ambang naga panji naga sakti 06

“Dua buah kotak anak panah ditambah permainan gelang emas dari kau Phoa Jie-ya belum tentu bisa melukai aku Ban Cau” ejeknya.

“Asal Ban heng tidak main api kamipun tak akan umpan anak panah serta senjata rahasia untuk balas melancarkan serangan.”

“Maksud Phoa Jie-ya…”

“Jikalau kau Ban Cau bisa mengalahkan aku orang she Phoa barang satu atau setengah juruspun dengan tidak menggunakan senjata api, maka aku akan segera putar badan berlalu dan sejak ini hari tak akan melakukan pekerjaan mengawal barang lagi dalam dunia kangouw….”

“Heee………heee……..heee……. sumpah Phoa-ya terlalu berat………” jengek Ban Cau sambil tertawa dingin.

“Kau Ban-ya berani terima tantanganku…”

Sekonyong konyong terdengar suara tertawa panjang bergema datang memecahkan kesunyian seraya memotong pembicaraan Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang belum selesai itu.

“Sekalipun Ban Cau setuju, cayhe tak akan menyetujui!.”

Bersamaan dengan munculnya suara, bayangan manusiapun muncul di tengah kalangan.

Orang itu bukan lain adalah si Hoa Hoa Kongcu “Im Yang Pan” atau si penguasa Im Yang Ke Giok Lang adanya.

Orang itu memakai jubah warna biru, walupun dalam udara sangat dingin tangannya tetap juga mencekal sebuah kipas.

Dengan gaya seorang pelajar ia simpan kipasnya lalu dengan hormat menjura ke arah Liauw Thay jien, kemudian sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke arah Phoa Ceng Yan, sambungnya lebih lanjut.

“Phoa-ya! Sejak semula cayhe sudah kirim orang untuk memesan barang tersebut rasanya Phoa Jie-ya masih ingat bukan??”

Diam-diam Phoa Ceng Yan menjerit pahit, seorang Dewa Api Ban Cau saja sudah cukup merepotkan, apalagi saat ini bertambah lagi dengan seorang Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang, bukankah hal ini sama halnya di tengah hujan salju tertutup pula oleh badai kabut.

Tetapi justru dengan munculnya si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang membuat situasipun terjadi suatu perubahan yang sangat menguntungkan.

Setelah berpikir beberapa saat, ia lantas menyahut.

“Sedikitpun tidak salah, orang yang Ke Kongcu kirim sudah tiba, cuma aku orang she Phoa belum ambil keputusan.”

“Ooouw…….soal itu sih tidak penting,” kata Ke Giok Lang sambil goyang goyangkan kipas dan tertawa. “Asalkan aku orang she Ke berjalan setindak lebih didepan dengan menduduki posisi “Ceng li”, maka Siauw-te tidak percaya ada manusia yang bernyali cari gara-gara dengan aku orang she Ke!”

Beberapa patah perkataan ini diucapkan dengan sangat jelas sekali, agaknya ia sengaja mencari urusan dengan si Dewa Api Ban Cau.

“Ke Kongcu, cayhe adalah si Dewa Api Ban Cau,” kata orang itu dengan alis berkerut.

“Ban Toa-ya, sewaktu aku orang she Ke berkelana dalam dunia persilatan, agaknya Ban-heng telah lama meninggalkan dunia kangowu bukan?” seru Ke Giok Lang sambil goyang goyangkan kipasnya.

“Benar, sewaktu Ke Kongcu angkat nama dalam dunia persilatan, cayhe memang telah mengundurkan diri.”

“Setelah Ban-heng mengundurkan diri dari keramaian Bu Lim, mengapa saat ini harus munculkan diri kembali? Haruslah kau ketahui Ombak-ombak belakang sungai Tiang Kang mendorong ombak yang ada di depannya, manusiapun generasi baru mulai menghentikan generasi lama, saat ini waktu masih belum terlambat, apabila Ban heng suka jauh meninggalkan tempat ini mungkin masih bisa meninggalkan akhir yang baik.”

Air muka si Dewa Api Ban Cau langsung saja berubah hebat.

“Menurut apa yang Ke Kongcu katakan, jikalau aku orang she Ban tidak pergi ada kemungkinan besar bisa memperoleh akhir yang tidak baik.”

“Pertarungan tak bermata, siapa orang yang bisa menyakinkan suatu kemenangan dalam pertarungan sengit.?” seru Ke Giok Lang tertawa.

“Heee……heee……heee….. tapi aku lihat agaknya Ke Kongcu merasa begitu yakin bisa menekan para jago lainnya…….”

Ke Giok Lang ulapkan kipasnya memotong perkataan Ban Cau ujarnya.

“Siauw-te hanya bermaksud baik belaka, tapi jikalau Ban-heng tidak suka mengikuti nasehat tersebut, maka terpaksa kita harus selesaikan persoalan ini dengan mengandalkan kepandaian kita.”

Phoa Ceng Yan yang menonton kejadian tersebut dari samping, begitu melihat pembicaraan kedua orang itu makin lama diucapkan semakin ketus dan kaku, agaknya sebentar lagi bakal terjadi suatu pertarungan, diam-diam dalam hati berpikir.

“Anjing menggigit anjing, bilamana mereka berdua bisa bertarung terlebih dahulu maka aku bisa menjadi nelayan yang tinggal pungut hasilnya…… inilah suatu saat yang sangat menguntungkan.”

Karena sudah ada perhitungan maka dari itu mulutnya tetap membungkam, siapa nyana tiba-tiba Ke Giok Lang menoleh, sambil memandang wajah Phoa Ceng Yan katanya.

“Phoa-heng, rasanya kau sudah mendengar seluruh pembicaraan di antara kami bukan.”

“Hmm…..! Sudah aku dengar semua.”

“Jika ditinjau dari persoalan itu, rasanya orang yang menginginkan lukisan pengangon kambing itu bukanlah siauw-te seorang?”

“Perduli siapapun bila ingin memperoleh lukisan pengangon kambing itu, maka ia harus menerobos dahulu barikade dari perusahaan Liong Wie piauw-kiok.”

Ke Giok Lang dongakkan kepala tertawa terbahak bahak.

“Haaa……..haaa…….haaa…….. Phoa-heng manusia budiman cepat bicara, perkataan yang telah diucapkan selalu teguh bagaikan karang, justru aku orang she Ke punya satu persoalan ingin minta petunjuk.”

“Aku orang she Phoa akan pentang telinga lebar untuk mendengar perkataanmu itu.”

“Lukisan pengangon kambing itu adalah Cayhe yang pesan terlebih dahulu, bila semisalnya Phoa heng hendak mengalah, bukankah siauw-te orang pertama yang bakal memperoleh benda pusaka tersebut.?”

“Cuma sayang aku orang she Phoa sama sekali tidak berniat untuk mengalah kepada siapapun.”

“Aku orang she Ke cuma ingin menjelaskan terlebih dahulu persoalan ini, tentang Phoa heng suka mengalah atau tidak, rasanya itu merupakan persoalan lain.”

Liauw Thayjien yang selama ini berdiri di samping kalangan, tiba-tiba menimbrung.

“Jikalau He-koan rela menghadiahkan lukisan pengangon kambing itu kepadamu, maka apa yang hendak kau lakukan?”

“Soal ini tergantung barang tersebut hendak kau serahkan kepada siapa!” sahut Ke Giok Lang.

Phoa Ceng Yan hendak mengutarakan pendapatnya, tapi kena dicegah oleh goyangan tangan Liauw Thayjien.

“Barang itu milikku, sudah tentu akulah yang berhak untuk mengambil keputusan, Hu Cong Piauw-tauw tidak perlu ikut campuri dalam persoalan ini.”

“Bisa menyelesaikan persoalan tanpa melakukan hubungan di antara kita semua itulah yang paling bagus, sekarang kau boleh membuka harga,” kata Ban Cau.

“Syaratku sederhana, asalkan kami sekeluarga bisa tiba di kota Kay Hong sebelum tutupan tahun maka barang itu akan kuserahkan kepada kalian.”

Ke Giok Lang tertawa dingin, dengan mulutnya tetap membungkam.

Phoa Ceng Yan sendiripun bungkam sambil memandang ke arah Liauw Thayjien.

Sebaliknya Ban Cau alihkan sinar matanya menyapu sekejap ke arah para jago di sisinya.

“Saudara bermaksud hendak serahkan lukisan pengangon kambing itu kepada siapa?”

“Aku sama sekali tidak mengenal cuwi, siapa saja sanggup menghantar aku sampai ke kota Kay Hong maka lukisan pengangon kambing itu akan aku serahkan kepadanya.”

“Setiap orang munculkan diri di tempat ini sama berharap bisa mendapatkan lukisan pengangon kambing itu, dan saudara harus memilih salah satu di antara kami semua,” ujar Ban Cau lagi.

Liauw Thayjien mendehem perlahan.

“Siapakah di antara cuwi sekalian yang berkepandaian silat paling tinggi cayhe sama sekali tidak tahu, secara bagaimana aku bisa jatuhkan pilihan?”

“Jikalau demikian adanya, maka saudara harus mengadu untung,” seru si Dewa api seraya menggeleng.

“Phoa-ya!” kata Liauw Thayjien kemudian sambil alihkan sinar matanya ke arah Phoa Ceng Yan. “Kau sudah lama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, rasanya tentu sudah lama mengenal kedua orang ini bukan?”

“Sedikitpun tidak salah, orang yang memakai jubah warna biru itu adalah Ke Kongcu sedang orang yang memakai jubah serba merah itu adalah si Dewa Api Ban Cau.”

“Lalu lukisan pengangon kambing itu aku harus serahkan kepada siapa?”

“Menurut jalan pikiranku, siapapun jangan diserahkan lukisan tersebut karena siapapun diantara mereka tak ada yang bertenaga untuk melindungi kalian tiba di kota Kay Hong sebelum tutupan tahun.”

Ke Giok Lang tertawa dingin serunya.

“Sekarang kecuali si Dewa Api Ban Cau boleh dikata cayhepun terhitung salah satu jikalau kau Liauw Thayjien suka menyerahkan lukisan pengangon kambing itu kepadanya, itu berarti telah menyalahi orang baik, harap kau suka berpikir tiga kali sebelum mengambil keputusan!”

“Inilah syaratku, asalkan cuwi bisa melindungi aku sekeluarga tiba di kota Kay Hong sebelum tutupan tahun, lukisan pengangon kambing ini pasti cayhe serahkan kepada kalian.”

“Menurut apa yang cayhe ketahui” ujar Ke Giok Lang kembali sambil tertawa. “Kecuali kami masih banyak para jago Bu Lim yang berusaha turun tangan membegal barang kawalan kalian.”

“Siapa mereka itu?” sela Liauw Thayjien.

“Pokoknya banyak orang, kau tak pernah berkelana dalam dunia kangouw, sekalipun kusebut nama mereka juga percuma saja.”

“Phoa-ya, sebetulnya apa yang telah terjadi…..” akhirnya saking bo-hoatnya Liauw Thayjien bertanya kepada Phoa Ceng Yan.

“Dunia kangouw sangat berbahaya dengan segala tipu muslihat licik. Thayjien adalah keluarga berasal dari kaum terpelajar, sudah tentu tak mungkin bisa hadapi mereka!”

Ia merandek sejenak untuk tukar napas, kemudian tambahnya.

“Thayjien, bila kau ingin kembali ke dalam kereta, silahkan untuk beristirahat!”

“Tapi Phoa-ya, urusan belum ada penyelesaiannya………”

Ia perendah suaranya, lalu sambungnya lebih lanjut, “Jikalau mereka berdua pada ngotot untuk sama-sama bisa peroleh barang itu, lalu baiknya diselesaikan dengan apa?”

Phoa Ceng Yan termenung sejenak, kemudian jawabnya, “Serahkan kepada siapapun sama saja, tapi di antara mereka tentu akan terjadi suatu pertarungan yang amat sengit.”

Suara jawabannya ini diutarakan sangat rendah, sehingga Liauw Thayjien yang berdiri di sisinya pun dengan paksa baru berhasil menangkap apa yang dimaksudkan.

“Ban-heng! Aku lihat kalian boleh segera berlalu!” terdengar Ke Giok Lang berseru kembali.

“Lalu kenapa Ke Kongcu sendiri tidak pergi?”

“Ooouw Cayhe masih ada urusan.”

“Siauw-te sih kalau tak ada urusan juga tak bakal datang kemari di tengah hawa dingin yang menggigilkan dengan tiupan angin utara yang amat dingin,” balas si Dewa api Ban Cau sambil tertawa kering.

“Ban heng!” seru Ke Giok Lang kembali seraya tertawa hambar. “Tempat ini bukan tempat yang bagus untukmu, kau tetap berdiam di sini bukannya bakal memperoleh kebaikan sebaliknya malah akan mendapatkan kejelekan.”

“Lalu Ke Kongcu sendiri apakah tidak takut?”

“Siauw-te ada maksud baik menasehati dirimu, jikalau Ban-heng tidak mau percaya itupun merupakan suatu persoalan yang tak bisa dipaksakan …!”

Melihat situasi yang dihadapi saat ini dalam hati Phoa Ceng Yan lantas berpikir.

“Jika ditinjau dari tindak tanduk Ke Giok Lang, agaknya ia ada maksud mencari gara-gara dengan Ban Cau, sekalipun Ban Cau sendiri ada maksud untuk mengalah tapi sebaliknya Ke Giok Lang selangkah demi selangkah mendesak maju ke depan, demi muka dan nama baik rasanya Ban Cau tak akan mengalah terus menerus…. jika mereka berdua sampai saling bentrok dan terjadi pertarungan, maka aku bisa menonton suatu pertunjukan bagus.”

Tiba tiba Ke Giok Lang menarik kembali kipasnya sepasang mata dengan memancarkan cahaya tajam melototi wajah Liauw Thayjien tak kejap, ujarnya.

“Ada pepatah yang mengatakan berani berderma lenyapkan bencana. Saudara suka serahkan lukisan pengangon kambing itu kepada kami hal ini menunjukkan suatu tindakan yang cerdik, cuma situasi yang kita hadapi pada saat ini sangat kacau, orang yang menginginkan lukisan pengangon kambing pun sangat banyak, di antara banyak orang ini kau harus memilih salah satu diantaranya.”

“Aku suka menyerahkan lukisan pengangon kambing itu lantaran ingin melindungi keselamatan kami sekeluarga,” kata Liauw Thayjien sambil ulapkan tangannya. “Bila aku sudah serahkan lukisan pengangon kambing itu tapi tidak berhasil juga melindungi kami sekeluarga, bukankah sama halnya tindakan cayhe menyerahkan lukisan pengangon kambing itu hanya nihil belaka dan sama sekali tak bernilai?”

“Maksudku bukan begitu, “ kata Ke Giok Lang mendehem, “Asalkan pilihanmu tepat, sudah tentu keselamatanmu ditanggung beres.”

Ketika itu, kedua gulung bola api yang berkobar di tengah angkasa sudah punah sama sekali hingga udara kembali pada keadaan semula.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw!” kata Liauw Thayjien sambil melirik sekejap ke arah si orang tua itu. “Menurut pandanganmu lukisan pengangon kambing ini harus diserahkan kepada siapa?”

“Menurut pendapat cayhe, lukisan pengangon kambing itu tak boleh diserahkan kepada siapapun, tapi lukisan itu adalah milik Thayjien, jika kau paksa juga hendak menyerahkan lukisan itu kepada mereka, cayhepun tak akan terlalu paksa mencegah.”

Perlahan lahan Liauw Thayjien menghela napas panjang.

“Bilamana setelah aku serahkan lukisan pengangon kambing itu tidak juga berhasil mendapatkan keselamatan kami sekeluarga, ada lebih baik ini tidak kuserahkan,” ujarnya.

“Menyimpan pusaka mencelakai diri sendiri, jikalau saudara tidak suka serahkan lukisan pengangon kambing itu kepada kami, walaupun kami kini suka lepas tangan belum tentu orang lain berpendirian demikian,” kata Ke Giok Lang sambil mendehem perlahan.

“Bila aku berikan kepada kalian apa untungnya terhadap kami……?” tanya Liauw Thayjien kembali.

“Jika kau serahkan lukisan pengangon kambing itu kepada cayhe, maka cayhe suka memikul beban melidungi kalian sekeluarga tiba di kota Kay Hong dalam keadaan selamat bahkan sebelum tutup tahun.”

“Sungguh?” teriak bekas pembesar she Liauw ini dengan mata berkilat.

“Selamanya apa yang aku orang she Ke ucapkan belum pernah diingkari kembali, kau boleh berlega hati.”

“Heee……heee……heee….. aku lihat tidak bisa dipertahankan kejujurannya.” tiba-tiba si Dewa Api Ban Cau menimbrung sambil tertawa dingin.

Air muka Ke Giok Lang berubah hebat setelah mendengar perkataan tersebut.

“Ban heng “ serunya keras. “Kau ada maksud mencari satroni dengan diri siauw-te?”

“Hmmm! Delapan dewa menyeberangi lautan dengan andalkan kepandaian masing-masing!” seru Ban Cau dengan nada yang dingin. “Jikalau Ke Kongcu ingin mengambil lukisan pengangon kambing itu seorang diri, seharusnya perlihatkan dulu warnamu, agar kamipun bisa tinjau apakah kau benar-benar becus atau tidak.”

“Agaknya sebelum Ban heng melihat peti mati tak akan mengucurkan air mata, tidak tiba di tepi sungai Huang hoo tidak akan puas hati, jikalau kau betul betul paksa siauw-te tunjukan atosnya baja, sekarang juga kita bisa buktikan secara terbuka, hanya saja…. berkelahi tanpa alasan sama sekali tidak menarik hati.”

“Jadi maksud Ke Kongcu?”

“Jika Ban heng paksa juga ingin melihat kepandaian siauw-te, ada baiknya kita beri sedikit variasi dalam pertarungan kita kali ini.”

“Turut petunjukmu.”

Ke Giok Lang tertawa dingin, sinar matanya lantas dialihkan ke arah wajah Liauw Thayjien.

“Ada baiknya Liauw Thayjien pun ikut serta dalam pertarungan kita kali ini.”

“Tapi He-koan tak mengerti ilmu silat.”

“Sampai detik ini walaupun jumlah orang yang menginginkan lukisan pengangon kambing itu tidak sedikit, tapi menurut peninjauan kekuatan masing-masing orang seharusnya siauw-te serta Ban heng inilah termasuk dua golongan manusia yan paling kuat.”

“Dan apa sangkut pautnya urusan ini dengan He-koan?”

“Saudara sedang kebingungan tak menentu, sebaliknya dua golongan kekuatan yang kuat sudah siap akan melangsungkan suatu pertarungan yang sengit.”

“Secara bagaimana aku ikut serta dalam soal ini?”

“Kami harus bertempur mati-matian, ada seharusnya kaupun memberi sedikit variasi sehingga pertarungan tersebut semakin syahdu lagi, sebelum tercipta salah satu luka atau sama sama terluka pertarungan ini belum termasuk ramai.”

“Entah apa yang harus aku lakukan dalam memberikan variasi ini?”

“Lukisan pengangon kambing.”

“Untuk serahkan lukisan pengangon kambing, mudah cuma urusan ini tiada sangkut paut dengan keberangkatan kami sekeluarga ke kota Kay Hong.”

“Sudah tentu ada sangkut pautnya”.

“Silahkan menerangkan pendapatmu yang tinggi itu.”

Ke Giok Lang dongakkan kepalanya tertawa terbahak bahak.

“Kau Liauw Thayjien adalah seorang terpelajar, rasanya pernah mendengar pepatah yang mengatakan dua ekor harimau berkelahi salah satu tentu ada yang terluka bukan?”

“Sedikitpun tidak salah, soal ini memang pernah kudengar.”

“Dalam pertarungan sengitku melawan si Dewa Api Ban Cau tentu ada salah seorang yang bakal kalah dan salah satu yang menang, yang menang memperoleh hadiah dan bertanggung jawab dalam melindungi kalian keluarga Liauw tiba di kota Kay Hong dalam keadaan selamat.”

“Ooouw…….kiranya begitu, cuma ……”

“Cuma apa?”

“Untuk mengambil keluar lukisan pengangon kambing buat He-koan sih tak ada persoalan, tapi lukisan itu cuma ada sebuah saja, jikalau He koan tetapkan lukisan tersebut sebagai hadiah pemenang dan didapatkan salah seorang di antara kalian, jikalau di tengah jalan kembali berjumpa dengan orang yang menginginkan lukisan ini, kau suruh He-koan menghadapi dengan cara apa?”

“Tepat sekali pertanyaan yang kau ajukan, bilamana di tengah jalan kau berjumpa lagi dengan orang yang ingin merebut lukisan itu, maka ia harus menghadapi dahulu diri aku orang she Ke…….”

“Hmmmm! Agaknya Ke heng sudah menganggap kemenangan pasti terjatuh di tanganmu” jengek si Dewa Api Ban Cau dingin.

“Jika Ban heng tidak percaya, sekarang juga kita boleh buktikan kebenaran ini.”

Dalam soal gertakan Ke Giok Lang sudah menang satu tingkat terlebih dahulu, sehingga semangat si Dewa Api Ban Cau sedikit banyak tertindas dahulu oleh kegagahan jago muda dari dunia kangouw ini.

Kembali terdengar Ke Giok Lang mendehem ringan dan tambahnya.

“Sekalipun misalnya bisa melewati rintangan siauw-te, masih ada penjagaan dari kawan kawan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok.”

Diam-diam Phoa Ceng Yan mulai meninjau situasi yang dihadapinya saat ini, bilamana semisalnya ia biarkan antara Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang dengan si Dewa Api Ban Cau melakukan dulu suatu pertarungan sengit antara mati hidup, walaupun di luaran kelihatan ia yang bakal menjadi nelayan mujur yang tinggal memungut hasilnya saja, tapi keadaan sesungguhnya dikarenakan antara Ke Giok Lang dengan Ban Cau selalu menjaga segala dengan cermat, bilamana dalam pertarungan sengit itu salah satu berhasil merebut kemenangan maka ia pasti akan segera turun tangan pula untuk merebut lukisan pengangon kambing tersebut.

Tapi jikalau dalam pertarungan ini Liauw Thayjien ikut campur dan setiap urusan pegang peranan sendiri, maka hal ini akan mengganggu rencana dirinya yang hendak memanfaatkan keuntungan tersebut.

Walaupun begitu ia tetap duduk tenang sambil menanti perubahan situasi selanjutnya dengan mulut membungkam.

Sinar mata Liaw Thayjien perlahan dialihkan ke atas wajah Phoa Ceng Yan, katanya, “Phoa Hu Cong Piauw-tauw, tolong kau suka bantu He-koan pikirkan bolehkah aku cantumkan lukisan pengangon kambing itu sebagai hadiah bagi pemenang pertarungan ini?”

Phoa Ceng Yan tertawa hambar.

“Jikalau Thayjien suka percaya terhadap omongan aku orang she Phoa maka serahkan saja seluruh urusan ini biar aku yang membereskan sendiri menurut jalan pikiran aku orang she Phoa, apa yang hendak aku lakukan lebih baik jangan Thayjien potong atau mencegah di tengah jalan. Bilamana Thayjien merasa kekuatan orang she Phoa tidak memadai untuk melindungi keselamatan kalian sekeluarga serta thayjien ingin mencampuri sendiri urusan dunia kangouw maka ada baiknya ambil keputusan sendiri tanpa perlu berunding lagi dengan cayhe.”

“Baiklah!” kata Liauw Thayjien kemudian dengan alis berkerut. “He-koan tetapkan lukisan pengangon kambing ini sebagai hadiah pemenang, jikalau salah satu di antara kalian berhasil menangkan pertandingan ini maka lukisan pengangon kambing ini menjadi milik si pemenang, cuma He-koan harus terangkan dahulu……”

“Liauw Thayjien ada persoalan apalagi?” seru Ke Giok Lang cepat.

“Lukisan pengangon kambing itu tak dapat aku serahkan pada saat ini ….”

“Lalu kapan hendak kau serahkan?”

“Setelah tiba di kota Kay Hong baru kuserahkan lukisan pengangon kambing itu kepadamu.”

“Bicara sesungguhnya, perkataan kalian orang yang memangku jabatan pemerintahan susah dipercaya omongannya.”

“He-koan akan tulis tanda terima dengan diserta tanda tanganku, setelah tiba di kota Kay Hong dengan andalkan surat keterangan itu kau bisa menerima lukisan pengangon kambing.”

“Ehmmm………, perkataanmu ini memang cengli, cuma kami harus lihat dulu gambar lukisan tersebut.”

“Lukisan pengangon kambing yang He-koan bawa cuma sebuah saja, jikalau kalian maksudkan dan semisalnya cuwi sampai salah mencari, bukankah hal ini merupakan suatu lelucon yang sangat menggelikan sekali.”

“Maka dari itu, cayhe ingin melihat dahulu keaslian lukisan tersebut.”

“Tidak bisa jadi, urusan ini tidak mungkin bisa dilakukan.”

Liauw Thayjien menggeleng berulang kali.

“Kenapa?”

“Cuwi semua memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, jikalau cayhe keluarkan lukisan pengangon kambing itu, perduli siapa saja di antara kalian yang berhasil rebut lukisan tersebut, bukankah He-koan hanya bisa membelalakkan mata dengan mulut melongo?”

“Soal ini, cayhe rasa tidak mungkin terjadi.”

“Maksud mencelakai orang tidak boleh ada, maksud berjaga-jaga tidak boleh tak ada, He-koan tak bisa tidak harus bikin persiapan terlebih dahulu…….”

Phoa Ceng Yan yang mendengar perkataan tersebut, diam-diam lantas berpikir dalam hatinya, “Hanya beberapa hari saja ternyata iapun berhasil mempelajari cara untuk menghadapi kaum Bu Lim.”

Ke Giok Lang sebaliknya malah dongakkan kepalanya tertawa terbahak bahak.

“Haaa………haaa……..haaa……… Bagus sekali, bagus sekali, maksud menjaga diri tidak boleh tidak ada, silahkan kau buat surat tanda terima tersebut.”

Liauw Thayjien menyahut, ia suruh kacung bukunya persiapkan pit, bak dan kertas lalu membuatnya sepucuk surat tanda terima yang kira-kira berbunyi “

“Dengan berdasarkan surat ini dapat menerima sebuah lukisan pengangon kambing.” dibawahnya ia cantumkan sekalian namanya.

Ke Giok Lang memandang sekejap ke arah kertas tersebut, lalu tertawa.

“Liauw Thayjien! Jikalau di atas bukti itu dicantumkan pula nama besar dari Phoa Hu Cong Piauw-tauw, maka surat tanda bukti itu bertambah laku lagi.”

“Hmmm! Urusan ini tiada sangkut pautnya dengan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami, juga tiada sangkut paut dengan aku orang she Phoa, mengapa aku orang she Phoa harus ikut mencantumkan pula namaku di atas surat tanda bukti itu?”

“Mohon Phoa heng suka mencantumkan pula namamu di atas tanda bukti itu, aku rasa inipun tak akan merugikan diri Phoa heng,” kata Ke Giok Lang sambil tertawa.

“Hmmm! Silahkan kau mengajukan pendapatmu.”

“Di atas nama Phoa heng kau boleh terangkan pula jika barang tersebut sengaja diserahkan Liauw Thayjien secara sukarela dan disetujui pula oleh Phoa-heng, dan barang tersebut bukan direbut dengan kekerasan.”

“Cuma itu saja?” tanya Phoa Ceng Yan setelah termenung sejenak.

“Di lain waktu jikalau siauw-te menemui Liauw Thayjien untuk minta lukisan tersebut dengan andalkan surat bukti tadi, Phoa heng-pun bisa bertindak pula sebagai saksi.”

Tiba-tiba Phoa Ceng Yan dongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak, “Haaa…..haaa…..haaaa……. Ke Kongcu, bukankah sudah berulang kali aku katakan bahwa urusan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan aku orang she Phoa, jikalau kau paksa juga ingin minta persetujuan dari aku orang she Phoa, maka cayhe bisa terangkan bahwa aku sama sekali tidak setuju untuk serahkan lukisan pengangon kambing itu kepada siapapun.”

“Bilamana Siauw-te datang tidak tepat pada waktunya, kemungkinan sekali kalian sudah dibakar hancur berantakan oleh serangan senjata berapi dari si Dewa Api Ban Cau.”

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw!” mendadak Liauw Thayjien berseru.

“Ada urusan apa?” sahut Phoa Ceng Yan dengan alis berkerut.

“Perkataan dari Ke Kongcu sedikitpun tidak salah, rasanya Phoa Hu Cong Piauw-tauw hanya cantumkan namamu di atas surat bukti itupun bukan merupakan suatu persoalan yang merugikan dirimu.”

“Jadi maksud Thayjien. kau ingin cayhe pun cantumkan pula namaku di atas surat tanda bukti itu?”

“Mencantumkan nama untuk membuktikan bahwa barang itu adalah cayhe yang rela serahkan kepadanya, aku rasa persoalan ini tidak merugikan nama baik perusahaanmu bukan?”

“Ke heng!” seru Phoa Ceng Yan kemudian sambil menoleh kearah Ke Giok Lang.

“Nama besar Hoa Hoa Kongcu ternyata luar biasa sekali, dengan dua tiga patah kata ternyata kau bisa bikin tunduk si pemilik barang dari perusahaan kami.”

Ke Giok Lang tersenyum.

“Pil mujarab tersebut merupakan obat kuat yang susah didapatkan, cayhe pun berhasil memperoleh barang tersebut dengan kerahkan seluruh tenaga yang dipunyai, aku rasa penyakit yang diderita nona Liauw sudah banyak berkurang bukan!”

Phoa Ceng Yan tak bisa berbuat apa-apa lagi, diterimanya surat tanda bukti itu seraya angkat pit siap mencantumkan namanya.

“Ke Kongcu!” ujarnya kembali. “Minta aku orang she Phoa ikut mencantumkan namaku di atas surat tersebut bukan suatu pekerjaan yang sukar, tapi aku orang she Phoa pun ingin menanyakan dulu satu persoalan kepadamu, asalkan Ke Kongcu suka memberikan jawaban yang memuaskan hatiku, maka aku orang she Phoa akan segera cantumkan pula namaku di atas kertas tersebut.”

(Bersambung Jilid ke 12)

Jilid 12

“Apa yang ingin Phoa heng tanyakan?”

“Ke Kongcu sejak semula sudah punya maksud untuk membegal barang ini sehingga tidak kenal susah payah melakukan perjalanan beribu-ribu li dengan menempug di tengah badai dan hujan salju datang kemari, walaupun telah berjumpa dengan Chin Tayhiap sehingga timbulkan sedikit percekcokan, tapi terhadap persoalan Ke Kongcu untuk membegal barang pusaka itu sama sekali tidak mendapatkan gangguan yang besar….”

Mendadak ia perendah suaranya dengan kata yang lirih sehingga cuma Ke Giok Lang seorang yang bisa menangkap, katanya.

“Sewaktu Ke Kongcu menggunakan siasat memancing harimau meninggalkan gunung, memancing aku orang she Phoa berlalu dan kau menerjang masuk ke dalam kamar penginapan, ditinjau dari keadaan pada waktu itu dengan mudah rasanya Ke Kongcu bisa mendapatkan lukisan pengangon kambing itu, tapi mengapa kau tidak melakukan hal tersebut sebaliknya pergi dan kini balik lagi dengan segala tipu muslihat, apakah hal ini tidak terlalu banyak membuang waktu dan tenaga?”

“Dalam sepasang mata Phoa heng yang jeli dan tajam rasanya tak bakal kemasukan pasir bukan? tapi siauw-te tidak paham apakah Phoa heng sungguh-sungguh tidak tahu? Ataukah sudah tahu tapi pura-pura bertanya?”

“Sudah tentu aku sungguh tidak tahu, bila aku sudah tahu apa gunanya ditanyakan kembali?”

“Mengapa Phoa heng tidak tanyakan urusan ini langsung dengan nona Liauw sendiri?”

“Jika semisalnya nona Liauw suka langsung memberitahukan persoalan itu kepada cayhe, rasanya aku orang she Phoa pun tidak perlu banyak mulut menanyakan persoalan ini kepada Ke Heng.”

Di atas selembar wajah Ke Giok Lang secara samar terlintas suatu perasaan bimbang ragu-ragu, kebingungan kurang percaya, jelas ia tidak percaya terhadap apa yang diucapkan Phoa Ceng Yan barusan ini. Ketika itu Phoa Ceng Yan sedang gerakan pitnya siap mencantumkan namanua di atas kertas tersebut, tapi melihat air muka Ke Giok Lang kelihatan ragu-ragu dan bimbang tak menentu, sepertinya ada satu persoalan besar yang sukar diucapkan keluar, dalam hati semakin heran lagi. Tak kuasa lagi katanya.

“Ke heng, ada urusan apa membuat Ke heng kelihatan begitu bimbang, serba salah dan ragu-raguu?”

Air muka Ke Giok Lang berubah semakin serius lagi, dengan menggunakan nada suara yang palin perlahan katanya.

“Siauw-te telah melakukan pemeriksaan terhadap urat nadi serta denyutan jantung dari nona Liauw itu, ia benar-benar seorang gadis yang tidak mengerti akan ilmu silat, jikalau Phoa heng sendiripun tidak tahu terhadap persoalan ini tentu masih ada rahasia yang lebih mendalam lagi artinya.”

Diam-diam Phoa Ceng Yan pun menghembuskan napasnya panjang-panjang, pikirnya.

“Ternyata nona Liauw yang bersembunyi di dalam kereta benar-benar menyembunyikan suatu rahasia yang maha besar, bahkan rahasia ini menimbulkan tenaga pengaruh yang membuat hati setiap orang merasa bergidik dan ketakutan, Lam Thian Sam Sah serta Hoa Hoa Kongcu sama-sama dipukul mundur dengan ketakutan setelah melihat rahasia tersebut, tapi sungguh aneh sekali setiap kali aku sendiri yang masuk ke dalam kereta atau kamar tidurnya mengapa tidak berhasil kujumpai sedikit tanda yang mencurigakan pun?

Terdengar Ke Giok Lang dengan suara lirih menyambung, “Apakah antara kalian perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok dengan Lambang Naga Sakti “Wan Liong Piauw Kie” yang pernah menggetarkan seluruh daratan Tionggoan pada tiga puluh tahun berselang serta ditakuti tiga bagian oleh seluruh kawan kawan Bu-lim dari seluruh kolong langit betul-betul tiada sangkut paut dengan kalian?”

“Lambang Naga Sakti?” seru Phoa Ceng Yan agak tertegun.

“Sedikitpun tidak salah, aku dilahirkan di dunia rada terlambat sehingga tidak kualami sendiri bagaimanakah kedashyatan dari Lambang Naga Sakti tersebut, tapi peristiwa ini telah diketahui setiap jago yang pernah berkelana dalam Bu Lim bahkan seluruh partai, seluruh perguruan telah turunkan perintah di mana lambang naga sakti muncul maka siapapun tidak diperkenankan mengganggu barang seujung rambut atau seujung rantingpun, barang siapa yang melanggar maka perguruan-nya ada kemungkinan ikut mengalami kemusnahan, bila dia adalah seorang perampok maka tiga keturunan akan menemui bencana.”

“Di tempat manakah Ke heng telah berjumpa dengan Lambang Naga Sakti tersebut?”

“Phoa heng, kau lagi pura-pura bodoh? Ataulah tidak ingin rahasiamu diketahui orang?” seru Ke Giok Lang dengan alis berkerut.

Phoa Ceng Yan menggerakkan pitnya bagaikan terbang menanda tangani tanda terima yang ditulis Liauw Thay jien tadi, kemudian seraya menyerahkan tanda terima tadi ketangan Ke Giok Lang ujarnya.

“Ke Kongcu, inilah tanda yang membuktikan aku orang she Phoa benar bewnar bukan sedang berpura pura!”

Ke Giok Lang menerima tanda terima tersebut kemudian tertawa tergelak.

“Ha….ha…..ha….. peristiwa ini sungguh membuat orang engkau terselimut di balik kabut yang tebal, biarlah aku singkirkan dulu hadangan dari si dewa api Ban Cau kemudian baru kita bicarakan lagi persoalan ini dengan lebih seksama.”

Ia berpaling memandang sekejap ke arah Ban Cau, lalu seraya membentangkan kipasnya ujarnya kembali.

“Ban-heng, tanda terima ini ditulis pribadi oleh Liauw Thayjien dan ditanda tangani oleh Phoa Hu Cong Piauw-tauw, ini berarti lukisan pengangon kambin sudah menjadi  milik Ke Giok Lang, bilamana Ban heng masih ada maksud hendak merampas barang tersebut, nah! Terjanglah aku orang she Ke, setiap terjangan Ban heng akan kuterima dengan senang hati”.

Air muka Ban Cau berubah sangat dingin, ia melirik sekejap ke arah Liauw Thayjien kemudian Phoa Ceng Yan.

“Kalian berdua rela serahkan lukisan pengangon kambing itu buat Ke Giok Lang. Ini berarti kalian tidak pandang sebelah matapun terhadap aku orang she Ban…”

Tidak menanti orang itu menyelesaikan kata-katanya, Ke Giok Lang sudah memotong diiringi gelak tertawa yang keras.

“Haaa…..haaa….haaa…..sekarang, nasi sudah menjadi bubur, kayu sudah menjadi perahu, sekalipun Ban heng bicara keras juga percuma, perlu kau ketahui, jikalau hatimu mengandung maksud tidak baik maka kita berdua terpaksa harus bereskan urusan ini dengan bergebrak, mau tentukan waktu di kemudian hari atau sekarang juga kita selesaikan urusan ini terserah pada Ban heng sendiri, siauw-te selalu menanti petunjuk!”

“Ke Kongcu, kau terlalu menghina orang.” teriak Ban Cau sambil tertawa dingin.

Tangan kanan diangkat lantas mengirim satu hantaman ke muka.

Ke Giok Lang meloncat berkelit, kipas di tangan kanannya menyambar keluar dalam gerakan mendatar membabat lengan kanan Ban Cau.

Si Dewa Api yang melihat serangannya mencapai sasaran kosong segera melejit ke atas, telapak tangan diputar kemudian menyambar lewat dari sisi Ke Giok Lang.

Mendadak si Hoa Hoa Kongcu mengempos tenaga sin kang, kemudia meloncat setinggi delapan sembilan depa ke tengah udara laksana seekor kuda sembrani, ia melayang sejauh satu tombak lebih.

Pada saat yang bersamaan sewaktu Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang berkelit ke samping, pada tempat semula ia berdiri secara tiba-tiba terjadi suatu ledakan yang keras, dalam sekejap mata asap biru itu membumbung tinggi ke angkasa disertai jilatan api yang berkobar.

Phoa Ceng Yan yang melihat kejadian ini hanya bisa berdiri terperanjat, sedang dalam hati pikirnya.

“Sungguh dahsyat, sungguh dahsyat, kepandaian Ban Cau dalam penggunaan senjata berapi sungguh berhasil mencapai taraf kesempurnaan.”

Liauw Thayjien semakin terperanjat lagi melihat peristiwa tersebut, badannya tak kuasa mundur dua langkah ke belakang.

Dalam sekejap mata itulah di tengah kalangan telah terjadi suatu perubahan yang maha besar, sekonyong konyong terdengar Ban Cau berteriak keras lalu putar badan dan ngeloyor pergi.

Sedangkan si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang tetap berdiri di atas permukaan salju dengan wajah serius, ia memandang bayangan punggung Ban Cau yang makin menjauh dengan wajah yang penuh senyuman dingin.

“Ke heng, apakah Ban Cau telah terluka?” tegur Phoa Ceng Yan beberapa saat kemudian.

Perlahan lahan Ke Giok Lang berbalik memandang sekejap wajah Phoa Ceng Yan lalu tersenyum.

“Ban heng telah terkena sebatang jarum beracun dari siauw-te……”

“Kalau begitu luka dari Ban Cau sangat parah?”

“Bila dibicarakan berat memang berat, kalau diucapkan ringan sebenarnya memang ringan, bila ia tidak tahu bagaimana caranya mencegah menjalarnya daya kerja racun yang mengeram di badannya, paling tidak badan harus melakukan satu kali operasi!”

“Kepandaian silat yang Ke heng miliki sungguh luar biasa dahsyatnya, hanya dalam sejurus dua jurus sudah berhasil mengalahkan si dewa api Ban Cau, peristiwa ini sangat jarang ditemui dalam Bu Lim.”

Ke Giok Lang tersenyum.

“Dalam pertempuran ini siauw-te lebih banyak menggunakan kegesitan, cuma saja untuk menghadapi manusia macam Ban Cau yang pandai menggunakan senjata berapi, bila tidak berhasil merubuhkan dirinya dalam dua tiga jurus yang rugi bakalnya adalah siauw-te sendiri……”

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya lebih lanjut.

“Liauw Thayjien, kita berjumpa kembali di istana Kay Hong.”

Ia putar badan lantas berlalu.

“Ke heng, tunggu sebentar.” tiba-tiba Phoa Ceng Yan berteriak.

Ke Giok Lang berhenti, berpaling dan tertawa.

“Phoa heng, masih ada urusan apa?”

“Apakah Ke Kongcu hendak berlalu begitu saja?”

“Haaa……..haaa……….haaa……. kami kaum penjahat punya peraturan bagi penjahat sendiri, setelah siauw-te peroleh tanda terima ini tidaklah mungkin bagiku untuk berpeluk tangan belaka, aku dengan membawa anak buahku akan berjalan terlebih dahulu di muka, di samping sebagai pembuka jalan sekalian singkirkan beberapa kesulitan bagi Phoa heng serta Liauw Thayjien, menurut penglihatanku aku orang she Ke, setelah gerombolan Ban Cau yang merupakan rombongan terkuat kena dibikin hancur maka sepanjang jalan raya ini seharusnya tak ada yang berani turun tangan merampas benda itu lagi.”

“Ehmm………agaknya Ke Kongcu begitu yakin.”

“Kecuali terjadi suatu peristiwa istimewa yang ada diluar dugaan, atau munculnya jago lihay tanpa sepengetahuan siauw-te, rasanya tak ada seorangpun yang berani turun tangan mngganggu barang kawalan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian lagi.”

“Semoga saja begitu.”

“Kalau begitu siauw-te berangkat selangkah terlebih dahulu!” seru Ke Giok Lang kemudian sembari ulapkan tangannya. “Bila di tengah perjalanan tidak terjadi peristiwa lagi, kita berjumpa di kota Kay Hong.”

“Silahkan Ke Kongcu berangkat terlebih dahulu.”

Ke Giok Lang tersenyum, ia meloncat pergi dan dalam sekejap mata telah lenyap dari pandangan.

Liauw Thayjien dengan termangu mangu memandang bayangan punggung Ke Giok Lang berlalu telah lenyap dari pandangan sembari ia mengelus jenggotnya ia mengangguk.

“Ehmmm……..sedikitpun tidak salah, kaum penjahat seharusnya mempunyai peraturan sendiri.”

Phoa Ceng Yan yang mendengar perkataan tersebut hanya bisa menghela napas panjang.

Agaknya Thayjien merasa begitu cocok dengan orang she Ke ini?”

“Dugaan Hu Cong Piauw-tauw sedikitpun tidak salah, walaupun ia berasal dari kalangan Liok-lim, tapi apa yang diucapkan memang cengli semua dan ia pegang teguh tata kesopanan.”

“Aaai….! Kelicikan serta kecurangan dalam dunia kangouw tak bisa dibandingkan dengan kejujuran kaum pembesar, Thayjien! Kau tak boleh hanya menilai mukanya saja.”

Liauw Thayjien tidak ingin berdebat dengan Phoa Ceng Yan hanya karena soal kecil ini, segera ia alihkan bahan pembicaraan ke soal yang lain.

“Phoa ya, bagaimana kalau kita segera berangkat?”

“Ehmm…. silahkan Thayjien naik ke dalam kereta, aku segera perintah untuk melakukan perjalanan.”

Liauw Thayjien putar badan, baru perjalanan beberapa langkah mendadak seperti teringat akan satu persoalan yang penting, ia berpaling kembali.

“Phoa ya, apakah Cong Piauw-tauw kalian sudah ada kabarnya?”

“Kecuali ia tidak menerima berita kami, kalau tidak malam ini juga ia pasti telah berhasil mengejar kita?”

“Semoga begitu!” perlahan lahan ia naik ke dalam kereta.

Phoa Ceng Yan pun mendekati kereta sendiri.

“Giok Liong, kita segera berangkat.”

Lie Giok Liong mengiakan, ia bergerak terlebih dahulu di paling depan.

Kereta melanjutkan perjalanan beiring-iringan, putaran roda terdengar bergerak membelah permukaan salju.

“Jie-ya!” seru Nyoo Su Jan tiba-tiba sambil mengejar datang. “Apakah Ke Giok Lang betul betul hendak bukakan jalan kita?”

“Dalam hatinya punya maksud tertentu, aku kira ia tak akan menunjukkan permainan setan lari kepada kita.”

“Tapi orang ini berakal licik banyak siasat busuk, hatinya keji dan telengas, seharusnya kita berhati-hati menghadapi manusia semacam begini.”

“Aaaaai! Jika ditinjau situasi ini hari seharusnya kita menunggu di antara Ke Giok Lang serta Ban Cau melangsungkan suatu pertarungan mati-matian kemudian kita yang jadi nelayan untuk tinggal ambil hasilnya, perduli siapapun yang berhasil memperoleh kemenangan tentu tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka….”

“Jie-ya, bila dalam sekali hantam kita berhasil taklukkan Ban Cau serta Ke Giok Lang, maka wajah kita semakin cemerlang lagi,” sambung Nyoo Su Jan.

“Semisalnya Liauw Thayjien tidak ikut campur, sekalipun kita tidak mungkin berhasil menangkap mereka berdua sekaligus, paling sedikit kita juga singkirkan mereka dari sini.”

“Jie-ya.” tiba-tiba Nyoo Su Jan memperendah suaranya. “Apakah Liauw Thayjien betul-betul tidak tahu rahasia dari lukisan pengangon kambing itu?”

“Kelihatannya ia bukan sedang berpura-pura jika ia berani mencle-mencle dengan manusia macam Ke Giok Lang, apakah kau kira si Hoa Hoa Kongcu suka melepaskan dirinya dengan begitu saja?”

“Seharusnya kita beri penjelasan dulu kepadanya, daripada nantinya tanpa ia sadari sudah kena dicelakai orang,” usul Nyoo Su Jan.

“Terhadap situasi yang berada di depan mata sebetulnya banyak sudah rencana kudapatkan, tapi Liuw Thayjien ngotot ingin mencampuri diri dalam persoalan ini dan menghadapi sendiri Ke Giok Lang, menghadapi perubahan tersebut aku tidak bertenaga untuk menahannya, dan kini kayu sudah menjadi perahu, rasanya susuah bagi kita untuk tarik kembali persoalan tersebut.”

“Hamba punya satu cara untuk membuat Ke Giok Lang repot dengan sia sia,” tiba-tiba Nyoo Su Jan mengajukan usulnya kembali.

“Apa usulmu?”

“Kita berusaha untuk dapatkan lukisan pengangon kambing itu terlebih dahulu.”

“Apakah Ke Giok Lang suka lepas tangan dengan begitu saja?”

“Setelah Cong Piauw-tauw tiba di sini, apa yang perlu kita takutkan lagi?”

“Su Jan” ujar Phoa Ceng Yan setelah termenung sejenak, “Berapa banyak yang kau ketahui tentang lukisan pengangon kambing itu?”

“Jie-ya, kau jangan salah paham” Buru-buru Nyoo Su Jan menggeleng. “Terhadap lukisan pengangon kambing hamba kurang tahu, tapi dengan ikut campurnya si Dewa Api Ban Cau serta Ke Giok Lang dalam perebutan ini, bukankah hal ini memberi tahu kepada kita seberapa berharganya lukisan tersebut.”

“Sekalipun lukisan pengangon kambing berharga melebihi satu kota, kitapun tak bisa turun tangan untuk merebutnya….”

“Phoa ya, kita bukan merebut, tapi kita berusaha untuk mencegah lukisan pengangon kambing itu jangan sampai terhjatuh ke tangan Ke Giok Lang.

“Phoa Ceng Yan sebagai seorang jago kawakan sudah tentu bisa meraba apa maksud yang sebenarnya dari pembantunya ini, ia mendehem perlahan.

“Su Jan!” ujarnya lirih. “Untuk menghadapi persoalan ini kita harus berunding secara seksama dan bertindak berhati-hati, untuk melakukan pekerjaan pengawal barang macam begitu justru yang paling ditakuti adalah tersangkut dalam kancah pergolakan Bu Lim, jika bisa menghindar itu lebih bagus lagi dan kini lukisan pengangon kambing telah diserahkan Liuw Thayjien secara sukarela menurut peraturan hal ini tak bisa dimaksudkan orang lain merampas barang itu dengan kekerasan, dan kini si Hoa Hoa Kongcu membawa surat tanda terima yang ditulis Liuw Thayjien sendiri dan tercantum pula tanda tanganku untuk menerima lukisan pengangon kambing itu, hal ini makin sulit bagi kita untuk mungkir.”

“Perkataan Jie-ya sedikitpun tidak salah bila kita mengganggu lukisan pengangon kambing dan urusan ini dibicarakan di atas meja perundingan, yang rugi adalah kita, tapi lukisan tersebut dapat membuat Ke Giok Lang jadi mabok, bahkan tidak sayang sayangnya bermusuhan dengan Ban Cau, ini mengartikan seberapa berharganya lukisan tersebut.”

“Maksudmu lukisan pengangon kambing ini menyangkut soal mati hidupnya seluruh umat Bu Lim, bukankah hal ini merupakan suatu peristiwa yang maha berat dan maha penting?” sambung Nyoo Su Jan dengan cepat.

“Soal ini…… soal ini……… kita memang harus berpikir panjang….”

Ia mendongak dan menghembuskan napas panjang panjang sambungnya, “Aku hanya berharap Cong Piauw-tauw bisa pagian tiba di sini.”

Selagi Nyoo Su Jan ada maksud menjawab, mendadak terdengar suara derapan kaki kuda berkumandang datang.

Ketika mereka berpaling, dilihatnya seekor kuda laksana sambaran kilat berlari mendekat.

“Aaakh! Cong Piauw-tauw!” teriak Nyoo Su Jan tiba tiba dengan kegirangan.

Waktu itu kuda tersebut dengan cepatnya sudah melewati iring-iringan kereta dan tiba di hadapan kedua orang itu.

Kuda tadi dengan cepatnya berhenti berlari.

Di atas kuda duduk seorang lelaki berusia empat puluh tujuh, delapan tahunan, jenggot hitamnya terurai sepanjang dada.

Orang itu mempunyai wajah persegi empat dengan telinga yang besar, sepasang mata bulat besar dengan wajah keren, membuat setiap orang yang menemuinya tanpa terasa menunjukkan sikap hormat kepadanya.

“Menghunjuk hormat buat Cong Piauw-tauw” buru-buru Nyoo Su Jan menjura.

Orang itu bukan lain adalah Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok Kwan Tiong Gak adanya.

“Su Jan, tidak usah banyak adat” seru Kwan Tiong Gak seraya ulapkan tangannya.

Sinar matanya segera dialihkan ke arah Phoa Ceng Yan, lalu sambil tersenyum serunya.

“Saudara, sungguh melelahkan dirimu.”

“Siauw-te tidak becus, hanya persoalan yang kecil saja harus menganggu ketenangan Cong Piauw-tauw….”

“Secara garis besarnya aku sudah tahu sedikit tentang situasi yang kita hadapi, perubahan ini merupakan satu-satunya perubahan terberat bagi kita perusahaan Liong Wie Piauw-kiok sejak didirikan.”

“Ooooouw…….., kiranya Cong Piauw-tauw sudah dengar orang berkata tentang hal ini!” seru Nyoo Su Jan seraya menjura.

“Aku hanya mendengar sedikit kabar saja, keadaan yang sebetulnya masih belum begitu tahu.”

“Hamba serta Phoa-ya sudah berapa kali menghantar barang kawalan, selama ini belum pernah pula menemui peristiwa seaneh ini, perubahan yangh terjadi di balik peristiwa ini sungguh amat susah diduga.”

Ketika itulah sembari keprak kudanya untuk bergerak maju ujar Kwan Tiong Gak lagi, “Mari, sembari berjalan kita berbicara.”

Phoa Ceng Yan serta Nyoo Su Jan mengiringi dari kedua belah samping dengan berjalan kaki.

Sinar mata Kwan Tiong Gak perlahan menyapu sekejap permukaan salju yang terbentang di depan mata, setelah ditemuinya tak sesosok bayangan manusiapun ada di sana, ia mendehem perlahan.

“Saudara Phoa, apakah tadi sudah terjadi sesuatu peristiwa?”

Iapun meloncat turun dari punggung kuda untuk berjalan seiring kedua orang lainnya.

“Cong Piauw-tauw” jawab Phoa Ceng Yan perlahan. “Jika kedatanganmu lebih pagi selangkah, maka kau bisa berjumpa dengan si “Hoa Hoa Kongcu” Ke Giok Lang serta si Dewa Api Ban Cau.”

“Ooooouw…. Ke Giok Lang pun sudah tiba?”

“Sebelumnya hamba mohon ampun dulu dari Cong Piauw-tauw” seru orang she Phoa seraya menjura.

Melihat tindak tanduk Hu COng Piauw-tauwnya, Kwan Tiong Gak kelihatan agak tertegun.

“Apa yang telah terjadi?”

“Baru saja hamba melakukan suatu perbuatan, entah benar atau tidak tindakanku ini?”

“Apakah tindakanmu itu?”

Phoa Ceng Yan menghela napas panjang dan perlahan lahan mulai menceritakan kisah yang baru saja terjadi dengan penuh ketelitian.

“Menurut pemikiran kita pada umumnya” ujar Kwan Tiong Gak setelah termenung sejenak, “tindakanmu ini boleh dikata tidak jelek, tetapi ….”

Ia melirik sejenak ke arah Phoa Ceng Yan lalu sambungnya,

“Urusan sudah lewat, kita anggap saja sudah selesai, saudara Phoa pun tak usah memikirkannya kembali.

“Tentang lukisan pengangon kambing itu sendiri, entah dimanakah letak keberhargaannya?” ujar Nyoo Su Jan tiba-tiba. “Ke Giok Lang tidak sayang sayangnya bermusuhan karena urusan ini, bahkan mereka rela pula untuk mengikat permusuhan dengan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita, tentu barang tersebut luar biasa sekali.”

“Nyoo Piauw-tauw tadipun pernah mengusulkan bila lukisan pengangon kambing mempengaruhi peristiwa yang sangat besar, kita bisa berusaha untuk menahannya,” sambung Phoa Ceng Yan pula.

Kwan Tiong Gak menggeleng berulang kali.

“Saudara, kaupun sudah menanda tangani surat tanda terima tersebut, mana boleh kau pungkiri kembali pernyataanmu sendiri? rasanya gelar Thiat Ciang Kiem Huan pun tidak seharusnya mendapat cemoohan dari kawan kawan Bu lim bukan?”

“Hamba merasa sangat menyesal!”

Kwan Tiong Gak tersenyum.

Demi kepercayaan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita, lukisan pengangon kambing boleh kita serahkan kepada Ke Giok Lang, tapi kitapun bisa merebutnya kembali dari tangannya.”

“Merebutnya kembali? Apakah tindakan ini tidak terlalu banyak buang waktu dan tenaga?”

“Sedikit membuang tenagapun tak mengapa, serahkan lukisan tersebut kepada Ke Giok Lang adalah untuk membuktikan kepegang janjian kita, sedang merebut kembali adalah demi menjaga nama baik perusahaan Liong Wie Piauw-kiok.”

“Cong Piauw-tauw!” seru Nyoo Su Jan dari samping. “Di dalam dua jurus saja Ke Giok Lang berhasil melukai si Dewa Api Ban Cau …”

“Akh …!” Kwan Tiong Gak merasa kaget setelah mendengar laporan ini. “Menggunakan kepandaian ilmu silat apakah ia berhasil melukai si Dewa Api Ban Cau hanya dalam dua jurus saja?”

“Agaknya menggunakan senjata rahasia.” jawab Phoa Ceng Yan. “Kepandaian silat si Dewa Api Ban Cau justru kelihayan-nya terletak pada alat-alat berapinya yang ganas, Ke Giok Lang telah berusaha merebut posisi terlebih dahulu dengan lepaskan senjata rahasia untuk melukai diri Ban Cau.”

“Ooooouw….. kiranya begitu.”

Sinar matanya lantas dialihkan ke arah Phoa Ceng Yan, tambahnya.

“Tentang diri pribadi si “Hoa Hoa Kongcu” Ke Giok Lang sudah banyak dengar dari orang, kecuali ia gemar sekali mempermainkan kaum wanita, dalam urusan lain ia masih suka mengalah satu tindak buat orang.”

“Di antara berjuta-juta kejahatan, memperkosa adalah kejahatan nomor wahid, cukup mengandalkan hal ini sudah bisa kita tentukan dia bukanlah seorang jagoan dari kalangan Pek-to” seru Nyoo Su Jan.

“Sebetulnya ia memang bukan seorang jago dari kalangan Pek-to! Aku dengar orang berkata kecuali memiliki serangkaian ilmu silat yang luar biasa dahsyatnya ia masih memiliki satu kepandaian yang sangat istimewa yaitu mendatangkan rasa simpatik dari setiap orang yang dijumpainya.”

“Sedikitpun tidak salah” Phoa Ceng Yan membenarkan. “Dia benar-benar memiliki kepandaian tersebut, sewaktu ia berhasil menerjang masuk ke dalam kamar Liuw Thayjien tentu membencinya sampai merasup ke tulang sumsum, tapi bukan saja Liuw Thayjien setuju untuk serahkan lukisan pengangon kambing itu kepadanya, bahkan masih mengagumi dan puji tiada hentinya terhadap setiap ucapan maupun tindak tanduk Hoa Hoa Kongcu.”

Kwan Tiong Gak kembali termenung lalu ujarnya, “Aku dengar orang ini mempunyai kemampuan yang hebat di berbagai bidang, baik kecerdasan maupun kepandaian silat terhitung jago nomor wahid di kolong langit, di antara jago-jago muda ia merupakan jago yang paling menonjol, hanya sayang jalan yang ditempuh adalah jalan serong.”

“Cong Piauw-tauw! Agaknya terhadap watak Ke Giok Lang kau sudah mengetahui sangat banyak,” kata Phoa Ceng Yan lambat.

“Ia pernah mengunjungi Peking bahkan suruh orang menyampaikan surat kepadaku dan berharap bisa berjumpa satu kali dengan diriku, cuma sayang aku banyak urusan tidak bisa penuhi undangannya untuk berjumpa.”

“Sewaktu ada di Peking apakah ia tidak timbulkan keonaran?”

“Justru inilah letak kecerdikan dari si “Hoa Hoa Kongcu” Ke Giok Lang, setelah ia tiba di ibukota, gerak gerik maupun tindak tanduknya sangat misterius, kecuali dia ingin menjumpai orang yang hendak dijumpai rasanya orang lain susah untuk menemukan dirinya.”

“Aaakh….! Tentu urusan ini sudah terjadi banyak tahun berselang bukan?”

“Tidak, peristiwa ini terjadi tahun yang lalu, waktu itu nama besarnya barusan menanjak di dunia persilatan, kudengar kabar kecuali aku, ia masih menjumpai dua orang lainnya.”

“Siapakah mereka?”

“Siapakah kedua orang yang ia jumpai, aku tidak begitu jelas, cuma bila kuselidiki dengan seksama, rasanya tidak susah untuk mengetahui siapa siapakah mereka, tapi justru waktu itu tidak kupandang di dalam hati peristiwa ini. Aaaa…….! Bila kuingat sekarang tindakanku tersebut memang sedikit teledor.”

“Cong Piauw-tauw! Apakah kau merasa adanya hubungan antara persoalan itu dengan lukisan pengangon kambing?” tiba-tiba Phoa Ceng Yan bertanya setelah termenung sejenak.

“Kemungkinan besar memang benar, selama belakangan ini Ke Giok Lang telah memperluas hubungannya dengan berkenalan dengan banyak kawan, agaknya di balik kesemuanya ini ia telah menyusun suatu rencana besar.

“Lukisan pengangon kambing termasuk salah satu tujuannya?” sela Nyoo Su Jan.

“Dalam keadaaan seperti ini kita masih belum dapat mengambil suatu kesimpulan, tapi terhadap lukisan pengangon kambing aku telah melakukan suatu penyelidikan untuk mengetahui latar belakangnya!”

Semangat Phoa Ceng Yan kontan berkobar kembali.

“Dapatkah Cong Piauw-tauw memberi keterangan?” serunya.

Kwan Tiong Gak tidak langsung menjawab pertanyaan dari Phoa Ceng Yan, sebaliknya malah bertanya.

“Apakah kau pernah melihat lukisan pengangon kambing itu?”

“Pernah, cuma sayang pengetahuan serta kecerdikan siauw-te tidak memadahi, susah bagiku untuk mengetahui rahasia di balik peta lukisan pengangon kambing tersebut.”

“Peta lukisan itu dinamakan lukisan pengangon kambing, sesuai dengan namanya tentulah di atas lukisan tersebut telah terlukis banyak sekali binatang kambing, bukan begitu.”

“Benar, bermacam macam kambing dengan gaya yang berlainan, di samping itu terlukis seorang bocah gembala yang mencekal cambuk panjang.”

“Saudara, coba kau pikirlah dengan teliti, di bagian manakah letak kecurigaanmu terhadap lukisan tersebut?”

“Siauw-te sudah memeriksa dengan teliti tapi tidak kuketahui di manakah letak hal hal yang patut dicurigai.”

Kwan Tiong Gak termenung sejenak kemudian ujarnya.

“Menurut berita yang kudapat, di atas lukisan tersebut katanya tersembunyi suatu maksud yang sangat mendalam, lukisan ini adalah hasil karya dari seorang cianpwee, di dalam lukisan tersebut terkandunglah seluruh jerih payah serta kepandaiannya.”

“Ooouw…….jadi maksudnya ia sudah terangkan seluruh kepandaian silatnya di atas lukisan pengangon kambing tersebut?”

“Artinya tidak akan segampang itu, aku dengar orang kata lukisan itu mengandung rahasia yang mendalam, bila tidak berhasil memahami rahasia yang meliputi lukisan tersebut sekalipun dapatkan lukisan pengangon kambing juga percuma.”

“Siauw-te sudah memeriksanya dengan teliti” ujar Phoa Ceng Yan memberi tanggapan. “Bila di atas lukisan pengangon kambing benar-benar terkandung rahasia yang mendalam, maka rahasia itu pasti bisa dipecahkan dengan suatu kecerdikan yang benar-benar amat tinggi, siauwte sudah periksa amat teliti tapi tak sesuatupun yang berhasil kudapatkan.”

“Bila kalian bisa mendapat persetujuan dari Liuw Thayjien untuk memeriksa kembali lukisan pengangon kambing itu, ada kemungkinan kita berhasil memperoleh sedikit gambaran.”

“Urusan ini tidak sukar, biarlah aku temui Liuw Thayjien, mungkin ucapanku berhasil mendapat persetujuannya.”

“Kau harus ingat, urusan ini tak boleh dilakukan dengan kekerasan atau menghardik dan menakut-nakuti orang, asalkan diungkap secara sambil lalu cukuplah sudah, disetujui atau tidak itu urusan orang lain….”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya, “Yang membuat orang menjadi tidak paham adalah lukisan pengangon kambing itu secara bagaimana bisa terjatuh ke tangan Liuw Thayjien?”

“Tentang hal ini siauwte pun pernah bertanya kepadanya tapi ia sendiripun tidak berhasil memberikan suatu jawaban yang pasti, agaknya lukisan tersebut ia bawa ke kota Kay Hong karena mendapat titipan dari orang lain.”

“Siapa yang titipkan barang itu kepadanya? Asalkan orang itu punya hubungan dengan orang-orang bu lim maka dengan cepat kita berhasil menemukan asal mulanya seluruh persoalan ini.”

“Apakah Cong Piauw-tauw merasa urusan ini sangat penting?” tanya Nyoo Su Jan.

“Jika lukisan pengangon kambing itu punya sangkut paut dengan peristiwa Bu Lim, aku nilai dari lukisan ini tak dapat dibandingkan dengan nilai uang lagi.”

“Menurut apa yang Cong Piauw-tauw katakan tadi, jelas lukisan tersebut terbukti ada sangkut pautnya dengan orang-orang Bu Lim apakah seharusnya kita melakukan penyelidikan?” kembali Piauw su she Nyoo ini bertanya.

Kwan Tiong Gak termenung sejenak, kemudian jawabnya.

“Bila dugaanku tidak salah, bukan saja Ban Cau serta Ke Giok Lang bermaksud hendak merampas barang kawalan kita, sekalipun jago jago dari kalangan luruspun kemungkinan besar akan melibatkan diri dalam peristiwa ini.”

“Maksud Cong Piauw-tauw, dari antara jago-jago kalangan luruspun bisa turun tangan membegal barang kawalan kita?”

“Hal ini susah ditentukan, sekalipun mereka tidak sampai turun tangan membegal, rasanya bisa jadi mereka akan bertanya dan selidiki persoalan ini sampai jadi terang.”

Agaknya Phoa Ceng Yan sama sekali tidak menduga barang kawalannya kali ini bisa menimbulkan kekacauan di dalam dunia persilatan, segera ujarnya.

“Jika demikian adanya, barang kawalan kita kali ini tentu menggemparkan seluruh kolong langit.”

“Sedikitpun tidak salah” Kwan Tiong Gak tersenyum. “Ke Giok Lang. si Dewa Api Ban Cau sekalian masih belum terhitung menggemparkan jika merekalah yang turun tangan membegal barang kawalan kita, tapi lain halnya bila sampai murid-murid dari perguruan kalangan luruspun menghadang perjalanan kita, ini barulah suatu peristiwa maha aneh yang belum pernah terjadi dalam Bu lim.”

Phoa Ceng Yan rada tidak percaya atas perkataan tersebut, tanyanya secara tiba-tiba.

“Semisalnya anak murid dari perguruan kaum luruslah yang turun tangan membegal barang kawalan kita, hal ini pasti timbulkan cemoohan dari orang banyak, bukankah tindakan mereka ini akan menodai nama baik perguruan-perguruan mereka?”

“Semisalnya peristiwa ini mempunyai sangkut paut yang maha besar terhadap keutuhan Bu lim, keadaan jauh berbeda lagi, tindakan mereka ini justru bermaksud hendak mencegah lukisan pengangon kambing ini jangan sampai terjatuh ke tangan jago-jago kalangan Liok-lim.”

Ia menghembuskan napas panjang, kemudian sambungnya.

“Tapi hal ini hanya menurut pikiranku sendiri, bagaimanakah akhirnya detik ini tak dapat kuduga?”

“Bila demikian adanya, kerepotan yang kita alami dalam mengawal barang hantaran kali ini boleh dihitung belum pernah ditemui sejak jaman kuno,” kata Nyoo Su Jan.

“Memang suatu peristiwa yang sangat merepotkan, tapi bila dipandang dari pihak kita sebagai suatu perusahaan Piauw-kiok, kita harus mencari akal untuk melindungi lukisan pengangon kambing itu jangan sampai terjatuh ke tangan kawanan Liok-lim, juga jangan sampai membiarkan barang itu terjatuh ke tangan kaum lurus, kita harus antar sekeluarga pembesar Liuw tiba di kota Kay Hong dalam keadaan selamat.”

Ke Giok Lang telah menyanggupi untuk bukakan jalan buat kita, sekalipun diperjalanan ada kerepotan-kerepotan rasanya kini sudah disapu oleh Ke Giok Lang.

Kwan Tiong Gak berpikir sejenak kemudian ujarnya, “Ke Giok Lang jadi orang sangat cerdik, di hadapan kita ia berkata hendak membantu kita, tapi di dalam pandangan orang mereka akan mengira kita sedang bersekongkolan dengan Ke Giok Lang.”

“Aaakh benar, kita sudah digunakan oleh si Hoa Hoa Kongcu.” teriak Phoa Ceng Yan tak tertahan lagi.

Air muka Kwan Tiong Gak berubah semakin serius.

“Urusan belum berubah sampai seburuk itu, walaupun Ke Giok Lang sangat cerdik, tapi terhadap persoalan ini ia sudah salah langkah.”

“Di dalam anggapannya orang yang mengetahui rahasia lukisan pengangon kambing tidak banyak, semakin tidak menduga lagi bila orang-orang dari kalangan luruspun ikut serta terjun dalam kancah pergolakan ini ….”

Phoa Ceng Yan mengangguk tiada henti memuji kecerdikan Cong Piauw-tauw-nya.

“Sejak jaman kuno hingga sekarang kebanyakan orang yang mau membegal barang kawalan perusahaan Piauw-kiok hanyalah jago-jago kalangan Liok-lim belaka, selamanya belum pernah jago dari kalangan lurus-pun ikut campur dalam persoalan ini, sudah tentu Ke Giok Lang tidak pernah berpikir sampai kesitu.”

Kwan Tiong Gak menghela napas panjang, setelah suasana sunyi beberapa saat lamanya, ia baru berkata kembali.

“Aku akan berangkat terlebih dulu ke muka, kalian susullah perlahan-lahan.”

“Cong Piauw-tauw silahkan berangkat.”

“Akan kutunggu kalian di sebelah depan!” seru Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok lagi seraya meloncat naik ke atas punggung kudanya dan melarikan binatang tunggangan tersebut cepat-cepat ke depan.

Dalam sekejap mata bayangan punggungnya sudah lenyap di ujung langit.

Sembari memandang bayangan punggung Kwan Tiong Gak yang menghilang, bisik Phoa Ceng Yan lirih.

“Su Jan, kau telah berhasil melihat belum?”

“Melihat apa?”

“Walaupun selama berada di hadapan kita Cong Piauw-tauw berusaha untuk menjaga ketenangan wajahnya, padahal aku tahu hatinya sangat tertekan, aku pikir di hatinya pasti masih tersembunyi banyak persoalan yang belum diutarakan kepada kita.”

“Soal ini, hamba kurang ambil perhatian, cuma …”

“Cuma apa?”

“Secara mendadak Cong Piauw-tauw hendak berjalan dulu seorang diri di paling depan, hal ini membuat hamba menaruh curiga.”

“Apa yang kau curigai?”

“Soal ini tak mungkin tiada alasan.”

“Mari kita percepat perjalanan kita, coba kita lihat apa yang terjadi di depan sana.”

“Jie-ya! Kuda tunggangan Cong Piauw-tauw adalah seekor kuda mustika yang bisa lari ribuan li dalam suatu hari mana mungkin kita berhasil menyandaknya?” bisik Nyoo Su Jan lirih. “Apalagi, apakah Ban Cau bersungguh sungguh ingin mengundurkan diri masih susah diyakini pada saat ini, jika kita pergi menyusul dengan kekuatan Giok Liong beberapa orang rasanya terlalu lemah.”

“Perkataanmu tidak salah, kita tak boleh bertindak ceroboh. “ Phoa Ceng Yan ternyata seorang lelaki yang mau menerima nasehat, tampak ia tersenyum.

Mereka berdua dengan mengiringi iring-iringan kereta bergerak maju ke muka.

Kurang lebih sepuluh lie kemudian, tampaklah Kwan Tiong Gak berdiri di bawah sebuah pohon tua di sisi jalan raya sedang menanti kedatangan mereka.

Kwan Tiong Gak menuntun kuda melanjutkan perjalanan, sedang Lie Giok Liong serta Ih Coen maju menyongsong untuk menghunjuk hormat.

Kwan Tiong Gak buru-buru ulapkan tangannya.

“Kalian baik-baiklah menjaga kereta.”

Kedua orang itu mengiakan dan segera mengundurkan diri.

“Toako, apa yang telah kau temukan?” bisik Phoa Ceng Yan kemudian dengan suara yang lirih.

“Baru saja aku berjumpa dengan si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang.”

“Toako telah bergebrak melawan dirinya?” seru Phoa Hu Cong Piauw-tauw sangat terkejut.

“Tidak!” Kwan Tiong Gak menggeleng. “Kita bercakap-cakap sangat baik sekali, ia telah bantu kita melenyapkan dua pos pengintaian dari Ban Cau dan melukai tujuh orang anak buahnya.”

“Aaaakh! Jadi apa yang diucapkan Liuw Thayjien sedikitpun tidak salah. Bajingan-pun mempunyai peraturan kaum bajingan.”

“Agaknya ia bukan lagi berbohong, anak buahnya Yen San Ngo Koei ada dua orang terluka.”

“Kalau begitu urusan ini sudah pasti dan tak bisa diubah lagi.”

“Ehm! Ke Giok Lang beritahu kepadaku tak usah merasa berterima kasih kepadanya, ia tiada sayang-sayangnya mengikat tali permusuhan dengan orang justru maksudnya ingin melindungi lukisan pengangon kambing itu.”

“Aaaakh! Kelihatannya ia tidak mirip seorang keparat berhati keji seperti yang tersiar dalam Bu lim.” Phoa Ceng Yan dan Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok berpekik tertahan.

“Saudara!” kata Kwan Tiong Gak lagi setelah termenung sejenak. “Bila Ke Giok Lang tidak menipu diriku, mungkin selama perjalanan selanjutnya menuju kota Kay Hong, kita tak akan temui kesulitan lagi.”

“Yang jadi persoalan sekarang justeru adalah apakah ucapan dari Ke Giok Lang bisa dipercaya atau tidak.”

“Maka dari itu, kita sendiripun harus bikin sedikit persiapan.”

“Kita hendak bikin persiapan apa?”

“Aku berangkat dulu di paling depan, bila menemukan sesuatu yang mencurigakan akan kuperiksa sendiri terlebih dulu, kemudian menggunakan tanda hubungan rahasia dari perusahaan kita memberi petunjuk kepada kalian.”

“Bagus sekali, kami akan mengikuti petunjuk dari Cong Piauw-tauw.”

Kwan Tion Gak menghela napas panjang.

“Setelah aku tiba di sini, tidak seharusnya Liuw Thayjien serta keluarganya merasa terkejut lagi, juga aku berharap mereka bisa tiba di kota Kay Hong tepat pada saatnya.” ujarnya lambat lambat.

“Cong Piauw-tauw, ada satu persoalan belum siauwte laporkan kepada dirimu?”

“Urusan apa?”

“Lambang Naga sakti yang pernah menggemparkan dunia persilatan pada puluhan tahun berselang kini muncul lagi di dalam Bu lim, bahkan berada di dalam kereta yang ditumpangi nona Liuw.”

“Sungguhkah peristiwa ini telah terjadi?” seru Kwan Tiong Gak tertegun.

“Siauw-te tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, ucapan ini diutarakan dari mulut Ke Giok Lang, tapi bila kupikir dengan teliti rasanya perkataan ini sedikitpun tidak salah, Ke Giok Lang telah menggunakan siasat memancing harimau turun gunung untuk pancing aku meninggalkan rumah penginapan kemudian mengambil kesempatan itu ia mendatangi rumah penginapan dan merobohkan dulu seluruh piauw su yang berjaga-jaga di sana kemudian terobos masuk ke dalam kamar Liuw siocia, menurut keadaan seharusnya waktu itu ia bisa curi pergi lukisan pengangon kambing, tapi detik itu pula ia telah berubah niat bahkan menghadiahkan sebutir pil buat nona Liuw.”

“Ke Giok Lang suka melepaskan cara merampas dengan jalan membokong dan rela mengadakan perjalanan dengan kita undurkan lawan, aku rasa di balik kesemuanya ini masih tercantum alasan-alasan lain!” seru Kwan Tiong Gak setelah termenung sejenak.

“Masih ada satu persoalan lagi hingga kini siauwte belum mengerti di manakah letak sebab-sebabnya!”

“Ehmm! Coba katakan.”

“Sewaktu kami bertahan di dalam sebuah kuil, Ban Cau dengan membawa orang-orangnya telah mendekati kuil di mnana kami bertahan dan agaknya hendak turun tangan terhadap kami dari berbagai jurusan, tapi entah apa sebabnya mendadak mereka bersama-sama bubar dan ngeloyor pergi, peristiwa terjadi sangat mendadak, walaupun sudah siauwte pikir sangat lama belum berhasil juga mengetahui sebab-sebabnya.”

“Ooouw…. pernah terjadi peristiwa macam ini?” Kwan Tiong Gak sendiripun agaknya dibikin tertegun.

“Terhadap peristiwa ini siauwte merasa keheranan, tak kupahami apakah sebab-sebabnya sehingga terjadi begitu?”

“Si Dewa Api serta anak buahnya belum pernah berjumpa dengan Lambang Naga Sakti, agaknya peristiwa ini tiada sangkut pautnya dengan Lambang tersebut.”

“Justeru karena itulah, hamba merasa bingung apa sebabnya?”

“Menurut peristiwa yang berlangsung di depan mata, jelas ada seseorang yang bantu kita mengundurkan Ban Cau sekalian dari suatu tempat yang tersembunyi.”

“Siauwte pun pernah berpikir demikian, kemungkinan sekali kesemuanya ini adalah hasil permainan setan dari Ke Giok Lang, tapi setelah kupikir lebih teliti lagi, rasanya keadaan tersebut salah besar, bila Ke Giok Lang tahu peristiwa ini, seharusnya ia ungkap kembali persoalan tersebut setelah berhadapan muka dengan kami, tapi tak sepatah katapun yang ia utarakan.”

“Waktu itu apakah kau berhasil temukan kunci dari peristiwa ini?”

“Tidak, hanya aku merasa bila sungguh sungguh ada orang membantu kita secara diam-diam, maka kepandaian silat yang dimiliki orang itu tentu luar biasa dahsyatnya.”

Agaknya terhadap peristiwa ini Kwan Tiong Gak tidak dapat menjawab, ia termenung dan membungkam.

“Toako!” sambung Phoa Ceng Yan lebih jauh. “Mengungkap soal ikut campurnya jago-jago kalangan lurus dalam peristiwa ini mungkinkah ada seorang jago lihay dari perguruan Pek-to yang secara diam-diam memberi bantuan kepada kita ………..”

“Empat penjuru hanya salju nan putih, tempat macam begini merupakan, perduli siapakah orang itu, ia bisa merahasiakan jejaknya di depan mata jago lainnya bahkan mengundurkan diri Ban Cau sekalian, jelas dia bukan seorang jagoan biasa saja.”

“Siauw-te pun telah berpikir sampai di sana, tapi yang masih belum kupahami adalah siapakah orang itu dan apa sebabnya ia suka memberi bantuan kepada kita”

Kembali Kwan Tiong Gak termenung beberapa saat.

“Mungkin sekali maksud hatinya sama pula dengan maksud Ke Giok Lang, yaitu melindungi peta lukisan pengangon kambing tersebut.”

Tali les disentak derap kuda bergerak laksana terbang berangkat ke arah depan.

Menanti bayangan punggung dari Kwan Tiong Gak telah lenyap dari pandangan, Phoa Ceng Yan si Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok baru berpaling ke arah Nyoo Su Jan.

“Su Jan, suruh mereka percepat perjalanan, kita harus cepat cepat tiba ditempat tujuan.”

“Apakah Jie Ya tidak naik ke dalam kereta?” kata Nyoo Su Jan seraya menjura.

“Tidak usah, aku akan berjalan di depan, bila terjadi angin taupan yang meniup roboh rerumputan, akupun bisa hadapi dengan lebih seksama.”

“Jie-ya terlalu menyikda diri.”

Phoa Ceng Yan hanya tersenyum dan mengangguk, ia melanjutkan langkahnya ke depan.

Ternyata selama di perjalanan Kwan Tiong Gak tidak munculkan diri kembali, Phoa Ceng Yan pun tidak menemui peristiwa yang diluar dugaan lagi selama dalam perjalanan kali ini.

Hari ini mereka menyeberangi sungai Huang Hoo dan melanjutkan perjalanannya ke kota Kay Hong.

Siang melanjutkan perjalanan malam beristirahat, selama perjalanan aman tentram tidak menjumpai hal-hal yang aneh lagi.

Bulan dua belas tanggal dua puluh sembilan iring-iringan kereta perusahaan Liong Wie Piauw-kiok akhirnya tiba juga di kota Kay Hong dengan selamat.

Setelah masuk kota, Phoa Ceng Yan menghembuskan napas panjang, kepada Liuw Thayjien katanya.

“Thayjien, beruntung nyawa kita tidak melayang, akhirnya sebelum penutupan tahun sampai juga kita di kota Kay Hong.”

“Sungguh bagus sekali, cepat hantar aku ke istana Jendral, sesuai dengan janji aku akan perseni kalian seperti telah kusetujui tempo dulu.”

“Upah tambahan sih kami tidak berani terima, hanya Cayhe ingin menjelaskan satu persoalan kepada Liuw Thayjien.”

“Urusan apa?”

“Lukisan pengangon kambing hendak Thayjien selesaikan secara bagaimana? Apakah kau sungguh sungguh hendak serahkannya ke tangan Ke Giok Lang, atau tidak, soal ini kami tak berani ikut campur dan boleh Thayjien selesaikan sendiri, tetapi semisalnya Thayjien tidak ingin lagi berhubungan dengan orang-orang kangouw, lukisan pengangon kambing bolehlah serahkan kepada cayhe biar kami yang serahkan barang tersebut buat Ke Giok Lang.”

“Soal lukisan pengangon kambing bisa aku serahkan sendiri kepadanya” ujar Liuw Thayjien setelah termenung sejenak. “Aku tidak ingin menyusahkan lagi kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw, bila kau berjumpa dengan Ke Giok Lang boleh suruh ia mendatangi istana Jendral dan ambil sendiri lukisan itu.”

“Cayhe sama sekali tidak mengusulkan agar Liuw Thayjien suka keluarkan lukisan tersebut untuk diserahkan kepadaku.” Phoa Ceng Yan tertawa hambar. “Cuma saya surat tanda terima kita sudah berada di tangannya, secara terang terangan Ke Giok Lang bisa menuntut barang tersebut dari tangan kami.”

Kembali Liuw Thayjien tersenyum.

“Tentang soal ini Phoa Hu Cong Piauw-tauw boleh berlega hati, walaupun Ke Giok Lang membawa surat tanda terima tersebut, tapi ia harus berjumpa dulu dengan diriku sebelum bisa terima lukisan tadi.”

Pada mulanya Phoa Ceng Yan kelihatan rada tertegun kemudian disusul tertawa hambar.

“Apakah Liuw Thayjien bermaksud hendak mengingkari janji ini?”

“Phoa heng, He kOan bukanlah bermaksud demikian” Liuw Tahyjien menggeleng dan tertawa.”Aku rasa jikalau Ke Kongcu bisa berjumpa dengan diriku, sudah tentu lukisan pengangon kambing itu akan kuserahkan kepadanya, bila tidak berhasil menjumpai aku sekalipun aku punya maksud untuk serahkan lukisan tadi kepadanya pun tidak tahu harus serahkan barang ini kepada siapa!”

“Liuw Thayjien! Cayhe ingin menasehati sepatah kata kepadamu.”

“Phoa ya silahkan berbicara.”

“Mengandalkan tentara kerajaan tak bakal bisa menahan kekuatannya kecuali kau sendiri memiliki kemampuan untuk melindungi lukisan pengangon kambing tersebut.”

“Soal ini He Koan sudah punya rencana tersendiri dan tak perlu Phoa-ya ikut merasa kuatir.”

Phoa Ceng Yan termenung sejenak, akhirnya dengan perasaan apa boleh buat katanya.

“Ucapan cayhe akhiri sampai disini saja, Liuw Thayjien siap berbuat bagaimana tentukanlah menurut pikiran dirimu sendiri.”

Liuw Thayjien tertawa hambar.

“Phoa-ya, hantar aku ke istana jendral terlebih dahulu kemudian kita berbicara lagi.”

Phoa Ceng Yan mengiakan, ia perintahkan anak buahnya untuk melanjutkan perjalanan ke muka.

Istana Tok Hu Kong Koan di kota Kay Hong sangat terkenal, tak seorangpun yang tak tahu.

Phoa Ceng Yan dengan memimpin iring-iringan kereta memasuki istana jendral.

Kurang lebih satu tombak dari pintu gerbang istana, dua orang tentara penjaga pintu menghadang jalan pergi iring-iringan kereta tersebut.

Phoa Ceng Yan agaknya sudah dapat meraba maksud Liuw Thayjien yang ingin mengingkari janji, ia tidak ingin membuang banyak waktu lagi, setelah kereta iring-iringan terhadang, ujarnya cepat.

“Thayjien, kereta sudah tiba di depan istana jendral, kami tak bisa melanjutkan kembali perjalanan ke depan.”

Mendengar seruan tersebut, Liuw Thayjien menyingkap horden dan melirik sekejap ke arah kedua orang tentara penjaga pintu itu.

“Si Thayjien adakah dalam istana?” tanyanya.

“Siapakah kau?” tanya salah seorang tentara penjaga pintu yang menyoren golok itu dengan wajah dingin.

“He koan she Liuw, datang dari Peking.”

(Bersambung ke jilid  13)

Jilid 13

Mendengar orang itu datang dari Peking, air muka kedua orang tentara penjaga pintu itupun agak berubah melunak.

“Apakah thayjien punya kartu nama untuk disampaikan?”

“Tidak perlu kartu nama lagi, katakan saja orang she Liuw dari Peking ingin berjumpa.”

Melihat tamunya tidak suka mengeluarkan kartu nama, kedua orang tentara itu jadi kerutkan keningnya.

“Kalau begitu thayjien harap tunggu sejenak di sini, biarlah hamba laporkan hal ini ke dalam.”

Ia putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

Sejurus kemudian, tentara tadi baik lagi dengan membawa seorang lelaki berusia pertengahan, berjubah hitam dengan topi terbuat dari kulit binatang serta tujuh-delapan orang bersenjata lengkap.

“Thayjien, agaknya istana jendral tak bisa ditembusi secara mudah, iring-iringan kereta kitapun rasanya tak dapat langsung masuk ke dalam,” kata Phoa Ceng Yan setelah melihat munculnya beberapa orang itu.

Ketika itu tentara penjaga tadi telah berjalan mendekat.

“Tok Say telah menanti di pintu, sengaja beliau mengirim Ho Su Ya dengan membawa sepuluh orang tentara menyambut kedatangan tamu terhormat, harap Thayjien segera mengikuti kami.”

“Istri dan Siauw li ………”

“Hamba telah menyediakan dua buah tandu” buru-buru Ho Su Ya yang memakai topi kulit menyambuti.

Ketika itulah dua buah tandu kecil telah berjalan mendekat.

Setelah semuanya diatur Ho Su Ya baru berpaling ke arah Phoa Ceng Yan serta Nyoo Su Jan, tanyanya.

“Tentunya, cuwi dari perusahaan Piauw-kiok bukan?”

“Benar, kami mendapat pesanan untuk menghantar Thayjien kemari” buru-buru Phoa Ceng Yan menjura.

Ho Su Ya tersenyum seraya balas memberi hormat.

“Istana jendral melarang sembarangan orang berjalan masuk, aku lihat bagaimana kalau cuwi bongkar muatan Liuw Tahyjien di sini saja?”

Phoa Ceng Yan mengangguk, ia perintahkan anak buahnya untuk bongkar dan turunkan barang barang milik Liuw Thayjien.

Dua buah tandu kecil bergerak mendekati kereta dan membawa Liuw Hujien serta nona Liuw meninggalkan tempat itu.

Setelah semua barang dibongkar, Phoa Ceng Yan pun memberi perintah kepada Nyoo Su Jan.

“Su Jan, putar kereta dan kembali ke Piauw-kiok.”

Nyoo Su Jan mengiakan, ia membawa beberapa kereta kosong itu bergerak ke kantor cabang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang berada di kota Kay Hong.

Mendadak Liuw Thayjien berjalan dua langkah ke depan seraya berseru.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, bila He koan ada urusan ingin berjumpa entah kemanakah aku harus mencari Phoa ya?”

Phoa Ceng Yan yang mendengar pertanyaan itu segera tertawa hambar.

“Aku tinggal di jalan besar sebelah timur, kantor cabang perusahaan Liong WIe Piauw-kiok.”

“Lalu Phoa-ya bermaksud hendak tinggal di kota Kay Hong berapa lama…?”

“Soal ini sulit ditentukan, bila tak ada urusan yang sangat istimewa, mungkin setelah lewati tahun baru segera berangkat.”

“He-koan pikir dalam sehari dua hari ini ingin mendatangi kantor Piauw-kiok kalian untuk menyambangi Phoa-ya.”

“Tidak berani, tidak berani, sampai waktunya cayhe akan menyambut kedatangan Thayjien.” buru-buru Phoa Ceng Yan menjura.

Liuw Thayjien tertawa hambar, dengan di bawah pengawalan beberapa orang tentara kerajaan ia melangkah memasuki bangunan yang besar dari istana jendral tersebut.

Phoa Ceng Yan dengan membawa Nyoo Su Jan serta sepuluh anak buah perusahaan Liog Wie Piauw-kiok pun meninggalkan tempat itu dan kembali ke kantor cabang.

Baru saja kereta berhenti di pintu depan Kwan Tiong Gak dengan memimpin empat orang piauw tau dari kantor cabang kota Kay Hong telah menyambut kedatangannya di pintu.

Ketika waktu itu menunjukkan akhir tahun kantor perusahaan piauw-kiok pun telajh berhenti bekerja, seluruh anggotanya pada beristirahat dan kembali ke kampung halamannya masing-masing.

Buru-buru Phoa Ceng Yan melangkah maju ke depan seraya menjura.

“Menyusahkan toako harus menyambut dari jauh.”

Kwan Tiong Gak tersenyum.

“Selama dalam perjalanan kau tentu sangat letih, siauw heng telah perintahkan mereka untuk persiapkan sebuah meja perjamuan untuk menyambut kedatanganmu, silahkan saudara masuk ke dalam untuk minum secangkir arak.”

Phoa Ceng Yan tertawa getir.

“Siauwte merasa sangat menyesal harus mengejutkan toako…”

“Saudara, peristiwa ini bukan suatu kejadian yang kecil dan merupakan suatu peristiwa yang terbesar sejak perusahaan Lionw Wie piauw-kiok didirikan, sekalipun hitung-hitung aku sendiri yang mengambil barang itupun belum tentu bisa aman tentram.”

Keempat orang Piauw-tauw lainnya pun bersama-sama menjura hormat.

“Menghunjuk hormat buat Hu Cong Piauw-tauw.”

“Tak usah banyak adat,” buru-buru Phoa Ceng Yan berseru seraya tersenyum.

Segera mengandeng tangan kanan Phoa Ceng Yan, Kwan Tiong Gak melangkah masuk ke dalam.

“Ayoh, kita semua masuk dan duduk di dalam, selama melakukan perjalanan kalian sudah menderita terhembus angin dan salju, seharusnya sekarang mereguk secawan arak dan beristirahat.”

“Terima kasih, toako,” Phoa Ceng Yan tertawa hambar.

Dengan mengikuti dari belakang Kwan Tiong Gak mereka melangkah masuk ke dalam ruangan.

Setibanya di ruangan belakang, meja perjamuan telah dipersiapkan Kwan Tiong Gak dengan mengandeng tangan Phoa Ceng Yan duduk di kursi pertama sedang Nyoo Su Jan, Lie Giok Lang, Thio Toa Hauw serta Ih Coen ditambah keempat Piauw-tauw penting dari kantor cabang kota Kay Hong menempati di kursi-kursi kosong lainnya.

“Toako” ujar Phoa Ceng Yan sambil angkat cawan arak di hadapannya. “Siauwte tidak becus dan hanya persoalan kecil saja mengharuskan Toako turun tangan sendiri, secawan arak ini biarlah anggap sebagai arak hukuman buat siauwte.”

Kwan Tiong Gak pun tidak turun tangan mencegah, ia hanya duduk sambil tersenyum.

Phoa Ceng Yan setelah meneguk cawan pertama ia penuhi cawannya kembali dengan arak.

“Berkat kasih sayang dan perhatian dari Cong Piauw-tauw yang anggap aku melebihi sendiri, siauw-te merasa sangat berterima kasih, tapi ternyata aku tidak berkemampuan untuk membantu mereka menghilangkan kesal dan murung dari Cong Piauw-tauw, bila diingat sungguh membuat hatiku merasa amat kecewa sekali, secawan arak ini biarlah aku hormati cuwi sekalian sebagai hukuman atas ketidak mampuanku dalam membantu kalian.”

“Nyoo Su Jan beberapa orang Piauw-tauw buru-buru bangun berdiri.

“Hu Cong Piauw-tauw terlalu merendah!” serunya hampir berbareng.

“Mari kita sama sama bersantap sembari minum,“ ajak Kwan Tiong Kag kemudian sambil pimpin menyumpit sekerat daging. “Setelah kalian selesai minum dan bersantap, aku masih ada dua urusan penting hendak dirundingkan dengan kalian.”

Pada hari hari biasa, ia selalu bersikap penuh wibawa, cukup sepatah kata ucapan ini telah mempengaruhi hati semua orang.

Suasana seketika berubah jadi sunyi, saking heningnya sampai tak kedengaran sedikit suarapun, yang terdengar hanyalah suara tegukan arak serta kecapan mulut.

Sepertanak nasi kemudian, perjamuan itupun telah selesai.

Dua orang pelayan membersihkan meja dan menghidangkan teh wangi.

Sembari meneguk secawan teh ujar Kwan Tiong Gak penuh keseriusan.

“Seharusnya aku tidak patut membicarakan persoalan ini setelah kalian bersantap tapi berhubung waktu yang sangat mendesak terpaksa pembicaraan ini kulakukan juga dalam keadaan tergesa-gesa dengan kalian.”

Walaupun ucapan dari Kwan Tiong Gak ini diutarakan sangat halus, tapi dengan keseriusan serta kewibawaan pada hari-hari biasa seluruh piaut tauw yang ada di dalam piauw-kiok kebanyakan jeri dan menghormatinya, karena itu pada saat ini tak seorangpun yang berani memotong.

“Toako, kau ingin membicarakan soal apa?” tanya Phoa Ceng Yan.

“Aku sudah berjanji dengan seseorang untuk mengadakan pertemuan, sebelum sore nanti harus sudah tiba di tempat yang telah ditentukan.”

“Toako kau telah berjanji hendak mengadajan pertemuan dengan siapa …?” Phoa Ceng Yan kelihatannya agak tertegun.

“Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang lalu si Dewa Api Ban Cau serta tiga orang Liok-lim lainnya yang tidak kuketahui namanya.”

“Bagaimana mungkin si Dewa Api Ban Cau bisa berjalan searah dengan Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang?”

“Di antara mereka berdua pada dasarnya memang tiada terikat dendam yang sangat mendalam, mereka bisa-bisa saja karena satu urusan bentrok dan bergebrak kemudian setelah urusan lewat bersatu kembali.”

“Ke Giok Lang sudah mendapat tanda terima yang ditulis oleh Liuw Thayjien sendiri, setiap saat ia boleh minta lukisan pengangon kambing itu dari tangan Liuw Thayjien sedang Ban Cau di dalam kalangan pertarungan sudah kena dipaksa berada di bawah angin secara bagaimana kedua orang itu bisa bersatu kembali?” agaknya Phoa Ceng Yan masih keheranan dibuatnya.

“Walaupun Ban Cau kena dilukai Ke Giok Lang dengan jarum beracun, tapi sama sekali tidak menderita kekalahan total di bawah pimpinannya masih terdapat banyak jago-jago lihay, bilamana ia ada maksud menerjang ke Giok Lang dengan sepenuh tenaga, rasanya kitapun tak dapat tiba di kota Kay Hong dengan selamat.”

“Aaaaai………. lalu toako hendak pergi menghadiri pertemuan tersebut dengan membawa berapa orang?”

“Di dalam pertemuan ini aku rasa mereka tidak berniat untuk turun tangan terhadap kita semua, tapi kitapun tak boleh tidak harus melakukan persiapan, aku ingin merepotkan saudara serta Su Jan ikut aku pergi menghadiri pertemuan itu.”

“Toako, kapan kau hendak berangkat?”

“Kita segera berangkat.”

Mendengar keputusan Cong Piauw-tauw-nya, Phoa Ceng Yan lantas menarik sekejap dari Nyoo Su Jan.

“Su Jan, kaupun harus bersiap-siap.”

“Setiap saat hamba bisa berangkat.” jawab Nyoo Su Jan dengan cepat.

“Bagus sekali” Phoa Ceng Yan segera berangkat bangun. “Toako berjanji hendak berjumpa dengan mereka di mana?”

“Kuil Thian Ong Bio tujuh li di kota sebelah Timur.”

Tampak seorang lelaki kekar berusia lima puluh tahunan bangun berdiri.

“Cong Piauw-tauw” ujarnya lantang. “Kuil Thian Ong Bio sudah lama tidak digunakan sebagai tempat sembahyang keadaan-nya sunyi dan liar, aku rasa mereka tidak bermaksud baik mengundang Cong Piauw-tauw ke sana entah bagaimana kalau hamba dengan membawa orang melakukan penjagaan dab penyelidikan terlebih dahulu?”

Orang yang barusan bicara bukan lain adalah ketua Piauw-tauw dari kantor cabang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok di kota Kay Hong, si “Hwee Huang Si” atau si Batu Terbang Liem Toa Lek.

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Ini hari adalah tanggal dua sembilan bulan dua belas, besok sudah ganti tahun, setelah para anggota repot selama setahun, seharusnya sekarang beristirahat nyenyak, kau tak usah mengganggu ketenangan mereka lagi, apalagi pihak lawanpun rata-rata merupakan jago lihay dari kalangan Liok-lim, kepergian mereka hanya mendatangkan kerepotan belaka.”

“Hamba sudah lama berdiam di kota Kay Hong, terhadap situasi di sekitar sini sangat hapal, mohon Cong Piauw-tauw suka memberi ijin kepada cayhe serta ketiga orang Piauw-tauw lainnya boleh ikut menghadiri pertemuan itu.”

Kwan Tiong Gak termenung sejenak kemudian menggeleng.

“Kalian tidak usah pergi, kebanyakan orang malah mendatangkan kerepotan. Apalagi di dalam kantor kitapun membutuhkan orang untuk menjaganya, baiklah kau seorang saja yang ikut.”

Liem Toa Lek mengiakan, ia pesan beberapa patah kata kepada ketiga orang Piauw-tauw-nya kemudian bangkit berdiri seraya menyambar senjata andalannya.

Kwan Tiong Gak pun ikut bangun berdiri.

“Mari kita berangkat?”

Pertama tama ia melangkah dahulu ke muka.

Phoa Ceng Yan, Nyoo Su Jan serta Liem Toa Lek pun dengan iring-iringan mengikuti dari belakang Kwan Tiong Gak berjalan meninggalkan kantor cabang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok.

Kedua orang petugas kantor telah mempersiapkan kuda jempolan dari Kwan Tiong Gak serta tiga ekor kuda lainnya menanti di depan halaman.

Tapi dengan cepat Kwan Tiong Gak telah mengulapkan tangannya.

“Tidak usah, kita tak usah naik kuda, lebih baik jalan kaki semua.”

Mendengar perintah Cong Piauw-tauw-nya, Liem Toa Lek segera berpaling kepada beberapa orang anak buahnya.

“Tuntun kuda ke dalam istal dan beri rumput yang banyak, kuda jempolan Cong Piauw-tauw tak ternilai harganya, kalian harus menjaganya baik baik.” bisiknya lirih.

Beberapa orang anggota perusahaan Liong Wie Piauw-kiok itu mengiakan dan berlalu.

Setelah memberi pesan kepada anak buahnya, Liem Toa Lek segera berebur jalan di muka Kwan Tiong Gak.

“Biarlah hamba yang bawa jalan di depan!” serunya cepat.

Demikianlah dengan beriring-iringan Kwan Tiong Gak sekalian meninggalkan kantor cabang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok menuju ke kuil Thian Ong Bio di luar kota sebelah timur.

Perkataan Liem Toa Lek sedikitpun tidak salah, kuil Thian Ong Bio adalah sebuah kuil kecil yang telah tak terpakai lagi, pintu jendela sudah pada roboh, rumput liar serta alang-alang tumbuh subur setinggi lutut, empat penjuru tak ada penduduk yang tinggal di sana.

“Sungguh sunyi tempat ini,” tak tertahan lagi Kwan Tiong Gak berseru dengan kening berkerut.

“Setahun yang lalu,” ujar Liem Toa Lek beri keterangan. “Kuil Thian Ong Bio masih digunakan beberapa orang Toojin untuk bersembahyang, tapi setahun kemudian ketika hamba datang kemari lagi, ternyata suasana sudah sunyi, entah mengapa mereka telah meninggalkan kuil ini?”

“Mari kita berjalan masuk!” ajak sang Cong Piauw-tauw.

Pertama tama ia melangkah terlebih dulu ke depan.

Phoa Ceng Yan serta Liem Toa Lek yang melihat Cong Piauw-tauwnya menerjang terlebih dahulu, buru-buru berebut maju ke muka.

“Cong Piauw-tauw, ada baiknya kita bukakan jalan untukmu!” serunya hampis berbareng.

Tapi Kwan Tiong Gak sudah menggeleng dan mencegah dengan suara lirih.

“Tidak usah, kalian berjalan ke belakang saja dan jaraknya harus ada di antara enam depa.”

Phoa Ceng Yan serta Liem Toa Lek mengiakan, buru-buru mereka mengundurkan diri ke belakang.

Kwan Tiong Gak percepat langkahnya langsung masuk ke dalam ruangan besar.

Phoa Ceng Yan, Liem Toa Lek serta Nyoo Su Jan pun seraya kerahkan hawa sinkang untuk bersiap sedia mengikuti dari belakang Cong Piauw-tauwnya Kwan Tiong Gak.

Beberapa orang dengan jalan beriring memasuki ruangan besar.

Tampaklah si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang sambil goyang goyangkan kipasnya menyambut kedatangan beberapa orang itu dari balik ruangan besar.

“Kwan Tiong Gak Piauw-tauw, ternyata kau seorang yang patut dipercayai!” serunya memuji.

Kwan Tiong Gak berhenti dan tertawa hambar.

“Hanya saudara seorang?” balik tanyanya.

“Si Dewa Api Ban Cau serta beberapa orang kawannya sedang menanti di ruangan dalam.

“Bagus sekali! Mari kita bicara di dalam ruangan tengah saja.”

“Tunggu, tunggu sebentar, dengarkan dulu sepatah dua patah kata dari aku orang she Ke.”

“Ke heng, silahkan bicara.”

“Aaaaai………suatu peristiwa pembegalan barang kawalan biasa yang sering terjadi dalam dunia kangouw, karena ikut campurnya siauw-te tidak disangka telah membuat urusan ini jadi begitu kacau.”

“Silahkan saudara menjelaskan maksud ucapanmu itu.”

“Sebelum Kwan Cong Piauw-tauw dari perusahaan kalian dan mendatangkan banyak kerepotan buat perusahaanmu.”

“Soal ini, aku orang she Kwan sudha mendengar laporan mereka.” perlahan lahan Kwan Tiong Gak mengangguk.

“Pada saat ini ada beberapa orang kawan kawan kang ouw sudah datang mencari aku orang she Ke untuk diajak bicara,” kata Ke Giok Lang. “Terus terang saja kuberitahukan kepada kau Cong Piauw-tauw, sebelum kedatanganmu kemari, di dalam kuil Thian Ong Bio sudah terjadi dua kali pertempuran sengit, siauw-tepun beruntun telah melukai tiga orang….”

“Siapa yang telah kau lukai?”

“Ketiga orang itu sangat jarang berkelana di dalam dunia kangouw terutama di daerah utara, karena mereka terlalu andalkan ilmu silatnya dan tidak pandang sebelah mata terhadap siauw-te, maka barusan saja kuberi sedikit pelajaran kepada mereka agar mereka pun tahu seberapa tingginya langit dan berapa tebalnya bumi.”

Kwan Tiong Gak tersenyum.

“Ke Kongcu sudah bicara setengah harian lamanya belum juga menyebutkan siapakah nama ketiga orang itu” tegurnya.

“Oooow… hee…heee….sekalipun kuutarakan, belum tentu Kwan Piauw-tauw mengenalnya.”

“Coba siapakah mereka!”

“Lam Thian Sam Sah.!”

“Apakah mereka bukan terdiri dari dua lelaki dan satu wanita” tiba tiba si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan menimbrung dari samping. “Salah satu diantaranya adalah seorang lelaki berbaju hitam bersenjatakan sebatang Thian Kui So yang di dalam disembunyikan jarum beracun persis seperti kegunaan kipas Ke Kongcu .?”

“Aaaakh! Jika demikian adanya tentu Phoa Hu Cong Piauw-tauw pun pernah berjumpa dengan mereka,” kata Ke Giok Lang diiringi senyuman hambar.

“Cayhe tidak pernah bicara takabur, terus terang saja siauw-te pernah merasakan bagaimana hebatnya sebatang jarum beracun yang dilepaskan dari senjata Thian Kui So tersebut.”

“Bagaimana daya kerja jarum beracun it?” sambung si Hoa Hoa Kongcu lagi sambil tersenyum.

“Daya kerja racunnya sangat keras dan dahsyat, seseorang setelah terkena jarum tersebut seketika itu juga akan kehilangan daya tempurnya.”

“Lalu secara bagaimana Phoa Hu Cong Piauw-tauw menyembuhkan luka racun itu?”

“Untuk melepaskan bel harus mencari si pemasang bel itu sendiri, yang melukai diriku adalah orang itu dan yang menolong aku pun juga dia.”

Sampai di situ Ke Giok Lang tidak ingin berbicara terlalu panjang lagi, ia menyingkir ke samping membuka jalan.

“Dalam ruangan tengah masih banyak orang menantikan kedatanganmu, silahkan cuwi masuk ke dalam.”

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Ke Kongcu! Agaknya perkataanmu belum selesai bukan?”

“Cayhe sudah selesai berbicara, apa yang harus kutanyakan lagi? seharusnya Kwan heng-lah yang cepat ambil keputusan.”

“Bagus sekali, cayhe pasti akan memberikan suatu jawaban yang memuaskan untuk Ke Kongcu.”

“Dan cayhe berharap jawaban itu adalah suatu jawaban yang sangat bersahabat,” sambung Ke Giok Lang pula diiringi senyuman hambarnya yang menghiasi bibir.

Kwan Tiong Gak tersenyum dan mengangguk, ia tidak bicara lagi dan langsung masuk ke ruangan tengah.

Phoa Ceng Yan, Nyoo Su Jan serta Liem Toa Lek dengan salurkan tenaga sinkang-nya mempersiapkan diri mengikuti dibelakang Cong Piauw-tauwnya Kwan Tiong Gak masuk ke dalam ruangan tengah.

Ketika sinar mata mereka bersama-sama menyapu keadaan di dalam ruangan itu, tampaklah dalam ruangan yang sunyi dan terpencil berdiri dua puluh orang lelaki kekar tinggi pendek tak menentu.

Si Dewa Api Ban Cau dengan memakai seperangkat jubah warna hijau berdiri di tengah ruangan dengan wajah penuh keseriusan.

Sedangkan Lam Thian Sam Sah duduk bersila di pojokan ruangan sedang menyembuhkan luka yang diderita.

Perkataan dari Ke Giok Lang tadi sedikitpun tidak salah, Lam Thian Sam Sah telah menderita luka yang sangat parah.

Sepasang mata Kwan Tiong Gak bagaikan pelita di tengah kegelapan menyapu sekejap seluruh wajah jago-jago yang hadi di ruangan tengah tersebut, lalu seraya menjura kepada Ban Cau serunya.

“Tentunya saudaralah yang disebut orang-orang kangouw sebagai Si Dewa Api Ban Heng?”

Ban Cau tertawa hambar.

“Kwan Piauw-tauw! Sungguh tajam pandanganmu, walaupun kita berdua pernah berhubungan satu sama lain tapi rasanya hanya melalui surat menyurat belaka bukan? menurut ingatan cayhe di antara kita berdua belum pernah berjumpa barang sekalipun.”

“Terhadap Ban-heng yang merupakan seorang jago kenamaan, kegagahan, gerak-gerik serta ketajaman mata yang jauh berbeda dengan orang lain sudah tentu tidak sukar bagiku untuk mengenalinya sekalipun di antara kita berdua belum pernah berjumpa.”

“Terima kasih, terima kasih, Kwan Cong Piauw-tauw terlalu memuji.”

Sinar mata Kwan Tiong Gak perlahan lahan dialihkan ke atas wajah para jago yang hadir dalam ruangan tengah, ia temukan diantara mereka ada delapan sampai sembilan puluh persen adalah anak buah Ke Giok Lang serta Ban Cau yang pada menyoren senjata.

“Kwan-heng!” terdengar Ke Giok Lang berkata seraya menggerak-gerakkan kipasnya.

“Perusahaan piauw-kiok kalian sudah berhasil menghantar pembesar she Liuw sekeluarga serta seluruh harta kekayaan tiba di kota Kay Hong dengan selamat, terhadap nama besar Liong Wie Piauw-kiok pun boleh dihitung tidak menderita suatu kerugian apapun, dengan demikian bukankah tanggung jawab selanjutnya terhadap keselamatan anggota keluarga she Liuw bukan menjadi tanggung jawab kalian lagi?.”

 

[bersambung]