
"Seafoof Of Love"
Labuan hanyalah
kota kecamatan di kawasan pantai barat
Banten. Tidak jauh ke sebelah selatan dari
pantai Carita yang belakangan lebih terkenal
itu. Namun kalau kebetulan pergi berlibur ke
pantai Carita, sebaiknya jangan lewatkan
untuk mampir ke Labuan, lalu carilah Rumah
Makan Bu Entin di Jalan Raya Labuan Encle.
Kalau kesulitan, tanya saja sama orang lewat
di sana pasti tahu tempatnya.
Apa yang menarik dengan rumah makan Bu Entin?
Wow..., jangan kaget di sana ada sate
raksasa..... . Ini bukan menu satenya Buto
Ijo, melainkan ya disediakan bagi pemangsa
daging sejenis manusia yang kelaparan. Hanya
manusia yang kelaparan yang sanggup
menghabiskan beberapa tusuk satenya Bu Entin.
Coba simak deskripsi berikut ini : Satu
tusuk sate hati sapi terdiri dari lima
potong yang kalau ditempat lain barangkali
satu potongnya ini sudah ekuivalen dengan
setusuk sate. Satu tusuk sate cumi-cumi
terdiri dari lima ekor masing-masing
berukuran sebesar batu baterei D-size gemuk
sedikit.
Satu tusuk sate udang terdiri dari lima ekor
masing-masing berukuran sekorek api besar
sedikit dan ada juga yang lebih besar. Satu
tusuk sate ikan (entah ikan apa) terdiri
hanya seekor ikan laut kira kira selebar
peci hitam untuk sholat (tidak usah
repot-repot sholat dulu untuk membayangkan,
pokoknya cukup buesar....).
Belum lagi otak-otak yang bungkus daun
pisangnya gosong di sana-sini dan masih
panas, dipadu dengan dua macam sambal
berwarna merah dan coklat muda. Masih ada
urap, lalap leuncak, mentimun dan tauge
kecil mentah, dsb.
Dari tampilannya saja (sumprit..., saya
berkata sejujurnya) ludah saya sudah
tertelan beberapa
gelombang. Sampai bingung saya harus memulai
dari mana untuk memakannya, padahal nasi
sudah dituang ke piring dari beboko (ceting)
yang disediakan. Akhirnya yang saya ambil
duluan malah tauge mentah saya campur dengan
sambal cabe merah.
Sebungkus otak-otak saya buka kemudian dan
saya dulitkan (cocolkan) ke sambal yang
berwarna coklat muda. Komentar saya spontan
pendek saja... ”Hmm...., enak..., enak
sekali....”. Pilihan hasil assessment saya
memang hanya dua, enak dan hoenak sekale.....
Sejurus kemudian baru setusuk cumi, setusuk
udang dan beberapa potong hati sapi yang
saya dudut (lolos) dari tusuknya. Itupun
sudah hampir menenggelamkan nasi di piring
saya, yang kemudian malah belakangan baru
saya makan nasinya.
Oedan tenan....... , sungguh sebuah
petualangan makan-makan yang ruarrr biasa.....
Setiap gigitan dan kunyahan cumi-cumi dan
udangnya terasa benar sensasi seafood
bakarnya. Juga potongan hati sapinya mak
kress.... di gigi ketika memotong tekstur
bongkahan sate hati sapi yang dibakar hingga
tingkat kematangan well done (sebaiknya
jangan setengah matang).
Hampir sejam kemudian, perut sudah terasa
kenyang nian...... nafsu serakah seperti
sulit dikendalikan, tapi apa daya kapasitas
tembolok manusia memang ada batasnya.
***
Entah dimana Bu Entin pernah belajar bisnis,
namun sejak awal membuka usaha (yang kata
pegawainya sejak tahun 1996), Bu Entin sudah
menerapkan jurus deferensiasi. Bu Entin
berani tampil beda dengan ide sate hati sapi
raksasa dan sate seafood yang juga berukuran
tidak biasa. Ditambah dengan adonan
sambalnya yang mirasa, membuat faktor
pembeda itu semakin mantap pada posisinya
dan bertahan hingga kini. Akhirnya
terbentuklah brand image Bu Entin yang
seakan menjadi jaminan kepuasan pelanggannya.
Bu Entin memang luar biasa, masakannya
maksudnya... .... Meski yang menyajikan
masakannya sebenarnya juga bukan Bu Entin
sendiri melainkan para pegawainya. Tapi nama
kondangnya sudah cukup untuk memanipulasi
seperti apapun kualitas kemahiran memasak
pegawainya. Siapapun pengunjung yang datang
untuk menikmati sate raksasa dan sate
seafood Bu Entin, maka yang terbayang adalah
buah karya tangan Bu Entin.
Layaknya sebuah kesuksesan, maka kemudian
berduyun-duyun para pengikut meniru jejak Bu
Entin membuka usaha rumah makan sejenis di
seputaran kawasan Labuan. Namun tetap saja
Rumah Makan Bu Entin yang paling banyak
diminati sehingga bukannya pengunjungnya
berkrang, malahan semakin dikenal.
Kendati tampilan warungnya terkesan sangat
sederhana, namun sajian cita rasa yang
diawarkan sungguh tidak sesederhana
tampilannya, melainkan membuat kangen banyak
pelanggan setianya terlebih bagi pengunjung
fanatik yang sudah telanjur cocok dengan
masakan Bu Entin.
Seorang pengunjungnya yang datang dari
mancanegara saking terkesannya dengan
masakan sate seafood Bu Entin, sampai
menyempatkan untuk menuliskan sebuah puisi
berjudul ”Seafood of Love”, yang kini
dipajang di dinding Rumah Makan Bu Entin.
Begini bunyi penggalan bait akhirnya :
My seafood of love, my dining pleasure
Finger lickin’ food, so fresh and tasty
Breezing through my mind
You leave me breathless and wanting for
more….
Tiada kata-kata yang lebih indah dapat saya
ucapkan setelah berucap hatur nuhun kepada
pelayannya, melainkan puji Tuhan
wal-hamdulillah ...... Kalau ada umur
panjang, bolehlah saya kepingin mampir lagi.
Yogyakarta, 12 Mei 2008
Yusuf Iskandar
Copyright © 2008, www.topmdi.net - Design by: Sunlight webdesign