Manajemen Republik Wayang  11

“Tidak” Belajar dari Kesalahan

Hobby disatu sisi bisa melepaskan orang dari kejenuhan dan kelelahan, apalagi bila hobby yang bisa menghasilkan sesuatu yang berguna atau bisnis yang menguntungkan dengan cara benar, tetapi hobby satu ini rasanya sebaiknya dihindari.

Kalau kita mendengarkan atau melihat kisah Mahabharata atau pecahnya Perang Bharatayudha, selalu keterkaitan kita hanya di “pihak yang benar” dan “pihak yang salah”, tetapi kalau kita melihat apa yang menjadi penyebab perang ini maka mana yang benar dan mana yang salah bisa menjadi perdebatan.

Berawal dengan dibaginya Kerajaan Kuru menjadi  dua, yang satu Kerajaan Kuru pusat dengan ibukotanya Astina [Hastinapura] untuk para Kurawa dan Kurujenggala dengan ibukotanya Indraprastha untuk Pendawa diharapkan perebutan kekuasaan dapat dihindari, tetapi “nafsu” untuk menguasai semua dalam satu kekuasaan bercampur dengan “hobby” bermain judi mengakibatkan kesengsaraan dan berakhir dengan kehancuran banyak negara dan kematian banyak perajurit.

Yudisthira yang selalu dikenal sebagai Raja yang bijaksana ternyata juga menjadi pokal awal terjadinya semua kisah diatas, hobby judi nya membawa kehancuran awal, saat dia mempertaruhkan semua kerajaan, adik dan yang keterlaluan juga istrinya dimeja judi. Semua kutukan bermunculan saat itu, tentu saja dari pihak yang kalah main yaitu Pandawa, sampai Ayah Kurawa, Drestarata, ngeri sendiri lalu minta Kurawa sebagai pihak pemenang judi untuk  mengembalikan semuanya.

Nafsu akhirnya kembali menguasai kedua pihak, saat tawaran main judi kedua kali diajukan dengan taruhan pihak yang kalah menyerahkan kerajaannya, 12 tahun mengembara, 1 tahun bersembunyi baru boleh kembali memerintah lagi ... wah tawaran ini rasanya lebih masuk akal dan kesempatan menang masih ada ...

Yudisthira, sang ksatria dengan darah putih, Putera Dewa Dharma kembali terjebak dan hanyut oleh hobby serta nafsu berkuasa, seakan tiada sadar nasib banyak orang tergantung ditangannya, kesengsaraan yang timbul bisa jadi berawal dari ulahnya ... terjadilah apa yang ditakutkan, kembali kalah ... sayang sekali sang Ksatria tidak belajar dari kesalahan awal ... hanya mengikuti nafsu sesaat untuk berkuasa kembali dengan “berjudi” dengan nasib.

Pelajaran yang sangat baik bisa kita ambil disini, janganlah melakukan kesalahan kedua kali dari hal atau penyebab yang sama karena akibatnya sangat fatal ... janganlah kita melihat masalah baik dan benar dengan melihat hasil akhir, karena dalam proses ternyata yang “baik” belum tentu “benar” dan yang “jahat” belum tentu “salah”.