makam asmara 03

Seorang lelaki harus membalas setiap budi yang diterimanya. Aku tak

menganggap apa2 kepadanya kecuali sebagai seorang yang pernah

melepas budi kepadaku. Dan budi itu harus kubalas!”

“Hai, harap kalian jangan ribut2 saja!” tiba2 orangtua alis panjang

berteriak,” kita segera akan mencapai makam itu!”

Dan serempak dengan kata-katanya itu tiba2 perahu berguncang keras

lalu berhenti.

“Hai, mengapa berhenti? Apakah rusak? seru Kim loji.

“Mungkin sudah sampai dimakam itu,” sahut orangtua alis panjang.

Melihat bagaimana dahsyat arus aliran air, Han Ping kerutkan alis,

menggumam, “Ah, mungkin perahu memang rusak….”

Belum habis berkata tiba2 perahu itu bergoncang keras dan meluncur

kebawah.

Bum….! bergoncang keras lagi lalu perahupun mulai meluncur kemuka

pula. Kali ini agak lambat jalannya.

Han Ping terkejut. Ia duga perahu itu rusak atau aliran air yang berobah

makin rendah.

“Lo-cianpwe, apakah engkau dapat menghentikan perahu!” serunya

kepada oiangtua alis panjang.

Orang tua itu mengiakan lalu me mutar alat penggerak roda perahu.

Perahu berputar-putar keras, sepeminum teh lamanya baru berhenti.

Dari kaca jendela dapatlah Han Ping melihat bahwa saat itu perahu

berhenti diantara dua buah dinding batu.

Air disitupun kecil alirannya. Ketika memandang dinding itu dengan

seksama, berserulah Han Ping kaget “Hai, apakah benar2 sudah tiba di

makam itu?”

“Kita buka saja penutup perahu ini!” seru Kim loji.

Tiba2 Han Ping tertawa keras, “Benar sudah tiba di makam itu. Tetapi

entah siapakah yang menutup pintu air?

Kalau terlambat sedikit, kita tentu sukar masuk kemari.”

Memang air yang menggenangi tempat itu cepat sekali menyusut. Tak

berapa lama sudah mencapai dasar perahu.

Sekali mendorong keras, orangtua alis panjang membuka penutup

perahu. Tetapi aneh sekali. Penutup perahu itu hanya dapat terbuka

separoh.

Entah bagaimana seolah-olah seperti tertindih suatu tenaga kuat. Begitu

terbuka, penutup perahu itupun menutup kebawah lagi.

Kim loji tergerak hatinya, cepat ia berseru, “Diluar ada orang. Ping ji,

bersiaplah menghadapi musuh.

Aku akan membantunya membuka penutup perahu.”

Orangtua alis panjang tertawa nyaring. Ia menepuk bahu kera bulu

emas, “Bantulah!”

Kera bulu emas itu segera bantu mendorong penutup perahu. Orangtua

alis panjang dan Kim lojipun segera kerahkan tenaga mendorong.

Han Ping berdiri lebih dulu sambil rangkapkan kedua tangan kedada.

Memandang kemuka tampak ketua Lembah seribu-racun memanggul

Siangkwan Wan-ceng, berdiri kira2 dua tiga meter jauhnya Kedua ekor

ularnya tetap melilit ditubuhnya.

Air hanya sampai pada lututnya.

‘ “Dia…. bagaimana?” seru Han Ping cemas.

“Apa pedulimu….sahut ketua Lembah-seribu-racun dengan nada dingin.

Matanya berkilat-kilat memandang orangtua alis panjang, serunya,

“Tersedia perahu yang dapat melintasi arus sungai, mengapa engkau tak

memberitahu kepadaku?”

Orangtua alis panjang itu menyahut dengan riang gembira? “Siapa

suruh engkau tak mendengar kata-kataku….”

Tiba2 terdengar suara orang berseru, mengatakan kalau air sudah

surut.

Ketua Lembah-seribu-racun cepat melesat kedalam perahu dan berseru;

“Lekas duduk dan tutuplah penutupnya.”

Tetapi orangtua alis panjang hanya mendengus, “Hm, perahu ini adalah

milikku. Aku mau duduk atau berdiri. itu sesuka hatiku.

Mengapa engkau berani memerintah aku, hayo, lekas engkau keluar!”

Seumur hidup belum pernah ketua Lembah-seribu racun dimaki orang

seperti itu. Sesaat ia terlongong, serunya, “Apakah engkau memaki

aku?”

“Sudah tentu memaki engkau….” tiba2 oTang tua alis panjang itu

tertawa karena geli melihat ketua Lembah-seribu-racun tak tabu kalau

dimaki.

“Sst, pelahan saja, ada orang datang,” Kim loji cepat menggamit baju

orangtua itu.

Han ping tahu kalau orangtua alis panjang itu tak mengerti ilmusilat,

Diam2 ia kerahkan tenaga untuk melindunginya apabila ketua Lembahseribu

racun turun tangan.

Tetapi diluar dugaan, momok ganas seperti ketua Lembah-seribu racun

itu, ternyata tak marah karena dimaki orangtua alis panjang. Ia

letakkan tubuh Siangkwan Wan-ceng, melolosi pakaian kulit lalu

mengurut jalandarahnya.

Setelah nona itu tersadar, baru ia sendiri juga membuka pakaian

kulitnya “Kalau tak mencekal perahumu, mungkin aku tak kuat

menahan arus. Ya, kali ini kuampuni jiwamu,” serunya kepada orangtua

alis panjang.

Siangkwan Wan-ceng memandang kepada Han Ping dan berseru,

“Apakah aku berada dalam mimpi? Dimanakah kita sekarang?”

Han Ping tertawa, “Kita masih hidup dan saat ini berada didalam

makam tua itu.”

Sambil memberesi rambutnya yang kusut, nona itu mengatakan kalau

ia pingsan dilanda arus air yang hebat.

“Semoga kita terkurung dalam makam ini sampai satu bulan baru dapat

keluar lagi,” ia menghela napas.

Han Ping tak tahu kalau ucapan nona itu mengandung maksud yang

dalam, yalah secara halus hendak memberitahukan bahwa dalam satu

bulan itu ia tentu sudah mati. Han Ping menduga mungkin pikiran nona

itu tidak terang akibat pingsan maka dengan sekenanya saja ia

menyahut, “Mudah-mudahan kita dapat melaksanakan cita2 hati kita

dan lekas2 tinggalkan tempat ini.”

Ketua Lembah-seribu-racun mendengus, “Anak, engkau sudah ada yang

punya. Aku dan ayahmu adalah tokoh2 yang ternama. Kalau bicara

supaya yang lurus, jangan omong sembarangan.”

Pelahan lahan Siangkwan Wan ceng berbangkit lalu berpaling menatap

calon mertuanya, “Sejak kecil aku memang biasa begitu.

Ayahbundaku yang melahirkan aku saja tak dapat mengurusi, masakan

engkau hendak meributi aku!”

Ketua Lembah-seribu-racun batuk2 lalu menjawab, “Tetapi sekarang

lain keadaannya. Engkau adalah menantu keluarga Leng.”

Tiba2 nona itu tertawa mengikik, “Kalau aku mati?”

“Ucapanku seteguh gunung. Walaupun engkau meninggal tetap akan

kubawa jenazahmu ke Lembah-seribu-racun,” sahut jago tua itu.

Siangkwan Wan ceng tertawa rawan, “Tak perlu kuatir! Waktu masih

hidup belum tentu dapat masuk kedalam keluarga Leng tetapi kalau

mati sudah tentu akan menjadi setan dari keluarga Leng!”

“Nak, apakah engkau menyesal?” berobahlah wajah orang tua Lembahseribu-

racun seketika.

“Tak pernah ada tindakan yang kusesali…. yang sudah kujanjikan,

tentu takkan kuingkari lagi,” sahut si nona.

Orang tua Lembah-seribu-racun tiba2 menghela napas, “Bila Siangkwan

Ko dapat mengasuh engkau sampai sekian besar, masakan aku tak

dapat? Nak, asal engkau tak lupa bahwa kehidupanmu sekarang ini

sudah menjadi orang keluarga Leng, apapun yang hendak engkau

lakukan aku tentu tetap akan melindungi engkau.”

Dua titik airmata meluncur dari mata Siangkwan Wan-ceng, “Mungkin

umurku pendek, tak dapat memenuhi kecintaan hati ayah.”

“Hai, siapa itu!” tiba2 terdengar suara bentakan keras.

Ketua Lembah-seribu-racun tertawa dingin, “Hm, orang celaka!”

Bentakan ketua Lembah seribu-racun itu bernada kuat sekali sehingga

menimbulkan gelombang kumandang yang bergema lama. Orang yang

berseru tadipun serentak diam. Rupanya tak mau mengunjuk diri lagi.

Ketua Lembah seribu-racunpun segera suruh Siangkwan Wan ceng

keluar dari tempat persembunyiannya kerena sudah diketahui orang.

Han Ping anggap perkataan itu memang benar. Menilik bahwa pintu air

terbuka lalu ditutup lagi, jelas mengunjukkan bahwa didalam makam

itu telah didatangi beberapa orang. Demikian iapun keluar dari perahu

aneh itu diikuti Kim loji dan orangtua alis panjang.

“Mengapa perlu membawa binatang yang suka meliar? Bagaimana kalau

kulenyapkan saja,” seru ketua Lembah-seribu-racun kepada orangtua

alis panjang.

“Coba saja kalau engkau hendak mengusiknya,” sahut orangtua alis

panjang.

“Hm, aku tak percaya pada segala omong besar….” tiba2 ketua Lembahseribu-

racun me-nyambar tangan Siangkwan Wan-ceng dibawa mundur

sampai dua tombak jauhnya.

Melihat itu Han Ping sudah mempunyai firasat tak baik. Cepat ia

berseru meminta Kim loji mundur merapat dinding.

Orangtua alis panjang terlongong heran mengapa orang2 itu berloncatan

menyingkir.

Baru ia hendak bertanya tiba2 tampak segumpal sinar api meluncur

dan menghantam keatas perahu aneh.

Dar! terdengar letusan dan gumpal sinar itupun meledak menjadi

umpalan asap.

“Lo-cianpwe, lekas menyingkirlah!” Han Ping meneriaki orangtua alis

panjang.

Rupanya orangtua alis panjang itu menyadari dirinya dalam keadaan

bahaya. Cepat ia menyelinap bersembunyi dibelakang perahu.

Tetapi kera bulu emas itu kalah tajam perasaannya. Melihat tuannya

bersembunyi diapun hanya bercuit-cuit aneh.

Cress…. benda berapi yang meluncur, tepat mengenai kera bulu emas

itu. Seketika terbakarlah badan kera itu.

Melihat itu orangtua alispanjang nekad hendak menghampiri tetapi

dicegah Han Ping dengan mencekal tangan orangtua itu, serunya, “Lo

cianpwe, keramu terkena anakpanah berapi yang terbuat daripada

belirang.

Bukan saja sukar dipadamkan pun kita sendiri juga terancam bahaya.

Jangan sembarangan bergerak!”

Walaupun melarang siorangtua bergerak, tetapi ia sendiri tak sampai

hati melihat kera itu terbakar. Sekali loncat ia melayang ketempat kera

dan secepat kilat menampar punggung binatang, lalu menggaet kakinya.

Bluk, kera itupun rubuh. Kemudian dengan cepat ia menggulinggulingkan

kera itu ketanah sehingga api pada badannya padam.

Wut…. kembali terdengar melayangnya benda berapi dari belirang.

Untunglah karena kera itu sudah diguling gulingkan ketanah, benda

berapi itu tak dapat mengenainya.

Panah berapi itu menancap kedalam “dinding. Mirip dengan sebatang

tombak.

Ujungnya dilekatiselembar panji segi tiga warna hitam. Dari api yang

masih menyala tampak juga gambar sulaman pada panji itu berupa

tengkorak putih.

Han Ping bergerak cepat. Setelah dapat menghindari panah tombak, ia

memondong kera itu dan loncat kebelakang perahu.

Orangtua alis panjang tak putusnya memuji, “Anakmuda, pada masa ini

walaupun banyak orang yang meyakinkan ilmu Racun dan obat-obatan

beracun, tetapi yang patut mendapat gelar sebagai Manusia Racun,

mungkin hanya kita berdua….”

Ia mengeluarkan dua butir pil lalu dimasukkan kemulut kera bulu

etmas. Setelah menelan pil, kera itupun pejamkan mata dan tidur.

“Telah kuberinya minum racun yang paling ganas.” katanya, “karena

aku tak mempunyai harapan akan dapat keluar dengan selamat dari

makam ini, maka akupun tak rela kalau kera yang telah kupelihara

berpuluh tahun ini akan diambil orang.

Dalam tiga hari setelah dia sadar dari tidurnya, dia akan berobah

menjadi kera yang luar biasa tenaganya. Mampu untuk merobek-robek

harimau. Tokoh persilatan yang sakti, pun tak mudah mengalahkannya.

Dia akan merobah liar dan ganas. Sekarang hendak kuajarkan

kepadamu cara untak menguasai kera itu.

“Asal engkau menurut ajaranku, kera itu tentu akan mau mengerjakan

apa suja yang engkau perintahkan….”

Ia berhenti sejenak menghela napas, lalu melanjutkan pula, “Tak usah

engkau merasa kasihan kepadanya. Setelah dalam tiga hari ia

mencurahkan seluruh sisa tenaganya, dia tentu akan mati sendiri. Maka

selama dia masih hidup, suruhlah dia mengerjakan apa saja yang

engkau inginkan.”

Belum Han Ping hendak membuka mulut, orang tua alis panjang itupun

berkata lagi, “Saat ini kita berada dalam bahaya, setiap waktu setiap

detik jiwa kita terancam, Sekarang lekas engkau dengarkan dan ingat

apa yang hendak kuajarkan.”

Han Ping mengiakan. Dan dengan berbisik-bisik orangtua alis panjang

itupun segera menurunkan ilmunya untuk menguasai kera.

Samar2 seperti terdengar dua buah jeritan ngeri dan rintihan dari orang

yang tengah meregang jiwa.

“Hm, ternyata makam ini memang telah didatangi orang,” pikir Han

Ping.

“Eh, apakah engkau sudah ingat apa yang kuajarkan?” tanya orangtua

alis panjang.”Sudah.”

“Bagus, dalam sepeminum teh lamanya, kera itu tentu bangun. Engkau

boleh mencoba apakah dapat menguasainya atau tidak?” kata orangtua

alis panjang.

Tiba2 terdengar suara gadis melengking, “Ji siangkong, harap suka

datang kemari, aku hendak bicara kepadamu.

Han Ping terkejut. Jelas didengarnya bahwa yang memanggil itu bukan

suara Siangkwan Wan-ceng.

“Siapakah engkau?” serunya bertanya.

“Asal kemari engkau tentu dapat mengetahui sendiri. Apakah engkau

takut?”

Han Ping cepat berbangkit dan melangkah kearah suara itu. Tiba2 Kim

loji memberi peringatan supaya Han Ping jangan bertindak gegabah.

“Ping-ji, waktu engkau bertempur dihalaman makam, kulihat ilmu

kepandaianmu bertambah maju pesat sekali, Hal itu tentu makin

menambah nafsu musuh untuk membunuh engkau,” kata Kim loji.

“Ji siangkong, Ji siangkong….” kembalisuara itu terdengar pula.

Nadanya penuh dengan rintih kesakitan dan kasihan.

“Harap paman jangan kuatir,” kata Han Ping dan iapun terus

menghampiri ketempat suara itu….

JILID 3

Musuh bermusuh.

“Ping-ji, tunggulah!” teriak Kim loji, “kita sama2 pergi!” ia terus

berbangkit dan mengikuti dibelakang Han Ping.

Sejenak merenung, Han Ping berkata, “Lo-cianpwe ini tak mengerti

ilmusilat, lebih baik paman tinggal disini untuk melindunginya!”

Kim Ioji tersenyum, “Baik, mungkin kalau aku ikut, tentu merepotkan

engkau….”

Kemudian berhenti sejenak, ia meLanjutkan berkata pula, “Kalau

menghadapi bahaya, harap engkau lekas2 kembali kemari…. “

Lalu dengan kata bisik2 ia memberi pesan agar Han Ping jangan

gegabah bertempur dengan orang apabila tidak perlu.

Han Ping mengiakan.

“Menurut pengamatanku,” kata Kim loji, “nona itu tentu menderita

sesuatu sehingga ia terpaksa menerima menjadi menantu dari ketua

Lembah-seribu racun. Tentulah bukan atas kehendaknya sendiri.”

Han Ping memang mengindahkan pamannya itu. Dia tak mau

membantah dan mengatakan akan melihat bagaimana keadaan yang

sesungguhnya, “Yang memangil aku tadi, tentulah seorang gadis yang

tengah menderita luka.”

Kim loji menghela napas, “Ping ji, bukan aku seorang yang banyak

curiga tetapi aku memang sudah melihat banyak makan asam garam

dunia persilatan. Pergilah tetapi harus hati2.”

Han Ping mengangguk lalu ayunkan langkah menuju kearah suara yang

memanggil namanya tadi.

Yang dilaluinya itu sebuah jalan terowongan yang lebarnya hanya

beberapa depa. Suara gadis yang memanggil namanya dan taburan

senjata rahasia bukan berasal dari satu arah.

Setelah berjalan tiga empat tombak, Han Ping tetapi belum menemukan

suatu apa. Diam2 ia heran, pikirnya, “Aneh, apakah dia sudah

terbunuh?

“Hai, siapakah yang memanggil aku tadi?” teriaknya dengan keras.

Tetapi yang menjawab hanyalah kumandang suara teriakannya. Gadis

yang dipanggil itu sama sekali tak kedengaran suaranya.

“Aneh,” pikirnya.

Han Ping mendengus dingin. Ia memandang kemuka dengan seksama.

Ternyata tiga tombak disebelah muka pada kedua tepi terowongan,

tampak seperti dilintas oleh sebuah simpang jalan. Dia heran dan makin

keras dugaannya bahwa makam itu tentu telah dimasuki orang.

Ketika tiba diujung terowangan, tiba2 dari jalan yang melintang itu

muncul sesosok tubuh yang lari menyongsong.

Han Ping cepat berhenti, menghindar kesamping. Bermula ia hendak

membiarkan orang itu lewat tetapi karena dibelakangnya terdapat Kim

loji dan orangtua alis panjang, Han Pingpun buru2 melintang ditengah

jalan lagi.

Cepat sekali orang itu tiba. Melihat ada orang menghadang ditengah

jalan, tanpa berkata apa2, dia terus menghantam.

Sambil menangkis Han Ping membetaknya, “Huh, mengapa datang terus

memukul?”

Ketika pukulan saling beradu, orang itu tersurut mundur dua langkah.

Ketika memperhatikan, Han Ping melihat pendatang itu seorang

bertubuh kecil, mengenakan pakaian pendek dan punggung menyangul

sebuah bungkusan panjang.

Orang itu tertegun. Rupanya dia terkejut melihat kesaktian Han Ping,

“Siapa engkau!” bentaknya marah.

Han Ping tertawa dan balas bertanya, “Dan engkau sendiri siapa “

Diam2 orang itu kerahkan tenaga dalam, siap hendak menghantam.

Namun mulutnya pura2 berkata, “Kita tak kenal, mengapa engkau

menghadang jalanku?”

Han Ping terkesiap. Dia tak dapat menjawab pertanyaan orang yang

memang tepat.

Tiba2 terdengar pula jeritan nyaring. Jeritan kematian. Lalu menyusul

terdengar suara tertawa panjang.

Pendatang yang bertubuh kecil itu rupanya gemetar mendengar jeritan

itu. Dia berpaling dan menjerit, “Ular ….,.!”- ia ulurkan tangan

menyambar ketanah.

“Heh, hei, ular beracun ganas, jalan kearah kematian….,” tiba2

terdengar suara orang tertawa dingin dan tahu2 pendatang yang

dihadang Han Ping itupun rubuh ketanah.

Seekor ular kecil melesat dari tubuh orang itu dan meluncur lari.

Rupanya orang itu telah berhasil mencengkeram ular kecil tetapi

sebelum sempat meremas, ular itu sudah menggigitnya sehingga mati.

Walaupun tempat gelap sehingga tak dapat melihat jelas warna ular

kecil itu tetapi Han Ping menduga ular itu tentu ular peliharaan ketua

Lembah-seribu-racun. Diam2 Han Ping terkejut akan kegesitan ular

kecil itu dan racunnya yang luar biasa ganasnya.

Tiba2 ia mendapat pikiran lalu berteriak keras, “Leng lo cianpwe,

apakah masih belum mulai bergerak?”

Terdengar penyahutan yang bernada dingin, “Saat ini makam telah

diliputi oleh hawa pembunuhan, Karena memandang anak menantuku,

kali ini kuampuni jiwamu. Tetapi kalau lain kali bertemu lagi, tentu tak

kuberi ampun.”

Seketika teringatlah Han Ping akan diri Siangkwan Wan-ceng. Mengapa

nona itu tak menampakkan diri? Sarentak ia berseru, “Harap Leng lo

cianpwe tunggu dulu sebentar, aku masih hendak mohon keterangan.”

SAmbil berkata ia terus lari menuju ketempat yang diduga tentu

terdapat ketua Lembah seribu-racun.

Tetapi tokoh dari Lembah-seribu-racun itu tak kedengaran suaranya.

“Siapa itu?” tiba2 dari jalan yang melintang terowongan terdengar suara

bentakan bengis dan meuyusul deru angin pukulah yang dahsyat.

Tetapi Han Ping sudah bersiap Sambil menangkis, iapun berkisar

kesamping. dar, terdengar letupan dari kedua pukulan yang beradu.

“Tua beracun, sudah duapuluh tahun tak muncul, sekarang jauh lebih

hebat pukulanmu!” seru orang itu.

JeJas dia salah sangka, mengira Han Pmg sebagai ketua Lembahseribu-

racun.

Han Ping terkejut, Dia tak tahu siapa orang itu. Tiba2 ia mendapat

pikiran. Tegak tempelkan tubuh paka dinding dan berdiam diri.

Beberapa saat kemudian terdengar pula orang itu berseru, “Ho, tua

bangka beracun, sekalipun tak mau menjawab, tetapi jangan harap

engkau dapat mengelabuhi aku!”

Han Ping menyadari bahwa setiap orang yang masuk kedalam makam

tua itu, kenal atau tak kenal, tentu mengandung hati bermusuhan.

Beberapa kali ia mendengar jeritan ngeri dari setiap orang yang rubuh

binasa.

Bahkan dengan mata kepala sendiri tadi ia menyaksikan ketua Lembahseribu

racun melepas ular berbisa untuk membunuh orang.

Maka Han Pingpun berlaku hati2 dan waspada.

Karena tak mendapat penyahutan, rupanya orang itu tak sabar.

Terdengar ia ayunkan langkah menghampiri.

Rupanya ia hendak memberi kesan bahwa ia berjalan pelahan maka

langkah-kakinyapun terdengar berat.

Tak berapa lama, langkah kaki itupun berhenti. Sebagai gantinya

sesosok tubuh melayang keluar.

Han Ping cepat hendak ayunkan pukulannya tetapi tiba2 ia teringat

sesuatu. Orang itu berjalan dengan langkah berat, tentulah hendak

memasang perangkap.

Bluk…. orang itu membentur dinding disebelah depan dan rubuh.

Semula Han Ping terkejut tetapi setelah melihat dengan seksama

barulah ia mengetahui bahwa yang melayang dan membentur dinding

itu hanya seperangkat tulang kerangka manusia.

Mayat itu dilemparkan orang dengan tenaga dalam. Apabila tadi Han

Ping terus turun tangan tentulah dia masuk perangkap.

‘Hm, orang2 persilatan memang licik. Sekali tak hati tentu mati,” diam2

ia menghela napas.

Tiba2 sebatang korek melayang kesamping tengkorak itu. Apinya

menyala terang.

Han Ping cepat menyurut mundur sampai dua tombak untuk

menghindari sinar api.

Sesaat kemudian muncullah seorang lelaki tinggi besar. Dia melangkah

pelahan-lahan ke terowongan dan berdiri ditengah simpangan.

Walaupun rambut dan jenggotnya sudah putih namun sikapnya tetap

perkasa.

Setelah memandang sekeliling beberapa saat, ia menengadahkan muka

dan tertawa keras.

“Tua beracun,” serunya, “apa-apaan engkau main sembunyi seperti

tikus begitu?

Apabila aku sudah keluar dari makam ini tentu akan kucopot papan

nama Lembah-seribu-racun disarangmu!”

Sekonyong-konyong dari arah terowongan disebelah muka terdengar

suara lengking jeritan dan derap kaki orang berlari.

Seorang dara baju hitam yang rambutnya terurai memanjang, lari

tergopoh-gopoh.

Orang tinggi besar tiba2 lintangkan tangannya menghadang dan

menyarabar dara itu.

Entah dara itu membiarkan dirinya dicekal atau memang sudah letih

maka sampai begitu mudah dicengkeram oleh orang tinggi besar itu

seperti burung rajawali mencengkeram anak ayam.

Dari sinar korek yang memancar terang, dapa lah Han Ping mengetahui

bahwa gadis baju hitam itu tak lain yalah Ting Ling, salah seorang

kedua taci-beradik puteri Lembah Setan. Tetapi mengapa Ting Ling,

berada dalam makam situ dan mengapa pula tampaknya ia berlari-lari

sedemikian gopoh seperti melihat setan?

Rupanya karena merasa tak dapat meloloskan diri, Ting Lingpun

memejamkan mata dan diam.

Orangtua tinggi besar itu menutuk jalandarah Ting Ling lalu ditaruh

ditempat yang gelap

Tetapi pada saat orang tinggi besar itu berputar tubuh tiba2 meluncur

sepercik sinar dan padamlah api korek tadi.

Terowongan kembali gelap gulita.

Secepat kilat Han Ping mengempos semangat dan melangkah kembali

kemulut terowongan yang ditempatinya tadi.

“Hai, siapakah itu?” kembali terdengar orangtua tinggi besar itu berseru

seraya tamparkan tangan memukul Han Ping.

“Engkau cari mati!” tiba2 terdengar suara dengusan dingin dan

berhamburan serangkum angin pukulan menyongsong pukulan

orangtua tinggi besar. Yang jelas, bukan Han Ping yang menangkis

pukulan orangtua tinggi besar itu.

Terdengar benturan keras dari dua pukulan dahsyat, kemudian deru

angin menyambar-nyambar keras.

Rupanya kedua orang itu sudah terlibat dalam pertempuran dahsyat.

Dan dari deru angin yang berhamburan keras itu, dapatlah Han Ping

menduga bahwa kedua orang itu tentulah jago2 silat yang berilmu

tinggi.

Han Ping cepat menyelinap maju untuk mengangkat tubuh Ting Ling.

Tetapi sesaat ia bingung.

Jalan terowongan dalam makam tua itu banyak sekali dan melingkarlingkar,

penuh dengan persimpangan.

Kalau tak hati2, tentu akan tersesat ketempat yang berbahaya.

Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ketempat Kim Ioji dan orangtua

alis panjang tadi. Namun apabila kesana ia harus melintasi kedua orang

yang sedang bertempur itu. Walaupun dngan tenaga-dalamnya Han Ping

tentu takkan menderita apa2, tetapi ia kuatir dirinya tentu akan

ketahuan oleh keadaan orang yang tengah bertempur itu.

Tetapi tak ada lain jalan. Setelah menimbang sejenak, ia memutuskan

untuk mencoba menempuh bahaya.

Ia membuka kain sabuk Ting Ling lalu mengikat tubuh nona itu pada

punggungnya.

Dengan memanggul nona itu maka ia segera berjalan merapat pada

dinding.

Sejak menyelinapkan pandang mata kemuka, dilihatnya kedua orang

yang sedang bertempur itu amat seru sekali.

Kekuatan dan kesaktiannya tampaknya berimbang Karena tengah

mencurahkan perhatian dan semangat untuk menghadapi lawan, maka

kedua orang itu tak memperhatikan Han Ping yang melintasi tempat

mereka.

Bergegas-gegas Han Ping lari menuju ketempat perahu lalu meletakkan

tubuh Ting Ling dan membuka jalan darahnya yang tertutuk.

“Aih…. engkau siapa?” sesaat kemudian nona itu membuka mata dan

menghela napas panjang.

“Aku Han Ping….”

“Ih….tiba2 Ting Ling .merintih dan terus susupkan kepala kedada Han

Ping,” dalam beberapa hari ini mereka telah menyiksa diriku.”

“Siapa?” tanya Han Ping.

“Nyo Bun giau dan Ih Thian heng,”

“Bilakah mereka masuk kedalam makam ini?”

“Lebih kurang empat jam yang lalu.”

“Apakah mereka pernah terkurung dalam genangan air?” tanya Han

Ping pula.

Ting Ling gelengkan kepala, “Kudengar suara air mengalir yang

bergemuruh keras sekali.”

“Kalau begitu, tak sedikit orang2 persilatan yang sudah masuk kedalam

makam ini?” kata Han Ping pula.

“Selain memilih delapan jago sakti untuk masuk kedalam makam ini,

pun Ih Thian heng telah memerintahkan jago2 silat yang berilmu tinggi

untuk menjaga. Dan mereka sama membuat senjata rahasia yang

beracun.

Sungguh berbahaya sekali keadaan terowongan2 dalam makam itu….

“Selain Ih Thian-heng dan anak buahnya, masih terdapat pula Nyo Bungiau,

Ca Cu-jing dan puteranya,” kata Ting Ling pula.

Tiba2 terdengar sebuah seruan keras, “Hai, tak perlu berkelahi. Budak

perempuan itu sudah digondol pergi oleh si Tua Beracun. Hm, kita yang

ngotot. lain orang yang memetik hasilnya.”

“Hm, siapa suruh engkau perintah orangmu menyerang?” sahut sebuah

suara lain.

Suara nyaring tadi melantang pula, “Tua Beracun, orang lain takut

kepadamu karena engkau beracun.

Tetapi aku tidak takut. Hayo keluarlah kalau engkau hendak mencoba

rasanya kepalan tanganku!”

Han Ping bertanya kepada Kim loji, siapakah kedua orang yang tantang

menantang itu.

“Kalau melihat orangnya baru tahu. Hanya mendengar nada suaranya

saja, masih belum jelas,” kata Kim loji.

“Walaupun dibawah kekuasaan mereka tetapi aku masih sempat untuk

memperhatikan gerak gerik mereka.” kata Ting Ling,”

menurut pengamatanku. masuknya Ih Thian-heng kedalam makam ini

hanya sebagai pengaburan saja.

Dia bukan sungguh2 hendak mencari harta karun tetapi sebenarnya

hendak membasmi seluruh kaum persilatan.

Nyo Bun giau dan Ca Cu-jing ,tokoh2 yang sakti itu, kini sudah didalam

cengkeramannya,”

Ia berhenti sejenak menghela napas pelahan, lanjutnya pula, “Makam

tua yang sunyi ini, tentu akan mengalami pertumpahan darah yang

hebat.

Entah nanti akan jatuh berapa banyak kaum persilatan yang menjadi

korban,”

“Dalam pertempuran ini, menang dan kalah masih belum ketahuan

mengapa Ih Thian-heng begitu yakin akan menang?” kata Han Ping.

“Ih Thian heng seorang yang licik dan licin serta cermat sekali. Pada

setiap pos penjagaan dalam terowongan ini, dia selalu menaruh seorang

anak buahnya. Dalam Keadaan perlu. setiap kali ia dapat menggerakkan

alat2 rahasia dalam makam ini dan anak buahnya. Andaikata dia

menghendaki, dia dapat membuat makam itu runtuh dan menimpah

orang2 persilatan yang berada didalamnya.” Berkata Han Ping dengan

hambar, “Nama dan Keuntungan, benar2 penyebab dan segala

Kejahatan.

Walaupun sudah tahu bahwa makam ini penuh dengan alat pekakas

yang berbahaya tetapikarena terdapat harta karun serta pusaka

Tenggoret Kumala dan Kupu2 Emas, mereka tak tetap berani

menempuh masuk kemari….”

Tiba2 kata-katanya itu terputus ,oleh suara jeritan yang ngeri.

Dering senjata beradupun makin lama makin teedengar dekat. Ting Ling

melihat pada terowongan yang gelap itu, tiada henti-hentinya berkiblat

sinar senjata yang makin lama makin menghampiri ketempatnya.

Cepat nona itu dapat menduga bahwa kedua orang yang bertempur tadi,

sudah mulai menampakkan hasil siapa yang kalah dan menang.

Yang kalah didesak mundur kebelakang.

“Celaka, kalau kita tak lekas2 tinggalkan tempat ini, kita tentu akan

terlibat dengan mereka,” seru Ting Ling.

Orangtua alis panjang yang sejak tadi tak bicara, saat itu tiba2

membuka mulut, “Lihatlah, kera bulu emas sudah bangun, lekas

engkau coba memberi perintah apakah bisa atau tidak?”

Memandang kemuka, memang Han Ping melihat kera bulu emas itu

tengah berbangkit pelahan-lahan.

Walanpun jarak cukup jauh tampak juga betapa menyeramkan wajah

kera itu Matanya melotot, giginya merentang keluar dan sikapnya

beringas sekali.

“Uh, ngeri sekali kera itu,” kata Ting Ling seraya beringsut mundur.

Diantara keempat orang itu, Han Pinglah yang paling tajam

pendengarannya. Diantara dering senjata beradu, ia masih dapat

menangkap derap kaki orang berjalan pelahan sekali.

Begitu mendengar ucapan orangtua alis panjang jtu, cepat ia bercuitcuit

seperti yang diajarkan orangtua alis panjang itu.

Yalah cara untuk memberi perintah kepada kera bulu emas.

Kera itu tiba2 melonjak dan secepat kilat terus melesat kemuka.

“Hai, binatang keparat!” tiba2 terdengar suara orang memaki marah dan

menyusul terasa suatu goncangan keras.

Kuatir kalau kera bulu emas itu terluka, Han Ping cepat loncat

menghampiri.

Semula karena terowongan amat gelap, Han Ping tak dapat melihat apa

yang telah terjadi.

Tetapi setelah kerahkan tenaga murni dan semangatnya, barulah ia

dapat melihat jelas.

Ternyata kera bulu emas itu tengah mengayun ajunkan kedua

tangannya menyerang kemuka.

Lawannya, entah siapa, tak henti-hertinya lepaskan pukulan dahsyat

namun tetap tak dapat menahan serangan kera dan terpaksa harus

mundur.

Karena pertempuran itu berlangsung amat seru, dan tempatnya gelap,

Han Ping tak dapat melihat jelas siapa lawan dari kera itu.

Hanya samar2 ia dapat melihat potongan tubuh orang itu tinggi besar

seperti orangtua berjenggot panjang tadi.

“Ih, orangtua itu hebat sekali pukulannya tetapi mengapa tetap terdesak

oleh serangan kera?” diam2 Han Ping terkejut dalam hati.

Tiba2 ia dikejutkan mendengar suara pamannya Kim Ioji, “Kalau benar,

lalu bagaimana. .

Tanpa merghiraukan bagaimana kesudahan bertempuran antara kera

dan orang tinggi besar itu.

lalu buru2 lari kembali kebelakang.

Dilihatnya pada ujung perahu, tegak seorang lelaki dalam pakaian jubah

panjang, mencekal sebatang pedang yang ujungnya menjulai ketanah.

Dia bukan lain adalah Nyo Bun-giau. pemimpin marga Nyo yang sakti.

“Siapapun orangnya apabila telah kudengar suaranya, jangan harap

dapat menghampiri ketempatku,” seru orang itu dengan tertawa dingin.

Secepat kilat ia menyulut korek lalu dilemparkan kemuka. Dari cahaya

korek itu, dapatlah Han Ping melihat bahwa dibelakang Nyo Bun-gau itu

terkapar sesosok mayat. Ingat lupa, rasanya ia pernah kenal orang itu

tetapi entah dimana….

Pun karena penerangan korek itu dapatlah Nyo Bun giau melihat Ting

Ling, serunya, “Hai, budak setan, kutahu engkau memang tak mungkin

lolos dari sini Ternyata engkau berada disini.”

Dan alihkan pandang mata, iapun melihat Han Ping tegak berdiri

dengan mata berapi-api memancarkan kemarahan.

Diam2 ia terkejut dan tercekat dalam hati. Wajahnya yang berseri

seketika berobah seperti kedua menyengir.

Han Ping mencabut pedang Pemutus-asmara, berseru, “Nyo Bun-giau!”

Melihat musuh lama muncul, mau tak mau Nyo Bun-giau seperti

kehilangan kegarangannya.

Tetapi cepat2 ia menenangkan hatinya dan tertawa dingin. serunya,

“Hm, berani benar engkau bicara begitu tak tahu adat kepadaku!”

Han Ping loncat maju kehadapan Nyo Bun-giau tertawa mengejek,

“Dimana Ih Thian-heng saat ini?”

“Nyo Bun-giau menyurut mundur, serunya, “Ih Thian-heng? Dia berada

dibagian tengah makam ini.”

“Berhenti! Bawalah aku kepadanya….” kata Han Ping seraya berkisar

maju mendekati.

Nyo Bun-giau mencongkelkan pedangnya kearah sesosok mayat dan

mayat itu segera melayang ketempat Han Ping. Tetapi dengan tangan

kiri Han Ping menyambuti dan letakkan mayat itu ditanah.

Tiba2 terdengar Ting Ling berseru keras2, “Ji siangkong. harap lekas

mundur kemari.

“Kalian tunggu disitu, jangan pergi kemana-mana,” sahut Han Ping lalu

melesat maju mengejar.

“Dia hendak mencari Ih Thian-heng, hayo kita mengikutinya!” seru Kim

Ioji.

“Kalau kita sungguh2 hendak mencari Ih Thian-heng jangan harap kita

dapat hidup….Ting Ling membantah, “dia tak mau mendengar kata2ku,

lekas panggil dia kembali kesini.”

Tetapi ternyata Han Ping sudah tak tampak Dan dari kejauhan,

terdengar suara kera bulu emas itu meraung raung keras.

Rupanya dia bertemu musuh tangguh dan dihalau mundur.

Rupanya orangtua alis panjang menyadari hal itu. Serentak ia

berbangkit, serunya, “Hm, rupalnya kera itu bertemu musuh sakti dan

dikuatirkan akan mundur kemari.”

“Aku sudah menderita luka parah, tiada daya untuk melawan mereka

lagi,” kata Ting Ling.

“Mati dan bidup sudah ada garisnya. Aku orang she Kim ini sudah

banyak kali menghadapi bahaya maut didunia persilatan, tetapi sampai

saat ini tetap masih hidup. Apabila memang sudah garis hidupku harus

mati dimakam ini, aku pun paserah saja.

Tak peduli siapa musuh yang akan datang itu tetapi kita tak dapat

berpeluk tangan mengawasi saja,” kata Kim loji dengan garang.

“Baiklah, locianpwe,” kata Ting Ling,” karena aku menderita luka nanti

aku akan bersembunyi dibelakang lo cianpwe.

Dengan meminjam kegelapan tempat ini apabila memperoleh

kesempatan akan kutabur musuh dengan bubuk Bi-hun-yok.

Mungkin kita dapat mengatasinya “

“Hai, benar,” seru Kim loji girang, “hampir aku lupa akan obat Bi-hunyok

yang termasyhur dari lembah Raja-setan!”

Terdengar raung dahsyat. Rupanya kera bulu emas itu telah menderita

pukulan dahsyat.

Karena tahu kalau orangtua alis panjang itu tak mengerti ilmusilat

maka Kim loji cepat minta kepadanya supaya masuk kedalam perahu.

Dia dan nona Ting Ling yang akan menghadapi musuh.

Sejenak berdiam diri, orangtua alis panjang itu mengiakan, “Baik, kalau

kalian tak mampu menghadapi, lekas kalian pancing musuh itu ke

samping perahu. nanti aku yang membereskannya.”

Kim loji setuju. Ia memadamkan api korek yang masih menyala lalu

mengambil golok dari belakang perahu.

Tiba2 raung kerapun sirap.

Ting Ling mengambil sebuah botol kumala lalu bersiap-siap melekatkan

diri pada dinding Sambil menghampiri, Kim loji menghela napas, “Sejak

aku ditipu masuk kedalam makam ini oleh Nyo Bun-giau dan sebelah

lenganku ditabasnya, sampai sekarang belum pernah bertempur lagi

Entah apakah aku masih dapat memainkan golok ini.”

“Jangan kuatir,” Ting Ling menghiburnya, “asal locianpwe mampu

menahan musuh sampai dua jurus saja, aku tentu sudah dapat

menaburnya dengan bubuk Bi-hun-yok.”

“Tempat kita ini gelap sekali tetapi malah, menguntungkan kita,” kata

Ting Ling pula.

tetapi tiba2 napasnya terengah-engah sehingga tak dapat melanjutkan

bicara, “Nak, bagaimana keadaanmu?” Kim Ioji kasihan juga. Walaupun

ia tak mempunyai kesan baik terhadap kedua gadis puteri lembah Rajasetan.

Tetapi pada saat dan tempat seperti saat itu, mereka sudah

merupakan kawan seperjuangan, bahu membahu menghadapi musuh.

Ting Ling menghampiri, katanya, “Mereka telah melukai aku parah

sekali. Asal banyak bicara, luka itu terasa sakit sekali….”

Kembali ia terengah-engah, “Botol ini berisi obat penawar. Asal engkau

lumurkan pada hidung, tentu tak takut pada bubuk Bi-hun-yok.”

Sambil menyambuti, Kim loji menghela napas, “Dunia persilatan

menyatakan kalian berdua puteri lembah Raja-setan ini ganas, tetapi

apa yang kulihat saat ini, ternyata tidak benar.

“Saat ini kita menghadapi musuh dan bahaya bersama, masakan aku

berani mencelakai engkau,” jawab Ting Ling.

Saat itu tampak sesosok bayangan hitam, beringsut2 mundur kearah

tempat mereka. Ting Ling bersembunyi dibelakang Kim loji, serunya,

“Harap lo-cianpwe bersikap yang garang.”

Kim loji menamburkan obat pada hidungnya lalu tegak berdiri

lintangkan golok. Sosokc hitam itupun cepat mundur kesamping

mereka. Ternyata memang kera bulu emas. Binatang itu sudah

kepayahan, kedua tangannya ditutupkan ke dada.

Dan yang mendesaknya mundur, seorang tua jenggot panjang dan

bertubuh tinggi besar. Rupanya dia juga payah.

“Berhenti!” bentak Kim loji seraya tabaskan golok.

Orang tua tinggi besar itu terkejut. Tetapi ia masih sempat tamparkan

tangan kiri untuk menahan golok Kim loji.

Baru ia hendak membuka mulut, dari belakang Kim loji tiba2 menjulur

sebuah tangan putih.

Orang tua tinggi besar itu tertegun dan saat itu Ting Lingpun lepaskan

bubuk Bi-hun-yok.

Bluk, rubuhlah orangtua tinggi besar itu. Dan Kim lojipun terus

ayunkan golok hendak menabasnya.

“Jangan, lo cianpwe, jangan melukainya,” cegah Ting Ling. Lalu menyiak

tangan Kim loji sekuat-kuatnya.

Huak, walaupun dapat menyiak tangan Kim loji, tetapi luka dalam

tubuhnya menumpahkan darah.

Habis muntah darah, nona itupun duduk ditanah. Sambil mendekap

dada, nona itu masih paksakan diri berseru, “Jangan melukainya.”

“Nak, lekas salurkan pernapasanmu, jangan bicara dulu, “Kim loji maju

menghampiri.

“Hai, rupanya berat juga lukamu. Biar kuperiksanya,” tiba2 orangtua

alis panjang keluar dari perahu dan tanpa menunggu lagi, ia terus

mencekal tangan sinoua dan memeriksa denyutan pergelangan

tangannya.

Suasanapun hening Kera bulu emas itupun amat letih dan rebah

ditanah.

Beberapa saat kemudian kedengaran orangtua alis panjang itu berkata,

“Nak, lukamu berat sekali. Sayang obat yang kubawa ini mengandung

racun keras. Apakah engkau suka minum?”

Kata Ting Ling, “Aku masih ingin hidup untuk beberapa hari lagi. Segala

derita kesakitan aku tak takut.”

Orangtua alis panjang tertawa, “Bagus, berapa lamakah engkau ingin

hidup….

Kim loji cepat memberi peringatan agar orangtua alis panjang itu jangan

tertawa keras2, agar jangan diketahui musuh.

“Aku ingin hidup 10 hari lagi….,” jawab Ting Ling.

“Hai, itu mudah sekali,” sahut orangtua alis panjang seraya

mengeluarkan beberapa butir pil, “simpan dan makanlah sendiri. Kalau

engkau dapat menghabiskannya, kita akan tambah anggauta seorang

lagi.”

“Hai, apakah engkau hendak menciptakan seorang manusia beracun

lagi?” tegur Kim loji.

“Kalau sejak dulu aku sudah keluar kedunia persilatan, tentu sudah

banyak manusia2 beracunnya,” kata orangtua alis panjang.

“Ho, engkau hendak mendirikan partai Manusia Beracun?” seru Kim loji

pula.

“Sayang, waktunya sudah tak mengijinkan, sudah terlambat,” sahut

orang tua itu.

Sambil menjemput sebutir pil, Ting Ling bertanya kepada Kim Loji

apakah pil itu benar2 dapat menyembuhkan?”

“Memang dapat menyembuhkan, tetapi obat seperti candu. Sekali

minum, racun tentu akan masuk kedalam tubuh kita,”

menerangkan Kim loji.

Tetapi rupanya nona itu tak menghiraukan. Obat apapun yang penting

dapat menyembuhkan dan menambah hidupnya sampai beberapa

waktu. Dan Kim lojipun menyadari bahwa luka nona Ting itu sudah

sedemikian rupa.

Ia tak mau mencegahnya lagi.

Kim Loji berbangkit lalu membopong orangtua alis panjang dibawa

ketempat Ting Ling.

Tiba2 orang yang pingsan tadi tersadar bangun. Ia kuatir dan cepat2

melekatkan pedang keleher orang itu.

Setelah memberi obat, orangtua alis panjang itu menunggu dengan

sabar akan perobahan luka si nona.

Sepeminum teh lamanya nona itu tersadar dan tertawa kepada orangtua

alis panjang, “Ih, obatmu manjur sekali, sekarang aku merasa sudah

banyak sembuh.”

“Kalau benar begitu, kurasa dalam dunia dewasa ini dapatlah aku

menganggap diriku sebagai Dewa Racun…. .”

orangtua alis panjang itu menghela napas dan berkata kepada Kim loji”,

kurasa dalam dunia iui masih terdapat seorang yang mampu

menandingi kepandaianku.”

“Siapa?” tanya Kim loji.

Orangtua alis panjang gelengkan kepala, “Entahlah. Rasanya dia

seorang wanita….”

“Kalau dia seorang perempuan, jelas tentulah budak perempuan dari

perguruan Lam-hay-bun itu….,” Ting Ling menyelutuk.

Tiba2 dari kejauhan terdengar suara orang tertawa, “Ih, dibelakang

orang berani mengatakan kejelekannya, apakah tak kuatir dipotong

lidahnya?”

Nadanya jelas dari seorang wanita. “Siapa?” Ting Ling terperanjat dan

cepat memandang kemuka dan pasang telinga.

Tetapi tak terdengar suatu penyahutan apa, Rupanya orang itu sudah

pergi.

“Huh, makam ini benar2 seperti gedung setan…. ,” kata orangtua alis

panjang.

“Ya, memang makam ini dibangun dengan rencana yang hebat, penuh

dengan jalan lorong dan kamar2 yang serba pelik!’“ kata Kim loji.

“Apakah engkau tak melukainya?” tanya Ting Ling kemudian kepada

orangtua alis panjang.

“Tidak,” sahutnya, “tetapi apa keperluanmu menahannya disini?”

“Dia berkepandaian tinggi, sayang kalau dibunuh….” jawab Ting Ling.

“Ho, kalau begitu tunggu saja setelah dapat bangun, kita yang akan

dibunuhnya,” seru Kim loji.

”Harap lo cianpwe jangan salah mengerti. Bukan kita suruh dia

membunuh kita tetapi kita dapat menggunakan tenaganya untuk

melindungi kita,” Ting Ling memberi penjelasan.

“Ah, nungkin tak semudah itu,” gerutu Kim loji.

“Tetapi aku mempunyai siasat yang bagus supaya dia mau taat kepada

kita,” kata Ting Ling seraya berbangkit dan menghampiri ketempat

orangtua jenggot panjang dan lalu berjongkok disampingnya.

Kim lojipun menarik kembali pedangnya dan suruh Ting Ling segera

memberi orang itu obat supaya dia dapat ditundukkan. Setelah itu baru

diberi obat penawar. Kalau tunggu sampai orang itu terjaga, tentu sukar

dan berbahaya.

“Harap lo cianpwe jangan kuatir,” kata Ting Ling lalu tiba2 menutuk

kedua bahu dan kedua lutut orang itu. Setelah itu baru ia

mengeluarkan obat penawar, dilumurkan kehidung orang itu.

Terdengar orang itu menguak lalu membuka mata dan memandang Ting

Ling, Kim Loji. Serentak iapun menggeliat duduk. Tetapi karena kaki

dan tangannya sudah tertutuk maka kecuali tubuh, ia tak dapat

bergerak lagi. Bahkan ketika ia mengangkat tangan kanannya, serentak

terus melentuk lunglai lagi.

“Kalau engkau hendak mencoba menyalurkan tenaga dalam untuk

membuka jalan-darahmu yang tertutuk, berarti engkau mencari sakit

sendiri,” kata Ting Ling memberi peringatan.

Orang tua jenggot panjang itu diam saja. Walaupun dalam pertempuran

maut, ia tetap bersikap tenang.

Ting Ling menyambar golok dan berseru dingin, “Sekarang engkau boleh

pilih satu diantara dua jalan.”

Dengus orangtua jenggot panjang itu, “Beruang yang jatuh kedalam air

tentu akan dibuat permainan, macan yang tiba disungai datar tentu

akan dihina kawanan anjing….

Cret! Ting Ling ayunkan pedang dan jenggot orangtua yang menjulai

kedada itupun kutung dan berhamburan ke tanah….

“Tak peduli dengan kata2 apa engkau hendak memaki aku tetapi yang

jelas saat ini engkau sudah berada dalam kekuasaanku. Sekali tangan

kuayun, kepandaianmu setiap saat dapat menggelinding!” seru Ting

Ling.

Orangtua jenggot panjang itu tertegun, “Kedua jalan yang engkau suruh

aku pilih itu, coba katakan dulu baru aku dapat menjawab.”

“Sederhana sekali,” kata Ting Ling, “pertama, engkau meluluskan untuk

menerima setiap perintahku, tak boleh menghianati. Sampai nanti

keluar dari makam ini baru kubuka lagi jalandarahmu. Dan

kubebaskan engkau. Jalan kedua, engkau menolak permintaauku dan

kutabas kepalamu.”

“Ho, engkau anggap aku ini orang apa? Apakan aku sudi tunduk pada

perintahmu!” orang tua itu marah, Ting Ling tertawa mengejek, “Kalau

begitu, engkau memilih jalam kematian!” Nona itu perlahan2

mengangkat golok,” sebagai hukuman di-muka, sekarang hendak

kutabas sebelah kakimu kanan.” Habis berkata ia terus ayunkan golok.

“Tunggu!” seru orangtua itu gopoh.

Ting Lingpun hentikan golok dan tertawa, “Apakah engkau masih ingin

hidup? Hm, dapat keras bisa lunak, barulah seorang gagah sejati.

Apalagi setelah keluar dari makam ini engkau tentu masih dapat

menebus hinaan yang engkau derita saat ini. Kalau sekarang kutabas

kepalamu, selama-lamanya engkau tentu tak dapat membalas dendam.

“Kelak apabila dapat keluar dari makam ini tentu akan kujadikan

engkau budakku, baru aku puas.” kata orangtua jengot panjang itu.

“Hm, kalau begitu berani sikarang engkai dapat menyetujui, bukan?”

Orangtua jenggot panjang itu mengangguk “Ya, anggaplah saja aku

sudati menerima syarat mu!

Tiba2 Kim Loji berseru memberi peringatan “Nak, didunia persilatan

sukar untuk menanam kepercayaan pada orang. Bagaimana begitu

engkau lepaskan dia terus ingkar janji?”

“Seorang lelaki berani berkata tentu aka pegang janji. Kurasa setelah

setuju, lo cianpwe itu tentu takkan menyesai dan ingkar,” kata Ting

Ling.

“Engkau percaya tetapi aku tidak….”gumam Kim Loji.

Ting Ling tak mau berbantah. Ia menampar jalandarah orangtua yang

tertutuk lalu mengurutnya, Melihat itu Kim Loji benar2 gelisah. Cepat ia

menyambar golok yang berada pada Ting Ling lalu ditujukan pada

orangtua jenggot panjang itu dalam sikap setiap saat akan dibacokkan.

Ting Ling mengeluarkan sebutir pil dan menghela napas, ujarnya., “Lo

cianpwe, walaupun aku percaya kepadamu tetapi sukar untuk

mendapat kepercayaan dari pamanku ini, harap maklumlah.”

Sambil memandang kearah golok Kim Loji, orangtua jenggot panjang itu

berkata pelahan, “Engkau menghendaki bagaimana agar engkau

percaya?”

“Asal engkau mau menelan pil ini, tentu sudah cukup mendapat

kepercayaan kami.”

Sambil masih memandang pada golok ditangan Kim Loji, orangtua

jenggot panjang itu menggumam seorang diri, “Aku seorang ksatrya

besar, mana harus mati secara tak wajar begini….?”

“Ilmu kesaktian lo-cianpwe memang layak sejajar dengan tokoh

persilatan kelas satu.

Kalau binasa secara begini tak diketahui, mamang harus disayangkan

sekali,” kata Ting Ling.

Berpaling kepada nona itu, orangtua jenggot panjang bertanya, “Obat

apakah pil itu?

Katakan dulu baru aku nanti mempertimbangkan mau minum atau

tidak.”

Ting ling tertawa, “Pil ini disebut Pekpoh-toan-jong-san seratus langkah

menghancurkan usus.

Terbuat dari ramuan lima macam racun. Setelah minum, apabila

berjalan seratus langkah, racun tentu akan bekerja dan usus dalam

tubuh akan putus semua….”

Ia mengacungkan pil lalu tertawa, “Benar, memang aku membawa obat

penawarnya, Setelah minum obat racun engkau harus cepat minum

obat penawarnya. Dalam waktu satu jam, racun itu takkan bekerja “

Rupanya orangtua jenggot panjang itu amat sayang pada jiwanya, ia

bertanya, “Hanya satu jam saja?”

”Akan kuberimu sebutir pil lagi….” cepat Ting Ling menyusulketerangan.

“Dengan begitu aku harus terus menerus minum obat penawar. Tetapi

bukankah pil penawar itu. bakal habis juga?”

“Jangan kuatir,”setelah makan dua belas biji pil penawar, racun itu

akan lenyap semua,” kata Ting Ling, seraya mengeluarkan botol kumala

menuangkan duabelas butir pil warna putih Sedang sisanya

dihancurkan dan dibuang ketanah.

“Sekarang aku hanya tinggal mempunyai dua belas butir pil saja. Asal

sebutir pil penawar ini kuhancurkan, jangan harap enkau dapat hidup

“….|

Orangtua jenggot panjang itu kerutkan dahi!

“Apakah maksudmu melakukan tindakan semacam itu kepada diriku?”

“Sederhana sekali, sahut Ting Ling, “asal engkau mengandung maksud

hendak menghianati, tentu segera kuhancurkan sebutir pil penawar itu.

Mungkin engkau akan membunuh aku tetapi engkau sendiripun jangan

harap dapat hidup. Dengan begitu kita akan sama2 mati.”

“Hm, cara yang bagus juga,” kata orangtua jenggot panjang.

“Saat ini engkau sudah berada dalam keadaan mati. Hanya itulah satusatunya

jalan hidup.

Kini meluluskan atau tidak, tergantung padamu sendiri,”

Orangtua jenggot panjang menghela napas, “Dengan jiwa

mempertaruhkan kepercayaanmu, bukankah aku yang menderita

kerugian “

Ting Ling tertawa, “SIlahkan engkau mencari daya untuk membatasi

jiwanya supaya dapat hidup duabelas jam saja.

Nanti pada aku menyerahkan pil penawar yang terakhir, engkau harus

membebaskan ancaman mau yang engkau lakukan pada diriku.”

Mengerling kearah Kim Loji, orangtua jenggot panjang itu bertanya,

“Apakah dia juga masuk hitungan?”

Ting Ling kerutkan alis, “Ini, ini….”

“Ho, tak sangka kalau engkau juga menginginkan jiwaku sioraog she

Kim ,” seru Kim Loji.

“Benar, kalau satu tukar satu, memang aku merasa rugi sekali,” sahut

orangtua jenggot panjang.

“Baiklah, sekarang coba engkau katakan bagaimana caramu hendak

membatasi jiwa kami berdua hanya dapat hidup duabelas jam itu!” seru

Kim Loji.

“Akan kututuk tubuh kalian dengan ilmu tutukan perguruanku yang

istimewa,” kata orangtua jenggot panjang,”

dalam duabelas jam apabila tak kutolong, pekakas dalam tubuhmu

tentu akan hancur berantakan.

Kim Loji memandang Ting Ling, serunya, “Nak, jangan menerimanya.”

“Menurut hematku, tak ada harapan lagi kita dapat keluar dari makam

ini.

Maka kalau kita menerima berarti mungkin kita dapat memberi bantuan

kepadanya.”

“Apakah yang engkau maksudkan kepadanya itu anak Han Ping?” Kim

Loji menegas.

“Benar, benar,” sahut Ting Ling, “siapa lagi kalau bukan dia?”

“Oh, bagus,” Kim Loji tertawa, “asal dapat memberi bantuan kepada

auak, itu matipun kita rela!”

Ting Ling lalu menjemput pil beracun dengan kedua jari tangannya, “Lo

cianpwe, perjanjian sudah kita setujui, sekarang silahkau engkau

minum pil ini!”

Ternyata orangtua jenggot panjang itu tak banyak omong lagi terus

membuka mulut menerima pil yang disusupkan jari si nona.

Setelah itu Ting Ling lalu menutuk buka jalandarah orang tua jenggot

panjang yang tertutuk tadi.

Tiba2 orangtua jenggot panjang itu melonjak bangun terus mencekal

siku lengan kanan Ting Ling.

Tetapi Ting Ling cepat gerakkan tangan kiri menyerahkan sebutir pil

kepada Kim Loji, “Paman, peganglah baik2.

Kalau dia membunuh aku, cepat hancurkan pil itu.”

Kim Loji terpisah jauh dari tempat orangtua jenggot panjang itu. Tak

mungkin diraihnya.

Maka orangtua jenggot panjang itupun tak dapat berbuat apa2 kecuali

banting2 kakinya ketanah.

Secepat pula Ting Lingpun mengangkat tangan kirinya lagi dan berseru,

“Sudah, jangan coba mempunyai pikiran untuk menghianati janji, lekas

engkau telah pil penawar ini. Apabila terlambat, racun dalam tubuhmu

tentu akan bekerja “

Orangtua jenggot panjang itu terpaksa menyambuti lalu berseru dingin,

“Lekas engkau putar tubuh aku segera akan menutuk kelima

uratnadimu.”

Sambil berputar tubuh. Ting Ling tertawa, “Aku masih menyimpan

sepuluh butir pil dan pamanku itu sebutir.

Apabila engkau tak dapat membunuh kami dengan serempak, jangan

harap engkaupun jangan harap hidup, “

“Hm, jangankan kalian berdua sekalipun sepuluh orangpun tetap tak

sembabat ditukar dengan jiwaku,”

dengus orangtua jengot panjang itu, seraya mulai menutuk jalandarah

tubuh nona itu. Setiap kali menerima tutukan, Ting Ling tentu merasa

tubuhnya gemetar. Dan setelah ditutuk beberapa tempat, ia rasakan

dirinya sakit sekali hampir tak kuat ia menderitanya.

Setelah selesai, orangtua jenggot panjang itu lalu menghampiri Kim Loji.

‘Hai, setelah tubuhku merjadi mati separo begini, bagaimana aku masih

dapat bergerak?” tanya Ting l ing.

“Sebentar lagi, rasa sakit itu tentu akan hilang dan dalam duabelas jam

kemudian, engkaupun sudah dapat bergerak dengan leluasa lagi,” sahut

orangtua jengot panjang.

Kim Loji segera berputar diri, siap roenerima tutukan siorangtua jenggot

panjang. Tetapi rupanya orangtua itu masih meragu.

Tiba2 ia melangkah dua tindak dan menyambar tangan orangtua alis

panjang.

“Lepaskan!” cepat Ting Ling berteriak, “dalan perjanjian dia tak

termasuk. Apabila engkau berani mengganggunya, pil penawar tentu

akan ku hancurkan semua, agar engkau jangan hidup!”

Walaupun sudah tua tetapi rupanya orangtu jenggot panjang itu masih

amat sayang kepada jiwanya.

Mendengar peringatan Ting Ling, iapun hentikan gerakannya.

Orangtua alis panjang saat itu tengah mengobati kera bulu emas yang

terluka.

Sama sekali ia tak menyadari akan ancaman orangtua jenggot panjang

tadi.

Sambil menyalurkan tenaga dalam, Ting Ling pun menelan lagi dua

butir pil racun.

Dan ternyata semangatnyapun bertambah baik sekali. Katanya sesaat

kemudian, “Kalau terus menerus berada disini kurang baik. Lebih baik

kita lanjutkan perjalanan lagi.”

Nona itu meminta orangtua jenggot panjang untuk menunjukkan jalan.

walaupuu nona itu paling muda usianya tetapi dia memang cerdas

sekali. Selama dalam pembicaaan makin menonjollah sifat2

kepemimpinannya.

Demikian mereka segera berjalan lagi. Kurang lebih sepuluh tombak,

mereka belum bertemu dengan simpang jalan.

Sedang orangtua jenggot panjang itu makin lama makin pesat jalannya.

“Berhenti!” tiba2 Ting Ling membentak.” jangan lanjutkan perjalanan

lagi.”

Orangtua jenggot panjang berpaling, tertawa dingin, “Mengapa?”

“Terowongan ini merupakan jalan saluran air, melintasi terowongan ini

tentu kita akan berada diluar makam.”

Orangtua jenggot panjang itu tertawa keras.

“Hm, karena mendongkol menerima perintahmu, maka aku berjalan asal

berjalan saja, tak peduli melintasi jalanan air atau kering!” sahutnya.

Ting Lingpun balas mendengus, “Hm, apapun yang akan terjadi, tetapi

aku sudah berbulat tekad untuk mati disini….”

“O, rupanya engkau mempunyai kesadaran yang tinggi,” seru orangtua

jenggot panjang itu.

“Dalam duabelas jam, sebaiknya janganlah engkau mempunyai hati

yang jahat.

Setelah dua belas jam dan makan obat penawar, barulah boleh engkau

mengandung pikiran jahat lagi.”

Ting Ling memberi peringatan.

Orangtua jenggot panjang membuka mulut tetapi tak jadi bicara.

Ting Ling suruh dia mengetuk dinding karang untuk mencari tahu

apakah disebelah dinding itu terdapat ruangannya.

Dan orangtua jenggot panjang itupun menurut Tung…. terdengar bunyi

mendengung, ketika tangannya memukul dinding.

“Ditilik dari kumandang suaranya, disebelah dinding ini tentu terdapat

terowongan atau ruang kosong.

Usahakanlah supaya dapat membobol dinding itu!” kata Ting Ling pula.

Orangtua jenggot panjang kali ini marah, “Dinding karang begini keras,

bagaimana dapat kubobolkan dengan pukulan tangan kosong?”

“Hm, itu urusanmu,”Ting Ling mendengus pula.

Aku hanya hidup sampai duabelas jam saja. Lebih lekas mati dari

duabelas jam, bukan apa2 bagiku.”

Tiba2 orangtua jenggot panjang itu mundur dua langkah dan

mengeluarKan sebuah palu besi.

Serunya dengan nada dingin, “Hm, untung engkau bertemu dengan

seorang tua yang teliti seperti aku.

Kalau tidak, jangan harap engkau mampu mendapatkan lubang pada

dinding karang ini.”

Sebenarnya Ting Ling tak tahu kalau orangtua jenggot panjang itu

membekal senjata.

Tetapi karena melihat orangtua itu memiliki tenaga pukulan yang hebat,

maka ia menekannya supaya mengeluarkan senjatanya.

Tertawalah nona itu kegirangan, “Bagus, lo cianpwe benar2 orang yang

cerdas sekali!

Sebelumnya sudah mempersiapkan alat2 yang penting!”

Bum…. orangtua jenggot panjang itupun mulai menghantam. Segumpal

karangpun berhamburan ketanah.

“Ya, sebagai ganti untuk menumpahkan kemengkalan hatiku karena

engkau berani memberi perintah kepadaku,”

gumam orangtua jenggot panjang.

Sepandai-pandai tupai metompat, sesekali akan terpeleset juga. Soal itu

memang lumrah terjadi, harap jangan dipikirkan,” kata Ting Ling,

menghiburnya.

Rupanya gembira juga orangtua itu mendengar kata2 Ting Ling, Tak

henti2nya ia menghantam menghantam dinding terowongan itu.

Tak berapa lama, terbukalah sebuah lubang seluas setengah meter.

Secercah sinar terang, berhamburan memancar dari ruang sebelah.

Ting Ling cepat menghampiri dan melongok. “Ih, bangunan makam ini

memang istimewa sekali,” tiba2 ia hentikan kata2nya, terus menyusup

kedalam lubang.

Melihat itu Kim Loji terus cepat2 menyusul tetapi baru tiba di mulut

lubang, pingangnya sudah dicengkeram orangtua jenggot panjang, “Hm,

kalau sayang jiwamu, lekas berikan obat penawar itu kepadaku!”

serunya pelahan.

Kim Loji batuk2, sahutnya, “Asal aku menjerit, nona itu tentu segera

meremas haucur persediaan pil penawar yang ada padanya.

Engkau memang sakti tetapi tak mungkin engkau dapat merampas

persediaan pil penawar itu dalam waktu sekejab mata.”

Orangtua jenggot panjang mendengus dan lepaskan cengkeramannya.

Kim lojipun menyisih kesamping dan mempersilahkan orangtua itu

masuk dulu.

Dengan geram ia memandang Kim Loji, hantamkan palunya sekali lagi

pada dinding, kemudian baru menyusup masuk.

Kiranya karena tubuhnya yang tinggi besar, ia perlu harus

membesarkan lubang itu baru dapat masuk.

Kim loji dan orangtua alis panjang serta kera bulu emaspun segera

menyusul mereka.

Ternyata ruang disebelah merupakan sebuah kamar rahasia yang amat

luas. Cukup dibangun menjadi lima buah kamar.

Empat keliling dindingnva, terdapat empat buah mutiara sebesar buah

klengkeng yang memancarkan sinar kemilau.

Pada puncak ruangan, digantung sebuah lampu lentera kaca. Lampu

kaca itu tetap menyala sehingga keempat mutiara itupun memantulkan

sinarnya yang terang.

Ting Ling berdiri disebuah dinding, sedang mengamat-amati sebuah

lukisan yang terdapat pada dinding itu.

Sedang otangtua jenggot panjang berdiri satu meter dibelakangnya.

Kim Loji terkejut dan gelisah, “Uh. nona itu memang kurang

pengalaman. Dalam keadaan yang diselubungi bahaya maut, ia masih

menipunyai selera untuk melihat gambar.”

Lukisan pada dinding itu merupakan sebuah taman makam yang penuh

dengan guratan2 malang melintang.

Lukisan itu mirip dengan peta dari makam disitu.

Tiba2 nona itu mengguman seorang diri, “Aneh sungguh aneh…. .”

Rupanya orangtua jenggot panjang tertarik. Ia segera maju

menghampiri. Tetapi Kim Loji yang makin ketakutan segera berteriak,

“Nona Ting!”

Ting Ling berpaling dan menghampiri Kim Loji, katanya, “Ruang ini

terlalu mewah untuk disebuah makam .

“Kalau Ko tok lojin pendiri makam ini dapat menyembunyikan mustika

Tenggoret Kumala dan Kupu2 Emas serta harta karun kedalam makam

ini, sudah tentu dia mampu juga menghias ruangan ini sedemikian

mewahnya.”

“Apakah minyak dalam lampu kaca itu juga dapat bertahan sampai

ratusan tahun?” kata Ting Ling seraya memandang kearah lampu itu.

Kim Loji terbeliak tak dapat menjawab.

“Tetapi lentera kaca dan semva hiasan mewah dalam ruang ini masih

belum lavak dikata aneh. Yang aneh yalah keadaau ruang ini, Mengapa

begini bersih sekali sep^rtiiiya tiap kali ada orang yang

membersihkannya?”

Kembali Kim Loji terbelalak. Ia segera mengeluarkan pandang kesegenap

ujung ruang itu.

Ah, memang benar. Dari meja yang terbuat dari batu pualam, piring dan

cawan emas sampai pada alat2 makain yang terbuat daripada perak,

memang tampak amat bersih semua.

“Ah,” tiba2 Ting Ling menghela napas,” mungkin makam tua ini hanya

suatu tempat persembunyian untuk mengangkuti harta karun dan

pusaka yaag tak ternilai harganya?”

Kim Loji dan orangtua jenggot panjang terkesiap mendengar ucapan

nona itu. Serempak mereka berseru, “Mengapa?”

Sambil memberesi rambutnya yang kusut, nona itu lalu pelahan-lahan

duduk disamping sebuah dingklik dan memandang kepada kedua orang

itu, katanya tertawa, “Rasanya kalian berdua ini bukan muda lagi….”

“Tahun ini umurku sudah delapan puluh dua,” kata orangtua jenggot

panjang.

“Aku limapuluhan tahun,” kata Kim Loji.

“Sudahlah, percuma saja kalian mempunyai umur begitu banyak.” Ting

Ling tertawa rawan, “andai aku dilahirkan lebih pagi tigapuluh tahun,

tak mungkin kubiarkan rahasia makam itu tersiar kedunia persilatan.

“Hm, hampir setengah hari mengomong, aku tak mengerti maksudmu,”

dengus orangtua jenggot panjang.

Ting Ling tertawa mengikik, “Kalau begitu mendengar engkau terus

mengerti, tentu tak mungkin engkau dapat kurubuhkan dengan obat

bius.”

“Engkau menertawakan apa?” orangtua jenggot panjang marah,” karena

telah menggunakan banyak tenaga untuk bertempur sehingga mata dan

telingaku kabur maka baru aku dapat engkau rubuhkan.

Merubuhkan orang yang sudah menderita, mengapa engkau masih

menepuk dada berbangga diri?”

“Aku menertawakan kalian beberapa orangtua yang tak berguna. Pikiran

limbung, hati kosong sehingga mudah termakan desas desus beracun

didunia persilatan….”

“Setan, engkau berani mengatakan aku goblok,” teriak orangtua jenggot

panjang dengan marah.

“Tetapi Ting Ling tetap tertawa hambar, “Kalau aku dapat menerangkan

kegoblokanmu, maukah engkau menampar mukamu sendiri

dihadapanku?”

“Kalau memang engkau dapat menunjukkan bukti2 yang tak dapat

kubantah, mengapa aku tak mau melakukan hal itu?”

“Engkau sudah berumur delapanpuluh dua tahun tetapi pernahkah

engkau bertemu dangan Ko Tok lojin pendiri makam ini?”

tanya Ting Ling.

“Setiap orang persilatan tentu tahu hal itu, perlu apa aku harus

melihatnya sendiri!”’

‘Tenggoret Kumala dan Kupu2 Emas, sepasang mustika dalam dunia

persilatan yang jarang terdapat didunia.

Tetapi siapakah yang pernah melihat kedua benda itu? Rasanya

mereka2 itu hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut saja.”

Orangtua jenggot panjang tercengang, ujarnya, “Walaupun tak pernah

melihat sendiri, tetapi aku pernah mendengar sendiri tentang kedua

mustika itu.”

“Ho, itulah,” seru Ting Ling, “seorang yang cerdik luar biasa, telah

menggubah dongeng tentang kedua benda mustika Tenggoret Kumala

dan Kupu2 Emas itu lalu diceritakan kepada orang. Dan dalam waktu

yang singkat dunia persilatan telah dilanda cerita itu, Dengan

menggunakan pengaruh cerita tentang kedua mustika itu, dia lalu

menbangun makam ini.”

Orangtua jenggot panjang tertegun. Tiba2 ia mengayunkan tangan

kanan dan plak, menampar mukanya sendiri.

“Tak peduli apakah uraianmu itu benar atau tidak, tetapi apa yang

engkau katakan itu memang baru pertama kali ini aku mendengar,”

serunya.

Ting Ling tertawa hambar, “Akupun mendengar juga tentang cerita

Tenggoret Kumala dan Kupu2 Emas itu Dua buah mustika yang hebat

sekali daya gunanya. Katanya, Tenggoret Kumala itu luar biasa

racunnya, tiada yang dapat menandingi. Sedangkan Kupu2 Emas itu

merupakan benda mustika yang mampu menghidupkan orang mati.

Dirangkainya cerita itu sedemikian rupa sehingga memberi kesan bahwa

dengan mendapatkan Tenggoret Kumala, orang tentu dapat menguasai

dunia persilatan Apabila mendapatkan Kupu2 Emas tentu dapat

menundukkan Tenggoret Kumala Apabila dipikir dengan teliti, cerita itu

sebenarnya lemah dan terlalu berlebih-lebihan.

Coba siapa yang dapat menjawab pertanyaanku ini. Dikatakan mustika

Tenggoret Kumala itu luar biasa racunnya, tetapi siapakah diantara

orang persilatan yang pernah mendengar seorang jago persilatan yang

terbunuh dengan Tenggoret Kumala itu. Lalu dikatakan pula bahwa

Kupu2 Emas mustika mujijad untuk menawarkan racun.

Tetapi siapakah yang pernah ditolong jiwanya?”

“Hal itu aku hanya mendengar dari cerita orang saja,” kata orangtua

jenggot panjang.

“Mengatakan bagaimana?” tanya Ting Ling.

“Bahwa dia pernah melihat sendiri kehebatan racun dari Tegggoret

Kumala itu, Begitu dimasukkan dalam air, airpun berobah biru

warnanya. Diletakkan di tanah, rumput tentu segera kering dan segala

serangga kecil seperti semut dan lain2 tentu mati seketika.”

 

[bersambung]