makam asmara 04

“Dan mustika Kupu2 Emas itu? Apakah dapat menghidupkan lagi

rumput yang sudah kering dan semut yang sudah mati itu?”

“Entah, aku tak mendengar bangsa serangga yang sudah mati itu dapat

hidup kembali,” kata orangtua jenggot panjang, “hanya rumput yang

kering itu begitu tersentuh Kupu2 Emas, memang dapat hidup lagi,”

Ting Ling tersenyum, “Sudah berapa tahun lamanya kawannya itu yang

meninggal?”

Orangtua jenggot panjang merenung sejenak, menjawab, “Sepuluh

tahun lebih tiga bulan….”

“Bukankah setelah memberitahukun tentang kedua benda mustika itu

dia terus meninggal?”

“’Ya, kalau tak salah, lewat sebulan setelah dia bercerita tentang kedua

mustika itu, diapun terus meninggal.”

“Mungkin orang yang pernah melihat kedua semua sudah meninggal

dunia.”

Rupanya ada sesualu yang menyadarkan pikiran orangtua jenggot

panjang itu. Ia merenung.

Menghela napas, Ting Lingpun melanjutkan pula, “Orang2 yang melihat

kedua benda mustika itu, dalam waktu yang singkat telah meninggal.

Dengan begitu kedua benda itu merupakan suatu cerita yang misterius.

Tak seorangpun yang dapat membuktikan kebenarannya dan jadilah

Tenggoret Kumala dan Kupu2 Emas itu suatu dongengan yang hebat

didunia….”

Nona itu alihkan pandang matanya kearah lukisan di dinding dan

barkata pula, “Kecuali keadaan kamar yang begini bersih, pun lukisan

di dinding itu memang mencurigaKan sekali.”

Kim Loji dan orangtua jenggot panjang segera berpaling memandang

kearah lukisan di dinding.

Tetapi mereka tak tahu rahasianya.

“Apakah kalian melihat sesuatu yang mencurigakan?” tanya Ting Ling.

Lim loji dan orangtua jenggot panjang saling berpandangan dan

mengangkat bahu.

“Harap kalian perhatikan, adakah tinta hitam pada lukisan itu benar2

telah bertus-ratus tahun umurnya?” tanya Ting Ling pula.

“Hai, benar,” tiba2 Kim Loji menepuk pahanya yang tinggal satu.” dunia

persilatan menyohorkan kedua gadis lembah

Raja-setan itu luar biasa cerdiknnya. Hari ini setelah bertemu, memang

baru dapat kubuktikan kebenaranya”

“Ah, janganlah lo cianpwe keliwat menyanjung begitu.” Ting Ling

menghela napas. “kita sudah menjadi seperti ikan yang masuk jaring.

Barangsiapa masuk kedalam makam ini jangan menaruh harap an

untuk dapat keluar dengan selamat.”

Sambut Kim Loji, “Walaupun bukan Ko Tok lojin, tetapi karena dapat

mengelabuhi seluruh kaum persilatan, orang itu memang patut kita

temui!”

“Soal itu aku belum dapat memecahkan. Sudilah kiranya lo cianpwe

memberi petunjuk,” kata Ting Ling.

“Ah, jangan memuji aku,” kata Kim Loji, “aku tak tahu dengan tujuan

apa orang itu telah menggunakan seluruh pikiran dan seluruh harta

bendanya untuk membangun makam ini?”

Jawab Ting Ling, “Untuk memikat perhatian seluruh kaum persilatan

masuk kedalam malam ini maka dia telah menyiarkan cerita tentang

Tenggoret Kumala dan Kupu2 Emas. Rupanya tujuannya telah tercapai.

Kecerdasan orang itu memang hebat sekali.

“Sttt…. ada orang….” tiba2 orangtua jtnggot panjang menukas omongan

si nona.

Sesosok tubuh melesat kedalam ruangan dan begitu tegak ditanah,

sambil lintangkan kedua tangan untuk melindungi dada, orang itu

berseru, “Nona Ting, Ting Ling mendengus, “Hm, apakah engkau kira

aku sudah mati?”

habis berkara ia berpaling kearah Kim Loji, “Lo cianpwe, sebaiknya

didayakan untuk menutup dinding yang bobol itu agar sinarnya jangan

memancar keluar dan menarik perhatian orang.”

Kim Loji mengangkat sebuah dingklik lalu ditutupkan pada benjolan

lubang.

“Lo-cianpwe, yang datang ini adalah Ca Giok, putera dari marga Ca di

Ik-pak. Keluarga Ca termasyhur dengan pukulan Pen-poll sin kun.

Tentulah lo cianpwe kenal, bukan?” kata Ting Ling memperkenalkan

pendatang itu.

“Anak muda dari angkatan sekarang, banvak yang tak kukenal,” sahut

orangtua jenggot panjang.

“Ca sau-pohcu ini telah mendapatkan pelajaran ilmu pukulan sakti itu

dari keluarganya.

Silahkan engkau mencobanya sampai sepuluh jurus saja,” tiba2 Ting

Ling berkata pula.

Melihat orangtua jenggot panjang itu bertubuh tinggi kekar, wajah

merah kan kening menonjol tinggi, tahulah

Ca Gok bahwa orangtua itu tentu seorang jago yang tinggi ilmu

lwekangnya.

Buru2 ia berseru, “Ah, nona Ting, mengapa begitu “

Tetapi belum sempat ia berkata, orangtua jenggot panjang itupun sudah

lepaskan hantaman kepadanya.”

Dalam keadaan terpaksa, Ci Gokpun segera menangkis dengan jurus

thian-cut-tho ta atau Tiang-langit-menyangah pagoda.

Tangannya menyelinap kesamping untuk mencengkeram pergelangan

tangan orangtua jenggot panjang itu.

Orangtua jenggot panjang mendengus Tiba2 ia merobah gerakannya.

Sepasang tangannya serempak menghantam, sekaligus masing2

melancarkan lima buah pukulan.

Gerakannya cepat sekali dan tenagapun sekeras palu besi. Karena

dihambur oleh sepasang tangan besi, terpaksa Ca Giok mundur lima

langkah.

Setelah melancarkan lima buah serangan, orangtua jenggot panjang

itupun hentikan serangannya dan menyurut kembali ketempatnya

semula seraya berkata, “Dalam seratus jurus, aku tentu dapat

mengambil jiwanya.”

Ting Ling hanya tertawa lalu berpaling kepada orangtua alis panjang,

“Lo-cianpwe, kalau suruh kera peliharaanmu yang menyerangnya. entah

harus menggunakan berapa jurus lamanya?”

Sejak masuk kedalam ruang rahasia itu. orangtua alis panjang selalu

duduk bersama kera bulu emas.

Ia pejamkan mata menyalurkan tenaga dan tak menghiraukan

pembicaraan mereka. Begitu mendengar pertanyaan Ting Ling, baru ia

membuka mata dan memandang Ca Giok, serunya, “O, orang itu?”

“Walaupun usianya muda tetapi ilmusilatnya amat sakti,” kata Ting

Ling.

Orangtua alis panjang tertawa dingin lalu menepuk punggung kera bulu

emas.

Saat itu Ca Giok masih terengahengah karena habis menyam but

sepuluh buah pukulan orangtua jenggot panjang.

Mendengar Ting Ling hendak menyuruh orang menyerangnya lagi,

buru2 ia berseru, “Nona Ting, aku hendak memberitahu suatu hal

kepadamu ,. ….”

“Nanti saja kita bicara!” sahut Ting Ling. Ca Giokpun tak dapat bicara

karena saat itu kera bulu emaspun sudah menyerangnya.

Iapun cepat melepaskan sebuah pukulan Pek-poh-sin kun atau

Pukulan-sakti-jarak-seratus langkah, sembari menghindar kesamping

dan menyambar sebuah po-ci dari perak.

Menerima pukulan pek-poh-sin-kun, gemetarlah tubuh kera itu tetapi

karena kulitnya tebal sekali, ia tak sampai terluka.

Setelah berhenti sejenak iapun menyerang lagi.

Ca Giok kerahkan tenaga dalam, mengangkat poci perak dan berseru

nyaring, “Nona Ting, kalau engkau tak mau mencegah binatang itu,

jangan sesalkan aku kalau kulukainya!”

Ting Ling hanya tertawa dingin, “Kalau engkau membunuhnya masakan

yang punya akan tinggal diam?”

Mendengar itu Ca Giok terbeliak. Tetapi belum sempat ia menjawab,

kera bulu emas itupun sudah menyerangnya lagi.

Cepat ia menghindar lalu hantamkan poci perak itu.

Ca Giok dapat menangkap peringatan Ting Ling. Dia tak mau

menggunakan seluruh tenaganya karena kuatir akan membinasakan

kera itu. Suatu hal yang tentu dapat menimbulkan kemarahan

pemiliknya. Dengan pertimbangan itu, ia hanya menggunakan lima

bagian tenaganya saja.

Kera menangkis dan poci perak itupun terlempar kesamping, lalu

ulurkan tangannya hendak mencengkeram dada Ca Giok.

Pemuda itu terkejut. Cepat ia mengempos napas dan menyurutkan dada

untuk menghindari cakar kera yang runcing.

Setelah itu ia balas menabas. Dia bergerak cepat sekali sehingga kera itu

tak sempat menghindar.

Lengannyapun kena tertabas tangan Ca Giok.

Tetapi langkah kejut pemuda itu ketika tangannya serasa membentur

keping baja yang keras sekali.

Bahkan lengan binatang itupun mempunyai daya membal sehingga

membuat Ca Giok terpental mundur selangkah.

Dan serempak itu, tangan kiri binatang itupun sudah merangsangnya

lagi.

Untunglah Ca Giok sudah banyak pengalaman dalam pertempuran.

Tahu kulit kera itu kebal, ia menggunakan tenaga membal dari

pukulannya tadi untuk loncat berjumpalitan kebelakang dan melayang

turun keatas meja.

Tetapi kera itu tajam sekali nalurinya.

Segera cakarnya digerak gerakkan untuk menyambar nyambar. Kursi

dan mejapun berhamburan tumpah ruah.

Ca Giok mengambil keuntungan dari alat perabot dalam ruang itu untuk

melindungi diri.

Ia melontarkan apa saja yang dapat diraihnya dan setempo iapun

mencuri kesempatan untuk balas menghantam.

Tetapi kera bulu emas itu tebal sekali kulitnya. Walaupun menderita

beberapa kali pukulan ia tetap tak apa2.

Sedangkan tangannya, luar biasa kuatnya. Setiap tambarannya tentu

menimbulkan desir angin yang menderu-deru.

Ca Giok yang mengetahui tak berguna adu kekuatan terpaksa harus

main menghindar. Dengan demikian tampaklah

ia terdesak oleh kera itu.

Melihat Ca Giok pontang panting tak keruan. Ting Lingpun tertawa

mengikik. Seberapa saat ke mudiain ia berseru kepada orangtua alis

panjang, “Lo-cianpwe, harap hentikan kera itu!”

Sejenak berbatuk-batuk, orangtua alis panjang itu lalu bertepuk tangan

dan mulutnya bercuit-cuit, lalu membentak.

Tiba2 kera bulu emas yang tengah menyerang Ca Giok itupun segera

berputar tubuh dan dengan bergoyang gontai menghampiri tuannya.

Dengan napas terengah-engah, Ca Giokpun berseru, “Nona Ting . .

“Mengapa?” tanya Ting Ling hambar, “sekarang engkau boleh bilang.”

Melihat sikap Ting Ling yang seolah olah memberi perintah kepada

orang2 tua itu, diam2 Ca Giok heran juga.

Pikirnya, “Bagaimana mungkin orangtua jenggot panjang dan orangtua

alis panjang begitu menurut perintah nona itu….”

Namun ia tak berani menanyakan hal itu dan melainkan tertawa, “Nona

Ting, apakah nona berjumpa dengan ayahku?”

“Hm, tidak ada omongan engkau cari bahan mengomong, Ya, memang

berjumpa tapi mungkin saat ini dia sudah mati.”

Ca Giok tertegun, “Apakah nona bergurau?”

“Siapa yang akan bergurau dengan engkau? Itu memang sungguh suatu

kenyataan.

Dia telah didesak mati2an oleh Han Ping. Nah, coba engkau pikir,

apakah dia masih dapat hidup?”

Mendengar ayahnya bertempur dengan Han Ping, hati Ca Giok malah

lega, ia tertawa, “Sekalipun kepandaian Han Ping itu tinggi tetapi jika

dapat mengalahkan ayah, itu sungguh tak mungkin “

“Bagaimana kepandaian ayahmu kalau dibanding dengan Ih Thianheng?”

tanya Ting Ling pula.

“Kalau dinilai dari ilmu silatnya, mereka seimbang. Tetapi kecerdikan Ih

Thian-heng memang jauh diatas ayah.”

“Beberapa hari yang lalu, Han Ping telah mengunjukkan ilmu permainan

pedang yang luar biasa mengejutkan seluruh tokoh2

dalam gelangang pertempuran besar. Rupanya engkau sendiri juga

melihatnya, masakan sudah lupa?

Sedang Ih Thian-heng saja harus tunduk dan kagum masakan

ayahmu?”

Ca Giok tertegun diam. Apa yang dikatakan nona itu memang benar.

Tetapi ia tahu bahwa tenaga-dalam ayahnya tinggi sekali.

Sedang ilmu pukulan Pek-pofa-sin-kun dari merga Ca, hebat bukan

main. Sekalipun tak dapat menang dari Ih Thian-heng tetapipun dapat

melindungi diri.

Ca Giok seorang pemuda yang licin. Melihat gelagat ia tak mau

berbantah lagi dengan nona itu.

“Kutahu hatimu tentu masih belum puas, “Ting Ling tertawa.” tetapi

jangan lupa bahwa Han Ping itupun masih mempunyai pedang pusaka

Pemutus-asmara.”

Ca Giok tertawa hambar, “Saat ini dalam makam tua disini penuh

dengan alat2 pekakas yang berbahaya.

Betapapun erat hubungan orang hingga seperti ayah dan anak, tetapi

juga tak dapat saling memberi bantuan.

Ting Ling tertawa, “Ih, engkau dapat memikir terang juga”

Sejenak mengeliarkau pandang mata, nona itupun melanjutkan pula,

“Mengapa engkau hanya seorang diri saja?

Dimana Ih Thian-heng? Beri tahu terus terang, akupun akan

memberitahu kepadamu tentang keadaan ayahmu yang sebenarnya”

“Sejak engkau melarikan diri, Ih Thian heng marah sekali. Dua orang

anak buahnya dihantam mati lalu menyuruh seluruh orang2nya

mencarimu kesegenap penjuru. Bermula aku bersama ayahku tetapi

ditengah jalan bertemu dengan ketua Lembah-seribu racun. Ayah dan

ketua Lembah-seribu-racun saling berhantam. Akupun juga berbaku

bantam sampai tiga jurus dengan pengikut2 ketua Lembah-seribu-racun

“Tak perlu kutanya, tentu engkaulah yang kalah,” kata Ting Ling.

“Tiga jurus, belum ada yang kalah dan menang. Tetapi perkelahian iiu

telah menyebabkan aku terpisah dengan ayah. Aku tersesat jalan dan

membelok kemari sehingga tanpa sengaja bertemu dengan nona.”

Ting Ling mencibirkan bibir, “Mengapa engkau tak mengakui kalau

engkau kalah dan dikejar musuh sehingga menyusup kemari?”

“Silahkan saja nona mengatakan bagamana. Aku tak memasukkan

dalam hati. Tetapi kuminta nona suka memberitahu dimana berad-nya

ayahku itu.”

“Ya, baiklah,” kata Ting Ling, “dengan terus terang kuberitahu bahwa

aku benar2 tak pernah melihatnya.”

“Apakah omongan nona tadi hanya isapan jempol belaka?” Ca Giok

menegas.

“Siapa bilang isapan jempol?” kata Ting Ling, “yang jelas Han Ping tidak

memburu ayahmu.”

“Lalu siapa?”

“Nyo Bun-giau serupa dengan ayahmu, keduanya golongan macan

hitam.”

Ca Giok tertawa, “Harap nona jangan lupa. Ayahmu dan ayahku itu

tokoh termasyhur diduma persilatan.

Nama dari Lembah-raja-setan sesungguhnya tak dibawah marga Ca.”

Tiba2 Ting Ling berpaling kearah orangtua jenggot panjang dan berseru,

“Maju dan serang dia sampai tiga jurus!”

Tanpa bicara apa2, orangtua jenggot panjang itu terus maju menyerang

Ca Giok sampai tiga jurus.

Hebatnya bukan main sehingga Ca Giok sampai mundur enam langkah.

Darah dalam tubuhnya bergolak keras, mata berkunang kunang.

Untung setelah tiga jurus, orangtua jenggot panjang itupun hentikan

serangannya dan mundur kembali ketempatnya semula.

Ca Giok menghela napas panjang, memandang Ting Ling dan berkata,

“Orangtua ini, hebat sekali pukulannya.”

Ting Ling hanya tertawa hambar, “Kalau engkau bicara tak keruan,

tentu akan kusuruh dia membunuhmu.”

“Ya, dia memang mampu.”

“Nah, kalau engkau sudah tahu, baiklah,” kata Ting Ling, “engkau

jawablah beberapa pertanyaanku tetapi harus mengatakan sejujurnya.

Nanti tentu kubebaskan.”

“Seorang lelaki dapat bersikap keras, pun dapat lunak. Silahkan engkau

bertanya.”

“Engkau memang pandai merangkai kata2 dan mengambil muka orang,

“kata Ting Ling,” dan pandai berbohong.

Tetapi engkau harus mengerti, bahwa justeru aku ini paling dapat

meneliti kebohongan orang.

Tiap patah kata engkau berkata bohong, tentu akan kupotong jari

tanganmu.

“Jangan kuatir,” kata Ca Giok, “orang’ yang berada dalam makam tua

ini memang tipis harapannya dapat keluar lagi dengan selamat. Disini

memang merupakan gelanggang perebutan jiwa dengan menggunakan

ilmu kepandaian.

Kalau aku tak ingin cepat mati lebih dulu, tentu takkan membohongi

engkau.”

“Hm. tak kira kalau engkau masih bersikap begitu perwira,” kata Ting

Ling.

Tiba2 nona itu kerutkan wajah dan melanjutkan berkata, “Ih thianheng,

ayahmu dan Nyo Bun-giau, dengan tujuan apa menyebarkan

surat kepada tokoh2 persilatan, mengundang mereka datang ke makam

tua sini?”

“Bagaimana engkau tahu kalau ayah dan Ih Thian-heng mengundang

mereka’! Ca Giok balas dapat tanya.

Hm, dengan menerka saja tentu sudah dapat menerka tepat.”

“Benar, engkau memang menerka tepat,” kata Ca Giok,” lh Thian heng

hendak meminjam alat2 rahasia dalam makam ini untuk

membinasakan seluruh tokoh persilatan!”

“Ya, hai itu memang aku sudah tahu,” kata Ting Ling, “yang kutanyakan

kepadamu yalah tentang rencananya.”

“Pada setiap pintu terowongan, ia selalu menyuruh seorang anak buah

yang mahir menggunakan senjata rahasia beracun untuk menjaga. Tak

peduli siapa saja yang masuk pintu terowongan, tentu akan dihantam

dengan senjata rahasia beracun.

Alat rahasia yang sudah hebat di tangan dengan seorang penjaga yang

berilmu tinggi, benar2 merupakan pintu maut bagi setiap orang

persilatan yang melalui pintu itu. betapapun tingginya kepandaian

orang itu.”

“Rencananya itu memang bagus. Sayang dalam dunia masih banyak

orang yang lebih cerdas dari dia,” dengus Ting Ling.

“Benar,” sahut Ca Giok, “aku sendiri memang tak percaya bahwa di

dunia ini terdapat orang yang paling uomor satu.

Karena setiap orang itu mempunyai bakat dan kecerdasan sendiri2.”

“Pandanganku justeru berlainan dengan engkau,” kata Ting Ling.

“Aku ingin mendengar alasan nona”

“Ilmu kepandaian yang dicapai orang dengan bakat kecerdasan memang

mempunyai hubungan. Maka sejak dahulu sampai sekarang, belum

pernah terdapat orang yang tidak cerdas dapat memiliki kepandaian

yang tinggi.”

Saat itu Ca Giok tak mau adu lidah dengan Ting Ling maka ia hanya

tertawa saja, “Mungkin pendapat ia lebih benar.”

“Hm, memang sehenarnya aku harus dapat melebihi engkau!” dengus

Ting Ling.

Tiba2 terdengar suara nyaring, “Giok-ji…. Giok ji….”

Ca Giok terkejut. Giok ji artinya anak Giok, yalah panggilan yang biasa

dilakukan ayahnya kepadanya.

Segera ia mengempos semangat dan berseru nyariug, “Yah, apakah

engkau?”

Wut, iapun segera lepaskan pukulan Pek-poh-sin-kun kearah Kim Loji.

Baru saja Kim Loji menambal bobolan dinding atau begitu mendengar

deru angin pukulan terpaksa cepat2 ia menyingkir kesamping.

Habis memukul, Ca Giokpun segera loncat ketempat bobolan dinding

dan terus menghantam penutupnya.

Brak…. penyumbat dinding itupun berantakan.

“Lekas bunuh dia, makin cepat makin baik!” segera Ting Ling memberi

perintah kepada orangtua jenggot panjang.

Tetapi orangtua ‘jenggot panjang itu kerutkan dahi seolah-olah segan

melakukan perintah Ting Ling. Tetapi sesaat kemudian akhirnya ia

melesat mengejar Ca Giok.

Setelah menyingkir kesamping, Kim Loji terus membabat dengan golok

tetapi saat itu Ca Giok yang sudah melayang ditanah, segera berputar

tubuh, menghindari tabasan golok lalu menghantam sekuat-kuatnya

kepada orangtua jenggot panjang.

Orangtua jenggot panjang menangkis. Tetapi walaupun dapat menahan

pukulan Pek-poh-sin kun namua tak urung terpental juga di ketanah.

Tiba2 sesosok tubuh melesat masuk kedalam lubang itu dan terus

menghantam Kim Loji Cepat sekali orang itu bergerak sehingga tahu2

Kim lo ji sudah direbut goloknya. Dan secepat itu pula pendatang itupun

sudah menghadang dimuka Ca Giok, memutar golok menyeraug

orangtua jenggot panjang yang mendesak Ca Giok.

Ting Ling cepat mendekat orangtua alis panjang dan membisikinya, “Lo

cianpwe, harap lekas suruh kera bulu emas turun tangan “

Orangtua alis panjang itu tertawa gelak2, “Jangan kuatir nak, sekalipun

pendatang itu sakti sekali tetapi aku tentu mempunyai daya untuk

menghadapinya.”

“Bukankah engkau tak mengerti ilmusilat?” tanya Ting Ling heran.

Jawab orangtua alis panjang, “Apakah membunuh orang itu harus

menggunakan ilmu silat saja?

asal engkau dapat membuatnya dekat kepadaku dalam jarak tiga

langkah, aku tentu dapat menguasainya.”

Saat itu pendatang tadi hentikan serangannya dan berpaling kepada Ca

Giok, “Nak, apakah engkau terluka?”

“Tidak….,” sahut Ca Giok. Kemudian ia menunjuk pada orangtua

jenggot panjang, “Orang itu sakti sekali,” kalau menghadapinya harap

ayah hati2.”

Sejenak memandang kepada orangtua jenggot panjang, ayah Ca Giok,

berseru, “Hai, apakah saudara bukan saudara Theng Ban-li si Pukulan

besi itu?”

Orangtua jenggot panjang tertawa, “Ah, kiranya saudara Ca masih ingat

kepadaku.”

“Ai, jenggot saudara Theng yang indah itu sungguh tiada keduanya

dalam dunia.

Karena memandang jenggot itulah maka aku terhindar akan saudara

Theng. Teringat ketika pertemuan digunung Heng-san kita saling

menuturkan pengalaman masing2.”

Sambil menjuntaikan jenggotnya yang bodol, orang she Theng itu itu

tertawa, “Ah, jenggot itu sekarang sudah habis.”

“Ah. saudara Taeng masih tetap sama dengan dahulu….kata Ca Cu lalu

berpaling kearah Ca Giok, “Inilah Theng supeh, dengan sepasang

pukulan besi dia pernah mengaduk daerah Kwan-gwa dan tokoh2

persilatan berbagai aliran. Hayo, lekas engkau memberi hormat

kepadanya.”

Ca Giokpun segera melakukan perintah ayah. Tersipu-sipu ia memberi

hormat, “Harap Theng locianpwe suka memberi maaf.”

Theng Ban-li tertawa, “Harimau pasti takkan beranak anjing.

Kepandaian hian-tit, sungguh membuat aku kagum sekali.”

Ca Giok hanya tersenyum, “Ah, harap Theng supeh jangan keliwat

memuji.

Kalau supeh tak bermurah hati aku tentu sudah terluka.”

Ca Cu-jing cepat dapat mengetahui suasana dalam ruang itu. Dihatnya

orangtua alis panjang itu duduk meramkan mata.

Sikapnya membuat orang sukar menduga betapakah ilmu kepandaian

orang itu.

Diam2 Ca Cu-jing heran mengapa Theng Ban-li mau menerima perintah

Ting Ling.

Namun sebagai seorang tak mau cepat2 membuka rahasia orang

sebelum tahu duduk persoalannya yang jelas.

Sambil memberi salam kepada Ting Ling, ia berseru, “Ah, kepandaian

hiat-titli sungguh membuat kita orang2 tua ini kagum dan malu hati.”

Selama Ca Cu jing hercakap cakap dengan Theng Ban-li tadi, diam2

Ting Ling sudah memperhitungkan kekuatan kedua belah pigak.

Walaupun sakti tetapi Theng Ban-li itu ternyata bersahabat baik dengan

Ca Cu-jing.

Sedang walaupun orangtua alis panjang itu manhir dalam ilmu racun

tetapi dia tak mengerti ilmusilat.

Kalau sungguh terjadi pertempuran, tentu tak berguna. Sedang ia

sendiri bersama Kim Loji tetap bukan tandingan Ca Cu jing. Dan apabila

ia mendesak pada Theng Ban-h untuk bertindak kemungkinan orangtua

jenggot panjang itu tentu akan nekad menentangnya. ….

Sekalipun masih muda tetapi Ting Ling memang luar biasa cerdasnya.

Dalam menghadapi kesulitan yang bagaimanapun sukarnya ia tetapi

berlaku tenang.

“Terima kasih paman Ca,” serunya tersenyum Berkata pula Cujing,

“Sejak masuk kedalam makam ini, ih Thian-heng semakin gila.

Bukan saja mempunyai rencana hendak menumpas seluruh kaum

persilatan, pun Nyo Bun-giau dan diriku, juga akan dibunuhnya.

Dia memang berhati ganas dan beracun seperti ular berbisa. Sukar

untuk diajak kerja sama….”

“Ting Ling tertawa, “Kalau paman dapat menyadari hai itu, aku sungguh

gembira sekali.”

“Ayahmu juga sudah masuk kedalam makam ini, berita itu tentulah

engkau sudah tahu,” kata Ca Cu jing pula.

“O. apakah ayah juga datang? Bilakah paman berjumpa dengan ayah “

tanya Ting Ling.

Ca Cuing tertawa, “Suara suitan aneh dari ayahmu, tiada orang didunia

ini yang dapat meniru.

Aku mendengar suara suitannya, apakah hal itu tidak seperti

melihatnya wajahnya?”

“Tetapi memang kuharap ayah datang kemari agar aku dapat

menceritakan tentang pengalaman pahit yang kuderita….”

Tiba2 angin berkesiur dan seorang yang tubuhnya berlumuran darah

menerobos masuk. Rambutnya kusut masai, pakaian compang camping

dan darah yang berhamburan mengotori mukanya itu, menyebabkan

wajahnya yang aseli tak kelihatan.

Walaupun Ca Cu-jing luas pengalaman tetapi untuk sesaat ia tetap tak

dapat mengenali orang itu.

Suasana dalam makam itu penuh diselimuti hawa pembunuhan Maka

setiap orang selalu siap siaga menjaga diri.

Munculnya pendatang yang menyeramkan itu, tak disambut dingan

tindakan yang bersikap hendak menolongnya.

Tampak tubuh pendatang itu terhuyung-huyung. Rupanya dia sudah

tak kuat untuk berdiri tegak.

Sambil menghampiri, Ca Cu-jing menegurnya, “Siapakah engkau?”

Karena lukanya parah, orang itu Pejamkan mata dan menyahut dengan

sisa tenaga yang masih dipunyai, “Ca Cu-jing”

Ca Cu-jing terkejut. Diam2 ia berpikir, Memang banyak tokoh persilatan

yang kenal kepadanya.

Tetapi yang langsung memanggil namanya begitu saja, sedikit sekali

jumlahnya. Kalau orang itu memanggilnya begitu, tentulah seorang yang

hebat. “Siapa saudara ini? Mengapa memanggil namaku?” tegurnya.

Orang itu menggeliat bangun dan melangkah beberapa tindak, medekap

meja dan berpaling, “Apakah saudara Ca benar2 tak kenal lagi padaku?”

Ca Giok seperti kenal dengan nada suara orang itu tetapi sesaat ia

masih belum ingat sekali.

“Saudara menderita luka parah sekali. Harap jangan banyak bicara.

Bolehkah aku membantu mengobati luka saudara?” serunya.

Dengan susah payah orang itu menjawab, “Tubuhku telah menderita

tujuhbelas tusukan pedang.

Sekalipun makan obat dewa, mungkin tak dapat menolong jiwaku.

Walaupun sudah mendekap meja tetapi tubuh orang itu tetap gemetar

ketika bicara.

Ca Cu-jing buru2 menyanggahnya, “Saudara menderita tujuh belas

tusukan pedang namun masih kuat bertahan benar2

saudara hebat sekali.”

Setelah mendapat bantuan tangan Ca Cu jing. orang itu dapat berdiri

tegak, serunya: Beberapa nadi dalam tubuhku sudah putus, darah yang

masih tersisa dalam tubuhku, segera akan mengalir….” Bluk, ia tak

dapat melanjutkan katanya karena saat itu iapun rubuh.

Ca Cu jing memeriksa luka orang itu dan dapatkan bahwa hampir

sekujur tubuhnya berhias luka berat sehingga pakaiannya merah

dengan darah.

Ca Cu jing tak mempedulikan kematian orang itu Karena bagaimanapun

dengan menderita sehebat itu, tak mungkin dapat ditolong jiwanya.

Yang menjadi pemikirannya yalah siapakah yang membunuhnya? Ya, ia

ingin tahu.

Segera ia lekatkan telapak tangannya ke punggung orang itu dan

menyalurkan tenaga dalam, serunya, “Luka yang begitu hebat, telah

menyebabkan nada suara saudara agak berobah sehingga aku benar2

tak dapat mengenali saudara.

Harap saudara suka memberitahu nama saudara agar kelak apabila

bertemu dengan putera saudara, dapat kuberitahukan kepadanya.”

Serangkum hawa hangat segera memancar pada jalan darah di pusar

orang itu sehingga dia dapat siuman lagi.

“Aku Thay ou Ong…. “ belum selesai berkata tiba2 orang itu muntah

darah.

Ca Cu-jing lerkejut, serunya, “Saudara ini saudara Ong Tay-ki dari

telaga Thay-cu?”

“Benar….”

“Saudara Ong terluka ditangan siapa?”

Baru Ong Tay-ki hendak menjawab tiba2 dari lubang bobolan dinding

terdengar suara orang berseru dingin, “Terluka ditanganku “

Cepat Ca Cu-jing berpaling dan tampak seorang lelaki berjubah panjang,

berjalan menghampiri.

Tetapi serempak dengan itu ia merasakan tubuh Ong Tay-ki yang

disanggah dalam tangannya itu mengulai kesamping terus terkapar

jatuh ke tanah Can putuslah jiwanya.

Pelahan lahan Ca Gu jing mengangkat tangan kanan, dijulurkan jurus

kemuka dada. Diam2 ia menyalurkan tenaga-dalam Pek poh-sin kun.

Asal pendatang itu hendak menyerang iapun hendak mendahului

menghantamnya.

“Kalau sudaura dapat memberi tusukan tujuhbelas buah kepada Ong

Tay-ki, jelas saudara tentu seorang tokoh yang ternama.

Bolehkah aku mendapat tahu nama saudara yang mulia?” serunya.

Sebagai seorang yang pengalaman, cepat ia dapat mengetahui bahwa

pendatang itu mengenakan wajah palsu dati kedok kulit.

Pendatang itu mencekal sebatang pedang di tangan kanan sedang

tangan kiri mengusap kedok mukanya lalu tertawa nyaring, “Saudara

Ca, mengapa sama sekali engkau tak dapat mengenali nada suaraku?”

Demi melihat wajah orang itu, gemetarlah Ca Cu-jing, serunya, “O,

saudara Ih?”

Ya, yang muncul itu memang Ih Thian-heng, jago yang menggangap

dirinya sebagai tokoh nomor satu diduma.

Dia memang merencanakan untuk menjaring seluruh orang persilatan

kedalam makam itu untuk dibasmi.

“Benar. memang aku,” Ih Thian-heng tertawa.

Tokoh itu mengeliarkan pandang mata kedalam ruang.

Ca Cujingpun segera menurunkan tangannya yang menjulur kemuka

dada itu lalu tertawa, “Karena saudara Ih menggunakan logat daerah,

sudah tentu aku tak dapat menangkap maksudnya.

Orang persilatan mengatakan bahwa saudara Ih paham semua logat

bahasa daerah, ternyata memang benar.”

“Ah, saudara Ca keliwat memuji….“ kata Ih Thian-heng, “tetapi apakah

saudara Ca pernah berjumpa dengan Nyo Bun-giau “

Ca Cu-jing gelengkan kepala, “Tidak, aku tak pernah kesampokan

dengan saudara Nyo.”

“Bilakah saudara Ca menemukan nona Ting itu?” Ih Thian heng tertawa

dingin.

“Aku baru saja tiba disini….” kata Ca Cu jin seraya memandang kearah

Theng Ban-li dan berkata, “Dia adalah Pukulan-besi Theng Ban-li dari

Kwan-gwa, seorang tokoh ternama dari gunung Pek-san.”

Memandang kepada mayat itu, Ih Thian-heng berseru, “Bagus, bagus,

saudara Theng ternyata juga datang kemari mengantar jiwa.

Theng Ban-li mejulaikan jenggotnya, berkata, “Kalau bicara, harap

saudara Ih sedikit pakai kesungkanan”

Tiba2 Ih Thian-heng tertawa dan mengangkat, tangan menunjuk Ting

Ling, “Makam ini merupakan sebuah tempat yang melingkar-lingkar

bundar tak peduli nona akan bersembunyi dimana, tentu tak dapat lolos

dari tanganku.”

Ting Ling melihat alis Ih Thian-heng mengerut hawa pembunuhan.

Sikapnyapun mengunjuk hendak segera turun tangan.

Tetapi ia tak tahu siapakah yang akan dibunuh. Kemungkinan Theng

Ban-h, kemungkin ia sendiri.

Tetapi Ca Cu-jing pun juga bukannya tak mungkin.

“Apakah engkau hendak mencari Nyo Bun-giau?” akhirnya ia bertanya.

“Dimana dia?”

“Aku pernah berjumpa tetapi tak tahu sekarang ini dia masih hidup

atau sudah mati?”

“’Apakah dia berjumpa dengan dara baju ungu dari perguruan Lam-hay

bun itu?”

“Bukan,” Ting Ling gelengkan kepala.”Ketua Lembah-seribu racun?”

“Juga bukan….”

JILID 4

Persekutuan serigala.

Ih Thian-heng menyimpan kedok muka kedalam baju lalu tertawa keras, “Aku tak peduli

tentang mati hidupnya Nyo Bun-giau.

Dia bertemu siapa dan mati ditangan siapa, bagiku tiada kepentingannya.

Hanya kalau nona hendak meminjam tempat ini untuk mengulur waktu, akupun hendak

bertanya separah kata kepadamu….”

Sejenak berhenti, Ih thian-hengpun berkata pelahan-lahan, “Apakah dia bukan bertemu

dengan Thian Hian totiang?”

Ting Ling tertawa, “Engkau sudah tahu bahwa jiwaku berada dalam genggamanmu maka

berani sja engkau hendak mengulur waktu.

Karena engkau mempunyai anggapan begitu, baiklah, akupun tak mau berbantah lagi

dengan engkau, nanti akhirnya tentu tahu sendiri. Dan karena engkau bertanya, akupun

tak keberatan untuk menjawab Ting Ling tertawa pula.

“Orang yang dijumpahi Nyo Bun giau, walaupun tiada terdapat nama Thian Hian totiang.

Namun dalam ilmu pedang, kiranya tak kalah dengan Thian Hian totiang,” katanya

pelahan.

Tiba2 wajah Ih Thian-heng membesi, serunya, “Apakah bukan Ji Han ping?”

Sambil mengelus rambut, Ting Ling tertawa ringan, “Benar, memang Han Ping.”

Mata lh Thian-heng berkilat, wajahpun tampak agak berobah. Tiba2 ia tertawa, “Bagus,

bagus! Ji Han Ping, Ji Han Ping, akhirnya engkau juga datang kemari!”

Walaupun nada tertawanya melantang keras namun tak dapat disembunyikan bahwa

dalam kilatan matanya itu jelas tak tenang.

Ting Ling dapat memperhatikan hal itu dan diam2 menarik kesimpulan bahwa nyata Ih

Thian-heng itu sudah menempatkan Ji Han Ping sebagai lawan yang paling berat, satu

satunya orang yang mampu mengimbangi kepandaiannya….

Rupanya sikap Ih Thian-heng itu, tak luput juga dari pengawasan Ca Cu jing dan Theng

Uan-li.

Diam2 kedua tokoh itu heran mengapa seorang tokoh durjana yang paling ditakuti oleh

segenap orang persilatan ternyata begitu memandang berat pada seorang pemuda yang

belum terkenal.

“ji Han Ping?” seru Theng Ban-li,” siapakah dia? Mengapa aku belum pernah mendengar

nama itu?”

Ih Thian-heng tersenyum, “Karena saudara Theng lama tinggal didaerah Kwan-gwa,

tentulah tak begitu faham akan jago2 silat daerah Tiong-goan. Misalnya, Ji Han Ping.”

“Ji Han Ping itu satu-satunya jago muda yang dapat menggetarkan nyali Ih Thian-heng,”

tiba2 Kim loji menukas sambil busungkan dada. Walaupun sudah lama Kim loji hidup

dalam tekanan Ih Thian-heng, tetapi pada saat itu samangatnya menggelora, seolah-olah

ia turut menikmati nama Han Ping yang gemilang.

Ih Thian-heng berpaling menyapukan pandang kearah Kim loji, serunya pelahan,

“Benarkah aku gentar terhadap anak itu?”

Kim loji buru2 hindarkan pandang mata dari sinar mata Ih Thian-heng, sahutnya, “Benar

atau tidak, hanya engkau sendiri yang tahu.”

Ca Gu jing dan Theng Bau- lipun mencurah pandang kepada Ih Thian heng. Tiba2 Ih

Thian-heng tertawa gelak2, “Benar, memang aku agak gentar kepadanya….”

Setelah berhenti tertawa, ia berkata pula dengan pelahan, “Oleh karena itu dengan

bermacam siasat, aku hendak membasminya!”

Kim loji tertawa dingin, “Mungkin…. belum tentu…. engkau dapat membunuhnya….”

“Memang ada beberapa orang dalam pandanganku, kalau dia hidup tak membahayakan,

kalaumatipun tak ada kepentingan bagiku.

Orang2 semacam itu. aku tak peduli mati atau hidup.”

Kemudian ia menatap Kim loji, “Itulah sebabnya mengapa sampai saat ini engkau masih

bisa bernafas “

Seketika wajah Kim loji pucat lesi, tak dapat bicara lagi.

“Tetapi ada beberapa orang, walaupun hanya hidup sehari saja, tetap meresahkan hatiku

dan harus kubasmi.

Aku ingin hidup tenang maka harus lekas2 dia kulenyapkan,” kata Ih Thian-heng pula.

“Kalau begitu, engkau tentu akan melenyap kan aku,” seru Ting Ling, “oleh karena aku

ini juga termasuk duri dalam mata.”

“Benar,” sahut Ih Thian-heng.

Ting Ling tertawa ringan: Aku sungguh berbahagia sekali tiba2 ia mengangkat tangan

dan segulung asap segera meluncur, tanpa diketahui orang sama sekali.

Ih Thian heng tertawa gelak2, “Hai, budak perempuan yang ganas!” ia terus tamparkan

lengan jubah sehingga bubuk racun itu berhamburan kemana-mana.

Melihat itu pucatlah Ting Ling. Cepat2 ia berseru, “Lekas tutup pernapasan!”

Tetapi terlambat. Kini lojipun sudah terjungkal rubuh ditanah.

Ih Thian heng menengadahkan kepala tertawa, “Bubuk Bi-yokhun dari Lembah-rajasetan

memang hebat sekali. Tetapi kalau gagal mencelakai orang, tentu akan mencelakai

diri sendiri. Pengalaman ini harap nona Ting jangan lupa dan ingat baik2”

Habis berkata ia terus melangkah ketempat Ting Ling.

Wajah Ting Ling berobah tegang, “Tok lo-cianpwe, kera bulu emas….”

Serentak terdengar suitan tajam dan kera itupun sudah melesat kesamping Ting Ling,

terus menyerang Ih Thian-heng.

Ih Thian-heng menghindar kesamping. Ting Lingpun cepat2 mengambil bubuk obat lagi

dau dilumurkan ke hidung Kim loji.

Terkamannya luput, kera bulu emas itu marah sekali. Bulu sekujur tubuhnya tegak

berjuntai, kedua tangannya yang bercakar runcing, tampak menelungkupi Ih Th-an-heng.

Tetapi Ih Thian-heng hanya ganda tertawa, “Apakah hanya begitu saja kepandaian

binatang ini?” Ia tamparkan tangannya.

Kera itu menghindar kesamping tetapi telah disambut dengan tamparan tangan Ih Thian

heng yang tepat mengenai dadanya.

Kera itu meraung keras lalu mencelat sampai setombak tingginya dan tubuh disudut

dinding.

Orangtua alis panjang terkesiap. Ca Cu-jing dan Iheng Ban-li menghela napas. Ting Ling

tegang.

Kim Loji menggigil lalu menggeliat berdiri, tegak terlongong longong.

Ih Thian heng berkata tawar, “Kalau nona Ting mempunyai siasat apa lagi, silahkan

menge luarkan semua agar aku dapat melihatnya.”

Tiba2 Ting Ling berseru, “Theng Ban-li apa kah engkau lupa perjanjian kita? Lekas

serang dia sampai tigaratus jurus!”

Sebenarnya saat itu Theng Ban-li sudah le paskan tangannya yang mengurut jenggot tadi

dan tegak termangu.

Ih Thian-heng tertawa dingin, “Hm. saudara Theng sudah tua mengapa mau menjadi

hamba yang diperintah nona Ting Kalau hal itu tersiar didunia persilatan, bukankah

mereka akan tertawa geli?”

Wajah Theng Ban-li merah padam, serunya ketus, “Saudara Ih mengatakan begitu,

apakah….”

Tiba2 kata2nya terputuskan oleh teriakan Nyo Bun-giau, yang dari jauh makin lama

makin dekat dan akhirnya sudah berada diluar ruang.

Tangan yang sudah diangkat dan hendak di pukulkan oleh ih Thian-heng terpaksa

diturunkan lagi.

Ia berpaling memandang kearah lubang din ding, serunya, “Apakah itu saudara Nyo?

Lekas masuk kemari!”

Sesosok tubuh menyelinap masuk dan muncullah Nyo Bun-giau.

Ting Ling yang licin dan cerdik, pada saat orang ribut2 menunggu kedatangan Nyo Bun

giau cepat sudah menyambar sebuah cawan perak terus ditimpukkan kearah lentera kaca

yang tergantung pada wuwungan guha. Pyur…. lenterapun pecah berhamburan jatuh

ketanah.

Karena lentara pecah maka mutiara yang ter pasang diempat dinding ruangan, pun padam

sinarnya. Ruangan gelap.

Dan setelah menimpuk lentera kaca, Ting Ling cepat menyambar tangan orangtua alis

panjang diajak bersembunyi pada sebuah gundukan batu.

Suasana kacau. Ih Thian heng cepat lepaskan hantaman kearah tempat yang diduduki

Ting Ling tadi.

Prang…. alat2 makan terbuat dari perak dan porselein yang terletak diatas meja,

berhamburan jatuh keseluruh tempat, Mejapun terjungkir balik menghantam dinding dan

seketika ruangan itupun terasa berputar-putar.

Theng Ban-li meraung keras lalu menghantam dua buah cawan perak yang dipukul lh

Thianheng dan melayang kearahnya.

Prangng…. cawan itupun melayang kembali.

Ruangan itu hanya dua tombak luasnya. Yang berada dalam ruangan itu tak kurang dari

tujuh orang.

Sedang suasananya kacau balau. Pada saat Theng Ban-li lepaskan pukulan, justeru Ca

Cu-jing loncat melintas dihadapannya.

Berbareng dengan terhantamnya cawan perak, bahu kanan Ca Cu jingpun kena hantaman

sehingga dia menyingkir mundur dua langkah ke samping.

Ca Cu jing mendengus, berpaling dan lepaskan pukulan Pek-poh-sin-kun.

Tetapi saat itu Theng-Ban-Iipun sudah menyingkir ke samping dan kebetulan Ih Thianheng-

pun mundur. Dialah yang termakan pukulan Pek-poh-sin-kun.

In Thianheng memang sakti dan memiliki reaksi yang tajam. Begitu merasa serangkum

angin pukulan yang luar biasa tajamnya, ia menyadari kalau tak sempat menangkis.

Maka ia meminjam angin pukulan itu untuk ayunkan tubuhnya loncat kesamping lagi.

Tetapi celaka! Secercah sinar perak berkelebat menyongsong kearahnya. Ih Thianheng

cepat empos semangatnya dan hentikan gerakan tubuhnya, menyalurkan tenaga-dalam ke

punggung untuk menahan pukulan Pek-poh-sin-kun sambil kebutkan lengan baju untuk

menghalau tusukan pedang, “Hm, saudara Nyo….”

Rupanya Nyo Bun giau tak tahu jelas siapa yang dalang itu. Maka cepat2 ia menarik

pedang dan berkata, “Harap saudara lh maafkan kehilafanku.”

Ih Thian-heng tertawa dingin, “Ca Cu-jin telah menghantam aku dengan Pek-poh sinkun.”

Mendengar itu cepat2 Ca Cu jing berseru, “Harap saudara Ih jangan salah faham, karena

gelap aku tak sengaja….”

Tiba2 ia berhenti berkata, berputar diri dan menghantam, “Hai, siapa itu? Mengapa

berani menyerang secara gelap kepadaku?”

Terdengar suara orang tertawa gelak2, “Aku,si pengemis tua….”

Dan serentak terdengar deru angin bergetargetar. Suatu pertanda bahwa kedua orang itu

sudah bertempur.

“Pengemis budak, engkau juga akan mengantar jiwa kemari!” teriak Ca Cu-jing marah

lalu lepaskan hantaman.

Tiba2 terdengar suara sedingin es, “Hm, saudara Ca, kalau menyerang orang, apakah tak

dapat melihat lagi?”

Ca Cu-jing tertegun. Diam2 ia heran mengapa dalam beberapa waktu saja ruangan itu

sudah penuh dengan pendatang2 baru.

Baru ia menimang-nimang, tiba2 serangkum angin pukulan melandanya hingga ia

terhuyung dua langkah kebelakang.

Buru2 ia empos semangat dan balas mendorongkan kedua tangannya kemuka, seraya

berseru, “Hai, apakah yang datang ini bukan saudara Ting?”

“Ya, memang aku Ting Ko,” sahut pendatang itu.

Ih Thian-heng tertawa gembira, “Bagus, saudara Ting Ko yang sudah berpuluh tahun tak

keluar ke dunia persilatan, ternyata juga mempuyai selera datang ke makam ini!”

Ting Ko tertawa dingin, “Ih Thian-heng, tak perlu jual kebanggaan. Aku hendak bertanya

kepada sebuah hal, engkau harus menjawab dengan terus terang.”

“Aku orang she Ih tak percaya bahwa orang yang masuk kedalam makam ini akan dapat

keluar dengan selamat.

Karena semua bakal mati, maka tak perlu aku harus bicara dengan sembunyi2.”

“Hm, apakah engkau hendak merencanakan untuk membasmi seluruh kaum persilatan?

Ho, kemungkinan angan2 itu sukar terlaksana,” dengus Ting Ko.

Tiba2 serangkum angin berkesiur lagi. Jelas seorang pendatang baru, muncul pula

kedalam ruangan situ.

Theng Ban-li tertawa, serunya, “Bagus, tak kira setelah kubuka dinding ruangan ini, akan

mengundang sekian banyak jago2 persilatan.”

Mendengar ayahnyapun datang, semangat Ting Lingpun bertambah besar. Walaupun

hubungan antara ayah dan putrinya itu dingin, tetapi demi menjaga kebesaran nama

Lembah-raja setan, tentulah Ting Ko takkan membiarkan pulennya menderita.

Maka Ting Lingpun memberesi rambutnya lalu berbangku, serunya, “Yang mengundang

datang orang itu yalah sinar lentera kaca. Terowongan makam gelap gulita, karena

melihat sepercik sinar, sudah tentu mereka terkejut dan buru2 menghampiri tempat ini.”

Tiba2 orangtua alis panjang menutupkan sebuah benda mirip lilin ke tangan Ting Ling,

katanya, “Sulutlah lilin ini.”

“Baik.” kata Ting Ling, “dengan menyalakan lilin tentu dapat diketahui calon2 mayat

yang berada dalam ruangan ini.”

Cres, ia nyalakan korek dan menyulut lilin itu. Seketika ruanganpun terang.

Baru nona itu keliarkan pandang mata untuk meneliti orang2 yang berada dalam ruangan

tiba2 Ting Ko berteriak, “Hai, Ling ji, engkau seorang diri masuk juga kedalam makam

ini?”

Betapapun Ting Ko itu adalah ayah kandungnya, maka tergetarlah hati Ting Ling

mendengar suara ayahnya.

Tetapi ia tahu akan watak sang ayah yang paling benci terhadap orang yang minta belas

kasihan. Maka dengan sikap garang, ia menjawab, “Yah. engkau juga disini….”

Sejenak berhenti, nona itu berkata pula, “Ya,memang aku seorang diri!”

Ting Ling tertawa aneh serunya, “Bagus, tak kecewa menjadi puteri Ting Ko.”

“Ah, yah, engkau terlalu memuji. Aku hanya seorang budak perempuan yang membikin

malu nama ayah saja.”

Kata2 Ting Ling itu cepat dapat ditanggapi Ih Thian-seng yang mempunyai perasaan

tajam.

Segera ia membentak, “Hm, budak setan, lilin apakah yang engkau sulut itu?”

Pertanyaan Ih Thian-heng itu menimbulkan keheranan pada sekalian orang yang berada

dalam ruangan itu.

Memang saat itu merekapun mencium bau yang aneh.

“Huh, rupanya bau ini tidak wajar,” dengus Ca Cu-jing.

Sekalian memang curiga pada lilin di tangan Ting Ling tetapi tiada seorangpun yang

turun tangan merebut lilin itu.

Rupanya orang2 itupun gentar juga terhadap Ting Ko.

Ting Ling sendiri juga merasakan bau yang tak wajar. Diam2 ia berpikir, “Eatah apa

maksud orangtua alis panjang ini.

Apakah lilin ini bukan terbuat dari ramuan obat racun untuk merubuhkan orang2 disini?

Kalau benar begitu, alangkah baiknya….”

Ting Ling sudah tak menghiraukan lagi soal mati hidupnya, Dia tak memperdulikan

pandang mata dari sekalian orang, pelahan diletakkannya lilin itu dialas sebuah meja.

Kemudian ia berseru, “Ih Thian-heng, walaupun engkau telah memasang bermacam alat

pekakas rahasia, namun makam ini merupakan sebuah tempat maut. Sekalipun engkau

dapat melenyapkan tokoh2 persilatan yang berada dalam makam ini, tetapi pada akhirnya

engkau sendiri tentu takkan terluput dan kematian juga!”

Ucapan yang dilantangkan sepatahdemi sepatah oleh Ting Ling itu, mau tak mau

menggerakkan hati sekalian orang.

Ting Ling tertawa mengikik dan mendahului berkata lagi, “Yang dapat masuk kedalam

makam ini kalau bukan seorang gagah tentu seorang pendekar besar. Mereka tentu

mempunyai pengalaman dalam dunia persilatan.

Nah, silahkan kalian membuka mata lebar2. Adakah ruangan ini mirip dengan sebuah

tempat kuno yang tak pernah dibersihkan orang?”

Ih Thian-heng memandang kesekeliling tempat tiba2 ia berseru uyaring, “Saudara Cong,

Saudara Cong, yang dipanggil itu yalah Pengemis-sakti Cong To. Dengan cepat mata Ih

Thian-heng dapat mengetahui bahwa pengemis sakti itu sudah tak berada dalam ruangan

situ.

Rupanya ketua Lembah-raja-setan Ting Ko menyadari bahwa liln yang disulut puterinya

itu mengeluarkan bau yang tak wajar, maka buru2 ia membentak, “Ling ji, padamkanlah

lilin itu!”

Ting Ling tak menjawab perintah ayahnya, sebaliknya berseru nyaring, “Adakah

saudara2 sudah memilih lawan saudara masing2? Nah, lilin ini segera kupadamkan!”

Kecuali Ih Thian-heng, Ting Ko dan Ting Ling bertiga, lain2 orang tak ada yang bicara.

Mereka tengah menutup pernapasannya.

Kiranya karena mencium bau yang aneh, mereka sama menutup pernapasan dan tak

berani bicara.

Pelahan-lahan Ting Ling mengambil lilin istimewa itu lalu berkata kepada Ting Ko,

“Ayah, diantara orang2 yang berada dalam ruangan ini, hanya ih Thian henglah yang

paling bernafsu hendak membunuh aku. Dia rupanya masih sungkan turun tangan

terhadap seorang anakmuda seperti diriku. Tetapi begitu lilin padam, kemungkinan

sukarlah jiwaku terjamin keselamatannya.”

“Tak apa. padamlah lilin itu,” kata Ting Ko, “aku tak percaya kalau dia berani

membunuh engkau didepan mataku.”

“Kalau ayah takpercaya omonganku, boleh dicoba saja,” kata Ting Ling, lalu meniup

padam lilin itu.

Ruangan itupun kembali gelap gelita lagi. Terdengar beberapa dengusan dan geram

kemarahan lalu menyusul deru suara pukulan, tinju dan tamparan berhamburan kian

kemari.

Rupanya sebelum lilin itu padam, masing2 sudah mengincar musuh, letak beradanya

musuh itu.

Maka begitu lilin padam, mereka terus melancarkan serangannya.

Dalam pada itu Ting Lingpun sudah kerahkan tenaga dalam bersiap-siap. Begitu angin

serangan melanda kepadanya, cepat ia loncat kesamping.

Antara Ting Ling dengan ayahnya, memang dingin hubungannya. Sejak besar, Ting Ling

tak mendapat kasih sayang ayahnya. Maka pada saat ia mendengar ayahnya menyatakan

hendak melindungi jiwanya, tergeraklah hati nona itu. Ia menurut perintah ayahnya dan

memadamkan lilin. Ingin ia menguji sampai di mana sang ayah akan melaksanakan

janjinya.

Ternyata walaupun di ruang itu telah pecah pertempuran seru tetapi Ting Ling aman,

tiada terlanda angin pukulan.

Tiba2 terdengar Ting Ko berseru nyaring, “Ling-ji, apakah engkau tak kurang suatu

apa?”

Ting Ling gembira sekali, serunya, “Aku tak apa2, ayah!

“Ternyata dugaanmu memang tepat. Begitu lilin padam, Ih Thian-heng memang

menyerang engkau.

Tetapi dia lalai bahwa kepandaian ayahmu ini, walaupun lebih jauh dari jarak tempat ini

tepat dapat dapat melindungimu.

Hm. orang mengatakan kepandaian lh Thian-heng itu hebat sekali. Tetapi dimara

ayahmu, tidaklah berapa….”

Tiba2 saja. kata2 Ting Ko terhenti. Rupanya Ih Thian-heng telah melancarkan serangan

yang lebih seru kepadanya sehingga dia tak sempat bicara.

Ting Ling menghela napas, “Ah, hari ini baru aku tahu bahwa aku ini memang anak

kandung ayah.”’

Sekonyong-konyong terdengar jeritan ngeri. Dan menyusul terdengar pula suara tubuh

rubuh.

Tentulah ada seorang yang terluka.

Diantara suara hiruk pikuk itu tiba2 terdengar sebuah seruan melantang, “Saudara2,

apakah didalam ruang ini terdapat Ih Thian heng?”

Suara itu dari arah lubang dinding Rupanya seorang pendatang yang belum masuk

kedalam ruangan situ.

Tetapi Ting Ling cepat mengenali siapa pendatang itu. Entah bagaimana hatinya amat

tegang dan berserulah ia kepadanya, Ji siang-kongkah itu?”

Orang itu tertawa nyaring, “Apakah nona Ting? Ya, memang aku Han Ping. Siapakah

orang yang bertempur disitu?”

“Banyak sekali.” sahut Ting Ling, “Ih Thian-heng, Nyo Bun-giau, Ca Cu jing semua

berada disini….”

Berhenti sejenak ia menyusuli kata2 pula: Dan ayahku pun juga datang kesini!”

Sejak kecil ia tak mendapat perhatian ayahnya. Maka apa yang diucapkau sang ayah

kepanya, benar2 menyentuh perasaan hatinya. Ia merasa mesranya kecintaan seorang

ayah.

Maka iapun menaruh perhatian pada ayahnya itu.

“Apakah Ting Ko dari Lembah-raja-setan itu?” seru Han Ping.

“Ya, dia ayahku. Mengapa engkau memanggil namanya begitu Saja?”’ tegur Ting Ling.

Han Ping menyulut korek dan orang2 yang ber tempur itupun segera berhenti.

Ketika berpaling mereka melihat seorang pemuda yang tangan kirinya mencekal sebatang

pedang berkilau-kilauan.

Dia berdiri diambang lubang dinding dan memandang berkilat-kilat kedalam ruangan.

Tiba2 ia kiblatkan pedang pandak yang berada ditangan kiri. Dan orang yang berada agak

dekat, terpaksa menyingkir kesamping.

Ting Ling menghela napas dan diam2 memuji pemuda itu, “Ah, alangkah gagahnya dia!

Alangkah berwibawa sikapnya!”

Nyala korek api itu memancar ke mutiara yang menghiasi dinding ruangan, demikianpun

pedang pusaka yang dibawanya itu.

Mutiara dan pedang pusaka, sama2 memancarkan sinar yang cukup menerangi keadaan

ruangan itu.

Setelah mengetahui siapa pemuda itu, Ting Ko agak terkesiap lalu mendengus dan

memakinya: Ho, dia sungguh panjang umurnya!’

Namun Han Ping tak mempedulikan semua orang kecuali Ih Thian-heng. Dengan mata

berkilat2 ia memandang wajah musuhnya itu dan pelahan-lahan maju menghampirinya.

Sekalian tokoh2 rupanya terpengaruh oleh sikap Han Ping yang penuh wibawa itu.

Mereka diam2 mengaguminya.

Ih Thian-heiig sendiripun agak gentar. Cepat ilmu Hian-im-gi-kang dari Lembah raja

setan, merupakan aliran ilmu silat yang tersendiri. Tadi telah kucoba ilmu Im-hong-ci

dari Ling Ko, ternyata memang tak bernama kosong!”

Im-hong ci artinya tutukan jari yang memancarkan tenaga dalam Im.

“Ah, jangan memuji begitu,” seru Ting Ko. Tetapi diam2 dalam hatinya mengeluh: Ah,

malu aku ini….

Kiranya waktu adu pukulan dengan Ih Thian-heng tadi sampai sepuluhan jurus, tiba2 ia

merasa ada seseorang yang diam2 membantunya sehingga ia dapat menghadapi pukulan

Ih thian-heng. Tetapi Ih Thian heng dihadapan sekian banyak orang sengaja memuji.

Sudah tentu ia malu dalam hati.

Entah bagaimana begitu melihat Han Ping muncul, mau lak mau tergetar juga hati Ih

Thian-heng.

Melihat pemuda itu menghampiri, iapun kerutkan alis dan berkata pelahan kepada Ting

Ko, “Saudara Ting, kenalkah engkau kepadanya!’

“Dia sudah terkena racun hebat, entah bagaimana sampai saat ini dia masih hidup.?’ kata

Ting Ko.

Ih Thian heng tertawa “ Dia memang seperti mempunyai tiga lembar jiwa. Aku

seudinpuu pernah menyaksikan dia terluka dan hampir mati.”

Dalam pada itu Nyo Bun-giau segera gunakan ilmu Menyusup Suara, kepada Ih Thianheng,

“Saudara Ih, tampaknya kepandaian anak itu sekarang lebih hebat lagi. Dan lagi dia

membawa pedang pusaka Pemutus-asmara. Kalau dibiarkan hidup tentu merupakan

bahaya dikemudian hari. Tadi waktu bertempur dengan dia, hampir saja aku terluka.

Maka lebih baik sekarang dia dilenyapkan saja “

Ih Thian-heng alihkan pandang mata kearah Ca Cu-jing lalu gunakan ilmu Menyusupsuara

cenyahut, “Ca Cu jing jelas telah mengingkari perjanjian. Pada saat tadi aku adu

pukulan dengan Ting Ko, beberapa kali dia telah menyerang aku”

Sejenak berhenti ia melanjutkan lagi, “Tetapi ditempat dan saat seperti, memang kurang

layak kalau cari perkara dengan dia.

Baiklah engkau berunding dulu dengan dia!”

Saat itu Han Pingpun sudah tiba di dekat tokoh2 itu. Demi menjaga gengsi, Theng Ban-li

tak mau menyingkir ke samping.

Ih Thian-hengpun maju selangkah menjajari Ting Ko, bisiknya, “Saudara Ting, apakah

anak itu hendak mencari engkau T’

“Kemungkinan memang begitu,” sahut Ting Ko.

“Kalau saudara Ting turun tangan, aku sedia memberi bantuan,” kata Ih Thian-heng.

Ting Ko mendengus dingin, “Hm. apakan aku takut kepadanya….” ia berhenti lalu

menyambung lagi, “asal jangan diwaktu aku sedang bertempur lalu diam2 saudara Ih

menyerang aku, tentu dalam seratus jurus aku dapat membuatnya rebah dalam genangan

darah.”

Ih Thian-heng tertawa, “Bukan aku memuji lawan dan meremehkan kekuatan kita. Tetapi

rasanya tokoh2 yang berada ruangan ini, kecuali aku tak mungkin dapat menandingi

kesaktiannya. Kalau saudara Ting tak percaya….”

Dikili oleh Ih Thian-heng, seketika meluaplah kemarahan ting Ko. Ia tertawa dingin,

“Aku memang tak percaya!”

Ia terus mengangkat tangan kanan dan menutuk kearah Han Ping. Serangkum angin

dingin segera melancar keluar dari jarinya.

“Ho, Ih Thian-heng, mengapa engkau suruh orang lain menjual jiwa untukmu!”

rian Ping gerakkan pedang pusaka menabas dari samping. Serangkum angin pedang yang

dinginpun segera melancar.

“Tenaga-dalam dari ahli pedang!” teriak Ting Ko yang cepat2 menarik pulang tangannya.

Diam2 Ih Thian heng menghela napas, “Ah, kepandaian anak itu memang maju pesat

sekali.

Namun walaupun hatinya berkata begitu, mulutnya tersenyum, “Apakah engkau

sungguh2 hendak mengajak aku bertempur?”

“Dari luar aku memburu masuk kedalam makam ini tak lam karena hendak mencarimu

untuk bertempur,” sahut Han Ping.

Ih Thian-heng yang sombong, mau tak mau tampak meragu. Pelauan-lahan ia

memandang kearah Nyo Bun giau, serunya, “Cobalah pinjam pedang pusakamu.”

Nyo Bun giau memberikan pedangnya dan berkata, “Saudara Ih, pedang Pemutusasmara,

dapat membelah besi seperti mengiris tanah liat saja….”

Sambil menyambuti pedang Ih Thian heng menjawab, “Ya, aku tahu….”

Tiba2 dia berseru meminta sekalian orang menyisih ke pinggir, “Walaupun pemuda Ji itu

muda usianya tetapi dalam pandanganku, dia adalah musuhku yang nomor satu. Ilmu

kepandaian dan ilmupedangnya, telah mencapai tataran yang sempurna.

Bukan aku hendak membanggakan diri tetapi pertempuran ini benar2 merupakan sebuah

pertempuran yang jarang terdapat dalam dunia persilatan….”

Han Ping tengadahkan muka tertawa panjang, “Begitu tinggi engkau memandang diriku,

ah, benar2 aku menduga sama sekali.”

Ih Thian-heng hanya tersenyum, “Bisa memperoleh seorang lawan yang seimbang seperti

engkau, selama aku berdiri di dunia persilatan, baru saat ini aku benar2 tercapai

keinginanku.”

Dengan wajah mengerut serius, Han Ping berkata, “Dalam pertempuran ini, aku atau

engkau yang akan mati.

Maka sebelum dimulai, lebih dulu aku hendak bertanya sedikit kepadamu.”

Ih Thian-heng gelengkan kepala, tertawa, “Walaupun aku mengagumi kepandaianmu,

tetapi aku tak bersedia menjawab pertanyaanmu!”

“Mengapa?” wajah Han Ping berobah.

“Dalam hidupku, banyak sekali pekerjaan yang telah kulakukan sehingga banyak bal

yang aku lupa.

Dan aku tak, mau membohongimu dalam jawabanku itu.”

Han Ping berseru dingin, “Kalau engkau tak dapat mengalahkan aku, engkau mau bilang

atau tidak?”

“Ha, ha, sekarang ucapanmu agak tekebur Ih Thian-heng tertawa mengejek.

Han Ping taburkan pedang Pemutus-asmara, menabas dari samping untuk menusuk dada

orang.

“llmupedang yang bagus! “Ih Thian-heng berseru memuji, seraya hamburkan pedangnya

untuk melindungi dada.

Dua buah sinar pedang saling berbentur dan keduanya sama mundur selangkah. Ternyata

pedang mereka tak sampai terbentur, hanya pancaran sinar pedangnya saja.

Tampak wajah Han Ping dan Ih Thiang-heng sama” pucat lesi. Jelas dalam jurus pertama

itu saja mereka telah menumpahkan seluruh semangat dan jiwanya.

Sehabis itu, merekapun tegak berdiri mematung. Hanya korek api yang dicekal tangan

kiri Han Ping masih menyala.

Dengan mata borkilat-kilat, Ih Thian-heng memandang mata Han Ping. Pedangnyapun

pelahan lahan bergerak lagi, dari kiri ke kanan, membentuk setengah lingkaran.

Setiap dim pedangnya-bergerak, hawa pembunuhan dalam ruangan itupun bertambah

tinggi.

Sekalian orang menahan napas, memperhatikan dengan seluruh semangat. Karena

mereka menyadari, bahwa nasib duma persilatan bakal tergantung dari hasil pertempuran

kedua orang itu.

Tiba2 Hi Thiau-heng memekik keras. Pedangnya berhamburan bagai ribuan bintang yang

menimpali dada Han Ping.

Han Pimgpun segera gerakkan pedangnya. Tring, tring, tring…. terdengar beberapa kali

dering senjata beradu.

Korek api di tangan Han Pingpun padam. Cahaya dari mutiara diruaugan itupun ikut

padam dan gelaplah ruang itu.

Melihat pertempuran gebrak pertama dari Han Ping lawan Ih Thian-heng yang

mengejutkan itu. diam2 Ca Cu jing menimang dalam hati, “Walaupun Ih Thian-hcng itu

bukan kawanku tetapi pemuda Han Ping itu lebih membahayakan….”

Tepat pada saat itu Nyo Bun-giau membisiki kedekat telinganya, “Ji Han Ping itu….”

Tiba2 Ca Cu-jing mengepal tangan Nyo Bun-giau. Mereka saling bersentuhan lengan

tangan.

Dengan demikian walaupun mulut tak menyatakan apa2, tetapi dalam hati keduanya

sudah saling mengerti.

Memang kedua tokoh itu memiliki ke

kecerdasan yang luar biasa. Keduanya saling setuju untuk melenyapkan Han Ping Ca Cu

jing segera merogoh baju dan mempersiapkan jarum beracun. Sedang Nyo Bun-giaupun

sudah mengepal tangan, entah menggenggam senjata rahasia apa.

Tiba2 api menyala lagi. Ternyata Ting ling yang menyulut korek api.Ternyata Han Ping

dan lh Thian-heng sudah bertukar tempat.

Ca Cu-jing bertukar pandang dengan Nyo Bun-giau lalu diam2 keduanya mengisar kaki

ketempat Han Ping.

Karena api menyala maka dapatlah diketahui bahwa ruang itu penuh dengan taburan sinar

pedang, sinar biru dan sinar putih. Setelah sinar pedang masing2 bergabung maka Han

Ping Dan Ih Thian hengpun menyusup masuk kedalam lingkaran sinar pedang. Begitu

cepat dan ketat keduanya bergerak sehingga orang2 tak dapat melihat Jelas bagaimana

gerakan mereka itu.

Tring…. terdengar bunyi mendering pula. Tetapi kali ini lebih tajam dari yang tadi. Dan

kedua pedang itupun berpencar lagi. Pedang Han Ping condong ke samping dan Ih Thianheng

menyelinap tiga langkah kesamping.

Pedangnya telah terpapas kutung oleh pedang Han Ping. Tetapi durjana besar dari dunia

persilatan itu, tetap tak berobah kerut wajahnya.

Walaupun sudah siap menaburkan jarumnya,tetapi ia tak berani sembarangan turun

tangan. Dia menyadari bahwa apabila taburannya itu gagal, bukan melainkan akan

merosotkan namanya didunia persilatan, pun tentu akan membangkitkan kemarahan Han

Ping. Dan dia tahu bahwa dia memang tak mampu manghadapi serangan pedang

anakmuda itu.

Berpaling kebelakang, dilihatnya Nyo Ban-giaupun sedang memandang kepadanya.

Mereka bertukar isyarat mata.

Tiba2 Ting Ling mengoncangkan korek api dan berseru lantang, “Ca lo cianpwe, apabila

jarum beracun dalam tanganmu itu engkau taburkan, yang akan menderita bukan

melainkan Ji Han ping seorang saja.”

Meluaplah amarah Ca Cu jing. Wajahnya merah padam. Tetapi ia tak dapat

melampiaskan kemarahannya.

Maka terpaksa ia hanya tertawa menyeringai lalu berseru, “Ha, ternyata hiantitli juga mau

berolok-olok dengan aku siorang tua ini…. “

Ting Ling hanya tertawa mengikik, serunya, “Nyo lo-cianpwe….”

Setelah mendengar bagaimana nona itu membuka rahasia Ca Cu jing yang hendak

siapkan serangan dengan jarum beracun, Nyo Bun-giau cepat dapat menerka apa yang

akan diucapkan nona itu kepada. Tentu kata2 yang tak sedap di dengar.

Maka buru2 ia mendahului menukas dengan tertawa, “Nanti sekeluarnya dari makam ini

aku tentu menyediakan diri sebagai comblang untuk melaksanakan perjodohan nona

dengan putera saudara Ca. Dan saat itu aku tentu akan menagih arak kebahagiaan kepada

saudara Ting.”

Ting Ling terlawa dingin, “Apakah lo-cianpwe tak keberatan untuk memperlihatkan

kepadaku senjata rahasia yang tergenggam ditanganmu itu?”

Demikian percakapan dari kedua orang itu, yang satu ngalor yang satu ngidul.

Tiba2 terdengar Ih Thian heng menghela napas, “Ah, benar2 seorang lawan kuat yang

seumur hidup baru kujumpahi ia terus membabatkan pedangnya yang kutung.

Tetapi kali ini gerakannya amat pelahan sekali, seolah-olah dia tumpahkan seluruh

tenaganya. Kepalanya hasah keringat, lengannya gemetar seperti rak kuat mengangkat

pedangnya.

Wajah Han Pingpun berobah gelap. Pelahan-lahan ia mengangkat pedang pusaka

Pemutus-asmara. Gerakan kedua seteru itu luar biasa lambatnya. Tetapi ketika kedua

pedangnya hampir berbenturan, tiba2 gerakannya berubah cepat.

Pedang kutung dari Ih Thian- heng berhamburan menebarkan sinar perak sehingga saat

itu Han Ping seperti terbungkus dalam gulungan sinar pedang lawan.Sekonyong konyong

segulung sinar pelangi memancar, menerobos keluar dari lingkupan sinar perak. Sosok

tubuh merekapun tampak lagi dan serentak mulut sama mendesuh dan mengerang.

Pada lain saat, kedua sinar pedang itu bergabung rapat lalu tiba2 tercerai daa lenyap….

Ih Thian heng mundur liga langkah. Pedang di julaikan ketanah untuk menyanggah

tubuhnya.

Kaki Han Pingpun terhuyung, kedua bahunya berguncang-guncang seperti orang mabuk.

Setelah berputar-putar berapa kali, akhirnya ia dapat paksakan berdiri tegak.

Serempak kedua orang itu menghela napas sarat. Keringat bercucuran turun ke tanah.

Dan sekalian tokoh2 silat yang berada dalam ruangan itu sama berdiam diri menahan

napas.

Tiba2 Ca Cu jing berputar tubuh, melangkah dua tindak ke samping Ting Ling.

Ketua Lembah raja setan Ting Ko membentak, “Aku masih hidup!”

Ca Cu-jing tersenyum, “Harap saudara Ting jangan salah faham. Sama sekali aku tak

bermaksud hendak mencelakai hiantit-li (Ting Ling).”

“Itu bagus,” sahut Ting Ko.

Tiba2 Ting Ling meletakkan korek lalu bergegas lari kepada ayahnya dan, “Ayah….” ia

terus rebahkan kepalanya kedada sang ayah.

Sejak kecil, belum pernah ia mendapat perhatian yang sedemikian mesra seperti saat itu.

Maka meledaklah perasaan nona itu, sehingga ia lupa keadaan ditempat itu.

Sambil membelai-belai bahu puterinya, Ting Ko berkata, “Belasan tahu aku sebagai ayah

memang tak memperhatikan dirimu sehingga kalian berdua telah banyak menderita ….”

Ketua Lembah-raja-setan itu menghela napas, “Kemanakah si Hong? Kalau dia sampai

binasa, sungguh merupakan suatu pukulan batin yang besar bagiku karena pada saat ini

aku sudah mencairkan hatiku yang dingin terhadap kalian.”

Sambil mengusap airmatanya yang membasahi kedua pipi, Ting Ling menerangkan

bahwa adiknya, Ting Hong, telah dipungut murid oleh Thian Hian totiang Ting Ko deliki

mata. Wajahnya agak menampil rasa tak senang, serunya, “O, benarkah itu?„

“Mana aku berani membohongi ayah!”

Tiba2 terdengar angin pukulan menderu dan korek itupun padam. Entah siapa yang

melakukan itu.

Dan selekas ruangan gelap maka berhamburan pula sinar pedang. Dan serempak itu, Han

Pingpun menggembor marah lalu berhamburan melepaskan pukulan.

Ting Ling menghela napas pelahan, “Ah, Ca Cu jing telah melepas senjata rahasia jarum

Hong” wi-iok-ciam….”

Kata2 Ting”Ling terputus oleh dua buah erang tertahan. Rupanya ada orang yang terkena

taburan jarum beracun dari Ca Cu-jing.

Dalam kekacauan itu tiba2 ruangan mulai bergerak berputar putar. Kursi dan meja saling

berbentur, orang?pun hiruk pikuk tak keruan. Ditambah pula dengan pekik auman yang

aneh dari kera bulu emas. Benar2 telah menjadikan suasana ruang itu seperti kiamat.

Bum…. tiba2 pula terdengar bunyi menggemuruh dan goncangan keras dari gunung

meletus. Dan pada ujung ruang itu tiba2 terbuka sebuah lubang pintu yang bundar.

Lentera kaca karena diguncang oleh letusan dahsyat, berayun-ayun keras, memancarkan

sinar, menimpah mutiara dan mutiara itupun segera memantulkan cahaya yang menerangi

ruangan.

Peristiwa aneh itu telah menyebabkan sekalian orang tertegun.

“Ah, dalam makam tua ini seperti benar2 ada orangnya, “Ih Thian-heng menghela nupas

panjang.

“Hm, apa engkau baru tahu sekarang?” seru Ting Ling.

Ih Thian heng tak mau meladeni si nona. Pelahah-lahan ia memutar tubuh dan

memandang Han Ping, “Anak muda, apakah engkau terluka?”

“Kalau terluka lalu bagaimana,?” balas Han Ping dengan nada dingin.

Ih Thian- heng tertawa hambar, “engkau adalah satu-satunya lawan yang dapat

mengimbangi kepandaianku. Akupun ingin sekali dapat bertempur dengan engkau

sampai selesai, agar dapat diketahui siapa yang lebih unggul.”

Berhenti sejenak. Ih Thian-heng menyusuli, “Tetapi sayang, suasana tempat ini….”

“Tak peduli suasana bagaimana, kita harus mencari penyelesaian kalah menang!” tukas

Han Ping.

Ih Thian-heng kerutkan alis, “Umurmu masih amat muda dan aku sudah tua Apakah

engkau takut kalau aku tiba2 akan mati? Dan setiap kali aku bertempur dengan engkau,

selalu kurasakan kepandaianmu bertambah maju. Makin pertempuran kita itu lebih lama

dilaksanakannya, bukankah sangat menguntungkan engkau….”

Ih Thian heng menghela napas, “Entah siapakah orang yang memiliki kecerdasan

sedemikian luar biasa untak menciptakan bangunan makam ini. Ai, sebuah tempat

jebakan semacam ini telah dapat tersiar luas sampai berpuluh-puluh tahun tanpa ada

©rang yang dapat mengetahui. Hebat, ya, hebat sekali orang itu karena dia dapat

mengelabui seluruh kaum persilatan didunia….”

Ting Ling berseru dingin . “Biarlah kujelaskan untukmu! Soal dapat mengelabuhi tokoh2

persilatan, soal kecil. Tetapi seorang tokoh sehebat engkau pun dapat juga terkena tipu,

bukankah engkau merasa penasaran sekali?”

Ih Thian-heng hanya terseuyum, “Sayang engkau hanya seorang anak perempuan.”

Kalau bukan anak perempuan, lalu bagaimana?” tanya Ting Ling.

“Kalau engkau bukan anak perempuan, engkau tentu akan kuambil sebagai murid dan

akan kuwariskan seluruh ilmu kepandaianku kepadamu.”

“Kalau begitu lebih baik aku tetap menjadi anak perempuan saja,’ sahut Ting Ling.

Mata Ih Thian-heng mengeliar lalu Tertawa, “Ah, sungguh seorang budak perempuan

yang bermulut tajam. Kalau tadi aku sama2 mati dengan Ji Han Ping, mungkin kalian

tentu akan berkurang harapan untuk hidup….”

Ia pelahan-lahan kisarkan pandang mata menatap Ting Ling, serunya, “Apakah engkau

masih mendendam atas hukuman yang kuberikan kepadamu tadi?”

Ting Ling tertawa hambar, “Apa perlunya aku harus mendendam? Bukankah aku tak

dapat mengalahkan engkau?”

Tiba2 Han Ping melangkah maju, serunya, “Ih Thian heng, apakah engkau menghendaki

aku berganti senjata?”

“Apakah engkau yakin tentu dapat mengalahkan aku ‘ tanya Ih Thian- heng.

“Kita masing2 mempunyai setengah bagian harapan. Kalau aku tak menggunakan pedang

pusaka, kemungkinan aku bisa menang, memang berkurang.”

Ih Thian-heng mengangguk, “Dalam hidupku, setiap langkah yang kuambil tentu

kuputuskan dengan tegas. Tetapi setiap kali berhadapan dengan engkau, aku selalu

meragu. Ah, apakah benar2 engkau dilahirkan untuk mengalahkan aku? Walaupun ilmu

kepandaianku tak kalah dengan engkau, tetapi belum2 aku sudah kalah moril.”

“Itu karena engkau banyak melakukan ke dosaan,” sahut Han Ping.

Tiba2 wajah Ih Thian-heng berobah, serunya, “Dengan baik2 aku berunding bersama

engkau, sekali2 bukan karena aku takut kepadamu. Kalau engkau selalu mendesak aku

saja, jangan engkau sesalkan kalau aku terpaksa menindak engkau!”

Han Ping tertawa dingin, “Tindakan bagaimana saja, silahkan engkau mengeluarkan

semua!”

“Kalau aku bersama ca Cu-jing menyerangmu, engkau yakin dapat menghadapi sampai

berapa jurus seru Ih Thian heng, Han Ping terkesiap, “Ini….”

“Apabila ditambah lagi dengan Nyo Bun-giau, dalam sepuluh jurus saja engkau tentu

sudah tamat riwayatmu 1” kata Ih Thian-heng pula.

Tiba2 dari belakang terdengar suara orang tertawa gelak2, “Ah, mungkin tidak semudah

itu Tangan sipengemis tua ini masih belum jompo, ditambah dengan seorang Siangkwan

Ko, jadilah kita tiga pasang lawan yang seimbang.”

Sekalian orang cepat berpaling. Ternyata pada lubang bobolan dinding, dua orang lelaki

tegak berdiri dengan tenang. Yang sebelah kiri, rambutnya terurai kusut, muka kotor dan

punggungnya menyanggul sebuah buli2 arak warna merah. Dialah Pengemis-sakti Cong

To.

Sedang yang disebelah kanan seorang lelaki tua baju biru. berjenggot panjang dan

menyanggul sepasang pedang dipunggung.

“Aha, sungguh kebetulan sekali sudara Cong datang,” Ih Thian-heng menyambut dengan

tertawa dingin.

Pengemis-sakti Cong To berpaling kepada lelaki jenggot panjang lalu mengambil buli2

araknya, meneguk dua kali lalu tertawa . “Begitu ramah sekali nada ucapanmu, tentulah

engkau hendak minta tolong kepada pengemis tua ini.”

“benar,” sahut Ih Thian- heng, “memang aku hendak minta bantuan kepadamu tentang

sedikit urusan.”

“Ai, sungguh sukar dicari Kesempatan seperti saat ini….” seru Cong To, lalu meneguk

buli2 arak sampai dua kali, baru berkata pula, “baik, pengemis tua bersedia

mendengarkan.”

“Keadaan saat ini, penuh bahaya,” Ih Thian-heng, mulai bicara, “seluruh kaum persilatan

telah dikelabuhi orang sampai berpuluh-puluh tahun. Oleh karena itu aku memutuskan

untuk menyingkap tubir rahasia makam tua ini.

Kuharap saudara suka kerja-sama dengan aku.”

“Bukankah engkau menghendaki supaya aku menganjurkan Han Ping membatalkan

permusuhan?”

“Ah, tak perlu begitu,” kata Ih Thian-heng, “cukup kupinjam kewibawaan saudara Cong

agar mengatakan kepadanya untuk menunda dendam permusuhannya kepadaku sampai

nanti rahasia makam ini sudah terbongkar, aku tentu akan menyelesaikan hal itu lagi.”

Walaupun Cong To seorang yang terbuka tangan dan lapang dada, tetapi iapun dapat

menempatkan diri pada setiapkeadaan. Sejenak merenung, ia menjawab, “Walaupun

pengemis tua ini tak setuju pada pribadimu tetapi bicaramu tadi cuKup beralasan.

Rupanya aku dapat memberi bantuan.”

Tiba2 Ih Phian-hem seperti mendapat semangat. Ia menyapukan pandang mata kearah

tokoh2 yang berada dalam , ruang itu, serunya, “Dapat tidaknya rahasia makam mi kita

bongkar, akan menyangkut kepentingan nasib dunia persilatan. Aku bersedia menjadi

pelopor.”

“Pengemis tua juga mempunyai sedikit soal yang hendak minta bantuanmu’ tiba2

pengemis sakti Cong To menyelutuk.

‘“Harap mengatakan.”

“Dalam ruang ini terdapat dua orang yang terkena senjata rahasia. Kalau engkau benar

bermaksud sungguh hendak membongkar rahasia makam ini, harap menlong kedua orang

itu dulu.”

Mata Ih Thian-heug berkisar memandang ca Cu-jing, serunya, “Saudara Ca, apakah

engkau membawa obatnya?”

Dalam keadaan yang terpojok itu, mau tak mau ia harus mempertimbangkan. Kalau tak

mau memberikan obat itu, tentu kemarahan orang akan tertumpah kepadanya. Namun

kalau memberi, obat itu hebat itu sekali khasiatnya. Setelah minum, tak sampai

sepenanak nasi lamanya, kedua korban itu temu sudah siuman.

Cong To pelahan lahan menghampiri ke samping Han Ping, ujarnya, “Engkoh kecil….”

Rupanya Han Ping tahu apa yang akan dikatakan Cong To. Pelahan lahan ia menyimpan

pedang Pemutus asmara, serunya, “Lo-cianpwe adalah orang yang paling kuindahkan.

Kalau hendak memberi perintah, silahkan.”

Cong To tertawa, “MembongKar rahasia makam tua ini, bukan melainkan hanya

keinginan lh Thian-heng seorang tetapi boleh dikata seluruh tokoh2 persilatan yang

berada dalam ruang ini, lentu juga menginginkan. Bahkan pengemis tua ini sendiri juga

kepingin mengetahui apakah rahasia yang sebenarnya dari makam tua ini. Makam ini

penuh dengan alat pekakas rahasia yang ketat dan maut. Sekalipun jago silat yang

memiliki ilmu ginkang tinggi, juga sukar untuk meloloskan diri dari Sini. Begitu rahasia

makam ini sudah terbongkar, bolehlah engkau lanjutkan lagi perhitunganmu dengan ih

Thian-heng.”

“Baiklah, lo-cianpwc,” kata Han Ping.

Cong To tertawa, “Sayang diantara pemimpin2 dari fihak It-kiong dan ketiga Marga itu

hanya empat orang yang datang. Masih kurang Thian Hian totiang dan ketua Lembahseribu-

racun. Jika merekapun datang, maka lengkaplah sudah rapat kematian dalam

makam tua ini!’

“Ketua Lembah-seribu-racun sudah bersama aku masuk kemari. Tetapi entah dia berada

dimana,” Han Ping menerangkan.

Tiba2 kakek bertubuh kekar yang menyanggul sepasang pedang dipunggungnya itu

berseru, “Ji Han Ping, apakah engkau masih kenal padaku?”

“Siangkwan pohcu yang termasyhur didunia persilatan masakan wanpwe tak kenal ‘ seru

Han Ping.

“Aku hendak tanya kepadamu tentang seseorang “

“Apakah bukan puteri lo-cianpwe?” tukas Han Ping.

“Benar, dimanakah anakku itu? Masih hidup atau sudah mati?”

Han Ping menerangkan bahwa Siangkwan Wan-ceng bersama dengan ketua Lembah

seribu-racun.

“Hm, bagaimana tua bangka beracun itu memperlakukan anakku?”

“Sangat memperhatikan dan sayang seperti anaknya sendiri,” kata Han Ping.

“Benarkah itu?” SiangKwan Ko agak heran, ‘“siapakah tokoh persilatan yang tak tahu

akan keganasan tua bangka beracun itu. Mengapa dia bersikap baik kepada puteriku, aku

sukar mempercayai hal itu.”

 

[bersambung]