makam asmara 03
Seorang lelaki harus membalas setiap budi
yang diterimanya. Aku tak
menganggap apa2 kepadanya kecuali sebagai
seorang yang pernah
melepas budi kepadaku. Dan budi itu harus
kubalas!”
“Hai, harap kalian jangan ribut2 saja!”
tiba2 orangtua alis panjang
berteriak,” kita segera akan mencapai makam
itu!”
Dan serempak dengan kata-katanya itu tiba2
perahu berguncang keras
lalu berhenti.
“Hai, mengapa berhenti? Apakah rusak? seru
Kim loji.
“Mungkin sudah sampai dimakam itu,” sahut
orangtua alis panjang.
Melihat bagaimana dahsyat arus aliran air,
Han Ping kerutkan alis,
menggumam, “Ah, mungkin perahu memang
rusak….”
Belum habis berkata tiba2 perahu itu
bergoncang keras dan meluncur
kebawah.
Bum….! bergoncang keras lagi lalu perahupun
mulai meluncur kemuka
pula. Kali ini agak lambat jalannya.
Han Ping terkejut. Ia duga perahu itu rusak
atau aliran air yang berobah
makin rendah.
“Lo-cianpwe, apakah engkau dapat
menghentikan perahu!” serunya
kepada oiangtua alis panjang.
Orang tua itu mengiakan lalu me mutar alat
penggerak roda perahu.
Perahu berputar-putar keras, sepeminum teh
lamanya baru berhenti.
Dari kaca jendela dapatlah Han Ping melihat
bahwa saat itu perahu
berhenti diantara dua buah dinding batu.
Air disitupun kecil alirannya. Ketika
memandang dinding itu dengan
seksama, berserulah Han Ping kaget “Hai,
apakah benar2 sudah tiba di
makam itu?”
“Kita buka saja penutup perahu ini!” seru
Kim loji.
Tiba2 Han Ping tertawa keras, “Benar sudah
tiba di makam itu. Tetapi
entah siapakah yang menutup pintu air?
Kalau terlambat sedikit, kita tentu sukar
masuk kemari.”
Memang air yang menggenangi tempat itu cepat
sekali menyusut. Tak
berapa lama sudah mencapai dasar perahu.
Sekali mendorong keras, orangtua alis
panjang membuka penutup
perahu. Tetapi aneh sekali. Penutup perahu
itu hanya dapat terbuka
separoh.
Entah bagaimana seolah-olah seperti
tertindih suatu tenaga kuat. Begitu
terbuka, penutup perahu itupun menutup
kebawah lagi.
Kim loji tergerak hatinya, cepat ia berseru,
“Diluar ada orang. Ping ji,
bersiaplah menghadapi musuh.
Aku akan membantunya membuka penutup
perahu.”
Orangtua alis panjang tertawa nyaring. Ia
menepuk bahu kera bulu
emas, “Bantulah!”
Kera bulu emas itu segera bantu mendorong
penutup perahu. Orangtua
alis panjang dan Kim lojipun segera kerahkan
tenaga mendorong.
Han Ping berdiri lebih dulu sambil
rangkapkan kedua tangan kedada.
Memandang kemuka tampak ketua Lembah
seribu-racun memanggul
Siangkwan Wan-ceng, berdiri kira2 dua tiga
meter jauhnya Kedua ekor
ularnya tetap melilit ditubuhnya.
Air hanya sampai pada lututnya.
‘ “Dia…. bagaimana?” seru Han Ping cemas.
“Apa pedulimu….sahut ketua
Lembah-seribu-racun dengan nada dingin.
Matanya berkilat-kilat memandang orangtua
alis panjang, serunya,
“Tersedia perahu yang dapat melintasi arus
sungai, mengapa engkau tak
memberitahu kepadaku?”
Orangtua alis panjang itu menyahut dengan
riang gembira? “Siapa
suruh engkau tak mendengar kata-kataku….”
Tiba2 terdengar suara orang berseru,
mengatakan kalau air sudah
surut.
Ketua Lembah-seribu-racun cepat melesat
kedalam perahu dan berseru;
“Lekas duduk dan tutuplah penutupnya.”
Tetapi orangtua alis panjang hanya
mendengus, “Hm, perahu ini adalah
milikku. Aku mau duduk atau berdiri. itu
sesuka hatiku.
Mengapa engkau berani memerintah aku, hayo,
lekas engkau keluar!”
Seumur hidup belum pernah ketua
Lembah-seribu racun dimaki orang
seperti itu. Sesaat ia terlongong, serunya,
“Apakah engkau memaki
aku?”
“Sudah tentu memaki engkau….” tiba2 oTang
tua alis panjang itu
tertawa karena geli melihat ketua
Lembah-seribu-racun tak tabu kalau
dimaki.
“Sst, pelahan saja, ada orang datang,” Kim
loji cepat menggamit baju
orangtua itu.
Han ping tahu kalau orangtua alis panjang
itu tak mengerti ilmusilat,
Diam2 ia kerahkan tenaga untuk melindunginya
apabila ketua Lembahseribu
racun turun tangan.
Tetapi diluar dugaan, momok ganas seperti
ketua Lembah-seribu racun
itu, ternyata tak marah karena dimaki
orangtua alis panjang. Ia
letakkan tubuh Siangkwan Wan-ceng, melolosi
pakaian kulit lalu
mengurut jalandarahnya.
Setelah nona itu tersadar, baru ia sendiri
juga membuka pakaian
kulitnya “Kalau tak mencekal perahumu,
mungkin aku tak kuat
menahan arus. Ya, kali ini kuampuni jiwamu,”
serunya kepada orangtua
alis panjang.
Siangkwan Wan-ceng memandang kepada Han Ping
dan berseru,
“Apakah aku berada dalam mimpi? Dimanakah
kita sekarang?”
Han Ping tertawa, “Kita masih hidup dan saat
ini berada didalam
makam tua itu.”
Sambil memberesi rambutnya yang kusut, nona
itu mengatakan kalau
ia pingsan dilanda arus air yang hebat.
“Semoga kita terkurung dalam makam ini
sampai satu bulan baru dapat
keluar lagi,” ia menghela napas.
Han Ping tak tahu kalau ucapan nona itu
mengandung maksud yang
dalam, yalah secara halus hendak
memberitahukan bahwa dalam satu
bulan itu ia tentu sudah mati. Han Ping
menduga mungkin pikiran nona
itu tidak terang akibat pingsan maka dengan
sekenanya saja ia
menyahut, “Mudah-mudahan kita dapat
melaksanakan cita2 hati kita
dan lekas2 tinggalkan tempat ini.”
Ketua Lembah-seribu-racun mendengus, “Anak,
engkau sudah ada yang
punya. Aku dan ayahmu adalah tokoh2 yang
ternama. Kalau bicara
supaya yang lurus, jangan omong
sembarangan.”
Pelahan lahan Siangkwan Wan ceng berbangkit
lalu berpaling menatap
calon mertuanya, “Sejak kecil aku memang
biasa begitu.
Ayahbundaku yang melahirkan aku saja tak
dapat mengurusi, masakan
engkau hendak meributi aku!”
Ketua Lembah-seribu-racun batuk2 lalu
menjawab, “Tetapi sekarang
lain keadaannya. Engkau adalah menantu
keluarga Leng.”
Tiba2 nona itu tertawa mengikik, “Kalau aku
mati?”
“Ucapanku seteguh gunung. Walaupun engkau
meninggal tetap akan
kubawa jenazahmu ke Lembah-seribu-racun,”
sahut jago tua itu.
Siangkwan Wan ceng tertawa rawan, “Tak perlu
kuatir! Waktu masih
hidup belum tentu dapat masuk kedalam
keluarga Leng tetapi kalau
mati sudah tentu akan menjadi setan dari
keluarga Leng!”
“Nak, apakah engkau menyesal?” berobahlah
wajah orang tua Lembahseribu-
racun seketika.
“Tak pernah ada tindakan yang kusesali….
yang sudah kujanjikan,
tentu takkan kuingkari lagi,” sahut si nona.
Orang tua Lembah-seribu-racun tiba2 menghela
napas, “Bila Siangkwan
Ko dapat mengasuh engkau sampai sekian
besar, masakan aku tak
dapat? Nak, asal engkau tak lupa bahwa
kehidupanmu sekarang ini
sudah menjadi orang keluarga Leng, apapun
yang hendak engkau
lakukan aku tentu tetap akan melindungi
engkau.”
Dua titik airmata meluncur dari mata
Siangkwan Wan-ceng, “Mungkin
umurku pendek, tak dapat memenuhi kecintaan
hati ayah.”
“Hai, siapa itu!” tiba2 terdengar suara
bentakan keras.
Ketua Lembah-seribu-racun tertawa dingin,
“Hm, orang celaka!”
Bentakan ketua Lembah seribu-racun itu
bernada kuat sekali sehingga
menimbulkan gelombang kumandang yang bergema
lama. Orang yang
berseru tadipun serentak diam. Rupanya tak
mau mengunjuk diri lagi.
Ketua Lembah seribu-racunpun segera suruh
Siangkwan Wan ceng
keluar dari tempat persembunyiannya kerena
sudah diketahui orang.
Han Ping anggap perkataan itu memang benar.
Menilik bahwa pintu air
terbuka lalu ditutup lagi, jelas
mengunjukkan bahwa didalam makam
itu telah didatangi beberapa orang. Demikian
iapun keluar dari perahu
aneh itu diikuti Kim loji dan orangtua alis
panjang.
“Mengapa perlu membawa binatang yang suka
meliar? Bagaimana kalau
kulenyapkan saja,” seru ketua
Lembah-seribu-racun kepada orangtua
alis panjang.
“Coba saja kalau engkau hendak mengusiknya,”
sahut orangtua alis
panjang.
“Hm, aku tak percaya pada segala omong
besar….” tiba2 ketua Lembahseribu-
racun me-nyambar tangan Siangkwan Wan-ceng
dibawa mundur
sampai dua tombak jauhnya.
Melihat itu Han Ping sudah mempunyai firasat
tak baik. Cepat ia
berseru meminta Kim loji mundur merapat
dinding.
Orangtua alis panjang terlongong heran
mengapa orang2 itu berloncatan
menyingkir.
Baru ia hendak bertanya tiba2 tampak
segumpal sinar api meluncur
dan menghantam keatas perahu aneh.
Dar! terdengar letusan dan gumpal sinar
itupun meledak menjadi
umpalan asap.
“Lo-cianpwe, lekas menyingkirlah!” Han Ping
meneriaki orangtua alis
panjang.
Rupanya orangtua alis panjang itu menyadari
dirinya dalam keadaan
bahaya. Cepat ia menyelinap bersembunyi
dibelakang perahu.
Tetapi kera bulu emas itu kalah tajam
perasaannya. Melihat tuannya
bersembunyi diapun hanya bercuit-cuit aneh.
Cress…. benda berapi yang meluncur, tepat
mengenai kera bulu emas
itu. Seketika terbakarlah badan kera itu.
Melihat itu orangtua alispanjang nekad
hendak menghampiri tetapi
dicegah Han Ping dengan mencekal tangan
orangtua itu, serunya, “Lo
cianpwe, keramu terkena anakpanah berapi
yang terbuat daripada
belirang.
Bukan saja sukar dipadamkan pun kita sendiri
juga terancam bahaya.
Jangan sembarangan bergerak!”
Walaupun melarang siorangtua bergerak,
tetapi ia sendiri tak sampai
hati melihat kera itu terbakar. Sekali
loncat ia melayang ketempat kera
dan secepat kilat menampar punggung
binatang, lalu menggaet kakinya.
Bluk, kera itupun rubuh. Kemudian dengan
cepat ia menggulinggulingkan
kera itu ketanah sehingga api pada badannya
padam.
Wut…. kembali terdengar melayangnya benda
berapi dari belirang.
Untunglah karena kera itu sudah diguling
gulingkan ketanah, benda
berapi itu tak dapat mengenainya.
Panah berapi itu menancap kedalam “dinding.
Mirip dengan sebatang
tombak.
Ujungnya dilekatiselembar panji segi tiga
warna hitam. Dari api yang
masih menyala tampak juga gambar sulaman
pada panji itu berupa
tengkorak putih.
Han Ping bergerak cepat. Setelah dapat
menghindari panah tombak, ia
memondong kera itu dan loncat kebelakang
perahu.
Orangtua alis panjang tak putusnya memuji,
“Anakmuda, pada masa ini
walaupun banyak orang yang meyakinkan ilmu
Racun dan obat-obatan
beracun, tetapi yang patut mendapat gelar
sebagai Manusia Racun,
mungkin hanya kita berdua….”
Ia mengeluarkan dua butir pil lalu
dimasukkan kemulut kera bulu
etmas. Setelah menelan pil, kera itupun
pejamkan mata dan tidur.
“Telah kuberinya minum racun yang paling
ganas.” katanya, “karena
aku tak mempunyai harapan akan dapat keluar
dengan selamat dari
makam ini, maka akupun tak rela kalau kera
yang telah kupelihara
berpuluh tahun ini akan diambil orang.
Dalam tiga hari setelah dia sadar dari
tidurnya, dia akan berobah
menjadi kera yang luar biasa tenaganya.
Mampu untuk merobek-robek
harimau. Tokoh persilatan yang sakti, pun
tak mudah mengalahkannya.
Dia akan merobah liar dan ganas. Sekarang
hendak kuajarkan
kepadamu cara untak menguasai kera itu.
“Asal engkau menurut ajaranku, kera itu
tentu akan mau mengerjakan
apa suja yang engkau perintahkan….”
Ia berhenti sejenak menghela napas, lalu
melanjutkan pula, “Tak usah
engkau merasa kasihan kepadanya. Setelah
dalam tiga hari ia
mencurahkan seluruh sisa tenaganya, dia
tentu akan mati sendiri. Maka
selama dia masih hidup, suruhlah dia
mengerjakan apa saja yang
engkau inginkan.”
Belum Han Ping hendak membuka mulut, orang
tua alis panjang itupun
berkata lagi, “Saat ini kita berada dalam
bahaya, setiap waktu setiap
detik jiwa kita terancam, Sekarang lekas
engkau dengarkan dan ingat
apa yang hendak kuajarkan.”
Han Ping mengiakan. Dan dengan
berbisik-bisik orangtua alis panjang
itupun segera menurunkan ilmunya untuk
menguasai kera.
Samar2 seperti terdengar dua buah jeritan
ngeri dan rintihan dari orang
yang tengah meregang jiwa.
“Hm, ternyata makam ini memang telah
didatangi orang,” pikir Han
Ping.
“Eh, apakah engkau sudah ingat apa yang
kuajarkan?” tanya orangtua
alis panjang.”Sudah.”
“Bagus, dalam sepeminum teh lamanya, kera
itu tentu bangun. Engkau
boleh mencoba apakah dapat menguasainya atau
tidak?” kata orangtua
alis panjang.
Tiba2 terdengar suara gadis melengking, “Ji
siangkong, harap suka
datang kemari, aku hendak bicara kepadamu.
Han Ping terkejut. Jelas didengarnya bahwa
yang memanggil itu bukan
suara Siangkwan Wan-ceng.
“Siapakah engkau?” serunya bertanya.
“Asal kemari engkau tentu dapat mengetahui
sendiri. Apakah engkau
takut?”
Han Ping cepat berbangkit dan melangkah
kearah suara itu. Tiba2 Kim
loji memberi peringatan supaya Han Ping
jangan bertindak gegabah.
“Ping-ji, waktu engkau bertempur dihalaman
makam, kulihat ilmu
kepandaianmu bertambah maju pesat sekali,
Hal itu tentu makin
menambah nafsu musuh untuk membunuh engkau,”
kata Kim loji.
“Ji siangkong, Ji siangkong….” kembalisuara
itu terdengar pula.
Nadanya penuh dengan rintih kesakitan dan
kasihan.
“Harap paman jangan kuatir,” kata Han Ping
dan iapun terus
menghampiri ketempat suara itu….
JILID 3
Musuh bermusuh.
“Ping-ji, tunggulah!” teriak Kim loji, “kita
sama2 pergi!” ia terus
berbangkit dan mengikuti dibelakang Han
Ping.
Sejenak merenung, Han Ping berkata,
“Lo-cianpwe ini tak mengerti
ilmusilat, lebih baik paman tinggal disini
untuk melindunginya!”
Kim Ioji tersenyum, “Baik, mungkin kalau aku
ikut, tentu merepotkan
engkau….”
Kemudian berhenti sejenak, ia meLanjutkan
berkata pula, “Kalau
menghadapi bahaya, harap engkau lekas2
kembali kemari…. “
Lalu dengan kata bisik2 ia memberi pesan
agar Han Ping jangan
gegabah bertempur dengan orang apabila tidak
perlu.
Han Ping mengiakan.
“Menurut pengamatanku,” kata Kim loji, “nona
itu tentu menderita
sesuatu sehingga ia terpaksa menerima
menjadi menantu dari ketua
Lembah-seribu racun. Tentulah bukan atas
kehendaknya sendiri.”
Han Ping memang mengindahkan pamannya itu.
Dia tak mau
membantah dan mengatakan akan melihat
bagaimana keadaan yang
sesungguhnya, “Yang memangil aku tadi,
tentulah seorang gadis yang
tengah menderita luka.”
Kim loji menghela napas, “Ping ji, bukan aku
seorang yang banyak
curiga tetapi aku memang sudah melihat
banyak makan asam garam
dunia persilatan. Pergilah tetapi harus
hati2.”
Han Ping mengangguk lalu ayunkan langkah
menuju kearah suara yang
memanggil namanya tadi.
Yang dilaluinya itu sebuah jalan terowongan
yang lebarnya hanya
beberapa depa. Suara gadis yang memanggil
namanya dan taburan
senjata rahasia bukan berasal dari satu
arah.
Setelah berjalan tiga empat tombak, Han Ping
tetapi belum menemukan
suatu apa. Diam2 ia heran, pikirnya, “Aneh,
apakah dia sudah
terbunuh?
“Hai, siapakah yang memanggil aku tadi?”
teriaknya dengan keras.
Tetapi yang menjawab hanyalah kumandang
suara teriakannya. Gadis
yang dipanggil itu sama sekali tak
kedengaran suaranya.
“Aneh,” pikirnya.
Han Ping mendengus dingin. Ia memandang
kemuka dengan seksama.
Ternyata tiga tombak disebelah muka pada
kedua tepi terowongan,
tampak seperti dilintas oleh sebuah simpang
jalan. Dia heran dan makin
keras dugaannya bahwa makam itu tentu telah
dimasuki orang.
Ketika tiba diujung terowangan, tiba2 dari
jalan yang melintang itu
muncul sesosok tubuh yang lari menyongsong.
Han Ping cepat berhenti, menghindar
kesamping. Bermula ia hendak
membiarkan orang itu lewat tetapi karena
dibelakangnya terdapat Kim
loji dan orangtua alis panjang, Han Pingpun
buru2 melintang ditengah
jalan lagi.
Cepat sekali orang itu tiba. Melihat ada
orang menghadang ditengah
jalan, tanpa berkata apa2, dia terus
menghantam.
Sambil menangkis Han Ping membetaknya, “Huh,
mengapa datang terus
memukul?”
Ketika pukulan saling beradu, orang itu
tersurut mundur dua langkah.
Ketika memperhatikan, Han Ping melihat
pendatang itu seorang
bertubuh kecil, mengenakan pakaian pendek
dan punggung menyangul
sebuah bungkusan panjang.
Orang itu tertegun. Rupanya dia terkejut
melihat kesaktian Han Ping,
“Siapa engkau!” bentaknya marah.
Han Ping tertawa dan balas bertanya, “Dan
engkau sendiri siapa “
Diam2 orang itu kerahkan tenaga dalam, siap
hendak menghantam.
Namun mulutnya pura2 berkata, “Kita tak
kenal, mengapa engkau
menghadang jalanku?”
Han Ping terkesiap. Dia tak dapat menjawab
pertanyaan orang yang
memang tepat.
Tiba2 terdengar pula jeritan nyaring.
Jeritan kematian. Lalu menyusul
terdengar suara tertawa panjang.
Pendatang yang bertubuh kecil itu rupanya
gemetar mendengar jeritan
itu. Dia berpaling dan menjerit, “Ular
….,.!”- ia ulurkan tangan
menyambar ketanah.
“Heh, hei, ular beracun ganas, jalan kearah
kematian….,” tiba2
terdengar suara orang tertawa dingin dan
tahu2 pendatang yang
dihadang Han Ping itupun rubuh ketanah.
Seekor ular kecil melesat dari tubuh orang
itu dan meluncur lari.
Rupanya orang itu telah berhasil
mencengkeram ular kecil tetapi
sebelum sempat meremas, ular itu sudah
menggigitnya sehingga mati.
Walaupun tempat gelap sehingga tak dapat
melihat jelas warna ular
kecil itu tetapi Han Ping menduga ular itu
tentu ular peliharaan ketua
Lembah-seribu-racun. Diam2 Han Ping terkejut
akan kegesitan ular
kecil itu dan racunnya yang luar biasa
ganasnya.
Tiba2 ia mendapat pikiran lalu berteriak
keras, “Leng lo cianpwe,
apakah masih belum mulai bergerak?”
Terdengar penyahutan yang bernada dingin,
“Saat ini makam telah
diliputi oleh hawa pembunuhan, Karena
memandang anak menantuku,
kali ini kuampuni jiwamu. Tetapi kalau lain
kali bertemu lagi, tentu tak
kuberi ampun.”
Seketika teringatlah Han Ping akan diri
Siangkwan Wan-ceng. Mengapa
nona itu tak menampakkan diri? Sarentak ia
berseru, “Harap Leng lo
cianpwe tunggu dulu sebentar, aku masih
hendak mohon keterangan.”
SAmbil berkata ia terus lari menuju ketempat
yang diduga tentu
terdapat ketua Lembah seribu-racun.
Tetapi tokoh dari Lembah-seribu-racun itu
tak kedengaran suaranya.
“Siapa itu?” tiba2 dari jalan yang melintang
terowongan terdengar suara
bentakan bengis dan meuyusul deru angin
pukulah yang dahsyat.
Tetapi Han Ping sudah bersiap Sambil
menangkis, iapun berkisar
kesamping. dar, terdengar letupan dari kedua
pukulan yang beradu.
“Tua beracun, sudah duapuluh tahun tak
muncul, sekarang jauh lebih
hebat pukulanmu!” seru orang itu.
JeJas dia salah sangka, mengira Han Pmg
sebagai ketua Lembahseribu-
racun.
Han Ping terkejut, Dia tak tahu siapa orang
itu. Tiba2 ia mendapat
pikiran. Tegak tempelkan tubuh paka dinding
dan berdiam diri.
Beberapa saat kemudian terdengar pula orang
itu berseru, “Ho, tua
bangka beracun, sekalipun tak mau menjawab,
tetapi jangan harap
engkau dapat mengelabuhi aku!”
Han Ping menyadari bahwa setiap orang yang
masuk kedalam makam
tua itu, kenal atau tak kenal, tentu
mengandung hati bermusuhan.
Beberapa kali ia mendengar jeritan ngeri
dari setiap orang yang rubuh
binasa.
Bahkan dengan mata kepala sendiri tadi ia
menyaksikan ketua Lembahseribu
racun melepas ular berbisa untuk membunuh
orang.
Maka Han Pingpun berlaku hati2 dan waspada.
Karena tak mendapat penyahutan, rupanya
orang itu tak sabar.
Terdengar ia ayunkan langkah menghampiri.
Rupanya ia hendak memberi kesan bahwa ia
berjalan pelahan maka
langkah-kakinyapun terdengar berat.
Tak berapa lama, langkah kaki itupun
berhenti. Sebagai gantinya
sesosok tubuh melayang keluar.
Han Ping cepat hendak ayunkan pukulannya
tetapi tiba2 ia teringat
sesuatu. Orang itu berjalan dengan langkah
berat, tentulah hendak
memasang perangkap.
Bluk…. orang itu membentur dinding disebelah
depan dan rubuh.
Semula Han Ping terkejut tetapi setelah
melihat dengan seksama
barulah ia mengetahui bahwa yang melayang
dan membentur dinding
itu hanya seperangkat tulang kerangka
manusia.
Mayat itu dilemparkan orang dengan tenaga
dalam. Apabila tadi Han
Ping terus turun tangan tentulah dia masuk
perangkap.
‘Hm, orang2 persilatan memang licik. Sekali
tak hati tentu mati,” diam2
ia menghela napas.
Tiba2 sebatang korek melayang kesamping
tengkorak itu. Apinya
menyala terang.
Han Ping cepat menyurut mundur sampai dua
tombak untuk
menghindari sinar api.
Sesaat kemudian muncullah seorang lelaki
tinggi besar. Dia melangkah
pelahan-lahan ke terowongan dan berdiri
ditengah simpangan.
Walaupun rambut dan jenggotnya sudah putih
namun sikapnya tetap
perkasa.
Setelah memandang sekeliling beberapa saat,
ia menengadahkan muka
dan tertawa keras.
“Tua beracun,” serunya, “apa-apaan engkau
main sembunyi seperti
tikus begitu?
Apabila aku sudah keluar dari makam ini
tentu akan kucopot papan
nama Lembah-seribu-racun disarangmu!”
Sekonyong-konyong dari arah terowongan
disebelah muka terdengar
suara lengking jeritan dan derap kaki orang
berlari.
Seorang dara baju hitam yang rambutnya
terurai memanjang, lari
tergopoh-gopoh.
Orang tinggi besar tiba2 lintangkan
tangannya menghadang dan
menyarabar dara itu.
Entah dara itu membiarkan dirinya dicekal
atau memang sudah letih
maka sampai begitu mudah dicengkeram oleh
orang tinggi besar itu
seperti burung rajawali mencengkeram anak
ayam.
Dari sinar korek yang memancar terang, dapa
lah Han Ping mengetahui
bahwa gadis baju hitam itu tak lain yalah
Ting Ling, salah seorang
kedua taci-beradik puteri Lembah Setan.
Tetapi mengapa Ting Ling,
berada dalam makam situ dan mengapa pula
tampaknya ia berlari-lari
sedemikian gopoh seperti melihat setan?
Rupanya karena merasa tak dapat meloloskan
diri, Ting Lingpun
memejamkan mata dan diam.
Orangtua tinggi besar itu menutuk jalandarah
Ting Ling lalu ditaruh
ditempat yang gelap
Tetapi pada saat orang tinggi besar itu
berputar tubuh tiba2 meluncur
sepercik sinar dan padamlah api korek tadi.
Terowongan kembali gelap gulita.
Secepat kilat Han Ping mengempos semangat
dan melangkah kembali
kemulut terowongan yang ditempatinya tadi.
“Hai, siapakah itu?” kembali terdengar
orangtua tinggi besar itu berseru
seraya tamparkan tangan memukul Han Ping.
“Engkau cari mati!” tiba2 terdengar suara
dengusan dingin dan
berhamburan serangkum angin pukulan
menyongsong pukulan
orangtua tinggi besar. Yang jelas, bukan Han
Ping yang menangkis
pukulan orangtua tinggi besar itu.
Terdengar benturan keras dari dua pukulan
dahsyat, kemudian deru
angin menyambar-nyambar keras.
Rupanya kedua orang itu sudah terlibat dalam
pertempuran dahsyat.
Dan dari deru angin yang berhamburan keras
itu, dapatlah Han Ping
menduga bahwa kedua orang itu tentulah jago2
silat yang berilmu
tinggi.
Han Ping cepat menyelinap maju untuk
mengangkat tubuh Ting Ling.
Tetapi sesaat ia bingung.
Jalan terowongan dalam makam tua itu banyak
sekali dan melingkarlingkar,
penuh dengan persimpangan.
Kalau tak hati2, tentu akan tersesat
ketempat yang berbahaya.
Akhirnya ia memutuskan untuk kembali
ketempat Kim Ioji dan orangtua
alis panjang tadi. Namun apabila kesana ia
harus melintasi kedua orang
yang sedang bertempur itu. Walaupun dngan
tenaga-dalamnya Han Ping
tentu takkan menderita apa2, tetapi ia
kuatir dirinya tentu akan
ketahuan oleh keadaan orang yang tengah
bertempur itu.
Tetapi tak ada lain jalan. Setelah menimbang
sejenak, ia memutuskan
untuk mencoba menempuh bahaya.
Ia membuka kain sabuk Ting Ling lalu
mengikat tubuh nona itu pada
punggungnya.
Dengan memanggul nona itu maka ia segera
berjalan merapat pada
dinding.
Sejak menyelinapkan pandang mata kemuka,
dilihatnya kedua orang
yang sedang bertempur itu amat seru sekali.
Kekuatan dan kesaktiannya tampaknya
berimbang Karena tengah
mencurahkan perhatian dan semangat untuk
menghadapi lawan, maka
kedua orang itu tak memperhatikan Han Ping
yang melintasi tempat
mereka.
Bergegas-gegas Han Ping lari menuju ketempat
perahu lalu meletakkan
tubuh Ting Ling dan membuka jalan darahnya
yang tertutuk.
“Aih…. engkau siapa?” sesaat kemudian nona
itu membuka mata dan
menghela napas panjang.
“Aku Han Ping….”
“Ih….tiba2 Ting Ling .merintih dan terus
susupkan kepala kedada Han
Ping,” dalam beberapa hari ini mereka telah
menyiksa diriku.”
“Siapa?” tanya Han Ping.
“Nyo Bun giau dan Ih Thian heng,”
“Bilakah mereka masuk kedalam makam ini?”
“Lebih kurang empat jam yang lalu.”
“Apakah mereka pernah terkurung dalam
genangan air?” tanya Han
Ping pula.
Ting Ling gelengkan kepala, “Kudengar suara
air mengalir yang
bergemuruh keras sekali.”
“Kalau begitu, tak sedikit orang2 persilatan
yang sudah masuk kedalam
makam ini?” kata Han Ping pula.
“Selain memilih delapan jago sakti untuk
masuk kedalam makam ini,
pun Ih Thian heng telah memerintahkan jago2
silat yang berilmu tinggi
untuk menjaga. Dan mereka sama membuat
senjata rahasia yang
beracun.
Sungguh berbahaya sekali keadaan terowongan2
dalam makam itu….
“Selain Ih Thian-heng dan anak buahnya,
masih terdapat pula Nyo Bungiau,
Ca Cu-jing dan puteranya,” kata Ting Ling
pula.
Tiba2 terdengar sebuah seruan keras, “Hai,
tak perlu berkelahi. Budak
perempuan itu sudah digondol pergi oleh si
Tua Beracun. Hm, kita yang
ngotot. lain orang yang memetik hasilnya.”
“Hm, siapa suruh engkau perintah orangmu
menyerang?” sahut sebuah
suara lain.
Suara nyaring tadi melantang pula, “Tua
Beracun, orang lain takut
kepadamu karena engkau beracun.
Tetapi aku tidak takut. Hayo keluarlah kalau
engkau hendak mencoba
rasanya kepalan tanganku!”
Han Ping bertanya kepada Kim loji, siapakah
kedua orang yang tantang
menantang itu.
“Kalau melihat orangnya baru tahu. Hanya
mendengar nada suaranya
saja, masih belum jelas,” kata Kim loji.
“Walaupun dibawah kekuasaan mereka tetapi
aku masih sempat untuk
memperhatikan gerak gerik mereka.” kata Ting
Ling,”
menurut pengamatanku. masuknya Ih Thian-heng
kedalam makam ini
hanya sebagai pengaburan saja.
Dia bukan sungguh2 hendak mencari harta
karun tetapi sebenarnya
hendak membasmi seluruh kaum persilatan.
Nyo Bun giau dan Ca Cu-jing ,tokoh2 yang
sakti itu, kini sudah didalam
cengkeramannya,”
Ia berhenti sejenak menghela napas pelahan,
lanjutnya pula, “Makam
tua yang sunyi ini, tentu akan mengalami
pertumpahan darah yang
hebat.
Entah nanti akan jatuh berapa banyak kaum
persilatan yang menjadi
korban,”
“Dalam pertempuran ini, menang dan kalah
masih belum ketahuan
mengapa Ih Thian-heng begitu yakin akan
menang?” kata Han Ping.
“Ih Thian heng seorang yang licik dan licin
serta cermat sekali. Pada
setiap pos penjagaan dalam terowongan ini,
dia selalu menaruh seorang
anak buahnya. Dalam Keadaan perlu. setiap
kali ia dapat menggerakkan
alat2 rahasia dalam makam ini dan anak
buahnya. Andaikata dia
menghendaki, dia dapat membuat makam itu
runtuh dan menimpah
orang2 persilatan yang berada didalamnya.”
Berkata Han Ping dengan
hambar, “Nama dan Keuntungan, benar2
penyebab dan segala
Kejahatan.
Walaupun sudah tahu bahwa makam ini penuh
dengan alat pekakas
yang berbahaya tetapikarena terdapat harta
karun serta pusaka
Tenggoret Kumala dan Kupu2 Emas, mereka tak
tetap berani
menempuh masuk kemari….”
Tiba2 kata-katanya itu terputus ,oleh suara
jeritan yang ngeri.
Dering senjata beradupun makin lama makin
teedengar dekat. Ting Ling
melihat pada terowongan yang gelap itu,
tiada henti-hentinya berkiblat
sinar senjata yang makin lama makin
menghampiri ketempatnya.
Cepat nona itu dapat menduga bahwa kedua
orang yang bertempur tadi,
sudah mulai menampakkan hasil siapa yang
kalah dan menang.
Yang kalah didesak mundur kebelakang.
“Celaka, kalau kita tak lekas2 tinggalkan
tempat ini, kita tentu akan
terlibat dengan mereka,” seru Ting Ling.
Orangtua alis panjang yang sejak tadi tak
bicara, saat itu tiba2
membuka mulut, “Lihatlah, kera bulu emas
sudah bangun, lekas
engkau coba memberi perintah apakah bisa
atau tidak?”
Memandang kemuka, memang Han Ping melihat
kera bulu emas itu
tengah berbangkit pelahan-lahan.
Walanpun jarak cukup jauh tampak juga betapa
menyeramkan wajah
kera itu Matanya melotot, giginya merentang
keluar dan sikapnya
beringas sekali.
“Uh, ngeri sekali kera itu,” kata Ting Ling
seraya beringsut mundur.
Diantara keempat orang itu, Han Pinglah yang
paling tajam
pendengarannya. Diantara dering senjata
beradu, ia masih dapat
menangkap derap kaki orang berjalan pelahan
sekali.
Begitu mendengar ucapan orangtua alis
panjang jtu, cepat ia bercuitcuit
seperti yang diajarkan orangtua alis panjang
itu.
Yalah cara untuk memberi perintah kepada
kera bulu emas.
Kera itu tiba2 melonjak dan secepat kilat
terus melesat kemuka.
“Hai, binatang keparat!” tiba2 terdengar
suara orang memaki marah dan
menyusul terasa suatu goncangan keras.
Kuatir kalau kera bulu emas itu terluka, Han
Ping cepat loncat
menghampiri.
Semula karena terowongan amat gelap, Han
Ping tak dapat melihat apa
yang telah terjadi.
Tetapi setelah kerahkan tenaga murni dan
semangatnya, barulah ia
dapat melihat jelas.
Ternyata kera bulu emas itu tengah mengayun
ajunkan kedua
tangannya menyerang kemuka.
Lawannya, entah siapa, tak henti-hertinya
lepaskan pukulan dahsyat
namun tetap tak dapat menahan serangan kera
dan terpaksa harus
mundur.
Karena pertempuran itu berlangsung amat
seru, dan tempatnya gelap,
Han Ping tak dapat melihat jelas siapa lawan
dari kera itu.
Hanya samar2 ia dapat melihat potongan tubuh
orang itu tinggi besar
seperti orangtua berjenggot panjang tadi.
“Ih, orangtua itu hebat sekali pukulannya
tetapi mengapa tetap terdesak
oleh serangan kera?” diam2 Han Ping terkejut
dalam hati.
Tiba2 ia dikejutkan mendengar suara pamannya
Kim Ioji, “Kalau benar,
lalu bagaimana. .
Tanpa merghiraukan bagaimana kesudahan
bertempuran antara kera
dan orang tinggi besar itu.
lalu buru2 lari kembali kebelakang.
Dilihatnya pada ujung perahu, tegak seorang
lelaki dalam pakaian jubah
panjang, mencekal sebatang pedang yang
ujungnya menjulai ketanah.
Dia bukan lain adalah Nyo Bun-giau. pemimpin
marga Nyo yang sakti.
“Siapapun orangnya apabila telah kudengar
suaranya, jangan harap
dapat menghampiri ketempatku,” seru orang
itu dengan tertawa dingin.
Secepat kilat ia menyulut korek lalu
dilemparkan kemuka. Dari cahaya
korek itu, dapatlah Han Ping melihat bahwa
dibelakang Nyo Bun-gau itu
terkapar sesosok mayat. Ingat lupa, rasanya
ia pernah kenal orang itu
tetapi entah dimana….
Pun karena penerangan korek itu dapatlah Nyo
Bun giau melihat Ting
Ling, serunya, “Hai, budak setan, kutahu
engkau memang tak mungkin
lolos dari sini Ternyata engkau berada
disini.”
Dan alihkan pandang mata, iapun melihat Han
Ping tegak berdiri
dengan mata berapi-api memancarkan
kemarahan.
Diam2 ia terkejut dan tercekat dalam hati.
Wajahnya yang berseri
seketika berobah seperti kedua menyengir.
Han Ping mencabut pedang Pemutus-asmara,
berseru, “Nyo Bun-giau!”
Melihat musuh lama muncul, mau tak mau Nyo
Bun-giau seperti
kehilangan kegarangannya.
Tetapi cepat2 ia menenangkan hatinya dan
tertawa dingin. serunya,
“Hm, berani benar engkau bicara begitu tak
tahu adat kepadaku!”
Han Ping loncat maju kehadapan Nyo Bun-giau
tertawa mengejek,
“Dimana Ih Thian-heng saat ini?”
“Nyo Bun-giau menyurut mundur, serunya, “Ih
Thian-heng? Dia berada
dibagian tengah makam ini.”
“Berhenti! Bawalah aku kepadanya….” kata Han
Ping seraya berkisar
maju mendekati.
Nyo Bun-giau mencongkelkan pedangnya kearah
sesosok mayat dan
mayat itu segera melayang ketempat Han Ping.
Tetapi dengan tangan
kiri Han Ping menyambuti dan letakkan mayat
itu ditanah.
Tiba2 terdengar Ting Ling berseru keras2,
“Ji siangkong. harap lekas
mundur kemari.
“Kalian tunggu disitu, jangan pergi
kemana-mana,” sahut Han Ping lalu
melesat maju mengejar.
“Dia hendak mencari Ih Thian-heng, hayo kita
mengikutinya!” seru Kim
Ioji.
“Kalau kita sungguh2 hendak mencari Ih
Thian-heng jangan harap kita
dapat hidup….Ting Ling membantah, “dia tak
mau mendengar kata2ku,
lekas panggil dia kembali kesini.”
Tetapi ternyata Han Ping sudah tak tampak
Dan dari kejauhan,
terdengar suara kera bulu emas itu meraung
raung keras.
Rupanya dia bertemu musuh tangguh dan
dihalau mundur.
Rupanya orangtua alis panjang menyadari hal
itu. Serentak ia
berbangkit, serunya, “Hm, rupalnya kera itu
bertemu musuh sakti dan
dikuatirkan akan mundur kemari.”
“Aku sudah menderita luka parah, tiada daya
untuk melawan mereka
lagi,” kata Ting Ling.
“Mati dan bidup sudah ada garisnya. Aku
orang she Kim ini sudah
banyak kali menghadapi bahaya maut didunia
persilatan, tetapi sampai
saat ini tetap masih hidup. Apabila memang
sudah garis hidupku harus
mati dimakam ini, aku pun paserah saja.
Tak peduli siapa musuh yang akan datang itu
tetapi kita tak dapat
berpeluk tangan mengawasi saja,” kata Kim
loji dengan garang.
“Baiklah, locianpwe,” kata Ting Ling,”
karena aku menderita luka nanti
aku akan bersembunyi dibelakang lo cianpwe.
Dengan meminjam kegelapan tempat ini apabila
memperoleh
kesempatan akan kutabur musuh dengan bubuk
Bi-hun-yok.
Mungkin kita dapat mengatasinya “
“Hai, benar,” seru Kim loji girang, “hampir
aku lupa akan obat Bi-hunyok
yang termasyhur dari lembah Raja-setan!”
Terdengar raung dahsyat. Rupanya kera bulu
emas itu telah menderita
pukulan dahsyat.
Karena tahu kalau orangtua alis panjang itu
tak mengerti ilmusilat
maka Kim loji cepat minta kepadanya supaya
masuk kedalam perahu.
Dia dan nona Ting Ling yang akan menghadapi
musuh.
Sejenak berdiam diri, orangtua alis panjang
itu mengiakan, “Baik, kalau
kalian tak mampu menghadapi, lekas kalian
pancing musuh itu ke
samping perahu. nanti aku yang
membereskannya.”
Kim loji setuju. Ia memadamkan api korek
yang masih menyala lalu
mengambil golok dari belakang perahu.
Tiba2 raung kerapun sirap.
Ting Ling mengambil sebuah botol kumala lalu
bersiap-siap melekatkan
diri pada dinding Sambil menghampiri, Kim
loji menghela napas, “Sejak
aku ditipu masuk kedalam makam ini oleh Nyo
Bun-giau dan sebelah
lenganku ditabasnya, sampai sekarang belum
pernah bertempur lagi
Entah apakah aku masih dapat memainkan golok
ini.”
“Jangan kuatir,” Ting Ling menghiburnya,
“asal locianpwe mampu
menahan musuh sampai dua jurus saja, aku
tentu sudah dapat
menaburnya dengan bubuk Bi-hun-yok.”
“Tempat kita ini gelap sekali tetapi malah,
menguntungkan kita,” kata
Ting Ling pula.
tetapi tiba2 napasnya terengah-engah
sehingga tak dapat melanjutkan
bicara, “Nak, bagaimana keadaanmu?” Kim Ioji
kasihan juga. Walaupun
ia tak mempunyai kesan baik terhadap kedua
gadis puteri lembah Rajasetan.
Tetapi pada saat dan tempat seperti saat
itu, mereka sudah
merupakan kawan seperjuangan, bahu membahu
menghadapi musuh.
Ting Ling menghampiri, katanya, “Mereka
telah melukai aku parah
sekali. Asal banyak bicara, luka itu terasa
sakit sekali….”
Kembali ia terengah-engah, “Botol ini berisi
obat penawar. Asal engkau
lumurkan pada hidung, tentu tak takut pada
bubuk Bi-hun-yok.”
Sambil menyambuti, Kim loji menghela napas,
“Dunia persilatan
menyatakan kalian berdua puteri lembah
Raja-setan ini ganas, tetapi
apa yang kulihat saat ini, ternyata tidak
benar.
“Saat ini kita menghadapi musuh dan bahaya
bersama, masakan aku
berani mencelakai engkau,” jawab Ting Ling.
Saat itu tampak sesosok bayangan hitam,
beringsut2 mundur kearah
tempat mereka. Ting Ling bersembunyi
dibelakang Kim loji, serunya,
“Harap lo-cianpwe bersikap yang garang.”
Kim loji menamburkan obat pada hidungnya
lalu tegak berdiri
lintangkan golok. Sosokc hitam itupun cepat
mundur kesamping
mereka. Ternyata memang kera bulu emas.
Binatang itu sudah
kepayahan, kedua tangannya ditutupkan ke
dada.
Dan yang mendesaknya mundur, seorang tua
jenggot panjang dan
bertubuh tinggi besar. Rupanya dia juga
payah.
“Berhenti!” bentak Kim loji seraya tabaskan
golok.
Orang tua tinggi besar itu terkejut. Tetapi
ia masih sempat tamparkan
tangan kiri untuk menahan golok Kim loji.
Baru ia hendak membuka mulut, dari belakang
Kim loji tiba2 menjulur
sebuah tangan putih.
Orang tua tinggi besar itu tertegun dan saat
itu Ting Lingpun lepaskan
bubuk Bi-hun-yok.
Bluk, rubuhlah orangtua tinggi besar itu.
Dan Kim lojipun terus
ayunkan golok hendak menabasnya.
“Jangan, lo cianpwe, jangan melukainya,”
cegah Ting Ling. Lalu menyiak
tangan Kim loji sekuat-kuatnya.
Huak, walaupun dapat menyiak tangan Kim
loji, tetapi luka dalam
tubuhnya menumpahkan darah.
Habis muntah darah, nona itupun duduk
ditanah. Sambil mendekap
dada, nona itu masih paksakan diri berseru,
“Jangan melukainya.”
“Nak, lekas salurkan pernapasanmu, jangan
bicara dulu, “Kim loji maju
menghampiri.
“Hai, rupanya berat juga lukamu. Biar
kuperiksanya,” tiba2 orangtua
alis panjang keluar dari perahu dan tanpa
menunggu lagi, ia terus
mencekal tangan sinoua dan memeriksa
denyutan pergelangan
tangannya.
Suasanapun hening Kera bulu emas itupun amat
letih dan rebah
ditanah.
Beberapa saat kemudian kedengaran orangtua
alis panjang itu berkata,
“Nak, lukamu berat sekali. Sayang obat yang
kubawa ini mengandung
racun keras. Apakah engkau suka minum?”
Kata Ting Ling, “Aku masih ingin hidup untuk
beberapa hari lagi. Segala
derita kesakitan aku tak takut.”
Orangtua alis panjang tertawa, “Bagus,
berapa lamakah engkau ingin
hidup….
Kim loji cepat memberi peringatan agar
orangtua alis panjang itu jangan
tertawa keras2, agar jangan diketahui musuh.
“Aku ingin hidup 10 hari lagi….,” jawab Ting
Ling.
“Hai, itu mudah sekali,” sahut orangtua alis
panjang seraya
mengeluarkan beberapa butir pil, “simpan dan
makanlah sendiri. Kalau
engkau dapat menghabiskannya, kita akan
tambah anggauta seorang
lagi.”
“Hai, apakah engkau hendak menciptakan
seorang manusia beracun
lagi?” tegur Kim loji.
“Kalau sejak dulu aku sudah keluar kedunia
persilatan, tentu sudah
banyak manusia2 beracunnya,” kata orangtua
alis panjang.
“Ho, engkau hendak mendirikan partai Manusia
Beracun?” seru Kim loji
pula.
“Sayang, waktunya sudah tak mengijinkan,
sudah terlambat,” sahut
orang tua itu.
Sambil menjemput sebutir pil, Ting Ling
bertanya kepada Kim Loji
apakah pil itu benar2 dapat menyembuhkan?”
“Memang dapat menyembuhkan, tetapi obat
seperti candu. Sekali
minum, racun tentu akan masuk kedalam tubuh
kita,”
menerangkan Kim loji.
Tetapi rupanya nona itu tak menghiraukan.
Obat apapun yang penting
dapat menyembuhkan dan menambah hidupnya
sampai beberapa
waktu. Dan Kim lojipun menyadari bahwa luka
nona Ting itu sudah
sedemikian rupa.
Ia tak mau mencegahnya lagi.
Kim Loji berbangkit lalu membopong orangtua
alis panjang dibawa
ketempat Ting Ling.
Tiba2 orang yang pingsan tadi tersadar
bangun. Ia kuatir dan cepat2
melekatkan pedang keleher orang itu.
Setelah memberi obat, orangtua alis panjang
itu menunggu dengan
sabar akan perobahan luka si nona.
Sepeminum teh lamanya nona itu tersadar dan
tertawa kepada orangtua
alis panjang, “Ih, obatmu manjur sekali,
sekarang aku merasa sudah
banyak sembuh.”
“Kalau benar begitu, kurasa dalam dunia
dewasa ini dapatlah aku
menganggap diriku sebagai Dewa Racun…. .”
orangtua alis panjang itu menghela napas dan
berkata kepada Kim loji”,
kurasa dalam dunia iui masih terdapat
seorang yang mampu
menandingi kepandaianku.”
“Siapa?” tanya Kim loji.
Orangtua alis panjang gelengkan kepala,
“Entahlah. Rasanya dia
seorang wanita….”
“Kalau dia seorang perempuan, jelas tentulah
budak perempuan dari
perguruan Lam-hay-bun itu….,” Ting Ling
menyelutuk.
Tiba2 dari kejauhan terdengar suara orang
tertawa, “Ih, dibelakang
orang berani mengatakan kejelekannya, apakah
tak kuatir dipotong
lidahnya?”
Nadanya jelas dari seorang wanita. “Siapa?”
Ting Ling terperanjat dan
cepat memandang kemuka dan pasang telinga.
Tetapi tak terdengar suatu penyahutan apa,
Rupanya orang itu sudah
pergi.
“Huh, makam ini benar2 seperti gedung
setan…. ,” kata orangtua alis
panjang.
“Ya, memang makam ini dibangun dengan
rencana yang hebat, penuh
dengan jalan lorong dan kamar2 yang serba
pelik!’“ kata Kim loji.
“Apakah engkau tak melukainya?” tanya Ting
Ling kemudian kepada
orangtua alis panjang.
“Tidak,” sahutnya, “tetapi apa keperluanmu
menahannya disini?”
“Dia berkepandaian tinggi, sayang kalau
dibunuh….” jawab Ting Ling.
“Ho, kalau begitu tunggu saja setelah dapat
bangun, kita yang akan
dibunuhnya,” seru Kim loji.
”Harap lo cianpwe jangan salah mengerti.
Bukan kita suruh dia
membunuh kita tetapi kita dapat menggunakan
tenaganya untuk
melindungi kita,” Ting Ling memberi
penjelasan.
“Ah, nungkin tak semudah itu,” gerutu Kim
loji.
“Tetapi aku mempunyai siasat yang bagus
supaya dia mau taat kepada
kita,” kata Ting Ling seraya berbangkit dan
menghampiri ketempat
orangtua jenggot panjang dan lalu berjongkok
disampingnya.
Kim lojipun menarik kembali pedangnya dan
suruh Ting Ling segera
memberi orang itu obat supaya dia dapat
ditundukkan. Setelah itu baru
diberi obat penawar. Kalau tunggu sampai
orang itu terjaga, tentu sukar
dan berbahaya.
“Harap lo cianpwe jangan kuatir,” kata Ting
Ling lalu tiba2 menutuk
kedua bahu dan kedua lutut orang itu.
Setelah itu baru ia
mengeluarkan obat penawar, dilumurkan
kehidung orang itu.
Terdengar orang itu menguak lalu membuka
mata dan memandang Ting
Ling, Kim Loji. Serentak iapun menggeliat
duduk. Tetapi karena kaki
dan tangannya sudah tertutuk maka kecuali
tubuh, ia tak dapat
bergerak lagi. Bahkan ketika ia mengangkat
tangan kanannya, serentak
terus melentuk lunglai lagi.
“Kalau engkau hendak mencoba menyalurkan
tenaga dalam untuk
membuka jalan-darahmu yang tertutuk, berarti
engkau mencari sakit
sendiri,” kata Ting Ling memberi peringatan.
Orang tua jenggot panjang itu diam saja.
Walaupun dalam pertempuran
maut, ia tetap bersikap tenang.
Ting Ling menyambar golok dan berseru
dingin, “Sekarang engkau boleh
pilih satu diantara dua jalan.”
Dengus orangtua jenggot panjang itu,
“Beruang yang jatuh kedalam air
tentu akan dibuat permainan, macan yang tiba
disungai datar tentu
akan dihina kawanan anjing….
Cret! Ting Ling ayunkan pedang dan jenggot
orangtua yang menjulai
kedada itupun kutung dan berhamburan ke
tanah….
“Tak peduli dengan kata2 apa engkau hendak
memaki aku tetapi yang
jelas saat ini engkau sudah berada dalam
kekuasaanku. Sekali tangan
kuayun, kepandaianmu setiap saat dapat
menggelinding!” seru Ting
Ling.
Orangtua jenggot panjang itu tertegun,
“Kedua jalan yang engkau suruh
aku pilih itu, coba katakan dulu baru aku
dapat menjawab.”
“Sederhana sekali,” kata Ting Ling,
“pertama, engkau meluluskan untuk
menerima setiap perintahku, tak boleh
menghianati. Sampai nanti
keluar dari makam ini baru kubuka lagi
jalandarahmu. Dan
kubebaskan engkau. Jalan kedua, engkau
menolak permintaauku dan
kutabas kepalamu.”
“Ho, engkau anggap aku ini orang apa? Apakan
aku sudi tunduk pada
perintahmu!” orang tua itu marah, Ting Ling
tertawa mengejek, “Kalau
begitu, engkau memilih jalam kematian!” Nona
itu perlahan2
mengangkat golok,” sebagai hukuman di-muka,
sekarang hendak
kutabas sebelah kakimu kanan.” Habis berkata
ia terus ayunkan golok.
“Tunggu!” seru orangtua itu gopoh.
Ting Lingpun hentikan golok dan tertawa,
“Apakah engkau masih ingin
hidup? Hm, dapat keras bisa lunak, barulah
seorang gagah sejati.
Apalagi setelah keluar dari makam ini engkau
tentu masih dapat
menebus hinaan yang engkau derita saat ini.
Kalau sekarang kutabas
kepalamu, selama-lamanya engkau tentu tak
dapat membalas dendam.
“Kelak apabila dapat keluar dari makam ini
tentu akan kujadikan
engkau budakku, baru aku puas.” kata
orangtua jengot panjang itu.
“Hm, kalau begitu berani sikarang engkai
dapat menyetujui, bukan?”
Orangtua jenggot panjang itu mengangguk “Ya,
anggaplah saja aku
sudati menerima syarat mu!
Tiba2 Kim Loji berseru memberi peringatan
“Nak, didunia persilatan
sukar untuk menanam kepercayaan pada orang.
Bagaimana begitu
engkau lepaskan dia terus ingkar janji?”
“Seorang lelaki berani berkata tentu aka
pegang janji. Kurasa setelah
setuju, lo cianpwe itu tentu takkan menyesai
dan ingkar,” kata Ting
Ling.
“Engkau percaya tetapi aku tidak….”gumam Kim
Loji.
Ting Ling tak mau berbantah. Ia menampar
jalandarah orangtua yang
tertutuk lalu mengurutnya, Melihat itu Kim
Loji benar2 gelisah. Cepat ia
menyambar golok yang berada pada Ting Ling
lalu ditujukan pada
orangtua jenggot panjang itu dalam sikap
setiap saat akan dibacokkan.
Ting Ling mengeluarkan sebutir pil dan
menghela napas, ujarnya., “Lo
cianpwe, walaupun aku percaya kepadamu
tetapi sukar untuk
mendapat kepercayaan dari pamanku ini, harap
maklumlah.”
Sambil memandang kearah golok Kim Loji,
orangtua jenggot panjang itu
berkata pelahan, “Engkau menghendaki
bagaimana agar engkau
percaya?”
“Asal engkau mau menelan pil ini, tentu
sudah cukup mendapat
kepercayaan kami.”
Sambil masih memandang pada golok ditangan
Kim Loji, orangtua
jenggot panjang itu menggumam seorang diri,
“Aku seorang ksatrya
besar, mana harus mati secara tak wajar
begini….?”
“Ilmu kesaktian lo-cianpwe memang layak
sejajar dengan tokoh
persilatan kelas satu.
Kalau binasa secara begini tak diketahui,
mamang harus disayangkan
sekali,” kata Ting Ling.
Berpaling kepada nona itu, orangtua jenggot
panjang bertanya, “Obat
apakah pil itu?
Katakan dulu baru aku nanti mempertimbangkan
mau minum atau
tidak.”
Ting ling tertawa, “Pil ini disebut
Pekpoh-toan-jong-san seratus langkah
menghancurkan usus.
Terbuat dari ramuan lima macam racun.
Setelah minum, apabila
berjalan seratus langkah, racun tentu akan
bekerja dan usus dalam
tubuh akan putus semua….”
Ia mengacungkan pil lalu tertawa, “Benar,
memang aku membawa obat
penawarnya, Setelah minum obat racun engkau
harus cepat minum
obat penawarnya. Dalam waktu satu jam, racun
itu takkan bekerja “
Rupanya orangtua jenggot panjang itu amat
sayang pada jiwanya, ia
bertanya, “Hanya satu jam saja?”
”Akan kuberimu sebutir pil lagi….” cepat
Ting Ling menyusulketerangan.
“Dengan begitu aku harus terus menerus minum
obat penawar. Tetapi
bukankah pil penawar itu. bakal habis juga?”
“Jangan kuatir,”setelah makan dua belas biji
pil penawar, racun itu
akan lenyap semua,” kata Ting Ling, seraya
mengeluarkan botol kumala
menuangkan duabelas butir pil warna putih
Sedang sisanya
dihancurkan dan dibuang ketanah.
“Sekarang aku hanya tinggal mempunyai dua
belas butir pil saja. Asal
sebutir pil penawar ini kuhancurkan, jangan
harap enkau dapat hidup
“….|
Orangtua jenggot panjang itu kerutkan dahi!
“Apakah maksudmu melakukan tindakan semacam
itu kepada diriku?”
“Sederhana sekali, sahut Ting Ling, “asal
engkau mengandung maksud
hendak menghianati, tentu segera kuhancurkan
sebutir pil penawar itu.
Mungkin engkau akan membunuh aku tetapi
engkau sendiripun jangan
harap dapat hidup. Dengan begitu kita akan
sama2 mati.”
“Hm, cara yang bagus juga,” kata orangtua
jenggot panjang.
“Saat ini engkau sudah berada dalam keadaan
mati. Hanya itulah satusatunya
jalan hidup.
Kini meluluskan atau tidak, tergantung
padamu sendiri,”
Orangtua jenggot panjang menghela napas,
“Dengan jiwa
mempertaruhkan kepercayaanmu, bukankah aku
yang menderita
kerugian “
Ting Ling tertawa, “SIlahkan engkau mencari
daya untuk membatasi
jiwanya supaya dapat hidup duabelas jam
saja.
Nanti pada aku menyerahkan pil penawar yang
terakhir, engkau harus
membebaskan ancaman mau yang engkau lakukan
pada diriku.”
Mengerling kearah Kim Loji, orangtua jenggot
panjang itu bertanya,
“Apakah dia juga masuk hitungan?”
Ting Ling kerutkan alis, “Ini, ini….”
“Ho, tak sangka kalau engkau juga
menginginkan jiwaku sioraog she
Kim ,” seru Kim Loji.
“Benar, kalau satu tukar satu, memang aku
merasa rugi sekali,” sahut
orangtua jenggot panjang.
“Baiklah, sekarang coba engkau katakan
bagaimana caramu hendak
membatasi jiwa kami berdua hanya dapat hidup
duabelas jam itu!” seru
Kim Loji.
“Akan kututuk tubuh kalian dengan ilmu
tutukan perguruanku yang
istimewa,” kata orangtua jenggot panjang,”
dalam duabelas jam apabila tak kutolong,
pekakas dalam tubuhmu
tentu akan hancur berantakan.
Kim Loji memandang Ting Ling, serunya, “Nak,
jangan menerimanya.”
“Menurut hematku, tak ada harapan lagi kita
dapat keluar dari makam
ini.
Maka kalau kita menerima berarti mungkin
kita dapat memberi bantuan
kepadanya.”
“Apakah yang engkau maksudkan kepadanya itu
anak Han Ping?” Kim
Loji menegas.
“Benar, benar,” sahut Ting Ling, “siapa lagi
kalau bukan dia?”
“Oh, bagus,” Kim Loji tertawa, “asal dapat
memberi bantuan kepada
auak, itu matipun kita rela!”
Ting Ling lalu menjemput pil beracun dengan
kedua jari tangannya, “Lo
cianpwe, perjanjian sudah kita setujui,
sekarang silahkau engkau
minum pil ini!”
Ternyata orangtua jenggot panjang itu tak
banyak omong lagi terus
membuka mulut menerima pil yang disusupkan
jari si nona.
Setelah itu Ting Ling lalu menutuk buka
jalandarah orang tua jenggot
panjang yang tertutuk tadi.
Tiba2 orangtua jenggot panjang itu melonjak
bangun terus mencekal
siku lengan kanan Ting Ling.
Tetapi Ting Ling cepat gerakkan tangan kiri
menyerahkan sebutir pil
kepada Kim Loji, “Paman, peganglah baik2.
Kalau dia membunuh aku, cepat hancurkan pil
itu.”
Kim Loji terpisah jauh dari tempat orangtua
jenggot panjang itu. Tak
mungkin diraihnya.
Maka orangtua jenggot panjang itupun tak
dapat berbuat apa2 kecuali
banting2 kakinya ketanah.
Secepat pula Ting Lingpun mengangkat tangan
kirinya lagi dan berseru,
“Sudah, jangan coba mempunyai pikiran untuk
menghianati janji, lekas
engkau telah pil penawar ini. Apabila
terlambat, racun dalam tubuhmu
tentu akan bekerja “
Orangtua jenggot panjang itu terpaksa
menyambuti lalu berseru dingin,
“Lekas engkau putar tubuh aku segera akan
menutuk kelima
uratnadimu.”
Sambil berputar tubuh. Ting Ling tertawa,
“Aku masih menyimpan
sepuluh butir pil dan pamanku itu sebutir.
Apabila engkau tak dapat membunuh kami
dengan serempak, jangan
harap engkaupun jangan harap hidup, “
“Hm, jangankan kalian berdua sekalipun
sepuluh orangpun tetap tak
sembabat ditukar dengan jiwaku,”
dengus orangtua jengot panjang itu, seraya
mulai menutuk jalandarah
tubuh nona itu. Setiap kali menerima
tutukan, Ting Ling tentu merasa
tubuhnya gemetar. Dan setelah ditutuk
beberapa tempat, ia rasakan
dirinya sakit sekali hampir tak kuat ia
menderitanya.
Setelah selesai, orangtua jenggot panjang
itu lalu menghampiri Kim Loji.
‘Hai, setelah tubuhku merjadi mati separo
begini, bagaimana aku masih
dapat bergerak?” tanya Ting l ing.
“Sebentar lagi, rasa sakit itu tentu akan
hilang dan dalam duabelas jam
kemudian, engkaupun sudah dapat bergerak
dengan leluasa lagi,” sahut
orangtua jengot panjang.
Kim Loji segera berputar diri, siap
roenerima tutukan siorangtua jenggot
panjang. Tetapi rupanya orangtua itu masih
meragu.
Tiba2 ia melangkah dua tindak dan menyambar
tangan orangtua alis
panjang.
“Lepaskan!” cepat Ting Ling berteriak,
“dalan perjanjian dia tak
termasuk. Apabila engkau berani
mengganggunya, pil penawar tentu
akan ku hancurkan semua, agar engkau jangan
hidup!”
Walaupun sudah tua tetapi rupanya orangtu
jenggot panjang itu masih
amat sayang kepada jiwanya.
Mendengar peringatan Ting Ling, iapun
hentikan gerakannya.
Orangtua alis panjang saat itu tengah
mengobati kera bulu emas yang
terluka.
Sama sekali ia tak menyadari akan ancaman
orangtua jenggot panjang
tadi.
Sambil menyalurkan tenaga dalam, Ting Ling
pun menelan lagi dua
butir pil racun.
Dan ternyata semangatnyapun bertambah baik
sekali. Katanya sesaat
kemudian, “Kalau terus menerus berada disini
kurang baik. Lebih baik
kita lanjutkan perjalanan lagi.”
Nona itu meminta orangtua jenggot panjang
untuk menunjukkan jalan.
walaupuu nona itu paling muda usianya tetapi
dia memang cerdas
sekali. Selama dalam pembicaaan makin
menonjollah sifat2
kepemimpinannya.
Demikian mereka segera berjalan lagi. Kurang
lebih sepuluh tombak,
mereka belum bertemu dengan simpang jalan.
Sedang orangtua jenggot panjang itu makin
lama makin pesat jalannya.
“Berhenti!” tiba2 Ting Ling membentak.”
jangan lanjutkan perjalanan
lagi.”
Orangtua jenggot panjang berpaling, tertawa
dingin, “Mengapa?”
“Terowongan ini merupakan jalan saluran air,
melintasi terowongan ini
tentu kita akan berada diluar makam.”
Orangtua jenggot panjang itu tertawa keras.
“Hm, karena mendongkol menerima perintahmu,
maka aku berjalan asal
berjalan saja, tak peduli melintasi jalanan
air atau kering!” sahutnya.
Ting Lingpun balas mendengus, “Hm, apapun
yang akan terjadi, tetapi
aku sudah berbulat tekad untuk mati
disini….”
“O, rupanya engkau mempunyai kesadaran yang
tinggi,” seru orangtua
jenggot panjang itu.
“Dalam duabelas jam, sebaiknya janganlah
engkau mempunyai hati
yang jahat.
Setelah dua belas jam dan makan obat
penawar, barulah boleh engkau
mengandung pikiran jahat lagi.”
Ting Ling memberi peringatan.
Orangtua jenggot panjang membuka mulut
tetapi tak jadi bicara.
Ting Ling suruh dia mengetuk dinding karang
untuk mencari tahu
apakah disebelah dinding itu terdapat
ruangannya.
Dan orangtua jenggot panjang itupun menurut
Tung…. terdengar bunyi
mendengung, ketika tangannya memukul
dinding.
“Ditilik dari kumandang suaranya, disebelah
dinding ini tentu terdapat
terowongan atau ruang kosong.
Usahakanlah supaya dapat membobol dinding
itu!” kata Ting Ling pula.
Orangtua jenggot panjang kali ini marah,
“Dinding karang begini keras,
bagaimana dapat kubobolkan dengan pukulan
tangan kosong?”
“Hm, itu urusanmu,”Ting Ling mendengus pula.
Aku hanya hidup sampai duabelas jam saja.
Lebih lekas mati dari
duabelas jam, bukan apa2 bagiku.”
Tiba2 orangtua jenggot panjang itu mundur
dua langkah dan
mengeluarKan sebuah palu besi.
Serunya dengan nada dingin, “Hm, untung
engkau bertemu dengan
seorang tua yang teliti seperti aku.
Kalau tidak, jangan harap engkau mampu
mendapatkan lubang pada
dinding karang ini.”
Sebenarnya Ting Ling tak tahu kalau orangtua
jenggot panjang itu
membekal senjata.
Tetapi karena melihat orangtua itu memiliki
tenaga pukulan yang hebat,
maka ia menekannya supaya mengeluarkan
senjatanya.
Tertawalah nona itu kegirangan, “Bagus, lo
cianpwe benar2 orang yang
cerdas sekali!
Sebelumnya sudah mempersiapkan alat2 yang
penting!”
Bum…. orangtua jenggot panjang itupun mulai
menghantam. Segumpal
karangpun berhamburan ketanah.
“Ya, sebagai ganti untuk menumpahkan
kemengkalan hatiku karena
engkau berani memberi perintah kepadaku,”
gumam orangtua jenggot panjang.
Sepandai-pandai tupai metompat, sesekali
akan terpeleset juga. Soal itu
memang lumrah terjadi, harap jangan
dipikirkan,” kata Ting Ling,
menghiburnya.
Rupanya gembira juga orangtua itu mendengar
kata2 Ting Ling, Tak
henti2nya ia menghantam menghantam dinding
terowongan itu.
Tak berapa lama, terbukalah sebuah lubang
seluas setengah meter.
Secercah sinar terang, berhamburan memancar
dari ruang sebelah.
Ting Ling cepat menghampiri dan melongok.
“Ih, bangunan makam ini
memang istimewa sekali,” tiba2 ia hentikan
kata2nya, terus menyusup
kedalam lubang.
Melihat itu Kim Loji terus cepat2 menyusul
tetapi baru tiba di mulut
lubang, pingangnya sudah dicengkeram
orangtua jenggot panjang, “Hm,
kalau sayang jiwamu, lekas berikan obat
penawar itu kepadaku!”
serunya pelahan.
Kim Loji batuk2, sahutnya, “Asal aku
menjerit, nona itu tentu segera
meremas haucur persediaan pil penawar yang
ada padanya.
Engkau memang sakti tetapi tak mungkin
engkau dapat merampas
persediaan pil penawar itu dalam waktu
sekejab mata.”
Orangtua jenggot panjang mendengus dan
lepaskan cengkeramannya.
Kim lojipun menyisih kesamping dan
mempersilahkan orangtua itu
masuk dulu.
Dengan geram ia memandang Kim Loji,
hantamkan palunya sekali lagi
pada dinding, kemudian baru menyusup masuk.
Kiranya karena tubuhnya yang tinggi besar,
ia perlu harus
membesarkan lubang itu baru dapat masuk.
Kim loji dan orangtua alis panjang serta
kera bulu emaspun segera
menyusul mereka.
Ternyata ruang disebelah merupakan sebuah
kamar rahasia yang amat
luas. Cukup dibangun menjadi lima buah
kamar.
Empat keliling dindingnva, terdapat empat
buah mutiara sebesar buah
klengkeng yang memancarkan sinar kemilau.
Pada puncak ruangan, digantung sebuah lampu
lentera kaca. Lampu
kaca itu tetap menyala sehingga keempat
mutiara itupun memantulkan
sinarnya yang terang.
Ting Ling berdiri disebuah dinding, sedang
mengamat-amati sebuah
lukisan yang terdapat pada dinding itu.
Sedang otangtua jenggot panjang berdiri satu
meter dibelakangnya.
Kim Loji terkejut dan gelisah, “Uh. nona itu
memang kurang
pengalaman. Dalam keadaan yang diselubungi
bahaya maut, ia masih
menipunyai selera untuk melihat gambar.”
Lukisan pada dinding itu merupakan sebuah
taman makam yang penuh
dengan guratan2 malang melintang.
Lukisan itu mirip dengan peta dari makam
disitu.
Tiba2 nona itu mengguman seorang diri, “Aneh
sungguh aneh…. .”
Rupanya orangtua jenggot panjang tertarik.
Ia segera maju
menghampiri. Tetapi Kim Loji yang makin
ketakutan segera berteriak,
“Nona Ting!”
Ting Ling berpaling dan menghampiri Kim
Loji, katanya, “Ruang ini
terlalu mewah untuk disebuah makam .
“Kalau Ko tok lojin pendiri makam ini dapat
menyembunyikan mustika
Tenggoret Kumala dan Kupu2 Emas serta harta
karun kedalam makam
ini, sudah tentu dia mampu juga menghias
ruangan ini sedemikian
mewahnya.”
“Apakah minyak dalam lampu kaca itu juga
dapat bertahan sampai
ratusan tahun?” kata Ting Ling seraya
memandang kearah lampu itu.
Kim Loji terbeliak tak dapat menjawab.
“Tetapi lentera kaca dan semva hiasan mewah
dalam ruang ini masih
belum lavak dikata aneh. Yang aneh yalah
keadaau ruang ini, Mengapa
begini bersih sekali sep^rtiiiya tiap kali
ada orang yang
membersihkannya?”
Kembali Kim Loji terbelalak. Ia segera
mengeluarkan pandang kesegenap
ujung ruang itu.
Ah, memang benar. Dari meja yang terbuat
dari batu pualam, piring dan
cawan emas sampai pada alat2 makain yang
terbuat daripada perak,
memang tampak amat bersih semua.
“Ah,” tiba2 Ting Ling menghela napas,”
mungkin makam tua ini hanya
suatu tempat persembunyian untuk mengangkuti
harta karun dan
pusaka yaag tak ternilai harganya?”
Kim Loji dan orangtua jenggot panjang
terkesiap mendengar ucapan
nona itu. Serempak mereka berseru,
“Mengapa?”
Sambil memberesi rambutnya yang kusut, nona
itu lalu pelahan-lahan
duduk disamping sebuah dingklik dan
memandang kepada kedua orang
itu, katanya tertawa, “Rasanya kalian berdua
ini bukan muda lagi….”
“Tahun ini umurku sudah delapan puluh dua,”
kata orangtua jenggot
panjang.
“Aku limapuluhan tahun,” kata Kim Loji.
“Sudahlah, percuma saja kalian mempunyai
umur begitu banyak.” Ting
Ling tertawa rawan, “andai aku dilahirkan
lebih pagi tigapuluh tahun,
tak mungkin kubiarkan rahasia makam itu
tersiar kedunia persilatan.
“Hm, hampir setengah hari mengomong, aku tak
mengerti maksudmu,”
dengus orangtua jenggot panjang.
Ting Ling tertawa mengikik, “Kalau begitu
mendengar engkau terus
mengerti, tentu tak mungkin engkau dapat
kurubuhkan dengan obat
bius.”
“Engkau menertawakan apa?” orangtua jenggot
panjang marah,” karena
telah menggunakan banyak tenaga untuk
bertempur sehingga mata dan
telingaku kabur maka baru aku dapat engkau
rubuhkan.
Merubuhkan orang yang sudah menderita,
mengapa engkau masih
menepuk dada berbangga diri?”
“Aku menertawakan kalian beberapa orangtua
yang tak berguna. Pikiran
limbung, hati kosong sehingga mudah termakan
desas desus beracun
didunia persilatan….”
“Setan, engkau berani mengatakan aku
goblok,” teriak orangtua jenggot
panjang dengan marah.
“Tetapi Ting Ling tetap tertawa hambar,
“Kalau aku dapat menerangkan
kegoblokanmu, maukah engkau menampar mukamu
sendiri
dihadapanku?”
“Kalau memang engkau dapat menunjukkan
bukti2 yang tak dapat
kubantah, mengapa aku tak mau melakukan hal
itu?”
“Engkau sudah berumur delapanpuluh dua tahun
tetapi pernahkah
engkau bertemu dangan Ko Tok lojin pendiri
makam ini?”
tanya Ting Ling.
“Setiap orang persilatan tentu tahu hal itu,
perlu apa aku harus
melihatnya sendiri!”’
‘Tenggoret Kumala dan Kupu2 Emas, sepasang
mustika dalam dunia
persilatan yang jarang terdapat didunia.
Tetapi siapakah yang pernah melihat kedua
benda itu? Rasanya
mereka2 itu hanya mendengar cerita dari
mulut ke mulut saja.”
Orangtua jenggot panjang tercengang,
ujarnya, “Walaupun tak pernah
melihat sendiri, tetapi aku pernah mendengar
sendiri tentang kedua
mustika itu.”
“Ho, itulah,” seru Ting Ling, “seorang yang
cerdik luar biasa, telah
menggubah dongeng tentang kedua benda
mustika Tenggoret Kumala
dan Kupu2 Emas itu lalu diceritakan kepada
orang. Dan dalam waktu
yang singkat dunia persilatan telah dilanda
cerita itu, Dengan
menggunakan pengaruh cerita tentang kedua
mustika itu, dia lalu
menbangun makam ini.”
Orangtua jenggot panjang tertegun. Tiba2 ia
mengayunkan tangan
kanan dan plak, menampar mukanya sendiri.
“Tak peduli apakah uraianmu itu benar atau
tidak, tetapi apa yang
engkau katakan itu memang baru pertama kali
ini aku mendengar,”
serunya.
Ting Ling tertawa hambar, “Akupun mendengar
juga tentang cerita
Tenggoret Kumala dan Kupu2 Emas itu Dua buah
mustika yang hebat
sekali daya gunanya. Katanya, Tenggoret
Kumala itu luar biasa
racunnya, tiada yang dapat menandingi.
Sedangkan Kupu2 Emas itu
merupakan benda mustika yang mampu
menghidupkan orang mati.
Dirangkainya cerita itu sedemikian rupa
sehingga memberi kesan bahwa
dengan mendapatkan Tenggoret Kumala, orang
tentu dapat menguasai
dunia persilatan Apabila mendapatkan Kupu2
Emas tentu dapat
menundukkan Tenggoret Kumala Apabila dipikir
dengan teliti, cerita itu
sebenarnya lemah dan terlalu
berlebih-lebihan.
Coba siapa yang dapat menjawab pertanyaanku
ini. Dikatakan mustika
Tenggoret Kumala itu luar biasa racunnya,
tetapi siapakah diantara
orang persilatan yang pernah mendengar
seorang jago persilatan yang
terbunuh dengan Tenggoret Kumala itu. Lalu
dikatakan pula bahwa
Kupu2 Emas mustika mujijad untuk menawarkan
racun.
Tetapi siapakah yang pernah ditolong jiwanya?”
“Hal itu aku hanya mendengar dari cerita
orang saja,” kata orangtua
jenggot panjang.
“Mengatakan bagaimana?” tanya Ting Ling.
“Bahwa dia pernah melihat sendiri kehebatan
racun dari Tegggoret
Kumala itu, Begitu dimasukkan dalam air,
airpun berobah biru
warnanya. Diletakkan di tanah, rumput tentu
segera kering dan segala
serangga kecil seperti semut dan lain2 tentu
mati seketika.”