makam asmara 08
Tetapi diluar dugaan, tiba2 tangan Han Ping
berputar dan terus menyusup masuk
kedalam lingkar bayangan tangan lawan, terus
mengancam dada ih Thian-heng.
Melihat Han Ping luruskan tangan hendak
mengancam dadanya, ih Thian heng tak
keburu untuk menangkis lagi. Segera dia
mengambil putusan untuk menggunakan
tenaga-dalamnya yang kokoh, mementalkan
balik tangan lawan.
Memang dia seorang tokoh yang tajam
pandangannya dan kaya pengalaman. Segera ia
mengetahui bahwa luka lengan Han Ping itu
mengeluarkan banyak sekali darah dan
diam2 ia memperhatikan bahwa tenaga Han Ping
mulai berkurang. Sekalipun dadanya
tersodok tangan Han Ping, ia rasa takkan
menderita luka parah.
Demikian segera ia kerahkan tenaga-dalam.
Satelah itu ia terus songsongkan dadanya
kemuka untuk menyambut tangan Han Ping. Dan
tepat sekali dadanya membentur tangan
kanan Han Ping yang menyodok itu.
Sebenarnya Han Ping masih belum mau
melukainya karena ia perlu akan bertanya lagi.
Maka ketika tangan hampir menyentuh dada
orang, cepat ia lambatkan gerakannya.
Tetapi sedikitpun ia tak menduga bahwa Ih
Thian-heng akan gunakan tenaga-dalam
membalik. Begitu tangan menyentuh bahu Ih
Thian-heng, Han Ping segera rasakan suatu
tenaga-mental yang amat kuat sekali
melandanya. Mau tak mau anakmuda itu menyurut
mundur dua langkah.
Menderita kekalahan tetapi merebut
kemenangan -secara gelap, maka tertawalah ih
Thian-heng dengan hambar, “Ilmu pukulan
saudara Ji hebat sekali. Kali ini aku mengaku
kalah lagi.”
Tetapi diam2 Ih Thian-heng girang dalam hati
karena tahu bahwa Han Ping saat itu sudah
seperti pelita yang kehabisan minyak. Ia
yakin dalam beberapa waktu lagi tentu dapat
mengambil jiwanya.
Setelah berhenti sejenak untuk memulangkan
tenaga, Han Ping berkata pula, “Dalam
babak ini, seharusnya tiada yang menang.
Karena tenaga dalammu telah menindas aku….
“Ah, karena saudara Ji bermurah hati maka
baru aku dapat selamat,” kata Ih Thian heng.
Diam2 Han Ping menimang. Kalau menurut
peraturan pertandingan, dialah yang
memenangkan bapak pertempuran tadi.
“Kalau begitu, aku masih akan mengajukah
sebuah pertanyaan lagi,” katanya.
“Silahkan.” kata Ih Thian-heng.
“Ada seorang paderi yang bernama Hui Gong
taysu, apakah engkau mengenalnya?”
tanya Han Ping.
“Sudah lama mendengar namanya tetapi belum
pernah melihat orangnya,”
“Apakah engkau tahu akan kisah hidupnya?”
Ih Thian-heng tertawa, “Dalam dunia
persilatan dewasa, ini, kecuali aku, mungkin tiada
lain orang lagi yang tahu hal itu….”
Kemudian ia beralih memandang mayat Kim
loji, ujarnya, “Kalau dia belum mati, dia
tentu tahu lebih banyak dari aku. Sayang….”
“Hai, pernah apa engkau dengan Hui Gong
taysu?” sekonyong-konyong wanita cantik
ibu dari si dara baju ungu melengking.
Han Ping terkesiap dan berpaling. Dilihatnya
wanita cantik itu tegang sekali wajahnya
bahkan gemetar dan berlinang-linang airmata.
Han Ping heran dan diam2 membatin,
“Aneh, mengapa dia kenal pada Hui Gong
taysu….”
Belum sempat ia memberi jawaban, ih
Thian-hengpun sudah menyelutuk, “Hui Gong
seorang pendekar aneh. Baru tiga tahun
keluar di dunia persilatan, namanya sudah
termasyhur dan menggetarkan dunia
persilatan. Sayang ibarat bunga, selekas mekar
selekas itu pula ia menghilang tanpa bekas.
Kabarnya dia telah dihukum oleh suhunya
dalam penjara gereja Siau-lim-si. Dan sejak
itu tak ketahuan beritanya lagi….”
Sejenak berhenti, ia melanjutkan pula, “Pada
masa dia muncul didunia persilatan,
tersiarlah berita tentang sebuah kisah
asmara yang menggemparkan. Karena kedua fihak
yang bersangkutan itu, merupakan pendekar2
yang cemerlang dalam angkasa persilatan.
Hui Gong telah menyeleweng keluar dari
lingkungan dinding merah gereja dan itulah
yang menimbulkan kegemparan….”
Kedengaran wanita cantik berpakaian puteri
keraton itu tertawa dingin, “Ketahuilah,
bahwa dalam ruangan sini masih terdapat dua
orang yang tahu akan sepak terjang Hui
Gong taysu. Sepatah saja engkeu salah
menceritakan, jangan harap engkau dapat
hidup….”
Kedengaran lelaki tua baju biru mendengus
dingin lalu pelahan-lahan pejamkan kedua
mata.
“Hm, mengapa engkau mendengus? Taciku sudah
berpuluh tahun meninggal, masakan
engkau masih merasa minum cuka?” wanita
cantik melengking marah.
Tanpa membuka mata lelaki baju biru itu
menyahut hambar, “Tetapi engkau dan paderi
tua Hui Gong itu masih belum mati.”
“Mengapa engkau tak membunuhnya? Hm,
bukankah karena engkau tahu kepandaianmu
tak dapat menghadapinya?” wanita cantik itu
makin marah.
H an Ping menghela napas, serunya melerai,
“Sudahlah harap kalian berdua jangan
bertengkar Hui Gong taysu memang sudah
menutup mata.”
Rupanya wanita cantik itu masih penasaran.
Ia hendak mendamprat lagi tetapi si dara
baju ungupun menghela napas dan berkata,
“Mah, dengan memandang mukaku, kuminta
engkau jangan berbicara panjang lagi,’-ia
menghampiri lalu jatuhkan diri kedada ibunya.
‘“Harap menceritakan lagi” kata Han Ping
kepada Ih Thian-heng.
Ih Thian-heng tersenyum, katanya, “Lebih
dulu aku hendak menjelaskan bahwa aku
belum pernah bertemu dengan tim Gong taysu.
Apa yang kuketahui tentang dirinya itu,
hanyalah dari kabar2 diluar. Dan aku takan
menambah maupun mengurangi sepatahpun
juga. Maka yang akan kuceritakan itu hanya
keadaan menurut kabar saja, tentang sepak
terjangnya itu benar atau salah, aku….”
Dengan tegas Han Ping cepat menukas, “hui
Gong taysu seorang, paderi yang luhur. Baik
ilmu kepandaian dan wataknya, memang tak
sembarang manusia dapat menyamainya.
Kalau ada desas desus, tentulah hanya
ditiupkan orang yang hendak merugikan nama
baiknya….”
Ih Thian heng tertawa, “Aku hanya akan
mengatakan apa yang kudengar, harap saudara
suka mendengarkan saja….”
Ia batuk? sejenak lalu melanjutkan pula,
“Sebelum Hui Gong taysu muncul di dunia
persilatan, dunia persilatan tiong-goan
telah lebih dulu muncul seorang wanita siluman
yang gerak geriknya sukar diketahui…. “
“Siluman wanita! Bukan, dia seoiang pendekar
wanita!” teriak wanita cantik dengan
marah.
Ih Thian-heng tertawa tawar, “Baiklah,
anggap saja dia seorang pendekar wanita.
Pendekar wanita itu mengenakan kerudung muka
hitam, wajahnya buruk bukan main
Kabarnya karena dia menderita patah hati
dalam asmara, maka dia mendendam
kebencian yang menyala nyala….”
“Tunggu dulu!” wanita cantik itu melengking
pula.
Ih Thian-heng memberi hormat, serunya,
“Nyonya hendak memberi pesan apa?’
Wanita cantik itu berkata, “Taciku seorang
wanita orang yang luar biasa cantiknya.
Hanya saja, dia tak suka wajahnya dilihat
orang. Dengan demikian maka dia sengaja
membuat dua buah kedok muka dari kulit.”
Ih Thian-heng berkata, “Mungkin demikianlah.
Kalau dia benar seperti desus orang yang
mengatakan dia berwajah buruk tak mungkin
seorang paderi seukuran Hui Gong taysu
nekad akan lolos dari lingkungan dinding
gereja.”
Menjawab pula Han Ping dengan penuh
keyakinan, “Hui Gong taysu mempunyai
peribadi yang kuat dan tinggi. Dia terlena
fitnah sehingga menderita harus ditaruh dalam
ruang tahanan gereja. Dalam kata-katamu
nanti, harap jangan dibumbui dengan nada
yang menyinggung peribadinya.”
Sejenak memandang kearah orangtua baju biru
atau Lam-hay Ki-siu, Ih Thian-heng
tertawa gelak2, katanya lebih lanjut, “Taruh
kata saja dia berpambek tinggi dan luhur.
Pendekar wanita berkerudung muka pada saat
itu sudah menggetarkan empat penjuru
dunia persilatan. Semua tokoh2 sakti dari
dunia persilatan Tionggoan sudah
ditundukkannya. Disepanjang daerah sungai,
dari utara sampai selatan, sudah tiada lagi
orang yang berani menyambut tantangannya….
Tiba2 terdengar Lam-hay Ki-siu mendengus
dingin. Matanya memancarkan sinar yang
berkilat-kilat2 menyeramkan lalu menukas,
“Perlu kujelaskan lebih dahulu. Bahwa
sebelum pendekar wanita itu bertempur dengan
Hui Gong taysu, ia sudah pernah
menderita kekalahan satu kali.”
Ih Thian-heng tertawa tawar, “Bukankah yang
mengalahkan pendekar wanita
berkerudung hitam, saudara sendiri?”
Habis bertanya ia berhenti sejenak lalu
tanpa menunggu penyahutan orang, Ih Thian-heng
segera melanjutkan ceritanya, “Tetapi
peristiwa kekalahannya itu belum tersiar didunia
persilatan. Baik tokoh2 golongan Hitam
maupun Putih dari segenap penjuru dunia
persilatan Tionggoan, semua tahu bahwa
pendekar wanita yaug tiada lawannya itu,
akhirnya harus menderita kekalahan di tangan
Hui Gong taysu. Soal pendekar wanita itu
sebelumnya juga pernah menderita kekalahan
dari lain orang, dunia persilatan Tionggoan
tak pernah mendengarnya.”
“Katak dalam tempurung!” dengus Lam-hay
Ki-siu dengan geram.
Tetapi Ih Thian-heng tak menghiraukan.
Memandang kearah pedang Pemutus-asmara
yang berada disamping Han Ping, ia
melanjutkan pula, “Senjata dari pendekar wanita itu
yalah pedang Pemutus-asmara yang dibawa
saudara Ji. Tetapi sesungguhnya pedang itu
bukan berasal dari dia, melainkan jauh
sebelum dia muncul di dunia persilatan, sudah
pernah dipakai oleh seorang nona. Entah
karena menderita luka hati yang bagaimana,
nona itu mengandung dendam kesumat yang
besar. Tak peduli siapa saja, barang siapa
pria yang melihatnya dan terus tergerak hati
kepadanya, tentulah akan ditusuk uluhatinya
dengan pedang pusaka itu. Dengan berlumuran
kisah berdarah itulah maka pedang
tersebut diberi nama pedang
Pemutus-asmara….”
Ih Thian-heng berhenti untuk tertawa
nyaring, lalu melanjutkan, “Tetapi bagaimanapun
maut menghadang dan merintang, tetap jago
silat berbondong bondong menghadap dan
menyembah dibawah kakinya. Mati bukan
halangan asal mereka dapat menikmati
kebahagiaan bersanding dengan sijelita.
Dalam beberapa tahun saja, lebih dari seratus
jago2 silat yang mati dibawah ujung pedang
Pemutus-asmara. Karena tindakannya itu
orang persilatanpun segera mempersembahkan
sebuah gelaran kepada si jelita, yakni si
Jelita-buta-hati.
Cerita tentang kisah si Jelita-buta-kasih
dan pedang Pemutus-asmara menjadi kembang
bibir setiap orang persilatan. Pada suatu
saat, tiba2 Jelita-buta-kasih itu lenyap Dia datang
bagai angin prahara yang mendampar dan
menghancurkan hati orang, lalu tiba2
menghilang tanpa bekas!
Berpuluh tahun kemudian dunia persilatan
kembali menerima kemunculan seorang gadis
berkerudung muka yang menggunakan pedang
Pemutus-asmara. Sepak terjangnya serupa
dengan si Jelita-buta-kasih, bahkan ada
beberapa hal yang lebih ganas. Maka dalam
waktu -yang singkat saja, namanya sudah
disebut-sebut oleh setiap orang persilatan.
Golongan Hitam maupun Pulih menggigil
apabila mendengar nama gadis berkerudung
muka itu.
Pada masa nama gadis berkerudung hitam itu
menjulang, Hui Gong taysupun muncul.
Dia mencari jejak gadis berkerudung itu.
Akhirnya mereka bertemu dan bertempur diluar
kota Kim-leng. Ternyata kepandaian Hui Gong
taysu lebih tinggi setingkat. Setelah
bertempur mati-matian selama setengah malam,
akhirnya ia berhasil merebut pedang
Pemutus asmara itu dari tangan gadis
lawannya. Dengan hasil pertempuran itu, dalam
waktu semalam saja, nama Hui Gong taysu
sudah menjadi pujaan setiap orang persilatan.
Dengan sendirinya pamor Siau-lim-sipun ikut
menjulang kelangit…. Tetapi pertempuran
itupun berakhir dengan kesudahan yang aneh
dan tak tersangka-sangka. Hui Gong taysu
lupa bahwa dirinya adalah murid gereja. Dia
menang bertempur adu kesaktian, te
tapi dia menderita kekalahan yang parah.
Hatinya kena terpanah asmara oleh lirikan yang
tajam dari mata si jelita.
Peristiwa asmara itu telah menimbulkan
kehebohan besar. Dengan dipimpin sendiri oleh
ketua Siau-lim-si. Maka berangkatlah
rombongan paderi Siau lim-si untuk menangkap
Hui Gong taysu dan dibawa pulang ke gereja.
Tetapi kabarnya jelita itu amat setya pada
Hui Gong. Dia pernah tiga kali menjenguk ke
gereja Siau-lim si ,…. “
Berhenti sejenak. Ih Thian-heng melanjutkan
pula, “Begitulah kisah Hui gong taysu yang
kuketahui. Seorang pendekar besar dalam
jamannya, seorang ksatrya yang patah hati.
Jika fihak Siau-lim-si tak segera bertindak
untuk menangkapnya, mungkin dunia
persilatan akan lain keadaannya.”
Berkata Han Ping, “’Aku menyaksikan sendiri
ketika Hui Gong taysu menghembuskan
napasnya yang terakhir. Menurut ucapannya,
memang agaknya tak jauh bedanya dengan
keteranganmu itu.”
Ketua ih Thian-heng, “Yang kuketahui hanya
begitu saja dan itupun berasal dari berita2
yang kukumpul dalam perjalanan. Belum tentu
sesuai.”
“Benarkah Hui Gong sudah meninggal dunia?”
tiba2 wanita cantik itu menyeletuk.
“Ya, memang sudah meninggal,” kata Han Ping,
“sampai lama aku menangis disamping
jenazahnya, masakan aku salah lihat!”
Wanita cantik itu terlongong sejenak lalu
berkata dengan pelahan, “Sudah mati? Kalau
sudah mati biarlah mati. Apa yang kalian
tunggu…. lekas…. tempur…. lagi!”
Han Ping dan Ih Ihian-heng tak mengacuhkan
wanita cantik itu. Mereka memang
menganggap harus melanjutkan pertempuran
lagi.
“Silahkan Ih cianpwe memulai,” seru Han
Ping. “Baik,” kata Ih Thian-heng yang sudah
mempunyai rencana bagaimana kali ini ia
harus menghadapi pemuda itu. Dua kali
menderita kekalahan cukup suatu tamparan
bagi mukanya. Ia harus mengembalikan
gengsinya di mata sekian banyak tokoh. Dan
diapun telah mengetahui bahwa kali ini
harus gilirannya yang menang- karena pemuda
itu sudah hampir habis tenaganya.
Demikian keduanya segera bertempur lagi
dengan seru. Ih Thian-heng menggunakan
siasat untUK bertahan diri dan memperpanjang
pertempuran untuk memeras tenaga
lawan yang sudah hampir habis itu. Tenang
sekali ia bertempur, Terutama serangannya
selalu diarahkan kesamping kiri lawan karena
dilihatnya tangan kiri Han Ping sudah
makin kaku.
Han Pingpun tahu akan hal itu. Maka ia
segera lancarkan serangan deras agar lawan tak
sempat mengembangkan permainannya.
Ih Thian-heng seorang tokoh tua yang kaya
pengalaman, _ berilmu tinggi dan licik.
Han Ping seorang pemuda yang berbakat luar
biasa dan mendapat rejeki yaug luar biasa
pula. Tetapi yang dia terluka pada lengan
kirinya dan luka itu mengucurkan banyak sekali
darah sehingga mengurangkan tenaganya. Dia
memang memiliki beraneka jurus ilmusilat
yang luar biasa tetapi bagi ih Thian-heng si
rubah tua yang kaya pengalaman itu,
serangan2 anakmuda itu dapat dihadapinya
dengan tenang.
Sekalian tokoh makin tersengsam menyaksikan
pertempuran itu. Diam2 mereka makin
mengagumi akan kelihaiyan Han ping yang
walaupun sudah menderita luka berat, namun
masih dapat melancarkan serangan2 maut yang
membuat tokoh semacam ih Thian-heng
harus berhati-hati.
Tiba2 Ih Thian heng berteriak, “Sekarang
giliranmu yang harus kalah!” tangannya
menyelonong kemuka untuk memukul dada Han
Ping.
“Jangan terburu-buru dulu,” sahut Han Ping
seraya miringkan tubuh dan secepat kilat
selundupkan tinjunya untuk menghantam dada
Ih Thian heng yaug tak terlindung.
Tetapi ternyata pukulan Ih Thian-heng hanya
sebuah siasat untuk memancing lawan.
Begitu Han Ping majukan tubuh memukul, ih
Thian heng segera menyurut mundur
seraya mengangkat kaki kirinya menendang
perut Han Ping.
“Ah, kali ini aku benar2 kalah,” seru Han
ping seraya menyurut mundur.
Tetapi tak urung ujung kaki ih Thian-heng
sempat mengenai ikat pinggang Han Ping.
tampak pemuda itu berdiri dengan tegak
Wajahnya sama sekali tak mengunjuk ketakutan
Bahkan sekalian tokoh yang menyaksikan
kesudahan itu diam2 cemas dan gelisah.
Mereka tahu siapakah Ih Thian-heng itu.
Dengan kemenangan itu, Ih Thian-heng pasti
akan membuat Han Ping menderita. Jelas dia
tentu tak mau melepaskan kesempatan itu.
Berpuluh puluh pasang mata segera mencura
kearah ih thian-heng.
Tampak ih Thian heng tersenyum sinis,
serunya, “Tabaslah kedua tanganmu….”
Sekalian tokoh terkejut mendengar kata2 itu.
Wajah mereka berobah tegang. Tiba2 Ih
Thian heng menyusuli pula kara-katanya itu,
“Sebenarnya aku tak suka mengucapkan
kata2 itu. Aku belum punya muka untuk
mengatakan.”
Han Ping menggembor marah: Han Ping
mengharapkan belas kasihanmu. Sekalipun
engkau membelah kepalaku, tak nanti aku
mengernyit takut!”
Ih Thian-heng tersenyum, “Saudara Ji benar
tak mengecewakan sebagai musuhku
bebuyutan Tetapi saat ini cukuplah aku
hendak mengajuku sebuah pertanyaan
kepadamu.”
“Mau tanya apa?” seru Han Ping.
“Ilmu kepandaianmu hebat dan luar biasa
sekali sehingga baru pertama kali ini aku dapat
melihatnya. Apakah ilmu kepandaianmu itu
berasal dari Hui Gong taysu?”
Han Ping merenung sejenak, sahutnya, “Benar,
walaupun beliau memang menurunkan
ilmu kepandaian itu kepadaku tetapi antara
aku dan beliau tak ada ikatan guru dan
murid.”
“Kalau tak ada ikatan guru dan murid,
bagaimana mungkin dia mau memberi pelajaran
kapadamu .” Ketahuilah, bahwa menerima
pelajaran secara diam2, adalah pantangan
besar bagi setiap perguruan silat,” kata Ih
Thian-heng.
“Dia kalah bertaruh dengan aku.” jawab Han
Ping.
“Hm, itu memang suatu cara yang baik. Dengan
alasan kalah bertaruh kepandaian lalu
menurunkan pelajaran….” kata lh Thian-heng,
“cukuplah. Sekarang silahkan engkau
turun tangan. Tetapi ada sebuah hal yang
perlu kuberitahukan. Kalau engkau kalah lagi
dalam babak ini, pertandingan ini tentu
sudah tamat!”
“Kalau aku yang menang?” tanya Han Ping.
ih Thian-heng tertawa, “Kalau aku tak salah
tafsir, memang dalam hatimu masih banyak
sekali soal2 yang hendak engkau tanyakan….
.”tiba2 ia berhenti dan tertawa panjang.
Matanya berkilat-kilat memancar sinar tajam,
serunya, “Tadi dalam mengikat janji
pertandingan ini, engkau telah melakukan
kesalahan besar yang sangat sangat merugikan
dirimu sendiri.”
Han Ping merenungkan ucapan itu dan memang
ia mengakui kebenarannya. Satu-satunya
cara untuk menghindari kesulitan yang
mungkin akan menimpah dirinya, yalah hanya
membunuh Ih Thian-heng. Karena kalau ia yang
kalah, tentulah Ih Thian-heng takkan
memberi ampun lagi.
Perlu diketahui bahwa pertempuran antara dua
tokoh setingkat kedua orang itu, untuk
memenangkan sejurus saja, bukan main
sukarnya. Setiap cewatkan sebuah kesempatan,
berarti harus memeras keringat dan tenaga
yang banyak, Apalagi setiap babak selesai lalu
berhenti untuk menanyakan keterangan tentang
peristiwa yang lampau, setelah itu baru
bertanding lagi seperti cara yang diambil
Han Ping itu, sudah jelas tentu bakal kehilangan
kesempatan untuk membunuh lawan.
Setelah merenung sampai beberapa saat
barulah Han Ping mengangkat muka dan berkata,
“Dalam bertempur memang ada bedanya cara
untuk menggunakan pukulan yang berat
dengan yang ringan. Kalau rasanya aku masih
mempunyai kesempatan untuk
mengalahkan engkau, kemungkinan cara untuk
turun tangan juga tentu bertambah keras.”
Ih Thian-heng sejenak sapukan pandang mata
kesekeliling tokah2 itu. katanya, “Kita
yang bertempur mati-matian, orang lain yang
enak2, menyaksikan dan malah dapat
tambahkan mendengarkan rahasia2 dalam dunia
persilatan yang selama ini jarang
diketahui orang….”
“Peristiwa itu bukan suatu rahasia yang tak
boleh didengar orang. Kurasa, aku tak
berbuat sesuatu yang salah,” sahut Han Ping.
Melihat sudah sekian lama bicara sehingga
Han Ping mendapat kesempatan untuk
menjalankan peredaran tenaga dalam menutup
pendarahan pada bahunya, Ih Thian-heng
tiba2 berseru keras, “Saudara Ji, awaslah!”
Wut, ia segera melontarkan sebuah pukulan
Menjolok-naga-kuning kearah dada Han
Ping.
Han Ping miringkan tubuh menghindar. Dua
buah jari tangan kanannya segera menutuk
lambung lawan. Tetapi Ih thian-hengpun tak
mau menangkis, melainkan berkisar
menghindari.
Pertempuran kali ini dilakukan dengan hati2
sekali oleh keduanya. Mereka tak mau
menggunakan cara adu kekerasan pukulan lagi
ataupun adu tenaga-dalam.
Makin lama pukulan kedua orang itu makin
cepat dan makin terbenam dalam permainan
yang mengasyikkan. Cepat lawan cepat,
tangkas teradu tangkas. Keduanya sama
mengembangkan perobahan2 jurus yang dapat
mendahului menindas gerakan lawan.
Cepat sekali mereka menyerang, pun cepat
juga mereka menarik pulang.
Apabila diketahui lawan mengunjuk tanda2
gerakan dapat memecahkan serangan, cepat
sekali tentu sudah ditarik pulang dan
dirobah jurusrnya.
Demikian dalam beberapa kejab saja, keduanya
sudah bertempur sampai lima enampuluh
jurus. Tiba2 Han Ping mengebor keras. Dua
sosok bayangan segera saling bertumbuk.
Gerak bayangan pukulan dan jari yang
memenuhi udara, seketikapun lenyap.
Ternyata keduanya telah mengganti acara
pertempurannya. Dari serang menyerang secara
cepat, kini mereka berganti dengan adu
tenaga-dalam. Dari gerakan yang tangkas,
berobah menjadi pertempuran yang tenang.
Masing2 menjulurkan sebuah tangan dan
saling melekatkan telapak tangannya.
Tak berapa lama kemudian, tampak wajah kedua
orang itu mulai bertebar warna merah
dan pelahan-lahan merekapun mulai
mengatupkan mata. Rupanya mereka hendak
mengerahkan seluruh tenaga-dalam kearah
tangannya.
Beberapa saat lagi, mereka mulai bercucuran
keringat. Wajah mereka yang merah, pun
mulai makin cerah.
Celakanya, luka pada bahu Han Ping itu
merekah pula. Darahnya berkes-ketes ke lantai.
Pengemis-sakti Cong To yang menyaksikan
ditepi gelanggang, diam2 menghela napas,
pikirnya, Lukanya berdarah lagi, entah
sampai berapa lama ia mampu bertahan?
Sekalipun tenaga-dalamnva lebih kuat dan ih
Thian-heng tetapi tak urung tentu akan
menderita kekalahan. Hm, aku harus mencari
akal untuk membantunya . . “
Tiba2 Ih Thian-heng mendengus pelahan.
Tangannya makin menindih kuat2 dan
tubuhnya juga maju selangkah lalu menekankan
tangannya hendak memaksa tangan
lawan menjulai kebawah.
Han Ping tertawa dingin. Segera ia mengempos
semangat dan salurkan tenaga-murni.
Segelobang arus tenaga-panas segera memancar
dari perut dan menyalur kearah lengan
kanannya, mengalir ke telapak tangan dan
melanda kearah tangan lawan.
Ih Thian-heng yang tengah membanjiri lawan
dengan tenaga-dalam yang tak putusputusnya
itu, tiba2 merasa telapak tangannya
diterjang gelombang aliran hawa panas
yang dahsyat. Ia terkejut dan menyurut
mundur dua langkah.
Han Ping berhasil memberi tekanan pada lawan
tetapi pada saat itu ia rasakan matanya
berkunang gelap sehingga hampir saja ia
rubuh.
Kesempatan itu digunakan Ih Thian heng untuk
menyalurkan napas lalu mengadakan
serangan balasan.
Menyambuti serangan itu, mata Han Ping
terasa gelap lagi. Ia menyadari bahwa karena
terlalu banyak mengeluarkan darah,
tenaganyapun sudah tak dapat bertahan lama.
Apabila bertempur terus, tentu ia akan
kehabisan darah dan tentu lemas.
Han Ping menginsyafi keadaan dirinya yang
berbahaya itu. Kecuali dalam dua tigapuluh
jurus ia dapat menghantam rubuh Ih Thian
heng, barulah ia dapat lolos dari bencana.
Kalau tidak, jelas dia tentu aKan menderita
kekalahan.
Dengan pemikiran itu segera ia mengambil
Keputusan. Empat jurus serangan istimewa
segera dilancarkan dengan dahsyat. Serangan
itu memaksa Ih Thian-teng sibuk tak
keruan.
Sekonyong-konyong terdengar bunyi
berderak-derak yang keras sehingga ruangan itu
mulai berputar”.
“Siapa?” tiba2 ketua Lam-hay-bun tertawa
dingin seraya ulurkan tangan menekan ujung
dinding.
Terdengar bunyi dinding berderak-derak
berkisar. Arahnya dibelakang tempat duduk
wanita cantik ibu si dara baju ungu. Dan
pada lain saat dindingpun terbuka sebuah pintu.
“umitohud!” terdengar pula suara paderi
berseru. Menyusul seorang paderi tua jubah
kuning dengan mencekal sebatang tongkat sian
ciang, melangkah masuk.
Kemunculan paderi yang tak terduga-duga itu
lelah mengejutkan sekalian orang sehingga
Han Ping dan Ih thian-hengpun hentikan
pertempuran.
Ketika berpaling, segera nan Ping memberi
hormat, “Semoga lo siansu baik2 saja selama
ini,”
Paderi yang datang itu memang Hui In tay-su.
kepala ruang Kwat-si-wan dari gereja
Siau-lim-si. Dibelakangnya mengikut
serombongan paderi Siau-lim.
Sesaat kemudian masuk pula delapan orang
paderi jubah merah yang masing2 mencekal
tongkat paderi. Mereka melangkah masuk
dengan tenang mengawal seorang paderi jubah
kuning, Paderi jubah kuning itu memondong
sebatang tongkat Kumala Hijau. Ya, dia
memang Goan Thong taysu, ketua Siau-lim-si
yang sekarang. Dibelakang ketua itu ikut
Hui Ko taysu yang menyanggul sebatang garu
tembaga. Dan dibelakang Hui Ko taysu.
seorang imam jubah biru, memanggul sebatang
pedang di punggung.
Tiba2 Ih Thian-heng tertawa keras, “Bagus,
Siau-lim dan Bu tong, dua orang ketua dari
partai persilatan yang menentukan nasib
dunia persilatan Tioag-goan, pun datang.”
Goan Thong taysu tertawa hambar: Omitohud!
Para enghiong ternyata sudah datang lebih
dulu.”
Imam jubah biru yang menyanggul pedang di
punggung itu ternyata ketua partai Butong-
pay yang bergelar Thian Ci totiang. Ketua Bu
tong-pay itu tegak dengan sebelah
tangan menjulang lurus didepan dada, lalu
tertawa: Sembilan partai persilatan dalam
dunia persilatan, tidak ada yang tidak
memikirkan peristiwa pertempuran dalam makam
tua ini. Ketua tiap2 partai persilatan
segera akan datang bersama rombongan masing2….”
Tiba2 ketua Lam-hay bun tertawa mengejek,
“Bagus, benar2 suatu pawai besar, mengapa
tak mengundang orang untuk menyaksikannya?”
Goan Thong taysu menyambut dingin, “Asal
engkau mampu membuat pin ceng dan
Thian Ci toheng mati dalam ruang ini,
mengapa engkau kuatir mereka takkan
berbondong-bondong masuk seperti anak2
menyerbu api?”
“Kalau kalian memang menghendaki mati,
apakah susahnya?” sahut ketua Lam-hay-bun.
Tiba2 wajah Han Ping berseri cerah, serunya,
“Ih Thian heng….”
Ih Thian heng cepat berpaling kearah Han
Ping, sahutnya agak heran, “Mengapa?”
Menunjuk pada pedang Pemutus asmara yang
berada disisinya, Han Ping berkata,
“Perbuatan jahat apakah yang pernah
dilakukan oleh kedua orang-tuaku?”
“Ayahmu?” kata Ih Thian heng, “banyak sekali
membunuh orang, tangannya berlumuran
darah manusia, tiga Pendekar dari Lam-gak
itu, semua bukan manusia baik!”
“Kuminta engkau bicara yang jujur!” bentak
Han Ping marah, “Setiap patah
keteranganku ini, memang suatu kenyataan,”
jawab Ih thian heng.
Han Ping menghela napas panjang, “Di dunia
ini tiada ayahbunda yang jahat. Sekalipun
kedua orangtuaku bukan orang baik, tetapi
dendam darah itu tetap harus kutuntut. Lekas
engkau ambil pedang Pemutus-asmara itu dan
bunuh diri saja!”
Kata” Han Ping itu diucapkan dengan wajar
dan tenang.
“Mengapa?” tanya Ih Thian-heng.
Kata Han Ping, “Aku teringat akan beberapa
jurus permainan ilmu silat. Jelas jurus itu
tak mungkin dapat engkau lawan. Apabila
engkau ingin menjaga nama harummu sebagai
seorang kesatrya, lebih baik engkau segera
bunuh diri saja.”
Ih Thian-heng tertegun, serunya, “Sekalipun
aku percaya apa yang engkau katakan itu,
tetapi aku tetap masih mempunyai keraguan.”
“Baiklah,” seru Han Ping pula, “yang datang
di makam ini makin lama makin banyak.
Kita harus lekas menyelesaikan persoalan
ini!”
Habis berkata Han Ping terus mengangkat
tangan dan menampar.
Ih Thian-heng tersenyum, “Bagus, rupanya
hari ini takkan berhenti sebelum ada yang
menggeletak jadi mayat!” ia terus menangkis.
Tamparan Han Ping itu tampaknya lemah
gemulai seperti tak bertenaga. Tetapi ketika
berbentur dengan tangan Ih thian-heng, Ih
Thian-hengpun segera rasakan uluhatinva
tergetar. Tekanan tenaga yang begitu hebat,
memaksa Ih Thian-heng harus menyurut
mundur selangkah.
Han Ping menarik pulang tangannya lalu
menampar pula. Melihat gerakan tangan Han
Ping lemah gemulai seperti tadi. Ih
Thian-heng tak berani menyamputi. Ia cepat
menghindar ke samping.
Tetapi tiba2 Han Ping berputar tubuh dan
tangannya yang bergerak pelahan tadi
sekonyong-konyong merangsang, secepat kilat
membayang tubuh Ih Thian-heng.
Setelah menghindar dari tamparan Han Ping
tadi. Ih Thian-heng hendak balas
menyerang. Tetapi tak terduga-duga dia sudah
dikejar lagi oleh pukulan anakmuda itu.
Sedemikian cepat sekali tangan Han Ping itu
menghantam sehingga Ih Thian-heng lak
sempat menghindar, Seketika lengan kirinya
kesemutan. Tulang lengannya patah,
sakitnya sampai menusuk ke ulu hati.
Tetapi Han Ping tak mau menyusuli pukulan,
melainkan loncat mundur dan memungut
pedang Pemutus asmara, serunya, “Lekas cabut
senjatamu!
Tampak keringat sebesar kedele bercucuran
dari kedua belah pipi Ih Thian-heng. Dia
tegak berdiri diam, seolah-olah tak
mendengar seruan Han Ping.
Sambil memutar pedang, Han Ping berseru
pula, “Ih Thian-heng, lekas cabut senjata
mu….
Ih Thian-heng tiba2 tersenyum dan berkata
perlahan, “Lengan kiriku patah, dalam waktu
sepeminum teh mungkin belum dapat
kugerakkan.”
Han Ping agak terkesiap, serunya, “Baiklah,
akan kutunggu sampai sepeminum teh lagi!”
Dalam pada itu Goan Thong taysu berpaling
kearah Hui in taysu yang berada disisinya
dan berbisik, “Minta kembali pedang
Pemutus-asmara milik gereja kita itu!”
Setelah mengiakan, Hui In taysu segera
berseru nyaring, “Ji Han Ping!”
Dalam hati memang Han Ping sudah mempunyai
prasangka terhadap Hui K o dan Goan
Thong, Mendengar teriakan itu serentak iapun
menjawab dingin, “Ada apa?”
“Kapankah engkau hendak mengembalikan pedang
Pemutus asmara dari gereja kami
itu?” seru Hui Ko.
Diam2 Han Ping menimang. Menilik adanya,
jelas paderi Siau-limsi itu memang
bertujuan hendak mengambil kembali pedang
Pemutus asmara. Apabila dihadapan sekian
banyak tokoh2, ia mengakui pedang pusaka itu
sebagai milik Siau lim si, tentulah pedang
itu harus dikembalikan.
“Walaupun adu sendiri tak mempunyai
keinginan untuk mengangkangi pedang itu, tetapi
aku harus mencari orang yang berbudi luhur
memberikan pedang itu. Agar orang itu
dapat melakukan beberapa hal yang berguna
terhadap manusia….”
Setelah menetapkan keputusan, maka Han Ping
pun berkata tawar, “Maaf, aku tak
mengerti apa maksud ucapan taysu. tetapi
apakah hubungannya pedang pusaka ini
dengan gereja taysu?”
Wajah Goan Thong berobah, serunya! “Kubawa
para ketua sembilan partai persilatan
dengan rombongannya ke makam tua sini, sama
sekali tiada dengan maksud hendak
mempersulit sahabat2 persilatan dunia Tiong
goan sendiri.”
“Soal itu, aku tak ingin berbanyak tanya,”
sahut Han Ping.
Melihat Han Ping tak menaruh perindahan
kepadanya. Goan Thog taysu makin marah,
serunya dengan bengis, “Setelah keluar ke
dunia persilatan, pin-cengpun sekalian hendak
membasmi beberapa orang jahat!”
Han Ping tertawa lepas, “Pedang pusaka ini?
Ya, memang benar kuambil dari gereja
taysu….”
“Karena berasal dari gereja kami, maka
pedang itu tentulah benda milik Siau-lim-si,”
teriak Hui Ko taysu.
“Tetapi aku tak mencurinya,” bantah Han
Ping, “dan bukan pula mengambil. Benda itu
adalah hasil dari menang bertaruh. Kalau
taysu hendak meminta kembali pedang ini
memang mudah saja, asal Hui Gong taysu hidup
kembali….
“Tutup mulutmu!” bentak Goan Thong dengan
bengis.
Han Ping menyahut dingin, “Aku bukan anak
murid Siau lim-si harap taysu jangan bicara
kasar!”
Goan Thong taysu melirik pada ThianCi
to-tiang, serunya, “Toheng, dia begitu congkak
sehingga aku tak dapat menahan kesabaran
lagi.”
“Biarlah kutanya kepadanya.” kata ketua
Butong pay ilu lalu menatap kearah Han Ping,
“Siapakah nama sicu?”
“Ji Han Ping.”
“O, kiranya Ji tayhiap Aku Thtin ci.”
“Ah, sudah lama aku mendengar nama totiang
yang harum,” kata Han Ping.
Thian Co totiang tertawa, “Ah, harap jangan
memuji. Aku menerima undangan dari Goan
Thong taysu, untuk menyelamatkan
kelangsungan hidup sahabat dunia persilatan Tionggoan,
akan berhadapan dengan Lam-hay Ki-siu. Aku
tak ingin melibat diantara sesama
kaum persilatan Tiong-goan akan saling bunuh
membunuh sendiri. Maka dengan ini
ingin kuhaturkan sepatah kata kepada Ji
tayhiap.”
“Han Ping akan mendengarkan dengan hormat,”
sahut Han Ping.
“Sudah berpuluh tahun pedang Pemutus-asmara
lenyap dari dunia persilatan,” kata Thian
Ci totiang,” sekarang pedang itu muncul lagi
didalam makam tua ini. Dan akupun
beruntung menyaksikan pusaka yang termasyhur
itu. Hanya saja, aku tak tahu nari
manakah asal pedang itu?”
Han Ping merenung sejenak, menyahut, “Benar
pedang itu berasal kari gereja Siau-lim-si,
tetapi sama sekali aku tak mencurinya.”
Thian Ci totiang tertawa, “Apakah hasil dari
pertaruhan?”
“Benar,” Hati Ping mengiakan. “Lalu siapakah
yang mencuri pedang itu?” tanya Thian
Gi pula.
“Hui Gong taysu.”
“Dimanakah dia sekarang?”
“Meninggal dunia.”
“Hui Gong taysu meninggal dalam ruang
pertapaannya. Adakah keterangan Ji tayhiap itu
dapat dipercaya orang?” kata ketua Bu-tong
pay pula.
Han Ping tertegun, serunya, “Lalu
bagaimana?”
“Aku mempunyai dua cara supaya Ji tayhiap
suka memilih,” kata ketua Bu tong pay.
Han Ping terkesiap. Namun ia tak mau kalah
perbawa dan serentak menyahut.
”Silahkan totiang mengatakan….”
JILID 8.
Pedang Pemutus Asmara.
Berkata ketua Bu tong pay pula, “Entah
bagaimana Ji tayhiap memperoleh pedang itu
tetapi jelas pedang itu berasal dari gereja
Siau- lim-si. Agar jangan sampai merusak
persahabatan di antara sesama kaum
persilatan Tiong-goan, mohon Ji tayhiap suka
memandang muka pinto dan suka mengembalikan
pedang itu kepada Siau-lim.”
“Mohon tanya, apakah cara kedua yang totiang
hendak utarakan?” tukas Han Ping.
“Ji tayhiap mengatakan bahwa pedang itu
engkau dapatkan karena menang bertaruh adu
kepandaian. Maka pinto hendak mengulangi hal
itu, akan bertaruh juga dengan Ji
tayhiap.” kata Thian Ci totiang.
Han Ping terkesiap.
“Apabila Goan Thong Taysu suka memberi
keterangan atas sebuah pertanyaanku, tak
perlu bertaruh, aku tentu akan menghaturkan
pedang itu kepada Siau-lim-si,” sahut Han
Ping.
“Pertanyaan apa?”
“Bahwa totiang berani bertaruh dengan aku
demi kepentingan Siau-lim-si, jelas
menunjukkan keluhuran budi totiang. Tetapi
dapatkah totiang menjamin kepadaku bahwa
Goan Thong taysu tentu mau menjawab
pertanyaanku itu?”
“Soal itu tergantung dari janji Ji-tayhiap
untuk mengembalikan pedang itu?”
Tanpa ragu2 Han Ping lalu angsurkan pedang
Pemutus-asmara, “Silahkan totiang
menerima pedang ini.”
Sambil menyambuti pedang, Thian Ci totiang
berkata, “Asal pertanyaan itu tak
mengandung hinaan kotor kepada orang, aku
tentu bersedia untuk menjadi saksi kedua
belah fihak.”
Setelah menyerahkan pedang, mata Han Ping
lalu menatap Goan Thong taysu.
“Dalam kalangan agama Hud-kau, orang
menuntut adanya hukum Karma. Apabila
sepatah saja engkau bohong, engkau tentu
akan dijebluskan ke dalam neraka delapan
belas lapis….” kata pemuda itu.
Tiba2 Han Ping bertanya dengan nada serius,
“Bagaimanakah kematian ketua Siau-lim-si
dari dua angkatan yang lalu?”
Partanyaan ini sungguh di luar dugaan orang,
sehingga sekalian orang tertegun.
Dan tampaknya Goan Thong taysu tergetar
nyalinya melihat kegarangan sikap anakmuda
itu. Setelah termangu sejenak, ia menyahut,
“Tiada seorang kaum persilatan yang tak
tahu bahwa karena menderita sakit maka
beliau meninggal….”
“Apakah omonganmu itu benar2 keluar dari
hati nuranimu yang baik?” tiba2 Han Ping
menggembor keras.
Goan Thong terbeliak tak dapat menjawab.
“Apakah bukan engkau yang memperdayakan
kekuasaan suhumu untuk membunuhnya?”
teriak Han Ping nyaring.
Rupanya Goan Thongpun sudah mendapat
kesadarannya kembali. Ia membentak marah,
“Jangan ngaco belo….”
Han Ping bersuit panjang lalu berseru dengan
lantang, “Siang malam kupikirkan
peristiwa itu dan akhirnya aku dapat
menemukan jawabannya. Murid pertama dari
sucoumu yakni Hui Gong taysu, seorang tunas
yang cemerlang. Walaupun karena terlena
oleh rasa dengki telah melakukan pembunuhan
tetapi tak seharusnya dia menerima
hukuman seumur hidup semacam itu….”
Goan Thong taysu mendengus, “Harap Hui In
susiok turun tangan untuk melenyapkan
anak gila ini agar jangan sampai menodai
nama baik Siau-lim-si.”
Hui In taysu, sute dari mendiang Hui Gong
taysu, adalah paman guru dari Goan Thong
taysu ketua Siau-lim-si yang sekarang.
Paderi tua itu mengerut sedih lalu merangkapkan
kedua tangannya.
“Maksudku, biarlah dia bicara dulu sampai
selesai, baru kita nanti menindaknya,” kata
paderi tua itu.
Han Ping tak menghiraukan, ia tetap
melanjutkan kata2nya dengan nyaring, “Sucoumu
menghukum Hui Gong taysu dalam ruang
Renungan itu, tujuannya tak lain agar Hui
Gong taysu dapat menggunakan waktu2 yang
sunyi dan hening itu, untuk memperdalam
pengertiannya tentang ilmu pusaka Siau-lim.
Setelah dapat menembus rahasia2 ilmu
pusaka itu, barulah dia nanti akan diangkat
sebagai ketua Siau-lim. Dengan demikian
tentulah pamor gereja Siau-lim-si akan makin
rmenjulang luas. Itulah sebabnya mengapa
sucoumu hanya memerintahkan Hui Gong taysu
dihukum menghadap tembok selama tiga
tahun saja.”
“Lekas bunuh murid liar itu agar nama
Siau-lim-si jangan tercemar….” karena tak kuat
menahan kemarahannya, Goan Thong taysu
menggembor.
Dua orang paderi jubah merah merah tampil ke
muka dan menghantam. Tetapi Han Ping
cepat bergerak, ia menghindari pukulan dari
sebelah kiri dan menangkis pukulan dari
sebelah kanan.
“Taysu sekalian mungkin tak percaya
kepadaku,” serunya, “tetapi apabila para paderi
tingkat tinggi mau merenungkan suasana pada
saat itu, tentulah akan percaya pada apa
yang kukatakan ini….”
Paderi jubah merah yang menyerang dari
sebelah kiri tadi, saat itu sudah akan
mandorongkan kedua tangannya ke arah Han
Ping, Tetapi demi mendengar kata2 Han
Ping tiba2 ia menarik pulang tangannya dan
mundur ke tempatnya semula.
Melihat itu bukan kepalang merah Goan Thong
taysu. Segera ia membentak kepada
beberapa paderi jubah merah, “Mengapa
tinggal diam saja. Apakah kalian lupa akan
peraturan gereja yang keras itu?”
Rombongan paderi itu serempak marangkapkan
kedua tangan ke dada dan menyerukan
Omitohud lalu tundukkan kepala tak menyahut.
“Harap ciangbun hong-tiang jangan marah,”
tiba2 Hui In taysu menyeletuk, “atas
peringatan sicu itu, akupun segera teringat
akan sebuah hal. Pada saat aku hendak
berangkat menjalankan tugas ke daerah
Kwan-ga (luar perbatasan), suhu masih terbaring
di tempat tidur karena menderita sakit dan
memesan wanti2 kepadaku, paling lambat tiga
tahun lagi harus kembali ke gereja untuk
menghadiri upacara pengangkatan Hui Gong
menjadi ketua gereja….”
Merahlah selembar muka Goan Thong,
bentaknya, “Tutup mulutmu! Apakah engkau
anggap tongkat Kumala Hijau ini tak boleh
membunuh seorang angkatan tua?”
Wajah Hui In pun berobah serius, serunya
dengan nada sarat, “Bagaimana aku berani
melawan tongkat pimpinan gereja kita.”
Sambil gentakkan tongkat Kumala Hijau,
berserulah Goan Thong taysu, “Kalau tak
berani menentang tongkat Kumala Hijau, harap
lekas menerima amanatnya.”
Sambi rangkapkan kedua tangan, Hui In
menyambut, “Dengan hormat aku menanti.”
Goan Thong taysu mengacungkan tongkat
pimpinan itu ke atas seraya pelahan-lahan
maju menghampiri. Kerut dahinya memancar
hawa pembunuhan.
Rombongan paderi itu tampaknya patuh sekali
terhadap tongkat Kumala Hijau. Pada saat
tongkat itu dibawa Goan Thong berjalan,
mereka tundukkan kepala dengan khidmat
sekali.
Tiba2 Han Ping berkisar tubuh menghadang
jalan Goan Thong. Dua orang paderi jubah
merah segera menghantamnya dari kanan dan
kiri.
Walaupun rombongan paderi itu sudab menaruh
kecurigaan terhadap Goan Thong tetapi
mereka tetap menghormati kedudukannya
sebagai seorang ketua. Maka itulah sebabnya,
ketika Han Ping menghadang, kedua paderi
jubah merah itu segera menyerangnya.
Han Ping tak mau bentrok dengan paderi
Siau-lim-si. Ia cepat loncat menghindar lalu
berpaling ke arah Thian Ci totiang, serunya,
“Totiang adalah seorang imam yang
berkedudukan tinggi. Apa yang totiang
ucapkan tentu harus ditepati. Mohon totiang suka
memberi peradilan.”
Thian Ci totiang menghela napas sarat,
serunya, “Goan Thong toheng.”
Tanpa berpaling, ketua Siau-lim-si itu
mengiakan. Dengan dikawal oleh rombongan
paderi, ia cepatkan langkah menerjang ke
tempat Hui In taysu. Mengangkat tongkat
Kumala Hijau terus dihantamkan.
Melihat tongkat Kumala Hijau hendak
mengemplang kepalanya, Hui In tak berani
menghindar dan mengerahkan tenaga dalam
untuk menahan. Cepat ia pejamkan mata dan
menghela napas, “Hui Gong suheng, tunggulah
aku untuk bersama-sama ke Inderaloka!”
terdengar suara gemboran keras. Segelombang
angin pukulan melanda dan menyiak
tongkat Kumala Hijau itu.
Goan Thong taysu terkejut dan berpaling.
Dilihatnya pengemis tua yang rambutnya kusut
masai dan menggendong sebuah buli2 arak
warna merah tengah berjalan menghampiri.
“Siapa engkau?” bentak Goan Thong murka.
Orang itu tertawa dingin. “Huh, masakan aku
si pengemis tua engkau tak kenal?”
Goan Thong taysu menunjuk Hui Ko taysu
dengan tongkat Kumala Hijau serunya,
“mohon Hui Ko susiok turun tangan membasmi
pengemis tua itu.”
Hui Ko taysu loncat ke muka, berseru dingin,
“Cong To, kuharap engkau jangan usil.”
Pengemis-sakti Cong To tertawa, “Penyakit
yang sudah lama diderita pengemis tua itu,
justeru penyakit usil suka mencampuri urusan
orang.”
“Kalau begitu engkau cari mati,” Hui Ko
marah dan terus menghantam.
Cong To menangkis dengan tangan kanan.
Ketika saling berbentur, pengemis itu tersurut
mundur selangkah.
Hui Ko taysu menghambur serangan dengan
kedua tangannya. Makin lama makin gencar
dan hebat. Dia memiliki tenaga-dalam yang
tinggi. Setiap pukulannya tentu lebih hebat
dari yang sudah2. Cepat sekali keduanya
sudah bertempur empat lima jurus.
Tiba2 Goan Thong berseru nyaring, “Murid
Siau-lim yang berhianat berani menentang
amanat tongkat Kumala Hijau, harus dihukum
mati….”
Rombongan paderi Siau-lim serempak berseru,
“Mohon ciangbun-jin suka bermurah hati.
Hui In taysu merupakan salah satu dari dua
orang angkatan Hui yang masih hidup.
Bagaimana ciangbun-jin hendak menurunkan
perintah menghukumnya mati.”
Tetapi Goan Thong taysu tetap berseru
lantang, “Semua tindakan aku yang bertanggung
jawab.”
Habis berkata ia terus ayunkan tongkat
Kumala Hijau ke arah kepala Hui In.
Melihat itu Han Ping terkejut. Tetapi
tempatnya dengan Hui In masih terpisah dengan
sederet rombongan paderi jubah merah.
Sekalipun ia maju menolong tetapi keadaan tak
memungkinkan.
Pada saat maut hendak merenggut jiwa seorang
paderi sakti dari tiba2 Ih Thian-heng
yang sejak tadi pejamkan mata menyalurkan
tenaga-dalam membuka mata dan
membentah, “Goan Thong, berhenti!”
Dengan cepat ia gerakkan tutukkan jari-sakti
ke arah Goan Thong.
Pertama, ilmu tutukan-jari dari jauh yang
dilancarkan Ih Thian-heng itu memang amat
cepat sekali. Dan kedua kalinya, rombongan
paderi itu memang tak menghendaki Hui In
taysu sampat binasa di bawah hantaman
tongkat Kumala Hijau. Maka Paderi2 itupun
sengaja bergerak lamban.
Goan Thong taysu terkejut dan terpaksa
menghindar mundur. Ia menyadari bahwa
sekalipun ia dapat menghatam pecah kepala
Hui In, tetapi dia sendiripun pasti celaka
terkena ilmu tutukan jari maut dari Ih
Thian-heng.
Selekas dapat mencegah Goan Thong taysu, Ih
Thian-heng pun segera menderita
serangan dari dua paderi pengawal Goan
Thong.
Han Ping berpaling ke arah Thian Ci totiang,
“Karena totiang tak dapat menjamin
kepentingan dua fihak, harap mengembalikan
pedang itu kepadaku,” katanya dengan
nada dingin.
Thian Ci totiang terkesiap dan wajahnyapun
berobah. Sambil menyerahkan kembali
pedang, ia berteriak keras, “Goan Thong
toheng, harap memandang mukaku dan hentikan
tindakan dulu. Hendak bicara, marilah bicara
secara baik2.”
Terdengar Ih Thian-heng tertawa dingin. Ia
gerakkan kedua kakinya untuk menendang
sehingga kedua paderi yang menyerangnya itu
mundur.
“Dunia mengatakan aku orang she Ih ini
manusia berhati kejam dan ganas. Tetapi siapa
tahu partai Siau-lim-si yang membanggakan
diri sebagai pemimpin dunia persilatan dan
sebuah partai perguruan yang besar, ternyata
juga terdapat permainan yang kotor dan
menyedihkan….”
Wajah Goan Thong taysu merah padam,
bentaknya, “Ih Thian-heng, jangan ngaco
belo….”
Ih Thian-heng tertawa panjang. “Bukankah
hatimu takut? Seorang lelaki, berani berbuat
berani bertanggung jawab. Mengapa harus
takut?”
Bum, bum…. terdengar pula dua letupan dari
Hui Ko dan Pengemis sakti Cong To yang
saling adu pukulan.
Tiba2 Hui Ko taysu membentak, “Hai,
pengemis, dan mana engkau mencuri ilmu
pelajaran Siau-lim-si?”
Cong To tertawa, “Tat Mo cousu sendirilah
yang mengajarkan kepadaku. Suruh aku
mewakili beliau membersihkan perguruan
Siau-lim-si, menyikat murid2 murtad.”
Ia menutup kata-katanya dengan melancarkan
dua buah pukulan yang kesemuanya adalah
ilmu pusaka perguruan Siau-lim-si.
Tempo Cong To dan Han Ping terperangkap
jatuh ke dalam penjara air Hian-bu-kiong,
keduanya melewatkan hari dengan makan belut.
Han Ping telah mengatakan banyak
sekali ilmu pelajaran dalam buku Tat-mo-ih
kin-keng yang dihafalnya secara lisan. Cong
To yang tinggi kepandaiannya dan merupakan
seorang tokoh kelas satu dalam dunia
persilatan, mendengarkan uraian Han Ping itu
dengan penuh perhatian. Lalu
merenungkan dan meresapinya. Dengan demikian
bukan saja ia memperoleh banyak
sekali ilmu2 pusaka perguruan Siau-lim-si,
pun ia telah memperoleh kemajuan besar
dalam ilmu tenaga-dalam.
Pada saat itu Goan Thong tetap
menggerak-gerakkan tongkat Kumala Hijau untuk
memaksa rombongan paderi menyerang Ih
Thian-heng.
Rombongan paderi yang menyertai Goan Thong
masuk ke dalam makam tua itu, adalah
paderi2 kelas satu. Sekali mereka maju
menyerang, sudah tentu perbawanya dahsyat
sekali.
Ih Thian-heng dalam keadaan masih belum
terluka pun sukar untuk menghadapi. Apalagi
saat itu sebelah lengannya lumpuh. Untungnya
Para paderi itu sudah menaruh kecurigaan
kepada Goan Thong. Mereka memang sengaja tak
mau membunuh Ih Thian-heng agar
dapat dijadikan saksi hidup. Waktu
bertempur, merekapun sengaja memberi kelonggaran
sehingga dengan demikian Ih Thian-heng tak
sampai menderita kekalalaan.
Namun sekalipun mereka memberi kelonggran,
setelah bertempur berpuluh jurus, Ih
Thian-heng tetap merasa tak kuat bertahan.
Goan Thong taysu serdiripun tak sahar lagi.
Ia segera menyerang dengan tongkat Kumala
Hijau kepada Ih Thian-heng. Tujuh buah
serangan dilancarkan sembari membentak
kepada para anak buahnya, “Dalam limapuluh
jurus apabila tak mampu mencabut jiwa Ih
Thian-heng, kalian harus lekas siap menerima
hukuman perguruan.”
Rupanya rombongan paderi itu sudah
mengetahui bahwa ketuanya tahu kalau mereka tak
menyerang sungguh2. Mendengar bentakan itu,
mereka terkejut lalu menyerang gencar.
Tongkat Kumala Hijau memang merupakan
lambang kekuasaan tertinggi dari gereja
Siau-lim si. Semua paderi Siau-lim-si dari
tingkat bawah sampai tingkat yang paling
tinggi, tunduk dan taat pada amanat tongkat
Kumala Hijau.
Ih Thian-heng yang sudah tak kuat, makin
payah. Dalam limapuluh jurus, tentu tentu
akan mati di bawah hujan pukulan paderi2
Siau-lim-si.
Nyo Bun-giau, ketua Lembah setan dan lain2
hanya berpeluk tangan mengawasi. Tetapi
walaupun tampaknya tak acuh, dalam hati
mereka amat gelisah juga. Mereka tak tahu
bagaimanakah kesudahan peristiwa yang
terjadi pada saat itu.
Dalam pada itu fihak Lam-hay-bun malah sudah
mengelompok. Tampak bibir ketua
Lam-hay-bun bergerak-gerak. Rupanya dia
gunakan ilmu Menyusup-suara untuk
memberi perintah kepada anak buahnya.
Si Bungkuk dan si Kate, Ong Kwan-tiong serta
si Baju merah kaki satu, tampak serius
wajahnya. Lalu masing2 bergerak menduduki
tempat2 penting di empat penjuru.
Si dara baju ungu rupanya menaruh perhatian
pada pertempuran antara Ih Thian-heng dan
rombongan paderi Siau-lim itu.
Pada saat Ih Thian-heng terancam maut. tiba2
Han Ping berseru pelahan dan
menghantam balik Goan Thong. Ketua itu
mengelak dan hantamkan tongkat Kumala
Hijau untuk menutuk lengan Han Ping.
Han Ping loncat menghindar lalu menghantam
keempat orang paderi. dengan ilmu Tujuhpukulan
dan kehebatan pukulan itu membuat sekalian
orang terkejut.
Walaupun ilmu kepandaian paderi2 itu tinggi
tetapi karena menderita serangan hebat
secara mendadak, tak urung mereka menjadi
kacau.
Ih Thian-heng menghela napas longgar.
Semangatnyapun bangkit kembali. Dia segera
keluarkan ilmu pukulan yang hebat untuk
menyapu paderi2 itu.
Melihat itu Goan Thong segera berteriak,
“Yang mundur akan mati.”
Dengan susah payah para paderi itu dapat
mengatasi kekacauan dan mulai lancarkan
serangan lagi kepada Ih Thian-heng dan Han
Ping yang terkepung di tengah.
Walaupun keduanya merupakan musuh bebuyutan,
tetapi keadaan saat itu memaksa
keduanya bahu membahu menghadapi serangan
paderi Siau-lim. Suasana itu telah
menjadikan keduanya entah sebagai musuh
entah kawan.
Sementara itu Hui Ko dan Cong Topun sudah
bertempur sampai seratus jurus lebih.
Hui Ko taysu mengeluarkan ilmusilat pusaka
Siau-lim. Dan tak sengaja serangan itu
membuat Cong To makin menyelami banyak
sekali ilmu pelajaran dalam kitab Tat- moih-
kin keng yang belum diketahui artinya.
Rupanya Goan Thong sudah memutuskan untuk
membunuh Han Ping dan Ih Thian-heng.
Dengan mengandalkan kekuasaan tongkat Kumala
Hijau, ia dapat mendesak para paderi
menyerang dengan seluruh tenaga.
Ke delapan paderi jubah merah, saat itu
benar2 sudah tenggelam dalam pertempuran seru.
Sebelum Goan Thong taysu, kesembilan orang
itu melancarkan serangan2 maut kepada
Han Ping dan Ih Thian-heng.
Dalam partai Hui Ko-Cong To. Semula
kedudukan yang bagus dari Hui Ko, telah
digagalkan oleh jurus2 permainan yang
istimewa dari Cong To. Dengan demikian
keduanya tetap berimbang. Pertempuran itu
pasti berjalan lama, mungkin sampai ratusan
jurus.
Pada fihak Siau-lim-si hanya Hui In taysu
seorang yang belum turun tangan.
Saat itu tampak Ih Thian-heng mulai lelah.
Karena lengannya yang sebelah tak dapat
bergerak maka dia hanya bertempur dengan
satu tangan. Sudah tentu agak canggung.
Melihat itu terpaksa Han Ping harus
mengawasi keadaannya. Berulang kali ia
menghantam dan menendang untuk membebaskan
Ih Thian-heng dari serangan maut para
paderi.
Seiring pertempuran berjalan seru, tiba2
Goan Thong berteriak keras, “Hui In supeh,
kalau engkau tak mau turun gelanggang
terpaksa akan kugunakan tongkat Kumala Hijau
untuk memelintahkan engkau menghantam hancur
ubun2 kepalamu sebagai tebusau dari
hukuman perguruan kepadamu!”
Habis berkata ketua Siau-lim-si itu meloncat
mundur seraya mengangkat tongkat pusaka.
Hui Tn taysu memandang tongkat Kumala Hijau,
tongkat kekuasaan Siau lim-si yang
sudah turun temurun sampai beberapa angkatan
ketua. Tampak paderi tua dari angkatan
Hui itu tegang sekali. Rupanya timbul
pertentangan dalam batin paderi tua itu. Melawan
atau mentaati amanat tongkat Kumala Hijau
yang dilantangkan oleh ketua Siau lim-si
sekarang yakni Goan Thong taysu.
Han Ping tahu bahwa ilmu kepandaian Hui In
taysu itu adalah yang paling sakti di antara
rombongan paderi Siau lim-si yang berada di
makam situ. Bahkan Goan Thong taysu
itupun hanya murid keponakan dari Hui In
taysu. Goan Thong memanggil Hui In dengan
sebutan ’susiok’ atau paman guru.
Han Pingpun menyadari pula bahwa apabila Hui
In taysu terpaksa turun tangan karena
ditekan oleh Goan Thong yang menggunakan
kekuasaan tongkat Kumala Hijau itu.
pastilah suasana dalam pertempuran itu akan
berobah berbahaya.
Berpaling ke arah rombongan tokoh2, Han Ping
mendapat kesan bahwa sekali pun
mereka menaruh perhatian pada jalannya
pertempuran itu tetapi mereka tak mangunjuk
sikap hendak membantu. Rupanya mereka takut
bentrok dengan fihak Siau-lim-si.
Terdengar Hui In menghela napas, “Ah,
apabila ciangbun-jin menyetujui sepulangnya ke
gereja segera membuka rapat besar para
tianglo (paderi golongan angkatan tua). aku
segera menurut perintah untuk turun tangan.
Tetapi apabila ciangbunjin menolak, lebih
baik aku diam saja dan menanti hukuman dari
tongkat Kumala Hijau itu.”
Dengan ucapannya itu jelas kalau Hui In tak
menyatakan hendak membunuh diri sendiri
dengan menghantam ubun2 kepalanya.
Sejenak merenung. Goan Thong taysu segera
berkata, “Baik, aku meluluskan
permintaanmu. Sepulang ke gereja segera akan
kuselenggarakan rapat besar Tianglo.”
“Kalau demikian aku akan melaksanakan
perintah Kumala Hijau,” kata Hui In.
Sejenak keliarkan pandang ia berseru pelahan
suruh paderi2 jubah merah itu menyingkir.
Setelah itu Hui In taysu maju selangkah dan
memukul punggung Ih Thian-heng.
Saat itu Ih Thian-heng sedang menghadapi
serangan dari dua orang paderi jubah merah
dari sebelah muka. Sudah tentu ia tak
berdaya melayani pukulan dari belakang.
Han Ping terkejut. Ia tahu Hui in taysu
memiliki tenaga pukulan yang sakti. Apabila
punggung Ih Thian-heng terkena, tentulah
akan remuk binasa.
Cepat anakmuda itu bertindak. ia berputar
tubuh dan langsung tangan kirinya bergerak
untuk menangkis.
Ketika kedua pukulan saling beradu. Han Ping
terpental mundur selangkah. Luka pada
lengannya yang baru saja berhenti
mengeluarkan darah merekah kembali dan
mengucurkan darah.
Hui In taysu tertegun. Kesempatan itu
digunakan Han Ping untuk mencabut pedang
Pemutus-Asmara.
Sekonyong-konyong Goan Thong menyerbu dan
menutuk punggung Han Ping dengan
tongkat Kumala Hijau. Tring, cepat Han Ping
menebas tongkat itu dengan pedang.
Dalam pada itu Hui Inpun menutuk dengan
jari. Sebuah arus tenaga dahsyat yang
mendesuskan angin tajam segera melanda Han
Ping.
Tongkat Kumala Hijau adalah pusaka gereja
Siau-lim-si dan pedang Pemutus asmara itu
sebuah pedang pusaka yang ampuh sekali.
Apabila tongkat lambang kepemimpinan Sian
lim si yang sangat dipuja oleh para paderi
itu sampai terbabat kutung, tentulah akan
membangkitkan kemarahan seluruh paderi.
Itulah sebabnya maka Hui In menyerempaki
dengan tutukan jari untuk memaksa Han Ping
menyurur mundur. Dan memang, Han Ping
yang kenal akan kelihayan tutukan jari itu
segera menghindar ke samping.
Angin tutukan jari Hui Inpun melanda terus
ke sisi Han Ping. Tetapi angin tajam itu pun
dapat mencegah majunya rombongan paderi yang
hendak menyerbu Han Ping.
Goan Thong taysu berseru gopoh, “Hui In
susiok, harap menahan Han Ping, jangan kasih
dia menerobos keluar!”
Habis berkata paderi itu terus menyerang Ih
Thian-heng dengan tongkat Kumala Hijau.
Rupanya dia sudah memutuskan membunuh Ih
Thian-heng dulu baru nanti membasmi
Han Ping.
Hui In taysu mengiakan dan segera menghadang
Han Ping.
Sambil luruskan pedang Pemutus-asmara ke
muka dada, Han Ping memandang paderi itu
dengan mata berkilat-kilat. “Taysu adalah
orang yang paling kuhormati. Aku tak mau
bertempur dengan taysu.”
“Bertempur dengan lawan harus menggunakan
ilmu kepandaian untuk mengalahkan.
Silahkan sicu mencurahkan seluruh kepandaian
sicu. Sekalipun aku terluka, takkan
merasa penasaran.”
Han Ping mengungkat alis dan tertawa
nyaring, “Sungguh tak nyana bahwa dua buah
partai persilatan yang begitu termasyur
dalam dunia persilatan, ternyata hanya manusia2
yang tak pegang janji. Kalau mereka yang
dipandang sebagai pemuka dunia persilatan
begitu nista tingkah lakunya, tentulah dunia
persilatan pada umumnya juga berhati jahat.”
Ucapan yang diucapkan dengan tajam oleh Han
Ping, benar2 bagaikan pisau yang
menusuk uluhati Thian Ci totiang, ketua
Bu-tong-pay.
Thian Ci totiang segera mencabut pedang yang
tersanggul di belakang punggungnya.
Sejenak dideringkan, ia berseru keras, “Goan
Thong toheng, apabila tak mau memberi
muka kepadaku, akupun terpaksa akan turun
tangan.”
Goan Thong terkesiap. Cepat ia gunakan ilmu
menyusup-suara untuk memberi perintah
kepada anak buahnya agar menumpahkan seluruh
kekuatan dan dalam 10 jurus harus
dapat merubuhkan Ih Thian-hene. Setelah itu
ia terus menarik pulang tongkat Kumala
Hijau dan menyurut mundur, menghampiri ke
tempat Thian Ci totiang.
“Apakah toheng berkata kepadaku?” tanyanya.
“Aku sudah meluluskan kepada Ji Han Ping
untuk menjamin kedua belah fihak. Lalu
akupun sudah mewakili toheng untuk meminta
kembali pedang Pemutus asmara itu.
Rasanya toheng tentu ingat hal itu,” kata
Thian Ci totiang.
“Ya, memang mendengar sedikit,” kata Goan
Thong, “tetapi tak begitu jelas. Harap
toheng suka menjalaskan sekali lagi.”
Dengan siasat itu, jelas Goan Thong hendak
mengulur waktu agar anak buahnya sudah
sempat membunuh Ih Thian-heng. Apabila hal
itu sudah terlaksana. sekalipun Thian Ci
totiang hendak turun tangan, tentu sudah
terlambat. Dan setelah tinggal Han Ping
seorang, mudahlah untuk menghadapinya dengan
pelahan.
Tiba2 Han Ping bersuit panjang. Dengan wajah
marah ia berseru kepada Hui In taysu,
“Andaikata taysu tak mau memberi ampun
kepadaku, tetapi paling tidak taysu harus
mengingat akan penderitaan seorang suheng
yang tanpa salah telah dipenjarakan seumur
hidup….”
“Omitohud,” seru Hui In pelahan,” kekuasaan
dari ketua Siaw lim si adalah yang paling
tinggi. Tongkat Kumala Hijau merupakan
lambang kekuasaan yang sudah turun temurun
sampai sepuluh angkatan ketua. Bagaimana aku
berani membangkang amanatnya?”
Han Ping menghela napas panjang, “Ah, sebuah
benda pemberi amanat, ternyata
mempunyai perbawa yang begitu besar. Belum
lama keluar ke dunia persilatan aku sudah
melihat benda pusaka itu mengalami dua kali
hinaan….”
Tiba2 ia berganti nada keras. “Keadaan
memaksa aku turun tangan, harap taysu jangan
salahfaham.”
Ia menutup kata katanya dengan mainkan jurus
Hun-toan ong-siang-tay atau Ruh
mengenang-kampung halaman. Ujung pedang
berkelebatan menaburkan tiga kelopak
bunga pedang yang mengancam Hui In.
Hui In kebutkan lengan lalu diserempaki
dengan menampar. Kedua gerakan itu untuk
membendung serangan pedang Han Ping.
“Hmm…. harap taysu sutra berhati-hati.” Han
Ping berseru dengan nada sarat.
Pedangpun tiba2 berganti dengan jurus
Kim-lun-kiu-coan atau Roda emas-sembilan kali
berputar.
Serentak empat julusan delapan kiblat
penjuru tertutup oleh lingkaran sinar pedang yang
memancarkan hawa dingin, permainan pedang
itu adalah pelajaran yang paling terakhir
yang diselami Han Ping. Merupakan salah
sebuah dari tiga buah ilmu pedang istimewa
dalam kitab Tat-mo-ih-kin-keng.
Karena melihat Ih Thian-heng sudah kacau
permainannya, Han Ping makin gelisah dam
dalam kemarahannya ia keluarkan ilmu pedang
pusaka itu.
Sambil kebas-kebaskan lengan jubah, Hui In
loncat mundur. Dalam hal ini, untunglah dia
tahu gelagat dan Cepat2 menghindar. Tetapi
tak urung jubahnya tergurat pecah oleh
ujung pedang.
Satelah dapat mengundurkan Hui IEn, Han Ping
teruskan serangannya ke arah kawanan
pederi. Segera terdengar dua buah orang
tertahan dari dua erang paderi jubah merah yang
menderita luka. Darah merah membasahi jubah
kedua pederi dan berketes ketes
membasahi lantai.
Melihat itu serentak bangkitlah semangat Ih
Thian-heng. Dengan ilmu tendangan
berantai, ia menendang rubuh seorang paderi.
Han Ping bersuit panjang. Setelah beberapa
kali mengganti permainan pedangnya, ia
berhasil mengundurkan kawanan paderi.
“Para, suhu sekalian,” serunya lantang, “aku
sebenarnya tak mempunyai dendam
permusuhan suatu apa dengan para taysu.
Gereja Siau lim-si telah berabad-abad harum
namanya dalam dunia persilatan. Tetapi
seperti pula halnya dengan betapapun baiknya
tentu tetap terdapat rumput. Aku minta agar
peristiwa dipenjarakannya Hui Gong taysu,
diumumkan. Tentang bagaimana pertimbangan
terhadap murid yang dianggap jahat itu,
adalah hak keputusan gereja Siau lim-si
untuk menjatuhkan hukuman. Aku takkan ikut
campur.”
Melihat ilmu permainan pedang yang luar
biasa anehnya dari anakmuda itu. Pula teringat
akan peristiwa seorang paderi cemerlang dari
dua angkatan yang lalu, para paderi itu
serempak hentikan serangannya.
Setelah itu Han Pingpun berpaling ke arah
Thian-heng. serunya, “Apakah lo-cianpwe
suka untuk menuturkan tentang peristiwa2
yang terjadi dalam gereja Siau-lim-si selama
dua angkatan ini? Dengan demikian dapatlah
para suhu disini menghapus tuduhan
mereka bahwa kita ini bermaksud hendak
mengadu domba mereka.”
Ih Thian-heng tertawa nyaring. “Kita ini
kawan atau lawan, aku sungguh tak jelas.”
Kata Han Ping, “Soal ini dengan urusan kita
berdua, memang lain. Dua macam masalah
itu tak boleh dicampur-adukkan. Tetapi
seorang lelaki harus dapat membedakan garis
permusuhan. Selama peristiwa dalam
Siau-lim-si belum selesai, untuk sementara waktu
kita menjadi sahabat. Setelah peristiwa itu
selesai, kita nanti menjadi musuh besar lagi.”
Ih Thian-heng menghela napas panjang
serunya, “Suasana saat ini, benar2 belum pernah
kualami seumur hidup. Siau-lim-si, Lam
hay-bun, Dua Lembah dan Tiga Marga,
ditambah pula dengan dendam permusuhan
antara saudara Ji dengan aku, benar2
merupakan suatu keadaan yang campur aduk tak
keruan. Bagaimana kesudahannya nanti
tiada seorangpun dapat menduganya.”
Bum…. terdengar adu pukulan dari Hui Ko
taysu dan Pengemis-sakti Cong To. Cong To
tersurut dua langkah ke belakang, Hui Ko
taysu pun mundur selangkah.
Melihat itu serentak Han Ping berseru,
“Harap lo-cianpnwe berdua berhenti dulu. Setelah
jelas akan duduk perkaranya, siapa yang
salah siapa yang benar, baru nanti melanjutkan
bertempur lagi.”
Melihat para paderi itu sudah berhenti, Hui
Ko taysu terpaksa mundur ke samping.
Sebenarnya saat itu Hui Ko sudah merasa
kewalahan terhadap pengemis tua. ilmu
permainan Cong To makin lama makin aneh.
Apabila dilanjutkan, sudah jelas siapa yang
akan kalah.
Setelah meliarkan pandang mata ke sekeliling
maka Ih Thian-heng pun berkata,
“Peristiwa yang terjadi pada masa dua
angkatan terdahulu dari gereja Siau-lim-si
walaupun aku tak menyaksikan tetapi aku
berani menjamin bahwa peristiwa itu memang
sungguh2 benar….”-ia ulurkan tangan mencekal
mayat Kim loji, serunya pula, “Goan
Thong, cobalah engkau lihat dengan seksama.
Apakah engkau kenal orang ini?”
Karena membenturkan kepalanya ke tembok,
separoh batok kepala Kim loji hancur.
“Tidak kenal,” Goan Tong gelengkan kepala.
Ih Thian hang tertawa, “Sayang dia buru2
mati, sehingga tak dapat bicara dengan engkau.
Tetapi meskipun dia sudah mati, aku masih
menyimpan seinah benda.”
Ia merogoh ke dalam baju dan mengeluarkan
sebuah arca Buddha dari perunggu kuno.
Diacungkan arca itu tinggi2, serunya, “Para
suhu sekalian, apakah kalian kenal pada arca
kecil ini?”
Melihat arca berwarna kuning emas itu,
seketika berobahlah wajah sekalian paderi.
Kemudian mereka mencurahkan pandang ke arah
Goan Thong taysu.
Tetapi ketua Siau-lim-si itu hanya tertawa
dingin, serunya, “Arca Budha emas, apanya
yang mengherankan? Apakah yang akan
dijadikan bukti dengan benda itu….”- ia
menutup kata-katanya dengan menggerakkan
tongkat Kumala Hijau, lalu berseru,
“Dengarlah amanat tongkat Kumala Hijau
lagi….”
“Tutup mulut!” bentak Han Ping marah. “kalau
engkau yakin dirimu seorang suci,
mengapa tak mau tunggu sampai Ih Thian-heng
selesai bicara!”
Hui In taysu tiba2 kerutkan alis. serunya,
“Arca emas itu, mirip benar dengan salah
sebuah arca buddha dalam gereja
Siau-lim-si.”
“Kalau benar, lalu bagaimana?” teriak Goan
Thong yang sudah mulai kalap.
Hui In taysu terkesiap, serunya, “Harap
ciangbunjin jangan marah dulu. Sebuah arca
Buddha masakan dapat membuktikan perbuatan
salah dari ciangbunjin? Kalau Ih Thianheng
sengaja melakukan fitnah, jangan harap hari
ini dia dapat hidup lagi….”
Ih Thian-heng tertawa gelak2, “Tetapi
bagaimana kalau keteranganku ini memang
sungguh2 benar?”
Sejenak berhenti, Ih Thian-heng melanjutkan
berkata lagi, “Terhadap peristiwa
dipenjarakannya Hui Gong taysu seumur hidup,
mungkin para suhu sekalian menaruh
kecurigaan, bukan? Tetapi kalian tak berani
mengutarakan!”
Sekian paderi saling bertukar pandang tetapi
tak ada yang berani buka mulut.
Ih Thian-heng mengacungkan arca emas itu,
serunya, “Arca Buddha dari emas ini adalah
hong-tiang ciang bunjin Siau lim-si sendiri
yang menyerahkan kepada Kim loji. Dan Kim
loji pun menyerahkan kepadaku supaya
disimpan….”
Melirik ke arah Goan Thong, tiba2 Ih
Thian-heng membentak Goan Thong, “omonganku
ini benar atau tidak?”
Seperti melihat bayangan setan, terbeliak
mata Goan Thong memandang wajah Ih Thian
heng. Ia terlongong tak dapat bicara sampai
beberapa saat.
“Karena engkau tak berani menjawab, berarti
secara diam2 engkau sudah mengakui,”
kata Ih Thian-heng pula,” waktu menyerahkan
arca itu kepada Kim loji, engkau
mengatakan kepadanya bahwa dengan
mengandalkan arca itu, apabila Kim loji
menghadapi urusan, baik besar maupun kecil,
Siau-lim-si tentu akan memberi bantuan.”
Melihat para paderi rupanya sudah
terpengaruh dengan kata2 Ih Thian-heng, marahlah
Goan Thong. Tetapi ia tak mau buru2
bertindak melainkan merenung. Beberapa saat
kemudian wajahnya pun tampak tenang lagi.
“Orang itu apakah Kim loji itu dan siapakah
aku ini?” serunya dingin,” masakan aku mau
memberi janji begitu kepadanya!”
Ih Thian-heng tertawa. “Disitulah letak
persoalannya. Ketua Siau-lim-si. seorang tokoh
yang mendapat kehormatan besar dari setiap
orang persilatan. Tetapi dia rela
menyerahkan arca emas gereja kepada seorang
persilatan yang tak ternama….”
Goan Thong menukas dingin, “Siapakah kaum
persilatan yang tak tahu akan tingkah laku
Ih Thian-heng yang jahat dan licik itu? Dia
seorang manusia yang licin. Masakan tak
mampu membuat arca tiruan semacam itu?”
Goan Thong menatap Ih Thian-heng lalu
melanjutkan, “Mengajukan saksi seorang mati
yang sudah tak dapat bicara lalu merangkai
keterangan palsu. Ho, sungguh hebat
permainanmu, sungguh beracun sekali
mulutmu!”
Ih Thian-heng kerutkan ails, “Seorang paderi
yang berhati begitu licin. O…. itulah
sebabnya maka engkau dapat merebut pimpinan
dan mengelabui para angkatan tua.”
Setiap patah kata2 Ih Thian-heng itu,
bagaikan ujung pedang yang menusuk uluhati Goan
Thong taysu. Tetapi ketua Siau-lim-si yang
penuh dengan siasat itu tetap bersikap tenang.
“Sebenarnya aku harus lekas memberi amanat
tongkat Kumala Hijau agar engkau
dihukum mati. Tetapi karena ketajaman
lidahmu agaknya dapat mempengaruhi orang
maka akan kuberimu kesempatan untuk
bercerita sampai habis baru nanti akan kulucuti
semua kebohonganmu,” Goan Thong taysu
tertawa mengejek.
“Engkau benar2 seorang yang kuat menguasai
perasaan,” kata Ih Thian-heng lalu
mengangkat patung emas, “kunci dari
persoalan saat ini, hanya terletak pada arca ini
palsu atau bukan. Jika salah seorang dari
gereja dapat memberi kesaksian bahwa arca ini
memang milik gereja Siau-lim, entah engkau
akan mengatakan bagaimana?”
“Ketiga arca Buddha berwarna emas itu, saat
ini masih tersimpan dalam ruang
Perpustakaan gereja. Dan dalam ruang itupun
tersimpan kitab pelajaran ke 72 ilmu silat
sakti dari perguruan Siau-lim, termasuk juga
kitab pusaka Tat mo ih kin-keng yang paling
diincar oleh setiap orang persilatan itu.
Kalau ada orang yang dapat masuk ke dalam
ruang itu, tak mungkin dia hanya akan
mengambil sebuah arca saja!”
“Ah….” Ih Thian-heng mendesah, “caramu untuk
mendebat dan menghindari pertanyaan,
lihay sekali. Tetapi keadaan hari ini memang
harus diselesaikan. Agar engkau mengakui
kesalahan memang perlu kiia adu lidah
habis-habisan….”
Ih Thian-heng berpaling kearah Hui In taysu,
serunya pula, “Taysu adalah satu satunya
angkatan Siau-lim-pay yang masih hidup.
Tentulah sudah pernah melihat ketiga arca
Buddha itu. Silahkan memeriksa arca ini,
apakah benar2 pusaka milik gereja Siau-lim.”
Habis berkata Ih Thian-heng terus
melemparkan arca itu kepada Hui In taysu.
Hui In taysu menyambuti dan memeriksa dengan
teliti. Seketika berobahlah wajahnya.
“Adakah supeh dapat melihat ciri
kepalsuannya?” tanya Goan Thong taysu.
“Ini, ini…. menurut pemeriksaanku, agaknya
seperti bukan palsu.”
“Benarkah begitu? Cobalah berikan kepadaku!”
kata Goan Thong. Hui In agak bersangsi
tetapi ia memberikannya juga.
Setelah menyambuti arca dan memeriksa balik,
tampak wajah Goan Thong berseri lalu
berkata dengan sarat, “Memang bukan palsu….”
Mendengar pengakuan itu, tercenganglah
sekalian paderi Siau-lim. Entah girang entah
kejut.
Ih Thian-heng tertawa dingin, “Hm, benar2
seorang yang licin bagai belut. Sayang hari
ini angkau bertemu dengan Ih Thian-heng . ,
.”
Wajah Goan Thong berobah bengis dan dengan
mata berkilat kilat ia memandang
sekalian paderi, serunya, “Mengapa dalam
ruang Perpustakaan terjadi kekacauan, aku tak
mendapat laporan?”
Para paderi itu saling berpandangan tak
dapat bicara.
Kemudian berkatalah Goan Thong kepada Ih
Thian-heng, “Ih Thian-hang, dihadapan
para ketua partai2 persilatan. ketua Dua
Lembah dan Tiga Marga serta tokoh2 yang
ternama, engkau dapat menunjukkan benda
pusaka milik Siau-lim-si. Dengan demikian
jelas engkaulah yang mencuri dan tentulah
masih banyak benda pusaka yang engkau
ambil!”
Dengan kata2 itu jelas Goan Thong hendak
memutar balik suasana. Ih Thian-heng yang
hendak mendakwa, kini akan dijadikan
terdakwa.
Han Ping menghela napas panjang, serunya,
“Ih lo-cianpwe, entah sampai kapan
habisnya kalau engkau adu lidah dengan dia?
Maksudku, silahkan Ih lo cianpwe
menuturkan apa yang lo-ciaupwe ketahui. Tak
perduli para paderi itu percaya atau tidak,
pokoknya kita sudah menyelesaikan
kewajiban.”
Ih Thian-heng tersenyum, “Itu juga suatu
cara….”-berhenti sejenak ia melanjutkan pula,
“Para suhu sekalian tentu tahu bahwa Hui
Gong taysu itu seorang tunas luar biasa dalam
sejarah Siau-lim-si beberapa ratusan tahun
ini. sebenarnya bakatnya yang cemerlang itu.
Bukan melainkan hanya pada kalangan
Siau-lim-si, pun dalam dunia persilatan sejak tiga
ratusan tahun ini termasuk seorang tokoh
luar biasa yang berbakat hebat. Tuhan telah
memberkahi dia kecerdasan yang luar biasa
tetapi pun seolah-olah menggariskan
nasibnya harus di penjara seumur hidupnya
sampai mati dengan penasaran….”
Tiba2 terdengar ketua Lam-hay-bun mendengus
dingin.
Tetapi wanita cantik berpakaian seperti
puteri keraton atau ibu dari si dara baju ungu,
cepat mendahului bicara, “Mengapa engkau
mendengus? Apakah engkau merasa lebih
hebat dari dia?”
Tampaknya ketua Lam-hay-bun itu tak mau
bertengkar mulut dengan isterinya. ia segera
diam.
Ih Thian-heng merenung sejenak lalu berkata
pula, “Pada suatu malam di pertengahan
musim rontok limapuluh tahun yang lalu,
ketua Siau lim yang dijabat oleh seorang paderi
dari tingkatan Hui, menderita sakit dan
menutup mata. Peristiwa itu tentulah para suhu
sekalian masih ingat.”
“Benar,” sahut Hui In taysu, “meninggalnya
Hui Seng sute sampai hari ini memang tepat
duapuluh tahun. Sekembalinya dari mengembara
ke daerah Tibet, aku pulang ke gereja
tepat pada bulan delapan tanggal enambelas.
Hui Seng sute sudah menutup mata setengah
hari lamanya.”
Ih Thian-heng tertawa hambar, “Tahukah para
suhu sekalian apa yang menyebabkan
kematian Hui Seng taysu itu? Beliau telah
mati karena minum racun istimewa yang
diberikan secara diam2 oleh Goan Thong.
Tetapi pada detik2 menghembuskan napasnya
yang terakhir, Hui Seng taysu mengetahui
perbuatan jahat itu. Dimakinya Goan Thong
habis-habisan. Goan Thong terkejut. Dia
mengira kalau racun yang diberikan itu tak
dapat bekerja atau mungkin kurang banyak.
Maka dia tak berani membantah melainkan
terus berlutut minta ampun atas kedosaannya.
Dia mengaku bahwa yang menyuruh
melakukan peracunan itu adalah susiok nomor
tujuh….”
Hui In taysu terbeliak, “Susiok nomor
tujuh….” cepat ia alihkan pandang matanya
kepada Hui Ko taysu yang menjadi susiok atau
paman guru nomor tujuh dari Goan
Thong.
“Jit sute, apakah hal itu benar?” serunya.
Hui Ko taysu berobah wajahnya. Tiba2 ia
rangkapkan kedua tangannya ke dada dan
berkata lunglai, “Suheng, ampunilah
dosaku….”-ia terus pejamkan mata dan duduk di
lantai.
Melihat itu Goan Thong kerutkan dahi dan
membentak, “Susiok. jika tidak benar,
mengapa tak mau membantah?”
Diulanginya lagi seruan itu sampai beberapa
kali tetapi Hui Ko taysu tetap tak menjawab.
Hui In taysu menghela napas, ujarnya, “Diam2
dia sudah gunakan tutukan Siau thian
-sing unnuk menghancurkan jantungnya
sendiri. Da sudah meninggal….”
Goan Thong tertegun lalu menghampiri ke
tempat paman gurunya itu.
Kewibawaan ketua Siau-lim-si yang sudah
turun temurun beberapa angkatan selalu
menjadi sumber kekuasaan pimpinan saat itu
benar2 telah mengalami ujian yang paling
menyedihkan. Wajah sekalian paderi yang
berada di ruangan itu tampak berduka dan
tegang. Mereka kehilangan faham menghadapi
suasana saat itu.
Seluruh mata para paderi tertumpah kepada
Goan Thong yang tengah melangkah ke
tempat Hui Ko taysu.
Hui In tiba2 menyebut ‘omitohud’ serunya,
“Ih Thian-heng memang memfitnah, harap
ciangbun-jin jangan terpengaruh….”
Paderi tingkat tinggi itu tiba2 teringat
akan nama baik Siau lim-si, Urusan dalam gereja,
bagaimana boleh dikeluarkan di hadapan
sekian banyak tokoh2 persilatan!
Goan Thong taysu pelahan-lahan mengangkat
tongkat Kumala dan berseru, “Hui In
supeh….”
Hui In rangkapkan tangan memberi hormat dan
menyahut gopoh. “ciang-bunjin hendak
memberi perintah apa?”
Wajah Goan Thong berobah pucat, katanya
dengan serius, “Tongkat Kumala Hijau ini
sudah turun temurun 26 angkatan ketua.
Kekuasaannya lebih tinggi dan ketua partai
sendiri. Demi mengagungkan kewibawaannya,
maka aku hendak menghaturkan tongkat
ini kepada supeh….”
Hui In terkesiap, “Ah, mana aku berani
menerimanya?”
Tetapi tiba2 Goan Thong sudah menghampiri
dan membentak, “Supeh, terimalah!”-
tongkat Kumala Hijau segera dilontarkan.
Tongkat pusaka itu merupakan benda yang
paling berpengaruh dalam gereja siau-lim-si.
Melihat perbuatan Goan Thong. sekalian
paderi terbeliak kaget.
Hut In terpaksa menyambuti.
Kemudian Goan Thong menghela napas, “Apa
yang dikatakan Ih Thian-heng memang
benar. Aku memang telah melakukan dosa besar
meracuni guru. Arca emas itu memang
aku yang memberikan kepada Kim loji. Soal
itu menyangkut dendam dari dua orang
angkatan tua. Peristiwa itu telah kucatat
dengan jelas, kutaruh dalam peti kayu dalam
ruang tempat tinggalku. Bila supeh pulang.
silahkan membuka peti itu tentu dapat
mengetahui peristiwa itu dengan jelas. Aku
menyadari bahwa kedudukan yang kuperoleh
dari hasil pembelian dengan pusaka gereja
itu, benar2 suatu dosa yang tak berampun dan
aku malu untuk hidup dalam dunia….”
Hui In cepat melangkah maju, “Tunggu dulu,
ciangbunjin ….”
Goan Thong deliki mata dan membentaknya,
“Mundur!”-ia ayunkan tangan mendorong
Hui In.
Hui In terpaksa menghindar ke samping. Dan
detik itu dipergunakan Goan Thong untuk
gerakkan tangan kanan menekan dadanya
sendiri.
sekalian paderi berteriak kaget. Mereka
bergerak hendak mencegah.
Goan Thong turunkan tangan kanannya.
Terlihat dadanya saat itu sudah berhias dengan
tangkai pedang yang ujungnya membenam ke
dalam dadanya.
Para paderi itu tak menyangka kalau Goan
Thong menyembunyikan senjata dalam lengan
jubahnya. Mereka tak keburu mencegah lagi
dan terpaksa mundur.
Goan Thong melangkah ke dekat dinding
ruangan, mengambil arca Buddha dan
diletakkan di mukanya lalu ia berlutut.
“Murid telah melanggar dosa besar yang tak
berampun. Murid mohon ampun di hadapan
Hud-ya ….” ia mencabut tangkai pedang
dari dadanya. Darah merah segera menyembur
keluar.
Seketika rubuhlah Goan Thong, ketua
Siau-lim-si yang ternyata telah melakukan
kedosaan besar. Dia menyadari perbuatannya
dan menebus kesalahannya dengan bunuh
diri.
Hui In tertegun. Kemudian memberi perintah
kepada murid2 untuk mengurus kedua
jenazah, Hui Ko taysu dan Goan Tong.
Setelah itu maka Hui In taysu lalu beralih
memandang Han Ping. serunya, “Engkau telah
membersihkan suatu peristiwa yang terjadi
dalam gereja Siau-lim-si. Engkaupun
menunaikan tugas menyelesaikan dendam dari
dua angkatan paderi. Tetapi engkau juga
merusak nama baik gereja Siau-lim-si yang
selama beratus tahun. Men…. jadi pusat
perindahan orang. Aku kehilangan faham,
harus memperlakukan engkau sebagai lawan
atau sebagai kawan?”
Han Ping tertawa hambar “Kawan atau lawan.
terserah pada pertimbangan taysu…. ia
menengadahkan kepala dan tertawa nyaring,
lalu serunya, “Dua buah cita2, sudah
terlaksana yang satu. Setelah dapat
membalaskan sakit hati orang tuaku, matipun aku tak
penasaran.”
Saat itu anak buah Lam-hay-bun sudah
tersebar di seluruh tempat2 yang penting. Mereka
hanya melihati saja gerak gerik tokoh2
persilatan Tiong-goon yang saling gasak sendiri
itu. Rupanya mereka hendak menunggu setelah
tokoh2 Tiong-goan itu remuk, baru akan
turun tangan.
Setelah Goan Thong taysu meninggal, Ih
Thian-heng pun menyadari kalau keadaan
dirinya sudah makin terpencil. Ketua Kedua
Lembah dan Tiga Marga tampaknya sukar
untuk diajak bersekutu lagi. Dan Han Ping
tetap hendak menuntut balas kepadanya.
Dengan begini, ia harus berjuang seorang
diri. Satu satunya jalan yalah secara tiba2
menerobos kduar dari terowongan yang
digunakan masuk oleh rombongan paderi Siaulim
tadi. Tetapi ternyata pintu terowongan itu
sudah dijaga oleh orang Lam-hay-bun yang
paling sakti yaitu nenek Bwe Nio.
Sambil memandang ke sekeliling, Ih
Thian-heng menimang-nimang dalam hati. Ia
menyadari kalau kesempatan untuk lolos,
sudah makin menipis. Diam2 ia gerakkan
tenaga-dalam untuk memulihkan tenaga, hanya
dengan tenaganya sendiri ia dapat
mengandalkan.
Dan makin pulih tenaga dalamnya pun makin
besarlah kemungkinan untuk
menyelamatkan diri.
Tiba2 Hui in taysu menghela napas panjang
lalu memberi hormat kepada ketua Bu tongpay.
“Thian Ci toheng, musibah yang telah menimpa
perguruan Siau-lim-si, toheng sudah
menyaksikan sendiri!….”
Jawab ketua Bu- tong pay, “Aku merasa
menyesal sekali karena tak dapat mencegah
Goan Thong toheng…._.”
“Haiku sudah hampa, tak ingin ikut campur
tentang pertikaian dunia persilatan lagi.
Maka…. aku hendak mohon diri pulang lebih
dahulu,” kata Hui In taysu pula.
Ketua Bu-tong-pay merenung beberapa saat,
kemudian berkata, “Silahkan, lo siansu.”
Sambil rangkapkan kedua tangan memberi
hormat, berkatalah Hui In taysu pula,
“Dengan totiang yang menghadiri tempat ini,
semoga segala dendam pertumpahan darah
akan berobah menjadi suasana yang
bersahabat.”
“Ah, kemungkinan aku tak mempunyai kemampuan
sedemikian besar,” kata ketua Butong-
pay. Tiba2 ia gunakan ilmu Menyusup suara
kepada Hui In taysu. “Orang2 Lam
hay-bun sudah menjaga posisi yang penting.
Rupanya mereka tetap hendak mengadu
kesaktian dengan tokoh2 Tiong-goan. Apabila
lo siansu berkeras hendak menerobos
kaluar, kemungkinan tentu akan bentrok
dengan mereka.”
Hui In Taysu memandang keempat penjuru lalu
memberi hormat kepada nenek Bwe,
“Mohon sicu suka memberi kebebasan kepada
loni dan rombongan keluar dari tempat
ini.”
Tetapi nenek Bwe menengadah memandang ke
atas, seolah-olah tak mengacuhkannya.
Tiba2 si Kaki-buntung baju merah membentak,
“Lekas mundur lagi….”
Saat itu Han Ping berpaling dan melihat si
dara Sangkwan Wan ceng dengan rambut
terurai sambil memondong Ting Ling tengah
berjalan ke arah ruangan situ.
“Ceng ji….!” melihat puterinya. serentak
Siangkwan Ko berteriak dan bergegas hendak
lari menyongsong.
“Berhenti!” bentak Kaki buntung seraya
ayunkan tongkat besinya menyerang.
Siangkwan Ko menghindar, mencabut pedang di
punggungnya lalu balas menusuk
dengan jurus Naga-marah-mengaduk-laut.
Tetapi Kaki-buntung tak mau menghindar. Ia
kiblatkan pedangnya untuk menangkis.
Pedang Siangkwan Ko terbuat dari bahan
pilihan, beratnya berpuluh-puluh kati. Karena
bentuknya panjang. dapat digunakan juga
sebagai tongkat besar. Diapun tak mau mundur.
Tring….
Rupanya Siangkwan Wan-ceng terkejut
mendengar benturan senjata yang menderingkan
bunyi tajam dan nyaring. Tiba2 ia berhenti.
Saat itu Siangkwan Wan ceng sudah tiba di
arena adu senjata itu. Asal maju selangkah
lagi, dara itu tentu celaka. Kalau tidak
dimakan pedang ayahnya tentu terkena hantaman
tongkat besi Kaki buntung.