
Makan Siang Di Kampoeng Kopi Banaran
Menempuh perjalanan Yogyakarta – Semarang
atau Solo –Semarang atau sebaliknya,
adakalanya menjadi membosankan, terutama
bagi mereka yang sudah sering midar-mider di
jalur itu dengan kendaraan pribadi.
Kalau istirahat bisa dianggap sebagai
obatnya, maka ada pilihan untuk mencoba
beristirahat di Kampoeng Kopi Banaran.
Kampoeng Kopi Banaran adalah sebuah area
tempat makan di pinggiur jalan yang
bernuansa alam bebas. Kawasan yang juga
menyebut dirinya Wisata Agro ini terletak di
Jl. Raya Bawen – Solo km 1,5 tidak jauh dari
pertigaan terminal Bawen ke arah selatan
pada jalur yang menuju kota Salatiga dan
Solo, Jateng. Lokasinya persis berada di
tikungan jalan, sehingga pengunjung dari
arah utara perlu ekstra hati-hati untuk
masuk ke lokasi yang berada di sisi barat
jalan ini.
Sejenak menyeruput kopi tubruk yang mak
thengngng... sensasinya, bisa mengubah
suasana batin para sopir menjadi lebih segar.
Bagi mereka yang tidak biasa minum kopi
hitam, masih banyak pilihan minuman panas
atau dingin turunan dari kopi dan teh, atau
minuman es-esan. Menu unggulannya memang
kopi, sesuai namanya.
Barangkali memang gagasan utamanya adalah
menyediakan tempat pemberhentian atau
peristirahatan yang menyenangkan bagi mereka
yang sedang capek menempuh perjalanan
berkendaraan.
Kalau kemudian sruputan kopi tubruk dirasa
belum cukup (dan biasanya memang begitu...),
ada tersedia banyak pilihan menu makan.
Makanannya disajikan secara khas di atas
wadah piring terbuat dari anyaman bambu yang
di-lambari dengan daun pisang. Aneka masakan
ayam kampung adalah lauk utamanya. Rasa
masakannya tergolong enak dengan racikan
bumbunya pas banget di
lidah orang kebanyakan. Harga yang harus
dibayar pun tergolong wajar.
Selain masakan ayam kampungnya yang pokoknya
enak banget, jangan lupa untuk juga
mencicipi tahu goreng bandungan plus
sambalnya. Tahu khas dari daerah Bandungan,
Ambarawa ini gigitannya terasa kenyal dan
gurih dan hoenak tenan....., tapi tidak
memberi efek kenyang. Serasa tidak akan
cukup kalau hanya mencocol satu, dua, tiga,
empat atau lima potong tahu gorengnya.
Membeli yang belum dimasak untuk dibawa
pulang pun bisa.
Sambil menikmati makan siang, alunan irama
musik keroncong dan campursari yang
dibawakan oleh sekelompok pemusik
seolah-olah mengiringi irama yang sama di
perut pengunjungnya. Sambil menunggu nasi
ditembolok turun ke usus halus sebelum tubuh
beranjak melanjutkan perjalanan, sambil
kepala lenggut-lenggut seperti sapi
kekenyangan mengikuti alunan musik keroncong
sederhana. Nglaras benar......
***
Keunggulan lain
lain dari Kampoeng Kopi Banaran ini selain
masakannya yang enak dan lokasinya yang
mudah dicapai, adalah bahwa kawasan ini
cocok untuk dijadikan obyek tujuan wisata.
Resto atau kafe ini menempati sebagian kecil
dari kawasan perkebunan kopi seluas lebih
400 hektar milik PT Perkebunan Nusantara IX.
Meski sebenarnya sudah sejak enam tahun lalu
di kawasan ini sudah berdiri warung kopi
Banaran, namun pengembangan secara lebih
professional sebagai kawasan wisata agro
mula dibuka sejak diresmikan pada tanggal 28
Agustus 2005.
Tentu wisata agro perkopian adalah utamanya.
Dan, kini di kawasan ini juga telah
dilengkapi dengan berbagai fasilitas taman
bermain, kegiatan outbound, sarana olah
raga, camping ground, kebun buah, dsb.
Lokasinya yang berada pada ketinggian lebih
400 meter di atas permukaan laut cukup
memberi hawa segar di lingkungan perbukitan
yang berpemandangan menarik. Sehingga
kalaupun hanya ingin sekedar beristirahat,
maka lokasi ini cocok untuk disinggahi
bersama keluarga.
Bisnis warung kopi pinggir jalan yang
bernuansa elite dan kini lebih populer
dengan sebutan kafe, agaknya memang lagi nge-trend.
Kampoeng Kopi Banaran juga menangkap peluang
itu. Maka dalam skala kawasan yang lebih
kecil, warung kopi Banaran juga membuka
cabangnya di daerah kecamatan Mungkid, yaitu
dipenggal jalan naik-turun perbukitan di
antara Magelang – Ambarawa. Lokasinya yang
berada di pinggir jalan tidak terlalu sulit
untuk ditemukan.
Salah satu kebiasaan saya kalau menjumpai
produk kopi yang khas di daerah yang
kebetulan sempat saya kunjungi adalah ingin
menikmati lebih puas di rumah.
Karena itu sekotak kopi robusta Banaran
seberat 250 gram saya cangking untuk dibawa
pulang (mbayar, tentu saja.....). Sekedar
agar ketika di rumah bisa lebih puas
menikmati rasa kopinya yang mantap alami.....,
seperti yang tertulis di bungkusnya.
Yogyakarta, 19 Mei 2008
Yusuf Iskandar
Copyright © 2008, www.topmdi.net - Design by: Sunlight webdesign