makam asmara 09 **
“Hm…. bagus!” bentak Kaki buntung lalu
memutar tongkatnya sederas angin puyuh.
Permainannya memang aneh sekali. Setiap
pukulan, sukar diduga sehingga membuat jago
tua Siangkwan Ko itu tak berdaya untuk balas
menyerang.
Kiblatan tongkat besi beberapa kali melayang
di muka Siangkwan Wan ceng. Kalau
sampai mengenai jenazah Ting Ling, tentu
jenazah itu akan hancur. Kalau kena
Siangkwan Wan-ceng, dara itupun tentu mati
atau terluka berat.
Melihat itu terpaksa Siangkwan Ko menyurut
mundur agar tongkat lawan jangan sampai
mengenai puterinya.
Di luar dugaan begitu Siangkwan Ko mundur,
si Kaki-buntungpun menarik tongkatnya
tak mau mengejar.
Ternyata anak buah Lam hay bun itu meskipun
tampaknya berpencaran tetapi
sesungguhnya mereka telah membentuk diri
menjadi suatu barisan. Tiap orang
mempunyai batas lingkaran gerak sendiri.
Apabila ada yang kesulitan, boleh saling
membantu. Karena Siangkwan Ko sudah keluar
dari batas lingkaran geraknya, Kakibuntungpun
tak mau mendesak lagi.
Han Ping mencurahkan padang kearah Siangkwan
Wan-ceng dan Ting Ling. Serentak
melayanglah pikirannya akan kebaikan kedua
nona itu kepada dirinya. Makin terkenang.
hatinya makin senda. Sesaat kemudian
darahnyapun meluap luap lalu tiba2 berteriak, “Ih
Thian-heng….”
Nyaring sekali seruan itu sehingga seluruh
ruangan berkumandang keras.
“Mengapa?” Ih Thian-heng terkesiap.
“Aku hendak bertanya sesuatu hal, entah apa
apakah engkau suka memberitahu?” tanya
Han Ping.
“Silahkan saudara Ji bertanyalah.”
“Nona Ting terluka ditanganmu, dengan cara
bagaimana? Apakah masih dapat ditolong?”
“Dengan tutukan Kek gong-tiam- hiat! Dapat
tertolong atau tidak, setelah kuperiksa baru
dapat diketahui,” sahut Ih Thian-heng.
“Asal engkau dapat menolong jiwa seorang
lagi. berarti akan mengurangi kedosaanmu,”
seru Han Ping.
Ih Thian-heng tersenyum, serunya, “Walaupun
hari ini aku dapat melakukan kebaikan
tetapi hanya terbatas. Sukar untuk menghapus
kejahatan yang telah kulakukan di masa
lampau.”
“Bila engkau mampu menghidupkan nona Ting,
budi dan dendam kita, memang makin
ruwet,” seru Han Ping.
Ih Thian-heng memandang wajah Siangkwan
Wan-ceng, katanya pelahan, “Lebih baik
suruh mereka masuk kemari dulu….”
ooo000ooo
Naga lawan harimau.
“Biarlah kusambut meraka,” kata Han Ping
seraya maju menghampiri. Ia memberi
hormat kepada Kaki buntung, “Kedua nona itu.
yang satu meninggal dan yang satu
terluka. Sudah tak maungkin melawan lagi.
Seorang kesatrya takkan melukai wanita dan
orang yang lemah. Sudilah saudara suka
memberi jalan kepada mereka.”
Walaupun si Kaki buntung itu berwatak keras
dan bengis tetapi demi mendengar kata2
Hari Ping, ia tampak kerutkan kening
merenung. Sebenarnya dia memang berwatak
ksatrya.
“Baiklah,” sesaat kemudian ia berseru,
“membiarkan mereka masuk memang boleh tetapi
aku tak dapat membiarkan mereka keluar
lagi.”
“Baiklah,” kata Han Ping, “nanti keluarnya
akulah yang akan mengantar mereka.”
Kaki-buntungpun menyisih kesamping dan
memberi jalan. Cepat Han Ping maju dua
langkah dan memberi hormat, “Nona
Siangkwan.”
Tetapi Siangkwan Wan-ceng hanya tertawa
rawan tak menyahut.
Han Ping kerutkan kening, pikirnya, “Agaknya
nona ini seperti hilang kesadaran
pikirannya. Sukar untuk bicara dengan dia.
Dan dihadapan sekian banyak orang, akupun
sungkan untuk menarik tangannya.”
Selagi Han Ping ragu2, tiba2 Siangkwan Ko
melangkah maju dan berseru pelahan, “Ceng
ji, Ceng-ji, bagaimana engkau?” Ia terus
menarik lengan puterinya melangkah maju.
Ting Kopun bergegas menyongsong jenazah
puterinya, Ting Ling.
“Lo cianpwe, harap berikan puterimu kepada
Ih Thian-heng. Coba saja dia dapat
menolong atau tidak,” kata Han Ping.
Tanpa menjawab Ting Ko pun menghampiri ke
tempat Ih Thian heng. Ih Thian heng
memeriksa wajah nona itu dengan seksama,
meraba pernapasannya lalu berkata, “Tak
dapat ditolong lagi….”
“Tetapi.” katanya pula. “kematian nona Ting
ini bukan karena tanganku….”
“Dengan mata kepala sendiri aku melihat
engkau telah memukul anakku, mengapa
engkau masih berani menyangkal!” teriak Raja
Lembah-setan Ting Ko dengan marah.
“Saudara Ting seorang yang ahli dalam ilmu
silat. Tentu mengerti bahwa pukulan jarak
jauh Kek-gong-tam- hwat-jiu-hwat itu tak
mungkin dapat merenggut jiwa puterimu.”
“Kalau tak dapat ditolong, apa boleh buat….”
kata Han Ping.
Tiba2 si data baju ungu yang sudah begitu
lama tak bersuara. menyeletuk, “Dia makan
racun dan menderita luka berat. Kesempatan
hidup, memang amat tipis sekali. pukulan
dengan tenagadalam dari jarak jauh yang
dilepas Ih Thian-heng, hanya mempercepat
kematiannya saja. Kalau saat ini tersedia
obat yang dapat menghilangkan racub dalam
tubuhnya, kemungkinan masih ada setitik
harapan untuk menghidupkannya….”
Sepasang mata Han Ping berkilat-kilat,
serunya, “Ih Thian-heng, apakah engkau yang
memberi racun kepada nona Ting?”
“Ya.” sahut Ih Thian-heng, “tetapi obat
penawarnya tidak sukar. Yang sukar yalah
setelah racun ditawarkan, lalu cara
penyembuhan selanjutnya….”
“Cobalah engkau halau racun dalam tubuhnya
baru nanti cari daya untuk menolongnya,”
kata Han Ping.
Tiba2 terdengar Hui In taysu herseru
‘omitohud’ lalu berkata, “Kalau li sicu berkeras tak
mau memberi jalan, akupun terpaksa akan
membobol!”
Lalu serentak terdengarlah dering senjata
beradu dan pukulan saling berhantam.
Han Ping tetap memikirkan keadaan Ting Ling,
tanpa berpaling ia segera berseru keras,
“Ih Thianheng, apakah engkau dengar kata
kataku tadi?”
Ih Thian-heng terkesiap, serunya, “Ya,
dengan jelas!”
“Racun dalam tubuh nona Ting, engkaulah yang
memberi. Dan luka-luarnya engkaulah
yang membuatnya dengan pukulan Kek-gong-
tam-hiat-jiu-hwat Kalau engkau tak dapat
menolongnya, siapakah lagi yang mampu
menolong?”
“Berusaha, tiada jeleknya. Berhasil atau
gagal, tak boleh dipastikan,” sahut Ih Thianheng.
“Kalau engkau sungguh2 berusaha, aku sudah
sangat berterima kasih.” kata Han Ping.
Tiba2 berkatalah Ih Thian hang dengan wajah
serius, “Aku dengan engkau, seperti air
dengan minyak tak mungkin akur. Kita mungkin
hidup bersama. Maka engkau tak layak
menghaturkan terima kasih kepadaku. Terhadap
engkau, aku hanya mengandung dendam
penasaran, tiada budi lagi. Hal ini engkau
harus ingat benar!”
Han Ping tertegun. Tiba2 ia menghela napas
dan tak bicara lagi.
Dengan wajah mengerut serius, mulailah Ih
Thian-heng memeriksa pergelangan nadi
Ting Ling. Dan Han Pingpun mencurahkan
perhatiannya kepada pertolongan Ih Thian
heng itu. Seolah olah tak menghiraukan
keadaan di sekelilingnya saat itu.
Tiba2 Ih Thian-heng kerutkan alis lalu
berbangkit dan berpaling memandang ke arah
Nyo-Bun-giau.
“Mengapa engkau memandang aku?” seru Nyo
Bun- giau dengan wajah berobah.
Ih Thian-heng tertawa tawar. “Mengapa aku
memandang engkau, masakan saudara Nyo
tak merasa?”
Wajah Nyo Bun-giau berobah-robah. Sebentar
merah sebentar pucat. Dan hatinya
berguncang keras.
Han Ping heran, serunya, “Eh, kalian berdua
mengapa itu?”
Ih Thian-heng, tersenyum, “Tidak apa2. Aku
hanya melihati saudara Nyo saja.”
Karena tak kuasa menahan getaran hatinya,
tiba2 Nyo Bun-giau menggembor keras, “Ih
Thian-heng. aku tak perlu pemberian budimu.
Aku tak takut, engkau mengatakan dengan
terus terang!”
Ih Thian-heng tertawa. “Kalau saudara Nyo
hendak mengatakan sendiri, akupun takkan
merintangi.”
Walaupun saat itu sebelah tangannya sudah
remuk dan kesaktiannya berkurang, Namun
sikap dan bicaranya masih berwibawa sebagai
seorang datuk durjana kelas wahid!
Nyo Bun-giau terkesiap. Dilihatnya Han Ping,
Siangkwan Ko, Ih Thian-heng dan lain2
orang, tengah memandang kepadanya. “Baiklah,
aku akan bicara,” kata Nyo Bungiau
karena tak tahan lagi, “Tentang nona Ting
akulah yang melukainya. Sekalipun Nyo Bungiau
tidak turun tangan, tetapi nona itu memang
tak dapat bertahan hidup lebih lama
lagi.”
Han Ping kerutkan alis, berseru keras, “0,
kiranya engkau….” sekali kaki bergerak, ia
terus menyerang Nyo Bun-giau.
Tetapi Ih Thian-heng cepat menghadangnya,
“Sabar dulu saudara Ji, kalau saudara
hendak menolong nona Ting, terpaksa harus
minta saudara Nyo yang mengobati.”
Han Ping hentikan langkah, memandang Nyo
Bun-giau dengan berapi-api.
“Ih Thian-heng,” kata Nyo Bun-giau, “tak
perlu engkau yang mengatakan, akupun
memang akan menolong nona Ting.”-ia terus
melangkah ke tempat Ting Ling. Dia
memang takut kepada Han Ping.
“Tunggu dulu!” tiba2 si dara baju ungu
berseru lagi.
“Kenapa?” tanya Nyo Bun-giau.
Berkata dara baju ungu itu dengan dingin,
“Kalian tak ada yang mampu
menolongnya….”
Han Ping berobah wajahnya, “Mengapa….?”
“Kukatakan tak dapat menolong, tentu tak
dapat menolong,” kata dara baju ungu.
Han Ping marah. “Tetapi justeru aku tetap
akan menolongnya….”
“Sekalipun kalian saat ini dapat melenyapkan
racun dalam tubuh, takkan tertolong
jiwanya,” kata dara baju ungu.
“Lenyapkan dulu racun baru nanti berusaha
menolong jiwanya!” seru Han Ping.
Dara baju ungu tertawa dingin. “Berusaha apa
lagi? Kalau engkau tak melenyapkan
racun, aku masih dapat manjaga agar
jenazahnYa tetap utuh dan cantik. Tetapi kalau
tidak, hm tubuh secantik itu tentu segera
akan menjadi tulang belulang yang busuk.”
Merenung sejenak, Han Ping bertanya, “Apakah
benar2 sudah tak dapat ditolong lagi?”
Kata dara baju ungu itu pelahan-lahan,
“Memang masih ada jalan….”
“Jalan bagaimana?”
“Walaupun kukatakan tetapi rasanya engkau
tentu tak dapat melakukan cara itu,” kata si
dara baju ungu lalu mengeliarkan pandang
matanya ke sekalian orang, “bukan hanya
engkau, mereka pun juga tiada satupun yang
mampu.”
“Lalu nona sendiri?” tanya Ih Thian-heng.
Dara itu gelengkan kepala pelahan, “Aku juga
tak dapat.”
Han Ping berseru penasaran, “Kalau siapa
saja tak dapat, berarti tak ada cara
pengobatannya!”
Dara itu menghela napas pelahan, serunya,
“Kecuali ada orang yang dapat menarik ayah.
Pasti ibuku ikut campur. Dengan tenaga dalam
kedua orang itu tentu dapat menolong
jiwa nona Ting!”
Han Ping memandang ke arah ketua Lam-hay-bun
lalu melirik kepada wanita cantik,
serunya menegas, “Sungguhkah hal itu?”
“Kapan aku bohong?” seru dara itu marah.
Tampak sepasang mata ketua Lam-hay-bun
berkilat, serunya, “Toto, ayahmu ini bukan
seorang manusia dewa! Bagaimana dapat
menghidupkan orang yang sudah mati?”
“Ayah seorang memang tak mampu,” sahut si
dara.
Ucapan dara itu rupanya menyentuh hati
wanita cantik, serunya cepat. “Nak, ibu belum
pernah belajar ilmu menolong orang yang
terkena racun.”
“Kalau hanya ibu seorang, memang takkan
dapat,” seru si dara pula.
Wanita cantik itu hendak membuka mulut atau
tiba2 ia merasa sepasang mata ketua Lamhay-
bun itu tengah berkilat-kilat memandang
kepadanya. Terpaksa ia hanya mendengus
dan diam lagi.
Han Ping melihat wajah Ting Ling yang pucat
Iasi. Segera ia teringat akan budi kebaikan
nona itu kepadanya selama ini. Mau tak mau
hatinya pun rawan dan diam2 menimang,
“Bila ada orang atau obat yang mampu
menolongnya, apa dan bagaimana berbahayanya,
aku tentu akan berdaya untuk
mendapatkannya.”
Dara baju ungu menghela napas panjang.
serunya “Ah, tak perduli engkau berbanyak hati
lagi. Kalau ayah dan ibuku tak mau bekerja
sama, sekalipun engkau memperoleh daun
obat Leng ci yang berumur seribu tahun, atau
ginseng ribuan tahun, pun tetap takkan
mampu menolongnya. Ketahuilah bahwa keadaan
tubuh nona Ting saat ini sudah
kehilangan pusat sumber penggerak darah,
daging tubuhnya sudah tak dapat bekerja lagi.
Kecuali dengan obat sakti, pun harus
disaluri dengan tenaga dalam sakti agar daya kerja
urat2 dan jalandarahnya dapat pulih kembali.
Dengan demikian barulah ia mempunyai
harapan hidup lagi.”
Kembali Han Ping memandang kearah ketua
Lam-hay-bun dan wanita caniik. Ditatapnya
kedua suami isteri yang aneh itu lekat2.
Pikiran dan hati Han Ping penuh dicengkam
dengan berbagai perasaan. Antara membalas
sakit hati kematian orangtuanya dan menolong
Ting Ling. Kedua hal itu ia harus dapat
menyelesaikannya.
Tiba2 terdengar hambusan napas yang sarat
dan terengah-engah dari Hui In taysu.
Ternyata paderi Siau-lim-si itu tengah
mengadu tenaga-dalam dengan nenek Bwe. Wajah
keduanya tampak tegang, keringat bercucuran
seperti hujan mencurah.
Suasana dalam ruang itu sepi sekali.
Tiba2 Han Ping berbatuk-batuk untuk
memecahkan kesunyian lalu berkata pelahan lahan
kepada Ih Thian-heng, “Kaum persilatan
mengatakan engkau kejam dan ganas.
Kejahatanmu menumpuk setinggi gunung. Tetapi
kusaksikan sendiri engkau telah
melakukan beberapa perbuatan baik. Berani
berbuat berani tanggung jawab. Tak ubah
seperti laku seorang ksatrya.”
Ih Thian-heng tersenyum, “Ah, jangan kelewat
memuji….”
Han Ping mengalihkan pandang matanya kepada
ketua Lam-hay-bun, serunya, “Lo
cianpwe dengan jerih payah telah menciptakan
makam tua ini dan dengan meminjam
kemasyhuran nama pedang Pemutus Asmara,
telah merangkai suatu cerita khayal yang
menggemparkan dunia persilatan Tiong-goan
yang saling bunuh membunuh. Apakah
sesungguhnya maksud tujuan lo-cianpwe
berbuat begitu?”
Ketua Lam-hay-bun tertawa dingin, “Dengan
makam tua ini aku hendak membasmi
manusia2 yang mangejar nama dan temaha harta
benda….-”
“Engkau mendirikan makam tua yang penuh
alat2 maut. Lalu anakmu mengundang
seluruh jago2 silat dalam dunia agar
menyaksikan betapa hebat kelihaian dan
kesaktianmu. Apakah itu bukan tindakan
hendak mengejar nama?” seru Han Ping.
“Tiada seorang pun di dalam dunia yang
berani bicara sekasar itu kepadaku. Nyalimu
sungguh besar sekali!” teriak ketua
Lam-hay-bun marah.
Tetapi Han Ping tak gentar, serunya, “Hanya
karena kalah dalam soal Asmara dan
Kesaktian dengan Hui Gang taysu, maka engkau
tumpahkan kemarahan kepada seluruh
kaum persilatan Tionggoan! Engkau ciptakan
makam tua ini sematamata sebagai alat
untuk membasmi seluruh kaum persilatan
Tiong-goan. Dengan begitu engkau hendak
mengangkat nama dan membalas kekalahanmu
kepada Hui Gong taysu….”
Seketika berobahlah wajah ketua Lam-hay-bun,
bentaknya, “Kalau ya, lalu engkau mau
apa?”
“Kalau engkau sudah mengakui begitu, jelas
hatimu itu beratus kali lebih ganas dari Ih
Thian-heng!” kata Han Ping dangan nyaring.
Bum…. tiba2 terdengar suara benda runtuh.
Ternyata Hui In taysu dan nenek Bwe sama2
rubuh ke tanah.
Kiranya kedua tokoh itu sama kuatnya.
Tenaga-dalam mereka berimbang tetapi karena
mereka sama2 ngotot. akhirnya keduanya
kehabisan tenaga. Mereka menderita lukadalam
dan lantas rubuh.
Sekonyong-konyong Han Ping menengadahkan
muka dan bersuit panjang lalu berseru
nyaring, “Aha, lagi jatuh korban ngeri dari
perbuatan manusia yang mengejar nama….”
Terdengar alun gelombang doa nyanyian yang
khidmat dan rawan. Rombongan paderi
Siau-lim tengah berlutut mengerumuni tubuh
Hui In taysu dan menyanyikan doa
keagamaan yang menyayat hati.
Berkatalah ketua Bu-tong-pay, imam Thian Ci,
“Sekalipun tokoh2 dalam ruang ini akan
menderita luka atau binasa tetapi di luar
ruangan masih menunggu jago2 dari sembilan
partai persilatan….”
Ketua Bu-tong-pay itu menutup kata-katanya
dengan mengayunkan pedang dan
menerjang keluar.
Ong Kwan-tiong cepat maju menghadang
serunya, “Setiap orang hanya boleh keluar
sebagai mayat, tidak boleh masih bernyawa!”
Ketua Bu-tong pay tertawa dingin. serunya,
“Apakah hendak mencoba pedangku ini?”-
Sekali tangan bergerak maka pedangpun segera
berobah menjadi lingkaran sinar.
Ong Kwan-tiongpun segera tusukkan senjatanya
yang berbentuk seperti garisan panjang.
Thian Ci totiang tertawa dingin.
Sekonyongkonyong ia ajukan kaki kiri, menekankan
pedangnya ke bawah dan seketika memancarlah
tenagadalam yang menyedot senjata
lawan lalu digelincirkan ke samping.
Ong Kwan-tiongpun licin. Begitu senjatanya
disedot ke samping ia terus menyerempaki
dengan menusuk ke lambung lawan.
Serangan Ong Kwan-tiong itu tak terdugaduga
oleh ketua Bu tong-pay. Thian Ci totiang
memang tak mengharapkan bahwa cara yang
dilakukannya itu dapat melukai lawan.
tetapi ia tak menduga sama sekali bahwa Ong
Kwan tiong ternyata begitu licin dan lihay.
Karena itu terpaksa paksa ia menyurut mundur
seraya bolang balingkan pedang untuk
melindungi diri.
Ong Kwan-tiong tetap tegak berdiri di tempat
tak mau mengejar.
Tampak si dara baju ungu lari menghampiri
dan berlutut di dekat tubuh nenek Bwe lalu
memeluknya. Diguncang-guncangnya tubuh nenek
itu seraya memanggil-manggil
namanya.
Ibunya, wanita cantik berpakaian puteri
keraton melekatkan pandang matanya kepada si
dara. setiap saat siap akan bergerak apabila
ada orang yang berani mengganggu
puterinya.
Thian Ci totiang, ketua Bu-tong- pay, tegak
berdiri menenangkan pikiran. Diam2 dia
sudah merenungkan tenaga dalam aneh yang
dipancarkan dari senjata Ong Kwan-tiong.
Sesaat kemudian ia segera mainkan pedangnya
pula. Kali ini dia sudah mempunyai
persiapan. Tak mau gegabah menyerang, jurus
serangannya dilambari dengan tenagadalam
yang penuh.
Ong Kwan-tiongpun segera menyambut dengan
senjatanya berbentuk penggaris pandang
yang disebut Thian-sing ci atau
Panggaris-bintang. Kedua tokoh itu pun bertempur seru
lagi.
Ilmu pedang partai By-tong-pay, dianggap
sebagai ilmu pedang aliran Ceng-cong atau
asli. dimainkan maka berkembanglah sinar
pedang ke delapan penjuru. Angin menderuderu,
dahsyat dan berwibawa sekali.
Tetapi senjata Thian-sin-ci dari Ong
Kwan-tiong memancarkan tenaga-dalam penyedot
yang aneh dan hebat. Berulang kali dapat
menyedot pedang lawan dibawa menjulang ke
atas.
Dua senjata itu laksana dua buah halilintar
yang saling menyambar. sedikit saja terbuka
peluang kelemahan, tentu akan terancam.
Rupanya ketua Bu-tong- pay itu mengalami
kesulitan menghadapi tenaga dalam penyedot
dari senjata Ong Kwan-tiong.
Dalam pada Itu Han Ping keliarkan pandang
matanya ke sekeliling. Diam2 la menimang,
“Anakmurid Lam-hay-bun. ternyata memiliki
ilmu kepandaian yang tinggi semuanya.
Jelas ketua Lam-hay-bun itu tentu hebat
sekali kepandaiannya.
“Menilik kekuatan saat ini,” masih Han Ping
menimang dalam hati, “kaum persilatan
dunia Tiong-goan, apabila mau melupakan
dendam permusuhan masing2 untuk bersatu
padu menghadapi mereka. Entah bagaimana
kesudahannya, tentulah dapat memaksa
orang Lam-hay-bun untuk melepaskan
pertempuran ini! Sayang dendam permusuhan di
antara kaum persilatan Tiong-goan itu sudah
sedemikian mendalam dan pelik. Untuk
menganjurkan mereka supaya menghapus dendam
dan bersatu, sukar sekali. Pada
akhirnya, mereka tentu akan dihancurkan oleh
orang Lam-hay-bun di makam tua ini.
Jalan satu-satunya pada saat ini ialah
menganjarkan supaya kawan2 Tiong-goan itu mau
membuang dulu dendam permusuhannya dan
bersatu. Dengan damikian mungkin dapat
terhindar dari bahaya maut di makam ini.”
Melihat nenek Bwe rubuh di tanah, ketua
Lamhay-bun tetap tenang. setitik pun tak
mengunjuk sikap terkejut atau pun reaksi
apa2. Diam2 Han Ping merasa ketua Lam haybun
itu seorang yang ganas sekali. Lebih ganas
dari Ih Thian-heng.
Dilihatnya pengemis sakti Cong To mengambil
buli2 arak dari punggung dan
meneguknya dua kali. Setelah itu berseru,
“Ji laute, pengemis tua hendak menyampaikan
beberapa patah kata. Entah engkau suka
mendengarkan atau tidak?”
“Ah, silahkan saja toako mengatakan,” sahut
Han Ping.
Sejenak Pengemis-sakti itu mengeliarkan
pandang ke arah rombongan tokoh2 silat
Tiong-goan lalu berkata, “Orang2 itu
sesungguhnya manusia2 yang banyak dosa dan
harus mati. Tetapi keadaan saat ini bukan
waktunya untuk menerima hukuman.”
Tiba2 terdengar si dara baju ungu berteriak,
“Au bungkuk, lekaslah engkau kemari
membantu aku menutuk dua buah jalandarah Bwe
Nio ini.”
Tetapi mata si Bungkuk memandang wajah si
dara dan wajahnya menampilkan ketakutan
lalu berseru dengan terbata-bata, “Nona,
nona…. “
“Jangan takut,” kata si dara, “Asal engkau
kemari segala apa aku yang tanggung.”
Si Bungkuk terpaksa menurut. ia maju
menghampiri ke tempat si dara. Sambil berjalan ia
memandang ke arah ketua Lam-hay-bun sehingga
langkah kakinyapun berat dan pelahan.
Jelas dia gelisah dan ketakutan sekali.
Dua orang paderi berjubah merah tiba2
berdiri dan menghadang si Bungkuk.
Rupanya wanita cantik itu tahu bahwa kedua
paderi itu hendak bermaksud buruk
terhadap puterinya maka cepat ia membentak
dingin:!”Rubuhlah!”
Sekali tangannya mengayun maka kedua paderi
itupun segera rubuh.
Sekalian tokoh2 silat terkejut. Diam2 mereka
membatin, “Pada jarak enam tujuh meter
jauhnya wanita itu dapat merubuhkan dua
orang paderi Siau-lim. Kepandaiannya, benar2
mengejutkan orang.”
Han Ping kerutkan alis, menundukkan kepala
berkata kepada Cong To. “Bukankah toako
menghendaki supaya untuk sementara ini aku
jangan mengurus soal dendam permusuhan
atas kematian ayah bundaku?”
“Kalau engkau hendak membalas sakithati
orangtuamu, jangan harap seumur hidup kita
dapat keluar dari makam ini,” kata Cong To.
Berkata Han Ping dengan nada lapang, “
Menolong orang lebih penting dari membalas
sakit hati, apalagi toako yang
memerintahkan.”
Pengemis Sakti Cong To tertawa, “Membalas
dendam sakithati orangtua, bukan
pengemis tua ini hendak melarangmu. Tetapi
setelah keluar dari makam ini, pengemis tua
tentu akau membantumu untuk melaksanakan
pembalasan sakithati itu,”
“Ah, aku tak berani mengharap bantuan
toako,” kata Han Ping,” asal pada saat itu toako
suka menghadiri sebagai saksi, aku sudah
merasa berterima kasih.”
Ia berputar tubuh lalu melangkah ke tempat
Hui In taysu.
Melihat dua orang paderi rubuh, rombongan
paderi Siau lim itu sudah tak dapat menahan
kesabarannya lagi. Kesedihan hati mereka
berobah menjadi dendam kemarahan yang
berkobar-kobar. Diam2 mereka berunding untuk
mengatur langkah untuk serempak
menerjang musuh.
Han Ping dapat mengetahui sikap kemarahan
rombongan paderi itu. Ia segera memberi
hormat, serunya, “Para suhu sekalian, harap
untuk sementara ini suka bersabar. Ijinkan
kulihat bagaimana luka Hui In taysu.”
Jarak pertempuran adu tenaga-dalam antara
Hui In taysu dengan nenek Bwe hanya satu
meter. Pada saat Han Ping menghampiri ke
tempat Hui In, ia segera membau bau harum
dari tubuh si dara baju ungu.
Saat itu kedengaran wanita cantik tartawa
dingin. serunya, “Barangsiapa yang hendak
mencelakai anakku, berarti hendak cari mati
sendiri.”
Tiba2 tergeraklah hati Han Ping, pikirnya,
“Dengan menjebak kita ke dalam makam tua
ini, jelas ketua Lam hay-bun itu tentu sudah
mempunyai persiapan. Tetapi mengapa dia
tak segera melaksanakan rencananya itu
tentulah karena hendak menunggu supaya kita
saling berhantam sendiri agar kekuatan kita
menjadi habis. Tetapi mereka juga
mempunyai kelemahan: Diantara kedua suami
Isteri itu rupanya tidak akur, saling
membawa kemauannya sendiri. Kemungkinan hal
itu juga menyebabkan ketua Lam hay
bun tak mau lekas2 menjalankan rencananya.
Kalau tidak, tentulah dia sudah
melaksanakan alat2 yang telah direncanakan
itu untuk menghancurkan seluruh tokoh
Tiong-goan. Dan rupanya dia yakin kalau
mampu melakukan pembasmian itu sehingga
tampaknya dia begitu tenang dan tenteram….”
Makin merenung, Han Ping makin besar
kecurigaannya. Dikeliarkannya pandang
matanya ke sekeliling ruangan.
Setelah sebelah tangannya lumpuh, Ih
Thian-heng menyadari kalau dirinya bakal tak
mungkin dapat terlepas dari pedang Han Ping.
Ruangan itu dijaga ketat oleh anak buah
Lam-hay-bun yang berkepandaian sakti. Diam2
ia sudah merasa putus-asa.
Tetapi di kala mendengar Han Ping menyetujui
permintaan Cong To agar jangan
mengungkat permusuhan lagi dan untuk
sementara jangan mencari balas atas kematian
kedua orangtuanya, timbullah semangat Ih
Thian-heng. Apalagi Han Ping pun
menyetujui untuk bekerja sama menghadapi
orang Lam-hay-bun.
Ih Thian-heng memang cerdas. Melihat Han
Ping memandang kian kemari. segera ia
dapat menyelami isi hati anakmuda itu.
Di lain fihak ketua Lam-hay bunpun
memperhatikan gerak gerik Han Ping. Segera ia
tertawa dingin. “Andaikata dalam ruang ini
terdapat barisan gelap, pun tak perlu harus
kugerakkan.”
Diam2 Han Ping membatin, “Hmm…. orang tua
itu tak boleh dipercaya. Aku harus tetap
berusaha mencari akal untuk membobolkan
makam ini.”
Tiba2 mata Han Ping tertumbuk pada si dara
baju ungu. Seketika timbullah
pemikirannya. “Dara baju ungu ini rupanya
merupakan puteri kesayangan dari kedua
suami istri itu. Apabila dapat menawannya
mungkin dapat menekan ketua Lam-hay-bun
untuk membiarkan kita keluar. Asal sudah
berada diluar makam ini, kita tak perlu takut
kepadanya lagi.”
Dengan pemikiran itu, tiba2 ia loncat dan
secepat kilat menyambar lengan si dara dan
tangan kirinya segera menghantam.
Dengan gerakan itu jelas membuktikan betapa
kemajuan yang diperoleh dari pengalaman
selama ini. Di samping kepandaiannya maju
pesat, kecerdasannya menghadapi lawan pun
semakin bertambah banyak.
Seperti yang diduganya, memang pada saat
tubuhnya melambung di udara, wanita cantik
ibu si dara baju ungu itu segera gerakkan
tangan kanan menghantamnya.
Seutas sinar perak yang halus seperti rambut
segera meluncur ke arah Han Ping. Tetapi
karena anakmuda itu sebelumnya sudah
membarengi dengan sebuah pukulan, sarangan
sinar putih selembut rambut itupun dapat
dihalau.
Tetapi itu masih belum berarti bahwa Han
Ping sudah terlepas dari bahaya. Karena
setelah melepaskan senjata gelap, wanita
cantik itupun menyerempaki menyerbu.
Gerakannya memang cepat sekali tetapi Han
Ping tetap lebih cepat lagi. Dia sudah dapat
mencekal lengan si dara lalu ditariknya ke
muka.
Dengan menghadapi perisai itu, terpaksa
wanita cantik terkeiut. Cara ia mencondongkan
tubuh ke belakang agar gerakannya terhenti
lalu enjot kakinya mengantar sang tubuh
kembali ke tempat semula.
“Hmm, untuk sementara terpaksa aku harus
berlaku kurang ajar kepada nona,” bisik Han
Ping kepada si dara jelita.
Dara itu mendengus dingin, “Bagus, bagus
sekali ….”
Tampak ketua Lam-hay-bun berkilat-kilat
memandang Han Ping lalu berseru dengan
nada sedingin es, “Ji Han Ping. bukankah
engkau bermaksud hendak menekan aku
dengan jiwa puteriku itu?”
Jawab Han Ping, “Apabila dengan ilmusilat lo
cianpwe hendak membunuh semua tokoh2
dalam makam ini, dengan segala kerelaan dan
kekaguman, aku akan mempersilahkan locianpwe.
Tetapi apabila engkau mempersiapkan segala
macam alat rahasia….”
Ketua Lam-hay-bun tertawa gelak2, “Untuk
melampiaskan kedukaanku kehilangaan
seorang anak, kalian tentu akan kubasmi
habis- habisan!”
Han Ping termangu, serunya, “Apakah engkau
benar2 berhati batu!”
Tiba2 ia merasakan jari2 halus dari si dara
baju ungu itu menggurat pelahan pada siku
tangannya dan kemudian daraa itu melengking
merintih lalu jatuhkan kepalanya ke dada
Han Ping.
Kiranya setelah menguasai jalandarah tangan
dara itu, tiba2 Han Ping menyadari bahwa
perbuatan itu tak kayak dilakukan oleh
seorang ksatrya. Segera ia kendorkan
cengkeramannya. Di luar dugaan saat itu si
daralah yang memegang erat lengan Han
Ping.
“Hm, siapa yang berani melukai puteriku,
bukan saja tulang2 mayatnya akan kucincang,
pun seluruh keluarganya akan kubunuh
habis-habisan,” seru wanita cantik ibu si dara
baju ungu.
Tiba2 dara baju ungu itu berseru pelahan,
“Aduh. kemanjaan yang membikin aku
mati….”
Dia memang suka melakukan suatu gerak yang
aneh. Nada suaranya memang
merawankan hati sekali. Ketua Lam-hay-bun
memandang ke arah isterinya.
“Kalau tidak saat ini, tunggu kapan lagi
kita akan pergi?” tiba2 Ih Thian-heng berseru
lalu melangkah ke arah pintu.
Ong Kwan-tiong cepat memutar senjatanya dan
berseru, “Berhenti!”
Ih Thian-heng tersenyum, “Kalau kalian orang
Lam-hay-bun memang hendak menantang
bertempur, mari kita bertempur di luar
makam. Kita cari sebuah tempat yang lapang dan
mengadu ilmu kepandaian sampai ada yang
mati. jika kalian orang Lam-hay-bun benar2
mampu mengalahkan kaum persilatan
Tiong-goan, kalian tentu dapat menguasai dunia
persilatan Tiong-goan. Tetapi pertempuran
itu harus mengadu ilmu kepandaian yang
sesungguhnya, agar masing2 fihak merasa
puas!”
Seru Ong Kwan-tiong menyahut, “Kalau ingin
keluar dari makam ini, hanya ada dua
jalan. Bertempur dengan kepandaian atau
minta kepada suhuku….”
“Aku dan kawan2 akan memilih jalan kesatu,”
seru Ih Thian-heng terus gerakkan tangan
menghantam.
Ong Kwan-tiongpun cepat songsongkan
senjatanya untuk menusuk lengan Ih Thianheng.
“Kita sama2 menerjang!” Melihat itu Nyo
Bun-giaupun berseru marah dan terus
menghantam Ong Kwan-tiong dari samping.
Tetapi tiba2 ia merasa segelombang tenaga
kuat mendamparnya sehingga tenaga pukulan
dari Nyo Bun-giau itu terdorong ke samping.
Nyo Bun-giau berpaling dan melihat yang
melepas hantaman itu si Kate.
Melihat itu Ca Cu jingpun berseru keras
terus lontarkan sebuah pukulan Peh-poh-sin-kun
atau Pukulan-sakti-seratus-langkah.
Angin menderu-deru menghamburkan desis suara
tajam yang menusuk telinga. Memang
pukulan Seratus-langkah itu merupakan
pukulan yang diandalkan oleh Ca Cu jing.
Melihat itu si Bungkuk cepat menghantam
untuk menangkis pukulan Peh-poh-sin-kun
dari Ca Cu-jing itu.
JILID 9
Anak buah Lam-hay-bun telah mengambil posisi
yang rapi. Betapapun Ih Thian-heng dan
tokoh2 Tiong-goan itu melancarkan serangan
yang gencar dan melontarkan pukulan2
yang dahsyat namun orang2 Lam-hay-bun itu
selalu dapat menghindar ataupun
menangkis dan akhirnya menggagalkan serangan
lawan.
Saat itu suasana dalam ruangan berobah kacau
dan acak-acakan. Deru angin pukulan dan
lengking teriakan serta bentakan kemarahan
dan hawa pembunuhan, telah memenuhi
seluruh ruangan.
Pertempuran telah dimulai.
Tiba2 si dara baju ungu yang masih rebah di
dada Han Ping berbisik-bisik, “jangan
lepaskan aku. Ayah sudah mempersiapkan
rencana pembunuhan besar-besaran dalam
ruang itu. Sekalipun kepandaianmu sakti
tetapi tetap engkau tak dapat melawan. Adanya
mereka tak mau segera menjalankan alat
pembunuhan itu adalan karena ayah dan Ibu
masih saling bertengkar dan juga masih
menguatirkan keselamatan diriku.”
Mendengar itu Han Ping amat bersyukur,
sahutnya, “tetapi nona begini….”
“Sudahlah saat ini jangan engkau banyak
bicara,” cepat si dara baju ungu menukas.
“Kalau ayahku mengetahui engkau tak dapat
melukai aku, celakalah….”
Han Ping menghela napas panjang dan diam.
Tiba2 Pengemis sakti Cong To berteriak
keras, “Saudara2 sekalian, harap berhenti dulu.
Pengemis tua hendak bicara!”
Sekalian jago2 segera berhenti menyerang,
dan menyurut mundur.
Sejenak Cong To keliarkan mata memandang ke
segenap ruangan. Dilihatnya lelaki tua
baju biru atau ketua Lam-hay bun masih tetap
bersikap dingin terhadap isterinya, wanita
cantik berpakaian puteri keraton. Demikian
pula sikap wanita cantik itu terhadap ketua
Lam-hay-bun. Tampaknya kedua suami isteri
yang tak akur itu tak mempedulikan
suasana pertempuran disitu.
Melihat itu diam2 pengemis sakti menghela
napas, “Hai, kedua suami isteri itu benar2
manusia yang berhati dingin…. “
Kemudian Pengemis sakti berseru kepada
sekalian tokoh2 Tiong-goan, “Mereka sudah
mengatur kedudukannya dengan rapi, dapat
saling memberi bantuan. Apabila fihak kita
menyerang secara acak-acakan, bagaimana
mungkin bcrhasil membobolkan barisan
mereka?”
Sekalian tokoh itu adalah tokoh2 yang banyak
pengalaman dalam dunia persilatan.
Mendengar kata2 Cong To, segera mereka
menyadari kekeliruannya.
Memang anak buah Lam-hay-bun itu
mempersiapkan diri dalam tempat2 yang tepat.
Walaupun hanya Ong Kwan-tiong bertiga dengan
si Bungkuk dan si Kate, tetapi mereka
mampu menghadapi serangan dari tokoh ternama
seperti Ih Thian-heng, Ca Cu-jing, Nyo
Bun-giau, Ting Ko ketua Lembah raja-setan.
Kiranya rahasia dari pertahanan ketiga
anak-buah Lam-hay-bun itu tak lain ialah gerak
perubahan kedudukan mereka yang begitu
lancar dan rapi. Mereka dapat menggunakan
siasat ‘meminjam tenaga lawan untuk memukul
kembali’. Dengan demikian pukulan2
dari Ih Thian-heng dan tokoh2 lainnya itu,
dapat dimanfaatkan dan dikembalikan kepada
pengirimnya. Ketiga orang Lam-hay-bun itu
dapat bertahan betapapun lamanya.
Demikianlah dalam waktu singkat, Pengemis
sakti Cong To dapat mengetahui rahasia
kekuatan orang Lam-hay-bun, lalu berseru
menghentikan sekalian jago2 Tiong-goan.
Tiba2 wanita cantik tertawa dingin lalu
melangkah ke tempat Bwe Nio. Menepuk
beberapa jalandarah pada tubuhnya lalu
mengeluarkan sebutir pil diminumkan ke mulut
Bwe Nio.
Sesaat kemudian terdengar nenek Bwe itu
mengerang pelahan lalu pelahan-lahan duduk.
“Terima kasih cu-bo,” serunya pelahan kepada
wanita cantik itu.
Sahut wanita cantik itu dengan dingin,
“Sejak aku meninggalkan pulau Lam-hay Toto,
telah banyak menerima perawatanmu.
Pertolonganku anggaplah sebagai pembalasan
jasamu melayani Toto sampai sekian tahun
itu.”
“Ah, mana hamba berani menuntut jasa?” kata
nenek Bwe, “nona, memiliki kecerdasan
luar biasa dan hamba selama mengikutinya
banyak sekali mendapat manfaat….”
“Sudah, jangan banyak omong tak karuan,”
tukas si wanita cantik lalu berpaling
memandang si dara baju ungu, “Toto, ibu
hendak pergi, apakah engkau hendak ikut aku?
Ataukah engkau akan tinggal disini?”
Tiba2 dara baju ungu itu menjerit, “Aduh….
tulang lenganku hampir pecah, sakit sekali!”
Wanita cantik itu kerutkan dahi dan wajahnya
pun segera menampilkan hawa
pembunuhan. Dengan tenang ia segera
melangkah ke tempat Han Ping, tegurnya dengan
nada dingin, “Kalau engkau berani melukai
puteriku, jangan harap engkau mampu hidup.
Lekas lepaskan Toto!”
Jawab Han Ping, “Asal engkau memberi
perintah supaya orang2 itu membuka jalan, aku
tentu akan melepaskannya….”
Dan Han Ping lalu menutup kata-katanya
dengan melekatkan pedang Penmutus asmara
ke leher si dara jelita, serunya, “Apabila
nyonya menggerakkan tangan, puterimu terpaksa
tentu menjadi mayat.”
Mendengar ancaman itu seketika menyurutlah
hawa pembunuhan pada wajah si wanita
cantik. Kini wajahnya bertebar keramahan dan
matanya pun tampak berlinang-linang.
Wajahnya berseri keibuan yang penuh kasih
sayang terhadap puterinya.
Sesaat kemudian ia berpaling dan berseru
kapada Ong Kwan-tiong. “Kalian
menyingkirlah ke samping buka pintu dan
lepaskan mereka!”
Ong Kwan-tiong terkesiap, serunya
tersekat-sekat, “Ini, ini….”
“Kalian mendengar perintahku atau tidak?”
seru wanita cantik itu dengan murka.
Ong Kwan-tiong serentak memberi hormat,
serunya, “Ya, murid mendengar.”
“Kalau mendengar mengapa masih tak mau
menyingkir ke samping,” seru wanita cantik
pula.
“Suhu menitahkan murid menjaga tempat
sekuat-kuatnya,” jawab Ong Kwan-tiong, “tak
boleh seorangpun melintasinya!”
Wanita cantik itu tertawa dingin, “Baik!
Omonganku tadi seperti dianggap angin saja!
Hm, dia hendak mempergunakan makam ini
sebagai tempat menyembunyikan alat2
rahasia dan benda2 beracun. Dia hendak
membasmi seluruh tokoh2 persilatan Tionggoan.
Untuk melaksanakan citacitanya itu, dia tak
mempedulikan lagi jiwa anaknya.
Tetapi aku takkan membiarkan dia bertindak
begitu….”
Wanita cantik itu melangkah ke arah Ong
Kwan-tiong dan melepaskan sebuah hantaman.
Ong Kwan-tiong tak berani menangkis, juga
tak berani menghindar. Dia hanya berdiri
menunggu ajal.
Tiba2 ketua Lam-hay-bun lepaskan sebuah
pukulan jarak jauh Biat-gong-ciang untuk
menghalau pukulan isterinya.
“Kalian menyingkirlah!” serunya kepada Ong
Kwan-tiong.
Ong Kwan-tiong menurut, ia menyurut mundur
ke samping. Melihat itu si Bungkuk dan
si Kate pun ikut mundur ke samping dan
membuka sebuah jalan.
Wanita cantik tertawa dingin, serunya, “Buka
Pintu dan lepaskan mereka keluar!”
Ong Kwan-tiong terkesiap. Tak tahu ia
bagaimana harus bertindak.
Tiba2 ketua Law-hay-bun maju menghampiri dan
berkata, “Betapa susah payah
kubangun makam tua ini. Kalau sekarang
hendak engkau kacau, bukankah akan sia2
belaka segala jerih payahku itu….”
Sahut wanita cantik, “Kalau engkau memang
mempunyai kesaktian, mengapa engkau tak
menantang mereka untuk adu kepandaian?
Dengan mengandalkan perkakas2 rahasia
dalam makam ini untuk mencelakai orang,
bukanlah laku seorang ksatrya!”
“Apa pedulimu!” teriak ketua Lam-hay-bun
dengan murka, “siapa suruh Engkau ikut
campur?”
Tetapi wanita cantik itu tak gentar, bahkan
malah menantang, “Kalau aku senang ikut
campur, engkau mau apa?”
“Yah…. mah….,! Aduh aku sakit sekali ini!”
tiba2 dara baju ungu berteriak.
Ketua Lam-hay-bun tergetar hatinya. Ia
berpaling ke arah puterinya lalu tertawa keras,
“Ah…. ternyata Thian tak mengabulkan
kehendakku. Hm, apa boleh buat.”
Tiba2 ia menampar dinding dengan tangan.
Dinding batu yang licin itu seketika merekah
sebuah pintu.
Wanita cantik berpaling dan berkata dingin2
kepada Han Ping, “Pintu sudah terbuka.
Seharusnya engkau lepaskan dia!”
Han Ping keliarkan pandang. Dilihatnya mata
sekalian tokoh2 Tiong-goan itu mencurah
kepadanya dengan sikap yang tegang.
Karena melihat Han Ping masih ragu2, ketua
Lam-hay- bun marah dan membentaknya.
“Nanti mayatmu tentu akan kucincang sampai
hancur lebur agar kebencian hatiku bisa
terlampias.”
Rupanya wanita cantik itu memang sengaja
hendak cari perkara dengan suaminya. Ia
tertawa mencemooh, “Rupanya dia telah
mewarisi kepandaian dari Hui Gong taysu.
Mungkin engkau tak mampu mengalahkannya.”
Seketika berobah pucat pasilah wajah ketua
Lam hay bun. Ucapan isterinya benar2
menyinggung hatinya.
Han Ping menghela napas panjang, serunya,
“Lo-cianpwe berdua, harap suka memberi
jalan agar mereka yang terluka dapat keluar
dari sini. Aku tetap akan tinggal disini. Asal
sekalian orang yang menderita luka itu sudah
keluar semua, aku pasti akan melepaskan
puterimu.”
Ketua Lam-hay-bun saling bertukar pandang
dengari isterinya. Kemudian keduanyapun
masing2 mundur selangkah.
“Silakan para suhu sekalian keluar dahulu,”
seru Han Ping kepada golongan paderi Siaulim-
si.
Rombongan paderi Sian-lim-si itu memandang
Han Ping lalu memanggul jenazah Goanthong
dan Hui Ko, kemudian mengangkut Hui In taysu
dan keluar dari ruangan itu.
Tiba2 terlintas sesuatu dalam benak Han-Ping
cepat ia, berseru, “Suhu sekalian, harap
berhenti dahulu.”
Rombongan paderi itu tertegun dan hentikan
langkah.
Han Ping segera maju menghampiri. Diam2 ia
kerahkan tenaga-murni dan beberapa kali
menutuk jalandarah di tubuh Hui In taysu.
Kemudian mempersilahkan para paderi itu
lanjutkan keluar.
Para paderi menyambut dengan doa, pelahan
lalu melangkah keluar.
Sejenak keliarkan pandang, berkata pula Han
Ping dengan pelahan, “Siangkwan pohcu,
Ting koh-cu berdua, menderita luka parah.
Harap lekas2 berobat. Mungkin masih dapat
tertolong. Maka silahkan keluar lebih
dahulu.”
Mendengar itu Ting Ko lalu memanggul Ting
Ling melangkah keluar. Pun Siangkwan
Ko juga segera memimpin tangan Siangkwan
Wan-ceng, mengikuti di belakang Ting Ko.
Sikap dan keberanian Han Ping menghadapi
maut bagai suatu hal yang tak mengerikan,
benar2 telah membuat sekalian tokoh2
Tiong-goan kagum dan secara, tak sadar mereka
menganggap pemuda itu sebagai pemimpin
mereka.
Ketua Lam-hay-bun dan wanita cantik ternyata
tak berbuat apa2. Mereka membiarkan
saja orang2 itu keluar dari makam.
Tiba2 ketua Lembah-seribu-racun pesatkan
langkah dan terus menerobos keluar dari
pintu batu itu.
Han Ping kerutkan alis. membentaknya
perlahan, “Lo-cianpwe, nanti dulu, giliran yang
belakang.”
Saat itu ketua Lembah-seribu-racun sudah
hampir dekat pada pintu batu. Ia berhenti
mendengar suara Han Ping lalu balas
membentak, “Mengapa?”
Kata Han Ping, “Cara lo-cianpwe bergerak mau
menyelamatkan jiwa terlalu terburu-buru
….”
Betapapun halnya tetapi ketua Lembah
seribu-racun itu merah juga mukanya mendengar
kata2 Han Ping. Sahutnya, “Lambat atau cepat
toh sama saja!”
Sesungguhnya yang ingin lekas2 keluar dari
tempat itu bukan melainkan hanya Leng
Kong-siau. ketua Lembah seribu-racun itu
seorang. Nyo Ban-giau, Ca Cu-jing dan lain2
juga ingin sekali. Hanya saja mereka tak mau
bergerak seperti ketua Lembah-seriburacun
yang begitu tergopoh-gopoh itu.
Ternyata selain sayang akan jiwanya, pun
orang2 itu memang mengandung pikiran untuk
keuntungan diri sendiri. Mereka mengharapkan
supaya lekas keluar baru ketua Lam-haybun
itu gerakkan alat perkakas rahasia agar
semua orang yang masih berada dalam
makam itu tertimbun mati semua. Tambah
seorang yang mati dalam makam itu, bagi
yang masih hidup berarti suatu keringanan
karena berkurang seorang musuh yang kuat.
Ketua Lam hay-bun itu dingin2 saja melihat
Han Ping laksana seorang laksamana yang
memberi perintah kepada anak buahnya.
Demikian pula dengan wanita cantik, ibu si dara
baju ungu. Rupanya kedua suami isteri itu
terpaksa harus mengalah demi memikirkan
keselamatan puterinya yang ditawan Han Ping.
Suasana dalam ruangan sunyi senyap. Tampak
Han Ping tengah merenung dan entah apa
yang sedang dipikirkan.
Pengemis-sakti Cong To batuk2 pelahan
sehingga kesunyian terpecah. Kemudian
berkata, “Saudara, apa yang engkau
pikirkan?” tegurnya kepada Han Ping.
“Aku tengah berpikir apakah kita perlu
tinggal disini atau tidak, untuk menyelesaikan
pertempuran dengan pihak Lam hay-bun. Memang
kemungkinan kita bisa keluar dari
tempat ini dengan selamat, tetapi rasanya
persoalan takkan habis sampai disitu saja.
Dunia persilatan tentu masih bergolak-golak
dan kacau. Entah kelak akan membawa
berapa banyak korban yang tak berdosa lagi.
Daripada hal itu terjadi besok, lebih baik
kita selesaikan sekarang saja. Biar mati
atau hidup, tetapi hanya kita beberapa orang ini
saja. Tak sampai menyeret lain2 orang yang
tak sedikit jumlahnya!”
Cong To tertawa gelak2, serunya, “Benar,
soal itu aku sendiripun sampai tak dapat
memikir jauh.”
Nyo Bun-giau tiba2 menyelutuk, “Kalau
saudara Ji memang bermaksud begitu, kiranya
tak perlu tadi saudara melepas Siangkwan Ko
dan Ting Ko keluar. Bukan saja kekuatan
kita akan berkurang, pun dengan bebasnya
kedua orang itu, dunia persilatan tentu tak
mungkin akan aman.”
Jawab Han Ping, “Kedua orang itu sudah tua
dan menderita kemalangan nasib karena
puterinya meninggal dan terluka. Kiranya
pelajaran itu cukup mahal. Tetapi kalau
memang tak sadar dan tetap berkecimpung
dalam kancah dunia persilatan untuk
memburu nama mereka pasti akan menderita
kekecewaan ….”
Tiba2 Ca Cu-jing menyelutuk, “Kami ayah dan
anak, kalau harus mati semua dalam
ruang ini, bukankah terlalu penasaran
sekali….” sejenak ia berhenti lalu berkata pula,
“Anakku, engkau juga harus tinggalkan tempat
ini.”
Tetapi Ca Giok menolak, “Tidak yah, aku akan
menemani ayah disini….”
Ca Cu-jing membentak marah, “Mau tinggal
disini agar ayahmu menderita kedukaan?
Lekas pergilah!”
Wut, ia lepaskan sebuah hantaman.
Ca Giok tak berani menangkis. Ia miringkan
bahu ke samping untuk menerimanya.
Seketika ia rasakan sebuah arus tenaga
dahsyat melanda sehingga tubuhnya terdorong
mundur beberapa langkah dan tepat tiba di
samping pintu batu.
Ca Cu jing cepat menyusuli sebuah hantaman
lagi kepada sang putera sehingga Ca
Giokpun terdorong keluar dari pintu.
Tiba2 Han Ping menengadahkan kepala dan
bersuit nyaring. Ia lepaskan diri dari si dara
baju ungu lalu dengan mata berkilat-kilat
dan tangan kanan mencekal pedang Pemutus
asmara, ia menjura di hadapan ketua Lam-hay
bun.
“Lo-cianpwe. aku….”
Ketua Lam hay-bun mendengus dingin, “Apakah
engkau hendak menguji aku dengan
pukulan?”
Sahut Han Ping tegas2, “Silahkan lo-cianpwe
memberi perintah untuk menutup pintu
batu dan siapkanlah barisan. Akulah yang
pertama ingin mencoba kehebatan dari
ilmusilat Lam-hay-bun.”
Kiranya pada saat itu benak Han Ping
membayangkan ketika Hui Gong taysu tengah
menurunkan pelajaran kepadanya. Walaupun
secara resmi dia bukan murid dari Hui
Gong taysu, tetapi ia telah menerima
pelajaran dari tokoh Siau-lim itu. Ia harus
mencurahkan segenap tenaga untuk menjaga
keharuman nama Hui Gong taysu sebagai
bintang cemerlang dalam angkasa persilatan.
Pikiran aneh dalam hati Han Ping itu, tiada
seorangpun yang dapat menduga. Bahkan Ih
Thian-heng yang cerdik, juga tak mengerti.
Sesaat Ih Thian-heng hanya tegak
termangu-mangu memandang wajah Han Ping.
Beberapa jenak kemudian baru ia berkata
pelahan-lahan, “Apakah saudara Ji hendak adu
kepandaian di dalam ruangan ini?”
Han Ping menyahut dengan nada bersungguh2,
“Walaupun dalam ruang ini terdapat
barisan gelap, tetapi kupercaya, Lam-hay
Sin-siu lo-cianpwe pasti takkan
menggerakkannya.”
Ketua Lam-hay-bun tertegun, serunya, “Apakah
di antara kalian ada yang layak menjadi
lawanku?”
“Lo-cianpwe hanya karena mendendam kepada
Hui Gong taysu maka dengan jerih payah
membangun triaLtien tua ini dan
memperlengkapinya dengan segala bermacam alat2
rahasia untuk membunuhi kaum persilatan
dunia Tiong-goan,” kata Han Ping, “tujuan locianpwe
tak lain yalah karena hendak merebut kembali
kehilangan muka dari Hui Gong
taysu. Padahal peristiwa lo-cianpwe
dikalahkan Hui Gong taysu, kaum persilatan Tionggoan
hanya sedikit sekali orang yang tahu.
Apalagi kini Hui Gong taysu sudah meninggal
dunia.”
Berhenti sejenak, Han Ping melanjutkan pula,
“Seorang lelaki, masakan takut
menghadapi kematian? Walaupun tahu bahwa
diriku bukan lawan yang layak dari locianpwe.
tetapi aku ingin sekali menyerahkan jiwaku
untuk menerima pelajaran ilmu
kesaktian dari lo-cianpwe. Kalau aku sampai
terluka di tangan lo-cianpwe, mungkin
dendam kemarahan Lo-cianpwe itu tentu akan
mereda. Tetapi kalau aku beruntung dapat
mengalahkan lo-cianpwe, kuharap lo-cianpwe
benar2 rela mengaku kalah kepada Hui
Gong taysu.”
Seketika wajah ketua Lam-hay bun berubah
gelap. Pelahan-lahan ia maju tiga langkah,
serunya: Hendak kuuji dulu sampai pada
tataran manakah Ilmu Pedang terbang yang
engkau yakinkan itu?”
Diam2 Han Ping memang sudah kerahkan
tenaga-murni. Pedang Pemutus asmara
pelahan-lahan digerakkan dalam bentuk
setengah lingkaran di muka dadanya. Kemudian
berkata dengan serius. “Silahkan
lo-cianpwe!”
“Aku akan mengalah sebanyak tiga jurus,”
kata ketua Lam-hay-bun.
“Kalau lo-ciaupwe hendak mengalah, kurasa
satu jurus saja sudah cukup,” seru Han Ping
seraya ajukan tangan melmutar pedang pusaka
menjadi tiga kelompok sinar yang
sekaligus menyerang pada tiga buah
jalandarah di tubuh ketua Lam-hay-bun.
Tampak ketua Lam Hay-bun gatarkan bahu
kanannya. Tanpa berkisar kaki dan
meliukkan lutut ia menghindari serangan itu.
Han Ping menarik pulang pedang, serunya,
“Harap lo-cianpwe suka turun tangan!”-ia
terus loncat maju. Pedang Pemutus-asmara
berkiblat-kiblat memancarkan lingkaran Sinar
bergulung2 bagai ombak mendampar.
Ih Thian-heng yang menyaksikan dari samping
diam2 merasa bahwa ilmupedang
anakmuda itu dalam waktu yang singkat telah
mencapai kemajuan besar.
Rupanya ketua Lam-hay-bun tetap pegang
gengsi. Dia tak mau menggunakan senjata dan
melainkan menggunakan sepasang tangan untuk
menghadapi serangan Han Ping. Tetapi
gerakan tangannya memang amat aneh sekali.
Benar2 suatu ilmu silat yang jarang
terdapat di dunia persilatan.
Ujung jarinya selalu mengarah untuk menusuk
ke jalandarah lengan Han Ping sehingga
anak-muda itu terpaksa tiap kali harus
hentikan serangan pedangnya di tengah jalan.
Sepintas pandang tampak pedang Han Ping itu
menyambar bagai bianglala. Dan
sambarannya pun sedahsyat gelombang
mendampar. Tetapi sesungguhnya, dia harus
bertempur dengan susah payah sekali. tangan
ketua Lam hay- bun itu seperti ular yang
selalu membayangi kemana pemuda itu
bergerak.
Pertempuran yang seru dan dahsyat itu
membuat sekalian tokoh yang menyaksikan sama
membelalakkan mata lebar2. Mereka seperti
kena pesona. Perhatian dan mata tokoh2 itu
mencurah lekas pada gerak gerik kedua orang
yang sedang bertempur. Kerut wajah
merekapun berobah-obah tenang tenang
menurutkan perobahan2 yang terjadi pada jurus2
pertempuran.
Menyaksikan adegan itu, tiba2 darah si dara
baju ungu meluap ke atas kepala, Kepalanya
pusing dan rubuhlah ia ke tanah.
Untunglah si wanita cantik tahu dan cepat2
menyambar tubuh puterinya itu lalu dipeluk.
“To-ji, to-ji….”
Dalam beberapa waktu yang singkat itu
berulang kali si dara baju ungu telah menderita
keguncangan perasaan hatinya. Dia memang
seorang dara yang bertubuh lemah sehingga
mudah pingsan.
Melihat Han Ping bertempur sedemikian
dahsyatnya dengan ketua Lam hay-bun, dara
baju ungu itu menjadi tenang sekali. Yang
satu adalah ayah kandungnya. Dan yang satu
adalah pemuda yang amat dicintainya. Siapa
pun diantara kedua orang itu yang akan
rubuh, tentu akan membuat hati si dara
menderita sekali.
Melihat ayahnya dan Han Ping bertempur makin
lama makin hebat, hati dara baju ungu
itupun ikut meningkat ketegangannya. Darah
meluap dan akhirnya rubuhlah ia tak ingat
diri….
Mendengar isterinya berseru memanggil
puterinya, ketua Lam-hay-bun tanpa sadar
memalingkan muka sehingga perhatiannya
lengah. Kesempatan itu telah diisi Han Ping
dengan Dua buah tahasan telah menutup
serangan jari ketua Lam- hay bun itu. Dan
kemudian Han Ping menyusuli dengan
menamparkan tangan kiri dalam jurus Tengahmalam-
memukul-lonceng ke arah bahu kanan lawan.
Ketua Lam-hay-bun hanya memperhatikan
serangan pedang Han Ping. Sama sekati ia tak
menduga akan menerima pukulan dari anakmuda
itu. Kalau ia menghindar, tentu harus
loncat mundur. Dan gerakan itu pasti akan
dikuasai oleh Han Ping lagi.
Maka ketua Lam hay-bun itu memutuskan. Ia
mendengus dingin lalu songsongkan
bahunya ke arah tangan Han Ping.
Dukk…. pukulau Han Ping tepat bersarang pada
bahu kanan ketua Lam-hay-bun. Tetapi
Han Pingpun menderita, kerugian. Ternyata
dalam mengorbankan bahunya itu, ketua
Lam-hay-bunpun dengan suatu gerakan jari
yang luar biasa anehnya telah berhasil
menutuk siku lengan Han Ping sehingga pedang
Pemutus-asmara tak kuasa dicekalnya
tagi. Tring…. pedang pusaka itu jatuh ke
tanah.
Tetapi Han Ping tak mau menyerah begitu
saja. Serentak ia tendangkau kakinya dan
tangan kirinya balas menutuk.
Cara yang dilakukan Han Ping itu adalah cara
adu jiwa. Dia sudah tak menghiraukan lagi
apakah pertahanan dirinya terbuka atau
tidak. Pokoknya serangan itu harus mengenai
lawan.
Sekalian tokoh heran melihatnya. Mereka
benar2 tak menyangka Han Ping berbuat begitu
nekad. Diam2 mereka menilai, “Hm. ketua Lam
hay- bun ini mempunyai kesempatan
yang lebih besar. Asal dia menyerang ke
sebelah kanan tentulah dapat melukai Han Ping.
Aneh, mengapa dia malah menyurut mundur
dengan mendadak?”
Tiba2 terdengar ketua Lam-hay-bun itu
mendengus dingin. serunya, “Dahulu aku kalah
dengan Hui Gong taysu karena menghadapi
jurus ini. Berpuluh tahun kemudian engkau
hendak mengulang lagi adegan itu, Hm,
masakan aku akan dapat terjebak lagi?”
Siku lengannya terkena tutukan, walaupun tak
sampai mengenai jalandarahnya tetapi Han
Ping rasakan seluruh lengannya kesemutan dan
lunglai. Ternyata ujung Jari ketua Lam
hay bun itu mengandung tenaga yang Luar
biasa kuatnya.
Waktu ketua Lam-hay-bun menyurut mundur,
diam2 Han Ping menggunakan
kesempatan itu untuk menyalurkan darahnya.
Kemudian bersiap-siap lagi untuk
menghadapi lawan. Maka apa yang dikatakan
ketua Lam-hay-bun itu, ia seolah-olah tak
mendengarkan.
Ih Thian-heng berpaling ke arah Pengemis
sakti Cong To dan berkata, “Saudara Cong,
jurus yang dimainkan saudara Han Ping itu
sungguh tak dapat kuketahui
keistimewaannya?”
Cong To tertawa, “Apakah engkau hendak minta
penjelasan dari pengemis tua ini?”
“Ya, aku ingin sekali mendengar keterangan
tentang hal itu.”
Cong To tertawa, “Jurus yang dimainkan
dengan tangan dan kaki itu, sebuah ilmu yang
mempunyai nama besar.”
“Apakah mama jurus itu?” tanya Ih Thianheng.
“Itulah yang disebut jurus
Lengan-satu-kaki-pincang-memukul-anjing ….”
“Ah, nama itu kurang sedap didengar,” kata
Ih Thian-heng.
Cong To tertawa gelak2, serunya, “Kalau
hanya ingin mendengar yang bagus2 saja,
jangan tanya kepada pengemis tua.”
Ih Thian-heng tersenyum, katanya, “Bersuit
bangga di tengah hutan, bicara dengan
tertawa-tawa dalam saat diancam kematian.
Sikap yang perwira dan saudara Cong itu,
sungguh membuat aku kagum.”
Tampak Han Ping mengulurkan tangan menjemput
pedang Pemutus-asmara di tanah.
Setelah dimainkan sejenak lalu diserangkan
kepada ketua Lam-hay-bun.
Tampak wajah Pengemis-sakti Cong To
tertawa-tawa tetapi sesungguhnya dalam hati
pengemis itu merasa heran juga melihat gerak
gerik Han Ping. Diam2 ia mencurahkan
segenap perhatiannya kepada anakmuda itu.
Dilihatnya wajah Han Ping tampak muram,
sepasang matanya pun agak redup tak bersinar
dan membelalak lebar2.
“Eh, mengapakah anak itu?” diam2 Cong To
terkejut dalam hati.
Rupanya Ih Thian-hengpun mengetahui juga
tentang sikap yang tak wajar dari Han Ping.
segera ia bertanya kepada pengemis sakti,
“Saudara Cong, rupanya ada sesuatu yang tak
wajar pada diri saudara Han Ping.”
Cong To batuk2, sahutnya, “Baik, pengemis
tua akan menariknya mundur.”
“Engkau seorang tentu bukan tandingannya,”
kata Ih Thian-heng, “kalau mau maju
baiklah kita bersama-sama. Walaupun sebelah
lenganku sudah lumpuh tetapi saat ini
tenagaku sudah pulih kembali.”
Tampak gerakan kaki Han Ping meluncur deras
seperti air mengalir dan sambaran
pedangnya pun sederas sungai bengawan.
Gerakannya aneh dan jurus2 permainannya
luar biasa, gerak perobahannya selalu
berobah-robah tak pernah berhenti. Memang
permainan anakmuda itu cepat dan tangkas
sekali, tetapi gaya serangannya tampak
ngawur tiada menentu sasarannya….
Cong To dan Ih Thian-heng diam2 siapkan
diri. Tetapi sampai sekian saat belum juga
mereka melihat kesempatan untuk turun
tangan.
Sekalian tokoh2 lain makin menggelora
semangatnya. Mereka menyaksikan pertempuran
itu dengan menahan napas.
Tiba2 Han Ping lempangkan pedang lurus ke
muka. Tangan kiripun melepas hantaman.
Seketika wajah ketua Lam-hay-bun berobah. Ia
meliukkan jari dan menjentikkannya.
Serentak mendesislah sedesir suara tajam ke
arah jalandarah lengan kiri Han Ping.
Han Pingpun cepat mengendapkan tubuh ke
bawah lalu lontarkan pedang Pemutus
asmara.
Sepercik sinar biru melayang dan
berputar-putar di udara. Sekali Han Ping melingkarkan
tangan kirinya, terus menghantam.
Ketua Lam- hay-bun memutar lengannya untuk
menymnbut. Tetapi sekonyong-konyong
Han Ping bersuit panjang lalu tangan
kanannya serentak menyambar pedang pusaka itu
dan diputarnya kencang2.
Sekalian tokoh2 makin melekat perhatiannya.
Dilihatnya setiap kali Han Ping memutar
pedang itu sampai satu lingkaran, sinar biru
pedang itu pun makin bertambah panjang.
Tokoh2 itu menyadari apa artinya itu tetapi
tak mengerti bagaimana hal itu dapat terjadi.
Sinar biru pedang Pemutus asmara itu, makin
lama makin membesar dan dalam waktu
beberapa jenak kemudian hampir mencapai
semeter panjangnya. Dan Han Pingpun
seolah olah lenyap ditelan sinar biru itu.
Tiba2 si dara baju ungu bertanya dengan
bisik2, “Apakah itu yang disebut ilmu pedang
tataran tinggi?”
Belum sempat ibunya atau si wanita cantik
berpakaian seperti puteri keraton menjawag,
tiba2 sinar pedang berobah memanjang seperti
sebuah bianglala yang mencurah ke arah
ketua Lam-hay-bun.
Tetapi rupanya ketua Lam-hay-bun itu sudah
bersiap lebih dulu. Kedua tangannya yang
menjulur lurus di muka dadanya, tiba2
didorongkan. Sebuah gelombang tenaga-dalam
yang dahsyat segera melanda ke arah sinar
pelangi biru itu.
Rupanya pelangi terbang itu seperti tertahan
oleh gelombang tenaga dalam dari ketua
Lam-hay-bun. Sinar biru itu segera
melingkar-lingkar mengitari tubuh ketua Lam hay
bun.
Ketua Lam-hay-bun tak henti-hentinya
menghantam dengan tenaga dalam tetapi tetap tak
mampu menghalau sinar pedang yang melingkari
dirinya.
Kira2 sepeminum teh lamanya, muka ketua
Lam-hay-bun mulat bercucuran keringat. Dan
sinar pedang itu bahkan makin lama makin
dekat kepada dirinya. Pada lain saat, tiba2
sinar biru itu menembus, memecah dinding
tenaga-dalam dari ketua Lam-hay-bun dan
langsung menyusup ke arah dadanya.
Melihat itu tanpa disadari, menjeritlah si
dara baju ungu, “Han Ping. jangan melukai
ayahku!”
Serentak sinar pedang pun lenyap dan
tampaklah pula tubuh Han Ping. Sebelum orang
tahu apa yang telah terjadi, tiba2 terdengar
sebuah bentakan keras dan sesosok tubuh
terhuyung rubuh.
“Han Ping!” Pengemis-sakti Cong To menjerit
keras dan terus menyanggapi tubuh itu.
Saat itu si dara baju ungupun lari melihat
apa yang terjadi, ia serentak berhenti dan
membentak dingin, “Yah, engkau melukai dia!”
“Aku tak keburu menarik pulang tanganku,”
sahut ketua Lam-hay-bun dengan tegang.
“Kalau aku tak menyerukan supaya dia
hentikan serangannya kepadamu?” seru si dara
pula.
Seketika pucatlah wajah ketua Lam hay-bun
itu, sahutnya, “Ayahmu tentu akan binasa di
bawah pedang Pemutus-asmara yang tiada
tandingnya di dalam dunia ini!”
“Ayah!” menjerit si dara baju ungu, “dengan
begitu engkau memperoleh kemenangan
karena aku menyuruhnya berhenti tadi?”
Ketua Lam hay-bun tak dapat menjawab.
Berkata pula si dara baju ungu dengan tajam,
“Mamaku telah membenci engkau seumur
hidup Aku sebagai seorang anak, tentu tak
dapat ikut-ikutan membencimu mati-matian.
Tetapi aku ingin agar engkau merasakan
betapa kesedihan hati seorang tua yang
kehilangan puterinya….”
Habis berkata dara baju ungu itu terus
berlari menghampiri ke tempat Han Ping.
Tampak ketua Lam-hay-bun tegang sekali
hatinya. Sejenak ia berpaling memandang
kearah wanita cantik atau isterinya.
Wanita cantik berpakaian seperti puteri
keraton itu hanya mengunjuk wajah dingin. Jelas
ia tak mau mencegah kehendak puterinya.
Dalam suasana yang berkabut dengan hawa
pembunuhan tercampur dengan rasa kasih
sayang antara orangtua dengan anaknya.
ditambah pula dengan getar2 asmara murni dari
sepasang muda mudi, Berhamburan mencekam
suasana.
Perlahan-lahan terlihat jelas, kabut hawa
pembunuhan itu mulai menipis dan lenyap.
Ih Thian-heng menghela napas.
“Saudara Cong,” serunya kepada
Pengemis-sakti Cong To,” bagaimana keadaan luka
saudara Han Ping?”
“Jalandarah jantungnya sudah berhenti, pusat
sumber jiwanya sudah kosong. Rasanya
sukar ditolong lagi.
Tiba2 dara baju ungu menangis keras.
“Bagus, bagus! Engkau mati dengan bagus
sekali!” serunya.
Mendengar itu Pengemis-sakti Cong To marah,
serunya, “Jika engkau tidak
memanggilnya-tentulah batang kepala ayahmu
itu sudah menggelinding di tanah. Dalam
detik2 menghadapi pertempuran maut, dia
tetap mencurahkan kasihnya kepadamu. Tetapi
mengapa engkau berbalik malah gembira sekali
melihat kematiannya, Hm, manusia liar
yang tak beradab, ternyata memang tak
mempunyai rasa budi kecintaan sama sekali.”
Ih Thian-hengpun marah. la tak tahan lagi
melihat peristiwa itu. Sekonyong-konyong ia
gerakkan lengan kanannya dan berseru,
“Keadilan hari ini, terpaksa memang harus
demikian. Hancurkan dulu mana yang dapat
dihancurkan, setiap kesempatan harus diisi
dengan kemenangan!”
Ca Cu jingpun tak mau banyak pikir lagi. ia
menjemput jarum Hong-wi-ciam yang
beracun, terus ditaburkan ke arah ketua
Lam-hay-bun juga.
Ketua Lam-hay-bun kebutkan lengan bajunya.
Serangkum tenaga dahsyat segera
menyapu jarum2 Hong-wi-ciam itu sehingga
berjatuhan ke tanah.
Kemudian ketua Lam-hay bun itupun gerakkan
tangan kanan untuk menangkis pukulan
Ih Thian-heng.
Seketika Ih Thian-heng segera rasakan
segelombang tenaga-dalam mengembalikan
tenaga dari pukulannya. Sedemikian hebat
tenaga- membalik itu sehingga Ih Thian-heng
rasakan jantungnya berdebar keras.
Ca Cu-jing masih penasaran. Segera ia
lepaskan sebuah pukulan Peh- poh-sin ciang atau
Pukulan-sakti-seratus-langkah ke arah ketua
Lam-hay-bun. Tetapi murid pertama dari
Lam-hay-bun ialah Ong Kwan-tiong cepat maju
menyongsongnya.
Si Bungkuk, si Kate dan Kaki-buntung baju
merahpun segera mainkan senjatanya maju
menyerang dan menyambut serangan orang
Tiong-goan.
Seketika pecahlah pertempuran hebat antara
orang Lam-hay-bun lawan tokoh2 persilatan
Tiong-goan.
“Berhenti!” tiba2 ketua Lam-hay-bun
membentak, “aku hendak bicara!”
Kedua belah fihak segera berhenti dan tegak
mendengarkan.
Tampak ketua Lam-hay-bun mengusap jenggotnya
yang panjang dan berkata, “Kutahu
dalam dunia persilatan ini hanya aku dan Hui
Gong taysu yang pantas menjadi lawan.
Tetapi dia pun belum tentu dapat meugalahkan
aku. Hanya dia ternyata dapat
memenangkan setengah jurus dari aku. Sejak
itu aku selalu mendendam dalam hati, Siang
malam aku memikirkan daya dan rencana
bagaimana dapat berjumpa lagi dengan dia dan
mengadu kepandaian. Tetapi sayang dia sudah
dipenjarakan oleh ketua Siau-lim-si dan
tak dapat keluar ke dunia persilatan lagi.
Dia berhenti sejenak lalu berkata pula,
“Beberapa tahun kemudian, aku pernah datang ke
gereja Siau-lim-si untuk mencarinya. Malam
hari aku menyelundup masuk ke dalam
penjara gereja Siau-lim dan menantang
bertempur lagi dengan taruhan pedang Pemutusasmara.
Siapa yang menang boleh mengambil pedang….”
Tiba2 ketua Lam-hay-bun itu hentikan
kata-katanya dan berpaling memandang ke arah
wanita cantik lalu menghela napas.
“Soal urusan peribadi kami, aku tak dapat
mengumumkan kepada dunia. Maka baiklah
kalian jangan menanyakan hal itu,” katanya
sesaat kemudian.
Tiba2 wanita cantik berpakaian seperti
puteri keraton itu menghela napas panjang dan
tundukkau kepala berdiam diri.
Saat itu Pengemis saktipun sudah letakkan
tubuh Han Ping dan siap2 hendak turun
tangan. Mendengar penuturan itu, ia segera
menyelutuk pertanyaan, “Lalu bagaimana
kelanjutan peristiwa itu?”
Kata ketua Lam hay-bun, “Setelah mendengar
tantanganku sampai tiga kali barulah Hui
Gong taysu keluar meluluskan. Di dalam ruang
tempat dia dipenjarakan itulah Aku dan
Hui Gong melangsungkan pertempuran adu
tenaga-sakti…. .”
Tiba2 nada suaranya berobah pelahan,
katanya, “Setengah malam bertempur mati-matian,
aku tetap kalah dengan dia….”
Suaranya makin lama makin pelahan sehingga
tak kedengaran lagi.
Pengemis-sakti Cong To mendengus dingin,
“Adakah kali ini hatimu sudah rela
menerima kekalahan tadi?”
Tanpa melihat pada si pengemis, ketua
Lam-hay-bun itu menghela napas panjang,
ujarnya, “Tempo dulu memang aku masih
penasaran karena menderita kekalahan. Maka
dari ribuan li jauhnya kutempuh perjalanan
untuk menuju ke gunung Ko-san. Tiba di
gereja Siau-lim-si aku pun harus bersusah
payah untuk menghindari barisan tersembunyi
dari paderi2 berilmu sakti yang menjaga
gereja itu. Akhirnya setelah melalui jerih payah,
barulah aku berhasil menemui dan
menantangnya bertempur. Tetapi dia tetap seenaknya
saja duduk dalam ruang tempat penjaranya
tanpa banyak mengeluarkan tenaga. Aku letih
dan dia masih tegar, sekalipun akhirnya aku
menderita kekalahan tetapi hatiku masih
penasaran!”
Wajah ketua Lam- hay-bunpun berobah tegang
dan sarat. Kemudian ia memandang ke
arah tokoh2 Tiong-goan lalu berkata pula,
“Hari ini setelah berhadapan dengan Ji Han
Ping, barulah aku menyadari akan kebesaran
alam dan kegaiban mahluk di dunia ini, tak
dapat diduga manusia biasa. Makin banyak
tokoh2 sakti dalam dunia persilatan, makin
tipislah harapanku untuk merajai dunia
persilatan….”
Nadanyapun mengikuti ketegangan wajahnya.
Mengalun tinggi kemudian mengendap
turun.
Wajahnya makin sarat dan muram kemudian ia
menghela napas, “Itulah sebabnya maka
aku rela mengaku kalah….”
Pengemis-sakti Cong To tertawa dingin,
serunya, “Ho, ternyata engkau masih memiliki
jiwa ksatrya!”
Tiba2 ketua Lam-hay-bun menyilangkan kedua
matanya. Berkilat-kilat seperti
memancarkan api lalu berseru bengis, “Tetapi
kalian jangan lupa. Di seluruh dunia ini,
jago yang dapat mengalahkan aku, setelah Hui
Gong taysu, pun hanya Han Ping seorang
saja. Lain orang…. lain orang….”
Perlahan-lahan dia memandang ke bawah dan
suaranyapun makin mengendap. Rupanya
hatinya sudah tawar dan dingin dan ia pun
sudah tak mempunyai selera untuk bicara lagi.
Tokoh2 Tiong-goan itupun juga mempunyai
perasaan gelo dan menyesal sehingga
merekapun tak buka bicara.
Suasana menjadi hening lelap. Bahkan suara
napas orangpun mulai kedengaran jelas.
Beberapa saat kemudian barulah ketua Lam-
hay- bun itu mulai berkata pula, “Nafsu
berkelahi mencari kemenangan hanya memburu
kesenangan hati untuk sesaat tetapi
meninggalkan bekas penyesalan ratusan tahun.
Tokoh2 ternama yang silih berganti
menjagoi dunia persilatan, pada akhirnya tak
lain tak bukan hanya menjadi segunduk
impian saja….”
Ketua Lam hay-bun itu menengadahkan kepala
dan bersuit panjang. Suitanuya
memantulkan suara macam Naga meringkik. Dahi
sekalian tokoh2 yang berada dalam
ruangan itu pucatlah seketika.
Rupanya ketua Lam-hay-bun ini telah
menyalurkan kesesakan dadanya yang telah
menghimpit napasnya.
“Mulai saat dan detik ini,” katanya dengan
nada sarat, “aku sudah menemukan kesadaran
dan penerangan. Aku tak mau mengucurkan
darah dan bertempur dengan orang lagi….”
Habis berkata ia terus berjalan dengan
langkah berat menuju ke luar ruangan. Seiring
dengan langkah kakinya, mulutnyapun berkata
dengan pelahan-lahan, “Apabila ada orang
yang hendak mencelakai aku, silahkan turun
tangan. Tak nanti aku akan membalasnya!”
Sekalian tokoh2 Tiong-goan itu saling
berpandangan sendiri. Rupanya perasaan hati
merekapun seperti tenggelam dalam laut
kedukaan sehingga tak seorangpun yang
memikirkan hendak turun tangan kepada ketua
Lam hay-bun.
Setapak demi setapak terdengar kaki ketua
Lam-hay-bun itu melangkah keluar dari ruang
batu dan makin lama pun makin jauh.
Walaupun dalam ruang itu masih terdapat
isterinya yang tercinta dam puterinya yang
tersayang. namun sekalipun ketua Lam-hay-bun
itu tak mau berpaling kepada mereka.
Seolah kepergiannya kali itu, dia takkan
berjumpa dengan manusia di dunia lagi.
Setelah suara langkah kaki itu lenyap, si
Kaki buntung baju merah, Ong Kwan-tiong dan
anak buah Lam-hay-bun, tiba2 berlutut ke
tanah dan menangis. Sedemikian mengharukan
tangis mereka sehingga sekalian tokoh2
Tiong-goan pun ikut rawan.
Wanita cantik berpakaian puteri keraton
memandang bayangan suaminya yang lenyap
keluar ruangan lalu berkata dingin,
“Sebaiknya memang dia pergi….”
Tetapi kata2 itu walaupun diucapkan dengan
nada dingin tetapi jelas pada sepasang
matanya berlinang-linang airmata.
Ih Thian-heng memandang kepada lengan
kirinya yang lumpuh dan berkata, “Ah,
memburu nama itu sungguh menyusahkan orang.
Orang gagah tentu pendek umurnya.
Saudara Cong, kitapun juga harus pergi dari
sini!”
Wanita cantik berpakaian puteri keraton
berputar tubuh, mengusap airmatanya lalu
berkata kepada puterinya, “To ji, ikutlah
kepada mamah! Selama belasan tahun ini aku
tak merawatmu. Sejak saat ini aku akan
berlaku sayang kepadamu.”
Dara baju ungu gelengkan kepala, “Silahkan
mamah pergi sendiri! Aku akan tinggal
disini selama-lamanya….”
“Apa?” wanita cantik itu terkejut bukan
kepalang.
Sahut si dara baju ungu dengan tenang dan
tegas, “Saat ini aku sudah bukan Siau Toto
lagi. Ya, sejak saat ini, aku sudah menjadi
nyonya Ji Han Ping….”
“Toto!” nenek Bwe menjerit, “mengapa engkau
berkata begitu? Bukankah Ji siangkong
sudah meninggal?”
Jawab dara itu, “Justeru karena dia sudah
meninggal itu. Apabila dia masih hidup….”
“Apakah engkau sudah mengikat janji dengan
dia?” ibunya menyelutuk.
Berkata si dara baju ungu, “Sudah lama
sekali aku telah menyerahkan hatiku kepadanya.
Tusuk Kundai Kumala menjadi pengikat janji,
kuberikan kepadanya dalam makamnya.
Tetapi tak kuduga-duga ternyata dia masih
hidup….”
Sejenak dara itu merenungkan kenangan yang
lama dimana dengan secara besar-besaran
dan khidmat ia telah melakukan upacara
pemakaman dari sesosok jenazah yang dikiranya
Han Ping. tetapi ternyata bukan. Han Ping
saat itu masih hidup.
Sesaat kemudian tiba2 dara baju ungu itu
tertawa keras. serunya “Mah, engkau belum
pernah melihat wajah puterimu ini. Apakah
engkau sudah pernah tahu bagaimana wajah
puterimu ini?”
Wanita cantik berpakaian puteri keraton
terkesiap, serunya, “Dahulu pernah aku secara
diam2 pulang ke Lam hay. Kala itu kulihat
engkau sedang bermain-main di tepi laut.
Cuma engkau tak tahu mamah.”
“Apakah mamah masih ingat akan wajahku?”
tanya si dara baju ungu pula.
“Jauh lebih cantik dari mamah,” sahut wanita
cantik berpakaian puteri keraton itu.
Siau Toto tertawa nyaring lalu pelahan-lahan
ia membuka kain kerudung mukanya.
Wajah cantik dari dara baju ungu itu masih
meninggalkan bekas kenangan yang tak
pernah dilupakan oleh sekalian tokoh2
Tiong-goan.
Pada saat Siau Toto membuka kain kerudung
mukanya, sekalian orang pun segera
mengarahkan pandang mata ke arahnya.
Tetapi serentak pandang mata berobah
membelalak seperti melihat suatu pemandangan
yang mengejutkan.
Ternyata wajah dara baju ungu yang dahulu
cantik berseri laksana kuntum bunga yang
tengah mekar di pagi hari, wajah yang
membuat para bidadari di kahyangan mengiri
karena telah mendapat saingan. Saat itu, ya
saat itu telah berobah…. mengerikan!
Wajahnya yang halus dan secantik bidadari
itu telah berhias dergan gurat2 merah, silang
menyilang malang melintang.
Melihat itu wanita cantik yang biasanya
berhati dingin, saat itu seperti orang yang
kehilangan pikiran. Ia menjerit histeris,
“Toto, Toto! siapakah yang telah merusakkan
wajahmu?”
Dengan bercucuran airmata, dara itu menjawab
“Aku sendiri, mah!”
Wanita cantik gemetar tubuhnya, “Engkau
sendiri? Mengapa engkau merusak wajahmu
sendiri?”
Dara baju ungu itu sejenak memandang ke arah
Han Ping yang menggeletak di tanah,
sahutnya, “Karena dia sudah meninggal ….”
Tiba2 dara itu meraih pedang Pemutus- asmara
dan didekatkan ke dadanya.
“Apabila mamah benar sayang kepadaku, mamah
tentu akan mengijinkan aku tinggal
disini!” serunya.
Wanita cantik berpakaian puteri keraton yang
berhati sedingin es itu, saat itu bercucuran
airmatanya.
Beberapa saat kemudian ia mencabut sebatang
TUSUK KUNDAI KUMALA dari
rambutnya dan berkata, “To-ji, Tusuk Kundai
Kumala itu semula ada sepasang. Ketika
kutinggalkan Lam-hay, kubawanya sebatang.
Tusuk kundai ini terbuat dari batu kumala
dingin yang berumur ribuan tahun. Apabila
membawanya, dapat membuat wajah tetap
tak rusak. Ji siangkong sudah meninggal
dunia. Tenaga pukulan ayahmu dahsyat sekali,
kemungkinan siangkong sudah sukar
disembuhkan lagi. Dengan menggunakan tusuk
kundai ini, Jenazahnya dapat terpelihara tak
sampai rusak!”
Siau Toto menyambuti. Kemudian sambil
membolang-baling pedang Pemutus-asmara, ia
berseru, “Silahkan kalian pergi! Dalam waktu
sepeminuman lagi, alat perkakas rahasia
segera kugerakkan agar pintu batu tertutup.
Saat itu tentu kalian akan tertutup di sini dan
jangan harap kalian mampu keluar lagi!”
Sekalian tokoh2 Tiong-goan saling bertukar
pandang lalu perlahan-lahan mereka
mengayunkan langkah keluar dari ruangan.
Saat itu hati sekalian orang memang diliputi
rasa sesal dan tawar. Sikap mereka pun
tampak lesu, tidak seperti ketika mereka
masuk dan berhadapan dengan musuh, begitu
beringas dan buas seperti harimau menghadapi
musuh.
Pengemis-sakti Cong To setiap melangkah
setapak tentu akan berpaling ke arah si dara
baju ungu. Dipandangnya dara itu dan tubuh
Han Ping yang terbaring di tanah. Dalam
hati pengemis tua itu timbul rasa haru dan
sayang yang tak terhingga besarnya. Diamdiam
ia tak henti-hentinya menghela napas.
Siau Toto, seorang dara jelita yang tiada
tara kecantikannya. Boleh diumpamakan sebagai
seorang bidadari yang menjelma di dunia.
Thian telah menganugerahkannya wajah yang
luar biasa cantiknya. Betapa menyengsamkan
hati apabila dara itu tertawa. Betapa indah
apabila dara itu sedang berkata-kata.
Kesemuanya itu menggores kesan yang tak dapat
dilupakan seumur hidup oleh Pengemis- sakti.
Tetapi saat itu, wajah ayu dari si dara
telah berobah menyeramkan. Seluruh mukanya
penuh berhias gurat2 warna merah. Dari
seorang bidadari, dia telah berobah menjadi dara
yang berwajah seram.
Hanya dalam waktu beberapa tahun Han Ping
muncul di dunia persilatan, namanya sudah
harum semerbak sebagai seorang jago muda
yang gemilang dan Sakti. Tokoh2 dunia
persilatan kelas satu, segan dan gentar
terhadap dia. Bagaikan mentari pagi, dia muncul
dan memancarkan sinar yang gilang gemilang.
Merupakan utusan muda dari angkatan
yang sudah lalu. Berhati keras tetapi
berbudi emas. Secara tak resmi dia sudah diakui
sebagai seorang tokoh muda yang berpengaruh
dan besar wibawanya. Tetapi nasib
menentukan lain. Pemuda yang berbakat dan
berotak cerdas itu harus kehilangan jiwa di
dalam makam tua.
Kematian Han Ping itu adalah karena ia
memikirkan kepentingan dara itu. Demi untuk si
dara, Han Ping rela mengorbankan jiwanya.
Si darapun tahu dan membalas pengorbanan itu
dengan merusakkan wajahnya yang
cantik dan menunggu dalam makam itu
selama-lamanya….
Han Ping mengutamakan kepentingan si dara.
Demi mematuhi permintaan si dara, ia rela
mengorbankan jiwanya. Dan untuk itu si dara
pun rela membalas dengan pengorbanan
besar. Ia merusak wajahnya yang cantik dan
rela menjaga jenazah Han Ping dalam
makam itu untuk selama-lamanya….
Tiba2 Ih Thian-heng melangkah balik masuk
kembali. Serta merta ia berlutut di hadapan
mayat Han Ping. Dengan melintangkan sebelah
tangannya ke dada, ia mulai berdoa,
“Dunia menganggap aku Ih Thian-heng seorang
manusia yang berlumuran dosa setinggi
gunung. Tetapi mereka tak tahu bahwa akan
siasat buas yang kulakukan itu
sesungguhnya pancaran dari hati nuraniku
yang baik. Kebaikan dan kejahatan, sebelum
berakhir dengan jelas, memang sukar
dibedakan.”
Melihat tingkah laku Ih Thian-heng, sekalian
tokohpun hentikan langkah dan
mendengarkan kata2 Ih Thian-heng dengan
penuh perhatian.
Kedengaran Ih Thian-heng berkata lebih
lanjut, “Aku Ih Thian-heng, dalam sepanjang
hidup ini, selain kepada Cong To aku menaruh
hormat, hanya engkau seorang yang
paling kukagumi, Ji Han Ping. Rupanya Thian
tak mengijinkan usia panjang kepada
ksatrya muda yang luar biasa. Dan kini
engkau telah mendahului kita. Kumohon
arwahmu yang ksatrya itu dapat memberi
berkah kepadaku. Ijinkanlah aku, Ih Thianheng,
menyelesaikan tugas2mu yang belum engkau
selesaikan itu. Setelah dunia
persilatan tentram dan aman, aku Ih
Thian-heng, akan kembali kemari dan tinggal dalam
makam ini untuk melewati sisa hidupku
menemani arwahmu….”
Dua butir airmata ksatrya, telah menitik
turun dari pelupuk matanya.
Pengemis-sakti Cong To menghela napas
panjang, serunya, “Saudara Ih, marilah kita
pergi!”
Ih Thian-heng berbangkit, mengusap
airmatanya terus ayunkan langkah. Ketika hampir
tiba di pintu batu, tiba2 ia berputar tubuh
dan berjalan masuk kembali.
“Nona Siau,” katanya kepada si dara.
Siau Toto tertawa hambar, serunya, “Soal apa
lagi yang akan engkau katakan?”
“Nona memiliki kecerdasan yang luar biasa,”
kata Ih Thian-heng, “bagi nona tiada, soal
yang sulit di dunia ini yang tak dapat nona
pecahkan. Entah apakah di dunia terdapat obat
yang mampu menghidupkan saudara Han Ping
kembali?”
“Baiklah,” sebut si dara, “tiada halangan
kuberitahukan kepadamu. Tetapi aku percaya
tentu tak ada orang yang mampu mencarinya!”
“Harap nona suka mengatakan. Aku bersedia
mendengarkan dan akan berusaha untuk
mencarinya,” kata Ih Thian-heng.
Maka berkatalah Siau Toto mengenai ramuan
obat yang dibutuhkan itu, “Ban lian Swatlian-
cu, Cian-lian Tok-coa-tan, Pek-lian
Le-hi-hiat. Ho-siu-oh tua. Keempat ramuan itu
harus lengkap. Satu pun tak boleh kurang.”
Ban-lian Swat-lian-cu artinya Biji Teratai
yang berumur selaksa tahun, Cian-lian Tokcoa-
tan artinya Empedu ular beracun yang berumur
seribu tahun. Pek-lian Le-hi-hiat
artinya, darah ikan lehi yang berumur
seratus tahun. Ho-siu-oh semacam bahan tanaman
obat yang berkhasiat seperti jinsom.
Pengemis-sakti Cong To tertegun. serunya,
“Bila terdapat obat yang mampu menolong
saudara Han Ping, tentulah begitu juga akan
dapat memulihkan wajah nona.”
Siau Toto tertawa, “Sekalipun wajahku dapat
pulih kembali tetapi siapakah yang akan
menikmatinya?”
Dara itu berhenti sejenak. “Makam tua ini
kusebut MAKAM ASMARA!” serunya.
“Ohh….” terdengar Cong To dan Ih Thian-heng
serempak mendesuh.
“Dan pertunjukan dalam Makam Asmara ini
sudah selesai. Silahkan saudara2 segera
tinggalkan tempat ini,” seru si dara pula.
Wanita cantik berpakaian puteri keraton
kedengaran menghela napas panjang. Nadanya
penuh kerawanan yang beriba-iba.
“Anakku Toto, seribu satu macam peristiwa
dendam kesumat itu, dari dahulu sampai
sekarang, tak lain hanya karena asmara.
Baiklah, anakku, mamah hendak pergi….”
“Maaf mah, aku tak dapat mengantar,” seru
Toto.
Wanita cantik itu memandang ke arah
rombongan anak buah Lam-hay-bun, lalu
membentak, “Mengapa kalian masih berada di
sini?”
Anak murid Lam-hay-bun saling bertukar
pandang lalu ayunkan langkah mengikuti di
belakang wanita cantik itu atau ibu guru
mereka. Kemudian rombongan tokoh2 Tionggoan
pun berbondong-bondong keluar dari pintu
batu.
Belum berapa lama mereka berjalan, tiba2
terdengar suara ledakan yang menggetarkan.
Ternyata pintu batu yang amat berat itu
tertutup lagi.
Tiba2 dari dalam pintu batu itu berkumandang
segelombang nyanyian. Nyanyian yang
bernada kedukaan dari rintihan kalbu.
Mengalun tinggi, menyayat hati.
Langkah kaki sekalian tokoh itupun terasa
makin berat. Hatipun makin tenggelam dalam
kehampaan. Nafsu memburu nama. kegagahan,
kesombongan dan keangkaraan, lenyap
seketika.
Malampun kelam.
TAMAT