ambang naga panji naga sakti 06
“Dua buah kotak anak panah
ditambah permainan gelang emas dari kau Phoa Jie-ya belum tentu bisa
melukai aku Ban Cau” ejeknya.
“Asal Ban heng tidak main api
kamipun tak akan umpan anak panah serta senjata rahasia untuk balas
melancarkan serangan.”
“Maksud Phoa Jie-ya…”
“Jikalau kau Ban Cau bisa
mengalahkan aku orang she Phoa barang satu atau setengah juruspun
dengan tidak menggunakan senjata api, maka aku akan segera putar
badan berlalu dan sejak ini hari tak akan melakukan pekerjaan
mengawal barang lagi dalam dunia kangouw….”
“Heee………heee……..heee……. sumpah
Phoa-ya terlalu berat………” jengek Ban Cau sambil tertawa dingin.
“Kau Ban-ya berani terima
tantanganku…”
Sekonyong konyong terdengar suara
tertawa panjang bergema datang memecahkan kesunyian seraya memotong
pembicaraan Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok
yang belum selesai itu.
“Sekalipun Ban Cau setuju, cayhe
tak akan menyetujui!.”
Bersamaan dengan munculnya suara,
bayangan manusiapun muncul di tengah kalangan.
Orang itu bukan lain adalah si Hoa
Hoa Kongcu “Im Yang Pan” atau si penguasa Im Yang Ke Giok Lang
adanya.
Orang itu memakai jubah warna
biru, walupun dalam udara sangat dingin tangannya tetap juga
mencekal sebuah kipas.
Dengan gaya seorang pelajar ia
simpan kipasnya lalu dengan hormat menjura ke arah Liauw Thay jien,
kemudian sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke arah Phoa Ceng
Yan, sambungnya lebih lanjut.
“Phoa-ya! Sejak semula cayhe sudah
kirim orang untuk memesan barang tersebut rasanya Phoa Jie-ya masih
ingat bukan??”
Diam-diam Phoa Ceng Yan menjerit
pahit, seorang Dewa Api Ban Cau saja sudah cukup merepotkan, apalagi
saat ini bertambah lagi dengan seorang Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang,
bukankah hal ini sama halnya di tengah hujan salju tertutup pula
oleh badai kabut.
Tetapi justru dengan munculnya si
Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang membuat situasipun terjadi suatu
perubahan yang sangat menguntungkan.
Setelah berpikir beberapa saat, ia
lantas menyahut.
“Sedikitpun tidak salah, orang
yang Ke Kongcu kirim sudah tiba, cuma aku orang she Phoa belum ambil
keputusan.”
“Ooouw…….soal itu sih tidak
penting,” kata Ke Giok Lang sambil goyang goyangkan kipas dan
tertawa. “Asalkan aku orang she Ke berjalan setindak lebih didepan
dengan menduduki posisi “Ceng li”, maka Siauw-te tidak percaya ada
manusia yang bernyali cari gara-gara dengan aku orang she Ke!”
Beberapa patah perkataan ini
diucapkan dengan sangat jelas sekali, agaknya ia sengaja mencari
urusan dengan si Dewa Api Ban Cau.
“Ke Kongcu, cayhe adalah si Dewa
Api Ban Cau,” kata orang itu dengan alis berkerut.
“Ban Toa-ya, sewaktu aku orang she
Ke berkelana dalam dunia persilatan, agaknya Ban-heng telah lama
meninggalkan dunia kangowu bukan?” seru Ke Giok Lang sambil goyang
goyangkan kipasnya.
“Benar, sewaktu Ke Kongcu angkat
nama dalam dunia persilatan, cayhe memang telah mengundurkan diri.”
“Setelah Ban-heng mengundurkan
diri dari keramaian Bu Lim, mengapa saat ini harus munculkan diri
kembali? Haruslah kau ketahui Ombak-ombak belakang sungai Tiang Kang
mendorong ombak yang ada di depannya, manusiapun generasi baru mulai
menghentikan generasi lama, saat ini waktu masih belum terlambat,
apabila Ban heng suka jauh meninggalkan tempat ini mungkin masih
bisa meninggalkan akhir yang baik.”
Air muka si Dewa Api Ban Cau
langsung saja berubah hebat.
“Menurut apa yang Ke Kongcu
katakan, jikalau aku orang she Ban tidak pergi ada kemungkinan besar
bisa memperoleh akhir yang tidak baik.”
“Pertarungan tak bermata, siapa
orang yang bisa menyakinkan suatu kemenangan dalam pertarungan
sengit.?” seru Ke Giok Lang tertawa.
“Heee……heee……heee….. tapi aku
lihat agaknya Ke Kongcu merasa begitu yakin bisa menekan para jago
lainnya…….”
Ke Giok Lang ulapkan kipasnya
memotong perkataan Ban Cau ujarnya.
“Siauw-te hanya bermaksud baik
belaka, tapi jikalau Ban-heng tidak suka mengikuti nasehat tersebut,
maka terpaksa kita harus selesaikan persoalan ini dengan
mengandalkan kepandaian kita.”
Phoa Ceng Yan yang menonton
kejadian tersebut dari samping, begitu melihat pembicaraan kedua
orang itu makin lama diucapkan semakin ketus dan kaku, agaknya
sebentar lagi bakal terjadi suatu pertarungan, diam-diam dalam hati
berpikir.
“Anjing menggigit anjing, bilamana
mereka berdua bisa bertarung terlebih dahulu maka aku bisa menjadi
nelayan yang tinggal pungut hasilnya…… inilah suatu saat yang sangat
menguntungkan.”
Karena sudah ada perhitungan maka
dari itu mulutnya tetap membungkam, siapa nyana tiba-tiba Ke Giok
Lang menoleh, sambil memandang wajah Phoa Ceng Yan katanya.
“Phoa-heng, rasanya kau sudah
mendengar seluruh pembicaraan di antara kami bukan.”
“Hmm…..! Sudah aku dengar semua.”
“Jika ditinjau dari persoalan itu,
rasanya orang yang menginginkan lukisan pengangon kambing itu
bukanlah siauw-te seorang?”
“Perduli siapapun bila ingin
memperoleh lukisan pengangon kambing itu, maka ia harus menerobos
dahulu barikade dari perusahaan Liong Wie piauw-kiok.”
Ke Giok Lang dongakkan kepala
tertawa terbahak bahak.
“Haaa……..haaa…….haaa…….. Phoa-heng
manusia budiman cepat bicara, perkataan yang telah diucapkan selalu
teguh bagaikan karang, justru aku orang she Ke punya satu persoalan
ingin minta petunjuk.”
“Aku orang she Phoa akan pentang
telinga lebar untuk mendengar perkataanmu itu.”
“Lukisan pengangon kambing itu
adalah Cayhe yang pesan terlebih dahulu, bila semisalnya Phoa heng
hendak mengalah, bukankah siauw-te orang pertama yang bakal
memperoleh benda pusaka tersebut.?”
“Cuma sayang aku orang she Phoa
sama sekali tidak berniat untuk mengalah kepada siapapun.”
“Aku orang she Ke cuma ingin
menjelaskan terlebih dahulu persoalan ini, tentang Phoa heng suka
mengalah atau tidak, rasanya itu merupakan persoalan lain.”
Liauw Thayjien yang selama ini
berdiri di samping kalangan, tiba-tiba menimbrung.
“Jikalau He-koan rela
menghadiahkan lukisan pengangon kambing itu kepadamu, maka apa yang
hendak kau lakukan?”
“Soal ini tergantung barang
tersebut hendak kau serahkan kepada siapa!” sahut Ke Giok Lang.
Phoa Ceng Yan hendak mengutarakan
pendapatnya, tapi kena dicegah oleh goyangan tangan Liauw Thayjien.
“Barang itu milikku, sudah tentu
akulah yang berhak untuk mengambil keputusan, Hu Cong Piauw-tauw
tidak perlu ikut campuri dalam persoalan ini.”
“Bisa menyelesaikan persoalan
tanpa melakukan hubungan di antara kita semua itulah yang paling
bagus, sekarang kau boleh membuka harga,” kata Ban Cau.
“Syaratku sederhana, asalkan kami
sekeluarga bisa tiba di kota Kay Hong sebelum tutupan tahun maka
barang itu akan kuserahkan kepada kalian.”
Ke Giok Lang tertawa dingin,
dengan mulutnya tetap membungkam.
Phoa Ceng Yan sendiripun bungkam
sambil memandang ke arah Liauw Thayjien.
Sebaliknya Ban Cau alihkan sinar
matanya menyapu sekejap ke arah para jago di sisinya.
“Saudara bermaksud hendak serahkan
lukisan pengangon kambing itu kepada siapa?”
“Aku sama sekali tidak mengenal
cuwi, siapa saja sanggup menghantar aku sampai ke kota Kay Hong maka
lukisan pengangon kambing itu akan aku serahkan kepadanya.”
“Setiap orang munculkan diri di
tempat ini sama berharap bisa mendapatkan lukisan pengangon kambing
itu, dan saudara harus memilih salah satu di antara kami semua,”
ujar Ban Cau lagi.
Liauw Thayjien mendehem perlahan.
“Siapakah di antara cuwi sekalian
yang berkepandaian silat paling tinggi cayhe sama sekali tidak tahu,
secara bagaimana aku bisa jatuhkan pilihan?”
“Jikalau demikian adanya, maka
saudara harus mengadu untung,” seru si Dewa api seraya menggeleng.
“Phoa-ya!” kata Liauw Thayjien
kemudian sambil alihkan sinar matanya ke arah Phoa Ceng Yan. “Kau
sudah lama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, rasanya
tentu sudah lama mengenal kedua orang ini bukan?”
“Sedikitpun tidak salah, orang
yang memakai jubah warna biru itu adalah Ke Kongcu sedang orang yang
memakai jubah serba merah itu adalah si Dewa Api Ban Cau.”
“Lalu lukisan pengangon kambing
itu aku harus serahkan kepada siapa?”
“Menurut jalan pikiranku, siapapun
jangan diserahkan lukisan tersebut karena siapapun diantara mereka
tak ada yang bertenaga untuk melindungi kalian tiba di kota Kay Hong
sebelum tutupan tahun.”
Ke Giok Lang tertawa dingin
serunya.
“Sekarang kecuali si Dewa Api Ban
Cau boleh dikata cayhepun terhitung salah satu jikalau kau Liauw
Thayjien suka menyerahkan lukisan pengangon kambing itu kepadanya,
itu berarti telah menyalahi orang baik, harap kau suka berpikir tiga
kali sebelum mengambil keputusan!”
“Inilah syaratku, asalkan cuwi
bisa melindungi aku sekeluarga tiba di kota Kay Hong sebelum tutupan
tahun, lukisan pengangon kambing ini pasti cayhe serahkan kepada
kalian.”
“Menurut apa yang cayhe ketahui”
ujar Ke Giok Lang kembali sambil tertawa. “Kecuali kami masih banyak
para jago Bu Lim yang berusaha turun tangan membegal barang kawalan
kalian.”
“Siapa mereka itu?” sela Liauw
Thayjien.
“Pokoknya banyak orang, kau tak
pernah berkelana dalam dunia kangouw, sekalipun kusebut nama mereka
juga percuma saja.”
“Phoa-ya, sebetulnya apa yang
telah terjadi…..” akhirnya saking bo-hoatnya Liauw Thayjien bertanya
kepada Phoa Ceng Yan.
“Dunia kangouw sangat berbahaya
dengan segala tipu muslihat licik. Thayjien adalah keluarga berasal
dari kaum terpelajar, sudah tentu tak mungkin bisa hadapi mereka!”
Ia merandek sejenak untuk tukar
napas, kemudian tambahnya.
“Thayjien, bila kau ingin kembali
ke dalam kereta, silahkan untuk beristirahat!”
“Tapi Phoa-ya, urusan belum ada
penyelesaiannya………”
Ia perendah suaranya, lalu
sambungnya lebih lanjut, “Jikalau mereka berdua pada ngotot untuk
sama-sama bisa peroleh barang itu, lalu baiknya diselesaikan dengan
apa?”
Phoa Ceng Yan termenung sejenak,
kemudian jawabnya, “Serahkan kepada siapapun sama saja, tapi di
antara mereka tentu akan terjadi suatu pertarungan yang amat
sengit.”
Suara jawabannya ini diutarakan
sangat rendah, sehingga Liauw Thayjien yang berdiri di sisinya pun
dengan paksa baru berhasil menangkap apa yang dimaksudkan.
“Ban-heng! Aku lihat kalian boleh
segera berlalu!” terdengar Ke Giok Lang berseru kembali.
“Lalu kenapa Ke Kongcu sendiri
tidak pergi?”
“Ooouw Cayhe masih ada urusan.”
“Siauw-te sih kalau tak ada urusan
juga tak bakal datang kemari di tengah hawa dingin yang menggigilkan
dengan tiupan angin utara yang amat dingin,” balas si Dewa api Ban
Cau sambil tertawa kering.
“Ban heng!” seru Ke Giok Lang
kembali seraya tertawa hambar. “Tempat ini bukan tempat yang bagus
untukmu, kau tetap berdiam di sini bukannya bakal memperoleh
kebaikan sebaliknya malah akan mendapatkan kejelekan.”
“Lalu Ke Kongcu sendiri apakah
tidak takut?”
“Siauw-te ada maksud baik
menasehati dirimu, jikalau Ban-heng tidak mau percaya itupun
merupakan suatu persoalan yang tak bisa dipaksakan …!”
Melihat situasi yang dihadapi saat
ini dalam hati Phoa Ceng Yan lantas berpikir.
“Jika ditinjau dari tindak tanduk
Ke Giok Lang, agaknya ia ada maksud mencari gara-gara dengan Ban
Cau, sekalipun Ban Cau sendiri ada maksud untuk mengalah tapi
sebaliknya Ke Giok Lang selangkah demi selangkah mendesak maju ke
depan, demi muka dan nama baik rasanya Ban Cau tak akan mengalah
terus menerus…. jika mereka berdua sampai saling bentrok dan terjadi
pertarungan, maka aku bisa menonton suatu pertunjukan bagus.”
Tiba tiba Ke Giok Lang menarik
kembali kipasnya sepasang mata dengan memancarkan cahaya tajam
melototi wajah Liauw Thayjien tak kejap, ujarnya.
“Ada pepatah yang mengatakan
berani berderma lenyapkan bencana. Saudara suka serahkan lukisan
pengangon kambing itu kepada kami hal ini menunjukkan suatu tindakan
yang cerdik, cuma situasi yang kita hadapi pada saat ini sangat
kacau, orang yang menginginkan lukisan pengangon kambing pun sangat
banyak, di antara banyak orang ini kau harus memilih salah satu
diantaranya.”
“Aku suka menyerahkan lukisan
pengangon kambing itu lantaran ingin melindungi keselamatan kami
sekeluarga,” kata Liauw Thayjien sambil ulapkan tangannya. “Bila aku
sudah serahkan lukisan pengangon kambing itu tapi tidak berhasil
juga melindungi kami sekeluarga, bukankah sama halnya tindakan cayhe
menyerahkan lukisan pengangon kambing itu hanya nihil belaka dan
sama sekali tak bernilai?”
“Maksudku bukan begitu, “ kata Ke
Giok Lang mendehem, “Asalkan pilihanmu tepat, sudah tentu
keselamatanmu ditanggung beres.”
Ketika itu, kedua gulung bola api
yang berkobar di tengah angkasa sudah punah sama sekali hingga udara
kembali pada keadaan semula.
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw!” kata
Liauw Thayjien sambil melirik sekejap ke arah si orang tua itu.
“Menurut pandanganmu lukisan pengangon kambing ini harus diserahkan
kepada siapa?”
“Menurut pendapat cayhe, lukisan
pengangon kambing itu tak boleh diserahkan kepada siapapun, tapi
lukisan itu adalah milik Thayjien, jika kau paksa juga hendak
menyerahkan lukisan itu kepada mereka, cayhepun tak akan terlalu
paksa mencegah.”
Perlahan lahan Liauw Thayjien
menghela napas panjang.
“Bilamana setelah aku serahkan
lukisan pengangon kambing itu tidak juga berhasil mendapatkan
keselamatan kami sekeluarga, ada lebih baik ini tidak kuserahkan,”
ujarnya.
“Menyimpan pusaka mencelakai diri
sendiri, jikalau saudara tidak suka serahkan lukisan pengangon
kambing itu kepada kami, walaupun kami kini suka lepas tangan belum
tentu orang lain berpendirian demikian,” kata Ke Giok Lang sambil
mendehem perlahan.
“Bila aku berikan kepada kalian
apa untungnya terhadap kami……?” tanya Liauw Thayjien kembali.
“Jika kau serahkan lukisan
pengangon kambing itu kepada cayhe, maka cayhe suka memikul beban
melidungi kalian sekeluarga tiba di kota Kay Hong dalam keadaan
selamat bahkan sebelum tutup tahun.”
“Sungguh?” teriak bekas pembesar
she Liauw ini dengan mata berkilat.
“Selamanya apa yang aku orang she
Ke ucapkan belum pernah diingkari kembali, kau boleh berlega hati.”
“Heee……heee……heee….. aku lihat
tidak bisa dipertahankan kejujurannya.” tiba-tiba si Dewa Api Ban
Cau menimbrung sambil tertawa dingin.
Air muka Ke Giok Lang berubah
hebat setelah mendengar perkataan tersebut.
“Ban heng “ serunya keras. “Kau
ada maksud mencari satroni dengan diri siauw-te?”
“Hmmm! Delapan dewa menyeberangi
lautan dengan andalkan kepandaian masing-masing!” seru Ban Cau
dengan nada yang dingin. “Jikalau Ke Kongcu ingin mengambil lukisan
pengangon kambing itu seorang diri, seharusnya perlihatkan dulu
warnamu, agar kamipun bisa tinjau apakah kau benar-benar becus atau
tidak.”
“Agaknya sebelum Ban heng melihat
peti mati tak akan mengucurkan air mata, tidak tiba di tepi sungai
Huang hoo tidak akan puas hati, jikalau kau betul betul paksa
siauw-te tunjukan atosnya baja, sekarang juga kita bisa buktikan
secara terbuka, hanya saja…. berkelahi tanpa alasan sama sekali
tidak menarik hati.”
“Jadi maksud Ke Kongcu?”
“Jika Ban heng paksa juga ingin
melihat kepandaian siauw-te, ada baiknya kita beri sedikit variasi
dalam pertarungan kita kali ini.”
“Turut petunjukmu.”
Ke Giok Lang tertawa dingin, sinar
matanya lantas dialihkan ke arah wajah Liauw Thayjien.
“Ada baiknya Liauw Thayjien pun
ikut serta dalam pertarungan kita kali ini.”
“Tapi He-koan tak mengerti ilmu
silat.”
“Sampai detik ini walaupun jumlah
orang yang menginginkan lukisan pengangon kambing itu tidak sedikit,
tapi menurut peninjauan kekuatan masing-masing orang seharusnya
siauw-te serta Ban heng inilah termasuk dua golongan manusia yan
paling kuat.”
“Dan apa sangkut pautnya urusan
ini dengan He-koan?”
“Saudara sedang kebingungan tak
menentu, sebaliknya dua golongan kekuatan yang kuat sudah siap akan
melangsungkan suatu pertarungan yang sengit.”
“Secara bagaimana aku ikut serta
dalam soal ini?”
“Kami harus bertempur mati-matian,
ada seharusnya kaupun memberi sedikit variasi sehingga pertarungan
tersebut semakin syahdu lagi, sebelum tercipta salah satu luka atau
sama sama terluka pertarungan ini belum termasuk ramai.”
“Entah apa yang harus aku lakukan
dalam memberikan variasi ini?”
“Lukisan pengangon kambing.”
“Untuk serahkan lukisan pengangon
kambing, mudah cuma urusan ini tiada sangkut paut dengan
keberangkatan kami sekeluarga ke kota Kay Hong.”
“Sudah tentu ada sangkut pautnya”.
“Silahkan menerangkan pendapatmu
yang tinggi itu.”
Ke Giok Lang dongakkan kepalanya
tertawa terbahak bahak.
“Kau Liauw Thayjien adalah seorang
terpelajar, rasanya pernah mendengar pepatah yang mengatakan dua
ekor harimau berkelahi salah satu tentu ada yang terluka bukan?”
“Sedikitpun tidak salah, soal ini
memang pernah kudengar.”
“Dalam pertarungan sengitku
melawan si Dewa Api Ban Cau tentu ada salah seorang yang bakal kalah
dan salah satu yang menang, yang menang memperoleh hadiah dan
bertanggung jawab dalam melindungi kalian keluarga Liauw tiba di
kota Kay Hong dalam keadaan selamat.”
“Ooouw…….kiranya begitu, cuma ……”
“Cuma apa?”
“Untuk mengambil keluar lukisan
pengangon kambing buat He-koan sih tak ada persoalan, tapi lukisan
itu cuma ada sebuah saja, jikalau He koan tetapkan lukisan tersebut
sebagai hadiah pemenang dan didapatkan salah seorang di antara
kalian, jikalau di tengah jalan kembali berjumpa dengan orang yang
menginginkan lukisan ini, kau suruh He-koan menghadapi dengan cara
apa?”
“Tepat sekali pertanyaan yang kau
ajukan, bilamana di tengah jalan kau berjumpa lagi dengan orang yang
ingin merebut lukisan itu, maka ia harus menghadapi dahulu diri aku
orang she Ke…….”
“Hmmmm! Agaknya Ke heng sudah
menganggap kemenangan pasti terjatuh di tanganmu” jengek si Dewa Api
Ban Cau dingin.
“Jika Ban heng tidak percaya,
sekarang juga kita boleh buktikan kebenaran ini.”
Dalam soal gertakan Ke Giok Lang
sudah menang satu tingkat terlebih dahulu, sehingga semangat si Dewa
Api Ban Cau sedikit banyak tertindas dahulu oleh kegagahan jago muda
dari dunia kangouw ini.
Kembali terdengar Ke Giok Lang
mendehem ringan dan tambahnya.
“Sekalipun misalnya bisa melewati
rintangan siauw-te, masih ada penjagaan dari kawan kawan perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok.”
Diam-diam Phoa Ceng Yan mulai
meninjau situasi yang dihadapinya saat ini, bilamana semisalnya ia
biarkan antara Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang dengan si Dewa Api Ban
Cau melakukan dulu suatu pertarungan sengit antara mati hidup,
walaupun di luaran kelihatan ia yang bakal menjadi nelayan mujur
yang tinggal memungut hasilnya saja, tapi keadaan sesungguhnya
dikarenakan antara Ke Giok Lang dengan Ban Cau selalu menjaga segala
dengan cermat, bilamana dalam pertarungan sengit itu salah satu
berhasil merebut kemenangan maka ia pasti akan segera turun tangan
pula untuk merebut lukisan pengangon kambing tersebut.
Tapi jikalau dalam pertarungan ini
Liauw Thayjien ikut campur dan setiap urusan pegang peranan sendiri,
maka hal ini akan mengganggu rencana dirinya yang hendak
memanfaatkan keuntungan tersebut.
Walaupun begitu ia tetap duduk
tenang sambil menanti perubahan situasi selanjutnya dengan mulut
membungkam.
Sinar mata Liaw Thayjien perlahan
dialihkan ke atas wajah Phoa Ceng Yan, katanya, “Phoa Hu Cong
Piauw-tauw, tolong kau suka bantu He-koan pikirkan bolehkah aku
cantumkan lukisan pengangon kambing itu sebagai hadiah bagi pemenang
pertarungan ini?”
Phoa Ceng Yan tertawa hambar.
“Jikalau Thayjien suka percaya
terhadap omongan aku orang she Phoa maka serahkan saja seluruh
urusan ini biar aku yang membereskan sendiri menurut jalan pikiran
aku orang she Phoa, apa yang hendak aku lakukan lebih baik jangan
Thayjien potong atau mencegah di tengah jalan. Bilamana Thayjien
merasa kekuatan orang she Phoa tidak memadai untuk melindungi
keselamatan kalian sekeluarga serta thayjien ingin mencampuri
sendiri urusan dunia kangouw maka ada baiknya ambil keputusan
sendiri tanpa perlu berunding lagi dengan cayhe.”
“Baiklah!” kata Liauw Thayjien
kemudian dengan alis berkerut. “He-koan tetapkan lukisan pengangon
kambing ini sebagai hadiah pemenang, jikalau salah satu di antara
kalian berhasil menangkan pertandingan ini maka lukisan pengangon
kambing ini menjadi milik si pemenang, cuma He-koan harus terangkan
dahulu……”
“Liauw Thayjien ada persoalan
apalagi?” seru Ke Giok Lang cepat.
“Lukisan pengangon kambing itu tak
dapat aku serahkan pada saat ini ….”
“Lalu kapan hendak kau serahkan?”
“Setelah tiba di kota Kay Hong
baru kuserahkan lukisan pengangon kambing itu kepadamu.”
“Bicara sesungguhnya, perkataan
kalian orang yang memangku jabatan pemerintahan susah dipercaya
omongannya.”
“He-koan akan tulis tanda terima
dengan diserta tanda tanganku, setelah tiba di kota Kay Hong dengan
andalkan surat keterangan itu kau bisa menerima lukisan pengangon
kambing.”
“Ehmmm………, perkataanmu ini memang
cengli, cuma kami harus lihat dulu gambar lukisan tersebut.”
“Lukisan pengangon kambing yang
He-koan bawa cuma sebuah saja, jikalau kalian maksudkan dan
semisalnya cuwi sampai salah mencari, bukankah hal ini merupakan
suatu lelucon yang sangat menggelikan sekali.”
“Maka dari itu, cayhe ingin
melihat dahulu keaslian lukisan tersebut.”
“Tidak bisa jadi, urusan ini tidak
mungkin bisa dilakukan.”
Liauw Thayjien menggeleng berulang
kali.
“Kenapa?”
“Cuwi semua memiliki kepandaian
silat yang amat tinggi, jikalau cayhe keluarkan lukisan pengangon
kambing itu, perduli siapa saja di antara kalian yang berhasil rebut
lukisan tersebut, bukankah He-koan hanya bisa membelalakkan mata
dengan mulut melongo?”
“Soal ini, cayhe rasa tidak
mungkin terjadi.”
“Maksud mencelakai orang tidak
boleh ada, maksud berjaga-jaga tidak boleh tak ada, He-koan tak bisa
tidak harus bikin persiapan terlebih dahulu…….”
Phoa Ceng Yan yang mendengar
perkataan tersebut, diam-diam lantas berpikir dalam hatinya, “Hanya
beberapa hari saja ternyata iapun berhasil mempelajari cara untuk
menghadapi kaum Bu Lim.”
Ke Giok Lang sebaliknya malah
dongakkan kepalanya tertawa terbahak bahak.
“Haaa………haaa……..haaa……… Bagus
sekali, bagus sekali, maksud menjaga diri tidak boleh tidak ada,
silahkan kau buat surat tanda terima tersebut.”
Liauw Thayjien menyahut, ia suruh
kacung bukunya persiapkan pit, bak dan kertas lalu membuatnya
sepucuk surat tanda terima yang kira-kira berbunyi “
“Dengan berdasarkan surat ini
dapat menerima sebuah lukisan pengangon kambing.” dibawahnya ia
cantumkan sekalian namanya.
Ke Giok Lang memandang sekejap ke
arah kertas tersebut, lalu tertawa.
“Liauw Thayjien! Jikalau di atas
bukti itu dicantumkan pula nama besar dari Phoa Hu Cong Piauw-tauw,
maka surat tanda bukti itu bertambah laku lagi.”
“Hmmm! Urusan ini tiada sangkut
pautnya dengan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami, juga tiada
sangkut paut dengan aku orang she Phoa, mengapa aku orang she Phoa
harus ikut mencantumkan pula namaku di atas surat tanda bukti itu?”
“Mohon Phoa heng suka mencantumkan
pula namamu di atas tanda bukti itu, aku rasa inipun tak akan
merugikan diri Phoa heng,” kata Ke Giok Lang sambil tertawa.
“Hmmm! Silahkan kau mengajukan
pendapatmu.”
“Di atas nama Phoa heng kau boleh
terangkan pula jika barang tersebut sengaja diserahkan Liauw
Thayjien secara sukarela dan disetujui pula oleh Phoa-heng, dan
barang tersebut bukan direbut dengan kekerasan.”
“Cuma itu saja?” tanya Phoa Ceng
Yan setelah termenung sejenak.
“Di lain waktu jikalau siauw-te
menemui Liauw Thayjien untuk minta lukisan tersebut dengan andalkan
surat bukti tadi, Phoa heng-pun bisa bertindak pula sebagai saksi.”
Tiba-tiba Phoa Ceng Yan dongakkan
kepalanya tertawa terbahak-bahak, “Haaa…..haaa…..haaaa……. Ke Kongcu,
bukankah sudah berulang kali aku katakan bahwa urusan ini sama
sekali tiada sangkut pautnya dengan aku orang she Phoa, jikalau kau
paksa juga ingin minta persetujuan dari aku orang she Phoa, maka
cayhe bisa terangkan bahwa aku sama sekali tidak setuju untuk
serahkan lukisan pengangon kambing itu kepada siapapun.”
“Bilamana Siauw-te datang tidak
tepat pada waktunya, kemungkinan sekali kalian sudah dibakar hancur
berantakan oleh serangan senjata berapi dari si Dewa Api Ban Cau.”
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw!”
mendadak Liauw Thayjien berseru.
“Ada urusan apa?” sahut Phoa Ceng
Yan dengan alis berkerut.
“Perkataan dari Ke Kongcu
sedikitpun tidak salah, rasanya Phoa Hu Cong Piauw-tauw hanya
cantumkan namamu di atas surat bukti itupun bukan merupakan suatu
persoalan yang merugikan dirimu.”
“Jadi maksud Thayjien. kau ingin
cayhe pun cantumkan pula namaku di atas surat tanda bukti itu?”
“Mencantumkan nama untuk
membuktikan bahwa barang itu adalah cayhe yang rela serahkan
kepadanya, aku rasa persoalan ini tidak merugikan nama baik
perusahaanmu bukan?”
“Ke heng!” seru Phoa Ceng Yan
kemudian sambil menoleh kearah Ke Giok Lang.
“Nama besar Hoa Hoa Kongcu
ternyata luar biasa sekali, dengan dua tiga patah kata ternyata kau
bisa bikin tunduk si pemilik barang dari perusahaan kami.”
Ke Giok Lang tersenyum.
“Pil mujarab tersebut merupakan
obat kuat yang susah didapatkan, cayhe pun berhasil memperoleh
barang tersebut dengan kerahkan seluruh tenaga yang dipunyai, aku
rasa penyakit yang diderita nona Liauw sudah banyak berkurang
bukan!”
Phoa Ceng Yan tak bisa berbuat
apa-apa lagi, diterimanya surat tanda bukti itu seraya angkat pit
siap mencantumkan namanya.
“Ke Kongcu!” ujarnya kembali.
“Minta aku orang she Phoa ikut mencantumkan namaku di atas surat
tersebut bukan suatu pekerjaan yang sukar, tapi aku orang she Phoa
pun ingin menanyakan dulu satu persoalan kepadamu, asalkan Ke Kongcu
suka memberikan jawaban yang memuaskan hatiku, maka aku orang she
Phoa akan segera cantumkan pula namaku di atas kertas tersebut.”
(Bersambung Jilid ke 12)
Jilid 12
“Apa yang ingin Phoa heng
tanyakan?”
“Ke Kongcu sejak semula sudah
punya maksud untuk membegal barang ini sehingga tidak kenal susah
payah melakukan perjalanan beribu-ribu li dengan menempug di tengah
badai dan hujan salju datang kemari, walaupun telah berjumpa dengan
Chin Tayhiap sehingga timbulkan sedikit percekcokan, tapi terhadap
persoalan Ke Kongcu untuk membegal barang pusaka itu sama sekali
tidak mendapatkan gangguan yang besar….”
Mendadak ia perendah suaranya
dengan kata yang lirih sehingga cuma Ke Giok Lang seorang yang bisa
menangkap, katanya.
“Sewaktu Ke Kongcu menggunakan
siasat memancing harimau meninggalkan gunung, memancing aku orang
she Phoa berlalu dan kau menerjang masuk ke dalam kamar penginapan,
ditinjau dari keadaan pada waktu itu dengan mudah rasanya Ke Kongcu
bisa mendapatkan lukisan pengangon kambing itu, tapi mengapa kau
tidak melakukan hal tersebut sebaliknya pergi dan kini balik lagi
dengan segala tipu muslihat, apakah hal ini tidak terlalu banyak
membuang waktu dan tenaga?”
“Dalam sepasang mata Phoa heng
yang jeli dan tajam rasanya tak bakal kemasukan pasir bukan? tapi
siauw-te tidak paham apakah Phoa heng sungguh-sungguh tidak tahu?
Ataukah sudah tahu tapi pura-pura bertanya?”
“Sudah tentu aku sungguh tidak
tahu, bila aku sudah tahu apa gunanya ditanyakan kembali?”
“Mengapa Phoa heng tidak tanyakan
urusan ini langsung dengan nona Liauw sendiri?”
“Jika semisalnya nona Liauw suka
langsung memberitahukan persoalan itu kepada cayhe, rasanya aku
orang she Phoa pun tidak perlu banyak mulut menanyakan persoalan ini
kepada Ke Heng.”
Di atas selembar wajah Ke Giok
Lang secara samar terlintas suatu perasaan bimbang ragu-ragu,
kebingungan kurang percaya, jelas ia tidak percaya terhadap apa yang
diucapkan Phoa Ceng Yan barusan ini. Ketika itu Phoa Ceng Yan sedang
gerakan pitnya siap mencantumkan namanua di atas kertas tersebut,
tapi melihat air muka Ke Giok Lang kelihatan ragu-ragu dan bimbang
tak menentu, sepertinya ada satu persoalan besar yang sukar
diucapkan keluar, dalam hati semakin heran lagi. Tak kuasa lagi
katanya.
“Ke heng, ada urusan apa membuat
Ke heng kelihatan begitu bimbang, serba salah dan ragu-raguu?”
Air muka Ke Giok Lang berubah
semakin serius lagi, dengan menggunakan nada suara yang palin
perlahan katanya.
“Siauw-te telah melakukan
pemeriksaan terhadap urat nadi serta denyutan jantung dari nona
Liauw itu, ia benar-benar seorang gadis yang tidak mengerti akan
ilmu silat, jikalau Phoa heng sendiripun tidak tahu terhadap
persoalan ini tentu masih ada rahasia yang lebih mendalam lagi
artinya.”
Diam-diam Phoa Ceng Yan pun
menghembuskan napasnya panjang-panjang, pikirnya.
“Ternyata nona Liauw yang
bersembunyi di dalam kereta benar-benar menyembunyikan suatu rahasia
yang maha besar, bahkan rahasia ini menimbulkan tenaga pengaruh yang
membuat hati setiap orang merasa bergidik dan ketakutan, Lam Thian
Sam Sah serta Hoa Hoa Kongcu sama-sama dipukul mundur dengan
ketakutan setelah melihat rahasia tersebut, tapi sungguh aneh sekali
setiap kali aku sendiri yang masuk ke dalam kereta atau kamar
tidurnya mengapa tidak berhasil kujumpai sedikit tanda yang
mencurigakan pun?
Terdengar Ke Giok Lang dengan
suara lirih menyambung, “Apakah antara kalian perusahaan ekspedisi
Liong Wie Piauw-kiok dengan Lambang Naga Sakti “Wan Liong Piauw Kie”
yang pernah menggetarkan seluruh daratan Tionggoan pada tiga puluh
tahun berselang serta ditakuti tiga bagian oleh seluruh kawan kawan
Bu-lim dari seluruh kolong langit betul-betul tiada sangkut paut
dengan kalian?”
“Lambang Naga Sakti?” seru Phoa
Ceng Yan agak tertegun.
“Sedikitpun tidak salah, aku
dilahirkan di dunia rada terlambat sehingga tidak kualami sendiri
bagaimanakah kedashyatan dari Lambang Naga Sakti tersebut, tapi
peristiwa ini telah diketahui setiap jago yang pernah berkelana
dalam Bu Lim bahkan seluruh partai, seluruh perguruan telah turunkan
perintah di mana lambang naga sakti muncul maka siapapun tidak
diperkenankan mengganggu barang seujung rambut atau seujung
rantingpun, barang siapa yang melanggar maka perguruan-nya ada
kemungkinan ikut mengalami kemusnahan, bila dia adalah seorang
perampok maka tiga keturunan akan menemui bencana.”
“Di tempat manakah Ke heng telah
berjumpa dengan Lambang Naga Sakti tersebut?”
“Phoa heng, kau lagi pura-pura
bodoh? Ataulah tidak ingin rahasiamu diketahui orang?” seru Ke Giok
Lang dengan alis berkerut.
Phoa Ceng Yan menggerakkan pitnya
bagaikan terbang menanda tangani tanda terima yang ditulis Liauw
Thay jien tadi, kemudian seraya menyerahkan tanda terima tadi
ketangan Ke Giok Lang ujarnya.
“Ke Kongcu, inilah tanda yang
membuktikan aku orang she Phoa benar bewnar bukan sedang berpura
pura!”
Ke Giok Lang menerima tanda terima
tersebut kemudian tertawa tergelak.
“Ha….ha…..ha….. peristiwa ini
sungguh membuat orang engkau terselimut di balik kabut yang tebal,
biarlah aku singkirkan dulu hadangan dari si dewa api Ban Cau
kemudian baru kita bicarakan lagi persoalan ini dengan lebih
seksama.”
Ia berpaling memandang sekejap ke
arah Ban Cau, lalu seraya membentangkan kipasnya ujarnya kembali.
“Ban-heng, tanda terima ini
ditulis pribadi oleh Liauw Thayjien dan ditanda tangani oleh Phoa Hu
Cong Piauw-tauw, ini berarti lukisan pengangon kambin sudah menjadi
milik Ke Giok Lang, bilamana Ban heng masih ada maksud hendak
merampas barang tersebut, nah! Terjanglah aku orang she Ke, setiap
terjangan Ban heng akan kuterima dengan senang hati”.
Air muka Ban Cau berubah sangat
dingin, ia melirik sekejap ke arah Liauw Thayjien kemudian Phoa Ceng
Yan.
“Kalian berdua rela serahkan
lukisan pengangon kambing itu buat Ke Giok Lang. Ini berarti kalian
tidak pandang sebelah matapun terhadap aku orang she Ban…”
Tidak menanti orang itu
menyelesaikan kata-katanya, Ke Giok Lang sudah memotong diiringi
gelak tertawa yang keras.
“Haaa…..haaa….haaa…..sekarang,
nasi sudah menjadi bubur, kayu sudah menjadi perahu, sekalipun Ban
heng bicara keras juga percuma, perlu kau ketahui, jikalau hatimu
mengandung maksud tidak baik maka kita berdua terpaksa harus
bereskan urusan ini dengan bergebrak, mau tentukan waktu di kemudian
hari atau sekarang juga kita selesaikan urusan ini terserah pada Ban
heng sendiri, siauw-te selalu menanti petunjuk!”
“Ke Kongcu, kau terlalu menghina
orang.” teriak Ban Cau sambil tertawa dingin.
Tangan kanan diangkat lantas
mengirim satu hantaman ke muka.
Ke Giok Lang meloncat berkelit,
kipas di tangan kanannya menyambar keluar dalam gerakan mendatar
membabat lengan kanan Ban Cau.
Si Dewa Api yang melihat
serangannya mencapai sasaran kosong segera melejit ke atas, telapak
tangan diputar kemudian menyambar lewat dari sisi Ke Giok Lang.
Mendadak si Hoa Hoa Kongcu
mengempos tenaga sin kang, kemudia meloncat setinggi delapan
sembilan depa ke tengah udara laksana seekor kuda sembrani, ia
melayang sejauh satu tombak lebih.
Pada saat yang bersamaan sewaktu
Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang berkelit ke samping, pada tempat semula
ia berdiri secara tiba-tiba terjadi suatu ledakan yang keras, dalam
sekejap mata asap biru itu membumbung tinggi ke angkasa disertai
jilatan api yang berkobar.
Phoa Ceng Yan yang melihat
kejadian ini hanya bisa berdiri terperanjat, sedang dalam hati
pikirnya.
“Sungguh dahsyat, sungguh dahsyat,
kepandaian Ban Cau dalam penggunaan senjata berapi sungguh berhasil
mencapai taraf kesempurnaan.”
Liauw Thayjien semakin terperanjat
lagi melihat peristiwa tersebut, badannya tak kuasa mundur dua
langkah ke belakang.
Dalam sekejap mata itulah di
tengah kalangan telah terjadi suatu perubahan yang maha besar,
sekonyong konyong terdengar Ban Cau berteriak keras lalu putar badan
dan ngeloyor pergi.
Sedangkan si Hoa Hoa Kongcu Ke
Giok Lang tetap berdiri di atas permukaan salju dengan wajah serius,
ia memandang bayangan punggung Ban Cau yang makin menjauh dengan
wajah yang penuh senyuman dingin.
“Ke heng, apakah Ban Cau telah
terluka?” tegur Phoa Ceng Yan beberapa saat kemudian.
Perlahan lahan Ke Giok Lang
berbalik memandang sekejap wajah Phoa Ceng Yan lalu tersenyum.
“Ban heng telah terkena sebatang
jarum beracun dari siauw-te……”
“Kalau begitu luka dari Ban Cau
sangat parah?”
“Bila dibicarakan berat memang
berat, kalau diucapkan ringan sebenarnya memang ringan, bila ia
tidak tahu bagaimana caranya mencegah menjalarnya daya kerja racun
yang mengeram di badannya, paling tidak badan harus melakukan satu
kali operasi!”
“Kepandaian silat yang Ke heng
miliki sungguh luar biasa dahsyatnya, hanya dalam sejurus dua jurus
sudah berhasil mengalahkan si dewa api Ban Cau, peristiwa ini sangat
jarang ditemui dalam Bu Lim.”
Ke Giok Lang tersenyum.
“Dalam pertempuran ini siauw-te
lebih banyak menggunakan kegesitan, cuma saja untuk menghadapi
manusia macam Ban Cau yang pandai menggunakan senjata berapi, bila
tidak berhasil merubuhkan dirinya dalam dua tiga jurus yang rugi
bakalnya adalah siauw-te sendiri……”
Ia merandek sejenak, kemudian
sambungnya lebih lanjut.
“Liauw Thayjien, kita berjumpa
kembali di istana Kay Hong.”
Ia putar badan lantas berlalu.
“Ke heng, tunggu sebentar.”
tiba-tiba Phoa Ceng Yan berteriak.
Ke Giok Lang berhenti, berpaling
dan tertawa.
“Phoa heng, masih ada urusan apa?”
“Apakah Ke Kongcu hendak berlalu
begitu saja?”
“Haaa……..haaa……….haaa……. kami kaum
penjahat punya peraturan bagi penjahat sendiri, setelah siauw-te
peroleh tanda terima ini tidaklah mungkin bagiku untuk berpeluk
tangan belaka, aku dengan membawa anak buahku akan berjalan terlebih
dahulu di muka, di samping sebagai pembuka jalan sekalian singkirkan
beberapa kesulitan bagi Phoa heng serta Liauw Thayjien, menurut
penglihatanku aku orang she Ke, setelah gerombolan Ban Cau yang
merupakan rombongan terkuat kena dibikin hancur maka sepanjang jalan
raya ini seharusnya tak ada yang berani turun tangan merampas benda
itu lagi.”
“Ehmm………agaknya Ke Kongcu begitu
yakin.”
“Kecuali terjadi suatu peristiwa
istimewa yang ada diluar dugaan, atau munculnya jago lihay tanpa
sepengetahuan siauw-te, rasanya tak ada seorangpun yang berani turun
tangan mngganggu barang kawalan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok
kalian lagi.”
“Semoga saja begitu.”
“Kalau begitu siauw-te berangkat
selangkah terlebih dahulu!” seru Ke Giok Lang kemudian sembari
ulapkan tangannya. “Bila di tengah perjalanan tidak terjadi
peristiwa lagi, kita berjumpa di kota Kay Hong.”
“Silahkan Ke Kongcu berangkat
terlebih dahulu.”
Ke Giok Lang tersenyum, ia
meloncat pergi dan dalam sekejap mata telah lenyap dari pandangan.
Liauw Thayjien dengan termangu
mangu memandang bayangan punggung Ke Giok Lang berlalu telah lenyap
dari pandangan sembari ia mengelus jenggotnya ia mengangguk.
“Ehmmm……..sedikitpun tidak salah,
kaum penjahat seharusnya mempunyai peraturan sendiri.”
Phoa Ceng Yan yang mendengar
perkataan tersebut hanya bisa menghela napas panjang.
Agaknya Thayjien merasa begitu
cocok dengan orang she Ke ini?”
“Dugaan Hu Cong Piauw-tauw
sedikitpun tidak salah, walaupun ia berasal dari kalangan Liok-lim,
tapi apa yang diucapkan memang cengli semua dan ia pegang teguh tata
kesopanan.”
“Aaai….! Kelicikan serta
kecurangan dalam dunia kangouw tak bisa dibandingkan dengan
kejujuran kaum pembesar, Thayjien! Kau tak boleh hanya menilai
mukanya saja.”
Liauw Thayjien tidak ingin
berdebat dengan Phoa Ceng Yan hanya karena soal kecil ini, segera ia
alihkan bahan pembicaraan ke soal yang lain.
“Phoa ya, bagaimana kalau kita
segera berangkat?”
“Ehmm…. silahkan Thayjien naik ke
dalam kereta, aku segera perintah untuk melakukan perjalanan.”
Liauw Thayjien putar badan, baru
perjalanan beberapa langkah mendadak seperti teringat akan satu
persoalan yang penting, ia berpaling kembali.
“Phoa ya, apakah Cong Piauw-tauw
kalian sudah ada kabarnya?”
“Kecuali ia tidak menerima berita
kami, kalau tidak malam ini juga ia pasti telah berhasil mengejar
kita?”
“Semoga begitu!” perlahan lahan ia
naik ke dalam kereta.
Phoa Ceng Yan pun mendekati kereta
sendiri.
“Giok Liong, kita segera
berangkat.”
Lie Giok Liong mengiakan, ia
bergerak terlebih dahulu di paling depan.
Kereta melanjutkan perjalanan
beiring-iringan, putaran roda terdengar bergerak membelah permukaan
salju.
“Jie-ya!” seru Nyoo Su Jan
tiba-tiba sambil mengejar datang. “Apakah Ke Giok Lang betul betul
hendak bukakan jalan kita?”
“Dalam hatinya punya maksud
tertentu, aku kira ia tak akan menunjukkan permainan setan lari
kepada kita.”
“Tapi orang ini berakal licik
banyak siasat busuk, hatinya keji dan telengas, seharusnya kita
berhati-hati menghadapi manusia semacam begini.”
“Aaaaai! Jika ditinjau situasi ini
hari seharusnya kita menunggu di antara Ke Giok Lang serta Ban Cau
melangsungkan suatu pertarungan mati-matian kemudian kita yang jadi
nelayan untuk tinggal ambil hasilnya, perduli siapapun yang berhasil
memperoleh kemenangan tentu tidak mendatangkan kebaikan bagi
mereka….”
“Jie-ya, bila dalam sekali hantam
kita berhasil taklukkan Ban Cau serta Ke Giok Lang, maka wajah kita
semakin cemerlang lagi,” sambung Nyoo Su Jan.
“Semisalnya Liauw Thayjien tidak
ikut campur, sekalipun kita tidak mungkin berhasil menangkap mereka
berdua sekaligus, paling sedikit kita juga singkirkan mereka dari
sini.”
“Jie-ya.” tiba-tiba Nyoo Su Jan
memperendah suaranya. “Apakah Liauw Thayjien betul-betul tidak tahu
rahasia dari lukisan pengangon kambing itu?”
“Kelihatannya ia bukan sedang
berpura-pura jika ia berani mencle-mencle dengan manusia macam Ke
Giok Lang, apakah kau kira si Hoa Hoa Kongcu suka melepaskan dirinya
dengan begitu saja?”
“Seharusnya kita beri penjelasan
dulu kepadanya, daripada nantinya tanpa ia sadari sudah kena
dicelakai orang,” usul Nyoo Su Jan.
“Terhadap situasi yang berada di
depan mata sebetulnya banyak sudah rencana kudapatkan, tapi Liuw
Thayjien ngotot ingin mencampuri diri dalam persoalan ini dan
menghadapi sendiri Ke Giok Lang, menghadapi perubahan tersebut aku
tidak bertenaga untuk menahannya, dan kini kayu sudah menjadi
perahu, rasanya susuah bagi kita untuk tarik kembali persoalan
tersebut.”
“Hamba punya satu cara untuk
membuat Ke Giok Lang repot dengan sia sia,” tiba-tiba Nyoo Su Jan
mengajukan usulnya kembali.
“Apa usulmu?”
“Kita berusaha untuk dapatkan
lukisan pengangon kambing itu terlebih dahulu.”
“Apakah Ke Giok Lang suka lepas
tangan dengan begitu saja?”
“Setelah Cong Piauw-tauw tiba di
sini, apa yang perlu kita takutkan lagi?”
“Su Jan” ujar Phoa Ceng Yan
setelah termenung sejenak, “Berapa banyak yang kau ketahui tentang
lukisan pengangon kambing itu?”
“Jie-ya, kau jangan salah paham”
Buru-buru Nyoo Su Jan menggeleng. “Terhadap lukisan pengangon
kambing hamba kurang tahu, tapi dengan ikut campurnya si Dewa Api
Ban Cau serta Ke Giok Lang dalam perebutan ini, bukankah hal ini
memberi tahu kepada kita seberapa berharganya lukisan tersebut.”
“Sekalipun lukisan pengangon
kambing berharga melebihi satu kota, kitapun tak bisa turun tangan
untuk merebutnya….”
“Phoa ya, kita bukan merebut, tapi
kita berusaha untuk mencegah lukisan pengangon kambing itu jangan
sampai terhjatuh ke tangan Ke Giok Lang.
“Phoa Ceng Yan sebagai seorang
jago kawakan sudah tentu bisa meraba apa maksud yang sebenarnya dari
pembantunya ini, ia mendehem perlahan.
“Su Jan!” ujarnya lirih. “Untuk
menghadapi persoalan ini kita harus berunding secara seksama dan
bertindak berhati-hati, untuk melakukan pekerjaan pengawal barang
macam begitu justru yang paling ditakuti adalah tersangkut dalam
kancah pergolakan Bu Lim, jika bisa menghindar itu lebih bagus lagi
dan kini lukisan pengangon kambing telah diserahkan Liuw Thayjien
secara sukarela menurut peraturan hal ini tak bisa dimaksudkan orang
lain merampas barang itu dengan kekerasan, dan kini si Hoa Hoa
Kongcu membawa surat tanda terima yang ditulis Liuw Thayjien sendiri
dan tercantum pula tanda tanganku untuk menerima lukisan pengangon
kambing itu, hal ini makin sulit bagi kita untuk mungkir.”
“Perkataan Jie-ya sedikitpun tidak
salah bila kita mengganggu lukisan pengangon kambing dan urusan ini
dibicarakan di atas meja perundingan, yang rugi adalah kita, tapi
lukisan tersebut dapat membuat Ke Giok Lang jadi mabok, bahkan tidak
sayang sayangnya bermusuhan dengan Ban Cau, ini mengartikan seberapa
berharganya lukisan tersebut.”
“Maksudmu lukisan pengangon
kambing ini menyangkut soal mati hidupnya seluruh umat Bu Lim,
bukankah hal ini merupakan suatu peristiwa yang maha berat dan maha
penting?” sambung Nyoo Su Jan dengan cepat.
“Soal ini…… soal ini……… kita
memang harus berpikir panjang….”
Ia mendongak dan menghembuskan
napas panjang panjang sambungnya, “Aku hanya berharap Cong
Piauw-tauw bisa pagian tiba di sini.”
Selagi Nyoo Su Jan ada maksud
menjawab, mendadak terdengar suara derapan kaki kuda berkumandang
datang.
Ketika mereka berpaling,
dilihatnya seekor kuda laksana sambaran kilat berlari mendekat.
“Aaakh! Cong Piauw-tauw!” teriak
Nyoo Su Jan tiba tiba dengan kegirangan.
Waktu itu kuda tersebut dengan
cepatnya sudah melewati iring-iringan kereta dan tiba di hadapan
kedua orang itu.
Kuda tadi dengan cepatnya berhenti
berlari.
Di atas kuda duduk seorang lelaki
berusia empat puluh tujuh, delapan tahunan, jenggot hitamnya terurai
sepanjang dada.
Orang itu mempunyai wajah persegi
empat dengan telinga yang besar, sepasang mata bulat besar dengan
wajah keren, membuat setiap orang yang menemuinya tanpa terasa
menunjukkan sikap hormat kepadanya.
“Menghunjuk hormat buat Cong
Piauw-tauw” buru-buru Nyoo Su Jan menjura.
Orang itu bukan lain adalah Cong
Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok Kwan Tiong Gak
adanya.
“Su Jan, tidak usah banyak adat”
seru Kwan Tiong Gak seraya ulapkan tangannya.
Sinar matanya segera dialihkan ke
arah Phoa Ceng Yan, lalu sambil tersenyum serunya.
“Saudara, sungguh melelahkan
dirimu.”
“Siauw-te tidak becus, hanya
persoalan yang kecil saja harus menganggu ketenangan Cong
Piauw-tauw….”
“Secara garis besarnya aku sudah
tahu sedikit tentang situasi yang kita hadapi, perubahan ini
merupakan satu-satunya perubahan terberat bagi kita perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok sejak didirikan.”
“Ooooouw…….., kiranya Cong
Piauw-tauw sudah dengar orang berkata tentang hal ini!” seru Nyoo Su
Jan seraya menjura.
“Aku hanya mendengar sedikit kabar
saja, keadaan yang sebetulnya masih belum begitu tahu.”
“Hamba serta Phoa-ya sudah berapa
kali menghantar barang kawalan, selama ini belum pernah pula menemui
peristiwa seaneh ini, perubahan yangh terjadi di balik peristiwa ini
sungguh amat susah diduga.”
Ketika itulah sembari keprak
kudanya untuk bergerak maju ujar Kwan Tiong Gak lagi, “Mari, sembari
berjalan kita berbicara.”
Phoa Ceng Yan serta Nyoo Su Jan
mengiringi dari kedua belah samping dengan berjalan kaki.
Sinar mata Kwan Tiong Gak perlahan
menyapu sekejap permukaan salju yang terbentang di depan mata,
setelah ditemuinya tak sesosok bayangan manusiapun ada di sana, ia
mendehem perlahan.
“Saudara Phoa, apakah tadi sudah
terjadi sesuatu peristiwa?”
Iapun meloncat turun dari punggung
kuda untuk berjalan seiring kedua orang lainnya.
“Cong Piauw-tauw” jawab Phoa Ceng
Yan perlahan. “Jika kedatanganmu lebih pagi selangkah, maka kau bisa
berjumpa dengan si “Hoa Hoa Kongcu” Ke Giok Lang serta si Dewa Api
Ban Cau.”
“Ooooouw…. Ke Giok Lang pun sudah
tiba?”
“Sebelumnya hamba mohon ampun dulu
dari Cong Piauw-tauw” seru orang she Phoa seraya menjura.
Melihat tindak tanduk Hu COng
Piauw-tauwnya, Kwan Tiong Gak kelihatan agak tertegun.
“Apa yang telah terjadi?”
“Baru saja hamba melakukan suatu
perbuatan, entah benar atau tidak tindakanku ini?”
“Apakah tindakanmu itu?”
Phoa Ceng Yan menghela napas
panjang dan perlahan lahan mulai menceritakan kisah yang baru saja
terjadi dengan penuh ketelitian.
“Menurut pemikiran kita pada
umumnya” ujar Kwan Tiong Gak setelah termenung sejenak, “tindakanmu
ini boleh dikata tidak jelek, tetapi ….”
Ia melirik sejenak ke arah Phoa
Ceng Yan lalu sambungnya,
“Urusan sudah lewat, kita anggap
saja sudah selesai, saudara Phoa pun tak usah memikirkannya kembali.
“Tentang lukisan pengangon kambing
itu sendiri, entah dimanakah letak keberhargaannya?” ujar Nyoo Su
Jan tiba-tiba. “Ke Giok Lang tidak sayang sayangnya bermusuhan
karena urusan ini, bahkan mereka rela pula untuk mengikat permusuhan
dengan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita, tentu barang tersebut
luar biasa sekali.”
“Nyoo Piauw-tauw tadipun pernah
mengusulkan bila lukisan pengangon kambing mempengaruhi peristiwa
yang sangat besar, kita bisa berusaha untuk menahannya,” sambung
Phoa Ceng Yan pula.
Kwan Tiong Gak menggeleng berulang
kali.
“Saudara, kaupun sudah menanda
tangani surat tanda terima tersebut, mana boleh kau pungkiri kembali
pernyataanmu sendiri? rasanya gelar Thiat Ciang Kiem Huan pun tidak
seharusnya mendapat cemoohan dari kawan kawan Bu lim bukan?”
“Hamba merasa sangat menyesal!”
Kwan Tiong Gak tersenyum.
Demi kepercayaan perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok kita, lukisan pengangon kambing boleh kita serahkan
kepada Ke Giok Lang, tapi kitapun bisa merebutnya kembali dari
tangannya.”
“Merebutnya kembali? Apakah
tindakan ini tidak terlalu banyak buang waktu dan tenaga?”
“Sedikit membuang tenagapun tak
mengapa, serahkan lukisan tersebut kepada Ke Giok Lang adalah untuk
membuktikan kepegang janjian kita, sedang merebut kembali adalah
demi menjaga nama baik perusahaan Liong Wie Piauw-kiok.”
“Cong Piauw-tauw!” seru Nyoo Su
Jan dari samping. “Di dalam dua jurus saja Ke Giok Lang berhasil
melukai si Dewa Api Ban Cau …”
“Akh …!” Kwan Tiong Gak merasa
kaget setelah mendengar laporan ini. “Menggunakan kepandaian ilmu
silat apakah ia berhasil melukai si Dewa Api Ban Cau hanya dalam dua
jurus saja?”
“Agaknya menggunakan senjata
rahasia.” jawab Phoa Ceng Yan. “Kepandaian silat si Dewa Api Ban Cau
justru kelihayan-nya terletak pada alat-alat berapinya yang ganas,
Ke Giok Lang telah berusaha merebut posisi terlebih dahulu dengan
lepaskan senjata rahasia untuk melukai diri Ban Cau.”
“Ooooouw….. kiranya begitu.”
Sinar matanya lantas dialihkan ke
arah Phoa Ceng Yan, tambahnya.
“Tentang diri pribadi si “Hoa Hoa
Kongcu” Ke Giok Lang sudah banyak dengar dari orang, kecuali ia
gemar sekali mempermainkan kaum wanita, dalam urusan lain ia masih
suka mengalah satu tindak buat orang.”
“Di antara berjuta-juta kejahatan,
memperkosa adalah kejahatan nomor wahid, cukup mengandalkan hal ini
sudah bisa kita tentukan dia bukanlah seorang jagoan dari kalangan
Pek-to” seru Nyoo Su Jan.
“Sebetulnya ia memang bukan
seorang jago dari kalangan Pek-to! Aku dengar orang berkata kecuali
memiliki serangkaian ilmu silat yang luar biasa dahsyatnya ia masih
memiliki satu kepandaian yang sangat istimewa yaitu mendatangkan
rasa simpatik dari setiap orang yang dijumpainya.”
“Sedikitpun tidak salah” Phoa Ceng
Yan membenarkan. “Dia benar-benar memiliki kepandaian tersebut,
sewaktu ia berhasil menerjang masuk ke dalam kamar Liuw Thayjien
tentu membencinya sampai merasup ke tulang sumsum, tapi bukan saja
Liuw Thayjien setuju untuk serahkan lukisan pengangon kambing itu
kepadanya, bahkan masih mengagumi dan puji tiada hentinya terhadap
setiap ucapan maupun tindak tanduk Hoa Hoa Kongcu.”
Kwan Tiong Gak kembali termenung
lalu ujarnya, “Aku dengar orang ini mempunyai kemampuan yang hebat
di berbagai bidang, baik kecerdasan maupun kepandaian silat
terhitung jago nomor wahid di kolong langit, di antara jago-jago
muda ia merupakan jago yang paling menonjol, hanya sayang jalan yang
ditempuh adalah jalan serong.”
“Cong Piauw-tauw! Agaknya terhadap
watak Ke Giok Lang kau sudah mengetahui sangat banyak,” kata Phoa
Ceng Yan lambat.
“Ia pernah mengunjungi Peking
bahkan suruh orang menyampaikan surat kepadaku dan berharap bisa
berjumpa satu kali dengan diriku, cuma sayang aku banyak urusan
tidak bisa penuhi undangannya untuk berjumpa.”
“Sewaktu ada di Peking apakah ia
tidak timbulkan keonaran?”
“Justru inilah letak kecerdikan
dari si “Hoa Hoa Kongcu” Ke Giok Lang, setelah ia tiba di ibukota,
gerak gerik maupun tindak tanduknya sangat misterius, kecuali dia
ingin menjumpai orang yang hendak dijumpai rasanya orang lain susah
untuk menemukan dirinya.”
“Aaakh….! Tentu urusan ini sudah
terjadi banyak tahun berselang bukan?”
“Tidak, peristiwa ini terjadi
tahun yang lalu, waktu itu nama besarnya barusan menanjak di dunia
persilatan, kudengar kabar kecuali aku, ia masih menjumpai dua orang
lainnya.”
“Siapakah mereka?”
“Siapakah kedua orang yang ia
jumpai, aku tidak begitu jelas, cuma bila kuselidiki dengan seksama,
rasanya tidak susah untuk mengetahui siapa siapakah mereka, tapi
justru waktu itu tidak kupandang di dalam hati peristiwa ini.
Aaaa…….! Bila kuingat sekarang tindakanku tersebut memang sedikit
teledor.”
“Cong Piauw-tauw! Apakah kau
merasa adanya hubungan antara persoalan itu dengan lukisan pengangon
kambing?” tiba-tiba Phoa Ceng Yan bertanya setelah termenung
sejenak.
“Kemungkinan besar memang benar,
selama belakangan ini Ke Giok Lang telah memperluas hubungannya
dengan berkenalan dengan banyak kawan, agaknya di balik kesemuanya
ini ia telah menyusun suatu rencana besar.
“Lukisan pengangon kambing
termasuk salah satu tujuannya?” sela Nyoo Su Jan.
“Dalam keadaaan seperti ini kita
masih belum dapat mengambil suatu kesimpulan, tapi terhadap lukisan
pengangon kambing aku telah melakukan suatu penyelidikan untuk
mengetahui latar belakangnya!”
Semangat Phoa Ceng Yan kontan
berkobar kembali.
“Dapatkah Cong Piauw-tauw memberi
keterangan?” serunya.
Kwan Tiong Gak tidak langsung
menjawab pertanyaan dari Phoa Ceng Yan, sebaliknya malah bertanya.
“Apakah kau pernah melihat lukisan
pengangon kambing itu?”
“Pernah, cuma sayang pengetahuan
serta kecerdikan siauw-te tidak memadahi, susah bagiku untuk
mengetahui rahasia di balik peta lukisan pengangon kambing
tersebut.”
“Peta lukisan itu dinamakan
lukisan pengangon kambing, sesuai dengan namanya tentulah di atas
lukisan tersebut telah terlukis banyak sekali binatang kambing,
bukan begitu.”
“Benar, bermacam macam kambing
dengan gaya yang berlainan, di samping itu terlukis seorang bocah
gembala yang mencekal cambuk panjang.”
“Saudara, coba kau pikirlah dengan
teliti, di bagian manakah letak kecurigaanmu terhadap lukisan
tersebut?”
“Siauw-te sudah memeriksa dengan
teliti tapi tidak kuketahui di manakah letak hal hal yang patut
dicurigai.”
Kwan Tiong Gak termenung sejenak
kemudian ujarnya.
“Menurut berita yang kudapat, di
atas lukisan tersebut katanya tersembunyi suatu maksud yang sangat
mendalam, lukisan ini adalah hasil karya dari seorang cianpwee, di
dalam lukisan tersebut terkandunglah seluruh jerih payah serta
kepandaiannya.”
“Ooouw…….jadi maksudnya ia sudah
terangkan seluruh kepandaian silatnya di atas lukisan pengangon
kambing tersebut?”
“Artinya tidak akan segampang itu,
aku dengar orang kata lukisan itu mengandung rahasia yang mendalam,
bila tidak berhasil memahami rahasia yang meliputi lukisan tersebut
sekalipun dapatkan lukisan pengangon kambing juga percuma.”
“Siauw-te sudah memeriksanya
dengan teliti” ujar Phoa Ceng Yan memberi tanggapan. “Bila di atas
lukisan pengangon kambing benar-benar terkandung rahasia yang
mendalam, maka rahasia itu pasti bisa dipecahkan dengan suatu
kecerdikan yang benar-benar amat tinggi, siauwte sudah periksa amat
teliti tapi tak sesuatupun yang berhasil kudapatkan.”
“Bila kalian bisa mendapat
persetujuan dari Liuw Thayjien untuk memeriksa kembali lukisan
pengangon kambing itu, ada kemungkinan kita berhasil memperoleh
sedikit gambaran.”
“Urusan ini tidak sukar, biarlah
aku temui Liuw Thayjien, mungkin ucapanku berhasil mendapat
persetujuannya.”
“Kau harus ingat, urusan ini tak
boleh dilakukan dengan kekerasan atau menghardik dan menakut-nakuti
orang, asalkan diungkap secara sambil lalu cukuplah sudah, disetujui
atau tidak itu urusan orang lain….”
Ia merandek sejenak, lalu
tambahnya, “Yang membuat orang menjadi tidak paham adalah lukisan
pengangon kambing itu secara bagaimana bisa terjatuh ke tangan Liuw
Thayjien?”
“Tentang hal ini siauwte pun
pernah bertanya kepadanya tapi ia sendiripun tidak berhasil
memberikan suatu jawaban yang pasti, agaknya lukisan tersebut ia
bawa ke kota Kay Hong karena mendapat titipan dari orang lain.”
“Siapa yang titipkan barang itu
kepadanya? Asalkan orang itu punya hubungan dengan orang-orang bu
lim maka dengan cepat kita berhasil menemukan asal mulanya seluruh
persoalan ini.”
“Apakah Cong Piauw-tauw merasa
urusan ini sangat penting?” tanya Nyoo Su Jan.
“Jika lukisan pengangon kambing
itu punya sangkut paut dengan peristiwa Bu Lim, aku nilai dari
lukisan ini tak dapat dibandingkan dengan nilai uang lagi.”
“Menurut apa yang Cong Piauw-tauw
katakan tadi, jelas lukisan tersebut terbukti ada sangkut pautnya
dengan orang-orang Bu Lim apakah seharusnya kita melakukan
penyelidikan?” kembali Piauw su she Nyoo ini bertanya.
Kwan Tiong Gak termenung sejenak,
kemudian jawabnya.
“Bila dugaanku tidak salah, bukan
saja Ban Cau serta Ke Giok Lang bermaksud hendak merampas barang
kawalan kita, sekalipun jago jago dari kalangan luruspun kemungkinan
besar akan melibatkan diri dalam peristiwa ini.”
“Maksud Cong Piauw-tauw, dari
antara jago-jago kalangan luruspun bisa turun tangan membegal barang
kawalan kita?”
“Hal ini susah ditentukan,
sekalipun mereka tidak sampai turun tangan membegal, rasanya bisa
jadi mereka akan bertanya dan selidiki persoalan ini sampai jadi
terang.”
Agaknya Phoa Ceng Yan sama sekali
tidak menduga barang kawalannya kali ini bisa menimbulkan kekacauan
di dalam dunia persilatan, segera ujarnya.
“Jika demikian adanya, barang
kawalan kita kali ini tentu menggemparkan seluruh kolong langit.”
“Sedikitpun tidak salah” Kwan
Tiong Gak tersenyum. “Ke Giok Lang. si Dewa Api Ban Cau sekalian
masih belum terhitung menggemparkan jika merekalah yang turun tangan
membegal barang kawalan kita, tapi lain halnya bila sampai
murid-murid dari perguruan kalangan luruspun menghadang perjalanan
kita, ini barulah suatu peristiwa maha aneh yang belum pernah
terjadi dalam Bu lim.”
Phoa Ceng Yan rada tidak percaya
atas perkataan tersebut, tanyanya secara tiba-tiba.
“Semisalnya anak murid dari
perguruan kaum luruslah yang turun tangan membegal barang kawalan
kita, hal ini pasti timbulkan cemoohan dari orang banyak, bukankah
tindakan mereka ini akan menodai nama baik perguruan-perguruan
mereka?”
“Semisalnya peristiwa ini
mempunyai sangkut paut yang maha besar terhadap keutuhan Bu lim,
keadaan jauh berbeda lagi, tindakan mereka ini justru bermaksud
hendak mencegah lukisan pengangon kambing ini jangan sampai terjatuh
ke tangan jago-jago kalangan Liok-lim.”
Ia menghembuskan napas panjang,
kemudian sambungnya.
“Tapi hal ini hanya menurut
pikiranku sendiri, bagaimanakah akhirnya detik ini tak dapat
kuduga?”
“Bila demikian adanya, kerepotan
yang kita alami dalam mengawal barang hantaran kali ini boleh
dihitung belum pernah ditemui sejak jaman kuno,” kata Nyoo Su Jan.
“Memang suatu peristiwa yang
sangat merepotkan, tapi bila dipandang dari pihak kita sebagai suatu
perusahaan Piauw-kiok, kita harus mencari akal untuk melindungi
lukisan pengangon kambing itu jangan sampai terjatuh ke tangan
kawanan Liok-lim, juga jangan sampai membiarkan barang itu terjatuh
ke tangan kaum lurus, kita harus antar sekeluarga pembesar Liuw tiba
di kota Kay Hong dalam keadaan selamat.”
Ke Giok Lang telah menyanggupi
untuk bukakan jalan buat kita, sekalipun diperjalanan ada
kerepotan-kerepotan rasanya kini sudah disapu oleh Ke Giok Lang.
Kwan Tiong Gak berpikir sejenak
kemudian ujarnya, “Ke Giok Lang jadi orang sangat cerdik, di hadapan
kita ia berkata hendak membantu kita, tapi di dalam pandangan orang
mereka akan mengira kita sedang bersekongkolan dengan Ke Giok Lang.”
“Aaakh benar, kita sudah digunakan
oleh si Hoa Hoa Kongcu.” teriak Phoa Ceng Yan tak tertahan lagi.
Air muka Kwan Tiong Gak berubah
semakin serius.
“Urusan belum berubah sampai
seburuk itu, walaupun Ke Giok Lang sangat cerdik, tapi terhadap
persoalan ini ia sudah salah langkah.”
“Di dalam anggapannya orang yang
mengetahui rahasia lukisan pengangon kambing tidak banyak, semakin
tidak menduga lagi bila orang-orang dari kalangan luruspun ikut
serta terjun dalam kancah pergolakan ini ….”
Phoa Ceng Yan mengangguk tiada
henti memuji kecerdikan Cong Piauw-tauw-nya.
“Sejak jaman kuno hingga sekarang
kebanyakan orang yang mau membegal barang kawalan perusahaan
Piauw-kiok hanyalah jago-jago kalangan Liok-lim belaka, selamanya
belum pernah jago dari kalangan lurus-pun ikut campur dalam
persoalan ini, sudah tentu Ke Giok Lang tidak pernah berpikir sampai
kesitu.”
Kwan Tiong Gak menghela napas
panjang, setelah suasana sunyi beberapa saat lamanya, ia baru
berkata kembali.
“Aku akan berangkat terlebih dulu
ke muka, kalian susullah perlahan-lahan.”
“Cong Piauw-tauw silahkan
berangkat.”
“Akan kutunggu kalian di sebelah
depan!” seru Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok
lagi seraya meloncat naik ke atas punggung kudanya dan melarikan
binatang tunggangan tersebut cepat-cepat ke depan.
Dalam sekejap mata bayangan
punggungnya sudah lenyap di ujung langit.
Sembari memandang bayangan
punggung Kwan Tiong Gak yang menghilang, bisik Phoa Ceng Yan lirih.
“Su Jan, kau telah berhasil
melihat belum?”
“Melihat apa?”
“Walaupun selama berada di hadapan
kita Cong Piauw-tauw berusaha untuk menjaga ketenangan wajahnya,
padahal aku tahu hatinya sangat tertekan, aku pikir di hatinya pasti
masih tersembunyi banyak persoalan yang belum diutarakan kepada
kita.”
“Soal ini, hamba kurang ambil
perhatian, cuma …”
“Cuma apa?”
“Secara mendadak Cong Piauw-tauw
hendak berjalan dulu seorang diri di paling depan, hal ini membuat
hamba menaruh curiga.”
“Apa yang kau curigai?”
“Soal ini tak mungkin tiada
alasan.”
“Mari kita percepat perjalanan
kita, coba kita lihat apa yang terjadi di depan sana.”
“Jie-ya! Kuda tunggangan Cong
Piauw-tauw adalah seekor kuda mustika yang bisa lari ribuan li dalam
suatu hari mana mungkin kita berhasil menyandaknya?” bisik Nyoo Su
Jan lirih. “Apalagi, apakah Ban Cau bersungguh sungguh ingin
mengundurkan diri masih susah diyakini pada saat ini, jika kita
pergi menyusul dengan kekuatan Giok Liong beberapa orang rasanya
terlalu lemah.”
“Perkataanmu tidak salah, kita tak
boleh bertindak ceroboh. “ Phoa Ceng Yan ternyata seorang lelaki
yang mau menerima nasehat, tampak ia tersenyum.
Mereka berdua dengan mengiringi
iring-iringan kereta bergerak maju ke muka.
Kurang lebih sepuluh lie kemudian,
tampaklah Kwan Tiong Gak berdiri di bawah sebuah pohon tua di sisi
jalan raya sedang menanti kedatangan mereka.
Kwan Tiong Gak menuntun kuda
melanjutkan perjalanan, sedang Lie Giok Liong serta Ih Coen maju
menyongsong untuk menghunjuk hormat.
Kwan Tiong Gak buru-buru ulapkan
tangannya.
“Kalian baik-baiklah menjaga
kereta.”
Kedua orang itu mengiakan dan
segera mengundurkan diri.
“Toako, apa yang telah kau
temukan?” bisik Phoa Ceng Yan kemudian dengan suara yang lirih.
“Baru saja aku berjumpa dengan si
Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang.”
“Toako telah bergebrak melawan
dirinya?” seru Phoa Hu Cong Piauw-tauw sangat terkejut.
“Tidak!” Kwan Tiong Gak
menggeleng. “Kita bercakap-cakap sangat baik sekali, ia telah bantu
kita melenyapkan dua pos pengintaian dari Ban Cau dan melukai tujuh
orang anak buahnya.”
“Aaaakh! Jadi apa yang diucapkan
Liuw Thayjien sedikitpun tidak salah. Bajingan-pun mempunyai
peraturan kaum bajingan.”
“Agaknya ia bukan lagi berbohong,
anak buahnya Yen San Ngo Koei ada dua orang terluka.”
“Kalau begitu urusan ini sudah
pasti dan tak bisa diubah lagi.”
“Ehm! Ke Giok Lang beritahu
kepadaku tak usah merasa berterima kasih kepadanya, ia tiada
sayang-sayangnya mengikat tali permusuhan dengan orang justru
maksudnya ingin melindungi lukisan pengangon kambing itu.”
“Aaaakh! Kelihatannya ia tidak
mirip seorang keparat berhati keji seperti yang tersiar dalam Bu
lim.” Phoa Ceng Yan dan Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok berpekik tertahan.
“Saudara!” kata Kwan Tiong Gak
lagi setelah termenung sejenak. “Bila Ke Giok Lang tidak menipu
diriku, mungkin selama perjalanan selanjutnya menuju kota Kay Hong,
kita tak akan temui kesulitan lagi.”
“Yang jadi persoalan sekarang
justeru adalah apakah ucapan dari Ke Giok Lang bisa dipercaya atau
tidak.”
“Maka dari itu, kita sendiripun
harus bikin sedikit persiapan.”
“Kita hendak bikin persiapan apa?”
“Aku berangkat dulu di paling
depan, bila menemukan sesuatu yang mencurigakan akan kuperiksa
sendiri terlebih dulu, kemudian menggunakan tanda hubungan rahasia
dari perusahaan kita memberi petunjuk kepada kalian.”
“Bagus sekali, kami akan mengikuti
petunjuk dari Cong Piauw-tauw.”
Kwan Tion Gak menghela napas
panjang.
“Setelah aku tiba di sini, tidak
seharusnya Liuw Thayjien serta keluarganya merasa terkejut lagi,
juga aku berharap mereka bisa tiba di kota Kay Hong tepat pada
saatnya.” ujarnya lambat lambat.
“Cong Piauw-tauw, ada satu
persoalan belum siauwte laporkan kepada dirimu?”
“Urusan apa?”
“Lambang Naga sakti yang pernah
menggemparkan dunia persilatan pada puluhan tahun berselang kini
muncul lagi di dalam Bu lim, bahkan berada di dalam kereta yang
ditumpangi nona Liuw.”
“Sungguhkah peristiwa ini telah
terjadi?” seru Kwan Tiong Gak tertegun.
“Siauw-te tidak melihatnya dengan
mata kepala sendiri, ucapan ini diutarakan dari mulut Ke Giok Lang,
tapi bila kupikir dengan teliti rasanya perkataan ini sedikitpun
tidak salah, Ke Giok Lang telah menggunakan siasat memancing harimau
turun gunung untuk pancing aku meninggalkan rumah penginapan
kemudian mengambil kesempatan itu ia mendatangi rumah penginapan dan
merobohkan dulu seluruh piauw su yang berjaga-jaga di sana kemudian
terobos masuk ke dalam kamar Liuw siocia, menurut keadaan seharusnya
waktu itu ia bisa curi pergi lukisan pengangon kambing, tapi detik
itu pula ia telah berubah niat bahkan menghadiahkan sebutir pil buat
nona Liuw.”
“Ke Giok Lang suka melepaskan cara
merampas dengan jalan membokong dan rela mengadakan perjalanan
dengan kita undurkan lawan, aku rasa di balik kesemuanya ini masih
tercantum alasan-alasan lain!” seru Kwan Tiong Gak setelah termenung
sejenak.
“Masih ada satu persoalan lagi
hingga kini siauwte belum mengerti di manakah letak sebab-sebabnya!”
“Ehmm! Coba katakan.”
“Sewaktu kami bertahan di dalam
sebuah kuil, Ban Cau dengan membawa orang-orangnya telah mendekati
kuil di mnana kami bertahan dan agaknya hendak turun tangan terhadap
kami dari berbagai jurusan, tapi entah apa sebabnya mendadak mereka
bersama-sama bubar dan ngeloyor pergi, peristiwa terjadi sangat
mendadak, walaupun sudah siauwte pikir sangat lama belum berhasil
juga mengetahui sebab-sebabnya.”
“Ooouw…. pernah terjadi peristiwa
macam ini?” Kwan Tiong Gak sendiripun agaknya dibikin tertegun.
“Terhadap peristiwa ini siauwte
merasa keheranan, tak kupahami apakah sebab-sebabnya sehingga
terjadi begitu?”
“Si Dewa Api serta anak buahnya
belum pernah berjumpa dengan Lambang Naga Sakti, agaknya peristiwa
ini tiada sangkut pautnya dengan Lambang tersebut.”
“Justeru karena itulah, hamba
merasa bingung apa sebabnya?”
“Menurut peristiwa yang
berlangsung di depan mata, jelas ada seseorang yang bantu kita
mengundurkan Ban Cau sekalian dari suatu tempat yang tersembunyi.”
“Siauwte pun pernah berpikir
demikian, kemungkinan sekali kesemuanya ini adalah hasil permainan
setan dari Ke Giok Lang, tapi setelah kupikir lebih teliti lagi,
rasanya keadaan tersebut salah besar, bila Ke Giok Lang tahu
peristiwa ini, seharusnya ia ungkap kembali persoalan tersebut
setelah berhadapan muka dengan kami, tapi tak sepatah katapun yang
ia utarakan.”
“Waktu itu apakah kau berhasil
temukan kunci dari peristiwa ini?”
“Tidak, hanya aku merasa bila
sungguh sungguh ada orang membantu kita secara diam-diam, maka
kepandaian silat yang dimiliki orang itu tentu luar biasa
dahsyatnya.”
Agaknya terhadap peristiwa ini
Kwan Tiong Gak tidak dapat menjawab, ia termenung dan membungkam.
“Toako!” sambung Phoa Ceng Yan
lebih jauh. “Mengungkap soal ikut campurnya jago-jago kalangan lurus
dalam peristiwa ini mungkinkah ada seorang jago lihay dari perguruan
Pek-to yang secara diam-diam memberi bantuan kepada kita ………..”
“Empat penjuru hanya salju nan
putih, tempat macam begini merupakan, perduli siapakah orang itu, ia
bisa merahasiakan jejaknya di depan mata jago lainnya bahkan
mengundurkan diri Ban Cau sekalian, jelas dia bukan seorang jagoan
biasa saja.”
“Siauw-te pun telah berpikir
sampai di sana, tapi yang masih belum kupahami adalah siapakah orang
itu dan apa sebabnya ia suka memberi bantuan kepada kita”
Kembali Kwan Tiong Gak termenung
beberapa saat.
“Mungkin sekali maksud hatinya
sama pula dengan maksud Ke Giok Lang, yaitu melindungi peta lukisan
pengangon kambing tersebut.”
Tali les disentak derap kuda
bergerak laksana terbang berangkat ke arah depan.
Menanti bayangan punggung dari
Kwan Tiong Gak telah lenyap dari pandangan, Phoa Ceng Yan si Hu Cong
Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok baru berpaling ke
arah Nyoo Su Jan.
“Su Jan, suruh mereka percepat
perjalanan, kita harus cepat cepat tiba ditempat tujuan.”
“Apakah Jie Ya tidak naik ke dalam
kereta?” kata Nyoo Su Jan seraya menjura.
“Tidak usah, aku akan berjalan di
depan, bila terjadi angin taupan yang meniup roboh rerumputan,
akupun bisa hadapi dengan lebih seksama.”
“Jie-ya terlalu menyikda diri.”
Phoa Ceng Yan hanya tersenyum dan
mengangguk, ia melanjutkan langkahnya ke depan.
Ternyata selama di perjalanan Kwan
Tiong Gak tidak munculkan diri kembali, Phoa Ceng Yan pun tidak
menemui peristiwa yang diluar dugaan lagi selama dalam perjalanan
kali ini.
Hari ini mereka menyeberangi
sungai Huang Hoo dan melanjutkan perjalanannya ke kota Kay Hong.
Siang melanjutkan perjalanan malam
beristirahat, selama perjalanan aman tentram tidak menjumpai hal-hal
yang aneh lagi.
Bulan dua belas tanggal dua puluh
sembilan iring-iringan kereta perusahaan Liong Wie Piauw-kiok
akhirnya tiba juga di kota Kay Hong dengan selamat.
Setelah masuk kota, Phoa Ceng Yan
menghembuskan napas panjang, kepada Liuw Thayjien katanya.
“Thayjien, beruntung nyawa kita
tidak melayang, akhirnya sebelum penutupan tahun sampai juga kita di
kota Kay Hong.”
“Sungguh bagus sekali, cepat
hantar aku ke istana Jendral, sesuai dengan janji aku akan perseni
kalian seperti telah kusetujui tempo dulu.”
“Upah tambahan sih kami tidak
berani terima, hanya Cayhe ingin menjelaskan satu persoalan kepada
Liuw Thayjien.”
“Urusan apa?”
“Lukisan pengangon kambing hendak
Thayjien selesaikan secara bagaimana? Apakah kau sungguh sungguh
hendak serahkannya ke tangan Ke Giok Lang, atau tidak, soal ini kami
tak berani ikut campur dan boleh Thayjien selesaikan sendiri, tetapi
semisalnya Thayjien tidak ingin lagi berhubungan dengan orang-orang
kangouw, lukisan pengangon kambing bolehlah serahkan kepada cayhe
biar kami yang serahkan barang tersebut buat Ke Giok Lang.”
“Soal lukisan pengangon kambing
bisa aku serahkan sendiri kepadanya” ujar Liuw Thayjien setelah
termenung sejenak. “Aku tidak ingin menyusahkan lagi kau Phoa Hu
Cong Piauw-tauw, bila kau berjumpa dengan Ke Giok Lang boleh suruh
ia mendatangi istana Jendral dan ambil sendiri lukisan itu.”
“Cayhe sama sekali tidak
mengusulkan agar Liuw Thayjien suka keluarkan lukisan tersebut untuk
diserahkan kepadaku.” Phoa Ceng Yan tertawa hambar. “Cuma saya surat
tanda terima kita sudah berada di tangannya, secara terang terangan
Ke Giok Lang bisa menuntut barang tersebut dari tangan kami.”
Kembali Liuw Thayjien tersenyum.
“Tentang soal ini Phoa Hu Cong
Piauw-tauw boleh berlega hati, walaupun Ke Giok Lang membawa surat
tanda terima tersebut, tapi ia harus berjumpa dulu dengan diriku
sebelum bisa terima lukisan tadi.”
Pada mulanya Phoa Ceng Yan
kelihatan rada tertegun kemudian disusul tertawa hambar.
“Apakah Liuw Thayjien bermaksud
hendak mengingkari janji ini?”
“Phoa heng, He kOan bukanlah
bermaksud demikian” Liuw Tahyjien menggeleng dan tertawa.”Aku rasa
jikalau Ke Kongcu bisa berjumpa dengan diriku, sudah tentu lukisan
pengangon kambing itu akan kuserahkan kepadanya, bila tidak berhasil
menjumpai aku sekalipun aku punya maksud untuk serahkan lukisan tadi
kepadanya pun tidak tahu harus serahkan barang ini kepada siapa!”
“Liuw Thayjien! Cayhe ingin
menasehati sepatah kata kepadamu.”
“Phoa ya silahkan berbicara.”
“Mengandalkan tentara kerajaan tak
bakal bisa menahan kekuatannya kecuali kau sendiri memiliki
kemampuan untuk melindungi lukisan pengangon kambing tersebut.”
“Soal ini He Koan sudah punya
rencana tersendiri dan tak perlu Phoa-ya ikut merasa kuatir.”
Phoa Ceng Yan termenung sejenak,
akhirnya dengan perasaan apa boleh buat katanya.
“Ucapan cayhe akhiri sampai disini
saja, Liuw Thayjien siap berbuat bagaimana tentukanlah menurut
pikiran dirimu sendiri.”
Liuw Thayjien tertawa hambar.
“Phoa-ya, hantar aku ke istana
jendral terlebih dahulu kemudian kita berbicara lagi.”
Phoa Ceng Yan mengiakan, ia
perintahkan anak buahnya untuk melanjutkan perjalanan ke muka.
Istana Tok Hu Kong Koan di kota
Kay Hong sangat terkenal, tak seorangpun yang tak tahu.
Phoa Ceng Yan dengan memimpin
iring-iringan kereta memasuki istana jendral.
Kurang lebih satu tombak dari
pintu gerbang istana, dua orang tentara penjaga pintu menghadang
jalan pergi iring-iringan kereta tersebut.
Phoa Ceng Yan agaknya sudah dapat
meraba maksud Liuw Thayjien yang ingin mengingkari janji, ia tidak
ingin membuang banyak waktu lagi, setelah kereta iring-iringan
terhadang, ujarnya cepat.
“Thayjien, kereta sudah tiba di
depan istana jendral, kami tak bisa melanjutkan kembali perjalanan
ke depan.”
Mendengar seruan tersebut, Liuw
Thayjien menyingkap horden dan melirik sekejap ke arah kedua orang
tentara penjaga pintu itu.
“Si Thayjien adakah dalam istana?”
tanyanya.
“Siapakah kau?” tanya salah
seorang tentara penjaga pintu yang menyoren golok itu dengan wajah
dingin.
“He koan she Liuw, datang dari
Peking.”
(Bersambung ke jilid 13)
Jilid 13
Mendengar orang itu datang dari
Peking, air muka kedua orang tentara penjaga pintu itupun agak
berubah melunak.
“Apakah thayjien punya kartu nama
untuk disampaikan?”
“Tidak perlu kartu nama lagi,
katakan saja orang she Liuw dari Peking ingin berjumpa.”
Melihat tamunya tidak suka
mengeluarkan kartu nama, kedua orang tentara itu jadi kerutkan
keningnya.
“Kalau begitu thayjien harap
tunggu sejenak di sini, biarlah hamba laporkan hal ini ke dalam.”
Ia putar badan dan berlalu dengan
langkah lebar.
Sejurus kemudian, tentara tadi
baik lagi dengan membawa seorang lelaki berusia pertengahan,
berjubah hitam dengan topi terbuat dari kulit binatang serta
tujuh-delapan orang bersenjata lengkap.
“Thayjien, agaknya istana jendral
tak bisa ditembusi secara mudah, iring-iringan kereta kitapun
rasanya tak dapat langsung masuk ke dalam,” kata Phoa Ceng Yan
setelah melihat munculnya beberapa orang itu.
Ketika itu tentara penjaga tadi
telah berjalan mendekat.
“Tok Say telah menanti di pintu,
sengaja beliau mengirim Ho Su Ya dengan membawa sepuluh orang
tentara menyambut kedatangan tamu terhormat, harap Thayjien segera
mengikuti kami.”
“Istri dan Siauw li ………”
“Hamba telah menyediakan dua buah
tandu” buru-buru Ho Su Ya yang memakai topi kulit menyambuti.
Ketika itulah dua buah tandu kecil
telah berjalan mendekat.
Setelah semuanya diatur Ho Su Ya
baru berpaling ke arah Phoa Ceng Yan serta Nyoo Su Jan, tanyanya.
“Tentunya, cuwi dari perusahaan
Piauw-kiok bukan?”
“Benar, kami mendapat pesanan
untuk menghantar Thayjien kemari” buru-buru Phoa Ceng Yan menjura.
Ho Su Ya tersenyum seraya balas
memberi hormat.
“Istana jendral melarang
sembarangan orang berjalan masuk, aku lihat bagaimana kalau cuwi
bongkar muatan Liuw Tahyjien di sini saja?”
Phoa Ceng Yan mengangguk, ia
perintahkan anak buahnya untuk bongkar dan turunkan barang barang
milik Liuw Thayjien.
Dua buah tandu kecil bergerak
mendekati kereta dan membawa Liuw Hujien serta nona Liuw
meninggalkan tempat itu.
Setelah semua barang dibongkar,
Phoa Ceng Yan pun memberi perintah kepada Nyoo Su Jan.
“Su Jan, putar kereta dan kembali
ke Piauw-kiok.”
Nyoo Su Jan mengiakan, ia membawa
beberapa kereta kosong itu bergerak ke kantor cabang perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok yang berada di kota Kay Hong.
Mendadak Liuw Thayjien berjalan
dua langkah ke depan seraya berseru.
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, bila He
koan ada urusan ingin berjumpa entah kemanakah aku harus mencari
Phoa ya?”
Phoa Ceng Yan yang mendengar
pertanyaan itu segera tertawa hambar.
“Aku tinggal di jalan besar
sebelah timur, kantor cabang perusahaan Liong WIe Piauw-kiok.”
“Lalu Phoa-ya bermaksud hendak
tinggal di kota Kay Hong berapa lama…?”
“Soal ini sulit ditentukan, bila
tak ada urusan yang sangat istimewa, mungkin setelah lewati tahun
baru segera berangkat.”
“He-koan pikir dalam sehari dua
hari ini ingin mendatangi kantor Piauw-kiok kalian untuk menyambangi
Phoa-ya.”
“Tidak berani, tidak berani,
sampai waktunya cayhe akan menyambut kedatangan Thayjien.” buru-buru
Phoa Ceng Yan menjura.
Liuw Thayjien tertawa hambar,
dengan di bawah pengawalan beberapa orang tentara kerajaan ia
melangkah memasuki bangunan yang besar dari istana jendral tersebut.
Phoa Ceng Yan dengan membawa Nyoo
Su Jan serta sepuluh anak buah perusahaan Liog Wie Piauw-kiok pun
meninggalkan tempat itu dan kembali ke kantor cabang.
Baru saja kereta berhenti di pintu
depan Kwan Tiong Gak dengan memimpin empat orang piauw tau dari
kantor cabang kota Kay Hong telah menyambut kedatangannya di pintu.
Ketika waktu itu menunjukkan akhir
tahun kantor perusahaan piauw-kiok pun telajh berhenti bekerja,
seluruh anggotanya pada beristirahat dan kembali ke kampung
halamannya masing-masing.
Buru-buru Phoa Ceng Yan melangkah
maju ke depan seraya menjura.
“Menyusahkan toako harus menyambut
dari jauh.”
Kwan Tiong Gak tersenyum.
“Selama dalam perjalanan kau tentu
sangat letih, siauw heng telah perintahkan mereka untuk persiapkan
sebuah meja perjamuan untuk menyambut kedatanganmu, silahkan saudara
masuk ke dalam untuk minum secangkir arak.”
Phoa Ceng Yan tertawa getir.
“Siauwte merasa sangat menyesal
harus mengejutkan toako…”
“Saudara, peristiwa ini bukan
suatu kejadian yang kecil dan merupakan suatu peristiwa yang
terbesar sejak perusahaan Lionw Wie piauw-kiok didirikan, sekalipun
hitung-hitung aku sendiri yang mengambil barang itupun belum tentu
bisa aman tentram.”
Keempat orang Piauw-tauw lainnya
pun bersama-sama menjura hormat.
“Menghunjuk hormat buat Hu Cong
Piauw-tauw.”
“Tak usah banyak adat,” buru-buru
Phoa Ceng Yan berseru seraya tersenyum.
Segera mengandeng tangan kanan
Phoa Ceng Yan, Kwan Tiong Gak melangkah masuk ke dalam.
“Ayoh, kita semua masuk dan duduk
di dalam, selama melakukan perjalanan kalian sudah menderita
terhembus angin dan salju, seharusnya sekarang mereguk secawan arak
dan beristirahat.”
“Terima kasih, toako,” Phoa Ceng
Yan tertawa hambar.
Dengan mengikuti dari belakang
Kwan Tiong Gak mereka melangkah masuk ke dalam ruangan.
Setibanya di ruangan belakang,
meja perjamuan telah dipersiapkan Kwan Tiong Gak dengan mengandeng
tangan Phoa Ceng Yan duduk di kursi pertama sedang Nyoo Su Jan, Lie
Giok Lang, Thio Toa Hauw serta Ih Coen ditambah keempat Piauw-tauw
penting dari kantor cabang kota Kay Hong menempati di kursi-kursi
kosong lainnya.
“Toako” ujar Phoa Ceng Yan sambil
angkat cawan arak di hadapannya. “Siauwte tidak becus dan hanya
persoalan kecil saja mengharuskan Toako turun tangan sendiri,
secawan arak ini biarlah anggap sebagai arak hukuman buat siauwte.”
Kwan Tiong Gak pun tidak turun
tangan mencegah, ia hanya duduk sambil tersenyum.
Phoa Ceng Yan setelah meneguk
cawan pertama ia penuhi cawannya kembali dengan arak.
“Berkat kasih sayang dan perhatian
dari Cong Piauw-tauw yang anggap aku melebihi sendiri, siauw-te
merasa sangat berterima kasih, tapi ternyata aku tidak berkemampuan
untuk membantu mereka menghilangkan kesal dan murung dari Cong
Piauw-tauw, bila diingat sungguh membuat hatiku merasa amat kecewa
sekali, secawan arak ini biarlah aku hormati cuwi sekalian sebagai
hukuman atas ketidak mampuanku dalam membantu kalian.”
“Nyoo Su Jan beberapa orang
Piauw-tauw buru-buru bangun berdiri.
“Hu Cong Piauw-tauw terlalu
merendah!” serunya hampir berbareng.
“Mari kita sama sama bersantap
sembari minum,“ ajak Kwan Tiong Kag kemudian sambil pimpin menyumpit
sekerat daging. “Setelah kalian selesai minum dan bersantap, aku
masih ada dua urusan penting hendak dirundingkan dengan kalian.”
Pada hari hari biasa, ia selalu
bersikap penuh wibawa, cukup sepatah kata ucapan ini telah
mempengaruhi hati semua orang.
Suasana seketika berubah jadi
sunyi, saking heningnya sampai tak kedengaran sedikit suarapun, yang
terdengar hanyalah suara tegukan arak serta kecapan mulut.
Sepertanak nasi kemudian,
perjamuan itupun telah selesai.
Dua orang pelayan membersihkan
meja dan menghidangkan teh wangi.
Sembari meneguk secawan teh ujar
Kwan Tiong Gak penuh keseriusan.
“Seharusnya aku tidak patut
membicarakan persoalan ini setelah kalian bersantap tapi berhubung
waktu yang sangat mendesak terpaksa pembicaraan ini kulakukan juga
dalam keadaan tergesa-gesa dengan kalian.”
Walaupun ucapan dari Kwan Tiong
Gak ini diutarakan sangat halus, tapi dengan keseriusan serta
kewibawaan pada hari-hari biasa seluruh piaut tauw yang ada di dalam
piauw-kiok kebanyakan jeri dan menghormatinya, karena itu pada saat
ini tak seorangpun yang berani memotong.
“Toako, kau ingin membicarakan
soal apa?” tanya Phoa Ceng Yan.
“Aku sudah berjanji dengan
seseorang untuk mengadakan pertemuan, sebelum sore nanti harus sudah
tiba di tempat yang telah ditentukan.”
“Toako kau telah berjanji hendak
mengadajan pertemuan dengan siapa …?” Phoa Ceng Yan kelihatannya
agak tertegun.
“Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang lalu
si Dewa Api Ban Cau serta tiga orang Liok-lim lainnya yang tidak
kuketahui namanya.”
“Bagaimana mungkin si Dewa Api Ban
Cau bisa berjalan searah dengan Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang?”
“Di antara mereka berdua pada
dasarnya memang tiada terikat dendam yang sangat mendalam, mereka
bisa-bisa saja karena satu urusan bentrok dan bergebrak kemudian
setelah urusan lewat bersatu kembali.”
“Ke Giok Lang sudah mendapat tanda
terima yang ditulis oleh Liuw Thayjien sendiri, setiap saat ia boleh
minta lukisan pengangon kambing itu dari tangan Liuw Thayjien sedang
Ban Cau di dalam kalangan pertarungan sudah kena dipaksa berada di
bawah angin secara bagaimana kedua orang itu bisa bersatu kembali?”
agaknya Phoa Ceng Yan masih keheranan dibuatnya.
“Walaupun Ban Cau kena dilukai Ke
Giok Lang dengan jarum beracun, tapi sama sekali tidak menderita
kekalahan total di bawah pimpinannya masih terdapat banyak jago-jago
lihay, bilamana ia ada maksud menerjang ke Giok Lang dengan sepenuh
tenaga, rasanya kitapun tak dapat tiba di kota Kay Hong dengan
selamat.”
“Aaaaai………. lalu toako hendak
pergi menghadiri pertemuan tersebut dengan membawa berapa orang?”
“Di dalam pertemuan ini aku rasa
mereka tidak berniat untuk turun tangan terhadap kita semua, tapi
kitapun tak boleh tidak harus melakukan persiapan, aku ingin
merepotkan saudara serta Su Jan ikut aku pergi menghadiri pertemuan
itu.”
“Toako, kapan kau hendak
berangkat?”
“Kita segera berangkat.”
Mendengar keputusan Cong
Piauw-tauw-nya, Phoa Ceng Yan lantas menarik sekejap dari Nyoo Su
Jan.
“Su Jan, kaupun harus
bersiap-siap.”
“Setiap saat hamba bisa
berangkat.” jawab Nyoo Su Jan dengan cepat.
“Bagus sekali” Phoa Ceng Yan
segera berangkat bangun. “Toako berjanji hendak berjumpa dengan
mereka di mana?”
“Kuil Thian Ong Bio tujuh li di
kota sebelah Timur.”
Tampak seorang lelaki kekar
berusia lima puluh tahunan bangun berdiri.
“Cong Piauw-tauw” ujarnya lantang.
“Kuil Thian Ong Bio sudah lama tidak digunakan sebagai tempat
sembahyang keadaan-nya sunyi dan liar, aku rasa mereka tidak
bermaksud baik mengundang Cong Piauw-tauw ke sana entah bagaimana
kalau hamba dengan membawa orang melakukan penjagaan dab
penyelidikan terlebih dahulu?”
Orang yang barusan bicara bukan
lain adalah ketua Piauw-tauw dari kantor cabang perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok di kota Kay Hong, si “Hwee Huang Si” atau si Batu Terbang
Liem Toa Lek.
Kwan Tiong Gak tertawa hambar.
“Ini hari adalah tanggal dua
sembilan bulan dua belas, besok sudah ganti tahun, setelah para
anggota repot selama setahun, seharusnya sekarang beristirahat
nyenyak, kau tak usah mengganggu ketenangan mereka lagi, apalagi
pihak lawanpun rata-rata merupakan jago lihay dari kalangan
Liok-lim, kepergian mereka hanya mendatangkan kerepotan belaka.”
“Hamba sudah lama berdiam di kota
Kay Hong, terhadap situasi di sekitar sini sangat hapal, mohon Cong
Piauw-tauw suka memberi ijin kepada cayhe serta ketiga orang
Piauw-tauw lainnya boleh ikut menghadiri pertemuan itu.”
Kwan Tiong Gak termenung sejenak
kemudian menggeleng.
“Kalian tidak usah pergi,
kebanyakan orang malah mendatangkan kerepotan. Apalagi di dalam
kantor kitapun membutuhkan orang untuk menjaganya, baiklah kau
seorang saja yang ikut.”
Liem Toa Lek mengiakan, ia pesan
beberapa patah kata kepada ketiga orang Piauw-tauw-nya kemudian
bangkit berdiri seraya menyambar senjata andalannya.
Kwan Tiong Gak pun ikut bangun
berdiri.
“Mari kita berangkat?”
Pertama tama ia melangkah dahulu
ke muka.
Phoa Ceng Yan, Nyoo Su Jan serta
Liem Toa Lek pun dengan iring-iringan mengikuti dari belakang Kwan
Tiong Gak berjalan meninggalkan kantor cabang perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok.
Kedua orang petugas kantor telah
mempersiapkan kuda jempolan dari Kwan Tiong Gak serta tiga ekor kuda
lainnya menanti di depan halaman.
Tapi dengan cepat Kwan Tiong Gak
telah mengulapkan tangannya.
“Tidak usah, kita tak usah naik
kuda, lebih baik jalan kaki semua.”
Mendengar perintah Cong
Piauw-tauw-nya, Liem Toa Lek segera berpaling kepada beberapa orang
anak buahnya.
“Tuntun kuda ke dalam istal dan
beri rumput yang banyak, kuda jempolan Cong Piauw-tauw tak ternilai
harganya, kalian harus menjaganya baik baik.” bisiknya lirih.
Beberapa orang anggota perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok itu mengiakan dan berlalu.
Setelah memberi pesan kepada anak
buahnya, Liem Toa Lek segera berebur jalan di muka Kwan Tiong Gak.
“Biarlah hamba yang bawa jalan di
depan!” serunya cepat.
Demikianlah dengan
beriring-iringan Kwan Tiong Gak sekalian meninggalkan kantor cabang
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok menuju ke kuil Thian Ong Bio di luar
kota sebelah timur.
Perkataan Liem Toa Lek sedikitpun
tidak salah, kuil Thian Ong Bio adalah sebuah kuil kecil yang telah
tak terpakai lagi, pintu jendela sudah pada roboh, rumput liar serta
alang-alang tumbuh subur setinggi lutut, empat penjuru tak ada
penduduk yang tinggal di sana.
“Sungguh sunyi tempat ini,” tak
tertahan lagi Kwan Tiong Gak berseru dengan kening berkerut.
“Setahun yang lalu,” ujar Liem Toa
Lek beri keterangan. “Kuil Thian Ong Bio masih digunakan beberapa
orang Toojin untuk bersembahyang, tapi setahun kemudian ketika hamba
datang kemari lagi, ternyata suasana sudah sunyi, entah mengapa
mereka telah meninggalkan kuil ini?”
“Mari kita berjalan masuk!” ajak
sang Cong Piauw-tauw.
Pertama tama ia melangkah terlebih
dulu ke depan.
Phoa Ceng Yan serta Liem Toa Lek
yang melihat Cong Piauw-tauwnya menerjang terlebih dahulu, buru-buru
berebut maju ke muka.
“Cong Piauw-tauw, ada baiknya kita
bukakan jalan untukmu!” serunya hampis berbareng.
Tapi Kwan Tiong Gak sudah
menggeleng dan mencegah dengan suara lirih.
“Tidak usah, kalian berjalan ke
belakang saja dan jaraknya harus ada di antara enam depa.”
Phoa Ceng Yan serta Liem Toa Lek
mengiakan, buru-buru mereka mengundurkan diri ke belakang.
Kwan Tiong Gak percepat langkahnya
langsung masuk ke dalam ruangan besar.
Phoa Ceng Yan, Liem Toa Lek serta
Nyoo Su Jan pun seraya kerahkan hawa sinkang untuk bersiap sedia
mengikuti dari belakang Cong Piauw-tauwnya Kwan Tiong Gak.
Beberapa orang dengan jalan
beriring memasuki ruangan besar.
Tampaklah si Hoa Hoa Kongcu Ke
Giok Lang sambil goyang goyangkan kipasnya menyambut kedatangan
beberapa orang itu dari balik ruangan besar.
“Kwan Tiong Gak Piauw-tauw,
ternyata kau seorang yang patut dipercayai!” serunya memuji.
Kwan Tiong Gak berhenti dan
tertawa hambar.
“Hanya saudara seorang?” balik
tanyanya.
“Si Dewa Api Ban Cau serta
beberapa orang kawannya sedang menanti di ruangan dalam.
“Bagus sekali! Mari kita bicara di
dalam ruangan tengah saja.”
“Tunggu, tunggu sebentar,
dengarkan dulu sepatah dua patah kata dari aku orang she Ke.”
“Ke heng, silahkan bicara.”
“Aaaaai………suatu peristiwa
pembegalan barang kawalan biasa yang sering terjadi dalam dunia
kangouw, karena ikut campurnya siauw-te tidak disangka telah membuat
urusan ini jadi begitu kacau.”
“Silahkan saudara menjelaskan
maksud ucapanmu itu.”
“Sebelum Kwan Cong Piauw-tauw dari
perusahaan kalian dan mendatangkan banyak kerepotan buat
perusahaanmu.”
“Soal ini, aku orang she Kwan
sudha mendengar laporan mereka.” perlahan lahan Kwan Tiong Gak
mengangguk.
“Pada saat ini ada beberapa orang
kawan kawan kang ouw sudah datang mencari aku orang she Ke untuk
diajak bicara,” kata Ke Giok Lang. “Terus terang saja kuberitahukan
kepada kau Cong Piauw-tauw, sebelum kedatanganmu kemari, di dalam
kuil Thian Ong Bio sudah terjadi dua kali pertempuran sengit,
siauw-tepun beruntun telah melukai tiga orang….”
“Siapa yang telah kau lukai?”
“Ketiga orang itu sangat jarang
berkelana di dalam dunia kangouw terutama di daerah utara, karena
mereka terlalu andalkan ilmu silatnya dan tidak pandang sebelah mata
terhadap siauw-te, maka barusan saja kuberi sedikit pelajaran kepada
mereka agar mereka pun tahu seberapa tingginya langit dan berapa
tebalnya bumi.”
Kwan Tiong Gak tersenyum.
“Ke Kongcu sudah bicara setengah
harian lamanya belum juga menyebutkan siapakah nama ketiga orang
itu” tegurnya.
“Oooow… hee…heee….sekalipun
kuutarakan, belum tentu Kwan Piauw-tauw mengenalnya.”
“Coba siapakah mereka!”
“Lam Thian Sam Sah.!”
“Apakah mereka bukan terdiri dari
dua lelaki dan satu wanita” tiba tiba si telapak besi gelang emas
Phoa Ceng Yan menimbrung dari samping. “Salah satu diantaranya
adalah seorang lelaki berbaju hitam bersenjatakan sebatang Thian Kui
So yang di dalam disembunyikan jarum beracun persis seperti kegunaan
kipas Ke Kongcu .?”
“Aaaakh! Jika demikian adanya
tentu Phoa Hu Cong Piauw-tauw pun pernah berjumpa dengan mereka,”
kata Ke Giok Lang diiringi senyuman hambar.
“Cayhe tidak pernah bicara
takabur, terus terang saja siauw-te pernah merasakan bagaimana
hebatnya sebatang jarum beracun yang dilepaskan dari senjata Thian
Kui So tersebut.”
“Bagaimana daya kerja jarum
beracun it?” sambung si Hoa Hoa Kongcu lagi sambil tersenyum.
“Daya kerja racunnya sangat keras
dan dahsyat, seseorang setelah terkena jarum tersebut seketika itu
juga akan kehilangan daya tempurnya.”
“Lalu secara bagaimana Phoa Hu
Cong Piauw-tauw menyembuhkan luka racun itu?”
“Untuk melepaskan bel harus
mencari si pemasang bel itu sendiri, yang melukai diriku adalah
orang itu dan yang menolong aku pun juga dia.”
Sampai di situ Ke Giok Lang tidak
ingin berbicara terlalu panjang lagi, ia menyingkir ke samping
membuka jalan.
“Dalam ruangan tengah masih banyak
orang menantikan kedatanganmu, silahkan cuwi masuk ke dalam.”
Kwan Tiong Gak tertawa hambar.
“Ke Kongcu! Agaknya perkataanmu
belum selesai bukan?”
“Cayhe sudah selesai berbicara,
apa yang harus kutanyakan lagi? seharusnya Kwan heng-lah yang cepat
ambil keputusan.”
“Bagus sekali, cayhe pasti akan
memberikan suatu jawaban yang memuaskan untuk Ke Kongcu.”
“Dan cayhe berharap jawaban itu
adalah suatu jawaban yang sangat bersahabat,” sambung Ke Giok Lang
pula diiringi senyuman hambarnya yang menghiasi bibir.
Kwan Tiong Gak tersenyum dan
mengangguk, ia tidak bicara lagi dan langsung masuk ke ruangan
tengah.
Phoa Ceng Yan, Nyoo Su Jan serta
Liem Toa Lek dengan salurkan tenaga sinkang-nya mempersiapkan diri
mengikuti dibelakang Cong Piauw-tauwnya Kwan Tiong Gak masuk ke
dalam ruangan tengah.
Ketika sinar mata mereka
bersama-sama menyapu keadaan di dalam ruangan itu, tampaklah dalam
ruangan yang sunyi dan terpencil berdiri dua puluh orang lelaki
kekar tinggi pendek tak menentu.
Si Dewa Api Ban Cau dengan memakai
seperangkat jubah warna hijau berdiri di tengah ruangan dengan wajah
penuh keseriusan.
Sedangkan Lam Thian Sam Sah duduk
bersila di pojokan ruangan sedang menyembuhkan luka yang diderita.
Perkataan dari Ke Giok Lang tadi
sedikitpun tidak salah, Lam Thian Sam Sah telah menderita luka yang
sangat parah.
Sepasang mata Kwan Tiong Gak
bagaikan pelita di tengah kegelapan menyapu sekejap seluruh wajah
jago-jago yang hadi di ruangan tengah tersebut, lalu seraya menjura
kepada Ban Cau serunya.
“Tentunya saudaralah yang disebut
orang-orang kangouw sebagai Si Dewa Api Ban Heng?”
Ban Cau tertawa hambar.
“Kwan Piauw-tauw! Sungguh tajam
pandanganmu, walaupun kita berdua pernah berhubungan satu sama lain
tapi rasanya hanya melalui surat menyurat belaka bukan? menurut
ingatan cayhe di antara kita berdua belum pernah berjumpa barang
sekalipun.”
“Terhadap Ban-heng yang merupakan
seorang jago kenamaan, kegagahan, gerak-gerik serta ketajaman mata
yang jauh berbeda dengan orang lain sudah tentu tidak sukar bagiku
untuk mengenalinya sekalipun di antara kita berdua belum pernah
berjumpa.”
“Terima kasih, terima kasih, Kwan
Cong Piauw-tauw terlalu memuji.”
Sinar mata Kwan Tiong Gak perlahan
lahan dialihkan ke atas wajah para jago yang hadir dalam ruangan
tengah, ia temukan diantara mereka ada delapan sampai sembilan puluh
persen adalah anak buah Ke Giok Lang serta Ban Cau yang pada
menyoren senjata.
“Kwan-heng!” terdengar Ke Giok
Lang berkata seraya menggerak-gerakkan kipasnya.
“Perusahaan piauw-kiok kalian
sudah berhasil menghantar pembesar she Liuw sekeluarga serta seluruh
harta kekayaan tiba di kota Kay Hong dengan selamat, terhadap nama
besar Liong Wie Piauw-kiok pun boleh dihitung tidak menderita suatu
kerugian apapun, dengan demikian bukankah tanggung jawab selanjutnya
terhadap keselamatan anggota keluarga she Liuw bukan menjadi
tanggung jawab kalian lagi?.”