Manajemen Republik Wayang 10
Kelemahan Sang Maha Dahsyat.
Bhisma sudah dikenal sebagai satria tangguh dan politisi serta
panglima perang hebat sejak masa muda juga terkenal sebagai
pembantai di medan perang. Ini dibuktikan saat Perang
Bharatayudha, saat itu pasukan Pandawa kocar kacir dan menderita
kerusakan hebat sampai hari ke sepuluh.
Pandawa dalam posisi sangat sulit, kalau Bhisma belum
terkalahkan yang notabene ya kakek mereka maka bisa dipastikan
bahwa kekalahan akan berpihak pada mereka, Kresna yang sudah
berjanji nggak ikutan pun sudah geregetan mau mengeluarkan
senjata pamungkasnya “Cakra” tetapi selalu dihalangi Arjuna yang
mengingatkan janjinya tidak terlibat langsung peperangan.
Dalam formasi perang yang membagi pasukan Pandawa menjadi 7
divisi, Pandawa menempatkan komandan divisi seorang wanita,
yaitu Srikandi ... dan mengangkat jendral junior, Drestadyumna,
sebagai Panglima Perang merangkap komandan salah satu dari 7
divisi tadi.
Disini terlihat perbedaan menyolok dan menarik kalau dilihat
dari strategi yang digunakan, kalau Pandawa menempatkan jendral
junior sebagai Panglima Perang maka Kurawa menempatkan para
jendral senior dan politisi kawakan seperti Bhisma, Durna, Karna,
Salya, Aswatama sebagai Panglima Perang [bergantian karena
Panglima Kurawa ini gugur satu persatu kecuali Aswatama].
Setelah Rapim Perang yang melelahkan, akhirnya diatur satu
strategi untuk menghadapi Bhisma yaitu dengan teknik double
cover, menempatkan Srikandi didepan dan Arjuna dibelakangnya
tepat, sebagai strategi menghadapi Bhisma ... lho kok gitu sih
... Arjuna bersembunyi dibalik sosok wanita perkasa ... ya ini
strategi yang dipikirkan bersama, Pandawa tahu kalau kelemahan
Bhisma itu tidak mau membalas serangan seorang wanita, Bhisma
sangat menghormati wanita seperti saat menyerahkan tahta kepada
putra dewi Durgandini dan juga merasa bersalah pada wanita
seperti saat tanpa sengaja membunuh Dewi Amba yang mengejarnya
dulu saat masih muda dan ganteng.
Terjadilah seperti apa yang di “plan” kan, dalam peperangan sang
Bhisma sama sekali tidak membalas panahnya Srikandi tetapi yang
jadi masalah adalah panah Arjuna yang diluncurkan dengan
kecepatan dan ketepatan tingkat tinggi dengan cover tubuh
Srikandi, ini yang jadi penyebab tumbangnya Bhisma, gimana lagi
yaa .. mau bales tapi Arjuna selalu sembunyi dibalik Srikandi ..
sampailah ajal Bhisma walau tidak meninggal seketika saat itu ..
Cerita diatas menunjukan kecerdikan Pandawa, keteguhan Bhisma
serta kepercayaan terhadap generasi muda untuk memimpin suatu
peperangan.
Tidak selamanya satria perkasa harus didepan, dalam bisnis
mungkin diperlukan negosiator yang tepat menghadapi “kawan dan
lawan” yang nggak mungkin ”menolak” apa yang ditawarkan, seperti
memajukan Srikandi didepan untuk menahan serangan Bhisma,
sementara dari sisi lain dilakukan penyerangan terhadap “kawan
dan lawan” yang dalam hal ini bisa saja “calon pelanggan” supaya
menerima proposal kita.
Tidak selamanya keperkasaan itu menjadi keutamaan, kejayaan
bisnis pasti ada kelemahan, kalau itu diketahui “lawan” kita,
sebaiknya kita juga segera mencoba mencari alternatif untuk
mengatasinya, seperti kasus Bhisma, seharusnya dia bisa melihat
dan menghindar berhadapan dengan Srikandi karena itulah
kelemahan Bhisma, tapi bisa jadi Bhisma juga tidak sadar dan
terlalu percaya diri dengan kemenangan sebelumnya sampai saat
dihadapkan dengan kenyataan baru kaget dan tidak ada jalan lain
selain menghadapinya.
Tidak selamanya jendral tua bisa mengatasi keadaan sulit,
politisi yang sudah lewat masa jayanya sebaiknya menyerahkan
kepada generasi jendral muda, mereka bisa mengamati dengan lebih
leluasa, membantu saat dibutuhkan dan tahu mana yang menjadi
tugasnya, tidak sekedar mengejar pangkat sebagai “Senopati Utama,
sang Komandan, Sang Panglima Perang”, cobalah membantu dari
belakang, istilahnya “tut wuri handayani” .
Tambahan lagi sosok politikus ulung seperti Kresna juga harus
ada yang “membisiki” jangan maju perang kalau janjinya nggak
ikut campur .. nanti malah merusak nama baik lho mbah.
Ini gambaran dari 3 pelajaran berharga dari perang yang
diperkirakan terjadi di 3000 tahun sebelum masehi, sudah 5000
tahun berlalu ... dan selalu menarik untuk dipelajari dan masih
relevan untuk masa kini.
