makam asmara 06
Dibelakang pintu itu merupakan sebuah ruang
yang luas, terang benderang dan penuh
dengan gadis2 cantik.
Sambil masih memondong mayat tabib alis
panjang, Ih Thian-heng melangkah masuk
seraya berseru nyaring, “Nona2 sekalian,
harap memberi jalan agar janganlah pakaian
nona terlumur darah merah!”
Kawanan gadis2 jelita yang berdiri dengan
kepala menunduk itu, mengenakan pakaian
warna warni, merah, kuning, biru putih dan
hitam.
Jaraknya satu sama lain menurut ukuran
tertentu. Sepintas merupakan jajaran yang
berbunyi Si atau mati.
Tiba2 terdengar suara tambur. Dan kawanan
gadis jelita yang menunduk kepala itu,
serempak mengangkat kepala, tertawa cerah.
Mereka cantik sekali, bibirnya semerah
delima merekah, raut wajahnya bagai kuntum
bunga mekar bersen. Alis melengkung bagai
bulan muda. Kecantikannya benar2 dapat
menyebabkan orang tua, merasa muda kembali.
Bahkan orang yang tengah meregang
jiwa dapat bangun lagi.
Ih Thian-heng berpaling kearah rombongan
tokoh2, tertawa, “kalau saudara2 merasa tak
Kuat bertahan untuk melintasi ruangan
sepanjang sepuluh tombak ini, lebih baik saudara
berjalan dengan menutup mata….”
Seiring dengan kata2 Ih Thian-heng itu,
kawanan gadis2 jelita itupun mulai pelahanlahan
bergerak.
Oleh karena sebelumnya sudah mendapat
peringatan maka rombongan tokoh2 itupun
sudah bersiap. Berhadapan dengan kawanan
bidadari cantik itu, buru2 merekapun sudah
mengempos semangat dan mengerahkan
tenaga-dalam untuk menguasai perasaan
hatinya.
Gerakan kawanan gadis2 itupun mulai makin
cepat, saling bersilang berpindah tempat
sehingga menimbulkan hamburan warna yang
menyilaukan.
Dengan mengandalkan tenaga dalamnya yang
sakti Ih Thian heng tak terkecoh dengan
kecantikan gadis2 itu. Sambil memandang
kesekeliling ia tertawa nyaring dan melangkah
maju.
Sekalian tokohpun mengikuti rapat2
dibelakangnya, Tiba2 kawanan gadis cantik yang
takhenti-hentinya bergerak itu, berhamburan
menyisih ke kanan kiri sambil melepaskan
pakaiannya. Dalam sekejab saja, merekapun
sudah tak berpakaian lagi.
Ih Thian-heng batuk2 dan berseru nyaring,
“Majikanmu sudah memberi perintah, tak
boieh kami melukai kalian. Tetapi kalianpun
jangan menghadang jalan….”
Ia tertawa lagi, lain berkata, “Silahkan
nona sekalian beraksi sekehendak hati nona agar
kami dapat menikmati melihatnya.”
Dalam pada itu kawanan gadis cantik itupun
sudah membentuk diri dalam sebuah
barisan. Masing2 menduduki tempat yang
tertentu. Dan salah seorangpun segera berderu
dengan suara yang merdu, “Silahkan tuan2
lewat ditengah barisan kami. Dalam saat
tuan2 lewat nanti, mereka akan menggunakan
kepandaiannya untuk merayu dan memikat
agar tun2 suka memilih mereka….”
Ketika ih Thian heng memperhatikan dengan
seksama, dilihatnya sinar mata kawanan
gadis cantik itu memancarkan harapan kasih,
bagaikan musafir di padang pasir yang
mengharapkan air….
Tiba2 hati Ih Thian-heng tergerak. Berpaling
kearah rombongannya ia berkata, “Selain
memang luar biasa cantiknya, gadis2 itu
lelah minum semacam obat. Apabila diantara
saudara yang merasa tak kuat menahan nafsu,
lebih baik pejamkan mata. Dengan
mengandalkan pendengaran, ikutilah
dibelakangku.” Habis berkata ia terus pelahan-lahan
melangkah maju.
Pengemis sakti Cong To tertawa gelak2,
“Selama hidup, belum pernah pengemis tua
menyaksikan pemandangan yang begini hebat
Apa yang terlihat saat ini, matipun sudah
puas!
Ia terus maju mengikuti dibelakang Ih
Thian-heng.
Ting Ling tiba2 cepatkan langkah menyusul
kesamping Han Ping lalu membisiki,
“walaupun kawanan gadis2 itu cantik sekali
tetapi kalau dibanding dengan dara baju
ungu puteri ketua Lam-hay-bun itu, masih
kalah jauh sekali. Asal engkau curahkan
pikiranmu mengenangkan wajah dara baju ungu
itu, tak mungkin hatimu terpengaruh
oleh kawanan gadis2 itu.”
Karena seumur hidup belum pernah menyaksikan
pemandangan yang sedemikian hebat,
tanpa disadari Han Pingpun memandang lekat
kepada mereka, ia baru gelagapan ketika
mendengar kisikan Ting Ling. Buru2 ia
kerahkan semangat dan tenangkan hati lalu
melangkah maju.
Berjalan beberapa saat memang mereka tak
merasakan suatu apa. Tetapi setelah beberapa
saat kemudian, mereka merasa ada sesuatu
yang tak wajar. Bau harum dari tubuh gadis2
cantik itu berhamburan menusuk hidung dan
menggetarkan hati. Pelahan-lahan hati
merekapun mulai tak tenang….
Tubuh yang putih mulus dan bau yang harum,
sudah cukup membuat hati orang kebat
kebit dan darah merangsang. Apalagi gadis2
cantik yang telanjang itu mulai
memancarkan tertawa yang menggelitik kalbu.
Rombongan tokoh2 itu berjalan dengan menutup
mata. Tetapi saat itu telinga mereka
seperti mendengar suara napas yang lembut
dan bisik2 yang merdu…. , sesaat napas dan
suara itu seperti dihembuskan dari
tenggorokan, sesaat dari dada dan sesaat pula dari
hidung.
Sekalipun dapat menutup mata tetapi
rombongan tokoh itu tak dapat menutup telinga.
Oleh karena itu, walaupun sudah menutup
mata, tetapi karena mendengar bisik2 lembut
yang penuh dengan cumbu rayuan menantang
kecabulan, mereka tak tahan lalu membuka
mata lagi.
Ih Thian heng berpaling kebelakang. Tampak
wajah mereka berobah merah, mata
bersinar lain. Bahkan ada yang dahinya
bercucuran keringat dan geraham digigitkan erat2
seperti orang yang tengah menahan nafsu.
Kebalikannya mereka yang biasanya hidup
dengan cara tak teratur, tampak bahkan lebih
tenang. Karena mereka banyak pengalaman,
jadi sudah biasa dengan pemandangan
semacam itu. Dan mereka yang biasa hidup
baik, saat itu seperti dibakar api panas
rasanya.
Sekonyong-konyong terdengar suaru menggerung
keras dan Theng Ban-li terus memeluk
seorang gadis telanjang itu lalu dibawa lari
kebelakang. Gadis jelita itu tertawa
menggelitik dan menyerahkan diri dibawa lari
oleh jago tua itu.
ih Thian-heng menghela napas, “Ah, sungguh
tak kira, seorang jantan seperti dia,
akhirnya harus menyerah pada paras cantik….”
Tiba2 dari samping terdengar orang
menyelutuk, “Walaupun dia tak dapat keluar dari
makam ini tetapi dia telah dapat merobah
keadaannya. Dan seorang yang paling
menderita menjadi orang yang paling bahagia
didunia.”
Ih thian-heng kerutkan sepasang alis lalu
beralih pandang. Tampak Ca Giok sedang
kepalkan tinju dengan geram tetapi tubuhnya
gemetar. Matanya buas seperti seekor
serigala lepas, memandang seorang dara ayu
yang telanjang.
‘Fui!” ih thian-heng menbentaK dan menampar
punggung pemuda itu.
Ca Giok tergetar dan tertegun beberapa saat.
Kemudian ia menjurah, “Terima kasih,
cianpwe.” ia terus mengikuti dibelakang Ih
Thian-heng, melanjutkan langkah.
Barisan dara2 telanjang itu walaupun tak
berapa menyeramkan tetapi jalanan yang harus
ditempuh, melingkar lingkar dan
berbiluk-biluk. Langkah kaki orang2 itu makin sarat.
Sampai sekian lama belum juga mereka keluar
dari barisan itu. Sepanjang hidup, belum
pernah mereka menempuh suatu perjalanan
seberat itu.
Tiba2 Ih Thian heng membentak keras lalu
menyanyi dengan suara nyaring. Lagunya
lagu bersemangat dan keras, seperti palu
besi menghantam batu. Seketika tergugahlah
semangat sekalian orang. Merekapun lalu
tegakkan kepala, busungkan dada melangkah
kearah jalan yang dirintis Ih Thian-heng.
“Seumur hidup aku tak pernah mengagumi
orang. Tetapi hari ini aku harus memberi
hormat kepadamu karena belum pernah aku
bertemu dengan orang seperti engkau,” seru
Pengemis-sakti Cong To kepada Ih Thian heng.
Ih Thian heng tak menyahut melainkan tetap
menyanyi dan tersenyum. Tak berapa lama
mereka pun dapat melintasi barisan itu.
“Sungguh berbahaya….”Ca Cu jing menengadah
dan menghela napas pangjang.
Wajah Ih Thian-heng berobah serius, serunya,
“Barisan paras cantik, walaupun Kita
sudah berhasil melintasi tetapi masih ada
sebuah rintangan yang tak kurang hebatnya
yalah Harta. Mungkin godaan ini jauh lebih
hebat dari paras cantik. Peribahasa
mengatakan, “Semut mati di gula, manusia
mati di harta. Harap saudara2 ingat hal itu.”
Rombongan Ih Thian-heng melanjutkan
perjalanan kemuka. Setelah membiluk sebuah
tikungan, tiba2 disebelah muka tampak
terang. Sederet lentera istana, bergelantungan
tinggi diatas lorong terowongan. Cahayanya
terang benderang seperti hari pagi. Papan
batu yang menonjol dari kedua tepi lorong
terowongan itu, penuh bertabur batu2 permata
yang berkilau-kilauan cahayanya.
Makin berjalan mendekati, makin hebat
perhiasan yang menantang. Semua terdiri dan
benda2 berharga yang jarang terlihat
manusia. Setiap macam benda, cukup untuk
menimbulkan rangsang keinginan orang.
Tak henti-hentinya Ih Thian-heng menghambur
pujian, ujarnya, “Benar2 sebuah istana
permata yang hebat. Walaupun istana raja
belum tentu dapat menandingi tempat ini.”
Nyo Bun-gian memberi sambutan, “Ah, intan
permata, zamrud ratna mutu manikam yang
jarang terdapat diduma! Selama
berpuluh-puluh tahun telah mengumpulkan barang2
permata. Dimana terdapat permata yang aneh,
tentu kubeli tanpa kuhiraukan harganya.
Semula kukira kumpulan benda2 permata yang
berada di rumahku itu sudah paling
banyak dan lengkap. Tetapi apa yang kulihat
saat ini, benar? menghapus kebangaanku
itu. Seperti langit dengan bumi atau bukit
dengan gunung bedanya….”
Tiba2 ia hentikan kata-katanya dan melangkah
maju, lari melampaui Ih Thian-neng, terus
menyelinap masuk kedalam sebuah ruang besar.
Didalam ruang besar yang diterangi dengan
lampu dan lilin itu, penuh bertumpukan
benda2 kuno dan zamrud permata yang tak
ternilai indahnva.
Tiba2 terdengar suara orang berseru kaget,
“Hai, Tenggoret-kumala dan Kupu2
Emas….!”
Sekalian orang terbeliak, mengangkat muka.
Tampak diatas meja yang dibuat dalam
bentuk istimewa, terdapat kedua benda pusaka
yang menggemparkan dunia persilatan itu.
Tenggoret Kumala, putih seperti salju,
berbuat dari batu kumala yang bening dan
cemerlang. Sepasang matanya sebesar kedele
berwarna merah bercahaya seperti benar2
hidup.
Sedang Kupu2 Emas itu lebih besar dari
Tenggoret Kumala. Panjangnya tak kurang dari
tigapuluhan senti. Entah terbuat dari apa,
kedua sayapnya amat tipis sekali. Sepasang
matanya berkilauan jernih sekali.
Saat itu seseorang sudah menyelimpat
ketempat kedua benda pusaka itu. Sambil berteliku
tangan, dia tegak berdiri dimukanya,
memandang lekat2 pada kedua benda pusaka itu.
Dari pandang matanya jelas dia itu mengiler
sekali melihat kedua pusaka itu.
Ih Thian-heng cepat dapat mengetahui bahwa
orang yang berada didepan meja itu yaiah
Nyo Buti-giau. Dan yang berteriak kaget
tadi, tentulah orang she Nyo itu juga.
Ih Thian hengpun memperhatikan, kecuali
Pengemis-sakti Cong To seorang, yang lain2
memandang lekas2 pada kedua benda itu dengan
sinar mata penuh keinginan.
Kedengaran Nyo Bun-giau menghela “napas
panjang, ujarnya, “Orang mati karena harta,
burung mati karena makanan. Rupanya pepatah
kuno itu memang benar. Memperoleh
pusaka yang hebat ini, rasanya matipun puas
“
Habis berkata ia terus ulurkan tangan hendak
mengambil kedua benda pusaka itu.
“Tahan!” tiba2 Ca Cu-jing berteriak seraya
maju menghampiri.
Nyo Bun giau memandang ketua marga Ca itu,
serunya dingin, “Mau apa engkau?”
Ih Tbian-heng berseru, “kalaupun mati atau
hidup saudara Nyo tidak perlu disayangkan,
tetapi kami semua tak mau menenami mati….”
Ia berhenti sejenak ia berkata pula .
“Apakah engkau tak mendengar kata2 pemilik
makam itu?”
Kata Nyo Bun-gian, “Ini….”
‘Kalau saudara Nyo tetap hendak mengambil,
dikuatirkan sekalian orang yang berada
disini takkan membiarkan saudara.”
Pengemis sakti Cong To tertawa gelak2, “Nyo
Bun-giau, berpalinglah kemari!”
Ketika Nyo Bun-giau berpaling, dilihatnya
berpuluh mata sekalian tokoh2 itu mencurah
kepadanya. Jelas mereka sudah bersiap-siap
hendak bertindak apabila Nyo Bun-giau
berani mengambil kedua pusaka itu.
Tetapi kebalikannya, saat itu Nyo Bun-giau
malah tenang2 memandang sekalian orang,
serunya, “Apakah saudara2 sungguh percaya
akan omongan pemilik makam ini tadi?
Kalau dia memang hendak membunuh kita,
sekalipun kita tak megambil benda disini, dia
tetap akan turun tangan juga.”
“Tak peduli omongannya benar atau tidak,”
seru Ih thian-heng, “harap saudara Nyo
jangan temaha. Apabila saudara hendak
mengambil kedua pusaka itu, sekalian orang
disini termasuk aku sendiri, tentu akan
mengambil jiwamu.”
Nyo Bun-giau terdiam lalu melangkah ke muka.
Ih thian-heng tetap tegak tak bergerak.
Setelah sekalian tokoh2 berjalan keluar
barulah ia mengikuti dari belakang.
Sekeluarnya dari ruang harta permata itu
mereka menghadapi sebuah lorong panjang lagi.
Dan pada ujung lorong, terdapat sebuah pintu
batu yang setengah terbuka.
Pada pintu itu terdapat selembar kertas
putih yang ditulis, Masuk pintu ini, semua
larangan hapus. Silahkan mengeluarkan se
luruh kepandaian untuk menjaga serangan.
Apabila dapat melintasi Jalan maut sepanjang
tigabelas tombak ini, baru dapat berjumpa
dengan pelik makam ini.
Sekalian orang mengerumuni dan membaca
kertas itu. Ih Thian- hengpun menghampiri.
Satelah meletakkan tubuh tabib alis paujang,
ia berkata, “Saudara2 tentu sudah membaca
tulisan itu. Mau tak mau atu harus mengagumi
kelicikan pemilik makam ini. Dia benar2
dapat mengetahui kelemahan2 orang dan sudah
memperhitungkannya….”
Berhenti sejenak ia melanjutkan berkata,
“Atas kepercayaan saudara2 yang telah
menganggap aku sebagai pemimpin darurat dan
rombongan ini, kuanggap telah
kuselesaikan. Sampai ditempat dan saat ini,
pimpinan rombongan akan kukembalikan
kepada saudara2 lagi.”
Habis berkata ia terus miringkan tubuh dan
menyusup ke pintu batu.
“Ih Thian-heng, lekas mundur’“ teriak Ting
Ling.
Ih Thian-heng yang sudah berada didalam,
karena teriakan si nona, lalu keluar lagi dan
tersenyum, “Nona cerdik, apa yang engkau
pikirkan.
Ting Ling berkata dingin, “Kepintaran besar
seperti tolol, Kejahatan besar pun seperti
bijaksana. Apabila menilik gerak gerikmu
selama berada dalam makam ini, memang
sukar orang untuk percaya bahwa sebenarnya
engkau ini seorang durjana besar….”
In Thian heng kerutkan alis, serunya, “Kalau
mau omong, bicaralah yang baik, jangan
memaki orang.”
Ting Ling maju menghampiri kesamping Ih
Thian-heng, serunya, “Ya, memang aku
memakimu. Apakah engkau berani membunuh
aku?”
Ih Thian-h;ng mengangkat tangan kanan
keatas, serunya, “Mengapa tak berani . , . .”
tiba2 ia menurunkan tangannya lagi, “engkau
seorang gadis muda, kalau aku
membunuhmu, bukankah aku akan ditertawai
seluruh kaum persilatan?”
Ting Ling mengangguk, “Benar, bukannya
engkau lak mau membunuh aku. Tetapi
engkau merasa tak leluasa untuk turun tangan
pada saat dan tempat seperti ini.”
Ih Thian heng hanya tersenyum.
Ting Ling berpaling kearah rombongan tokoh2
persilatan itu dan berkata pula, “Ih Thianheng
telah membawa kita melintasi barisan gadis2
telanjang dan ruang harta karun.
Tetapi pada saat tiba ditempat yang segawat
ini, bukan saja dia lepas tangan bahkan terus
hendak ngacir pergi, meminjam golok untuk
membunuh orang….”
Wajah Ih Thian-heng agak berobah. Dahinya
tiba2 mengerut hawa pembunuhan dan
berserulah dia dengan suara yang sarat,
“Saudara Ting, jika engkau tak dapat mengajar
putrimu yang nakal ini, terpaksa aku akan
mewakili saudara untuk memberi hajaran
kepadanya….”
Ting Ling tertawa mengikik, serunya, “Apakah
engkau takut? Kukatakan kepadamu, aku
taK percaya dalam saat dan tempat seperti
ini, engkau akan membunuh aku….”
Tiba2 Ih Thian-heng gerakkan tangannya
menutuk, “Kalau tak percaya, cobalah ini ‘.”
Tetapi serempnak dengan gerakan itu. Ih
Thian-hengpun mendengar dua buah gelombang
angin pukulan menyambar kearahnya. yang satu
melanda dada, yang satu menggempur
jarinya yang akan menutuk Ting Ling.
Ternyata kedua orang yang turun tangan
menolong Ting Ling itu, Han ping dan
Pengemis-sakti Cerig To. Han Ping menolong,
Cong To menyerang.
Kecuali kedua orang itu yang lain2 karena
tak menyangka kalau Ih Thian-heng benar2
akan turun tangan. Maka mereka hanya
tertegun dan tak sempat berbuat suatu apa.
Bahkan Ting Ko sendiri juga tertegun dan tak
menyangka hal itu.
Walau Han Ping bertindak cepat tetapi
gerakan Ih Thian-heng itupun lebih cepat dan
tenaga-dalam yang dipancarkan pada pukalan
itu juga teramat dahsyatnya. Sekalipun
dapat dihalangi Han Ping tetapi sisa
tenaganya masih dapat menembus dan mengenai
tubuh Ting Ling sehingga nona itu gemetar,
berguncang lalu rubuh kebelakang….
Ting Ko cepat menghampiri, “Ting-ji. apakah
engkau terluka?”dengan tangkas ia
menyambuti tubuh putrinya.
Ting Ling batuk2 lalu dengan menahan
kesakitan menjawab, “Parah sekali….”
Ca Cu-jing mendengus dingin, “Hm, tak kira
kalau….
Ting Ling cepat memberi isyarat tangan,
serunya, “Harap kalian jangan bicara.
Dengarkan sampai aku bicara habis. Kalau
tidak sia2 aku menderita….
Ia paksakan diri melakukan pernapasan, lalu
melanjutkan berkata, “Pemilik makam ini
memang ganas sekali. Setelah dapat melalui
dua buah rintangan Harta dan Paras cantik,
dia sudah mempersiapkan Jalan maut ini. Dia
me
manfaatkan terjadinya permusuhan sewaktu
melintasi dua macam rintangan tadi, lalu
menghendaki agar disini kita saling
berbunuhan sendiri. Disitulah letak kelemahan orang,
terutama orang persilatan yang paling
mengutamakan soal balas dendam. Ih Thian-heng
hendak menggunakan kepercayaan yang telah
diperolehnya selama memimpin
rombongan melintasi kedua buah rintangan
tadi, untuk mencelakai orang yang paling
ditakutinya —-”
Ting Ling pejamkan mata, menghela napas dan
berkata pula, “Tetapi seharusnya dia tak
perlu mengatakan hal itu sehingga aku
terpaksa harus merangkai dugaan untuk
meneropong isi hatinya. Sepandai tupai
melompat, sesekali terpeleset juga. Ih Thian-heng
lengah memperhitungkan kalau Ting Ling
berada disini….”
Berhenti sebenar ia tertawa, “Apabila dia
tak terasang kemarahannya dan memukul aku,
mungkin saudara2 takkan percaya pada omongan
Ting Ling ini.”
Setelah menangkis pukulan Pengemis-sakti
Cong To, Ih Thian heng berseru, “Pemilik
makam itu berada disekeliling Jalan Maut
ini. Dia tentu diam2 sudah mempersiapkan
jago2 sakti.
Apabila kita masuk kedalam pintu batu ini,
serangan secara terang maupun gelap, tentu
akan segera melancar.
Pemilik makam itu hendak menggunakan jalan
yang gelap ini untuk membasmi kita.”
Ting Ling berusaha mengangkat kepalanya dari
pelukan sang ayah, serunya, “Engkau
hendak memancing ikan di air keruh. Engkau
lebih dahulu hendak masuk lalu
bersembunyi ditempat gelap dan menggunakan
kesempatan itu untuk menyerang orang,
Dengan kepandaian yang engkau miliki, sudah
tentu mudah sekali engkau melaksanakan
rencanamu itu….”
Ting Ling tak dapat melanjutkan kata-katanya
karena kerongkongannya serasa tersumbat
oleh hawa panas.
“Nak, engkau memang terluka berat,” kata
Ting Ko lalu menepuk punggung puterinya.
Ting Ling batuk dan muntahkan ludah kental
campur darah.
“Dengan meminjam tempat yang gelap ini,
engkau hendak membunuh orang yang paling
engkau takuti,” kata nona itu pula.” setelah
itu baru engkau akan menghadapi pemilik
makam. Orang yang ikut masuk kedalam ruangan
itu tentu tak tahu apa yang telah
terjadi.Mereka hanya mengira engkau. Ih
Thian heng. benar2 telah menjadi pelopor untuk
membuka jalan. Sudah tentu mereka akan
berterima kasih kepadamu. Engkau sudah
mengucapkan sumpah yang bagus. Sekalian
rombongan patuh mendengar perintahmu.
Uh, hebat benar siasatmu itu! Sayang Ting
Ling dapat membongkarnya”’
Wajah Ih Thian-heng makin membesi, serunya,
“Budak setan, memang benar2 cerdik….”
tiba2 pula ia tertawa nyaring, “Sayang masih
ada sedikit yang belum dapat engkau,
pikirkan. Keadaan saat ini, sudah serba
sukar. Maju, menghadapi Jalan Maut yang belum
diketahui bagaimana keadaannya. Mundur pun
terbentur jalan ke matian. Ibarat
anakpanah sudah direntang pada busur, mau
tak mau harus dilepas.”
Ting Ling tertawa, “Jangan coba memaksakan
dirimu bersikap tenang. Kutahu hatimu
sudah gelisah resah.”
Ih Thian-heng mengangkat tangan kanannya,
berseru dingin, “Engkau sudah ibarat
seperti lampu kehabisan minyak. Cukup
kugerakkan tanganku pelahan-lahan saja, tentu
jiwamu sudah melayang.”
Seiring dengan gerakan tangan Ih Thian heng,
Han Ping dan Cong Tongpun serempak
tampil melindungi di muka Ting Ling.
Ih Thian-heng tertawa, “Tanpa kulepas
hantaman, dia toh takkan hidup.” Habis berkata ia
terus berputar tubuh dan menyelinap kedalam
pintu batu.
Ting Ling tiba2 berdiri dan berkata kepada
nya, “Yah, aku hendak pergi.
Dalam pertemuan ini aku belum dapat
menunaikan kewajiban bhaktiku kepada ayah
tetapi malah menyuruh ayah mengantar
kepergianku….”
Serta merta nona itu terus jatuhkan diri
berlutut dihadapan ayahnya, “Yah, terimalah
hormatku….”
Dalam tempat dan suasana yang seperti itu,
berapa ganas hati ketua Lembah Raja-setan
Ting Ko, namun tak urung orangtua itu
mengucurkan airmata juga. Cepat ia ulurkan
kedua tangan dan mengangkat puterinya.
“Ling, engkau terluka dibagian mana?”
tanyanya, “lekas beritahu kepada ayahmu. Demi
membongkar kelicikan Ih Ihian-heng engkau
sampai menderita luka, tentu sekalian orang
yang hadir disini takkan tinggal diam. Nak,
lekas bilanglah, dibagian mana engkau
terluka?”
Ting Ling tertawa rawan, “Tak usah ayah
sibuk, aku tahu bagaimana keadaan
lukaku…. .” ia berpaling kearah Han Ping.
Tampak pemuda itu tengah memandangnya
dengan pandang keharuan.
Tiba2 dari dalam pintu batu itu terdengar
dua buah bentakan keras dan menyusul
gelombang tenaga dahsyat mendampar keluar.
Cong To cepat menghantam dan tenaga dari
dalam pintu batu itupun terdampar kembali.
Sejenak Ting Ling memandang kepada rombongan
tokoh2 itu. Ia memegang tangan
ayahnya dan berdiri. Wajahnya mengerut
kesakitan, ia melambai kearah Han Ping,
serunya, “Aku sudah hampir mati. Entah
apakah engkau mau mendengarkan dua patah
pesanku?”
“Silahkan nona bilang, apabila mampu, aku
tentu akan berusaha sekuat tenaga untuk
melaksakakan,” kata Han Ping.
Ting Ling mengangguk, katanya, “Engkau harus
baik2 merawat adikku si Hong. . . dia
seorang anak perempuan yang tulus dan masih
kekanak kanakan….” tiba2 ia batuk dan
hentikan ucapannya.
“Jangan kuatir, nona,” kata Han Ping, “nona
Hong sudah kuanggap sebagai adikku
sendiri. Dalam hidupku ini, dia adalah
adikku sekandung.”
Berkata Ting LiDg dengan sedih, “Kutahu
engkau selalu pegang janji. Dengan
memperoleh janjimu itu, aku dapat mati
dengan meram….”
Tiba2 darah dalam tubuhnya meluap, menyumbat
kerongkongannya sehingga ia tak dapat
bernapas. Dan rubuhlah nona itu.
Ting Ko menyambut! tubuh puterinya dengan
kedua tangan, “Ling, Ling….”
Tetapi Ting Ling sudah pejamkan mata
Wajahnya pucat lesi dan jiwanyapun
melayanglah….
“Puteri sakti dari Lembah Setan, bermulut
tajam, berotak cerdas, Disohorkan orang
sebagai gadis yang licin banyak muslihat.
Tetapi tipu muslihat demi budi kebajikan,
kelicinan demi kebaikan,” seru Pengemis-sakti
Cong To,”
sayang Tian tak memberinya umur panjang
sehingga kematiannya sangat disayangkan
sekali.
Aku sipengemis tua Cong To, paling merasa
kagum pada orang begini. Harap nona
tunggu sebentar, terimalah sembahhormat
pengemis tua….”
Tokoh yang menggemparkan dunia parsilatan,
to k oh yang mendapat peindahan dari
kaum persilatan, saat itu dengan serta merta
menjurah dan memberi hormat dihadapan
jenazah Ting Ling.
Demikian pula Han Ping. Teringat akan budi
kebaikan nona itu, Han Pingpun
mengucurkan airmata dan berlutut memberi
hormat dalam2, “Nona banyak melepas budi
kepadaku tetapi slama itu aku belum dapat
membalas Terimalah hormat Han Ping yang
tulus ihklas….”
Sekalian tokoh2 yang lain amat penasaran.
Disamping timbullah rasa syukur yang tak
terhingga terhadap nona itu yang dalam
detik2 terakhir masih memberi peringatan kepada
sekalian orang, betapa licik dan jahat
siasat hati ih Thian-heng yang sebenarnya terhadap
mereka itu.
Sekalian tokoh2 yang ternama dalam dunia
persilatan itu serempak menjurah memberi
hormat yang terakhir kepada Ting Ling.
Tiba2 ketua lembah Raja-setan Ting Ko
tertawa keras, serunya, “Anakku Ling, setelah
meninggal engkau mendapat penghormatan dari
seluruh tokoh2 persilatan begini rupa,
sungguh jauh lebih hebat dari aku. Matimu,
Ling, adalah mati yang terhormat, mati yang
disayangkan oleh sekalian tokoh persilatan.
Engkau akan terkubur dalam hati mereka!”
Kim loji tiba2 menghela napas panjang,
serunya, “’Sayang tabib alis panjang itu sudah
mati Kalau tidak, mungkin dia tentu dapat
menghidupkan engkau.”
tiba2 terdengar suara melengking, “Ah, tak
mesti begitu. Apakah didunia ini tak terdapat
orang yang lebih pandai dari dia?”
Sekalian orang berpaling kebelakang. Tampak
dara baju ungu yang berkerudung muka
melangkah masuk dibawah pengawalan dari
jago2 Lam-hay-bun Han Ping, Kim loji dan
Cong To diam2 girang dan berkata dalam hati,
“Ya, benar, mengapa melupakan dia?”
Cepat Han Ping maju selangkah dan berseru
gembira, “Sungguh menggirangkan sekali
engkau datang Kalau engkau tak datang, aku
sungguh….”
“Engkau girang karena aku datang, bukan?”
tukas dara baju ungu itu.
“Ya, tentu,” sahut Han Ping.
“Engkau girang karena melihat aku, atau
karena kedatanganku ini akan dapat menolong
nona Ting “ kata si dara pula.
Han Ping tercengang. Sampai beberapa saat ia
tak dapat menjawab.
dara itu terdengar mendesah pelahan lalu
perlahan-lahan melangkahkan kaki. Han
Pingpun menghela napas dalam2.
Saat itu nenek Bwe Nio sudah berada
disamping Han Ping dan berkata pelahan, “Anak
itu memang luar biasa pintarnya. Dalam
menghadapi setiap persoalan, cara berpikir,
membahas dan menyimpulkan, tak ada seorang
persilatan didunia ini yang mampu
menandingi. Tetapi…. ah, betapa pun dia itu
tetap seorang anak perempuan.”
Kembali Han Ping terkesiap. Walaupun mulut
diam tetapi hatinya diam2 berkata, “Ah,
sudah tentu aku tahu kalau dia seorang anak
perempuan masakan….”
Belum sempat ia merenung lebih lanjut, nenek
Bwe sudah melanjutkan berkata lagi,
“Betapapun pintarnya seorang anak perempuan
itu apabila dia itu seorang anak
perempuan, tentu masih mempunyai hati
cemburu. Terutama terhadap orang yang
dicintainya. Memang itulah penyakit dari
anak perempuan, apakah engkau sudah
mengerti?”
Han Ping tegak seperti patung. Dia memandang
seorang pemuda yang mencurahkan
seluruh hidupnya untuk mengajar ilmu
kesaktian agar danpat menuntut balas atas
kematian kedua orangtuanya Terhadap
pergaulan dengan anak gadis, hampir dikata ia
masih hijau.
Tiba di samping Ting Ling, sejenak dara baju
ungu mengeliarkan pandang kearah
sekalian orang yang mengunjuk rasa sedih
atas ke matian Ting Ling.
“Ah apabila aku mati, entah apakah ada orang
yang berdukacita seperti itu?”
Kemudian ia berpikir lebih lanjut, “ia
seorang anak perempuan, mengapa bisa mendapat
perhatian besar dari tokoh2 itu? Karena ia
telah mengorbankan diri untuk menolong lain
orang. Lalu aku ini?….”
Memang seorang yang cerdik dan cerdas,
perasaannya makin keras, pikirannya makin
luas. Orang2 begini, memang sukar dirabah
hatinya. Dalam banyak hal, memang orang
sukar mengerti isi hatinya. Dia seorang
manusia yang mempunyai perasaan kuat sehingga
dapat menindas perasaan hatinya sendiri.
Mata sekalian tokoh itu mencurah kearah dara
baju ungu. Tampak dara itu berjongkok
dan memeriksa dada Ting Ling dan
pergelangan. tangannya. Lalu membuka kelopak
mata nona itu, menengadah memandang keatas
dan dara itupun merenung diam.
“Bagaimana, apakah dapat ditolong?” karena
tak kuat menahan hatinya, Ting Ko segera
bertanya.
Dara baju ungu itu tundukkan kepala dan
menghela napas pelahan, “Ah, tiga urat besar
sudah berhenti, itu delapan nadi putus.
Walaupun mendapat pil dari dewa tetap sukar
untuk menolongnya.
Sekalian tokoh terkejut dan terkesiap. Dara
baju ungu itu merupakan satu-satunya
harapan mereka. Dan keterangan dara itu,
membuat lenyap harapan itu…. .
“Tetapi,” tiba2 dara baju ungu itu
melanjutkan berkata lagi, “walaupun aku tak berdaya
untuk merebut jiwanya tetapi aku mempunyai
cara untuk merawat jenazahnya agar tak
rusak selama-lamanya. Dengan demikian engkau
dapat….”
Tiba2 kata-kata dara itu terputus oleh suara
teriakan keras. Serentak tokoh2 itu berpaling.
Tampak Han Ping melangkah maju dengan gopoh
dan tegang. Ketika berhenti, tubuhnya
masih gemetar.
“Ping ji. engkau kenapa “ seru Kim loji
terkejut.
Han Ping memandang lekat2 pada tubuh si dara
baju ungu dan berserulah ia dengan keras
serta tersendat-sendat, “Engkau…. engkau,
engkau…. engkau mengapa tak mau
menolongnya?
Mengapa hatimu begitu ganas….”
Dara baju ungu tegak; berdiam diri.
‘Eh, saudara, mengapa engkau berkata
begitu?” tegur Pengemis-sakti Cong To, “nona
Ting sudah putus jiwanya. Hanya dapat
menyalahkan nasib, mengapa engkau
menyalahkan orang?”
“bukan begitu!” bentak Han Ping lalu
menuding pada dara baju ungu,” karena dia merasa
Cemburu, mencemburui nona Ting maka dia tak
mau menolongnya.”
Ujung jari dari itupun tampak gemetar, ujar,
nya, “Engkau…. sangka aku ini…. orang
macam begitu?”
”Benar orang semacam itu atau tidak, hanya
engkau sendiri yang tahu. Asal tiap malam
engkau merenung dan merasa hari itu tak
berbuat sesuatu yang menyalahi orang, orang
tentu takkan dapat berbuat apa2 terhadapmu “
Tampak sekalian tokoh mengerut dahi. Mereka
bersangsi dan kesangsian itu jatuh pada
diri si dara baju ungu.
“Ji Han Ping!” seru nenek Bwe dengan bengis,
mengapa seenakmu saja engkau berani
menghina anakku ‘
Tetapi diam2 nenek itupun sudah tahu akan
watak si dara yang angkuh dan keras kepala.
Diam ia sendiripun juga mempunyai setitik
kesangsian. Maka walaupun menyemprot
Han Ping dengan keras tetapi nadanya tidak
marah.
Ting Ko berbangkit, serunya, “Nona, asal
engkau dapat menghidupkan anakku ini,
apapun yang hendak engkau perintahkan, aku
ketua Lembah Raja-setan akan menurut
perintahmu untuk selama-lamanya…. .”
Tubuh dara baju unga itu gemetar. Kain
kerudung yang menutupi mukanyapun ikut
berguncang ketika ia menjawab, “Apakah
kalian mengira aku dapat menolongnya?”
Sekalian tokoh tak menjawab. Diam mereka
mengakui pernyataan dara itu.
Tiba2 dara itu menengadahkan muka dan
tertawa nyaring, “Mengapa aku harus
menghidupkan dia? Mengapa yang lain orang
tak mampu melakukan, kalian suruh aku
mengerjakan? Kalau aKu tak mampu, kalian
terus menuduh aku berhati iri dan cemburu,
berhati kejam dan ganas….”
Mendengar itu sekalian tokoh terkesiap.
Tampak dara itu terus menerus tertawa sampai
pada akhirnya ia terkulai rubuh.
Nenek Bwe Nio terkejut. Cepat ia memeluk
tubuh dara itu.
“Ai…. engkau…. kenapa…. ah….”
JILID 6
Suami dan isteri.
Si dara baju ungu setengah membuka kelopak
mata dan berkata tersendat-sendat, “Bwe
Nio…. aku…. tak bersalah….”
Nenek Bwe memeluknya erat2. Dengan airmata
berlinang-linang ia menghibur, “Nak,
engkau…. menolong orang tetapi sekarang….
siapakah yang akan menolongmu….”
Nenek itu terus menangis keras.
Kim loji terkejut, serunya, “Apakah…. apakah
dia….”
“Engkaulah yang mencelakainya. Dia penasaran
sekali dan terus mengigit mutiara
beracun…. tiada obatnya lagi…. nenek Bwe
berseru geleng sedih.
Han Ping maju selangkah, “Apakah dia benar2
meninggal dunia?”
Tampak rambut nenek Bwe gemetar. Jelas nenek
itu sedang dilanda kesedihan,
kemarahan dan ketenangan. Airmatanya
membanjir….
“Engkau pembunuh .,,….” tiba2 terdengar
sebuah bentakan serta angin hantaman tongkat
kearah Han Ping.
Han Ping berpaling dan melihat bahwa yang
menyerangnya itu lelaki baju merah yang
kakinya buntung. Namun dia hanya tertawa
tawar, “Baik, aku akan mengganti jiwanya
Han Ping; pejamkan mata menunggu maut.
Pada saat tongkat hendak merenggut jiwa Han
Ping, tiba2 sebatang tongkat bambu
menjulur untuk merintangi tongkat besi
sibaju merah.
“Jangan melukainya’“ seru Bwe Nio.
Lelaki berkaki buntung itu merah padam
mukanya. Matanyapun merah seperti terbakar
api. Tetapi ketika mengetahui bahwa yang
merintangi itu nenek Bwe Nio, diapun tak
berani melanjutkan serangannya.
“Bwe Nio…. ia mengapa….?” seru lelaki kaki
buntung itu dengan wajah pucat membesi.
Bwe Nio memeluK tubuh si dara baju ungu dan
menyahut, “To ji sudah meninggal.
Engkau membunuhnya, To jipun tak dapat hidup
kembali….”
Memandang pada tubuh si dara yang berada
dalam pelukan nenek Bwe, meluaplah
kemarahan lelaki kaki buntung itu serunya,
“Membunuh dia berarti dapat menghilangkan
penasaran sumoay di alam baka. Mengapa
engkau setan tua…. .”
“Tutup mulutmu! Apa engkau sudah gila ‘.”
tiba2 Ong Kwan-tiong, suheng dari dara baju
ungu membentak keras.
Menyurutlah nyali lelaki kaki buntung itu.
Ia menghela napas dan menitikkan dua butir
airmata, ujarnya, “Adakah kita tinggal diam
atas kematian sumoay?”
Ong Kwan-tiong tak kalah tegangnya tetapi
dia lebih kuat untuk menekan perasaan
hatinya. Sahutnya, “Kurasa Bwe Niolo-cianpwe
tentu dapat mengatur, tak perlu engkau
sibuk tak keruan….”
Bwe Nio menghela napas panjang, ujarnya,
“Jangan menyalahkan dia seorang. Dalam
soal kematian Toji ini, aku sendiri juga
merasa sedih sekali. Ingin kubunuh semua orang
disini, apalagi dia…. .”
Ong Kwan-tiong tertawa rawan, “Memang Lau
sute terlalu merangsang. Tetapi apa yang
diucapkan itu benar. Sumoay tak kuat
menerima hinaan orang lalu bunuh diri. Masakan
kita tak menyelesaikan perhitungan itu?’
“Memang Toji mati dengan membawa penasaran.
Tetapi sebab dan Kemauannya itu,
bukan dan peristiwa saat ini.
Penyelesaiannya tak bisa dilakukan dari apa yang kita lihat
saat ini.”
Tiba2 lelaki kaki buntung itu tertawa
nyaring dalam nada yang seram, “Benar, setiap
orang yang terlibat dalam kematian
sumoay,satupun takkan diberi ampun…. “
Pengemis-sakti Cong To tertawa dingin,
“Jangan kata belum tentu orang Lam-hay-bun
mempunyai tokoh yang mampu melakukan
pembersihan itu. Taruh kata ada, pun dara
yang sudah mati itu takkan hidup kembali.
Ha, ha, ha, ha…. Kiranya orang2 Lam haybun
itu tak lebih dari kantong nasi semua…. “
Ong Kwan-tiong menyambut dingin, “Sudah lama
kudengar nama Pengemis Sakti itu.
Apakah saudara berani bertanding dengan aku
sampai mati?”
“Jangan ribut2….!” bentak nenek Bwe dan
matanyapun memancarkan sinar yang seram.
Memandang kesekeliling dan berseru pula,
“Urusan ini memang harus dibereskan. Kalau
bukan orang Lam-hay-bun yang akan berserakan
menjadi mayat di makam ini, tentulah
kalian orang2 persilatan Tiong-goan….”
Tiba2 Han Ping membuka mata memandang kearah
jenazah dara baju ungu dan Ting
Ling lalu menghela napas panjang, “Dosa
paling besar yang menyebabkan kematian
kedua nona itu, seharusnya terletak pada ih
Thian-heng yang menganti jiwa….”
“Benar.” sahut nenek Bwe. “pertama memang
dia. Dan kedua yalah engkau!”
han Ping tertawa hambar, “Daripada bercermin
bangkai, lebih baik berkalang kubur.
Kalau kalian menganagap aku yang seharusnya
mengganti jiwa nona Siau, aku takkan
menolak. Tetapi daripada kalian harus turun
tangan dua kali, membunuh aku lalu
membunuh Ih Thian-heng, mengapa kalian tak
membiarkan aku dan dia bertempur
sampai mati. Bukankah kalian boleh melihat
di samping dan nanti tinggal membunuh
saja siapa yang menang dalam pertempuran
itu?”
“Apakah engkau mempunyai dendam kepadanya?”
tanya nenek Bwe.
“Sakit hati ayah bunda dibunuh, merupakan
musuh yang tak dapat kubiarkan hidup
bersama aku ‘.” sahut Han Ping.
bwe Nio tiba2 berpaling kearah Cong To.
serunya, “Engkau bilang kalau orang2 Lamhay-
bun itu hanya kantong nasi sernja. Dapatkah
engkau menunjukkan alasanya?”
Cong To tertawa dingin, “Seharusnya engkau
sudah tahu kalau dia mengulum mutiaraberacun.
Mengapa tak lekas2 mengambilnya dan menunggu
sampai dia mengunyah
mutiara itu? Satelah nona itu meninggal,
lalu kalian mengumbar suara basar seperti
geledek?”
“Soal menjaga bahaya, masakan aku tak tahu,”
sahut nenek Bwe.
“Yang tahu tetapi diam, dia berdosa. Menurut
keadilan, engkaulah yang harus dibunuh
lebih dulu untuk menemani jiwanya” seru Cong
To pula.
Bwe Nio menunduk memandang dara baju ungu
yang berada dalam pelukannya. Ia
tertawa sedih, ujarnya, “Ah, anak yang
manja, Thian telah mengaruniai engkau
kecantikan dan kecerdasan yang luar biasa
tetapi Thian tak memberikan engkau
kebahagiaan dan umur panjang, Engkau seperti
bercengkerama di sorga tetapi hatimu
rawan dan resah. Anak yang malang, jika
engkau tak begitu pandai, tentu engkau takkan
mengalami hari penghabisan seperti saat ini.
Nak, dengan sisa-hidupku, kuiringkan
engkau berkelana ke daerah Tiong-goan.
Dengan harapan mudah-mudahan kesepian dan
kerawanan hatimu dapat terhibur oleh alam
pemandangan Tiong-goan yang indah
permai. Sunggah tak kira hal itu malah
membuat engkau lekas2 tinggalkan dunia fana ini.
Nak, betapa menderita engkau dalam menjelang
kematianmu itu….”
Nada nenek Bwe penuh dengan jeritan hati
yang tersayat kesedihan. Rambutnya yang
putih gemetar dan airmatanya berderai-derai
seperti banjir dan akhirnya menangislah ia
tersedu sedan.
Anak buah Lam hay-bun menangis semua.
Tampak wajah Han Ping merah padam dan
tubuhnya gemetar. Jelas dia sedang
mengalami ketegangan hebat dalam hatinya.
Kemudian berserulah ia, “Apa yang Cong lo
cianpwe katakan tadi memang benar. Sudah
tahu bahwa nona Siau mengulum mutiaraberacun,
mengapa tak lekas berusaha untuk
mengambilnya .
Dalam pada itu dari belakang pintu batu
terdengar suara angin pukulan menderu-duru.
Rupanya telah berlangsung pertempuran yang
dahsyat.
Nenek Bwe menghela napas . “Hal itu yang
harus disesalkan yalah mengapa Thian
memberkahinya kecantikan yang luar biasa.
Demi menjaga kesucian dirinya ia memang
selalu mengulum mutiara beracun. Sungguh tak
terduga kalau karena tak kuat menahan
goncangan hatinya, ia terus menelan mutiara
itu.”
Memikirkan kematian kedua nona cantik itu,
diam2 Han Ping merasa bahwa kematian
mereka mempunyai sangkut paut juga dengan
dirinya. Ia menimang, “Sebelum
meninggal, mereka berdua merupakan gadis
yang amat cantik sekali. Entah berapa
banyak lelaki yang jatuh binasa dibawah kaki
mereka. Tetapi saat ini mereka sudah
menjadi mayat, dan dalam beberapa bulan lagi
akan berobah menjadi seperangkat
kerangka tulang Jelita dan ksatrya hampir
setali tiga uang. Akhirnya hanya merupakan
sosok kerangka tulang yang di timbuni gunduk
tanah. Matinya seseorang ternyata hanya
begitu tawar dan dingin, mudah….”
Tiba2 nenek Bwe seperti teringat sesuatu
yang penting Ia cepat berpaling dan membisiki
kepada Ong Kwan-tiong.
Ong Kwan-tiong tampak mengangguk kepala. Ia
terus ayunkan langkah kemuka. Tetapi
baru dua langkah ia berputar balik lagi dan
gelengkan kepala, “Jalanan dimuka panjang
dan penuh dengan pekakas rahasia yang
berbahaya. Sekali pun aku dapat melintasi keluar
tetapi sukar untuk kembali kedalam makam ini
lagi. Kalau mau kita sama2 pergi.”
Nenek Bwe merenung. Pelahan lahan ia
letakkan mayat dara baju ungu, serunya,
“Jagalah baik2 jenazahnya, aku hendak pergi
sebentar dan segera kembali.” Habis
berkata nenek itu berputar tubuh lalu lari.
Tampak wajahnya amat tegang. Rupanya ia
teringat sesuatu.
Dalam pada itu Ting Kopun mengangkat mayat
puterinya. katanya, “Anakku, makam ini
penuh bahaya maut. Masih belum dapat
diketahui apakah ayah bisa keluar dan makam ini
dengan selamat atau tidak. Waktu engkau
masih hidup, ayah tak menyayangimu. Apabila
kita ayah dan anak dapat mati bersama dalam
satu tempat, tentu akan kurawatmu dengan
baik.”
Han Ping menjurah dihadapan jenazah si dara
baju ungu. katanya, “Harap nona suka
tunggu sebentar. Setelah dapat membalaskan
sakithati orangtuaku, aku tentu akan
menyusul nona….
Habis berkata, tiba? ia. berputar tubuh lalu
melesat masuk kedalam pintu batu.
Sikaki buntung baju merah hendak mencegah
tetapi terlambat. Dan serempak dengan itu
terdengar Pengemis-sakti Cong tertawa
gelak2.
“Hampir sembilanpuluh bagian dari perjalanan
sudah dapat dilalui. Masakan kita takut
untuk menghadapi dengan Jalan Maut ini….
“serunya lalu melangkah menyusul Han
Ping. Tetapi baru dua langkah, tiba2 ia
berpaling.
“Jalanan sepanjang tigabelas tombak ini,
selain jago2 yang diperintahkan pemilik makam
untuk menjaga, pun terdapat juga Ih
Thian-heng yang secara sembunyi akan melancarkan
serangan2 gelap. Pengemis tua mengharap agar
saudara2 mengubur dendam permusuhan
pribadi dan suka saling membantu agar dapat
melintasi bahaya ini,” serunya.
“Baik, aku setuju dengan pendapat saudara
Cong,” sambut Nyo Bun giau.
Ting Ko dan Ca Cujirgpun mengangguk, “Memang
Ih Thiau-heng luar biasa liciknya.
Kalau satu lawan satu. terus terang tiada
seorangpun diantara kita yang mampu
menandingi kesaktian dan kepandaiannya. Dan
seorang manusia jahat yang pura2 baik.
Dia gemar sekali mempelajari kepandaian
untuk mencelakai orang. Tak perlu kita harus
menggunakan cara2 perwira seperti yang lazim
dalam dunia persilatan. Marilah kita
bersatu padu membasmi orang itu!”
Cong To hendak bicara tetapi tak jadi. Ia
terus berputar tubuh dan berjalan kemuka.
Sejenak memandang kesekalian orang, Nyo
Bun-giau berbisik, “Saudara Leng….”
Sejak berkumpul dengan rombongan tokoh2 itu.
ketua lembah Seribu-racun tak mau
bicara. Dia hanya meramkan mata. Baru
setelah Nyo Bun-biau menegurnya, ia gelagapan
dan membuka mata, “Apa?”
Kiranya dia tengah salurkan tenaga-dalam
untuk memulihkan tenaganya dan saat itu
semangatnya pun sudah tampak penuh.
Nyo Bun-giau agak terkesiap, serunya,
“Pikirku, aku dan saudara Leng akan berjalan di
muka. Saudara Ca, berjalan dibelakang kita.
Dengan ilmu pukulannya Peh-poh sin kun,
dapat membantu rombongan ini untuk melintasi
serangan Ih Thian heng.”
Ketika ketua Lembah-seribu racun hendak
menjawab tiba2 nenek Bwe Nio muncul.
Dibelakang nenek itu mengikuti seorang dara
berambut panjang.
Melihat dara itu serentak ketua
Lembah-seribu-racun berseru, “Ceng, lekas kemari!”
Tetapi Siangkwan Kopun cepat berseru, “Ceng,
kemari!”
Ketua Lembah-seribu-racun tertawa meloroh,
“Saudara Siangkwan. marga Siangkwan
dan Lembah-seribu-racun, sama2 mempunyai
nama yang gemilang dalam dunia
persilatan. Apabila kita bisa terangkap
dalam perjodohan, sungguh merupakan keluarga
yang hebat, Siangkwan Ko tertawa dingin, “
Masakan puteriku yang begitu cantik dan
pintar, sudi menjadi isteri puteramu yang
buruk muka, hm! Saudara Leng, harap hapus
saja keinginanmu itu agar jangan menimbulkan
kesusahan.”
Seketika berobahlah wajah Leng Kong-siau,
serunya dingin, “Dalam tempat dan saat
yang masih belum diketahui bagaimana jadinya
dengan diri kita, aku tak mau bertengkar
mulut dengan saudara Siangkwan. Tetapi soal
pernikahan itu puterimu sendiri yang sudah
meluluskan. Kalau tak percaya silahkan tanya
kepadanya.”
Siangkwan Ko terlawa dingin, “Urusan penting
seperti pernikahan itu, masakan seperti
permainan kanak2. Harus ada juga jomlang dan
enam yang saksi. Satupun tak boleh
kurang. Lalu siapakah saksi saudara Leng
itu?”
Dengan terlongong Siangkwan Wan-ceng
memandang ayahnya dan Leng Kong-siau.
Kemudian tanpa mengacuhkan keduanya,ia terus
melangkah masuk kedalam pintu batu.
Rupanya Siangkwan Ko dapat melihaT perubahan
muka puterinya. Maka cepat ia berseru
“ Ceng Ji, Ceng Ji! Mengapa engkau tak kenal
lagi ayahmu?”
Tetapi bukan berhenti atau menyahut, nona
itu malah terus pesatkan langkah masuk ke
dalam.
Tetapi Leng Kongsian lebih cepat. Apalagi
dia lebih dekat dengan pintu. Maka ia terus
mendahului menyusul masuk.
Nyo Bun-giau, Siangkwan Ko, Ting Ko dan Kim
loji. pun segera mengikuti masuk
kedalam pintu batu itu.
Kini yang tinggal di ruang itu hanya orang
Lam-hay bun. Nenek Bwe segera
mengeluarkan mustika Tenggoret Kumala,
“Menurut apa yang tersiar dalam dunia
persilatan Tiong-goan, mustika ini dapat
menyembuhkan segala macam racun. Entah
apakah dapat menyembuhkan racun mutiara yang
berada dalam tubuh “to-ji?”
Ong Kwan-tiong menyahut gopoh, “Sumoay sudah
menelan mutiara racun itu kedalam
perut. Apakah kita harus menghancurkan
mustika itu dan diminumkan pada sumoay?”
Bwe Nio tertegun, “Ah, hal itu sebelumnya
tak pernah kupikirkan.”
Ong Kwan-tiong menghela napas, “Entah apakah
suhu sudah mengetahui kalau sumoay
biasa mengulum mutiara beracun itu?”
“Ayah To ji, tahu segala apa. Kukira dia ten
tu sudah tahu hal itu dan mempunyai cara
untuk menolongnya. Sayang dia tinggal di Lam
hay yang jauh sehingga tak tahu kalau to
ji sudah menelan mutiara beracun itu….”
Sibuntung baju merahpun mcnyelutuk, “Sekali
pun tahu, tentu terlambat juga Begitu dia
tiba jenazah sumoay tentu sudah membeku.”
Tiba2 sibungkuk Au yang sejak tadi diam
saja, saat itu berkata, “Maafkan aku yang
lancang mulut. Karena hal ini sudah begini,
menurut pendapatku, lebih baik kita
hancurkan saja mustika Tenggoret Kumala itu
dan kita minumkan pada nona Siau.
Mustika itu sudah termasyhur sebagai obat
mujarab untuk menyembuhkan segala rupa
racun, mungkin saja masih ada harapan untuk
menolong nona.”
Nenek Bwe menghela napas, “Makam ini memang
tak baik terhadap kaum wanita. To-ji
menelan mutiara beracun lalu bedak perempuan
dari lembah Raja setan itupun karena
terluka lalu meninggal Nona Siangkwan
tadipun telah kututuk jalandarahnya sehingga
menjadi orang longong. Empat jam lagi, dia
tentu takkan tertolong jiwanya….
“Waktu Bwe Nio lo-cianpwe hendak mengambil
mustika Tenggoret Kumala, aku
lantas….” belum Ong Kwan-iiong menyelesaikan
kata-katanya, nenek Bwe sudah
menukas, “Engkau lantas tak setuju, bukan?”
Ong Kwan-tiong mengangguk.
“Maka kuminta engkau pergi. Tetapi walaupun
meluluskan, engkau tetap tak mau pergi,”
kata nenek Bwe pula.
Ong Kwan-tiong menghela napas panjang, “Bwe
Nio cianpwe, apakah karena nona
Siaugkwaa melihat engkau hendak mengambil
mustika Tenggoret Kumala itu engkau
lalu menutuk jalandarahnya?”
“Ya,” nenek Bwe mengiakan.
“Bwe Nio cianpwe. engkau…. huh, huh….” tiba2
Ong Kwan-tiong tundukkan kepala
batuk2 tak henti-hentinya.
“Sudahlah, jangan batuk2,” kata Bwe Nio,
“kutahu apa yang hendak engkau katakan.
Bukankah engkau mengatakan aku keliwat
ganas?” Ong Kwan- tiong diam saja. ‘Benar,
memang aku keliwat ganas,” kata nenek Bwe,
“tetapi demi To ji, perbuatan yang lebih
kejam dari itu, pun akan kulakukan juga.!”’
Ong Kwan liong mengangkat kepala, berkata
dengan nada sarat, “Bwe Nio cianpwe, mustika
Tenggoret Kumala itu jangan sekali-kali
dibuat mengobati sumoay!”
“Mengapa?”
“Segala yang terdapat dalam makam ini, penuh
dengan hal yang diluar dugaan orang.
Kita harus hati2 Selruh isi makam dan kabar
tentang makam ini ternyata hanya bohong
semua. Maka tentang kedua mustika Tenggoret
Kumala dan Ku-pu2 Emas itu, tentulah
juga….”
“Palsu?” Bwe Nio menukas.
“Ya,” Ong Kwan-tiong mengiakan.
Bwe Nio menghela napas, “Akupun juga
mempunyai kecurigaan begitu. Maka aku masih
sangsi untuk memberikan kepada To ju tetapi
dia benar2 terancam jiwanya, kecuali
dengan jalan mencobakan mustika ini, rasanya
kita sudah tak ada lain daya lagi.”
Ong Kwan-tiong menjawab dengan serius,
“Lebih baik kita biarkan keadaan begini dan
menunggu perobahan, daripada bertindak
dengan gegabah,”
Sejenak merenung, Bwe Nio menghela napas
pelahan, “Menuruf engkau….”
Rupanya nenek itupun juga tak berani
mengambil keputusan sendiri.
Ong Kwan-tiong menjurah, “Harap cianpwe
memondong tubuh sumoay dan aku yang
akan membuka jalan.”
“Aku saja” tiba2 sikaki buntung baju merah
berseru.
Ong Kwan tiong berkata dengan wajah serius,
“Saat ini gawat sekali, soal mati hidup.
Engkau dan aku demi kepentingan sumoay,
seharusnya lekas keluar dari makam ini. Tak
mungkin kita mundur dan kalau maju terus
kita harus hati2. Sejak saat ini, dendam dan
kepentingan peribadi diantara engkau dan aku
harus disingkirkan. Perlu apa engkau
hendak berebut dengan aku?”
Kata-katanya itu tepat dan serius. Kaki
buntung tundukkan kepala diam.
Diam2 nenek Bwe merenung, “Ong Kwan tiong
anak ini, biasanya tak tampak
keluarbiasaannya.
Tetapi pada saat yang genting, dapatlah
diketahui betapa tegas dan tepat ia mengambil
keputusan. Tak heran kalau ayah To ji, suruh
dia mengawal perjalanannya. Hanya sayang
dia.”“
ia tak mau melanjutkan pemikirannya.
Mengangkat tubuh si dara baju ungu terus
melangkah masuk kedalam pintu batu. Melihat
itu Ong Kwan- tiong cepat mendahului
berjalan dimuka nenek itu.
Si kaki buntung, si Bungkuk dan si Pendekpun
segera mengikuti dibelakang nenek bwe.
Seketika mereka mendengar deru angin pukulan
yang keras kira2 pada jarak beberapa
tombak jauhnya. Jelas kalau disebelah muka
sedang berlangsung pertempuran dahsyat.
Suasana sunyi tetapi penuh maut.
Tiba2 Ong Kwan tiong tergelincir dan
menginjak sebuah benda yang lunak. Cepat ia
menyambar dan mengangkatnya Ternyata sesosok
mayat.
“Ah, ruangan ini penuh mayat,” ia menghela
napas.
Tampak sinar berkilat-kilat sampai beberapa
tombak dan menyusul terdengar suara
jeritan melengking. Jelas terdapat seseorang
yang mati.
“Kawan tiong,” bisik nenek Bwe, “pelahan
saja. Biarlah mereka yang membukakan jalan
untuk kita….”
Kaki buntung menyelutuk, “Bwe Nio memang
tepat. Kita memang tak dapat menghindari
bertempur dengan jago2 Tionggoan. Baiklah
kita beristirahat untuk memulangkan tenaga
dulu.”
Angin pukulan makin menderu tajam dan tak
henti-hentinya. Tetapi tetap ditempat itu
saja. Suatu pertanda bahwa rombongan tokoh2
silat tadi sedang menghadapi musuh yang
tangguh dan tak dapat melintasi maju.
“Pemilik makam ini, memang tak boleh
dianggap enteng. Dia dapat menahan jurus
serangan dari sekian banyak jago2 silat
Tionggoan yang sakti,” kata Ong Kwan-liong.
Iapun terus maju kearah tempat pertempuran
itu.
Wut…. tiba2 serangkum angin pukulan melanda
dada Ong Kwan-tiong. Cepat ia
kebutkan lengan bajunya untuk menghalau lalu
cepat2 balas memukul.
Tiba2 kedengaran Pengemis sakti Ceng To
berseru, “Saudara Siangkwan, kita harus lekas
menahan kebelakang Rupanya orang Lam-hay-bun
menggunakan kesempatan saat ini
untuk menyerang kita! “
Dalam keadaan yang remang, terdengar Han
Ping berteriak marah, “Siapa yang
menghadang aku, tentu mati!”
Sinar berkelebatan menyilaukan lorong jalan
yang sunyi dan gelap itu Sesaat terdengar
jeritan ngeri susul menyusul. Rupauya ada
beberapa orang yang rubuh dibawah sabatan
pedangnya.
Sebuah suara yang parau terdengar dari
tengah lorong, “Kalau kalian tak mampu
merintangi, baik menyisih saja!”
Tiba2 Bwe Nio rasakan tubuhnya gemetar
hampir mau rubuh. Ia segera berbisik kepada
Ong Kwan-tiong, “Kwan-tiong, suara itu
benar2 tak asing lagi.”
“Ya, akupun merasa demikian juga. Seperti
nada suara suhu?” kata Ong Kwan-tiong.
“Aneh,” kata Bwe Nio, “dalam beberapa tahun
ini, dia belum pernah pergi dari Lam-hay.
Mana mempunyai waktu untuk membangun makam
kuna ini?”
Jawab Ong Kwan-tiong, “Kepandaian suhu,
setanpun tak dapat menduga….”
Tiba2 beberapa mata manusia memancar
disebelah muka. Rupanya ada beberapa orang
yang hendak menghadang jalan.
“Siapa?” bentak Ong Kwan-tiong. Si kaki
buntung, si bungkuk dan si Kate cepat
berhamburan menerjang maju.
Rupanya orang2 Lam-hay-bun itu sudah
terbakar dengan kemarahan. Kesedihan atas
meninggalnya suamoay mereka, hendak
ditumpahkan kepada setiap musuh yang
dijumpahinya.
Wut…. si Bungkuk mendahului lepaskan
hantaman. Siangkwan Ko menggembor keras
dan menangkis, benturan kedua tenaga pukulan
itu, kumandangnya bergulung-gulung
memenuhi terowongan jalan.
“Kalau ayah To-ji benar berada dalam makam
ini, anak ini tentu tertolong,” kala bwe
Nio.
“Mudah mudahan Thian melindungi agar sumoay
dapat hidup kembali,” kata Ong Kwan
tiong.
Tiba2 terdengar si kaki buntung baju merah
berseru keras, “Pengemis tua benar2 tak
bernama kosong. Cobalah engkau terima lagi
sebuah pukulanku ini!”
Pengemis sakti Cong To tertawa nyaring,
“Kita memperoleh kesempatan baik sekali
untuk mengadu kepandaian. Tak usah heran.”
Pedang berkelebat dan Siangkwan Ko
berteriak, “Saudara Cong hanya bertangan kosong
dan dia menyerang dengan tongkat besi.
apakah tak rugi? Baiklah saudara Cong
menghadapi si Bungkuk dan si Pendek itu
saja, aku yang menghadapi dia!”
Cong To tertawa, “Tak perlu saudara
Siangkwan sungkan. Karena kedua orang itu maju
berbareng, saudara boleh gunakan senjata
menghadapi mereka.
Siangkwan Ko dua kali menahas dan
mengundurkan kedua Bungkuk dan Pendek lalu
berteriak keras, “Bungkuk dan Pendek itu
penghianat dari Tionggoan. Dahulu ketika di
Sepak, aku pernah bertempur dengan mereka
berdua sampai lebih dari tiga ratus jurus.
Kepandaiannya hanya begitu saja….”
“Saudara Siangkwan jangan bermulut besar,”
bentak si Pendek,” hari ini kalau tidak
sampai ada yang rubuh, kita jangan
berhenti.”
Sambil berkata si Pendek sudah mengeluarkan
senjatanya, sebatang pit (pena) besi lalu
menyerang maju.
Serentak terdengar dering tajam ketika pit
besi beradu dengan pedang. Dalam
terowongan yang gelap, bunga api memercik
berhamburan.
Siangkwan Ko menggembor keras. Tangan kiri
menabas dingan jurus Heng toan-san atau
Menebas- putus awan-gunung. Dan pedang di
tangan kanan menusuk kearah si kaki
buntung dengan jurus Pek-hun jut-san atau
Awan putih-keluar-gunung, seraya
membentak, “Siapakah yang melukai puteriku?”
Mendengar itu segera Cong To dapat menyadari
bahwa karena Siangkwan Wan-ceng
terluka maka Siangkwan Ko baru mau menempur
orang2 Lam-haybun. Diam2 Cong
Topun hendak membantu Siangkwan Ko mencari
balas. Setelah menghindari tongkat si
kaki buntung, ia mengangkat tangan kanan
menangkis pukulan si Bungkuk. Dengan
peralihan yang cepat itu, kini mereka
bertukar lawan.
Rupanya antara Siangkwan Ko dan lelaki kaki
buntung itu sebelumnya memang sudah
saling mengincar dan hendak mendahului
menyerang. Begitu terjadi perkisaran,
keduanyapun cepat gerakkan pit besi dan
pedang. Tring, tring, terdengar dering senjata
beradu tak mendenging-denging sampai lama.
Walaupun Siangkwan Ko menggunakan sepasang
pedang tetapi kedua pedangnya itu
amat berat, paling sedikit setiap pedang
beratnya sepuluh kati.
Beda dengan pedang pusaka yang umumnya tipis
dan ringan. Sepasang pedang pusaka
dari Siangkwan Ko itu dapat dibuat menyerang
tetapi pun dapat digunakan untuk beradu
dengan senjata lawan.
Kedua orang itu, yang seorang bersedih
karena sumoaynya meninggal dan marah
terhadap semua jago2 silat daerah Tionggoan.
Dan yang seorang marah karena puterinya
dilukai orang Lamhay-bun. Keduanya sama2
mengandung dendam kemarahan. Yang
satu hendak membasmi orang Tiong-goan yang
satu hendak membunuh orang Lam-haybun.
Maka begitu bertempur, keduanyapun segera
lancarkan serangan yang ganas dan dahsyat.
Tengah bertempuran berlangsung seru, tiba2
Han Ping berseru, “Harap cianpwe berdua
berhenti bertempur. Pemilik makam sudah
memberi perintah kepada anak buahnya
supaya berhenti….”
Tergopoh-gopoh Pengemis-sakti Cong To
lepaskan hantaman untuk mengundurkan si
Bungkuk dan si Pendek, kemudian berseru,
“Saudara Siangkwan, jangan menyia-nyiakan
waktu, mari kita jalan terus!”
Sesaat kemudian pengemis sakti itupun
berseru kepada orang2 Lam-hay-bun, “Pemilik
makam sudah memerintahkan anak buahnya untuk
berhenti. Pintupun sudah terbuka
untuk para tetamu. Kalau kalian memang
benar2 hendak adu kepandaian dengan jago2
persilatan Tiong-goan, tak mesti harus
kalian lakukan sekarang. Mari kita temui pemilik
makam itu dulu, setelah itu kita boleh
lanjutkan pertempuran lagi.”
Si kaki buntung tak mau menghiraukan tetapi
ia terpaksa menurut setelah diperintah
nenek Bwe supaya berhenti menyerang.
“Mari kita pergi,” Cong To menarik lengan
baju Siangkwan Ko terus diajak melangkah
kemuka.
Cepat sekali mereka sudah mencapai sepuluh
tombak jauhnya. Kecuali lorong
terowongan, pemandangan disitu tiba2
berobah. Sebuah ruang yang besar penuh dihias
dengan pot2 bunga. Delapan anak berpakaian
biru, dengan pedang terhunus menjaga
dimuka pintu bercat merah.
Leng Kong-siau, ketua Lembah-seribu-racun
cepat maju menyambut dan berkata kepada
Siangkwan Ko, “Selamat saudara Siangkwan
Berkat lindunganku, puterimu telah selamat
tak kurang suatu apa dapat melintasi jalan
Maut tadi.”
Siangkwan Ko memandang kemuka. Tampak
puterinya tegak di samping dengan sinar
mata yang rawan.
“Ceng….” jago tua itu berseru seraya
menghampiri.
Siangkwan Wan ceng memandang ayahnya,
tertawa dan pelahan-lahan berputar tubuh.
Siangkwan Ko terhenti, dua butir airmata
menitik keluar. Perasaan orangtua itu terharu
sekali.
Merawat dan mendidik berpuluh tahun dari
kecil sehingga sampai remaja, menyebabkan
ayah itu merasa terharu karena dirinya
diperlakukan sebagai orang tak dikenal oleh
puterinya. Penderitaan itu amat menyiksa
batin Siangkwan Ko.
“Saudara Siaugkwan,” bisik Pengemis-sakti
Cong To, “puterimu hanya menderita
serangan gelap dari orang dan untuk
sementara ini hanya pingsan saja. Asal kita dapat
keluar dari makam ini, tentu mudah kita
dapat mengobatinya.”
Siangkwan Ko berpaling memandang pengemis
tua itu, mengusap airmatanya dan
berkata, “ Terima kasih saudara Cong.”
Sejenak memandang kesekeliling.
Pengemis-sakti Cong To tiba2 tersenyum, “Ah,
rupanya tempat ini sangat bagus sekali untuk
kuburan tulang2 manusia.”
Ih Thian-heng berseru nyaring, “Kalau
saudara sudah menggantikan orang2 saudara dan
mempersilahkan kita masuk, mengapa saudara
tak lekas mengunjuk diri?”
Tiba2 terdengar pintu bercat merah yang
tertutup rapat tadi, berderak-derak terbuka.
Seorang yang bertubuh pendek kecil dan
berpakaian hitam, melangkah keluar, dandanan
orang itu memang lucu, memelihara kumis
berkepang dan tangannya memegang
sebatang pipa yang mengkilap, berbaju pendek
tetapi celananya panjang sekali sampai
menebar ke tanah.
Han Ping kerutkan alis, berpaling kearah Kim
loji, “Paman, apakah orang itu juga
tergolong orang sakti dalam dunia
persilatan?”
“Aku sendiri juga belum pernah melihat dia,
entah dari golongan apa,” sahut Kim loji.
Tampak orang pendek baju hitam itu
berputar-putar tubuh dan tegak berdiri di samping
kiri pintu bercat merah.
Tak lama kemudian, muncul pula seorang
wanita pendek baju putih yang terus berdiri
disamping kanan pintu merah itu.
Kemunculan kedua orang pendek itu, disambut
dengan gerakan dari kedelapan kacung
baju biru yang berkisar dari pintu dan
berhenti pada jarak dua meter. Serempak mereka
acungkan pedang merebah kmuka sehingga
membentuk sebuah pagar pedang.
Pengemis-sakti Cong To mendengus ejek, “Hm,
hebat benar pertunjukan mereka. “
Tepat pada saat ia bicara, dari dalam ruang
terdengar suara orang tertawa gelak2. Seorang
lelaki tua berpakaian biru, sambil memanggul
kedua tangannya kepunggung, berjalan
pelahan-lahan keluar.
Sekalian tokoh tegang regang. Pada saat itu
mereka bakal menghadapi jawaban dari
rahasia makam gua yang selama berpuluh-puluh
tahun menjadi buah pembicaraan
didunia persilatan.
Dengan suara yang “nyaring orangtua itu
berseru, “Sejak berpisah digunung Heng-san,
cepat sekali sekarang sudah sepuluh tahun
lamanya Entah apakah diantara seudara2 yang
datang ini, ada yang kenal padaku.”
Pada saat dia bicara, kedelapan kacung
itupun segera berpencar mundur ke dua belah
samping dan tegak berdiri dengan menjulaikan
pedangnya.
Ih Thian-hengpun tertawa keras, “O, kukira
siapa, kiranya engkaulah! Sungguh hebat
sekali engkau ini karena dapat mengelabuhi
kaum persilatan Tionggoan selama lebih dari
sepuluh tahun!”
Tenang2 orangtua baju biru itu keliarkan
matanya memandang sekalian tokoh lalu
berkata, “Yang merancang siasat pengelabuhan
ini, bukan berasal dari aku. Tetapi kalian
tokoh2 sakti dari dunia persilatan
Tiong-goan yang mengadakan dan menciptakannya
sendiri. Siasat kalian itu cepat dapat
kucium dan kugunakan jerih payah mereka untuk
mempermainkan kawan2 mereka!”
Sekalian tokoh terkesiap. Mereka mendugaduga
siapakah yang dimaksud oleh orangtua
baju biru atau pemilik makam itu.
Cong To memandang kearah tokoh2 itu,
akhirnya Pandang matanya runtuh pada diri Ih
Thian-heng, serunya, “Kecuali Ih Thian-heng,
aku tak percaya didunia persilatan ini
terdapat orang yang mempunyai akal daya
begitu!”
Ih Thian-heng tertawa hambar, “Terpaksa aku
harus mengecewakan harapan saudara
Cong. Tetapi kali ini saudara telah menebak
salah.”
Wajah orangtua baju biru itu berobah serius,
katanva, “Orang itu masih berada dalam
makam ini. Nanti akan kusuruh keluar untuk
bertemu dengan saudara2 .
Ia berhenti sejenak lalu berkata pula,
“Makam ini dihias indah sekali dan dilengkapi
dengan bermacam-macam pekakas rahasia.
Apabila terkubur disini, sungguh tak
mengecewakan.”
Wajah ih Thian heng berobah, “Apakah maksud
ucapanmu, itu?”
Orangtua baju biru tertawa gelak2, “Karena
saudara2 sudah berkunjung kemari, masakan
saudara hendak keluar?”
Ih Thian-heng memandang kearah
Pengemis-sakti Cong To, hendak bicara tetapi tak jadi.
Rupanya dia menyadari bahwa saat itu, ia
sudah dimusuhi oleh rombongan tokoh2 itu.
Apabila ia berdebat dengan orangtua baju
biru itu. kemungkinan rombongan tokoh2 itu
takkan membelanya. Maka lebih baik ia diam
Saja.
Tiba2 Nyo Bun-giau menyelutuk, “Dengan
kekuatanmu seorang diri, apakah engkau
yakin dapat menahan kami? Ah aku tak
percaya.”
Tetapi Pengemis sakti Cong To mencurahkan
pikirannya kepada pemilik makam yang
sesungguhnya, maka ia berseru, “Kalau memang
pencipta dan pemilik dari makam itu
berada disini. mengapa tak mengundangnya
keluar?”
Orangtua baju biru itu tertawa hambar, “Ini,
tak usah terburu-buru tiba2 wajahnya
berobah dan tak melanjutkan kata katanya.
Ketika sekalian tokoh berpaling ternyata
nenek Bwe Niopun sudah muncul dibelakang
mereka. Sambil membopong tubuh si dara baju
ungu, nenek itu pelahan-lahan
menghampiri.
Rupanya nenek itu juga terkejut melihat
orang tua baju biru sehingga tubuh si dara
hampir terle pas jatuh.
Pun sekalian anak buah Lam-hay-bun tegang
sekali memandang kearah lelaki baju biru
itu.
Sekalian tokoh yang berada disitu sebagian
besar adalah tokoh2 persilatan yang ternama.
Mereka mempunyai pengalaman yang luas dalam
dunia persilatan. Melihat wajah anak
buah Lam-hay-bun mengerut tak wajar,
sekalian tokoh itu cepat dapat menduga bahwa
tentu ada sesuatu hal yang aneh.
Benar juga, setelah menenangkan hatinya,
nenek Bwe tertawa dingin dan mendamprat,
“Hm, nyalimu besar sekali….”
Lelaki baju biru itu mengangkat tangan
memberi hormat, serunya, “Bwe Nio, peristiwa
yang lampau, baiklah besok saja kita
bicarakan.”
Saat ini karena para tetamu kaum persilatan
Tiong-goan berkunjung datang, aku tak
mempunyai waktu untuk membicarakan urusan
kita….”
Nenek bwe yang sudah putih rambutnya tiba2
merahlah pipinya, ia membentak bengis:
Aku ingin sekali makan dagingmu dan membeset
kulitmu. Kwantiong, pondonglah
sumoyku ini….”
Ong Kwan-tiong cepat melangkah maju dan
membisiki, “Harap lo cianpwe jangan marah
dulu, dalam tempat dan saat seperti ini ….
Tetapi nenek Bwe sudah dirangsang kemarahan.
Cepat ia berputar tubuh dan
menyerahkan si dara baju ungu kepada ong
Kwan-tiong. Kemudian gentakkan tongkat
bambunya menyerang orang-tua baju biru mi.
Rupanya lelaki baju biru itu takut sekali
kepada nenek bwe. Ia terkejut ketika melihat
nenek itu menyerangnya. Buru2 ia berteriak
memberi perintah kepada anak buahnya;
“Lekas tangkap dia!”
Kedelepan kacung baju biru cepat mengiakan
dan berhamburan berbaris menghadang
nenek Bwe.
“Siapa yang menghadang aku, tentu mati!”
nenek Bwe menyapu dengan tongkatnya.
Tring, tring!
Terdengar gemerincing senjata beradu keras.
Pedang kedelapan kacung itu tersiak
kebelakang.
Tetapi kedelapan kacung itu rupanya sudah
berpengalaman dalam pertempuran. Mereka
menyadari kalah sakti dengan si nenek. Kalau
adu kekerasan terang tentu kalah. Maka
mereka membentuk barisan pedang Untuk
mengepung nenek itu rapat2.
Sekalian tokoh tahu bahwa nenek Bwe itu
memang sakti. Tetapi selama itu belum pernah
seorangpun dari mereka yang bertempur dengan
Bwe Nio. Sekalipun demikian apa yang
mereka saksikan saat itu, benar2 menimbulkan
kekaguman hati mereka.
Tongkat bambu dari nenek itu menjulur surut
bagai ular memagut, cepat dan sukar
diduga gerak perobahannya. Waktu melancarkan
serangan, pun permainan nenek itu
rapat sekali.
Namun barisan pedang dari kedelapan kacung
baju biru itupun bukan kepalang hebatnya.
Gerak perobahannya indah dan sukar diduga
juga. Walaupun didesak gencar oleh
tongkat, namun mereka tetap dapat
berputar-putar dan bertahan sampai! duapuluh jurus.
Nenek Bwe tetap belum mampu maju
selangkahpun juga.
Si Bungkuk dan si Pendek serta si Kaki
buntung baju merah, diam2 sudah kerahkan
tenaga-dalam untuk sewaktu-waktu memberi
bantuan.
Karena sampai sekian lama belum juga dapat
menghancurkan barisan lawan, tiba2 Bwe
Nio membentak keras. Tongkat dimainkan lebih
gencar.
Tongkat menyambar-nyambar laksana kilat
merobek angkasa, Anginpun menderu-deru
bagai prahara, mengamuk. Dahsyatnya serangan
nenek itu membuat barisan pedang
kedelapan kacung agak kacau. Gerak silang
perpindahan-tempat, pun mulai ricuh.
Melihat itu Nyo Bun-giau berbisik kepada Ca
Cu-jing: Saudara Ca, kepandaian
perempuan tua itu hebat sekali! Gerakan
tongkatnya menghamburkan tenaga seperti
gelombang lautan. Sungguh seorang lawan yang
tak boleh dipandang enteng.
“Benar,” sahut CaCujing. “seorang yang sudah
mencapai umur tua masih memiliki
tenaga begitu hebat, sungguh sukar dicari
keduanya ‘.”
Nyo Bun-giau menggunakan ilmu Menyusup suara
untuk berkata lagi, “Saudara Ca,
bagaimanakah kepandaian nenek itu dibanding
dengan Ih Thian-heng?”
Ca Cu jing terkesiap tetapi sesaat rupanya
ia dapat menebak maksud pertanyaan orang. Ia
tertawa hambar lalu gunakan ilmu
Menyusup-suara untuk menjawab, “Menurut kesanku,
agaknya Ih Ihian-heng masih setingkat lebih
tinggi.”
“Kalau kita dapat mengadu Ih Thian-heng
supaya bertempur dengan nenek itu lebih dulu.
kemudian ia ajak seorang lagi dan ditambah
dengan putera saudara, tentulah akan dapat
mengatasi keadaan.”
Jawab Ca Cu jing, “Budak lelaki she Ji itu,
mempunyai dendam darah atas kematian
kedua orangtuanya. Dia tentu takkan
melepaskan Ih Thian-heng. Soal itu harap saudara
Nyo tenang-2 saja, tak perlu kita bersusah
payah membuang tenaga, mereka tentu sudah
beres sendiri.”
Berkata pula Nyo Bun-giau, “Asal selain Ih
Thian-heng dan anak she Ji itu, tokoh2 yang
lainnya entah karena memperhitungkan untung
rugi atau karena menjaga gengsi atau
karena terikat dendam permusuhan, sehingga
tak dapat bersatu. Kita dapat menggunakan
siasat mengeruhkan keadaan dan mengadu domba
mereka. Kemudian satu demi satu, kita
lenyapkan mereka. Dengan begitu harta karun
dalam makam ini beserta kedua benda
mustika Tenggoret Kumala dan Kupu2 Emas itu,
pasti akan jatuh ketangan kita
berdua….”
Karena dalam pembicaraan itu mereka
menggunakan ilmu Menyusup-suara, maka lain
orangpun tak dapat mendengar yang mereka
bicarakan.
“’hm kalian hendak merancang siasat apa?”
tiba2 Pengemis-sakii Cong To mendengus
dingin.
Nyo Bun-giau tertawa, “Aku dan saudara Ca
sedang membicarakan keadaan makam ini.
Liku2 perobahan yang terdapat dalam makam
ini, benar2 membingungkan orang dan
sukar diduga.”
Pengemis- sakti CongTo tertawa “Nyo bun
giau, tak usah engkau jual sandiwara
dihadapan pengemis tua ini. Kejahatan Ih
Thian heng karena nafsunya besar sekali untuk
menjadi pemimpin dunia persilatan. Mungkin
setelah dapat menaklukkan dunia persilatan
dia akan mempersiapkan pasukan untuk
memberontak. Tetapi dalam soal kelicikan dan
keserakahan mengumpulkan harta benda, engkau
jauh lebih menang dari dia. Aku tak
percaya, mulut anjing itu dapat tumbuh
gading.”
Makian pengemis tua ilu benar2 tajam dan
tepat sekali. Dia seolah olah menelanjangi diri
Nyo Bun giau dimuka umum. Betapa tebalpun
kulit muka Nyo Bun-giau, tetapi
mendengar makian itu, merah juga mukanya.
Saat itu pertempuran antara nenek Bwe dengan
kedelapan kacung baju biru sudah hampir
mencapai penyelesaian. Tongkat nenek Bwe
bergerak menyambar keatas dan menabas
kebawah dengan perkasa. Barisan kedelapan
kacung itu sudah terkuasai amukan nenek
Bwe. Bagian tengah barisan sudah terpecah
dua, perputaran gerak barisanpun macet.
Sehingga mereka seperti sudah tak dapat
berhubungan lagi dan harus bertempur sendiri2.
Dalam beberapa detik lagi, jelas kedelapan
kacung itu tentu akan remuk dibawah tongkat
nenek Bwe.
Melihat gelagat buruk, lelaki tua baju biru
tadi cepat berputar tubuh terus lari masuk.
Nenek Bwe menggembor keras, rambut kepalanya
yang sudah putih itu sama tegak
berdiri. Ia menghantam sekuatnya, dua orang
kacung terlempar ke belakang, secepat itu
nenek Bwepun terus menerjang kemuka.
Orangtua baju biru baru tiba dimuka pintu
merah, tongkat nenek Bwepun sudah tiba
dibelakangnya.
Lelaki kate dan perempuan kate yang menjaga
di kanan kiri pintu, saling bertukar
pandang dan diam saja. Rupanya mereka tak
mengacungkan keselamatan orangtua baju
biru itu.
Pada saat2 maut hendak merenggut, tiba2
lelaki baju biru itu berputar tubuh dan menjerit:
Bwe Nio….”
Nenek Bwe yang berhati baja, tiba2 tubuhnya
gemetar dan tongkat yang menghantam
lurus kemuka itupun tiba2 ia miringkan ke
samping Bum…. daun pintu yang bercat
merah itu termakan ujung tongkat hingga
menggurat sampai dua tiga dim dalamnya.
Lelaki baju biru itu leletkan lidah,
“Sayangku kalau tongkat itu jatuh di tubuhku, tentu
punggungku sudah berlubang.”
Nenek Bwe mendengus, “Manusia yang lebih
nista dari binatang, ternyata engkau masih
hidup.”
Orangtua baju biru itu memandang sekalian
tokoh. Wajahnya sama sekali tak merah
karena dampratan nenek Bwe itu. Ia berkata.
“Karena melakukan perintah tang-cu
(majikan)
“Apakah suhu juga berada disini?” bentak Omg
Kwan-tiong.
Lelaki baju biru itu kerutkan alis dan
berpaling kearah nenek Bwe, “Apakah orang ini
juga anak murid Lam-hay-bun?”
Ong Kwan-tiong memperhatikan bahwa orang tua
baju biru itu selain mempunyai
hubungan erat dengan perguruan Lam-hay-bun,
pun agaknya mempunyai hubungan juga
dengan nenek Bwe. Maka cepat ia menyusuli
kata2 lagi dengan nada yang ramah, “Aku
memang murid pertama dari Lam-hay-bun ….’….”
Tiba2 Ong Kwan-tiong hentikan kata2nya. Ia
menyadari kalau dirinya sudah diusir dari
perguruan dan sampai saat itu masih belum
resmi diberi ampun oleh suhunya.
Nenek Bwe menjawab dingin, “Kita tak ada
waktu bicara dengan engkau. Dimana tangcu
sekarang? Lekas bilang!”
Orangtua baju biru itu merenung lalu
menjawab, “Tangcu sedang melakukan
semedhi….”
“Toto terancam maut jiwanya, harus menemui
tangcu. Lekas menyisih, aku hendak
menghadap tangcu,” seru nenek Bwe cemas.
Tiba2 orangtua baju biru itu berbisik, “Bwe
Nio, dekatkanlah telingamu kemari.”
Sebagai jawaban, nenek Bwe ayunkan
tongkatnya dan membentak, “Enyah kau!” Ia terus
melangkah masuk kedalam pintu merah.”
Orangtua baju biru itu kaget dan terus
ulurkan tangan mencengkeram nenek Bwe,
“Jangan Bwe Nio, jangan masuk.”
Plak, nenek Bwe ayunkan tangan menampar bahu
lelaki itu sehingga jatuh jungkir balik
sampai beberapa langkah.
“Jangan bergerak,” cepat Han Ping mencekal
tangan orang itu dan melekatkan pedang
kemukanya Orang itupun tak berani berkutik
lagi.
Tetapi nenek Bwe memandang Han Ping dengan
beringas, serunya, “Anak buah Larnhay-
bun, betapapun besar kesalahannya, lain
orang tak boleh ikut menghukumnya. Lekas
lepaskan dia!”
Wajah Han Ping berobah gelap. Setelah
merenung beberapa saat, barulah pelahan lahan
ia lepaskan tangan orang itu. Jelas pemuda
itu tak senang dengan ucapan neneK Bwe,
tetapi dia tak mau memperbesar bentrokannya
dengan orang Lam-hay-bun dan terpaksa
melepas orangtua baju biru itu.
Begitu dibebaskan, lelaki baju biru itu
terus lari menghadang dimuka pintu dan berkata
dengan nada bersungguh kepada Bwe Nio, “Bwe
Nio, apabila tangcu tak menderita
sesuatu yang terpaksa, masakan dia mau
melepaskan aku keluar. Kalau engkau tak mau
mendengar kataku dan tetap berkeras hendak
masuk, tentulah kelak engkau akan
menderita dendam kusumat seumur hidup.
Semula nenek Bwe tertegun tetapi kemudian ia
tertawa dingin, “Selama hidup, aku
takkan percaya omonganmu lagi.” Ia terus
menyiak orang itu dengan tongkatnya lalu
melangkah masuk.
“Berhenti!” sekonyong-konyong lelaki tua
baju biru yang ketakutan tadi berobah
memberingas bengis dan menyerang Bwe Nio.
“Hm, engkau cari mati!” nenek Bwe marah,
ayunkan tangannya menghantam
kebelakang. Hantaman itu cepat mengenai dada
seorang baju biru. Ia mendesah, muntah
darah terus rubuh terkapar ditanah.
Tiba2 Bwe Nio menghela napas panjang. Ia
tertegun seperti patung. Lelaki tua baju biru
itu merangkak bangun, berseru, “Tangcu,
tangcu menduga…. salah….” ia deliki mata
lalu rubuh lagi.
Sikaki buntung baju merah cepat maju. Tangan
kirinya mencengkeram tubuh lelaki baju
biru itu dan tangan kanannya menampar
punggung orang. Lelaki baju biru itu
menghembus panjang dan pelahan-lahan membuka
mata.
“Suhuku bagaimana?” seru si kaki buntung
cemas.
Kata lelaki baju biru itu, “Kalau dalam
waktu sepenanak nasi tangcu masih belum keluar,
silakan kalian masuk….”
Si kaki buntung membentak, “Aku tanyakan
bagaimana keadaan suhu?”
“Ji-sute, jangan bersikap keras!” bentak Ong
Kwan-tiong.
Lelaki tua baju biru berkata, “Tangcu,
tangcu, saat ini berada dalam keadaan yang
gawat…. ah, peristiwa dunia, mengapa….
begini…. . kebe…. tulan…. pada saat dia….”
orang itu tak dapat melanjutkan kata-katanya
karena darah dalam tubuhnya menggelora
keras dan pingsanlah dia.
Walaupun demikian, jelas orang itu
mengatakan bahwa ketua Lam-hay-bun yang
mendirikan makam kuna itu, sedang menghadapi
suatu peristiwa hebat.
Rupanya Bwe Nio juga menyadari hal itu.
Cepat ia mencengkeram lelaki baju biru itu
lagi dan membentak, “Apa yang terjadi dengan
tangcu, lekas bilang?”
Pun si kaki buntung segera lekatkan tangan
kanannya kepunggung orang untuk menyaluri
tenaga-dalam. Tak berapa lama darah orang
itupun mengalir lagi. Setelah menumpahkan
dua kali muntahan darah dari mulut, ia dapat
membuka mata lagi dan berkata, “Tancu….
pada saat hendak keluar menghadapi mereka….
tidak terduga-duga…. bertemu dengan
subo….”
“Engkau maksudkan ibu dari Toto?”
“Benar….”
Bercucuran airmata Bwe Nio ketika mendengar
berkata, “Ibu dari To-to, apakah benar2
masih hidup?”
Lelaki baju biru menjawab, “Tak mungkin
salah, aku melihat jelas dengan mata kepalaku
sendiri. Sesaat berjumpa kembali, keduanya
segera bicara nericis…. ah, tangcu dan cu-bo
memang sepasang suami isteri yang luar
biasa. Mereka bercakap Cakap lama sekali tetapi
aku tak mengerti bahasa apa yang mereka
gunakan….”
Sambil memondong tubuh si dara baju ungu
yang ternyata bernama Siau Toio iiu. Ong
Kwan-tiong menghampiri dan bertanya,
“Lalu….”
Lelaki baju biru menghela napas panjang,
“Mengapa engkau terburu- buru? Lalu….
mereka…. tiba2 bertempur….”
“Sekarang mereka dimana?”
Lelaki baju biru berkata, “Mereka adu
tenaga-dalam. Saling berlekatan tangan dengan
tegang.”
“Ai, pertempuran semacam itu merupakan
pantangan besar dalam dunia persilat,” seru
Bwe Nio, “lekas bahwa aku kesana!”
Tetapi lelaki baju biru itu gelengkan
kepala, “Sambil bertempur dengan cu-bo, tang cu
gunakan ilmu Menyusup-suara memberitahu
kepadaku. Suruh aku menyaru menjadi dia
dan keluar untuk menyambut mereka. Asal
dapat mengulur waktu sampai sepenanak nasi
saja, tangcu tentu sudah dapat mencari
daya.”
“Daya apa?” seru nenek Bwe. “Aku tak tahu….”
Berkata Ong Kwan-tiong dengan nada seram,
“Apakah suhu hendak…. membunuh
subo?”
“Hal itu sukar dibilang,” kata nenek Bwe,
“suhumu itu berwatak angkuh dan subomu
juga keras hati. Sekali keduanya beradu
kepandaian, tentu tak mau berhenti sebelum ada
yang mati…. kemungkinan sukar untuk
menghentikan mereka.”
Lelaki tua baju biru itu terengah-engah.
Namun ia masih paksakan diri berkata, “Jika saat
ini kalian hendak menerobos masuk,
dikuatirkan kedua orang itu akan menderita
luka…. . .”
“Jangan bilang lagi….” bentak nenek Bwe.
Lalu ia meminta kepada Ong Kwan-tiong supaya
menyerahkan Toto kepadanya.
Setelah menerima tubuh Toto, nenek Bwe
berkata pula, “Mereka sedang mengerahkan
tenaga. Jaga pintu ini, jangan sampai ada
orang yang masuk.”
Ong Kwan-tiong mengiakan, ia terus berkisar
kesamping pintu dan mencabut senjatanya
yang aneh, disebut Liang-gi ci yang
bentuknya seperti penggaris.
Nenek Bwe lalu menghampiri ketempat sikaki
buntung baju merah dan memberi pesan,
“Usahakan supaya dia jangan mati.”
Sikaki buntungpun giat menyalurkan
tenaga-dalam pada punggung leaki baju biru itu.
Darah kesatrya.
Selesai mengatur seperlunya, nenek Bwe pun
segera melangkah masuk kedalam pintu
merah.
Setelah nenek itu masuk, Ong Kwan-tiong lalu
mengangkat kedua tangan dan berseru
keras, “Thian te goan hong, su jiong hoa
seng….
Kata2 itu merupakan aba2 barisan. Artinya:
Langit dan bumi menguning, empat gajah
hidup kembali.
Kedelapan kacung baju biru yang sudah porak
poranda barisannya dan saat itu
bersembunyi disamping, begitu mendengar
suara aba2 dari Ong Kwan-tiong segera
loncat keluar dan pada lain saat sudah
membentuk sebuah barisan pedang dimuka pintu
merah.
Ong Kwan-tiong tegak ditengah pintu.
Memandang sekalian tokoh dengan sikap seperti
seorang panglima yang berwibawa.
Beberapa tokoh itu saling bertukar pandang.
Pertama tama kedengaran Pengemis-sakti
Cong To menghela napas, “Perobahan kejadian
didunia ini memang sukar diduga Benar2
membuat orang kehilangan faham. Makam tua
yang didupa hanya sebuah perangkap,
ternyata berisi Lam-hay Ki-siu ketua
perguruan Lain hay-bun. Tetapi aku sipengemis tua
ini masih belum percaya dan masih mengira
dia itu seorang gila. Tetapi apa yang terjadi
saat ini….ah, sekalipun andaikata pengemis
tua ini beruntung dapat keluar dan makam
tua ini, kelak pengemis tua tak mau keluar
kedunia persilatan lagi.”