ambang naga panji naga sakti 10

Lie Giok Liong sekalian sama sama mengiakan dan segera kembali kekamar masing-masing untuk membendung usaha Ke Giok Lang ini dan sekalian untuk beristirahat.

Sementara itu kita balik pada Kwan Tiong Gak yang membedal kudanya melanjutkan perjalanan, dalam sekejap mata ia sudah melewati sepuluh lie lebih.

Waktu itu sang surya baru saja muncul sinar matahari yang barwarna keemas emasan menyoroti permukaan salju nan putih menimbulkan cahaya pantulan yang menyilaukan mata.

Dibawah sorotan sang surya, tampaklah ditengah jalan raya berdiri menanti seorang hweesio berjubah abu abu.

Sejak semula Kwan Tiong Gak sudah mengerti apabila dirinya tak bakal bisa meninggalkan kota Kay Hong dalam keadaan aman tetapi tak disangka olehnya kalau orang pertama yang dijumpainya bukan lain adalah sang paderi yaug ditemuinya kemarin malam dalam hutan pohon Liuw, ia agak tertegun dan segera menghentikan kudanya sembari pura pura tidak kenal.

“Thaysu, kenapa kau menghadang perjalananku?” tegurnya.

Hweesio itu mendongak dan memandang sekejap kearah Kwan Tiong Gak, kemudian sindirnya

“Kwan Cong Piauw taew, ternyata kau adalah seorang pelupa.”

Kwan Tiong Gak tertawa hambar. “Thaysu kau adalah seorang manusia tak bernama juga tak ada gelar, hal ini membuat aku sulit untuk mengingat ingatnya.”

Air muka sang paderi tersebut tetap hambar sedikitpun tidak berubah, ujarnya kembali, “Pinceng paling tidak suka menutupi segala yang kuingin katakan, kau Kwan Cong piauw tauw sebagai seorang yang berkedudukan tinggi rasanya tak akan berbohong, pinceng ingin menanyakan satu hal kepadamu.”

“Silahkaa thaysu ajukan pertanyaan….”

“Sekarang peta pengangon kambing itu berada di mana?”

“Berada dalam saku orang she Kwan.”

“Bagus sekali entah dapatkah Kwan Cong Piauw Tauw meninggalkan benda tersebut disini.”

“Untuk ditinggalkan disini bukan suatu hal yang sulit, tapi aku harus libat dahulu apakah Thay suhu punya kenampuan atau tidak.”

Sapasang mata paderi berjubah abu abu Itu berkilat memancarkan cahaya tajam seru nya.

“Pinceng, sudah melihat bagaimana hebat nya permainan senjata rahasia serta ilmu golok Kwan Cong Piauw,”

“Kalan begitu thaysu tentu sudah mempunyai perhitungan untuk menghadapi aku orang she Kwan,” sambung Kwan Tiong Gak hambar, ia segera meloncat turun dari kuda nya.

Mendengar perkataan itn sipaderi berjubah abu abu itu tertawa dingin.

“Kalau Kwan sicu rela menyerahkan peta rahasia pengangon kambing itu secara suka rela kita boleh hindari suatu pertarungan sengit”

“Haaa. ….Haas…. ….Haha, Thay suhu, sungguh enak sekali perkataanmu.”

“Rejeki atau bencana tak bisa datang sendiri, tapi dicari oieh manusia kalau Kwan sicu tidak percaya dengan perkataan pinceng silahkan cabut keluar senjata tajammu.”

Kembali Kwan Tiong Gak tersenyum. “Thaysu adalah seorang paderi yang melepaskan diri dari segala keduniawian, tetapi-cayhe lihat thaysu bukan seorang paderi saleh, kau terlalu serakah serta menginginkan barang milik orang lain, watakmu jelek ini bahkan melebihi manusia biasa.”

Ia mendehem perlahan, lalu terusnya.

“Tetapi cayhe tetap terhadap bilamana Thaysu bisa mengerti diri dan menarik maksudnya semula sehingga diantara kita tak usah melangsungkan suatu pertarungan. semisalnya thaysu benar benar sudah bulatkan tekad ingin bergebrak melawan aku orang she Kwan, harap kau suka sebutkan dulu gelar serta asal usulmu.”

“Omitohud setelah kau berhasil menangkan diriku, belum terlambat apabila pinceng menyebutkan gelarku.”

Tapi dengan cepat Kwan Tiong Gak telah menggeleng.

“Thaysu seorang diri menghadang perjalananku, dalam hati tentu sudah punya suatu keyakinan, setelah bergebrak maka pertarungan ini pasti akan berlangsung dengan amat serunya. Senjata tak bermata tak urung salah satu pihak akan terluka. Cayhe mempunyai beberapa orang sahabat karib yang berasal dari kuil siauw lim sie semua, apabila thaysu ada lah orang asal-usul Siauw tim sie….”

“Kalau benar mau apa?” tuk&s hweesio itu tiba tiba.

“Kalau thaysu adalah seorang hweesio berasal dari kuil siauw lim sie cayhe tidak ingin bergebrak melawan dirimu,”

“Jikalau pinceng tidak memberi jalan bagimu untuk lewat?”

“Aku orang she Kwan percaya masih mampu untuk meloloskan diri dari sini.”

“Bagaimana kalau pinceng bukan keluaran dari kuil Siau lim sie?”

“Hal ini akan kulihat dulu bagaimana kepandaian silat yang kau miliki”

Si hweesio perjubah abu abu itu kontan tertawa dingin.

“Kwan Tiong Gak kau sudah bicara banyak sekali tak gunanya, perduli apa yang kau katakan aku tak akan menyebutkan gelar serta asal usulku….”

“Setelah thaysu berkeyakinan bisa mengalahkan aku orang she Kwan, kau baru berani datang kemari, bukankah begitu?” jengek orang she Kwan itu.

“Aku sudah melihat permainan ilmu golok dari Kwan sicu, hanya saja pinceng tetap merasa bahwa nama seseorang hanya merupaksn suatu petanda belaka. Kau she Kwan dan bernama Tiong Gak, kendati begitu kau pun tak boleh melarang orang lain ikut she Kwan pula dengan nama Tiong Gak. Dikolong langit ada sepuluh, delapan orang Kwan Tiong Gak hal itu tidak termasuk sesuatu hal yang aneh tetapi jelas mereka bukan Kwan Cong Piauw tauw dari perusahaan Hiaw Wie Piauw kiok, bukankah begitu?”

Ucapan yang berliku liku ini membantu Kwan Cong Gak yang banyak pengalaman jadi tertegun.

“Taysu kau sudah bicara setengah harian tetapi cayhe masih belum memahami apa yang sebenarnya kau maksudkan.”

“Maksudku gampang sekali, pinceng berpendapat lebih baik kau tak usah mencari tahu asal usulku dan tidak perlu mengurus siapakah namaku, kau hendak melindungi peta rahasia pengangon kambing itu jangan sampai terjatuh ketangan orang lain bukan mengandalkan nama kosong gelarmu sebagai Golok sakti Genta emas yang menggetarkan delapan penjuru, melainkan mengandalkan kepandaianmu yang sebenarnya untuk mengalahkan pinceng, kalau kalah pinceng segera akan putar badan berlalu, sedang kalau kau yang kalah maka serahkan peta pengangon kambing itu kepadaku. Diantara kita tiada ikatan dendam, kedatanganku hanya untuk peta rahasia tersebut lagi pula hweesio di kolong langit sangat banyak dan mereka belum tentu adalah diriku.”

Mendengar perkataan yang tidak karuan ini Kwan Tiong Gak tertawa terbahak bahak “Ucapan thaysu benar benar mengandung maksud yang sangat mendalam, dan aku liht kau sangat berbeda dengan orang lain, jadi kau ingin merebut peta pengangon kambing dari tangan aku orang she Kwan, tapi kau tidak ingin menyebutkan nama serta asal usulmu bukankah begitu?”

“sedikitpun tidak salah.”

“Bagus! kalau memang thaysu bermaksud demikian, kitapun boleh segera mulai bergebrak, silahkan kau cabut keluar senjata mu!”

Kiranya hweesio tersebut selama ini selalu bertangan kosong.

Walaupun Kwan Tiong Gak telah memperhatikannya dengan seksama tetapi tak berhasil ia ketahui dimanakah senjatanya disimpan.

Si hweesio itu segera ayunkan sepasang telapak tangannya.

“Kwan sicu silahkan cabut keluar senjatamu dan tak usah kuatir melukai diri pinceng lagi.”

“Jadi thaysu ingin menggunakan sepasang telapakmu untuk menghadapi golok emas dari aku orang she Kwan?” seru Kwan Tiong Gak dengan wajah agak gusar.

“Pinceng membawa senjata hanya saja Kwan Cong Piauw tauw tidak berhasil melihatnya saja.”

Mendengar ucapan itu Kwan Tiong Gak merasa hatinya tergerak, segera pikirnya….

“Saudara Poei melatih sepasang telapak tangannya sebagai Thiat Sin Ciang, golok dan pedang biasa tak akan bisa melukai dirinya, gelang emas dijari tangannya bisa diayunkan keluar melukai lawan, apakah hweesio inipun berhasil melatih kepandaian silat istimewa ini.

Ketika ia perhatikan pihak lawannya dengan teliti, tertampak olehnya sepasang telapak hweesio tersebut amat halus dengan kulit yang tipis serta warna merah keputih-putihan, sama sekali berbeda dengan keadaan telapak orang yang melatih ilmu Thiat Sah Ciang atau sebangsanya sedang dijari tanganpun tidak tertampak gelang emas atau sebangsanya-

Bagaimanapun Kwan Tiong Gak adalah seorang jago tua yang banyak pengalaman dalam soal dunia persilatan, setelah diperiksa dengan teliti akhirnya ia berhasil ditemukan.

apabila kulit wajah hweesio itu kelihatan jadi kaku dan keras, seolah olah sedang memakai selapis topeng yang amat istimewa.

Penemuan ini membuat Kwan Tiong Gak keheranan pikirnya ;

“Anak murid budha mengenakan topeng antuk menutupi wajah aslinya, hweesio ini belum tentu adalah seorang hweesio yang sebenarnya.”

Karena berpikir demikian ia segera tertawa terbahak bahak.

“Haaa…. haaa…. haa….saudara saudara perguruan Buddha adalah tempat suci dikolong langit, apalagi disamping itu masih ada tiga ratus enam puluh jalan lain, apa perlunya saudara menyaru sebagai seorang hweesio?”

“Kwan sicu kau terlalu banyak bicarakan hal hal yang tak berguna.” seru sang paderi itu sambil angkat telapak kirinya.

Mendadak badannya maju selangkah kedepan. telapak tangannya segera mengancam dada Kwan Tiong Gak.

Sejak tadi Kwan Tiong Gak sudah mengatur pernapasan melakukan persiapan. sebenarnya ia ingin menerima datangnya serangan dengan keras lawan keras, tetapi setelah ditemuinya sewaktu hweesio itu mengangkat telapak kanannya tertampak sebuah bulatan warna merah darah, seketika niatnya sudah diubah, sang badan dengan cepat miring kesamping meloloskan diri dari datangnya serangan tersebut.

Karena kesalahan kecil ini mengakibatkan sang hweesio berjubah abu-abu itu berhasil merebut posisi yang lebih baik. telapsk tangannya segera mengirim serangan berantai mengancam iga kirinya.

“Suatu ilmu pukulan yang sangat bagus.” teriak Kwan Tiong Gak.

Sspasang lengannya dibentangkan, dengan gerakan “Han Teh Pah Cong’” atau tanah paceklik mencabut bawang badannya mencelat tujuh, delapan depa ketengah udara.

Sang paderi tersebut segera tertawa dingin. “Kwan sicu, cabut keluar senjata tajam-mu!” serunya.

Ditengah berkelebatnya bayangan manusia, ia pun meloncat ketengah ndara.

Kwan Tiong Gak seketika merasakan datangnya segelung angin pukulan mendesak badannya, ia jadi terperanjat,

“Kepandaian ilmu silat dari hweesio ini benar benar bagus, aku tak boleh berlaku gegabah lagi dengan dirinya,” pikir Cong Piauw tauw dari perusahaan Hauw Wie Piauw kiok ini diam-diam.

Setelah berhasil merebut posisi yang baik serangan serangan sang paderi tersebut semuanya ditujukan pada bagian bagian badan yang merupakan titik titik kematian, asalkan Kwan Tiong Gak tidak berhasil meloloskan diri dari kurungan telapak tangan yang amat rapat itu maka ia tak akan berhasil melancarkan serangan balasan.

Tetapi si Lempengan besi genta emas yang menggentarkan Delapan penjuru adalah seorang jago berpengalaman dalam menghadapi pelbagai pertarungan, walaupun berjumpa dengan musuh tangguh dan ia didesak berada dibawah angin tetapi pikirannya tidak jadi kacau.

Mendadak ia keluarkan ilmu bobot seribu kati untuk memberatkan badannya sehingga sang badan melayang turun keatas permukaan tanah dengan kecepatan bagaikan kilat.

Sang hweesio berjubah aba abu ini benar seorang jago yang luar biasa walaupun perubah yang dilakukan Kwan Tiong Gak dilakukan dengan kecepatan laksana kilat tetapi hweesio itupun menunjukkan reaksi yang tak kalah cepatnya pula.

Bersamaan dengan meluncur turunnya sang tubuh hweesio tersebut, telapak kanannya diayunkan kedepan menghantam ulu hati Kwan Tiong Gak ….

Cong Piauw tauw dari perusahaan HiAw Wie Piauw kiok ini jadi amat terperanjat, pikirnya.

“Sungguh lihay hweesio ini,”!

Dalam keadaan tergesa-gesa badannya berputar dan menghindar lima depa kesamping.

“Kwan Cong Piauw tauw” seru hweesio tersebut sambil tertawa dingin, “Serahkan peta rahasia pengangon kambing….”

Suara tertawa tersebut muncul dari belakang tubuh Kwan Tiong Gak.

Selama melakukan perjalanan baik di-daerah Utara maupun didaerah Selatan Kwan Tiong Gak telah berjumpa dengan berbagai jago jago Bu lim yang memiliki kepandaian silat tinggi, tetapi belum pernah ia menjumpai keadaan semacam ini hari.

Terasa olehnya telapak tangan hweesio itu bagaikan menempel diatas punggungnya saja sama sekali tak berhasil diloloskan.

Dalam keadaan terkejut bercampur gusar badannya mencelat kembali ketengah udara, golok emaspun bersamaan waktunya diloloskan dari dalam sarung dengan menciptakan selapis cahaya keemas emasan.

Oleh sambaran sinar tajam yang amat menyilaukan mata itu hweesio tersebut terdesak mundur kebelakang, jengeknya sambil tertawa dingin.

“Kwan Tiong Piauw tauw seharusnya dari tadi kau sudah loloskan golokmu.”

Karena kehilangan posisi Kwan Tiong Gak kena di desak sehingga sulit untuk putar badan, saat ini ia baru berpaling dan berdiri paling berhadapan dengan hweesio itu.

“Thaysu, sungguh lihay ilmu telapakmu,” pujinya.

“Kwan Cong Piauw tauw, kau sudah kaya raya, namamupun sudah tersohor dikolong langit, agaknya tidak perlu bagini untuk mengadu jiwa dikarenakan pengangon kambing.”

“mengesampingkan soal peta pengangon kambing, cukup mengandalkan jurus serangan thaysu yang berhasil mendesak diriku aku orang she Kwan sudah sepatutnya minta petunjuk dari dirimu….”

Setelah merandek sejenak, terusnya, “Walaupun thaysu sudah memperlihatkan sedikit kepandaianmu maka akupun berhasil membuktikan akan satu hal.”

Sebenarnya hweesio itu sudah bersiap sedia hendak turun, tangan kembali tetapi setelah mendengar ucapan itu tanyanya, “Kau sudah membuktikan soal apa?”

“Thaysu bukan berasal dari partai Siauw lim?”

“Kapan pinceng pernah mengaku berasal dari kuil Siauw lim sie?”

“Tidak salah, kau memang tidak pernah berkata demikian, tatapi dalam hati cayhe pernah mempunyai kecurigaan. kecurigaanku sudah lenyap, kita boleh melanjutkan pertarungan kita.”

“Manusia mati karena serakah, kuda mati karena makanan. Kwan Cong Piauw tauw sudah memiliki nama serta harta apa perlunya begitu serakah masih ingin mengangkangi peta rahasia tersebut?”

“Kami adalah orang orang awam yang biasa gulang guling diantara soal nama dan harta punya pikiran serakah sudah umum, tetapi thaysu adalah seorang paderi tidak di sangka napsu serakahmu jauh berada di atas nafsu aku orang she Kwan.”

“Hmmnnn?! agaknya kita tak bisa merundingkan persoalan ini lagi.”

Sebagai penutup dari ucapan tersebut, telapak kanannya dibabat kedepan keras keras.

Kali ini Kwan Tiong Gak tidak berani berlaku ayal lagi, golok emasnya segera diangkat dan dibabat sejajar dada,

“Thaysu, silahkan kaupun cabut senjata mu” serunya.

Hweesio itu memutar pergelangan tangannya menghindarkan diri dari babatan golok lawan, sedang telapak kiri didorong kedepan dengan gerakan secepat kilat.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera menghantam pergelangan tangan Kwan Tiong Gak memaksa orang she Kwan ini harus menarik kembali goloknya kesamping….

Meminjam kesempatan itu hweesio berjubah abu abu itu mendesak maju kedepan telapak tangannya secepat kilat menghantam iga kanan. Kwan Tiong Gak terperanjat,buru buru ia mundur tiga langkah kebelakang untuk meloloskan diri dari datangnya serangan tersebut.

Golok emas ditangannya segera dilintang-kan kedepan dengan gerakan “Hua Hun Im Yang” atau Menggaris Pisah Im dan Yang dengan susah payah akhirnya berhasil juga membendung datangnya serangan hweesio itu. Setelah menjumpai dua kali keadaan kritis. Kwan Tiong Gak baru merasa bahwa Hweesio lawannya benar benar jago silat yang memiliki kepandaian silat yang luar biasa.

Orang yang bisa melayani permainan golok emasnya dengan telapak kosong tidak banyak dijumpai dalam Bu lim, tetapi hweesio ini bukan saja dapat, melayani dengan sempurna bahkan dapat merebut posisi diatas angin, sungguh luar biasa.

Terhadap kejadian yang belum pernah di jumpainya, Kwan Tiong merasa keheranan.

permainan golok emasnya mulai diperketat dengan memilih posisi pertahanan.

Tampak cahaya keemas emasan berkelebat memenuhi angkasa menciptakan selapis kabut tebal melindungi seluruh badannya, ia mulai mengurangi serangan balasan dan lebih menitik beratkan pada pertahanan tubuh,

Sekalipun demikian, secara diam diam ia mulai memperhatikan perubahan telapak hweesio itu.

Ia berharap dengan andalkan pengalaman yang selama puluhan tabun ia bisa menemukan perubahan jurus serangan hweesio itu dan berhasil mengetahui asal usulnya.

Tampak permainan telapak hweesio tersebut semakin lama semakin gencar, dan setiap serangan dengan perubahan yang aneh-tapi tepat berhasil meloloskan diri dari setiap babatan golok Kwan Tiong Gak.

Melihat kejadian ini Kwan Tiong Gak semakin paham lagi, asalkan dirinya sedikit berlaku gegabah sehingga gerakan goloknya terpancing oleh gerakan telapak lawan, maka perubahan serangan hweesio itu bagaikan gelombang air pasang akan menerjang datang tiada hentinya.

Setelah melewati suatu penelitian yang seksama iapun dapat menemukan apabila ilmu silat yang digunakan hweesio tersebut merupakan serangan ilmu telapak yang aneh dan susah diikuti dengan pandangan mata.

Kwan Tiong Gak mencurahkan perhatiannya semakin seksama lagi, ia berharap dapat menemukan titik kelemahan dari permainan telapak yang aneh itu.

Karena sedikit pikirannya bercabang, mendadak lengan kirinya jadi sakit hampir-hampir saja golok emasnya terlepas dari cekalannya.

Kwan Tiong Gak mendengus dingin, badannya mengikuti gerakan golok yang menabas kebawah berpaling kesamping.

Dengan gerakan demikian, kalau dipandang seolah olah badannya terjengkang ke atas tanah.

Hweesio berbaju abu abu itu setelah melihat serangannya mengenai sasaran, tangan kirinya kembali menerjang kedepan, karena dalam pandangannya golok Kwan Tiong Gak pasti akan terlepas dari genggamannya.

Siapa sangka tenaga Iweekang yang di miliki Kwan Tiong Gak amat sempurna, walaupun terkena serangan dengan telak dan badannya terjatuh kedepan tetapi ia masih bisa mempertahankan goloknya jangan sampai terlepas dari genggaman.

Sewaktu hweesio berjubah abu abu itu mempersiapkan serangan selanjutnya mendadak Kwan Tiong Gak meloncat ketengah angkasa dengan serentetan cahaya golok yang menyilaukan mata.

Inilah ilmu silat yang paling diandalkan Kwan Tiong Gak sepanjang hidupnya sering dalam kekalahan berhasil merebut kemenangan dan entah sudah berapa banyak jago jago Bu lim yang terluka atau binasa di bawah serangan ini.

Hwesio berjubah abu abu itu tidak menyangka dalam gerakan mencelat pihak lawan bisa mengirim sebuah serangan yang demikian dahsyat, buru buru badannya mundur kebelakang untuk menghindar.

Kendati begitu gerakannya masih terlambat selangkah, jubah hweesionya kena kesambar cahaya golok tersebut hingga sobek kurang sedikit saja kulitnya terpapas luka.

Setelah serangannya mengenai sasaran.

Kwan Tiong Gak tidak melanjutkan serangan dengan cepat sang badan meloncat mundur lima langkah kebelakang.

“Tahan!” serunya dingin.

Sebenarnya hweesio berjubah abu abu itu sudah siap melancarkan serangan balasan mendengar teriakan itu segera berhenti.

“Kwan Cong Piauw tauw, kau ada pesan apa?”

“Ilmu telapak thaysu sangat aneh.”

“Yang paling pinceng dapatkan adalah peta rahasia pengangon kambing tersebut, kalau Kwan Cong Piauw tauw merasa tidak kuat menahan diri dan mengerti kalau pinceng mampu merebut benda tersebut, lebih baik sekarang juga kau serahkan peta rahasia pengangon kambing itu kepadaku, dengan demikian diantara kita tak usah melanjutkan pertarungan yang berusaha membinasakan pihak lawannya ini.”

“Thaysu, kau sudah salah paham,” dengan cepat Kwan Tiong Gak menggeleng berulang kali. “Sekalipun thaysu benar benar bisa mencabut nyawa aku orang she Kwan, peta rahasia itupun baru bisa kau dapatkan setelah aku benar benar menemui ajalnya, tetapi sebelum terjadinya peristiwa ini yang mengerikan terlebih dahulu cayhe ingin membuktikan akan satu hal….”

“urusan apa?”

“Ilmu telapak tangan yang thaysu gunakan sangat aneh dan luar biasa, agaknya merupakan ilmu silat dari kalangan Buddha.”

“Ilmu silat yang ada dikolong langit beratus ratus macam banyaknya dan belum tentu ada orang yang memberi batasan apabila seorang paderi harus mempelajari jenis ilmu silat sama.”

“Tetapi ada satu persoalan thaysu tak dapat membohongi diri cayhe.”

“Urusan apa?”

“Kau mengenakan topeng kulit.”

“Sedikispun tidak salah.” sahut hweeaio berjubah abu abu itu sambil tertawa hambar “Ternyata sepasang mata Kwan Cong Piauw Tauw tidak kemasukan sebutir pasir.”

“Jikalau thaysu sudah mengaku, aku berharap kau suka melepaskan topeng kulit itu dan bagaimana kalau menjumpai diriku dengan wajah aslimu?”

“Tidak bisa” tolak sang Hweesio dengan dingin.

“Baik! jikalau thaysu tidak mengijinkan terpaksa kita harus menempuh dengan jalan bergebrak.”

Goloknya segera diangkat keatas, dan sambungnya lebih lanjut.

“Pertarungan ini baru diakhiri setelah salah satu roboh, thaysu lebih baik kau cabut keluar senjatamu.”

“Senjata pinceng setiap saat bisa dikeluarkan, hanya saja Kwan Cong Piauw tauw tak bisa melihatnya.”

Telapak kanannya segera diayun kedepan melancarkan sebuah serangan dahsyat.

Kali ini Kwan Tiong Gak lebih waspada, pikirnya, “Gerak gerik hweesio ini sangat aneh, agaknya dia bukan termasuk manusia dari kalangan jurus, aku harus bertindak lebih berhati hati.”

Karena berpikir demikian, golok emas di tangan kanannya dengan jurus “Can Cien Ci Lok,” atau bidadari menunjuk jalan menotok dada lawan.

Karena dalam hatinya sudah mengadakan persiapan, serangan golok ini dilancarkan dengan gerakan sangat lambat.

Asalkan hweesio itu melancarkan serangan balasan, maka golok Kwan Tiong Gak akan bekerja lebih keras dengan meminjam peluang tersebut.

Tetapi hweesio berjubah abu abu itu mempunyai ketenangan luar biasa, ia tetap berdiri tak berkutik dari tempat semula.

Menanti ujung golok Kwan Tiong Gak tiba kurang lebih setengah depa dihadapan dadanya, mendadak telapak kirinya baru melancarkan serangan dan didorong dari arah pamping.

Segulung tenaga pukulan yang amat hebat meluncur dan ia keluar dari telapaknya membawa ujung golok Kwan Tiong Gak ke-samping, sedangkan tangan kanannya segera diayun kedepan, serentetsn cahaya putih dengan secepat kilat meluncur kedepan.

Selama ini Kwan Tiong Gak mengingat ingat bahwa hweesio itu membawa senjata hanya saja belum sampai dikeluarkan dengan kepandaian silat yang lihay dari musuhnya semakin membara ia tak berani berlaku gegabah.

Ketika hweesio itu mengayunkan telapak tangannya tadi, Kwan Tiong Gak dengan sebat menyingkir kesamping.

Mendadak kaki kanan hweesio itu maju melangkah kedepan, pergelangan kanannya disendat cahaya putih meluncur kembali ke dalam ujung jubahnya.

Sabelun Kwan Tiong Gak meneliti benda apakah itu sebuah tendangan kilat telah tiba mengancam lutut kanannya.

Maju melancarkan tendangan seolah olah kedua buah serangan ini dilakukannya dalam waktu serta saat yang bersamaan.

Buru buru Kwan Tiong Gak mundur tiga langkah kebelakang meloloskan diri dari datangnya tendangan tersebut.

Dengan demikian ia sama sekali terdesak dibawah angin, dibawah serangan gencar telapak serta tendangan lawan, Kwan Tiong Gak terdesak mundur satu tombak lebih dari tempat semula.

Dengan andalkan pengalamannya selama puluhan tahun, kepandaian silat yang dimiliki serta kecerdikannya dalam menghadapi serangan untuk menghadapi serangan aneh dari ilmu silat lawan, walaupun Kwan Tiong Gak kena didesak mundur berulang kali, tetapi ia berhasil juga menghindari semua desakan itu dengan selamat dan tidak sampai terluka ditangan lawan.

Sebaliknya hweesio itu sendiri pun diam diam merasa kagum satelah melihat kenyataan bahwa serangan gencarnya sama sekali tidak berhasil melukai pihak lawan pikirnya ;

“Nama besar Kwan Tiong Gak ternyata bukan nama kosong belaka, serangkaian ilmu silat yang aneh ini belum pernah dijumpai dalam dunia persilatan, tetapi dengan andalkan pengalamannya selama puluhan tahun, serangan berantaiku ini ternyata bisa dihindari juga, sungguh hebat, sungguh luar biasa.”

Walaupun Kwan Tiong Gak berhasil menghindarkan diri dari serangan berantai lawan, tapi rasa kaget, terkejut yang mencekam dalam hatinya susah dibayangkan.

“Selama puluhan tahun berkelana didalam dunia persilatan dengan andalkan golok emas serta piauw genta emas ia berhasil merebut gelar sebagai si lempengan besi genta emas yang menggetarkan delapan penjuru, musuh tangguh yang ditemui tiada terhingga tetapi belum pernah menjumpai keadaan seperti ini hari.

Walaupun ilmu silat berasal dari satu sumber dan setiap jago memiliki kecepatan gerak yang berbeda serta tinggi rendah tenaga murni yang dimiliki, tetapi manusia seperti hweesio ini benar benar luar biasa….”

Setelah berhasil menghindarkan diri dari serangan gencar pihak lawan, saking kagetnya seluruh tubuh Kwan Tiong Gak dibasahi oleh peluh dingin yang mengucur keluar dengan derasnya.

Tetapi ia paham, saat ini tak boleh baginya untuk memberi kesempatan lagi buat lawannya untuk melancarkan serangan gencar buru buru goloknya di putar sedemikian rupa mengirim serangan balasan.

Cahaya golok berkilauan, angin serangan berdesir memenuhi angkasa, bagaikan gulungan air ditengah samudra ia mulai meneter lawannya dengan serangan yang mematikan.

Ketika hweesio itu selesai menggunakan serangan berantainya yang cepat berganti serangan Kwan Tiong Gak telah berebut turun dengan mendesak datang.

Tetapi hweesio itu sama sekali tidak melayani serangan balasan dari Kwan Tiong Gak ini, badannya segera meloncat kebelakang untuk menghindar.

“Thaysu, hati hati senjata rahasia,” seru Kwan Tiong Gak cepat tanpa berhenti menyerang.

Tangan kanannya diayun, serentetan cahaya keemas emasan dengan diiringi suara deringan nyaring meluncur datang dengan kecepatan bagaikan kilat.

Kwan Cong Gak pun tahu serangan senjata rahasia ini tak akan berhasil melukai lawan, oleh karena itu senjata rahasia pertama begitu disambit keluar, tangan kirinya kembali diayun kedepsn mengirim dua batang senjata rahasia lagi.

Senjata rahasia itu dengan digerakan “B” mendesir kedepan, suara genta bertalu di angkasa, tiga batang senjata rahasia dengan membentuk segi tiga mengurung tubuh hweesio tersebut.

Merasakan datangnya ancaman senjata rahasia itu hweesio tersebut mengayunkan sepasang telapaknya kedepan.

Dari ujung bajunya meluncur keluar dua rentetan cahaya keperak perakan laksana kilat menghajar kedua batang senjata rahasia genta yang ada dikiri kanan itu keras keras.

Traaaacg….termakan oleh hadiahan dua rentetan cahaya keperak perakan itu, ke dua batang senjata rahasia tersebut segera terjatuh keatas tanah.

Tetapi sebatang senjata rahasia yang ketiga dengan tidak mengalami gangguan apapun mendadak menukik kebawah.

Baru buru hweesio itu jatuhktn badannya kedepan dengan nyaris senjata rahasia itu berdesir dari balok kepalanya.

Pada Saat ini Kwan Tiong Gak sedang menggenggam pula dua batang senjata Kiem Ling Piauw, tetapi ia tidak melanjutkan serangannya.

Dimana sepasang pergelangan hweesio itu ditarik dua rentetan cahaya putih tadi tahu tahu sudah meluncur kembali kedalam ujung bajunya,

“Thaysu.” ujar Kwan Tiong Gak dengan nada dingin, “Kalau barusan aku orang she Kwan kembali melancarkan dua batang senjata rahasia, apakah thaysu percaya bisa menghindarinya?”

“Mungkin pinceng sudah terluka dibawah serangan senjata rahasia Kiem Ling Piauw mu itu ….” Ia merandek sejenak kemudian sambungnya ;

“Sekalipun saat ini pinceng mengaku kalah dan mengundurkan diri. Kwan Cong Piauw tauwpun tak akan bisa tiba diibu kota dengan selamat.”

“Hal itu merupakan urusan pribadi aku orang she Kwan, tak perlu thaysu ikut repot berpikir.”

Hweesio berjubah abu abu itu kontan tertawa dingin “yang penting masih ada satu urusan yang hendak di terangkan kepadamu, walaupun Pada saat ini aku rela mengalah dibawah serangan, senjata rahasia Kim Ling Piauwmu, tapi aku sama sekali tak akan melepaskan niatku untuk merebut peta rahasia pengangon kambing tersebut.”

“saat ini peta rahasia pengangon kambing berada di dalam saku aku orang she Kwan kalau thaysu bisa merebutnya silahkan turun tangan.”

Hweesio berjubah abu abu itu mendengus dingin, tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia putar badan dan berlalu.

Sambil memandang bayangan punggung si hweesio yang lenyap dari pandangan matanya diam diam Kwan Tiong Gak berpikir dalam hatinya.

“Ilma silat yang digunakan hweesio ini sama sekali bukan ilmu silat aliran siauw lim pai, wajahmu ditutupi dengan selapis topeng manusia, kepandaian silatnya aneh, jelas ia memang ada maksud menutupi asal usulnya sendiri.”

Gerakan tubuh hweesio tersebut sungguh cepat sekali, dalam sekejap mata ia sudah lenyap dari pandangan,

Kwan Tiong Gak menghembuskan napas panjang, ia segera meloncat naik keatas kuda nya larikan binatang tersebut kedepan.

Belum berapa langkah ia berjalan mendadak terdengar suara gelak tertawa berkumandang datang dari bilik sebatang pohon ditepi jalan.

(Bersambung Jilid 20)

Jilid 20

DITENGAH berkelebatnya bayangan manusia, tahu tahu ditempat itu sudah muncul dua jago.

Yang pertama bukan lain adalah “Hoa Hoa Kongcu”, Ke Giok Lang sedang orang yang mengikuti di belakangnya adalah si dara berbaju hijau Hoo Lian Hoa adanya.

“Kwan heng,” seru Ke Giok Lang sambil ulapkan tangannya dan tertawa. “Hweesio itu masih mampu untuk melanjutkan pertarungan, tetapi ia rela mengaku kalah.”

“Walaupun begitu thaysu itu masih belum kehilangan sifatnya yang terbuka dan gentlemen, dengan terang terangan ia menanti kedatanganku ditengah jalan.”

Mendengar sindiran itu Ke Giok Lang tersenyum.

“Kwan-heng, agaknya kau sedang memaki aku orang she Ke kurang bersifat lapang dada.” serunya.

“Kalau Ke Kongcu pun seorang yang jujur dan bersifat terbuka, tidak seharusnya kau bersembunyi diatas pohon.”

Ke Giok Lang segera tertawa terbahak bahak.

“Kwan heng sedikitpun tidak salah, selama melakukan pekerjaan aku orang she Ke tidak terlalu memperhatikan tindakan apa yang aku gunakan, yang kupikirkan adalah secara bagaimana bisa mencapai tujuan….”

Ketika itu Kwan Tiong Gak telah naik keatas kudanya tapi ia segera meloncat turun kembali, ujarnya, “Ke Kongcu, kau bermaksud turun tangan berbareng? ataukah satu lawan satu dengan sistim bergilir?”

“Berjumpa muka lantas bergebrak, apakah kau tidak merasa tindakan ini terlalu tidak sedap dipandang?”

Kwan Tiong Gak angkat muka memandang sekejap wajah Ke Giok Lang serta Hoo Lian Hoa yang berdiri di bawah pohon, serunya, “Pagi benar kedatangan kalian berdua.”

“Haaa…. haaaa….siauwte percaya ini hasil Kwan heng akan berangkat ke utara, maka kami datang sedikit lebih pagi.”

“Hweesio tetiron yang mengenakan topeng diatas wajah, apakah anak buah dari Ke Kongcu?”

“Kalau aku orang she Ke mengatakan bukan, entah Kwan Cong Piauw tauw suka mempercayai atau tidak?” sahut Ke Ciok Lang tersenyum….

Jawaban ini sangat diplomatis, seketika membuat Kwan Tiong Gak seorang jago berpengalaman luas serta pengetahuan tinggipun dibikin tertegun, ia tidak berhasil mengetahui apa maksud sebenarnya dari ucapan tersebut.

Namun sigolok emas yang menggetarkan Delapan penjuru adalah seorang jago kang ouw kawakan, ia segera tertawa hambar, katanya.

“Perduli dia benar anak buah Ke Kongcu atau bukan, aku orang she Kwan tiada bermaksud menyelidiknya sampai jelas….”

Ia merandek sejenak, kemudian terusnya, “Ke Kongcu, kalau kau ada maksud bergebrak sllahkan loloskan senjata. seandainya untuk sementara tidak ingin bergebrak melawan aku orang she Kwan, harap segera minggir sembari jalan.”

“Kwan-heng” seru Ke Giok Lang sambil tersenyum. “Siauwte punya satu perasaan kita orang orang Bu lim karena sepatah dua patah kata tidak cocok lantas harus gunakan kekuatan untuk mengadu jiwa sebenarnya merupakan suatu tindak yang sangat rendah!”

“Jadi maksud Ke Kongcu, hendak andalkan lidahmu yang tajam berusaha menundukan aku orang she Kwan?”

“Kwan heng telah malang melintang di daerah Utara maupun Selatan, pengetahuan serta pengalamanmu sangat luas, rasanya tak gampang menundukkan dirimu dengan andalkan ketajaman lidah.”

“Lalu Ke Kongcu hendak berbuat apa untuk memaksa cayhe tunduk?” ujar Kwan Tiong Gak dengan nada berat.

“Dengan andalkan pengetahuan serta pengalaman Kwan Cong Piauw tauw, rasanya dalam sekali pandangan tidak sulit untuk mengetahui untung ruginya keadaan terhadap dirimu bukan?”

Mendengar ucapan itu Kwan Tiong Gak segera mendongak tertawa, katanya, “Aku she Kwan dengan kuda mustika golok emas, selama puluhan tahun ini telah berulang kali menerobos pelbagai jebakan,seandainya sejak semula Ke Kongcu telah mempersiapkan jebakan disini, tiada halangan suruh mereka keluar dan mulai menyerang diriku.”

Ke Giok Lang tersenyum.

“Sekalipun kau Kwan Cong Piauw tauw bisa menerobos hadangan ini, namun sayang seribu kali sayang kepandaian silat Hoei Hu Cong Piauw tauw jauh lebih rendah setingkat dari kepandaianmu, aku rasa ia sulit untuk menerobos hadangan disini….”

Seketika Kwan Tiong Gak dibikin tertegun.

“Saudara Poei dia….”

“Ia kena kami tawan!”

“Sekarang berada dimana?”

“Telah aku orang she Ke penjarakan, tempat itu tidsk jauh letaknya dari sini apa bila Kwan heng ada kegembiraan tiada halangan ikut diriku pergi menengok,”

Kwan Tiong Gak termenung tidak bicara. Ke Giok Lang kembali tertawa terbahak-ahak, ujarnya, “Kalau Kwan heng tidak percaya perkataanku, silahkan melanjutkan perjalanan menuju ke Utara, aku orang she Ke tak akan turun tangan menghadang perjalananmu.”

Sepasang mata Kwan Tiong Gak berkilat, dengan tajam ia memperhatikan tubuh Ke Giok Lang tak berkedip,

“Ke Kongcu!” serunya kemudian. “Kalau kau menipu diriku….”

“Haaa …. haa….mari kita percepat perjalanan kita, tidak sampai sepertanak nasi kau dapat berjumpa kembali dengan Pui Jie tamu itu.”

“Kalau begitu merepotkan Ke Kongcu harus membawa jalan.”

Mendadak Ke Giok Lang mendongak memperdengarkan suara suitan panjang. ….Terdengar derapan kaki kuda berkumandang datang, dua orang dara berbaju hijau yang menggembol senjata menuju dari balik pepohonan.

Mengikuti munculnya kedua orang itu Kwan Tiong Gak alihkan sinar matanya ke-arah mereka.

Ia mendapatkan bedua orang dara berbaju hijau itu rata rata berusia enam tujuh belas tahunan, walaupun wajah mereka tak termasuk sangat cantik namun cukup mempersonakan hati lelaki.

Tanpa terasa lagi ia kerutkan dahi sembari berkata, “Apakah perempuan perempuan muda inipun berhasil Ke Kongcu pikat dari rumah mereka masing-masing?”

“Kata “Memikat” terlalu tidak enak didengar, siauwte sama sekali tidak menggunakan kekerasan untuk mendapatkan mereka. Tentu saja setelah mereka berhasil belajar ilmu silat dan mendapat perintah untuk melakukan suatu pekerjaan harus diikat dengun suatu peraturan yang ketat dan tegas”

Sementara mereka berbicara. kedua orang dara berbaju hijau itu tiba dihadapan Ke Giok Lang.

Mereka berdua sama-sama meloncat turun dari atas pelana, dengan sikap penuh hormat menyerahkan kuda tersebut ketangan Ke Giok Lang serta Hoo Lian Hoa.

Dengan sebat Ke Giok Lang meloncat naik ke atas kuda, menarik tali les dan berkata, “Kwan heng , mari kita berangkat!”

Bagaikan terbang ia larikan kudanya terlebih dahulu menuju kearah depan.

Kwan Tiong Gak pun segera naik ke-atas punggung kudanya binatang tunggangannya adalah seeior kuda mustika yang bisa melakukan perjalanan seribu li dalam sehari. dengan sekali loncatan kuda tersebut berhssil menyentak kesisi Ke Giok Lang.

“Ke Kongcu.” ujar Kwan Tiong Gak. “Seorang lelaki sejati, seorang enghiong hoo han tidak patut setiap hari hanya bergaul dan berkawan dengan kaum gadis kaum perempuan, apakah kau tidak merasa telah kehilangan kegagahan seorang manusia jantan?”

“Kwan heng, kau tidak mengerti akan kebagusan permainan ini.” kata Ke Giok Lang sembari tersenyum. “Kaum perempuan memiliki otak yang lebih teliti dan halus, bahkan sangat romantis dan setia, mereka jauh lebih dapat percaya daripada lelaki lelaki busuk macam diri kita.”

“Huam! cayhe berharap kau jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan ysng merugikan masyarakat usia gadis gadis ini baru enam, tujuh belasan tahunan tapi sudah kau pikat sehingga mereka meninggalkan rumah, membuat orang tua mereka setiap hari bersedih hati, apa kau anggap perbuatanmu ini ini suatu perbuatan lelaki sejati.”

“Mengumpulkan anak murid, menurunkan ilmu silat, apa bedanya antara lelaki dan perempuan? Kwan heng anggap orang tua mereka saudara saudara mereka bersedih hati karena kehilangan anak gadisnya, apakah kehilangan anak lelaki tidak membuat hati mereka jadi sedih?….”

Ia mendongak tertawa terbahak bahak sambungnya, “Kita bicarakan tentang Kwan heng sendiri saja, satu bulan membuang beratus ratus tahil perak agar para piauwsu suka jual nyawa buat kalian tidak perduli mereka beristri dan berputra mereka masih kecil kecil, apakah perbuatan ini bukan termasuk suatu perbuatan yang merugikan masyarakat….??”

“Tentu saja berbeda, kami andalkan ilmu silat untuk mencari uang, menggantungkan tenaga mencari sesuap nasi, yang kami kerjakan adalah suatu perdagangan yang lurus suatu pekerjaan cari uang yang jujur.”

“Haaa…. haa…. kalau membuka Piauw kiok adalah suatu perdagangan yang lurus, maka merampok, membegal, merampas harta orang lain merupakan orang tua dari makan serta pakaian kalian, kalau tidak ada kawan kawan Liok lim yang melakukan perampokan, serta membegal serta merampas, kalian yang membuka perusahaan Piauw kiokpun tidak akan mendapatkan uang dari perdagangan tersebut.”

“Ucapanmu sedikitpun tidak salah, kalau tak ada kawan kawan Liok lim yang melakukan perampokan, pembegalan serta perampasan maka kami tak akan berhasil mencari sesuap nasi dengan membuka perusahaan Piauw kiok namun seandainya mereka yang melakukan perampokan pembegalan serta perampasan adalah jago-jago lihay macam Ke Kongcu semua, maka kami yang bukan perusahaan Piauw kiok akan gulung tikar dan gigit jari.”

Ke Giok Lang tersenyum, segera tukasnya, “Kalau aku adalah Ke Giok Lang adalah manusia yang suka merampok, membegal dan merampas, rasanya hanya perusahaan Hiaw Wie Piauw Kiok kalian saja yang sanggup menahan, bukankah begitu?”

Sementara bercakap cakap, tanpa terasa mereka berdua telah tiba didepan sebuah hutan lebat.

Dibalik hutan itu secara dapat terlihat atap rumah muncul dari balik dedaunan, agaknya disana berdirilah sebuah bangunan rumah megah dan besar.

Ke Giok Lang segera meloncat turun dari atas kuda ujarnya sambil tertawa, “Poei Jit te berada didalam bangunan rumah tersebut!”

“Secara bagaimana kongcu hadapi dirinya?” tanya Kwan Tiong Gak sambil meloncat turun pula dari atas kuda.

“Tindakan aku orang she Ke tidak terlalu buas. aku hanya menggunakan otot kerbau yang basah untuk mengikat sepasang tangannya.”

“Haee…. heee.heee, aku berharap kau tidak sampai mencelakai dirinya.” jengek Kwan Tiong Gak sambil tertawa dingin.

Setelah melewati hutan lebat itu, bangunan rumah dapat kelihatan semakin jelas lagi-

Itulah sebuah bangunan berlorong yang terbuat dari bata warna hijau, megah kokoh dan menarik.

Sambil bersenyum Ke Giok Lang berebut membawa jalan terlebih dahulu, ujarnya.

“Aku memandang Poei Hu Ceng Piauw tauw bagaikan tamu terhormat, namun watak Pui heng terlalu keras, arak serta nasi yang kami hidangkan ternyata telah ditumpahkan keatas tanah semua.”

“Aku orang she Kwan ingin tahu, secara bagaimana kalian menangkap dirinya?”

“Dalam pandangan Kwan heng, mungkin tindakan kami ini dianggap terlalu rendah, terlalu memalukan, namun siauwte marasa cara inilah yang paling bagus dan paling tepat, kami telah menggunakan obat pemabok untuk merobohkan dirinya.”

“Hmm! Tidak disangka Ke Kongcu pun menggunakan cara yang paling rendah dari dunia persilatan.”

“Aku orang she ke, tadi kau sudah berkata, selama aku paling suka menggunakan cara yang paling mudah mendatangkan hasil.” Mendadak ia berseru tertahan dan menghentikan langkah kakinya.

Kwan Tiong Gak tertegun dan ikut berhenti, ketika ia angkat muka terlihat olehnya sebuah lambang Bergambar naga dengan dasar putih bersulamkan benang emas tertempel di-depan pintu besar bangunan tersebut.

Walaupun rasa kaget yang dialami Ke Giok Lang pada saat ini susah dilukiskan, namun ia masih bisa menahan golakan dalam hatinya dengan paksa, ia berpaling kearah Kwan Tiong Gak dan diam diam memperhatikan reaksinya.

Inilah Lambang Naga Sakti” yang pernah menggemparkan dunia persilatan tiga puluh tahun berselang. Semua anak murid partay besar maupun perguruan kecil yang ada dalam Bu lim sebelum turun kedalam kalangan persilatan selalu mendapat pesan wanti-wanti dari garu guru mereka, bahwasannya Lambang Naga Sakti adalah suatu Lambang yang mempunyai kekuasaan sangat besar.

Di mana Lambang Naga Sakti tersebut muncul, semua orang dilarang mendekati.Siapa yang berani melanggar bukan saja keselamatannya susah dipertahankan bahkan dapat menyeret pula bagi kemarahan seluruh perguruan. Didalam rimba persilatan pernah ada tiga pergurnan besar telah melanggar pantangan dari “Lambang Naga Sakti” ini, seluruh anggota perguruan mereka dibasmi hancur dan menyeret sebanyak empat ratus jiwa lenyap dalam sekejap.

Sejak itu tiga perguruan besar tersebut lenyap untuk selama – selamanya dari dunia persilatan.

Peristiwa mengerikan yang menggetarkan hati semua orang ini seketika membuat orang orang Bu lim menaruh rasa jeri terhadap Lambang Naga Sakti yang amat misterius ini. Pernah partay siauw lim yang dianggap sebagai tulang punggung dunia persilatan melanggar pantangan dari Lambang Naga Sakti akibatnya delapan belas orang padri lihay di bunuh habis, untung sekali pelanggaran itu baru dilakukan pertama kali, sang pemilik “Panji Naga Sakti” masih menaruh belas kasihan terhadap partay besar ini, setelah membunuh delapan belas orang padri lihay. Ia tidak mempersoalkan lagi peristiwa tersebut.

Sejak itulah partay Siauw lim serta partay Bu tong menaruh rasa jeri dan hormat terhadap Lambang Naga Sakti, mereka tidak berani mencabut kumis harimau lagi dan memerintahkan anak muridnya segera menghindar bilamana berjumpa dengan lambang maut tersebut.

Diluaran partay partay besar memang menghindar, namun secara diam diam mereka mengirim jago jago terlihay dari perguruan mereka untuk menyelidiki asul usul majikan lambang naga sakti tersebut, mereka semua menyaru dan menggembol racun keji, asal rahasia mereka terbongkar segera menelan racun dan bunuh diri sehingga tidak sampai menyeret perguruan mereka.

Tetapi dari dunia persilatan tiada putus nya tersiar berita akan kematian orang orang itu sedang asal usul Majikan Naga Sakti belum juga diketahui, mungkin ada diantara mereka pernah menjumpai majikan Naga Sakti tersebut, namun setiap orang yang berhasil mengetahui wajah aslinya segera menemui ajalnya.

Demikianlah, Naga sakti lama kelamaan jadi suatu lambang yang menakutkan bagi seluruh anggota dunia persilatan, tak seorang pun yang berani memandang remeh atau melanggar peraturan Naga Sakti tersebut.

Semua partai besar baik dari golongan pekto maupun dari kalangan Hekto sama-sama turunkan peraturan ketat terhadap anak muridnya untuk segera menghindar bila mana menjumpai naga sakti tersebut, barang siapa yang berani melanggar segera dikenakan hukuman berat.

Sekalipun begitu Naga Sakti tidak terlalu sering muncul dalam rimba persilatan walaupun mendatangkan halangan bagi dunia kangouw tetapi tidak terlalu besar.

Selama hampir tiga puluh tahun lamanya seluruh dunia persilatan telah terjerumus kedalam kekuasaan Naga Sakti.

Entah sejak tahun keberapa, tiba tiba naga sakti lenyap dari dunia persilatan, walaupun partai-partai besar masih mempertahankan peraturan mereka yang ketat, dan anak murid yang hendak berkelana selalu mendapat pesan wanti wanti dari guru mereka namun naga sakti tidak pernah muncul kembali didalam dunia persilatan.

Kurang lebih dua puluh tahun lamanya naga sakti lenyap bagaikan awan diangkasa, sedikitpun tidak meninggalkan jejak. Siapa-pun tidak dapat menceritakan kisah mengenai lambang naga sakti, yang tersisa hanyalah kisah kisah yang mengerikan pernah terjadi tempo dulu.

Waktu, dapat membuat kenangan makin luntur warnanya, walaupun didalam benak para jago Bu lim saat itu masih tertera kisah kisah berdarah yang terjadi tempo dulu namun tidak setegas dua puluh tahun berselang ….

Dengan termangu mangu Kwan Tiong Gak memperhatikan Lambang naga sakti tersebut lama sekali ia terpesona…. entah sampai kapan baru terdengar ia bergumam seoriug diri, “Lambang Naga Sakti…. Lambang Naga Sakti yang telah lenyap puluhan berselang.”

“Kwan heng!” Ke Giok Lang mendehem memecahkan kesunyian. “Pernahkah kau menjumpai lambang naga sakti?”

“Baru pertama kali ini aku menjumpai dengan mata kepala sendiri, tetapi kalau peristiwa tempo dulu sudah banyak kudengar.”

“Kalau begitu, Kwan-heng masih kalah dengan siauwte,” seru Ke Giok Lang sambil tertawa dingin.

“Apa maksudmu?” tanya Kwan Tiong Gak tertegun.

“Dengan apa yang kulihat ini hari, siauwte sudah dua kali menjumpai Lambang Naga Sakti,”

“Aaaaa.,…. pertama kali Ke Kongcu menjumpai lambang naga sakti ini dimana?”

“Dalam kereta penghantar barang dari perusahaan Piauw kiok kalian.”

“Diatas kereta penghantar barang perusahaan kami?”

Kwan Tiong Gak melengak. “Aaaaakb….! tidak mungkin.”

“Perbuatan apapun aku Ke Giok Lang lakukan, hanya satu hal aku tidak pernah berbohong “

“Kalau begitu sungguh aneh sekali!’”

“Sedikitpun tidak aneh, lambang naga sakti tersebut berada didalam kereta yang di tumpangi nona Liuw….”

Ia mendongak tertawa terbahak bahak, sambungnya, “Lambang Naga Sakti ini sudah ada puluhan tahun lamanya lenyap dari dunia persilatan, kemungkinan besar pemilik lambang paga sakti tersebut sudah mati dan jenazahnya telah hancur, kalau ada orang yang sengaja membuat beberapa lembar lambang naga sakti palsu, aku rasa perbuatan ini tidak dapat terhitung suatu peristiwa yang meng-herankan lagi.”

“Ke Kongcu, mungkin kau sudah terlambat lahir beberapa tahun sehingga tidak tahu akan peristiwa lambang naga sakti pada masa silam, aku rasa tak ada orang yang begitu bernyali berani memalsukan tanda Bu-lim pang menakutkan ini.”

“Menurut perkataan Kwan Cong Piauw tauw, jadi lambang naga sakti yang muncul dalam kereta yang ditumpangi nona Liuw adalah lambang asli!”

“Bagaimanakah kejadian sebenarnya cayhe tidak berani ambil kesimpulan, namun aku berani yakin dalam Bu-lim tak ada yang berani memalsukan lambang naga sakti tersebut.”

“Jadi kalau menurut ucapan Kwan Cong Piauw tauw barusan, lambang naga sakti yang muncul didalam kereta nona Liuw serta lambang naga sakti asli semua?!” tukas Ke Giok Lang dingin,

“Cayhe tidak dapat berpikir siapakah begitu bernyali berani memalsukan Lambang Naga Sakti tersebut.”

“Bangunan loteng ini adalah daerah kekuasaan aku Ke Giok Lang.” ujar Ke Giok Lang kembali dengan nada dingin. “Sedangkan lambang naga sakti tersebut tertancap didepan pintu, entah apa maksud dari peristiwa ini?”

“Menurut keadaan biasanya seperti masa masa yang silam, dimana muncul lambang naga sakti bila ada keterangan yang ikut tertancap disisinya maka kau harus melaksanakan tugas yang diperintahkan dalam surat tersebut.”

“Seandainya dibawah lambang Naga Sakti tidak terdapat surat tanda perintah?”

“Kalau demikian adanya, lebih baik Ke Kongcu jangan mendekati lambang Naga Sakti tersebut.”

Ke Giok Lang termenung berpikir sebentar dan ujarnya, “Kwan heng, apakah kau punya nyali untuk memeriksa kesana “

Dengan cepat Kwan Tiong Gak menggeleng.

“Cayhe tidak ingin menempuh bahaya yang sama sekali tak berguna ini.”

“Seandainya aku orang she Ke menemani Kwan heng meninjau kesana?”

“Ke Kongcu” Kwan Tiong Gak segera tersenyum. “Kalau bernyali dan tidak percaya peristiwa yang menyangkut lambang Naga Sakti Ini tiada halangan kau pergi memeriksa sendiri, tak usah kau seret pula aku orang she Kwan untuk menemani dirimu!”

Sewaktu Ke Giok Lang dilahirkan di kolong langit, lambang naga sakti telah lama lenyap dari dunia persilatan, didalam ingatan nya sama sekali tidak terdapat pengalaman mengerikan tentang lambang naga sakti tersebut apa yang ia ketahui kebanyakan dari pembicaraan orang lain belaka.

Sekalipun begitu ia bagaimanakah watak Kwan Tiong Gak bukan saja ia merupakan seorang pemimpin bijaksana dalam perusahaan Hauw Wie Piauw kiok, didalam dunia persilatanmu terhitung seorang enghiong hoohan.

Menjumpai Kwan Tiong Gak menaruh rasa jeri terhadap lambang naga sakti tersebut dalam hati kecilnya seketika timbul rasa was was.

Setelah mendehem ringan ujarnya, “Menurut pendapat Kwan heng kita tak boleh mendekati lambang naga sakti tersebut bukankah sama artinya tak dapat masuk ke dalam bangunan rumah itu?”

“Cayhe pernah dengar orang berkata bahwa lambang Naga Sakti tersebut bukannya tak boleh didekati hanya saja kita bakal menjumpai banyak kerepotan”.

“Kerepotan macam apa yang kau maksudkan?”

“Melepaskan senjata tajam yang digembol keluarkan semua senjata rahasia yang disembunyikan, dengan telapak dirapatkan jadi satu berjalan mendekati lambang Naga Sakti tersebut kemudian menjura tiga kali ke arah lambang itu kemudian baru boleh berlalu.”

Ke Giok Lang termenung beberapa saat lamanya kemudian ujarnya, “Kalau percaya pasti ada, kalau tidak dipercaya tak akan ada, biarlah cayhe mencobanya terlebih dahulu”.

“Cayhe pun hanya mendengar pembicaraan orang lain, manjur atau tidak caybe tidak berani tanggung.”

Ke Giok Lang tertawa hambar, dia serahkan kipasnya ketangan Hoo Lian Hoa kemudian dari dalam sakunya mengeluarkan pula empat batang pedang pendek yang panjangnya ada delapan cun.

“Ke Kongcu, apa gunanya keempat bilah pedang pendek yang kau sembunyikan dalam tubuh mu itu?”

“Senjata tajam, sewaktu Kwan heng sedang bergebrak dengan aku orang she Ke di-kemudian hari kemungkinan besar dapat melihat bagaimanakah aku orang she Ke menggunakan senjata tersebut.”

Setelah ia melakukan selurah perkataan yang diucapkan Kwan Tiong Gak dengan sepasang telapak dirapatkan jadi satu ia berjalan mendekati Lambang tersebut dan menjalankan penghormatan sebanyak tiga kali ke-arah Lambang naga sakti.

Si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang yang memiliki nama tersohor dalam dunia persilatan ternyata menjalankan penghormatan terhadap sebuah panji kecil, sebenarnya hal ini merupakan suatu peristiwa yang menggelikan. Sekalipun begitu Kwan Tiong Gak memperhatikannya dengan wajah serius. Seluruh perhatiannya ditumpahkan keatas Lambang naga sakti itu.

Setelah menjalankan penghormatan Ke Giok Lang melanjutkan perjalanannya memasuki bangunan itu.

Melihat tindakan sang pemuda. Kwan Tiong Gak terperanjat, dia takut si kongcu romantis ini menangkan keuntungan bagi Pui Ceng Yan buru buru serunya.

“Ke kongcu jangan lupa dengan perjanjian kita.”

“Soal ini harap kau berlega hati.” jawab Ke Giok Lang sambil berpaling dan tertawa. “Selama cayhe masih menginginkan peta pengangon kambing, tak akan kucelakai saudara Poei.”

Dengan langkah labar ia melanjutkan perjalanannya masuk kedalam ruangan itu.

Kurang lebih seperminum teh kemudian dongan wajah pucat pasi bagaikan mayat Ke Giok Lang muncul kembali dari balik ruangan dan berjalan mendekat dengan langkah terburu buru.

Menjumpai perubahan wajahnya Kwan Tiong Gak segera menduga ia telah menemui suatu perubahan besar, diam diam ia salurkan hawa murninya mengadakan persiapan.

Dangan langkah lebar Ke Giok Lang berjalan mendekat, segera tegurnya dengan rada dingin.

“Kwan Tiong Gak, ada hubungan apa antara perusahaan kiokmu dengan Lambang Naga Sakti tersebut?”

Mendapat pertanyaan begitu Kwan Tiong Gak tertegun,

“Dikolong langit siapa yang tidak tahu kalau sang pemilik Lambang Naga Sakti adalah seorang jago lihay bagaikan naga sakti, seorang jago lihay bagaikan naga sakti yang nampak kepala tak nampak ekor. Mana mungkin dia punya hubungan dengan perusahaan Piauw kiok kami?”

“Kalau tidak ada hubungan, maka dengan memberanikan diri aku orang she Ke akan menuduh bahwa Lambang Naga Sakti tersebut adalah ciptaan perusahaan Piauw kiok kalian seodiri….”

Ia mendongak tertawa terbahak bahak, kemudian terusnya,

“Perusahaan Hauw Wie Piauw kiok bisa malang melintang di Utara maupun Selatan selama banyak tahun tanpa mempunyai peristiwa kiranya di balik hal tersebut tersembunyi rahasia ini!”

“Ke Kongcu!” ujar Kwan Tiong Gak dengan wajah serius. “Kalau perusahaan Piauw kiok kami punya hubungan dengan Lambang Naga Sakti tersebut, hal ini merupakan Suatu kebanggaan dari perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kami, kenapa cayhe tidak barani mengaku? sedangkan mengenai pemalsuan Lambang Naga Sakti, bukannya aku orang she Kwan tempeli emas diatas wajah sendiri aku tidak punya keberanian sebesar itu.”

“Tapi kau harus tahu. Sewaktu cayhe untuk pertama kali menjumpai Lambang Naga Sakti hal ini terjadi di dalam kereta yang ditumpangi nona Liuw, jelas Lambang itu ada sangkut pautnya dengan perusahaan kalian lalu ketika untuk kedua kalinya menjumpai lambang naga sakti lagi. kembali urusan ini ada sangkut pautnya dengan perusahaanmu”

“Tentang Lambang naga sakti yang muncul dalam kereta nona Liuw sampai detik ini cayhe tidak pernah mendengar laporan, seandainya benar terjadi peristiwa ini Piauwsu dari perusahaan kami sejak semula telah melaporkan hal tersebut kepadaku mengenai -munculnya lambang tersebut pada saat ini entah secara bagaimana kau menuduh ada sangkut pautnya dengan perusahaan kami?”

“Orang itu telah menolong Pui Ceng Yan disamping itu membinasakan pula empat orang pengawalnya”

“Aaaakh, ada kejadian semacam ini?” seru Kwan Tiong Gak kembali dibikin tertegun.

“Kalau kau tidak percaya boleh masuk ke dalam ruangan dan memeriksa sendiri.”

Sembari berkata ia menerima kembali-pedang pendek serta kipasnya dari tangan Hoo Lian Hoa.

Jelas, tiada maksud untuk turun tangan.

Sambil memandang Lambang naga sakti yang berkibar tertiup angin, dengan kebingungan Kwan Tiong Gak berseru.

“Peristiwa ini memang sedikit mengherankan!”

“Kwan Ciong Piauw tauw benarkah kau sangat takut dengan lambang naga sakti itu?”

“Cayhe dilahirkan lebih tua puluhan tahun Ke Kongcu, pengetahuan maupun pengalaman yang kualamipun jauh lebih banyak dari dirimu, aku mengerti apa yang dikabarkan selama ini dalam Bu lim suatu berita bohong belaka, peristiwa tersebut benar benar suatu peristiwa berdarah yang nyata.”

“Kalau begitu Kwan heng tidak bermaksud masuk kedalam sana?” kata Ke Giok Lang dingin.

“Kalau benar Poei Hu Cong Piauw tauw dari perusahaan kami telah ditolong orang masuk atau tidaknya aku orang she Kwan ke dalam ruangan rasanya tiada sangkut paut yang penting lagi.”

“Cayhe minta kau suka mengikuti aku masuk kedalam ruangan dan melihat bagaimana keempat orang anak buahku terbunuh.”

Kwan Tiong Gak termenung berpikir beberapa saat lamanya, lalu ujarnya, “Mungkin batok kepala mereka telah di tabas putus kemudian dijejerkan menjadi satu diatas meja?”

“Sedikitpun tidak salah, agaknya orang itu amat suka akan kebersihan, setelah membinasakan mereka masih ada kesenangan untuk mengatur batok kepala mereka teratur rapi.”

“Ke Kongcu!” Dengan cepat Kwan Tiong Gak menggeleng. “Itulah kebiasaan dari pemilik lambang naga sakti, aku orang she Kwan selamanya tidak pernah berbohong. Majikan naga sakti, aku orang she Kwan selama nya tidak pernah berbohong, majikan lambang naga sakti sama sekali tidak ada hubungan dengan kami dari perusahaan Hauw Wie Piauw-kiok, paling sedikit aku tidak tersangkut paut dengan peristiwa tersebut….”

Ia meloncat naik keatas pelana dan menyambung kembali kata-kata.

“Aku orang she Kwan percaya atas perkataan Ke Kongcu, kini Poei Ha Cong Piauw tauw dari perusahaan kami telah ditolong orang, agaknya kitapun tiada suatu tujuan untuk saling bergebrak, cayhe mohon diri terlebih dahulu.”

“Tunggu sebentar.”

“Ke Kongcu, kau masih ada urusan apa lagi?” tanya Kwan Tiong Gak bertanya.

“Sekalipun Poei Ceng Yan sudah ditolong orang, namun peta pengangon kambing masih berada dalam saku Cong Piauw tauw.”

“Sedikitpun tidak salah, tetapi cayhe-pun ingin menasehati diri Ke Kongcu Pemilik lambang naga sakti telah meninggalkan tanda pembunuhnya disini, hal ini sama artinya memberi peringatan buat diri Ke Kongcu sendiri, Apa yang Ke Kongcu sedang lakukan pada saat ini lebih baik segera dihentikan,”

Mendengar ucapan itu kontan Ke Giok Lang tertawa terbahak bahak.

“Menghentikan semua usahaku untuk mendapatan peta pengangon kambing tersebut?”

“Ke Kongcu lebih baik jangan terlalu menyudutkan orang lain aku orang she Kwan bukan lagi menakut nakuti dirimu, kalau kau ada maksud mencari gara gara dengan pemilik lambang naga sakti. silahkan Ke Kongcu gerakan seluruh anak buahmu yang telah kau tempatkan disekeliling tempat ini!”

“Jadi kau sudah tahu kalau kau berada dalam kepungan?” seru Ke Giok Lang.

Kwan Tiong Gak segera mendongak tertawa terbahak bahak.

“Aku orang she Kwan dengan menunggang kuda serta andalkan golok emas pernah menerjang berpuluh puluh bahkan beratus-ratus kepungan, pemainan dari Ke Kongcu ini telah aku orang she Kwan ketahui sejak masuk kedalam hutan tadi.”

Sreeeet! Ke Giok Lang segera membentangkan senjata kipas ditangannya.

“Kwan Tiong Gak, ada dua jalan untuk mu. Silahkan kau memilih sendiri!”

“Tolong tanya dua jalan yang mana?”

“Tinggalkan peta pengangon kambing atau terjang keluar dari kepungan aku orang she Ke.”

Mendengar ancaman itu Kwan Tiong Gak tanpa terasa telah meraba gagang golok emasnya.

“Ke Kongcu, kalau kau sudah ambil keputusan untuK mencari menang kalah di antara kita, ini pun merupakan persoalan yang tak bisa dihindarkan lagi.”

Selagi Ke Giok Lang siap menggerakan kipasnya untuk memberi tanda, mendadak terdengar suara jeritan ngeri berkumandang datang dari tempat kejauhan.

Kedua jeritan tajam tadi membuat gerakan kipas Ke Giok Lang berhenti di tengah jalan.

“Siapa!” bentaknya berat.

“Aku!” seseorang menjawab, Seorang lelaki berpakaian ketat dengan sepasang tangannya membawa dua butir batok kepala berjalan mendekat dengan langkah lebar.

Menemui orang hawa gusar segera memuncak dalam benak Ke Giok Lang serunya dengan suara keras, “Keparat, nyalimu sungguh tidak kecil”

“Hamba tidak bisa tidak harus datang, ia sudah menotok beberapa jalan-jalan darah ku,” seru orang itu buru buru.

Sembari berkata ia melanjutkan langkah nya mendekati Ke Giok Lang.

“Bangsat, kau cari mati.”

Tangan kanannya diayunkan kedepan melancarkan sebuah hantaman mengancam dada orang itu.

Orang tadi dapat melihat jelas datangnya serangan yang mengancam dadanya namun ia tak berkekuatan untuk menghindar.

“Braaaak….!” dengan telak serangan tadi bersarang ditubuhnya.

Serangan tadi Ke Giok Lang ini datangnya amat berat, terhajar oleh serangan terse-but lelaki tadi muntahkan darah segar dan roboh keatas tanah dengan badan kaku.

“Ke Kongcu, jalan darahnya telah tertotok membuat badannya tak dapat menekuk.” seru Kwan Tiong Gak dari samping. “Kau membinasakan dirinya apakah tidak terlalu sayang?”

Setelah Ke Giok Lang membinasakan orang itu, dalam hatinya timbul kewaspadaan, melihat pula pinggangnya kaku, kakinya kaku jelas beberapa buah jalan darahnya sudah tertotok ia makin terperanjat.

Apakah setelah diketahui pula kedua butir batok kepala yang dibawa orang itu bukan lain adalah batok kepala dari anak buahnya yang ia sembunyikan diseliling tempat itu.

Bagaimanapun ia adalah seorang manusia berpikiran cerdik, setelah dipikir sebentar, otakpun jadi terang kembali.

“Ehhm….! agaknya beberapa buah jalan darahnya memang tertotok!” sahutnya sambil tertawa hambar.

“Kemungkinan sekali dia masih ada urusan hendak dilaporkan kepada Ke Kongcu dengan hajarannya barusan sehingga jiwanya melayang, kau telah kehilangan sebuah peluang baik untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.”

“Hmmn! asal kita melakukan pemeriksaan lebih seksama lagi, rasanya tidak sukar untuk mengetahui keadaan sebenarnya, tidak perlu ia beri keterangan….”

Dari penjelasan itu Kwan Tiong Gak dapat menarik kesimpulan bahwa Ke Giok Lang sudah tahu salah kendati diluar masih ngotot, ia pun tidak bisa memecahkan rahasia itu. sambil tertawa hambar katanya, “Cayhepun seharusnya segara berangkat.”

Air maka Ke Giok Lang berubah sangat hebat sehingga susah dilukiskan dengan kata-kata, jelas ia sedang merasa sedih dan mendongkol karena usahanya telah menemui kegagalan.

Dengan susah payah ia pancing Kwan Tiong Gak masuk kedalom jebakan, kini suruh dia melepaskan begitu ssja tentu saja dalam hati mereka sedikit tidak rela.

Tetapi perubahan yang terjadi sama sekali berada diluar kekuasaan Ke Giok Lang. masih hidupkan jago-jago yang ia atur disekitar tempat itu? ia tidak berani memastikan.

Untuk beberapa waktu lamanya hati terasa sangat sedih sehingga dalam sesaat tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Teraengar Kwan Tiong Gak tersenyum, ujarnya perlahan-lahan, “Saudara Poei telah ditolong orang orang yang kau atur disekeliling tempat inipun tak bisa diandalkan lagi, kalau mau bergebrak terpaksa kita harus berduel, ke kongcu pertimbangkan dulu situasi disini, apakah kau yakin dapat dapat mengalahkan aku orang she Kwan.?”

Air muka Ke Giok Lang berubah hebat, tapi sebentar kemudian ia sudah tertawa.

“Cayhe ada satu persoalan yaug tak berhasil kupahami walau sudah dipikir berulang kali. kini ingin kupinta petunjuk dari Kwan heng.” katanya.

“Asal aku orang she Kwan tabu, tentu akan ku utarakan….”

“Ilmu kepandaian apakah yang telah di gunakan orang itu sehingga membuat pinggangnya laras kakinya kaku dan berjalan tanpa menekuk. Walaupun kesadarannya masih tetap ada namun seluruh badannya tidak mendengar perintah lagi.

“Aku orang she Kwan pun belum pernah mendengar ilmu kepandaian macam ini seperti pula Ke Kongcu baru pertama kali ini aku menjumpainya.”

“Oodw…. aku masih mengira kau tahu.” seru Ke Giok Lang ia lantas ulapkan tangannya. “Kalau kau tidak tahu, cayhe pun tak ingin mengganggu perjalananmu lagi, silahkan anda melanjutkan perjalanan.”

Kwan Tiong Gak segera menyentak tali les kuda, di iringi suara ringkikan panjang ia kabur kedepan.

Dasarnya kuda tersebut adalah seekor kuda mustika yang bisa melakukan perjalanan seribu dalam sehari, dalam sekejap saja bayangan orang she Kwan telah lenyap dari pandangan.

Ke Giok Lang tidak menghalangi perjalanannya, dengan mata mendelong ia awasi Kwan Tiong Gak hingga lenyap dari pandangan.

Melihat sang Hoa Hoa Kongcu berdiri melongo, dengan langkah pelan Hoa Lian Hoa jalan menghampiri, hiburnya, “Giok Lang, biarkanlah berlalu! waktu dikemudian hari masih panjang kita cari lagi siasat lain untnk hadapi dirinya.”

Ke Giok Lang mengangguk, ia rangkul gadis she Hoo itu dan menyahut, “Aku tjdak jeri terhadap Kwan Tiong Gak yang kupikirkan adalah yang punya lambang Naga Sakti….”

“Lambang Naga Sakti merupakan benda pantangan bagi orang orang Bu lim, lebih baik kau mengalah saja terhadapnya.” sambung sang gadis cepat.

“Aku sedang berpikir, secara bagaimana dapat berjumpa muka dengan yang punya lambang Naga Sakti itu!”

“Orang orang kangouw pada menyingkir dan berusaha menghindarkan diri dari pertemuan dengan lambang Naga Sakti, apa perlu nya kau ingin berjumpa muka dengan dirinya “

“Sedikitpun tidak salah, pemilik Lambang Naga Sakti dapat menggetarkan seluruh Rimba persilatan karena ia terlalu misterius orang orang kangouw tak ada yang berhasil menjumpai dirinya, perduli bagaimana lihaynya kepandaian silat orang itu, ia tetap seorang manusia!”

“Apa yang kau bicarakan terlalu mendalam,” seru Hoo Lian Ho dengan sepasang mata terbelalak lebar. “Ada yang tidak dapat kupahami.”

Ke Giok Lang angkat muka keatas dan menghela napas panjang.

“Walaupun Lambang Naga Sakti tersebut dari siluman emas, namun umur tak akan menanti manusia, kalau dugaanku tidak meleset maka benda tersebut sudah seharusnya berganti pemilik.”

“Maksud Giok Lang, apakah pemilik Lambang Naga Sakti itu kemungkinan besar adalah putra dari pemilik tua.”

“Bslum tentu putranya, mungkin juga, murid muridnya. Lambang Naga Sakti pernah menggetarkan dunia persilatan selama sepuluh tahun, ini hari muncul kembali dalam unia persilatan, kalau pemiliknya masih tetap pemilik lama, ia tentu sudah sangat tua.”

“Sangat cengli ucapanmu,” Hoo Lian Hoa mengangguk dan tertawa. “Namun sekali pun pemiliknya sudah berganti tangan, orang orang Bu lim masih jeri terhadap dirinya, kenapa kita tidak mengalah pula buat dirinya?”

“Bukan saja kita harus mengalah kepadanya, bahkan harus berusaha untuk berkenalan dengan dirinya.”

“Berkenalan dengan dirinya?”

“Benar, tetapi untuk itu kau harus bayak memberi bantuan.”

“Kepandaian silatku tidak dapat menyamai kepandaianmu, dalam soal kecerdasan otak pun tak bisa menangkan dirimu, bagai mana aku bisa membantu usahamu ini??”

“Sssst….! menurut pendapatmu pemilik lambang naga sakti itu seorang lelaki atau seorang perempuan?” bisik Ke Giok Lang lirih.

“Lelaki!”

“Berdasarkan hal apa kau bisa berkata dengan begitu yakin?”

“Entahlah, aku sendiripun tidak tahu, aku hanya berpikir demikian.”

“Apa yang kau pikirkan sedikitpun tidak salah,” Ke Giok Lang tersenyum. “Aku pun merasa dia adalah seorang lelaki, oleh sebab itu aku ingin membantumu.”

“Kau ingin aku berbuat apa?”

“Pemilik Lambang Naga Sakti adalah seorang enghiong hoo ban, ia tidak akan melukai kaum gadis, terutama sekali gadis yang cantik jelita macam kau, begitu bukan?”

“Aaaakh!….” Agaknya Hoo Lian Hoa sudah paham apa yang sedang dimaksudkan kekasihnya. “Kau ingin aku pergi cari dirinya….”

“Urusan ini harus kita susun dulu suatu rencana yang bagus dan rapat, kita tak boleh bekerja sembarangan,” sambung Ke Giok Lang cepat.

“Giok Lang!” Sepasang alis Hoo Lian Hoa berkerut. “Perkataan apapun aku suka mendengarkan, namun kalau suruh aku mencari lelaki lain, aku….”

Ke Giok Lang segera merangkul pinggang Hoo Lian Hoa erat erat dengan nada sayang serunya lirih.

“Kecuali kau, orang lain bagaimana mungkin dapat berjumpa dengan manusia sakti yang kelihatan kepalanya tak kelihaian , ekornya ini?”

“Secara bagaimana aku dapat berjumpa dengan dirinya?”

“Kalau ada seorang gadis cantik, dia adalah lelaki….”

Bicara sampai disitu ia merandek dan memperdengarkan suara suitan aneh berulang kali.

Dari empat penjuru tampak bayangan manusia berkelebat, empat lima orang lelaki berbaju hitam dengan langkah terburu buru munculkan diri dan berhenti kurang lebih lima depa dihadapan Ke Giok Lang….

“Hanya kalian beberapa orang?!” tanya Sang Kongcu romantis dengan alis berkerut.

Kelima orang lelaki keluar itu saling bertukar pandangan, mereka tidak tahu apa yang diucapkan.

“Cepat lakukan pemeriksaan disekeliling tempat ini, kau menemukan jenasah segera dikubur!”

Agaknya kelima orang itu menaruh rasa hormat dan jeri terhadap Ke Giok Lang, walaupun dalam hati merasa kurang begitu paham namun mereka tak berani banyak bertanya, setelah menjura segera berlalu dari sana.

“Kau telah sembunyikan berapa orang diaekitar sini?” bisik Hoo Lian Hoa setelah kelima orang lelaki itu berlalu.

“Lima belas orang, tetapi sekarang tinggal mereka berlima.”

“Sisanya sepuluh orang telah kemana?”

Ke Giok Lang menggeleng dan tertawa getir,

“Kalau bukan mati jalan darahnya telah tertotok. Aaa…. sejak aku Ke Giok Lang munculkan diri dalam dunia persilatan, belum pernah kualami kekalahan total macam ini hari.”

Tiba tiba ia teringat akan lambang Naga Sakti yang tertancap di depan pintu, buru-buru kepalanya berpaling.

“Aaakh….!” saking kagetnya Ke Giok-Lang tak dapat menahan golakan hatinya.

Pintu bangunan kosong bersih, lambang Naga Sakti tersebut entah sejak kapan telah diambil kembali oleh pemiliknya.

Agaknya Hoo Lian Hoa pun dapat menemukan apabila lambang Naga Sakti telah lenyap, ia tertegun.

“Giok Lang. lambang Naga Sakti telah lenyap tak berbekas.” serunya.

Air muka Ke Giok Lang sebentar berubah pucat pasi, sebentar berubah hijau membesi, tangannya rada gemetar. Jelas dalam hatinya telah terjadi suatu pergolakan yang amat besar.

“Giok Lang, kenapa kau?” tanya Hoo Lian Hoa sambil mencekal tangan kanan, pemuda itu dan menggenggamnya dengan erat erat.

Ke Giok Lang tertawa dingin, dengan sepasang mata memancarkan cahaya buas serunya, “Aku bersumpah tak akan berpeluk tangan terhadap orang ini!”

Sementara itu kita balik pada Kwsn Tiong Gak yang melarikan kudanya melanjut kan perjalanan.

Setelah berlari beberapa saat lamanya ia tarik les memperlambat lari kudanya dan berpikir.

“Antara pemilik lambang Naga Sakti dengan perusahaan Hauw Wie Piauw kiok sama sekali tiada ikatan ataupun hubungan, tetapi jelas ia sedang membantu orang jadi kebingungan setengah mati.”

Mendadak suatu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir lebih jauh, “Apakah ia pun berbuat demikian disebabkan peta pengangon kambing itu? Memberi budi dahulu kepadaku kemudian baru meminta barang yang ia butuhkan….,”

“Toako….” Suara yang amat dikenal berkumandang dari sisi jalan menyadarkan Kwan Tiong Gak dari lamunannya.

Setelah mendengar suara tersebut, tanpa angkat muka lagi Kwan Tiong Gak dapat menebak siapakah dia.

Tetapi ia mendongak juga memandang sekejap kearah orang itu.

Tampaklah ditepi jalan diatas sebuah lapangan berumput duduk seorang kakek tua yang bukan lain ialah Pui Ceng Yan

Perlahan lahan Pui Ceng Yan bangun berdiri kemudian berjalan menghampiri Cong Piauw-tauwnya dan menjura, “Menjumpai Toako.”

Kwan Tiong Gak usap tangan menyeka pundak Pui Ceng Yan, mengambil kesempatan itu ia meloncat turun dari atas pelana Kuda, katanya, “Saudara, kau terlalu menderita….”

“Masih baikan!” jawab Put Ceng Yan sambil menggeleng dan tertawa getir. “Beberapa orang anak buah Ke Giok Lang ada maksud menyiksa diriku, saat itulah muncul seorang menolong diriku. Aaaaai….! pada hal sekalipun siauwte harus menderita lagi pun tidak mengapa asal tidak sampai memalukan

nama toako….”

“Aku rasa Ke Giok Lang tak akan menipu diriku apa yang telah terjadi, karena itu kau tak usah bercerita lagi.”

“Siauwte merasa amat kecewa.”

“Haaaa haaaa haaaa….perhitungan manusia tak dapat menandingi perhitungan Thian dengan tidak mengindahkan peraturan Bu lim Ke Giok Lang telah membokong diri mu, apa yang bisa kita lakukan lagi?”

“Yang paling penting adalah siauwte terlalu gegabah, setelah mengetahui Giok Lang munculkan diri ternyata tidak ambil kewaspadaan apapun.”

“Serangan terang terangan mudah dihindari, serangan bokongan susah dikelit, kau pun tak usah bersedih h»ti karena peristiwa ini, hanya saja ada satu persoalan membuat siauw heng merasa kurang paham.”

“Urusan apa?”

“Siapakah yang menolong dirimu?” Pui Ceng Yan kelihatan tertegun, lalu jawabnya, “Siauwte merasa amat malu, hingga sekarang aku belum berhasil menjumpai dirinya, namun aku pikir dia tentu sahabat dari toako.”

“Jadi kau tidak berhasil menjumpai diri nya?” tanya Kwan Tiong Gak agak melengak.

“Aaaai….kalau dikatakan memalukan.”

“Orang itu adalah pemilik Lambang Naga Sakti.”

“Pemilik Lambang Naga Sakti? bagai mana toako bisa tahu?”

“Untuk menolong dirimu, ia telah membinasakan orang yang berada didalam bangunan itu dan meninggalkan lambang Naga Saktinya, setelah itu membereskan pula orang-orang yang di atur Ke Giok Lang dalam hutan, boleh dihitung bukan saja ia telah menolong dirimu, bahkan telah menolong diriku pula.”

“Tapi bagaimanakah macam wajahnya, aku tak dapat melihatnya.”

“Tiada angin tak akan menimbulkan ombak, persoalan ini tentu ada suatu hubungan yang sang sangat kait mengait, coba pikirlah perlahan lahan selama beberapa tahun ini kau pernah melakukan pekerjaan -apa yang telah menolong orang lain!”

“Sekalipun ada urusan kecil siauwte, pun tak bisa mengingatnya semua, tapi aku rasa pemilik Naga Sakti tak bakal membutuhkan bantuan siauwte.”

“Mari kita melanjutkan perjalanan, sembari berjalan kita bercakap cakap!”

Ia lompat naik ke atas panggang kuda nya sekalian menarik tubuh Pai Ceng Yan naik keatas kudanya pula.

Koda jempolan dari Kwan Tiong Gak ini berperawakan tinggi dan berkekuatan besar. baru saja kedua orang Itu duduk seolah olah hanya mengangkut seorang saja, kuda tadi laksana anak panah terlepas dari busur segera berlari kedepan.

Ditengah berlarinya kuda itu dengan kencang, mendadak Pui Ceng Yan teringat akan seekor kuda mustika lain yang pernah di jumpainya, tanpa terasa ia berseru tertahan.

Mendengar seruan itu Kwan Tiong Gak segera menarik tali les dan menghentikan lari kudanya.

“Ada urusan apa ” tanyanya cepat.

“Setelah menunggang kuda mustika dari Toako, seketika akupun teringat akan suatu persoalan….,”

“Apakah ada sangkut pautnya dengan Lambang Naga Sakti?”

“Soal ini susah untuk dibicarakan,kalau tidak diperhatikan seolah olah urasan ini hanya matu persoalan kecil, namun setelah diperhatikan dengan seksama aku rasa dibalik peristiwa itu tersambunyi suatu hal yang sulit.”

“Persoalan macam apakah itu?”

“Apakah toako masih ingin dengan peta pangangon kambing?? sampai sekarang siauwte masih belum tahu siapakah yang telah menghantarkan benda mustika itu kepadaku.”

Dengan wajah serius Kwan Tiong Gak berpaling memandang sekejap wajah Poei Ceng Yan.

“Apakah peristiwa itu bukan rencana yang kau susun “

Dengan cepat Poei Ceng Yan menggeleng.

“Persoalan yang tidak mendapat perintah dari toako, mana berani siauwte ambil keputusan sendiri.”

“Ehhh….jadi maksudmu, ada orang yang membantu Kita secara diam-diam….”

“Sejak semula siauwte sudah punya pemikiran begini, tapi tak berhasil kuketahui siapakah dia.”

“Si pemilik Lambang Naga Sakti.”

“Siauwte tidak berani mengambil kesimpulan pasti dirinya, tapi ditinjau dari situasi saat ini dimana Lambang Naga Sakti munculkan diri berulang kali, aku rasa agaknya kemunculannya ada hubungan yang sangat erat dengan perusahaan Hauw Wie Piauw kiok.”

“Bukan, tiada sangkut paut dengan perusahaan Hauw Wie Piauw kiok, tapi apa sangkut paut dengan dirimu pribadi,” dengan cepat Kwan Tiong Gak menambahkan.

Mendengar perkataan itu Poei Ceng Yan tertawa getir.

“Siauwte sama sekali tak terpikirkan secara bagaimana bisa mengikat hubungan dengan pemilik Lambang Naga Sakti.”

“Mungkin secara tidak sadar kau telah membantu dirinya.”

“Siauwte pun pernah berpikir demikian. Sewaktu berada disebuah kuil ditengah pegunungan aku pernah menolong seorang kawan Bu lim yang masih muda, ia terhajar oleh senjata rahasia beracun, kuda yang ditunggangi adalah seekor kudi putih bersih bagaikan salju, setelah siauwte bantu menyembuhkan lukanya tanpa mengucapkan sepatah Kata pun ia lantas berlalu dari sana. kalau ditinjau dari kudanya bukan saja tidak berada di bawah kuda jempolan milik Toaso bahkan amat cerdik….”

“Kau tidak bertanya siapakah namanya?”

“Aganya ia tidak ingin bicara, siauwte pun tidak bertanya lebih jauh, namun usianya terlalu muda. aku rasa ia tidak mungkin ada sangkut pautnya dengan pemilik Lambang Naga Sakti.”

“Kau masih bisa mengenali dirinya?”

“Teringat situasi sewaktu aku menyembuhkan lukanya, seolah olah ia ada maksud menghindarkan diri dari bentrokan mata dengan siwwte. agaknya ia tidak membiarkan orang lain melihat jelas bagaimanakah wajahnya. tapi keadaan garis besarnya siauwte masih ingat.”

“Setelah menyembuhkan lukanya, apakah kau pernah berjumpa lagi dengan dirinya.”

“Pernah.”

“Dimana?”

(Bersambung Jilid 21)

Jilid 21

“SEWAKTU toako mengadakan perjamuan ditepi telaga Huan Yang, seorang pemuda muncul tanpa menimbulkan suara kemudian berlalu tanpa meninggalkan jejak waktu siauwte tidak terlalu ambil perhatian, kalau kupikir sekarang ada delapan bagian orang itu adalah sang pemuda yang telah Siauwte tolong…..”

Ia menghembuskan napas panjang, setelah merandek sejenak terusnya, “Siauwte merasa sangat menyesal dan main setelah keluar dari kota Kay Hong telah dibius orang kemudian dikurung dalam bangunan tersebut….,….”

“Inilah yang dinamakan Manusia punya maksud. Tuhan punya kuasa,” tukas Kwan Tiong Gak sambil tertawa hambar. “Ke Giok Lang telah menggunakan cara yang paling rendah untuk membius dirimu, tidak dapat disalahkan kau tak berhasil menghindarkan diri kaupun tak usah bersedih hati karena persoalan ini….”

Ia merandek sejenak, lalu terusnya.

“Persoalan yang paling penting pada saat ini adalah kita harus berusaha mencari tahu apa maksud dari pemilik lambang naga sakti kalau ia pun ada maksud mencampuri urusan ini, aku rasa peta pengangon kambing ini adalah pemilik lambang naga sakti, aku rasa dia tiada beralasan untuk merebut kembali peta Pengangon Kambing tersebut.”

“Semoga saja demikian.” Ia sentak tali les dan melarikan kudanya bagaikan angin kearah depan.

“Toako,” kata Poei Ceng Yan dengan Suara berat. “Didepan ada perempatan, turun kan aku disana karena aku harus segera melanjutkan perjalanan. Namun dengan adanya peristiwa ini perjalananku akan terlambat satu atau dua malam.”

“Kau tak usah melakukan perjalanan lagi karena aku sudah berubah pikiran….”

kata Kwan Tiong Gak sambil melarikan kudanya cepat cepat. “Kita tak usah pulang keibu kota lagi, setibanya ke kota Cang Tek Hu nanti kita segera kirim utusan untuk kembali ke ibu kota mengumpulkan beberapa orang jago lihay untuk segera berangkat kemari, di samping itu kirim kabar pula keseluruh kantor cabang untuk sementara menghentikan semua usaha.”

“Toako jadi kau tidak jadi membubarkan perusahaan Hauw Wie Piauw kiok?”

“Urusan ini amat penting dan mempunyai sangkut paut yang besar dengan peristiwa Bu lim, aku rasa dalam waktu singkat susah memberi penjelasan kepada mereka. Untung sekali di dalam kantor cabang masih tersedia sejumlah harta,” ia mendongak tertawa terbahak, sambungnya, “Padahal cara, inipun merupakan suatu usaha yang terpaksa, dalam keadaan semacam ini mau tak mau kita harus berusaha untuk menghadapi segala perubahan.”

“Toako, menurut pandangan setelah Ke-Giok Lang mendapat peringatan tersebut dapatkah ia memusuhi kita lagi?”

“Ke Giok Lang tidak akan berpeluk tangan tapi berhubung nama lambang Naga Sakti terlalu besar ia tentu dibuat jeri. Saat ini hanya ada dua persoalan saja membuat aku masih kebingungan.”

“Persoalan apa?”

“Ke Giok Lang beritahu padaku bahwa didalam kamar nona Liuw Wan Jie ia telah menemui lambang Naga Sakti, maka dari itu usahanya mencuri di batalkan dan di ganti menghadiahkan sebutir pil mujarab, kemudian secara diam mengundurkan diri, soal ini apakah kau tahu?”

“Pertama kali Thian Lam Sah setelah membuka horden kereta yang di tumpangi nona Liuw dengan ketakutan ia mengundurkan diri, kedua kalinya Ke Giok Lang kembalikan peta pengangon kambing dan melarikan diri, kedua kalinya Ke Giok Lang menjalankan siasat memancing harimau turun gunung menyingkirkan diriku dari rumah penginapan dan ia sendiri menyelundup masuk menguasai seluruh anak buah perusahaan dan menerobos kedalam kamar Liauw Wan jie, tapi akhirnya iapun batalkan maksudnya, setelah menghadiahkan obat mujarab lantas mengundurkan diri.”

“Kalau begitu Lau Thian Sam Sah serta Ke Giok Lang telah menjumpai lambang Naga Sakti?”

“Soal ini siauwte kurang jelas, aku serta Piauw tauw pernah melakukan penelitian sampai beberapa kali, namun semua usaha kami menjumpai kegagalan.”

“Kecuali lambang Naga Sakti dikolong langit rasanya tak ada barang kedua yang bisa mendatangkan kekuatan sebesar itu sehingga dapat memaksa  barang yang ada ditangan dikembalikan lagi, namun di tinjau dari sudut ini rasanya dapat ditarik kesimpulan pemilik lambang Naga Sakti itu hanya bertindak. demikian demi Liuw Wan Jie”

Poei Ceng Yan termenung sebentar, lalu Ujarnya, “Seandainya Liuw Wan jie mempunyai pemilik Lambang Naga Sakti sebagai tulang punggungnya, bagaimana mungkin ia malah suruh ayahnya menyerahkan peta pengangon kambing itu?”

“Ehhmmmn….! Perkataanmu memang ceng li….” Ia mendehem ringan. “Apakah kau yakin Liuw Wan jie benar benar tak dapat ilmu silat?”

“Secara diam-diam siauw tee pernah melakukan pemeriksaan sebanyak beberapa kali. kecuali ia berpura-pura sangat persis sehingga mataku bisa dikelabui, aku rasa ia benar-benar seorang gadis yang tidak mengerti akan ilmu silat.”

“Seorang gadis yang sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat agaknya tidak mungkin bisa berkenalan dengan pemilik lambang Naga Sakti namun bila ditinjau dari nada ucapan Ke Giok Lang ia benar benar menjumpai lambang Naga Sakti tersebut. Liuw Wan jie adalah seorang putri pembesar, setiap hari ia bersembunyi di istana belakang, bagaimana ia bisa menjumpai Lambang Naga Sakti? Peristiwa ini benar benar membuat orang merasa sedikit tidak paham.”

“Sungguh tidak kusangka, Lambang Naga Sakti yang tidak pernah muncul selama puluhan tahun bisa muncul kembali dalam dunia persilatan bahkan tersangkut paut dalam persoalan kita, hal ini membuat orang tak bisa menebak rejeki atau bencanakah yang bakal kita terima!”

Lari kuda jempolan yang mereka berdua tumpangi amat cepat sekali, walaupun dua orang berada diatas satu pelana namun tak mengurangi kecepatannya untuk bergebrak.

Tidak selang beberapa saat kemudian mereka telah melakukan perjalanan sejauh puluhan li dan tiba tiba di sebuah kota kecil.

“Kita harus bersantap dahulu sebelum melanjutkan perjalanan,” kata Kwan Tiong Gak sambil tertawa, ia segera loncat turun hari atas pelananya. Kemudian langsung berjalan masuk ke-dalam sebuah kedai arak.

Walaupun tempat itu hanya sebuah kota kecil, tapi berhubung merupakan urat nadi dari perdagangan maka tetamu yang singgah disanapun amat banyak, ruangan yang cukup besar saat ini boleh dikata hampir penuh.

Sang pelayan datang menyambut, sambil bongkok badan serta wajah penuh senyuman serunya, “Khek koan berdua silahkan duduk….”

Ia membawa kedua orang itu masuk kedalam ruangan, sinar mata berputar memeriksa apakah tempat duduk kosong, sedang pelayan lain segera menyambut tali les dari tangan Kwan Tiong Gak.

Melihat ruangan kedai itu sangat penuh, Kwan Tiong Gak ada maksud mengundurkan diri, namun sewaktu ditemuinya para tetamu yang ada disana sebagian besar adalah orang kangouw ia batalkan niatnya.

Diatas jalan raya banyak berlalu lalang manusia, menjumpai seorang dua orang jaga kangouw sebenarnya bukan merupakan suatu kejadian besar, tapi kali ini Kwan Tiong Gak telah menjumpai jago Kangouw yang hadir disana dalam jumlah sangat banyak.

Yang membuat Kwan Tiong Gak tidak paham adalah berpuluh-puluh orang jago kangouw itu rata rata mempunyai pikiran dalam hati, setiap orang dengan kepala tertunduk, alis berkerut dan wajah kesal menikmati hidangan masing masing.

Inilah yang menimbulkan rasa ingin tahu dalam hati Kwan Tiong Gak, ia berharap bisa menemukan sesuatu dari mereka.

Sementara itu dengan susah payah akhirnya sang pelayan berhasil mendapatkan dua buah ternpat kosong, buru-buru ia persilahkan kedua orang itu ambil tempat duduk.

“Yaya berdua hendak makan apa?” tanyanya.

“Sepoci arak bagus serta beberapa macam sayur yang paling lezat dari kedai kalian “

Sang pelayan mengiakan dan segera berlalu.

Tempat duduk Kwan Tiong Gak serta Poei Ceng Yan adalah sebuah meja kecil dekat jendela, disekeliling mereka duduk adalah para pelancong, kuli serta berbagai ragam manusia.

Beberapa saat kemudian sang pelayan datang menghidangkan arak dan sayur yang dipesan.

Kwan Tiong Gsk memenuhi dahulu cawan mereka berdua, lalu bisiknya lirih, “Apakah kau sudah menemukan sesuatu?”

Poei Ceng Yan mengangguk.

“Dalam kedai terdapat tidak sedikit jago kangouw….”

“Orang orang ini berkumpul disatu tempat tapi bukan melakukan perjalanan bersama, yang paling aneh setiap orang berwajah murung dsn kesal membuat orang lain merasa curiga.”

Mendengar perkataan itu Poei Ceng Yan ambil perhatian lebih seksama lagi, sedikitpun tidak salah ia temukan para jago yang ada dalam kedai rata rata berwajah murung dengan alis berkerut, ia jadi tercengang.

“Toako, apa sebenarnya telah terjadi?”

“Aku sendiripun tidak paham,” jawab Kwan Tiong Gak sambil meneguk isi cawannya. “Diantara para jago ini ada dari kalangan lurus ada pula dari kalangan sesat, tidak mungkin mereka berjumpa disini tanpa sengaja, aku rasa tentu apa suatu peristiwa yang mencurigakan hati.”

“Mungkinkah ada hubungannya dengan Lambang Naga Sakti?”

Kwan Tiong tercenung sejenak lalu mengangguk….

“Ada kemungkinan demikian,” Ditengah pembicaraan mendadak terdengar suara derapan kaki kuda berkumandang datang, disusul munculnya dua ekor kuda berhenti pula didepan kedai.

Kwan Tiong Gak segera alihkan sinar matanya kedepan, tampak olehnya orang tersebut adalah dua orang kakek tua berjubah hijau berjenggot putih dan berusia diantara enam puluh tahunan.

Dandanan kedua orang itu mirip satu sama lainnya, yang berbeda adalah wajah mereka. Orang yang berada dipaling depan berwajah pucat pasi bagaikan kertas dan sama sekali tidak kelihatan darah, sedang yang ada dibelakang berwajah hitam pekat bagaikan pantat kuali, alisnya tebal terlintas selapis hawa hitam, mereka bukan lain adalah Im Yang Siang Sah iblis tersohor dalam dunia persilatan.

Kedua orang itu setelah turun dari atas kuda lantas melangkah masuk kedalam kedai, terdengar seorang berwajah putih berkata dengan nada bejat, “Loo-jie, aku lihat kita minum dulu di sini sampai enam tujuh bagian, kemudian baru melanjutkan perjalanan lagi, bagaimana?”

“Aku dengarkan keputusan dari Loo-.toa.”

Kwan Tiong Gak tahu watak Im Yang Siang Sah amat keji terhadap orang orang dari kalangan Liok lim pun tidak pernah bersahabat, bahkan buas dan telengas, sepatah dua patah kata tidak cocok lantas turun tangan membunuh orang, hal ini menyebabkan jago kangouw baik dari kalangan Pek to maupun dari kalangan Hek to sama sama menaruh rasa jeri dan sungkan terhadap mereka.

Tetapi keadaan kali ini jauh berbeda, begitu banyak jago jago Bu-lim yang ada dalam kedai tak seorangpun yang menghindar atau bangun menyapa mereka.

Im Yang Siang Sah sendiri pun keadaannya tidak seperti biasa, setelah masuk kedalam kedai mereka mencari tempat duduk sendiri dengan mulut membungkam.

Ketika pelayan menghidangkan arak, mereka segera meneguk tanpa menggubris orang lain.

Keadaan yang lain dari pada yang lain ini mendatangkan rasa ingin tahu bagi Kwan Tiong Gak serta Poei Ceng Yan, tanpa terasa merekapun perlambat tegukan araknya.

Tampak oleh mereka berdua, kebanyakan jago jago Bu-lim baru berangkat setelah mabok enam tujuh bagian, bahkan merekapun lebih sosial dari keadaan biasanya.

Orang terakhir yang berangkat adalah Im Yang Siang Sah, sikakek wajah pucat mengeluarkan sekeping emas dan diletakkan diatas meja kemudian berlalu.

Melihat emas itu bernilai diantara enam tujuh tahil sang pelayanan jadi melengak.

“Eeeei! Khek koan berdua, kalian berdua sudah memberi terlalu banyak, yang kalian letakkan dimeja adalah emas,” serunya tanpa terasa.

Sikakek berwajah putih tertawa hambar.

“Sisanya kuhadiahkan buat dirimu minum teh,” katanya.

“Terlalu banyak…. terlalu banyak….” seru pelayan itu berulang kali dengan tangan gemetar.

Namun Im Yang Siang Sah tidak ambil perduli lagi, mereka keluar dari kedai naik kuda dan berlalu.

Menanti Im Yang Siang Sah telah berlalu dan Kwan Tiong Gak merasa mereka adalah orang kangouw terakhir, segera ikut bangun membayar uang arak dan berkata, “Saudara Poei, bagaimana kalau kita pergi menonton apa yang mereka hendak lakukan?”

“Jikalau toako merasa tidak perlu terburu buru melakukan perjalanan, pergi menontonpun tiada halangan.”

Kwan Tiong Gak lantas ulapkan tangannya memanggil sang pelayan, katanya, “Kami mau beli kuda yang kuat dan bisa lari cepat, carikan! sedikit mahalpun tidak mengapa.”

“Aaakb….,….! kota kami terlalu kecil, tidak ada pasar kuda.” sahut sang pelayan dengan wajah serba susah. “Namun kalau kau butuh sekali, biarlah hamba pergi adu untung.”

Kwan Tiong Gak tersenyum, ia tidak menjawab dan memandang pelayan tadi berlalu

“Toako,” bisik Poei Ceng Yan sesudah pelayan itu berlalu. “Disini tak ada pasar kuda, mana mungkin bisa dapatkan kuda?”

“Tidak mengapa nasib pelayan itu sangat baik.”

Karena dari ucapan itu Poei Ceng Yan bisa menangkap Suatu maksud tertentu, maka ia membungkam.

Beberapa saat kemudian, pelayan itu muncul kembali, serunya, “Waach…. nasib kalian sungguh mujur, hamba telah mendapatkan seorang penjual kuda, hanya saja harganya sedikit mahal, dia minta dua puluh tahil perak,,”

“Benda ini rasanya cukup bukan.” ujar Kwan Tiong Gak sambil mengeluarkan sebuah daun emas. “Cepat siapkan pelana, kami segera akan berangkat melanjutkan perjalanan “

“Khek koan berdua silahkan menanti didepan pintu, hamba segera membawa kuda kesana.”

Satelah membereskan rekening, Kwan Tiong Gak dan Pui Ceng Yan berjalan keluar dari kedai itu.

Beberapa saat kemudian sang pelayan membawa dua ekor kuda jempolan dari Kwen Tiong Gak dan kuda yang lain adalah seekor kuda tinggi besar lengkap dengan pelananya.

“Khek koan berdua, kuda ini tidak jelek bukan” ujar sang pelayan sambil tersenyum.

“Saudara Pui, kita segera berangkat, “seru Kwan Tiong Gak sambil menerima tali les dan melarikan tunggangnya kedepan.

Pui Ceng Yang pun buru buru mencaplak kudanya membututi Cong Piauw tauw-nya setelah tiba disisi orang she Kwan serunya, “Toako, bagaimana kau bisa tahu kalau pelayan itu punya seekor kuda jempolan?”

“Tadi aku melihat seorang jago Bu lim tidak cukup untuk membayar uang araknya ia lantas menggunakan kudanya sebagai alat pembayaran, kalau ditinjau dari wataknya orang ini tidak mirip jago dari kalangan lurus, namun ia rela menggunakan kudanya untuk ditukar dengan santapan, ini menunjukkan dua persoalan, mereka sedang menghadapi Suatu peristiwa besar yang tak dapat di hindari lagi, dan mereka tak dapat menentukan nasib sendiri, maka dari itu mereka tak ingin ribut lagi dengan orang lain dan semua persoalan berusaha dikekang ….”

Sambil berpaling kearah Poei Cang Yan. sambungnya, “Soal kedua! kita dapat membuktikan, kalau tempat jauh mereka tuju tidak terlalu jauh dari kedai tersebut, maka tak usah menunggang kudapun bisa tiba pada saatnya.”

“”Entah mereka hendak pergi kemana?”

“Mungkin tidak akan terlalu jauh.” Mendadak ia menuding kearah depan dan sambungnya.

“Coba lihat kedepan, kedua orang itu bukankah Im Yang Siang-sah? ini menunjukkan bahwa jalan yang kita tempuh tidak salah.”

“Kedua orang iblis tua itu tidak mudah dihadapi, lebih baik kita perlambat perjalanan kita.”

“Aaacchh-.aku rasa tidak perlu, coba lihat mereka pada tundukkan kepala dengan wajah lesu bagaikan sedang menuju ke jalan kematian saja. dalam keadaan seperti ini mereka tak akan ada gairah untuk mengumbar napsu, sekalipun dilewati juga tidak mengapa.”

Ia segera menpercepat lari kudanya, dalam sekejap mata mereka telah melewati Im Yang Siang Sah.

Kedua orang Iblis Im dan Yang ini dengan membawa mabok duduk mematung di atas kudanya, sekalipun Kwan Tiong Gak lewat dari sisinya mereka sama sekali tidak berpaling atau bergerak.

Kwan Tiong Gak segera menarik tali les menghadang jalan pergi kedua orang itu.

sebenarnya ia ada maksud membentak namun niatnya segera dibatalkan karena secara mendadak ia teringat akan watak Im Yang Siang Sah.

Agaknya Im Yang Siang Sah sama sekali tidak menggubris diri Kwan Tiong Gak. sambil ceplak kuda kedua orang itu melanjutkan perjalanan kedepan.

Melihat kejadian itu Poei Ceng Yan segera mengejar Cong Piauw Tauwnya.

“Toako, agaknya Im Yang Siang Sah sudah kehilangan semangat, entah apa sebabnya”

“Bukan cuma Im Yang Siang Sah saja, semua jago Bu lim yang kita jumpai disepanjang jalan tak seorang pun yang kelihatan segar dan bersemangat, mereka kelihatan lesu semua, keadaan ini sangat aneh kita harus mengejar kedepan dan melihat jalan apa sebetulnya yang telah terjadi.”

Terlihat Im Yang Siang Sah dengan berbareng telah berjalan memasuki sebuah hutan bambu yang lebat.

Melihat kedua orang itu sudah masuk ke-dalam hutan bambu. Kwan Tiong Gak serta Poei Ceng Yan segera mengejar.

Tampak hutan bambu itu sangat lebat, diantara pepohonan bambu terbentang sebuah jalan lorong yang lebarnya ada empat depa.

Jalan lorong itu kelihatan masih baru. jelas belum lama berselang digali.

Sekalipun begitu diatas tanah banyak membekas telapak kaki kuda….

Kwan Tioag Gak termenung, lalu melarikan kudanya menerobos masuk kedalam hutan.

25

Beberapa saat kemudian sampai mereka didepan sebuah pohon yang tumbuh berbagai macam pepohonan, diatas ranting tertambat berpuluh-puluh ekor kuda.

Diam diam Kwan Tiong Gak menghitung jumlah kuda tersebut tidak kurang tidak lebih berjumlah lima-enam puluh ekor banyaknya seandainya satu kuda satu orang maka paling sedikit ada lima enam  puluh orang telah hadir disana.

Tentu saja kalau ada diantara mereka tidak menunggang kuda maka jumlah yang hadir melebihi jumlah tersebut diatas.

Yang aneh hanya tertambat kuda kuda belaka, sesosok bayangan manusia pun tidak kelihatan

Disetiap pelana kuda tergantung berbagai macam senjanta, ini menunjukkan hawa orang itu bukan saja telah menampakkan kudanya disana bahkan melepaskan pula seluruh senjata yang mereka bawa.

Beberapa puluh tombak didepan pepohonan, berdiri sebuah bangunan kuil yang megah dan kokoh.

“Saudara Poei” bisik Kwan Tiong Gak lirih “Orang2 itu telah masuk kedalam perkampungan tersebut, mari kita pergi menengok.”

Ia turun dari kuda, seperti pula yang lain menambatkan kudanya diatas sebuah ranting pohon.

Walaupun diluar Poei Ceng Yan membungkam iapun mengikuti tindakan Kwan Tiong Gak turun dari sedang dalam hatiyna berpikir, “Pemandangan disini sangat aneh dan menyeramkan…. aku harus berhati hati.”

Saking tak dapat menahan sabar segera ujarnya dengan nada lirih, “Toako siauw te sudah melakukan perjalanan selama puluhan tahun lamanya dalam dunia persilatan belum pernah kujumpai peristiwa seperti ini.”

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Akupun baru menjumpai peristiwa seperti ini untuk pertama kalinya.”

 

[bersambung]