Manajemen Republik Wayang  9

Pilihan

Menghadapi Perang besar Bharatayidha didalam kubu Pandawa terdapat kekhawatiran besar, siapa sih yang akan menjadi tokoh pimpinan dibelakang layar yang bisa menghadapi para tokoh kelas tinggi dipihak Kurawa yang berjejer dengan pengalaman penuh.
Sebut saja ada Bisma “sang maha dahsyat” yang juga Eyang para Pandawa, mengasuh dari kecil, panglima, ahli strategi dan satria utama Astina tiada banding, ada Begawan Durna yang juga guru olah kesaktian mereka dan tahu banget kelemahan masing-masing Pandawa, ada Prabu Salya yang merupakan paman mereka sendiri, kakak dari Dewi Madrim ibunya Nakula dan Shadewa, masih ditambah Adipati Karna yang merupakan kakak tertua Pandawa dan kesaktiannya tidak diragukan lagi.
Semua itu tokoh senior penuh pengalaman ditambah Kurawa sendiri yang berjumlah 100 [walaupun ada beberapa yang menyatakan diri tidak ikutan perang, istilahnya sekarang “golput”].
Hitung-hitung kekuatan dipihak Pandawa kebanyakan semua masih taraf “midle manager” dengan pengalaman minim, maklum baru bebas “tahanan 13 tahun” gara-gara kalah judi.
Memang mereka punya Gatotkaca yang menjadi “angkatan udara” mereka, tapi peluru kendali nuklir antar benua Kurawa [yang remote controlnya dipegang Karna] yang bernama “Kunta” dideteksi lebih ampuh, ini situasi dan kondisi yang gawat. Ada juga sih Resi Seta musuh bebuyutannya Bisma tapi kurang pengalaman didalam politik dan taktik.

Akhirnya setelah muktamar yang cukup melelahkan diputuskan mereka perlu bantuan Kresna secara resmi, Kresna ini memang tadinya agak sungkan turun gunung karena ya menjaga agar saudara kembarnya Baladewa nggak turun gunung juga dipihak berlawanan [ini persis keadaan dulu saat Amerika yang selalu sungkan dengan saudara kembarnya Uni Sovyet, saling sungkan ] walaupun Pandawa pernah outsource Kresna sebagai Duta perdamaian yang akhirnya gagal.
Mereka lalu mengutus Arjuna yang dikenal cukup dekat dengan Kresna [masih ipar sih] untuk negosiasi agar mau membantu mereka, ini kan “Super Power” yang bisa merubah keadaan perang nantinya, ternyata pihak Kurawa pun mengantisipasi ini dan minta Presiden nya Duryudana turun tangan sendiri agar Kresna tidak ikutan perang, mereka berpikir pasti Kresna merasa terhormat didatangi sang Duryudana.

Pada waktu yang hampir bersamaan Duryudana dan Arjuna datang pas jam tidur siang, yah terpaksa mereka nunggu disamping tempat tidur si “bos” dengan posisi Duryudana disamping tempat tidur karena merasa dirinya sederajat sebagai presiden dan Arjuna didekat kaki Kresna sebagai penghormatan pada Kresna, sang kakak ipar.
Pas Kresna bangun eh yang dilihat Arjuna duluan baru dia menoleh ke Duryudana [sebetulnya sih Kresna sudah tahu kedatangan dan maksud keduanya datang, maklum titisan Dewa dan banyak intelnya] dan menanyakan apa maksud keduanya.
Kata Kresna kemudian, “Karena dimas Arjuna yang pertama kali saya lihat, saya menawarkan kepada dimas antara 2 pilihan yaitu saya dipihak Pandawa tapi tidak ikutan perang dan hanya sebagai konsultan atau prajurit, tamtama dan perwira dan amunisi saya.”

Sesuai amanat muktamar, Arjuna memilih opsi pertama dan akhirnya Duryudana mendapat opsi kedua yang baginya juga memuaskan karena janji Kresna hanya sebagai konsultan Pandawa dan dapat tambahan amunisi serta tentara, yang penting Kresna tidak terjun langsung.
Akhir perang pasti semua sudah tahu, tidak perlu ditulis lagi tetapi yang menarik disini adalah ... positioning dari Arjuna saat menghadap ditempat tidur, dia menempatkan diri pada posisi dimana dia diperhatikan duluan dan juga pilihan yang mengutamakan Kresna sebagai konsultan dan “Informal Leader” tunggal berkuasa penuh dibanding tentara dan amunisi.

Beda dengan Kurawa, walau banyak panglima profesional ahli tetapi tidak punya leader tunggal yang dipatuhi oleh semua orang, sehingga masing-masing panglima punya persepsi sendiri-sendiri terhadap apa yang akan dihadapi dan juga intrik internal diantara mereka akhirnya semua keputusan hanya bertumpu pada sang “presiden” Duryudana yang penuh emosi serta tidak sabaran [banyak contohnya walau punya profesional hebat tetapi keputusan selalu menurut apa yang dimaui oleh pimpinan bukan kesepakatan].

Dalam bisnis, posisi produk kita sangat penting agar dilihat “duluan, leader di market” oleh calon pelanggan dan juga Fokus pada apa yang mau dituju dengan mencari serta menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat, ini sering merupakan kelemahan kita dalam berusaha karena kita merasa produk kita tidak ada yang menyaingi dan merasa paling tahu tanpa menghiraukan inputan pihak lain.
Pilih pimpinan yang tepat, hilangkan intrik internal, satukan pendapat dan jadkan produk anda sebagai “leader di market” merupakan jalan menuju sukses ..