ambang naga panji naga sakti 12**
Sehari lewat dengan cepatnya tanpa
terjadi suatu peristiwa apapun.
Pada malam pertama Poei Geng Yan
bersikap sangat tegang, kecuali Lie Giok Liong, Ih Coen serta Thio
Toa Hauw secara berpisah melakukan perondaan ditempat luaran, Poei
Ceng Yan, Liem Toa Lek serta Nyioo Su Jan pun tiada hentinya
berjalan kesana kemari melakukan pemeriksaan.
Namun malam Ini lewat dengan aman,
tidak terjadi suatu peristiwa apapun.
Hari kedua, malam kedua pun lewal
terjadi suatu kejadian.
Selama dua hari dua malam ini
kecuali bersantap Kwan Tiong Gak tidak pernah meninggalkan
ruangannya barang selangkahpun. jelas ia sudah pusatkan semua
konsentrasinya keatas peta mustika pengangon kambing itu.
Hingga saat itu, Poei Ceng Yan
mulai pertimbangkan suatu persoalan dalam hatinya, Ia merasa setelah
malam ini lewat maka besok pagi adalah saat terakhir dari janji yang
ditinggalkan Thay Heng Tuo Shu.
Kantor cabang perusahaan Hauw Wie
Piauw kiok ini terletak dipusat kota yang ramai, empat penjuru
merupakan rumah penduduk saling dempet mendempet, kecuali pintu
depan serta pintu belakang sisi kiri serta sisi Kanannya merupakan
rumah penduduk.
Ketika itu hari menunjukkan
kentongan ketiga, suasana tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit
suarapun.
Poei Ceng Yan perlahan-lahan
menghembuskan napas panjang, ujarnya lirih, “Setelah lewat malam
ini, mungkin tak akan terjadi suatu peristiwa lagi….”
“Cong Piauw tauw akan berdiam
selama tujuh hari didalam ruangan itu” kata Nyioo Su Jan pula.
“Selama tujuh hari ini setiap saat kemungkinan besar dapat terjadi
suatu peristiwa, sekalipun sudah lewat ini malam, kita masih harus
tetap waspada dan berhati hati.”
“Tetapi, sesaat, Thay Heng Tuo Shu
hendak meninggalkan tempat ini, ia memberi batas waktu selama tiga
hari kepada Cong Piauw tauw. Apakah hal ini sama sekali tiada
alasan.”
“Kedudukan Thay Heng Tuo Shu dalam
kalangan Bu lim sangat tinggi, dan iapun merupakan seorang manusia
tinggi hati. Dia tak akan berbicara sembarantan tanpa alasan, Namun
kalau urusan ini adalah suatu kejadian yang tak dapat ia kuasai
mungkin sekali bisa terjadi perubahan yang ada diluar dugaan”
“Perubahan yang ada diluar
dugaan?”
“Ini menurut pendapat dan analisa
sendiri, mungkin si kakek bongkok dari gunung thay Heng san telah
mendapat suatu kabar berita dan sengaja datang memberi peringatan
kepada Cong Piauw tauw, ia berharap setelah perubahan yang terjadi
dalam tiga hari lewat, Cong Piauw tauw kita bisa pergi mencari dia
untuk merundingkan sesuatu.”
“Kalau tak ada perubahan?”
Sebelum Nyioo Su Jan sempat
menjawab mendadak terdengar suara suitan tajam berkumandang datang
memecahkan kesunyian malam.
Inilah suitan tanda bahaya yang
telah tetapkan Nyioo Su Jan, mendengar suara itu orang she Nyioo
segera meloncat ketengah udara dan melayang kearah mana berasalnya
suara tersebut.
Poei Ceng Yan, Liem Coa Lek
mengikuti dari belakang meloncat keluar pula dari ruangan.
Setibanya disisi jendela si
telapak baja gelang emas Poei Ceng Yan putar badan mengirim sebuah
pukulan kebelakang.
Cahaya lilin yang menerangi ruang
tengah seketika padam, suasana diliputi kegelapan.
Nyioo Su Jan yang pertama tama
meloncat keluar dari ruangan segera melayang ke atas atap dan
berlari kedepan.
Pos pos penjagaan yang tersebar
disekitar kantor cabang perusahaan ini kebanyakan diatur sendiri
oleh Nyioo Su Jan. darimana-kah arah suara tadi muncul tentu saja
Nyioo Su Jan mengatakan sangat jelas, dengan cepat ia berkelebat
kesana.
Gerakan Nyioo Su Jan boleh dikata
cukup cepat namun kedatangannya terlambat setindak, ketika ia tiba
disitu tampaklah seorang pengawal berbaju hitam telah menemui
ajalnya diujung tembok, dimulutnya masih menggigit sempritan bambu
tersebut kencang kencang.
Terdengat ujung baju tersampok
angin berkumandang datang, berturut turut Poei Ceng Yan segera
membalik tubuh pengawal tadi, ditemuinya orang itu sudah menemui
ajalnya beberapa waktu.
Liem Toa Lek pun menemukan orang
itu merupakan salah satu pembantu yang paling pandai didalam kantor
cabang kota Kay Hong, tak tertahan lagi ia bertanya, “Poei Hu Cong
Piauw tauw, dimanakah letak lukanya?”
Ternyata diatas badan pengawal itu
sama sekali tidak tampak adanya bekas luka.
“Ia dihantam oleh sebuah pukulan
Iweekang yang amat dahsyat, isi perutnya telah hancur!”.
“Orang ini sangat pandai,
pengetahuan maupun pengalamanpun amat luas Untuk membinasakan
dirinya bukan suatu pekerjaan gampang. Aku pikir orang itu tentu
memiliki kepandaian silat yang sangat lihay .”
Sementara itu Nyioo Su Jan telah
terpaling kearah ruangan dimana digunakan Kwan Tiong Gak untuk
mencari rahasia peta pengangon kambing, suasana tampak amat tenang
seolah olah sama sekali tidak menjumpai gangguan.
“Su Jan, amankah ruangan yang
ditempati Cong Piauw tauw?” bisik Poei Ceng Yan dengan nada lirih.
“Kalau ditinjau dari kematian
pengawal ini, aku rasa orang itu adalah seorang jago yang memiliki
kepandaian silat sangat tinggi.”
“Eeee! Aku sedang bertanya
kepadamu Bagaimana dengan keselamatan Cong Piauw-Tauw?” tukas Poei
Ceng Yan dengan alis berkerut.
“Tidak ada perubahan. Empat
penjuru Bangunan yang digunakan Cong Piauw tauw telah ditanam empat
orang ahli panah, aku sudah beritahukan kepada mereka, perduli, di
luaran telah terjadi perubahan macam apapun mereka tidak
diperkenankan munculkan diri atau ikut campur. Kecuali ada orang
hendak menerjang masuk kedalam kamar Cong Piauw tauw, mereka baru
boleh unjukan diri dan melepaskan anak panah mencegah, orang itu
telah mengeluarkan tanda bahaya, kita bisa dengar rasanya merekapun
bisa mendengar pula.”
Dengan perasaan sangat puas Poei
Ceng Yan segera mengangguk.
“Namun” sambung Nyioo Su Jan lebih
jauh. “Datang datang orang itu sudah turun tangan membunuh orang,
agaknya kedatangannya membawa kegusaran. Apa mungkin setelah
membunuh seseorang ia lantas mengundurkan diri kembali….?”.
“Mari kita melakukan
pemeriksaan!.”
Nyioo Su Jan menyapu sekejap
keempat penjuru, lalu ujarnya lagi, “Kalian dilihat orang-orang yang
kita atur disekeliling tempat ini agaknya sama sekali tidak
bergerak, kedatangan kita kemari pun cukup cepat seharusnya kita
menemukan sesuatu jejak….”
“Mungkinkah dikarenakan mendengar
suitan tadi, ia merasa jejaknya konangan Dan dalam keandaan
mendongkol lantas turun tangan membinasakan orang itu lalu
mengundurkan diri?” nimbrung Liem Toa Tek memberikan pendapatnya,
“Seharusnya tidak mungkin….”
Sinar matanya di alihkan keatas
sebuah bangunan rumah tidak jauh dari mereka berdiri, tiba-tiba
sambil tertawa dingin tegurnya, “Kawan, dalam sebuah hantaman kau
telah mencabut jiwa seseorang, hal ini menunjukan kalau kepandaianmu
sangat luar biasa dan bukan seorang manusia tak bernama, seorang
lelaki sejati, seorang enghiong hoo-han buat apa bermain
sembunyi-sembunyi macam kura kura?? Apakah kau tidak merasa telah
merendahkan martabatmu sendiri.”
Mendengar teguran itu, Poei Ceng
Yan serta Liem Toa Lek sama sama mengalihkan sinar matanya kearah
bangunan rumah yang sedang diplototi oleh Nyioo Su Jan itu.
Kiranya halaman belakang merupakan
sebuah halaman kosong yang sangat besar, ruangan dimana Kwan Tiong
Gak berdiam saat ini merupakan sebuah bangunan yang berdiri sendiri
ditengah halaman. Disamping itu dekat ruangan tadi hanya ada sebuah
gudang yang terletak kurang lebih satu tombak lebih lima depa dari
ruangan pertama.
Seandaianya pihak lawan setelah
membinasakan gerakan yang paling cepat meloncat masuk kedalam gudang
itu dan bersembunyi di bawah wuwungan rumah, maka jejaknya akan
susah ditemui lagi.
Dugaan Nyioo Su Jan sedikit pun
tidak salah, bahkan ucapannya barusan telah memberikan reaksi.
Dari atas wuwungan rumah bangunan
itu muncullah sesosok bayangan manusia dan lambat lambat berjalan
mendekat.
Liem Toa Lek serta Nyioo Su Jan
segera memisahkan diri kedua belah sisi kemudien baru alihkan sinar
matanya kearah orang itu.
Tampaklah pihak lawan mengenakan
pakaian singset warna hitam, wajahnya dikerudungi dengan kain hitam.
Badannya sedangan sedang dipunggung tersoreng sepasang senjata roda
bergigi “Jet Gwat Siang Loen.”
Melihat senjata yang sangat aneh
itu otak Poei Ceng Yan segera berputar kencang, ia berharap dengan
menggunakan sedikit tanda itu berhasil mengetahui asal usul
perguruannya,
Tiba tiba si orang berbaju hitam
itu berhenti melepaskan sepasang senjata roda bergiginya dan tertawa
dingin.
“Apa maksud kalian mengundang
cayhe munculkan diri?”
“Aku ingin minta keterangan
tentang satu hal apakah orang ini menemui ajalnya ditanganmu?” seru
Nyioo Su Jan dingin.
Sepasang mata orang berbaju hitam
itu dengan tajam melirik sekejap kearah mayat sang pengawal yang
menggeletak diatas tanah lalu menggeleng.
“Bukan!”
“Bukan perbuatanmu?” seru Nyioo Su
Jan tertegun.
Siorang berbaju hitam itu kembali
tertawa dingin.
“Selama cayhe berkelana dalam
dunia persilatan, orang yang telah kubunuh bukan satu dua orang
saja. Sekarang lebih banyak membinasakan seseorang juga tidak
mengapa kenapa aku harus bicara bohong?”
Mendengar jawaban itu Poei Ceng
Yan segera mendehem berat dan rangkap tangannya menjura.
“Siauw te Poei Ceng Yan Hu Cong
Piauw tauw dari perusahaan ekspedisi Hauw Wie Piauw kiok, Katakan
ada urusan apa silahkan diutarakan kepada cayhe.”
“oooouw….” sitelapak baja gelang
emas sudah lama cayhe mendengar nama besarmu.”
“Kawan siapa namamu?”
“Kalau cayhe suka menyebutkan
siapakah namaku, seharusnya tak perlu mengerudungi wajahku dengan
kain hitam lagi.”
“Kawan! sekalipun kau tidak suka
memberitahukan namamu, namun maksud kedatanganmu bisa disebutkan
bukan??” ujar Poei Ceng Yan setelah termenung sebentar.
“Cayhe ingin berjumpa dengan
seseorang”
“Siapa?”
“Kwan Tiong Gak, Cong Piauw tauw
baru perusahaan kalian.”
“Oooouw….! Kwan Cong Piauw tauw
ada urusan, kalau-kalau mau bicara katakan saja kepada siauwte!”
“Beritahu kepadamu?” jengek
siorang berbaju hitam dingin. “Aku takut kau tak bisa ambil
keputusan sendiri.”
“Katakanlah lebih dahulu, mungkin
sekali aku orang she Poei memberi keputusan yang memuaskan bagimu.”
“Tidak bisa jadi, cayhe datang
membawa sepucuk surat, kalau bisa berjumpa dengan-dia sendiri jauh
lebih baik,kalau Kwan Cong Piauw tauw tidak ingin menjumpai diriku,
cayhepun tak perlu utarakan lagi maksud kedatanganku ini.”
“Jikalau kedatanganmu adalah
membawa surat, kenapa tidak datang saja pada pagi hari?ditengah
malam buta datang berkunjung dengan menyoreng senjata, apakah kau
tidak merasa….”
“Waktumu amat singkat, sebelum
kentongan kelima nanti cayhe harus buru buru meninggalkan kota Kay
hong.”
“Tolong tanya, sudah berapa lama
kau tiba disini?” tiba2 Nyioo Su Jan menimbrung dari samping.
“Tak bisa terhitung lama, hanya
setindak lebih pagi dari kedatangan Cu wi sekalian.”
“Begitu mendengar suara cayhe
segera berdatangan kemari, tetapi orangku ini sudah menemui ajalnya
terhantam pukulan dahsyat, kalau kedatanganmu jauh lebih pagi dari
kami seharusnya menemui sang pembunuh bukan?”
Siorang berbaju hitam itu
termenung beberapa saat lamanya, lalu mengangguk.
“Sekalipun cayhe berhasil
menjumpai orang itu, agaknya akupun tidak seharusnya memberitahukan
hal ini kepada kalian.”
Ucapan orang ini Nyioo su Jan sama
sekali tidak marah. Ia tertawa hambar.
“Kawan! Walaupun ucapanmu ketus
dan dingin tidak enak didengar tetapi cayhe merasa kagum atas
watakmu, tidak semacam sahabat yang telah membunuh orang ini,
setelah berbuat lantas bersembunyi tidak berani berjumpa. Hmm!
Sungguh memalukan sekali.”
Baru saja ia menyelesaikan kata
katanya mendadak terdengar suara tertawa dingin yang sangat
menyeramkan berkumandang memecahkan kesunyian.
“Heee…. heee…. heee…. hal ini
harus salahkan sepasang matamu sudah buta, aku berdiri disini sudah
lama sekali, namun matamu tak dapat melihatnya, Hal ini bisa
salahkan siapa?”
Agaknya suara itu muncul bagaikan
disisi telinga saja, membuat orang yang mendengar merasakan bulu
kuduknya pada bangun sendiri.
Poei Ceng Yan serta Nyioo Su Jan
sekalian segera berpaling, tetapi tak nampak sesosok bayangan
manusiapun kecuali kegelapan ditengah malam buta.
“Eeei….! apa yang telah
terjadi?….” Bisik Liem Toa Lek lirih. “Suara itu kedengarannya
sangat dekat, tetapi kok tidak kelihatan sesosoK manusia pun?”
Poei Ceng Yan tidak menjawab,
sebalik nya dengan suara lantang kembali berseru.
“Kawan, kau bisa menggunakan ilmu
menyampaikan suara untuk mengirim ucapan mu itu, ini menandakan
kalau ilmu silatmu sangat lihay. Kenapa tidak berani munculkan diri
untuk bertemu?”
“Untuk menjumpai cayhe tidak
sulit, asalkan Kwan Cong Piauw tauw mau menjawab pertanyaanku.” kata
orang itu lagi dengan suara menyeramkan.
Kali ini, beberapa orang itu,
mendengarkan suara tersebut dengan penuh perhatian. Mereka menemukan
apabila suara tadi berasal dari ujung dinding sebelah depan.
Diam diam Poei Ceng Yan menggempol
napas serunya kembali.
“Kawan! kalau kau ingin menjumpai
Piauw tauw kami tidak susah. Asalkan kau bisa membereskan kami.
Dengan sendirinya Cong Piauw tauw kami bisa munculkan diri untuk
berjumpa denganmu.”
“Kalau begitu Cong Piauw tauw
kalian masih berada didalam kantor cabang kota kay hong itu,” seru
orang tua dengan seramnya.
Poei Ceng Yan segera tertawa
dingin.
“Perduli dia berada dimana. kalau
kau ingin menjumpai dirinya maka hadapi dulu aku orang she Poei!.”
“Poei Hu Cong Piauw tauw” Bentak
orang itu gusar, “agaknya kau ingin sekali bergebrak melawan cayhe!”
“Kawan terlalu serius, hanya saja
kecuali kau berhasil menyelesaikan aku orang she Poei, rasanya tidak
susah untuk menjumpai Kwan Cong Piauw tauw ….”
Terdengar ujung baju tersampuk
angin, dari ujung dinding beberapa tombak dihadapan mereka melayang
turun sesosok bayangan manusia.
Orang itu dengan gerakan burung
walet menutul air laksana kilau melayang datang dan berhenti dua
tombak dihadapan beberapa orang itu.
Dia adalah seorang manusia
berjubah panjang, bertangan kosong dan menutupi selembar wajahnya
dengan kain hitam. Tidak terlihat ia menggembol senjata tajam.
Setelah orang itu munculkan diri,
Nyioo Su Jan segera alihkan sinar matanya menyapu sekejap wajah
orang itu lalu wajah si lelaki berbaju hitam yang membawa senjata
sepasang roda bergigi, tegurnya, “Benarkah kalian berdua tidak
saling mengenal?”
“Tentu saja tidak saling mengenal”
teriak orang berjubah panjang itu murka, “Buat apa aku membohongi
dirimu.”
“Cayhe lihat kalian berdua sama
sama menutupi wajah kalian dengan kain hitam….”
“Kau ingin mencari bukti?” tukas
sang lelaki bersenjata roda bergigi sambil tertawa dingin.
“Ingin kuketahui asal usul kalian
berdua!”
“Tidak susah untuk mengetahui asal
usul ku, nah! Periksalah sendiri dari permainan senjataku ini!” seru
lelaki tadi seraya ayunkan sepasang roda bergiginya.
Tiba tiba Liem Toa Let maju
selangkah kedepan, ia segera loloskan goloknya dan di lintangkan
didepan dada,
“Kawan!” tegurnya dingin. “Kalau
kau ingin turun tangan, mari cayhe layani kemauanmu ini.”
“Siapa kau, apa kedudukanmu dalam
perusahaan ini?”
“Cayhe Liem Toa Lek. Piauw su dari
perusahaan cabang kota Kay Heng. Harap kau pun sebutkan namamu….”
“Menangkan dulu tepisan roda
bergigi ini kemudian baru tanya namaku.”
Tiba tiba tangan kirinya didorong
kedepan, sebuah roda bergigi segera menotok dada lawan.
Dengan jurus “Hua Hun Im Yang”
atau Menggaris pisah Im dan Yang. Lem Toa Lek memutar goloknya
menciptakan selapis cahaya ke-perak perakan menghantam senjata roda
lawan dengan gerakan melintang.
Gerakan orang itu sungguh cepat
sekali, dengan cepat ia tarik kembali senjata roda yang ada ditangan
kiri, sedang senjata roda ditangan kanan laksana kilat dibabat
keluar.
Sepasang senjata roda bergigi Jiet
Cwat Siang Loen, merupakan senjata istimewa yang jarang ditemui
dalam Bu Lim, senjata semacam ini paling mengutamakan mengunci dan
membabat senjata lawan.
Tetapi kali ini sang lelaki
tersebut tidak mau mengeluarkan keistimewaan ini untuk membabat
golok Liem Toa Lek, kejadian ini benar benar berada diluar
dugaannya.
Selagi otaknya diliputi keheranan,
sepasang senjata lelaki itu secara beruntun telah didorong kedepan
menciptakan selapis cahaya berkilauan serta desiran angin tajam.
(Bersambung Jilid 24)
Jilid 24
LIEM Toa Lek terperanjat saat
inilah baru tahu silelaki itu sengaja berbuat demikian jasteru ingin
memancing ia masuk jebakan bukannya keistimewaan itu sengaja
dibuang.
Tampak bayangan senjata roda
berkelebat silih berganti dan menerjang datang dari empat bagian
delapan penjuru.
Baru baru Liem Toa Lek
menggerakkan golok ditangannya berputar menciptakan selapis cahaya
tajam melindungi seluruh badan.
“Sebagai seorang Cong Piauw Su
yang mengepalai sebuah kantor cabang bagaimana pun juga kepandaian
silatnya bukan termasuk kelas rendah.
Tetapi siorang berbaju ringkas itu
telah mengerahkan seluruh kepandaiannya, angin desiran tajam
menggulung keluar dari sepasang senjata roda yang berputar tiada
hentinya itu, Liem Toa Lek beserta goloknya seketika terkurung
didalam bayangan roda lawan.
“Sementara itu Poei Ceng Yan serta
Nyioo Su Jan dapat melihat keadaan tidak menguntungkan pihaknya
permainan senjata roda lawan sangat lihay dan bila mana pertarungan
ini dilanjutkan lebih jauh Liem Toa Lek pasti akan menderita
kekalahan!
Diam diam Nyioo Su Jan melirik
sekejap kearah si orang berjubah panjang, ketika itu jago tadi
dengan bergendong tangan sedang menonton jalannya pertarungan
ditengaa kalangan.
Wajahnya tertutup oleh kain
kerudung hitam sehingga susah dilihat bagaimanakah perubahan
wajahnya pada saat itu, namun dari sikapnya berdiri dapat ditarik
kesimpulan kalau ia ada maksud berpeluk tangan menonton harimau
berkelahi.
Nyioo Su Jan segera berbisik lirih
ke pada rekannya, “Hu Cong Piauw tauw, kau perhatikan siorang
berjubah panjang itu. Aku hendak membantu Liem Piauw su. Agaknya
mereka berdua bukan berasal dari satu jalan. Ada dua orang
kemungkinan sekali ada orang ketiga, kita harus paksa mundur salah
satu di antaranya lebih dahulu.”
Poei Ceng Yan termenung
sebentar,akhirnya ia mengangguk.
“Kau harus berhati hati!” Sambil
tertawa Nyioo Su Jan mengangguk, ia segera melangkah kesisi kalangan
dan berteriak keras, “Kantor cabang kota Kay Hong bukan tempat untuk
beradu kepandaian. Kepandaian sahabat dalam permainan senjata roda
sangat lihay, sayang kau sudah salah memilih tempat untuk
berkelahi.”
Sementara itu permainan sepasang
roda bergigi “Jiet Gwat Siang Loen” dari siorang berbaju ringkas itu
makin dahsyat dan makin gencar, seketika memaksa perputaran cahaya
golok Liem Toa Lek makin lama semakin menyusut.
Agaknya siorang berbaju ringkas
itu ada maksud mempermainkan lawannya, ia tidak turun tangan keji
terhadap orang she Liem sebaliknya mempermainkan senjata roda itu
makin lama makin gencar dan memaksa cahaya golok Liem Toa Lek makin
lama makin menyempit.
Ketika itu Nyioo Sn Jan sudah
berada didekat kalangan, sepasang senjata Pan Koan pit dicekal
ditangan siap turun tangan.
Tiba tiba seorang berpakaian
singset itu merentakan sepasang rodanya kekedua belah samping
perutnya, “Kawan, Apabila kau ada maksud membantu, kenapa tidak
turun tangan saja secara berbareng “
Dalam hati kecil Nyioo Su Jan pada
Kaktu itu sedang memikirkan bagaimana cara nya mencari alasan untuk
ikut turun tangan, dengan berkumandangnya suara teriakkan itu ia
segera meloncat masuk kedalam kalangan.
“Saudara besar benar ucapanmu….”
Sepasang pit dengan dahsyat segera
di-tutul ke depan,Si orang berbaju singsat itu menggetarkan sepasang
senjata rodanya menerima serangan sepasang Pan Koan Pit dari Nyioo
Su Jan tampaklah bayangan roda selapis demi selapis berkelebat
mengurung tubuh Nyioo Su Jan serta Liem Toa Lek kedalam kurungan.
Poei Ceng Yan yang melihat
kejadian ini jadi tertegun diam diam pikirnya dalam bati.
“Kepandaian silat yang dimiliki
Nyioo Su Jan tidak lemah. Dalam perusahaan Hauw Wie Piauw kiok lapun
boleh disebut seorang Piauw su memiliki nama cemerlang, tapi
permainan sepasang senjata roda serta perubahan jurus dari orang ini
sungguh aneh dan luar biasa sekali, sekali pun sudah ditambah Nyio
Su Jan seorang pun masih belum kelihatan ada perubahan…. keadaan
tetap seperti Liem Toa Lek bergerak searang diri….sungguh lihay,
sungguh lihay….”
Terasa bayangan senjata roda
berkelebat silih berganti, deruan angin tajam memecahkan kesunyian.
Nyioo Su Jan serta Liem Toa Lek pada waktu yang bersamaan merasa
desakan tenaga tekanan amat dahsyat menekan mereka, senjata pit
serta golok kena dipaksa sehingga harus menangkis dengan repotnya,
mereka dipaksa berada dibawah angin.
Poei Ceng Yan yang menonton
jalannya pertarungan dari sisi kalangan, hingga kini masih belum
berhasil juga menemukan perubahan dari permainan senjata lawan. Tak
terasa ia menghela napas, pikirnya.
“Kalau ditinjau dari kejadian ini
hari agaknya para jago Bu-lim yang berkumpul didalam kota Kay Hong
saat ini merupakan jago jago lihay semua.”
setelah melihat pertarungan itu
selama beberapa jurus, Poei Ceng Yan mulai paham Bilamana
pertarungan ini dibiarkan lebih jauh maka Nyioo Su Jan serta Liem
Toa Lek-tak akan terhindar dari mara bahaya, sekali pun diri sendiri
ikut terjun kedalam kalangan pun belum tentu bisa menolong situasi
Satu satunya harapan yang ada
dalam benaknya saat ini adalah menantikan kemunculan Kwan Tiong Gak,
serta mengenal asal usul duri orang orang ini.
Berpikir sampai disitu, tak terasa
lagi ia membentak keras. “Tahan!”
Walaupun selama ini si lelaki
berbaju ringkas yang bersenjatakan sepasang roda gigi berbasil
merebut posisi diatas angin, namun ia selalu bersabar dan tidak
turunkan tangan keji.
Kini, mendengar suara bentakan
dari Poei Ceng Yan, ia segera menarik kembali senjatanya dan mundur
lima langkah kebelakang.
“Ada urusan apa?” tegurnya.
“Permainan sepasang roda bergigi
Cing Kang Jiet Gwat Siang Lun saudara betul betul luar biasa, ini
hari boleh dihitung cayhe sudah membuka mata serta memperoleh banyak
pengalaman.”
“Poei Hu Cong Piauw tauw terlalu
memuji.” Sahut lelaki itu sambil tersenyum.
“Dengan andalkan permainan roda
cayhe entah bisakah menjumpai Kwan Cong Piauw tauw dari perusahaan
kalian?”
“Seandainya kau suka melaporkan
nama, caybe tentu akan berusaha untuk melaporkan kehadiranmu.”
Orang berbaju ringkas itu seketika
tertawa terbahak-bahak.
“Poei Hu Cong Piauw tauw, kau
tidak sudi mengundang Kwan Cong Piauw tauw untuk bertemu dengan
cayhe. Aku takut di-kemudian hari kalian akan merasa amat menyesal,”
“Kenapa?” Poei Ceng Yan merasa
tercengang.
“Karena kantor perusahaan kalian
sedang berada dalam kancah suatu gelombang badai yang amat besar.”
“Oooouw….,!” seru Poei Ceng Yan
sambil melirik sekejap kearah manusia berkerudung lainnya. “Kalau
didengar dari nada ucapanmu. agaknya saat ini sudah terdapat banyak
sekali kawan kawan kangouw yang mengurung kantor cabang perusahaan
kami?”.
Selama ini si manusia berjubah
panjang tetap bergendong tangan berdiri disisi kalangan, sikapnya
seolah olah menunjukan perikatan yang sedang terjadi dalam kalangan
sama sekali tiada hubungan dengan dia orang.
“Jikalau Poei Hu Cong piauw thaw
tak bisa mempercayai perkataanku, terpaksa cayhe mohon diri!”.
“Kawan!” seru Poei Ceng Yan cepat
cepat setelah mendehem sejenak. “Setelah membawa maksud datang
kemari, kenapa buru-buru hendak berlalu?”
Ucapan ini diutarakan sangat
keras. agaknya ia sengaja berbuat demikian agar Kwan Tiong Gak yang
bersembunyi dalam ruangan dapat ikut mendengar.
Kiranya Poei Ceng Yan merasa
urusan beruban semakin tegang, dan ia mengerti keadaan seperti ini
tak dapat diselesaikan dengan kekuatan sendiri.
Si orang berjubah panjang yang
selama ini berdiri tak berkutik, tiba tiba melirik sekejap kearah
bangunan kecil itu, ujarnya dingin.
“Kwan Tiong Gak, kau anggap dengan
bersembunyi didalam bangunan kecil itu lantas bisa meloloskan diri
dari bencana ini?” Suasana dalam bangunan kecil tetap sunyi tak
kedengaran sedikit suara pun.
Poei Ceng Yan yang melihat
kejadian itu hatinya jadi serba salah, pikirnya.
“Toako tidak menyahutnya ini
menandakan untuk sementara waktu ia tak ingin munculkan diri, kalau
aku buka suara mencegah perbuatannya bukankah hal ini sama artinya
beritahu kepadanya kalau Kwan Toako memang benar bersembunyi dalam
ruangan itu “
Terpaksa ia pura pura berlagak
pilon dan membungkam dalam seribu bahasa.
Ketika si orang berjubah panjang
itu tidak mendengar suara jawaban dari dalam ruangan, ia segera
tertawa dingin.
“Kwan Tiong Gak, kau bersikap
sembunyi sembunyi seperti cucu kura kura. Apakah tidak takut
ditertawakan orang?”
Sembari berbicara tiba tiba
badannya meloncat kedepan menerjang kearah bangunan rumah tersebut.
Melihat kejadian itu Poei Ceng Yan
terperanjat, selagi ia siap meloncat kedepan untuk menghadang, tiba
tiba terdengar suara desiran tajam bergema mamenuhi angkasa, anak
panah bagaikan hujan gerimis beterbangan menyambar datang.
Nyioo Su Jan benar benar sangat
handal disekeliling bangunan rumah itu ia sudah tanam banyak sekali
ahli panah namun di luaran orang lain tak akan tahu disana sudah di
persiapknn jago.
Si orang berjubah panjang itu
segera ayunksn tangan kanannya kedepan. serentetan cahaya hijau
menyambar lewat. Tahu-tahu anak panah yang berada disekeliling
tempat itu pada rontok ke atas tanah.
“Kawan!” seru Poei Ceng Yan sambil
mendengus dingin, “Tempat ini adalah perusahaan Hauw Wie Piauw kiok
kami selamanya tidak memperkenankan orang lain bertingkah di sini!”.
Sembari berkata ia segera
menerjang ke depan dengan dahsyatnya.
Tampak bayangan manusia berkelebat
lewat, si lelaki berpakaian singsat yang membawa senjata sepasang
roda itu tahu tahu sudah mendahului Poei Ceng Yan menghadang jalan
pergi orang berjubah panjang itu. serunya dingin,
“Perkataan dari Poei Hu Cong piauw
tauw sedikitpnn tidak salah, perusahaan Hauw Wie piauw kiok
selamanya tidak memperkenankan orang lain jual lagak disini”.
Perubahan yang telah terjadi
secara mendadak ini, seketika membuat Poei Ceng Yan, berhenti dan
berdiri melengak.
Dalam perkiraan Poei Ceng Yan.
sekalipun mereka berdua tidak datang bersama sama namun tujuannya
tentu sama. Siapa sangka kedua orang ini bukan saja tidak saling
mongenal bahkan ada tanda tanda hendak saling bergebrak.
Walaupun Hu Cong Piauw tauw dari
perusahaan Hauw Wie Piauw kiok ini tidak dapat memahami maksud
tujuan kedua orang ini, namun dalam hati ia paham seandainya kedua
orang ini saling bergebrak maka situasi tersebut akan sangat
menguntungkan dirinya.
Karena berpendapat demikian, iapun
tidak turun tangan menghadang.
Terdengar si orang berjubah
panjang itu tertawa dingin.
“Saudara, kau tak usah jual lagak,
kau bisa mengelabui orang orang Hauw Wie piauw kiok namun tak bakal
bisa mengelabui cayhe”
“Mau bicara katakanlah sampai
puas, tetapi jangan harap kau bisa maju selangkah lagi!”.
“Jadi kau hendak menghadang jalan
pergi ku?”
“Sedikitpnn tidak salah” sahut
orang berbaju ringkas itu seraya ayunkan sepasang tangannya-
“Kalau kau ingin agar cayhe
mundur, dari sini rasanya hanya ada satu cara saja yaitu kalahkan
dulu permainan sepasang roda bergigi ini.”
“Haaaa…. haaa,…. haaaa…. apakah
kau merasa bahwa permainan sepasang rodamu itu sudah tiada tandingan
dikolong langit?”
“Jadi kau tidak percaya? Mari.,.,
mari kita coba-coba saja buktikan, perkataan siapa yang benar.”
“Boleh!” jengek si orang berjubah
panjang itu sambil tertawa dingin. “Namun sebelum kita bergebrak,
cayhe ingin terangkan dulu dua persoalan .,….”
“Cepat katakan. Kau tak usah ulur
waktu lebih lama lagi, karena hal ini tidak akan mendatangkan
keuntungan bagimu.”
“Kenapa?”
“Karena sebentar lagi, kemungkinan
besar bala bantuan cayhe akan tiba disini” jawab siorang berbaju
singset sambil memantang keadaan cuaca.
“Sama, sama,,…. sama, sama…. kau
tak bisa menggertak diriku….”
Terdengar ia merandek sejenak,
lalu samBungnya lebih jauh. ,
“Setelah kita saling bergebrak
maka pertarungan ini adalah suatu pertarungan yang menentukan mati
hidup kita. Kalau bukan kau yang mati maka akulah yang binasa,
jikalau saudara tidak ingin jadi setan bodoh, lebih baik tanya dulu
siapakah namaku.”
“Semisalnya kau suka menyebutkan
namamu, aku akan pentang telinga untuk mendengarkan.”
“Ada satu soal lagi harus kau
ketahui dulu, setelah aku beritahukan namaku, maka kaupun harus
ucapkan pula siapakah namamu.”
“Bagus sekali!” seru Poei Cerg Yan
di dalam hati. “Kedatangan kedua orang ini sudah cukup menimbulkan
keonaran, kalau bala bantuan mereka tiba disini semua, kerepotan
akan semakin menjadi….”
Melihat jarak yang begitu dekat
antara kedua orang itu dengan ruangan diman Kwan Tiong Gak berada,
orang she Poei ini yakin apabila Cong Piauw tauw nya dapat menangkap
pembicaraan mereka berdua dan saat ini tentu sedang menyusun suatu
rencana.
“Aku lihat usulmu itu tak usah
dijalankan lagi” terdengar siorang berbaju singset berseru dingin.
“Jikalau kau sampai menemui ajalnya ditanganku, kaupun tak usah tahu
siapakah diriku.”
Kedua orang itu bersitegang
beberapa saat lamanya, suasana meruncing dan agaknya suatu
pertarungan sengit tak akan terhindar. Namun sampai detik ini mereka
hanya cek-cok mulut belaka tanpa seorang pun yang ingin turun tangan
lebih dahulu.
Nyioo Su Jan yang melihat kejadian
itu diam diam mengerutkan dahi, pikirnya dalam hati, “Kedua orang
ini sama sama mengenakan kerudung hitam diatas wajahnya, muncul pula
dalam waktu bersamaan disini. Peristiwa ini boleh dikata sangat
kebetulan sekali, di tambah pula sikap mereka yang bicara saja tanpa
ada yang ingin turun tangan terlebih dahulu agaknya keadaan sedikit,
tidak beres apakah perbuatan inipun merupakan siasat dari mereka
berdua .”
Karena berpikir dsmikian. Ia
lantas berbisik pada Poei Ceng Yan.
“Poei Hu Cong Piauw tauw keadaan
agaknya sedikit tidak beres. Kita harus berusaha mendekati ruangan
itu untuk bergabung dengan Giok Liong serta Ih Coen sekalian,
Seandainya terjadi suatu perubahan secara tiba tiba kita dapat
melayani dengan lebih baik.”
“Perkataanmu sedikitpun tidak
salah.” Poei Ceng Yan mengangguk.
Sembari memperhatikan situasi
disekitarnya perlahan lahan mereka mengundurkan diri kesisi ruangan.
Sementara itu siorang berjubah
panjang serta silelaki berpakaian singset sedang berdiri saling
berhadap hadapan dengan demikian tak seorangpun yang bisa pecahkan
perhatian.
Dengan cepatnya Poei Ceng Yan
serta Nyioo Su Jan telah berkumpul jadi satu dengan Thio Toa Hauw
sekalian, segera ia memberi pesan kepada orang she Thio itu.
“Suruh mereka lebih banyak
persiapan senjata rahasia, kalau bukan keadaan terpaksa jangan turun
tangan mencari gara gara.”
Thio Toa Hauw mengangguk, ia
segera bungkam dalam seribu bahasa.
Sementara disisi belah sini Poei
Ceng Yan sekalian memperketat penjagaan, ditengah kalangan telah
terjadi perubahan.
Siorang berbaju singset yang
berdiri berhadap hadapan dengan orang berjubah panjang itu setelah
menanti beberapa saat tidak juga melihat pihak lawan meuunjukan
suatu tindakan. ia tak bisa menahan sabar lagi.
“Saudara, berhati hatilah!” tiba
tiba ia membentak, sepasang tangan segera diayun ke depan
melancarkan serangan.
Dengan sebat orang berjubah
panjang itu berkelit kesamping, telapak kanan diayun ke depan balas
melancarkan sebuah serangan.
Tenaga dalam yang dimiliki orang
ini amat sempurna, kekuatan angin pukulan yang menggulung keluar
barusan benar benar dahsyat menimbulkan suara deruan yang memekikan
telinga.
Sepasang senjata roda dari orang
berbaju singsat itu segera di pentang kesamping lantai meluncur
kedepan, dengan membentuk selapis cahaya tajam ia menahan datangnya
babatan musuh.
Siorang berjubah panjang tertawa
dingin ujung bajunya segera dikebas kedepan men-ciptaken serentetsn
cahaya putih menotok dada orang berbaju singsat itu.
Melibat datangnya cahaya putih,
siorang berbaju singsat menggetarkan senjata ditangan kirinya
membentuk selapis cahaya hijau menahan datangnya terjangan cahaya
lawat.
Ketika sinar matanya dialihkan
kearah depan, maka ia temukan di ditangan orang berjubah panjang itu
ssat ini telah bertambah dengan sebilah golok lemas terbuat dari
baja tipis.
Kiranya orang berjubah panjang ini
menyembunyikan golok lemasnya dibalik ujung baju, setiap saat
bilamana ia kebutkan ujung bajunya itu maka golok lemas segera
meluncur keluar bagaikan sebatang senjata rahasia.
Setelah ia mencekal kembali
goloknya, sang tubuh meloncat kedepan diiringi kelebatan cahaya
golok ia terjang kedepan.
Serangan macam ini boleh dihitung
merupakan suatu kebiasaan yang jarang ditemui cahaya golok
menggulung kedepan laksana gulungan ombak yang turun dari atas air
terjun.
Menjumpai pihak musuh lihay, orang
berbaju singsat itu segera merentangkan sepasang senjata roda
bergigi “Jiet Gwat Siang Loennya,” dengan menciptakan selapis
bayangan roda, ia tahu terjangan musuh dengan keras lawan keras.
Tampak cahaya golok menggulung
tiada hentinya menghantam bayangan roda yang berlapis lapis, kadang
kala diselingi oleh bentrokan-bentroksn nyaring diiringi percikkan
bunga-bunga api.
Pertaiungan ini benar-benar amat
seru masing-masing pihak menggunakan seleruh kelihaian yang dimiliki
saling terjang menerjang saling desak mendesak dengan keras lawan
keras.
Dipandang dari luaran saat ini
tinggal kelebatan cahaya golok serta gulungan bayangan senjata roda
belaka, susah bagi orang luar untuk orang luar untuk melihat jelas
jurus serangan serta gerakan tubuh kedua orang itu.
Mendadak, terlihat orang beriupah
panjang itu menerobos keangkasa, setelah berjumpalitan ditengah
udara badannya melayang satu tombak jauhnya dari kalangan, begitu
sepasang kaki mencapai tanah Sekali lagi ia enjotkan badan lenyap
ditelan kegelapan.
Sedangkan silelaki bersenjata roda
bergigi itu perlahan lahan menyimpan kembali senjatanya dan
berjongkok melakukan pemeriksaan.
Mengikuti tindakan lelaki itu,
Poei Ceng Yan pun alihkan sinar matanya kebawah. tampak diatas
permukaan tanah berbelepotan bekas darah, agaknya siorang bersenjata
galok itu telah mengundurkan diri dengan membawa luka.
“Sekarang dapatkan cayhe menjumpai
Kwan Cong Piauw tauw?” terdengar siorang berpakaian singsat itu
bertanya kembali sambil memandang wajah Poei Ceng Yan.
“Tentang soal ini …. tentang soal
ini.”
“Poei Hu Cong Piauw tauw, kalau
bicara tak usah gelagapan, bisa atau tidak cukup kau putuskan dengan
sepatah katamu.”
“Begini saja? Besok pagi kau
datang ke mari lagi, siauw te tentu akan mengaturkan suatu
kesempatan pertemuan bagimu. Bagaimana?”
“Besok pagi?” jengek siorang
berbaju ringkas itu sambil tertawa dingin. “Aku takut waktu sudah
tidak kecandak lagi.”
“Ia campur tangan pukul mundur
siorang berjubah panjang itu” pikir Poei Ceng Yan didalam hati.
“Kalau ditinjau dari pertarungan yang begitu sengit bahkan siorang
berjubah panjang itupun telah terluka hingga mengucurkan darah, aku
rasa pertarungan ini bukan suatu kesengajaan. ….”
Sementara berpikir sampai disitu,
ia lantas berkata lambat.
“Agaknya didalam hati Heng thay
ada suatu kesulitan? Entah dapatkah kau terangkan dulu ucapanmu itu”
Kembali silelaki bersenjatakan
sepasang roda bergigi itu tertawa dingin.
“Hmm! saudara berusaha untuk
menghindarkan diri dari ucapan caphe. ini menandakan kalau kau tidak
bermaksud membiarkan cayhe berjumpa dengan Kwan Cong Piauw tauw.
Kalau memang begitu, disini cayhe mohon diri lebih dahulu.”
Setelah bsrbicara hendak pergi, ia
lantas putar badan berlalu.
“Heng thay harap tunggu sebentar,
silahkan mendengarkan dulu sepatah dua patah kata cayhe.” buru buru
Poei Ceng Yan berseru
“Cayhe datang kemari dengan
membawa maksud yang tulus dan mulia, jikalau Kwan Cong Piauw tauw
tidak ingin menjumpai diriku. Akapun tak bisa berbuat apa apa
lagi-kecuali berlalu dari sini.”
“Harap Heng thay menanti sejenak
di ruang tengah.” bisik Poei Ceng Yan kembali dengan suara lirih.
“Biarlah cayhe melayani dirimu sebagai seorang tuan rumah.”
“Maksud kedatanganku kemari hanya
bertujuan mencapai Kwan Cong Piauw tauw belaka” ujar si lelaki
bersenjatakan sepasang roda setelah termenung sebentar. “Bahkan
urusan ini amat penting dan sangat mendesak, waktu tak bisa diulur
lebih lama lagi, seandainya cayhe tidak bisa menjumpai Kwan Cong
Piauw tauw sebelum kentongan keempat, lebih baik tak usah bertemu
lagi.”
“Baik! Aku orang she Poei akan
berusaha dengan segala kemampuan untuk menyelesaikan masalah ini,
harap Heng thay menanti sejenak di ruang tengah.”
“Kalau demikian adanya, aku rasa
Kwan-Cong piauw tauw masih berada didalam kantor cabang ini bukan?”
tiba tiba silelaki itu berseru setelah mendehem ringan.
“Aku orang she Poei akan berusaha
untuk mencarinya kembali sebelum kentongan keempat bilamana kau
tidak berhasil juga menjumpai dirinya, terpaksa cayhepun
akan-membiarkan kau berlalu.”
“Baiklah! Cayhe akan menanti
sejenak di sini.”
“Nyioo Su Jan membawa jangan untuk
sahabat” Nyioo Su Jan segera berseru.
Ia menyebut namanya lebih dahulu,
tak lain bertujuan agar si lelaki itu pun suka menyebutkan namanya
pula namun agaknya lelaki tersebut ada maksud menghindarkan diri
dari hai tersebut. setelah mengucapkan kata-kata terima kasih ia
lantas meubungkam dan berjalan keruang tengah mengikuti dibelakang
Nyioo Su Jan.
Seorang pembantu muda segera
menghidangkan air teh, beberapa orang itupun secara terpisah ambil
tempat duduknya masing masing.
Setelah semua orang duduk, siorang
berkerudung itu berkata kembali.
“Saat ini waktu berharga melebihi
emas Poei Hu Cong Piauw tauw silahkan cepat-cepat berusaha untuk
mencari baik Kwan Cong Piauw tauw kalian!”
“Baik! Cayhe segera psrgi.” Poei
Ceng Yan bangong berdiri dan melangkah keluar.
“Tidak perlu….!” Tiba tiba
terdengar suara deheman keras berkumandang memecahkan kesunyian,
tahu-tahu Kwan Tiong Gak dengan langkah lambat telah munculkan diri
di dalam ruangan.
Si orang berkerudung itu dengan
cepat bangun berdiri.
“Saudarakah yang bernama Kwan Cong
Piauw tauw?” sapanya.
“Sedikitpun tidak salah, caybe
Kwan Tiong Gak.”
Buru buru orang berkerudung hitam
itu melepaskan kain kerudung hitamnya dan memperkenalKan diri,
“Cayhe Seng Thian Kie menemui Kwan Cong Piauw tauw.”
“Seng heng tak perlu banyak adat!”
Kwan Tiok Gak segera menjura balas memberi hormat.
Sambil tertawa Seng Thian Kie
ambil tempat duduk kembali, ujarnya, “Cayhe mendapat perintah dari
suhu datang memberitahukan suatu berita penting ntuk Kwan
Loociapwee”,
“Suhumu….” Kwan Tiong Gak
termenung sejenak,
“Suhu adalah “Hwie Loen Ong” atau
si Raja Roda Terbang.”
“Aaaakh! Maaf, maaf. Kiranya murid
kesayangan dari si Raja Roda Terbang. Tidak aneh kalau permainan
sepasang senjata roda mu luar biasa!”
“Kwan Loocianpwee terlalu
memuji….”
ia merendek sejenak, lalu
tambahnya, “Kemarin malam suhuku baru saja tiba dikota Kay Hong, dan
berhasil mendengar kabar berita yang tidak menguntungkan diri Kwan
Cong Piauw tauw, karena itu sengaja suhuku mengutus cayhe datang
kemari untuk memberi bisikan.”
“Maksud baik gurumu, aku orang she
Kwan merasa sangat berterima kasih sekali!”
“Sewaktu boanpwee tiba disini
tadi, sebenarnya ada maksud mohon berjumpa secara baik baikan,
tetapi aku menemukan ada orang yang menguntit kedatanganku serta
membinasakan seorang peronda dari perusahaan kalian. Kalau kutinjau
dari penjagaan yang ketat agak nya perusahaan kalian sejak semula
sudah mengadakan persiapan.”
“Perusahaan yang membuka
pengawalan barang banyak mengingat permusuhan dengan orang. mau tak
mau kami harus bertindak sangat hati-hati….,” kata Kwan Tiong Gak.
Setelah mengeluh jenggotnya, ia
menambahkan.
“Entah kabar berita apa yang
hendak gurumu sampaikan kepada cayhe?”
“Suhu minta boanpwee sampaikan
kepada Kwan Cong Piauw tauw bahwa malam ini Pada kentongsn keempat
serta kentongan kelima ada orang yang hendak datang menyerbu kantor
perusahaan kalian!”.
“Kenapa waktunya ditentu antara
kentongan keempat kentongan kelima.”
“Justru disinilah letak kekejian
mereka, dengan diundurkannya waktu tersebut hampir menjelang pagi
maka serangan mereka akan membuat orang tidak siap dan merasa diluar
dugaan.”
“Ehmm! Perkataanmu sedikitpun
tidak salah” Kwan Tiong Gak mengangguk. “Pada saat saat menjelang
pagi, mereka yang melakukan perondaan memang sudah mulai kelihatan
lelah dan mengantuk!”
“Menurut guruku, beliau berkata
bahwa sewaktu mereka menyerbu kedalam perusahaan kalian nanti,
tindakan yang akan dilakukan amat keji dan ganas. Maka dari itu
beliau suruh aku datang kemari memberi laporan kepada Kwan Cong
Piauw tauw agar bisa mempersiapkan diri lebih dahulu.”
“Maksud baik suhuku sangat kami
terima dihati, silahkan saudara menyampaikan rasa terima kasihku
kepada gurumu sekembalinya dari sini, katakan saja dalam lima hari
kemudian aku orang she Kwan tentu akan datang berkunjung kerumah
kalian.”
Seng Thian Kie segera tersenyum. .
“Besok sebelum hari gelap. suhuku sudah akan meninggalkan kota Kay
Hong” ujarnya
“Begitu cepat?” kelihatannya Kwan
Tiong Gak dibikin tertegun.
Tiba tiba Seng Thian Kie mengambil
kembali kerudung hitamnya dan dikenakan ke keatas wajah, katanya,
“Waktu sudah hampir tiba!”
“Ebmmm….” Kwan Tiong Gak segera
berpaling sekejap kearah Liem Toa Lek dan berkata, “Sampaikan
perintah mereka perketat penjagaan berusaha menumpukkan seluruh
kekuatan pada anak panah serta sambitan senjata rahasia, mereka
dilarang unjukan diri untuk bergebrak dengan pihak lawan.”
Liem Toa Lek menjura dan segera
berlalu dari ruangan.
Sementara itu Seng Thian Kie telah
membungkus kembali wajahnya dengan kerudung hitam, namun ia duduk
kembali kekursinya. “Seng si heng….”
“Boanpwee mendapat perintah dari
suhu untuk datang kemari, Kwan Cong Piauw tauw menaham serangan
musuh.”
“Tentang soal ini„ cayhe tidak
berani menerimanya”.
“Tadi Seng heng membantu kita
pukul mundur seorang musuh tangguh….” Sela Poei Ceng Yan dari
samping.
“Kalau begitu bagus sekali, sudah
lama kudengar permainan sepasang roda dari si raja roda terbang
telah mencapai puncak kesempurnaan, aku rasa Seng si heng sudah
memperoleh warisan seluruh kepandaian….,,.!”
Maksud dari ucapan ini jelas
menunjukkan bahwa ia hanya pernah mendengar nama besar dari si raja
roda terbang belaka, tindakan siroda terbang mengutus muridnya
mengirim kabar sudah merupakan suatu tindakan yang luar biasa, ia
begitu sudi menempatkan muridnya untuk membantu memukul musuh?
Agaknya Seng Thian Kie pun dibikin
tertegun.
“Apakah Kwan Cong Piauw tauw
tidak, kenal dengan dengan guruku?” tanyanya.
“Kami hanya pernah mendengar nama
hebatnya saja. tapi belum parnah saling mengenal”.
“Tentang soal ini. Tentang soal
ini….”
“Semisalnya gurumu ada urusan
hendak disampaikan kepadaku, silahkan Seng si heng utarakan secara
blak blakan.”
“Suhu beritahu kepada boanpwee
untuk tetap tinggal disini membantu Perusahaan kalian pukul mundur
musuh tangguh, setelah itu cayhe harus segera meninggalkan tempat
ini kembali menghadap suhu kemudian bersama sama meninggalkan kota
Kay Hong”, Kwan Tiong Gsk termenung beberapa saat lamanya, kemudian
ia berkata, “Seng Si heng, tahukah kau asal-usul dari musuh tangguh
yang akan datang menyerang kami setelah kentongan keempat nanti?”
“Tentang soal ini, suhu tidak
memberi petunjuk kepada boanpwee, boanpwepun tidak berani mengambil
analisa sendiri” kata Seng Thian Kie cepat cepat seraya menggeleng.
Kwan Tiong Gak mengangkat cawan
teh nya dari meja dan diteguk setegukan, lain sambil tertawa
ujarnya, “Aku orang she Kwan teringat akan satu persoalan, harap
Seng Si heng suka menyampaikannya kepada gurumu sepeninggalnya dari
sini.”
“Urusan apa?”
“Selama beberapa hari ini cayhe
terus-menerus mengadakan menyelidiki dan mempelajari peta mustika
pengangon kambing itu, kini sebagian besar sudah berhasil kupahami
hanya ada sedikit bagian bagian saja yang belum berhasil kupahami,
entah seberapa banyak yang telah diketahui gurumu tentang peta
pengangon kambing ini….”
“Tentang soal ini boanpwe merasa
kurang paham, camun boanpwee pernah mendengar suhu memutuskan kisah
tentang peta pengangon kambing itu, agaknya ia mengetahui sedikit
tentang peta mustika itu”
“Kalau begitu bagus sekali, harap
Seng Si heng suka menyampaikan undangan cayhe kepada suhumu untuk
bersama-sama mempelajari isi peta mustika tersebut.”
“Kwan Cong Piauw tauw, benarkah
ucapanmu ini,” seru Seng Thian Kie tiba-tiba sambil bangun berdiri.
“Suhumu mungkin tahu bahwa aku
orang she Kwan selama hidup tidak pernah bicara bohong.”
“Boanpwee akan segera sampaikan
ucapan ini kepada suhu. namun maukah ia datang kemari boanpwee tidak
berani memastikan.”
“Suhumu mau datang kemari atau
tidak, harap Seng Si heng suka memberikan suatu jawaban kepadaku”
“Baik! Setelah cayhe berjumpa
dengan suhu perduli bagaimanapun tentu akan balik lagi memberi
jawaban untuk Kwan Cong Piauw tauw.”
Sekali berkelebat badannya segera
melayang keluar dari ruangan itu.
Nyioo Su Jan pun segera ikut
gerakkan badan siap mengejar keluar dari ruangan. namun perbuatannya
ini berhasil dicegah oleh Kwan Tiong Gak.
“Su Jan! Tak usah kau kejar
dirinya” seru orang she Kwan setelah pasang telinga beberapa saat
lamanya.
“Diantara ucapan orang ini
terselip hal-hal yang mencurigakan, dan keanehan tersebut tanpa
terasa telah ia perlihatkan dalam perubahan air muka, kenapa Cong
Piauw tauw tidak membiarkan hamba pergi mengejar diri nya untuk
mengetahui asal-usul yang benar?”
“Kepandaian silat yang dimiliki
Seng Thian Kie tidak lemah, bahkan merupakan seorang manusia yang
teliti dan cermat dalam bertindak, Seandainya kau menguntit
perjalanannya kemungkinan besar jejakmu segera konangan.”
“Benarkah Cong Piauw tauw hendak
mengundang si raja roda terbang datanglah kemari.” Kwan Tiong Gak
tidak menjawab, sebaliknya ia memberi perintah.
“Coba kalian pergi memeriksa
sebentar setiap bagian dan setiap pelosok dari kantor perusahaan
kita, kemungkinan besar sebelum terang nanti kita benar benar akan
melangsungkan suatu pertarungan sengit.”
“Cong Piauw tauw! apakah kau
percaya akan ucapan dari Seng Thian Kie itu?”
“Si Raja Roda terbang mengutus
murid nya datang membantu kita, tentu saja iapun membawa maksud
maksud tertentu.” kata orang she Gak sambil tersenyum, “masing
mesing pihak membawa maksud maksud tertentu, terpaksa kita pun harus
menghadapinya dengan adu kecerdikan.”
“Aaakh! kalau begitu hamba segera
pergi mengatur penjagaan lebih dahulu.”
Selesai bicara, orang she Nyioo
ini segera melangkah keluar dari dalam ruangan.
“Toako! agaknya kau sudah
mempunyai rencana yang masak,” bisik Poei Ceng Yan lirih.
Kwan Tiong Gak segera tersenyum.
“Sewaktu ada di kebun belakang
tadi, kalian sudah menjumpai berapa orang?”
“Dua. Seorang adalah Seng Thian
Kie sedang yang lain memakai jubah panjang ia mengundurkan diri
setelah dikalahkan. Oleh permainan sepasang roda orang she Seng
itu.”
“Nah! Itulah dia, Seng Thian Kie
bantu kita pukul mundur musuh tangguh, tujuannya tidak lain sedang
mencari hati dengan kita orang. Bukankah begitu?”
Aaaakh “! Benar ia mebaiki kita
dan berusaha berkenalan dengan Toako tidak lain karena ia ingin
mengelabui rahasia dari peta pengangon kambing itu.”
Kembali Kwan Tiong Gak tersenyum.
Disekitar kota Kay Hong sudah
berkumpul jago jago lihay dari kalangan Bu lim, siapakah diantara
mereka yang bukan datang dikarenakan ingin mendapat rahasia peta
pengangon kambing itu?”
“Menurut apa yang siauw te
ketahui, agaknya si Raja Roda terbang adalah seorang manusia yang
susah dihadapi. Toako mengundang ia datang kemari bukankah sama arti
mencari kerepotan buat diri sediri?”
“Ia datang kemari untuk bersama
sama diriku menyelidiki rahasia peta pengangon kambing asalkan aku
tidak mengingkari janji tentu saja ia tak akan mencari gara gara
dengan diriku.”
“Jadi Toako ada benar-benar ada
maksud membagikan peta pengangon kambing itu dengan si Raja Roda
terbang?”
“Saudara Poei,” ujar Kwan Tiong
Gak dengan wajah serius. “Perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kita sudah
ada banyak tahun tersohor di kolong langit sudah banyak dagangan
besar yang kita terima, dan banyak badai kekacauan yang kita hadapi,
jago jago tersohor kalangan Liok lim yang ada di lima keresidenan
sebelah Utara kebanyakan pernah bergebrak dengan siauw heng, namun
kebanyakan urusan-urusan itu akan selesaikan di suatu tempat dengan
kuda jempolan serta sebilah golok….”
“Aku tahu,” tukas Poei Ceng Yan
cepat, “Untuk mendirikan merek emas perusahaan Hauw Wie Piauw kiok
ini, toako telah mengorbankan banyak pikiran serta tenaga.”
Perlahan lahan Kwan Tiong Gak
menghela napas panjang.
“Aaaaai…., Tetapi keadaan situasi
yang kita hadapi ini hari jaub berbeda dengan keadaan tempo dulu,
bentrokan bentrokan yang bakal terjadi sudah tak bisa kita hadapi
dengan kekuatan sendiri. Maka dari itu mau tak mau kita harus
mengundang bantuan tenaga luar untuk menyelesaikan peristiwa ini,
mau tak mau kita harus menggunakan sedikit akal untuk
menghadapinya.”
“Toako. Jadi kau hendak bekerja
sama dengan si Raja Roda Terbang untuk memukul mundur musuh
tangguh?” seru Poei Ceng Yan seperti telah memahami akan sesuatu.
Kwan Tiong Gak tertawa.
“Saat ini masih susah bagi kita
untuk memahami perubahan situasi yang akan datang terpaksa harus
melangkah setindak kemudian baru ambil rencana untuk tindakan
selanjutnya.”
Ia merandek sejenak, lalu tambah,
“Coba kau beri bisikan kepada Su Jan sekalian agar mereka bertindak
lebih hati-hati, kalau si Raja Roda Terbang ada kabar segera bawa
mereka menghadap kemari.”
Poei Ceng Yan mengiakan dan segera
melangkah keluar, setibanya didepan pintu mendadak teringat olehnya
akan sesuatu. Ia segera berhenti dan bertanya kembali, “Toako,
bagaimana dengan Thay Heng Tuo Shu? Apakah perlu kita beri kabar
kepadanya?”
“Persoalan itu baru kita pikirkan
setelah si Raja Roda Terbang datang kemari serta ditinjau dulu
bagaimana perubahan situasi selanjutnya.”
“Aaaakh!….” tidak banyak bicara
lagi Poei Ceng Yan pun segera berlalu dari ruangan itu.
Beberapa saat kemudian tampak
Nyioo Su Jan muncul dengan tergesa-gesa ujarnya, “Cong Piauw tauw.
si Raja Roda Terbang serta muridnya mohon bertemu!….,”
“Suruh mereka masuk kedalam”.
Sembari berkata ia bangun berdiri dan berjalan keluar dari ruangan.
“Kwan heng kau tak usah repot
repot menyambut diri” terdengar suara yang amatnya nyaring
berkumandang dari depan pintu.
“Oooouw …. Sungguh kekar dan seram
orang itu “
Tampak orang itu memiliki alis
tebal mata besar dengan wajah bercambang, di badannya memakai baju
ketut berwarna hitam yang memancarkan cahaya berkilauan. Kedua ujung
bajunya sebatas sikut. Celana panjang pun berwarna hitam serta
memancarkan cahaya berkilauan, Entah setelan pakaian ini terbuat
dari bahan apa?.
Poei Ceng Yan sudah lama mendengar
nama besar si raja roda terbang namun si raja roda pribadi amat
jarang berkelana dalam dunia persilatan, karena itu sangat jarang
orang orang Bu-lim yang pernah menjumpai dirinya, tanpa terasa lagi
ia memperhatikan orang itu beberapa kejap lebih banyak, Kwan Tiong
Gak mendehem sembari menjura ia memperkenalkan diri, “Cayhe Kwan
Tiong Gak.” Si orang berbaju hitam itupun segera menjura balas
memberi hormat.
“Cayhe si raja roda terbang Swan
Cwan.”
“Sudah lama kukagumi nama besar
anda, beruntung ini hari kita bisa saling berjumpa”.
“Kwan Cong Piauw tauw terlalu
memuji, sudah lama aku dengar nama besar Golok Sakti Genta Emas yang
menggetarkan delapan penjuru. Dalam hati aku orang she Kwan pun
merasa amat kagum. Hanya saja harap kau suka memaafkan kedatangan
cayhe yang memakai pakaian ringkas sebab sebentar lagi permainan
busuk akan dimulai”,
Kwan Tiong Gak yang banyak
pengalaman selama ini merasa terheran heran dengan pakaian yang
dikenakan orang itu, ia tidak tahu baju macam itu terbuat dari bahan
apa, namun iapun tidak ingin bertanya secara gegabah. mendengar ia
mengungkapnya sendiri segera menimbrung, “Pakaian yang dikenakan,
sungguh aneh sekali, aku pikir benda ini tentu mempunyai asal usul
yang amat besar.”
Sembari berkata ia mempersilahkan
tamunya ambil tempat duduk.
Setelah duduk Swan Cwan segera
tertawa.
“Padahal pakaian ini tak bisa
dikatakan suatu benda mustika yang sangat berharga, benda ini bukan
lain adalah kulit ular kerak baja “That Kia Coa Pie” hadiah dari
seorang sahabat yang sudah lama tinggal dikeresidenan Im Kwee,”
“Aaaakh kiranya kulit ular kerak
baja “Thiat Kia Coa Pie”, sudah lama aku dengar benda ini kerasnya
luar biasa bisa bisa digunakan untuk menahan bacokan golok serta
tusukan pedang, entah benarkah demikian?”
“Memang demikian adanya. ” sahut
si Raja roda terbang Swan Cwan setelah meneguk air tehnya. “Tetapi
benda itu baru bisa menunjukan kehebatan tersebut bilamana sudah
memiliki suatu tahun tertentu, apalagi mendapatkan benda ini tak
bisa langsung dibuat pakaian. kulit itu harus direndam dulu dalam
minyak. “Ci Ma” selama tiga tahun, kemudian setelah dikeringkan,
beberapa lama dibawah terik matahari, barulah kulit tersebut bisa di
gunakan untuk bikin pakaian”
“Tidak menjumpai satu urusan,
kecerdikan tidak tambah setingkat, apabila bukan ada penyesalan dari
Kwan heng. siauw te pun tak bakal tahu akan persoalan ini!”
Sembari berbicara sepasang matanya
tanpa terasa telah meneliti badan si Raja Roda terbang tersebut.
Senjata roda bergigi dari si Raja
Roda terbang sudah amat tersohor dikolong langit Kwan Tiong Gak
ingin sekali melihat bagaimanakah bentuk dari roda terbang teitebut.
Kwan Tiong Gak ingin sekali
melihat bagaimanakah bentuk dari roda terbang tersebut.
Namun ia hanya dapat melihat si
Raja Roda Terbang Swan Cwan memakai mantel-hitam yang amat besar
menutupi hampir separuh bagian tubuhnya, susah bagi orang lain untuk
mengetahui dimanakah ia simpan senjata roda terbangnya yang terkenal
itu,
Walaupun Kwan Tiong Gak tidak
berhasil menemukan macam apakah senjata roda terbangnya, tetapi ia
dapat melibat adanya sebuah sabuk hitam yang melilit pada
pinggangnya, dengan pengetahuan Kwan Tiong Gak yang luas, ia segera
dapat mengenal sebagai semacam senjata tajam yang bersifat lunak.
Ketika itulah terdengar si raja
roda terbang tertawa terbahak bahak.
“Haaa …. haaa …. .haa ….sewaktu
siauw te melakukan perjalanan lewat kota Kay Hong, tanpa sengaja
telah kutemukan banyak sekali jago Bu lim yang kumpul di kota ini.
timbul rasa ingin tahuku dalam hati dan segera diam diam aku
melakukan penyelidikan. Hasil aku temukan kalau orang orang itu
sebenarnya datang untuk mencari setori dengan diri Kwan heng,….”
“Bukan. Mereka bukan lagi mencari
setori dengan aku orang she Kwan melainkan dsebabkan selembar peta
pengangon kambing.”
“Peta pengangon kambing?” tanya si
raja Roda terbang. Karena membicaraan telah dialihkan ke pokok
persoalan tanpa terasa lagi air muka pun berubah serius.
“Benar. Sebuah peta lukisan yang
menunjukkan tempat tersimpannya sejumlah harta karun. Cwan heng.
Rasanya kau pernah mendengar berita ini bukan?”.
“Benar. Siauw te pernah
mendengarnya” Swan Cwan mengangguk. “Katanya harta karun itu
meliputi jumlah yang amat banyak sehingga nilainya susah diduga.
Kwan- heng”
“kau telah melakukan penelitian
sebanyak beberapa hari tentu banyak rahasia yang telah kau dapatkan
bukan tentang harta karun itu-?”
“Aaaai.,….! Kalau dibicarakan
sungguh menyesal sekali, walaupun sudah lama siauw te melakukan
penyelidikan serta mempelajari rahasia peta pengangon kambing itu,
namun saat ini hanya kupahami sebagian saja. Nanti aku masih
membutuhkan petunjuk petunjuk yang berharga dari Cwan heng.”
“Haaa. …. haaa,….,ha»a…. Kwan
heng, kita baru untuk pertama kalinya saling berjumpa. ternyata Kwan
heng mengundang sianwte uutuk bersama sama menyelidiki serta
mempelajari rahasia peta pengangon kambing itu. Hal ini benar benar
membuat siauw te tercengang dan sedikit tidak percaya!”.
“Cwan heng! Antara dirimu dengan
siauw te tidak pernah saling kenal dan masing-masing hanya pernah
mendengar nama masing-masing namun kau begitu perhatikan keselamatan
kami dengan malam-malam mengirim muridmu datang memberi bisikan
bahkan tidak mengikat permusuhan dengan orang lain. Hal ini pun
membuat siauw te merasa amat berterima kasih sekali”.
“Aaaakh….! haaa…. haaa….mana
mungkin inilah yang disebut antara Enghiong sering terjalin ikatan
batin yang kuat.”
Pada saat itulah tiba tiba
terdengar dua kali suara suitan panjang berkumandang datang
memecahkan kesunyian.
Si Raja Roda Terbang segera bangun
berdiri, ujarnya, “Sudah waktunya bagi mereka untuk datang, suitan
tadi mungkin merupakan tanda dari kehadiran mereka.”
“Sedikit pun tidak salah, suitan
itu memang merupakan tanda bahaya yang menandakan mereka telah
menemukan pihak lawan mandekati perusahaan Hauw Wie Piauw kiok
kami.”
“Kwan heng, kau bersiap sedia
hendak menghadapi serangan lawan dengan cara apa?”
“Hingga kini siauw te masih belum
tahu jago jago lihay manakah yang telah datang, aku bermaksud hendak
berjumpa dulu diri mereka kemudian baru menyusun rencana
selanjutnya.”
“Bagus! Memang seharusnya
perapatan lebih dulu kemudian baru kekerasan, dengan demikian tidak
sampai merosotkan pamor Kwan heng. ayoh kita jalan! siauw te temani
Kwan heng meninjau dulu malaikat mana yang telah datang menyambang.”
“Cwan heng adalah tetamu, mana
boleh ikut melibatkan diri dalam pergolakan ini?”
“Haaa…. haaa…. ha….jikalau suruh
cayhe tetap bertahan dalam ruangan-ini tanpa keluar, rasanya akupun
tak perlu datang kemari.”
“Aku dengar katanya besok sebelum
sang surya lenyap dari jagad, kalian berdua hendak meninggalkan
tempat ini?”
“Sedikitpun tidak salah, besok
sebelum malam tiba, kami memang ada maksud meninggalkan kota Kay
hong.”
“Apakah Cwan heng serta muridmu
tidak dapat tinggal beberapa hari lagi disini?”
“Tidak dapat …. Swan Cwan
menggeleng.
Tiba tiba terdengar suara langkah
manusia berkumandang datang memotong ucapan Swan Cwan yang belum
selesai diutarakan.
Ketiga semua orang berpaling,
tampakKh Nyioo Su Jan dengan langkah terburu buru sedang melangkah
masuk kedalam ruangan!
“Bagaimana Su Jan? apakah kalian
sudah berhadapan muka dengan mereka?” tegur Kwan Tiong Gak ketika
dilihatnya orang she Nyioo itu munculkan diri.
“Sedikitpun tidak salah, kami
telah saling berjumpa muka dengan mereka. saat ini ruang belakang
kantor kita sudah terkepung, agaknya jumlah mereka yang hadir malam
ini tidak sedikit.”
“Siapakah mereka?”
“Mungkin pemimpin mereka belum
tiba kemari, tak seorangpun yang buka suara menjawab pertanyaanku,
namun mereka telah menyampaikan satu pesan, katanya sepertanak-nasi
kemudian, tentu akan muncul seseorang yang hendak mengadakan
pembicaraan dengan Cong Piauw tauw.”
“Sepertanak nasi kemudian?
sekarang sudah jam berapa?”
“Kentongan keempat baru saja
lewat.”
“Sepertanak nasi lagi bukankah
sudah memasuki kentongan kelima dan hari sudah terang tanah?”
“Tidak salah, kecuali mereka
bermaksud turun tangan setelah terang tanah, sungguh-membuat orang
merasa tidak mengerti apa maksud mereka yang sebenarnya?”
Tiba tiba terdengar Swan Cwan
tertawa hambar.
“Hmm, mereka Ingin turun tangan
setelah terang tanah, sungguh suatu pemikiran yang gila!”
“Cwan heng, sebenarnya apa yang
telah terjadi?” Tanya Kwan Tiong Gak seraya berpaling.
“Mereka berbuat demikian sama arti
memandang rendah perusahaan kalian, hal ini mengartikan bahwa dengan
waktu antara kentongan kelima sampai terang tanah nanti mereka
berkemampuan untuk membasmi seluruh orang yang ada didalam kantor
ini,”
“Ehmm! …. .kalau mereka benar
benar mempunyai cara pemikiran seperti ini, memang tindakan tersebut
rada sedikit gila….”
Ia berpaling kesamping dan
tambahnya.
“Su Jan, cari pemimpin mereka yang
bisa mewakili berbicara, tanyakan kepada mereka pihaknya hendak
turun tangan secara bagaimana”? silahkan dimulai saja, kami bisa
menerimanya dengan tangan terbuka.”
Agaknya Kwan Tiong Gak pada saat
ini sudah diumbar oleh hawa amarah, sewaktu berbicara kendati tetap
mempertahankan ketenangannya, namun dari sepasang mata memancarkan
cahaya tajam yang menggidikkan.
“Aku segera laksanakan tugas ini”
Nyioo Su Jan segera menjura kemudian putar badan berlalu.
Sementara itu Poei Ceng Yan, Liem
Toa Lek sekalian telah mengundurkan diri untuk memperketat pos
penjagaannya masing masing
Halaman belakang dari kantor
perusahaan tersebut terlalu luas, dengan jumlah pengawal yang
sedikit pihak perusahaan Hauw Wie Piauw kiok rada repot juga dalam
pembagian penjagaan.
Terdengar Swan Cwan mendehem
perlahan kemudian berkata.
“Kwan heng, sudah lama kudengar
akan kelihayan ilmu menyambit senjata rahasia genta emasmu. Malam
ini mungkin siauw te akan buka mata untuk mengagumi permainanmu itu.
Kenapa kita tidak menyambut saja kedatangannya sembari memberi
sedikit pelajaran buat mereka.?”
(Bersambung ke Jilid 25)
Jilid 25
“BIARKAN dulu mereka melakukan
persiapan kemudian kita baru turun tangan.” kata Kwan Tiong Gak
sambil tertawa.
“Haaa…. haaas….sungguh
bersemangat!”. Ditengah suara gelak tertawa yang amat nyaring, Nyioo
Su Jan munculkan diri kembali dengan langkah lebar, setelah menjura
ujarnya, “Lapor Cong Piauw tauw. hamha telah menyampaikan perkataan
tersebut kepada mereka, dan bertanya apakah rencana mereka
selanjutnya?”
“Lalu apa jawab mereka?”.
“Kata mereka, dalam berminum teh
kemudian segera akan menyerang masuk kedalam kantor kita. seandainya
Cong Piauw tauw tidak ingin banyak orang yang terluka serta
kehilangan nyawa, maka silahkan Cong piauw tauw munculkan diri
menjumpai mereka serta membicarakan pertukaran syarat!….”
“Apakah kau telah menjumpai
pemimpin mereka?”
“Hamba telah bertanya, tapi mereka
berusaha untuk menghindarkan diri dari pertanyaan ini. Mereka hanya
berkata bahwa pemimpinnya telah tiba, kalau Cong Piauw tauw ingin
tahu silahkan keluar untuk berjumpa sendiri.”
“Baik, kita segera keluar
menjumpai mereka.”
Seorang lelaki berpakaian ringkas
segera berjalan menghampiri dan menberikan senjata serta senjata
rahasia Kwan Tiong Gak.
Setelah menggembol senjata rahtsia
serta goloknya. Kwan Tiong Gak tertawa ujarnya;
“Cwan heng silahkan duduk sebentar
di ruang tamu, siauw te akan pergi keluar sebentar untuk melihat
macam apakah mereka itu.”
“Tujuan kedatangan aku orang She
Swan adalah berharap bisa membantu diri Kwan Cong Piauw tauw.
jikalau Kwan heng terlalu memandang ringan diriku. Lebih baik kami
mohon diri saja”.
“Maksud baik Swan heng membuat
siauw te merasa sangat terharu, namun antara kita tidak saling
kenal, membiarkan Cwan heng pun terikat oleh perselisihan ini
aungguh membuat siauw te merasa tidak tentram.”
“Haaa.haaa…. haaa….kita berjumpa
bagaikan sahabat lama. Kwan heng sudah bersahabat dengan aku orang
she Swan sudah cukup membuat cayhe merasa sangat bangga dan
gembira.”
“Baik, kalau begitu akupun tak
akan bertindak sungkan sungkan lagi dengan diri Cwan heng!”.
Mereka berdua melangkah keluar
dari ruangan diikuti Seng Thian Kie dari belakang.
Nyioo Su Jan segera berebut jalan
lebih dahulu selangkah didepan, katanya.
“Cayhe akan membawa jalan buat ciu
wie sekalian.”
Setelah melewati ruang tengah
mereka langsung menuju kehalaman belakang
“Su Jan!” kembali Kwan Tiong Gak
berseru sehabis memandang cuaca. “Suruh mereka pasang obor
penerangan!”
Nyioo Su Jan mengiakan. Ia segera
memberikan perintah kepada anak buahnya.
Tidak selang beberapa saat
kemudiaa cahaya api berkedip ditengah kegelapan, seketika suasana
disekeliling tempat itu dibikin terang benderang.
Setelah keadaan dibuat terang.
Kwan Tiong Gak segera menjura, serunya lantang.
“Cayhe Kwan Tiong Gak mendengar
laporan dari bawahanku bahwa ada sahabat malam malam datang
berkunjung, aku orang she Kwan tidak berani kehilangan rasa hormat
sengaja datang menyambut, jikalau kalian ada maksud bertamu kenapa
tidak segera munculkah diri? Aku orang she Kwan menanti kalian
disini.”
Sebelum pihak lawan memberi
jawaban! Swan Cwan telah merebut bicara.
“Cayhe si Raja Roda Terbang Swan
Cwan mempuyai ikatan persahabatan yang erat dengan Kwan Cong Piauw
tauw, perduli siapakah pihak kawan yang telah datang, aku orang she
Swan telah bulatkan tekad untu mencampuri urusan ini. Hmmn….!
Ditinjau dari keberanian kalian mencari gara-gara dengan pihak
perusahaan Hauw Wie Piauw Kiok, aku pikir tentu bukan manusia bangsa
tempe semua. Kini Kwan Cong Piauw tauw sudah munculkan diri
menyambut kedatangan kalian, kenapa sahabat sekalian masih juga
bersembunyi macam cucu kura kura?”
Dari tengah kegelapan segera
berkumandang datang suara tertawa dingin yang manggidikkan hati.
“Orang she Kwan. kau tak usah
kucing menangisi tikus pura pura menunjukkan berperasaan welas, kita
adalah malam gelap pa lentera, pukul genta mendengar suara, apa
maksud dari kau orang she Swan tidak lebih adalah siasat Suma Can
yang diketahui oleh orang jalan sekalipun, berusaha mendapatkan
harga menggunakan cara yang berbeda namun Lie Poa yang kau orang she
Swan pakau terlalu belebihan,Hmmnn! Kwan Tiong Ga bukan lentera yang
kekurangan minyak, kau ingin coba mencari untung dengan mencampuri
air keruh ini? Aku ingin lihat perbuatan mu sama saja dengan
bermimpi disiang bolong…. “
Swan Cwan segera tertawa terbahak
bahak memotong ucapan selanjutnya orang itu, tukasnya, “Sudah cukup
sahabat, kau tak usah menggunakan kata kata yang tajam untuk mencari
gara gara. Aku orang she Swan sudah pernah melakukan perjalanan
dalam Bu lim selama separuh umurku. Kau harus tahu aku paling tidak
doyan untuk makan permainanmu Itu, sudahlah …. setelah gelap malam
sang surya segera akan menyingsing, waktu mu tidak terlalu banyak
lagi. Kiri kanan depan belakang dari kantor perusahaan Hauw Wie
Piauw-kiok sudah ditanam puluhan jago lihay, anak panah, senjata
rahasia sudah cukup untuk membuat kalian kelabakan dan kerepotan
setengah mati, namun Kwan Cong Piauw tauw berjiwa besar menyambut
kedatangan kalian, kalau kini kalian tidak sudi unjukan diri. apakah
tidak terlalu merusak pamor kalian sendiri.”
Tampak bayangan manusia berkelebat
lewat, seorang lelaki berbaju serba hitam secara mendadak munculkan
diri dihadapan ke dua orang itu.
Ketika dilihatnya gerakan orang
itu amat gesit dan cepat laksana kilat, baik si Raja Roda Terbang
maupun Kwan Tiong Gak segera menyadari bahwa musuh mereka adalah
seorang jago berkepandaian lihay. Sekalipun begitu mereka tetap
berdiri tak bergerak, hanya secara diam-diam hawa murni disalurkan
mengelilingi badan siap menghadapi segala kemungkinan.
Orang itu memakai pakaian ringkas
berwarna hijau, sepasang tangannya kosong tidak membawa senjata.
Hanya saja diatas wajahnya telah memakai sebuah topeng yang berwajah
amat mengerikan.
“Kawan” jengek Swan Cwan dingin
seraya maju melangkah kedepan. “Tak usah jual lagak lagi disini.
lepaskan topeng yang kau kenakan itu “
“Hm! Orang she Swan. Kalau kau
benar benar punya kepandaian silahkan segera turun tangan melepaskan
sendiri topeng yang kukenakan ini.”
“Itu sih bukan suatu persoalan
yang terlalu sulit, aku rasakan menemui kami dengan memakai topeng
tentu mempunyai kesulitanmu sendiri bukan?”
“Cwan heng.” sementara itu
terdengar Kwan Tiong Gak berseru seraya manjura ke-arah orang itu.
“Biarlah siauw te bercakap-cakap dulu beberapa patah kata dengan
orang ini.”
“Apa yang hendak kau utarakan
kepada ku?” seru orang berbaju hijau itn dengan suara dingin.
“Kalau kudengar nada suaramu,
agaknya kita pernah saling berjumpa muka?”
“Aku rasa soal itu tidak terlalu
penting.”
“Baik! Kalau begitu silahkan
sahabat mengutarakan maksud kedatanganmu.”
“Aku rasa Kwan Cong Piauw-tauw
sudah paham sendiri!”
“Tidak salah, aku paham, namun aku
tetap berharap bisa mendengar dari mulutmu sendiri.”
“Soal Itu gampang sekali,” kata
siorang berbaju hijau dengan suara dingin. “Seandainya Kwan Cong
Piauw tauw suka menyerahkan peta mustika pengangon kambing itu
kepadaku Kami segera akan membubarkan diri.”
“Ooow! Ternyata dugaanku tidak
salah kalau benar benar datang dikarenakan peta pengangon kambing
itu.”
“Urusan telah diterangkan jelas,
lagipula sudah ada didugaan Kwan Cong piauw-tauw, bagaimana
seharusnya? Aku pikir tentu anda sudah mengambil keputussn bukan?”
“Sebelum menjawab aku orang she
Kwan ingin menerangkan dulu akan satu persoalan,” ujar Kwan Tiong
Gak sambil tertawa, “peta mustika pengangon kambing itu mamang benar
ada disaku aku she Kwan bahkan sekarangpun kubawa. Jikalau cuwi
sekalian ingin mendapatkannya, silahkan pamerkan dulu sedikit
kepandaian silat kalian.”
“Sungguhkah ucapanmu ini?” seru si
Orang berbaju hijau sambil tertawa hambar.
“Apakah saudara merasa kurang
percaya?”
“Pepatah dalam dunia kangouw
mengatakan: Mendengar dengan telinga lebih baik melihat
dengan mata! Aku pikir kaupun tahu bukan akan maksudku?”
Dari dalam sakunya Kwan Tiong Gak
segera mengambil keluar peta pengangon kambing itu dan diayunkan
ketengah udara serunya, “Kawan, kau pernah menjumpai peta pengangon
kambing?”
“Belum pernah.”
“Benda yang ada ditangan cayhe
inilah yang sedang kau cari.”
Sembari berkata ia masukkan
kembali benda itu kedalam saku.
Siorang berbaju hijau itu mengejek
sinis tiba tiba serunya.
“Kwan Cong Piauw tanw, sekarang
kau harus berhati hati.”
Mendadak ia angkat tangannya,
dengan suatu gerakan yang cepat laksana sambaran kilat ia babat
batok kepala Kwan Tiong Gak.
Melihat gerakan tubuh sedemikian
cepatnya Kwan Tiong Gak sangat terperanjat.
“Sungguh dahsyat serangan ini!”
pikirnya dalam hati.
Situasi amat mendadak. Kwan Tiong
Gak tidak sempat mencabut keluar goloknya dari belakang punggung,
dengan cepat ia segera berkelebat lima langkah kebelakang.
Sepasang kepalan orang berbaju
hijau itu secara berani laksana bayangan tubuh saja meluncur kembali
mengancam seluruh tubuh Kwan Tiong Gak tidak menanti ia berdiri
tegak.
Berturut turut Kwan Tiong Gak
terdesak mundur berulang kali, serangan kepalan si orang berbaju
hijau itupun mendesak dan mengikuti terus menerus, dalam sekejap
mata sudah mengirim delapan buah serangan gencar.
Kedelapan buah jurus serangan ini
dilancarkan dalam waktu yang bersamaan walaupun dilancarkan secara
terpisah namun kedelapan serangan berantai itu laksana sebuah
serangan belaka.
Agaknya si orsng berbaju hijau itu
marasa peristiwa ada diluar dugaan melihat Kwan Tiong Gak berhasil
menghindarkan diri dari kedelapan buah serangan berantainya, ia
merandek sejenak kemudian berseru memuji, “Nama hebat anda ternyata
bukan nama kosong belaka.”
Padahal, sekalipun Kwan Tiong Gak
berhasil menghindarkan diri dari kedelapan jurus serangan tersebut,
saking lelahnya keringat, lelah menancur keluar membasahi seluruh
tubuhnya, asalkan si orang berbaju hijau itu melancarkan dua buah
serangan gencar lagi maka Kwan Tiong Gak segera akan terluka oleh
serangan lawan.
Terdengar Kwan Tiong Gak mendehem
ringan lalu berkata, “Kawan, kedelapan buah serangan berantaimu
benar-benar hebat, laksana guntur membelah bumi saja.”
“Terlalu memuji, terlalu memuji!”
badannya miring kesamping kemudian
menerjang kembali kedepan.
Kali ini Kwan Tiong Gak telah
membuat persiapan, ia tidak ingin membiarkan lawannya meneter dia
terus menerus.
Tangan kanan segera diangkat
meloloskan golok emasnya dari sarung, kemudian diantara ayunan
tangan ia menciptakan selapis cahaya golok melindungi seluruh
tubuhnya.
Sambaran golok amat dahsyat secara
samar samar membawa desiran angin, tajam yang mengidikan.
Tiba tiba si orang berbaju itu
menarik kembali gerakan tubuhnya yang menerjang kedepan dan segera
berhenti.
Jelas ia telah dibikin terkesiap
oleh kehebatan desiran golok lawan, dan kini tidak berani menerjang
lagi kedepan secara serampangan.
Si Raja Roda terbang Swan Cwan
sendiri sewaktu melibat permainan golok Kwan Tiong Gak sangat
dahsyat, Iapun dibikin melengak pikirnya, “Kehebatan permainan golok
emas Kwan Tiong Gak benar benar luar biasa, desiran angin serangan
tajam dan dingin, jelas ilmu goloknya telah berbasil mencapai puncak
kesempurnaan. .”
Siorang berbaju hijau itu tidak
berani berlaku gegabah lagi. dari dalam pinggangnya ia segera
meloloskan sebuah cambuk panjang berwarna hitam pekat.
Menemui cambuk tersebut Kwan Tiong
Gak segera merasakan hatinya tergetar keras, Serunya tanpa terasa,
“Aaaach! Tui Hun Sio Fian….”….
“Sedikit pun tidak salah” tukas
siorang berbaju hijau, ia segera melepaskan kain kerudung yang
menutupi wajahnya sehingga di bawah Sorotan sinar obor dapat
ditangkap raut muka bentuk kudanya yang berwarna hijau menyeramkan.
Melihat orang itu si Raja Roda
Terbang Swan Cwan segera tertawa terbahak bahak.
“Haa…. haa. ,haaa…. aku kira
malaikat dari mana yang datang berkunjung, tidak disangka ternyata
kau orang haaa…. haaa sudah dua puluh tahun lamanya kita tidak
pernah saling berjumpa!”
“Siauwte pun tidak menyangka Swan
heng bisa mencampurkan diri dalam air keruh kali ini. Kita sudah
saling kenal selama tiga puluh tuhan lamanya. Bila saat ini Swan
heng ingin mengundurkan diri masih sempat.”
“Walaupun perkataanmu tidak ralat,
namun antara siauw te dengan Kwan Cong Piauw tauw sudah ada janji
lebih dahulu” seru Swan Cwan seraya menggeleng “Ucapan seorang
lelaki sejati berani laksana bukit karang. mana boleh bicara mencla
mencle?? Seandainya Tong heng suka mengingat diatas persahabatan
Kita selama tiga puluh tahun, silahkan kau orang memberi muka kepada
siauw te dan segera meninggalkan tempat ini bersama sama anak
buahmu”
Si Cambuk sakti Pencabut nyawa
kontan tertawa dingin tiada hentinya.
“Kwan Tiong Gak tidak lebih hanya
seorang pengawal barang, perduli siapapun asal suka keluar uang ia
tentu jual nyawa buat orang itu. nama besar Swan heng dalam dunia
kangouw sudah tersohor agaknya kau tidak usah membuang nama besar
yang kau dapatkan dengan susah payah itu karena suatu urusan sepele
…. “
“Selamanya siauw te bekerja sesuai
dengan janji. Aku tidak tahu Kalau orang yang datang adalah Tong
heng, namun aku sudah menyanggupi Kwan Cong Piauw tauw lebih dahulu
…. maka dari ini walau Tong heng tidak mau kasi muka kepadaku,
terpaksa kita maju selangkah sambil merencanakan langkah
selanjutnya.”
“Hmmnn! Kwan Tiong Gak sudah
membayar berapa banyak kepadamu?” jengek si Cambuk sakti Pencabut
nyawa dengan suara dingin.
Kontan Swan Cwan tertegun
dibuatnya “Apa maksud dari ucapan Tong heng?”
“Kwan Tiong Gak telah bayar berapa
kepadamu? Siauw te rela membayar dirimu dengan harga satu kali lipat
lebih banyak. Asalkan Swan heng bekerja kerena uang aku juga
seharusnya kau membantu pihak mana yang keluar uang lebih banyak
bukan?….”
Sekali lagi Swan heng menggeleng.
“Bukannya siauw te memandang
rendah diri Tong heng. harga yang dibayar Kwan Cong Piauw Tauw
kepadaku tidak mungkin bisa kau bayar.”
“Mungkin kau terlalu pandang
rendah diriku. Hmmm! berapa harga yang kau minta silahkan diutarakan
saja.”
“Separuh dari harta karun yang
tercantum dalam peta pengangon kambing, menurut penilaianku secara
kasaran mungkin bisa mencapai sepuluh laksa tahil emas, bagaimana?
kau bisa membayar aku sejumlah itu?”
Mendengar ucapan itu si Cambut
Sakti Pencabut Nyawa berdiri tertegun, akhirnya ia berkata, “Kalau
begitu kau Swan heng sudah pastikan diri akan mencampuri pertikaian
ini?”
“Kalau Tong heng memang
berkeinginan demikian, aku pun tak bisa berbuat apa-apa lagi.”
Tiba tiba si Cambuk Sakti Pencabut
Nyawa menggerakkan pergelangan tangannya, cambuk hitam yang ada di
tangan dengan membawa desiran angin serangan yang tajam menciptakan
diri jadi selapis bayangan cambuk yang tebal laksana mega.
Si Raja Roda Terbang pun segera
meloloskan golok lemas sepanjang lima enam koen yang ada di
pinggangnya.
Diantara getaran golok lemas,
bunga-bunga golok berkelebat memenuhi angkasa.
ia telah mengerahkan hawa
Iweekangnya ke dalam senjata tersebut membuat sebilah golok lemas
seketiak keras laksana toya.
Sambil melangkah satu tindak ke
depan menghadang di hadapan Kwan Tiong Gak ujarnya dingin.
“Tong heng, apa yang ingin kau
ketahui sekarang sudah kau ketahui, mau maju atau mundur seharusnya
kau cepat ambil keputusan “
“Jadi knlau begitu, Cwan heg
silahkan ambil keputusan untuk mencampurkan diri dalam pertikaian
ini?”
“Peta pengangon kambing boleh
dikata separuh sebagian sudah menjadi milik siauw-te, manusia mati
demi harta, burung mati demi makanan, jikalau Tong heng tidak suka
kasi muka kepadaku dan melepaskan satu jalan bagiku, terpaksa kita
harus tentukan kelihayan kita didalam pertarungan ilmu silat.”
“Oooouw….jadi Cwan heng bukan saja
akan mencampuri urusan ini bahkan hendak turun tangan dalam
pertarungan pertama?”
“Inilah yang dinamakan burung
bodoh terbang lebih dahulu, yang membawa bendera jalan didepan,
asalkan cambuk pencabut nyawa dari Tong heng bisa menangkan golok
lemas ditanganku ini, maka Cong Piauw-tauw pun pasti akan turun
tangan mengganti kedudukanku.”
“Cwan heng!” seru si cambuk sakti
pencabut nyawa kembali setelah mendehem ringan. “Tahukah kau siapa
yang bertindak sebagai pemimpin didalam perebutan peta pengangon
kanbing malam ini?”
“Hm…. haaaa…. haaaa….” si Cambuk
Sakti Pencabut Nyawa Tong Si Yen “siapapun kenal, orang orang Bu lim
mana yang tidak mengerti”
“Kau salah,” tukas Tong Si Yen
dengan suara perlahan. “Sampai dimanakah kemampuan siauw te, dalam
hati sekali aku paham walaupun aku tak akan jeri terhadap Kwan Tiong
Gak namun untuk merebut peta pengangon kambing tersebut dari
tangannya mungkin bukan suatu pekerjaan yang gampang.”
“Jadi kalau begitu masih ada orang
yang menjadi atasanmu? Lalu siapakah orang itu sehingga kau Tong Si
Yen pun tunduk kepadanya dan suka menjalankan perintah yang ia
berikan?”
“Perkataanmu tidak salah, jago
jago lihay dalam Bu lim tidak banyak yang bisa memaksa siauw te
turun perintah dan melaksanakan perintahnya, tanpa membantah siauw
te pun percaya dengan kemampuan orang itu bukan saja siauw te tunduk
kepadanya. Bahkan pun kau si Raja Roda Terbang pun aku rasa akan
tunduk seratus delapan puluh derajat.!”
“Hm Siauw te percaya masih punya
beberapa kerat tulang keras “.
Sebelum menyelesaikan kata
katanya, dari tempat kegelapan tiba-tiba berkumandang datang suara
tertawa dingin yang sangat menyeramkan disusul suara teguran keras-
“Sungguh besar nyalimu, ingin
kuhitung sebenarnya dihadapanmu benar-benar punya berapa kerat
tulang yang sangat keras.”
Suara itu seolah olah muncul dari
tempat yang sangat jauh, tetapi ketika ia menyelesaikan kata kata
tersebut, tubuhnya sudah berada kurang lebih lima depa dari sana.
Dibawah sorotan cabaya obor.
tampaklah seorang nenek tua berbaju kuning berambut putih munculkan
diri dari kegelapan. di-tangannya membaawa sebuah tongkat berkepala
naga yang besar dan berat.
Dia bukan lain adalah Liong Popo
berjalan terkenal diseluruh kolong langit.
Disisi kiri dan kanan Liong Popo
berjalan dua orang perempuan setengah baya yang kira kira telah
berusia tiga puluh tiga, empat tahunan, mereka memakai baju warna
hijau, rambut dikepang dua dan mencekal sebilah pedang tajam.
Merekalah yang tersohor sebagai
dua dayang kiri dan kanan, sejak umur dua tiga belas tahun kedua
orang wanita ini telah ikut Long Popo berkelana dalam dunia
persilatan dibawah serangan sepasang pedang mereka entah sudah
berapa banyak jago Bu Lim yang menemui ajalnya.
Selama ini kedua orang tersebut
selalu mengikuti Liong Popo dan tidak pernah kawin. sekalipun
usianya telah mencapai setengah baya tetapi mereka tetap berstatus
perawan, Rambutnya panjang dan dikepang jadi dua.
Liong popo ini tersohor akan
kekejiannya di dalam dunia kangouw, setiap kali bertindak atau
bekerja selain mengikuti napsu serta pikiran sendiri, jadi kalau
dibicarakan ia termasuk manusia setengah sesat dan setengah lurus.
Lima belas tahun berselang, pada
saat-saat nama besar Liong Popo tersohor dimana mana mendadak ia
melenyapkan diri dari keramaian Bu lim selama lima belas tahun.
orang Bu lim tak pernah mendengar kahar beritanya lagi, tidak
disangka malam ini nenek tua tersebut bisa munculkan diri dikota Kay
Hong, Kwan Tiong Gak serta si Raja roda terbang Swan Cwan mimpinpun
tidak menyangka orang itu adalah Liong Popo, tanpa terasa lagi kedua
orang itu sama sama dibikin tertegun,
Liong Popo perlahan lahan
mengetukkan tongkat berkepala naganya keatas tanah, lalu sambil
memandang si Raja Roda Terbang Swan Cwan serunya.
“Kau kemari! “
Suara ini tidak begitu keras,
tetapi mempunyai daya pengaruh yang sangat besar. Tanpa terasa Swan
Cwan telah maju dua langkah kedepan. seraya menjura tanyanya penuh
rasa hormat, “Liong Popo ada urusan apa?”
Inilah yang dinamakan Manusia
punya nama. Pohon punya bayangan. Walaupun si Raja Roda Terbang Swan
Cwan adalah seorang jago yang sombong dan tinggi hati, namun dibawah
pengaruh Liong Popo tanpa ia rasa ia sudah menunduk kalah.
“Kau yang bernama si Raja Roda
terbang Swan Cwan?” Seru Liong Popo sambil tertawa dingin.
“Benar cayhe adanya!”
“Orang yang bekerja untukku apakah
tulangnya tidak keras semua?”
“Cayhe tidak tahu kalau Tong seng
bekerja untuk popo!”
Liong popo tersenyum ujarnya.
“Selama banyak tahun bersedia, keberangkatanku sudah banyak
berkurang, sekarang coba kau katakan, setelah mengetahui pekerjaan
ini adalah urusanku, apa yang hendak kau lakukan?”
Dibawah desakan Liong Popo. Swan
Cwan merasa serba susah untuk menjawab pertanyaan itu, namun
teringat akan kekejian serta keganasan Liong Popo terpaksa sahutnya
“Kalau cayhe tahu bahwa dia
bekerja untuk Popo, tentu aku tak akan berani buka suara mengejek “
“Sekarang kau sudah tahu, apa yang
hendak kau kerjakan mulai detik ini?….” seru Liong Popo kembali
dengsn wajah serius.
“Potong kepala tidak lebih membuat
batok kepala terpisah dari badan….” pikir Swan Cwan didalam hati.
“Kau begitu mendesak diriku, bukankah tindakan ini sangat
keterlaluan….”
Berpikir sampai disitu, tanpa
terasa lagi semangat jantannya berkobar kembali, diam-diam ia
melakukan persiapan dan balik tanya nya.
“Popo siap hendak menghukum cayhe
dengan cara Bagaimana?”
“Selamanya aku paling tidak suka
mendesak orang kepojokan aku akan memberi peluang bagimu untuk
memilih sendiri.”
“Cayhe pentang telinga
mendengarnya baik-baik!”
“Lepaskan golok lemasmu dan
berlalu bersama sama anak buahmu.”
“Masih ada jalan lain?” seru Swan
Cwan setelah melengak sejenak.
“Bantu aku menyelesaikan persoalan
ini dan hadapi orang orang Hauw Wie Piauw Kiok!”
“Masih ada jalan ketiga?”
“Ada! terima sepuluh jurus
serangan toya berkepala nagaku atau sepuluh jurus seorangan gabungan
dari sepasang budak kanan kiriku!”
Mendengar keputusan itu. Swan Cwan
mulai menimbang didalam hatinya.
“Untuk menerima sepuluh jurus
serangan toya kepala naganya bukan suatu pekerjaan gampang,
sebaliknya untok menerima sepuluh jurus serangan gabungan sepasang
dayang kiri kanannya, aku mungkin masih sanggup.”
Satelah ambil keputusan ia lantas
berkata.
“Kalau cayhe berhasil menerima
kesepuluh jurus serangan gabungan dari sepasang dayang kiri kanan,
popo bermaksud hendak apakah diriku lagi?”
“Aku segera tinggalkan tempat
ini.” jawab Liong Popo dengan wajah dingin. Memandang diatas wajahmu
selama tiga tahun tak akan mencari gara gara lagi dengen perusahaan
Hauw Wie Piauw kiok.”
“Baik! caphe ingin menjajal
taruhan Ini.”
Melihat si Raja Roda Terbang sudah
ambil keputusan, Liong Popo lantas berpaling sekejap kearah dua
orang perempuan setengah baya yang ada disisi kiri kanannya.
“Kalian keluar layani orang itu!
Hmm! dia tidak tahu tebalnya tanah dan tingginya langit, seturusnya
kalian kasi sedikit pelajaran kepadanya, bila perlu cabut sekalian
jiwanya.”
Suasana berubah makin tegang,
diam-diam Swan Cwan tarik napas panjang panjang, golok lemasnya
segera dilintangkan didepan dada siap menghadap segala sesuatu.
Kedua orang perempuan setengah
baya itupun perlahan-lahan maju kedepan, pedangnya segera diloloskan
dari dalam sarung dan secara terpisah dari kiri dan kanan mendesak
Swan Cwan.
Langkah kaki kedua orang perempuan
itu sangat lambat dan selama ini tak pernah mengucapkan sepatah
katapun. Namun dari keseriusan wajahnya secara lapat lapat
memancarkan hawa napsu membunuh yang berkobar.
“Tahan!” tiba tiba Kwan Tiong Gak
berebut maju dua langkah kedepan.
Kedua orang perempuan yang sedang
mendesak maju kedepan segera menghentikan gerakannya dan sama sama
menengok kearah orang she Kwan itu.
“Cwan heng!” ujar Kwan Tiong Gak
sambil mencabut keluar golok emasnya. “Persoalan ini merupakan
urusan pribadi perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kami, tidak mungkin
bagi kami untuk membiarkan Cwan heng bertarung dalam pertempuran
pertama, silahkan Cwan heng mengundurkan diri. biar siauwte menerima
dulu pertarungan ini.”
Wajah kedua orang perempuan itu
amat kering. mereka memandang sekejap kearah Kwan Tiong Gak namun
tidak mengucapkan sepatah katapun.
Perlahan lahan Kwan Tiong Gak maju
ketengah kalangan, kemudian sambil melintangkan goloknya dldepan
dada ia berkata, “Cayhe-Kwan Tiong Gak merupakan Cong Piauw tauw
dari perusahaan Hauw Wie Piauw kiok. Ingin sekali aku menerima
petunjuk tinggi dari nona berdua”
“Kwan Tiong Gak. apakah kau
percaya dirimu jauh lebih hebat dari ilmu silat Hwee Loen Ong?” seru
Liong Popo sambil tertawa dingin.
Kwan Tiong Gak tertawa hambar.
“Sepasang pedang kiri dan kanan
sudah pernah menggemparkan dunia persilatan pada dua puluh tahun
berselang, puluhan tahun berlatih tekun aku rasa kepandaian kalian
kini sudah mencapai puncak kesempurnaan, mana mungkin cayhe
merupakan tandingan mereka.”
“Hmmnn kiranya kau masih
mengetahui kekuatan sendiri!”
“Popo!” ujar Kwan Tiong Gak
kembali sambil lintangkan goloknya kembali didepan dada. “Sungguh
banyak tahun kau mengundurkan diri dari keramaian Bu lim, aku rasa
kemunculanmu malam ini di kota Kay Hong tentu membawa maksud
tertentu, apakah kau tidak akan selesai sebelum memperoleh benda
yang ingin kau dapatkan itu?”
“Hm …. .! Sudah ada puluhan tahun
lamanya aku tidak pernah berkelana didalam dunia kangouw. ambisiku
sudah banyak meluntur. asalkan kau suka menyerahkan peta pengangon
kambing itu kepadaku, akupun tidak ingin banyak melakukan pembunuhan
disini.”
“Perintah dari Popo sudah
seharusnya cayhe penuhi.” kata Kwan Tiong Gak setelah termenung
sejenak. “Tetapi ….”
“Tetapi kenapa….!” teriak Liong
Popo gusar.
“Popo setelah mendapat tahu peta
pengangon kambing itu ada di tanganku, tentu tahu bukan bahwa peta
ini bukan milikku.”
“Hm! Perduli siapakah pemilik peta
pengangon kambing ini, pokoknya sekarang ada dldalam sakumu, lebih
baik cepat kau serahkan keluar dari pada banyak korban yang harus
berjatuhan.”
“Waktu yang diberikan terlalu
cepat, untuk beberapa saat aku orang she Kwan sudah mengambil
keputusan, entah apakah Popo bisa memberi waktu beberapa hari kepada
cayhe nntuk berpikir?”
“Tidak bisa. setiap kata yang
telah ku ucapkan tidak pernah ditarik kembali dan selamanya aku
tidak pernah memberi keringanan kepada siapa pun.”
“Seandainya beruntung cayhe dapat
meloloskan diri dari serangan gabungan sepasang budak kiri kanan,
dapatkah Popo lepaskan diri cayhe?”
“Tidak dapat, seandainya kau bisa
lolos dari serangan gabungan sepasang dayang kiri kananku, kaupun
harus mencoba dulu bagaimana kehebatan permainan tongkat kepala naga
aku sinenek tua. kalau tidak cepat cepatlah serahkan peta pengangon
kambing itu kepadaku, tetapi seandainya karena kau serahkan peta
mustika itu kepadaku mengakibatkan dirimu memperoleh penindasan. Aku
mengabulkan untuk memberi bantuan kepadamu.”
Sewaktu si Raja Roda Terbang Swan
Cwan datang pertama kali tadi, semangatnya berkobar kobar, tetapi
sejak munculnya Liong Popo disitu ia membungkam dalam seribu bahasa.
“Popo!” Terdengar Kwan Cong Gak
mendehem ringan. “Jikalau kau tidak ingin melepaskan aku orang she
Kwan, terpaksa cayhe harus menempuh jalan mengadu jiwa.”
“Kurang ajar, kalian mau
memberontak!” maki Liong Popo sambil mengetukan tongkatnya keras
keras keatas tanah. “Seorang Cong Piauw tauw kecil berani benar
bersikap karang ajar kepadaku. Eeeei. …. kenapa kalian belum juga
turun tangan? Apa yang kalian tunggu lagi?”
Sepasang dayang kiri dan kanan
segera mengiakan dan turun tangan melancarkan serangan, dua rentetan
cahaya putih laksana kilat menusuk tubuh Kwan Tiong Gak, Cong Piauw
tauw dari perusahaan Hauw Wie Piauw kiok inipun segera menggerakkan
golok emasnya menyongsong serangan tersebut dengan gerakan “Hong Hoo
Kee Say” yaitu Menyegel Menteri menggantung Jendral. cahaya tajam
berkilauan memenuhi angkasa menangkis datangnya kedua bilah serangan
pedang itu, sedang sang badan mundur dua langkah kebelakang.
Sepasang dayang kiri dan kanan
sewaktu itu melihat serangannya tidak mengenai sasaran serangan
kedua segera menyusul datang.
Sepasang pedang meluncur kedepan
menciptakan bunga bunga pedang yang amat banyak mengurung seluruh
tubuh Kwan Tiong Gak dalam lautan cahaya pedang mereka.
Selama terjun kedalam dunia
persilatan Kwan Tiong Gak entah sudah betapa banyak kali bertemu
musuh tangguh, namun belum pernah ia jumpai ilmu pedang yang
demikian cepatnya seperti permainan pedang kedua orang dayang ini.
Walaupun Kwan Tiong Gak telah
memutar golok emasnya sedemikian rupa sehingga menciptakan selapis
cahaya tajam yang melindungi seluruh tubuhnya, namun dibawah tekanan
serta desakan sepasang pedang kedua orang perempuan tersebut.
permainan goloknya mulai keteter dan kedesak habis habisan.
Tiba tiba pedang panjang dari
budak kiri mengeluarkan sebuah jurus aneh. ujung pedang bergeletar
menciptakan titik titik cahaya perak menerobos masuk kedalam
pertahanan.
Sewaktu Kwan Tiong Gak bermaksud
menangkis dengan goloknya. Tahu tahu senjatanya sudah kena terkunci
oleh permainan pedang budak kanan.
Dalam keadaan terburu buru. Ia
segera tarik napas panjang panjang dan mundur dua langkah
kebelakang.
Walaupun reaksinya sangat cepat.
Namun tetap terlambat selangkah, Pedangnya menyambar tangan kiri
membuat baju terobek dan darah segar mengucur keluar dengan
derasnya.
Kwan Tiong Gak terperanjat, golok
emasnya segera diputar kedepan, sedang sang badan mengikuti gerakan
tersabet menyingkir lima depa kesamping. Tetapi pedang panjang budak
kanan tidak mau melepaskan dirinya begitu saja. bagaikan bayangan
badan menguntit terus menggurat punggung Kwan Tiong Gak.
Baru saja orang she Kwan itu
melayang turun keatas tanah, serangan pedang lawan telah meluncur
mendekat.
Dalam keadaan terburu buru ia
membungkuk kedepan. golok emasnya dengan gerakan ‘Wan Teh Huan In’
atau dibawah pergelangan menggulung awan menusuk keatas.
Menyingkir balas menyerang
dilancarkan dalam waktu yang hampir berbareng.
Namun pedang panjang budak kanan
laksana kilat cepatnya telah menyambar di-atas pinggangnya.
Ujung pedang meninggalkan hawa
dingin yang menggidikkan, merobek pakaian Kwan Tiong Gak dan melukai
kulit punggungnya, darah segar kembali mengucur keluar membasahi
seluruh badan.
Sudah dua puluh tahun lamanya Kwan
Tiong Gak berkelana didalam dunia persilatan dan pernah menjumpai
beratus ratus kali pertarungan sengit, namun belum pernah ia jumpai
keadaan seperti ini hari, serangan gabungan dari kedua orang dayang
kiri kanan telah membuat badannya menderita luka luka kulit.
Si Raja Roda Terbang Swan Cwan
ketika dilihatnya Kwan Tiong Gak dua kali menderita luka dibawah
serangan gabungan sepasang budak kiri kanan, dalam hati merasa
terkesiap bercampur gusar, pikirnya, “Jikalau tidak beruntung Kwan
Tiong Gak terluka ditangan sepasang budak ini, mereka pasti tak akan
melepaskan diriku.”
Karena berpikir demikian iapun
segera menggetarkan golok lemasnya seraya berkata dingin, “Sepasang
budak kiri kanan selamanya bertarung dua lawan satu. Hm Seandainya
satu lawan satu belum tentu bisa menaklukan kami dengan gampang.”
Seraya berseru ia segera menerjang
ke-depan.
Sementara itu dengan jurus “Kie
Hong Teng Ciauw” atau burung hong terbang ular membumbung Kwan Tiong
Gak memutar goloknya sedemikian rupa menciptakan selapis cahaya
golok yang tajam menangkis datangnya serangan pedang dari sepasang
budak kiri kanan.
Jurus serangan ini datangnya
sangat ganas, desakan sepasang dayang kiri kananpun seketika
tertahan oleh cahaya golok tersebut.
Setelah berhasil menahan serangan
gabungan dari sepasang dayang itu, Kwan Tiong Gak kembali membentak
keras, “Hati hati….”.
Mendadak golok emas diputar keras
lalu dibabat kearah depan.
Gerakan ini sepintas lalu
kelihatan tak memakai aturan, padahal justru dibalik kekacauan
tersebut tersembunyi suatu daya serangan yang sangat dahsyat.
Melihat datangnya bacokan golok
tersebut sangat kaku, sepasang dayang kiri kanan sama sekali tidak
dipikirkannya didalam hati.
Baru saja mereka siap melancarkan
serangan, mendadak terasalah beribu ribu kuntum cahaya golok
bagaikan selapis awan mengurung daerah seluas beberapa depa
disekeliling tempat itu.
Sepasang dayang kiri kanan sama
sama terkesiap sambil melindungi badan mereka segera mengundurkan
diri kebelakang.
Kemudian dengan jurus. “Tok Liong
Jut Hiat” atau Naga Beracun Keluar Gua pedang mereka secara berpisah
menerjang kedepan.
Kedua orang itu maju dan menyerang
dengan jurus yang sama, hanya satu dari kiri yang lain dari kanan.
Hawa pedang laksana gulungan ombak
ditengah samudra menciptakan segulung tekanan hawa yang amat dahsyat
mengguling keluar.
Kwan Tiong Gak membentak keras
goloknya kembali membabat kearah depan.
Gerakannya kali ini kembali
kelihatan kaku dan ketolol tololan, namun di balik kekuatan tadi
tersembunyilah sesuatu kekuatan dahsyat,
Ketika sepasang dayang kiri kanan
merasa tubuh serta permainan pedang mereka terkurang dibawah putaran
golok lawan buru-buru berubah jurus dari menyerang jadi melarikan
diri. sambil putar pedang melindungi badan mereka meloncat
kebelakang.
Dua buah jurus golok yang
kelihatan sederhana dan kaku ini benar-benAr hebat bagaikan
terjangan air yang jatuh dari air terjun, mendatangkan suatu
perasaan bergidik bagi orang yang melihat.
bukan saja kedua orang dayang kiri
kanan merasakan tekanan berat itu. Sekalipun Liong Popo serta Hwie
Loen Ong yang ada diatas kalanganpun dapat merasakan kelihayan ini.
Sementara itu se pasang dayang
kiri kanan telah kena didesak mundur sejauh satu tombak lebih oleh
kehebatan permainan golok itu, mereka berdua tertegun disana sambil
saling bertukar pandangan.
Serangan gabungan mereka berdua
entah sudah pernah menghadapi berapa banyak jago lihay, namun belum
pernah kedua orang perempuan itu menemui permainan golok sehebat
permainan golok Kwan Tiong Gak ini.
Lama sekali kedua orang dayang itu
berdiri tertegun akhirnya mereka persatukan pedang mereka dan maju
kembali kedepan.
“Tahan!” mendadak Liong Popo
membentak keras seraya mengetukkan tongkatnya ke atas tanah.
Tubuh sepasang dayang kiri kanan
yang sedang menerjang kedepan segera berhenti kemudian bersama sama
meloncat kesisi Liong Popo.
“Kwan Tiong Gak.” seru Liong Popo
sambil tertawa dingin. “Nama besarmu ternyata bukan nama kosong
belaka, permainan golokmu barusan betul betul luar biasa!”
“Locianpwee terlalu memuji.” sahut
Kwan Tiong Gak tertawa hambar.
“Hmmm! permainan golokmu barusan
mungkin bisa mengelabui orang lain, tapi tak akan berhasil
mengelabui diriku.”
“Apakah Locianpwe menemukan suatu
titik kelemahan?” seru orang she Kwan tertegun.
“Permainan golokmu barusan
membuktikan kalau kau tidak begitu hapal dengan ilmu golok tersebut,
jikalau aku yang turun tangan rasanya tidak mudah bagimu untuk
memperoleh kesempatan mengeluarkan permainan terhebat….”
“Perusahaan Hauw Wie Piauw kiok
tiada ikatan dendam maupun sakit hati dengan Liong Popo, cayhe pun
tiada niat untuk melukai orang, sebelum jiwaku benar benar terancam
aku tidak ingin mengeluarkan ilmu tersebut.”
“Apa nama dari kedua jurus ilmu
golokmu barusan?”
“Suatu ilmu golok yang telah
hilang dari peredaran, pengetahuan loocianpwe sangat luas, tentunya
sudah mengetahui sejak tadi bukan?”
“Hmmm….! sekalipun aku tidak kenal
kedua jurus ilmu golok itu, belum tentu kau bisa melukai diriku.”
perlahan lahan ia angkat tongkat
kepala naganya dan selangkah demi selangkah mendekati Kwan Tiong
Gak.
Agaknya Kwan Tiong Gak menyadari
apa bila ilmu silat Liong Popo sangat luar biasa, melihat ia
gerakkan toya berjalan mendekat ia segera tarik napas panjang
panjang.
Goloknya lambat lambat disilangkan
di depan dada berdiri dalam suatu posisi tertentu menanti serangan
lawan.
Tampak tubuh Liong Popo makin lama
berjalan makin mendekat, wajah yang semula menunjukan keangkuhan
mendadak berubah penuh rasa terkejut, tubuh yang sedang maju kedepan
seketika berhenti.
Kiranya dengan ilmu silat yang
dimiliki Liong Popo, mendadak ia merasakan gaya pertahanan yang
diperlihatkan Kwan Tiong Gak mempunyai suatu pertahanan alam yang
sangat kuat, perduli diserang dari arah mana pun susah untuk
mencapai tujuan.
Sementara itu setelah Kwan Tiong
Gak memperlihatkan posisi pertahanannya, perlahan lahan air muka pun
berubah jadi sangat serius.
Hawa pembunuhan secara lapat lapat
memancarkan keluar dari goloknya.
Lama sekali mereka berdiri saling
berhadap hadapan, perlahan lahan Liong popo mulai mengundurkan diri
sejauh satu tombak dan berseru keras, “Mari kita pergi”.
Sekali loncat ia segera berlalu
terlebih dulu dari sana.
Kiranya sewaktu kedua orang itu
berdiri saling berhadap hadapan tadi, dengan teliti Liong popo telah
memperhatikan posisi dari Kwan Tiong Gak. ia merasa gaya tersebut
sangat aneh, perduli diserang dari sudut manapun susah untnk
menembusi penahanan tersebut.
Liong popo adalah seorang jago
kawakan melihat Kwan Tiong Gak memperlihatkan suatu pertahanan aneh,
teringat pula dua jurus serangan yang polos namun lihay, hatinya
jadi sedikit bergerak, tanpa banyak bicara lagi ia kontan tarik
kembali semua pasukannya.
Dengan berlalunya Liong popo maka
sepasang dayang kiri kanan serta si cambuk sakti pencabut nyawapun
segera berlalu dari situ.
Dalam sekejap mata tak tertinggal
seorang pun di halaman tersebut….
Agaknya Hwie Loen Ong merasa
kejadian ada diluar dugaan, sembari memandang arah lenyapnya Liong
popo ia bergumam seorang diri, “Sungguh aneh sekali! sungguh aneh
kenapa secara tiba-tiba Liong popo mengundarkan diri?”
Sebaliknya Kwan Tiong Gak sama
selali tidak manunjukan perasaan diluar dugaan, ternyata tetap
mendukung gerakan orang orang gagah dalam memperjuangkan nasibnya,
Walaupun dengan jalan mengorbankan diri dan Nasibnya, wanita itu
telah melakukannya dengan penuh rasa sadar, guna menolong sesama
bangsa, Itulah yang membuat sekalian kesatria jadi terperanjat dan
kagum. Termasuk diantaranya adalah Bwe Han Ku Tojin dan puteri
Hoasan itu. Mereka sungguh tak menduga bahwa Hong houw itu begitu
mulia hatinya.
Sedang Pek sian Tie hendak berlalu
dari hutan tempat pemakaman Hong houw.tiba-tiba Tan Thian Kui telah
mendekati sambil berlari lari dengan selembar surat berada di
tangannya.
“Suheng! Ada Eng hiong tiap (kartu
undangan kesatria). Bacalah dari siapa dia?” , Surat itu berbunyi
sebagai berikut:
“Dengan kehendak langit dan
bumi. pada tanggal purnama cap jie gwee, kami hendak mengadakan
sebuah perayaan, pembukaan Go bie pay yang jaya
Mahon kedatangan para tokoh
kang ouw maupun golongan Bu-lim untuk merestui dan memberkati hari
perayaan kami itu.
tertanda Tan Thian Ong”
“Apa? Dari mana sute dapatkan
surat undangan ini?” tanya Pek Sian Tie cepat.
“Seekor burung, dan burungku sien
sien-ya dulu, yang memberikan ini kepadaku, tepat pada waktu ramai
ramainya pedang tadi. Tan Thian Hong adalah adikku, dia hendak
menjadi ciangbujin? Masya Allah. Bahagiaku tiada terkira, suheng.
Mari kita pergi sekarang?! Bukankah Pek Siao Yu tentunya itu, adalah
adikmu? “
Pek Sian Tie melongo, demikian
pula, sekalian yang mendengar, juga ikut tertegun.
Tapi sebaliknya mereka juga tahu,
bahwa pendirian partai persilatan Go bie pay itu pastilah atas
dorongan kakek sakti Boe Hian Siansu dan Thian hwa Hong hong. sebab
itu sebelum ini, mereka mendengar bahwa tadi locianpwe itu bermaksud
mendirikan partai itu. Oleh karena itu. hampir semuanya serempak
berkata, bahwa mereka pasti akan memenuhi undangan itu.
TAMAT