Manajemen Republik Wayang 8
Toleransi
Aturan main dalam Perang Bharatayudha yang disepakati kedua
belah pihak
yang berseteru
sudah jelas, antara lain tertulis dalam MoU bersama seperti
tidak boleh keroyokan, duel harus satu lawan satu, tidak boleh
memukul bagian tubuh dibawah perut, tidak boleh membunuh musuh
yang tidak bersenjata dan tidak berdaya, tidak boleh membunuh
kuda musuh dan beberapa aturan lagi.
Kenyataan dilapangan ternyata berlainan sekali, kedua belah
pihak yang berebut kekuasaan
dan ingin menang
itu secara “sepihak” sudah dibedakan bahwa Kurawa itu “jahat”
dan Pandawa itu “baik” ternyata melakukan pelanggaran yang sama
demi satu tujuan, membunuh musuh dan memenangi perang.
Sebut saja saat Abimanyu dikeroyok dan dihujani anak panah oleh
Kurawa akhirnya dalam keadaan tidak berdaya dipukul Jayadrata
lalu
Durna yang dipenggal oleh Drestajumna saat tidak sadar ketika
ada kabar Aswatama “mati”
kemudian
Arjuna minta bantuan Kresna membuat langit menjadi “gelap” saat
Jayadrata tidak bisa ditemukan dan lagi-lagi Arjuna yang memanah
Karna saat sedang membetulkan roda keretanya yang terperosok.
Dalam pertunjukan wayang, wasit adalah dalang dan dalang itu
membawa misi sosial, agama, politik, yang membayarnya dan
sebagainya. Dilain pihak penonton menginginkan adanya “pahlawan”
apapun caranya ya diterima sebagai suatu kewajaran saja, memang
dari sononya tanpa dicerna lagi langsung “gleg” aja,
persis iklan TV.
Tampaknya semua aturan sah dilanggar saat terjadinya “perang”,
baik itu perang sungguhan atau “perang” bisnis ... semua
tujuannya satu ... tercapainya target yang sudah ditetapkan.
Pesan moral sudah menjadi nomor sekian, emosi sesaat yang lebih
berkuasa dan alasan balas dendam lalu menjadi tameng klasik
membenarkan semua perbuatan.
Baik dan jahat tampaknya hanyalah lakon sesaat, tergantung
dipihak mana keberpihakkan kita, tergantung bagaimana kita
meyakini hal itu, jarang sekali kita bisa menilai sesuatu dengan
jelas dan adil tanpa kita keluar dari lingkaran yang kita buat
sendiri.
Manajemen suatu keluarga, organisasi, usaha juga menunjukan hal
yang sama. Aturan SOP dibuat, sertifikasi diajukan, hak dan
kewajiban ditulis dengan jelas tetapi toleransi juga dikemukakan
sebagai alasan, toleransi karena keluarga atau teman dekat bos,
karena tenaganya sangat dibutuhkan dan sebagainya.
Memang hidup katanya harus penuh toleransi, termasuk toleransi
kalau apa yang saya tulis diatas salah ..
