makam asmara 04
“Dan mustika Kupu2 Emas itu? Apakah dapat
menghidupkan lagi
rumput yang sudah kering dan semut yang
sudah mati itu?”
“Entah, aku tak mendengar bangsa serangga
yang sudah mati itu dapat
hidup kembali,” kata orangtua jenggot
panjang, “hanya rumput yang
kering itu begitu tersentuh Kupu2 Emas,
memang dapat hidup lagi,”
Ting Ling tersenyum, “Sudah berapa tahun
lamanya kawannya itu yang
meninggal?”
Orangtua jenggot panjang merenung sejenak,
menjawab, “Sepuluh
tahun lebih tiga bulan….”
“Bukankah setelah memberitahukun tentang
kedua benda mustika itu
dia terus meninggal?”
“’Ya, kalau tak salah, lewat sebulan setelah
dia bercerita tentang kedua
mustika itu, diapun terus meninggal.”
“Mungkin orang yang pernah melihat kedua
semua sudah meninggal
dunia.”
Rupanya ada sesualu yang menyadarkan pikiran
orangtua jenggot
panjang itu. Ia merenung.
Menghela napas, Ting Lingpun melanjutkan
pula, “Orang2 yang melihat
kedua benda mustika itu, dalam waktu yang
singkat telah meninggal.
Dengan begitu kedua benda itu merupakan
suatu cerita yang misterius.
Tak seorangpun yang dapat membuktikan
kebenarannya dan jadilah
Tenggoret Kumala dan Kupu2 Emas itu suatu
dongengan yang hebat
didunia….”
Nona itu alihkan pandang matanya kearah
lukisan di dinding dan
barkata pula, “Kecuali keadaan kamar yang
begini bersih, pun lukisan
di dinding itu memang mencurigaKan sekali.”
Kim Loji dan orangtua jenggot panjang segera
berpaling memandang
kearah lukisan di dinding.
Tetapi mereka tak tahu rahasianya.
“Apakah kalian melihat sesuatu yang
mencurigakan?” tanya Ting Ling.
Lim loji dan orangtua jenggot panjang saling
berpandangan dan
mengangkat bahu.
“Harap kalian perhatikan, adakah tinta hitam
pada lukisan itu benar2
telah bertus-ratus tahun umurnya?” tanya
Ting Ling pula.
“Hai, benar,” tiba2 Kim Loji menepuk pahanya
yang tinggal satu.” dunia
persilatan menyohorkan kedua gadis lembah
Raja-setan itu luar biasa cerdiknnya. Hari
ini setelah bertemu, memang
baru dapat kubuktikan kebenaranya”
“Ah, janganlah lo cianpwe keliwat menyanjung
begitu.” Ting Ling
menghela napas. “kita sudah menjadi seperti
ikan yang masuk jaring.
Barangsiapa masuk kedalam makam ini jangan
menaruh harap an
untuk dapat keluar dengan selamat.”
Sambut Kim Loji, “Walaupun bukan Ko Tok
lojin, tetapi karena dapat
mengelabuhi seluruh kaum persilatan, orang
itu memang patut kita
temui!”
“Soal itu aku belum dapat memecahkan.
Sudilah kiranya lo cianpwe
memberi petunjuk,” kata Ting Ling.
“Ah, jangan memuji aku,” kata Kim Loji, “aku
tak tahu dengan tujuan
apa orang itu telah menggunakan seluruh
pikiran dan seluruh harta
bendanya untuk membangun makam ini?”
Jawab Ting Ling, “Untuk memikat perhatian
seluruh kaum persilatan
masuk kedalam malam ini maka dia telah
menyiarkan cerita tentang
Tenggoret Kumala dan Kupu2 Emas. Rupanya
tujuannya telah tercapai.
Kecerdasan orang itu memang hebat sekali.
“Sttt…. ada orang….” tiba2 orangtua jtnggot
panjang menukas omongan
si nona.
Sesosok tubuh melesat kedalam ruangan dan
begitu tegak ditanah,
sambil lintangkan kedua tangan untuk
melindungi dada, orang itu
berseru, “Nona Ting, Ting Ling mendengus,
“Hm, apakah engkau kira
aku sudah mati?”
habis berkara ia berpaling kearah Kim Loji,
“Lo cianpwe, sebaiknya
didayakan untuk menutup dinding yang bobol
itu agar sinarnya jangan
memancar keluar dan menarik perhatian
orang.”
Kim Loji mengangkat sebuah dingklik lalu
ditutupkan pada benjolan
lubang.
“Lo-cianpwe, yang datang ini adalah Ca Giok,
putera dari marga Ca di
Ik-pak. Keluarga Ca termasyhur dengan
pukulan Pen-poll sin kun.
Tentulah lo cianpwe kenal, bukan?” kata Ting
Ling memperkenalkan
pendatang itu.
“Anak muda dari angkatan sekarang, banvak
yang tak kukenal,” sahut
orangtua jenggot panjang.
“Ca sau-pohcu ini telah mendapatkan
pelajaran ilmu pukulan sakti itu
dari keluarganya.
Silahkan engkau mencobanya sampai sepuluh
jurus saja,” tiba2 Ting
Ling berkata pula.
Melihat orangtua jenggot panjang itu
bertubuh tinggi kekar, wajah
merah kan kening menonjol tinggi, tahulah
Ca Gok bahwa orangtua itu tentu seorang jago
yang tinggi ilmu
lwekangnya.
Buru2 ia berseru, “Ah, nona Ting, mengapa
begitu “
Tetapi belum sempat ia berkata, orangtua
jenggot panjang itupun sudah
lepaskan hantaman kepadanya.”
Dalam keadaan terpaksa, Ci Gokpun segera
menangkis dengan jurus
thian-cut-tho ta atau Tiang-langit-menyangah
pagoda.
Tangannya menyelinap kesamping untuk
mencengkeram pergelangan
tangan orangtua jenggot panjang itu.
Orangtua jenggot panjang mendengus Tiba2 ia
merobah gerakannya.
Sepasang tangannya serempak menghantam,
sekaligus masing2
melancarkan lima buah pukulan.
Gerakannya cepat sekali dan tenagapun
sekeras palu besi. Karena
dihambur oleh sepasang tangan besi, terpaksa
Ca Giok mundur lima
langkah.
Setelah melancarkan lima buah serangan,
orangtua jenggot panjang
itupun hentikan serangannya dan menyurut
kembali ketempatnya
semula seraya berkata, “Dalam seratus jurus,
aku tentu dapat
mengambil jiwanya.”
Ting Ling hanya tertawa lalu berpaling
kepada orangtua alis panjang,
“Lo-cianpwe, kalau suruh kera peliharaanmu
yang menyerangnya. entah
harus menggunakan berapa jurus lamanya?”
Sejak masuk kedalam ruang rahasia itu.
orangtua alis panjang selalu
duduk bersama kera bulu emas.
Ia pejamkan mata menyalurkan tenaga dan tak
menghiraukan
pembicaraan mereka. Begitu mendengar
pertanyaan Ting Ling, baru ia
membuka mata dan memandang Ca Giok, serunya,
“O, orang itu?”
“Walaupun usianya muda tetapi ilmusilatnya
amat sakti,” kata Ting
Ling.
Orangtua alis panjang tertawa dingin lalu
menepuk punggung kera bulu
emas.
Saat itu Ca Giok masih terengahengah karena
habis menyam but
sepuluh buah pukulan orangtua jenggot
panjang.
Mendengar Ting Ling hendak menyuruh orang
menyerangnya lagi,
buru2 ia berseru, “Nona Ting, aku hendak
memberitahu suatu hal
kepadamu ,. ….”
“Nanti saja kita bicara!” sahut Ting Ling.
Ca Giokpun tak dapat bicara
karena saat itu kera bulu emaspun sudah
menyerangnya.
Iapun cepat melepaskan sebuah pukulan
Pek-poh-sin kun atau
Pukulan-sakti-jarak-seratus langkah, sembari
menghindar kesamping
dan menyambar sebuah po-ci dari perak.
Menerima pukulan pek-poh-sin-kun, gemetarlah
tubuh kera itu tetapi
karena kulitnya tebal sekali, ia tak sampai
terluka.
Setelah berhenti sejenak iapun menyerang
lagi.
Ca Giok kerahkan tenaga dalam, mengangkat
poci perak dan berseru
nyaring, “Nona Ting, kalau engkau tak mau
mencegah binatang itu,
jangan sesalkan aku kalau kulukainya!”
Ting Ling hanya tertawa dingin, “Kalau
engkau membunuhnya masakan
yang punya akan tinggal diam?”
Mendengar itu Ca Giok terbeliak. Tetapi
belum sempat ia menjawab,
kera bulu emas itupun sudah menyerangnya
lagi.
Cepat ia menghindar lalu hantamkan poci
perak itu.
Ca Giok dapat menangkap peringatan Ting
Ling. Dia tak mau
menggunakan seluruh tenaganya karena kuatir
akan membinasakan
kera itu. Suatu hal yang tentu dapat
menimbulkan kemarahan
pemiliknya. Dengan pertimbangan itu, ia
hanya menggunakan lima
bagian tenaganya saja.
Kera menangkis dan poci perak itupun
terlempar kesamping, lalu
ulurkan tangannya hendak mencengkeram dada
Ca Giok.
Pemuda itu terkejut. Cepat ia mengempos
napas dan menyurutkan dada
untuk menghindari cakar kera yang runcing.
Setelah itu ia balas menabas. Dia bergerak
cepat sekali sehingga kera itu
tak sempat menghindar.
Lengannyapun kena tertabas tangan Ca Giok.
Tetapi langkah kejut pemuda itu ketika
tangannya serasa membentur
keping baja yang keras sekali.
Bahkan lengan binatang itupun mempunyai daya
membal sehingga
membuat Ca Giok terpental mundur selangkah.
Dan serempak itu, tangan kiri binatang
itupun sudah merangsangnya
lagi.
Untunglah Ca Giok sudah banyak pengalaman
dalam pertempuran.
Tahu kulit kera itu kebal, ia menggunakan
tenaga membal dari
pukulannya tadi untuk loncat berjumpalitan
kebelakang dan melayang
turun keatas meja.
Tetapi kera itu tajam sekali nalurinya.
Segera cakarnya digerak gerakkan untuk
menyambar nyambar. Kursi
dan mejapun berhamburan tumpah ruah.
Ca Giok mengambil keuntungan dari alat
perabot dalam ruang itu untuk
melindungi diri.
Ia melontarkan apa saja yang dapat diraihnya
dan setempo iapun
mencuri kesempatan untuk balas menghantam.
Tetapi kera bulu emas itu tebal sekali
kulitnya. Walaupun menderita
beberapa kali pukulan ia tetap tak apa2.
Sedangkan tangannya, luar biasa kuatnya.
Setiap tambarannya tentu
menimbulkan desir angin yang menderu-deru.
Ca Giok yang mengetahui tak berguna adu
kekuatan terpaksa harus
main menghindar. Dengan demikian tampaklah
ia terdesak oleh kera itu.
Melihat Ca Giok pontang panting tak keruan.
Ting Lingpun tertawa
mengikik. Seberapa saat ke mudiain ia
berseru kepada orangtua alis
panjang, “Lo-cianpwe, harap hentikan kera
itu!”
Sejenak berbatuk-batuk, orangtua alis
panjang itu lalu bertepuk tangan
dan mulutnya bercuit-cuit, lalu membentak.
Tiba2 kera bulu emas yang tengah menyerang
Ca Giok itupun segera
berputar tubuh dan dengan bergoyang gontai
menghampiri tuannya.
Dengan napas terengah-engah, Ca Giokpun
berseru, “Nona Ting . .
“Mengapa?” tanya Ting Ling hambar, “sekarang
engkau boleh bilang.”
Melihat sikap Ting Ling yang seolah olah
memberi perintah kepada
orang2 tua itu, diam2 Ca Giok heran juga.
Pikirnya, “Bagaimana mungkin orangtua
jenggot panjang dan orangtua
alis panjang begitu menurut perintah nona
itu….”
Namun ia tak berani menanyakan hal itu dan
melainkan tertawa, “Nona
Ting, apakah nona berjumpa dengan ayahku?”
“Hm, tidak ada omongan engkau cari bahan
mengomong, Ya, memang
berjumpa tapi mungkin saat ini dia sudah
mati.”
Ca Giok tertegun, “Apakah nona bergurau?”
“Siapa yang akan bergurau dengan engkau? Itu
memang sungguh suatu
kenyataan.
Dia telah didesak mati2an oleh Han Ping.
Nah, coba engkau pikir,
apakah dia masih dapat hidup?”
Mendengar ayahnya bertempur dengan Han Ping,
hati Ca Giok malah
lega, ia tertawa, “Sekalipun kepandaian Han
Ping itu tinggi tetapi jika
dapat mengalahkan ayah, itu sungguh tak
mungkin “
“Bagaimana kepandaian ayahmu kalau dibanding
dengan Ih Thianheng?”
tanya Ting Ling pula.
“Kalau dinilai dari ilmu silatnya, mereka
seimbang. Tetapi kecerdikan Ih
Thian-heng memang jauh diatas ayah.”
“Beberapa hari yang lalu, Han Ping telah
mengunjukkan ilmu permainan
pedang yang luar biasa mengejutkan seluruh
tokoh2
dalam gelangang pertempuran besar. Rupanya
engkau sendiri juga
melihatnya, masakan sudah lupa?
Sedang Ih Thian-heng saja harus tunduk dan
kagum masakan
ayahmu?”
Ca Giok tertegun diam. Apa yang dikatakan
nona itu memang benar.
Tetapi ia tahu bahwa tenaga-dalam ayahnya
tinggi sekali.
Sedang ilmu pukulan Pek-pofa-sin-kun dari
merga Ca, hebat bukan
main. Sekalipun tak dapat menang dari Ih
Thian-heng tetapipun dapat
melindungi diri.
Ca Giok seorang pemuda yang licin. Melihat
gelagat ia tak mau
berbantah lagi dengan nona itu.
“Kutahu hatimu tentu masih belum puas, “Ting
Ling tertawa.” tetapi
jangan lupa bahwa Han Ping itupun masih
mempunyai pedang pusaka
Pemutus-asmara.”
Ca Giok tertawa hambar, “Saat ini dalam
makam tua disini penuh
dengan alat2 pekakas yang berbahaya.
Betapapun erat hubungan orang hingga seperti
ayah dan anak, tetapi
juga tak dapat saling memberi bantuan.
Ting Ling tertawa, “Ih, engkau dapat memikir
terang juga”
Sejenak mengeliarkau pandang mata, nona
itupun melanjutkan pula,
“Mengapa engkau hanya seorang diri saja?
Dimana Ih Thian-heng? Beri tahu terus
terang, akupun akan
memberitahu kepadamu tentang keadaan ayahmu
yang sebenarnya”
“Sejak engkau melarikan diri, Ih Thian heng
marah sekali. Dua orang
anak buahnya dihantam mati lalu menyuruh
seluruh orang2nya
mencarimu kesegenap penjuru. Bermula aku
bersama ayahku tetapi
ditengah jalan bertemu dengan ketua
Lembah-seribu racun. Ayah dan
ketua Lembah-seribu-racun saling berhantam.
Akupun juga berbaku
bantam sampai tiga jurus dengan pengikut2
ketua Lembah-seribu-racun
“Tak perlu kutanya, tentu engkaulah yang
kalah,” kata Ting Ling.
“Tiga jurus, belum ada yang kalah dan
menang. Tetapi perkelahian iiu
telah menyebabkan aku terpisah dengan ayah.
Aku tersesat jalan dan
membelok kemari sehingga tanpa sengaja
bertemu dengan nona.”
Ting Ling mencibirkan bibir, “Mengapa engkau
tak mengakui kalau
engkau kalah dan dikejar musuh sehingga
menyusup kemari?”
“Silahkan saja nona mengatakan bagamana. Aku
tak memasukkan
dalam hati. Tetapi kuminta nona suka
memberitahu dimana berad-nya
ayahku itu.”
“Ya, baiklah,” kata Ting Ling, “dengan terus
terang kuberitahu bahwa
aku benar2 tak pernah melihatnya.”
“Apakah omongan nona tadi hanya isapan
jempol belaka?” Ca Giok
menegas.
“Siapa bilang isapan jempol?” kata Ting
Ling, “yang jelas Han Ping tidak
memburu ayahmu.”
“Lalu siapa?”
“Nyo Bun-giau serupa dengan ayahmu, keduanya
golongan macan
hitam.”
Ca Giok tertawa, “Harap nona jangan lupa.
Ayahmu dan ayahku itu
tokoh termasyhur diduma persilatan.
Nama dari Lembah-raja-setan sesungguhnya tak
dibawah marga Ca.”
Tiba2 Ting Ling berpaling kearah orangtua
jenggot panjang dan berseru,
“Maju dan serang dia sampai tiga jurus!”
Tanpa bicara apa2, orangtua jenggot panjang
itu terus maju menyerang
Ca Giok sampai tiga jurus.
Hebatnya bukan main sehingga Ca Giok sampai
mundur enam langkah.
Darah dalam tubuhnya bergolak keras, mata
berkunang kunang.
Untung setelah tiga jurus, orangtua jenggot
panjang itupun hentikan
serangannya dan mundur kembali ketempatnya
semula.
Ca Giok menghela napas panjang, memandang
Ting Ling dan berkata,
“Orangtua ini, hebat sekali pukulannya.”
Ting Ling hanya tertawa hambar, “Kalau
engkau bicara tak keruan,
tentu akan kusuruh dia membunuhmu.”
“Ya, dia memang mampu.”
“Nah, kalau engkau sudah tahu, baiklah,”
kata Ting Ling, “engkau
jawablah beberapa pertanyaanku tetapi harus
mengatakan sejujurnya.
Nanti tentu kubebaskan.”
“Seorang lelaki dapat bersikap keras, pun
dapat lunak. Silahkan engkau
bertanya.”
“Engkau memang pandai merangkai kata2 dan
mengambil muka orang,
“kata Ting Ling,” dan pandai berbohong.
Tetapi engkau harus mengerti, bahwa justeru
aku ini paling dapat
meneliti kebohongan orang.
Tiap patah kata engkau berkata bohong, tentu
akan kupotong jari
tanganmu.
“Jangan kuatir,” kata Ca Giok, “orang’ yang
berada dalam makam tua
ini memang tipis harapannya dapat keluar
lagi dengan selamat. Disini
memang merupakan gelanggang perebutan jiwa
dengan menggunakan
ilmu kepandaian.
Kalau aku tak ingin cepat mati lebih dulu,
tentu takkan membohongi
engkau.”
“Hm. tak kira kalau engkau masih bersikap
begitu perwira,” kata Ting
Ling.
Tiba2 nona itu kerutkan wajah dan
melanjutkan berkata, “Ih thianheng,
ayahmu dan Nyo Bun-giau, dengan tujuan apa
menyebarkan
surat kepada tokoh2 persilatan, mengundang
mereka datang ke makam
tua sini?”
“Bagaimana engkau tahu kalau ayah dan Ih
Thian-heng mengundang
mereka’! Ca Giok balas dapat tanya.
Hm, dengan menerka saja tentu sudah dapat
menerka tepat.”
“Benar, engkau memang menerka tepat,” kata
Ca Giok,” lh Thian heng
hendak meminjam alat2 rahasia dalam makam
ini untuk
membinasakan seluruh tokoh persilatan!”
“Ya, hai itu memang aku sudah tahu,” kata
Ting Ling, “yang kutanyakan
kepadamu yalah tentang rencananya.”
“Pada setiap pintu terowongan, ia selalu
menyuruh seorang anak buah
yang mahir menggunakan senjata rahasia
beracun untuk menjaga. Tak
peduli siapa saja yang masuk pintu
terowongan, tentu akan dihantam
dengan senjata rahasia beracun.
Alat rahasia yang sudah hebat di tangan
dengan seorang penjaga yang
berilmu tinggi, benar2 merupakan pintu maut
bagi setiap orang
persilatan yang melalui pintu itu. betapapun
tingginya kepandaian
orang itu.”
“Rencananya itu memang bagus. Sayang dalam
dunia masih banyak
orang yang lebih cerdas dari dia,” dengus
Ting Ling.
“Benar,” sahut Ca Giok, “aku sendiri memang
tak percaya bahwa di
dunia ini terdapat orang yang paling uomor
satu.
Karena setiap orang itu mempunyai bakat dan
kecerdasan sendiri2.”
“Pandanganku justeru berlainan dengan
engkau,” kata Ting Ling.
“Aku ingin mendengar alasan nona”
“Ilmu kepandaian yang dicapai orang dengan
bakat kecerdasan memang
mempunyai hubungan. Maka sejak dahulu sampai
sekarang, belum
pernah terdapat orang yang tidak cerdas
dapat memiliki kepandaian
yang tinggi.”
Saat itu Ca Giok tak mau adu lidah dengan
Ting Ling maka ia hanya
tertawa saja, “Mungkin pendapat ia lebih
benar.”
“Hm, memang sehenarnya aku harus dapat
melebihi engkau!” dengus
Ting Ling.
Tiba2 terdengar suara nyaring, “Giok-ji….
Giok ji….”
Ca Giok terkejut. Giok ji artinya anak Giok,
yalah panggilan yang biasa
dilakukan ayahnya kepadanya.
Segera ia mengempos semangat dan berseru
nyariug, “Yah, apakah
engkau?”
Wut, iapun segera lepaskan pukulan
Pek-poh-sin-kun kearah Kim Loji.
Baru saja Kim Loji menambal bobolan dinding
atau begitu mendengar
deru angin pukulan terpaksa cepat2 ia
menyingkir kesamping.
Habis memukul, Ca Giokpun segera loncat
ketempat bobolan dinding
dan terus menghantam penutupnya.
Brak…. penyumbat dinding itupun berantakan.
“Lekas bunuh dia, makin cepat makin baik!”
segera Ting Ling memberi
perintah kepada orangtua jenggot panjang.
Tetapi orangtua ‘jenggot panjang itu
kerutkan dahi seolah-olah segan
melakukan perintah Ting Ling. Tetapi sesaat
kemudian akhirnya ia
melesat mengejar Ca Giok.
Setelah menyingkir kesamping, Kim Loji terus
membabat dengan golok
tetapi saat itu Ca Giok yang sudah melayang
ditanah, segera berputar
tubuh, menghindari tabasan golok lalu
menghantam sekuat-kuatnya
kepada orangtua jenggot panjang.
Orangtua jenggot panjang menangkis. Tetapi
walaupun dapat menahan
pukulan Pek-poh-sin kun namua tak urung
terpental juga di ketanah.
Tiba2 sesosok tubuh melesat masuk kedalam
lubang itu dan terus
menghantam Kim Loji Cepat sekali orang itu
bergerak sehingga tahu2
Kim lo ji sudah direbut goloknya. Dan
secepat itu pula pendatang itupun
sudah menghadang dimuka Ca Giok, memutar
golok menyeraug
orangtua jenggot panjang yang mendesak Ca
Giok.
Ting Ling cepat mendekat orangtua alis
panjang dan membisikinya, “Lo
cianpwe, harap lekas suruh kera bulu emas
turun tangan “
Orangtua alis panjang itu tertawa gelak2,
“Jangan kuatir nak, sekalipun
pendatang itu sakti sekali tetapi aku tentu
mempunyai daya untuk
menghadapinya.”
“Bukankah engkau tak mengerti ilmusilat?”
tanya Ting Ling heran.
Jawab orangtua alis panjang, “Apakah
membunuh orang itu harus
menggunakan ilmu silat saja?
asal engkau dapat membuatnya dekat kepadaku
dalam jarak tiga
langkah, aku tentu dapat menguasainya.”
Saat itu pendatang tadi hentikan serangannya
dan berpaling kepada Ca
Giok, “Nak, apakah engkau terluka?”
“Tidak….,” sahut Ca Giok. Kemudian ia
menunjuk pada orangtua
jenggot panjang, “Orang itu sakti sekali,”
kalau menghadapinya harap
ayah hati2.”
Sejenak memandang kepada orangtua jenggot
panjang, ayah Ca Giok,
berseru, “Hai, apakah saudara bukan saudara
Theng Ban-li si Pukulan
besi itu?”
Orangtua jenggot panjang tertawa, “Ah,
kiranya saudara Ca masih ingat
kepadaku.”
“Ai, jenggot saudara Theng yang indah itu
sungguh tiada keduanya
dalam dunia.
Karena memandang jenggot itulah maka aku
terhindar akan saudara
Theng. Teringat ketika pertemuan digunung
Heng-san kita saling
menuturkan pengalaman masing2.”
Sambil menjuntaikan jenggotnya yang bodol,
orang she Theng itu itu
tertawa, “Ah, jenggot itu sekarang sudah
habis.”
“Ah. saudara Taeng masih tetap sama dengan
dahulu….kata Ca Cu lalu
berpaling kearah Ca Giok, “Inilah Theng
supeh, dengan sepasang
pukulan besi dia pernah mengaduk daerah
Kwan-gwa dan tokoh2
persilatan berbagai aliran. Hayo, lekas
engkau memberi hormat
kepadanya.”
Ca Giokpun segera melakukan perintah ayah.
Tersipu-sipu ia memberi
hormat, “Harap Theng locianpwe suka memberi
maaf.”
Theng Ban-li tertawa, “Harimau pasti takkan
beranak anjing.
Kepandaian hian-tit, sungguh membuat aku
kagum sekali.”
Ca Giok hanya tersenyum, “Ah, harap Theng
supeh jangan keliwat
memuji.
Kalau supeh tak bermurah hati aku tentu
sudah terluka.”
Ca Cu-jing cepat dapat mengetahui suasana
dalam ruang itu. Dihatnya
orangtua alis panjang itu duduk meramkan
mata.
Sikapnya membuat orang sukar menduga
betapakah ilmu kepandaian
orang itu.
Diam2 Ca Cu-jing heran mengapa Theng Ban-li
mau menerima perintah
Ting Ling.
Namun sebagai seorang tak mau cepat2 membuka
rahasia orang
sebelum tahu duduk persoalannya yang jelas.
Sambil memberi salam kepada Ting Ling, ia
berseru, “Ah, kepandaian
hiat-titli sungguh membuat kita orang2 tua
ini kagum dan malu hati.”
Selama Ca Cu jing hercakap cakap dengan
Theng Ban-li tadi, diam2
Ting Ling sudah memperhitungkan kekuatan
kedua belah pigak.
Walaupun sakti tetapi Theng Ban-li itu
ternyata bersahabat baik dengan
Ca Cu-jing.
Sedang walaupun orangtua alis panjang itu
manhir dalam ilmu racun
tetapi dia tak mengerti ilmusilat.
Kalau sungguh terjadi pertempuran, tentu tak
berguna. Sedang ia
sendiri bersama Kim Loji tetap bukan
tandingan Ca Cu jing. Dan apabila
ia mendesak pada Theng Ban-h untuk bertindak
kemungkinan orangtua
jenggot panjang itu tentu akan nekad
menentangnya. ….
Sekalipun masih muda tetapi Ting Ling memang
luar biasa cerdasnya.
Dalam menghadapi kesulitan yang bagaimanapun
sukarnya ia tetapi
berlaku tenang.
“Terima kasih paman Ca,” serunya tersenyum
Berkata pula Cujing,
“Sejak masuk kedalam makam ini, ih
Thian-heng semakin gila.
Bukan saja mempunyai rencana hendak menumpas
seluruh kaum
persilatan, pun Nyo Bun-giau dan diriku,
juga akan dibunuhnya.
Dia memang berhati ganas dan beracun seperti
ular berbisa. Sukar
untuk diajak kerja sama….”
“Ting Ling tertawa, “Kalau paman dapat
menyadari hai itu, aku sungguh
gembira sekali.”
“Ayahmu juga sudah masuk kedalam makam ini,
berita itu tentulah
engkau sudah tahu,” kata Ca Cu jing pula.
“O. apakah ayah juga datang? Bilakah paman
berjumpa dengan ayah “
tanya Ting Ling.
Ca Cuing tertawa, “Suara suitan aneh dari
ayahmu, tiada orang didunia
ini yang dapat meniru.
Aku mendengar suara suitannya, apakah hal
itu tidak seperti
melihatnya wajahnya?”
“Tetapi memang kuharap ayah datang kemari
agar aku dapat
menceritakan tentang pengalaman pahit yang
kuderita….”
Tiba2 angin berkesiur dan seorang yang
tubuhnya berlumuran darah
menerobos masuk. Rambutnya kusut masai,
pakaian compang camping
dan darah yang berhamburan mengotori mukanya
itu, menyebabkan
wajahnya yang aseli tak kelihatan.
Walaupun Ca Cu-jing luas pengalaman tetapi
untuk sesaat ia tetap tak
dapat mengenali orang itu.
Suasana dalam makam itu penuh diselimuti
hawa pembunuhan Maka
setiap orang selalu siap siaga menjaga diri.
Munculnya pendatang yang menyeramkan itu,
tak disambut dingan
tindakan yang bersikap hendak menolongnya.
Tampak tubuh pendatang itu terhuyung-huyung.
Rupanya dia sudah
tak kuat untuk berdiri tegak.
Sambil menghampiri, Ca Cu-jing menegurnya,
“Siapakah engkau?”
Karena lukanya parah, orang itu Pejamkan
mata dan menyahut dengan
sisa tenaga yang masih dipunyai, “Ca
Cu-jing”
Ca Cu-jing terkejut. Diam2 ia berpikir,
Memang banyak tokoh persilatan
yang kenal kepadanya.
Tetapi yang langsung memanggil namanya
begitu saja, sedikit sekali
jumlahnya. Kalau orang itu memanggilnya
begitu, tentulah seorang yang
hebat. “Siapa saudara ini? Mengapa memanggil
namaku?” tegurnya.
Orang itu menggeliat bangun dan melangkah
beberapa tindak, medekap
meja dan berpaling, “Apakah saudara Ca
benar2 tak kenal lagi padaku?”
Ca Giok seperti kenal dengan nada suara
orang itu tetapi sesaat ia
masih belum ingat sekali.
“Saudara menderita luka parah sekali. Harap
jangan banyak bicara.
Bolehkah aku membantu mengobati luka
saudara?” serunya.
Dengan susah payah orang itu menjawab,
“Tubuhku telah menderita
tujuhbelas tusukan pedang.
Sekalipun makan obat dewa, mungkin tak dapat
menolong jiwaku.
Walaupun sudah mendekap meja tetapi tubuh
orang itu tetap gemetar
ketika bicara.
Ca Cu-jing buru2 menyanggahnya, “Saudara
menderita tujuh belas
tusukan pedang namun masih kuat bertahan
benar2
saudara hebat sekali.”
Setelah mendapat bantuan tangan Ca Cu jing.
orang itu dapat berdiri
tegak, serunya: Beberapa nadi dalam tubuhku
sudah putus, darah yang
masih tersisa dalam tubuhku, segera akan
mengalir….” Bluk, ia tak
dapat melanjutkan katanya karena saat itu
iapun rubuh.
Ca Cu jing memeriksa luka orang itu dan
dapatkan bahwa hampir
sekujur tubuhnya berhias luka berat sehingga
pakaiannya merah
dengan darah.
Ca Cu jing tak mempedulikan kematian orang
itu Karena bagaimanapun
dengan menderita sehebat itu, tak mungkin
dapat ditolong jiwanya.
Yang menjadi pemikirannya yalah siapakah
yang membunuhnya? Ya, ia
ingin tahu.
Segera ia lekatkan telapak tangannya ke
punggung orang itu dan
menyalurkan tenaga dalam, serunya, “Luka
yang begitu hebat, telah
menyebabkan nada suara saudara agak berobah
sehingga aku benar2
tak dapat mengenali saudara.
Harap saudara suka memberitahu nama saudara
agar kelak apabila
bertemu dengan putera saudara, dapat
kuberitahukan kepadanya.”
Serangkum hawa hangat segera memancar pada
jalan darah di pusar
orang itu sehingga dia dapat siuman lagi.
“Aku Thay ou Ong…. “ belum selesai berkata
tiba2 orang itu muntah
darah.
Ca Cu-jing lerkejut, serunya, “Saudara ini
saudara Ong Tay-ki dari
telaga Thay-cu?”
“Benar….”
“Saudara Ong terluka ditangan siapa?”
Baru Ong Tay-ki hendak menjawab tiba2 dari
lubang bobolan dinding
terdengar suara orang berseru dingin,
“Terluka ditanganku “
Cepat Ca Cu-jing berpaling dan tampak
seorang lelaki berjubah panjang,
berjalan menghampiri.
Tetapi serempak dengan itu ia merasakan
tubuh Ong Tay-ki yang
disanggah dalam tangannya itu mengulai
kesamping terus terkapar
jatuh ke tanah Can putuslah jiwanya.
Pelahan lahan Ca Gu jing mengangkat tangan
kanan, dijulurkan jurus
kemuka dada. Diam2 ia menyalurkan
tenaga-dalam Pek poh-sin kun.
Asal pendatang itu hendak menyerang iapun
hendak mendahului
menghantamnya.
“Kalau sudaura dapat memberi tusukan
tujuhbelas buah kepada Ong
Tay-ki, jelas saudara tentu seorang tokoh
yang ternama.
Bolehkah aku mendapat tahu nama saudara yang
mulia?” serunya.
Sebagai seorang yang pengalaman, cepat ia
dapat mengetahui bahwa
pendatang itu mengenakan wajah palsu dati
kedok kulit.
Pendatang itu mencekal sebatang pedang di
tangan kanan sedang
tangan kiri mengusap kedok mukanya lalu
tertawa nyaring, “Saudara
Ca, mengapa sama sekali engkau tak dapat
mengenali nada suaraku?”
Demi melihat wajah orang itu, gemetarlah Ca
Cu-jing, serunya, “O,
saudara Ih?”
Ya, yang muncul itu memang Ih Thian-heng,
jago yang menggangap
dirinya sebagai tokoh nomor satu diduma.
Dia memang merencanakan untuk menjaring
seluruh orang persilatan
kedalam makam itu untuk dibasmi.
“Benar. memang aku,” Ih Thian-heng tertawa.
Tokoh itu mengeliarkan pandang mata kedalam
ruang.
Ca Cujingpun segera menurunkan tangannya
yang menjulur kemuka
dada itu lalu tertawa, “Karena saudara Ih
menggunakan logat daerah,
sudah tentu aku tak dapat menangkap
maksudnya.
Orang persilatan mengatakan bahwa saudara Ih
paham semua logat
bahasa daerah, ternyata memang benar.”
“Ah, saudara Ca keliwat memuji….“ kata Ih
Thian-heng, “tetapi apakah
saudara Ca pernah berjumpa dengan Nyo
Bun-giau “
Ca Cu-jing gelengkan kepala, “Tidak, aku tak
pernah kesampokan
dengan saudara Nyo.”
“Bilakah saudara Ca menemukan nona Ting
itu?” Ih Thian heng tertawa
dingin.
“Aku baru saja tiba disini….” kata Ca Cu jin
seraya memandang kearah
Theng Ban-li dan berkata, “Dia adalah
Pukulan-besi Theng Ban-li dari
Kwan-gwa, seorang tokoh ternama dari gunung
Pek-san.”
Memandang kepada mayat itu, Ih Thian-heng
berseru, “Bagus, bagus,
saudara Theng ternyata juga datang kemari
mengantar jiwa.
Theng Ban-li mejulaikan jenggotnya, berkata,
“Kalau bicara, harap
saudara Ih sedikit pakai kesungkanan”
Tiba2 Ih Thian-heng tertawa dan mengangkat,
tangan menunjuk Ting
Ling, “Makam ini merupakan sebuah tempat
yang melingkar-lingkar
bundar tak peduli nona akan bersembunyi
dimana, tentu tak dapat lolos
dari tanganku.”
Ting Ling melihat alis Ih Thian-heng
mengerut hawa pembunuhan.
Sikapnyapun mengunjuk hendak segera turun
tangan.
Tetapi ia tak tahu siapakah yang akan
dibunuh. Kemungkinan Theng
Ban-h, kemungkin ia sendiri.
Tetapi Ca Cu-jing pun juga bukannya tak
mungkin.
“Apakah engkau hendak mencari Nyo Bun-giau?”
akhirnya ia bertanya.
“Dimana dia?”
“Aku pernah berjumpa tetapi tak tahu
sekarang ini dia masih hidup
atau sudah mati?”
“’Apakah dia berjumpa dengan dara baju ungu
dari perguruan Lam-hay
bun itu?”
“Bukan,” Ting Ling gelengkan kepala.”Ketua
Lembah-seribu racun?”
“Juga bukan….”
JILID 4
Persekutuan serigala.
Ih Thian-heng menyimpan kedok muka kedalam
baju lalu tertawa keras, “Aku tak peduli
tentang mati hidupnya Nyo Bun-giau.
Dia bertemu siapa dan mati ditangan siapa,
bagiku tiada kepentingannya.
Hanya kalau nona hendak meminjam tempat ini
untuk mengulur waktu, akupun hendak
bertanya separah kata kepadamu….”
Sejenak berhenti, Ih thian-hengpun berkata
pelahan-lahan, “Apakah dia bukan bertemu
dengan Thian Hian totiang?”
Ting Ling tertawa, “Engkau sudah tahu bahwa
jiwaku berada dalam genggamanmu maka
berani sja engkau hendak mengulur waktu.
Karena engkau mempunyai anggapan begitu,
baiklah, akupun tak mau berbantah lagi
dengan engkau, nanti akhirnya tentu tahu
sendiri. Dan karena engkau bertanya, akupun
tak keberatan untuk menjawab Ting Ling
tertawa pula.
“Orang yang dijumpahi Nyo Bun giau, walaupun
tiada terdapat nama Thian Hian totiang.
Namun dalam ilmu pedang, kiranya tak kalah
dengan Thian Hian totiang,” katanya
pelahan.
Tiba2 wajah Ih Thian-heng membesi, serunya,
“Apakah bukan Ji Han ping?”
Sambil mengelus rambut, Ting Ling tertawa
ringan, “Benar, memang Han Ping.”
Mata lh Thian-heng berkilat, wajahpun tampak
agak berobah. Tiba2 ia tertawa, “Bagus,
bagus! Ji Han Ping, Ji Han Ping, akhirnya
engkau juga datang kemari!”
Walaupun nada tertawanya melantang keras
namun tak dapat disembunyikan bahwa
dalam kilatan matanya itu jelas tak tenang.
Ting Ling dapat memperhatikan hal itu dan
diam2 menarik kesimpulan bahwa nyata Ih
Thian-heng itu sudah menempatkan Ji Han Ping
sebagai lawan yang paling berat, satu
satunya orang yang mampu mengimbangi
kepandaiannya….
Rupanya sikap Ih Thian-heng itu, tak luput
juga dari pengawasan Ca Cu jing dan Theng
Uan-li.
Diam2 kedua tokoh itu heran mengapa seorang
tokoh durjana yang paling ditakuti oleh
segenap orang persilatan ternyata begitu
memandang berat pada seorang pemuda yang
belum terkenal.
“ji Han Ping?” seru Theng Ban-li,” siapakah
dia? Mengapa aku belum pernah mendengar
nama itu?”
Ih Thian-heng tersenyum, “Karena saudara
Theng lama tinggal didaerah Kwan-gwa,
tentulah tak begitu faham akan jago2 silat
daerah Tiong-goan. Misalnya, Ji Han Ping.”
“Ji Han Ping itu satu-satunya jago muda yang
dapat menggetarkan nyali Ih Thian-heng,”
tiba2 Kim loji menukas sambil busungkan
dada. Walaupun sudah lama Kim loji hidup
dalam tekanan Ih Thian-heng, tetapi pada
saat itu samangatnya menggelora, seolah-olah
ia turut menikmati nama Han Ping yang
gemilang.
Ih Thian-heng berpaling menyapukan pandang
kearah Kim loji, serunya pelahan,
“Benarkah aku gentar terhadap anak itu?”
Kim loji buru2 hindarkan pandang mata dari
sinar mata Ih Thian-heng, sahutnya, “Benar
atau tidak, hanya engkau sendiri yang tahu.”
Ca Gu jing dan Theng Bau- lipun mencurah
pandang kepada Ih Thian heng. Tiba2 Ih
Thian-heng tertawa gelak2, “Benar, memang
aku agak gentar kepadanya….”
Setelah berhenti tertawa, ia berkata pula
dengan pelahan, “Oleh karena itu dengan
bermacam siasat, aku hendak membasminya!”
Kim loji tertawa dingin, “Mungkin…. belum
tentu…. engkau dapat membunuhnya….”
“Memang ada beberapa orang dalam
pandanganku, kalau dia hidup tak membahayakan,
kalaumatipun tak ada kepentingan bagiku.
Orang2 semacam itu. aku tak peduli mati atau
hidup.”
Kemudian ia menatap Kim loji, “Itulah
sebabnya mengapa sampai saat ini engkau masih
bisa bernafas “
Seketika wajah Kim loji pucat lesi, tak
dapat bicara lagi.
“Tetapi ada beberapa orang, walaupun hanya
hidup sehari saja, tetap meresahkan hatiku
dan harus kubasmi.
Aku ingin hidup tenang maka harus lekas2 dia
kulenyapkan,” kata Ih Thian-heng pula.
“Kalau begitu, engkau tentu akan melenyap
kan aku,” seru Ting Ling, “oleh karena aku
ini juga termasuk duri dalam mata.”
“Benar,” sahut Ih Thian-heng.
Ting Ling tertawa ringan: Aku sungguh
berbahagia sekali tiba2 ia mengangkat tangan
dan segulung asap segera meluncur, tanpa
diketahui orang sama sekali.
Ih Thian heng tertawa gelak2, “Hai, budak
perempuan yang ganas!” ia terus tamparkan
lengan jubah sehingga bubuk racun itu
berhamburan kemana-mana.
Melihat itu pucatlah Ting Ling. Cepat2 ia
berseru, “Lekas tutup pernapasan!”
Tetapi terlambat. Kini lojipun sudah
terjungkal rubuh ditanah.
Ih Thian heng menengadahkan kepala tertawa,
“Bubuk Bi-yokhun dari Lembah-rajasetan
memang hebat sekali. Tetapi kalau gagal
mencelakai orang, tentu akan mencelakai
diri sendiri. Pengalaman ini harap nona Ting
jangan lupa dan ingat baik2”
Habis berkata ia terus melangkah ketempat
Ting Ling.
Wajah Ting Ling berobah tegang, “Tok
lo-cianpwe, kera bulu emas….”
Serentak terdengar suitan tajam dan kera
itupun sudah melesat kesamping Ting Ling,
terus menyerang Ih Thian-heng.
Ih Thian-heng menghindar kesamping. Ting
Lingpun cepat2 mengambil bubuk obat lagi
dau dilumurkan ke hidung Kim loji.
Terkamannya luput, kera bulu emas itu marah
sekali. Bulu sekujur tubuhnya tegak
berjuntai, kedua tangannya yang bercakar
runcing, tampak menelungkupi Ih Th-an-heng.
Tetapi Ih Thian-heng hanya ganda tertawa,
“Apakah hanya begitu saja kepandaian
binatang ini?” Ia tamparkan tangannya.
Kera itu menghindar kesamping tetapi telah
disambut dengan tamparan tangan Ih Thian
heng yang tepat mengenai dadanya.
Kera itu meraung keras lalu mencelat sampai
setombak tingginya dan tubuh disudut
dinding.
Orangtua alis panjang terkesiap. Ca Cu-jing
dan Iheng Ban-li menghela napas. Ting Ling
tegang.
Kim Loji menggigil lalu menggeliat berdiri,
tegak terlongong longong.
Ih Thian heng berkata tawar, “Kalau nona
Ting mempunyai siasat apa lagi, silahkan
menge luarkan semua agar aku dapat
melihatnya.”
Tiba2 Ting Ling berseru, “Theng Ban-li apa
kah engkau lupa perjanjian kita? Lekas
serang dia sampai tigaratus jurus!”
Sebenarnya saat itu Theng Ban-li sudah le
paskan tangannya yang mengurut jenggot tadi
dan tegak termangu.
Ih Thian-heng tertawa dingin, “Hm. saudara
Theng sudah tua mengapa mau menjadi
hamba yang diperintah nona Ting Kalau hal
itu tersiar didunia persilatan, bukankah
mereka akan tertawa geli?”
Wajah Theng Ban-li merah padam, serunya
ketus, “Saudara Ih mengatakan begitu,
apakah….”
Tiba2 kata2nya terputuskan oleh teriakan Nyo
Bun-giau, yang dari jauh makin lama
makin dekat dan akhirnya sudah berada diluar
ruang.
Tangan yang sudah diangkat dan hendak di
pukulkan oleh ih Thian-heng terpaksa
diturunkan lagi.
Ia berpaling memandang kearah lubang din
ding, serunya, “Apakah itu saudara Nyo?
Lekas masuk kemari!”
Sesosok tubuh menyelinap masuk dan muncullah
Nyo Bun-giau.
Ting Ling yang licin dan cerdik, pada saat
orang ribut2 menunggu kedatangan Nyo Bun
giau cepat sudah menyambar sebuah cawan
perak terus ditimpukkan kearah lentera kaca
yang tergantung pada wuwungan guha. Pyur….
lenterapun pecah berhamburan jatuh
ketanah.
Karena lentara pecah maka mutiara yang ter
pasang diempat dinding ruangan, pun padam
sinarnya. Ruangan gelap.
Dan setelah menimpuk lentera kaca, Ting Ling
cepat menyambar tangan orangtua alis
panjang diajak bersembunyi pada sebuah
gundukan batu.
Suasana kacau. Ih Thian heng cepat lepaskan
hantaman kearah tempat yang diduduki
Ting Ling tadi.
Prang…. alat2 makan terbuat dari perak dan
porselein yang terletak diatas meja,
berhamburan jatuh keseluruh tempat, Mejapun
terjungkir balik menghantam dinding dan
seketika ruangan itupun terasa
berputar-putar.
Theng Ban-li meraung keras lalu menghantam
dua buah cawan perak yang dipukul lh
Thianheng dan melayang kearahnya.
Prangng…. cawan itupun melayang kembali.
Ruangan itu hanya dua tombak luasnya. Yang
berada dalam ruangan itu tak kurang dari
tujuh orang.
Sedang suasananya kacau balau. Pada saat
Theng Ban-li lepaskan pukulan, justeru Ca
Cu-jing loncat melintas dihadapannya.
Berbareng dengan terhantamnya cawan perak,
bahu kanan Ca Cu jingpun kena hantaman
sehingga dia menyingkir mundur dua langkah
ke samping.
Ca Cu jing mendengus, berpaling dan lepaskan
pukulan Pek-poh-sin-kun.
Tetapi saat itu Theng-Ban-Iipun sudah
menyingkir ke samping dan kebetulan Ih Thianheng-
pun mundur. Dialah yang termakan pukulan
Pek-poh-sin-kun.
In Thianheng memang sakti dan memiliki
reaksi yang tajam. Begitu merasa serangkum
angin pukulan yang luar biasa tajamnya, ia
menyadari kalau tak sempat menangkis.
Maka ia meminjam angin pukulan itu untuk
ayunkan tubuhnya loncat kesamping lagi.
Tetapi celaka! Secercah sinar perak
berkelebat menyongsong kearahnya. Ih Thianheng
cepat empos semangatnya dan hentikan gerakan
tubuhnya, menyalurkan tenaga-dalam ke
punggung untuk menahan pukulan
Pek-poh-sin-kun sambil kebutkan lengan baju untuk
menghalau tusukan pedang, “Hm, saudara
Nyo….”
Rupanya Nyo Bun giau tak tahu jelas siapa
yang dalang itu. Maka cepat2 ia menarik
pedang dan berkata, “Harap saudara lh
maafkan kehilafanku.”
Ih Thian-heng tertawa dingin, “Ca Cu-jin
telah menghantam aku dengan Pek-poh sinkun.”
Mendengar itu cepat2 Ca Cu jing berseru,
“Harap saudara Ih jangan salah faham, karena
gelap aku tak sengaja….”
Tiba2 ia berhenti berkata, berputar diri dan
menghantam, “Hai, siapa itu? Mengapa
berani menyerang secara gelap kepadaku?”
Terdengar suara orang tertawa gelak2,
“Aku,si pengemis tua….”
Dan serentak terdengar deru angin
bergetargetar. Suatu pertanda bahwa kedua orang itu
sudah bertempur.
“Pengemis budak, engkau juga akan mengantar
jiwa kemari!” teriak Ca Cu-jing marah
lalu lepaskan hantaman.
Tiba2 terdengar suara sedingin es, “Hm,
saudara Ca, kalau menyerang orang, apakah tak
dapat melihat lagi?”
Ca Cu-jing tertegun. Diam2 ia heran mengapa
dalam beberapa waktu saja ruangan itu
sudah penuh dengan pendatang2 baru.
Baru ia menimang-nimang, tiba2 serangkum
angin pukulan melandanya hingga ia
terhuyung dua langkah kebelakang.
Buru2 ia empos semangat dan balas
mendorongkan kedua tangannya kemuka, seraya
berseru, “Hai, apakah yang datang ini bukan
saudara Ting?”
“Ya, memang aku Ting Ko,” sahut pendatang
itu.
Ih Thian-heng tertawa gembira, “Bagus,
saudara Ting Ko yang sudah berpuluh tahun tak
keluar ke dunia persilatan, ternyata juga
mempuyai selera datang ke makam ini!”
Ting Ko tertawa dingin, “Ih Thian-heng, tak
perlu jual kebanggaan. Aku hendak bertanya
kepada sebuah hal, engkau harus menjawab
dengan terus terang.”
“Aku orang she Ih tak percaya bahwa orang
yang masuk kedalam makam ini akan dapat
keluar dengan selamat.
Karena semua bakal mati, maka tak perlu aku
harus bicara dengan sembunyi2.”
“Hm, apakah engkau hendak merencanakan untuk
membasmi seluruh kaum persilatan?
Ho, kemungkinan angan2 itu sukar
terlaksana,” dengus Ting Ko.
Tiba2 serangkum angin berkesiur lagi. Jelas
seorang pendatang baru, muncul pula
kedalam ruangan situ.
Theng Ban-li tertawa, serunya, “Bagus, tak
kira setelah kubuka dinding ruangan ini, akan
mengundang sekian banyak jago2 persilatan.”
Mendengar ayahnyapun datang, semangat Ting
Lingpun bertambah besar. Walaupun
hubungan antara ayah dan putrinya itu
dingin, tetapi demi menjaga kebesaran nama
Lembah-raja setan, tentulah Ting Ko takkan
membiarkan pulennya menderita.
Maka Ting Lingpun memberesi rambutnya lalu
berbangku, serunya, “Yang mengundang
datang orang itu yalah sinar lentera kaca.
Terowongan makam gelap gulita, karena
melihat sepercik sinar, sudah tentu mereka
terkejut dan buru2 menghampiri tempat ini.”
Tiba2 orangtua alis panjang menutupkan
sebuah benda mirip lilin ke tangan Ting Ling,
katanya, “Sulutlah lilin ini.”
“Baik.” kata Ting Ling, “dengan menyalakan
lilin tentu dapat diketahui calon2 mayat
yang berada dalam ruangan ini.”
Cres, ia nyalakan korek dan menyulut lilin
itu. Seketika ruanganpun terang.
Baru nona itu keliarkan pandang mata untuk
meneliti orang2 yang berada dalam ruangan
tiba2 Ting Ko berteriak, “Hai, Ling ji,
engkau seorang diri masuk juga kedalam makam
ini?”
Betapapun Ting Ko itu adalah ayah
kandungnya, maka tergetarlah hati Ting Ling
mendengar suara ayahnya.
Tetapi ia tahu akan watak sang ayah yang
paling benci terhadap orang yang minta belas
kasihan. Maka dengan sikap garang, ia
menjawab, “Yah. engkau juga disini….”
Sejenak berhenti, nona itu berkata pula,
“Ya,memang aku seorang diri!”
Ting Ling tertawa aneh serunya, “Bagus, tak
kecewa menjadi puteri Ting Ko.”
“Ah, yah, engkau terlalu memuji. Aku hanya
seorang budak perempuan yang membikin
malu nama ayah saja.”
Kata2 Ting Ling itu cepat dapat ditanggapi
Ih Thian-seng yang mempunyai perasaan
tajam.
Segera ia membentak, “Hm, budak setan, lilin
apakah yang engkau sulut itu?”
Pertanyaan Ih Thian-heng itu menimbulkan
keheranan pada sekalian orang yang berada
dalam ruangan itu.
Memang saat itu merekapun mencium bau yang
aneh.
“Huh, rupanya bau ini tidak wajar,” dengus
Ca Cu-jing.
Sekalian memang curiga pada lilin di tangan
Ting Ling tetapi tiada seorangpun yang
turun tangan merebut lilin itu.
Rupanya orang2 itupun gentar juga terhadap
Ting Ko.
Ting Ling sendiri juga merasakan bau yang
tak wajar. Diam2 ia berpikir, “Eatah apa
maksud orangtua alis panjang ini.
Apakah lilin ini bukan terbuat dari ramuan
obat racun untuk merubuhkan orang2 disini?
Kalau benar begitu, alangkah baiknya….”
Ting Ling sudah tak menghiraukan lagi soal
mati hidupnya, Dia tak memperdulikan
pandang mata dari sekalian orang, pelahan
diletakkannya lilin itu dialas sebuah meja.
Kemudian ia berseru, “Ih Thian-heng,
walaupun engkau telah memasang bermacam alat
pekakas rahasia, namun makam ini merupakan
sebuah tempat maut. Sekalipun engkau
dapat melenyapkan tokoh2 persilatan yang
berada dalam makam ini, tetapi pada akhirnya
engkau sendiri tentu takkan terluput dan
kematian juga!”
Ucapan yang dilantangkan sepatahdemi sepatah
oleh Ting Ling itu, mau tak mau
menggerakkan hati sekalian orang.
Ting Ling tertawa mengikik dan mendahului
berkata lagi, “Yang dapat masuk kedalam
makam ini kalau bukan seorang gagah tentu
seorang pendekar besar. Mereka tentu
mempunyai pengalaman dalam dunia persilatan.
Nah, silahkan kalian membuka mata lebar2.
Adakah ruangan ini mirip dengan sebuah
tempat kuno yang tak pernah dibersihkan
orang?”
Ih Thian-heng memandang kesekeliling tempat
tiba2 ia berseru uyaring, “Saudara Cong,
Saudara Cong, yang dipanggil itu yalah
Pengemis-sakti Cong To. Dengan cepat mata Ih
Thian-heng dapat mengetahui bahwa pengemis
sakti itu sudah tak berada dalam ruangan
situ.
Rupanya ketua Lembah-raja-setan Ting Ko
menyadari bahwa liln yang disulut puterinya
itu mengeluarkan bau yang tak wajar, maka
buru2 ia membentak, “Ling ji, padamkanlah
lilin itu!”
Ting Ling tak menjawab perintah ayahnya,
sebaliknya berseru nyaring, “Adakah
saudara2 sudah memilih lawan saudara
masing2? Nah, lilin ini segera kupadamkan!”
Kecuali Ih Thian-heng, Ting Ko dan Ting Ling
bertiga, lain2 orang tak ada yang bicara.
Mereka tengah menutup pernapasannya.
Kiranya karena mencium bau yang aneh, mereka
sama menutup pernapasan dan tak
berani bicara.
Pelahan-lahan Ting Ling mengambil lilin
istimewa itu lalu berkata kepada Ting Ko,
“Ayah, diantara orang2 yang berada dalam
ruangan ini, hanya ih Thian henglah yang
paling bernafsu hendak membunuh aku. Dia
rupanya masih sungkan turun tangan
terhadap seorang anakmuda seperti diriku.
Tetapi begitu lilin padam, kemungkinan
sukarlah jiwaku terjamin keselamatannya.”
“Tak apa. padamlah lilin itu,” kata Ting Ko,
“aku tak percaya kalau dia berani
membunuh engkau didepan mataku.”
“Kalau ayah takpercaya omonganku, boleh
dicoba saja,” kata Ting Ling, lalu meniup
padam lilin itu.
Ruangan itupun kembali gelap gelita lagi.
Terdengar beberapa dengusan dan geram
kemarahan lalu menyusul deru suara pukulan,
tinju dan tamparan berhamburan kian
kemari.
Rupanya sebelum lilin itu padam, masing2
sudah mengincar musuh, letak beradanya
musuh itu.
Maka begitu lilin padam, mereka terus
melancarkan serangannya.
Dalam pada itu Ting Lingpun sudah kerahkan
tenaga dalam bersiap-siap. Begitu angin
serangan melanda kepadanya, cepat ia loncat
kesamping.
Antara Ting Ling dengan ayahnya, memang
dingin hubungannya. Sejak besar, Ting Ling
tak mendapat kasih sayang ayahnya. Maka pada
saat ia mendengar ayahnya menyatakan
hendak melindungi jiwanya, tergeraklah hati
nona itu. Ia menurut perintah ayahnya dan
memadamkan lilin. Ingin ia menguji sampai di
mana sang ayah akan melaksanakan
janjinya.
Ternyata walaupun di ruang itu telah pecah
pertempuran seru tetapi Ting Ling aman,
tiada terlanda angin pukulan.
Tiba2 terdengar Ting Ko berseru nyaring,
“Ling-ji, apakah engkau tak kurang suatu
apa?”
Ting Ling gembira sekali, serunya, “Aku tak
apa2, ayah!
“Ternyata dugaanmu memang tepat. Begitu
lilin padam, Ih Thian-heng memang
menyerang engkau.
Tetapi dia lalai bahwa kepandaian ayahmu
ini, walaupun lebih jauh dari jarak tempat ini
tepat dapat dapat melindungimu.
Hm. orang mengatakan kepandaian lh
Thian-heng itu hebat sekali. Tetapi dimara
ayahmu, tidaklah berapa….”
Tiba2 saja. kata2 Ting Ko terhenti. Rupanya
Ih Thian-heng telah melancarkan serangan
yang lebih seru kepadanya sehingga dia tak
sempat bicara.
Ting Ling menghela napas, “Ah, hari ini baru
aku tahu bahwa aku ini memang anak
kandung ayah.”’
Sekonyong-konyong terdengar jeritan ngeri.
Dan menyusul terdengar pula suara tubuh
rubuh.
Tentulah ada seorang yang terluka.
Diantara suara hiruk pikuk itu tiba2
terdengar sebuah seruan melantang, “Saudara2,
apakah didalam ruang ini terdapat Ih Thian
heng?”
Suara itu dari arah lubang dinding Rupanya
seorang pendatang yang belum masuk
kedalam ruangan situ.
Tetapi Ting Ling cepat mengenali siapa
pendatang itu. Entah bagaimana hatinya amat
tegang dan berserulah ia kepadanya, Ji
siang-kongkah itu?”
Orang itu tertawa nyaring, “Apakah nona
Ting? Ya, memang aku Han Ping. Siapakah
orang yang bertempur disitu?”
“Banyak sekali.” sahut Ting Ling, “Ih
Thian-heng, Nyo Bun-giau, Ca Cu jing semua
berada disini….”
Berhenti sejenak ia menyusuli kata2 pula:
Dan ayahku pun juga datang kesini!”
Sejak kecil ia tak mendapat perhatian
ayahnya. Maka apa yang diucapkau sang ayah
kepanya, benar2 menyentuh perasaan hatinya.
Ia merasa mesranya kecintaan seorang
ayah.
Maka iapun menaruh perhatian pada ayahnya
itu.
“Apakah Ting Ko dari Lembah-raja-setan itu?”
seru Han Ping.
“Ya, dia ayahku. Mengapa engkau memanggil
namanya begitu Saja?”’ tegur Ting Ling.
Han Ping menyulut korek dan orang2 yang ber
tempur itupun segera berhenti.
Ketika berpaling mereka melihat seorang
pemuda yang tangan kirinya mencekal sebatang
pedang berkilau-kilauan.
Dia berdiri diambang lubang dinding dan
memandang berkilat-kilat kedalam ruangan.
Tiba2 ia kiblatkan pedang pandak yang berada
ditangan kiri. Dan orang yang berada agak
dekat, terpaksa menyingkir kesamping.
Ting Ling menghela napas dan diam2 memuji
pemuda itu, “Ah, alangkah gagahnya dia!
Alangkah berwibawa sikapnya!”
Nyala korek api itu memancar ke mutiara yang
menghiasi dinding ruangan, demikianpun
pedang pusaka yang dibawanya itu.
Mutiara dan pedang pusaka, sama2 memancarkan
sinar yang cukup menerangi keadaan
ruangan itu.
Setelah mengetahui siapa pemuda itu, Ting Ko
agak terkesiap lalu mendengus dan
memakinya: Ho, dia sungguh panjang umurnya!’
Namun Han Ping tak mempedulikan semua orang
kecuali Ih Thian-heng. Dengan mata
berkilat2 ia memandang wajah musuhnya itu
dan pelahan-lahan maju menghampirinya.
Sekalian tokoh2 rupanya terpengaruh oleh
sikap Han Ping yang penuh wibawa itu.
Mereka diam2 mengaguminya.
Ih Thian-heiig sendiripun agak gentar. Cepat
ilmu Hian-im-gi-kang dari Lembah raja
setan, merupakan aliran ilmu silat yang
tersendiri. Tadi telah kucoba ilmu Im-hong-ci
dari Ling Ko, ternyata memang tak bernama
kosong!”
Im-hong ci artinya tutukan jari yang
memancarkan tenaga dalam Im.
“Ah, jangan memuji begitu,” seru Ting Ko.
Tetapi diam2 dalam hatinya mengeluh: Ah,
malu aku ini….
Kiranya waktu adu pukulan dengan Ih
Thian-heng tadi sampai sepuluhan jurus, tiba2 ia
merasa ada seseorang yang diam2 membantunya
sehingga ia dapat menghadapi pukulan
Ih thian-heng. Tetapi Ih Thian heng
dihadapan sekian banyak orang sengaja memuji.
Sudah tentu ia malu dalam hati.
Entah bagaimana begitu melihat Han Ping
muncul, mau lak mau tergetar juga hati Ih
Thian-heng.
Melihat pemuda itu menghampiri, iapun
kerutkan alis dan berkata pelahan kepada Ting
Ko, “Saudara Ting, kenalkah engkau
kepadanya!’
“Dia sudah terkena racun hebat, entah
bagaimana sampai saat ini dia masih hidup.?’ kata
Ting Ko.
Ih Thian heng tertawa “ Dia memang seperti
mempunyai tiga lembar jiwa. Aku
seudinpuu pernah menyaksikan dia terluka dan
hampir mati.”
Dalam pada itu Nyo Bun-giau segera gunakan
ilmu Menyusup Suara, kepada Ih Thianheng,
“Saudara Ih, tampaknya kepandaian anak itu
sekarang lebih hebat lagi. Dan lagi dia
membawa pedang pusaka Pemutus-asmara. Kalau
dibiarkan hidup tentu merupakan
bahaya dikemudian hari. Tadi waktu bertempur
dengan dia, hampir saja aku terluka.
Maka lebih baik sekarang dia dilenyapkan
saja “
Ih Thian-heng alihkan pandang mata kearah Ca
Cu-jing lalu gunakan ilmu Menyusupsuara
cenyahut, “Ca Cu jing jelas telah
mengingkari perjanjian. Pada saat tadi aku adu
pukulan dengan Ting Ko, beberapa kali dia
telah menyerang aku”
Sejenak berhenti ia melanjutkan lagi,
“Tetapi ditempat dan saat seperti, memang kurang
layak kalau cari perkara dengan dia.
Baiklah engkau berunding dulu dengan dia!”
Saat itu Han Pingpun sudah tiba di dekat
tokoh2 itu. Demi menjaga gengsi, Theng Ban-li
tak mau menyingkir ke samping.
Ih Thian-hengpun maju selangkah menjajari
Ting Ko, bisiknya, “Saudara Ting, apakah
anak itu hendak mencari engkau T’
“Kemungkinan memang begitu,” sahut Ting Ko.
“Kalau saudara Ting turun tangan, aku sedia
memberi bantuan,” kata Ih Thian-heng.
Ting Ko mendengus dingin, “Hm. apakan aku
takut kepadanya….” ia berhenti lalu
menyambung lagi, “asal jangan diwaktu aku
sedang bertempur lalu diam2 saudara Ih
menyerang aku, tentu dalam seratus jurus aku
dapat membuatnya rebah dalam genangan
darah.”
Ih Thian-heng tertawa, “Bukan aku memuji
lawan dan meremehkan kekuatan kita. Tetapi
rasanya tokoh2 yang berada ruangan ini,
kecuali aku tak mungkin dapat menandingi
kesaktiannya. Kalau saudara Ting tak
percaya….”
Dikili oleh Ih Thian-heng, seketika
meluaplah kemarahan ting Ko. Ia tertawa dingin,
“Aku memang tak percaya!”
Ia terus mengangkat tangan kanan dan menutuk
kearah Han Ping. Serangkum angin
dingin segera melancar keluar dari jarinya.
“Ho, Ih Thian-heng, mengapa engkau suruh
orang lain menjual jiwa untukmu!”
rian Ping gerakkan pedang pusaka menabas
dari samping. Serangkum angin pedang yang
dinginpun segera melancar.
“Tenaga-dalam dari ahli pedang!” teriak Ting
Ko yang cepat2 menarik pulang tangannya.
Diam2 Ih Thian heng menghela napas, “Ah,
kepandaian anak itu memang maju pesat
sekali.
Namun walaupun hatinya berkata begitu,
mulutnya tersenyum, “Apakah engkau
sungguh2 hendak mengajak aku bertempur?”
“Dari luar aku memburu masuk kedalam makam
ini tak lam karena hendak mencarimu
untuk bertempur,” sahut Han Ping.
Ih Thian-heng yang sombong, mau tak mau
tampak meragu. Pelauan-lahan ia
memandang kearah Nyo Bun giau, serunya,
“Cobalah pinjam pedang pusakamu.”
Nyo Bun giau memberikan pedangnya dan
berkata, “Saudara Ih, pedang Pemutusasmara,
dapat membelah besi seperti mengiris tanah
liat saja….”
Sambil menyambuti pedang Ih Thian heng
menjawab, “Ya, aku tahu….”
Tiba2 dia berseru meminta sekalian orang
menyisih ke pinggir, “Walaupun pemuda Ji itu
muda usianya tetapi dalam pandanganku, dia
adalah musuhku yang nomor satu. Ilmu
kepandaian dan ilmupedangnya, telah mencapai
tataran yang sempurna.
Bukan aku hendak membanggakan diri tetapi
pertempuran ini benar2 merupakan sebuah
pertempuran yang jarang terdapat dalam dunia
persilatan….”
Han Ping tengadahkan muka tertawa panjang,
“Begitu tinggi engkau memandang diriku,
ah, benar2 aku menduga sama sekali.”
Ih Thian-heng hanya tersenyum, “Bisa
memperoleh seorang lawan yang seimbang seperti
engkau, selama aku berdiri di dunia
persilatan, baru saat ini aku benar2 tercapai
keinginanku.”
Dengan wajah mengerut serius, Han Ping
berkata, “Dalam pertempuran ini, aku atau
engkau yang akan mati.
Maka sebelum dimulai, lebih dulu aku hendak
bertanya sedikit kepadamu.”
Ih Thian-heng gelengkan kepala, tertawa,
“Walaupun aku mengagumi kepandaianmu,
tetapi aku tak bersedia menjawab
pertanyaanmu!”
“Mengapa?” wajah Han Ping berobah.
“Dalam hidupku, banyak sekali pekerjaan yang
telah kulakukan sehingga banyak bal
yang aku lupa.
Dan aku tak, mau membohongimu dalam
jawabanku itu.”
Han Ping berseru dingin, “Kalau engkau tak
dapat mengalahkan aku, engkau mau bilang
atau tidak?”
“Ha, ha, sekarang ucapanmu agak tekebur Ih
Thian-heng tertawa mengejek.
Han Ping taburkan pedang Pemutus-asmara,
menabas dari samping untuk menusuk dada
orang.
“llmupedang yang bagus! “Ih Thian-heng
berseru memuji, seraya hamburkan pedangnya
untuk melindungi dada.
Dua buah sinar pedang saling berbentur dan
keduanya sama mundur selangkah. Ternyata
pedang mereka tak sampai terbentur, hanya
pancaran sinar pedangnya saja.
Tampak wajah Han Ping dan Ih Thiang-heng
sama” pucat lesi. Jelas dalam jurus pertama
itu saja mereka telah menumpahkan seluruh
semangat dan jiwanya.
Sehabis itu, merekapun tegak berdiri
mematung. Hanya korek api yang dicekal tangan
kiri Han Ping masih menyala.
Dengan mata borkilat-kilat, Ih Thian-heng
memandang mata Han Ping. Pedangnyapun
pelahan lahan bergerak lagi, dari kiri ke
kanan, membentuk setengah lingkaran.
Setiap dim pedangnya-bergerak, hawa
pembunuhan dalam ruangan itupun bertambah
tinggi.
Sekalian orang menahan napas, memperhatikan
dengan seluruh semangat. Karena
mereka menyadari, bahwa nasib duma
persilatan bakal tergantung dari hasil pertempuran
kedua orang itu.
Tiba2 Hi Thiau-heng memekik keras. Pedangnya
berhamburan bagai ribuan bintang yang
menimpali dada Han Ping.
Han Pimgpun segera gerakkan pedangnya.
Tring, tring, tring…. terdengar beberapa kali
dering senjata beradu.
Korek api di tangan Han Pingpun padam.
Cahaya dari mutiara diruaugan itupun ikut
padam dan gelaplah ruang itu.
Melihat pertempuran gebrak pertama dari Han
Ping lawan Ih Thian-heng yang
mengejutkan itu. diam2 Ca Cu jing menimang
dalam hati, “Walaupun Ih Thian-hcng itu
bukan kawanku tetapi pemuda Han Ping itu
lebih membahayakan….”
Tepat pada saat itu Nyo Bun-giau membisiki
kedekat telinganya, “Ji Han Ping itu….”
Tiba2 Ca Cu-jing mengepal tangan Nyo
Bun-giau. Mereka saling bersentuhan lengan
tangan.
Dengan demikian walaupun mulut tak
menyatakan apa2, tetapi dalam hati keduanya
sudah saling mengerti.
Memang kedua tokoh itu memiliki ke
kecerdasan yang luar biasa. Keduanya saling
setuju untuk melenyapkan Han Ping Ca Cu
jing segera merogoh baju dan mempersiapkan
jarum beracun. Sedang Nyo Bun-giaupun
sudah mengepal tangan, entah menggenggam
senjata rahasia apa.
Tiba2 api menyala lagi. Ternyata Ting ling
yang menyulut korek api.Ternyata Han Ping
dan lh Thian-heng sudah bertukar tempat.
Ca Cu-jing bertukar pandang dengan Nyo
Bun-giau lalu diam2 keduanya mengisar kaki
ketempat Han Ping.
Karena api menyala maka dapatlah diketahui
bahwa ruang itu penuh dengan taburan sinar
pedang, sinar biru dan sinar putih. Setelah
sinar pedang masing2 bergabung maka Han
Ping Dan Ih Thian hengpun menyusup masuk
kedalam lingkaran sinar pedang. Begitu
cepat dan ketat keduanya bergerak sehingga
orang2 tak dapat melihat Jelas bagaimana
gerakan mereka itu.
Tring…. terdengar bunyi mendering pula.
Tetapi kali ini lebih tajam dari yang tadi. Dan
kedua pedang itupun berpencar lagi. Pedang
Han Ping condong ke samping dan Ih Thianheng
menyelinap tiga langkah kesamping.
Pedangnya telah terpapas kutung oleh pedang
Han Ping. Tetapi durjana besar dari dunia
persilatan itu, tetap tak berobah kerut
wajahnya.
Walaupun sudah siap menaburkan
jarumnya,tetapi ia tak berani sembarangan turun
tangan. Dia menyadari bahwa apabila
taburannya itu gagal, bukan melainkan akan
merosotkan namanya didunia persilatan, pun
tentu akan membangkitkan kemarahan Han
Ping. Dan dia tahu bahwa dia memang tak
mampu manghadapi serangan pedang
anakmuda itu.
Berpaling kebelakang, dilihatnya Nyo
Ban-giaupun sedang memandang kepadanya.
Mereka bertukar isyarat mata.
Tiba2 Ting Ling mengoncangkan korek api dan
berseru lantang, “Ca lo cianpwe, apabila
jarum beracun dalam tanganmu itu engkau
taburkan, yang akan menderita bukan
melainkan Ji Han ping seorang saja.”
Meluaplah amarah Ca Cu jing. Wajahnya merah
padam. Tetapi ia tak dapat
melampiaskan kemarahannya.
Maka terpaksa ia hanya tertawa menyeringai
lalu berseru, “Ha, ternyata hiantitli juga mau
berolok-olok dengan aku siorang tua ini…. “
Ting Ling hanya tertawa mengikik, serunya,
“Nyo lo-cianpwe….”
Setelah mendengar bagaimana nona itu membuka
rahasia Ca Cu jing yang hendak
siapkan serangan dengan jarum beracun, Nyo
Bun-giau cepat dapat menerka apa yang
akan diucapkan nona itu kepada. Tentu kata2
yang tak sedap di dengar.
Maka buru2 ia mendahului menukas dengan
tertawa, “Nanti sekeluarnya dari makam ini
aku tentu menyediakan diri sebagai comblang
untuk melaksanakan perjodohan nona
dengan putera saudara Ca. Dan saat itu aku
tentu akan menagih arak kebahagiaan kepada
saudara Ting.”
Ting Ling terlawa dingin, “Apakah lo-cianpwe
tak keberatan untuk memperlihatkan
kepadaku senjata rahasia yang tergenggam
ditanganmu itu?”
Demikian percakapan dari kedua orang itu,
yang satu ngalor yang satu ngidul.
Tiba2 terdengar Ih Thian heng menghela
napas, “Ah, benar2 seorang lawan kuat yang
seumur hidup baru kujumpahi ia terus
membabatkan pedangnya yang kutung.
Tetapi kali ini gerakannya amat pelahan
sekali, seolah-olah dia tumpahkan seluruh
tenaganya. Kepalanya hasah keringat,
lengannya gemetar seperti rak kuat mengangkat
pedangnya.
Wajah Han Pingpun berobah gelap.
Pelahan-lahan ia mengangkat pedang pusaka
Pemutus-asmara. Gerakan kedua seteru itu
luar biasa lambatnya. Tetapi ketika kedua
pedangnya hampir berbenturan, tiba2
gerakannya berubah cepat.
Pedang kutung dari Ih Thian- heng
berhamburan menebarkan sinar perak sehingga saat
itu Han Ping seperti terbungkus dalam
gulungan sinar pedang lawan.Sekonyong konyong
segulung sinar pelangi memancar, menerobos
keluar dari lingkupan sinar perak. Sosok
tubuh merekapun tampak lagi dan serentak
mulut sama mendesuh dan mengerang.
Pada lain saat, kedua sinar pedang itu
bergabung rapat lalu tiba2 tercerai daa lenyap….
Ih Thian heng mundur liga langkah. Pedang di
julaikan ketanah untuk menyanggah
tubuhnya.
Kaki Han Pingpun terhuyung, kedua bahunya
berguncang-guncang seperti orang mabuk.
Setelah berputar-putar berapa kali, akhirnya
ia dapat paksakan berdiri tegak.
Serempak kedua orang itu menghela napas
sarat. Keringat bercucuran turun ke tanah.
Dan sekalian tokoh2 silat yang berada dalam
ruangan itu sama berdiam diri menahan
napas.
Tiba2 Ca Cu jing berputar tubuh, melangkah
dua tindak ke samping Ting Ling.
Ketua Lembah raja setan Ting Ko membentak,
“Aku masih hidup!”
Ca Cu-jing tersenyum, “Harap saudara Ting
jangan salah faham. Sama sekali aku tak
bermaksud hendak mencelakai hiantit-li (Ting
Ling).”
“Itu bagus,” sahut Ting Ko.
Tiba2 Ting Ling meletakkan korek lalu
bergegas lari kepada ayahnya dan, “Ayah….” ia
terus rebahkan kepalanya kedada sang ayah.
Sejak kecil, belum pernah ia mendapat
perhatian yang sedemikian mesra seperti saat itu.
Maka meledaklah perasaan nona itu, sehingga
ia lupa keadaan ditempat itu.
Sambil membelai-belai bahu puterinya, Ting
Ko berkata, “Belasan tahu aku sebagai ayah
memang tak memperhatikan dirimu sehingga
kalian berdua telah banyak menderita ….”
Ketua Lembah-raja-setan itu menghela napas,
“Kemanakah si Hong? Kalau dia sampai
binasa, sungguh merupakan suatu pukulan
batin yang besar bagiku karena pada saat ini
aku sudah mencairkan hatiku yang dingin
terhadap kalian.”
Sambil mengusap airmatanya yang membasahi
kedua pipi, Ting Ling menerangkan
bahwa adiknya, Ting Hong, telah dipungut
murid oleh Thian Hian totiang Ting Ko deliki
mata. Wajahnya agak menampil rasa tak
senang, serunya, “O, benarkah itu?„
“Mana aku berani membohongi ayah!”
Tiba2 terdengar angin pukulan menderu dan
korek itupun padam. Entah siapa yang
melakukan itu.
Dan selekas ruangan gelap maka berhamburan
pula sinar pedang. Dan serempak itu, Han
Pingpun menggembor marah lalu berhamburan
melepaskan pukulan.
Ting Ling menghela napas pelahan, “Ah, Ca Cu
jing telah melepas senjata rahasia jarum
Hong” wi-iok-ciam….”
Kata2 Ting”Ling terputus oleh dua buah erang
tertahan. Rupanya ada orang yang terkena
taburan jarum beracun dari Ca Cu-jing.
Dalam kekacauan itu tiba2 ruangan mulai
bergerak berputar putar. Kursi dan meja saling
berbentur, orang?pun hiruk pikuk tak keruan.
Ditambah pula dengan pekik auman yang
aneh dari kera bulu emas. Benar2 telah
menjadikan suasana ruang itu seperti kiamat.
Bum…. tiba2 pula terdengar bunyi menggemuruh
dan goncangan keras dari gunung
meletus. Dan pada ujung ruang itu tiba2
terbuka sebuah lubang pintu yang bundar.
Lentera kaca karena diguncang oleh letusan
dahsyat, berayun-ayun keras, memancarkan
sinar, menimpah mutiara dan mutiara itupun
segera memantulkan cahaya yang menerangi
ruangan.
Peristiwa aneh itu telah menyebabkan
sekalian orang tertegun.
“Ah, dalam makam tua ini seperti benar2 ada
orangnya, “Ih Thian-heng menghela nupas
panjang.
“Hm, apa engkau baru tahu sekarang?” seru
Ting Ling.
Ih Thian heng tak mau meladeni si nona.
Pelahah-lahan ia memutar tubuh dan
memandang Han Ping, “Anak muda, apakah
engkau terluka?”
“Kalau terluka lalu bagaimana,?” balas Han
Ping dengan nada dingin.
Ih Thian- heng tertawa hambar, “engkau
adalah satu-satunya lawan yang dapat
mengimbangi kepandaianku. Akupun ingin
sekali dapat bertempur dengan engkau
sampai selesai, agar dapat diketahui siapa
yang lebih unggul.”
Berhenti sejenak. Ih Thian-heng menyusuli,
“Tetapi sayang, suasana tempat ini….”
“Tak peduli suasana bagaimana, kita harus
mencari penyelesaian kalah menang!” tukas
Han Ping.
Ih Thian-heng kerutkan alis, “Umurmu masih
amat muda dan aku sudah tua Apakah
engkau takut kalau aku tiba2 akan mati? Dan
setiap kali aku bertempur dengan engkau,
selalu kurasakan kepandaianmu bertambah
maju. Makin pertempuran kita itu lebih lama
dilaksanakannya, bukankah sangat
menguntungkan engkau….”
Ih Thian heng menghela napas, “Entah
siapakah orang yang memiliki kecerdasan
sedemikian luar biasa untak menciptakan
bangunan makam ini. Ai, sebuah tempat
jebakan semacam ini telah dapat tersiar luas
sampai berpuluh-puluh tahun tanpa ada
©rang yang dapat mengetahui. Hebat, ya,
hebat sekali orang itu karena dia dapat
mengelabui seluruh kaum persilatan
didunia….”
Ting Ling berseru dingin . “Biarlah
kujelaskan untukmu! Soal dapat mengelabuhi tokoh2
persilatan, soal kecil. Tetapi seorang tokoh
sehebat engkau pun dapat juga terkena tipu,
bukankah engkau merasa penasaran sekali?”
Ih Thian-heng hanya terseuyum, “Sayang
engkau hanya seorang anak perempuan.”
Kalau bukan anak perempuan, lalu bagaimana?”
tanya Ting Ling.
“Kalau engkau bukan anak perempuan, engkau
tentu akan kuambil sebagai murid dan
akan kuwariskan seluruh ilmu kepandaianku
kepadamu.”
“Kalau begitu lebih baik aku tetap menjadi
anak perempuan saja,’ sahut Ting Ling.
Mata Ih Thian-heng mengeliar lalu Tertawa,
“Ah, sungguh seorang budak perempuan
yang bermulut tajam. Kalau tadi aku sama2
mati dengan Ji Han Ping, mungkin kalian
tentu akan berkurang harapan untuk hidup….”
Ia pelahan-lahan kisarkan pandang mata
menatap Ting Ling, serunya, “Apakah engkau
masih mendendam atas hukuman yang kuberikan
kepadamu tadi?”
Ting Ling tertawa hambar, “Apa perlunya aku
harus mendendam? Bukankah aku tak
dapat mengalahkan engkau?”
Tiba2 Han Ping melangkah maju, serunya, “Ih
Thian heng, apakah engkau menghendaki
aku berganti senjata?”
“Apakah engkau yakin tentu dapat mengalahkan
aku ‘ tanya Ih Thian- heng.
“Kita masing2 mempunyai setengah bagian
harapan. Kalau aku tak menggunakan pedang
pusaka, kemungkinan aku bisa menang, memang
berkurang.”
Ih Thian-heng mengangguk, “Dalam hidupku,
setiap langkah yang kuambil tentu
kuputuskan dengan tegas. Tetapi setiap kali
berhadapan dengan engkau, aku selalu
meragu. Ah, apakah benar2 engkau dilahirkan
untuk mengalahkan aku? Walaupun ilmu
kepandaianku tak kalah dengan engkau, tetapi
belum2 aku sudah kalah moril.”
“Itu karena engkau banyak melakukan ke
dosaan,” sahut Han Ping.
Tiba2 wajah Ih Thian-heng berobah, serunya,
“Dengan baik2 aku berunding bersama
engkau, sekali2 bukan karena aku takut
kepadamu. Kalau engkau selalu mendesak aku
saja, jangan engkau sesalkan kalau aku
terpaksa menindak engkau!”
Han Ping tertawa dingin, “Tindakan bagaimana
saja, silahkan engkau mengeluarkan
semua!”
“Kalau aku bersama ca Cu-jing menyerangmu,
engkau yakin dapat menghadapi sampai
berapa jurus seru Ih Thian heng, Han Ping
terkesiap, “Ini….”
“Apabila ditambah lagi dengan Nyo Bun-giau,
dalam sepuluh jurus saja engkau tentu
sudah tamat riwayatmu 1” kata Ih Thian-heng
pula.
Tiba2 dari belakang terdengar suara orang
tertawa gelak2, “Ah, mungkin tidak semudah
itu Tangan sipengemis tua ini masih belum
jompo, ditambah dengan seorang Siangkwan
Ko, jadilah kita tiga pasang lawan yang
seimbang.”
Sekalian orang cepat berpaling. Ternyata
pada lubang bobolan dinding, dua orang lelaki
tegak berdiri dengan tenang. Yang sebelah
kiri, rambutnya terurai kusut, muka kotor dan
punggungnya menyanggul sebuah buli2 arak
warna merah. Dialah Pengemis-sakti Cong
To.
Sedang yang disebelah kanan seorang lelaki
tua baju biru. berjenggot panjang dan
menyanggul sepasang pedang dipunggung.
“Aha, sungguh kebetulan sekali sudara Cong
datang,” Ih Thian-heng menyambut dengan
tertawa dingin.
Pengemis-sakti Cong To berpaling kepada
lelaki jenggot panjang lalu mengambil buli2
araknya, meneguk dua kali lalu tertawa .
“Begitu ramah sekali nada ucapanmu, tentulah
engkau hendak minta tolong kepada pengemis
tua ini.”
“benar,” sahut Ih Thian- heng, “memang aku
hendak minta bantuan kepadamu tentang
sedikit urusan.”
“Ai, sungguh sukar dicari Kesempatan seperti
saat ini….” seru Cong To, lalu meneguk
buli2 arak sampai dua kali, baru berkata
pula, “baik, pengemis tua bersedia
mendengarkan.”
“Keadaan saat ini, penuh bahaya,” Ih
Thian-heng, mulai bicara, “seluruh kaum persilatan
telah dikelabuhi orang sampai berpuluh-puluh
tahun. Oleh karena itu aku memutuskan
untuk menyingkap tubir rahasia makam tua
ini.
Kuharap saudara suka kerja-sama dengan aku.”
“Bukankah engkau menghendaki supaya aku
menganjurkan Han Ping membatalkan
permusuhan?”
“Ah, tak perlu begitu,” kata Ih Thian-heng,
“cukup kupinjam kewibawaan saudara Cong
agar mengatakan kepadanya untuk menunda
dendam permusuhannya kepadaku sampai
nanti rahasia makam ini sudah terbongkar,
aku tentu akan menyelesaikan hal itu lagi.”
Walaupun Cong To seorang yang terbuka tangan
dan lapang dada, tetapi iapun dapat
menempatkan diri pada setiapkeadaan. Sejenak
merenung, ia menjawab, “Walaupun
pengemis tua ini tak setuju pada pribadimu
tetapi bicaramu tadi cuKup beralasan.
Rupanya aku dapat memberi bantuan.”
Tiba2 Ih Phian-hem seperti mendapat
semangat. Ia menyapukan pandang mata kearah
tokoh2 yang berada dalam , ruang itu,
serunya, “Dapat tidaknya rahasia makam mi kita
bongkar, akan menyangkut kepentingan nasib
dunia persilatan. Aku bersedia menjadi
pelopor.”
“Pengemis tua juga mempunyai sedikit soal
yang hendak minta bantuanmu’ tiba2
pengemis sakti Cong To menyelutuk.
‘“Harap mengatakan.”
“Dalam ruang ini terdapat dua orang yang
terkena senjata rahasia. Kalau engkau benar
bermaksud sungguh hendak membongkar rahasia
makam ini, harap menlong kedua orang
itu dulu.”
Mata Ih Thian-heug berkisar memandang ca
Cu-jing, serunya, “Saudara Ca, apakah
engkau membawa obatnya?”
Dalam keadaan yang terpojok itu, mau tak mau
ia harus mempertimbangkan. Kalau tak
mau memberikan obat itu, tentu kemarahan
orang akan tertumpah kepadanya. Namun
kalau memberi, obat itu hebat itu sekali
khasiatnya. Setelah minum, tak sampai
sepenanak nasi lamanya, kedua korban itu
temu sudah siuman.
Cong To pelahan lahan menghampiri ke samping
Han Ping, ujarnya, “Engkoh kecil….”
Rupanya Han Ping tahu apa yang akan
dikatakan Cong To. Pelahan lahan ia menyimpan
pedang Pemutus asmara, serunya, “Lo-cianpwe
adalah orang yang paling kuindahkan.
Kalau hendak memberi perintah, silahkan.”
Cong To tertawa, “MembongKar rahasia makam
tua ini, bukan melainkan hanya
keinginan lh Thian-heng seorang tetapi boleh
dikata seluruh tokoh2 persilatan yang
berada dalam ruang ini, lentu juga
menginginkan. Bahkan pengemis tua ini sendiri juga
kepingin mengetahui apakah rahasia yang
sebenarnya dari makam tua ini. Makam ini
penuh dengan alat pekakas rahasia yang ketat
dan maut. Sekalipun jago silat yang
memiliki ilmu ginkang tinggi, juga sukar
untuk meloloskan diri dari Sini. Begitu rahasia
makam ini sudah terbongkar, bolehlah engkau
lanjutkan lagi perhitunganmu dengan ih
Thian-heng.”
“Baiklah, lo-cianpwc,” kata Han Ping.
Cong To tertawa, “Sayang diantara pemimpin2
dari fihak It-kiong dan ketiga Marga itu
hanya empat orang yang datang. Masih kurang
Thian Hian totiang dan ketua Lembahseribu-
racun. Jika merekapun datang, maka
lengkaplah sudah rapat kematian dalam
makam tua ini!’
“Ketua Lembah-seribu-racun sudah bersama aku
masuk kemari. Tetapi entah dia berada
dimana,” Han Ping menerangkan.
Tiba2 kakek bertubuh kekar yang menyanggul
sepasang pedang dipunggungnya itu
berseru, “Ji Han Ping, apakah engkau masih
kenal padaku?”
“Siangkwan pohcu yang termasyhur didunia
persilatan masakan wanpwe tak kenal ‘ seru
Han Ping.
“Aku hendak tanya kepadamu tentang seseorang
“
“Apakah bukan puteri lo-cianpwe?” tukas Han
Ping.
“Benar, dimanakah anakku itu? Masih hidup
atau sudah mati?”
Han Ping menerangkan bahwa Siangkwan Wan-ceng
bersama dengan ketua Lembah
seribu-racun.
“Hm, bagaimana tua bangka beracun itu
memperlakukan anakku?”
“Sangat memperhatikan dan sayang seperti
anaknya sendiri,” kata Han Ping.
“Benarkah itu?” SiangKwan Ko agak heran, ‘“siapakah
tokoh persilatan yang tak tahu
akan keganasan tua bangka beracun itu.
Mengapa dia bersikap baik kepada puteriku, aku
sukar mempercayai hal itu.”