makam asmara 09 **

“Hm…. bagus!” bentak Kaki buntung lalu memutar tongkatnya sederas angin puyuh.

Permainannya memang aneh sekali. Setiap pukulan, sukar diduga sehingga membuat jago

tua Siangkwan Ko itu tak berdaya untuk balas menyerang.

Kiblatan tongkat besi beberapa kali melayang di muka Siangkwan Wan ceng. Kalau

sampai mengenai jenazah Ting Ling, tentu jenazah itu akan hancur. Kalau kena

Siangkwan Wan-ceng, dara itupun tentu mati atau terluka berat.

Melihat itu terpaksa Siangkwan Ko menyurut mundur agar tongkat lawan jangan sampai

mengenai puterinya.

Di luar dugaan begitu Siangkwan Ko mundur, si Kaki-buntungpun menarik tongkatnya

tak mau mengejar.

Ternyata anak buah Lam hay bun itu meskipun tampaknya berpencaran tetapi

sesungguhnya mereka telah membentuk diri menjadi suatu barisan. Tiap orang

mempunyai batas lingkaran gerak sendiri. Apabila ada yang kesulitan, boleh saling

membantu. Karena Siangkwan Ko sudah keluar dari batas lingkaran geraknya, Kakibuntungpun

tak mau mendesak lagi.

Han Ping mencurahkan padang kearah Siangkwan Wan-ceng dan Ting Ling. Serentak

melayanglah pikirannya akan kebaikan kedua nona itu kepada dirinya. Makin terkenang.

hatinya makin senda. Sesaat kemudian darahnyapun meluap luap lalu tiba2 berteriak, “Ih

Thian-heng….”

Nyaring sekali seruan itu sehingga seluruh ruangan berkumandang keras.

“Mengapa?” Ih Thian-heng terkesiap.

“Aku hendak bertanya sesuatu hal, entah apa apakah engkau suka memberitahu?” tanya

Han Ping.

“Silahkan saudara Ji bertanyalah.”

“Nona Ting terluka ditanganmu, dengan cara bagaimana? Apakah masih dapat ditolong?”

“Dengan tutukan Kek gong-tiam- hiat! Dapat tertolong atau tidak, setelah kuperiksa baru

dapat diketahui,” sahut Ih Thian-heng.

“Asal engkau dapat menolong jiwa seorang lagi. berarti akan mengurangi kedosaanmu,”

seru Han Ping.

Ih Thian-heng tersenyum, serunya, “Walaupun hari ini aku dapat melakukan kebaikan

tetapi hanya terbatas. Sukar untuk menghapus kejahatan yang telah kulakukan di masa

lampau.”

“Bila engkau mampu menghidupkan nona Ting, budi dan dendam kita, memang makin

ruwet,” seru Han Ping.

Ih Thian-heng memandang wajah Siangkwan Wan-ceng, katanya pelahan, “Lebih baik

suruh mereka masuk kemari dulu….”

ooo000ooo

Naga lawan harimau.

“Biarlah kusambut meraka,” kata Han Ping seraya maju menghampiri. Ia memberi

hormat kepada Kaki buntung, “Kedua nona itu. yang satu meninggal dan yang satu

terluka. Sudah tak maungkin melawan lagi. Seorang kesatrya takkan melukai wanita dan

orang yang lemah. Sudilah saudara suka memberi jalan kepada mereka.”

Walaupun si Kaki buntung itu berwatak keras dan bengis tetapi demi mendengar kata2

Hari Ping, ia tampak kerutkan kening merenung. Sebenarnya dia memang berwatak

ksatrya.

“Baiklah,” sesaat kemudian ia berseru, “membiarkan mereka masuk memang boleh tetapi

aku tak dapat membiarkan mereka keluar lagi.”

“Baiklah,” kata Han Ping, “nanti keluarnya akulah yang akan mengantar mereka.”

Kaki-buntungpun menyisih kesamping dan memberi jalan. Cepat Han Ping maju dua

langkah dan memberi hormat, “Nona Siangkwan.”

Tetapi Siangkwan Wan-ceng hanya tertawa rawan tak menyahut.

Han Ping kerutkan kening, pikirnya, “Agaknya nona ini seperti hilang kesadaran

pikirannya. Sukar untuk bicara dengan dia. Dan dihadapan sekian banyak orang, akupun

sungkan untuk menarik tangannya.”

Selagi Han Ping ragu2, tiba2 Siangkwan Ko melangkah maju dan berseru pelahan, “Ceng

ji, Ceng-ji, bagaimana engkau?” Ia terus menarik lengan puterinya melangkah maju.

Ting Kopun bergegas menyongsong jenazah puterinya, Ting Ling.

“Lo cianpwe, harap berikan puterimu kepada Ih Thian-heng. Coba saja dia dapat

menolong atau tidak,” kata Han Ping.

Tanpa menjawab Ting Ko pun menghampiri ke tempat Ih Thian heng. Ih Thian heng

memeriksa wajah nona itu dengan seksama, meraba pernapasannya lalu berkata, “Tak

dapat ditolong lagi….”

“Tetapi.” katanya pula. “kematian nona Ting ini bukan karena tanganku….”

“Dengan mata kepala sendiri aku melihat engkau telah memukul anakku, mengapa

engkau masih berani menyangkal!” teriak Raja Lembah-setan Ting Ko dengan marah.

“Saudara Ting seorang yang ahli dalam ilmu silat. Tentu mengerti bahwa pukulan jarak

jauh Kek-gong-tam- hwat-jiu-hwat itu tak mungkin dapat merenggut jiwa puterimu.”

“Kalau tak dapat ditolong, apa boleh buat….” kata Han Ping.

Tiba2 si data baju ungu yang sudah begitu lama tak bersuara. menyeletuk, “Dia makan

racun dan menderita luka berat. Kesempatan hidup, memang amat tipis sekali. pukulan

dengan tenagadalam dari jarak jauh yang dilepas Ih Thian-heng, hanya mempercepat

kematiannya saja. Kalau saat ini tersedia obat yang dapat menghilangkan racub dalam

tubuhnya, kemungkinan masih ada setitik harapan untuk menghidupkannya….”

Sepasang mata Han Ping berkilat-kilat, serunya, “Ih Thian-heng, apakah engkau yang

memberi racun kepada nona Ting?”

“Ya.” sahut Ih Thian-heng, “tetapi obat penawarnya tidak sukar. Yang sukar yalah

setelah racun ditawarkan, lalu cara penyembuhan selanjutnya….”

“Cobalah engkau halau racun dalam tubuhnya baru nanti cari daya untuk menolongnya,”

kata Han Ping.

Tiba2 terdengar Hui In taysu herseru ‘omitohud’ lalu berkata, “Kalau li sicu berkeras tak

mau memberi jalan, akupun terpaksa akan membobol!”

Lalu serentak terdengarlah dering senjata beradu dan pukulan saling berhantam.

Han Ping tetap memikirkan keadaan Ting Ling, tanpa berpaling ia segera berseru keras,

“Ih Thianheng, apakah engkau dengar kata kataku tadi?”

Ih Thian-heng terkesiap, serunya, “Ya, dengan jelas!”

“Racun dalam tubuh nona Ting, engkaulah yang memberi. Dan luka-luarnya engkaulah

yang membuatnya dengan pukulan Kek-gong- tam-hiat-jiu-hwat Kalau engkau tak dapat

menolongnya, siapakah lagi yang mampu menolong?”

“Berusaha, tiada jeleknya. Berhasil atau gagal, tak boleh dipastikan,” sahut Ih Thianheng.

“Kalau engkau sungguh2 berusaha, aku sudah sangat berterima kasih.” kata Han Ping.

Tiba2 berkatalah Ih Thian hang dengan wajah serius, “Aku dengan engkau, seperti air

dengan minyak tak mungkin akur. Kita mungkin hidup bersama. Maka engkau tak layak

menghaturkan terima kasih kepadaku. Terhadap engkau, aku hanya mengandung dendam

penasaran, tiada budi lagi. Hal ini engkau harus ingat benar!”

Han Ping tertegun. Tiba2 ia menghela napas dan tak bicara lagi.

Dengan wajah mengerut serius, mulailah Ih Thian-heng memeriksa pergelangan nadi

Ting Ling. Dan Han Pingpun mencurahkan perhatiannya kepada pertolongan Ih Thian

heng itu. Seolah olah tak menghiraukan keadaan di sekelilingnya saat itu.

Tiba2 Ih Thian-heng kerutkan alis lalu berbangkit dan berpaling memandang ke arah

Nyo-Bun-giau.

“Mengapa engkau memandang aku?” seru Nyo Bun- giau dengan wajah berobah.

Ih Thian-heng tertawa tawar. “Mengapa aku memandang engkau, masakan saudara Nyo

tak merasa?”

Wajah Nyo Bun-giau berobah-robah. Sebentar merah sebentar pucat. Dan hatinya

berguncang keras.

Han Ping heran, serunya, “Eh, kalian berdua mengapa itu?”

Ih Thian-heng, tersenyum, “Tidak apa2. Aku hanya melihati saudara Nyo saja.”

Karena tak kuasa menahan getaran hatinya, tiba2 Nyo Bun-giau menggembor keras, “Ih

Thian-heng. aku tak perlu pemberian budimu. Aku tak takut, engkau mengatakan dengan

terus terang!”

Ih Thian-heng tertawa. “Kalau saudara Nyo hendak mengatakan sendiri, akupun takkan

merintangi.”

Walaupun saat itu sebelah tangannya sudah remuk dan kesaktiannya berkurang, Namun

sikap dan bicaranya masih berwibawa sebagai seorang datuk durjana kelas wahid!

Nyo Bun-giau terkesiap. Dilihatnya Han Ping, Siangkwan Ko, Ih Thian-heng dan lain2

orang, tengah memandang kepadanya. “Baiklah, aku akan bicara,” kata Nyo Bungiau

karena tak tahan lagi, “Tentang nona Ting akulah yang melukainya. Sekalipun Nyo Bungiau

tidak turun tangan, tetapi nona itu memang tak dapat bertahan hidup lebih lama

lagi.”

Han Ping kerutkan alis, berseru keras, “0, kiranya engkau….” sekali kaki bergerak, ia

terus menyerang Nyo Bun-giau.

Tetapi Ih Thian-heng cepat menghadangnya, “Sabar dulu saudara Ji, kalau saudara

hendak menolong nona Ting, terpaksa harus minta saudara Nyo yang mengobati.”

Han Ping hentikan langkah, memandang Nyo Bun-giau dengan berapi-api.

“Ih Thian-heng,” kata Nyo Bun-giau, “tak perlu engkau yang mengatakan, akupun

memang akan menolong nona Ting.”-ia terus melangkah ke tempat Ting Ling. Dia

memang takut kepada Han Ping.

“Tunggu dulu!” tiba2 si dara baju ungu berseru lagi.

“Kenapa?” tanya Nyo Bun-giau.

Berkata dara baju ungu itu dengan dingin, “Kalian tak ada yang mampu

menolongnya….”

Han Ping berobah wajahnya, “Mengapa….?”

“Kukatakan tak dapat menolong, tentu tak dapat menolong,” kata dara baju ungu.

Han Ping marah. “Tetapi justeru aku tetap akan menolongnya….”

“Sekalipun kalian saat ini dapat melenyapkan racun dalam tubuh, takkan tertolong

jiwanya,” kata dara baju ungu.

“Lenyapkan dulu racun baru nanti berusaha menolong jiwanya!” seru Han Ping.

Dara baju ungu tertawa dingin. “Berusaha apa lagi? Kalau engkau tak melenyapkan

racun, aku masih dapat manjaga agar jenazahnYa tetap utuh dan cantik. Tetapi kalau

tidak, hm tubuh secantik itu tentu segera akan menjadi tulang belulang yang busuk.”

Merenung sejenak, Han Ping bertanya, “Apakah benar2 sudah tak dapat ditolong lagi?”

Kata dara baju ungu itu pelahan-lahan, “Memang masih ada jalan….”

“Jalan bagaimana?”

“Walaupun kukatakan tetapi rasanya engkau tentu tak dapat melakukan cara itu,” kata si

dara baju ungu lalu mengeliarkan pandang matanya ke sekalian orang, “bukan hanya

engkau, mereka pun juga tiada satupun yang mampu.”

“Lalu nona sendiri?” tanya Ih Thian-heng. Dara itu gelengkan kepala pelahan, “Aku juga

tak dapat.”

Han Ping berseru penasaran, “Kalau siapa saja tak dapat, berarti tak ada cara

pengobatannya!”

Dara itu menghela napas pelahan, serunya, “Kecuali ada orang yang dapat menarik ayah.

Pasti ibuku ikut campur. Dengan tenaga dalam kedua orang itu tentu dapat menolong

jiwa nona Ting!”

Han Ping memandang ke arah ketua Lam-hay-bun lalu melirik kepada wanita cantik,

serunya menegas, “Sungguhkah hal itu?”

“Kapan aku bohong?” seru dara itu marah.

Tampak sepasang mata ketua Lam-hay-bun berkilat, serunya, “Toto, ayahmu ini bukan

seorang manusia dewa! Bagaimana dapat menghidupkan orang yang sudah mati?”

“Ayah seorang memang tak mampu,” sahut si dara.

Ucapan dara itu rupanya menyentuh hati wanita cantik, serunya cepat. “Nak, ibu belum

pernah belajar ilmu menolong orang yang terkena racun.”

“Kalau hanya ibu seorang, memang takkan dapat,” seru si dara pula.

Wanita cantik itu hendak membuka mulut atau tiba2 ia merasa sepasang mata ketua Lamhay-

bun itu tengah berkilat-kilat memandang kepadanya. Terpaksa ia hanya mendengus

dan diam lagi.

Han Ping melihat wajah Ting Ling yang pucat Iasi. Segera ia teringat akan budi kebaikan

nona itu kepadanya selama ini. Mau tak mau hatinya pun rawan dan diam2 menimang,

“Bila ada orang atau obat yang mampu menolongnya, apa dan bagaimana berbahayanya,

aku tentu akan berdaya untuk mendapatkannya.”

Dara baju ungu menghela napas panjang. serunya “Ah, tak perduli engkau berbanyak hati

lagi. Kalau ayah dan ibuku tak mau bekerja sama, sekalipun engkau memperoleh daun

obat Leng ci yang berumur seribu tahun, atau ginseng ribuan tahun, pun tetap takkan

mampu menolongnya. Ketahuilah bahwa keadaan tubuh nona Ting saat ini sudah

kehilangan pusat sumber penggerak darah, daging tubuhnya sudah tak dapat bekerja lagi.

Kecuali dengan obat sakti, pun harus disaluri dengan tenaga dalam sakti agar daya kerja

urat2 dan jalandarahnya dapat pulih kembali. Dengan demikian barulah ia mempunyai

harapan hidup lagi.”

Kembali Han Ping memandang kearah ketua Lam-hay-bun dan wanita caniik. Ditatapnya

kedua suami isteri yang aneh itu lekat2.

Pikiran dan hati Han Ping penuh dicengkam dengan berbagai perasaan. Antara membalas

sakit hati kematian orangtuanya dan menolong Ting Ling. Kedua hal itu ia harus dapat

menyelesaikannya.

Tiba2 terdengar hambusan napas yang sarat dan terengah-engah dari Hui In taysu.

Ternyata paderi Siau-lim-si itu tengah mengadu tenaga-dalam dengan nenek Bwe. Wajah

keduanya tampak tegang, keringat bercucuran seperti hujan mencurah.

Suasana dalam ruang itu sepi sekali.

Tiba2 Han Ping berbatuk-batuk untuk memecahkan kesunyian lalu berkata pelahan lahan

kepada Ih Thian-heng, “Kaum persilatan mengatakan engkau kejam dan ganas.

Kejahatanmu menumpuk setinggi gunung. Tetapi kusaksikan sendiri engkau telah

melakukan beberapa perbuatan baik. Berani berbuat berani tanggung jawab. Tak ubah

seperti laku seorang ksatrya.”

Ih Thian-heng tersenyum, “Ah, jangan kelewat memuji….”

Han Ping mengalihkan pandang matanya kepada ketua Lam-hay-bun, serunya, “Lo

cianpwe dengan jerih payah telah menciptakan makam tua ini dan dengan meminjam

kemasyhuran nama pedang Pemutus Asmara, telah merangkai suatu cerita khayal yang

menggemparkan dunia persilatan Tiong-goan yang saling bunuh membunuh. Apakah

sesungguhnya maksud tujuan lo-cianpwe berbuat begitu?”

Ketua Lam-hay-bun tertawa dingin, “Dengan makam tua ini aku hendak membasmi

manusia2 yang mangejar nama dan temaha harta benda….-”

“Engkau mendirikan makam tua yang penuh alat2 maut. Lalu anakmu mengundang

seluruh jago2 silat dalam dunia agar menyaksikan betapa hebat kelihaian dan

kesaktianmu. Apakah itu bukan tindakan hendak mengejar nama?” seru Han Ping.

“Tiada seorang pun di dalam dunia yang berani bicara sekasar itu kepadaku. Nyalimu

sungguh besar sekali!” teriak ketua Lam-hay-bun marah.

Tetapi Han Ping tak gentar, serunya, “Hanya karena kalah dalam soal Asmara dan

Kesaktian dengan Hui Gang taysu, maka engkau tumpahkan kemarahan kepada seluruh

kaum persilatan Tionggoan! Engkau ciptakan makam tua ini sematamata sebagai alat

untuk membasmi seluruh kaum persilatan Tiong-goan. Dengan begitu engkau hendak

mengangkat nama dan membalas kekalahanmu kepada Hui Gong taysu….”

Seketika berobahlah wajah ketua Lam-hay-bun, bentaknya, “Kalau ya, lalu engkau mau

apa?”

“Kalau engkau sudah mengakui begitu, jelas hatimu itu beratus kali lebih ganas dari Ih

Thian-heng!” kata Han Ping dangan nyaring.

Bum…. tiba2 terdengar suara benda runtuh. Ternyata Hui In taysu dan nenek Bwe sama2

rubuh ke tanah.

Kiranya kedua tokoh itu sama kuatnya. Tenaga-dalam mereka berimbang tetapi karena

mereka sama2 ngotot. akhirnya keduanya kehabisan tenaga. Mereka menderita lukadalam

dan lantas rubuh.

Sekonyong-konyong Han Ping menengadahkan muka dan bersuit panjang lalu berseru

nyaring, “Aha, lagi jatuh korban ngeri dari perbuatan manusia yang mengejar nama….”

Terdengar alun gelombang doa nyanyian yang khidmat dan rawan. Rombongan paderi

Siau-lim tengah berlutut mengerumuni tubuh Hui In taysu dan menyanyikan doa

keagamaan yang menyayat hati.

Berkatalah ketua Bu-tong-pay, imam Thian Ci, “Sekalipun tokoh2 dalam ruang ini akan

menderita luka atau binasa tetapi di luar ruangan masih menunggu jago2 dari sembilan

partai persilatan….”

Ketua Bu-tong-pay itu menutup kata-katanya dengan mengayunkan pedang dan

menerjang keluar.

Ong Kwan-tiong cepat maju menghadang serunya, “Setiap orang hanya boleh keluar

sebagai mayat, tidak boleh masih bernyawa!”

Ketua Bu-tong pay tertawa dingin. serunya, “Apakah hendak mencoba pedangku ini?”-

Sekali tangan bergerak maka pedangpun segera berobah menjadi lingkaran sinar.

Ong Kwan-tiongpun segera tusukkan senjatanya yang berbentuk seperti garisan panjang.

Thian Ci totiang tertawa dingin. Sekonyongkonyong ia ajukan kaki kiri, menekankan

pedangnya ke bawah dan seketika memancarlah tenagadalam yang menyedot senjata

lawan lalu digelincirkan ke samping.

Ong Kwan-tiongpun licin. Begitu senjatanya disedot ke samping ia terus menyerempaki

dengan menusuk ke lambung lawan.

Serangan Ong Kwan-tiong itu tak terdugaduga oleh ketua Bu tong-pay. Thian Ci totiang

memang tak mengharapkan bahwa cara yang dilakukannya itu dapat melukai lawan.

tetapi ia tak menduga sama sekali bahwa Ong Kwan tiong ternyata begitu licin dan lihay.

Karena itu terpaksa paksa ia menyurut mundur seraya bolang balingkan pedang untuk

melindungi diri.

Ong Kwan-tiong tetap tegak berdiri di tempat tak mau mengejar.

Tampak si dara baju ungu lari menghampiri dan berlutut di dekat tubuh nenek Bwe lalu

memeluknya. Diguncang-guncangnya tubuh nenek itu seraya memanggil-manggil

namanya.

Ibunya, wanita cantik berpakaian puteri keraton melekatkan pandang matanya kepada si

dara. setiap saat siap akan bergerak apabila ada orang yang berani mengganggu

puterinya.

Thian Ci totiang, ketua Bu-tong- pay, tegak berdiri menenangkan pikiran. Diam2 dia

sudah merenungkan tenaga dalam aneh yang dipancarkan dari senjata Ong Kwan-tiong.

Sesaat kemudian ia segera mainkan pedangnya pula. Kali ini dia sudah mempunyai

persiapan. Tak mau gegabah menyerang, jurus serangannya dilambari dengan tenagadalam

yang penuh.

Ong Kwan-tiongpun segera menyambut dengan senjatanya berbentuk penggaris pandang

yang disebut Thian-sing ci atau Panggaris-bintang. Kedua tokoh itu pun bertempur seru

lagi.

Ilmu pedang partai By-tong-pay, dianggap sebagai ilmu pedang aliran Ceng-cong atau

asli. dimainkan maka berkembanglah sinar pedang ke delapan penjuru. Angin menderuderu,

dahsyat dan berwibawa sekali.

Tetapi senjata Thian-sin-ci dari Ong Kwan-tiong memancarkan tenaga-dalam penyedot

yang aneh dan hebat. Berulang kali dapat menyedot pedang lawan dibawa menjulang ke

atas.

Dua senjata itu laksana dua buah halilintar yang saling menyambar. sedikit saja terbuka

peluang kelemahan, tentu akan terancam.

Rupanya ketua Bu-tong- pay itu mengalami kesulitan menghadapi tenaga dalam penyedot

dari senjata Ong Kwan-tiong.

Dalam pada Itu Han Ping keliarkan pandang matanya ke sekeliling. Diam2 la menimang,

“Anakmurid Lam-hay-bun. ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi semuanya.

Jelas ketua Lam-hay-bun itu tentu hebat sekali kepandaiannya.

“Menilik kekuatan saat ini,” masih Han Ping menimang dalam hati, “kaum persilatan

dunia Tiong-goan, apabila mau melupakan dendam permusuhan masing2 untuk bersatu

padu menghadapi mereka. Entah bagaimana kesudahannya, tentulah dapat memaksa

orang Lam-hay-bun untuk melepaskan pertempuran ini! Sayang dendam permusuhan di

antara kaum persilatan Tiong-goan itu sudah sedemikian mendalam dan pelik. Untuk

menganjurkan mereka supaya menghapus dendam dan bersatu, sukar sekali. Pada

akhirnya, mereka tentu akan dihancurkan oleh orang Lam-hay-bun di makam tua ini.

Jalan satu-satunya pada saat ini ialah menganjarkan supaya kawan2 Tiong-goan itu mau

membuang dulu dendam permusuhannya dan bersatu. Dengan damikian mungkin dapat

terhindar dari bahaya maut di makam ini.”

Melihat nenek Bwe rubuh di tanah, ketua Lamhay-bun tetap tenang. setitik pun tak

mengunjuk sikap terkejut atau pun reaksi apa2. Diam2 Han Ping merasa ketua Lam haybun

itu seorang yang ganas sekali. Lebih ganas dari Ih Thian-heng.

Dilihatnya pengemis sakti Cong To mengambil buli2 arak dari punggung dan

meneguknya dua kali. Setelah itu berseru, “Ji laute, pengemis tua hendak menyampaikan

beberapa patah kata. Entah engkau suka mendengarkan atau tidak?”

“Ah, silahkan saja toako mengatakan,” sahut Han Ping.

Sejenak Pengemis-sakti itu mengeliarkan pandang ke arah rombongan tokoh2 silat

Tiong-goan lalu berkata, “Orang2 itu sesungguhnya manusia2 yang banyak dosa dan

harus mati. Tetapi keadaan saat ini bukan waktunya untuk menerima hukuman.”

Tiba2 terdengar si dara baju ungu berteriak, “Au bungkuk, lekaslah engkau kemari

membantu aku menutuk dua buah jalandarah Bwe Nio ini.”

Tetapi mata si Bungkuk memandang wajah si dara dan wajahnya menampilkan ketakutan

lalu berseru dengan terbata-bata, “Nona, nona…. “

“Jangan takut,” kata si dara, “Asal engkau kemari segala apa aku yang tanggung.”

Si Bungkuk terpaksa menurut. ia maju menghampiri ke tempat si dara. Sambil berjalan ia

memandang ke arah ketua Lam-hay-bun sehingga langkah kakinyapun berat dan pelahan.

Jelas dia gelisah dan ketakutan sekali.

Dua orang paderi berjubah merah tiba2 berdiri dan menghadang si Bungkuk.

Rupanya wanita cantik itu tahu bahwa kedua paderi itu hendak bermaksud buruk

terhadap puterinya maka cepat ia membentak dingin:!”Rubuhlah!”

Sekali tangannya mengayun maka kedua paderi itupun segera rubuh.

Sekalian tokoh2 silat terkejut. Diam2 mereka membatin, “Pada jarak enam tujuh meter

jauhnya wanita itu dapat merubuhkan dua orang paderi Siau-lim. Kepandaiannya, benar2

mengejutkan orang.”

Han Ping kerutkan alis, menundukkan kepala berkata kepada Cong To. “Bukankah toako

menghendaki supaya untuk sementara ini aku jangan mengurus soal dendam permusuhan

atas kematian ayah bundaku?”

“Kalau engkau hendak membalas sakithati orangtuamu, jangan harap seumur hidup kita

dapat keluar dari makam ini,” kata Cong To.

Berkata Han Ping dengan nada lapang, “ Menolong orang lebih penting dari membalas

sakit hati, apalagi toako yang memerintahkan.”

Pengemis Sakti Cong To tertawa, “Membalas dendam sakithati orangtua, bukan

pengemis tua ini hendak melarangmu. Tetapi setelah keluar dari makam ini, pengemis tua

tentu akau membantumu untuk melaksanakan pembalasan sakithati itu,”

“Ah, aku tak berani mengharap bantuan toako,” kata Han Ping,” asal pada saat itu toako

suka menghadiri sebagai saksi, aku sudah merasa berterima kasih.”

Ia berputar tubuh lalu melangkah ke tempat Hui In taysu.

Melihat dua orang paderi rubuh, rombongan paderi Siau lim itu sudah tak dapat menahan

kesabarannya lagi. Kesedihan hati mereka berobah menjadi dendam kemarahan yang

berkobar-kobar. Diam2 mereka berunding untuk mengatur langkah untuk serempak

menerjang musuh.

Han Ping dapat mengetahui sikap kemarahan rombongan paderi itu. Ia segera memberi

hormat, serunya, “Para suhu sekalian, harap untuk sementara ini suka bersabar. Ijinkan

kulihat bagaimana luka Hui In taysu.”

Jarak pertempuran adu tenaga-dalam antara Hui In taysu dengan nenek Bwe hanya satu

meter. Pada saat Han Ping menghampiri ke tempat Hui In, ia segera membau bau harum

dari tubuh si dara baju ungu.

Saat itu kedengaran wanita cantik tartawa dingin. serunya, “Barangsiapa yang hendak

mencelakai anakku, berarti hendak cari mati sendiri.”

Tiba2 tergeraklah hati Han Ping, pikirnya, “Dengan menjebak kita ke dalam makam tua

ini, jelas ketua Lam hay-bun itu tentu sudah mempunyai persiapan. Tetapi mengapa dia

tak segera melaksanakan rencananya itu tentulah karena hendak menunggu supaya kita

saling berhantam sendiri agar kekuatan kita menjadi habis. Tetapi mereka juga

mempunyai kelemahan: Diantara kedua suami Isteri itu rupanya tidak akur, saling

membawa kemauannya sendiri. Kemungkinan hal itu juga menyebabkan ketua Lam hay

bun tak mau lekas2 menjalankan rencananya. Kalau tidak, tentulah dia sudah

melaksanakan alat2 yang telah direncanakan itu untuk menghancurkan seluruh tokoh

Tiong-goan. Dan rupanya dia yakin kalau mampu melakukan pembasmian itu sehingga

tampaknya dia begitu tenang dan tenteram….”

Makin merenung, Han Ping makin besar kecurigaannya. Dikeliarkannya pandang

matanya ke sekeliling ruangan.

Setelah sebelah tangannya lumpuh, Ih Thian-heng menyadari kalau dirinya bakal tak

mungkin dapat terlepas dari pedang Han Ping. Ruangan itu dijaga ketat oleh anak buah

Lam-hay-bun yang berkepandaian sakti. Diam2 ia sudah merasa putus-asa.

Tetapi di kala mendengar Han Ping menyetujui permintaan Cong To agar jangan

mengungkat permusuhan lagi dan untuk sementara jangan mencari balas atas kematian

kedua orangtuanya, timbullah semangat Ih Thian-heng. Apalagi Han Ping pun

menyetujui untuk bekerja sama menghadapi orang Lam-hay-bun.

Ih Thian-heng memang cerdas. Melihat Han Ping memandang kian kemari. segera ia

dapat menyelami isi hati anakmuda itu.

Di lain fihak ketua Lam-hay bunpun memperhatikan gerak gerik Han Ping. Segera ia

tertawa dingin. “Andaikata dalam ruang ini terdapat barisan gelap, pun tak perlu harus

kugerakkan.”

Diam2 Han Ping membatin, “Hmm…. orang tua itu tak boleh dipercaya. Aku harus tetap

berusaha mencari akal untuk membobolkan makam ini.”

Tiba2 mata Han Ping tertumbuk pada si dara baju ungu. Seketika timbullah

pemikirannya. “Dara baju ungu ini rupanya merupakan puteri kesayangan dari kedua

suami istri itu. Apabila dapat menawannya mungkin dapat menekan ketua Lam-hay-bun

untuk membiarkan kita keluar. Asal sudah berada diluar makam ini, kita tak perlu takut

kepadanya lagi.”

Dengan pemikiran itu, tiba2 ia loncat dan secepat kilat menyambar lengan si dara dan

tangan kirinya segera menghantam.

Dengan gerakan itu jelas membuktikan betapa kemajuan yang diperoleh dari pengalaman

selama ini. Di samping kepandaiannya maju pesat, kecerdasannya menghadapi lawan pun

semakin bertambah banyak.

Seperti yang diduganya, memang pada saat tubuhnya melambung di udara, wanita cantik

ibu si dara baju ungu itu segera gerakkan tangan kanan menghantamnya.

Seutas sinar perak yang halus seperti rambut segera meluncur ke arah Han Ping. Tetapi

karena anakmuda itu sebelumnya sudah membarengi dengan sebuah pukulan, sarangan

sinar putih selembut rambut itupun dapat dihalau.

Tetapi itu masih belum berarti bahwa Han Ping sudah terlepas dari bahaya. Karena

setelah melepaskan senjata gelap, wanita cantik itupun menyerempaki menyerbu.

Gerakannya memang cepat sekali tetapi Han Ping tetap lebih cepat lagi. Dia sudah dapat

mencekal lengan si dara lalu ditariknya ke muka.

Dengan menghadapi perisai itu, terpaksa wanita cantik terkeiut. Cara ia mencondongkan

tubuh ke belakang agar gerakannya terhenti lalu enjot kakinya mengantar sang tubuh

kembali ke tempat semula.

“Hmm, untuk sementara terpaksa aku harus berlaku kurang ajar kepada nona,” bisik Han

Ping kepada si dara jelita.

Dara itu mendengus dingin, “Bagus, bagus sekali ….”

Tampak ketua Lam-hay-bun berkilat-kilat memandang Han Ping lalu berseru dengan

nada sedingin es, “Ji Han Ping. bukankah engkau bermaksud hendak menekan aku

dengan jiwa puteriku itu?”

Jawab Han Ping, “Apabila dengan ilmusilat lo cianpwe hendak membunuh semua tokoh2

dalam makam ini, dengan segala kerelaan dan kekaguman, aku akan mempersilahkan locianpwe.

Tetapi apabila engkau mempersiapkan segala macam alat rahasia….”

Ketua Lam-hay-bun tertawa gelak2, “Untuk melampiaskan kedukaanku kehilangaan

seorang anak, kalian tentu akan kubasmi habis- habisan!”

Han Ping termangu, serunya, “Apakah engkau benar2 berhati batu!”

Tiba2 ia merasakan jari2 halus dari si dara baju ungu itu menggurat pelahan pada siku

tangannya dan kemudian daraa itu melengking merintih lalu jatuhkan kepalanya ke dada

Han Ping.

Kiranya setelah menguasai jalandarah tangan dara itu, tiba2 Han Ping menyadari bahwa

perbuatan itu tak kayak dilakukan oleh seorang ksatrya. Segera ia kendorkan

cengkeramannya. Di luar dugaan saat itu si daralah yang memegang erat lengan Han

Ping.

“Hm, siapa yang berani melukai puteriku, bukan saja tulang2 mayatnya akan kucincang,

pun seluruh keluarganya akan kubunuh habis-habisan,” seru wanita cantik ibu si dara

baju ungu.

Tiba2 dara baju ungu itu berseru pelahan, “Aduh. kemanjaan yang membikin aku

mati….”

Dia memang suka melakukan suatu gerak yang aneh. Nada suaranya memang

merawankan hati sekali. Ketua Lam-hay-bun memandang ke arah isterinya.

“Kalau tidak saat ini, tunggu kapan lagi kita akan pergi?” tiba2 Ih Thian-heng berseru

lalu melangkah ke arah pintu.

Ong Kwan-tiong cepat memutar senjatanya dan berseru, “Berhenti!”

Ih Thian-heng tersenyum, “Kalau kalian orang Lam-hay-bun memang hendak menantang

bertempur, mari kita bertempur di luar makam. Kita cari sebuah tempat yang lapang dan

mengadu ilmu kepandaian sampai ada yang mati. jika kalian orang Lam-hay-bun benar2

mampu mengalahkan kaum persilatan Tiong-goan, kalian tentu dapat menguasai dunia

persilatan Tiong-goan. Tetapi pertempuran itu harus mengadu ilmu kepandaian yang

sesungguhnya, agar masing2 fihak merasa puas!”

Seru Ong Kwan-tiong menyahut, “Kalau ingin keluar dari makam ini, hanya ada dua

jalan. Bertempur dengan kepandaian atau minta kepada suhuku….”

“Aku dan kawan2 akan memilih jalan kesatu,” seru Ih Thian-heng terus gerakkan tangan

menghantam.

Ong Kwan-tiongpun cepat songsongkan senjatanya untuk menusuk lengan Ih Thianheng.

“Kita sama2 menerjang!” Melihat itu Nyo Bun-giaupun berseru marah dan terus

menghantam Ong Kwan-tiong dari samping.

Tetapi tiba2 ia merasa segelombang tenaga kuat mendamparnya sehingga tenaga pukulan

dari Nyo Bun-giau itu terdorong ke samping.

Nyo Bun-giau berpaling dan melihat yang melepas hantaman itu si Kate.

Melihat itu Ca Cu jingpun berseru keras terus lontarkan sebuah pukulan Peh-poh-sin-kun

atau Pukulan-sakti-seratus-langkah.

Angin menderu-deru menghamburkan desis suara tajam yang menusuk telinga. Memang

pukulan Seratus-langkah itu merupakan pukulan yang diandalkan oleh Ca Cu jing.

Melihat itu si Bungkuk cepat menghantam untuk menangkis pukulan Peh-poh-sin-kun

dari Ca Cu-jing itu.

JILID 9

Anak buah Lam-hay-bun telah mengambil posisi yang rapi. Betapapun Ih Thian-heng dan

tokoh2 Tiong-goan itu melancarkan serangan yang gencar dan melontarkan pukulan2

yang dahsyat namun orang2 Lam-hay-bun itu selalu dapat menghindar ataupun

menangkis dan akhirnya menggagalkan serangan lawan.

Saat itu suasana dalam ruangan berobah kacau dan acak-acakan. Deru angin pukulan dan

lengking teriakan serta bentakan kemarahan dan hawa pembunuhan, telah memenuhi

seluruh ruangan.

Pertempuran telah dimulai.

Tiba2 si dara baju ungu yang masih rebah di dada Han Ping berbisik-bisik, “jangan

lepaskan aku. Ayah sudah mempersiapkan rencana pembunuhan besar-besaran dalam

ruang itu. Sekalipun kepandaianmu sakti tetapi tetap engkau tak dapat melawan. Adanya

mereka tak mau segera menjalankan alat pembunuhan itu adalan karena ayah dan Ibu

masih saling bertengkar dan juga masih menguatirkan keselamatan diriku.”

Mendengar itu Han Ping amat bersyukur, sahutnya, “tetapi nona begini….”

“Sudahlah saat ini jangan engkau banyak bicara,” cepat si dara baju ungu menukas.

“Kalau ayahku mengetahui engkau tak dapat melukai aku, celakalah….”

Han Ping menghela napas panjang dan diam.

Tiba2 Pengemis sakti Cong To berteriak keras, “Saudara2 sekalian, harap berhenti dulu.

Pengemis tua hendak bicara!”

Sekalian jago2 segera berhenti menyerang, dan menyurut mundur.

Sejenak Cong To keliarkan mata memandang ke segenap ruangan. Dilihatnya lelaki tua

baju biru atau ketua Lam-hay bun masih tetap bersikap dingin terhadap isterinya, wanita

cantik berpakaian puteri keraton. Demikian pula sikap wanita cantik itu terhadap ketua

Lam-hay-bun. Tampaknya kedua suami isteri yang tak akur itu tak mempedulikan

suasana pertempuran disitu.

Melihat itu diam2 pengemis sakti menghela napas, “Hai, kedua suami isteri itu benar2

manusia yang berhati dingin…. “

Kemudian Pengemis sakti berseru kepada sekalian tokoh2 Tiong-goan, “Mereka sudah

mengatur kedudukannya dengan rapi, dapat saling memberi bantuan. Apabila fihak kita

menyerang secara acak-acakan, bagaimana mungkin bcrhasil membobolkan barisan

mereka?”

Sekalian tokoh itu adalah tokoh2 yang banyak pengalaman dalam dunia persilatan.

Mendengar kata2 Cong To, segera mereka menyadari kekeliruannya.

Memang anak buah Lam-hay-bun itu mempersiapkan diri dalam tempat2 yang tepat.

Walaupun hanya Ong Kwan-tiong bertiga dengan si Bungkuk dan si Kate, tetapi mereka

mampu menghadapi serangan dari tokoh ternama seperti Ih Thian-heng, Ca Cu-jing, Nyo

Bun-giau, Ting Ko ketua Lembah raja-setan.

Kiranya rahasia dari pertahanan ketiga anak-buah Lam-hay-bun itu tak lain ialah gerak

perubahan kedudukan mereka yang begitu lancar dan rapi. Mereka dapat menggunakan

siasat ‘meminjam tenaga lawan untuk memukul kembali’. Dengan demikian pukulan2

dari Ih Thian-heng dan tokoh2 lainnya itu, dapat dimanfaatkan dan dikembalikan kepada

pengirimnya. Ketiga orang Lam-hay-bun itu dapat bertahan betapapun lamanya.

Demikianlah dalam waktu singkat, Pengemis sakti Cong To dapat mengetahui rahasia

kekuatan orang Lam-hay-bun, lalu berseru menghentikan sekalian jago2 Tiong-goan.

Tiba2 wanita cantik tertawa dingin lalu melangkah ke tempat Bwe Nio. Menepuk

beberapa jalandarah pada tubuhnya lalu mengeluarkan sebutir pil diminumkan ke mulut

Bwe Nio.

Sesaat kemudian terdengar nenek Bwe itu mengerang pelahan lalu pelahan-lahan duduk.

“Terima kasih cu-bo,” serunya pelahan kepada wanita cantik itu.

Sahut wanita cantik itu dengan dingin, “Sejak aku meninggalkan pulau Lam-hay Toto,

telah banyak menerima perawatanmu. Pertolonganku anggaplah sebagai pembalasan

jasamu melayani Toto sampai sekian tahun itu.”

“Ah, mana hamba berani menuntut jasa?” kata nenek Bwe, “nona, memiliki kecerdasan

luar biasa dan hamba selama mengikutinya banyak sekali mendapat manfaat….”

“Sudah, jangan banyak omong tak karuan,” tukas si wanita cantik lalu berpaling

memandang si dara baju ungu, “Toto, ibu hendak pergi, apakah engkau hendak ikut aku?

Ataukah engkau akan tinggal disini?”

Tiba2 dara baju ungu itu menjerit, “Aduh…. tulang lenganku hampir pecah, sakit sekali!”

Wanita cantik itu kerutkan dahi dan wajahnya pun segera menampilkan hawa

pembunuhan. Dengan tenang ia segera melangkah ke tempat Han Ping, tegurnya dengan

nada dingin, “Kalau engkau berani melukai puteriku, jangan harap engkau mampu hidup.

Lekas lepaskan Toto!”

Jawab Han Ping, “Asal engkau memberi perintah supaya orang2 itu membuka jalan, aku

tentu akan melepaskannya….”

Dan Han Ping lalu menutup kata-katanya dengan melekatkan pedang Penmutus asmara

ke leher si dara jelita, serunya, “Apabila nyonya menggerakkan tangan, puterimu terpaksa

tentu menjadi mayat.”

Mendengar ancaman itu seketika menyurutlah hawa pembunuhan pada wajah si wanita

cantik. Kini wajahnya bertebar keramahan dan matanya pun tampak berlinang-linang.

Wajahnya berseri keibuan yang penuh kasih sayang terhadap puterinya.

Sesaat kemudian ia berpaling dan berseru kapada Ong Kwan-tiong. “Kalian

menyingkirlah ke samping buka pintu dan lepaskan mereka!”

Ong Kwan-tiong terkesiap, serunya tersekat-sekat, “Ini, ini….”

“Kalian mendengar perintahku atau tidak?” seru wanita cantik itu dengan murka.

Ong Kwan-tiong serentak memberi hormat, serunya, “Ya, murid mendengar.”

“Kalau mendengar mengapa masih tak mau menyingkir ke samping,” seru wanita cantik

pula.

“Suhu menitahkan murid menjaga tempat sekuat-kuatnya,” jawab Ong Kwan-tiong, “tak

boleh seorangpun melintasinya!”

Wanita cantik itu tertawa dingin, “Baik! Omonganku tadi seperti dianggap angin saja!

Hm, dia hendak mempergunakan makam ini sebagai tempat menyembunyikan alat2

rahasia dan benda2 beracun. Dia hendak membasmi seluruh tokoh2 persilatan Tionggoan.

Untuk melaksanakan citacitanya itu, dia tak mempedulikan lagi jiwa anaknya.

Tetapi aku takkan membiarkan dia bertindak begitu….”

Wanita cantik itu melangkah ke arah Ong Kwan-tiong dan melepaskan sebuah hantaman.

Ong Kwan-tiong tak berani menangkis, juga tak berani menghindar. Dia hanya berdiri

menunggu ajal.

Tiba2 ketua Lam-hay-bun lepaskan sebuah pukulan jarak jauh Biat-gong-ciang untuk

menghalau pukulan isterinya.

“Kalian menyingkirlah!” serunya kepada Ong Kwan-tiong.

Ong Kwan-tiong menurut, ia menyurut mundur ke samping. Melihat itu si Bungkuk dan

si Kate pun ikut mundur ke samping dan membuka sebuah jalan.

Wanita cantik tertawa dingin, serunya, “Buka Pintu dan lepaskan mereka keluar!”

Ong Kwan-tiong terkesiap. Tak tahu ia bagaimana harus bertindak.

Tiba2 ketua Law-hay-bun maju menghampiri dan berkata, “Betapa susah payah

kubangun makam tua ini. Kalau sekarang hendak engkau kacau, bukankah akan sia2

belaka segala jerih payahku itu….”

Sahut wanita cantik, “Kalau engkau memang mempunyai kesaktian, mengapa engkau tak

menantang mereka untuk adu kepandaian? Dengan mengandalkan perkakas2 rahasia

dalam makam ini untuk mencelakai orang, bukanlah laku seorang ksatrya!”

“Apa pedulimu!” teriak ketua Lam-hay-bun dengan murka, “siapa suruh Engkau ikut

campur?”

Tetapi wanita cantik itu tak gentar, bahkan malah menantang, “Kalau aku senang ikut

campur, engkau mau apa?”

“Yah…. mah….,! Aduh aku sakit sekali ini!” tiba2 dara baju ungu berteriak.

Ketua Lam-hay-bun tergetar hatinya. Ia berpaling ke arah puterinya lalu tertawa keras,

“Ah…. ternyata Thian tak mengabulkan kehendakku. Hm, apa boleh buat.”

Tiba2 ia menampar dinding dengan tangan. Dinding batu yang licin itu seketika merekah

sebuah pintu.

Wanita cantik berpaling dan berkata dingin2 kepada Han Ping, “Pintu sudah terbuka.

Seharusnya engkau lepaskan dia!”

Han Ping keliarkan pandang. Dilihatnya mata sekalian tokoh2 Tiong-goan itu mencurah

kepadanya dengan sikap yang tegang.

Karena melihat Han Ping masih ragu2, ketua Lam-hay- bun marah dan membentaknya.

“Nanti mayatmu tentu akan kucincang sampai hancur lebur agar kebencian hatiku bisa

terlampias.”

Rupanya wanita cantik itu memang sengaja hendak cari perkara dengan suaminya. Ia

tertawa mencemooh, “Rupanya dia telah mewarisi kepandaian dari Hui Gong taysu.

Mungkin engkau tak mampu mengalahkannya.”

Seketika berobah pucat pasilah wajah ketua Lam hay bun. Ucapan isterinya benar2

menyinggung hatinya.

Han Ping menghela napas panjang, serunya, “Lo-cianpwe berdua, harap suka memberi

jalan agar mereka yang terluka dapat keluar dari sini. Aku tetap akan tinggal disini. Asal

sekalian orang yang menderita luka itu sudah keluar semua, aku pasti akan melepaskan

puterimu.”

Ketua Lam-hay-bun saling bertukar pandang dengari isterinya. Kemudian keduanyapun

masing2 mundur selangkah.

“Silakan para suhu sekalian keluar dahulu,” seru Han Ping kepada golongan paderi Siaulim-

si.

Rombongan paderi Sian-lim-si itu memandang Han Ping lalu memanggul jenazah Goanthong

dan Hui Ko, kemudian mengangkut Hui In taysu dan keluar dari ruangan itu.

Tiba2 terlintas sesuatu dalam benak Han-Ping cepat ia, berseru, “Suhu sekalian, harap

berhenti dahulu.”

Rombongan paderi itu tertegun dan hentikan langkah.

Han Ping segera maju menghampiri. Diam2 ia kerahkan tenaga-murni dan beberapa kali

menutuk jalandarah di tubuh Hui In taysu. Kemudian mempersilahkan para paderi itu

lanjutkan keluar.

Para paderi menyambut dengan doa, pelahan lalu melangkah keluar.

Sejenak keliarkan pandang, berkata pula Han Ping dengan pelahan, “Siangkwan pohcu,

Ting koh-cu berdua, menderita luka parah. Harap lekas2 berobat. Mungkin masih dapat

tertolong. Maka silahkan keluar lebih dahulu.”

Mendengar itu Ting Ko lalu memanggul Ting Ling melangkah keluar. Pun Siangkwan

Ko juga segera memimpin tangan Siangkwan Wan-ceng, mengikuti di belakang Ting Ko.

Sikap dan keberanian Han Ping menghadapi maut bagai suatu hal yang tak mengerikan,

benar2 telah membuat sekalian tokoh2 Tiong-goan kagum dan secara, tak sadar mereka

menganggap pemuda itu sebagai pemimpin mereka.

Ketua Lam-hay-bun dan wanita cantik ternyata tak berbuat apa2. Mereka membiarkan

saja orang2 itu keluar dari makam.

Tiba2 ketua Lembah-seribu-racun pesatkan langkah dan terus menerobos keluar dari

pintu batu itu.

Han Ping kerutkan alis. membentaknya perlahan, “Lo-cianpwe, nanti dulu, giliran yang

belakang.”

Saat itu ketua Lembah-seribu-racun sudah hampir dekat pada pintu batu. Ia berhenti

mendengar suara Han Ping lalu balas membentak, “Mengapa?”

Kata Han Ping, “Cara lo-cianpwe bergerak mau menyelamatkan jiwa terlalu terburu-buru

….”

Betapapun halnya tetapi ketua Lembah seribu-racun itu merah juga mukanya mendengar

kata2 Han Ping. Sahutnya, “Lambat atau cepat toh sama saja!”

Sesungguhnya yang ingin lekas2 keluar dari tempat itu bukan melainkan hanya Leng

Kong-siau. ketua Lembah seribu-racun itu seorang. Nyo Ban-giau, Ca Cu-jing dan lain2

juga ingin sekali. Hanya saja mereka tak mau bergerak seperti ketua Lembah-seriburacun

yang begitu tergopoh-gopoh itu.

Ternyata selain sayang akan jiwanya, pun orang2 itu memang mengandung pikiran untuk

keuntungan diri sendiri. Mereka mengharapkan supaya lekas keluar baru ketua Lam-haybun

itu gerakkan alat perkakas rahasia agar semua orang yang masih berada dalam

makam itu tertimbun mati semua. Tambah seorang yang mati dalam makam itu, bagi

yang masih hidup berarti suatu keringanan karena berkurang seorang musuh yang kuat.

Ketua Lam hay-bun itu dingin2 saja melihat Han Ping laksana seorang laksamana yang

memberi perintah kepada anak buahnya. Demikian pula dengan wanita cantik, ibu si dara

baju ungu. Rupanya kedua suami isteri itu terpaksa harus mengalah demi memikirkan

keselamatan puterinya yang ditawan Han Ping.

Suasana dalam ruangan sunyi senyap. Tampak Han Ping tengah merenung dan entah apa

yang sedang dipikirkan.

Pengemis-sakti Cong To batuk2 pelahan sehingga kesunyian terpecah. Kemudian

berkata, “Saudara, apa yang engkau pikirkan?” tegurnya kepada Han Ping.

“Aku tengah berpikir apakah kita perlu tinggal disini atau tidak, untuk menyelesaikan

pertempuran dengan pihak Lam hay-bun. Memang kemungkinan kita bisa keluar dari

tempat ini dengan selamat, tetapi rasanya persoalan takkan habis sampai disitu saja.

Dunia persilatan tentu masih bergolak-golak dan kacau. Entah kelak akan membawa

berapa banyak korban yang tak berdosa lagi. Daripada hal itu terjadi besok, lebih baik

kita selesaikan sekarang saja. Biar mati atau hidup, tetapi hanya kita beberapa orang ini

saja. Tak sampai menyeret lain2 orang yang tak sedikit jumlahnya!”

Cong To tertawa gelak2, serunya, “Benar, soal itu aku sendiripun sampai tak dapat

memikir jauh.”

Nyo Bun-giau tiba2 menyelutuk, “Kalau saudara Ji memang bermaksud begitu, kiranya

tak perlu tadi saudara melepas Siangkwan Ko dan Ting Ko keluar. Bukan saja kekuatan

kita akan berkurang, pun dengan bebasnya kedua orang itu, dunia persilatan tentu tak

mungkin akan aman.”

Jawab Han Ping, “Kedua orang itu sudah tua dan menderita kemalangan nasib karena

puterinya meninggal dan terluka. Kiranya pelajaran itu cukup mahal. Tetapi kalau

memang tak sadar dan tetap berkecimpung dalam kancah dunia persilatan untuk

memburu nama mereka pasti akan menderita kekecewaan ….”

Tiba2 Ca Cu-jing menyelutuk, “Kami ayah dan anak, kalau harus mati semua dalam

ruang ini, bukankah terlalu penasaran sekali….” sejenak ia berhenti lalu berkata pula,

“Anakku, engkau juga harus tinggalkan tempat ini.”

Tetapi Ca Giok menolak, “Tidak yah, aku akan menemani ayah disini….”

Ca Cu-jing membentak marah, “Mau tinggal disini agar ayahmu menderita kedukaan?

Lekas pergilah!”

Wut, ia lepaskan sebuah hantaman.

Ca Giok tak berani menangkis. Ia miringkan bahu ke samping untuk menerimanya.

Seketika ia rasakan sebuah arus tenaga dahsyat melanda sehingga tubuhnya terdorong

mundur beberapa langkah dan tepat tiba di samping pintu batu.

Ca Cu jing cepat menyusuli sebuah hantaman lagi kepada sang putera sehingga Ca

Giokpun terdorong keluar dari pintu.

Tiba2 Han Ping menengadahkan kepala dan bersuit nyaring. Ia lepaskan diri dari si dara

baju ungu lalu dengan mata berkilat-kilat dan tangan kanan mencekal pedang Pemutus

asmara, ia menjura di hadapan ketua Lam-hay bun.

“Lo-cianpwe. aku….”

Ketua Lam hay-bun mendengus dingin, “Apakah engkau hendak menguji aku dengan

pukulan?”

Sahut Han Ping tegas2, “Silahkan lo-cianpwe memberi perintah untuk menutup pintu

batu dan siapkanlah barisan. Akulah yang pertama ingin mencoba kehebatan dari

ilmusilat Lam-hay-bun.”

Kiranya pada saat itu benak Han Ping membayangkan ketika Hui Gong taysu tengah

menurunkan pelajaran kepadanya. Walaupun secara resmi dia bukan murid dari Hui

Gong taysu, tetapi ia telah menerima pelajaran dari tokoh Siau-lim itu. Ia harus

mencurahkan segenap tenaga untuk menjaga keharuman nama Hui Gong taysu sebagai

bintang cemerlang dalam angkasa persilatan.

Pikiran aneh dalam hati Han Ping itu, tiada seorangpun yang dapat menduga. Bahkan Ih

Thian-heng yang cerdik, juga tak mengerti.

Sesaat Ih Thian-heng hanya tegak termangu-mangu memandang wajah Han Ping.

Beberapa jenak kemudian baru ia berkata pelahan-lahan, “Apakah saudara Ji hendak adu

kepandaian di dalam ruangan ini?”

Han Ping menyahut dengan nada bersungguh2, “Walaupun dalam ruang ini terdapat

barisan gelap, tetapi kupercaya, Lam-hay Sin-siu lo-cianpwe pasti takkan

menggerakkannya.”

Ketua Lam-hay-bun tertegun, serunya, “Apakah di antara kalian ada yang layak menjadi

lawanku?”

“Lo-cianpwe hanya karena mendendam kepada Hui Gong taysu maka dengan jerih payah

membangun triaLtien tua ini dan memperlengkapinya dengan segala bermacam alat2

rahasia untuk membunuhi kaum persilatan dunia Tiong-goan,” kata Han Ping, “tujuan locianpwe

tak lain yalah karena hendak merebut kembali kehilangan muka dari Hui Gong

taysu. Padahal peristiwa lo-cianpwe dikalahkan Hui Gong taysu, kaum persilatan Tionggoan

hanya sedikit sekali orang yang tahu. Apalagi kini Hui Gong taysu sudah meninggal

dunia.”

Berhenti sejenak, Han Ping melanjutkan pula, “Seorang lelaki, masakan takut

menghadapi kematian? Walaupun tahu bahwa diriku bukan lawan yang layak dari locianpwe.

tetapi aku ingin sekali menyerahkan jiwaku untuk menerima pelajaran ilmu

kesaktian dari lo-cianpwe. Kalau aku sampai terluka di tangan lo-cianpwe, mungkin

dendam kemarahan Lo-cianpwe itu tentu akan mereda. Tetapi kalau aku beruntung dapat

mengalahkan lo-cianpwe, kuharap lo-cianpwe benar2 rela mengaku kalah kepada Hui

Gong taysu.”

Seketika wajah ketua Lam-hay bun berubah gelap. Pelahan-lahan ia maju tiga langkah,

serunya: Hendak kuuji dulu sampai pada tataran manakah Ilmu Pedang terbang yang

engkau yakinkan itu?”

Diam2 Han Ping memang sudah kerahkan tenaga-murni. Pedang Pemutus asmara

pelahan-lahan digerakkan dalam bentuk setengah lingkaran di muka dadanya. Kemudian

berkata dengan serius. “Silahkan lo-cianpwe!”

“Aku akan mengalah sebanyak tiga jurus,” kata ketua Lam-hay-bun.

“Kalau lo-ciaupwe hendak mengalah, kurasa satu jurus saja sudah cukup,” seru Han Ping

seraya ajukan tangan melmutar pedang pusaka menjadi tiga kelompok sinar yang

sekaligus menyerang pada tiga buah jalandarah di tubuh ketua Lam-hay-bun.

Tampak ketua Lam Hay-bun gatarkan bahu kanannya. Tanpa berkisar kaki dan

meliukkan lutut ia menghindari serangan itu.

Han Ping menarik pulang pedang, serunya, “Harap lo-cianpwe suka turun tangan!”-ia

terus loncat maju. Pedang Pemutus-asmara berkiblat-kiblat memancarkan lingkaran Sinar

bergulung2 bagai ombak mendampar.

Ih Thian-heng yang menyaksikan dari samping diam2 merasa bahwa ilmupedang

anakmuda itu dalam waktu yang singkat telah mencapai kemajuan besar.

Rupanya ketua Lam-hay-bun tetap pegang gengsi. Dia tak mau menggunakan senjata dan

melainkan menggunakan sepasang tangan untuk menghadapi serangan Han Ping. Tetapi

gerakan tangannya memang amat aneh sekali. Benar2 suatu ilmu silat yang jarang

terdapat di dunia persilatan.

Ujung jarinya selalu mengarah untuk menusuk ke jalandarah lengan Han Ping sehingga

anak-muda itu terpaksa tiap kali harus hentikan serangan pedangnya di tengah jalan.

Sepintas pandang tampak pedang Han Ping itu menyambar bagai bianglala. Dan

sambarannya pun sedahsyat gelombang mendampar. Tetapi sesungguhnya, dia harus

bertempur dengan susah payah sekali. tangan ketua Lam hay- bun itu seperti ular yang

selalu membayangi kemana pemuda itu bergerak.

Pertempuran yang seru dan dahsyat itu membuat sekalian tokoh yang menyaksikan sama

membelalakkan mata lebar2. Mereka seperti kena pesona. Perhatian dan mata tokoh2 itu

mencurah lekas pada gerak gerik kedua orang yang sedang bertempur. Kerut wajah

merekapun berobah-obah tenang tenang menurutkan perobahan2 yang terjadi pada jurus2

pertempuran.

Menyaksikan adegan itu, tiba2 darah si dara baju ungu meluap ke atas kepala, Kepalanya

pusing dan rubuhlah ia ke tanah.

Untunglah si wanita cantik tahu dan cepat2 menyambar tubuh puterinya itu lalu dipeluk.

“To-ji, to-ji….”

Dalam beberapa waktu yang singkat itu berulang kali si dara baju ungu telah menderita

keguncangan perasaan hatinya. Dia memang seorang dara yang bertubuh lemah sehingga

mudah pingsan.

Melihat Han Ping bertempur sedemikian dahsyatnya dengan ketua Lam hay-bun, dara

baju ungu itu menjadi tenang sekali. Yang satu adalah ayah kandungnya. Dan yang satu

adalah pemuda yang amat dicintainya. Siapa pun diantara kedua orang itu yang akan

rubuh, tentu akan membuat hati si dara menderita sekali.

Melihat ayahnya dan Han Ping bertempur makin lama makin hebat, hati dara baju ungu

itupun ikut meningkat ketegangannya. Darah meluap dan akhirnya rubuhlah ia tak ingat

diri….

Mendengar isterinya berseru memanggil puterinya, ketua Lam-hay-bun tanpa sadar

memalingkan muka sehingga perhatiannya lengah. Kesempatan itu telah diisi Han Ping

dengan Dua buah tahasan telah menutup serangan jari ketua Lam- hay bun itu. Dan

kemudian Han Ping menyusuli dengan menamparkan tangan kiri dalam jurus Tengahmalam-

memukul-lonceng ke arah bahu kanan lawan.

Ketua Lam-hay-bun hanya memperhatikan serangan pedang Han Ping. Sama sekati ia tak

menduga akan menerima pukulan dari anakmuda itu. Kalau ia menghindar, tentu harus

loncat mundur. Dan gerakan itu pasti akan dikuasai oleh Han Ping lagi.

Maka ketua Lam hay-bun itu memutuskan. Ia mendengus dingin lalu songsongkan

bahunya ke arah tangan Han Ping.

Dukk…. pukulau Han Ping tepat bersarang pada bahu kanan ketua Lam-hay-bun. Tetapi

Han Pingpun menderita, kerugian. Ternyata dalam mengorbankan bahunya itu, ketua

Lam-hay-bunpun dengan suatu gerakan jari yang luar biasa anehnya telah berhasil

menutuk siku lengan Han Ping sehingga pedang Pemutus-asmara tak kuasa dicekalnya

tagi. Tring…. pedang pusaka itu jatuh ke tanah.

Tetapi Han Ping tak mau menyerah begitu saja. Serentak ia tendangkau kakinya dan

tangan kirinya balas menutuk.

Cara yang dilakukan Han Ping itu adalah cara adu jiwa. Dia sudah tak menghiraukan lagi

apakah pertahanan dirinya terbuka atau tidak. Pokoknya serangan itu harus mengenai

lawan.

Sekalian tokoh heran melihatnya. Mereka benar2 tak menyangka Han Ping berbuat begitu

nekad. Diam2 mereka menilai, “Hm. ketua Lam hay- bun ini mempunyai kesempatan

yang lebih besar. Asal dia menyerang ke sebelah kanan tentulah dapat melukai Han Ping.

Aneh, mengapa dia malah menyurut mundur dengan mendadak?”

Tiba2 terdengar ketua Lam-hay-bun itu mendengus dingin. serunya, “Dahulu aku kalah

dengan Hui Gong taysu karena menghadapi jurus ini. Berpuluh tahun kemudian engkau

hendak mengulang lagi adegan itu, Hm, masakan aku akan dapat terjebak lagi?”

Siku lengannya terkena tutukan, walaupun tak sampai mengenai jalandarahnya tetapi Han

Ping rasakan seluruh lengannya kesemutan dan lunglai. Ternyata ujung Jari ketua Lam

hay bun itu mengandung tenaga yang Luar biasa kuatnya.

Waktu ketua Lam-hay-bun menyurut mundur, diam2 Han Ping menggunakan

kesempatan itu untuk menyalurkan darahnya. Kemudian bersiap-siap lagi untuk

menghadapi lawan. Maka apa yang dikatakan ketua Lam-hay-bun itu, ia seolah-olah tak

mendengarkan.

Ih Thian-heng berpaling ke arah Pengemis sakti Cong To dan berkata, “Saudara Cong,

jurus yang dimainkan saudara Han Ping itu sungguh tak dapat kuketahui

keistimewaannya?”

Cong To tertawa, “Apakah engkau hendak minta penjelasan dari pengemis tua ini?”

“Ya, aku ingin sekali mendengar keterangan tentang hal itu.”

Cong To tertawa, “Jurus yang dimainkan dengan tangan dan kaki itu, sebuah ilmu yang

mempunyai nama besar.”

“Apakah mama jurus itu?” tanya Ih Thianheng.

“Itulah yang disebut jurus Lengan-satu-kaki-pincang-memukul-anjing ….”

“Ah, nama itu kurang sedap didengar,” kata Ih Thian-heng.

Cong To tertawa gelak2, serunya, “Kalau hanya ingin mendengar yang bagus2 saja,

jangan tanya kepada pengemis tua.”

Ih Thian-heng tersenyum, katanya, “Bersuit bangga di tengah hutan, bicara dengan

tertawa-tawa dalam saat diancam kematian. Sikap yang perwira dan saudara Cong itu,

sungguh membuat aku kagum.”

Tampak Han Ping mengulurkan tangan menjemput pedang Pemutus-asmara di tanah.

Setelah dimainkan sejenak lalu diserangkan kepada ketua Lam-hay-bun.

Tampak wajah Pengemis-sakti Cong To tertawa-tawa tetapi sesungguhnya dalam hati

pengemis itu merasa heran juga melihat gerak gerik Han Ping. Diam2 ia mencurahkan

segenap perhatiannya kepada anakmuda itu. Dilihatnya wajah Han Ping tampak muram,

sepasang matanya pun agak redup tak bersinar dan membelalak lebar2.

“Eh, mengapakah anak itu?” diam2 Cong To terkejut dalam hati.

Rupanya Ih Thian-hengpun mengetahui juga tentang sikap yang tak wajar dari Han Ping.

segera ia bertanya kepada pengemis sakti, “Saudara Cong, rupanya ada sesuatu yang tak

wajar pada diri saudara Han Ping.”

Cong To batuk2, sahutnya, “Baik, pengemis tua akan menariknya mundur.”

“Engkau seorang tentu bukan tandingannya,” kata Ih Thian-heng, “kalau mau maju

baiklah kita bersama-sama. Walaupun sebelah lenganku sudah lumpuh tetapi saat ini

tenagaku sudah pulih kembali.”

Tampak gerakan kaki Han Ping meluncur deras seperti air mengalir dan sambaran

pedangnya pun sederas sungai bengawan. Gerakannya aneh dan jurus2 permainannya

luar biasa, gerak perobahannya selalu berobah-robah tak pernah berhenti. Memang

permainan anakmuda itu cepat dan tangkas sekali, tetapi gaya serangannya tampak

ngawur tiada menentu sasarannya….

Cong To dan Ih Thian-heng diam2 siapkan diri. Tetapi sampai sekian saat belum juga

mereka melihat kesempatan untuk turun tangan.

Sekalian tokoh2 lain makin menggelora semangatnya. Mereka menyaksikan pertempuran

itu dengan menahan napas.

Tiba2 Han Ping lempangkan pedang lurus ke muka. Tangan kiripun melepas hantaman.

Seketika wajah ketua Lam-hay-bun berobah. Ia meliukkan jari dan menjentikkannya.

Serentak mendesislah sedesir suara tajam ke arah jalandarah lengan kiri Han Ping.

Han Pingpun cepat mengendapkan tubuh ke bawah lalu lontarkan pedang Pemutus

asmara.

Sepercik sinar biru melayang dan berputar-putar di udara. Sekali Han Ping melingkarkan

tangan kirinya, terus menghantam.

Ketua Lam- hay-bun memutar lengannya untuk menymnbut. Tetapi sekonyong-konyong

Han Ping bersuit panjang lalu tangan kanannya serentak menyambar pedang pusaka itu

dan diputarnya kencang2.

Sekalian tokoh2 makin melekat perhatiannya. Dilihatnya setiap kali Han Ping memutar

pedang itu sampai satu lingkaran, sinar biru pedang itu pun makin bertambah panjang.

Tokoh2 itu menyadari apa artinya itu tetapi tak mengerti bagaimana hal itu dapat terjadi.

Sinar biru pedang Pemutus asmara itu, makin lama makin membesar dan dalam waktu

beberapa jenak kemudian hampir mencapai semeter panjangnya. Dan Han Pingpun

seolah olah lenyap ditelan sinar biru itu.

Tiba2 si dara baju ungu bertanya dengan bisik2, “Apakah itu yang disebut ilmu pedang

tataran tinggi?”

Belum sempat ibunya atau si wanita cantik berpakaian seperti puteri keraton menjawag,

tiba2 sinar pedang berobah memanjang seperti sebuah bianglala yang mencurah ke arah

ketua Lam-hay-bun.

Tetapi rupanya ketua Lam-hay-bun itu sudah bersiap lebih dulu. Kedua tangannya yang

menjulur lurus di muka dadanya, tiba2 didorongkan. Sebuah gelombang tenaga-dalam

yang dahsyat segera melanda ke arah sinar pelangi biru itu.

Rupanya pelangi terbang itu seperti tertahan oleh gelombang tenaga dalam dari ketua

Lam-hay-bun. Sinar biru itu segera melingkar-lingkar mengitari tubuh ketua Lam hay

bun.

Ketua Lam-hay-bun tak henti-hentinya menghantam dengan tenaga dalam tetapi tetap tak

mampu menghalau sinar pedang yang melingkari dirinya.

Kira2 sepeminum teh lamanya, muka ketua Lam-hay-bun mulat bercucuran keringat. Dan

sinar pedang itu bahkan makin lama makin dekat kepada dirinya. Pada lain saat, tiba2

sinar biru itu menembus, memecah dinding tenaga-dalam dari ketua Lam-hay-bun dan

langsung menyusup ke arah dadanya.

Melihat itu tanpa disadari, menjeritlah si dara baju ungu, “Han Ping. jangan melukai

ayahku!”

Serentak sinar pedang pun lenyap dan tampaklah pula tubuh Han Ping. Sebelum orang

tahu apa yang telah terjadi, tiba2 terdengar sebuah bentakan keras dan sesosok tubuh

terhuyung rubuh.

“Han Ping!” Pengemis-sakti Cong To menjerit keras dan terus menyanggapi tubuh itu.

Saat itu si dara baju ungupun lari melihat apa yang terjadi, ia serentak berhenti dan

membentak dingin, “Yah, engkau melukai dia!”

“Aku tak keburu menarik pulang tanganku,” sahut ketua Lam-hay-bun dengan tegang.

“Kalau aku tak menyerukan supaya dia hentikan serangannya kepadamu?” seru si dara

pula.

Seketika pucatlah wajah ketua Lam hay-bun itu, sahutnya, “Ayahmu tentu akan binasa di

bawah pedang Pemutus-asmara yang tiada tandingnya di dalam dunia ini!”

“Ayah!” menjerit si dara baju ungu, “dengan begitu engkau memperoleh kemenangan

karena aku menyuruhnya berhenti tadi?”

Ketua Lam hay-bun tak dapat menjawab.

Berkata pula si dara baju ungu dengan tajam, “Mamaku telah membenci engkau seumur

hidup Aku sebagai seorang anak, tentu tak dapat ikut-ikutan membencimu mati-matian.

Tetapi aku ingin agar engkau merasakan betapa kesedihan hati seorang tua yang

kehilangan puterinya….”

Habis berkata dara baju ungu itu terus berlari menghampiri ke tempat Han Ping.

Tampak ketua Lam-hay-bun tegang sekali hatinya. Sejenak ia berpaling memandang

kearah wanita cantik atau isterinya.

Wanita cantik berpakaian seperti puteri keraton itu hanya mengunjuk wajah dingin. Jelas

ia tak mau mencegah kehendak puterinya.

Dalam suasana yang berkabut dengan hawa pembunuhan tercampur dengan rasa kasih

sayang antara orangtua dengan anaknya. ditambah pula dengan getar2 asmara murni dari

sepasang muda mudi, Berhamburan mencekam suasana.

Perlahan-lahan terlihat jelas, kabut hawa pembunuhan itu mulai menipis dan lenyap.

Ih Thian-heng menghela napas.

“Saudara Cong,” serunya kepada Pengemis-sakti Cong To,” bagaimana keadaan luka

saudara Han Ping?”

“Jalandarah jantungnya sudah berhenti, pusat sumber jiwanya sudah kosong. Rasanya

sukar ditolong lagi.

Tiba2 dara baju ungu menangis keras.

“Bagus, bagus! Engkau mati dengan bagus sekali!” serunya.

Mendengar itu Pengemis-sakti Cong To marah, serunya, “Jika engkau tidak

memanggilnya-tentulah batang kepala ayahmu itu sudah menggelinding di tanah. Dalam

detik2 menghadapi pertempuran maut, dia tetap mencurahkan kasihnya kepadamu. Tetapi

mengapa engkau berbalik malah gembira sekali melihat kematiannya, Hm, manusia liar

yang tak beradab, ternyata memang tak mempunyai rasa budi kecintaan sama sekali.”

Ih Thian-hengpun marah. la tak tahan lagi melihat peristiwa itu. Sekonyong-konyong ia

gerakkan lengan kanannya dan berseru, “Keadilan hari ini, terpaksa memang harus

demikian. Hancurkan dulu mana yang dapat dihancurkan, setiap kesempatan harus diisi

dengan kemenangan!”

Ca Cu jingpun tak mau banyak pikir lagi. ia menjemput jarum Hong-wi-ciam yang

beracun, terus ditaburkan ke arah ketua Lam-hay-bun juga.

Ketua Lam-hay-bun kebutkan lengan bajunya. Serangkum tenaga dahsyat segera

menyapu jarum2 Hong-wi-ciam itu sehingga berjatuhan ke tanah.

Kemudian ketua Lam-hay bun itupun gerakkan tangan kanan untuk menangkis pukulan

Ih Thian-heng.

Seketika Ih Thian-heng segera rasakan segelombang tenaga-dalam mengembalikan

tenaga dari pukulannya. Sedemikian hebat tenaga- membalik itu sehingga Ih Thian-heng

rasakan jantungnya berdebar keras.

Ca Cu-jing masih penasaran. Segera ia lepaskan sebuah pukulan Peh- poh-sin ciang atau

Pukulan-sakti-seratus-langkah ke arah ketua Lam-hay-bun. Tetapi murid pertama dari

Lam-hay-bun ialah Ong Kwan-tiong cepat maju menyongsongnya.

Si Bungkuk, si Kate dan Kaki-buntung baju merahpun segera mainkan senjatanya maju

menyerang dan menyambut serangan orang Tiong-goan.

Seketika pecahlah pertempuran hebat antara orang Lam-hay-bun lawan tokoh2 persilatan

Tiong-goan.

“Berhenti!” tiba2 ketua Lam-hay-bun membentak, “aku hendak bicara!”

Kedua belah fihak segera berhenti dan tegak mendengarkan.

Tampak ketua Lam-hay-bun mengusap jenggotnya yang panjang dan berkata, “Kutahu

dalam dunia persilatan ini hanya aku dan Hui Gong taysu yang pantas menjadi lawan.

Tetapi dia pun belum tentu dapat meugalahkan aku. Hanya dia ternyata dapat

memenangkan setengah jurus dari aku. Sejak itu aku selalu mendendam dalam hati, Siang

malam aku memikirkan daya dan rencana bagaimana dapat berjumpa lagi dengan dia dan

mengadu kepandaian. Tetapi sayang dia sudah dipenjarakan oleh ketua Siau-lim-si dan

tak dapat keluar ke dunia persilatan lagi.

Dia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Beberapa tahun kemudian, aku pernah datang ke

gereja Siau-lim-si untuk mencarinya. Malam hari aku menyelundup masuk ke dalam

penjara gereja Siau-lim dan menantang bertempur lagi dengan taruhan pedang Pemutusasmara.

Siapa yang menang boleh mengambil pedang….”

Tiba2 ketua Lam-hay-bun itu hentikan kata-katanya dan berpaling memandang ke arah

wanita cantik lalu menghela napas.

“Soal urusan peribadi kami, aku tak dapat mengumumkan kepada dunia. Maka baiklah

kalian jangan menanyakan hal itu,” katanya sesaat kemudian.

Tiba2 wanita cantik berpakaian seperti puteri keraton itu menghela napas panjang dan

tundukkau kepala berdiam diri.

Saat itu Pengemis saktipun sudah letakkan tubuh Han Ping dan siap2 hendak turun

tangan. Mendengar penuturan itu, ia segera menyelutuk pertanyaan, “Lalu bagaimana

kelanjutan peristiwa itu?”

Kata ketua Lam hay-bun, “Setelah mendengar tantanganku sampai tiga kali barulah Hui

Gong taysu keluar meluluskan. Di dalam ruang tempat dia dipenjarakan itulah Aku dan

Hui Gong melangsungkan pertempuran adu tenaga-sakti…. .”

Tiba2 nada suaranya berobah pelahan, katanya, “Setengah malam bertempur mati-matian,

aku tetap kalah dengan dia….”

Suaranya makin lama makin pelahan sehingga tak kedengaran lagi.

Pengemis-sakti Cong To mendengus dingin, “Adakah kali ini hatimu sudah rela

menerima kekalahan tadi?”

Tanpa melihat pada si pengemis, ketua Lam-hay-bun itu menghela napas panjang,

ujarnya, “Tempo dulu memang aku masih penasaran karena menderita kekalahan. Maka

dari ribuan li jauhnya kutempuh perjalanan untuk menuju ke gunung Ko-san. Tiba di

gereja Siau-lim-si aku pun harus bersusah payah untuk menghindari barisan tersembunyi

dari paderi2 berilmu sakti yang menjaga gereja itu. Akhirnya setelah melalui jerih payah,

barulah aku berhasil menemui dan menantangnya bertempur. Tetapi dia tetap seenaknya

saja duduk dalam ruang tempat penjaranya tanpa banyak mengeluarkan tenaga. Aku letih

dan dia masih tegar, sekalipun akhirnya aku menderita kekalahan tetapi hatiku masih

penasaran!”

Wajah ketua Lam- hay-bunpun berobah tegang dan sarat. Kemudian ia memandang ke

arah tokoh2 Tiong-goan lalu berkata pula, “Hari ini setelah berhadapan dengan Ji Han

Ping, barulah aku menyadari akan kebesaran alam dan kegaiban mahluk di dunia ini, tak

dapat diduga manusia biasa. Makin banyak tokoh2 sakti dalam dunia persilatan, makin

tipislah harapanku untuk merajai dunia persilatan….”

Nadanyapun mengikuti ketegangan wajahnya. Mengalun tinggi kemudian mengendap

turun.

Wajahnya makin sarat dan muram kemudian ia menghela napas, “Itulah sebabnya maka

aku rela mengaku kalah….”

Pengemis-sakti Cong To tertawa dingin, serunya, “Ho, ternyata engkau masih memiliki

jiwa ksatrya!”

Tiba2 ketua Lam-hay-bun menyilangkan kedua matanya. Berkilat-kilat seperti

memancarkan api lalu berseru bengis, “Tetapi kalian jangan lupa. Di seluruh dunia ini,

jago yang dapat mengalahkan aku, setelah Hui Gong taysu, pun hanya Han Ping seorang

saja. Lain orang…. lain orang….”

Perlahan-lahan dia memandang ke bawah dan suaranyapun makin mengendap. Rupanya

hatinya sudah tawar dan dingin dan ia pun sudah tak mempunyai selera untuk bicara lagi.

Tokoh2 Tiong-goan itupun juga mempunyai perasaan gelo dan menyesal sehingga

merekapun tak buka bicara.

Suasana menjadi hening lelap. Bahkan suara napas orangpun mulai kedengaran jelas.

Beberapa saat kemudian barulah ketua Lam- hay- bun itu mulai berkata pula, “Nafsu

berkelahi mencari kemenangan hanya memburu kesenangan hati untuk sesaat tetapi

meninggalkan bekas penyesalan ratusan tahun. Tokoh2 ternama yang silih berganti

menjagoi dunia persilatan, pada akhirnya tak lain tak bukan hanya menjadi segunduk

impian saja….”

Ketua Lam hay-bun itu menengadahkan kepala dan bersuit panjang. Suitanuya

memantulkan suara macam Naga meringkik. Dahi sekalian tokoh2 yang berada dalam

ruangan itu pucatlah seketika.

Rupanya ketua Lam-hay-bun ini telah menyalurkan kesesakan dadanya yang telah

menghimpit napasnya.

“Mulai saat dan detik ini,” katanya dengan nada sarat, “aku sudah menemukan kesadaran

dan penerangan. Aku tak mau mengucurkan darah dan bertempur dengan orang lagi….”

Habis berkata ia terus berjalan dengan langkah berat menuju ke luar ruangan. Seiring

dengan langkah kakinya, mulutnyapun berkata dengan pelahan-lahan, “Apabila ada orang

yang hendak mencelakai aku, silahkan turun tangan. Tak nanti aku akan membalasnya!”

Sekalian tokoh2 Tiong-goan itu saling berpandangan sendiri. Rupanya perasaan hati

merekapun seperti tenggelam dalam laut kedukaan sehingga tak seorangpun yang

memikirkan hendak turun tangan kepada ketua Lam hay-bun.

Setapak demi setapak terdengar kaki ketua Lam-hay-bun itu melangkah keluar dari ruang

batu dan makin lama pun makin jauh.

Walaupun dalam ruang itu masih terdapat isterinya yang tercinta dam puterinya yang

tersayang. namun sekalipun ketua Lam-hay-bun itu tak mau berpaling kepada mereka.

Seolah kepergiannya kali itu, dia takkan berjumpa dengan manusia di dunia lagi.

Setelah suara langkah kaki itu lenyap, si Kaki buntung baju merah, Ong Kwan-tiong dan

anak buah Lam-hay-bun, tiba2 berlutut ke tanah dan menangis. Sedemikian mengharukan

tangis mereka sehingga sekalian tokoh2 Tiong-goan pun ikut rawan.

Wanita cantik berpakaian puteri keraton memandang bayangan suaminya yang lenyap

keluar ruangan lalu berkata dingin, “Sebaiknya memang dia pergi….”

Tetapi kata2 itu walaupun diucapkan dengan nada dingin tetapi jelas pada sepasang

matanya berlinang-linang airmata.

Ih Thian-heng memandang kepada lengan kirinya yang lumpuh dan berkata, “Ah,

memburu nama itu sungguh menyusahkan orang. Orang gagah tentu pendek umurnya.

Saudara Cong, kitapun juga harus pergi dari sini!”

Wanita cantik berpakaian puteri keraton berputar tubuh, mengusap airmatanya lalu

berkata kepada puterinya, “To ji, ikutlah kepada mamah! Selama belasan tahun ini aku

tak merawatmu. Sejak saat ini aku akan berlaku sayang kepadamu.”

Dara baju ungu gelengkan kepala, “Silahkan mamah pergi sendiri! Aku akan tinggal

disini selama-lamanya….”

“Apa?” wanita cantik itu terkejut bukan kepalang.

Sahut si dara baju ungu dengan tenang dan tegas, “Saat ini aku sudah bukan Siau Toto

lagi. Ya, sejak saat ini, aku sudah menjadi nyonya Ji Han Ping….”

“Toto!” nenek Bwe menjerit, “mengapa engkau berkata begitu? Bukankah Ji siangkong

sudah meninggal?”

Jawab dara itu, “Justeru karena dia sudah meninggal itu. Apabila dia masih hidup….”

“Apakah engkau sudah mengikat janji dengan dia?” ibunya menyelutuk.

Berkata si dara baju ungu, “Sudah lama sekali aku telah menyerahkan hatiku kepadanya.

Tusuk Kundai Kumala menjadi pengikat janji, kuberikan kepadanya dalam makamnya.

Tetapi tak kuduga-duga ternyata dia masih hidup….”

Sejenak dara itu merenungkan kenangan yang lama dimana dengan secara besar-besaran

dan khidmat ia telah melakukan upacara pemakaman dari sesosok jenazah yang dikiranya

Han Ping. tetapi ternyata bukan. Han Ping saat itu masih hidup.

Sesaat kemudian tiba2 dara baju ungu itu tertawa keras. serunya “Mah, engkau belum

pernah melihat wajah puterimu ini. Apakah engkau sudah pernah tahu bagaimana wajah

puterimu ini?”

Wanita cantik berpakaian puteri keraton terkesiap, serunya, “Dahulu pernah aku secara

diam2 pulang ke Lam hay. Kala itu kulihat engkau sedang bermain-main di tepi laut.

Cuma engkau tak tahu mamah.”

“Apakah mamah masih ingat akan wajahku?” tanya si dara baju ungu pula.

“Jauh lebih cantik dari mamah,” sahut wanita cantik berpakaian puteri keraton itu.

Siau Toto tertawa nyaring lalu pelahan-lahan ia membuka kain kerudung mukanya.

Wajah cantik dari dara baju ungu itu masih meninggalkan bekas kenangan yang tak

pernah dilupakan oleh sekalian tokoh2 Tiong-goan.

Pada saat Siau Toto membuka kain kerudung mukanya, sekalian orang pun segera

mengarahkan pandang mata ke arahnya.

Tetapi serentak pandang mata berobah membelalak seperti melihat suatu pemandangan

yang mengejutkan.

Ternyata wajah dara baju ungu yang dahulu cantik berseri laksana kuntum bunga yang

tengah mekar di pagi hari, wajah yang membuat para bidadari di kahyangan mengiri

karena telah mendapat saingan. Saat itu, ya saat itu telah berobah…. mengerikan!

Wajahnya yang halus dan secantik bidadari itu telah berhias dergan gurat2 merah, silang

menyilang malang melintang.

Melihat itu wanita cantik yang biasanya berhati dingin, saat itu seperti orang yang

kehilangan pikiran. Ia menjerit histeris, “Toto, Toto! siapakah yang telah merusakkan

wajahmu?”

Dengan bercucuran airmata, dara itu menjawab “Aku sendiri, mah!”

Wanita cantik gemetar tubuhnya, “Engkau sendiri? Mengapa engkau merusak wajahmu

sendiri?”

Dara baju ungu itu sejenak memandang ke arah Han Ping yang menggeletak di tanah,

sahutnya, “Karena dia sudah meninggal ….”

Tiba2 dara itu meraih pedang Pemutus- asmara dan didekatkan ke dadanya.

“Apabila mamah benar sayang kepadaku, mamah tentu akan mengijinkan aku tinggal

disini!” serunya.

Wanita cantik berpakaian puteri keraton yang berhati sedingin es itu, saat itu bercucuran

airmatanya.

Beberapa saat kemudian ia mencabut sebatang TUSUK KUNDAI KUMALA dari

rambutnya dan berkata, “To-ji, Tusuk Kundai Kumala itu semula ada sepasang. Ketika

kutinggalkan Lam-hay, kubawanya sebatang. Tusuk kundai ini terbuat dari batu kumala

dingin yang berumur ribuan tahun. Apabila membawanya, dapat membuat wajah tetap

tak rusak. Ji siangkong sudah meninggal dunia. Tenaga pukulan ayahmu dahsyat sekali,

kemungkinan siangkong sudah sukar disembuhkan lagi. Dengan menggunakan tusuk

kundai ini, Jenazahnya dapat terpelihara tak sampai rusak!”

Siau Toto menyambuti. Kemudian sambil membolang-baling pedang Pemutus-asmara, ia

berseru, “Silahkan kalian pergi! Dalam waktu sepeminuman lagi, alat perkakas rahasia

segera kugerakkan agar pintu batu tertutup. Saat itu tentu kalian akan tertutup di sini dan

jangan harap kalian mampu keluar lagi!”

Sekalian tokoh2 Tiong-goan saling bertukar pandang lalu perlahan-lahan mereka

mengayunkan langkah keluar dari ruangan.

Saat itu hati sekalian orang memang diliputi rasa sesal dan tawar. Sikap mereka pun

tampak lesu, tidak seperti ketika mereka masuk dan berhadapan dengan musuh, begitu

beringas dan buas seperti harimau menghadapi musuh.

Pengemis-sakti Cong To setiap melangkah setapak tentu akan berpaling ke arah si dara

baju ungu. Dipandangnya dara itu dan tubuh Han Ping yang terbaring di tanah. Dalam

hati pengemis tua itu timbul rasa haru dan sayang yang tak terhingga besarnya. Diamdiam

ia tak henti-hentinya menghela napas.

Siau Toto, seorang dara jelita yang tiada tara kecantikannya. Boleh diumpamakan sebagai

seorang bidadari yang menjelma di dunia. Thian telah menganugerahkannya wajah yang

luar biasa cantiknya. Betapa menyengsamkan hati apabila dara itu tertawa. Betapa indah

apabila dara itu sedang berkata-kata. Kesemuanya itu menggores kesan yang tak dapat

dilupakan seumur hidup oleh Pengemis- sakti.

Tetapi saat itu, wajah ayu dari si dara telah berobah menyeramkan. Seluruh mukanya

penuh berhias gurat2 warna merah. Dari seorang bidadari, dia telah berobah menjadi dara

yang berwajah seram.

Hanya dalam waktu beberapa tahun Han Ping muncul di dunia persilatan, namanya sudah

harum semerbak sebagai seorang jago muda yang gemilang dan Sakti. Tokoh2 dunia

persilatan kelas satu, segan dan gentar terhadap dia. Bagaikan mentari pagi, dia muncul

dan memancarkan sinar yang gilang gemilang. Merupakan utusan muda dari angkatan

yang sudah lalu. Berhati keras tetapi berbudi emas. Secara tak resmi dia sudah diakui

sebagai seorang tokoh muda yang berpengaruh dan besar wibawanya. Tetapi nasib

menentukan lain. Pemuda yang berbakat dan berotak cerdas itu harus kehilangan jiwa di

dalam makam tua.

Kematian Han Ping itu adalah karena ia memikirkan kepentingan dara itu. Demi untuk si

dara, Han Ping rela mengorbankan jiwanya.

Si darapun tahu dan membalas pengorbanan itu dengan merusakkan wajahnya yang

cantik dan menunggu dalam makam itu selama-lamanya….

Han Ping mengutamakan kepentingan si dara. Demi mematuhi permintaan si dara, ia rela

mengorbankan jiwanya. Dan untuk itu si dara pun rela membalas dengan pengorbanan

besar. Ia merusak wajahnya yang cantik dan rela menjaga jenazah Han Ping dalam

makam itu untuk selama-lamanya….

Tiba2 Ih Thian-heng melangkah balik masuk kembali. Serta merta ia berlutut di hadapan

mayat Han Ping. Dengan melintangkan sebelah tangannya ke dada, ia mulai berdoa,

“Dunia menganggap aku Ih Thian-heng seorang manusia yang berlumuran dosa setinggi

gunung. Tetapi mereka tak tahu bahwa akan siasat buas yang kulakukan itu

sesungguhnya pancaran dari hati nuraniku yang baik. Kebaikan dan kejahatan, sebelum

berakhir dengan jelas, memang sukar dibedakan.”

Melihat tingkah laku Ih Thian-heng, sekalian tokohpun hentikan langkah dan

mendengarkan kata2 Ih Thian-heng dengan penuh perhatian.

Kedengaran Ih Thian-heng berkata lebih lanjut, “Aku Ih Thian-heng, dalam sepanjang

hidup ini, selain kepada Cong To aku menaruh hormat, hanya engkau seorang yang

paling kukagumi, Ji Han Ping. Rupanya Thian tak mengijinkan usia panjang kepada

ksatrya muda yang luar biasa. Dan kini engkau telah mendahului kita. Kumohon

arwahmu yang ksatrya itu dapat memberi berkah kepadaku. Ijinkanlah aku, Ih Thianheng,

menyelesaikan tugas2mu yang belum engkau selesaikan itu. Setelah dunia

persilatan tentram dan aman, aku Ih Thian-heng, akan kembali kemari dan tinggal dalam

makam ini untuk melewati sisa hidupku menemani arwahmu….”

Dua butir airmata ksatrya, telah menitik turun dari pelupuk matanya.

Pengemis-sakti Cong To menghela napas panjang, serunya, “Saudara Ih, marilah kita

pergi!”

Ih Thian-heng berbangkit, mengusap airmatanya terus ayunkan langkah. Ketika hampir

tiba di pintu batu, tiba2 ia berputar tubuh dan berjalan masuk kembali.

“Nona Siau,” katanya kepada si dara.

Siau Toto tertawa hambar, serunya, “Soal apa lagi yang akan engkau katakan?”

“Nona memiliki kecerdasan yang luar biasa,” kata Ih Thian-heng, “bagi nona tiada, soal

yang sulit di dunia ini yang tak dapat nona pecahkan. Entah apakah di dunia terdapat obat

yang mampu menghidupkan saudara Han Ping kembali?”

“Baiklah,” sebut si dara, “tiada halangan kuberitahukan kepadamu. Tetapi aku percaya

tentu tak ada orang yang mampu mencarinya!”

“Harap nona suka mengatakan. Aku bersedia mendengarkan dan akan berusaha untuk

mencarinya,” kata Ih Thian-heng.

Maka berkatalah Siau Toto mengenai ramuan obat yang dibutuhkan itu, “Ban lian Swatlian-

cu, Cian-lian Tok-coa-tan, Pek-lian Le-hi-hiat. Ho-siu-oh tua. Keempat ramuan itu

harus lengkap. Satu pun tak boleh kurang.”

Ban-lian Swat-lian-cu artinya Biji Teratai yang berumur selaksa tahun, Cian-lian Tokcoa-

tan artinya Empedu ular beracun yang berumur seribu tahun. Pek-lian Le-hi-hiat

artinya, darah ikan lehi yang berumur seratus tahun. Ho-siu-oh semacam bahan tanaman

obat yang berkhasiat seperti jinsom.

Pengemis-sakti Cong To tertegun. serunya, “Bila terdapat obat yang mampu menolong

saudara Han Ping, tentulah begitu juga akan dapat memulihkan wajah nona.”

Siau Toto tertawa, “Sekalipun wajahku dapat pulih kembali tetapi siapakah yang akan

menikmatinya?”

Dara itu berhenti sejenak. “Makam tua ini kusebut MAKAM ASMARA!” serunya.

“Ohh….” terdengar Cong To dan Ih Thian-heng serempak mendesuh.

“Dan pertunjukan dalam Makam Asmara ini sudah selesai. Silahkan saudara2 segera

tinggalkan tempat ini,” seru si dara pula.

Wanita cantik berpakaian puteri keraton kedengaran menghela napas panjang. Nadanya

penuh kerawanan yang beriba-iba.

“Anakku Toto, seribu satu macam peristiwa dendam kesumat itu, dari dahulu sampai

sekarang, tak lain hanya karena asmara. Baiklah, anakku, mamah hendak pergi….”

“Maaf mah, aku tak dapat mengantar,” seru Toto.

Wanita cantik itu memandang ke arah rombongan anak buah Lam-hay-bun, lalu

membentak, “Mengapa kalian masih berada di sini?”

Anak murid Lam-hay-bun saling bertukar pandang lalu ayunkan langkah mengikuti di

belakang wanita cantik itu atau ibu guru mereka. Kemudian rombongan tokoh2 Tionggoan

pun berbondong-bondong keluar dari pintu batu.

Belum berapa lama mereka berjalan, tiba2 terdengar suara ledakan yang menggetarkan.

Ternyata pintu batu yang amat berat itu tertutup lagi.

Tiba2 dari dalam pintu batu itu berkumandang segelombang nyanyian. Nyanyian yang

bernada kedukaan dari rintihan kalbu. Mengalun tinggi, menyayat hati.

Langkah kaki sekalian tokoh itupun terasa makin berat. Hatipun makin tenggelam dalam

kehampaan. Nafsu memburu nama. kegagahan, kesombongan dan keangkaraan, lenyap

seketika.

Malampun kelam.

TAMAT