makam asmara 01

Jilid 1

Luka hati luka tubuh.

Pada jalan dilereng gunung yang menurun landai, penuh ditumbuhi gerombolan pohon

Siong yang pendek.

Seorang pemuda dengan napas terengah-engah tengah merangkak naik. Rupanya dia

sedang menderita luka parah.

Tangan kirinya mencekal batang pohon siong pendek untuk mengayunkan tubuhnya.

Akhirnya dengan cara menarik batang demi batang, walaupun tampaknya susah payah,

namun akhirnya kerhasil juga pemuda itu mencapai puncak bukit. Dia menghela napas

panjang Lalu duduk melepaskan lelah.

Tangan kanannya memegang sebatang pedang pusaka. Diletakkannya pedang pusaka itu

ketanah.

Rupanya ia sudah kehabisan tenaga. Setelah meletakkan pedang,iapun rubuh dibawah

sebatang pohon siong kecil.

Tiba2 dari kaki puncak bukit muncul seorang dara. Ia berteriak memanggil nama pemuda

itu seraya mendaki keatas.

Ketika melihat keadaan pemuda yang rebah menggeletak dibawah pohon siong, air mata

dara itu berderai derai laksana hujan mencurah.

Sekonyong-konyong pula dikaki bukit terdengar suara orang tua tengah memanggilmanggil

nama dara itu.

Dara itu mendengarnya tetapi ia keraskan hati tak mau menyahut.Dara itu ayunkan

langkah menghampiri tempat sipemuda menggeletak, serunya penuh kecemasan,

“Tenagamu sudah habis, jangan keras kepala, ijinkanlah aku memapahmu!”

Tetapi pemuda itu diam saja. Matanya tetap memejam. Dara itu makin cemas. Ia ulurkan

tangan meraba hidung sipemuda.

Ah napas pemuda itu berhembus lemah dan terputus-putus. Tangannyapun membeku

kaku. Ternyata pemuda itu pingsan.

Dara itu mengeluarkan sehelai saputangan sutera untuk mengusap airmatanya.

Serangkum bau harum bertebaran menusuk hidung.

Rupanya bau harum itu telah menyadarkan pikirannya “Ah, mengapa aku lupa?” serunya

seorang diri, “Bukankah saputangan pemberian dari dara puteri ketua partai Lam-hay-bun

itu terdapat tulisan resep obat yang manjur?”

Buru2 ia merentang saputangan itu. Ah…. Ia mengeluh. Ternyata tulisan pada

saputangan itu sudah terhapus terkena airmatanya.

Sejenak meneliti bekas2 tulisan itu, si dara pun lalu menyimpan saputangannya pula.

Kemudian ia memeluk pemuda itu, memandang wajahnya lalu berkata seorang diri,

“Matilah! Ya, kematian akan mengurangi penderitaan….”

Tiba2 ia rasakan pemuda itu tubuhnya bergeraK, matanya terbuka sebentar lalu menutup

pula.

Dara itu lekatkan telinganya kedada sipemuda. Didengarnya jantung pemuda itu masih

berdetak-detak.

Segera ia mengangkat tubuh pemuda itu, menjemput pedangnya lari meinbawanya lari.

Dalam beberapa saat ia sudah melintasi dua buah puncak bukit dan tiba disebuah tempat

yang tenang tiada berangin. Tempat itu merupakan sebuah cekung gunung, luasnya tiga

empat tombak, penuh ditumbuhi rumput. Ia meletakkan tubuh pemuda itu ditanah,

mengusap peluh didahinya lalu duduk disamping pemuda itu, memandang surya yang

tengah menyingsing disebelah timur dengan terlongong-longong.

Menilik gerak geriknya, jelas dia seorang dara yang manja sehingga canggung

menghadapi keadaan seperti saat itu.

Beberapa saat kemudian tiba2 ia bangkit, mengambil pedang yang terselip

dipunggungnya lalu dilemparkan keatas rumput dan menggeram, “Hm, jika sejak kecil

aku tak selalu main2 engkau dan menggunakan waktuku untuk membaca buku obatobatan

sekarang tentu aku sudah dapat menolongnya.”

Tiba2 pula ia teringat bahwa seorang dara baju ungu telah memberinya pil putih penawar

racun Mengapa ia mau mencobakan pil itu kepada pemuda yang ditolongnya ini.

Mendapat pikiran itu ia segera mengambil pil. Pil itu hanya tinggal dua butir.

Sesungguhnya untuk mengobati dirinya yang sedang sakit, Namun ia memberikan juga

kepada pemuda itu. Dengan minum pil itu dapatlah pemuda itu hidup lagi sampai sebulan

lamanya. Ia menjemput sebutir lalu disusupkan kemulut sipemuda. Ternyata pil itu

benar2 berkhasiat sakti.

Beberapa saat kemudian, tiba2 pemuda itu sadar dan berbangkit duduk.Ternyata pemuda

itu terluka pada lambungnya. Kemungkinan dia tentu habis melakukan pertempuran

dengan musuh. Setelah duduk ia memandang pada lukanya lalu pelahan lahan beralih

pandang kewajah dara yang menolongnya, kemudian bertanya hambar, “Dimanakah kita

sekarang ini?”

Sikap pemuda yang keras kepala dan pantang menyerah itu telah membangkitkan rasa

kagum pada si dara.

Kegelisahan dara itupun mulai menurun. Setelah menata rambutnya yang’ kusut, dara itu

tertawa: Entahlah, aku juga tak tahu.

Tempat ini sebuah cekung gunung yang sunyi tetapi entah apa namanya.”Pemuda itu

memandang ke sekeliling lalu berkata, “Aku ingin mati dipuncak gunung, siapa yang

membawa aku kemari?”

“Engkau pingsan dipuncak itu lalu kubawa kemari.

Disana banyak angin….” sahut si dara lalu menghela napas, “aku mengikuti

dibelakangmu dan tahu engkau menderita luka parah sedang mendaki kepuncak gunung.

Hendak kubantu…. tetapi aku kuatir engkau marah.”

Tiba2 pemuda itu mencurahkan pandang mata kearah pedangnya yang berada disitu si

dara, serunya, “Berikan pedangku itu.”

Dara itupun memberikannya.Setelah menyambuti pemuda itu memandang pedang itu

dengan mata berkilat kilat.

“Ah, benar2 sebuah pedang pusaka yang hebat,” seru si dara.Pemuda itupun meletakkan

pedang lalu berkata, “Kaum persilatan mengatakan bahwa pedang ini sebuah pedang

yang membawa malapetaka. Rupanya memang benar.”

Tiba2 dara itu tersenyum, “Dara baju ungu itu telah memberikan sehelai saputangan

kepadaku. Pada saputangan itu ia menulis resep obat. la mengatakan racun dalam

tubuhmu masih belum bersih dan suruh engkau makan obat menurut resepnya ini agar

racun bisa keluar….”

Pemuda itu menghela napas. Ia memandang pedang pusaka itu lagi, serunya, “Atas

bantuanmu tiada benda berharga yang dapat kupersembahkan kepadamu. Pedang ini

pusaka dari kaum Siau-Hm si.

Karena kuatir mungkin aku tak dapat membawanya daripada hilang di gunung tak

berketentuan rimbanya, baiklah ku berikan kepada nona.”

Dara itu menghela napas kecil, “Dara baju ungu itu mengatakan jika engkau tak makan

obat menurut resep pada saputangan itu. Engkau tak dapat hidup lebih panjang dari sehari

semalam.”Pemuda itu tertawa, “Apakah luka pada lambungku ini, dara itu yang

menikamnya?” Demikian keduanya saling bertukar jawab, tetapi pertanyaan dengan

jawaban selalu berlain arahnya.

“Dipegunungan yang sepi ini tentu sukar membeli resep. Baik kita lekas lanjutkan

perjalanan menuju ke kota….” kata si dara.Tetapi pemuda itu gelengkan kepala, “Terima

kasih atas perhatian nona. Maaf aku hendak pergi!”

Pelahan-lahan ia bangkit dan dengan langkah terhuyung-huyang ia berjalan kemuka.

Sudah tentu dara itu terkejut sekali.

Ia longcat menghadang, “Hai, hendak kemana engkau?”

“Jangan mengurusi aku!” sahut pemuda lalu berlari sekuat sisa tenaganya, Dalam

beberapa kejab saja, ia sudah melintasi dua buah tikungan dan lenyap dari pandang mata.

Dara itu memandang tingkah laku sipemuda dengan terlongoug-longong Setelah

sipemuda tak kelihatan, timbullah rasa hambar dalam hati dara itu. Ia merasa terhina.

“Dengan marah ia gentakkan kakinya ketanah, “Huh. manusia yang tak tahu budi,

matilah engkau!”

Ia menjemput pedang pusaka lalu mengejar pemuda itu Siapakah gerangan sepasang

muda mudi yang aneh gerak geriknya itu? Ah, ternyata pemuda keras kepala itu bukan

lain yalah ji Han Ping, pahlawan kita dalam kisah Persekutuan Tusuk Kundai Kumala.

Note: cersil Persekutuan Tusuk Kundai Kumala tamat pada jilid ke 29. Silahkan baca.

Setelah melakukan pertempuran dengan orang Lam-hay-bun, dengan menderita luka Han

Ping tinggalkan gelanggang pertempuran.

Dara Siang-kwan Wan-ceng, puteri dari Siangkwan Ko, ketua marga Siangkwan

mengikuti jejak pemuda itu.

Dan terjadilah adegan seperti yang tertera diatas. Han Ping memang keras kepala. Ia tak

mau menerima pertolongan orang.

Maka walaupun masih menderita luka parah, ia tak mau menurut anjuran Siangkwan

Wan-ceng yang mengajaknya ke kota membelikan resep dari dara baju ungu, puteri ketua

perguruan Lam-hay-bun. Ia memilih mati daripada menerima pertolongan orang Lamhay-

bun. Maka larilah ia meninggalkan Siangkwan Wan-ceng yang terlongong longong

Namun setelah lari tiga li jauhnya, ia kehabisan tenaga. Sepasang kakinya melentuk

lunglai dan rubuh. Tetapi pikirannya masih sadar.

Dengan mengerahkan sisa tenaganya ia berusaha untuk merangkak. Beberapa langkah

lagi ia kembali rubuh.

Han Ping menangis dalam hati karena harus mati dalam keadaan begitu. Namun

kekerasan hatinya tetap berontak.

Ia tak ingin menerima pertolongan Siangkwan Wan-ceng. Ia ingin mati dalani keadaan

sunyi.

Tiba2 ia mendengar derap langkah kaki orang berjalan dari kejauhan. Ah, ia mengeluh. Ia

ingin mati tak diketahui orang. Mengapa lagi2 ada orang yang datang ke tempatnya situ.

Langkah kaki orang itu makin lama makin dekat.

Seorang kakek tua tengah dipanggul oleh seorang anak lelaki. Karena jalanan gunung

menanjak, anak itu terengah-engah napasnya seperti kehabisan tenaga. Namun anak itu

juga seorang anak yang keras hati. Ia tetap ayunkan langkah memanggul orangtua yang

tampaknya menderita sakit parah.Tetapi betapapun dikuat-kuatkan, akhirnya anak itu

terpaksa harus berhenti karena kehabisan tenaga. Setelah meletakkan orangtua yang

dipanggulnya, ia berteriak, “Engkong, aku tak kuat berjalan lagi!”

Kakek itu menghela napas berat, ujarnya: Ah, nak, aku banyak membuat engkau letih.

Aku sudah begini tua, seharusnya mati saja.

Tetapi sebelum kusaksikan engkau menikah dan tinggal ditempat kediaman yang telah

kubangun untuk kalian, aku tak dapat mati dengan meram. Aku masih harus hidup berapa

tahun lagi sampai nanti sudah melihat engkau mengambil seorang isteri….”

Percakapan antara engkong atau kakek dengan cucunya itu terdengar juga oleh Han Ping.

Diam2 ia tergerak hati, pikirnya, “Ah, betapa sederhana keinginan hati orangtua itu. Dia

hanya ingin melihat cucunya menikah baru rela mati. Tetapi aku, ah…. aku masih

mempunyai dendam darah dan hutang budi pada Hui Gong taysu. Akupun sudah berjanji

kepada Hui Gong taysu untuk melaksanakan pesannya. Tetapi kesemuanya itu belum

berhasil.

Adakah begitu saja aku harus mati saat ini?”

Benak Han Ping mulai berkabut, pertanyaan dia menimang-nimang, adakah layak kalau

saat itu ia mati…. Manusia hidup siapakah yang terhindar dari kematian. Namun setelah

mati harus meninggalkan nama dan amal yang baik….” diam2 Han Ping menghafalkan

sebuah sajak kuno.

Lalu bertanya kepada dirinya sendiri, “Kalau aku mati, apakah yang kutinggalkan?”

Diam2 ia bimbang.

Keputusannya untuk mati itu termasuk sikap seorang ksatrya yang tak takut mati atau

seorang ksatria yang takut menghadapi kenyataan hidup? Soal mati dan hidup mulai lalu

lalang di benak Han Ping. Setiap angin pegunungan berhembus.

Ketika mengangkat muka memandang kedepan, ah, ternyata si dara Siangkwan Wan

Ceng sudah berada disisi orangtua itu.

Entah ia tak tahu, bilakah nona itu muncul kesitu.Tangan kanan nona itu mencekal

pedang pusaka Pemutus Asmara dan punggungnya menyandang kerangka pedang itu.

Rambutnya terurai kusut, semangatnya kuyu.

Sejenak memandang kearah orangtua yang menderita sakit, Siangkwan Wan-ceng

berpaling kepada anak ielaki kecil, “Adik kecil, siapakah kakek ini?”

“Dia adalah engkongku,” sahut anak itu. “Apakah ia menderita luka berat?”

Tiba2 anak itu mengucurkan airmata, sahutnya, “Engkongku itu telah menderita sakit

selama tiga bulan. Digunung sana terdapat seorang tabib yang dapat mengobati orang

sakit. Tetapi ketika kubawa engkong kesana, ternyata tabib itu sedang sedang keluar,

baru beberapa hari pulang.”

“Apakah engkau pernah bertemu dengan seorang pemuda yang menderita luka berada

disana?” tanya Siangkwan Wan-ceng girang.

Bocah itu gelengkan kepala, “Tidak, aku pergi ketempat tabib itu dengan mengambil

jalan pendek. Jalan itu sedikit sekali orangnya.”

Tiba2 Siang kwan Wan-ceng merogoh keluar sekeping mas, ujarnya, “Keping emas ini

kuberikan kepadamu untuk ongkos pengobatan engkongmu. Lekas beritahukan

kepadaku, dimanakah tempat tinggal tabib itu?”

Seumur hidup bocah itu belum pernah melihat emas sekian banyak.

Dengan gemetar ia ulurkan tangan menyambuti, “Tabib itu tinggal disebelah utara dari

puncak gunung.”

“Apakah nama tempat itu?”

“Memang ada namanya tetapi ah, aku sudah lupa,” sahut sibocah lelaki, “tetapi tempat itu

mudah dicari. Dibawah puncak gunung itu terdapat sebuah rumah batu yang tunggal, tak

ada tetangganya.”

Tiba2 anak lelaki itu angsurkan tangannya, “Keping emas ini tentu berharga sekali, lebih

baik engkau ambil kembali saja.”

“Simpanlah!” seru Siangkwan Wan-ceng, “aku hendak mencari orang yang menderita

luka itu,” ia terus melesat lari.

Anak Ielaki itu makin heran, serunya, “Hai,apakah nona hendak mencari orang sakit?”

Gerakan Siangkwan Wan-ceng memang gesit sekali. Sekali loncat tadi ia sudah berada

tiga tombak jauhnya.

Mendengar bocah itu berteriak, ia berputar tubuh dan pandang matanya tepat tertumbuk

pada sesosok tubuh orang yang terlentang digerumbul rumput.Astaga! Itulah Han Ping

yang duduk bersandar pada gerumbul rumput dan sepasang matanya terbuka lebar2.

Siangkwan Wan-ceng tertegun. Ia hendak menegur tetapi tak jadi. Sebenarnya ia hendak

bertanya kepada Han Ping adakah pemuda itu tak keberatan kalau ia tolong. Tetapi saat

itu juga ia teringat betapa keras kepala pemuda itu.

Apabila mendapat jawaban yang ketus, tentulah akan menyinggung perasaannya. Itulah

sebabnya maka ia tak jadi membuka mulut.

Diluar dugaan ternyata sikap Han Pin; sejak mendengar pembicaraan antara kedua kakek

dan cucunya tadi, sudah berobah.

Tidak sedingin tadi. Ia memikirkan bahwa masih banyak pekerjaan dan janji yang belum

terpenuhi. In harus memelihara jiwanya.

Jika ia mati, siapakah yang mampu melaksanakan tugas membalas sakit hati orangtuanya

dan melaksanakan pesan Hui Cong taysu?

Pendirian Han Ping saat itu, ia harus memelihara jiwanya, ia harus hidup. “Bukankah

engkau hendak mencari aku…. ” serunya menegur Siangkwan Wan-ceng.Siangkwan

Wan-ceng menganguk lalu berjongkok, tertawa, “Hm, aku mencarimu perlu mengobati

lukamu.”

Nona itu berusaha membuat nada ucapan dan sikapnya seramah mungkin. Entah tenaga

gaib apa yang menyebabkan seorang gadis manja dan angkuh seperti dia, mulai mau

bersikap lemah lembut.Han Ping menghela napas: Terima kasih, nona.

Mungkin aku tak dapat sembuh. Lukaku amat parah.” Sambil ulurkan tangan, Siangkwan

Wan-ceng tertawa riang, “Ada seorang tabib yang tinggal disebelah gunung itu. Maukah

engkau kuantar kesana?”

Han Ping menundukkan kepala, tak menjawab. Wajahnya yang pucat lesi tiba2

memancarkan warna merah.

“Engkau mau?” tanya si dara pula.

Han Ping hanya tertawa menyeringai. Melihat pemuda itu tersipu-sipu malu, tiba2

Siangkwan Wan-ceng merasa kalau dirinya lebih besar. Berkatalah ia dengan sungguh2,

“Lekas engkau rebah dipunggungku, akan kubawamu kepada tabib itu “

Han Ping menghela napas, “Engkau amat baik sekali kepadaku, entah dengan cara

bagaimana kelak aku dapat membalas budimu.”

Siangkwan Wan-ceng bersikap seperti seorang yang lebih besar umurnya, “AKU sendiri

suka melakukan hal itu, siapa suruh engkau membalas budi?”

Ia terus memanggul Han Ping lalu lari. Setelah melintasi puncak gunung, ia melihat

sebuah rumah batu berdiri diatas sebuah lapangan rumput. Rumah itu hanya tunggal, tak

ada tetangganya. Rumah itu dikelilingi dengan pagar bambu bercat hitam.Cepat sekali

Siangkwan Wan-ceng sudah tiba dimuka pintu pagar yang tertutup rapat. Keadaannya

sunyi senyap.

Setelah menunggu beberapa saat tak tampak barang seorang yang muncul. Siangkwan

Wan-ceng berteriak, “Apakah sinshe ada dirumah?”

Dari dalam rumah batu itu terdengar suara seorang tua yang parau menyahut, “Siapa itu?”

“Aku, hendak memeriksakan sakit!”

“Silahkan masuk sendiri!”

Siangkwan Wan-ceng mendorong pintu pagar, lalu menuju kerumah batu.

Sebuah papan hitam tergantung diatas pintu rumah. Papan itu ditulisi dua buah huruf

yang bercat putih “Tempat kematian”.

“Uh. mengapa diberi nama yang tak enak didengar begini,” diam2 Siangkwan Wan-ceng

memaki dalam hati.

Ia meragu sejenak akhirnya tetap menghampiri juga. Kedua daun pintu yang terbuat dari

kayu pohon siong, tertutup rapat. Rumah itu hanya mempunyai sebuah jendela yang

dibungkus dengan sehelai kain hitam. Diam2 nona itu menimang dalam hati, “Eh,

mengapa tempat ini sama sekali tak menyerupai tempat orang mengobati? Tampaknya

menyerupai sebuah makam yang menyeramkan. Rumah tungal disebuah lapangan

rumput, pintu bercat putih, berpagar bambu dan jendelanya terbungkus kain hitam …. “

Kembali suara parau dari orangtua dalam rumah itu terdenpar berseru pula, “Kedua daun

pintu rumah tak dikancing, silahkan masuk sendiri Siangkwan Wan-ceng mengangkat

kaki kiri, mendupak pintu. Dan pintu itupun terbuka lebar.

Memandang kemuka. Siangkwan Wan ceng melihat seorang tua berambut;dan berjenggot

putih tengah duduk bersila diatas tanah.

Sepasang alisnya yang putih, menjulai panjang sekali hingga menutupi mata. Oleh karena

itu Siangkwan Wan-ceng tak mengetahui apakah orangtua itu tengah membuka mata atau

tengah meram.

Sejak menerima pelajaran dari Hui Gong taysu, Han Ping selalu mengindahkan kepada

orang tua.

Ia mencegah Siangkwan Wan-ceng jangan sampai mengeluarkan kata2 yang

menyinggung perasaan orangtua itu, bisiknya, “Orangtua itu aneh sekali, tentu bukan

orang sembarangan. Kita harus menahan kesabaran.”Siangkwan Wan-ceng hanya

tersenyum. Setelah ia menyahut kata2 orangtua itu, “Paman, apakah engkau tinggal

seorang diri saja?”

“Setan tua seperti aku ini sudah tentu tak ada anak perempuan yang mau merawati,”

sahut orangtua itu.

Siangkwan Wan-ceng tak senang mendengar ucapan itu. Ia kerutkan alis dan hendak

mendamprat tetapi tiba2 punggungnya digamit orang. Nona itu cukup cerdas Segera ia

tahu yang menggamit itu tentulah Han Ping karena pemuda itu hendak memberi isyarat

supaya dia bersabar. Terpaksa Siangkwan Wan ceng menahan kemarahan dan

mendengus, “Paman, apakah engkau agak tuli?”

Tiba2 orangtua itu tertawa gelak2, serunya, “Siapa bilang aku tuli?”

Siangkwan Wan-ceng pelahan-lahan menurunkan tubuh Han Ping lalu berkata, “Kami

dengar katanya paman pandai mengobati segala macara penyakit yang aneh2 maka kami

perlukan datang kemari.”

Orangtua itu tertawa tawar, “Pernah apa engkau dengan pemuda itu’ Engkohmu atau

suamimu?”

“Paman tua, dugaanmu salah semua. Dia adalah adikku,” sahut Siangkwan Wan-ceng.

Han Ping memandang Singkwan Wan ceng tetapi tak bicara apa2.”Adikku ini terkena

racun, “kata nona itu pula,” dan menderita luka dalam yang berat. Harap paman segera

mengobatinya.”

Pelahan-lahan orangtua itu mengangkat tangan dan berseru, “Coba angkat tubuhnya

kemari dan berikan siku lengannya kepadaku.”

Siangkwan Wan-ceng melakukan perintah.

Tangan orangtua itu segera memegang siku lengan Han Ping. Setelah berdiam diri

beberapa saat, ia mengangkat muKa dan berkata, “Dia menderita luka yang parah tetapi

luka itu sudah terhapus oleh daya obat yang mustajab.”

Siangkwan Wan-ceng terkejut. Dengan memeriksa denyut siku lengan Han Ping,

orangtua itu segera tahu kalau pemuda itu sudah minum obat.”Benar, paman” serunya,

“dia memang telah pinum obat yang mujarab.”

“Orangtua itu menghela napas: ,!Sekarang berikan siku lengannya yang kanan

kepadaku.”Siankwan Wanceng menurut.

Begitu tangan orangtua memegang siku lengan Han Ping [yang sebelah kanan, tiba2 ia

kerutkan dahinya dan menghela napas.

“Bagaimana paman?” seru Siangkwan Wanceng dengan gelisah.

Orangtua itu membuka mata seraya menggeleng kepala, “Rasanya aku tak dapat

menolong.”

Ketika melihat orangtua itu membuka mata, Siangkwan Wan ceng terkejut. Bola mata

orangtua itu luar biasa besarnya.

Pada lain saat ia segera teringat akan kata2 orangtua itu.”bagaimana lukanya? ada

harapan tertolong?” seru nona semakin cemas. “Kalau aku tak sanggup menggobati,

rasanya didunia ini tiada orang lain lagi yang mampu.

“SUDAHLAH, SEGERA SAJA ENGKAU BERSIAP-SIAP mengatur yg perlu.

Mungkin dia tak dapat hidup lebih dari 7 hari!”

Mendengar itu berderai-derailah airmata Siangkwan Wan Ceng. dengan terisak ia

berkata, “ Tolonglah paman mempertimbangkan lagi adakah ia masih dapat ditolong.”

Orang tua itu gelengkan kepala, “Tidak dapat!”HatiSiangkwan Wan Cengseperi ditusuk

dengan pisau.Tiba2 meluaplah amarahnya.

Ia bangkit terus hendak memangul Han Ping lagi.Tiba2 ia teringat akan saputangan sutera

yang ada tulisannya. Diangsurkannya, saputangan itu kemuka orang tua, “Kalau engkau

memang ahli dalam ilmu pengobatan, cobalah engakau lihat apakah resep obat ini

berkasiat atau tidak?” dengan sikap dingin orang tua itu menyambuti saputangan itu

seraya mengomel, “ Aku tak percaya dalam dunia ini terdapat manusia yang lebih pandai

soal pengobatan dariku!” Siangkwan Wan Ceng etrtawa dingin, “Lihatlah dulu baru nanti

engkau bicara lagi”

Orang tua itu menebarkan saputangan, memandangnya dengan penuh perhatian. Selesai

membava ia letakan saputangan dan menghela napas ” Sungguh tak nyana bahwa dewasa

ini dalam dunia masih terdapat manusia yang begitu pandai dalam ilmu pengobatan.”

Mendengar itu Siangkwan Wan Ceng tertawa gembira, “Apakah resep itu berguna?”

Orang tua itu menatap wajah Han Pinh lalu berkata, “Nak kemarilah biar kuperiksamu

lagi.” Han Ping hanya tersenyum. Ia mengisar tubuh menghampiri orang tua itu.

“Bukalah Mulutmu,” kata siorang tua. Setelah Han Ping membuka mulut, orang tua itu

mengulurkan jarinya memijat garis Jin tiong di bawah hidung Han pIng, setelah

memeriksa beberapa saat ia berkata, “Engkau telah terkena racun yg amat berat,”

“Benar, Siangkwan Wan Ceng menyahuti, luka pada lambungnya itu gunanya untuk

menyalurkan racun keluar dari tubuhnya.”

“Dia makan racun itu atau terkena racun dari luka?” Han pIng memandang Siangkwan

Wan Ceng. Ia hendak bicara tapi tak jadi. Siangkwan Wan Ceng menghela napas

perlahan, “Adakah engkau masih mencurigai aku? Ah….”

Han Ping tertawa hambar, “ Kecuali obat yg engkau minumkan kepadaku, aku tak ingat

lagi mengapa dapat terkena racun?” Orang2 lembah Raja setan, paling pandai

menggunakan racun. Apakah ketika engkau bertempur dengan mereka, apakah kaki dan

tanganmu pernah berbenturan?”Han Ping segera mengangkat lengan kiri dan

mengawasinya. Tiba2 orangtua itu berseru, “Benar, memang disitu.”

Siangkwan Wanceng ikut memeriksa. Ternyata pada lengan kiri Han Ping terdapat

segurat bekas luka memanjang.

Warnanya ungu muda.Orangtua itu mengangkat kepala memandang Wan-ceng, “Seumur

hidup aku gemar mempelajari ilmu pengobatan.

Tak terduga setelah begini tua, baru aku melihat resep semacam itu, Dimanakah tempat

tinggal orang itu, lekas bawa aku kepadanya!”

“Ai, pamnan,” seru Siangkwan Wan-ceng cemas, “menolong orang sakit adalah ibarat

menolong kebakaran. Engkau tolong dulu dia baru nanti kubawamu kepada orang yang

menulis resep itu.”Orangtua itu tertawa, “Resep ini memang hebat tetapi sayang sekali

nama obat yang ditulis disebelah atas, terhapus air. Tak dapat dibaca lagi.”

Siangkwan Wan-ceng tertegun. Ketika melOngok ternyata ujung saputangan sutera itu

memang basah dan tulisannya telah terhapus air tak dapat dibaca jelas.

“Resep yang ditulisnya itu setiap huruf memang aneh. Kecuali seorang yang faham akan

ilmu pengobatan seperti aku tentu takkan mengetahui tentang kehebatannya. Sekalipun

resep ini tersiar didunia tetapi tak ada orang yang berani menggunakannya.”Wajah

Siangkwan Wan-ceng pucat, serunya, “Menilik paman begitu ahli dalam ilmu pengobatan

tentulah paman dapat menerka apakah tulisan yang telah terhapus air itu.”Tiba2 orangtua

itu mengatup mata dan menghela napas, “Saputangan basah sekali sehingga bekas2

tulisan itu sukar diselami. Satu-satunya jalan hanya menggunakaa kecerdasan untuk

menerkanya.”

“Sampai berapa lama paman dapat menerkanya?”

“Paling cepat memerlukan duabelas jam….” tiba2 orang tua itu menghela napas panjang,

katanya pula, “mungkin aku dapat menemukan ramuan obat itu tetapi belum tentu tepat

seperti yang ditutis resep itu. Daripada menerka, bukankah lebih baik mencari orang itu

dan minta kepadanya supaya menulis lagi?”

Siangkwan Wan ceng diam2 mengeluh. Si dara baju ungu tentu sudah pergi dan tak tahu

ia harus mencari kemana.

Tiba2 Han Ping tersenyum, “Mati hidup itu sudah suratan takdir. Nona Siangkwan, harap

jangan mencemaskan diriku.”

Dengan nada terbata-bata Siangkwan Wanceng mengatakan bahwa tulisan yang hilang

itu ia yang melakukan karena menggunakan saputangan untuk mengusap airmatanya.

“Apakah resep itu yang menulis si dara baju ungu?” tanya Han Ping.

“Benar,” sahut Siangkwan Wan-ceng, “kemanakah kita mencarinya?”

Han Ping lertawa, “Tak perlu mencari. Orang itu berhati ganas, resep yang ditulisnya

tentu lain kegunaannya.Dia tak mau menolong tetapi hanya menghendaki supaya tenagamurni

dalam tubuh tak sampai hilang dengan begitu supaya aku menderita.”

“Memang dia mengatakan bahwa obat itu mengandung racun tetapi akan dapat membuat

engkau hidup beberapa tahun lagi.”Tiba2 Han Ping berkata kepada orangtua pemilik

rumah, “Lo cianpwe. bolehkah aku melihat saputangan itu?”

Sejenak bersangsi, orangtua itu segera memberikan saputangan seraya berkata, “Ilmu

pengobatan terdiri dari dua macam cara, wajar dan cara yang tidak wajar. Resep obat itu

memang menggunakan bahan beracun tetapi setelah beberapa macam racun itu tercampur

jadi satu, akan menimbulkan daya pengobatan yang bagus….

Han Ping menyambuti saputangan. Ia tertawa dingin lalu tiba2 gunakan tenaga meremas

saputangan itu sehingga hancur berkeping-keping.

Siangkwan Wan-ceng menjerit kaget dan lari menghampiri Han Ping berbangkit,

menyurut selangkah kebelakang lalu tebarkan tangan dan saputangan yang sudah hancur

berkeping-keping itupun berhamburan melayang keluar pintu.

“Mengapa engkau melakukan begitu?” tegur Si’angkwan Wan-ceng.

Han Ping tertawa, “Terima kasih atas perhatian nona….”

Tiba2 orangtua itu menggembor keras dan ayunkan tangan menghantam Han Ping, Tetapi

secepat itu Siangkwan Wan-ceng menangkis dengan tangan kanan, “Hai, paman, apakah

engkau gila?”

Ternyata orangtua itu marah sekali dan memukul dengan sekuat tenaga. Tangan

Siangkwan (Wan-ceng tergetar dan tubuhnya tersurut mundur sampai dua

langkah.”Apakah lo-cianpwe marah karena saputangan itu kuhancurkan?” seru Han Ping

dengan hormat.

Teguran Han Ping itu membuat kemarahan orangtua agak reda. Rupanya ia merasa

sungkan, katanya, “Resep itu amat berharga sekali. Seharusnya disiarkan biar untuk

menolong manusia. bukankah amat sayang sekali karena engkau hancurkan?”

Setelah menangkis pukulan orangtua itu, brulah Siangkwan Wanceng tahu bahwa

orangtua lu memiliki ilmu kepandaian yang hebat.

Cepat ia loncat kehadapan Han Ping dan menegur tajam;

Orangtua beralis panjang itu tertegun, sahut-nya, “Walaupun bukan aku yang menulis

tetapl tak kuidzinkan orang menghancurkan resep itu.”

“Ih, resep itu miliku. Biar hancur toh tak merugikan engkau. Mengapa engkau marah2

dan memukul orang?” lengking Siangkwan Wan-ceng.

“Sudahlah, jangan berdebat, mari kita pergi,” kata Han Ping.

Siangkwan Wan ceng berpaling dan memberi senyuman kepada pemuda itu, “Baiklah

aku toh juga hanya hidup tak berapa lama. Aku akan selalu menurut katamu.”

“Apa?” Han Ping terkejut. “Akupun juga minum obat beracun dari budak perempuan

baju ungu itu.”

Seketika berobahlah wajah Han Ping. Matanya berapi-api, “Budak hina itu memang

benar berhati ganas seperti ular….”

“Jangan menyalahkan dia. Akcu sendiri yang rela minum. Sebelumnya dia sudah

menerangkan dengan jelas….” Siangkwan Wan ceng tertawa;,” lebih baik engkau

kupanggul lagi.” Dengan mengertak gigi Han Ping menggeram “Sayang aku tak dapat

hidup lama….”

“Ih, kalau bisa hidup lama, engkau mau apa?” Siangkwan Wan-ceng tertawa.

“Akan kuhantam dara itu supaya binasa agar jangan menimbulkan bencana pada dunia

“Mari kita jalan,” cepat Siangkwan Wan ceng mengajak,” kita cari tempat yang sunyi

untuk menunggu kematian!”

Han Ping menurut saja ketika dipanggul Siangkwan Wan-ceng. Ia menghela napas

panjang. penuh kepaserahan.

“Hai Tunggu dulu!” tiba2 orangtua beralis panjang itu berseru ketika melihat semua

melangkah pergi.

Tetapi Siangkwan Wan-ceng tak menghiraukan. Bahkan berpaling memandang orangtua

itupun ia tak mau.

“Hm, masih muda belia mengapa hendak menunggu kematian Apakah racun pada

tubuhmu itu benar2 tiada obatnya lagi?”

Tiba2 tergeraklah hati Han Ping. Ia membuka mata dan dengan berbisik menyuruh

Siangkwan Wan ceng berhenti.

Rupanya nona itu menurut, Han Ping menyuruhnya kembali ketempat orangtua itu.

Sudah tentu Siangkwan Wan ceng terkejut, menundukkan kepaladan menghela napas.

Namun mau juga ia menurut perintah Han Ping.

Sambil menghela napas, Han Ping menepuk bahu “si nona, “Cobalah engkau tanya

kepada orangtua itu adakah dia dapat mengobatilukamu?”

Siangkwan Wan-ceng tergetar hatinya. Ia berpaling memandang Han Ping, “Apakah

engkau sungguh2 tak menghendaki aku mati?”

Terdengar jawaban tetapi bukan dari Han Ping melainkan dari orangtua itu. Dia tertawa

gelak, “Kalau tak punya obat penawar, entah sudah berapa kali aku mati.” Siangkwan

Wan-ceng hanya diam saja. Memang saat itu pikirannya hanya ingin mati tidak

mengharap hidup. Sesudah tertegun beberapa saat barulah ia berteriak keras, “Apa

pedulimu dengan mati hidupnya seseorang? Perlu apa engkau hendak mengurusi?”

Dalam pada bicara itu diam2 ia siapkan Tui-hun-to-beng-ciam jarum beracun perenggut

nyawa. Pada saat ia hendak menaburkan kearah orangtua beralis panjang itu tiba2

terlintas suatu pikiran dan berpalinglah ia kearah Han Ping. Tangannya yaris sudah

terangkat keatas itupun perlan-lahan terkulai kebawah lagi, tring…. beberapa batang

jarum maut itu berhamburan jatuh ketanah.Orangtua alis panjang tertawa hambar,

serunya, “Kalau dia takmau apakah engkau juga begitu kalap hendak mati?”

“Dia siapa?” Siangkwan Wan-ceng menegas. Orangtua itu tertawa lebar, “Dia, yalah

yang rebah diatas punggungmu itu!”

Sebenarnya Siangkwan Wan-ceng harus marah kepada orangtua itu tetapi entah

bagaimana, diluar kesadarannya ia tersentuh hatinya dan berseru menegas lagi,

“Benarkah?”Sambil memandang sejenak kepada Han Ping, orangtua itu bertanya pula,

“Engkau ingin mati atau tidak?”

Han Ping lepaskan cekalannya sehingga tubuhnya meluncur jatuh ketanah. Siangkwan

Wan-ceng berpaling gopoh.

Dilihatnya Han Ping memandang puncak wuwungan rumah dan berkata dengan tegas,

“Aku ingin mati!”

Orangtua alis panjang itu menengadahkan kepala tertawa nyaring Beberapa saat

Kemudian baru ia berhenti tertawa dan berrkata, ‘”Sungguh Asmara itu mempunyai daya

kekuatan yang begitu hebat. Asmara dapat membuat orang tak menghirukan soal

jiwanya.”

Ucapan itu amat menusuk hati kedua anak-muda itu. Han Ping memandang sejenak

kearah si nona dan Siangkwan Wan ceng tampak merah pipinya. Memang seorang anak

gadis yang dibuka rahasia hatinya oleh orang tentu akan tersipu-’sipu malu.

“Anak perempuan, kemarilah, aku hendak bertanya kepadamu,” tiba2 orangtua alis

panjang itu memanggil Siangkwan Wan ceng.

Siangkwan Wan-ceng berpaling kearah Han Ping. Dilihatnya pemuda itu tersenyum

hambar. Setelah itu ia menghampiri ketempat orangtua alis panjang.Nona itu tertawa

aneh, nadanya berbeda dengan mimik wajahnya. Entah dia tertawa girang, entah berduka.

Rambutnya terurai kusut menuJai cebawah. Sambil mengercasi rant but, ia berhenti

iklepan orangtua alis panjang “Mendekatlah sedikit lagi, aku berunding dengan engkau.”

“Soal apa?”

“Apakah engkau sungguh2 hendak menolong jiwanya?”

“Sudah tentu sungguh!” Siangkwan Wan-ceng mengangguk.

Berkata orangtua beralis panjang itu dengan nada serius, “Anak perempuan, aku hanya

dapat menolong salah satu dari kalian berdua!”

Orangtua itu sejenak memandang kearah Han Ping lalu berkata pula, “Kalian memang

tak adahubungan apa2 dengan aku.

Dan akupun tak mempunyai rasa sayang atau benci kepada kalian maka sukar bagiku

untuk memutuskan hendak menolong siapa!”

Tolonglah dia!” tanpa ragu2 Siangkwan Wan ceng berkata dengan tegas.”Walaupun

engkau memilih mati tetapi sebelum mati engkau tetap harus memberi pengorbanan

besar.” kata orangtua itu.

“Bagaimana?” Kembali orangtua itu sejenak memandang kearah wajah Han Ping lalu

menyuruh Siangkwan Wan ceng merapat kedekat, “Rapatkan telingamu kemari.”

Siangkwan Wan-ceng meragu sejenak tetapi akhirnya ia menurut juga.

Dalam pada itu rupanya Han Ping tak kuat berdiri maka ia segera duduk. “Paman herdak

bicara apa, lekaslah!” bisik Siangkwan Wan-ceng.

“O….” orangtua itu mendengus kaget, tiba2 ia gunakan dua buah jari untuk menutuk.

Siangkwan Wan-ceng menjerit dan rubuh ketanah.

Melihat itu Han Ping deliki mata dan melonjak bangun, teriaknya, “Engkau mau

apa?”orangtua beralis panjang itu tertawa seram, “Ho, engkau terluka parah, tak mungkin

dapat lolos dari Panti Kematian ini….”

Dengan kerahkan seluruh sisa tenaganya Han Ping menggembor dan lontarkan sebuah

pukulan.”Hm. budak yang tak tahu mati!” dengar orangtua itu seraya menampar dengan

tangan kanan.

Ketika dua buah tenaga pukulan saling beradu, tiba2 Han Ping tersurut mundur sampai

tiga langkah dan jatuh terduduk ditanah.

Walaupun tertutuk jalandarahnya dan tak dapat berkutik tetapi pikiran Siangkwan Wanceng

masih sadar. Cepat ia berseru, “Jangan melukainya!”Sambil menekan tanah dengan

tangan, dalam keadaan masih duduk bersila, tubuh orangtua beralis panjang itu melayang

kesamping Han Ping, menutuk tiga buah jalandarahnya. Setelah itu ia menampar pelahan

lahan ubun2 kepala Han Ping.

Han Ping menghela napas panjang, “Kuhormati engkau sebagai orangtua tetapi tak

kukira:kalau engkau sejahat….”

Orangtua beralis panjang itu menukas tertawa”Sudah berpuluh tahun aku tak pernah berkelahi

dengan orang.

Sungguh tak kira kalau hari ini aku harus menggunakan dua buah jurus terhadap kalian

berdua!”

“Hm, dengan gunakan siasat merebut kemenangan, bukanlah seorang ksatrya utama,”

ejek Han Ping.

Orangtua alis panjang itu hanya tertawa mengekeh, “Ho, sekarang seharusnya engkau

mengakui bahwa jahe yang tua itu lebih pedas dari yang muda.” Han Ping mendengus,

“Kalau aku tak terluka, tentulah hari ini kuberimu hajaran yang setimpal.”

Tiba2 wajah orangtua alis panjang itu berobah gelap, serunya, “Seumur hidup aku belum

pernah berjumpa dengan penyakit yang tiada obatnya. Kecuali orang itu memang sudah

meregang jiwanya dan pasti mati. Semua orang yang memeriksakan penyakit kepadaku

hanya mempunyai dua jalan.Sembuh atau mati….”

Ia berhenti sejenak menghela napas, “Walaupun tubuh kalian terkena racun tetapi hawamurni

dalam tubuh kalian masih penuh, tak kuatir akan mati…..”

“Kalau engkau sudah tak mampu mengobati, mengapa engkau mengatakan hal itu?”

“Hidupku adalah pengalamanku mengobati orang, Apa yang kukatakan tentu dapat

dipercaya. Tetapi kuanggap percuma mengatakan kepadamu kerena engkau toh tak

mengerti….” orangtua itu tersenyum. “kupercaya kalau mempunyai waktu yang cukup

tentu mempunyai harapan untuk menyembuhkan racun dalam tubuhmu…. .”

“Ya, pada saat engkau memperoleh cara pengobatannya, kamipun sudah mati!” lengking

Siangkwan Wan-ceng.

Orangtua alis panjang itu tertawa, “Ho, pada waktu menunggu. aku tentu kuusahakan

agar racun dalam tubuh kalian itu tak bekerja.”

“Kapan kami harus menunggu?”

Orangtua alis panjang itu merenung diam beberapa saat baru menjawab, “Tujuh hari, ya

tujuh hari kalau aku masih tetap tak dapatmenemukan cara pengobatannya, akan kubuka

jalan darah kalian dan silahkan kalian pergi.”

“Hm, Panti Kematianmu ini memang sesuai dengan namanya. Siapa yang masuk kemari,

tentu jarang yang dapat keluar masih hidup,” seru si-nona.

“Aku dapat menjamin agar racun dalam tubuh kalian itu takkan bekerja” kata seorang

tua.

“Walaupun racun tak bekerja tetapi aku tentu mati kelaparan,” lengking Siangkwan Wanceng.

Orangtua alis panjang tertawa, “Semua mahluk hidup tentu akan mendapat kehidupan

dari alam.

Masakan akan mati kelaparan. Segera akan kubawa kalian kedalam ruang pengobatan.

Dalam tujuh hari tujuh malam akan kuusahakan untuk menghilangkan racun dalam tubuh

kalian.”

“Berapa jauhnya tempat itu dari sini?”

Orangtua alis panjang itu berseri riang, “Di-belakang Panti Kematian ini. Akan

kuperlihatkan kepada kalian suatu kumpulan obat2an yang jarang terdapat didunia….”

“Cis, ocehan setan,” dengus Siangkwan Wanceng.

Tetapi orangtua alis panjang itu tak marah kebalikannya malah tertawa, “Yang banyak

didunia ini hanyalah tempat2 yang indah alam pemandangannya. Tetapi kupilih tempat

yang sunyi ini karena mempunyai sebab lain.”

Siangkwan Wan-ceng pejamkan mata dan mendengus, “Ah, siapa sudi mendengarkan

ocehanmu itu?”

“Kalau tak kubawa kalian kesana. kalian tentu tak percaya….” baru orangtua itu berkata

sam-ai disitu tiba2 terdengar suara seorang anak bertanya, “Adakah sinshe

dirumah?”Mendengar suara itu tiba2 Siangkwan Wanceng teringat akan anak lelaki

bersama kakeknya yang dijumpainya ditengah jalan itu.

Serentak ia membuka mata dan berseru kepada orangtua alis panjang, “Tuh, ada tetamu

mencari engkau!”

Dengan suara pelahan, orangtua itu menyuruh Siangkwan Wan-ceng dan Han Ping

menutup mata, setelah itu ia berseru nyaring, “Hai, siapakah yang datang itu? Silahkan,

masuk!”

Namun Siangkwan Wan-ceng tak menurut. Ia membuka matanya sedikit dan memandang

keluar. Tampak seorang anak lelaki tengah berjalan masuk dengan memanggul seorang

kakek.Ketika melihat Siangkwan Wan-ceng dan Han Ping berada disitu, bocah itu

terkejut tetapi tetap melangkah masuk.Setelah memeriksa uratnadi kakek sakit itu,

orangtua alis panjang berkata, “Penyakitnya berat sekali, hawa murni dalam tubuhnya

terluka. Aku hanya dapat memperpanjang umurnya sampai tiga tahun.”

Habis berkata tiba2 orangtua alits panjang itu bertepuk tangan tiga kali. Terdengar suara

berderak keras. Ujung ruang tiba2 mereka dan terbukalah sebuah pintu. Seekor kera

berbulu kuning emas muncul membawa sebuah penampan dari kayu siong putih.

Dengan langkah bergoyang gontai ia menghampiri kemuka orangtua alis panjang.

Diatas penampan kayu itu terdapat seperangkat alat tulis dan kertas. Orangtua alis

panjang mengambil pit dan kertas lalu menulis. Selesai menulis, ia menepuk kera bulu

emas itu dan menunjuk kearah pintu batu.

Kera bulu emas itu segera masuk kedalam pintu dan tak berapa lama keluar lagi dengan

membawa dua bungkus obat.

Setelah mengambil bungkusan obat, orangtua alis panjang itu berkata kepada bocah

lelaki, “Obat ini dimasak dengan air dan diminum, selama tiga hari itu. Setelah itu

barulah makan pil dalam bungkusan kecil.

Isinya seribu butir pil. Kalau tiap hari minum sebutir, berarti dapat hidup sampai tiga

tahun. Setelah itu engkau boleh mengurus penyelesaiannya. Apakah engkau ingat?”

“Ya ingat,” sahut sibocah Ielaki.

Orangtua alis panjang itu segera menyuruh bocah Ielaki membawa kakeknya pulang.

Bocah itupun segera memanggul engkongnya dan pergi. Tiba diambang pintu tiba2 ia

berhenti, berpaling dan berseru kepada orangtua alis panjang dan berseru Kepada orang

tua beralis panjang, “Sinshe, berapakah ongkos obatnya?”

“Bawalah saja dulu, setelah engkongmu sembuh, baru engkau bayar kemari,” seru

orangtua alis panjang.

Sambil memandang Siangkwan Wan-ceng, bocah Ielaki itu bertanya pula, “Sinshe, nona

itu seorang baik….” Rupanya ia hendak menasehati siorangtua alis panjang. Tetapi baru

berkata separoh bagian, ia sudah terus melangkah pergi.

Setelah bocah itu lenyap dari pandang mata, Siangkwan Wan-ceng mendengus, “Hm,

bagaimana engkau dapat memastikan kalau kakek itu hanya dapat hiduP selama tiga

tahun?”

Tetapi orangtua alis padjang itu tak mau menghiraukan omongan si nona lagi.

Ia berbangkit pelahan lahan lalu menuju keujung ruangan.Siangkwan Wan ceng

memandang Han Ping dan menghela napas, “Ah, orangtua itu memang aneh.gerak

geriknya serba misterius, kukuatir bukan orang baik. Sekarang jalan darah kita telah

ditutuknya, mati tidak hiduppun tidak. Kita tak dapat berbuat suatu apa kecuali harus

menerima apa saja yang dia hendak lakukan kepada diri kita.”

“Kalau aku tak keracunan, aku dapat menyalurkan tenaga dalam untuk membuka jalan

darahku yang tertutuk itu. Tetapi sekarang, ah, percuma saja,” Han Ping mendesah.

Siangkwan Wan ceng meronta untuk mengisar tubuh kesamping Han Ping. Tetapi karena

jalan darahnya tertutuk maka separoh tubuhnya seperti mati tak dapat bergeak. Walaupun

ia mencoba untuk mengerahkan seluruh tenaganya tetap tak dapat.

Dengan putus asa ia menghela napas dan menitikkan dua butir air mata, “Ya, tamatlah

riwayat kita….”

Tiba2 terdengar suara berderak keras dan pintu batu kembali terbuka. Dua ekor kera bulu

emas, masuk kedalam ruangan.

Mereka memandang Siangkwan Wan-ceng lalu menghampiri nona itu.

Tampaknya binatang itu kaku gerakannya tetapi ternyata dapat berlari gesit. Selekas tiba

didekat Siangkwan Wan-ceng mereka terus menerkam tubuh si nona.Salah seekor kera

itu tampak mengisar untuk mendesak kawannya laluc epat2 mendahului menyambar

tubuh nona itu terus dibawa lari.Kera yang seekor itu tak berdaya. Terpaksa ia

menghampiri ketempat Han Ping dan memanggul tubuh pemuda itu diangkut keluar.

Walaupun kedua muda mudi itu berkepandaian tinggi tetapi karena jalandarahnya

tertutuk, mereka tak dapat berbuat apa2.

Sekonyong-konyong telinga Han Ping dapat menangkap suara orang memanggil

namannya Suara itu berasal dari jauh dan nadanya parau, mungkin karena sudah

kehabisan suara Han Ping cepat mengenali nada suara itu sebagai suara pamanya Kim

loji.

Tetapi ia tak dapat berbuat apa2 dan saat itu iapun segera dibawa masuk kedalam pintu

batu diujung ruangan.

Diam2 Han Ping menghela napas dan berusaha untuk menenangkan diri, menyalurkan

napas. ia harap maiih dapat menyalurkan tenaga untuk membuka jalan darah yang

tertutuk itu. Han Ping masih bingung memikirkan tingkah laku orangtua alis panjang itu.

Apakah maksudnya orang itu menutuk jalandarahnya? Dia sendiri tak takut soal jiwanya,

mati atau hidup ia tak memkirkan.

Yang dicemaskan yalah keselamatan Siangkwan Wan ceng ia kuatir nona itu akan

menderita kecemaran.

Ia menyesali Siangkwan Wan-ceng yang telah membawanya berobat ketempat orangtua

alis panjang.

Tetapi ia juga menyalahkan dirinya sendiri mengapa menyuruh nona itu bersikap

menghormat siorangtua sehingga akibatnya begitu. Kalau Siangkwan Wan-ceng bersikap

keras, tak mungkin orangtua alis panjang itu dapat menutuk jalandarah mereka.

Rasa penyesalan itu mendorong keras hatinya untuk berjuang. Ia berusaha untuk

menghilangkan semua gangguan pikiran dan memupuk hawa murni untuk menjebolkan

jalandarahnya yang tertutuk.Rupanya kera bulu emas itu seekor binatang yang terlatih

baik sehingga dapat mengerjakan perintah tuannya dengan baik. Tetapi betapapun, itu tak

dapat mengetahui usaha Han Ping membuka jalandarahnya yang tertutuk.

Tiba2 terdengar suara orangtua beralis panjang, “Entah aku tak tahu apakah hubungan

kalian berdua ini. Apakah kalian tak keberatan kalau kutempatkan didalam sebuah

ruangan “

Ketika Han Ping membuka mata, ia tertegun. Keadaan yang berada dihadapannya jauh

berlainan dengan diluar tadi. Hidungnyapun terbaur dengan bau obat yang keras.

Ternyata saat itu dirinya berada dalam sebuah tempat yang mempunyai tiga buah kamar

besar kecil. Dan buah ranjang kayu terbentang diruang itu. Kecuali itupun penuh dengan

bermacam-macam baskom, mangkok, supit dan seikat daun obat.

Ada empat baskom berisi tanaman obat yang belum pernah diketahuinya, terletak diatas

dingklik dekat jendela.

Yang dua baskom berisi tanaman berbunga kecil2 warna putih. Sedang yang dua baskom

berisi buah2 kecil2 warna merah.

Han Ping hendak membuka mulut tetapi didahului Siangkwan Wan-ceng, “Kami adik

dan taci!”

Orangtua alis panjang itu merenung sejenak lalu berkata, “Kalau adik dan taci tinggal

satu kamar, memang tidak pantas Biarlah kupisahkan kalian dalam dua kamar!”

“Sejak kecil kami berdua selalu tinggal sekamar, mengapa tidak pantas?” Siangkwan

Wanceng berteriak gopoh.

Orangtua itu memandang kedua kera bulu emas lalu menunjuk kearah ranjang kayu. Kera

itu meletakkan Siangkwan Wan-ceng dan Han Ping keatas ranjang lalu beringsut keluar.

Dengan riang gembira orangtua alis panjang itu tertawa, “Sejak tinggal dismi, belum

pernah ada orang yang masuk kedalam kamar obat-obatanku. Ketahuilah bahwa

kumpulan daun obat yang berada dalam kamar sekecil ini hampir menghabiskan seluruh

umur ku. Aku menjelajah seluruh wilayah Kanglam-Kangpak, melintasi gunung dan

sungai….” ia menunjuk kedua baskom berisi buah merah dan daun bunga putih, berkata

pula, “Buah yang berwarna merah itu kecuali warnanya yang sedap dipandang pun

merupakan salah satu dari tiga jenis tanaman yang paling beracun. Rasanya manis enak

dimakan. Tetapi apabila makan buah itu, amblaslah nyawa kita….”

Berhenti sejenak ia pergunakan untuk memandang kearah kedua anak muda itu lalu

dengan riang gembira ia melanjutkan kata katanya, “Hai anak perempuan yang pintar

bicara, coba engkau tebak apakah rumput berbunga putih itu mengandung racun atau

tidak?”

“Kalau buah merah mengandung racun, jelas bunga putih itu tentu tak beracun!” seru

Siangkwan Wan-cang.

Orangtua alis panjang gelengkan kepala, “Salah, rumput merah memang beracun tetapi

bunga-putih itupun beracun juga ….”

Siangkwan Wan-ceng mendengus, “Huh, m-nilik simpananmu begini banyak tanaman

beracun, mungkin engkau juga seorang manusia beracun!” Orangtua itu tertegun, “Ih,

kali ini engkau dapat menebak jitu!”

Siangkwan Wan-ceng terkejut dalam hati. Dia tadi hanya bicara sembarangan tetapi

ternyata benar. Uh, ia pernah mendengar tentang tanaman, dan binatang beracun tetapi

seumur htdup belum pernah mendengar tentang manusia beracun.

“Huh, itu tak mengherankan,” sahut nona itu dengan garang walaupun dalam hati am at

cemas, “dalam dunia persilatin banyak sekali tokoh2 yang mahir menggunakan racun.

Misalnya orang Lembah Seribu-racun, sampai anak Kecilnya saja juga pandai

menggunakan racun. Juga lembah Raja setan itu termasyhur dengan obat racun Bihunyok

dan merekapun mahir tentang ilmu obat-obatan beracun. Tokoh lembah Raja-setan si

Ting Ko itu sekujur badannya juga beracun….”

Orangtua alis panjang itu gelengkan kepala, “Mereka hanya pandai menggunakan racun,

antara lain bubuk beracun, air beracun dan disembunyikan pada pakaiannya. Pun sebelum

itu mereka sudah minum obat penawaranya. Paling2 kuku jari atau lengan mereka yang

beracun. Tidak seperti diriku ini. Jantung, darah sampai pada seluruh uratnadi dalam

tubuhku semua beracun.

Kuweh yang kumakan beracun, minumankupun racun….”

“Jangan bicara lagi, aku tak sudi mendengar ocehanmu itu!” teriak Siangkwan Wan-ceng.

Tiba2 wajah orangtua itu berobah gelap, “Aku seorang tua masakan sudi berbohong

dengan seorang budak perempuan macam engkau.

Apakah engkau menghendaki aku bersumpah baru engkau mau percaya?”

Setelah berdiam diri sesaat, Siangkwan Wanceng berkata, “Kalau jantung dan darahmu

mengandung racun, mengapa engkau tak mati?”Orangtua alis panjang itu tertawa,

“Pertanyaan yang bagus! Kalau aku tak makan racun, mungkin sudah menjadi bangkai

dalam kubur!” Melihat orangtua itu bicara dengan riang gembira, timbullah pikiran

Siangkwan Wan ceng, serunya, “Paman, karena engkau tutuk jalandarahku, kita tak dapat

bicara dengan leluasa. Apakah engkau dapat membuka jalandarahku agar kita dapat

bicara dengan enak?”

Orangtua itu merenung sesaat kemudian ia berkata, “Kalau engkau hendak melarikan

diri, berarti engkau cari penyakit sendiri.”

Jawab si nona, “Setelah mendengar pembicaraanmu tadi, aku makin tertarik. Sekalipun

engkau suruh aku pergi, akupun tak mau.”

Orangtua alis panjang itu tertawa riang, “Sebenarnya kalau menurut keadaan, tak

mungkin aku dapat hidup sampai enam lusin tahun….” Melihat orangtua itu sudah mulai

tergerak hati dan tampaknya mau membuka jalandarahnya, buru2 Siangkwan Wan-ceng

bertanya, “Paman, berapakah usiamu sekarang?”

“Entah, tak ingat dengan tepat, Mungkin sudah lebih dari delapan puluh tahun!” sambil

berkata orangtua alis panjang itu menghampiri ketempat Siangkwan Wan-ceng lalu

menampar jalandarah si nona yang tertutuk.

Setelah melakukan pernapasan dan mengetahui bahwa hawamurni tubuhnya tak

menderita suatu apa, barulah Siangkwan Wan ceng duduk.”Budak perempuan, kulihat

biji matamu berkeliaran kesekelilmg penjuru, apakah engkau merencanakan hendak

lolos?”

tegur orangtua itu dengan tertawa,” seumur hidup aku tinggal ditempat sesunyi ini hanya

seorang diri ..,..

Siangkwan Wan-ceng memandang Han Ping.

Melihat pemuda itu telentang dengan mata tertutup rupanya dia sudah tidur. Diam2

Siangkwan Wan-ceng merasa lega.

Tiba2 ia loncat turun.”Jangan mengganggunya, biarkan dia beristirahat,” seru orangtua

alis panjang.

Nona itu memandang siorangtua alis panjang, berseru melengking, “Engkau

menggunakan akal licik untuk menutuk jalandarahku dan akupun menggunakan tipu

muslihat juga untuk menyuruh engkau membuka jalandarahku yang tertutuk.

Sekarang kita tak saling menderita kerugian.”

“Bukan aku hendak menakuti-nakuti engkau. Tetapi kuharap kalian tinggal disini untuk

berobat Kemungkinan masih ada harapan tertolong. Tetapi kalau kalian pergi, tentu

kalian mati,” seru siorangtua alis panjang.

“Huh, engkau sendiri berlumuran racun bagaimana dapat menolong orang lain yang

menderita keracunan?”

‘Ilmu pengobatan itu memang luar biasa. Dengan racun aku dapat menjaga jiwaku

sampai dapat hidup begini tua.

Adakah itu bukan suatu bukti yang jelas orangtua itu berhenti sejenak, “apa yang kubaca

dalam resep obat yang engkau bawa itu, semuanya merupakan racun….”

“Lebih baik mati daripada sekujur tubuh mengandung racun,” seru Siangkwan Wan ceng.

Tiba2 Han Ping membuka mata dan berkata, “Setelah memeriksa penyakitku sudikah

locianpwe dapat sembuh?”

“Sembuh dan rusak, mempunyai kesempatan yang sama,” sahut siorangtua alis panjang.

Han Ping menghela napas, “Tak peduli locianpwe hendak menggunakan racun apa saja

dan hendak menjadikan aku manusia macam apa saja, aku rela menerima asal yang

penting, ilmu silatku jangan sampai lenyap,” kata Han Ping.

“Pada umumnya orang menganggap racun itu mencelakai orang tetapi jarang yang tahu

bahwa sesungguhnya racun itu mempunyai daya guna yang baik. Air dapat memadamkan

api tetapi apipun dapat mendidihkan air. Itulah rahasia alam yang jarang diketahui orang.

Misalnya seperti diriku, mengapa aku dapat hidup sampai begini tua, pun karena jasa

racun. Hanya saja keadaannya berbeda dengan diri kalian yang terkena racun itu…..”

Tiba2 Siangkwan Wan-ceng menukas, “Tok lojin, ternyata engkau memang manusia

beracun segala-galanya. Bukan melainkan tubuh dan kaki tanganmu, pun juga lidahmu

beracun. Tukar bicara dan menutuk jalandarah kami tadi, bukankah engkau telah

menyalurkan racunmu ketubuh kami?”

Han Ping mencegah supaya nona itu jangan memutus pembicaraan orang.Siangkwan

Wan-ceng deliki mata, “Ih, baiklah, rupanya engkau memang sudah terbius kata2 manis

dia orangtua itu…..

“Tubuh setiap orang mempunyai sumber daya yang hebat. Tergantung dari orang itu

dapat memanfaatkannya atau tidak.

Misalnya karena tubuh kita terkena racun yang membahayakan jiwa tetapi kalau kita

dapat menyalurkan racun itu pada tempat yang sesuai, bukan melainkan umur kita akan

bertambah panjang pun kepandaian tenaga-dalam kita dapat kita kembangkan makin

meningkat. “Huh, ocehan setan ” diam2 Siangkwan Wanceng mendengus dalam hati.

Setelah merenung beberapa jenak. Han Ping pun berseru, “Benar, memang beralasan

juga!”

“Ih, mengapa begitu mudah engkau dapat dikelabuhinya? Sejak kecil aku dilahirkan

dikeluarga persilatan, mau tak mau pengetahuan dan pendengarankupun cukup luas.

Tetapi seumur hidup belum pernah kudengar orang mengatakan bahwa racun itu berguna

untuk menielihara umur panjang. Sudahiah, jangan mendengarkan ocehannya!” seru

Siangkwan Wan-ceng.

Dara itu menunjuk pada orangtua alis panjang, serunya! “Lihatlah keadaannya. Tubuhnya

kurus kering, tangannya seperti cakar burung, alisnya panjang seperti setan. Apakah dia

mirip dengan seorang sinshe yang pandai?”

Han Ping tahu bahwa dara itu keras kepala. Kalau dilayani tentu akan melawan dengan

reaksi yang lebih keras.

Maka ia segera memanggil dara itu supaya datang kepadanya.

Dengan tersipu merah dan mengulum senyum nona itupun menghampiri dan berdiri

disamping Han Ping.

Han Ping menerangkan dengan tersenyum, “Locianpwe ini telah menggunakan seluruh

hidup-nya untuk menyelidiki rahasia hidup

manusia dan menggunakan tubuhnya sebagai percobaan. Sama sekali bukan ocehan

kosong. Taruh kata kita tak dapat mempercayai seluruhnya tetapi tiada jeleknya kita

mendengarkan.”

Rupanya Siangkwan Wan ceng mau juga menurut nasehat Han Ping, Ia mengangguk dan

memandang kepada orangtua alis panjang, serunya tertawa, “Paman, bicaraiah pelahanlahan,

aku takkan mengganggumu lagi.”

Rupanya orangtua alis panjang itu kesima melihat sikap kedua tetamunya. Sejenak ia

terlongong heran lalu berkata memuji, “Ah, sungguh sepasang anak yang

menyenangkan,”Siangkwan Wan-ceng diam2 melirik kearah Han Ping lalu pelahan-lahan

sandarkan kepalanya kebahu kiri anakmuda itu.

Orangtua alis panjang itu memandang keluar jendela kearah bunga pUtih dan bunga

merah lalu melanjutkan pembicaraannya, “Semula aku hendak memaksa kalian harus

menerima cara pengobatanku. Tetapi sekarang kurobah keputusanku.

Aku hendak menjelaskan cara pengobatan itu agar kalian rela menerimanya sendiri.„

Racun beracun.

“Aku tak pernah belajar silat tetapi aku minum racun yang dapat merangsang tenaga.

Oleh karena itu aku memiliki tenaga yang luar biasa dan akupun faham akan jalandarah

orang. Orang yang tak kenal kepadaku tentu mengira aku seorang ahli silat.”

“Karena lo cianpwe menggunakan tubuh lo-cianpwe sendiri untuk percobaan maka aku

ingin sekali mendengarkan penjelasan lo cianpwe,” kata Han Ping.Setelah ‘”merenung

beberapa saat, orangtua alis panjang itu berkata, “Makanan dan minuman beracun yang

kumakan itu, dari sedikit demi sedikit sehingga banyak jumlahnya.

Tetapi kalian belum pernah menggunakan racun itu. Kalau mau makan, tentu takerannya

sedikit. Tetapi menilik racun dalam tubuhmu itu, jika tak makan obat beracun dalam

jumlah besar, tentu takkan berkhasiat. Dan kalau takerannya ditambah

banyak, akupun tak dapat mengatasi. Inilah hal yang perlu kujelaskan kepadamu.”

Han Ping berpaling kepada Siangkwan Wanceng. katanya, “Karena keadaan sudah begini

rupa, biarlah aku mencobanya saja.

Daripada duduk menunggu kematian lebih baik kita berusaha mencari hidup.”

Nona itu kerutkan alis dan berkata kepada orangtua alis panjang, “Paman. cobalah

engkau pikir, apakah tiada lain cara lagi kecuali itu?”

Orangtua alis panjang memanggul kedua tangannya dan berjalan mondar mandir lalu

berkata, “Caranya memang hanya satu tetapi harapan sembuh memang makin besar.

Tetapi perlu kutegaskan, bahwa aku tak dapat menjamin tentu berhasil “

“Apakah itu?” tanya Han Ping Dengan nada sarat orangtua alis panjang menjawab,

“Ganti darah….”

“Ganti darah….?” Siangkwan Wan-ceng menjerit kaget. “Benar, ganti darah.” kata

orangtua alis panjang, “lebih dulu darahku yang mengandung racun ini disalurkan

kedalam tubuhnya agar darah dalam tubuhnya mengandung banyak racun, setelah itu

baru minum racun dalam jumlah banyak.

Dengan cara itu kemungkinan hidup, memang lebih besar.” Siangkwan Wan-eeng

gelengkan kepala, “ Cara seaneh itu belum pernah kudengar.”

“Selain itu memang tiada cara lain lagi,” orangtua alis panjang mengangkat bahu.

“Asal kepandaian silatku tak hilang, aku bersedia mencoba,” kembali Han Ping berseru

memberi penegasan.

Kini orangtua alis panjang itu yang menghela napas, “Bagiku hal itu memang berbahaya.

Apabila salah urus, aku bisa mati karena kehabisan darah.”

“Ah, kalau memang membahayakan, tak perlulah lo-cianpwe mencoba cara itu,” Han

Ping menyusuli kata2.

Tetapi orangtua alis panjang itu tetap berkeras, “Daripada menghidupkan seorang tua

renta macam diriku ini, lebih baik kutolong engkau ..

Tiba2 ucapannya terputus oleh suara getaran keras dan bunyi bercuit cuit yang aneh.

Seketika berobahlah wajah orangtua alis panjang itu, serunya, “Hai, siapakah yang berani

menyelundup kedalam Panti Kematian dan melukai binatang kera pdiharaanku.”

Siangkwan Wan-ceng cepat berbangkit dan membisiki Han Ping, “Tinggallah disini,

jangan bergerak kemana-mana.

Aku akan menyertainya keluar.” Diantara bunyi bercuit-cuit yang riuh itu tiba2

memancar suara orang meneriakan nama Han Ping.

Suaranya parau nadanya.Mendengar itu Han Ping serentak bangun serunya “Yang datang

itu pamanku sendiri, harap kalian menemuinya keluar.Sedangkan aku akan

mempertimbangkan dulu perlukah aku menemuinya atau tidak.”

Siangkwan Wan-ceng berhenti dan mencegah orangtua alis panjang itu.

Tiba2 terdengar pula getaran keras dan teriakan orang memanggil nama Han Ping.

Rupanya karena kalap, Kim loji ngamuk dan menghantam dinding pondok.”Anak

perempuan, menyingkirlah, kemungkinan binatang kera piaranku itu telah diantam mati

oleh pendatang itu.” seru orangtua alis panjang melangkah maju.

Tahu bahwa sekujur badan orangtua itu beracun karena tak berani bersentuhan,

Siangkwan Wan ceng terpaksa menyingkir kepinggir tetapi ia gerakkan kakinya untuk

menendang lutut orang.”Sudahlah, jangan berkelahi sendiri. mari kita sama2 keluar

menemuinya!” akhirnya Han Ping berseru melerai.

Dan Siangkwan Wan-cwengpun minta maaf kepada orangtua alis panjang itu. Orangtua

itu hanya mendengus seraya melangkah keluar diikuti Han Ping dan Siangkwan Wanceng,

Tiba dipintu, orangtua alis panjang menekan alat penutup dan terbukalah dinding

pondok itu “Hai, dimanakah engkau menyembunyikan Ping-ji?” seru seseorang dari luar

pondok. Nadanya penuh dengan kemesraan seorang ayah kepada anaknya Han Ping

terharu. Cepat ia melangkah maju didepan orangtua alis panjang.

Tetapi baru berjalan dua langkah saja napasnya sudah terengah-engah.”Ping-ji, engkau

kenapa? Siapakah yang melukai engkau!” teriak Kim loji seraya lari menghampiri.

Sikap Kim loji yang begitu menyayang itu, benar2 menusuk perasaan Han Ping. Saking

terharu ia sampai menitikkan dua butir airmata dan menyahut rawan, “Paman: Kim, tak

kira…. saat ini aku masih dapat berjumpa dengan paman…”

Juga Kim loji berlinang-linang airmata. Ia menepuk bahu anakmuda itu, “Anak tolol,

mengapa engkau berkata begitu?

Asal engkau minum obat ini tentu segera sembuh!”Han Ping melihat pakaian paman Kim

loji itu koyak dan mukanyapun terdapat gurat2 luka. Tentulah pamannya tadi berkelahi

dengan kera peliharaan orangtua alis panjang. Tetapi tangan pamannya itu masih

menggenggam obat penawar racun. Kim loji rela kehilangan jiwa untuk mempertahankan

obat itu jangan sampai direbut orang.

Han Ping makin terharu. Ketika menundukkan kepala, dilihatnya disamping kaki Kim

loji terdapat kera bulu merah yang sudah menggeletak ditanah. Orangtua alis panjangpun

tengah memeriksa keadaan luka binatang peliharaannya dengan teliti.

“Ping-ji, betapa bingung aku tadi mencarimu. Setelah melihat engkau tak kurang suatu

apa, barulah hatiku lega.’”

‘”Tetapi bagaimana paman dapat mencari aku kemari tanya Han Ping.

“Dunia ini memang penuh dengan kejadian2 yang tak terduga. Setelah selesai

membuatkan obat untukmu aku cepat kembali kegunung tempat engkau berada. Tetapi

ternyata engkau sudah tak kelihatan. Betapa gelisah dan cemas hatiku, sukar kulukiskan.

Aku mencarimu kemana-mana dan meneriaki namamu tetapi tetap tak bersahut….

“Maafkan aku, paman….” kata Han Ping.

“Ah bukan salahmu tetapi aku sendiri yang tak cepat2 datang ketempatmu, ah….”

Setelah berdiam beberapa saat, tiba2 Han Ping berseru, “Paman, bukankah engkao

bertemu dengan seorang kakek sakit bersama cucunya?” Kim loji tertawa.

“Paman, mengapa engkau tertawa?”

“Ping ji, kukira engkau seorang pemuda yang polos hati kosong pikiran. Tetapi ternyata

engkau amat cerdas. Sesungguhnya berani tetapi sikapnya seperti takut, cerdik tetapi

tampak seperti bodoh, ha ha…. ternyata didunia terdapat seorang pemuda seperti

engkau….”

“Huh, apa yang engkau tertawakan!” tiba2 dari samping terdengar suara seseorang

membentak, Kim loji cepat berpaling.

Dilihatnya orang tua alis panjang yang bertubuh kurus kering itu Entah bagaimana Kim

loji yang penuh pengalaman dalam dunia persilatan, saat itu merasa seram melihat

perwujudan orangtua alis panjang yang tak ubah seperti sesosok mayat hidup.

“Aku menertawakan diriku sendiri, mengapa saudara hendak mengurus aku?” serunya.

Orangtua alis panjang tertawa dingin, “Tahukah engkau sekarang berada dimana?”

Sambil memandang kesekeliling, Kim Loji menyahut tersekat, “Aku…. aku di….”

” Tak peduli siapa saja, asal masuk ke Panti Kematian sini, hasus menurut kepadaku.

Bahkan jiwanyapun berada ditanganku,” seru orangtua alis panjang itu.Kim loji kerutkan

alis, menengadah tertawa, “Hebat. sungguh hebat sekali Seram, sungguh menyeramkan

sekali!

Tetapi bagiku seorang she Kim, hal itu sungguh mengelikan.”

“Benarkah engkau berani menertawakan?” menegas orangtua alis panjang itu.”Benar,

sudah berpuluh tahun aku malangkeutara melintang ke selatan, tetapi….”

Tiba2 orangtua alis panjang itu bertepuk tangan dan kera besar yang menggeletak ditanah

itupun loncat bangun lagi.

Han Ping, Siangkwan Wan ceng dan Kim loji terkejut sekali. jelas kera itu terluka parah

dan tak mungkin bisa hidup tetapi dalam sekejab saja setelah diperiksa siorangtua alis

panjang ternyata dapat loncat bangun.

Han Ping memandang kemuka. Dilihatnya orang tua alis panjang itu tengah menuding

kearah Kim loji- Kim loji tergetar hatinya dan menyurut mundur dua langkah. Dilihatnya

kera yang berlumuran darah itu menebarkan kedua tangan, sepasang matanya yang

berwarna kuning emas seperti menonjol keluar dari kelopaknya dan memandang

Kepadanya dengan penuh kemarahan.

Kera bulu emas itu pelahan-lahan berjalan menghampiri ketempatnya.Tadi Kim loji

sudah berkelahi dengan binatang itu tetapi entah bagaimana ia merasa ngeri ketika

melihat wajah dan keadaan kera pada saat itu.

Memang sudah berpuluh-puluh tahun Kim loji mengembara dalam dunia persilatan dan

selama itu entah berapa banyak lawan yang pernah dihadapi. Tetapi entah bagaimana

pada saat itu ketika menghadapi kera bulu emas, nyalinya seperti rontok.

Ia mundur lagi selangkah dan kera itu malah makin mempercepat langkahnya.Melihat itu

Han Ping cepat membentak, “Berhenti!” lalu cepat loncat kemuka kera.Teriakan Han

Ping itu laksana halilintar memecah angkasa. Rupanya ia telah mengerahkan seluruh sisa

tenaga-dalamnya.

Dan sesaat ia loncat kemuka kera, tahu2 kera itupun terlempar beberapa langkah

kebelakang dan rubuh ketanah.

Tiada seoranppun yang menyangka bahwa saat itu Han Ping masih mempunyai tenaga

yang sedemikian hebatnya.

Tampak dia berdiri tegak seperti patung lalu pelahan-lahan terkulai jatuh ketanah.

Kim loji menjerit, loncat dan menubruknya, “Ping ji….Ping ji ….”

Tiba2 kera bulu emas tadi meraung pelahan lalu lompat bangun. Melihat itu Siangkwan

Wan-cengpun cepat melesat ketempat binatang itu. Tetapi secepat itu pula si nona buang

tubuhnya berjumpalitan loncat kembali ketempatnya semula.

Ternyata nona itu hanya perlu menjemput pedang pusaka Pemutus-asmara yang terletak

ditanah setelah itu ia kembali lagi dan berkata kepada orangtua alis panjang, “Walaupun

kera bulu-emas itu mempunyai tulang baju kulit besi tetapi jangan harap

dapat bertahan menerima tabasan pedang pusaka ini!”

Orangtua alis panjang itu mengedipkan mata, wajahnya yang dingin tadipun tampak

tenang dan tiba2 ia bertepuk tangan tiga kali.

Kera bulu emas itupun berputar tubuh, mmandang tuannya lalu menghampiri pelahanlahan.

Siangkwan Wan-ceng mendapat kesan bahwa pondok yang bernama Panti Kematian dan

oran” tua alis panjang memang penuh dengan rahasia.tetapi iapun mendapat kesan bahwa

orangtua itu memang berusaha hendak menolong jiwa Han Ping “Paman, lekaslah

menyingkir! “Siangkwan Wanceng berseru seraya loncat kebelakang kera dan

mengacungkan ujung pedang kepunggung kera.

“Jangan melukainya ” orangtua alis panjang itu melengking dan tiba2 mengangkat tangan

menampar kepala kera bulu emas.

Siangkwan Wan-ceng hentikan rencananya hendak menusuk tetapi pedang itu tetap

diarahkan kepunggung kera.

Orangtua itu tak mengacuhkan. Matanya tetap memandang kemuka kera. Dari kerut

wajahnya yang tegang itu jelas kalau orangtua alis panjang sedang menggunakan tenaga

besar untuk mengatasi binatang piaraannya.

wajah kera yang menyeramkan itupun pelahan-lahan lenyap, matanya mengatup dan

terkulailah binatang itu rubuh ketanah.

Orangtua alis panjangpun berjongkok lalu menangis keras. Rupanya ia amat berduka

sekali karena kehilangan binatang yang disayanginya itu.Betapapun halnya, Siangkwan

Wanceng itu seorang gadis yang memiliki perasaan halus.

Melihat orangtua alis panjang menangis tersedu sedan, ia segera menghampirt dan

berjongkok, “Sudahlah, paman, jangan menangis…. ” Tetapi orangtua alis panjang itu tak

mengacuhkan. Ia tetap menangis sedih.

Siangkwan Wan-ceng hendak menghiburnya tetapi tak tahu bagaimana harus merangkai

kata2.

Ketika sejenak ia berpaling, dilihatnya Kim loji mengangkat tubuh Han Ping dan hendak

dibawanya pergi.

“Berhenti!” seru Siangkwan Wan-ceng.Sejenak Kim loji berpaling memandang si nona

lalu tiba2 ia loncat keambang pintu.

Siangkwan Wanceng melonjak bangun dan berteriak, “Kalau engkau hendak

mernbawanya pergi, berarti engkau hendak menghilangkan jiwanya.” Saat itu Kim loji

sudah menendang pintu dan hendak lari keluar. Serta mendengar teriakan si nona, tiba2 ia

berhenti, “Apakah omonganmu itu sungguh?”

“Dalam soal yang sepenting ini masakan aku masih ingin bergurau?”

sahut Siangkwan Wan-ceng, Memandang kepala Han Ping, dilihatnya wajah pemuda itu

pucat lesi. napasnya lemah.

Setelah tertegun beberapa jenak, Kim lojipun melangkah masuk kembali. Baginya jiwa

Han Ping itu amat penting sekali Siangkwan Wan ceng segera menyongsong dan

bertanya kepada Kim loji, “Lo-cianpwe apakah dia masih keluargamu?

Mengapa engkau begitu memperhatikan sekali kepadanya?” Jawab Kim loji, “Dia adalah

putera dari saudara-angkatku ….”

Kenangan yang lampau kembali terbayang di benak Kim loji. Ia menghela napas,

ujarnya, “Kami tiga pendekar gunung Lam-gak, hanya tinggal aku seorang saja tetapi

keadaankupun begini cacad Untunglah Thian masih kasihan kepadaku.

Aku dapat merawat putera toako. Membalas dendam, mengangkat nama didunia

persilatan, seluruhnya terletak diatas bahu anak ini.

Apabila dia tak dapat tertolong dari Keracunan, akupun tak mau hidup sebatang kara

didunia.. . .”

Siangkwan Wan ceng tertawa rawan, “Aku tak tahu asal usul dirinya tetapi aku amat

mengagumi kepandaiannya.

Thian telah menciptakan seorang tunas dunia persilatan yang begitu cemerlang tentu

takkan begitu saja akan melenyapkannya….”

Tiba2 nona itu hentikan kata-katanya karena mendengar orangtua alis panjang itu

menangis makin beriba iba.

Seolah-olah hendak mencurahkan kesedihannya hatinya hidup seorang diri dalam

kesepian.

Mau tak mau Siangkwan Wan-ceng ikut tersentuh nuraninya. Dua butir airmata me-nitik

keluar.

Setelah menghapus airmata, ia menghampiri ketempat orangtua alis panjang itu lagi,

“Paman, sudahlah, jangan menangis.”

Orangtua alis panjang itu berpaling memandang si nona. Berhenti menangis, beberapa

saat kemudian tiba2 ia tertawa keras.

Sudah tentu Siangkwan Wan ceng heran dan bertanya, “Mengapa engkau tertawa?”

Orangtua alis panjang itu tiba2 berdiri lalu menari dan menyanyi-nyanyi.

Suaranya tak sedap didengar, bercuit-cuit talk jelas lagunya. Tubuhnya berlenggang

lenggok menurut sekehendak hatinya….

Siangkwan Wan ceng hendak menasehatinya, tetapi karena melihat orangtua itu makin

lama makin menari dan menyanyi dengan gembira, ia tak jadi membuka mulut.Seberapa

saat kemudian, tiba2 orangtua alis panjang itu rubuh dan menjerit-jerit bergelimpangan

ditanah.

Melihat orangtua itu berguling-guling makin keras sehingga pakaiannya koyak2,

Siangkwan I Wan-ceng tertegun, “Nona, lekas engkau cegah orang itu. Kalau Ia terus

menerus berguling-guling begitu rupa, selain pakaiannya akan hancur, jiwanya tentu

melayang juga,” seru Kim loji.Siangkwan Wan-ceng mengiakan lalu menyambar tubuh

orangtua alis panjang itu.

Tetapi karena orangtua itu berguling-guling seperti binatang buas, beberapa saat

kemudian barulah Siangkwan Wan-ceng berhasil mencengkeram bahunya. Orangtua alis

panjang itu berhenti lalu bangun.

“Paman seorang tua, mengapa sebentar sedih sebentar tertawa seperti anak kecil saja?”

tegur Siangkwan Wan-ceng.

Sejenak berdiam diri, orangtua alis panjang itu menyahut, “Seumur hidup aku belum

pernah merasa gembira seperti hari ini….”

Rupanya ketegangan hati orangtua itupun sudah reda. Tapi memandang Kim loji lalu

Siangkwan Wan-ceng, katanya, “Anak2, mari ikut aku!”

“Engkau memanggil siapa?” Kim loji terkesiap.

“Engkau!” seru orangtua itu, “kalau dulu aku menikah tentu sudah mempunyai anak

sebesar engkau, mungkin lebih tua lagi!”

Karena melihat rambut oragtua itu memang sudah beruban, Kim loji merasa kalau orang

itu memang jauh lebih tua dari dirinya.

Terpaksa ia mengangkat tubuh Han Ping lalu menghampiri.

Orangtua alis panjang itu mengangkat tubuh kera bulu emas, membuka pintu disudut

ruang lalu melangkah masuk.

Siangkwan Wan-ceng membisiki Kim loji bahwa gerak gerik orangtua alis panjang itu

memang serba aneh.

Oleh karena hendak minta pertolongannya lebih baik nanti menuruti saja kehendaknya.

Kim loji mengiakan, “ Ya, asal dapat menolong Ping-ji, sekalipun suruh aku menjura

sampai beberapa kali dihadapannya, akupun mau.”

Kini mereka menasuki ruang obat-obatan. Setelah meletakkan kera bulu emas, orangtua

alis panjang itu memetik setangkai bunga putih dan sebutir buah merah lalu mengambil

beberapa macam!

obat obatan lahu diramunya. Ia membuka mulut kera lalu memasukkan obat. Setelah itu

ia menepuk kepala kera itu dua kali, serunya, “Makanlah…!” Aneh, mulut kera itupun

bergerak-gerak menelan obat.

“Bawa dia kemari,” seru orangtua alis panjang itu kepada Kim loji. Dengan menghela

napas, Kim loji terpaksa melakukan perintah.

“Letakkan!” kembali orangtua alis panjang itu memberi perintah. Kim loji bersangsi

sejenak lalu meletakkan tubuh Han Ping.

Setelah sejenak memeriksa dada Han Ping, orang tua alis panjang itu menghela napas,

“Luka-nya berat sekali.

Hanya dengan cara ‘racun mengobati racun’, mungkin dapat menolong jiwanya.”

“Adakah yang disebut racun mengobati racun itu?” tanya Kim loji.

“Racun itu telah menyusup kedalam darah dagingnya dan sudah tersebar keseluruh tubuh.

Aku tak dapat menghilangkan racunnya tetapi hanya dapat mengobati dengan cara

memberi lain jenis racun yang dapat menindas racun dalam tubuhnya “

“Apakah ‘tak berbahaya?” Kim loji berkata seorang diri dengan cemas.

“Aku tak mau memaksa, terserah kepadamu,” kata orangtua alis panjang.

“Lekas kerjakan!” tiba2 Siangkwan Wan-ceng berseru,” daripada kalau racun itu bekerja

dan dia mati, lebih baik mencobabahaya itu.”

Melihat kemantapan si nona. Kim loji hanya dapat menghela napas; serunya, “Baiklah,

bila Ping ji sampai mati, kita bertiga pun jangan harap ada yang hidup!”

“Benar,” sa mbut Siangkwan Wan-ceng, “dia mati, kitapun tak perlu harus hidup.”

“Bagus, bagus!” seru orangtua alis panjang, “aku memang sudah lama ingin mati tetapi

kalau mati seorang diri merasa kesepian.

Dengan mendapat kawan kalian bertiga, itu bagus sekali.”

Orangtua alis panjang itu segera memetik sekuntum bunga putih dan buah merah dan

memilih beberapa macam tanaman obat lalu diremas-remas jadi satu.”Hai, apakah obat

itu tak perlu dimasak?” Siangkwan Wan-ceng berseru heran.

“Daun2 Obat ini sudah matang, tak perlu dimasak lagi.

Setelah setelah meramu obat-obatan itu, ia segera menggelindingi menjadi lima butir pil

besar kecil, katanya, “Pil beracun ini cukup untuk membunuh berpuluh-puluh orang.

Racun ganas sekali Kim loji dan Siangkwan Wan ceng diam saja tak mau memberi

rekasi. Sepeminum teh lamanya, kembali orangtua alis panjang itu berkata seorang diri,

“Apa boleh buat, kalau tak menggunakan racun ini, mungkin dia tak dapat hidup.”

Kim loji dau Siangkwan Wan-ceng tetap diam Orangtua alis panjang itu menjemput

sebutir pil lalu disusupkan kemulut Han Ping.

Kemudian sejenak berpaling memandang Siangkwan Wanceng, kembali orangtua itu

memasukkan pil yang kedua, katanya, “Kalau setelah makan lima butir pil ini dia hidup,

berarti dia takkan mati….” Setelah itu ia memasukkan pil yang ketiga.

“Hai, jangan cepat begitu, biarkan dia mengunyah pelahan-lahan,” seru Siangkwan Wanceng.

“Ah, tak ada waktunya. Aku ingin lekas2 mengatahui dia hidup atau mati.” sahut

orangtua alis panjang.

Demikian tak berapa lama habislah kelima butir pil itu dimasukkan kemulut Han Ping.

Kini mereka menunggu dengan penuh ketegangan. De-tik2 dirasakan lama sekali oleh

ketiga orang itu.

“Jantungnya masih mendebar,” kata Siangkwan Wan-ceng seraya meraba dada Han Ping.

“Alangkah cepatnya,” seru orangtua alis panjang, “dalam sejam lagi tentu dapat diketahui

mati hidupnya’

“Satu jam? Ah, betapa lamanya!” keluh si dara.

“Jangan kuatir, nanti aku yang mengganti jiwanya,” sahut orangtua itu.

Tiba2 Kim loji melonjak dan lekatkan tangannya kepunggung orangtua alis panjang itu,

“Kalau dia mati, engkaulah yang menyusul mati lebih dulu “

“Jangan kuatir,” sahut orangtua itu, “aku memang sudah mempersiapkan tempat untuk

kita berempat.”

“Seumur hidup aku tak suka percaya omongan orang,” kata Kim loji.

“Percaya atau tidak terserah,” kata orangtua als panjang,” tetapi engkau harus bersabar

menunggu sampai satu jam.”

“Baik, tetapi tanganku tetap akan melekat dipungungmu. Sampai nanti setelah dia benar2

dapat hdup, baru kutarik kembali.”

“Kalau engkau tak repot, silahkan aja” sahut orangtua itu.

Siangkwan Wan cengpun tunjukan ujung pedang Pemutus asmara kedada kera bulu

emas, “Kalau engkau bermaksud hendak menggunakan binatang ini. dia tentu kubunuh

dulu.”

Orang tua alis panjang itu tertawa gelak2, “Bagus, bagus, seumur hidup baru pertama kali

ini aku merasa ada orang yang memperhatikan diriku. Entah kalian bermaksud baik atau

buruk, tetapi aku berterima kasihsekali,” habis berkata ia terus pejamkan mata

bersamedhi. Mulutnya mengulum senyum.

Demikian suasana ruang pondok itu sunyi senvap dan tak berapa lama sejampun sudah

lewat.

Tetapi Han Ping tetap berbaring tak bergerak.

Siangkwan Wan ceng meraba dada Han Ping lagi, serunya, “Paman, jantungnya masih

berdetak.”

Orangtua itu membuka mata, serunya, “Ada orang datang!”

Siangkwan Wanceng tertegun dan mempertajam telinganya. Segera ia mendengar suara

seseorang yang bernada kasar, “Adakah orang2 didalam pondok ini sudah mati semua?”

Menyusul terasa getaran keras. Rupanya karena tak ada yang menjawab, orang itu marah

dan entah dengan benda apa, ia menghantamt dinding pondok.

“Iblis laknat, setan keparat!” orang itu me-maki2, “kalau aku sampai marah, pondok int

tentu kubakar!”

“Hm, bakarlah! Pondok ini terbuat dari batu hijau yang tahan api,” orangtua alis panjang

itu berkata seorang diri dengan pelahan. Karena tak jauh dari tempatnya, Siangkwan

Wan-ceng dapat mendengar kata2 orangtua itu.

“Hai, orang didalam rumah, lekas saja seorang keluar. Kalau tak mau, jika kuketemukan

tempat persenbunyian kalian, tentu akan kubunuh,” seru orang itu makin keras.

“Rupanya pendatang itu bangsa kaum persilatat sehingga tahu kalau kitu bersembunyi

dibilik rahasia ini,” kata Kim loji.

“Biarlah,” sahut orangtua alis panjang. “kamar rahasia ini terbuat dan batu tebal yang

tahan api dan amat kokoh sekali.

Tak mungkin dia dapat masuk kemari.”

“Orang itu terlalu liar, biarlah aku keluar untuk memberinya hajaran,” kata Siangkwan

Wanceng.

“Tak perlu.” cegah orangtua alis panjang.” biarkan dia bingung sendiri. Bum, bum,

bum….

Terdengar suara letupan dan getaranu makin keras. Rupanya karena tak sabar menunggu

penghuni pondok yang tak mau keluar, pendatang itu marah sekali. Ia mengamuk dan

menghantam kamar rahasia itu sekeras-kerasnya.

Getaran itu makin hebat dan letupanpun makin dahsyat. Jelas pendatang itu tentu

menggunakan senjata untuk menghantam dinding.

Entah berselang berapa lama, suara letup dan getaran itupun tiba2 berhenti.

“Ayo, mereka tentu sudah sakit tangannya,” orangtua alis panjang tertawa.

Tiba2 Han Ping menghela napas pelahan. Kedua tangannyapun bergerak-gerak……….

JILID 2

“Oh, terima kasih Tuhan, dia sudah siuman,” seru Siangkwan Wan-ceng

gembira.

Kim lojipun segera menarik telapak tangannya yang melekat dipunggung

orangtua alis panjang lalu memperhatikan Han Ping.

Tetapi setelah dapat bergerak beberapa saat, tiba2 Han Ping kembali tak

berkutik lagi.

[bersambung]