aku ingin menyuruh seseorang untuk menyelidiki tempat yang ada di dalam lukisan itu."

 

"Kalau begitu, urusan itu kuserahkan padamu." Pek Giok Liong segera menyerahkan lukisan berikut kunci itu pada Se Pit Han.

 

Akan tetapi, Se Pit Han cuma menerima lukisan itu, tidak menerima kunci tersebut.

 

"Engkau simpan kunci ini, setelah mengetahui tempat dalam lukisan ini, barulah kita bicarakan kembali," ujar Se Pit Han sambil tersenyum.

 

"Emmh!" Pek Giok Liong manggut-manggut.

 

Se Pit Han memberikan lukisan itu pada Giok Cing, lalu berpesan padanya.

 

"Serahkan lukisan ini pada Bu Sian Seng, suruh dia melukis lima buah lagi!"

 

"Ya." Giok Cing menerima lukisan itu lalu melangkah pergi.

 

"Kak Han!" Pek Giok Liong tertawa. "Maksudmu menyuruh beberapa orang menyelidiki tempat yang ada dalam lukisan itu?"

 

"Ya." Se Pit Han mengangguk. "Kalau tidak, bagaimana mungkin bisa cepat menyelesaikan urusan itu?"

 

"Engkau memang pintar!" Pek Giok Liong menatapnya. "Ohya, bagaimana keadaan cung cu Siauw Thian Lin? Sudahkah engkau menyuruh orang membuat obat?" tanyanya.

 

"Belum." Se Pit Han menggeleng kepala.

 

"Kok belum?" Pek Giok Liong tercengang. "Apakah resep dariku itu terdapat kekeliruan?"

 

"Resep obatmu memang tepat untuk mengobati penyakitnya, tapi ….."

 

"Kenapa?"

 

"Sudah lama cung cu Siauw Thian Lin terkena racun. Meskipun obatmu itu dapat memunahkan racun tersebut, namun harus memakan waktu tiga bulanan. Itu terlampau lama."

 

"Itu apa boleh buat." Pek Giok Liong menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Aku justru punya jalan lain yang lebih praktis dan jitu," ujar Se Pit Han sambil tersenyum.

 

"Oh?" Pek Giok Liong girang sekali. "Bagaimana jalan itu?"

 

"Aku sudah menyuruhnya menelan sebutir Kim tan (pil emas)! Se Pit Han memberitahukan.

 

"Oooh!" Pek Giok Liong manggut-manggut dengan wajah berseri.

 

"Setelah cung cu menelan pil itu, aku pun menyuruh Si Bun Kauw dan Liok Tay Coan menyalurkan tenaga dalam masing-masing pada badan cung cu. Itu agar pil tersebut cepat lumer. Mungkin besok sore cung cu akan pulih kesehatannya."

 

"Bagus." Pek Giok Liong tersenyum, lalu mengarah pada Se Khi. "Saudara tua, engkau sudah berhasil mencari paman pengemis?"

 

"Belum," jawab Se Khi hormat. "Aku sudah bertanya pada para murid Kay Pang, namun mereka semua bilang tidak tahu jejaknya."

 

"Itu sungguh mengherankan." Pek Giok Liong mengerutkan kening. "Tetua partai pengemis itu hilang ke mana?"

 

"Adik Liong!" Sela Se Pit Han. "Engkau tidak usah khawatir, Paman pengemis, sangat cerdik, tentunya tidak akan terjadi sesuatu yang di luar dugaan atas dirinya."

 

"Aku justru mengkhawatirkannya." Pek Giok Liong menarik nafas. "Karena paman pengemis itu sering ugal-ugalan, sehingga terjebak oleh Siang Hiong (Sepasang Orang Buas) itu."

 

"Itu tidak mungkin," ujar Se Pit Han. "Sudah puluhan tahun orang tua itu berkecimpung dalam rimba persilatan, maka tidak gampang terjebak oleh siapa pun. Engkau berlega hati saja, orang tua itu tidak akan terjadi apa-apa."

 

"Mudah-mudahan begitu!" Pek Giok Liong menarik nafas dalam-dalam.

 

"Se Khi!" Se Pit Han mengarah pada orang tua itu. "Engkau pernah ke Ciok Lau San Cung?"

 

"Budak pernah ke sana sekali!"

 

"Kalau begitu, mengenai pembangunan Ciok Lau San Cung kuserahkan padamu."

 

"Budak terima perintah," sahut Se Khi dengan hormat.

 

-- o --

 

 

 

Bagian ke 42: Mulai Bertindak

 

Pada suatu malam, ketika Pek Giok Liong sedang bercakap-cakap dengan Se Pit Han, di bangunan kecil di halaman belakang ekspedisi Yang Wie, tampak beberapa orang sedang merundingkan sesuatu.

 

Siapa mereka? Ternyata Cit Ciat Sin Kun dan Kim Gin Siang Tie.

 

Ternyata mereka itu berunding karena kemunculan Pek Giok Liong yang telah memiliki kepandaian yang amat tinggi, bahkan menolong cung cu Siauw Thian Lin, Siauw Hui Ceh dan Siauw Peng Yang. Itu merupakan kejadian yang sangat mengejutkan.

 

Ditambah lagi Se Pit Han memimpin belasan orang menuju utara, maka Cit Ciat Sin Kun tahu keadaan sudah mulai gawat.

 

Oleh karena itu, Cit Ciat Sin Kun segera berunding dengan Kim Gin Siang Tie, sekaligus memerintahkan mereka bertindak.

 

Dengan adanya perintah itu, mulai bertindak. Tindakan apa yang akan mereka lakukan?

 

Tiga hari kemudian, pada suatu malam, Tu Ci Yen, si raja perak memimpin dua pelindung pribadi, enam pengawal khusus, tiga pemimpin aula dan belasan orang yang berkepandaian tinggi menuju ke Hwa San.

 

Ketua partai Hwa San, Bwee Hoa Sin Kiam (Pedang Sakti Bunga Bwee) Hua Hun, sama sekali tidak tahu maksud tujuan kunjungan orang-orang yang memakai kain penutup muka itu.

 

Namun kunjungan Tu Ci Yen dengan cara bu lim. Maka Bwe Hoa Sin Kiam harus menyambut kedatangan mereka sebagai mana mestinya. Mereka dipersilahkan duduk di ruang tamu.

 

Bwe Hoa Sim Kiam dan Tu Ci Yen duduk berhadapan, sedangkan dua pengawal pribadi, enam pengawal khusus, tiga pemimpin aula dan sepuluh orang yang berkepandaian tinggi itu berdiri di belakang Tu Ci Yen.

 

Di belakang Bwe Hoa Sin Kiam berdiri Hwa San Ngo Kiam (Lima Pedang Hwa San), Siang Hiap (Sepasang pendekar) dan Kiu Eng (Empat pemuda gagah).

 

Setelah meneguk teh, Bwe Hoa Sin Kiam, lalu menjura pada Tu Ci Yen seraya bertanya. "Bolehkah aku tahu nama Anda?"

 

"Aku Kim Tie, bawahan Bu Lim Cih Seng Tay Tie," sahut Tu Ci Yen dingin.

 

Bwe Hoa Sin Kiam mengerutkan kening, is menatap Tu Ci Yen dan ujarnya dengan suara dalam.

 

"Alangkah baiknya Anda menyebut nama saja. Aku ketua Partai Hwa San, tentunya berhak mengetahui nama Anda."

 

"Untuk sementara ini, engkau belum harus mengetahui namaku," sahut Tu Ci Yen dingin.

 

"Kenapa?"

 

"Nanti engkau akan mengetahuinya."

 

"Kalau begitu, apa tujuan Anda berkunjung ke mari?"

 

"Khususnya mengunjungi ketua Hwa San."

 

"Aku adalah ….."

 

Tu Ci Yen mengibaskan tangan agar Bwe Hoa Sim Kiam tidak melanjutkan ucapannya.

 

"Ucapanku belum selesai," ujarnya kemudian.

 

"Silakan lanjutkan, aku siap mendengarnya!"

 

Tu Ci Yen tertawa ringan, kemudian ujarnya serius.

 

"Aku berkunjung ke mari melaksanakan perintah."

 

"Oh?" Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun tertegun. "Anda melaksanakan perintah siapa?"

 

"Atas perintah ayah angkatku, Cih Seng Tay Tie untuk mengajak Ketua Hwa San pergi menemui beliau."

 

Wajah Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun tampak berubah.

 

"Siapa ayah angkatmu?" tanyanya heran.

 

"Cih Seng Tay Tie."

 

"Aku tanya nama dan julukannya."

 

"Engkau ikut aku pergi menemuinya, tentunya akan tahu siapa ayah angkatku itu."

 

"Berdasarkan apa ayahmu mengharuskan aku menemuinya?" tanya Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun bernada tidak senang.

 

"Engkau boleh bertanya langsung pada ayah angkatku," sahut Tu Ci Yen sambil tertawa ringan.

 

"Itu ….." Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun mengerutkan kening.

 

"Ketua Hwa San Pay dengan julukan Bwe Hoa Sin Kiam telah menggetarkan bu lim, bagaimana mungkin tidak berani ikut aku pergi menemui ayah angkatku? Tapi ….."

 

"Kenapa? Kok tidak kau lanjutkan ucapanmu?"

 

"Berani atau tidak, itu urusanmu. Ketua Hwa San, aku tidak melanjutkan, engkau pun pasti mengerti."

 

Bwe Hoa Sin Kiam tertawa dingin. "Sungguh tajam mulutmu!"

 

"Terimakasih atas pujianmu!" Tu Ci Yen tertawa ringan.

 

Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun berpikir sesaat, lalu tanyanya.

 

"Ayah angkatmu berada di mana sekarang?"

 

"Berada di tempat tinggalnya."

 

"Di mana tempat tinggalnya?"

 

"Setelah berada di sana, engkau pasti tahu. Kenapa harus tanya sekarang?"

 

Kening Bwe Hoa Sin Kiam berkerut-kerut, namun masih tampak tenang sekali.

 

"Apakah masih ada maksud lain dengan kunjunganmu ini?" tanya Bwe Hoa Sin Kiam sambil menatapnya tajam.

 

"Ada atau tidak harus bagaimana?" Tu Ci Yen balik bertanya dengan dingin.

 

"Kalau ada, beritahukanlah cepat! Tidak ada, engkau dan lainnya harus segera meninggalkan tempat ini!"

 

"Oh?" Tu Ci Yen tertawa dingin. "Engkau mau mengusir kami?"

 

"Ha ha!" Bwe Hoa Sin Kiam tertawa gelak. "Kira-kira begitulah!"

 

"Hmm!" dengus Tu Ci Yen dingin. "Kalau begitu, kita tidak perlu melanjutkan pembicaraan lagi?"

 

"Betul!"

 

"Baiklah!" Tu Ci Yen manggut-manggut! "Sekarang aku justru ingin mengajukan satu pertanyaan!"

 

"Pertanyaan apa?"

 

"Bersedia atau tidakkah engkau ikut aku pergi menemui ayah angkatku?"

 

"Aku tidak punya waktu senggang untuk menemui ayah angkatmu!" sahut Bwe Hoa Sin Kiam dan berseru lima pedang yang berdiri di belakangnya, "Antar tamu!"

 

Meskipun Bwe Hoa Sin Kiam sudah berseru begitu, Tu Ci Yen masih duduk di tempat sambil tertawa dingin.

 

"Engkau tidak dengar?" tanya Bwe Hoa Sin Kiam.

 

"Aku sudah dengar."

 

"Kalau sudah dengar, kenapa masih duduk di tempat?"

 

"Karena aku sedang mempertimbangkan satu hal."

 

Bwe Hoa Sin Kiam menatapnya. "Itu urusanmu. Setelah meninggalkan tempat ini, engkau masih punya waktu untuk mempertimbangkannya!"

 

Tu Ci Yen menggelengkan kepala, kemudian ujarnya dingin.

 

"Aku tidak bisa mempertimbangkannya setelah meninggalkan tempat ini."

 

"Kenapa?"

 

"Sebab hal tersebut menyangkut partai kalian, maka aku harus mempertimbangkannya di sini."

 

Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun tersentak, karena dalam ucapan itu mengandung suatu maksud tertentu.

 

"Hal yang menyangkut partai kami?"

 

"Kalau tidak, tentunya aku tidak akan mempertimbangkannya di sini."

 

"Hal apa itu?"

 

Mendadak sepasang mata Tu Ci Yen menyorot tajam, dan terus menerus menatap ketua Hwa San itu.

 

Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun terkejut, sebab sepasang mata Tu Ci Yen sangat tajam, berarti memiliki tenaga dalam yang tinggi.

 

"Engkau ingin tahu hal itu?" tanya Tu Ci Yen dingin.

 

"Karena hal itu menyangkut partai Hwa San, maka aku ingin mengetahuinya."

 

Tu Ci Yen tertawa gelak, lalu ujarnya lantang.

 

"Untuk terakhir kalinya aku bertanya lagi. Bersediakah engkau ikut aku pergi menemui ayah angkatku?"

 

"Apa yang telah kukatakan tadi, tidak akan berubah."

 

"Engkau tidak menyesal?"

 

"Menyesal?" Bwe Hoa Sin Kiam tertawa gelak. "Aku tidak kenal menyesal!"

 

"He he he!" Tu Ci Yen tertawa terkekeh-kekeh. "Orang-orang bu lim mengatakan, bahwa ketua partai Hwa San, yakni Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun sangat keras kepala, itu memang tidak salah!"

 

"Orang-orang bu lim yang mengatakan begitu, tentunya tidak akan salah." Ketua Hwa San itu tertawa hambar!

 

"Akan tetapi, kini aku ingin menasihatimu!" ujar Tu Ci Yen dingin.

 

"Oh? Terimakasih!" ucap Bwe Hoa Sin Kiam dan menambahkan, "Segala omong kosong cukup sampai di sini saja! Lebih baik membicarakan hal yang sebenarnya!"

 

"Betul." Tu Ci Yen mengangguk. "Kini memang sudah saatnya untuk membicarakan hal yang sebenarnya!"

 

"Silakan bicara!"

 

"Sebelum aku ke mari, ayah angkatku telah berpesan, kalau ketua Hwa San tidak mau menurut, maka aku boleh bertindak!"

 

"Bertindak bagaimana?" tanya Bwe Hoa Sin Kiam dingin.

 

"Akan terjadi banjir darah di Hwa San ini." sahut Tu Ci Yen sepatah demi sepatah.

 

Begitu ucapan ini dicetuskan, Bwe Hoa Sin Kiam, Siang Hiap, Kiu Eng dan Ngo Kiam. Mereka memandang Tu Ci Yen dengan air muka berubah dan penuh kegusaran.

 

"Bagaimana?" tanya Tu Ci Yen sambil tertawa. "Engkau terkejut kan?"

 

"Ha ha ha!" Bwe Hoa Sin Kiam Hua Hun tertawa gelak. "Apa yang kau katakan barusan memang mengejutkan, tapi ….. apakah kalian mampu bertindak begitu?"

 

"Kalau tidak mampu, aku pun tidak akan ke mari. Oleh karena itu, aku pun tidak akan mempertimbangkannya tadi di sini!"

 

"Jadi yang kau pertimbangkan tadi tentang ini?"

 

"Betul!" Tu Ci Yen manggut-manggut. "Aku mempertimbangkan, perlukah banjir darah di sini?"

 

"Engkau sudah selesai mempertimbangkannya?"

 

"Sudah!"

 

"Lalu apa keputusanmu?"

 

"Hanya ada dua jalan!"

 

"Beritahukan!"

 

[bersambung]