makam asmara 05

“Puteri lo-cianpwe telah meluluskan untuk menjadi isteri putera ketua Lembah-seriburacun

maka ketua Lembah-seribu racun memperlakukannya dengan baik sekali,” kata

Han Ping.

“Huh, siapakah puteriku itu? Mana boleh dijodohkan dengan anaK buruk dari tua bangka

beracun itu? Kalau engkau bohong, hati-hatilah jiwamu’ seru Siangkwan Ko.

Teringat akan budi kebaikan Siangkwan wan-ceng kepadanya, mau tak mau Han Ping

harus menghormat ayah gadis itu. Ia tertawa hambar, “Puteri lo cianpwe bersama ketua

Lembah-seribu-racun, saat ini masih berada dalam makam ini. Nanti tentu mudah

berjumpa. Kalau lo-cianpwe tak percaya keterangan wanpwe, silahkan bertanya kepada

nona Siangkwan sediri. Sepatah saja wanpwe bohong, lo-cianpwe boleh menghukum

wanpwe.”

Tiba2 Kim loji yang sejak beberapa lama diam, menyelutuk, “Memang ketika puteri locianpwe

meluluhkan perjodohan itu kepada ketua Lembah-seribu racun, aku sendiri hadir

dan mendengarkan.”

Tiba2 Siangkwan Ko teringat peristiwa puterinya telah makan racun dan menunggu

kematian, mau tak mau ia menghela napas, ujarnya, “Apapun kalian hendak mengatakan,

aku tetap tak percaya!”

Han Ping tahu bahwa dalam hati orangtua itu sebenarnya tujuh bagian sudah percava.

Tetapi hanya tak mau mengakui. Maka Han Ping berpaling kepada Cong To, “Locianpwe

dalam makam ini kecuali banyak dipasang alat2 pekakas berbahaya, pun pada

tiap2 pintu dijaga oleh mahluk2 beracun. Pintu rahasia ruangan ini tiba2 telah terbuka dan

lenterapun bersinar Jelas pemilik makam ini memang hendak bertemu dengan kita. Jika

terlalu lama. pintunya rahasia tertutup, kita tentu harus membuang waktu dan jerih payah

untuk mencari dia!”

“Benar,” tiba2 ih Thian heng menanggapi lalu mendahului ayunkan langkah.

Sekalian orang hendak, mengikuti tetapi tiba2 Theng Ban-li berteriak nyaring, “Ca Cu

jing!”

“Mengapa? “Ca Cu iing berpaling, “Jarum beracunmu lelah melukai diriku apakah aku

dibiarkan terluka begini saja?” seru jago tua itu.

Sahut Ca Cu-jing, “Tadi waktu bertempur acak-acakan, hampir anakkupun terluka oleh

saudara Theng. Bukankah aku juga menerima saja hal itu?”

Ih Thian-heng menyela, “Dalam pertempuran kalang kabut tadi, siapapun yang terluka itu

masih untung karena tak sampai binasa. Saat ini kita ibarat berlayar dalam satu perahu.

Harus kerjasama bahu membahu. Segala dendam peribadi, supaya dihapus dulu agar kita

dapat bersatu untuk membongkar rahasia penipuan besar-besaran, yang telah mencelakai

dunia persilatan selama berpuluh-puluh tahun.

Ca Cuj-ing tertawa gelak2, “Bagus, ucapan saudara Ih memang tepat.”

Theng Ban-li berpaling kearah orangtua alis panjang dan menggerutu, “Kalau begitu aku

dan locianpwe ini, menjadi korban jarum beracun yang sia-sia “

“Engkau mau menyamai aku, hm, sekalipun beberapa batang jarum beracun lagi

mengenaiku, aku masih tak apa2,” dengus orangtua alis panjang.

Ca Cu-jing tersenyum.

Karena sekalian tokoh menganggap enteng urusannya, apabila ia berkeras hendak

membalas Ca Cu jing, tentu akan menimbulkan kemarahan orang. Apalagi orang alis

panjang itupun menytakan tak apa2. Terpaksa ia diam dan terus menghampiri Ting Ling.

“Berhenti!” bentak ketua Lembah-raja-setan seraya deliki mata.

“Ah, tak apa2, ayah,” Ting Ling tertawa! “dia hanya akan minta obat kepadaku.”

Ting Ling; mengambil sebutir pil lalu diberikan kepada theng Ban li yang terus

menelannya.

Han Ping menghampiri ketempat orangtua alis panjang, “Lo-cianpwe, apakah perlu ku

papah?”

Orangtua alis panjang serentak berbangkit, “Tidak! ia menepuk bahu kera bulu emas,

menyuruhnya bangun.

Kera bulu emas yang tampak tidur pulas, begitu ditepuk orangtua alis panjang, serentak

loncat bangun.

Dalam pada itu berkatalah Ih Thian-heng kepada Pengemis-sakti Cong To, “Saudara

Cong, apabila kita berhasil keluar dari makam ini dengan selamat, kelak aku tentu akan

menjadi sahabat saudara yang baik.”

Pengemis sakti Cong To tertawa: Setiap orang yang hendak mati, bicaranya tentu baik.

Apakah engkau sudah tahu kalau bakal tak dapat keluar dari makam ini?”

Ih Thian heng tersenyum, “Menurut pandanganku, siapa yang masuk kedalam makam ini,

tentu sukar dapat keluar dengan masih selamat.”

Habis berkata ia terus lanjutkan langkah. Sekalian tokoh pun sebera mengikuti

dibelakangnya. Setelah keluar dari pintu rahasia, mereka menyusur terowongan yaag

diterangi lentera dan sinar mutiara.

Pintu rahasia yang tiba2 terbuka tadi, seperti ada orang yang membuka. Dan ternvata

begitu anggauta terakhir dari rombongan tokoh2 itu melangkah keluar, pintu rahasia

itupun tiba2 metutup lagi.

Ih Thian hens? tertawa dingin, ujarnya, “Ah. memang hebat sekali persiapannya, sebuah

ciptaan yang luar biasa!” Habis berkata ia terus kencangkan langkah berlari kemuka.

Terowongan yang panjangnya 15-16 tombak itu dengan cepat telah dilintasi mereka. Tiba

di ujung terowongan, pecah menjadi dua, ke kanan dan ke kiri. Tetapi dalamnya hanya

setombak lebih. Ujungnya terhadang dinding putih.

Terowongan yang menyimpang kesebelan kiri, dindingnya tertulis, “Jalan ke Kematian.”

Sedang terowongan yang memecah ke kanan, dindingnya bertulis, “Jalan menuju Hidup.”

Hurufnya yang besar ditulis dengan tinta merah sehingga tampak jelas sekali.

Berkata pula Ih Thian heng kepada pengemis tua, “Saudara Cong, Kita jalan ke Jalan

Mati atau ke Jalan Hidup?”

Pengemis-sakti menjawab, “Menilik kita ini mengandung hati penasaran, lebih baik kita

menuju ke Jalan Mati saja.”

“Akupun berpendapat begitu juga,” kata Ih Thian-heng, “kiranya pandangan seorang

ksatrya itu tentu sefaham.”

“Biar kucobanya dulu sampai dimana kerasnya dinding itu!” seru Ca Cu-jing seraya

lepskan pukulan Peh-poh-sin-kun. Wut, angin berhamburan keras sekali.

Theng Ban-lipun segera mengeluarkan palu besinya dan berseru, “Akupun hendak bantu

membukanya!” ia terus maju menghampiri dinding.

Keadaan yang aneh dari makam itu menyebabkan sekalian orang2 gagah itu melepaskan

perasaan dendam mereka.

Ih Thian heng menumpah pandang kearah Han Ping, “Pedang Pemutus asmara milik

saudara Ji, dapat membelah logam seperti memotong tanah liat. Walaupun dinding itu

keras bukan kepalang tetapi tentu tetap terbelah dengan pedang pusaka saudara itu.”

Han Ping mendengus dingin dan melangkah maju kemuka.

‘Jangan’.” tiba2 Ting Ling berseru menengah.

Han Ping tertegun dan hentikan langkah lalu berpaling, “Mengapa?”

“Berikanlah pedang pusakamu kepada Ih Thian-heng, biar dia saja yang memapas

dinding!” seru si nona.

Tiba2 Han Ping teringat akan peristiwa Kim loji yang kehilangan sebelah lengannya

karena alat rahasia dalam makam itu. Mau tak mau ia meragu juga.

Ih Thian heng tersenyum, “Saudara Ting, puterimu banyak curiga!”

Lalu ia mengulurkan tangan, “Saudara Ji, apakah engkau mau meminjamkan pedangmu

kepadaku?”

Bum…. terdengar letupan dahsyat dan dindingpun berhamburan rontok. Ternyata Theng

Ban-li sudah mulai menghantam dengan palu besinya.

“Mengapa tak boleh?” kata Han Ping seraya menyerahkan pedang Pemutus asmara.

Seteleh menyambuti pedang berkatalah Ih Thianghtng, “Kalau aku tak mau

mengembalikan pedang ini kepadamu, dalam pertempuran dengan aku, engkau tentu

kehilangan sebagian kesempatan menang.”

“Kalau engkau benar mengandung pikiran seperti itu. sekalian orang gagah dalam dunia

persilitan tentu akan menghancurkan engkau,” seru Ting Ling.

“Budak setan, tak perlu engkau mengucap kata2 yang membikin panas hatiku. Setelah

rahasia makam ini terbongkar, biarlah engkau terbuka mata akan kesaktian Ih Thian

heng. Siapapun yang akan menantang, aku tetap akan melayani.”

Ih terus maju menghampiri dinding.

Dalam pada itu Theng Ban li tetap masih giat menghantamkan palu besinya. Tulisan

Jalan Mati, sudah separoh bagian yang hancur.

“Harap saudara Theng berhenti, biar aku yang mencoba kekuatan dinding itu.” kata Ih

Thian-heng.

“Huh, dinding ini memang keras sekali. Palu besiku tak mempan.” gumam Theng ban li.

iapun mundur tiga langkah Namun Ih Thian-heng tetap minta dia mundur lebih jauh lagi.

“Mengapa?” Theng Ban-li heran.

“Dia suruh engkau memberi jalan untuk meloloskan diri!” teriak Ting Ling.

Ih Thian-heng tertawa hambar, “Hm. sungguh seorang budak perempuan yang pandai.

Dapat menebak tepat lagi.”

Ting Ling tertawa dingin, “Hm. betapa permainan yang hendak engkau unjukkan, tentu

akan dapat kuketahui!”

Ih Thian-heng tak mau melayani nona itu lagi dan mulai mengangkat pedang pusaka,

menusuk dinding.

Pedang Pemutus asmara memang hebat sekali. Dinding yang sekeras baja dapat ditusuk

seperti menusuk kayu saja.

“Harap saudara2 mundur!” tiba2 Ih Thian-heng berseru. Dan serempak ia sendiripun

sudah melesat mundur ke sudut, Sekalian orang menunggu dengan menahan napas.

Tetapi sampai beberapa lama belum juga terjadi suatu perubahan apa2. Dinding batu itu

tetap tegak dengan kokohnya.

“Bagaimana dengan tajamnya pedang Pemutus-asmara itu?” Ca Cu jing berpaling kearah

Ih Thian-heng.

‘Silahkan engkau lepaskan sebuah pukulan Peh poh- sin-kun!”

Ca Cu jing melakukan permintaan itu dan lepaskan sebuah pukulan Bum…. terdengar

suara dahsyat dan tembokpun berlubang hampir satu meter luasnya.

Ternyata setelah menusukkan pedang Pemutus-asmara, Ih Thian-heng lalu memutarnya,

membuat sebuah lingkaran bundar. Maka waktu Ca Cu jing menghantam, terbukalah

sebuah lubang.

melihat itu mau tak mau Ca Cu-jing memuji tenaga Ih Thian-heug yang hebat.

“Hm, apakah tak sungkan mengobral segala pujian?” Ting Ling menyeJutuk.

Merahlah muka Ca Cu iing mendengar dampratan halus itu. Serentak ia berpaling kearah

ting Ko. serunya, “Puteri saudara Ting itu seharusnya diberi ajaran yang tepat.”

“Apakah suruh aku membunuhnya?” Ting Ko tertawa hambar.

Ca Cu-jing marah, serunya, “Kalau engkau taK mau memberi ajaran, akupun dapat

mewakili engkau mengajarnya.”

Tiba2 Pengemis-sakti Cong To tertawa gelak2, “Ho, barangsiapa berani menganggu

anak-angkatku, tentu akan kupotong sepuluh jarinya.”

Ca Cu-jing tahu kalau tak mampu menandingi Cong To dan Ting Ko berdua, terpaksa ia

menahan kesabaran, serunya, “Tak perlu saudara Cong unjuk kegarangan. Nanti setelah

keluar dari makam ini, aku tentu akan minta pelajaran dari engkau.”

Pengemis-sakti Cong To tertawa lepas, “Tetapi menurut pandanganku, jangan harap kita

dapat keluar dari makam ini dengan selamat.”

“Saudara Cong, kapankah anakku itu engkau pungut menjadi anak-angkat?’ tiba2 Ting

Ko berseru.

Cong To deliki mata, “Bagaimana? Apakah engkau tak senang….”

“Jangan salah faham,” cepat Ting Ko menukas, “bahwa anakku telah mendapat rejeki

sebesar itu, sudah tentu aku merasa gembira sekali.”

Ting Lingpun tertawa, “Ayah-angkatku itu memang suka bergurau, mengapa ayah

masukkan dalam hati….”

Kemudian nona itu beralih pandang kepada Ih Thian-heng, serunya, “Seharusnya engkau

kembalikan pedang Pemutus-asuiara itu kepada yang empunya.”

Ih Thian-heng mengangguk, tertawa, “Ya, benar, nona Ting.” ia terus pelahan-lahan

menyerahkan pedang dan Han Pingpun segera ulurkan tangan menymbuti.

“Jangan bergerak!” tiba2 Ting Ling berseru.

Han Ping tertegun dan saat itu Ting Lingpun sudah melangkah maju, menyambuti pedang

lalu diterimakan kepada Han Ping, serunya, “Dia tak dapat menggunakan kesempatan

mengembalikan pedang,untuk membunuh aku.”

Ih Thian-heng tengadahkan kepala, tertawa, “Nona Ting, tahukah engkau, tempat ini

sebenarnya makam milik siapa?”

Ting Ling tertegun, lalu menyahut, “Ko Tok lojin….”

Walaupun ia cerdas tetapi menerima pertanyaan Ih Thian-heng yang begitu mendadak,

mau tak mau ia terkesiap dan tak dapat menyingkap maksud orang yang sesungguhnya.

“Tahukah engkau apa sebab orangtua itu mengasingkan diri disini?” tanya ih Thian heng

dengan tersenyum. Dan belum si nona menjawab, ia sudah melanjutkan lagi, “Karena dia

memang seorang manusia yang melebihi dan orang biasa. Tak punya kawan dan tak

punya lawan. Coba nona pikirkan, anda kata pada suatu hari dia mendapatkan lawan yang

diangap menyamai kecerdasannya, apakah dia akan membunuh lawan itu atau tidak?”

Ting Ling kerutkan alis lalu menyahut dingin, “Walaupun Ko Tok lojin tidak melakukan

hal itu, tetapi engkau sendiri yang belum dapat dipastikan.”

Ih Thian-heng tertawa gelak2, “Kalau aku ini manusia dibelakang layar seperti yang

engkau bayangkan itu, bukankah sangat berbahaya bagimu dikala menyambuti pedang

tadi?”

“Ah, anda keliwat memuji, terima kasih,” kata Ting Ling.

Omongan kedua orang itu bernada sinis dan tajam. Tokoh2 semacam Ca Cu-jing. Nyo

bun-giau dan lain2 yang tajam perasaannya, cepat dapat menarik kesimpulan bahwa Ih

Thian-heng telah menentukan dua orang sebagai musuhnya yang berat. Dalam ilmu

kesaktian, dia menganggap Han Ping sebagai satu-satunya lawan yang berat. Dalam ilmu

kecerdikan, Ting Linglah satu-satunya yang dapat menandinginya.

Dalam pada itu, Han Pingpun segera hendak menerobos masuk melalui lubang dinding.

Tetapi Cong To dan Ki loji cepat mencegahnya: Tunggu dulu ‘ kedua orang itupun

serempak loncat kemuka Han Ping.

Ih Thian-heng tertawa, “’Karena yang membuat lubang dinding itu aku, maka akulah

yang akan masuk lebih dulu.” Ia terus melangkah kelubang itu.

“Walaupun licik dan ganas tetapi tak kecewalah Ih Thian-heng itu sebagai seorang lelaki

ksatrya!” seru Cong To.

Tiba2 Ih Thian-heng muncul di lubang dinding itu lagi dan berkata kepada Han Ping,

“Apakah saudara Ji dapat meminjamkan pedang pusaka itu kepadaku lagi?”

Tanpa banyak bicara, Han Ping terus mengangsurkan pedang.

“Ih, apakah didalam masih terdapat dinding batu?” seru Ting Ling.

“Ya” sahut Ih Thian-heng terus menyusul masuk. Cong To dan Han Pingpun cepat

menyusul.

Ternyata dibelakang lubang dinding itu hanya terdapat tanah lapang satu meter, lalu

teraling lagi oleh sebuah dinding batu. Ih Thian-heng gunakan pedang pusaka untuk

membobol sebuah lubang lagi. Tetapi ternyata di dalamnya masih terdapat selapis

dinding batu.

Sama sekali ih Thian-heng harus menghadapi lima lapis dinding tembok batu. Berkat

pedang pusaka Pemutus-asmara yang tajam, dapatlah ia membobol kelima lapis dinding

tembok itu. Pada dinding tembok lapis Keenam, terdapat tulisan yang berbunyi, “Karena

sok pintar, harus membuang banyak tenaga. Kalau kalian mengambil Jalan Hidap, tentu

tak usah harus bersusah payah membobol dinding!

Memandang tulisan yang indah perkasa itu. hati lh Thian-heng agak menyesal.

“Hai, nyata dalam makam ini memang terdapat orangnya,” seru Cong To.

Ih Thian-heng menghela napas, “Bukan manusia biasa tetapi manusia luar biasa. Tetapi

betapapun aku memeras otak tetap tak dapat mengetahui siapa orang itu!”

Habis berkata ih Thian-heng terus menyusup masuk diikuti oleh sekalian orang.

Ternyata dinding keenam itu merupakan….

Tempat itu merupakan sebuah ruang besar, diterangi oleh selusin lentera kaca yang

menyala terang benderang. Tetapi karena empat dindingnya dicat warna hitam, sinar

lentera itupun tak dapat memantul gemilang dan hanya menimbulkan suatu suasana yang

agak menyeramkan.

Dan yang lebih menyeramkan yalah terdapatnya duabeias peti mati warna hitam yang

diletakkan berjajar jajar rapi dibelakang keduabelas lampu tersebut. Peti ditutup rapat2,

seolah-olah memberi kesan bahwa peti mati itu sudah terisi mayat dan ditutup sejak lama.

Setelah mengamati keadaan sekeliling kamar, ih Thian-heng berseru memuji, “Suasana

ini benar2 dapat menimbulkan rasa ngeri sehingga orang merasa seperti mati, seram dan

ketakutan. Sungguh hebat dia dapat mengatur begitu .

Kemudian ia berputar tubuh menyerahkan pedang pusaka Pemutus asmara kepada Han

Ping, “Menilik keadaan tempat ini kita seperti memasuki sebuah tempat yang berbahaya.

Setiap saat tentu akan terjadi perubahan. Pedang ini luar biasa tajamnya, dapat menjadi

alat untuk menjaga diri yang hebat.”

Sambil menyambali pedang Han Ping menyahut, “Mudah-mudahan apa yang engkau

kehendaki itu dapat terlaksana. Dapat berjumpa dengan pemilik makam dan membongkar

rahasianya.

Dan yang penting engkau harus dapat menyelamatkan jiwamu, agar kita nanti dapat

melaksanakan pertempuran kita yang terakhir itu”

Ih thian heng tertawa, “Kukira aku tentu takkan mengecewakan harapanmu….” tiba2 ia

maju dua langkah menghampiri kemuka sebuah peti mati lalu ulurkan tangan hendak

membuka penutup peti.

Han Ping melirik kearah Nyo Bun giau. Tampak kedua mata orang itu berkilat-kilat

menumpah kearah Ih Thian-heng. Melihat itu Han Ping tak sabar lalu, berteriaknya,

“Berhenti!”

Ih Thian-heng berpaling tertawa, “Mengapa?”

“Aku hendak melakukan pembalasan dengan tanganku sendiri dan tak menghendaki

engkau mati di tangan orang lain,” seru Han Ping.

“Kepandaian dan kecerdasanmu, dapat meningkat cepat dengan serempaK. Demi

kepentinganku, seharusnya kuselesaikan pertempuran dengan engkau ini sekarang juga,

“kata Ih Thian-heng.”

Plak…. tiba2 ia menampar peti mati. Habis menampar ia terus loncat kebelakang

beberapa langkah. Sekalian orangpun cepat bersiap-siap.

Peti mati yang kokoh itu, begitu ditampar Ih Thian heng, segeia pecah menjadi dua.

Terdengar peti berderak-derak dan dari dalam peti itu menjulur sebuah tangan manusia.

Jari2nya begitu kurus dan pucat seperti salju. Jelas merupakan jari dari seorang wanita.

Ih ihian-heng tertawa dingin, “Asal dapat berjumpa dengan manusia hidup, tentu tak

sukar untuk mencari keterangan.”

Tampak lengan yang putih itu bergerak-gerak seperti orang yang tengah bangun tidur.

Setelah ditekuk kebawah seperti orang yang bercekak pinggang, lalu pelahan-lahan rebah

kedalam peti lagi.

Mata sekalian orang mencurah kearah lengan dalam peti mati itu. Mereka bersiap-siap

menghadapi setiap kemungkinan Tetapi sampai beberapa lama, belum juga lengan itu

menjulur keluar lagi. Seolah-olah orangnya tidur lagi.

Ih Thian-heng tak sabar lagi. Ia berseru dingin, “Kalau tetap bertingkah aneh, jangan

sesalkan aku Ih Thian-heng akan bertindak ganas. Sekalipun engkau memiliki ilmusilat

yang sakti, pun tetap sukar menerima seranganku secara tiba2.”

Rupanya orang didalam peti itu tetap tidur pulas dan tak menyahut.

Rupanya Nyo Bun-giau kuatir kalau Ih Thian-heng akan mencurigai kawan2 sendiri,

maka buru2 ia tampil, “Saudara ih, biarlah aku yang maju,”

Habis berkata ia terus menghampiri peti mati sambil kerahkan tenaga dalam.

Ih Thiang heng berpaling memandang Ca Cu-jing, serunya, “Harap saudara Ca siapakan

pukulan Peh-poh-siu-kun untuk membantu saudara Nyo.”

Sambil berkata Ih Thian -hengpun melangkah kemuka.

Satelah tiba dimuka peti mati, Nyo Bun-giau batuk2 sejenak lalu mendorong tutup peti.

Karena tutup peti itu sudah dihancurkan Ih Thian-heng maka sekali dorong saja, tutup itu

pun jatuh ke lantai.

Seketika terdengarlah jerit mdengking dan menyusul sesosok tubuh wanita yang

rambutnya terurai menutup bahu, duduk didalam peti. Wajahnya cantik, sepasang

matanya bundar bagai bintang kejora, bibirnya semerah delima. Pelahan-lahan ia berdiri.

Nyo Bun-giau mundur dua langkah, serunya bengis, “Angkat kedua tanganmu!”

Sambil mengeliarkan sepasang matanya kepada rombongan orang2 itU Si wanita cantik

pelahan-lahan mengangkat kedua tangannya. Ternyata lengannya telanjang.

“Hai, apakah engkau tak berpakaian?” seru Nyo Bun-giau pula.

Gadis itu kedip-kedipkan sepasang matanya yang i.idah lalu menatap Nyo Buu-giau.

Sesaat kemudiaan ia mengangkat kakinya keluar peti.

“Hai, mengapa telanjang bulat!”’ teriak Siang-kwan Ko.

Ternyata setelah keluar dari peti mati, gadis itu hampir tak mengenakan pakaian. Hanya

bagian dada dan bawan perut yang dibalut dengan sehelai kain cawat.

Dengan tenang ia melangkah keluar dan seolah-olah tak menghiraukan suara Nyo Bungiau.

Saat itu Ih Thian-hengpun sudah berada di belakang Nyo Bun giau, bisiknya, “Siudara

Nyo, siapkan lima bagian tenaga dan cobalah gadis itu dengan sebuah pukulan.”

Nyo Bun-giau menurut apa yang diperintah Ih Thian-heng. Ia mengangkat tangan kanan

lalu diayunkan kearah gadis itu.

Aduh….terdengar mulut si jelita melengking lalu rubuh kebelakang. Melihat itu Nyo

Bun-giau tertegun kaget.

Tiba2 ia mendengar suara alunan musik. Bermula hanya dari suara harpa tetapi lama

kelamaan diserempaki pula dengan beberapa macam bunyi bunyian. Belum dia sempat

meneliti, tiba2 irama musik itu berganti dengan irama yang sedih merawankan.

“Dari manakah suara musik itu?” seru Nyo Bun-giau seraya memandang kesekeliling.”

“Dari makam ini” kara Ih Thian-heng.

Pengemis-sakti Cong To mengambil buli2 arak. meneguknya seraya berkata Melihat

keanehan jangan merasa aneh, keanehan itu tentu akan tak aneh. Tak perlu kita hiraukan

dia. mari kita lanjutkan berjalan lagi.”ia terus mendahului ayunkan lagkah menuju

kebelakang dinding.

“Saudara Nyo, coba engkau dekati dan periksa keadaan gadis itu, aku tak percaya kalau

dia mati “

Nyo Bun giau maju menghampiri. Pada saat hampir tiba disisi si gadis, tiba2 dia

menendang rusuk kanan gadis itu.

Tendangan Nyo Bun-giau itu hebat sekali, jangan kata hanya tubuh manusia, sedang batu

karang yang keraspun tentu hancur.

Melihat itu Han Ping tak sampai hati. Cepat ia berseru, “Nyo Bun-giau, jangan

menendangnya….”ia terus hendak menyergap Nyo Bungian.

Tetapi Ih Thian-heng membentak seraya lintangkan tangannya menghandang, “Hai,

engkau mau apa?”

Han Ping empos semangat untuk menghentikan gerakan maju dari tubuhnya. Begitu

tegak ditanah, ia berkata, “Cara yang dilakukannya terhadap seorang wanita, sungguh

keterlaluan.”

Ih Thian-heng tertawa, “Tadi aku masih memuji engkau seorang pemuda yang cerdas.

Tetapi mengapa dalam waktu beberapa kejab saja, engkau sudah terpikat kebaikan

terhadap seorang wanita? Ketahuilah, saat ini kita sedang terkurung dalam sebuah tempat

yang berbahaya. Setiap saat, kita dapat terancam maut. Setitik budi Kebaikan, mungkin

akan menimbulkan bahaya maut pada diri kita sendiri.”

“Gadis itu sudah rubuh terpukul Nyo Bun-giau. Apakah masih harus diremukan lagi “

“Apabila dugaanku taksalah,” kata Ih Thian-heng, “dia tentu tak mati, cobalah engkau

lihat kemari.”

Setelah bertempur sekali dengan Han Ping, memang Nyo Bun-giau merasa agak gentar

kepada kesaktian pemuda itu. Waktu mendengar Han Ping berterak mencegahnya jangan

menendang, iapun hentikan kakinya.

Han Ping berpaling dan menyahut kata2 Ih Thian-heng, “Kemanakah gerangan perginya

ke Keenam bocah pengawalmu dan ke tigapuluh enam pengawal barisan Thtan-kong-siwi

itu?”

“Dalam waktu dan tempat seperti ini, mengapa engkau ingat akan hal itu?” sahut Ih

Thian-heng dengan tertawa hambar.

“Kalau engkau tak membawa mereka bersamamu, sebelumnya tentulah engkau sudah

mempunyai persiapan?” tanya Han Ping pula.

Ih Thian heng tertawa, “Selamanya aku tak mau mengambil resiko begitu….”

Sejenak kemudian ia berkata pula, “Dalam hidupku hanya ada dua buah persiapan yang

kurencanakan. Pertama ialah masuk kedalam makam tua ini….” tiba2 ia berhenti berkata.

“Lalu yang kedua?” tanya Han Ping.

“Yang kedua yalah, dua kali telah melepaskan kesempatan untuk membunuhmu.”

“Tetapi sekarang toh belum terlambat,” seru Han Ping dengan garang.

“Keadaan saat ini telah memaksa kita membagi rata kesempatan kalah menangnya. Aku

menang pengalaman, engkau menang tenaga. Dan pula engkau masih mempunyai

sebatang pedang pusaka yang hebat. Dengan pedang itu engkau dapat menghadapi

beberapa jurus seranganku yang istimewa. Maka dengan begitu kukatakan, kita sama2

serie, sama2 mempunyai kesempatan kalah atau menang.’

“Kalau aku tak menggunakan pedang itu, entah apakah aku mampu mengalahkan engkau

atau tidak?” kata Han Ping seraya maju dua langkah ke hadapan gadis telanjang itu, lalu

ulurkan tangan untuk memeriksa pernapasannya.

Ternyata gadis itu memang masih bernapas.

“Sudah mati atau masih hidup?” seru NyO Bun giau.

“Masih bernapas, tetapi lemah sekali. Entah dapat hidup atau tidak,” sahut Han Ping.

Mengikuti gerak gerik Han Ping, seketika Ting Ling makin yakin bahwa pemuda itu

memang telah dianggap sebagai duri dalam mata Ih thian-heng. Han Ping benar2

dianggap sebagai musuh yang paling berat oleh Ih Thian heng. Dan ketika nona itu

mengawasi perobahan airmuka Nyo Ban-giau, cepat ia berseru kepada Han Ping, “Ji

Siaug-kong, hati2 dengan orang yang hidup!”

Memang Nyo bun giau mengandung rencana untuk menyerang Han Ping secara

mendadak. Bahwa saat itu dia sudah kerahkan seluruh tenaga dalam ke tangan kanan. Ia

menunggu pada saat Han Ping mengangkat tubuh, terus segera akan turun tangan.

Seruan Ting Ling itu benar2 mengejutkan Nyo Bun-giau yang lalu buru2 mundur dua

langkah.

Han Pingpun pelahan-lahan bangkit, memandang tajam kepada Nyo Bun-giau, serunya,

“Kalau bukan nona Ting yang membuat engkau kaget, engkau tentu akan merasakan

kelihayan dan ilmupedang Tat-mo-sam-kiam!”

Tat-mo sam-kiam atau Tiga jurus ilmupedang ajaran Tat Mo cousu atau cikal bakal

pendiri gereja Siau lim-si.

“Tat-mo-sam-kiam!” Ih Thian-heng berseru kaget.

Rupanya Han Ping menyadari kalau kelepasan bicara. Maka iapun cepat menyahut,

“Bagaimana?”

Ih Thtin-heng tertawa, “Tat-mo sam-kiam merupakan ilmupedang yang sudah lama

lenyap dan dunia persilatan. Bagaimana saudara Ji dapat mempelaiari ilmu itu?”

“Sekalipun aku dapat mempelajarinya dengan sempurna, tak nanti kuberi tahu

kepadamu,” sahut Han Ping.

Tiba2 terdengar suara Pengemis-sakti Cong To berseru, “Saudara, pinjamkan pedang

pusakamu kepada pengemis tua.”

Saat itu suara musikpun makin terdengar nyaring dan makin rawan menyayat hati. Tetapi

rombongan yang masuk kedalam makam itu terdiri dari tokoh2 yang hebat

kepandaiannya. Mereka tetap dapat bertahan dan tak menderita suatu apa karena

hanburan suara musik yang mengandung tenaga-dalamn aneh itu.

Han Ping mengiakan. Setelah menampar jalan darah dipunggung gadis yang menggeletak

di tanah itu, ia terus melangkah ketempat pengemis tua.

Berseru Ih Thian-heng, “Selagi mereka belum memperhebat serangannya, kalau saudara2

suka mendengar kata2 aku siorang she Ih, lebih baik kita mendahului menghancurkan

peti mati itu.”

Habis berkata Ih Thian hengp terus loncat ketempat sigadis dan menginjak dadanya.

Gadis itu membuka kedua mata, tiba2 ia deliki mata lulu secepat kilat berguling-guling

sampai beberapa langkah jauhnya, loncat bangun dan mengeluarkan sebuah suitan perak

lalu ditiupnya keras2.

Terdengar suara lengking yang dahsyat dan tiba2 kesebelas peti mati itupun terbuka

tutupnya.

Setiap peti mati diisi dengan gadis cantik yang tak berpakaian dan mengurai rambut. Dan

ketika tangan mereka menjulur, ternyata mereka membawa bermacam2 alat musik, antara

lain seruling, hapa, tambur dan lain2.

Serentak terdengarlah mereka memetik dan musikpun makin memekakkan telinga

sehinga perasaan para rombongan orang gagah itu mulai terpengaruh, jantungnya

berdebar-debar.

Ih Thian-heng empos semangat lalu lepaskan sebuah hantaman yang dahsyat. Kawanan

gadis telanjang dengan rambut terurai itu segera menyisih kesamping. Tetapi alat2

tetabuhan ditangan mereka tetap bergetar-getar memancarkan nada suara yang

menggetarkan urat2 jantung.

Pukulan yang dilancaikan Ih Thian-heng itu paling sedikit tentu menggunakan tujuh

bagian tenaganya. Angin menderu-deru hebat, menyibak kain cawat melada para gadis

itu dan menyiakkan rambut mereka. Saat itu Han Ping sudah berjalan setombak jauhnya.

Melihat perobahan suasana dalam ruang itu, iapun hentikan langkah. Dan cepat pada saat

itu angin pukulan Ih Tnian heng ilu pun melanda datang. Untuk memberi jalan kepada

angin pukulan itu. terpaksa Han Ping loncat kesamping. Tetapi justeru arahnya

bersamaan dengan para gadis yang juga menyingkir ke samping.

Seketika itu telinga Han Ping tergiang lengking petikan senar harpa sehingga ia pejamkan

mata lalu palingkan muka.

Tepat pada saat ia berbuat begitu, tiba ia rasakan pantatnya yang kiri agak sakit seperti

tertusuk jarum.

Jelas orang telah menyerangnya secara gelap.

Han Ping marah. Dengan mendengus dingin ia balikkan tangan menghantam. Prang….

tiba2 seorang gadis yang memegang tambur kulit, cepat menyodorkan tamburnya untuk

menyongsong pukul an Han Ping.

“Hati2, alat tetabuhan mereka itu mengandung senjata rahasia!” tiba2 Ting Ling berseru.

Berseru Ih Thian-heng pula, “Dalam saat dan tempat seperti ini, kita sudah berada dalam

perangkap maut. Setitik rasa hati kasihan akan menimbulkan setitik ancaman maut….”

Tiba2 dari dalam duabelas peti mati itu lompat keluar duabelas gadis2 cantik lalu menarinari

menurutkan irama musik.

Ih Thian neng sudah menyala-nyala nafsu membunuhnya. Cepat ia menghantam salah

seorang gadis itu.

Angin pukulan melanda dan terdengarlah lengking jeritan tajam. Sesosok tubuh dan

seorang dara cepat loncat menyambut jeritan itu.

Nyo Bun giaupun segera menyambar lengan kanan seorang gadis lalu ditekannya. Gadis

itu menjerit lalu terkapar rubuh. Rupanya tulang lengannya patah hingga ia pingsan,

Dalam saat itu, pun Ca Cu jing juga lepaskan sebuah pukulan Peh-poh-sin-kun,

merubuhkan seorang gadis.

Myo bun giau heran dan berseru, “Saudara Ih,gadis2 itu tak mengerti ilmusilat.”

Sahut Ih Thlan heng, “Ya, akupun merasa begitu juga….”

Tiba2 dari dinding batu sebelah muka terdengar suara berderak derak. Dinding merekah,

menyiak ke samping. Sebuah gelombang sinar yang keras segera memancar sehingga

keduabelas lentera kaca itu pudar cahayanya.

Ketika sekalian orang memandang kemuka ternyata dibalik lubang dinding yang merekah

itu terdapat duapuluh tempat batang obor yang menyala terang benderang.

Ih Thian-heng memandang sejenak kearah ruang besar itu. Tiba2 ia melangkah maju.

Dalam pada itu Ting Lingpun mengamati keadaan disekelilingnya. Tampak dalam

ruangan itu terkapar tubuh dari keduabelas gadis dengan alat tetabuhannya. Mereka

mengerang dan merintih. Jelas kalau mereka itu hanya gadis biasa, tak mengerti ilmusilat

Keadaan mereka sungguh menyedihkan. Ada yang sudah mati ada pula yang terluka

berat dan merintih-rintih memilukan hati.

Sekalian orang segera mengikuti jejak Ih Thian heng yang melangkah masuk kedalam

ruangan besar. Pada saat dinding merekah tadi, suara musikpun serentak berhenti.

Ternyata ruangan itu amat bersih dan putih, dihias dengan bunga2 kertas dan lilin.

Papan yang tergantung diatas ruang itu tertulis empat huruf yang berbunyi, “Hati temaha

mengundang bahaya.”

“Hm, kata2 yang sombong,” kata Ih Thian-heng seraya mencabut kertas tulisan itu.

Dibelakang papan itu masih terdapat sebuah kain putih yang bertuliskan, “Hidup tak

lebih baik dari mati.”

“Hm, hendak kulihat, berapa banyak kain bertulisan yang engkau sediakan disini,” Ih

Thian-heng tertawa lalu hendak merobek. Sekonyong-konyong terdengar suara berderak

derak.

Pengemis-sakti Cong To tertawa gelak2, “Ho, muncul sebuah permainan baru lagi.”

“Disini!” terdengar suara orangtua yang parau. Dari ujung sudut ruang, tampillah seorang

nenek berambut putih yang berjalan pelahan dengan sebatang tougkat bambu. Ah, nenek

itu bukan lain yalah nenek Bwe atau Bwe Nio inang pengasuh dari dara baju ungu. puteri

ketua perguruan Lam-hay-bun.

“Apakah saudari baru datang?” tegur Ih Thian-heng tertawa.

Sambil gentakkan tongkat bambunya. Bwe Nio menyahut, “Selama engkau belum mati,

mana aku bisa datang terlambat.”

Dari balik jajaran kain bertulisan tadi, muncul pula seorang dara baju ungu yang

mukanya ditutup dengan kain kerudung sutera hitam. Dibelakangnya diiring Ong Kwantiong

suheng dari dara itu serta seorang lelaki kaki buntung yang mengenakan baju

merah.

Sejenak memandang kearah dara baju ungu. Ih Thian-heng memberi salam, “Nona,

terlambat selangkah, “

Dengan suaranya yang merdu, dara baju ungu itu berkata, “Dari kedua Lembah dan

ketiga marga, entah sudah berapa orang yang datang?”

Jawab Nyo Bun giau, “Nona tak perlu memikirkan hal itu….”

Dara baju ungu tertawa dingin, “’Jangan bicara yang tak betguna. Akan kuberi kalian

seorang pembantu.” Ia segera bertepuk tangan pelahan.

Kain terangkat dan muncullah si Bungkuk dan si Pendek. Keduanya menggandeng

seorang lelaki bertubuh pendek dan seorang gadis baju biru.

Melihat kedua orang itu, Pengemis-sakti Cong To serentak berseru, “Leng lotoa!”

“Ceng ji” teriak Siangkwan Ko pula seraya loncat ketempat gadis itu. Tetapi bwe Nio

cepat lintangkan tongkatnya dan membentak, “Berhenti!”

Siangkwan Ko rasakan gerakan tongkat nenek berambut putih itu selain dahsyat pun juga

aneh. Terpaksa ia mundur dua langkah.

Tiba2 dara baju ungu berseru, “Lepaskan!

Biar ayah dan puterinya itu menuturkan pengalamannya masing2.”

Si Bungkuk mengiakan. Ia segera menepuk bahu si nona atau Siangkwan Wan-ceng.

Nona itu deliki mata kepada si Bungkuk. Sesaat kemudian ia melengking memanggil

ayahnya seraya lari menghampiri.

Siangkwan Ko menyambut puterinya dengan dekapan yang amat mesra. Airmatanya

berderai-derai membasahi pipi yang kempot.

“Ah, nak, engkau tentu menderita,” katanya.

“Aku sungguh tak mengira kalau masih dapat bertemu dengan ayah….”

Tiba2 Ih Thian-heng menghampiri dan berkata dengan bisik2, “Saudara Siangkwan….”

Siangkwan Ko yang masih belum hilang keharuannya itu cepat berpaling, sahutnya,

“Bagaimana, apakah saudara ih menganggap aku….”

JILID 5

Bara Asmara.

Siangkwan Ko hendak marah tetapi tiba2 ia teringat bahwa Ih Thian-heng itu pernah

menolong jiwa puterinya. Terpaksa ia menghela napas dan tak lanjutkan kata2nya.

Ih Thian-heng tersenyum, “Harap saudara Siang-kwan jangan salah faham. Sungguh

menggirangkan sekali kalian ayah dan anak dapat berjumpa kembali. Tentu banyak sekali

yang hendak diceritakan maka silahkan saja. Akupun hendak bicara dengan nona ini….”

Tiba2 ia berhenti tetapi menggunakan ilmu Menyusup-suara, melanjutkan bicara kepada

kedua ayah dau puterinya itu, “Kalau bicara disini, kurasa kurang leluasa. Kalau musuh

menyerang, kukuatir kalian tentu sukar menghindar.”

“Terima kasih saudara Ih,” Tiba2 Siangkwan Ko menghaturkan terima kasih lalu

memimpin Siangkwan Wan-ceng menuju kesudut.

Pengemis sakti Cong To tertawa dingin. Ia mengambil buli2 araknya dan meneguk dua

kali.

Ih Thian-heng berpaling kearah pengemis itu, tertawa, “Apakah saudara Cong mencurigai

aku mengadu domba saudara dengan saudara Siang-kwan?”

“Hm, mulut anjing tentu tak dapat tumbuh gading gajah,” sahut Cong To.

Berobahlah seketika wajah Ih Thian-heng, “Dengan baik2 aku bicara kepada saudara,

mengapa saudara menghina begitu? Apakah saudara kira akan takut kepadamu?”

“Memang bicaraku kasar,” sahut Cong To,” kalau engkau tak suka dengar, jangan bicara

lagi dengan aku.”

“Ih Thian-heng,” tiba2 dara baju ungu itu berseru,” apakah perjanjian kita masih

berlaku?”

Ih Thian-heng tertawa, “Aku memang hendak bicara penting dengan nona.”

“Bicaralah!”

“Kecerdasan nona, aku sangat mengagumi,” kata Ih Thian-heng,” tetapi bahwa dalam

makam ini ternyata terdapat penghuninya, adakah nona sudah menduga hal itu?”

“Sebelumnya memang tak tahu,” sahut dara baju ungu.

“Nah. begitulah.” kata Ih Thian-heng, “kepandaian dari pencipta makam ini, bukan saja

jauh diatas kepandaianku, tetapipun juga lebih tinggi dari nona.”

“Kalau dinilai dari bangunan yang diciptakan ini, memang benar begitu,” kata dara baju

ungu.

“Kalau nona mempunyai anggapan begitu, itu memang benar,” kata Ih Thiang heng pula.

“Apakah engkau bermaksud hendak menasehati aku supaya bekerja-sama dengan engkau

untuk membuka rahasia makam ini?” tanya si dara.

Ih Thian-heng berpaling memandang kepada rombongan jago2 silat yang berdiri

dibelakangnya, tertawa, “Tokoh2 silat yang berkumpul disini, kebanyakan satu sama lain

tentu mempunyai dendam permusuhan. Tetapi pada saat dan tempat seperti sekarang ini,

mereka rela untuk melepaskan urusan ptribadi masing2. Dan mereka mau bersatu padu

untuk menbungkar rahasia makam ini, menghadapi orang gang menciptakan makam ini.

Apabila nona mau bekerja sama dengan aku, aku siorang she Ih ini tentu yakin akan

menang.”

“Jika sudah dapat menciptakan bangunan sehebat ini dengan perlengkapan pekakas2

rahasia yang sedemikian hebat, orang itu tentu sudah mempunyai rencana yang

sempurna….” tiba2 dara baju ungu itu berhenti, melangkah dua tindak kemuka lalu

menyandarkan diri pada tubuh nenek Bwe, ujarnya pulA,, “Menilik keadaan saat ini,

betapa hebat orang itu menyediakan alat dan orang, tetapi tentu tak mampu mengadu

kekerasan dengan kita. Dalam ilmu kepandaian silat saja, merekapun tentu tak dapat

mengimbangi kita. Tetapi apabila sebelumnya mereka memang sudah mengatur berbagai

alat pekakas rahasia, persoalannya tentu lain lagi. Taruh kata dia kalah, kitapun tentu tak

dapat keluar dari tempat ini atau berarti kita akan mati bersama-sama lawan.”

Ih Thian-heng tertegun, serunya, “Ah, aku tak memikirkan sampai langkah itu.”

“Karena itu,” kata dara baju ungu pula, “apa bila kalian hendak mengharapkan

kesempatan hidup, kalian harus mendengarkan perintahku.”

Kata2 itu diucapkan dengan nyaring sehingga sekalian orang dapat mendengar jelas.

Ih Thian heng tersenyum, serunya, “Ah, nona terlalu menganggap diri nona kelewat

tinggi. Terus terang saja, dalam rombongan tokoh2 yang berada disini, siapapun tak dapat

menguasai lain orang. Maka siapapun dapat memberi saran dan pendapat bahkan

perintah. Tetapi itupun hanya terbatas pada satu soal yang sedang dihadapi. Pada lain soal

dilain saat, sudah tak berlaku lagi.”

“Kalau kalian mau mendengar perintahku, aku bersedia kerjasama. Tetapi kalau tidak

mau mendengar perintahku, lebih baik kita kerja mennurut rencana masing2 tanpa saling

mengganggu.”

Ih Thian-heng tertawa, “Apa yang kuharap

mengharap agar sebelum rahasia makam ini terbongkar, permusuhan diantara kita dengan

kita supaya dihentikan dulu.

“Baik, kami akan menjadi penonton saja,” kata dara baju ungu.

Sejenak Ih Thian-heng memandang kearah tokoh yang bertubuh pendek dan berkata pula,

“Aku masih ada sebuah permintaan lagi.”

“Bukankah engkau meminta supaya kubebaskan ketua Lembah-seribu-racun itu?” cepat

dara baju ungu menyambuti.

Ih Thian-heng mengangguk, “Entah rahasia makam ini dapat terbongkar atau tidak, tetapi

orang2 yang berada dalam makam ini ibarat anak2 yang menerjang api, tentu akan

mengalami akhir yang menyedihkan. Dan setelah rahasia makam ini terbongkar, sukar

kiranya untuk nona berada di luar garis.”

‘Tak apa,” sahut dara baju ungu, “agar kami dapat melihat kehebatan ilmu silat dari

Tionggoan….”

Habis bertata dara itu berpaling dan berkata bisik2 kepada si Pendek, “Oh ay-cu,

lepaskan ketua Lembah-seribu-racun itu!”

Oh Ay-cu atau orang she Oh yang pendek, mengiakan lalu mengangkat tangan dan

diayunkan ke punggung ketua Lembah-seribu racun. Bluk …. tubuh ketua Lembahahseribu-

racun yang kate itu segera terlempar sampai lima enam langkah kemuka.

Ih Thian-heng ulurkan tangan menyambuti lengan kiri ketua Lembah-seribu racun, seraya

berkata, “Saudara Leng….”

Tepat pada saat Ih Thian-heng berbuat begitu, tangan kanan ketua Lembah-seribu-racun

pun berayun menghantam kearah dagu Ih Thian-heng. Pukulan keras, jaraknya dekat.

Sekalian orang terkejut dan menyangka Ih Thian-heng tentu terluka. Tetapi sebagian

besar, tokoh2 itu malah mengharap, agar pukulan itu benar2 dapat melukai Ih Thianheng,

makin berat lukanya makin baik.

Ketika melihat si dara baju ungu muncul, tergetarlah hati Han Ping. Tak tahu ia

bagaimana sesungguhnya perasaan hatinya itu.

Tiba2 ia melihat ketua Lembah-seribu-racun menyerang Ih Thian-heng secara licik.

Cepat ia melesat dan menutuk siku lengan ketua Lembah-seribu-racun saat itu.

Tetapi tepat pada saat ia bergerak, tangan kiri Ih Thian hengpun sudah menangkis dengan

tangan cepat bum….Tubuh Ih Thian heng agak tergetar, ketua Lembah seribu racunpun

tersurut dua langkah. Tetapi tangan kapannya dapat dicengkeram tangan kiri lh Thian

heng keras2 sehingga tak dapat berkutik. Sekali Ih thian heng kencangkan

cengkeramannya, pucatlah wajah ketua Lembah-seribu racun itu. Namun ketua lembah

Seribu-racun itu masih berusaha untuk bersikap garang agar jangan terlihat orang.

Sejenak memandang kesekeliling, Ih Thian-hengpun tertawa, “Harap saudara2 jangan

kuaur. Sebelum saudara2 mati, tak nanti aku mendahului mati lebih dulu.”

Kata2 yang bernada sindiran itu membuat sekalian orang merah mukanya. Kemudian Ih

Thian-heng memandang Han Ping dan tertawa, “Sekalipun aku tak dapat menjadi sahabat

saudara Ji, tetapi dengan mendapat lawan seorang pemuda yang perwira seperti saudara,

akupun merasa bahagia ‘

Sahut Han Ping, “Aku tak bermaksud menolongmu. Hanya aku tak senang melihat

perbuatan orang yang menyerang secara gelap.”

Ih Thian-heng tertawa, “Oh, begitu….

Ia beralih memandang ketua Lembah seribu-racun dan berkata dengan serius, “Tetapi

saudara Ji salah terka Saudara Leng ini sama sekali bukan hendak menyerang aku dan

memang dia bukan orang yang suka melakukan penyerangan secara begitu licik. Adalah

karena dari tiga buah jalandarahnya yang tertutuk, baru dibuka dua buah oleh si Pendek

itu, maka sekalipun kaki dan tangannya dapat bergerak tetapi kesadaran pikirannya masih

belum terang. Sehingga dia melakukan serangan tadi.”

Dalam pada berkata-kata itu, Ih Thian-heng diam2 sudah kerahkan tenaga-dalam untuk

membuka jalan darah ketua Lembah-seribu- racun yang masih

tertutuk itu. Kemudian baru pelahan-lahan dilepas.

Ketua Lembah-seribu-racun mundur selangkah berdiri terlongong longong beberapa saat

lalu berpaling memandang nenek Bwe dan si Bungkuk serta si Pendek. Tiba2 wajahnya

merah padam.

“Ho, bagus orang Pendek!” serunya seraya merentang kedua lengan sehingga terdengar

suara berkerotekan dari tulang2nya, lalu maju menghampiri Oh Pendek.

Si Pendek hanya tertawa dingin, serunya, “Bagus orang pendek, kemarilah engkau!”

Ternyata ketua Lembah seribu racun itu juga orang pendek, hanya terpaut sedikit dengan

si pendek Oh. Tetapi walaupun keduanya bertubuh kate, mereka memiliki ilmusilat yang

keras.

Saat itu keduanya sudah saling berhadapan. Begitu bergerak, tentu akan hebat akibatnya.

Tiba2 Ih Thian-heng melangkah ketengah mereka dan mecegah, “Harap saudara Leng,

jangan marah dulu!” Dan ia memandang kearah si dara.

“Oh Ay-cu, mundurlah’“ seru dara baju ungu.

Dalam pada itu lari tumpukan kain bertulisan yang ngelumpruk dlantai, tiba2 dihembas

angin dingin sehingga kain2 itu terangkat naik. Dan tampaklah apa yang terdapat dibalik

kain2 itu.

Sebuah jajaran lilin, dari kecil hingga makin kebelakang makin besar. Panjang jajaran

lilin itu tak kurang dari berpuluh tombak jauhnya. Pada ujung jajaran lilin, terdapat

sebuah peti mati hitam. Dikedua samping peti mati itu tergantung dua buah lian (kain

bertulis kata berdukacita). Tetapi karena jaraknya amat jauh, sekalian orangpun tak dapat

melihat jelas.

Ih Thian-heng memandang kepada dara baju ungu dan berkata, “Sungguh suatu persiapan

yang hebat “

“Seorang yang mati, apabila dikubur ditempat semacam ini tentu akan merasa lebih

senang mati daripada hidup,” sahut si dara baju ungu.

Kemudian Ih Thian-heng memandang kearah sekalian tokoh2 silat lalu tertawa nyaring,

“Rahasia dari makam yang begitu menggemparkan dunia persilatan, segera akan

terbongkar. Pada tempat dan saat ini, kuharap saudara2 sekalian tetap menghapus

dendam permusuhan pribadi. Dan jangan melakukan rencana gelap untuk mencelakai lain

orang. Apabila terdapat orang yang bertindak begitu, dia akan dianggap sebagai musuh

kita sekalian. Setiap orang berhak membunuhnya.

Pletek…. tiba2 terdengar letupan kecil dari sebatang lilin yang pecah. Apinya muncrat

kemana-mana lalu padam.

Tetapi menyusul pun lain2 lilin meletus satu demi satu sehingga bunga api berhamburan

mememenuhi ruangan. Pada lain kejab ruangan gelap gulita. Sebagai gantinya, batang

lilin2 yang tinggi pada jajaran dibelakang sendiri, segera menyala makin terang.

Ih thian heng menghela napas, “Diluar langit masih ada langit, dibelakang orang masih

ada orang. Kepandaian orang itu benar membuat aku siorang she Ih harus mengangkat

topi.”

Buru2 dara baju ungu menukas, “Sayang ayahku belum datang kemari. Mungkin dialah

yang dapat mengimbangi kepandaian pencipta makam ini.”

Jawab Ih Thian-heng, “Dahulu dalam rapat besar di Jang-san, ayah nona telah

membantah tentang kehebatan ilmusilat Tiong goan. Kata-katanya yang tajam, sangat

menusuk telinga. Memang aku sangat berharap agar dia dapat datang kemari

menyaksikan peristiwa yang ramai ini.”

Ong Kwan tiong mendengus dingin, “Hm, jangan meremehkan kepandaian suhuku.

Apabila dia mau turun kedunia persilatan, bukan saja pencipta makam ini takkan mampu

mengelabuhi orang, pun kalian yang berada disini mungkin tak mempunyai kesempatan

untuk hadir disini.”

Mendengar omongan besar itu, Han Ping tak puas. Ia kerutkan alis hendak membantah.

Tiba2 hidungnya terbaur angin wangi. Si dara baju ungu melangkah datang. Han Ping

memandang dara itu dengan gelisah. Ia hendak membuka mulut menegurnya tetapi tak

jadi.

Tetapi ia rasakan angin berhembus dan dara baju ungu itupun melangkah kearah Ting

Ling. Ong K-wan-tiong dan nenek bwe ikut dibelakangnya.

Ting Ko cepat melangkah kemuka Ting Ling dan berseru dingin, “Mau apa kalian?”

Ih Thian-heng tertawa gelak2, “Harap saudara Ting jangan salah faham. Kupercaya nona

Siau takkan mengganggu puterimu.”

Terdengar dara baju ungu berkata dengan suara lembut, “Nona Ting, engkau terluka.”

Ting Ling menyelinap keluar dari samping ayahnya lalu menyawab, “Aku memang

menderita luka parah, mungkin tak dapat hidup sampai beberapa hari lagi”

“Tak apa,” kata dara baju ungu, “aku dapat menyembuhkan engkau. Harap kemari agar

dapat kuperiksa bagaimana lukamu itu.”

ting Ling maju menghampiri dan bertanya, “Mengapa engkau mengenakan kain

kerudung muka sutera hitam itu? Apakah takut kalau kulihat kecantikanmu yang dapat

menilaikan orang2 itu?”

Soal itu, soal wajah si dara baju ungu, memang amat menarik perhatian sekalian orang.

Setiap membayangkan betapa cantik dara itu. Tetapi tiada seorangpun yang pernah

melihatnya.

Tampak kain selubung muka dara itu bergetaran. Dan entah dari mana, tiba dari dalam

selubung muka terdengar suara bersenandung.

Makin lama makin tinggi dan lagunyapun makin sedih. Menggambarkan seorang isteri

yang lama sekali-ditinggal pergi oleh suaminya, penuh hamburan pilu, ratapan kalbu.

Suasana sedih itu membuat hati orang seperti disayat-sayat dan airmata turun berderaiderai.

Tak berapa lama nyanyian sedih itupun makin menurun rendah dan akhirnya lenyap.

Sekalian orangpun ikut tersadar dari buaian yang rawan.

Tiba2 Han Ping menggembor keras dan muntahkan segumpal darah segar. Tubuhnya

terhuyung-huyung beberapa kali baru kemudian berdiri tegak.

Ih Thian heng batuk2 dan menghela napas, “Nyanyian itu bagaikan lagu sorga, tiada

terdapat didunia, Apabila dulu2 aku mendengar lagu semacam itu, dunia persilatan

mungkin akan terhindar dari malapetaka.”

Habis berkata ia terus mengharapiri Han Ping, Melihat itu Pengemis sakti Cong To cepat

maju dua langkah, serunya, “Ih Thian-heng, apakah engkau bermaksud hendak

melanggar janji yang engkau ucapkan sendiri Sahut ih Thian heng dengan serius, “Kalau

hatiku gentar, tentulah akan kugunakan kesempatan saat ini untuk melenyapkannya….”

tiba2 ia tertawa, “Tetapi aku bukanlah manusia serendah itu….”

Pengemis sakti menukis dengan helaan napas, “Durjana dan orang budiman, memang

orang2 yang luar biasa. Aku sipengemis tua harus banyak berpikir.”

Ih Thian-heng ulurkan tangan mencengkeram lengan kanan Han Ping. Dirasakannya

darah dalam nadi pemuda itu mengalir deras sekali. Jelas pemuda itu sedang menderita

goncangan hati yang hebat. Segera Ih Thian-heng memijat keras2 urat nadi Han Ping lalu

menepuk punggung pemuda itu seraya berseru, “Dendam sakithati orangtua belum

terhimpas, kalau sampai mati tentu masih penasaran.”

Han Ping menggigil lalu pelahan-lahan membuka mata, sahutnya, “Terima kasih ia terus

menggeliat, lepaskan tangannya dari cekalan orang dan mundur dua langkah, lalu

pejamkan mata mengatur pernapasan.

Ih Thian-heng berpaling memandang kain bertulisan yang berkibar-kibar menyiak

kemudian meruntuh kebawah lagi Sinar lilin disebelah dalampun teraling pula.

“Apakah budak perempuan itu? ‘ tiba2 terdengar suara yang aneh melengking.

Sekalian orang serempak berpaling. Kiranya yang berseru itu siorang tua alis panjang

atau tabib racun. Sambil tangan kiri mencekal kera bulu kuning emas yang matanya

meram, orangtua alis panjang itu memandang lekas2 kearah Siangkwan Wan-ceng.

Melihat sikap orangtua alis panjang tampak begitu mendendam kepada putrinya.

Siangkwan Ko marah, bisiknya, “Ceng-ji, jangan takut, akan kuberi hajaran pada si tua

itu!”

“Jangan ayah,” seru Siangkwan Wan-ceng gopoh, “lo-cianpwe itu telah melepas budi

kepadaku….” ia memandang kearah sitabib alis panjang, berseru pula, “Apakah engkau

hendak menanyakan orang yang menulis resep obat itu?”

“Ya, apakah dara baju ungu itu?” seru sitabib alis panjang.

“Benar, memang dia!” sahut Siangkwan Wan-ceng.

Tabib alis panjang menengadahkan muka tertawa keras, “Bagus! Akhirnya dapat juga

bertemu!” Ia terus melangkah kearah si dara baju ungu.

“Berhenti!” cepat nenek Bwe ayunkan tongkat membentak.

“Bwe-ni. biarkan dia,” kata dara baju ungu.

Nenek Bwe menurut lalu mundur kesamping dara baju ungu. Tetapi matanya tetap tak

lepas memandang gerak gerik tabib itu. Sekali tabib itu berani berbuat yang

membahayakan diri si dara baju ungu, nenek Bwe tentu akan menghancurkannya.

Dara baju ungu menghela napas panjang, tanyanya, “Apakah maksudmu hendak mencari

aku?”

Sahut tabib alis panjang, “Seumur hidup kuabdikan diri dalam soal pengobatan. Dan aku

bangga kepada diriku, tetapi tak tahu kalau didunia ini masih terdapat orang yang

melebihi kepandaianku.”

“Apakah hanya begitu keperluanmu?” tanya si dara baju ungu.

“Baru2 ini aku telah melihat secarik resep. Obat yang ditulis pada resep itu benar2

membuat aku kagum dan tunduk benar2,” kata tabib alis panjang.

Kemudian ia berpaling kearah Han Ping, serunya, “Resep itu sayang telah dihancurkan

oleh dia. Aku ingin sekali bertemu muka dengan pembuat resep itu.”’

Dara baju ungu menghela napas, “Ah, usiamu sudah begitu tua, mengapa masih

mengandung pikiran untuk memburu kebanggaan?”

tetapi tanpa menghiraukan ucapan si dara, tabib alis panjang itu berseru lantang, “Apakah

engkau yang menulis resep itu?’

“Kalau ya, lalu bagaimana?”

“Aku tak percaya!” seru tabib alis panjang, “sepanjang hidupku aku telah mengumpulkan

banyak sekali resep obat tetapi tak pernah kulihat resep seperti itu ….”

“Kalau benar aku yang menulis resep itu, lalu engkau hendak mengapa?”

“Kalau engkau yang menulis engkau tentu masih ingat isi resep itu.”

“Apakah engkau masih ingat ramuan obat pada resep itu?” tanya si dara.

“Walaupun tak dapat mengingat seluruhnya tetapi dapat juga mengingat enam tujuh

bagian,” kata tabib alis panjang.

Tiba2 dara baju ungu itu mengucapkan beberapa jenis obat, “I-Long-ong, Pi-he, Hong

hoa, Liong yan-hiang…. seluruhnya dia mengatakan duabelas jenis ramuan obat.

Mendengar itu barulah tabib alis panjang mengangguk, “Tepat semua Kalau begitu tak

dapat diragukan lagi, resep itu memang engkau yang menulis ia berhenti sejenak

tersenyum lalu bertanya pula, “Berapakah usiamu tahun ini?”

“Buat apa engkau tanyakan umurku? Aku berumur 19 tahun,” sahut si dara.

Tiba2 wajah tabib alis panjang itu berobah pucat, serunya, “Aku sudah hidup sampai

berpuluh puluh tahun tetapi ternyata tak dapat melebihi kepandaianmu seorang anak

perempuan yang bara berumur 19 tahun. Apakah orang semacam aku ini masih ada muka

untuk hidup didinia….?”

Habis berkata tiba2 tabib alis panjang itu benturkan kepalanya ke tanah.

Saat itu sekalian orang masih termangu dari buaian nyanyian sedih si dara. Dan

merekapun tak menyangka sama sekali bahwa karena selembar resep obat saja, orang tua

alis panjang itu telah nekad membenturkan kepalanya ketanah.

Brak…. darah muncrat keempat penjuru ketika batok kepala tabib alis panjang itu pecah

berhamburan ditanah….

Empat orang tokoh silat hendak menolongnya tetapi sudah tak keburu.

“Ah, kasihan orangtua itu…. “ dara baju ungu menghela napas panjang.

Sambil berjongkok untuk mengangkat mayat tabib itu, Ih Thian-heng berkata seorang

diri, “Ah, lo cianpwe terlalu terburu2 meninggal dunia. Sebenarnya masih banyak

peristiwa ramai yang lo cianpwe dapat saksikan….”

Sambil memondong mayat ia melangkah kearah jajaran kain lian (bertulis). Kira2 dua

tiga langkah dari kain lian itu, ia meniup untuk menyiak kain2 itu lalu melangkah maju.

Setelah melawati meja, ia berpaling dan berseru kepada sekalian orang, “Aku yang akan

menjadi pelopor jalan” berseru pengemis Cong To, “Baik dan Jahat itu hanya sepercik

lintasan pikiran. Harap saudara Ih tunggu dulu aku si pengemis tua.

Pengemis-sakti itu apungkan tubuh dan pada lain saat ia sudah berada disamping Ih

thian-heng, serunya “Mari kita jalan bersama!”

“Tigapuluh tahun hidup dalam dunia persilatan baru pertama kali ini aku merasakan sikap

yang ramah dari saudara Cong.”

Sahut Cong To dengan nada bersungguh, “Sepanjang hidupku, entah sudah berapa

banyak jiwa manusia yang kubunuh. Tetapi tidak seorang dari mereka yang kukenang.

Satu satunya peristiwa yang tak pernah Kulupakan dalam hidupku ….”

“Bukankah yang ada hubungannya dengan sumoay saudara?” tukas Ih Thian-heng.

“Kata saudara Ih, walaupun tidak tepat tetapipun tak jauh” kata pengemis Cong To,

“peristiwa yang selalu menggandul pada pikiranku yalah karena selama ini aku belum

dapat mengambil lencana emas lambang pimpinan ketua….”

Ih Thian-heng merogoh kedalam baju, katanya, “Aku dapat menyerahkan lencana emas

itu kepada saudara. Sejak ini, saudara Cong tak perlu tunduk pada perintah sumoay

saudara.”Ih menyerahkan sebuah lencana emas kepada Cong To.

Cong To melihat lencana emas itu memang lencana dari suhunya yang hilang. Ia

terkesiap.

Peraturan dari perguruan Kim pay bun yalah harus menghormati lencana emas lambang

perguruan. Setiap murid yang melihat lencana emas itu harus berlutut memberi hormat

seperti berhadapan dengan suhunya.

Sejenak tertegun, Cong To terus berlutut memberi hormat dengan khidmat seraya

menyambuti dengan kedua tangaanya.

berkata pula Ih Thian-beng, “Kalau aku beruntung dapat keluar dari makam ini dengan

masih hidup, aku bersedia akan membawa saudara ber temu dengan sumoay saudara.

Cong To menghela napas, “Ah. peristiwa lampau seperti impian. Asal sudah

mendapatkan lencana-emas itu kembali, aku tak ingin bertemu muka lagi dengannya.”

Ih Thian heng tertawa meloroh, “Walaupun, aku sendiri tak melakukan kebaikan tetapi

anak buahku kebanyakan gemar melakukan kejahatan. Sumoay saudara telah

kupenjarakan dalam sebuah gua. Apabila aku tak dapat keluar dari makam ini, sumoay

saudarapun tentu tak mungkin dapat keluar dari guha itu. Dan itu memang sudah layak

sebagai akibat dari perbuatannya.

Sambil berkata Ih Thian hengpun terus melangkah kemuka Cong To mengikuti

dibelakangnya. ia kerahkan tenaga dalam bersiap siap. Setelah meragu sejenak, sekalian

orangpun segera menyusul. Hanya orang Lam hay-bun yang tetap tinggal ditempatnya.

Begitu pula Han Ping yang masih berada disitu karena sedang melakukan penyaluran

napas. Kim loji berdiri didamping pemuda itu dengan penuh perhatian. Hendak bertanya

bagaimana keadaan pemuda itu tetapi akhirnya tak jadi karena kuatir mengganggunya.

Tampak dada pemuda itu berkembang kempis, wajahnya tetap pucat lesi.

“Heran, sungguh heran sekali. Orang bertanya mengapa dara itu terus menyanyikan lagu

sesedih itu?” gumam Kim loji.

Tiba2 nenek Bwe gentakkan tongkat bambunya, berseru, “Hai apa yang engkau sebut

mengherankan itu!”

“Kumaksudkan orang yang bertingkah mengherankan,” seru Kim loji.

Nenek Bwe berseru dingin, “Orang semacam engkau, juga berani…. …. “

Dara baju ungu menghela napas, “Sudahlah Bwe Nio, jangan menghiraukannya.”

Kim loji masih mendengus geram, “Walaupun aku….”

Tiba2 Han Ping membuka mata dan menghela napas panjang, “Paman Kim, engkaupun

harap jangan bicara lagi!”

Kim loji dan nenek Bwepun diam. Tetapi mata mereka masih saling berpandang. Yang

seorang setiap saat bersedia berkorban jiwa untuk Han Ping. Dan yang satu seorang inang

pengasih yang amat taat dan sayang kepada si dara baju ungu. Keduanya sama2 mentaati

perintah momongannya.

Pelahan-lahan dara baju ungu melangkah kemuka Han Ping lalu berputar jalan balik

kembali. Kemudian terlonjong longong memandang pemuda itu. Rupanya hati dara itu

tegang sekali. Sinar matanya bertamburan seperti hendak menumpah keluar dari balik

kain kerudungnya. Slnar mata yang ipenuh dengan ribuan kata.

“Nak, apa yang hendak engkau katakan, bilanglah, tak perlu takut,” kata nenek Bwe

dengan menghela napas.

Dara baju ungu mengangguk. Dilihatnya Han Ping memandang dirinya dengan mata

merentang lebar. Dara itu menghela napas, ujarnya, “Mengapa hatimu masih mengenang

aku? Apabila engkau anggap aku sudah mati, alangkah baiknya.”

Han Ping tetap menutup mulut rapat2. Tetapi kerut wajahnya makin tegang.

Kata si dara pula, “Kalau hatimu melupakan aku, tak mungkin tadi engkau sampai begitu

tegang sehingga…. sehingga…. ah!”’

Tiba2 dara itu beralih memandang Kim loji. katanya pula, “Nyanyianku tadi sama sekali

bukan hendak melukai hatinya. Hanya dalam hatiku memang penuh dengan hal yang

duka tetapi tak dapat kutumpahkan dengan kata2. Maka terpaksa kucurahkan melalui

nyanyian itu.”

Kim loji terlongong, katanya, “Nona amat cerdas sekali, mengapa tak dapat

menumpahkan kesedihan yang menghuni dihati nona?”

Dara baju ungu itu tertawa, “Ada kalanya aku mengharap diriku ini seorang tolol saja.

Seorang yang tolol, tentu lebih tenang pikirannya dan lebih sedikit pula kedukaan

hatinya.”

Tiba2 Han Ping menyelutuk, “Kalau engkau menganggap aku sudah mati, kesedihan

hatimu mungkin tentu banyak berkurang….”

Tampak pemuda itu dengan paksakan diri baru dapat mengucap kata2 itu.

Kala dara baju ungu, “Ada kalanya aku benar2 mengharap engkau meninggal dalam

makam yang kubangun dengan tanganku sendiri. Tetapi…. tetapi nasib mempermainkan

orang dan membuat aku sering berjumpa dengan engkau.”

Dalam mengucapkan kata2 itu, tampaknya si dara mengerahkan ketabahan hatinya.

Sesungguhnya kedua muda mudi itu masing2 dicengkam oleh getar2 Asmara. Namun

selama itu, mereka hanya menyimpan dalam hati tak mau mengutarakan.

Tetapi kini. karena menyadari bahwa hidup mereka sudah takkan lama lagi, kesempatan

untuk berjumpapun tak banyak, barulah mereka tak tahan dan menumpahkannya.

Nenek Bwe memberi isyarat agar Lam-hay-bun menyingkir. Tiba2 nenek itu menegur

Kim Loji yang masih tak pergi, “Hai, mengapa engkau tak mau pergi?”

Kim loji sejenak memandang Han Ping lalu memandang dara baju ungu. Dengan

perasaan yang campur aduk, diapun terus ayunkan langkah, menuju ke sudut ruang.

Tetapi beberapa saat kemudian ia tak tahan keinginan hatinya dan berpaling lagi.

“Hai, lihat apa!” bentak neneK Bwe. Tetapi nenek itu sendiripun tak henti-hentinya

memperhatikan keadaan si dara baju ungu.

Kim lojin berputar tubuh dan menghadap tembok. Tetapi berulang kali ia tak tahan dan

berpaling kebelakang.

Demikianlah besarnya rasa sayang nenek Bwe kepada si dara baju ungu dan rasa sayang

Kim loji kepada Han Ping.

Saat itu tinggallah Han Ping dan si dara baju ungu saling berhadapan dan beradu

pandang. Tetapi kedua hanya tegak seperti patung yang tak dapat bicara.

Tiba2 nenek Bwe berseru keras, “Hai, tahukah kalian tentang pepatah kuna yang

mengatakan” Sedetik itu berharga seribu mas? Pepatah itu hendak mengajarkan kepada

orang betapa berharganya sang tempo. Walaupun tak seluruhnya tetapi sebagaian besar

pepatah itu memang tepat sekali!”

Sekalian anak buah Lam-hay-bun heran dan saling berpandangan. Mereka tak tahu apa

yang dimaksudkan nenek Bwe. Tetapi mereka terpaksa menyambut, “Ya, tepat, tepat

sekali….”

Dara baju ungu menghela napas, ujarnya kepada Han Ping, “Ah, Bwe Nio menganjurkan

kita bicara?”

“Lalu mengapa engkau tak bicara?” sahut Han Ping.

“Bicara apa….?” kata si dara. “Bicara apa….?” kata Han Ping pula.

“Pada hari itu aku bertemu Ih Thian-heng. Dia mengatakan kalau engkau sudah

meninggal,” kata dara baju ungu.

Han Ping menghela napas, “Ah, memang ada orang, walaupun mati tetapi masih seperti

hidup. Tetapipun ada orang yang walaupun masih hidup tetapi seperti mati….”

“Usiamu masih muda.” kata si dara, “tetapi setiap orang persilatan yang mendengar

namamu Ji Han Ping itu, kalau tidak memuji dalam hati, tentu diam2 mengakui bahwa

engkau seorang tunas muda yang amat cemerlang. Walaupun sampai seratus tahun lagi

namamu tetap akan diucapkan orang. Dengan demikian walaupun engkau sudah

meninggal, tetapi masih hidup. Mengapa engkau mengatakan walaupun masih hidup

tetapi sudah seperti mati?”

Han Ping terdiam beberapa jenak, lalu berkata pelahan, “Engkau …. engkau masakan tak

tahu diriku?”

“Aku…. aku bagaimana tak mengetahui engkau,” sahut si dara.

Keduanya lalu menundukkan kepala. Walaupun tidak mengucap apa2 lagi, tetapi dalam

hati kedua remaja iu sudah saling bersentuhan rasa, saling merasakan suatu pancaran

Asmara murni yang mengalir dalam hati masing2.

Saat itu mereka rasakan suatu saat yang paling bahagia dalam hidupnya….

Asmara terpendam.

“Ada orang yang menggunakan kata2 untuk menguturakan maksud hatinya. Tetapi

menurut yang dilalukan kedua remaja itu, ternyata bahasa yang paling halus dan paling

menyentuh perasaan hati, bahasa yang paling berharga dan paling indah, adalah bahasa

hati. bahasa yang tak diucapkan dengan mulut melainkan dengan pancaran mata. Dan

getar2 alunan halus dari Asmara terpendam….diam2 Kim loji yang menyaksikan

pertemuan Kedua remaja itu, mendapat kesan yang mendalam.

Tengah dia melamun, tiba2 nenek Bwe berseru melengking, “Hilang dan tumbuh, ada

dan tiada, dari manakah datangnya?”

Han Ping si dara baju ungu terkesiap dan serempak berpaling.” Dibawah kain lian, tegak

seorang dara baju biru yakni Siangkwan Wan ceng.

Walaupun dara itu berusaha hendak menenangkan hatinya, tetapi kedua kakinya yang

gemetar keras itu tak dapat menyembunyikan lagi luapan hatinya yang bergoncang keras.

Dara baju ungu menghela napas pelahan lalu menghadap kemuka lagi.

“Huh, anak perempuan yang tak tahu diri,” teriak nenek Bwe. Tetapi Siangkwan Wanceng

tak menghiraukannya. Pandang matanya makin kabur dan kabur, seperti terbungkus

kabut.

“Nona Siangkwan….” baru Han Ping menegur, tiba2 dari belakang tumpukan kain lian

itu terdengar suara bentakan keras. Jelas berasal dari rombongan tokoh2 yang masuk

kedalam tadi. Mereka tentu menghadapi kesulitan.

Tetapi kesemuanya itu tak dihiraukan Siangkwan Wan ceng. Dunia ini bagi Siangkwan

Wan-ceng sudah tak dirasakan apa2 lagi. Ia tak mengacuhkan segala apa.

Oleh karena nona itu berdiri mengalingi sinar lilin dibelakang deretan kain2 bertulisan

itu. maka orang yang berada diruang muka, tak dapat melihat apa yang terjadi diruang

dalam.

Tiba2 dara baju ungu menghela napas, serunya kepada Han Ping, “Dia tentu bersikap

baik sekali kepadamu. Selama beberapa hari ini berada bersama-sama, apakah kalian

tidak gembira?”

Kata Han Ping, “Ah, dia seorang nona yang baik….”

“Kalau begitu mengapa engkau tak memanggilnya kemari.” kata si dara baju ungu, “dia

telah minum racun buatan perguruan Lam-hay-bun yang bekerjanya pelahan. Dia hanya

dapat hidup selama satu bulan saja…. “

“Apa?” Han Ping terkejut.

“Dia hanya dapat hidup sebulan lagi,” kata dara baju ungu. “Oleh karena itu dia sangat

menghargakan sekali waktu yang tak berapa lama itu….”

“O, kiranya begitu,” seru Han Ping.

Kembali dari ruargan dibelakang jajaran kain lian itu terdengar suara tertawa panjang dan

bentakan keras. Dan lilin yang menerangi tempat itupun tiba2 padam.

Seiring dengan suasana gelap, tiba2 hidung Han Ping tebaur bau yang harum. Dara baju

ungu menghampirinya dan pada lain saat terdengarlah bisikan lembut ditelingannya.

Sedemikian dekat suara itu sehingga hampir menyentuh pipi Han Ping, “Dalam beberapa

waktu terakhir ini, aku telah membohongi diriku sendiri. Aku telah mengubur engkau

ditanah pegunungan itu. Pun telah kubakar banyak sekali kertas-uang untukmu. Dan

kubangun sebuah makam yang indah bagimu agar engkau dapat hidup bahagia di alam

baka…. .”

Han Ping tertawa lawar . “Sayang orang yang engkau kubur itu bukan aku…. tetapi orang

itu benar2 mempunyai rejeki besar….

“Aku mengharuskan diri untuk mempercayai bahwa yang kukubur itu adalah engkau.

Walau pun kutahu engkau masih hidup tetapi aku harus berusaha mengelabuhi diriku

sendiri….”

“Mengapa?” tanya Han Ping.

“Karena selama ini belum pernah ada orang orang yang bersikap begitu dingin

kepadaku.”

Han Ping tak menyahut melainkan dalam hati berkata, “Ah, kapankah aku bersikap

dingin kepadamu….”

Kata2 itu diucapkan dalam hati tetapi entah bagaimana si dara baju ungu rupanya seperti

mengerti. Segera ia berkata pula, “Ah, aku salah omong. Aku hendak mengatakan bahwa

selama ini tiada seorangpun yang tak mengalah kepadaku. Tetapi engkau tak mau

mengalah kepadaku….”

Han Ping tertawa, “Mengapa aku harus mengalah kepadamu?”

Tiba2 dara baju ungu itu ulurkan tangan dan berbisik, “Aku tak minta engkau mengalah

Seorang anak perempuan memang harus bersikap lemah lembut. Ai, aku memang terlalu

manja.”

Pada saat tangan si dara bersentuhan dengan tangan Han Ping, seketika jantung Han Ping

barguncang keras sehingga ia menarik diri kebelakang.

Dara itupun perlahan-lahan menarik kembali tangannya lalu berbisik, “Sekarang aku baru

menyadari bahwa betapa hebat dan luar biasa kecerdasan dan bakat yang dimiliki

seseorang, namun akhirnya sukar juga untuk menentang kodrat alam. Lihatlah, peristiwa2

pada waktu lampau, betapapun orang dapat mengerjakan usaha2 besar, namun tiada

seorangpun yang mampu untuk memutar balik jalannya rembulan dan matahari. Dan tak

mungkin pula dapat mengembalikan tempo yang telah lalu. Walaupun perjumpaan kita

ini belum terlalu terlambat, tetapi ruangan ini tak dapat memuat dua orang yang suka

membawa kemauannya sendiri. Yang lampau biarlah berlalu, biarlah seperti sang tempo

yang takkan dapat kembali lagi….”

Berkata Han Ping dengan nada bersungguh, “Apa yang nona katakan memang benar.

Aku masih menyandang dendam sakithati orangtuaku yang belum terhimpas. Saat ini

musuhku berada disini. Kami tentu akan menghadapi suatu pertempuran maut. Dan siapa

yang akan menang masih sukar diketahui. Apa yang akan terjadi dihari depan masih

belum pasti, kuharap nona suka menjaga diri baik2. Nah, akupun hendak mohon diri….”

Habis berkata Han Ping terus ayunkan langkah kedepan.

Tunggu,” seru dara baju ungu. Han Ping berhenti lalu berpaling, “Adakah nona masih

hendak memberi pesan lagi?”

“Nasib akan menentukan orang. Dunia ini penuh dengan orang yang ingin mancari nasib

dan ingin melepaskan nasib. Inilah dua butir pil penawar racun. Berikanlah kepada nona

Siangkwan itu. Kuberinya minum racun karena aku cemburu dan iri hati. Hendak

kusuruh dia merasakan derita siksaan yang hebat sebelum mati. Sekarang berikanlah pil

itu kepadanya. Agar dia tetap hidup dengan penderitaan kehidupannya.”

Sambil menyambuti pil, Han Ping berkata, “Ucapan nona penuh dengan ujar2 yang

bernilai tinggi sehingga orang harus mengcamkan benar2.”

“Lebih baik engkau jangan terlalu mengerti, lekas pergilah,” kata si dara baju ungu.

Han Pingpun segera lanjutkan langkah.

Siangkwau Wan ceng masih berdiri diam dibelakang jajaran kain lian itu. Ia terlongonglongong

seperti patung. Ketika Hati Ping datang, nona itupun menyonsongnya,

“Orangtua alis panjang itu telah menolong jiwamu, tetapi dia yang mati lebih dulu “

“Hendak kuminta jenazah tabib itu dari Ih Thian-heng,” kata Han Ping, “apabila kelak

aku dapat keluar dari makam ini, tentu akan kubangun sebuah makam untuknya.”

“Dia seorang sakti yang menyembunyikan diri dipegunungan sepi,” kata Siangkwan

Wan-ceng, “karena hendak menyertai engkau masuk kedalam kancah pergolakan dendam

disini, dan berakhir dengan kehilangan jiwa “

“Engkau telah memberiku minum racun, kebaikanmu lebih besar dari tabib itu,” kata Han

Ping.

“Tetapi aku mempunyai pamrih agar selalu dapat bersama engkau. Sebaliknya tabib itu

tak ada pamrih apa2. Bagaimana engkau mengatakan kebaikanku melebihi

kebaikannya?” bantah si nona.

Sesaat Han Ping tak dapat menyelami kata2 si nona. Perlahan lahan ia mengangsurkan

pil, “Nona Siau pesan kepadaku supaya menyerahkan pil penawar racun ini kepadamu.”

“Apakah dia menghendaki aku supaya mengalami penderitaan hidup selama beberapa

tahun lagi?”

“Dia memang mengatakan begitu,” kata Han Ping, “tetapi aku tak mengerti maksudnya.”

Siangkwan Wan-ceng menghela napas, ujarnya, “Tak perlu memikirkan hal itu,” katanya,

“engkau harus menyapu semua keruwetan pikiran dan tumpahkan seluruh perhatian

untuk membalas dendam ayahbundamu. Ih Thian heng bukan seorang tokoh biasa.

Dalam pertempuran nanti, sukar ditentukan siapa yang akan menang….”

Berhenti sejenak ia melanjutkan pula, “lekas pergilah, jangan memikirkan budak setan

dari Lam-hay- bun itu lagi. Karena hal itu akan menyebabkan engkau kesengsam dengan

kecantikannya. Suatu hal yang akan menyebabkan engkau lengah dalam kewaspadaan

terhadap musuh.”

Han Ping terdiam sejenak, lalu mengucapkan terima kasih dan terus melangkah ke muka.

Diam2 ia telah merenungkan ucapan Siangkwan Wan-ceng. Memang sejak berhadapan

muka dengan si dara baju ungu, pikirannya selalu terbayang akan wajahnya yang cantik

dan senyumnya yang mengikat suksma. Kekerasan hati untuk membalas dendam

sakithati orangtuanya seolah-olah terpudar oleh bayangan si dara jelita itu. Beberapa

patah kata Siangkwan Wan-ceng itu telah menyadarkan hatinya.

Jalan terowongan itu gelap sekali dan amat sunyi pula. Seolah olah orang2 yang masuk

kesitu tadi, hilang lenyap ditelan suatu tenaga gaib.

Han Ping berhenti dan diam2 menyalurkan tenaga-dalam, Kegelapan suasana yang

mencengkam aneh itu seolah-olah membawa firasat akan sesuatu yang mengejutkan.

Dalam suasana yang seperti orang, indera perasaan orangpun makin bertambah tajam.

Dalam waktu akhir2 ini, bukan saja tenaga-dalam Han Ping telah mencapai kemajuan

pesat, pun pengertiannya tentu ilmu bernapas menurut ajaran kitab Tat-mo ih-kin-keng

bertambah maju. Dua kali bernapas, ia sudah dapat menjernihkan pikiran dan

mempertajam kelima inderanya. Secepat itu pula ia dapat mendegarkan suara napas dari

tokoh2 yang berada disitu.

Han Ping melangkah maju lagi, langkah kakinya tangkas sekali, seringan kapas jatuh

ketanah, sama sekali tak mengeluarkan suara apa2. Dan indera penglihatannyapun

bertambah tajam. Dilihatnya para tokoh2 tadi tengah tegak berdiri bersiap-siap2, seperti

menunggu sesuatu.

Han Ping melintasi mereka terus menuju kesamping Ih Thian-heng. Tiba2 Ih Thian heng

ulurkan tangan kiri; Harap saudara Ji, jangan buru2 masuk.”

“Mengapa?” tanya Han Ping agak kurang puas.

Ih Tbian heng tersenyum, “Pemilik makam sudah mengeluarkan pernyataan, suruh kita

menunggu dulu “

Han Ping mendengus, “Biasanya engkau angkuh sekali, heran mengapa sekarang engkau

mau menurut kata orang?”

“Aku benat2 kagum kepada pemilik makam ini,” kata Ih thian-heng, “kupercaya dia tentu

takkan mengelabuhi secara licik….

Dalam pada itu tiba2 terdengar ngiang suara yang halus tetapi cukup jelas, “Sepeminum

teh lamanya lagi, pintu Seng si bun akan terbuka dayang2 cantik akan menyambut dan

melayani para tetamu….”

Berhenti sejenak, suara lembut itu berkata pula, “Sungguh tak kusangka kalau tuan2

datang begitu cepat. Tetapi kaum persilatan Tiong goan tak pernah kehabisan orang sakti.

Karena salah menafsirkan kekuatan saudara sehingga tak sempat mengadakan

penyambutan. Harap dimaafkan.”

Han Ping kerutkan alis, berseru, “Siapakah orang itu?”

“Menilik nada bicaranya, tentulah pemilik makam ini,” kata Ih Thian-heng.

Han Ping tertawa nyaring, “Apakah kita begini banyak orang harus mendengar saja

omongannya?”

“Kegagahan saudara Ji, membuat aku kagum,” kata Ih Thian-heng” kalau kita dapat

menempur pemilik makam, hanya tinggal pertempuran kita berdua. Apabila engkau dapat

mengalahkan aku. dengan mudah engkau pasti akan mendapat kehormatan sebagai

pemimpin dunia persilatan….”

Terdengar beberapa kali tertawa dingin dan dengus menggeram, “Mungkin tak begitu.”

Ih Thian-heng tertawa tawar, serunya, “Harap saudara jangan percaya omonganku. Tetapi

soal itu memang aku tak dapat berbuat apa2. Tetapi aku teringat akan suatu hal yang

terpaksa harus kuberitahukan lebih dulu. Siapa yang dapat menghadapi Pedang-terbang

dialah yang mem ilmu pedang terbang itu.”

Ilmu pedang-terbang itu, bukan saja termasuk ilmu pedang yang paling hebat, pun dalam

kalangan ilmu kepandaian dunia persilatan, jarang sekali orang yang memilikinya.

Sekalian tokoh2 itu terdiam.

Ih Thian-heng tertawa dan berkata pula, “Tetapi pada saat ini diantara kita, terdapat

seorang yang memiliki ilmu kepandaian itu. Dia bukan lain seorang pemuda yang masih

muda belia yalah Ji Han Ping….”

“Perlu kuceritakan lagi,” kata Ih Thian-heng pula, “bahwa pada pertama bertemu dengan

saudara Ji itu bukan aku menyombongkan diri, tetapi memang dia jauh sekali tingkatnya

dengan aku. Tetapi setiap kali bertempur dengan dia, dia tentu memperoleh kemajuan

yang pesat sekali. Belum sampai setengah tahun, dia sudah dapat mengimbangi

kepandaianku. Hal yang tak wajar dalam cara meyakinkan ilmusilat itu, benar2 membuat

orang….”

Tiba2 terdengar gelaran keras sehingga ucapan Ih Thian heng terputus. Dua buah lentera

berayun keluar.

Dan sebuah suara yang parau, segera meluncur, “’Pintu Seng-si-bun telah kubuka,

silahkan para tetamu masuk. Sebelum masuk, harap saudara2 tahu akan dua buah

larangan. Para jelita yang menyambut tetamu itu, dara2 yang luar biasa cantiknya. Tetapi

mereka tak mengenakan pakaian yang dapat mencelakai suadara. Apabila saudara2 yakin

takkan terpengaruh oleh kecantikan dara2 itu, silahkan masuk, tetapi kalau hati saudara

tak kuat dan tersengsam dengan bidadari2 itu, silahkan pilih saja yang mana dan ajaklah

bersenang-senang dalam kamar sampai puas. Ha, ha…. ha, ha, ha”

Setelah tertawa, orang itu berseru pula, “Tetapi janganlah sekali kali saudara mencelakai

mereka.

Apabila ada seorang saja yang melanggar pantangan itu, seluruh rombongan akan

kuhancurkan.

Dan akupun tak mau lagi bertemu muka dengan saudara2 Segera akan kubuka alat

rahasia dan melepaskan ratusan ribu tawon beracun, tiga ribu ular berbisa, kupadamkan

penerangan dalam ruangan ini agar saudara menderita serangan tawon dan ular beracun.

Betapapun kesaktian saudara, tetapi dalam tempat sepanjang sepuluh tombak ini dan

ditempat yang gelap, tak mungkin saudara dapat menghindarkan diri dari serangan

binatang2 itu. Inilah larangan yang pertama.

Harap saudara suka mematuhi, agar jangan terjadi hal yang tak diinginkan,”

ih Thian-heng berpaling kearah rombongan tokoh2, katanya, “Ular tanpa Kepala tentu tak

dapat berjalan. Burung tanpa sayap tentu tak dapat terbang. Baiklah kita mengangkat

seorang pemimpin rombongan untuk menjawab tuan rumah. Silahkan saudara menunjuk

siapa yang layak menjadi wakil rombongan ini.”

Sambil mengambil buli2 arak dan meneguknya Pengemis-sakti Coag To berkata,

“Menurut pandangan pengemis tua, engkaulah yang paling tepat menjadi pemimpin

rombongan kita.”

“Ah, tetapi aku kuatir tak dapat memenuhi harapan saudara2,” kata Ih Thian-heng.

Han Ping mendengus, “ Ih Thian- heng, jangan lupa bahwa kita masih mempunyai

hutang piutang darah yang belum diselesaikan….

Ih Thian-heng tertawa, “Ditempat langit dan bumi buntu semua seperti ini, masakan

engkau takut aku akan melarikan diri.”

“Jembatan kembali pada jembatan, jalanpun kembali pada jalan,” kata Cong To, “kecuali

Ih Thian-heng rasanya tiada orang yang lebih sesuai lagi.

Tiba2 suara parau itu terdengar berseru lagi, “Setelah melalui ruangan bunga sepanjang

sepuluh tombak. Saudara2 akan berhadapan dengan pemandangan luar biasa yang belum

pernah saudara jumpahi. Benda aneh, permata2 yang indah tiada taranya. Walaupun

benda berharga dan permata itu memang sedianya hendak kuhaturkan kepada saudara2

tetapi kuminta harus diambil dengan cara yang terang, jangan secara menggelap. Setelah

aku bertemu muka dengan saudara2, mungkin diantara saudara2 terdapat orang yang

bakal memiliki harta karun itu bila ada orang yang berani mempunyai hati jahat hendak

mengambilnya, saudara2 semua akan menerima hukuman yang paling ngeri dan

kejam….”

Dengan girang Ih Thian heng berseru nyaring, “Hukuman ngeri yang bagaimana,

dapatkah memberitahu dulu agar Kami dapat bersiap siap?”

Terdengar tertawa panjang, “Akan kugerakkan pekakas rahasia, untuk mengurung

saudara2 dalam sebuah kamar batu. Kemudian akan kuhamburkan asap beracun agar

kesadaran dan semangat saudara2 hilang dan saling bunuh membunuh sendiri,”

“Cara itu memang paling ngeri dan akupun percaya kalau engkau memiliki asap beracun

semacam itu. Baiklah, kami setuju untuk mentaati kedua pantangan itu. Apabila ada

angauta rombongan kami yang melanggar, tak usah engkau turun tangan, kami akan

dapat menindaknya sendiri!”

“Bagus, kita anggap saudara2 sudah setuju mentaati perjanjian itu,” kata suara parau itu

pula.

Seiring dengan lenyapnya suara parau itu tiba2 ujung peti mati besar yang berada

didalam ruangan, mereka pecah.

Ketika sekalian orang memandang kearah peti mati itu ternyata disebelah dalamnya

terang sekali dan sosok2 tubuh pun tampak berkelebatan.

Pengemis-tua Cong To kerutkan alis, serunya, “Adakah kita barus masuk melalui peti

mati itu?”

Ih Thian-heng tersenyum, “Biarlah aku yang berjalan dimuka.” ia terus endapkan tubuh

dan melangkah maju “

Sekalian tokohpun segera mengikuti dibelakangnya.

Ternyata peti mati besar itu merupakan sebuah pintu dari lorong terowongan yang

panjangnya empat lima tombak. Tiba diujung lorong, pemandanganyapun berobah.

Mereka tiba disebuah pintu bercat merah. Pintu itu ditulisi tiga buah huruf besar ‘Seng-sibun’

atau Pintu Mati-hidup.

 

[bersambung]