
Menyantap Sate Padali sebelum masuk sumur
Warung sate itu
bernama Padali. Jangan salah, bahwa Padali
itu bukan suaminya Bu Dali. Awalnya saya
juga mengira demikian (sebutan khas orang
Sunda yang biasa menulis Pa untuk Pak).
Padali adalah nama tempat atau kampung
dimana warung itu berada.
Warung Sate Padali saya jumpai di rute
perjalanan dari arah Labuan menuju Legon,
dermaga penyeberangan kepulau Umang,
Pandeglang, Banten. Kira-kira 13 km sebelum
masuk Sumur, perlu hati-hati (namanya juga
mau masuk sumur......) . Di sana ada
perempatan jalan kecil yang cukup padat
kalau siang hari karena selain jalannya
relatif sempit meski beraspal, tapi
lokasinya berdekatan
dengan pasar dan pusat kegiatan ekonomi
masyarakat kampung Padali.
Untuk menuju ke Sumur, sesampai di
perempatan Padali belok ke kanan. Tapi kalau
mau mengisi perut dulu, ambil jalan lurus
sedikit dan berhenti di sebelah kanan jalan.
Sebuah spanduk warna putih bertuliskan cukup
jelas memberitahu keberadaan Warung Sate
Padali.
Di daerah sepanjang rute ini memang tidak
banyak pilihan warung makan.
Setidak-tidaknya saya sudah berusaha
mencarinya sejak dari kawasan Sumur dan
belum menemukan yang pas di hati, hingga
akhirnya ketemu warung sate Padali. Maka
warung sate Padali bisa jadi pilihan di
antara yang tidak banyak itu.
Apa menu yang ditawarkan? Menu unggulannya
adalah sate kambing, sate sapi dan sop kikil
kambing. Masih ada asesori tambahan yaitu
krecek kambing. Krecek di sini bukan seperti
krecek-nya orang Jogja yang disebut koyoran
yang berbahan kulit sapi dan biasanya
dimasak sambal goreng pelengkap gudeg atau
sayur brongkos.
Krecek kambing di sini adalah
potongan-potongan jerohan kambing, seperti
babat, usus, limpa dan
kawan-kawannya, yang digoreng dan
berasa gurih. Meski tersedia juga menu
lainnya bagi yang tidak suka daging-dagingan.
Menyesuaikan dengan kondisi perut yang sudah
mendendangkan irama macam-macam, maka malam
itu saya memesan sate kambing, sopi kikil
kambing, sedikit krecek kambing karena
penasaran ingin mencoba rasanya, ditambah
dengan petai bakar. Tidak terlalu lama untuk
menunggu disajikan. Satenya disajikan dengan
bumbu ganda, ada bumbu kecap dan ada bumbu
kacang. Bumbu kacangnya sungguh sedap, agak
manis dan agak pedas.
Lebih sedap lagi ketika setusuk sate kambing
panas dioleskan pada kedua bumbu yang
dicampurkan.
Wuih......, sepertinya tidak sabar ingin
segera menelan semuanya.... ..
Tapi namanya juga manusia, panjang ususnya
tentu saja terbatas. Belum habis seporsi
sate yang terdiri dari 10 tusuk, diselingi
dengan mengerokoti kulit kikil kambing yang
lunak dengan bumbu sopnya pas benar, masih
diselingi dengan gigitan-gigitan krecek
kambing, akhirnya ibarat lomba lari belum
sampai garis finish sudah klepek-klepek.
......, kecepatan terpaksa dikurangi. Perut
kemlakaren.. ....., kekenyangan.
Paduan rasa dan bumbunya secara keseluruhan
cukup memuaskan. Hanya sayangnya agak kurang
pandai memilih daging, sehingga ada beberapa
potong daging kambing yang kenyal dan alot
dikunyah. Tapi, it’s OK. Harganya tidak
semahal di kota. Di kawasan ini harga
makanan relatif murah, meski lokasinya jauh
dari mana-mana.
***
Penjual sate yang saya lupa menanyakan
namanya dan mengaku berasal dari Purwakarta
ini rupanya sudah sekitar empat tahunan
berjualan sate di Padali. Kini warung
satenya semakin ramai dikunjungi para
pemakan (orang yang mencari makan di luar,
maksudnya).
Terutama sejak di
dekat sana ada aktifitas ekonomi baru, yaitu
usaha pertambangan emas di wilayah
kecamatan Cibaliung.
Kawasan barat wilayah kabupaten Pandeglang
yang selama ini dikenal sebagai daerah yang
kurang subur untuk usaha pertanian, kini
kehidupan ekonomi sebagian penduduknya
menjadi agak terangkat. Terutama mereka yang
mempunyai keterampilan untuk didik menjadi
tenaga
kerja tambang. Kawasan itu juga menjadi
lebih ramai dibanding sebelumnya, dengan
adanya penduduk pendatang yang bekerja di
tambang.
Sepasang suami-istri penjual sate itu pun
kini bisa tersenyum gembira, tiga ekor
kambing siap disembelih setiap harinya guna
memenuhi permintaan penggemar satenya. Kalau
daging sapinya cukup dengan membelinya di
pasar.
Warung sate ini dari luar masih terlihat
sangat sederhana dan terkesan ndeso, meja
dan bangkunya juga seadanya, dan sebaiknya
tidak dibayangkan seperti warung sejenis di
kota. Namun saya yakin tidak lama lagi
warung sate ini akan tampil beda, baik
tampilan tempat maupun pelayanannya. Racikan
bumbu sate dan sopnya cukuplah menjadi modal
bagi kesuksesan warung ndeso ini kalau saja
mereka pandai mengelola warungnya yang ada
sekarang.
Belum lagi kalau pengunjung ke obyek wisata
pantai Sumur, pulau Umang dan sekitarnya
semakin ramai.
Bolehlah pemilik warung sate ini berharap
agar dalam perjalanan wisatanya orang-orang
mau mampir menyantap sate Padali dulu
sebelum masuk Sumur.
Yogyakarta, 11 Mei 2008
Yusuf Iskandar
Copyright © 2008, www.topmdi.net - Design by: Sunlight webdesign