makam asmara 05
“Puteri lo-cianpwe telah meluluskan untuk
menjadi isteri putera ketua Lembah-seriburacun
maka ketua Lembah-seribu racun
memperlakukannya dengan baik sekali,” kata
Han Ping.
“Huh, siapakah puteriku itu? Mana boleh
dijodohkan dengan anaK buruk dari tua bangka
beracun itu? Kalau engkau bohong,
hati-hatilah jiwamu’ seru Siangkwan Ko.
Teringat akan budi kebaikan Siangkwan
wan-ceng kepadanya, mau tak mau Han Ping
harus menghormat ayah gadis itu. Ia tertawa
hambar, “Puteri lo cianpwe bersama ketua
Lembah-seribu-racun, saat ini masih berada
dalam makam ini. Nanti tentu mudah
berjumpa. Kalau lo-cianpwe tak percaya
keterangan wanpwe, silahkan bertanya kepada
nona Siangkwan sediri. Sepatah saja wanpwe
bohong, lo-cianpwe boleh menghukum
wanpwe.”
Tiba2 Kim loji yang sejak beberapa lama
diam, menyelutuk, “Memang ketika puteri locianpwe
meluluhkan perjodohan itu kepada ketua
Lembah-seribu racun, aku sendiri hadir
dan mendengarkan.”
Tiba2 Siangkwan Ko teringat peristiwa
puterinya telah makan racun dan menunggu
kematian, mau tak mau ia menghela napas,
ujarnya, “Apapun kalian hendak mengatakan,
aku tetap tak percaya!”
Han Ping tahu bahwa dalam hati orangtua itu
sebenarnya tujuh bagian sudah percava.
Tetapi hanya tak mau mengakui. Maka Han Ping
berpaling kepada Cong To, “Locianpwe
dalam makam ini kecuali banyak dipasang
alat2 pekakas berbahaya, pun pada
tiap2 pintu dijaga oleh mahluk2 beracun.
Pintu rahasia ruangan ini tiba2 telah terbuka dan
lenterapun bersinar Jelas pemilik makam ini
memang hendak bertemu dengan kita. Jika
terlalu lama. pintunya rahasia tertutup,
kita tentu harus membuang waktu dan jerih payah
untuk mencari dia!”
“Benar,” tiba2 ih Thian heng menanggapi lalu
mendahului ayunkan langkah.
Sekalian orang hendak, mengikuti tetapi
tiba2 Theng Ban-li berteriak nyaring, “Ca Cu
jing!”
“Mengapa? “Ca Cu iing berpaling, “Jarum
beracunmu lelah melukai diriku apakah aku
dibiarkan terluka begini saja?” seru jago
tua itu.
Sahut Ca Cu-jing, “Tadi waktu bertempur
acak-acakan, hampir anakkupun terluka oleh
saudara Theng. Bukankah aku juga menerima
saja hal itu?”
Ih Thian-heng menyela, “Dalam pertempuran
kalang kabut tadi, siapapun yang terluka itu
masih untung karena tak sampai binasa. Saat
ini kita ibarat berlayar dalam satu perahu.
Harus kerjasama bahu membahu. Segala dendam
peribadi, supaya dihapus dulu agar kita
dapat bersatu untuk membongkar rahasia
penipuan besar-besaran, yang telah mencelakai
dunia persilatan selama berpuluh-puluh
tahun.
Ca Cuj-ing tertawa gelak2, “Bagus, ucapan
saudara Ih memang tepat.”
Theng Ban-li berpaling kearah orangtua alis
panjang dan menggerutu, “Kalau begitu aku
dan locianpwe ini, menjadi korban jarum
beracun yang sia-sia “
“Engkau mau menyamai aku, hm, sekalipun
beberapa batang jarum beracun lagi
mengenaiku, aku masih tak apa2,” dengus
orangtua alis panjang.
Ca Cu-jing tersenyum.
Karena sekalian tokoh menganggap enteng
urusannya, apabila ia berkeras hendak
membalas Ca Cu jing, tentu akan menimbulkan
kemarahan orang. Apalagi orang alis
panjang itupun menytakan tak apa2. Terpaksa
ia diam dan terus menghampiri Ting Ling.
“Berhenti!” bentak ketua Lembah-raja-setan
seraya deliki mata.
“Ah, tak apa2, ayah,” Ting Ling tertawa!
“dia hanya akan minta obat kepadaku.”
Ting Ling; mengambil sebutir pil lalu
diberikan kepada theng Ban li yang terus
menelannya.
Han Ping menghampiri ketempat orangtua alis
panjang, “Lo-cianpwe, apakah perlu ku
papah?”
Orangtua alis panjang serentak berbangkit,
“Tidak! ia menepuk bahu kera bulu emas,
menyuruhnya bangun.
Kera bulu emas yang tampak tidur pulas,
begitu ditepuk orangtua alis panjang, serentak
loncat bangun.
Dalam pada itu berkatalah Ih Thian-heng
kepada Pengemis-sakti Cong To, “Saudara
Cong, apabila kita berhasil keluar dari
makam ini dengan selamat, kelak aku tentu akan
menjadi sahabat saudara yang baik.”
Pengemis sakti Cong To tertawa: Setiap orang
yang hendak mati, bicaranya tentu baik.
Apakah engkau sudah tahu kalau bakal tak
dapat keluar dari makam ini?”
Ih Thian heng tersenyum, “Menurut
pandanganku, siapa yang masuk kedalam makam ini,
tentu sukar dapat keluar dengan masih
selamat.”
Habis berkata ia terus lanjutkan langkah.
Sekalian tokoh pun sebera mengikuti
dibelakangnya. Setelah keluar dari pintu
rahasia, mereka menyusur terowongan yaag
diterangi lentera dan sinar mutiara.
Pintu rahasia yang tiba2 terbuka tadi,
seperti ada orang yang membuka. Dan ternvata
begitu anggauta terakhir dari rombongan
tokoh2 itu melangkah keluar, pintu rahasia
itupun tiba2 metutup lagi.
Ih Thian hens? tertawa dingin, ujarnya, “Ah.
memang hebat sekali persiapannya, sebuah
ciptaan yang luar biasa!” Habis berkata ia
terus kencangkan langkah berlari kemuka.
Terowongan yang panjangnya 15-16 tombak itu
dengan cepat telah dilintasi mereka. Tiba
di ujung terowongan, pecah menjadi dua, ke
kanan dan ke kiri. Tetapi dalamnya hanya
setombak lebih. Ujungnya terhadang dinding
putih.
Terowongan yang menyimpang kesebelan kiri,
dindingnya tertulis, “Jalan ke Kematian.”
Sedang terowongan yang memecah ke kanan,
dindingnya bertulis, “Jalan menuju Hidup.”
Hurufnya yang besar ditulis dengan tinta
merah sehingga tampak jelas sekali.
Berkata pula Ih Thian heng kepada pengemis
tua, “Saudara Cong, Kita jalan ke Jalan
Mati atau ke Jalan Hidup?”
Pengemis-sakti menjawab, “Menilik kita ini
mengandung hati penasaran, lebih baik kita
menuju ke Jalan Mati saja.”
“Akupun berpendapat begitu juga,” kata Ih
Thian-heng, “kiranya pandangan seorang
ksatrya itu tentu sefaham.”
“Biar kucobanya dulu sampai dimana kerasnya
dinding itu!” seru Ca Cu-jing seraya
lepskan pukulan Peh-poh-sin-kun. Wut, angin
berhamburan keras sekali.
Theng Ban-lipun segera mengeluarkan palu
besinya dan berseru, “Akupun hendak bantu
membukanya!” ia terus maju menghampiri
dinding.
Keadaan yang aneh dari makam itu menyebabkan
sekalian orang2 gagah itu melepaskan
perasaan dendam mereka.
Ih Thian heng menumpah pandang kearah Han
Ping, “Pedang Pemutus asmara milik
saudara Ji, dapat membelah logam seperti
memotong tanah liat. Walaupun dinding itu
keras bukan kepalang tetapi tentu tetap
terbelah dengan pedang pusaka saudara itu.”
Han Ping mendengus dingin dan melangkah maju
kemuka.
‘Jangan’.” tiba2 Ting Ling berseru menengah.
Han Ping tertegun dan hentikan langkah lalu
berpaling, “Mengapa?”
“Berikanlah pedang pusakamu kepada Ih
Thian-heng, biar dia saja yang memapas
dinding!” seru si nona.
Tiba2 Han Ping teringat akan peristiwa Kim
loji yang kehilangan sebelah lengannya
karena alat rahasia dalam makam itu. Mau tak
mau ia meragu juga.
Ih Thian heng tersenyum, “Saudara Ting,
puterimu banyak curiga!”
Lalu ia mengulurkan tangan, “Saudara Ji,
apakah engkau mau meminjamkan pedangmu
kepadaku?”
Bum…. terdengar letupan dahsyat dan
dindingpun berhamburan rontok. Ternyata Theng
Ban-li sudah mulai menghantam dengan palu
besinya.
“Mengapa tak boleh?” kata Han Ping seraya
menyerahkan pedang Pemutus asmara.
Seteleh menyambuti pedang berkatalah Ih
Thianghtng, “Kalau aku tak mau
mengembalikan pedang ini kepadamu, dalam
pertempuran dengan aku, engkau tentu
kehilangan sebagian kesempatan menang.”
“Kalau engkau benar mengandung pikiran
seperti itu. sekalian orang gagah dalam dunia
persilitan tentu akan menghancurkan engkau,”
seru Ting Ling.
“Budak setan, tak perlu engkau mengucap
kata2 yang membikin panas hatiku. Setelah
rahasia makam ini terbongkar, biarlah engkau
terbuka mata akan kesaktian Ih Thian
heng. Siapapun yang akan menantang, aku
tetap akan melayani.”
Ih terus maju menghampiri dinding.
Dalam pada itu Theng Ban li tetap masih giat
menghantamkan palu besinya. Tulisan
Jalan Mati, sudah separoh bagian yang
hancur.
“Harap saudara Theng berhenti, biar aku yang
mencoba kekuatan dinding itu.” kata Ih
Thian-heng.
“Huh, dinding ini memang keras sekali. Palu
besiku tak mempan.” gumam Theng ban li.
iapun mundur tiga langkah Namun Ih
Thian-heng tetap minta dia mundur lebih jauh lagi.
“Mengapa?” Theng Ban-li heran.
“Dia suruh engkau memberi jalan untuk
meloloskan diri!” teriak Ting Ling.
Ih Thian-heng tertawa hambar, “Hm. sungguh
seorang budak perempuan yang pandai.
Dapat menebak tepat lagi.”
Ting Ling tertawa dingin, “Hm. betapa
permainan yang hendak engkau unjukkan, tentu
akan dapat kuketahui!”
Ih Thian-heng tak mau melayani nona itu lagi
dan mulai mengangkat pedang pusaka,
menusuk dinding.
Pedang Pemutus asmara memang hebat sekali.
Dinding yang sekeras baja dapat ditusuk
seperti menusuk kayu saja.
“Harap saudara2 mundur!” tiba2 Ih Thian-heng
berseru. Dan serempak ia sendiripun
sudah melesat mundur ke sudut, Sekalian
orang menunggu dengan menahan napas.
Tetapi sampai beberapa lama belum juga
terjadi suatu perubahan apa2. Dinding batu itu
tetap tegak dengan kokohnya.
“Bagaimana dengan tajamnya pedang
Pemutus-asmara itu?” Ca Cu jing berpaling kearah
Ih Thian-heng.
‘Silahkan engkau lepaskan sebuah pukulan Peh
poh- sin-kun!”
Ca Cu jing melakukan permintaan itu dan
lepaskan sebuah pukulan Bum…. terdengar
suara dahsyat dan tembokpun berlubang hampir
satu meter luasnya.
Ternyata setelah menusukkan pedang
Pemutus-asmara, Ih Thian-heng lalu memutarnya,
membuat sebuah lingkaran bundar. Maka waktu
Ca Cu jing menghantam, terbukalah
sebuah lubang.
melihat itu mau tak mau Ca Cu-jing memuji
tenaga Ih Thian-heug yang hebat.
“Hm, apakah tak sungkan mengobral segala
pujian?” Ting Ling menyeJutuk.
Merahlah muka Ca Cu iing mendengar dampratan
halus itu. Serentak ia berpaling kearah
ting Ko. serunya, “Puteri saudara Ting itu
seharusnya diberi ajaran yang tepat.”
“Apakah suruh aku membunuhnya?” Ting Ko
tertawa hambar.
Ca Cu-jing marah, serunya, “Kalau engkau taK
mau memberi ajaran, akupun dapat
mewakili engkau mengajarnya.”
Tiba2 Pengemis-sakti Cong To tertawa gelak2,
“Ho, barangsiapa berani menganggu
anak-angkatku, tentu akan kupotong sepuluh
jarinya.”
Ca Cu-jing tahu kalau tak mampu menandingi
Cong To dan Ting Ko berdua, terpaksa ia
menahan kesabaran, serunya, “Tak perlu
saudara Cong unjuk kegarangan. Nanti setelah
keluar dari makam ini, aku tentu akan minta
pelajaran dari engkau.”
Pengemis-sakti Cong To tertawa lepas,
“Tetapi menurut pandanganku, jangan harap kita
dapat keluar dari makam ini dengan selamat.”
“Saudara Cong, kapankah anakku itu engkau
pungut menjadi anak-angkat?’ tiba2 Ting
Ko berseru.
Cong To deliki mata, “Bagaimana? Apakah
engkau tak senang….”
“Jangan salah faham,” cepat Ting Ko menukas,
“bahwa anakku telah mendapat rejeki
sebesar itu, sudah tentu aku merasa gembira
sekali.”
Ting Lingpun tertawa, “Ayah-angkatku itu
memang suka bergurau, mengapa ayah
masukkan dalam hati….”
Kemudian nona itu beralih pandang kepada Ih
Thian-heng, serunya, “Seharusnya engkau
kembalikan pedang Pemutus-asuiara itu kepada
yang empunya.”
Ih Thian-heng mengangguk, tertawa, “Ya,
benar, nona Ting.” ia terus pelahan-lahan
menyerahkan pedang dan Han Pingpun segera
ulurkan tangan menymbuti.
“Jangan bergerak!” tiba2 Ting Ling berseru.
Han Ping tertegun dan saat itu Ting Lingpun
sudah melangkah maju, menyambuti pedang
lalu diterimakan kepada Han Ping, serunya,
“Dia tak dapat menggunakan kesempatan
mengembalikan pedang,untuk membunuh aku.”
Ih Thian-heng tengadahkan kepala, tertawa,
“Nona Ting, tahukah engkau, tempat ini
sebenarnya makam milik siapa?”
Ting Ling tertegun, lalu menyahut, “Ko Tok
lojin….”
Walaupun ia cerdas tetapi menerima
pertanyaan Ih Thian-heng yang begitu mendadak,
mau tak mau ia terkesiap dan tak dapat
menyingkap maksud orang yang sesungguhnya.
“Tahukah engkau apa sebab orangtua itu
mengasingkan diri disini?” tanya ih Thian heng
dengan tersenyum. Dan belum si nona
menjawab, ia sudah melanjutkan lagi, “Karena dia
memang seorang manusia yang melebihi dan
orang biasa. Tak punya kawan dan tak
punya lawan. Coba nona pikirkan, anda kata
pada suatu hari dia mendapatkan lawan yang
diangap menyamai kecerdasannya, apakah dia
akan membunuh lawan itu atau tidak?”
Ting Ling kerutkan alis lalu menyahut
dingin, “Walaupun Ko Tok lojin tidak melakukan
hal itu, tetapi engkau sendiri yang belum
dapat dipastikan.”
Ih Thian-heng tertawa gelak2, “Kalau aku ini
manusia dibelakang layar seperti yang
engkau bayangkan itu, bukankah sangat
berbahaya bagimu dikala menyambuti pedang
tadi?”
“Ah, anda keliwat memuji, terima kasih,”
kata Ting Ling.
Omongan kedua orang itu bernada sinis dan
tajam. Tokoh2 semacam Ca Cu-jing. Nyo
bun-giau dan lain2 yang tajam perasaannya,
cepat dapat menarik kesimpulan bahwa Ih
Thian-heng telah menentukan dua orang
sebagai musuhnya yang berat. Dalam ilmu
kesaktian, dia menganggap Han Ping sebagai
satu-satunya lawan yang berat. Dalam ilmu
kecerdikan, Ting Linglah satu-satunya yang
dapat menandinginya.
Dalam pada itu, Han Pingpun segera hendak
menerobos masuk melalui lubang dinding.
Tetapi Cong To dan Ki loji cepat
mencegahnya: Tunggu dulu ‘ kedua orang itupun
serempak loncat kemuka Han Ping.
Ih Thian-heng tertawa, “’Karena yang membuat
lubang dinding itu aku, maka akulah
yang akan masuk lebih dulu.” Ia terus
melangkah kelubang itu.
“Walaupun licik dan ganas tetapi tak
kecewalah Ih Thian-heng itu sebagai seorang lelaki
ksatrya!” seru Cong To.
Tiba2 Ih Thian-heng muncul di lubang dinding
itu lagi dan berkata kepada Han Ping,
“Apakah saudara Ji dapat meminjamkan pedang
pusaka itu kepadaku lagi?”
Tanpa banyak bicara, Han Ping terus
mengangsurkan pedang.
“Ih, apakah didalam masih terdapat dinding
batu?” seru Ting Ling.
“Ya” sahut Ih Thian-heng terus menyusul
masuk. Cong To dan Han Pingpun cepat
menyusul.
Ternyata dibelakang lubang dinding itu hanya
terdapat tanah lapang satu meter, lalu
teraling lagi oleh sebuah dinding batu. Ih
Thian-heng gunakan pedang pusaka untuk
membobol sebuah lubang lagi. Tetapi ternyata
di dalamnya masih terdapat selapis
dinding batu.
Sama sekali ih Thian-heng harus menghadapi
lima lapis dinding tembok batu. Berkat
pedang pusaka Pemutus-asmara yang tajam,
dapatlah ia membobol kelima lapis dinding
tembok itu. Pada dinding tembok lapis
Keenam, terdapat tulisan yang berbunyi, “Karena
sok pintar, harus membuang banyak tenaga.
Kalau kalian mengambil Jalan Hidap, tentu
tak usah harus bersusah payah membobol
dinding!
Memandang tulisan yang indah perkasa itu.
hati lh Thian-heng agak menyesal.
“Hai, nyata dalam makam ini memang terdapat
orangnya,” seru Cong To.
Ih Thian-heng menghela napas, “Bukan manusia
biasa tetapi manusia luar biasa. Tetapi
betapapun aku memeras otak tetap tak dapat
mengetahui siapa orang itu!”
Habis berkata ih Thian-heng terus menyusup
masuk diikuti oleh sekalian orang.
Ternyata dinding keenam itu merupakan….
Tempat itu merupakan sebuah ruang besar,
diterangi oleh selusin lentera kaca yang
menyala terang benderang. Tetapi karena
empat dindingnya dicat warna hitam, sinar
lentera itupun tak dapat memantul gemilang
dan hanya menimbulkan suatu suasana yang
agak menyeramkan.
Dan yang lebih menyeramkan yalah terdapatnya
duabeias peti mati warna hitam yang
diletakkan berjajar jajar rapi dibelakang
keduabelas lampu tersebut. Peti ditutup rapat2,
seolah-olah memberi kesan bahwa peti mati
itu sudah terisi mayat dan ditutup sejak lama.
Setelah mengamati keadaan sekeliling kamar,
ih Thian-heng berseru memuji, “Suasana
ini benar2 dapat menimbulkan rasa ngeri
sehingga orang merasa seperti mati, seram dan
ketakutan. Sungguh hebat dia dapat mengatur
begitu .
Kemudian ia berputar tubuh menyerahkan
pedang pusaka Pemutus asmara kepada Han
Ping, “Menilik keadaan tempat ini kita
seperti memasuki sebuah tempat yang berbahaya.
Setiap saat tentu akan terjadi perubahan.
Pedang ini luar biasa tajamnya, dapat menjadi
alat untuk menjaga diri yang hebat.”
Sambil menyambali pedang Han Ping menyahut,
“Mudah-mudahan apa yang engkau
kehendaki itu dapat terlaksana. Dapat
berjumpa dengan pemilik makam dan membongkar
rahasianya.
Dan yang penting engkau harus dapat
menyelamatkan jiwamu, agar kita nanti dapat
melaksanakan pertempuran kita yang terakhir
itu”
Ih thian heng tertawa, “Kukira aku tentu
takkan mengecewakan harapanmu….” tiba2 ia
maju dua langkah menghampiri kemuka sebuah
peti mati lalu ulurkan tangan hendak
membuka penutup peti.
Han Ping melirik kearah Nyo Bun giau. Tampak
kedua mata orang itu berkilat-kilat
menumpah kearah Ih Thian-heng. Melihat itu
Han Ping tak sabar lalu, berteriaknya,
“Berhenti!”
Ih Thian-heng berpaling tertawa, “Mengapa?”
“Aku hendak melakukan pembalasan dengan
tanganku sendiri dan tak menghendaki
engkau mati di tangan orang lain,” seru Han
Ping.
“Kepandaian dan kecerdasanmu, dapat
meningkat cepat dengan serempaK. Demi
kepentinganku, seharusnya kuselesaikan
pertempuran dengan engkau ini sekarang juga,
“kata Ih Thian-heng.”
Plak…. tiba2 ia menampar peti mati. Habis
menampar ia terus loncat kebelakang
beberapa langkah. Sekalian orangpun cepat
bersiap-siap.
Peti mati yang kokoh itu, begitu ditampar Ih
Thian heng, segeia pecah menjadi dua.
Terdengar peti berderak-derak dan dari dalam
peti itu menjulur sebuah tangan manusia.
Jari2nya begitu kurus dan pucat seperti
salju. Jelas merupakan jari dari seorang wanita.
Ih ihian-heng tertawa dingin, “Asal dapat
berjumpa dengan manusia hidup, tentu tak
sukar untuk mencari keterangan.”
Tampak lengan yang putih itu bergerak-gerak
seperti orang yang tengah bangun tidur.
Setelah ditekuk kebawah seperti orang yang
bercekak pinggang, lalu pelahan-lahan rebah
kedalam peti lagi.
Mata sekalian orang mencurah kearah lengan
dalam peti mati itu. Mereka bersiap-siap
menghadapi setiap kemungkinan Tetapi sampai
beberapa lama, belum juga lengan itu
menjulur keluar lagi. Seolah-olah orangnya
tidur lagi.
Ih Thian-heng tak sabar lagi. Ia berseru
dingin, “Kalau tetap bertingkah aneh, jangan
sesalkan aku Ih Thian-heng akan bertindak
ganas. Sekalipun engkau memiliki ilmusilat
yang sakti, pun tetap sukar menerima
seranganku secara tiba2.”
Rupanya orang didalam peti itu tetap tidur
pulas dan tak menyahut.
Rupanya Nyo Bun-giau kuatir kalau Ih
Thian-heng akan mencurigai kawan2 sendiri,
maka buru2 ia tampil, “Saudara ih, biarlah
aku yang maju,”
Habis berkata ia terus menghampiri peti mati
sambil kerahkan tenaga dalam.
Ih Thiang heng berpaling memandang Ca
Cu-jing, serunya, “Harap saudara Ca siapakan
pukulan Peh-poh-siu-kun untuk membantu
saudara Nyo.”
Sambil berkata Ih Thian -hengpun melangkah
kemuka.
Satelah tiba dimuka peti mati, Nyo Bun-giau
batuk2 sejenak lalu mendorong tutup peti.
Karena tutup peti itu sudah dihancurkan Ih
Thian-heng maka sekali dorong saja, tutup itu
pun jatuh ke lantai.
Seketika terdengarlah jerit mdengking dan
menyusul sesosok tubuh wanita yang
rambutnya terurai menutup bahu, duduk
didalam peti. Wajahnya cantik, sepasang
matanya bundar bagai bintang kejora,
bibirnya semerah delima. Pelahan-lahan ia berdiri.
Nyo Bun-giau mundur dua langkah, serunya
bengis, “Angkat kedua tanganmu!”
Sambil mengeliarkan sepasang matanya kepada
rombongan orang2 itU Si wanita cantik
pelahan-lahan mengangkat kedua tangannya.
Ternyata lengannya telanjang.
“Hai, apakah engkau tak berpakaian?” seru
Nyo Bun-giau pula.
Gadis itu kedip-kedipkan sepasang matanya
yang i.idah lalu menatap Nyo Buu-giau.
Sesaat kemudiaan ia mengangkat kakinya
keluar peti.
“Hai, mengapa telanjang bulat!”’ teriak
Siang-kwan Ko.
Ternyata setelah keluar dari peti mati,
gadis itu hampir tak mengenakan pakaian. Hanya
bagian dada dan bawan perut yang dibalut
dengan sehelai kain cawat.
Dengan tenang ia melangkah keluar dan
seolah-olah tak menghiraukan suara Nyo Bungiau.
Saat itu Ih Thian-hengpun sudah berada di
belakang Nyo Bun giau, bisiknya, “Siudara
Nyo, siapkan lima bagian tenaga dan cobalah
gadis itu dengan sebuah pukulan.”
Nyo Bun-giau menurut apa yang diperintah Ih
Thian-heng. Ia mengangkat tangan kanan
lalu diayunkan kearah gadis itu.
Aduh….terdengar mulut si jelita melengking
lalu rubuh kebelakang. Melihat itu Nyo
Bun-giau tertegun kaget.
Tiba2 ia mendengar suara alunan musik.
Bermula hanya dari suara harpa tetapi lama
kelamaan diserempaki pula dengan beberapa
macam bunyi bunyian. Belum dia sempat
meneliti, tiba2 irama musik itu berganti
dengan irama yang sedih merawankan.
“Dari manakah suara musik itu?” seru Nyo
Bun-giau seraya memandang kesekeliling.”
“Dari makam ini” kara Ih Thian-heng.
Pengemis-sakti Cong To mengambil buli2 arak.
meneguknya seraya berkata Melihat
keanehan jangan merasa aneh, keanehan itu
tentu akan tak aneh. Tak perlu kita hiraukan
dia. mari kita lanjutkan berjalan lagi.”ia
terus mendahului ayunkan lagkah menuju
kebelakang dinding.
“Saudara Nyo, coba engkau dekati dan periksa
keadaan gadis itu, aku tak percaya kalau
dia mati “
Nyo Bun giau maju menghampiri. Pada saat
hampir tiba disisi si gadis, tiba2 dia
menendang rusuk kanan gadis itu.
Tendangan Nyo Bun-giau itu hebat sekali,
jangan kata hanya tubuh manusia, sedang batu
karang yang keraspun tentu hancur.
Melihat itu Han Ping tak sampai hati. Cepat
ia berseru, “Nyo Bun-giau, jangan
menendangnya….”ia terus hendak menyergap Nyo
Bungian.
Tetapi Ih Thian-heng membentak seraya
lintangkan tangannya menghandang, “Hai,
engkau mau apa?”
Han Ping empos semangat untuk menghentikan
gerakan maju dari tubuhnya. Begitu
tegak ditanah, ia berkata, “Cara yang
dilakukannya terhadap seorang wanita, sungguh
keterlaluan.”
Ih Thian-heng tertawa, “Tadi aku masih
memuji engkau seorang pemuda yang cerdas.
Tetapi mengapa dalam waktu beberapa kejab
saja, engkau sudah terpikat kebaikan
terhadap seorang wanita? Ketahuilah, saat
ini kita sedang terkurung dalam sebuah tempat
yang berbahaya. Setiap saat, kita dapat
terancam maut. Setitik budi Kebaikan, mungkin
akan menimbulkan bahaya maut pada diri kita
sendiri.”
“Gadis itu sudah rubuh terpukul Nyo
Bun-giau. Apakah masih harus diremukan lagi “
“Apabila dugaanku taksalah,” kata Ih
Thian-heng, “dia tentu tak mati, cobalah engkau
lihat kemari.”
Setelah bertempur sekali dengan Han Ping,
memang Nyo Bun-giau merasa agak gentar
kepada kesaktian pemuda itu. Waktu mendengar
Han Ping berterak mencegahnya jangan
menendang, iapun hentikan kakinya.
Han Ping berpaling dan menyahut kata2 Ih
Thian-heng, “Kemanakah gerangan perginya
ke Keenam bocah pengawalmu dan ke tigapuluh
enam pengawal barisan Thtan-kong-siwi
itu?”
“Dalam waktu dan tempat seperti ini, mengapa
engkau ingat akan hal itu?” sahut Ih
Thian-heng dengan tertawa hambar.
“Kalau engkau tak membawa mereka bersamamu,
sebelumnya tentulah engkau sudah
mempunyai persiapan?” tanya Han Ping pula.
Ih Thian heng tertawa, “Selamanya aku tak
mau mengambil resiko begitu….”
Sejenak kemudian ia berkata pula, “Dalam
hidupku hanya ada dua buah persiapan yang
kurencanakan. Pertama ialah masuk kedalam
makam tua ini….” tiba2 ia berhenti berkata.
“Lalu yang kedua?” tanya Han Ping.
“Yang kedua yalah, dua kali telah melepaskan
kesempatan untuk membunuhmu.”
“Tetapi sekarang toh belum terlambat,” seru
Han Ping dengan garang.
“Keadaan saat ini telah memaksa kita membagi
rata kesempatan kalah menangnya. Aku
menang pengalaman, engkau menang tenaga. Dan
pula engkau masih mempunyai
sebatang pedang pusaka yang hebat. Dengan
pedang itu engkau dapat menghadapi
beberapa jurus seranganku yang istimewa.
Maka dengan begitu kukatakan, kita sama2
serie, sama2 mempunyai kesempatan kalah atau
menang.’
“Kalau aku tak menggunakan pedang itu, entah
apakah aku mampu mengalahkan engkau
atau tidak?” kata Han Ping seraya maju dua
langkah ke hadapan gadis telanjang itu, lalu
ulurkan tangan untuk memeriksa
pernapasannya.
Ternyata gadis itu memang masih bernapas.
“Sudah mati atau masih hidup?” seru NyO Bun
giau.
“Masih bernapas, tetapi lemah sekali. Entah
dapat hidup atau tidak,” sahut Han Ping.
Mengikuti gerak gerik Han Ping, seketika
Ting Ling makin yakin bahwa pemuda itu
memang telah dianggap sebagai duri dalam
mata Ih thian-heng. Han Ping benar2
dianggap sebagai musuh yang paling berat
oleh Ih Thian heng. Dan ketika nona itu
mengawasi perobahan airmuka Nyo Ban-giau,
cepat ia berseru kepada Han Ping, “Ji
Siaug-kong, hati2 dengan orang yang hidup!”
Memang Nyo bun giau mengandung rencana untuk
menyerang Han Ping secara
mendadak. Bahwa saat itu dia sudah kerahkan
seluruh tenaga dalam ke tangan kanan. Ia
menunggu pada saat Han Ping mengangkat
tubuh, terus segera akan turun tangan.
Seruan Ting Ling itu benar2 mengejutkan Nyo
Bun-giau yang lalu buru2 mundur dua
langkah.
Han Pingpun pelahan-lahan bangkit, memandang
tajam kepada Nyo Bun-giau, serunya,
“Kalau bukan nona Ting yang membuat engkau
kaget, engkau tentu akan merasakan
kelihayan dan ilmupedang Tat-mo-sam-kiam!”
Tat-mo sam-kiam atau Tiga jurus ilmupedang
ajaran Tat Mo cousu atau cikal bakal
pendiri gereja Siau lim-si.
“Tat-mo-sam-kiam!” Ih Thian-heng berseru
kaget.
Rupanya Han Ping menyadari kalau kelepasan
bicara. Maka iapun cepat menyahut,
“Bagaimana?”
Ih Thtin-heng tertawa, “Tat-mo sam-kiam
merupakan ilmupedang yang sudah lama
lenyap dan dunia persilatan. Bagaimana
saudara Ji dapat mempelaiari ilmu itu?”
“Sekalipun aku dapat mempelajarinya dengan
sempurna, tak nanti kuberi tahu
kepadamu,” sahut Han Ping.
Tiba2 terdengar suara Pengemis-sakti Cong To
berseru, “Saudara, pinjamkan pedang
pusakamu kepada pengemis tua.”
Saat itu suara musikpun makin terdengar
nyaring dan makin rawan menyayat hati. Tetapi
rombongan yang masuk kedalam makam itu
terdiri dari tokoh2 yang hebat
kepandaiannya. Mereka tetap dapat bertahan
dan tak menderita suatu apa karena
hanburan suara musik yang mengandung
tenaga-dalamn aneh itu.
Han Ping mengiakan. Setelah menampar jalan
darah dipunggung gadis yang menggeletak
di tanah itu, ia terus melangkah ketempat
pengemis tua.
Berseru Ih Thian-heng, “Selagi mereka belum
memperhebat serangannya, kalau saudara2
suka mendengar kata2 aku siorang she Ih,
lebih baik kita mendahului menghancurkan
peti mati itu.”
Habis berkata Ih Thian hengp terus loncat
ketempat sigadis dan menginjak dadanya.
Gadis itu membuka kedua mata, tiba2 ia
deliki mata lulu secepat kilat berguling-guling
sampai beberapa langkah jauhnya, loncat
bangun dan mengeluarkan sebuah suitan perak
lalu ditiupnya keras2.
Terdengar suara lengking yang dahsyat dan
tiba2 kesebelas peti mati itupun terbuka
tutupnya.
Setiap peti mati diisi dengan gadis cantik
yang tak berpakaian dan mengurai rambut. Dan
ketika tangan mereka menjulur, ternyata
mereka membawa bermacam2 alat musik, antara
lain seruling, hapa, tambur dan lain2.
Serentak terdengarlah mereka memetik dan
musikpun makin memekakkan telinga
sehinga perasaan para rombongan orang gagah
itu mulai terpengaruh, jantungnya
berdebar-debar.
Ih Thian-heng empos semangat lalu lepaskan
sebuah hantaman yang dahsyat. Kawanan
gadis telanjang dengan rambut terurai itu
segera menyisih kesamping. Tetapi alat2
tetabuhan ditangan mereka tetap
bergetar-getar memancarkan nada suara yang
menggetarkan urat2 jantung.
Pukulan yang dilancaikan Ih Thian-heng itu
paling sedikit tentu menggunakan tujuh
bagian tenaganya. Angin menderu-deru hebat,
menyibak kain cawat melada para gadis
itu dan menyiakkan rambut mereka. Saat itu
Han Ping sudah berjalan setombak jauhnya.
Melihat perobahan suasana dalam ruang itu,
iapun hentikan langkah. Dan cepat pada saat
itu angin pukulan Ih Tnian heng ilu pun
melanda datang. Untuk memberi jalan kepada
angin pukulan itu. terpaksa Han Ping loncat
kesamping. Tetapi justeru arahnya
bersamaan dengan para gadis yang juga
menyingkir ke samping.
Seketika itu telinga Han Ping tergiang
lengking petikan senar harpa sehingga ia pejamkan
mata lalu palingkan muka.
Tepat pada saat ia berbuat begitu, tiba ia
rasakan pantatnya yang kiri agak sakit seperti
tertusuk jarum.
Jelas orang telah menyerangnya secara gelap.
Han Ping marah. Dengan mendengus dingin ia
balikkan tangan menghantam. Prang….
tiba2 seorang gadis yang memegang tambur
kulit, cepat menyodorkan tamburnya untuk
menyongsong pukul an Han Ping.
“Hati2, alat tetabuhan mereka itu mengandung
senjata rahasia!” tiba2 Ting Ling berseru.
Berseru Ih Thian-heng pula, “Dalam saat dan
tempat seperti ini, kita sudah berada dalam
perangkap maut. Setitik rasa hati kasihan
akan menimbulkan setitik ancaman maut….”
Tiba2 dari dalam duabelas peti mati itu
lompat keluar duabelas gadis2 cantik lalu menarinari
menurutkan irama musik.
Ih Thian neng sudah menyala-nyala nafsu
membunuhnya. Cepat ia menghantam salah
seorang gadis itu.
Angin pukulan melanda dan terdengarlah
lengking jeritan tajam. Sesosok tubuh dan
seorang dara cepat loncat menyambut jeritan
itu.
Nyo Bun giaupun segera menyambar lengan
kanan seorang gadis lalu ditekannya. Gadis
itu menjerit lalu terkapar rubuh. Rupanya
tulang lengannya patah hingga ia pingsan,
Dalam saat itu, pun Ca Cu jing juga lepaskan
sebuah pukulan Peh-poh-sin-kun,
merubuhkan seorang gadis.
Myo bun giau heran dan berseru, “Saudara
Ih,gadis2 itu tak mengerti ilmusilat.”
Sahut Ih Thlan heng, “Ya, akupun merasa
begitu juga….”
Tiba2 dari dinding batu sebelah muka
terdengar suara berderak derak. Dinding merekah,
menyiak ke samping. Sebuah gelombang sinar
yang keras segera memancar sehingga
keduabelas lentera kaca itu pudar cahayanya.
Ketika sekalian orang memandang kemuka
ternyata dibalik lubang dinding yang merekah
itu terdapat duapuluh tempat batang obor
yang menyala terang benderang.
Ih Thian-heng memandang sejenak kearah ruang
besar itu. Tiba2 ia melangkah maju.
Dalam pada itu Ting Lingpun mengamati
keadaan disekelilingnya. Tampak dalam
ruangan itu terkapar tubuh dari keduabelas
gadis dengan alat tetabuhannya. Mereka
mengerang dan merintih. Jelas kalau mereka
itu hanya gadis biasa, tak mengerti ilmusilat
Keadaan mereka sungguh menyedihkan. Ada yang
sudah mati ada pula yang terluka
berat dan merintih-rintih memilukan hati.
Sekalian orang segera mengikuti jejak Ih
Thian heng yang melangkah masuk kedalam
ruangan besar. Pada saat dinding merekah
tadi, suara musikpun serentak berhenti.
Ternyata ruangan itu amat bersih dan putih,
dihias dengan bunga2 kertas dan lilin.
Papan yang tergantung diatas ruang itu
tertulis empat huruf yang berbunyi, “Hati temaha
mengundang bahaya.”
“Hm, kata2 yang sombong,” kata Ih Thian-heng
seraya mencabut kertas tulisan itu.
Dibelakang papan itu masih terdapat sebuah
kain putih yang bertuliskan, “Hidup tak
lebih baik dari mati.”
“Hm, hendak kulihat, berapa banyak kain
bertulisan yang engkau sediakan disini,” Ih
Thian-heng tertawa lalu hendak merobek.
Sekonyong-konyong terdengar suara berderak
derak.
Pengemis-sakti Cong To tertawa gelak2, “Ho,
muncul sebuah permainan baru lagi.”
“Disini!” terdengar suara orangtua yang
parau. Dari ujung sudut ruang, tampillah seorang
nenek berambut putih yang berjalan pelahan
dengan sebatang tougkat bambu. Ah, nenek
itu bukan lain yalah nenek Bwe atau Bwe Nio
inang pengasuh dari dara baju ungu. puteri
ketua perguruan Lam-hay-bun.
“Apakah saudari baru datang?” tegur Ih
Thian-heng tertawa.
Sambil gentakkan tongkat bambunya. Bwe Nio
menyahut, “Selama engkau belum mati,
mana aku bisa datang terlambat.”
Dari balik jajaran kain bertulisan tadi,
muncul pula seorang dara baju ungu yang
mukanya ditutup dengan kain kerudung sutera
hitam. Dibelakangnya diiring Ong Kwantiong
suheng dari dara itu serta seorang lelaki
kaki buntung yang mengenakan baju
merah.
Sejenak memandang kearah dara baju ungu. Ih
Thian-heng memberi salam, “Nona,
terlambat selangkah, “
Dengan suaranya yang merdu, dara baju ungu
itu berkata, “Dari kedua Lembah dan
ketiga marga, entah sudah berapa orang yang
datang?”
Jawab Nyo Bun giau, “Nona tak perlu
memikirkan hal itu….”
Dara baju ungu tertawa dingin, “’Jangan
bicara yang tak betguna. Akan kuberi kalian
seorang pembantu.” Ia segera bertepuk tangan
pelahan.
Kain terangkat dan muncullah si Bungkuk dan
si Pendek. Keduanya menggandeng
seorang lelaki bertubuh pendek dan seorang
gadis baju biru.
Melihat kedua orang itu, Pengemis-sakti Cong
To serentak berseru, “Leng lotoa!”
“Ceng ji” teriak Siangkwan Ko pula seraya
loncat ketempat gadis itu. Tetapi bwe Nio
cepat lintangkan tongkatnya dan membentak,
“Berhenti!”
Siangkwan Ko rasakan gerakan tongkat nenek
berambut putih itu selain dahsyat pun juga
aneh. Terpaksa ia mundur dua langkah.
Tiba2 dara baju ungu berseru, “Lepaskan!
Biar ayah dan puterinya itu menuturkan
pengalamannya masing2.”
Si Bungkuk mengiakan. Ia segera menepuk bahu
si nona atau Siangkwan Wan-ceng.
Nona itu deliki mata kepada si Bungkuk.
Sesaat kemudian ia melengking memanggil
ayahnya seraya lari menghampiri.
Siangkwan Ko menyambut puterinya dengan
dekapan yang amat mesra. Airmatanya
berderai-derai membasahi pipi yang kempot.
“Ah, nak, engkau tentu menderita,” katanya.
“Aku sungguh tak mengira kalau masih dapat
bertemu dengan ayah….”
Tiba2 Ih Thian-heng menghampiri dan berkata
dengan bisik2, “Saudara Siangkwan….”
Siangkwan Ko yang masih belum hilang
keharuannya itu cepat berpaling, sahutnya,
“Bagaimana, apakah saudara ih menganggap
aku….”
JILID 5
Bara Asmara.
Siangkwan Ko hendak marah tetapi tiba2 ia
teringat bahwa Ih Thian-heng itu pernah
menolong jiwa puterinya. Terpaksa ia
menghela napas dan tak lanjutkan kata2nya.
Ih Thian-heng tersenyum, “Harap saudara
Siang-kwan jangan salah faham. Sungguh
menggirangkan sekali kalian ayah dan anak
dapat berjumpa kembali. Tentu banyak sekali
yang hendak diceritakan maka silahkan saja.
Akupun hendak bicara dengan nona ini….”
Tiba2 ia berhenti tetapi menggunakan ilmu
Menyusup-suara, melanjutkan bicara kepada
kedua ayah dau puterinya itu, “Kalau bicara
disini, kurasa kurang leluasa. Kalau musuh
menyerang, kukuatir kalian tentu sukar
menghindar.”
“Terima kasih saudara Ih,” Tiba2 Siangkwan
Ko menghaturkan terima kasih lalu
memimpin Siangkwan Wan-ceng menuju kesudut.
Pengemis sakti Cong To tertawa dingin. Ia
mengambil buli2 araknya dan meneguk dua
kali.
Ih Thian-heng berpaling kearah pengemis itu,
tertawa, “Apakah saudara Cong mencurigai
aku mengadu domba saudara dengan saudara
Siang-kwan?”
“Hm, mulut anjing tentu tak dapat tumbuh
gading gajah,” sahut Cong To.
Berobahlah seketika wajah Ih Thian-heng,
“Dengan baik2 aku bicara kepada saudara,
mengapa saudara menghina begitu? Apakah
saudara kira akan takut kepadamu?”
“Memang bicaraku kasar,” sahut Cong To,”
kalau engkau tak suka dengar, jangan bicara
lagi dengan aku.”
“Ih Thian-heng,” tiba2 dara baju ungu itu
berseru,” apakah perjanjian kita masih
berlaku?”
Ih Thian-heng tertawa, “Aku memang hendak
bicara penting dengan nona.”
“Bicaralah!”
“Kecerdasan nona, aku sangat mengagumi,”
kata Ih Thian-heng,” tetapi bahwa dalam
makam ini ternyata terdapat penghuninya,
adakah nona sudah menduga hal itu?”
“Sebelumnya memang tak tahu,” sahut dara
baju ungu.
“Nah. begitulah.” kata Ih Thian-heng,
“kepandaian dari pencipta makam ini, bukan saja
jauh diatas kepandaianku, tetapipun juga
lebih tinggi dari nona.”
“Kalau dinilai dari bangunan yang diciptakan
ini, memang benar begitu,” kata dara baju
ungu.
“Kalau nona mempunyai anggapan begitu, itu
memang benar,” kata Ih Thiang heng pula.
“Apakah engkau bermaksud hendak menasehati
aku supaya bekerja-sama dengan engkau
untuk membuka rahasia makam ini?” tanya si
dara.
Ih Thian-heng berpaling memandang kepada
rombongan jago2 silat yang berdiri
dibelakangnya, tertawa, “Tokoh2 silat yang
berkumpul disini, kebanyakan satu sama lain
tentu mempunyai dendam permusuhan. Tetapi
pada saat dan tempat seperti sekarang ini,
mereka rela untuk melepaskan urusan ptribadi
masing2. Dan mereka mau bersatu padu
untuk menbungkar rahasia makam ini,
menghadapi orang gang menciptakan makam ini.
Apabila nona mau bekerja sama dengan aku,
aku siorang she Ih ini tentu yakin akan
menang.”
“Jika sudah dapat menciptakan bangunan
sehebat ini dengan perlengkapan pekakas2
rahasia yang sedemikian hebat, orang itu
tentu sudah mempunyai rencana yang
sempurna….” tiba2 dara baju ungu itu
berhenti, melangkah dua tindak kemuka lalu
menyandarkan diri pada tubuh nenek Bwe,
ujarnya pulA,, “Menilik keadaan saat ini,
betapa hebat orang itu menyediakan alat dan
orang, tetapi tentu tak mampu mengadu
kekerasan dengan kita. Dalam ilmu kepandaian
silat saja, merekapun tentu tak dapat
mengimbangi kita. Tetapi apabila sebelumnya
mereka memang sudah mengatur berbagai
alat pekakas rahasia, persoalannya tentu
lain lagi. Taruh kata dia kalah, kitapun tentu tak
dapat keluar dari tempat ini atau berarti
kita akan mati bersama-sama lawan.”
Ih Thian-heng tertegun, serunya, “Ah, aku
tak memikirkan sampai langkah itu.”
“Karena itu,” kata dara baju ungu pula, “apa
bila kalian hendak mengharapkan
kesempatan hidup, kalian harus mendengarkan
perintahku.”
Kata2 itu diucapkan dengan nyaring sehingga
sekalian orang dapat mendengar jelas.
Ih Thian heng tersenyum, serunya, “Ah, nona
terlalu menganggap diri nona kelewat
tinggi. Terus terang saja, dalam rombongan
tokoh2 yang berada disini, siapapun tak dapat
menguasai lain orang. Maka siapapun dapat
memberi saran dan pendapat bahkan
perintah. Tetapi itupun hanya terbatas pada
satu soal yang sedang dihadapi. Pada lain soal
dilain saat, sudah tak berlaku lagi.”
“Kalau kalian mau mendengar perintahku, aku
bersedia kerjasama. Tetapi kalau tidak
mau mendengar perintahku, lebih baik kita
kerja mennurut rencana masing2 tanpa saling
mengganggu.”
Ih Thian-heng tertawa, “Apa yang kuharap
mengharap agar sebelum rahasia makam ini
terbongkar, permusuhan diantara kita dengan
kita supaya dihentikan dulu.
“Baik, kami akan menjadi penonton saja,”
kata dara baju ungu.
Sejenak Ih Thian-heng memandang kearah tokoh
yang bertubuh pendek dan berkata pula,
“Aku masih ada sebuah permintaan lagi.”
“Bukankah engkau meminta supaya kubebaskan
ketua Lembah-seribu-racun itu?” cepat
dara baju ungu menyambuti.
Ih Thian-heng mengangguk, “Entah rahasia
makam ini dapat terbongkar atau tidak, tetapi
orang2 yang berada dalam makam ini ibarat
anak2 yang menerjang api, tentu akan
mengalami akhir yang menyedihkan. Dan
setelah rahasia makam ini terbongkar, sukar
kiranya untuk nona berada di luar garis.”
‘Tak apa,” sahut dara baju ungu, “agar kami
dapat melihat kehebatan ilmu silat dari
Tionggoan….”
Habis bertata dara itu berpaling dan berkata
bisik2 kepada si Pendek, “Oh ay-cu,
lepaskan ketua Lembah-seribu-racun itu!”
Oh Ay-cu atau orang she Oh yang pendek,
mengiakan lalu mengangkat tangan dan
diayunkan ke punggung ketua Lembah-seribu
racun. Bluk …. tubuh ketua Lembahahseribu-
racun yang kate itu segera terlempar sampai
lima enam langkah kemuka.
Ih Thian-heng ulurkan tangan menyambuti
lengan kiri ketua Lembah-seribu racun, seraya
berkata, “Saudara Leng….”
Tepat pada saat Ih Thian-heng berbuat
begitu, tangan kanan ketua Lembah-seribu-racun
pun berayun menghantam kearah dagu Ih
Thian-heng. Pukulan keras, jaraknya dekat.
Sekalian orang terkejut dan menyangka Ih
Thian-heng tentu terluka. Tetapi sebagian
besar, tokoh2 itu malah mengharap, agar
pukulan itu benar2 dapat melukai Ih Thianheng,
makin berat lukanya makin baik.
Ketika melihat si dara baju ungu muncul,
tergetarlah hati Han Ping. Tak tahu ia
bagaimana sesungguhnya perasaan hatinya itu.
Tiba2 ia melihat ketua Lembah-seribu-racun
menyerang Ih Thian-heng secara licik.
Cepat ia melesat dan menutuk siku lengan
ketua Lembah-seribu-racun saat itu.
Tetapi tepat pada saat ia bergerak, tangan
kiri Ih Thian hengpun sudah menangkis dengan
tangan cepat bum….Tubuh Ih Thian heng agak
tergetar, ketua Lembah seribu racunpun
tersurut dua langkah. Tetapi tangan kapannya
dapat dicengkeram tangan kiri lh Thian
heng keras2 sehingga tak dapat berkutik.
Sekali Ih thian heng kencangkan
cengkeramannya, pucatlah wajah ketua
Lembah-seribu racun itu. Namun ketua lembah
Seribu-racun itu masih berusaha untuk
bersikap garang agar jangan terlihat orang.
Sejenak memandang kesekeliling, Ih
Thian-hengpun tertawa, “Harap saudara2 jangan
kuaur. Sebelum saudara2 mati, tak nanti aku
mendahului mati lebih dulu.”
Kata2 yang bernada sindiran itu membuat
sekalian orang merah mukanya. Kemudian Ih
Thian-heng memandang Han Ping dan tertawa,
“Sekalipun aku tak dapat menjadi sahabat
saudara Ji, tetapi dengan mendapat lawan
seorang pemuda yang perwira seperti saudara,
akupun merasa bahagia ‘
Sahut Han Ping, “Aku tak bermaksud
menolongmu. Hanya aku tak senang melihat
perbuatan orang yang menyerang secara
gelap.”
Ih Thian-heng tertawa, “Oh, begitu….
Ia beralih memandang ketua Lembah
seribu-racun dan berkata dengan serius, “Tetapi
saudara Ji salah terka Saudara Leng ini sama
sekali bukan hendak menyerang aku dan
memang dia bukan orang yang suka melakukan
penyerangan secara begitu licik. Adalah
karena dari tiga buah jalandarahnya yang
tertutuk, baru dibuka dua buah oleh si Pendek
itu, maka sekalipun kaki dan tangannya dapat
bergerak tetapi kesadaran pikirannya masih
belum terang. Sehingga dia melakukan
serangan tadi.”
Dalam pada berkata-kata itu, Ih Thian-heng
diam2 sudah kerahkan tenaga-dalam untuk
membuka jalan darah ketua Lembah-seribu-
racun yang masih
tertutuk itu. Kemudian baru pelahan-lahan
dilepas.
Ketua Lembah-seribu-racun mundur selangkah
berdiri terlongong longong beberapa saat
lalu berpaling memandang nenek Bwe dan si
Bungkuk serta si Pendek. Tiba2 wajahnya
merah padam.
“Ho, bagus orang Pendek!” serunya seraya
merentang kedua lengan sehingga terdengar
suara berkerotekan dari tulang2nya, lalu
maju menghampiri Oh Pendek.
Si Pendek hanya tertawa dingin, serunya,
“Bagus orang pendek, kemarilah engkau!”
Ternyata ketua Lembah seribu racun itu juga
orang pendek, hanya terpaut sedikit dengan
si pendek Oh. Tetapi walaupun keduanya
bertubuh kate, mereka memiliki ilmusilat yang
keras.
Saat itu keduanya sudah saling berhadapan.
Begitu bergerak, tentu akan hebat akibatnya.
Tiba2 Ih Thian-heng melangkah ketengah
mereka dan mecegah, “Harap saudara Leng,
jangan marah dulu!” Dan ia memandang kearah
si dara.
“Oh Ay-cu, mundurlah’“ seru dara baju ungu.
Dalam pada itu lari tumpukan kain bertulisan
yang ngelumpruk dlantai, tiba2 dihembas
angin dingin sehingga kain2 itu terangkat
naik. Dan tampaklah apa yang terdapat dibalik
kain2 itu.
Sebuah jajaran lilin, dari kecil hingga
makin kebelakang makin besar. Panjang jajaran
lilin itu tak kurang dari berpuluh tombak
jauhnya. Pada ujung jajaran lilin, terdapat
sebuah peti mati hitam. Dikedua samping peti
mati itu tergantung dua buah lian (kain
bertulis kata berdukacita). Tetapi karena
jaraknya amat jauh, sekalian orangpun tak dapat
melihat jelas.
Ih Thian-heng memandang kepada dara baju
ungu dan berkata, “Sungguh suatu persiapan
yang hebat “
“Seorang yang mati, apabila dikubur ditempat
semacam ini tentu akan merasa lebih
senang mati daripada hidup,” sahut si dara
baju ungu.
Kemudian Ih Thian-heng memandang kearah
sekalian tokoh2 silat lalu tertawa nyaring,
“Rahasia dari makam yang begitu
menggemparkan dunia persilatan, segera akan
terbongkar. Pada tempat dan saat ini,
kuharap saudara2 sekalian tetap menghapus
dendam permusuhan pribadi. Dan jangan
melakukan rencana gelap untuk mencelakai lain
orang. Apabila terdapat orang yang bertindak
begitu, dia akan dianggap sebagai musuh
kita sekalian. Setiap orang berhak
membunuhnya.
Pletek…. tiba2 terdengar letupan kecil dari
sebatang lilin yang pecah. Apinya muncrat
kemana-mana lalu padam.
Tetapi menyusul pun lain2 lilin meletus satu
demi satu sehingga bunga api berhamburan
mememenuhi ruangan. Pada lain kejab ruangan
gelap gulita. Sebagai gantinya, batang
lilin2 yang tinggi pada jajaran dibelakang
sendiri, segera menyala makin terang.
Ih thian heng menghela napas, “Diluar langit
masih ada langit, dibelakang orang masih
ada orang. Kepandaian orang itu benar
membuat aku siorang she Ih harus mengangkat
topi.”
Buru2 dara baju ungu menukas, “Sayang ayahku
belum datang kemari. Mungkin dialah
yang dapat mengimbangi kepandaian pencipta
makam ini.”
Jawab Ih Thian-heng, “Dahulu dalam rapat
besar di Jang-san, ayah nona telah
membantah tentang kehebatan ilmusilat Tiong
goan. Kata-katanya yang tajam, sangat
menusuk telinga. Memang aku sangat berharap
agar dia dapat datang kemari
menyaksikan peristiwa yang ramai ini.”
Ong Kwan tiong mendengus dingin, “Hm, jangan
meremehkan kepandaian suhuku.
Apabila dia mau turun kedunia persilatan,
bukan saja pencipta makam ini takkan mampu
mengelabuhi orang, pun kalian yang berada
disini mungkin tak mempunyai kesempatan
untuk hadir disini.”
Mendengar omongan besar itu, Han Ping tak
puas. Ia kerutkan alis hendak membantah.
Tiba2 hidungnya terbaur angin wangi. Si dara
baju ungu melangkah datang. Han Ping
memandang dara itu dengan gelisah. Ia hendak
membuka mulut menegurnya tetapi tak
jadi.
Tetapi ia rasakan angin berhembus dan dara
baju ungu itupun melangkah kearah Ting
Ling. Ong K-wan-tiong dan nenek bwe ikut
dibelakangnya.
Ting Ko cepat melangkah kemuka Ting Ling dan
berseru dingin, “Mau apa kalian?”
Ih Thian-heng tertawa gelak2, “Harap saudara
Ting jangan salah faham. Kupercaya nona
Siau takkan mengganggu puterimu.”
Terdengar dara baju ungu berkata dengan
suara lembut, “Nona Ting, engkau terluka.”
Ting Ling menyelinap keluar dari samping
ayahnya lalu menyawab, “Aku memang
menderita luka parah, mungkin tak dapat
hidup sampai beberapa hari lagi”
“Tak apa,” kata dara baju ungu, “aku dapat
menyembuhkan engkau. Harap kemari agar
dapat kuperiksa bagaimana lukamu itu.”
ting Ling maju menghampiri dan bertanya,
“Mengapa engkau mengenakan kain
kerudung muka sutera hitam itu? Apakah takut
kalau kulihat kecantikanmu yang dapat
menilaikan orang2 itu?”
Soal itu, soal wajah si dara baju ungu,
memang amat menarik perhatian sekalian orang.
Setiap membayangkan betapa cantik dara itu.
Tetapi tiada seorangpun yang pernah
melihatnya.
Tampak kain selubung muka dara itu
bergetaran. Dan entah dari mana, tiba dari dalam
selubung muka terdengar suara bersenandung.
Makin lama makin tinggi dan lagunyapun makin
sedih. Menggambarkan seorang isteri
yang lama sekali-ditinggal pergi oleh
suaminya, penuh hamburan pilu, ratapan kalbu.
Suasana sedih itu membuat hati orang seperti
disayat-sayat dan airmata turun berderaiderai.
Tak berapa lama nyanyian sedih itupun makin
menurun rendah dan akhirnya lenyap.
Sekalian orangpun ikut tersadar dari buaian
yang rawan.
Tiba2 Han Ping menggembor keras dan
muntahkan segumpal darah segar. Tubuhnya
terhuyung-huyung beberapa kali baru kemudian
berdiri tegak.
Ih Thian heng batuk2 dan menghela napas,
“Nyanyian itu bagaikan lagu sorga, tiada
terdapat didunia, Apabila dulu2 aku
mendengar lagu semacam itu, dunia persilatan
mungkin akan terhindar dari malapetaka.”
Habis berkata ia terus mengharapiri Han
Ping, Melihat itu Pengemis sakti Cong To cepat
maju dua langkah, serunya, “Ih Thian-heng,
apakah engkau bermaksud hendak
melanggar janji yang engkau ucapkan sendiri
Sahut ih Thian heng dengan serius, “Kalau
hatiku gentar, tentulah akan kugunakan
kesempatan saat ini untuk melenyapkannya….”
tiba2 ia tertawa, “Tetapi aku bukanlah
manusia serendah itu….”
Pengemis sakti menukis dengan helaan napas,
“Durjana dan orang budiman, memang
orang2 yang luar biasa. Aku sipengemis tua
harus banyak berpikir.”
Ih Thian-heng ulurkan tangan mencengkeram
lengan kanan Han Ping. Dirasakannya
darah dalam nadi pemuda itu mengalir deras
sekali. Jelas pemuda itu sedang menderita
goncangan hati yang hebat. Segera Ih
Thian-heng memijat keras2 urat nadi Han Ping lalu
menepuk punggung pemuda itu seraya berseru,
“Dendam sakithati orangtua belum
terhimpas, kalau sampai mati tentu masih
penasaran.”
Han Ping menggigil lalu pelahan-lahan
membuka mata, sahutnya, “Terima kasih ia terus
menggeliat, lepaskan tangannya dari cekalan
orang dan mundur dua langkah, lalu
pejamkan mata mengatur pernapasan.
Ih Thian-heng berpaling memandang kain
bertulisan yang berkibar-kibar menyiak
kemudian meruntuh kebawah lagi Sinar lilin
disebelah dalampun teraling pula.
“Apakah budak perempuan itu? ‘ tiba2
terdengar suara yang aneh melengking.
Sekalian orang serempak berpaling. Kiranya
yang berseru itu siorang tua alis panjang
atau tabib racun. Sambil tangan kiri
mencekal kera bulu kuning emas yang matanya
meram, orangtua alis panjang itu memandang
lekas2 kearah Siangkwan Wan-ceng.
Melihat sikap orangtua alis panjang tampak
begitu mendendam kepada putrinya.
Siangkwan Ko marah, bisiknya, “Ceng-ji,
jangan takut, akan kuberi hajaran pada si tua
itu!”
“Jangan ayah,” seru Siangkwan Wan-ceng
gopoh, “lo-cianpwe itu telah melepas budi
kepadaku….” ia memandang kearah sitabib alis
panjang, berseru pula, “Apakah engkau
hendak menanyakan orang yang menulis resep
obat itu?”
“Ya, apakah dara baju ungu itu?” seru
sitabib alis panjang.
“Benar, memang dia!” sahut Siangkwan
Wan-ceng.
Tabib alis panjang menengadahkan muka
tertawa keras, “Bagus! Akhirnya dapat juga
bertemu!” Ia terus melangkah kearah si dara
baju ungu.
“Berhenti!” cepat nenek Bwe ayunkan tongkat
membentak.
“Bwe-ni. biarkan dia,” kata dara baju ungu.
Nenek Bwe menurut lalu mundur kesamping dara
baju ungu. Tetapi matanya tetap tak
lepas memandang gerak gerik tabib itu.
Sekali tabib itu berani berbuat yang
membahayakan diri si dara baju ungu, nenek
Bwe tentu akan menghancurkannya.
Dara baju ungu menghela napas panjang,
tanyanya, “Apakah maksudmu hendak mencari
aku?”
Sahut tabib alis panjang, “Seumur hidup
kuabdikan diri dalam soal pengobatan. Dan aku
bangga kepada diriku, tetapi tak tahu kalau
didunia ini masih terdapat orang yang
melebihi kepandaianku.”
“Apakah hanya begitu keperluanmu?” tanya si
dara baju ungu.
“Baru2 ini aku telah melihat secarik resep.
Obat yang ditulis pada resep itu benar2
membuat aku kagum dan tunduk benar2,” kata
tabib alis panjang.
Kemudian ia berpaling kearah Han Ping,
serunya, “Resep itu sayang telah dihancurkan
oleh dia. Aku ingin sekali bertemu muka
dengan pembuat resep itu.”’
Dara baju ungu menghela napas, “Ah, usiamu
sudah begitu tua, mengapa masih
mengandung pikiran untuk memburu
kebanggaan?”
tetapi tanpa menghiraukan ucapan si dara,
tabib alis panjang itu berseru lantang, “Apakah
engkau yang menulis resep itu?’
“Kalau ya, lalu bagaimana?”
“Aku tak percaya!” seru tabib alis panjang,
“sepanjang hidupku aku telah mengumpulkan
banyak sekali resep obat tetapi tak pernah
kulihat resep seperti itu ….”
“Kalau benar aku yang menulis resep itu,
lalu engkau hendak mengapa?”
“Kalau engkau yang menulis engkau tentu
masih ingat isi resep itu.”
“Apakah engkau masih ingat ramuan obat pada
resep itu?” tanya si dara.
“Walaupun tak dapat mengingat seluruhnya
tetapi dapat juga mengingat enam tujuh
bagian,” kata tabib alis panjang.
Tiba2 dara baju ungu itu mengucapkan
beberapa jenis obat, “I-Long-ong, Pi-he, Hong
hoa, Liong yan-hiang…. seluruhnya dia
mengatakan duabelas jenis ramuan obat.
Mendengar itu barulah tabib alis panjang
mengangguk, “Tepat semua Kalau begitu tak
dapat diragukan lagi, resep itu memang
engkau yang menulis ia berhenti sejenak
tersenyum lalu bertanya pula, “Berapakah
usiamu tahun ini?”
“Buat apa engkau tanyakan umurku? Aku
berumur 19 tahun,” sahut si dara.
Tiba2 wajah tabib alis panjang itu berobah
pucat, serunya, “Aku sudah hidup sampai
berpuluh puluh tahun tetapi ternyata tak
dapat melebihi kepandaianmu seorang anak
perempuan yang bara berumur 19 tahun. Apakah
orang semacam aku ini masih ada muka
untuk hidup didinia….?”
Habis berkata tiba2 tabib alis panjang itu
benturkan kepalanya ke tanah.
Saat itu sekalian orang masih termangu dari
buaian nyanyian sedih si dara. Dan
merekapun tak menyangka sama sekali bahwa
karena selembar resep obat saja, orang tua
alis panjang itu telah nekad membenturkan
kepalanya ketanah.
Brak…. darah muncrat keempat penjuru ketika
batok kepala tabib alis panjang itu pecah
berhamburan ditanah….
Empat orang tokoh silat hendak menolongnya
tetapi sudah tak keburu.
“Ah, kasihan orangtua itu…. “ dara baju ungu
menghela napas panjang.
Sambil berjongkok untuk mengangkat mayat
tabib itu, Ih Thian-heng berkata seorang
diri, “Ah, lo cianpwe terlalu terburu2
meninggal dunia. Sebenarnya masih banyak
peristiwa ramai yang lo cianpwe dapat
saksikan….”
Sambil memondong mayat ia melangkah kearah
jajaran kain lian (bertulis). Kira2 dua
tiga langkah dari kain lian itu, ia meniup
untuk menyiak kain2 itu lalu melangkah maju.
Setelah melawati meja, ia berpaling dan
berseru kepada sekalian orang, “Aku yang akan
menjadi pelopor jalan” berseru pengemis Cong
To, “Baik dan Jahat itu hanya sepercik
lintasan pikiran. Harap saudara Ih tunggu
dulu aku si pengemis tua.
Pengemis-sakti itu apungkan tubuh dan pada
lain saat ia sudah berada disamping Ih
thian-heng, serunya “Mari kita jalan
bersama!”
“Tigapuluh tahun hidup dalam dunia
persilatan baru pertama kali ini aku merasakan sikap
yang ramah dari saudara Cong.”
Sahut Cong To dengan nada bersungguh,
“Sepanjang hidupku, entah sudah berapa
banyak jiwa manusia yang kubunuh. Tetapi
tidak seorang dari mereka yang kukenang.
Satu satunya peristiwa yang tak pernah
Kulupakan dalam hidupku ….”
“Bukankah yang ada hubungannya dengan sumoay
saudara?” tukas Ih Thian-heng.
“Kata saudara Ih, walaupun tidak tepat
tetapipun tak jauh” kata pengemis Cong To,
“peristiwa yang selalu menggandul pada
pikiranku yalah karena selama ini aku belum
dapat mengambil lencana emas lambang
pimpinan ketua….”
Ih Thian-heng merogoh kedalam baju, katanya,
“Aku dapat menyerahkan lencana emas
itu kepada saudara. Sejak ini, saudara Cong
tak perlu tunduk pada perintah sumoay
saudara.”Ih menyerahkan sebuah lencana emas
kepada Cong To.
Cong To melihat lencana emas itu memang
lencana dari suhunya yang hilang. Ia
terkesiap.
Peraturan dari perguruan Kim pay bun yalah
harus menghormati lencana emas lambang
perguruan. Setiap murid yang melihat lencana
emas itu harus berlutut memberi hormat
seperti berhadapan dengan suhunya.
Sejenak tertegun, Cong To terus berlutut
memberi hormat dengan khidmat seraya
menyambuti dengan kedua tangaanya.
berkata pula Ih Thian-beng, “Kalau aku
beruntung dapat keluar dari makam ini dengan
masih hidup, aku bersedia akan membawa
saudara ber temu dengan sumoay saudara.
Cong To menghela napas, “Ah. peristiwa
lampau seperti impian. Asal sudah
mendapatkan lencana-emas itu kembali, aku
tak ingin bertemu muka lagi dengannya.”
Ih Thian heng tertawa meloroh, “Walaupun,
aku sendiri tak melakukan kebaikan tetapi
anak buahku kebanyakan gemar melakukan
kejahatan. Sumoay saudara telah
kupenjarakan dalam sebuah gua. Apabila aku
tak dapat keluar dari makam ini, sumoay
saudarapun tentu tak mungkin dapat keluar
dari guha itu. Dan itu memang sudah layak
sebagai akibat dari perbuatannya.
Sambil berkata Ih Thian hengpun terus
melangkah kemuka Cong To mengikuti
dibelakangnya. ia kerahkan tenaga dalam
bersiap siap. Setelah meragu sejenak, sekalian
orangpun segera menyusul. Hanya orang Lam
hay-bun yang tetap tinggal ditempatnya.
Begitu pula Han Ping yang masih berada
disitu karena sedang melakukan penyaluran
napas. Kim loji berdiri didamping pemuda itu
dengan penuh perhatian. Hendak bertanya
bagaimana keadaan pemuda itu tetapi akhirnya
tak jadi karena kuatir mengganggunya.
Tampak dada pemuda itu berkembang kempis,
wajahnya tetap pucat lesi.
“Heran, sungguh heran sekali. Orang bertanya
mengapa dara itu terus menyanyikan lagu
sesedih itu?” gumam Kim loji.
Tiba2 nenek Bwe gentakkan tongkat bambunya,
berseru, “Hai apa yang engkau sebut
mengherankan itu!”
“Kumaksudkan orang yang bertingkah
mengherankan,” seru Kim loji.
Nenek Bwe berseru dingin, “Orang semacam
engkau, juga berani…. …. “
Dara baju ungu menghela napas, “Sudahlah Bwe
Nio, jangan menghiraukannya.”
Kim loji masih mendengus geram, “Walaupun
aku….”
Tiba2 Han Ping membuka mata dan menghela
napas panjang, “Paman Kim, engkaupun
harap jangan bicara lagi!”
Kim loji dan nenek Bwepun diam. Tetapi mata
mereka masih saling berpandang. Yang
seorang setiap saat bersedia berkorban jiwa
untuk Han Ping. Dan yang satu seorang inang
pengasih yang amat taat dan sayang kepada si
dara baju ungu. Keduanya sama2 mentaati
perintah momongannya.
Pelahan-lahan dara baju ungu melangkah
kemuka Han Ping lalu berputar jalan balik
kembali. Kemudian terlonjong longong
memandang pemuda itu. Rupanya hati dara itu
tegang sekali. Sinar matanya bertamburan
seperti hendak menumpah keluar dari balik
kain kerudungnya. Slnar mata yang ipenuh
dengan ribuan kata.
“Nak, apa yang hendak engkau katakan,
bilanglah, tak perlu takut,” kata nenek Bwe
dengan menghela napas.
Dara baju ungu mengangguk. Dilihatnya Han
Ping memandang dirinya dengan mata
merentang lebar. Dara itu menghela napas,
ujarnya, “Mengapa hatimu masih mengenang
aku? Apabila engkau anggap aku sudah mati,
alangkah baiknya.”
Han Ping tetap menutup mulut rapat2. Tetapi
kerut wajahnya makin tegang.
Kata si dara pula, “Kalau hatimu melupakan
aku, tak mungkin tadi engkau sampai begitu
tegang sehingga…. sehingga…. ah!”’
Tiba2 dara itu beralih memandang Kim loji.
katanya pula, “Nyanyianku tadi sama sekali
bukan hendak melukai hatinya. Hanya dalam
hatiku memang penuh dengan hal yang
duka tetapi tak dapat kutumpahkan dengan
kata2. Maka terpaksa kucurahkan melalui
nyanyian itu.”
Kim loji terlongong, katanya, “Nona amat
cerdas sekali, mengapa tak dapat
menumpahkan kesedihan yang menghuni dihati
nona?”
Dara baju ungu itu tertawa, “Ada kalanya aku
mengharap diriku ini seorang tolol saja.
Seorang yang tolol, tentu lebih tenang
pikirannya dan lebih sedikit pula kedukaan
hatinya.”
Tiba2 Han Ping menyelutuk, “Kalau engkau
menganggap aku sudah mati, kesedihan
hatimu mungkin tentu banyak berkurang….”
Tampak pemuda itu dengan paksakan diri baru
dapat mengucap kata2 itu.
Kala dara baju ungu, “Ada kalanya aku benar2
mengharap engkau meninggal dalam
makam yang kubangun dengan tanganku sendiri.
Tetapi…. tetapi nasib mempermainkan
orang dan membuat aku sering berjumpa dengan
engkau.”
Dalam mengucapkan kata2 itu, tampaknya si
dara mengerahkan ketabahan hatinya.
Sesungguhnya kedua muda mudi itu masing2
dicengkam oleh getar2 Asmara. Namun
selama itu, mereka hanya menyimpan dalam
hati tak mau mengutarakan.
Tetapi kini. karena menyadari bahwa hidup
mereka sudah takkan lama lagi, kesempatan
untuk berjumpapun tak banyak, barulah mereka
tak tahan dan menumpahkannya.
Nenek Bwe memberi isyarat agar Lam-hay-bun
menyingkir. Tiba2 nenek itu menegur
Kim Loji yang masih tak pergi, “Hai, mengapa
engkau tak mau pergi?”
Kim loji sejenak memandang Han Ping lalu
memandang dara baju ungu. Dengan
perasaan yang campur aduk, diapun terus
ayunkan langkah, menuju ke sudut ruang.
Tetapi beberapa saat kemudian ia tak tahan
keinginan hatinya dan berpaling lagi.
“Hai, lihat apa!” bentak neneK Bwe. Tetapi
nenek itu sendiripun tak henti-hentinya
memperhatikan keadaan si dara baju ungu.
Kim lojin berputar tubuh dan menghadap
tembok. Tetapi berulang kali ia tak tahan dan
berpaling kebelakang.
Demikianlah besarnya rasa sayang nenek Bwe
kepada si dara baju ungu dan rasa sayang
Kim loji kepada Han Ping.
Saat itu tinggallah Han Ping dan si dara
baju ungu saling berhadapan dan beradu
pandang. Tetapi kedua hanya tegak seperti
patung yang tak dapat bicara.
Tiba2 nenek Bwe berseru keras, “Hai, tahukah
kalian tentang pepatah kuna yang
mengatakan” Sedetik itu berharga seribu mas?
Pepatah itu hendak mengajarkan kepada
orang betapa berharganya sang tempo.
Walaupun tak seluruhnya tetapi sebagaian besar
pepatah itu memang tepat sekali!”
Sekalian anak buah Lam-hay-bun heran dan
saling berpandangan. Mereka tak tahu apa
yang dimaksudkan nenek Bwe. Tetapi mereka
terpaksa menyambut, “Ya, tepat, tepat
sekali….”
Dara baju ungu menghela napas, ujarnya
kepada Han Ping, “Ah, Bwe Nio menganjurkan
kita bicara?”
“Lalu mengapa engkau tak bicara?” sahut Han
Ping.
“Bicara apa….?” kata si dara. “Bicara
apa….?” kata Han Ping pula.
“Pada hari itu aku bertemu Ih Thian-heng.
Dia mengatakan kalau engkau sudah
meninggal,” kata dara baju ungu.
Han Ping menghela napas, “Ah, memang ada
orang, walaupun mati tetapi masih seperti
hidup. Tetapipun ada orang yang walaupun
masih hidup tetapi seperti mati….”
“Usiamu masih muda.” kata si dara, “tetapi
setiap orang persilatan yang mendengar
namamu Ji Han Ping itu, kalau tidak memuji
dalam hati, tentu diam2 mengakui bahwa
engkau seorang tunas muda yang amat
cemerlang. Walaupun sampai seratus tahun lagi
namamu tetap akan diucapkan orang. Dengan
demikian walaupun engkau sudah
meninggal, tetapi masih hidup. Mengapa
engkau mengatakan walaupun masih hidup
tetapi sudah seperti mati?”
Han Ping terdiam beberapa jenak, lalu
berkata pelahan, “Engkau …. engkau masakan tak
tahu diriku?”
“Aku…. aku bagaimana tak mengetahui engkau,”
sahut si dara.
Keduanya lalu menundukkan kepala. Walaupun
tidak mengucap apa2 lagi, tetapi dalam
hati kedua remaja iu sudah saling
bersentuhan rasa, saling merasakan suatu pancaran
Asmara murni yang mengalir dalam hati
masing2.
Saat itu mereka rasakan suatu saat yang
paling bahagia dalam hidupnya….
Asmara terpendam.
“Ada orang yang menggunakan kata2 untuk
menguturakan maksud hatinya. Tetapi
menurut yang dilalukan kedua remaja itu,
ternyata bahasa yang paling halus dan paling
menyentuh perasaan hati, bahasa yang paling
berharga dan paling indah, adalah bahasa
hati. bahasa yang tak diucapkan dengan mulut
melainkan dengan pancaran mata. Dan
getar2 alunan halus dari Asmara
terpendam….diam2 Kim loji yang menyaksikan
pertemuan Kedua remaja itu, mendapat kesan
yang mendalam.
Tengah dia melamun, tiba2 nenek Bwe berseru
melengking, “Hilang dan tumbuh, ada
dan tiada, dari manakah datangnya?”
Han Ping si dara baju ungu terkesiap dan
serempak berpaling.” Dibawah kain lian, tegak
seorang dara baju biru yakni Siangkwan Wan
ceng.
Walaupun dara itu berusaha hendak
menenangkan hatinya, tetapi kedua kakinya yang
gemetar keras itu tak dapat menyembunyikan
lagi luapan hatinya yang bergoncang keras.
Dara baju ungu menghela napas pelahan lalu
menghadap kemuka lagi.
“Huh, anak perempuan yang tak tahu diri,”
teriak nenek Bwe. Tetapi Siangkwan Wanceng
tak menghiraukannya. Pandang matanya makin
kabur dan kabur, seperti terbungkus
kabut.
“Nona Siangkwan….” baru Han Ping menegur,
tiba2 dari belakang tumpukan kain lian
itu terdengar suara bentakan keras. Jelas
berasal dari rombongan tokoh2 yang masuk
kedalam tadi. Mereka tentu menghadapi
kesulitan.
Tetapi kesemuanya itu tak dihiraukan
Siangkwan Wan ceng. Dunia ini bagi Siangkwan
Wan-ceng sudah tak dirasakan apa2 lagi. Ia
tak mengacuhkan segala apa.
Oleh karena nona itu berdiri mengalingi
sinar lilin dibelakang deretan kain2 bertulisan
itu. maka orang yang berada diruang muka,
tak dapat melihat apa yang terjadi diruang
dalam.
Tiba2 dara baju ungu menghela napas, serunya
kepada Han Ping, “Dia tentu bersikap
baik sekali kepadamu. Selama beberapa hari
ini berada bersama-sama, apakah kalian
tidak gembira?”
Kata Han Ping, “Ah, dia seorang nona yang
baik….”
“Kalau begitu mengapa engkau tak
memanggilnya kemari.” kata si dara baju ungu, “dia
telah minum racun buatan perguruan
Lam-hay-bun yang bekerjanya pelahan. Dia hanya
dapat hidup selama satu bulan saja…. “
“Apa?” Han Ping terkejut.
“Dia hanya dapat hidup sebulan lagi,” kata
dara baju ungu. “Oleh karena itu dia sangat
menghargakan sekali waktu yang tak berapa
lama itu….”
“O, kiranya begitu,” seru Han Ping.
Kembali dari ruargan dibelakang jajaran kain
lian itu terdengar suara tertawa panjang dan
bentakan keras. Dan lilin yang menerangi
tempat itupun tiba2 padam.
Seiring dengan suasana gelap, tiba2 hidung
Han Ping tebaur bau yang harum. Dara baju
ungu menghampirinya dan pada lain saat
terdengarlah bisikan lembut ditelingannya.
Sedemikian dekat suara itu sehingga hampir
menyentuh pipi Han Ping, “Dalam beberapa
waktu terakhir ini, aku telah membohongi
diriku sendiri. Aku telah mengubur engkau
ditanah pegunungan itu. Pun telah kubakar
banyak sekali kertas-uang untukmu. Dan
kubangun sebuah makam yang indah bagimu agar
engkau dapat hidup bahagia di alam
baka…. .”
Han Ping tertawa lawar . “Sayang orang yang
engkau kubur itu bukan aku…. tetapi orang
itu benar2 mempunyai rejeki besar….
“Aku mengharuskan diri untuk mempercayai
bahwa yang kukubur itu adalah engkau.
Walau pun kutahu engkau masih hidup tetapi
aku harus berusaha mengelabuhi diriku
sendiri….”
“Mengapa?” tanya Han Ping.
“Karena selama ini belum pernah ada orang
orang yang bersikap begitu dingin
kepadaku.”
Han Ping tak menyahut melainkan dalam hati
berkata, “Ah, kapankah aku bersikap
dingin kepadamu….”
Kata2 itu diucapkan dalam hati tetapi entah
bagaimana si dara baju ungu rupanya seperti
mengerti. Segera ia berkata pula, “Ah, aku
salah omong. Aku hendak mengatakan bahwa
selama ini tiada seorangpun yang tak
mengalah kepadaku. Tetapi engkau tak mau
mengalah kepadaku….”
Han Ping tertawa, “Mengapa aku harus
mengalah kepadamu?”
Tiba2 dara baju ungu itu ulurkan tangan dan
berbisik, “Aku tak minta engkau mengalah
Seorang anak perempuan memang harus bersikap
lemah lembut. Ai, aku memang terlalu
manja.”
Pada saat tangan si dara bersentuhan dengan
tangan Han Ping, seketika jantung Han Ping
barguncang keras sehingga ia menarik diri
kebelakang.
Dara itupun perlahan-lahan menarik kembali
tangannya lalu berbisik, “Sekarang aku baru
menyadari bahwa betapa hebat dan luar biasa
kecerdasan dan bakat yang dimiliki
seseorang, namun akhirnya sukar juga untuk
menentang kodrat alam. Lihatlah, peristiwa2
pada waktu lampau, betapapun orang dapat
mengerjakan usaha2 besar, namun tiada
seorangpun yang mampu untuk memutar balik
jalannya rembulan dan matahari. Dan tak
mungkin pula dapat mengembalikan tempo yang
telah lalu. Walaupun perjumpaan kita
ini belum terlalu terlambat, tetapi ruangan
ini tak dapat memuat dua orang yang suka
membawa kemauannya sendiri. Yang lampau
biarlah berlalu, biarlah seperti sang tempo
yang takkan dapat kembali lagi….”
Berkata Han Ping dengan nada bersungguh,
“Apa yang nona katakan memang benar.
Aku masih menyandang dendam sakithati
orangtuaku yang belum terhimpas. Saat ini
musuhku berada disini. Kami tentu akan
menghadapi suatu pertempuran maut. Dan siapa
yang akan menang masih sukar diketahui. Apa
yang akan terjadi dihari depan masih
belum pasti, kuharap nona suka menjaga diri
baik2. Nah, akupun hendak mohon diri….”
Habis berkata Han Ping terus ayunkan langkah
kedepan.
Tunggu,” seru dara baju ungu. Han Ping
berhenti lalu berpaling, “Adakah nona masih
hendak memberi pesan lagi?”
“Nasib akan menentukan orang. Dunia ini
penuh dengan orang yang ingin mancari nasib
dan ingin melepaskan nasib. Inilah dua butir
pil penawar racun. Berikanlah kepada nona
Siangkwan itu. Kuberinya minum racun karena
aku cemburu dan iri hati. Hendak
kusuruh dia merasakan derita siksaan yang
hebat sebelum mati. Sekarang berikanlah pil
itu kepadanya. Agar dia tetap hidup dengan
penderitaan kehidupannya.”
Sambil menyambuti pil, Han Ping berkata,
“Ucapan nona penuh dengan ujar2 yang
bernilai tinggi sehingga orang harus
mengcamkan benar2.”
“Lebih baik engkau jangan terlalu mengerti,
lekas pergilah,” kata si dara baju ungu.
Han Pingpun segera lanjutkan langkah.
Siangkwau Wan ceng masih berdiri diam
dibelakang jajaran kain lian itu. Ia terlongonglongong
seperti patung. Ketika Hati Ping datang,
nona itupun menyonsongnya,
“Orangtua alis panjang itu telah menolong
jiwamu, tetapi dia yang mati lebih dulu “
“Hendak kuminta jenazah tabib itu dari Ih
Thian-heng,” kata Han Ping, “apabila kelak
aku dapat keluar dari makam ini, tentu akan
kubangun sebuah makam untuknya.”
“Dia seorang sakti yang menyembunyikan diri
dipegunungan sepi,” kata Siangkwan
Wan-ceng, “karena hendak menyertai engkau
masuk kedalam kancah pergolakan dendam
disini, dan berakhir dengan kehilangan jiwa
“
“Engkau telah memberiku minum racun,
kebaikanmu lebih besar dari tabib itu,” kata Han
Ping.
“Tetapi aku mempunyai pamrih agar selalu
dapat bersama engkau. Sebaliknya tabib itu
tak ada pamrih apa2. Bagaimana engkau
mengatakan kebaikanku melebihi
kebaikannya?” bantah si nona.
Sesaat Han Ping tak dapat menyelami kata2 si
nona. Perlahan lahan ia mengangsurkan
pil, “Nona Siau pesan kepadaku supaya
menyerahkan pil penawar racun ini kepadamu.”
“Apakah dia menghendaki aku supaya mengalami
penderitaan hidup selama beberapa
tahun lagi?”
“Dia memang mengatakan begitu,” kata Han
Ping, “tetapi aku tak mengerti maksudnya.”
Siangkwan Wan-ceng menghela napas, ujarnya,
“Tak perlu memikirkan hal itu,” katanya,
“engkau harus menyapu semua keruwetan
pikiran dan tumpahkan seluruh perhatian
untuk membalas dendam ayahbundamu. Ih Thian
heng bukan seorang tokoh biasa.
Dalam pertempuran nanti, sukar ditentukan
siapa yang akan menang….”
Berhenti sejenak ia melanjutkan pula, “lekas
pergilah, jangan memikirkan budak setan
dari Lam-hay- bun itu lagi. Karena hal itu
akan menyebabkan engkau kesengsam dengan
kecantikannya. Suatu hal yang akan
menyebabkan engkau lengah dalam kewaspadaan
terhadap musuh.”
Han Ping terdiam sejenak, lalu mengucapkan
terima kasih dan terus melangkah ke muka.
Diam2 ia telah merenungkan ucapan Siangkwan
Wan-ceng. Memang sejak berhadapan
muka dengan si dara baju ungu, pikirannya
selalu terbayang akan wajahnya yang cantik
dan senyumnya yang mengikat suksma.
Kekerasan hati untuk membalas dendam
sakithati orangtuanya seolah-olah terpudar
oleh bayangan si dara jelita itu. Beberapa
patah kata Siangkwan Wan-ceng itu telah
menyadarkan hatinya.
Jalan terowongan itu gelap sekali dan amat
sunyi pula. Seolah olah orang2 yang masuk
kesitu tadi, hilang lenyap ditelan suatu
tenaga gaib.
Han Ping berhenti dan diam2 menyalurkan
tenaga-dalam, Kegelapan suasana yang
mencengkam aneh itu seolah-olah membawa
firasat akan sesuatu yang mengejutkan.
Dalam suasana yang seperti orang, indera
perasaan orangpun makin bertambah tajam.
Dalam waktu akhir2 ini, bukan saja
tenaga-dalam Han Ping telah mencapai kemajuan
pesat, pun pengertiannya tentu ilmu bernapas
menurut ajaran kitab Tat-mo ih-kin-keng
bertambah maju. Dua kali bernapas, ia sudah
dapat menjernihkan pikiran dan
mempertajam kelima inderanya. Secepat itu
pula ia dapat mendegarkan suara napas dari
tokoh2 yang berada disitu.
Han Ping melangkah maju lagi, langkah
kakinya tangkas sekali, seringan kapas jatuh
ketanah, sama sekali tak mengeluarkan suara
apa2. Dan indera penglihatannyapun
bertambah tajam. Dilihatnya para tokoh2 tadi
tengah tegak berdiri bersiap-siap2, seperti
menunggu sesuatu.
Han Ping melintasi mereka terus menuju
kesamping Ih Thian-heng. Tiba2 Ih Thian heng
ulurkan tangan kiri; Harap saudara Ji,
jangan buru2 masuk.”
“Mengapa?” tanya Han Ping agak kurang puas.
Ih Tbian heng tersenyum, “Pemilik makam
sudah mengeluarkan pernyataan, suruh kita
menunggu dulu “
Han Ping mendengus, “Biasanya engkau angkuh
sekali, heran mengapa sekarang engkau
mau menurut kata orang?”
“Aku benat2 kagum kepada pemilik makam ini,”
kata Ih thian-heng, “kupercaya dia tentu
takkan mengelabuhi secara licik….
Dalam pada itu tiba2 terdengar ngiang suara
yang halus tetapi cukup jelas, “Sepeminum
teh lamanya lagi, pintu Seng si bun akan
terbuka dayang2 cantik akan menyambut dan
melayani para tetamu….”
Berhenti sejenak, suara lembut itu berkata
pula, “Sungguh tak kusangka kalau tuan2
datang begitu cepat. Tetapi kaum persilatan
Tiong goan tak pernah kehabisan orang sakti.
Karena salah menafsirkan kekuatan saudara
sehingga tak sempat mengadakan
penyambutan. Harap dimaafkan.”
Han Ping kerutkan alis, berseru, “Siapakah
orang itu?”
“Menilik nada bicaranya, tentulah pemilik
makam ini,” kata Ih Thian-heng.
Han Ping tertawa nyaring, “Apakah kita
begini banyak orang harus mendengar saja
omongannya?”
“Kegagahan saudara Ji, membuat aku kagum,”
kata Ih Thian-heng” kalau kita dapat
menempur pemilik makam, hanya tinggal
pertempuran kita berdua. Apabila engkau dapat
mengalahkan aku. dengan mudah engkau pasti
akan mendapat kehormatan sebagai
pemimpin dunia persilatan….”
Terdengar beberapa kali tertawa dingin dan
dengus menggeram, “Mungkin tak begitu.”
Ih Thian-heng tertawa tawar, serunya, “Harap
saudara jangan percaya omonganku. Tetapi
soal itu memang aku tak dapat berbuat apa2.
Tetapi aku teringat akan suatu hal yang
terpaksa harus kuberitahukan lebih dulu.
Siapa yang dapat menghadapi Pedang-terbang
dialah yang mem ilmu pedang terbang itu.”
Ilmu pedang-terbang itu, bukan saja termasuk
ilmu pedang yang paling hebat, pun dalam
kalangan ilmu kepandaian dunia persilatan,
jarang sekali orang yang memilikinya.
Sekalian tokoh2 itu terdiam.
Ih Thian-heng tertawa dan berkata pula,
“Tetapi pada saat ini diantara kita, terdapat
seorang yang memiliki ilmu kepandaian itu.
Dia bukan lain seorang pemuda yang masih
muda belia yalah Ji Han Ping….”
“Perlu kuceritakan lagi,” kata Ih Thian-heng
pula, “bahwa pada pertama bertemu dengan
saudara Ji itu bukan aku menyombongkan diri,
tetapi memang dia jauh sekali tingkatnya
dengan aku. Tetapi setiap kali bertempur
dengan dia, dia tentu memperoleh kemajuan
yang pesat sekali. Belum sampai setengah
tahun, dia sudah dapat mengimbangi
kepandaianku. Hal yang tak wajar dalam cara
meyakinkan ilmusilat itu, benar2 membuat
orang….”
Tiba2 terdengar gelaran keras sehingga
ucapan Ih Thian heng terputus. Dua buah lentera
berayun keluar.
Dan sebuah suara yang parau, segera
meluncur, “’Pintu Seng-si-bun telah kubuka,
silahkan para tetamu masuk. Sebelum masuk,
harap saudara2 tahu akan dua buah
larangan. Para jelita yang menyambut tetamu
itu, dara2 yang luar biasa cantiknya. Tetapi
mereka tak mengenakan pakaian yang dapat
mencelakai suadara. Apabila saudara2 yakin
takkan terpengaruh oleh kecantikan dara2
itu, silahkan masuk, tetapi kalau hati saudara
tak kuat dan tersengsam dengan bidadari2
itu, silahkan pilih saja yang mana dan ajaklah
bersenang-senang dalam kamar sampai puas.
Ha, ha…. ha, ha, ha”
Setelah tertawa, orang itu berseru pula,
“Tetapi janganlah sekali kali saudara mencelakai
mereka.
Apabila ada seorang saja yang melanggar
pantangan itu, seluruh rombongan akan
kuhancurkan.
Dan akupun tak mau lagi bertemu muka dengan
saudara2 Segera akan kubuka alat
rahasia dan melepaskan ratusan ribu tawon
beracun, tiga ribu ular berbisa, kupadamkan
penerangan dalam ruangan ini agar saudara
menderita serangan tawon dan ular beracun.
Betapapun kesaktian saudara, tetapi dalam
tempat sepanjang sepuluh tombak ini dan
ditempat yang gelap, tak mungkin saudara
dapat menghindarkan diri dari serangan
binatang2 itu. Inilah larangan yang pertama.
Harap saudara suka mematuhi, agar jangan
terjadi hal yang tak diinginkan,”
ih Thian-heng berpaling kearah rombongan
tokoh2, katanya, “Ular tanpa Kepala tentu tak
dapat berjalan. Burung tanpa sayap tentu tak
dapat terbang. Baiklah kita mengangkat
seorang pemimpin rombongan untuk menjawab
tuan rumah. Silahkan saudara menunjuk
siapa yang layak menjadi wakil rombongan
ini.”
Sambil mengambil buli2 arak dan meneguknya
Pengemis-sakti Coag To berkata,
“Menurut pandangan pengemis tua, engkaulah
yang paling tepat menjadi pemimpin
rombongan kita.”
“Ah, tetapi aku kuatir tak dapat memenuhi
harapan saudara2,” kata Ih Thian-heng.
Han Ping mendengus, “ Ih Thian- heng, jangan
lupa bahwa kita masih mempunyai
hutang piutang darah yang belum
diselesaikan….
Ih Thian-heng tertawa, “Ditempat langit dan
bumi buntu semua seperti ini, masakan
engkau takut aku akan melarikan diri.”
“Jembatan kembali pada jembatan, jalanpun
kembali pada jalan,” kata Cong To, “kecuali
Ih Thian-heng rasanya tiada orang yang lebih
sesuai lagi.
Tiba2 suara parau itu terdengar berseru
lagi, “Setelah melalui ruangan bunga sepanjang
sepuluh tombak. Saudara2 akan berhadapan
dengan pemandangan luar biasa yang belum
pernah saudara jumpahi. Benda aneh, permata2
yang indah tiada taranya. Walaupun
benda berharga dan permata itu memang
sedianya hendak kuhaturkan kepada saudara2
tetapi kuminta harus diambil dengan cara
yang terang, jangan secara menggelap. Setelah
aku bertemu muka dengan saudara2, mungkin
diantara saudara2 terdapat orang yang
bakal memiliki harta karun itu bila ada
orang yang berani mempunyai hati jahat hendak
mengambilnya, saudara2 semua akan menerima
hukuman yang paling ngeri dan
kejam….”
Dengan girang Ih Thian heng berseru nyaring,
“Hukuman ngeri yang bagaimana,
dapatkah memberitahu dulu agar Kami dapat
bersiap siap?”
Terdengar tertawa panjang, “Akan kugerakkan
pekakas rahasia, untuk mengurung
saudara2 dalam sebuah kamar batu. Kemudian
akan kuhamburkan asap beracun agar
kesadaran dan semangat saudara2 hilang dan
saling bunuh membunuh sendiri,”
“Cara itu memang paling ngeri dan akupun
percaya kalau engkau memiliki asap beracun
semacam itu. Baiklah, kami setuju untuk
mentaati kedua pantangan itu. Apabila ada
angauta rombongan kami yang melanggar, tak
usah engkau turun tangan, kami akan
dapat menindaknya sendiri!”
“Bagus, kita anggap saudara2 sudah setuju
mentaati perjanjian itu,” kata suara parau itu
pula.
Seiring dengan lenyapnya suara parau itu
tiba2 ujung peti mati besar yang berada
didalam ruangan, mereka pecah.
Ketika sekalian orang memandang kearah peti
mati itu ternyata disebelah dalamnya
terang sekali dan sosok2 tubuh pun tampak
berkelebatan.
Pengemis-tua Cong To kerutkan alis, serunya,
“Adakah kita barus masuk melalui peti
mati itu?”
Ih Thian-heng tersenyum, “Biarlah aku yang
berjalan dimuka.” ia terus endapkan tubuh
dan melangkah maju “
Sekalian tokohpun segera mengikuti
dibelakangnya.
Ternyata peti mati besar itu merupakan
sebuah pintu dari lorong terowongan yang
panjangnya empat lima tombak. Tiba diujung
lorong, pemandanganyapun berobah.
Mereka tiba disebuah pintu bercat merah.
Pintu itu ditulisi tiga buah huruf besar ‘Seng-sibun’
atau Pintu Mati-hidup.