lambang naga panji naga sakti 05
“Racun ganas yang terpoles di atas
jarum pencabut nyawa ini sangat luar biasa, kecuali menggunakan obat
pemunah manungal dari si penyambit senjata rahasia, orang lain tak
bakal bisa bantu memunahkannya, bila aku cabut keluar jarum beracun
itu dari pundaknya maka kemungkinan besar pemuda ini bakal lebih
cepat menemui ajalnya.”
“Tapi kitapun tak bisa berpeluk
tangan melihat orang lain menjelang sekarat!”
“Bilamana aku orang tiada
bermaksud untuk menolong dirinya, akupun tak akan membopong dirinya
msuk ke dalam kuil.”
Liauw Thay jien menghela napas
panjang.
“Jika kita tidak bantu dirinya
mencabut keluar senjata beracun itu, bukankah sebentar lagi ia bakal
mati?”
“Dugaan Thayjien salah besar,
menurut apa yang orang she Phoa ketahui, asalkan jarum beracun itu
tidak sampai tercabut maka kemungkinan besar nyawanya bisa
diperpanjang beberapa saat.”
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Sewaktu
kau turun tangan menolong dirinya apakah kau tidak tahu jika pemuda
ini sudah terhajar oleh senjata rahasia yang sangat beracun?”
“Ehm! Akupun tidak tahu jika
senjata rahasia yang menghajar dirinya adalah jarum ekor walet
pengejar sukma.”
“Nyawa manusia sangat berharga,
Phoa Hu Cong Piauw-tauw, apa yang hendak kau lakukan saat ini?”
Mendengar pertanyaan itu, Phoa
Ceng Yan jadi melengak, tapi mengingat Liauw Thayjien adalah seorang
yang pernah menjabat sebagai pembesar maka tidak aneh kalau nada
ucapannya tidak terlepas dari nada seorang pembesar walaupun sudah
menghadapi peristiwa macam begini.
Pikirannya segera berputar,
beberapa saat kemudian ia baru menyahut.
“Thayjie! Aku sendiripun tidak
tahu semisalnya aku tidak berhasil menolong hidup orang ini apakah
hal tersebut merupakan suatu perbuatan melanggar hukum atau tidak,
tapi menurut peraturan dari dunia kangouw, setiap kali kami menemui
persoalan yang sangat merepotkan, jikalau semisalnya aku tidak
berhasil menolong hidup dirinya maka akupun tidak usah ganti nyawa
sendiri, tapi kejadian yang sebenarnya kami harus jelaskan kepada
sanak keluarganya dan kepada perguruannya pun aku harus memberikan
suatu pertanggungan jawab.”
“Setelah orang itu mati, kenapa
tidak kalian laporkan saja kepada kaum pembesar negeri?” kata Liauw
Thayjien.
“Dalam dunia kangouw terdapat
peraturan dunia kangouw yang harus kami taati, peristiwa ini sudah
tentu tidak perlu kami laporkan kepada kaum pembesar.”
“Tidak salah!” Liauw Thayjien
mengangguk. “Kalian sebagai orang kangouw memang memiliki cara
penyelesaian kalian sendiri.”
Ia menghela napas panjang.
“Hee-koan sudah selesai membuat
surat!” tambahnya.
“Bagus! Kau serahkan saja
kepadaku, akan kubantu kirimkan surat ini sampai kealamatnya.”
Dari dalam sakunya Liauw Thayjien
mengambil keluar selembar kertas putih dan diangsurkan kepada si
orang tua itu.
“He-koan sudah menurut nasehatmu,
surat yang aku tulis amat singkat sekali.”
“Thayjien boleh berlega hati,
dalam satu dua hari ini Besan dari thayjien tentu sudah menerima
surat ini,” kata Phoa Ceng Yan seraya menerima angsuran surat itu.
Perlahan lahan Liauw Thayjien
mengalihkan sinar matanya ke arah dada pemuda berbaju biru itu, ia
berbatuk batuk kering.
“Phoa-ya! He-koan menyimpan
berbagai macam obat mujarab yang dapat digunakan untuk memunahkan
racun-racun ganas tersebut, entah dapatkah obat-obat itu digunakan
buat ini?”
“Obat apa?”
“Sewaktu He-koan masih menjabat
sebagai pembesar di kota Tok-Hu pernah mendapat hadiah dari seorang
tabib kenamaan…”
Tiba-tiba pemuda berbaju biru itu
menggerakkan jari tangannya dan menuding dada sendiri.
“Sungguh hebat lweekang yang
dimiliki orang ini.” diam-diam pikir Phoa Ceng Yan ketika melihat
pemuda tersebut menunjukkan suatu gerakan.”setelah terhajar senjata
rahasia beracun Yen Wie Tui Hun Ciam nyatanya dalam waktu singkat ia
bisa menggerakkan jari-jari tangannya, sungguh suatu kejadian yang
luar biasa!”
Berpikir akan persoalan itu,
mendadak suatu ingatan bagus berkelebat di dalam benaknya, dengan
cepat ia meraba dada pemuda berbaju biru itu.
Di mana jari-jari tangannya
bergerak, si orang tua ini dengan cepat meraba sebuah botol kumala
di balik sakunya.
Buru-buru Phoa Ceng Yan merogoh ke
dalam saku orang itu dan diambilnya keluar sebuah botol porselen.
Botol porselen itu panjangnya ada
dua coen danberwarna hijau bening, setelah membuka gabus penutupnya
mengelinding keluarlah dua butir pil.
Di dalam botol tersebut hanya
terdapat dua butir pil, satu warna hijau kemerah-merahan dan yang
lain berwarna putih keperak-perakan.
Phoa Ceng Yan letakkan kedua butir
pil tersebut ke telapak tangannya dan memandang benda itu dengan
terpesona, warna kedua butir pil itu tidak sama rasanya
penggunaannya sama sekali berbeda.
Ia mengetahui jelas maksud pemuda
berbaju biru itu menuding dada sendiri adalah minta ia mengambil
keluar botol porselen yang ada di dalam sakunya, tapi ia tidak
mengerti pil warna yang manakah merupakan obat pemunah dari racun
tersebut.
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Apakah
pil obat itu cukup memberitahukan kepadamu maksud tujuannya menuding
botol porselen tersebut??” tanya Liauw Thayjien sembari
terbatuk-batuk.
“Dalam keadaan luka parah ia masih
tidak melupakan botol porselen yang disimpan dalam saku, sudah tentu
jelas sekali membuktikan bila isi dari botol porselen itu adalah
obat pemunah racun yang mujarab!”
“Dan kini di dalam botol tersebut
semuanya terdapat dua butir pil yang berlainan warnanya, salah
sebutir diantaranya tentu bukan merupakan obat pemunah bukan?”
“Benar! Di antara kedua butir pil
tersebut yang satu adalah pil pemunah sedang yang lain bukan pil
pemunah, saat ini aku sendiripun susah untuk membedakan mana yang
pil pemunah dan mana yang bukan pil pemunah!”
“Perlahan-lahan Liauw Thayjien
menghela napas panjang.
“Heeei…! Jikalau kita tak berhasil
membedakan butiran pil yang mana adalah pil pemunah racun, sekalipun
saat ini kita miliki obat pemunah juga sama saja tak dapat digunakan
untuk menyelematkan jiwanya.
“Cara lain sih masih ada!” kata
Phoa Ceng Yan setelah termenung sebentar. “Tapi berhasil atau tidak
masih susah dibicarakan.”
“Apa caramu itu???”
“Cabut dulu jarum Yen Wie Ciam
yang menghajar pada punggungnya, salurkan tenaga dalam akan kubantu
menyadarkan dirinya dari pingsan, kemudian biar ia sendiri yang
menunjukkan butiran pil mana adalah pil pemunah racun!”
“Obat tersebut ia yang membawa
sendiri, sudah tentu pemuda tersebut dapat menentukan sendiri mana
yang merupakan pil pemunah racun!”
“Cuma cara inipun merupakan suatu
tindakan sangat berbahaya,” kata Phoa Ceng Yan kembali berat.
“Bagian mana yang kau maksud
bahaya.”
“Jikalau aku tidak berhasil
menyadarkan dirinya, maka kita tak akan berhasil menyelamatkan
jiwanya lagi.”
“Kecuali bertindak demikian, masih
adakah cara-cara yang kiranya dapat digunakan?.”
“Bilaman dibicarakan dalam situasi
seperti ini, kecuali cara tersebut rasanya tak ada cara lain lagi….”
Selagi mereka bercakap-cakap, Nyoo
Su Jan dengan membawa baki berisi makanan sudah berjalan masuk.
“Jie-ya, siapakah orang ini?”
tanya Nyoo Su Jan sambil meletakkan baku berisi makanan itu ke atas
tanah.
“Aku sendiripun tidak tahu.”
perlahan-lahan Phoa Ceng Yan menggeleng. “Ia menunggang kuda dan
kesasar sampai ke sini, sedang pemuda itu sendiri jatuh pingsan
karena terhajar senjata rahasia.”
Sinar mata Nyoo Su Jan dialihkan
ke atas jarum beracun Yen Wie Tui Hun Ciam yang masih melekat pada
punggungnya.
“Aaaakh! Ia sudah terhajar oleh
jarum beracun Yen Wie Tui Hun Ciam…..” serunya tiba-tiba dengan rasa
kaget.
“Tidak salah, bahkan kalau sudah
tak ditolong lagi, maka jiwanya bakal melayang.”
“Kuda putih yang berada di luar
ruangan apakah kuda tunggangannya??….“ kembali Nyoo Su Jan bertanya.
“Ehmmm! Jikalau kuda tunggangannya
bukan seekor kuda jempolan yang cerdik, mungkin ini hari jiwanya
sudah melayang.”
“Jadi Jie-ya mau menolong
dirinya?”
“Benar, urusan sudah menjumpai
diriku sudah tentu aku harus berusaha keras…..”
“Jika ditinjau dari perubahan air
mukanya, jelas ia sudah keracunan hebat, bila tidak berhasil kita
tolong dirinya, maka kesulitan bakal menimpa diri kita.”
“Soal ini aku sendiripun tahu,
jika kita tidak berhasil menyelamatkan jiwa maka kerepotan bakal
saling berdatangan, dan bila kita berhasil menolong dirinya
kerepotan tetap bakal datang. Sekarang urusan ini sudah menjumpai
kita, kalau memang apapun terjadi kita tetap merasakn kerepotan,
bukankah jauh lebih baik kita coba dulu tolong orang itu.
Kedatanganmu sungguh amat bagus, coba perintahkan mereka perketat
penjagaan, mungkin satu dua jam ini aku tak bisa lepaskan diri dalam
ruangan, sebentar lagi aku mau turun tangan menolong dirinya.”
Dirobeknya pakaian kulit kambing
pada pundak pemuda itu, lalu jari-jari tangan kanan mulai bekerja
mencabut keluar jarum beracun yang menghajar di atas jalan darah
“Hong Hu Hiat” pada pundak pemuda berbaju biru itu, sedangkan tangan
kirinya angsurkan pil pemunah tadi ke tangan Liauw Thayjien.
Liauw Thayjien terima obat pemunah
itu, Phoa Ceng Yan lantas gunakan tangan kirinya membimbing bangun
pundak pemuda tersebut, telapak tangan ditempelkan ke atas jalan
darah “Ming Bun Hiat” pada punggung diam-diam hawa murni disalurkan
menerjang masuk ke isi perutnya.
Liauw Thayjien yang belum pernah
mencampurkan diri dalam urusan dunia kangouw, ketika melihat Phoa
Ceng Yan tempelkan telapak kanannya ke atas punggung pemuda berbaju
biru itu dalam hati jadi keheranan.
“Eeei…. terhitung cara apakah ini?
masa menyembuhkan luka keracunan hanya dengan tempelkan tangan ke
atas punggung?”
Tampaklah beberapa saat kemudian
batok kepala Phoa Ceng Yan mulai dibasahi oleh keringat yang makin
lama semakin deras bagaikan curahan hujan, dari ujung kepala sampai
bawah basah kuyup semua.
Melihat kejadian itu, Liauw
Thayjien jadi semakin terkejut bercampur keheranan.
“Phoa-ya, kau lelah?” tak tertahan
lagi tanyanya.
Ketika itu Phoa Ceng Yan sedang
pusatkan seluruh perhatian untuk paksa keluar racun dari dalam tubuh
si lelaku berbaju biru itu dengan kerahkan tenaga lweekang, sudah
tentu tak ada waktu baginya untuk menjawab pertanyaan dari Liaw
Thayjien.
Ia tetap membungkam dalam seribu
bahasa.
Liauw Thayjien yang melihat Phoa
Ceng Yan tetap duduk bersila sambil pejamkan mata, agaknya sama
sekali tidak mendengar pertanyaan, iapun tidak mengajukan pertanyaan
lebih lanjut.
Kembali lewat beberapa waktu,
mendadak si orang berbaju biru itu menghembuskan napas panjang,
perlahan-lahan ia membuka matanya.
Agaknya ketika itu Phoa Ceng Yan
sudah kecapaian, sesudah menghembuskan naoas ringan buru-buru
katanya.
“Liauw Thayjien, cepat tunjukkan
pil itu kepadanya dan suruh ia tunuk pil mana yang pemunah racun.”
Liauw Thayjien menurut, ia
keluarkan telapak tangannya dan menunjukkan kedua butir pil kepada
sang pemuda.
“Dia antara kedua butir ini mana
yang merupakan pil pemunah racun?”
“Pil berwarna putih
keperak-perakan adalah pemunah racun.”
Liauw Thayjien segera mengambil
pil yang dimaksud dan diserahkan ke mulut pemuda tersebut.
“Phoa-ya, apakah pil ini diberikan
saja kepadanya.”
“Tanyakan saja kepadanya.”
Si orang berbaju biru itu tidak
menjawab tapi pentangkan mulut lebar-lebar.
Liauw Thayjien pun lantas hantar
pil warna putih ke dalam mulut si orang berbaju biru.
Setelah itu dimasukkannya pula pil
berwarna merah tadi ke botol kumala, lalu menutup gabusnya dan
diletakkan di depan tubuh sang pemuda.
Setelah semuanya beres ia baru
bangun berdiri dan bertindak keluar dari ruangan.
Si lelaki berbaju biru itu setelah
menelan pil pemunah racun segera pejamkan matanya pula untuk
mengatur pernapasan.
Phoa Ceng Yan dengan kerahkan sisa
tenaganya mengirim hawa lweekang ke dalam isi perut sang pemuda dan
bantu ia perlancar jalannya peredaran darah di badan.
Sepeminum teh kemudia, mendadak si
orang berbaju biru itu buka suara, katanya.
“Terima kasih atas bantuan dari
Locianpwee, boanpwee sudah bisa atur pernapasan sendiri, cianpwee
tidak usah repot repot lagi.”
Cara menyembuhkan luka dengan
menggunakan tenaga dalam merupakan suatu pekerjaan yang sangat berat
dan banyak mengeluarkan tenaga murni, Phoa Ceng Yan yang ada maksud
menolong orang telah kerahkan seluruh hawa murni yang dimilikinya.
Sesudah lewat beberapa saat hawa
murni di dalam badan hampir boleh dikata sudah tinggal sedikit,
keringat ngucur keluar menembusi mantel bulunya, sekalipun si orang
berbaju biru itu tidak menyuruh ia beristirahat pun ia tak akan
meneruskan pekerjaannya.
Si orang berbaju biru itu melirik
sekejap ke atas wajah Phoa Ceng Yan yang penuh diliputi keletihan,
setelah itu ia baru pejamkan mata atur pernapasan.
Phoa Ceng Yan menghembuskan napas
panjang, tubuhnya langsung dijatuhkan ke belakang dan rebah ke atas
tanah, kelelahan yang dialami saat ini bagaikan kelelahan yang
dialami setelah mengalami suatu pertarungan yang maha sengit.
Waktu itu Nyoo Su Jan dengan jalan
merindik-rindik masuk ke dalam ruangan, sebagai seorang jago kawakan
yang sering melakukan perjalanan setelah melihat sekejap keadaan
ruangan perlahan-lahan ia menutup pintu kembali dan mengundurkan
diri untuk berjaga-jaga di luar.
Kiranya ia takut keadaan Phoa Ceng
Yan yang sangat mengenaskan itu dapat diketahui oleh pihak lawan,
maka dari itu untuk amannya sengaja ia berjaga-jaga di depan pintu
untuk menghalangi setiap orang yang bermaksud untuk masuk ke sana.
Setelah berbaring beberapa saat,
perlahan-lahan Phoa Ceng Yan bangun duduk dan mulai atur pernapasan.
Menanti ia selesai salurkan hawa
murninya mengelilingi seluruh badan satu lingkaran dan rasa lelah
lenyap dari dalam tubuh pada waktu itu si orang berbaju birupun
sudah selesai bersemedi dan sedang duduk di sudut ruangan.
Ketika Phoa Ceng Yan buka mata
untuk kedua kalinya, keadaan dari si orang berbaju biru itu sudah
berubah dari keadaan semula, wajah sembab hijau yang semula
menghiasi wajahnya kini sudah tersapu lenyap berganti dengan
selembar wajah tampan dan gagah perkasa.
“Loo-Cianpwee sudah selesai
bersemedi, boanpwee pun seharusnya mohon diri” kata si orang berbaju
biru itu hambar.
Ia bangun berdiri, membuka pintu
dan berjalan keluar dengan langkah lebar.
Ia tidak menanyakan kisahnya
sehingga ditolong, juga tidak mengucapkan sepatah kata terima kasih
bahkan tidak menanyakan pula nama Phoa Ceng Yan maupun meninggalkan
nama sendiri, begitu keluar dari ruangan segera meloncat naik ke
atas kuda, menarik tali les dan diiringi suara ringkikan kuda
putihnya laksana sambaran petir meleset sejauh delapan depa untuk
kemudian lenyap di balik hutan sana.
Menanti Phoa Ceng Yan tiba di
depan pintu kuil bayangan manusia sudah lenyap tak berbekas.
Nyoo Su Jan yang melihat kejadian
itu tak bisa menahan golakan dihatinya lagi, kontan ia bentang bacot
memuji.
“Sungguh seekor kuda yang
bagus……..”
Ia bepaling, sewaktu melihat Phoa
Ceng Yan pun sudah keluar, buru-buru sambungnya dengan berganti
nada.
“Jie-ya, siapakah orang itu?
Agaknya di dalam kalangan Bu Lim sebelah utara belum pernah menemui
jejak orang ini.”
“Ia tidak tinggalkan nama” Phoa
Ceng Yan menggeleng.
“Ehmmm! Apakah Jie-ya tidak
menanyakan hal tersebut kepadanya?”
“Kepergiannya teramat cepat, sang
manusia amat gesit kudanya lincah, sama sekali tidak memberi suatu
kesempatan bagiku untuk mengajukan pertanyaan.
Thio Toa Hauw yang berdiri di
samping pintu kuil sehabis mendengar perkataan itu hawa gusarnya
kontan bergelora.
“Hmmm! Bangsat cilik itu
benar-benar tidak tahu kesopanan, bikin dongkol. Jie-ya! Kau sudah
sia-sia menolong selembar nyawanya, kurang ajar benar, masa sepatah
kata terima kasihpun tidak diucapkan, jika di kemudian hari aku si
Loo Thio menemui dirinya lagi, tentu akan kukasih sedikit hajaran
kepadanya.”
“Toa-Hauw, lain kali aku larang
kau ungkap kembali persoalan ini “ cegah Phoa Ceng Yan sembari
ulapkan tangannya. “Kita sebagai orang kangouw yang sering melakukan
perjalanan sudah sepatutnya sering tolong menolong dan membantu,
urusan telah lewat biarkanlah berlalu, apalagi kitapun menolong
bukan mengharapkan upah orang lain.
Walaupun di dalam hati tidak puas,
Thio Toa Hauw tidak berani membantah perkataan Hu Piauw-tauw-nya,
dengan hati mendongkol segera putar badan berlalu.
“Jie-ya, jika ditinjau dari
kudanya kemungkinan besar orang ini mempunyai asal-usul yang luar
biasa.” bisik Nyoo Su Jan dengan suara lirih. “Budi tidak mengenal
terima kasih, inilah baru dinamakan wajah seorang pendekar sejati!”
“Su Jan, jangan bicarakan urusan
ini lagi “ potong Phoa Ceng Yan sambil terbatuk batuk kering. “Tadi
kau keluar sebentar dan apa yang sudah kau temui di sana?”
“Hamba serta Giok Liong sekalian
bekerja untuk kumpulkan sedikit bahan makanan yang kira-kira bisa
digunakan untuk penuhi ransum selama empat-lima hari buat manusia
maupun kuda, selain itu secara teliti dan cermat kamipun sudah
periksa keadaan di empat penjuru, tapi tak sebuah tanda yang
mencurigakan pun berhasil kita temukan. Hamba merasa keadaan
sekeliling kuil ini sangat tenang bahkan ketenangan yang membawa
rasa keheranan.”
“Semakin hening, suasana semakin
menakutkan! Kita jangan terlalu bertindak gegabah……” kata Phoa Ceng
Yan seraya tertawa getir.
Ia dongakkan kepala memandang
cuaca.
“Waktu masih pagi, sekalipun bakal
terjadi urusan juga tak akan berlangsung pada saat ini. Menggunakan
kesempatan ini ada baiknya suruh mereka makan yang kenyang lalu
beristirahat sebentar. Semisalnya si Dewa Api Ban Cau betul-betul
sudah pasang jebakan di sebelah sana dan ini hari tidak berhasil
menjumpai kita, maka nanti malam pihak mereka pasti akan adakan
suatu gerakan.”
Agaknya Nyoo Su Jan secara
tiba-tiba teringat akan suatu persoalan yang penting, buru-buru
ujarnya.
“Eeeeii……….Piauw-tauw, pemuda tadi
sudah kena terhajar senjata rahasia macam apa?”
“Jarum beracun Yen Wei Tui Hun
Ciam” seru Phoa Ceng Yan rada melengak.
“Jarum Yen Wie Tui Hun Ciam adalah
sebangsa senjata rahasia tunggal yang sangat istimewa, jarang sekali
orang-orang Bu-lim yang menggunakan senjata tersebut.”
“Tentang hal ini aku sih tahu”
Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini
tertawa getir. “Dan didalam dunia kangouw saat ini hanya seorang
saja yang menggunakan senjata rahasia ini sebagai senjata andalan.”
“Si “Kui Siu” atau Tangan Setan Mo
Cing.”
“Tidak salah, memang si tangan
setan Mo Cing.”
“Menurut apa yang hamba ketahui,
selamanya antara Kui Siu serta Shia Kiam atau si pedang sesat belum
pernah berpisah.”
“Tentang hal ini akupun tahu,”
kembali si orang tua mengangguk. “Di mana si tangan Setan Mo Cing
munculkan diri maka “Shia Kiam” atau si pedang Sesat pasti menguntil
datang.”
“Jie-ya” Nyoo Su Jan berbisik
rendah.
“Sudah ada banyak tahun si Tangan
Setan serta si Pedang Sesat tidak pernah munculkan dirinya di dalam
dunia kangouw, kemunculan mereka di tempat ini ada kemungkinan
disebabkan karena suatu maksud tertentu.”
“Maksudmu, kedatangan mereka-pun
disebabkan oleh barang kawalan kita kali ini?” teriak Phoa Ceng Yan
tertegun.
“Soal ini hamba tidak berani
terlalu memastikan, hanya saja peristiwa ini terjadi sangat
kebetulan, dalam musim dingin yang menggigilkan badan serta jalan
raya yang tertutup lapisan salju tebal apalagi menjelang tutup
tahun, kebanyakan jago-jago Liok-Lim kenamaan sudah masanya
beristirahat menyambut kedatangan Tahun Baru, seharusnya Kui So
serta Shia Kiam tidak akan dikarenakan jual beli ini lantas cari
sangu untuk melewati Tahun Baru bukan?”
“Tidak salah, si Dewa Api Ban Cau
ditambah tangan dan pedang sesat, urusan memang sedikit rada
kebetulan.”
“Bahkan mereka masih tinggalkan
suatu bukti kepada kita bahwa si tangan setan Mo Cing pun telah
unjukkan diri.”
“Tapi diantara perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok kita dengan pihak mereka belum pernah terlibat
sengketa!” seru Phoa Ceng Yan.
“Kita sudah menolong orang yang
pernah dilukai si Tangan Setan Mo Cing, bukankah hal ini berarti
sudah memberikan suatu kesempatan yang baik buat mereka untuk
mencari gara-gara?”
“Su Jan!” kata si Orang tua seraya
tertawa getir. “Jikalau kedatangan mereka adalah membawa maksud
tujuan, sekalipun kita tidak menolong orang itupun mereka sama saja
tak akan melepaskan kita orang.”
“Perkataan dari Jie-ya memang
tidak salah, agaknya urusan makin lama berubah semakin merepotkan,
hamba segera akan perintahkan mereka untuk banyak bikin persiapan.”
Ia merandek sejenak.
“Walaupun keadaan pihak musuh jauh
lebih kuat, paling banterpun kita harus bertempur sampai mati,
justru persoalannya sekarang terletak pada diri keluarga Liauw.
Heee……! Sekarang, hamba malah sebaliknya sangat mengharapkan nona
Liauw benar-benar seorang gadis yang memiliki rangkaian ilmu silat
lihay.”
“Kalau rejeki bukan bencana, kalau
bencana tak akan terhindar, sampai waktunya aku kepingin sekali agar
mereka suka memberi sedikit keterangan tentang maksud kedatangannya,
setelah itu kita lakukan suatu pertarungan sepuas-puasnya, daripada
harus merasakan kemasgulan, kemurungan serta kesumpekan sebanyak
ini, jauh lebih baik semuanya berlalu dengan blak-blakan.”
“Jie-ya, maafkan hamba akan bicara
terus terang. Kemungkinan sekali Cong Piaut tauw sudah mulai
melakukan perjalanan, dengan kecepatan lari kudanya, mungkin dalam
beberapa hari ini akan tiba di sini, sekarang kita harus berusaha
keras menahan siksaan serta kepahitan getir untuk mengesampingkan
semua persoalan yang tak berguna, kita harus mencari akal untuk
bertahan hingga kedatangan Cong Piauw-tauw kita.”
“Perkataanmu tidak salah, pergilah
melakukan persiapan.” Phoa Hu Cong Piauw-tauw mengangguk.
Agaknya secara tiba-tiba ia sudah
teringat akan suatu persoalan yang penting, sembari mengelus jenggot
sambungnya lagi.
“Su Jan, aku sudah teringat akan
suatu persoalan!.”
Nyoo Su Jan yang sudah putar badan
dan melangkah keluar mendengar perkataan itu lantas berhenti dan
berpaling.
“Jie-ya, kau masih ada urusan apa
yang hendak diperintahkan??”
“Toa-hauw memiliki kekuatan alam
luar biasa, hanya jurus-jurus ilmu silatnya kurang sempurna, setelah
menemui jago lihay kadangkala hanya dalam tiga lima jurus kena
didesak bergebrak jarak dekat kemudian tertotok jalan darahnya. Bila
kita hendak bertahan seharusnya kau aturkan penjagaan sedemikian
rupa sehingga Toa Hauw bisa unjukkan sedikit kegagahannya.”
Ia tarik napas panjang panjang dan
beristirahat sebentar.
“Jikalau kita bisa lewatkan
hadangan ini akan memohonkan kepada COng Piauw-tauw untuk carikan
satu akal menyempurnakan diri Toa Hauw, menambah kecerdikannya dan
wariskan beberapa rangkaian ilmu silat yang sesuai bagi dirinya.”
“Perkataan dari Jie-ya sedikitpun
tidak salah, soal ini sudah lama kita rundingkan, dan akhirnya
berhasil kami dapatkan satu cara, cuma cara ini harus bekerja sama
pula dengan Jie-ya kau orang tua.”
“Harus bekerja sama dengan
diriku?”
“Tidak salah. Gelang terbang dari
Jie-ya beserta du alat bandring otomatis dan empat busur panjang
yang keras bisa kita gunakan berbareng, sekalipun kita jumpai
seorang jago lihay kelas wahidpun hamba percaya masih bisa
menghadapinya, cuma………..”
“Su Jan, teruskan kata katamu,
tidak mengapa!” seru Phoa Ceng Yan tertawa.
“Jie-ya harus bisa menahan hina,
makian serta hasutan musuh, kita jangan gubris makian serta
tantangan mereka”.
“Baik! Akan kudengarkan siasatmu
itu.”
“Hamba sudah periksa situasi di
sekitar sini, jikalau kita akan bertahan di dalam kuil ini maka
ruang tengah harus kita jadikan titik pusat, soal keluarga Liauw
sana terpaksa hamba harus merepotkan Jie-ya untuk bikin takluk dulu
Liauw Thayjien.”
“Heeeei…..! Jikalau kau suruh aku
bicarakan lagi tentang sesuatu dengan mereka sebenarnya Loohu sudah
malu untuk buka suara, bagaimana kalau titik pusat penjagaan dari
ruang tengah kita pindahkan ke ruang yang mereka tempati saja?”
“Hamba serta Giok Liong sudah
bikin perhitungan yang cermat, kami merasa bahwa ruangan itu tidak
kuat……”
Ia merandek sejenak, lalu
tambahnya.
“Hamba sudah gunakan papan serta
kulit pohon untuk membangun sebuah ruang kecil di dalam ruangan
tengah, rasanya ruangan tersebut cukup digunakan sebagai tempat
persembunyian beberapa orang keluarga Liauw! Apalagi tempat itupun
jauh lebih aman daripada ruangan sekarang.”
Beberapa patah perkataan ini
sengaja diucapkan dengan suara keras, sehingga para pembantu
Piauw-kiok yang meronda di luar pintu besar pun dapat mendengar
perkataan itu jelas.
Selagi Phoa Ceng Yan bersiap
hendak memberi jawaban, tiba-tiba Liauw Thayjien munculkan dirinya
dari balik ruangan.
“Phoa-ya, kau tidak perlu bersedih
hati!” serunya seraya ulapkan tangannya. “Urusan sudah jadi begini,
terpaksa kau harus berbuat sesuai dengan perintah dari Nyoo Su Jan
Piauw-tauw.”
“Thay-jien, kau terlalu sungkan”
buru-buru Nyoo Su Jan menjura. “Di dalam keadaan dan situasi macam
begini terpaksa kita harus saling percaya mempercayai dan saling
bantu membantu, dengan demikian hadangan bahaya ini baru bisa kita
lalui.”
“Aku paham, entah kapan kami harus
pindah!” potong Liauw Thayjien tertawa hambar.
“Lebih baik sekarang juga pindah
kemari! Bilamana kedatangan mereka adalah benar-benar dikarenakan
kita orang, rasanya sebentar lagi orang-orang itu pasti sudah tiba
di sini, bahkan ada kemungkinan besar malam nanti bakal terjadi
suatu perubahan besar…..”
“Baiklah, sekarang juga cayhe akan
suruh merekap pindah masuk ke ruang tengah.”
“Su Jan! Tidak bisa salahkan orang
lain merasa tidak senang” sela Phoa Ceng Yan seraya tertawa hambar
menanti Liauw Thayjien telah berlalu. “Orang lain adalah buang uang
meminta kita jadi pengawalnya, bukannya kami yang menurut perintah
sekarang merekalah yang setiap langkah harus mendengar petunjuk kita
orang.”
“Keadaan kritis dan tidak
mengijinkan kita banyak berpikir panjang, rasanya kejadian inipun
merupakan suatu peristiwa yang tidak terhindarkan.”
Ia merandek sejenak, lalu
sambungnya.
“Jie-ya, kau harus baik-baik
beristirahat sebelum Cong Piauw-tauw tiba di sini maka semua urusan
masih harus andalkan kepandaian Jie-ya.
Selesai berkata, Nyoo Su Jan
lantas berlalu untuk adakan persiapan persiapan seperlunya.
Liauw Thayjien dengan membimbing
Liauw Hujien serta nona Liauw pindah masuk ruang tengah kuil.
Sedikitpun tidak salah, Nyoo Su
Jan sekalian sejak semula sudah persiapkan sebuah rumah kecil yang
sangat kuat dan tertutup di tengah ruang kecil itu ditutup oleh
papan serta kulit pohon yang tebal dan kokohnya luar biasa di bawah
jendela bertumpukan batu batu cadas dalam jumlah yang sangat banyak.
Jelas membuktikan bila Phoa Ceng
Yan sekalian sudah bulatkan tekad untuk bertahan mati-matian di
dalam kuil tersebut dengan titik pusat di dalam ruang tengah tadi.
Cuaca makin lama semakin gelap,
suasana di sekeliling tempat itupun mulai kelihatan samar-samar,
rasa tegang mulai mencekam hati setiap orang semua.
Ketika itu salju sudah berhenti,
awan gelap mulai buyar dan muncullah langit nan biri dengan separuh
bagian rembulan memancarkan cahayanya menyinari permukaan jagat yang
putih menyilaukan mata.
Dalam kuil sudah disulut lampu,
suasana empat penjuru sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun
kecuali ringkikan-ringkikan kuda yang menambah keseraman di tengah
malam yang bening itu.
Kurang lebih mendekati kentongan
kedua di luar kuil tiba-tiba muncul empat sosok bayangan manusia,
suara berdetaknya kaku kuda berlari di atas permukaan salju
kedengaran sangat jelas.
Phoa Ceng Yan yang bersembunyi di
tempat kegelapan di balik pintu besar kuil dengan meminjam cahaya
rembulan dapat melihat pemandangan di luar kuil dengan sangat jelas.
Di lihatnya empat sosok bayangan
manusia menghentikan larinya kuda pada kurang lebih sepuluh kaki di
luar kuil dan sama-sama meloncar turun ke ats permukaan tanah.
Agaknya keempat orang itu sama
sekali tiada mengandung maksud hendak melancarkan serangan bokongan,
setelah menyerahkan keempat ekor kuda itu pada seorang, sisanya tiga
orang dengan langkah lebar berjalan ke arah kuil.
Melihat kejadian itu Phoa Ceng Yan
lantas berpaling dan memandang sekejap ke arah Nyoo Su Jan.
“Agaknya mereka siap-siap
menantang kita untuk bergerak “ bisiknya lirih.
“Jika memang begitu, pasti mereka
adalah jago-jago kenamaan.”
Gerakan tubuh ketiga orang itu
sangat cepat, di dalam sekejap mata sudah berada kurang lebih tiga
kaki di luar kuil.
Pihak lawan tidak buka suara untuk
menantang perang, sedang dari pihak Phoa Ceng Yan pun tidak
kedengaran suara bentakan maupun teguran, mereka hanya memandang
orang-orang itu dengan pandangan dingin.
Menanti ketiga orang itu sudah
mencapai tiga kaki dari kuil mendadak bersama-sama menghentikan
langkahnya, salah seorang diantaranya seorang kakek tua berjubah
panjang warna hijau dengan jenggot melambai sepanjang dada maju ke
depan seraya menjura, katanya.
“Siapakah yang sedang bertugas?
Harap suka laporkan kepada si telapak besi gelang emas Phoa Hu Cong
Piauw-tauw dari perusahaan kalian, katakan saja si Dewa Api Ban Cau
malam-malam datang berkunjung.”
Selagi Phoa Ceng Yan siap-siap
hendak memberi jawaban, Nyoo Su Jan yang ada disisinya sudah keburu
menyahut.
“Oooooouw……..! Kiranya Ban
Loo-yacu yang namanya sangat terkenal di dalam Bu Lim, cayhe aturkan
selamat datang! Maaf kami menyambut kurang hormat.”
Sembari menjawab, lambat-lambat ia
berjalan keluar dari tempat persembunyian.
Ban Cau dongakkan kepala memandang
sekejap ke arah Nyoo Su Jan.
“Maaf, Loohu punya mata tak
berbiji, tidak berhasil kukenali sebutan dari kawan.”
“Cayhe Nyoo Su Jan! Ban Loo-yacu
adalah cianpwee loojien, sudah tentu tak akan mengenali aku orang
she Nyoo yang sama sekali tak bernama di dalam dunia persilatan,”
kata Nyoo Su Jan seraya menjura.
Ban Cau mendengus dingin.
“Kau tidak usah meluncurkan
sindiran dalam kata-katamu, sana beritahu kepada Phoa Ceng Yan, coba
lihat maukah dia orang menemui aku sebagai si tetamu.”
Phoa Ceng Yan yang bersembunyi di
belakang pintu dapat mendengar jelas semua perkataan dari kedua
orang itu, tapi berhubung belum mendapat tanda dari Nyoo Su Jan maka
ia merasa kurang leluasa untuk unjukkan diri.
Terdengar Nyoo Su Jan kembali
berkata, “Bilamana dibicarakan dari nama serta kedudukan Ban
Loo-yacu saat ini sudah tentu seharusnya Phoa Hu Cong Piauw-tauw
dari perusahaan kami munculkan diri untuk menemui tamu, cuma
saja…..”
Ban Cau ulapkan tangannya memotong
pembicaraan selanjutnya dari Nyoo Su Jan, sahutnya.
“Kau tidak usah bukakan pintu buat
aku orang, Loohu malam-malam datang berkunjung bukannya dikarenakan
ingin mengikat persahabatan, jika kau tidak ingin sampaikan berita
ini jangan salahkan Loohu segera akan terjang masuk ke dalam.”
Melihat Nyoo Su Jan terdesak dan
sulit untuk memberi jawaban lagi, Phoa Ceng Yan batuk0batuk kering
sambil melangkah keluar dari tempat persembunyian.
“Siapa yang datang mencari aku
orang she Phoa.”
Seraya menyahut lambat-lambat ia
munculkan dirinya dan berjalan keluar ke pintu kuil, melihat
munculnya Phoa Hu Cong Piauw-tauw ini, Ban Cau segera merangkap
tangannya menjura, “Si telapak besi gelang emas Phoa Jie-ya, di sini
Ban Cau menghunjuk hormat.”
Buru-buru Phoa Ceng Yan balas
menjura.
“Tidak berani…..tidak berani,
cayhe tidak berani menerima penghormatan besar dari Ban Toa-ya.”
Si Dewa Api Ban Cau tertawa
hambar.
“Selama beberapa tahun ini
siauw-tee bersembunyi terus di gunung dan jarang berkelana di dalam
dunia persilatan, tapi aku dengar nama besar dari perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok kalian beserta kedashyatan dari gelang terbang
pencabut nyawa dari Phoa Jie-ya, katanya kau sudah berhasil
mkendesak kawan-kawan Liok-lim di daerah utara sampai tak bisa
berkutik.”
Phoa Ceng Yan mendengus dingin
sahutnya.
“Jikalau kedatangan Ban Heng pada
malam ini dikarenakan soal kawan-kawan di sekitar daerah Utara, maka
aku orang she Phoa dengan suka hati akan menyampaikan pendapat dari
Ban heng ini kepada Cong Piauw-tauw kami, aku rassa Cong Piauw-tauw
tentu akan memberikan satu jawaban yang memuaskan hati Ban Heng, aku
orang she Phoa hanya menjabat kedudukan kecil, di atas masih ada
COng Piauw-tauw dan maaf aku orang tak bisa ambil keputusan
sendiri…..”
“Haaaa……….haaa…………..haaaa……..kalau
begitu Phoa heng hanya bisa berbuat apa saja?” potong Ban Cau
sembari dongakkan kepalanya tertawa tergelak.
Melihat kejadian itu, diam-diam di
dalam hati Phoa Ceng Yan berpikir.
“Bila aku ulur sedikit waktu lagi
berarti memberi kesempatan pada mereka untuk mengadakan persiapan
lebih teliti, jikalau ia tidak suka memberi muka kepadaku, akupun
tidak usah menggunakan kata-kata untuk menyanjung dirinya lagi.”
Berpikir akan hal tersebut, ia
lantas menyahut.
“Pertanyaan dari Ban-heng
betul-betul membuat Siauw-te jadi tidak paham, di bawah kolong
langit tak ada orang kedua. Di dalam rumah tak ada dua majikan, di
dalam perusahaan pengawal barang-barang kita punya peraturan kami
sendiri aku orang she Phoa tidak ingin bicara terlalu besar……”
“Heee…..heee……heee…… di dalam
persoalan barang walaupun kali ini, apakah kau Phoa Jie-ya bisa
ambil keputusan,” kembali potong Ban Cau diiringi suara tertawa
dingin.
Phoa Ceng Yan segera tertawa
terbahak-bahak.
“Ooouw.. jika demikian adanya,
tujuan Ban-heng pun terletak pada barang-barang kawalan kami?”
“Barang kawalan dari perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok selamanya tak ada yang berani mengutak-ngatik,
dalam hati siauw-tee merasa tidak puas, kami ingin coba-coba menahan
barang kawalan dari perusahaan kalian kali ini.”
“Mau merampok katakan saja terus
terang mau merampok, seorang lelaki sejati selamanya bicara
blak-blakan, cara Ban-heng belak-belok tak menentu apakah tidak
berarti membuang tenaga terlalu banyak?”
Disindir oleh Phoa Ceng Yan, air
muka Ban Cau kontan berubah jadi merah padam, serunya gusar.
“Kalau begitu anggap saja aku
orang she ban ada maksud merampok barang kawalan kalian, kau
Phoa-heng bersiap-siap hendak berbuat apa?”
“Siauw-tee berani mengawal barang
sudah tentu tidak bakal takut menghadapi mereka-mereka yang ada
maksud merampok barang kawalan kami, jikalau Ban-heng punya
kesadaran tunggulah sebentar, setelah kami bereskan dulu orang-orang
piauw-kiok kami, rasanya turun tangan kemudian pun belum
terlambat…..”
“Ban-heng, kau baik-baik jaga
diri, maaf siauw-tee tak bisa menemui lebih lanjut,” sambungnya
kemudian sambil ulapkan tangannya.
Dengan sinar mata tetap melototi
diri Ban Cau, si orang tua ini lambat-lambat mengundurkan diri ke
dalam ruangan kuil.
Ban Cau adalah seorang manusia
yang licik dan banyak akal, sebenarnya maksud kedatangannya di sini
adalah ingin mencari tahu beberapa persoalan dari mulut Phoa Ceng
Yan.
Siapa sangka Phoa Ceng Yan jauh
lebih lihay daripadanya, hanya di dalam beberapa patah kata saja ia
berhasil menyelamuri diri Ban Cau sehingga lupa dengan maksud
kedatangannya.
Menanti Phoa Ceng Yan sudah balik
ke dalam ruangan kuil, Ban Cau baru teringat kembali akan maksud
kedatangannya adalah ingin mencari sedikit keterangan, tapi kini tak
sedikit keteranganpun yang berhasil ia dapatkan.
Senjata rahasia gelang emas dari
Phoa Ceng Yan sudah amat terkenal di dalam dunia kangouw. Si Dewa
api Ban Cau tidak berani bersikap terlalu gegabah, melihat Phoa Ceng
Yan mundur ke belakang.
Selama ini Nyoo Su Jan terus
menerus bersembunyi di tempat kegelapan di balik pintu, ketika
dilihatnya Ban Cau dengan membawa anak buahnya mengundurkan diri,
dalam hati jadi keheranan.
(Bersambung Jilid ke 10)
Jilid 10
Si Dewa Api merupakan seorang
iblis kenamaan di dalam kalangan Liok-lim, kenapa mereka
mengundurkan diri sebelum berhasil mencapai pada sasarannya??”
Phoa Ceng Yan yang melihat
kejadian inipun rada keheranan dibuatnya.
“Su Jan, mereka mengundurkan
diri??” bisiknya lirih.
“Mungkin waktu yang mereka
janjikan untuk turun tangan belum tiba, dan sekarang mereka
mengundurkan diri terlebih dulu sambil menunggu waktu.”
“Dengan watak si Dewa Api Ban Cau
yang licik dan banyak pengalaman sebelum punya pegangan kuat, ia tak
akan berani datang kemari untuk menempuh bahaya,” kata Phoa Ceng Yan
setelah termenung sejenak. “Kini mereka sudah datang bahkan ajak aku
bicara secara berhadapan muka, tak mungkin ia suka mengundurkan diri
sedemikian mudah, paling tidak ia akan tunjukkan dulu dua-tiga macam
senjata apinya sebagai tameng dalam pengunduran diri tersebut.”
“Perkataan Jie-ya tidak salah,”
Nyoo Su Jan mengangguk. “Di antara persoalan ini pasti sudah ada
perubahan, tetapi perubahan apakah tang telah terjadi sehingga bisa
membuat si iblis tua itu berubah pendapat menjelang saat-saat kritis
dan mengundurkan diri??”
“Mungkinkah mereka sedang gunakan
siasat licik untuk menipu kita?” seru Phoa Ceng Yan tiba-tiba.
“Sengaja mereka munculkan diri kemudian mengundurkan diri, setelah
itu mengambil kesempatan sewaktu penjagaan kita sedikit mengendor,
secara diam-diam mereka menyelundup masuk ke dalam kuil…..”
Belum sempat Nyoo Su Jan
memberikan jawabannya, mendadak nampaklah Lie Giok Liong berlari
masuk dengan langkah cepat.
“Giok Liong, bukannya berjaga-jaga
di posmu, buat apa lari kemari dengan gugup dan gelagapan?” tegur
Phoa Ceng Yan sang Hu Cing Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok dengan alis berkerut.
“Jie-siok! Siauw-tit telah menemui
suatu kejadian yang mengherankan, karena itu sengaja datang minta
pendapat dari paman Jie-siok!” lapor Lie Giok Liong seraya menjura.
“Ada Urusan apa??”
“Sewaktu Siauw-tit berjaga-jaga di
pos penjagaan mendadak menemukan empat sosok bayangan manusia dengan
gerakan menyelinap mendekati kuil kita…..”
“Kalian sudah tahu ada orang
hendak menyelinap masuk ke dalam kuil, kenapa kau orang malah
meninggalkan pos penjagaan, jangan bergurau!”
“Paman Jie-siok, Siauw-tit belum
selesai menceritakan keadaan selanjutnya.”
“Baiklah! Kau teruskan lebih
lanjut.”
“Keempat sosok bayangan manusia
itu sewaktu tiba kurang lebih tiga kaki di luar tembok kuil,
mendadak salah satu di antaranya tanpa sebab mendadak jatuh
tertelungkup seperti menubruk katak.”
“Aaaakh! Kemudian??” Phoa Ceng Yan
berseru tertahan.
“Justeru keistemewaannya terletak
di sini, baru saja orang yang jatuh itu bangun berdiri, orang yang
berada di sampingnya mendadak jatuh rubuh ke atas tanah, empat orang
itu jatuh ke atas tanah saling bergilir, ketika orang terakhir
berhasil meronta bangun dari tanah, maka mereka berlalu
terbirit-birit tanpa menoleh lagi, karena siauw-tit tidak paham di
manakah letak keistemewaan dari persoalan ini, maka sengaja datang
kemari untuk laporkan urusan ini pada paman Jie-siok.”
Sembari mengelus jenggotnya Phoa
Ceng Yan termenung berpikir keras, beberapa saat kemudia ia baru
berkata, “Soal ini…..soal ini….. benar-benar membuat orang merasa
sedikit tidak paham.”
“Jie-ya, mungkinkah ada jagoan
lihay yang membantu kita secara diam-diam?” timbrung Nyoo Su Jan
dari samping.
“Nona Liauw………”
“Apa yang berhasil Giok Liong
lihat serta mengundurkan diri si Dewa Api Ban Cau secara mendadak,
tidak mungkin kalau tak ada sebab-sebabnya……”
“Kalau begitu, biarlah aku pergi
tengok diri Liauw Thayjien.”
Habis berkata orang tua she Phoa
ini bangun dan melangkah menuju ruangan tengah.
“Cepat kembali dan berjaga-jaga di
tempat semula.” bisik Nyoo Su Jan kemudian kepada diri Lie Giok
Liong sepeninggal Phoa Ceng Yan. “Peristiwa yang terjadi pada malam
ini rada sedikit kabur, sungguh membuat orang jadi kebingungan,
sekalipun jelas ada jago lihay yang secara diam-diam membantu kita
dengan gunakan kepandaian lihaynya mengundurkan musuh tangguh, tapi
kitapun jangan terlalu bersikap gegabah,”
Perlahan-lahan Lie Giok Liong
menghela napas panjang.
“Cahaya rembulan menyinari
permukaan salju dengan terangnya, pemandangan di sekitar beberapa
kaki dari pos penjagaanku dapat dilihat dengan jelas, tapi ……….
kecuali keempat orang itu jatuh bangun dipermainkan orang belum
pernah kutemukan lagi bayangan manusia yang lain, jika benar-benar
ada orang yang membantu kita secara diam-diam maka kepandaian silat
dari orang itu betul-betul luar biasa lihaynya.”
“Bila kepandaian silat dari orang
itu biasa saja, rasanya iapun tak bakal bisa kejutkan musuh tangguh
sehingga melarikan diri terbirit-birit.”
“Heee……….. apalagi jika jago lihay
itu adalah nona Liauw, kita seharusnya merasa sangat malu.”
“Sedikitpun tidak salah! Orang
lain hamburkan uang minta kita mengawal keselamatan mereka sepanjang
jalan, tidak disangka sewaktu kita hadapi persoalan yang kritis
sebaliknya orang lain yang melindungi keselamatan kita.”
“Aku mau pergi” kata Lie Giok
Liong kemudian seraya menjura. “Jikalau paman Jie-siok menemukan
sesuatu harap dia orang suka cepat-cepat beri kabar kepadaku.”
“Kenapa? Agaknya terhadap
persoalan ini kaupun sudah timbul perasaan ingin tahu?”
“Kepandaian silat seseorang
ternyata bisa dilatih hingga tahap mengundurkan musuh tangguh tanpa
perlihatkan sedikit jejak, kejadian ini benar-benar susah dipercaya
dengan pikiran manusia, cayhe kepingin sekali bisa bertemu dengan
manusia macam begini.”
Ia merandek sejenak, setelah tukar
napas sambungnya.
“Terus terang saja aku beritahu
pada Nyoo-heng, sejak Lam Thian Sam Sah mengundurkan diri secara
misterius, selama ini siauw-te terus menerus memperhatikan segala
gerak-gerik dari kereta yang ditumpangi nona Liauw”.
“Lalu apakah Lie-heng sudah pernah
menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan ataupun istimewa?”
“Belum, selama ini cayhe belum
berhasil menemukan suatu tanda-tanda yang aneh ataupun
mencurigakan.”
“Jie-ya sudah pergi tanyakan
persoalan ini pada Liauw Thayjien, jikalau jago lihay yang barusan
saja bantu kita mengundurkan musuh tangguh ini adalah hasil
perbuatan nona Liauw, rasanya kali ini ia pasti berhasil menemukan
tanda-tanda tersebut.”
“Mengapa?”
“Di dalam ruang tengah cuma
terdapat sebuah jalan keluar saja, peduli nona Liauw memiliki
kepandaian silat seberapa lihaypun tidak mungkin dia orang bisa
masuk keluar dengan menembusi dinding……”
Ia rada merandek sejenak, lantas
tambahnya.
“Musuh tangguh telah mengundurkan
diri, untuk beberapa saat tak mungkin bisa balik kemari, bagaimana
kalau kitapun pergi ke ruang tengah untuk melihat-lihat keadaan?”
“Meninggalkan tugas pos penjagaan,
aku takut paman jie-siok akan menegur?”
“Sekalipun kita pergi menengok
sejenak rasanya tak akan buang banyak waktu………”
“Baiklah!” akhirnya Lie Giok Liong
setuju. “Nyoo Piauw-tauw selama ini mendapat penghargaan dari paman
Jie-siok, asalkan kau berjalan di depan rasanya paman Jie-siok tak
akan menegur.”
Nyoo Su Jan tersenyum, setelah ia
serahkan tugas pos penjagaan mereka kepada dua orang pembantu
piauw-kiok, katanya.
“Kalian baik-baiklah berjaga di
pintu besar, bilamana menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan
berusahalah secepat mungkin sampaikan berita itu ke dalam ruangan
tengah.”
“Nyoo-ya harap berlega hati” sahut
kedua orang pembantu piauw-kiok itu seraya menjura.
Kemudian Nyoo Su Jan baru
berpaling dan memandang sekejap ke arah Lie Giok Liong.
“Mari kita pergi”
Dengan langkah lambat ia berjalan
ke depan.
Lie Giok Liong dengan cepat
menguntil dari belakang Piauw-tauw she Nyoo ini menuju ke dalam
ruangan.
Ketika kedua orang itu mendekati
ruangan, pada waktu itu Phoa Ceng Yan sedang bercakap-cakap dengan
Liauw Thayjien.
Terdengar Phoa Ceng Yan dengan
suara lirih sedang berkata.
“Putri kasayanganmu apakah masih
ada di dalam ruangan?”
“Sejak Siauw-li masuk ke dalam
ruangan tengah, hingga kini belum pernah meninggalkan tempat ini
barang selangkahpun,” sahut Liauw Thayjien perlahan.
“Apakah Thayjien yakin tidak salah
melihat?”
“Tidak salah. He-koan tahu
siauw-li belum pernah meninggalkan ruang kecil ini barang
selangkahpun.”
“Dapatkah Thayjien masuk sejenak
untuk memeriksa sendiri???”
Liauw Thayjien tampak termenung,
akhirnya ia manggut.
“Baiklah! He-koan akan periksa
sebentar ke dalam!”
Ia lantas bangun berdiri dan
melangkah masuk ke dalam ruang kecil di tengah ruang besar kuil
tersebut.
Sesaat kemudian ia sudah melangkah
ke luar.
“Siauw-li sudah tidur pulas!”
“Apa? putrimu sudah tertidur
nyenyak?” Phoa Ceng Yan jadi tertegun dibuatnya.
“He-koan melihat hal tersebut
dengan mata kepala sendiri dan siauw-li betul-betul sudah tertidur
pulas, apakah aku masih bisa menipu kalian?”
“Oouw…….oouw…… sudah tentu
Thayjien tak bakal berbicara bohong.”
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! He-koan
ada beberapa patah kata bila tak kuucapkan keluar rasanya mengganjel
di tenggorokan.”
“Silahkan Thayjien mengutarakan
keluar.”
“Aku sudah banyak menuruti kemauan
kalian semua, tapi lebih baik kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw sedikit
tau keadaan, masa di tengah malam buta kau paksa aku yang jadi ayah
pergi tengok putriku sendiri, walaupun keadaan tidak sama dengan
waktu waktu biasa, tapi kejadian ini telah melanggar tata
kesopanan……..”
Phoa Ceng Yan terbatuk batuk
kering, buru-buru ia rangkap tangannya menjura.
“Teguran dari Thayjien memang
tepat!” sahutnya perlahan. “Kebanyakan keluarga pembesar paling
ketat menjaga peraturan rumah tangga, tapi keadaan kita hadapi saat
ini jauh berbeda dengan keadaan biasa, sedikit teledor kemungkinan
besar kita akan kehilangan nyawa bersama-sama, oleh karena itu di
banyak tempat terpaksa aku orang she Phoa harus mendapatkan bukti
dengan sangat berhati-hati.”
Setelah mendengar perkataan itu
hawa gusar dalam dada Liauw Thayjien pun rada reda.
“Agaknya suatu peristiwa besar
kembali terjadi pada malam ini?”
“Tidak salah, walaupun Thayjien
harus tidur di pojokan kuil yang sempit dan banyak menderita siksaan
lahir maupun bathin, tapi orang-orang perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok dari kedudukan teratas aku orang she Phoa hingga bagian
bawah para pembantu piauw-kiok yang terluka semuanya berjaga di atas
tanah lapang bersalju yang sangat dingin, kita sudah salurkan
seluruh kekuatan yang kita miliki untuk melindungi keselamatan dari
Thayjien sekeluarga.”
Liauw Thayjien menghela napas
panjang.
“Sebenarnya kalianpun sudah cukup
menderita…….cuma, apa sangkut pautnya urusan itu dengan diri
Siauw-li??”
“Liauw Thayjien! Terus terang saja
kukatakan barusan ada beberapa kelompok jago-jago Liok-lim dengan
mengambil arah yang berlainan sama-sama menyerang kuil kita, tapi
sewaktu mereka mendekati kuil secara mendadak mengundurkan diri
kembali dengan terbirit birit?”
“Ooouw………….. ada urusan demikian?”
“Tidak salah, justeru disinilah
letak rasa curiga di hati cayhe, setelah aku pikir bolak balik
akhirnya berhasil kamu dapatkan dua kesimpulan.”
“Dan apa hubungannya dengan
Siauw-li”
“Pertama ada seorang jago lihay
yang memiliki kepandaian silat dashyat bersembunyi di sekitar tempat
ini dan bantu kita mengundurkan para penjahat. Kedua, mereka sengaja
menjalankan siasat licik untuk mencoba-coba kekuatan kita apa
benar-benar mengandalkan persiapan. Kita jangan bicarakan kesimpulan
yang kedua, jikalau semisalnya benar-benar ada seorang jago lihay
yang membantu kita, lalu siapakah orang itu? Inilah yang membuat
kami harus berpikir dan menduga-duga .”
“Maka dari itu kalian lantas
mencurigai Siauw-li?” sambung Liauw Thayjien cepat.
“Lam Thian Sam Sah setelah membuka
horden kereta putrimu buru-buru mengundurkan diri terbirit-birit,
Hoa-Hoa Kongcu menerjang masuk ke dalam ruang tidur putrimu dan
akhirnya mengundurkan diri serta menghadiahkan obat mujarab,
sebegitu banyak hal-hal yang mencurigakan benar-benar membuat orang
merasa tidak paham di manakah letaknya alasan-alasan tersebut! Bila
kau Liauw Thayjien berkedudukan seperti aku Phoa Ceng Yan sekarang
ini, maka apa yang hendak kau lakukan?”
Sekali lagi Liauw Thayjien
menghela napas panjang.
“Perkataanmu memang betul,
kejadian ini memang tak bisa salahkan kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw.”
“Thayjien bisa memahami kesusahan
aku orang she Phoa, dengan demikian aku orang she Phoa pun bisa
berlega hati. “ segera Phoa Ceng Yan merangkap tangannya menjura.
“Baiklah!” kembali Liauw Thayjien
berbatuk-batuk kering. “Besok pagi, setelah semangat Siauw-li
sedikit baikan, kau Phoa Hu COng Piauw-tauw boleh bercakap-cakap
dengan dirinya, aku rasa di balik kesemuanya ini memang benar-benar
masih tersembunyi suatu rahasia..”
“Tia! Aku sudah bangun ……”
tiba-tiba terdengar suara seseorang yang lemah lembut memotong
pembicaraan.
Ketika Phoa Ceng Yan berpaling,
dilihatnya nona Liauw dengan rambut panjang terurai di pundak
melangkah keluar dari balik ruang kecil itu lambat-lambat.
“Malam sudah kelam, hawa diluarpun
dingin, cepat pergi beristirahat, ada perkataan kita bicarakan besok
hari saja” buru-buru Liauw Thayjien menegur seraya mendehem.
Liauw Wan Jie tersenyum manis.
“Selama dua hari ini secara
mendadak aku merasa badanku jauh lebih baikan, bahkan semangatpun
sudah pulih kembali. Tia! Kau tidak usah kuatir buat diriku lagi.”
“Apakah setelah menelan pil
mujarab pemberian Hoa Hoa Kongcu…….” sela Phoa Ceng Yan dari
samping.
“Ehm! Tidak salah, sejak menelan
pil pemberiannya, aku merasa penyakitku rada baikan……..”
Gadis she Liauw ini merandek
sejenak, lantas tambahnya.
“Bukankah kalian sangat mencurigai
diriku?”
“Berhubung banyak urusan
berlangsung sangat bertepatan waktu, mau tak mau terpaksa kami harus
mencurigai diri nona” Phoa Ceng Yan membenarkan.
“Sekarang aku berdiri di sini, ada
persoalan apa silahkan ditanyakan semua.”
Phoa Ceng Yan termenung sejenak,
akhirnya ia rangkap tangannya menjura.
“Nona memiliki kepandaian silat
yang lihay bahkan berulang kali membantu kami mengundurkan
musuh-musuh tangguh, bukan saja cayhe merasa sangat berterima kasih,
sekalipun Cong Piauw-tauw kamipun ikut merasa kagum bercampur
girang.”
“Apa maksud perkataanmu itu?”
Liauw Wan Jie segera menggeleng. “Badanku lemah tak bertenaga, untuk
turun tangan menyembelih seekor ayam pun tak becus, mana mungkin
bisa memiliki kepandaian silat.”
“Walaupun manusia pandai tidak
suka unjukkan muka, tapi jejak dari nona sudah bocor dan diketahui
banyak orang, agaknya tiada berguna kau orang berbohong lagi.”
“Setiap perkataan yang kuucapkan
adalah kata-kata sejujurnya, jika kau tak percaya itupun merupakan
suatu kejadian yang tidak bisa dibuktikan lagi.”
Phoa Ceng Yan jadi melengak.
“Cayhe sama sekali tidak bermaksud
untuk menciptakan kesalah-pahaman dengan diri nona…..”
“Perduli kau ada maksud menganggap
soal ini kesalah-pahaman atau tidak, yang jelas apa yang aku ucapkan
adalah kata-kata sejujurnya.” potong Liauw Wan Jie cepat. “Aku tidak
bisa ilmu silat, jangan dikata orang yang bisa ilmu silat sekalipun
orang biasapun cukup sekali tinju bisa membinasakan diriku.”
“Ada kalanya cayhepun merasa bahwa
nona tidak mirip dengan seorang yang pandai bersilat.”
“Kalau memang sudah melihat betul,
kenapa kau ubah kembali pendapatmu itu?”
“Karena cayhe tidak berhasil
menjelaskan persoalan-persoalan yang terjadi secara beruntun dan
kebetulan itu secara tepat! Oleh sebab itu cayhe merasa di balik
kesemuanya ini tentu masih ada sebab-sebab lain.”
Nona Liauw menghela napas panjang.
“Aku berharap kalian bisa
mempercayai perkataanku.”
“Mana berani kami tidak
mempercayai perkataan nona, cuma cayhe sangat berharap nona suka
menceritakan semua rahasia di balik kesemuanya ini, semisalnya nona
merasa jalan inipun susah ditempuh, maka kami berharap nona suka
membuka suatu jalan yang rasanya bisa kita lampaui.”
“Heeeeeiii! Tindakan kalian ini
bukankah sama dengan bertanya jalan dengan orang buta? Kau suruh aku
berbuat apa, bagaimana aku bisa tahu??”
Dalam hati Phoa Ceng Yan tahu
sekalipun ditanyakan lebih lanjut tak berguna, karena itu ia lantas
alihkan bahan pembicaraan.
“Nona, silahkan kau kembali untuk
beristirahat.”
“Pada malam ini semangatku luar
biasa segar, lebih baik kau tumpahkan keluar seluruh kecurigaan yang
mencekam di dalam dadamu.”
“Baiklah,” kata Phoa Ceng Yan
kemudian setelah ragu-ragu sejenak. “Kenapa sewaktu Hoa Hoa Kongcu
menerjang masuk ke dalam ruangan tidur nona bukan saja ia tidak
melukai dirimu bahkan menghadiahkan obat yang sangat mujarab?”
“Liauw Wan Jie termenung tidak
bicara, agaknya ia sedang berpikir cermat sebelum menjawab.
“Bocah, kau harus bicara terus
terang,” sela Liauw Thayjien dari samping.
“Bicara sejujurnya, aku sendiripun
kurang begitu paham mengapa ia hadiahkan sebutir obat mujarab
kepadaku,” kata Liauw Wan Jie seraya mengangguk. “Tapi aku jelas
mengetahui bahwa diapun tidak punya alasan yang kuat untuk
mencelakai diriku.”
“Jikalau perkataan yang nona
ucapkan adalah sejujurnya, maka rasanya baik Hoa Hoa Kongcu maupun
Lam Thian Sam Sah tiada alasan untuk datang kemari.”
“Tidak salah, tapi mereka pada
berdatangan lalu dikarenakan apa ….”
Phoa Ceng Yan tertegun, kemudian
tertawa getir.
“Karena apa? Pertanyaan dari nona
sangat bagus! Hingga sekarang aku orang she Phoa pun masih belum
paham, apa sebabnya?”
“Jadi maksudmu, kedatangan mereka
dikarenakan aku??” kata Liauw Wan Jie sambil membereskan rambutnya
yang panjang terurai.
“Soal ini si bukan” Phoa Hu Cong
Piauw-tauw menggeleng. “Jikalau kedatangan mereka disebabkan nona,
agaknya tindakan yang diambil tidak perlu sedemikian buas dan keji,
mereka bisa mohon bertemu secara blak-blak kan……”
“Aaakh! Lalu karena apa mereka
datang kesini?”
“Jikalau nona betul-betul tidak
tahu, maka persoalan ini harus ditanyakan ayahmu.”
Sinar mata Liauw Wan Jie
perlahan-lahan dialihkan ke atas wajah Liauw Thayjien, perasaan
curiga mulai melintasi alisnya.
“Tia, sebenarnya barang berharga
apakah yang kita bawa sehingga menimbulkan inceran sebegitu banyak
orang-orang?”
“Menurut perkataan dari Phoa Hu
Cong Piauw-tauw, kedatangan orang-orang ini bukannya dikarenakan
untuk merampok emas, perak ataupun barang-barang mustika lainnya…..”
kata Liauw Thayjien menggeleng.
“Tidak salah!” sambung Phoa Ceng
Yan pula. “Sekalipun Thayjien sudah kumpulkan banyak emas, perak
maupun barang antik, tapi barang-barang tersebut masih tidak
termasuk suatu barang kawalan yang besar. Perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kami sudah pernah mengawal beberapa ratus laksa tahil
perak di daratan Tionggoan sebelah Utara tetapi belum pernah ada
orang yang berani menempuh bahaya mengikat tali permusuhan dengan
kami ataupun menghadang barang-barang kawalan kami, sekalipun
beberapa orang pentolan Liok-lim yang tak dapat diajak kompromipun
tak akan berani banyak ribut, tapi kali ini…. beberapa orang iblis
kenamaan dari kalangan Liok-lim sudah pada munculkan diri.”
“Jadi maksudmu barang yang kami
bawa sudah melampaui nilai beberapa ratus laksa tahil sehingga
memancing perhatian mereka?”
“Tidak salah,” jawab Phoa Ceng Yan
dengan air muka serius. “Kemungkinan sekali barang-barang itu sama
sekali tidak bernilai di mata kalian dan tiada berharga beberapa
ratus laksa tahil, tapi bagi mereka benda itu betul-betul bernilai.”
“Tia! Sebenarnya apa yang sudah
kita bawa?? Harta adalah benda sampingan yang tidak berguna…….”
“Aku sendiripun tidak paham
tentang soal ini,” Liauw Thayjien menggeleng dan memotong perkataan
putrinya yang belum selesai.
“Menurut apa yang cayhe ketahui,
lukisan peta pengangon kambing itu termasuk salah satu di
antaranya,” sela orang tua she Phoa dari samping.
Liauw Thayjien nampak termenung
berpikir keras, sesaat kemudian ia baru mengambil keputusan.
“He-koan akan bertanggung jawab,
asalkan yang mereka minta adalah lukisan peta pengangon kambing itu
maka kalian boleh serahkan peta tersebut kepada mereka asalkan kita
bisa melanjutkan perjalanan dengan selamat!”
Agaknya Phoa Ceng Yan sama sekali
tidak menduga kalau Liauw Thayjien bisa berkata demikian, ia
mendehem.
“Sungguh?”
“Sudah tentu sungguh, kemungkinan
sekali lukisan peta itu benar-benar bernilai, tapi di tanganku tak
kumengerti dimanakah letak berharganya benda tersebut.”
“Walaupun perkataan bisa diucapkan
demikian,” sela Phoa Ceng Yan sambil menghela napas panjang. “Tapi
asalkan aku orang she Phoa masih ada napas tiga cun yang bergetar,
maka aku tak akan membiarkan orang lain mengganggu barang seujung
rambutpun terhadap kalian sekeluarga Liauw?”
Liauw Thayjien pun menghela napas
panjang seraya menggeleng.
“Phoa-ya, uang dan harta adalah
barang sampingan, aku menjabat sebagai pembesar kelas dua walaupun
pernah tenggelam di dalam kemakmuran serta kelimpahan harta, tapi
dalam pandanganku pribadi benda tersebut tak berguna bagai awan di
langit, perkataan dari Siauw-li kemungkinan besar tak bakal salah,
sesudah He-koan pikir tiga kali rasanya pikiranku tak berhasil
menyimpulkan kapankah Siauw-li mendapat kesempatan untuk belajar
ilmu silat……..”
Ia merandek sejenak, lalu dengan
air muka serius sambungnya lebih lanjut.
“Hingga detik ini agaknya kau Phoa
Hu Cong Piauw-tauw masih belum berhasil mengetahui jelas apa yang
sebenarnya mereka inginkan dari kami?”
Phoa Ceng Yan tertegun, pikirnya.
“Perkataan ini sedikitpun tidak
salah, hingga detik ini aku masih belum berhasil memahami apa
sebabnya mereka gerakan masa untuk atur jebakan dengan menghadang
barang kawalanku ini …..”
Kedengaran Liauw Thayjien
melanjutkan lagi ucapannya.
Kemungkinan sekali orang lain
sudah mengetahui jelas tentang soal ini!”
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, lain
kali jikalau kau bertemu lagi dengan pihak musuh maka jangan lupa
tanya pada mereka sebenarnya apa yang mereka kehendaki? Asalkan
benda tersebut ada di dalam tumpukan barang-barang kami, cayhe pasti
akan menyerahkan keluar.”
Phoa Ceng Yan merasa sangat malu
sekali, tapi untuk beberapa saat iapun tak mengerti jawaban apa yang
harus diutarakan.
“Bocah, kau kembalilah ke bilik
untuk beristirahat!” ujar Liauw Thayjien kemudian kepada Liauw Wan
Jie seraya berpaling.
Liauw Wan-jie mengiakan,
perlahan-lahan ia putar badan bertindak masuk ke dalam ruangan.
Liauw Thayjien pun mengikuti dari
belakang tubuh Liauw Wan Jie melangkah masuk ke dalam ruangan.
Lama sekali Phoa Ceng Yan
memandang bayangan punggung kedua orang itu hingga lenyap dari
pandangan, akhirnya dengan hati murung ia putar badan berjalan
keluar dari ruangan.
Ketika Nyoo Su Jan serta Lie Giok
Liong sudah menanti di atas permukaan salju di luar ruangan.
Menemui kedua orang itu Phoa Ceng
Yan langsung tertawa getir.
“Sudah kalian dengar semua?”
“Semua telah kami dengar.” Nyoo Su
Jan membungkuk dan menjura.
“Perkataan dari Liawu Thayjien
sedikitpun tidak salah,” kata Phoa Ceng Yan setelah mendehem. “Kita
hanya tahu keadaan disekeliling kita penuh terkurung oleh keadaan
bahaya, tapi apa yang mereka kehendaki kita orang masih belum
jelas.”
Nyoo Su Jan termenung, lalu
manggut.
“Perkataan dari Jie-ya sedikitpun
tidak salah, barang kawalan kita kali ini bukan saja mempunyai
banyak perubahan bahkan masih terbungkus pula oleh suatu rahasia
yang sangat misterius dan susah diketahui, jikalau dikatakan si Dewa
Api Ban Cau sekalian sama sekali tidak mendapatkan kabar berita,
rasanya merekapun tak bakal munculkan dirinya kembali di dalam Bu
lim setelah lama cuci tangan mengasingkan diri.”
“Yang menggelikan lagi adalah
pihak bajingan sudah tahu benda apa yang akan diincer, sebaliknya
kita orang yang melindungi barang tersebut masih tidak tahu barang
apa yang sedang kita kawali!”
“Kemungkinan sekali Liauw Thayjien
hanya dipergunakan orang? dengan demikian sudah tentu ia
sendirianpun tak bakal tahu rahasia di balik semuanya ini…..”
Phoa Ceng Yan kerutkan alisnya,
lama sekali ia termenung, akhirnya mengangguk.
“Perkataanmu ini memang rada ceng
li!”
“Jie-ya, bilamana dikemudian hari
kau bisa berjumpa lagi dengan mereka, baiknya gunakan sedikit siasat
untuk jebak mereka dalam perkataan.” bisik Nyoo Su Jan lagi sambil
dongakkan kepalanya memandang rembulan.
Phoa Ceng Yan mengangguk.
“Kelihatannya hanya satu-satunya
jalan yang bisa kita tempuh!”
Ia lantas ulapkan tangannya.
“Giok Liong, coba kau pergi
meronda sebentar, bilamana menemukan jejak musuh laporkan padaku
secepatnya.”
Lie Giok Liong menjura lalu putar
badan berlalu.
Menanti Lie Giok Liong sudah
lenyap dari pandangan, Phoa Ceng Yan baru berpaling, bisiknya, “Su
Jan, mari kita kongkouw!”
Ia melangkah keluar dari ruangan
kuil.
Dengan kencang Nyoo Su Jan
membuntuti dari belakang, sekeluarganya dari kuil ia baru menegur.
“Jie-ya, kita akan kemana?”
“Walaupun si Dewa api Ban Cau
sudah mengundurkan diri, tapi aku percaya mereka pasti sudah
tinggalkan mata-mata di sekitar tempat ini untuk mengawasi segala
gerak-gerik kita.”
“Apakah Jie-ya akan menangkap dan
cari keterangan dari mulut mereka…….”
“Soal itu sih bukan!” potong Phoa
Ceng Yan. “Aku ingin agar supaya mereka suka membawakan sepucuk
suratku buat si Dewa Api Ban Cau.”
“Jie-ya, bila besok malam Cong
Piauw-tauw belum datang, maka lusa sebelum menjelang siang hari ia
pasti sudah tiba di sini, rasanya kalau mau bicara saat itulah
merupakan waktu yang paling tepat.”
“Su Jan! Coba kau bayangkan,
jikalau Cong Piauw-tauw sudah tiba di sini dan ia bertanya apa
sebabnya mereka ada maksud untuk mengganggu barang kawalan kita
jikalau aku tak dapat menjawab pertanyaan ini bukankah peristiwa
tersebut merupakan suatu kejadian yang sangat memalukan?”
Nyoo Su Jan tersenyum.
“Maka dari itu Jie-ya ingin
menemui si Dewa Api dan menanyakan keadaan sejelasnya sebelum
Cong Piauw-tauw tiba di sini?”
“Tidak salah, aku ingin menanyakan
urusan ini sampai jelas, dengan demikian bila Cong Piauw-tauw
mengajukan pertanyaan aku bisa menjawab dengan lancar.”
Waktu itu kedua orang itu sudah
berjalan meninggalkan kuil sejauh enam-tujuh kaki di bawah sorotan
sinar rembulan dilihatnya permukaan tanah hanya tertutup oleh
selapis salju nan putih, seluruh jalan raya telah diselimuti dengan
salju.
“Situasi di sekeliling tempat ini
tidak begitu kita pahami, berjalan di malam hari rasanya kurang
leluasa” bisik Nyoo Su Jan lirih. “Jika Jie-ya memang ada maksud
hendak bertanya, Rasanya besok pagi cari merekapun masih belum
terlambat.”
“Baiklah! Kalau begitu kita tinjau
dulu di sana dan selidiki apa sebabnya mereka mengundurkan diri,
kemungkinan sekali di atas permukaan salju kita bakal berhasil
menemukan sesuatu jejak yang banyak membantu kita di dalam
pengungkapan rahasia ini.”
“Benar!” Nyoo Su Jan
memperdengarkan tanda setujunya. “Kecuali orang itu sudah berhasil
melatih kepandaian silatnya hingga mencapai taraf tidak menempel
tanah kalau tidak sepatunya di atas permukaan salju tertinggal
telapak kaki atau sedikitnya tanda-tanda yang bisa diselidiki.”
“Heiii………! Marilah kita pergi adu
untung! Selama separuh hidupku aku berkelana di dalam dunia kangouw
dan banyak menemui manusia aneh maupun peristiwa aneh tapi belum
pernah berjumpa dengan situasi yang sulit dan membingungkan semacam
kali ini …….”
Ia merandek sejenak, lantas
sembari memandang sekejap ke arah Nyoo Su Jan tampaknya.
“Giok Liong berjaga di pos sebelah
utara.”
“Tidak salah, biar hamba bawa
jalan.”
Nyoo Su Jan berebut jalan terlebih
dahulu di depan Phoa Ceng Yan, lalu sambungnya, “Jie-ya, situasi
yang kita hadapi pada saat ini walaupun penuh diliputi awan gelap
ini masih berada dalam keadaan ada kekejutan tanpa mara bahaya…..
kita tidak tahu mengapa mereka bermaksud mengganggu barang kawalan
kita, jago-jago Liok-lim serta iblis-iblis tua yang telah
mengasingkan diri satu demi satu saling susul menyusul munculkan
dirinya di dalam Bu-lim tapi kemudian seorang demi seorang
mengundurkan diri dalam keadaan sangat mengherankan, suasana
sekeliling kita rasanya penuh diliputi oleh kemisteriusan, jikalau
bukan dikarenakan beban yang kita pikul untuk melindungi seluruh
keluarga Liauw terlalu berat, kepingin sekali hamba melakukan suatu
penyelidikan secara teliti.”
“Keadaan kita saat ini sama halnya
dengan minum arak di bawah pohon pare, mencari kesenangan di tengah
kepahitan.”
Sewaktu bercakap-cakap, mereka
sudah tiba di kuil bagian Utara.
Mereka berdua tidak bicara lagi,
seluruh perhatian dipusatkan jadi satu dan menyapu seluruh permukaan
salju dengan sinar mata tajam.
Sedikitpun tidak salah, di atas
permukaan salju nan putih mereka temukan sebaris bekas tapak kaki
yang kacau balau tidak karuan tapi seluruh bekas kaki tersebut hanya
terdapat di dalam lingkungan tiga kaki di luar tembok kuil. Tiga
kaki di balik lingkungan tersebut salju tetap putih, jelas tidak
pernah dijamah orang.
Jika ditinjau dari bekas telapak
kaki yang tertera di atas permukaan salju, agaknya orang-orang itu
sudah menemui suatu kejadian yang sangat mengejutkan sewaktu tiba di
tempat kurang lebih tiga kaki dari kuil sehingga mereka terburu-buru
putar tubuh dan lari ngacrit, dengan demikian bekas kaki yang
tertera di atas permukaan salju pun jadi kacau balau tidak karuan.
“Di bawah sorotan sinar rembulan
serta pantulan cahaya dari permukaan salju, seharusnya dengan
ketajaman mata Giok Liong, benda dalam jarak tiga kaki bisa ia lihat
dengan sangat jelas sekali” kata Phoa Ceng Yan.
“Benar, orang-orang itu pasti
sudah menemui sesuatu kejadian yang sangat mengejutkan sewaktu tiba
kurang lebih tiga kaki dari tembok kuil, sehingga mereka ngacrit
pergi dengan ketakutan,” sambung Nyoo Su Jan.
“Saat itu keadaan apa yang sudah
mereka temukan di tempat ini?”
Sinar mata Nyoo Su Jan dengan
tajam menyapu sekeliling kalangan, dan akhirnya sinar mata berhentu
du atas sebuah pohon kayu besi yang tumbuh pada suatu tempat
pemberhentian, hatinya jadi sedikit bergetar.
“Jie-ya, jika ada orang
bersembunyi di balik pohon sambil melancarkan serangan mengundurkan
para penjahat, rasanya ia tidak perlu undurkan diri”.
“Sedikitpun tidak salah,” Phoa
Ceng Yan menengok ke sana.
Hawa murnipun disalurkan
mengelilingi seluruh badan, dalam dua tiga loncatan ia sudah tiba di
sisi pohon tersebut.
Sinar mata dengan tajam melakukan
pemeriksaan, tampak di sekeliling pohon tersebut sama sekali tidak
terdapat bekas-bekas telapak kaki yang menandakan pernah dilalui
orang, permukaan salju nan putih halus bersih dan rata bagaikan
kaca.
“Jie-ya, apakah berhasil menemukan
sesuatu?” tanya Nyoo Su Jan yang mengejar dari belakang.
Phoa Ceng Yan menggeleng.
“Tidak, sedikitpun tidak terdapat
bekas kaki.”
“Aku lihat lebih baik kita tak
usah buang tenaga dengan percuma lagi, semua urusan tunggu saja
setelah Cong Piauw-tauw kita datang!” kata Nyoo Su Jan sambil
menghembuskan napas panjang.
“Dalam keadaan seperti ini rasanya
kita hanya dapat berbuat demikian, kecerdikan serta kepandaian silat
dari Cong Piauw-tauw jauh melebihi kita orang semua, kemungkinan
sekali ia bisa berhasil menemukan sedikit titik terang dalam keadaan
aneh yang beruntun kita temui ini.”
“Siapa, cepat berhenti!” tiba-tiba
terdengar Lie Giok Liong membentak keras.
“Giok Liong, aku! Seru Phoa Ceng
Yan dengan air muka berkerut.
Tapi bagaimanapun juga dia adalah
jago yang berpengalaman sangat luas baru saja ucapan meluncur keluar
ia sudah merasa keadaan sedikit tidak beres, dengan cepat badannya
berputar ke belakang.
Nyoo Su Jan pun mengikuti gerakan
Piauw-tauwnya ikut putar badan ke belakang.
“Dalam waktu mereka berdua
sama-sama putar badan, hawa murnipun secara diam-diam disalurkan
mengelilingi tubuh siap melakukan penjagaan terhadap segala
kemungkinan.
Kurang lebih tiga kaki dari mereka
muncul seorang lelaki kasar berpakaian ringkas berwarna hitam gelap.
“Kawan! Setelah datang kemari
seharusnya sebutkan nama besarmu!” seru Phoa Ceng Yan sembari
menjura. “Cayhe adalah Phoa Ceng Yan, terimalah hormatku.”
Sehabis berkata ia rangkap tangan
memberi hormat.
“Sudah lama aku mendengar nama
besar Phoa Jie-ya!” sahut si orang berbaju hitam itu singkat.
Selangkah demi selangkah Phoa Ceng
Yan maju ke depan.
“Kawan, siapa namamu? maaf aku
orang she Phoa punya mata tak berbiji sehingga tidak tahu kapan kita
pernah berjumpa”
Orang berbaju hitam itu tetap
berdiri tak bergerak di tempat semula, hanya suara tertawa dingin
bergema tiada hentinya.
“Phoa Jie-ya! Ada baiknya jika kau
jangan mendesak terlalu maju ke depan di tengah malam buta begini
cayhe sama sekali tidak bernapsu untuk turun tangan terhadap
kalian.”
“Asalkan saudara tiada berniat
untuk mengganggu barang kawalan kami, itu berarti kawan karib dari
aku she Phoa, kawan, kenapa tidak masuk ke dalam kuil untuk
duduk-duduk sebentar? di tengah malam buta dalam kuil kami walaupun
tak ada hidangan lezat yang bisa dihidangkan untuk menyambut tamu,
tapi aku orang she Phoa masih membawa sedikit arak bagus, bagaimana
kalau kita minum secawan untuk menghangatkan badan…”
“Sungguh patut disayangkan cayhe
masih ada urusan di badan, tidak berani menerima tawaran baik dari
Phoa Jie-ya” potong si orang berbaju hitam itu cepat.
Mendengar jawaban tersebut, Phoa
Ceng Yan jadi melengak.
“Kawan! Jikalau kau tidak ingin
memberi tahu nama besarmu, entah bolehkah cayhe ketahui apa maksud
kunjunganmu pada malam begini?”
“Jikalau urusan ini tiada sangkut
paut dengan kau Phoa Jie-ya, cayhepun tak akan datang berkunjung di
tengah malam buta yang dingin dengan menempuh perjalanan di atas
permukaan salju yang tebal ini.”
“Jika demikian adanya, kawan!
Tentu kau sedang menjalankan tugas penting.”
“Tidak salah! Cayhe memang sedang
menjalankan tugas perintah.”
“Entah perintah dari siapa?”
“Ke Kongcu”.
“si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang?”
“Tidak salah! Majikan kami
memerintahkan cayhe untuk memberitahu kepada Phoa Jie-ya kalian
bahwa keadaan kalian sudah terkepung rapat-rapat, si Dewa Api Ban
Cau dengan beberapa orang iblis sakti yang telah mengundurkan diri
dari kalangan dunia persilatan kini sudah menunjukkan
gerakan-gerakannya berjaga-jaga untuk mengawasi daerah sekitar
tempat ini.”
“Maksud baik dari Ke Kongcu akan
kami terima dengan senang hati, cayhe ucapkan banyak terima kasih!”
sahut Phoa Ceng Yan segera.
Si Orang berbaju hitam itu tertawa
hambar.
“Majikan kami masih menitipkan
pula sepatah kata.”
“Apa yang ia katakan?”
“Menurut majikan kami, jikalau
Phoa Jie-ya membutuhkan tenaga bantuannya, majikannya kami rela
turun tangan membantu kalian.”
Beberapa patah kata itu
benar-benar berada di luar dugaan Phoa Ceng Yan, maka setelah
termenung beberapa saat katanya.
“Antara Ke Kongcu dengan
perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok selama ini tiada ikatan
dendam maupun hubungan erat, aku rasa dibalik kesemuanya ini tentu
ada maksud tertentu bukan?”
“Phoa Jie-ya tidak malu disebut
orang jago kangouw kawakan, didalam mata tidak dapat dikotori dengan
batu kerikil, Majikan kami tidak sayang-sayangnya rela mengikat
dendam dengan banyak pentolan iblis sudah tentu tak mungkin bekerja
tanpa suatu balas jasa yang besar pula.”
“Dapatkah kau orang jelaskan dulu
berapa besar balas jasa yang ia inginkan?”
“Liauw Si-cu tersebut memiliki
sebuah lukisan, tolong kau Phoa Piauw-tauw suka mengajak ia
berunding, bila ia suka hadiahkan barang itu kepada kami maka
majikan kamipun akan kerahkan semua tenaga yang dipunyai untuk
melindungi seluruh anak buah perusahaan piauw-kiok kalian beserta
keselamatan mereka sekeluarga…..”
Ia merandek sejenak lalu
sambungnya.
“Jika Phoa Piauw-tauw bisa
menyampaikan maksud hati majikan kami ini sudah tentu jauh lebih
bagus lagi, tapi bila Phoa Piauw-tauw tidak suka menyampaikan pesan
ini, maka cayhe mohon bisa bertemu dengan Liauw Sicu dan menerangkan
sendiri urusan ini kepadanya.”
Phoa Ceng Yan tertawa hambar.
“Tolong sampaikan kepada Ke
Kongcu, katakan saja maksud baiknya akan kami terima di hati, sedang
mengenai kau ingin membicarakan persoalan ini dengan Liauw Thayjien
sendiri, cayhe rasa itu tidak perlu.”
“Jadi kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw
suka mewakili kami untuk sampaikan urusan tersebut kepadanya?”
Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan
menggeleng.
“Kami perusahaan expedisi Liong
Wie Piauw-kiok sudah ada puluhan tahun melakukan pekerjaan ini, tapi
belum pernah berbuat begitu bodoh dengan menasehati si pemilik
barang untuk menyerahkan harta bendanya, peraturan ini tak boleh
rusak di tanganku.”
“Phoa Jie-ya, kau pikirlah dengan
lebih cermat, majikan kami punya maksud baik.”
“Tadi aku orang she Phoa sudah
katakan bahwa maksud baiknya akan kuterima di hati saja, kawan!
Silahkan kau tinggalkan tempat ini!”
“Jika dilihat dari keadaan,
agaknya Phoa Jie-ya tidak suka minum arak kehormatan sebaliknya
malah memilih arak hukuman!”
“Kawan! Kalau bicara ada baiknya
sedikit tahu aturan” seru Phoa Ceng Yan dengan air muka berubah
membeku. “Selama ini aku orang she Phoa selalu pandang kau sebagai
seorang utusan, sekembalinya dari sini kau boleh utarakan seluruh
perkataanku ini kepada majikan kalian, jikalau Ke Kongcu ingin
mencari diriku, setiap saat aku orang she Phoa menunggu
kedatangannya di kuil ini.”
Si orang berbaju hitam itu tidak
banyak bicara lagi, ia tertawa dingin lalu putar badan berlalu dari
sana.
Menanti si orang berbaju hitam itu
sudah pergi sangat jauh, Nyoo Su Jan baru menghela napas panjang.
“Jie-ya! Ke Giok Lang
terang-terangan menginginkan lukisan tersebut, aku lihat pandangan
kita pasti tak bakal salah lagi, bencana yang kita temui terus
menerus dalam melakukan perjalanan kali ini justeru penyakitnya
pasti terletak di atas gambar lukisan!”
“Setelah berhasil temukan sebab
dari bencana yang terjadi beruntun ini hatipun bisa lega, setelah
Cong Piauw-tauw tiba di sini, kitapun bisa memberikan pertanggung
jawaban!” kata Phoa Ceng Yan seraya mengangguk.
“Jie-ya, jikalau Ke Giok Lang
sungguh akan datang mengunjungi kuil ini, maka Jie-ya siap
menggunakan cara apa untuk menghadapi dirinya?”
“Jika ia sungguh datang kemari
terpaksa kita harus melakukan suatu pertarungan melawan dirinya,
cuma setelah kupikir dua tiga kali rasanya ia tidak bakal datang
jika ia serius menginginkan gambar lukisan tersebut, sekalipun kita
halangi juga percuma saja. Sudah tentu iapun tidak perlu menggunakan
cara putar kalangan macam begini lagi.”
“Perkataan Jie-ya sedikitpun tidak
salah, kita tidak takut serangan terang, justeru yang membuat kita
jeri adalah kemungkinan serangan gelap. jika semisalnya Ke Giok Lang
benar-benar mencari satroni ke dalam kuil ini ada baiknya Jie-ya
jangan terlalu banyak berbicara dengan dirinya maupun menggubris
dirinya.”
“Maksudmu ……….”
“Pertama bisa dihindari
pertarungan satu lawan satu dengan dia orang dan kedua memaksa ia
mempunyai pikiran yang tak menentu dan rasa curiga yang besar.”
Phoa Ceng Yan mengangguk.
“Aku harus berpikir lebih cermat
dahulu baru bisa mengambil keputusan….”
Sejurus kemudian ……. kurang lebih
dua kaki dari tembok pekarangan tiba-tiba tampak bayangan manusia
berkelebat lewat. Lie Giok Liong dengan meloncat tembok pekarangan
melayang datang.
“Menghunjuk hormat buat paman
Jie-siok!” katanya sembari menjura.
“Tidak perlu banyak adat……..”
Nyoo Su Jan buru-buru melangkah ke
depan dan mendekati ke sisi Lie Giok Liong, katanya lirih.
“Giok Liong, keadaan musuh sewaktu
datang dan pergi apakah ada menunjukkan sikap yang aneh?”
Lie Giok Liong termenung sejenak,
akhirnya ia menggeleng.
“Aku tidak berhasil menemukan hal
yang aneh!”
“Kau tidak usah terburu-buru, coba
dipikirkan lebih teliti lagi, walaupun hanya urusan yang kecilpun
jangan kau lepas begitu saja.”
“Ada suatu titik yang rasanya
sangat istimewa, kedatangan orang itu sangat bernafsu dan ganas
tetapi sewaktu tiba dekat dengan kuil mendadak seperti telah
berjumpa dengan suatu peristiwa yang sangat mengejutkan sekali
kemudian buru-buru putar badannya melarikan diri. Pada waktu itu
mereka berada sangat dekat dengan kuil sehingga secara lapat-lapat
bisa kelihatan sikapnya gugup dan cemas.”
“Jie-ya, saat ini paling sedikit
satu soal yang berhasil kita buktikan kebenarannya!” seru Nyoo Su
Jan kemudian.
“Ehmmm……. urusan apa?”
“Ada seorang jago berkepandaian
tinggi yang secara diam-diam membantu diri kita, orang lihay itu
berhasil mengejutkan para penjahat sehingga melarikan diri
terbirit-birit, sedang kita sama sekali tidak berhasil temukan
tempat persembunyiannya.”
“Orang lihay yang secara diam-diam
membantu tidak ingin kita mengetahui siapakah dirinya, aku rasa
kitapun tidak perlu terlalu paksakan diri cari akal untuk menemui
dirinya.”
Ia percepat langkahnya berjalan
masuk ke dalam kuil seraya tambahnya.
“Suruh mereka berjaga-jaga di
sekitar tempat ini menurut giliran, malam ini cahaya rembulan
memancarkan cahaya yang tajam di seluruh permukaan salju, kecuali
seorang jago lihay yang telah berhasil melatih ilmu silatnya hingga
mencapai taraf terbang, aku rasa tak bakal lolos dari pengawasan
maupun pengintaian kita, setelah menemui tanda bahaya cepatlah kirim
kabar kepadaku.”
“Paman Jie-siok boleh berlega
hati.” Lie Giok Liong bungkukkan badan menjura.
Setibanya di dalam ruang kamar
dalam kuil, Phoa Ceng Yan jatuhkan diri berbaring ke atas tanah,
pejamkan mata dan beristirahat.
Walaupun begitu otaknya masih
berputar terus memikirkan segala peristiwa aneh yang baru ditemuinya
selama beberapa hari ini. Ia merasa setiap peristiwa yang telah
terjadi merupakan kejadian aneh yang belum pernah ditemuinya selama
dua puluh tahun bekerja sebagai pengawal barang.
Semalaman berlalu dengan cepat
tanpa menimbulkan suatu peristiwa apapun.
Hari kedua seharian penuh juga
aman tenteram tidak terjadi segala kerepotan, suasana di sekitar
kuil sunyi sehingga seperti orang yang mengepung di sekeliling sana
sudah pada bubaran semua.
Liauw Thayjien yang harus
menganggur seharian menanti sang surya lenyap di balik gunung tak
sabaran lagi, tegurnya.
“Phoa-ya, ini hari seharian penuh
tidak kelihatan gerakan apapun, jika ada orang yang mau datang
rasanya sejak semula sudah datang.”
“Kita tunggu satu malam lagi,
besok siang mungkin Cong Piauw-tauw kami sudah bisa tiba di sini,
begitu ia tiba kita segera melanjutkan perjalanan kembali.”
“Antara keluarga besanku serta
He-koan mempunyai hubungan yang sangat erat, ia sudah meminta
kedatanganku sebelum tutupan tahun, seharusnya He-koanpun tidak
boleh bikin kecewa harapannya, tolong kau Phoa-ya suka memberitahu
kepada anak buahmu sekalian, katakan saja apabila kita bisa tiba di
kota Kay Hong Hu sebelum tutupan tahun maka setiap orang yang ikut
mengawal He-koan kali ini mendapat upah tambahan sebesar tiga puluh
tahil perak.”
“Tiga puluh tahil perak bukan
suatu jumlah yang kecil, Thayjien bisa timbul maksud semua ini tentu
akan disambut mereka dengan rasa terima kasih yang bukan kepalang
cuma Cong Piauw-tauw kami sudah peroleh kabar melalui burung
merpati, ia pasti berhasil temukan tempat ini dan bila dihitung
lamanya perjalanan, besok siang tentu sudah akan tiba disini.
Bilamana di tengah jalan tidak terjadi peristiwa lagi, perjalanan
bisa kita lakukan lebih cepat sehingga memenuhi harapan Liauw
Thayjien untuk melewati akhir tahun di kota Kay Hong.”
“Semoga saja begitu” kata Liauw
Thayjien perlahan. Ia merandek sejenak lalu tambahnya.
“Phoa-ya! He-koan ada suatu urusan
yang merasa kurang paham, entah dapatkah kau memberi sedikit
keterangan?”
“Tiada halangan, silahkan Thayjien
ajukan pertanyaan.”
“Kau adalah Hu Cong Piauw-tauw,
dalam perusahaan expedisi kalian kecuali Cong Piauw-tauw, apakah
kepandaian silatmu boleh disebut paling tinggi?”
Phoa Ceng Yan termenung sejenak,
kemudian baru menyahut.
“Kecuali Cong Piauw-tauw,
kedudukan cayhe di dalam perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok
memang dapat dihitung yang tertinggi, tapi dalam hal kepandaian
silat tak bisa dikatakan nomor dua lagi.”
“Akh! Phoa-ya terlalu merendah
……..”
Ia merandek sejenak, lalu
tambahnya.
“Jikalau sampai besok siang Cong
Piauw-tauw dari perusahaan kalian masih belum kelihatan juga, apa
yang hendak kalian lakukan?”
Justeru karena persoalan ini Phoa
Ceng Yan merasa serba sulit apa lagi sekarang ditanyai secara
langsung.
Setelah termenung beberapa saat
baru jawabnya.
“Soal ini aku rasa tidak mungkin
terjadi! Menurut perhitungan kami sampai waktunya Cong Piauw-tauw
tentu bisa tiba di sini atau paling banter akan terlambat satu dua
keuntungan belaka.”
“Phoa-ya! Bukannya He-koan tidak
mempercayai dirimu. He-koan hanya ingin tahu waktu yang benar bagi
pemberangkatan kita.”
“Baiklah! Jikalau Cong Piauw-tauw
kami tidak bisa tiba pada sore hari, kita segera berangkat besok.”
“Baiklah! Kita tetapkan demikian
saja.” Liauw Thayjien mengangguk. “He-koan percaya atas perkataan
dari Phoa-ya.”
“Liauw Thayjiem!” kata Phoa Ceng
Yan sambil tertawa getir. “Aku orang she Phoa berulang kali
membatalkan perjalanan kesemuanya adalah dikarenakan keselamatan
kalian sekeluarga, terus terang aku beritahu kepada Liauw Thayjien,
di balik kesunyian di sekeliling kuil ini telah penuh tersebar
jago-jago yang siap merampok barang kawalan kita kali ini.”
“Apa yang mereka inginkan?
Phoa-ya, tahukah kau soal ini dengan jelas?”
“Cayhe berhasil mengetahui
sebagian kecil saja……”
“Barang apa yang mereka inginkan?”
“Gambar lukisan pengangon kambing
termasuk salah sebuah barang yang diincar.”
“Kecuali lukisan pengangon kambing
itu masih ada barang apa lagi yang diinginkan?”
“Jika ditinjau dari keadaan mereka
agaknya bukan lukisan pengangon kambing saja yang diinginkan.”
“Jadi berarti masih ada yang lain?
Apakah barang itu?”
“Hingga saat ini cayhe masih belum
paham cuma seharusnya dalam hati Liauw Thayjien sudah punya
perhitungan sendiri, bukan?”
“Aku benar tidak tahu barang apa
yang diinginkan,” kata Liauw Thayjien sembari menggeleng.
“Kalau begitu urusan jadi sulit,
sewaktu kami terima permintaan kalian dari pihak perusahaan
benar-benar tidak tahu barang apa saja yang dibawa Liauw Thayjien?
Tapi di pihak orang yang punya maksud untuk membegal ternyata sejak
lama sudah pusatkan pikiran cari berita hingga sangat jelas sekali.”
“Hingga sampai saat ini aku lihat
agaknya kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw masih tidak percaya terhadap
He-koan” seru Liauw Thayjien kembali sembari tertawa getir.
“Thayjien terlalu curiga, aku
orang she Phoa bukannya tidak percaya terhadap Liauw Thayjien cuma
situasi yang kita hadapi saat ini sangat aneh, dan aku orang she
Phoa sendiri masih merasa kurang paham terhadap urusan di balik
kesemuanya ini, mau tak mau harus kami selidiki urusan ini sampai
jelas.”
(Bersambung Jilid Ke 11)
Jilid 11
“Demikian Saja!” kata Liauw
Thayjien kemudian setelah mendehem perlahan. “Jikalau Phoa-ya
berjumpa lagi dengan mereka katakan saja kepada orang itu, coba
lihat apa yang mereka inginkan? Asalkan barang yang diminta ada di
tanganku, He-koan rela menyerahkan kepadanya, perkataan Siauw-li
sedikitpun tidak salah, harta kekayaan merupakan barang sampingan,
apalagi barang yang dimintapun tidak akan lebih merupakan uang atau
emas, barang-barang ini walaupun merupakan benda berharga tapi sama
sekali tidak berguna bagi kami.”
“Sekalipun Thayjien siap serahkan
barang yang mereka inginkan, tapi cayhe tak akan menyanggupi…..”
“Phoa-ya, urusan ini tiada sangkut
pautnya dengan perusahaan expedisi kalian, urusan ini adalah aku
sendiri yang rela serahkan padanya.”
“Sekalipun Thayjien ada maksud
berbuat demikian, aku berharap bisa melakukan hal ini dalam waktu
yang tepat.”
“Baiklah! Kita putuskan besok
siang melanjutkan kembali perjalanan, jika ada musuh mencegat lagi
maka He-koan akan serahkan barang yang mereka inginkan.”
“Dapatkah besok siang COng
Piauw-tauw tiba di sini, dalam hati Phoa Ceng Yan pada saat ini
masih belum punya pegangan yang kuat, karena itu iapun tidak banyak
bicara lagi.
Liauw Thayjien sendiripun tidak
banyak bicara lagi, ia putar badan meninggalkan tempat itu.
Semalaman lewat dengan cepat, hari
keduapun telah tiba. Tapi hingga mendekati siang hari masih belum
kelihatan munculnya Cong Piauw-tauw mereka di kuil tesebut.
Liauw Thayjien tidak
sungkan-sungkan lagi sambil mengerutkan alisnya ia menegur diri Phoa
Ceng Yan.
“Phoa-ya, menurut apa yang He-koan
ketahui, kebanyakan jago kangouw mengutamakan janjinya yang telah
diucapkan, kemarin malam kau sudah menyanggupi untuk melanjutkan
perjalan setelah menjelang siang hari……”
Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan
dongakkan kepala memeriksa keadaan cuaca sedikitpun tidak salah
kiranya siang hari sudah lewat karena itu ia mengangguk.
“Baiklah! Jikalau Thayjien ngotot
ingin melanjutkan perjalanan kitapun segera berangkat.”
Ia menoleh dan memandang sekejap
ke arah Lie Giok Liong, kemudian ujarnya, “Giok Liong, suruh mereka
siapkan diri kita akan segera berangkat.”
Lie Giok Liong bongkokkan badan
terima perintah, ia segera perintahkan beberapa orang anak buahnya
untuk persiapkan kereta.
Gerak-gerik beberapa orang itu
ternyata cukup terlatih, tidak selang beberapa waktu keretapun telah
disiapkan.
Phoa Ceng Yan mendehem ringan,
ujarnya kemudian, “Silahkan nyonya dan putrimu naik ke dalam kereta,
kita segera berangkat……….”
Liauw Thayjien tidak banyak bicara
ia panggil kacung bukunya, dayang sang nyonya serta Siao-cia naik ke
dalam kereta, setelah itu baru ujarnya, “Phoa-ya! Jika ditengah
jalan kita berjumpa lagi dengan para penjahat, apa yang mereka minta
katakanlah kepadaku.”
“Baiklah, cuma cayhe ada beberapa
patah perkataan harus diutarakan dulu sebelumnya.”
“Urusan apa?”
“Thayjien serahkan barang yang
akan mereka minta adalah untuk mengganti nyawa kalian suami istri
serta putrimu, kami orang-orang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok
tidak pernah makan macam begini……..”
“Phoa-ya, jika orang-orang itu
memiliki kepandaian silat yang sangat lihay?” potong Liauw Thayjien.
“Itu urusan kami sendiri, kau
Liauw Thayjien tidak perlu kuatir.”
Liauw Thayjien yang ketanggor
batunya tidak banyak bicara lagi, ia turunkan horden dan berdiam
diri tak berbicara lagi.
“Giok Liong” teriak Phoa Ceng Yan
kemudian dengan suara keras. “Kau dengan Toa Hauw berjalan di depan
kereta.”
“Siauw-tit menerima perintah!”
Dengan Thio Toa Hauw ia melangkah
ke depan cepat.
“Jie-ya, kau sungguh-sungguh
hendak berangkat?” bisik Nyoo Su Jan lirih.
“Disekitar kuil yang terasa agak
menyolok letaknya tinggali tanda rahasia perusahaan katakan saja
kita berangkat siang ini dan suruh ia mengejar datang cepat-cepat.”
“Hamba terima perintah!”
Ia lantas meninggalkan tanda di
depan pintu besar kuil tersebut.
Setelah keluar dari kuil melakukan
perjalanan di atas jalan raya tidak ada berapa lagi lama mendadak
muncul tiga orang lelaku kekar yang menggembol senjata menghadang
jalan pergi mereka.
Lie Giok Liong ulapkan tangannya,
rombongan keretapun pada berhenti.
Tidak sampai menanti laporan dari
Lie Giok Liong, si kakek tua she Phoa ini sudah menerjang maju ke
depan kereta.
“Giok Liong, kembali jaga
keretamu.”
Kiranya sejak semula Phoa Ceng Yan
sudah persiapkan perubahan dalam menghadapi musuh, oleh karena itu
begitu melihat jejak lawan masing-masing pun segera berdiri pada
posisi-posisinya sendiri.
Terdengar suara ringkikan kuda
yang memanjang, lima buah kereta kuda dengan cepat menggabungkan
diri membentuk lingkaran bulat.
Phoa Ceng Yan selangkah demi
selangkah berjalan mendekati ketiga orang itu, setelah menjura
ujarnya.
“Cayhe Phoa Ceng Yan, kawan
bertiga setelah menghadang kereta barang kami aku rasa tentu ada
urusan hendak bicarakan bukan?”
Dalam hati ia mengerti yang baik
tidak akan datang, yang datang pasti tidak mengandung maksud baik,
tapi urusan sudah berada di depan mata memberi penjelasanpun tak
berguna, jauh lebih baik bila memperlihatkan keangkeran dari seorang
Hu Cong Piauw-tauw.
Usia ketiga orang lelaki itu
rata-rata berada di antara empat puluh tahunan, orang yang berada di
sebelah kiri menyoren sepasang kaitan Hauw Tauw Siang Kouw, orang
yang ditengah menggembol golok Yen Ling To sedang orang yang ada
disebelah kanan menggembol sebuah cambuk lemas tiga belas ruas yang
dilibatkan pada pinggang.
Si orang yang berada di paling
tengah berjalan dua langkah ke muka, katanya.
“Sudah lama aku mendengar nama
besar dari Thiat Ciang Kiem Huan, Phoa Jie-ya, ini hari bisa bertemu
sungguh merupakan suatu keuntungan seumur hidup.”
Phoa Ceng Yan tetap bertangan
kosong, ia rangkap tangannya menjura dan tertawa hambar.
“Tidak berani….tidak berani, maaf
cayhe bermata tak berbiji susah mengenal siapakah kawan bertiga?”
“Phoa-ya adalah seorang jago
kenamaan dalam dunia persilatan, sudah tentu saja tak bakal kenal
kami tiga orang prajurit tak ternama dalam Bu-lim.”
“Hmmm!” Phoa Ceng Yan mendengus
dingin. “Kawan! Di tengah hawa dingin yang membekukan badan, rasanya
kalian bertiga mencari aku bukan untuk mengajak aku orang she Phoa
kongkouw bukan!”
“Kedatangan kami memang sedang
membawa tugas……….” lelaku yang berada di tengah itu tertawa seraya
mengangguk.
“Mendapat perintah dari siapa
kalian bertiga?”
“Si Dewa Api Ban Cau, menurut
Ban-ya katanya ia pernah berjumpa dengan Phoa-ya.”
“Sedikitpun tidak salah, urusan
apa yang diperintahkan Ban Cau agar kalian bertiga suka menyampaikan
kepada aku orang she Phoa?”
Lelaki kasar yang berdiri di
tengah kalangan itu tertawa terbahak-bahak.
“Haaa……haaa…..haaa….. kata
Ban-Toaya ia dengan pihak perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok
tidak pernah terikat dendam sakit hati apapun, ia tidak ingin
dikarenakan persoalan kecil telah menyesetkan kulit muka, karena
peristiwa ini lantas terikat dendam sedalam lautan……”
“Haaa…… haa…..haaa….. kalau begitu
bagus sekali” Phoa Ceng Yan pun tertawa terbahak-bahak memotong
pembicaraannya yang belum selesai itu. “Si Dewa Api Ban Cau bisa
timbul maksud hati yang begitu baik aku orang she Phoa merasa sangat
berterima kasih sekali, harap Cu-wi beberapa orang suka menyampaikan
rasa terima kasihku yang sedalam-dalamnya, katakan saja, setelah aku
orang she Phoa selesai menghantar barang kawalan kami ini, tentu
akan naik ke gunung akan menyambangi dirinya dan mengucapkan terima
kasih atas maksud baiknya kali ini.”
“Phoa-ya, siauwte masih ada
beberapa urusan belum disampaikan.”
“Baik! Katakanlah, aku orang she
Phoa akan pentang telinga lebar untuk mendengarkan perkataanmu itu.”
“Walaupun Ban-ya punya maksud
untuk berpikir demikian, tapi di dalam hatinya pun punya kepahitan
sendiri dan berharap Phoa-ya suka memaafkan.”
“Soal apa yang perlu dimaafkan?”
“Majikan yang Phoa-ya lindungi
kali ini, Liauw Thayjien katanya memiliki gambar lukisan..”
“Lukisan pengangon kambing!”
sambung Phoa Ceng Yan dingin.
“Tidak salah, Phoa-ya! Kau sudah
mengetahui jelas bukan?”
“Hee….hee….hee… lukisan pengangon
kambing yak kau maksudkan? sungguh sayang cuma sebuah.”
Ternyata si lelaki kasar yang
berdiri di tengah itu mempunyai mulut tajam dan pandai berbicara, ia
tertawa hambar.
“Phoa-ya! Jika di kolong langit
terdapat sepuluh atau delapan buah lukisan pengangon kambing, si
Dewa Api Ban Toaya pun tak akan memohon bantuan dari Phoa-ya.”
Mendengar perkataan tersebut
tiba-tiba Phoa Ceng Yan merasakan hatinya rada tergerak, pikirnya,
“Apa yang dibawa oleh Liauw Thayjien agaknya sudah diketahui jelas
oleh orang luar, mengapa aku tidak pinjam kesempatan yang sangat
baik ini untuk melakukan penyelidikan?”
Teringat akan persoalan itu,
segera ujarnya, “Lukisan pengangon kambing itu? sungguh sayang dia
sudah dipesan terlebih dahulu oleh orang lain, jikalau kecuali
lukisan pengangon kambing itu, masih ada barang lain yang bisa
menggantikan benda tersebut mungkin cayhe bisa bantu-bantu diri Ban
Cau untuk membujuk sang pemilik barang dan suka memberikan kepada
kalian.”
“Siapa yang sudah pesan lukisan
pengangon kambing itu terlebih dahulu…..?” seru si lelaki tadi
dengan nada tertegun.
“Sekalipun aku beritahu kepadamu
kawan belum tentu cuwi bernyali untuk pergi menanyakan persoalan ini
kepadanya!”
“Kami bertiga mungkin tidak
bernyali, tapi Ban Toaya serta beberapa orang kawan mungkin bisa
bertindak tolong silahkan Phoa Jie-ya mengutarakan secara terus
terang!”
“Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang
rasanya kalian bertiga sudah pernah mendengar namanya bukan!”
Mendengar disebutkannya nama orang
itu, ketiga orang lelaki tadi segera berubah muka, setelah termenung
beberapa saat lamanya si lelaki yang berdiri di tengah berkata
kembali.
“Perkataan dari Phoa-ya berat
bagaikan sembilan Hioloo, kami percaya kau Phoa Jie-ya tidak sedang
berbohong.”
“Ke Giok Lang sudah mengirim orang
datang untuk memesan lukisan pengangon kambing itu, tapi aku orang
she Phoa belum setuju untuk berikan barang itu kepadanya.” jawab Hu
Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini dingin.
“Ooouw……. kiranya begitu.”
Perlahan lahan Phoa Ceng Yan
menoleh dan memandang sekejap ke arah formasi kereta kawalannya,
setelah melihat barisan telah siap iapun berkata kembali.
“Ban Cau mengirim kalian bertiga
datang kemari, rasanya ia sendiripun sudah berada di dekat sini
bukan?”
“Bila Phoa Jie-ya ada perkataan,
utarakan saja kepadaku!”
“Begitupun baik, tolong saudara
suka memberi laporan kepada Ban Cau, katakan saja aku orang she Phoa
dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok tidak senang membeli hubungan
persahabatan ini, Cong Piauw-tauw kami sebentar lagi bakal tiba,
jika Ban Cau ada urusan hendak dibicarakan dengan aku orang she Phoa
maka suruh ia muncul sendiri, bila terlambat terpaksa aku akan
persilahkan dia orang membicarakan sendiri persoalan ini dengan Cong
Piauw-tauw kami.”
“Cong Piauw-tauw kalian apakah
benar “Thian Tan Kim Leng Ceng Pat Fang” atau si Lempengen Besi
Genta Emas yang menggetarkan delapan penjuru Kwan Tiong Gak, Kwan
Toaya?” seru si lelaki itu rada tertegun.
“Di kolong langit saat ini baik
dari kalangan Pek to sama pada tahu bila COng Piauw-tauw dari
perusahaan Liong Wie piauw-kiok adalah Kwan Tiong Gak, Kwan Toaya,
Kawan! Agaknya kau rada kurang percaya?”
Kwan Tiong Gak punya gelar manusia
yang menggetarkan delapan penjuru, ia benar-benar punya kemampuan
untuk mengusir dan menumpas gangguan iblis, begitu menyebutkan nama
besarnya seketika itu juga membuat ketiga orang itu merasa
terperanjat dan bergidik.
“Phoa-ya!” ujar si lelaki yang
berdiri di tengah itu seraya menjura.”Kami datang kemari karena
sedang menjalankan tugas, apa yang Phoa Jie-ya katakan tadi pasti
akan kami sampaikan seadanya tanpa ditambahi dengan sepatah
katapun.”
“Heee…..heee…..heee…… sekalipun
kalian bertiga ada maksud menambahi perkataanku pun boleh saja,”
sambung Phoa Ceng Yan sambil tertawa dingin.
“Phoa Jie-ya terlalu banyak
curiga!”
Ia mendehem perlahan, kemudian
tambahnya.
“Kami telah mengganggu perjalanan
Phoa Jie-ya dengan beberapa perkataan yang tak berguna, dalam hati
merasa sangat tidak enak kesalahan yang telah kami perbuat masih
mengharapkan Phoa Jie-ya suka memaafkan, kami mohon diri terlebih
dahulu.”
Ia putar badan lantas berlalu
dengan langkah lebar.
“Saudara bertiga harap tunggu
sebentar” tiba tiba Phoa Ceng Yan berseru setelah termenung beberapa
saat.
Ketiga orang itu sama-sama
menghentikan langkahnya dan putar badan.
“Phoa Jie-ya, masih ada pesan apa
lagi?”
Sinar mata Phoa Ceng Yan
perlahan-lahan menyapu sekejap ke atas wajah ketiga orang itu, lalu
sambil tertawa katanya.
“Sewaktu kalian bertiga berjumpa
dengan si Dewa Api Ban Toaya, tolong sampaikan salam dari aku orang
she Phoa.”
“Pesan Phoa Jie-ya pasti akan kami
sampaikan,” sahut si lelaki itu mengiakan.
“Kalau begitu bagus sekali, aku
orang she Phoa mengucapkan terima kasih dahulu kepada kalian
bertiga…”
Ia mendehem berat, setelah
merandek sejenak sambungnya, “Burung belibis lewat meninggalkan
suara, manusia lewat meninggalkan nama, kalian bertiga bersemangat
jantan, mengapa tidak suka meninggalkan nama?”
“Jika Phoa Jie-ya masih ingin
bertanya cayhe pun tidak bisa tidak harus memberitahu juga, kami
bersaudara adalah Lam Thian Sam Yen atau Tiga Belibis dari Lam
Thian.”
“Selamat berjumpa!” seru Phoa Ceng
Yan sambil ulapkan tangannya.
Si lelaki itu menjura setelah itu
bersama-sama putar badan berlalu.
Gerakan tubuh ketiga orang itu
cepat bagaikan kilat, tidak selang beberapa saat lamanya jejak
mereka sudah lenyap tak berbekas.
Beberapa buah kereta kuda itu
masih tetap berada dalam posisi bulat siap menghadapi serbuan musuh.
Perlahan-lahan Lie Giok Liong
melangkah maju ke depan.
“Paman Jie-siok!” bisiknya lirih.
“Kita akan melanjutkan perjalanan ataukah tetap berada dalam posisi
begini sambil menanti perubahan situasi?”
“Lam Thian Sam Yen tidak lebih
cuma kaki tangan pembantu belaka, saat ini mereka kembali untuk
menyampaikan laporan. Si Dewa Api Ban Cau selama ini bergerak di
sekitar daerah utara sedangkan Lam Thian San Yen muncul di daerah
sekitar Kang Lam, kali ini jago Liok-lim dari kalangan Kang Lam
serta kang Pok bisa bersekongkol sudah tentu urusan tidak sedemikian
gampang, sekarang kita masih belum bisa melanjutkan perjalanan,
tunggu sebentar lagi baru ambil keputusan.”
“Perkataan dari paman Jie-siok
sedikitpun tidak salah,” kata Lie Giok Liong seraya menjura. “Aku
akan pergi memberi kabar kepada mereka dahulu.”
Pada wajtu itu, tiba-tiba Liauw
Thayjien muncul dari balik kereta seraya berjalan mendekat.
“Phoa Jie-ya!” sapanya.
“Thayjien ada pesan?” tanya Phoa
Ceng Yan dengan alis berkerut.
“Bagaimana pembicaraan Phoa Jie-ya
dengan mereka?”
“Bicarakan soal apa?”
“He-koan telah berunding dengan
hujien dan siauw-li, selain lukisan pengangon kambing, kamipun rela
untuk memberikan semua yang ada pada kami asal bisa selamat tiba di
tempat tujuan.”
“Thayjien terlalu royal…..”
Sewaktu mereka sedang berbicara,
mendadak muncul dua butir benda hitam sebesar telor itik
menggelundung datang di atas permukaan salju.
Melihat benda itu Phoa Ceng Yan
jadi sangat terperanjat.
“Thayjien cepat menyingkir!”
teriaknya keras.
Sebaliknya Liauw Thayjien malah
tercengang dibuatnya.
“Aaaaakh! Dua ekor tikus tanah!”
serunya.
Dalam pada itu, kedua gulung
bayangan hitam tadi telah tiba kurang lebih enam-tujuh langkah di
depan kedua orang itu.
“Bluuum…….! Bluuum…..!” diikuti
dua kali ledakan keras, kedua gulung bayangan hitam tadi telah
meledak di atas permukaan salju.
Bila dibicarakan sungguh aneh
sekali, kedua benda bayangan hitam tadi ternyata memercikan
bunga-bunga api yang amat besar di atas permukaan salju kemudian
berkobar menjadi suatu kebakaran yang sangat besar.
Selama hidup Liauw Thayjien belum
pernah menemui kejadian macam begini, ia jadi amat terperanjat.
“Apa yang telah terjadi?” tanyanya
lirih.
“Suatu permainan dari si Dewa Api
Ban Cau!”
Tampak dua gulung bunga api yang
menimbulkan kebakaran di atas permukaan salju itu makin lama
berkobar makin besar dalam sekejap mata percikan api sudah meluap
hingga mencapai ketinggian tiga depa dengan luas enam depa lebih,
separuh bagian jalan raya sudah dijilati oleh kobaran api, salju
mencair dan mengalir kemana mana tapi sama sekali tidak mempengaruhi
kobaran api tersebut.
Melihat jilatan api yang makin
lama meninggi itu Liauw Thayjien berdiri termangu mangu, jelas
dihatinya merasa amat terperanjat oleh kejadian tersebut.
Lain halnya dengan Phoa Ceng Yan,
ia sama sekali tidak terpengaruh oleh oleh kobaran api yang membakar
permukaan salju itu, sepasang matanya dengan tajam memperhatikan
perubahan situasi di empat penjuru.
“Bluum…..! Bluum………..!” kembali
terjadi dua kali ledakan keras yang memekakkan telinga, dua gumpalan
api yang sedang berkobar memenuhi angkasa itu kembali menyalakan
cahaya biru yang menyilaukan mata membumbung jauh tinggi ke angkasa
mencapai ketinggian tiga tombak lalu punah dalam bentuk asap biru
yang tebal.
Ketika itu sang surya tepat di
atas kepala, sinar matahari sangat tajam……..semisalnya ketika itu
malam hari maka bunga api yang terpercikkan dari asap biru tersebut
tentu sangat menarik untuk dilihat.
Perhatian Phoa Ceng Yan tanpa
terasa ikut tersedot oleh kobaran cahaya biru yang membumbung tinggi
ke angkasa itu.
Menanti ia tersadar kembali si
Dewa Api Ban Cau sudah muncul dari balik dua gumpalan asap biru itu.
Keadaan dari si Dewa Api Ban Cau
pada saat ini sangat aneh, ia memakai baju warna merah padam yang
menyolok, bahkan sampai kepalapun memakai topi warna merah darah,
tangan memakai kaos tangan warna merah pula.
“Thayjien, silahkan mengundurkan
diri ke belakang, jangan sampai terluka badanmu!” seru Phoa Ceng Yan
dengan nada berat.
Liauw Thayjien menurut dan
berturut-turut mundur lima langkah ke belakang, tapi ia tetap tidak
suka mengundurkan diri ke dalam kereta.
Phoa Ceng Yan kerutkan alisnya,
tetapi ia tetap tidak menegur lebih lanjut.
Terdengar Ban Cau mendehem berat.
“Phoa-heng! Siauw-te sama sekali
tiada minat untuk mencari keonaran dengan dirimu tapi Phoa-heng
tidak suka mengalah satu tindak untuk orang lain, maka Siauw-te
terpaksa harus mengenakan kembali pakaian yang sudah ada dua puluh
tahun lamanya belum pernah dikenakan.”
“Saudara telah berganti dengan
mengenakan pakaian ini, aku pikir tentu kau sudah bulatkan tekad
untuk membegal barang kawalanku kali ini bukan??”
“Saat ini rasanya kita masih bisa
saling merundingkan persoalan ini secara damai.”
“Heee……heee…..heee…..heee…… tempo
dulu Ban-heng dengan mengenakan pakaian merahmu ini telah main bakar
sesukanya sehingga membuat kawan-kawan Bu-lim di sekitar daerah
Kiang Pak pada jeri dibuatnya setiap kali mendengar namamu….” seru
Phoa Ceng Yan sambil tertawa dingin.
“Haaa……haaa…..haaa….. Phoa heng
terlalu memuji..”
“Kalau begitu silahkan Ban-heng
suka membakar, bakar dulu diri aku she Phoa.”
“Maksud Phoa Jie-ya kau anggap
siauw-te takut untuk membakar dirimu?” seru Ban Cau dengan air muka
berubah hebat.
“Sudah tentu Ban-heng berani
melaksanakan pekerjaan tersebut, tapi siauw-te merasa bahwa api dari
Ban-heng tersebut belum tentu bisa membakar habis semua orang yang
aku bawa ini, bersamaan itu pula kemungkinan sekali perbuatan itu
bakal memancing serangan balasan dari kami.”
“Haa….haaa……haaa….soal itu sih aku
tahu” Ban Cau tetawa tergelak. “Maksud Phoa heng bukankah sedang
memperingatkan kepada siauw-te agar jangan lupa terhadap serangan
balasan dari gelang emas pencabut nyawamu itu bukan?”
“Hee….heee……heee…. sedikitpun
tidak salah” Phoa Ceng Yan tertawa dingin. “Jikalau kau Ban Cau main
api, terpaksa aku pun harus mengandalkan anak panah serta gelang
emas untuk balas melancarkan seranganmu.”
Dalam pada waktu Lie Giok Liong
serta Ih Coen masing-masing dengan golok tersoren di punggung dan
tangan mencekal anak panah berdiri di kedua belah sisi jalan raya.
Agaknya kedua orang itupun merasa
rada jeri terhadap permainan api dari Ban Cau, kurang lebih satu
tombak dari Ban Cau berada mereka berdua sama pada berhenti.
“Kalian berhati-hatilah
memperhatikan” teriak Phoa Ceng Yan dengan suara keras-keras. “Begitu
aku turun tangan, kalian umpan anak panah kepadanya.”
“Turut perintah!” sahut Lie Giok
Liong serta Ih Coen berbareng.
Sikap Ban Cau tetap sinis, serius,
dan sepasang matanya dengan memancarkan cahaya tajam memperhatikan
sekejap keadaan di sekeliling empat penjuru.