ambang naga panji naga sakti 12**

Sehari lewat dengan cepatnya tanpa terjadi suatu peristiwa apapun.

Pada malam pertama Poei Geng Yan bersikap sangat tegang, kecuali Lie Giok Liong, Ih Coen serta Thio Toa Hauw secara berpisah melakukan perondaan ditempat luaran, Poei Ceng Yan, Liem Toa Lek serta Nyioo Su Jan pun tiada hentinya berjalan kesana kemari melakukan pemeriksaan.

Namun malam Ini lewat dengan aman, tidak terjadi suatu peristiwa apapun.

Hari kedua, malam kedua pun lewal terjadi suatu kejadian.

Selama dua hari dua malam ini kecuali bersantap Kwan Tiong Gak tidak pernah meninggalkan ruangannya barang selangkahpun. jelas ia sudah pusatkan semua konsentrasinya keatas peta mustika pengangon kambing itu.

Hingga saat itu, Poei Ceng Yan mulai pertimbangkan suatu persoalan dalam hatinya, Ia merasa setelah malam ini lewat maka besok pagi adalah saat terakhir dari janji yang ditinggalkan Thay Heng Tuo Shu.

Kantor cabang perusahaan Hauw Wie Piauw kiok ini terletak dipusat kota yang ramai, empat penjuru merupakan rumah penduduk saling dempet mendempet, kecuali pintu depan serta pintu belakang sisi kiri serta sisi Kanannya merupakan rumah penduduk.

Ketika itu hari menunjukkan kentongan ketiga, suasana tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Poei Ceng Yan perlahan-lahan menghembuskan napas panjang, ujarnya lirih, “Setelah lewat malam ini, mungkin tak akan terjadi suatu peristiwa lagi….”

“Cong Piauw tauw akan berdiam selama tujuh hari didalam ruangan itu” kata Nyioo Su Jan pula. “Selama tujuh hari ini setiap saat kemungkinan besar dapat terjadi suatu peristiwa, sekalipun sudah lewat ini malam, kita masih harus tetap waspada dan berhati hati.”

“Tetapi, sesaat, Thay Heng Tuo Shu hendak meninggalkan tempat ini, ia memberi batas waktu selama tiga hari kepada Cong Piauw tauw. Apakah hal ini sama sekali tiada alasan.”

“Kedudukan Thay Heng Tuo Shu dalam kalangan Bu lim sangat tinggi, dan iapun merupakan seorang manusia tinggi hati. Dia tak akan berbicara sembarantan tanpa alasan, Namun kalau urusan ini adalah suatu kejadian yang tak dapat ia kuasai mungkin sekali bisa terjadi perubahan yang ada diluar dugaan”

“Perubahan yang ada diluar dugaan?”

“Ini menurut pendapat dan analisa sendiri, mungkin si kakek bongkok dari gunung thay Heng san telah mendapat suatu kabar berita dan sengaja datang memberi peringatan kepada Cong Piauw tauw, ia berharap setelah perubahan yang terjadi dalam tiga hari lewat, Cong Piauw tauw kita bisa pergi mencari dia untuk merundingkan sesuatu.”

“Kalau tak ada perubahan?”

Sebelum Nyioo Su Jan sempat menjawab mendadak terdengar suara suitan tajam berkumandang datang memecahkan kesunyian malam.

Inilah suitan tanda bahaya yang telah tetapkan Nyioo Su Jan, mendengar suara itu orang she Nyioo segera meloncat ketengah udara dan melayang kearah mana berasalnya suara tersebut.

Poei Ceng Yan, Liem Coa Lek mengikuti dari belakang meloncat keluar pula dari ruangan.

Setibanya disisi jendela si telapak baja gelang emas Poei Ceng Yan putar badan mengirim sebuah pukulan kebelakang.

Cahaya lilin yang menerangi ruang tengah seketika padam, suasana diliputi kegelapan.

Nyioo Su Jan yang pertama tama meloncat keluar dari ruangan segera melayang ke atas atap dan berlari kedepan.

Pos pos penjagaan yang tersebar disekitar kantor cabang perusahaan ini kebanyakan diatur sendiri oleh Nyioo Su Jan. darimana-kah arah suara tadi muncul tentu saja Nyioo Su Jan mengatakan sangat jelas, dengan cepat ia berkelebat kesana.

Gerakan Nyioo Su Jan boleh dikata cukup cepat namun kedatangannya terlambat setindak, ketika ia tiba disitu tampaklah seorang pengawal berbaju hitam telah menemui ajalnya diujung tembok, dimulutnya masih menggigit sempritan bambu tersebut kencang kencang.

Terdengat ujung baju tersampok angin berkumandang datang, berturut turut Poei Ceng Yan segera membalik tubuh pengawal tadi, ditemuinya orang itu sudah menemui ajalnya beberapa waktu.

Liem Toa Lek pun menemukan orang itu merupakan salah satu pembantu yang paling pandai didalam kantor cabang kota Kay Hong, tak tertahan lagi ia bertanya, “Poei Hu Cong Piauw tauw, dimanakah letak lukanya?”

Ternyata diatas badan pengawal itu sama sekali tidak tampak adanya bekas luka.

“Ia dihantam oleh sebuah pukulan Iweekang yang amat dahsyat, isi perutnya telah hancur!”.

“Orang ini sangat pandai, pengetahuan maupun pengalamanpun amat luas Untuk membinasakan dirinya bukan suatu pekerjaan gampang. Aku pikir orang itu tentu memiliki kepandaian silat yang sangat lihay .”

Sementara itu Nyioo Su Jan telah terpaling kearah ruangan dimana digunakan Kwan Tiong Gak untuk mencari rahasia peta pengangon kambing, suasana tampak amat tenang seolah olah sama sekali tidak menjumpai gangguan.

“Su Jan, amankah ruangan yang ditempati Cong Piauw tauw?” bisik Poei Ceng Yan dengan nada lirih.

“Kalau ditinjau dari kematian pengawal ini, aku rasa orang itu adalah seorang jago yang memiliki kepandaian silat sangat tinggi.”

“Eeee! Aku sedang bertanya kepadamu Bagaimana dengan keselamatan Cong Piauw-Tauw?” tukas Poei Ceng Yan dengan alis berkerut.

“Tidak ada perubahan. Empat penjuru Bangunan yang digunakan Cong Piauw tauw telah ditanam empat orang ahli panah, aku sudah beritahukan kepada mereka, perduli, di luaran telah terjadi perubahan macam apapun mereka tidak diperkenankan munculkan diri atau ikut campur. Kecuali ada orang hendak menerjang masuk kedalam kamar Cong Piauw tauw, mereka baru boleh unjukan diri dan melepaskan anak panah mencegah, orang itu telah mengeluarkan tanda bahaya, kita bisa dengar rasanya merekapun bisa mendengar pula.”

Dengan perasaan sangat puas Poei Ceng Yan segera mengangguk.

“Namun” sambung Nyioo Su Jan lebih jauh. “Datang datang orang itu sudah turun tangan membunuh orang, agaknya kedatangannya membawa kegusaran. Apa mungkin setelah membunuh seseorang ia lantas mengundurkan diri kembali….?”.

“Mari kita melakukan pemeriksaan!.”

Nyioo Su Jan menyapu sekejap keempat penjuru, lalu ujarnya lagi, “Kalian dilihat orang-orang yang kita atur disekeliling tempat ini agaknya sama sekali tidak bergerak, kedatangan kita kemari pun cukup cepat seharusnya kita menemukan sesuatu jejak….”

“Mungkinkah dikarenakan mendengar suitan tadi, ia merasa jejaknya konangan Dan dalam keandaan mendongkol lantas turun tangan membinasakan orang itu lalu mengundurkan diri?” nimbrung Liem Toa Tek memberikan pendapatnya,

“Seharusnya tidak mungkin….”

Sinar matanya di alihkan keatas sebuah bangunan rumah tidak jauh dari mereka berdiri, tiba-tiba sambil tertawa dingin tegurnya, “Kawan, dalam sebuah hantaman kau telah mencabut jiwa seseorang, hal ini menunjukan kalau kepandaianmu sangat luar biasa dan bukan seorang manusia tak bernama, seorang lelaki sejati, seorang enghiong hoo-han buat apa bermain sembunyi-sembunyi macam kura kura?? Apakah kau tidak merasa telah merendahkan martabatmu sendiri.”

Mendengar teguran itu, Poei Ceng Yan serta Liem Toa Lek sama sama mengalihkan sinar matanya kearah bangunan rumah yang sedang diplototi oleh Nyioo Su Jan itu.

Kiranya halaman belakang merupakan sebuah halaman kosong yang sangat besar, ruangan dimana Kwan Tiong Gak berdiam saat ini merupakan sebuah bangunan yang berdiri sendiri ditengah halaman. Disamping itu dekat ruangan tadi hanya ada sebuah gudang yang terletak kurang lebih satu tombak lebih lima depa dari ruangan pertama.

Seandaianya pihak lawan setelah membinasakan gerakan yang paling cepat meloncat masuk kedalam gudang itu dan bersembunyi di bawah wuwungan rumah, maka jejaknya akan susah ditemui lagi.

Dugaan Nyioo Su Jan sedikit pun tidak salah, bahkan ucapannya barusan telah memberikan reaksi.

Dari atas wuwungan rumah bangunan itu muncullah sesosok bayangan manusia dan lambat lambat berjalan mendekat.

Liem Toa Lek serta Nyioo Su Jan segera memisahkan diri kedua belah sisi kemudien baru alihkan sinar matanya kearah orang itu.

Tampaklah pihak lawan mengenakan pakaian singset warna hitam, wajahnya dikerudungi dengan kain hitam. Badannya sedangan sedang dipunggung tersoreng sepasang senjata roda bergigi “Jet Gwat Siang Loen.”

Melihat senjata yang sangat aneh itu otak Poei Ceng Yan segera berputar kencang, ia berharap dengan menggunakan sedikit tanda itu berhasil mengetahui asal usul perguruannya,

Tiba tiba si orang berbaju hitam itu berhenti melepaskan sepasang senjata roda bergiginya dan tertawa dingin.

“Apa maksud kalian mengundang cayhe munculkan diri?”

“Aku ingin minta keterangan tentang satu hal apakah orang ini menemui ajalnya ditanganmu?” seru Nyioo Su Jan dingin.

Sepasang mata orang berbaju hitam itu dengan tajam melirik sekejap kearah mayat sang pengawal yang menggeletak diatas tanah lalu menggeleng.

“Bukan!”

“Bukan perbuatanmu?” seru Nyioo Su Jan tertegun.

Siorang berbaju hitam itu kembali tertawa dingin.

“Selama cayhe berkelana dalam dunia persilatan, orang yang telah kubunuh bukan satu dua orang saja. Sekarang lebih banyak membinasakan seseorang juga tidak mengapa kenapa aku harus bicara bohong?”

Mendengar jawaban itu Poei Ceng Yan segera mendehem berat dan rangkap tangannya menjura.

“Siauw te Poei Ceng Yan Hu Cong Piauw tauw dari perusahaan ekspedisi Hauw Wie Piauw kiok, Katakan ada urusan apa silahkan diutarakan kepada cayhe.”

“oooouw….” sitelapak baja gelang emas sudah lama cayhe mendengar nama besarmu.”

“Kawan siapa namamu?”

“Kalau cayhe suka menyebutkan siapakah namaku, seharusnya tak perlu mengerudungi wajahku dengan kain hitam lagi.”

“Kawan! sekalipun kau tidak suka memberitahukan namamu, namun maksud kedatanganmu bisa disebutkan bukan??” ujar Poei Ceng Yan setelah termenung sebentar.

“Cayhe ingin berjumpa dengan seseorang”

“Siapa?”

“Kwan Tiong Gak, Cong Piauw tauw baru perusahaan kalian.”

“Oooouw….! Kwan Cong Piauw tauw ada urusan, kalau-kalau mau bicara katakan saja kepada siauwte!”

“Beritahu kepadamu?” jengek siorang berbaju hitam dingin. “Aku takut kau tak bisa ambil keputusan sendiri.”

“Katakanlah lebih dahulu, mungkin sekali aku orang she Poei memberi keputusan yang memuaskan bagimu.”

“Tidak bisa jadi, cayhe datang membawa sepucuk surat, kalau bisa berjumpa dengan-dia sendiri jauh lebih baik,kalau Kwan Cong Piauw tauw tidak ingin menjumpai diriku, cayhepun tak perlu utarakan lagi maksud kedatanganku ini.”

“Jikalau kedatanganmu adalah membawa surat, kenapa tidak datang saja pada pagi hari?ditengah malam buta datang berkunjung dengan menyoreng senjata, apakah kau tidak merasa….”

“Waktumu amat singkat, sebelum kentongan kelima nanti cayhe harus buru buru meninggalkan kota Kay hong.”

“Tolong tanya, sudah berapa lama kau tiba disini?” tiba2 Nyioo Su Jan menimbrung dari samping.

“Tak bisa terhitung lama, hanya setindak lebih pagi dari kedatangan Cu wi sekalian.”

“Begitu mendengar suara cayhe segera berdatangan kemari, tetapi orangku ini sudah menemui ajalnya terhantam pukulan dahsyat, kalau kedatanganmu jauh lebih pagi dari kami seharusnya menemui sang pembunuh bukan?”

Siorang berbaju hitam itu termenung beberapa saat lamanya, lalu mengangguk.

“Sekalipun cayhe berhasil menjumpai orang itu, agaknya akupun tidak seharusnya memberitahukan hal ini kepada kalian.”

Ucapan orang ini Nyioo su Jan sama sekali tidak marah. Ia tertawa hambar.

“Kawan! Walaupun ucapanmu ketus dan dingin tidak enak didengar tetapi cayhe merasa kagum atas watakmu, tidak semacam sahabat yang telah membunuh orang ini, setelah berbuat lantas bersembunyi tidak berani berjumpa. Hmm! Sungguh memalukan sekali.”

Baru saja ia menyelesaikan kata katanya mendadak terdengar suara tertawa dingin yang sangat menyeramkan berkumandang memecahkan kesunyian.

“Heee…. heee…. heee…. hal ini harus salahkan sepasang matamu sudah buta, aku berdiri disini sudah lama sekali, namun matamu tak dapat melihatnya, Hal ini bisa salahkan siapa?”

Agaknya suara itu muncul bagaikan disisi telinga saja, membuat orang yang mendengar merasakan bulu kuduknya pada bangun sendiri.

Poei Ceng Yan serta Nyioo Su Jan sekalian segera berpaling, tetapi tak nampak sesosok bayangan manusiapun kecuali kegelapan ditengah malam buta.

“Eeei….! apa yang telah terjadi?….” Bisik Liem Toa Lek lirih. “Suara itu kedengarannya sangat dekat, tetapi kok tidak kelihatan sesosoK manusia pun?”

Poei Ceng Yan tidak menjawab, sebalik nya dengan suara lantang kembali berseru.

“Kawan, kau bisa menggunakan ilmu menyampaikan suara untuk mengirim ucapan mu itu, ini menandakan kalau ilmu silatmu sangat lihay. Kenapa tidak berani munculkan diri untuk bertemu?”

“Untuk menjumpai cayhe tidak sulit, asalkan Kwan Cong Piauw tauw mau menjawab pertanyaanku.” kata orang itu lagi dengan suara menyeramkan.

Kali ini, beberapa orang itu, mendengarkan suara tersebut dengan penuh perhatian. Mereka menemukan apabila suara tadi berasal dari ujung dinding sebelah depan.

Diam diam Poei Ceng Yan menggempol napas serunya kembali.

“Kawan! kalau kau ingin menjumpai Piauw tauw kami tidak susah. Asalkan kau bisa membereskan kami. Dengan sendirinya Cong Piauw tauw kami bisa munculkan diri untuk berjumpa denganmu.”

“Kalau begitu Cong Piauw tauw kalian masih berada didalam kantor cabang kota kay hong itu,” seru orang tua dengan seramnya.

Poei Ceng Yan segera tertawa dingin.

“Perduli dia berada dimana. kalau kau ingin menjumpai dirinya maka hadapi dulu aku orang she Poei!.”

“Poei Hu Cong Piauw tauw” Bentak orang itu gusar, “agaknya kau ingin sekali bergebrak melawan cayhe!”

“Kawan terlalu serius, hanya saja kecuali kau berhasil menyelesaikan aku orang she Poei, rasanya tidak susah untuk menjumpai Kwan Cong Piauw tauw ….”

Terdengar ujung baju tersampuk angin, dari ujung dinding beberapa tombak dihadapan mereka melayang turun sesosok bayangan manusia.

Orang itu dengan gerakan burung walet menutul air laksana kilau melayang datang dan berhenti dua tombak dihadapan beberapa orang itu.

Dia adalah seorang manusia berjubah panjang, bertangan kosong dan menutupi selembar wajahnya dengan kain hitam. Tidak terlihat ia menggembol senjata tajam.

Setelah orang itu munculkan diri, Nyioo Su Jan segera alihkan sinar matanya menyapu sekejap wajah orang itu lalu wajah si lelaki berbaju hitam yang membawa senjata sepasang roda bergigi, tegurnya, “Benarkah kalian berdua tidak saling mengenal?”

“Tentu saja tidak saling mengenal” teriak orang berjubah panjang itu murka, “Buat apa aku membohongi dirimu.”

“Cayhe lihat kalian berdua sama sama menutupi wajah kalian dengan kain hitam….”

“Kau ingin mencari bukti?” tukas sang lelaki bersenjata roda bergigi sambil tertawa dingin.

“Ingin kuketahui asal usul kalian berdua!”

“Tidak susah untuk mengetahui asal usul ku, nah! Periksalah sendiri dari permainan senjataku ini!” seru lelaki tadi seraya ayunkan sepasang roda bergiginya.

Tiba tiba Liem Toa Let maju selangkah kedepan, ia segera loloskan goloknya dan di lintangkan didepan dada,

“Kawan!” tegurnya dingin. “Kalau kau ingin turun tangan, mari cayhe layani kemauanmu ini.”

“Siapa kau, apa kedudukanmu dalam perusahaan ini?”

“Cayhe Liem Toa Lek. Piauw su dari perusahaan cabang kota Kay Heng. Harap kau pun sebutkan namamu….”

“Menangkan dulu tepisan roda bergigi ini kemudian baru tanya namaku.”

Tiba tiba tangan kirinya didorong kedepan, sebuah roda bergigi segera menotok dada lawan.

Dengan jurus “Hua Hun Im Yang” atau Menggaris pisah Im dan Yang. Lem Toa Lek memutar goloknya menciptakan selapis cahaya ke-perak perakan menghantam senjata roda lawan dengan gerakan melintang.

Gerakan orang itu sungguh cepat sekali, dengan cepat ia tarik kembali senjata roda yang ada ditangan kiri, sedang senjata roda ditangan kanan laksana kilat dibabat keluar.

Sepasang senjata roda bergigi Jiet Cwat Siang Loen, merupakan senjata istimewa yang jarang ditemui dalam Bu Lim, senjata semacam ini paling mengutamakan mengunci dan membabat senjata lawan.

Tetapi kali ini sang lelaki tersebut tidak mau mengeluarkan keistimewaan ini untuk membabat golok Liem Toa Lek, kejadian ini benar benar berada diluar dugaannya.

Selagi otaknya diliputi keheranan, sepasang senjata lelaki itu secara beruntun telah didorong kedepan menciptakan selapis cahaya berkilauan serta desiran angin tajam.

(Bersambung Jilid 24)

Jilid 24

LIEM Toa Lek terperanjat saat inilah baru tahu silelaki itu sengaja berbuat demikian jasteru ingin memancing ia masuk jebakan bukannya keistimewaan itu sengaja dibuang.

Tampak bayangan senjata roda berkelebat silih berganti dan menerjang datang dari empat bagian delapan penjuru.

Baru baru Liem Toa Lek menggerakkan golok ditangannya berputar menciptakan selapis cahaya tajam melindungi seluruh badan.

“Sebagai seorang Cong Piauw Su yang mengepalai sebuah kantor cabang bagaimana pun juga kepandaian silatnya bukan termasuk kelas rendah.

Tetapi siorang berbaju ringkas itu telah mengerahkan seluruh kepandaiannya, angin desiran tajam menggulung keluar dari sepasang senjata roda yang berputar tiada hentinya itu, Liem Toa Lek beserta goloknya seketika terkurung didalam bayangan roda lawan.

“Sementara itu Poei Ceng Yan serta Nyioo Su Jan dapat melihat keadaan tidak menguntungkan pihaknya permainan senjata roda lawan sangat lihay dan bila mana pertarungan ini dilanjutkan lebih jauh Liem Toa Lek pasti akan menderita kekalahan!

Diam diam Nyioo Su Jan melirik sekejap kearah si orang berjubah panjang, ketika itu jago tadi dengan bergendong tangan sedang menonton jalannya pertarungan ditengaa kalangan.

Wajahnya tertutup oleh kain kerudung hitam sehingga susah dilihat bagaimanakah perubahan wajahnya pada saat itu, namun dari sikapnya berdiri dapat ditarik kesimpulan kalau ia ada maksud berpeluk tangan menonton harimau berkelahi.

Nyioo Su Jan segera berbisik lirih ke pada rekannya, “Hu Cong Piauw tauw, kau perhatikan siorang berjubah panjang itu. Aku hendak membantu Liem Piauw su. Agaknya mereka berdua bukan berasal dari satu jalan. Ada dua orang kemungkinan sekali ada orang ketiga, kita harus paksa mundur salah satu di antaranya lebih dahulu.”

Poei Ceng Yan termenung sebentar,akhirnya ia mengangguk.

“Kau harus berhati hati!” Sambil tertawa Nyioo Su Jan mengangguk, ia segera melangkah kesisi kalangan dan berteriak keras, “Kantor cabang kota Kay Hong bukan tempat untuk beradu kepandaian. Kepandaian sahabat dalam permainan senjata roda sangat lihay, sayang kau sudah salah memilih tempat untuk berkelahi.”

Sementara itu permainan sepasang roda bergigi “Jiet Gwat Siang Loen” dari siorang berbaju ringkas itu makin dahsyat dan makin gencar, seketika memaksa perputaran cahaya golok Liem Toa Lek makin lama semakin menyusut.

Agaknya siorang berbaju ringkas itu ada maksud mempermainkan lawannya, ia tidak turun tangan keji terhadap orang she Liem sebaliknya mempermainkan senjata roda itu makin lama makin gencar dan memaksa cahaya golok Liem Toa Lek makin lama makin menyempit.

Ketika itu Nyioo Sn Jan sudah berada didekat kalangan, sepasang senjata Pan Koan pit dicekal ditangan siap turun tangan.

Tiba tiba seorang berpakaian singset itu merentakan sepasang rodanya kekedua belah samping perutnya, “Kawan, Apabila kau ada maksud membantu, kenapa tidak turun tangan saja secara berbareng “

Dalam hati kecil Nyioo Su Jan pada Kaktu itu sedang memikirkan bagaimana cara nya mencari alasan untuk ikut turun tangan, dengan berkumandangnya suara teriakkan itu ia segera meloncat masuk kedalam kalangan.

“Saudara besar benar ucapanmu….”

Sepasang pit dengan dahsyat segera di-tutul ke depan,Si orang berbaju singsat itu menggetarkan sepasang senjata rodanya menerima serangan sepasang Pan Koan Pit dari Nyioo Su Jan tampaklah bayangan roda selapis demi selapis berkelebat mengurung tubuh Nyioo Su Jan serta Liem Toa Lek kedalam kurungan.

Poei Ceng Yan yang melihat kejadian ini jadi tertegun diam diam pikirnya dalam bati.

“Kepandaian silat yang dimiliki Nyioo Su Jan tidak lemah. Dalam perusahaan Hauw Wie Piauw kiok lapun boleh disebut seorang Piauw su memiliki nama cemerlang, tapi permainan sepasang senjata roda serta perubahan jurus dari orang ini sungguh aneh dan luar biasa sekali, sekali pun sudah ditambah Nyio Su Jan seorang pun masih belum kelihatan ada perubahan…. keadaan tetap seperti Liem Toa Lek bergerak searang diri….sungguh lihay, sungguh lihay….”

Terasa bayangan senjata roda berkelebat silih berganti, deruan angin tajam memecahkan kesunyian. Nyioo Su Jan serta Liem Toa Lek pada waktu yang bersamaan merasa desakan tenaga tekanan amat dahsyat menekan mereka, senjata pit serta golok kena dipaksa sehingga harus menangkis dengan repotnya, mereka dipaksa berada dibawah angin.

Poei Ceng Yan yang menonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan, hingga kini masih belum berhasil juga menemukan perubahan dari permainan senjata lawan. Tak terasa ia menghela napas, pikirnya.

“Kalau ditinjau dari kejadian ini hari agaknya para jago Bu-lim yang berkumpul didalam kota Kay Hong saat ini merupakan jago jago lihay semua.”

setelah melihat pertarungan itu selama beberapa jurus, Poei Ceng Yan mulai paham Bilamana pertarungan ini dibiarkan lebih jauh maka Nyioo Su Jan serta Liem Toa Lek-tak akan terhindar dari mara bahaya, sekali pun diri sendiri ikut terjun kedalam kalangan pun belum tentu bisa menolong situasi

Satu satunya harapan yang ada dalam benaknya saat ini adalah menantikan kemunculan Kwan Tiong Gak, serta mengenal asal usul duri orang orang ini.

Berpikir sampai disitu, tak terasa lagi ia membentak keras. “Tahan!”

Walaupun selama ini si lelaki berbaju ringkas yang bersenjatakan sepasang roda gigi berbasil merebut posisi diatas angin, namun ia selalu bersabar dan tidak turunkan tangan keji.

Kini, mendengar suara bentakan dari Poei Ceng Yan, ia segera menarik kembali senjatanya dan mundur lima langkah kebelakang.

“Ada urusan apa?” tegurnya.

“Permainan sepasang roda bergigi Cing Kang Jiet Gwat Siang Lun saudara betul betul luar biasa, ini hari boleh dihitung cayhe sudah membuka mata serta memperoleh banyak pengalaman.”

“Poei Hu Cong Piauw tauw terlalu memuji.” Sahut lelaki itu sambil tersenyum.

“Dengan andalkan permainan roda cayhe entah bisakah menjumpai Kwan Cong Piauw tauw dari perusahaan kalian?”

“Seandainya kau suka melaporkan nama, caybe tentu akan berusaha untuk melaporkan kehadiranmu.”

Orang berbaju ringkas itu seketika tertawa terbahak-bahak.

“Poei Hu Cong Piauw tauw, kau tidak sudi mengundang Kwan Cong Piauw tauw untuk bertemu dengan cayhe. Aku takut di-kemudian hari kalian akan merasa amat menyesal,”

“Kenapa?” Poei Ceng Yan merasa tercengang.

“Karena kantor perusahaan kalian sedang berada dalam kancah suatu gelombang badai yang amat besar.”

“Oooouw….,!” seru Poei Ceng Yan sambil melirik sekejap kearah manusia berkerudung lainnya. “Kalau didengar dari nada ucapanmu. agaknya saat ini sudah terdapat banyak sekali kawan kawan kangouw yang mengurung kantor cabang perusahaan kami?”.

Selama ini si manusia berjubah panjang tetap bergendong tangan berdiri disisi kalangan, sikapnya seolah olah menunjukan perikatan yang sedang terjadi dalam kalangan sama sekali tiada hubungan dengan dia orang.

“Jikalau Poei Hu Cong piauw thaw tak bisa mempercayai perkataanku, terpaksa cayhe mohon diri!”.

“Kawan!” seru Poei Ceng Yan cepat cepat setelah mendehem sejenak. “Setelah membawa maksud datang kemari, kenapa buru-buru hendak berlalu?”

Ucapan ini diutarakan sangat keras. agaknya ia sengaja berbuat demikian agar Kwan Tiong Gak yang bersembunyi dalam ruangan dapat ikut mendengar.

Kiranya Poei Ceng Yan merasa urusan beruban semakin tegang, dan ia mengerti keadaan seperti ini tak dapat diselesaikan dengan kekuatan sendiri.

Si orang berjubah panjang yang selama ini berdiri tak berkutik, tiba tiba melirik sekejap kearah bangunan kecil itu, ujarnya dingin.

“Kwan Tiong Gak, kau anggap dengan bersembunyi didalam bangunan kecil itu lantas bisa meloloskan diri dari bencana ini?” Suasana dalam bangunan kecil tetap sunyi tak kedengaran sedikit suara pun.

Poei Ceng Yan yang melihat kejadian itu hatinya jadi serba salah, pikirnya.

“Toako tidak menyahutnya ini menandakan untuk sementara waktu ia tak ingin munculkan diri, kalau aku buka suara mencegah perbuatannya bukankah hal ini sama artinya beritahu kepadanya kalau Kwan Toako memang benar bersembunyi dalam ruangan itu “

Terpaksa ia pura pura berlagak pilon dan membungkam dalam seribu bahasa.

Ketika si orang berjubah panjang itu tidak mendengar suara jawaban dari dalam ruangan, ia segera tertawa dingin.

“Kwan Tiong Gak, kau bersikap sembunyi sembunyi seperti cucu kura kura. Apakah tidak takut ditertawakan orang?”

Sembari berbicara tiba tiba badannya meloncat kedepan menerjang kearah bangunan rumah tersebut.

Melihat kejadian itu Poei Ceng Yan terperanjat, selagi ia siap meloncat kedepan untuk menghadang, tiba tiba terdengar suara desiran tajam bergema mamenuhi angkasa, anak panah bagaikan hujan gerimis beterbangan menyambar datang.

Nyioo Su Jan benar benar sangat handal disekeliling bangunan rumah itu ia sudah tanam banyak sekali ahli panah namun di luaran orang lain tak akan tahu disana sudah di persiapknn jago.

Si orang berjubah panjang itu segera ayunksn tangan kanannya kedepan. serentetan cahaya hijau menyambar lewat. Tahu-tahu anak panah yang berada disekeliling tempat itu pada rontok ke atas tanah.

“Kawan!” seru Poei Ceng Yan sambil mendengus dingin, “Tempat ini adalah perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kami selamanya tidak memperkenankan orang lain bertingkah di sini!”.

Sembari berkata ia segera menerjang ke depan dengan dahsyatnya.

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, si lelaki berpakaian singsat yang membawa senjata sepasang roda itu tahu tahu sudah mendahului Poei Ceng Yan menghadang jalan pergi orang berjubah panjang itu. serunya dingin,

“Perkataan dari Poei Hu Cong piauw tauw sedikitpnn tidak salah, perusahaan Hauw Wie piauw kiok selamanya tidak memperkenankan orang lain jual lagak disini”.

Perubahan yang telah terjadi secara mendadak ini, seketika membuat Poei Ceng Yan, berhenti dan berdiri melengak.

Dalam perkiraan Poei Ceng Yan. sekalipun mereka berdua tidak datang bersama sama namun tujuannya tentu sama. Siapa sangka kedua orang ini bukan saja tidak saling mongenal bahkan ada tanda tanda hendak saling bergebrak.

Walaupun Hu Cong Piauw tauw dari perusahaan Hauw Wie Piauw kiok ini tidak dapat memahami maksud tujuan kedua orang ini, namun dalam hati ia paham seandainya kedua orang ini saling bergebrak maka situasi tersebut akan sangat menguntungkan dirinya.

Karena berpendapat demikian, iapun tidak turun tangan menghadang.

Terdengar si orang berjubah panjang itu tertawa dingin.

“Saudara, kau tak usah jual lagak, kau bisa mengelabui orang orang Hauw Wie piauw kiok namun tak bakal bisa mengelabui cayhe”

“Mau bicara katakanlah sampai puas, tetapi jangan harap kau bisa maju selangkah lagi!”.

“Jadi kau hendak menghadang jalan pergi ku?”

“Sedikitpnn tidak salah” sahut orang berbaju ringkas itu seraya ayunkan sepasang tangannya-

“Kalau kau ingin agar cayhe mundur, dari sini rasanya hanya ada satu cara saja yaitu kalahkan dulu permainan sepasang roda bergigi ini.”

“Haaaa…. haaa,…. haaaa…. apakah kau merasa bahwa permainan sepasang rodamu itu sudah tiada tandingan dikolong langit?”

“Jadi kau tidak percaya? Mari.,., mari kita coba-coba saja buktikan, perkataan siapa yang benar.”

“Boleh!” jengek si orang berjubah panjang itu sambil tertawa dingin. “Namun sebelum kita bergebrak, cayhe ingin terangkan dulu dua persoalan .,….”

“Cepat katakan. Kau tak usah ulur waktu lebih lama lagi, karena hal ini tidak akan mendatangkan keuntungan bagimu.”

“Kenapa?”

“Karena sebentar lagi, kemungkinan besar bala bantuan cayhe akan tiba disini” jawab siorang berbaju singset sambil memantang keadaan cuaca.

“Sama, sama,,…. sama, sama…. kau tak bisa menggertak diriku….”

Terdengar ia merandek sejenak, lalu samBungnya lebih jauh. ,

“Setelah kita saling bergebrak maka pertarungan ini adalah suatu pertarungan yang menentukan mati hidup kita. Kalau bukan kau yang mati maka akulah yang binasa, jikalau saudara tidak ingin jadi setan bodoh, lebih baik tanya dulu siapakah namaku.”

“Semisalnya kau suka menyebutkan namamu, aku akan pentang telinga untuk mendengarkan.”

“Ada satu soal lagi harus kau ketahui dulu, setelah aku beritahukan namaku, maka kaupun harus ucapkan pula siapakah namamu.”

“Bagus sekali!” seru Poei Cerg Yan di dalam hati. “Kedatangan kedua orang ini sudah cukup menimbulkan keonaran, kalau bala bantuan mereka tiba disini semua, kerepotan akan semakin menjadi….”

Melihat jarak yang begitu dekat antara kedua orang itu dengan ruangan diman Kwan Tiong Gak berada, orang she Poei ini yakin apabila Cong Piauw tauw nya dapat menangkap pembicaraan mereka berdua dan saat ini tentu sedang menyusun suatu rencana.

“Aku lihat usulmu itu tak usah dijalankan lagi” terdengar siorang berbaju singset berseru dingin. “Jikalau kau sampai menemui ajalnya ditanganku, kaupun tak usah tahu siapakah diriku.”

Kedua orang itu bersitegang beberapa saat lamanya, suasana meruncing dan agaknya suatu pertarungan sengit tak akan terhindar. Namun sampai detik ini mereka hanya cek-cok mulut belaka tanpa seorang pun yang ingin turun tangan lebih dahulu.

Nyioo Su Jan yang melihat kejadian itu diam diam mengerutkan dahi, pikirnya dalam hati, “Kedua orang ini sama sama mengenakan kerudung hitam diatas wajahnya, muncul pula dalam waktu bersamaan disini. Peristiwa ini boleh dikata sangat kebetulan sekali, di tambah pula sikap mereka yang bicara saja tanpa ada yang ingin turun tangan terlebih dahulu agaknya keadaan sedikit, tidak beres apakah perbuatan inipun merupakan siasat dari mereka berdua .”

Karena berpikir dsmikian. Ia lantas berbisik pada Poei Ceng Yan.

“Poei Hu Cong Piauw tauw keadaan agaknya sedikit tidak beres. Kita harus berusaha mendekati ruangan itu untuk bergabung dengan Giok Liong serta Ih Coen sekalian, Seandainya terjadi suatu perubahan secara tiba tiba kita dapat melayani dengan lebih baik.”

“Perkataanmu sedikitpun tidak salah.” Poei Ceng Yan mengangguk.

Sembari memperhatikan situasi disekitarnya perlahan lahan mereka mengundurkan diri kesisi ruangan.

Sementara itu siorang berjubah panjang serta silelaki berpakaian singset sedang berdiri saling berhadap hadapan dengan demikian tak seorangpun yang bisa pecahkan perhatian.

Dengan cepatnya Poei Ceng Yan serta Nyioo Su Jan telah berkumpul jadi satu dengan Thio Toa Hauw sekalian, segera ia memberi pesan kepada orang she Thio itu.

“Suruh mereka lebih banyak persiapan senjata rahasia, kalau bukan keadaan terpaksa jangan turun tangan mencari gara gara.”

Thio Toa Hauw mengangguk, ia segera bungkam dalam seribu bahasa.

Sementara disisi belah sini Poei Ceng Yan sekalian memperketat penjagaan, ditengah kalangan telah terjadi perubahan.

Siorang berbaju singset yang berdiri berhadap hadapan dengan orang berjubah panjang itu setelah menanti beberapa saat tidak juga melihat pihak lawan meuunjukan suatu tindakan. ia tak bisa menahan sabar lagi.

“Saudara, berhati hatilah!” tiba tiba ia membentak, sepasang tangan segera diayun ke depan melancarkan serangan.

Dengan sebat orang berjubah panjang itu berkelit kesamping, telapak kanan diayun ke depan balas melancarkan sebuah serangan.

Tenaga dalam yang dimiliki orang ini amat sempurna, kekuatan angin pukulan yang menggulung keluar barusan benar benar dahsyat menimbulkan suara deruan yang memekikan telinga.

Sepasang senjata roda dari orang berbaju singsat itu segera di pentang kesamping lantai meluncur kedepan, dengan membentuk selapis cahaya tajam ia menahan datangnya babatan musuh.

Siorang berjubah panjang tertawa dingin ujung bajunya segera dikebas kedepan men-ciptaken serentetsn cahaya putih menotok dada orang berbaju singsat itu.

Melibat datangnya cahaya putih, siorang berbaju singsat menggetarkan senjata ditangan kirinya membentuk selapis cahaya hijau menahan datangnya terjangan cahaya lawat.

Ketika sinar matanya dialihkan kearah depan, maka ia temukan di ditangan orang berjubah panjang itu ssat ini telah bertambah dengan sebilah golok lemas terbuat dari baja tipis.

Kiranya orang berjubah panjang ini menyembunyikan golok lemasnya dibalik ujung baju, setiap saat bilamana ia kebutkan ujung bajunya itu maka golok lemas segera meluncur keluar bagaikan sebatang senjata rahasia.

Setelah ia mencekal kembali goloknya, sang tubuh meloncat kedepan diiringi kelebatan cahaya golok ia terjang kedepan.

Serangan macam ini boleh dihitung merupakan suatu kebiasaan yang jarang ditemui cahaya golok menggulung kedepan laksana gulungan ombak yang turun dari atas air terjun.

Menjumpai pihak musuh lihay, orang berbaju singsat itu segera merentangkan sepasang senjata roda bergigi “Jiet Gwat Siang Loennya,” dengan menciptakan selapis bayangan roda, ia tahu terjangan musuh dengan keras lawan keras.

Tampak cahaya golok menggulung tiada hentinya menghantam bayangan roda yang berlapis lapis, kadang kala diselingi oleh bentrokan-bentroksn nyaring diiringi percikkan bunga-bunga api.

Pertaiungan ini benar-benar amat seru masing-masing pihak menggunakan seleruh kelihaian yang dimiliki saling terjang menerjang saling desak mendesak dengan keras lawan keras.

Dipandang dari luaran saat ini tinggal kelebatan cahaya golok serta gulungan bayangan senjata roda belaka, susah bagi orang luar untuk orang luar untuk melihat jelas jurus serangan serta gerakan tubuh kedua orang itu.

Mendadak, terlihat orang beriupah panjang itu menerobos keangkasa, setelah berjumpalitan ditengah udara badannya melayang satu tombak jauhnya dari kalangan, begitu sepasang kaki mencapai tanah Sekali lagi ia enjotkan badan lenyap ditelan kegelapan.

Sedangkan silelaki bersenjata roda bergigi itu perlahan lahan menyimpan kembali senjatanya dan berjongkok melakukan pemeriksaan.

Mengikuti tindakan lelaki itu, Poei Ceng Yan pun alihkan sinar matanya kebawah. tampak diatas permukaan tanah berbelepotan bekas darah, agaknya siorang bersenjata galok itu telah mengundurkan diri dengan membawa luka.

“Sekarang dapatkan cayhe menjumpai Kwan Cong Piauw tauw?” terdengar siorang berpakaian singsat itu bertanya kembali sambil memandang wajah Poei Ceng Yan.

“Tentang soal ini …. tentang soal ini.”

“Poei Hu Cong Piauw tauw, kalau bicara tak usah gelagapan, bisa atau tidak cukup kau putuskan dengan sepatah katamu.”

“Begini saja? Besok pagi kau datang ke mari lagi, siauw te tentu akan mengaturkan suatu kesempatan pertemuan bagimu. Bagaimana?”

“Besok pagi?” jengek siorang berbaju ringkas itu sambil tertawa dingin. “Aku takut waktu sudah tidak kecandak lagi.”

“Ia campur tangan pukul mundur siorang berjubah panjang itu” pikir Poei Ceng Yan didalam hati. “Kalau ditinjau dari pertarungan yang begitu sengit bahkan siorang berjubah panjang itupun telah terluka hingga mengucurkan darah, aku rasa pertarungan ini bukan suatu kesengajaan. ….”

Sementara berpikir sampai disitu, ia lantas berkata lambat.

“Agaknya didalam hati Heng thay ada suatu kesulitan? Entah dapatkah kau terangkan dulu ucapanmu itu”

Kembali silelaki bersenjatakan sepasang roda bergigi itu tertawa dingin.

“Hmm! saudara berusaha untuk menghindarkan diri dari ucapan caphe. ini menandakan kalau kau tidak bermaksud membiarkan cayhe berjumpa dengan Kwan Cong Piauw tauw. Kalau memang begitu, disini cayhe mohon diri lebih dahulu.”

Setelah bsrbicara hendak pergi, ia lantas putar badan berlalu.

“Heng thay harap tunggu sebentar, silahkan mendengarkan dulu sepatah dua patah kata cayhe.” buru buru Poei Ceng Yan berseru

“Cayhe datang kemari dengan membawa maksud yang tulus dan mulia, jikalau Kwan Cong Piauw tauw tidak ingin menjumpai diriku. Akapun tak bisa berbuat apa apa lagi-kecuali berlalu dari sini.”

“Harap Heng thay menanti sejenak di ruang tengah.” bisik Poei Ceng Yan kembali dengan suara lirih. “Biarlah cayhe melayani dirimu sebagai seorang tuan rumah.”

“Maksud kedatanganku kemari hanya bertujuan mencapai Kwan Cong Piauw tauw belaka” ujar si lelaki bersenjatakan sepasang roda setelah termenung sebentar. “Bahkan urusan ini amat penting dan sangat mendesak, waktu tak bisa diulur lebih lama lagi, seandainya cayhe tidak bisa menjumpai Kwan Cong Piauw tauw sebelum kentongan keempat, lebih baik tak usah bertemu lagi.”

“Baik! Aku orang she Poei akan berusaha dengan segala kemampuan untuk menyelesaikan masalah ini, harap Heng thay menanti sejenak di ruang tengah.”

“Kalau demikian adanya, aku rasa Kwan-Cong piauw tauw masih berada didalam kantor cabang ini bukan?” tiba tiba silelaki itu berseru setelah mendehem ringan.

“Aku orang she Poei akan berusaha untuk mencarinya kembali sebelum kentongan keempat bilamana kau tidak berhasil juga menjumpai dirinya, terpaksa cayhepun akan-membiarkan kau berlalu.”

“Baiklah! Cayhe akan menanti sejenak di sini.”

“Nyioo Su Jan membawa jangan untuk sahabat” Nyioo Su Jan segera berseru.

Ia menyebut namanya lebih dahulu, tak lain bertujuan agar si lelaki itu pun suka menyebutkan namanya pula namun agaknya lelaki tersebut ada maksud menghindarkan diri dari hai tersebut. setelah mengucapkan kata-kata terima kasih ia lantas meubungkam dan berjalan keruang tengah mengikuti dibelakang Nyioo Su Jan.

Seorang pembantu muda segera menghidangkan air teh, beberapa orang itupun secara terpisah ambil tempat duduknya masing masing.

Setelah semua orang duduk, siorang berkerudung itu berkata kembali.

“Saat ini waktu berharga melebihi emas Poei Hu Cong Piauw tauw silahkan cepat-cepat berusaha untuk mencari baik Kwan Cong Piauw tauw kalian!”

“Baik! Cayhe segera psrgi.” Poei Ceng Yan bangong berdiri dan melangkah keluar.

“Tidak perlu….!” Tiba tiba terdengar suara deheman keras berkumandang memecahkan kesunyian, tahu-tahu Kwan Tiong Gak dengan langkah lambat telah munculkan diri di dalam ruangan.

Si orang berkerudung itu dengan cepat bangun berdiri.

“Saudarakah yang bernama Kwan Cong Piauw tauw?” sapanya.

“Sedikitpun tidak salah, caybe Kwan Tiong Gak.”

Buru buru orang berkerudung hitam itu melepaskan kain kerudung hitamnya dan memperkenalKan diri, “Cayhe Seng Thian Kie menemui Kwan Cong Piauw tauw.”

“Seng heng tak perlu banyak adat!” Kwan Tiok Gak segera menjura balas memberi hormat.

Sambil tertawa Seng Thian Kie ambil tempat duduk kembali, ujarnya, “Cayhe mendapat perintah dari suhu datang memberitahukan suatu berita penting ntuk Kwan Loociapwee”,

“Suhumu….” Kwan Tiong Gak termenung sejenak,

“Suhu adalah “Hwie Loen Ong” atau si Raja Roda Terbang.”

“Aaaakh! Maaf, maaf. Kiranya murid kesayangan dari si Raja Roda Terbang. Tidak aneh kalau permainan sepasang senjata roda mu luar biasa!”

“Kwan Loocianpwee terlalu memuji….”

ia merendek sejenak, lalu tambahnya, “Kemarin malam suhuku baru saja tiba dikota Kay Hong, dan berhasil mendengar kabar berita yang tidak menguntungkan diri Kwan Cong Piauw tauw, karena itu sengaja suhuku mengutus cayhe datang kemari untuk memberi bisikan.”

“Maksud baik gurumu, aku orang she Kwan merasa sangat berterima kasih sekali!”

“Sewaktu boanpwee tiba disini tadi, sebenarnya ada maksud mohon berjumpa secara baik baikan, tetapi aku menemukan ada orang yang menguntit kedatanganku serta membinasakan seorang peronda dari perusahaan kalian. Kalau kutinjau dari penjagaan yang ketat agak nya perusahaan kalian sejak semula sudah mengadakan persiapan.”

“Perusahaan yang membuka pengawalan barang banyak mengingat permusuhan dengan orang. mau tak mau kami harus bertindak sangat hati-hati….,” kata Kwan Tiong Gak.

Setelah mengeluh jenggotnya, ia menambahkan.

“Entah kabar berita apa yang hendak gurumu sampaikan kepada cayhe?”

“Suhu minta boanpwee sampaikan kepada Kwan Cong Piauw tauw bahwa malam ini Pada kentongsn keempat serta kentongan kelima ada orang yang hendak datang menyerbu kantor perusahaan kalian!”.

“Kenapa waktunya ditentu antara kentongan keempat kentongan kelima.”

“Justru disinilah letak kekejian mereka, dengan diundurkannya waktu tersebut hampir menjelang pagi maka serangan mereka akan membuat orang tidak siap dan merasa diluar dugaan.”

“Ehmm! Perkataanmu sedikitpun tidak salah” Kwan Tiong Gak mengangguk. “Pada saat saat menjelang pagi, mereka yang melakukan perondaan memang sudah mulai kelihatan lelah dan mengantuk!”

“Menurut guruku, beliau berkata bahwa sewaktu mereka menyerbu kedalam perusahaan kalian nanti, tindakan yang akan dilakukan amat keji dan ganas. Maka dari itu beliau suruh aku datang kemari memberi laporan kepada Kwan Cong Piauw tauw agar bisa mempersiapkan diri lebih dahulu.”

“Maksud baik suhuku sangat kami terima dihati, silahkan saudara menyampaikan rasa terima kasihku kepada gurumu sekembalinya dari sini, katakan saja dalam lima hari kemudian aku orang she Kwan tentu akan datang berkunjung kerumah kalian.”

Seng Thian Kie segera tersenyum. . “Besok sebelum hari gelap. suhuku sudah akan meninggalkan kota Kay Hong” ujarnya

“Begitu cepat?” kelihatannya Kwan Tiong Gak dibikin tertegun.

Tiba tiba Seng Thian Kie mengambil kembali kerudung hitamnya dan dikenakan ke keatas wajah, katanya, “Waktu sudah hampir tiba!”

“Ebmmm….” Kwan Tiong Gak segera berpaling sekejap kearah Liem Toa Lek dan berkata, “Sampaikan perintah mereka perketat penjagaan berusaha menumpukkan seluruh kekuatan pada anak panah serta sambitan senjata rahasia, mereka dilarang unjukan diri untuk bergebrak dengan pihak lawan.”

Liem Toa Lek menjura dan segera berlalu dari ruangan.

Sementara itu Seng Thian Kie telah membungkus kembali wajahnya dengan kerudung hitam, namun ia duduk kembali kekursinya. “Seng si heng….”

“Boanpwee mendapat perintah dari suhu untuk datang kemari, Kwan Cong Piauw tauw menaham serangan musuh.”

“Tentang soal ini„ cayhe tidak berani menerimanya”.

“Tadi Seng heng membantu kita pukul mundur seorang musuh tangguh….” Sela Poei Ceng Yan dari samping.

“Kalau begitu bagus sekali, sudah lama kudengar permainan sepasang roda dari si raja roda terbang telah mencapai puncak kesempurnaan, aku rasa Seng si heng sudah memperoleh warisan seluruh kepandaian….,,.!”

Maksud dari ucapan ini jelas menunjukkan bahwa ia hanya pernah mendengar nama besar dari si raja roda terbang belaka, tindakan siroda terbang mengutus muridnya mengirim kabar sudah merupakan suatu tindakan yang luar biasa, ia begitu sudi menempatkan muridnya untuk membantu memukul musuh?

Agaknya Seng Thian Kie pun dibikin tertegun.

“Apakah Kwan Cong Piauw tauw tidak, kenal dengan dengan guruku?” tanyanya.

“Kami hanya pernah mendengar nama hebatnya saja. tapi belum parnah saling mengenal”.

“Tentang soal ini. Tentang soal ini….”

“Semisalnya gurumu ada urusan hendak disampaikan kepadaku, silahkan Seng si heng utarakan secara blak blakan.”

“Suhu beritahu kepada boanpwee untuk tetap tinggal disini membantu Perusahaan kalian pukul mundur musuh tangguh, setelah itu cayhe harus segera meninggalkan tempat ini kembali menghadap suhu kemudian bersama sama meninggalkan kota Kay Hong”, Kwan Tiong Gsk termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata, “Seng Si heng, tahukah kau asal-usul dari musuh tangguh yang akan datang menyerang kami setelah kentongan keempat nanti?”

“Tentang soal ini, suhu tidak memberi petunjuk kepada boanpwee, boanpwepun tidak berani mengambil analisa sendiri” kata Seng Thian Kie cepat cepat seraya menggeleng.

Kwan Tiong Gak mengangkat cawan teh nya dari meja dan diteguk setegukan, lain sambil tertawa ujarnya, “Aku orang she Kwan teringat akan satu persoalan, harap Seng Si heng suka menyampaikannya kepada gurumu sepeninggalnya dari sini.”

“Urusan apa?”

“Selama beberapa hari ini cayhe terus-menerus mengadakan menyelidiki dan mempelajari peta mustika pengangon kambing itu, kini sebagian besar sudah berhasil kupahami hanya ada sedikit bagian bagian saja yang belum berhasil kupahami, entah seberapa banyak yang telah diketahui gurumu tentang peta pengangon kambing ini….”

“Tentang soal ini boanpwe merasa kurang paham, camun boanpwee pernah mendengar suhu memutuskan kisah tentang peta pengangon kambing itu, agaknya ia mengetahui sedikit tentang peta mustika itu”

“Kalau begitu bagus sekali, harap Seng Si heng suka menyampaikan undangan cayhe kepada suhumu untuk bersama-sama mempelajari isi peta mustika tersebut.”

“Kwan Cong Piauw tauw, benarkah ucapanmu ini,” seru Seng Thian Kie tiba-tiba sambil bangun berdiri.

“Suhumu mungkin tahu bahwa aku orang she Kwan selama hidup tidak pernah bicara bohong.”

“Boanpwee akan segera sampaikan ucapan ini kepada suhu. namun maukah ia datang kemari boanpwee tidak berani memastikan.”

“Suhumu mau datang kemari atau tidak, harap Seng Si heng suka memberikan suatu jawaban kepadaku”

“Baik! Setelah cayhe berjumpa dengan suhu perduli bagaimanapun tentu akan balik lagi memberi jawaban untuk Kwan Cong Piauw tauw.”

Sekali berkelebat badannya segera melayang keluar dari ruangan itu.

Nyioo Su Jan pun segera ikut gerakkan badan siap mengejar keluar dari ruangan. namun perbuatannya ini berhasil dicegah oleh Kwan Tiong Gak.

“Su Jan! Tak usah kau kejar dirinya” seru orang she Kwan setelah pasang telinga beberapa saat lamanya.

“Diantara ucapan orang ini terselip hal-hal yang mencurigakan, dan keanehan tersebut tanpa terasa telah ia perlihatkan dalam perubahan air muka, kenapa Cong Piauw tauw tidak membiarkan hamba pergi mengejar diri nya untuk mengetahui asal-usul yang benar?”

“Kepandaian silat yang dimiliki Seng Thian Kie tidak lemah, bahkan merupakan seorang manusia yang teliti dan cermat dalam bertindak, Seandainya kau menguntit perjalanannya kemungkinan besar jejakmu segera konangan.”

“Benarkah Cong Piauw tauw hendak mengundang si raja roda terbang datanglah kemari.” Kwan Tiong Gak tidak menjawab, sebaliknya ia memberi perintah.

“Coba kalian pergi memeriksa sebentar setiap bagian dan setiap pelosok dari kantor perusahaan kita, kemungkinan besar sebelum terang nanti kita benar benar akan melangsungkan suatu pertarungan sengit.”

“Cong Piauw tauw! apakah kau percaya akan ucapan dari Seng Thian Kie itu?”

“Si Raja Roda terbang mengutus murid nya datang membantu kita, tentu saja iapun membawa maksud maksud tertentu.” kata orang she Gak sambil tersenyum, “masing mesing pihak membawa maksud maksud tertentu, terpaksa kita pun harus menghadapinya dengan adu kecerdikan.”

“Aaakh! kalau begitu hamba segera pergi mengatur penjagaan lebih dahulu.”

Selesai bicara, orang she Nyioo ini segera melangkah keluar dari dalam ruangan.

“Toako! agaknya kau sudah mempunyai rencana yang masak,” bisik Poei Ceng Yan lirih.

Kwan Tiong Gak segera tersenyum.

“Sewaktu ada di kebun belakang tadi, kalian sudah menjumpai berapa orang?”

“Dua. Seorang adalah Seng Thian Kie sedang yang lain memakai jubah panjang ia mengundurkan diri setelah dikalahkan. Oleh permainan sepasang roda orang she Seng itu.”

“Nah! Itulah dia, Seng Thian Kie bantu kita pukul mundur musuh tangguh, tujuannya tidak lain sedang mencari hati dengan kita orang. Bukankah begitu?”

Aaaakh “! Benar ia mebaiki kita dan berusaha berkenalan dengan Toako tidak lain karena ia ingin mengelabui rahasia dari peta pengangon kambing itu.”

Kembali Kwan Tiong Gak tersenyum.

Disekitar kota Kay Hong sudah berkumpul jago jago lihay dari kalangan Bu lim, siapakah diantara mereka yang bukan datang dikarenakan ingin mendapat rahasia peta pengangon kambing itu?”

“Menurut apa yang siauw te ketahui, agaknya si Raja Roda terbang adalah seorang manusia yang susah dihadapi. Toako mengundang ia datang kemari bukankah sama arti mencari kerepotan buat diri sediri?”

“Ia datang kemari untuk bersama sama diriku menyelidiki rahasia peta pengangon kambing asalkan aku tidak mengingkari janji tentu saja ia tak akan mencari gara gara dengan diriku.”

“Jadi Toako ada benar-benar ada maksud membagikan peta pengangon kambing itu dengan si Raja Roda terbang?”

“Saudara Poei,” ujar Kwan Tiong Gak dengan wajah serius. “Perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kita sudah ada banyak tahun tersohor di kolong langit sudah banyak dagangan besar yang kita terima, dan banyak badai kekacauan yang kita hadapi, jago jago tersohor kalangan Liok lim yang ada di lima keresidenan sebelah Utara kebanyakan pernah bergebrak dengan siauw heng, namun kebanyakan urusan-urusan itu akan selesaikan di suatu tempat dengan kuda jempolan serta sebilah golok….”

“Aku tahu,” tukas Poei Ceng Yan cepat, “Untuk mendirikan merek emas perusahaan Hauw Wie Piauw kiok ini, toako telah mengorbankan banyak pikiran serta tenaga.”

Perlahan lahan Kwan Tiong Gak menghela napas panjang.

“Aaaaai…., Tetapi keadaan situasi yang kita hadapi ini hari jaub berbeda dengan keadaan tempo dulu, bentrokan bentrokan yang bakal terjadi sudah tak bisa kita hadapi dengan kekuatan sendiri. Maka dari itu mau tak mau kita harus mengundang bantuan tenaga luar untuk menyelesaikan peristiwa ini, mau tak mau kita harus menggunakan sedikit akal untuk menghadapinya.”

“Toako. Jadi kau hendak bekerja sama dengan si Raja Roda Terbang untuk memukul mundur musuh tangguh?” seru Poei Ceng Yan seperti telah memahami akan sesuatu.

Kwan Tiong Gak tertawa.

“Saat ini masih susah bagi kita untuk memahami perubahan situasi yang akan datang terpaksa harus melangkah setindak kemudian baru ambil rencana untuk tindakan selanjutnya.”

Ia merandek sejenak, lalu tambah, “Coba kau beri bisikan kepada Su Jan sekalian agar mereka bertindak lebih hati-hati, kalau si Raja Roda Terbang ada kabar segera bawa mereka menghadap kemari.”

Poei Ceng Yan mengiakan dan segera melangkah keluar, setibanya didepan pintu mendadak teringat olehnya akan sesuatu. Ia segera berhenti dan bertanya kembali, “Toako, bagaimana dengan Thay Heng Tuo Shu? Apakah perlu kita beri kabar kepadanya?”

“Persoalan itu baru kita pikirkan setelah si Raja Roda Terbang datang kemari serta ditinjau dulu bagaimana perubahan situasi selanjutnya.”

“Aaaakh!….” tidak banyak bicara lagi Poei Ceng Yan pun segera berlalu dari ruangan itu.

Beberapa saat kemudian tampak Nyioo Su Jan muncul dengan tergesa-gesa ujarnya, “Cong Piauw tauw. si Raja Roda Terbang serta muridnya mohon bertemu!….,”

“Suruh mereka masuk kedalam”. Sembari berkata ia bangun berdiri dan berjalan keluar dari ruangan.

“Kwan heng kau tak usah repot repot menyambut diri” terdengar suara yang amatnya nyaring berkumandang dari depan pintu.

“Oooouw …. Sungguh kekar dan seram orang itu “

Tampak orang itu memiliki alis tebal mata besar dengan wajah bercambang, di badannya memakai baju ketut berwarna hitam yang memancarkan cahaya berkilauan. Kedua ujung bajunya sebatas sikut. Celana panjang pun berwarna hitam serta memancarkan cahaya berkilauan, Entah setelan pakaian ini terbuat dari bahan apa?.

Poei Ceng Yan sudah lama mendengar nama besar si raja roda terbang namun si raja roda pribadi amat jarang berkelana dalam dunia persilatan, karena itu sangat jarang orang orang Bu-lim yang pernah menjumpai dirinya, tanpa terasa lagi ia memperhatikan orang itu beberapa kejap lebih banyak, Kwan Tiong Gak mendehem sembari menjura ia memperkenalkan diri, “Cayhe Kwan Tiong Gak.” Si orang berbaju hitam itupun segera menjura balas memberi hormat.

“Cayhe si raja roda terbang Swan Cwan.”

“Sudah lama kukagumi nama besar anda, beruntung ini hari kita bisa saling berjumpa”.

“Kwan Cong Piauw tauw terlalu memuji, sudah lama aku dengar nama besar Golok Sakti Genta Emas yang menggetarkan delapan penjuru. Dalam hati aku orang she Kwan pun merasa amat kagum. Hanya saja harap kau suka memaafkan kedatangan cayhe yang memakai pakaian ringkas sebab sebentar lagi permainan busuk akan dimulai”,

Kwan Tiong Gak yang banyak pengalaman selama ini merasa terheran heran dengan pakaian yang dikenakan orang itu, ia tidak tahu baju macam itu terbuat dari bahan apa, namun iapun tidak ingin bertanya secara gegabah. mendengar ia mengungkapnya sendiri segera menimbrung, “Pakaian yang dikenakan, sungguh aneh sekali, aku pikir benda ini tentu mempunyai asal usul yang amat besar.”

Sembari berkata ia mempersilahkan tamunya ambil tempat duduk.

Setelah duduk Swan Cwan segera tertawa.

“Padahal pakaian ini tak bisa dikatakan suatu benda mustika yang sangat berharga, benda ini bukan lain adalah kulit ular kerak baja “That Kia Coa Pie” hadiah dari seorang sahabat yang sudah lama tinggal dikeresidenan Im Kwee,”

“Aaaakh kiranya kulit ular kerak baja “Thiat Kia Coa Pie”, sudah lama aku dengar benda ini kerasnya luar biasa bisa bisa digunakan untuk menahan bacokan golok serta tusukan pedang, entah benarkah demikian?”

“Memang demikian adanya. ” sahut si Raja roda terbang Swan Cwan setelah meneguk air tehnya. “Tetapi benda itu baru bisa menunjukan kehebatan tersebut bilamana sudah memiliki suatu tahun tertentu, apalagi mendapatkan benda ini tak bisa langsung dibuat pakaian. kulit itu harus direndam dulu dalam minyak. “Ci Ma” selama tiga tahun, kemudian setelah dikeringkan, beberapa lama dibawah terik matahari, barulah kulit tersebut bisa di gunakan untuk bikin pakaian”

“Tidak menjumpai satu urusan, kecerdikan tidak tambah setingkat, apabila bukan ada penyesalan dari Kwan heng. siauw te pun tak bakal tahu akan persoalan ini!”

Sembari berbicara sepasang matanya tanpa terasa telah meneliti badan si Raja Roda terbang tersebut.

Senjata roda bergigi dari si Raja Roda terbang sudah amat tersohor dikolong langit Kwan Tiong Gak ingin sekali melihat bagaimanakah bentuk dari roda terbang teitebut.

Kwan Tiong Gak ingin sekali melihat bagaimanakah bentuk dari roda terbang tersebut.

Namun ia hanya dapat melihat si Raja Roda Terbang Swan Cwan memakai mantel-hitam yang amat besar menutupi hampir separuh bagian tubuhnya, susah bagi orang lain untuk mengetahui dimanakah ia simpan senjata roda terbangnya yang terkenal itu,

Walaupun Kwan Tiong Gak tidak berhasil menemukan macam apakah senjata roda terbangnya, tetapi ia dapat melibat adanya sebuah sabuk hitam yang melilit pada pinggangnya, dengan pengetahuan Kwan Tiong Gak yang luas, ia segera dapat mengenal sebagai semacam senjata tajam yang bersifat lunak.

Ketika itulah terdengar si raja roda terbang tertawa terbahak bahak.

“Haaa …. haaa …. .haa ….sewaktu siauw te melakukan perjalanan lewat kota Kay Hong, tanpa sengaja telah kutemukan banyak sekali jago Bu lim yang kumpul di kota ini. timbul rasa ingin tahuku dalam hati dan segera diam diam aku melakukan penyelidikan. Hasil aku temukan kalau orang orang itu sebenarnya datang untuk mencari setori dengan diri Kwan heng,….”

“Bukan. Mereka bukan lagi mencari setori dengan aku orang she Kwan melainkan dsebabkan selembar peta pengangon kambing.”

“Peta pengangon kambing?” tanya si raja Roda terbang. Karena membicaraan telah dialihkan ke pokok persoalan tanpa terasa lagi air muka pun berubah serius.

“Benar. Sebuah peta lukisan yang menunjukkan tempat tersimpannya sejumlah harta karun. Cwan heng. Rasanya kau pernah mendengar berita ini bukan?”.

“Benar. Siauw te pernah mendengarnya” Swan Cwan mengangguk. “Katanya harta karun itu meliputi jumlah yang amat banyak sehingga nilainya susah diduga. Kwan- heng”

“kau telah melakukan penelitian sebanyak beberapa hari tentu banyak rahasia yang telah kau dapatkan bukan tentang harta karun itu-?”

“Aaaai.,….! Kalau dibicarakan sungguh menyesal sekali, walaupun sudah lama siauw te melakukan penyelidikan serta mempelajari rahasia peta pengangon kambing itu, namun saat ini hanya kupahami sebagian saja. Nanti aku masih membutuhkan petunjuk petunjuk yang berharga dari Cwan heng.”

“Haaa. …. haaa,….,ha»a…. Kwan heng, kita baru untuk pertama kalinya saling berjumpa. ternyata Kwan heng mengundang sianwte uutuk bersama sama menyelidiki serta mempelajari rahasia peta pengangon kambing itu. Hal ini benar benar membuat siauw te tercengang dan sedikit tidak percaya!”.

“Cwan heng! Antara dirimu dengan siauw te tidak pernah saling kenal dan masing-masing hanya pernah mendengar nama masing-masing namun kau begitu perhatikan keselamatan kami dengan malam-malam mengirim muridmu datang memberi bisikan bahkan tidak mengikat permusuhan dengan orang lain. Hal ini pun membuat siauw te merasa amat berterima kasih sekali”.

“Aaaakh….! haaa…. haaa….mana mungkin inilah yang disebut antara Enghiong sering terjalin ikatan batin yang kuat.”

Pada saat itulah tiba tiba terdengar dua kali suara suitan panjang berkumandang datang memecahkan kesunyian.

Si Raja Roda Terbang segera bangun berdiri, ujarnya, “Sudah waktunya bagi mereka untuk datang, suitan tadi mungkin merupakan tanda dari kehadiran mereka.”

“Sedikit pun tidak salah, suitan itu memang merupakan tanda bahaya yang menandakan mereka telah menemukan pihak lawan mandekati perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kami.”

“Kwan heng, kau bersiap sedia hendak menghadapi serangan lawan dengan cara apa?”

“Hingga kini siauw te masih belum tahu jago jago lihay manakah yang telah datang, aku bermaksud hendak berjumpa dulu diri mereka kemudian baru menyusun rencana selanjutnya.”

“Bagus! Memang seharusnya perapatan lebih dulu kemudian baru kekerasan, dengan demikian tidak sampai merosotkan pamor Kwan heng. ayoh kita jalan! siauw te temani Kwan heng meninjau dulu malaikat mana yang telah datang menyambang.”

“Cwan heng adalah tetamu, mana boleh ikut melibatkan diri dalam pergolakan ini?”

“Haaa…. haaa…. ha….jikalau suruh cayhe tetap bertahan dalam ruangan-ini tanpa keluar, rasanya akupun tak perlu datang kemari.”

“Aku dengar katanya besok sebelum sang surya lenyap dari jagad, kalian berdua hendak meninggalkan tempat ini?”

“Sedikitpun tidak salah, besok sebelum malam tiba, kami memang ada maksud meninggalkan kota Kay hong.”

“Apakah Cwan heng serta muridmu tidak dapat tinggal beberapa hari lagi disini?”

“Tidak dapat …. Swan Cwan menggeleng.

Tiba tiba terdengar suara langkah manusia berkumandang datang memotong ucapan Swan Cwan yang belum selesai diutarakan.

Ketiga semua orang berpaling, tampakKh Nyioo Su Jan dengan langkah terburu buru sedang melangkah masuk kedalam ruangan!

“Bagaimana Su Jan? apakah kalian sudah berhadapan muka dengan mereka?” tegur Kwan Tiong Gak ketika dilihatnya orang she Nyioo itu munculkan diri.

“Sedikitpun tidak salah, kami telah saling berjumpa muka dengan mereka. saat ini ruang belakang kantor kita sudah terkepung, agaknya jumlah mereka yang hadir malam ini tidak sedikit.”

“Siapakah mereka?”

“Mungkin pemimpin mereka belum tiba kemari, tak seorangpun yang buka suara menjawab pertanyaanku, namun mereka telah menyampaikan satu pesan, katanya sepertanak-nasi kemudian, tentu akan muncul seseorang yang hendak mengadakan pembicaraan dengan Cong Piauw tauw.”

“Sepertanak nasi kemudian? sekarang sudah jam berapa?”

“Kentongan keempat baru saja lewat.”

“Sepertanak nasi lagi bukankah sudah memasuki kentongan kelima dan hari sudah terang tanah?”

“Tidak salah, kecuali mereka bermaksud turun tangan setelah terang tanah, sungguh-membuat orang merasa tidak mengerti apa maksud mereka yang sebenarnya?”

Tiba tiba terdengar Swan Cwan tertawa hambar.

“Hmm, mereka Ingin turun tangan setelah terang tanah, sungguh suatu pemikiran yang gila!”

“Cwan heng, sebenarnya apa yang telah terjadi?” Tanya Kwan Tiong Gak seraya berpaling.

“Mereka berbuat demikian sama arti memandang rendah perusahaan kalian, hal ini mengartikan bahwa dengan waktu antara kentongan kelima sampai terang tanah nanti mereka berkemampuan untuk membasmi seluruh orang yang ada didalam kantor ini,”

“Ehmm! …. .kalau mereka benar benar mempunyai cara pemikiran seperti ini, memang tindakan tersebut rada sedikit gila….”

Ia berpaling kesamping dan tambahnya.

“Su Jan, cari pemimpin mereka yang bisa mewakili berbicara, tanyakan kepada mereka pihaknya hendak turun tangan secara bagaimana”? silahkan dimulai saja, kami bisa menerimanya dengan tangan terbuka.”

Agaknya Kwan Tiong Gak pada saat ini sudah diumbar oleh hawa amarah, sewaktu berbicara kendati tetap mempertahankan ketenangannya, namun dari sepasang mata memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan.

“Aku segera laksanakan tugas ini” Nyioo Su Jan segera menjura kemudian putar badan berlalu.

Sementara itu Poei Ceng Yan, Liem Toa Lek sekalian telah mengundurkan diri untuk memperketat pos penjagaannya masing masing

Halaman belakang dari kantor perusahaan tersebut terlalu luas, dengan jumlah pengawal yang sedikit pihak perusahaan Hauw Wie Piauw kiok rada repot juga dalam pembagian penjagaan.

Terdengar Swan Cwan mendehem perlahan kemudian berkata.

“Kwan heng, sudah lama kudengar akan kelihayan ilmu menyambit senjata rahasia genta emasmu. Malam ini mungkin siauw te akan buka mata untuk mengagumi permainanmu itu. Kenapa kita tidak menyambut saja kedatangannya sembari memberi sedikit pelajaran buat mereka.?”

(Bersambung ke Jilid 25)

Jilid 25

“BIARKAN dulu mereka melakukan persiapan kemudian kita baru turun tangan.” kata Kwan Tiong Gak sambil tertawa.

“Haaa…. haaas….sungguh bersemangat!”. Ditengah suara gelak tertawa yang amat nyaring, Nyioo Su Jan munculkan diri kembali dengan langkah lebar, setelah menjura ujarnya, “Lapor Cong Piauw tauw. hamha telah menyampaikan perkataan tersebut kepada mereka, dan bertanya apakah rencana mereka selanjutnya?”

“Lalu apa jawab mereka?”.

“Kata mereka, dalam berminum teh kemudian segera akan menyerang masuk kedalam kantor kita. seandainya Cong Piauw tauw tidak ingin banyak orang yang terluka serta kehilangan nyawa, maka silahkan Cong piauw tauw munculkan diri menjumpai mereka serta membicarakan pertukaran syarat!….”

“Apakah kau telah menjumpai pemimpin mereka?”

“Hamba telah bertanya, tapi mereka berusaha untuk menghindarkan diri dari pertanyaan ini. Mereka hanya berkata bahwa pemimpinnya telah tiba, kalau Cong Piauw tauw ingin tahu silahkan keluar untuk berjumpa sendiri.”

“Baik, kita segera keluar menjumpai mereka.”

Seorang lelaki berpakaian ringkas segera berjalan menghampiri dan menberikan senjata serta senjata rahasia Kwan Tiong Gak.

Setelah menggembol senjata rahtsia serta goloknya. Kwan Tiong Gak tertawa ujarnya;

“Cwan heng silahkan duduk sebentar di ruang tamu, siauw te akan pergi keluar sebentar untuk melihat macam apakah mereka itu.”

“Tujuan kedatangan aku orang She Swan adalah berharap bisa membantu diri Kwan Cong Piauw tauw. jikalau Kwan heng terlalu memandang ringan diriku. Lebih baik kami mohon diri saja”.

“Maksud baik Swan heng membuat siauw te merasa sangat terharu, namun antara kita tidak saling kenal, membiarkan Cwan heng pun terikat oleh perselisihan ini aungguh membuat siauw te merasa tidak tentram.”

“Haaa.haaa…. haaa….kita berjumpa bagaikan sahabat lama. Kwan heng sudah bersahabat dengan aku orang she Swan sudah cukup membuat cayhe merasa sangat bangga dan gembira.”

“Baik, kalau begitu akupun tak akan bertindak sungkan sungkan lagi dengan diri Cwan heng!”.

Mereka berdua melangkah keluar dari ruangan diikuti Seng Thian Kie dari belakang.

Nyioo Su Jan segera berebut jalan lebih dahulu selangkah didepan, katanya.

“Cayhe akan membawa jalan buat ciu wie sekalian.”

Setelah melewati ruang tengah mereka langsung menuju kehalaman belakang

“Su Jan!” kembali Kwan Tiong Gak berseru sehabis memandang cuaca. “Suruh mereka pasang obor penerangan!”

Nyioo Su Jan mengiakan. Ia segera memberikan perintah kepada anak buahnya.

Tidak selang beberapa saat kemudiaa cahaya api berkedip ditengah kegelapan, seketika suasana disekeliling tempat itu dibikin terang benderang.

Setelah keadaan dibuat terang. Kwan Tiong Gak segera menjura, serunya lantang.

“Cayhe Kwan Tiong Gak mendengar laporan dari bawahanku bahwa ada sahabat malam malam datang berkunjung, aku orang she Kwan tidak berani kehilangan rasa hormat sengaja datang menyambut, jikalau kalian ada maksud bertamu kenapa tidak segera munculkah diri? Aku orang she Kwan menanti kalian disini.”

Sebelum pihak lawan memberi jawaban! Swan Cwan telah merebut bicara.

“Cayhe si Raja Roda Terbang Swan Cwan mempuyai ikatan persahabatan yang erat dengan Kwan Cong Piauw tauw, perduli siapakah pihak kawan yang telah datang, aku orang she Swan telah bulatkan tekad untu mencampuri urusan ini. Hmmn….! Ditinjau dari keberanian kalian mencari gara-gara dengan pihak perusahaan Hauw Wie Piauw Kiok, aku pikir tentu bukan manusia bangsa tempe semua. Kini Kwan Cong Piauw tauw sudah munculkan diri menyambut kedatangan kalian, kenapa sahabat sekalian masih juga bersembunyi macam cucu kura kura?”

Dari tengah kegelapan segera berkumandang datang suara tertawa dingin yang manggidikkan hati.

“Orang she Kwan. kau tak usah kucing menangisi tikus pura pura menunjukkan berperasaan welas, kita adalah malam gelap pa lentera, pukul genta mendengar suara, apa maksud dari kau orang she Swan tidak lebih adalah siasat Suma Can yang diketahui oleh orang jalan sekalipun, berusaha mendapatkan harga menggunakan cara yang berbeda namun Lie Poa yang kau orang she Swan pakau terlalu belebihan,Hmmnn! Kwan Tiong Ga bukan lentera yang kekurangan minyak, kau ingin coba mencari untung dengan mencampuri air keruh ini? Aku ingin lihat perbuatan mu sama saja dengan bermimpi disiang bolong…. “

Swan Cwan segera tertawa terbahak bahak memotong ucapan selanjutnya orang itu, tukasnya, “Sudah cukup sahabat, kau tak usah menggunakan kata kata yang tajam untuk mencari gara gara. Aku orang she Swan sudah pernah melakukan perjalanan dalam Bu lim selama separuh umurku. Kau harus tahu aku paling tidak doyan untuk makan permainanmu Itu, sudahlah …. setelah gelap malam sang surya segera akan menyingsing, waktu mu tidak terlalu banyak lagi. Kiri kanan depan belakang dari kantor perusahaan Hauw Wie Piauw-kiok sudah ditanam puluhan jago lihay, anak panah, senjata rahasia sudah cukup untuk membuat kalian kelabakan dan kerepotan setengah mati, namun Kwan Cong Piauw tauw berjiwa besar menyambut kedatangan kalian, kalau kini kalian tidak sudi unjukan diri. apakah tidak terlalu merusak pamor kalian sendiri.”

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, seorang lelaki berbaju serba hitam secara mendadak munculkan diri dihadapan ke dua orang itu.

Ketika dilihatnya gerakan orang itu amat gesit dan cepat laksana kilat, baik si Raja Roda Terbang maupun Kwan Tiong Gak segera menyadari bahwa musuh mereka adalah seorang jago berkepandaian lihay. Sekalipun begitu mereka tetap berdiri tak bergerak, hanya secara diam-diam hawa murni disalurkan mengelilingi badan siap menghadapi segala kemungkinan.

Orang itu memakai pakaian ringkas berwarna hijau, sepasang tangannya kosong tidak membawa senjata. Hanya saja diatas wajahnya telah memakai sebuah topeng yang berwajah amat mengerikan.

“Kawan” jengek Swan Cwan dingin seraya maju melangkah kedepan. “Tak usah jual lagak lagi disini. lepaskan topeng yang kau kenakan itu “

“Hm! Orang she Swan. Kalau kau benar benar punya kepandaian silahkan segera turun tangan melepaskan sendiri topeng yang kukenakan ini.”

“Itu sih bukan suatu persoalan yang terlalu sulit, aku rasakan menemui kami dengan memakai topeng tentu mempunyai kesulitanmu sendiri bukan?”

“Cwan heng.” sementara itu terdengar Kwan Tiong Gak berseru seraya manjura ke-arah orang itu. “Biarlah siauw te bercakap-cakap dulu beberapa patah kata dengan orang ini.”

“Apa yang hendak kau utarakan kepada ku?” seru orang berbaju hijau itn dengan suara dingin.

“Kalau kudengar nada suaramu, agaknya kita pernah saling berjumpa muka?”

“Aku rasa soal itu tidak terlalu penting.”

“Baik! Kalau begitu silahkan sahabat mengutarakan maksud kedatanganmu.”

“Aku rasa Kwan Cong Piauw-tauw sudah paham sendiri!”

“Tidak salah, aku paham, namun aku tetap berharap bisa mendengar dari mulutmu sendiri.”

“Soal Itu gampang sekali,” kata siorang berbaju hijau dengan suara dingin. “Seandainya Kwan Cong Piauw tauw suka menyerahkan peta mustika pengangon kambing itu kepadaku Kami segera akan membubarkan diri.”

“Ooow! Ternyata dugaanku tidak salah kalau benar benar datang dikarenakan peta pengangon kambing itu.”

“Urusan telah diterangkan jelas, lagipula sudah ada didugaan Kwan Cong piauw-tauw, bagaimana seharusnya? Aku pikir tentu anda sudah mengambil keputussn bukan?”

“Sebelum menjawab aku orang she Kwan ingin menerangkan dulu akan satu persoalan,” ujar Kwan Tiong Gak sambil tertawa, “peta mustika pengangon kambing itu mamang benar ada disaku aku she Kwan bahkan sekarangpun kubawa. Jikalau cuwi sekalian ingin mendapatkannya, silahkan pamerkan dulu sedikit kepandaian silat kalian.”

“Sungguhkah ucapanmu ini?” seru si Orang berbaju hijau sambil tertawa hambar.

“Apakah saudara merasa kurang percaya?”

“Pepatah dalam dunia kangouw mengatakan: Mendengar dengan telinga lebih baik melihat dengan mata! Aku pikir kaupun tahu bukan akan maksudku?”

Dari dalam sakunya Kwan Tiong Gak segera mengambil keluar peta pengangon kambing itu dan diayunkan ketengah udara serunya, “Kawan, kau pernah menjumpai peta pengangon kambing?”

“Belum pernah.”

“Benda yang ada ditangan cayhe inilah yang sedang kau cari.”

Sembari berkata ia masukkan kembali benda itu kedalam saku.

Siorang berbaju hijau itu mengejek sinis tiba tiba serunya.

“Kwan Cong Piauw tanw, sekarang kau harus berhati hati.”

Mendadak ia angkat tangannya, dengan suatu gerakan yang cepat laksana sambaran kilat ia babat batok kepala Kwan Tiong Gak.

Melihat gerakan tubuh sedemikian cepatnya Kwan Tiong Gak sangat terperanjat.

“Sungguh dahsyat serangan ini!” pikirnya dalam hati.

Situasi amat mendadak. Kwan Tiong Gak tidak sempat mencabut keluar goloknya dari belakang punggung, dengan cepat ia segera berkelebat lima langkah kebelakang.

Sepasang kepalan orang berbaju hijau itu secara berani laksana bayangan tubuh saja meluncur kembali mengancam seluruh tubuh Kwan Tiong Gak tidak menanti ia berdiri tegak.

Berturut turut Kwan Tiong Gak terdesak mundur berulang kali, serangan kepalan si orang berbaju hijau itupun mendesak dan mengikuti terus menerus, dalam sekejap mata sudah mengirim delapan buah serangan gencar.

Kedelapan buah jurus serangan ini dilancarkan dalam waktu yang bersamaan walaupun dilancarkan secara terpisah namun kedelapan serangan berantai itu laksana sebuah serangan belaka.

Agaknya si orsng berbaju hijau itu marasa peristiwa ada diluar dugaan melihat Kwan Tiong Gak berhasil menghindarkan diri dari kedelapan buah serangan berantainya, ia merandek sejenak kemudian berseru memuji, “Nama hebat anda ternyata bukan nama kosong belaka.”

Padahal, sekalipun Kwan Tiong Gak berhasil menghindarkan diri dari kedelapan jurus serangan tersebut, saking lelahnya keringat, lelah menancur keluar membasahi seluruh tubuhnya, asalkan si orang berbaju hijau itu melancarkan dua buah serangan gencar lagi maka Kwan Tiong Gak segera akan terluka oleh serangan lawan.

Terdengar Kwan Tiong Gak mendehem ringan lalu berkata, “Kawan, kedelapan buah serangan berantaimu benar-benar hebat, laksana guntur membelah bumi saja.”

“Terlalu memuji, terlalu memuji!”

badannya miring kesamping kemudian menerjang kembali kedepan.

Kali ini Kwan Tiong Gak telah membuat persiapan, ia tidak ingin membiarkan lawannya meneter dia terus menerus.

Tangan kanan segera diangkat meloloskan golok emasnya dari sarung, kemudian diantara ayunan tangan ia menciptakan selapis cahaya golok melindungi seluruh tubuhnya.

Sambaran golok amat dahsyat secara samar samar membawa desiran angin, tajam yang mengidikan.

Tiba tiba si orang berbaju itu menarik kembali gerakan tubuhnya yang menerjang kedepan dan segera berhenti.

Jelas ia telah dibikin terkesiap oleh kehebatan desiran golok lawan, dan kini tidak berani menerjang lagi kedepan secara serampangan.

Si Raja Roda terbang Swan Cwan sendiri sewaktu melibat permainan golok Kwan Tiong Gak sangat dahsyat, Iapun dibikin melengak pikirnya, “Kehebatan permainan golok emas Kwan Tiong Gak benar benar luar biasa, desiran angin serangan tajam dan dingin, jelas ilmu goloknya telah berbasil mencapai puncak kesempurnaan. .”

Siorang berbaju hijau itu tidak berani berlaku gegabah lagi. dari dalam pinggangnya ia segera meloloskan sebuah cambuk panjang berwarna hitam pekat.

Menemui cambuk tersebut Kwan Tiong Gak segera merasakan hatinya tergetar keras, Serunya tanpa terasa, “Aaaach! Tui Hun Sio Fian….”….

“Sedikit pun tidak salah” tukas siorang berbaju hijau, ia segera melepaskan kain kerudung yang menutupi wajahnya sehingga di bawah Sorotan sinar obor dapat ditangkap raut muka bentuk kudanya yang berwarna hijau menyeramkan.

Melihat orang itu si Raja Roda Terbang Swan Cwan segera tertawa terbahak bahak.

“Haa…. haa. ,haaa…. aku kira malaikat dari mana yang datang berkunjung, tidak disangka ternyata kau orang haaa…. haaa sudah dua puluh tahun lamanya kita tidak pernah saling berjumpa!”

“Siauwte pun tidak menyangka Swan heng bisa mencampurkan diri dalam air keruh kali ini. Kita sudah saling kenal selama tiga puluh tuhan lamanya. Bila saat ini Swan heng ingin mengundurkan diri masih sempat.”

“Walaupun perkataanmu tidak ralat, namun antara siauw te dengan Kwan Cong Piauw tauw sudah ada janji lebih dahulu” seru Swan Cwan seraya menggeleng “Ucapan seorang lelaki sejati berani laksana bukit karang. mana boleh bicara mencla mencle?? Seandainya Tong heng suka mengingat diatas persahabatan Kita selama tiga puluh tahun, silahkan kau orang memberi muka kepada siauw te dan segera meninggalkan tempat ini bersama sama anak buahmu”

Si Cambuk sakti Pencabut nyawa kontan tertawa dingin tiada hentinya.

“Kwan Tiong Gak tidak lebih hanya seorang pengawal barang, perduli siapapun asal suka keluar uang ia tentu jual nyawa buat orang itu. nama besar Swan heng dalam dunia kangouw sudah tersohor agaknya kau tidak usah membuang nama besar yang kau dapatkan dengan susah payah itu karena suatu urusan sepele …. “

“Selamanya siauw te bekerja sesuai dengan janji. Aku tidak tahu Kalau orang yang datang adalah Tong heng, namun aku sudah menyanggupi Kwan Cong Piauw tauw lebih dahulu …. maka dari ini walau Tong heng tidak mau kasi muka kepadaku, terpaksa kita maju selangkah sambil merencanakan langkah selanjutnya.”

“Hmmnn! Kwan Tiong Gak sudah membayar berapa banyak kepadamu?” jengek si Cambuk sakti Pencabut nyawa dengan suara dingin.

Kontan Swan Cwan tertegun dibuatnya “Apa maksud dari ucapan Tong heng?”

“Kwan Tiong Gak telah bayar berapa kepadamu? Siauw te rela membayar dirimu dengan harga satu kali lipat lebih banyak. Asalkan Swan heng bekerja kerena uang aku juga seharusnya kau membantu pihak mana yang keluar uang lebih banyak bukan?….”

Sekali lagi Swan heng menggeleng.

“Bukannya siauw te memandang rendah diri Tong heng. harga yang dibayar Kwan Cong Piauw Tauw kepadaku tidak mungkin bisa kau bayar.”

“Mungkin kau terlalu pandang rendah diriku. Hmmm! berapa harga yang kau minta silahkan diutarakan saja.”

“Separuh dari harta karun yang tercantum dalam peta pengangon kambing, menurut penilaianku secara kasaran mungkin bisa mencapai sepuluh laksa tahil emas, bagaimana? kau bisa membayar aku sejumlah itu?”

Mendengar ucapan itu si Cambut Sakti Pencabut Nyawa berdiri tertegun, akhirnya ia berkata, “Kalau begitu kau Swan heng sudah pastikan diri akan mencampuri pertikaian ini?”

“Kalau Tong heng memang berkeinginan demikian, aku pun tak bisa berbuat apa-apa lagi.”

Tiba tiba si Cambuk Sakti Pencabut Nyawa menggerakkan pergelangan tangannya, cambuk hitam yang ada di tangan dengan membawa desiran angin serangan yang tajam menciptakan diri jadi selapis bayangan cambuk yang tebal laksana mega.

Si Raja Roda Terbang pun segera meloloskan golok lemas sepanjang lima enam koen yang ada di pinggangnya.

Diantara getaran golok lemas, bunga-bunga golok berkelebat memenuhi angkasa.

ia telah mengerahkan hawa Iweekangnya ke dalam senjata tersebut membuat sebilah golok lemas seketiak keras laksana toya.

Sambil melangkah satu tindak ke depan menghadang di hadapan Kwan Tiong Gak ujarnya dingin.

“Tong heng, apa yang ingin kau ketahui sekarang sudah kau ketahui, mau maju atau mundur seharusnya kau cepat ambil keputusan “

“Jadi knlau begitu, Cwan heg silahkan ambil keputusan untuk mencampurkan diri dalam pertikaian ini?”

“Peta pengangon kambing boleh dikata separuh sebagian sudah menjadi milik siauw-te, manusia mati demi harta, burung mati demi makanan, jikalau Tong heng tidak suka kasi muka kepadaku dan melepaskan satu jalan bagiku, terpaksa kita harus tentukan kelihayan kita didalam pertarungan ilmu silat.”

“Oooouw….jadi Cwan heng bukan saja akan mencampuri urusan ini bahkan hendak turun tangan dalam pertarungan pertama?”

“Inilah yang dinamakan burung bodoh terbang lebih dahulu, yang membawa bendera jalan didepan, asalkan cambuk pencabut nyawa dari Tong heng bisa menangkan golok lemas ditanganku ini, maka Cong Piauw-tauw pun pasti akan turun tangan mengganti kedudukanku.”

“Cwan heng!” seru si cambuk sakti pencabut nyawa kembali setelah mendehem ringan. “Tahukah kau siapa yang bertindak sebagai pemimpin didalam perebutan peta pengangon kanbing malam ini?”

“Hm…. haaaa…. haaaa….” si Cambuk Sakti Pencabut Nyawa Tong Si Yen “siapapun kenal, orang orang Bu lim mana yang tidak mengerti”

“Kau salah,” tukas Tong Si Yen dengan suara perlahan. “Sampai dimanakah kemampuan siauw te, dalam hati sekali aku paham walaupun aku tak akan jeri terhadap Kwan Tiong Gak namun untuk merebut peta pengangon kambing tersebut dari tangannya mungkin bukan suatu pekerjaan yang gampang.”

“Jadi kalau begitu masih ada orang yang menjadi atasanmu? Lalu siapakah orang itu sehingga kau Tong Si Yen pun tunduk kepadanya dan suka menjalankan perintah yang ia berikan?”

“Perkataanmu tidak salah, jago jago lihay dalam Bu lim tidak banyak yang bisa memaksa siauw te turun perintah dan melaksanakan perintahnya, tanpa membantah siauw te pun percaya dengan kemampuan orang itu bukan saja siauw te tunduk kepadanya. Bahkan pun kau si Raja Roda Terbang pun aku rasa akan tunduk seratus delapan puluh derajat.!”

“Hm Siauw te percaya masih punya beberapa kerat tulang keras “.

Sebelum menyelesaikan kata katanya, dari tempat kegelapan tiba-tiba berkumandang datang suara tertawa dingin yang sangat menyeramkan disusul suara teguran keras-

“Sungguh besar nyalimu, ingin kuhitung sebenarnya dihadapanmu benar-benar punya berapa kerat tulang yang sangat keras.”

Suara itu seolah olah muncul dari tempat yang sangat jauh, tetapi ketika ia menyelesaikan kata kata tersebut, tubuhnya sudah berada kurang lebih lima depa dari sana.

Dibawah sorotan cabaya obor. tampaklah seorang nenek tua berbaju kuning berambut putih munculkan diri dari kegelapan. di-tangannya membaawa sebuah tongkat berkepala naga yang besar dan berat.

Dia bukan lain adalah Liong Popo berjalan terkenal diseluruh kolong langit.

Disisi kiri dan kanan Liong Popo berjalan dua orang perempuan setengah baya yang kira kira telah berusia tiga puluh tiga, empat tahunan, mereka memakai baju warna hijau, rambut dikepang dua dan mencekal sebilah pedang tajam.

Merekalah yang tersohor sebagai dua dayang kiri dan kanan, sejak umur dua tiga belas tahun kedua orang wanita ini telah ikut Long Popo berkelana dalam dunia persilatan dibawah serangan sepasang pedang mereka entah sudah berapa banyak jago Bu Lim yang menemui ajalnya.

Selama ini kedua orang tersebut selalu mengikuti Liong Popo dan tidak pernah kawin. sekalipun usianya telah mencapai setengah baya tetapi mereka tetap berstatus perawan, Rambutnya panjang dan dikepang jadi dua.

Liong popo ini tersohor akan kekejiannya di dalam dunia kangouw, setiap kali bertindak atau bekerja selain mengikuti napsu serta pikiran sendiri, jadi kalau dibicarakan ia termasuk manusia setengah sesat dan setengah lurus.

Lima belas tahun berselang, pada saat-saat nama besar Liong Popo tersohor dimana mana mendadak ia melenyapkan diri dari keramaian Bu lim selama lima belas tahun. orang Bu lim tak pernah mendengar kahar beritanya lagi, tidak disangka malam ini nenek tua tersebut bisa munculkan diri dikota Kay Hong, Kwan Tiong Gak serta si Raja roda terbang Swan Cwan mimpinpun tidak menyangka orang itu adalah Liong Popo, tanpa terasa lagi kedua orang itu sama sama dibikin tertegun,

Liong Popo perlahan lahan mengetukkan tongkat berkepala naganya keatas tanah, lalu sambil memandang si Raja Roda Terbang Swan Cwan serunya.

“Kau kemari! “

Suara ini tidak begitu keras, tetapi mempunyai daya pengaruh yang sangat besar. Tanpa terasa Swan Cwan telah maju dua langkah kedepan. seraya menjura tanyanya penuh rasa hormat, “Liong Popo ada urusan apa?”

Inilah yang dinamakan Manusia punya nama. Pohon punya bayangan. Walaupun si Raja Roda Terbang Swan Cwan adalah seorang jago yang sombong dan tinggi hati, namun dibawah pengaruh Liong Popo tanpa ia rasa ia sudah menunduk kalah.

“Kau yang bernama si Raja Roda terbang Swan Cwan?” Seru Liong Popo sambil tertawa dingin.

“Benar cayhe adanya!”

“Orang yang bekerja untukku apakah tulangnya tidak keras semua?”

“Cayhe tidak tahu kalau Tong seng bekerja untuk popo!”

Liong popo tersenyum ujarnya. “Selama banyak tahun bersedia, keberangkatanku sudah banyak berkurang, sekarang coba kau katakan, setelah mengetahui pekerjaan ini adalah urusanku, apa yang hendak kau lakukan?”

Dibawah desakan Liong Popo. Swan Cwan merasa serba susah untuk menjawab pertanyaan itu, namun teringat akan kekejian serta keganasan Liong Popo terpaksa sahutnya

“Kalau cayhe tahu bahwa dia bekerja untuk Popo, tentu aku tak akan berani buka suara mengejek “

“Sekarang kau sudah tahu, apa yang hendak kau kerjakan mulai detik ini?….” seru Liong Popo kembali dengsn wajah serius.

“Potong kepala tidak lebih membuat batok kepala terpisah dari badan….” pikir Swan Cwan didalam hati. “Kau begitu mendesak diriku, bukankah tindakan ini sangat keterlaluan….”

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa lagi semangat jantannya berkobar kembali, diam-diam ia melakukan persiapan dan balik tanya nya.

“Popo siap hendak menghukum cayhe dengan cara Bagaimana?”

“Selamanya aku paling tidak suka mendesak orang kepojokan aku akan memberi peluang bagimu untuk memilih sendiri.”

“Cayhe pentang telinga mendengarnya baik-baik!”

“Lepaskan golok lemasmu dan berlalu bersama sama anak buahmu.”

“Masih ada jalan lain?” seru Swan Cwan setelah melengak sejenak.

“Bantu aku menyelesaikan persoalan ini dan hadapi orang orang Hauw Wie Piauw Kiok!”

“Masih ada jalan ketiga?”

“Ada! terima sepuluh jurus serangan toya berkepala nagaku atau sepuluh jurus seorangan gabungan dari sepasang budak kanan kiriku!”

Mendengar keputusan itu. Swan Cwan mulai menimbang didalam hatinya.

“Untuk menerima sepuluh jurus serangan toya kepala naganya bukan suatu pekerjaan gampang, sebaliknya untok menerima sepuluh jurus serangan gabungan sepasang dayang kiri kanannya, aku mungkin masih sanggup.”

Satelah ambil keputusan ia lantas berkata.

“Kalau cayhe berhasil menerima kesepuluh jurus serangan gabungan dari sepasang dayang kiri kanan, popo bermaksud hendak apakah diriku lagi?”

“Aku segera tinggalkan tempat ini.” jawab Liong Popo dengan wajah dingin. Memandang diatas wajahmu selama tiga tahun tak akan mencari gara gara lagi dengen perusahaan Hauw Wie Piauw kiok.”

“Baik! caphe ingin menjajal taruhan Ini.”

Melihat si Raja Roda Terbang sudah ambil keputusan, Liong Popo lantas berpaling sekejap kearah dua orang perempuan setengah baya yang ada disisi kiri kanannya.

“Kalian keluar layani orang itu! Hmm! dia tidak tahu tebalnya tanah dan tingginya langit, seturusnya kalian kasi sedikit pelajaran kepadanya, bila perlu cabut sekalian jiwanya.”

Suasana berubah makin tegang, diam-diam Swan Cwan tarik napas panjang panjang, golok lemasnya segera dilintangkan didepan dada siap menghadap segala sesuatu.

Kedua orang perempuan setengah baya itupun perlahan-lahan maju kedepan, pedangnya segera diloloskan dari dalam sarung dan secara terpisah dari kiri dan kanan mendesak Swan Cwan.

Langkah kaki kedua orang perempuan itu sangat lambat dan selama ini tak pernah mengucapkan sepatah katapun. Namun dari keseriusan wajahnya secara lapat lapat memancarkan hawa napsu membunuh yang berkobar.

“Tahan!” tiba tiba Kwan Tiong Gak berebut maju dua langkah kedepan.

Kedua orang perempuan yang sedang mendesak maju kedepan segera menghentikan gerakannya dan sama sama menengok kearah orang she Kwan itu.

“Cwan heng!” ujar Kwan Tiong Gak sambil mencabut keluar golok emasnya. “Persoalan ini merupakan urusan pribadi perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kami, tidak mungkin bagi kami untuk membiarkan Cwan heng bertarung dalam pertempuran pertama, silahkan Cwan heng mengundurkan diri. biar siauwte menerima dulu pertarungan ini.”

Wajah kedua orang perempuan itu amat kering. mereka memandang sekejap kearah Kwan Tiong Gak namun tidak mengucapkan sepatah katapun.

Perlahan lahan Kwan Tiong Gak maju ketengah kalangan, kemudian sambil melintangkan goloknya dldepan dada ia berkata, “Cayhe-Kwan Tiong Gak merupakan Cong Piauw tauw dari perusahaan Hauw Wie Piauw kiok. Ingin sekali aku menerima petunjuk tinggi dari nona berdua”

“Kwan Tiong Gak. apakah kau percaya dirimu jauh lebih hebat dari ilmu silat Hwee Loen Ong?” seru Liong Popo sambil tertawa dingin.

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Sepasang pedang kiri dan kanan sudah pernah menggemparkan dunia persilatan pada dua puluh tahun berselang, puluhan tahun berlatih tekun aku rasa kepandaian kalian kini sudah mencapai puncak kesempurnaan, mana mungkin cayhe merupakan tandingan mereka.”

“Hmmnn kiranya kau masih mengetahui kekuatan sendiri!”

“Popo!” ujar Kwan Tiong Gak kembali sambil lintangkan goloknya kembali didepan dada. “Sungguh banyak tahun kau mengundurkan diri dari keramaian Bu lim, aku rasa kemunculanmu malam ini di kota Kay Hong tentu membawa maksud tertentu, apakah kau tidak akan selesai sebelum memperoleh benda yang ingin kau dapatkan itu?”

“Hm …. .! Sudah ada puluhan tahun lamanya aku tidak pernah berkelana didalam dunia kangouw. ambisiku sudah banyak meluntur. asalkan kau suka menyerahkan peta pengangon kambing itu kepadaku, akupun tidak ingin banyak melakukan pembunuhan disini.”

“Perintah dari Popo sudah seharusnya cayhe penuhi.” kata Kwan Tiong Gak setelah termenung sejenak. “Tetapi ….”

“Tetapi kenapa….!” teriak Liong Popo gusar.

“Popo setelah mendapat tahu peta pengangon kambing itu ada di tanganku, tentu tahu bukan bahwa peta ini bukan milikku.”

“Hm! Perduli siapakah pemilik peta pengangon kambing ini, pokoknya sekarang ada dldalam sakumu, lebih baik cepat kau serahkan keluar dari pada banyak korban yang harus berjatuhan.”

“Waktu yang diberikan terlalu cepat, untuk beberapa saat aku orang she Kwan sudah mengambil keputusan, entah apakah Popo bisa memberi waktu beberapa hari kepada cayhe nntuk berpikir?”

“Tidak bisa. setiap kata yang telah ku ucapkan tidak pernah ditarik kembali dan selamanya aku tidak pernah memberi keringanan kepada siapa pun.”

“Seandainya beruntung cayhe dapat meloloskan diri dari serangan gabungan sepasang budak kiri kanan, dapatkah Popo lepaskan diri cayhe?”

“Tidak dapat, seandainya kau bisa lolos dari serangan gabungan sepasang dayang kiri kananku, kaupun harus mencoba dulu bagaimana kehebatan permainan tongkat kepala naga aku sinenek tua. kalau tidak cepat cepatlah serahkan peta pengangon kambing itu kepadaku, tetapi seandainya karena kau serahkan peta mustika itu kepadaku mengakibatkan dirimu memperoleh penindasan. Aku mengabulkan untuk memberi bantuan kepadamu.”

Sewaktu si Raja Roda Terbang Swan Cwan datang pertama kali tadi, semangatnya berkobar kobar, tetapi sejak munculnya Liong Popo disitu ia membungkam dalam seribu bahasa.

“Popo!” Terdengar Kwan Cong Gak mendehem ringan. “Jikalau kau tidak ingin melepaskan aku orang she Kwan, terpaksa cayhe harus menempuh jalan mengadu jiwa.”

“Kurang ajar, kalian mau memberontak!” maki Liong Popo sambil mengetukan tongkatnya keras keras keatas tanah. “Seorang Cong Piauw tauw kecil berani benar bersikap karang ajar kepadaku. Eeeei. …. kenapa kalian belum juga turun tangan? Apa yang kalian tunggu lagi?”

Sepasang dayang kiri dan kanan segera mengiakan dan turun tangan melancarkan serangan, dua rentetan cahaya putih laksana kilat menusuk tubuh Kwan Tiong Gak, Cong Piauw tauw dari perusahaan Hauw Wie Piauw kiok inipun segera menggerakkan golok emasnya menyongsong serangan tersebut dengan gerakan “Hong Hoo Kee Say” yaitu Menyegel Menteri menggantung Jendral. cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa menangkis datangnya kedua bilah serangan pedang itu, sedang sang badan mundur dua langkah kebelakang.

Sepasang dayang kiri dan kanan sewaktu itu melihat serangannya tidak mengenai sasaran serangan kedua segera menyusul datang.

Sepasang pedang meluncur kedepan menciptakan bunga bunga pedang yang amat banyak mengurung seluruh tubuh Kwan Tiong Gak dalam lautan cahaya pedang mereka.

Selama terjun kedalam dunia persilatan Kwan Tiong Gak entah sudah betapa banyak kali bertemu musuh tangguh, namun belum pernah ia jumpai ilmu pedang yang demikian cepatnya seperti permainan pedang kedua orang dayang ini.

Walaupun Kwan Tiong Gak telah memutar golok emasnya sedemikian rupa sehingga menciptakan selapis cahaya tajam yang melindungi seluruh tubuhnya, namun dibawah tekanan serta desakan sepasang pedang kedua orang perempuan tersebut. permainan goloknya mulai keteter dan kedesak habis habisan.

Tiba tiba pedang panjang dari budak kiri mengeluarkan sebuah jurus aneh. ujung pedang bergeletar menciptakan titik titik cahaya perak menerobos masuk kedalam pertahanan.

Sewaktu Kwan Tiong Gak bermaksud menangkis dengan goloknya. Tahu tahu senjatanya sudah kena terkunci oleh permainan pedang budak kanan.

Dalam keadaan terburu buru. Ia segera tarik napas panjang panjang dan mundur dua langkah kebelakang.

Walaupun reaksinya sangat cepat. Namun tetap terlambat selangkah, Pedangnya menyambar tangan kiri membuat baju terobek dan darah segar mengucur keluar dengan derasnya.

Kwan Tiong Gak terperanjat, golok emasnya segera diputar kedepan, sedang sang badan mengikuti gerakan tersabet menyingkir lima depa kesamping. Tetapi pedang panjang budak kanan tidak mau melepaskan dirinya begitu saja. bagaikan bayangan badan menguntit terus menggurat punggung Kwan Tiong Gak.

Baru saja orang she Kwan itu melayang turun keatas tanah, serangan pedang lawan telah meluncur mendekat.

Dalam keadaan terburu buru ia membungkuk kedepan. golok emasnya dengan gerakan ‘Wan Teh Huan In’ atau dibawah pergelangan menggulung awan menusuk keatas.

Menyingkir balas menyerang dilancarkan dalam waktu yang hampir berbareng.

Namun pedang panjang budak kanan laksana kilat cepatnya telah menyambar di-atas pinggangnya.

Ujung pedang meninggalkan hawa dingin yang menggidikkan, merobek pakaian Kwan Tiong Gak dan melukai kulit punggungnya, darah segar kembali mengucur keluar membasahi seluruh badan.

Sudah dua puluh tahun lamanya Kwan Tiong Gak berkelana didalam dunia persilatan dan pernah menjumpai beratus ratus kali pertarungan sengit, namun belum pernah ia jumpai keadaan seperti ini hari, serangan gabungan dari kedua orang dayang kiri kanan telah membuat badannya menderita luka luka kulit.

Si Raja Roda Terbang Swan Cwan ketika dilihatnya Kwan Tiong Gak dua kali menderita luka dibawah serangan gabungan sepasang budak kiri kanan, dalam hati merasa terkesiap bercampur gusar, pikirnya, “Jikalau tidak beruntung Kwan Tiong Gak terluka ditangan sepasang budak ini, mereka pasti tak akan melepaskan diriku.”

Karena berpikir demikian iapun segera menggetarkan golok lemasnya seraya berkata dingin, “Sepasang budak kiri kanan selamanya bertarung dua lawan satu. Hm Seandainya satu lawan satu belum tentu bisa menaklukan kami dengan gampang.”

Seraya berseru ia segera menerjang ke-depan.

Sementara itu dengan jurus “Kie Hong Teng Ciauw” atau burung hong terbang ular membumbung Kwan Tiong Gak memutar goloknya sedemikian rupa menciptakan selapis cahaya golok yang tajam menangkis datangnya serangan pedang dari sepasang budak kiri kanan.

Jurus serangan ini datangnya sangat ganas, desakan sepasang dayang kiri kananpun seketika tertahan oleh cahaya golok tersebut.

Setelah berhasil menahan serangan gabungan dari sepasang dayang itu, Kwan Tiong Gak kembali membentak keras, “Hati hati….”.

Mendadak golok emas diputar keras lalu dibabat kearah depan.

Gerakan ini sepintas lalu kelihatan tak memakai aturan, padahal justru dibalik kekacauan tersebut tersembunyi suatu daya serangan yang sangat dahsyat.

Melihat datangnya bacokan golok tersebut sangat kaku, sepasang dayang kiri kanan sama sekali tidak dipikirkannya didalam hati.

Baru saja mereka siap melancarkan serangan, mendadak terasalah beribu ribu kuntum cahaya golok bagaikan selapis awan mengurung daerah seluas beberapa depa disekeliling tempat itu.

Sepasang dayang kiri kanan sama sama terkesiap sambil melindungi badan mereka segera mengundurkan diri kebelakang.

Kemudian dengan jurus. “Tok Liong Jut Hiat” atau Naga Beracun Keluar Gua pedang mereka secara berpisah menerjang kedepan.

Kedua orang itu maju dan menyerang dengan jurus yang sama, hanya satu dari kiri yang lain dari kanan.

Hawa pedang laksana gulungan ombak ditengah samudra menciptakan segulung tekanan hawa yang amat dahsyat mengguling keluar.

Kwan Tiong Gak membentak keras goloknya kembali membabat kearah depan.

Gerakannya kali ini kembali kelihatan kaku dan ketolol tololan, namun di balik kekuatan tadi tersembunyilah sesuatu kekuatan dahsyat,

Ketika sepasang dayang kiri kanan merasa tubuh serta permainan pedang mereka terkurang dibawah putaran golok lawan buru-buru berubah jurus dari menyerang jadi melarikan diri. sambil putar pedang melindungi badan mereka meloncat kebelakang.

Dua buah jurus golok yang kelihatan sederhana dan kaku ini benar-benAr hebat bagaikan terjangan air yang jatuh dari air terjun, mendatangkan suatu perasaan bergidik bagi orang yang melihat.

bukan saja kedua orang dayang kiri kanan merasakan tekanan berat itu. Sekalipun Liong Popo serta Hwie Loen Ong yang ada diatas kalanganpun dapat merasakan kelihayan ini.

Sementara itu se pasang dayang kiri kanan telah kena didesak mundur sejauh satu tombak lebih oleh kehebatan permainan golok itu, mereka berdua tertegun disana sambil saling bertukar pandangan.

Serangan gabungan mereka berdua entah sudah pernah menghadapi berapa banyak jago lihay, namun belum pernah kedua orang perempuan itu menemui permainan golok sehebat permainan golok Kwan Tiong Gak ini.

Lama sekali kedua orang dayang itu berdiri tertegun akhirnya mereka persatukan pedang mereka dan maju kembali kedepan.

“Tahan!” mendadak Liong Popo membentak keras seraya mengetukkan tongkatnya ke atas tanah.

Tubuh sepasang dayang kiri kanan yang sedang menerjang kedepan segera berhenti kemudian bersama sama meloncat kesisi Liong Popo.

“Kwan Tiong Gak.” seru Liong Popo sambil tertawa dingin. “Nama besarmu ternyata bukan nama kosong belaka, permainan golokmu barusan betul betul luar biasa!”

“Locianpwee terlalu memuji.” sahut Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Hmmm! permainan golokmu barusan mungkin bisa mengelabui orang lain, tapi tak akan berhasil mengelabui diriku.”

“Apakah Locianpwe menemukan suatu titik kelemahan?” seru orang she Kwan tertegun.

“Permainan golokmu barusan membuktikan kalau kau tidak begitu hapal dengan ilmu golok tersebut, jikalau aku yang turun tangan rasanya tidak mudah bagimu untuk memperoleh kesempatan mengeluarkan permainan terhebat….”

“Perusahaan Hauw Wie Piauw kiok tiada ikatan dendam maupun sakit hati dengan Liong Popo, cayhe pun tiada niat untuk melukai orang, sebelum jiwaku benar benar terancam aku tidak ingin mengeluarkan ilmu tersebut.”

“Apa nama dari kedua jurus ilmu golokmu barusan?”

“Suatu ilmu golok yang telah hilang dari peredaran, pengetahuan loocianpwe sangat luas, tentunya sudah mengetahui sejak tadi bukan?”

“Hmmm….! sekalipun aku tidak kenal kedua jurus ilmu golok itu, belum tentu kau bisa melukai diriku.”

perlahan lahan ia angkat tongkat kepala naganya dan selangkah demi selangkah mendekati Kwan Tiong Gak.

Agaknya Kwan Tiong Gak menyadari apa bila ilmu silat Liong Popo sangat luar biasa, melihat ia gerakkan toya berjalan mendekat ia segera tarik napas panjang panjang.

Goloknya lambat lambat disilangkan di depan dada berdiri dalam suatu posisi tertentu menanti serangan lawan.

Tampak tubuh Liong Popo makin lama berjalan makin mendekat, wajah yang semula menunjukan keangkuhan mendadak berubah penuh rasa terkejut, tubuh yang sedang maju kedepan seketika berhenti.

Kiranya dengan ilmu silat yang dimiliki Liong Popo, mendadak ia merasakan gaya pertahanan yang diperlihatkan Kwan Tiong Gak mempunyai suatu pertahanan alam yang sangat kuat, perduli diserang dari arah mana pun susah untuk mencapai tujuan.

Sementara itu setelah Kwan Tiong Gak memperlihatkan posisi pertahanannya, perlahan lahan air muka pun berubah jadi sangat serius.

Hawa pembunuhan secara lapat lapat memancarkan keluar dari goloknya.

Lama sekali mereka berdiri saling berhadap hadapan, perlahan lahan Liong popo mulai mengundurkan diri sejauh satu tombak dan berseru keras, “Mari kita pergi”.

Sekali loncat ia segera berlalu terlebih dulu dari sana.

Kiranya sewaktu kedua orang itu berdiri saling berhadap hadapan tadi, dengan teliti Liong popo telah memperhatikan posisi dari Kwan Tiong Gak. ia merasa gaya tersebut sangat aneh, perduli diserang dari sudut manapun susah untnk menembusi penahanan tersebut.

Liong popo adalah seorang jago kawakan melihat Kwan Tiong Gak memperlihatkan suatu pertahanan aneh, teringat pula dua jurus serangan yang polos namun lihay, hatinya jadi sedikit bergerak, tanpa banyak bicara lagi ia kontan tarik kembali semua pasukannya.

Dengan berlalunya Liong popo maka sepasang dayang kiri kanan serta si cambuk sakti pencabut nyawapun segera berlalu dari situ.

Dalam sekejap mata tak tertinggal seorang pun di halaman tersebut….

Agaknya Hwie Loen Ong merasa kejadian ada diluar dugaan, sembari memandang arah lenyapnya Liong popo ia bergumam seorang diri, “Sungguh aneh sekali! sungguh aneh kenapa secara tiba-tiba Liong popo mengundarkan diri?”

Sebaliknya Kwan Tiong Gak sama selali tidak manunjukan perasaan diluar dugaan, ternyata tetap mendukung gerakan orang orang gagah dalam memperjuangkan nasibnya, Walaupun dengan jalan mengorbankan diri dan Nasibnya, wanita itu telah melakukannya dengan penuh rasa sadar, guna menolong sesama bangsa, Itulah yang membuat sekalian kesatria jadi terperanjat dan kagum. Termasuk diantaranya adalah Bwe Han Ku Tojin dan puteri Hoasan itu. Mereka sungguh tak menduga bahwa Hong houw itu begitu mulia hatinya.

Sedang Pek sian Tie hendak berlalu dari hutan tempat pemakaman Hong houw.tiba-tiba Tan Thian Kui telah mendekati sambil berlari lari dengan selembar surat berada di tangannya.

“Suheng! Ada Eng hiong tiap (kartu undangan kesatria). Bacalah dari siapa dia?” , Surat itu berbunyi sebagai berikut:

“Dengan kehendak langit dan bumi. pada tanggal purnama cap jie gwee, kami hendak mengadakan sebuah perayaan, pembukaan Go bie pay yang jaya

Mahon kedatangan para tokoh kang ouw maupun golongan Bu-lim untuk merestui dan memberkati hari perayaan kami itu.

tertanda Tan Thian Ong”

“Apa? Dari mana sute dapatkan surat undangan ini?” tanya Pek Sian Tie cepat.

“Seekor burung, dan burungku sien sien-ya dulu, yang memberikan ini kepadaku, tepat pada waktu ramai ramainya pedang tadi. Tan Thian Hong adalah adikku, dia hendak menjadi ciangbujin? Masya Allah. Bahagiaku tiada terkira, suheng. Mari kita pergi sekarang?! Bukankah Pek Siao Yu tentunya itu, adalah adikmu? “

Pek Sian Tie melongo, demikian pula, sekalian yang mendengar, juga ikut tertegun.

Tapi sebaliknya mereka juga tahu, bahwa pendirian partai persilatan Go bie pay itu pastilah atas dorongan kakek sakti Boe Hian Siansu dan Thian hwa Hong hong. sebab itu sebelum ini, mereka mendengar bahwa tadi locianpwe itu bermaksud mendirikan partai itu. Oleh karena itu. hampir semuanya serempak berkata, bahwa mereka pasti akan memenuhi undangan itu.

TAMAT