makam asmara 07
Ih Thian-heng tertawa gelak2, “Ah, tak kira
saudara Cong yang biasanya selalu bersikap
gembira, juga dapat mengeluarkan ucapan
begitu!”
Ketua Lembah-seribu racun tertawa dingin,
“Orang yang mau mati, kata2nya tentu baik.
Pengemis tua mungkin sudah tahu kalau takkan
hidup lebih panjang….”
“Bukan begitu,” tukas Ih Thian-heng.
“Bukan begitu?” sahut ketua Lembah
seribu-racun. “apakah engkau kira aku dan engkau
akan dapat keluar dengan selamat dari makam
tua ini….”
Kata Ih Thian- heng, “Kata peribahasa, dua
orang yang bersatu hati, kekuatannya tak
dapat diperkirakan. Apalagi kita sekian
banyak orang dengan berbagai kesaktian dan
kepandaian. Apabila dapat bersatu padu,
jangan lagi hanya sebuah makam tua seperti ini,
liang nerakapun kita tentu dapat menerobos
keluar!”
Dalam berkata-kata itu, mata Ih Thian-heng
berkeliar memandang kewajah sekalian
tokoh untuk menyelidik kesan mereka.
Ketua Lembah-seribu-racun memandang Ca
Cu-jing dan jago tua she Ca itu, segera
berkata dengan sarat, “Benar, benar!”
Tiba2 ia mengangkat muka memandang Ih
Thian-heng, katanya, “Saudara Ih, sebenarnya
aku ingin bersatu dengan engkau. Tetapi
tiba2 saja aku teringat akan sebuah cerita.”
“Cerita bagaimana?” tanya Ih Thian heng.’
“Cerita tentang kelinci yang mengadakan
perjanjian dengan seekor serigala. Mereka
hendak berhasil melintasi sungai, serigala
itupun terus menerkam kelinci dan
memakannya!”
Ih Thian-heng tertawa gelak2!
“Cerita yang bagus, benar bagus. Tetapi
kalau kelinci itu tak mau berkawan dengan
serigala, dia tentu akan dimakan oleh
harimau yang sudah berada didapat tempatnya!”
Ca Cu-jing tertegun dan berpaling,
“Bagaimana pendapat saudara Ting?”
TingKo memondong tubuh puterinya menyahut
dingin “Bagiku untuk bekerja sama
dengan Ih Thian-heng, syaratnya dia harus
menghidupkan lagi jiwa puteriku!”
“Tepat,” seru Pengemis sakti Cong To, “aku
pengemis tuapun sejak saat ini tak mau lagi
bekerja-sama dengan seorang manusia yang
selicik itu!”
Ih Thian-heng menengadah tertawa, “Bagus,
bagus….”
Tiba2 Leng Kong-siau, kakek pendek ketua
dari Lembah-seribu-racun menutuk
jalandarah di punggung Ting Ko.
Serempak dengan itu Ca Cu jingpun berseru
nyaring, “Saudara Ih, aku bersama saudara
Siangkwan Ko dan leng Kong-siau. berdiri
difihakmu!” Habis berkata dia terus
menerobos kearah pintu merah.
Ternyata ketiga orang itu, ketua
Lembah-seribu-racun, Siangkwan Ko dan Ca Cu-jing
diam2 telah berunding dengan menggunakan
ilmu Menyusup-suara. Mereka
memutuskan, lebih dulu menggabung diri
dengan Ih Thian-heng untuk melawan orang
Lam-hay bun. Diperhitungkan, walaupun
Pengemis sakti Cong To dan mereka yang tak
setuju dengan Ih Thian-heng, teiapi tentu
takkan membantu orang Lam hay-bun. Setidaktidaknya
mereka tentu netral.
Seiring dengan gerakan tubuh ketua
Lembah-seribu-racun, dia mengayunkan kedua
tangan dan berpuluh puluh larik sinar perak
sehalus bulu kerbau segera memancar
kemuka.
Ong Kwan-tiong menggembor keras. Senjata
Liang-gi-ci di ayunkan. Tring, tring, tring,
senjata rahasia yang dilepas ketua
Lembah-seribu-racun itu, berhamburan lenyap.
Ca Cu jing dan Siangkwan Kopun bergerak.
Yang satu melintas dari kiri kekanan, yang
satu memotong dari kanan ke kiri. Mereka
menyerang barisan pedang ke delapan kacung.
Seketika pecahlah pertempuran, seru. Pedang
dari kedelapan kacung baju biru itu segera
berhamburan bagai hujan mencurah.
Walaupun Ca Cu jing dan Siangkwan Ko itu
tokoh2 yang hebat, namun mereka tetap tak
mampu maju setapakpun juga.
Ih Thian-heng berpaling “Harap saudara2
tunggu dan melihat di samping. Biarlah aku
yang akan membuka jalan-darah untuk
saudara2.”
“Kentut!” bentak Pengemis-sakti Cong To,
“siapa suruk engkau membuka jalan!”
Memang pengemis tua itu masih berdarah
panas. Walaupun ia menyadari bahwa ucapan
ih Thian-heng itu hanya suatu provokasi
untuk membakar hati orang, namun pengemis
tua tak dapat menahan diri. Habis berkata ia
terus menerjang maju.
Ong Kwan-tiong membentak, “Urusan ini bukan
main2. Kalau saudara2 berkeras hendak
masuk, jangan salahkan kalau kami orang
Lam-hay bun akan membuka pantangan
membunuh!”
“Silahkan.” Ih Thian-heng tersenyum.
Dalam berkata itu dia sudah lancarkan tujuh
buah serangan sehingga membuat si Pendek
tak sempat menggunakan senjata pit-nya.
Barulah saat itu si Pendek terbuka matanya
bahwa durjana nomor saru dalam dunia
persilatan Tiong goan, benar2 seorang tokoh
yang sakti dan cerdas.
Ketika deru sambaran pedang sedang
berkecamuk hebat, tiba2 dari dalam piatu terdengar
suara nenek Bwe berseru, “Harap tangcu
memberi perintah supaya para ketua dan tokoh2
terkemuka dalam dunia persilatan Tiong-goan
suka bersabar karena sebentar lagi tangcu
akan keluar menyambut mereka.”
Ong Kwan-tiong tertegun sejenak. Sesaat
kemudian ia merasa longgar hati karena tahu
bahwa suhunya tak kurang suatu apa.
Kiranya dengan memodong tubuh si dara baju
ungu masuk kedalam pintu merah,
Didalam pintu terbentang sebuah lorong
panjang yang tanpa penerangan. Tetapi keadaan
lorong itu remang2 tidak gelap sekali. Ada
semacam sinar lembut yang memancar, entah
dari mana….”
Nenek Bwe tak berani gunakan ilmu
Meringankan tubuh lagi. Selangkah demi selangkah
ia maju kedepan. Pada ujung lorong
tergantung sehelai tirai mutiara. Dari tirai mutiara
itulah kiranya sinar remang tadi memancar.
Dengan hati2 nenek bwe menyingkap tirai
mutiara itu. Didalamnya ternyata sebuah ruang
yang bersih, tanpa meja kursi dan alat2
perabot lainnya. Hanya disudut dinding berjajar
belasan kim-teng atau dingklik emas. Namun
suasana ruang itu cukup indah berwibawa.
Seorang lelaki tua baju biru, rambut panjang
menjulai ke bahu, tengah duduk
membelakangi pintu. Dia berhadapan dengan
seorang wanita pertengahan umur yang
cantik dengan sanggul rambut dan pakaian
indah seperti puteri keraton. Seri wajahnya
yang berseri gemilang laksana bidadari,
membuat orang tak berani beradu pandang.
Mereka berdua menunduk dan mencurahkan
seluruh semangatnya untuk beradu tenagadalam.
Suatu pertempuran maut dari sepasang suami
isteri yang aneh.
Melihat adegan itu, teganglah hati nenek
Bwe. Maju selangkah ia berseru gemetar,
“Cukong, cubo. Toto datang!”
Tetapi baik lelaki tua baju biru maupun
wanita berpakaian puteri keraton itu tetap
pejamkan mata tak menghiraukan.
Nenek Bwe bercucuran airmata dan berseru
dengan terisak-isak, “Toto…. telah
menggigit hancur mutiara beracun itu!”
Kata2 yang diucapkan dengan pelahan dan
sepatah demi sepatah oleh nenek Bwe itu,
bagai halilintar meledak disiang hari.
Lelaki tua dan wanita cantik itu serempak gemetar.
Tangan mereka yang tangan melekat erat itu,
serentak tersiak satu dim.
Tiba2 tongkat bambu yang digenggam erat
dalam jari manis dan jari kelingking: tangan
kanan nenek Bwe, berayun menyusup ke tengah
kedua pasang tangan suami isteri itu.
Dan orangnyapun melesat datang.
Tetapi rupanya cara penjagaan diri dari
nenek Bwe itu, tiada gunanya. Lelaki tua dan
wanita cantik saat itu sudah menari tangan
masing2. Wajah mereka tak mengunjuk rasa
menderita luka melainkan mengerut kecemasan.
Dan serempak pula keduanya terus melonjak
menyongsong nenek Bwe, “Toto! Toto….
Baik silelaki baju biru maupun wanita cantik
keduanya sama2 menyongsongkan kedua
tangannya kemuka untuk menyambut tubuh si
dara baju ungu. Tetapi tanpa sengaja ujung
jari kanan silelaki baju biru telah
menyentuh ujung jari kiri siwanita cantik. Kedaanya
serentak cepat2 menarik tangannya karena
seperti membentur besi.
“Bwe Nio, siang malam engkau menjaga To-ji,
mengapa dia sampai menggigit mutiara
beracun itu?” bedak lelaki tua baju biru
dengan bengis.
Wanita cantik menyelutuk, “Mengapa To ji
sampai dihina orang? Mengapa engkau
biarkan orang menghinanya?”
Walaupun kata-katanya tidak tajam, tetapi
nadanya saat bengis sekali.
Bwe Nio menghela napas panjang, “Soal itu
panjang ceritanya. Aku juga tak berdaya
untuk mencegahnya….”
Wanita keraton itu mengerut wajah dan
menukas, “Tidak berdaya…. hm, mungkin tak
mampu berdaya?”
Nenek Bwe tak berani membantah. ia tundukkan
kepala. Lelaki baju biru pelahan lahan
ulurkan tangan. Ternyata wanita keraton itu
tak mengulurkan tangan sehingga tubuh si
darapun disambut! oleh leiaki tua itu lalu
diletakkan diatas lim-teng.
Lelaki tua itu mulai memeriksa mata,
pergelangan tangan si dara lalu menghela napas
panjang tetapi longgar.
“Ah, untung aku berada disini. To ji tentu
tak kena apa2 dan engkaupun jangan
mendamprat Bwe Nio lagi,” katanya kepada
wanita kraton itu.
Wanita kraton hanya mendengus. Tanpa
memandang lelaki baju biru itu, ia berkata sarat,
“Bwe NiO siapakah yang menghina atau yang
menyebabkan To ji marah?”
“Ji….” baru nenek Bwe berkata sepatah hendak
menyebut nama ji Han Ping, tiba2 ia
teringat bahwa cubo (majikan perempuan) itu
beradat keras sekali. Dan ia tahu bahwa
cubo-nya itu keliwat sayang sekali kepada si
dara. Apabila ia menyebut nama pemuda
itu, tentulah cubo-nya akan menyelesaikan
Han Ping.
Pada hal nenek bwe tahu Han Ping itu pemuda
yang dicintai si dara.
“Mengapa engkau tak berani menyebut namanya?
Apakah engkau bersekongkel dengan
dia?” bentak wanita keraton.
Tiba2 nenek Bwe mendapat pikiran dan cepat
berseru, “Ih Thian-heng “
“Ih Thian-heng?” teriak wanita cantik itu,
“siapakah Ih Thian-heng itu? Dimanakah dia
saat ini?”
“Diluar pintu.” sahut nenek Bwe.
“Suruh dia masuk!” teriak wanita keraton itu
dengan bengis.
Nenek Bwe mengiakan. Segera ia berputar
tubuh keluar dan berseru memerintahkan
rombongan tokoh2 itu masuk.
Sekalian tokoh2 silat Tiong-goan tergetar
hatinya. Lam-hay Ki-siu, tokoh sakti dan aneh
dari dunia persilatan akan berhadapan dengan
mereka.
Ih Thian-heng cepat menyelinap kesamping
Ting Ko dan menepuk jalandarahnya yang
tertutuk tadi, tertawa, “Kalau saudara Ting
hendak minta ganti jiwa puteri saudara, nanti
saja setelah kita keluar dari makam ini.”
Ting Ko tertawa nyaring. Nadanya macam hantu
meringkik. Setelah meletakkan tubuh
Ting Ling, ia segera ayunkan tangan lepaskan
sebuah pukulan dari jauh kearah ketua
Lembah-seribu-racun yang telah menutuk
jalandarahnya tadi.
Serangkum hawa dingin segera melanda kearah
katua Lembah-seribu-racun. Karena tak
menduga, Leng Kong-siau ketua Lembah-seribu
racun itu tak sempat menghindar. Segera
ia rasakan tubuhnya dilanda hawa dingin.
Ting Ko berseru dingin, “Tadi saudara Leng
telah memberi sebuah tutukan kepadaku.
Sekarang akupun menghaturkan sebuah pukulan
Han-im-ciang. Jadi kita sudah tak saling
berhutang budi, ha, ha,…. ha, ha….”
Ih Thian-heng mengeluarkan dua butir pil
putih, tertawa, “Saudara Leng. silahkaa pilih
yang mana.”
Leng Kong siau menendang keangan Ih
Thian-heng. Dilihat tanya kedua butir pil itu
sama besarnya, warnanyapun serupa. Segera ia
mengambil sebutir.
Ih Thian-heng segera menelan yang sebutir,
katanya, “Pil Kun-goan-sin-tan ini
khasiatnya untuk menolak segela macam racun
Im-han yang dingin. Setelah makan pil
itu, tentulah saudara Leng tak usah
menderita luka akibat pukulan saudara Ting tadi. Aku
menelannya sebutir, agar saudara Leng jangan
ragu2.”
Leng Kong-siaupun segera menelannya dan
mengucapkan terima kasih. Ih Thian-neng
tersenyum, ujarnya, “Paling tidak, saat ini
kita sama2 mendayung dalam sebuah perahu
melintasi gelombang besar.
Segala dendam kesumat harap dipertangguhkan
dahulu setelah kita nanti keluar dari
makam ini.”
Habis berkata ia lintangkan sebelah tangan
kedada dan sebelah tangan siap memukul, lalu
melangkah kearah pintu merah.
Pun Ca Cu-jing dan Nyo Bun-giau menghampiri
Leng Kong-siau dan menghiburnya,
“Saudara Leng, harap bersabar dulu.
Kedua orang itupun sagera mengikuti jejak Ih
Thian-heng.
Siangkwan Ko menghela napas panjang,
bisiknya kepada ketua Lembah-raja-setan Ting
Ko: Kehilangan anak perempuanku, seperti
tercabut nyawaku. Aku hanya mempunyai
seorang anak perempuan tetapi anakku
ternyata telah dicelakai oleh orang2 Lam-hay-bun
sehingga kehilangan kesadaran pikirannya….”
Ting Ko menyambut dingin, “Saudara Siangkwan
menderita karena kehilangan anak,
apakah aku juga tak menderita perasaan
demikian karena anakku meninggal itu? Kalau
menghendaki aku supaya membantu ih
Thian-heng, syaratnya hanyalah kalau dia dapat
mengembalikan jiwa anakku itu.”
“Saudara Ting salah faham,” kata Siangkwan
Ko. “maksudku bukan menganjurkan
supaya saudara Ting jangan membalas dendam
itu. Tetapi saat ini keadaannya lain.
Daripada seorang diri, kurasa lebih baik
saudara ting untuk sementara ini mau bekerja
sama dengan mereka untuk menghadapi ancaman
Lam-hay Ki-sau. Setelah keluar dari
makam ini barulah nanti kita membuat
perhitungan lagi.
Ting Ko merenung sejenak, menghela napas,
“Demi memandang muka saudara
Siangkwan biarlah aku mengalah kali ini.”
Siangkwan Ko terus menarik tangan Ting Ko
diajak masuk kedalam pintu merah.
Han Ping memberi hormat kepada Ong
Kwan-tiong, serunya, “Jenazah nona Ting dan
nona Siangkwan itu, mohon saudara Ong suka
mengurusnya.”
Ong Kwan-tiong menyilangkan senjatanya dan
balas memberi hormat, “Harap saudara Ji
tak usah kuatir. Kalau engkau masih dapat
keluar dari makam ini dengan selamat,
kujamin jenazah nona Ting tentu takkan
terganggu dan nona Siangkwan pun pasti tak
kurang suatu apa.”
Kembali Han Ping memberi hormat, “Ji Han
Ping menghaturkan terima kasih atas
kebaikan saudara.”Habis berkata bersama
Pengemis-sakti Cong To dia terus ayunkan
langkah.
Nenek Bwe dengan tongkat bambunya mengikuti
paling belakang. Benar2 Tiong suatu
barisan yang keramat dari tokoh Tiong-goan.
Berjalan lebih kurang lima enam tombak. Ih
Thian-heng yang berada paling depan,
mereka tiba diujung lorong dan berada dalam
sebuah ruang yang terang benderang.
Lelaki tua baju biru yang rambutnya menjulai
pada bahu, tampak duduk bersila di sudut
ruang. Dibelakangnya tertelentang tubuh si
dara baju ungu. Kedua tangan lelaki tua itu
tengah mengurut-urut tubuh si dara. Rupanya
ia tengah mencurahkan perhatian untuk
menolong si dara sehingga seolah-olah tak
mengetahui bahwa rombongan tokoh2 Tionggoan
itu sudah masuk kedalam ruang.
Seorang wanita yang berpakaian seperti
puteri keraton tengah tegak berdiri dibelakang
dinding. Wajahnya yang cantik gemilang,
menyilaukan pandang mata sekalian orang.
Tetapi wanita itu tampak tenang sekali Ia
tak mengacuhkan kedatangan rombongan jago2
silat itu. Setelah semua rombongan sudah
masuk barulah ia membuka mulut dengan nada
dingin, “Yang manakah Ih Thian-heng itu?”
Ih Thian-heng memberi hormat dan menyahut
tertawa, “Aku yang rendah inilah Ih
Thian-heng. Adakah hujin (nyonyah) hendak
memberi perintah kepadaku?”
Wajah wanita keraton yang segar
kemerah-merahan itu segera berkabut dengan hawa
pembunuhan, serunya, “Apakah engkau yang
menghina anakku?”
Sambil mengabarkan pandang kearah si dara
baju ungu yang masih berbaring di tanah, Ih
thian heng tertawa hambar! “Kalau benar,
Lalu bagaimana?”
“Membunuh orang harus mengganti jiwa. Engkau
berani menghina puteriku sampai dia
mati penasaran, mengapa engkau masih berani
hidup?” teriak wanita berpakaian seperti
puteri keraton itu. Kata-katanya penuh
dengan nada keangkuhan.
Tiba2 ih Thian-heng tertawa
sekeras-kerasnya, “Dalam dunia persilatan Tiong-goan,
siapakah yang tak kenal aku Ih Thian-heng
ini seorang yang kejam dan ganas,
memandang jiwa manusia itu hanya seperti
jiwa semut saja? Aku sudah terlanjur
berlumuran darah hidupku, kalau tambah satu
dua jiwa lagi menjadi korban keganasanku,
pun tak apa.”
Wanita keraton itu kerutkan alis dan berseru
dingin, “Karena engkau tak mau membunuh
diri menebus dosa, terpaksa aku harus- turun
tangan!”
“Dengan segala kerendahan dan kegembiraan
hati, aku menunggu pelajaran hujin,” sahut
Ih thian-heng.
Wanita cantik itupun segera mengangkat
tangan kanannya. Tetapi biru akan diayunkan
tiba2 terdengar seseorang berseru, “Tunggu!”
Ketika wanita cantik itu berpaling,
dilihatnya seorang pemuda cakap yang gagah,
melengkang ke hadapannya.
“Siapa engkau?” tegur wanita itu.
Pemuda itu menjurah dengan hormat, “Aku yang
rendah ini Ji Han Ping.”
Wanita cantik membentak, “Ji Han Ping,
engkau mau apa?”
Jawab Han PinG, “Seorang lelaki tak mau
membiarkan orang lain mewakili menerima
kesalahannya. Yang membuat marah sampai
puterimu binasa itu adalah aku. Ih Thianheng
tak ada sangkut pautnya. Kalau engkau
meminta ganti jiwa, mintalah kepadaku.”
Wanita rantik itu tertegun Cepat ia
memandang kearah BWe NIo, adunya, “Bwe Nio,
bagaimana ini?”
SejenaK merenung, Bwe Niopun menyahut, “Ya
Memang mereka berdua yang menjadi
pembunuhnya “
“bagus wanita keraton ItU tertawa, memang
kalau sebuah jiwa hanya diganti dengan
sebuah jIWa kupikir tentu masih merugikan
putriku.”
Ih Thian-heng berpaling kearah Han Ping,
hendak membuka mulut tetapi tak jadi.
Wanita cantik ini berkisar dua langkah
kemuka lalu berderu bengis, “Kalian boleh maju
berdua”
Han Pingpun tiba2 melangkah setindak kemuka,
“Kalau lo-ciunpwe hendak menuntut
ganti jiwa puteri- lo cianpwe, memang aku
harus menerima.”
Wanita keraton itu berseru tawar “Mati dulu
atau mati belakangan, hanya sekejab saja
terpautnya….” ia terus ayunkan tangan
menghantam.
Hantamannya itu tak menerbitkan deru angin
maupun suara keras. Indah dan lemah
gemulai.
Wajah Han Ping tampak mengerut serius,
“Locianpwe, maafkan kalau aku bertindak
kurang tata krama”
Diam2 iapun kerahkan tenaga-dalam kearah
tangan dan menangkis pukulan wanita itu.
Tetapi rupanya wanita itu tak mau tangannya
berbentur dengan tangan Han Ping. Maka
cepat ia mengendapkan tangannya dan terus
menarik pulang.
Han Ping hendak maju mendesak tetapi tiba2
ia merasa dilanda oleh segelombang tenaga
gelap. Ia terkejut, pikirannya, “Kepandaian
wanita ini, benar2 tak boleh dipandang
rendah. Dia dapat menyimpan tenaga-dalam
yang hebat di telapak tangannya. Begitu
tangan ditarik kembali, tenaga-dalam terus
berhamburan memancar.
Hebatnya gelombang tenaga yang melanda
tangan Han Ping itu hebat sekali sehingga
Han Ping terpaksa harus mundur selangkah.
Pun wanita, cantik itu tak kurang kejutnya.
Ia duga dengan pancaran tenaga-dalam yang
dilakukan secara tiba2 itu, Han Ping tentu
terluka berat dan binasa.
Paling tidak tentu akan rubuh pingsan.
Tetapi ternyata dugaannya itu meleset. Walaupun
anakmuda itu tersurut mundur selangkah
tetapi dapat menyambut serangannya.
Kini baik Han Ping maupun wanita cantik itu
sama2 menyadari bahwa lawan tak boleh
dipandang ringan. Setelah sama2 tertegun
sejenak keduanya baru mulai melakukan
serangan.
Han Ping mengeluarkan ilmu istimewa dari
perguruan Siau-lim si yalah Cap ji kin-liang
jiu atau duabelas sambaran menangkap naga.
Jari jemarinya menjulur surut untuk
mencengkeram jalan-darah tangan siwanita
Kin-liong-jiu itu memiliki gerak yang luar
biasa dan sukar diduga sama sekali.
Gerakan tangan wanita itu biasa saja. Cara
menangkis dan menyerang, dilakukan dengan
gerak yang sederhana. Tetapi ternyata jurus2
yang sederhana itu, dimainkan dengan
tenaga yang mengejutkan orang. Dalam jurus
permainan yang sederhana itu mengandung
gerak perobahan yang aneh dan luar biasa.
Kedua belas jurus ilmu Kim-liongjiu yang
dimainkan Han Ping itu boleh mengunjuk
kesaktiannya yang luar biasa. Tetapi
kesemuanya itu dapat dilenyapkan dengan jurus2
yang sederhana dari siwanita cantik.
Dalam beberapa kejab saja, keduanya sudah
bertempur lebih dari duapuluh jurus. Namun
tetap belum ada yang kalah atau menang.
Lelaki tua baju biru itu seolah-olah tak
mengacuhkan pertempuran itu. Dia menundukkan
kepala dan masih sibuk mengurut si dara.
Sedang Ih Thian-heng memandang tak berkesiap
pertempuran antara wanita cantik lawan
Han Ping itu.
Wajah wanita cantik itu mulai mengunjuk
kerut keheranan. Namun dia tetap tak mau
balas menyerang. Rupanya dia hendak
memancing agar Han Ping mengeluarkan seluruh
kebiasaannya.
Sejenak Ih Thian heng memandang kearah
lelaki baju biru lalu gunakan ilmu Menyusup
suara berkata, “Hati2 saudara Ji, wanita itu
hendak memikat engkau supaya
mengeluarkan selaruh kepandaianmu….”
Han Ping berobah kerut wajahnya. Tiba2
tangannya menyerang lebih dahsyat. Setiap
jurus pukulan dan tamparannya, benar2
merupakan ilmu silat yang jarang tertampak
dalam dunia persilatan.
Mau tak mau wanita itu harus mengimbangi
permainan Han Ping. Diapun mengeluarkan
jurus2 yang aneh dan istimewa. Yalah ilmu
untuk menutuk jalandarah dan menabas
uratnadi.
Jurus yang dimainkan Han Ping telah mencapai
tingkat yang sukar d kendalikan lagi.
Tetapi karena ditekan oleh permainan
siwanita cantik, Han Ping tak dapat
mengembangkan gerakannya.
Sekonyong konyong wanita itu melepaskan dua
buah pukulan sehingga gerakan Han
Ping menjadi terlambat. Kemudian ia menarik
pukulannya dan mundur seraya berseru,
“Berhenti!”
Sambil hentikan tangannya, Han Ping
bertanya, “Lo cianpwe, hendak memberi perintah
apakah kepadaku?”
Wajah wanita itu bertebar merah. Hendak
membuka mulut tetapi tak jadi bicara.
Han Ping tertegun, serunya, “Jika lo cianpwe
hendak memberi pesan apa2, silahkan
mengatakan.”
Lelaki tua baju biru yang sibuk mengurut
tubuh si dara baju ungu tadi, saat itu
mengangkat kepala. Sepasang matanya
berkilat-kilat mencurah kepada Han Ping. Ia
mendengus dingin lalu lepaskan pukulan.
“Siapa suruh engkau campur tangan!” tiba2
wanita cantik itu membentak marah seraya
gerakkan tangan menangkis pukulan lelaki
itu.
Nenek Bwe menghela napas, “Tancu, cubo musuh
sudah didepan mata masakan kalian
tak saling memaafkan dan bersatu untuk
menghadapi mereka?”
Wanita cantik itu makin marah, serunya
“Bagus, Bwe Nio, engkau juga berani mengurus
aku”
“Maaf cubo, hamba sekali-kali tak berani,”
nenek Bwe tundukkan kepala.
Wajah lelaki baju biru itu berkerenyutan
sejenak lalu mengatupkan mata. Jelas hatinya
amat tegang tetapi terpaksa ditindasnya.
Dalam pada memperhatikan suasana disitu Ih
Thian-heng cepat mendapat kesan bahwa
diantara lelaki tua baju biru dengan wanita
keraton yang cantik itu terdapat suatu dendam
permusuhan. Diam2 Ih Thian heng girang,
Kalau ia dapat menemukan soal2 yang
menjadi sebab perselisihan kedua orang itu
tentulah ia dapat memanfaatkannya untuk
mengadu domba agar keduanya saling bertempur
lagi.
Dengan pemikiran itu Ih Thian-hengpun segera
tertawa nyaring. Karena tertawanya yang
mendadak itu, sekalian tokohpun terkejut.
“Mengapa saudara Ih tertawa?” tegur Ca
Cu-jing.
Ih Thian-heng hentikan tertawanya lalu
menyahut, “’Tiba2 saja aku teringat akan sebuah
cerita. Cerita itu amat lucu sekali sehingga
aku tak dapat menahan rasa geliku….”
“Cerita bagaimanakah sehingga begitu lucu
itu?” Nyo Bun-giau menyelutuk, “apakah
saudara mau mengatakan agar kami juga dapat
mengetahui?”
Nyo Bun-giau ini juga cerdik sekali. Cepat
sekali ia menarik kesimpulan bahwa tak
mungkin Ih Thian heng akan tertawa begitu
keras apabila tak ada sesuatu.
Sejenak memandang kearah lelaki tua baju
biru, Ih Thian-heng berkata, “Berpuluh tahun
yang lalu, hidup dua orang yang menganggap
dirinya paling pandai didunia. Keduanya
berwatak angkuh dan keras kepala. Mereka
hidup bersama, menjadi pencari kayu….”
Lelaki tua baju biru tiba2 mengangkat kepala
dan memandang Ih Thian-heng lalu berseru
dingin, “Apakah engkau yang bernama Ih
Thian-heng?”
Ih Thian heng tersenyum, “Benar, bagaimana?”
“Lalu bagaimana?” Ca Cu jing menyelutuk
pula.
Ih Thian-heng melanjutkan ceritanya, “Pada
hari itu ketika mereka pergi ke hutan,
mereka menemui seekor anak macan. Yang
seorang hendak membunuhnya tetapi yang
seorang mencegah dan ingin memelihara anak
macan itu. Tak berapa lama anak macan
itu pun tumbuh besar….”
“Macan setelah besar memakan pencari kayu
itu. Kebaikan budi hanya menimbulkan
bahaya” tiba2 terdengar suara melengking
merdu dan serentak dengan itu si dara baju
ungupun menggeliat duduk.
Ih Thian heng tertawa, “Nona menebak jitu.
Aku inilah salah seorang dari kedua pencari
kayu itu. Dan masih ada seorang pencari kayu
lagi, entah siapa?”
Dara baju ungu membentak, “Ih Thian-heng,
sayang usahamu sia2 saja. Aku dapat
sembuh terlalu pagi….”
Tiba2 mata si dara baju ungu itu terbentur
kearah siwanita keraton. Seketika gemetarlah
tubuh dara itu.
“Yah, apakah itu ibuku?” bisik si dara
kepada lelaki tua baju biru.
Lelaki tua baju biru itu mengangguk tanpa
berkata apa2.
Tiba2 Han Ping memberi hormat kepada wanita
cantik itu, “Puterimu sudah sembuh,
diantara kita sudah tiada permusuhan lagi….”
Tiba2 Han Ping berputar tubuh, mencabut
pedang Pemutus-asmara dan memandang Ih
Thian-heng, serunya, “Ih Thian-heng, kita
sudah bertemu muka dengan pemilik makam
ini. Entah mati atau hidup, nanti kita tentu
segera mengakhiri keadaan di sini. Sekarang
jika aku tak lekas menuntut dendam kepadamu,
mungkin nanti tak ada kesempatan lagi.”
Ih Thian hengpun mengeluarkan sepasang
gelang emas dari bajunya, sahutnya, “Selama
ini aku tak pernah menggunakan senjata
apabila bertempur dengan orang. Tetapi hari ini
terpaksa aku harus menghapus pantangan itu.”
“Terima kasih karena engkau memandang tinggi
kepadaku,” kata Han Ping.
Nyo Bun-giau kerutkan alis, serunya, “Kurasa
dendam permusuhan kalian ini, nanti saja
diselesaikan setelah keluar dari makam ini.”
Han Ping tertawa, “Cerita Ih Thian-heng
tentang pencari kayu yang memelihara anak
harimau tadi, telah memberi peringatan
kepadaku.
Apabila lepaskan harimau kembali ke
gunung,akan menimbulkan bahaya dikemudian
hari.”
Han Ping menutup kata-katanya dengan
tusukkan pedang.
ih Thian-hengpun cepat memutar kim-juan atau
lingkaran-emas untuk menangkis seraya
berseru, “Gelang emas ini kulengkapi dengan
bermacam alat rahasia yang hebat, harap
engkau berhati -hati!”
Han Ping mengulapkan tangan, menarik pulang
pedang dan berseru, “Silahkan engkau
menggunakannya. Kalau mati, Ji Han Ping
takkan penasaran!”
Segera ia gerakkan pedangnya dengan jurus
yang istimewa yalah Ban-lun-hud-Kong atau
Lingkaran sinar-Buddha. Pedang
Pemutus-asmara pun segera memancarkan hamburan
sinar yang menyelubungi tubuh Han Ping.
Walaupun hanya sebuah jurus, tetapi
Ban-lun-hud kong itu mengandung perobahan yang
tak terduga dan tak terhitung jumlahnya,
Sebuah jurus ilmupedang yang benar2 sakti.
Lingkaran sinar pedang Pemutus-asmara itu
tiba2 pecah menjadi tiga gunduk sinar, terus
menyerang Ih Thian-heng.
Tring, tring, tring…. terdengar dering
melengking memekakkan telinga ketiKa sinar
lingkaran dari sepasang Gelang emas Ih Tian
heng berhantam dengan gumpalan sinar
pedang Pemutus-Asmara.
Sinar pedang Pemutus-asmara menggembung
panjang, berganti bentuk menjadi semacam
bianglala yang melingkari sinar gelang emas”
Sekalian orang yang menyaksikan
permainan kedua orang itu tersengsam kesima.
Semula Nyo Bun-giau dan Ca Cu jing hendak
menasehati agar kedua orang itu untuk
sementara mau menghentikan permusuhannya.
Tetapi demi melihat sinar gelang dan
sinar pedang seolah membungkus tubuh mereka,
tokoh2 itupun bingung untuk melerai
mereka.
Sinar pedang Pumutus-asmara memancarkan hawa
dingin dan gelang emaspun berkilaukemilau
sinarnya. Tetapi sedikitpun tidak
menghamburkan suara apa2.
Sekalian tokoh yang berada di ruang itu,
semua tokoh2 silat yang berilmu tinggi. Mereka
segera tahu bahwa kedua orang yang bertempur
itu telah mengeluarkan ilmu tenaga
dalam yang tinggi. Ujung pedang dan gelang
emas, mengandung tenaga, dalam yang
dahsyat sekali. Tidak terdengarnya suara
benturan kedua senjata itu jelas mengunjuk
bahwa keduanya telah menumpahkan seluruh
kepandaiannya untuk menggunakan jurus2
simpanannya yang istimewa, mengalahkan
lawan.
Benar2 sebuah pertempuran yang dahsyat dan
sengit sekali. Seluruh mata dan perhatian
sekalian tokoh terpikat pada pertempuran
itu.
Tiba2 terdengar sebuah dengus tertahan dan
sinar pedangpun tiba2 menyurut, sinar
gelang emas lenyap. Tubuh Han Ping terhuyung
mundur tiga langkah. Wajahnya pucat
lesi, keringat mencurah seperti hujan.
Lengan kirinya menjulai lemas. Jelas dia telah
menderita luka parah.
Dilain fihak, tampak Ih Thian-heng kerutkan
sepasang alis dan mengatup bibirnya erat2.
Rupanya diapun sedang berusaha untuk menahan
kesakitan.
Setelah saling bertukar pandang beberapa
saat, tiba2 Han Ping berseru, “Ih Thian-heng,
Tiga Pendekar dari Lam gak, mempunyai dendam
permusuhan apa dengan engkau?
Mengapa engkau membunuh ayahku dan mengapa
pula engkaupun tak mau memberi
ampun kepada suhuku?”
Ih Thian-heng menyahut pelahan, “Sederhana
saja, mereka telah menghianati aku.”
Mata Han Ping berkilat kilat memancarkan
sinar pembunuhan….
JILID 7
Banteng lawan harimau.
“Apakah ibuku juga engkau yang membunuh?”
seru Han Ping dengan mata berapi-api.
Ih Thian- heng sejenak memandang
kesekeliling ruang lalu menyahut dingin, “Soal itu
aku tak mau memberi jawaban.”
“Pertempuran terakhir yang akan kita
langsungkan ini, masih belum dapat dipastikan
siapa yang akan menang, “kata Han Ping pula.
“Ya, memang aku juga mempunyai kesimpulan
begitu,” sahut Ih Thian-heng.
“Kalau engkau kubunuh aku tentu masih tak
mengetahui mengapa alasanmu membunuh
kedua orangtuaku itu.”
Ih Thian-heng segera menjawab, “Kalau engkau
mati di tanganku, tentulah engkau akan
dapat berkumpul dengan kedua orangtuamu di
alam baka.”
Han Ping tertawa dingin.
“Arwah ayahku tentu tahu dan tentu akan
membantu aku menyelesaikan dendam jiwa
ini!” serunya tegas.
Kemudian ia terus perlahan-lahan mengangkat
pedangnya keatas.
Melihat itu Ih Thian-hengpun segera
bergerak. Ia pindahkan gelang emas ke tangan kiri
lalu tangan kanannya mengambil sebatang
pedang pendak yang panjangnya seperti
pedang Pemutus-asmara. Hanya batang pedang
itu dihias dengan tujuh buah bintang.
Sepasang galang-emas yang dicekal ditangan
kiri dijulurkan lurus kemuka dan pedang
pendekpun dilintangkan siap menyambut
serangan musuh.
Tampak wajah Han Ping yang semula pucat,
pelahan lahan berwarna merah pula.
Sepasang matanya memancar sinar tajam kearah
lawan. Tangan kiri yang menjulai tadi,
pun pelahan-lahan diangkat keatas untuk
mengimbangi permainan pedangnya.
Tiba2 mata silelaki tua baju biru atau
Lara-hay Ki-siu ketua dan perguruan Lam-hay-bun,
tampak terkesiap. Rupanya dia terkejut
melihat cara Han Ping menyiapkan ilmupedang
yang akan dilancarkan itu.
Dalam pada itu wanita cantikpun segera
menarik lengan Siau Toto atau si dara baju ungu
terus dipeluknya dengan mesra.
“Nak, jangan takut bisiknya.
“Aku tak takut. Tetapi ah, siapakah yang
akan menang dalam pertempuran itu?” tanya si
dara.
“Tak peduli siapa yang akan menang toh sama
saja,” kata wanita keraton itu, tetapi tiba2
ia terus berganti pembicaraan, “tetapi
ilmupedang dari Ji Han Ping itu memang termasuk
ilmupedang tingkat tinggi. Kemungkinan dia
menang, memang lebih banyak.”
Ketika memandang kemuka tempat Han Ping dan
Ih Thian-heng masing2 sudah sama
menjulurkan pedangnya dan saling beradu
pandang. Makin lama keduanya tampak makin
tegang dan setam. Wajah keduanyapun
mengembang warna merah, Seolah2 keduanya
sedang berusaha untuk menekan perasaan
dadanya yang hendak meledak.
Sekonyong konyong han Ping menggembor keras.
Pedang Pemutus-asmara diayunkan
dan seketika memancarlah sinar kebiru-biruan
yang menggelembung panjang.
Tetapi pada saat Han Ping menggembor itu,
pedang Ih Thian-hengpun tiba2 disapukan
membentuk segumpal lingkaran sinar yang
melingkari tubuh.
Ca Cu jing menghela napas panjang, “Ah, ilmu
Pedang terbang….”
Tring! terdengar dering pelahan dan kedua
pedang itupun tercerai lagi. Kedua orang itu
tetap berdiri ditempatnya semula. Mata
saling beradu pandang.
Hanya wajah mereka yang berwarna merah tadi,
kini lenyap dan berganti kerut
kepayahan. Sinar mata mereka yang
berkilat-kilat tajam, pun redup dan pudar.
Pedang Ih Thian-heng ternyata sudah kutung
terpapas pedang Pemutus asmara. Sisa
kutungannya yang separoh masih berada
ditangannya.
Han Ping merghela napas, serunya, “Ih
Thian-heng, cukup asal engkau menjawab sepatah
saja. Ibuku apakah engkau yang membunuhnya?”
Ih Thian-heng tak menjawab. Pelahan-lahan ia
membuka genggam tangannya dan
jatuhlah sisa kutungan pedang ditangannya
itu ketanah. Rupanya dia kehabisan tenaga
sehingga tak kuasa lagi untuk menguasai
pedang dan sisa kutungan pedang itupun jatuh
menukik lurus ketanah.
Ih Thian-heng, apakah engkau tak berani
mengaku?” bentak Han Ping dengan sengit.
Tubuh Ih Thian-heng gemetar. Tiba2 ia
menghela napas, “Kalau ya, lalu bagaimana?”
Han Ping tertawa nyaring, “Membunuh orang
harus mengganti jiwa!”
Sekali tangan bergerak maka sinar birupun
segera menabur kemuka. Setiap kali
membicarakan dendam darah orangtuanya,
darahnya tentu mendidih dan tenaganyapun
menggelora. Dia tentu akan turun tangan
dengan buas.
Setitikpun Ih Thian-heng tak menyangka bahwa
dalam keadaan tenaganya habis ternyata
Han ping masih dapat melancarkan serangan
sedemikian hebatnya. Ih Thian-heng
terkejut. Dalam gugup ia cepat lepaskan
sepasang gelang emas. Gelang emas itu
malayang menyongsong sinar pedang.
Tring, tring…. terdengar dering pelahan dan
sepasang gelang emas itupun terpapas
kutung. Tetapi serentak dengan itu, batang
gelang itupun menghamburkan air hitam.
Ternyata senjata Kim-juan atau Gelang emas
milik Ih Thian-heng itu diisi dengan air
beracun dan alat rahasia. Apabila alat itu
dipijat, air beracunpun tentu meluncur keluar
sampai jauh. Tetapi hamburan air itu halus
seperti asap sehingga musuh tentu tak dapat
melihatnya. Sekali mengenai tubuh orang,
segera daging orang itu tentu akan membusuk.
Racun berwarna hitam itu memang luar. biasa
ganasnya.
Apabila Han Ping tak melancarkan serangan
yang begitu tiba2 dan tak dapat diduga Ih
Thian-heng, tentulah nanti akhirnya pemuda
itu akan tersembur oleh air racun.
Setelah dapat menghancurkan gelang emas Han
Pingpun menghentikan serangannya.
Ih Thian-heng terkejut sekali melihat
peristiwa yang tak terduga-duga itu. Tetapi pada
lain saat ia tertawa nyaring, serunya, “Ah
saudara Ji, rejekimu sungguh besar sekali.
Kalau engkau tak memapas kutung gelang-emas
itu,tentulah engkau terluka tersiram air
beracun itu.”
Han Ping memandang ke tanah yang ditimpahi
air beracun. Ia terkejut, pikirnya, “Hm
entah apa ramuan racun itu sehingga sampai
begitu hebat. Tanahpun sampai berlubanglubang
begitu macam. Kalau sampai mengenai tubuh
orang, tentu hancur.”
Hati Ping geleng2 kepala dan menghela napas,
“Ih Thian heng sekarang baru kubuktikan
sendiri kalau engkau ini memang manusia
berhati serigala.”
Ih Thian-heng malah tertawa keras, “Dalam
tempat yang begini berbahaya, kesempatan
hidup amat kecil sekali. Sekalipun engkau
memaki aku dengan kata2 yang lebih kotor
lagi, akupun takkan mempedulikan”
“Siapa bilang tempat ini sebuah tempat maut.
Yang benar, hidup dan mati kalian ini
tergantung dari keputusanku,” tiba2 lelaki
tua baju biru berseru.
Jawab Ih Thian-heng, “Betapapun kesaktianmu,
namun rasanya tentu sukar menghadapi
serangan bersama dari tokoh2 Tiong-goan.
Menilik engkau saat ini sedang menderita
luka dalam yang parah, engkau tentu kalah
dan menggerakkan alat rahasia dalam makam
ini agar kita mati bersama-sama semua.”
Lain-hay Ki-siu tertawa dingin.
“Melihat keadaan disini, rasanya tiada
seorangpun yang dapat melawan aku,” serunya
dengan congkak.
“Sombong benar!” seru Ih Thian-heng lalu
berpaling memandang Han Ping. Tampak
pemuda itu kerutkan alis dan berkilat-kilat
matanya. Wajahnya mengunjuk rasa tak puas
terhadap ucapan ketua Lam-hay-bun tadi.
Melihat suasana itu tergeraklah pikiran Nyo
Bun-giau, cepat ia menyelutuk, “Apabila kita
semua tokoh Tiong-goan dapat memikirkan
kepentingan bersama, sementara menghapus
dulu kepentingan pribadi, lalu menghadapi
engkau. Hm, kemungkinan bukan kami tetapi
kalian orang2 Lam-hay-bun akan menjadi
penghuni makam tua ini.”
Berulang kali wajah Han Ping tampak
menggelombang perobahan tetapi sampai lama,
dia tetap belum membuka mulut, Beberapa
waktu kemudian baru berkata dengan nada
dingin, “’Dendam kehilangan ayah dan bunda,
bagai gunung yang selalu mengganjel
mata. Aku takkan hidup tenang sebelum dapat
membasmi musuh itu, menggorek hatinya
untuk kusembahyangkan dimuka pusara
ayah-bundaku, Ih Thian-lieng dendam
permusuhan kita, tak mungkin diundurkan
lagi. Saat ini kalau bukan engkau, akulah yang
akan mati!”
Ih Thian-heng merogoh kedalam bajunya dan
mengeluarkan sebatang sabuk kulit,
lebarnya lima dim. Ujung sabuk ditancapi
golok liu-yapto (golok setipis daun liu) yang
berwarna kebiru-biruan. Kemudian tangan kiri
merogoh kedalam baju lagi dan
mengeluarkan sebatang pedang Jit sing kiam
(pedang Tujuh-bintang).
“Memang sudah jauh2 hari aku menduga tentang
pertempuran terakhir antara kita berdua.
Demi menghadapi pedang pusaka Pemutus asmara
yang luar biasa tajamnya itu, aku
sengaja membuat lima batang pedang pendak
Tujuh-bintang dan duapuluh hui-to (golok
terbang) yang berlumur racun….” seru Ih
Thian-heng.
“Berapa banyak senjata yang engkau bawa,
silahkan menggunakan semua,” tukas Han
Ping.
Ih Thian heng tertawa, “Duabelas batang
hui-to beracun dan lima batang pedang Tujuh
bintang yang terbuat dari baja murni dan
sepasang gelang-emas berisi racun sama sekali
berjumlah duapuluh tujuh buah. Sampai saat
ini engkau sudah berhasil menhancurkan
sebatang pedang dan sepasang gelang emas….”
Berhenti sejenak ia melanjutkan pula, “Dua
puluh batang huuo ini. racunnya luar biasa
ganasnya. Engkau harus hati2!”
Memandang kearah golok yang disiapkan Ih
Thian-heng itu, diam2 Han Ping menimang
dalam hati, “Hui-to itu hanya lima dim
besarnya. Tentu mengandung suatu alat rahasia
lagi. Jika dia menyerang dengan terpencar,
betapapun hebatnya dibawah taburan hui-to
beracun, sungguh tak sesuai.
Setelah merenungkan hal itu, Han Ping lalu
kerahkan tenaga-dalam. Tegak dengan
siapkan pedang. Wajahnya mengerat serius,
sepasang matanya mencurah kearah ujung
pedang. Sikapnya penuh wibawa.
Sekonyong-konyong ketua Lam-hay-bun menjerit
tertahan lalu serentak berdiri dan
mundur kebelakang. Sekalian tokoh cepat
memandang kearah ketua La m hay-bun itu
lalu ikut menyingkir mundur kesudut dinding.
Ih Thian-heng kerutkan alis. Dua butir
keringat menetes turun. Tenang sekali ia segera
memasang sabuk kulit berujung hui-to itu
kepinggangnya Ia menjemput hui~to dengan
tangan kanan. Sedang tangan kiri bersiap
dengan pedang Tujuh-bintang.
Suasana dalam tempat itu sunyi senyap.
Sekalian tokoh menumpahkan perhatian kepada
pertempuran maut antara harimau lawan naga.
Tampak wajah kedua seteru itu agak berbeda.
Seri wajah Han Ping makin lama makin
cerah dan gagah. Sedang Ih Tnian-heng tampak
tegang regang. Ubun2 kepalanya
bercucuran keringat.
Tiba2 si dara baju ungu menghela napas dan
berbisik kepada ibunya, “Adakah sikap
berdiri sambil menyandang pedang yang
dilakukan pemuda itu, merupakan sikap
pembukaan dari suatu ilmu pedang yang
sakti?”
Wanita cantik mengiakan, “Benar . .
Tiba2 Ih Thian-heng bersuit panjang. Sekali
tangan kanannya bergerak maka tiga batang
hui-topun segera melayang.
Han Ping menghembus napas. Sekali memutar
tangan kanan maka pedang pusaka
Pemutus asmara pun segera berhamburan
membentuk segumpal sinar pelangi.
Tring, tring. tring…. ketiga hui-to itupun
berhamburan jatuh ke tanah menjadi enam
potong.
Han Ping tampak tenang dan serius lagi. Ia
tegak dengan sikap mempersembahkan
pedang.
Tiba2 Ih Thian-heng tertawa panjang. Nadanya
macam naga meringkik. Kumandangnya
tertawa itu memenuhi segenap ruangan.
Nyo Bun-giau berpaling memandang Ca Cu-jing,
bisiknya, “Saudara Ca, rupanya Ih
Thian-heng sudah gentar terhadap kesaktian
pemuda itu. Dalam suara tertawanya itu,
nadanya penuh dengan kerawanan . .
Berkata Ca Cu jing, “Kalau kita hendak
membantunya, saat ini memang saat yang tepat.”
Dengan gunakan ilmu Menyusup suara, Nyo
Bun-giau berkata pula, “Tetapi entah
apakah ketua Lembah-seribu racun dan
Siangkwan Ko itu menyetujui tindakan kita atau
tidak. Dan si Pe-ngemis sakti itu entah akan
menghalangi kita atau tidak. Jika fihak Lam
hay-bun akan menggunakan kesempatan ketika
kita saling berhantam sendiri mereka
turun tangan. Tentulah mereka akan mendapat
keuntungan macam si penangkap ikan
yang memperoleh keuntungan karena kurang
bertanding dengan burung bangau.”
Ca Cu-jing juga gunakan ilmu Menyusup-suara
untuk menjawab, “Aku tak menguatirkan
si Pengemis-tua Cong To dan orang Lam
hay-bun, Yang penting apakah Leng Kong-siau,
Siangkwan Ko dan Ting Ko mau bersatu dengan
kita atau tidak. Asal ketiga orang itu
setuju, ditambah dengan Ih Thian-heng, kita
tentu dapat lolos dari tempat ini. Sebenarnya
baik Ih Thian-heng maupun Ji Han Pinng itu,
adalah musuh kita bersama. Kalau kedua
orang itu saling bertempur sendiri, memang
menguntungkan bagi kita. Tetapi entah
bagaimana, aku mempunyai perasaan bahwa Han
Ping itu lebih menakutkan daripada Ih
Thian-heng. Menilik jalannya pertempuran,
jelas Ih Thian-heng tentu kalah. Aku sendiri
memang tak faham tentang ilmupedang tetapi
kudengar keterangan dari tokoh2 pedang
bahwa ilmu Pedang terbang itu merupakan
ilmupedang yang paling tinggi tingkatnya.
Sikap tegak sambil mempersembahkan pedang
kemuka yang dilakukan Han Ping itu jelas
merupakan sikap pembukaan dari ilmu Pedang
terbang. Tampaknya nyali Ih Thiau-heng
yang kenal akan ilmupeang itu, sudah
berantakan.”
“Pendapat saudara Ca itu memang sama dengan
pendapatku,” kata Nyo Bun-giauw,
“akupun merasa kalau Ji Han Ping itu jauh
lebih menakutkan dari Ih Thian-heng. Dia
masih muda, darahnya masih panas dan keras
Kepala tak-mau memikirkan kepentingan
orang banyak. Mungkin Ih Thian heng ingin
menundukkan Dua Lembah dan Tiga Marga,
Tetapi Ji Han Ping mungkin akan membunuh
semua orang kedua lembah dan ketiga
marga itu….
Walaupun dengan menggunakan ilmu
Menyu-Sup-suara lain orang tak dapat mendengar
tetapi karena melihat bibir kedua orang itu
bergerak-gerak, tahulah sekalian orang kalau
kedua orang itu tengah berunding.
Leng Kong-siau ketua Lembah-seribu-racun tak
dapat menahan kesabarannya. Ia tertawa
dingin dan berseru, “Mengapa kalian
kasak-kusuk sendiri?”
“Sekalipun saudara Leng tak bertanya, akupun
tentu juga akan minta petujuk kepadamu,”
sahut Nyo Bun-giau.
Leng Kong-siau tertegun, serunya, “Soal
apa?”
“Menurut pendapat saudara Leng, bapakah
diantara Ih Thian-heng dan Ji Han Ping yang
mempunyai kemungkinan besar untuk menang?”
Jawab Leng Ko-ig siau, “Sebelumnya nyali Ih
Thian-heng sudah runtuh, semangat
tempurnya sudah lenyap. Tanda2 akan
menderita kekalahan, sudah jelas. Sekalipun
kepandaian mereka berimbang, tetapi Ih
Thian-heng sudah kalah moril. Apalagi Ji Han
Ping masih mempunyai pedang pusaka. Menurut
pendapatku, sukar bagi Ih Thian-heng
untuk mempertahankan diri.”
“Tadi akupun berunding soal itu dengan
saudara Ca. Entah bagaimana penilaian saudara
Leng terhadap kedua orang itu,” kata Nyo
Bun-giau pula.
Jawab Leng Kong-siau, “Dalam keadaan dan
tempat seperti ini, rasanya Ih Thian-heng
lebih berguna kepada kita daripada Ji Han
Ping.”
“Ah, pendapat kaum pendekar itu kiranya
tentu sama,” kata Nyo Bun-giau,” aku dan
saudara Ca juga berpendapat begitu Tadi aku
berunding dengan saudara Ca untuk
menggabungkan tenaga kita, yalah saudara
Leng sendiri, saudara Siangkwan dan saudara
Ting untuk membantu Ih Thian heng. Entah
bagaimana pendapat saudara Leng?”
Leng Kong-siau tersenyum, “Asal saudara Ting
dan saudara Siangkwan setuju, akupun
juga setuju.”
“Baiklah, aku akan merundingkan hal ini
kepada kedua saudara itu,” kata Nyo Bun giau
lalu kisarkan tubuh dan berkata, “Saudara
Ting dan saudara Siangkwan, aku hendak
mohon petunjuk kepada saudara berdua “
Kedua tokoh itu berpaling dan menghampiri
ketempat Nyo Bun giau.
Ting Ko tertawa dingin, “Soal apakah yang
saudara Nyo hendak tanyakan?”
“Bagaimana pendapat saudara berdua tentang
pertempuran kedua orang itu?” tanya Nyo
Bun giau.
“Paling baik keduanya sama2 mati.” sahut
Ting Ko.
“Tetapi sayang keadaan tak seperti yang
saudara harapkan,” kata Nyo Bun-giau,
“diantara kedua orang itu hanya ada seorang
yang masih dapat hidup.”
“Sudah jelas kalau Ih Thian-heng tak
mempunyai kesempatan untuk menang,” tiba2
Siangkwan Ko menyeletuk.
“Pandangan saudara Siangkwan memang tepat,”
kata Nyo Bun-giau, “begitu pula
anggapanku, saudara Ca dan saudara Leng.”
“Lalu bagaimana maksud saudara Nyo, harap
mengatakan dengan jelas,” kata Ting Ko.
“Ah, saudara Ting memang tangkas. Baiklah,
aku tak mau menggunakan kata2 yang
berliku-liku lagi. Kami bertiga tadi telah
berunding dan merencanakan untuk membantu
Ih Thian-heng. Entah apakah saudara berdua
dapat menyetujui dan suka membantu
tindakan kita itu?”
“Ini…. ini….”
Belum selesai Siangkwan K o mengucap, Nyo
Bun giau cepat menyusuli kata2 lagi,
“Walaupun Ih Thian-heng itu memusuhi kita,
tetapi Ji Han Ping lebih menakutkan lagi.
Dia sudah menukas hubungan kasih dengan si
dara baju ungu puteri dari ketua Lamhaybun.
Saat ini si dara sudah sembuh. Apabila Ih
Thian-heng mati ditangan Ji Han Ping,
keadaan tentu sudah jelas. Bagaimana
akibatnya nanti andaikata Ji Han Ping bersekutu
dengan fihak Lam-hay-bun tak perlu
kuterangkan, saudara berdua tentu sudah dapat
membayangkan sendiri.”
“Dalam hal apa ih Thian-heng itu tergolong
manusia baik?” seru Ting Ko.
Jawab Nyo Bun-giau, “Walaupun dia bukan
orang baik, tetapi sekurang-kurangnya dia
tentu takkan bersekutu dengan fihak Lam hay
bun. Kecuali kalau suasana berganti begini:
Han Pin.; menggempur Lam-hay-bun lebih dulu
baru kemudian menyelesaikan Ih Thianheng,
kita memang takkan memikirkan tindakan
apa2…. “
“Apabila tindakan kita ini malah akan
mendesak Han Ping berfihak kepada Lam hay-bun,
bukankah lebih runyam lagi,” kata Ting Ko.
Nyo Bun giau tak pernah membayangkan akan
menerima pertanyaan semacam itu dari
Ting Ko. Maka untuk sesaat ia tak dapat
menjawab.
Dalam pada ia merenung itu keadaan dalam
medan pertenpuranpun sudah berobah.
Tampak Ih Thian heng sedang menaburkan lima
batang golok hu yap-to yang berlumur
racun Kelima batang golok tipis itu hebat
sekali melayangnya.
Bagai burung walet, kelima batang hui to itu
meluncur urut-urutan seperti berbaris.
Dua batang hui-to yang melayang dimuka,
ketika hampir tiba2 pada Han Ping kira2
kurang sekilan, tiba2 menjungkat keatas.
Sedang tiga batang hui-to yang dibelakang,
malah tiba lebih dulu. Jadi yang meluncur
dibelakang malah mendahului menyerang Han
Ping. Ketiga huito itu meluncur dengan pesat
dan berpencaran. Yang satu menyerang
dada, satu mengarah tengorokan dan satu lagi
menyerang perut.
Cepat Han Ping memutar pedang
Pemutus-asmara. Tring tring, ketiga hui-to itupun
berhamburan lenyap tersapu pedang.
“Awas, hati-hatilah dengan dua batang hui-to
yang dibelakang itu!’ teriak Pengemis-sakti
Cong To.
Baru Ia memberi peringatan, tiba2 kedua
batang hui to yang melekat satu sama lain tadi,
meluncur kebawah dan mencurah ke dada han
Ping. Saat itu Han Ping belum sempat
menarik pulang pedangnya dan kedua batang
hui-to itu sudah dekat pada dada.
“Ih….” tiba2 si dara baju ungu menjerit dan
terus pingsan dalam pelukan ibunya.
Memang dara itu walaupun sudah tertolong
tetapi tubuhnya masih lemah. Melihat Han
Ping akan binasa dibawah curahan hui-to
beracun, terkejutlah hati dara itu. Seketika
darahnya meluap dan iapun terus pingsan….
Memang Han Ping sendiri juga terkejut. Dalam
gugup, han Ping masih sempat
mengempiskan perut dan dengan gerak yang
luar biasa cepatnya, ia menyurut mundur
dua langkah.
Dua batang huito, meluncur menyerempet
pakaian Han Ping dan terus jatuh ketanah.
Tetapi dalam pada ituIh Thian-hengpun cepat
menggunakan kesempatan untuk
menyerang. Pedang Tujuh-bintang ditaburkan
menjadi tiga gumpal lingkaran sinar, lalu
menusuk ke muka.
Dalam pertempuran diantara tokoh sakti
seperti yang dilakukan Han Ping dengan Ih
Thian-heng, memang detik2 yang bagaimana
kecilnya pun amat penting dan dapat
merobah jalan pertempuran.
Walaupun Han Ping memegang pedang pusaka
Pemutus asmara yang hebat, tapi karena
ia baru saja menghindari hui-to maut dan
belum sempat memperbaiki posisinya, maka
serangan Ih Thian-heng yang dahsyat dan
cepat itu tak sempat ditangkisnya. Terpaksa
anakmuda itu menghindar ke samping. Tetapi
sekalipun begitu Dia harus menderita luka
tusukan pedang, Bahunya sebelah kiri kena
tertusuk ujung pedang lawan, darah
menyembur keluar membasahi pakaian, bahkan
tembus sampai ke pakaian dalam.
Bahu yang tertusuk itu meninggalkan luka
sepanjang tiga dim.
Melihat tusukannya berhasil, Ih Thian-heng,
ia terus hendak menyusuli lagi tetapi secepat
itu pula Han Pingpun sudah ayunkan kakinya
menendangnya. Terpaksa lh Thian-heng
mundur dua langkah.
Dengan peristiwa itu, keadaan pertempuran
berobah delapan puluh derajat. Han Ping
yang sudah menguasai pertandingan, ternyata
berbalik menderita luka. Tetapi Ih Thianhengpun
kehilangan kesempatan bagus untuk
menyelesaikan lawan. Terpaksa dia loncat
kembali ketempatnya semula.
Han Pingpun tegak sambil luruskan pedang
kemuka dada, siap2 menghadapi serangan
lawan. Tetapi dalam pada itu diam2 ia
menggunakan kesempatan untuk menyalurkan
tenaga-dalam menghentikan pendarahannya.
“Saudara, lekas salurkan tenaga dalammu
untuk menutup jalandarah di lenganmu yang
terluka itu. Hati2 jika pedang ih Thian heng
itu beracun,” seru Pengemis-sakti ih Thianheng.
Han Ping tersenyum, “Terima kasih….”
“Jangan bicara,” cepat2 Cong To melarangnya.
Han Ping menurut, Saat itu keduanya saling
berhadapan lagi dengan pandang mata saling
memperhatikan gerak gerik lawan.
Rupanya luka pada bahu Han Ping itu cukup
berat. Darah sampai membasahi ke lengan
bajunya.
ih thian heng merogoh lagi kedalam bajunya.
ia mengeluarkan enam batang hui-to beracun.
Serunya, “Ji Han Ping, apakah lengan
kirinya sudah lumpuh?”
Han Ping mengertek gigi. Ia hendak menjawab
tetapi tak jadi.
Ih Thian-heng tertawa hambar, “Sesungguhnya
ilmupedang saudara itu hebat sekali, lebih
unggul dari aku. Tetapi sayang pengalaman
dalam bertempur, saudara masih belum
cukup.”
Han Ping tetap diam.
Ih Thian-heng tertawa pula, “Jika saudara
merasa luka saudara itu keliwat berat sehingga
sukar melanjutkan pertempuran, dapatlah
pertempuran hari ini kita tunda dulu Tunggu
satelah luka saudara sembuh, baru
kitalanjutkan lagi….”
Mendengar itu Han Ping tak dapat menahan
hatinya lagi, ia menjawab, “ Tak perlu.”
Ih Thian-heng tertawa, “Bahu kiri saudara
yang terluka itu kemungkinan sudah
menyusup ketulang. Apabila melanjutkan
bertempur, mungkin sukar untuk menutup
jalandarah untuk menghentikan pendarahannya.
Dan lagi menilik luka….
“Dendam berdarah dari ayahbunda, telah
menghayati darah dagingku bahwa aku takkan
hidup bersama dalam satu kolong langit
dengan engkau, Kecuali engkau dapat memapas
tubuhku kutung, pertempuran hari ini harus
selesai sampai ada yang menjadi mayat!’
tukas Han Ping.
Tiba2 terdengar si dara baju ungu menghela
napas panjang dan membuka mata Demi
melihat Han Ping masih berdiri tak kurang
suatu apa, legahlah hati dara itu. Ia rebahkan
kepala kedada ibunya dan berkata dengan
bisik2, “Mah, selama beberapa tahun ini,
dimanakah engkau? Ai, walaupun tiada
seorangpun yang memberitahu kepadaku bahwa
mamahku masih hidup, tetapi hatiku tetap
yakin bahwa mamah….
Wanita cantik itu mendengus dingin,
“Bagaimana? Mereka mengatakan aku sudah mati?
katanya sambil memindahkan jari untuk
mengurut-urut jalandarah puterinya.
Dara baju ungu mengangguk, “Tidak, memang
tak ada seorangpun yang mau
memberitahukan tentang keadaanmu sehigga aku
merasa seperti seorang anak perempuan
yaug terapung-apung seorang diri di samudra
raya.”
Wanita cantik itu menghela napas,
“Seharusnya engkau kubawa pergi bersama….”
pelahan-lahan ia hendak menarik ujung
selubung sutera yang menutup muka puterinya.
Dengan mata berlinang-linang ia berkata,
“Nak, kasihlah mamah melihat wajahmu….”
“Jangan menyentuh aku!” tiba2 dara itu
melengking kaget.
Wanita cantik tertegun dan lepaskan tangan
yang memegang ujung kain selubung, “Nak,
mengapa engkau ini”
Tiba2 dara itu lunglai terus jatuhkan diri
kedada ibunya dan menangis terisak isak.
Wanita cantik terkejut, tanyanya gopoh,
“Nak, engkau kenapa?”
Tetapi dara itu tak menjawab melainkan terus
menangis tak henti2nya. Suara tangisnya
makin lama makin merawankan dan makin
menyayat hati orang. Sekalian tokoh yang
sedang tegang menghadapi pertempuran maut
itu, entah bagaimana, tergerak -hatinya dan
ikut berlinang-linang sedih.
Tampak Han Ping dan Ih Thian-hengpun
menurunkan pedangnya. Wajah mereka yang
penuh hawa pembunuhan, pun mulai lenyap.
Wajah sekalian orang yang berada dalam
ruangan itu diliputi dengan kerut kesedihan.
Seolah2 mereka sedang berkabung. Dunia ini
dirasakan seperti tertutup kabut kesedihan,
kegelapan dan kehampaan….
Tanpa disadari semangat sekalian tokoh itu
telah dicengkam oleh suara tangis si dara Dan
beberapa saat kemudian, entah siapa, tiba2
terdengar suara orang menangis keras. Belum
sempat orang memperhatikan siapa yang
menangis itu, sudah disusul lagi dengan orang
lain yang menangis keras. Lalu seorang lagi
dan seorang lagi sehingga sekalian tokoh itu
serempak menangis semua.
Tring, tring…. pedang Han Ping dan pedang Ih
thian-hengpun berhamburan jatuh
ketanah.
Didalam ruang itu hanya lelaki tua baju biru
yang tak terpengaruh dengan suara tangis si
dara. Dia tetap duduk bersila pejamkan mata.
Tetapi wajahnya menebar warna merah.
Jelas dia sedang mengerahkan tenaga-dalam
untuk menolak tenaga-dahsyat yang
berhamburan memenuhi ruangan tetapi yang tak
tampak.
Dara baju ungu itu mengangkat mukanya,
memandang kesekeliling ruangan. Demi
melihat sekalian orangpun sama menangis, ia
segera hentikan tangisnya dia pelahanlanan
ayunkan langkah kemuka.
Karena sedang dicengkam oleh kesedihan,
sekalian tokoh2 itu tak tahu kalau siara sudah
maju kemuka.
Ternyata dara itu menghampiri kesamping Han
Ping. Ia memungut pedang Pemutusasmara,.
Kemudian menghampiri ke tempat Ih Thian-heng
lalu mengankat pedang itu dan
diarahkan kedada Ih Thian-heng.
Asal dara itu menggunakan sedikit tenaga
saja, betapapun kesaktian Ih Thian-heng,
namun tetap tak mungkin dapat menahan pedang
pusaka itu. Dia tentu, terluka. Ini sudah
pasti.
“To-ji, lekas mundur kembali, apakah engkau
tak sayang jiwamu?” tiba2 terdengar suara
seruan pelahan.
Suara itu tak asing bagi si dara dan ketika
berpaling ia dapatkan yang berseru itu memang
ayahnya, ketua Lam-bay-bun tengah deliki
mata dan melambaikan tangan
memanggilnya.
Dara baju ungu menghela napas dan
pelahan-lahan menghampiri kesamping Han Ping,
menarik tangan kanan pemuda itu dan tiba2
mengigitnya keras”
Han Ping merasa sakit dan tiba2 ia tersadar.
Si darapun lalu menyerahkan pedang pusaka
Pemutus-asmara kepadanya, “Kalau hendak
membalas dendam sakithati orangtuamu,
segeralah engkau bunuh dia!”
Dara baju ungu itu menginsyafi bahwa dengan
tenaganya yang masih lemah, tentu tak
mungkin dapat menyadarkan Han Ping. Maka ia
lalu menggigitnya sehingga pemuda itu
dapat siuman dari kehilangan semangat.
Menyambut! pedang, Han Ping memandang lekat2
ke wajah dara itu seolah- olah hendak
menembus kain selubung yang menutup wajah
dara itu.
“orang mengajakmu bicara, mengapa engkau tak
mendengar?” lengking si dara.
“Soal apa?” sahut Han Ping gopoh.
“Jika engkau hendak membalas sakithati
orangtuamu, lekaslah engkau turun tangan. Saat
ini dia sudah kehabisan tenaga.”
Diluar dugaan Han Ping gelengkan kepala,
“Seorang lelaki jantan, mana mau bertindak
terhadap orang yang sedang terluka. Aku
hendak menunggu sampat sadar baru akan
menempurnya lagi.”
“Dia telah menggunakan hui-to untuk
menyerang engkau secara gelap. Dan dia berhasil
melukai sebelah lenganmu. Kalau saat ini
engkau membunuhnya bagaimana orang akan
menuduh engkau bertindak menindas orang yang
sedang terluka….”
Berhenti sejenak dara itu melanjutkan kata”
katanya pula, “ih Thian-heng seorang
durjana besar. Tetapi dia pura2 bersikap
seperti seorang budiman. Semua tokoh yang
berada di ruang ini, telah terpengaruh
dengan sikap dan omongan palsu dari Ih Thianheng.
Seluruh kaum persilatan dunia Tiong goan
menganggap engkau lebih berbahaya
dari Ih Thian-heng. Mereka takut dan gentar
kepadamu dan ingin melenyapkan engkau.
Hm, memang didunia ini terdapat manusia2
yang menganggap dirinya sok pintar seperti
mereka itu!”
“Mengapa?” tanya Han Ping masih ragu,” pada
hal aku dengan mereka tiada mempunyai
dendam permusuhan apa2. Mengapa mereka harus
membunuh orang yang tak
bermusuhan dengan mereka?”
Dara baju ungu menghela napas rawan “Setiap
pemenang tentu mengundang perasaan iri
hati orang. Yang keras, tentu mudah putus.
Apakah engkau tahu ujar2 itu?”
Han Ping terlongong-longong tak dapat
bicara.
Tiba2 dara ungu itu berkata pula: Tahukah
engkau bahwa sudah berulang kali ih Thianheng
berusaha untuk mencelakai engkau secara
diam2?
Lekaslah engkau bertindak saat ini juga!”
Han Ping mengangkat pedang Pemutus-asmara
lalu bergerak maju.
“Bagus!’ seru si dara baju ungu.
Tetapi baru dua langkah, Han Ping mundur
lagi. Tring…. pedang Pemutus-asmarapun
jatuh menukik ke lantai. Ujungnya menancap
di lantai sampai satu dim dalamnya.
Dara baju ungu banting2 kaki pelahan,
lengkingnya, “Jika memiliki budi welas-asih
seperti wanita, walaupun mempunyai
keberanian seperti raja Pah-ong, juga tak terhitung
seorang pahlawan. Karena akhirnya harus
menemui kesulitan dikepung dan bunuh diri di
tepi bengawan Oh-kiang. Keadaanmu saat
inipun serupa dengan raja Pah ong dahulu
kala. Selekas Ih Thian-heng sudah sadarkan
diri, engkau tentu akan terkepung dalam
sorak kemenangan mereka. Saat itu, menyesal
pun takkan berguna lagi!”
Han Ping menghela napas panjang, “Raja Co
Pah-ong memang seorang pahlawan besar.
Walaupun dia gagal dalam usahanya, tetapi
dia telah menderita kekalahan secara gilang
gemilang, kalah dengan kejayaan.”’
Si dara tertegun sejenak, serunya, “Tetapi….
tetapi adakah engkau lupa bahwa ih Thianheng
itu musuhmu bebuyutan?”
Tubuh Han Ping gemetar. Ia mengambil pedang
Pemutus-asmara lagi dan berdiri tegak.
Si dara memandang Han Ping. Dilihatnya wajah
pemuda itu bercucuran keringat. Ia tahu
bahwa pemuda itu sedang mengalami
pertentangan batin dan tak dapat mengambil
keputusan.
Han Ping masih menjulaikan ujung pedang
kebawah dan tangannyapun bergemetaran.
Kemudian tubuh juga mulai menggigil.
Memang detik2 itu amat menegangkan dan
penting sekali artinya. Setiap keputusan yang
diambilnya akan menentukan kalah menangnya
dan nasib seluruh dunia persilatan.
Melihat pemuda yang dikasihnya itu tegang,
si dara baju ungupun ikut tegang, serunya,
“Setiap kesempatan harus cepat disertai
keputusan Bila berayal, tentu akan timbul
perobahan lagi. Biasanya engkau tangkas dan
cepat menghadapi setiap persoalan,
mengapa hari ini….”
“To-ji,” tiba2 terdengar suara seruan
pelahan, “engkau harus mengetahui bahwa seorang
lelaki yang tegak di dunia dan melakukan
suatu tindakan, sang isteri tak boleh turut
campur. Sebaiknya engkau “lekas mundur
kemari dan biarkanlah dia sendiri yang
mengambil keputusan!”
Suara yang bernada tajam dan keras itu
mengandung kasih sayang yang penuh. Ternyata
yang bicara itu adalah ayahnya, Lam hay
Ki-siu.
Diam si dara menghela napas. Walaupun hati
penasaran tetapi ia tak berani membantah
kata ayahnya.
Tetapi tiba2 pula terdengar suara seorang
wanita yang merdu disertai dengan tawa dingin,
“Siapa bilang lelaki berbuat apa2, isteri
tak boleh ikut campur? Aku hendak bertanya,
apakah alasannya?”
Ternyata yang bicara itu adalah ibu si dara
baju ungu.
Tiba2 Han Ping berseru nyaring, “Aku sudah
mengambil keputusan ,….”
Mendengar itu si dara yang sudah berputar
tubuh dan ayunkan langkah menyingkir,
berhenti dan cepat berpaling.
Dilihatnya Han Ping melangkah dengan tegap
kesamping Ih Tnian-heng.
Serentak si dara girang dan berseru lembut,
“Asal engkau mau menabas, bukan saja
engkau dapat membalas sakit hati orangtuamu,
pun berarti engkau telah membasmi
seorang durjana besar!”
Tetapi ternyata tindakan Han Ping itu
sungguh diluar dugaan si dara. Dia memang
mengangkat tangan tetapi tidak menahasnya
melainkan terus dilekatkan ke punggung Ih
Thian-heng. Ih Thian-heng sedikit gemetar
tetapi pada lain saat iapun tersadar.
Han Ping terus lanjutkan lagi kepada Ca
Cu-jing dan lain2 tokoh sehingga dalam
beberapa saat saja mereka sudah tersadar
semua.
Tokoh2 itu terkejut dan memandang kepada Han
Ping Mereka menyadari bagaimana
keadaan mereka beberapa saat yang lalu.
Apabila Han Ping ayunkan pedang, mereka
tentu sudah jadi mayat semua. Tetapi
ternyata anakmuda itu tak mau bertindak curang
malah dia menampari agar mereka tersadar
dari cengkaman tenaga sakti yang terpancar
dari tangis si dara baju ungu.
Ca Cu jing menghela napas pelahan, bisiknya
kepada Nyo Bun-giau, “Saudara Nyo, dia
masih muda tetapi tindakannya amat tegas dan
gemilang,’
Nyo Bun giau tak menyahut tetapi dalam hati
diam2 ia mengeluh, “Anak itu memang
jujur sekali. Dengan tindakannya tadi, jelas
dia telah merebut hati sekalian orang.
Rasanya jerih payahku untuk mengajak
sekalian orang membunuhnya, tentu akan gagal.”
Setelah selesai membuka jalandarah sekalian
tokoh, Han Ping terus melankkah ketengah
gelanggang dan berseru kepada Ih Thian-heng,
“ih thian-heng, apakah kesadaran
pikiranmu sudah sembuh sama sekali?”
Ih Thian-heng, tersenyum, “Ya, sudah.
Tindakan saudara ji yang begitu perwira, sungguh
membuat orang kagum dan tunduk hati.”
“Seorang lelaki memang harus bertindak yang
perwira,” sahut Han Ping. Tiba2 ia
tertegun sejenak lalu berkata pula, “Aku
ingin mengadakan perjanjian dengan engkau.
Apakah engkau meluluskan?”’
“Silahkan mengatakan,” sahut Ih Thian-heng.
Dengan nada bersungguh, Han Ping berkata,
“Pertempuran hari ini, sudah jelas harus ada
penyelesaiannya. Entah siapa yang akan
menang dan kalah, tentu bakal ada salah seorang
yang rubuh bermandi darah. Dengan disaksikan
oleh sekian banyak tokoh2 persilatan,
matipun takkan penasaran.”
Jawab Ih Thian-heng: Mendapat seorang lawan
yang berimbang kekuatannya, sungguh
menggembirakan sekali. Matipun juga suatu
kesudahan yang menyenangkan. Tetapi
entah apakah lenganmu yang kiri yang terluka
tadi, apakah masih dapat digerakkan?”
Sambil dua kali menggerakkan lengannya, Han
Ping menyahut, “Meskipun lukanya
sampai mengenai tulang, tetapi tak sampai
lumpuh,”
“Aku harus mengucap selamat kepada saudara
Ji,” seru Ih Thian heng. “ah, dalam
pertempuran memang masing2 terpaksa harus
berlaku kejam. Hal itu menang tak dapat
dihindari lagi.”
“Aku hendak mengadakan perjanjian dengan Ih
cianpwe. Dalam pertempuran nanti,
apabila aku beruntung memenangkan sejurus,
kuminta Ih cianpwe suKa menjawab
sebuah pertanyaanku.”
Ih Thian-heng merenung, sahutnya, “Kalau aku
yang beruntung menang?”
“Terserah Ih cianpwe hendak bertindak
bagaimana,” jawab Han Ping.
“Menurut penilaianku,” kata Ih Thian heng,
“dalam pertempuran nanti, kita masing2
mempunyai kesempatan untuk menang. Dengan
demikian menang kalah, masih sukar
diketahui “
“Kutahu kalau sukar untuk mengalahkan
engkau, apalagi lenganku kiri menderita luka
parah, sehingga tenagakupun banyak
berkurang….
“Lalu kalau menurut perjanjianmu, sampai
berapa lamakah kita harus bertempur?
Ketahuilah, untuk merebut suatu kesempatan,
kita masing2 memang sukar melakukan.
Tetapi setelah memenangkan sebuah jurus,
harus berhenti untuk membicarakan suatu
peristiwa yang lampau….”
Dia berhenti sejenak tiba2 tertawa keras,
“Perjanjian yang engkau kehendaki itu, rasanya
apa tidak merugikan engkau. Engkau tentu
akan menanyakan tentang sebab2 kematian
orangtuamu ditanganku itu. Tebusan yang
engkau lakukan untuk hal itu, sungguh terlalu
berat Bukan aku Ih Thian-heng bermulut
besar. Tetapi semua peristiwa dalam dunia
Tiong-goan selama berpuluh2 tahun ini,
walaupun aku tak langsung ikut campur, tetapi
aku tentu tahu jelas. Apabila harus
menceritakan, belum tentu dalam tiga hari tiga malam
akan selesai.”
‘Walaupun aku tak melihat sendiri engkau
membunuh suhuku tetapi kutahu bahwa
engkaulah pembunuh dari kedua orangtuaku.
oleh karena, belum jelas, maka aku ingin
mengetahui apa sebab engkau membunuh
orangtuaku dan dengan cara bagaimana engkau
membunuh mereka!”
Ih Thian hener tertawa hambar tak menyahut.
Han Ping menghela napas panjang lalu berkata
pula, “Kita bertempur dengan senjata atau
dengan tangan kosong?”
“Terserah kepadamu,” sahut Ih Thian-heng.
Tiba2 Han Ping letakkan pedang
Pemutus-asmara, serunya, “Pedangku ini memang
terlalu tajam sekali. Kalau terkena tentu
mati atau luka parah. Sebelum aku memperoleh
apa yang hendak kuketahui itu, aku tak ingin
engkau mati dibawah pedang ini.”
Ih Thian hengpun melepas sabuk bertabur
hui-to beracun dan pedang Tujuh-bintang.
Kedua benda itu dilempar ketanah.
Tiba2 Pengemis-sakti Cong To tertawa
mengejek, “Ih Thian heng, tiga pedang pandek
yang tersimpan dalam badanmu itu mengapa tak
engkau keluarkan juga?”
Ih Tbian-heng tertawa, “Jangan kuatir ia
terus mengeluarkan tiga batang pedang pandak
dan dilemparkan di tanah. Sejenak bersangsi,
kembali ia mengeluarkan sebatang benda
hitam semacam penggaris yang panjangnya
sekilan. Lalu berseru kepada sekalian orang,
“Adakah saudara2 pernah mengenal senjata
ini?”
Sekalian tokoh mencurahkan pandang. Tetapi
tiada seorangpun yang kenal akan senjata
itu.
Tiba2 Han Ping memberi hormat, serunya, “Ih
locianpwe, hati2lah aku hendak mulai
menyerang,”
Ia menutup kata-kata dengan melangkah maju
dan terus ayunkan tangan.
“Aha, entah bagaimana kesaktian tangan
saudara Ji ini.” sambil menangkis, Ih Thiangheng
tertawa.
Darr…. ketika kedua tangan mereka saling
beradu, Han Ping tersurut mundur tiga
langkah tetapi Ih Thian-hengpun terdorong
selangkah ke belakang.
Tetapi selekas mundur, Han Ping terus
menendang perut Ih Thian-heng.
Sambil menghindar kesamping, Ih Thian-heng
berseru, “Tenaga pukulan saudara ternyata
hebat juga. Tadi aku sudah menggunakan
delapan bagian tenagaku.”
Dalam berkata-kata itu, sepasang tangannya
bergerak dan berturut turut melancarkan tiga
jurus serangan.
Han Ping tak mau meladeni bicara. Ia tun
pahkan selurvh perhatiannya uniuk melawan. U
ngan kirinya memang tciluka parah sehingga
ta leluasa digerakkan, Maka terpaksa ia
gunakan tin] tendangan untuk menutup
kekurangan lengan kil nya itu.
Demikian pertempuran berjalan seru. Pukulan
dan tendangan berhamburan dengan cepat
dan dahsyat.
Beberapa saat kemudian, luka pada lengan Han
Ping itu merekah pula. Darah merah
bercucuran ke tanah. Tetapi dia memukul dan
menendang dengan gagah perkasanya.
Dalam beberapa kejab saja, keduanya telah
bertempur lebih dari duapuluh jurus. Tiba2 Ih
Thian heng miringkan tubuh, menghindari
pukulan lalu menyelonong maju dan menebas
lengan kiri Han Ping.
Oleh karena lengan kiri Han Ping itu terluka
dan tak dapat bergerak dengan leluasa, maka
tampaklah pemuda itu tentu akan menderita
lagi.
Dara baju ungu mendengus dingin dan hendak
memaki Ih Thian-heng. Tetapi tiba2
tangan kanan Han Ping berputar seperti
hendak menghantam. Belum sampai pada
sasaran, sekonyong-konyong ditarik kembali
dan disapukan ke persambungan lengan
kanan Ih Thian heng. Lengan kanan Ih
Thian-heng tiba2 menjulai turun.
Kemudian Han Ping agak menengadahkan tubuh
dan menyurut mundur seraya berseru,
“Maaf, maaf, aku beruntung dapat memenangkan
jurus ini.”
Ih Thian-heng tertawa tawar, “Bertanyalah
tetapi hanya terbatas tentang seseorang
sebuah peristiwa.”
“Apakah engkau yang membunuh ayah bundaku?
tanya Han ping.
“Sudah kukatakan,” kata Ih Thian-heng,
“hanya terbatas untuk satu orang dan satu
peristiwa.
Ayah dan ibumu, dua orang dan dua buah dua
orang dan dua peristiwa, jangan dicampur
adukkan”
“Baik, aku menurut syaratmu. Apakah ayahku
engkau yang membunuhnya?”
“Boleh dikata ya, boleh dikata tidak.”
“Apa artinya omonganmu itu?” Han Ping marah,
“kita sudah berjanji dan semua orang
yang berada disini menjadi saksi. Apakah
engkau masih hendak menyangkal?”
Ih Thian heng tersenyum, “Apa yang kukatakan
itu memang sungguh2. Kematian
ayahmu, meskipun memang aku yang
memerintahkan tetapi yang membunuhnya bukan
aku.”
“Walaupun bukan engkau yang membunuhnya,
tetapi pembunuhan itu adalah atas
perintahmu. Engkau tetap menjadi
biangkeladinya,” kata Han Ping.
“Aku tak mengingkari.” kata Ih Thian heng.
“Lalu siapakah yang membunuhnya?”
“Perhitungkan saja hal itu kepadaku, tak
perlu mencari orang lain,” kata Ih thianheng.
Tiba2 Kim loji berteriak keras, “Pingji,
Ping-ji, akulah Ih Thian-heng hendak menangkap
ayahmu dan akan dibunuh dengan ditarik lima
ekor kerbau. Aku kuatir ayahmu tak dapat
menahan penderitaan itu maka terus
kutabasnya dengan golok!”
Bruk….! selesai memberi keterangan, tiba2
Kim loji benturkan kepalanya pada dinding
batu. han Ping tak mengira sama sekali bahwa
satu-satunya orang yang dianggap sebagai
keluarganya dan yang paling dihormatinya,
ternyata pembunuh dari ayahnya.
Sesaat Han Ping terlongong dicengkam dalam
kesedihan dan kedukaan….
Tetapi ketika terdengar bunyi batok kepala
pecah karena terbentur dinding karang,
seketika Han Pingpun tersadar.
“Paman, paman….” Ia terus lari menghampiri
dan mengangkat tubuh Kim loji. Tetapi
karena separoh dari batok kepalanya sudah
pecah Han Ping tak berdaya menolongnya
lagi. Airmatanyapun bercucuran seperti hujan
deras….
Kemudian letakkan tubuh Kim loji lalu
bersuit panjang, serunya, “Ih Thian-heng, hutang
darahmu tambah satu rekening lagi!”
Han Ping menutup katanya dengan lontarkan
sebuah pukulan Sin-lioug-jut-hun atau
Nagasakti-keluar dari awan.
Ih Thian hengpun segera gerakkan tangan
kanan untuk menangkis, menyusul tangan
kirinya balas memukul dengan pukulan
Angin-puyuh-menampar-pohon.
Demikian keduanya segera bertempur dengan
lebih dahsyat dan ganas. Benar2
merupakan suatu pertempuran maut. Setiap
pukulan dan tendangan, semua merupakan
gerak yang mematikan.
Sekalian orang yang menyaksikan pertempuran
itu, terlongong-longong kesima.
“Awas!” tiba2 ih Thian heng berseru dingin
seraya mecengkeram siku lengan kanan Han
Ping.
“Ah, belum tentu,” kata Han Ping lalu
memutar kelima jarinya menggurat lengan kanan
Ih Thian heng.
Seketika Ih Thian-heng rasakan lengannya
kesemutan dan gerakannyapun terlambat. Han
Ping menyusuli sebuah tendangan ke perut
sehingga ih Thian heng tergopoh-gopoh
mundur dua langkah.
Han Ping menarik tangannya dan tegak
berdiri, serunya, “Ih Thian heng, yang ini engkau
anggap atau tidak?”
Sambil mencekal lengan kanannya dengan
tangan kiri Ih Thian-heng menjawab, “Sudah
tentu dianggap Silahkan engkau bertanya
tentang sebuah peristiwa!”
“Apakah ibuku juga engkau yang membunuh?”
segera meluncur pertanyaan dari mulut
Han Ping/
“Bukan,” Ih Thian heng gelengkan kepala.
Sambil berpaling kearah mayat Kim loji, Han
Ping bertanya pula, “Apakah juga paman
Kim loji yang membunuhnya? Hm, karena dia
sudah mati engkau tentu dapat
menimpahkan segala dosa kepadanya.”
Ih Thian heng tertawa dingin, “Saudara
memandang diriku Ih Thian-heng ini sebagai
orang macam apa…. .”
Ia menengadahkan kepala dan bersuit panjang
untuk menumpahkan kesesakan dadanya,
lalu melanjutkan berkata pula, “Tentang
ibumu …. memang bukan Kim loii yarg
membunuhnya.”
“Lalu siapa pembunuhnya?”
“Dia bunuh diri sendiri dihadapan makam
ayahmu!”
Han Ping menghela napas rawan, “Benarkan
keteranganmu itu?”
“Soal itu menyangkut kesucian nama ibumu,
bagaimana aku berani omong sembarangan”
sahut Ih Thian-heng.
“Dimanakah makam ayahbundaku itu?”
“Digunung Lam gak. Tetapi karena peristiwa
itu sudah berselang lebih dari sepuluh lahun
yang lalu, tentang letaknya yang tepat, aku
sudah tak ingat jelas lagi.”
“Baik, sekarang silahkan engkau membuka
serangan,” kata Han Piiig.
Ih Thian-heng melangkah maju terus menutuk
dengan jarinya. Han Ping menghindar lalu
lancarkan tiga buah serangan.
Setelah dua kali mengalami kekalahan, Ih
Thian-hengpun tak berani memandang rendah
lagi. Dia tumpahkan seluruh perhatian dan
semangat untuk menyerang. Pun Han Ping
juga tak berani lengah. Keduanya bertempur
makin seru dan ganas. Jurus2 yang
dilancarkan, benar2 ilmusilat yang jarang
tertampak didunia persilatan.
Sekalian tokoh yang menyaksikan pertempuran
itu mendapat kesan bahwa ilmusilat Han
Ping itu seolah olah air sungai yang tak
pernah kering.
Setiap kali berhenti, tentu malah tambah
semangatnya dan mengeluarkan ilmusilat yang
baru lagi. Tetapi karena lengannya terluka,
setelah berhenti untuk menutup pendarahan,
apabila bertempur lagi luka itu tentu akan
merekah dan mengucurkan darah. Dan karena
darahnya banyak keluar, tenaga- dalamnyapun
terganggu.
Memang setiap kali Ih Thian-heng selalu
menderita tekanan dari permainan Han Ping.
Tetapi dia seorang tokoh yang berpengalaman,
Dia tak gugup menghadapi ilmu serangan
lawan yang selalu baru dan luar biasa. Dia
tetap tenang melayaninya.
Tiba2 Han Ping lancarkan sebuah jurus yang
disebut Se-lay-coh-im atau Doa-nyanyiandari-
barat. Yang diarah yalah dada lawan.
Serangan itu memang aneh. Gayanya seperti
orang hendak menutuk dengan jari tetapipun
seperti orang yang hendak menghantam.
Ih Thian-heng cepat gunakan jurus Pit-jong-tui-gwat
atau Menutup jendela-mendorongbulan,
Kedua tangannya melingkar jadi sebuah
bayangan dan menutup tubuhnya.