lambang naga panji naga sakti 05

“Racun ganas yang terpoles di atas jarum pencabut nyawa ini sangat luar biasa, kecuali menggunakan obat pemunah manungal dari si penyambit senjata rahasia, orang lain tak bakal bisa bantu memunahkannya, bila aku cabut keluar jarum beracun itu dari pundaknya maka kemungkinan besar pemuda ini bakal lebih cepat menemui ajalnya.”

“Tapi kitapun tak bisa berpeluk tangan melihat orang lain menjelang sekarat!”

“Bilamana aku orang tiada bermaksud untuk menolong dirinya, akupun tak akan membopong dirinya msuk ke dalam kuil.”

Liauw Thay jien menghela napas panjang.

“Jika kita tidak bantu dirinya mencabut keluar senjata beracun itu, bukankah sebentar lagi ia bakal mati?”

“Dugaan Thayjien salah besar, menurut apa yang orang she Phoa ketahui, asalkan jarum beracun itu tidak sampai tercabut maka kemungkinan besar nyawanya bisa diperpanjang beberapa saat.”

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Sewaktu kau turun tangan menolong dirinya apakah kau tidak tahu jika pemuda ini sudah terhajar oleh senjata rahasia yang sangat beracun?”

“Ehm! Akupun tidak tahu jika senjata rahasia yang menghajar dirinya adalah jarum ekor walet pengejar sukma.”

“Nyawa manusia sangat berharga, Phoa Hu Cong Piauw-tauw, apa yang hendak kau lakukan saat ini?”

Mendengar pertanyaan itu, Phoa Ceng Yan jadi melengak, tapi mengingat Liauw Thayjien adalah seorang yang pernah menjabat sebagai pembesar maka tidak aneh kalau nada ucapannya tidak terlepas dari nada seorang pembesar walaupun sudah menghadapi peristiwa macam begini.

Pikirannya segera berputar, beberapa saat kemudian ia baru menyahut.

“Thayjie! Aku sendiripun tidak tahu semisalnya aku tidak berhasil menolong hidup orang ini apakah hal tersebut merupakan suatu perbuatan melanggar hukum atau tidak, tapi menurut peraturan dari dunia kangouw, setiap kali kami menemui persoalan yang sangat merepotkan, jikalau semisalnya aku tidak berhasil menolong hidup dirinya maka akupun tidak usah ganti nyawa sendiri, tapi kejadian yang sebenarnya kami harus jelaskan kepada sanak keluarganya dan kepada perguruannya pun aku harus memberikan suatu pertanggungan jawab.”

“Setelah orang itu mati, kenapa tidak kalian laporkan saja kepada kaum pembesar negeri?” kata Liauw Thayjien.

“Dalam dunia kangouw terdapat peraturan dunia kangouw yang harus kami taati, peristiwa ini sudah tentu tidak perlu kami laporkan kepada kaum pembesar.”

“Tidak salah!” Liauw Thayjien mengangguk. “Kalian sebagai orang kangouw memang memiliki cara penyelesaian kalian sendiri.”

Ia menghela napas panjang.

“Hee-koan sudah selesai membuat surat!” tambahnya.

“Bagus! Kau serahkan saja kepadaku, akan kubantu kirimkan surat ini sampai kealamatnya.”

Dari dalam sakunya Liauw Thayjien mengambil keluar selembar kertas putih dan diangsurkan kepada si orang tua itu.

“He-koan sudah menurut nasehatmu, surat yang aku tulis amat singkat sekali.”

“Thayjien boleh berlega hati, dalam satu dua hari ini Besan dari thayjien tentu sudah menerima surat ini,” kata Phoa Ceng Yan seraya menerima angsuran surat itu.

Perlahan lahan Liauw Thayjien mengalihkan sinar matanya ke arah dada pemuda berbaju biru itu, ia berbatuk batuk kering.

“Phoa-ya! He-koan menyimpan berbagai macam obat mujarab yang dapat digunakan untuk memunahkan racun-racun ganas tersebut, entah dapatkah obat-obat itu digunakan buat ini?”

“Obat apa?”

“Sewaktu He-koan masih menjabat sebagai pembesar di kota Tok-Hu pernah mendapat hadiah dari seorang tabib kenamaan…”

Tiba-tiba pemuda berbaju biru itu menggerakkan jari tangannya dan menuding dada sendiri.

“Sungguh hebat lweekang yang dimiliki orang ini.” diam-diam pikir Phoa Ceng Yan ketika melihat pemuda tersebut menunjukkan suatu gerakan.”setelah terhajar senjata rahasia beracun Yen Wie Tui Hun Ciam nyatanya dalam waktu singkat ia bisa menggerakkan jari-jari tangannya, sungguh suatu kejadian yang luar biasa!”

Berpikir akan persoalan itu, mendadak suatu ingatan bagus berkelebat di dalam benaknya, dengan cepat ia meraba dada pemuda berbaju biru itu.

Di mana jari-jari tangannya bergerak, si orang tua ini dengan cepat meraba sebuah botol kumala di balik sakunya.

Buru-buru Phoa Ceng Yan merogoh ke dalam saku orang itu dan diambilnya keluar sebuah botol porselen.

Botol porselen itu panjangnya ada dua coen danberwarna hijau bening, setelah membuka gabus penutupnya mengelinding keluarlah dua butir pil.

Di dalam botol tersebut hanya terdapat dua butir pil, satu warna hijau kemerah-merahan dan yang lain berwarna putih keperak-perakan.

Phoa Ceng Yan letakkan kedua butir pil tersebut ke telapak tangannya dan memandang benda itu dengan terpesona, warna kedua butir pil itu tidak sama rasanya penggunaannya sama sekali berbeda.

Ia mengetahui jelas maksud pemuda berbaju biru itu menuding dada sendiri adalah minta ia mengambil keluar botol porselen yang ada di dalam sakunya, tapi ia tidak mengerti pil warna yang manakah merupakan obat pemunah dari racun tersebut.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Apakah pil obat itu cukup memberitahukan kepadamu maksud tujuannya menuding botol porselen tersebut??” tanya Liauw Thayjien sembari terbatuk-batuk.

“Dalam keadaan luka parah ia masih tidak melupakan botol porselen yang disimpan dalam saku, sudah tentu jelas sekali membuktikan bila isi dari botol porselen itu adalah obat pemunah racun yang mujarab!”

“Dan kini di dalam botol tersebut semuanya terdapat dua butir pil yang berlainan warnanya, salah sebutir diantaranya tentu bukan merupakan obat pemunah bukan?”

“Benar! Di antara kedua butir pil tersebut yang satu adalah pil pemunah sedang yang lain bukan pil pemunah, saat ini aku sendiripun susah untuk membedakan mana yang pil pemunah dan mana yang bukan pil pemunah!”

“Perlahan-lahan Liauw Thayjien menghela napas panjang.

“Heeei…! Jikalau kita tak berhasil membedakan butiran pil yang mana adalah pil pemunah racun, sekalipun saat ini kita miliki obat pemunah juga sama saja tak dapat digunakan untuk menyelematkan jiwanya.

“Cara lain sih masih ada!” kata Phoa Ceng Yan setelah termenung sebentar. “Tapi berhasil atau tidak masih susah dibicarakan.”

“Apa caramu itu???”

“Cabut dulu jarum Yen Wie Ciam yang menghajar pada punggungnya, salurkan tenaga dalam akan kubantu menyadarkan dirinya dari pingsan, kemudian biar ia sendiri yang menunjukkan butiran pil mana adalah pil pemunah racun!”

“Obat tersebut ia yang membawa sendiri, sudah tentu pemuda tersebut dapat menentukan sendiri mana yang merupakan pil pemunah racun!”

“Cuma cara inipun merupakan suatu tindakan sangat berbahaya,” kata Phoa Ceng Yan kembali berat.

“Bagian mana yang kau maksud bahaya.”

“Jikalau aku tidak berhasil menyadarkan dirinya, maka kita tak akan berhasil menyelamatkan jiwanya lagi.”

“Kecuali bertindak demikian, masih adakah cara-cara yang kiranya dapat digunakan?.”

“Bilaman dibicarakan dalam situasi seperti ini, kecuali cara tersebut rasanya tak ada cara lain lagi….”

Selagi mereka bercakap-cakap, Nyoo Su Jan dengan membawa baki berisi makanan sudah berjalan masuk.

“Jie-ya, siapakah orang ini?” tanya Nyoo Su Jan sambil meletakkan baku berisi makanan itu ke atas tanah.

“Aku sendiripun tidak tahu.” perlahan-lahan Phoa Ceng Yan menggeleng. “Ia menunggang kuda dan kesasar sampai ke sini, sedang pemuda itu sendiri jatuh pingsan karena terhajar senjata rahasia.”

Sinar mata Nyoo Su Jan dialihkan ke atas jarum beracun Yen Wie Tui Hun Ciam yang masih melekat pada punggungnya.

“Aaaakh! Ia sudah terhajar oleh jarum beracun Yen Wie Tui Hun Ciam…..” serunya tiba-tiba dengan rasa kaget.

“Tidak salah, bahkan kalau sudah tak ditolong lagi, maka jiwanya bakal melayang.”

“Kuda putih yang berada di luar ruangan apakah kuda tunggangannya??….“ kembali Nyoo Su Jan bertanya.

“Ehmmm! Jikalau kuda tunggangannya bukan seekor kuda jempolan yang cerdik, mungkin ini hari jiwanya sudah melayang.”

“Jadi Jie-ya mau menolong dirinya?”

“Benar, urusan sudah menjumpai diriku sudah tentu aku harus berusaha keras…..”

“Jika ditinjau dari perubahan air mukanya, jelas ia sudah keracunan hebat, bila tidak berhasil kita tolong dirinya, maka kesulitan bakal menimpa diri kita.”

“Soal ini aku sendiripun tahu, jika kita tidak berhasil menyelamatkan jiwa maka kerepotan bakal saling berdatangan, dan bila kita berhasil menolong dirinya kerepotan tetap bakal datang. Sekarang urusan ini sudah menjumpai kita, kalau memang apapun terjadi kita tetap merasakn kerepotan, bukankah jauh lebih baik kita coba dulu tolong orang itu. Kedatanganmu sungguh amat bagus, coba perintahkan mereka perketat penjagaan, mungkin satu dua jam ini aku tak bisa lepaskan diri dalam ruangan, sebentar lagi aku mau turun tangan menolong dirinya.”

Dirobeknya pakaian kulit kambing pada pundak pemuda itu, lalu jari-jari tangan kanan mulai bekerja mencabut keluar jarum beracun yang menghajar di atas jalan darah “Hong Hu Hiat” pada pundak pemuda berbaju biru itu, sedangkan tangan kirinya angsurkan pil pemunah tadi ke tangan Liauw Thayjien.

Liauw Thayjien terima obat pemunah itu, Phoa Ceng Yan lantas gunakan tangan kirinya membimbing bangun pundak pemuda tersebut, telapak tangan ditempelkan ke atas jalan darah “Ming Bun Hiat” pada punggung diam-diam hawa murni disalurkan menerjang masuk ke isi perutnya.

Liauw Thayjien yang belum pernah mencampurkan diri dalam urusan dunia kangouw, ketika melihat Phoa Ceng Yan tempelkan telapak kanannya ke atas punggung pemuda berbaju biru itu dalam hati jadi keheranan.

“Eeei…. terhitung cara apakah ini? masa menyembuhkan luka keracunan hanya dengan tempelkan tangan ke atas punggung?”

Tampaklah beberapa saat kemudian batok kepala Phoa Ceng Yan mulai dibasahi oleh keringat yang makin lama semakin deras bagaikan curahan hujan, dari ujung kepala sampai bawah basah kuyup semua.

Melihat kejadian itu, Liauw Thayjien jadi semakin terkejut bercampur keheranan.

“Phoa-ya, kau lelah?” tak tertahan lagi tanyanya.

Ketika itu Phoa Ceng Yan sedang pusatkan seluruh perhatian untuk paksa keluar racun dari dalam tubuh si lelaku berbaju biru itu dengan kerahkan tenaga lweekang, sudah tentu tak ada waktu baginya untuk menjawab pertanyaan dari Liaw Thayjien.

Ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Liauw Thayjien yang melihat Phoa Ceng Yan tetap duduk bersila sambil pejamkan mata, agaknya sama sekali tidak mendengar pertanyaan, iapun tidak mengajukan pertanyaan lebih lanjut.

Kembali lewat beberapa waktu, mendadak si orang berbaju biru itu menghembuskan napas panjang, perlahan-lahan ia membuka matanya.

Agaknya ketika itu Phoa Ceng Yan sudah kecapaian, sesudah menghembuskan naoas ringan buru-buru katanya.

“Liauw Thayjien, cepat tunjukkan pil itu kepadanya dan suruh ia tunuk pil mana yang pemunah racun.”

Liauw Thayjien menurut, ia keluarkan telapak tangannya dan menunjukkan kedua butir pil kepada sang pemuda.

“Dia antara kedua butir ini mana yang merupakan pil pemunah racun?”

“Pil berwarna putih keperak-perakan adalah pemunah racun.”

Liauw Thayjien segera mengambil pil yang dimaksud dan diserahkan ke mulut pemuda tersebut.

“Phoa-ya, apakah pil ini diberikan saja kepadanya.”

“Tanyakan saja kepadanya.”

Si orang berbaju biru itu tidak menjawab tapi pentangkan mulut lebar-lebar.

Liauw Thayjien pun lantas hantar pil warna putih ke dalam mulut si orang berbaju biru.

Setelah itu dimasukkannya pula pil berwarna merah tadi ke botol kumala, lalu menutup gabusnya dan diletakkan di depan tubuh sang pemuda.

Setelah semuanya beres ia baru bangun berdiri dan bertindak keluar dari ruangan.

Si lelaki berbaju biru itu setelah menelan pil pemunah racun segera pejamkan matanya pula untuk mengatur pernapasan.

Phoa Ceng Yan dengan kerahkan sisa tenaganya mengirim hawa lweekang ke dalam isi perut sang pemuda dan bantu ia perlancar jalannya peredaran darah di badan.

Sepeminum teh kemudia, mendadak si orang berbaju biru itu buka suara, katanya.

“Terima kasih atas bantuan dari Locianpwee, boanpwee sudah bisa atur pernapasan sendiri, cianpwee tidak usah repot repot lagi.”

Cara menyembuhkan luka dengan menggunakan tenaga dalam merupakan suatu pekerjaan yang sangat berat dan banyak mengeluarkan tenaga murni, Phoa Ceng Yan yang ada maksud menolong orang telah kerahkan seluruh hawa murni yang dimilikinya.

Sesudah lewat beberapa saat hawa murni di dalam badan hampir boleh dikata sudah tinggal sedikit, keringat ngucur keluar menembusi mantel bulunya, sekalipun si orang berbaju biru itu tidak menyuruh ia beristirahat pun ia tak akan meneruskan pekerjaannya.

Si orang berbaju biru itu melirik sekejap ke atas wajah Phoa Ceng Yan yang penuh diliputi keletihan, setelah itu ia baru pejamkan mata atur pernapasan.

Phoa Ceng Yan menghembuskan napas panjang, tubuhnya langsung dijatuhkan ke belakang dan rebah ke atas tanah, kelelahan yang dialami saat ini bagaikan kelelahan yang dialami setelah mengalami suatu pertarungan yang maha sengit.

Waktu itu Nyoo Su Jan dengan jalan merindik-rindik masuk ke dalam ruangan, sebagai seorang jago kawakan yang sering melakukan perjalanan setelah melihat sekejap keadaan ruangan perlahan-lahan ia menutup pintu kembali dan mengundurkan diri untuk berjaga-jaga di luar.

Kiranya ia takut keadaan Phoa Ceng Yan yang sangat mengenaskan itu dapat diketahui oleh pihak lawan, maka dari itu untuk amannya sengaja ia berjaga-jaga di depan pintu untuk menghalangi setiap orang yang bermaksud untuk masuk ke sana.

Setelah berbaring beberapa saat, perlahan-lahan Phoa Ceng Yan bangun duduk dan mulai atur pernapasan.

Menanti ia selesai salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan satu lingkaran dan rasa lelah lenyap dari dalam tubuh pada waktu itu si orang berbaju birupun sudah selesai bersemedi dan sedang duduk di sudut ruangan.

Ketika Phoa Ceng Yan buka mata untuk kedua kalinya, keadaan dari si orang berbaju biru itu sudah berubah dari keadaan semula, wajah sembab hijau yang semula menghiasi wajahnya kini sudah tersapu lenyap berganti dengan selembar wajah tampan dan gagah perkasa.

“Loo-Cianpwee sudah selesai bersemedi, boanpwee pun seharusnya mohon diri” kata si orang berbaju biru itu hambar.

Ia bangun berdiri, membuka pintu dan berjalan keluar dengan langkah lebar.

Ia tidak menanyakan kisahnya sehingga ditolong, juga tidak mengucapkan sepatah kata terima kasih bahkan tidak menanyakan pula nama Phoa Ceng Yan maupun meninggalkan nama sendiri, begitu keluar dari ruangan segera meloncat naik ke atas kuda, menarik tali les dan diiringi suara ringkikan kuda putihnya laksana sambaran petir meleset sejauh delapan depa untuk kemudian lenyap di balik hutan sana.

Menanti Phoa Ceng Yan tiba di depan pintu kuil bayangan manusia sudah lenyap tak berbekas.

Nyoo Su Jan yang melihat kejadian itu tak bisa menahan golakan dihatinya lagi, kontan ia bentang bacot memuji.

“Sungguh seekor kuda yang bagus……..”

Ia bepaling, sewaktu melihat Phoa Ceng Yan pun sudah keluar, buru-buru sambungnya dengan berganti nada.

“Jie-ya, siapakah orang itu? Agaknya di dalam kalangan Bu Lim sebelah utara belum pernah menemui jejak orang ini.”

“Ia tidak tinggalkan nama” Phoa Ceng Yan menggeleng.

“Ehmmm! Apakah Jie-ya tidak menanyakan hal tersebut kepadanya?”

“Kepergiannya teramat cepat, sang manusia amat gesit kudanya lincah, sama sekali tidak memberi suatu kesempatan bagiku untuk mengajukan pertanyaan.

Thio Toa Hauw yang berdiri di samping pintu kuil sehabis mendengar perkataan itu hawa gusarnya kontan bergelora.

“Hmmm! Bangsat cilik itu benar-benar tidak tahu kesopanan, bikin dongkol. Jie-ya! Kau sudah sia-sia menolong selembar nyawanya, kurang ajar benar, masa sepatah kata terima kasihpun tidak diucapkan, jika di kemudian hari aku si Loo Thio menemui dirinya lagi, tentu akan kukasih sedikit hajaran kepadanya.”

“Toa-Hauw, lain kali aku larang kau ungkap kembali persoalan ini “ cegah Phoa Ceng Yan sembari ulapkan tangannya. “Kita sebagai orang kangouw yang sering melakukan perjalanan sudah sepatutnya sering tolong menolong dan membantu, urusan telah lewat biarkanlah berlalu, apalagi kitapun menolong bukan mengharapkan upah orang lain.

Walaupun di dalam hati tidak puas, Thio Toa Hauw tidak berani membantah perkataan Hu Piauw-tauw-nya, dengan hati mendongkol segera putar badan berlalu.

“Jie-ya, jika ditinjau dari kudanya kemungkinan besar orang ini mempunyai asal-usul yang luar biasa.” bisik Nyoo Su Jan dengan suara lirih. “Budi tidak mengenal terima kasih, inilah baru dinamakan wajah seorang pendekar sejati!”

“Su Jan, jangan bicarakan urusan ini lagi “ potong Phoa Ceng Yan sambil terbatuk batuk kering. “Tadi kau keluar sebentar dan apa yang sudah kau temui di sana?”

“Hamba serta Giok Liong sekalian bekerja untuk kumpulkan sedikit bahan makanan yang kira-kira bisa digunakan untuk penuhi ransum selama empat-lima hari buat manusia maupun kuda, selain itu secara teliti dan cermat kamipun sudah periksa keadaan di empat penjuru, tapi tak sebuah tanda yang mencurigakan pun berhasil kita temukan. Hamba merasa keadaan sekeliling kuil ini sangat tenang bahkan ketenangan yang membawa rasa keheranan.”

“Semakin hening, suasana semakin menakutkan! Kita jangan terlalu bertindak gegabah……” kata Phoa Ceng Yan seraya tertawa getir.

Ia dongakkan kepala memandang cuaca.

“Waktu masih pagi, sekalipun bakal terjadi urusan juga tak akan berlangsung pada saat ini. Menggunakan kesempatan ini ada baiknya suruh mereka makan yang kenyang lalu beristirahat sebentar. Semisalnya si Dewa Api Ban Cau betul-betul sudah pasang jebakan di sebelah sana dan ini hari tidak berhasil menjumpai kita, maka nanti malam pihak mereka pasti akan adakan suatu gerakan.”

Agaknya Nyoo Su Jan secara tiba-tiba teringat akan suatu persoalan yang penting, buru-buru ujarnya.

“Eeeeii……….Piauw-tauw, pemuda tadi sudah kena terhajar senjata rahasia macam apa?”

“Jarum beracun Yen Wei Tui Hun Ciam” seru Phoa Ceng Yan rada melengak.

“Jarum Yen Wie Tui Hun Ciam adalah sebangsa senjata rahasia tunggal yang sangat istimewa, jarang sekali orang-orang Bu-lim yang menggunakan senjata tersebut.”

“Tentang hal ini aku sih tahu” Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini tertawa getir. “Dan didalam dunia kangouw saat ini hanya seorang saja yang menggunakan senjata rahasia ini sebagai senjata andalan.”

“Si “Kui Siu” atau Tangan Setan Mo Cing.”

“Tidak salah, memang si tangan setan Mo Cing.”

“Menurut apa yang hamba ketahui, selamanya antara Kui Siu serta Shia Kiam atau si pedang sesat belum pernah berpisah.”

“Tentang hal ini akupun tahu,” kembali si orang tua mengangguk. “Di mana si tangan Setan Mo Cing munculkan diri maka “Shia Kiam” atau si pedang Sesat pasti menguntil datang.”

“Jie-ya” Nyoo Su Jan berbisik rendah.

“Sudah ada banyak tahun si Tangan Setan serta si Pedang Sesat tidak pernah munculkan dirinya di dalam dunia kangouw, kemunculan mereka di tempat ini ada kemungkinan disebabkan karena suatu maksud tertentu.”

“Maksudmu, kedatangan mereka-pun disebabkan oleh barang kawalan kita kali ini?” teriak Phoa Ceng Yan tertegun.

“Soal ini hamba tidak berani terlalu memastikan, hanya saja peristiwa ini terjadi sangat kebetulan, dalam musim dingin yang menggigilkan badan serta jalan raya yang tertutup lapisan salju tebal apalagi menjelang tutup tahun, kebanyakan jago-jago Liok-Lim kenamaan sudah masanya beristirahat menyambut kedatangan Tahun Baru, seharusnya Kui So serta Shia Kiam tidak akan dikarenakan jual beli ini lantas cari sangu untuk melewati Tahun Baru bukan?”

“Tidak salah, si Dewa Api Ban Cau ditambah tangan dan pedang sesat, urusan memang sedikit rada kebetulan.”

“Bahkan mereka masih tinggalkan suatu bukti kepada kita bahwa si tangan setan Mo Cing pun telah unjukkan diri.”

“Tapi diantara perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita dengan pihak mereka belum pernah terlibat sengketa!” seru Phoa Ceng Yan.

“Kita sudah menolong orang yang pernah dilukai si Tangan Setan Mo Cing, bukankah hal ini berarti sudah memberikan suatu kesempatan yang baik buat mereka untuk mencari gara-gara?”

“Su Jan!” kata si Orang tua seraya tertawa getir. “Jikalau kedatangan mereka adalah membawa maksud tujuan, sekalipun kita tidak menolong orang itupun mereka sama saja tak akan melepaskan kita orang.”

“Perkataan dari Jie-ya memang tidak salah, agaknya urusan makin lama berubah semakin merepotkan, hamba segera akan perintahkan mereka untuk banyak bikin persiapan.”

Ia merandek sejenak.

“Walaupun keadaan pihak musuh jauh lebih kuat, paling banterpun kita harus bertempur sampai mati, justru persoalannya sekarang terletak pada diri keluarga Liauw. Heee……! Sekarang, hamba malah sebaliknya sangat mengharapkan nona Liauw benar-benar seorang gadis yang memiliki rangkaian ilmu silat lihay.”

“Kalau rejeki bukan bencana, kalau bencana tak akan terhindar, sampai waktunya aku kepingin sekali agar mereka suka memberi sedikit keterangan tentang maksud kedatangannya, setelah itu kita lakukan suatu pertarungan sepuas-puasnya, daripada harus merasakan kemasgulan, kemurungan serta kesumpekan sebanyak ini, jauh lebih baik semuanya berlalu dengan blak-blakan.”

“Jie-ya, maafkan hamba akan bicara terus terang. Kemungkinan sekali Cong Piaut tauw sudah mulai melakukan perjalanan, dengan kecepatan lari kudanya, mungkin dalam beberapa hari ini akan tiba di sini, sekarang kita harus berusaha keras menahan siksaan serta kepahitan getir untuk mengesampingkan semua persoalan yang tak berguna, kita harus mencari akal untuk bertahan hingga kedatangan Cong Piauw-tauw kita.”

“Perkataanmu tidak salah, pergilah melakukan persiapan.” Phoa Hu Cong Piauw-tauw mengangguk.

Agaknya secara tiba-tiba ia sudah teringat akan suatu persoalan yang penting, sembari mengelus jenggot sambungnya lagi.

“Su Jan, aku sudah teringat akan suatu persoalan!.”

Nyoo Su Jan yang sudah putar badan dan melangkah keluar mendengar perkataan itu lantas berhenti dan berpaling.

“Jie-ya, kau masih ada urusan apa yang hendak diperintahkan??”

“Toa-hauw memiliki kekuatan alam luar biasa, hanya jurus-jurus ilmu silatnya kurang sempurna, setelah menemui jago lihay kadangkala hanya dalam tiga lima jurus kena didesak bergebrak jarak dekat kemudian tertotok jalan darahnya. Bila kita hendak bertahan seharusnya kau aturkan penjagaan sedemikian rupa sehingga Toa Hauw bisa unjukkan sedikit kegagahannya.”

Ia tarik napas panjang panjang dan beristirahat sebentar.

“Jikalau kita bisa lewatkan hadangan ini akan memohonkan kepada COng Piauw-tauw untuk carikan satu akal menyempurnakan diri Toa Hauw, menambah kecerdikannya dan wariskan beberapa rangkaian ilmu silat yang sesuai bagi dirinya.”

“Perkataan dari Jie-ya sedikitpun tidak salah, soal ini sudah lama kita rundingkan, dan akhirnya berhasil kami dapatkan satu cara, cuma cara ini harus bekerja sama pula dengan Jie-ya kau orang tua.”

“Harus bekerja sama dengan diriku?”

“Tidak salah. Gelang terbang dari Jie-ya beserta du alat bandring otomatis dan empat busur panjang yang keras bisa kita gunakan berbareng, sekalipun kita jumpai seorang jago lihay kelas wahidpun hamba percaya masih bisa menghadapinya, cuma………..”

“Su Jan, teruskan kata katamu, tidak mengapa!” seru Phoa Ceng Yan tertawa.

“Jie-ya harus bisa menahan hina, makian serta hasutan musuh, kita jangan gubris makian serta tantangan mereka”.

“Baik! Akan kudengarkan siasatmu itu.”

“Hamba sudah periksa situasi di sekitar sini, jikalau kita akan bertahan di dalam kuil ini maka ruang tengah harus kita jadikan titik pusat, soal keluarga Liauw sana terpaksa hamba harus merepotkan Jie-ya untuk bikin takluk dulu Liauw Thayjien.”

“Heeeei…..! Jikalau kau suruh aku bicarakan lagi tentang sesuatu dengan mereka sebenarnya Loohu sudah malu untuk buka suara, bagaimana kalau titik pusat penjagaan dari ruang tengah kita pindahkan ke ruang yang mereka tempati saja?”

“Hamba serta Giok Liong sudah bikin perhitungan yang cermat, kami merasa bahwa ruangan itu tidak kuat……”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya.

“Hamba sudah gunakan papan serta kulit pohon untuk membangun sebuah ruang kecil di dalam ruangan tengah, rasanya ruangan tersebut cukup digunakan sebagai tempat persembunyian beberapa orang keluarga Liauw! Apalagi tempat itupun jauh lebih aman daripada ruangan sekarang.”

Beberapa patah perkataan ini sengaja diucapkan dengan suara keras, sehingga para pembantu Piauw-kiok yang meronda di luar pintu besar pun dapat mendengar perkataan itu jelas.

Selagi Phoa Ceng Yan bersiap hendak memberi jawaban, tiba-tiba Liauw Thayjien munculkan dirinya dari balik ruangan.

“Phoa-ya, kau tidak perlu bersedih hati!” serunya seraya ulapkan tangannya. “Urusan sudah jadi begini, terpaksa kau harus berbuat sesuai dengan perintah dari Nyoo Su Jan Piauw-tauw.”

“Thay-jien, kau terlalu sungkan” buru-buru Nyoo Su Jan menjura. “Di dalam keadaan dan situasi macam begini terpaksa kita harus saling percaya mempercayai dan saling bantu membantu, dengan demikian hadangan bahaya ini baru bisa kita lalui.”

“Aku paham, entah kapan kami harus pindah!” potong Liauw Thayjien tertawa hambar.

“Lebih baik sekarang juga pindah kemari! Bilamana kedatangan mereka adalah benar-benar dikarenakan kita orang, rasanya sebentar lagi orang-orang itu pasti sudah tiba di sini, bahkan ada kemungkinan besar malam nanti bakal terjadi suatu perubahan besar…..”

“Baiklah, sekarang juga cayhe akan suruh merekap pindah masuk ke ruang tengah.”

“Su Jan! Tidak bisa salahkan orang lain merasa tidak senang” sela Phoa Ceng Yan seraya tertawa hambar menanti Liauw Thayjien telah berlalu. “Orang lain adalah buang uang meminta kita jadi pengawalnya, bukannya kami yang menurut perintah sekarang merekalah yang setiap langkah harus mendengar petunjuk kita orang.”

“Keadaan kritis dan tidak mengijinkan kita banyak berpikir panjang, rasanya kejadian inipun merupakan suatu peristiwa yang tidak terhindarkan.”

Ia merandek sejenak, lalu sambungnya.

“Jie-ya, kau harus baik-baik beristirahat sebelum Cong Piauw-tauw tiba di sini maka semua urusan masih harus andalkan kepandaian Jie-ya.

Selesai berkata, Nyoo Su Jan lantas berlalu untuk adakan persiapan persiapan seperlunya.

Liauw Thayjien dengan membimbing Liauw Hujien serta nona Liauw pindah masuk ruang tengah kuil.

Sedikitpun tidak salah, Nyoo Su Jan sekalian sejak semula sudah persiapkan sebuah rumah kecil yang sangat kuat dan tertutup di tengah ruang kecil itu ditutup oleh papan serta kulit pohon yang tebal dan kokohnya luar biasa di bawah jendela bertumpukan batu batu cadas dalam jumlah yang sangat banyak.

Jelas membuktikan bila Phoa Ceng Yan sekalian sudah bulatkan tekad untuk bertahan mati-matian di dalam kuil tersebut dengan titik pusat di dalam ruang tengah tadi.

Cuaca makin lama semakin gelap, suasana di sekeliling tempat itupun mulai kelihatan samar-samar, rasa tegang mulai mencekam hati setiap orang semua.

Ketika itu salju sudah berhenti, awan gelap mulai buyar dan muncullah langit nan biri dengan separuh bagian rembulan memancarkan cahayanya menyinari permukaan jagat yang putih menyilaukan mata.

Dalam kuil sudah disulut lampu, suasana empat penjuru sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun kecuali ringkikan-ringkikan kuda yang menambah keseraman di tengah malam yang bening itu.

Kurang lebih mendekati kentongan kedua di luar kuil tiba-tiba muncul empat sosok bayangan manusia, suara berdetaknya kaku kuda berlari di atas permukaan salju kedengaran sangat jelas.

Phoa Ceng Yan yang bersembunyi di tempat kegelapan di balik pintu besar kuil dengan meminjam cahaya rembulan dapat melihat pemandangan di luar kuil dengan sangat jelas.

Di lihatnya empat sosok bayangan manusia menghentikan larinya kuda pada kurang lebih sepuluh kaki di luar kuil dan sama-sama meloncar turun ke ats permukaan tanah.

Agaknya keempat orang itu sama sekali tiada mengandung maksud hendak melancarkan serangan bokongan, setelah menyerahkan keempat ekor kuda itu pada seorang, sisanya tiga orang dengan langkah lebar berjalan ke arah kuil.

Melihat kejadian itu Phoa Ceng Yan lantas berpaling dan memandang sekejap ke arah Nyoo Su Jan.

“Agaknya mereka siap-siap menantang kita untuk bergerak “ bisiknya lirih.

“Jika memang begitu, pasti mereka adalah jago-jago kenamaan.”

Gerakan tubuh ketiga orang itu sangat cepat, di dalam sekejap mata sudah berada kurang lebih tiga kaki di luar kuil.

Pihak lawan tidak buka suara untuk menantang perang, sedang dari pihak Phoa Ceng Yan pun tidak kedengaran suara bentakan maupun teguran, mereka hanya memandang orang-orang itu dengan pandangan dingin.

Menanti ketiga orang itu sudah mencapai tiga kaki dari kuil mendadak bersama-sama menghentikan langkahnya, salah seorang diantaranya seorang kakek tua berjubah panjang warna hijau dengan jenggot melambai sepanjang dada maju ke depan seraya menjura, katanya.

“Siapakah yang sedang bertugas? Harap suka laporkan kepada si telapak besi gelang emas Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan kalian, katakan saja si Dewa Api Ban Cau malam-malam datang berkunjung.”

Selagi Phoa Ceng Yan siap-siap hendak memberi jawaban, Nyoo Su Jan yang ada disisinya sudah keburu menyahut.

“Oooooouw……..! Kiranya Ban Loo-yacu yang namanya sangat terkenal di dalam Bu Lim, cayhe aturkan selamat datang! Maaf kami menyambut kurang hormat.”

Sembari menjawab, lambat-lambat ia berjalan keluar dari tempat persembunyian.

Ban Cau dongakkan kepala memandang sekejap ke arah Nyoo Su Jan.

“Maaf, Loohu punya mata tak berbiji, tidak berhasil kukenali sebutan dari kawan.”

“Cayhe Nyoo Su Jan! Ban Loo-yacu adalah cianpwee loojien, sudah tentu tak akan mengenali aku orang she Nyoo yang sama sekali tak bernama di dalam dunia persilatan,” kata Nyoo Su Jan seraya menjura.

Ban Cau mendengus dingin.

“Kau tidak usah meluncurkan sindiran dalam kata-katamu, sana beritahu kepada Phoa Ceng Yan, coba lihat maukah dia orang menemui aku sebagai si tetamu.”

Phoa Ceng Yan yang bersembunyi di belakang pintu dapat mendengar jelas semua perkataan dari kedua orang itu, tapi berhubung belum mendapat tanda dari Nyoo Su Jan maka ia merasa kurang leluasa untuk unjukkan diri.

Terdengar Nyoo Su Jan kembali berkata, “Bilamana dibicarakan dari nama serta kedudukan Ban Loo-yacu saat ini sudah tentu seharusnya Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan kami munculkan diri untuk menemui tamu, cuma saja…..”

Ban Cau ulapkan tangannya memotong pembicaraan selanjutnya dari Nyoo Su Jan, sahutnya.

“Kau tidak usah bukakan pintu buat aku orang, Loohu malam-malam datang berkunjung bukannya dikarenakan ingin mengikat persahabatan, jika kau tidak ingin sampaikan berita ini jangan salahkan Loohu segera akan terjang masuk ke dalam.”

Melihat Nyoo Su Jan terdesak dan sulit untuk memberi jawaban lagi, Phoa Ceng Yan batuk0batuk kering sambil melangkah keluar dari tempat persembunyian.

“Siapa yang datang mencari aku orang she Phoa.”

Seraya menyahut lambat-lambat ia munculkan dirinya dan berjalan keluar ke pintu kuil, melihat munculnya Phoa Hu Cong Piauw-tauw ini, Ban Cau segera merangkap tangannya menjura, “Si telapak besi gelang emas Phoa Jie-ya, di sini Ban Cau menghunjuk hormat.”

Buru-buru Phoa Ceng Yan balas menjura.

“Tidak berani…..tidak berani, cayhe tidak berani menerima penghormatan besar dari Ban Toa-ya.”

Si Dewa Api Ban Cau tertawa hambar.

“Selama beberapa tahun ini siauw-tee bersembunyi terus di gunung dan jarang berkelana di dalam dunia persilatan, tapi aku dengar nama besar dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian beserta kedashyatan dari gelang terbang pencabut nyawa dari Phoa Jie-ya, katanya kau sudah berhasil mkendesak kawan-kawan Liok-lim di daerah utara sampai tak bisa berkutik.”

Phoa Ceng Yan mendengus dingin sahutnya.

“Jikalau kedatangan Ban Heng pada malam ini dikarenakan soal kawan-kawan di sekitar daerah Utara, maka aku orang she Phoa dengan suka hati akan menyampaikan pendapat dari Ban heng ini kepada Cong Piauw-tauw kami, aku rassa Cong Piauw-tauw tentu akan memberikan satu jawaban yang memuaskan hati Ban Heng, aku orang she Phoa hanya menjabat kedudukan kecil, di atas masih ada COng Piauw-tauw dan maaf aku orang tak bisa ambil keputusan sendiri…..”

“Haaaa……….haaa…………..haaaa……..kalau begitu Phoa heng hanya bisa berbuat apa saja?” potong Ban Cau sembari dongakkan kepalanya tertawa tergelak.

Melihat kejadian itu, diam-diam di dalam hati Phoa Ceng Yan berpikir.

“Bila aku ulur sedikit waktu lagi berarti memberi kesempatan pada mereka untuk mengadakan persiapan lebih teliti, jikalau ia tidak suka memberi muka kepadaku, akupun tidak usah menggunakan kata-kata untuk menyanjung dirinya lagi.”

Berpikir akan hal tersebut, ia lantas menyahut.

“Pertanyaan dari Ban-heng betul-betul membuat Siauw-te jadi tidak paham, di bawah kolong langit tak ada orang kedua. Di dalam rumah tak ada dua majikan, di dalam perusahaan pengawal barang-barang kita punya peraturan kami sendiri aku orang she Phoa tidak ingin bicara terlalu besar……”

“Heee…..heee……heee…… di dalam persoalan barang walaupun kali ini, apakah kau Phoa Jie-ya bisa ambil keputusan,” kembali potong Ban Cau diiringi suara tertawa dingin.

Phoa Ceng Yan segera tertawa terbahak-bahak.

“Ooouw.. jika demikian adanya, tujuan Ban-heng pun terletak pada barang-barang kawalan kami?”

“Barang kawalan dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok selamanya tak ada yang berani mengutak-ngatik, dalam hati siauw-tee merasa tidak puas, kami ingin coba-coba menahan barang kawalan dari perusahaan kalian kali ini.”

“Mau merampok katakan saja terus terang mau merampok, seorang lelaki sejati selamanya bicara blak-blakan, cara Ban-heng belak-belok tak menentu apakah tidak berarti membuang tenaga terlalu banyak?”

Disindir oleh Phoa Ceng Yan, air muka Ban Cau kontan berubah jadi merah padam, serunya gusar.

“Kalau begitu anggap saja aku orang she ban ada maksud merampok barang kawalan kalian, kau Phoa-heng bersiap-siap hendak berbuat apa?”

“Siauw-tee berani mengawal barang sudah tentu tidak bakal takut menghadapi mereka-mereka yang ada maksud merampok barang kawalan kami, jikalau Ban-heng punya kesadaran tunggulah sebentar, setelah kami bereskan dulu orang-orang piauw-kiok kami, rasanya turun tangan kemudian pun belum terlambat…..”

“Ban-heng, kau baik-baik jaga diri, maaf siauw-tee tak bisa menemui lebih lanjut,” sambungnya kemudian sambil ulapkan tangannya.

Dengan sinar mata tetap melototi diri Ban Cau, si orang tua ini lambat-lambat mengundurkan diri ke dalam ruangan kuil.

Ban Cau adalah seorang manusia yang licik dan banyak akal, sebenarnya maksud kedatangannya di sini adalah ingin mencari tahu beberapa persoalan dari mulut Phoa Ceng Yan.

Siapa sangka Phoa Ceng Yan jauh lebih lihay daripadanya, hanya di dalam beberapa patah kata saja ia berhasil menyelamuri diri Ban Cau sehingga lupa dengan maksud kedatangannya.

Menanti Phoa Ceng Yan sudah balik ke dalam ruangan kuil, Ban Cau baru teringat kembali akan maksud kedatangannya adalah ingin mencari sedikit keterangan, tapi kini tak sedikit keteranganpun yang berhasil ia dapatkan.

Senjata rahasia gelang emas dari Phoa Ceng Yan sudah amat terkenal di dalam dunia kangouw. Si Dewa api Ban Cau tidak berani bersikap terlalu gegabah, melihat Phoa Ceng Yan mundur ke belakang.

Selama ini Nyoo Su Jan terus menerus bersembunyi di tempat kegelapan di balik pintu, ketika dilihatnya Ban Cau dengan membawa anak buahnya mengundurkan diri, dalam hati jadi keheranan.

(Bersambung Jilid ke 10)

Jilid 10

Si Dewa Api merupakan seorang iblis kenamaan di dalam kalangan Liok-lim, kenapa mereka mengundurkan diri sebelum berhasil mencapai pada sasarannya??”

Phoa Ceng Yan yang melihat kejadian inipun rada keheranan dibuatnya.

“Su Jan, mereka mengundurkan diri??” bisiknya lirih.

“Mungkin waktu yang mereka janjikan untuk turun tangan belum tiba, dan sekarang mereka mengundurkan diri terlebih dulu sambil menunggu waktu.”

“Dengan watak si Dewa Api Ban Cau yang licik dan banyak pengalaman sebelum punya pegangan kuat, ia tak akan berani datang kemari untuk menempuh bahaya,” kata Phoa Ceng Yan setelah termenung sejenak. “Kini mereka sudah datang bahkan ajak aku bicara secara berhadapan muka, tak mungkin ia suka mengundurkan diri sedemikian mudah, paling tidak ia akan tunjukkan dulu dua-tiga macam senjata apinya sebagai tameng dalam pengunduran diri tersebut.”

“Perkataan Jie-ya tidak salah,” Nyoo Su Jan mengangguk. “Di antara persoalan ini pasti sudah ada perubahan, tetapi perubahan apakah tang telah terjadi sehingga bisa membuat si iblis tua itu berubah pendapat menjelang saat-saat kritis dan mengundurkan diri??”

“Mungkinkah mereka sedang gunakan siasat licik untuk menipu kita?” seru Phoa Ceng Yan tiba-tiba. “Sengaja mereka munculkan diri kemudian mengundurkan diri, setelah itu mengambil kesempatan sewaktu penjagaan kita sedikit mengendor, secara diam-diam mereka menyelundup masuk ke dalam kuil…..”

Belum sempat Nyoo Su Jan memberikan jawabannya, mendadak nampaklah Lie Giok Liong berlari masuk dengan langkah cepat.

“Giok Liong, bukannya berjaga-jaga di posmu, buat apa lari kemari dengan gugup dan gelagapan?” tegur Phoa Ceng Yan sang Hu Cing Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok dengan alis berkerut.

“Jie-siok! Siauw-tit telah menemui suatu kejadian yang mengherankan, karena itu sengaja datang minta pendapat dari paman Jie-siok!” lapor Lie Giok Liong seraya menjura.

“Ada Urusan apa??”

“Sewaktu Siauw-tit berjaga-jaga di pos penjagaan mendadak menemukan empat sosok bayangan manusia dengan gerakan menyelinap mendekati kuil kita…..”

“Kalian sudah tahu ada orang hendak menyelinap masuk ke dalam kuil, kenapa kau orang malah meninggalkan pos penjagaan, jangan bergurau!”

“Paman Jie-siok, Siauw-tit belum selesai menceritakan keadaan selanjutnya.”

“Baiklah! Kau teruskan lebih lanjut.”

“Keempat sosok bayangan manusia itu sewaktu tiba kurang lebih tiga kaki di luar tembok kuil, mendadak salah satu di antaranya tanpa sebab mendadak jatuh tertelungkup seperti menubruk katak.”

“Aaaakh! Kemudian??” Phoa Ceng Yan berseru tertahan.

“Justeru keistemewaannya terletak di sini, baru saja orang yang jatuh itu bangun berdiri, orang yang berada di sampingnya mendadak jatuh rubuh ke atas tanah, empat orang itu jatuh ke atas tanah saling bergilir, ketika orang terakhir berhasil meronta bangun dari tanah, maka mereka berlalu terbirit-birit tanpa menoleh lagi, karena siauw-tit tidak paham di manakah letak keistemewaan dari persoalan ini, maka sengaja datang kemari untuk laporkan urusan ini pada paman Jie-siok.”

Sembari mengelus jenggotnya Phoa Ceng Yan termenung berpikir keras, beberapa saat kemudia ia baru berkata, “Soal ini…..soal ini….. benar-benar membuat orang merasa sedikit tidak paham.”

“Jie-ya, mungkinkah ada jagoan lihay yang membantu kita secara diam-diam?” timbrung Nyoo Su Jan dari samping.

“Nona Liauw………”

“Apa yang berhasil Giok Liong lihat serta mengundurkan diri si Dewa Api Ban Cau secara mendadak, tidak mungkin kalau tak ada sebab-sebabnya……”

“Kalau begitu, biarlah aku pergi tengok diri Liauw Thayjien.”

Habis berkata orang tua she Phoa ini bangun dan melangkah menuju ruangan tengah.

“Cepat kembali dan berjaga-jaga di tempat semula.” bisik Nyoo Su Jan kemudian kepada diri Lie Giok Liong sepeninggal Phoa Ceng Yan. “Peristiwa yang terjadi pada malam ini rada sedikit kabur, sungguh membuat orang jadi kebingungan, sekalipun jelas ada jago lihay yang secara diam-diam membantu kita dengan gunakan kepandaian lihaynya mengundurkan musuh tangguh, tapi kitapun jangan terlalu bersikap gegabah,”

Perlahan-lahan Lie Giok Liong menghela napas panjang.

“Cahaya rembulan menyinari permukaan salju dengan terangnya, pemandangan di sekitar beberapa kaki dari pos penjagaanku dapat dilihat dengan jelas, tapi ………. kecuali keempat orang itu jatuh bangun dipermainkan orang belum pernah kutemukan lagi bayangan manusia yang lain, jika benar-benar ada orang yang membantu kita secara diam-diam maka kepandaian silat dari orang itu betul-betul luar biasa lihaynya.”

“Bila kepandaian silat dari orang itu biasa saja, rasanya iapun tak bakal bisa kejutkan musuh tangguh sehingga melarikan diri terbirit-birit.”

“Heee……….. apalagi jika jago lihay itu adalah nona Liauw, kita seharusnya merasa sangat malu.”

“Sedikitpun tidak salah! Orang lain hamburkan uang minta kita mengawal keselamatan mereka sepanjang jalan, tidak disangka sewaktu kita hadapi persoalan yang kritis sebaliknya orang lain yang melindungi keselamatan kita.”

“Aku mau pergi” kata Lie Giok Liong kemudian seraya menjura. “Jikalau paman Jie-siok menemukan sesuatu harap dia orang suka cepat-cepat beri kabar kepadaku.”

“Kenapa? Agaknya terhadap persoalan ini kaupun sudah timbul perasaan ingin tahu?”

“Kepandaian silat seseorang ternyata bisa dilatih hingga tahap mengundurkan musuh tangguh tanpa perlihatkan sedikit jejak, kejadian ini benar-benar susah dipercaya dengan pikiran manusia, cayhe kepingin sekali bisa bertemu dengan manusia macam begini.”

Ia merandek sejenak, setelah tukar napas sambungnya.

“Terus terang saja aku beritahu pada Nyoo-heng, sejak Lam Thian Sam Sah mengundurkan diri secara misterius, selama ini siauw-te terus menerus memperhatikan segala gerak-gerik dari kereta yang ditumpangi nona Liauw”.

“Lalu apakah Lie-heng sudah pernah menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan ataupun istimewa?”

“Belum, selama ini cayhe belum berhasil menemukan suatu tanda-tanda yang aneh ataupun mencurigakan.”

“Jie-ya sudah pergi tanyakan persoalan ini pada Liauw Thayjien, jikalau jago lihay yang barusan saja bantu kita mengundurkan musuh tangguh ini adalah hasil perbuatan nona Liauw, rasanya kali ini ia pasti berhasil menemukan tanda-tanda tersebut.”

“Mengapa?”

“Di dalam ruang tengah cuma terdapat sebuah jalan keluar saja, peduli nona Liauw memiliki kepandaian silat seberapa lihaypun tidak mungkin dia orang bisa masuk keluar dengan menembusi dinding……”

Ia rada merandek sejenak, lantas tambahnya.

“Musuh tangguh telah mengundurkan diri, untuk beberapa saat tak mungkin bisa balik kemari, bagaimana kalau kitapun pergi ke ruang tengah untuk melihat-lihat keadaan?”

“Meninggalkan tugas pos penjagaan, aku takut paman jie-siok akan menegur?”

“Sekalipun kita pergi menengok sejenak rasanya tak akan buang banyak waktu………”

“Baiklah!” akhirnya Lie Giok Liong setuju. “Nyoo Piauw-tauw selama ini mendapat penghargaan dari paman Jie-siok, asalkan kau berjalan di depan rasanya paman Jie-siok tak akan menegur.”

Nyoo Su Jan tersenyum, setelah ia serahkan tugas pos penjagaan mereka kepada dua orang pembantu piauw-kiok, katanya.

“Kalian baik-baiklah berjaga di pintu besar, bilamana menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan berusahalah secepat mungkin sampaikan berita itu ke dalam ruangan tengah.”

“Nyoo-ya harap berlega hati” sahut kedua orang pembantu piauw-kiok itu seraya menjura.

Kemudian Nyoo Su Jan baru berpaling dan memandang sekejap ke arah Lie Giok Liong.

“Mari kita pergi”

Dengan langkah lambat ia berjalan ke depan.

Lie Giok Liong dengan cepat menguntil dari belakang Piauw-tauw she Nyoo ini menuju ke dalam ruangan.

Ketika kedua orang itu mendekati ruangan, pada waktu itu Phoa Ceng Yan sedang bercakap-cakap dengan Liauw Thayjien.

Terdengar Phoa Ceng Yan dengan suara lirih sedang berkata.

“Putri kasayanganmu apakah masih ada di dalam ruangan?”

“Sejak Siauw-li masuk ke dalam ruangan tengah, hingga kini belum pernah meninggalkan tempat ini barang selangkahpun,” sahut Liauw Thayjien perlahan.

“Apakah Thayjien yakin tidak salah melihat?”

“Tidak salah. He-koan tahu siauw-li belum pernah meninggalkan ruang kecil ini barang selangkahpun.”

“Dapatkah Thayjien masuk sejenak untuk memeriksa sendiri???”

Liauw Thayjien tampak termenung, akhirnya ia manggut.

“Baiklah! He-koan akan periksa sebentar ke dalam!”

Ia lantas bangun berdiri dan melangkah masuk ke dalam ruang kecil di tengah ruang besar kuil tersebut.

Sesaat kemudian ia sudah melangkah ke luar.

“Siauw-li sudah tidur pulas!”

“Apa? putrimu sudah tertidur nyenyak?” Phoa Ceng Yan jadi tertegun dibuatnya.

“He-koan melihat hal tersebut dengan mata kepala sendiri dan siauw-li betul-betul sudah tertidur pulas, apakah aku masih bisa menipu kalian?”

“Oouw…….oouw…… sudah tentu Thayjien tak bakal berbicara bohong.”

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! He-koan ada beberapa patah kata bila tak kuucapkan keluar rasanya mengganjel di tenggorokan.”

“Silahkan Thayjien mengutarakan keluar.”

“Aku sudah banyak menuruti kemauan kalian semua, tapi lebih baik kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw sedikit tau keadaan, masa di tengah malam buta kau paksa aku yang jadi ayah pergi tengok putriku sendiri, walaupun keadaan tidak sama dengan waktu waktu biasa, tapi kejadian ini telah melanggar tata kesopanan……..”

Phoa Ceng Yan terbatuk batuk kering, buru-buru ia rangkap tangannya menjura.

“Teguran dari Thayjien memang tepat!” sahutnya perlahan. “Kebanyakan keluarga pembesar paling ketat menjaga peraturan rumah tangga, tapi keadaan kita hadapi saat ini jauh berbeda dengan keadaan biasa, sedikit teledor kemungkinan besar kita akan kehilangan nyawa bersama-sama, oleh karena itu di banyak tempat terpaksa aku orang she Phoa harus mendapatkan bukti dengan sangat berhati-hati.”

Setelah mendengar perkataan itu hawa gusar dalam dada Liauw Thayjien pun rada reda.

“Agaknya suatu peristiwa besar kembali terjadi pada malam ini?”

“Tidak salah, walaupun Thayjien harus tidur di pojokan kuil yang sempit dan banyak menderita siksaan lahir maupun bathin, tapi orang-orang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok dari kedudukan teratas aku orang she Phoa hingga bagian bawah para pembantu piauw-kiok yang terluka semuanya berjaga di atas tanah lapang bersalju yang sangat dingin, kita sudah salurkan seluruh kekuatan yang kita miliki untuk melindungi keselamatan dari Thayjien sekeluarga.”

Liauw Thayjien menghela napas panjang.

“Sebenarnya kalianpun sudah cukup menderita…….cuma, apa sangkut pautnya urusan itu dengan diri Siauw-li??”

“Liauw Thayjien! Terus terang saja kukatakan barusan ada beberapa kelompok jago-jago Liok-lim dengan mengambil arah yang berlainan sama-sama menyerang kuil kita, tapi sewaktu mereka mendekati kuil secara mendadak mengundurkan diri kembali dengan terbirit birit?”

“Ooouw………….. ada urusan demikian?”

“Tidak salah, justeru disinilah letak rasa curiga di hati cayhe, setelah aku pikir bolak balik akhirnya berhasil kamu dapatkan dua kesimpulan.”

“Dan apa hubungannya dengan Siauw-li”

“Pertama ada seorang jago lihay yang memiliki kepandaian silat dashyat bersembunyi di sekitar tempat ini dan bantu kita mengundurkan para penjahat. Kedua, mereka sengaja menjalankan siasat licik untuk mencoba-coba kekuatan kita apa benar-benar mengandalkan persiapan. Kita jangan bicarakan kesimpulan yang kedua, jikalau semisalnya benar-benar ada seorang jago lihay yang membantu kita, lalu siapakah orang itu? Inilah yang membuat kami harus berpikir dan menduga-duga .”

“Maka dari itu kalian lantas mencurigai Siauw-li?” sambung Liauw Thayjien cepat.

“Lam Thian Sam Sah setelah membuka horden kereta putrimu buru-buru mengundurkan diri terbirit-birit, Hoa-Hoa Kongcu menerjang masuk ke dalam ruang tidur putrimu dan akhirnya mengundurkan diri serta menghadiahkan obat mujarab, sebegitu banyak hal-hal yang mencurigakan benar-benar membuat orang merasa tidak paham di manakah letaknya alasan-alasan tersebut! Bila kau Liauw Thayjien berkedudukan seperti aku Phoa Ceng Yan sekarang ini, maka apa yang hendak kau lakukan?”

Sekali lagi Liauw Thayjien menghela napas panjang.

“Perkataanmu memang betul, kejadian ini memang tak bisa salahkan kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw.”

“Thayjien bisa memahami kesusahan aku orang she Phoa, dengan demikian aku orang she Phoa pun bisa berlega hati. “ segera Phoa Ceng Yan merangkap tangannya menjura.

“Baiklah!” kembali Liauw Thayjien berbatuk-batuk kering. “Besok pagi, setelah semangat Siauw-li sedikit baikan, kau Phoa Hu COng Piauw-tauw boleh bercakap-cakap dengan dirinya, aku rasa di balik kesemuanya ini memang benar-benar masih tersembunyi suatu rahasia..”

“Tia! Aku sudah bangun ……” tiba-tiba terdengar suara seseorang yang lemah lembut memotong pembicaraan.

Ketika Phoa Ceng Yan berpaling, dilihatnya nona Liauw dengan rambut panjang terurai di pundak melangkah keluar dari balik ruang kecil itu lambat-lambat.

“Malam sudah kelam, hawa diluarpun dingin, cepat pergi beristirahat, ada perkataan kita bicarakan besok hari saja” buru-buru Liauw Thayjien menegur seraya mendehem.

Liauw Wan Jie tersenyum manis.

“Selama dua hari ini secara mendadak aku merasa badanku jauh lebih baikan, bahkan semangatpun sudah pulih kembali. Tia! Kau tidak usah kuatir buat diriku lagi.”

“Apakah setelah menelan pil mujarab pemberian Hoa Hoa Kongcu…….” sela Phoa Ceng Yan dari samping.

“Ehm! Tidak salah, sejak menelan pil pemberiannya, aku merasa penyakitku rada baikan……..”

Gadis she Liauw ini merandek sejenak, lantas tambahnya.

“Bukankah kalian sangat mencurigai diriku?”

“Berhubung banyak urusan berlangsung sangat bertepatan waktu, mau tak mau terpaksa kami harus mencurigai diri nona” Phoa Ceng Yan membenarkan.

“Sekarang aku berdiri di sini, ada persoalan apa silahkan ditanyakan semua.”

Phoa Ceng Yan termenung sejenak, akhirnya ia rangkap tangannya menjura.

“Nona memiliki kepandaian silat yang lihay bahkan berulang kali membantu kami mengundurkan musuh-musuh tangguh, bukan saja cayhe merasa sangat berterima kasih, sekalipun Cong Piauw-tauw kamipun ikut merasa kagum bercampur girang.”

“Apa maksud perkataanmu itu?” Liauw Wan Jie segera menggeleng. “Badanku lemah tak bertenaga, untuk turun tangan menyembelih seekor ayam pun tak becus, mana mungkin bisa memiliki kepandaian silat.”

“Walaupun manusia pandai tidak suka unjukkan muka, tapi jejak dari nona sudah bocor dan diketahui banyak orang, agaknya tiada berguna kau orang berbohong lagi.”

“Setiap perkataan yang kuucapkan adalah kata-kata sejujurnya, jika kau tak percaya itupun merupakan suatu kejadian yang tidak bisa dibuktikan lagi.”

Phoa Ceng Yan jadi melengak.

“Cayhe sama sekali tidak bermaksud untuk menciptakan kesalah-pahaman dengan diri nona…..”

“Perduli kau ada maksud menganggap soal ini kesalah-pahaman atau tidak, yang jelas apa yang aku ucapkan adalah kata-kata sejujurnya.” potong Liauw Wan Jie cepat. “Aku tidak bisa ilmu silat, jangan dikata orang yang bisa ilmu silat sekalipun orang biasapun cukup sekali tinju bisa membinasakan diriku.”

“Ada kalanya cayhepun merasa bahwa nona tidak mirip dengan seorang yang pandai bersilat.”

“Kalau memang sudah melihat betul, kenapa kau ubah kembali pendapatmu itu?”

“Karena cayhe tidak berhasil menjelaskan persoalan-persoalan yang terjadi secara beruntun dan kebetulan itu secara tepat! Oleh sebab itu cayhe merasa di balik kesemuanya ini tentu masih ada sebab-sebab lain.”

Nona Liauw menghela napas panjang.

“Aku berharap kalian bisa mempercayai perkataanku.”

“Mana berani kami tidak mempercayai perkataan nona, cuma cayhe sangat berharap nona suka menceritakan semua rahasia di balik kesemuanya ini, semisalnya nona merasa jalan inipun susah ditempuh, maka kami berharap nona suka membuka suatu jalan yang rasanya bisa kita lampaui.”

“Heeeeeiii! Tindakan kalian ini bukankah sama dengan bertanya jalan dengan orang buta? Kau suruh aku berbuat apa, bagaimana aku bisa tahu??”

Dalam hati Phoa Ceng Yan tahu sekalipun ditanyakan lebih lanjut tak berguna, karena itu ia lantas alihkan bahan pembicaraan.

“Nona, silahkan kau kembali untuk beristirahat.”

“Pada malam ini semangatku luar biasa segar, lebih baik kau tumpahkan keluar seluruh kecurigaan yang mencekam di dalam dadamu.”

“Baiklah,” kata Phoa Ceng Yan kemudian setelah ragu-ragu sejenak. “Kenapa sewaktu Hoa Hoa Kongcu menerjang masuk ke dalam ruangan tidur nona bukan saja ia tidak melukai dirimu bahkan menghadiahkan obat yang sangat mujarab?”

“Liauw Wan Jie termenung tidak bicara, agaknya ia sedang berpikir cermat sebelum menjawab.

“Bocah, kau harus bicara terus terang,” sela Liauw Thayjien dari samping.

“Bicara sejujurnya, aku sendiripun kurang begitu paham mengapa ia hadiahkan sebutir obat mujarab kepadaku,” kata Liauw Wan Jie seraya mengangguk. “Tapi aku jelas mengetahui bahwa diapun tidak punya alasan yang kuat untuk mencelakai diriku.”

“Jikalau perkataan yang nona ucapkan adalah sejujurnya, maka rasanya baik Hoa Hoa Kongcu maupun Lam Thian Sam Sah tiada alasan untuk datang kemari.”

“Tidak salah, tapi mereka pada berdatangan lalu dikarenakan apa ….”

Phoa Ceng Yan tertegun, kemudian tertawa getir.

“Karena apa? Pertanyaan dari nona sangat bagus! Hingga sekarang aku orang she Phoa pun masih belum paham, apa sebabnya?”

“Jadi maksudmu, kedatangan mereka dikarenakan aku??” kata Liauw Wan Jie sambil membereskan rambutnya yang panjang terurai.

“Soal ini si bukan” Phoa Hu Cong Piauw-tauw menggeleng. “Jikalau kedatangan mereka disebabkan nona, agaknya tindakan yang diambil tidak perlu sedemikian buas dan keji, mereka bisa mohon bertemu secara blak-blak kan……”

“Aaakh! Lalu karena apa mereka datang kesini?”

“Jikalau nona betul-betul tidak tahu, maka persoalan ini harus ditanyakan ayahmu.”

Sinar mata Liauw Wan Jie perlahan-lahan dialihkan ke atas wajah Liauw Thayjien, perasaan curiga mulai melintasi alisnya.

“Tia, sebenarnya barang berharga apakah yang kita bawa sehingga menimbulkan inceran sebegitu banyak orang-orang?”

“Menurut perkataan dari Phoa Hu Cong Piauw-tauw, kedatangan orang-orang ini bukannya dikarenakan untuk merampok emas, perak ataupun barang-barang mustika lainnya…..” kata Liauw Thayjien menggeleng.

“Tidak salah!” sambung Phoa Ceng Yan pula. “Sekalipun Thayjien sudah kumpulkan banyak emas, perak maupun barang antik, tapi barang-barang tersebut masih tidak termasuk suatu barang kawalan yang besar. Perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami sudah pernah mengawal beberapa ratus laksa tahil perak di daratan Tionggoan sebelah Utara tetapi belum pernah ada orang yang berani menempuh bahaya mengikat tali permusuhan dengan kami ataupun menghadang barang-barang kawalan kami, sekalipun beberapa orang pentolan Liok-lim yang tak dapat diajak kompromipun tak akan berani banyak ribut, tapi kali ini…. beberapa orang iblis kenamaan dari kalangan Liok-lim sudah pada munculkan diri.”

“Jadi maksudmu barang yang kami bawa sudah melampaui nilai beberapa ratus laksa tahil sehingga memancing perhatian mereka?”

“Tidak salah,” jawab Phoa Ceng Yan dengan air muka serius. “Kemungkinan sekali barang-barang itu sama sekali tidak bernilai di mata kalian dan tiada berharga beberapa ratus laksa tahil, tapi bagi mereka benda itu betul-betul bernilai.”

“Tia! Sebenarnya apa yang sudah kita bawa?? Harta adalah benda sampingan yang tidak berguna…….”

“Aku sendiripun tidak paham tentang soal ini,” Liauw Thayjien menggeleng dan memotong perkataan putrinya yang belum selesai.

“Menurut apa yang cayhe ketahui, lukisan peta pengangon kambing itu termasuk salah satu di antaranya,” sela orang tua she Phoa dari samping.

Liauw Thayjien nampak termenung berpikir keras, sesaat kemudian ia baru mengambil keputusan.

“He-koan akan bertanggung jawab, asalkan yang mereka minta adalah lukisan peta pengangon kambing itu maka kalian boleh serahkan peta tersebut kepada mereka asalkan kita bisa melanjutkan perjalanan dengan selamat!”

Agaknya Phoa Ceng Yan sama sekali tidak menduga kalau Liauw Thayjien bisa berkata demikian, ia mendehem.

“Sungguh?”

“Sudah tentu sungguh, kemungkinan sekali lukisan peta itu benar-benar bernilai, tapi di tanganku tak kumengerti dimanakah letak berharganya benda tersebut.”

“Walaupun perkataan bisa diucapkan demikian,” sela Phoa Ceng Yan sambil menghela napas panjang. “Tapi asalkan aku orang she Phoa masih ada napas tiga cun yang bergetar, maka aku tak akan membiarkan orang lain mengganggu barang seujung rambutpun terhadap kalian sekeluarga Liauw?”

Liauw Thayjien pun menghela napas panjang seraya menggeleng.

“Phoa-ya, uang dan harta adalah barang sampingan, aku menjabat sebagai pembesar kelas dua walaupun pernah tenggelam di dalam kemakmuran serta kelimpahan harta, tapi dalam pandanganku pribadi benda tersebut tak berguna bagai awan di langit, perkataan dari Siauw-li kemungkinan besar tak bakal salah, sesudah He-koan pikir tiga kali rasanya pikiranku tak berhasil menyimpulkan kapankah Siauw-li mendapat kesempatan untuk belajar ilmu silat……..”

Ia merandek sejenak, lalu dengan air muka serius sambungnya lebih lanjut.

“Hingga detik ini agaknya kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw masih belum berhasil mengetahui jelas apa yang sebenarnya mereka inginkan dari kami?”

Phoa Ceng Yan tertegun, pikirnya.

“Perkataan ini sedikitpun tidak salah, hingga detik ini aku masih belum berhasil memahami apa sebabnya mereka gerakan masa untuk atur jebakan dengan menghadang barang kawalanku ini …..”

Kedengaran Liauw Thayjien melanjutkan lagi ucapannya.

Kemungkinan sekali orang lain sudah mengetahui jelas tentang soal ini!”

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, lain kali jikalau kau bertemu lagi dengan pihak musuh maka jangan lupa tanya pada mereka sebenarnya apa yang mereka kehendaki? Asalkan benda tersebut ada di dalam tumpukan barang-barang kami, cayhe pasti akan menyerahkan keluar.”

Phoa Ceng Yan merasa sangat malu sekali, tapi untuk beberapa saat iapun tak mengerti jawaban apa yang harus diutarakan.

“Bocah, kau kembalilah ke bilik untuk beristirahat!” ujar Liauw Thayjien kemudian kepada Liauw Wan Jie seraya berpaling.

Liauw Wan-jie mengiakan, perlahan-lahan ia putar badan bertindak masuk ke dalam ruangan.

Liauw Thayjien pun mengikuti dari belakang tubuh Liauw Wan Jie melangkah masuk ke dalam ruangan.

Lama sekali Phoa Ceng Yan memandang bayangan punggung kedua orang itu hingga lenyap dari pandangan, akhirnya dengan hati murung ia putar badan berjalan keluar dari ruangan.

Ketika Nyoo Su Jan serta Lie Giok Liong sudah menanti di atas permukaan salju di luar ruangan.

Menemui kedua orang itu Phoa Ceng Yan langsung tertawa getir.

“Sudah kalian dengar semua?”

“Semua telah kami dengar.” Nyoo Su Jan membungkuk dan menjura.

“Perkataan dari Liawu Thayjien sedikitpun tidak salah,” kata Phoa Ceng Yan setelah mendehem. “Kita hanya tahu keadaan disekeliling kita penuh terkurung oleh keadaan bahaya, tapi apa yang mereka kehendaki kita orang masih belum jelas.”

Nyoo Su Jan termenung, lalu manggut.

“Perkataan dari Jie-ya sedikitpun tidak salah, barang kawalan kita kali ini bukan saja mempunyai banyak perubahan bahkan masih terbungkus pula oleh suatu rahasia yang sangat misterius dan susah diketahui, jikalau dikatakan si Dewa Api Ban Cau sekalian sama sekali tidak mendapatkan kabar berita, rasanya merekapun tak bakal munculkan dirinya kembali di dalam Bu lim setelah lama cuci tangan mengasingkan diri.”

“Yang menggelikan lagi adalah pihak bajingan sudah tahu benda apa yang akan diincer, sebaliknya kita orang yang melindungi barang tersebut masih tidak tahu barang apa yang sedang kita kawali!”

“Kemungkinan sekali Liauw Thayjien hanya dipergunakan orang? dengan demikian sudah tentu ia sendirianpun tak bakal tahu rahasia di balik semuanya ini…..”

Phoa Ceng Yan kerutkan alisnya, lama sekali ia termenung, akhirnya mengangguk.

“Perkataanmu ini memang rada ceng li!”

“Jie-ya, bilamana dikemudian hari kau bisa berjumpa lagi dengan mereka, baiknya gunakan sedikit siasat untuk jebak mereka dalam perkataan.” bisik Nyoo Su Jan lagi sambil dongakkan kepalanya memandang rembulan.

Phoa Ceng Yan mengangguk.

“Kelihatannya hanya satu-satunya jalan yang bisa kita tempuh!”

Ia lantas ulapkan tangannya.

“Giok Liong, coba kau pergi meronda sebentar, bilamana menemukan jejak musuh laporkan padaku secepatnya.”

Lie Giok Liong menjura lalu putar badan berlalu.

Menanti Lie Giok Liong sudah lenyap dari pandangan, Phoa Ceng Yan baru berpaling, bisiknya, “Su Jan, mari kita kongkouw!”

Ia melangkah keluar dari ruangan kuil.

Dengan kencang Nyoo Su Jan membuntuti dari belakang, sekeluarganya dari kuil ia baru menegur.

“Jie-ya, kita akan kemana?”

“Walaupun si Dewa api Ban Cau sudah mengundurkan diri, tapi aku percaya mereka pasti sudah tinggalkan mata-mata di sekitar tempat ini untuk mengawasi segala gerak-gerik kita.”

“Apakah Jie-ya akan menangkap dan cari keterangan dari mulut mereka…….”

“Soal itu sih bukan!” potong Phoa Ceng Yan. “Aku ingin agar supaya mereka suka membawakan sepucuk suratku buat si Dewa Api Ban Cau.”

“Jie-ya, bila besok malam Cong Piauw-tauw belum datang, maka lusa sebelum menjelang siang hari ia pasti sudah tiba di sini, rasanya kalau mau bicara saat itulah merupakan waktu yang paling tepat.”

“Su Jan! Coba kau bayangkan, jikalau Cong Piauw-tauw sudah tiba di sini dan ia bertanya apa sebabnya mereka ada maksud untuk mengganggu barang kawalan kita jikalau aku tak dapat menjawab pertanyaan ini bukankah peristiwa tersebut merupakan suatu kejadian yang sangat memalukan?”

Nyoo Su Jan tersenyum.

“Maka dari itu Jie-ya ingin menemui si Dewa Api  dan menanyakan keadaan sejelasnya sebelum Cong Piauw-tauw tiba di sini?”

“Tidak salah, aku ingin menanyakan urusan ini sampai jelas, dengan demikian bila Cong Piauw-tauw mengajukan pertanyaan aku bisa menjawab dengan lancar.”

Waktu itu kedua orang itu sudah berjalan meninggalkan kuil sejauh enam-tujuh kaki di bawah sorotan sinar rembulan dilihatnya permukaan tanah hanya tertutup oleh selapis salju nan putih, seluruh jalan raya telah diselimuti dengan salju.

“Situasi di sekeliling tempat ini tidak begitu kita pahami, berjalan di malam hari rasanya kurang leluasa” bisik Nyoo Su Jan lirih. “Jika Jie-ya memang ada maksud hendak bertanya, Rasanya besok pagi cari merekapun masih belum terlambat.”

“Baiklah! Kalau begitu kita tinjau dulu di sana dan selidiki apa sebabnya mereka mengundurkan diri, kemungkinan sekali di atas permukaan salju kita bakal berhasil menemukan sesuatu jejak yang banyak membantu kita di dalam pengungkapan rahasia ini.”

“Benar!” Nyoo Su Jan memperdengarkan tanda setujunya. “Kecuali orang itu sudah berhasil melatih kepandaian silatnya hingga mencapai taraf tidak menempel tanah kalau tidak sepatunya di atas permukaan salju tertinggal telapak kaki atau sedikitnya tanda-tanda yang bisa diselidiki.”

“Heiii………! Marilah kita pergi adu untung! Selama separuh hidupku aku berkelana di dalam dunia kangouw dan banyak menemui manusia aneh maupun peristiwa aneh tapi belum pernah berjumpa dengan situasi yang sulit dan membingungkan semacam kali ini …….”

Ia merandek sejenak, lantas sembari memandang sekejap ke arah Nyoo Su Jan tampaknya.

“Giok Liong berjaga di pos sebelah utara.”

“Tidak salah, biar hamba bawa jalan.”

Nyoo Su Jan berebut jalan terlebih dahulu di depan Phoa Ceng Yan, lalu sambungnya, “Jie-ya, situasi yang kita hadapi pada saat ini walaupun penuh diliputi awan gelap ini masih berada dalam keadaan ada kekejutan tanpa mara bahaya….. kita tidak tahu mengapa mereka bermaksud mengganggu barang kawalan kita, jago-jago Liok-lim serta iblis-iblis tua yang telah mengasingkan diri satu demi satu saling susul menyusul munculkan dirinya di dalam Bu-lim tapi kemudian seorang demi seorang mengundurkan diri dalam keadaan sangat mengherankan, suasana sekeliling kita rasanya penuh diliputi oleh kemisteriusan, jikalau bukan dikarenakan beban yang kita pikul untuk melindungi seluruh keluarga Liauw terlalu berat, kepingin sekali hamba melakukan suatu penyelidikan secara teliti.”

“Keadaan kita saat ini sama halnya dengan minum arak di bawah pohon pare, mencari kesenangan di tengah kepahitan.”

Sewaktu bercakap-cakap, mereka sudah tiba di kuil bagian Utara.

Mereka berdua tidak bicara lagi, seluruh perhatian dipusatkan jadi satu dan menyapu seluruh permukaan salju dengan sinar mata tajam.

Sedikitpun tidak salah, di atas permukaan salju nan putih mereka temukan sebaris bekas tapak kaki yang kacau balau tidak karuan tapi seluruh bekas kaki tersebut hanya terdapat di dalam lingkungan tiga kaki di luar tembok kuil. Tiga kaki di balik lingkungan tersebut salju tetap putih, jelas tidak pernah dijamah orang.

Jika ditinjau dari bekas telapak kaki yang tertera di atas permukaan salju, agaknya orang-orang itu sudah menemui suatu kejadian yang sangat mengejutkan sewaktu tiba di tempat kurang lebih tiga kaki dari kuil sehingga mereka terburu-buru putar tubuh dan lari ngacrit, dengan demikian bekas kaki yang tertera di atas permukaan salju pun jadi kacau balau tidak karuan.

“Di bawah sorotan sinar rembulan serta pantulan cahaya dari permukaan salju, seharusnya dengan ketajaman mata Giok Liong, benda dalam jarak tiga kaki bisa ia lihat dengan sangat jelas sekali” kata Phoa Ceng Yan.

“Benar, orang-orang itu pasti sudah menemui sesuatu kejadian yang sangat mengejutkan sewaktu tiba kurang lebih tiga kaki dari tembok kuil, sehingga mereka ngacrit pergi dengan ketakutan,” sambung Nyoo Su Jan.

“Saat itu keadaan apa yang sudah mereka temukan di tempat ini?”

Sinar mata Nyoo Su Jan dengan tajam menyapu sekeliling kalangan, dan akhirnya sinar mata berhentu du atas sebuah pohon kayu besi yang tumbuh pada suatu tempat pemberhentian, hatinya jadi sedikit bergetar.

“Jie-ya, jika ada orang bersembunyi di balik pohon sambil melancarkan serangan mengundurkan para penjahat, rasanya ia tidak perlu undurkan diri”.

“Sedikitpun tidak salah,” Phoa Ceng Yan menengok ke sana.

Hawa murnipun disalurkan mengelilingi seluruh badan, dalam dua tiga loncatan ia sudah tiba di sisi pohon tersebut.

Sinar mata dengan tajam melakukan pemeriksaan, tampak di sekeliling pohon tersebut sama sekali tidak terdapat bekas-bekas telapak kaki yang menandakan pernah dilalui orang, permukaan salju nan putih halus bersih dan rata bagaikan kaca.

“Jie-ya, apakah berhasil menemukan sesuatu?” tanya Nyoo Su Jan yang mengejar dari belakang.

Phoa Ceng Yan menggeleng.

“Tidak, sedikitpun tidak terdapat bekas kaki.”

“Aku lihat lebih baik kita tak usah buang tenaga dengan percuma lagi, semua urusan tunggu saja setelah Cong Piauw-tauw kita datang!” kata Nyoo Su Jan sambil menghembuskan napas panjang.

“Dalam keadaan seperti ini rasanya kita hanya dapat berbuat demikian, kecerdikan serta kepandaian silat dari Cong Piauw-tauw jauh melebihi kita orang semua, kemungkinan sekali ia bisa berhasil menemukan sedikit titik terang dalam keadaan aneh yang beruntun kita temui ini.”

“Siapa, cepat berhenti!” tiba-tiba terdengar Lie Giok Liong membentak keras.

“Giok Liong, aku! Seru Phoa Ceng Yan dengan air muka berkerut.

Tapi bagaimanapun juga dia adalah jago yang berpengalaman sangat luas baru saja ucapan meluncur keluar ia sudah merasa keadaan sedikit tidak beres, dengan cepat badannya berputar ke belakang.

Nyoo Su Jan pun mengikuti gerakan Piauw-tauwnya ikut putar badan ke belakang.

“Dalam waktu mereka berdua sama-sama putar badan, hawa murnipun secara diam-diam disalurkan mengelilingi tubuh siap melakukan penjagaan terhadap segala kemungkinan.

Kurang lebih tiga kaki dari mereka muncul seorang lelaki kasar berpakaian ringkas berwarna hitam gelap.

“Kawan! Setelah datang kemari seharusnya sebutkan nama besarmu!” seru Phoa Ceng Yan sembari menjura. “Cayhe adalah Phoa Ceng Yan, terimalah hormatku.”

Sehabis berkata ia rangkap tangan memberi hormat.

“Sudah lama aku mendengar nama besar Phoa Jie-ya!” sahut si orang berbaju hitam itu singkat.

Selangkah demi selangkah Phoa Ceng Yan maju ke depan.

“Kawan, siapa namamu? maaf aku orang she Phoa punya mata tak berbiji sehingga tidak tahu kapan kita pernah berjumpa”

Orang berbaju hitam itu tetap berdiri tak bergerak di tempat semula, hanya suara tertawa dingin bergema tiada hentinya.

“Phoa Jie-ya! Ada baiknya jika kau jangan mendesak terlalu maju ke depan di tengah malam buta begini cayhe sama sekali tidak bernapsu untuk turun tangan terhadap kalian.”

“Asalkan saudara tiada berniat untuk mengganggu barang kawalan kami, itu berarti kawan karib dari aku she Phoa, kawan, kenapa tidak masuk ke dalam kuil untuk duduk-duduk sebentar? di tengah malam buta dalam kuil kami walaupun tak ada hidangan lezat yang bisa dihidangkan untuk menyambut tamu, tapi aku orang she Phoa masih membawa sedikit arak bagus, bagaimana kalau kita minum secawan untuk menghangatkan badan…”

“Sungguh patut disayangkan cayhe masih ada urusan di badan, tidak berani menerima tawaran baik dari Phoa Jie-ya” potong si orang berbaju hitam itu cepat.

Mendengar jawaban tersebut, Phoa Ceng Yan jadi melengak.

“Kawan! Jikalau kau tidak ingin memberi tahu nama besarmu, entah bolehkah cayhe ketahui apa maksud kunjunganmu pada malam begini?”

“Jikalau urusan ini tiada sangkut paut dengan kau Phoa Jie-ya, cayhepun tak akan datang berkunjung di tengah malam buta yang dingin dengan menempuh perjalanan di atas permukaan salju yang tebal ini.”

“Jika demikian adanya, kawan! Tentu kau sedang menjalankan tugas penting.”

“Tidak salah! Cayhe memang sedang menjalankan tugas perintah.”

“Entah perintah dari siapa?”

“Ke Kongcu”.

“si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang?”

“Tidak salah! Majikan kami memerintahkan cayhe untuk memberitahu kepada Phoa Jie-ya kalian bahwa keadaan kalian sudah terkepung rapat-rapat, si Dewa Api Ban Cau dengan beberapa orang iblis sakti yang telah mengundurkan diri dari kalangan dunia persilatan kini sudah menunjukkan gerakan-gerakannya berjaga-jaga untuk mengawasi daerah sekitar tempat ini.”

“Maksud baik dari Ke Kongcu akan kami terima dengan senang hati, cayhe ucapkan banyak terima kasih!” sahut Phoa Ceng Yan segera.

Si Orang berbaju hitam itu tertawa hambar.

“Majikan kami masih menitipkan pula sepatah kata.”

“Apa yang ia katakan?”

“Menurut majikan kami, jikalau Phoa Jie-ya membutuhkan tenaga bantuannya, majikannya kami rela turun tangan membantu kalian.”

Beberapa patah kata itu benar-benar berada di luar dugaan Phoa Ceng Yan, maka setelah termenung beberapa saat katanya.

“Antara Ke Kongcu dengan perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok selama ini tiada ikatan dendam maupun hubungan erat, aku rasa dibalik kesemuanya ini tentu ada maksud tertentu bukan?”

“Phoa Jie-ya tidak malu disebut orang jago kangouw kawakan, didalam mata tidak dapat dikotori dengan batu kerikil, Majikan kami tidak sayang-sayangnya rela mengikat dendam dengan banyak pentolan iblis sudah tentu tak mungkin bekerja tanpa suatu balas jasa yang besar pula.”

“Dapatkah kau orang jelaskan dulu berapa besar balas jasa yang ia inginkan?”

“Liauw Si-cu tersebut memiliki sebuah lukisan, tolong kau Phoa Piauw-tauw suka mengajak ia berunding, bila ia suka hadiahkan barang itu kepada kami maka majikan kamipun akan kerahkan semua tenaga yang dipunyai untuk melindungi seluruh anak buah perusahaan piauw-kiok kalian beserta keselamatan mereka sekeluarga…..”

Ia merandek sejenak lalu sambungnya.

“Jika Phoa Piauw-tauw bisa menyampaikan maksud hati majikan kami ini sudah tentu jauh lebih bagus lagi, tapi bila Phoa Piauw-tauw tidak suka menyampaikan pesan ini, maka cayhe mohon bisa bertemu dengan Liauw Sicu dan menerangkan sendiri urusan ini kepadanya.”

Phoa Ceng Yan tertawa hambar.

“Tolong sampaikan kepada Ke Kongcu, katakan saja maksud baiknya akan kami terima di hati, sedang mengenai kau ingin membicarakan persoalan ini dengan Liauw Thayjien sendiri, cayhe rasa itu tidak perlu.”

“Jadi kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw suka mewakili kami untuk sampaikan urusan tersebut kepadanya?”

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan menggeleng.

“Kami perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok sudah ada puluhan tahun melakukan pekerjaan ini, tapi belum pernah berbuat begitu bodoh dengan menasehati si pemilik barang untuk menyerahkan harta bendanya, peraturan ini tak boleh rusak di tanganku.”

“Phoa Jie-ya, kau pikirlah dengan lebih cermat, majikan kami punya maksud baik.”

“Tadi aku orang she Phoa sudah katakan bahwa maksud baiknya akan kuterima di hati saja, kawan! Silahkan kau tinggalkan tempat ini!”

“Jika dilihat dari keadaan, agaknya Phoa Jie-ya tidak suka minum arak kehormatan sebaliknya malah memilih arak hukuman!”

“Kawan! Kalau bicara ada baiknya sedikit tahu aturan” seru Phoa Ceng Yan dengan air muka berubah membeku. “Selama ini aku orang she Phoa selalu pandang kau sebagai seorang utusan, sekembalinya dari sini kau boleh utarakan seluruh perkataanku ini kepada majikan kalian, jikalau Ke Kongcu ingin mencari diriku, setiap saat aku orang she Phoa menunggu kedatangannya di kuil ini.”

Si orang berbaju hitam itu tidak banyak bicara lagi, ia tertawa dingin lalu putar badan berlalu dari sana.

Menanti si orang berbaju hitam itu sudah pergi sangat jauh, Nyoo Su Jan baru menghela napas panjang.

“Jie-ya! Ke Giok Lang terang-terangan menginginkan lukisan tersebut, aku lihat pandangan kita pasti tak bakal salah lagi, bencana yang kita temui terus menerus dalam melakukan perjalanan kali ini justeru penyakitnya pasti terletak di atas gambar lukisan!”

“Setelah berhasil temukan sebab dari bencana yang terjadi beruntun ini hatipun bisa lega, setelah Cong Piauw-tauw tiba di sini, kitapun bisa memberikan pertanggung jawaban!” kata Phoa Ceng Yan seraya mengangguk.

“Jie-ya, jikalau Ke Giok Lang sungguh akan datang mengunjungi kuil ini, maka Jie-ya siap menggunakan cara apa untuk menghadapi dirinya?”

“Jika ia sungguh datang kemari terpaksa kita harus melakukan suatu pertarungan melawan dirinya, cuma setelah kupikir dua tiga kali rasanya ia tidak bakal datang jika ia serius menginginkan gambar lukisan tersebut, sekalipun kita halangi juga percuma saja. Sudah tentu iapun tidak perlu menggunakan cara putar kalangan macam begini lagi.”

“Perkataan Jie-ya sedikitpun tidak salah, kita tidak takut serangan terang, justeru yang membuat kita jeri adalah kemungkinan serangan gelap. jika semisalnya Ke Giok Lang benar-benar mencari satroni ke dalam kuil ini ada baiknya Jie-ya jangan terlalu banyak berbicara dengan dirinya maupun menggubris dirinya.”

“Maksudmu ……….”

“Pertama bisa dihindari pertarungan satu lawan satu dengan dia orang dan kedua memaksa ia mempunyai pikiran yang tak menentu dan rasa curiga yang besar.”

Phoa Ceng Yan mengangguk.

“Aku harus berpikir lebih cermat dahulu baru bisa mengambil keputusan….”

Sejurus kemudian ……. kurang lebih dua kaki dari tembok pekarangan tiba-tiba tampak bayangan manusia berkelebat lewat. Lie Giok Liong dengan meloncat tembok pekarangan melayang datang.

“Menghunjuk hormat buat paman Jie-siok!” katanya sembari menjura.

“Tidak perlu banyak adat……..”

Nyoo Su Jan buru-buru melangkah ke depan dan mendekati ke sisi Lie Giok Liong, katanya lirih.

“Giok Liong, keadaan musuh sewaktu datang dan pergi apakah ada menunjukkan sikap yang aneh?”

Lie Giok Liong termenung sejenak, akhirnya ia menggeleng.

“Aku tidak berhasil menemukan hal yang aneh!”

“Kau tidak usah terburu-buru, coba dipikirkan lebih teliti lagi, walaupun hanya urusan yang kecilpun jangan kau lepas begitu saja.”

“Ada suatu titik yang rasanya sangat istimewa, kedatangan orang itu sangat bernafsu dan ganas tetapi sewaktu tiba dekat dengan kuil mendadak seperti telah berjumpa dengan suatu peristiwa yang sangat mengejutkan sekali kemudian buru-buru putar badannya melarikan diri. Pada waktu itu mereka berada sangat dekat dengan kuil sehingga secara lapat-lapat bisa kelihatan sikapnya gugup dan cemas.”

“Jie-ya, saat ini paling sedikit satu soal yang berhasil kita buktikan kebenarannya!” seru Nyoo Su Jan kemudian.

“Ehmmm……. urusan apa?”

“Ada seorang jago berkepandaian tinggi yang secara diam-diam membantu diri kita, orang lihay itu berhasil mengejutkan para penjahat sehingga melarikan diri terbirit-birit, sedang kita sama sekali tidak berhasil temukan tempat persembunyiannya.”

“Orang lihay yang secara diam-diam membantu tidak ingin kita mengetahui siapakah dirinya, aku rasa kitapun tidak perlu terlalu paksakan diri cari akal untuk menemui dirinya.”

Ia percepat langkahnya berjalan masuk ke dalam kuil seraya tambahnya.

“Suruh mereka berjaga-jaga di sekitar tempat ini menurut giliran, malam ini cahaya rembulan memancarkan cahaya yang tajam di seluruh permukaan salju, kecuali seorang jago lihay yang telah berhasil melatih ilmu silatnya hingga mencapai taraf terbang, aku rasa tak bakal lolos dari pengawasan maupun pengintaian kita, setelah menemui tanda bahaya cepatlah kirim kabar kepadaku.”

“Paman Jie-siok boleh berlega hati.” Lie Giok Liong bungkukkan badan menjura.

Setibanya di dalam ruang kamar dalam kuil, Phoa Ceng Yan jatuhkan diri berbaring ke atas tanah, pejamkan mata dan beristirahat.

Walaupun begitu otaknya masih berputar terus memikirkan segala peristiwa aneh yang baru ditemuinya selama beberapa hari ini. Ia merasa setiap peristiwa yang telah terjadi merupakan kejadian aneh yang belum pernah ditemuinya selama dua puluh tahun bekerja sebagai pengawal barang.

Semalaman berlalu dengan cepat tanpa menimbulkan suatu peristiwa apapun.

Hari kedua seharian penuh juga aman tenteram tidak terjadi segala kerepotan, suasana di sekitar kuil sunyi sehingga seperti orang yang mengepung di sekeliling sana sudah pada bubaran semua.

Liauw Thayjien yang harus menganggur seharian menanti sang surya lenyap di balik gunung tak sabaran lagi, tegurnya.

“Phoa-ya, ini hari seharian penuh tidak kelihatan gerakan apapun, jika ada orang yang mau datang rasanya sejak semula sudah datang.”

“Kita tunggu satu malam lagi, besok siang mungkin Cong Piauw-tauw kami sudah bisa tiba di sini, begitu ia tiba kita segera melanjutkan perjalanan kembali.”

“Antara keluarga besanku serta He-koan mempunyai hubungan yang sangat erat, ia sudah meminta kedatanganku sebelum tutupan tahun, seharusnya He-koanpun tidak boleh bikin kecewa harapannya, tolong kau Phoa-ya suka memberitahu kepada anak buahmu sekalian, katakan saja apabila kita bisa tiba di kota Kay Hong Hu sebelum tutupan tahun maka setiap orang yang ikut mengawal He-koan kali ini mendapat upah tambahan sebesar tiga puluh tahil perak.”

“Tiga puluh tahil perak bukan suatu jumlah yang kecil, Thayjien bisa timbul maksud semua ini tentu akan disambut mereka dengan rasa terima kasih yang bukan kepalang cuma Cong Piauw-tauw kami sudah peroleh kabar melalui burung merpati, ia pasti berhasil temukan tempat ini dan bila dihitung lamanya perjalanan, besok siang tentu sudah akan tiba disini. Bilamana di tengah jalan tidak terjadi peristiwa lagi, perjalanan bisa kita lakukan lebih cepat sehingga memenuhi harapan Liauw Thayjien untuk melewati akhir tahun di kota Kay Hong.”

“Semoga saja begitu” kata Liauw Thayjien perlahan. Ia merandek sejenak lalu tambahnya.

“Phoa-ya! He-koan ada suatu urusan yang merasa kurang paham, entah dapatkah kau memberi sedikit keterangan?”

“Tiada halangan, silahkan Thayjien ajukan pertanyaan.”

“Kau adalah Hu Cong Piauw-tauw, dalam perusahaan expedisi kalian kecuali Cong Piauw-tauw, apakah kepandaian silatmu boleh disebut paling tinggi?”

Phoa Ceng Yan termenung sejenak, kemudian baru menyahut.

“Kecuali Cong Piauw-tauw, kedudukan cayhe di dalam perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok memang dapat dihitung yang tertinggi, tapi dalam hal kepandaian silat tak bisa dikatakan nomor dua lagi.”

“Akh! Phoa-ya terlalu merendah ……..”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya.

“Jikalau sampai besok siang Cong Piauw-tauw dari perusahaan kalian masih belum kelihatan juga, apa yang hendak kalian lakukan?”

Justeru karena persoalan ini Phoa Ceng Yan merasa serba sulit apa lagi sekarang ditanyai secara langsung.

Setelah termenung beberapa saat baru jawabnya.

“Soal ini aku rasa tidak mungkin terjadi! Menurut perhitungan kami sampai waktunya Cong Piauw-tauw tentu bisa tiba di sini atau paling banter akan terlambat satu dua keuntungan belaka.”

“Phoa-ya! Bukannya He-koan tidak mempercayai dirimu. He-koan hanya ingin tahu waktu yang benar bagi pemberangkatan kita.”

“Baiklah! Jikalau Cong Piauw-tauw kami tidak bisa tiba pada sore hari, kita segera berangkat besok.”

“Baiklah! Kita tetapkan demikian saja.” Liauw Thayjien mengangguk. “He-koan percaya atas perkataan dari Phoa-ya.”

“Liauw Thayjiem!” kata Phoa Ceng Yan sambil tertawa getir. “Aku orang she Phoa berulang kali membatalkan perjalanan kesemuanya adalah dikarenakan keselamatan kalian sekeluarga, terus terang aku beritahu kepada Liauw Thayjien, di balik kesunyian di sekeliling kuil ini telah penuh tersebar jago-jago yang siap merampok barang kawalan kita kali ini.”

“Apa yang mereka inginkan? Phoa-ya, tahukah kau soal ini dengan jelas?”

“Cayhe berhasil mengetahui sebagian kecil saja……”

“Barang apa yang mereka inginkan?”

“Gambar lukisan pengangon kambing termasuk salah sebuah barang yang diincar.”

“Kecuali lukisan pengangon kambing itu masih ada barang apa lagi yang diinginkan?”

“Jika ditinjau dari keadaan mereka agaknya bukan lukisan pengangon kambing saja yang diinginkan.”

“Jadi berarti masih ada yang lain? Apakah barang itu?”

“Hingga saat ini cayhe masih belum paham cuma seharusnya dalam hati Liauw Thayjien sudah punya perhitungan sendiri, bukan?”

“Aku benar tidak tahu barang apa yang diinginkan,” kata Liauw Thayjien sembari menggeleng.

“Kalau begitu urusan jadi sulit, sewaktu kami terima permintaan kalian dari pihak perusahaan benar-benar tidak tahu barang apa saja yang dibawa Liauw Thayjien? Tapi di pihak orang yang punya maksud untuk membegal ternyata sejak lama sudah pusatkan pikiran cari berita hingga sangat jelas sekali.”

“Hingga sampai saat ini aku lihat agaknya kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw masih tidak percaya terhadap He-koan” seru Liauw Thayjien kembali sembari tertawa getir.

“Thayjien terlalu curiga, aku orang she Phoa bukannya tidak percaya terhadap Liauw Thayjien cuma situasi yang kita hadapi saat ini sangat aneh, dan aku orang she Phoa sendiri masih merasa kurang paham terhadap urusan di balik kesemuanya ini, mau tak mau harus kami selidiki urusan ini sampai jelas.”

(Bersambung Jilid Ke 11)

Jilid 11

“Demikian Saja!” kata Liauw Thayjien kemudian setelah mendehem perlahan. “Jikalau Phoa-ya berjumpa lagi dengan mereka katakan saja kepada orang itu, coba lihat apa yang mereka inginkan? Asalkan barang yang diminta ada di tanganku, He-koan rela menyerahkan kepadanya, perkataan Siauw-li sedikitpun tidak salah, harta kekayaan merupakan barang sampingan, apalagi barang yang dimintapun tidak akan lebih merupakan uang atau emas, barang-barang ini walaupun merupakan benda berharga tapi sama sekali tidak berguna bagi kami.”

“Sekalipun Thayjien siap serahkan barang yang mereka inginkan, tapi cayhe tak akan menyanggupi…..”

“Phoa-ya, urusan ini tiada sangkut pautnya dengan perusahaan expedisi kalian, urusan ini adalah aku sendiri yang rela serahkan padanya.”

“Sekalipun Thayjien ada maksud berbuat demikian, aku berharap bisa melakukan hal ini dalam waktu yang tepat.”

“Baiklah! Kita putuskan besok siang melanjutkan kembali perjalanan, jika ada musuh mencegat lagi maka He-koan akan serahkan barang yang mereka inginkan.”

“Dapatkah besok siang COng Piauw-tauw tiba di sini, dalam hati Phoa Ceng Yan pada saat ini masih belum punya pegangan yang kuat, karena itu iapun tidak banyak bicara lagi.

Liauw Thayjien sendiripun tidak banyak bicara lagi, ia putar badan meninggalkan tempat itu.

Semalaman lewat dengan cepat, hari keduapun telah tiba. Tapi hingga mendekati siang hari masih belum kelihatan munculnya Cong Piauw-tauw mereka di kuil tesebut.

Liauw Thayjien tidak sungkan-sungkan lagi sambil mengerutkan alisnya ia menegur diri Phoa Ceng Yan.

“Phoa-ya, menurut apa yang He-koan ketahui, kebanyakan jago kangouw mengutamakan janjinya yang telah diucapkan, kemarin malam kau sudah menyanggupi untuk melanjutkan perjalan setelah menjelang siang hari……”

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan dongakkan kepala memeriksa keadaan cuaca sedikitpun tidak salah kiranya siang hari sudah lewat karena itu ia mengangguk.

“Baiklah! Jikalau Thayjien ngotot ingin melanjutkan perjalanan kitapun segera berangkat.”

Ia menoleh dan memandang sekejap ke arah Lie Giok Liong, kemudian ujarnya, “Giok Liong, suruh mereka siapkan diri kita akan segera berangkat.”

Lie Giok Liong bongkokkan badan terima perintah, ia segera perintahkan beberapa orang anak buahnya untuk persiapkan kereta.

Gerak-gerik beberapa orang itu ternyata cukup terlatih, tidak selang beberapa waktu keretapun telah disiapkan.

Phoa Ceng Yan mendehem ringan, ujarnya kemudian, “Silahkan nyonya dan putrimu naik ke dalam kereta, kita segera berangkat……….”

Liauw Thayjien tidak banyak bicara ia panggil kacung bukunya, dayang sang nyonya serta Siao-cia naik ke dalam kereta, setelah itu baru ujarnya, “Phoa-ya! Jika ditengah jalan kita berjumpa lagi dengan para penjahat, apa yang mereka minta katakanlah kepadaku.”

“Baiklah, cuma cayhe ada beberapa patah perkataan harus diutarakan dulu sebelumnya.”

“Urusan apa?”

“Thayjien serahkan barang yang akan mereka minta adalah untuk mengganti nyawa kalian suami istri serta putrimu, kami orang-orang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok tidak pernah makan macam begini……..”

“Phoa-ya, jika orang-orang itu memiliki kepandaian silat yang sangat lihay?” potong Liauw Thayjien.

“Itu urusan kami sendiri, kau Liauw Thayjien tidak perlu kuatir.”

Liauw Thayjien yang ketanggor batunya tidak banyak bicara lagi, ia turunkan horden dan berdiam diri tak berbicara lagi.

“Giok Liong” teriak Phoa Ceng Yan kemudian dengan suara keras. “Kau dengan Toa Hauw berjalan di depan kereta.”

“Siauw-tit menerima perintah!”

Dengan Thio Toa Hauw ia melangkah ke depan cepat.

“Jie-ya, kau sungguh-sungguh hendak berangkat?” bisik Nyoo Su Jan lirih.

“Disekitar kuil yang terasa agak menyolok letaknya tinggali tanda rahasia perusahaan katakan saja kita berangkat siang ini dan suruh ia mengejar datang cepat-cepat.”

“Hamba terima perintah!”

Ia lantas meninggalkan tanda di depan pintu besar kuil tersebut.

Setelah keluar dari kuil melakukan perjalanan di atas jalan raya tidak ada berapa lagi lama mendadak muncul tiga orang lelaku kekar yang menggembol senjata menghadang jalan pergi mereka.

Lie Giok Liong ulapkan tangannya, rombongan keretapun pada berhenti.

Tidak sampai menanti laporan dari Lie Giok Liong, si kakek tua she Phoa ini sudah menerjang maju ke depan kereta.

“Giok Liong, kembali jaga keretamu.”

Kiranya sejak semula Phoa Ceng Yan sudah persiapkan perubahan dalam menghadapi musuh, oleh karena itu begitu melihat jejak lawan masing-masing pun segera berdiri pada posisi-posisinya sendiri.

Terdengar suara ringkikan kuda yang memanjang, lima buah kereta kuda dengan cepat menggabungkan diri membentuk lingkaran bulat.

Phoa Ceng Yan selangkah demi selangkah berjalan mendekati ketiga orang itu, setelah menjura ujarnya.

“Cayhe Phoa Ceng Yan, kawan bertiga setelah menghadang kereta barang kami aku rasa tentu ada urusan hendak bicarakan bukan?”

Dalam hati ia mengerti yang baik tidak akan datang, yang datang pasti tidak mengandung maksud baik, tapi urusan sudah berada di depan mata memberi penjelasanpun tak berguna, jauh lebih baik bila memperlihatkan keangkeran dari seorang Hu Cong Piauw-tauw.

Usia ketiga orang lelaki itu rata-rata berada di antara empat puluh tahunan, orang yang berada di sebelah kiri menyoren sepasang kaitan Hauw Tauw Siang Kouw, orang yang ditengah menggembol golok Yen Ling To sedang orang yang ada disebelah kanan menggembol sebuah cambuk lemas tiga belas ruas yang dilibatkan pada pinggang.

Si orang yang berada di paling tengah berjalan dua langkah ke muka, katanya.

“Sudah lama aku mendengar nama besar dari Thiat Ciang Kiem Huan, Phoa Jie-ya, ini hari bisa bertemu sungguh merupakan suatu keuntungan seumur hidup.”

Phoa Ceng Yan tetap bertangan kosong, ia rangkap tangannya menjura dan tertawa hambar.

“Tidak berani….tidak berani, maaf cayhe bermata tak berbiji susah mengenal siapakah kawan bertiga?”

“Phoa-ya adalah seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan, sudah tentu saja tak bakal kenal kami tiga orang prajurit tak ternama dalam Bu-lim.”

“Hmmm!” Phoa Ceng Yan mendengus dingin. “Kawan! Di tengah hawa dingin yang membekukan badan, rasanya kalian bertiga mencari aku bukan untuk mengajak aku orang she Phoa kongkouw bukan!”

“Kedatangan kami memang sedang membawa tugas……….” lelaku yang berada di tengah itu tertawa seraya mengangguk.

“Mendapat perintah dari siapa kalian bertiga?”

“Si Dewa Api Ban Cau, menurut Ban-ya katanya ia pernah berjumpa dengan Phoa-ya.”

“Sedikitpun tidak salah, urusan apa yang diperintahkan Ban Cau agar kalian bertiga suka menyampaikan kepada aku orang she Phoa?”

Lelaki kasar yang berdiri di tengah kalangan itu tertawa terbahak-bahak.

“Haaa……haaa…..haaa….. kata Ban-Toaya ia dengan pihak perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok tidak pernah terikat dendam sakit hati apapun, ia tidak ingin dikarenakan persoalan kecil telah menyesetkan kulit muka, karena peristiwa ini lantas terikat dendam sedalam lautan……”

“Haaa…… haa…..haaa….. kalau begitu bagus sekali” Phoa Ceng Yan pun tertawa terbahak-bahak memotong pembicaraannya yang belum selesai itu. “Si Dewa Api Ban Cau bisa timbul maksud hati yang begitu baik aku orang she Phoa merasa sangat berterima kasih sekali, harap Cu-wi beberapa orang suka menyampaikan rasa terima kasihku yang sedalam-dalamnya, katakan saja, setelah aku orang she Phoa selesai menghantar barang kawalan kami ini, tentu akan naik ke gunung akan menyambangi dirinya dan mengucapkan terima kasih atas maksud baiknya kali ini.”

“Phoa-ya, siauwte masih ada beberapa urusan belum disampaikan.”

“Baik! Katakanlah, aku orang she Phoa akan pentang telinga lebar untuk mendengarkan perkataanmu itu.”

“Walaupun Ban-ya punya maksud untuk berpikir demikian, tapi di dalam hatinya pun punya kepahitan sendiri dan berharap Phoa-ya suka memaafkan.”

“Soal apa yang perlu dimaafkan?”

“Majikan yang Phoa-ya lindungi kali ini, Liauw Thayjien katanya memiliki gambar lukisan..”

“Lukisan pengangon kambing!” sambung Phoa Ceng Yan dingin.

“Tidak salah, Phoa-ya! Kau sudah mengetahui jelas bukan?”

“Hee….hee….hee… lukisan pengangon kambing yak kau maksudkan? sungguh sayang cuma sebuah.”

Ternyata si lelaki kasar yang berdiri di tengah itu mempunyai mulut tajam dan pandai berbicara, ia tertawa hambar.

“Phoa-ya! Jika di kolong langit terdapat sepuluh atau delapan buah lukisan pengangon kambing, si Dewa Api Ban Toaya pun tak akan memohon bantuan dari Phoa-ya.”

Mendengar perkataan tersebut tiba-tiba Phoa Ceng Yan merasakan hatinya rada tergerak, pikirnya, “Apa yang dibawa oleh Liauw Thayjien agaknya sudah diketahui jelas oleh orang luar, mengapa aku tidak pinjam kesempatan yang sangat baik ini untuk melakukan penyelidikan?”

Teringat akan persoalan itu, segera ujarnya, “Lukisan pengangon kambing itu? sungguh sayang dia sudah dipesan terlebih dahulu oleh orang lain, jikalau kecuali lukisan pengangon kambing itu, masih ada barang lain yang bisa menggantikan benda tersebut mungkin cayhe bisa bantu-bantu diri Ban Cau untuk membujuk sang pemilik barang dan suka memberikan kepada kalian.”

“Siapa yang sudah pesan lukisan pengangon kambing itu terlebih dahulu…..?” seru si lelaki tadi dengan nada tertegun.

“Sekalipun aku beritahu kepadamu kawan belum tentu cuwi bernyali untuk pergi menanyakan persoalan ini kepadanya!”

“Kami bertiga mungkin tidak bernyali, tapi Ban Toaya serta beberapa orang kawan mungkin bisa bertindak tolong silahkan Phoa Jie-ya mengutarakan secara terus terang!”

“Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang rasanya kalian bertiga sudah pernah mendengar namanya bukan!”

Mendengar disebutkannya nama orang itu, ketiga orang lelaki tadi segera berubah muka, setelah termenung beberapa saat lamanya si lelaki yang berdiri di tengah berkata kembali.

“Perkataan dari Phoa-ya berat bagaikan sembilan Hioloo, kami percaya kau Phoa Jie-ya tidak sedang berbohong.”

“Ke Giok Lang sudah mengirim orang datang untuk memesan lukisan pengangon kambing itu, tapi aku orang she Phoa belum setuju untuk berikan barang itu kepadanya.” jawab Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini dingin.

“Ooouw……. kiranya begitu.”

Perlahan lahan Phoa Ceng Yan menoleh dan memandang sekejap ke arah formasi kereta kawalannya, setelah melihat barisan telah siap iapun berkata kembali.

“Ban Cau mengirim kalian bertiga datang kemari, rasanya ia sendiripun sudah berada di dekat sini bukan?”

“Bila Phoa Jie-ya ada perkataan, utarakan saja kepadaku!”

“Begitupun baik, tolong saudara suka memberi laporan kepada Ban Cau, katakan saja aku orang she Phoa dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok tidak senang membeli hubungan persahabatan ini, Cong Piauw-tauw kami sebentar lagi bakal tiba, jika Ban Cau ada urusan hendak dibicarakan dengan aku orang she Phoa maka suruh ia muncul sendiri, bila terlambat terpaksa aku akan persilahkan dia orang membicarakan sendiri persoalan ini dengan Cong Piauw-tauw kami.”

“Cong Piauw-tauw kalian apakah benar “Thian Tan Kim Leng Ceng Pat Fang” atau si Lempengen Besi Genta Emas yang menggetarkan delapan penjuru Kwan Tiong Gak, Kwan Toaya?” seru si lelaki itu rada tertegun.

“Di kolong langit saat ini baik dari kalangan Pek to sama pada tahu bila COng Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie piauw-kiok adalah Kwan Tiong Gak, Kwan Toaya, Kawan! Agaknya kau rada kurang percaya?”

Kwan Tiong Gak punya gelar manusia yang menggetarkan delapan penjuru, ia benar-benar punya kemampuan untuk mengusir dan menumpas gangguan iblis, begitu menyebutkan nama besarnya seketika itu juga membuat ketiga orang itu merasa terperanjat dan bergidik.

“Phoa-ya!” ujar si lelaki yang berdiri di tengah itu seraya menjura.”Kami datang kemari karena sedang menjalankan tugas, apa yang Phoa Jie-ya katakan tadi pasti akan kami sampaikan seadanya tanpa ditambahi dengan sepatah katapun.”

“Heee…..heee…..heee…… sekalipun kalian bertiga ada maksud menambahi perkataanku pun boleh saja,” sambung Phoa Ceng Yan sambil tertawa dingin.

“Phoa Jie-ya terlalu banyak curiga!”

Ia mendehem perlahan, kemudian tambahnya.

“Kami telah mengganggu perjalanan Phoa Jie-ya dengan beberapa perkataan yang tak berguna, dalam hati merasa sangat tidak enak kesalahan yang telah kami perbuat masih mengharapkan Phoa Jie-ya suka memaafkan, kami mohon diri terlebih dahulu.”

Ia putar badan lantas berlalu dengan langkah lebar.

“Saudara bertiga harap tunggu sebentar” tiba tiba Phoa Ceng Yan berseru setelah termenung beberapa saat.

Ketiga orang itu sama-sama menghentikan langkahnya dan putar badan.

“Phoa Jie-ya, masih ada pesan apa lagi?”

Sinar mata Phoa Ceng Yan perlahan-lahan menyapu sekejap ke atas wajah ketiga orang itu, lalu sambil tertawa katanya.

“Sewaktu kalian bertiga berjumpa dengan si Dewa Api Ban Toaya, tolong sampaikan salam dari aku orang she Phoa.”

“Pesan Phoa Jie-ya pasti akan kami sampaikan,” sahut si lelaki itu mengiakan.

“Kalau begitu bagus sekali, aku orang she Phoa mengucapkan terima kasih dahulu kepada kalian bertiga…”

Ia mendehem berat, setelah merandek sejenak sambungnya, “Burung belibis lewat meninggalkan suara, manusia lewat meninggalkan nama, kalian bertiga bersemangat jantan, mengapa tidak suka meninggalkan nama?”

“Jika Phoa Jie-ya masih ingin bertanya cayhe pun tidak bisa tidak harus memberitahu juga, kami bersaudara adalah Lam Thian Sam Yen atau Tiga Belibis dari Lam Thian.”

“Selamat berjumpa!” seru Phoa Ceng Yan sambil ulapkan tangannya.

Si lelaki itu menjura setelah itu bersama-sama putar badan berlalu.

Gerakan tubuh ketiga orang itu cepat bagaikan kilat, tidak selang beberapa saat lamanya jejak mereka sudah lenyap tak berbekas.

Beberapa buah kereta kuda itu masih tetap berada dalam posisi bulat siap menghadapi serbuan musuh.

Perlahan-lahan Lie Giok Liong melangkah maju ke depan.

“Paman Jie-siok!” bisiknya lirih. “Kita akan melanjutkan perjalanan ataukah tetap berada dalam posisi begini sambil menanti perubahan situasi?”

“Lam Thian Sam Yen tidak lebih cuma kaki tangan pembantu belaka, saat ini mereka kembali untuk menyampaikan laporan. Si Dewa Api Ban Cau selama ini bergerak di sekitar daerah utara sedangkan Lam Thian San Yen muncul di daerah sekitar Kang Lam, kali ini jago Liok-lim dari kalangan Kang Lam serta kang Pok bisa bersekongkol sudah tentu urusan tidak sedemikian gampang, sekarang kita masih belum bisa melanjutkan perjalanan, tunggu sebentar lagi baru ambil keputusan.”

“Perkataan dari paman Jie-siok sedikitpun tidak salah,” kata Lie Giok Liong seraya menjura. “Aku akan pergi memberi kabar kepada mereka dahulu.”

Pada wajtu itu, tiba-tiba Liauw Thayjien muncul dari balik kereta seraya berjalan mendekat.

“Phoa Jie-ya!” sapanya.

“Thayjien ada pesan?” tanya Phoa Ceng Yan dengan alis berkerut.

“Bagaimana pembicaraan Phoa Jie-ya dengan mereka?”

“Bicarakan soal apa?”

“He-koan telah berunding dengan hujien dan siauw-li, selain lukisan pengangon kambing, kamipun rela untuk memberikan semua yang ada pada kami asal bisa selamat tiba di tempat tujuan.”

“Thayjien terlalu royal…..”

Sewaktu mereka sedang berbicara, mendadak muncul dua butir benda hitam sebesar telor itik menggelundung datang di atas permukaan salju.

Melihat benda itu Phoa Ceng Yan jadi sangat terperanjat.

“Thayjien cepat menyingkir!” teriaknya keras.

Sebaliknya Liauw Thayjien malah tercengang dibuatnya.

“Aaaaakh! Dua ekor tikus tanah!” serunya.

Dalam pada itu, kedua gulung bayangan hitam tadi telah tiba kurang lebih enam-tujuh langkah di depan kedua orang itu.

“Bluuum…….! Bluuum…..!” diikuti dua kali ledakan keras, kedua gulung bayangan hitam tadi telah meledak di atas permukaan salju.

Bila dibicarakan sungguh aneh sekali, kedua benda bayangan hitam tadi ternyata memercikan bunga-bunga api yang amat besar di atas permukaan salju kemudian berkobar menjadi suatu kebakaran yang sangat besar.

Selama hidup Liauw Thayjien belum pernah menemui kejadian macam begini, ia jadi amat terperanjat.

“Apa yang telah terjadi?” tanyanya lirih.

“Suatu permainan dari si Dewa Api Ban Cau!”

Tampak dua gulung bunga api yang menimbulkan kebakaran di atas permukaan salju itu makin lama berkobar makin besar dalam sekejap mata percikan api sudah meluap hingga mencapai ketinggian tiga depa dengan luas enam depa lebih, separuh bagian jalan raya sudah dijilati oleh kobaran api, salju mencair dan mengalir kemana mana tapi sama sekali tidak mempengaruhi kobaran api tersebut.

Melihat jilatan api yang makin lama meninggi itu Liauw Thayjien berdiri termangu mangu, jelas dihatinya merasa amat terperanjat oleh kejadian tersebut.

Lain halnya dengan Phoa Ceng Yan, ia sama sekali tidak terpengaruh oleh oleh kobaran api yang membakar permukaan salju itu, sepasang matanya dengan tajam memperhatikan perubahan situasi di empat penjuru.

“Bluum…..! Bluum………..!” kembali terjadi dua kali ledakan keras yang memekakkan telinga, dua gumpalan api yang sedang berkobar memenuhi angkasa itu kembali menyalakan cahaya biru yang menyilaukan mata membumbung jauh tinggi ke angkasa mencapai ketinggian tiga tombak lalu punah dalam bentuk asap biru yang tebal.

Ketika itu sang surya tepat di atas kepala, sinar matahari sangat tajam……..semisalnya ketika itu malam hari maka bunga api yang terpercikkan dari asap biru tersebut tentu sangat menarik untuk dilihat.

Perhatian Phoa Ceng Yan tanpa terasa ikut tersedot oleh kobaran cahaya biru yang membumbung tinggi ke angkasa itu.

Menanti ia tersadar kembali si Dewa Api Ban Cau sudah muncul dari balik dua gumpalan asap biru itu.

Keadaan dari si Dewa Api Ban Cau pada saat ini sangat aneh, ia memakai baju warna merah padam yang menyolok, bahkan sampai kepalapun memakai topi warna merah darah, tangan memakai kaos tangan warna merah pula.

“Thayjien, silahkan mengundurkan diri ke belakang, jangan sampai terluka badanmu!” seru Phoa Ceng Yan dengan nada berat.

Liauw Thayjien menurut dan berturut-turut mundur lima langkah ke belakang, tapi ia tetap tidak suka mengundurkan diri ke dalam kereta.

Phoa Ceng Yan kerutkan alisnya, tetapi ia tetap tidak menegur lebih lanjut.

Terdengar Ban Cau mendehem berat.

“Phoa-heng! Siauw-te sama sekali tiada minat untuk mencari keonaran dengan dirimu tapi Phoa-heng tidak suka mengalah satu tindak untuk orang lain, maka Siauw-te terpaksa harus mengenakan kembali pakaian yang sudah ada dua puluh tahun lamanya belum pernah dikenakan.”

“Saudara telah berganti dengan mengenakan pakaian ini, aku pikir tentu kau sudah bulatkan tekad untuk membegal barang kawalanku kali ini bukan??”

“Saat ini rasanya kita masih bisa saling merundingkan persoalan ini secara damai.”

“Heee……heee…..heee…..heee…… tempo dulu Ban-heng dengan mengenakan pakaian merahmu ini telah main bakar sesukanya sehingga membuat kawan-kawan Bu-lim di sekitar daerah Kiang Pak pada jeri dibuatnya setiap kali mendengar namamu….” seru Phoa Ceng Yan sambil tertawa dingin.

“Haaa……haaa…..haaa….. Phoa heng terlalu memuji..”

“Kalau begitu silahkan Ban-heng suka membakar, bakar dulu diri aku she Phoa.”

“Maksud Phoa Jie-ya kau anggap siauw-te takut untuk membakar dirimu?” seru Ban Cau dengan air muka berubah hebat.

“Sudah tentu Ban-heng berani melaksanakan pekerjaan tersebut, tapi siauw-te merasa bahwa api dari Ban-heng tersebut belum tentu bisa membakar habis semua orang yang aku bawa ini, bersamaan itu pula kemungkinan sekali perbuatan itu bakal memancing serangan balasan dari kami.”

“Haa….haaa……haaa….soal itu sih aku tahu” Ban Cau tetawa tergelak. “Maksud Phoa heng bukankah sedang memperingatkan kepada siauw-te agar jangan lupa terhadap serangan balasan dari gelang emas pencabut nyawamu itu bukan?”

“Hee….heee……heee…. sedikitpun tidak salah” Phoa Ceng Yan tertawa dingin. “Jikalau kau Ban Cau main api, terpaksa aku pun harus mengandalkan anak panah serta gelang emas untuk balas melancarkan seranganmu.”

Dalam pada waktu Lie Giok Liong serta Ih Coen masing-masing dengan golok tersoren di punggung dan tangan mencekal anak panah berdiri di kedua belah sisi jalan raya.

Agaknya kedua orang itupun merasa rada jeri terhadap permainan api dari Ban Cau, kurang lebih satu tombak dari Ban Cau berada mereka berdua sama pada berhenti.

“Kalian berhati-hatilah memperhatikan” teriak Phoa Ceng Yan dengan suara keras-keras. “Begitu aku turun tangan, kalian umpan anak panah kepadanya.”

“Turut perintah!” sahut Lie Giok Liong serta Ih Coen berbareng.

Sikap Ban Cau tetap sinis, serius, dan sepasang matanya dengan memancarkan cahaya tajam memperhatikan sekejap keadaan di sekeliling empat penjuru.

 

[bersambung]