panji sakti 03
"Itu….. kenapa, lo jin keh?"
"Lo ciau akan mewariskan kepadamu tiga jurus
sakti pelindung panji, sekaligus mengangkatmu sebagai generasi
kelima pemegang panji itu."
"Lo jin keh…..."
"Engkau mengabulkan?"
"Apakah ini merupakan syarat, lo jin keh?"
"Boleh dibilang ya, boleh juga dibilang
tidak."
"Maksud lo jin keh?"
Kian Kun Ie Siu menarik nafas ringan,
setelah itu ia berkata,
"Usia lo ciau sudah tujuh puluhan. Karena
mengidap semacam penyakit aneh, maka sepasang mata lo ciau jadi
buta. Oleh karena itu, tiga jurus sakti pelindung panji harus ada
pewarisnya. Engkau berbakat dan berhati bajik, maka engkaulah
pewarisnya."
"Lo jin keh…..."
"Nak, engkau harus memiliki dasar lwee kang
perguruan lo ciau, setelah itu barulah engkau pergi menemui tayhiap
itu." Kian Kun Ie Siu menjelaskan. "Tentunya tidak sulit lagi bagimu
untuk mempelajari bu kangnya. Seandainya tayhiap itu menolak, tapi
begitu melihat Jit Goat Seng Sim Ki ini, dia pasti menerimamu.
Engkau mengerti, Nak?"
"Boan pwe mengerti." Siau Liong mengangguk
hormat. "Terima kasih atas kebaikan lo jin keh, boan pwe turut
perintah."
"Nak," ujar Kian Kun Ie Siu. "Kalau begitu,
kenapa engkau masih belum bersujud mengangkat lo ciau sebagai guru?"
"Itu pasti, tapi…..."
"Apa yang engkau ragukan lagi, Nak?"
"Mohon maaf, lo jin keh! Boan pwe ingin tahu
siapa tayhiap itu?"
Wajah Kian Kun Ie Siu berubah.
"Engkau tidak mempercayai omongan lo ciau?"
tanyanya.
"Boan pwe percaya, namun ingin tahu siapa
tayhiap itu."
"Oh?" Kening Kian Kun Ie Siu berkerut.
"Seandainya lo ciau tidak memberitahukan dulu, engkau pun tidak mau
mengangkat lo ciau sebagai guru?"
"Walau boan pwe harus ke Lam Hai mencari
Pulau Pelangi itu, tetap akan mengangkat lo jin keh sebagai guru dan
bersedia menjaga panji itu."
"Ngmm!" Kian Kun Ie Siu manggut-manggut,
wajahnya pun berubah lembut lagi. "Baiklah lo ciau beritahukan."
"Terima kasih, lo jin keh!"
"Nak, pendekar rimba persilatan itu pernah
bertarung dengan Siang Hiong Sam Koay seorang diri belasan tahun
yang lalu, dia adalah Pek tayhiap."
Mendengar itu, Siau Liong merasa dirinya
seperti tersambar geledek di siang hari bolong. Sekujur badannya
bergemetar dan air mata pun mengucur.
Sudah lama Kian Kun Ie Siu menetap di dalam
goa, maka tidak tahu apa yang telah terjadi dalam rimba persilatan.
"Lo jin keh!" Siau Liong menghapus air
matanya. "Lo jin keh kenal Pek tayhiap?"
"Kenal." Kian Kun Ie Siu mengangguk. "Lo
ciau dan Pek tayhiap pernah bertemu beberapa kali, hubungan kami pun
sangat baik."
Mendengar itu, Siau Liong berduka sekali
sehingga air matanya mengucur lagi, namun berusaha menahan isak
tangisnya.
Cing Ji yang berdiri di luar, mendengar juga
isak tangis Siau Liong. Gadis itu mengira Siau Liong dimarahi
kakeknya.
Segeralah ia menerjang ke dalam ruang
rahasia itu, dan melihat wajah Siau Liong yang pucat pias seperti
kertas.
Kian Kun Ie Siu tidak melihat bagaimana
wajah Siau Liong, namun mendengar isak tangisnya yang memilukan.
Ketika menyaksikan wajah Siau Liong yang
pucat pias itu, Cing Ji terkejut bukan main.
"Siau Liong ko, kenapa engkau…..?" tanyanya
cemas dan penuh perhatian.
Siau Liong tidak menyahut. Tak lama ke
mudian, hatinya sudah tenang kembali, dan memandang Cing Ji seraya
berkata,
"Cing Ji, terima kasih atas perhatianmu!
Aku…... aku tidak apa-apa."
Begitu mendengar jawaban Siau Liong, Cin Ji
pun menarik nafas lega, namun wajahnya penu diliputi keheranan.
"Kenapa Siau Liong ko?"
"Adik Cing, aku tidak bisa menahan rasa duka
di dalam hati…..," ujar Siau Liong dan kemudia mengarah pada Kian
Kun Ie Siu. "Lo jin keh maafkan sikap boan pwe barusan!"
"Nak, lo ciau tidak menyalahkanmu." Kian Kun
Ie Siu tersenyum lembut.
"Terima kasih, lo jin keh!" ucap Siau Lion
dan melanjutkan, "Kini tidak perlu ke Ciok La San Cung lagi."
"Kenapa?" Kian Kun Ie Siu tertegun.
"Maksudmu?"
"Percuma boan pwe ke sana."
"Nak." Kian Kun Ie Siu mengerutkan kening
"Apakah engkau telah ke sana?"
"Boan pwe justru datang dari sana."
"Pek tayhiap menolakmu, Nak?"
"Tidak."
"Kalau begitu, engkau tidak bertemu Pek
tayhiap?"
"Lo jin keh, Ciok Lau San Cung itu sudah
tiada penghuninya."
"Apa?!" Kening Kian Kun Ie Siu
berkerut-kerut. "Kok Ciok Lau San Cung tiada penghuninya?"
"Pek tayhiap dan isterinya telah meninggal,
seluruh penghuni perkampungan itu pun telah mati."
"Haah…..?" Kian Kun Ie Siu terkejut bukan
main. "Apakah Pek tayhiap dan isterinya dibunuh oleh para iblis
itu?"
"Ya." Siau Liong mengangguk.
"Itu bagaimana mungkin? Iblis mana yang
memiliki bu kang yang lebih tinggi dari Pek tayhiap?"
Siau Liong mulai menangis sedih lagi.
"Lo jin keh, meskipun Pek tayhiap memiliki
bu kang yang luar biasa tinggi, bagaimana mampu melawan Mo, Tok,
Koay, Hiong (Iblis, Racun, Siluman, Buas) yang bergabung itu?"
"Hah? Apa?" Sekujur badan orang tua itu
tergetar saking terkejutnya. "Apakah Pat Tay Hiong Jin yang turun
tangan jahat terhadap Pek tayhiap dan isterinya?"
"Mereka berdelapan atau bukan, boan pwe
tidak berani memastikan. Tapi boan pwe menduga mereka berdelapan
itu."
"Apakah tiada seorang pun yang dapat lobos
dari perkampungan itu?" tanya Kian Kun Ie Siu mendadak.
"Ada seseorang yang lolos."
"Siapa orang itu?" tanya Kian Kun Ie Siu
cepat.
"Lo jin keh….." jawab Siau Liong sedih.
"Orang itu boan pwe."
"Oh?" Kian Kun Ie Siu tertegun, tapi
kemudian wajahnya tampak berseri. "Nak, kalau begitu engkau
adalah…..."
"Lo jin keh, sesungguhnya boan pwe marga
Pek, bernama Giok Liong." Siau Liong memberitahukan secara jujur.
"Hah…..?" Kian Kun Ie Siu memeluknya
erat-erat. "Nak…..."
"Lo jin keh…..." Air mata Siau Liong
berderai.
"Nak, sungguhkah engkau tidak tahu
siapa-siapa pembunuh itu?" tanya Kian Kun Ie Siu.
"Lo jin keh," jawab Siau Liong sedih.
"Ketika itu tengah malam, seseorang menotok jalan tidur boan pwe,
lalu membawa boan pwe pergi ke suatu tempat yang rahasia, maka boan
pwe tidak tahu jelas siapa pembunuh-pembunuh itu."
"Oh!" Kian Kun Ie Siu berpikir sejenak.
"Tahukah engkau siapa yang membawamu pergi?"
"Boan pwe tidak tahu. Ketika boan pwe
mendusin, saat itu sudah hari kedua. Lagi pula boan pwe baru sadar
diri bahwa boan pwe berada di dalam sebuah goa." Siau Liong
menjelaskan. "Di sini boan pwe terdapat secarik kertas yang berisi
beberapa baris tulisan berupa suatu pesan, bahwa setelah boan pwe
mendusin dan tiada orang ke mari menjemput, maka tidak boleh pulang
ke Ciok Lau San Cung, harus segera berangkat ke Lam Hai mencari Cai
Hiong To untuk mempelajari bu cang tingkat tinggi di pulau itu demi
membalas dendam berdarah itu."
"Oh?" Kian Kun Ie Siu mengerutkan kening.
"Siapa orang itu?"
"Boan tidak tahu." Siau Liong melanjutkan,
"Setelah boan pwe mendusin, boan pwe pun terus menunggu, namun tiada
seorang pun yang datang menjemput boan pwe. Malam harinya, boan pwe
memberanikan diri pulang ke Ciok Lau San Cung, namun perkampungan
itu sepi sekali. Di mana-mana terdapat noda darah, bahkan tampak
pula beberapa makam baru, yakni makam kedua orang tua boan pwe.
Betapa sedihnya boan pwe, tapi masih menyadari bahaya yang mengancam
boan pwe, maka boan pwe segera kabur. Kemudian boan pwe menempuh
jalan siang dan malam berangkat ke Lam Hai."
"Nak, kalau engkau tidak menemukan Pulau
Pelangi, sulitlah bagimu untuk menuntut balas."
"Benar, lo jin keh."
"Nak," ujar Kian Kun Ie Siu setelah
berpikir. "Mulai malam ini, lo ciau akan mengajarmu lwee kang
sekaligus mewariskan tiga jurus sakti pelindung panji. Tiga bulan
kemudian, engkau boleh berangkat ke Lam Hai. Bagaimana, Nak?"
"Boan pwe turut perintah," ucap Siau Liong.
Ia lalu bersujud di hadapan Kian Kun Ie Siu. "Teecu (murid) memberi
hormat pada Suhu!"
-- o --
Bagian ke 18: Ekspedisi Yang Wie
Di sebelah utara Kota Teng Hong, terdapat
sebuah bangunan yang amat megah, yakni Gedung Yang Wie Piau Kok
(Ekspedisi Yang Wie) yang amat terkenal.
Dalam lima tahun ini, semua pengiriman
ekspedisi itu tidak pernah diganggu penjahat yang mana pun. Maka
nama ekspedisi tersebut terus melambung tinggi. Hal itu membuat
pengelola ekspedisi lain menjadi iri. Namun mereka sama sekali tidak
berani macam-macam terhadap ekspedisi Yang Wie.
Terkenalnya Ekspedisi Yang Wie juga karena
pemimpinnya tergolong bu lim ko ciu. Para anak buahnya tiada satu
pun yang berkepandaian rendah, rata-rata memiliki kepandaian kelas
tinggi.
Oleh karena itu, para penjahat yang mana pun
tidak berani mengganggu ekspedisi tersebut.
Walau demikian, ekspedisi Yang Wie tidak
melupakan satu hal, yakni mengirim upeti kepada para penyamun.
Justru karena itu, para penjahat yang mana pun sangat menghormati
ekspedisi itu.
Di halaman belakang gedung ekspedisi Yang
Wie terdapat sebuah bangunan kecil. Bangunan itu merupakan tempat
terlarang. Jika malam sudah larut semua jendela bangunan kecil itu
tertutup rapat. Suasana di sekitarnya pun tampak gelap gulita.
Akan tetapi, malam ini tampak berbeda.
Biasanya tiada seorang pun berada di dalam bangunan kecil itu, namun
saat ini tampak dua orang duduk berhadapan. Yang seorang mengenakan
baju kuning emas, yang seorang lagi mengenakan baju putih perak.
Masing-masing mengenakan kain penutup wajah yang warnanya sama
dengan bajunya.
Kedua orang itu duduk diam dengan mulut
membungkam. Berselang beberapa saat kemudian, orang berbaju kuning
emas membuka mulut.
"Engkau sudah mengutus orang untuk
menyelidiki?" tanyanya dengan suara rendah.
"Sudah." Orang berbaju putih perak
mengangguk.
"Bagaimana hasilnya?" tanya orang berbaju
kuning emas. "Sudah menyelidiki semua itu?"
"Tidak semua," jawab orang berbaju putih
perak. "Cuma sebagian saja."
"Kalau begitu, beritahukanlah yang sebagian
itu!"
"Ya." Orang berbaju putih perak mengangguk.
"Itu adalah bu lim tiap (Kartu rimba persilatan) yang disebarkan
Partai Kay Pang."
"Oh?" Orang berbaju kuning emas tampak
berpikir keras. "Kalau begitu, urusan itu sangat mengherankan."
"Kenapa mengherankan?"
"Demi mencari seseorang bernama Hek Siau
Liong, pihak Kay Pang telah menyebarkan bu lim tiap minta bantuan
pada partai besar lainnya. Nah, bukankah urusan kecil
dibesar-besarkan? Tentunya merupakan urusan yang luar biasa."
Orang berbaju putih perak manggut-manggut.
"Itu memang luar biasa."
Orang berbaju kuning emas tertawa-tawa.
"Maka sungguh mengherankan," ujar orang
berbaju kuning emas. "Urusan itu pasti mengandung sesuatu yang sulit
dimengerti orang lain."
"Oh?"
"Tahukah engkau bagaimana peraturan bu lim
tiap itu?"
"Shia coh tahu tentang itu."
Orang berbaju perak menyebut dirinya shia
coh (aku tingkat rendah), itu berarti orang berbaju kuning emas
berkedudukan lebih tinggi. Jadi siapa kedua orang itu?
"Kalau begitu, aku bertanya, kenapa hanya
mencari Hek Siau Liong harus menyebarkan bu lim tiap?"
Orang berbaju putih perak berpikir sejenak,
kemudian mengangguk. "Aku mengerti, tentunya berkaitan dengan diri
Hek Siau Liong."
"Tidak salah. Itu pertanda asal-usul Hek
Siau Liong sangat luar biasa," ujar orang berbaju kuning emas.
"Kalau tidak, bagaimana mungkin pihak Kay Pang akan menyebarkan bu
lim tiap."
"Betul." Orang berbaju putih perak
mengangguk.
"Tentunya….." tambah orang berbaju kuning
emas. "Tidak mungkin urusan kecil dibesarkan begitu, lagi pula
partai besar lainnya pasti akan bertindak kalau pihak Kay Pang
berani main-main dengan bu lim tiap."
"Kalau begitu......" Orang berbaju putih
perak tampak berpikir sejenak. "Sang coh (atasan) menganggap
asal-usul Hek Siau Liong itu......"
Ternyata orang berbaju kuning emas itu
atasan orang berbaju putih perak. Orang berbaju kuning emas tidak
menyahut, sebaliknya malah bertanya.
"Sungguhkah Hek Siau Liong telah dibunuh?"
"Apakah sang coh bercuriga akan laporan Toan
Beng Thong?"
Orang berbaju kuning emas menggelengkan
kepala.
"Itu tidak perlu bercuriga, lagi pula Toan
Beng Thong tidak akan berani memberi laporan palsu."
"Ya." Orang berbaju putih perak
manggut-manggut. "Sang coh benar."
"Engkau mau menyuruh mereka untuk
menyelidiki asal-usul Hek Siau Liong?" tanya orang berbaju kuning
emas.
"Sudah diselidiki…..."
"Oh?" Orang berbaju kuning emas mengarah
padanya. "Bagaimana hasilnya?"
"Tiada hasilnya." Orang berbaju putih perak
menggelengkan kepala. "Bahkan orang-orang partai besar pun tidak
mengetahui asal-usulnya."
Orang berbaju kuning emas tampak tercengang.
"Itu.....," ujarnya bergumam. "Sungguh
mengherankan!"
"Ya, memang sungguh mengherankan."
"Ohya." Orang berbaju kuning emas teringat
sesuatu. "Mengenai asal-usul marga pemuda Se dan orang-orangnya itu,
sudah diselidiki?"
"Tentang itu, shia coh sudah mengutus
beberapa orang pergi ke Lam Hai untuk menyelidikinya."
"Ngm!" Orang berbaju kuning emas
manggut-manggut. "Kira-kira kapan mereka pulang?"
"Paling cepat pun harus dua puluh hari, kita
baru bisa menerima kabar beritanya."
Orang berbaju kuning emas manggut-manggut
lagi, kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana dengan mayat Hek Siau Liong?"
"Toan Beng Thong telah melapor, mayat itu
telah dikubur."
"Tahu jelaskah tempat itu?"
"Pinggir kota Pin Hong, tapi tidak begitu
jelas tempat penguburannya."
"Orang Pin Hong sana tahu?"
"Justru orang sana yang melakukannya."
"Oooh!" Orang berbaju kuning emas
manggutmanggut.
"Sang coh menanyakan tentang itu, apakah
berniat pergi menyelidikinya?" tanya orang berbaju putih perak.
"Betul." Orang berbaju kuning emas
mengangguk. "Mengenai asal-usul Hek Siau Liong, aku telah menduga
dalam hati, maka perlu memeriksa mayatnya."
"Oh?" Orang berbaju putih perak agak
tercengang.
"Kalau memperoleh bukti yang sesuai dengan
dugaanku, kita pun akan memperoleh suatu kebanggaan pula."
"Bagaimana dugaan sang coh mengenai
asal-usul Hek Siau Liong?" tanya orang berbaju putih perak mendadak.
"Sekarang engkau jangan bertanya dulu!"
Orang berbaju kuning emas tertawa ringan. "Sebelum ada bukti, aku
tidak akan memberitahukan."
"Ya." Orang berbaju putih perak mengangguk.
"Ohya!" Orang berbaju kuning emas
mengalihkan pembicaraan. "Apakah Tancu (pemimpin aula) keenam,
ketujuh dan kedelapan melaporkan sesuatu?"
"Tidak."
"Tancu keempat dan kelima?"
"Mereka berdua sudah tiba di daerah Ciat
Tang, namun belum menemukan apa-apa."
"Bagaimana daerah lain?" tanya orang berbaju
kuning emas serius. "Belum ada laporan apa-apa?"
"Memang sudah ada laporan dari dua daerah,
tapi ternyata telah salah mencari orang." Orang berbaju putih perak
memberitahukan.
"Oh? Jadi bagaimana urusan itu?" tanya orang
berbaju kuning emas sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Sudah dibereskan." Orang berbaju putih
perak tertawa terkekeh. "Shia coh tidak melepaskan satu pun."
"Oh?" Orang berbaju kuning emas juga
tertawa.
"Boleh membunuh seratus, tapi tidak boleh
melepaskan satu pun," ujar orang berbaju kuning emas.
"Memang harus begitu." Orang berbaju kuning
emas manggut-manggut sambil tertawa gelak. "Pantas Taytie (Maha
raja) menaruh harapan padamu."
Orang berbaju putih perak tersenyum.
"Dan masih mendapat dukungan dari sang coh,"
sambungnya.
"Wuaah!" Orang berbaju kuning emas lagi.
"Engkau semakin pandai omong, bahkan juga mulai menepuk pantat."
"Terima kasih atas pujian sang coh!" ucap
orang berbaju putih perak sambil tertawa. "Shia coh…..."
Mendadak pada waktu bersamaan, terdengar
suara yang dingin dari atap bangunan itu.
"Kim Gin Siang Tie (Sepasang raja emas
perak), cepatlah kalian berdua menyambut Taytie Giok Cih (Surat
perintah dari maha raja)!"
Ternyata kedua orang itu sepasang raja emas
perak. Orang berbaju kuning emas adalah Kim Tie (Raja emas),
sedangkan orang berbaju putih perak adalah Gin Tie (Raja perak).
Kalau begitu, siapa pula Taytie (Maha raja)
itu? Yang jelas maha raja itu adalah kepala pimpinan mereka.
Setelah mendengar suara itu, Kim Gin Siang
Tie segera bangkit berdiri, lalu menjura hormat.
"Mohon masuk!" ucap mereka berdua serentak.
Serrrt! Berkelebat sosok bayangan ke dalam
bangunan itu. Sosok bayangan itu adalah seorang yang kurus kecil,
mukanya ditutupi dengan kain hitam, mengenakan baju yang
pinggirannya berwarna kuning emas, bagian depan terdapat sebuah
gambar macan tutul.
Siapa orang itu dan apa kedudukannya? Dia
salah seorang dari empat pengawal Taytie, Liong, Houw, Sai, Pa
(Naga, Harimau, Singa, Macan tutul).
Begitu kaki menginjak lantai, Pa Si
(Pengawal macan) pun segera mengeluarkan segulung kertas.
"Kalian berdua terimalah Giok Cih ini!" ujar
orang itu.
"Ya," sahut Kim Gin Siang Tie sambil memberi
hormat. Kemudian Kim Tie maju menerima surat perintah itu dan
mengucap, "Silakan duduk!"
Pengawal itu menggelengkan kepala.
"Tidak usah." sahutnya. "Aku harus segera
pulang untuk melapor."
Kim Gin Siang Tie berdiri menghormat,
sedangkan pengawal itu memandang mereka berdua sambil berkata.
"Memerintahkan aku untuk bertanya pada
kalian, apakah sudah ada kabar berita tentang anjing kecil itu?"
"Harap lapor kepada Taytie!" jawab Gin Tie.
"Kalau sudah ada kabar berita, kami berdua pasti segera pulang ke
markas untuk melapor."
"Ngm!" Pengawal itu manggut-manggut. "Itu
sungguh mengherankan. Sudah hampir tiga bulan, kenapa masih belum
ada kabar berita tentang anjing kecil itu? Apakah anjing kecil itu
telah lenyap ditelan bumi?"
Kim Gin Siang Tie diam saja.
"Taytie sangat tidak puas akan urusan itu,
menganggap para bawahan tidak becus melaksanakan suatu tugas. Oleh
karena itu, beliau memerintahku untuk memperingatkan kalian. Kalau
tidak melaksanakan tugas itu dengan baik, maka kalian pasti dihukum
berat."
"Mohon lapor pada Taytie, kami telah
berusaha keras untuk menyelidiki masalah itu, bahkan kami pun mulai
bercuriga dan akan mengutus beberapa orang untuk mengadakan
pemeriksaan. Kalau kami melalaikan tugas itu, kami bersedia dihukum
berat."
"Bagus." Pengawal itu manggut-manggut.
"Ohya! Mengenai partai besar lain yang mencari Hek Siau Liong,
menurut Taytie harus diselidiki juga. Mungkin dia membantu anjing
kecil itu, maka kalian berdua harus menaruh perhatian mengenai
urusan tersebut!"
Padahal Gin Tie ingin memberitahukan, bahwa
Hek Siau Liong telah dibunuh oleh orang-orang bawahannya, namun ia
tidak berani sembarangan mencetuskannya.
"Taytie sudah mengetahui urusan itu?" tanya
Kim Tie.
"Bukan cuma itu, bahkan juga mengetahui
tentang kejadian pinggir kota Pin Hong itu!"
"Oh?" Kim Gin Siang Tie terkejut bukan main.
"Tapi…..," tambah pengawal itu, "Taytie
menganggap kemungkinan besar anak itu bukan Hek Siau Liong."
"Mengapa?" Gin Tie heran. "Apakah ada Hek
Siau Liong palsu?"
"Itu sulit dikatakan, namun Taytie sangat
cerdas dan mampu menduga sesuatu dengan tepat."
"Apakah Taytie juga mengetahui bahwa partai
besar lain sedang berusaha mencari Hek Siau Liong?" tanya Kim Tie.
"Ng!" Pengawal itu mengangguk.
"Juga mengetahui apa sebabnya partai besar
lain berusaha mencari Hek Siau Liong?" tanya Gin Tie lagi.
"Walau Taytie mengetahui partai Kay Pang
yang menyebarkan bu lim tiap, tapi tidak mengetahui jelas sebab
musababnya, hanya yakin itu merupakan urusan yang luar biasa sekali.
Taytie sudah memberi petunjuk dan mengatur sesuatu. Setelah kalian
berdua membaca surat perintah itu, tentu akan mengetahuinya."
"Taytie masih ada petunjuk lain?" tanya Kim
Tie.
"Ada. Yaitu mengenai pemuda marga Se dan
orang-orangnya. Taytie memerintah kalian berdua serta para anak buah
kalian, untuk sementara ini jangan mencari gara-gara dengan mereka."
"Itu kenapa?" tanya Gin Tie heran.
"Taytie telah mencurigakan sesuatu, namun
karena belum mendapat bukti, maka beliau tidak memberitahukan."
Kim gin Siang Tie diam tak menyahut.
"Baiklah. Laksanakan tugas kalian dengan
baik dan berhati-hati, aku harus segera pulang untuk melapor!" ujar
pengawal dengan suara dalam sambil memandang mereka.
Usai berkata begitu, pengawal itu pun
berkelebat pergi, begitu cepat bagaikan kilat. Dapat dibayangkan
betapa tingginya ginkang pengawal tersebut.
-- o --
Bagian ke 19: Menggali Mayat
Dua hari kemudian, ketika larut malam, di
pinggir kota Pin Hong muncul lima sosok bayangan yang berlari cepat
seperti terbang.
Namun kemudian muncul lagi sosok bayangan
lain mengikuti mereka dari belakang dengan hati-hati sekali. Sosok
bayangan tersebut ternyata seorang padri berusia empat puluh lebih.
Siapa kelima sosok bayangan itu, tidak lain
adalah Kim Gan Siang Tie bersama tiga orang berpakaian hitam yang
mengenakan kain hitam penutup muka pula.
Berselang beberapa saat kemudian, tiga orang
berbaju hitam itu berhenti di bawah sebuah pohon.
Padri yang menguntit mereka pun segera
bersembunyi di belakang pohon lain yang agak jauh dari situ,
kemudian pasang kuping untuk mencuri pembicaraan mereka.
"Tidak salah di tempat ini?" tanya Kim Tie
dingin.
"Ya, memang di rimba ini," sahut salah
seorang berbaju hitam dengan hormat.
"Mayat itu dikuburkan di mana?" tanya Kim
Tie lagi.
"Di belakang pohon ini," jawab orang berbaju
hitam itu.
"Baiklah." Kim Tie manggut-manggut. "Cepat
kalian bertiga ke sana, gali mayat itu!"
"Ya." Orang berbaju hitam itu mengangguk
hormat, lalu mengajak kedua temannya ke belakang pohon itu. Ternyata
kedua temannya itu membawa pacul.
Tak lama mereka bertiga sudah sampai di
tempat yang dituju, dan segeralah mereka menggali tempat tersebut.
Berselang beberapa saat kemudian, mereka berhenti menggali dan
saling memandang.
"Eeeh? Heran…..!"
"Kenapa heran?" tanya temannya.
"Belum kelihatan mayat itu," sahut orang
berbaju hitam berbadan jangkung.
"Iya." Temannya menggaruk-garuk kepala.
"Padahal sudah sekian dalam kita menggali, tapi kok belum menemukan
mayat itu? Sungguh mengherankan!"
Ketiga orang itu memang tidak mengubur mayat
tersebut, tapi ketika itu mereka bertiga melihat dengan kepala mata
sendiri, mayat tersebut dikuburkan di tempat ini.
Akan tetapi, mereka telah menggali sedalam
lima meteran, masih belum menemukan mayat tersebut, itu membuat
mereka bertiga terheranheran dan tidak habis berpikir.
Kemana mayat itu?
Mungkinkah mayat itu telah berubah menjadi
mayat hidup, sehingga bangkit dari kubur? Itu bagaimana mungkin?
Tidak masuk akal!
"Bagaimana?" tanya Kim Tie dari jauh. "Sudah
kalian keluarkan mayat itu?"
Ketiga orang berbaju hitam itu tidak
menyahut. Salah seorang yang berbadan jangkung memandang kedua
temannya seraya bertanya dengan suara rendah.
"Bagaimana baiknya?"
"Apa boleh buat! Jawab saja yang
sesungguhnya!" sahut temannya yang berbadan pendek.
"Tapi…..," sambung temannya yang agak gemuk
badannya. "Belum tentu dipercaya."
"Kalau begitu, kita harus bagaimana?" tanya
orang berbaju hitam jangkung.
"Hei!" Terdengar suara bentakan Kim Tie.
"Bagaimana kalian bertiga, kok tidak menjawab? Sudah kalian
keluarkan belum mayat itu?"
"Sebentar lagi!" sahut yang berbadan gemuk.
"Kenapa begitu lama?" tegur Gin Tie.
"Menggali sosok mayat saja harus membuang begitu banyak waktu!"
"Kami......"
Ucapan orang berbaju hitam pendek terputus,
sebab ia melihat sosok bayangan berkelebat ke hadapan mereka. Sosok
bayangan itu ternyata Gin Tie.
Ketika melihat ketiga orang itu berhenti
menggali, timbullah kecurigaan Gin Tie.
"Apa gerangan yang telah terjadi?" tanyanya
dingin.
"Terjadi….. hal yang amat ganjil," jawab
orang berbaju hitam gemuk.
"Oh?" Gin Tie tertawa dingin. "Mayat itu
hilang kan?"
"Benar." Orang berbaju hitam gemuk
mengangguk. "Mayat itu memang telah hilang entah ke mana?"
"Kok bisa hilang?" Gin Tie menatap mereka
bertiga.
"Ini….. ini…..." Orang berbaju hitam gemuk
tergagap. "En….. entahlah."
"Kau tidak mengerti kan?" sambung Gin Tie
dingin.
"Ya. Urusan ini memang sangat mengherankan,"
jawab orang berbaju hitam gemuk sambil menundukkan kepala.
"Hmm!" dengus Gin Tie dingin. "Mayat yang
telah dikubur bisa hilang, itu sungguh di luar dugaan!"
"Aku….. aku tidak bohong......"
"Tidak bohong?" bentak Gin Tie gusar. "Keng
Tay Cun, engkau sungguh berani sekali!"
Nama yang disebutkan tadi, sungguh
mengejutkan padri yang bersembunyi di belakang pohon.. Ternyata
orang berbaju hitam gemuk itu orang berilmu tinggi dalam rimba
persilatan. Lalu siapa pula yang lainnya? Pikir padri itu. Siapa
kedua orang yang mengenakan baju kuning emas dan baju putih perak
itu? Keng Tay Cun berkepandaian tinggi, namun kenapa begitu hormat
dan tunduk pada kedua orang itu?
Sementara orang berbaju hitam gemuk itu
sudah menggigil sekujur badannya, Gin Tie memanggil namanya, itu
pertanda…...
"Ampun…..!" mohonnya dengan suara
bergemetar. "Tie Kun (Raja baju perak) ampunilah hamba…..!"
"Hmm!" dengus Gin Tie dingin. "Mayat itu ke
mana sekarang?"
"Hamba memang mengubur mayat itu di sini,
tapi entah kenapa mayat itu…..." Mendadak orang berbaju hitam gemuk
itu menjerit menyayat hati. "Aaaakh…..!"
Ia terpental beberapa meter dengan mulut
memuntahkan darah segar, sepasang matanya mendelik-delik kemudian
terkulai tak bergerak lagi. Orang berbaju hitam gemuk itu telah
mati. Ternyata tadi sebelum ia menyelesaikan ucapannya, Gin Tie
telah turun tangan terhadapnya.
Menyaksikan itu, padri yang bersembunyi di
belakang pohon terkejut bukan main. Sungguh dahsyat pukulan orang
berbaju putih perak itu! Tenaga dalamnya telah mencapai tingkat
tinggi.
Mendadak Kim Tie berkelebat ke sisi Gin Tie.
Sementara Gin Tie terus menerus menatap orang berbaju hitam
jangkung.
"Cepat katakan! Apa gerangan yang telah
terjadi?" tanya Gin Tie dingin.
"Hamba tidak berani bohong, Hek Siau Liong
memang…..."
"Hei!" bentak Gin Tie. "Sungguh berani
engkau menyebut nama itu!"
"Ampun!" tersentak orang berbaju hitam
jangkung itu. "Lain kali hamba…..."
Gin Tie tertawa dingin, itu membuat orang
berbaju hitam jangkung semakin terkejut dan sekujur badannya mulai
menggigil seperti kedinginan.
"Masih ada lain kali, Kauw Cing Lun?" bentak
Gin Tie mengguntur.
Padri berusia pertengahan yang bersembunyi
di belakang pohon, hatinya tergetar keras. Bukan karena nama Kauw
Cing Lun, melainkan karena nama Hek Siau Liong.
Hek Siau Liong adalah orang yang sedang
dicari partai besar dalam bu lim termasuk padri tersebut.
Sungguh tak terduga, karena kebetulan
melihat lima sosok bayangan berlari cepat seperti terbang menuju
rimba itu, maka padri itu pun menguntit mereka. Ternyata kelima
orang itu ke rimba tersebut untuk menggali mayat Hek Siau Liong…...
Betapa terperanjatnya padri itu mengetahui
hal tersebut. Siapa yang membunuh Hek Siau Liong? Bagaimana mereka
tahu? Dan….. ternyata mayat Hek Siau Liong telah hilang.
Untuk apa mereka menggali mayat Hek Siau
Liong? Bahkan mayat tersebut malah telah hilang. Kemana mayat itu?
Apakah….. ada orang lain memindahkannya? Kalau tidak, mungkinkah
mayat itu telah berubah menjadi mayat hidup?
Padri berusia pertengahan itu terus
berpikir, tapi mendadak ia dikejutkan oleh jeritan yang menyayat
hati.
"Aaaakh…..!" Orang berbaju hitam jangkung
terpental ke sisi mayat Keng Tay Cun, dan mati seketika dengan mulut
mengalirkan darah segar.
Kini tinggal orang berbaju hitam pendek,
yang sukmanya telah hilang entah ke mana ketika menyaksikan kematian
kedua temannya itu, sekujur badannya terus menggigil.
"Kenapa engkau?" tanya Gin Tie dingin.
"Hamba......" Suara orang berbaju hitam pendek bergemetar.
"Hamba…..."
"Ketakutan ya?" tanya Gin Tie. Namun sungguh
mengherankan, karena suaranya berubah agak lembut.
"Hamba…..."
"Pin Ngo (Baju hitam kelima), mulai saat ini
engkau menjadi Pin It (Baju hitam kesatu), mengerti engkau?"
"Te….. terima kasih Tie Kun!" ucap orang
berbaju hitam pendek sambil memberi hormat. "Hamba sangat berterima
kasih atas kebaikan Tie Kun!"
"Tahukah engkau apa sebabnya, kedudukanmu
bisa diangkat saat ini?" tanya Gin Tie sambil menatapnya.
"Hamba….. hamba…..."
"Engkau tidak tahu?" Gin Tie tertawa ringan.
"Hamba memang tidak tahu, mohon Tie Kun
memberi penjelasan!" Orang berbaju hitam pendek menundukkan kepala.
"Apakah engkau masih ingat akan ucapanmu
tadi?"
"Hamba tidak ingat."
"Bukankah tadi engkau mengucapkan, apa boleh
buat! Jawab saja yang sesungguhnya! Engkau ingat sekarang?"
"Hamba sudah ingat."
"Karena engkau mengucapkan itu, maka telah
menyelamatkan nyawamu sendiri, dan mengangkat kedudukan. Engkau
sudah mengerti sekarang?"
"Hamba….. hamba telah mengerti."
"Nah, jawablah yang sesungguhnya!"
"Tapi sebelumnya, hamba mohon ampun. Kalau
Tie Kun bersedia mengampuni hamba, barulah hamba berani
memberitahukan hal yang sesungguhnya."
Gin Tie berpikir sejenak, kemudian
mengangguk.
"Baiklah. Aku bersedia mengampunimu."
"Terima kasih Tie Kun!" ucap orang berbaju
hitam pendek lalu menarik nafas. "Sesungguhnya Keng Tay Cun dan Kauw
Cing Lun mati secara penasaran."
"Oh?" Gin Tie tertawa dingin. "Engkau
membela mereka?"
"Hamba tidak membela mereka, melainkan
berkata sesungguhnya," ujar orang berbaju hitam pendek.
"Berkata sesungguhnya?" Gin Tie menatap
orang berbaju hitam pendek itu. "Kalau begitu, mayat itu ke mana?"
"Bocah itu memang telah terpukul dan
tertusuk pedang anak buah hamba......"
"Itu tidak perlu kau jelaskan!" potong Gin
Tie. "Aku cuma bertanya di mana mayat bocah itu?"
"Mayat itu memang dikubur di sini,
mengenai…..."
"Kalian yang mengubur mayat itu?" tanya Kim
Tie mendadak.
"Walau bukan kami yang menguburnya, tapi
kami juga berada di tempat ini menyaksikan mayat bocah itu
dikuburkan di sini, setelah itu barulah kami pergi."
"Semua anak buah kalian juga ikut pergi?"
tanya Kim Tie.
"Ya." Orang berbaju hitam pendek mengangguk.
"Kami semua pergi bersama."
Kim Tie tampak berpikir keras, lama sekali
barulah membuka mulut bertanya pada orang berbaju hitam pendek itu.
"Ketika itu, kalian melihat ada orang lain
melewati rimba ini?"
"Tidak melihat siapa pun."
"Engkau berkata sesungguhnya, sama sekali
tidak berdusta?" Kim Tie menatapnya.
"Hamba sama sekali tidak berdusta," jawab
orang berbaju hitam pendek sambil memberi hormat.
"Ngmm!" Kim Tie manggut-manggut. "Mengenai
kematian kedua orang itu, bagaimana menurut pandanganmu?"
"Itu…..." Orang baju hitam pendek ragu
menjawabnya.
"Jawab saja! Aku tidak akan menghukummu,"
ujar Kim Tie sungguh-sungguh.
"Mohon maaf, menurut hamba, kematian mereka
berdua sungguh penasaran dan tak berharga sama sekali."
Kim Tie tertawa.
"Tak berharga memang benar," ujarnya, "Namun
belum tentu penasaran."
"Oh?"
"Mayat itu telah hilang, seharusnya mereka
memberitahukan secara jujur," lanjut Kim Tie. "Tidak pantas
berunding secara diam-diam untuk berdusta, itu pertanda mereka tidak
setia terhadap kami. Orang yang tidak setia, tentunya harus dihukum
mati. Mengerti, engkau?"
"Hamba….. hamba mengerti." Orang berbaju
hitam pendek mengangguk dengan badan menggigil. Untung pada waktu
itu ia mengucapkan begitu, kalau tidak, nyawanya pasti sudah
melayang. "Mereka berdua memang tidak mati penasaran."
"Baiklah. Di sini sudah tiada urusanmu lagi.
Engkau boleh mengambil tanda pengenal mereka, lalu pulang dan suruh
anak buahmu ke mari untuk mengubur mayat mereka berdua itu," ujar
Kim Tie sambil mengibaskan tangannya.
"Hamba turut perintah." Orang berbaju hitam
memberi hormat, lalu segera mendekati dua sosok mayat itu untuk
mengambil tanda pengenal mereka. Setelah itu, barulah ia pergi
sambil menarik nafas lega.
(Bersambung bagian 20)
Bagian ke 20: Orang Tua Gunung Salju
Setelah orang berbaju hitam pendek itu
pergi, di rimba itu masih berdiri dua orang, yakni Kim Gan Siang
Tie. Ternyata mereka berdua belum meninggalkan tempat itu.
"Mengenai urusan ini, bagaimana menurut
pendapatmu?" tanya Kim Tie.
"Shia coh hanya menduga…..."
"Menduga apa?"
"Cuma ada satu kemungkinan."
"Kemungkinan apa?"
"Dibawa pergi oleh orang lain."
"Oh?" Kim Tie tertawa. "Untuk apa orang
tersebut membawa pergi mayat itu?"
"Ini merupakan persoalan yang sulit
dipecahkan," jawab Gin Tie. "Akan tetapi......"
"Kenapa?"
"Mungkin bocah itu bernasib mujur. Walau
sudah terpukul dan tertusuk pedang namun dia tidak mati."
"Ng!" Kim Tie manggut-manggut. "Itu memang
masuk akal, kemudian diketahui orang, maka dia ditolong."
"Maksud sang coh setelah Keng Tay Cun dan
teman-temannya pergi, orang itu pun keluar dari tempat
persembunyian, lalu menggali sekaligus membawa pergi bocah itu?"
"Benar." Kim Tie mengangguk. "Orang itu tahu
bocah tersebut belum putus nyawanya, maka menolongnya. Kalau tidak,
untuk apa membawa pergi sosok mayat?"
"Kini mayat itu telah hilang, tidak bisa
diselidiki asal-usulnya lagi. Bagaimana sang coh?"
"Engkau ingin bertanya padaku tentang apa
yang kucurigakan itu?" Gin Tie tersenyum sambil menatapnya.
"Ya." Gin Tie mengangguk.
"Tahukah engkau, siapa yang sedang kita
kejar itu?" tanya Kim Tie mendadak.
"Sang coh bercuriga bahwa dia adalah anjing
kecil itu?" Gin Tie tersentak.
"Ng!" Kim Tie mengangguk. "Seharusnya engkau
sudah menduga ke situ. Dalam tiga bulan ini, anjing kecil itu tiada
jejak dan kabar beritanya, apakah dia bisa menyusup ke dalam bumi?"
Semakin mendengar, padri yang bersembunyi di
belakang pohon itu pun semakin mengerti, bahwa mereka berdua itu Kim
Gan Siang Tie namun tidak jelas mereka berdua itu raja apa?
Selain itu, padri tersebut pun tidak tahu
siapa yang mereka maksud anjing kecil itu.
"Kalau begitu, kini kita harus bagaimana?"
tanya Gin Tie.
"Kita cuma menduga-duga saja," jawab Kim
Tie. "Betul atau tidak kita belum bisa memastikannya, maka sebaiknya
kita pulang dulu untuk berunding. Ayoh, mari kita pulang!"
Tampak dua sosok bayangan berkelebat pergi,
begitu cepat bagaikan kilat. Sehingga sungguh mengejutkan padri yang
bersembunyi di belakang pohon.
"Sungguh tinggi ginkang mereka….." gumamnya,
lalu berdiri lurus. Namun mendadak ia mendengar suara yang amat
kecil mendengung di dalam telinganya.
"Hweshio kecil! Kau tidak usah bersembunyi
lagi! Orang-orang yang mau mengubur kedua mayat itu telah datang!
Tiga li dari sini menuju selatan, di sana terdapat sebuah vihara, lo
hu (aku orang tua) menunggumu di sana."
"Sicu ko jin (orang berkepandaian tinggi)
dari mana?" tanya padri berusia pertengahan itu. Ia juga menggunakan
ilmu menyampai suara.
"Lo hu bukan orang tinggi, melainkan orang
pendek. Hweshio kecil, kalau engkau tidak berani ke vihara itu ya
sudahlah!"
"Kalau begitu, sicu jalan duluan, aku pasti
segera menyusul ke sana."
"Baiklah. Tapi engkau harus cepat menyusul
ke sana! Kalau lo hu tunggu lama, engkau akan tahu rasa."
Tak lama tampak sosok bayangan berkelebat
bagaikan segulung asap menuju selatan.
Bukan main terkejutnya padri itu. Sepasang
matanya terbelalak ketika menyaksikan ginkang yang begitu tinggi.
Siapa padri itu? Ternyata murid kepala
ciangbun jin Gobi pay Seng Khong Taysu, yang dipanggil Goan Siu
hweshio. Dia diutus untuk mencari Hek Siau Liong.
Ketika menyaksikan ginkang yang begitu luar
biasa, dia terkejut sekali. Namun dia murid kepala ciangbun jin Gobi
pay, tentu tidak mau mempermalukan gurunya. Ia segera mengembangkan
ginkangnya menuju vihara tersebut.
Dalam waktu sekejap perjalanan padri itu
sudah mencapai tiga li. Di sisi sebuah pohon rindang, terdapat
sebuah vihara yang sudah tua. Tampak seorang tua renta duduk di
dekat pintu vihara itu. Orang itu berusia delapan puluhan, rambut
dan jenggotnya sudah memutih semua.
Orang tua renta itu duduk bersila dengan
mata terpejam, persis padri tua sedang bersemedi.
Goan Siu hweshio berdiri tak jauh, dari
tempat itu, sepasang matanya menatap orang tua renta itu dengan
penuh perhatian.
"Mungkinkah orang tua itu?" tanya Goan Siu
hweshio dalam hati, ia tampak ragu.
Mendadak orang tua renta itu membuka
matanya, mengarah pada Goan Siu hweshio dengan menyorot tajam.
"Hweshio kecil, engkau sudah sampai di sini
tapi kenapa berdiri begitu jauh? Merasa takut ya?" tegur orang tua
renta itu.
"Lo sicu (orang tua), kalau siau ceng (aku
padri kecil) takut, tentunya tidak akan ke mari," sahut Goan Siu
hweshio.
Orang tua renta itu tersenyum lembut.
"Kalau tidak takut, duduklah di sini untuk
mengobrol!" ujarnya.
Goan Siu hweshio ragu sejenak, kemudian
mendekati orang tua renta itu, lalu duduk bersila sekaligus
merapatkan sepasang telapak tangannya di dada.
"Lo sicu, mohon tanya ada petunjuk apa?"
tanya Goan Siu hweshio.
Orang tua renta itu tidak segera menjawab,
melainkan tersenyum sambil balik bertanya.
"Hweshio kecil, siapa namamu?"
"Siau ceng bernama Goan Siu."
"Engkau murid Siauw Lim atau murid Gobi?"
"Siau ceng murid Gobi. Mohon tanya siapa lo
sicu?"
"Wuah!" Orang tua renta tertawa. "Lo hu
sudah lupa nama sendiri, engkau tidak perlu bertanya!"
"Lo sicu…..."
"Hweshio kecil, lo hu ingin bertanya,
sudikah engkau menjawab?" Orang tua renta menatapnya tajam.
"Lo sicu mau bertanya apa?"
"Dengar-dengar para partai besar sedang
berusaha mencari Hek Siau Liong. Benarkah itu?"
Goan Siu hweshio mengangguk.
"Benar."
"Mengapa kalian berusaha mencarinya?"
"Itu karena partai Kay Pang menyebarkan bu
lim tiap pada berbagai partai besar lainnya untuk mohon bantuan
mencari Hek Siau Liong. Itu disebabkan apa, siau ceng tidak
mengetahuinya."
Orang tua renta itu tampak tertegun,
kemudian sepasang matanya menyorot tajam dan dingin.
"Apa?! Engkau bilang pihak Kay Pang yang
menyebarkan bu lim tiap?"
"Betul." Goan Siu hweshio mengangguk, dan
merasa terkejut akan sorotan yang tajam dan dingin itu.
Mendadak orang tua renta itu
menggeleng-gelengkan kepala.
"Pengemis cilik Sang sungguh ceroboh, harus
dipukul pantatnya!"
Goan Siu hweshio tersentak, sebab yang
dimaksudkan pengemis cilik Sang adalah Kay Pang Pangcu (Ketua Kay
Pang) masa kini. Usianya sudah lima puluhan, tapi orang tua renta
ini menyebutnya pengemis cilik dan menambahkan harus dipukul
pantatnya. Orang tua renta berani mengatakan begitu, sebetulnya
siapa orang tua renta itu? Goan Siu hweshio tidak habis berpikir.
"Hweshio kecil, sungguhkah engkau tidak tahu
sebab musababnya?" tanya orang tua renta itu lagi.
"Siau ceng sungguh tidak tahu."
"Benarkah?"
"Siau ceng adalah pengikut Budha, bagaimana
mungkin siau ceng berani berdusta?"
"Oh? Ha ha ha!" Orang tua renta tertawa
gelak. "Berapa banyak hweshio yang berdusta, diam-diam makan daging
dan main perempuan."
"Omitohud! Semoga Sang Budha mengampuni lo
sicu." ucap Goan Siu hweshio sambil merapatan sepasang tangannya di
dada.
"Jangan menyebut Omitohud kalau hati tidak
bersih!" ujar orang tua renta dan tertawa gelak lagi, kemudian
menambahkan, "Kalau Seng Khong tahu engkau berani berkata demikian
pada lo hu kepalamu yang gundul itu pasti diketok."
"Lo sicu…..." Goan Siu hweshio terbelalak.
"Sudahlah hweshio kecil, engkau tidak tahu
sebab musabab itu tidak apa-apa, lo hu percaya engkau tidak bohong,"
ujar orang tua renta itu. "Kini Hek Siau Liong itu telah mati,
kalian tidak perlu mencarinya lagi."
"Apa yang dikatakan lo sicu memang benar.
Tapi menurut siau ceng, urusan itu perlu diselidiki."
"Mengapa?"
"Lo sicu, tentunya lo sicu mendengar
pemicaraan orang yang berbaju kuning emas dan putih perak itu, kan?"
"Tidak salah. Engkau pun sudah dengar. Nah,
bagaimana menurut pendapatmu, hweshio kecil?"
"Menurut siau ceng memang masuk akal dia
telah ditolong orang."
"Benar, hweshio kecil." Orang tua renta
mangut-manggut. "Kalau begitu, kenapa tadi engkau bilang masalah itu
harus diselidiki?"
"Karena…..." Goan Siu hweshio menatapnya.
"Lo sicu, itu adalah urusan Kay Pang."
"Lo hu paham." Orang tua renta
manggut-manggut. "Maksudmu lo hu jangan turut campur kan?"
"Siau ceng tidak bermaksud begitu, itu
memang urusan Kay Pang."
"Tidak salah." Orang tua renta tersenyum.
"Itu memang urusan pengemis kecil Sang, tapi asal lo hu berkata
padanya, dia pasti tidak berani membantah. Tapi….. lo hu masih ada
urusan lain, tidak bisa pergi menemuinya…..."
"Lo sicu......" Goan Siu hweshio tercengang.
"Hweshio kecil, bersediakah engkau mewakili
lo hu menyampaikan pesan pada pengemis kecil itu?"
"Maksud lo sicu?"
"Suruh dia segera memberitahukan pada partai
besar lainnya, tidak usah mencari Hek Siau Liong lagi!"
"Lo sicu…..."
"Engkau tidak mau membantu lo hu?"
"Siau ceng mau membantu, tapi….. bagaimana
mungkin Sang Pangcu akan menuruti pesan ini?"
"Oooh!" Orang tua renta tersenyum. "Kalau
cuma pesan dengan mulut, tentunya pengemis kecil itu tidak mau
menurut. Tapi lo hu akan memberimu suatu barang, serahkan padanya!
Setelah dia melihat barang tersebut, dia pasti menurut."
Hati Goan Siu hweshio tergerak.
"Itu barang kepercayaan lo sicu?"
"Hweshio kecil," ujar orang tua renta sambil
tertawa. "Jangan banyak bertanya! Setelah engkau bertemu pengemis
kecil itu, dia akan memberitahukan padamu siapa lo hu."
"Oooh!" Goan Siu hweshio manggut-manggut.
Orang tua renta mengeluarkan sebuah kantong
kecil yang terbuat dari semacam kain warna merah, lalu diberikan
pada Goan Siu hweshio dengan wajah serius.
"Simpan baik-baik barang ini, jangan sampai
hilang!" pesannya, "Dan juga engkau tidak boleh melihat isinya!"
"Ya." Goan Siu hweshio mengangguk sambil
menerima barang tersebut. "Siau ceng tidak berani melanggar pesan lo
sicu."
"Bagus." Wajah orang tua renta berseri. "Lo
hu minta bantuanmu, tentunya tidak secara cuma-cuma."
"Maksud lo sicu?"
"Kini lo hu akan mengajarmu tiga jurus
tangan kosong, tapi cuma mengajar satu kali saja. Engkau bisa ingat
berapa bagian, itu adalah urusanmu."
"Lo sicu…..."
"Hweshio kecil, lihat baik-baik!" ujar orang
tua renta sambil menggerak-gerakkan sepasang tangannya.
Goan Siu hweshio melihat dengan penuh
perhatian, jurus tangan kosong itu tampak sederhana, namun justru
sangat aneh.
Berselang beberapa saat kemudian, orang tua
renta itu menghentikan gerakannya.
"Hweshio kecil, engkau sudah ingat?"
tanyanya sambil menatapnya tajam.
Goan Siu hweshio merapatkan sepasang telapak
tangannya di dada.
"Siau ceng sungguh bodoh, cuma ingat enam
bagian." jawabnya dengan hormat.
"Ha ha ha!" Orang tua renta tertawa gelak.
"Engkau bisa ingat enam bagian, itu sudah bagus. Bahkan engkau pun
harus merasa puas, karena kalau engkau bertemu salah seorang Cit Khi
(Tujuh Orang Aneh) atau Pat Hiong (Delapan Orang Buas) itu, engkau
tidak akan kalah melawan salah seorang itu dengan tiga jurus tangan
kosong yang baru kau pelajari itu."
Goan Siu hweshio merasa girang sekali, namun
wajahnya tampak ragu.
Menyaksikan itu, orang tua renta tertawa
gelak.
"Engkau tidak percaya, hweshio kecil?"
tanyanya.
Seketika juga wajah Goan Siu hweshio
kemerah-merahan. Ia tidak menyahut melainkan cuma merapatkan
sepasang telapak tangannya di dada.
"Engkau tidak percaya tidak apa-apa. Tapi
kelak engkau akan tahu bagaimana keampuhan tiga jurus tangan kosong
itu."
"Lo sicu......"
"Baiklah. Lo hu masih ada urusan lain, kita
berpisah di sini saja," ujar orang tua renta, lalu mendadak
berkelebat pergi dalam keadaan duduk bersila.
Betapa terkejutnya Goan Siu hweshio, sebab
gurunya belum mampu berbuat begitu. Maka dapat dibayangkan betapa
tingginya kepandaian orang tua renta itu. Siapa sebenarnya orang tua
renta tersebut? Goan Siu hweshio sama sekali tidak dapat menerkanya.
-- o --
Setengah bulan telah berlalu, namun para
murid partai besar masih terus mencari jejak Hek Siau Liong.
Tentunya para murid partai besar itu telah mengetahui tentang Hek
Siau Liong yang ditolong oleh seseorang.
Mengapa para murid partai besar masih terus
mencari Hek Siau Liong? Apakah Goan Siu hweshio tidak pergi menemui
Kay Pang Pangcu menyerahkan barang orang tua renta dan menyampaikan
pesannya itu?
Padahal sesungguhnya, Goan Siu hweshio telah
melaksanakan itu dengan baik, sedangkan Kay Pang Pangcu pun sudah
tahu siapa orang tua renta itu.
Orang tua renta itu, ternyata Swat San Lo
Jin (Orang tua Gunung Swat San) yang pernah menggetarkan bu lim enam
puluhan tahun yang lalu.
Kalau begitu, Kay Pang Pangcu telah
mengabaikan pesan Swat San Lo Jin tidak memberi kabar pada partai
besar lainnya agar berhenti mencari Hek Siau Liong? Kay Pang Pangcu
Sang Hun Hun begitu berani tidak menurut pada pesan Swat San Lo Jin,
sungguh besar nyalinya. Apakah dia tidak takut akan membuat gusar bu
lim lo cianpwe (orang tua tingkat tinggi rimba persilatan) itu?
Tentunya Kay Pang Pangcu itu tidak berani.
Akan tetapi dalam hal tersebut, terdapat suatu sebab. Kalau tidak,
bagaimana mungkin Kay Pang Pangcu berani mengabaikan amanat bu lim
lo cianpwe itu?
Kenapa Kay Pang Pangcu Sang Hun Hun begitu
berani? Siapa pun tidak mengetahuinya. termasuk Swat San Lo Jin
sendiri kecuali para Ciangbun Jin partai besar itu. Kalau begitu,
asal-usul Hek Siau Liong memang luar biasa sekali.
-- o --
PANJI SAKTI (JIT GOAT SENG SIM KI)
(Panji Hati Suci Matahari Bulan)
Karya: Khu Lung
Bagian ke 21: Banjir Darah Di Rumah Mahan
Empat Lautan
Hek Siau Liong menghilang mendadak, itu
sungguh mencemaskan Se Pit Han yang baru dikenal itu.
Demi Hek Siau Liong, Se Pit Han pun telah
bersumpah dalam hati, harus dapat mencarinya. Kalau tidak, ia pun
tidak segan-segan membunuh agar darah membanjiri kang ouw.
Kenapa Se Pit Han bersumpah begitu? Karena
kemungkinan besar Hek Siau Liong adalah putra tunggal bibinya
berarti mereka berdua adalah kakak beradik misan, juga termasuk
teman baik pula.
Hek Siau Liong yang begitu tampan, berhati
bajik dan berbudi luhur, itu semua telah terukir dalam benak Se Pit
Han bahkan bayangan Hek Siau Liong sering muncul di pelupuk matanya,
membuatnya tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur…...
Kalau Se Khi tidak sering menasehati
sekaligus menghiburnya, ketika Hek Siau Liong kehilangan jejak,
mungkin Se Pit Han sudah mulai membunuh, terutama di rumah makan
Empat Lautan di kota Ling Ni. Sebab anggapan Se Pit Han, biang
keladinya adalah Toan Beng Thong, pemilik rumah makan tersebut.
Sejak Hek Siau Liong menghilang, sejak itu
pula wajah Se Pit Han tidak pernah senyum, selalu bermuram durja dan
menunggu kabar berita Hek Siau Liong dengan tidak tenang. Oleh
karena itu, badan Se Pit Han kian hari kian bertambah kurus, itu
sungguh mencemaskan Se Khi.
Lewat setengah bulan kemudian, sudah ada
kabar berita tentang Hek Siau Liong. Ia nyaris mati terbunuh di
pinggir kota Pin Hong, untung tertolong oleh seseorang yang
berkepandaian tinggi. Namun karena tidak tahu siapa orang yang
berkepandaian tinggi itu, maka juga tidak bisa tahu Hek Siau Liong
berada di mana.
Siapa yang menyampaikan kabar berita
tersebut pada Se Pit Han? Ternyata Se Khi.
Setelah memperoleh kabar berita itu, Se Pit
Han pun tampak agak tenang. Wajah pun tidak begitu murung lagi,
bahkan kadang-kadang berseri pula.
Dengan adanya kabar berita tersebut, Se Pit
Han pun terus menginap di rumah penginapan Ko Lung di dalam kota
Siang Yang untuk menunggu kabar berita selanjutnya.
Tak terasa sudah lewat setengah bulan lagi.
Dalam waktu setengah bulan itu, tiada kabar berita Hek Siau Liong
sama sekali. Itu membuat Se Pit Han mulai cemas, wajahnya pun mulai
murung dan tidak pernah senyum lagi. Sedangkan air muka Se Khi pun
bertambah serius, keningnya sering berkerut-kerut seakan tercekam
suatu perasaan.
Bagaimana dengan Pat Kiam dan Siang Wie yang
selalu mengikuti Se Pit Han?
Mereka pun tampak cemas dengan wajah murung,
tidak pernah senyum lagi dan kening pun sering berkerut seperti
kening Se Khi.
Nah! Apa yang akan terjadi selanjutnya.....?
-- o --
Mendadak….. bu lim telah dikejutkan oleh
suatu kejadian yang sangat menggemparkan. Kejadian apa yang telah
mengejutkan seluruh bu lim.
Ternyata telah terjadi banjir darah di rumah
makan Empat Lautan di kota Ling Ni. Para pelayan dan lainnya
terbunuh semua di halaman belakang rumah makan tersebut, tiada
seorang pun yang dapat meloloskan diri.
Siapa pembunuh itu, tiada seorang pun yang
tahu. Akan tetapi, ditembok halaman belakang rumah makan itu
terdapat sebaris tulisan dengan darah berbunyi demikian.
Ini sebagian kecil pembalasan demi nyawa Hek
Siau Liong.
Di sisi tulisan itu terdapat sebuah gambar
bunga mawar yang juga dilukis dengan darah.
Siapa yang melihat, pasti menduga itu
tulisan si pembunuh yang memakai lambang bunga mawar.
Dalam rimba persilatan, siapa yang
menggunakan bunga mawar sebagai lambang? Kebanyakan telah tidak
ingat lagi. Bagi yang masih ingat, mereka pun tidak berani
mengatakannya, apa lagi memperbincangkannya.
Kabar berita tentang kejadian itu, juga
telah sampai di telinga Kay Pang Pangcu dan para ciang bun jin
partai besar lainnya. Mereka mengerti apa yang telah terjadi, bahkan
juga tahu siapa pemilik lambang tersebut. Namun mereka hanya
menggeleng-gelengkan kepala dan menarik nafas panjang, sama sekali
tidak mau membicarakannya, juga melarang para murid mereka
membicarakan masalah lambang bunga mawar tersebut, yang membicarakan
pasti dihukum berat.
Semalam sebelum kejadian banjir darah itu,
Se Pit Han justru telah menghilang entah ke mana.
Betapa terkejutnya Se Khi, Pat Kiam dan
Siang Wie. Mereka sangat gugup dan panik, berpencar berusaha mencari
Se Pit Han. Akan tetapi, tiada jejak Se Pit Han sama sekali.
Setelah kejadian banjir darah di rumah makan
Empat Lautan, mereka pun mengerti dan langsung berangkat ke Kota
Ling Ni. Salah seorang Pat Kiam tetap tinggal di penginapan di kota
Siang Yang sebagai penghubung.
Begitu sampai di kota Ling Ni, mereka pun
mulai mencari Se Pit Han, namun tiada jejaknya sama sekali, mungkin
sudah meninggalkan Kota Ling Ni.
Bagaimana mereka bisa tahu? Sesungguhnya Se
Pit Han tidak menginap di dalam kota itu. Malam itu terjadi banjir
darah di rumah makan Empat Lautan, malam itu juga Se Pit Han
meninggalkan kota tersebut. Maka mereka berselisih jalan dengan Se
Pit Han.
Se Khi, Cit Kiam dan Siang Wie tiba di Kota
Ling Ni sudah hari keempat setelah kejadian banjir darah tersebut.
Maka mereka pun menduga tidak mungkin Se Pit Han masih berada di
dalam kota itu, namun tetap berharap bisa bertemu Se Pit Han. Oleh
karena itu mereka masih berusaha mencarinya.
Benarkah Se Pit Han telah meninggalkan Kota
Ling Ni? Se Khi menduga benar, tapi ternyata tidak.
Se Pit Han masih tetap berada di dalam Kota
Ling Ni, tujuannya mengawasi rumah makan Empat Lautan itu. Siapa
yang akan ke sana dan siapa pula yang menggantikan Toan Beng Thong.
Dalam hatinya telah memutuskan, siapa yang
ke sana dan siapa yang menggantikan Toan Beng Thong, harus dibunuh
pula, itu agar orang yang di latar belakang memunculkan diri.
Semua ini, tentunya di luar dugaan Se Khi,
bagaimana mungkin ia akan menduga Se Pit Han mengambil keputusan
demikian?
-- o --
Se Khi dan lainnya tidak menemukan Se Pit
Han di Kota Ling Ni, maka mereka menerka Se Pit Han telah kembali ke
kota Siang Yang. Oleh karena itu, Se Khi mengajak Cit Kiam dan Siang
Wie kembali ke Kota Siang Yang.
Akan tetapi, Se Pit Han justru tidak kembali
ke kota itu. Sebetulnya Se Pit Han pergi ke mana? Persoalan ini
membuat Se Khi, Pat Kiam dan Siang Wie tidak habis berpikir dan
cemas.
Mereka tahu jelas Se Pit Han memiliki
kepandaian tinggi, namun baru pertama kali berkelana, tentunya belum
berpengalaman dalam rimba persilatan. Karena itu, Se Khi, Pat Kiam
dan Siang Wie sangat mencemaskannya.
Banyak kelicikan dalam rimba persilatan,
serangan gelap sulit dijaga, itu yang dikuatirkan Se Khi.
Karena gugup dan panik, membuat Se Khi
selalu salah tingkah. Bagaimana dengan Pat Kiam dan Siang Wie? Mata
mereka pun telah merah lantaran sering mengucurkan air mata. Wajah
mereka murung dan sering menarik nafas panjang.
Se Kiam Hong memang berotak cerdas. Walau
gugup ia masih bisa berlaku tenang. Ketika mereka duduk di dalam
kamar rumah penginapan Ko Lung di Kota Siang Yang, Se Kiam Hong
memandang Se Khi seraya berkata.
"Se lo (se tua), urusan sudah menjadi
begini, percuma kita terus menerus tercekam rasa gugup dan panik.
Kini kita harus bagaimana, lo jin keh harus mengambil keputusan.
Tidak bisa terus menerus begini."
Se Khi menatapnya. Kiam Hong mengatakan
begitu, tentunya telah memikirkan sesuatu. Kalau tidak, ia tidak
akan sembarangan membuka mulut.
"Kiam Hong, yang paling cerdik di antara Pat
Kiam adalah engkau. Menurut pendapatmu kita harus bagaimana?" tanya
Se Khi.
Kiam Hong tersenyum.
"Terimakasih atas pujian lo jin keh!" ujar
Kiam Hong dan melanjutkan, "Menurut Kiam Hong, harus ada salah satu
di antara kita pulang untuk melapor pada Kiong cu dan hujin.
Mengenai jejak Siau Kiong cu kita harus berpencar untuk mencarinya.
Partai Kay Pang punya murid yang tak terhitung banyaknya. Kita harus
minta bantuan kepada Kay Pang. Bagaimana menurut lo jin keh?"
Se Khi manggut-manggut, kemudian mengarah
pada Huai Hong.
"Engkau punya pendapat lain?" tanya Se Khi.
Huai Hong berpikir sejenak, lalu
menggelengkan kepala.
"Huai Hong tidak punya pendapat lain. Apa
yang dikatakan Kiam Hong, itu merupakan petunjuk bagi kita semua."
katanya.
"Ngmm!" Se Khi manggut-manggut.
Maka lo ngo (saudara kelima) yaitu Yang Hong
di suruh pulang ke Lam Hai, sedangkan Se Khi, Pat Kiam dan Siang Wie
berjumlah sepuluh orang dibagi menjadi dua regu. Mereka berpencar
mencari Se Pit Han, bahkan juga minta bantuan pada partai Kay Pang.
Kiam Hong dan lo sam (saudara ketiga) yaitu
Ih Hong menjadi satu regu. Ketika mau berangkat, mendadak Kiam Hong
berkata pada Giok Cing, salah seorang dari Siang Wie.
"Cici (Kakak perempuan) Cing, di pinggir
kota terdapat sebuah vihara tua, harap cici dan Ling moi menyusul
kami di sana! Siaute akan menunggu kalian di vihara itu."
Heran? Kenapa Kiam Hong memanggil Giong Cing
cici? Apakah Giong Cing adalah anak perempuan? Kalau bukan, kenapa
Kiam Hong memanggilnya cici?
"Baiklah. Aku dan Ling moi pasti segera
menyusul ke sana," sahut Giok Cing sambil tersenyum.
-- o --
Lima li sebelah utara Kota Siang Yang
terdapat sebuah vihara tua. Tampak dua orang berdiri di depan vihara
itu. Pada pinggang mereka bergantung sebilah pedang. Mereka berdua
adalah Ih Hong dan Kiam Hong.
"Pat te, (Adik kedelapan), kenapa kita
datang di tempat ini?" tanya Ih Hong heran.
"Menunggu orang," jawab Kiam Hong singkat.
"Oh?" Ih Hong bertambah heran. "Menunggu
siapa?"
Kiam Hong tersenyum, dan memandang Ih Hong
seraya berkata.
"Sam Ko (kakak ketiga) jangan bertanya.
Setelah mereka datang, sam ko akan mengetahuinya."
Ih Hong manggut-manggut. Ia tidak banyak
bertanya lagi, karena tahu sifat Kiam Hong. Ia tidak mau
memberitahukan, percuma Ih Hong bertanya lagi, tetap tidak akan
dijawab.
Berselang beberapa saat kemudian, muncullah
Giok Cing dan Giong Ling, sepasang pengawal.
"Pat te," Giong Cing menatapnya. "Ada suatu
penting?"
"Cici Cing dan Ling Moi sudah memikirkan
tempat yang akan dituju?"
"Belum." Giong Cing menggelengkan kepala.
"Menurut pat te kami harus menuju ke mana?"
"Cici Cing dan Ling Moi sudi mendengar
petunjuk siau te?" tanya Kiam Hong sambil tersenyum.
"Bagaimana petunjukmu itu?" Giok Cing
menatapnya.
"Menurut siaute alangkah baiknya Cici Cing
dan Ling Moi berangkat bersama kami."
"Berangkat bersama kalian bisa menemukan
siau kiong cu?" tanya Giok Ling.
"Siaute tidak berani mengatakan pasti,
namun….." Kiam Hong tersenyum. "Mungkin bisa menemukan siau kiong
cu."
"Oh?" Giok Cing tercengang. "Pat te telah
menduga siau kiong cu berada di mana?"
"Ya." Kiam Hong mengangguk.
"Di mana?" tanya Giok Cing cepat.
"Di Kota Ling Ni."
"Apa?!" Giok Cing dan Giok Ling tertegun,
kemudian Giok Cing bertanya dengan mata terbelalak. "Pat te menduga
siau kiong cu masih berada di kota Ling Ni?"
"Ya." Kiam Hong mengangguk. "Kalau dugaan
siaute tidak meleset, siau kong cu pasti bersembunyi di tempat
rahasia di Kota Ling Ni, belum meninggalkan kota itu."
"Oh?" Giok Cing termangu, kemudian bertanya,
"Berdasarkan alasan apa pat te menduga begitu?"
"Tentunya siaute punya alasan yang kuat."
Kiam Hong serius. "Tapi alangkah baiknya cici Cing jangan bertanya."
"Eh?" Giok Cing menarik nafas. "Maksud Pat
te rahasia tidak boleh dibocorkan?"
"Maaf cici Cing, memang begitu," sahut Kiam
Hong. "Bagaimana cici Cing mau berangkat bersama kami?"
Giok Cing tidak segera menjawab, melainkan
memandang Giok Ling seraya bertanya, "Bagaimana menurutmu, Ling
Moi?"
"Kiam Hong sangat cerdik, maka siau moi
menurut saja," jawab Giok Ling sambil tersenyum.
"Kalau begitu….." Giok Cing mengarah pada
Kiam Hong. "Baiklah, kami ikut kalian."
"Tapi….." Kiam Hong tersenyum.
"Lho?" Giok Cing bingung. "Ada apa lagi?"
"Sebelumnya siaute harus menegaskan. Setelah
kita sampai di kota Ling Ni, cici Cing dan Ling moi harus menurut
apa yang siaute atur. Lagi pula kita pun harus merubah wajah dan
dandanan."
"Pat te boleh berlega hati, kami pasti
menurut apa yang Pat te atur itu," ujar Giok Cing dan menambahkan.
"Asal bisa menemukan siau kiong cu, itu yang terpenting."
"Kalau begitu, mari kita berangkat!" ujar
Kiam Hong. "Setelah mendekat Kota Ling Ni, barulah kita merubah
wajah….."
Berita kejadian banjir darah di rumah makan
Empat Lautan di Kota Ling Ni tersebut sungguh cepat tersiar sampai
ke segala pelosok bu lim sekaligus menggemparkan pula.
Itu sudah pasti, sebab orang-orang yang
terbunuh itu, delapan di antaranya merupakan bu lim ko ciu masa
kini. Mereka adalah Toan Beng Thong, Thai Hang Ngo Sat, Bun Fang
lima bersaudara, Cioh Bin Thai Sueh Teng Eng Cong dan Thian Ciang
Khay San Yu Ceng Yong. Terbunuhnya delapan orang tersebut, memang
sangat mengejutkan kang ouw.
-- o --
Bagian ke 22: Vihara Tay Siang Kok
Berita tentang banjir darah di rumah makan
Empat Lautan itu, juga masuk ke telinga Swat San Lo Jin. Orang tua
renta itu berada di vihara Tay Siang Kok di Kota Kay Hong.
Betapa terkejutnya Swat San Lo Jin ketika
mendengar berita itu. Yang mengejutkan bukan terbunuhnya orang-orang
hek to tersebut, melainkan lambang bunga mawar itu.
Lambang bunga mawar itu membuatnya teringat
akan seorang aneh seratusan tahun yang lampau, yakni Mei Kuei Ling
Cu (Pemilik lambang Mawar Maut) itu. Lambang mawar maut sudah
seratusan tahun tidak pernah muncul dalam kang ouw, tentunya
pemiliknya telah meninggal.
Akan tetapi, kini mendadak muncul lagi dalam
kang ouw. Itu dapat dipastikan adalah pewarisnya.
Partai Kay Pang berani menyebarkan bu lim
tiap pada berbagai partai besar lainnya untuk minta bantuan mencari
Hek Siau Liong, itu tentunya berkaitan dengan pemilik lambang mawar
maut tersebut.
Lalu apa hubungan Mei Kuei Ling Cu dengan
Hek Siau Liong? Untuk mengetahui hal tersebut, harus bertanya pada
Hek Siau Liong pula.
Mau bertanya pada Hek Siau Liong, memang
tidak sulit, karena Hek Siau Liong berada di ruang belakang vihara
Tay Siang Kok ini. Ia sedang bersemadi melatih lwee kang yang
diajarkan Swat San Lo Jin.
Ternyata orang yang menolong Hek Siau Liong,
tidak lain adalah Swat San Lo Jin. Orang tua renta itu membawa Hek
Siau Liong ke vihara Tay Siang Kok yang sepi itu untuk diobati
lukanya.
Setengah bulan kemudian, luka Hek Siau Liong
telah sembuh, lalu mengangkat Swat San Lo Jin menjadi gurunya.
Siapa yang menyampaikan berita tentang
banjir darah di rumah makan Empat Lautan kepada Swat San Lo Jin?
Ternyata Hui Keh Taysu, ketua Vihara Tay Siang Kok itu.
Setelah mendengar berita tersebut, Swat San
Lo Jin segera ke ruang belakang menemui Hek Siau Liong.
"Liong Ji (Nak Liong), ada hubungan apa
engkau dengan Mei Kuei Ling Cu ?" tanyanya.
"Suhu!" Hek Siau Liong tampak tertegun.
"Siapa Mei Kuei Ling Cu?"
"Eh?" Swat San Lo Jin bingung. "Sungguhkah
engkau tidak tahu siapa Mei Kuei Ling Cu?"
"Suhu, Liong Ji tidak berani bohong, Liong
Ji sungguh tidak tahu, lagi pula tidak pernah dengar."
Swat San Lo Jin menatapnya dalam-dalam.
Orang tua renta itu tahu Hek Siau Liong tidak berdusta.
"Kalau begitu, itu sungguh mengherankan,"
gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Suhu." Hek Siau Liong terbelalak. "Apa yang
mengherankan? Bolehkah Suhu memberitahukan pada Liong Ji?"
Swat San Lo Jin tampak berpikir, lama sekali
barulah membuka mulut memberitahukan.
"Liong Ji, Mei Kuei Ling Cu itu menganggapmu
telah terbunuh, maka dia membunuh semua orang hek to di rumah makan
Empat Lautan. Bahkan juga meninggalkan sebaris tulisan di tembok
halaman belakang rumah makan itu."
"Suhu, bagaimana bunyi tulisan itu?"
"Tulisan itu berbunyi demikian. Ini sebagian
kecil pembalasan demi nyawa Hek Siau Liong."
"Oh?" Hek Siau Liong mengerutkan alisnya.
"Suhu tahu siapa pemilik rumah makan itu?"
"Siapa pemilik sesungguhnya, Suhu tidak
tahu. Namun Suhu tahu siapa penanggung jawabnya, yakni Toan Beng
Thong."
"Oh?"
"Liong Ji!" Swat San Lo Jin menatapnya.
"Engkau kenal Toan Beng Thong?"
"Suhu!" Hek Siau Liong menggelengkan kepala.
"Liong Ji tidak kenal, lagi pula dia tidak punya dendam apa pun
dengan Liong Ji."
"Kalau begitu, bagaimana dengan Thai Hang
Ngo Sat, Cioh Bin Thai Sueh Teng Eng Cong dan Thiat Ciang Khay San
Yu Ceng Yong, engkau kenal mereka?"
Hek Siau Liong menggelengkan kepala lagi.
"Liong Ji sama sekali tidak kenal mereka."
"Oh?" Swat San Lo Jin bertambah bingung.
"Guru, sebetulnya siapa Mei Kuei Ling Cu
itu? Kenapa Suhu masih belum memberitahukan pada Liong Ji."
"Liong Ji….." Swat San Lo Jin menggelengkan
kepala. "Siapa Mei Kuei Ling Cu itu, suhu pun tidak tahu."
"Dia sangat misteri, tapi bu kangnya sangat
tinggi sekali kan?" tanya Hek Siau Liong dengan mata berbinar-binar.
"Benar," Swat San Lo Jin manggut-manggut.
"Mei Kuei Ling Cu adalah pendekar aneh seratusan tahun yang lampau,
tiada seorang pun yang mampu menandinginya. Namun sudah hampir
seratusan tahun tidak pernah muncul dalam rimba persilatan, yang
muncul kini tentu pewarisnya."
"Oh!" Hek Siau Liong tampak tercenung.
Ia terus berpikir. Semakin berpikir ia malah
semakin tidak mengerti. Siapa Mei Kuei Ling Cu itu? Kenapa membunuh
orang-orang hek to di rumah makan Empat Lautan? Padahal ia tiada
hubungan apa-apa dengan mereka...
"Itu sungguh mengherankan!" gumamnya.
"Liong Ji" Swat San Lo Jin tersenyum.
Ternyata orang tua renta itu sudah mempunyai akal untuk mengungkap
teka-teki tersebut. "Engkau tidak perlu memikirkan itu, suhu sudah
punya akal untuk memecahkan teka teki itu. Tidak lewat lima hari,
suhu pasti sudah tahu semuanya."
Usai berkata begitu, Swat San Lo Jin
meninggalkan ruang belakang tersebut, lalu pergi melalui pintu
belakang.
-- o --
Empat hari kemudian ketika hari mulai gelap,
Hui Koh Taysu, ketua vihara Tay Siang Kok melangkah ke ruang
belakang bersama dua orang yang berusia cukup lanjut.
Siapa kedua orang itu, ternyata Se Khi dan
Sang Han Hun, ketua partai pengemis.
Setelah menjura memberi hormat pada Swat San
Lo Jin, barulah Se Khi dan Kay Pang Pancu itu duduk. Begitu duduk,
Se Khi pun terus menatap Hek Siau Liong yang duduk di sisi Swat San
Lo Jin.
Air muka Hek Siau Liong tampak biasa, seakan
tidak kenal Se Khi sama sekali. Berselang sesaat, Se Khi mulai
membuka mulut.
"Kong Cu marga apa, dan bernama siapa?"
"Boan pwe marga Hek, bernama Siau Liong,"
jawab Hek Siau Liong hormat.
Kening Se Khi berkerut, kemudian menatap Hek
Siau Liong dengan sorotan tajam dan dingin.
"Sungguhkah Kong cu bernama. Hek Siau
Liong?"
Hek Siau Liong tertegun, kemudian sepasang
alisnya tampak berkerut.
"Lo cian pwe," ujarnya. "Nama adalah
pemberian orang tua, bagaimana mungkin boan pwe sembarangan
memberitahukan?"
"Kalau begitu, Kong cu sungguh Hek Siau
Liong!" Se Khi tertawa dingin. "Maka tidak seharusnya tidak mengenal
lo hu."
"Lo ciang pwe!" sahut Hek Siau Liong
nyaring. "Perkataan lo cian pwe tidak masuk akal."
"Kenapa tidak masuk akal?"
"Boan pwe ingin bertanya, apakah orang yang
bernama Hek Siau Liong harus kenal lo clan pwe?"
Se Khi tertegun, kemudian wajahnya berubah
lembut.
"Kalau begitu, engkau memang bernama Hek
Siau Liong, bukan menyamar!" ujar Se Khi bernada lembut pula.
"Lo cian Pwe," Hek Siau Liong tersenyum
getir. "Karena boan pwe bernama Hek Siau Liong, maka nyaris mati di
pinggir kota Pin Hong. Kalau tidak ditolong Guru yang berbudi, kini
tubuh pasti sudah busuk. Seandainya boan pwe bukan bernama Hek Siau
Liong, kenapa harus memakai nama Hek Siau Liong untuk cari mati?"
"Ngmm!" Se Khi manggut-manggut.
"Siapa sebetulnya Hek Siau Liong yang kenal
lo cian pwe itu?" tanya Hek Siau Liong mendadak. "Apakah wajah, usia
dan tinggi badannya seperti boan pwe?"
Pertanyaan ini membuat Se Khi menatapnya
dengan penuh perhatian, kemudian sepasang matanya terbelalak lebar.
"Sungguh mirip sekali. Sulit membedakannya."
"Oh?" Tiba-tiba Hek Siau Liong teringat
sesuatu. "Lo cian pwe, di belakang telinga kiri boan pwe terdapat
sebuah tanda merah, apakah Hek Siau Liong itu juga punya tanda ini?"
"Itu….." Se Khi menggelengkan kepala. "Lo hu
tidak memperhatikannya, maka tidak tahu?"
"Ha ha ha!" Swat San Lo Jin tertawa
terbahak-bahak. "Kini telah jelas segalanya. Hek Siau Liong ini
bukan Hek Siau Liong itu. Nama mereka sama, namun boleh dikatakan
saudara."
Se Khi diam saja.
Swat San Lo Jin menatapnya, kemudian ujarnya
perlahan
"Lo ciau berusia lebih tua darimu, maka lo
ciau akan memanggilmu lo heng te saja. Bagaimana? Boleh kan?"
"Tentu boleh." Se Khi tertawa. "Lo koko
adalah bu lim cian pwe, mau memanggil siau te sebagai lo heng te,
itu sungguh membuat siaute merasa bangga sekali."
"Jangan sungkan, lo heng te!" Swat San Lo
Jin tertawa gelak. "Ohya, lo koko ingin mohon petunjuk, itu boleh
kan?"
"Mengenai apa?" tanya Se Khi heran.
"Lo heng te berasal dari mana?" Swat San Lo
Jin menatapnya.
"Lam Hai," jawab Se Khi jujur.
"Oh?" Sepasang mata Swat San Lo Jin bersinar
aneh. "Lo heng te bersama….."
"Bersama siau kiong cu datang di Tiong Goan
ini," sambung Se Khi cepat.
"Kalau begitu, lo heng te adalah….." Swat
San Lo Jin mengatakan sesuatu, namun keburu dipotong oleh Se Khi
agar tidak dilanjutkan.
"Siaute cuma ikut siau kong cu jalan-jalan
saja."
Sebetulnya Swat San Lo Jin ingin mengatakan
Se Khi pewaris lambang maut itu, tapi langsung dipotong oleh Se Khi,
maka ia lalu mengalihkan pembicaraan.
"Apakah siau kong cu adalah teman baik siau
kiong cu?"
Se Khi mengangguk. "Siau kong cu mengenalnya
di Tiong Goan, namun asal-usul Hek Siau Liong masih merupakan teka
teki. Menurut dugaan siaute, Hek Siau Liong punya hubungan erat
dengan kiong cu. Oleh karena itu, Hek Siau Liong bukan nama
aslinya."
Swat San Lo Jin tercengang. "Kalau begitu,
dia bukan marga Hek!"
"Benar." Se Khi manggut-manggut.
"Kalau dia bukan marga Hek, lalu marga apa?"
tanya Swat San Lo Jin.
Se Khi menatap Swat San Lo Jin. "Tahukah Lo
koko kalau di San si terdapat Ciok Lau San Cung?"
Begitu mendengar nama perkampungan tersebut,
Swat San Lo Jin pun tampak tersentak dengan mata terbelalak.
"Mendadak lo heng te menyinggung Ciok Lau
San Cung. Apakah Hek Siau Liong putra kesayangan Pek Lo Te suami
istri yang bernama Pek Giok Ling?"
"Itu memang mungkin." Se Khi
manggut-manggut. "Namun untuk sementara ini, siaute masih tidak
berani memastikannya."
"Lawan kata pek adalah hek….." gumam Swat
San Lo Jin. "Nama kecil Siau Liong, demi menghindari para musuh,
maka memakai nama Hek Siau Liong. Mungkinkah begitu? Tidak salah!
Pasti begitu!"
"Apakah Lo Koko kenal dengan Pek tay hiap
suami istri?" tanya Se Khi mendadak.
"Bukan cuma kenal, bahkan kami sangat
akrab." Swat San Lo Jin memberitahukan.
"Tentang kejadian Ciok Lau San Cung,
sudahkah lo koko, mengetahuinya?" tanya Se Khi lagi.
"Tahu." Swat San Lo Jin mengangguk, kemudian
menarik nafas panjang. "Dua puluh tahun yang lampau, lo koko
berkenalan dengan Pek lo te. Sejak itu kami pun jadi teman baik
bagaikan saudara. Setiap tiga tahun pada musim dingin, mereka suami
istri pasti mengunjungi lo koko di Swat San. Dalam dua puluh tahun
itu, mereka suami istri tidak pernah melupakan jadwal waktu
tersebut. Akan tetapi hingga musim semi tahun ini, mereka suami
istri tidak datang mengunjungi lo koko. Oleh karena itu, lo koko
yang turun gunung….."
Berkata sampai di sini, Swat San Lo Jin
menarik napas panjang, kemudian melanjutkan dengan wajah murung.
Begitu sampai di Ciok Lau San Cung, barulah
lo koko tahu kalau perkampungan itu telah musnah, Pek Mang Ciu dan
istrinya terbunuh. Maka lo koko mengambil keputusan terjun ke kang
ouw lagi untuk menyelidiki siapa pembunuh-pembunuh itu. Lo koko
ingin membalas dendam berdarah Pek lo te dan istrinya." Swat San Lo
Jin menggeleng-gelengkan kepala. "Justru itu, secara tidak sengaja
telah menolong Hek Siau Liong ini."
"Bagaimana hasil penyelidikan lo koko?
Apakah sudah tahu jelas siapa pembunuh-pembunuh itu?"
"Sudah hampir sebulan lo koko
menyelidiki….." Swat San Lo Jin tersenyum getir. "Namun belum ada
hasilnya, hanya kebetulan menolong Hek Siau Liong ini?"
Se Khi juga menggeleng-gelengkan kepala.
"Sayang sekali! lo koko telah melepaskan
kedua barang bukti itu!" seru Swat San Lo Jin.
"Barang bukti apa?" tanya Se Khi heran.
"Itu….." Swat San Lo Jin memberitahukan
tentang kedua orang berbaju kuning emas dan putih perak, lalu
menambahkan, "Kedua orang itu pasti punya hubungan erat dengan
pembunuh….."
"Benar." Se Khi manggut-manggut. "Tidak lama
lagi, kita pasti bisa tahu siapa kedua orang itu?"
"Tidak salah." Se Khi mengangguk. "Pangcu
Sang Han Hun telah mengutus murid-murid handal untuk menyelidiki
orang berbaju hitam pendek itu."
Swat San Lo Jin mengerutkan kening, kemudian
menggeleng-gelengkan kepala.
"Lo heng te, itu memang cara yang baik,
namun harapannya tipis sekali, akhirnya pasti sia-sia." katanya.
Se Khi tertegun, tapi kemudian tersenyum
karena tahu maksud Swat San Lo Jin. "Maksud lo koko karena tidak
tahu nama dan rupa orang berbaju hitam pendek itu, sehingga sulit
menyelidikinya?"
"Ya." Swat San Lo Jin mengangguk. "Kalau
berhadapan dengan orang baju hitam pendek itu, belum tentu akan tahu
bahwa dia adalah orang yang sedang diselidiki?"
"Apa yang dikatakan lo koko memang benar,
tapi siaute telah mengatur itu." Se Khi tersenyum. "Asal orang itu
masih berada di Kota Pin Hong, tentu tidak sulit menyelidikinya."
"Ngmm!" Swat San Lo Jin manggut-manggut.
"Ohya!" Se Khi menatapnya. "Kelak kalau lo
koko bertemu orang berbaju kuning dan orang berbaju putih perak,
siaute mohon agar lo koko jangan melukai mereka, harap lo koko
maklum!"
"Lho, kenapa?" Swat San Lo Jin heran.
"Sebab siau kiong cu telah memutuskan, kalau
Hek Siau Liong adalah Pek Giok Ling, maka harus dia yang turun
tangan membalas dendam berdarah itu." Se Khi memberitahukan.
"Oooh!" Swat San Lo Jin manggut-manggut.
"Ternyata begitu! Baiklah. Kalau lo koko bertemu kedua orang itu, lo
koko pasti ingat pesanmu itu."
"Terimakasih, lo koko!" ucap Se Khi.
"Lo heng te!" Swat San Lo Jin menatapnya.
"Ada hubungan apa Pek Tay hiap suami istri dengan kiong cu kalian,
bolehkah lo hengte memberitahukan?"
"Pek hujin adalah adik kandung kiong cu."
"Oooh!" Swat San Lo Jin manggut-manggut.
"Ternyata begitu, pantas….."
"Lo koko, kini sudah tahu jelas mengenai Hek
Siau Liong, maka siaute tidak akan mengganggu lagi." Se Khi bangkit
berdiri. "Maaf, lo koko! Kami mau mohon diri!"
"Selamat jalan lo heng te!" Swat San Lo Jin
tersenyum.
Se Khi dan Sang Han Hun pangcu segera
meninggalkan vihara Tay Siang Kok.
Kini telah jelas mengenai Hek Siau Liong
yang ditolong Swat San Lo Jin, ternyata ia Hek Siau Liong asli,
marga Hek dan bukan nama kecil. Lalu berada di mana Pek Giok Liong
alias Hek Siau Liong itu?
-- o --
Mendadak…..
Kang ouw telah digemparkan lagi oleh suatu
kabar berita, yakni terjadi lagi banjir darah kedua di rumah makan
Empat Lautan di Kota Ling Ni.
Kali ini yang terbunuh hanya belasan orang,
namun semuanya orang-orang hek to yang berkepandaian tinggi.
Akan tetapi, salah seorang yang terbunuh itu
justru sangat mengejutkan bu lim, karena orang tersebut adalah Thian
Kang Kiam, ciang bun susiok partai Kun Lun.
Mengapa ciang bun susiok Kun Lun Pay juga
terbunuh di rumah makan Empat Lautan itu? Tiada seorang pun yang
mengetahuinya, cuma di duga terbunuh oleh orang hek to yang di rumah
makan Empat Lautan itu, sebab Thian Kang Kiam In Yong Seng, ciangbun
susiok Kun Lun Pay itu juga berusaha mencari Hek Siau Liong.
Di tembok halaman belakang rumah makan itu,
terdapat pula sebaris tulisan yang ditulis dengan darah.
Ini tetap sebagian kecil pembalasan demi
nyawa Hek Siau Liong
Bunyinya seperti tempo hari, hanya ditambah
kata 'Tetap' dan di sisi tulisan itu terdapat gambar sekuntum bunga
mawar yang dilukis dengan darah.
Berita itu tersebar sampai ke para ciangbun
jin partai besar lainnya. Betapa terkejutnya para ciangbun jin itu.
Mengapa Mei Kuei Ling Cu itu mengadakan
pembunuhan lagi di rumah makan Empat Lautan? Siapa Mei Kuei Ling Cu
itu? Siapa pula orang yang dilatar belakang rumah makan Empat Lautan
tersebut?
Satu hal yang membingungkan, sekaligus
membuat para ciangbun jin partai besar lainnya tidak habis berpikir,
yakni terbunuhnya tetua partai Kun Lun, Thian Kang Kiam In Yong
Seng.
Kenapa tetua partai itu terbunuh juga di
rumah makan Empat Lautan? Apakah dia telah bergabung dengan pihak Si
Hai Ciu Lau (Rumah makan Empat Lautan)? Itu merupakan teka teki yang
sulit diungkapkan.
Bagaimana mengenai partai Kun Lun? Tentunya
telah menjadi gempar, Li Thian Hwa, ciang-bun jin Kun Lun Pay segera
turun gunung dengan membawa Si Tay Huhoat (Empat pelindung)
mengunjungi partai Kay Pang, sekaligus bermohon pada tetua partai
itu agar membawanya pergi menemui Mei Kuei Ling Cu.
Sesungguhnya Se Pit Han sama sekali tidak
kenal Thian Kang Kiam In Yong Seng, maka tentu juga tidak tahu salah
seorang di antara belasan orang yang terbunuh itu adalah Kun Lun
tianglo tersebut.
Hari berikutnya, ia baru tahu dari mulut
orang-orang bu lim yang menceritakan tentang itu.
Setelah mengetahui tentang itu, Se Pit Han
sangat terkejut dan gusar sekali. Seketika juga ia ingin berangkat
ke Kun Lun Pay untuk menemui Li Thian Hwa ciangbun jin Kun Lun Pay
itu.
Akan tetapi, Kiam Hong, Ih Hong, Giok Cing
dan Giok Ling, sepasang pengawal itu segera mencegahnya. Ternyata
Kiam Hong, Ih Hong dan Siang Wie itu telah bertemu Se Pit Han.
Justru di malam hari ketika Se Pit Han mengadakan pembunuhan lagi di
rumah makan Empat Lautan.
Karena dicegah, akhirnya Se Pit Han
membatalkan niatnya untuk berangkat ke Kun Lun San.
Mereka tinggal di suatu tempat yang rahasia
di kota Ling Ni, kemudian minta bantuan pada murid Kay Pang untuk
menyampaikan pesan pada Se Khi serta Pat Kiam lainnya, agar segera
menemui Se Pit Han di tempat rahasia di Kota Ling Ni itu.
-- o --
(Bersambung bagian 23)
Bagian ke 23: Pembicaraan Rahasia
Di bangunan kecil yang terletak di halaman
belakang bangunan besar ekspedisi Yang Wie, tiba-tiba muncul dua
orang berbaju kuning emas dan putih perak.
Saat itu sudah larut malam. Mereka berdua
duduk berhadapan dengan mulut membungkam. Berselang beberapa saat
kemudian, orang berbaju emas membuka mulut duluan.
"Bagaimana urusan yang engkau tangani itu?
Apakah sudah ada hasilnya?" tanya orang berbaju kuning emas.
Orang berbaju putih perak menggelengkan
kepala dan menarik nafas panjang.
"Sungguh mengecewakan, sama sekali tiada
hasilnya. Bagaimana dengan sang co (Atasan)?"
"Yah!" Orang berbaju kuning emas juga
menggelengkan kepala. "Seperti engkau, tiada hasilnya."
"Oh?" Orang berbaju putih perak termangu
sejenak. "Apakah dalam hati sang coh merasa curiga?"
"Curiga apa?"
"Kedudukan mereka sebagai ketua, justru
tidak tahu urusan ini, shia coh (Aku tingkat rendah) sungguh tidak
percaya dan bercuriga!"
Siapa yang dimaksudkan 'Mereka' dan ketua
dari partai mana? Ini sungguh mengherankan, sekaligus mengejutkan
pula.
"Engkau bercuriga mereka berdusta?" tanya
orang berbaju kuning emas.
"Ya." Orang berbaju putih perak mengangguk.
"Shia coh bercuriga akan kesetiaan mereka."
"Oh?" Orang berbaju kuning emas tampak
tersentak. "Lalu engkau apakan mereka?"
Orang berbaju putih perak menggelengkan
kepala.
"Shia coh tidak apakan mereka!"
Orang berbaju kuning emas diam-diam menarik
nafas lega.
"Kalau tiada perintah dari Taytie (Maha
raja), lebih baik engkau jangan bertindak sembarangan! Itu agar
tidak merusak rencana Taytie, dan mengacaukan urusan itu!" Orang
berbaju kuning emas mengingatkan Orang berbaju putih perak.
Orang berbaju putih perak tertawa, kemudian
manggut-manggut.
"Sang coh tidak usah khawatir, shia coh
tidak akan bertindak ceroboh!"
"Kalau begitu, aku pun berlega hati." Orang
berbaju kuning emas menarik nafas dalam-dalam. "Mengenai mereka
setia atau tidak, aku tidak berani memastikannya. Namun tentang
urusan ini, aku berani mengatakan mereka tidak berdusta, kemungkinan
besar mereka sama sekali tidak tahu."
"Emmmh!" Orang berbaju putih perak
manggut-manggut, lalu mengalihkan pembicaraan. "Mengenai kejadian
berdarah di rumah makan Empat Lautan, menurut sang coh harus
bagaimana menanganinya?"
"Bagaimana menurutmu?" Orang berbaju kuning
emas balik bertanya.
"Shia coh ingin ke Kota Ling Ni untuk
melihat-lihat."
"Oh?" Orang berbaju kuning emas menatapnya.
"Berangkat bersama siapa engkau ke sana?"
"Shia coh akan mengeluarkan Ling Mo
(Perintah siluman) untuk memberi perintah pada dua tancu (Pemimpin
aula), agar membawa belasan orang yang berkepandaian tinggi
berangkat ke sana." Orang berbaju putih perak memberitahukan.
"Oh? Kalau begitu, engkau pun ingin
menampilkan diri?"
"Tentu tidak, shia coh cuma bergerak secara
diam-diam. Apabila perlu, barulah shia coh turun tangan menghadapi
Mei Kuei Ling Cu itu."
"Tentang ini memang boleh dilaksanakan, tapi
seharusnya mohon izin pada Taytie dulu."
"Itu sudah pasti." Orang berbaju putih perak
mengangguk. "Ohya! Mengenai Mei Kuei Ling Cu, apakah sang coh sudah
bertanya pada Sia Houw Kian Goan?"
Sia Houw Kian Goan adalah kepala pemimpin
ekspedisi Yang Wie, kalau begitu, Orang berbaju kuning emas itu
bukan Sia Houw Kian Goan, lalu siapa dia…..?
"Walau Sia Houw tua bangka itu tidak tahu,
tapi justru telah menceritakan masalah Mei Kuei Ling Cu itu."
"Oh?" Sepasang mata Orang berbaju putih
perak bersinar aneh. "Bagaimana ceritanya?"
"Sia Houw si tua bangka itu menceritakan,
bahwa seratus tahun yang lampau, di dalam bu lim telah muncul
seorang aneh yang berkepandaian amat tinggi. Orang aneh itu
menggunakan bunga mawar sebagai lambang. Karena tiada seorang pun
dalam bu lim yang mengetahui asal usulnya, maka mereka memberi
julukan Mei Kuei Ling Cu padanya. Orang aneh itu selalu membunuh
orang-orang hek to, kemudian menaruh sekuntum bunga mawar pada
mayat-mayat itu. Oleh karena itu, bunga mawar itu disebut Mei Kuei
Ling."
"Oh?" Orang berbaju putih perak terbelalak.
"Tapi…..." Lanjut Orang berbaju kuning emas.
"Mei Kuei Ling Cu adalah orang aneh seratus tahun yang lampau, dan
dalam seratus tahun ini, dia tidak pernah muncul dalam bu lim lagi,
mungkin orang aneh itu telah mati. Tentang banjir darah di rumah
makan Empat Lautan, juga terdapat Mei Kuei Ling yang menciutkan
nyali orang orang hek to. Itu adalah Mei Kuei Ling seratus tahun
yang lampau atau bukan, kita tidak bisa memastikannya."
Setelah mendengar penuturan Orang berbaju
kuning emas, Orang berbaju putih perak pun tampak berpikir.
"Kalau begitu….." ujarnya kemudian. "Mei
Kuei Ling Cu yang sekarang bukan Mei Kuei Ling Cu yang seratus tahun
lampau itu?"
"Itu sudah jelas, bagaimana mungkin yang
itu!"
"Dia tentu, pewarisnya!"
"Aku pun menduga begitu." Orang berbaju
kuning emas manggut-manggut. "Itu memang masuk akal."
"Ohya." Orang berbaju putih perak menatap
Orang berbaju kuning emas. "Bagaimana menurut sang coh mengenai Sia
Houw si tua bangka itu?"
"Maksudmu dia tidak begitu beres?"
"Bukan masalah tidak beres." Orang berbaju
putih perak memberitahukan. "Dia sudah lama berkecimpung dalam kang
ouw, bahkan sangat licin dan licik terhadap orang lain, juga banyak
akal busuk…..."
"Maksudmu?" Orang berbaju kuning emas tampak
bingung.
"Maksud shia coh, kita harus mengawasinya
secara seksama. Bagaimana menurut sang coh?"
"Benar katamu." Orang berbaju kuning emas
tertawa. "Tapi biar dia licin, licik dan banyak akal busuknya, dia
tidak berani macam-macam. Kecuali dia tidak memikirkan nyawanya
lagi…..."
Ucapan Orang berbaju kuning emas terputus,
karena mendadak terdengar suara seruan lantang dan berwibawa.
"Kim Gin Siang Tie cepat buka pintu
menyambut kedatangan Taytie!"
Begitu mendengar suara seruan itu, Orang
berbaju kuning emas segera membuka pintu, sedang Orang berbaju putih
perak bangkit berdiri, lalu mengunjuk hormat.
Tampak empat sosok bayangan berkelebat ke
dalam, ternyata empat pengawal pribadi Taytie. Keempat orang itu
memakai kain merah penutup muka dan mengenakan baju merah pula. Di
bagian depan baju terdapat gambar naga, singa, harimau dan macan
tutul.
Tak seberapa lama kemudian, seorang yang
juga memakai kain penutup muka berjalan ke dalam. Ia mengenakan
jubah hijau, entah dibikin dari bahan apa, sebab jubah itu
bergemerlapan.
"Hamba menyambut kedatangan Taytie!" ucap
Orang berbaju kuning emas dan putih perak serentak sambil memberi
hormat. Kemudian Orang berbaju putih perak menambahkan, "Hay ji
(Anak) memberi hormat pada gie peh (Ayah angkat)!"
Ternyata Orang berbaju putih perak itu anak
angkat Taytie. Itu sungguh di luar dugaan.
Hening suasana di dalam bangunan kecil itu.
Taytie menatap mereka berdua, lalu duduk. Sedangkan keempat pengawal
pribadi itu berdiri di belakangnya. Kim Gin Siang Tie berdua duduk
di hadapan Taytie.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu mengenai
urusan itu?" tanya Taytie pada Kim Tie.
"Dua orang ketua partai mengatakan belum
pernah melihat bu lim tiap itu," jawab Kim Tie dengan hormat.
"Engkau juga sama kan?" Taytie memandang Gin
Tie. "Tiada hasilnya?"
"Ya." Gin Tie mengangguk. "Hay ji bercuriga
akan kesetiaan mereka, maka sangat gusar dalam hati."
"Engkau mencurigai mereka tidak berkata
sejujurnya padamu?" tanya Taytie.
"Benar, gie peh!" Orang berbaju putih perak
mengangguk. "Dengan kedudukan sebagai ketua, bagaimana mungkin tidak
melihat bu lim tiap itu? Sungguh tak masuk akal!"
"Ngmm!" Taytie manggut-manggut. "Apa yang
engkau katakan memang tidak salah. Berdasarkan kedudukan mereka,
tentunya sulit dipercaya. Namun tentang itu, lo hu sudah ada
penjelasannya, hanya saja belum dapat memberitahukan."
Kim Gin Siang Tie saling memandang. Mereka
tidak berani mencetuskan apa pun, sedangkan Taytie melanjutkan
ucapannya.
"Dengan sifatmu itu, apa lagi dalam keadaan
gusar, tentu sulit untuk menekan hawa kegusaranmu itu. Kedua tianglo
itu pasti mendapat kesulitan darimu, kan?"
"Dugaan gie peh tidak salah. Karena sangat
gusar maka pada waktu itu hay ji…..."
"Tidak apa-apa." Taytie tertawa. "Memberi
sedikit pelajaran pada mereka memang tidak jadi masalah. Asal mereka
jangan sampai luka."
Orang berbaju putih perak diam.
"Bagaimana?" tanya Taytie. "Engkau tidak
melukai mereka kan?"
"Gie peh boleh berlega hati, hay jie tidak
akan bertindak ceroboh," jawab Orang berbaju putih perak atau Gin
Tie.
"Engkau telah mendapat bimbingan lo hu,
Bagaimana mungkin engkau akan ceroboh dalam melakukan sesuatu?"
Taytie tertawa gelak.
"Semua itu memang atas bimbingan gie peh!"
ucap Gin Tie berseri.
"Ohya! Malah Hek Siau Liong hilang ke mana,
kalian telah menyelidikinya belum?" tanya Taytie mendadak.
"Hay ji telah memerintahkan kepada semua
pimpinan cabang untuk menyelidiki masalah itu, namun hingga kini
belum ada laporan." Gin Tie memberitahukan.
"Apakah urusan itu tidak pernah diselidiki
lagi!" tandas Taytie.
"Kenapa?" Gin Tie merasa heran.
"Sebab Hek Siau Liong telah ditolong oleh
Swat San Lo Jin, dan kini mereka berada di vihara Tay Siang Kok."
"Kalau begitu…..." Gin Tie menatap Taytie.
"Kalian tidak perlu ke sana!" Taytie
tertawa.
"Kenapa?" Gin Tie bingung.
"Sebab Hek Siau Liong itu bukan Hek Siau
Liong yang harus dibunuh itu!" Taytie memberitahukan.
"Oh?" Gin Tie tertegun. "Kalau begitu,
apakah ada dua Hek Siau Liong?"
"Sebetulnya cuma ada satu Hek Siau Liong.
Dia berada di Vihara Tay Siang Kok itu. Hek Siau Liong yang harus
dibunuh itu, cuma merupakan nama samaran saja." Taytie menjelaskan.
"Kalau begitu, nama aslinya adalah......"
Gin Tie tidak berani melanjutkan, hanya menatap Taytie.
"Apakah….." sela Kim Tie mendadak. "Dia…..
anjing kecil yang sedang kita cari itu?"
"Kemungkinan besar tidak salah." Taytie
tertawa. "Memang anjing kecil itu."
"Tapi…..." Gin Tie mengerutkan kening. "Hay
jie agak tidak mengerti."
"Tidak mengerti tentang apa?" tanya Taytie.
"Anjing kecil itu hilang ke mana?" jawab Gin
Tie sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Bagaimana mungkin dia
menghilang begitu saja?"
"Kenapa engkau tidak mengerti?" Taytie
tertawa. "Anjing kecil itu tidak bisa menyusup ke dalam bumi dan
tidak bisa terbang ke langit. Kalau dia tidak mati, berarti dia
bersembunyi di suatu tempat."
"Benar, gie peh." Gin Tie mengangguk.
"Dia menghilang setelah meninggalkan Kota
Ling Ni kan?" tanya Taytie sambil menatap Gin Tie.
"Ya." Gin Tie mengangguk lagi. "Dia
menghilang memang setelah meninggalkan Kota Ling Ni."
"Hay ji! Sebelah barat dan selatan Kota Ling
Ni terdapat tempat apa?" tanya Taytie mendadak.
"Kalau tidak salah, di sana terdapat Siu Gu
San (Gunung Siu Gu)," jawab Gin Tie dan bertanya, "Menurut gie peh,
apakah di gunung itu terdapat suatu tempat rahasia?"
"Apakah tidak ada?" Taytie tertawa.
"Mungkin ada. Hay ji akan memerintahkan
beberapa orang untuk menyelidiki gunung itu."
"Ngmm!" Taytie manggut-manggut. "Ingat!
Tentang penyelidikan itu harus di rahasikan, sama sekali tidak boleh
bocor! Kalau bocor, partai besar lainnya pasti menuju ke sana juga.
Itu akan merepotkan kita."
"Hay ji mengerti, Gie peh tidak usah
khawatir, Hay ji pasti berhati-hati dalam melaksanakan tugas itu."
"Bagus!" Taytie tertawa gelak. "Ohya!
Mengenai urusan rumah makan Empat Lautan, bagaimana engkau
menanganinya? Sudah punya rencana belum?"
"Justru Hay ji ingin berunding dengan gie
peh. Terus terang, Hay ji ingin berangkat sendiri ke Kota Ling Ni
untuk melihat-lihat. Bagaimana menurut gie peh?"
"Seorang diri atau membawa orang lain?"
"Tentunya harus membawa beberapa orang."
"Siapa yang akan engkau bawa serta?"
"Pemimpin aula dengan beberapa anak buahnya
berjumlah sepuluh orang."
"Berapa pemimpin aula?"
"Dua iblis pemimpin aula."
"Ngmm!" Taytie manggut-manggut. "Kedua tancu
itu berkepandaian tinggi, di tambah lagi beberapa anak buahnya, itu
merupakan kekuatan yang sangat mengejutkan!"
Gin Tie diam, ia mendengar dengan penuh
perhatian.
"Kekuatan itu, kalau untuk menghadapi partai
besar lainnya pasti membuat partai-partai besar itu kalang kabut."
lanjut Taytie. "Namun untuk menghadapi Mei Kuei Ling Cu, itu
merupakan kekuatan yang tak seberapa. Kecuali enam belas tancu
bergabung ditambah kalian berdua, mungkin bisa melawannya, tapi juga
tidak bisa menang."
Betapa terkejutnya Gin Tie. Ia memandang
Taytie seraya berkata.
"Gie peh, Mei Kuei Ling Cu itu begitu tinggi
bu kangnya. Apakah sudah tiada tanding di kolong langit?"
Taytie menggelengkan kepala.
"Itu belum tentu, sebab dia cuma seorang
diri." Taytie menjelaskan. "Yang sulit dilawan adalah gabungan kita
semua, karena masing-masing memiliki kepandaian tinggi."
"Apakah Yang mulia tahu asal usul Mei Kuei
Ling Cu?" tanya Kim Tie mendadak.
"Tentunya kalian masih ingat, lo hu pernah
menyuruh Si Macan tutul menyampaikan perintah, agar kalian jangan
cari gara-gara dengan orang marga Se dan pemuda berbaju ungu itu
kan?"
"Hay ji ingat." Gin Tie mengangguk. "Maka
hay ji selalu menghindari bentrokan dengan mereka."
"Ngmm!" Taytie manggut-manggut.
"Gie peh, mungkinkah Mei Kuei Ling Cu adalah
orang marga Se atau pemuda berbaju ungu itu?"
"Kemungkinan besar dia. Mulanya memang
dugaan, tapi kini dapat di pastikan kebenarannya."
"Apakah dia pewaris Mei Kuei Ling Cu yang
seratus tahun lampau itu?" tanya Kim Tie.
"Pemuda berbaju ungu itu juga marga Se, maka
seharusnya dia turunan Mei Kuei Ling Cu itu."
"Jadi….." Gin Tie menatap Taytie. "Mei Kuei
Ling Cu itu marga Se?"
"Betul." Taytie mengangguk.
"Kini bagaimana menurut gie peh?" tanya Gin
Tie.
"Untuk sementara ini, jangan
menghiraukannya," jawab Taytie.
"Apa?!" Gin Tie tertegun. "Jangan
menghiraukannya?"
"Ya." Taytie mengangguk sekaligus
menegaskan, "Untuk sementara ini memang jangan menghiraukannya."
"Kalau begitu, Toan Beng Thong dan lain
sebagainya…..." Gin Tie tidak berani melanjutkan ucapannya.
"Kalau tidak bisa bersabar, justru akan
merusak rencana besar," ujar Taytie bernada dingin. "Urusan itu
harus kita biarkan begitu saja, bahkan juga harus melepaskan rumah
makan Empat Lautan itu."
"Gie peh...."
"Lo hu berani mengatakan, bahwa dia masih
berada di Kota Ling Ni untuk mengawasi keadaan rumah makan itu,"
lanjut Taytie. "Maka kalau engkau membawa orang ke sana, justru akan
masuk perangkapnya, bisa pergi tak bisa pulang lagi. Mengertikah
engkau?"
"Hay ji mengerti."
"Yang mulia!" Kim Tie memberi hormat.
"Bolehkah hamba bertanya sesuatu?"
"Tentu boleh. Tanyalahl"
"Yang Mulia menyuruh kami agar jangan
menghiraukan Mei Kuei Ling Cu, kami semua pasti patuh. Tapi
seandainya dia mencari kami, itu harus bagaimana?"
"Asal kita tidak mengusik Mei Kuei Ling Cu,
lo hu yakin, dia tidak akan tahu kita sedan menyusun rencana untuk
menghadapinya. Oleh karena itu, dia tidak akan cari kalian sementara
ini."
"Tapi bagaimana selanjutnya?"
"Sesungguhnya lo hu sudah punya suatu
rencana untuk menghadapi mereka, namun kini rencana itu tidak bisa
dilaksanakan lagi, maka lo hu harus menyusun rencana lain."
"Bagaimana rencana lain itu?" tanya Gin Tie.
Taytie tampak berpikir, kemudian mengarah
pada Kim Tie seraya bertanya dengan nada serius.
"Pernahkah engkau dengar, bahwa dalam bu lim
terdapat sebuah Jit Goat Seng Sim Ki?"
"Hamba pernah dengar." Kim Tie mengangguk.
"Pemegang panji itu adalah Kian Kun Ie Siu, tapi dia sudah lama
menghilang dari bu lim. Tiada seorang pun yang tahu kabar berita
maupun jejaknya, kemungkinan besar Kian Kun Ie Siu itu telah mati."
"Kalaupun dia sudah mati, panji itu pasti
masih ada," ujar Taytie. "Lo hu yakin panji itu disimpan di suatu
tempat rahasia, menunggu orang yang berjodoh memperolehnya."
"Oooh!" Kim Tie manggut-manggut mengerti.
"Apakah Yang Mulia akan berusaha memperoleh panji itu, lalu
menundukkan Mei Kuei Ling Cu dengan panji itu?"
"Betul." Taytie tertawa gelak. "Lo hu memang
bermaksud begitu. Panji hati suci matahari bulan berkembang, bu lim
di kolong langit bergabung menjadi satu. Nah, tentunya Mei Kuei Ling
Cu pun harus tunduk pada panji itu."
"Bagaimana seandainya Mei Kuei Ling Cu
berani melawan?" tanya Gin Tie mendadak. Ia sama sekali tidak pernah
mendengar tentang panji tersebut, maka tidak tahu bagaimana
kewibawaan panji itu.
Mendengar pertanyaan itu, Taytie tertawa
ringan.
"Hay ji! Mungkin engkau belum dengar
bagaimana kewibawaan dan kekuasaan panji itu, kan?"
"Betul, gie peh." Gin Tie mengangguk. "Hay
ji baru dengar hari ini tentang panji itu."
"Jit Goat Seng Sim Ki muncul pada seratus
lima puluh tahun yang lampau. Berbagai partai besar dan beberapa
pendekar aneh yang membuat panji tersebut dimasa itu, maka siapa
yang tidak tunduk pada panji itu, akan menjadi musuh bu lim di
kolong langit ini. Nah, siapa yang berani tidak tunduk pada panji
itu?"
"Gie peh, kalau begitu, lebih baik kita
pusatkan perhatian pada jejak Kian Kun Ie Siu, agar bisa memperoleh
panji itu!" ujar Gin Tie.
"Hay ji…..." Taytie tertawa. "Kalau begitu
gampang, gie peh sudah mencari panji itu dari dulu."
"Gie peh…..." Gin Tie ingin mengatakan
sesuatu, namun kemudian dibatalkannya.
"Hay ji, tidak gampang mencari jejak Kian
Kun Ie Siu," ujar Taytie, lalu memandang Kim Tie. "Engkau yang
bertanggung jawab tentang itu, perintahkan semua bawahanmu mencari
jejak Kian Kun Ie Siu! Kalau ada kabar beritanya, kau harus segera
melapor pada lo hu! Tidak boleh terlambat!"
"Hamba terima perintah!" ucap Kim Tie sambil
memberi hormat.
"Hay ji!" Taytie menatap Gin Tie. "Engkau
harus membawa beberapa orang ke Siu Gu San untuk mencari anjing
kecil itu! Mencari anjing kecil itu di Siu Gu San adalah tugas dan
tanggung jawabmu, laksanakanlah dengan baik!"
"Ya." Gin Tie mengangguk. "Hay ji pasti
melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab."
"Kedua urusan itu sangat penting, maka
kalian berdua harus berhati-hati dalam melaksanakan tugas, jangan
sampai bocor masalah kedua urusan itu!" pesan Taytie lagi.
"Ya, gie peh." Gin Tie mengangguk.
"Ya, Yang Mulia." Kim Tie memberi hormat.
"Kalian berdua masih ada pertanyaan lain?"
Taytie menatap mereka berdua.
"Hamba ingin mohon penjelasan mengenai suatu
masalah." jawab Kim Tie sambil menjura.
"Masalah apa?"
"Kini Ekspedisi Kim Ling semakin maju, maka
hamba ingin memilih seseorang jadi kepala pemimpin di sana.
Bagaimana menurut Yang Mulia?"
"Ekspedisi Kim Ling berada di kota penting
di Kang Lam, itu memang harus di jadikan salah satu kekuatan kita di
sana." Taytie tertawa. "Mungkin dalam hatimu telah memilih seseorang
untuk ke sana."
"Benar, Yang Mulia."
"Siapa orang itu?"
"Kepala pemimpin ekspedisi Yang Wie yang di
kota ini!"
"Ng!" Taytie manggut-manggut. "Sia Houw Kian
Goan memang cocok untuk tugas itu. Dia berpengalaman dan luas
pergaulannya di kang ouw. Tapi…..."
"Kenapa?" tanya Kim Tie.
"Walau engkau memilihnya, tapi tetap tidak
mempercayainya kan?" Taytie tertawa.
"Betul, Yang Mulia."
"Kalau begitu, apa rencanamu?"
"Hamba ingin mengutus seseorang untuk
mengawasi gerak geriknya."
"Bagus." Taytie tertawa lagi. "Siapa yang
akan kau utus?"
"Kim To Khuai Ciu (Si Tangan cepat golok
emas) Cih Siau Cuan itu, namun hamba masih mempertimbangkannya."
"Kalau begitu, urusan ini terserah bagaimana
keputusanmu saja," ujar Taytie, lalu memandang Gin Tie. "Hay ji,
engkau masih ada pertanyaan?"
"Hay ji tidak ada pertanyaan lagi."
"Baiklah. Sampai di sini hari ini, kalau
masih ada pertanyaan lain yang sangat penting, boleh segera pergi
menemui lo hu. Pertanyaan yang tidak penting, tidak perlu merepotkan
lo hu. Mengertikah kalian?"
"Mengerti?" sahut Kim Gin Siang Tie serentak
sambil menjura.
"Nah! Lo hu mau pergi!" Taytie melangkah
pergi dan diikuti empat pengawal pribadinya. Sedangkan Kim Gin Siang
Tie masih berdiri sambil memberi hormat.
-- o --
Bagian ke 24: Selidik Gunung
Kini sudah saatnya musim semi, bunga memekar
indah dan kupu-kupu pun menari-nari di atas bunga-bunga itu. Betapa
indahnya daerah Kang Lam…...
Akan tetapi, di daerah utara masih tetap
dingin. Terutama Siu Gan San yang berada di daerah Hwa Pak, masih
tampak salju berterbangan terhembus angin utara yang amat dingin
itu.
Di dalam sebuah goa, Pek Giok Liong alis Hek
Siau Liong sedang melatih ilmu silat yang diturunkan Kian Kun Ie
Siu.
Walau cuma satu bulan, Hek Siau Liong telah
mengalami kemajuan pesat dalam hal bu kang. Thai Ceng Sin Kang
(Tenaga sakti pelindung badan) yang dimilikinya pun telah mencapai
tingkat keenam. Bahkan kini ia pun telah menguasai tiga jurus sakti
pelindung panji itu, hanya saja belum mencapai tingkat kesempurnaan,
karena lwee kangnya masih dangkal.
Meskipun begitu, Kian Kun Ie Siu sangat puas
akan kemajuan yang dicapai Hek Siau Liong.
Itu tidak perlu heran, sebab Hek Siau Liong
berotak cerdas dan berkemauan keras untuk belajar, maka cuma dalam
waktu sebulan, ia sudah maju pesat.
Betapa gembiranya Kian Kun Ie Siu. Orang tua
buta itu yakin, bahwa kelak Hek Siau Liong pasti menjadi seorang
tayhiap yang menegakkan keadilan dalam bu lim.
Ketika sang surya mulai tenggelam di ufuk
barat, tampak seseorang sedang berlatih bu kang di luar goa, yakni
Hek Siau Liong. Ia sedang melatih tiga jurus sakti pelindung panji.
Usai berlatih, ia duduk beristirahat di
bawah sebuah pohon rindang. Mendadak ia mendengar suara aneh.
Cepat-cepat ia menengok ke arah suara itu, tampak sembilan orang
sedang berjalan menghampirinya.
Orang yang pertama mengenakan baju putih
perak, muka ditutupi dengan kain putih perak pula. Dua orang
mengenakan baju merah dengan kain penutup muka warna merah, di
belakang mereka berdua tampak enam orang yang mengenakan baju kuning
dengan kain penutup muka warna kuning pula.
Siapa mereka itu? Ternyata Gin Tie bersama
dua pelindung dan enam pengawal khusus.
Gin Tie tidak membawa senjata apa pun, namun
kedelapan orang itu membawa pedang panjang bergantung di pinggang
masing-masing.
Gin Tie dan delapan orang itu berhenti di
hadapan Hek Siau Liong, sepasang matanya menyorot tajam
memandangnya.
"He he he!" Gin Tie tertawa terkekeh-kekeh.
"Pek Giok Liong, aku kira engkau telah menyusup ke dalam bumi atau
terbang ke langit, tidak tahunya engkau bersembunyi di sini! Nah,
kini engkau mau kabur ke mana?"
Siau Liong terkejut bukan main, namun masih
berusaha setenang mungkin.
"Siapakah engkau? Dan siapa pula Pek Giok
Liong itu?" tanyanya kemudian.
"Aku adalah aku, engkau tidak perlu tanya!"
sahut Gin Tie sambil tertawa dingin.
"Engkau mau mencari siapa?"
"Mencarimu!" Gin Tie menudingnya. "Engkau
pasti Pek Giok Liong!"
"Engkau telah salah mencari orang!" Siau
Liong menggelengkan kepala. "Aku bukan Pek Giok Liong."
"Oh?" Gin Tie menatapnya dingin. "Engkau
masih menyangkal?"
"Kalau engkau tidak percaya, aku pun tidak
bisa apa-apa," sahut Siau Liong acuh tak acuh.
"Engkau tidak mengaku Pek Giok Liong, itu
tidak jadi masalah!" Gin Tie tertawa licik. "Yang penting engkau Hek
Siau Liong!"
Siau Liong tersentak, lalu menatap Gin Tie
dengan alis terangkat.
"Kenalkah engkau denganku?"
"Meskipun engkau jadi abu, aku tetap
mengenalmu!"
Siapakah orang itu? Tanya Siau Liong dalam
hati. Kenapa nada suaranya mengandung dendam?
"Siapakah engkau?" tanya Siau Liong.
"Mau tahu siapa aku?" Gin Tie balik
bertanya.
"Ya." Siau Liong mengangguk.
"Kalau begitu, dengar baik-baik! Aku anak
angkat bu lim Cih Seng Tay Tie (Maha raja tersuci rimba persilatan),
juga salah satu Kim Gin Siang Tie, tahu?"
Siau Liong sama sekali tidak tahu. Apa itu
Cih Seng Tay Tie dan Kim Gin Siang Tie, ia tidak pernah mendengar
nama-nama itu.
"Maaf, aku tidak mengerti!" ujarnya. "Ohya,
apakah kita pernah bertemu?"
"Tentu pernah. Kalau tidak, bagaimana
mungkin aku akan mengenalmu?" sahut Gin Tie sambil tertawa gelak.
"Oh?" Siau Liong mengerutkan kening. "Tapi
aku tidak ingat lagi. Bolehkah aku tahu nama besarmu?"
"Engkau ingin tahu namaku?"
"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku
mengenalmu?"
"Tidak sulit engkau tahu namaku!" Gin Tie
tertawa gelak lagi. "Engkau boleh bertanya pada seseorang!"
"Siapa orang itu?"
"Giam ong (Raja akhirat)!"
Air muka Siau Liong langsung berubah,
kemudian ujarnya dingin.
"Ada urusan apa engkau mencariku, harap
dijelaskan!"
"Aku ke mari mencarimu, untuk meminta
sesuatu padamu!"
"Apa yang kau pinta dariku?"
"Ha ha ha!" Gin Tie tertawa. "Tidak lain
adalah nyawamu!"
"Oh? Kalau begitu, harap engkau menjelaskan!
Kenapa engkau meminta nyawaku?"
"Tanyakan saja pada giam ong nanti! Engkau
akan mengetahuinya!"
"Hm!" dengus Siau Liong dingin. "Kenapa
engkau tidak berani beritahukan?"
"Bukan tidak berani, melainkan tidak perlu!"
"Tidak perlu atau tidak berani?" Siau Liong
tertawa dingin. "Mukamu ditutup dengan kain, itu pertanda engkau
malu bertemu orang lain. Maka aku pun malas berbicara denganmu."
"He he he!" Gin Tie tertawa terkekeh-kekeh.
"Engkau anjing kecil, tidak perlu aku turun tangan sendiri mencabut
nyawamu!"
"Hei!" bentak Siau Liong. "Manusia tak punya
muka! Tidak gampang engkau mencabut nyawaku!"
"Oh?" Sekujur badan Gin Tie bergetar saking
gusar, lalu mengarah pada enam pengawal khususnya. "Pengawal khusus
nomor lima, nomor enam, cepat tangkap anjing kecil itu!"
"Ya," sahut kedua pengawal khusus itu
serentak, lalu bersama mendekati Siau Liong.
"Anjing kecil!" bentak pengawal khusus nomor
lima. "Cepatlah engkau menyerah, agar toaya (Tuan besar) tidak perlu
turun tangan sendiri!"
Sementara Siau Liong telah mengambil
keputusan dalam hati, ia ingin mencoba bagaimana kemajuan bu kangnya
dalam sebulan ini, terutama tiga jurus sakti pelindung panji itu.
"Ha ha ha!" Siau Liong tertawa
terbahak-bahak. "Sobat! Kalian berdua cuma menjalankan perintah!
Maka aku pun tidak akan begitu menyusahkan kalian. Nah! Cepatlah
kalian turun tangan!"
Usai berkata begitu, Siau Liong pun segera
menghimpun tenaga dalamnya, siap menangkis serangan yang akan
dilancarkan kedua orang itu.
Kedua pengawal khusus itu gusar bukan
kepalang. Mereka berdua memekik keras sambil menyerang Siau Liong
secepat kilat.
Begitu tubuh kedua pengawal khusus itu
bergerak, tubuh Siau Liong pun melayang ke belakang dengan ringan
sekali, bahkan sekaligus tangan kirinya berputar membentuk sebuah
lingkaran, lalu menyerang dengan jurus Ti Tong San Yauw (Bumi
bergetar gunung bergoyang), yaitu salah satu jurus dari tiga jurus
sakti pelindung panji.
Betapa dahsyatnya angin pukulan itu,
sehingga dedaunan yang ada di sekitar tempat itu rontok beterbangan
ke mana-mana.
Kedua pengawal khusus itu tidak menyangka
bahwa Siau Liong memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Mereka
menyadari hal itu, namun sudah terlambat.
"Aaaakh…..!" Jerit kedua pengawal khusus
itu.
Ternyata tubuh mereka telah melayang sejauh
lima meteran, kemudian jatuh gedebuk dengan mulut memuntahkan darah
segar.
Mereka berdua telah terluka dalam, tapi
masih mampu bangkit berdiri dan kemudian mencabut pedang
masing-masing.
Trang! Trang! Kedua pengawal khusus itu
sudah siap menyerang Siau Liong dengan pedang.
Sementara itu, Thian Suan Sin Kun (Malaikat
pemutar langit), salah seorang pelindung yang berdiri di samping Gin
Tie, langsung berteriak.
"Harap kalian berdua jangan menyerang dulu!"
Dua pengawal khusus itu menurut. Mereka
tidak jadi menyerang Siau Liong yang sudah siap siaga itu. Kenapa
dua pengawal khusus itu begitu menurut? Tidak lain karena kedudukan
pelindung itu lebih tinggi.
"Lapor pada Gin Tie!" ucap Thian Suan Sin
Kun pada Gin Tie. "Barusan anjing kecil itu menyerang dengan salah
satu jurus dari tiga jurus sakti pelindung panji. Itu berarti dia
pewaris Kian Kun Ie Siu. Bagaimana kalau hamba bertanya padanya?"
"Oh?" Sepasang mata Gin Tie tampak bersinar
terang. "Kalau begitu, silakan engkau bertanya padanya!"
"Hamba menerima perintah!" Thian Suan Sin
Kun menjura memberi hormat pada Gin Tie, lalu berkelebat ke hadapan
Siau Liong.
Sementara Siau Liong masih berdiri tenang di
tempat, Thian Suan Sin Kun sudah berdiri di hadapannya.
"Bocah!" bentak Thian Suan Sin Kun. "Engkau
pewaris Kian Kun Ie Siu, tua bangka itu?"
"Tidak salah, kenapa?" sahut Siau Liong
dengan alis terangkat.
"Apakah dia gurumu?"
"Betul."
"Bagus!" Thian Suan Sin Kun tertawa gelak.
"Katakan, di mana gurumu sekarang?"
"Siapakah kau sebenarnya?"
"Aku Thian Suan Sin Kun, salah seorang
pelindung Gin Tie!"
"Oh?" Siau Liong menatapnya tajam. "Engkau
kenal guruku?"
"Ha ha ha!" Thian Suan Sin Kun tertawa
terbahak-bahak. "Lo hu dan dia adalah teman lama, bukan cuma kenal!"
"Phui!" Mendadak terdengar suara buang
ludah. "Tak tahu malu! Bagaimana mungkin yaya (kakek)ku kenal orang
yang menutup muka! Kakak Liong, jangan meladeninya, seranglah dia
dengan jurus Ceng Thian Sin Ci (Telunjuk sakti penggetar langit),
agar dia tahu rasa!"
Suara itu belum sirna, sudah tampak sosok
bayangan berkelebat ke samping Siau Liong. Ternyata Cing Ji, cucu
Klan Kun Ie Siu.
Begitu mendengar Cing Ji menyuruhnya
menyerang Thian Suan Sin Kun dengan jurus tersebut, hati Siau Liong
pun tergerak. Segeralah ia menghimpun lwee kangnya untuk menyerang
Thian Suan Sin Kun dengan jurus Ceng Thian Sin Ci.
Hati Thian Suan Sin Kun tersentak, dan
seketika juga ia menggoyang-goyangkan sepasang tangannya.
"Tunggu, bocah!" serunya.
"Kenapa?" tanya Siau Liong sambil
membuyarkan lwee kang yang dihimpunnya barusan. "Engkau mau bicara
apa?"
Ketika Thian Suan Sin Kun baru mau buka
mulut, mendadak terdengar suara tawa Cing Ji yang nyaring.
"Hi hi hi! Kakak Liong, dia mana ada
pembicaraan? Dia cuma takut Kakak Liong menyerangnya dengan jurus
Ceng Thian Sin Ci itu." Usai berkata begitu, gadis itu pun memandang
Thian Suan Sin Kun. "Apo yang kukatakan tidak salah kan?"
Betapa gusarnya Thian Suan Sin Kun, dan
seketika juga ia membentak sengit dengan suara mengguntur.
"Gadis liar! Engkau harus dihajar!"
Sambil berkata demikian, Thian Suan Sin Kun
juga menggerakkan ujung jubahnya, dan segulung angin yang amat
dahsyat langsung menyerang ke arah Cing Ji.
Gadis itu tertawa cekikikan, tubuhnya pun
melayang ke belakang menghindari angin yang dahsyat itu.
"Tak tahu malu!" Ejek Cing Ji sambil
tertawa. "Tidak berani menyambut serangan Liong koko, tapi
malah......" Mendadak Cing Ji menjerit. "Akkh!"
Ketika Cing Ji melompat mundur, justru dekat
pada tempat Gin Tie berdiri. Karena tadi Cing Ji menyebut yaya pada
Kian Kun Ie Siu, maka Gin Tie yakin gadis itu cucu Kian Kun Ie Siu
dan hatinya pun tergerak sambil membatin. Kalau dapat menangkap
gadis itu dijadikan sandera, Kian Kun Ie Siu pasti akan muncul!
Gadis itu akan ditukar dengan Jit Goat Seng Sim Ki......
Pada waktu ia membatin, kebetulan Cing Ji
melayang turun dekat tempat ia berdiri. Kesempatan ini tidak
disia-siakan oleh Gin Tie. Ia bergerak cepat menangkap pergelangan
tangan Cing Ji.
Cing Ji memiliki kepandaian yang cukup
tinggi, karena sejak kecilnya sudah dibimbing oleh kakeknya. Namun
masih kalah jauh dibandingkan dengan Gin Tie, apa lagi serangan itu
merupakan serangan gelap.
"Lepaskan!" teriak Cing Ji gusar dengan mata
melotot.
Bagaimana mungkin Gin Tie akan
melepaskannya? Sebaliknya malah tertawa terkekeh-kekeh, kemudian
menotok jalan darah gadis itu agar jadi lumpuh.
Begitu cepat kejadian itu, sehingga Siau
Liong tidak keburu menolongnya. Seketika juga ia menghimpun lwee
kangnya, siap untuk menyerang Gin Tie. Akan tetapi, mendadak Gin Tie
tertawa dingin.
"Hek Siau Liong! Engkau harus diam di
tempat! Kalau engkau bergerak sedikit, nyawa gadis ini pasti
melayang!" bentak Gin Tie sambil mengangkat tangannya ke arah
punggung Cing Ji.
Melihat ancaman itu, hati Siau Liong
tersentak, sebab di punggung terdapat jalan darah Ling Thai. Apabila
jalan darah itu tertotok, maka Cing Ji akan mati seketika juga.
"Cepat lepaskan dia!" bentak Siau Liong
dengan wajah merah padam saking gusarnya.
"He he he!" Gin Tie tertawa licik. "Aku akan
melepaskannya, tapi......"
"Kenapa?"
"Tidak begitu gampang!"
"Engkau mau apa?"
"Jawab dulu pertanyaanku!"
"Kalau kujawab, engkau akan melepaskan-
nya?"
Gin Tie menggelengkan kepala, ia menatap
Siau Liong tajam.
"Tentunya tidak begitu gampang, sebab aku
punya syarat!"
"Syarat apa?"
"Syarat yang amat sederhana! Engkau harus
pergi memanggil gurumu untuk bicara dengan aku!"
"Itukah syaratmu?"
"Betul! Tapi…..." Gin Tie tertawa gelak.
"Sebelumnya engkau harus menjawab pertanyaanku!"
Demi keselamatan Cing Ji, maka Siau Liong
terpaksa mengangguk.
"Baiklah! Silakan tanya!"
"Betulkah engkau Pek Giok Liong?" Gin Tie
mulai mengajukan pertanyaannya.
"Betul. Saya memang Pek Giok Liong, lalu
kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa!" Gin Tie tertawa.
"Engkau cukup mengaku, tidak perlu bertanya apa pun!"
"Hm!" Dengus Siau Liong dingin.
"Jangan mendengus! Ingat! Gadis ini berada
di tanganku!" Gin Tie tertawa lagi. "Kian Kun Ie Siu si tua bangka
itu berada di mana sekarang? Cepatlah panggil dia ke mari!"
Pek Giok Liong, alias Hek Siau Liong diam
saja. Ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa?
"Liong koko!" seru Cing Ji. Meskipun
badannya tidak bisa bergerak, namun mulutnya masih bisa berbicara.
"Jangan dengar dia dan jangan panggil yaya ke mari! Dia tidak berani
berbuat apa-apa terhadap diriku!"
"Diam!" bentak Gin Tie, lalu menotok darah
gagunya, sehingga mulut Cing Ji diam seketika, sama sekali tidak
bisa bicara lagi.
"Engkau…..." Kegusaran Pek Giok Liong telah
memuncak, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Pek Giok Liong! Cepatlah engkau pergi dan
panggil Kian Kun Ie Siu ke mari! Kalau tidak, aku pasti menyakiti
gadis ini! He he he!"
Setelah tertawa terkekeh-kekeh, Gin Tie pun
segera mengarahkan telunjuknya pada jalan darah Khi Bun di tubuh
Cing Ji.
Pek Giok Liong tahu, apabila jalan darah Khi
Bun itu tertotok, Cing Ji pasti tersiksa sekali. Oleh karena itu, ia
segera berteriak.
"Tunggu!"
"Ha ha ha!" Gin Tie tertawa terbahak-bahak.
"Kalau engkau tidak tega menyaksikan gadis ini tersiksa, cepatlah
pergi panggil Kian Kun Ie Siu, si tua bangka itu ke mari!"
Pek Giok Liong berpikir, lama sekali barulah
membuka mulut.
"Engkau memang kejam!"
"Ha ha ha! Lelaki tidak kejam bukanlah ho
han (orang gagah)."
"Hm!" dengus Pek Giok Liong dingin. Ketika
ia baru mau memasuki goa itu, mendadak ia mendengar suara yang parau
dari dalam goa.
"Liong ji (Nak Liong), suhu sudah keluar!"
Tiba-tiba berkelebat sosok bayangan abu-abu,
dan seketika juga Pek Giok Liong berseru.
"Suhu! Liong ji berada di sini! Cing
Ji......"
Kian Kun Ie Siu sudah berdiri di samping Pek
Giok Liong, dan kepalanya manggut-manggut.
"Suhu sudah tahu," ujarnya sambil melangkah
ke tempat Gin Tie.
Walau matanya buta, tapi Kian Kun Ie Siu
dapat mengetahui bagaimana keadaan di sekitarnya.
Ketika Kian Kun Ie Siu menghampiri Gin Tie,
orang baju perak itu pun tampak gentar. Maklum, Kian Kun Ie Siu
adalah pewaris panji generasi keempat, tentu saja memiliki
kepandaian yang amat tinggi.
"Tua bangka!" bentak Gin Tie. "Cepat
berhenti!"
Kian Kun Ie Siu menghentikan langkahnya,
kemudian ujarnya parau dan perlahan.
"Jangan melibatkan anak kecil, cepatlah
engkau melepaskan dia! Ada urusan apa, bicara langsung saja pada lo
hu!"
"Tua bangka!" Gin Tie tertawa. "Tentunya
gadis ini bukan cucu angkat kan?"
"Jadi engkau mau apa?"
"Kalau aku mau melepaskannya memang tidak
sulit!"
"Kalau begitu, cepat lepaskan dia!"
"Tapi…..." Gin Tie tertawa licik.
"Kenapa?"
"Tua bangka! Aku akan melepaskan cucumu ini,
asal engkau mengabulkan syaratku!"
"Oh? Ternyata engkau menggunakan dirinya
untuk menekan lo hu?"
"Tidak salah!"
"Hmmm!" dengus Kian Kun Ie Siu dingin.
"Engkau bertindak demikian, apakah engkau masih terhitung ho han?"
"Kenapa tidak?"
"Masih mengaku sebagai ho han?" ujar Kian
Kun Ie Siu dingin. "Engkau telah menyandera gadis itu, itu adalah
perbuatan siau jin (Orang rendah)!"
"Ei! Tua bangka! Engkau sudah berpengalaman
dalam bu lim, masa tidak tahu tindakanku ini? Demi mencapai tujuan,
haruslah bertindak keji!"
"Tidak perlu banyak bicara! Sebetulnya apa
tujuanmu?"
"He he he!" Gin Tie tertawa terkekeh-kekeh.
"Tua bangka, engkau mengabulkannya?"
"Katakan dulu apa maumu?"
"Engkau ingin mempertimbangkannya?"
"Tentu!" Kian Kun Ie Siu manggut-manggut.
"Lo hu memang harus mempertimbangkannya! Lagi pula lo hu belum tahu
maksud tujuanmu, bagaimana mungkin…..."
"Tua bangka!" potong Gin Tie. "Mau tidak mau
engkau harus mengabulkan maksud tujuanku! Engkau mengerti, tua
bangka?"
Kian Kun Ie Siu tersentak, keningnya
berkerut-kerut.
"Lo hu mau pertimbangkan atau tidak, lebih
baik kau beritahukan dulu maksud tujuanmu!"
"Tujuanku tidak lain kecuali Jit Goat Seng
Sim Ki! Tua bangka, engkau sudah mengerti kan?"
"Oh! Ternyata engkau demi panji itu!" Kian
Kun Ie Siu manggut-manggut sambil melanjutkan. "Maksudmu, dengan
nyawanya agar lo hu menyerahkan Jit Goat Seng Sim Ki itu?"
"Betul!" Gin Tie tertawa gelak. "Itu memang
tidak salah, lagi pula sangat adil sekali!"
"Bagaimana kalau lo hu tidak mau?"
"Kalau tidak mau…..." Gin Tie tertawa
dingin. "Engkau akan tahu bagaimana akibatnya!"
"Katakan, bagaimana akibat itu?"
"Mulai hari ini engkau akan kehilangan cucu,
bahkan nyawamu pun akan melayang!"
"Oh?" Kian Kun Ie Siu mengerutkan kening.
"Apakah engkau yakin mampu menerima tiga jurus sakti pelindung
panji?"
"Tiga jurus sakti itu memang merupakan bu
kang yang teramat tinggi dan lihay, tapi aku tidak percaya diriku
tidak mampu menyambutnya!"
"Kalau begitu, engkau berasal dari perguruan
yang memiliki bu kang tingkat tinggi juga?"
"Itu sudah pasti!"
"Katakan, siapakah engkau sebenarnya?"
"Aku adalah Gin Tie, anak angkat Cih Seng
Tay Tie masa kini! Tua bangka, engkau sudah dengar jelas?"
"Lo hu sudah dengar jelas, tapi kenapa
engkau tidak berani menyebut namamu?"
"Tua bangka!" Gin Tie tertawa dingin. "Aku
ke mari bukan ingin jadi mantu, maka tidak perlu menyebut namaku!
Lagi pula aku pun jarang berkelana dalam bu lim, kalau pun aku
memberitahukan namaku, belum tentu engkau kenal!"
"Kalau begitu….." tanya Kian Kun Ie Siu
setelah berpikir sejenak. "Siapa Cih Seng Tay Tie itu?"
"Ayah angkatku!"
"Lo hu tanya namanya!"
"Maaf, aku sendiri pun tidak tahu namanya,
hanya tahu dia adalah Cih Seng Tay Tie!"
"Lo hu ingin bertanya, untuk apa engkau
menghendaki Jit Goat Seng Sim Ki?"
"Ingin mendirikan Seng Sim Kiong (Istana
hati suci), menggunakan Jit Goat Seng Sim Ki untuk menegakkan
keadilan dalam bu lim! Itu agar bu lim jadi tenang, aman dan damai!"
Ucapan itu penuh mengandung kebenaran, maka
siapa yang mendengarnya pasti akan tergerak hatinya.
Akan tetapi, Kian Kun Ie Siu sudah
berpengalaman dalam bu lim, maka hatinya tidak gampang tergerak oleh
ucapan tersebut. Lagi pula Gin Tie itu telah menyandera cucunya, itu
pertanda orang berbaju putih perak tersebut bersikap licik dan
berakal busuk.
"Benarkah begitu?" tanya Kian Kun Ie Siu
mengandung maksud lain.
"Memang benar! Engkau percaya atau tidak,
terserah!" sahut Gin Tie.
"Tujuan yang mulia itu adalah kemauanmu atau
kemauan Cih Seng Tay Tie itu?" tanya Kian Kun Ie Siu mendadak.
"Tentu kemauan ayah angkatku itu!"
"Oh?" Kian Kun Ie Siu tertawa. "Kalau
begitu, ayah angkatmu itu pendekar besar yang berhati bajik dan
berbudi luhur, kan?"
"Tua bangka!" Gin Tie tertawa gelak. "Apa
yang engkau katakan itu memang benar! Ayah angkatku memang pendekar
besar masa kini, bahkan pengasih dan penyayang pula! Kalau tidak,
bagaimana mungkin beliau mau memperhatikan keadaan bu lim?"
"Oh?"
"Seandainya ayah angkatku bukan orang yang
penuh kasih sayang, tentu tidak membutuhkan Jit Goat Seng Sim Ki!"
"Maksudmu?"
"Beliau berkepandaian amat tinggi, mampu
membunuh siapa pun untuk menundukkan bu lim! Setelah itu, barulah
mendirikan Seng Sim Kiong!"
"Oooh! Ternyata begitu!"
"Tua bangka!" bentak Gin Tie. "Engkau
serahkan atau tidak panji itu?"
"Kalau engkau mau memberitahukan nama ayah
angkatmu, mungkin lo hu masih akan mempertimbangkan! Kalau tidak,
jangan harap!"
"Oh?" Gin Tie tertawa dingin. "Tua bangka,
engkau tidak memikirkan nyawa cucumu ini?"
"Ha ha ha!" Kian Kun Ie Siu tertawa. "Engkau
ingin menekan lo hu dengan nyawa cucu lo hu itu?"
"Betul!" Gin Tie juga ikut tertawa. "Bagus
engkau tahu, tua bangka!"
"Kalau begitu, engkau telah salah!"
"Kenapa salah?"
"Engkau harus tahu! Jit Goat Seng Sim Ki
merupakan barang wasiat dalam bu lim. Lo hu adalah pemegang panji
itu, bagaimana mungkin membiarkan panji itu jatuh ke tangan orang
jahat? Berapa nilai harga cucu lo hu itu dibandingkan dengan Jit
Goat Seng Sim Ki? Oleh karena itu, lo hu bersedia mengorbankan nyawa
cucu lo hu itu!"
Apa yang dikatakan Kian Kun Ie Siu, itu
membuat Gin Tie tertegun dan tidak habis berpikir. Pada waktu
bersamaan, mendadak Pek Giok Liong tertawa terbahak-bahak.
"Aku sudah tahu, aku sudah tahu engkau
siapa!"
Ucapan Pek Giok Liong itu sangat mengejutkan
semua orang, termasuk Gin Tie atau orang berbaju putih perak itu.
"Pek Giok Liong, engkau jangan bicara dalam
mimpi!" bentak Gin Tie, namun hatinya tersentak.
"Ha ha!" Pek Giok Liong masih tertawa. "Aku
tidak dalam mimpi, aku sudah tahu siapa dirimu!"
"Oh?" Gin Tie menatapnya dingin. "Coba
katakan, aku ini siapa?"
"Ketika engkau muncul di tempat ini, aku
sudah mulai curiga! Sekarang aku sudah berani memastikan siapa
dirimu!"
"Sungguhkah engkau tahu siapa aku?" tanya
Gin Tie dingin.
"Sungguh! Aku sudah tahu!"
"Nah! Cepat katakan siapa aku?"
"Engkau Tu Ci Yen!"
Badan Gin Tie tampak bergetar, tapi dalam
sekejap ia telah tenang kembali.
"Siapa Tu Ci Yen itu?" tanyanya sambil
tertawa dingin.
"Tu Ci Yen!" Pek Giok Liong menatapnya
dingin. "Engkau masih pura-pura bodoh?"
"Aku tidak pura-pura bodoh!" Gin Tie
menggelengkan kepala. "Sungguh aku memang tidak tahu siapa Tu Ci Yen
itu!"
"Engkau pandai berpura-pura!" Pek Giok Liong
tertawa dingin. "Engkau memang licik…..."
"Oh! Aku sudah mengerti!" Gin Tie
manggutmanggut. "Ini pasti karena bentuk badanku seperti Tu Ci Yen
itu! Ya, kan?"
"Sudahlah! Tu Ci Yen, engkau tidak perlu
berpura-pura lagi! Aku sudah tahu dan berani memastikan bahwa engkau
Tu Ci Yen! Engkau tidak usah menyangkal lagi! Kecuali engkau berani
membuka kain penutup mukamu itu!"
"Pek Giok Liong!" ujar Gin Tie dengan suara
dalam. "Aku bukan Tu Ci Yen, engkau tidak percaya, terserah!"
"Hm!" dengus Pek Giok Liong dingin. "Engkau
pengecut, tidak berani mengaku namanya sendiri!"
Gin Tie tidak menimpalinya, melainkan
mengarah pada Kian Kun Ie Siu seraya membentak keras.
"Tua bangka! Cepat serahkan Jit Goat Seng
Sim Ki!"
"Engkau jangan bermimpi!"
"Tua bangka buta!" Gin Tie tertawa licik. "Benarkah
engkau tidak menyayangi nyawa cucumu lagi?"
"Lo hu tadi sudah mengatakan dengan jelas,
engkau tidak bisa menekan lo hu dengan nyawanya! Sebaliknya lo hu
malah memperingatkanmu, lebih baik engkau melepaskannya! Kalau tidak,
kalian semua jangan harap bisa pergi dari sini!"