ambang naga panji naga sakti 08

Setelah termenung beberapa saat sambungnya kembali, “Ini hari adalah tanggal satu tahun baru, sekalipun kita tidak berhasil menemukan peta pengangon kambing juga harus tetap berada di sini, aaai…, entah kita harus berada di sini sampai kapan?”

“Aku lihat untuk jelasnya kita harus melakukan penyelidikan terhadap diri Ke Giok Lang” kata Phoa Ceng Yan.

Sewaktu mereka sedang bercakap-cakap mendengar suara langkah manusia berkumandang di luar pintu.

Liem Toa Lek melongok keluar jendela, hari baru saja terang tanah, dan ia segera bangkit.

“Entah keluarga mana yang pagi pagi yang sudah datang untuk mengucapkan selamat tahun baru?”

“Coba kau tengok, kalau tidak terlalu penting, jangan mengatakan kalau aku ada di sini.”

Liem Toa Lek mengiakan dan dengan langkah lebar ia berjalan keluar.

Beberapa saat kemudian dengan membawa sebuah kotak merah ia muncul kembali dalam ruangan, ujarnya, “Hu Cong Piauw-tauw, sahabat karibmu dari kota Kay Hong telah mengirimkan hadiah tahun baru untukmu.”

Mendengar ucapan itu Phoa Ceng Yan mengerutkan dahi, ia bangun berdiri menerima kotak itu, di atas sebuah kartu nama dituliskan bahwa kotak ini diperuntukkan Phoa Ceng Yan disertai kata-kata ucapan selamat tahun baru.

“Apa isi kotak itu?” tanya Kwan Tiong Gak sambil memandang sekejap kotak merah itu.

“Siauwte sendiri tidak tahu!”

“Siapa yang memberikan kepadamu?”

“Siauwte sendiri juga tidak tahu.”

Kwan Tiong Gak segera mengambil kotak tadi dan diperhatikannya kotak tersebut.

“Waktu membuka kotak ini haruslah berhati-hati!”

Phoa Ceng Yan mengiakan perlahan-lahan ia menuju ke pintu ruangan, setelah membuka kotak kain tadi muncullah sebuah kotak kayu yang sangat indah.

Di atas tutup kotak itu berukiran lukisan yang indah, hal ini membuat siapapun yang melihat dapat membayangkan kalau isi kotak ini tentu sebuah benda yang sangat berharga.

Phoa Ceng Yan tidak berani langsung membuka kotak itu, setelah digoyang-goyangkan sebentar dan tidak menemukan sesuatu suara ia baru membuka kotak tadi lambat-lambat.

Karena tidak tahu siapakah yang memberikan kotak tersebut, Phoa Ceng Yan tidak berani berlaku gegabah, seluruh hawa murninya disalurkan ke seluruh badan bersiap sedia terhadap segala kemungkinan.

Perlahan-lahan kotak dibuka, dan dari balik kotak tersebut tidak dijumpai sesuatu yang mencurigakan.

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan alihkan sinar matanya ke dalam kotak, tapi sebentar kemudian ia sudah menjerit tertahan dan berdiri termangu-mangu.

Kiranya isi dari kotak tersebut bukan lain adalah peta pengangon kambing yang lenyap tak berbekas.

“Hu Cong Piauw-tauw, apa isi kotak itu ??” tanya Nyoo Su Jan tak tertahan lagi.

“Peta pengangon kambing!”

“Apa peta pengangon kambing?” teriak Kwan Tiong Gak melengak.

“Benar, siauwte pernah melihat peta ini dan rasanya tidak salah lagi…..”

Ia ambil peta tadi dalam kotak kemudian diangsurkan ke tangan Kwan Tiong Gak.

Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong WIe Piauw-kiok ini menerimanya dan diperiksanya dengan seksama lukisan tersebut.

Sembari memeriksa tanyanya kembali.

“Saudara, coba kau pikir dari siapakah lukisan ini kau dapat?”

“Siauwte tak bisa menemukan orang itu.”

Agaknya perhatian Kwan Tiong Gak sudah terhisap oleh lukisan pengangon kambing itu, ia tidak bicara lagi dan menumpahkan seluruh perhatiaannya di atas peta tadi.

Walaupun cuaca sudah terang tanah, tapi suasana dalam ruangan masih gelap, di atas meja berdiri sebuah lilin merah yang memancarkan cahaya terang.

Tiba-tiba Kwan Tiong Gak menghantam meja seraya berseru, “Lukisan bagus! Lukisan bagus, tidak aneh kalau begitu banyak orang yang ingin memperebutkannya.”

“Haaa……..haaa……haaa….. Kwan-heng betul-betul naga di tengah manusia, siauwte betul-betul merasa kagum,” tiba-tiba terdengar suara tegoran seseorang berkumandang datang dari tempat luaran.

Dengan terkesiap semua orang alihkan sinar matanya ke depan, entah sejak kapan Jen Pek To dengan memakai pakaian ringkas warna hitam telah berdiri di depan pintu.

Mungkin disebabkan semua perhatian orang yang ada di dalam ruangan telah dihisap lukisan pengangon kambing maka tak seorangpun yang merasa akan kehadiran orang itu.

“Hmmm! Jen-heng, sungguh hebat ilmu meringankan tubuhmu!” jengek Phoa Ceng Yan sambil tertawa dingin.

Merah padam selembar wajah Jen Pek To.

“Siauwte datang terlalu pagi, karena pintu kantor belum buka maka siauwte masuk dengan meloncati pintu pagar.”

“Jen-heng, sungguh kebetulan sekali kedatanganmu!” seru Kwan Tiong Gak sambil tersenyum.

Ia masukkan peta tadi ke dalam kotak dan sambungnya lebih lanjut, “Jen-heng, pernahkah kau menjumpai lukisan peta pengangon kambing ini?”

“Siauwte belum pernah menjumpai!”

“Jadi ini berarti Jen-heng pun tidak bisa menentukan keaslian dari benda ini bukan.”

“Siauwte percaya dengan ketajaman mata Kwan-heng tak bakal tertipu oleh orang lain.”

Perlahan-lahan Kwan Tiong Gak menutup kembali kotaknya dan menjawab, “Menurut pendapat siauwte, lukisan pengangon kambing yang ada di dalam kotak ini adalah benda yang asli, siauwte tidak berani mencari jauh, sebenarnya lukisan ini kudapatkan tanpa membuang banyak tenaga…”

Ia menarik napas panjang, sambungnya lebih jauh, “Perduli bagaimanapun juga, lukisan itu sudah kudapatkan kembali, aku rasa persoalan ini-pun telah selesai sampai di sini, harap Jen-heng suka membawa lukisan ini kembali ke istana untuk dilaporkan kepada Tok Say sedang aku orang she Kwan segera akan kembali ke ibukota.”

“Kwan-heng!” ujar Jen Pek To sambil menghela napas panjang. “Di tengah suasana tahun baru melakukan perjalanan apakah kau tidak merasa terlalu menderita?”

“Orang yang mencari sesuap nasi dengan mengawal barang, sudah terlalu biasa menanggung sengsara kena hujan dan kedinginan di tengah jalan, kekuatiran Jen-heng biarlah siauwte terima dalam hati saja.”

“Sejak siauwte masuk ke dalam pintu hingga kini hanya bicarakan soal lain saja dengan Kwan-heng, siauwte  selalu tidak ada kesempatan untuk bicara…..” tiba-tiba Jen Pek To berkata sambil menghela napas.

Tidak mengetahui apa yang dimaksudkan Kwan Tiong Gak tertegun.

“Apa yang hendak kau ucapkan?” tanyanya.

“Tok Say merasa punya jodoh dengan Kwan-heng, ia berharap bisa berjumpa sekali lagi dengan dirimu.”

“Soal ini aku rasa sudah tak perlu lagi.”

“Malam ini di istana Tok Say sedang mempersiapkan perjamuan, harap Kwan-heng suka memberi muka kepada kami.”

“Jen-heng!” ujar Kwan Tiong Gak setelah termenung sebentar. “Siauwte tidak lebih hanya seorang Piauw-tauw pengawal barang, bila hendak berhubungan dengan Tok Say Thayjien kami merasa tidak memadahinya.”

“Walaupun Tok Say adalah tiang tonggak negara, tapi watak pribadinya amat ramah dan suka bersahabat, dia sangat mengagumi diri Kwan-heng!”

Tapi dengan cepat Kwan Tiong Gak sudah menggeleng, tukasnya, “Jen-heng, kami adalah orang kangouw yang mencari sesuap nasi dengan jual nyawa, bagi kami terlalu sering mengadakan hubungan dengan para pejabat pemerintahan malah tidak menguntungkan posisi kami.”

Jen Pek To tertawa hambar, dari dalam sakunya ia mengambil keluar sebuah kartu undangan warna merah dan diangsurkan ke depan.

“Kartu undangan ini khusus dibuat Tok Say untuk mengundang Kwan-heng, harap Kwan-heng suka menerimanya.”

Kwan Tiong Gak memeriksa sebentar kartu undangan tersebut, akhirnya ia tersenyum, “Baiklah! Sampai waktunya cayhe akan menghadiri perjamuan ini,” katanya terpaksa.

Setelah mendengar orang itu setuju, Jen Pek To baru alihkan sinar matanya ke arah kotak kayu tadi.

“Kwan-heng!” katanya. “Siauwte ingin minta petunjuk akan satu persoalan.”

“Silahkan Jen-heng utarakan.”

“Lukisan pengangon kambing bukan termasuk lukisan kenamaan, mengapa begitu banyak orang yang ingin memperebutkan benda-benda tersebut?”

“Jen-heng adalah pengawal kepercayaan dari Tok Say, tiada halangan engkau minta ijin dari Tok Say agar lukisan ini untuk sementara waktu Jen-heng yang simpan, coba kau perhatikanlah lukisan pengangon kambing ini dengan seksama, mungkin sekali kau akan dapat menemukan sesuatu.”

Sembari berkata ia angsurkan kotak itu kepada Jen Pek To.

Jen Pek To menerima kotak itu dan mengangguk.

“Kegagahan seorang enghiong hoohan memang berbeda dengan manusia biasa. Setelah Kwan Cong Piauw-tauw menemukan apabila benda ini adalah sebuah benda yang sangat berharga, tiada timbul rasa rakus dan serakah cayhe betul-betul merasa kagum.”

Kembali Kwan Tiong Gak menghela napas panjang, ujarnya, “Benda ini memang bukan milikku, tentu saja cayhe tidak berhak untuk mengangkanginya, cuma akupun ingin menasehati Jen-heng dengan beberapa patah kata!”

“Baik! Silahkan Kwan-heng bicara, siauwte tentu akan mendengarkannya baik-baik.”

“Lukisan pengangon kambing ini adalah semacam mustika Bu-lim, tapi merupakan benda yang dapat menemukan bencana pula bagi pemiliknya, benda itu bisa memancing datang banyak jago Bu-lim yang ingin merampas benda itu, sekalipun di dalam istana ada beberapa ratus laksa prajurit, belum tentu bisa menahan terobosan seorang jago Bu-lim kelas wahid…”

“Ooouww….maksud Kwan-heng adalah Ke Giok Lang?”

“Ke Giok Lang hanya salah seorang diantaranya yang kumaksudkan adalah jago-jago lihay dari dunia persilatan kecuali ia tidak tahu peta pengangon kambing adalah benda mestika dan tidak tahu kalau lukisan itu berada di dalam istana Tok Say. Kalau sekali mereka tahu, aku rasa Jen-heng pun bisa membayangkan sekali walaupun kau mempunyai tenaga menaklukkan harimau meringkus naga-pun jangan harap bisa menghadapi kerubutan jago Bu-lim.”

“Nasehat Kwan-heng akan siauwte catat dalam hati, sekembalinya ke dalam istana tentu akan kusampaikan laporan ini kepada Tok Say agar ia ambil keputusan sendiri, bagaimanakah seharusnya dia perbuat untuk menyelesaikan masalah peta lukisan pengangon kambing ini!”

“Ucapan siauwte hanya terbatas sampai di sini saja.” ujar Kwan Tiong Gak sambil tertawa hambar. “Apa yang hendak kalian lakukan itu urusan Tok Say serta Jen heng sendiri!”

“Secara bagaimana Tok Say hendak menyelesaikan soal peta lukisan pengangon kambing ini, siauwte tentu akan mengirimkan laporan buat Kwan-heng….”

“Soal ini, aku rasa tidak perlu!”

“Terima kasih atas petunjuk Kwan-heng, siauwte mohon diri terlebih dahulu, nanti sebelum perjamuan siauwte akan datang menjemput.!”

“Tidak berani terlalu merepotkan Jen-heng, bila sampai waktunya aku orang she Kwan pasti akan datang!”

“Baiklah.” Jen Pek To tersenyum. “Mengikuti apa maksud Kwan-heng, sampai waktunya cayhe akan menantikan kehadiranmu di depan istana.”

Buru-buru ia putar badan dan berlalu.

“Jen-heng, tunggu sebentar!” tiba-tiba Kwan Tiong Gak berseru. “Aku orang she Kwan ada suatu persoalan hendak kuutarakan kepadamu!”

Jen Pek To berhenti dan berpaling.

“Kwan-heng terlalu merendah, entah ada urusan apa lagi?”

“Di hadapan Tok Say aku berharap Jen heng suka mewakili aku minta diri!”

“Maksudmu??”

“Setelah selesai perjamuan malam ini, siauwte akan segera berangkat pulang ke ibukota, harap sejak ini hari Tok Say jangan mencari kami orang dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok lagi!”

Jen Pek To tidak langsung menjawab, ia termenung sejenak, baru kemudian ujarnya, “Kwan-heng, ada suatu persoalan siauwte-pun ingin menerangkan terlebih dulu, perjamuan yang diadakan malam ini adalah maksud dari Tok Say sendiri, siauwte sama sekali tidak memberi pendapat, cuma siauwte menyanggupi dirimu untuk menasehati Tok Say agar sejak ini hari tidak mencari kalian pihak perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok lagi.”

“Baik! Jen-heng suka menerima permintaanku ini, siauwte-pun boleh berlega hati.”

Jen Pek To mengangguk sambil tertawa, dengan langkah lebar ia berjalan keluar.

“Jen-heng baik-baik jaga diri, maaf aku orang she Kwan tak dapat mengantar terlalu jauh.”

“Tidak berani merepotkan dirimu.”

Sebentar kemudian ia sudah keluar dari pintu dan lenyap dari pemandangan.

Menanti Jen Pek To sudah lenyap dari pandangan, baru Phoa Ceng Yan geleng-gelengkan kepalanya.

“Toako, aku rasa dalam persoalan ini ada sedikit tidak beres.”

“Eeei…. bagian mana yang kau anggap tidak beres?”

“Aku rasa belum tentu Tok Say benar-benar ada maksud minta kembali lukisan pengangon kambing ini ….”

“Maksudmu, Jen Pek To pura-pura menggunakan perintah Tok Say?” sambung Kwan Tiong Gak.

“Sekalipun bukan pura-pura, paling sedikit ia yang usulkan pendapat ini agar bisa diterima.”

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Apa yang tercantum di atas peta lukisan pengangon kambing memang cukup membuat orang terpesona, tapi benda itu bukan benda yang mendatangkan rejeki, walaupun Jen Pek To ada maksud meminjam kekuatan Tok Say, belum tentu ia bisa mempertahankan benda itu….”

Sinar matanya dialihkan ke atas wajah Phoa Ceng Yan dan sambungnya lebih lanjut, “Justru yang membuat orang tidak paham adalah dari manakah benda ini bisa muncul? siapa yang mengirim benda itu untukmu?”

“Soal ini siauwte sendiri juga tidak tahu.” dengan cepat Phoa Ceng Yan menggeleng. “Aku sudah lama memikirkan persoalan ini, tapi tak terpikir olehku siapakah yang suka menghadiahkan peta lukisan itu untuk diriku.”

“Tiada angin tak akan menimbulkan ombak, bila kutinjau dari beberapa lukisan itu jelas dia adalah seorang yang kenal dengan dirimu atau paling sedikit pernah berjumpa dengan kau, coba pikirlah sekali lagi dengan cermat!”

Lama sekali Phoa Ceng Yan termenung, tapi akhirnya ia menggeleng dan tertawa getir.

“Siauwte tidak berhasil mengingat-ingat siapakah orang itu?”

“Saudara dari mana munculnya peta ini merupakan kunci utama dalam pemecahan persoalan ini” kata Kwan Tiong Gak sambil menepuk pundak Phoa Ceng Yan. “Coba pikir dengan perlahan-lahan, kalau kau tidak dapat menemukan orang itu di antara sahabat atau sanak keluargamu, tiada halangan membayangkan kembali kejadian-kejadian yang kau temui sepanjang perjalanan!!”

Mendengar ucapan yang terakhir ini, mendadak satu ingatan berkelebat di dalam benak orang she Phoa ini, kemudian ujarnya, “Kalau dicari hal-hal yang mencurigakan, rasanya hanya peristiwa itulah yang patut dicurigai.”

“Persoalan apa yang mencurigakan?”

“Di tengah jalan siauwte telah menolong seorang pemuda yang terhajar senjata rahasia beracun.”

“Bagaimana macamnya orang itu?” tukas Kwan Tiong Gak dengan cepat.

“Seorang pemuda tampan yang gagah dan menarik, tetapi sikapnya terhadap orang lain amat hambar, walaupun siauwte telah menolong jiwanya, ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun ucapan terima kasih, bahkan tanpa meninggalkan namanya telah berlalu!”

“Orang itu mempunyai hal yang istemewa?” tanya Kwan Tiong Gak lebih lanjut.

“Ada! Ia mempunyai seekor kuda putih yang agaknya amat cerdik, ia tahu bagaimana caranya mencarikan pertolongan buat majikannya, mengucurkan air mata melihat nasib pemuda itu, kalau bukan kuda putih tadi amat cerdik mungkin orang ini sudah mati keracunan di tengah jalan dan mati terkurung di tumpukan salju.”

“Kuda jempolan memang bisa menolong majikannya.” Kwan Tiong Gak mengangguk.

“Aku duga pemuda ini tentu mempunyai asal usul yang terkenal.” ia merandek sejenak lalu tambahnya.

“Kecuali peristiwa ini apakah kau menjumpai sesuatu yang istimewa sepanjang perjalanan?”

“Tidak ada”

“Baik!” akhirnya Kwan Tiong Gak mengangguk. “Semalaman kita tidak tidur, setengah harian ini kita gunakan untuk tidur sejenak nyenyaknya, ada urusan sore ini kita bicarakan lagi.”

Tanpa menanti jawaban lagi ia segera berlalu.

Memandang bayangan punggung Kwan Tiong Gak yang berlalu, baik Phoa Ceng Yan maupun Liem Toa Lek, Nyoo Su Jan sekalian tak ada yang berani bersuara.

Menanti Cong Piauw-tauwnya sudah lenyap dari pandangan, Nyoo Su Jan baru berkata lirih, “Cuwi sudah melihatnya?”

“Melihat apa?” tanya Phoa Ceng Yan.

“Walaupun Cong Piauw-tauw berusaha untuk mempertahankan ketenangnannya, padahal ia sudah amat lelah.”

“Siauwte pun berpendapat demikian,” sahut Liem Toa Lek sambil mengangguk. “Kemarin malam Cong Piauw tauiw tentu sudah melakukan pertarungan sengit.”

“Dengan kepandaian silat yang dimiliki Cong Piauw-tauw, cukup duduk semedi setengah hari kelelahannya bisa dipulihkan kembali seperti sedia kala, mengambil kesempatan ini kitapun baik-baik beristirahat, dengan situasi yang kita jumpai saat ini sekalipun di luaran kelihatan amat tenang, padahal ombak sudah menggulung di permukaan air yang tenang, setiap saat pertarungan berdarah bisa berlangsung dengan serunya.”

“Silahkan cuwi kembali ke kamar untuk beristirahat, cayhe harus melayani dulu sahabat-sahabat yang datang mengucapkan selamat.”

“Kalau begitu kami merepotkan Liem-heng!”

Orang she Nyoo ini merandek dan berpaling ke arah Phoa Ceng Yan, sambungnya, “Hu Cong Piauw-tauw pun harus baik baik beristirahat!”

“Aaai…. Su Jan, agaknya situasi semakin lama semakin kacau dan rumit” seru Phoa Ceng Yan.

Perlahan-lahan iapun melangkah keluar dari ruangan.

Nyoo Su Jan mengikuti dari belankang Hu Cong Piauw-tauw ini keluar dari ruangan sambil jalan ujarnya lirih, “Hu Cong Piauw-tauw tidak perlu risau karena persoalan ini bila kita tinjau dari situasi saat ini banyak persoalan yang tidak dapat kita kuasai lagi, terutama sekali Jen Pek To orang ini benar benar keji dengan melibatkan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita ke dalam kancah pergolakan ini sehingga membuat semua orang merasa tidak tenang.”

“Aaaai! Karena sebuah lukisan pengangon kambing menimbulkan pergolakan sedemikian besarnya, sungguh tak kusangka sebelumnya, semoga saja malam ini COng Piauw-tauw melepaskan diri dari ikatan Tok Say dan kembali ke ibukota sehingga hati kitapun turut menjadi tenang.”

“Hu Cong Piauw-tauw, jangan murung lagi karena persoalan ini!” seru Nyoo Su Jan sambil ulapkan tangannya. “Silahkan kembali ke kamar untuk beristirahat!”

Setengah hari lewat dengan cepatnya siang hari telah lewat dan para jagoanpun telah berkumpul di tengah ruangan besar.

Kali ini Kwan Tiong Gak telah berganti baju dengan memakai sebuah jubah lebar warna biru, setelah memandang sekejap wajah para jago ujarnya.

“Kalau urusan lancar malam ini juga kita berangkat pulang ke ibukota….!”

Ia berpaling ke arah Liem Toa Lek dan tambahnya.

“Tambah bahan makanan untuk kuda kuda itu, pada kentongan kedua semua pelana harus siap.”

“Hamba turut perintah!” seru Liem Toa Lek sambil menjura.

Sinar mata Kwan Tiong Gak perlahan-lahan dialihkan ke diri Nyoo Su Jan, ujarnya kembali.

“Su Jan, beritahu kepada Too Hauw, Giok Liong sekalian dilarang berpesiar keluar, penjagaan dalam kantor harus diperketat!”

“Hamba tahu!”

Dan kini Kwan Tiong Gak alihkan sinar matanya kepada Phoa Ceng Yan ujarnya sambil tersenyum.

“Saudara, kau tetap hadir di kantor, walaupun situasi yang kita lihat sangat gampang padahal amat kacau dan ruwet, setiap saat Ke Giok Lang bisa mencari gara-gara dengan pihak kita, si jago lihay yang menghadiahkan lukisan pengangon kambing kepadamu-pun kemungkinan besar bisa datang menjenguk dirimu, lebih baik kau tahan tamu terhormat itu agar aku bisa berjumpa dengan dirinya kalau ia bersikeras mau pergi dan tidak ingin menjumpai cayhe harap ia suka tinggalkan nama.”

“Siauwte akan berusaha menahan dirinya.

“Baik….baiklah….”

Ia mengulangi beberapa patah kata ini sampai beberapa kali lalu tambahnya pula.

“Sebelum aku kembali dan Ke Giok Lang mengirim surat perjanjian kalian jangan ambil keputusan sendiri, tunggu sampai aku kembali baru berunding kembali.”

“Siauwte akan ingat sekali” jawab Phoa Ceng Yan mengangguk. Kwan Tiong Gak menghembuskan napas panjang.

“Perduli mereka memancing dengan cara apapun kalian jangan coba meninggalkan kantor perusahaan barang selangkahpun.”

“Toako boleh berlega hati.”

Di tengah pembicaraan perjamuan telah diatur dalam ruangan tersebut.

Kwan Tiong Gak duduk di kursi pertama disusul para jago-jago duduk disekelilingnya.

Pertama-tama Kwan Tiong Gak menghormati dahulu setiap orang dengan secawan arak lalu ujarnya.

“Semoga Thian suka melindungi kita perusahaan Liong Wie Piauw-kiok bisa mempunyai nasib yang baik.”

Liem Toa Lek bangun berdiri, ujarnya.

“Sepeninggal Cong Piauw-tauw dari kota Kay Hong, aku segera bereskan uang kekayaan di sini dan bubarkan perusahaan, terutama sekali saat-saat tahun baru lebih membantu kita untuk mengurangi rasa berat di hati masing-masing.”

Sekali teguk ia habiskan isi cawannya.

“Kalau bicara, duduklah!” ujar Kwan Tiong Gak halus.

Liem Toa Lek menurut dan duduk.

“Setelah kau bubarkan kantor cabang di kota Kay Hong, harap kau suka berangkat ke ibukota.”

“Hamba paham, setelah membubarkan kantor cabang di sini, hamba segera akan berangkat ke kantor pusat.”

Walaupun takaran arak Kwan Tiong Gak sangat besar, tapi untuk mempersiapkan diri dalam menghadiri perjamuan malam nanti dalam istana Tok Say, ia tidak terlalu banyak minum arak.

Perjamuan ini akhirnya ditutup selesai lewat satu jam lamanya.

Sang surya lenyap di balik gunung dan malam haripun kembali menjelang datang, seluruh ruangan bermandikan cahaya lampu.

Kwan Tiong Gak segera bangun berdiri, ujarnya, “Sekarang waktu sudah tiba, kalian teruskan santapan kalian, cuma lebih baik kurangi arak kalian sehingga setiap saat bisa mempertahankan kesegaran pikiran.”

“Toako boleh berlega hati! Siauwte bisa memberi peringatan kepada mereka,” sahut Phoa Ceng Yan ikut berdiri.

Dari dinding Kwan Tiong Gak mengambil topi kulitnya untuk dikenakan lalu melangkah keluar.

Para Jago mengantar Cong Piauw-tauw mereka hingga tiba di luar pintu kantor perusahaan.

Setelah berpamitan dengan anak buahnya, dengan langkah lebar Kwan Tiong Gak berlalu menuju ke kantor Jendral.

Ketika ia tiba kurang lebih setengah li dari istana dengan langkah lebar Jen Pek To datang menyambut.

“Merepotkan Kwan heng harus melakukan perjalanan.”

Buru-buru Kwan Tiong Gak menjura.

“Jen-heng jauh menyambut kedatanganku, aku orang she Kwan tidak berani menerimanya.”

“Saat ini Tok Say masih menjamu beberapa orang pembesar negeri, mari kita duduk sebentar dalam istana samping.”

Belum habis berkata mendadak terdengar suara langkah manusia berkumandang datang, disusul munculnya seorang pengemis berbaju compang-camping tergesa-gesa lewat di sisi mereka berdua.

“Berhenti!” mendadak Kwan Tiong Gak berseru dengan air muka berubah hebat.

Mengiringi bentakan tersebut, badanpun ikut mengejar ke depan, sekali sambar ia mencengkeram punggung sang pengemis itu.

Siapa nyana pengemis tersebut ternyata amat lincah dan waspada, sewaktu serangan hampir di atas punggungnya mendadak ia menjatuhkan diri ke depan, dengan suatu gerakan yang amat tepat ia berhasil meloloskan diri dari datangnya cengkeraman tersebut.

Setelah berhasil meloloskan diri dari datangnya serangan itu, mendadak pengemis tersebut makin mempercepat langkah kakinya.

Ketika secara mendadak melihat Kwan Tiong Gak turun tangan menangkap pengemis itu, pada mulanya Jen Pek To merasa agak tertegun, tapi setelah menemukan apabila pengemis itu berhasil meloloskan diri dari datangnya serangan Kwan Tiong Gak dengan gerakan begitu mudah, hatinya baru bergerak, pikirnya.

“Si pengemis ini ternyata seorang jago yang memiliki kepandaian silat yang lihay, gerakannya untuk loloskan diri dari serangan barusan walaupun kelihatannya seolah-olah dilakukan secara tidak sengaja, jelas inilah suatu jurus yang luar biasa, kalau menemui orang yang sedikit gegabah, pasti penyaruan-nya tak bakal konangan.”

Ketika itulah terdengar Kwan Tiong Gak sedang berkata,

“Saudara, keadaanmu yang sebenarnya sudah konangan, aku rasa tiada berguna kau coba melarikan diri, kalau tidak mau berhenti lagi….Hmmm! Jangan salahkan aku orang she Kwan akan bertindak dengan menggunakan senjata rahasia Kiem Leng Hwie Piauw!”

Setelah mendengar ancaman itu, sang pengemis baru mengiakan dan berhenti berlari, ujarnya sambil berpaling dan tertawa, “Kwan Toaya, senjata rahasia Kiam Ling Piauw mu sangat luar biasa, kalau benar-benar kau keluarkan bukankah sama artinya menginginkan selembar jiwaku??”

“Hmmm! Siapakah kau?”

Sembari mengajukan pertanyaan ia melangkah mendekat dengan gerakan cepat.

Buru-buru pengemis itu mundur dua langkah ke belakang.

“Manusia macam aku si pengemis peminta-minta bukan hanya seorang dua orang saja, di kolong langit ada puluhan ribu bahkan puluhan laksa orang.”

Pada waktu itu Kwan Tiong Gak telah mendekati sang pengemis sehingga mencapai empat  lima depa jauhnya dan segera berhenti.

Sreet….! Mengambil kesempatan itulah Jen Pek To berkelebat dari sisi si pengemis itu kemudian menghadang jalan perginya.

Bersamaan itu pula ia bersuit nyaring.

Mendengar suitan itu sang pengemis tertawa dingin.

“Oooouw……. saudara bermaksud hendak mengundang keluar para anak buahmu yang bersembunyi di sekitar sini untuk membereskan aku si pengemis?”

Pada mulanya Jen Pek To melengak di susul kemudian tertawa hambar.

“Kawan, kiranya kau sudah lama mengawasi dan menyelidiki keadaan istana jendral”

Sahut si pengemis itu dengan suara dingin.

“Cukup kutinjau dengan sekali pandangan saja dapat kuketahui apabila di sekitar tempat ini sudah dipasangi jebakan.”

“Ooooouw….. sungguh tajam pandanganmu kawan!”

“Heee….heee……heee……. terlalu memuji, terlalu memuji!”

Sinar mata Kwan Tiong Gak berkilat, ia pandang wajah si pengemis itu tajam-tajam lalu ujarnya, “Kawan, kau berasal dari perkumpulan Kay Pang?”

“Kwan Cong Piauw-tauw!” seru sang pengemis tertawa hambar. “Kau adalah seorang manusia yang memiliki nama serta kedudukan tersohor, tentu saja tidak kenal aku si pengemis yang berkedudukan paling rendah ini.”

“Kawan, kau suka munculkan diri, aku rasa tentunya ada petunjuk-petunjuk yang akan diberikan kepada aku orang she Kwan, bukan!”

“Aaakh! Tidak kusangka di dalam sepasang mata Kwan Cong Piauw-tauw tidak kemasukan sebutir pasir, petunjuk aku tak berani menerimanya, hanya saja ada sepatah dua patah kata hendak dipersembahkan kepadamu.”

“Cayhe pasti pentang telinga lebar-lebar untuk mendengarnya.”

Pengemis itu mendehem beberapa kali untuk menyaringkan tenggorokannya kemudian ujarnya, “Kwan Cong Piauw-tauw, kau adalah seorang jago yang namanya telah tersohor di kolong langit, orang-orang kangouw baik dari golongan Hek-to maupun dari kalangan Pek-to sama-sama menaruh hormat kepadamu. Kwan Cong Piauw-tauw, selama ini perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok bisa aman tentram tak pernah terjadi urusan pun separuh terghantung dari kelihayan anak buah COng Piauw-tauw yang rata-rata memiliki kepandaian silat tinggi, separuhnya lagi disebabkan kawan-kawan Bu-lim pada memandang hormat watak serta tindak-tandukmu dan banyak mengalah buat perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian, oleh karena itu aku si pengemis berani mengucapkan beberapa kata yang agak kasar. Perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok tak perlu lagi menjadi pengawal rumah orang lain.”

Dengan cermat dan seksama Kwan Tiong Gak mendengarkan perkataan dari pengemis itu hingga selesai, kemudian perlahan-lahan jawabnya.

“Terima kasih atas petunjuk kawan, aku orang she Kwan merasa sangat berterima kasih, tapi perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok kami mempunyai garis pegangan untuk menjadi rakyat yang berkelakuan sopan, kami mempunyai kesusahan kami sendiri.”

“Kawan!” tiba-tiba Jen Pek To menimbrung dari samping. “Secara diam-diam kau mengawasi gerak-gerik istana jendral, kau tentu mempunyai persiapan untuk melakukan sesuatu pekerjaan.”

(Bersambung Jilid 16)

Jilid 16

MENDADAK pengemis itu berpaling dan memandang wajah Jen Pek To tajam. “Saudara yang bernama Jen Pek To?”

“Sedikitpun tidak salah!” Jen Pek To mengangguk setelah tertegun beberapa saat.

Kembali sipengemis itu tertawa hambar.

“Aku si pengemis merasa wegah dan malas untuk banyak bersilat lidah dengan diri mu, selamat tinggal.”

Mendadak ia melayang ketengah udara, sekali loncat badannya mencapai sejauh dua tombak lebih dan berkelebat pergi.

“Kawan, kau hendak pergi kemana?” Bentak Jen Pek To keras.

Sembari berseru iapun enjotkan badan melakukan pengejaran dari arah belakang.

Pengemis itu tertawa, mendadak ia putar badan mengirim sebuah pukulan.

Jen Pek To bura baru salurkan hawa murninya seraya ayunkan tangan menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

“Braaaak…..!” di tengah suara bentrokan keras, sepasang telapak saling beradu satu sama lainnya, meminjam tenaga dorongan yang di pancar keluar dari telapak tangan Jen Pek To itulah secara kilat badannya menerobos ketempat kegelapan dan melenyapkan diri.

Sabaliknya Jen Pek To sendiri dipukul getar oleh tangannya serangan pengemis tadi sehingga badannya mundur dua langkah ke-belakang.

“Jen heng tak perlu kau kejar lagi.” Terdengar scara hiruk pikuk bercampur dengan suara dengusan berat berkumandang datang dari tempat kegelapan, diantara suara tersebut bahkan terdengar pula suara jatuh nya senjata-senjata tajam keatas tanah.

“Suara apakah itu?” tanya Kwan Tiong Gak dengan sepasang alis berkerut.

“Cayhe telsh menyebarkan jebakan-jebakan serta pertahanan di sekitar tempat ini, mungkin mereka sedang turun tangan menghadang perjalanannya…”

“Aaaai….” Kwaa Tiong Gak menghela napas panjang. “Jen heng, aku lihat urusan makin lama semakin merepotkan.”

Jon Pek To termenung berpikir sebentar. “Apakah pengemis itu berasal dari perkumpulan Kay Pang?” tanyanya kemudian.

“Tidak, tidak mirip orang Kay pang.”

“Kalau begitu, mari kita bicarakan soal ini didalam istana saja!”

Kwan Tiong Gak pun tidak banyak bicara lagi, ia segera melangkah masuk kedalam istana Jendral mengikuti dari belakang Jen Pek To.

Jen Pek To membawa Kwan Tiong Gak masuk kedalam sebuah ruangan yang kecil mungil disisi sebuah kebun luas, ia penuhi sendiri cawan tetamunya dengan air teh lalu berkata:

“Kwan heng mari minum secawan air teh terlebih dahulu, siauwte masih ada urusan yang hendak dibicarakan dengan dirimu.”

“Jen heng!” kata Kwan Tiong Gak sambil menerima cawan air teh tersebut. “Kalau urusan itu menyangkut soal urusan istana Jendral kalian, siauwte tidak ingin campur setelah makan malam nanti siauwte segera akan membawa orang berangkat ke Utara.”

Mendengar ucapan itu Jen Pek To menghela napas panjang.

“Kwan heng siauwte sangat jarang berhubungan dengan orang orang dunia persilatan, kali ini karena terdesak oleh keadaan….”

Kwan Tiong Gak segera ulapkan tangannya memotong ucapan Jen Pek To yang belum selesai, ujarnya:

“Kau punya Tok Say sebagai tulang punggung, jikalau bukan keadaan yang terlalu memaksa aku rasa orang Bu Lim tak akan berani mengganggu dan cari gara gara dengaumu.”

Jen Pek To kembali termenung beberapa saat lamanya.

“Aaaai….bicara pulang pergi juga dikarenakan peta lukisan pengangon kambing itu.”

“Apa yang kuucapkan barusan hanyalah menurut pandangan siauwte pribadi, tiada halangan Jen-heng pertimbangkan lagi.”

Sekali lagi Jen Pek To menghela napas lanjang.

“Sianw te setuju usul Kwan heng dan akan kuterangkan kepada Tok say agar beliau suka menyerahkan peta pengangon kambing itu, tapi kami sangat berharap Kwan heng bisa berdiam dua hari lagi dikota Kay Hong hingga urusan ini dibuat beres.”

Seketika Kwan Tieng Gak kerutkan dahinya.

“Sudah dua tiga kali aku terangkan kepada Jen heng bahwasanya aku tidak ingin mencampuri urusan ini, bahkan setelah menghadiri perjamuan yang diselenggarakan Tok-say malam ini siauwte segera akan berangkat balik ke Utara.”

“Kwan heng.” kata Jen Pek To kemudian setelah termenung sebentar, “Siauw tak ingin di karenakan selembar peta pengangon kambing mengakibatkan seluruh istana Jenderal jadi kacau balau. Tapi akupun sangat jarang berkelana di dalam dunia persilatan, maksud nya siauwte ingin meminjam nama baik Kwan heng didalam dunia persilatan untuk mengundang seluruh jago yang ada disekitar kota Kay Hong kemudian dihadapan mereka akan kubakar peta pengangon kambing tersebut agar di kemudian nari mereka tak usah mengacau istana Jendral lagi.”

“Jadi kau ingin memusnahkan peta pengangon kambing itu?” tanya Kwan Tiong Gak sambil mendehem.

“Lukisan rahasia itu sudah menimbulkan badai besar didalam dunia persilatan, kalau dibiarkan tetap ada di kolong langit aku takut hal tersebut bakal menimbulkan suatu drama berdarah yang lebih mengerikan lagi.”

“Apakah Tok Say bisa menyetujui usulmu itu?” tanya Kwan Tiong Gak setelah termenung sebentar.

“Soal ini biarlah siauwte yang pergi membicarakannya, asalkan Tok-say tak setuju Siauwtepun tak akan menahan diri Kwan-Heng lagi, semisalnya Tok say setuju, aku sangat mengharap Kwan heng suka memenuhi harapan kami ini, karena berbuat demikian bukan saja telah membantu siauwte bahkan telah melakukan saatu perbuatan baik juga bagi dunia persilatan.”

Kembali Kwan Tiong Gak termenung. berpikir beberapa saat lamanya, akhirnya ia mengangguk.

“Baiklah! Jikaiau Jen-heng bisa mendapatkan persetujuan dari Tok say, siauwte tentu akan berdiam dua hari lagi disini.”

“Perkataan Kwan heng berat bagaikan batu karang, setelah kau mengucapkan kata-kata tersebut siauwte pun bisa berlega hati.”

“Semoga saja perkataan Jen heng bisa menimbulkan hasil dan melenyapkan pertikaian Bu lim.”

Di tengah pembicaraan tersebut mendadak muncul seorang lelaki berbaju hitam berjalan mendekati dengan langkah lebar, ia langsung mendekati Jen Pek To dan segera menjura.

“Tok say mengundang Jen ya menghadap diruang indah di beranda tengah….”

“E h m . … “

” Ehmm.. sudah tahu.” ia merandek dan bangun berdiri, lalu terusnya.

“Kwan heng. silahkan!”

Demikianlah mereka berdua dengan jalan beriringan menuju keberanda tengah.

Saat ini udara malam sangat bersih, berlaksa bintang memancarkan sinar yang redup, angin dingin berhembus membawa bau bunga yang harum menambahkan samerbak nya suasana.

Di tengah tumbuhan beraneka warna bunga berdirilah sebuah bangunan loteng yang indah dan megah, lampu lentera dipasang di empat penjura menerangi sekitar sana membuat seluruh loteng terang benderang bagti siang hari saja.

Lampu lilin menerangi pula seluruh ruangan loteng, secara lapat lapas dapat tampak segala benda yang berada dibalik jendela.

Ketika Jen Pek To tiba diatas anak tangga berbatu, pintu pagoda mendadak terpentang. Segulung hawa hangat berhembus keluar dari ruangan.

Jen Pek To berpaling, kepada Kwan Tiong Gak ujarnya seraya menjura.

“Kwan heng, silahkan masuk kedalam pagoda hangat.”

Tidak sungkan sungkan lagi Kwan Tiong Gak melangkah masuk kedalam pagoda dengan langkah lebar.

Ketika ia alihkan sinar matanya ketengah ruangan tampaknya Sang Tok-say dengan memakai jubah berwarna hijau duduk disebuah kursi kebesaran warna merah darah di tangannya nenyekal sebuah hun cwee bertangkai perak, dibelakangnya berdirilah seorang bocah tampan berusia lima enam belas tahunan.

Buru buru Kwan Tiong Gak melangkah maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut.

“Rakyat jelata Kwan Tiong Gak menemui Tok say cayjien!”

“Tak usah banyak adat” Siorang berjubah hijau itu ulapkan tangan, “tempat ini adalah ruangan khusus yang aku orang gunakan untuk berbicara dengan pakaian preman silahkan duduk”

“Terima kasih atas kemurahan hati Thay jien!” sahut Kwan Tong Gak kemudian sambil bangkit berdiri dan duduk disamping.

Tok say segera angkat tangan kirinya, sang bocah yang berada dibelakangnya menerima Hun cwee tersebut dan diletakkaa di atas sebuah rak kayu.

Kemudian setelah mengulet sang pembesar berjubah hijau itu berkata.

“Selama dua hari ini Pek To selain mengungkap soal dirimu dan memuji kepandaian silatmu luar biasa jadi orang bijaksana dan mulia. Oleh karena itu sengaja Pun say (membasmi diri sendiri buat seorang pembesar mengundang kau kemari untuk makan malam tahun baru disamping bercakap cakap.”

“Rakyat Bu lim yang pandai dua tiga gerakan kembangan sebagai alat mencari hidup, mana berani menerima pujian setinggi langit dari Thay jien!”

Ketika itu Jan Pek To pun sudah masuk kedalam pagoda hangat, pengawal segera merapatkan pintu pagoda membuat ruangan tersebut terasa semakin hangat lagi.

Dengan meminjam Cahaya yang menerangi seluruh ruangan, Kwan Tiong Gak dapat melihat wajah sang Tok say dengan sangat jelas, ia temukan orang ini mempunyai rsut muka empat persegi dengan jenggot panjang terurai kebawah, walaupun wajahnya di hiasi dengan senyuman tetapi secara lapat-lapat memancarkan satu wibawa yang menggidikkan.

Jen Pek To langsung berjalan mendekati meja dan menjura penuh rasa hormat “Menemui Tok Siy Thayjin!”

Pembesar berjubah hijau itu tersenyum “Pek To, kau duduklah, malam ini kita berbicara sembari bersantap sama sekali tidak mempersoalkan urusan dinas, kau pun tak usah mamandang diri sebagai seorang Tok Say……!”

Ia berpaling kearah bocah yang ada di-belakangnya lalu sambungnya lebih lanjut:

“Sampaikan perintah untuk sediakan arak dsn sayur tak perlu banyak tapi harus ysng mewah dan lezat, arakpun harus arak wangi yang sengaja didatangkan dari Keresidenan Ci Kiang.”

Bocah itu mangiakan dan segera mengundurkan diri.

Diempat buah sudut ruangan terletaklah empat buah tungku dengan api yang membara, disanping tungku tertumpang sebuah poci yang amat besar api berkobar sangat membara, air dalam poci mendidih bergulung gulung mendatangkan rasa hangat diseluruh ruangan.

Setelah mengambil duduk, Jen Pek To lantas berkata:

“Kwan-heng watak Tok Say sangar tegas. Ia membedakan soal pribadi dan dinas, dengan nyata, malam ini adalah perjamuan pribadi dari Tok Say dari Kwan-heng tak usah terikat oleh tata kesopanan lagi “

“Benar!” sambung pembesar berjubah hijau itu, “Malam ini adalah perjamuan pribadi diantara kita, harap Kwan Cong Piauw tauw bisa bersikap lebih bebas sehingga menambah kemesraan diantara kita.”

Setelah tertawa terbahak bahak, sambungnya:

” Walau aku seorang pembesar negeri, yang memerintah empat keresidenan, tapi aku amat senang berkenalan dengan kawan, kebanyakan orang mereka menaruh rasa jeri dan hormat kepadaku, tidak berani bicara secara bebas dan blak blakan, sebaliknya Kwan Cong Piauw tauw adalah seorang Bu lim Hoo-han, aku harap kau jangan terlalu terikat segala peraturan den adat istiadat!”

“Tok say terlalu merendah,” seru Kwan Tiong Gak sambil berdiri.

Mendadak ia putar badan, pergelangan kanan diayun dan serentetan cahaya keemas emasan berkelebat keluar.

Perubahan yang terjadi secara tiba tiba ini membuat Jen Pek To jadi tertegun

“Kwan heng, apakah ada orang?” tanya nya agak keheranan.

Sebelum Kwan Tiong Gak memberi jawaban, mendadak terdengar suara genta berkumandang datang.

Agaknya Tok say thay jien masih bisa mempertahankan ketenangan, air mukanya sama sekali tidak menunjukkan perasaan kaget.

bahkan sewaktu mendengar suara bunyi bel tersebut ia malah tersenyum.

“Oooouw…..dari mana datangnya suara bel itu?”

“Lapor Tok say, suara bel itu berasal dari senjata rahasia bel emas hamba.”

“Jikalau diatas senjata rahasiamu kau pasang bel emas, kenapa sewaktu dilepaskan tadi sama sekali tidak terdengar sedikit suara pun.”

“Kwan heng,” timbrung Cen Pek To pula dari samping. “Tentang soal ini bukan saja Tok say tidak paham sekalipun siauwte sendiripun tidak mengerti, apakah disebabkan caramu melepaskan senjata rahasia terlalu cepat maka pertama kelihatan dulu cahaya piauw kemudian baru mendengar suaranya.”

Kwan Tiong Gak tidak langsung menjawab pertanyaan dari kedua orang itu, setelah pasang telinga mendengarkan sebentar katanya:

“Aaakh…….ia berhasil melarikan diri.”

Tok say thay jien saling berpandangan sekejap dengan Jen Pek To, lalu hampir berbareng tanyanya:

“Apa yang melarikan diri?”

“Pembunuh gelap!”

“Pembunuh gelap,” seru Tok say thay-jien tertegun. “Penjagaan sekitar istana sangat ketat sangat rapat, secara bagaimana pembunuh gelap itu bisa menyelundup masuk,”

“Senjata rahasia kim leng piauw dari Sisuw beng adalah sebuah senjata rahasia yang sangat istimewa, setelah senjata rahasia tersebut dilepaskan dengan andalkan suara bel bisa diambil kesimpulan senjata tersebut berhasil mengenai sasarannya atau tidak”

“Akh. . , . .ternyata ada urusan seperti ini, menurut anggapanmu sambitan senjata rahasiamu tadi berhasil mengenai sasaran atau tidak.”

“Sekalipun berhasil mengenai sasaran, tapi luka yang diderita bukan suatu luka yang terlalu parah, ia telah melarikan diri dengan membawa luka …,!”

Tok-Say Thayjin mengelus jenggotnya dan tertawa tergelak.

“Beberapa patah perkataanmu itu apakah bisa dibuktikan T”

“Setiap sasaran yang terhajar oleh Piaw emas Siauw heng pasti akan mengucurkan darah, karena itu tentu akan ditemui noda darah disekelilingi tempat dimana ia terkena sambitan tadi.”

“Bisakah pun say meninjau kesana?”

“Diluar ruangan angin dingin berhembus bagaikan sayatan pisau, lebih baik Tok Say jangan pergi sendiri biarlah siauw beng serta jen-heng pergi meninjaunya kemudian baru jen heng yang memberi laporan.”

“tidak lebih baik aku pergi sendiri untuk menambah pengetahuan.” kata Tok Say tay jien sambil bangun berdiri.

Tidak menanti jawaban lagi ia segera melangkah keluar.

Jen Pek To segera melepaskan sebuah jubah luar terbuat dari bulu binatang dikena kan diatas pundak Tok Say.

Dua orang lelaki berbaju hitam yang berjaga dibelakang pintupun masing membawa sebuah lentera berjalan dipaling depan.

Mengandalkan ingatan sewaktu senjata rahasia bel emasnya berbunyi Kwan Tiong Gak membawa beberapa orang itu menuju ke bawah sebuah pohon besar.

Pada waktu itu dedaunan sudah pada rontok dan tinggi ranting ranting gundul yang kering dan layu.

Pengawal berbaju hitam segera mengangkat lentera keatas Tok Say Thay jien mendongak dan memperhatikan sekejap pohon yang gundul itu lalu ujarnya ;

“Sedikitpun tidak Salah, diataS ranting pohon banyak terdapat noda salju, hal ini membuktikan kalau diatas pohon pernah di gunakan orang sebagai tempat persembunyian bahkan arahpun tepat searah dengan pagoda hangat.”

“Harap Tok say memeriksa , “

“!Tapi bukti ini belum bisa membuktikan kalau ia benar benar terkena sambitsn senjata rahasia Kiem Leng Piauw mu,” kata Tok say kemudian sambil berpaling dan tertawa

“Silahkan Tak say memeriksa permukaan tanah.”

Dua orang lelaki berbaju hitam yang membawa lentera itu sessra menurunkan lenteranya kebawah.

Ketika semua Orarg mengalihkan sinar matanya maka terlihatlah diatas permukaan salju yang putih bersih ternoda oleh beberapa titik hitam.

Tak say menunjuk dan memeriksa titik-titik hitam ini beberapa saat lamanya, kemudian ia mengangguk.

“Sedikitpun tidak salah, titik hitam ini adalah noda daish, hanya saja telah membeku”

Ia mendongak berpaling sekejap, terusnya:

“Disekeliiing istanaku Ini dibangun tembok-tembok yang tinggi serta penjagaan yang ketat, kenapa mereka bisa pergi datang seenak nya tanpa diketahui penjaga penjagaku, cukup andalkan kepandaian silat ini sudah amat luar biasa„”

“Berjalan diatas atap melewati tembok pekarangan hanya merupakan suatu kepandaian kecil, tak bisa dipuji sebagai suatu kepandaiaa yang maha dahsyat.”

Malam senakin kelam dan hawa semakin dingin, “ada perkataan mari kita bicarakan didalam pagoda saja ” timbrung Jen Pek To secara tiba tiba.

Mendengar nasehat itu Tok Say tersenyum.

“Pek To, kau tak usah merasa kuatir buat diriku, selama beberapa tahun ini badanku masih kuat dan sehat, hanya sedikit hawa dingin sih aku masih sanggup menahannya.”

Sinar mata kembali dialihkan kearah wajah Kwan Tiong Gak, sambungnya lebih jauh,.

“Pek To sering membicarakan sampat di manakah kehebatan ilmu silatmu, teras terang, saja kukatakan bahwa dalam hati aku masih tidak percaya, barusan kau telati pamerkan serangkaian kepandaian yang sangat luar biasa, kini aku ingin bertanya beber&pa persoalan kepadamu, entah boleh tidak?”

Buru-buru Kwan Tiong Gak menjura: “Silahkan Tok Say ajakan pertanyaan asal Siauw heng tahu tentu akan kujawab.”

“Coba katakan menurut pendapatmu selelah orang ini terkena senjata rahasia Kiem Ling Piauw mu. Ia melarikan diri kearah sebelah mana?”

Kwan Tiong Gak memperhatikan sekejap keempat penjuru, kemudian jawabnya:

“Ssharusnya ia lari menuju ke arah Timur hanya saja luka yang ia derita tidak terlalu parah mungkin saat ini sudah jauh melarikan diri, untuk dikejarpun percuma.”

“Bukan…….. aku sana sekali tidak tiada berminat untuk mengejar dirinya,” bura buru Tok say menerangkan.

Setelah merandek sejenak, serunya: “Ayoh jalan kita minum arak di dalam pagoda hangat.”

Tidak menanti jawaban ia segera berjalan lebih dahulu kembali kedalam ruangan.

Kwan Tiong Gak mengikuti dari belakangnya, sambil berjalan otaknya, berputar kencang, pikirnya ;

“Jen Pek To memiliki Serangkaian ilmu silat yang lihay tapi ia rela mengikuti kaum pembesar, saat ini aku masih merasa bahwa Tok say thayjien ini benar benar lain dan pada yang lain.”

Selagi ia masih berpikir, mereka telah tiba kembali didalam ruangan pagoda hangat.

Dua orang lelaki berbaju hitam itu meletakkan kembali lenteranya ketempat semula dan menutup pintu.

Waktu itu perjamuan telah dipersiapkan dalam ruangan, delapan macam sayur lezat serta satu guci araK wangi.

Tok say segera merebut poci arak dan memenuhi cawan Kwan Tiong Gak serta Jen Pek To, lalu sambil tertawa ujarnya:

“Aku adalah tuan rumah, mari aku hormati kalian dengan secawan arak.”

Kwan Tiong Gak serta Jen Pek To masing masing menghabiskan secawan arak.

Setelah meletakkan secawan araknya ke atas meja, sambil tertawa Tok lay berkata:

“Kwan Cong Piauw tauw, dengan Pek to bercerita kalian orang orang kangonw mempunyai satu peraturan Bu lim yang tak tercantum mengatakan bahwa orang Bu lim tidak diperkenankan mengadakan hubungan dengan kaum pembesar negeri, apakah betul ada kejadian semacam ini?”

“Aaaai……..! sedikitpan tidak salah, peraturan tersebut kebanyakan merupakan pesan wanti wanti dari para cianpwee terdahulu dari perguruan serta partai dalam Bu lim dan lama sekali tiada peraturan yang tercantum diatas kertas, oleh karena itu secara resminya peraturan ini tidak terlalu mengikat……..”

“Ehhhmm……..! apakah dibalik hal tersebut masih tersembunyi sebab tertentu?”

“Mungkin…, oleh karena itu aku harus mengumpulkan tenaga yang ada untuk sedia payung sebelum hurian…..”

Ia meluruskan tangannya, setelah merandek sebentar terusnya:

“Walaupun aku punya maksud berbuat demikian tapi sku mengerti kekuatanku tak bisa memenuhi harapan tersebut, karena untuk berjaga jaga membutuhkan banyak bantuan dari kaum patriot serta pendekar sejati, oleh sebab itu sering sekali aku membicarakan soal Bu Lim dengan diri Pek To dan berharap para patriot serta pendekar sejati Bu Lim suka melenyapkan peraturan yang menjauhksn hubungan antara pemerintahan dengan kaum orang gagah serta suka membantu cita citaku ini.”

Mendengar uraian tersebut, sepasang mata Kwan Tiong Gak berkilat.

“Sie Tok Say ada maksud melindungi negara dan rakyat, hamba merasa sangat kagum.”

Berbicara sampai disitu mendadak ia membungkam.

Sie Si Cong tertawa hambar, ujarnya kembali:

“Semisalnya saja seorang jago berkepandaian tinggi macam Kwan Cong Piauw-tauw,asalkan kau suka membantu diriku untuk melenyapkan kelaliman, dan mempertahankan kejujuran dalam pemerintahan maupun rakyat, maka dunia tentu akan aman.”

Buru buru Kwan Tiong Gak bangun berdiri menjura.

“Dapat memperoleh perhatian dari Tok Say Thayjien, aku orang she Kwan merasa sangat berterima kasih, hanya aaja aku orang she Kwan mempunyai kesusahanku sendiri yang tak bisa diceritakan sehingga sulit bagi ku untuk membantu Tok Say mencapai cita-cita tersebut”

“Manusia punya pendapat sendiri. Pun Say akan memaksa Kwan heng untuk menerima usulku ini. Mari kita minum secawan lagi.” Sie Tok Say sambil angkat cawannya, Dengan kedudukannya sebagai seorang pembesar tinggi yang memerintah empat keresidenan, ternyata ia sudi memanggil seorang Piauw tauw dengan sebutan saudara, seketika membuat Kwan Tiong Gak jadi terkejut.

Setelah termangu mangu beberapa saat serunya.

“Tok say terlalu menyanjung diriku, Siauw beng tiada berkepandaian apa apa, tidak berani membasmi saudara dengan diri Tok say.”

Melihat keadaan tersebut Sie Si Cong tertawa.

“Tadi sudah kukatakan bahwa perjamuan malam ini adalah pembicaraan pribadi tak terlalu mengindahkan soal sebutan maupun kedudukan”

“Tok say begitu menaruh perhatian, siauw beng akan turut perintah.” Sekali teguk ia menghabiskan isi cawannya.

Ucapan Sie Si Cong ternyata dipegang teguh, setelah berjanji tidak akan membicarakan lagi tentang permintaannya agar Kwan Tiong Gak berbakti pada pemerintah, ia benar benar tidak mengungkapnya kembali.

Ditengah pembicaraan sembari minum arak tanpa terasa satu poci araK wangi sudah dibikin ludes.

Walaupun Sie Tok say belum sampai di bikin mabok, tapi saat ini ia telah membawa beberapa bagian mabok, kepada sang kacung buru buru serunya.

“Cepat pergi dan ambilkan arak pemberian Kaisar “Giok Ih Pek Hoa Siang” malam ini sebelum mabuk kita jangan berhenti “

Mendengar disebutkannya arak tersebut Kwan Tiong Gak terperanjat.

“Thayjian harap tunggu sebentar, dengarkan dulu sepatah kata siauw Beng, arak sudah cakup buat kami”

“Haaaa . . . . haa Kwan heng, kau sama sekali belum terpengaruh oleh air kata kata mana boleh berhenti ditengah jalan.”

“Terhadap soal arak Siauw heng hanya mengerti sedikit saja apalagi arak yang barusan kita minum adalah arak yang berusia seratus tahun keatas, kalau kita melanjutkan minum arak bukan saja Tok say segera akan mabok bahkan siauwheng serta Jen heng pun tak akan tahan dan segera akan roboh. Apa lagi pemberian kaisar mana boleh digunakan untuk menjamu rakyat kecil macam kami.”

Sie Si Cong tertawa.

“Budi Kaisar berlimpah limpah, kalian berdua harus minum secawan seorang agar bisa pula memiliki hati untuk menjaga negeri dan rakyat. Ambil Arak.”

Kwan Tiong Gak serta Jen Pek To hanya bisa saling berpandangan sekejap lalu membungkam diri.

Sekali lagi kacung buku itu menjura kemudian mengundurkan diri dari dalam ruangan.

Beberapa saat kemudian ia muncul kembali dengan membawa seorang pembesar dengan berpakaian dinas.

Pembesar negeri ini menggotong sebuah nampan terbuat dari batu kumala putih, di atas nampan tersusun selapis kain berwarna Kuning, dan diatas kain kuning itu terdapat sebuah guci berwarna putih.

Sie Si Cong segera bangun berdiri, katanya-

“Walaupun kita sedang melakukan perjamuan pribadi, tapi memberi hormat kepada Yang mulia tak boleh dilupakan.”

Ia segera bangun berdiri dan menjura kearah guci arak tersebut.

Karena melihat Tok-say thayjien telah memberi hormat, terpaksa Kwan Tiong Gak Serta Jen Pek To pun ikut memberi hormat.

Walaupun ditengah malam buta, pembesar itu memakai pakaian dinas lengkap dengan topi kebesaran, sepasang tangannya yang membawa nampan diangkat tinggi tinggi keatas.

Menanti ketiga orang itu sudah selesai memberi hormat, ia meletakkan nampan kumala tadi keatas meja dan mengundurkan diri dari dalam ruangan tersebut.

Lambat-lambat Sie Si Cong berjalan mendekati meja, membuka kain penutup guci, melepaskan tanda segel dan membuka penutupnya segulung bau harum segera tersiar menusuk hidung.

Walaupun Kwan Tiong Gak bukan seorang jago minum arak, tapi setelah tercium bau harum yang sangat menusuk hidung itu tak terasa lagi ia berseru memuji.

“Ooouw…… arak bagus! Arak bagus!”

Mendengar pujian itu Sie Si Cong tersenyum.

“Menurut berita yang kudengar arak ini sudah disimpan selama tiga ratus tahun lama nya didalam gudang timbunan alang-alang di kota Mo Thay, akhirnya atas perintah Jendral penguasa daerah tersebut arak ini di kirim ke ibu kota dan dipersembahkan kepada yang mulia sebanyak tiga guci, salahkan kalian berdua ikut mencicipi bagaimanakah rasanya arak ini.

“Tidak usah kami cicipi, cukup mencium bau harum yang tersiar keluar dari guci pun sudah cukup membuktikan apabila arak ini adalah arak bagus yang kenamaan,” kata Kwan Tiong Gak.

Si kacung bocah tadi dengan langkah lebar segera berjalan mendekat, memenuhi sebuah poci arak dan menyegel kembali guci tersebut.

Ketiga orang itu duduk kembali ketempatnya semula dan mulai merasakan nikmatnya araK wangi ini.

Bau arak yang harum merangsang gairah orang untuk mencicipinya, tanpa terasa mereka bertiga sudah meneguk air kata kata melebihi takaran masing-masing.

Selama Kwan Tiong Gak melakukan perjalanan baik menuju keselatan maupun berada di Utara dan Seantero dunia boleh dikata Ia sudah mencicipi beraneka ragam arak wangi, tapi menjumpai arak sewangi ini boleh dikata baru untuk pertama kalinya.

Setelah meneguk beberapa cawan, Sambil menghela napas ujarnya:

“Sebelum menjumpai Tok say thayjien cayhe sana sekali tidak menyangka apabila Tok say sebenarnya adalah seorang pembesar yang begitu memperhatikan negara dan rakyat.”

“Kwan-heng terlalu memuji…..”

Setelah menghela napas panjang, sambungnya Si Sie Cong lebih lanjut,

“Semoga saja Kwan heng suka membantu diriku agar aku bisa mententramkan hati rakyat empat keresidenan, mendapat berkah dari Kaisar dan memenuhi cita cita leluhurku.”

Kwan Tiong Gak termenung berpikir sebentar, kemudian ujarnya:

“Baru pertamakah Tok-say thayjien menJumpai aku orang she Kwan, ternyata perhatianmu terhadap diri siauw heng sudah begitu tebal, hal ini membuat aku orang she Kwan merasa sangat berterima kasih sekali tapi siauw heng sudah banyak tahun makan nasi dari kalangan kangouw, sebenarnya rada susah bagiku untuk berbakti dengan seorang pembesar negeri. Kendati begitu semisalnya dari Tok-say pribadi ada urusan atau perintah, perduli menerjang lautan api atau naik kegunung golok, aku orang she Kwan pasti tak akan menampik.”

Sie Si Cong mendongak tertawa terbahak bahak sehabis mendengar ucapan tersebut ta tanya:

“Setelah ada janjimu semacam ini maka setiap kali aku melepaskan kedudukanku sebagai pembesar kita boleh dihitung sebagai sahabat karib.”

Mendadak Kwan Tiong Gak bangun berdiri, cawan arak yang berada di tangan kanan nya dengan berisi arak penuh secara tiba tiba di sambit keluar jendela.

“Siapa!?” bentaknya keras.

Bersamaan dengan sambitan cawan arak itu, dari luar jendela terdengar suara tawa tergelak dari seorang.

“Haa haa liaaa terima kasih atas hadiah arak dari Kwan Cong piauw tauw. Ooouw…… sungguh arak bagus! Sungguh arak bagus….! “

Di tengah suara bentrokan keras, kedua belah pintu kayu dari pagoda hangat itu tahu tahu terpentang lebar oleh tenaga pukulan ssseorang.

Dengan cepat Jen Pek To meloncat bangun dan berdiri di hadapan Sie Si Cong dengan maksud melindungi keselamatan majikannya, sepasang telapak disilangkan didepakkan kepintu, tampaklah seorang pengemis di-dada melakukan persiapan.

Sebaliknya buat Sie Si Cong sendiri ternyata masih bisa bersabar, dengan suara rendah ujarnya:

“Jen Pek To, menyingkirlah sedikit keselamatanku, kalian orang-orang Bu lim hanya ingin membunuh kaum pembesar yang lalim, soal ini aku tak merasa takut karena aku percaya belum pernah menyeleweng dari tugas, apa lagi ada Kwan Tiong Gak tahu-tahu ada disini. Rasanya ia tidak akan berhasil melukai diriku.”

“Ucapan Thayjien sadikitpun tak salah.” Jen Pek To mengangguk.

Perlahan lahan ia mengundurkan diri ke samping, walaupun kelihatannya tidak bersiap sedia, padahal secara diam-diam ia terus mengawasi keadaan di sekeliling tempat itu.

Menanti sinar mata semua orang dialihkan kepintu,tampaklah seorang pengemis cilik yang berpakaian dekil, dengan rambut awut awutan serta wajah penuh berminyak telah munculkan diri disana.

Terdengar Kwan Tiong Gak tertawa dingin tiada hentinya.

“Heeeheehee….kiranya Thian Liong atau si Naga Langit Pouw Cing dari Kay Pang, tidak aneh kalau ilmu meringankan tubuh yang kau miliki amat sempurna.”

“Kwan Cong Piauw tauw terlalu memuji.”

Dengan tangan sabelah mencekal cawan arak, sambungnya lebih lanjut:

” Cawan arak ini kukembalikan kepada si pemiliknya tanpa menderia cidera apapun, hanya saja arak yang ada didalam cawan telah aku, si pengemis cilik minum sedikit”

Tangan kanannya diangkat, secepat kilat cawan arak itu melayang kembali kearah Kwan Tiong Gak.

Sang Cong Piauw tauw dari perusahaan Ekspedisi Hauw Wie Piauw kiok dengan sebat ayunkan tangan kanannya kemudiam lambat lambat diletakkan kembali keatas meja ujarnya kembali”

“Menurut apa yang cayhe ketahui, orang orang dari pihak Kay-pang sangat jarang ada yang suka menyelundup masuk kedalam rumah tinggal lain. aku rasa kedatangan saudara ditengah malam buta kali ini tentu mempunyai alasan alasan tertentu.”

“Kwan Cong Piauw tauw,” seru sinaga langit Pouw Cing sambil tertawa hambar.

“Agaknya kau sangat hapal terhatap peraturan dari perkumpulan Kay Panga kami”

“Pangcu dari perkumpulan kalian mempunyai jodoh beberapa kali berjumpa dengan aku orang she Kwan, walaupun diantara masing-masing pihak tidak bisa dikatakan mampunyai hubungan persahabatan erat, tapi kami bisa saling mencocoki satu sama lain.”

“Sungguh sayang, kali ini Pangcu kami tidka berada dikota Kay Pang”

“Aku orang she Kwan hanya menerangkan hubunganku dengan Pangcu kalian dan sama sekali tidak ada maksud meminjam kekuatan Pangcu kalian untuk menekan diri saudara,” tukas Kwan Tiong Gak cepat.

“Kalau Kwan Cong Piauw tauw tidak mempunyai niat demikian, hal itu semakin bagus lagi. dengan demikian aku si pengemis cilik pun bisa berbicara secara bebas.”

“Jikalau kedatanganmu adalah bermaksud ada urusan dengan aku, orang she Kwan maka aku berharap kita bisa bicarakan persoalan ini diluaran saja, tempat ini adalah rumah pribadi Tok say Thayjien, kita tak boleh menggunakannya sebagai tempat pembicaraan.”

“Walaupun urusan ini ada hubungannya dengan kau Kwan Cong Piauw tauw, tujuan ku yang terutama sudah bukan kau lagi melainkan si Tok say Thayjien ini.”

“Cuang su! seru Sie Si Cong kemudian, “Apabila pendekar bermaksud mencari diri Pun say, bagaimana kalau kita bicarakan soal ini sambil duduk.”

Bicara sampai disitu ia lantas berpaling Kearah sang kacung yang berdiri disisinya.

“Coba sediakan seperangkat sumpit serta Seawan buat pendekar ini.”

Pouw Ceng termenung sebentar, kemudian ujarnya:

“Sewaktu aku si pengemis cilik menemukan Kwan Cong Piauw-tauw pun berada disini, aku tahu kedatanganku malam ini hanya sia sia belaka dan seharusnya aku segera angkat kaki, tapi bau arak dari Thayjien terlalu merangsang gairahku untuk tetap tinggal disini. inilah akibat buruk yang langsung kuterima dari si pengemis tua, sewaktu aku si pengemis cilik sering berkelana dengan dirinya…….gemar minum arak tak bisa dihindari lagi.”

“Pemberian Kaisar tentu ssja bukan benda yang sembarangan,” Sela Sie Si Cong dari samping “Dalam guci masih terdapat banyak arak, kalau Cuang su memang suka minum, kenapa tidak secara terbuka mencicipinya?? ada urusan kita bicarakan setelah minum arak.”

Pada mulanya sinaga langit Pouw Cing agak tertegun, akhirnya ia menghela napas panjang.

“Aaaai……,kiranya kau adalah seorang pembesar bijaksana.”

“Kalau kau sudah paham, hal ini jauh lebih bagus lagi,” sambung Kwan Tiong Gak dingin.

Si naga langit Pouw Cing berpaling memandang sekejap kearah orang she Kwan itu lalu tertawa.

“Kwan Cong piauw tauw, agaknya kau menaruh rasa tidak senang terhadap aku si pengemis cilik?”

“Aku Orang she Kwan hanya merasa heran orang orang Kay Pang pada umumnya mengutamakan kejujuran, kebijaksanaan serta memegang teguh tata kesopanan, tidak di sangka kau berani menyelundup masuk kedalam rumah kediaman seseorang, apa maksudmu aku harap kau suka memberi jawaban.”

” Kelihatannya kalau aku si pengemis cilik tidak menerangkan maksud kedatanganku maka malam ini Kwan Cong Piauw tauw tak akan membiarkan aku si pengemis cilik meninggalkan tempat dalam keadaan selamat.”

“Asal kau memberi alasan yang tepat dan tidak terlalu dibuat buat,tentu saja aku tak akan menyusahkan dirimu, tapi kalau kau tidak berhasil memberikan alasan yang tepat, maka aku berharap kau suka meninggalkan ,semacam barang, dikemudian hari aku akan minta pertanggungan jawaban dari Pangcu kalian.”

“Aaaa.,.. haaa…- aku lihat agaknya Kwan Cong Tiauw telah menjadi pengawal pribadi dari Tok Say Thayjien ini.”

Air muka Kwan Tiong Gak kontan berubah hebat, ujarnya dengan nada dingin dan serius:

“Aku orang she Kwan paling tidak suka berbicara dan bergurau dengan orang lain, Aku harap kau sipengemis cilik bisa bicara sedikit tahu keadaan.”

Pada dasarnya ia memiliki wajah yang menyeramkan, ditambah lagi saat membawa beberapa bagian hawa gusar, wajahnya makin angker dan menggidikkan hati.

“Baik…. baiklah.” seru Pouw Cing kemudian setelah mendehem beberapa kali. “Biarlah aku si pengemis cilik terangkan keadaan sebenarnya……”

Ia merandek sejenak, lalu sambungnya

“Diantara barang kawalan perusahaan saudara kali ini ada terdapat sebuah lukisan pengangon kambing.”

“Sedikitpun tidak salah, memang ada sebuah lukisan pengangon kambing.” tukas Kwan Tiong Gak cepat. “Tidak kusangka pihak Kay Pang ternyata punya maksud untuk memilikinya.”

“Kwan Cong Piauw tauw! aku mengharap diantara perkataanmu janganlah membawa kata kata menyakiti pangcu kami, aku si pengemis cilik bisa sabar terhadap sindiran serta ejekan kau Kwan Cong Piauw tauw, kalau kau berani menghina seluruh perkumpulan Kay Pang kami atau Pangcu kami. sampai waktu itu kau jangan menyalahkan aku si pengemis cilik akan berlaku kurang sopan dan membuat dosa terhadap kau Kwan Tiong Piauw tauw.”

“Heee….. heee…. teruskan!” seru Kwan Tiong Gak tertawa dingin.

“Perbuatanku menyelundup masuk, ke dalam rumah kediaman Tok say thayjien malam ini adalah muncul dari niat aku sipengemis cilik sendiri, sama sekali tiada hubungannya dengan pangcu kami serta seluruh perkumpalan Kay Pang. Hanya saja kaupun harus tahu, kedatangan aku sipengemis cilik malam malam kemeri sama sekali bukan bertujuan untuk mencari atau mendapatkan peta pengangon kambing itu.”

“Kalau begitu coba kau terangkan apa maksud kedatanganmu malam-malam begini?”

“Ada Suatu persoalan mungkin Kwan Cong Piauw tauw masih belum tahu, berita tentang diserahkannya kembali peta pengangon kambing ketangan pihak Tok-say telah tersiar diseluruh kota Kay Hong. kecuali aku sipengemis cilik, sudah banyak orang yang mempersiapkan diri akan menyelundup masuk kedalam istana pada malam ini….”

Sinar matanya menyapu sekejap kearah Jen Pek To, lalu terusnya kembali:

“Aku sipengemis cilik merasa tidak percaya apa bila orang orang didalam istana Tok say bisa melindungi keselamatan peta pengangon kambing itu, juga peta pengangon kambing itu tak boleh sampai terjatuh ketangan orang lain. maka dari itu aku si pengemis cilik menyelundup masuk kedalam istana Tok say dengan harapan semisalnya peta pengangon kambing itu sampai terjatuh ketangan orang jahat, maka aku si pengemis cilik akan turun tangan menghadang perjalanan mereka.”

“Ehhmm…..aku orang she Kwan percaya apa yang kau ucapkan adalah kata-kata sejujurnya.” Kwan Tiong Gak mengangguk.

“Apa yang aku sipengemis cilik katakan adalah kata-kata yang sejujurnya, Kwan Cong Piauw tauw mau percaya hal itu tentu saja jauh lebih bagus, kalau tidak percaya akupun tak bisa berbuat apa apa.”

Sie Si Cong tersenyum.

“Kalau begitu, agaknya Cu wi tidak memandang sebelah matapun terhadap penjagaan ketat yang diatur disekitar istana Tok say ini, dan kalian anggap seolah olah lapangan tanpa manusia saja.” serunya.

“Kalau ditinjau dari penjagaannya memang boleh dikata amat ketat, bagi Busu-busu kangouw kelas satu memang sulit untuk menembusinya.” kata Pouw Cing sambil tertawa. “Tapi bagi jago jago kangouw kelas wahid, langkah caturmu ini salah besar.”

“Asaai…. sebelum kejadian malam ini Pun say sama sekali tidak tahu kalau dalam dunia persilatan sebetulnya banyak terdapat Jago jago yang memiliki kepandaian silat-silat luar bissa…”

Ia lantas berpaling kearah sikacung buku yang berada disisinya.

“Penuhi cawan tamu dengan arak!”

Dengan cepat kacung itu mengiakan dan memenuhi cawan Pouw Cing dengan araK wangi.

Agaknya Pouw Cing tidak ganti lagi, dengan cepat ia angkat cawan sendiri dan meneguk isinya hingga ludes.

Melihat kerakusan sang pengemis, Sie Si Bong tersenyum.

“Cuwi silahkan ambil duduk, mari kita kongkouw sambil minum arak…….”

Kwan Tiong Gak. Jen Pek To serta Pouw Cing sama sama menurut dan ambil tempat duduk, sedang kacung tadipun segera memenuhi kembali cawan Pauw Cing dengan arak.

Berturut turut Pouw Cing menghabiskan tiga cawan arak, kemudian sambil menguap mulutnya ia berkata:

“Aku sipengemis cilik telah mengikuti pengemis tua berkelana hampir meliputi seluruh daerah utara maupun selatan, arak wangi yang kucicipi sudah tiada terhingga banyaknya, tapi menjumpai arak sewangi ini baru untuk pertama kalinya.”

“Dalam guci masih terdapat banyak persediaan arak, Pouw Cuangcu silahkan menikmati arak sampai puas.”

Bicara sampai disitu sinar matanya segera dialihkan keatas wajah Jen Pek To dan terusnya.

“Pek To, sebenarnya pusaka apakah peta pengangon kambing itu, kenapa begitu banyak jago jago kangonw yang mengincar dan ingin mendapatkannya?”

Nada ucapannya amat sungkan dan ia sama sekali tidak mengurangi rasa hormatnya terhadap jago jago Bu lim.

Mendapat pertanyaan tersebut Jen Pek To menghela napas panjang.

“Lapor Tok say rahasia apa sebenarnya yang terkandung didalam peta pengangon kambing teriebut hamba kurang mengerti tapi menurut dugaan hamba sendiri agaknya rahasia itu ada hubungannya dengan suatu ilmu silat yang amat lihay dan dahsyat serta sejumlah harta karun…..”

“Aaaaaii. . . . Ada kejadian seperti ini.” lekas Sie Si Cong berseru tertahan. “Harta karun apakah yang dimaksukan!? “

“Soal ini hamba kurang tahu, apakah rahasia itu besar menunjukkan sejumlah harta karun, hamba tak berani ambil kesimpulan dan memastikannya!”

“Sekarang, peta pengangon kambing itu berada ditangan siapa?”

“Disimpan dalam saku hamba.”

“Keluarkan dan mari kita teliti bersama”

Jen pok To msngiakan dan dari dalam sakunya ia ambil keluar peta pengangon kambing tersebut.

Sie Si Cong segera membentangkan peta pengangon kambing itu diatas meja, ujarnya sambil tertawa.

“Kwan-neng, Pouw Can su, mari kita bersama sama menelitinya, bilamana Pun say merasa tidak paham harap kalian bardua suka memberi petunjuk-petunjuk.”

“Aaaakh! Tok say terlalu merendahkan diri. aku sipengemis cilik tidak berani menerimanya.” kata Pouw Cing cepat.

Walaupun diluaran ia bicara demikian sang badan tanpa terasa sudah bangun beridri dan berjalan ke sisi pembesar itu untuk ikut meneliti.

Sie Si Cong segera alihkan sinar matanya keatas meja tersebut, tampak olehnya lukisan dari berbagai macam kambing yang tersebar dimana mana, sikap maupun gaya setiap kambing tersebut berbeda satu sama lainnya.

Kecuali ia merasa bahwa gaya lukisa pelukis tak bernama ini sangat hidup, tak ada keistimewaan lain yang berhasl ia temukan.

Sebaliknya kwan Tiong Gak yang memandang kearah lukisan itu agak terpesona dibuatnya. wajahnya menunjukkan sikap keren penuh wibawa.

Lain halnya dengan si Naga Langit Pouw Cing, sepasang alisnya berkerut kencang agaknya ia tidak begitu paham terhadap apa yang dilihatnya didepan mata saat ini.

Akhirnya Sie Si Cong mendehm ringan.

“Pok to!” Serunya. “Aku sama sekali tidak menemukan titik titik rahasia istimewa, coba kau katakan tanda tanda mana yang menunjukkan ilmu silat dan tanda tanda mana yang menunjukkan harta karun?”

“Thayjien silahkan mulai meneliti dari kambing paling atas dan terutama lalu perlahan lahan menelitinya kebawah, perhatikan sikap serta gerak gerik lukisan tersebut.”

Sie si cong menurut dah ia meneliti kembali dari atas hingga kebawah, tapi yang ditemukan olehnya hanya terbatas pada lukisan yang hidup dari kawanan kambing tersebut serta sikap yang berbeda dari tiap ekor kambing yang dilukis, kecuali itu tak ditemukan kembali titik titik keanehan yang menunjukkan letak disimpannya sejumlah harta karun.

Setelah memandangnnya sesaat belum juga berhasil menemukan sesuatu apapun, ia lantas menggulung kembali peta tersebut, katanya:

“Sewaktu aku mengejar balik peta pengangon kambing ini, sama sekali tak kuketahui bahwasanya diatas peta lukisan ini sebenarnya tersimpan rahasia letak sejumlah harta karun…….”

“Lukisan ini sebetulnya hak milik Liauw Tayjien, seharusnya dialah yang menyimpannya.” tukas Kwan Tiong Gak

“Jikalau di atas peta pengangon kambing itu benar benar menunjukkan suatu tempat disimpannya sejumlah harta karun yang terdiri dari emas, intan serta sebangsanya. Kendati dalam istanaku ini tak berani diletakkan menumpuK setinggi gunung, tapi benda-benda itu bukan termasuk benda yang aneh, maka dari itu, Pun sai menyimpan peta lukisan ini lagi.

Si Naga Langit Pouw Tian yang mendengar ucapan itu jadi tertegun.

“Jadi Tok say hendak menghadiahkan peta lukisan ini kepada orang lain?”

“Untuk dihadiahkan kepada orang sih pasti akan kuberikan, hanya saja peta lukisan ini bukan milikku, karenanya dihadiahkann kepada orang, bukan seharusnya muncul dari mulutku.”

“Peta lukisan ini agaknya mempunyai hubungan serta sangkut paut dengan orang orang Bu lim” Kata Kwan Tiong Gak memberi pendapatnya. “Kalau Thayjien menyimpan peta lukisan tersebut hanya akan mendapatkan banyak kerepotan saja, menurut siauw heng, lebih baik diserahkan kepada orang lain saja sehingga bisa mengurangi banyak kerepotan.”

“Lalu menurut pendapat Kwan heng, peta lukisan ini harus diserahkan kepada siapa?” tanya Sie Si Cong sambil tertawa.

“Soal ini sih susah untuk dikatakan, paling sedikit Thayjien harus merasa bahwa orang yang diserahi peta lukisan ini harus punya kemampuan untuk melindungi peta lukisan ini.”

“Di dalam hati kecilku sih sudah ada satu pandangan, hanya aku takut jago lihay ini tidak mau menerimanya.”

“Siapa yang dimaksudkan Tok-say?”

“Kwan Tiong Ga. Cong Piauw-tauw dari perusahaan ekspedisi Hauw wie Piauw kiok.”

“Minta aku yang melindungi……” seru Kwan Tiong Gak.

“Sedikitpun tidak salah,” Sie Si Cong menukas. “Sebenarnya peta lukisan ini didapatkan kembali oleh Kwan heng, dan pada saat ini aku hanya kembalikan lagi ketanganmu. Dengan nama besar Kwan-heng serta banyaknya jumlah Piauwsu dalam perusahaan ekspedisi Hauw Wie Piauw kiok, aku rasa sudah cukup kuat untuk melindungi peta lukisan ini.”

Mendengar sampai disitu Kwan Tiong Gak tertawa getir.

“Perintah dari Thayjien, Siauw heng tak berani menampik, hanya saja aku berharap thayjien bisa menentukan batas batas waktu nya..”

“Batas waktu apa?”

“Batas waktu menyimpan peta lukisan ini, setelah thayjien menentukan batas waktu aku orang she Kwan pun bisa menyusun rencana selanjutnya.”

“Batas waktu ini sukar untuk dikatakan nanti setelah aku bicarakan soal ini dengan Liaw thayjien, pesanku, kita bicarakan lagi batas batas waktu tersebut, bagaimana?”

“Setelah thayjien berkata demikian, siauw heng pun harus menyanggupinya….” Kwan Tiong Gak tertawa getir.

Setelah memperoleh pernyataan sanggup orang she Kwan tersebut, Sie Si Cong tersenyum.

“Kalau begitu simpanlah dulu peta lukisan ini.”

Air muka Kwan Tong Gak berubah amat serius, setelah menerima peta lukisan itu serunya sambil menjura:

“Aku orang she Kwan ingin minta waktu sebentar.”

“Silahkan!”

Perlahan lahan Kwan Tiong Gak berjalan keluar dari ruang pagoda, sambil berdiri diatas permukaan salju ditengah halaman luar, ujarnya seraya menjura ke sekeliling tempat itu.

“Kawan kawan. Aku orang she Kwan memberi selamat tahun baru buat kalian. Sekaratng Tok Say Thayjien telah menyerahkan peta lukisan ini untuk disimpan dalam saku orang she Kwan untuk sementara jika Cu Wi sekalian ada maksud mendapatkan lukisan ini maka lebih baik carilah dulu aku orang she Kwan. Besok pagi adalah tanggal satu, dan aku orang she Kwan ingin menjamu kalian di hutan pohon liuw ditepi telaga Shen Yang Auw pada kentongan pertama kalau Cu wi ada urusan silahkan menghadiri perjamuan pada waktunya, saat itu aku orang she Kwan tentu akan memberi jawaban”

Perkataan ini di utarakan dengan suara keras, semua orang yang di dalam ruangan dapat mendengarnya sangat jelas.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?” tanya Sie Sie Cong sambil menyapu sekejap wajah Jen Pek To serta Si Naga Langit Pouw Cing.

“Perbuatan mulia Tok say Thayjien yang merisaukan negara serta rakyat telah menggetarkan hati Kwan Cong Piauw tauw.”

Pouw Cing pun menghela napas panjang katanya:

“Kau adalah seorang pembesar baik, Kwan Cong Piauw tauw sadah memikul tanggung jawab Hujan badai ini”

Sie Si Cong termenung berpikir sebentar. mendadak ia bangun berdiri dan berjalan keluar dari perkarangsn pagoda.

“Ia sedang berbicara dengan siapa?” tanyanya.

Si Naga Langit Pouw Cing memandang sekejap kearah Jen Pek To, mendadak ia berebut jalan lebih dahulu didepan Tok Say sedangkan Jen Pek To mengiringnya dari belakang seraya- sahutnya dengan suara lirih;

“Thayjien, disekeliling pagoda hangat ke mungkinaa Besar sudah tersembunyi banyak sekali Jago Jago bu lim. harap ThayJien suka berhati-hati, lebih baik jangan meninggalkan pagoda ini.”

“Pek To aku bukan orang yang terlalu menjaga keselamatan diri sendiri” kata Sie Si Cong sambil tertawa. “ditengan pertempuran sengit dimana berlaksa tentara dan kuda saling bertempur,pedang tampak bagaikan lautan, anak panah berdesir bagaikan curahan hujanpun aku tidak takut mati, kenapa sekarang harus jeri? aku sama sekali tidak pernah memikirkan keselamatanku.”

Sembari berkata ia melanjutkan langkahnya ke luir dari pagoda hangat.

Mendadak serentetan cahaya tajam dengan membawa suara desiran keras meluncur ke arah Sie Si Cong.

“Thayjien, hati-hati!” bentak Jen Pek To cepat buru-buru ia menyambut datangnya sambaran tajam tersebut.

Tapi ketika itulah si Naga Langit Pouw Cing sudah berkelebat keangkasa, serentetan cahaya putih menyambar lewat, sebatang anak panah pendek sudah tersampok jatuh ketanah.

ketika Sie Si Cong mempehatikan dengan teliti, ditemuinya si Naga Langit Pouw Cing sedang memasukkan kembali sebilah golok pendek yang memancarkan cahaya tajam ke sakunya.

Golok tersebut berbentuk sangat aneh, panjangnya tidak lebih dari beberapa depa dengan lebar hanya empat jari, berhubung golok itu terlalu pendek maka setelah disembunyikan dalam saku seolah olah tidak membawa senjata lagi, orang yang tak tahu rahasia ini tentu tak akan menyangka sampai disitu.

Setelah Jen Pek To pun ikut menubruk kedepan. ia segera pungut panah baja tadi dan dimasukan kedalam saku kemudian berdiri di depan Sie Si Cong melindungi keselamatannya.

(Bersambung Jilid 17)

Jilid 17

SELURUH kejadian hanya berlangsung dalam sekejap mata, ketika Kwan Tiong Gak berpaling. Pouw Cing telah menyampok jatuh senjata rahasia tersebut dan masukkan kembali goloknya kedalam saku.

Terdengar dari arah sebelah timur dari antara gerombolan bunga berkumandang keluar suara yang dingin dan menyeramkan.

“Heee…. heee…. heee…. tidak kusangka Perusahaan ekspedisi Hauw Wie Piauw kiok yang tersohor dikolong langit ternyata telah menjadi pelindung halaman besar negeri, orang Kay Pang pun kini sudah menjadi kuku garuda…. sungguh memalukan”

Kwan Tiong Gak mendehem ringan. “Aku she Kwan sudah jelaskan, besok malam aku akan menanti kalian dalam perjamuan ditepi telaga Shen Yang Auw dalam hutan pohon Liaw, semisalnya kawan menaruh rasa curiga boleh kau ajukan pertanyaanmu ini dalam perjamuan esok malam, aku orang she Kwan tentu akan memberikan suatu jawaban yang memuaskan hati.”

Sebaliknya si Nsga Langit Pouw Cing berkata dengan suara dingin, “Didalam permukaan Kay Pang kami ada peraturan ketat yang membelenggu setiap anggotanya, kalau aku sipengemis cilik telah melanggar peraturan perkumpulan, hal ini tak usah kawan banyak ikut campur, kali ini aku si pengemis cilik akan membatasi pembicaraan dan tak akan mencaci maki dirimu, cuma kau harus tahu aku sipengemis cilik telah mengerti siapakah dirimu, kalau kau berani buka suara menghina Kay Pang lagi, jangan salahkan aku sipengemis cilik segera akan mengucapkan kata kata yang tidak enak didengar.”

Pada waktu itu para pengawal istana sudah menemukan keadaan yang tidak beres, suara tambur dan gembrengan dibunyikan dari empat penjuru. Diikuti bayangan manusia berkelebat memenuhi kebun bunga tersebut, Melihat kejadian itu Kwan Tiong Gak mendehem perlahan, bisiknya lirih, “Thayjien, sekalipun tentara tentara kerajaan memenuhi kebun bunga inipun susah mengurung serta menangkap jago jago lihay tersebut, bahkan sebaliknya malah akan mengakibatkan banyak kematian sia sia diantara mereka, lebih baik thayjien perintahkan mereka cepat cepat mengundurkan diri.”

“Sedikitpun tidak salah,” Sie Si Cong mengangguk. “Pek To cepat cepat suruh mereka mengundurkan diri.”

Jen Pek To mengiakan dan segera berjalan keluar kebun, teriaknya lantang, “Thayjien sedang bercakap cakap dengan beberapa orang teman karib, mengapa kalian datang mengacau?”

Pemimpin tentara kerajaan berseru tertahan, buru buru ia putar badan berlalu, dalam sekejap saja suara gembrengan berhenti bertalu dan suasana kembali jadi sunyi senyap.

Menanti suasana disekeliling tempat itu sudah pulih kembali jadi sunyi.

Kwan Tiong Gak baru ulapkan tangannya.

“Cu wi sekalian. Sie Tok say adalah seorang pembesar budiman yang pernah kutemui sepanjang hidup….”

Ia merandek sebentar kemudian tegasnya, “Mungkin hal ini tiada hubungannya dengan kalian tapi aku maksud kedatangan kalian apakah demi peta lukisan pengangon kambing, sekarang peta lukisan tersebut telah berada dldalam saku aku orang she Kwan semisalnya kalian tidak urusan atau ikatan dendam dengan Sie Tok say silahkan berangkat terlebih dahulu, besok malam kentongan pertama bagi mereka yang bernyali boleh mendatangi hutan pohon liuw ditepi telaga Shen Yang Auw untuk merebut peta tersebut dari tangan aku orang she Kwan.”

Diam diam Sie Si Coag memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu, ditemuinya suasana gelap gulita sama sekali tak tertampak sesosok bayangan manusiapun.

Si Naga Langit Pouw Cing mendehem berat, ujarnya pula, “Aku sipengemis cilikpun belum lama berselang baru saling berkenalan dengan Sie Tok lay ini, tapi setelah menjumpai kejadian semacam ini tak bisa tidak aku harus turut campur pula. kalau adi diantara kalian yang mengikat permusuhan dengan Sie Tok say, biarlah aku sipengemis cilik yang melayani.”

“Perkataan dari aku orang she Kwan sudah diutarakan sangat jelas, Cuwie boleh berlalu.”

Begitu ucapan tersebut selesai diutarakan tampak bayangan manusia berkelebat lewat ,empat, lima sosok bayangan bagaikan kilat-telah meluncur keluar dari halaman tersebut.

Bersamaan dengan berlalunya orang-orang itu, Kwan Tiong Gak meloncat naik keatas pagoda hangat, setelah diamati beberapa waktu ia melayang turun kembali keatas tanah, katanya, “Thayjien silahkan kembali kedalam ruangan, mereka semua telah berlalu.”

Sie Si Cong tertawa dan menganggak.

“Malam ini boleh dihitung aku sudah mendapat banyak pengetahuan baru, sungguh mengagumkan, sungguh mengagumkan”

Jen Pek To pun buru-buru manjura, “Terima kasih atas bantuan Kwan heng apabila tak ada Kwan-heng, mungkin malam Ini cayhe akan kelabakan dan tak sanggup melayani mereka itu.”

“Tujuan mereka hanya terletak pada peta itu aku yang simpan mereka tak akan mendatangi istana Tok say untuk bikin onar lagi besok malam cayhe akan keluarkan semua kekuatan yang kupunyai untuk bikin urusan, ini jadi terang kembali. Terima kembali. Terima kasih atas hidangan arak dan sayur pada malam ini! Waktu sudah tidak pagi Thayjien pun harus segera pergi beristirahat”.

“Aaaai…., aku serahkan peta pengangon kambing kepadamu, hal ini bukan bermaksud agar kau menghadapi bahaya….”

” Soal ini siauw heng paham.” tukas Kwan Tiong Gak dengan cepat.

Mendadak si Naga Langit tersenyum.

“Kwan Cong Piauw-tauw, aku sipengemis cilik tidak paham, kau ingin menggunakan cara apa untuk membereskan pertikaian pengangon ksmbing ini? Kalau kau ingin andalkan ilmu silat untuk memberebutnya aku si pengemis cilik akan ambil satu bagian.”

“Kalau kau ada bergembiraan, dengan senang hati aku persilahkan kau ikut hadir dalam pertemuan dibawah pohon Liauw besok malam.” jawab Kwan Tiong Gak sambil tertawa.

“Terima kasih atas undanganmu, sampai waktunya aku sipengemis cilik pasti akan hadir”

Selesai berkata segera meloncat keatas wuwungan rumah, dalam tutulan ujung kaki nya sekali lagi ia meluncur kedepan dan akhirnya lenyap ditengah kegelapan.

Kali ini Sie Si Cong dapat melihat kejadian itu dengan sangat jelas, dalam hati ia merasa sangat kagum.

“Gerakannya ini mirip meloncat, boleh dikata bagaikan terbang saja….”

“Ia bernama si Naga Langit Pouw Cing”. ujar orang she Kwan memberi keterangan. “Ilmu meringankan tubuh adalah kepandaian gadaiannya.”

“Ooooo ….begitu,” sinar matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu. “Apakah masih ada orang?”

“Siauw-heng sudah periksa, mereka semua telah berlalu”,

“Silahkan Kwan heng duduk kembali didalam ruangan, aku ada urusan ingin minta petunjukmu.” kata Sie Si Ceng sambil putar badan berjalan masuk kedalam pagoda hangat.

Kwan Tiong Gak, Jen Pek To dengan seiring mengikuti dari belakangnya.

Setelah ambil tempat daduk, Si Sie Cong berkata, “Kwan heng, walaupun penjagaan di-dalam istana kami bukan termasuk burung binatang susah berlalu, tapi boleh dihitung sangat ketat dan rapat terutama sekali dalam beberapa hal Ini Pek To sudah menambah banyak jago diantaranya. tapi kenapa mereka bisa menyeludup masuk kedalam kebun tanpa diketahui oleh pihak penjaga? Bila ku-tinjau dari keadaan tersebut bukan saja mereka bisa pergi datang sesuka hati bahkan sama sekali tidak dipandangnya sebagai suatu halangan.”

“Hal ini kesemuanya karena ketidak becusan hamba,” buru buru Jen Pek To menjura.

“Pek To, bukannya aku sedang membicarakan soal dirimu, aku hanya ingin minta petunjuk dari Kwan heng bagaimanakah caranya mengatasi kesulitan ini?”

Kwan Tiong Gak termenung berpikir sebentar, lalu ujarnya ;

“Para jago yang datang pada malam ini rata rata bukan manusia sembarangan, mereka adalah jago kelas wahid didalam dunia persilatan, pertama karena cuaca sangat gelap dan kedua mereka sudah mengadakan persiapan tentu saja susah untuk menemukan jejak mereka. Perduli ilmu meringankan tubuh seseorang berhasil dilatih sampai mencapai taraf yang bagaimanapun mereka tetap akan neninggalkan jejak untuk bisa berhati-pati sedikit dan sekali lagi mengatur penjagaan disekitar istana, rasanya tidak susah untuk mengawasi semua keadaan.”

Mendadak Sie Si Cong tersenyum.

“Kwan heng apa maksudmu mengundang mereka untuk berjumpa ditepi telaga Shen Yang Auw?” tanyanya.

“Aku ingin memberi penjelasan yang seterang terangnya bagaimana watak Tok say Thayjien, aku berharap mereka bisa memandang di atas wajahmu untuk sementara melepaskan peta pengangon kambing ini cuma Saja tindakanku ini bukan suatu cara yang bagus untuk suatu waktu yang lama, karena itu aku pun berharap Thayjien serta besan-mu bisa cepat mendapatkan suatu cara untuk menyelesaikan masalah peta ini. Tetap mempertahankan peta tersebut akhirnya hanya mendatangkan bencana.”

“Soal ini aku bisa manberi penjelasan kepadanya, dua tiga hari kemudian pasti akan memberi suatu jawaban kepadamu, justeru yang kukatakan adalah bilamana besok malam mereka tak mau melepaskan dirimu dan mencari gara-gara dengan kalian.”

“Tentang soal ini thayjien boleh berlega hati, kalau aku orang she Kwan tidak punya kepercayaan tak akan berani kuambil keputusan ini.” kata Kwan Tiong Gak sambil tertawa.

“Entah bolehkah cayhe ikut pergi?” Thayjien.

“kau tak boleh menempuh bahaya.” seru orang she Kwan dengan hati terperanjat. “Bagaimanakah perubahan situasi besok malam cayhe belum bisa membayangkan, kalau Thayjien sampai ikut campur dalam urusan ini bukan saja urusan akan susah diselesaikan, cayhe pun belum tentu bisa melindungi keselamatan thayjien.”

Sie Si Cong tersenyum.

“Tujuan mereka terletak pada peta pengangon kambing itu dan aku sudah serahkan peta rahasia tersebut kepadamu aku rasa mereka tidak seharusnya mencari gara gara lagi dengan diriku.”

“Dalam dunia persilatan banyak gerombolan gerombolan manusia yang tidak tahu diri bahkan banyak diantara mereka yang bekerja dengan menggunakan cara keji apapun, kalau thayjien ikut menghadiri pertemuan itu mungkin sebaliknya malah akan merepotkan aku orang she Kwan saja.”

Sie Si Cong kembali tersenyum, ia tidak mendesak lebih lanjut sebaliknya segera alihkan bahan pembicaraan kesoal yang lain.

“Kwan heng, malam semakin kelam, apakah Kwan heng ada maksud menginap semalam disini.”

“Tidak perlu, didalam kantor masih ada orang menantikan kedatanganku apa lagi urusan sangat mendesak aku harus pulang untuk mempersiapkan diri, Siauw heng harus mohon diri.”

“Pun-say belum lelah, bagaimana kalau aku menghantar dirimu?”

Buru buru Kwan Tiong Gak menjura.

“Jangan….jangan….budi kebaikan thayjien biarlah siauw heng terima dalam hati saja.”

“Baiklah, lebih baik aku mengikuti saja permintaanku. Pek To coba kau wakili saja dia aku mangantar diri Kwan heng.”

“Thayjien pun seharusnya beristirahat,” kata Jen Pek To. Setelah menjura kedua orang itupun segara mengundurkan diri dari dalam ruangan.

Setelah keluar dari pintu istana, Kwan Tiong Gak silangkan tangan mencegah Jen Pek To menghantar lebih jauh.

“Kau tak usah menghantar lagi.”

“Siauwte merasa menyesal dan minta maaf karena sudah menunda waktu pemberangkatan Kwan heng pulang kampung.”

Kwan Tiong Gak tertawa getir. “Sebelum menjumpai Sie Tok say Siauwte sama sekali tidak pernah menyangka kalau pembesar negeri yang memegang kekuasaan empat keresidenan besar sebetulnya adalah seorang peramah yang suka berkenalan dengan rakyat jelata”

“Aaaai. …. .! Kwan heng, kalau Sie Tok say bukan seorang pembesar baik yang cinta negara cinta rakyat, bagaimana siauwte sudi berdiam dalam istana Jendral sampai beberapa tahun lamanya.”

“Sie Thayjien benar merupakan seorang pembesar budiman yang sukar ditemui, siauwte telah melanggar pantangan dengan munculkan diri membebaskan kesulitannya kali ini. Tapi Kau harus tahu tindakan siauwte ini sama sekali tidak bertujuan hendak merebut nama maupun kedudukan, setelah kembali ke ibu kota nanti aku akan membubarkan perusahaan Hauw Wie Piauw kiok, urusan disini setelah selesai pun siauwte segera akan berangkat pulang, perduli Sie thayjien akan mencegah dengan cara apapun siauwte sudah bulatkan tekad yang tak akan berdiam lebih lama lagi, daripada aku berlalu tanpa pamit lebih baik Jen-heng suka memberi penjelasan sebaik baiknya.”

“Soal ini Kwan-heng boleh lega hati, sebenarnya urusan ini tidak seharusnya dipikul Kwan-heng. Pertama, karena urusan terlalu mendesak dan siauwte tahu aku tidak sanggup. Kedua, agaknya Tok say thayjien merasa berjodoh dengan Kwan heng, kau adalah seorang Bu lim Hoohan dan dia adalah seorang pembesar setia yang memikirkan nasib negara serta bangsa, inilah mungkin yang mengakibatkan antara enghiong timbul hubungan intim….”

“Aku orang she Kwan hanya merupakan manusia kasar, mana boleh dibandingkan dengan Tok say thayjien,” tukas Kwan Tiong Gak cepat cepat.

“Perduli apa yang kau pikirkan tapi dalam kenyataan memang begini, siauwte sudah banyak tahun mengikuti disisi Tok say. ataupun ia bersikap ramah terhadap siapa pun tapi belum pernah membasahi orang dengan sebutan saudara, terhadap kau Kwan heng boleh dikata baru untuk pertama kalinya.”

“Aku paham. Agaknya Tok-say thayjien menaruh rasa sayang yang luar biasa terhadap aku orang she Kwan.”

“Soal ini adalah urusan diantara kalian sendiri, sedang mengenai maksud Kwan heng hendak kembali ke utara setelah menyelesaikan urusan disini, siauwte berani menanggung tak akan mencari kerepotan lagi dengan diri Kwan heng. setelah urusan pokok beres, urusan selanjutnya akan siauwte tanggung sendiri.”

“Bagus kita putuskan dengan sepatah kata ini, sebelumnya aku orang she Kwan mengucapkan banyak terima kasih.”

Seraya berkata ia menjura lalu putar badan dan berlalu.

Buru buru Jen Pek To balas menjura,

“Kwan beng selamat jalan, kalau membutuhkan tenaga siauwte kirimkanlah orang untuk mengabari diriku.”

“Aku rasa tidak perlu merepotkan diri Jen heng lagi “

Sembari berkata ia tidak menghentikan langkahnya. Cong piauw tauw dari perusahaan Hauw Wie Piauw kiok ini langsung kembali kekantornya.

Pui Cong Yan, Liem Toa Lek serta Nyioo Su Jan masih menanti kedatangannya di ruang tengah.

Kwan Tiong Gak langsung berjalan masuk kedalam ruangan. Melihat munculnya sang Cong Piauw-tauw segera serunya ;

“Toako, Giok Liong sekalian sudah mempersiapkan kereta, menanti Toako telah datang, kita segera berangkat.”

Tapi dengan cepat Kwan Tiong Gak ulapkan tangannya.

 

[bersambung]