ambang naga panji naga sakti 10
Lie Giok Liong sekalian sama sama
mengiakan dan segera kembali kekamar masing-masing untuk membendung
usaha Ke Giok Lang ini dan sekalian untuk beristirahat.
Sementara itu kita balik pada Kwan
Tiong Gak yang membedal kudanya melanjutkan perjalanan, dalam
sekejap mata ia sudah melewati sepuluh lie lebih.
Waktu itu sang surya baru saja
muncul sinar matahari yang barwarna keemas emasan menyoroti
permukaan salju nan putih menimbulkan cahaya pantulan yang
menyilaukan mata.
Dibawah sorotan sang surya,
tampaklah ditengah jalan raya berdiri menanti seorang hweesio
berjubah abu abu.
Sejak semula Kwan Tiong Gak sudah
mengerti apabila dirinya tak bakal bisa meninggalkan kota Kay Hong
dalam keadaan aman tetapi tak disangka olehnya kalau orang pertama
yang dijumpainya bukan lain adalah sang paderi yaug ditemuinya
kemarin malam dalam hutan pohon Liuw, ia agak tertegun dan segera
menghentikan kudanya sembari pura pura tidak kenal.
“Thaysu, kenapa kau menghadang
perjalananku?” tegurnya.
Hweesio itu mendongak dan
memandang sekejap kearah Kwan Tiong Gak, kemudian sindirnya
“Kwan Cong Piauw taew, ternyata
kau adalah seorang pelupa.”
Kwan Tiong Gak tertawa hambar.
“Thaysu kau adalah seorang manusia tak bernama juga tak ada gelar,
hal ini membuat aku sulit untuk mengingat ingatnya.”
Air muka sang paderi tersebut
tetap hambar sedikitpun tidak berubah, ujarnya kembali, “Pinceng
paling tidak suka menutupi segala yang kuingin katakan, kau Kwan
Cong piauw tauw sebagai seorang yang berkedudukan tinggi rasanya tak
akan berbohong, pinceng ingin menanyakan satu hal kepadamu.”
“Silahkaa thaysu ajukan
pertanyaan….”
“Sekarang peta pengangon kambing
itu berada di mana?”
“Berada dalam saku orang she
Kwan.”
“Bagus sekali entah dapatkah Kwan
Cong Piauw Tauw meninggalkan benda tersebut disini.”
“Untuk ditinggalkan disini bukan
suatu hal yang sulit, tapi aku harus libat dahulu apakah Thay suhu
punya kenampuan atau tidak.”
Sapasang mata paderi berjubah abu
abu Itu berkilat memancarkan cahaya tajam seru nya.
“Pinceng, sudah melihat bagaimana
hebat nya permainan senjata rahasia serta ilmu golok Kwan Cong
Piauw,”
“Kalan begitu thaysu tentu sudah
mempunyai perhitungan untuk menghadapi aku orang she Kwan,” sambung
Kwan Tiong Gak hambar, ia segera meloncat turun dari kuda nya.
Mendengar perkataan itn sipaderi
berjubah abu abu itu tertawa dingin.
“Kalau Kwan sicu rela menyerahkan
peta rahasia pengangon kambing itu secara suka rela kita boleh
hindari suatu pertarungan sengit”
“Haaa. ….Haas…. ….Haha, Thay suhu,
sungguh enak sekali perkataanmu.”
“Rejeki atau bencana tak bisa
datang sendiri, tapi dicari oieh manusia kalau Kwan sicu tidak
percaya dengan perkataan pinceng silahkan cabut keluar senjata
tajammu.”
Kembali Kwan Tiong Gak tersenyum.
“Thaysu adalah seorang paderi yang melepaskan diri dari segala
keduniawian, tetapi-cayhe lihat thaysu bukan seorang paderi saleh,
kau terlalu serakah serta menginginkan barang milik orang lain,
watakmu jelek ini bahkan melebihi manusia biasa.”
Ia mendehem perlahan, lalu
terusnya.
“Tetapi cayhe tetap terhadap
bilamana Thaysu bisa mengerti diri dan menarik maksudnya semula
sehingga diantara kita tak usah melangsungkan suatu pertarungan.
semisalnya thaysu benar benar sudah bulatkan tekad ingin bergebrak
melawan aku orang she Kwan, harap kau suka sebutkan dulu gelar serta
asal usulmu.”
“Omitohud setelah kau berhasil
menangkan diriku, belum terlambat apabila pinceng menyebutkan
gelarku.”
Tapi dengan cepat Kwan Tiong Gak
telah menggeleng.
“Thaysu seorang diri menghadang
perjalananku, dalam hati tentu sudah punya suatu keyakinan, setelah
bergebrak maka pertarungan ini pasti akan berlangsung dengan amat
serunya. Senjata tak bermata tak urung salah satu pihak akan
terluka. Cayhe mempunyai beberapa orang sahabat karib yang berasal
dari kuil siauw lim sie semua, apabila thaysu ada lah orang
asal-usul Siauw tim sie….”
“Kalau benar mau apa?” tuk&s
hweesio itu tiba tiba.
“Kalau thaysu adalah seorang
hweesio berasal dari kuil siauw lim sie cayhe tidak ingin bergebrak
melawan dirimu,”
“Jikalau pinceng tidak memberi
jalan bagimu untuk lewat?”
“Aku orang she Kwan percaya masih
mampu untuk meloloskan diri dari sini.”
“Bagaimana kalau pinceng bukan
keluaran dari kuil Siau lim sie?”
“Hal ini akan kulihat dulu
bagaimana kepandaian silat yang kau miliki”
Si hweesio perjubah abu abu itu
kontan tertawa dingin.
“Kwan Tiong Gak kau sudah bicara
banyak sekali tak gunanya, perduli apa yang kau katakan aku tak akan
menyebutkan gelar serta asal usulku….”
“Setelah thaysu berkeyakinan bisa
mengalahkan aku orang she Kwan, kau baru berani datang kemari,
bukankah begitu?” jengek orang she Kwan itu.
“Aku sudah melihat permainan ilmu
golok dari Kwan sicu, hanya saja pinceng tetap merasa bahwa nama
seseorang hanya merupaksn suatu petanda belaka. Kau she Kwan dan
bernama Tiong Gak, kendati begitu kau pun tak boleh melarang orang
lain ikut she Kwan pula dengan nama Tiong Gak. Dikolong langit ada
sepuluh, delapan orang Kwan Tiong Gak hal itu tidak termasuk sesuatu
hal yang aneh tetapi jelas mereka bukan Kwan Cong Piauw tauw dari
perusahaan Hiaw Wie Piauw kiok, bukankah begitu?”
Ucapan yang berliku liku ini
membantu Kwan Cong Gak yang banyak pengalaman jadi tertegun.
“Taysu kau sudah bicara setengah
harian tetapi cayhe masih belum memahami apa yang sebenarnya kau
maksudkan.”
“Maksudku gampang sekali, pinceng
berpendapat lebih baik kau tak usah mencari tahu asal usulku dan
tidak perlu mengurus siapakah namaku, kau hendak melindungi peta
rahasia pengangon kambing itu jangan sampai terjatuh ketangan orang
lain bukan mengandalkan nama kosong gelarmu sebagai Golok sakti
Genta emas yang menggetarkan delapan penjuru, melainkan mengandalkan
kepandaianmu yang sebenarnya untuk mengalahkan pinceng, kalau kalah
pinceng segera akan putar badan berlalu, sedang kalau kau yang kalah
maka serahkan peta pengangon kambing itu kepadaku. Diantara kita
tiada ikatan dendam, kedatanganku hanya untuk peta rahasia tersebut
lagi pula hweesio di kolong langit sangat banyak dan mereka belum
tentu adalah diriku.”
Mendengar perkataan yang tidak
karuan ini Kwan Tiong Gak tertawa terbahak bahak “Ucapan thaysu
benar benar mengandung maksud yang sangat mendalam, dan aku liht kau
sangat berbeda dengan orang lain, jadi kau ingin merebut peta
pengangon kambing dari tangan aku orang she Kwan, tapi kau tidak
ingin menyebutkan nama serta asal usulmu bukankah begitu?”
“sedikitpun tidak salah.”
“Bagus! kalau memang thaysu
bermaksud demikian, kitapun boleh segera mulai bergebrak, silahkan
kau cabut keluar senjata mu!”
Kiranya hweesio tersebut selama
ini selalu bertangan kosong.
Walaupun Kwan Tiong Gak telah
memperhatikannya dengan seksama tetapi tak berhasil ia ketahui
dimanakah senjatanya disimpan.
Si hweesio itu segera ayunkan
sepasang telapak tangannya.
“Kwan sicu silahkan cabut keluar
senjatamu dan tak usah kuatir melukai diri pinceng lagi.”
“Jadi thaysu ingin menggunakan
sepasang telapakmu untuk menghadapi golok emas dari aku orang she
Kwan?” seru Kwan Tiong Gak dengan wajah agak gusar.
“Pinceng membawa senjata hanya
saja Kwan Cong Piauw tauw tidak berhasil melihatnya saja.”
Mendengar ucapan itu Kwan Tiong
Gak merasa hatinya tergerak, segera pikirnya….
“Saudara Poei melatih sepasang
telapak tangannya sebagai Thiat Sin Ciang, golok dan pedang biasa
tak akan bisa melukai dirinya, gelang emas dijari tangannya bisa
diayunkan keluar melukai lawan, apakah hweesio inipun berhasil
melatih kepandaian silat istimewa ini.
Ketika ia perhatikan pihak
lawannya dengan teliti, tertampak olehnya sepasang telapak hweesio
tersebut amat halus dengan kulit yang tipis serta warna merah
keputih-putihan, sama sekali berbeda dengan keadaan telapak orang
yang melatih ilmu Thiat Sah Ciang atau sebangsanya sedang dijari
tanganpun tidak tertampak gelang emas atau sebangsanya-
Bagaimanapun Kwan Tiong Gak adalah
seorang jago tua yang banyak pengalaman dalam soal dunia persilatan,
setelah diperiksa dengan teliti akhirnya ia berhasil ditemukan.
apabila kulit wajah hweesio itu
kelihatan jadi kaku dan keras, seolah olah sedang memakai selapis
topeng yang amat istimewa.
Penemuan ini membuat Kwan Tiong
Gak keheranan pikirnya ;
“Anak murid budha mengenakan
topeng antuk menutupi wajah aslinya, hweesio ini belum tentu adalah
seorang hweesio yang sebenarnya.”
Karena berpikir demikian ia segera
tertawa terbahak bahak.
“Haaa…. haaa…. haa….saudara
saudara perguruan Buddha adalah tempat suci dikolong langit, apalagi
disamping itu masih ada tiga ratus enam puluh jalan lain, apa
perlunya saudara menyaru sebagai seorang hweesio?”
“Kwan sicu kau terlalu banyak
bicarakan hal hal yang tak berguna.” seru sang paderi itu sambil
angkat telapak kirinya.
Mendadak badannya maju selangkah
kedepan. telapak tangannya segera mengancam dada Kwan Tiong Gak.
Sejak tadi Kwan Tiong Gak sudah
mengatur pernapasan melakukan persiapan. sebenarnya ia ingin
menerima datangnya serangan dengan keras lawan keras, tetapi setelah
ditemuinya sewaktu hweesio itu mengangkat telapak kanannya tertampak
sebuah bulatan warna merah darah, seketika niatnya sudah diubah,
sang badan dengan cepat miring kesamping meloloskan diri dari
datangnya serangan tersebut.
Karena kesalahan kecil ini
mengakibatkan sang hweesio berjubah abu-abu itu berhasil merebut
posisi yang lebih baik. telapsk tangannya segera mengirim serangan
berantai mengancam iga kirinya.
“Suatu ilmu pukulan yang sangat
bagus.” teriak Kwan Tiong Gak.
Sspasang lengannya dibentangkan,
dengan gerakan “Han Teh Pah Cong’” atau tanah paceklik mencabut
bawang badannya mencelat tujuh, delapan depa ketengah udara.
Sang paderi tersebut segera
tertawa dingin. “Kwan sicu, cabut keluar senjata tajam-mu!” serunya.
Ditengah berkelebatnya bayangan
manusia, ia pun meloncat ketengah ndara.
Kwan Tiong Gak seketika merasakan
datangnya segelung angin pukulan mendesak badannya, ia jadi
terperanjat,
“Kepandaian ilmu silat dari
hweesio ini benar benar bagus, aku tak boleh berlaku gegabah lagi
dengan dirinya,” pikir Cong Piauw tauw dari perusahaan Hauw Wie
Piauw kiok ini diam-diam.
Setelah berhasil merebut posisi
yang baik serangan serangan sang paderi tersebut semuanya ditujukan
pada bagian bagian badan yang merupakan titik titik kematian,
asalkan Kwan Tiong Gak tidak berhasil meloloskan diri dari kurungan
telapak tangan yang amat rapat itu maka ia tak akan berhasil
melancarkan serangan balasan.
Tetapi si Lempengan besi genta
emas yang menggentarkan Delapan penjuru adalah seorang jago
berpengalaman dalam menghadapi pelbagai pertarungan, walaupun
berjumpa dengan musuh tangguh dan ia didesak berada dibawah angin
tetapi pikirannya tidak jadi kacau.
Mendadak ia keluarkan ilmu bobot
seribu kati untuk memberatkan badannya sehingga sang badan melayang
turun keatas permukaan tanah dengan kecepatan bagaikan kilat.
Sang hweesio berjubah aba abu ini
benar seorang jago yang luar biasa walaupun perubah yang dilakukan
Kwan Tiong Gak dilakukan dengan kecepatan laksana kilat tetapi
hweesio itupun menunjukkan reaksi yang tak kalah cepatnya pula.
Bersamaan dengan meluncur turunnya
sang tubuh hweesio tersebut, telapak kanannya diayunkan kedepan
menghantam ulu hati Kwan Tiong Gak ….
Cong Piauw tauw dari perusahaan
HiAw Wie Piauw kiok ini jadi amat terperanjat, pikirnya.
“Sungguh lihay hweesio ini,”!
Dalam keadaan tergesa-gesa
badannya berputar dan menghindar lima depa kesamping.
“Kwan Cong Piauw tauw” seru
hweesio tersebut sambil tertawa dingin, “Serahkan peta rahasia
pengangon kambing….”
Suara tertawa tersebut muncul dari
belakang tubuh Kwan Tiong Gak.
Selama melakukan perjalanan baik
di-daerah Utara maupun didaerah Selatan Kwan Tiong Gak telah
berjumpa dengan berbagai jago jago Bu lim yang memiliki kepandaian
silat tinggi, tetapi belum pernah ia menjumpai keadaan semacam ini
hari.
Terasa olehnya telapak tangan
hweesio itu bagaikan menempel diatas punggungnya saja sama sekali
tak berhasil diloloskan.
Dalam keadaan terkejut bercampur
gusar badannya mencelat kembali ketengah udara, golok emaspun
bersamaan waktunya diloloskan dari dalam sarung dengan menciptakan
selapis cahaya keemas emasan.
Oleh sambaran sinar tajam yang
amat menyilaukan mata itu hweesio tersebut terdesak mundur
kebelakang, jengeknya sambil tertawa dingin.
“Kwan Tiong Piauw tauw seharusnya
dari tadi kau sudah loloskan golokmu.”
Karena kehilangan posisi Kwan
Tiong Gak kena di desak sehingga sulit untuk putar badan, saat ini
ia baru berpaling dan berdiri paling berhadapan dengan hweesio itu.
“Thaysu, sungguh lihay ilmu
telapakmu,” pujinya.
“Kwan Cong Piauw tauw, kau sudah
kaya raya, namamupun sudah tersohor dikolong langit, agaknya tidak
perlu bagini untuk mengadu jiwa dikarenakan pengangon kambing.”
“mengesampingkan soal peta
pengangon kambing, cukup mengandalkan jurus serangan thaysu yang
berhasil mendesak diriku aku orang she Kwan sudah sepatutnya minta
petunjuk dari dirimu….”
Setelah merandek sejenak,
terusnya, “Walaupun thaysu sudah memperlihatkan sedikit kepandaianmu
maka akupun berhasil membuktikan akan satu hal.”
Sebenarnya hweesio itu sudah
bersiap sedia hendak turun, tangan kembali tetapi setelah mendengar
ucapan itu tanyanya, “Kau sudah membuktikan soal apa?”
“Thaysu bukan berasal dari partai
Siauw lim?”
“Kapan pinceng pernah mengaku
berasal dari kuil Siauw lim sie?”
“Tidak salah, kau memang tidak
pernah berkata demikian, tatapi dalam hati cayhe pernah mempunyai
kecurigaan. kecurigaanku sudah lenyap, kita boleh melanjutkan
pertarungan kita.”
“Manusia mati karena serakah, kuda
mati karena makanan. Kwan Cong Piauw tauw sudah memiliki nama serta
harta apa perlunya begitu serakah masih ingin mengangkangi peta
rahasia tersebut?”
“Kami adalah orang orang awam yang
biasa gulang guling diantara soal nama dan harta punya pikiran
serakah sudah umum, tetapi thaysu adalah seorang paderi tidak di
sangka napsu serakahmu jauh berada di atas nafsu aku orang she
Kwan.”
“Hmmnnn?! agaknya kita tak bisa
merundingkan persoalan ini lagi.”
Sebagai penutup dari ucapan
tersebut, telapak kanannya dibabat kedepan keras keras.
Kali ini Kwan Tiong Gak tidak
berani berlaku ayal lagi, golok emasnya segera diangkat dan dibabat
sejajar dada,
“Thaysu, silahkan kaupun cabut
senjata mu” serunya.
Hweesio itu memutar pergelangan
tangannya menghindarkan diri dari babatan golok lawan, sedang
telapak kiri didorong kedepan dengan gerakan secepat kilat.
Segulung angin pukulan yang maha
dahsyat segera menghantam pergelangan tangan Kwan Tiong Gak memaksa
orang she Kwan ini harus menarik kembali goloknya kesamping….
Meminjam kesempatan itu hweesio
berjubah abu abu itu mendesak maju kedepan telapak tangannya secepat
kilat menghantam iga kanan. Kwan Tiong Gak terperanjat,buru buru ia
mundur tiga langkah kebelakang untuk meloloskan diri dari datangnya
serangan tersebut.
Golok emas ditangannya segera
dilintang-kan kedepan dengan gerakan “Hua Hun Im Yang” atau
Menggaris Pisah Im dan Yang dengan susah payah akhirnya berhasil
juga membendung datangnya serangan hweesio itu. Setelah menjumpai
dua kali keadaan kritis. Kwan Tiong Gak baru merasa bahwa Hweesio
lawannya benar benar jago silat yang memiliki kepandaian silat yang
luar biasa.
Orang yang bisa melayani permainan
golok emasnya dengan telapak kosong tidak banyak dijumpai dalam Bu
lim, tetapi hweesio ini bukan saja dapat, melayani dengan sempurna
bahkan dapat merebut posisi diatas angin, sungguh luar biasa.
Terhadap kejadian yang belum
pernah di jumpainya, Kwan Tiong merasa keheranan.
permainan golok emasnya mulai
diperketat dengan memilih posisi pertahanan.
Tampak cahaya keemas emasan
berkelebat memenuhi angkasa menciptakan selapis kabut tebal
melindungi seluruh badannya, ia mulai mengurangi serangan balasan
dan lebih menitik beratkan pada pertahanan tubuh,
Sekalipun demikian, secara diam
diam ia mulai memperhatikan perubahan telapak hweesio itu.
Ia berharap dengan andalkan
pengalaman yang selama puluhan tabun ia bisa menemukan perubahan
jurus serangan hweesio itu dan berhasil mengetahui asal usulnya.
Tampak permainan telapak hweesio
tersebut semakin lama semakin gencar, dan setiap serangan dengan
perubahan yang aneh-tapi tepat berhasil meloloskan diri dari setiap
babatan golok Kwan Tiong Gak.
Melihat kejadian ini Kwan Tiong
Gak semakin paham lagi, asalkan dirinya sedikit berlaku gegabah
sehingga gerakan goloknya terpancing oleh gerakan telapak lawan,
maka perubahan serangan hweesio itu bagaikan gelombang air pasang
akan menerjang datang tiada hentinya.
Setelah melewati suatu penelitian
yang seksama iapun dapat menemukan apabila ilmu silat yang digunakan
hweesio tersebut merupakan serangan ilmu telapak yang aneh dan susah
diikuti dengan pandangan mata.
Kwan Tiong Gak mencurahkan
perhatiannya semakin seksama lagi, ia berharap dapat menemukan titik
kelemahan dari permainan telapak yang aneh itu.
Karena sedikit pikirannya
bercabang, mendadak lengan kirinya jadi sakit hampir-hampir saja
golok emasnya terlepas dari cekalannya.
Kwan Tiong Gak mendengus dingin,
badannya mengikuti gerakan golok yang menabas kebawah berpaling
kesamping.
Dengan gerakan demikian, kalau
dipandang seolah olah badannya terjengkang ke atas tanah.
Hweesio berbaju abu abu itu
setelah melihat serangannya mengenai sasaran, tangan kirinya kembali
menerjang kedepan, karena dalam pandangannya golok Kwan Tiong Gak
pasti akan terlepas dari genggamannya.
Siapa sangka tenaga Iweekang yang
di miliki Kwan Tiong Gak amat sempurna, walaupun terkena serangan
dengan telak dan badannya terjatuh kedepan tetapi ia masih bisa
mempertahankan goloknya jangan sampai terlepas dari genggaman.
Sewaktu hweesio berjubah abu abu
itu mempersiapkan serangan selanjutnya mendadak Kwan Tiong Gak
meloncat ketengah angkasa dengan serentetan cahaya golok yang
menyilaukan mata.
Inilah ilmu silat yang paling
diandalkan Kwan Tiong Gak sepanjang hidupnya sering dalam kekalahan
berhasil merebut kemenangan dan entah sudah berapa banyak jago jago
Bu lim yang terluka atau binasa di bawah serangan ini.
Hwesio berjubah abu abu itu tidak
menyangka dalam gerakan mencelat pihak lawan bisa mengirim sebuah
serangan yang demikian dahsyat, buru buru badannya mundur kebelakang
untuk menghindar.
Kendati begitu gerakannya masih
terlambat selangkah, jubah hweesionya kena kesambar cahaya golok
tersebut hingga sobek kurang sedikit saja kulitnya terpapas luka.
Setelah serangannya mengenai
sasaran.
Kwan Tiong Gak tidak melanjutkan
serangan dengan cepat sang badan meloncat mundur lima langkah
kebelakang.
“Tahan!” serunya dingin.
Sebenarnya hweesio berjubah abu
abu itu sudah siap melancarkan serangan balasan mendengar teriakan
itu segera berhenti.
“Kwan Cong Piauw tauw, kau ada
pesan apa?”
“Ilmu telapak thaysu sangat aneh.”
“Yang paling pinceng dapatkan
adalah peta rahasia pengangon kambing tersebut, kalau Kwan Cong
Piauw tauw merasa tidak kuat menahan diri dan mengerti kalau pinceng
mampu merebut benda tersebut, lebih baik sekarang juga kau serahkan
peta rahasia pengangon kambing itu kepadaku, dengan demikian
diantara kita tak usah melanjutkan pertarungan yang berusaha
membinasakan pihak lawannya ini.”
“Thaysu, kau sudah salah paham,”
dengan cepat Kwan Tiong Gak menggeleng berulang kali. “Sekalipun
thaysu benar benar bisa mencabut nyawa aku orang she Kwan, peta
rahasia itupun baru bisa kau dapatkan setelah aku benar benar
menemui ajalnya, tetapi sebelum terjadinya peristiwa ini yang
mengerikan terlebih dahulu cayhe ingin membuktikan akan satu hal….”
“urusan apa?”
“Ilmu telapak tangan yang thaysu
gunakan sangat aneh dan luar biasa, agaknya merupakan ilmu silat
dari kalangan Buddha.”
“Ilmu silat yang ada dikolong
langit beratus ratus macam banyaknya dan belum tentu ada orang yang
memberi batasan apabila seorang paderi harus mempelajari jenis ilmu
silat sama.”
“Tetapi ada satu persoalan thaysu
tak dapat membohongi diri cayhe.”
“Urusan apa?”
“Kau mengenakan topeng kulit.”
“Sedikispun tidak salah.” sahut
hweeaio berjubah abu abu itu sambil tertawa hambar “Ternyata
sepasang mata Kwan Cong Piauw Tauw tidak kemasukan sebutir pasir.”
“Jikalau thaysu sudah mengaku, aku
berharap kau suka melepaskan topeng kulit itu dan bagaimana kalau
menjumpai diriku dengan wajah aslimu?”
“Tidak bisa” tolak sang Hweesio
dengan dingin.
“Baik! jikalau thaysu tidak
mengijinkan terpaksa kita harus menempuh dengan jalan bergebrak.”
Goloknya segera diangkat keatas,
dan sambungnya lebih lanjut.
“Pertarungan ini baru diakhiri
setelah salah satu roboh, thaysu lebih baik kau cabut keluar
senjatamu.”
“Senjata pinceng setiap saat bisa
dikeluarkan, hanya saja Kwan Cong Piauw tauw tak bisa melihatnya.”
Telapak kanannya segera diayun
kedepan melancarkan sebuah serangan dahsyat.
Kali ini Kwan Tiong Gak lebih
waspada, pikirnya, “Gerak gerik hweesio ini sangat aneh, agaknya dia
bukan termasuk manusia dari kalangan jurus, aku harus bertindak
lebih berhati hati.”
Karena berpikir demikian, golok
emas di tangan kanannya dengan jurus “Can Cien Ci Lok,” atau
bidadari menunjuk jalan menotok dada lawan.
Karena dalam hatinya sudah
mengadakan persiapan, serangan golok ini dilancarkan dengan gerakan
sangat lambat.
Asalkan hweesio itu melancarkan
serangan balasan, maka golok Kwan Tiong Gak akan bekerja lebih keras
dengan meminjam peluang tersebut.
Tetapi hweesio berjubah abu abu
itu mempunyai ketenangan luar biasa, ia tetap berdiri tak berkutik
dari tempat semula.
Menanti ujung golok Kwan Tiong Gak
tiba kurang lebih setengah depa dihadapan dadanya, mendadak telapak
kirinya baru melancarkan serangan dan didorong dari arah pamping.
Segulung tenaga pukulan yang amat
hebat meluncur dan ia keluar dari telapaknya membawa ujung golok
Kwan Tiong Gak ke-samping, sedangkan tangan kanannya segera diayun
kedepan, serentetsn cahaya putih dengan secepat kilat meluncur
kedepan.
Selama ini Kwan Tiong Gak
mengingat ingat bahwa hweesio itu membawa senjata hanya saja belum
sampai dikeluarkan dengan kepandaian silat yang lihay dari musuhnya
semakin membara ia tak berani berlaku gegabah.
Ketika hweesio itu mengayunkan
telapak tangannya tadi, Kwan Tiong Gak dengan sebat menyingkir
kesamping.
Mendadak kaki kanan hweesio itu
maju melangkah kedepan, pergelangan kanannya disendat cahaya putih
meluncur kembali ke dalam ujung jubahnya.
Sabelun Kwan Tiong Gak meneliti
benda apakah itu sebuah tendangan kilat telah tiba mengancam lutut
kanannya.
Maju melancarkan tendangan seolah
olah kedua buah serangan ini dilakukannya dalam waktu serta saat
yang bersamaan.
Buru buru Kwan Tiong Gak mundur
tiga langkah kebelakang meloloskan diri dari datangnya tendangan
tersebut.
Dengan demikian ia sama sekali
terdesak dibawah angin, dibawah serangan gencar telapak serta
tendangan lawan, Kwan Tiong Gak terdesak mundur satu tombak lebih
dari tempat semula.
Dengan andalkan pengalamannya
selama puluhan tahun, kepandaian silat yang dimiliki serta
kecerdikannya dalam menghadapi serangan untuk menghadapi serangan
aneh dari ilmu silat lawan, walaupun Kwan Tiong Gak kena didesak
mundur berulang kali, tetapi ia berhasil juga menghindari semua
desakan itu dengan selamat dan tidak sampai terluka ditangan lawan.
Sebaliknya hweesio itu sendiri pun
diam diam merasa kagum satelah melihat kenyataan bahwa serangan
gencarnya sama sekali tidak berhasil melukai pihak lawan pikirnya ;
“Nama besar Kwan Tiong Gak
ternyata bukan nama kosong belaka, serangkaian ilmu silat yang aneh
ini belum pernah dijumpai dalam dunia persilatan, tetapi dengan
andalkan pengalamannya selama puluhan tahun, serangan berantaiku ini
ternyata bisa dihindari juga, sungguh hebat, sungguh luar biasa.”
Walaupun Kwan Tiong Gak berhasil
menghindarkan diri dari serangan berantai lawan, tapi rasa kaget,
terkejut yang mencekam dalam hatinya susah dibayangkan.
“Selama puluhan tahun berkelana
didalam dunia persilatan dengan andalkan golok emas serta piauw
genta emas ia berhasil merebut gelar sebagai si lempengan besi genta
emas yang menggetarkan delapan penjuru, musuh tangguh yang ditemui
tiada terhingga tetapi belum pernah menjumpai keadaan seperti ini
hari.
Walaupun ilmu silat berasal dari
satu sumber dan setiap jago memiliki kecepatan gerak yang berbeda
serta tinggi rendah tenaga murni yang dimiliki, tetapi manusia
seperti hweesio ini benar benar luar biasa….”
Setelah berhasil menghindarkan
diri dari serangan gencar pihak lawan, saking kagetnya seluruh tubuh
Kwan Tiong Gak dibasahi oleh peluh dingin yang mengucur keluar
dengan derasnya.
Tetapi ia paham, saat ini tak
boleh baginya untuk memberi kesempatan lagi buat lawannya untuk
melancarkan serangan gencar buru buru goloknya di putar sedemikian
rupa mengirim serangan balasan.
Cahaya golok berkilauan, angin
serangan berdesir memenuhi angkasa, bagaikan gulungan air ditengah
samudra ia mulai meneter lawannya dengan serangan yang mematikan.
Ketika hweesio itu selesai
menggunakan serangan berantainya yang cepat berganti serangan Kwan
Tiong Gak telah berebut turun dengan mendesak datang.
Tetapi hweesio itu sama sekali
tidak melayani serangan balasan dari Kwan Tiong Gak ini, badannya
segera meloncat kebelakang untuk menghindar.
“Thaysu, hati hati senjata
rahasia,” seru Kwan Tiong Gak cepat tanpa berhenti menyerang.
Tangan kanannya diayun, serentetan
cahaya keemas emasan dengan diiringi suara deringan nyaring meluncur
datang dengan kecepatan bagaikan kilat.
Kwan Cong Gak pun tahu serangan
senjata rahasia ini tak akan berhasil melukai lawan, oleh karena itu
senjata rahasia pertama begitu disambit keluar, tangan kirinya
kembali diayun kedepsn mengirim dua batang senjata rahasia lagi.
Senjata rahasia itu dengan
digerakan “B” mendesir kedepan, suara genta bertalu di angkasa, tiga
batang senjata rahasia dengan membentuk segi tiga mengurung tubuh
hweesio tersebut.
Merasakan datangnya ancaman
senjata rahasia itu hweesio tersebut mengayunkan sepasang telapaknya
kedepan.
Dari ujung bajunya meluncur keluar
dua rentetan cahaya keperak perakan laksana kilat menghajar kedua
batang senjata rahasia genta yang ada dikiri kanan itu keras keras.
Traaaacg….termakan oleh hadiahan
dua rentetan cahaya keperak perakan itu, ke dua batang senjata
rahasia tersebut segera terjatuh keatas tanah.
Tetapi sebatang senjata rahasia
yang ketiga dengan tidak mengalami gangguan apapun mendadak menukik
kebawah.
Baru buru hweesio itu jatuhktn
badannya kedepan dengan nyaris senjata rahasia itu berdesir dari
balok kepalanya.
Pada Saat ini Kwan Tiong Gak
sedang menggenggam pula dua batang senjata Kiem Ling Piauw, tetapi
ia tidak melanjutkan serangannya.
Dimana sepasang pergelangan
hweesio itu ditarik dua rentetan cahaya putih tadi tahu tahu sudah
meluncur kembali kedalam ujung bajunya,
“Thaysu.” ujar Kwan Tiong Gak
dengan nada dingin, “Kalau barusan aku orang she Kwan kembali
melancarkan dua batang senjata rahasia, apakah thaysu percaya bisa
menghindarinya?”
“Mungkin pinceng sudah terluka
dibawah serangan senjata rahasia Kiem Ling Piauw mu itu ….” Ia
merandek sejenak kemudian sambungnya ;
“Sekalipun saat ini pinceng
mengaku kalah dan mengundurkan diri. Kwan Cong Piauw tauwpun tak
akan bisa tiba diibu kota dengan selamat.”
“Hal itu merupakan urusan pribadi
aku orang she Kwan, tak perlu thaysu ikut repot berpikir.”
Hweesio berjubah abu abu itu
kontan tertawa dingin “yang penting masih ada satu urusan yang
hendak di terangkan kepadamu, walaupun Pada saat ini aku rela
mengalah dibawah serangan, senjata rahasia Kim Ling Piauwmu, tapi
aku sama sekali tak akan melepaskan niatku untuk merebut peta
rahasia pengangon kambing tersebut.”
“saat ini peta rahasia pengangon
kambing berada di dalam saku aku orang she Kwan kalau thaysu bisa
merebutnya silahkan turun tangan.”
Hweesio berjubah abu abu itu
mendengus dingin, tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia putar badan
dan berlalu.
Sambil memandang bayangan punggung
si hweesio yang lenyap dari pandangan matanya diam diam Kwan Tiong
Gak berpikir dalam hatinya.
“Ilma silat yang digunakan hweesio
ini sama sekali bukan ilmu silat aliran siauw lim pai, wajahmu
ditutupi dengan selapis topeng manusia, kepandaian silatnya aneh,
jelas ia memang ada maksud menutupi asal usulnya sendiri.”
Gerakan tubuh hweesio tersebut
sungguh cepat sekali, dalam sekejap mata ia sudah lenyap dari
pandangan,
Kwan Tiong Gak menghembuskan napas
panjang, ia segera meloncat naik keatas kuda nya larikan binatang
tersebut kedepan.
Belum berapa langkah ia berjalan
mendadak terdengar suara gelak tertawa berkumandang datang dari
bilik sebatang pohon ditepi jalan.
(Bersambung Jilid 20)
Jilid 20
DITENGAH berkelebatnya bayangan
manusia, tahu tahu ditempat itu sudah muncul dua jago.
Yang pertama bukan lain adalah
“Hoa Hoa Kongcu”, Ke Giok Lang sedang orang yang mengikuti di
belakangnya adalah si dara berbaju hijau Hoo Lian Hoa adanya.
“Kwan heng,” seru Ke Giok Lang
sambil ulapkan tangannya dan tertawa. “Hweesio itu masih mampu untuk
melanjutkan pertarungan, tetapi ia rela mengaku kalah.”
“Walaupun begitu thaysu itu masih
belum kehilangan sifatnya yang terbuka dan gentlemen, dengan terang
terangan ia menanti kedatanganku ditengah jalan.”
Mendengar sindiran itu Ke Giok
Lang tersenyum.
“Kwan-heng, agaknya kau sedang
memaki aku orang she Ke kurang bersifat lapang dada.” serunya.
“Kalau Ke Kongcu pun seorang yang
jujur dan bersifat terbuka, tidak seharusnya kau bersembunyi diatas
pohon.”
Ke Giok Lang segera tertawa
terbahak bahak.
“Kwan heng sedikitpun tidak salah,
selama melakukan pekerjaan aku orang she Ke tidak terlalu
memperhatikan tindakan apa yang aku gunakan, yang kupikirkan adalah
secara bagaimana bisa mencapai tujuan….”
Ketika itu Kwan Tiong Gak telah
naik keatas kudanya tapi ia segera meloncat turun kembali, ujarnya,
“Ke Kongcu, kau bermaksud turun tangan berbareng? ataukah satu lawan
satu dengan sistim bergilir?”
“Berjumpa muka lantas bergebrak,
apakah kau tidak merasa tindakan ini terlalu tidak sedap dipandang?”
Kwan Tiong Gak angkat muka
memandang sekejap wajah Ke Giok Lang serta Hoo Lian Hoa yang berdiri
di bawah pohon, serunya, “Pagi benar kedatangan kalian berdua.”
“Haaa…. haaaa….siauwte percaya ini
hasil Kwan heng akan berangkat ke utara, maka kami datang sedikit
lebih pagi.”
“Hweesio tetiron yang mengenakan
topeng diatas wajah, apakah anak buah dari Ke Kongcu?”
“Kalau aku orang she Ke mengatakan
bukan, entah Kwan Cong Piauw tauw suka mempercayai atau tidak?”
sahut Ke Ciok Lang tersenyum….
Jawaban ini sangat diplomatis,
seketika membuat Kwan Tiong Gak seorang jago berpengalaman luas
serta pengetahuan tinggipun dibikin tertegun, ia tidak berhasil
mengetahui apa maksud sebenarnya dari ucapan tersebut.
Namun sigolok emas yang
menggetarkan Delapan penjuru adalah seorang jago kang ouw kawakan,
ia segera tertawa hambar, katanya.
“Perduli dia benar anak buah Ke
Kongcu atau bukan, aku orang she Kwan tiada bermaksud menyelidiknya
sampai jelas….”
Ia merandek sejenak, kemudian
terusnya, “Ke Kongcu, kalau kau ada maksud bergebrak sllahkan
loloskan senjata. seandainya untuk sementara tidak ingin bergebrak
melawan aku orang she Kwan, harap segera minggir sembari jalan.”
“Kwan-heng” seru Ke Giok Lang
sambil tersenyum. “Siauwte punya satu perasaan kita orang orang Bu
lim karena sepatah dua patah kata tidak cocok lantas harus gunakan
kekuatan untuk mengadu jiwa sebenarnya merupakan suatu tindak yang
sangat rendah!”
“Jadi maksud Ke Kongcu, hendak
andalkan lidahmu yang tajam berusaha menundukan aku orang she Kwan?”
“Kwan heng telah malang melintang
di daerah Utara maupun Selatan, pengetahuan serta pengalamanmu
sangat luas, rasanya tak gampang menundukkan dirimu dengan andalkan
ketajaman lidah.”
“Lalu Ke Kongcu hendak berbuat apa
untuk memaksa cayhe tunduk?” ujar Kwan Tiong Gak dengan nada berat.
“Dengan andalkan pengetahuan serta
pengalaman Kwan Cong Piauw tauw, rasanya dalam sekali pandangan
tidak sulit untuk mengetahui untung ruginya keadaan terhadap dirimu
bukan?”
Mendengar ucapan itu Kwan Tiong
Gak segera mendongak tertawa, katanya, “Aku she Kwan dengan kuda
mustika golok emas, selama puluhan tahun ini telah berulang kali
menerobos pelbagai jebakan,seandainya sejak semula Ke Kongcu telah
mempersiapkan jebakan disini, tiada halangan suruh mereka keluar dan
mulai menyerang diriku.”
Ke Giok Lang tersenyum.
“Sekalipun kau Kwan Cong Piauw
tauw bisa menerobos hadangan ini, namun sayang seribu kali sayang
kepandaian silat Hoei Hu Cong Piauw tauw jauh lebih rendah setingkat
dari kepandaianmu, aku rasa ia sulit untuk menerobos hadangan
disini….”
Seketika Kwan Tiong Gak dibikin
tertegun.
“Saudara Poei dia….”
“Ia kena kami tawan!”
“Sekarang berada dimana?”
“Telah aku orang she Ke
penjarakan, tempat itu tidsk jauh letaknya dari sini apa bila Kwan
heng ada kegembiraan tiada halangan ikut diriku pergi menengok,”
Kwan Tiong Gak termenung tidak
bicara. Ke Giok Lang kembali tertawa terbahak-ahak, ujarnya, “Kalau
Kwan heng tidak percaya perkataanku, silahkan melanjutkan perjalanan
menuju ke Utara, aku orang she Ke tak akan turun tangan menghadang
perjalananmu.”
Sepasang mata Kwan Tiong Gak
berkilat, dengan tajam ia memperhatikan tubuh Ke Giok Lang tak
berkedip,
“Ke Kongcu!” serunya kemudian.
“Kalau kau menipu diriku….”
“Haaa …. haa….mari kita percepat
perjalanan kita, tidak sampai sepertanak nasi kau dapat berjumpa
kembali dengan Pui Jie tamu itu.”
“Kalau begitu merepotkan Ke Kongcu
harus membawa jalan.”
Mendadak Ke Giok Lang mendongak
memperdengarkan suara suitan panjang. ….Terdengar derapan kaki kuda
berkumandang datang, dua orang dara berbaju hijau yang menggembol
senjata menuju dari balik pepohonan.
Mengikuti munculnya kedua orang
itu Kwan Tiong Gak alihkan sinar matanya ke-arah mereka.
Ia mendapatkan bedua orang dara
berbaju hijau itu rata rata berusia enam tujuh belas tahunan,
walaupun wajah mereka tak termasuk sangat cantik namun cukup
mempersonakan hati lelaki.
Tanpa terasa lagi ia kerutkan dahi
sembari berkata, “Apakah perempuan perempuan muda inipun berhasil Ke
Kongcu pikat dari rumah mereka masing-masing?”
“Kata “Memikat” terlalu tidak enak
didengar, siauwte sama sekali tidak menggunakan kekerasan untuk
mendapatkan mereka. Tentu saja setelah mereka berhasil belajar ilmu
silat dan mendapat perintah untuk melakukan suatu pekerjaan harus
diikat dengun suatu peraturan yang ketat dan tegas”
Sementara mereka berbicara. kedua
orang dara berbaju hijau itu tiba dihadapan Ke Giok Lang.
Mereka berdua sama-sama meloncat
turun dari atas pelana, dengan sikap penuh hormat menyerahkan kuda
tersebut ketangan Ke Giok Lang serta Hoo Lian Hoa.
Dengan sebat Ke Giok Lang meloncat
naik ke atas kuda, menarik tali les dan berkata, “Kwan heng , mari
kita berangkat!”
Bagaikan terbang ia larikan
kudanya terlebih dahulu menuju kearah depan.
Kwan Tiong Gak pun segera naik
ke-atas punggung kudanya binatang tunggangannya adalah seeior kuda
mustika yang bisa melakukan perjalanan seribu li dalam sehari.
dengan sekali loncatan kuda tersebut berhssil menyentak kesisi Ke
Giok Lang.
“Ke Kongcu.” ujar Kwan Tiong Gak.
“Seorang lelaki sejati, seorang enghiong hoo han tidak patut setiap
hari hanya bergaul dan berkawan dengan kaum gadis kaum perempuan,
apakah kau tidak merasa telah kehilangan kegagahan seorang manusia
jantan?”
“Kwan heng, kau tidak mengerti
akan kebagusan permainan ini.” kata Ke Giok Lang sembari tersenyum.
“Kaum perempuan memiliki otak yang lebih teliti dan halus, bahkan
sangat romantis dan setia, mereka jauh lebih dapat percaya daripada
lelaki lelaki busuk macam diri kita.”
“Huam! cayhe berharap kau jangan
terlalu banyak melakukan pekerjaan ysng merugikan masyarakat usia
gadis gadis ini baru enam, tujuh belasan tahunan tapi sudah kau
pikat sehingga mereka meninggalkan rumah, membuat orang tua mereka
setiap hari bersedih hati, apa kau anggap perbuatanmu ini ini suatu
perbuatan lelaki sejati.”
“Mengumpulkan anak murid,
menurunkan ilmu silat, apa bedanya antara lelaki dan perempuan? Kwan
heng anggap orang tua mereka saudara saudara mereka bersedih hati
karena kehilangan anak gadisnya, apakah kehilangan anak lelaki tidak
membuat hati mereka jadi sedih?….”
Ia mendongak tertawa terbahak
bahak sambungnya, “Kita bicarakan tentang Kwan heng sendiri saja,
satu bulan membuang beratus ratus tahil perak agar para piauwsu suka
jual nyawa buat kalian tidak perduli mereka beristri dan berputra
mereka masih kecil kecil, apakah perbuatan ini bukan termasuk suatu
perbuatan yang merugikan masyarakat….??”
“Tentu saja berbeda, kami andalkan
ilmu silat untuk mencari uang, menggantungkan tenaga mencari sesuap
nasi, yang kami kerjakan adalah suatu perdagangan yang lurus suatu
pekerjaan cari uang yang jujur.”
“Haaa…. haa…. kalau membuka Piauw
kiok adalah suatu perdagangan yang lurus, maka merampok, membegal,
merampas harta orang lain merupakan orang tua dari makan serta
pakaian kalian, kalau tidak ada kawan kawan Liok lim yang melakukan
perampokan, serta membegal serta merampas, kalian yang membuka
perusahaan Piauw kiokpun tidak akan mendapatkan uang dari
perdagangan tersebut.”
“Ucapanmu sedikitpun tidak salah,
kalau tak ada kawan kawan Liok lim yang melakukan perampokan,
pembegalan serta perampasan maka kami tak akan berhasil mencari
sesuap nasi dengan membuka perusahaan Piauw kiok namun seandainya
mereka yang melakukan perampokan pembegalan serta perampasan adalah
jago-jago lihay macam Ke Kongcu semua, maka kami yang bukan
perusahaan Piauw kiok akan gulung tikar dan gigit jari.”
Ke Giok Lang tersenyum, segera
tukasnya, “Kalau aku adalah Ke Giok Lang adalah manusia yang suka
merampok, membegal dan merampas, rasanya hanya perusahaan Hiaw Wie
Piauw Kiok kalian saja yang sanggup menahan, bukankah begitu?”
Sementara bercakap cakap, tanpa
terasa mereka berdua telah tiba didepan sebuah hutan lebat.
Dibalik hutan itu secara dapat
terlihat atap rumah muncul dari balik dedaunan, agaknya disana
berdirilah sebuah bangunan rumah megah dan besar.
Ke Giok Lang segera meloncat turun
dari atas kuda ujarnya sambil tertawa, “Poei Jit te berada didalam
bangunan rumah tersebut!”
“Secara bagaimana kongcu hadapi
dirinya?” tanya Kwan Tiong Gak sambil meloncat turun pula dari atas
kuda.
“Tindakan aku orang she Ke tidak
terlalu buas. aku hanya menggunakan otot kerbau yang basah untuk
mengikat sepasang tangannya.”
“Haee…. heee.heee, aku berharap
kau tidak sampai mencelakai dirinya.” jengek Kwan Tiong Gak sambil
tertawa dingin.
Setelah melewati hutan lebat itu,
bangunan rumah dapat kelihatan semakin jelas lagi-
Itulah sebuah bangunan berlorong
yang terbuat dari bata warna hijau, megah kokoh dan menarik.
Sambil bersenyum Ke Giok Lang
berebut membawa jalan terlebih dahulu, ujarnya.
“Aku memandang Poei Hu Ceng Piauw
tauw bagaikan tamu terhormat, namun watak Pui heng terlalu keras,
arak serta nasi yang kami hidangkan ternyata telah ditumpahkan
keatas tanah semua.”
“Aku orang she Kwan ingin tahu,
secara bagaimana kalian menangkap dirinya?”
“Dalam pandangan Kwan heng,
mungkin tindakan kami ini dianggap terlalu rendah, terlalu
memalukan, namun siauwte marasa cara inilah yang paling bagus dan
paling tepat, kami telah menggunakan obat pemabok untuk merobohkan
dirinya.”
“Hmm! Tidak disangka Ke Kongcu pun
menggunakan cara yang paling rendah dari dunia persilatan.”
“Aku orang she ke, tadi kau sudah
berkata, selama aku paling suka menggunakan cara yang paling mudah
mendatangkan hasil.” Mendadak ia berseru tertahan dan menghentikan
langkah kakinya.
Kwan Tiong Gak tertegun dan ikut
berhenti, ketika ia angkat muka terlihat olehnya sebuah lambang
Bergambar naga dengan dasar putih bersulamkan benang emas tertempel
di-depan pintu besar bangunan tersebut.
Walaupun rasa kaget yang dialami
Ke Giok Lang pada saat ini susah dilukiskan, namun ia masih bisa
menahan golakan dalam hatinya dengan paksa, ia berpaling kearah Kwan
Tiong Gak dan diam diam memperhatikan reaksinya.
Inilah Lambang Naga Sakti” yang
pernah menggemparkan dunia persilatan tiga puluh tahun berselang.
Semua anak murid partay besar maupun perguruan kecil yang ada dalam
Bu lim sebelum turun kedalam kalangan persilatan selalu mendapat
pesan wanti-wanti dari garu guru mereka, bahwasannya Lambang Naga
Sakti adalah suatu Lambang yang mempunyai kekuasaan sangat besar.
Di mana Lambang Naga Sakti
tersebut muncul, semua orang dilarang mendekati.Siapa yang berani
melanggar bukan saja keselamatannya susah dipertahankan bahkan dapat
menyeret pula bagi kemarahan seluruh perguruan. Didalam rimba
persilatan pernah ada tiga pergurnan besar telah melanggar pantangan
dari “Lambang Naga Sakti” ini, seluruh anggota perguruan mereka
dibasmi hancur dan menyeret sebanyak empat ratus jiwa lenyap dalam
sekejap.
Sejak itu tiga perguruan besar
tersebut lenyap untuk selama – selamanya dari dunia persilatan.
Peristiwa mengerikan yang
menggetarkan hati semua orang ini seketika membuat orang orang Bu
lim menaruh rasa jeri terhadap Lambang Naga Sakti yang amat
misterius ini. Pernah partay siauw lim yang dianggap sebagai tulang
punggung dunia persilatan melanggar pantangan dari Lambang Naga
Sakti akibatnya delapan belas orang padri lihay di bunuh habis,
untung sekali pelanggaran itu baru dilakukan pertama kali, sang
pemilik “Panji Naga Sakti” masih menaruh belas kasihan terhadap
partay besar ini, setelah membunuh delapan belas orang padri lihay.
Ia tidak mempersoalkan lagi peristiwa tersebut.
Sejak itulah partay Siauw lim
serta partay Bu tong menaruh rasa jeri dan hormat terhadap Lambang
Naga Sakti, mereka tidak berani mencabut kumis harimau lagi dan
memerintahkan anak muridnya segera menghindar bilamana berjumpa
dengan lambang maut tersebut.
Diluaran partay partay besar
memang menghindar, namun secara diam diam mereka mengirim jago jago
terlihay dari perguruan mereka untuk menyelidiki asul usul majikan
lambang naga sakti tersebut, mereka semua menyaru dan menggembol
racun keji, asal rahasia mereka terbongkar segera menelan racun dan
bunuh diri sehingga tidak sampai menyeret perguruan mereka.
Tetapi dari dunia persilatan tiada
putus nya tersiar berita akan kematian orang orang itu sedang asal
usul Majikan Naga Sakti belum juga diketahui, mungkin ada diantara
mereka pernah menjumpai majikan Naga Sakti tersebut, namun setiap
orang yang berhasil mengetahui wajah aslinya segera menemui ajalnya.
Demikianlah, Naga sakti lama
kelamaan jadi suatu lambang yang menakutkan bagi seluruh anggota
dunia persilatan, tak seorang pun yang berani memandang remeh atau
melanggar peraturan Naga Sakti tersebut.
Semua partai besar baik dari
golongan pekto maupun dari kalangan Hekto sama-sama turunkan
peraturan ketat terhadap anak muridnya untuk segera menghindar bila
mana menjumpai naga sakti tersebut, barang siapa yang berani
melanggar segera dikenakan hukuman berat.
Sekalipun begitu Naga Sakti tidak
terlalu sering muncul dalam rimba persilatan walaupun mendatangkan
halangan bagi dunia kangouw tetapi tidak terlalu besar.
Selama hampir tiga puluh tahun
lamanya seluruh dunia persilatan telah terjerumus kedalam kekuasaan
Naga Sakti.
Entah sejak tahun keberapa, tiba
tiba naga sakti lenyap dari dunia persilatan, walaupun partai-partai
besar masih mempertahankan peraturan mereka yang ketat, dan anak
murid yang hendak berkelana selalu mendapat pesan wanti wanti dari
guru mereka namun naga sakti tidak pernah muncul kembali didalam
dunia persilatan.
Kurang lebih dua puluh tahun
lamanya naga sakti lenyap bagaikan awan diangkasa, sedikitpun tidak
meninggalkan jejak. Siapa-pun tidak dapat menceritakan kisah
mengenai lambang naga sakti, yang tersisa hanyalah kisah kisah yang
mengerikan pernah terjadi tempo dulu.
Waktu, dapat membuat kenangan
makin luntur warnanya, walaupun didalam benak para jago Bu lim saat
itu masih tertera kisah kisah berdarah yang terjadi tempo dulu namun
tidak setegas dua puluh tahun berselang ….
Dengan termangu mangu Kwan Tiong
Gak memperhatikan Lambang naga sakti tersebut lama sekali ia
terpesona…. entah sampai kapan baru terdengar ia bergumam seoriug
diri, “Lambang Naga Sakti…. Lambang Naga Sakti yang telah lenyap
puluhan berselang.”
“Kwan heng!” Ke Giok Lang mendehem
memecahkan kesunyian. “Pernahkah kau menjumpai lambang naga sakti?”
“Baru pertama kali ini aku
menjumpai dengan mata kepala sendiri, tetapi kalau peristiwa tempo
dulu sudah banyak kudengar.”
“Kalau begitu, Kwan-heng masih
kalah dengan siauwte,” seru Ke Giok Lang sambil tertawa dingin.
“Apa maksudmu?” tanya Kwan Tiong
Gak tertegun.
“Dengan apa yang kulihat ini hari,
siauwte sudah dua kali menjumpai Lambang Naga Sakti,”
“Aaaaa.,…. pertama kali Ke Kongcu
menjumpai lambang naga sakti ini dimana?”
“Dalam kereta penghantar barang
dari perusahaan Piauw kiok kalian.”
“Diatas kereta penghantar barang
perusahaan kami?”
Kwan Tiong Gak melengak.
“Aaaaakb….! tidak mungkin.”
“Perbuatan apapun aku Ke Giok Lang
lakukan, hanya satu hal aku tidak pernah berbohong “
“Kalau begitu sungguh aneh
sekali!’”
“Sedikitpun tidak aneh, lambang
naga sakti tersebut berada didalam kereta yang di tumpangi nona
Liuw….”
Ia mendongak tertawa terbahak
bahak, sambungnya, “Lambang Naga Sakti ini sudah ada puluhan tahun
lamanya lenyap dari dunia persilatan, kemungkinan besar pemilik
lambang paga sakti tersebut sudah mati dan jenazahnya telah hancur,
kalau ada orang yang sengaja membuat beberapa lembar lambang naga
sakti palsu, aku rasa perbuatan ini tidak dapat terhitung suatu
peristiwa yang meng-herankan lagi.”
“Ke Kongcu, mungkin kau sudah
terlambat lahir beberapa tahun sehingga tidak tahu akan peristiwa
lambang naga sakti pada masa silam, aku rasa tak ada orang yang
begitu bernyali berani memalsukan tanda Bu-lim pang menakutkan ini.”
“Menurut perkataan Kwan Cong Piauw
tauw, jadi lambang naga sakti yang muncul dalam kereta yang
ditumpangi nona Liuw adalah lambang asli!”
“Bagaimanakah kejadian sebenarnya
cayhe tidak berani ambil kesimpulan, namun aku berani yakin dalam
Bu-lim tak ada yang berani memalsukan lambang naga sakti tersebut.”
“Jadi kalau menurut ucapan Kwan
Cong Piauw tauw barusan, lambang naga sakti yang muncul didalam
kereta nona Liuw serta lambang naga sakti asli semua?!” tukas Ke
Giok Lang dingin,
“Cayhe tidak dapat berpikir
siapakah begitu bernyali berani memalsukan Lambang Naga Sakti
tersebut.”
“Bangunan loteng ini adalah daerah
kekuasaan aku Ke Giok Lang.” ujar Ke Giok Lang kembali dengan nada
dingin. “Sedangkan lambang naga sakti tersebut tertancap didepan
pintu, entah apa maksud dari peristiwa ini?”
“Menurut keadaan biasanya seperti
masa masa yang silam, dimana muncul lambang naga sakti bila ada
keterangan yang ikut tertancap disisinya maka kau harus melaksanakan
tugas yang diperintahkan dalam surat tersebut.”
“Seandainya dibawah lambang Naga
Sakti tidak terdapat surat tanda perintah?”
“Kalau demikian adanya, lebih baik
Ke Kongcu jangan mendekati lambang Naga Sakti tersebut.”
Ke Giok Lang termenung berpikir
sebentar dan ujarnya, “Kwan heng, apakah kau punya nyali untuk
memeriksa kesana “
Dengan cepat Kwan Tiong Gak
menggeleng.
“Cayhe tidak ingin menempuh bahaya
yang sama sekali tak berguna ini.”
“Seandainya aku orang she Ke
menemani Kwan heng meninjau kesana?”
“Ke Kongcu” Kwan Tiong Gak segera
tersenyum. “Kalau bernyali dan tidak percaya peristiwa yang
menyangkut lambang Naga Sakti Ini tiada halangan kau pergi memeriksa
sendiri, tak usah kau seret pula aku orang she Kwan untuk menemani
dirimu!”
Sewaktu Ke Giok Lang dilahirkan di
kolong langit, lambang naga sakti telah lama lenyap dari dunia
persilatan, didalam ingatan nya sama sekali tidak terdapat
pengalaman mengerikan tentang lambang naga sakti tersebut apa yang
ia ketahui kebanyakan dari pembicaraan orang lain belaka.
Sekalipun begitu ia bagaimanakah
watak Kwan Tiong Gak bukan saja ia merupakan seorang pemimpin
bijaksana dalam perusahaan Hauw Wie Piauw kiok, didalam dunia
persilatanmu terhitung seorang enghiong hoohan.
Menjumpai Kwan Tiong Gak menaruh
rasa jeri terhadap lambang naga sakti tersebut dalam hati kecilnya
seketika timbul rasa was was.
Setelah mendehem ringan ujarnya,
“Menurut pendapat Kwan heng kita tak boleh mendekati lambang naga
sakti tersebut bukankah sama artinya tak dapat masuk ke dalam
bangunan rumah itu?”
“Cayhe pernah dengar orang berkata
bahwa lambang Naga Sakti tersebut bukannya tak boleh didekati hanya
saja kita bakal menjumpai banyak kerepotan”.
“Kerepotan macam apa yang kau
maksudkan?”
“Melepaskan senjata tajam yang
digembol keluarkan semua senjata rahasia yang disembunyikan, dengan
telapak dirapatkan jadi satu berjalan mendekati lambang Naga Sakti
tersebut kemudian menjura tiga kali ke arah lambang itu kemudian
baru boleh berlalu.”
Ke Giok Lang termenung beberapa
saat lamanya kemudian ujarnya, “Kalau percaya pasti ada, kalau tidak
dipercaya tak akan ada, biarlah cayhe mencobanya terlebih dahulu”.
“Cayhe pun hanya mendengar
pembicaraan orang lain, manjur atau tidak caybe tidak berani
tanggung.”
Ke Giok Lang tertawa hambar, dia
serahkan kipasnya ketangan Hoo Lian Hoa kemudian dari dalam sakunya
mengeluarkan pula empat batang pedang pendek yang panjangnya ada
delapan cun.
“Ke Kongcu, apa gunanya keempat
bilah pedang pendek yang kau sembunyikan dalam tubuh mu itu?”
“Senjata tajam, sewaktu Kwan heng
sedang bergebrak dengan aku orang she Ke di-kemudian hari
kemungkinan besar dapat melihat bagaimanakah aku orang she Ke
menggunakan senjata tersebut.”
Setelah ia melakukan selurah
perkataan yang diucapkan Kwan Tiong Gak dengan sepasang telapak
dirapatkan jadi satu ia berjalan mendekati Lambang tersebut dan
menjalankan penghormatan sebanyak tiga kali ke-arah Lambang naga
sakti.
Si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang
yang memiliki nama tersohor dalam dunia persilatan ternyata
menjalankan penghormatan terhadap sebuah panji kecil, sebenarnya hal
ini merupakan suatu peristiwa yang menggelikan. Sekalipun begitu
Kwan Tiong Gak memperhatikannya dengan wajah serius. Seluruh
perhatiannya ditumpahkan keatas Lambang naga sakti itu.
Setelah menjalankan penghormatan
Ke Giok Lang melanjutkan perjalanannya memasuki bangunan itu.
Melihat tindakan sang pemuda. Kwan
Tiong Gak terperanjat, dia takut si kongcu romantis ini menangkan
keuntungan bagi Pui Ceng Yan buru buru serunya.
“Ke kongcu jangan lupa dengan
perjanjian kita.”
“Soal ini harap kau berlega hati.”
jawab Ke Giok Lang sambil berpaling dan tertawa. “Selama cayhe masih
menginginkan peta pengangon kambing, tak akan kucelakai saudara
Poei.”
Dengan langkah labar ia
melanjutkan perjalanannya masuk kedalam ruangan itu.
Kurang lebih seperminum teh
kemudian dongan wajah pucat pasi bagaikan mayat Ke Giok Lang muncul
kembali dari balik ruangan dan berjalan mendekat dengan langkah
terburu buru.
Menjumpai perubahan wajahnya Kwan
Tiong Gak segera menduga ia telah menemui suatu perubahan besar,
diam diam ia salurkan hawa murninya mengadakan persiapan.
Dangan langkah lebar Ke Giok Lang
berjalan mendekat, segera tegurnya dengan rada dingin.
“Kwan Tiong Gak, ada hubungan apa
antara perusahaan kiokmu dengan Lambang Naga Sakti tersebut?”
Mendapat pertanyaan begitu Kwan
Tiong Gak tertegun,
“Dikolong langit siapa yang tidak
tahu kalau sang pemilik Lambang Naga Sakti adalah seorang jago lihay
bagaikan naga sakti, seorang jago lihay bagaikan naga sakti yang
nampak kepala tak nampak ekor. Mana mungkin dia punya hubungan
dengan perusahaan Piauw kiok kami?”
“Kalau tidak ada hubungan, maka
dengan memberanikan diri aku orang she Ke akan menuduh bahwa Lambang
Naga Sakti tersebut adalah ciptaan perusahaan Piauw kiok kalian
seodiri….”
Ia mendongak tertawa terbahak
bahak, kemudian terusnya,
“Perusahaan Hauw Wie Piauw kiok
bisa malang melintang di Utara maupun Selatan selama banyak tahun
tanpa mempunyai peristiwa kiranya di balik hal tersebut tersembunyi
rahasia ini!”
“Ke Kongcu!” ujar Kwan Tiong Gak
dengan wajah serius. “Kalau perusahaan Piauw kiok kami punya
hubungan dengan Lambang Naga Sakti tersebut, hal ini merupakan Suatu
kebanggaan dari perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kami, kenapa cayhe
tidak barani mengaku? sedangkan mengenai pemalsuan Lambang Naga
Sakti, bukannya aku orang she Kwan tempeli emas diatas wajah sendiri
aku tidak punya keberanian sebesar itu.”
“Tapi kau harus tahu. Sewaktu
cayhe untuk pertama kali menjumpai Lambang Naga Sakti hal ini
terjadi di dalam kereta yang ditumpangi nona Liuw, jelas Lambang itu
ada sangkut pautnya dengan perusahaan kalian lalu ketika untuk kedua
kalinya menjumpai lambang naga sakti lagi. kembali urusan ini ada
sangkut pautnya dengan perusahaanmu”
“Tentang Lambang naga sakti yang
muncul dalam kereta nona Liuw sampai detik ini cayhe tidak pernah
mendengar laporan, seandainya benar terjadi peristiwa ini Piauwsu
dari perusahaan kami sejak semula telah melaporkan hal tersebut
kepadaku mengenai -munculnya lambang tersebut pada saat ini entah
secara bagaimana kau menuduh ada sangkut pautnya dengan perusahaan
kami?”
“Orang itu telah menolong Pui Ceng
Yan disamping itu membinasakan pula empat orang pengawalnya”
“Aaaakh, ada kejadian semacam
ini?” seru Kwan Tiong Gak kembali dibikin tertegun.
“Kalau kau tidak percaya boleh
masuk ke dalam ruangan dan memeriksa sendiri.”
Sembari berkata ia menerima
kembali-pedang pendek serta kipasnya dari tangan Hoo Lian Hoa.
Jelas, tiada maksud untuk turun
tangan.
Sambil memandang Lambang naga
sakti yang berkibar tertiup angin, dengan kebingungan Kwan Tiong Gak
berseru.
“Peristiwa ini memang sedikit
mengherankan!”
“Kwan Ciong Piauw tauw benarkah
kau sangat takut dengan lambang naga sakti itu?”
“Cayhe dilahirkan lebih tua
puluhan tahun Ke Kongcu, pengetahuan maupun pengalaman yang
kualamipun jauh lebih banyak dari dirimu, aku mengerti apa yang
dikabarkan selama ini dalam Bu lim suatu berita bohong belaka,
peristiwa tersebut benar benar suatu peristiwa berdarah yang nyata.”
“Kalau begitu Kwan heng tidak
bermaksud masuk kedalam sana?” kata Ke Giok Lang dingin.
“Kalau benar Poei Hu Cong Piauw
tauw dari perusahaan kami telah ditolong orang masuk atau tidaknya
aku orang she Kwan ke dalam ruangan rasanya tiada sangkut paut yang
penting lagi.”
“Cayhe minta kau suka mengikuti
aku masuk kedalam ruangan dan melihat bagaimana keempat orang anak
buahku terbunuh.”
Kwan Tiong Gak termenung berpikir
beberapa saat lamanya, lalu ujarnya, “Mungkin batok kepala mereka
telah di tabas putus kemudian dijejerkan menjadi satu diatas meja?”
“Sedikitpun tidak salah, agaknya
orang itu amat suka akan kebersihan, setelah membinasakan mereka
masih ada kesenangan untuk mengatur batok kepala mereka teratur
rapi.”
“Ke Kongcu!” Dengan cepat Kwan
Tiong Gak menggeleng. “Itulah kebiasaan dari pemilik lambang naga
sakti, aku orang she Kwan selamanya tidak pernah berbohong. Majikan
naga sakti, aku orang she Kwan selama nya tidak pernah berbohong,
majikan lambang naga sakti sama sekali tidak ada hubungan dengan
kami dari perusahaan Hauw Wie Piauw-kiok, paling sedikit aku tidak
tersangkut paut dengan peristiwa tersebut….”
Ia meloncat naik keatas pelana dan
menyambung kembali kata-kata.
“Aku orang she Kwan percaya atas
perkataan Ke Kongcu, kini Poei Ha Cong Piauw tauw dari perusahaan
kami telah ditolong orang, agaknya kitapun tiada suatu tujuan untuk
saling bergebrak, cayhe mohon diri terlebih dahulu.”
“Tunggu sebentar.”
“Ke Kongcu, kau masih ada urusan
apa lagi?” tanya Kwan Tiong Gak bertanya.
“Sekalipun Poei Ceng Yan sudah
ditolong orang, namun peta pengangon kambing masih berada dalam saku
Cong Piauw tauw.”
“Sedikitpun tidak salah, tetapi
cayhe-pun ingin menasehati diri Ke Kongcu Pemilik lambang naga sakti
telah meninggalkan tanda pembunuhnya disini, hal ini sama artinya
memberi peringatan buat diri Ke Kongcu sendiri, Apa yang Ke Kongcu
sedang lakukan pada saat ini lebih baik segera dihentikan,”
Mendengar ucapan itu kontan Ke
Giok Lang tertawa terbahak bahak.
“Menghentikan semua usahaku untuk
mendapatan peta pengangon kambing tersebut?”
“Ke Kongcu lebih baik jangan
terlalu menyudutkan orang lain aku orang she Kwan bukan lagi menakut
nakuti dirimu, kalau kau ada maksud mencari gara gara dengan pemilik
lambang naga sakti. silahkan Ke Kongcu gerakan seluruh anak buahmu
yang telah kau tempatkan disekeliling tempat ini!”
“Jadi kau sudah tahu kalau kau
berada dalam kepungan?” seru Ke Giok Lang.
Kwan Tiong Gak segera mendongak
tertawa terbahak bahak.
“Aku orang she Kwan dengan
menunggang kuda serta andalkan golok emas pernah menerjang berpuluh
puluh bahkan beratus-ratus kepungan, pemainan dari Ke Kongcu ini
telah aku orang she Kwan ketahui sejak masuk kedalam hutan tadi.”
Sreeeet! Ke Giok Lang segera
membentangkan senjata kipas ditangannya.
“Kwan Tiong Gak, ada dua jalan
untuk mu. Silahkan kau memilih sendiri!”
“Tolong tanya dua jalan yang
mana?”
“Tinggalkan peta pengangon kambing
atau terjang keluar dari kepungan aku orang she Ke.”
Mendengar ancaman itu Kwan Tiong
Gak tanpa terasa telah meraba gagang golok emasnya.
“Ke Kongcu, kalau kau sudah ambil
keputusan untuK mencari menang kalah di antara kita, ini pun
merupakan persoalan yang tak bisa dihindarkan lagi.”
Selagi Ke Giok Lang siap
menggerakan kipasnya untuk memberi tanda, mendadak terdengar suara
jeritan ngeri berkumandang datang dari tempat kejauhan.
Kedua jeritan tajam tadi membuat
gerakan kipas Ke Giok Lang berhenti di tengah jalan.
“Siapa!” bentaknya berat.
“Aku!” seseorang menjawab, Seorang
lelaki berpakaian ketat dengan sepasang tangannya membawa dua butir
batok kepala berjalan mendekat dengan langkah lebar.
Menemui orang hawa gusar segera
memuncak dalam benak Ke Giok Lang serunya dengan suara keras,
“Keparat, nyalimu sungguh tidak kecil”
“Hamba tidak bisa tidak harus
datang, ia sudah menotok beberapa jalan-jalan darah ku,” seru orang
itu buru buru.
Sembari berkata ia melanjutkan
langkah nya mendekati Ke Giok Lang.
“Bangsat, kau cari mati.”
Tangan kanannya diayunkan kedepan
melancarkan sebuah hantaman mengancam dada orang itu.
Orang tadi dapat melihat jelas
datangnya serangan yang mengancam dadanya namun ia tak berkekuatan
untuk menghindar.
“Braaaak….!” dengan telak serangan
tadi bersarang ditubuhnya.
Serangan tadi Ke Giok Lang ini
datangnya amat berat, terhajar oleh serangan terse-but lelaki tadi
muntahkan darah segar dan roboh keatas tanah dengan badan kaku.
“Ke Kongcu, jalan darahnya telah
tertotok membuat badannya tak dapat menekuk.” seru Kwan Tiong Gak
dari samping. “Kau membinasakan dirinya apakah tidak terlalu
sayang?”
Setelah Ke Giok Lang membinasakan
orang itu, dalam hatinya timbul kewaspadaan, melihat pula
pinggangnya kaku, kakinya kaku jelas beberapa buah jalan darahnya
sudah tertotok ia makin terperanjat.
Apakah setelah diketahui pula
kedua butir batok kepala yang dibawa orang itu bukan lain adalah
batok kepala dari anak buahnya yang ia sembunyikan diseliling tempat
itu.
Bagaimanapun ia adalah seorang
manusia berpikiran cerdik, setelah dipikir sebentar, otakpun jadi
terang kembali.
“Ehhm….! agaknya beberapa buah
jalan darahnya memang tertotok!” sahutnya sambil tertawa hambar.
“Kemungkinan sekali dia masih ada
urusan hendak dilaporkan kepada Ke Kongcu dengan hajarannya barusan
sehingga jiwanya melayang, kau telah kehilangan sebuah peluang baik
untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.”
“Hmmn! asal kita melakukan
pemeriksaan lebih seksama lagi, rasanya tidak sukar untuk mengetahui
keadaan sebenarnya, tidak perlu ia beri keterangan….”
Dari penjelasan itu Kwan Tiong Gak
dapat menarik kesimpulan bahwa Ke Giok Lang sudah tahu salah kendati
diluar masih ngotot, ia pun tidak bisa memecahkan rahasia itu.
sambil tertawa hambar katanya, “Cayhepun seharusnya segara
berangkat.”
Air maka Ke Giok Lang berubah
sangat hebat sehingga susah dilukiskan dengan kata-kata, jelas ia
sedang merasa sedih dan mendongkol karena usahanya telah menemui
kegagalan.
Dengan susah payah ia pancing Kwan
Tiong Gak masuk kedalom jebakan, kini suruh dia melepaskan begitu
ssja tentu saja dalam hati mereka sedikit tidak rela.
Tetapi perubahan yang terjadi sama
sekali berada diluar kekuasaan Ke Giok Lang. masih hidupkan
jago-jago yang ia atur disekitar tempat itu? ia tidak berani
memastikan.
Untuk beberapa waktu lamanya hati
terasa sangat sedih sehingga dalam sesaat tak sanggup mengucapkan
sepatah katapun.
Teraengar Kwan Tiong Gak
tersenyum, ujarnya perlahan-lahan, “Saudara Poei telah ditolong
orang orang yang kau atur disekeliling tempat inipun tak bisa
diandalkan lagi, kalau mau bergebrak terpaksa kita harus berduel, ke
kongcu pertimbangkan dulu situasi disini, apakah kau yakin dapat
dapat mengalahkan aku orang she Kwan.?”
Air muka Ke Giok Lang berubah
hebat, tapi sebentar kemudian ia sudah tertawa.
“Cayhe ada satu persoalan yaug tak
berhasil kupahami walau sudah dipikir berulang kali. kini ingin
kupinta petunjuk dari Kwan heng.” katanya.
“Asal aku orang she Kwan tabu,
tentu akan ku utarakan….”
“Ilmu kepandaian apakah yang telah
di gunakan orang itu sehingga membuat pinggangnya laras kakinya kaku
dan berjalan tanpa menekuk. Walaupun kesadarannya masih tetap ada
namun seluruh badannya tidak mendengar perintah lagi.
“Aku orang she Kwan pun belum
pernah mendengar ilmu kepandaian macam ini seperti pula Ke Kongcu
baru pertama kali ini aku menjumpainya.”
“Oodw…. aku masih mengira kau
tahu.” seru Ke Giok Lang ia lantas ulapkan tangannya. “Kalau kau
tidak tahu, cayhe pun tak ingin mengganggu perjalananmu lagi,
silahkan anda melanjutkan perjalanan.”
Kwan Tiong Gak segera menyentak
tali les kuda, di iringi suara ringkikan panjang ia kabur kedepan.
Dasarnya kuda tersebut adalah
seekor kuda mustika yang bisa melakukan perjalanan seribu dalam
sehari, dalam sekejap saja bayangan orang she Kwan telah lenyap dari
pandangan.
Ke Giok Lang tidak menghalangi
perjalanannya, dengan mata mendelong ia awasi Kwan Tiong Gak hingga
lenyap dari pandangan.
Melihat sang Hoa Hoa Kongcu
berdiri melongo, dengan langkah pelan Hoa Lian Hoa jalan
menghampiri, hiburnya, “Giok Lang, biarkanlah berlalu! waktu
dikemudian hari masih panjang kita cari lagi siasat lain untnk
hadapi dirinya.”
Ke Giok Lang mengangguk, ia
rangkul gadis she Hoo itu dan menyahut, “Aku tjdak jeri terhadap
Kwan Tiong Gak yang kupikirkan adalah yang punya lambang Naga
Sakti….”
“Lambang Naga Sakti merupakan
benda pantangan bagi orang orang Bu lim, lebih baik kau mengalah
saja terhadapnya.” sambung sang gadis cepat.
“Aku sedang berpikir, secara
bagaimana dapat berjumpa muka dengan yang punya lambang Naga Sakti
itu!”
“Orang orang kangouw pada
menyingkir dan berusaha menghindarkan diri dari pertemuan dengan
lambang Naga Sakti, apa perlu nya kau ingin berjumpa muka dengan
dirinya “
“Sedikitpun tidak salah, pemilik
Lambang Naga Sakti dapat menggetarkan seluruh Rimba persilatan
karena ia terlalu misterius orang orang kangouw tak ada yang
berhasil menjumpai dirinya, perduli bagaimana lihaynya kepandaian
silat orang itu, ia tetap seorang manusia!”
“Apa yang kau bicarakan terlalu
mendalam,” seru Hoo Lian Ho dengan sepasang mata terbelalak lebar.
“Ada yang tidak dapat kupahami.”
Ke Giok Lang angkat muka keatas
dan menghela napas panjang.
“Walaupun Lambang Naga Sakti
tersebut dari siluman emas, namun umur tak akan menanti manusia,
kalau dugaanku tidak meleset maka benda tersebut sudah seharusnya
berganti pemilik.”
“Maksud Giok Lang, apakah pemilik
Lambang Naga Sakti itu kemungkinan besar adalah putra dari pemilik
tua.”
“Bslum tentu putranya, mungkin
juga, murid muridnya. Lambang Naga Sakti pernah menggetarkan dunia
persilatan selama sepuluh tahun, ini hari muncul kembali dalam unia
persilatan, kalau pemiliknya masih tetap pemilik lama, ia tentu
sudah sangat tua.”
“Sangat cengli ucapanmu,” Hoo Lian
Hoa mengangguk dan tertawa. “Namun sekali pun pemiliknya sudah
berganti tangan, orang orang Bu lim masih jeri terhadap dirinya,
kenapa kita tidak mengalah pula buat dirinya?”
“Bukan saja kita harus mengalah
kepadanya, bahkan harus berusaha untuk berkenalan dengan dirinya.”
“Berkenalan dengan dirinya?”
“Benar, tetapi untuk itu kau harus
bayak memberi bantuan.”
“Kepandaian silatku tidak dapat
menyamai kepandaianmu, dalam soal kecerdasan otak pun tak bisa
menangkan dirimu, bagai mana aku bisa membantu usahamu ini??”
“Sssst….! menurut pendapatmu
pemilik lambang naga sakti itu seorang lelaki atau seorang
perempuan?” bisik Ke Giok Lang lirih.
“Lelaki!”
“Berdasarkan hal apa kau bisa
berkata dengan begitu yakin?”
“Entahlah, aku sendiripun tidak
tahu, aku hanya berpikir demikian.”
“Apa yang kau pikirkan sedikitpun
tidak salah,” Ke Giok Lang tersenyum. “Aku pun merasa dia adalah
seorang lelaki, oleh sebab itu aku ingin membantumu.”
“Kau ingin aku berbuat apa?”
“Pemilik Lambang Naga Sakti adalah
seorang enghiong hoo ban, ia tidak akan melukai kaum gadis, terutama
sekali gadis yang cantik jelita macam kau, begitu bukan?”
“Aaaakh!….” Agaknya Hoo Lian Hoa
sudah paham apa yang sedang dimaksudkan kekasihnya. “Kau ingin aku
pergi cari dirinya….”
“Urusan ini harus kita susun dulu
suatu rencana yang bagus dan rapat, kita tak boleh bekerja
sembarangan,” sambung Ke Giok Lang cepat.
“Giok Lang!” Sepasang alis Hoo
Lian Hoa berkerut. “Perkataan apapun aku suka mendengarkan, namun
kalau suruh aku mencari lelaki lain, aku….”
Ke Giok Lang segera merangkul
pinggang Hoo Lian Hoa erat erat dengan nada sayang serunya lirih.
“Kecuali kau, orang lain bagaimana
mungkin dapat berjumpa dengan manusia sakti yang kelihatan kepalanya
tak kelihaian , ekornya ini?”
“Secara bagaimana aku dapat
berjumpa dengan dirinya?”
“Kalau ada seorang gadis cantik,
dia adalah lelaki….”
Bicara sampai disitu ia merandek
dan memperdengarkan suara suitan aneh berulang kali.
Dari empat penjuru tampak bayangan
manusia berkelebat, empat lima orang lelaki berbaju hitam dengan
langkah terburu buru munculkan diri dan berhenti kurang lebih lima
depa dihadapan Ke Giok Lang….
“Hanya kalian beberapa orang?!”
tanya Sang Kongcu romantis dengan alis berkerut.
Kelima orang lelaki keluar itu
saling bertukar pandangan, mereka tidak tahu apa yang diucapkan.
“Cepat lakukan pemeriksaan
disekeliling tempat ini, kau menemukan jenasah segera dikubur!”
Agaknya kelima orang itu menaruh
rasa hormat dan jeri terhadap Ke Giok Lang, walaupun dalam hati
merasa kurang begitu paham namun mereka tak berani banyak bertanya,
setelah menjura segera berlalu dari sana.
“Kau telah sembunyikan berapa
orang diaekitar sini?” bisik Hoo Lian Hoa setelah kelima orang
lelaki itu berlalu.
“Lima belas orang, tetapi sekarang
tinggal mereka berlima.”
“Sisanya sepuluh orang telah
kemana?”
Ke Giok Lang menggeleng dan
tertawa getir,
“Kalau bukan mati jalan darahnya
telah tertotok. Aaa…. sejak aku Ke Giok Lang munculkan diri dalam
dunia persilatan, belum pernah kualami kekalahan total macam ini
hari.”
Tiba tiba ia teringat akan lambang
Naga Sakti yang tertancap di depan pintu, buru-buru kepalanya
berpaling.
“Aaakh….!” saking kagetnya Ke
Giok-Lang tak dapat menahan golakan hatinya.
Pintu bangunan kosong bersih,
lambang Naga Sakti tersebut entah sejak kapan telah diambil kembali
oleh pemiliknya.
Agaknya Hoo Lian Hoa pun dapat
menemukan apabila lambang Naga Sakti telah lenyap, ia tertegun.
“Giok Lang. lambang Naga Sakti
telah lenyap tak berbekas.” serunya.
Air muka Ke Giok Lang sebentar
berubah pucat pasi, sebentar berubah hijau membesi, tangannya rada
gemetar. Jelas dalam hatinya telah terjadi suatu pergolakan yang
amat besar.
“Giok Lang, kenapa kau?” tanya Hoo
Lian Hoa sambil mencekal tangan kanan, pemuda itu dan menggenggamnya
dengan erat erat.
Ke Giok Lang tertawa dingin,
dengan sepasang mata memancarkan cahaya buas serunya, “Aku bersumpah
tak akan berpeluk tangan terhadap orang ini!”
Sementara itu kita balik pada Kwsn
Tiong Gak yang melarikan kudanya melanjut kan perjalanan.
Setelah berlari beberapa saat
lamanya ia tarik les memperlambat lari kudanya dan berpikir.
“Antara pemilik lambang Naga Sakti
dengan perusahaan Hauw Wie Piauw kiok sama sekali tiada ikatan
ataupun hubungan, tetapi jelas ia sedang membantu orang jadi
kebingungan setengah mati.”
Mendadak suatu ingatan berkelebat
dalam benaknya, ia berpikir lebih jauh, “Apakah ia pun berbuat
demikian disebabkan peta pengangon kambing itu? Memberi budi dahulu
kepadaku kemudian baru meminta barang yang ia butuhkan….,”
“Toako….” Suara yang amat dikenal
berkumandang dari sisi jalan menyadarkan Kwan Tiong Gak dari
lamunannya.
Setelah mendengar suara tersebut,
tanpa angkat muka lagi Kwan Tiong Gak dapat menebak siapakah dia.
Tetapi ia mendongak juga memandang
sekejap kearah orang itu.
Tampaklah ditepi jalan diatas
sebuah lapangan berumput duduk seorang kakek tua yang bukan lain
ialah Pui Ceng Yan
Perlahan lahan Pui Ceng Yan bangun
berdiri kemudian berjalan menghampiri Cong Piauw-tauwnya dan
menjura, “Menjumpai Toako.”
Kwan Tiong Gak usap tangan menyeka
pundak Pui Ceng Yan, mengambil kesempatan itu ia meloncat turun dari
atas pelana Kuda, katanya, “Saudara, kau terlalu menderita….”
“Masih baikan!” jawab Put Ceng Yan
sambil menggeleng dan tertawa getir. “Beberapa orang anak buah Ke
Giok Lang ada maksud menyiksa diriku, saat itulah muncul seorang
menolong diriku. Aaaaai….! pada hal sekalipun siauwte harus
menderita lagi pun tidak mengapa asal tidak sampai memalukan
nama toako….”
“Aku rasa Ke Giok Lang tak akan
menipu diriku apa yang telah terjadi, karena itu kau tak usah
bercerita lagi.”
“Siauwte merasa amat kecewa.”
“Haaaa haaaa haaaa….perhitungan
manusia tak dapat menandingi perhitungan Thian dengan tidak
mengindahkan peraturan Bu lim Ke Giok Lang telah membokong diri mu,
apa yang bisa kita lakukan lagi?”
“Yang paling penting adalah
siauwte terlalu gegabah, setelah mengetahui Giok Lang munculkan diri
ternyata tidak ambil kewaspadaan apapun.”
“Serangan terang terangan mudah
dihindari, serangan bokongan susah dikelit, kau pun tak usah
bersedih h»ti karena peristiwa ini, hanya saja ada satu persoalan
membuat siauw heng merasa kurang paham.”
“Urusan apa?”
“Siapakah yang menolong dirimu?”
Pui Ceng Yan kelihatan tertegun, lalu jawabnya, “Siauwte merasa amat
malu, hingga sekarang aku belum berhasil menjumpai dirinya, namun
aku pikir dia tentu sahabat dari toako.”
“Jadi kau tidak berhasil menjumpai
diri nya?” tanya Kwan Tiong Gak agak melengak.
“Aaaai….kalau dikatakan
memalukan.”
“Orang itu adalah pemilik Lambang
Naga Sakti.”
“Pemilik Lambang Naga Sakti? bagai
mana toako bisa tahu?”
“Untuk menolong dirimu, ia telah
membinasakan orang yang berada didalam bangunan itu dan meninggalkan
lambang Naga Saktinya, setelah itu membereskan pula orang-orang yang
di atur Ke Giok Lang dalam hutan, boleh dihitung bukan saja ia telah
menolong dirimu, bahkan telah menolong diriku pula.”
“Tapi bagaimanakah macam wajahnya,
aku tak dapat melihatnya.”
“Tiada angin tak akan menimbulkan
ombak, persoalan ini tentu ada suatu hubungan yang sang sangat kait
mengait, coba pikirlah perlahan lahan selama beberapa tahun ini kau
pernah melakukan pekerjaan -apa yang telah menolong orang lain!”
“Sekalipun ada urusan kecil
siauwte, pun tak bisa mengingatnya semua, tapi aku rasa pemilik Naga
Sakti tak bakal membutuhkan bantuan siauwte.”
“Mari kita melanjutkan perjalanan,
sembari berjalan kita bercakap cakap!”
Ia lompat naik ke atas panggang
kuda nya sekalian menarik tubuh Pai Ceng Yan naik keatas kudanya
pula.
Koda jempolan dari Kwan Tiong Gak
ini berperawakan tinggi dan berkekuatan besar. baru saja kedua orang
Itu duduk seolah olah hanya mengangkut seorang saja, kuda tadi
laksana anak panah terlepas dari busur segera berlari kedepan.
Ditengah berlarinya kuda itu
dengan kencang, mendadak Pui Ceng Yan teringat akan seekor kuda
mustika lain yang pernah di jumpainya, tanpa terasa ia berseru
tertahan.
Mendengar seruan itu Kwan Tiong
Gak segera menarik tali les dan menghentikan lari kudanya.
“Ada urusan apa ” tanyanya cepat.
“Setelah menunggang kuda mustika
dari Toako, seketika akupun teringat akan suatu persoalan….,”
“Apakah ada sangkut pautnya dengan
Lambang Naga Sakti?”
“Soal ini susah untuk
dibicarakan,kalau tidak diperhatikan seolah olah urasan ini hanya
matu persoalan kecil, namun setelah diperhatikan dengan seksama aku
rasa dibalik peristiwa itu tersambunyi suatu hal yang sulit.”
“Persoalan macam apakah itu?”
“Apakah toako masih ingin dengan
peta pangangon kambing?? sampai sekarang siauwte masih belum tahu
siapakah yang telah menghantarkan benda mustika itu kepadaku.”
Dengan wajah serius Kwan Tiong Gak
berpaling memandang sekejap wajah Poei Ceng Yan.
“Apakah peristiwa itu bukan
rencana yang kau susun “
Dengan cepat Poei Ceng Yan
menggeleng.
“Persoalan yang tidak mendapat
perintah dari toako, mana berani siauwte ambil keputusan sendiri.”
“Ehhh….jadi maksudmu, ada orang
yang membantu Kita secara diam-diam….”
“Sejak semula siauwte sudah punya
pemikiran begini, tapi tak berhasil kuketahui siapakah dia.”
“Si pemilik Lambang Naga Sakti.”
“Siauwte tidak berani mengambil
kesimpulan pasti dirinya, tapi ditinjau dari situasi saat ini dimana
Lambang Naga Sakti munculkan diri berulang kali, aku rasa agaknya
kemunculannya ada hubungan yang sangat erat dengan perusahaan Hauw
Wie Piauw kiok.”
“Bukan, tiada sangkut paut dengan
perusahaan Hauw Wie Piauw kiok, tapi apa sangkut paut dengan dirimu
pribadi,” dengan cepat Kwan Tiong Gak menambahkan.
Mendengar perkataan itu Poei Ceng
Yan tertawa getir.
“Siauwte sama sekali tak
terpikirkan secara bagaimana bisa mengikat hubungan dengan pemilik
Lambang Naga Sakti.”
“Mungkin secara tidak sadar kau
telah membantu dirinya.”
“Siauwte pun pernah berpikir
demikian. Sewaktu berada disebuah kuil ditengah pegunungan aku
pernah menolong seorang kawan Bu lim yang masih muda, ia terhajar
oleh senjata rahasia beracun, kuda yang ditunggangi adalah seekor
kudi putih bersih bagaikan salju, setelah siauwte bantu menyembuhkan
lukanya tanpa mengucapkan sepatah Kata pun ia lantas berlalu dari
sana. kalau ditinjau dari kudanya bukan saja tidak berada di bawah
kuda jempolan milik Toaso bahkan amat cerdik….”
“Kau tidak bertanya siapakah
namanya?”
“Aganya ia tidak ingin bicara,
siauwte pun tidak bertanya lebih jauh, namun usianya terlalu muda.
aku rasa ia tidak mungkin ada sangkut pautnya dengan pemilik Lambang
Naga Sakti.”
“Kau masih bisa mengenali
dirinya?”
“Teringat situasi sewaktu aku
menyembuhkan lukanya, seolah olah ia ada maksud menghindarkan diri
dari bentrokan mata dengan siwwte. agaknya ia tidak membiarkan orang
lain melihat jelas bagaimanakah wajahnya. tapi keadaan garis
besarnya siauwte masih ingat.”
“Setelah menyembuhkan lukanya,
apakah kau pernah berjumpa lagi dengan dirinya.”
“Pernah.”
“Dimana?”
(Bersambung Jilid 21)
Jilid 21
“SEWAKTU toako mengadakan
perjamuan ditepi telaga Huan Yang, seorang pemuda muncul tanpa
menimbulkan suara kemudian berlalu tanpa meninggalkan jejak waktu
siauwte tidak terlalu ambil perhatian, kalau kupikir sekarang ada
delapan bagian orang itu adalah sang pemuda yang telah Siauwte
tolong…..”
Ia menghembuskan napas panjang,
setelah merandek sejenak terusnya, “Siauwte merasa sangat menyesal
dan main setelah keluar dari kota Kay Hong telah dibius orang
kemudian dikurung dalam bangunan tersebut….,….”
“Inilah yang dinamakan Manusia
punya maksud. Tuhan punya kuasa,” tukas Kwan Tiong Gak sambil
tertawa hambar. “Ke Giok Lang telah menggunakan cara yang paling
rendah untuk membius dirimu, tidak dapat disalahkan kau tak berhasil
menghindarkan diri kaupun tak usah bersedih hati karena persoalan
ini….”
Ia merandek sejenak, lalu
terusnya.
“Persoalan yang paling penting
pada saat ini adalah kita harus berusaha mencari tahu apa maksud
dari pemilik lambang naga sakti kalau ia pun ada maksud mencampuri
urusan ini, aku rasa peta pengangon kambing ini adalah pemilik
lambang naga sakti, aku rasa dia tiada beralasan untuk merebut
kembali peta Pengangon Kambing tersebut.”
“Semoga saja demikian.” Ia sentak
tali les dan melarikan kudanya bagaikan angin kearah depan.
“Toako,” kata Poei Ceng Yan dengan
Suara berat. “Didepan ada perempatan, turun kan aku disana karena
aku harus segera melanjutkan perjalanan. Namun dengan adanya
peristiwa ini perjalananku akan terlambat satu atau dua malam.”
“Kau tak usah melakukan perjalanan
lagi karena aku sudah berubah pikiran….”
kata Kwan Tiong Gak sambil
melarikan kudanya cepat cepat. “Kita tak usah pulang keibu kota
lagi, setibanya ke kota Cang Tek Hu nanti kita segera kirim utusan
untuk kembali ke ibu kota mengumpulkan beberapa orang jago lihay
untuk segera berangkat kemari, di samping itu kirim kabar pula
keseluruh kantor cabang untuk sementara menghentikan semua usaha.”
“Toako jadi kau tidak jadi
membubarkan perusahaan Hauw Wie Piauw kiok?”
“Urusan ini amat penting dan
mempunyai sangkut paut yang besar dengan peristiwa Bu lim, aku rasa
dalam waktu singkat susah memberi penjelasan kepada mereka. Untung
sekali di dalam kantor cabang masih tersedia sejumlah harta,” ia
mendongak tertawa terbahak, sambungnya, “Padahal cara, inipun
merupakan suatu usaha yang terpaksa, dalam keadaan semacam ini mau
tak mau kita harus berusaha untuk menghadapi segala perubahan.”
“Toako, menurut pandangan setelah
Ke-Giok Lang mendapat peringatan tersebut dapatkah ia memusuhi kita
lagi?”
“Ke Giok Lang tidak akan berpeluk
tangan tapi berhubung nama lambang Naga Sakti terlalu besar ia tentu
dibuat jeri. Saat ini hanya ada dua persoalan saja membuat aku masih
kebingungan.”
“Persoalan apa?”
“Ke Giok Lang beritahu padaku
bahwa didalam kamar nona Liuw Wan Jie ia telah menemui lambang Naga
Sakti, maka dari itu usahanya mencuri di batalkan dan di ganti
menghadiahkan sebutir pil mujarab, kemudian secara diam mengundurkan
diri, soal ini apakah kau tahu?”
“Pertama kali Thian Lam Sah
setelah membuka horden kereta yang di tumpangi nona Liuw dengan
ketakutan ia mengundurkan diri, kedua kalinya Ke Giok Lang
kembalikan peta pengangon kambing dan melarikan diri, kedua kalinya
Ke Giok Lang menjalankan siasat memancing harimau turun gunung
menyingkirkan diriku dari rumah penginapan dan ia sendiri
menyelundup masuk menguasai seluruh anak buah perusahaan dan
menerobos kedalam kamar Liauw Wan jie, tapi akhirnya iapun batalkan
maksudnya, setelah menghadiahkan obat mujarab lantas mengundurkan
diri.”
“Kalau begitu Lau Thian Sam Sah
serta Ke Giok Lang telah menjumpai lambang Naga Sakti?”
“Soal ini siauwte kurang jelas,
aku serta Piauw tauw pernah melakukan penelitian sampai beberapa
kali, namun semua usaha kami menjumpai kegagalan.”
“Kecuali lambang Naga Sakti
dikolong langit rasanya tak ada barang kedua yang bisa mendatangkan
kekuatan sebesar itu sehingga dapat memaksa barang yang ada
ditangan dikembalikan lagi, namun di tinjau dari sudut ini rasanya
dapat ditarik kesimpulan pemilik lambang Naga Sakti itu hanya
bertindak. demikian demi Liuw Wan Jie”
Poei Ceng Yan termenung sebentar,
lalu Ujarnya, “Seandainya Liuw Wan jie mempunyai pemilik Lambang
Naga Sakti sebagai tulang punggungnya, bagaimana mungkin ia malah
suruh ayahnya menyerahkan peta pengangon kambing itu?”
“Ehhmmmn….! Perkataanmu memang
ceng li….” Ia mendehem ringan. “Apakah kau yakin Liuw Wan jie benar
benar tak dapat ilmu silat?”
“Secara diam-diam siauw tee pernah
melakukan pemeriksaan sebanyak beberapa kali. kecuali ia
berpura-pura sangat persis sehingga mataku bisa dikelabui, aku rasa
ia benar-benar seorang gadis yang tidak mengerti akan ilmu silat.”
“Seorang gadis yang sama sekali
tidak mengerti akan ilmu silat agaknya tidak mungkin bisa berkenalan
dengan pemilik lambang Naga Sakti namun bila ditinjau dari nada
ucapan Ke Giok Lang ia benar benar menjumpai lambang Naga Sakti
tersebut. Liuw Wan jie adalah seorang putri pembesar, setiap hari ia
bersembunyi di istana belakang, bagaimana ia bisa menjumpai Lambang
Naga Sakti? Peristiwa ini benar benar membuat orang merasa sedikit
tidak paham.”
“Sungguh tidak kusangka, Lambang
Naga Sakti yang tidak pernah muncul selama puluhan tahun bisa muncul
kembali dalam dunia persilatan bahkan tersangkut paut dalam
persoalan kita, hal ini membuat orang tak bisa menebak rejeki atau
bencanakah yang bakal kita terima!”
Lari kuda jempolan yang mereka
berdua tumpangi amat cepat sekali, walaupun dua orang berada diatas
satu pelana namun tak mengurangi kecepatannya untuk bergebrak.
Tidak selang beberapa saat
kemudian mereka telah melakukan perjalanan sejauh puluhan li dan
tiba tiba di sebuah kota kecil.
“Kita harus bersantap dahulu
sebelum melanjutkan perjalanan,” kata Kwan Tiong Gak sambil tertawa,
ia segera loncat turun hari atas pelananya. Kemudian langsung
berjalan masuk ke-dalam sebuah kedai arak.
Walaupun tempat itu hanya sebuah
kota kecil, tapi berhubung merupakan urat nadi dari perdagangan maka
tetamu yang singgah disanapun amat banyak, ruangan yang cukup besar
saat ini boleh dikata hampir penuh.
Sang pelayan datang menyambut,
sambil bongkok badan serta wajah penuh senyuman serunya, “Khek koan
berdua silahkan duduk….”
Ia membawa kedua orang itu masuk
kedalam ruangan, sinar mata berputar memeriksa apakah tempat duduk
kosong, sedang pelayan lain segera menyambut tali les dari tangan
Kwan Tiong Gak.
Melihat ruangan kedai itu sangat
penuh, Kwan Tiong Gak ada maksud mengundurkan diri, namun sewaktu
ditemuinya para tetamu yang ada disana sebagian besar adalah orang
kangouw ia batalkan niatnya.
Diatas jalan raya banyak berlalu
lalang manusia, menjumpai seorang dua orang jaga kangouw sebenarnya
bukan merupakan suatu kejadian besar, tapi kali ini Kwan Tiong Gak
telah menjumpai jago Kangouw yang hadir disana dalam jumlah sangat
banyak.
Yang membuat Kwan Tiong Gak tidak
paham adalah berpuluh-puluh orang jago kangouw itu rata rata
mempunyai pikiran dalam hati, setiap orang dengan kepala tertunduk,
alis berkerut dan wajah kesal menikmati hidangan masing masing.
Inilah yang menimbulkan rasa ingin
tahu dalam hati Kwan Tiong Gak, ia berharap bisa menemukan sesuatu
dari mereka.
Sementara itu dengan susah payah
akhirnya sang pelayan berhasil mendapatkan dua buah ternpat kosong,
buru-buru ia persilahkan kedua orang itu ambil tempat duduk.
“Yaya berdua hendak makan apa?”
tanyanya.
“Sepoci arak bagus serta beberapa
macam sayur yang paling lezat dari kedai kalian “
Sang pelayan mengiakan dan segera
berlalu.
Tempat duduk Kwan Tiong Gak serta
Poei Ceng Yan adalah sebuah meja kecil dekat jendela, disekeliling
mereka duduk adalah para pelancong, kuli serta berbagai ragam
manusia.
Beberapa saat kemudian sang
pelayan datang menghidangkan arak dan sayur yang dipesan.
Kwan Tiong Gsk memenuhi dahulu
cawan mereka berdua, lalu bisiknya lirih, “Apakah kau sudah
menemukan sesuatu?”
Poei Ceng Yan mengangguk.
“Dalam kedai terdapat tidak
sedikit jago kangouw….”
“Orang orang ini berkumpul disatu
tempat tapi bukan melakukan perjalanan bersama, yang paling aneh
setiap orang berwajah murung dsn kesal membuat orang lain merasa
curiga.”
Mendengar perkataan itu Poei Ceng
Yan ambil perhatian lebih seksama lagi, sedikitpun tidak salah ia
temukan para jago yang ada dalam kedai rata rata berwajah murung
dengan alis berkerut, ia jadi tercengang.
“Toako, apa sebenarnya telah
terjadi?”
“Aku sendiripun tidak paham,”
jawab Kwan Tiong Gak sambil meneguk isi cawannya. “Diantara para
jago ini ada dari kalangan lurus ada pula dari kalangan sesat, tidak
mungkin mereka berjumpa disini tanpa sengaja, aku rasa tentu apa
suatu peristiwa yang mencurigakan hati.”
“Mungkinkah ada hubungannya dengan
Lambang Naga Sakti?”
Kwan Tiong tercenung sejenak lalu
mengangguk….
“Ada kemungkinan demikian,”
Ditengah pembicaraan mendadak terdengar suara derapan kaki kuda
berkumandang datang, disusul munculnya dua ekor kuda berhenti pula
didepan kedai.
Kwan Tiong Gak segera alihkan
sinar matanya kedepan, tampak olehnya orang tersebut adalah dua
orang kakek tua berjubah hijau berjenggot putih dan berusia diantara
enam puluh tahunan.
Dandanan kedua orang itu mirip
satu sama lainnya, yang berbeda adalah wajah mereka. Orang yang
berada dipaling depan berwajah pucat pasi bagaikan kertas dan sama
sekali tidak kelihatan darah, sedang yang ada dibelakang berwajah
hitam pekat bagaikan pantat kuali, alisnya tebal terlintas selapis
hawa hitam, mereka bukan lain adalah Im Yang Siang Sah iblis
tersohor dalam dunia persilatan.
Kedua orang itu setelah turun dari
atas kuda lantas melangkah masuk kedalam kedai, terdengar seorang
berwajah putih berkata dengan nada bejat, “Loo-jie, aku lihat kita
minum dulu di sini sampai enam tujuh bagian, kemudian baru
melanjutkan perjalanan lagi, bagaimana?”
“Aku dengarkan keputusan dari
Loo-.toa.”
Kwan Tiong Gak tahu watak Im Yang
Siang Sah amat keji terhadap orang orang dari kalangan Liok lim pun
tidak pernah bersahabat, bahkan buas dan telengas, sepatah dua patah
kata tidak cocok lantas turun tangan membunuh orang, hal ini
menyebabkan jago kangouw baik dari kalangan Pek to maupun dari
kalangan Hek to sama sama menaruh rasa jeri dan sungkan terhadap
mereka.
Tetapi keadaan kali ini jauh
berbeda, begitu banyak jago jago Bu-lim yang ada dalam kedai tak
seorangpun yang menghindar atau bangun menyapa mereka.
Im Yang Siang Sah sendiri pun
keadaannya tidak seperti biasa, setelah masuk kedalam kedai mereka
mencari tempat duduk sendiri dengan mulut membungkam.
Ketika pelayan menghidangkan arak,
mereka segera meneguk tanpa menggubris orang lain.
Keadaan yang lain dari pada yang
lain ini mendatangkan rasa ingin tahu bagi Kwan Tiong Gak serta Poei
Ceng Yan, tanpa terasa merekapun perlambat tegukan araknya.
Tampak oleh mereka berdua,
kebanyakan jago jago Bu-lim baru berangkat setelah mabok enam tujuh
bagian, bahkan merekapun lebih sosial dari keadaan biasanya.
Orang terakhir yang berangkat
adalah Im Yang Siang Sah, sikakek wajah pucat mengeluarkan sekeping
emas dan diletakkan diatas meja kemudian berlalu.
Melihat emas itu bernilai diantara
enam tujuh tahil sang pelayanan jadi melengak.
“Eeeei! Khek koan berdua, kalian
berdua sudah memberi terlalu banyak, yang kalian letakkan dimeja
adalah emas,” serunya tanpa terasa.
Sikakek berwajah putih tertawa
hambar.
“Sisanya kuhadiahkan buat dirimu
minum teh,” katanya.
“Terlalu banyak…. terlalu
banyak….” seru pelayan itu berulang kali dengan tangan gemetar.
Namun Im Yang Siang Sah tidak
ambil perduli lagi, mereka keluar dari kedai naik kuda dan berlalu.
Menanti Im Yang Siang Sah telah
berlalu dan Kwan Tiong Gak merasa mereka adalah orang kangouw
terakhir, segera ikut bangun membayar uang arak dan berkata,
“Saudara Poei, bagaimana kalau kita pergi menonton apa yang mereka
hendak lakukan?”
“Jikalau toako merasa tidak perlu
terburu buru melakukan perjalanan, pergi menontonpun tiada
halangan.”
Kwan Tiong Gak lantas ulapkan
tangannya memanggil sang pelayan, katanya, “Kami mau beli kuda yang
kuat dan bisa lari cepat, carikan! sedikit mahalpun tidak mengapa.”
“Aaakb….,….! kota kami terlalu
kecil, tidak ada pasar kuda.” sahut sang pelayan dengan wajah serba
susah. “Namun kalau kau butuh sekali, biarlah hamba pergi adu
untung.”
Kwan Tiong Gak tersenyum, ia tidak
menjawab dan memandang pelayan tadi berlalu
“Toako,” bisik Poei Ceng Yan
sesudah pelayan itu berlalu. “Disini tak ada pasar kuda, mana
mungkin bisa dapatkan kuda?”
“Tidak mengapa nasib pelayan itu
sangat baik.”
Karena dari ucapan itu Poei Ceng
Yan bisa menangkap Suatu maksud tertentu, maka ia membungkam.
Beberapa saat kemudian, pelayan
itu muncul kembali, serunya, “Waach…. nasib kalian sungguh mujur,
hamba telah mendapatkan seorang penjual kuda, hanya saja harganya
sedikit mahal, dia minta dua puluh tahil perak,,”
“Benda ini rasanya cukup bukan.”
ujar Kwan Tiong Gak sambil mengeluarkan sebuah daun emas. “Cepat
siapkan pelana, kami segera akan berangkat melanjutkan perjalanan “
“Khek koan berdua silahkan menanti
didepan pintu, hamba segera membawa kuda kesana.”
Satelah membereskan rekening, Kwan
Tiong Gak dan Pui Ceng Yan berjalan keluar dari kedai itu.
Beberapa saat kemudian sang
pelayan membawa dua ekor kuda jempolan dari Kwen Tiong Gak dan kuda
yang lain adalah seekor kuda tinggi besar lengkap dengan pelananya.
“Khek koan berdua, kuda ini tidak
jelek bukan” ujar sang pelayan sambil tersenyum.
“Saudara Pui, kita segera
berangkat, “seru Kwan Tiong Gak sambil menerima tali les dan
melarikan tunggangnya kedepan.
Pui Ceng Yang pun buru buru
mencaplak kudanya membututi Cong Piauw tauw-nya setelah tiba disisi
orang she Kwan serunya, “Toako, bagaimana kau bisa tahu kalau
pelayan itu punya seekor kuda jempolan?”
“Tadi aku melihat seorang jago Bu
lim tidak cukup untuk membayar uang araknya ia lantas menggunakan
kudanya sebagai alat pembayaran, kalau ditinjau dari wataknya orang
ini tidak mirip jago dari kalangan lurus, namun ia rela menggunakan
kudanya untuk ditukar dengan santapan, ini menunjukkan dua
persoalan, mereka sedang menghadapi Suatu peristiwa besar yang tak
dapat di hindari lagi, dan mereka tak dapat menentukan nasib
sendiri, maka dari itu mereka tak ingin ribut lagi dengan orang lain
dan semua persoalan berusaha dikekang ….”
Sambil berpaling kearah Poei Cang
Yan. sambungnya, “Soal kedua! kita dapat membuktikan, kalau tempat
jauh mereka tuju tidak terlalu jauh dari kedai tersebut, maka tak
usah menunggang kudapun bisa tiba pada saatnya.”
“”Entah mereka hendak pergi
kemana?”
“Mungkin tidak akan terlalu jauh.”
Mendadak ia menuding kearah depan dan sambungnya.
“Coba lihat kedepan, kedua orang
itu bukankah Im Yang Siang-sah? ini menunjukkan bahwa jalan yang
kita tempuh tidak salah.”
“Kedua orang iblis tua itu tidak
mudah dihadapi, lebih baik kita perlambat perjalanan kita.”
“Aaacchh-.aku rasa tidak perlu,
coba lihat mereka pada tundukkan kepala dengan wajah lesu bagaikan
sedang menuju ke jalan kematian saja. dalam keadaan seperti ini
mereka tak akan ada gairah untuk mengumbar napsu, sekalipun dilewati
juga tidak mengapa.”
Ia segera menpercepat lari
kudanya, dalam sekejap mata mereka telah melewati Im Yang Siang Sah.
Kedua orang Iblis Im dan Yang ini
dengan membawa mabok duduk mematung di atas kudanya, sekalipun Kwan
Tiong Gak lewat dari sisinya mereka sama sekali tidak berpaling atau
bergerak.
Kwan Tiong Gak segera menarik tali
les menghadang jalan pergi kedua orang itu.
sebenarnya ia ada maksud membentak
namun niatnya segera dibatalkan karena secara mendadak ia teringat
akan watak Im Yang Siang Sah.
Agaknya Im Yang Siang Sah sama
sekali tidak menggubris diri Kwan Tiong Gak. sambil ceplak kuda
kedua orang itu melanjutkan perjalanan kedepan.
Melihat kejadian itu Poei Ceng Yan
segera mengejar Cong Piauw Tauwnya.
“Toako, agaknya Im Yang Siang Sah
sudah kehilangan semangat, entah apa sebabnya”
“Bukan cuma Im Yang Siang Sah
saja, semua jago Bu lim yang kita jumpai disepanjang jalan tak
seorang pun yang kelihatan segar dan bersemangat, mereka kelihatan
lesu semua, keadaan ini sangat aneh kita harus mengejar kedepan dan
melihat jalan apa sebetulnya yang telah terjadi.”
Terlihat Im Yang Siang Sah dengan
berbareng telah berjalan memasuki sebuah hutan bambu yang lebat.
Melihat kedua orang itu sudah
masuk ke-dalam hutan bambu. Kwan Tiong Gak serta Poei Ceng Yan
segera mengejar.
Tampak hutan bambu itu sangat
lebat, diantara pepohonan bambu terbentang sebuah jalan lorong yang
lebarnya ada empat depa.
Jalan lorong itu kelihatan masih
baru. jelas belum lama berselang digali.
Sekalipun begitu diatas tanah
banyak membekas telapak kaki kuda….
Kwan Tioag Gak termenung, lalu
melarikan kudanya menerobos masuk kedalam hutan.
25
Beberapa saat kemudian sampai
mereka didepan sebuah pohon yang tumbuh berbagai macam pepohonan,
diatas ranting tertambat berpuluh-puluh ekor kuda.
Diam diam Kwan Tiong Gak
menghitung jumlah kuda tersebut tidak kurang tidak lebih berjumlah
lima-enam puluh ekor banyaknya seandainya satu kuda satu orang maka
paling sedikit ada lima enam puluh orang telah hadir disana.
Tentu saja kalau ada diantara
mereka tidak menunggang kuda maka jumlah yang hadir melebihi jumlah
tersebut diatas.
Yang aneh hanya tertambat kuda
kuda belaka, sesosok bayangan manusia pun tidak kelihatan
Disetiap pelana kuda tergantung
berbagai macam senjanta, ini menunjukkan hawa orang itu bukan saja
telah menampakkan kudanya disana bahkan melepaskan pula seluruh
senjata yang mereka bawa.
Beberapa puluh tombak didepan
pepohonan, berdiri sebuah bangunan kuil yang megah dan kokoh.
“Saudara Poei” bisik Kwan Tiong
Gak lirih “Orang2 itu telah masuk kedalam perkampungan tersebut,
mari kita pergi menengok.”
Ia turun dari kuda, seperti pula
yang lain menambatkan kudanya diatas sebuah ranting pohon.
Walaupun diluar Poei Ceng Yan
membungkam iapun mengikuti tindakan Kwan Tiong Gak turun dari sedang
dalam hatiyna berpikir, “Pemandangan disini sangat aneh dan
menyeramkan…. aku harus berhati hati.”
Saking tak dapat menahan sabar
segera ujarnya dengan nada lirih, “Toako siauw te sudah melakukan
perjalanan selama puluhan tahun lamanya dalam dunia persilatan belum
pernah kujumpai peristiwa seperti ini.”
Kwan Tiong Gak tertawa hambar.
“Akupun baru menjumpai peristiwa
seperti ini untuk pertama kalinya.”