ambang naga panji naga sakti 08
Setelah termenung beberapa saat
sambungnya kembali, “Ini hari adalah tanggal satu tahun baru,
sekalipun kita tidak berhasil menemukan peta pengangon kambing juga
harus tetap berada di sini, aaai…, entah kita harus berada di sini
sampai kapan?”
“Aku lihat untuk jelasnya kita
harus melakukan penyelidikan terhadap diri Ke Giok Lang” kata Phoa
Ceng Yan.
Sewaktu mereka sedang
bercakap-cakap mendengar suara langkah manusia berkumandang di luar
pintu.
Liem Toa Lek melongok keluar
jendela, hari baru saja terang tanah, dan ia segera bangkit.
“Entah keluarga mana yang pagi
pagi yang sudah datang untuk mengucapkan selamat tahun baru?”
“Coba kau tengok, kalau tidak
terlalu penting, jangan mengatakan kalau aku ada di sini.”
Liem Toa Lek mengiakan dan dengan
langkah lebar ia berjalan keluar.
Beberapa saat kemudian dengan
membawa sebuah kotak merah ia muncul kembali dalam ruangan, ujarnya,
“Hu Cong Piauw-tauw, sahabat karibmu dari kota Kay Hong telah
mengirimkan hadiah tahun baru untukmu.”
Mendengar ucapan itu Phoa Ceng Yan
mengerutkan dahi, ia bangun berdiri menerima kotak itu, di atas
sebuah kartu nama dituliskan bahwa kotak ini diperuntukkan Phoa Ceng
Yan disertai kata-kata ucapan selamat tahun baru.
“Apa isi kotak itu?” tanya Kwan
Tiong Gak sambil memandang sekejap kotak merah itu.
“Siauwte sendiri tidak tahu!”
“Siapa yang memberikan kepadamu?”
“Siauwte sendiri juga tidak tahu.”
Kwan Tiong Gak segera mengambil
kotak tadi dan diperhatikannya kotak tersebut.
“Waktu membuka kotak ini haruslah
berhati-hati!”
Phoa Ceng Yan mengiakan
perlahan-lahan ia menuju ke pintu ruangan, setelah membuka kotak
kain tadi muncullah sebuah kotak kayu yang sangat indah.
Di atas tutup kotak itu berukiran
lukisan yang indah, hal ini membuat siapapun yang melihat dapat
membayangkan kalau isi kotak ini tentu sebuah benda yang sangat
berharga.
Phoa Ceng Yan tidak berani
langsung membuka kotak itu, setelah digoyang-goyangkan sebentar dan
tidak menemukan sesuatu suara ia baru membuka kotak tadi
lambat-lambat.
Karena tidak tahu siapakah yang
memberikan kotak tersebut, Phoa Ceng Yan tidak berani berlaku
gegabah, seluruh hawa murninya disalurkan ke seluruh badan bersiap
sedia terhadap segala kemungkinan.
Perlahan-lahan kotak dibuka, dan
dari balik kotak tersebut tidak dijumpai sesuatu yang mencurigakan.
Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan
alihkan sinar matanya ke dalam kotak, tapi sebentar kemudian ia
sudah menjerit tertahan dan berdiri termangu-mangu.
Kiranya isi dari kotak tersebut
bukan lain adalah peta pengangon kambing yang lenyap tak berbekas.
“Hu Cong Piauw-tauw, apa isi kotak
itu ??” tanya Nyoo Su Jan tak tertahan lagi.
“Peta pengangon kambing!”
“Apa peta pengangon kambing?”
teriak Kwan Tiong Gak melengak.
“Benar, siauwte pernah melihat
peta ini dan rasanya tidak salah lagi…..”
Ia ambil peta tadi dalam kotak
kemudian diangsurkan ke tangan Kwan Tiong Gak.
Cong Piauw-tauw dari perusahaan
Liong WIe Piauw-kiok ini menerimanya dan diperiksanya dengan seksama
lukisan tersebut.
Sembari memeriksa tanyanya
kembali.
“Saudara, coba kau pikir dari
siapakah lukisan ini kau dapat?”
“Siauwte tak bisa menemukan orang
itu.”
Agaknya perhatian Kwan Tiong Gak
sudah terhisap oleh lukisan pengangon kambing itu, ia tidak bicara
lagi dan menumpahkan seluruh perhatiaannya di atas peta tadi.
Walaupun cuaca sudah terang tanah,
tapi suasana dalam ruangan masih gelap, di atas meja berdiri sebuah
lilin merah yang memancarkan cahaya terang.
Tiba-tiba Kwan Tiong Gak
menghantam meja seraya berseru, “Lukisan bagus! Lukisan bagus, tidak
aneh kalau begitu banyak orang yang ingin memperebutkannya.”
“Haaa……..haaa……haaa….. Kwan-heng
betul-betul naga di tengah manusia, siauwte betul-betul merasa
kagum,” tiba-tiba terdengar suara tegoran seseorang berkumandang
datang dari tempat luaran.
Dengan terkesiap semua orang
alihkan sinar matanya ke depan, entah sejak kapan Jen Pek To dengan
memakai pakaian ringkas warna hitam telah berdiri di depan pintu.
Mungkin disebabkan semua perhatian
orang yang ada di dalam ruangan telah dihisap lukisan pengangon
kambing maka tak seorangpun yang merasa akan kehadiran orang itu.
“Hmmm! Jen-heng, sungguh hebat
ilmu meringankan tubuhmu!” jengek Phoa Ceng Yan sambil tertawa
dingin.
Merah padam selembar wajah Jen Pek
To.
“Siauwte datang terlalu pagi,
karena pintu kantor belum buka maka siauwte masuk dengan meloncati
pintu pagar.”
“Jen-heng, sungguh kebetulan
sekali kedatanganmu!” seru Kwan Tiong Gak sambil tersenyum.
Ia masukkan peta tadi ke dalam
kotak dan sambungnya lebih lanjut, “Jen-heng, pernahkah kau
menjumpai lukisan peta pengangon kambing ini?”
“Siauwte belum pernah menjumpai!”
“Jadi ini berarti Jen-heng pun
tidak bisa menentukan keaslian dari benda ini bukan.”
“Siauwte percaya dengan ketajaman
mata Kwan-heng tak bakal tertipu oleh orang lain.”
Perlahan-lahan Kwan Tiong Gak
menutup kembali kotaknya dan menjawab, “Menurut pendapat siauwte,
lukisan pengangon kambing yang ada di dalam kotak ini adalah benda
yang asli, siauwte tidak berani mencari jauh, sebenarnya lukisan ini
kudapatkan tanpa membuang banyak tenaga…”
Ia menarik napas panjang,
sambungnya lebih jauh, “Perduli bagaimanapun juga, lukisan itu sudah
kudapatkan kembali, aku rasa persoalan ini-pun telah selesai sampai
di sini, harap Jen-heng suka membawa lukisan ini kembali ke istana
untuk dilaporkan kepada Tok Say sedang aku orang she Kwan segera
akan kembali ke ibukota.”
“Kwan-heng!” ujar Jen Pek To
sambil menghela napas panjang. “Di tengah suasana tahun baru
melakukan perjalanan apakah kau tidak merasa terlalu menderita?”
“Orang yang mencari sesuap nasi
dengan mengawal barang, sudah terlalu biasa menanggung sengsara kena
hujan dan kedinginan di tengah jalan, kekuatiran Jen-heng biarlah
siauwte terima dalam hati saja.”
“Sejak siauwte masuk ke dalam
pintu hingga kini hanya bicarakan soal lain saja dengan Kwan-heng,
siauwte selalu tidak ada kesempatan untuk bicara…..” tiba-tiba
Jen Pek To berkata sambil menghela napas.
Tidak mengetahui apa yang
dimaksudkan Kwan Tiong Gak tertegun.
“Apa yang hendak kau ucapkan?”
tanyanya.
“Tok Say merasa punya jodoh dengan
Kwan-heng, ia berharap bisa berjumpa sekali lagi dengan dirimu.”
“Soal ini aku rasa sudah tak perlu
lagi.”
“Malam ini di istana Tok Say
sedang mempersiapkan perjamuan, harap Kwan-heng suka memberi muka
kepada kami.”
“Jen-heng!” ujar Kwan Tiong Gak
setelah termenung sebentar. “Siauwte tidak lebih hanya seorang
Piauw-tauw pengawal barang, bila hendak berhubungan dengan Tok Say
Thayjien kami merasa tidak memadahinya.”
“Walaupun Tok Say adalah tiang
tonggak negara, tapi watak pribadinya amat ramah dan suka
bersahabat, dia sangat mengagumi diri Kwan-heng!”
Tapi dengan cepat Kwan Tiong Gak
sudah menggeleng, tukasnya, “Jen-heng, kami adalah orang kangouw
yang mencari sesuap nasi dengan jual nyawa, bagi kami terlalu sering
mengadakan hubungan dengan para pejabat pemerintahan malah tidak
menguntungkan posisi kami.”
Jen Pek To tertawa hambar, dari
dalam sakunya ia mengambil keluar sebuah kartu undangan warna merah
dan diangsurkan ke depan.
“Kartu undangan ini khusus dibuat
Tok Say untuk mengundang Kwan-heng, harap Kwan-heng suka
menerimanya.”
Kwan Tiong Gak memeriksa sebentar
kartu undangan tersebut, akhirnya ia tersenyum, “Baiklah! Sampai
waktunya cayhe akan menghadiri perjamuan ini,” katanya terpaksa.
Setelah mendengar orang itu
setuju, Jen Pek To baru alihkan sinar matanya ke arah kotak kayu
tadi.
“Kwan-heng!” katanya. “Siauwte
ingin minta petunjuk akan satu persoalan.”
“Silahkan Jen-heng utarakan.”
“Lukisan pengangon kambing bukan
termasuk lukisan kenamaan, mengapa begitu banyak orang yang ingin
memperebutkan benda-benda tersebut?”
“Jen-heng adalah pengawal
kepercayaan dari Tok Say, tiada halangan engkau minta ijin dari Tok
Say agar lukisan ini untuk sementara waktu Jen-heng yang simpan,
coba kau perhatikanlah lukisan pengangon kambing ini dengan seksama,
mungkin sekali kau akan dapat menemukan sesuatu.”
Sembari berkata ia angsurkan kotak
itu kepada Jen Pek To.
Jen Pek To menerima kotak itu dan
mengangguk.
“Kegagahan seorang enghiong hoohan
memang berbeda dengan manusia biasa. Setelah Kwan Cong Piauw-tauw
menemukan apabila benda ini adalah sebuah benda yang sangat
berharga, tiada timbul rasa rakus dan serakah cayhe betul-betul
merasa kagum.”
Kembali Kwan Tiong Gak menghela
napas panjang, ujarnya, “Benda ini memang bukan milikku, tentu saja
cayhe tidak berhak untuk mengangkanginya, cuma akupun ingin
menasehati Jen-heng dengan beberapa patah kata!”
“Baik! Silahkan Kwan-heng bicara,
siauwte tentu akan mendengarkannya baik-baik.”
“Lukisan pengangon kambing ini
adalah semacam mustika Bu-lim, tapi merupakan benda yang dapat
menemukan bencana pula bagi pemiliknya, benda itu bisa memancing
datang banyak jago Bu-lim yang ingin merampas benda itu, sekalipun
di dalam istana ada beberapa ratus laksa prajurit, belum tentu bisa
menahan terobosan seorang jago Bu-lim kelas wahid…”
“Ooouww….maksud Kwan-heng adalah
Ke Giok Lang?”
“Ke Giok Lang hanya salah seorang
diantaranya yang kumaksudkan adalah jago-jago lihay dari dunia
persilatan kecuali ia tidak tahu peta pengangon kambing adalah benda
mestika dan tidak tahu kalau lukisan itu berada di dalam istana Tok
Say. Kalau sekali mereka tahu, aku rasa Jen-heng pun bisa
membayangkan sekali walaupun kau mempunyai tenaga menaklukkan
harimau meringkus naga-pun jangan harap bisa menghadapi kerubutan
jago Bu-lim.”
“Nasehat Kwan-heng akan siauwte
catat dalam hati, sekembalinya ke dalam istana tentu akan
kusampaikan laporan ini kepada Tok Say agar ia ambil keputusan
sendiri, bagaimanakah seharusnya dia perbuat untuk menyelesaikan
masalah peta lukisan pengangon kambing ini!”
“Ucapan siauwte hanya terbatas
sampai di sini saja.” ujar Kwan Tiong Gak sambil tertawa hambar.
“Apa yang hendak kalian lakukan itu urusan Tok Say serta Jen heng
sendiri!”
“Secara bagaimana Tok Say hendak
menyelesaikan soal peta lukisan pengangon kambing ini, siauwte tentu
akan mengirimkan laporan buat Kwan-heng….”
“Soal ini, aku rasa tidak perlu!”
“Terima kasih atas petunjuk
Kwan-heng, siauwte mohon diri terlebih dahulu, nanti sebelum
perjamuan siauwte akan datang menjemput.!”
“Tidak berani terlalu merepotkan
Jen-heng, bila sampai waktunya aku orang she Kwan pasti akan
datang!”
“Baiklah.” Jen Pek To tersenyum.
“Mengikuti apa maksud Kwan-heng, sampai waktunya cayhe akan
menantikan kehadiranmu di depan istana.”
Buru-buru ia putar badan dan
berlalu.
“Jen-heng, tunggu sebentar!”
tiba-tiba Kwan Tiong Gak berseru. “Aku orang she Kwan ada suatu
persoalan hendak kuutarakan kepadamu!”
Jen Pek To berhenti dan berpaling.
“Kwan-heng terlalu merendah, entah
ada urusan apa lagi?”
“Di hadapan Tok Say aku berharap
Jen heng suka mewakili aku minta diri!”
“Maksudmu??”
“Setelah selesai perjamuan malam
ini, siauwte akan segera berangkat pulang ke ibukota, harap sejak
ini hari Tok Say jangan mencari kami orang dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok lagi!”
Jen Pek To tidak langsung
menjawab, ia termenung sejenak, baru kemudian ujarnya, “Kwan-heng,
ada suatu persoalan siauwte-pun ingin menerangkan terlebih dulu,
perjamuan yang diadakan malam ini adalah maksud dari Tok Say
sendiri, siauwte sama sekali tidak memberi pendapat, cuma siauwte
menyanggupi dirimu untuk menasehati Tok Say agar sejak ini hari
tidak mencari kalian pihak perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok
lagi.”
“Baik! Jen-heng suka menerima
permintaanku ini, siauwte-pun boleh berlega hati.”
Jen Pek To mengangguk sambil
tertawa, dengan langkah lebar ia berjalan keluar.
“Jen-heng baik-baik jaga diri,
maaf aku orang she Kwan tak dapat mengantar terlalu jauh.”
“Tidak berani merepotkan dirimu.”
Sebentar kemudian ia sudah keluar
dari pintu dan lenyap dari pemandangan.
Menanti Jen Pek To sudah lenyap
dari pandangan, baru Phoa Ceng Yan geleng-gelengkan kepalanya.
“Toako, aku rasa dalam persoalan
ini ada sedikit tidak beres.”
“Eeei…. bagian mana yang kau
anggap tidak beres?”
“Aku rasa belum tentu Tok Say
benar-benar ada maksud minta kembali lukisan pengangon kambing ini
….”
“Maksudmu, Jen Pek To pura-pura
menggunakan perintah Tok Say?” sambung Kwan Tiong Gak.
“Sekalipun bukan pura-pura, paling
sedikit ia yang usulkan pendapat ini agar bisa diterima.”
Kwan Tiong Gak tertawa hambar.
“Apa yang tercantum di atas peta
lukisan pengangon kambing memang cukup membuat orang terpesona, tapi
benda itu bukan benda yang mendatangkan rejeki, walaupun Jen Pek To
ada maksud meminjam kekuatan Tok Say, belum tentu ia bisa
mempertahankan benda itu….”
Sinar matanya dialihkan ke atas
wajah Phoa Ceng Yan dan sambungnya lebih lanjut, “Justru yang
membuat orang tidak paham adalah dari manakah benda ini bisa muncul?
siapa yang mengirim benda itu untukmu?”
“Soal ini siauwte sendiri juga
tidak tahu.” dengan cepat Phoa Ceng Yan menggeleng. “Aku sudah lama
memikirkan persoalan ini, tapi tak terpikir olehku siapakah yang
suka menghadiahkan peta lukisan itu untuk diriku.”
“Tiada angin tak akan menimbulkan
ombak, bila kutinjau dari beberapa lukisan itu jelas dia adalah
seorang yang kenal dengan dirimu atau paling sedikit pernah berjumpa
dengan kau, coba pikirlah sekali lagi dengan cermat!”
Lama sekali Phoa Ceng Yan
termenung, tapi akhirnya ia menggeleng dan tertawa getir.
“Siauwte tidak berhasil
mengingat-ingat siapakah orang itu?”
“Saudara dari mana munculnya peta
ini merupakan kunci utama dalam pemecahan persoalan ini” kata Kwan
Tiong Gak sambil menepuk pundak Phoa Ceng Yan. “Coba pikir dengan
perlahan-lahan, kalau kau tidak dapat menemukan orang itu di antara
sahabat atau sanak keluargamu, tiada halangan membayangkan kembali
kejadian-kejadian yang kau temui sepanjang perjalanan!!”
Mendengar ucapan yang terakhir
ini, mendadak satu ingatan berkelebat di dalam benak orang she Phoa
ini, kemudian ujarnya, “Kalau dicari hal-hal yang mencurigakan,
rasanya hanya peristiwa itulah yang patut dicurigai.”
“Persoalan apa yang mencurigakan?”
“Di tengah jalan siauwte telah
menolong seorang pemuda yang terhajar senjata rahasia beracun.”
“Bagaimana macamnya orang itu?”
tukas Kwan Tiong Gak dengan cepat.
“Seorang pemuda tampan yang gagah
dan menarik, tetapi sikapnya terhadap orang lain amat hambar,
walaupun siauwte telah menolong jiwanya, ia sama sekali tidak
mengucapkan sepatah katapun ucapan terima kasih, bahkan tanpa
meninggalkan namanya telah berlalu!”
“Orang itu mempunyai hal yang
istemewa?” tanya Kwan Tiong Gak lebih lanjut.
“Ada! Ia mempunyai seekor kuda
putih yang agaknya amat cerdik, ia tahu bagaimana caranya mencarikan
pertolongan buat majikannya, mengucurkan air mata melihat nasib
pemuda itu, kalau bukan kuda putih tadi amat cerdik mungkin orang
ini sudah mati keracunan di tengah jalan dan mati terkurung di
tumpukan salju.”
“Kuda jempolan memang bisa
menolong majikannya.” Kwan Tiong Gak mengangguk.
“Aku duga pemuda ini tentu
mempunyai asal usul yang terkenal.” ia merandek sejenak lalu
tambahnya.
“Kecuali peristiwa ini apakah kau
menjumpai sesuatu yang istimewa sepanjang perjalanan?”
“Tidak ada”
“Baik!” akhirnya Kwan Tiong Gak
mengangguk. “Semalaman kita tidak tidur, setengah harian ini kita
gunakan untuk tidur sejenak nyenyaknya, ada urusan sore ini kita
bicarakan lagi.”
Tanpa menanti jawaban lagi ia
segera berlalu.
Memandang bayangan punggung Kwan
Tiong Gak yang berlalu, baik Phoa Ceng Yan maupun Liem Toa Lek, Nyoo
Su Jan sekalian tak ada yang berani bersuara.
Menanti Cong Piauw-tauwnya sudah
lenyap dari pandangan, Nyoo Su Jan baru berkata lirih, “Cuwi sudah
melihatnya?”
“Melihat apa?” tanya Phoa Ceng
Yan.
“Walaupun Cong Piauw-tauw berusaha
untuk mempertahankan ketenangnannya, padahal ia sudah amat lelah.”
“Siauwte pun berpendapat
demikian,” sahut Liem Toa Lek sambil mengangguk. “Kemarin malam Cong
Piauw tauiw tentu sudah melakukan pertarungan sengit.”
“Dengan kepandaian silat yang
dimiliki Cong Piauw-tauw, cukup duduk semedi setengah hari
kelelahannya bisa dipulihkan kembali seperti sedia kala, mengambil
kesempatan ini kitapun baik-baik beristirahat, dengan situasi yang
kita jumpai saat ini sekalipun di luaran kelihatan amat tenang,
padahal ombak sudah menggulung di permukaan air yang tenang, setiap
saat pertarungan berdarah bisa berlangsung dengan serunya.”
“Silahkan cuwi kembali ke kamar
untuk beristirahat, cayhe harus melayani dulu sahabat-sahabat yang
datang mengucapkan selamat.”
“Kalau begitu kami merepotkan
Liem-heng!”
Orang she Nyoo ini merandek dan
berpaling ke arah Phoa Ceng Yan, sambungnya, “Hu Cong Piauw-tauw pun
harus baik baik beristirahat!”
“Aaai…. Su Jan, agaknya situasi
semakin lama semakin kacau dan rumit” seru Phoa Ceng Yan.
Perlahan-lahan iapun melangkah
keluar dari ruangan.
Nyoo Su Jan mengikuti dari
belankang Hu Cong Piauw-tauw ini keluar dari ruangan sambil jalan
ujarnya lirih, “Hu Cong Piauw-tauw tidak perlu risau karena
persoalan ini bila kita tinjau dari situasi saat ini banyak
persoalan yang tidak dapat kita kuasai lagi, terutama sekali Jen Pek
To orang ini benar benar keji dengan melibatkan perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kita ke dalam kancah pergolakan ini sehingga membuat
semua orang merasa tidak tenang.”
“Aaaai! Karena sebuah lukisan
pengangon kambing menimbulkan pergolakan sedemikian besarnya,
sungguh tak kusangka sebelumnya, semoga saja malam ini COng
Piauw-tauw melepaskan diri dari ikatan Tok Say dan kembali ke
ibukota sehingga hati kitapun turut menjadi tenang.”
“Hu Cong Piauw-tauw, jangan murung
lagi karena persoalan ini!” seru Nyoo Su Jan sambil ulapkan
tangannya. “Silahkan kembali ke kamar untuk beristirahat!”
Setengah hari lewat dengan
cepatnya siang hari telah lewat dan para jagoanpun telah berkumpul
di tengah ruangan besar.
Kali ini Kwan Tiong Gak telah
berganti baju dengan memakai sebuah jubah lebar warna biru, setelah
memandang sekejap wajah para jago ujarnya.
“Kalau urusan lancar malam ini
juga kita berangkat pulang ke ibukota….!”
Ia berpaling ke arah Liem Toa Lek
dan tambahnya.
“Tambah bahan makanan untuk kuda
kuda itu, pada kentongan kedua semua pelana harus siap.”
“Hamba turut perintah!” seru Liem
Toa Lek sambil menjura.
Sinar mata Kwan Tiong Gak
perlahan-lahan dialihkan ke diri Nyoo Su Jan, ujarnya kembali.
“Su Jan, beritahu kepada Too Hauw,
Giok Liong sekalian dilarang berpesiar keluar, penjagaan dalam
kantor harus diperketat!”
“Hamba tahu!”
Dan kini Kwan Tiong Gak alihkan
sinar matanya kepada Phoa Ceng Yan ujarnya sambil tersenyum.
“Saudara, kau tetap hadir di
kantor, walaupun situasi yang kita lihat sangat gampang padahal amat
kacau dan ruwet, setiap saat Ke Giok Lang bisa mencari gara-gara
dengan pihak kita, si jago lihay yang menghadiahkan lukisan
pengangon kambing kepadamu-pun kemungkinan besar bisa datang
menjenguk dirimu, lebih baik kau tahan tamu terhormat itu agar aku
bisa berjumpa dengan dirinya kalau ia bersikeras mau pergi dan tidak
ingin menjumpai cayhe harap ia suka tinggalkan nama.”
“Siauwte akan berusaha menahan
dirinya.
“Baik….baiklah….”
Ia mengulangi beberapa patah kata
ini sampai beberapa kali lalu tambahnya pula.
“Sebelum aku kembali dan Ke Giok
Lang mengirim surat perjanjian kalian jangan ambil keputusan
sendiri, tunggu sampai aku kembali baru berunding kembali.”
“Siauwte akan ingat sekali” jawab
Phoa Ceng Yan mengangguk. Kwan Tiong Gak menghembuskan napas
panjang.
“Perduli mereka memancing dengan
cara apapun kalian jangan coba meninggalkan kantor perusahaan barang
selangkahpun.”
“Toako boleh berlega hati.”
Di tengah pembicaraan perjamuan
telah diatur dalam ruangan tersebut.
Kwan Tiong Gak duduk di kursi
pertama disusul para jago-jago duduk disekelilingnya.
Pertama-tama Kwan Tiong Gak
menghormati dahulu setiap orang dengan secawan arak lalu ujarnya.
“Semoga Thian suka melindungi kita
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok bisa mempunyai nasib yang baik.”
Liem Toa Lek bangun berdiri,
ujarnya.
“Sepeninggal Cong Piauw-tauw dari
kota Kay Hong, aku segera bereskan uang kekayaan di sini dan
bubarkan perusahaan, terutama sekali saat-saat tahun baru lebih
membantu kita untuk mengurangi rasa berat di hati masing-masing.”
Sekali teguk ia habiskan isi
cawannya.
“Kalau bicara, duduklah!” ujar
Kwan Tiong Gak halus.
Liem Toa Lek menurut dan duduk.
“Setelah kau bubarkan kantor
cabang di kota Kay Hong, harap kau suka berangkat ke ibukota.”
“Hamba paham, setelah membubarkan
kantor cabang di sini, hamba segera akan berangkat ke kantor pusat.”
Walaupun takaran arak Kwan Tiong
Gak sangat besar, tapi untuk mempersiapkan diri dalam menghadiri
perjamuan malam nanti dalam istana Tok Say, ia tidak terlalu banyak
minum arak.
Perjamuan ini akhirnya ditutup
selesai lewat satu jam lamanya.
Sang surya lenyap di balik gunung
dan malam haripun kembali menjelang datang, seluruh ruangan
bermandikan cahaya lampu.
Kwan Tiong Gak segera bangun
berdiri, ujarnya, “Sekarang waktu sudah tiba, kalian teruskan
santapan kalian, cuma lebih baik kurangi arak kalian sehingga setiap
saat bisa mempertahankan kesegaran pikiran.”
“Toako boleh berlega hati! Siauwte
bisa memberi peringatan kepada mereka,” sahut Phoa Ceng Yan ikut
berdiri.
Dari dinding Kwan Tiong Gak
mengambil topi kulitnya untuk dikenakan lalu melangkah keluar.
Para Jago mengantar Cong
Piauw-tauw mereka hingga tiba di luar pintu kantor perusahaan.
Setelah berpamitan dengan anak
buahnya, dengan langkah lebar Kwan Tiong Gak berlalu menuju ke
kantor Jendral.
Ketika ia tiba kurang lebih
setengah li dari istana dengan langkah lebar Jen Pek To datang
menyambut.
“Merepotkan Kwan heng harus
melakukan perjalanan.”
Buru-buru Kwan Tiong Gak menjura.
“Jen-heng jauh menyambut
kedatanganku, aku orang she Kwan tidak berani menerimanya.”
“Saat ini Tok Say masih menjamu
beberapa orang pembesar negeri, mari kita duduk sebentar dalam
istana samping.”
Belum habis berkata mendadak
terdengar suara langkah manusia berkumandang datang, disusul
munculnya seorang pengemis berbaju compang-camping tergesa-gesa
lewat di sisi mereka berdua.
“Berhenti!” mendadak Kwan Tiong
Gak berseru dengan air muka berubah hebat.
Mengiringi bentakan tersebut,
badanpun ikut mengejar ke depan, sekali sambar ia mencengkeram
punggung sang pengemis itu.
Siapa nyana pengemis tersebut
ternyata amat lincah dan waspada, sewaktu serangan hampir di atas
punggungnya mendadak ia menjatuhkan diri ke depan, dengan suatu
gerakan yang amat tepat ia berhasil meloloskan diri dari datangnya
cengkeraman tersebut.
Setelah berhasil meloloskan diri
dari datangnya serangan itu, mendadak pengemis tersebut makin
mempercepat langkah kakinya.
Ketika secara mendadak melihat
Kwan Tiong Gak turun tangan menangkap pengemis itu, pada mulanya Jen
Pek To merasa agak tertegun, tapi setelah menemukan apabila pengemis
itu berhasil meloloskan diri dari datangnya serangan Kwan Tiong Gak
dengan gerakan begitu mudah, hatinya baru bergerak, pikirnya.
“Si pengemis ini ternyata seorang
jago yang memiliki kepandaian silat yang lihay, gerakannya untuk
loloskan diri dari serangan barusan walaupun kelihatannya
seolah-olah dilakukan secara tidak sengaja, jelas inilah suatu jurus
yang luar biasa, kalau menemui orang yang sedikit gegabah, pasti
penyaruan-nya tak bakal konangan.”
Ketika itulah terdengar Kwan Tiong
Gak sedang berkata,
“Saudara, keadaanmu yang
sebenarnya sudah konangan, aku rasa tiada berguna kau coba melarikan
diri, kalau tidak mau berhenti lagi….Hmmm! Jangan salahkan aku orang
she Kwan akan bertindak dengan menggunakan senjata rahasia Kiem Leng
Hwie Piauw!”
Setelah mendengar ancaman itu,
sang pengemis baru mengiakan dan berhenti berlari, ujarnya sambil
berpaling dan tertawa, “Kwan Toaya, senjata rahasia Kiam Ling Piauw
mu sangat luar biasa, kalau benar-benar kau keluarkan bukankah sama
artinya menginginkan selembar jiwaku??”
“Hmmm! Siapakah kau?”
Sembari mengajukan pertanyaan ia
melangkah mendekat dengan gerakan cepat.
Buru-buru pengemis itu mundur dua
langkah ke belakang.
“Manusia macam aku si pengemis
peminta-minta bukan hanya seorang dua orang saja, di kolong langit
ada puluhan ribu bahkan puluhan laksa orang.”
Pada waktu itu Kwan Tiong Gak
telah mendekati sang pengemis sehingga mencapai empat lima
depa jauhnya dan segera berhenti.
Sreet….! Mengambil kesempatan
itulah Jen Pek To berkelebat dari sisi si pengemis itu kemudian
menghadang jalan perginya.
Bersamaan itu pula ia bersuit
nyaring.
Mendengar suitan itu sang pengemis
tertawa dingin.
“Oooouw……. saudara bermaksud
hendak mengundang keluar para anak buahmu yang bersembunyi di
sekitar sini untuk membereskan aku si pengemis?”
Pada mulanya Jen Pek To melengak
di susul kemudian tertawa hambar.
“Kawan, kiranya kau sudah lama
mengawasi dan menyelidiki keadaan istana jendral”
Sahut si pengemis itu dengan suara
dingin.
“Cukup kutinjau dengan sekali
pandangan saja dapat kuketahui apabila di sekitar tempat ini sudah
dipasangi jebakan.”
“Ooooouw….. sungguh tajam
pandanganmu kawan!”
“Heee….heee……heee……. terlalu
memuji, terlalu memuji!”
Sinar mata Kwan Tiong Gak
berkilat, ia pandang wajah si pengemis itu tajam-tajam lalu ujarnya,
“Kawan, kau berasal dari perkumpulan Kay Pang?”
“Kwan Cong Piauw-tauw!” seru sang
pengemis tertawa hambar. “Kau adalah seorang manusia yang memiliki
nama serta kedudukan tersohor, tentu saja tidak kenal aku si
pengemis yang berkedudukan paling rendah ini.”
“Kawan, kau suka munculkan diri,
aku rasa tentunya ada petunjuk-petunjuk yang akan diberikan kepada
aku orang she Kwan, bukan!”
“Aaakh! Tidak kusangka di dalam
sepasang mata Kwan Cong Piauw-tauw tidak kemasukan sebutir pasir,
petunjuk aku tak berani menerimanya, hanya saja ada sepatah dua
patah kata hendak dipersembahkan kepadamu.”
“Cayhe pasti pentang telinga
lebar-lebar untuk mendengarnya.”
Pengemis itu mendehem beberapa
kali untuk menyaringkan tenggorokannya kemudian ujarnya, “Kwan Cong
Piauw-tauw, kau adalah seorang jago yang namanya telah tersohor di
kolong langit, orang-orang kangouw baik dari golongan Hek-to maupun
dari kalangan Pek-to sama-sama menaruh hormat kepadamu. Kwan Cong
Piauw-tauw, selama ini perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok
bisa aman tentram tak pernah terjadi urusan pun separuh terghantung
dari kelihayan anak buah COng Piauw-tauw yang rata-rata memiliki
kepandaian silat tinggi, separuhnya lagi disebabkan kawan-kawan
Bu-lim pada memandang hormat watak serta tindak-tandukmu dan banyak
mengalah buat perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian, oleh karena
itu aku si pengemis berani mengucapkan beberapa kata yang agak
kasar. Perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok tak perlu lagi
menjadi pengawal rumah orang lain.”
Dengan cermat dan seksama Kwan
Tiong Gak mendengarkan perkataan dari pengemis itu hingga selesai,
kemudian perlahan-lahan jawabnya.
“Terima kasih atas petunjuk kawan,
aku orang she Kwan merasa sangat berterima kasih, tapi perusahaan
ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok kami mempunyai garis pegangan untuk
menjadi rakyat yang berkelakuan sopan, kami mempunyai kesusahan kami
sendiri.”
“Kawan!” tiba-tiba Jen Pek To
menimbrung dari samping. “Secara diam-diam kau mengawasi gerak-gerik
istana jendral, kau tentu mempunyai persiapan untuk melakukan
sesuatu pekerjaan.”
(Bersambung Jilid 16)
Jilid 16
MENDADAK pengemis itu berpaling
dan memandang wajah Jen Pek To tajam. “Saudara yang bernama Jen Pek
To?”
“Sedikitpun tidak salah!” Jen Pek
To mengangguk setelah tertegun beberapa saat.
Kembali sipengemis itu tertawa
hambar.
“Aku si pengemis merasa wegah dan
malas untuk banyak bersilat lidah dengan diri mu, selamat tinggal.”
Mendadak ia melayang ketengah
udara, sekali loncat badannya mencapai sejauh dua tombak lebih dan
berkelebat pergi.
“Kawan, kau hendak pergi kemana?”
Bentak Jen Pek To keras.
Sembari berseru iapun enjotkan
badan melakukan pengejaran dari arah belakang.
Pengemis itu tertawa, mendadak ia
putar badan mengirim sebuah pukulan.
Jen Pek To bura baru salurkan hawa
murninya seraya ayunkan tangan menyambut datangnya serangan tersebut
dengan keras lawan keras.
“Braaaak…..!” di tengah suara
bentrokan keras, sepasang telapak saling beradu satu sama lainnya,
meminjam tenaga dorongan yang di pancar keluar dari telapak tangan
Jen Pek To itulah secara kilat badannya menerobos ketempat kegelapan
dan melenyapkan diri.
Sabaliknya Jen Pek To sendiri
dipukul getar oleh tangannya serangan pengemis tadi sehingga
badannya mundur dua langkah ke-belakang.
“Jen heng tak perlu kau kejar
lagi.” Terdengar scara hiruk pikuk bercampur dengan suara dengusan
berat berkumandang datang dari tempat kegelapan, diantara suara
tersebut bahkan terdengar pula suara jatuh nya senjata-senjata tajam
keatas tanah.
“Suara apakah itu?” tanya Kwan
Tiong Gak dengan sepasang alis berkerut.
“Cayhe telsh menyebarkan
jebakan-jebakan serta pertahanan di sekitar tempat ini, mungkin
mereka sedang turun tangan menghadang perjalanannya…”
“Aaaai….” Kwaa Tiong Gak menghela
napas panjang. “Jen heng, aku lihat urusan makin lama semakin
merepotkan.”
Jon Pek To termenung berpikir
sebentar. “Apakah pengemis itu berasal dari perkumpulan Kay Pang?”
tanyanya kemudian.
“Tidak, tidak mirip orang Kay
pang.”
“Kalau begitu, mari kita bicarakan
soal ini didalam istana saja!”
Kwan Tiong Gak pun tidak banyak
bicara lagi, ia segera melangkah masuk kedalam istana Jendral
mengikuti dari belakang Jen Pek To.
Jen Pek To membawa Kwan Tiong Gak
masuk kedalam sebuah ruangan yang kecil mungil disisi sebuah kebun
luas, ia penuhi sendiri cawan tetamunya dengan air teh lalu berkata:
“Kwan heng mari minum secawan air
teh terlebih dahulu, siauwte masih ada urusan yang hendak
dibicarakan dengan dirimu.”
“Jen heng!” kata Kwan Tiong Gak
sambil menerima cawan air teh tersebut. “Kalau urusan itu menyangkut
soal urusan istana Jendral kalian, siauwte tidak ingin campur
setelah makan malam nanti siauwte segera akan membawa orang
berangkat ke Utara.”
Mendengar ucapan itu Jen Pek To
menghela napas panjang.
“Kwan heng siauwte sangat jarang
berhubungan dengan orang orang dunia persilatan, kali ini karena
terdesak oleh keadaan….”
Kwan Tiong Gak segera ulapkan
tangannya memotong ucapan Jen Pek To yang belum selesai, ujarnya:
“Kau punya Tok Say sebagai tulang
punggung, jikalau bukan keadaan yang terlalu memaksa aku rasa orang
Bu Lim tak akan berani mengganggu dan cari gara gara dengaumu.”
Jen Pek To kembali termenung
beberapa saat lamanya.
“Aaaai….bicara pulang pergi juga
dikarenakan peta lukisan pengangon kambing itu.”
“Apa yang kuucapkan barusan
hanyalah menurut pandangan siauwte pribadi, tiada halangan Jen-heng
pertimbangkan lagi.”
Sekali lagi Jen Pek To menghela
napas lanjang.
“Sianw te setuju usul Kwan heng
dan akan kuterangkan kepada Tok say agar beliau suka menyerahkan
peta pengangon kambing itu, tapi kami sangat berharap Kwan heng bisa
berdiam dua hari lagi dikota Kay Hong hingga urusan ini dibuat
beres.”
Seketika Kwan Tieng Gak kerutkan
dahinya.
“Sudah dua tiga kali aku terangkan
kepada Jen heng bahwasanya aku tidak ingin mencampuri urusan ini,
bahkan setelah menghadiri perjamuan yang diselenggarakan Tok-say
malam ini siauwte segera akan berangkat balik ke Utara.”
“Kwan heng.” kata Jen Pek To
kemudian setelah termenung sebentar, “Siauw tak ingin di karenakan
selembar peta pengangon kambing mengakibatkan seluruh istana
Jenderal jadi kacau balau. Tapi akupun sangat jarang berkelana di
dalam dunia persilatan, maksud nya siauwte ingin meminjam nama baik
Kwan heng didalam dunia persilatan untuk mengundang seluruh jago
yang ada disekitar kota Kay Hong kemudian dihadapan mereka akan
kubakar peta pengangon kambing tersebut agar di kemudian nari mereka
tak usah mengacau istana Jendral lagi.”
“Jadi kau ingin memusnahkan peta
pengangon kambing itu?” tanya Kwan Tiong Gak sambil mendehem.
“Lukisan rahasia itu sudah
menimbulkan badai besar didalam dunia persilatan, kalau dibiarkan
tetap ada di kolong langit aku takut hal tersebut bakal menimbulkan
suatu drama berdarah yang lebih mengerikan lagi.”
“Apakah Tok Say bisa menyetujui
usulmu itu?” tanya Kwan Tiong Gak setelah termenung sebentar.
“Soal ini biarlah siauwte yang
pergi membicarakannya, asalkan Tok-say tak setuju Siauwtepun tak
akan menahan diri Kwan-Heng lagi, semisalnya Tok say setuju, aku
sangat mengharap Kwan heng suka memenuhi harapan kami ini, karena
berbuat demikian bukan saja telah membantu siauwte bahkan telah
melakukan saatu perbuatan baik juga bagi dunia persilatan.”
Kembali Kwan Tiong Gak termenung.
berpikir beberapa saat lamanya, akhirnya ia mengangguk.
“Baiklah! Jikaiau Jen-heng bisa
mendapatkan persetujuan dari Tok say, siauwte tentu akan berdiam dua
hari lagi disini.”
“Perkataan Kwan heng berat
bagaikan batu karang, setelah kau mengucapkan kata-kata tersebut
siauwte pun bisa berlega hati.”
“Semoga saja perkataan Jen heng
bisa menimbulkan hasil dan melenyapkan pertikaian Bu lim.”
Di tengah pembicaraan tersebut
mendadak muncul seorang lelaki berbaju hitam berjalan mendekati
dengan langkah lebar, ia langsung mendekati Jen Pek To dan segera
menjura.
“Tok say mengundang Jen ya
menghadap diruang indah di beranda tengah….”
“E h m . … “
” Ehmm.. sudah tahu.” ia merandek
dan bangun berdiri, lalu terusnya.
“Kwan heng. silahkan!”
Demikianlah mereka berdua dengan
jalan beriringan menuju keberanda tengah.
Saat ini udara malam sangat
bersih, berlaksa bintang memancarkan sinar yang redup, angin dingin
berhembus membawa bau bunga yang harum menambahkan samerbak nya
suasana.
Di tengah tumbuhan beraneka warna
bunga berdirilah sebuah bangunan loteng yang indah dan megah, lampu
lentera dipasang di empat penjura menerangi sekitar sana membuat
seluruh loteng terang benderang bagti siang hari saja.
Lampu lilin menerangi pula seluruh
ruangan loteng, secara lapat lapas dapat tampak segala benda yang
berada dibalik jendela.
Ketika Jen Pek To tiba diatas anak
tangga berbatu, pintu pagoda mendadak terpentang. Segulung hawa
hangat berhembus keluar dari ruangan.
Jen Pek To berpaling, kepada Kwan
Tiong Gak ujarnya seraya menjura.
“Kwan heng, silahkan masuk kedalam
pagoda hangat.”
Tidak sungkan sungkan lagi Kwan
Tiong Gak melangkah masuk kedalam pagoda dengan langkah lebar.
Ketika ia alihkan sinar matanya
ketengah ruangan tampaknya Sang Tok-say dengan memakai jubah
berwarna hijau duduk disebuah kursi kebesaran warna merah darah di
tangannya nenyekal sebuah hun cwee bertangkai perak, dibelakangnya
berdirilah seorang bocah tampan berusia lima enam belas tahunan.
Buru buru Kwan Tiong Gak melangkah
maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut.
“Rakyat jelata Kwan Tiong Gak
menemui Tok say cayjien!”
“Tak usah banyak adat” Siorang
berjubah hijau itu ulapkan tangan, “tempat ini adalah ruangan khusus
yang aku orang gunakan untuk berbicara dengan pakaian preman
silahkan duduk”
“Terima kasih atas kemurahan hati
Thay jien!” sahut Kwan Tong Gak kemudian sambil bangkit berdiri dan
duduk disamping.
Tok say segera angkat tangan
kirinya, sang bocah yang berada dibelakangnya menerima Hun cwee
tersebut dan diletakkaa di atas sebuah rak kayu.
Kemudian setelah mengulet sang
pembesar berjubah hijau itu berkata.
“Selama dua hari ini Pek To selain
mengungkap soal dirimu dan memuji kepandaian silatmu luar biasa jadi
orang bijaksana dan mulia. Oleh karena itu sengaja Pun say (membasmi
diri sendiri buat seorang pembesar mengundang kau kemari untuk makan
malam tahun baru disamping bercakap cakap.”
“Rakyat Bu lim yang pandai dua
tiga gerakan kembangan sebagai alat mencari hidup, mana berani
menerima pujian setinggi langit dari Thay jien!”
Ketika itu Jan Pek To pun sudah
masuk kedalam pagoda hangat, pengawal segera merapatkan pintu pagoda
membuat ruangan tersebut terasa semakin hangat lagi.
Dengan meminjam Cahaya yang
menerangi seluruh ruangan, Kwan Tiong Gak dapat melihat wajah sang
Tok say dengan sangat jelas, ia temukan orang ini mempunyai rsut
muka empat persegi dengan jenggot panjang terurai kebawah, walaupun
wajahnya di hiasi dengan senyuman tetapi secara lapat-lapat
memancarkan satu wibawa yang menggidikkan.
Jen Pek To langsung berjalan
mendekati meja dan menjura penuh rasa hormat “Menemui Tok Siy
Thayjin!”
Pembesar berjubah hijau itu
tersenyum “Pek To, kau duduklah, malam ini kita berbicara sembari
bersantap sama sekali tidak mempersoalkan urusan dinas, kau pun tak
usah mamandang diri sebagai seorang Tok Say……!”
Ia berpaling kearah bocah yang ada
di-belakangnya lalu sambungnya lebih lanjut:
“Sampaikan perintah untuk sediakan
arak dsn sayur tak perlu banyak tapi harus ysng mewah dan lezat,
arakpun harus arak wangi yang sengaja didatangkan dari Keresidenan
Ci Kiang.”
Bocah itu mangiakan dan segera
mengundurkan diri.
Diempat buah sudut ruangan
terletaklah empat buah tungku dengan api yang membara, disanping
tungku tertumpang sebuah poci yang amat besar api berkobar sangat
membara, air dalam poci mendidih bergulung gulung mendatangkan rasa
hangat diseluruh ruangan.
Setelah mengambil duduk, Jen Pek
To lantas berkata:
“Kwan-heng watak Tok Say sangar
tegas. Ia membedakan soal pribadi dan dinas, dengan nyata, malam ini
adalah perjamuan pribadi dari Tok Say dari Kwan-heng tak usah
terikat oleh tata kesopanan lagi “
“Benar!” sambung pembesar berjubah
hijau itu, “Malam ini adalah perjamuan pribadi diantara kita, harap
Kwan Cong Piauw tauw bisa bersikap lebih bebas sehingga menambah
kemesraan diantara kita.”
Setelah tertawa terbahak bahak,
sambungnya:
” Walau aku seorang pembesar
negeri, yang memerintah empat keresidenan, tapi aku amat senang
berkenalan dengan kawan, kebanyakan orang mereka menaruh rasa jeri
dan hormat kepadaku, tidak berani bicara secara bebas dan blak
blakan, sebaliknya Kwan Cong Piauw tauw adalah seorang Bu lim
Hoo-han, aku harap kau jangan terlalu terikat segala peraturan den
adat istiadat!”
“Tok say terlalu merendah,” seru
Kwan Tiong Gak sambil berdiri.
Mendadak ia putar badan,
pergelangan kanan diayun dan serentetan cahaya keemas emasan
berkelebat keluar.
Perubahan yang terjadi secara tiba
tiba ini membuat Jen Pek To jadi tertegun
“Kwan heng, apakah ada orang?”
tanya nya agak keheranan.
Sebelum Kwan Tiong Gak memberi
jawaban, mendadak terdengar suara genta berkumandang datang.
Agaknya Tok say thay jien masih
bisa mempertahankan ketenangan, air mukanya sama sekali tidak
menunjukkan perasaan kaget.
bahkan sewaktu mendengar suara
bunyi bel tersebut ia malah tersenyum.
“Oooouw…..dari mana datangnya
suara bel itu?”
“Lapor Tok say, suara bel itu
berasal dari senjata rahasia bel emas hamba.”
“Jikalau diatas senjata rahasiamu
kau pasang bel emas, kenapa sewaktu dilepaskan tadi sama sekali
tidak terdengar sedikit suara pun.”
“Kwan heng,” timbrung Cen Pek To
pula dari samping. “Tentang soal ini bukan saja Tok say tidak paham
sekalipun siauwte sendiripun tidak mengerti, apakah disebabkan
caramu melepaskan senjata rahasia terlalu cepat maka pertama
kelihatan dulu cahaya piauw kemudian baru mendengar suaranya.”
Kwan Tiong Gak tidak langsung
menjawab pertanyaan dari kedua orang itu, setelah pasang telinga
mendengarkan sebentar katanya:
“Aaakh…….ia berhasil melarikan
diri.”
Tok say thay jien saling
berpandangan sekejap dengan Jen Pek To, lalu hampir berbareng
tanyanya:
“Apa yang melarikan diri?”
“Pembunuh gelap!”
“Pembunuh gelap,” seru Tok say
thay-jien tertegun. “Penjagaan sekitar istana sangat ketat sangat
rapat, secara bagaimana pembunuh gelap itu bisa menyelundup masuk,”
“Senjata rahasia kim leng piauw
dari Sisuw beng adalah sebuah senjata rahasia yang sangat istimewa,
setelah senjata rahasia tersebut dilepaskan dengan andalkan suara
bel bisa diambil kesimpulan senjata tersebut berhasil mengenai
sasarannya atau tidak”
“Akh. . , . .ternyata ada urusan
seperti ini, menurut anggapanmu sambitan senjata rahasiamu tadi
berhasil mengenai sasaran atau tidak.”
“Sekalipun berhasil mengenai
sasaran, tapi luka yang diderita bukan suatu luka yang terlalu
parah, ia telah melarikan diri dengan membawa luka …,!”
Tok-Say Thayjin mengelus
jenggotnya dan tertawa tergelak.
“Beberapa patah perkataanmu itu
apakah bisa dibuktikan T”
“Setiap sasaran yang terhajar oleh
Piaw emas Siauw heng pasti akan mengucurkan darah, karena itu tentu
akan ditemui noda darah disekelilingi tempat dimana ia terkena
sambitan tadi.”
“Bisakah pun say meninjau kesana?”
“Diluar ruangan angin dingin
berhembus bagaikan sayatan pisau, lebih baik Tok Say jangan pergi
sendiri biarlah siauw beng serta jen-heng pergi meninjaunya kemudian
baru jen heng yang memberi laporan.”
“tidak lebih baik aku pergi
sendiri untuk menambah pengetahuan.” kata Tok Say tay jien sambil
bangun berdiri.
Tidak menanti jawaban lagi ia
segera melangkah keluar.
Jen Pek To segera melepaskan
sebuah jubah luar terbuat dari bulu binatang dikena kan diatas
pundak Tok Say.
Dua orang lelaki berbaju hitam
yang berjaga dibelakang pintupun masing membawa sebuah lentera
berjalan dipaling depan.
Mengandalkan ingatan sewaktu
senjata rahasia bel emasnya berbunyi Kwan Tiong Gak membawa beberapa
orang itu menuju ke bawah sebuah pohon besar.
Pada waktu itu dedaunan sudah pada
rontok dan tinggi ranting ranting gundul yang kering dan layu.
Pengawal berbaju hitam segera
mengangkat lentera keatas Tok Say Thay jien mendongak dan
memperhatikan sekejap pohon yang gundul itu lalu ujarnya ;
“Sedikitpun tidak Salah, diataS
ranting pohon banyak terdapat noda salju, hal ini membuktikan kalau
diatas pohon pernah di gunakan orang sebagai tempat persembunyian
bahkan arahpun tepat searah dengan pagoda hangat.”
“Harap Tok say memeriksa , “
“!Tapi bukti ini belum bisa
membuktikan kalau ia benar benar terkena sambitsn senjata rahasia
Kiem Leng Piauw mu,” kata Tok say kemudian sambil berpaling dan
tertawa
“Silahkan Tak say memeriksa
permukaan tanah.”
Dua orang lelaki berbaju hitam
yang membawa lentera itu sessra menurunkan lenteranya kebawah.
Ketika semua Orarg mengalihkan
sinar matanya maka terlihatlah diatas permukaan salju yang putih
bersih ternoda oleh beberapa titik hitam.
Tak say menunjuk dan memeriksa
titik-titik hitam ini beberapa saat lamanya, kemudian ia mengangguk.
“Sedikitpun tidak salah, titik
hitam ini adalah noda daish, hanya saja telah membeku”
Ia mendongak berpaling sekejap,
terusnya:
“Disekeliiing istanaku Ini
dibangun tembok-tembok yang tinggi serta penjagaan yang ketat,
kenapa mereka bisa pergi datang seenak nya tanpa diketahui penjaga
penjagaku, cukup andalkan kepandaian silat ini sudah amat luar
biasa„”
“Berjalan diatas atap melewati
tembok pekarangan hanya merupakan suatu kepandaian kecil, tak bisa
dipuji sebagai suatu kepandaiaa yang maha dahsyat.”
Malam senakin kelam dan hawa
semakin dingin, “ada perkataan mari kita bicarakan didalam pagoda
saja ” timbrung Jen Pek To secara tiba tiba.
Mendengar nasehat itu Tok Say
tersenyum.
“Pek To, kau tak usah merasa
kuatir buat diriku, selama beberapa tahun ini badanku masih kuat dan
sehat, hanya sedikit hawa dingin sih aku masih sanggup menahannya.”
Sinar mata kembali dialihkan
kearah wajah Kwan Tiong Gak, sambungnya lebih jauh,.
“Pek To sering membicarakan sampat
di manakah kehebatan ilmu silatmu, teras terang, saja kukatakan
bahwa dalam hati aku masih tidak percaya, barusan kau telati
pamerkan serangkaian kepandaian yang sangat luar biasa, kini aku
ingin bertanya beber&pa persoalan kepadamu, entah boleh tidak?”
Buru-buru Kwan Tiong Gak menjura:
“Silahkan Tok Say ajakan pertanyaan asal Siauw heng tahu tentu akan
kujawab.”
“Coba katakan menurut pendapatmu
selelah orang ini terkena senjata rahasia Kiem Ling Piauw mu. Ia
melarikan diri kearah sebelah mana?”
Kwan Tiong Gak memperhatikan
sekejap keempat penjuru, kemudian jawabnya:
“Ssharusnya ia lari menuju ke arah
Timur hanya saja luka yang ia derita tidak terlalu parah mungkin
saat ini sudah jauh melarikan diri, untuk dikejarpun percuma.”
“Bukan…….. aku sana sekali tidak
tiada berminat untuk mengejar dirinya,” bura buru Tok say
menerangkan.
Setelah merandek sejenak, serunya:
“Ayoh jalan kita minum arak di dalam pagoda hangat.”
Tidak menanti jawaban ia segera
berjalan lebih dahulu kembali kedalam ruangan.
Kwan Tiong Gak mengikuti dari
belakangnya, sambil berjalan otaknya, berputar kencang, pikirnya ;
“Jen Pek To memiliki Serangkaian
ilmu silat yang lihay tapi ia rela mengikuti kaum pembesar, saat ini
aku masih merasa bahwa Tok say thayjien ini benar benar lain dan
pada yang lain.”
Selagi ia masih berpikir, mereka
telah tiba kembali didalam ruangan pagoda hangat.
Dua orang lelaki berbaju hitam itu
meletakkan kembali lenteranya ketempat semula dan menutup pintu.
Waktu itu perjamuan telah
dipersiapkan dalam ruangan, delapan macam sayur lezat serta satu
guci araK wangi.
Tok say segera merebut poci arak
dan memenuhi cawan Kwan Tiong Gak serta Jen Pek To, lalu sambil
tertawa ujarnya:
“Aku adalah tuan rumah, mari aku
hormati kalian dengan secawan arak.”
Kwan Tiong Gak serta Jen Pek To
masing masing menghabiskan secawan arak.
Setelah meletakkan secawan araknya
ke atas meja, sambil tertawa Tok lay berkata:
“Kwan Cong Piauw tauw, dengan Pek
to bercerita kalian orang orang kangonw mempunyai satu peraturan Bu
lim yang tak tercantum mengatakan bahwa orang Bu lim tidak
diperkenankan mengadakan hubungan dengan kaum pembesar negeri,
apakah betul ada kejadian semacam ini?”
“Aaaai……..! sedikitpan tidak
salah, peraturan tersebut kebanyakan merupakan pesan wanti wanti
dari para cianpwee terdahulu dari perguruan serta partai dalam Bu
lim dan lama sekali tiada peraturan yang tercantum diatas kertas,
oleh karena itu secara resminya peraturan ini tidak terlalu
mengikat……..”
“Ehhhmm……..! apakah dibalik hal
tersebut masih tersembunyi sebab tertentu?”
“Mungkin…, oleh karena itu aku
harus mengumpulkan tenaga yang ada untuk sedia payung sebelum
hurian…..”
Ia meluruskan tangannya, setelah
merandek sebentar terusnya:
“Walaupun aku punya maksud berbuat
demikian tapi sku mengerti kekuatanku tak bisa memenuhi harapan
tersebut, karena untuk berjaga jaga membutuhkan banyak bantuan dari
kaum patriot serta pendekar sejati, oleh sebab itu sering sekali aku
membicarakan soal Bu Lim dengan diri Pek To dan berharap para
patriot serta pendekar sejati Bu Lim suka melenyapkan peraturan yang
menjauhksn hubungan antara pemerintahan dengan kaum orang gagah
serta suka membantu cita citaku ini.”
Mendengar uraian tersebut,
sepasang mata Kwan Tiong Gak berkilat.
“Sie Tok Say ada maksud melindungi
negara dan rakyat, hamba merasa sangat kagum.”
Berbicara sampai disitu mendadak
ia membungkam.
Sie Si Cong tertawa hambar,
ujarnya kembali:
“Semisalnya saja seorang jago
berkepandaian tinggi macam Kwan Cong Piauw-tauw,asalkan kau suka
membantu diriku untuk melenyapkan kelaliman, dan mempertahankan
kejujuran dalam pemerintahan maupun rakyat, maka dunia tentu akan
aman.”
Buru buru Kwan Tiong Gak bangun
berdiri menjura.
“Dapat memperoleh perhatian dari
Tok Say Thayjien, aku orang she Kwan merasa sangat berterima kasih,
hanya aaja aku orang she Kwan mempunyai kesusahanku sendiri yang tak
bisa diceritakan sehingga sulit bagi ku untuk membantu Tok Say
mencapai cita-cita tersebut”
“Manusia punya pendapat sendiri.
Pun Say akan memaksa Kwan heng untuk menerima usulku ini. Mari kita
minum secawan lagi.” Sie Tok Say sambil angkat cawannya, Dengan
kedudukannya sebagai seorang pembesar tinggi yang memerintah empat
keresidenan, ternyata ia sudi memanggil seorang Piauw tauw dengan
sebutan saudara, seketika membuat Kwan Tiong Gak jadi terkejut.
Setelah termangu mangu beberapa
saat serunya.
“Tok say terlalu menyanjung
diriku, Siauw beng tiada berkepandaian apa apa, tidak berani
membasmi saudara dengan diri Tok say.”
Melihat keadaan tersebut Sie Si
Cong tertawa.
“Tadi sudah kukatakan bahwa
perjamuan malam ini adalah pembicaraan pribadi tak terlalu
mengindahkan soal sebutan maupun kedudukan”
“Tok say begitu menaruh perhatian,
siauw beng akan turut perintah.” Sekali teguk ia menghabiskan isi
cawannya.
Ucapan Sie Si Cong ternyata
dipegang teguh, setelah berjanji tidak akan membicarakan lagi
tentang permintaannya agar Kwan Tiong Gak berbakti pada pemerintah,
ia benar benar tidak mengungkapnya kembali.
Ditengah pembicaraan sembari minum
arak tanpa terasa satu poci araK wangi sudah dibikin ludes.
Walaupun Sie Tok say belum sampai
di bikin mabok, tapi saat ini ia telah membawa beberapa bagian
mabok, kepada sang kacung buru buru serunya.
“Cepat pergi dan ambilkan arak
pemberian Kaisar “Giok Ih Pek Hoa Siang” malam ini sebelum mabuk
kita jangan berhenti “
Mendengar disebutkannya arak
tersebut Kwan Tiong Gak terperanjat.
“Thayjian harap tunggu sebentar,
dengarkan dulu sepatah kata siauw Beng, arak sudah cakup buat kami”
“Haaaa . . . . haa Kwan heng, kau
sama sekali belum terpengaruh oleh air kata kata mana boleh berhenti
ditengah jalan.”
“Terhadap soal arak Siauw heng
hanya mengerti sedikit saja apalagi arak yang barusan kita minum
adalah arak yang berusia seratus tahun keatas, kalau kita
melanjutkan minum arak bukan saja Tok say segera akan mabok bahkan
siauwheng serta Jen heng pun tak akan tahan dan segera akan roboh.
Apa lagi pemberian kaisar mana boleh digunakan untuk menjamu rakyat
kecil macam kami.”
Sie Si Cong tertawa.
“Budi Kaisar berlimpah limpah,
kalian berdua harus minum secawan seorang agar bisa pula memiliki
hati untuk menjaga negeri dan rakyat. Ambil Arak.”
Kwan Tiong Gak serta Jen Pek To
hanya bisa saling berpandangan sekejap lalu membungkam diri.
Sekali lagi kacung buku itu
menjura kemudian mengundurkan diri dari dalam ruangan.
Beberapa saat kemudian ia muncul
kembali dengan membawa seorang pembesar dengan berpakaian dinas.
Pembesar negeri ini menggotong
sebuah nampan terbuat dari batu kumala putih, di atas nampan
tersusun selapis kain berwarna Kuning, dan diatas kain kuning itu
terdapat sebuah guci berwarna putih.
Sie Si Cong segera bangun berdiri,
katanya-
“Walaupun kita sedang melakukan
perjamuan pribadi, tapi memberi hormat kepada Yang mulia tak boleh
dilupakan.”
Ia segera bangun berdiri dan
menjura kearah guci arak tersebut.
Karena melihat Tok-say thayjien
telah memberi hormat, terpaksa Kwan Tiong Gak Serta Jen Pek To pun
ikut memberi hormat.
Walaupun ditengah malam buta,
pembesar itu memakai pakaian dinas lengkap dengan topi kebesaran,
sepasang tangannya yang membawa nampan diangkat tinggi tinggi
keatas.
Menanti ketiga orang itu sudah
selesai memberi hormat, ia meletakkan nampan kumala tadi keatas meja
dan mengundurkan diri dari dalam ruangan tersebut.
Lambat-lambat Sie Si Cong berjalan
mendekati meja, membuka kain penutup guci, melepaskan tanda segel
dan membuka penutupnya segulung bau harum segera tersiar menusuk
hidung.
Walaupun Kwan Tiong Gak bukan
seorang jago minum arak, tapi setelah tercium bau harum yang sangat
menusuk hidung itu tak terasa lagi ia berseru memuji.
“Ooouw…… arak bagus! Arak bagus!”
Mendengar pujian itu Sie Si Cong
tersenyum.
“Menurut berita yang kudengar arak
ini sudah disimpan selama tiga ratus tahun lama nya didalam gudang
timbunan alang-alang di kota Mo Thay, akhirnya atas perintah Jendral
penguasa daerah tersebut arak ini di kirim ke ibu kota dan
dipersembahkan kepada yang mulia sebanyak tiga guci, salahkan kalian
berdua ikut mencicipi bagaimanakah rasanya arak ini.
“Tidak usah kami cicipi, cukup
mencium bau harum yang tersiar keluar dari guci pun sudah cukup
membuktikan apabila arak ini adalah arak bagus yang kenamaan,” kata
Kwan Tiong Gak.
Si kacung bocah tadi dengan
langkah lebar segera berjalan mendekat, memenuhi sebuah poci arak
dan menyegel kembali guci tersebut.
Ketiga orang itu duduk kembali
ketempatnya semula dan mulai merasakan nikmatnya araK wangi ini.
Bau arak yang harum merangsang
gairah orang untuk mencicipinya, tanpa terasa mereka bertiga sudah
meneguk air kata kata melebihi takaran masing-masing.
Selama Kwan Tiong Gak melakukan
perjalanan baik menuju keselatan maupun berada di Utara dan Seantero
dunia boleh dikata Ia sudah mencicipi beraneka ragam arak wangi,
tapi menjumpai arak sewangi ini boleh dikata baru untuk pertama
kalinya.
Setelah meneguk beberapa cawan,
Sambil menghela napas ujarnya:
“Sebelum menjumpai Tok say
thayjien cayhe sana sekali tidak menyangka apabila Tok say
sebenarnya adalah seorang pembesar yang begitu memperhatikan negara
dan rakyat.”
“Kwan-heng terlalu memuji…..”
Setelah menghela napas panjang,
sambungnya Si Sie Cong lebih lanjut,
“Semoga saja Kwan heng suka
membantu diriku agar aku bisa mententramkan hati rakyat empat
keresidenan, mendapat berkah dari Kaisar dan memenuhi cita cita
leluhurku.”
Kwan Tiong Gak termenung berpikir
sebentar, kemudian ujarnya:
“Baru pertamakah Tok-say thayjien
menJumpai aku orang she Kwan, ternyata perhatianmu terhadap diri
siauw heng sudah begitu tebal, hal ini membuat aku orang she Kwan
merasa sangat berterima kasih sekali tapi siauw heng sudah banyak
tahun makan nasi dari kalangan kangouw, sebenarnya rada susah bagiku
untuk berbakti dengan seorang pembesar negeri. Kendati begitu
semisalnya dari Tok-say pribadi ada urusan atau perintah, perduli
menerjang lautan api atau naik kegunung golok, aku orang she Kwan
pasti tak akan menampik.”
Sie Si Cong mendongak tertawa
terbahak bahak sehabis mendengar ucapan tersebut ta tanya:
“Setelah ada janjimu semacam ini
maka setiap kali aku melepaskan kedudukanku sebagai pembesar kita
boleh dihitung sebagai sahabat karib.”
Mendadak Kwan Tiong Gak bangun
berdiri, cawan arak yang berada di tangan kanan nya dengan berisi
arak penuh secara tiba tiba di sambit keluar jendela.
“Siapa!?” bentaknya keras.
Bersamaan dengan sambitan cawan
arak itu, dari luar jendela terdengar suara tawa tergelak dari
seorang.
“Haa haa liaaa terima kasih atas
hadiah arak dari Kwan Cong piauw tauw. Ooouw…… sungguh arak bagus!
Sungguh arak bagus….! “
Di tengah suara bentrokan keras,
kedua belah pintu kayu dari pagoda hangat itu tahu tahu terpentang
lebar oleh tenaga pukulan ssseorang.
Dengan cepat Jen Pek To meloncat
bangun dan berdiri di hadapan Sie Si Cong dengan maksud melindungi
keselamatan majikannya, sepasang telapak disilangkan didepakkan
kepintu, tampaklah seorang pengemis di-dada melakukan persiapan.
Sebaliknya buat Sie Si Cong
sendiri ternyata masih bisa bersabar, dengan suara rendah ujarnya:
“Jen Pek To, menyingkirlah sedikit
keselamatanku, kalian orang-orang Bu lim hanya ingin membunuh kaum
pembesar yang lalim, soal ini aku tak merasa takut karena aku
percaya belum pernah menyeleweng dari tugas, apa lagi ada Kwan Tiong
Gak tahu-tahu ada disini. Rasanya ia tidak akan berhasil melukai
diriku.”
“Ucapan Thayjien sadikitpun tak
salah.” Jen Pek To mengangguk.
Perlahan lahan ia mengundurkan
diri ke samping, walaupun kelihatannya tidak bersiap sedia, padahal
secara diam-diam ia terus mengawasi keadaan di sekeliling tempat
itu.
Menanti sinar mata semua orang
dialihkan kepintu,tampaklah seorang pengemis cilik yang berpakaian
dekil, dengan rambut awut awutan serta wajah penuh berminyak telah
munculkan diri disana.
Terdengar Kwan Tiong Gak tertawa
dingin tiada hentinya.
“Heeeheehee….kiranya Thian Liong
atau si Naga Langit Pouw Cing dari Kay Pang, tidak aneh kalau ilmu
meringankan tubuh yang kau miliki amat sempurna.”
“Kwan Cong Piauw tauw terlalu
memuji.”
Dengan tangan sabelah mencekal
cawan arak, sambungnya lebih lanjut:
” Cawan arak ini kukembalikan
kepada si pemiliknya tanpa menderia cidera apapun, hanya saja arak
yang ada didalam cawan telah aku, si pengemis cilik minum sedikit”
Tangan kanannya diangkat, secepat
kilat cawan arak itu melayang kembali kearah Kwan Tiong Gak.
Sang Cong Piauw tauw dari
perusahaan Ekspedisi Hauw Wie Piauw kiok dengan sebat ayunkan tangan
kanannya kemudiam lambat lambat diletakkan kembali keatas meja
ujarnya kembali”
“Menurut apa yang cayhe ketahui,
orang orang dari pihak Kay-pang sangat jarang ada yang suka
menyelundup masuk kedalam rumah tinggal lain. aku rasa kedatangan
saudara ditengah malam buta kali ini tentu mempunyai alasan alasan
tertentu.”
“Kwan Cong Piauw tauw,” seru
sinaga langit Pouw Cing sambil tertawa hambar.
“Agaknya kau sangat hapal terhatap
peraturan dari perkumpulan Kay Panga kami”
“Pangcu dari perkumpulan kalian
mempunyai jodoh beberapa kali berjumpa dengan aku orang she Kwan,
walaupun diantara masing-masing pihak tidak bisa dikatakan mampunyai
hubungan persahabatan erat, tapi kami bisa saling mencocoki satu
sama lain.”
“Sungguh sayang, kali ini Pangcu
kami tidka berada dikota Kay Pang”
“Aku orang she Kwan hanya
menerangkan hubunganku dengan Pangcu kalian dan sama sekali tidak
ada maksud meminjam kekuatan Pangcu kalian untuk menekan diri
saudara,” tukas Kwan Tiong Gak cepat.
“Kalau Kwan Cong Piauw tauw tidak
mempunyai niat demikian, hal itu semakin bagus lagi. dengan demikian
aku si pengemis cilik pun bisa berbicara secara bebas.”
“Jikalau kedatanganmu adalah
bermaksud ada urusan dengan aku, orang she Kwan maka aku berharap
kita bisa bicarakan persoalan ini diluaran saja, tempat ini adalah
rumah pribadi Tok say Thayjien, kita tak boleh menggunakannya
sebagai tempat pembicaraan.”
“Walaupun urusan ini ada
hubungannya dengan kau Kwan Cong Piauw tauw, tujuan ku yang terutama
sudah bukan kau lagi melainkan si Tok say Thayjien ini.”
“Cuang su! seru Sie Si Cong
kemudian, “Apabila pendekar bermaksud mencari diri Pun say,
bagaimana kalau kita bicarakan soal ini sambil duduk.”
Bicara sampai disitu ia lantas
berpaling Kearah sang kacung yang berdiri disisinya.
“Coba sediakan seperangkat sumpit
serta Seawan buat pendekar ini.”
Pouw Ceng termenung sebentar,
kemudian ujarnya:
“Sewaktu aku si pengemis cilik
menemukan Kwan Cong Piauw-tauw pun berada disini, aku tahu
kedatanganku malam ini hanya sia sia belaka dan seharusnya aku
segera angkat kaki, tapi bau arak dari Thayjien terlalu merangsang
gairahku untuk tetap tinggal disini. inilah akibat buruk yang
langsung kuterima dari si pengemis tua, sewaktu aku si pengemis
cilik sering berkelana dengan dirinya…….gemar minum arak tak bisa
dihindari lagi.”
“Pemberian Kaisar tentu ssja bukan
benda yang sembarangan,” Sela Sie Si Cong dari samping “Dalam guci
masih terdapat banyak arak, kalau Cuang su memang suka minum, kenapa
tidak secara terbuka mencicipinya?? ada urusan kita bicarakan
setelah minum arak.”
Pada mulanya sinaga langit Pouw
Cing agak tertegun, akhirnya ia menghela napas panjang.
“Aaaai……,kiranya kau adalah
seorang pembesar bijaksana.”
“Kalau kau sudah paham, hal ini
jauh lebih bagus lagi,” sambung Kwan Tiong Gak dingin.
Si naga langit Pouw Cing berpaling
memandang sekejap kearah orang she Kwan itu lalu tertawa.
“Kwan Cong piauw tauw, agaknya kau
menaruh rasa tidak senang terhadap aku si pengemis cilik?”
“Aku Orang she Kwan hanya merasa
heran orang orang Kay Pang pada umumnya mengutamakan kejujuran,
kebijaksanaan serta memegang teguh tata kesopanan, tidak di sangka
kau berani menyelundup masuk kedalam rumah kediaman seseorang, apa
maksudmu aku harap kau suka memberi jawaban.”
” Kelihatannya kalau aku si
pengemis cilik tidak menerangkan maksud kedatanganku maka malam ini
Kwan Cong Piauw tauw tak akan membiarkan aku si pengemis cilik
meninggalkan tempat dalam keadaan selamat.”
“Asal kau memberi alasan yang
tepat dan tidak terlalu dibuat buat,tentu saja aku tak akan
menyusahkan dirimu, tapi kalau kau tidak berhasil memberikan alasan
yang tepat, maka aku berharap kau suka meninggalkan ,semacam barang,
dikemudian hari aku akan minta pertanggungan jawaban dari Pangcu
kalian.”
“Aaaa.,.. haaa…- aku lihat agaknya
Kwan Cong Tiauw telah menjadi pengawal pribadi dari Tok Say Thayjien
ini.”
Air muka Kwan Tiong Gak kontan
berubah hebat, ujarnya dengan nada dingin dan serius:
“Aku orang she Kwan paling tidak
suka berbicara dan bergurau dengan orang lain, Aku harap kau
sipengemis cilik bisa bicara sedikit tahu keadaan.”
Pada dasarnya ia memiliki wajah
yang menyeramkan, ditambah lagi saat membawa beberapa bagian hawa
gusar, wajahnya makin angker dan menggidikkan hati.
“Baik…. baiklah.” seru Pouw Cing
kemudian setelah mendehem beberapa kali. “Biarlah aku si pengemis
cilik terangkan keadaan sebenarnya……”
Ia merandek sejenak, lalu
sambungnya
“Diantara barang kawalan
perusahaan saudara kali ini ada terdapat sebuah lukisan pengangon
kambing.”
“Sedikitpun tidak salah, memang
ada sebuah lukisan pengangon kambing.” tukas Kwan Tiong Gak cepat.
“Tidak kusangka pihak Kay Pang ternyata punya maksud untuk
memilikinya.”
“Kwan Cong Piauw tauw! aku
mengharap diantara perkataanmu janganlah membawa kata kata menyakiti
pangcu kami, aku si pengemis cilik bisa sabar terhadap sindiran
serta ejekan kau Kwan Cong Piauw tauw, kalau kau berani menghina
seluruh perkumpulan Kay Pang kami atau Pangcu kami. sampai waktu itu
kau jangan menyalahkan aku si pengemis cilik akan berlaku kurang
sopan dan membuat dosa terhadap kau Kwan Tiong Piauw tauw.”
“Heee….. heee…. teruskan!” seru
Kwan Tiong Gak tertawa dingin.
“Perbuatanku menyelundup masuk, ke
dalam rumah kediaman Tok say thayjien malam ini adalah muncul dari
niat aku sipengemis cilik sendiri, sama sekali tiada hubungannya
dengan pangcu kami serta seluruh perkumpalan Kay Pang. Hanya saja
kaupun harus tahu, kedatangan aku sipengemis cilik malam malam
kemeri sama sekali bukan bertujuan untuk mencari atau mendapatkan
peta pengangon kambing itu.”
“Kalau begitu coba kau terangkan
apa maksud kedatanganmu malam-malam begini?”
“Ada Suatu persoalan mungkin Kwan
Cong Piauw tauw masih belum tahu, berita tentang diserahkannya
kembali peta pengangon kambing ketangan pihak Tok-say telah tersiar
diseluruh kota Kay Hong. kecuali aku sipengemis cilik, sudah banyak
orang yang mempersiapkan diri akan menyelundup masuk kedalam istana
pada malam ini….”
Sinar matanya menyapu sekejap
kearah Jen Pek To, lalu terusnya kembali:
“Aku sipengemis cilik merasa tidak
percaya apa bila orang orang didalam istana Tok say bisa melindungi
keselamatan peta pengangon kambing itu, juga peta pengangon kambing
itu tak boleh sampai terjatuh ketangan orang lain. maka dari itu aku
si pengemis cilik menyelundup masuk kedalam istana Tok say dengan
harapan semisalnya peta pengangon kambing itu sampai terjatuh
ketangan orang jahat, maka aku si pengemis cilik akan turun tangan
menghadang perjalanan mereka.”
“Ehhmm…..aku orang she Kwan
percaya apa yang kau ucapkan adalah kata-kata sejujurnya.” Kwan
Tiong Gak mengangguk.
“Apa yang aku sipengemis cilik
katakan adalah kata-kata yang sejujurnya, Kwan Cong Piauw tauw mau
percaya hal itu tentu saja jauh lebih bagus, kalau tidak percaya
akupun tak bisa berbuat apa apa.”
Sie Si Cong tersenyum.
“Kalau begitu, agaknya Cu wi tidak
memandang sebelah matapun terhadap penjagaan ketat yang diatur
disekitar istana Tok say ini, dan kalian anggap seolah olah lapangan
tanpa manusia saja.” serunya.
“Kalau ditinjau dari penjagaannya
memang boleh dikata amat ketat, bagi Busu-busu kangouw kelas satu
memang sulit untuk menembusinya.” kata Pouw Cing sambil tertawa.
“Tapi bagi jago jago kangouw kelas wahid, langkah caturmu ini salah
besar.”
“Asaai…. sebelum kejadian malam
ini Pun say sama sekali tidak tahu kalau dalam dunia persilatan
sebetulnya banyak terdapat Jago jago yang memiliki kepandaian
silat-silat luar bissa…”
Ia lantas berpaling kearah
sikacung buku yang berada disisinya.
“Penuhi cawan tamu dengan arak!”
Dengan cepat kacung itu mengiakan
dan memenuhi cawan Pouw Cing dengan araK wangi.
Agaknya Pouw Cing tidak ganti
lagi, dengan cepat ia angkat cawan sendiri dan meneguk isinya hingga
ludes.
Melihat kerakusan sang pengemis,
Sie Si Bong tersenyum.
“Cuwi silahkan ambil duduk, mari
kita kongkouw sambil minum arak…….”
Kwan Tiong Gak. Jen Pek To serta
Pouw Cing sama sama menurut dan ambil tempat duduk, sedang kacung
tadipun segera memenuhi kembali cawan Pauw Cing dengan arak.
Berturut turut Pouw Cing
menghabiskan tiga cawan arak, kemudian sambil menguap mulutnya ia
berkata:
“Aku sipengemis cilik telah
mengikuti pengemis tua berkelana hampir meliputi seluruh daerah
utara maupun selatan, arak wangi yang kucicipi sudah tiada terhingga
banyaknya, tapi menjumpai arak sewangi ini baru untuk pertama
kalinya.”
“Dalam guci masih terdapat banyak
persediaan arak, Pouw Cuangcu silahkan menikmati arak sampai puas.”
Bicara sampai disitu sinar matanya
segera dialihkan keatas wajah Jen Pek To dan terusnya.
“Pek To, sebenarnya pusaka apakah
peta pengangon kambing itu, kenapa begitu banyak jago jago kangonw
yang mengincar dan ingin mendapatkannya?”
Nada ucapannya amat sungkan dan ia
sama sekali tidak mengurangi rasa hormatnya terhadap jago jago Bu
lim.
Mendapat pertanyaan tersebut Jen
Pek To menghela napas panjang.
“Lapor Tok say rahasia apa
sebenarnya yang terkandung didalam peta pengangon kambing teriebut
hamba kurang mengerti tapi menurut dugaan hamba sendiri agaknya
rahasia itu ada hubungannya dengan suatu ilmu silat yang amat lihay
dan dahsyat serta sejumlah harta karun…..”
“Aaaaaii. . . . Ada kejadian
seperti ini.” lekas Sie Si Cong berseru tertahan. “Harta karun
apakah yang dimaksukan!? “
“Soal ini hamba kurang tahu,
apakah rahasia itu besar menunjukkan sejumlah harta karun, hamba tak
berani ambil kesimpulan dan memastikannya!”
“Sekarang, peta pengangon kambing
itu berada ditangan siapa?”
“Disimpan dalam saku hamba.”
“Keluarkan dan mari kita teliti
bersama”
Jen pok To msngiakan dan dari
dalam sakunya ia ambil keluar peta pengangon kambing tersebut.
Sie Si Cong segera membentangkan
peta pengangon kambing itu diatas meja, ujarnya sambil tertawa.
“Kwan-neng, Pouw Can su, mari kita
bersama sama menelitinya, bilamana Pun say merasa tidak paham harap
kalian bardua suka memberi petunjuk-petunjuk.”
“Aaaakh! Tok say terlalu
merendahkan diri. aku sipengemis cilik tidak berani menerimanya.”
kata Pouw Cing cepat.
Walaupun diluaran ia bicara
demikian sang badan tanpa terasa sudah bangun beridri dan berjalan
ke sisi pembesar itu untuk ikut meneliti.
Sie Si Cong segera alihkan sinar
matanya keatas meja tersebut, tampak olehnya lukisan dari berbagai
macam kambing yang tersebar dimana mana, sikap maupun gaya setiap
kambing tersebut berbeda satu sama lainnya.
Kecuali ia merasa bahwa gaya
lukisa pelukis tak bernama ini sangat hidup, tak ada keistimewaan
lain yang berhasl ia temukan.
Sebaliknya kwan Tiong Gak yang
memandang kearah lukisan itu agak terpesona dibuatnya. wajahnya
menunjukkan sikap keren penuh wibawa.
Lain halnya dengan si Naga Langit
Pouw Cing, sepasang alisnya berkerut kencang agaknya ia tidak begitu
paham terhadap apa yang dilihatnya didepan mata saat ini.
Akhirnya Sie Si Cong mendehm
ringan.
“Pok to!” Serunya. “Aku sama
sekali tidak menemukan titik titik rahasia istimewa, coba kau
katakan tanda tanda mana yang menunjukkan ilmu silat dan tanda tanda
mana yang menunjukkan harta karun?”
“Thayjien silahkan mulai meneliti
dari kambing paling atas dan terutama lalu perlahan lahan
menelitinya kebawah, perhatikan sikap serta gerak gerik lukisan
tersebut.”
Sie si cong menurut dah ia
meneliti kembali dari atas hingga kebawah, tapi yang ditemukan
olehnya hanya terbatas pada lukisan yang hidup dari kawanan kambing
tersebut serta sikap yang berbeda dari tiap ekor kambing yang
dilukis, kecuali itu tak ditemukan kembali titik titik keanehan yang
menunjukkan letak disimpannya sejumlah harta karun.
Setelah memandangnnya sesaat belum
juga berhasil menemukan sesuatu apapun, ia lantas menggulung kembali
peta tersebut, katanya:
“Sewaktu aku mengejar balik peta
pengangon kambing ini, sama sekali tak kuketahui bahwasanya diatas
peta lukisan ini sebenarnya tersimpan rahasia letak sejumlah harta
karun…….”
“Lukisan ini sebetulnya hak milik
Liauw Tayjien, seharusnya dialah yang menyimpannya.” tukas Kwan
Tiong Gak
“Jikalau di atas peta pengangon
kambing itu benar benar menunjukkan suatu tempat disimpannya
sejumlah harta karun yang terdiri dari emas, intan serta
sebangsanya. Kendati dalam istanaku ini tak berani diletakkan
menumpuK setinggi gunung, tapi benda-benda itu bukan termasuk benda
yang aneh, maka dari itu, Pun sai menyimpan peta lukisan ini lagi.
Si Naga Langit Pouw Tian yang
mendengar ucapan itu jadi tertegun.
“Jadi Tok say hendak menghadiahkan
peta lukisan ini kepada orang lain?”
“Untuk dihadiahkan kepada orang
sih pasti akan kuberikan, hanya saja peta lukisan ini bukan milikku,
karenanya dihadiahkann kepada orang, bukan seharusnya muncul dari
mulutku.”
“Peta lukisan ini agaknya
mempunyai hubungan serta sangkut paut dengan orang orang Bu lim”
Kata Kwan Tiong Gak memberi pendapatnya. “Kalau Thayjien menyimpan
peta lukisan tersebut hanya akan mendapatkan banyak kerepotan saja,
menurut siauw heng, lebih baik diserahkan kepada orang lain saja
sehingga bisa mengurangi banyak kerepotan.”
“Lalu menurut pendapat Kwan heng,
peta lukisan ini harus diserahkan kepada siapa?” tanya Sie Si Cong
sambil tertawa.
“Soal ini sih susah untuk
dikatakan, paling sedikit Thayjien harus merasa bahwa orang yang
diserahi peta lukisan ini harus punya kemampuan untuk melindungi
peta lukisan ini.”
“Di dalam hati kecilku sih sudah
ada satu pandangan, hanya aku takut jago lihay ini tidak mau
menerimanya.”
“Siapa yang dimaksudkan Tok-say?”
“Kwan Tiong Ga. Cong Piauw-tauw
dari perusahaan ekspedisi Hauw wie Piauw kiok.”
“Minta aku yang melindungi……” seru
Kwan Tiong Gak.
“Sedikitpun tidak salah,” Sie Si
Cong menukas. “Sebenarnya peta lukisan ini didapatkan kembali oleh
Kwan heng, dan pada saat ini aku hanya kembalikan lagi ketanganmu.
Dengan nama besar Kwan-heng serta banyaknya jumlah Piauwsu dalam
perusahaan ekspedisi Hauw Wie Piauw kiok, aku rasa sudah cukup kuat
untuk melindungi peta lukisan ini.”
Mendengar sampai disitu Kwan Tiong
Gak tertawa getir.
“Perintah dari Thayjien, Siauw
heng tak berani menampik, hanya saja aku berharap thayjien bisa
menentukan batas batas waktu nya..”
“Batas waktu apa?”
“Batas waktu menyimpan peta
lukisan ini, setelah thayjien menentukan batas waktu aku orang she
Kwan pun bisa menyusun rencana selanjutnya.”
“Batas waktu ini sukar untuk
dikatakan nanti setelah aku bicarakan soal ini dengan Liaw thayjien,
pesanku, kita bicarakan lagi batas batas waktu tersebut, bagaimana?”
“Setelah thayjien berkata
demikian, siauw heng pun harus menyanggupinya….” Kwan Tiong Gak
tertawa getir.
Setelah memperoleh pernyataan
sanggup orang she Kwan tersebut, Sie Si Cong tersenyum.
“Kalau begitu simpanlah dulu peta
lukisan ini.”
Air muka Kwan Tong Gak berubah
amat serius, setelah menerima peta lukisan itu serunya sambil
menjura:
“Aku orang she Kwan ingin minta
waktu sebentar.”
“Silahkan!”
Perlahan lahan Kwan Tiong Gak
berjalan keluar dari ruang pagoda, sambil berdiri diatas permukaan
salju ditengah halaman luar, ujarnya seraya menjura ke sekeliling
tempat itu.
“Kawan kawan. Aku orang she Kwan
memberi selamat tahun baru buat kalian. Sekaratng Tok Say Thayjien
telah menyerahkan peta lukisan ini untuk disimpan dalam saku orang
she Kwan untuk sementara jika Cu Wi sekalian ada maksud mendapatkan
lukisan ini maka lebih baik carilah dulu aku orang she Kwan. Besok
pagi adalah tanggal satu, dan aku orang she Kwan ingin menjamu
kalian di hutan pohon liuw ditepi telaga Shen Yang Auw pada
kentongan pertama kalau Cu wi ada urusan silahkan menghadiri
perjamuan pada waktunya, saat itu aku orang she Kwan tentu akan
memberi jawaban”
Perkataan ini di utarakan dengan
suara keras, semua orang yang di dalam ruangan dapat mendengarnya
sangat jelas.
“Apa yang sebenarnya telah
terjadi?” tanya Sie Sie Cong sambil menyapu sekejap wajah Jen Pek To
serta Si Naga Langit Pouw Cing.
“Perbuatan mulia Tok say Thayjien
yang merisaukan negara serta rakyat telah menggetarkan hati Kwan
Cong Piauw tauw.”
Pouw Cing pun menghela napas
panjang katanya:
“Kau adalah seorang pembesar baik,
Kwan Cong Piauw tauw sadah memikul tanggung jawab Hujan badai ini”
Sie Si Cong termenung berpikir
sebentar. mendadak ia bangun berdiri dan berjalan keluar dari
perkarangsn pagoda.
“Ia sedang berbicara dengan
siapa?” tanyanya.
Si Naga Langit Pouw Cing memandang
sekejap kearah Jen Pek To, mendadak ia berebut jalan lebih dahulu
didepan Tok Say sedangkan Jen Pek To mengiringnya dari belakang
seraya- sahutnya dengan suara lirih;
“Thayjien, disekeliling pagoda
hangat ke mungkinaa Besar sudah tersembunyi banyak sekali Jago Jago
bu lim. harap ThayJien suka berhati-hati, lebih baik jangan
meninggalkan pagoda ini.”
“Pek To aku bukan orang yang
terlalu menjaga keselamatan diri sendiri” kata Sie Si Cong sambil
tertawa. “ditengan pertempuran sengit dimana berlaksa tentara dan
kuda saling bertempur,pedang tampak bagaikan lautan, anak panah
berdesir bagaikan curahan hujanpun aku tidak takut mati, kenapa
sekarang harus jeri? aku sama sekali tidak pernah memikirkan
keselamatanku.”
Sembari berkata ia melanjutkan
langkahnya ke luir dari pagoda hangat.
Mendadak serentetan cahaya tajam
dengan membawa suara desiran keras meluncur ke arah Sie Si Cong.
“Thayjien, hati-hati!” bentak Jen
Pek To cepat buru-buru ia menyambut datangnya sambaran tajam
tersebut.
Tapi ketika itulah si Naga Langit
Pouw Cing sudah berkelebat keangkasa, serentetan cahaya putih
menyambar lewat, sebatang anak panah pendek sudah tersampok jatuh
ketanah.
ketika Sie Si Cong mempehatikan
dengan teliti, ditemuinya si Naga Langit Pouw Cing sedang memasukkan
kembali sebilah golok pendek yang memancarkan cahaya tajam ke
sakunya.
Golok tersebut berbentuk sangat
aneh, panjangnya tidak lebih dari beberapa depa dengan lebar hanya
empat jari, berhubung golok itu terlalu pendek maka setelah
disembunyikan dalam saku seolah olah tidak membawa senjata lagi,
orang yang tak tahu rahasia ini tentu tak akan menyangka sampai
disitu.
Setelah Jen Pek To pun ikut
menubruk kedepan. ia segera pungut panah baja tadi dan dimasukan
kedalam saku kemudian berdiri di depan Sie Si Cong melindungi
keselamatannya.
(Bersambung Jilid 17)
Jilid 17
SELURUH kejadian hanya berlangsung
dalam sekejap mata, ketika Kwan Tiong Gak berpaling. Pouw Cing telah
menyampok jatuh senjata rahasia tersebut dan masukkan kembali
goloknya kedalam saku.
Terdengar dari arah sebelah timur
dari antara gerombolan bunga berkumandang keluar suara yang dingin
dan menyeramkan.
“Heee…. heee…. heee…. tidak
kusangka Perusahaan ekspedisi Hauw Wie Piauw kiok yang tersohor
dikolong langit ternyata telah menjadi pelindung halaman besar
negeri, orang Kay Pang pun kini sudah menjadi kuku garuda…. sungguh
memalukan”
Kwan Tiong Gak mendehem ringan.
“Aku she Kwan sudah jelaskan, besok malam aku akan menanti kalian
dalam perjamuan ditepi telaga Shen Yang Auw dalam hutan pohon Liaw,
semisalnya kawan menaruh rasa curiga boleh kau ajukan pertanyaanmu
ini dalam perjamuan esok malam, aku orang she Kwan tentu akan
memberikan suatu jawaban yang memuaskan hati.”
Sebaliknya si Nsga Langit Pouw
Cing berkata dengan suara dingin, “Didalam permukaan Kay Pang kami
ada peraturan ketat yang membelenggu setiap anggotanya, kalau aku
sipengemis cilik telah melanggar peraturan perkumpulan, hal ini tak
usah kawan banyak ikut campur, kali ini aku si pengemis cilik akan
membatasi pembicaraan dan tak akan mencaci maki dirimu, cuma kau
harus tahu aku sipengemis cilik telah mengerti siapakah dirimu,
kalau kau berani buka suara menghina Kay Pang lagi, jangan salahkan
aku sipengemis cilik segera akan mengucapkan kata kata yang tidak
enak didengar.”
Pada waktu itu para pengawal
istana sudah menemukan keadaan yang tidak beres, suara tambur dan
gembrengan dibunyikan dari empat penjuru. Diikuti bayangan manusia
berkelebat memenuhi kebun bunga tersebut, Melihat kejadian itu Kwan
Tiong Gak mendehem perlahan, bisiknya lirih, “Thayjien, sekalipun
tentara tentara kerajaan memenuhi kebun bunga inipun susah mengurung
serta menangkap jago jago lihay tersebut, bahkan sebaliknya malah
akan mengakibatkan banyak kematian sia sia diantara mereka, lebih
baik thayjien perintahkan mereka cepat cepat mengundurkan diri.”
“Sedikitpun tidak salah,” Sie Si
Cong mengangguk. “Pek To cepat cepat suruh mereka mengundurkan
diri.”
Jen Pek To mengiakan dan segera
berjalan keluar kebun, teriaknya lantang, “Thayjien sedang bercakap
cakap dengan beberapa orang teman karib, mengapa kalian datang
mengacau?”
Pemimpin tentara kerajaan berseru
tertahan, buru buru ia putar badan berlalu, dalam sekejap saja suara
gembrengan berhenti bertalu dan suasana kembali jadi sunyi senyap.
Menanti suasana disekeliling
tempat itu sudah pulih kembali jadi sunyi.
Kwan Tiong Gak baru ulapkan
tangannya.
“Cu wi sekalian. Sie Tok say
adalah seorang pembesar budiman yang pernah kutemui sepanjang
hidup….”
Ia merandek sebentar kemudian
tegasnya, “Mungkin hal ini tiada hubungannya dengan kalian tapi aku
maksud kedatangan kalian apakah demi peta lukisan pengangon kambing,
sekarang peta lukisan tersebut telah berada dldalam saku aku orang
she Kwan semisalnya kalian tidak urusan atau ikatan dendam dengan
Sie Tok say silahkan berangkat terlebih dahulu, besok malam
kentongan pertama bagi mereka yang bernyali boleh mendatangi hutan
pohon liuw ditepi telaga Shen Yang Auw untuk merebut peta tersebut
dari tangan aku orang she Kwan.”
Diam diam Sie Si Coag
memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu, ditemuinya suasana
gelap gulita sama sekali tak tertampak sesosok bayangan manusiapun.
Si Naga Langit Pouw Cing mendehem
berat, ujarnya pula, “Aku sipengemis cilikpun belum lama berselang
baru saling berkenalan dengan Sie Tok lay ini, tapi setelah
menjumpai kejadian semacam ini tak bisa tidak aku harus turut campur
pula. kalau adi diantara kalian yang mengikat permusuhan dengan Sie
Tok say, biarlah aku sipengemis cilik yang melayani.”
“Perkataan dari aku orang she Kwan
sudah diutarakan sangat jelas, Cuwie boleh berlalu.”
Begitu ucapan tersebut selesai
diutarakan tampak bayangan manusia berkelebat lewat ,empat, lima
sosok bayangan bagaikan kilat-telah meluncur keluar dari halaman
tersebut.
Bersamaan dengan berlalunya
orang-orang itu, Kwan Tiong Gak meloncat naik keatas pagoda hangat,
setelah diamati beberapa waktu ia melayang turun kembali keatas
tanah, katanya, “Thayjien silahkan kembali kedalam ruangan, mereka
semua telah berlalu.”
Sie Si Cong tertawa dan
menganggak.
“Malam ini boleh dihitung aku
sudah mendapat banyak pengetahuan baru, sungguh mengagumkan, sungguh
mengagumkan”
Jen Pek To pun buru-buru manjura,
“Terima kasih atas bantuan Kwan heng apabila tak ada Kwan-heng,
mungkin malam Ini cayhe akan kelabakan dan tak sanggup melayani
mereka itu.”
“Tujuan mereka hanya terletak pada
peta itu aku yang simpan mereka tak akan mendatangi istana Tok say
untuk bikin onar lagi besok malam cayhe akan keluarkan semua
kekuatan yang kupunyai untuk bikin urusan, ini jadi terang kembali.
Terima kembali. Terima kasih atas hidangan arak dan sayur pada malam
ini! Waktu sudah tidak pagi Thayjien pun harus segera pergi
beristirahat”.
“Aaaai…., aku serahkan peta
pengangon kambing kepadamu, hal ini bukan bermaksud agar kau
menghadapi bahaya….”
” Soal ini siauw heng paham.”
tukas Kwan Tiong Gak dengan cepat.
Mendadak si Naga Langit tersenyum.
“Kwan Cong Piauw-tauw, aku
sipengemis cilik tidak paham, kau ingin menggunakan cara apa untuk
membereskan pertikaian pengangon ksmbing ini? Kalau kau ingin
andalkan ilmu silat untuk memberebutnya aku si pengemis cilik akan
ambil satu bagian.”
“Kalau kau ada bergembiraan,
dengan senang hati aku persilahkan kau ikut hadir dalam pertemuan
dibawah pohon Liauw besok malam.” jawab Kwan Tiong Gak sambil
tertawa.
“Terima kasih atas undanganmu,
sampai waktunya aku sipengemis cilik pasti akan hadir”
Selesai berkata segera meloncat
keatas wuwungan rumah, dalam tutulan ujung kaki nya sekali lagi ia
meluncur kedepan dan akhirnya lenyap ditengah kegelapan.
Kali ini Sie Si Cong dapat melihat
kejadian itu dengan sangat jelas, dalam hati ia merasa sangat kagum.
“Gerakannya ini mirip meloncat,
boleh dikata bagaikan terbang saja….”
“Ia bernama si Naga Langit Pouw
Cing”. ujar orang she Kwan memberi keterangan. “Ilmu meringankan
tubuh adalah kepandaian gadaiannya.”
“Ooooo ….begitu,” sinar matanya
menyapu sekejap sekeliling tempat itu. “Apakah masih ada orang?”
“Siauw-heng sudah periksa, mereka
semua telah berlalu”,
“Silahkan Kwan heng duduk kembali
didalam ruangan, aku ada urusan ingin minta petunjukmu.” kata Sie Si
Ceng sambil putar badan berjalan masuk kedalam pagoda hangat.
Kwan Tiong Gak, Jen Pek To dengan
seiring mengikuti dari belakangnya.
Setelah ambil tempat daduk, Si Sie
Cong berkata, “Kwan heng, walaupun penjagaan di-dalam istana kami
bukan termasuk burung binatang susah berlalu, tapi boleh dihitung
sangat ketat dan rapat terutama sekali dalam beberapa hal Ini Pek To
sudah menambah banyak jago diantaranya. tapi kenapa mereka bisa
menyeludup masuk kedalam kebun tanpa diketahui oleh pihak penjaga?
Bila ku-tinjau dari keadaan tersebut bukan saja mereka bisa pergi
datang sesuka hati bahkan sama sekali tidak dipandangnya sebagai
suatu halangan.”
“Hal ini kesemuanya karena ketidak
becusan hamba,” buru buru Jen Pek To menjura.
“Pek To, bukannya aku sedang
membicarakan soal dirimu, aku hanya ingin minta petunjuk dari Kwan
heng bagaimanakah caranya mengatasi kesulitan ini?”
Kwan Tiong Gak termenung berpikir
sebentar, lalu ujarnya ;
“Para jago yang datang pada malam
ini rata rata bukan manusia sembarangan, mereka adalah jago kelas
wahid didalam dunia persilatan, pertama karena cuaca sangat gelap
dan kedua mereka sudah mengadakan persiapan tentu saja susah untuk
menemukan jejak mereka. Perduli ilmu meringankan tubuh seseorang
berhasil dilatih sampai mencapai taraf yang bagaimanapun mereka
tetap akan neninggalkan jejak untuk bisa berhati-pati sedikit dan
sekali lagi mengatur penjagaan disekitar istana, rasanya tidak susah
untuk mengawasi semua keadaan.”
Mendadak Sie Si Cong tersenyum.
“Kwan heng apa maksudmu mengundang
mereka untuk berjumpa ditepi telaga Shen Yang Auw?” tanyanya.
“Aku ingin memberi penjelasan yang
seterang terangnya bagaimana watak Tok say Thayjien, aku berharap
mereka bisa memandang di atas wajahmu untuk sementara melepaskan
peta pengangon kambing ini cuma Saja tindakanku ini bukan suatu cara
yang bagus untuk suatu waktu yang lama, karena itu aku pun berharap
Thayjien serta besan-mu bisa cepat mendapatkan suatu cara untuk
menyelesaikan masalah peta ini. Tetap mempertahankan peta tersebut
akhirnya hanya mendatangkan bencana.”
“Soal ini aku bisa manberi
penjelasan kepadanya, dua tiga hari kemudian pasti akan memberi
suatu jawaban kepadamu, justeru yang kukatakan adalah bilamana besok
malam mereka tak mau melepaskan dirimu dan mencari gara-gara dengan
kalian.”
“Tentang soal ini thayjien boleh
berlega hati, kalau aku orang she Kwan tidak punya kepercayaan tak
akan berani kuambil keputusan ini.” kata Kwan Tiong Gak sambil
tertawa.
“Entah bolehkah cayhe ikut pergi?”
Thayjien.
“kau tak boleh menempuh bahaya.”
seru orang she Kwan dengan hati terperanjat. “Bagaimanakah perubahan
situasi besok malam cayhe belum bisa membayangkan, kalau Thayjien
sampai ikut campur dalam urusan ini bukan saja urusan akan susah
diselesaikan, cayhe pun belum tentu bisa melindungi keselamatan
thayjien.”
Sie Si Cong tersenyum.
“Tujuan mereka terletak pada peta
pengangon kambing itu dan aku sudah serahkan peta rahasia tersebut
kepadamu aku rasa mereka tidak seharusnya mencari gara gara lagi
dengan diriku.”
“Dalam dunia persilatan banyak
gerombolan gerombolan manusia yang tidak tahu diri bahkan banyak
diantara mereka yang bekerja dengan menggunakan cara keji apapun,
kalau thayjien ikut menghadiri pertemuan itu mungkin sebaliknya
malah akan merepotkan aku orang she Kwan saja.”
Sie Si Cong kembali tersenyum, ia
tidak mendesak lebih lanjut sebaliknya segera alihkan bahan
pembicaraan kesoal yang lain.
“Kwan heng, malam semakin kelam,
apakah Kwan heng ada maksud menginap semalam disini.”
“Tidak perlu, didalam kantor masih
ada orang menantikan kedatanganku apa lagi urusan sangat mendesak
aku harus pulang untuk mempersiapkan diri, Siauw heng harus mohon
diri.”
“Pun-say belum lelah, bagaimana
kalau aku menghantar dirimu?”
Buru buru Kwan Tiong Gak menjura.
“Jangan….jangan….budi kebaikan
thayjien biarlah siauw heng terima dalam hati saja.”
“Baiklah, lebih baik aku mengikuti
saja permintaanku. Pek To coba kau wakili saja dia aku mangantar
diri Kwan heng.”
“Thayjien pun seharusnya
beristirahat,” kata Jen Pek To. Setelah menjura kedua orang itupun
segara mengundurkan diri dari dalam ruangan.
Setelah keluar dari pintu istana,
Kwan Tiong Gak silangkan tangan mencegah Jen Pek To menghantar lebih
jauh.
“Kau tak usah menghantar lagi.”
“Siauwte merasa menyesal dan minta
maaf karena sudah menunda waktu pemberangkatan Kwan heng pulang
kampung.”
Kwan Tiong Gak tertawa getir.
“Sebelum menjumpai Sie Tok say Siauwte sama sekali tidak pernah
menyangka kalau pembesar negeri yang memegang kekuasaan empat
keresidenan besar sebetulnya adalah seorang peramah yang suka
berkenalan dengan rakyat jelata”
“Aaaai. …. .! Kwan heng, kalau Sie
Tok say bukan seorang pembesar baik yang cinta negara cinta rakyat,
bagaimana siauwte sudi berdiam dalam istana Jendral sampai beberapa
tahun lamanya.”
“Sie Thayjien benar merupakan
seorang pembesar budiman yang sukar ditemui, siauwte telah melanggar
pantangan dengan munculkan diri membebaskan kesulitannya kali ini.
Tapi Kau harus tahu tindakan siauwte ini sama sekali tidak bertujuan
hendak merebut nama maupun kedudukan, setelah kembali ke ibu kota
nanti aku akan membubarkan perusahaan Hauw Wie Piauw kiok, urusan
disini setelah selesai pun siauwte segera akan berangkat pulang,
perduli Sie thayjien akan mencegah dengan cara apapun siauwte sudah
bulatkan tekad yang tak akan berdiam lebih lama lagi, daripada aku
berlalu tanpa pamit lebih baik Jen-heng suka memberi penjelasan
sebaik baiknya.”
“Soal ini Kwan-heng boleh lega
hati, sebenarnya urusan ini tidak seharusnya dipikul Kwan-heng.
Pertama, karena urusan terlalu mendesak dan siauwte tahu aku tidak
sanggup. Kedua, agaknya Tok say thayjien merasa berjodoh dengan Kwan
heng, kau adalah seorang Bu lim Hoohan dan dia adalah seorang
pembesar setia yang memikirkan nasib negara serta bangsa, inilah
mungkin yang mengakibatkan antara enghiong timbul hubungan intim….”
“Aku orang she Kwan hanya
merupakan manusia kasar, mana boleh dibandingkan dengan Tok say
thayjien,” tukas Kwan Tiong Gak cepat cepat.
“Perduli apa yang kau pikirkan
tapi dalam kenyataan memang begini, siauwte sudah banyak tahun
mengikuti disisi Tok say. ataupun ia bersikap ramah terhadap siapa
pun tapi belum pernah membasahi orang dengan sebutan saudara,
terhadap kau Kwan heng boleh dikata baru untuk pertama kalinya.”
“Aku paham. Agaknya Tok-say
thayjien menaruh rasa sayang yang luar biasa terhadap aku orang she
Kwan.”
“Soal ini adalah urusan diantara
kalian sendiri, sedang mengenai maksud Kwan heng hendak kembali ke
utara setelah menyelesaikan urusan disini, siauwte berani menanggung
tak akan mencari kerepotan lagi dengan diri Kwan heng. setelah
urusan pokok beres, urusan selanjutnya akan siauwte tanggung sendiri.”
“Bagus kita putuskan dengan
sepatah kata ini, sebelumnya aku orang she Kwan mengucapkan banyak
terima kasih.”
Seraya berkata ia menjura lalu
putar badan dan berlalu.
Buru buru Jen Pek To balas menjura,
“Kwan beng selamat jalan, kalau
membutuhkan tenaga siauwte kirimkanlah orang untuk mengabari diriku.”
“Aku rasa tidak perlu merepotkan
diri Jen heng lagi “
Sembari berkata ia tidak
menghentikan langkahnya. Cong piauw tauw dari perusahaan Hauw Wie
Piauw kiok ini langsung kembali kekantornya.
Pui Cong Yan, Liem Toa Lek serta
Nyioo Su Jan masih menanti kedatangannya di ruang tengah.
Kwan Tiong Gak langsung berjalan
masuk kedalam ruangan. Melihat munculnya sang Cong Piauw-tauw segera
serunya ;
“Toako, Giok Liong sekalian sudah
mempersiapkan kereta, menanti Toako telah datang, kita segera
berangkat.”
Tapi dengan cepat Kwan Tiong Gak
ulapkan tangannya.