panji sakti 02

"Oh?" Se Pit Han tertawa kecil. "Saudara Hek, sejurus pedangmu itu memang hebat sekali, namun gerakannya agak lamban. Itu disebabkan ilmu tenaga dalammu masih belum begitu mencapa tingkat tinggi."

 

Siau Liong diam, tapi mendengarkan dengar penuh perhatian.

 

"Oleh karena itu," tambah Se Pit Han. "Kalau engkau ingin menegakkan keadilan rimba persilatan, harus terus-menerus melatih tenaga dalammu. Urusan lain harus dikesampingkan dulu. Carilah orang tua berkepandaian tinggi rimba persilatan untuk belajar kepandaian. Tentang siapa atasan Toan Beng Thong itu dan kenapa ingin membunuhmu, kelak engkau boleh menyelidikinya."

 

"Jadi......" Siau Liong menatapnya. "Urusan disudahi begitu saja?"

 

"Tentu tidak disudahi begitu saja. Meskipun kini engkau ingin menyudahi urusan itu, Toar Beng Thong dan atasannya pasti tidak akan melepaskan dirimu. Untuk sekarang ini, kepandaianmu masih sangat rendah. Seandainya engkau tahu siapa yang ingin membunuhmu, itu juga percuma sebab….. engkau tidak mampu melawan mereka. Maka alangkah baiknya kini engkau menghindar dan bersabar dulu."

 

Se Pit Han menghentikan ucapannya sejenak dan memandang Siau Liong.

 

"Asal engkau bisa belajar kepandaian tinggi tentunya kelak tidak sulit cari mereka. Mengena Bun Jiu Kiong itu, juga tiada masalah lagi. Saudara Hek, bagaimana perkataanku ini? Masuk akal tidak?"

 

"Saudara Se…..." Siau Liong terharu. "Memang benar apa yang kamu katakan, tapi…..."

 

Siau Liong menatapnya sambil tersenyum getir, itu justru membuat wajah Se Pit Han berubah dingin.

 

"Jangan bicara plintat plintut! Itu bukan sikap orang jantan." tegur Se Pit Han tidak senang. "Mau bicara apa, cetuskan!"

 

Siau Liong menarik nafas panjang. "Memang aku berniat belajar kepandaian tinggi, tapi harus ke mana cari orang tua rimba persilatan yang berilmu tinggi?"

 

"Saudara Hek!" Se Pit Han menatapnya dengan alis berkerut. "Engkau takut susah?"

 

"Aku sama sekali tidak takut susah, bahkan mampu memikul kesusahan apa pun."

 

"Bagus! Bagus!" Wajah Se Pit Han berseri, kelihatannya ia ingin memberi petunjuk pada Siau Liong.

 

Itu tidak terlepas dari mata Se Khi. Maka ia cepat-cepat mengirim suara ke telinga Se Pit Han. Itu ilmu Coan Im Jip Kip (Penyampai suara) yang hanya dapat didengar oleh orang yang bersangkutan.

 

"Tuan Muda Istana, budak tua mohon maaf mengingatkan, Tuan Muda Istana harus mempertimbangkan sekali lagi, jangan ceroboh!"

 

Ternyata Se Pit Han tuan muda istana. Istana apa? Mungkinkah istana lemah lembut itu?

 

"Se Khi," sahut Se Pit Han. Ia juga menggunakan ilmu penyampai suara. "Bagaimana menurutmu? Dia pemuda baik kan?"

 

"Pandangan Tuan Muda memang tidak salah, dia memang pemuda baik, bahkan sangat berbakat."

 

"Kalau begitu......" Se Pit Han tersenyum. "Itu tidak jadi masalah."

 

Usai berbicara dengan Se Khi, Se Pit Han segera memandang Siau Liong dengan mata berbinar-binar.

 

"Siau Liong, pernahkah engkau mendengar Cai Hong To (Pulau Pelangi)?" tanyanya dengan suara rendah.

 

"Cai Hong To?" Sepasang mata Siau Liong menyorot aneh. "Saya pernah mendengar mengenai pulau misteri itu. Kenapa Saudara mendadak menyinggung pulau itu?"

 

"Tahukah engkau, terletak di mana pulau itu?"

 

"Lam Hai." Siau Liong menatapnya. "Saudara tahu jelas di mana pulau Cai Hong itu?"

 

"Aku…..." Se Pit Han menggeleng-gelengkan kepala. "Aku tidak tahu, tapi…..."

 

Se Pit Han tidak melanjutkan ucapannya, melainkan menatap Siau Liong dengan penuh perhatian, setelah itu barulah melanjutkan.

 

"Kebetulan engkau menuju ke Lam Hai, maka alangkah baiknya engkau cari pulau itu juga. Siapa tahu engkau berjodoh dengan pulau itu."

 

"Terimakasih atas petunjuk Saudara!" ucap Siau Liong hambar. "Setibaku di Lam Hai, aku pasti mencoba mengadu nasib untuk mencari pulau itu."

 

Siau Liong tampak begitu hambar, pertanda tidak begitu berharap. Se Pit Han tertegun menyaksikannya. Siapa yang mendengar nama Pulau Pelangi pasti akan memperlihatkan wajah serius. Namun sebaliknya Siau Liong malah tampak begitu hambar, sungguh di luar dugaan Se Pit Han.

 

"Saudara Hek, engkau tampak begitu hambar, apakah tidak tertarik pada Pulau Pelangi ataukah tidak yakin dan tidak punya harapan untuk mencapainya?"

 

"Terus terang, Pulau Pelangi boleh dikatakan merupakan semacam dongeng dalam kang ouw, maka aku tidak begitu berharap…..."

 

"Saudara Hek!" Se Pit Han menatapnya tajam.

 

"Kalau aku yakin dan sangat berharap, bagaimana seandainya tidak tercapai? Bukankah akan menjadi putus asa?" lanjut Siau Liong. "Aku justru tidak menghendaki itu."

 

Memang benar apa yang dikatakan Siau Liong, maka Se Pit Han diam saja. Lagi pula ia pun tidak boleh berterus terang pada Siau Liong, hanya sekedar memberi petunjuk saja.

 

Hening beberapa saat lamanya, kemudian mendadak Se Pit Han mengalihkan pembicaraannya.

 

"Mungkin tidak lama lagi Toan Beng Thong akan pulang, lebih baik kita segera pergi, agar tidak terjadi keributan di sini."

 

Se Pit Han bangkit berdiri, kemudian mengarah pada kedua pemuda berbaju hijau yang duduk tak jauh dari situ, setelah itu ia memandang Siau Liong.

 

"Saudara Hek, mari kita pergi!" ujarnya sambil tersenyum.

 

Siau Liong tampak ragu, tetapi berselang sesaat ia manggut-manggut sambil bangkit berdiri. Setelah Se Khi menaruh setael perak di atas meja, mereka bertiga lalu meninggalkan rumah makan Si Hai itu.

 

Kedua pemuda berbaju hijau juga ikut pergi, bahkan mengikuti mereka dari belakang. Siapa kedua pemuda berbaju hijau itu? Kenapa mereka berdua mengikuti Se Pit Han, juga kenapa tadi Se Pit Han mengarah pada mereka berdua?

 

Itu sungguh mengherankan, bahkan agak luar biasa pula. Namun kalau dijelaskan, itu tidak akan mengherankan maupun luar biasa lagi. Karena kedua pemuda berbaju hijau itu pengawal Se Pit Han. Berhubung Se Pit Han ingin berkenalan dengan Siau Liong, maka ia menyuruh mereka berdua duduk di tempat lain.

 

Kalau begitu, bagaimana jati diri Se Pit Han? Tentunya berderajat sangat tinggi sebab Se Khi memanggilnya Tuan Muda Istana. Selain Se Khi dan kedua pemuda berbaju hijau, masih ada delapan pemuda yang berilmu tinggi, terutama ilmu pedang.

 

Keluar dari rumah makan Si Hai, mereka langsung menuju Rumah penginapan Sia Ping. Begitu sampai di rumah penginapan itu Se Pit Han pun memesan beberapa buah kamar.

 

-- o --

 

 

Se Pit Han dan Siau Liong duduk berhadapan di dalam kamar rumah penginapan Sia Ping tersebut. Tampak pula kedua pemuda berbaju hijau berdiri di belakang Se Pit Han.

 

Kini Se Khi telah melepaskan kedoknya. Ternyata ia seorang tua berusia tujuh puluh limaan yang rambut dan jenggotnya telah putih semua.

 

"Saudara Se," ujar Siau Liong. "Kita baru berkenalan, namun Saudara sedemikian baik terhadap aku…..."

 

"Saudara Hek," potong Se Pit Han sambil tersenyum. "Pepatah mengatakan empat penjuru lautan adalah saudara. Itu memang tidak salah. Lagi pula bertemu merupakan jodoh. Kita sudah jadi teman, maka tidak perlu sungkan-sungkan."

 

Siau Liong manggut-manggut.

 

"Mulai sekarang," tambah Se Pit Han sungguh-sungguh. "Aku tidak mau dengar ucapanmu yang bernada sungkan lagi. Kalau masih begitu lebih baik kita jangan menjadi teman."

 

"Baiklah." Siau Liong mengangguk lagi. "Aku menurut, mulai sekarang aku tidak akan sungkan sungkan lagi."

 

"Bagus." Se Pit Han tertawa kecil. "Saudara Hek, itu sifat jantan seorang pendekar di bu lim."

 

"Saudara Se, ucapanmu membuatku menjad malu hati." wajah Siau Liong kemerah-merahan.

 

"Oh, ya?" Se Pit Han menatapnya. "Kalau begitu, engkau harus dihukum."

 

"Apa?" Siau Liong terbelalak. "Kenapa aku harus dihukum?".

 

"Karena….. telah menyinggung perasaanku."

 

"Itu…..." Siau Liong menarik nafas. "Cara bagaimana Saudara menghukumku?"

 

"Aku akan menghukummu dengan cara......" Se Pit Han tersenyum serius. "Lain kali saja aku akan menghukummu."

 

"Kenapa harus lain kali?"

 

"Karena sekarang belum waktunya."

 

"Baiklah." Siau Liong mengangguk sambil ter senyum. "Lain kali aku pasti menerima hukuman itu."

 

Se Pit Han tertawa lebar, lalu mengarah pada Se Khi yang duduk tak jauh dari situ.

 

"Se Khi! Cepat panggil Pat Kiam (Delapan Pedang) ke mari!" ujarnya bernada perintah.

 

"Ya, budak tua terima perintah," sahut Se Khi hormat. Orang tua itu segera melangkah pergi.

 

"Saudara Se," tanya Siau Liong heran. "Siapa Pat Kiam itu? Apakah mereka bawahanmu?"

 

"Mereka ahli pedang didikan ayahku." Se Pit Han memberitahukan.

 

"Kalau begitu, ilmu pedang mereka pasti tinggi sekali. Ya, kan?" tanya Siau Liong bernada kagum.

 

Se Pit Han tidak menyahut, hanya manggut-manggut. Sebab kalau ia memberitahukan tentang ilmu pedang delapan orang itu, Siau Liong pasti tidak akan percaya. Karena Se Pit Han diam, maka Siau Liong pun bertanya lagi.

 

"Saudara Se, bagaimana Pat Kiam dibandingkan dengan Pendekar Pedang Yan San?"

 

Se Pit Han menatapnya, kemudian balik bertanya.

 

"Saudara Hek, apakah ilmu pedang Pendekar Pedang Yan San itu sangat tinggi?"

 

"Ya." Siau Liong mengangguk.

 

"Pernahkah engkau menyaksikannya?" tanya Se Pit Han mendadak.

 

"Tidak pernah, hanya pernah dengar," jawab Siau Liong jujur.

 

"Ooh!" Se Pit Han manggut-manggut, lalu tertawa mendadak. "Saudara Hek, engkau ingin membuka mata?"

 

"Maksud Saudara?"

 

"Dari sini ke Yan San tidak begitu jauh, mari kita ajak Pat Kiam ke sana untuk bertanding! Nah, bukankah engkau bisa membuka mata menyaksikannya?"

 

Siau Liong menggeleng-gelengkan kepala. "Itu tidak mungkin."

 

"Kenapa?" tanya Se Pit Han.

 

Siau Liong menarik nafas panjang seraya menyahut.

 

"Dengar-dengar Pendekar Pedang Yan San telah mati."

 

"Oh…..?" Se Pit Han mengernyitkan kening.

 

Pada waktu bersamaan, di pintu kamar telah muncul Se Khi bersama delapan pemuda yang mengenakan baju biru.

 

"Lapor pada Tuan Muda!" seru Se Khi hormat. "Pat Kiam sudah datang."

 

"Masuk!" sahut Se Pit Han serius dan berwibawa.

 

Se Khi melangkah duluan, delapan pemuda berbaju biru mengikuti dari belakang menghampiri Se Pit Han.

 

"Pat Kiam memberi hormat pada Tuan Muda!" ucap salah seorang pemuda berbaju biru sambil menjura hormat.

 

"Ngmm!" Se Pit Han manggut-manggut. "Kalian cepat beri hormat pada Tuan Muda Hek!"

 

"Pat Kiam memberi hormat pada Tuan Muda Hek!" ucap pemuda berbaju biru itu lagi, ternyata ia pemimpin Pat Kiam.

 

"Kalian tidak usah berlaku begitu hormat!" Siau Liong salah tingkah.

 

Setelah memberi hormat pada Siau Liong, Pat Kiam pun berdiri di sisi Se Pit Han, seakan sedang menunggu perintah.

 

"Kalian ingin mengembangkan kepandaian masing-masing?" tanya Se Pit Han mendadak pada Pat Kiam.

 

Wajah Pat Kiam tampak berseri, tapi tiada seorang pun berani menjawab. Mereka tetap berdiri mematung di tempat.

 

"Kenapa kalian diam saja?" tanya Se Pit Han sambil memandang pemimpin Pat Kiam. "Huai Hong, jawablah!"

 

"Huai Hong memang ingin sekali mengembangkan ilmu pedang yang telah lama dipelajarinya, tapi….. tapi......"

 

Huai Hong tidak melanjutkan ucapannya, ia tampak ragu.

 

Se Pit Han malah tersenyum.

 

"Tapi tiada kesempatan kan?"

 

"Ya." Huai Hong mengangguk hormat.

 

"Kalau begitu, aku ingin menyampaikan kabar gembira untuk kalian." Se Pit Han menatap mereka. "Malam ini kemungkinan kalian punya kesempatan itu."

 

-- o --

 

 

 

Bagian ke 10: Menyambut Serangan

 

Betapa gembiranya Pat Kiam itu. Mata mereka berbinar-binar saking girangnya mendengar kabar tersebut. Sejak mereka lulus belajar ilmu pedang. sama sekali tidak pernah bertarung dengan lawan, maka malam ini…...

 

"Tapi aku harus mengingatkan kalian." ujar Se Pit Han serius. "Orang yang akan ke mari malam ini, kepandaiannya cukup tinggi. Kalau tidak terpaksa, janganlah kalian sembarangan melukainya! Mengerti kalian?"

 

"Kami mengerti," sahut mereka serentak dengan hormat.

 

"Bagus!" Se Pit Han manggut-manggut, kemudian bertanya pada Se Khi, "Sudah waktu apa sekarang?"

 

"Sudah lewat jam dua malam," jawab Se Khi memberitahukan dengan sikap hormat.

 

"Ng!" Se Pit Han mengangguk perlahan, lalu mengarah pada Huai Hong. "Kalau perhitunganku tidak salah, sekitar jam empat subuh pihak lawan akan ke mari. Sekarang masih ada waktu, sebaiknya kalian beristirahat."

 

"Ya," sahut Huai Hong sambil menjura, kemudian bertanya, "Maaf, Tuan Muda! Mohon tanya siapa lawan kita itu?"

 

Se Pit Han menggelengkan kepala.

 

"Aku pun cuma menduga, kemungkinan subuh nanti akan ada orang ke mari cari gara-gara. Siapa orang itu, aku sendiri pun tidak begitu jelas. Setelah orang itu datang, kalian bertanya langsung saja padanya."

 

Se Pit Han menjawab begitu, Huai Hong pun merasa tidak enak untuk bertanya lagi. Ia dan saudara-saudara seperguruannya memberi hormat pada Se Pit Han.

 

"Tuan Muda, kami mohon diri!" Huai Hong dan saudara-saudara seperguruannya mengundurkan diri dari kamar itu.

 

Sementara Siau Liong terus mengerutkan alis sambil berpikir. Setelah Pat Kiam pergi, ia pun segera bertanya.

 

"Saudara Se, sebetulnya ada apa?"

 

Pertanyaan yang tiada ujung pangkal itu membuat orang bingung, tidak tahu apa yang ditanyakannya.

 

Akan tetapi, Se Pit Han berotak cerdas. Ia dapat menerka apa yang ditanyakan Siau Liong. Namun ia berpura-pura tidak memahami pertanyaan itu, dan malah balik bertanya.

 

"Memangnya ada apa?"

 

"Saudara yakin, subuh ini akan ada orang ke mari cari gara-gara?" Siau Liong menatapnya.

 

"Saudara Hek." Se Pit Han tersenyum. "Engkau tidak percaya?"

 

"Bukan masalah tidak percaya." Siau Liong menggeleng-gelengkan kepala. "Terus terang, aku merasa heran."

 

"Oh? Kenapa heran?"

 

"Saudara menerka subuh ini ada orang ke mari cari gara-gara, tentunya telah menemukan sesuatu. Kalau tidak, bagaimana mungkin saudara akan menerka begitu?"

 

Se Pit Han diam saja.

 

"Saudara Se, sebetulnya siapa yang akan ke mari cara gara-gara?" tanya Siau Liong lagi.

 

"Saudara Hek!" Se Pit Han tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Padahal sesungguhnya, aku sama sekali tidak menemukan apa pun. Terkaanku itu berdasarkan hal-hal yang nyata saja."

 

"Oh?" Siau Liong tidak habis berpikir. "Saudara menerka berdasarkan hal-hal yang nyata, kalau begitu, apa tujuan orang itu ke mari? Tentunya Saudara tahu kan?"

 

"Aku memang tahu." Se Pit Han menatapnya. "Orang itu ke mari dengan tujuan mencarimu, Saudara Hek!"

 

"Oh, ya?" Siau Liong menarik nafas. "Kalau begitu, orang itu pasti Thi Sui Poa Toan Beng Thong."

 

"Seharusnya dia atau orang-orangnya," jawab Se Pit Han dan menjelaskan agar Siau Liong mengerti. "Engkau orang yang harus dibunuh atasannya, lagi pula Se Khi menyamar dirimu memancingnya pergi, sekaligus memberinya sedikit pelajaran, maka demi tugas dan sakit hati itu, dia pasti tidak akan melepaskanmu begitu saja. Oleh karena itu, aku pun berkesimpulan bahwa subuh ini, dia pasti menyuruh orang-orangnya ke mari."

 

Mendengar penjelasan yang masuk akal itu Siau Liong pun manggut-manggut dan berpikir dalam hati.

 

"Tapi dia kok tahu aku berada di rumah penginapan ini?" tanyanya.

 

"Kota Ling Ni ini tidak besar. Asal dia menyuruh orang menyelidikinya, pasti tahu engkau berada di sini."

 

"Oooh!" Siau Liong mengangguk.

 

"Se Khi!" Se Pit Han memandang orang tua itu. "Pat Kiam di luar sudah cukup untuk menghadapi lawan-lawan itu, namun kita pun harus berhati-hati, agar tidak dipermainkan pihak lawan. Kalau kita dipermainkan, itu sungguh memalukan."

 

"Ya, Tuan Muda." Se Khi mengangguk.

 

"Sasaran mereka adalah Tuan Muda Hek," ujar Se Pit Han sambil melirik Siau Liong. "Maka engkau harus melindunginya, urusan lain engkau boleh tidak perduli."

 

"Budak tua terima perintah." Se Khi memberi hormat. "Harap Tuan Muda berlega hati, budak tua pasti melindungi Tuan Muda Hek, sekaligus bertanggung jawab tentang ini."

 

"Bagus." Se Pit Han tersenyum sambil manggut-manggut.

 

"Tapi…..." Se Khi menatap Se Pit Han, kelihatannya mengkhawatirkannya. "Bagaimana dengan Tuan Muda sendiri?"

 

"Engkau tidak usah khawatir!" Se Pit Han tampak tenang sekali. "Aku bisa menjaga diri sendiri."

 

"Tuan Muda…..." Se Khi memandangnya dengan mata menyorotkan sinar aneh. "Apakah Tuan Muda sudah mengambil keputusan, apabila perlu, Tuan Muda akan turun tangan sendiri?"

 

"Itu sudah pasti." Se Pit Han mengangguk. "Apabila perlu, bagaimana mungkin aku cuma berpangku tangan?"

 

"Tapi…..." Se Khi menggelengkan kepala. "Budak tua tidak setuju Tuan Muda turun tangan sendiri."

 

"Apa alasanmu, Se Khi?" tanya Se Pit Han dengan alis terangkat tinggi.

 

"Diri Tuan Muda bagaikan giok, tidak pantas bergebrak dengan orang-orang kang ouw."

 

"Se Khi!" wajah Se Pit Han tampak serius. "Aku ingin bertanya, untuk apa aku belajar ilmu silat? Kalau begitu, percuma aku memiliki ilmu silat yang tinggi kan?"

 

"Tuan Muda…..." Se Khi menundukkan kepala. "Budak tua khawatir Tuan Muda belum berpengalaman, gampang terperdaya oleh lawan. Kalau terjadi begitu, budak tua......"

 

Se Pit Han tertawa kecil, ia memandang Se Khi seraya berkata,

 

"Tentunya Se Khi tahu bagaimana ilmu silatku, lagi pula masih ada dua pengawal Giok Cing dan Giok Ling, apakah mereka berdua akan membiarkan pihak lawan mendekati diriku? Pokoknya engkau cukup menjaga Tuan Muda Hek saja, jangan sampai dia terjadi sesuatu, itu adalah tanggungjawabmu."

 

Sementara Siau Liong cuma diam, dan terus mendengar pembicaraan mereka.

 

"Itu tidak bisa, aku tidak mengabulkan," selanya.

 

Se Pit Han tertegun. Ia menatap Siau Liong dengan wajah heran.

 

"Kenapa tidak bisa? Dan….. engkau tidak mengabulkan apa?" tanyanya.

 

"Kenapa keselamatan diriku harus dipertanggungjawabkan pada orang lain? Apakah aku tidak becus sama sekali menjaga diri sendiri?" jawat Siau Liong dengan kening berkerut. "Perlukah diriku dijaga dan dilindungi orang lain?"

 

"Saudara Hek!" Se Pit Han tersenyum. "Jadi maksudmu harus menjaga dan melindungi diri sendiri?"

 

"Tidak salah." Siau Liong mengangguk. "Kalau diriku masih harus dijaga dan dilindungi orang lain, apakah aku masih terhitung anak lelaki?"

 

"Oh?" Se Pit Han menatapnya tajam.

 

"Lebih baik kalian tidak usah mengurusi diriku," tandas Siau Liong, ia tampak tidak senang.

 

"Saudara Hek, Se Pit Han masih menatapnya tajam. "Aku pikir….. engkau sudah punya suatu rencana. Ya, kan?"

 

            Siau Liong tersentak, namun tidak tersirat pada wajahnya, ia kelihatan tenang-tenang saja.

 

"Saudara Se, bagaimana mungkin aku punya suatu rencana?" sangkalnya sambil tersenyum hambar.

 

"Saudara Hek, engkau juga tidak perlu mengaku." Se Pit Han tersenyum serius. "Bagaimana mungkin engkau dapat mengelabui mataku?"

 

"Saudara Se…..."

 

"Mengenai siapa atasan Toan Beng Thong," lanjut Se Pit Han. "Dan kenapa mau membunuhmu, hingga saat ini engkau masih penasaran. Maka engkau ingin bertarung dengannya, sekaligus bertanya tentang itu. Dugaanku tidak meleset kan?"

 

Siau Liong terperanjat dan membatin. Sungguh lihay Se Pit Han, apa yang kupikirkan, dia dapat menduganya dengan tepat. Siau Liong menarik nafas, lalu manggut-manggut.

 

"Dugaan Saudara memang tidak salah, aku memang berpikir begitu…..." Kemudian tambahnya, "Padahal aku menuruti nasihat Saudara, memutuskan tidak akan mencarinya untuk menanyakan hal itu. Tapi….. seandainya dia ke mari mencariku, tentunya aku pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu."

 

"Oh?" Se Pit Han tertawa dingin. "Saudara Hek, engkau sungguh membuatku kecewa."

 

"Apa?!" Siau Liong tercengang. "Kok membuat Saudara kecewa? Apakah aku tidak harus berpikir begitu?"

 

"Engkau berpikir begitu, tentu tidak bisa dikatakan tidak harus," Se Pit Han menatapnya dingin. "Namun berdasarkan bu kang sekarang, masih bukan tandingan Toan Beng Thong."

 

"Oh?" Siau Liong mengerutkan kening. "Benarkah bu kang Toan Beng Thong begitu tinggi, sehingga aku bukan tandingannya?"

 

"Se Khi pernah mengatakan kepandaiannya biasa-biasa saja. Tapi engkau jangan beranggapan begitu, itu keliru besar."

 

"Maksudmu?"

 

"Se Khi memiliki tenaga dalam yang amat tinggi, begitu pula bu kangnya. Maka jarang bertemu lawan yang setanding dalam bu lim. Toan Beng Thong roboh dalam tiga jurus ditangannya, itu pertanda Toan Beng Thong memiliki bu kang yang cukup lihay, masih di atas tingkat Ling Ni Sam Hou. Mereka bertiga cuma mampu bertahan sampai sepuluh jurus bertanding dengan Toan Beng Thong."

 

Siau Liong diam. Ia tidak percaya akan apa yang dikatakan Se Pit Han. Tiba-tiba Se Khi berbatuk lalu mengarah pada Siau Liong sambil tersenyum.

 

"Tuan Muda Hek, dalam bu lim terdapat kiu pay it pang (sembilan partai satu perkumpulan). Menurutmu ketua partai mana yang paling tinggi bu kangnya?"

 

"Siau Lim Pay disebut sebagai gudang bu kang bahkan juga kepala dari partai lain, maka ketua Siau Lim Pay paling tinggi bu kangnya," jawab Siau Liong tanpa ragu.

 

"Ngmm!" Se Khi manggut-manggut sambil tertawa. "Kini aku akan omong besar. Liau Khong Taysu itu kalau bertanding denganku cuma mampu bertahan sampai seratus jurus. Saudara Hek, percayakah engkau?"

 

Siau Liong terbelalak, tentunya ia tidak percaya. Memang tidak bisa menyalahkannya, sebab siapa pun tahu, betapa tingginya bu kang Liau Khong Taysu, padri sakti itu. Maka bagaimana mungkin Siau Liong akan percaya kata-kata Se Khi?

 

Se Khi mengetahui akan hal itu. Ia menatap Siau Liong tajam seraya bertanya,

 

"Tuan Muda Hek, tidak percaya?"

 

"Aku tidak berani mengatakan tidak percaya. Namun tanpa menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, aku pun tidak berani mengatakan percaya."

 

"Ooh!" Se Khi tersenyum. "Kalau begitu, sudah jelas Tuan Muda Hek tidak percaya kan?"

 

Pada waktu bersamaan, mendadak terdengar suara sahutan yang amat nyaring di luar pintu kamar.

 

"Ha ha ha! Aku pun tidak percaya!"

 

Air muka Se Khi langsung berubah.

 

"Siapa di luar? Sungguh berani mencuri dengar pembicaraan kami!" bentaknya mengguntur.

 

"Ha ha! Aku pengemis kelaparan." terdengar suara sahutaan lantang, kemudian berkelebat sosok bayangan dan muncullah seorang pengemis tua berdiri di pintu. Badannya kurus pendek, rambut awut-awutan dan berjenggot kambing. Namun sepasang matanya bersinar tajam. Usia orang itu kira-kira tujuh puluhan.

 

Begitu melihat pengemis tua itu, seketika juga Se Khi tertawa terbahak-bahak saking gembiranya.

 

"Kukira siapa yang memiliki bu kang begitu hebat, tidak tahunya engkau pengemis tua!"

 

Ternyata Se Khi kenal pengemis tua itu, dan mereka pun tampak begitu akrab.

 

Sementara pengemis tua itu pun tertawa gelak. Suara tawanya memekakkan telinga.

 

"Ha ha! tidak sangka kan, keparat Se?"

 

"Hei! Pengemis tua! Jangan kentut di sini!" tegur Se Khi. "Dirimu sudah begitu bau…..."

 

"Oh, ya?" Pengemis tua tertawa, kemudian menengok ke sana ke mari seraya bertanya, "Keparat Se, tadi engkau bilang….. majikan muda kalian juga datang di Ting Goan?"

 

"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku membawa Siang Wie (Sepasang Pengawal) dan Pat Kiam jalan bersama?"

 

"Oh? Di mana majikan muda? Kok aku tidak melihatnya?" pengemis tua tercengang.

 

"Ha ha! Pengemis bau!" Se Khi tertawa ngakak. "Jangan-jangan sepasang matamu telah lamur!"

 

"Sialan!" caci pengemis tua sambil melirik kian ke mari, akhirnya sepasang matanya memandang lekat-lekat pada Se Pit Han. "Eh? Engkau…..."

 

"Pengemis bau!" Se Khi segera mengirim suaranya. "Jangan membongkar jati dirinya!"

 

"Oh?" Pengemis tua menggaruk-garuk kepala.

 

-- o ---- o -- -- o --

PANJI SAKTI (JIT GOAT SENG SIM KI)

(Panji Hati Suci Matahari Bulan)

  Karya: Khu Lung

 

 

Bagian ke 11: Tetua Perkumpulan Pengemis

 

Se Pit Han segera bangkit berdiri, lalu menjura memberi hormat pada pengemis tua itu.

 

"Paman pengemis, aku memang Pit Han!"

 

"Haah?!" pengemis tua terbelalak, kemudian tertawa gelak. "Ha ha ha! Engkau berdandan demikian, Paman tidak mengenalimu lagi!"

 

Apa maksudnya berdandan demikian? Tentunya mengandung suatu arti. Pit Han mengerti, tapi Siau Liong tidak mengerti sama sekali. Lagi pula ia tidak begitu memperhatikan pembicaraan mereka.

 

"Ha ha ha!" Pengemis tua masih terus tertawa. Setelah itu mengarah pada Siau Liong, sekaligus bertanya pada Se Khi. "Keparat Se, siapa saudara kecil itu? Kok tidak diperkenalkan padaku?"

 

"Pengemis bau, dia Tuan Muda Hek, teman baru tuan muda." Se Khi memberitahukan.

 

"Oh?" Sepasang mata pengemis tua terus berkedip-kedip mengarah pada Se Pit Han, itu membuat Se Pit Han tersipu. Mengherankan, kenapa Se Pit Han tersipu?

 

"Tuan Muda Hek!" Se Khi memperkenalkan pengemis tua itu. "Pengemis bau itu ketua perkumpulan pengemis masa kini, tergolong salah satu orang aneh rimba persilatan, julukannya Si Tongkat Sakti, Ouw Yang Seng Tek namanya."

 

Siau Liong terkejut bukan main. Ia sama sekali tidak menyangka pengemis tua yang kurus pendek itu salah seorang dari tujuh orang aneh rimba persilatan. Maka menilai orang jangan berdasar wajah maupun bentuk badannya.

 

Siau Liong segera bangkit berdiri, lalu menjura hormat pada Ouw Yang Seng Tek, pengemis tua itu.

 

"Boon pwe (Saya yang muda) memberi hormat pada Cian pwe (Orang tua tingkat tinggi)!"

 

"Ha ha!" Pengemis tua itu tertawa terbahak-bahak. "Saudara kecil, jangan banyak peradatan!"

 

"Ya, cian pwe" Siau Liong mengangguk.

 

Ouw Yang Seng Tek mengarah pada Se Pit Han. Ia mengedipkan sebelah matanya seraya bertanya,

 

"Siau tit (Keponakan) bermaksud mengajak saudara Hek tinggal di Lam Hai?"

 

Itu merupakan pertanyaan biasa, namun sangat luar biasa bagi Se Pit Han dan Se Khi, sebab pertanyaan itu mengandung suatu arti yang dalam. Begitu pengemis tua mengajukan pertanyaan tersebut, wajah Se Pit Han pun tampak kemerah-merahan. Bukankah sungguh mengherankan?

 

Se Pit Han menggelengkan kepala. "Aku tidak bermaksud begitu, melainkan dia sendiri punya urusan ke Lam Hai."

 

"Oh?" Kening pengemis tua berkerut-kerut, kemudian bertanya pada Siau Liong sambil menatapnya dalam-dalam. "Saudara kecil, mau apa engkau ke Lam Hai?"

 

"Mohon maaf, lo cian pwe! Boan pwe punya kesulitan untuk memberitahukan."

 

"Ngmm!" Pengemis tua manggut-manggut, lalu memandang Se Pit Han. "Keponakan, dia temanmu, maka Paman ingin berunding denganmu."

 

"Oh?" Se Pit Han dapat menduga apa maunya pengemis tua itu. Ia tertawa-tawa. "Paman menghendaki agar jadi pengemis kecil?"

 

"Wah!" Pengemis tua tertawa gelak. "Engkau memang pintar, Paman memang bermaksud begitu."

 

Se Pit Han menggelengkan kepala.

 

"Tidak bisa. Aku tidak setuju."

 

Pengemis tua tertegun. Ia menatap Se Pit Han dengan mata terbeliak lebar, lalu berkedip-kedip.

 

"Kenapa? Jadi pengemis kecil pun bisa makan enak, kenapa engkau tidak setuju?"

 

Se Pit Han menggelengkan kepala lagi.

 

"Kalau menjadikan dia pengemis, itu sangat menghina dirinya."

 

"Apa?" Pengemis tua melotot, namun kemudian tertawa terbahak-bahak. "Engkau ingin mengangkat derajat dirinya dulu?"

 

"Aku tidak bermaksud begitu."

 

"Kalau begitu…..." Pengemis tua berpikir, lalu tersenyum. "Asal dia tidak menyia-nyiakan harapan Paman, dalam waktu sepuluh tahun, pasti akan menjadi kepala pengemis. Bagaimana menurutmu?"

 

Kepala pengemis, tentunya ketua perkumpulan pengemis, itu merupakan janji berat bagi Ouw Yang Seng Tek.

 

Seharusnya Se Pit Han segera mengangguk, tapi sebaliknya ia malah menggelengkan kepala lagi. Itu membuat pengemis tua terbengong-bengong.

 

"Eh, Pit Han!" Pengemis tua menggaruk-garuk kepala. "Itu juga tidak boleh, lalu harus bagaimana baru boleh?"

 

Se Pit Han tidak menyahut, melainkan mengarah pada Se Khi seraya berkata dengan serius.

 

"Se Khi, beritahukanlah pada paman pengemis!"

 

Se Khi mengangguk, lalu memandang pengemis tua sambil tertawa.

 

"Jangan tertawa!" tegur Ouw Yang Seng Tek. "Cepatlah beritahukan!"

 

"Pengemis bau, singkirkan saja maksud baikmu itu!" sahut Se Khi.

 

"Lho, kenapa?" Pengemis tua tampak penasaran sekali. "Keparat Se, cepat jelaskan!"

 

"Tuan Muda akan mengaturnya." Se Khi memberitahukan.

 

"Ooooh!" Pengemis tua manggut-manggut mengerti akan ucapan itu.

 

Akan tetapi, yang bersangkutan malah tidak mengerti sama sekali. Ia memandang Se Khi, memandang Ouw Yang Seng Tek, lalu memandang Se Pit Han dengan penuh perhatian.

 

"Saudara ingin mengatur apa?" tanyanya.

 

Se Pit Han tidak menyahut, hanya tersenyum sekaligus balik bertanya.

 

"Coba engkau katakan, aku akan mengatur apa?"

 

"Eeh?" Siau Liong melongo. "Aku bertanya pada Saudara, kenapa Saudara malah balik bertanya?"

 

"Aku tahu engkau bertanya padaku, namun aku harus bertanya pada siapa?"

 

"Haah?" Siau Liong terbelalak. "Saudara Se, jangan membuatku bingung!"

 

"Aku tidak membuatmu bingung kok."

 

"Tapi......" Siau Liong mengerutkan kening. "Se lo jin keh mengatakan begitu, itu berdasarkan kemauanmu kan?"

 

"Aku memang menyuruhnya bicara, tapi tidak menyuruh mengatakan begitu."

 

"Oh?" Siau Liong tampak penasaran. "Kalau begitu, Saudara menghendaki mengatakan apa?" Se Pit Han tersenyum.

 

"Saudara Hek, tanyalah langsung pada Se Khi!"

 

"Hm!" Tanpa sadar Siau Liong mendengus dingin, kemudian mengarah pada Se Khi. "Lo jin keh, mohon penjelasan tentang itu!"

 

Pada waktu bersamaan, Se Khi telah menerima suara dari Se Pit Han, maka ia segera tersenyum.

 

"Tuan Muda masih ingat kami pernah menyinggung mengenai Pulau Pelangi itu?" Siau Liong mengangguk.

 

"Lo jin keh masih ingat itu."

 

"Oleh karena itu….." ujar Se Khi serius. "Tuan Muda kami menghendaki Tuan Muda Hek mencari Pulau Pelangi itu, kalau Tuan Muda Hek telah tiba di Lam Hai. Apakah itu bukan merupakan suatu pengaturan?"

 

"Oh? Sungguhkah itu merupakan pengaturan?" tanya Siau Liong.

 

"Ha ha ha!" Mendadak Ouw Yang Seng Tek tertawa terbahak-bahak sambil menyela. "Saudara kecil, itu memang merupakan pengaturan, bahkan aku berani menjamin, engkau pasti dapat mencari Pulau Pelangi itu, tidak akan…..."

 

"Paman pengemis!" potong Se Pit Han cepat, sekaligus menegurnya. "Kok Paman jadi banyak omong?"

 

"Eh? Itu..... ini….." pengemis tua tergagap. Siau Liong tergerak hatinya. Ia menatap pengemis tua itu seraya bertanya sungguh-sungguh. "Lo cian pwe, apakah itu benar?"

 

"Apa yang benar?" Pengemis tua balik bertanya, kemudian memandang Se Pit Han sambil menyengir.

 

"Pengemis bau!" sela Se Khi mengalihkan pembicaraan. "Kenapa engkau datang di Kota Ling Ni ini?"

 

Sepasang bola mata Ouw Yang Seng Tek berputar-putar.

 

"Kenapa? Kalian boleh ke mari, apakah aku tidak boleh datang?"

 

"Coba omong yang sesungguhnya!" Se Khi tertawa. "Ada apa engkau datang di Kota Ling Ni?"

 

"Kalian ingin tahu?"

 

"Tentu."

 

"Begini…..." Pengemis tua tampak sungguh-sungguh. "Ketika aku kebetulan lewat di kota ini, ada laporan dari pemimpin cabang Kay Pang (Perkumpulan Pengemis) di sini, bahwa rumah penginapan ini telah kedatangan belasan orang bu lim yang tak jelas alirannya, maka aku ke mari untuk melihat-lihat. Sungguh tak terduga, ternyata majikan muda dan engkau keparat Se!"

 

"Oooh!" Se Khi manggut-manggut.

 

"Keparat Se, engkau sungguh tidak beres," tegur Ouw Yang Seng Tek, pengemis tua mendadak.

 

"Eeh?" Se Khi tertegun. "Pengemis bau, apa yang tak beres pada diriku?"

 

"Engkau mendampingi majikan muda memasuki Tiong Goan, kenapa engkau tidak menyuruh pimpinan Cabang Kay Pang memberitahukan padaku? Apakah engkau khawatir aku tidak mampu menjamu kalian semua?" sahut pengemis tua sambil menudingnya. "Dasar keparat Se!"

 

"Ha ha ha!" Se Khi tertawa gelak. "Hei, pengemis bau! Memang bukan masalah memberitahukanmu, tapi kami yang akan menjadi susah."

 

"Apa?" Pengemis tua melongo. "Kok kalian yang menjadi susah! Memangnya kenapa?"

 

"Pengemis bau!" Se Khi menarik nafas panjang. "Aku mau tanya, setelah engkau tahu kedatangan kami di Tiong Goan, bukankah engkau juga akan menyampaikan kepada Ketua perkumpulan pengemis?"

 

Pengemis tua manggut-manggut.

 

"Itu sudah pasti. Kalau cuma engkau seorang, tentunya aku tidak akan menyampaikan. Tapi Pit Han baru pertama kali datang di Tiong Goan, itu lain."

 

"Kalau begitu, aku mau bertanya lagi......" Se Khi menatapnya.

 

"Keparat Se! Kenapa engkau menjadi plintat-plintut? Mau bertanya apa, tanyalah! Jangan seperti gadis pingitan!"

 

"Kok sewot?" Se Khi melototinya. "Kalau Kay Pang Pangcu tahu, dia akan bagaimana?"

 

"Tidak usah bilang lagi, dia pasti memberi perintah pada pimpinan cabang untuk menyambut kedatangan kalian di Tiong Goan, sekaligus menjamu kalian pula."

 

"Oleh karena itu, tentunya sangat menyusahkan kami."

 

"Kenapa menyusahkan kalian?"

 

"Kami tidak bisa bergerak dengan bebas, bahkan tidur dan makan pun pasti diaturnya."

 

"Itu sudah pasti." Pengemis tua tertawa terbahak-bahak. "Dia memang harus menghormati kalian."

 

"Sebetulnya itu tidak menjadi masalah."

 

"Lalu apa yang menjadi masalah?"

 

"Itu tentunya akan diketahui orang-orang bu lim, bahkan juga akan mencurigai jati diri kami. Oleh karena itu, kami pun menjadi sorotan mereka. Nah, bukankah itu akan menyusahkan kami?"

 

Apa yang dikatakan Se Khi masuk akal dan beralasan. Lagipula Perkumpulan Pengemis, berkedudukan tinggi dalam bu lim. Partai Siau Lim pun tidak berani meremehkan perkumpulan tersebut.

 

Maka seandainya perkumpulan pengemis itu menyambut kedatangan mereka secara istimewa dan luar biasa, bukankah akan menggemparkan bu lim.

 

"Itu......" Ouw Yang Seng Tek menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa. "Keparat Se, kenapa engkau semakin tua semakin tak mempunyai nyali?"

 

"Pengemis bau!" Se Khi serius. "Itu bukan lantaran aku semakin tua semakin tak mempunyai nyali, melainkan tidak ingin menimbulkan kerepotan."

 

"Oh, ya?" Pengemis tua tertawa gelak. "Keparat Se, apa yang engkau katakan itu, memang masuk akal......"

 

Ucapan pengemis tua terhenti, karena pada waktu bersamaan terdengar suara bentakan di luar.

 

"Siapa? Ayoh berhenti! Mau apa ke mari?" Itu suara Huai Hong, pemimpin Pat Kiam.

 

"Hmmm!" terdengar dengusan dingin. "Cepat menyingkir, bocah! Aku ada urusan di sini, engkau jangan turut campur!"

 

Ouw Yang Seng Tek mengerutkan kening. Sepasang matanya menyorot tajam, dan tiba-tiba badannya bergerak siap melayang ke luar.

 

Akan tetapi, tangan Se Khi bergerak lebih cepat menahan badan pengemis tua itu.

 

"Pengemis bau, engkau mau berbuat apa?" tanyanya.

 

"Aku mau ke luar melihat-lihat, siapa yang begitu berani ke mari cari gara-gara? Apakah mereka telah makan nyali beruang atau nyali harimau?"

 

"Engkau tidak perlu keluar, pengemis bau!" Se Khi menggelengkan kepala.

 

"Kenapa?" pengemis tua tercengang.

 

"Di luar ada Pat Kiam, jangankan hanya datang lima orang, ditambah lima orang lagi juga bukan tandingan Pat Kiam. Lebih baik engkau duduk tenang di sini saja, biar mereka yang mengurusinya."

 

"Tapi…..." Pengemis tua kelihatan masih ingin ke luar.

 

"Pengemis bau, jangan turuti sifatmu yang tidak karuan itu! Bersabarlah!" Se Khi menatapnya.

 

"Keparat Se......" Pengemis tua terpaksa duduk diam di tempat.

 

Se Khi tersenyum. Meskipun berada di dalam kamar, ia sudah tahu ada berapa tamu yang tak diundang itu di luar. Dapat dibayangkan, betapa tingginya tenaga dalam pengemis tua itu.

 

"Ei!" Pengemis tua penasaran. "Engkau tahu, siapa mereka itu?"

 

"Tidak perlu tanya!" sahut Se Khi. "Terus pasang kuping saja, bukankah akan mengetahuinya?"

 

"Keparat Se…..." Wajah pengemis tua kemerah-merahan, lalu memasang kuping untuk mendengarkan percakapan di luar.

 

"Bocah!" Suara orang itu bernada dingin. "Aku ke mari mencari orang, tiada sangkut pautnya denganmu! Lebih baik engkau cepat menyingkir! Jangan menghadang di depanku, itu cari penyakit!"

 

"Engkau mau cari siapa?" tanya Huai Hong nyaring, namun bernada dingin.

 

"Bocah!" bentak orang itu. "Engkau tidak usah tahu aku mencari siapa."

 

"Kalau engkau tidak beritahukan, aku pun tidak akan beranjak dari sini," tandas Huai Hong dengan wajah berubah dingin.

 

Orang itu tertawa terkekeh-kekeh, kemudian menuding Huai Hong seraya membentak lagi. "Engkau ingin tahu, Bocah?"

 

"Sudah kukatakan dari tadi, tidak perlu bertanya lagi."

 

Orang itu kelihatan tidak mau berurusan dengan Huai Hong.

 

"Orang yang kucari bernama Hek Siau Liong." ujarnya memberitahukan secara jujur.

 

Mendengar itu, Ouw Yang Seng Tek langsung mengarah pada Siau Liong. Mulutnya bergerak ingin menanyakan sesuatu, namun keburu dicegah Se Khi.

 

"Jangan bertanya apa pun dulu! Terus pasang kuping saja dengarkan percakapan di luar."

 

Ouw Yang Seng Tek terpaksa diam, ia mulai pasang kuping lagi untuk mendengarkan percakapan di luar.

 

Terdengar suara tawa Huai Hong yang nyaring, menyusul terdengar pula ucapannya yang dingin.

 

"Jadi kalian ke mari mencari Tuan Muda Hek? Ada urusan apa kalian mencarinya?"

 

"Bocah! Itu urusanku! Engkau jangan turut campur!" sahut orang itu tidak senang.

 

Huai Hong tertawa nyaring lagi, kemudian ujarnya sepatah demi sepatah bernada dingin.

 

"Justru kami harus mencampuri urusan ini."

 

"Apa?" Orang itu mengerutkan kening. "Engkau dan dia adalah teman?"

 

"Aku dan Tuan Muda Hek bukan teman," sahut Huai Hong.

 

"Kalau begitu......" Orang itu menatap Huai Hong tajam. "Kenapa engkau mencampuri urusan ini?"

 

"Karena......" Huai Hong menatapnya dingin. "Tuan Muda Hek teman majikan kami, lagi pula saat ini mereka sedang bersama. Maka kami tidak akan beranjak dari sini, bahkan juga pasti mencampuri urusan ini. Engkau mengerti?"

 

"Oh?" Orang itu tertawa dingin. "Siapa tuan muda kalian itu?"

 

"Engkau tidak perlu tanya, percuma kami beritahukan. Sebab engkau tidak kenal, juga engkau tidak berderajat tahu tentang itu," sahut Huai Hong dengan nada angkuh, sehingga membuat orang itu naik darah.

 

"He he he!" Ia tertawa terkekeh-kekeh. "Bocah! Engkau berani omong angkuh di hadapanku?"

 

"Kenapa tidak?"

 

"Hm!" dengus orang itu. "Berdasarkan apa yang engkau katakan barusan, berarti tuan muda kalian itu tergolong orang penting dalam bu lim?"

 

"Hmmm!" Huai Hong cuma mendengus dingin, namun tetap menatap orang itu dengan tajam.

 

"He he he!" Orang itu tertawa terkekeh-kekeh lagi. "Bocah! Kenapa engkau diam saja tidak berani menjawab pertanyaanku?"

 

-- o --

 

 

 

Bagian ke 12: Berkelebat Sinar Pedang

 "Aku tidak berani menjawab?"

Huai Hong tertawa nyaring.

"Aku harus menjawab apa?"

 "Tuan muda kalian itu tergolong orang penting dalam bu lim?" sahut orang itu parau.

 "Jawabanku tetap seperti tadi."

"Bagaimana jawabanmu tadi, Bocah?"

"Engkau tidak berderajat untuk mengetahuinya."

"Oh?" Orang itu tertawa dingin. "Orang macam apa yang berderajat tahu tentang diri tuan muda kalian itu? Cobalah engkau beritahukan!"

"Percuma aku beritahukan, sebab kalau aku beritahukan, nyalimu pasti langsung pecah!"

 

"Nyaliku nyali harimau, tidak akan pecah! Nah, Bocah! Katakanlah!"

 

"Kalau begitu…..." Suara Huai Hong mengalun nyaring menusuk telinga. "Baiklah, aku akan mengatakannya! Namun engkau harus berdiri tegar dan pasang kuping. Hanya para pimpinan sembilan partai dan ketua perkumpulan pengemis yang berderajat mengetahui siapa tuan muda kami."

 

Sungguh jumawa ucapan Huai Hong, itu memang dapat memecahkan nyali orang yang mendengarnya.

 

Namun siapa akan percaya? Begitu pula orang itu, sama sekali tidak percaya akan apa yang dikatakan Huai Hong.

 

Bukan cuma tidak percaya, bahkan sebaliknya merasa dirinya telah dipermainkannya, sehingga ia menjadi gusar.

 

"Bocah!" bentaknya sengit dengan wajah bengis. "Engkau berani mempermainkan aku? Hm, engkau memang mau cari mampus!"

 

"Siapa yang mau cari mampus? Engkau atau aku?" Huai Hong sengaja memanasi hati orang itu, agar cepat-cepat bertarung.

 

"Bocah…..." Mata orang itu mendelik saking gusarnya.

 

"Kalau engkau menganggapku mempermainkanmu, terserah." Huai Hong tersenyum dingin.

 

Kegusaran orang itu telah memuncak, namun entah apa sebabnya, mendadak ia malah jadi tenang.

 

"Bocah! Aku tidak mau berdebat denganmu! Cepatlah engkau ke dalam dan suruh tuan mudamu menemuiku!"

 

"Hm!" dengus Huai Hong. "Enak saja engkau omong begitu! Pikirlah baik-baik! Bagaimana derajat tuan muda kami, engkau tidak berderajat bertatap muka dengannya!"

 

Sungguh mengherankan, orang itu masih bisa bersabar. Kelihatannya ia memang tidak mau berurusan dengan Huai Hong.

 

"Apa derajat tuan mudamu?"

 

"Sudah kukatakan dari tadi, engkau tidak berderajat menanyakan itu! Dasar tak tahu diri!"

 

"Bocah!" Sepasang mata orang itu berapi-api. Ia sudah tidak dapat mengendalikan kegusarannya lagi. Wajahnya berubah beringas sekaligus membentak mengguntur dan bengis. "Engkau mau cari mampus, aku pasti mengabulkannya! Ayoh! Minggir!"

 

Se Pit Han dan yang lain yang berada di dalam kamar mendengar suara 'Blang' yang amat dahsyat. Rupanya orang itu telah melakukan serangan tangan kosong.

 

Tidak salah, orang itu memang telah menyerang Huai Hong dengan tangan kosong, itu agar Huai Hong menyingkir. Akan tetapi, Huai Hong justru membalas menyerangnya dengan tangan kosong pula.

 

Blam!

 

Dua tenaga saling beradu, itu membuat masing-masing terdorong mundur selangkah. Ternyata lwee kang (tenaga dalam) mereka seimbang.

 

Meskipun begitu, air muka orang itu telah berubah hebat, dan hatinya pun tersentak kaget.

 

Padahal Huai Hong baru berusia dua puluhan, sedangkan orang itu berusia enam puluhan, bahkan tergolong orang berkepandaian tinggi dalam lwee kang. Tapi Huai Hong mampu menangkis serangan tangan kosongnya yang mengandung lwee kang tingkat tinggi. Itu sungguh mengejutkan orang itu.

 

Masih ada empat orang berdiri di belakang orang itu. Ketika menyaksikan kejadian itu, air muka mereka pun langsung berubah. Empat pasang mata mengarah pada Huai Hong dengan terbelalak lebar.

 

Huai Hong menatap mereka dengan dingin.

 

"Sekarang kuperingatkan kalian, cepatlah kalian pergi sebelum menemui ajal di sini! Kalau kalian tidak mau pergi, itu berarti kalian cari mati!"

 

Mereka berlima memang sangat terkejut akan kehebatan lwee kang Huai Hong. Namun karena mereka memikul tugas untuk membunuhnya, maka sebelum berhasil, bagaimana mungkin mereka berlima akan meninggalkan rumah penginapan itu?

 

"Bocah!" Orang itu tertawa terkekeh-kekeh. "Tenaga pukulanmu cukup lumayan, tapi tidak akan membuatku mundur! Sebaliknya aku masih ingin mencoba kepandaianmu yang lain!"

 

Huai Hong tidak menyahut, cuma tersenyum dingin.

 

"Bocah! Beranikah engkau melawanku dengan senjata?" tanya orang itu menantang dengan jumawa.

 

Tantangan ini tidak membuat Huai Hong gentar namun ia malah girang karena sesuai dengan keinginan hatinya, ia ingin menjajal ilmu pedang yang telah dipelajarinya.

 

"Kenapa tidak?" sahut Huai Hong dingin. "Ayoh, cepat cabut senjatamu! Aku sudah siap melayanimu dengan senjata!"

 

Orang itu tertawa keras, lalu mendadak menggerakkan tangannya. Seketika juga ia telah menggenggam sepasang gelang baja yang bergemerlapan.

 

"Bocah! Kenapa engkau belum mencabut pedangmu?"

 

"Silakan engkau menyerang, barulah aku mencabut pedang!" Huai Hong tampak tenang sekali.

 

Ia berdiri tegak, sepasang matanya menatap orang itu dengan tajam. Kelihatan sangat angkuh, tapi sesungguhnya ia sedang pasang kuda-kuda.

 

Orang itu pun menatapnya tajam, kemudian tertawa terkekeh-kekeh sambil menggoyang-goyangkan sepasang gelang bajanya.

 

Trinnng! Terdengar suara yang amat nyaring menusuk telinga.

 

"Bocah! Terimalah jurusku ini!" bentaknya sambil menyerang Huai Hong secepat kilat dengan jurus Tong Ceng Pa Kou (Membentur lonceng memukul gendang). Serangan itu disertai dengan tenaga dalam yang amat dahsyat.

 

Sepasang alis Huai Hong terangkat, ia pun tertawa nyaring. Pada waktu bersamaan, ia pun berkelit dengan jurus Hu Tiap Hui Uh (Kupu-kupu menari), sekaligus pula ia mencabut pedangnya. Seketika juga tampak berkelebat sinar yang berkilauan.

 

Trang! Tring! Suara benturan pedang dengan gelang baja, bunga api pun berpijar.

 

Dalam waktu sekejap, mereka sudah bertarung belasan jurus. Sepasang gelang baja itu berputar dan melayang ke sana ke mari. Sinar pedang pun berkelebat menyilaukan mata. Mereka masing-masing mengeluarkan jurus-jurus ampuh untuk menjatuhkan lawan.

 

"Se Khi! Bukankah orang itu Toan Beng Thong?"

 

Se Khi menggelengkan kepala.

 

"Suara Toan Beng Thong agak serak, lagi pula tidak memakai senjata itu, maka orang itu bukan Toan Beng Thong."

 

"Dalam bu lim sekarang, siapa saja yang mahir menggunakan sepasang gelang baja?" tanya Se Pit Han.

 

Se Khi berpikir sejenak, lalu menjawab sambil menggelengkan kepala.

 

"Itu….. budak tua tidak begitu jelas."

 

Se Pit Han diam, sedangkan Se Khi mengarah pada Ouw Yang Seng Tek seraya berkata,

 

"Pengemis bau, tahukah engkau tentang itu?"

 

"Aku memang tahu ada beberapa orang yang mahir menggunakan sepasang gelang baja," sahut pengemis tua. "Tapi tidak berani memastikan bahwa itu mereka."

 

"Paman pengemis!" Se Pit Han menatapnya. "Kira-kira siapa mereka itu?"

 

"Dulu pernah muncul lima bersaudara yang punya nama busuk dalam bu lim," jawab pengemis tua setelah berpikir sejenak. "Mereka berlima adalah Thai Hang Ngo Sat (Lima penjahat Thai Hang), masing-masing bersenjata sepasang gelang baja. Tapi..... sudah lama mereka menghilang dari kang ouw, sama sekali tiada kabar beritanya lagi."

 

"Kalau begitu….." sela Siau Liong mendadak. "Kita tidak perlu menerka di dalam kamar, keluar saja biar melihatnya."

 

"Betul." Pengemis tua mengangguk. "Ayoh! Mari kita ke luar melihat-lihat!"

 

Pengemis tua langsung bangkit berdiri. Namun ketika ia baru mau mengayunkan kakinya, Se Pit Han berseru menahannya.

 

"Jangan keluar, Paman!"

 

"Eh?" Pengemis tua melongo.

 

Se Pit Han menatap Siau Liong tajam, kemudian menegur dengan nada agak gusar. "Engkau juga sih! Banyak ide!"

 

"Aku…..." Siau Liong menarik nafas.

 

"Saudara Hek!" Mendadak wajah Se Pit Han berseri, bahkan tersenyum manis, membuat Siau Liong tertegun dan tidak habis berpikir. Heran? Kenapa saudara Se suka marah-marah, tapi….. ketika tersenyum, wajahnya cantik sekali dan….. tampak agak manja. Kenapa begitu?

 

"Keponakan!" Pengemis tua tampak tidak senang. "Kenapa aku tidak boleh keluar?"

 

"Paman pengemis adalah Si Tongkat Sakti, para penjahat pasti pecah nyalinya jika melihat Paman. Maka kalau Paman keluar, bukankah akan mengecewakan Pat Kiam?"

 

"Kok mengecewakan mereka?" Pengemis tua menggaruk-garuk kepala. "Kenapa begitu?"

 

"Mereka tiada kesempatan lagi mencoba ilmu pedang yang mereka pelajari." Se Pit Han memberitahukan.

 

"Oooh!" Pengemis tua manggut-manggut seraya tertawa, "Ternyata begitu!"

 

"Betul." Se Pit Han mengangguk.

 

"Baiklah. Paman tidak akan keluar, tidak boleh menampilkan diri sama sekali." Pengemis tua menggeleng-gelengkan kepala, lalu duduk kembali.

 

Mendadak terdengarlah suara tawa yang nyaring di luar. Se Khi pun manggut-manggut dan tersenyum mendengar suara itu.

 

"Pengemis bau! Huai Hong telah menang!"

 

"Ngmm!" Ouw Yang Seng Tek mengangguk.

 

-- o --

 

 

Di luar, orang yang sedang bertarung dengan Huai Hong, semakin lama bertarung ia pun semakin terkejut. Ternyata mereka bertarung sudah lebih dari tiga puluh jurus.

 

Sementara Huai Hong semakin lama bertarung semakin bersemangat. Mendadak ia berteriak nyaring sekaligus menyerang orang itu dengan jurus Hoa Ih Pian Hun (Warna-Warni Bunga Hujan), yaitu jurus pedang yang amat ampuh.

 

Jurus itu membuat lawannya terperanjat bukan main. Cepat-cepat ia mengembangkan jurus simpanannya, Hong Khih In Yong (Angin Berhembus Awan Beterbangan) untuk menangkis serangan Huai Hong.

 

Meskipun itu jurus simpanannya, tetapi tidak mampu juga menghalau jurus pedang Huai Hong yang amat dahsyat itu. Ia merasa dadanya dingin, ternyata dadanya telah tergores pedang, darah pun merembes ke luar. Betapa terkejutnya orang itu, ia langsung melompat mundur sejauh kira-kira delapan langkah.

 

Huai Hong masih ingat akan pesan Se Pit Han, yakni melarangnya membunuh orang. Maka jurus Hong Khih In Yong itu cuma menggores dada orang tersebut. Padahal sesungguhnya, jurus itu dapat membelah badan lawan.

 

"Bocah!" Orang itu membentak, wajahnya telah menghijau. "Ilmu pedangmu memang lihay, aku mengaku kalah kali ini! Kita masih bisa bertemu, engkau berhati-hatilah!"

 

Usai berkata begitu, orang itu pun membalikkan badannya, lalu melangkah pergi dan diikuti keempat temannya.

 

"Berhenti!" Hardik Huai Hong nyaring.

 

Orang itu berhenti, lalu menoleh memandang Huai Hong sambil tertawa dingin.

 

"Bocah! Engkau mau bicara apa?" tanyanya.

 

"Engkau mau pergi begitu saja?" sahut Huai Hong dingin.

 

Air muka orang itu berubah, dan menatap Huai Hong sekaligus membentak berang.

 

"Aku sudah mengaku kalah, engkau masih mau apa?"

 

"Tidak mau apa-apa! Engkau tidak perlu tegang, hanya saja….. aku belum tahu namamu! Apakah engkau tidak mau memberitahukan namamu?"

 

"Seandainya aku tidak mau beritahukan?" sahut orang itu bernada menantang.

 

Huai Hong tertawa dingin, lalu mengarah pada tujuh orang saudara seperguruannya yang berdiri di belakangnya.

 

"Saudara-saudara, kepung mereka! Kalau tua bangka itu tidak mau beritahukan namanya, janganlah kalian lepaskan mereka! Terpaksa bunuh saja!"

 

"Ya." sahut ketujuh orang itu serentak. Mereka segera mengambil posisi mengepung kelima orang itu, sekaligus mencabut pedang masing-masing.

 

Cring! Suara pedang yang keluar dari dalam sarungnya.

 

Kelima orang itu tersentak, wajah mereka pun berubah. Orang yang bertarung dengan Huai Hong itu, mendadak tertawa keras.

 

"Bocah! Yakinkah engkau dapat menghadang kami?" tanyanya dingin.

 

"Yakin!" sahut Huai Hong tanpa ragu.

 

Orang itu mengerutkan kening, kemudian tertawa terkekeh-kekeh.

 

"Jangan omong besar, Bocah!" ujarnya menyindir. "Kami berlima......"

 

"Kalau engkau tidak percaya, boleh coba bertarung lagi! Tapi…..." Huai Hong menatapnya dingin. "Engkau jangan menyesal!"

 

"He he he!" Orang itu tertawa terkekeh-kekeh lagi. Kelihatannya ia telah lupa akan luka di dadanya. "Tentunya kami ingin mencoba!"

 

"Baiklah! Silakan!" tantang Huai Hong.

 

"Serang!" seru orang itu, sekaligus bergerak cepat menyerang keempat penjuru dengan sepasang gelang bajanya.

 

Keempat temannya juga tidak tinggal diam. Mereka pun menyerang serentak pada tujuh pedang yang berdiri mengepung dengan senjata berupa sepasang gelang baja pula.

 

Lima pasang gelang baja meluncur cepat bagaikan kilat. Pada waktu bersamaan, terdengarlah bentakan nyaring, sinar pedang pun berkelebat-kelebat. Ternyata Pat Kiam telah menangkis serangan-serangan itu dengan pedang masing-masing.

 

Trang! Trang! Suara benturan senjata yang amat nyaring memekakkan telinga.

 

Tui Hong dan Kiam Hong menangkis, kedua saudara seperguruan Huai Hong itu mulai mengembangkan jurus-jurus pedang yang sangat dahsyat.

 

Lima pasang gelang baja melayang dan meluncur secepat kilat, namun terhalau oleh sinar pedang yang berkelebatan.

 

Kelima orang itu terkejut bukan main setelah bertarung belasan jurus, sebab hawa pedang sangat menekan, membuat nafas merasa agak sesak. Cepat-cepatlah mereka menghimpun tenaga dalam masing-masing untuk melawan hawa pedang tersebut.

 

Sementara Pat Kiam bertarung dengan penuh semangat. Jurus demi jurus mereka kembangkan secara dahsyat, sekaligus mengerahkan lwee kang pada pedang masing-masing, sehingga pedang-pedang itu mengeluarkan hawa yang amat menekan pihak lawan.

 

-- o --

 

 

(Bersambung bagian 13)

Bagian ke 13: Di Luar Dugaan

 

Trannng! Suara benturan senjata yang amat nyaring.

 

Tui Hong mundur tiga langkah, sedangkan pihak lawan justru terpental lima langkah, bahkan

 

 

-------------------------------------- Halaman 34 – 35 hilang ---------------------------------------

 

 

Begitu melihat kemunculan Ouw Yang Seng Tek, Pengemis Tua Tongkat Sakti itu, Bun Fang pun segera menjura hormat.

 

"Ternyata Ouw Yang cian pwe! Kalau kami tahu cian pwe berada di sini, kami berlima tidak berani…..."

 

"Bun Fang! Engkau jangan bermuka-muka di hadapanku!" tandas pengemis tua. "Aku ingin bertanya, engkau harus menjawab dengan jujur!"

 

"Silakan cian pwe bertanya, Bun Fang pasti menjawab dengan jujur." Lo toa itu tidak berani macam-macam di hadapan pengemis tua, sebab kalau ia macam-macam, nyawanya pasti melayang.

 

"Engkau masih tahu diri." Pengemis tua manggut-manggut. "Apakah engkau dan Hek Siau Liong punya dendam?"

 

"Sama sekali tidak."

 

"Kalau begitu, kenapa kalian ingin membunuhnya?"

 

"Kami cuma melaksanakan perintah."

 

"Oh?" Pengemis tua mengerutkan kening. "Perintah dari siapa?"

 

"Toan Beng Thong," jawab Bun Fang memberitahukan. "Pemilik Rumah makan Si Hai di kota Ling Ni."

 

"Bun Fang!" Pengemis tua melotot, kelihatannya ia kurang percaya. "Engkau berkata sesungguhnya?"

 

"Harap lo cian pwe percaya, Bun Fang sama sekali tidak bohong," sahut Bun Fang sungguh-sungguh.

 

Tapi pengemis tua malah tertawa dingin, dan menatap Bun Fang tajam.

 

"Thi sui pho Toan Beng Thong itu memang tergolong orang berkepandaian tinggi dalam bu lim, namun dibandingkan dengan kalian berlima, dia masih kalah jauh. Nah, bagaimana mungkin kalian berlima akan menuruti perintahnya?"

 

"Apa yang dikatakan lo cian pwe memang tidak salah, Toan Beng Thong masih tidak berderajat memberi perintah pada kami berlima. Tapi, dia cuma mewakili seseorang memberi perintah pada kami berlima."

 

"Oh?" Sepasang mata pengemis tua bersinar aneh. "Kalau begitu, di belakangnya masih ada orang lain?"

 

Bun Fang mengangguk.

 

"Memang benar."

 

"Siapa orang itu?"

 

"Itu…..." Bun Fang menggelengkan kepala. "Kami tidak mengetahuinya."

 

"Hei! Bun Fang!" bentak pengemis tua. "Sungguhkah engkau tidak mengetahuinya? Jangan bohong!"

 

"Lo cian pwe, Bun Fang sungguh tidak tahu." Bun Fang menundukkan kepala.

 

Kening pengemis tua berkerut-kerut, ia menatap Bun Fang tajam seraya mengancam.

 

 

----------------------------------------- Halaman 37 – 38 hilang ------------------------------------

Pengemis tua tampak tersentak, kemudian ujarnya bernada heran.

 

"Bukankah mereka berdua telah mati?"

 

"Itu kurang jelas." Bun Fang menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau mereka telah mati, berarti kami berlima telah melihat arwah mereka."

 

Ouw Yang Seng Tek mengerutkan kening. Ia tampak terpekur, dan berselang sesaat ia bertanya.

 

"Di mana kalian berlima melihat mereka?"

 

"Mereka berdua juga berada di rumah makan Si Hai."

 

"Kapan mereka berdua berada di sana?"

 

"Setengah bulan yang lalu."

 

"Oh?" Pengemis tua mengerutkan kening sambil berpikir. "Kok kalian tahu mereka berdua tahu tentang urusan ini?"

 

"Itu cuma mungkin, tidak pasti mereka berdua tahu."

 

"Bun Fang!" Pengemis tua menatapnya tajam. "Kalian tahu Thai Nia Siang Hiong berada di mana sekarang?"

 

"Tidak begitu jelas." Bun Fang menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan, "Namun kami tahu mereka berdua menuju ke timur."

 

"Ngm!" Pengemis tua manggut-manggut. "Kalian berlima pernah bertemu Siang Hiong itu, apakah kalian tidak bercakap-cakap dengan mereka?"

 

"Tentunya lo cian pwe tahu bagaimana sifat Siang Hiong, siapa pun akan menjauhi mereka. Maka bagaimana mungkin kami berani, bercakap-cakap dengan mereka? Salah sedikit, nyawa kami pasti melayang."

 

Tidak salah apa yang dikatakan Bun Fang, Thai Ma Siang Hiong sudah ternama pada lima tahun yang lampau, mereka berdua tergolong Pat Tay Hiong Jin (delapan orang buas) yang ternama bersama Cit Tay Khi Jin (Tujuh Orang Aneh). Mereka berdelapan berhati kejam dan sangat jumawa. Orang-orang Hek To (golongan hitam) tiada satupun yang mau bergaul dengan mereka, karena salah sedikit, nyawa pasti melayang.

 

"Bun Fang!" Wajah pengemis tua berubah serius. "Terimakasih atas penjelasanmu!"

 

"Bun Fang tidak berani menerima ucapan terimakasih dari lo cian pwe." Bun Fang segera menjura.

 

"Bun Fang!" Pengemis tua menunjuk Pat Kiam. "Aku memperingatkan kalian, majikan mereka itu orang yang berkepandaian amat tinggi. Hek Siau Liong adalah temannya. Maka pulanglah kalian, dan beritahukan pada Toan Beng Thong, agar dia menyampaikan pada orang yang di belakangnya itu. Lebih baik melepaskan Hek Siau Liong, kalau tidak…..."

 

Pengemis tua tidak melanjutkan ucapannya, melainkan mengibaskan tangannya seraya berkata,

 

"Aku tidak perlu banyak bicara, kalian pergilah!"

 

"Terimakasih, lo cian pwe!" ucap Bun Fang, lalu mengajak keempat saudaranya meninggalkan rumah penginapan itu.

 

-- o --

 

 

Hek Siau Liong ingin menuju Lam Hai, kebetulan Se Pit Han mau pulang ke Lam Hai. Tujuan mereka sama, maka Se Pit Han mengajaknya berangkat bersama. Akan tetapi, Hek Siau Liong menolak dengan berbagai alasan.

 

Se Pit Han tahu bahwa itu hanya alasan belaka, namun ia pun tidak bisa mendesaknya agar berangkat bersama. Oleh karena itu, Se Pit Han terpaksa berpisah dengan Siau Liong. Walau merasa berat, namun apa boleh buat.

 

Ia menghadiahkan pada Siau Liong seekor kuda jempolan dan ribuan tael perak. Semula Siau Liong menolak, tapi karena Se Pit Han tampak marah, maka Siau Liong terpaksa menerimanya lalu berangkat menuju Lam Hai dengan menunggang kuda pemberian Se Pit Han itu.

 

"Siau kiong cu (Majikan muda istana), tidak seharusnya engkau membiarkannya berangkat seorang diri," ujar Se Khi setelah Siau Liong berangkat.

 

"Dia telah mengambil keputusan itu, siapa yang dapat menghalanginya?" Se Pit Han menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Tapi…..." Se Khi mengerutkan kening. "Dia berangkat seorang diri, itu sangat bahaya. Tidak sampai dua puluh li, pasti akan terkejar oleh orang-orang suruhan Toan Beng Thong."

 

"Jangan khawatir!" Se Pit Han tersenyum.

 

"Maksud Siau kiong cu?" Se Khi menatapnya heran.

 

"Aku sudah memikirkan itu." Se Pit Han tersenyum lagi, kemudian memandang Huai Hong seraya berkata, "Engkau, Huai Hong, Tui Hong dan Kiam Hong segera merubah wajah dan harus cepat-cepat menyusul Tuan Muda Hek untuk melindunginya sampai di Lam Hai secara diam-diam!"

 

"Ya." Huai Hong memberi hormat.

 

"Huai Hong!" Mendadak wajah Se Pit Han berubah serius. "Keselamatan Tuan Muda Hek berada di tangan kalian berempat, maka kalian harus hati-hati melindunginya! Kalau terjadi sesuatu atas dirinya…..."

 

Se Pit Han menatap mereka tajam, berselang sesaat baru melanjutkan ucapannya dengan suara dalam.

 

"Kalian berempat tidak perlu menemuiku lagi."

 

Betapa terkejutnya Huai Hong dan ketiga saudaranya. Mereka tumbuh besar bersama Se Pit Han, dan selama itu Se Pit Han sangat baik dan lembut terhadap mereka, namun kali ini Se Pit Han begitu tegas. Maka mereka pun tidak berani main-main.

 

Pat Kiam rata-rata berotak cerdas. Ketegasan Se Pit Han membuat mereka menyadari satu hal.

 

"Harap Siau kiong cu berlega hati, Huai Hong dan ketiga saudara pasti hati-hati melindungi Tuan Muda Hek, agar tidak terjadi sesuatu atas dirinya," ujar Huai Hong berjanji.

 

"Bagus." Se Pit Han tersenyum. "Baiklah. Cepatlah kalian merubah wajah masing-masing!"

 

"Ya." Huai Hong dan ketiga saudaranya langsung memberi hormat, lalu melangkah pergi.

 

Sementara Ouw Yang Seng Tek cuma duduk diam dari tadi, kemudian menarik nafas ringan seraya bergumam.

 

"Alangkah baiknya anak itu adalah dia…..."

 

Gumaman pengemis tua yang tiada ujung pangkalnya, membuat Se Khi dan Se Pit Han tertegun.

 

"Paman pengemis, siapa yang dimaksud dia?" tanya Se Pit Han heran.

 

"Hian tit!" Pengemis tua menatapnya. "Pernahkah engkau dengar tentang Ciok Lau San Cung di San Si?"

 

"Tidak pernah." Se Pit Han menggelengkan kepala.

 

"Oh?" Pengemis tua mengerutkan kening.

 

"Siau tit dengar semalam, ketika Paman pengemis bertanya pada Thai Hang Ngo Sat." Se Pit Han memberitahukan.

 

"Ngmm!" Pengemis tua manggut-manggut.

 

"Paman pengemis, Ciok Lau San Cung itu sangat ternama dalam bu lim?" tanya Se Pit Han mendadak.

 

"Benar." Pengemis tua manggut-manggut lagi. "Pernahkah engkau dengar, lima belas tahun yang lampau, muncul seorang pendekar aneh yang berkepandaian sangat tinggi? Dia seorang diri melawan Pat Tay Hiong Jin di lereng bukit Im San?"

 

"Maksud Paman pendekar aneh Pek Mang Ciu?" Sepasang mata Se Pit Han tampak berbinar-binar.

 

"Tidak salah. Dia adalah majikan perkampungan Ciok Lau San Cung." Pengemis tua memberitahukan.

 

"Oh?" Sekelebatan wajah Se Pit Han tampak berubah aneh.

 

Itu tidak terlepas dari mata pengemis tua. Maka pengemis tua itu tergerak hatinya dan segera bertanya.

 

"Engkau kenal Pendekar Pek?"

 

"Hanya pernah dengar, tapi tidak pernah bertemu orangnya," jawab Se Pit Han dan bertanya, "Paman, apa yang terjadi di perkampungan itu?"

 

"Aaaakh…..." Pengemis tua menarik nafas panjang. "Perkampungan itu musnah, semua orang terbunuh, Pek Tayhiap dan isterinya mati keracunan. Namun tidak tampak mayat Pek Giok Liong, putra satu-satunya pasangan pendekar itu."

 

Mendengar sampai di sini, wajah Se Pit Han pun berubah hebat. Itu sungguh mengejutkan pengemis tua.

 

"Hian tit kenapa engkau?"

 

-- o --

 

Bagian ke 14: Tiada Jejak

 

Ternyata wajah Se Pit Han telah berubah pucat pias, sekujur badan pun bergemetar seakan tidak kuat duduk. Seketika juga Giok Cing dan Giok Ling, kedua pengawalnya memegangnya erat-erat.

 

Menyaksikan itu, pengemis tua terheran-heran dan bertanya-tanya dalam hati. Heran! Apa gerangan ini? Apakah Pek tayhiap punya hubungan dengan Lam Hai? Tapi kok tidak pernah dengar tentang itu?

 

"Mohon tenang, Tuan Muda!" ujar Se Khi serius.

 

Tak lama wajah Se Pit Han mulai kelihatan tenang, namun sepasang matanya bersinar dingin.

 

"Se Khi, sudah lamakah engkau tahu tentang itu?"

 

"Lo nu (budak tua) juga baru tahu sekarang." jawab Se Khi.

 

"Siapa majikan Ciok Lau San Cung? Tentunya engkau tahu. Ya, kan?" Se Pit Han menatapnya tajam.

 

Se Khi mengangguk hormat.

 

"Lo nu berterus terang, memang sudah lama lo nu tahu." jawabnya dengan suara rendah.

 

"Oh?" Se Pit Han mendengus dingin. "Hm! Kalau begitu, kenapa engkau tidak memberitahukan padaku?"

 

"Bukan lo nu tidak mau memberitahukan, melainkan kiong cu (majikan istana) ada pesan pada lo nu, mohon Siau kiong cu, memaafkan lo nu!"

 

"Tahukah engkau, kenapa ayah melarangmu memberitahukan padaku?" tanya Se Pit Han dengan wajah dingin.

 

"Maaf!" ucap Se Khi sambil menggelengkan kepala. "Lo nu tidak tahu tentang itu."

 

Sepasang alis Se Pit Han terangkat, kelihatannya ia sedang berpikir keras.

 

"Kita harus bagaimana? Kini mereka telah terbunuh semua." tanyanya kemudian.

 

"Ini…..? jawab Se Khi agak ragu. "Menurut lo nu, kita harus segera pulang melapor pada kiong cu.

 

"Bagaimana pandanganmu, apakah ayah akan turut campur?" tanya Se Pit Han mendadak.

 

"Itu…..." Se Khi berpikir, lama sekali baru melanjutkan, "Menurut lo nu, kemungkinan besar kiong cu akan turut campur."

 

Se Pit Han manggut-manggut, kemudian mengarah pada Yang Hong, salah seorang Pat Kiam. "Yang Hong!"

 

"Ya, Siau kiong cu," sahut Yang Hong sambil memberi hormat. "Yang Hong siap menerima perintah."

 

"Engkau harus segera pulang ke Lam Hai, lapor pada kiong cu tentang semua ini!" Se Pit Han memberi perintah.

 

"Ya, Yang Hong terima perintah."

 

"Dan….." tambah Se Pit Han. "Beritahukan pada kiong cu, bahwa sementara ini aku tidak pulang. Engkau pun harus bermohon pada beliau agar beliau memerintahkan beberapa orang untuk menyambut Hek kong cu. Setelah itu, engkau bergabung lagi dengan Huai Hong. Mereka menuju ke…..."

 

Se Pit Han tidak melanjutkan ucapannya. Kemudian ia mengarah pada Se Khi yang duduk diam itu seraya bertanya.

 

"Se Khi, mereka harus ke mana menemuiku?" Se Khi mengerutkan kening. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menatap Se Pit Han tajam.

 

"Siau kiong cu, sementara ini tidak pulang, apakah berniat menyelidiki para pembunuh itu?"

 

"Tidak salah." Se Pit Han manggut-manggut. "Aku harus menyelidiki siapa pembunuh-pembunuh itu, agar bisa membalas dendam pada mereka."

 

Se Khi tidak memperlihatkan reaksi apa pun. Namun orang tua itu tampak sedang memikirkan sesuatu.

 

"Siau kiong cu telah melupakan suatu persoalan yang amat penting. Apakah Siau kiong cu memikirkan persoalan itu?" ujarnya mengalihkan pembicaraan.

 

Se Pit Han tertegun. Ia menatap Se Khi dengan heran, kelihatannya tidak tahu persoalan apa yang ditanyakan Se Khi.

 

"Persoalan apa yang amat penting?"

 

"Berkaitan dengan diri Siau kiong cu."

 

"Bukankah aku telah menyuruh Yang Hong pulang ke Lam Hai untuk melapor pada ayah?"

 

Se Khi tersenyum, kemudian menggelengkan kepala.

 

"Menurut lo nu, persoalan yang amat penting sekarang ini, yakni harus menyelidiki jati diri Hek kong cu."

 

Se Pit Han berpikir, lama sekali barulah ia menyadari sesuatu.

 

"Oh! Menurutmu, mungkinkah dia piaute (adik misan)?"

 

Mendengar sebutan adik misan, Ouw Yang Seng Tek, pengemis tua itu pun mengerti.

 

"Sungguh di luar dugaan! Ternyata Pek tayhiap dan Lam Hai adalah famili!" ujar pengemis tua dalam hati.

 

"Itu memang mungkin." Se Khi mengangguk. "Kini lo nu membayangkan wajahnya dan sifatnya itu, memang mirip Pek kouwya dan Hui Kouw."

 

"Oh?"

 

"Lagi pula dia menyebut dirinya marga Hek (hitam). Lawan kata Hek adalah Pek (putih). Piauw siau ya (tuan muda misan) bernama Pek Giok Liong, Siau Liong mungkin nama kecilnya."

 

Walau itu cuma dugaan, namun sungguh masuk akal, maka membuat pengemis tua menyela mendadak.

 

"Apa yang Saudara Se katakan itu memang tidak salah. Aku pun menganggapnya memang Pek Siau Liong. Dia berangkat ke Lam Hai, kemungkinan besar untuk mencari Pulau Pelangi. Tapi…..."

 

"Tapi kenapa?" tanya Se Pit Han.

 

"Paman tidak memahami satu hal," jawab pengemis tua sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Hal apa?" Se Pit Han menatapnya.

 

"Dia ada hubungan famili dengan keluarga Hian tit, tapi kenapa dia justru tidak tahu Hian tit berasal dari Lam Hai?" Kening pengemis tua berkerut.

 

Apa yang dikatakan pengemis tua itu memang tidak salah, dia adalah Pek Giok Liong. Bagaimana mungkin tidak tahu nama dan marga ibunya?

 

"Kalau begitu…..," ujar Se Pit Han setelah berpikir sejenak. "Dia bukan piaute."

 

"Menurut lo nu, dia justru Pek Giok Liong," sela Se Khi.

 

"Apa alasanmu?" tanya Se Pit Han. "Kenapa memastikan dia piaute?"

 

"Lo nu pikir kedua orang tuanya tidak mau menyinggung tentang Lam Hai, itu demi menjaga rahasia. Maka piau siau ya sama sekali tidak tahu tentang itu," jawab Se Khi mengemukakan alasannya.

 

"Walau ini beralasan, tapi tidak masuk akal kalau kauw-kauw (bibi) merahasiakan masalah itu terhadap anak sendiri," ujar Se Pit Han. "Lagi pula menyangkut tempat tinggal dan marga nenek…..."

 

"Mungkin karena Houw kouw menganggap usia piauw siau ya masih kecil, khawatir tidak bisa menjaga mulut sehingga membuka rahasia itu, maka sementara tidak memberitahukannya." Se Khi memberi penjelasan.

 

Penjelasan tersebut memang masuk akal, maka Se Pit Han manggut-manggut.

 

"Paman pengemis, bagaimana menurutmu?" tanyanya pada pengemis tua.

 

"Paman menganggap semua itu memang mungkin." Pengemis tua tampak sungguh-sungguh dan melanjutkan, "Kalau dugaan kita tidak meleset, maka keberangkatannya lebih membahayakan dirinya."

 

"Oh?" Se Pit Han menatapnya.

 

"Bukan Paman pengemis meremehkan Huai Hong berempat, namun jelas mereka agak sulit melindungi keselamatannya." Pengemis tua memberitahukan.

 

Apa yang dikatakan pengemis tua itu sangat mengejutkan Se Pit Han, sebab pengemis tua tidak akan bicara sembarangan. Seketika juga sepasang alis Se Pit Han terangkat.

 

Se Pit Han teringat pada Pek tayhiap dan isterinya. Meskipun ia tidak pernah menyaksikan kepandaian Pek tayhiap, tapi Pek tayhiap pernah seorang diri bertarung dengan Bu Lim Pat Tay Hiong Jin (Delapan Orang Buas Rimba Persilatan). Berdasarkan itu ia dapat membayangkan betapa tinggi kepandaian Pek tayhiap, namun tetap masih juga bisa terbunuh. Lalu bagaimana dengan Huai Hong berempat?

 

Berpikir sampai di sini, wajah Se Pit Han langsung berubah pucat dan tampak gugup.

 

"Nian Hong, engkau dan saudara-saudaramu harus segera merubah wajah, lalu cepat-cepatlah berangkat menyusul Huai Hong. Kalian semua harus melindungi Hek kong cu. Aku, Se Khi dan sepasang pengawal akan menyusul kemudian."

 

Nian Hong menjura hormat.

 

"Nian Hong menerima perintah," sahutnya dan segera mengajak saudara-saudaranya berdandan.

 

"Paman pengemis!" Se Pit Han memandangnya.

 

"Ada apa, Hian tit?" tanya pengemis tua cepat.

 

"Paman pengemis mempunyai rencana ke mana?"

 

"Paman ingin pergi mengejar Siang Hiong. Mereka dan Sam Kuay (Tiga Siluman) dipukul jatuh di Ok Hun Nia (Lereng Bukit Arwah Penjahat) oleh Pek tayhiap. Siang Hiong belum mati, maka Sam Kuay kemungkinan masih hidup. Jangan-jangan kematian Pek tayhiap dan isterinya itu karena perbuatan mereka sebagai pembalasan dendam masa lalu."

 

"Ngmm!" Se Khi manggut-manggut. "Kemungkinan besar memang begitu."

 

"Kalau benar itu perbuatan mereka, harap Paman pengemis jangan bertarung dengan mereka, suruh seseorang memberitahukan pada kami!" pesan Se Pit Han.

 

"Tapi…..." Pengemis tua tampak ragu.

 

"Paman pengemis!" Sepasang mata Se Pit Han berapi-api. "Aku mau bersama piaute mencari mereka untuk membalas dendam berdarah itu."

 

Se Khi mengerutkan kening mendengar ucapan itu, namun tidak mengatakan apa pun. Ia memang tidak bisa mengatakan apa pun, lebih-lebih mencegah Se Pit Han yang telah mengambil keputusan itu.

 

"Huaha ha ha!" Pengemis tua tertawa gelak. "Hian tit berlegalah hati. Kalau benar itu perbuatan mereka, Paman pun tidak kuat melawan mereka."

 

"Paman……"

 

"Itu benar." Lanjut pengemis tua. "Siang Hiong Sam Kuay bergabung, Paman memang tidak akan kuat menghadapi mereka. Namun kalau satu lawan Satu, Paman masih mampu meringkusnya. Tapi Siang Hiong selalu sepasang, Sam Kuay pun tetap bertiga. Mereka tidak pernah berpencar, maka Paman tidak akan bertindak sembarangan. Seandainya Hian tit dan Hek kong cu bersatu untuk membalas dendam berdarah itu, Paman pasti membantu."

 

"Terima kasih...... Paman!" ucap Se Pit Han sambil menjura.

 

"Hian tit tidak usah mengucapkan terima kasih." Pengemis tua tertawa, namun kemudian menarik nafas panjang. "Sayangnya Paman tidak kuat melawan mereka."

 

Memang tidak salah apa yang dikatakan pengemis tua itu. Kalau satu lawan satu, pengemis tua itu pasti mampu meringkusnya, tapi kalau dua lawan satu atau tiga lawan satu, pengemis tua itu pasti tidak mampu melawan.

 

"Ohya," tambah pengemis tua. "Mengenai Hek Siau Liong, Hian tit harus menyelidikinya secara jelas. Kalau Hian tit sudah tahu jelas jati dirinya, suruhlah seseorang memberitahukan pada Kay Pang agar melapor pada Paman."

 

"Ya." Se Pit Han mengangguk. "Baiklah!"

 

"Baiklah. Paman mau mohon diri! Hian tit harus ingat, bahwa dalam kang ouw banyak kelicikan, maka engkau harus berhati-hati, dan jangan terlampu ceroboh."

 

"Terima kasih atas nasihat Paman pengemis!" ucap Se Pit Han sambil tersenyum. "Siau tit pasti berhati-hati."

 

"Ngmm!" Pengemis tua manggut-manggut, lalu menjura pada Se Khi. "Keparat Se, sudah lama engkau berkecimpung dalam kang ouw, tentunya tahu bagaimana keadaan kang ouw. Nah, urusan apa pun harus kau perhatikan. Aku tidak perlu banyak bicara, sampai jumpa!"

 

Suaranya belum hilang, namun orangnya telah hilang berkelebat cepat bagaikan kilat meninggalkan rumah penginapan tersebut. Dapat dibayangkan, betapa tinggi ginkang (ilmu meringankan tubuh) orang itu.

 

-- o --

 

 

Huai Hong, Hui Hong, Tui Hong dan Kiam Hong memacu kuda masing-masing secepat angin puyuh. Tak seberapa lama kemudian, kuda-kuda mereka telah berlari lima puluhan li.

 

Akan tetapi, Huai Hong justru bercuriga dalam hati, karena dalam lima puluhan li, sama sekali tidak tampak bayangan Hek Siau Liong.

 

Huai Hong bercuriga dan merasa cemas. Seharusnya sudah dapat menyusulnya, tapi kok tidak tampak bayangannya? Apakah salah jalan ataukah…... Berpikir sampai di sini, sekujur badan Huai Hong pun merinding dan membuatnya tidak berani berpikir lagi.

 

Mendadak ia mengangkat sebelah tangannya, memberi tanda pada saudara-saudaranya agar berhenti. Mereka segera menarik tali kendali menghentikan kuda masing-masing. Pada waktu bersamaan Kiam Hong pun bertanya.

 

"Toako (kakak tertua) telah melihat sesuatu?" Huai Hong menggelengkan kepala, sepasang alisnya terangkat.

 

"Kelihatannya urusan ini agak tidak beres," jawabnya dengan suara dalam.

 

"Bagaimana tidak beres?" Kiam Hong tampak tersentak.

 

Huai Hong tidak langsung menjawab, melainkan menatap Kiam Hong dan balik bertanya.

 

"Pat te (adik kedelapan) tidakkah engkau merasa aneh?"

 

Huai Hong bertanya padanya, karena Kiam Hong berotak sangat cerdas dan peka.

 

"Toako, urusan ini memang aneh." Kiam Hong manggut-manggut. "Memang aneh sekali."

 

"Bagaimana menurutmu tentang ini?"

 

"Menurut siaute, ini ada dua kemungkinan."

 

"Jelaskanlah!"

 

"Berpikir baiknya, mungkin kita telah salah jalan."

 

"Pat te!" Huai Hong menggelengkan kepala. "Kukira itu tidak mungkin."

 

"Toako!" Kiam Hong tersenyum. "Apakah karena di sini tiada jalan lain?"

 

"Walau terdapat jalan kecil, siapa pun tidak akan melalui jalan itu menuju selatan," sahut Huai Hong mengutarakan pendapatnya.

 

"Toako!" Kiam Hong tertawa-tawa. "Aku justru berpikir lain tentang ini. Hek kong cu sangat pintar, kemungkinan besar dia melalui jalan kecil agar tidak tersusul siapa pun."

 

"Pat te!" Huai Hong mengerutkan kening. "Apakah dia telah menduga kita akan menyusulnya?"

 

"Itu tidak mungkin. Hek kong cu melalui jalan demi menghindari pengejaran orang-orang suruhan Toan Beng Thong."

 

Masuk akal apa yang dikatakan Kiam Hong, maka Huai Hong menjadi berpikir keras.

 

"Pat te, lalu apa kemungkinan kedua itu?" tanyanya kemudian.

 

Wajah Kiam Hong berubah, lama sekali barulah menjawab.

 

"Kemungkinan kedua itu..... yakni Toan Beng Thong telah mendahului kita, maka…..."

 

"Pat te!"" Huai Hong menggelengkan kepala. "Tidak mungkin Toan Beng Thong bisa mendahului kita."

 

"Itu benar," sela Huai Hong. "Bagaimana mungkin Toan Beng Thong bisa mendahului kita?"

 

"Ngmm!" Huai Hong manggut-manggut. "Itu memang tidak mungkin."

 

"Toa ko." Kiam Hong menatapnya. "Selisih waktu berapa kita berangkat menyusul Hek kong cu

 

"Kira-kira setengah jam."

 

"Nah, setengah jam itu merupakan waktu yang cukup."

 

"Pat te!"' sela Tui Hong yang diam dari tadi. "Aku mengerti maksudmu."

 

"Cit ko (kakak ketujuh), aku percaya engkau mengerti itu." Kiam Hong tersenyum.

 

"Maksud pat te…..." Huai Hong menyadari sesuatu. "Kemungkinan Toan Beng Thong telah menyembunyikan orang-orang berkepandaian tinggi di semua jalan luar kota ini untuk menunggu Hek kong cu."

 

"Benar." Kiam Hong mengangguk. "Aku memang berpikir begitu."

 

"Kalau begitu......" Kening Huai Hong terus berkerut. "Kita harus bagaimana?"

 

Kiam Hong tidak menyahut, melainkan cuma menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah muram. Berselang sesaat, mendadak Tui Hong membuka mulut.

 

"Apa boleh buat! Kita harus berpencar mencari Hek kong cu."

 

Memang tiada jalan lain, maka mereka harus berpencar untuk mencari Hek Siau Liong.

 

Justru pada waktu bersamaan, terdengar suara derap kuda yang begitu kencang. Mereka segera menoleh, tampak empat ekor kuda berlari cepat menghampiri mereka.

 

Karena masih begitu jauh, Huai Hong dan saudara-saudaranya tidak bisa melihat jelas siapa penunggang kuda-kuda itu.

 

"Mari kita menyingkir, lihat siapa mereka itu!" seru Huai Hong.

 

Mereka berempat segera menyingkir ke pinggir jalan. Tak lama kuda-kuda itu telah mendekat. Begitu melihat keempat penunggang kuda itu, seketika juga Kiam Hong terperangah.

 

"Toa ko, mereka jie ko (kakak kedua)?"

 

"Tidak salah." Huai Hong mengangguk. "Mereka memang jie ko."

 

Ternyata para penunggang kuda itu Nian Hong, Ie Hong, Keng Hong dan Yang Hong berempat.

 

Walau mereka semua telah merubah wajah dan dandanan, pada bagian dada baju mereka terdapat semacam tanda, itu membuat mereka saling mengenal.

 

Nian Hong dan saudara-saudaranya segera menarik tali kendali menghentikan kuda masing-masing.

 

"Toa ko, di mana piau siau ya?" tanya Nian Hong cepat.

 

"Piau siau ya?" Huai Hong dan lainnya melongo. "Siapa piauw siau ya?"

 

"Hek kong cu adalah piau siau ya." Nian Hong memberitahukan.

 

"Hah? Apa?!" Huai Hong terbelalak. "Hek kong cu adalah piau siau ya?"

 

"Ya." Nian Hong mengangguk. "Paman pengemis tua beranggapan begitu. Hek kong cu adalah Pek Giok Liong, putra kesayangan Hui kauw-kauw (bibi Hui).

 

"Oh?" Huai Hong terkejut. "Jie te, kenapa kalian menyusul kami? Apa gerangan yang telah terjadi?"

 

"Toa ko, kini tiada waktu untuk menjelaskan. Hek kong cu berada di mana sekarang? Siau kiong cu akan segera menyusul."

 

Huai Hong menggeleng-gelengkan kepala, dan tersenyum getir.

 

"Jie te, kami justru tidak tahu bagaimana baiknya?"

 

Nian Hong terkejut.

 

"Bagaimana? Apakah Hek kong cu telah….." tanyanya sambil menatap Huai Hong.

 

"Belum bisa dipastikan sekarang." sahut Kiam Hong. "Kami cuma mengejar sampai di sini, namun tidak melihat jejak Hek kong cu. Maka….. kami berhenti di sini untuk berunding."

 

"Toa ko." Nian Hong menatapnya. "Bagaimana rencanamu?"

 

"Apa boleh buat!" Huai Hong menarik nafas. "Jalan satu-satunya, kita harus berpencar mencari Hek kong cu bagaimana menurut jie te?"

 

Nian Hong berpikir sejenak.

 

"Toa ko telah memutuskan begitu, maka kita harus segera berpencar mencari Hek kong cu, agar tidak terlambat sehingga terjadi sesuatu atas dirinya," ujarnya.

 

"Tapi…..." Lanjut Huai Hong. "Salah seorang di antara kita harus ditinggal untuk menunggu Siau kiong cu."

 

"Benar." Nian Hong manggut-manggut.

 

"Dan juga......" Huai Hong mengerutkan kening. "Kita harus berunding dulu. Seandainya menemukan sesuatu, kita harus bagaimana dan harus berkumpul di mana?"

 

"Begini, kalau kita menemukan sesuatu dalam jarak lima puluhan li, nyalakan api sebagai tanda!" usul Nian Hong.

 

"Ng!" Huai Hong mengangguk. "Apabila tidak menemukan suatu apa pun, kita harus segera menuju Kota Pin Hung dan berkumpul di sana. Mengenai salah seorang di antara kita yang harus tinggal di sini…..."

 

"Bagaimana si te yang tinggal di sini?" tanya Nian Hong.

 

"Baiklah," jawab Huai Hong.

 

Setelah memutuskan itu, mereka pun berpencar dengan menunggang kuda masing-masing untuk mencari Hek Siau Liong.

 

-- o --

 

 

 

Bagian ke 15: Orang Tua Buta

 

Sebetulnya Hek Siau Liong ke mana? Kenapa tiada jejaknya? Menurut dugaan Pat Kiam kemungkinan besar Hek Siau Liong menempuh jalan lain. Dugaan tersebut memang tidak salah, Hek Siau Liong menuju selatan tidak melalui jalan besar, juga tidak melewati jalan kecil, melainkan menempuh jalan setapak bersama kuda tunggangannya. Pat Kiam menduga demikian, namun tidak menyangka Hek Siau Liong akan menempuh jalan setapak.

 

Tak seberapa lama kemudian, Hek Siau Liong telah memasuki Siu Gu San (Bukit Siu Gu). Tidak gampang melewati bukit itu, bahkan kuda tunggangannya sering terpeleset, membuatnya nyaris jatuh dari punggung kudanya. Walau demikian, ia sama sekali tidak mengeluh, karena memiliki tekad yang tak tergoyahkan, lagi pula masih harus membalas dendam berdarah kedua orang tuanya.

 

Kalau ia mengeluh dalam perjalanan ini, bagaimana mungkin akan tiba di Lam Hai untuk mencari Pulau Pelangi?

 

Hek Siau Liong tidak pernah berkelana dalam bu lim, namun pernah mempelajari ilmu bumi. Maka ia tahu Siu Gu San ini terletak di Ouw Pak. Kalau terus menuju selatan adalah Ouw Lam, Kang Si, Kanton, lewat Kanton sudah termasuk Lam Hai.

 

Kini sudah lima hari Hek Siau Liong meninggalkan Kota Ling Ni. Matahari mulai condong ke barat. Ia menghentikan kudanya di lereng bukit lalu menengok ke sana ke mari dengan harapan ada rumah penduduk di sekitar itu.

 

Akan tetapi, ia sangat kecewa. Di sekitar tempat itu tiada rumah penduduk sama sekali. Di tempat yang begitu sepi dan merupakan rimba, bagaimana mungkin ada rumah penduduk?

 

Walau kecewa, Hek Siau Liong tidak bermuram durja, masih tampak begitu tenang.

 

"Tidak apa-apa, di bukit ini pasti terdapat goa." gumamnya menghibur diri sendiri. "Cari sebuah goa untuk bermalam, tapi…..."

 

Hek Siau Liong menatap kudanya, kemudian menjulurkan tangannya untuk membelainya seraya berkata lembut.

 

"Kuda yang baik, ikutlah aku! Hanya saja….. akan menyusahkanmu."

 

Sungguh mengherankan, kuda itu seakan mengerti ucapan Hek Siau Liong. Kepalanya manggut-manggut sambil meringkik panjang sepertinya sedang berkata.

 

"Aku mengerti, aku tidak menyalahkanmu."

 

Sungguhkah kuda itu mengerti ucapan Hek Siau Liong? Kalau kuda itu mengerti, tentunya itu kuda dewa atau kuda siluman.

 

Walau kuda itu tidak mengerti, tapi memiliki naluri. Siau Liong membelainya, dan kuda itu tahu Siau Liong sangat menyayanginya. Kalau tidak, bagaimana mungkin kuda itu manggut-manggut dan meringkik begitu panjang?

 

"Kuda yang baik, tak disangka engkau mengerti bahasa manusia." ujar Siau Liong sambil tersenyum.

 

"Hi hi hi!" Mendadak terdengar suara tawa yang amat nyaring. "Dasar bloon! Sudah sinting!"

 

Itu suara anak gadis. Namun sungguh mengejutkan Siau Liong. Di sekitar tempat itu tak ada rumah, tapi ada suara gadis yang begitu nyaring. Bukankah itu ganjil sekali!

 

Sepasang mata Siau Liong terbelalak lebar, mulutnya pun ternganga berbentuk huruf O, bahkan wajahnya juga tampak berubah dan bulu kuduknya berdiri semua.

 

Benarkah Siau Liong begitu pengecut, sama sekali tiada nyalinya? Kalau benar begitu, bagaimana mungkin ia mampu menegakkan keadilan dalam bu lim.

 

Sebetulnya Siau Liong cukup bernyali, kalau tidak, mungkinkah ia berani berangkat ke Lam Hai seorang diri?

 

Tapi kenapa ia tampak begitu ketakutan? Ternyata ia sering membaca cerita berbagai macam siluman yang menghuni dalam hutan dan bukit. Mendadak ada suara anak gadis, maka ia menganggap itu adalah siluman.

 

Perlahan-lahan ia mengarahkan pandangannya pada tempat yang bersuara tadi. Apakah ia melihat siluman? Tentu tidak, melainkan hanya melihat sebuah batu besar di situ.

 

Tiba-tiba dari balik batu itu muncul seraut wajah seorang gadis, tapi secepatnya menyusup ke balik batu itu lagi.

 

Wajah itu agak kehitam-hitaman, namun sangat cantik dengan sepasang mata yang amat bening.

 

Itu bagaimana mungkin siluman? Yang jelas adalah seorang gadis berwajah hitam manis.

 

"Hi hi hi!" Terdengar suara tawa yang nyaring lagi, lalu muncul seorang gadis dari balik batu itu. Rambut gadis itu panjang terurai sampai ke bahu.

 

Kini Siau Liong sudah melihat jelas. Gadis itu berusia sekitar empat belasan tahun dan berbadan langsing.

 

Gadis itu berdiri di hadapan Siau Liong dengan bertolak pinggang sambil menatap Siau Liong dengan mata bersinar terang.

 

"Hei! Engkau dari mana?" tanyanya merdu.

 

Siau Liong menarik nafas dalam-dalam, kemudian memandang gadis itu dengan penuh perhatian.

 

"Siau kouw nio (gadis kecil) engkau bertanya padaku?"

 

"Eh?" Sepasang alis gadis yang lentik itu terangkat sedikit. "Apakah ada orang ketiga di sini?"

 

"Oooh…..?" Siau Liong tersenyum.

 

"Jangan oh! Jawablah pertanyaanku tadi!" tandasnya.

 

"Engkau bertanya apa tadi?" Siau Liong tampak telah lupa.

 

"Dasar bloon dan pelupa!" Anak gadis itu tertawa geli. "Aku bertanya engkau dari mana?"

 

"Aku datang dari utara." sahut Siau Liong.

 

"Dari utara mau ke mana?"

 

"Ke selatan."

 

"Kalau begitu…..." Gadis itu menatapnya dalam-dalam. "Engkau orang lewat?"

 

Siau Liong mengangguk sambil tersenyum.

 

"Siau kouw nio, engkau dari mana?" tanyanya lembut.

 

"Ei!" tegur anak gadis itu. "Jangan terus menerus memanggilku siau kouw nio. Itu tak sedap didengar. Aku sudah tidak kecil."

 

"Oh?" Siau Liong tertawa. "Jadi..... berapa usiamu?"

 

"Usiaku sudah hampir lima belas."

 

"Emmh!" Siau Liong manggut-manggut. "Kalau hampir lima belas, itu berarti siau kouw nio."

 

"Huh! Tampangmu juga tidak lebih besar dariku! Kalau engkau memanggilku siau kouw nio lagi, aku pun akan memanggilmu siau hai ji (anak kecil)."

 

"Engkau memang…..." Siau Liong ingin mengatakan bahwa dia memang gadis kecil, namun mendadak teringat pada usianya sendiri yang juga baru lima belas tahun, maka tidak dilanjutkan, melainkan bertanya, "Jadi aku harus memanggilmu apa?"

 

"Panggil namaku saja!" sahut gadis itu tanpa berpikir.

 

"Tapi…..." Siau Liong tersenyum. "Aku belum tahu namamu."

 

"Ouh!" Gadis itu tertawa kecil. "Aku lupa memberitahukan. Namaku Cing Ji, panggil saja Cing Ji!"

 

"Oooh! Ternyata Cing Ji kouw nio!"

 

"Bagaimana sih engkau? Kok begitu macam?"

 

"Lho, kenapa aku?" Siau Liong tertegun. "Memangnya aku ini macam apa?"

 

"Cukup panggil Cing Ji saja! Kenapa harus ditambah kouw nio segala? Itu sungguh tak sedap didengar, kupingku jadi terasa sakit."

 

"Baiklah." Siau Liong mengangguk. "Aku akan memanggilmu Cing Ji."

 

Cing Ji tertawa gembira. Siau Liong terpukau ketika melihat Cing Ji tertawa. Sebab gadis itu bertambah cantik jelita. Gadis itu memang cantik. Meskipun agak hitam dan agak kurus, namun wajahnya bagaikan bunga yang baru mekar. Siau Liong membatin, dan sekaligus memandangnya dengan mata terbeliak.

 

"Hei! Aku sudah beritahukan namaku, kenapa engkau malah jadi melamun?" tanya Cing Ji menegurnya.

 

"Aku......" Siau Liong tergagap.

 

"Bagaimana sih engkau?" Cing Ji cemberut. "Kok tidak mau beritahukan namamu?"

 

"Namaku Siau Liong."

 

"Oooh!" Cing Ji tersenyum. "Ternyata Siau Liong ko!"

 

Begitu wajar ketika memanggil 'Siau Liong ko' sama sekali tidak merasa jengah. Itu pertanda Cing Ji gadis yang lugu.

 

"Cing Ji." Siau Liong menatapnya sambil tersenyum. "Engkau belum menjawab pertanyaanku, engkau datang dari mana?"

 

"Siau Liong ko, cobalah terka datang dari mana!" sahut Cing Ji merdu.

 

Siau Liong berpikir sejenak, namun kemudian menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Aku tidak bisa menerka, lebih baik kau beritahukan saja!"

 

"Ei! Siau Liong ko! Jangan terus duduk di punggung kuda, pegal nih kepalaku harus mendongak." ujar Cing Ji. "Turunlah! Mari kita mengobrol!"

 

"Cing Ji!" Siau Liong menggelengkan kepala. "Itu tidak usah."

 

"Kenapa?"

 

"Aku harus segera pergi."

 

"Apa!?" Cing Ji terbelalak. "Hari sudah hampir gelap, engkau mau pergi? Mau melakukan perjalanan malam?"

 

"Tidak." Siau Liong memberitahukan. "Aku ingin mencari sebuah goa untuk bermalam."

 

"Siau Liong ko!" Cing Ji tertawa. "Engkau telah bertemu denganku, maka tidak usah mencemaskan soal bermalam. Ikuti saja aku!"

 

"Oooh!" Siau Liong mengangguk. "Aku mengerti."

 

"Engkau mengerti apa?" tanya Cing Ji heran.

 

"Engkau mau mengajakku ke tempatmu kan?" jawab Siau Liong sambil tersenyum.

 

"Nah, cobalah terka, aku datang dari mana!" Cing Ji menatapnya dalam-dalam. "Jangan tidak mau menerka!"

 

"Engkau sama sekali tidak datang dari mana, melainkan tinggal di sekitar sini. Ya, kan?"

 

Cing Ji tertawa gembira sambil bertepuk-tepuk tangan, ia tampak girang sekali.

 

"Betul! Terkaanmu tidak meleset, aku memang tinggal di dalam goa yang tak jauh dari sini."

 

Siau Liong tersenyum lagi, lalu turun dari punggung kudanya. Sepasang mata Cing Ji berbinar-binar. Kenapa? Ternyata ia melihat Siau Liong membawa pedang.

 

"Siau Liong ko! Aku tak menyangka engkau bisa bu kang."

 

"Cuma mengerti sedikit!" Sahut Siau Liong sambil tersenyum hambar.

 

"Oh?" Cing Ji duduk di atas sebuah batu. "Siau Liong ko, duduklah!"

 

Siau Liong mengangguk, lalu duduk di sebuah batu di hadapan Cing Ji, kemudian menatapnya seraya tertawa-tawa.

 

"Cing Ji, kita mau mengobrol apa?"

 

"Mengobrol…..." Cing Ji berpikir, berselang sesaat barulah melanjutkan ucapannya sambil tersenyum. "Mengenai dirimu."

 

"Apa?" Siau Liong tertegun. "Mengenai diriku?"

 

"Ya." Cing Ji mengangguk. "Engkau tinggal di mana, mau apa menuju selatan, di rumah masih ada siapa, kakek, nenek dan ayah bundamu menyayangimu tidak? Bu kangmu belajar dari mana......"

 

Dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan itu, kening Siau Liong tampak berkerut-kerut, lalu menggelengkan kepala.

 

"Cing Ji, jangan membicarakan itu!"

 

"Kenapa?" Cing Ji menatapnya heran. "Tidak baik ya membicarakan itu?"

 

Mendadak wajah Siau Liong berubah dingin.

 

"Memang tidak baik, jadi jangan membicarakan itu!"

 

Cing Ji tertegun ketika melihat wajah Siau Liong yang berubah dingin mendadak, lama sekali barulah membuka mulut.

 

"Engkau tidak suka berbicara tentang keluarga?"

 

"Tidak salah," sahut Siau Liong dingin. "Aku tidak suka orang lain membicarakan keluargaku, termasuk jati diriku."

 

"Siau Liong ko," ujar Cing Ji lembut. "Kalau engkau tidak suka ya sudahlah! Mari kita membicarakan yang lain saja!"

 

"Tapi….. apa yang harus kita bicarakan?"

 

"Apa saja, yang penting tidak menyangkut keluargamu maupun dirimu."

 

"Cing Ji, bagaimana kalau membicarakan tentang dirimu? Tapi kalau engkau anggap tidak baik, jangan membicarakannya!"

 

"Emmmh!" Cing Ji menatapnya. "Siau Liong ko, aku lihat engkau bukan orang jahat. Sesungguhnya memang tidak apa-apa membicarakan tentang diri saya, tapi…..."

 

"Kenapa?"

 

"Yaya (kakek) melarangku membicarakan tentang kami pada orang lain, maka…..."

 

"Cing Ji, kalau begitu janganlah engkau membicarakan tentang itu! Lebih baik kita membicarakan yang lain saja?"

 

"Siau Liong ko!" Cing Ji tertawa gembira. "Engkau sungguh baik!"

 

Sungguh baik? Apanya yang baik? Lagi pula mereka harus membicarakan apa? Usia mereka baru belasan, maka mereka melihat apa, langsung membicarakan itu.

 

-- o --

 

 

Sang surya sudah mulai tenggelam di ufuk barat, membuat hari tampak mulai gelap. Cing Ji berjalan di depan menuju suatu tempat, Siau Liong mengikutinya dari belakang.

 

Tak lama mereka pun sampai di suatu tempat yang amat indah, itu sebuah tebing bukit. Di tebing itu terdapat air terjun, tumbuh pula bunga liar yang masih mekar segar. Tak jauh dari situ terdapat sebuah telaga, yang airnya begitu tenang sehingga mirip sebuah cermin besar.

 

Sepasang mata Siau Liong menyapu ke sekeliling tempat itu, kemudian wajahnya tampak penuh keheranan.

 

"Engkau bilang, kakekmu tinggal di sini, tapi kok tidak ada rumah di sini?"

 

Cing Ji tersenyum, dan menunjuk ke sebuah pohon beringin yang amat besar.

 

"Di belakang pohon beringin itu terdapat sebuah goa, aku dan kakekku tinggal di dalam goa itu." katanya.

 

"Oooh!" Siau Liong manggut-manggut.

 

"Siau Liong ko, mari ikut aku!" ajak Cing Ji sambil berjalan ke pohon beringin itu.

 

Siau Liong mengikutinya. Tidak salah, di belakang pohon beringin itu terdapat sebuah goa.

 

"Siau Liong ko, tunggu di sini sebentar!" ujar Cing Ji merendahkan suaranya dan melanjutkan, "Aku akan ke dalam memberitahukan pada yaya, dan menyalakan lampu."

 

Siau Liong mengangguk. Ia berdiri di luar goa, sedangkan Cing Ji telah memasuki goa itu sambil berseru.

 

"Yaya, Cing Ji sudah pulang!"

 

"Cing Ji!" Terdengar suara sahutan yang serak. "Engkau ke mana tadi, kok begitu lama baru pulang? Di luar hari sudah gelap?"

 

"Emmh! Cing Ji tadi main di luar, ingin menangkap beberapa ekor kelinci untuk yaya, tapi….. tiada seekor pun dapat Cing Ji tangkap."

 

"Oh?" Terdengar suara tawa. "Tapi engkau justru telah bertemu seseorang, bahkan telah membawa orang itu kemari, Ya, kan?"

 

"Hi hi!" Cing Ji tertawa merdu. "Yaya sudah tahu?"

 

"Ha ha! Gadis bodoh, walau mataku buta, tapi telingaku belum tuli."

 

"Yaya......"

 

"Engkau dan orang itu bersama seekor kuda berjalan di luar goa, aku telah mendengar itu."

 

"Tajam sekali pendengaran yaya." Cing Ji tertawa, lalu menyalakan lampu tempel.

 

Siau Liong yang berdiri di luar, segera memandang ke dalam, namun tidak bisa melihat jelas, karena lampu tempel itu tidak bersinar terang.

 

"Cing Ji!" Terdengar suara serak di dalam goa. "Orang yang di luar itu bernama siapa dan berapa usianya?"

 

"Namanya Siau Liong, usianya sekitar lima belas."

 

"Oh! Dia kerja apa dan baikkah orangnya?"

 

"Dia pemuda terpelajar, bisa sedikit bu kang, orangnya sangat baik. Kalau tidak, bagaimana mungkin Cing Ji mengajaknya ke mari?"

 

Hening sejenak, kemudian terdengar lagi suara yang serak itu.

 

"Cing Ji, kenapa dia berada di hutan ini? Bertanyakah engkau padanya?"

 

"Sudah. Dia ada urusan menuju selatan, kebetulan melewati hutan ini."

 

"Dia cuma seorang diri?"

 

"Ya. Dia cuma seorang diri bersama seekor kuda."

 

"Ngmmm!"

 

"Yaya, bolehkah Cing Ji menyuruhnya masuk?"

 

"Baiklah. Suruh dia masuk! Ingat, kudanya juga harus dibawa masuk dan tutup pintu goa!"

 

"Ya."

 

Cing Ji mengangguk, lalu berlari ke luar dengan wajah berseri. Gadis itu gembira sekali karena kakeknya mengizinkannya menyuruh Siau Liong masuk. Siapa Cing Ji dan kakeknya itu? Kenapa mereka berdua tinggal di goa tersebut.

 

Sementara Siau Liong berdiri di tempat dengan wajah penuh keheranan. Ternyata ia sedang memikirkan tentang ini.

 

-- o --

 

 

Siau Liong mengikuti Cing Ji ke dalam goa sambil menuntun kudanya. Setelah menambat kudanya, barulah ia menghadap kakek Cing Ji untuk memberi hormat.

 

Kakek Cing Ji itu sudah tua, kurus dan buta sepasang matanya. Begitu Siau Liong memberi hormat, kakek Cing Ji pun tertawa gelak.

 

"Anak muda, jangan banyak peradapan, silakan duduk!"

 

"Terima kasih, lo jin keh." ucap Siau Liong, kemudian duduk di hadapan orang tua buta itu.

 

"Cing Ji, cepatlah engkau masak! Sudah waktunya makan malam," ujar orang tua buta pada cucunya.

 

"Ya," sahut Cing Ji dan berkata pada Siau Liong, "Siau Liong ko, temanilah kakekku! Aku mau memasak dulu."

 

Siau Liong tersenyum sambil mengangguk. Cing Ji juga tersenyum, lalu melangkah ke dalam.

 

Meskipun buta, orang itu tahu bagaimana sikap Cing Ji terhadap Siau Liong. Ia mendadak menarik nafas panjang, dan sekaligus bergumam seakan memberitahukan pada Siau Liong.

 

"Ini tidak mengherankan, selama ini Cing Ji memang sangat kesepian."

 

Siau Liong duduk diam, sama sekali tidak menyambung gumaman orang tua buta itu.

 

"Anak muda, engkau marga apa?" tanya orang tua buta itu mendadak.

 

"Lo jin keh," jawab Siau Liong hormat. "Boan pwe marga Hek, bernama Siau Liong."

"Engkau tinggal di daerah utara?"

 

"Ya."

 

"Di kota apa?"

 

"Ciok Lau di San Si."

 

Mendengar itu, hati orang tua buta itu tergerak.

 

"Kota Ciok Lau atau...... Ciok Lau San Cung?"

 

Pertanyaan ini membuatnya teringat sesuatu.

 

"Di dalam kota Ciok Lau," jawabnya cepat.

 

"Masih ada siapa dalam keluargamu? Apakah kedua orang tuamu sehat-sehat saja?"

 

"Siau Liong tidak punya siapa-siapa lagi," jawab Siau Liong agak salah tingkah. "Kedua orang tua Siau Liong telah meninggal."

 

Begitu menyinggung kedua orangnya, hatinya pun langsung berduka dan sepasang matanya bersimbah air.

 

Orang tua buta itu sangat peka. Dari nada suara Siau Liong, ia sudah tahu kematian kedua orang tua Siau Liong tidak begitu wajar.

 

Ia menarik nafas panjang seakan bersimpati pada Siau Liong.

 

"Ohya, engkau punya saudara?"

 

"Tidak punya, boan pwe anak tunggal." Orang tua buta itu tampak memikirkan sesuatu, lama sekali barulah ia bertanya.

 

"Engkau menuju selatan kan?"

 

"Ya."

 

"Mau apa engkau ke selatan?"

 

"Mencari orang."

 

"Orang itu teman ayahmu?"

 

"Betul, lo jin keh."

 

Orang tua buta itu diam sejenak, kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.

 

"Pernahkah engkau belajar bu kang?" tanyanya kemudian.

 

"Ya, lo jin keh. Boan pwe pernah belajar sedikit bu kang untuk menjaga diri."

 

"Siapa yang mengajarmu?"

 

"Ayah boan pwe."

 

"Ayahmu orang bu lim?"

 

"Bukan, kedua orang tua boan pwe memang bisa bu kang, namun tidak pernah berkecimpung dalam bu lim."

 

"Oh?" Hati orang tua buta tergerak. "Ibumu juga bisa bu kang?"

 

"Ayah dan ibu adalah suheng moi seperguruan."

 

"Perguruan mana?"

 

"Maaf, lo jin keh! Boan pwe tidak tahu, karena kedua orang tua boan pwe tidak pernah menyinggung soal perguruan."

 

Mendadak wajah orang tua buta itu berubah, bahkan menegur Siau Liong dengan rada tidak senang.     .

 

"Anak muda! Engkau menghina lo ciau yang buta ini?"

 

Ditegur demikian, Siau Liong jadi tertegun. "Boan pwe tidak berani."

 

"Kalau tidak berani, kenapa engkau berdusta?" tanya orang tua buta dengan wajah dingin.

 

"Lo jin keh, boan pwe tidak berdusta, kedua orang tua boan pwe memang tidak pernah menyinggung soal perguruan mereka, maka boan pwe sama sekali tidak tahu," jawab Siau Liong nyaring.

 

"Anak muda!" Orang tua buta itu tertawa. "Engkau telah salah menduga maksud lo ciau, bukan ini yang lo ciau maksudkan."

 

"Oh?" Siau Liong heran. "Maksud lo jin keh?"

 

"Engkau berdusta tentang kedua orang tuamu tidak pernah berkecimpung dalam bu lim." Orang tua buta memberitahukan.

 

Siau Liong tertegun, ia memandang orang tua buta itu.

 

"Apakah lo jin keh menganggap boan pwe tidak berkata sejujurnya?"

 

Orang tua buta itu tertawa hambar.

 

"Anak muda, lo ciau bertanya, bagaimana kedua orang tuamu mati?"

 

"Ini…..." Siau Liong tergagap. Ia tidak menyangka orang tua buta itu akan bertanya tentang kematian kedua orang tuanya.

 

Orang tua buta tertawa dingin.

 

"Anak muda, sepasang mata lo ciau memang telah buta, namun telinga lo ciau belum tuli. Dari tadi lo ciau sudah mendengar nada suaramu. Ketika mengatakan kedua orang tuamu meninggal, nada suaramu agak bergemetar. Maka lo ciau berkesimpulan, kemungkinan besar kedua orang tuamu mati dibunuh orang. Ya, kan?"

 

"Lo jin keh!" Siau Liong terkejut bukan main.

 

"Nak!" Nada suara orang tua buta berubah lembut. "Lo ciau mengerti kenapa engkau berdusta. Mungkin engkau punya suatu kesulitan, mungkin juga musuh-musuhmu itu sangat lihay. Ya, kan?"

 

"Lo jin keh!" Siau Liong menundukkan kepala.

 

"Lo ciau pun tahu, engkau berdusta tentang margamu." Orang tua buta tersenyum lembut.

 

Saat ini, Siau Liong pun tahu bahwa orang tua buta itu bukan orang biasa, maka ia tidak berani berdusta lagi.

 

"Lo jin keh!" Siau Liong menarik nafas panjang. "Dugaan lo jin keh memang benar, boan pwe punya dendam berdarah. Oleh karena itu….. boan pwe mohon maaf karena telah berdusta tadi."

 

"Nak." Orang tua buta tersenyum lembut lagi. "Lo ciau adalah orang tua yang berpengertian, engkau telah mengakuinya, tentunya lo ciau juga tidak akan mempersalahkanmu lagi. Bahkan….. tidak akan menanyakan tentang riwayat hidupmu."

 

"Terima kasih, lo jin keh!" ucap Siau Liong setulus hati.

 

Orang tua buta itu tidak bertanya apa-apa lagi, namun mendadak wajahnya berubah serius sambil memikirkan sesuatu.

 

Lama sekali, akhirnya Siau Liong berbatuk beberapa kali. Akan tetapi, orang tua buta itu tetap diam.

 

Berselang beberapa saat kemudian, wajah orang tua buta itu tampak lembut.

 

"Nak, engkau jangan bertanya apa pun! Kemarilah!"

 

Siau Liong terheran-heran.

 

"Ada apa, lo jin keh?" tanyanya.

 

"Nak." Orang tua buta itu tampak penuh kasih sayang. "Engkau ke mari dulu! Lo ciau ingin merabamu."

 

"Lo jin keh ingin meraba boan pwe?" Siau Liong bertambah heran.

 

-- o --

 

 

(Bersambung bagian 16)

Bagian ke 16: Meraba Tulang

 

"Ya." Orang tua buta itu mengangguk.

 

"Kenapa lo jin keh ingin merabaku?" Siau Liong bingung.

 

"Lo ciau ingin menyuruhmu melaksanakan sesuatu, namun tidak tahu engkau mampu atau tidak. Maka lo ciau harus merabamu dulu, agar tahu jelas mampukah engkau melaksanakannya?"

 

"Lo jin keh!" tanya Siau Liong heran. "Hanya dengan meraba, lo jin keh bisa tahu?"

 

"Tidak salah. Lo ciau ahli dalam hal meraba tulang, maka hanya dengan meraba lo ciau sudah tahu dirimu mampu atau tidak."

 

"Oooh!" Siau Liong manggut-manggut mengerti. "Ternyata begitu…..."

 

Orang tua buta itu tersenyum.

 

"Lo jin keh menghendaki boan pwe melaksanakan sesuatu, apakah sulit sekali melaksanakannya?" Siau Liong bertanya.

 

"Dibilang sulit ya tidak, dibilang tidak justru sulit sekali," jawab orang tua buta sambil mengerutkan kening.

 

"Lo jin keh, sebetulnya urusan apa itu? Bolehkah lo jin keh memberitahukan boan pwe?"

 

Orang tua buta menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Tidak bisa. Sebelum lo ciau meraba tulangmu dan memastikan mampu tidaknya dirimu, lo ciau tidak bisa memberitahukan tentang urusan itu."

 

Usai orang tua buta berkata, pada waktu bersamaan terdengar suara langkah yang ringan.

 

Ternyata Cing Ji memunculkan diri, dan mendekati Siau Liong dengan mata berbinar-binar.

 

"Siau Liong ko," ujarnya berseri. "Cepatlah mendekati yaya biar diraba tulangmu!"

 

"Cing Ji…..."

 

Ucapan Siau Liong terputus, karena Cing Ji telah menarik Siau Liong ke hadapan orang tua buta itu.

 

Orang tua buta itu menjulurkan sepasang tangannya, lalu memegang badan Siau Liong dengan wajah serius. Setelah itu, mulailah orang tua buta itu meraba-raba badan Siau Liong.

 

Cing Ji memandang dengan penuh perhatian, bahkan tampak tegang sambil memperhatikan air muka kakeknya.

 

Kening orang tua buta itu berkerut, hatinya pun berdebar. Kenapa begitu? Seandainya bertanya padanya, gadis itu pun tidak tahu sebab musababnya.

 

Namun dalam benaknya merasakan sesuatu, juga mengandung suatu harapan. Ia berkesan baik pada Siau Liong, maka berharap orang tua buta itu jangan terus mengerutkan kening. Untung orang tua buta itu hanya dua kali mengerutkan kening, diam-diam gadis itu pun menarik nafas lega.

 

Berselang sesaat, orang tua buta itu menarik sepasang tangannya dengan wajah cerah.

 

"Tuhan mengasihimu, akhirnya lo ciau menemukan orang yang cocok, dan dapat terkabul apa yang lo ciau inginkan itu." gumam orang tua buta itu, lalu tertawa gelak.

 

Ketika melihat orang tua buta itu tertawa, wajah Cing Ji pun ceria dan ikut tertawa pula dengan nyaring. Kemudian gadis itu menarik Siau Liong dan berjingkrak saking girangnya.

 

"Siau Liong, engkau telah terpilih! Cing Ji turut gembira!"

 

Cing Ji begitu gembira, sebaliknya Siau Liong malah tampak bodoh terbengong-bengong.

 

"Ini apa gerangannya? Kenapa aku terpilih?" tanya Siau Liong. Pada waktu bersamaan, ia pun teringat sesuatu. Mungkinkah ia terpilih untuk melaksanakan sesuatu itu?

 

"Huaha ha ha!" Orang tua itu masih tertawa gelak.

 

"Lo jin keh, apakah boan pwe terpilih untuk melaksanakan sesuatu itu? Apakah lo jin keh memastikan boan pwe mampu melaksanakannya?" Siau Liong menatap orang tua buta itu.

 

"Betul." Orang tua buta mengangguk. "Nak, lo ciau telah memilihmu dan memutuskan untuk menyerahkan urusan itu padamu."

 

"Lo jin keh….." ujar Siau Liong terputus.

 

"Cing Ji," ujar orang tua buta pada cucunya. "Cepat buka pintu ruang rahasia, kemudian pasang hio!"

 

"Ya, yaya." Cing Ji mendekati tembok batu, lalu menekan sebuah tombol di tembok batu itu.

 

Kraaak! Pintu rahasia di tembok batu itu terbuka.

 

Cing Ji melangkah masuk dan tak seberapa lama kemudian, ruang rahasia itu pun tampak terang.

 

"Yaya!" seru Cing Ji dari dalam ruang rahasia itu. "Cing Ji sudah pasang hio, yaya bawa Siau Liong ko ke mari!"

 

Orang tua buta itu bangkit berdiri, lalu menaruh tangannya di atas bahu Siau Liong.

 

"Nak, mari kita ke dalam!" katanya.

 

Walau merasa heran dalam hati, Siau Liong sama sekali tidak berani bertanya apa pun. Ia mengikuti orang tua buta itu memasuki ruang rahasia sambil menengok ke sana ke mari.

 

Di dalam ruang rahasia itu terdapat sebuah meja batu dan sebuah tempat pasang hio di atas meja batu itu. Di tembok di belakang meja batu itu tergantung sebuah gambar dewa, tampak pula tiga batang hio menyala, dan mengepulkan asap di dalam tempatnya.

 

"Nak," ujar orang tua berwibawa tapi lembut. "Cepatlah engkau berlutut tiga kali dan bersujud sembilan kali!"

 

Siau Liong melongo saking merasa heran. Cing Ji segera berkata mendesaknya.

 

"Siau Liong ko, cepat lakukan!" Nada suaranya penuh mengandung harapan tapi gugup karena Siau Liong belum melakukan penghormatan itu.

 

Siau Liong merasa ragu, namun kemudian menurut juga. Usai melakukan penghormatan, ia pun menarik nafas dalam-dalam.

 

"Siau Liong ko!" Wajah Cing Ji berseri. "Setelah bersujud di hadapan causu (kakek guru) engkau pun harus bersujud pada yaya!"

 

Siau Liong tertegun. Ketika ia baru mau membuka mulut, justru orang tua buta telah menegur Cing Ji.

 

"Cing Ji, jangan banyak mulut! Pergilah melihat nasi sudah matang belum, kemudian tunggu di luar saja!"

 

"Ya." Cing Ji mengangguk, lalu segera meninggalkan ruang rahasia itu.

 

Hening seketika di dalam ruang rahasia tersebut. Siau Liong merasa heran, tapi ia tidak berani bertanya.

 

"Nak!" Orang tua buta tersenyum lembut. "Kenapa engkau tidak bicara?"

 

"Lo jin keh, boan pwe tidak tahu harus bicara apa?"

 

"Nak, bukankah banyak pertanyaan di dalam benakmu? Kenapa engkau tidak mencetuskannya?"

 

"Memang banyak pertanyaan di dalam benak boan pwe, tapi tidak tahu boleh bertanya atau tidak. Maka….. boan pwe terpaksa diam."

 

Orang tua buta tertawa-tawa, lalu manggutmanggut.

 

"Nak, inilah kelebihanmu. Walau merasa heran kamu masih dapat mengendalikan diri untuk tidak bertanya."

 

"Lo jin keh terlampau memuji, membuat boan pwe jadi malu hati."

 

"Mau merendah diri itu memang baik sekali." Orang tua buta manggut-manggut dan menambahkan, "Sesungguhnya, tidaklah begitu gampang untuk merendah diri."

 

"Lo jin keh…..." Wajah Siau Liong tampak kemerah-merahan.

 

"Nak, tahukah engkau kenapa lo ciau berbuat demikian?" tanya orang tua buta mendadak.

 

"Boan pwe sangat bodoh, mohon lo jin keh memberi petunjuk!"

 

"Nak." Wajah orang tua buta berubah serius. "Kalau dijelaskan, ini merupakan keberuntunganmu."

 

"Lo jin keh, boan pwe sama sekali tidak mengerti, boan pwe mohon penjelasan!"

 

"Baiklah." Orang tua buta manggut-manggut. "Lo ciau memang harus menjelaskannya."

 

"Terima kasih, lo jin keh!"

 

"Nak, engkau bisa memperoleh keberuntungan ini, karena memiliki bakat dan tulang yang istimewa, bahkan juga berhati bajik dan berbudi luhur. Namun masih terdapat sedikit kekurangan…..." Orang tua buta diam, berselang sesaat barulah dilanjutkan. "Nak, engkau harus ingat. Mengenai cinta, engkau harus berhati-hati. Kalau tidak berhati-hati, akan menimbulkan suatu badai dalam cinta itu…..."

 

Orang tua buta menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menarik nafas panjang dengan mulut membungkam.

 

Walau orang tua buta tidak melanjutkan, namun Siau Liong sudah dapat menduga apa yang akan dikatakan orang tua buta itu selanjutnya. Justru hatinya pun tersentak dan ujarnya dengan hormat,

 

"Boan pwe pasti ingat akan nasihat lo jin keh yang sangat berharga itu."

 

"Nak, tahukah engkau siapa causu yang digambar itu?" tanya orang tua buta mendadak.

 

"Boan pwe tidak tahu."

 

"Kedua orang tuamu adalah orang bu lim maka engkau pun pasti pernah mendengar mengenai orang-orang bu lim dari kedua orang tuamu."

 

"Walau boan pwe pernah dengar, tetapi masih tidak begitu tahu."

 

"Nak!" Wajah orang tua buta tampak serius. "Pernahkah engkau dengar dalam bu lim terdapat sebuah Jit Goat Seng Sim Ki (Panji Hati Suci Matahari Bulan)?"

 

Ketika mendengar itu, wajah Siau Liong tampak terperanjat.

 

"Boan pwe pernah dengar. Apakah gambar itu adalah…..."

 

"Nak, dugaanmu itu tidak salah, gambar itu memang causu Jit Goat Seng Sim Ki."

 

"Hah? Kalau begitu, lo jin keh adalah…..."

 

"Lo ciau adalah generasi keempat pemegang panji itu." Orang tua buta memberitahukan.

 

"Oh?" Siau Liong tampak menghormat sekali. "Ternyata lo jin keh adalah Kian Kun Ie Siu yang menggetarkan bu lim masa itu! Mohon maaf, boan pwe tidak mengetahuinya, sehingga berlaku kurang hormat tadi!"

 

"Ha ha ha!" Orang tua buta itu tertawa terbahak-bahak. "Lo ciau memang Kian Kun Ie Siu (Orang aneh) itu."

 

"Lo jin keh…..."

 

"Nak, kini engkau sudah tahu niat lo ciau dalam hati?"

 

Tentunya Siau Liong tahu, Kian Kun Ie Siu memilihnya sebagai generasi kelima pemegang panji itu.

 

Panji Hati Suci Matahari Bulan berkembang, bu lim di kolong langit bergabung menjadi satu. Bisa menjadi generasi penerusnya, memang merupakan kejadian yang amat luar biasa.

 

Itu merupakan keberuntungan Siau Liong, maka ia harus merasa girang sekali. Akan tetapi, sungguh di luar dugaan, sebab Siau Liong tampak hambar.

 

"Boan pwe tahu niat to jin keh, maka boan pwe merasa bangga."

 

Kian Kun Ie Siu mengerutkan kening, karena nada suara Siau Liong begitu hambar, tentunya membuat orang tua buta itu tidak habis berpikir.

 

"Nak, kenapa engkau tidak tertarik dan sama sekali tidak merasa girang?" tanya Kian Kun Ie Siu heran.

 

"Lo jin keh......" Siau Liong menarik nafas panjang. "Panji Hati Suci Matahari Bulan berkembang, bu lim di kolong langit bergabung menjadi satu. Bisa menjadi generasi penerus pemegang panji itu, memang sangat menggembirakan. Namun…..."

 

"Kenapa?"

 

"Lo jin keh, bolehkah boan pwe mengajukan beberapa pertanyaan?" tanya Siau Liong mendadak.

 

Kian Kun Ie Siu manggut-manggut.

 

"Boleh. Engkau mau bertanya apa, tanyalah!"

 

"Maaf, lo jin keh! Boan pwe pun ingin mohon agar lo jin keh mengabulkan satu permintaan."

 

"Permintaan apa?"

 

"Apa yang boan pwe tanyakan, boan pwe harap agar lo jin keh jangan gusar atau tidak mau menjawab. Inilah pertanyaan boan pwe......"

 

Kian Kun Ie Siu berpikir sejenak, kemudian mengangguk.

 

"Baiklah, lo ciau mengabulkan."

 

"Terima kasih, lo jin keh!" ucap Siau Liong dan melanjutkan, "Mulai saat ini, lo jin keh berniat mengajar boan pwe bu kang tingkat tinggi?"

 

"Betul."

 

"Apakah lo jin keh ingin mewariskan boan pwe Hu Ki Sin Kang Sam Cauw (Tiga jurus sakti pelindungi panji) itu?"

 

"Tidak salah." Kian Kun Ie Siu mengangguk serius. "Karena lo ciau telah mengambil keputusan untuk menerimamu sebagai murid generasi penerus pemegang panji itu, maka harus pula mewariskan tiga jurus sakti pelindungi panji tersebut padamu. Kalau tidak, bagaimana mungkin engkau mampu melindungi panji itu?"

 

"Lo jin keh, bolehkah boan pwe mengajukan satu pertanyaan lagi?"

 

"Tentu boleh." Kian Kun Ie Siu tertawa. "Tanyalah!"

 

"Betulkah tiga jurus sakti itu tiada lawannya di kolong langit ini?" Ternyata ini yang ditanyakan Siau Liong.

 

Pertanyaan ini membuat air muka Kian Kun Ie Siu berubah, kening pun berkerut-kerut.

 

"Engkau kurang yakin akan kesaktian tiga jurus itu?"

 

"Apakah lo jin keh telah melupakan permintaan boan pwe tadi?"

 

Kian Kun Ie Siu tertegun, namun tersenyum seraya berkata dengan lembut memberi penjelasan pada Siau Liong.

 

"Nak, tiga jurus sakti pelindung panji memang sakti sekali. Tiada lawan di kolong langit bukan omong kosong."

 

"Lo jin keh, tiada lawan di kolong langit dimaksudkan satu lawan satu?" tanya Siau Liong mendadak.

 

"Itu tergantung pada kepandaian pihak lawan. Kalau cuma merupakan orang berkepandaian kelas satu dalam bu lim, walau berjumlah belasan orang, itu pun bukan lawan tiga jurus sakti."

 

"Bagaimana kalau menghadapi bu lim ko ciu tingkat tinggi?"

 

"Walau berjumlah dua tiga orang, tentu tidak akan kalah."

 

"Seandainya ditambah beberapa orang lagi?"

 

"Apa?" Kian Kun Ie Siu tertegun. "Ditambah, beberapa orang lagi?"

 

"Ya." Siau Liong mengangguk. "Misalnya menghadapi Siang Hiong Sam Koay?"

 

Kian Kun Ie Siu tampak terkejut.

 

"Nak, apakah itu mungkin? Para siluman tua itu......"

 

"Itu mungkin. Lo jin keh, kini boan pwe harus berterus terang mengenai musuh-musuh boan pwe."

 

"Nak!" Orang tua buta itu tersentak. "Musuh-musuhmu itu adalah Thai Nia Siang Hiong Sam Koay?"

 

Kian Kun Ie Siu menggeleng-gelengkan kepala. Berselang sesaat ia melanjutkan dengan kening berkerut-kerut.

 

"Itu tidak mungkin. Bukankah mereka telah dipukul jatuh ke dalam jurang Ok Hun Nia oleh Pek tayhiap? Kalau tidak salah, mereka berlima telah mati bukan?"

 

"Tapi Siang Hiong justru tidak mati. Belum lama ini, mereka berdua telah muncul di bu lim. Dua puluh hari yang lalu, ada orang melihat mereka berada di Si Hai Ciu Lau, Ling Ni."

 

"Oh?" Kian Kun Ie Siu tampak kurang percaya. "Siapa yang melihat mereka?"

 

"Bun Fang, saudara tertua Thai Hang Ngo Sat."

 

"Bun Fang yang memberitahukan padamu?"

 

"Boan pwe tidak kenal mereka, bagaimana mungkin mereka memberitahukan pada boan pwe?"

 

"Kalau begitu…..."

 

"Tanpa sengaja Ouw Yang Seng Tek, Kay Pang tiang lo menanyakan tentang itu pada Bun Fang."

 

"Ooooh!" Kian Kun Ie Siu manggut-manggut. "Kay Pang tiang to itu Si Tongkat Sakti?"

 

"Betul."

 

"Engkau kenal pengemis tua itu?"

 

Siau Liong tidak mau menutur tentang apa yang terjadi di rumah penginapan itu, hanya menjawab sekenanya.

 

"Boan pwe tidak kenal. Pada waktu itu kebetulan kami berada di rumah penginapan yang sama, dan tanpa sengaja boan pwe mendengar pembicaraan mereka."

 

"Kalau begitu......" Kian Kun Ie Siu mengerutkan kening. "Kalau Siang Hiong tidak mati, mungkin begitu juga Sam Koay."

 

"Itu memang mungkin."

 

"Nak," ujar Kian Kun Ie Siu setelah berpikir beberapa saat lamanya. "Kalau begitu, musuh-musuhmu itu adalah Siang Hiong Sam Koay?"

 

"Sementara ini, boan pwe belum begitu jelas, namun boan pwe yakin pasti ada kaitannya dengan mereka."

 

"Oooh!" Kian Kun Ie Siu tertawa gelak dan telah menduga sesuatu. "Nak, aku sudah memahami keinginan hatimu."

 

"Lo jin keh!" Siau Liong menundukkan kepala.

 

"Karena khawatir tiga jurus sakti pelindung panji itu tidak mampu melawan Siang Hiong Sam Koay, maka engkau pun jadi ragu?"

 

"Boan pwe memang ragu." Siau Liong mengangguk. "Boan pwe mohon agar lo jin keh memberi maaf!"

 

"Ha ha ha!" Orang tua buta tertawa. "Engkau ragu memang wajar, sebab musuh-musuhmu itu memang telah tersohor puluhan tahun yang lampau."

 

"Justru karena itu…..." Siau Liong menari nafas panjang. "Boan pwe memikul dendam berdarah, bahkan sewaktu-waktu boan pwe akan terbunuh, itu merupakan urusan kecil. Namun Panji Hati Suci Matahari Bulan adalah benda mustika dalam bu lim. Kalau boan pwe tidak mampu menjaga panji itu dan terjatuh ke tangan golonga hitam, bukankah…..."

 

Kian Kun Ie Siu manggut-manggut. Apa yang dikatakan Siau Liong memang benar, kalau ia tidak memiliki kepandaian tinggi, bagaimana mungkin mampu menjaga panji itu? Kian Kun Ie Si mengerutkan kening sambil berpikir.

 

-- o --

 

 

 

Bagian ke 17: Asal Usul

 

"Nak," ujar Kian Kun Ie Siu kemudian. "Engka mau ke Lam Hai, mungkinkah ingin mencari Ca Hong To (Pulau Pelangi) yang merupakan dongeng dalam bu lim itu?"

 

Kini Siau Liong telah mengetahui tentang diri orang tua buta itu, maka ia pun tidak berani berdusta lagi.

 

"Ya." Siau Liong mengangguk. "Kalau tidak mempelajari bu kang tingkat tinggi Pulau Pelangi itu, bagaimana mungkin mampu melawan Siang Hiong Sam Koay dan Pat Tay Hiong Jin? Itu berarti boan pwe tidak bisa membalas dendam berdarah itu."

 

"Ngmm!" Kian Kun Ie Siu manggut-manggut. "Engkau tahu Pulau Pelangi itu berada di Lam Hai bagian mana?"

 

"Boan pwe tidak tahu."

 

"Engkau percaya di Lam-Hai terdapat Pulau Pelangi?"

 

"Boan pwe percaya."

 

"Nak…..," ujar Kian Kun Ie Siu setelah berpikir sejenak. "Lo ciau punya usul, engkau bersedia mendengarnya?"

 

"Lo jin keh!" Siau Liong tersenyum. "Beritahukanlah tentang usul lo jin keh itu!"

 

"Lo ciau usul agar engkau tidak usah ke Pulau Pelangi itu."

 

"Lho?" Siau Liong tertegun. "Kenapa?"

 

Kian Kun Ie Siu tersenyum lembut, namun wajahnya tampak serius sekali.

 

"Lo ciau akan menunjukkan sebuah jalan untukmu, inilah usul lo ciau."

 

"Oh?" Siau Liong heran. "Jalan apa?"

 

"Pergi menemui seseorang."

 

"Menemui seseorang?" Sepasang mata Siau Liong berbinar. "Boan pwe mohon petunjuk!"

 

"Nak, orang itu Pendekar Aneh Rimba Persilatan yang memiliki bu kang tingkat tinggi."

 

"Benarkah orang itu memiliki bu kang tinggi?" tanya Siau Liong agak ragu.

 

"Tayhiap itu memang memiliki bu kang yang luar biasa tinggi." Kian Kun Ie Siu memberitahukan. "Dia boleh dikatakan bu lim te it (Nomor satu rimba persilatan)."

 

"Kalau begitu, berarti tiada tanding di kolong langit?"

 

"Tidak salah." Kian Kun Ie Siu mengangguk. "Bu lim ko ciu (Orang berkepandaian tinggi rimba persilatan), tiada seorang pun yang melawannya dalam tiga jurus."

 

"Oh! Kalau begitu, dia pasti tersohor dalam bu lim?"

 

"Benar. Namun tayhiap itu tidak mau cari nama di rimba persilatan. Dia hidup tenang bersama isterinya tercinta." Kian Kun Ie Siu memberitahukan. "Asal engkau pergi menemui tayhiap itu dan belajar bu kangnya, maka engkau pun akan mampu melawan Siang Hiong Sam Koay seorang diri."

"O, ya?" Siau Liong tampak gembira sekali. "Lo jin keh, boan pwe harus ke mana menemui tayhiap itu?"

 

"Lo ciau pasti beritahukan, tapi…..."

 

"Kenapa?"

 

"Terlebih dahulu engkau harus tinggal di sini tiga bulan."

 

[bersambung]