lambang naga panji naga sakti 04
Semakin misterius sifatnya semakin
menarik perhatian ingin tahu dalam hatinya, tetapi selama ini
agaknya Liauw Thayjien suami istri tidak suka terlalu banyak
membicarakan soal putrinya, maka dari itu terpaksa Phoa Ceng Yan pun
harus menekan perasaan heran dan ingin tahu di dalam hatinya.
Kini secara mendadak dengan
sendirinya Liauw Thayjien mengungkap persoalan ini, kontan saja Phoa
Ceng Yan merasakan semangatnya berkobar kembali.
“Heeei……….. setelah aku pikirkan
beberapa waktu lamanya belum berhasil juga mengetahui
alasan-alasannya, maka aku ada maksud hendak minta beberapa petunjuk
dari kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw,” terdengar Liauw Thayjien membuka
pembicaraannya sambil mengurut hidungnya dengan jari tengah serta
jari telunjuk tangan kanannya.
Saat itulah dari dalam ruangan di
dalam kuil tampaklah api unggun telah sulut, api berkobar-kobar
memberikan kehangatan disekitar sana.
“Thayjien!” seru Phoa Ceng Yan.
“Kita orang-orang dari kalangan dunia kangouw tidak begitu mengerti
tentang soal adat istiadat serta kesopanan, bilamana ada perkataan
perkataan atau tindakan-tindakan yang menyalahi dirimu, harap kau
orang suka menerimanya dengan hati sabar…………..”.
Tangannya lantas menyambut
mencengkeram tangan Liauw Thayjien dan diajaknya berlalu dari kereta
tersebut.
“Ayoh jalan! Kita masuk ke dalamn
kuil minum dua cawan arak dulu kemudian baru mengadakan penyelidikan
dengan teliti terhadap persoalan putrimu.”
Begitu tangannya mencengkeram
pergelangan Liauw Thayjien, sang bekas pembesar negeri ini kontan
saja merasakan tulang-tulangnya amat sakit seperti hendak pecah.
Tetapi ia sebagai seorang bekas
pembesar tingkat dua yang terlatih akan daya tahan serta
kesabarannya, walaupun merasa sakit dengan gertakan giginya
kencang-kencang ia mengangguk dan mengikuti Phoa Ceng Yan berjalan
menuju ke arah kamar sebelah selatan di dalam ruangan kuil tersebut.
Sejak semula dua orang anak buah
perusahaan itu telah memaku jendela di sana sehingga angin dingin
tidak sampai bertiup masuk ke dalam.
Di tengah berkobarnya api unggun
terasa hawa hangat yang amat nyaman menyebar di sekeliling tempat
itu.
Setelah Phoa Ceng Yan serta Liauw
Thayjien berjalan masuk ke dalam kamar tersebut, segera terlihatlah
seorang lelaki membawakan sebatang kayu sebagai alat tempat duduk.
Setelah meletakkan kayu itu di
atas tanah, orang itu menjura kemudian mengundurkan diri dari sana.
“Liauw Thayjien!” tegur Phoa Ceng
Yan setelah mendehem perlahan. “Di tempat sesunyi dan sekotor ini
tak ada kursi yang bisa dicari, maaf terpaksa harus menyuruh
Thayjien duduk di atas kayu.”
Sembari berkata ia melepaskan
cengkeramannya di atas tangan kiri Liauw Thayjien.
Perlahan lahan Liauw Thayjien
duduk di atas batang kayu tersebut.
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw adalah
orang Bu lim, menurut penglihatanmu, soal-soal apa yang patut
dicurigai mengenai putriku itu?” tanyanya.
“Terus terang saja aku beritahukan
kepada Liauw Thayjien,” kata Phoa Ceng Yan setelah termenung
sejenak. “Sejak nona Liauw berhasil memukul mundur Lam Thian Sam
Sah, terhadap diri nona Liauw cayhe sudah menaruh perasaan
curiga…..”.
“Apa yang kau curigai mengenai
putriku itu?”
“Aku curigai kalau dia adalah
seorang jago lihay yang memiliki kepandaian silat yang sangat
tinggi, cuma saja ketika itu didalam anggapan cayhe, Liauw Thayjien
suami isteri tentunya sudah mengetahui akan persoalan ini”.
“Setelah periksakan denyutan
jantung dari siauw-li tadi, aku mulai merasa heran, Walaupun aku
bukan seorang tabib yang pandai di dalam hal pengobatan tetapi
sedikit banyak aku mengerti, jika dibicarakan dari kesehatan
badannya pada hari-hari biasa, sekalipun ia berada dalam keadaan
sehatpun aku rasa denyutan jantungnya tidak bakal sekuat itu”.
“Apakah Thayjien sudah tanyakan
soal ini kepada Hujien?”
“Tanya soal apa?”
“Sewaktu si Kongcu tukang
foya-foya Ke Giok Lang memasuki kamar putrimu, bukankah Hujienpun
berada di dalam kamar?”
“Tidak salah lagi tentang soal ini
cayhe sudah tanya dirinya.”
“Kalau begitu bagus sekali jikalau
thayjien bisa menceritakan seluruh kejadian itu dengan lebih teliti
lagi, kemungkinan sekali hal ini banyak memberi bantuan untuk
menjelaskan persoalan yang menyangkut putrimu”.
Perlahan-lahan Liauw Thayjien
mendehem ringan.
“Menurut perkataan isteriku, pada
mulanya pemuda she Ke itu menerjang masuk ke dalam kamar yang
didiami siaw-li dengan gerakan yang kasar serta ganas, tetapi sesaat
berada di dalam kamar itulah agaknya pemuda tersebut telah
memperoleh suatu daya pengaruh yang sangat misterius sekali, paras
mukanya mendadak berubah, air muka yang semula dingin dan kaku
secara mendadak berubah menjadi lunak, setelah itu ia bantu
memeriksakan urat nadi siauw-li, pemuda tersebut lantas hadiahkan
sebutir pil kepadanya kemudian berlalu.”
Walaupun diluaran Phoa Ceng Yan
masih dapat mempertahankan ketenangannya tetapi di dalam hati ia
merasa jantungnya berdebar sangat keras, setelah termenung lama
sekali ia baru berkata.
“Thayjien, mengesampingkan
hubungan antara kalian ayah beranak, jikalau kau berdiri di tengah
tengah tanpa memberatkan yang lain, bagaimanakah menurut pendapat
thayjien mengenai persoalan ini?”
“Aku percaya isteriku tidak akn
menipu diriku” Liauw Thayjien menggeleng. “Tetapi aku sendiripun tak
terpikirkan kekuatan misterius dari manakah yang telah muncul pada
waktu itu. Terhadap persoalan ini aku sudah berpikir sagat lama
sekali, tetapi selama ini tak terpikirkan olehku sebab-sebab yang
rasanya sesuai?”
“Daya pengaruh yang misteriys
tersebut jelas bukan suatu gambaran dari lamunan seseorang,” kata
Phoa Ceng Yan dengan serius. “Bilamana ditinjau dari kejadian ini
maka aku percaya bila daya pengaruh tersebut jika bukannya muncul
dari tubuh putri kesayanganmu, tentu timbul dari suatu benda yang
ada di sana.”
“Denyutan jantung siauw-li secara
mendadak dapat berubah menjadi kuat, hal ini sudah merupakan suatu
kejadian yang ada diluar dugaanku, peduli kekuatan tersebut
dikarenakan daya bekerja dari pil pemberian si Hoa Hoa Kongcu Ke
Giok Lang kepadanya atau bukan, yang jelas pada saat ini aku tak
dapat mempertahankan pendapatku bahwa siauw-li sama sekali tidak
mengerti akan ilmu silat, cuma saja ….”
“Kita harus saling terbuka, saling
membantu dan saling percaya baru bisa membuat jelas persoalan ini,
bilamana thayjien merasa ada perkataan yang hendak diucapkan
silahkanlah untuk menjelaskan!” sambung si telapak besi bergelang
emas dengan cepat.
“Bilamana ditinjau dari dua buah
perubahan yang terjadi saat ini, siauw-li memang patut dikatakan
sangat misterius dan mungkin memiliki suatu daya pengaruh yang aneh
sedangkan mengenai dari manakah munculnya daya pengaruh tersebut
terpaksa cayhe harus menanti pemikiran dari Phoa Hu Cong Piauw-tauw,
karena bagaimanapun pengetahuan cayhe tentang persoalan dunia
kangouw memang terbatas sekali.”
Mendengar perkataan tersebut, Phoa
Ceng Yan tertawa rikuh.
“Aku orang she Phoa sudah
berkelana di dalam dunia kangouw selama puluhan tahun lamanya, jika
dibicarakan berita-berita aneh yang aku dengar serta persoalan aneh
yang pernah kutemui, aku orang she Phoa memang sudah menjumpai tidak
sedikit jumlahnya. Tetapi peristiwa yang aku temui pada kali ini
benar-benar sangat luar biasa. Setelah mendengar penjelasan dari
thayjien barusan ini, aku orang she Phoa mulai merasa bila nona
Liauw belum tentu betul-betul memiliki kepandaian ilmu silat,
sekalipun secara diam-diam mungkin ada orang yang menurunkan
pelajaran ilmu silat kepadanya, tetapi belum tentu di dalam soal
kepandaian ilmu silat ia berhasil menangkan diri si Kongcu tukang
foya-foya Ke Giok Lang.”
“Mengapa Ke Giok Lang disebut
orang sebagai si Hoa Hoa Kongcu atau si Kongcu tukang foya-foya?”
tanya Liauw Thayjien keheranan.
“Dia adalah seorang iblis
perempuan yang sangat dikenal di dunia kangouw, bukan saja wajahnya
tampan dan badanpun menarik bahkan kepandaian silatnyapunsangat luar
biasa, peduli perempuan cabul yang ada di dalam dunia kangouw
ataukah perempuan-perempuan dari kalangan atas, asalkan dia sudah
tertarik, tanggung saja perempuan-perempuan itu dengan rela hati
akan menyerahkan keperawanannya kepada dia….”
Mendadak teringat olehnya bila
nona Liauw termasuk perempuan dari kalangan atas, terburu-buru ia
menutup mulutnya kembali.
“Kau teruskan!” Liauw Thayjien
mendehem perlahan.
“Cayhe pun termasuk orang dunia
kangouw, berbicara kasar dan sembrono sudah terbiasa, harap thayjien
jangan memasukkan persoalan ini di hati.” Phoa Ceng Yan tertawa.
“Nama julukan Hoa Hoa Kongcu
apakah didapatkan Ke Giok Lang karena persoalan ini?”
“Padahal Ke Giok Lang inipun
termasuk jagoan yang berbakat alam, kendati ia begitu gemar main
perempuan, tetapi kepandaian silatnya amat luar biasa, jika tinjau
dari perbuatannya, makan minum, main perempuan berjudi serta tingkah
laku lainnya yang tak senonoh sekalipun berhasil memiliki kepandaian
yang dashyat seharusnya tak bakal bertahan lama. Tetapi nama
besarnya di dalam dunia kangouw bukannya merosot turun ke bawah,
sebaliknya semakin nyaring dan semakin cemerlang.”
“Sungguh sayang sekali di dalam
soal ilmu silat, aku sama sekali tidak mengerti!”
“Aaaaakh…..!” belum sempat si
telapak besi bergelang emas lanjutkan kata-katanya, mendadak tampak
Nyoo Su Jan dengan langkah tergesa-gesa sudah berjalan masuk.
Liauw Thayjien lantas putar badan
menoleh ke arahnya, tetapi sewaktu melihat sikap Nyoo Su Jan yang
terburu-buru, ditambah pula paras mukanya berubah sangat serius,
sekali pandang ia mengerti sesuatu peristiwa kembali terjadi.
“Su Jan, ada urusan?” tanya Phoa
Ceng Yan sambil meloncat bangun.
“Jie-ya, ada orang yang berjalan
mendekati kuil ini!” kata Nyoo Su Jan mengangguk.
“Siapa?”
“Hamba belum melihat jelas tetapi
Lie Piauw-tauw serta Ih Piauw-tauw telah berjaga di sekeliling
kereta!”
“Kenapa?? Kembali ada urusan?”
teriak Liauw Thayjien sambil meloncat bangun.
Maksud dari perkataannya mirip
pepatah yang mengatakan berbicara tentang harimau air muka lantas
berubah.
“Jikalau dirasakan leluasa, lebih
baik undang sekalian Hujien serta nona Liauw untuk turun dari kereta
dan masuk ke dalam kuil ini sehingga misalnya terjadi peristiwa,
mudah untuk dilindungi,” kata Nyoo Su Jan serius.
“Phoa Hu COng Piauw-tauw!” seru
Liauw Thayjien kemudian sambil menoleh sekejap ke arah Phoa Ceng
Yan. “Aku mendengar nama besar perusahaan kalian amat cemerlang,
tetapi setelah melihat kejadian ini hari, aku rasa berita tersebut
sebenarnya tidak bisa dipercaya.”
Kontan saja air muka Phoa Ceng Yan
berubah hijau membesi, belum sempat ia mengucapkan sesuatu, Nyoo Su
Jan keburu mendahului.
“Liauw Thayjien, kau jangan
berkata begitu, peristiwa yang sering terjadi di dalam dunia kangouw
amat aneh dan sukar untuk diduga sebelumnya, jikalau kami dari pihak
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok tak dapat menerima pengawalan
tersebut maka di dalam kolong langit saat ini aku rasa jarang sekali
ada orang lain yang suka menerima pekerjaan itu, cuma saja perubahan
yang telah terjadi kali ini jangan dikata Liauw Thayjien merasa
keheranan, sekalipun kamu sebagai piauw su yang telah melakukan
pekerjaan seperti ini selama puluhan tahun lamanya ikut merasa
kebingungan setengah mati.”
“Aaakh….! Sebetulnya apa yang
telah terjadi lagi?” seru Liauw Thayjien tak tertahan lagi.
“Ooouw….. soal ini? sukar…..sukar
untuk ditebak maupun diduga, tetapi di dalam pekerjaan mengawal
barang dari perusahaan kami ada satu peraturan yang tidak termasuk
dalam daftar, entah thayjien mengetahuinya atau tidak??”
“Peraturan apa?”
“Di antara langganan dan
perusahaan piauw-kiok seharusnya tidak ada perkataan yang tidak
diucapkan, diantara kita tidak boleh saling membohongi pihak yang
lain”.
Maksud dari perkataanmu………..”
“Kita umpamakan saja, semisalnya
kau membawa semacam barang berharga yang pada mulanya belum
dilaporkan kepada piauw-kiok, sudah tentu kamipun tidak dapat
mengambil langkah-langkah persiapan, semisalnya sampai terjadi suatu
peristiwa maka pihak Piauw-kiok kendati memikul juga pertanggungan
jawab ini tetapi tanggung jawabnya tidak besar.”
“Nyoo Piauw-tauw, yang termasuk
barang-barang berharga seharusnya benda yang bagaimana?”
“Demikian saja! Aku hendak
memberikan satu misal kepadamu.Ada seorang langganan yang datang ke
perusahaan Piauw-kiok kami minta melindungi uangnya sebesar dua
puluh laksa tahil, tetapi secara diam-diam ia membawa pula sejumlah
intan permata yang harganya melebihi dua puluh laksa tahil perak dan
urusan ini sebelumnya tidak dilaporkan kepada perusahaan Piauw-kiok
kami, tetapi dari kalangan Liok-lim dimana mereka mempunyai
mata-mata yang sangat tajam. Di tengah perjalanan akhirnya terjadi
peristiwa. Jikalau orang-orang yang membegal kita memberi muka
kepada perusahaan kami dan tidak mengganggu uang sebesar dua puluh
laksa itu sebaliknya merampas mutiara-mutiara serta intan permata
yang mereka bawa. Thayjien sebagai seorang yang pernah menjabat
sebagai pembesar, coba pikirlah, tanggung jawab ini harus dipikul
oleh siapa?”
“Nyoo Piauw-tauw! Keadaan kita
rada tidak sama” bantah Liauw Tahjien dengan cepat. “Sewaktu aku
hendak menggunakan tenaga perusahaan kalian untuk menghantar kami
suami isteri, beserta putriku dan barang-barang lainnya ke kota Kay
Hong, aku orang belum pernah menaksir harganya dan adalah dari
perusahaan Piauw-kiok kalian yang membuka harga, agaknya di dalam
perjanjian tersebut tidak pernah menjelaskan bahwa kami dilarang
membawa sesuatu barang”.
Agaknya Nyoo Su Jan kena terpukul
sampai ke pejokan sehingga tak dapat membantah.
“Su Jan!” Phoa Ceng Yan yang ada
di samping sambil mengulapkan tangannya.
“Aku larang kau banyak berbicara
lagi dengan diri Liauw Thayjien”.
Liauw Thayjien tersenyum.
“Pada saat ini kedudukanku-pun
sama seperti kalian merupakan rakyat-rakyat biasa, sekalipun di
antara kita sudah saling mendebat hal inipun merupakan suatu
kejadian yang sangat terbiasa, apalagi hal ini-pun tidak termasuk
suatu perdebatan melainkan aku cuma ingin minta petunjuk dari Nyoo
Piauw-tauw saja.”
Setelah termenung beberapa saat
lamanya, Phoa Ceng Yan dapat berhasil memulihkan kembali
ketenangannya, ia mengangguk dan tersenyum.
“Thayjien silahkan masuk ke dalam
kuil dan duduk sebentar.
Ia merandek, sejenak setelah itu
sambungnya kembali.
“Su Jan! Mari kita keluar untuk
periksa sebentar. Di dalam peristiwa ini banyak terdapat
perubahan-perubahan yang sangat membingungkan sehingga aku
sendiripun sama sekali tidak mengerti, mari kita periksa dulu siapa
telah datang kemudian baru berunding dan mengambil keputusan.”
Selesai berkata ia lantas
melangkah keluar.
Nyoo Su Jan dengan kencang
mengikuti di belakang tubuh si telapak besi bergelang emas.
Mendadak Liauw Thayjien bertindak
dua langkah ke depan.
“Phoa Piauw-tauw!” tegurnya.
“Bagaimana kalau He-koan pun ikut keluar.”
“Baik!” sahut Phoa Ceng Yan
sesudah termenung sejenak. “Tetapi kau harus hati-hati lebih baik
berdiri di belakang tubuhku saja sehingga semisalnya secara mendadak
terjadi sesuatu oerubahan yang tidak diinginkan cayhepun tidak
sampai jadi gelagapan.”
“He-koan sudah tentu akan
berhati-hati”
Dengan langkah lebar Phoa Ceng Yan
segera berjalan keluar dari ruangan kuil.
Setibanya di depan halaman ia
mendongakkan kepalanya memeriksa sejenak sekeliling tempat itu,
tampaklah Lie Giok Liong serta Ih Coen telah mencabut keluar
goloknya dan berdiri kurang lebih empat-lima depa di depan kereta di
atas permukaan salju.
Saat itu di atas dua buah kereta
sudah dipasang orang dua buah lentera yang bergantung tinggi-tinggi,
dengan demikian semua benda yang terdapat beberapa kaki di
sekeliling kereta tersebut dapat terlihat jelas.
Liauw Hujien serta nona Liauw yang
berada di dalam kereta agaknya masih belum tahu jika situasi di luar
kereta sudah berubah amat tegang dan berbahaya sekali.
“Thayjien!” bisik Phoa Ceng Yan
setelah tiba di belakang kereta tersebut. “Kau tinggal dulu di
pinggir kereta, biar Loolap pergi memeriksa sebentar!”
Liauw Thayjien menurut, ia
berhenti di pinggir kereta tersebut sambil menengok ke depan.
Tampaklah kurang lebih tiga kaki
di atas permukaan salju nan putih berdirilah dua ekor kuda jempolan
yang di atasnya duduk dua orang lelaki memakai mantel tebal.
Mereka berdiri tak bergerak
bagaikan patung di tengah tiupan angin keras, sedang jauh di sebelah
lain tampaklah Lie Giok Liong serta Ih Coen berdiri mengawasi.
Yang aneh selama ini tak
seorangpun di antara masing-masing pihak angkat bicara, sebaliknya
hanya berdiri saling berhadapan di tengah tiupan angin serta curahan
salju yang deras.
Diam-diam Liauw Thayjien mulai
berpikir di dalam hatinya.
“Peristiwa yang terjadi di dalam
dunia kangouw benar-benar sangat luar biasa, setelah saling
berhadap-hadapan mengapa tak seorang pun di antara mereka yang
angkat bicara?”
Dengan langkah yang cepat Phoa
Ceng Yan melampaui Lie Giok Liong serta Ih Coen kemudian sambil
menjura tegurnya.
“Loohu adalah Phoa Ceng Yan dari
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok, entah apa maksud kedatangan kalian
berdua di tengah malam buta? siapakah nama besar kalian berdua?”
“Ooouw………….. kiranya si telapak
besi bergelang emas Phoa Sie-ya, maaf, maaf!” seru si lelaki kasar
yang berada di sebelah kiri.
Ia merandek sejenak, kemudian
sambungnya kembali, “Karena melakukan perjalanan cepat kami berdua
sudah kemalaman di tengah jalan, sebenarnya aku hendak mencari
tempat untuk meneduh dari hawa dingin serta salju yang deras, tidak
disangka perusahaan kalian telah menempati kuil ini terlebih dulum
setelah kami lihat lampu lentera bertandakan perusahaan kalian,
rasanya lebih baiklah kita orang tidak usah terlalu ngotot lagi.”
“Aku hanya berharap apa yang
kalian ucapkan keluar benar-benar muncul dari dasar lubuk hati yang
sebenarnya!” seru Phoa Ceng Yan tertawa tawar.
“Kami cuma bisa berkata demikian
saja, tetapi akupun tudak mengharuskan Phoa Jie-ya harus percaya.”
“Haaaa…………haaa……..haaa………. kawan!
Sungguh tepat sekali perkataanmu! Dan kalian masih belum kehilangan
sifat seorang jago Bu lim……….” puji Phoa Ceng Yan sambil tertawa
terbahak-bahak. “Mari, mari! Di dalam kuil ada api unggun serta arak
wangi jikalau kalian berdua ada maksud untuk mengikat tali
persahabatan dengan aku orang she Phoa mari masuk ke dalam kuil,
sembari menghangatkan badan kita minum satu-dua cawan arak.”
Lelaki yang ada di sebelah kiri
kelihatan ragu-ragu sejenak, setelah termenung akhitnya ia menjawab,
“Nama Phoa-ya di dalam dunia kangouw sudah amat cemerlang, kami dua
bersaudara rasanya tidak berani menerima penghargaan yang demikian
tingginya, tetapi cukup dengan perkataan yang diucapkan oleh Phoa-ya
barusan kami dua bersaudara suka merasa sangat berterima kasih,
lebih baik kita berpisah sampai di sini saja.”
Di mana tali lesnya disentakkan,
dengan meninggalkan butiran salju yang beterbangan memenuhi angkasa
ia berlalu dari tempat tersebut.
Si lelaki kasar yang berada di
sebelah kanan pun segera menyentakan pula tali les kuda
tunggangannya untuk mengejar dari arah belakang.
Menanti kedua sosok bayangan
manusia itu telah lenyap di tengah kegelapan, Phoa Ceng Yan baru
putar badan.
“Giok Liong, kalian coba-cobalah
apakah kereta-kereta itu dapat dimasukkan semua ke dalam kuil!”
katanya sembari melangkah ke depan.
“Jie-ya! Kau sudah berhasil
menemukan asal usul mereka?” tanya Nyoo Su Jan setengah berbisik.
“Belum, aku belum berhasil
menemukan asal usul mereka,” Phoa Ceng Yan menggeleng. “Tetapi yang
jelas maksud tujuan mereka tidak lebih hanya maksa aku agar supaya
suka unjukkan diri menemui mereka, dan dugaanku ini tak bakal salah
lagi”.
Ia merandek sejenak, kemudian
sambungnya kembali.
“Su Jan, coba kau bawalah orang
melakukan pemeriksaan sejenak di sekeliling kuil ini, coba lihatlah
adakah jebakan-jebakan yang dipasang oleh musuh terhadap kita,
sekalian periksa dengan teliti semua jalan masuk serta jalan keluar
menuju ke dalam kuil yang terdapat di sekitar sini, mereka boleh
tidak datang, tetapi kita mau tak mau harus melakukan persiapan
terlebih dahulu.”
Nyoo Su Jan menyahut, dengan
membawa sorang lelaki ia lantas berlalu dari sana dengan
tergesa-gesa.
Setelah melihat bayangan tubuh
dari Nyoo Su Jan serta seorang anak buahnya lenyap dari pandangan,
Phoa Ceng Yan baru menoleh ke arah belakang.
Ketika itulah Liauw Thayjien
dengan langkah lambat-lambat sudah berjalan mendekat, tak terasa
lagi dengan sengaja memperlihatkan suatu senyuman ringan katanya.
“Thayjien, sekali lagi kita
menemui kerepotan!”
“Darimanakah asal usul orang-orang
ini? Apa maksud tujuan mereka berbuat semalam demikian?”
“Sekarang, kami masih belum tahu
jelas asal usul mereka yang sebenarnyam, sedang mengenai apa maksud
tujuannya? selama ini Loolap masih belum mengerti sejak dari Lam
Thian Sam Sah hingga si Kongcu tukang foya-foya Ke Giok Lang, aku
belum mengerti juga akan maksud tujuan mereka.”
“Phoa-ya! Lalu apakah kau kira aku
tahu!” Liauw Thayjien tertawa pahit.
Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan
menggeleng.
“Kemungkinan sekali kau Liauw
Thayjien benar-benar sudah tahu, tetapi aku yakin bila diantara kita
semua pasti ada seorang yang mengetahui jelas akan seluruh duduknya
persoalan ini dan orang itu pasti bukan anggota perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok!” katanya.
“Kalau begitu kau sedang maksudkan
Siauw-li?”
“Loolap mengira agak tidak leluasa
bagiku untuk sembarangan melancarkan tuduhan………..”
Ia mendehem sebentar, tambahnya.
“Thayjien, jika ditinjau dari
keadaan yang kita hadapi sekarang ini, Loolap rasa kita tak bakal
berhasil menghindarkan diri lagi dari kerepotan ini, sekalipun malam
ini kita berhasil meloloskan diri tetapi kita tak bakal berhasil
meloloskan diri pada esok hari.”
“Maksud Phoa Hu Cong Piauw-tauw.”
“Aku sudah bersiap sedia hendak
mengadu jiwa dengan mereka” sambung Phoa Ceng yan tidak menanti
bekas pembesar itu menyelesaikan kata-katanya. “Jika dibicarakan
menurut peraturan pengawalan barang kami, kecuali menghadapi keadaan
situasi yang terlalu memaksa kami tak akan suka bergebrak melawan
orang lain, semakin dilarang kalau turun tangan terlelbih dahulu.
Tetapi situasi pada beberapa hari ini sangat aneh, Loolap tidak
ingin terbelenggu oleh peraturan itu lagi. Cuma, didalam hal ini aku
harus merepotkan thayjien akan satu hal.”
“urusan apa?”
“Tolong Thayjien suka
memberitahukan kepada Hujien sewaktu kami bergebrak nanti lebih baik
dia orang sedikit bersabar, kami akan menggunakan seluruh tenaga
yang ada untuk melindungi kalian. Sudah tentu golok pedang tidak
bermata, Loolap-pun tidak dapat memastikan bila kami pasti dapat
melindungi kalian sehingga tidak sampai menemui cedera, tetapi
Loolap-pun dapat mengucaokan sepatah kata-kata sumpah di hadapan
Liauw Thayjien, asalkan di antara kalian baik Liauw Thayjien sendiri
maupun Hujien atau nona Liauw bilamana ada salah seorang saja yang
menderita luka, aku orang she Phoa pasti akan melayaninya.”
“Pasti akan melayani?” seru Liauw
thayjien keheranan. “Perkataanmu ini betul-betul membuat He-koan
merasa tidak paham.”
“Semisalnya saja nona Liauw kena
dilukai lengan kirinya, Loolap tentu akan memotong lengan kiriku
sebagai ganti, jika Liauw Hujien terluka kakinya, mka Loolap-pun
akan mengikuti bekas luka tersebut membacok kakiku sendiri, Jika
Liauw Thayjien terkena serangan senjata rahasia, Loolap-pun seperti
halnya dirimu akan melukai diriku sendiri.”
“Ehmmm….. tentang soal ini, aku
rasa kurang pantas!” kata Liauw thayjien rada keberatan.
“Inilah suatu sumpah yang terberat
bagi seorang yang bekerja sebagai pengawal barangm aku orang she
Phoa setelah berjanji tak akan mungkiri kembali…..”
Ucapan tersebut diutarakan dengan
suara keras, sampai Lie Giok Liong serta Ih Coen-pun dapat mendengar
sangat jelas.
Liauw Thayjien mendehem perlahan.
“Phoa-ya!” serunya ringan.
“Peristiwa ini bukanlah suatu kejadian balas membalas, membunuh
orang bayar nyawa, jikalau kami suami isteri serta Siauw-li
sungguh-sungguh telah menemui suatu peristiwa yang berada di luar
dugaan, kamipun tidak ingin Phoa-ya sungguh-sungguh melakukan
potong lengan babat kaki sendiri……….”
Begitu perkataan tersebut
diucapkan, Phoa Ceng Yan kontan tertawa terbahak-bahak memotong
pembicaraannya yang belum selesai.
“Haaa…..haaa……haaaa………haaa…… Liauw
Thayjien, kami orang-orang Bu-Lim selamanya kata satu tetap satu,
kata dua tetap dua, perkataan yang sudah aku ucapkan keluar
selamanya tidak akan berubah lagi, cuma saja cayhepun ingin minta
bantuan dari Liauw Thayjien akan suatu urusan.”
“Urusan apa?” kau boleh ucapkan
terus terang”.
Bila ditinjau dari keadaan situasi
pada saat ini, rencana perjalanan kita agaknya mau tak mau harus
diubah, demi menjaga segala kemungkinan dari penyergapan di tengah
malam buta, Loolap rasa terpaksa kita harus menunggu sampai terang
tanah baru bisa berangkat.”
“Yaaa…… hal ini memang merupakan
suatu kejadian yang tidak bisa dipaksakan” Liauw Thayjien
mengangguk.
“Masih ada satu urusan lagi yang
sangat mengharapkan Liauw Thayjien suka bantu berbicara, kami sudah
membersihkan sebuah kamar di sebelah barat sana, harap Hujien serta
nona suka masuk ke dalam kamar tersebut untuk beristirahat”.
“Baik! Aku segera akan beritahukan
hal ini kepada mereka”.
“Liauw Thayjien!” mendadak Phoa
Ceng Yan memperendah suaranya. “Kecuali lukisan pengangon kambing
itu, apakah Liauw Thayjien membawa sesuatu barang istimewa?”
“Barang yang He-koan bawa tidak
banyak, tetapi tidak dapat dikatakan pula sedikit, tetapi aku yakin
di antara barang-barangku itu tak sepotongpun yang ada sangkut
pautnya dengan orang-orang dunia kangouw……..”
Ia merandek sejenak, sesaat
kemudian tambahnya.
“Demikian saja! Jikalay Phoa Hu
Cong Piauw-tauw tidak percaya, besok setelah ada waktu luang kau
boleh ajak aku pergu melakukan pemeriksaan.”
“Liauw Thayjien adalah seorang
yang pernah menjabat pembesar negeri, ternyata kau bisa berubah
pikiran menurut keadaan ini apapun sudah cukup.”
“Kalau begitu aku pergi memanggil
hujien serta siauw-li dulu.”
Liauw Hujien serta nona Liauw yang
mendengar bakal terjadi peristiwa lagi, saking kaget dan takutnya
rasa mengantuk yang semula mulai menyerang mereka berdua kontan
lenyap tak berbekas, terburu-buru mereka meninggalkan kereta menuju
ke dalam kamar sebelah barat.
Kamar sebelah barat itu sejak
semula sudah dibersihkan atas perintah Phoa Ceng Yan, kini
mengharuskan mereka menginap di tengah kuil bobrok walaupun nona
Liauw adalah seorang gadis perawan orang kenamaan mau tak mau harus
memojok pula dengan menggunakan sebelah selimut menutupi sekitar
sana sebagai kamarnya.
Liauw Hujien mana pernah mengalami
penderitaan semacam ini sambil memandang Liauw Thayjien ia
menggerutu tiada hentinya.
“Bilamana kita menggunakan tentara
kerajaan untuk menghantar, di setiap keresidenan tentu disambut
pembesar keresidenana, setiap kota akan disambut pembesar kota, kita
pun tidak usah menderita semacam ini, bukan saja selama di dalam
perjalanan harus menemui kekagetan serta ketakutan, di tengah malam
butapun harus pindah ke sana pindah ke sini. Wan Jie adalah seorang
gadis kenamaan, suruh dia tidur di atas tanah di tengah kuil bobrok
semacam ini coba kau pikir apakah ini pantas?”
“Eheee…..Eeeee….. Hujien! Setiap
orang setelah tiba di bawah pintu tentu akan menunduk, urusan sudah
jadi begini buat apa kau orang mengomel terus?” kata Liauw Thayjien
mendehem tiada hentinya.
Nona Liauw yang mendengar ayah
ibunya saling mengomel, terburu-buru menimbrung, “Tia, Ma…….. kalian
tidak usah beribut, selamanya aku belum pernah merasakan penghidupan
semacam ini, sekali mencobapun rasanya amat menarik sekali.”
Mengambil kesempatan inilah Liauw
Thayjien buru-buru turun dari panggung dan tersenyum.
“Kalian beristirahatlah sebentar,
aku akan pergi bercakap-cakap dengan Phoa Hu Cong Piauw-tauw,”
katanya.
Di luaran Ih COen dengan golok
terhunus berdiri di depan pintu kuil.
Perlahan-lahan Liauw Thayjien
berjalan menuju ke belakang si telapak besi bergelang emas, sesudah
mendehem sapanya. “Phoa-ya!”
“Thayjien! Aku orang she Phoa
merasa rada menyesal,” seru Phoa Ceng Yan sambil menoleh dan
memandang sekejap ke arah Liauw Thayjien.
“Urusan sudah berubah jadi begini,
kau Phoa-ya pun tak perlu terlalu menyesali diri sendiri.” Liauw
Thayjien menggeleng. “Tetapi sampai kini cayhe masih belum tahu
keadaan situasi yang sebenarnya, entah sukakah Phoa-ya memberi
keterangan?”
Kembali Phoa Ceng Yan tertawa
pahit.
“Liauw Thayjien!” serunya. “Aku
berharap kau suka mempercayai perkataan Loolap, hingga saat ini aku
sendiripun masih belum paham peristiwa apakah sebetulnya yang telah
terjadi?”
“Phoa-ya! He-koan merasa keadaan
situasi pada saat ini amat mengherankan, di dalam hal ini tentu
sudah tersembunyi suatu rahasia.”
“Sedikitpun tidak salah” Phoa Ceng
Yan mengangguk. “Apa pendapat Thayjien tentang soal ini?”
“Aku berkeinginan mmeriksa sekali
lagi lukisan pengangon kambing tersebut, mengapa Lam Thian Sam Sah
bukannya hendak mau merampas harta kekayaan emas intan permata
sebaliknya hanya berkeinginan mendapatkan sebuah lukisan? cuma saja?
cuma saja…..”
“Cuma saja apa?” dalam hati Phoa
Ceng Yan benar-benar merasa sangat tegang.
“He-koan tidak paham ilmu silatpun
tidak memahami peristiwa-peristiwa di dalam dunia kangouw, maka aku
berkeinginan hendak mengajak Phoa-ya untuk bersama-sama dengan
He-koan meneliti lukisan tersebut sekali lagi.”
Mendengar ajakan tersebut, si
telapak besi bergelang emas segera merasakan hatinya amat girang,
pikirnya, “Aaaaakh……. Inilah yang dinamakan pucuk dicinta ulam
tiba…..haaa…..haaa…. aku tak boleh lewatkan kesempatan yang amat
bagus ini!”
Kendati begitu, paras mukanya sama
sekali tidak menunjukkan perubahan apapun.
“Kalau memang Thayjien
berkeinginan demikian sudah tentu cayhe rela mengiringnya.”
“Phoa-ya sering berkelana di dalam
dunia kangouw, pernahkah kau orang mendengar kisah mengenai lukisan
pengangon kambing ini?”
“Terus terang saja cayhe belum
pernah mendengar kisah tentang persoalan tersebut.” jawab Phoa Ceng
Yan menggeleng.
“Heeeii…..! Lukisan ini tidak
jelek, cuma saja bukan hasil karya dari seorang kenamaan.”
Ketika itulah dengan langkah
terburu-buru Nyoo Su Jan muncul kembali ke tempat itu.
“Jie-ya!” serunya sembari menjura.
“Hamba sudah mengadakan pemeriksaan dengan sangat teliti di sekitar
ini, sepuluh kaki di sekeliling kuil sama sekali tidak kedapatan
jebakan-jebakan musuh.”
“Kalau begitu sangat bagus
sekali.” Phoa Ceng Yan mengangguk perlahan. “Su Jan! Setelah kau
mengawasi mereka-mereka memasukkan kereta-kereta tersebut ke dalam
kuil, coba kau wakili diriku untuk membagi mereka jadi du rombongan,
satu rombongan jaga malam dan rombongan lain beristirahat, aku
hendak bercakap-cakap dengan Liauw Thayjien.”
“Soal ini Jie-ya boleh berlega
hati,” sahut Nyoo Su Jan sambil menjura.
“Hu Cong Piauw-tauw dari
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok lantas mengangguk, lalu sambil
mengandeng tangan Liauw Thayjien melangkah masuk ke dalam kamar
ujarnya.
“Thayjien, mari kita pergi
mengambil lukisan tersebut!”
“Maksudmu lukisan pengangon
kambing? sejak tadi sudah ada di dalam sakuku.”
“Ooouw…. begitu?” seru Phoa Ceng
Yan rada tertahan, ia lantas menyapa seorang lelaki yang berdiri di
depan pintu, katanya.
“Aku dengan Liauw Thayjien hendak
merundingkan sesuatu urusan, siapapun dilarang datang mengganggu,
bila ada urusan kau boleh laporkan pada Nyoo Piauw-tauw.”
Tidak menanti jawaban dari si
lelaki itu lagi, ia segera merapatkan pintu kamar.
Di dalam kamar tersebut kecuali
terdapat seonggokan api unggun serta sebuah lentera bercapkan tanda
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang menerangi seluruh ruangan tak
kelihatan benda lainnya lagi.
Dari dalam saku Liauw Thayjien
segera mengambil keluar lukisan pengangon kambing tersebut, kemudian
perlahan-lahan dibentangkan lebar-lebar.
Lukisan itu panjangnya ada delapan
depa dengan diatasnya terlukiskan berpuluh-puluh ekor kambing
berlainan jenisnya.
Kecuali kawanan kambing masih
terdapat pula lukisan dua orang bocah pengangon kambing.
Dengan menggunakan seluruh
ketajaman matanya Phoa Ceng Yan meneliti setiap lukisan tersebut, ia
merasa kecuali setiap ekor kambing dilukis amat persis satu sama
lain agaknya tidak ada hal-hal yang dirasakan berharga atau patut
dicurigai?
Sebaliknya Liauw Thaujien jauh
lebih bersemangat daripada Phoa Ceng Yan sendiri, tiada hentinya ia
mengangguk sambil memuji.
“Ehmmm….! Walaupun bukan hasil
karya seorang pelukis kenamaan, menurut taksiran Liauw Thayjien
lukisan ini dapat laku berapa tahil??”
“tentang hal ini harus tergantung
pada pembelinya, jikalau menemui seseorang yang suka dengan lukisan
ini kemungkinan sekali bisa laku ribuan tahil ke atas.”
“Ribuan tahil perak bila berada di
dalam pandangan orang biasa mungkin merupakan suatu jumlah yang
tidak kecil, tetapi di dalam pandangan Lam Thian Sam Sah ribuan
tahil tidak lebih hanya suatu jumlah yang amat kecil, bagaimana
mungkin mereka bisa tertarik dengan benda semacam ini?”
“Sedikitpun tidak salah, maka
cayhe menaruh rasa curiga bila di dalam hal ini tentu ada
sebab-sebab lainnya!”
“Sungguh patut disayangkan,
ternyata kita tak berhasil menemukan rahasia yang menyelimuti
lukisan tersebut.”
Lama sekali Liauw Thayjien
termenung berpikir keras, mendadak sambil mengangkat lukisan
pengangon kambing itu serunya, “Mari kita periksa di bawah sinar
lampu!”
Tangan kanan Phoa Ceng Yan dengan
kecepatan penuh segera menyambar lukisan tersebut dihadapkan kearah
lampu lentera.
Terlihatlah bayangan lukisan
simpang siur saling numpuk menumpuk, lukisan yang semula amat bagus
kini jadi kacau balau sukar dipandang.
Kontan saja si orang tua itu
kerutkan alisnya kencang kencang.
“Apa yang sudah terjadi?”
tanyanya.
“Agaknya lukisan ini sudah
mengalami suatu pembuatan yang sangat teliti, di tengah-tengah
lukisan tersebut terdapat lukisan yang lain.”
“Thayjien! Kau tidak salah
melihat??” Phoa Ceng Yan rada tertegun dibuatnya.
Perlahan-lahan Liauw Thayjien
menggeleng.
“Tak bakal salah, gaya coretan
dari kedua lukisan ini sama sekali berbeda.”
“Thayjien! Apakah kau dapat
melihat sebetulnya lukisan apa yang terdapat di sana?”
“Untuk beberapa saat aku tak dapat
menduga lukisan apakah itu” sahut Liauw Thayjien sambil meletakkan
kembali lukisan tersebut. “Tetapi jika diperiksa di bawah sinar
lampu yang kuat dan dipandang agak lama, kemungkinan sekali akan
berhasil menemukan sedikit titik terang.”
“Aaaakh…….. kalau begitu, dia
memang benar-benar tidak mengetahui rahasia di dalam soal ini” pikir
Phoa Ceng Yan di hatinya.
Sebaliknya diluaran katanya,
“Thayjien! Apakah sebelum adanya pendapat ini kau orang sama sekali
tidak tahu?”
“Tidak tahu! Aku cuma merasa bahan
kertas yang digunakan untuk melukis sangat tebal, tetapi sama sekali
tak terduga olehku bila di dalam lukisan ini sebenarnya tersembunyi
pula suatu lukisan yang lain.”
“Thayjien!” ujar si telapak besi
bergelang emas setengah berbisik.”Aku berharap untuk sementara waktu
kau suka rahasiakan urusan ini di hati, lebih baik lagi bila Hujien
pun jangan sampai tahu.”
Liauw Thayjien tampak termenung
berpikir sebentar, sesaat kemudian ia mengangguk.
“Jikalau Phoa Hu Cong Piauw-tauw
merasa hal ini perlu, He-koan tentu akan menurut.”
“Thayjien suka bekerja sama dengan
cayhe, hal ini lebih bagus lagi……….”
Mendadak dengan suara yang
direndahkan tambahnya.”Thayjien, dapatkah lukisan ini dibelah untujk
kemudian diperiksa lukisan yang ada didalamnya??”
“Dapat! Cuma saja kau maupun aku
tak dapat melakukan hal ini sendiri, untuk membuka lukisan tersebut
harus diserahkan kepada seorang suhu yang ahli di dalam lukisan baru
kita dapat melaksanakannya.”
“Di dalam lukisan tersembunyi
lukisan, hal ini tentu ada gunanya, kita tak boleh memandang terlalu
enteng.
“Aku paham……” Liauw Thayjien
mengangguk.
Perlahan-lahan ia menyerahkan
lukisan tersebut ke atas tangan Phoa Ceng Yan, sambungnya.
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, untuk
sementara waktu simpanlah terlebih dulu lukisan itu, setelah tiba di
kota Kay Hong barulah kau serahkan kembali kepadaku”.
Phoa Ceng Yan tampak rada
ragu-ragu, setelah termenung sebentar akhirnya ia menerima juga
lukisan tersebut.
“Baiklah!” ujarnya kemudian.
“Untuk sementara akan kusimpankan dulu lukisan ini setelah tiba di
kota Kay Hong Hu, tentu akan aku serahkan kembali kepada Thayjien.”
Selesai berkata ia menyimpan
lukisan tersebut ke dalam sakunya.
“Phoa-ya, bila kau masih ada
hal-hal yang mencurigakan boleh terus terang dikatakan!” ujar Liauw
Thayjien sambil bangun berdiri. “Asalkan aku dapat melakukannya,
pasti akan aku bantu dengan sekuat tenaga.”
“Ehmmm………. aku rasa tak ada urusan
lain lagi.”
“Perkataan apa saja tiada
halangannya, boleh kau ucapkan secara terus terang.”Kata Liauw
Thayjien tertawa. “Selama beberapa hari ini aku telah memikirkan
banyak sekali urusan dan akupun mulai merasa bahwa siauw-li memang
terdapat banyak hal yang patut dicurigai, asalkan kau Phoa Hu Cong
Piauw-tauw suka memberikan sedikit titik terang, He-koan tentu akan
melaksanakannya dengan sepenuh tenaga.”
Di atas ujung bibir Phoa Ceng Yan
tersungginglah satu senyuman ringan.
“Thayjien! Setelah mengalami
pemikiran serta penyelidikanku sangat teliti selama beberapa hari
ini, aku malah mempunyai pandangan yang kebalikan dari pandangan
Thayjien.”
“Apa maksudmu?”
“Aku lihat putri kesayanganmu
dalam sepuluh bagian ada delapan-sembilan bagian sungguh tak
mengerti akan ilmu silat……”
Belum habis ia menyelesaikan
kata-katanya, terdengarlah suara Nyoo Su Jan ada di luar kamar sudah
berkumandang masuk ke dalam.
“Jie-ya, ada orang mencari kau!”
“Siapa??” tanya Phoa Ceng Yan
sembari menyedot Huncweenya dalam-dalam kemudian menyemburkan
segulung asap.
“Shen Cie San”
“Aaaaaach…………! Dia ada di mana??”
“Sekarang ada di depan pintu
kuil!”
“Baik! Suruh dia masuk”
Nyoo Su Jan mengiakan lalu putar
badan berlalu.
“Kau pergilah menemui kawan,
He-koan hendak beristirahat dulu sebentar.” ujar Liauw thayjien
sewaktu mendengar ada orang datang mencari Phoa Ceng Yan.
“Tahyjien dapat beristirahat
sebentarpun memang baik, cayhe pergi berbicara sebentar dengan orang
ini.”
Liauw Thayjien mengulapkan
tangannya kemudian mengundurkan diri dari sana.
Menanti bayangan punggung dari
Liauw Thayjien telah lenyap tak berbekas, Phoa Ceng Yan baru bisa
menghembuskan napas panjang, ia duduk kembali.
Sejenak kemudian tampaklah Nyoo Su
Jan dengan membawa Shen Cie San berjalan masuk.
Belum masuk ke dalam kamar, selagi
berada di depan pintu Shen Cie San sudah merangkap tangannya
menjura.
“Phoa Jie-ya, selama perpisahan
apakah baik-baik saja?”
Phoa Ceng Yan pun buru-buru bangun
berdiri.
“Shen Loo-te, di sini ada
arak,mari minum secawan dulu untuk menghangatkan badanmu.”
“Jie-ya, beruntung sekali tempo
dulu Jie-ya suka turun tangan menolong diriku, kalau tidak aku orang
She Shen tak bakal bisa hidup hingga ini hari …..” kata Shen Cie San
sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
“Lebih baik kita tidak usah
membicarakan peristiwa tempo dulu, di tengah malam buta begini
Loo-te datang berkunjung kemari, tentunya ada urusan penting,
bukan?” potong Phoa Ceng Yan.
“Jika tak ada urusan, cayhe mana
berani datang menganggu diri Jie-ya.”
“Loo-te, kau terlalu sungkan, ada
perkataan silahkan dibicarakan….”
“Sebetulnya aku hendak
memberitahukan satu kabar penting kepada Phoa Jie-ya! Haruslah kau
ketahui beberapa orang iblis tua yang sudah mengundurkan diri dari
keramaian dunia kangouw, kini pada sama bermunculan kembali dan ada
maksud hendak membegal barang kawalan Jie-ya…”
“Loo-te! Kau tak usah keburu hati”
seru Phoa Ceng Yan menggeleng. “Mari duduklah dulu, di sini ada arak
serta daging goreng, setelah kita minum secawan arak kau baru boleh
bercerita dengan perlahan-lahan.”
“Maksud baik dari Jie-ya aku
terima di hati saja.” buru-buru Shen Cie San menjura. “Aku tak dapat
berhenti terlalu lama di sini. terus terang saja aku katakan
hambapun termasuk di dalam gerombolan mereka dan mendapat tugas
untuk menguntit kereta-kereta kalian…..”
Ia merandek sejenak, kemudian
tambahnya.
“Heeeeei…… tetapi berhubung hamba
pernah mendapat budi pertolongan dari Jie-ya dan selama ini tak
pernah terlupakan dari dalam hatiku, sekalipun kepandaian silat yang
hamba miliki sangat terbatas sehingga tak dapat membantu Jie-ya
meloloskan diri dari kesusahan, terpaksa yang dapat hamba lakukan
hanyalah mengirim kabar buat kau orang tua.”
Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan
mengangguk. “Oooouw….kiranya begitu, hal ini aku harus mengucapkan
terima kasih kepadamu…..”
Setelah mendehem perlahan,
sambungnya.
“Loo-te, siapakah sebenarnya
iblis-iblis tua yang telah munculkan dirinya kembali itu? Kalau
memang kau sudah mengabungkan diri dengan gerombolan mereka,
tentunya mengetahui pula mereka merencanakan kapan hendak turun
tangan?”
“Heeeei……… bila dibicarakan,
sungguh mengecewakan sekali, sampai saat ini aku masih belum
mengetahui jelas asal usul mereka……”
“Lalu secara bagaimana kau bisa
ditarik untuk menggabungkan diri dengan gerombolan mereka?”
“Hal ini kemungkinan sekali
disebabkan nama besar perusahaan Liong Wie Piauw-kiok terlalu
cemerlang di dalam dunia kangouw dan ia ingin mendapatkan ikan
tetapi takut terkena bau amisnya ikan maka semua pekerjaan dilakukan
secara rahasia sekali, sedangkan mengenai hamba bisa masuk ke dalam
gerombolan mereka adalah dikarenakan ajakan seorang kawan karibku
yang bernama Bhe Poo, semua tugas yang hamba terima selama ini
selalu lewat mulut Bhe Poo yang menyampaikan kepadaku.”
(Bersambung Ke 8)
Jilid 8
“Loo-te!” ujar si telapak besi bergelang emas. “Kalau memang kau tak
pernah menemui mereka, bagaimana mungkin kau tahu bila orang-orang
yang ada rencana hendak membegal barang kawalan kami dilakukan oleh
beberapa orang iblis tua yang telah mengundurkan diri dari keramaian
dunia persilatan?”
“Ada satu kali Bhee Poo terlanjur
berbicara dan membocorkan sedikit rahasia, tetapi dengan cepat ia
tersadar kembali dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya.”
“Kalau begitu Shen-heng cuma tahu kalau orang yang bermaksud
membegal barang kawalan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok dan
perbuatan tersebut diselenggarakan oleh beberapa orang iblis tua
yang telah mengundurkan diri dari dunia kangouw, siapakah orang itu
dan secara bagaimana mereka hendak turun tangan, Shen-heng sama
sekali tidak tahu……” ujar Nyoo Su Jan menimbrung.
Shen Cie San segera menggelengkan kepalanya.
“Bhee Poo telah membocorkan nama dari salah seorang di antara
mereka” katanya.
Mendadak ia memperendah suaranya, dan menyambung kembali.
“Orang itu bernama “Hwee Sin” atau si Dewa Api Ban Cau!”
Phoa Ceng Yan serta Nyoo Su Jan mendengar disebutkannya nama orang
itu kontan saja dibuat melengak, setengah harian lamanya tak sanggup
mengucapkan sepatah katapun.
Lama sekali, Phoa Ceng Yan baru menghembuskan napas panjang.
“Si dewa api Ban Cau masih hidup di kolong langit?” tanyanya.
“Benar! Menurut apa yang telah dibocorkan oleh Bhee Poo, sewaktu si
dewa api Ban Cau mengasingkan diri dari keramaian dunia kangouw,
bukan saja ilmu silatnya tidak ditinggalkan bahkan dilatih semakin
giat lagi. Bukan saja kepandaian silatnya pada saai ini telah
mencapai kesempurnaan bahkan di dalam hal senjata berapi-pun
mempunyai kemampuan yang jauh lebih hebat.”
“Ehmmm….! Atas beritamu ini seharusnya aku mengucapkan banyak terima
kasih untuk Loo-te!” kata Phoa Ceng Yan dengan alis yang dikerutkan
rapat-rapat.
“Orang-orang yang dapat berkumpul menjadi satu dengan si dewa api
Ban Cau sudah tentu merupakan kaum penjahat serta iblis-iblis yang
terkenal di dalam kalangan Liok-Lim” ujar Shec Cie San lebih lanjut
memberi keterangan. “Kini apa yang hamba ketahui sudah aku utarakan
semua, cuma sayang aku tak sanggup memberi apapun untuk Phoa Jie-ya,
lain kali asalkan hamba memperoleh kabar berita lagi, tentu akan aku
usahakan untuk mengabarkan kepada kalian.”
Sambil merangkap tangannya menjura, tambahnya.
“Jie-ya! Lebih baik kau jangan menghantar aku, kemungkinan sekali
secara diam-diam ada orang yang menguntit diriku, aku hendak molor
pergi secara diam-diam.”
“Baik! Kau pergilah, kami tidak menghantar lagi.” Phoa Ceng Yan
mengangguk.
Tubuh Shen Cie San dengan cepat berkelebat keluar dari kamar
tersebut kemudian lenyap ditengah kegelapan.
Menanti si pencuri sakti itu telah pergi, dengan kening yang
dikerutkan Phoa Ceng Yan berjalan hilir mudik, bolak-balik tiada
hentinya di dalam kamar.
“Jie-ya!” bisik Nyoo Su Jan dengan suara yang lirih. “Jikalau si
dewa api Ban Cau benar-benar ada maksud hendak membegal barang
kawalan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita, hal ini merupakan
suatu peristiwa yang tidak dapat dihindarkan lagi. Untung saja kita
telah mengirim berita ke markas kemungkinan sekali Cong Piauw taue
akan berangkat sendiri atau paling sedikit dari perusahaan akan
mengirim bala bantuan, pada saat ini kekuatan kita boleh dihitung
tidak lemah, sedang jumnlah orangpun tidak sedikit, asalkan bisa
dibagi dan diatur dengan susuai rasanya cukup untuk melindungi
keselamatan dari seluruh kawalan kita.”
“Su Jan!” Ujar Phoa Ceng Yan tertawa pahit. “Selama ini Cong
Piauw-tauw sangat mempercayai diriku, bilamana karena kawalanku kali
ini sehingga mengakibatkan hancurnya merek dagang kita kali ini
selalu akan membuat aku merasa sangat menyesal dan tidak tenang,
selama hidup akan terasa menderita.”
Ia merandek dan menghela napas panjang, kemudian sambungnya kembali,
“Jika didengar dari nada pembicaraan Shen Cie San agaknya kecuali si
dewa api Ban Cau sendiri masih ada beberapa orang iblis tua yang
sangat lihay ikut serta di dalam gerakan kali ini. Perkataan dari
Shen Cie San sedikitpun tidak salah, orang yang bisa jalan
bersama-sama dengan si dewa api Ban Cau tentu merupakan jago-jago
lihay.”
“Jie-ya! Walaupun perkataan dari Shen Cie San sama sekali tidak
salah, tetapi kitapun belum menemuinya sendiri, apakah tidak mungkin
hal ini merupakan suatu siasat tipuan dari si dewa api Ban Cau
sendiri.”
“Aaakh…. kita jangan terlalu memandang enteng pihak musuh”.
“Sebaliknya kitapun tidak boleh memandang musuh terlalu berat,”
sambung Nyoo Su Jan dengan cepat. “Jikalau semua hal persis seperti
apa yang diucapkan oleh Shen Cie San seharusnya si dewa api Ban Cau
sejak semula sudah turun tangan terhadap kita, di dalam hati tentu
merasa rada jeri dan ragu-ragu terhadap kita.”
“Ehmmm….perkataanmu ini memang tidak salah” Phoa Ceng Yan
mengangguk.
Walaupun nama besar si dewa api Ban Cau sudah terkenal di seluruh
dunia kangouw dan ia merupakan seorang pentolan iblis dari kalangan
Liok-lim, tetapi jikalau dibandingkan dengan si Kongcu tukang
foya-foya Ke Giok Lang rasanya masih jauh ketinggalan.
“Bagaimanapun kita orang jangan terlalu memandang enteng diri si
dewa api Ban Cau, walaupun nama besarnya pada saat ini tak dapat
menandingi nama besar si Kongcu tukang Foya-foya Ke Giok Lang,
tetapi hal inipun disebabkan ia sudah terlalu lamam mengasingkan
diri dari pergaulan….”.
Ia merandek sejenak, lalau tambahnya.
“Su Jan! Kau pernah bertemu muka dengan si dewa api Ban Cau ….?”
“Hamba belum pernah bertemu muka” Nyoo Su Jan menggeleng,
“kedengarannya ia sangat lihay di dalam hal peralatan senjata
berapi….”
“Aku pernah melihat dia orang menggunakan senjata berapinya itu,
hanya di dalam sekejap mata ia berhasil membakar habis dua belas
orang jagoan lihay, penguasaan ilmu berapinya betul-betul telah
mencapai taraf kesempurnaan.”
“Tapi rasanya ilmu permainan gelang emas dari Jie-ya pun belum tentu
berada di bawah kepandaian si dewa api Ban Cau” Ujar Nyoo Su Jan
coba memberi semangat.
“Kau sudah salah menduga” kata si telapak besi bergelang emas
tersenyum pahit.
“Senjata berapi dari si dewa api Ban Cau memiliki perubahan luas
yang amat banyak, kedashyatannya tak dapat dibandingkan dengan
permainan gelang emasku”.
“Jie-ya! Kecuali kita, masih ada seseorang dapat mengundurkan musuh
tangguh ….”
“Siapa?” tanya Phoa Ceng Yan melengak.
“Nona Liauw!”
“Aaakh…..! Sedikitpun tidak salah!” teriak Hu Cong Piauw-tauw sambil
menghantam pahanya sendiri. “Kenapa aku bisa melupakan jago lihay
semacam dia itu??”
“Jie-ya!” Bisik Nyoo Su Jan lagi. “Bilamana kita mengharapkan nona
Liauw bisa melakukan persiapan sejak sekarang, lebih baik kita
buru-buru kasih kabar kepadanya.”
“Tetapi kau hendak menggunakan cara apa untuk mengabarkan hal ini
kepadanya?”
“Kau boleh beritahukan soal ini kepada Liauw Thayjien.”
“Betul….”
Mendadak alisnya dikerutkan, sambungnya.
“Jikalau kita dapat melihat perubahan paras muka nona Liauw sewaktu
menyampaikan kabar tersebut kepadanya, barulah kita dapat mengetahui
kejadian yang sebenarnya dan memahami apakah nona Liauw benar-benar
merupakan seorang jagoan yang memiliki kepandaian lihay atau bukan,
tetapi antara lelaki serta perempuan ada batas-batsnya, lagipula di
adalah seorang gadis pembesar, bagaimana mungkin aku bisa pergi
menemuinya?? Bagaimanapun aku tak dapat memeriksakan penyakit kedua
kalinya!”
“Ssst… hamba punya satu akal!” tiba-tiba Nyoo Su Jan berbisik.
“Bagaimana akalmu itu??”
“Kita mencari kesempatan untuk melepaskan seorang musuh masuk ke
dalam kamarnya, kemudian kita intip dengan cara bagaimana nona Liauw
turun tangan menghadapi dirinya??” ujar Nyoo Su Jan dengan
menggunakan suara yang paling lirih.
“Aku rasa cara ini kurang sesuai!” sahut Phoa Ceng Yan setelah
termenung sebentar.
“Semisalnya nona Liauw benar-benar tidak mengerti akan ilmu silat
bukankah kita akan menciptakan suatu peristiwa yang tidak
diinginkan”.
“Kalau begitu bagaimana kalau hamba yang menyaru seperti kaum
penjahat kemudian menerjang masuk ke dalam kamar nona Liauw guna
melihat keadaan yang sebenarnya.”
“Cara inipun aku rasa tidak sesuai, semisalnya nona Liauw
benar-benar merupakan seorang jago lihay yang memiliki kepandaian
silat sangat tinggi, sampai si kongcu tukang foya-foya pun kena di
tawan apalagi Nyoo Piauw-tauw”.
“Tetapi tidak memasuki sarang macan bagaimana mungkin bisa berhasil
memperoleh anak macan? jikalau ingin membuktikan nona Liauw
benar-benar memiliki kepandaian ilmu silat atau tidak, kecuali
menggunakan cara ini rasanya tak ada cara lainnya lagi yang sesuai!”
“Saat ini mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan musuh jauh
lebih penting dari segala-galanya, kau pergi mengadakan persiapan
terlebih dahulu dan sekalian peringatkan kepada semua orang agar
mulai saat ini bertindak waspada, kepada Toa Hauw serta Giok Liong
sampaikan pula pesan agar mereka jangan bergerak secara sembarangan,
aku hendak pergi membicarakan persoalan ini dengan Liauw Thayjien!”
“Hamba turut perintah.”
Setelah menjura ia lantas mengundurkan diri dalam kamar.
Menanti Nyoo Su Jan telah pergi jauh, Phoa Ceng Yan baru menutup
pintu dan berjalan bolak balik di dalam ruangannya.
Dalam hati ia merasa amat cemas dan kuatir sekali, secara
samar-samar ia mulai merasa bahwa tugasnya kali ini terasa tidak
gampang, dibalik semuanya ini tentu terselip suatu rahasia yang
sangat misterius dan membingungkan, kemungkinan sekali Liauw
Thayjien memang benar-benar tidak mengetahui akan urusan ini,
kemungkinan juga ia sedang membohongi dirinya…..”
Berpikir sampai disitu, iapun mulai teringan akan kejadian-kejadian
tempo dulu, ia merasa sejak permulaan, kejadian ini memang terasa
rada tidak beres hanya minta dikawal menuju ke daerah selatan dengan
membawa sedikit barang saja ternyata mereka tidak sayang-sayangnya
membayar ongkos besar bahkan minta Cong Piauw-tauw mereka turun
tangan sendiri, dirinya sebagai Hu Cong Piauw-tauw yang bertindak
pun akhirnya hanya memperoleh perasaan ragu-ragu dari sang
langganan.
Kejadian yang sangat tidak biasa ini seharusnya cukup memberikan
suatu gambaran yang mencurigakan hati setiap orang, hanya sayang
ternyata pada waktu itu tak seorangpun yang berpikir sampai di sana.
Setengah malamam bagi setiap orang terasa amat pendek, tetapi di
dalam perasaan Phoa Ceng Yan, ia merasa seperti sedang melewati
suatu masa yang amat panjang.
Dengan susah payah akhirnya haripun mulai terang, Phoa Ceng Yan
sambil menghembuskan napas panjang-panjang membuka pintu dan
berjalan keluar.
Tampaklah Nyoo Su Jan, Lie Giok Liong sekalian dengan mengembol
senjara tajam berdiri di tengah tiupan angin kencang serta permukaan
salju yang amat dingin, di atas paras muka setiap orang kelihatan
amat letih.
Jelas, kemarin malam beberapa orang itu terus menerus melakukan
perondaan disekeliling kuil dan sama sekali tiada waktu bagi mereka
untuk beristirahat.
“Heeeei….!” tak terasa lagi Phoa Ceng Yan menghela napas panjang.
“Su Jan! Suruh mereka mempersiapkan diri melanjutkan perjalanan,
nanti kalian boleh beristirahat di dalam kereta!”
“Jie-ya! Beruntung kemarin semalaman suasana tetap tenang……” kata
Nyoo Su Jan tertawa paksa.
“Aku tahu, kalian semua terlalu menderita, suruh mereka
mempersiapkan kereta untuk melanjutkan perjalanan, kalian
beristirahatlah di dalam kereta…..”
Mendadak dari dalam ruangan tengah kuil tersebut berkumandang datang
suara sampokan angin yang amat nyaring.
Suara tersebut tidak begitu keras, tetapi sewaktu terdengar oleh
Nyoo Su Jan serta Phoa Ceng Yan, terasa bagaikan meledakkan bom di
sisi mereka, dalam hati terasa sangat terperanjat.
Buru-buru mereka menoleh ke arah mana berasalnya suara tersebut,
tampaklah di atas undak-undakan di depan kuil berdirilah seorang
pengemis yang memakai pakaian sangat dekil dengan rambut yang
awut-awutan, kakinya memakai sepatu dari rumput dan wajahnya penuh
berminyak serta lumpur.
Walaupun wajahnya kotor sekali, tetapi dengan ketajaman mata si
telapak besi bergelang emas, sekali pandang saja ia dapat mengetahui
bila si pengemis tersebut ternyata berusia sangat muda, dan paling
banyak tidak lebih dari dua puluh tahun.
Tak terasa lagi ia mengerutkan keningnya.
“Jie-ya!” bisik Nyoo Su Jan dengan cepat. “Di tengah tiupan angin
kencang serta hujan salju yang sangat dingin, si pengemis cilik itu
hanya memakai pakaian yang sudah kumal lagi robek, kakinya hanya
memakai sepatu terbuat dari rumput dan sama sekali luar biasa.
Kemungkinan sekali merupakan jagoan lihay dari perkumpulan Kay Pang.
Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan mengangguk, dengan menggunakan suara
yang paling lirih ia menjawab.
“Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sangat lihay
sehingga kedatangannya sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara,
sudah cukup membuktikan bila ia punya kepandaian yang sangat luar
biasa. Jikalau bukannya ia sengaja mengeluarkan suara kemungkinan
sekali kita tak bakal tahu akan kedatangannya”.
“Hamba sangat menyesal sekali dengan kejadian ini, Jie-ya boleh
beristirahat, biarlah hamba yang pergi menanyai dirinya.”
Ia lantas melangkah mendekati pengemis itu.
“Kawan!” sapanya sambil menjura. “Jika dilihat dari potonganmu
agaknya mirip dengan seorang jagoan lihay dari pihak Kay Pang, entah
dugaan cayhe ini benar atau tidak?”
Pengemis itu tersenyum, sehingga memperlihatkan sebaris giginya yang
putih bersih.
“Jikalau aku katakan aku bukanberasal dari Kay Pang, tentunya kalian
tak bakal percaya bukan” jawabnya.
“Ilmu meringankan tubuh dari kawan amat sempurna, hitung-hitung
telinga aku memang sudah tuli semua! Anak murid perkumpulan Kay Pang
mempunyai julukan sebagai kaum pendekar di dalam dunia kangouw dan
selamanya melakukan pekerjaan secara terus terang dan blak-blakan,
entah kedatangan kawan kecil ini ada maksud tujuan apa?”
“Haaa…..haaa…..haaa……. Nyoo Piauw-tauw! Perkataanmu yang meluncur
keluar terus bagaikan air pancuran benar-benar membuat aku si
pengemis cilik jadi sukar untuk membantah!” seru si pengemis
tersebut sambil tertawa terbahak-bahak. “Sejak kemarin pagi-pagi aku
si pengemis cilik sudah tertidur di dalam kuil ini, jikalau
dikatakan siapa yang datang terlebih dahulu maka boleh dikata
kedatanganku jauh lebih pagi beberapa jam dari kalian, maka dari itu
aku harus jelaskan kepada kalian bahwa kedatanganku bukannya masuk
secara sembunyi-sembunyi.”
Mendengar perkataan tersebut, Nyoo Su Jan jadi melengak.
“Kemarin malam Siauw-te sudah melakukan pemeriksaan dengan sangat
teliti disekeliling tempat ini, mengapa waktu itu aku tak berhasil
menemui saudara?” tanyanya.
Kembali si pengemis cilik itu tertawa.
“Aku tertidur di atas bangunan kuil ini, Apakah Nyoo Piauw-tauw
telah memeriksa di atas ruangan kuil ini?”
“Oooouw kiranya begitu “ tak kuasa lagi Nyoo Su Jan menghembuskan
napas panjang.
Ketika itulah Phoa Ceng Yan dengan langkah ke depan, “Loohu Phoa
Ceng Yan!” ujarnya memperkenalkan diri sambil menjura.
“Oooouw…..si telapak besi bergelang emas Phoo Loo-enghiong!”
“Tidak berani……..tidak berani…..”
Sekali lagi si pengemis itu tersenyum.
“Di dalam hati tentunya Phoo Loo-enghiong menaruh perasaan curiga
terhadap kedatanganku ini bukan?”
Kiranya si pengemis cilik ini pandai bergurau, pikir Phoa Ceng Yan
dalam hati.
Walaupun begitu diluaran sahutnya.
“Menaruh curiga aku tak akan berani, hanya ingin sekali loolap
mengetahui maksud kedatanganmu.”
“Kita bisa bertemu muka di dalam kuil ini, boleh dikata di antara
kita memang ada jodoh…..”
“Oooouw…….ada jodoh?” sambung Nyoo Su Jan dengan cepat.
“Sudah tentu bukan karena itu saja, maka aku si pengemis cilik bisa
berbicara demikian disebabkan sewaktu aku si pengemis tiba di dalam
kuil ini benar tidak tahu bila perusahaan kalian bakal beristirahat
di sini pula.”
“Atau paling sedikit kemarin malam kawan telah mengetahui bila kami
dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok sudah tiba di dalam kuil ini
bukan,” kata Nyoo Su Jan kembali.
“Soal ini memang sedikitpun tidak salah, sewaktu saudara-saudara
sekalian memasuki kuil ini, aku si pengemis memang sudah tahu, hanya
saja saudara-saudara pada waktu itu sama sekali tidak mengetahui
bila di dalam kuil masih ada aku si pengemis yang berdiam di sini.”
“Maaf, Loolap akan memanggil kau dengan sebutan saudara cilik saja”
tiba-tiba Phoa Ceng Yan menimbrung sambil menjura.
“Phoa Loo-enghiong suka menyebut aku si pengemis sebagai saudara,
hal ini benar-benar membuat aku merasa amat bangga.”
“Orang-orang Kay Pang kebanyakan merupakan jago-jago lihay yang
memiliki nama besar di dalam dunia kangouw, tolong tanya siapakah
sebutan dari saudara cilik?”
Pengemis tersebut tersenyum.
“Aku si pengemis cilik she Pauw bernama Cing!”
“Aku dengar di dalam perkumpulan Kay Pang sudah muncul dua orang
jagoan muda yang disebut Thian Tee Siang Liong atau sepasang naga
langit dan bumi, di dalam sepasang naga tersebut agaknya ada seorang
kawan she Pauw…..” nyeletuk Nyoo Su Jan dari samping.
Kembali si pengemis itu tertawa.
“Ooouw…..apakah orang itu tidak becus? Si naga langit Pauw Cing yang
disebut tadi memang bukan lain adalah aku si Siauw-Pauw….”
“Ooouw…..kalau begitu cayhe sudah kurang hormat terhadap dirimu.”
“Tidak berani, tidak berani. Sebenarnya aku si pengemis cilik tidak
ingin menganggu kalian dan secara diam-diam akan ngeloyor pergi,
tetapi dalam hati aku kepingin sekali berbicara beberapa patah kata
dengan kalian maka akhirnya aku telah munculkan diri.”
“Entah Pauw Siauw-hiap ada urusan apa?” tanya Phoa Ceng Yan.
“Aaaakh….. Loo Enghiong terlalu memuji” si Naga Langit Pauw Cing
tertawa, “Siauw-hiap dua kata cayhe tidak berani menerimanya jikalau
Phoa Loo Eng-hiong suka memandan diriku, panggil saja aku dengan
sebutan siauw Pauw!”
“Haaa……haaa……haaa…… tidak nyana Si Naga Langit Pauw Cing benar-benar
mengagumkan sekali, inilah yang dinamakan ombak belakang sungai
Tiang-kang mendorong ombak yang ada didepannya, orang-orang baru
mulai menggantikan orang-orang yang telah lama! Dengan usiamu yang
masih kecil ternyata berhasil memiliki kepandaian yang sangat
sempurnanya hal ini benar-benar membikin semua orang merasa sangat
kagum”.
“Haaa……haaa……haaa…… Agaknya Loo Eng-hiong sedang mencekoki diriku
dengan kuah pujian, maaf……maaf, aku si pengemis tidak doyan dengan
kuah semacam ini.”
Mendengar perkataan tersebut paras muka Phoa Ceng Yan kontan saja
berubah menjadi merah padam.
“Apa yang Loolap katakan adalah kata-kata yang sungguh!” serunya.
“Kalau begitu aku si pengemis pun ada beberapa patah kata yang
hendak disampaikan kepada Phoa Loo Piauw-tauw!”
Agaknya Phoa Ceng Yan merasakan bahwa beberapa patah kata yang
hendak disampaikan ini merupakan suatu persoalan yang sangat
penting, wajahnya kembali berubah amat serius.
“Loolap tentu pentang telinga lebar-lebar untuk mendengarkan
perkataanmu!”
“Aku takut barang-barang kawalan dari perusahaan kalian bakal sukar
tiba di kota Kay Hong Hu dengan selamat!” ujar Pauw Cing dengan
serius. “Sekalipun bisa tiba di sana dengan aman inipun harus
membayar dulu dengan suatu harga yang sangat mahal sekali, jikalau
dibicarakan dari pihak kalian perusahaan Liong Wie Piauw-kiok
kalian, kerugian ini benar-benar merupakan suatu kerugian yang tiada
taranya….”
“Maksud saudara……” seru Phoa Ceng Yan yang dibuat melengak oleh
perkataan tersebut.
“Bilamana dapat melepaskan barang kawalan ini, lebih baik
cepat-cepat dilepaskan, hanya saja…..”
“Setiap pekerjaan ada peraturannya sendiri sendiri, kami yang
bekerja dengan membuka perusahaan Piauw-kiok boleh menolak tawaran
orang, tetapi setelah menerima terpaksa dengan keraskan kepala harus
dilaksanakan hingga selesai, melepaskan tanggung jawab di tengah
jalan bukanlah sifat kami.” potong si telapak besi bergelang emas
dengan cepat.
“Kalau begitu berusahalah mencari suatu tempat yang baik untuk
mempertahankan diri dan menunggu bala bantuan dari markas pusat……”
Phoa Ceng Yan menghembuskan napas panjang.
“Hingga kini Loolap masih tidak paham, sebenarnya dimanakah letak
berharganya kawalan kami kali ini, mengapa ada begitu banyak orang
yang melakukan pengejaran dengan demikian ngotot sehingga tidak
takutnya mengikat permusuhan dengan orang lain.”
“Aku si pengemis cilik ada beberapa patah kata yang hendak diucapkan
keluar,” ujar Pauw Cing setelah termenung beberapa saat lamanya.
“Tetapi setelah aku ucapkan keluar, harap Phoa Hu Cong Piauw-tauw
jangan marah.”
“Haaaa……haaa……haaa….. tadi aku sudah katakan hendak menyebut dirimu
dengan kata kata Pauw Loo-te, sudah tentu apa yang hendak kau
ucapkan silahkan diutarakan dengang terus terang, Loolap percaya
masih bisa menerimanya!” seru Phoa Ceng Yan tertawa terbahak-bahak.
“Di dalam perkumpulan Kay Pang kami, ada sebuah peraturan yang tak
tertulis di dalam daftar, ada dua macam orang yang tak boleh diajak
berkawan.”
“Dua macam orang yang bagaimana?”
“Orang macam pertama adalah alap-alap serta kuku garuda perguruan
Lak San Bun dan orang macam kedua adalah kawan-kawan kangouw yang
mencari uang dengan membuka perusahaan Piauw-kiok seperti kalian………”
Ia menengadah ke atas lalu tertawa terbahak-bahak, tambahnya,
“Haaaa……haaa…….haaa….. kami orang-orang dari Kay Pang selamanya
tidak berhubungan dengan orang-orang pihak Piauw-kiok, dan selamanya
pun belum pernah turun tangan membegal barang-barang kawalan
kalian.”
“Tentang soal ini Loolap paham!” Phoa Ceng Yan mengangguk.
“Kebanyakan kawan-kawan Bu Lim memang pada tidak memandang sebelah
mata kepada kami orang-orang yang mencari sesuap nasi dengan bekerja
sebagai pengawal barang. Tetapi keadaan dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kita rada berbeda…..”
“Perusahaan Liong Wie Piauw-kiok lebih mengutamakan keluhuran budi
daripada harta kekayaan, asalkan kawan-kawan Bu Lim kita mencari
mereka selamanya tidak pernah dibuat kecewa dan kembali dengan
tangan kosong,” potong Pauw Cing di tengah jalan. “Kepandaian silat
yang dimiliki oleh Cong Piauw-tauw serta Hu Cong Piauw-tauw pun
sangat tinggi, memandang hormat kepada setiap orang, keadaannya
memang rada berbeda dengan keadaan perusahaan piauw-kiok lainnya.
Tetapi kau harus tahu sembilan sembilan delapan satu, bagaimananpun
Liong WIe Piauw-kiok kalian tetap merupakan sebuah perusahaan
Piauw-kiok!”
“Perkataan dari Pauw Loo-te memang tidak salah, bagaimanapun Liong
Wie Piauw-kiok kamu tetap merupakan sebuah perusahaan Piauw-kiok,
sekalipun dibicarakan sampai dilangitpun tak akan bisa dibandingkan
dengan para enghiong hoohan lainnya di dalam dunia kangouw, yang
kita makan adalah nasi kerja keras, yang didapat adalah uang jual
nyawa, hal ini tidak bisa dikatakan suatu keuntungan yang
menonjol….”
“Phoa Loo Eng-hiong! Lebih baik kalau bicara jangan menyindir’
potong Pauw Cing sambil tersenyum. “Orang yang membuka perusahaan
Piauw-kiok adalah bersungguh-sungguh hendak mencari untung, tidak
mencuri tidak merampas dan pokoknya bukan merupakan suatu pekerjaan
yang sangat memalukan. Cuma, kalian tak dapat membangkang lagi bahwa
orang lain keluar uang maka kalian harus menjual nyawa. peduli pihak
lawan punya kedudukan apapun baik itu seorang jagoan yang kerjanya
tukang peras atau pembesar korup atau penguasa penghianat…….”
“Maaf Loolap hendak memotong perkataan dari Pauw Loo-te, perlu kau
ketahui bahwa perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kamu sudah menolak
banyak sekali tawaran untuk mengawal barang. Jikalau orang yang
mengajukan tawaran itu menurut kita kurang sesuai, maka peduli ia
berani membayar seberapa besar biayanya pun kita tetap akan
menolak.”
“Hhmmmm……..! Soal ini aku si pengemis cilik pun pernah mendengar
orang berkata, perusahaan Liong Wie Piauw-kiok memang terdapat
banyak hal yang keadaannya tidak sama dengan perusahaan-perusahaan
lain, tetapi kendati bagaimana rapatnya kerja kalian tak urung
sesekali akan tertembus juga.”
Mendadak ia memperendah suara dan tambahnya, “Cukup kita ambil
contoh dengan kawalan kalian ini! Sebetulnya kalian sudah kena
tertipu karena sebelum urusan ini diterima kalian tak mau melakukan
penyelidikan terlebih dulu dengan teliti maka akibatnya terciptalah
keadaan seperti ini hari.”
“Loolap kepingin sekali minta petunjuk akan satu hal terhadap diri
Pauw Loo-tee, sampai saat ini Loolap masih merasa tidak paham dengan
kawalanku ini, sebenarnya dimana-dimanakah terletak kesalahannya?
Loolap sudah beberapa kali mengadakan pembicaraan dengan langgananku
itu, tetapi aku rasa Liauw Thayjien bukanlah mirip seorang bersifat
jahat.”
“Phoa Loo Eng-hion! Tahukah kau orang tua tempo dulu Liauw Thayjien
pernah menjabat apa?”
“Tempo dulu dia adalah seorang pembesar tingkat dua.”
“Tidak salah!” seru Pauw CIng mengangguk. “Jabatannya memang
pembesar tingkat kedua. Tetapi bagaimana keadaannya sewaktu menjabat
sebagai pembesar? Apakah kau tahu?”
“Tentang soal ini ………., tentang soal ini cayhe rada kurang jelas.”
“Barang-barang apa saja yang mereka bawa? Phoa Hu Cong Piauw-tauw,
tahukah??
“Benda-benda tak berharga keperluan sehari hari?”
“Kalau cuma benda-benda tak berharga keperluan sehari-hari, dapat
memancing daya tarik bagi para jago-jago Bu Lim untuk turun tangan
membegalnya?”
“Perkataan dari Pauw Loo-te sedikitpun tidak salah” sahut Phoa Ceng
Yan membenarkan. “Tetapi Loolap sudah beberapa kali mengadakan
pembicaraan dengan Liauw Thayjien selama ini aku belum pernah
melihat mereka membawa suatu benda yang nilainya sangat berharga
sekali.”
“Yang menghadapi bingung, yang menonton jelas! Kita yang sedang
menonton jelas! Kita yang sedang menghadapi urusan ini kemungkinan
sekali kurang jelas, kawan! Kau yang berada di luar garis persoalan
ini, tentunya berita yang kau dengar sudah sangat banyak bukan?”
nyeletuk Nyoo Su Jan dari samping.
“Bilamana saudara suka memberi tahu, cayhe tentu akan pentang
lebar-lebar telinga untuk mendengar,” sambung Phoa Ceng Yan pula.
Pauw Cing tersenyum.
“Kerja sama kalian berdua memang sangat bagus” katanya. “Cuma aku si
pengemis cilik merasa rada herang, barang-barang apa yang mereka
bawa seharusnya Liauw Thayjien mengetahui jelas, aku si pengemis
merasa rada tidak percaya bila mereka bisa memandang barang-barang
itu jauh lebih penting daripada nyawa sendiri.”
“Walaupun Loolap tidak benar-benar tahu barang apa saja yang mereka
bawa, tetapi ada satu hal yang Loolap ketahui dengan sangat jelas
sekali!”
“Soal apa?”
“Seluruh keluarga Liauw tidak mengerti akan ilmu silat!”
“Maka dari itu mereka baru mencari perusahaan Piauw-kiok kalian
untuk menghantar?” sambung Pauw Cing sesudah termenung sebentar.
“Pauw Loo-tee!” ujar Phoa Ceng Yan tertawa pahit. “Bilamana kau
telah mendengar sesuatu berita harap dibicarakanlah secara terus
terang, aku orang she Phoa tentu akan merasa sangat berterima kasih
sekali.”
Selesai berkata ia merangkap tangannya menjura.
“Tidak berani……tidak berani…… aku tidak berani menerima penghormatan
yang demikian besarnya dari Phoa Loo Eng-hiong” buru-buru Pauw Cing
membalas hormat.
Dengan suara yang sengaja dilirihkan sambungnya kembali.
“Menurut apa yang aku si pengemis dengar, agaknya keluarga Liauw
mereka sudah membawa sebuah benda yang ada sangkut pautnya dengan Bu
lim?”
“Apakah sebuah lukisan dengan pengagon kambing??”
Pauw Cing termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru jawabnya.
“Apa yang aku dengar agaknya bukan cuma sebuah lukisan saja, tetapi
lukisan apakah satunya, ini cayhe merasa kurang jelas.”
“Lalu Pauw Loo-te mendapatkan berita ini dari mana??”
“Aku si pengemis mendengar berita ini dari beberapa orang jagoan
Liok-lim yang siap-siap hendak turun tangan membegal barang kawalan
kalian, aku rasa sekalipun berbeda pun tidak akan terlalu jauh.
Kalian berdua baik-baiklah berjaga diri, aku si pengemis mohon diri
dulu…..”
Tubuhnya segera mencelat ke atas dan melayang ke atas genting
kemudian hanya di dalam sekejap saja telah lenyap di tengah tiupan
angin kencang yang berhawa sangat dingin itu.
Dengan termangu-mangu Phoa Ceng Yan memandang ke arah lenyapnya
bayangan tubuh Pauw Cing, akhirnya menghela napas panjang.
“Heeei… sungguh cepat benar gerakan tubuhnya.”
“Thian Tee Siang Liong dari perkumpulan Kay Pang disebut orang
sebagai jago-jago muda yang sangat cemerlang pada saat ini, sudah
tentu kelihayan mereka sangat luar biasa. Ilmu meringankan tubuh
dari Thian Liong boleh dikata sudah mencapai pada taraf
kesempurnaan,” kata Nyoo Su Jan perlahan.
“Heeei….! Kalau begitu aku memang sudah rada tua!” seru Phoa Ceng
Yan sembari mengelus jenggotnya yang terurai sepanjang dada.
“Akh…..! Tidak, Jie-ya masih gagah……” sambung Nyoo Su Jan dengan
cepat.
Setelah merandek sejenak, ia menyambung kembali dengan pembicaraan
yang lain.
“Orang-orang Kay Pang selamanya tidak pernah turun tangan membegal
barang, jikalau tidak berbohong maka beberapa patah perkataannya itu
boleh dipercaya beberapa bagian.”
“Bila kita pikirkan peristiwa ini secara lebih teliti maka dalam
hati kita akan menemukan kalau persoalan ini bukan semudah dan
segampang seperti pikiran kita semua, oleh karena itu kita tak boleh
seratus persen percaya, pun tidak boleh tidak percaya, yang aneh
lagi, selama ini secara diam-diam Loolap selalu memperhatikan
gerak-gerik dari Liauw Thayjien dan aku merasa dia tidak mirip
seperti seorang bersifat jahat, dengan mengandalkan pengalamanku
selama puluhan tahun lamanya, tidak bisa dikatakan bila sedikit
titik terangpun tak berhasil aku dapatkan.”
“Jie-ya!” Nyoo Su Jan mendehem perlahan. “Aku rasa ada seharusnya
kau pergi membicarakan persoalan ini dengan Liauw Thayjien, kita
harus mengetahui dulu dengan jelas persoalan ini kemudia baru
mengambil keputusan.”
“Menurut penelitianku selama beberapa hari ini, agaknya Liauw
Thayjien tidak punya rahasia yang disimpan lagi, kecuali dia sebagai
seorang pembesar negeri berhasil mengelabui sepasang mataku.”
“Jadi maksud Jie-ya Liauw Thayjien sudah menceritakan seluruh
persoalan yang dipahami serta dimengerti olehnya kepadamu?”
“Sedikitpun tidak salah! Loolap rasa ia sudah tidak ada persoalan
lagi yang dirahasiakan, jikalau dari pihak keluarga Liauw
benar-benar masih memiliki sesuatu rahasia maka Loolap berani
memastikan bila Liauw Thayjien tentu tidak tahu menahu ….”
Mendadak ia memperendah suara ujarnya.
“Saat ini kita sudah mengetahui bila di balik lukisan pengangon
kambing masih terdapat lukisan lain, dan apa yang sebetulnya
tersimpan di dalam rahasia ini kita masih belum mengetahui semua,
urusan inipun Liauw Thayjien yang beritahukan kepadaku. Kini
satu-satunya harapan kita adalah semoga saja Cong Piauw-tauw bisa
cepat-cepat datang kemari, mengandalkan kecerdikannya kemungkinan
sekali dengan sangat mudah ia akan berhasil memecahkan rahasia ini.”
“Jie-ya! Agaknya rasa curigamu terhadap nona Liauw sudah lenyap tak
berbekas?” tegur Nyoo Su Jan.
“Walaupun nona Liauw memang patut dicurigai, tetapi menurut
penglihatanku sudah mengalami perubahan yang amat banyak.”
“Mengalami perubahan apa saja?”
“Kemungkinan nona Liauw memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat
tinggi semakin lama semakin kecil, kini peristiwa yang paling sukar
untuk dipecahkan adalah mengenai terpukul mundurnya Lam Thian Sam
Sah serta si Hoa Hoa Kongcu sehingga melarikan diri terbirit-birit!”
“Peristiwa ini memang sangat mengherankan sekali, mengapa Lam Thian
Sam Sah serta Ke Giok Lang dapat menemukan tanda-tanda tersebut
sebaliknya kita orang tak berhasil menemuinya?”
“Justru disinilah terletak bagian yang tak kupahami!”
“Jie-ya!” seru Nyoo Piauw-tauw kembali. “Kini urusan sudah mirip
dengan anak panah di atas busur, bagaimanapun harus dilepaskan juga.
Lebih baik secara terus terang dan terbuka kau orang langsung
menanyakan persoalan ini kepada Liauw Thayjien, jikalau Liauw
Thayjien tidak dapat memberi keterangan maka kita langsung pergi
mencari nona Liauw, jikalau inipun akhirnya tak berhasil mendapatkan
sesuatu, agaknya jauh lebih baik daripada kita berpeluk tangan saja.
Entah bagaimana kalau menurut pendapat Jie-ya?”
“Perkataanmu memang benar” Phoa Ceng Yan mengangguk. “Baiklah, biar
aku pergi membicarakan persoalan ini sekali lagi dengan Liauw
Thayjien.”
Perlahan-lahan Nyoo Su Jan mendehem ringan.
“Jie-ya, kapan kita hendak berangkat??” tanyanya. “Menurut Jie-ya
lebih baik kita melanjutkan perjalanan ataukah tinggal di sini saja
sambil menanti kedatangan dari Cong Piauw-tauw.”
“Bagaimana dengan keadaan tempat ini? rasanya bagus atau jelek??”
“Menurut penglihatan hamba, orang-orang Kay Pang tak akan membohong
terutama sekali Thian Tee Siang Liong yang sudah memiliki nama
sangat cemerlang di dunia kangouw, sudah tentu mereka tak bakal
bicara sembarangan, hamba sudah melakukan suatu pemeriksaan yang
amat teliti di sekeliling tempat ini, empat penjuru merupakan tanah
kosong hal ini lebih mempermudah penjagaan, bahkan seluas beberapa
lie tak kelihatan sebuah rumah penduduk, tempatnya pun cukup tenang
dan bersih, bilamana kita sudah mengambil keputusan untuk menunggu
kedatangan Cong Piauw-tauw, aku rasa lebih baik nunggu di sini saja
karena rasanya jauh lebih aman daripada kita melanjutkan
perjalanan.”
“Hhmmm…….! Perkataanmu memang sangat cengli!”
“Jie-ya! Kau pergilah membicarakan persoalan ini sekali lagi dengan
Liauw Thayjien, jikalau mereka setuju untuk menunggu di sini maka
hamba harus melakukan suatu penjagaan yang lebih teliti, dan akupun
harus meninggalkan tanda-tanda rahasia sekeliling tempat ini.”
Phoa Ceng Yan segera termenung berpikir keras, akhirnya ia
menganggap hanya cara inilah yang paling aman, karena itu sahutnya
kemudian.
“Baiklah! Biar aku pergi membicarakan persoalan ini dengan Liauw
Thayjien, cuma saat ini hampir mendekati tutupan tahun, pekerjaan
COng Piauw-tauw sangat repot, dapatkah dia orang datang kemari hal
ini masih merupakan suatu tanda tanya?”
“Soal ini Jie-ya boleh berlega hati, jikalau pengawalan barang kali
ini bukan ditangani oleh Jie-ya sendiri, dapatkah COng Piauw-tauw
datang kemari sukar untuk dibicarakan, kini kecuali COng Piauw-tauw
berangkat sendiri rasanya di dalam piauw-kiok sudah tak ada orang
yang bisa dikirim lagi….”
Phoa Ceng Yan mendehem ringan.
“Tapi sekalipun COng Piauw-tauw datang sendiripun paling tidak dua
tiga hari kemudian baru bisa tiba di sini, ia memliki seekor kuda
jempolan.”
“Jie-ya!” seru Nyoo Su Jan dengan serius. “Asalkan kau sudah
mengambil keputusan hendak tinggal di sini maka Liauw Thayjien
bagaimanapun bisa dipaksakan untuk menurut. Sekalipun hendak
melewati tahun baru di kota Kay Hong merupakan suatu kejadian yang
penting tetapi aku rasa nyawa mereka jauh lebih penting daripada hal
ini, asalkan Jie-ya bisa mengambil keputusan yang kukuh dan tegas
rasanya Liauw Thayjien pun tak akan bisa berbuat apa-apa.”
“Tetapi…. soal ini rasanya kurang baik!”
“Kita kukuh hendak tetap tinggal di sini kesemuanya demi kebaikan
keluarga Liauw, hamba telah melakukan pemeriksaan di sekeliling
tempat ini, kurang lebih beberapa lie di sekitar kuil ini tidak
kelihatan rumah penduduk, jikalau kita bisa mengatur penjagaan yang
tepat, maka peduli siapapun akan sulit untuk menyelundup masuk
kemari. Baiklah! Biar aku pergi melakukan pemeriksaan sekali lagi.”
Agaknya secara mendadak Phoa Ceng Yan teringat akan suatu persoalan
yang sangat penting, tiba-tiba bisiknya.
“Su Jan! Kalian membawa kotak alat rahasia anak-anak panah tidak.?”
“Kita membawa dua buah!” Nyoo Su Jan tertawa.
“Sesudah memiliki dua buah kotak anak-anak panah berantai maka
berarti pula kita mempunyai kekuatan seperti dua puluh orang ahli
ahli panah, jumlah kita tidak banyak, benda tersebut sangat membantu
kita di dalam menghadapi serangan musuh.”
“Mungkin sekali pada saat ini Liauw Thayjien masih beristirahat,”
ujar Nyoo Su Jan kembali sambil memandang cuaca. “Jie-ya! Kaupun
semalaman tidak tidur, aku rasa di tengah siang hari bolong mereka
tak bakal memperlihatkan gerakan apa-apa, apalagi mereka pun tidak
bakal menduga bila secara mendadak kita berhenti di dalam kuil ini.
Kau orang tua boleh beristirahat sebentar di dalam kamar, aku mau
pergi mengatur mereka sekalian mempersiapkan makanan, paling sedikit
kita harus mempersiapkan diri untuk tinggal di sini selama
empat-lima hari lamanya.”
“Baiklah! Untuk sementara kita mempersiapkan diri seperti itu,
tetapi jikalau dapat melanjutkan perjalanan sudah tentu jauh lebih
baik kita buru-buru berangkat.”
Nyoo Su Jan tidak berbicara lagi, segera ia putar badan berlalu.
Para anak buah perusahaan Liong Wie Piauw-kiok pada saat ini mulai
ribut bekerja kembali untuk menurunkan barang-barang yang ada di
kereta, membereskan kuda-kuda dan mengadakan persiapan-persiapan
seperlunya guna menghadapi serbuan musuh.
Nyoo Su Jan sesudah memberi pesan kepada anak buahnya, dengan
membawa Thio Toa Hauw serta Lie Giok Liong masing-masing menunggang
seekor kuda perlahan-lahan berangkat menuju keluar kuil.
Ketika itu Phoa Ceng Yan telah kembali ke dalam kamar, dari jendela
ia dapat melihat Nyoo Su Jan dengan membawa Lie Giok Liong serta
Thio Toa Hauw berangkat meninggalkan tempat itu, walaupun di dalam
hati kepingin sekali ia berteriak tetapi akhirnya ia paksakan diri
untuk tutup mulutnya.
Terlihatlah ketiga orang itu bagaikan kilat cepatnya melarikan
kudanya ke depan, hanya di dalam sekejap saja telah lenyap tak
berbekas di balik permukaan salju nan putih.
Sebenarnya dengan meminjam kesempatan ini Phoa Ceng Yan hendak
beristirahat sebentar, tetapi teringat mereka bertiga sudah pergi
dan di dalam kuil pada saat ini tinggal Ih Coen beserta beberapa
orang pembantu saja, hatinya mana mungkin bisa lega?. Akhirnya ia
berjalan keluar meninggalkan ruangan dan meloncat naik ke atas kuil.
Pada waktu itu salju sudah berhenti, tetapi awan hitam masih
menutupi seluruh angkasa dengan begitu tebal, bila ditinjau
keadaannya mungkin tak bakal menjadi terang dalam beberapa saat.
Perasaan hati Phoa Ceng Yan pun seperti halnya awan hitam tersebut,
terasa amat gundah berat penuh dengan kemurungan dan kesedihan.
Ia sudah bekerja sebagai Piauw-tauw selama dua puluh tahun lamanya,
telah menjelajahi hampir seluruh daerah utara maupun daerah selatan,
pernah menemui berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus macam peristiwa
semacam ini.
“Berpuluh-puluh orang jago-jago Liok-lim secara diam-diam mengincar
mereka dan menanti saat yang bagus untuk turun tangan, tetapi
sungguh aneh sekali jagoan lihay semacam Hoa Hoa Kongcu yang begitu
terkenal, setelah hampir berhasil mencapai tujuannya lepas tangan di
tengah jalan?
Kejadian yang aneh benar-benar terlalu banyak, perubahan-perubahan
yang ada diluar dugaan dan sukar ditebak.
Dengan paksakan diri menekan perasaan murung tersebut perlahan Phoa
Ceng Yan menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu.
Terlihatlah di atas permukaan tanah yang dilapisi salju nan putih
kelihatan begitu sunyi hening dan kosong sama sekali tidak kelihatan
tanda-tanda yang mencurigakan.
Setelah dirasanya tiada hal-hal yang patut dicurigai, si orang tua
itu baru melayang kembali ke atas permukaan tanah.
Pada saat itu Ih Coen sedang memberi petunjuk kepada
pembantu-pembantu perusahaan untuk menghela kereta-kereta serta
kuda-kuda masuk ke dalam ruangan kuil.
Dengan pandangan tawar Phoa Ceng Yan memperhatikan mereka bekerja,
kecuali sebagai bekerja memindahkan barang-barang kereta serta kuda
ternyata Ih Coen cukup pandai juga, ia membagi dua kelompok
rombongan tersebut satu bagian bekerja bagian yang lain
beristirahat.
Menanti semua pekerjaan telah selesai, si telapak besi bergelang
emas baru kembali ke dalam kamarnya untuk beristirahat sejenak.
Ia hendak berpikir secara tenang tindakan apa yang harus diambil
untuk menghadapi kejadian yang amat kacau ini.
Mendadak………
Suara deheman ringan bergema datang diikuti terbukanya pintu kamar.
“Phoa-ya!” tegur orang itu yang kiranya bukan lain adalah Liauw
Thayjien. “He-koan melihat kuda maupun kereta belum dipersiapkan,
agaknya kalian tidak ada maksud untuk melanjutkan perjalanan.”
“Thayjien, mari duduklah, kita bicarakan persoalan ini
perlagan-lahan,” kata Phoa Ceng Yan sambil menepuk sebatang kayi di
sisinya.
Liauw Thayjien segera mengerutkan alisnya, tetapi ia menurut dan
duduk juga ditempat yang diberikan kepadanya.
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, kau ada persoalan apa lagi yang hendak
dibicarakan denganku?”
“Setelah Loolap pertimbangkan secara masak-masak, maka aku rasa
tetap tinggal di sini jauh lebih aman dari pada harus berangkat
melanjutkan perjalanan.”
Selesai mendengar perkataan tersebut, kontas saja Liauw Thayjien
dibuat melengak.
“Jadi Phoa Hu Cong Piauw-tauw sudah mengambil keputusan untuk tetap
tinggal di kuil ini dan membatalkan perjalanan??….” serunya
Menutut perasaan Loolap jikalau paksakan diri untuk melanjutkan
perjalanan, kemungkinan besar kita semua bakal terjatuh ke dalam
perangkap orang lain.”
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Aku ingin minta keterangan tentang satu
hal?” seru Liauw Thayjien kemudian dengan air muka berubah sangat
hebat.
“Tidak berani……tidak berani, jikalau Thayjien ada perkataan silahkan
diutarakan secara terus terang. Loolap tentu akan pentang telinga
lebar-lebar untuk mendengarkan.”
“Aku pernah mendengar di dalam pekerjaan mengawal barang terdapat
satu peraturan! Sekarang aku mau bertanya, di dalam perjalanan kali
ini hendak menginap atau melanjutkan perjalanan sebetulnya
ditentukan oleh sang langganan ataukah oleh Piauw-tauw sendiri?”
“Sudah tentu ditentukan oleh sang langganan.” ujar Phoa Ceng Yan.
“Kalau begitu maka sekarang He-koan hendak menegur kau Phoa Hu Cong
Piauw-tauw untuk segera melanjutkan perjalanan.”
“Thayjien!” perlahan-lahan Phoa Ceng Yan mendongak ke atas dan
memandang sekejap ke arah Liauw Thayjien. “Sampai sekarang Loolap
masih tidak paham sebenarnya kau ada urusan apakah sehingga begitu
tergesa-gesa ingin melanjutkan perjalanan dan memastikan diri
sebelum Tahun baru harus tiba di kota Kay Hong? Hal ini menyangkut
mati hidup kalian sekeluarga, apakah kalian hendak menempuh bahaya
hanya dikarenakan ingin cepat-cepat tiba di tempat tujuan?”
“Heeei…..! Sebaliknya bilamana betul-betul ada orang yang hendak
turun tangan membegal barang kawalan dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kalian, sekalipun kita bertahan di dalam kuil inipun
apakah mereka tak bisa datang kemari?” bantah Liauw Thayjien sembari
menghela napas panjang.
“Tentang soal ini Loolap sudah mengadakan persiapan-persiapan yang
teliti, sekeliling kuil ini merupakan sebuah tanah kaoang yang luas
dan mudah dijaga apalagi berhentinya kita di tempat inipun akan
membuat mereka kebingungan dan merasa ada di luar dugaan. Menantu
mereka sadar akan persoalan ini dan datang kemari untuk mencari
gara-gara, maka kita sudah cukup waktu untuk mengatur persiapan
menghadapi mereka.”
“He-koan masih tidak memahami akan satu persoalan, sebetulnya kalian
hendak mengatur persiapan apa lagi? jika benar-benar hendak mengatur
persiapan bukankah menjaga di sini atau melanjutkan perjalanan
adalah sama saja?”
“Thayjien! Lebih baik Loolap memberi penjelasan yang lebih terang
lagi kepadamu, di depan sana pihak musuh telah memasang jebakan yang
menanti kita orang untuk masuk perangkap, karena kita tak boleh
pergi ke sana. Yang dimaksudkan dengan mengadakan
persiapan-persiapan lain adalah menanti kedatangan dari Cong
Piauw-tauw kami datang kemari, karena aku merasa bahwa peristiwa
yang terjadi kali ini sangat aneh sekali dan terdapat banyak
perubahan bahkan sangat menyimpang dari keadaan biasanya maka Loolap
sudah merasakan bahwa beban seberat ini tak mungkin dapat dipikul
lagi oleh diriku seorang diri, karena itu peristiwa ini sudah aku
laporkan kepada Cong Piauw-tauw kami.”
“Perjalanan kesana lalu kembali lagi ke sini paling sedikit
membutuhkan waktu dua puluh hari lamanya, kita tak bisa tinggal
terus di dalam kuil ini.”
“Kita mengirim kabar tersebut dengan menggunakan burung merpati…………”
“Tetapi Cong Piauw-tauw kalian tak mungkin bisa tumbuh sayap untuk
terbang kemari,” sambung Liauw Thayjien dengan cepat.
“Walaupun Cong Piauw-tauw kami tak dapat terbang kemari seperti
burung tetapi ia memiliki seekor kuda jempolan yang dalam satu hari
bisa melakukan perjalanan sejauh ribuan lie, jika melakukan
perjalanan di malam hari bisa mencapai delapan ratus lie, semisalnya
ia berangkat kemari maka hanya di dalam dua-tiga hari saja akan tiba
disini.”
“Sekali-pun perhitungan kalian memang cengli tetapi karena kalian
maka urusanku jadi terbengkalai.”
“Thayjien, saat ini merupakan saat-saat kritis yang menyangkut mati
hidup kita semua, bilamana Thayjien mempunyai rahasia lain-nya aku
rasa tak usah disembunyikan di dalam hati lagi.”
“Rahasia ini merupakan persoalan pribadi dari keluarga Liauw kami,
hal ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan kalian orang-orang
kangouw.”
“Aaackh!bagus sekali” diam-diam pikir Phoa Ceng Yan di dalam
hatinya. “Kendati kau orang licik bagaimanapun akhirnya kena aku
desak juga.”
Walaupun di dalam hati ia berpikir demikian tetapi diluaran ia tetap
menjawab dengan keren.
“Thayjien! Kemungkinan sekali kau merasa bahwa persoalan pribadimu
itu tiada sangkut pautnya dengan kami orang-orang dunia kangouw,
tetapi secara tidak kau sadari, persoalan tersebut sudah menyeret
kalain ke dalam pertikaian yang terjadi di dalam Bu-lim.”
“Kau tidak usah berpikir yang bukan-bukan, urusan ini sama sekali
tiada sangkut pautnya dengan orang-orang dunia kangouw bahkan
terseret sedikitpun tidak.”
“Kalau memang demikian adanya, mengapa Thayjien tidak suka
menjelaskan kepada kami.”
“Harus diberitahukan?”
“Cayhe rasa urusan ini paling sedikit ada keuntungan dan tiada
ruginya.”
“Baiklah! He-koan akan menjelaskan persoalan ini kepadamu, cuma
saja….heeeei….kalian orang-orang Bu-lim benar-benar terlalu banyak
menaruh curiga.”
“Kelicikan serta bahayanya dunian kangouw sangat besar sekali,
Thayjien harap suka memaafkan kelancanganku ini”.
“Siauw-li sejak kecil sudah dijodohkan dengan orang lain, tidak
beruntung calon suaminya telah menderita penyakit yang sangat berat,
menurut perkataan dari para tabib-tabib lihay umurnya tak mungkin
bisa melewati akhir tahun ini, He-koan yang sudah mengabulkan
pinangan mereka tempo dulu sudah tentu harus buru-buru berangkat ke
kota Kay Hong sebelum akhir tahun ini, bilamana terlambat aku takut
perkawinan putriku akan menemui kegagalan.”
Phoa Ceng Yan yang mendengar kisah tersebut hanya bisa berdiri
mendelong, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan
sepatah katapun, peristiwa ini memang benar-benar tiada sangkut
pautnya dengan kejadian di dalam dunia kangouw apalagi terkait di
dalam hubungannya dengan orang-orang kangouw.
‘Phoa Hu Cong Piauw-tauw, kau ingin bertanya lagi?” Liauw Thayjien
mendehem perlahan.
“Soal ini…..soal ini……cayhe rasa tiada pentingnya untuk ditanyakan
lagi.”
Perlahan-lahan Liauw Thayjien mendongakkan kepalanya memandang
keadaan cuaca di luar ruangan, ujarnya kemudian.
“Walaupun salju sudah berhenti, tetapi awan masih menyelimuti
seluruh angkasa. Jika dilihat dari keadaan ini aku takut ini hari
tak mungkin bisa menjadi terang kembali.”
“Musim dingin tiba, salju sudah tentu bakal turun sepanjang bulan,
kereta serta kuda-kuda kami merupakan kuda-kuda pilihan yang kuat
dan dapat bertahan terhadap hawa dingin yang menyerang. Sekalipun
hujan salju turun secara bagaimana derasnya tak bakal mempengaruhi
perjalanan kita. Tetapi tujuan kita berhenti di dalam kuil ini sama
sekali bukan sedang meneduh terhadap curahan hujan salju, melainkan
keadaan kita sangat berbahaya, sedikit kurang berhati-hati saja,
kita bakal terjatuh ke dalam jebakan orang lain.”
( Bersambung Jilid ke 9 )
Jilid 9
“Hmmmm! Sungguh tidak kusangka
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang namanya terkenal di seluruh
dunia kangouw ternyata bisa dipermainkan orang lain, heee…heee….
kelihatannya berita yang tersiar di dalam dunia kangouw tak boleh
dipercaya penuh,” jengek Liauw Thayjien dingin.
“Thayjien! Bila kau putuskan pasti
hendak berangkat sekarang juga cayhe sekalipun bukannya tidak berani
melanjutkan perjalanan, kita adalah orang-orang yang mencari sesuap
nasi dengan menjual nyawa, boleh dikata nyawa kami sebenarnya sama
sekali tak berharga. Justru maksud cayhe ngotot hendak tetap tinggal
di dalam kuil ini tujuannya tidak lain karena takut keluarga Liauw
kalian kena dicelakai orang, coba Thayjien pikirlah secara teliti!
Semisalnya kau memang berkeinginan keras untuk melanjutkan
perjalanan, cayhe segera akan perintahkan mereka untuk mempersiapkan
kereta.”
“Heeeei…. kita akan berdiam berapa
lama di sini??.”
“Menunggu setelah Cong Piauw-tauw
kami tiba!”
Jelas ia sudah kena dibuat jera
oleh perkataan Phoa Ceng Yan yang amat tajam serta lihay itu.
“Tadi cayhe sudah katakan, Cong
Piauw-tauw kami memiliki seekor kuda jempolan, di dalam tiga-lima
hari kemudian tentu sudah tiba di sini!” sambung Phoa Ceng Yan lebih
lanjut.
“Setelah Cong Piauw-tauw kalian
tiba maka tak usah takuti mereka lagi?”
“Boleh dibilang demikian! Maka
dari itu dia bisa menduduki jabatan sebagai Cong Piauw-tauw sedang
cayhe cuma mendapat bagian Hu Cong Piauw-tauw saja.”
“Jadi maksudmu setelah berdiam
tiga hari kita dapat berangkat kembali?” tanya Liauw Thayjien
kembali.
“Sedikitpun tidak salah! Jika
memang terlambat maka tidak akan melewati lima hari.”
Akhirnya Liauw Thayjien
menghembuskan napas panjang.
“Kecuali He-koan suami isteri
ngambek dan tidak perduli orang-orang perusahaan Piauw-kiok kalian
lagi untuk melakukan perjalanan sendiri, rasanya pasti sulit juga
untuk menundukkan kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw” katanya.
“Thayjien! Aku orang she Phoa cuma
seorang yang kasar, tidak terlalu banyak bersekolah, tetapi aku
masih tahu bila menjadi seorang manusia tak boleh terlalu
mementingkan diri sendiri. Demi keselamatan dari kalian keluarga
Liauw serta untuk menjaga merek emas dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok selama dua puluh tahun ini, terpaksa aku orang she Phoa
tak dapat menempuh bahaya…”
“Heee…..heee….heee…. kami membayar
ongkos mahal agar perusahaan kalian suka mengawal kami, tidak
disangka semua gerak gerik serta perbuatan kami harus mendengar
keputusan dari kalian, hal ini benar-benar menjengkelkan sekali,”
sindir Liauw Thayjien tertawa dingin tiada hentinya.
Buru-buru Phoa Ceng Yan merangkap
tangannya menjura, “Thayjien! Harap kau orang suka memaafkan
kelancangan kami ini” ujarnya sambil tertawa. “Menghadapi situasi
seperti ini sekalipun thayjien harus memaki dan menyalahkan aku
orang she Phoa, biarlah aku terima di hati saja. Cuma saja bilamana
thayjien suka menjelaskan alamat dari calon Besanmu itu, kami dapat
mencarikan akal untuk menghantar surat tersebut ke kota Kay Hong. Di
kota Kay Hong sana perusahaan kamipun punya sebuah kantor cabang,
biarlah mereka yanga hantarkan surat tersebut kepadanya.”
“Kalian hendak kirim dengan apa?”
“Burung merpati! Perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok kami punya sejumlah burung-burung merpati yang sangat
terlatih dan sering digunakan untuk mengirim berita antara markas
dengan kantor cabang, jika thayjien hendak menyampaikan surat kepada
calon besanmu kita dapat menggunakan burung merpati untuk
mengirimnya ke kantor cabang kami, kemudian dari sana akan
memerintahkan seseorang untuk menyampaikan surat tersebut ke tempat
tujuan.”
“Sekarang kalian masih ada burung
merpati itu?”
“Masih ada seekor burung yang
terbaik.”
“Baiklah, biar aku pergi membuat
sepucuk surat kemudian biar burung merpati dari perusahaan kalian
mengirimnya ke kota Kay Hong.”
“Thayjien! Ditengah cuaca yang
demikian dingin serta berangin kencang, lebih baik kau orang
menggunakan kertas surat yang tipis dan ringan.”
“Ehm! Memang jangan sampai burung
tersebut merasa terlalu berat!” Liauw Thayjien mengangguk.
Ia lantas bangun berdiri dan
meninggalkan ruangan tersebut.
Phoa Ceng Yan pun dengan mengikuti
Liauw Thayjien berjalan keluar dari ruangan itu.
Pada waktu itu terlihatlah
beberapa orang pembantu sedang membersihkan halaman dari tumpukan
salju, dengan cepat ia enjotkan badannya meloncat naik ke atas atap
rumah kemudian dari sana memandang ke empat penjuru.
Dari sana ia melayang keluar dari
kuil untuk melakukan pemeriksaan sekali lagi dengan teliti, setelah
itu dengan langkah lambat-lambat baru berjalan kembali ke dalam
ruangan.
Pada saat ia hendak memasuki pintu
kuil itulah, mendadak terdengar suara derapan kaki kuda berkumandang
datang memecahkan kesunyian yang mencekam sekeliling tempat itu.
Phoa Ceng Yan segera merasakan
hatinya tergetar keras, tubuhnya dengan cepat berputar memandang ke
arah luar.
Tampaklah seekor kuda warna putih
bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dengan cepat
berlarimendekat, di atas punggung kuda tersebut terdapatlah sesosok
tubuh manusia.
Warna putih kuda itu amat mulus
dan tiada bedanya dengan permukaan salju, dari atas hingga ke bawah
sama sekali tidak kelihatan sedikit titik hitampun.
Phoa Ceng Yan menghembuskan napas
panjang, setelah berdiri tegak mendadak bentaknya keras, “Berhenti!
Jika kau orang tidak menghentikan lagi larinya kudamu itu, jangan
salahkan aku orang she Phoa akan turun tangan terhadap dirimu.”
Di tengah suara bentakan yang amat
keras itulah, mendadak kuda putih tersebut berhenti berlari, sedang
orang yang tertelungkup di atas punggung kuda tersebut mendadak
dongakkan kepalanya, mengayunkan tangan kirinya dan berkemak kemik.
Belum sempat sepatah kata meluncur
keluar, tubuhnya tahu-tahu sudah terjatuh ke atas tanah dengan
menimbulkan suara yang amat gaduh.
Melihat kejadian itu Phoa Ceng Yan
melengak, selagi ia hendak berjalan mendekati orang itu untuk
memeriksa keadaan yang sebetulnya, mendadak terdengarlah kuda putih
itu meringkik panjang lututnya tahu tahu ditekuk dan berlutut di
hadapan tubuh orang tersebut.
“Aaaakh….! Kiranya seekor kuda
jempolan yang sangat menarik hati.”
Jika dilihat dari sikap kuda tadi,
kelihatan sekali bila ia menaruh rasa sangat hormat terhadap
majikannya.
Dengan langkah lebar Phoa Ceng Yan
segera berjalan ke depan tubuh orang itu dan membopong tubuh dari
atas tanah.
Tampaklah paras muka orang itu
sudah berubah jadi hijau membesi, jelas ia sudah kena terbokong oleh
senjata rahasia.
Kendati Phoa Ceng Yan sendiripun
sedang berada di dalam keadaan berbahaya, tetapi teringat bahwa
menolong orang merupakan suatu kejadian yang sangat penting tanpa
berpikir panjang lagi ia segera membopong tubuh orang itu dan dengan
langkah terburu-buru kembali kedalam kuil.
Beberapa orang lelaki yang ada di
tengah halaman sejak tadi sudah mendengar suara jeritan tertahan
dari Phoa Ceng Yan, melihat dia orang membopong orang itu sambil
berlari masuk ke dalam kamar, mereka lantas tahu jika si orang tua
itu sedang menolong orang tersebut.
Tanpa berpikir panjang lagi orang
yang berada di sebelah kiri lari keluar kuil dengan mulut
membungkam, secara sadar ia bertindak sendiri sebagai pengawas
keadaan, yang mengawasi apakah dari belakang ada orang yang
melakukan pengejaran atau tidak.
Sedangkan orang yang ada di
sebelah kanan bersama-sama dengan Phoa Ceng Yan lari masuk ke dalam
ruangan.
Membuka perusahaan mengawal barang
paling mudah mendapat keuntungan, tapi peraturanpun paling ketat,
sang pembantu tersebut setibanya di depan pintu ruangan ternyata
tidak berani melanjutkan kembali langkahnya.
Yang paling aneh adalah kuda putih
yang tinggi besar itu, ia mengikuti dari belakang Phoa Ceng Yan dan
berjalan masuk ke dalam ruangan kuil, kemudian sambil tundukkan
kepala menanti di samping.
Melihat kebagusan serta kegagahan
kuda putih tersebut, rata-rat para pembantu piauw-kiok pada
dongakkan kepalanya seraya memuji.
“Kuda bagus! Kuda bagus! Sekalipun
kuda jempolan Hwee Liong Ci dari Cong Piauw-tauw yang bisa melakukan
perjalanan seribu lie dalam seharipun susah untuk menandinginya.”
Haruslah diketahui kebanyakan
orang Bu Lim setelah melihat pedang bagus atau kuda bagus rata-rata
menunjukkan rasa suka, para pembantu piauw-kiok ini walaupun bukan
termasuk jago-jago kangouw tetapi karena sudah banyak tahun
berkelana di dalam Bu-lim sambil mengawal barang. Pengetahuan mereka
bertambah luas, ketajaman mata melebihi siapapun, sebab itu mereka
mengetahui jika kuda tersebut kuda jempolan.
Kita balik pada Phoa Ceng Yan, di
mana orang setelah tiba di dalam kamar segera meletakkan orang itu
di samping api unggun yang belum padam, hawa hangat menyamankan
suasana, kemudian diperiksa badan orang tadi dengan teliti.
Dilihatnya orang itu adalah
seorang pemuda tampan yang baru berusia delapan sembilan belasan
tahun, ia memakai celana warna hitam dengan jubah biru berikat
kepala warna biru dengan sepasang alis yang tebal, berbadan kekar.
Walaupun air mukanya pada saat ini sudah berubah jadi hijau membesi
tapi tak sampai menutupi ketampanan wajahnya.
Phoa Ceng Yan yang melakukan
pemeriksaan teliti di tubuhnya tak berhasil menemukan tanda luka
apapun, ia segera balikkan badannya.
Terlihatlah di atas jalan darah
“Hong Hu” di belakang pundaknya masih tersisa sedikit darah kering,
hal ini membuat si orang tua itu kerutkan kening.
“Sungguh suatu tindakan yang
kejam!” pikirnya. “Bukan saja senjata rahasia yang digunakan sangat
beracun bahkan menghajar pula tepat di atas jalan darah, sekalipun
badannya terbuat dari baja murnipun tak akan bisa kuat menahan
serangan tersebut.”
Walaupun pengetahuannya sangat
luas, tapi iapun hanya bisa membedakan bila pemuda tersebut kena
dilukai oleh sebangsa senjata rahasia yang amat kecil dan sangat
beracun, jari-jari tangannya segera dikerahkan tenaga untuk merobek
pakaian di atas pundak.
Sedikitpun tidak salah,
terlihatlah sebatang jarum ekor walet yang amat lembut dan kecil
masih kelihatan tersundul diluar kulit.
jarum ekor walet yang tersundul
keluar dari kulit pundak itu memancarkan sinar kebiru-biruan, sekali
pandang sudah bisa ditentukan bila racun yang dipoleskan di atas
senjata rahasia tersebut benar-benar sangat ganas.
Setelah melihat jelas bentuk
senjata rahasia itu, Phoa Ceng Yan baru kelihatan tertegun.
“Aaakh..! Senjata rahasia Yan Wie
Tui Hun Ciam.”
“Apa itu senjata rahasia ekow
walet pengejar sukma?” mendadak terdengar suara Liauw thayjien
menyambung.
Phoa Ceng Yan berpaling, tampak
Liauw Thayjien dengan langkah lambat sedang bertindak masuk ke dalam
ruangan.
Ia lantas tertawa getir.
“Senjata rahasia ekor walet
pengejar sukma adalah semacam senjata rahasia yang amat beracun,
asalkan menembusi badan pasti akan membinasakan, racunnya sangat
luar biasa.”
Ketika itu Liauw Thayjien barusan
dapat melihat jelas bila diatas tanah menggeletak seseorang.
“Maksudmu orang ini sudah terkena
hajaran senjata rahasia Yen Wie Tui Hun Ciam tersebut?”
“Tidak salah.” Phoa Ceng Yan
manggut.
“Phoa-ya! Cepat cabut keluar
senjata beracun tersebut dari atas pundaknya!” seru Liauw Thayjien
sambil melangkah mendekat dan menengok sekejap ke arah pemuda
tersebut.
Kembali Phoa Ceng Yan tertawa
getir dan menggeleng.