makam asmara 01
Jilid 1
Luka hati luka tubuh.
Pada jalan dilereng gunung yang menurun
landai, penuh ditumbuhi gerombolan pohon
Siong yang pendek.
Seorang pemuda dengan napas terengah-engah
tengah merangkak naik. Rupanya dia
sedang menderita luka parah.
Tangan kirinya mencekal batang pohon siong
pendek untuk mengayunkan tubuhnya.
Akhirnya dengan cara menarik batang demi
batang, walaupun tampaknya susah payah,
namun akhirnya kerhasil juga pemuda itu
mencapai puncak bukit. Dia menghela napas
panjang Lalu duduk melepaskan lelah.
Tangan kanannya memegang sebatang pedang
pusaka. Diletakkannya pedang pusaka itu
ketanah.
Rupanya ia sudah kehabisan tenaga. Setelah
meletakkan pedang,iapun rubuh dibawah
sebatang pohon siong kecil.
Tiba2 dari kaki puncak bukit muncul seorang
dara. Ia berteriak memanggil nama pemuda
itu seraya mendaki keatas.
Ketika melihat keadaan pemuda yang rebah
menggeletak dibawah pohon siong, air mata
dara itu berderai derai laksana hujan
mencurah.
Sekonyong-konyong pula dikaki bukit
terdengar suara orang tua tengah memanggilmanggil
nama dara itu.
Dara itu mendengarnya tetapi ia keraskan
hati tak mau menyahut.Dara itu ayunkan
langkah menghampiri tempat sipemuda
menggeletak, serunya penuh kecemasan,
“Tenagamu sudah habis, jangan keras kepala,
ijinkanlah aku memapahmu!”
Tetapi pemuda itu diam saja. Matanya tetap
memejam. Dara itu makin cemas. Ia ulurkan
tangan meraba hidung sipemuda.
Ah napas pemuda itu berhembus lemah dan
terputus-putus. Tangannyapun membeku
kaku. Ternyata pemuda itu pingsan.
Dara itu mengeluarkan sehelai saputangan
sutera untuk mengusap airmatanya.
Serangkum bau harum bertebaran menusuk
hidung.
Rupanya bau harum itu telah menyadarkan
pikirannya “Ah, mengapa aku lupa?” serunya
seorang diri, “Bukankah saputangan pemberian
dari dara puteri ketua partai Lam-hay-bun
itu terdapat tulisan resep obat yang
manjur?”
Buru2 ia merentang saputangan itu. Ah…. Ia
mengeluh. Ternyata tulisan pada
saputangan itu sudah terhapus terkena
airmatanya.
Sejenak meneliti bekas2 tulisan itu, si dara
pun lalu menyimpan saputangannya pula.
Kemudian ia memeluk pemuda itu, memandang
wajahnya lalu berkata seorang diri,
“Matilah! Ya, kematian akan mengurangi
penderitaan….”
Tiba2 ia rasakan pemuda itu tubuhnya
bergeraK, matanya terbuka sebentar lalu menutup
pula.
Dara itu lekatkan telinganya kedada
sipemuda. Didengarnya jantung pemuda itu masih
berdetak-detak.
Segera ia mengangkat tubuh pemuda itu,
menjemput pedangnya lari meinbawanya lari.
Dalam beberapa saat ia sudah melintasi dua
buah puncak bukit dan tiba disebuah tempat
yang tenang tiada berangin. Tempat itu
merupakan sebuah cekung gunung, luasnya tiga
empat tombak, penuh ditumbuhi rumput. Ia
meletakkan tubuh pemuda itu ditanah,
mengusap peluh didahinya lalu duduk
disamping pemuda itu, memandang surya yang
tengah menyingsing disebelah timur dengan
terlongong-longong.
Menilik gerak geriknya, jelas dia seorang
dara yang manja sehingga canggung
menghadapi keadaan seperti saat itu.
Beberapa saat kemudian tiba2 ia bangkit,
mengambil pedang yang terselip
dipunggungnya lalu dilemparkan keatas rumput
dan menggeram, “Hm, jika sejak kecil
aku tak selalu main2 engkau dan menggunakan
waktuku untuk membaca buku obatobatan
sekarang tentu aku sudah dapat menolongnya.”
Tiba2 pula ia teringat bahwa seorang dara
baju ungu telah memberinya pil putih penawar
racun Mengapa ia mau mencobakan pil itu
kepada pemuda yang ditolongnya ini.
Mendapat pikiran itu ia segera mengambil
pil. Pil itu hanya tinggal dua butir.
Sesungguhnya untuk mengobati dirinya yang
sedang sakit, Namun ia memberikan juga
kepada pemuda itu. Dengan minum pil itu
dapatlah pemuda itu hidup lagi sampai sebulan
lamanya. Ia menjemput sebutir lalu
disusupkan kemulut sipemuda. Ternyata pil itu
benar2 berkhasiat sakti.
Beberapa saat kemudian, tiba2 pemuda itu
sadar dan berbangkit duduk.Ternyata pemuda
itu terluka pada lambungnya. Kemungkinan dia
tentu habis melakukan pertempuran
dengan musuh. Setelah duduk ia memandang
pada lukanya lalu pelahan lahan beralih
pandang kewajah dara yang menolongnya,
kemudian bertanya hambar, “Dimanakah kita
sekarang ini?”
Sikap pemuda yang keras kepala dan pantang
menyerah itu telah membangkitkan rasa
kagum pada si dara.
Kegelisahan dara itupun mulai menurun.
Setelah menata rambutnya yang’ kusut, dara itu
tertawa: Entahlah, aku juga tak tahu.
Tempat ini sebuah cekung gunung yang sunyi
tetapi entah apa namanya.”Pemuda itu
memandang ke sekeliling lalu berkata, “Aku
ingin mati dipuncak gunung, siapa yang
membawa aku kemari?”
“Engkau pingsan dipuncak itu lalu kubawa
kemari.
Disana banyak angin….” sahut si dara lalu
menghela napas, “aku mengikuti
dibelakangmu dan tahu engkau menderita luka
parah sedang mendaki kepuncak gunung.
Hendak kubantu…. tetapi aku kuatir engkau
marah.”
Tiba2 pemuda itu mencurahkan pandang mata
kearah pedangnya yang berada disitu si
dara, serunya, “Berikan pedangku itu.”
Dara itupun memberikannya.Setelah menyambuti
pemuda itu memandang pedang itu
dengan mata berkilat kilat.
“Ah, benar2 sebuah pedang pusaka yang
hebat,” seru si dara.Pemuda itupun meletakkan
pedang lalu berkata, “Kaum persilatan
mengatakan bahwa pedang ini sebuah pedang
yang membawa malapetaka. Rupanya memang
benar.”
Tiba2 dara itu tersenyum, “Dara baju ungu
itu telah memberikan sehelai saputangan
kepadaku. Pada saputangan itu ia menulis
resep obat. la mengatakan racun dalam
tubuhmu masih belum bersih dan suruh engkau
makan obat menurut resepnya ini agar
racun bisa keluar….”
Pemuda itu menghela napas. Ia memandang
pedang pusaka itu lagi, serunya, “Atas
bantuanmu tiada benda berharga yang dapat
kupersembahkan kepadamu. Pedang ini
pusaka dari kaum Siau-Hm si.
Karena kuatir mungkin aku tak dapat
membawanya daripada hilang di gunung tak
berketentuan rimbanya, baiklah ku berikan
kepada nona.”
Dara itu menghela napas kecil, “Dara baju
ungu itu mengatakan jika engkau tak makan
obat menurut resep pada saputangan itu.
Engkau tak dapat hidup lebih panjang dari sehari
semalam.”Pemuda itu tertawa, “Apakah luka
pada lambungku ini, dara itu yang
menikamnya?” Demikian keduanya saling
bertukar jawab, tetapi pertanyaan dengan
jawaban selalu berlain arahnya.
“Dipegunungan yang sepi ini tentu sukar
membeli resep. Baik kita lekas lanjutkan
perjalanan menuju ke kota….” kata si
dara.Tetapi pemuda itu gelengkan kepala, “Terima
kasih atas perhatian nona. Maaf aku hendak
pergi!”
Pelahan-lahan ia bangkit dan dengan langkah
terhuyung-huyang ia berjalan kemuka.
Sudah tentu dara itu terkejut sekali.
Ia longcat menghadang, “Hai, hendak kemana
engkau?”
“Jangan mengurusi aku!” sahut pemuda lalu
berlari sekuat sisa tenaganya, Dalam
beberapa kejab saja, ia sudah melintasi dua
buah tikungan dan lenyap dari pandang mata.
Dara itu memandang tingkah laku sipemuda
dengan terlongoug-longong Setelah
sipemuda tak kelihatan, timbullah rasa
hambar dalam hati dara itu. Ia merasa terhina.
“Dengan marah ia gentakkan kakinya ketanah,
“Huh. manusia yang tak tahu budi,
matilah engkau!”
Ia menjemput pedang pusaka lalu mengejar
pemuda itu Siapakah gerangan sepasang
muda mudi yang aneh gerak geriknya itu? Ah,
ternyata pemuda keras kepala itu bukan
lain yalah ji Han Ping, pahlawan kita dalam
kisah Persekutuan Tusuk Kundai Kumala.
Note: cersil Persekutuan Tusuk Kundai
Kumala tamat pada jilid ke 29. Silahkan baca.
Setelah melakukan pertempuran dengan orang
Lam-hay-bun, dengan menderita luka Han
Ping tinggalkan gelanggang pertempuran.
Dara Siang-kwan Wan-ceng, puteri dari
Siangkwan Ko, ketua marga Siangkwan
mengikuti jejak pemuda itu.
Dan terjadilah adegan seperti yang tertera
diatas. Han Ping memang keras kepala. Ia tak
mau menerima pertolongan orang.
Maka walaupun masih menderita luka parah, ia
tak mau menurut anjuran Siangkwan
Wan-ceng yang mengajaknya ke kota membelikan
resep dari dara baju ungu, puteri ketua
perguruan Lam-hay-bun. Ia memilih mati
daripada menerima pertolongan orang Lamhay-
bun. Maka larilah ia meninggalkan Siangkwan
Wan-ceng yang terlongong longong
Namun setelah lari tiga li jauhnya, ia
kehabisan tenaga. Sepasang kakinya melentuk
lunglai dan rubuh. Tetapi pikirannya masih
sadar.
Dengan mengerahkan sisa tenaganya ia
berusaha untuk merangkak. Beberapa langkah
lagi ia kembali rubuh.
Han Ping menangis dalam hati karena harus
mati dalam keadaan begitu. Namun
kekerasan hatinya tetap berontak.
Ia tak ingin menerima pertolongan Siangkwan
Wan-ceng. Ia ingin mati dalani keadaan
sunyi.
Tiba2 ia mendengar derap langkah kaki orang
berjalan dari kejauhan. Ah, ia mengeluh. Ia
ingin mati tak diketahui orang. Mengapa
lagi2 ada orang yang datang ke tempatnya situ.
Langkah kaki orang itu makin lama makin
dekat.
Seorang kakek tua tengah dipanggul oleh
seorang anak lelaki. Karena jalanan gunung
menanjak, anak itu terengah-engah napasnya
seperti kehabisan tenaga. Namun anak itu
juga seorang anak yang keras hati. Ia tetap
ayunkan langkah memanggul orangtua yang
tampaknya menderita sakit parah.Tetapi
betapapun dikuat-kuatkan, akhirnya anak itu
terpaksa harus berhenti karena kehabisan
tenaga. Setelah meletakkan orangtua yang
dipanggulnya, ia berteriak, “Engkong, aku
tak kuat berjalan lagi!”
Kakek itu menghela napas berat, ujarnya: Ah,
nak, aku banyak membuat engkau letih.
Aku sudah begini tua, seharusnya mati saja.
Tetapi sebelum kusaksikan engkau menikah dan
tinggal ditempat kediaman yang telah
kubangun untuk kalian, aku tak dapat mati
dengan meram. Aku masih harus hidup berapa
tahun lagi sampai nanti sudah melihat engkau
mengambil seorang isteri….”
Percakapan antara engkong atau kakek dengan
cucunya itu terdengar juga oleh Han Ping.
Diam2 ia tergerak hati, pikirnya, “Ah,
betapa sederhana keinginan hati orangtua itu. Dia
hanya ingin melihat cucunya menikah baru
rela mati. Tetapi aku, ah…. aku masih
mempunyai dendam darah dan hutang budi pada
Hui Gong taysu. Akupun sudah berjanji
kepada Hui Gong taysu untuk melaksanakan
pesannya. Tetapi kesemuanya itu belum
berhasil.
Adakah begitu saja aku harus mati saat ini?”
Benak Han Ping mulai berkabut, pertanyaan
dia menimang-nimang, adakah layak kalau
saat itu ia mati…. Manusia hidup siapakah
yang terhindar dari kematian. Namun setelah
mati harus meninggalkan nama dan amal yang
baik….” diam2 Han Ping menghafalkan
sebuah sajak kuno.
Lalu bertanya kepada dirinya sendiri, “Kalau
aku mati, apakah yang kutinggalkan?”
Diam2 ia bimbang.
Keputusannya untuk mati itu termasuk sikap
seorang ksatrya yang tak takut mati atau
seorang ksatria yang takut menghadapi
kenyataan hidup? Soal mati dan hidup mulai lalu
lalang di benak Han Ping. Setiap angin
pegunungan berhembus.
Ketika mengangkat muka memandang kedepan,
ah, ternyata si dara Siangkwan Wan
Ceng sudah berada disisi orangtua itu.
Entah ia tak tahu, bilakah nona itu muncul
kesitu.Tangan kanan nona itu mencekal
pedang pusaka Pemutus Asmara dan punggungnya
menyandang kerangka pedang itu.
Rambutnya terurai kusut, semangatnya kuyu.
Sejenak memandang kearah orangtua yang
menderita sakit, Siangkwan Wan-ceng
berpaling kepada anak ielaki kecil, “Adik
kecil, siapakah kakek ini?”
“Dia adalah engkongku,” sahut anak itu.
“Apakah ia menderita luka berat?”
Tiba2 anak itu mengucurkan airmata,
sahutnya, “Engkongku itu telah menderita sakit
selama tiga bulan. Digunung sana terdapat
seorang tabib yang dapat mengobati orang
sakit. Tetapi ketika kubawa engkong kesana,
ternyata tabib itu sedang sedang keluar,
baru beberapa hari pulang.”
“Apakah engkau pernah bertemu dengan seorang
pemuda yang menderita luka berada
disana?” tanya Siangkwan Wan-ceng girang.
Bocah itu gelengkan kepala, “Tidak, aku
pergi ketempat tabib itu dengan mengambil
jalan pendek. Jalan itu sedikit sekali
orangnya.”
Tiba2 Siang kwan Wan-ceng merogoh keluar
sekeping mas, ujarnya, “Keping emas ini
kuberikan kepadamu untuk ongkos pengobatan
engkongmu. Lekas beritahukan
kepadaku, dimanakah tempat tinggal tabib
itu?”
Seumur hidup bocah itu belum pernah melihat
emas sekian banyak.
Dengan gemetar ia ulurkan tangan menyambuti,
“Tabib itu tinggal disebelah utara dari
puncak gunung.”
“Apakah nama tempat itu?”
“Memang ada namanya tetapi ah, aku sudah
lupa,” sahut sibocah lelaki, “tetapi tempat itu
mudah dicari. Dibawah puncak gunung itu
terdapat sebuah rumah batu yang tunggal, tak
ada tetangganya.”
Tiba2 anak lelaki itu angsurkan tangannya,
“Keping emas ini tentu berharga sekali, lebih
baik engkau ambil kembali saja.”
“Simpanlah!” seru Siangkwan Wan-ceng, “aku
hendak mencari orang yang menderita
luka itu,” ia terus melesat lari.
Anak Ielaki itu makin heran, serunya,
“Hai,apakah nona hendak mencari orang sakit?”
Gerakan Siangkwan Wan-ceng memang gesit
sekali. Sekali loncat tadi ia sudah berada
tiga tombak jauhnya.
Mendengar bocah itu berteriak, ia berputar
tubuh dan pandang matanya tepat tertumbuk
pada sesosok tubuh orang yang terlentang
digerumbul rumput.Astaga! Itulah Han Ping
yang duduk bersandar pada gerumbul rumput
dan sepasang matanya terbuka lebar2.
Siangkwan Wan-ceng tertegun. Ia hendak
menegur tetapi tak jadi. Sebenarnya ia hendak
bertanya kepada Han Ping adakah pemuda itu
tak keberatan kalau ia tolong. Tetapi saat
itu juga ia teringat betapa keras kepala
pemuda itu.
Apabila mendapat jawaban yang ketus,
tentulah akan menyinggung perasaannya. Itulah
sebabnya maka ia tak jadi membuka mulut.
Diluar dugaan ternyata sikap Han Pin; sejak
mendengar pembicaraan antara kedua kakek
dan cucunya tadi, sudah berobah.
Tidak sedingin tadi. Ia memikirkan bahwa
masih banyak pekerjaan dan janji yang belum
terpenuhi. In harus memelihara jiwanya.
Jika ia mati, siapakah yang mampu
melaksanakan tugas membalas sakit hati orangtuanya
dan melaksanakan pesan Hui Cong taysu?
Pendirian Han Ping saat itu, ia harus
memelihara jiwanya, ia harus hidup. “Bukankah
engkau hendak mencari aku…. ” serunya
menegur Siangkwan Wan-ceng.Siangkwan
Wan-ceng menganguk lalu berjongkok, tertawa,
“Hm, aku mencarimu perlu mengobati
lukamu.”
Nona itu berusaha membuat nada ucapan dan
sikapnya seramah mungkin. Entah tenaga
gaib apa yang menyebabkan seorang gadis
manja dan angkuh seperti dia, mulai mau
bersikap lemah lembut.Han Ping menghela
napas: Terima kasih, nona.
Mungkin aku tak dapat sembuh. Lukaku amat
parah.” Sambil ulurkan tangan, Siangkwan
Wan-ceng tertawa riang, “Ada seorang tabib
yang tinggal disebelah gunung itu. Maukah
engkau kuantar kesana?”
Han Ping menundukkan kepala, tak menjawab.
Wajahnya yang pucat lesi tiba2
memancarkan warna merah.
“Engkau mau?” tanya si dara pula.
Han Ping hanya tertawa menyeringai. Melihat
pemuda itu tersipu-sipu malu, tiba2
Siangkwan Wan-ceng merasa kalau dirinya
lebih besar. Berkatalah ia dengan sungguh2,
“Lekas engkau rebah dipunggungku, akan
kubawamu kepada tabib itu “
Han Ping menghela napas, “Engkau amat baik
sekali kepadaku, entah dengan cara
bagaimana kelak aku dapat membalas budimu.”
Siangkwan Wan-ceng bersikap seperti seorang
yang lebih besar umurnya, “AKU sendiri
suka melakukan hal itu, siapa suruh engkau
membalas budi?”
Ia terus memanggul Han Ping lalu lari.
Setelah melintasi puncak gunung, ia melihat
sebuah rumah batu berdiri diatas sebuah
lapangan rumput. Rumah itu hanya tunggal, tak
ada tetangganya. Rumah itu dikelilingi
dengan pagar bambu bercat hitam.Cepat sekali
Siangkwan Wan-ceng sudah tiba dimuka pintu
pagar yang tertutup rapat. Keadaannya
sunyi senyap.
Setelah menunggu beberapa saat tak tampak
barang seorang yang muncul. Siangkwan
Wan-ceng berteriak, “Apakah sinshe ada
dirumah?”
Dari dalam rumah batu itu terdengar suara
seorang tua yang parau menyahut, “Siapa itu?”
“Aku, hendak memeriksakan sakit!”
“Silahkan masuk sendiri!”
Siangkwan Wan-ceng mendorong pintu pagar,
lalu menuju kerumah batu.
Sebuah papan hitam tergantung diatas pintu
rumah. Papan itu ditulisi dua buah huruf
yang bercat putih “Tempat kematian”.
“Uh. mengapa diberi nama yang tak enak
didengar begini,” diam2 Siangkwan Wan-ceng
memaki dalam hati.
Ia meragu sejenak akhirnya tetap menghampiri
juga. Kedua daun pintu yang terbuat dari
kayu pohon siong, tertutup rapat. Rumah itu
hanya mempunyai sebuah jendela yang
dibungkus dengan sehelai kain hitam. Diam2
nona itu menimang dalam hati, “Eh,
mengapa tempat ini sama sekali tak
menyerupai tempat orang mengobati? Tampaknya
menyerupai sebuah makam yang menyeramkan.
Rumah tungal disebuah lapangan
rumput, pintu bercat putih, berpagar bambu
dan jendelanya terbungkus kain hitam …. “
Kembali suara parau dari orangtua dalam
rumah itu terdenpar berseru pula, “Kedua daun
pintu rumah tak dikancing, silahkan masuk
sendiri Siangkwan Wan-ceng mengangkat
kaki kiri, mendupak pintu. Dan pintu itupun
terbuka lebar.
Memandang kemuka. Siangkwan Wan ceng melihat
seorang tua berambut;dan berjenggot
putih tengah duduk bersila diatas tanah.
Sepasang alisnya yang putih, menjulai
panjang sekali hingga menutupi mata. Oleh karena
itu Siangkwan Wan-ceng tak mengetahui apakah
orangtua itu tengah membuka mata atau
tengah meram.
Sejak menerima pelajaran dari Hui Gong
taysu, Han Ping selalu mengindahkan kepada
orang tua.
Ia mencegah Siangkwan Wan-ceng jangan sampai
mengeluarkan kata2 yang
menyinggung perasaan orangtua itu, bisiknya,
“Orangtua itu aneh sekali, tentu bukan
orang sembarangan. Kita harus menahan
kesabaran.”Siangkwan Wan-ceng hanya
tersenyum. Setelah ia menyahut kata2
orangtua itu, “Paman, apakah engkau tinggal
seorang diri saja?”
“Setan tua seperti aku ini sudah tentu tak
ada anak perempuan yang mau merawati,”
sahut orangtua itu.
Siangkwan Wan-ceng tak senang mendengar
ucapan itu. Ia kerutkan alis dan hendak
mendamprat tetapi tiba2 punggungnya digamit
orang. Nona itu cukup cerdas Segera ia
tahu yang menggamit itu tentulah Han Ping
karena pemuda itu hendak memberi isyarat
supaya dia bersabar. Terpaksa Siangkwan Wan
ceng menahan kemarahan dan
mendengus, “Paman, apakah engkau agak tuli?”
Tiba2 orangtua itu tertawa gelak2, serunya,
“Siapa bilang aku tuli?”
Siangkwan Wan-ceng pelahan-lahan menurunkan
tubuh Han Ping lalu berkata, “Kami
dengar katanya paman pandai mengobati segala
macara penyakit yang aneh2 maka kami
perlukan datang kemari.”
Orangtua itu tertawa tawar, “Pernah apa
engkau dengan pemuda itu’ Engkohmu atau
suamimu?”
“Paman tua, dugaanmu salah semua. Dia adalah
adikku,” sahut Siangkwan Wan-ceng.
Han Ping memandang Singkwan Wan ceng tetapi
tak bicara apa2.”Adikku ini terkena
racun, “kata nona itu pula,” dan menderita
luka dalam yang berat. Harap paman segera
mengobatinya.”
Pelahan-lahan orangtua itu mengangkat tangan
dan berseru, “Coba angkat tubuhnya
kemari dan berikan siku lengannya kepadaku.”
Siangkwan Wan-ceng melakukan perintah.
Tangan orangtua itu segera memegang siku
lengan Han Ping. Setelah berdiam diri
beberapa saat, ia mengangkat muKa dan
berkata, “Dia menderita luka yang parah tetapi
luka itu sudah terhapus oleh daya obat yang
mustajab.”
Siangkwan Wan-ceng terkejut. Dengan
memeriksa denyut siku lengan Han Ping,
orangtua itu segera tahu kalau pemuda itu
sudah minum obat.”Benar, paman” serunya,
“dia memang telah pinum obat yang mujarab.”
“Orangtua itu menghela napas: ,!Sekarang
berikan siku lengannya yang kanan
kepadaku.”Siankwan Wanceng menurut.
Begitu tangan orangtua memegang siku lengan
Han Ping [yang sebelah kanan, tiba2 ia
kerutkan dahinya dan menghela napas.
“Bagaimana paman?” seru Siangkwan Wanceng
dengan gelisah.
Orangtua itu membuka mata seraya menggeleng
kepala, “Rasanya aku tak dapat
menolong.”
Ketika melihat orangtua itu membuka mata,
Siangkwan Wan ceng terkejut. Bola mata
orangtua itu luar biasa besarnya.
Pada lain saat ia segera teringat akan kata2
orangtua itu.”bagaimana lukanya? ada
harapan tertolong?” seru nona semakin cemas.
“Kalau aku tak sanggup menggobati,
rasanya didunia ini tiada orang lain lagi
yang mampu.
“SUDAHLAH, SEGERA SAJA ENGKAU BERSIAP-SIAP
mengatur yg perlu.
Mungkin dia tak dapat hidup lebih dari 7
hari!”
Mendengar itu berderai-derailah airmata
Siangkwan Wan Ceng. dengan terisak ia
berkata, “ Tolonglah paman mempertimbangkan
lagi adakah ia masih dapat ditolong.”
Orang tua itu gelengkan kepala, “Tidak
dapat!”HatiSiangkwan Wan Cengseperi ditusuk
dengan pisau.Tiba2 meluaplah amarahnya.
Ia bangkit terus hendak memangul Han Ping
lagi.Tiba2 ia teringat akan saputangan sutera
yang ada tulisannya. Diangsurkannya,
saputangan itu kemuka orang tua, “Kalau engkau
memang ahli dalam ilmu pengobatan, cobalah
engakau lihat apakah resep obat ini
berkasiat atau tidak?” dengan sikap dingin
orang tua itu menyambuti saputangan itu
seraya mengomel, “ Aku tak percaya dalam
dunia ini terdapat manusia yang lebih pandai
soal pengobatan dariku!” Siangkwan Wan Ceng
etrtawa dingin, “Lihatlah dulu baru nanti
engkau bicara lagi”
Orang tua itu menebarkan saputangan,
memandangnya dengan penuh perhatian. Selesai
membava ia letakan saputangan dan menghela
napas ” Sungguh tak nyana bahwa dewasa
ini dalam dunia masih terdapat manusia yang
begitu pandai dalam ilmu pengobatan.”
Mendengar itu Siangkwan Wan Ceng tertawa
gembira, “Apakah resep itu berguna?”
Orang tua itu menatap wajah Han Pinh lalu
berkata, “Nak kemarilah biar kuperiksamu
lagi.” Han Ping hanya tersenyum. Ia mengisar
tubuh menghampiri orang tua itu.
“Bukalah Mulutmu,” kata siorang tua. Setelah
Han Ping membuka mulut, orang tua itu
mengulurkan jarinya memijat garis Jin tiong
di bawah hidung Han pIng, setelah
memeriksa beberapa saat ia berkata, “Engkau
telah terkena racun yg amat berat,”
“Benar, Siangkwan Wan Ceng menyahuti, luka
pada lambungnya itu gunanya untuk
menyalurkan racun keluar dari tubuhnya.”
“Dia makan racun itu atau terkena racun dari
luka?” Han pIng memandang Siangkwan
Wan Ceng. Ia hendak bicara tapi tak jadi.
Siangkwan Wan Ceng menghela napas
perlahan, “Adakah engkau masih mencurigai
aku? Ah….”
Han Ping tertawa hambar, “ Kecuali obat yg
engkau minumkan kepadaku, aku tak ingat
lagi mengapa dapat terkena racun?” Orang2
lembah Raja setan, paling pandai
menggunakan racun. Apakah ketika engkau
bertempur dengan mereka, apakah kaki dan
tanganmu pernah berbenturan?”Han Ping segera
mengangkat lengan kiri dan
mengawasinya. Tiba2 orangtua itu berseru,
“Benar, memang disitu.”
Siangkwan Wanceng ikut memeriksa. Ternyata
pada lengan kiri Han Ping terdapat
segurat bekas luka memanjang.
Warnanya ungu muda.Orangtua itu mengangkat
kepala memandang Wan-ceng, “Seumur
hidup aku gemar mempelajari ilmu pengobatan.
Tak terduga setelah begini tua, baru aku
melihat resep semacam itu, Dimanakah tempat
tinggal orang itu, lekas bawa aku
kepadanya!”
“Ai, pamnan,” seru Siangkwan Wan-ceng cemas,
“menolong orang sakit adalah ibarat
menolong kebakaran. Engkau tolong dulu dia
baru nanti kubawamu kepada orang yang
menulis resep itu.”Orangtua itu tertawa,
“Resep ini memang hebat tetapi sayang sekali
nama obat yang ditulis disebelah atas,
terhapus air. Tak dapat dibaca lagi.”
Siangkwan Wan-ceng tertegun. Ketika melOngok
ternyata ujung saputangan sutera itu
memang basah dan tulisannya telah terhapus
air tak dapat dibaca jelas.
“Resep yang ditulisnya itu setiap huruf
memang aneh. Kecuali seorang yang faham akan
ilmu pengobatan seperti aku tentu takkan
mengetahui tentang kehebatannya. Sekalipun
resep ini tersiar didunia tetapi tak ada
orang yang berani menggunakannya.”Wajah
Siangkwan Wan-ceng pucat, serunya, “Menilik
paman begitu ahli dalam ilmu pengobatan
tentulah paman dapat menerka apakah tulisan
yang telah terhapus air itu.”Tiba2 orangtua
itu mengatup mata dan menghela napas,
“Saputangan basah sekali sehingga bekas2
tulisan itu sukar diselami. Satu-satunya
jalan hanya menggunakaa kecerdasan untuk
menerkanya.”
“Sampai berapa lama paman dapat menerkanya?”
“Paling cepat memerlukan duabelas jam….”
tiba2 orang tua itu menghela napas panjang,
katanya pula, “mungkin aku dapat menemukan
ramuan obat itu tetapi belum tentu tepat
seperti yang ditutis resep itu. Daripada
menerka, bukankah lebih baik mencari orang itu
dan minta kepadanya supaya menulis lagi?”
Siangkwan Wan ceng diam2 mengeluh. Si dara
baju ungu tentu sudah pergi dan tak tahu
ia harus mencari kemana.
Tiba2 Han Ping tersenyum, “Mati hidup itu
sudah suratan takdir. Nona Siangkwan, harap
jangan mencemaskan diriku.”
Dengan nada terbata-bata Siangkwan Wanceng
mengatakan bahwa tulisan yang hilang
itu ia yang melakukan karena menggunakan
saputangan untuk mengusap airmatanya.
“Apakah resep itu yang menulis si dara baju
ungu?” tanya Han Ping.
“Benar,” sahut Siangkwan Wan-ceng,
“kemanakah kita mencarinya?”
Han Ping lertawa, “Tak perlu mencari. Orang
itu berhati ganas, resep yang ditulisnya
tentu lain kegunaannya.Dia tak mau menolong
tetapi hanya menghendaki supaya tenagamurni
dalam tubuh tak sampai hilang dengan begitu
supaya aku menderita.”
“Memang dia mengatakan bahwa obat itu
mengandung racun tetapi akan dapat membuat
engkau hidup beberapa tahun lagi.”Tiba2 Han
Ping berkata kepada orangtua pemilik
rumah, “Lo cianpwe. bolehkah aku melihat
saputangan itu?”
Sejenak bersangsi, orangtua itu segera
memberikan saputangan seraya berkata, “Ilmu
pengobatan terdiri dari dua macam cara,
wajar dan cara yang tidak wajar. Resep obat itu
memang menggunakan bahan beracun tetapi
setelah beberapa macam racun itu tercampur
jadi satu, akan menimbulkan daya pengobatan
yang bagus….
Han Ping menyambuti saputangan. Ia tertawa
dingin lalu tiba2 gunakan tenaga meremas
saputangan itu sehingga hancur
berkeping-keping.
Siangkwan Wan-ceng menjerit kaget dan lari
menghampiri Han Ping berbangkit,
menyurut selangkah kebelakang lalu tebarkan
tangan dan saputangan yang sudah hancur
berkeping-keping itupun berhamburan melayang
keluar pintu.
“Mengapa engkau melakukan begitu?” tegur
Si’angkwan Wan-ceng.
Han Ping tertawa, “Terima kasih atas
perhatian nona….”
Tiba2 orangtua itu menggembor keras dan
ayunkan tangan menghantam Han Ping, Tetapi
secepat itu Siangkwan Wan-ceng menangkis
dengan tangan kanan, “Hai, paman, apakah
engkau gila?”
Ternyata orangtua itu marah sekali dan
memukul dengan sekuat tenaga. Tangan
Siangkwan (Wan-ceng tergetar dan tubuhnya
tersurut mundur sampai dua
langkah.”Apakah lo-cianpwe marah karena
saputangan itu kuhancurkan?” seru Han Ping
dengan hormat.
Teguran Han Ping itu membuat kemarahan
orangtua agak reda. Rupanya ia merasa
sungkan, katanya, “Resep itu amat berharga
sekali. Seharusnya disiarkan biar untuk
menolong manusia. bukankah amat sayang
sekali karena engkau hancurkan?”
Setelah menangkis pukulan orangtua itu,
brulah Siangkwan Wanceng tahu bahwa
orangtua lu memiliki ilmu kepandaian yang
hebat.
Cepat ia loncat kehadapan Han Ping dan
menegur tajam;
Orangtua beralis panjang itu tertegun,
sahut-nya, “Walaupun bukan aku yang menulis
tetapl tak kuidzinkan orang menghancurkan
resep itu.”
“Ih, resep itu miliku. Biar hancur toh tak
merugikan engkau. Mengapa engkau marah2
dan memukul orang?” lengking Siangkwan
Wan-ceng.
“Sudahlah, jangan berdebat, mari kita
pergi,” kata Han Ping.
Siangkwan Wan ceng berpaling dan memberi
senyuman kepada pemuda itu, “Baiklah
aku toh juga hanya hidup tak berapa lama.
Aku akan selalu menurut katamu.”
“Apa?” Han Ping terkejut. “Akupun juga minum
obat beracun dari budak perempuan
baju ungu itu.”
Seketika berobahlah wajah Han Ping. Matanya
berapi-api, “Budak hina itu memang
benar berhati ganas seperti ular….”
“Jangan menyalahkan dia. Akcu sendiri yang
rela minum. Sebelumnya dia sudah
menerangkan dengan jelas….” Siangkwan Wan
ceng tertawa;,” lebih baik engkau
kupanggul lagi.” Dengan mengertak gigi Han
Ping menggeram “Sayang aku tak dapat
hidup lama….”
“Ih, kalau bisa hidup lama, engkau mau apa?”
Siangkwan Wan-ceng tertawa.
“Akan kuhantam dara itu supaya binasa agar
jangan menimbulkan bencana pada dunia
“Mari kita jalan,” cepat Siangkwan Wan ceng
mengajak,” kita cari tempat yang sunyi
untuk menunggu kematian!”
Han Ping menurut saja ketika dipanggul
Siangkwan Wan-ceng. Ia menghela napas
panjang. penuh kepaserahan.
“Hai Tunggu dulu!” tiba2 orangtua beralis
panjang itu berseru ketika melihat semua
melangkah pergi.
Tetapi Siangkwan Wan-ceng tak menghiraukan.
Bahkan berpaling memandang orangtua
itupun ia tak mau.
“Hm, masih muda belia mengapa hendak
menunggu kematian Apakah racun pada
tubuhmu itu benar2 tiada obatnya lagi?”
Tiba2 tergeraklah hati Han Ping. Ia membuka
mata dan dengan berbisik menyuruh
Siangkwan Wan ceng berhenti.
Rupanya nona itu menurut, Han Ping
menyuruhnya kembali ketempat orangtua itu.
Sudah tentu Siangkwan Wan ceng terkejut,
menundukkan kepaladan menghela napas.
Namun mau juga ia menurut perintah Han Ping.
Sambil menghela napas, Han Ping menepuk bahu
“si nona, “Cobalah engkau tanya
kepada orangtua itu adakah dia dapat
mengobatilukamu?”
Siangkwan Wan-ceng tergetar hatinya. Ia
berpaling memandang Han Ping, “Apakah
engkau sungguh2 tak menghendaki aku mati?”
Terdengar jawaban tetapi bukan dari Han Ping
melainkan dari orangtua itu. Dia tertawa
gelak, “Kalau tak punya obat penawar, entah
sudah berapa kali aku mati.” Siangkwan
Wan-ceng hanya diam saja. Memang saat itu
pikirannya hanya ingin mati tidak
mengharap hidup. Sesudah tertegun beberapa
saat barulah ia berteriak keras, “Apa
pedulimu dengan mati hidupnya seseorang?
Perlu apa engkau hendak mengurusi?”
Dalam pada bicara itu diam2 ia siapkan
Tui-hun-to-beng-ciam jarum beracun perenggut
nyawa. Pada saat ia hendak menaburkan kearah
orangtua beralis panjang itu tiba2
terlintas suatu pikiran dan berpalinglah ia
kearah Han Ping. Tangannya yaris sudah
terangkat keatas itupun perlan-lahan
terkulai kebawah lagi, tring…. beberapa batang
jarum maut itu berhamburan jatuh
ketanah.Orangtua alis panjang tertawa hambar,
serunya, “Kalau dia takmau apakah engkau
juga begitu kalap hendak mati?”
“Dia siapa?” Siangkwan Wan-ceng menegas.
Orangtua itu tertawa lebar, “Dia, yalah
yang rebah diatas punggungmu itu!”
Sebenarnya Siangkwan Wan-ceng harus marah
kepada orangtua itu tetapi entah
bagaimana, diluar kesadarannya ia tersentuh
hatinya dan berseru menegas lagi,
“Benarkah?”Sambil memandang sejenak kepada
Han Ping, orangtua itu bertanya pula,
“Engkau ingin mati atau tidak?”
Han Ping lepaskan cekalannya sehingga
tubuhnya meluncur jatuh ketanah. Siangkwan
Wan-ceng berpaling gopoh.
Dilihatnya Han Ping memandang puncak
wuwungan rumah dan berkata dengan tegas,
“Aku ingin mati!”
Orangtua alis panjang itu menengadahkan
kepala tertawa nyaring Beberapa saat
Kemudian baru ia berhenti tertawa dan
berrkata, ‘”Sungguh Asmara itu mempunyai daya
kekuatan yang begitu hebat. Asmara dapat
membuat orang tak menghirukan soal
jiwanya.”
Ucapan itu amat menusuk hati kedua anak-muda
itu. Han Ping memandang sejenak
kearah si nona dan Siangkwan Wan ceng tampak
merah pipinya. Memang seorang anak
gadis yang dibuka rahasia hatinya oleh orang
tentu akan tersipu-’sipu malu.
“Anak perempuan, kemarilah, aku hendak
bertanya kepadamu,” tiba2 orangtua alis
panjang itu memanggil Siangkwan Wan ceng.
Siangkwan Wan-ceng berpaling kearah Han
Ping. Dilihatnya pemuda itu tersenyum
hambar. Setelah itu ia menghampiri ketempat
orangtua alis panjang.Nona itu tertawa
aneh, nadanya berbeda dengan mimik wajahnya.
Entah dia tertawa girang, entah berduka.
Rambutnya terurai kusut menuJai cebawah.
Sambil mengercasi rant but, ia berhenti
iklepan orangtua alis panjang “Mendekatlah
sedikit lagi, aku berunding dengan engkau.”
“Soal apa?”
“Apakah engkau sungguh2 hendak menolong
jiwanya?”
“Sudah tentu sungguh!” Siangkwan Wan-ceng
mengangguk.
Berkata orangtua beralis panjang itu dengan
nada serius, “Anak perempuan, aku hanya
dapat menolong salah satu dari kalian
berdua!”
Orangtua itu sejenak memandang kearah Han
Ping lalu berkata pula, “Kalian memang
tak adahubungan apa2 dengan aku.
Dan akupun tak mempunyai rasa sayang atau
benci kepada kalian maka sukar bagiku
untuk memutuskan hendak menolong siapa!”
Tolonglah dia!” tanpa ragu2 Siangkwan Wan
ceng berkata dengan tegas.”Walaupun
engkau memilih mati tetapi sebelum mati
engkau tetap harus memberi pengorbanan
besar.” kata orangtua itu.
“Bagaimana?” Kembali orangtua itu sejenak
memandang kearah wajah Han Ping lalu
menyuruh Siangkwan Wan ceng merapat kedekat,
“Rapatkan telingamu kemari.”
Siangkwan Wan-ceng meragu sejenak tetapi
akhirnya ia menurut juga.
Dalam pada itu rupanya Han Ping tak kuat
berdiri maka ia segera duduk. “Paman herdak
bicara apa, lekaslah!” bisik Siangkwan
Wan-ceng.
“O….” orangtua itu mendengus kaget, tiba2 ia
gunakan dua buah jari untuk menutuk.
Siangkwan Wan-ceng menjerit dan rubuh
ketanah.
Melihat itu Han Ping deliki mata dan
melonjak bangun, teriaknya, “Engkau mau
apa?”orangtua beralis panjang itu tertawa
seram, “Ho, engkau terluka parah, tak mungkin
dapat lolos dari Panti Kematian ini….”
Dengan kerahkan seluruh sisa tenaganya Han
Ping menggembor dan lontarkan sebuah
pukulan.”Hm. budak yang tak tahu mati!”
dengar orangtua itu seraya menampar dengan
tangan kanan.
Ketika dua buah tenaga pukulan saling
beradu, tiba2 Han Ping tersurut mundur sampai
tiga langkah dan jatuh terduduk ditanah.
Walaupun tertutuk jalandarahnya dan tak
dapat berkutik tetapi pikiran Siangkwan Wanceng
masih sadar. Cepat ia berseru, “Jangan
melukainya!”Sambil menekan tanah dengan
tangan, dalam keadaan masih duduk bersila,
tubuh orangtua beralis panjang itu melayang
kesamping Han Ping, menutuk tiga buah
jalandarahnya. Setelah itu ia menampar pelahan
lahan ubun2 kepala Han Ping.
Han Ping menghela napas panjang, “Kuhormati
engkau sebagai orangtua tetapi tak
kukira:kalau engkau sejahat….”
Orangtua beralis panjang itu menukas
tertawa”Sudah berpuluh tahun aku tak pernah berkelahi
dengan orang.
Sungguh tak kira kalau hari ini aku harus
menggunakan dua buah jurus terhadap kalian
berdua!”
“Hm, dengan gunakan siasat merebut
kemenangan, bukanlah seorang ksatrya utama,”
ejek Han Ping.
Orangtua alis panjang itu hanya tertawa
mengekeh, “Ho, sekarang seharusnya engkau
mengakui bahwa jahe yang tua itu lebih pedas
dari yang muda.” Han Ping mendengus,
“Kalau aku tak terluka, tentulah hari ini
kuberimu hajaran yang setimpal.”
Tiba2 wajah orangtua alis panjang itu
berobah gelap, serunya, “Seumur hidup aku belum
pernah berjumpa dengan penyakit yang tiada
obatnya. Kecuali orang itu memang sudah
meregang jiwanya dan pasti mati. Semua orang
yang memeriksakan penyakit kepadaku
hanya mempunyai dua jalan.Sembuh atau
mati….”
Ia berhenti sejenak menghela napas,
“Walaupun tubuh kalian terkena racun tetapi hawamurni
dalam tubuh kalian masih penuh, tak kuatir
akan mati…..”
“Kalau engkau sudah tak mampu mengobati,
mengapa engkau mengatakan hal itu?”
“Hidupku adalah pengalamanku mengobati
orang, Apa yang kukatakan tentu dapat
dipercaya. Tetapi kuanggap percuma
mengatakan kepadamu kerena engkau toh tak
mengerti….” orangtua itu tersenyum.
“kupercaya kalau mempunyai waktu yang cukup
tentu mempunyai harapan untuk menyembuhkan
racun dalam tubuhmu…. .”
“Ya, pada saat engkau memperoleh cara
pengobatannya, kamipun sudah mati!” lengking
Siangkwan Wan-ceng.
Orangtua alis panjang itu tertawa, “Ho, pada
waktu menunggu. aku tentu kuusahakan
agar racun dalam tubuh kalian itu tak
bekerja.”
“Kapan kami harus menunggu?”
Orangtua alis panjang itu merenung diam
beberapa saat baru menjawab, “Tujuh hari, ya
tujuh hari kalau aku masih tetap tak
dapatmenemukan cara pengobatannya, akan kubuka
jalan darah kalian dan silahkan kalian
pergi.”
“Hm, Panti Kematianmu ini memang sesuai
dengan namanya. Siapa yang masuk kemari,
tentu jarang yang dapat keluar masih hidup,”
seru si-nona.
“Aku dapat menjamin agar racun dalam tubuh
kalian itu takkan bekerja” kata seorang
tua.
“Walaupun racun tak bekerja tetapi aku tentu
mati kelaparan,” lengking Siangkwan Wanceng.
Orangtua alis panjang tertawa, “Semua mahluk
hidup tentu akan mendapat kehidupan
dari alam.
Masakan akan mati kelaparan. Segera akan
kubawa kalian kedalam ruang pengobatan.
Dalam tujuh hari tujuh malam akan kuusahakan
untuk menghilangkan racun dalam tubuh
kalian.”
“Berapa jauhnya tempat itu dari sini?”
Orangtua alis panjang itu berseri riang,
“Di-belakang Panti Kematian ini. Akan
kuperlihatkan kepada kalian suatu kumpulan
obat2an yang jarang terdapat didunia….”
“Cis, ocehan setan,” dengus Siangkwan
Wanceng.
Tetapi orangtua alis panjang itu tak marah
kebalikannya malah tertawa, “Yang banyak
didunia ini hanyalah tempat2 yang indah alam
pemandangannya. Tetapi kupilih tempat
yang sunyi ini karena mempunyai sebab lain.”
Siangkwan Wan-ceng pejamkan mata dan
mendengus, “Ah, siapa sudi mendengarkan
ocehanmu itu?”
“Kalau tak kubawa kalian kesana. kalian
tentu tak percaya….” baru orangtua itu berkata
sam-ai disitu tiba2 terdengar suara seorang
anak bertanya, “Adakah sinshe
dirumah?”Mendengar suara itu tiba2 Siangkwan
Wanceng teringat akan anak lelaki
bersama kakeknya yang dijumpainya ditengah
jalan itu.
Serentak ia membuka mata dan berseru kepada
orangtua alis panjang, “Tuh, ada tetamu
mencari engkau!”
Dengan suara pelahan, orangtua itu menyuruh
Siangkwan Wan-ceng dan Han Ping
menutup mata, setelah itu ia berseru
nyaring, “Hai, siapakah yang datang itu? Silahkan,
masuk!”
Namun Siangkwan Wan-ceng tak menurut. Ia
membuka matanya sedikit dan memandang
keluar. Tampak seorang anak lelaki tengah
berjalan masuk dengan memanggul seorang
kakek.Ketika melihat Siangkwan Wan-ceng dan
Han Ping berada disitu, bocah itu
terkejut tetapi tetap melangkah
masuk.Setelah memeriksa uratnadi kakek sakit itu,
orangtua alis panjang berkata, “Penyakitnya
berat sekali, hawa murni dalam tubuhnya
terluka. Aku hanya dapat memperpanjang
umurnya sampai tiga tahun.”
Habis berkata tiba2 orangtua alits panjang
itu bertepuk tangan tiga kali. Terdengar suara
berderak keras. Ujung ruang tiba2 mereka dan
terbukalah sebuah pintu. Seekor kera
berbulu kuning emas muncul membawa sebuah
penampan dari kayu siong putih.
Dengan langkah bergoyang gontai ia
menghampiri kemuka orangtua alis panjang.
Diatas penampan kayu itu terdapat
seperangkat alat tulis dan kertas. Orangtua alis
panjang mengambil pit dan kertas lalu
menulis. Selesai menulis, ia menepuk kera bulu
emas itu dan menunjuk kearah pintu batu.
Kera bulu emas itu segera masuk kedalam
pintu dan tak berapa lama keluar lagi dengan
membawa dua bungkus obat.
Setelah mengambil bungkusan obat, orangtua
alis panjang itu berkata kepada bocah
lelaki, “Obat ini dimasak dengan air dan
diminum, selama tiga hari itu. Setelah itu
barulah makan pil dalam bungkusan kecil.
Isinya seribu butir pil. Kalau tiap hari
minum sebutir, berarti dapat hidup sampai tiga
tahun. Setelah itu engkau boleh mengurus
penyelesaiannya. Apakah engkau ingat?”
“Ya ingat,” sahut sibocah Ielaki.
Orangtua alis panjang itu segera menyuruh
bocah Ielaki membawa kakeknya pulang.
Bocah itupun segera memanggul engkongnya dan
pergi. Tiba diambang pintu tiba2 ia
berhenti, berpaling dan berseru kepada
orangtua alis panjang dan berseru Kepada orang
tua beralis panjang, “Sinshe, berapakah
ongkos obatnya?”
“Bawalah saja dulu, setelah engkongmu
sembuh, baru engkau bayar kemari,” seru
orangtua alis panjang.
Sambil memandang Siangkwan Wan-ceng, bocah
Ielaki itu bertanya pula, “Sinshe, nona
itu seorang baik….” Rupanya ia hendak
menasehati siorangtua alis panjang. Tetapi baru
berkata separoh bagian, ia sudah terus
melangkah pergi.
Setelah bocah itu lenyap dari pandang mata,
Siangkwan Wan-ceng mendengus, “Hm,
bagaimana engkau dapat memastikan kalau
kakek itu hanya dapat hiduP selama tiga
tahun?”
Tetapi orangtua alis padjang itu tak mau
menghiraukan omongan si nona lagi.
Ia berbangkit pelahan lahan lalu menuju
keujung ruangan.Siangkwan Wan ceng
memandang Han Ping dan menghela napas, “Ah,
orangtua itu memang aneh.gerak
geriknya serba misterius, kukuatir bukan
orang baik. Sekarang jalan darah kita telah
ditutuknya, mati tidak hiduppun tidak. Kita
tak dapat berbuat suatu apa kecuali harus
menerima apa saja yang dia hendak lakukan
kepada diri kita.”
“Kalau aku tak keracunan, aku dapat
menyalurkan tenaga dalam untuk membuka jalan
darahku yang tertutuk itu. Tetapi sekarang,
ah, percuma saja,” Han Ping mendesah.
Siangkwan Wan ceng meronta untuk mengisar
tubuh kesamping Han Ping. Tetapi karena
jalan darahnya tertutuk maka separoh
tubuhnya seperti mati tak dapat bergeak. Walaupun
ia mencoba untuk mengerahkan seluruh
tenaganya tetap tak dapat.
Dengan putus asa ia menghela napas dan
menitikkan dua butir air mata, “Ya, tamatlah
riwayat kita….”
Tiba2 terdengar suara berderak keras dan
pintu batu kembali terbuka. Dua ekor kera bulu
emas, masuk kedalam ruangan.
Mereka memandang Siangkwan Wan-ceng lalu
menghampiri nona itu.
Tampaknya binatang itu kaku gerakannya
tetapi ternyata dapat berlari gesit. Selekas tiba
didekat Siangkwan Wan-ceng mereka terus
menerkam tubuh si nona.Salah seekor kera
itu tampak mengisar untuk mendesak kawannya
laluc epat2 mendahului menyambar
tubuh nona itu terus dibawa lari.Kera yang
seekor itu tak berdaya. Terpaksa ia
menghampiri ketempat Han Ping dan memanggul
tubuh pemuda itu diangkut keluar.
Walaupun kedua muda mudi itu berkepandaian
tinggi tetapi karena jalandarahnya
tertutuk, mereka tak dapat berbuat apa2.
Sekonyong-konyong telinga Han Ping dapat
menangkap suara orang memanggil
namannya Suara itu berasal dari jauh dan
nadanya parau, mungkin karena sudah
kehabisan suara Han Ping cepat mengenali
nada suara itu sebagai suara pamanya Kim
loji.
Tetapi ia tak dapat berbuat apa2 dan saat
itu iapun segera dibawa masuk kedalam pintu
batu diujung ruangan.
Diam2 Han Ping menghela napas dan berusaha
untuk menenangkan diri, menyalurkan
napas. ia harap maiih dapat menyalurkan
tenaga untuk membuka jalan darah yang
tertutuk itu. Han Ping masih bingung
memikirkan tingkah laku orangtua alis panjang itu.
Apakah maksudnya orang itu menutuk
jalandarahnya? Dia sendiri tak takut soal jiwanya,
mati atau hidup ia tak memkirkan.
Yang dicemaskan yalah keselamatan Siangkwan
Wan ceng ia kuatir nona itu akan
menderita kecemaran.
Ia menyesali Siangkwan Wan-ceng yang telah
membawanya berobat ketempat orangtua
alis panjang.
Tetapi ia juga menyalahkan dirinya sendiri
mengapa menyuruh nona itu bersikap
menghormat siorangtua sehingga akibatnya
begitu. Kalau Siangkwan Wan-ceng bersikap
keras, tak mungkin orangtua alis panjang itu
dapat menutuk jalandarah mereka.
Rasa penyesalan itu mendorong keras hatinya
untuk berjuang. Ia berusaha untuk
menghilangkan semua gangguan pikiran dan
memupuk hawa murni untuk menjebolkan
jalandarahnya yang tertutuk.Rupanya kera
bulu emas itu seekor binatang yang terlatih
baik sehingga dapat mengerjakan perintah
tuannya dengan baik. Tetapi betapapun, itu tak
dapat mengetahui usaha Han Ping membuka
jalandarahnya yang tertutuk.
Tiba2 terdengar suara orangtua beralis
panjang, “Entah aku tak tahu apakah hubungan
kalian berdua ini. Apakah kalian tak
keberatan kalau kutempatkan didalam sebuah
ruangan “
Ketika Han Ping membuka mata, ia tertegun.
Keadaan yang berada dihadapannya jauh
berlainan dengan diluar tadi. Hidungnyapun
terbaur dengan bau obat yang keras.
Ternyata saat itu dirinya berada dalam
sebuah tempat yang mempunyai tiga buah kamar
besar kecil. Dan buah ranjang kayu
terbentang diruang itu. Kecuali itupun penuh dengan
bermacam-macam baskom, mangkok, supit dan
seikat daun obat.
Ada empat baskom berisi tanaman obat yang
belum pernah diketahuinya, terletak diatas
dingklik dekat jendela.
Yang dua baskom berisi tanaman berbunga
kecil2 warna putih. Sedang yang dua baskom
berisi buah2 kecil2 warna merah.
Han Ping hendak membuka mulut tetapi
didahului Siangkwan Wan-ceng, “Kami adik
dan taci!”
Orangtua alis panjang itu merenung sejenak
lalu berkata, “Kalau adik dan taci tinggal
satu kamar, memang tidak pantas Biarlah
kupisahkan kalian dalam dua kamar!”
“Sejak kecil kami berdua selalu tinggal
sekamar, mengapa tidak pantas?” Siangkwan
Wanceng berteriak gopoh.
Orangtua itu memandang kedua kera bulu emas
lalu menunjuk kearah ranjang kayu. Kera
itu meletakkan Siangkwan Wan-ceng dan Han
Ping keatas ranjang lalu beringsut keluar.
Dengan riang gembira orangtua alis panjang
itu tertawa, “Sejak tinggal dismi, belum
pernah ada orang yang masuk kedalam kamar
obat-obatanku. Ketahuilah bahwa
kumpulan daun obat yang berada dalam kamar
sekecil ini hampir menghabiskan seluruh
umur ku. Aku menjelajah seluruh wilayah
Kanglam-Kangpak, melintasi gunung dan
sungai….” ia menunjuk kedua baskom berisi
buah merah dan daun bunga putih, berkata
pula, “Buah yang berwarna merah itu kecuali
warnanya yang sedap dipandang pun
merupakan salah satu dari tiga jenis tanaman
yang paling beracun. Rasanya manis enak
dimakan. Tetapi apabila makan buah itu,
amblaslah nyawa kita….”
Berhenti sejenak ia pergunakan untuk
memandang kearah kedua anak muda itu lalu
dengan riang gembira ia melanjutkan kata
katanya, “Hai anak perempuan yang pintar
bicara, coba engkau tebak apakah rumput
berbunga putih itu mengandung racun atau
tidak?”
“Kalau buah merah mengandung racun, jelas
bunga putih itu tentu tak beracun!” seru
Siangkwan Wan-cang.
Orangtua alis panjang gelengkan kepala,
“Salah, rumput merah memang beracun tetapi
bunga-putih itupun beracun juga ….”
Siangkwan Wan-ceng mendengus, “Huh, m-nilik
simpananmu begini banyak tanaman
beracun, mungkin engkau juga seorang manusia
beracun!” Orangtua itu tertegun, “Ih,
kali ini engkau dapat menebak jitu!”
Siangkwan Wan-ceng terkejut dalam hati. Dia
tadi hanya bicara sembarangan tetapi
ternyata benar. Uh, ia pernah mendengar
tentang tanaman, dan binatang beracun tetapi
seumur htdup belum pernah mendengar tentang
manusia beracun.
“Huh, itu tak mengherankan,” sahut nona itu
dengan garang walaupun dalam hati am at
cemas, “dalam dunia persilatin banyak sekali
tokoh2 yang mahir menggunakan racun.
Misalnya orang Lembah Seribu-racun, sampai
anak Kecilnya saja juga pandai
menggunakan racun. Juga lembah Raja setan
itu termasyhur dengan obat racun Bihunyok
dan merekapun mahir tentang ilmu obat-obatan
beracun. Tokoh lembah Raja-setan si
Ting Ko itu sekujur badannya juga beracun….”
Orangtua alis panjang itu gelengkan kepala,
“Mereka hanya pandai menggunakan racun,
antara lain bubuk beracun, air beracun dan
disembunyikan pada pakaiannya. Pun sebelum
itu mereka sudah minum obat penawaranya.
Paling2 kuku jari atau lengan mereka yang
beracun. Tidak seperti diriku ini. Jantung,
darah sampai pada seluruh uratnadi dalam
tubuhku semua beracun.
Kuweh yang kumakan beracun, minumankupun
racun….”
“Jangan bicara lagi, aku tak sudi mendengar
ocehanmu itu!” teriak Siangkwan Wan-ceng.
Tiba2 wajah orangtua itu berobah gelap, “Aku
seorang tua masakan sudi berbohong
dengan seorang budak perempuan macam engkau.
Apakah engkau menghendaki aku bersumpah baru
engkau mau percaya?”
Setelah berdiam diri sesaat, Siangkwan
Wanceng berkata, “Kalau jantung dan darahmu
mengandung racun, mengapa engkau tak
mati?”Orangtua alis panjang itu tertawa,
“Pertanyaan yang bagus! Kalau aku tak makan
racun, mungkin sudah menjadi bangkai
dalam kubur!” Melihat orangtua itu bicara
dengan riang gembira, timbullah pikiran
Siangkwan Wan ceng, serunya, “Paman, karena
engkau tutuk jalandarahku, kita tak dapat
bicara dengan leluasa. Apakah engkau dapat
membuka jalandarahku agar kita dapat
bicara dengan enak?”
Orangtua itu merenung sesaat kemudian ia
berkata, “Kalau engkau hendak melarikan
diri, berarti engkau cari penyakit sendiri.”
Jawab si nona, “Setelah mendengar
pembicaraanmu tadi, aku makin tertarik. Sekalipun
engkau suruh aku pergi, akupun tak mau.”
Orangtua alis panjang itu tertawa riang,
“Sebenarnya kalau menurut keadaan, tak
mungkin aku dapat hidup sampai enam lusin
tahun….” Melihat orangtua itu sudah mulai
tergerak hati dan tampaknya mau membuka
jalandarahnya, buru2 Siangkwan Wan-ceng
bertanya, “Paman, berapakah usiamu
sekarang?”
“Entah, tak ingat dengan tepat, Mungkin
sudah lebih dari delapan puluh tahun!” sambil
berkata orangtua alis panjang itu
menghampiri ketempat Siangkwan Wan-ceng lalu
menampar jalandarah si nona yang tertutuk.
Setelah melakukan pernapasan dan mengetahui
bahwa hawamurni tubuhnya tak
menderita suatu apa, barulah Siangkwan Wan
ceng duduk.”Budak perempuan, kulihat
biji matamu berkeliaran kesekelilmg penjuru,
apakah engkau merencanakan hendak
lolos?”
tegur orangtua itu dengan tertawa,” seumur
hidup aku tinggal ditempat sesunyi ini hanya
seorang diri ..,..
Siangkwan Wan-ceng memandang Han Ping.
Melihat pemuda itu telentang dengan mata
tertutup rupanya dia sudah tidur. Diam2
Siangkwan Wan-ceng merasa lega.
Tiba2 ia loncat turun.”Jangan mengganggunya,
biarkan dia beristirahat,” seru orangtua
alis panjang.
Nona itu memandang siorangtua alis panjang,
berseru melengking, “Engkau
menggunakan akal licik untuk menutuk
jalandarahku dan akupun menggunakan tipu
muslihat juga untuk menyuruh engkau membuka
jalandarahku yang tertutuk.
Sekarang kita tak saling menderita
kerugian.”
“Bukan aku hendak menakuti-nakuti engkau.
Tetapi kuharap kalian tinggal disini untuk
berobat Kemungkinan masih ada harapan
tertolong. Tetapi kalau kalian pergi, tentu
kalian mati,” seru siorangtua alis panjang.
“Huh, engkau sendiri berlumuran racun
bagaimana dapat menolong orang lain yang
menderita keracunan?”
‘Ilmu pengobatan itu memang luar biasa.
Dengan racun aku dapat menjaga jiwaku
sampai dapat hidup begini tua.
Adakah itu bukan suatu bukti yang jelas
orangtua itu berhenti sejenak, “apa yang kubaca
dalam resep obat yang engkau bawa itu,
semuanya merupakan racun….”
“Lebih baik mati daripada sekujur tubuh
mengandung racun,” seru Siangkwan Wan ceng.
Tiba2 Han Ping membuka mata dan berkata,
“Setelah memeriksa penyakitku sudikah
locianpwe dapat sembuh?”
“Sembuh dan rusak, mempunyai kesempatan yang
sama,” sahut siorangtua alis panjang.
Han Ping menghela napas, “Tak peduli
locianpwe hendak menggunakan racun apa saja
dan hendak menjadikan aku manusia macam apa
saja, aku rela menerima asal yang
penting, ilmu silatku jangan sampai lenyap,”
kata Han Ping.
“Pada umumnya orang menganggap racun itu
mencelakai orang tetapi jarang yang tahu
bahwa sesungguhnya racun itu mempunyai daya
guna yang baik. Air dapat memadamkan
api tetapi apipun dapat mendidihkan air.
Itulah rahasia alam yang jarang diketahui orang.
Misalnya seperti diriku, mengapa aku dapat
hidup sampai begini tua, pun karena jasa
racun. Hanya saja keadaannya berbeda dengan
diri kalian yang terkena racun itu…..”
Tiba2 Siangkwan Wan-ceng menukas, “Tok
lojin, ternyata engkau memang manusia
beracun segala-galanya. Bukan melainkan
tubuh dan kaki tanganmu, pun juga lidahmu
beracun. Tukar bicara dan menutuk jalandarah
kami tadi, bukankah engkau telah
menyalurkan racunmu ketubuh kami?”
Han Ping mencegah supaya nona itu jangan
memutus pembicaraan orang.Siangkwan
Wan-ceng deliki mata, “Ih, baiklah, rupanya
engkau memang sudah terbius kata2 manis
dia orangtua itu…..
“Tubuh setiap orang mempunyai sumber daya
yang hebat. Tergantung dari orang itu
dapat memanfaatkannya atau tidak.
Misalnya karena tubuh kita terkena racun
yang membahayakan jiwa tetapi kalau kita
dapat menyalurkan racun itu pada tempat yang
sesuai, bukan melainkan umur kita akan
bertambah panjang pun kepandaian
tenaga-dalam kita dapat kita kembangkan makin
meningkat. “Huh, ocehan setan ” diam2
Siangkwan Wanceng mendengus dalam hati.
Setelah merenung beberapa jenak. Han Ping
pun berseru, “Benar, memang beralasan
juga!”
“Ih, mengapa begitu mudah engkau dapat
dikelabuhinya? Sejak kecil aku dilahirkan
dikeluarga persilatan, mau tak mau
pengetahuan dan pendengarankupun cukup luas.
Tetapi seumur hidup belum pernah kudengar
orang mengatakan bahwa racun itu berguna
untuk menielihara umur panjang. Sudahiah,
jangan mendengarkan ocehannya!” seru
Siangkwan Wan-ceng.
Dara itu menunjuk pada orangtua alis
panjang, serunya! “Lihatlah keadaannya. Tubuhnya
kurus kering, tangannya seperti cakar
burung, alisnya panjang seperti setan. Apakah dia
mirip dengan seorang sinshe yang pandai?”
Han Ping tahu bahwa dara itu keras kepala.
Kalau dilayani tentu akan melawan dengan
reaksi yang lebih keras.
Maka ia segera memanggil dara itu supaya
datang kepadanya.
Dengan tersipu merah dan mengulum senyum
nona itupun menghampiri dan berdiri
disamping Han Ping.
Han Ping menerangkan dengan tersenyum,
“Locianpwe ini telah menggunakan seluruh
hidup-nya untuk menyelidiki rahasia hidup
manusia dan menggunakan tubuhnya sebagai
percobaan. Sama sekali bukan ocehan
kosong. Taruh kata kita tak dapat
mempercayai seluruhnya tetapi tiada jeleknya kita
mendengarkan.”
Rupanya Siangkwan Wan ceng mau juga menurut
nasehat Han Ping, Ia mengangguk dan
memandang kepada orangtua alis panjang,
serunya tertawa, “Paman, bicaraiah pelahanlahan,
aku takkan mengganggumu lagi.”
Rupanya orangtua alis panjang itu kesima
melihat sikap kedua tetamunya. Sejenak ia
terlongong heran lalu berkata memuji, “Ah,
sungguh sepasang anak yang
menyenangkan,”Siangkwan Wan-ceng diam2
melirik kearah Han Ping lalu pelahan-lahan
sandarkan kepalanya kebahu kiri anakmuda
itu.
Orangtua alis panjang itu memandang keluar
jendela kearah bunga pUtih dan bunga
merah lalu melanjutkan pembicaraannya,
“Semula aku hendak memaksa kalian harus
menerima cara pengobatanku. Tetapi sekarang
kurobah keputusanku.
Aku hendak menjelaskan cara pengobatan itu
agar kalian rela menerimanya sendiri.„
Racun beracun.
“Aku tak pernah belajar silat tetapi aku
minum racun yang dapat merangsang tenaga.
Oleh karena itu aku memiliki tenaga yang
luar biasa dan akupun faham akan jalandarah
orang. Orang yang tak kenal kepadaku tentu
mengira aku seorang ahli silat.”
“Karena lo cianpwe menggunakan tubuh
lo-cianpwe sendiri untuk percobaan maka aku
ingin sekali mendengarkan penjelasan lo
cianpwe,” kata Han Ping.Setelah ‘”merenung
beberapa saat, orangtua alis panjang itu
berkata, “Makanan dan minuman beracun yang
kumakan itu, dari sedikit demi sedikit
sehingga banyak jumlahnya.
Tetapi kalian belum pernah menggunakan racun
itu. Kalau mau makan, tentu takerannya
sedikit. Tetapi menilik racun dalam tubuhmu
itu, jika tak makan obat beracun dalam
jumlah besar, tentu takkan berkhasiat. Dan
kalau takerannya ditambah
banyak, akupun tak dapat mengatasi. Inilah
hal yang perlu kujelaskan kepadamu.”
Han Ping berpaling kepada Siangkwan Wanceng.
katanya, “Karena keadaan sudah begini
rupa, biarlah aku mencobanya saja.
Daripada duduk menunggu kematian lebih baik
kita berusaha mencari hidup.”
Nona itu kerutkan alis dan berkata kepada
orangtua alis panjang, “Paman. cobalah
engkau pikir, apakah tiada lain cara lagi
kecuali itu?”
Orangtua alis panjang memanggul kedua
tangannya dan berjalan mondar mandir lalu
berkata, “Caranya memang hanya satu tetapi
harapan sembuh memang makin besar.
Tetapi perlu kutegaskan, bahwa aku tak dapat
menjamin tentu berhasil “
“Apakah itu?” tanya Han Ping Dengan nada
sarat orangtua alis panjang menjawab,
“Ganti darah….”
“Ganti darah….?” Siangkwan Wan-ceng menjerit
kaget. “Benar, ganti darah.” kata
orangtua alis panjang, “lebih dulu darahku
yang mengandung racun ini disalurkan
kedalam tubuhnya agar darah dalam tubuhnya
mengandung banyak racun, setelah itu
baru minum racun dalam jumlah banyak.
Dengan cara itu kemungkinan hidup, memang
lebih besar.” Siangkwan Wan-eeng
gelengkan kepala, “ Cara seaneh itu belum
pernah kudengar.”
“Selain itu memang tiada cara lain lagi,”
orangtua alis panjang mengangkat bahu.
“Asal kepandaian silatku tak hilang, aku
bersedia mencoba,” kembali Han Ping berseru
memberi penegasan.
Kini orangtua alis panjang itu yang menghela
napas, “Bagiku hal itu memang berbahaya.
Apabila salah urus, aku bisa mati karena
kehabisan darah.”
“Ah, kalau memang membahayakan, tak perlulah
lo-cianpwe mencoba cara itu,” Han
Ping menyusuli kata2.
Tetapi orangtua alis panjang itu tetap
berkeras, “Daripada menghidupkan seorang tua
renta macam diriku ini, lebih baik kutolong
engkau ..
Tiba2 ucapannya terputus oleh suara getaran
keras dan bunyi bercuit cuit yang aneh.
Seketika berobahlah wajah orangtua alis
panjang itu, serunya, “Hai, siapakah yang berani
menyelundup kedalam Panti Kematian dan
melukai binatang kera pdiharaanku.”
Siangkwan Wan-ceng cepat berbangkit dan
membisiki Han Ping, “Tinggallah disini,
jangan bergerak kemana-mana.
Aku akan menyertainya keluar.” Diantara
bunyi bercuit-cuit yang riuh itu tiba2
memancar suara orang meneriakan nama Han
Ping.
Suaranya parau nadanya.Mendengar itu Han
Ping serentak bangun serunya “Yang datang
itu pamanku sendiri, harap kalian menemuinya
keluar.Sedangkan aku akan
mempertimbangkan dulu perlukah aku
menemuinya atau tidak.”
Siangkwan Wan-ceng berhenti dan mencegah
orangtua alis panjang itu.
Tiba2 terdengar pula getaran keras dan
teriakan orang memanggil nama Han Ping.
Rupanya karena kalap, Kim loji ngamuk dan
menghantam dinding pondok.”Anak
perempuan, menyingkirlah, kemungkinan
binatang kera piaranku itu telah diantam mati
oleh pendatang itu.” seru orangtua alis
panjang melangkah maju.
Tahu bahwa sekujur badan orangtua itu
beracun karena tak berani bersentuhan,
Siangkwan Wan ceng terpaksa menyingkir
kepinggir tetapi ia gerakkan kakinya untuk
menendang lutut orang.”Sudahlah, jangan
berkelahi sendiri. mari kita sama2 keluar
menemuinya!” akhirnya Han Ping berseru
melerai.
Dan Siangkwan Wan-cwengpun minta maaf kepada
orangtua alis panjang itu. Orangtua
itu hanya mendengus seraya melangkah keluar
diikuti Han Ping dan Siangkwan Wanceng,
Tiba dipintu, orangtua alis panjang menekan
alat penutup dan terbukalah dinding
pondok itu “Hai, dimanakah engkau
menyembunyikan Ping-ji?” seru seseorang dari luar
pondok. Nadanya penuh dengan kemesraan
seorang ayah kepada anaknya Han Ping
terharu. Cepat ia melangkah maju didepan
orangtua alis panjang.
Tetapi baru berjalan dua langkah saja
napasnya sudah terengah-engah.”Ping-ji, engkau
kenapa? Siapakah yang melukai engkau!”
teriak Kim loji seraya lari menghampiri.
Sikap Kim loji yang begitu menyayang itu,
benar2 menusuk perasaan Han Ping. Saking
terharu ia sampai menitikkan dua butir
airmata dan menyahut rawan, “Paman: Kim, tak
kira…. saat ini aku masih dapat berjumpa
dengan paman…”
Juga Kim loji berlinang-linang airmata. Ia
menepuk bahu anakmuda itu, “Anak tolol,
mengapa engkau berkata begitu?
Asal engkau minum obat ini tentu segera
sembuh!”Han Ping melihat pakaian paman Kim
loji itu koyak dan mukanyapun terdapat
gurat2 luka. Tentulah pamannya tadi berkelahi
dengan kera peliharaan orangtua alis
panjang. Tetapi tangan pamannya itu masih
menggenggam obat penawar racun. Kim loji
rela kehilangan jiwa untuk mempertahankan
obat itu jangan sampai direbut orang.
Han Ping makin terharu. Ketika menundukkan
kepala, dilihatnya disamping kaki Kim
loji terdapat kera bulu merah yang sudah
menggeletak ditanah. Orangtua alis panjangpun
tengah memeriksa keadaan luka binatang
peliharaannya dengan teliti.
“Ping-ji, betapa bingung aku tadi mencarimu.
Setelah melihat engkau tak kurang suatu
apa, barulah hatiku lega.’”
‘”Tetapi bagaimana paman dapat mencari aku
kemari tanya Han Ping.
“Dunia ini memang penuh dengan kejadian2
yang tak terduga. Setelah selesai
membuatkan obat untukmu aku cepat kembali
kegunung tempat engkau berada. Tetapi
ternyata engkau sudah tak kelihatan. Betapa
gelisah dan cemas hatiku, sukar kulukiskan.
Aku mencarimu kemana-mana dan meneriaki
namamu tetapi tetap tak bersahut….
“Maafkan aku, paman….” kata Han Ping.
“Ah bukan salahmu tetapi aku sendiri yang
tak cepat2 datang ketempatmu, ah….”
Setelah berdiam beberapa saat, tiba2 Han
Ping berseru, “Paman, bukankah engkao
bertemu dengan seorang kakek sakit bersama
cucunya?” Kim loji tertawa.
“Paman, mengapa engkau tertawa?”
“Ping ji, kukira engkau seorang pemuda yang
polos hati kosong pikiran. Tetapi ternyata
engkau amat cerdas. Sesungguhnya berani
tetapi sikapnya seperti takut, cerdik tetapi
tampak seperti bodoh, ha ha…. ternyata
didunia terdapat seorang pemuda seperti
engkau….”
“Huh, apa yang engkau tertawakan!” tiba2
dari samping terdengar suara seseorang
membentak, Kim loji cepat berpaling.
Dilihatnya orang tua alis panjang yang
bertubuh kurus kering itu Entah bagaimana Kim
loji yang penuh pengalaman dalam dunia
persilatan, saat itu merasa seram melihat
perwujudan orangtua alis panjang yang tak
ubah seperti sesosok mayat hidup.
“Aku menertawakan diriku sendiri, mengapa
saudara hendak mengurus aku?” serunya.
Orangtua alis panjang tertawa dingin,
“Tahukah engkau sekarang berada dimana?”
Sambil memandang kesekeliling, Kim Loji
menyahut tersekat, “Aku…. aku di….”
” Tak peduli siapa saja, asal masuk ke Panti
Kematian sini, hasus menurut kepadaku.
Bahkan jiwanyapun berada ditanganku,” seru
orangtua alis panjang itu.Kim loji kerutkan
alis, menengadah tertawa, “Hebat. sungguh
hebat sekali Seram, sungguh menyeramkan
sekali!
Tetapi bagiku seorang she Kim, hal itu
sungguh mengelikan.”
“Benarkah engkau berani menertawakan?”
menegas orangtua alis panjang itu.”Benar,
sudah berpuluh tahun aku malangkeutara
melintang ke selatan, tetapi….”
Tiba2 orangtua alis panjang itu bertepuk
tangan dan kera besar yang menggeletak ditanah
itupun loncat bangun lagi.
Han Ping, Siangkwan Wan ceng dan Kim loji
terkejut sekali. jelas kera itu terluka parah
dan tak mungkin bisa hidup tetapi dalam
sekejab saja setelah diperiksa siorangtua alis
panjang ternyata dapat loncat bangun.
Han Ping memandang kemuka. Dilihatnya orang
tua alis panjang itu tengah menuding
kearah Kim loji- Kim loji tergetar hatinya
dan menyurut mundur dua langkah. Dilihatnya
kera yang berlumuran darah itu menebarkan
kedua tangan, sepasang matanya yang
berwarna kuning emas seperti menonjol keluar
dari kelopaknya dan memandang
Kepadanya dengan penuh kemarahan.
Kera bulu emas itu pelahan-lahan berjalan
menghampiri ketempatnya.Tadi Kim loji
sudah berkelahi dengan binatang itu tetapi
entah bagaimana ia merasa ngeri ketika
melihat wajah dan keadaan kera pada saat
itu.
Memang sudah berpuluh-puluh tahun Kim loji
mengembara dalam dunia persilatan dan
selama itu entah berapa banyak lawan yang
pernah dihadapi. Tetapi entah bagaimana
pada saat itu ketika menghadapi kera bulu
emas, nyalinya seperti rontok.
Ia mundur lagi selangkah dan kera itu malah
makin mempercepat langkahnya.Melihat itu
Han Ping cepat membentak, “Berhenti!” lalu
cepat loncat kemuka kera.Teriakan Han
Ping itu laksana halilintar memecah angkasa.
Rupanya ia telah mengerahkan seluruh sisa
tenaga-dalamnya.
Dan sesaat ia loncat kemuka kera, tahu2 kera
itupun terlempar beberapa langkah
kebelakang dan rubuh ketanah.
Tiada seoranppun yang menyangka bahwa saat
itu Han Ping masih mempunyai tenaga
yang sedemikian hebatnya.
Tampak dia berdiri tegak seperti patung lalu
pelahan-lahan terkulai jatuh ketanah.
Kim loji menjerit, loncat dan menubruknya,
“Ping ji….Ping ji ….”
Tiba2 kera bulu emas tadi meraung pelahan
lalu lompat bangun. Melihat itu Siangkwan
Wan-cengpun cepat melesat ketempat binatang
itu. Tetapi secepat itu pula si nona buang
tubuhnya berjumpalitan loncat kembali
ketempatnya semula.
Ternyata nona itu hanya perlu menjemput
pedang pusaka Pemutus-asmara yang terletak
ditanah setelah itu ia kembali lagi dan
berkata kepada orangtua alis panjang, “Walaupun
kera bulu-emas itu mempunyai tulang baju
kulit besi tetapi jangan harap
dapat bertahan menerima tabasan pedang
pusaka ini!”
Orangtua alis panjang itu mengedipkan mata,
wajahnya yang dingin tadipun tampak
tenang dan tiba2 ia bertepuk tangan tiga
kali.
Kera bulu emas itupun berputar tubuh,
mmandang tuannya lalu menghampiri pelahanlahan.
Siangkwan Wan-ceng mendapat kesan bahwa
pondok yang bernama Panti Kematian dan
oran” tua alis panjang memang penuh dengan
rahasia.tetapi iapun mendapat kesan bahwa
orangtua itu memang berusaha hendak menolong
jiwa Han Ping “Paman, lekaslah
menyingkir! “Siangkwan Wanceng berseru
seraya loncat kebelakang kera dan
mengacungkan ujung pedang kepunggung kera.
“Jangan melukainya ” orangtua alis panjang
itu melengking dan tiba2 mengangkat tangan
menampar kepala kera bulu emas.
Siangkwan Wan-ceng hentikan rencananya
hendak menusuk tetapi pedang itu tetap
diarahkan kepunggung kera.
Orangtua itu tak mengacuhkan. Matanya tetap
memandang kemuka kera. Dari kerut
wajahnya yang tegang itu jelas kalau
orangtua alis panjang sedang menggunakan tenaga
besar untuk mengatasi binatang piaraannya.
wajah kera yang menyeramkan itupun
pelahan-lahan lenyap, matanya mengatup dan
terkulailah binatang itu rubuh ketanah.
Orangtua alis panjangpun berjongkok lalu
menangis keras. Rupanya ia amat berduka
sekali karena kehilangan binatang yang
disayanginya itu.Betapapun halnya, Siangkwan
Wanceng itu seorang gadis yang memiliki
perasaan halus.
Melihat orangtua alis panjang menangis
tersedu sedan, ia segera menghampirt dan
berjongkok, “Sudahlah, paman, jangan
menangis…. ” Tetapi orangtua alis panjang itu tak
mengacuhkan. Ia tetap menangis sedih.
Siangkwan Wan-ceng hendak menghiburnya
tetapi tak tahu bagaimana harus merangkai
kata2.
Ketika sejenak ia berpaling, dilihatnya Kim
loji mengangkat tubuh Han Ping dan hendak
dibawanya pergi.
“Berhenti!” seru Siangkwan Wan-ceng.Sejenak
Kim loji berpaling memandang si nona
lalu tiba2 ia loncat keambang pintu.
Siangkwan Wanceng melonjak bangun dan
berteriak, “Kalau engkau hendak
mernbawanya pergi, berarti engkau hendak
menghilangkan jiwanya.” Saat itu Kim loji
sudah menendang pintu dan hendak lari
keluar. Serta mendengar teriakan si nona, tiba2 ia
berhenti, “Apakah omonganmu itu sungguh?”
“Dalam soal yang sepenting ini masakan aku
masih ingin bergurau?”
sahut Siangkwan Wan-ceng, Memandang kepala
Han Ping, dilihatnya wajah pemuda itu
pucat lesi. napasnya lemah.
Setelah tertegun beberapa jenak, Kim lojipun
melangkah masuk kembali. Baginya jiwa
Han Ping itu amat penting sekali Siangkwan
Wan ceng segera menyongsong dan
bertanya kepada Kim loji, “Lo-cianpwe apakah
dia masih keluargamu?
Mengapa engkau begitu memperhatikan sekali
kepadanya?” Jawab Kim loji, “Dia adalah
putera dari saudara-angkatku ….”
Kenangan yang lampau kembali terbayang di
benak Kim loji. Ia menghela napas,
ujarnya, “Kami tiga pendekar gunung Lam-gak,
hanya tinggal aku seorang saja tetapi
keadaankupun begini cacad Untunglah Thian
masih kasihan kepadaku.
Aku dapat merawat putera toako. Membalas
dendam, mengangkat nama didunia
persilatan, seluruhnya terletak diatas bahu
anak ini.
Apabila dia tak dapat tertolong dari
Keracunan, akupun tak mau hidup sebatang kara
didunia.. . .”
Siangkwan Wan ceng tertawa rawan, “Aku tak
tahu asal usul dirinya tetapi aku amat
mengagumi kepandaiannya.
Thian telah menciptakan seorang tunas dunia
persilatan yang begitu cemerlang tentu
takkan begitu saja akan melenyapkannya….”
Tiba2 nona itu hentikan kata-katanya karena
mendengar orangtua alis panjang itu
menangis makin beriba iba.
Seolah-olah hendak mencurahkan kesedihannya
hatinya hidup seorang diri dalam
kesepian.
Mau tak mau Siangkwan Wan-ceng ikut
tersentuh nuraninya. Dua butir airmata me-nitik
keluar.
Setelah menghapus airmata, ia menghampiri
ketempat orangtua alis panjang itu lagi,
“Paman, sudahlah, jangan menangis.”
Orangtua alis panjang itu berpaling
memandang si nona. Berhenti menangis, beberapa
saat kemudian tiba2 ia tertawa keras.
Sudah tentu Siangkwan Wan ceng heran dan
bertanya, “Mengapa engkau tertawa?”
Orangtua alis panjang itu tiba2 berdiri lalu
menari dan menyanyi-nyanyi.
Suaranya tak sedap didengar, bercuit-cuit
talk jelas lagunya. Tubuhnya berlenggang
lenggok menurut sekehendak hatinya….
Siangkwan Wan ceng hendak menasehatinya,
tetapi karena melihat orangtua itu makin
lama makin menari dan menyanyi dengan
gembira, ia tak jadi membuka mulut.Seberapa
saat kemudian, tiba2 orangtua alis panjang
itu rubuh dan menjerit-jerit bergelimpangan
ditanah.
Melihat orangtua itu berguling-guling makin
keras sehingga pakaiannya koyak2,
Siangkwan I Wan-ceng tertegun, “Nona, lekas
engkau cegah orang itu. Kalau Ia terus
menerus berguling-guling begitu rupa, selain
pakaiannya akan hancur, jiwanya tentu
melayang juga,” seru Kim loji.Siangkwan
Wan-ceng mengiakan lalu menyambar tubuh
orangtua alis panjang itu.
Tetapi karena orangtua itu berguling-guling
seperti binatang buas, beberapa saat
kemudian barulah Siangkwan Wan-ceng berhasil
mencengkeram bahunya. Orangtua alis
panjang itu berhenti lalu bangun.
“Paman seorang tua, mengapa sebentar sedih
sebentar tertawa seperti anak kecil saja?”
tegur Siangkwan Wan-ceng.
Sejenak berdiam diri, orangtua alis panjang
itu menyahut, “Seumur hidup aku belum
pernah merasa gembira seperti hari ini….”
Rupanya ketegangan hati orangtua itupun
sudah reda. Tapi memandang Kim loji lalu
Siangkwan Wan-ceng, katanya, “Anak2, mari
ikut aku!”
“Engkau memanggil siapa?” Kim loji
terkesiap.
“Engkau!” seru orangtua itu, “kalau dulu aku
menikah tentu sudah mempunyai anak
sebesar engkau, mungkin lebih tua lagi!”
Karena melihat rambut oragtua itu memang
sudah beruban, Kim loji merasa kalau orang
itu memang jauh lebih tua dari dirinya.
Terpaksa ia mengangkat tubuh Han Ping lalu
menghampiri.
Orangtua alis panjang itu mengangkat tubuh
kera bulu emas, membuka pintu disudut
ruang lalu melangkah masuk.
Siangkwan Wan-ceng membisiki Kim loji bahwa
gerak gerik orangtua alis panjang itu
memang serba aneh.
Oleh karena hendak minta pertolongannya
lebih baik nanti menuruti saja kehendaknya.
Kim loji mengiakan, “ Ya, asal dapat
menolong Ping-ji, sekalipun suruh aku menjura
sampai beberapa kali dihadapannya, akupun
mau.”
Kini mereka menasuki ruang obat-obatan.
Setelah meletakkan kera bulu emas, orangtua
alis panjang itu memetik setangkai bunga
putih dan sebutir buah merah lalu mengambil
beberapa macam!
obat obatan lahu diramunya. Ia membuka mulut
kera lalu memasukkan obat. Setelah itu
ia menepuk kepala kera itu dua kali,
serunya, “Makanlah…!” Aneh, mulut kera itupun
bergerak-gerak menelan obat.
“Bawa dia kemari,” seru orangtua alis
panjang itu kepada Kim loji. Dengan menghela
napas, Kim loji terpaksa melakukan perintah.
“Letakkan!” kembali orangtua alis panjang
itu memberi perintah. Kim loji bersangsi
sejenak lalu meletakkan tubuh Han Ping.
Setelah sejenak memeriksa dada Han Ping,
orang tua alis panjang itu menghela napas,
“Luka-nya berat sekali.
Hanya dengan cara ‘racun mengobati racun’,
mungkin dapat menolong jiwanya.”
“Adakah yang disebut racun mengobati racun
itu?” tanya Kim loji.
“Racun itu telah menyusup kedalam darah
dagingnya dan sudah tersebar keseluruh tubuh.
Aku tak dapat menghilangkan racunnya tetapi
hanya dapat mengobati dengan cara
memberi lain jenis racun yang dapat menindas
racun dalam tubuhnya “
“Apakah ‘tak berbahaya?” Kim loji berkata
seorang diri dengan cemas.
“Aku tak mau memaksa, terserah kepadamu,”
kata orangtua alis panjang.
“Lekas kerjakan!” tiba2 Siangkwan Wan-ceng
berseru,” daripada kalau racun itu bekerja
dan dia mati, lebih baik mencobabahaya itu.”
Melihat kemantapan si nona. Kim loji hanya
dapat menghela napas; serunya, “Baiklah,
bila Ping ji sampai mati, kita bertiga pun
jangan harap ada yang hidup!”
“Benar,” sa mbut Siangkwan Wan-ceng, “dia
mati, kitapun tak perlu harus hidup.”
“Bagus, bagus!” seru orangtua alis panjang,
“aku memang sudah lama ingin mati tetapi
kalau mati seorang diri merasa kesepian.
Dengan mendapat kawan kalian bertiga, itu
bagus sekali.”
Orangtua alis panjang itu segera memetik
sekuntum bunga putih dan buah merah dan
memilih beberapa macam tanaman obat lalu
diremas-remas jadi satu.”Hai, apakah obat
itu tak perlu dimasak?” Siangkwan Wan-ceng
berseru heran.
“Daun2 Obat ini sudah matang, tak perlu
dimasak lagi.
Setelah setelah meramu obat-obatan itu, ia
segera menggelindingi menjadi lima butir pil
besar kecil, katanya, “Pil beracun ini cukup
untuk membunuh berpuluh-puluh orang.
Racun ganas sekali Kim loji dan Siangkwan
Wan ceng diam saja tak mau memberi
rekasi. Sepeminum teh lamanya, kembali
orangtua alis panjang itu berkata seorang diri,
“Apa boleh buat, kalau tak menggunakan racun
ini, mungkin dia tak dapat hidup.”
Kim loji dau Siangkwan Wan-ceng tetap diam
Orangtua alis panjang itu menjemput
sebutir pil lalu disusupkan kemulut Han
Ping.
Kemudian sejenak berpaling memandang
Siangkwan Wanceng, kembali orangtua itu
memasukkan pil yang kedua, katanya, “Kalau
setelah makan lima butir pil ini dia hidup,
berarti dia takkan mati….” Setelah itu ia
memasukkan pil yang ketiga.
“Hai, jangan cepat begitu, biarkan dia
mengunyah pelahan-lahan,” seru Siangkwan Wanceng.
“Ah, tak ada waktunya. Aku ingin lekas2
mengatahui dia hidup atau mati.” sahut
orangtua alis panjang.
Demikian tak berapa lama habislah kelima
butir pil itu dimasukkan kemulut Han Ping.
Kini mereka menunggu dengan penuh
ketegangan. De-tik2 dirasakan lama sekali oleh
ketiga orang itu.
“Jantungnya masih mendebar,” kata Siangkwan
Wan-ceng seraya meraba dada Han Ping.
“Alangkah cepatnya,” seru orangtua alis
panjang, “dalam sejam lagi tentu dapat diketahui
mati hidupnya’
“Satu jam? Ah, betapa lamanya!” keluh si
dara.
“Jangan kuatir, nanti aku yang mengganti
jiwanya,” sahut orangtua itu.
Tiba2 Kim loji melonjak dan lekatkan
tangannya kepunggung orangtua alis panjang itu,
“Kalau dia mati, engkaulah yang menyusul
mati lebih dulu “
“Jangan kuatir,” sahut orangtua itu, “aku
memang sudah mempersiapkan tempat untuk
kita berempat.”
“Seumur hidup aku tak suka percaya omongan
orang,” kata Kim loji.
“Percaya atau tidak terserah,” kata orangtua
als panjang,” tetapi engkau harus bersabar
menunggu sampai satu jam.”
“Baik, tetapi tanganku tetap akan melekat
dipungungmu. Sampai nanti setelah dia benar2
dapat hdup, baru kutarik kembali.”
“Kalau engkau tak repot, silahkan aja” sahut
orangtua itu.
Siangkwan Wan cengpun tunjukan ujung pedang
Pemutus asmara kedada kera bulu
emas, “Kalau engkau bermaksud hendak
menggunakan binatang ini. dia tentu kubunuh
dulu.”
Orang tua alis panjang itu tertawa gelak2,
“Bagus, bagus, seumur hidup baru pertama kali
ini aku merasa ada orang yang memperhatikan
diriku. Entah kalian bermaksud baik atau
buruk, tetapi aku berterima kasihsekali,”
habis berkata ia terus pejamkan mata
bersamedhi. Mulutnya mengulum senyum.
Demikian suasana ruang pondok itu sunyi
senvap dan tak berapa lama sejampun sudah
lewat.
Tetapi Han Ping tetap berbaring tak
bergerak.
Siangkwan Wan ceng meraba dada Han Ping
lagi, serunya, “Paman, jantungnya masih
berdetak.”
Orangtua itu membuka mata, serunya, “Ada
orang datang!”
Siangkwan Wanceng tertegun dan mempertajam
telinganya. Segera ia mendengar suara
seseorang yang bernada kasar, “Adakah orang2
didalam pondok ini sudah mati semua?”
Menyusul terasa getaran keras. Rupanya
karena tak ada yang menjawab, orang itu marah
dan entah dengan benda apa, ia menghantamt
dinding pondok.
“Iblis laknat, setan keparat!” orang itu
me-maki2, “kalau aku sampai marah, pondok int
tentu kubakar!”
“Hm, bakarlah! Pondok ini terbuat dari batu
hijau yang tahan api,” orangtua alis panjang
itu berkata seorang diri dengan pelahan.
Karena tak jauh dari tempatnya, Siangkwan
Wan-ceng dapat mendengar kata2 orangtua itu.
“Hai, orang didalam rumah, lekas saja
seorang keluar. Kalau tak mau, jika kuketemukan
tempat persenbunyian kalian, tentu akan
kubunuh,” seru orang itu makin keras.
“Rupanya pendatang itu bangsa kaum
persilatat sehingga tahu kalau kitu bersembunyi
dibilik rahasia ini,” kata Kim loji.
“Biarlah,” sahut orangtua alis panjang.
“kamar rahasia ini terbuat dan batu tebal yang
tahan api dan amat kokoh sekali.
Tak mungkin dia dapat masuk kemari.”
“Orang itu terlalu liar, biarlah aku keluar
untuk memberinya hajaran,” kata Siangkwan
Wanceng.
“Tak perlu.” cegah orangtua alis panjang.”
biarkan dia bingung sendiri. Bum, bum,
bum….
Terdengar suara letupan dan getaranu makin
keras. Rupanya karena tak sabar menunggu
penghuni pondok yang tak mau keluar,
pendatang itu marah sekali. Ia mengamuk dan
menghantam kamar rahasia itu
sekeras-kerasnya.
Getaran itu makin hebat dan letupanpun makin
dahsyat. Jelas pendatang itu tentu
menggunakan senjata untuk menghantam
dinding.
Entah berselang berapa lama, suara letup dan
getaran itupun tiba2 berhenti.
“Ayo, mereka tentu sudah sakit tangannya,”
orangtua alis panjang tertawa.
Tiba2 Han Ping menghela napas pelahan. Kedua
tangannyapun bergerak-gerak……….
JILID 2
“Oh, terima kasih Tuhan, dia sudah siuman,”
seru Siangkwan Wan-ceng
gembira.
Kim lojipun segera menarik telapak tangannya
yang melekat dipunggung
orangtua alis panjang lalu memperhatikan Han
Ping.
Tetapi setelah dapat bergerak beberapa saat,
tiba2 Han Ping kembali tak
berkutik lagi.