kuda putih 02 **
Baiklah kau berdiam di sini
saja menantikan kami, jikalau aku mendapatkan harta, tentu aku akan
membagi kau satu bagian..."
"Di saat ini jangan orang
berlagak kosen!" kata Cherku. "Lihat sebentar, kalau memedi muncul,
siapakah yang bakal kabur lebih dulu? Mungkin kau atau anakmu!...”
"Memang, kami ayah dan anak,
kalau kami melihat memedi, kami bakal lari kabur!" kata Suruke pula.
"Tapi kami bukannya seperti kau, melihat memedi, kau ketakutan
sampai kau bertekuk lutut di tanah dan tubuhmu menggigil?"
Pulang pergi, mereka itu
menyebut-nyebut iblis gurun...
Jalan lagi sekian lama, langit
mulai gelap.
"Ayah, mari kita bermalam di
sini," berkata Supu. "Besok pagi kita berangkat pula."
"Bagus!" berkata Cherku tertawa
sebelum Suruke menyahuti anaknya. "Kamu dan anak boleh singgah di
sini, untuk menyingkir dari bahaya! Aman, mari kau ikut ayahmu!"
"Fui!" Suruke berludah, lalu ia
maju di depan, mendahului yang lain.
Supu memunguti cabang-cabang
kering, untuk membuat obor. Maka itu, malam-malam, di dalam hutan,
mereka berjalan terus. Sulit perjalanan itu, sebab mereka sekalian
mesti mencari tapak kaki TatHian. Suasana pun seram kapan sang
burung malam mengasih dengar suaranya. Orang kaget setiap kali dari
atas pohon terjatuh kepingan salju, yang mendatangkan suara berisik,
hingga hati mereka berdebaran.
"Ah, celaka!" berseru Aman
tiba-tiba selagi ia berjalan dengan hati kebat-kebit.
"Ada apa?" tanya Supu kaget.
"Lihat, itulah gelangku yang kemarin ini aku
kena bikin lenyap!"
kata Aman, tangannya menunjuk ke
depan di mana ada sebuah benda dengan cahaya berkilauan.
Gelang itu terletak sejarak tiga
tombak dari lima orang itu. Memang aneh
gelang itu
didapatkan di situ.
"Tadinya aku memikir untuk
mencarinya, kenapa sekarang gelang ini berada di sini?" kata
Aman.
"Kau periksa dulu, benar atau
tidak itulah kepunyaanmu," kata Cherku, sang ayah.
Aman jeri, ia tidak berani
pergi menghampirkan. Maka Supu yang maju dan memungutnya.
"Memang, inilah kepunyaanmu!"
kata si pemuda sebelum si pemudi memeriksanya. Lantas dia
menyerahkannya. Aman masih takut untuk menyambuti.
"Kau buang saja," katanya.
suaranya parau.
"Mustahilkah ini perbuatan
memedi?” kata Supu, yang air mukanya lantas berubah, demikian juga
yang lain-lainnya. Semua berdiam.
"Mungkinlah ini lebih bebat
dari gangguan memedi,” kata Boen Sioe kemudian. "Mari kita ambil
jalan yang kuna, jalanan ini ada jalanan bekas kita..."
Mereka terpengaruh oleh
kepercayaan halnya sesat jalan, hingga mereka bakal terputar-putar
di situ juga sampai mereka mati sendirinya...
Suruke mau menyangsikan
kekuatiran Boen Sioe tetapi buktinya ialah keanehan dari gelangnya
Aman itu.
Tanpa banyak omong, mereka itu
berjalan terus. Gelang diletaki di tanah. Mereka berjalan sekian
lama, lantas mereka melihat gelang itu!
Suruke dan Cherku bungkam.
Mereka tidak berani bicara besar lagi atau saling mengejek.
"Kita mengikuti si penyamun dan
Kee Loodjin,** berkata Boen Sioe, "kalau mereka kesasar, mereka pun
bakal kembali kemari, maka itu mari kita berhenti di sini. Kita
menantikan mereka itu...”
Pikiran ini mendapat
kesetujuan, maka mereka, lantas pada menyingkirkan salju, untuk
mencari tempat duduk masingmasing. Supu menyalakan api, membuat
unggun, mereka duduk mengitari itu. Masih mereka berdiam, tidak ada
yang niat berbicara, tidak ada yang berkeinginan tidur. Semua
menantikan munculnya Tan Tat Hian dan si empee Kee, semua mereka
berdenyutan hatinya. Bagaimana kalau benar-benar Tat Hian dan Kee
Loodjin tersesat dan muncul di depan mereka? Tidakkah itu berarti
celakanya nasib mereka semua?...
Sekian lama mereka berdiam
dalam kesunyian, atau mendadak kuping mereka menangkap suara
tindakan kaki. Mereka terkejut, hati mereka terkesiap. Hampir
berbareng, mereka berlompat bangun. Hanya sejenak, suara tindakan
kaki itu lenyap Hingga tinggallah hati mereka yang berdebaran, yang
memukul.
Lagi sejenak, tindakan kaki itu
terdengar pula, agaknya lagi menuju ke arah barat daya, malah
terdengarnya main jauh, akan kemudian lenyap sebab diganggu
berkesirnya angin yang keras, yang membawa datang salju, hingga
unggun mereka padam dalam sekejap kena tertimpa salju itu.
Dengan padamnya api, gelaplah
pandangan mata mereka.
Justeru itu, kuping mereka
mendengar suara apa-apa.
Kecuali Aman, Suruke berempat
menghunus senjata mereka. Aman menjerit, ia menubruk Sapu ke dada
siapa ia menyedapkan kepalanya.
Kembali terdengar suara
tindakan kaki itu yang teras lenyap di kejauhan.
Habis itu, terus sampai fajar
tidak ada terjadi peristiwa apa juga. Munculnya matahari membuat
hati mereka tenang kembali. Dengan lantas mereka melanjuti
perjalanan mereka itu.
Aman berlaku hati-hati maka ia
melihat di kirinya, ada cabang-cabang pohon yang rebah dan patah.
"Lihat ini!" katanya tiba-tiba
Supu menyingkap cabang yang
rebah itu, di bawah itu ia melihat dua buah tapak kaki, hingga ia
menjadi girang luar biasa.
"Di sini mereka!" ia berseru.
"Inilah jalan yang mereka
ambil!"
"Mungkin penyamun itu keliru
melihat petanya," kata Aman. "Dia tersesat, dia kena jalan
terputar-putar di sini hingga dia menyebabkan kagetnya kita
semua..."
Suruke tertawa lebar.
"Benar!" katanya nyaring. "Dua
anggauta keluarga Cherku bernyali kecil, mereka ketakutan mernedi
selama satu malaman! Keluarga Suruke sebaliknya gagah, mereka
justeni mengharap-harap munculnya si memedi, untuk dijiwir
kupingnya, guna melihatnya tegas-tegasi”
Cherku tidak melayani, dia pun
memandang ke lata arah, hanya mendadak dia memutar tubuh, sebelah
tangannya menyambar!
Suruke tidak menyangka jelek,
tahu-tahu sebelah kupingnya telah kena tercekal dan tertarik Cherku,
hingga dia kaget Tidak ayal lagi, dia meninju. Meski begitu, Cherku
tidak roboh, karena tubuhnya terhnyung, ia menarik kuping orang yang
dipeganginya itu.
Suruke kaget dan kesakitan,
kupingnya itu pecah dan mengeluarkan darah. Kalau kuping itu
terlarik lebih keras sedikit, mungkin akan copot
Boen Sioe mau tertawa melihat
kelakuannya dua orang Kazakh yang Jenaka itu, tidak peduli usia
mereka sudah empat puluh lebih, lagak mereka mirip bocah, sebentar
baik, sebentar bertengkar, sebentar lagi bertarung. Ketika mereka
terpisah, disebabkan saling tinju, yang satu hidungnya matang biru,
yang lain matanya bengap!
Mereka melanjuti terus
perjalanan mereka. Jalanan kali ini berliku-liku, sukar dilaluinya.
Ada kalanya mereka melintasi mengitari bukit, ada kalanya masuk
kedalam gua, melintasi terowongan wajar. Syukur ada salju,
terus-terusan mereka melihat tapak kaki, yang terus mereka ikuti.
Aman bermata celi, kalau tapak suram atau lenyap, dialah yang
meneliti.
Dalam batinya Boen Stoe kata:
"Istana rahasia itu benar-benar luar biasai Tanpa peta, bagaimana
dia dapat dicari?"
Jalan sampai tengah hari, sebab
satu malam mereka tidak tidur, semua orang menjadi letih sekali,
kecuali Boen Sioe, yang ilmu dalamnya sudah ada dasarnya, dia masih
segar seperti biasanya.
"Ayah, Aman sudah tidak kuat
jalan, kita singgah di sini," kata Suptt pada ayahnya.
Belum lagi ayah itu menyahuti
atau mereka mendengar seruannya Cherku, yang jalan di paling depan.
Suruke lompat ke depan, guna menghampirkan kawannya, yang teraling
dengan segumpalan pepohonan. Selewatnya itu, matanya dibikin silau
dengan cahaya kuning emas yang berkilauan, hingga sukar untuk ia
melihatnya.
VII
Dengan terpaksa ayahnya Supu
ini memeramkan matanya. Sampai sekian lama, baru ia membukanya
perlahan-lahan. Masih ia merasa silau, sampai berkunang-kunang.
Untak dapat melibat terus, ia memiringkan tubuhnya. Ketika ia telah
melihat tegas, ia menjadi heran dan kagum. Di depan ia ada sebuah
bukit, di atas itu ada sebuah pintu yang terlapiskan emas. Itulah
sinar yang menyilaukan mata, sebab emas itu ditojo matahari dan
menjadi memancarkan sinar berkeredepan itu.
Cherku melihat pintu itu maka
dia berseru. Suruke pun mengasih dengar seruannya, disusul oleh Boen
Sioe, Supu dan Aman» yang menyusul belakangan ini juga, mulanya
merasa silau.
"Istana Rahasia Kobu!" demikian
suara mereka serempak. Mereka tidak sangsi pula atas penemuan mereka
itu.
Suruke lari menghampirkan
pintu, ia menolak dengan kedua tangannya. Pintu itu tidak bergerak.
Cherku maju bersama, untuk
membantui, sia-sia saja, meskipun mereka telah mencoba menggunai
pundak mereka. Pintu, yang berdaun dua, kuat sekail
"Penyamun jahanam itu berada di
dalam, dia menguncikan pintu!" kata Suruke gusar.
Aman memandangi pintu itu, ia
tidak melihat apa-apa yang mencurigai. Ia lantas meraba gelang
pintu, ia putar itu ke kiri. Pintu itu tetap tidak bergerak. Ia
memutar pula, sekarang ke kanan. Untuk herannya, ia merasa
putarannya longgar. Ia lantas memutar pula, terus, sampai beberapa
kali.
Suruke dan Cherku mencoba pula
membentur pintu dengan tubuh mereka. Kali ini mereka berhasil.
Dengan mendadak kedua daun pintu menjebtak terbuka. Ini pun di luar
dugaan mereka. Tentu sekali, mereka menjadi sangat girang. Sambit
tertawa, mereka merayap bangun, sebab dengan menjeblaknya pintu,
mereka roboh bersama! Di sebelah dafam tampak gelap. Itukah bukan
ruang hanya lorong, jalanannya seperti gang. Maka Supu lantas
menyalakan obor, untuk menyuluhi. Dengan sebelah tangan menyekat
goloknya, ia maju di muka.
Tiba di ujung lorong, mereka
menghadapi jalan cagak tiga. Di dalam istana ini tidak ada salju,
jadi tidak dapat mereka melihat tapak kakinya si penyamun atau empee
Kee. Cagak mana mereka harus ambil?
Kembali Aman menunjuk
keterlitiannya. Ia membungkuk untuk dapat memperiapkan lantai. Ia
mendapatkan, cagak kiri dan kanan ada tapak kakinya yang enteng,
yang tipis sekali. Ia memberitahukan apa yang ia lihat itu.
"Sekarang begini," berkata
Suruke. "Kita pun memecah diri, ialah tiga di kiri, dua di kanan. Di
dalam baru kita bertemu."
"Tidak dapat kita berbuat
demikian," kata Boen Sioe. "Istana ini
dinamakan istana rahasia, sudah pasti jalannya pun jalan terahasia.
Menurut aku paling benar kita tetap
berjalan bersama-sama."
Suruke menggeleng kepala,
"Berapakah luasnya gua ini?" katanya. "Anak perempuan bernyali
kecil, sungguh aku kewalahan!"
Meskipun ia membilang demikian,
kejadiannya mereka berlima berjalan bersama, mereka tidak memecah
diri. Lebih dnlu mereka mengambil jalan cagak kanan, yang kelihatan
lebar.
Baru jalan sepuluh tombak,
Suruke berpikir. Sekarang ia baru percaya Boen Sioe berpikiran lebih
panjang. Pula di depan mereka terdapat lagi jalan pecahan. Maka lagi
sekari mereka memperhatikan lantai, untuk mengambil jalan yang ada
tapak kakinya.
Sekian lama mereka berjalan,
mereka melihat bahwa saban-saban ada jalan cagak.
Aman berlaku cerdik, senantiasa
ia menggunai pisau membuat tanda di tembok yaag dilewati. Dengan
begitu mereka bisa mencegah yang mereka mundar-mandir di situ-situ
juga
Akhir-akhirnya tibalah mereka
di tempat yang terang. Mereka mendapat sebuah ruang kosong. Di
tempat terbuka ini, mereka mendapatkan pula sebuah pintu berdaun
dua.
Supu memegang gelang pintu, ia
memutar itu. Pintu itu lantas terbuka. Mereka lantas melihat sebuah
ruang bagaikan pendopo yang di tembok sekitarnya penuh dengan
pelbagai patung malaikat, ada yang terbuat dari emas, ada yang
terbikin dari batu kumala dengan biji matanya dari mutiara atau batu
permata lainnya, hingga semua mata itu menjadi hidup. Maka
tercenganglah lima orang ini.
Melewati ruang ini, mereka
mendapatkan pelbagai ruang lainnya, mirip dengan kotak-kotak kamar
di mana pun ada masing-masing patungnya beserta batu-batu
permatanya. Di sini pun antaranya ada terdapat tulisan-tulisan huruf
Tionghoa di tembok, seperti "Raja dari negara Kao diang", "Wen Tai"
dan "Kerajaan Tong, tahun Tjengkoan XIII".
Kao Chang itu adalah sebuah
negara jaman dahulu di wilayah barat yang rakyatnya makmur dan
pemerintahannya kuat. Di jaman Tong tahun Tjengkoan, raja Kao Chang
yang bernama Chu Wen Tai, menyatakan takluk kepada kerajaan Tong,
akan tetapi karena negaranya makmur dan kuat, dia berlaku tidak
menghormati kaisar Tong itu, dari itu kaisar Tong mengirim utusannya
ke Kao Chang- Kepada utusan itu, raja Kao Chang itu mengatakan:
"Burung garuda terbang di langit, ayam hutan betina mendekam di
gunung, kucing pesiar di ruang dalam, tikus bersembunyi di liangnya.
Mereka itu mendapati tempatnya masing-masing, bagaimana mereka tidak
memperoleh kemerdekaannya?" Dengan itu raja maksudkan: "Meskipun
kaulah burung garuda yang bengis dan aku hanya ayam hutan yang tidak
mempunyai guna, tetapi kau terbang di udara, aku sembunyi di dalam
hutan, kau tidak nanti sanggup membunuh aku! Meskipun kau adalah
kucing dan aku hanya tikus, tetapi kau mundar-mandir di dalam ruang
saja, aku sembunyi di dalam liangku, apa kau bisa bikin terhadap
aku?"
Itulah tantangan. Mendengar
itu. Kaisar Tong Tay Tjong menjadi gusar. Sudah begitu lantas
terjadi negeri Kao Chang itu menyerang tetangganya, Yenchi, negara
yang menghormati sekali Tong itu. Negara Yenchi itu lantas minta
bantuan, atas mana kaisar Tong mengirim panglima perangnya, Hauw
Koen Tjip, menyerang negeri Kao Chang itu.
Ketika Chu Wen Tai mendengar
kabar negerinya mau diserang, dia kata pada sekalian menterinya:
"Negara Tong itu terpisah dari kita tujuh ribu lie, di antaranya dua
ribu lie jalanan gurun pasir di mana tidak ada rumput dan air, yang
anginnya meniup tajam seperti golok dan panasnya terik bagaikan
membakar diri ini, cara bagaimana dia dapat mengirim angkatan
perangnya tiba kemari? Jikalau jumlah angkatan perangnya terlalu
besar, pasti dia tidak dapat mengangkut cukup rangsumnya. Dan kalau
jumlah lenteranya kurang dari tiga puluh ribu jiwa maka kita tidak
usahlah takut Kita nanti melayani musuh dengan sabar, kita main
melindungi kota kita saja, di dalam tempo dua puluh hari, nanti
rangsumnya habis, lantas dia bakal mundur sendirinya!"
Chu Wen Tai mengetahui baik
kegagahannya angkatan perang kerajaan Tong itu maka ia lantas
menetapkan siasat tidak berperang itu, siasat menjaga diri saja. Ia
mengumpulkan banyak kuli, di sebuah tempat yang tersembunyi dia
membangun sebuah istana rahasia. Inilah untuk persediaan guna
mengundurkan diri andaikata ia tidak sanggup melawan musuh/ Negeri
Kao Chang sedang makmur, di wilayah barat itu banyak tukang yang
pandai, maka itu ia dapat membuat istana yang luar biasa itu di mana
pun ia menyembunyikan hartanya yang berupa pelbagai batu permata. Ia
telah memikir, umpama kata musuh dapat menyerbu ke istana rahasia
itu, ia dan hartanya itu tidak bakal dapat diketernukan.
Hauw Koen Tjip adalah seorang
panglima yang pernah turut Lie Tjeng belajar ilmu perang, dia pandai
memimpin angkatan perangnya, di sepanjang jalan ia dapat
maju-dengari cepat, setiap pasukan musuh yang menghadang dapat
dilabrak, dari itu ia berhasil melintasi gurun pasir besar. Maka
kagetlah raja Kao Chang itu ketika ia: dilaporkan tibanya musuh
demikian pesat, dia kaget dan ketakutan hingga dia mati. Dia lantas
digantikan oleh pulennya, Chu Oun Sheng. Dia ini membuat perlawanan,
tapi setiap Hauw Koen Tjip datang menyerang di luar kota, pasukannya
kena dikalahkan.
Didalam peperangan ini, Hauw
Koen Tjip menggunai alat yang dinamakan "Kereta Sarang", yang
tingginya sampai sepuluh tombak, hingga mirip dengan sarang burung,
hingga alat itu mendapat namanya itu. Kereta itu ditolak sampai di
tembok kota, hingga keadaannya lebih tinggi dari tembok kota itu,
lalu dari atas, tentera Tong menyerang dengan hujan panah dan batu.
Tentara Kao Chang kewalahan, akhirnya Chu Chih Sheng menyerah.
Negara Kao Chang itu dibangun
oleh Chu Chia Li, turun temurun sampai sembilan turunan, lamanya
seratus tiga puluh empat tahun, sampai pada tahun Tjengkoan ke 14
dari Kerajaan Tong itu, bara dia musnah. Dialah sebuah negara besar
di wilayah barat, sebab luasnya daerah ialah delapan ratus lie di
timur dan barat dan lima ratus lie di selatan dan utara.
Hauw Koen Tjip pulang perang
dengan mengangkut Raja Kao Chang beserta seratus pembesamya sipil
dan militer dan lainnya, dibawa pulang ke kota raja Tiang-an.
Raja Kao Chang menjadi orang
tawanan, tetapi istana rahasia buatan ayahnya itu tidak tercocorkan.
Selama seribu tahun lebih, di gurun pun terjadi perubahan, di sana
tumbuh pepohonan, maka juga istana itu menjadi bagaikan terlebih
terahasia pula, tanpa peta, tidak nanti orang dapat menemuinya.
Suruke berjalan terus, memasuki
sebuah kamar, melewatinya, lalu memasuki kamar yang lain dan
melewatinya pula. Kebanyakan kamar itu sudah rusak, ada temboknya
yang gempur. Di sana-sini pun kedapatan tumpukan-tumpukan pasir
kuning, hingga ada pintu kamar yang telah teruruk tertutup. Jalanan
berliku-liku, ditambah sama segala yang uruk itu, dilaluinya jadi
semakin sukar, kepala pun menjadi pusing. Di samping itu orang
kadang-kadang melihat tulang-belulang manusia, yang putihmeletak,
pula uang emas dan perak dan barang permata, yang membuatnya mata
silau.
"Entah ke mana kaburnya Tan Tat
Hian si jahanam," pikir Boen Sioe, "Dia tidak kedapatan di sini.
Mungkin, walaupun dia berada di sini, sukar untuk mencarinya. Harap
saja istana ini tidak ada pintu belakangnya-, agar dia dapat dipegat
di pintu depan di saat dia hendak mengangkat kaki dengan mengangkut
harta karun ini..."
"Mana ayahku?" mendadak Nona
Lie mendengar suaranya Aman selagi ia seperti ngelamun itu. Ia
lantas menoleh, la menampak Aman dan Supu memasuki sebuah kamar
kiri, Suruke dan Cherku tidak kelihatan, la lantas mendekati kedua
muda-mudi itu.
"Nona Kang," tanya Supu pada
Boen Sioe----yang sekian lama oleh. empee Kee disebut "Nona
Kang"----"apakah kau melihat ayah kami?"
"Tidak," menyahut Boen Sioe.
"Baru saja kita ada bersama, kenapa mereka lantas tak nampak? Mari
kita cari! Awas, istana ini istana rahasia, jangan kita nyasar."
Supu dan Aman menurut, maka
bertiga mereka lantas mencari. Supu saban-saban berteriak memanggil
ayahnya serta Cherku, akan tetapi ia tidak memperoleh jawaban, hanya
kupingnya mendengar kumandang yang mendengung di ruang itu.
Bernapsu mereka bertiga mencari
sampai Aman lupa membuat tanda di tempat-tempat yang mereka
lewatkan, hingga untuk sementara, sukar dibedakan mereka telah
kembali ke tempat yang telah dilewatkan itu atau belum. Juga mereka
tidak dapat melihat rata ke depan, karena kedudukan istana rahasia
itu ada di lamping gunung, jadi ada kalanya kedudukannya tinggi, ada
kalanya pun sangat rendah hingga orang mesti berdiri di tempat yang
tinggi untuk dapat memandang ke bawah itu. Oleh karena wuwungan
adalah bagian atas dari gunung, orang tidak dapat melihat dari atas.
Orang tidak bisa naik ke atas wuwungan, yang sebenarnya tidak ada,
sebab yang dinamai wuwungan mirip lelangit lauwteng.
Aman menjadi sangat
berkuatir-.. dan berduka hingga air matanya berlinang-linang.
Sia-sia Supu membujuki dan menghibur. Saking ruwetnya pikirannya
itu, nona itu sampai tidak memanggil-manggil pula ayahnya.
Mereka lagi berjalan terus
ketika dengan mendadak mereka mendengar suara keras di tembok
sebelah kamar: "Eh, Cherku, kenapa kau membacok aku?"
Ketiga muda-mudi itu mclcngak.
Itulah suaranya Suruke.
Segera terdengar suaranya Cherku:
"Kau--- kau bikin apa ini?"
Setelah itu kuping mereka
mendengar suara beradunya senjata tajam, disusul pula oleh
bentakan-bentakan kemarahan Suruke dan
Cherku saling ganti.
Mereka ini bertiga girang
berbareng kaget dan kuatir.
"Ayah!" Aman berteriak. "Jangan
berkelahi …Jangan berkelahi!"
Di kanan mereka tidak ada
pintu, maka Supu lari ke kiri. Ia bermaksud
menghampirkan ayahnya dan Cherku, sang paman itu,
untuk melihat,
guna memisahkan mereka. Sebab aneh mereka itu bertempur satu
dengan lain. Hanyalah, pintu yang ada teras menerus di sebelah kiri,
dengan begitu, ia bukan tiba ke kamar sebelah itu, ia justeni pergi
semakin jauh... Boen Sioe dan Aman mengikuti, mereka pun tidak
berdaya. Maka kemudian mereka lari balik. Justeni itu mereka dengar,
dari kamar di sebelah itu, jeritan yang menyayatkan hati dari
Suruke, lantas sunyilah segala apa. Mereka kaget bukan mam.
Supu menjadi seperti kalap, dia
lompat menubruk dengan pundaknya. Tapi ia gagal. Pintu itu kuat
sekali dan tak bergeming.
Aman yang terliti memasang
mata. Ia melihat sebuah batu di pojokan, yang agaknya terlepas, maka
ia menghampirkan itu, ia mencekalnya, lantas ia menarik. Ia gagal.
Ia lantas dibantu Boen Sioe dan Supu. Kali ini mereka berhasil,
dengan begitu, dari bekas lolosnya batu itu, mereka bisa mengintai
ke kamar sebelah sana. Supu bekerja terus membongkarnya, hingga ia
dapat memasuki tubuhnya, molos dari liang itu.
"Ayah! Ayah!" ia memanggil
berulang-ulang.
Segera juga pemuda ini nampak
apa yang hebat. Di kamar sebelah itu terlihat tubuh seorang rebah di
lantai, di dadanya menancap sebatang golok panjang. Ia mengenalinya,
ia lompat menubruk, untuk mengangkat. Atau ia mendapatkan ayahnya
itu telah putus jiwanya!
"Ayah!
Ayah!” ia berteriak-teriak, sambil menangis.
Boen Sioe dan Aman menyusul
masuk, mereka berdiri diam di samping Supu. Mereka bingung dan
berduka.
Supu mencabut galat di tubuh
ayahnya itu. Itulah goloknya Cherku.
"Supu..." Aman memanggil seraya
ia menarik tangannya si pemuda. Ia niat menghibur, hanya tak tahu ia
harus mengatakan apa.
Supu tengah sangat berduka dan
gusar, tangannya melayang ke arah si nona sambil mulutnya menanya
bengis: "Mana ayahmu? Mana ayahmu?"
Ketika itu di mulut pintu
nongol kepala dari satu orang, yang tubuhnya terlihat hanya bagaikan
bayangan. Cuma sejenak, kepala itu lantas ditarik pulang, terus dia
lari pergi. Walaupun sejenak, itu sudah cukup untuk Supu guna
mengenali orang adalah Cherku yang mukanya berlumuran darah, Supu
berteriak, tubuhnya bergerak, niatnya memburu.
"Supu!" memanggil Aman,
tangannya menarik.
"Lepas!" bentak si anak muda.
"Supu" kata si nona, "aku mau bicara; sepatah kata saja."
"Baik! Bilanglah!" kata Supu,
mendongkol.
"Ingatkah kau aturan kaum kita
tentang perkelahian perseorangan?" tanya Aman.
Supu mengertak gigi.
“Ingat!**sahumya kaku. Dengan lantas pula wajahnya tampak kesangsian
Bangsa Kazakh bangsa gagah, di
antara mereka, asal benterok, perselisihan biasa diakhiri dengan
menghunus senjata. Demikian di antara
kaumnya Supu, yang termasuk golongan
Tiehyen. Dulunya kaum ini gemar sekali berkelahi, lama-lama,
jumlah pria mereka jadi tinggal sedikit, sebaliknya, wanitanya
tambah banyak, berlebihan. Maka itu, melibat ancaman bahaya itu
bahwa golongannya akan kekurangan pria, selang seratus tahun yang
lalu satu ketuanya mengadakan aturan untuk mencegahnya. Ialah:
"Siapa membunuh orang, hukuman atasnya hukuman mati." Biarnya orang
pieboe, yaitu bertempur satu sama satu dengan cara terang,
ancamannya tetap hukuman mati. Karena adanya hukuman ini,
pertempuran menjadi dapat dicegah, .pertambahan anggauta pria lantas
bertambah. Aturan ini, aturan lisan, dituturkan oleh setiap orang
tua kepada anak-anak muda, agar semua orang mengetahuinya. Maka itu,
aturan itu ditaati turun-temurun.
Aman menangis, ia kata: "Ayahku
telah kesalahan membunuh ayahmu, dia bakal diadili oleh,
tertua-tertua kita yang akan menghukumnya, maka itu kau.. jangan kau
membunuh ayahku."
Nona ini bingung bukan main. Ia
menginsafi kesalahan ayahnya, kalau ayah itu sampai dihukum,
bercelakalah ia. Sedangnya ia bingung ini, sekarang ia melihat
sikapnya Supu. Ia bisa mengerti yang pemuda ini hendak menuntut
balas. Biar bagaimana, tidak ingin ia si pemuda melakukan
pelanggaran pula seperti ayahnya itu.
Supu memandang mayat ayahnya.
Ia pun menginsafi aturan, yang keras itu.
"Baik," katanya, "aku tidak
akan bunuh ayahmu. Aku cuma hendak menangkapnya!"
Lantas anak muda ini lari,
mulutnya berkaokan: "Cherku! Kau hendak kabur ke mana?" Tidak lagi
ia memanggil paman.
Tiba-tiba datang jawabannya
Cherku: "Aku di sini! Kenapa aku mesti kabur?"
Cherku berada tidak jauh dari
situ. Dia benar berlepotan darah pada mukanya.
Dengan golok di tangannya dia
berdiri tegar, romannya bengis.
Supu menghampirkan. Ia membawa
goloknya tetapi senjata itp ia tidak lantas menggunakannya. Cuma
obor di tangan kirinya, yang ia tancapkan di pasir. Ia kata dengan
keren: "Letaki senjatamu! Aku tidak akan bunuh kau!"
"Kenapa aku mesti meletaki
senjataku?" Cherku membaliki. "Hm! Apakah kau mengira kau dapat
membunuh aku?"
Boen Sioe dan Aman menyusul.
Mereka mendapatkan dua orang itu berdiri berhadapan dengan
masing-masing senjatanya di tangan, roman mereka bengis, sikap
mereka tegang.
"Ayah, sukalah kau lepaskan
golokmu," berkata Aman kepada orang tuanya itu. "Supu telah berjanji
tidak akan membunuh kau..."
"Kau suruh dia meletaki
senjatanya!" kata Cherku dengan jumawa. "Aku juga berjanji tidak
akan membunuh dia!"
"Benarkah kau tidak hendak
melepaskan senjatamu?" tanya Supu bengis, hatinya panas. "Mungkinkah
kau benar hendak membunuh aku?"
Cherku tertawa berkakak "Kau,
bocah, kau memikir untuk membunuh aku?" dia kata, mengejek. "Jikalau
kau mempunyai kepandaian, nah, kau cobalah!"
"Kenapa kau membunuh ayahku?"
tanya Supu sengit. Ia berteriak. "Aku... aku hendak menuntut balas
untuk ayahku itu!"
Belum lagi Cherku menyahuti
ketika mendadak ada angin bertiup keras, hingga obor padam seketika.
Hingga ruang menjadi gelap petang. Tibanya sang gelap gulita itu
dibarengi sama bentakan dari kemurkaan dari Supu, disusul sama
benteroknya senjata, disusul pula dengan robohnya tubuh Cherku...
"Jangan berkelahi!
Jangan berkelahi!" Aman berteriak-teriak, kuatimya
bukan main.
Boen Sioe sendiri lantas
berdaya menyulut api.
Setelah obor menyala pula,
terlihat Cherku rebah dengan tubuhnya tertancap golok. Dia mati sama
seperti matinya Suruke. Di situ Supu berdiri
diam dengan tangan kosong, dia menjublak saja.
Aman lantas menubruk mayat
ayahnya, ia pingsan.
Boen Sioe maju, guna menolongi
nona itu.
Sebentar kemudian, Aman
tersadar.
"Bagaimana, Aman?" tanya Supu,
menghibur.
Aman gusar. Ia menjawab sengit:
"Kau telah membunuh ayahku! Semenjak hari ini, jangan kau bicara
pula denganku!" Ia mencabut tusuk kondenya, terus ia mematahkannya,
terus ia melemparkannya ke tanah.
"Aku tidak membunuh ayahmu!"
berkata Supu, menyangkal.
"Kau masih menyangkal?" kata
Aman, sengit sekali. Dia menuding kepada golok di dada ayahnya Dia
kata pula: "Apakah itu bukan golokmu? Jikalau bukannya kau yang
membunuh ayahku, habis apakah aku? Ataukah kakak Kang?"
Supu terdesak hingga ia tidak
dapat bicara, kepalanya tunduk.
***
Didalam suku Kazakh bagian
Tiehyen itu ada tiga orang tertuanya. Mereka telah mengadakan sidang
di mana mereka mendengari tuduhannya Aman serta penyangkalan atau
keterangannya Supu, setelah itu mereka berunding sekian lama.
Keputusan mereka dinantikan oleh orang-orang bangsanya.
Selang sekian lama, ketua yang
usianya paling lanjut, yang kumisnya telah ubanan, berbangkit dari
kursinya, lalu dengan suara nyaring dan tenang ia mengasih dengar
perkataannya: "Adalah aturan dari kaum kita semenjak seratus tahun
yang lampau yang melarang pembunuhan di antara kita sendiri, bahwa
siapa membunuh, hukumannya ialah hukuman mati. Supu telah membunuh
Cherku, maka itu dia harus dihukum mati!"
Semua orang berdiam sambil
berduduk.
Supu sendiri seperti mendumal
ketika ia berkata: "Aku tidak membunuh Cherku... Aku tidak membunuh
Cherku..."
Di dalam kesunyian itu,
sekonyong-konyong seorang bangun berdiri. Dialah Sangszer, yang
terus berkata dengan nyaring: "Cherku ialah guruku, dia dibunuh
Supu, perbuatan Supu tidak selayaknya. Tapi di samping itu, terlebih
dulu guruku telah membunuh ayahnya Supu, bisa dimengerti yang Supu
menjadi berduka dan bergusar hingga dia telah membuatnya pembalasan.
Maka itu, kesalahan Supu tidak dapat dipandang dan disamakan dangan
pembunuhan yang biasa."
Sangszer ini adalah musuhnya
Supu, setiap orang mengetahuinya, sekarang dia menunjuki sikapnya
ini, sikap dari satu laki-laki, dia membuatnya orang kagum hingga
semua mata diarahkan kepadanya. Supu pun mengawasi dengan sinar mata
yang bersyukur. Tatkala Supu berpaling kepada Aman, si nona menoleh
ke lain arah, untuk mencegah bentroknya sinar mata mereka.
Si tertua yang kumisnya ubanan
itu mengangguk.
"Kami bertiga pun sama
pendapat," ia berkata, tenang. "Supu pun membilang bahwa dia telah
menolongi suku kita mendapatkan suatu tempat penyimpanan harta besar
dengan apa suku kita bisa menjadi makmur dan berbahagia, hingga
jasanya itu bukannya kecil, hingga dapat dia menebus dosanya dengan
jasanya itu. Supu dapat bebas dari hukuman mati tidak dari hukuman
hidup, maka itu putusan sidang ialah: "Mulai hari ini dia diusir
untuk selamanya dari kaum Tiehyen kami, dia dilarang pulang, jikalau
kedapatan dia pulang secara diam-diam, dia akan dihukum mati tanpa
ampun pula!"
Supu tunduk, dengan perlahan ia
kata: "Aku tidak membunuh Cherku! Tapi, siapa pun tidak percaya aku,
bahkan Aman tidak mempercayainya... “
VIII
Supu pergi seorang diri dengan
pikirannya tidak keruan rasa. Ia menggendol sebuah bungkusan serta
sebuah kantung air. Ia berjalan di antara jalanan yang bersalju. Ia
telah diusir dari kaumnya, dari tanah tempat kelahirannya. Ia diusir
untuk selama-lamanya hingga tidak dapat ia kembali ke kampung
halamannya itu. Ayahnya, yang ia cintai, telah mati, dan kekasihnya,
Aman, telah menjadi musuhnya. Di dalam dunia yang luas ini, ia
sekarang menjadi sebatang kara.
Ada satu pertanyaan yang tidak
mau pergi dari dalam hatinya. Itulah hal yang sangat membikin ia
heran, yang tak ia mengerti. Inilah dia: "Terang sekali aku tidak
membunuh Cherku! Kenapa golokku dapat
nancap di dadanya? Ketika di saat itu api padam dengan tiba-tiba,
aku cuma merasa ada orang menyamber dan merampas golok dari
tanganku. Adakah perampas itu Cherku, yang karena telah membunuh
ayahku, lalu menjadi malu sendirinya dan merampas golokku untuk
membunuh diri? inilah tidak mungkin terjadi! Cherku bukan semacam
laki-laki! Dia pun mempunyai goloknya sendiri, perlu apa dia
merampas golokku? Mungkinkah, dalam saat murka itu, aku sampai lupa
akan diriku, aku membunuh Cherku di luar tahuku? Ya, inilah mungkin,
inilah mungkin..."
Ia berjalan terus, pikirannya
itu pun bekerja teras. Ia menimbang-nimbang, ia menanya dirinya
sendiri, tetapi tidak dapat ia memberikan jawabannya. Pikirnya pula:
"Tidak, itulah tidak mungkin. Ketika itu, pikiranku sehat sekali,
pikiranku tidak kacau! Luar biasa aku membunuh orang tetapi aku
tidak tahu! Cherku musuhku, sebab dia membunuh ayahku, dengan
membunuh dia, aku tidak menyesal, hanya aneh adalah duduknya
peristiwa! Aku tidak membunuh dia! Habis, siapakah? Mungkinkah
benar, di dalam istana rahasia itu ada memedinya?"
Lama Supu berjalan, lama ia
berpikir, akhirnya, ia mengarahkan kudanya ke istana rahasia. Ia
merasa kesepian. Ketika beberapa hari yang lalu ia pergi mencari
istana itu, ia ada bersama ayahnya serta Aman, juga beserta si nona
Kang yang pendiam, yang sinar matanya bagus dan tajam
"Sekarang setelah ayahku mati,
aku hidup bersendirian. Dengan Aman aku tidak bakai bertemu pula
untuk selama-lamanya. Umpama kata kita dapat bertemu, dia sangat
membenci aku. Bagaimana dengan si nona Kang? Dia pun setahu telah
pergi ke mana... Semenjak berlalu dari istana rahasia, terus aku
tidak melihatnya...**
Demikian pemuda-ini ngelamun
dalam pikirannya. Ia berduka, ia mendongkol, ia pun bercuriga,
ragu-ragu. Ia berada dalam kesunyian tetapi ia tidak takut. Maka ia
telah mengambil keputusan guna mencari sesuatu di dalam istana
rahasia. Ia menganggap lebih baik lagi kalau ia dibinasakan memedi
gurun! Bukankah di dalam dunia ini sudah tidak ada apa-apa lagi yang
berarti?
Sementara itu di dalam salah
saru kamar di Istana Rahasia Kobu, Hok Goan Liong dan Tan Tat Hian
lagi duduk berhadapan, bergantian atau berbareng mereka tertawa
terbahak-bahak, saking girangnya, saking puasnya, hati mereka.
Bersama mereka pula turut bergembira tiga puluh lebih
pengikut-pengikut mereka. Sebab kantong dari setiap dari mereka
telah penuh isinya yang berupa barang-barang permata yang banyak
sekali, bahkan umpama kata setiapnya membawa sepuluh buah kantong,
tempat itu masih kekurangan guna dapat mengangkut semua harta karun
dari kamar rahasia itu-tak satu perseratus atau satu perseribunya...
"Shatee," berkata Goan Liong,
"kita telah berlalu dari rumah belasan tahun lamanya, sekarang ini
barulah maksud hati kita tercapai. Semua ini ialah karena jasa kau
yang bukan kecil itu. Duluhari kita bersusah hari karena kita tidak
bisa mencari harta karun ini. sekarang ini kita bersusah hati
disebabkan kita tidak sanggup mengangkut aemua harta ini karena
jumlahnya harta sangat banyak! Bagaimana harta ini dapat diangkut
semua?"
Tat Hian tertawa tetapi ia
berkata: "Apa yang aku buat susah hati sekarang adalah satu urusan
lain..." -
"Apakah itu, shatee?" Goan
Liong tanya. "Adakah dia si tua bangka bongkok seperti unta itu?
Kalau dia, meskipun dia terlebih liehay lagi, dengan dua tangannya
dia tidak dapat melawan empat buah kepalan. Mungkinkah dia berani
menepuk laler di kepalanya harimau?" ia menoleh kepada sebawahannya,
yang menjadi tauwbak atau kepala rombongan seraya berkata: "Eh, Lao
Sin, pagi kau mengajak sepuluh saudara, kau tengok segala bagian
dari istana ini, periksa biar tertib!"
Tauwbak she Sin itu mengangguk,
dengan lantas ia berlalu bersama sepuluh kawannya. Di antara mereka
itu ada yang tidak sabaran, sembari jalan dia mengoceh: "Memeriksa
saja tak hentinya! Di sini di mana ada si bungkuk unta?"
Supu di lain bagian telah
menyembunyikan diri, ia mepet di tembok di belakang pintu,
membiarkan rombongan si Sin itu lewat. Ia tiba di dalam istana
rahasia itu di saat yang tepat Beruntung untuknya, si Sin tidak
bercuriga bahwa di belakang pintu ada yang bersembunyi, mereka itu
lewat terus sambil membawa obor sebagai alat penerangan.
Supu lantas mendengar pula
suaranya Tat Hian: "Si tua bangka bungkuk tetaplah seorang tua
bangka, orang yang aku kualirkan ialah si orang Kazakh.-"
Supu jadi sangat ketarik,
hingga ia memasang kuping dengan perhatian sepenuhnya.
"Mereka itu terdiri dari lima
orang, mereka telah mengikuti jejak tapak kakiku," si orang she Tan
melanjuti. "Entah kenapa, dua di antaranya, dua orang,.pria yang
telah berusia lanjut, telah kedapatan mati di dalam istana ini..."
Sebenarnya Supu mau menduga
Cherku dibinasakan Tat Hian, tetapi mendengar perkataan ini,
penyamun itu tidak dapat diterka. Maka itu, siapakah pembunuhnya
Cherku?
Hok Goan Liong tertawa, "Mereka
itu telah melihat harta karun ini, tidaklah aneh jikalau mereka jadi
mata gelap dan saling bunuh," katanya. "Itu pun masuk akal."
"Yang aku paling kuatirkan,"
kata pula Tat Hian, "ialah itu tiga muda-mudi anjing Kazakh... Kalau
mereka pulang kepada bangsanya, bisa jadi mereka bakal datang pula
dalam satu pasukan besar untuk mengangkut semua harta karun ini..."
Mendadak Goan Liong berjingkrak
bangun.
"Shatee, kau benari" serunya.
"Sebetulnya mereka itu bertiga harus bekerja diam-diam mengangkut
harta ini, tetapi mereka muda dan tolol, memang mungkin mereka
memberitahukannya kepada bangsanya. Taruh kata mereka berdiam-diam
saja, di belakang hari, rahasia mereka itu bakal bocor sendirinya.
Sekarang, shatee, bagaimana pikiranmu?"
"Telah lama aku pikirkan itu,
aku masih belum berhasil memperoleh jalannya yang sempurna,"
menyahut Tat Hian. "Mereka berjumlah banyakan, jumlah kita kecil
sekali, jikalau kita melawan bertempur, sulit untuk kita memperoleh
kemenangan. Aku pikir, paling benar ialah kita yang turun tangan
terlebih dahulu..."
"Bagaimana itu?"
"Secara diam-diam kita menyateroni
ke tempat mereka. Kita menyerang sambil
membakar..."
Perkataannya Tat Hian berhenti
secara mendadak. Kebetulan sekali, mereka mendengar jeritan nyaring,
yang nadanya menyayatkan. Keduanya kaget dan heran, keduanya lantas
menyiapkan senjatanya masing-masing. Segera setelah itu, mereka
mendengar tindakan kaki berlari-lari, disusul munculnya seorang
sebawahannya, yang terus melaporkan: "Toa... toapiauwtauw dan
sampiauwtauw, Lao Sin jatuh kecemplung!..."
"Jatuh kecemplung?" tanya Goan
Liong heran.
"Benar. Lao Sin kena injak
perangkap, dia terjeblos jatuh dalam..."
Tat Hian mengangguk. "Di dalam
istana rahasia ini ada perangkapnya, inilah tidak aneh," katanya.
"Mari kita pergi melihat!"
Goan Liong setuju, maka berdua
mereka pergi. Si pelapor jalan di muka sebagai penunjuk, yang
lainnya mengikuti
Mereka melintasi delapan kamar,
sampai di sebuah yang lain di mana berkumpul semua kawan, yang ribut
bicara satu dengan lain, mata mereka melongok ke lantai, roman
mereka tegang. Di lantai ada sebuah liang besar luas setombak, tempo
disuluhkan, di dalam liang itu tidak nampak apa-apa saking gelap dan
dalam. Jadi itulah liang seperti tanpa dasar.
"Tadi Lao Sin jalan di muka,"
seorang memberi keterangan, "mendadak dia terjeblos dan
kecemplung..."
Tat Hian melongok ke liang
perangkap.
"Lao Sin! Lao Sin!" ia
memanggil-manggil.
Tidak ada jawaban kecuali
jawaban sang kumandang dari dalam liang itu.
Tat Hian memandang Goan Liong,
Goan Liong mengawasi padanya, hati mereka sama-sama bekerja. Dengan
sendirinya mereka merasa jeri.
"Di dalam istana ini disimpan
harta besar, pantas kalau perangkap dipasang untuk menjaga gangguan
pencuri," kata Tat Hian kemudian. "Mungkin masih ada perangkap
lainnya lagi, maka itu selanjurnya kita harus berhati-hati."
Goan Liong tidak bilang suatu
apa hanya ia memandang satu tauwbak she Pit
"Lao Pit," katanya, "coba kau
ikat tubuhmu dengan dadung, lalu kau turun, untuk lihat Lao Sin,
untuk mencoba menolongi dia."
Tauwbak itu berdiam, wajahnya
menunjuk kesangsiannya. Ia rupanya jeri memasuki liang itu, yang tak
ketahuan dasarnya.
"Apa? Apakah kau tidak dengar?"
tanya Goan Liong, wajannya suram.
"Toapiauwtauw," sahut si
tauwbak. "Si Sin terjeblos lama juga, suaranya tidak ada sama
sekali, tentu dia sudah mati..."
"Tapi aku menyuruh kau turun
untuk melihat, untuk menolongi kalau perlu!" kata pemimpin itu,
gusar. "Kalau benar dia sudah mati, mayatnya harus diangkat."
"Apakah artinya kalau dia
mati?" tauwbak ita tanya sambil tertawa. "Untuk kita, matinya satu
orang berarti kurangnya satu orang, dan itu berarti juga kurangnya
bagiannya satu orang atau berarti kita mendapat bagian lebih
banyak...”
Hok Goan Liong tertawa, ia
mengangguk.
"Kau benar!" bilangnya. "Mati
satu orang berarti kurang satu orang!..."
Mendadak tangannya pemimpin ini
melayang, dengan satu suara nyaring, tubuh si Pit terpelanting,
jatuh ke dalam liang perangkap!
Bukan main si Pit merasakan
sakit dan kaget, dia menjerit keras, tangannya menjambret, guna
menolong dirinya. Ia tidak herhasil memegang dadung, yang melongsor
turun di pinggiran liang itu, dengan tangannya merosot, tubuhnya
turun terus. Karena tertarik, dadung itu membikin tembokan tergerak
dan gempur.
Tat Hian kaget sekali, tetapi
ia masih ingat untuk membabat ke arah dadung, hingga tembokan tidak
tertarik terus, tidak turut gempur semuanya. Cuma tubuhnya si Pit,
yang tak tertahan lagi jatuhnya.
Semua orang kaget hingga mereka
melongo.
"Sungguh berbahaya! Sungguh
berbahaya!" kata beberapa orang.
"Syukur sampiauwtauw sebat,
kalau tidak, kita bisa roboh semua dan keunikan pasir!"
Tat Hian tidak membilang
apa-apa hanya lantas ia memeriksa liang perangkap itu. la
mendapatkan sebuah gelang, ketika ia menarik itu, papan batu
jebakannya bergerak, naik sendirinya, hingga liang jadi tertutup
pula seperti biasa, lenyap tanda-tandanya perangkap itu.
"Sungguh pandai orang yang
memasang perangkap ini!" Goan Liong memuji. Dia seperti ingat lagi
bahwa baru saja dia menghukum satu tauwbak-nya. "Kalau begini, pasti
sudah si tua bungkuk itu telah mati di dalam istana ini, jadi tidak
usah kita mencari dia terlebih jauh!"
Ia lantas mengajak semua orang
kembali ke ruang kamar tadi
"Toako, di luar dugaan kita
menemui istana ini, itu artinya untung kita," kata Tat Hian.
"Sekarang kita pun mendapatkan liang perangkap itu, maka aku pikir,
kalau benar orang-orang Kazakh datang kemari, baik kita jebak mereka
di liang perangkap itu. Aku percaya, seratus atau dua ratus musuh
tidak ada artinya untuk kita..."
Goan Liong bertepuk tangan.
"Bagus!" serunya. "Ya, kita
jebak mereka! Datang satu mati satu, datang dua mati sepasang!"
Supu bergidik. Ia telah mendengar
dan melibat semua. Ia menjadi ingat kepada
Aman. Nona itu tentu bakal mengajak orang-orang bangsanya datang ke
istana ini untuk mengambil harta karun. Kalau mereka datang, mereka
pasti akan terancam bahaya besar. Dapatkah ia berdiam saja? Tidak,
ia mesti cegah mereka itu-ia mesti
menolongi mereka!
Maka tanpa ragu-ragu lagi,
diam-diam ia berjalan keluar dari istana itu.
Ia mau melakukan perjalanan
pulang, guna memegat rombongannya Aman, untuk memperingati mereka
itu dari bahaya yang mengancam mereka. Tengah ia berjalan itu,
mendadak ia mendengar bentakan: "Siapa kau?" Bentakan itu disusul
sama satu bacokan ke arah kepala.
Dalam kagetnya, Supu lompat
berkelit- Ia tidak menjawab hanya lari terus.
Masih ada seorang lain yang
merintangi pemuda ini Dia melihat si pemuda, si pemuda sebaliknya
tidak. Dia muncul dengan mendadak, tanpa
bersuara, dia menyerang dengan kakinya dia menyapu.
Supu tidak berdaya lagi, ia roboh. Tapi, ketika
dia ditubruk, untuk dibekuk, ia ingat membela diri, maka ia lantas
menyambut! dengan tikaman. Orang itu tidak menyangka, dia tidak bisa
menangkis atau berkelit.
Cuma sekali dia menjerit keras,
lantas tubuhnya roboh, jiwanya melayang. Hanyalah Supu, tidak dapat
ia meloloskan diri. Belum lagi ia sempat berlompat bangun, sebatang
golok sudah ditempelkan ke batang lehernya.
"Jangan bergerak!" demikian ia
mendengar ancaman.
Selagi tengkurap, Supu tidak
bisa melihat siapa orang itu. Ia terpaksa berdiam saja sambil
mendekam. Orang itu sebaliknya mengawasi kepada kawannya, waktu dia
mendapat kenyataan si kawan telah terbinasa, dia menjadi gusar, dia
lantas mengayun goloknya kepada lehernya si pemuda
Selagi Supu tidak berdaya dan
tangan orang itu terayun, di situ terlihat menyambarnya barang putih
berkilauan, barang mana —— serupa pedang kecil menancap di dada si
pengancam itu, hingga dia menjerit dan roboh terjengkang, goloknya
terlepas, jatuh di tanah.
Baru sekarang Supu, yang merasa
heran, dapat berlompat bangun. Ia mendapat kenyataan pedang pendek
itu nancap di dada dan merampas jiwa kurbannya. Ia menjadi heran. Ia
menduga-duga, siapa penolongnya itu. Selagi ia berdiam, seorang nona
muncul dari belakang pepohonan, nona itu lantas mengambil pedang
pendek itu dari dada si penjahat, terus darahnya disusuri.
Melihat nona itu, Supu terkejut
berbareng girang.
"Nona Kang” serunya. “Terima
kasih untuk pertolonganmu.”
Nona itu Boen Sioe adanya. Dia
bersenyum. Lantas dia menggusur mayatnya kedua penjahat itu, di
lelaki saling berhadapan, tangan mereka dibikin masing-masing
mencekal pisau belati, pisau mana saling nancap di dada mereka.
Dengan begitu nampak mereka seperti saling menikam.
"Bagusi" berseru Supu memuji.
Ia dapat membade maksud si nona. "Kalau kawan mereka ini mendapati
mereka, mereka itu bisa menyangka mereka saling bunuh. Nona Kang,
setindak saja kau datang lambat, tentulah aku sudah bercelaka..."
Di dalam hatinya, Boen Sioe
tertawa
"Kau mana tahu yang aku
senantiasa mengintil di belakangmu? Mana bisa menjadi aku datang
terlambat?"
Memang benar Nona Lie
senantiasa menguntit Supu semenjak mereka ke luar dari istana
rahasia. Kalau Supu mengikuti Aman, untuk menghadap tertua mereka,
ia diam-diam menghilang, untuk di lain saat menjadi seperti bayangan
si anak muda. Begitulah ia mendapat tahu Supu diusir, lalu Supu
pergi tanpa tujuan, sampai orang menuju ke istana rahasia itu. Supu
mendengar dan melihat aksinya Tan Tat Hian semua, Boen Sioe
sebaliknya melihat gerak-geriknya itu. la liehay ilmunya enteng
tubuh, sedang Supu melainkan seorang kuat di antara pemuda-pemuda
Kazakh.
"Sekarang mari kita lekas
pergi," kata Boen Sioe kemudian. "Kalau musuh keluar semua, tidak
dapat kita melawan mereka."
Supu pun insaf akan bahaya,
maka ia menurut. Lebih dulu mereka masuk ke pepohonan lebat, dari
situ mereka berjalan pulang. Di sepanjang jalan, Supu memberi
keterangan dari halnya dia telah diusir dari kaumnya.
"Nona Kang, benar-benar Cherku
bukan dibunuh olehku," kemudian ia memberi kepastian, "kecuali
saking gusar dan bersusah hati, aku membunuhnya di luar tahuku..."
Boen Sioe kenal pemuda ini
semenjak masih kecil, ia percaya kejujurannya, hanya pembunuhan
terhadap Cherku memang aneh sekali. Di dalam istana itu tidak ada
lain orang. Ialah yang mengunci pintu. Kalau si pembunuh bukan Supu,
habis siapa? Tidak mungkin Aman membunuh ayahnya.
"Benarkah Aman membunuh ayahnya
sendiri?" ia tanya dirinya. Ia menggigil kalau ia membayangi
benar-benar Aman berbuat demikian. "Tapi tidak, itulah tak dapat!
Hanya, benar juga di dalam dunia suka terjadi hal yang luar biasa
sekali... Sekarang satu dalam dunia, Supu jujur atau Aman si
pembunuh..."
Perjalanan mereka berdua di
lanjuti. Sekarang mereka berada di jalan berpasir yang penuh salju.
Mereka berjalan dengan merendengi kuda mereka. Inilah saat yang Boen
Sioe mengharap-harapnya. Ia merasa senang berbareng berduka.
Supu sebaliknya senantiasa
mengingat Aman, kalau ia membuka mulut, nama Aman adalah yang dibuat
sebutan. Demikian katanya: "Kalau Aman membawa orang-orang bangsanya
datang mengambil harta, mereka pasti bakal bercelaka di tangan
kawanan penyamun yang licin itu, maka itu, nona Kang, mesti aku
bicara dengan mereka, untuk memberi keterangan. Aman harus
dikisiki."
"Benar. Dia mesti dipesan untuk
waspada," Boen Sioe bilang-Supu mengangguk. "Nona Kang," katanya
pula selang sesaat, "benar-benar bukan aku yang membunuh Cherku,
maka itu tolong kau pikirkan jalan untukku dapat akur pula dengan
Aman..." Ia menjambak rambutnya saking masgul. Ia menambahkan:
"Kalau aku menemukan Aman,
mungkin dia membunuh aku, kalau tidak, mungkin aku tidak bakal hidup
lebih lama pula..."
"Sabar saja," kata Nona Lie.
"Mungkin kau dapat melupakan dia.
Kau tahu, duluhari, semasa aku masih kecil, aku
sangat menyukai satu anak laki-laki. Sayang kemudian dia tidak
mernperdulikan aku, hingga aku jadi bersusah hari, hingga aku
menyesal tidak dapat aku mati saja. Selewatnya beberapa tahun, aku
lantas tidak memikir pula untuk mati..."
"Kalau begitu, anak laki-laki
itu satu telur busuk!" kata Supu. "Kaulah satu nona yang baik
sekali, mengapa dia tidak mempedulikanmu?" . Boen Sioe menggeleng
kepala. "Bukan, anak itu bukan telur busuk," katanya. "Adalah
ayahnya yang melarang aku menemuinya."
"Ah, kalau begitu, ayahnya
itulah si manusia tolol dungu!" kata Supu pula. Ia mengawasi si
nona, ia menambahkan: "Ayahku adalah seorang ayah yang baik, dia
senang dengan Aman, dia mengharap-harap aku menikah Aman, maka— — ah
—— sayang sekali, Cherku telah membunuh ayahku..." Boen Sioe pun
mengawasi. "Kalau semenjak sekarang kau tidak melihat lagi Aman,
mungkin kau dapat melupai dia," katanya, suaranya rada bergemetar.
"Dan mungkin kau akan bertemu seorang nona lain yang cantik..."
“Tidak, untuk selamanya tidak
dapat aku melupakan Aman!" kata Supu, tegas. "Lain nona cantik tidak
ada di mataku!" Ia berhenti sebentar, lalu ia tertawa. Ia menyesal
ketika ia berkata: "Kaulah penolongku, terhadapmu aku sangat
bersyukur. Pula aku sangat menghormati kau!"
Boen Sioe berdiam, hatinya
bekerja.
Magrib itu mereka singgah,
untuk masing-masing menggali salju dan pasir, untuk menempatkan diri
melewati sang malam Di antara kedua liang, mereka menyalakan unggun.
Di atas mereka terlihat langit yang biru dengan bintang-bintangnya
berkelak-kelik. Angin mendesir-desir, membuat salju beterbangan.
Kebetulan ada dua lempengan
salju yang terbang berbareng, sambil menunjuk itu Boen Sioe kata:
"Kau lihat, bukankah itu mirip sepasang kupu-kupu?"
"Ya, mirip sekali," menyahut
Supu. "Sudah lama, lama sekali, ada seorang nona Han yang mendongeng
kepadaku tentang seorang pemuda Han nama Nio San Pek serta seorang
nona Han nama Tjiok Eng Tay, bahwa mereka itu berdua bersahabat
kekal satu pada lain, hanya kemudian ternyata, ayahnya Eng Tay
melarang anaknya menikah sama San Pek. Atas itu, San Pek menjadi
sangat berduka, dia jatuh sakit dan mati karenanya. Pada suatu hari
Tjiok Eng Tay lewat di tempat pekuburannya Nio San Pek, dia mampir,
dia menangis di kuburan itu...”
Mendengar itu, Boen Sioe
membayangi kejadian pada kira-kira sembilan tahun yang lalu: Itu
waktu di sebuah bukit kecil ada berduduk berendeng sepasang
muda-mudi cilik, sambil menilik kambing mereka, mereka memasang
omong. Si pemudi bercerita, si pemuda, mendengari. Bercerita sampai
di bagian yang menarik hati, mata si pemudi mengembang air, wajah si
pemuda berduka. Sekarang Boen Sioe tahu, si pemuda adalah Supu di
depannya ini, Supu sebaliknya menganggap si pemudi telah meninggal
dunia...
"Tjiok Eng Tay mendekam di
kuburan itu, dia menangis sedih sekali," Supu melanjuti ceritanya.
"Mendadak kuburan itu melekah, lantas Eng Tay lompat masuk ke
dalamnya. Setelah itu, Nio San Pek dan Tjiok Eng Tay tercipta
menjadi sepasang kupu-kupu, dan untuk selanjutnya mereka tidak
pernah berpisah lagi."
"Ceritamu ini menarik hati,"
kata Boen Sioe "Sekarang mana si nona yang bercerita padamu itu? Ke
mana dia perginya?"
"Dia telah meninggal dunia. Itu
sapu tangan dengan peta istana rahasia adalah sapu tangan yang
dipakai membalut lukaku.”
"Apakah kau masih ingat dia?”
"Tentu saja.
Aku sering memikirkannya!*'
"Kenapa kau tidak pergi
menjenguk kuburannya?"
"Aku akan pergi melihatnya
nanti setelah aku dapat mencari si orang tua bungkuk itu. Aku hendak
mengajak dia bersama.”
"Umpama kata kuburannya itu
melekah, dapatkah kau lompat masuk ke dalamnya?"
Supu tertawa.
"Cerita itu ialah dongeng, itu
bukan kejadian yang benar."
"Umpama kata nona itu sangat
memikirkan kau dan dia mengharapi siang dan malam untuk kau
senantiasa menemui dia, karena mana benar-benar terjadi kuburannya
melekah, maukah kau melompatnya untuk dapat menemani dia?"
Supu menghela napas.
"Tidak," sahurnya, jujur.
"Nona itu melainkan sahabat
eratku semasa masih kecil, sedang aku sendiri, selama hidupku ini,
aku cuma mengharapi Aman yang senantiasa menemani aku."
Boen Sioe menanya terlebih
jauh. la telah menemui jawaban yang ia harap-harap. Kalau ia menanya
terus, mungkin ia akan jadi sangat bersusah hati.
Dalam kesunyian itu, tiba-tiba
seekor burung malam nilam mengasih dengar suaranya-
suara yang menggiurkan tetapi
juga menyedihkan.
"Duluhari itu aku suka
menangkap burung nilam untuk dibuat main hingga dia mati," berkata
Supu, "akan tetapi setelah aku bertemu sama nona itu, aku dapat
menyingkirkan kebiasaanku itu. Si nona sangat menyukai burung nilam,
waktu aku menangkapnya seekor, ia mengasihkan aku gelang kumala asal
aku melepaskan burung itu. Sejak itu aku talak menangkap lagi
burung, hanya aku terus mendengari suaranya setiap malam Kau dengar,
tidakkah lagunya sangat menarik hati?" Boen Sioe agak terkejut
"Bagaimana dengan gelang kumala itu?" ia tanya. "Apakah itu masih
ada padamu?"
"Itulah kejadian sudah lama.
Gelang itu telah pecah, sudah hilang."
"Ya, itu kejadian sudah lama,
gelang itu telah pecah, sudah hilang..." katanya, mengulangi Sang
burung bernyanyi terus. Supu tidur bermimpi, memimpikan Aman
membujuk! ia agar ia jangan masgul. Ketika ia sadar, ia kata pada
kawannya: "Nona Kang, aku mimpi bertemu Aman..."
Tapi ia tidak memperoleh
jawaban. Si "Nona Kang" telah tidak ada di
dekatnya. Entah kapan perginya dia. Entah
ke mana perginya...
IX
Supu mengawasi ke tempat
tidurnya Boen Sioe. Ia merasa si nona aneh kelakuannya. Ia cuma
heran, ia tidak memikirkan lama. Lantas ia meraup salju, untuk
mencuci mukanya, untuk dimakan juga. Setelah itu ia naik kudanya dan
pergi.
Kira-kira tengah hari, pemuda ini
mendengar ramainya tindakan kaki kuda. Ia
menuntun kudanya mendekati bukit, untuk melihat Ia mengawasi sampai
ia melihat nyata. Itulah rombongan orang-orang Tiehyen yang menjadi
suku bangsanya. Ia mengenali dari dandanan mereka. Mereka pada
membeka! senjata, jumlahnya lebih daripada tiga ratus jiwa. Yang
jalan di depan ada Aman serta tiga ketua mereka. Di damping Aman
masih ada seorang lain, satu pemuda, ialah Sangszer. Setiap orang
itu membawa kantung. Terang mereka itu mau pergi ke istana rahasia
untuk mengeduk harta karun.
"Syukur,” pikir Supu, "coba aku
tidak mendengar pembicaraan kawanan penyamun itu, yang hendak
menggurui akal licin, pasti mereka ini akan terjebak semuanya ke
dalam liang perangkap...” Maka ia lantas lompat naik atas kudanya,
ia melarikannya untuk memapak! rombongan bangsanya itu. Ia
berteriak-teriak: "Aku Supu! Aku hendak bicara! Ada urusan sangat
penting!**
Si ketua yang kumisnya ubanan
mengenali si anak muda, ia menjadi gusar.
"Supu” tegurnya, "apa maumu datang
kemari? Tahukah kau aturan kaum kita
terhadap orang yang sudah diusir?"
Bangsa Kazakh ini bangsa
penggembala yang tidak ketentuan tempat kediamannya, mereka pergi ke
mana mereka suka, meski begitu, ke mana juga mereka pergi, seorang
bangsanya yang telah diusir tidak dapat menemui mereka pula, dan
orang itu juga tidak dapat bicara sama mereka. Maka itu, perbuatan
Supu ini melanggar aturan mereka itu.
"Aku hendak membicarakan urusan
sangat penting," kata Supu, membelai.
"Kau masih tidak mau lekas
pergi?" si ketua menegur. "Asal kau berani bicara lagi satu patah,
aku akan menitahkan melepaskan anak panah!" Ia lantas meneruskan
kepada Sangszer: "Siapkan panahmu!"
Sangszer menurut, ia laatas
bersiap.
Tapi Supu tidak mau pergi,
bahkan dia kaburkan kudanya datang mendekati
"Aman!" katanya pada
kekasihnya, "jangan kau pergi ke istana rahasia! Berbahaya!"
Matanya si nona berlinang.
"Lekas kau pergi!" bilangnya.
"Jangan kau bicara sama aku!"
Sementara itu Supu melihat
ancaman anak-anak panah. Tapi ia ingat baik-baik ancaman bahaya dari
Hok Goan Liong. Maka ia kata: "Aku mesti bicara denganmu!"
"Panah!".berseru si ketua,
murka.
Sangszer lantas melepaskan
cekatannya kepada tali panahnya, yang telah ditarik sedari tadi.
Supu kaget. Tapi anak panah
mengenai leher kuda tanpa melukakan. Anak panah itu telah dibuang
tajamnya.
"Supu, dengar!" kata pemuda
itu. "Mengingat persahabatan kita duluhari, panahku itu tidak ada
kepalanya, tetapi jikalau kau tetap tidak mau mendengar titahnya
ketua kita, panahku yang kedua tidak mengenal kasihan lagi!"
Dan ia menyiapkan anak panahnya
yang kedua itu. Benar, anak. panah ini berkepala tajam, kepala itu
bersinar di cahaya matahari.
"Bapak ketua, istana rahasia
berbahaya..." kata Supu. Dia belum menutup mulurnya, atau si ketua
telah memerintahkan: "Panah!"
Menyusul itu beberapa batang
anak panah menyambar ke arah Supu, suaranya mengaung. Hanya semua
itu lewat di samping si anak muda. Inilah tanda, orang masih
mengingat sesama suku.
Si ketua lantas menyiapkan
panahnya, ketika ia hendak memanah. Aman maju dengan kudanya,
menghalang di hadapannya. Nona ini berkata kepada Supu: "Supu, pergi
lekas! Kau telah membunuh ayahku, untuk selamanya tidak dapat aku
baik kembali denganmu!..."
Justru itu sebatang anak panah
menyamber pundaknya anak muda itu!
Supu melihat bahwa ia telah
tidak mempunyai harapan pula, dengan terpaksa, ia kaburkan kudanya.
Ia menahan sakit, setelah mencabut anak panah di pundaknya itu, ia
membalut lukanya. Ia masih melihat tiga ratus lebih orang-orang
bangsanya menuju ke arah istana rahasia. Ia pun melihat Aman
beberapa kali menoleh kepadanya, sinar matanya menunjuk entah dia
mencinta atau membenci, berduka atau menyesal...
Sambil menungkuli rasa
sakitnya, Supu berpikir. Dapatkah ia membiarkan orang-orang
bangsanya itu menempuh bahaya?
Di antara mereka itu banyak
kawan-kawan akrabnya. Tidak I Ia mengambil putusan. Maka setelah
rasa nyerinya berkurang, ia naik atas kudanya, untuk mengaburkannya,
guna menyusul rombongan bangsanya itu.
Hari ini Supu mesti
mundar-mandir tetapi ia melupakan letihnya. Sampai sore baru ia
dapat singgah, sedikit jauh diluar tendanya rombongan bangsanya itu.
Ia tidak berani menemui Aman atau lainnya orang. Demikian pula pada
besoknya. Hanya ia melombai mereka, hingga ia
sampai terlebih dulu di muka istana rahasia.
Ia bersembunyi di antara pepohonan. Dari magrib
ia menunggu sampai tengah malam, baru ia melihat rombongan bangsanya
tiba. Terus saja, dengan banyak berisik, rombongan itu masuk ke
dalam gua. Ia menguntit mereka Karena ia sudah kenal baik istana
itu, ia mengambil lain jalan.
Aman yang memimpin rombongannya
Ia mengambil jalan yang ia telah kenal. Setibanya di dalam, ia
berduka, lenyap kegembiraannya selama di tengah jalan. Di sini ia
ingat ayahnya, kebinasaan ayah itu serta ayah Supu, bagaimana
karenanya ia menjadi berpisah dari Supu.
"Supu cuma menakut-nakuti kita!"
berkata si ketua selagi mereka berjalan terus.
"Katanya istana rahasia ini berbahaya, buktinya
di sini aman! Makin besar dia jadi makin tidak keruan, sampai dia
berani mendustai"
Mereka maju terus. Sesudah
melewati beberapa kamar, lantas mata semua orang menjadi silau. Di
depan mereka berserakan banyak emas, perak dan mutiara: Semua orang
menjadi heran dan kagum. Mereka girang luar biasa. Sesudah
tercengang sejenak, lantas semua bekerja, mengisikan kantung bekalan
mereka dengan semua barang berharga itu.
Tengah mereka itu bekerja,
tiba-tiba pintu di samping mereka terpentang, di situ muncul seorang
Han dengan tangan memegang golok panjang. Dia lantas membentak:
"Kawanan budak tidak tahu mampus! Kenapa kamu berani memasuki istana
ini dan mencuri hartaku? Lekas antari jiwamu!"
Orang-orang Kazakh itu menjadi
kaget
"Berandal Han! Berandal Han!"
mereka berteriak-teriak. Lalu dua anak muda mendahului maju
menyerang.
Berandal itu gagah, setelah
beberapa jurus, ia berhasil melukakan pundaknya satu pemuda. Atas
itu, lagi dua pemuda maju, untuk membantui kawannya. Si berandal
mundur, ia dirangsak. Tiba-tiba ada lagi pintu terbuka, lagi satu
orang muncul. Dia memegang tombak, ujung tombaknya tahu-tahu telah
nancap di dadanya seorang muda, hingga dia ini lantas roboh, jiwanya
melayang!
Semua orang Kazakh terkejut Si
ketua menghela napas, ia berkata perlahan: "Semua mengepung dulu
berandal! Harta ini kita urus belakangan!*' Di dalam hatinya, ia pun
pikir: "Kalau begini, Supu tidak mendusta..."
Kedua penjahat Han itu dikejar
melintasi beberapa kamar, lantas mereka memisah ke kiri dan kanan.
"Rombongan kesatu dan kedua
pergi ke kiri, mengejar berandal itu!” si ketua berseru. "Rombongan
ketiga dan keempat turut aku ke kanan!”
Perintah itu diturut. Rombongan
Kazakh itu memang telah dipecah empat, masing-masing ada pemimpinnya
sendiri.
Ketua ini dan rombongannya maju
cepat. Di sebuah pintu pinggiran, yang daun pintunya terpentang
secara tiba-tiba, mereka dipegat seorang Han, yang menyerang mereka.
Mereka melawan. Hanya sebentar, berandal itu lari balik.
"Kejar!” si ketua menitahkan.
Berandal itu bertemu sama kawannya, terus mereka lari berpisahan.
"Rombongan ketiga mengejar ke
kiri!” si ketua memerintahkan.
"Rombongan keempat turut aku”
Dan ia mengubar ke kanan.
"Bapak ketua!” mendadak Aman
berkata. "Jangan-jangan berandal menggunai
tipu, mereka menghendaki kita berccrai-berai!"
Si ketua mengangguk. "Jangan
takut! Orang kita besar jumlahnya!*' katanya kemudian.
Benar saja, di sebelah depan
muncul pula lain berandal, dia bergabung sama berandal yang lagi
dikejar itu. Hanya sebentar, mereka pun lari berpisahan.
Kali ini si ketua tidak memisah
rombongannya, ia hanya menitah mengejar terus berandai yang lari ke
kiri.
Penjahat itu berlari bergantian
ke kiri dan kanan, lantas dia menolak pintu, untuk masuk ke dalam
sebuah kamar besar. Dia baru masuk atau dari belakang pintu
berkelebat sebuah sinar mengkilap, terus dia berteriak dan roboh
terluka, sebab kakinya kena terbacok dan goloknya terlepas mental.
Segera rombongannya si ketua
mengenali, penyerang itu ialah Supu.
Ketua itu melengak. Tidak dapat
ia mengusir orang yang membantuinya.
"Bapak ketua, inilah tempat
perangkap!** Supu berkata.
"Benarkah?" tanya ketua itu
singkat, ragu-ragu.
Melihat ketuanya menyangsikan
ia, Supu mengangkat tubuh si penjahat dan melemparkannya ke tengah
ruang. Tubuh itu terbanting dan menerbitkan suara, lantai lantas
menjeblak, memperlihatkan sebuah liang besar. Ke dalam situ tubuh si
penjahat kecemplung seraya penjahatnya berteriak menyayatkan hati,
lalu suaranya sirap.
Semua orang Kazakh itu berdiri
menjublak.
"Supu, syukur kau menolongi
kami!" kata si ketua kemudian.
"Istana rahasia ini banyak
perangkapnya," berkata Supu. "Mungkin tiga rombongan yang lainnya
telah terjebak kawanan penjahat, yang pada menyembunyikan diri di
sini."
Ketua itu sadar, dia kaget
"Benar!" serunya. "Mari kita
lihat!"
Tanpa banyak bicara, Supu
lantas membuka'jalan.
"Aduh!" mereka mendengar
sesudah melewati beberapa pengkolan.
Mereka kaget, semua lantas
memburu. Lantas terlihat di depan mereka tubuhnya seorang Kazakh
yang mandi darah, waktu diperiksa, dia telah putus jiwa. Hal ini
membangkitkan hawa amarah mereka itu.
Tengah mereka itu bergusar, di
atasan kepala mereka terdengar suara berkeresek, lalu tertampak
turunnya perangkap terali besi
"Lekas lari!" Supu berteriak.
Dialah yang paling dulu melihatnya, dia pun terus lompat ke luar
kamar.
Empat pemuda turut berlompat
yang lainnya kena terkurung. Terali itu turun sangat cepat
Di dalam kaget dan takutnya,
orang-orang Kazakh itu menyerang terali itu.
Sia-sia saja usaha mereka. Terali besi tidak
mempan senjata, bahkan senjata yang menjadi gompal.
Selagi orang tidak berdaya,
dari luar pintu muncul lima orang, yang jalan di muka ialah Tan Tat
Hian. Dia ini lantas menghampirkan pesawat rahasia, untuk
dikerjakan, maka dari lelangit kamar lantas meluruk turun pasir
dalam jumlah besar.
Kembali orang kaget, semua
menjerit.
Supu dan empat pemuda, yang
berada di luar, maju menerjang Tat Hian serta rombongannya itu.
Mereka lantas bertarung seru. Selama itu, pasir masih meluruk turun,
hingga sebentar saja sudah naik tinggi sebatas dengkul..
Supu bingung bukan main. Kalau
kawanan penjahat ini tidak dapat dipukul mundur, pasir itu bakal
meluruk terus dan akan memendam mati semua orang bangsanya itu,
sedang di antaranya ada Aman. Tat Hian dan keempat kawannya itu
Iihay, terutama Tat Hian sendiri. Sebentar saja, dua pemuda telah
roboh binasa dan yang ketiga roboh terluka. Tinggallah Supu serta
satu pemuda lainnya. Di dalam terali, parir sudah lantas sampai di
dada, hingga orang sukar menggeraki tubuhnya.
Supu menjadi lebih bingung lagi
ketika kawannya yang terakhir pun roboh di tangannya Tat Hian,
hingga lantas ia dikepung berlima. Tat Hian juga lantas dapat
memukul terlepas goloknya Supu, hingga di lain saat dia ini mesti
berdiri diam saja di bawah ancaman pedangnya penjahat itu.
Mendadak saja di situ muncul
seorang lain, yang bersenjatakan bandring. Belum sempat Tat Hian
berdaya, pedangnya sudah terhajar bandring itu dan jatuh ke lantai.
Empat penjahat kaget tapi mereka maju menyerang. Atas itu Tat Hian
bisa menjumput pula pedangnya, guna membantu mengepung.
Supu sadar, ia lantas lari ke
pesawat rahasia, maka di lain saat, berhentilah meluruknya pasir.
Semua orang Kazakh itu bernapas
lega. Ketika mereka memandang ke arah penjahat serta orang yang baru
datang itu, mereka heran. Orang itu satu pemuda yang tampan, dengan
dandanan Tionghoa mirip si kawanan penjahat. Entah kenapa, mereka
itu telah bertempur satu dengan lain.
Pemuda itu pandai menggunai
bandringnya, setelah belasan jurus, dia berhasil merobohkan saling
susul pada empat konconya Tat Hian, melihat mana, dia ini lantas
kabur mengangkat kaki.
Supu lantas mencari pesawat
rahasia lainnya, guna mengangkat naik terali besi itu.
Maka sekarang semua orang baru benar-benar bernapas
lega. Dengan susah payah mereka membebaskan diri dari urukan pasir
itu.
Orang hendak membilang terima
kasih pada si pemuda penolong, tapi orang sudah tidak ada, entah ke
mana perginya.
Semua orang bersyukur berbareng
heran. "Tanpa dia, celakalah kita," kata yang satu. "Ke mana
perginya dia ? Ah, kiranya di antara orang-orang Han ada juga yang
baik..."
"Bapak ketua," kata Supu tanpa
mempedulikan suara Orang banyak itu, "istana ini berbahaya, baiklah
lekas rhengumpuli semua orang bangsa kita, supaya mereka tidak
terjebak penjahat"
Ketua itu setuju. "Mari kita
bekerja!" katanya. Ia menitahkan semua orang
mengambil jalan mundur menuruti jalan dari mana tadi mereka masuk.
Mereka pun bunyikan terompet, tanda memanggil berkumpul tiga
rombongan lainnya, untuk berkumpul di luar istana.
Rombongan ini tiba di luar,
lantas mereka menantikan. Mulanya muncul rombongan ketiga, kemudian
rombongan kesatu. Rombongan kedua dinantikan dengan sia-sia.
Kembali terompet ditiup nyaring
dan riuh. Istana tetap sunyi
"Jangan-jangan mereka
terjebak," kata si ketua kemudian. "Mari kita masuk bersama untuk
melihat mereka."
Usul ini disetujui Lantas
mereka berbaris rapi. Belum lagi mereka bergerak, dari dalam
terlihat munculnya orang-orang
dari rombongan yang kedua itu. Mereka ini
muncul saling susul, dalam rombongan dari dua tiga orang, dengan
roman mereka tidak keruan. Dua orang pun menggotong satu orang, yang
tubuhnya terpanah, yang mandi darah. Yang muncul paling belakang
ialah Sangszer, goloknya di tangan, mukanya berlepotan darah.
"Bagaimana?" tanya si ketua,
kaget dan berkuatir.
"Hampir kita tidak dapat
bertemu lagi," menjawab pemuda itu. "Kami telah masuk dalam
perangkap penjahat. Di dalam sebuah kamar, mendadak kami diserang
banyak anak panah, yang datangnya dari empat penjuru. Syukur ada
satu anak muda kosen, yang membantu kami Dia telah menggagalkan
bekerjanya pesawat rahasia."
Baru mereka bicara sampai di
situ, di situ muncul si anak muda yang disebutkan Sangszer ini. Anak
muda itu menggusur satu penjahat, ialah Hok Goan Liong, yang dia
lantas lempar roboh ke tanah.
Semua orang Kazakh bergarang
"Terima kasih! Terima kasih!" mereka mengucap: Si ketua
menghampirkan anak muda itu, guna menghaturkan terima kasihnya yang
hangat seraya menanyakan she dan nama orang.
"Aku she Lie," menyahut si anak
muda. "Namaku tidak ada, panggil saja aku Lie Pek Ma."
Di antara mereka itu. Aman dan
Supu segera mengenali si anak muda.
"Dia toh nona Kang," pikirnya.
"Kenapa sekarang dia menjadi seorang muda bangsa Han? Bagaimana
sebenarnya, apa dulu itu dia menyamar jadi wanita atau sekarang dia
menyaru menjadi pria? Atau mungkin si nona Kang hanya lain orang dan
orang itu melainkan mirip romannya?"
Supu tidak dapat menahan hati.
"Kau... kau toh nona Kang?" ia menanya.
Lie Boen Sioe tertawa lebar.
"Tadinya aku menyamar menjadi nona Kazakh,
kamu tidak mengenali aku" katanya. "Aku tahu kamu membenci orang
Han, aku tidak berani berdandan seperti orang bangsaku."
Si ketua nampak likat.
"Baru hari ini kami ketahui,
orang Han juga ada yang baik hatinya," kata ia, mengaku. "Tanpa
pertolongan kau, tuan Lie, hari ini kami semua pasti bakal mati
terpendam di dalam istana rahasia ini."
Boen Sioe tidak menyahuti, ia
hanya menoleh kepada Supu.
"Sayang ayahmu telah menutup
mata," pikirnya, "maka ia menjadi tidak ketahui, di antara orang Han
pun ada yang baik..." Kemudian ia kata, tawar "Di antara bangsa Han
ada orang-orang jahat dan orang baik pula, si jahat biasa mencelakai
si baik. Tapi si jahat pun tidak bisa hidup selamat!"
Semua orang Kazakh itu berdiam.
Mereka pikir pemuda ini benar.
"Tuan Lie, tolong kau menunjuki
kami jalan," berkata si ketua kemudian. "Kami mau masuk untuk
menyerang kawanan penjahat itu!"
"Ya, kita menyerbu, kita
membalaskan sakit hatinya saudara-saudara kita yang terbinasa!"
berseru orang-orang Kazakh itu.
"Istana rahasia ini banyak
perangkapnya, tanpa peta, tidak dapat kita lancang memasukinya,"
berkata Lie Boen Sioe. "Kalau kita memaksa masuk, kita bisa menjadi
kurban. Kalau disetujui, aku mempunyai suatu pikiran. Ini hanya
meminta tempo."
"Silahkan berikan petunjukmu,
tuan Lie!" kata si ketua. Boen Sioe bersenyum. "Aku ingin mengajukan
satu permintaan, maukah bapak ketua meluluskannya?" katanya.
"Tuan adalah penolong kami,
titahkan saja, pasti kami akan kerjakan," menyahut ketua itu.
Boen Sioe lantas menunjuk
kepada Supu.
"Kakak Supu ini telah diusir
dari kaumnya," ia berkata, "barusan dia telah bertempur dengan orang
jahat, dia menolongi semua saudara dari perangkap musuh, dari itu
aku pikir baiklah jasanya ini dipakai menebus dosanya, supaya bapak
ketua menarik pulang hukuman kepadanya, agar dia dapat berkumpul
pula dengan sesama bangsanya. Inilah permintaan yang kecil sekail
Dapatkah bapak ketua menerimanya?"
Ketua itu berdiam untuk
berpikir, terus ia berdamai sama dua pembantunya. Tidak lama, ia
menghampirkan Boen Sioe, untuk memberikan jawabannya.
"Mengingat budi tuan serta dia
benar telah membelai kami, kami suka meluluskan permintaanmu, tuan,"
berkata dia "Sekarang Supu dapat kembali kepada bangsanya."
Supu menjudi girang sekali.
Ia pun mengucap terima kasih kepada Boen
Sioe.
Ketua itu lantas bicara kepada
orang-orang bangsanya, untuk mengumumkan bahwa hukuman buang Supu
telah dihapus, karena mana pemuda itu dapat kembali di antara
mereka. Sebagai alasan dikemukakan permintaan Lie Boen Sioe,
penolong mereka, dan bahwa Supu telah berjasa sudah memperingati
adanya ancaman bahaya dan tadi Supu juga telah mengadu jiwa
menolongi mereka.
Pengumuman itu disambut
sorak-sorai yang ramai.
Setelah sirap suara orang
banyak itu, sang ketua lantas tanya Boen Sioe bagaimana akalnya
untuk membekuk semua penjahat
Boen Sioe menuding kepada Goan
Liong.
"Dialah si kepala penjahat!"
sahutnya. "Coba geledah padanya, mungkin dia menyimpan peta bumi
atau petanya istana ini.”
Tanpa diperintah lagi, Supu
maju.
Hok Goan Liong sudah tidak
berdaya akan tetapi dia murka sekali, dia mementang matanya dan
membuka mulutnya mencaci.
Bangsa Kazakh menghormati orang
bernyali besar, mereka kewalahan.
"Peta itu telah kita bakar!"
kata Goan Liong nyaring. "Kamu, kawanan anjing Kazakh, jikalau
nyalimu besar, kamu terjanglah istana ini! Mari kita bertempur!
Untuk mendapatkan peta, jangan harap!"
Perkataan berandal ini benar.
Supu menggeledah tanpa hasil.
"Sekarang begini," berkata Boen
Sioe. "Semua orang berdiam di sini, kita mendirikan tenda. Sejumlah
orang harus pulang guna mengambil rangsum dan lainnya keperluan. Di
depan istana kita menggali liang perangkap serta tambang-tambang
kalakan. Kita menanti sampai kawanan penjahat kelaparan, mesti
mereka keluar. Paling lama mereka dapat bertahan delapan atau
sepuluh, hari. Jikalau mereka keluar, kita bekuk satu demi satu.
Dengan begitu tidak usah kita menempuh bahaya dengan menyerbu ke
dalam istana."
Pikiran ini baik, sang ketua
menerimanya dengan girang. Bahkan ia lantas bekerja. Rombongan
ketiga diperintah pulang, buat mengambil rangsum, dan yang lainnya
terus bekerja, memasang tenda dan menggali liang jebakan yang lebar
dan dalamnya rata-rata lima tombak, atasnya ditutup dengan rumput
yang ditutup pula dengan salju. Mata-mata pun dipasang.
Selang lima hari, rombongan
ketiga kembali dengan rangsum berikut kerbau dan kambing hidup.
Dugaannya Boen Sioe tepat. Lagi
dua hari, kawanan penjahat muncul saling susul. Benar-benar mereka
tak tahan lapar. Mereka kelaparan hingga kepala mereka pusing, maka
mereka kabur, tenaga mereka habis. Mereka terjeblos ke dalam liang
perangkap di mana mereka dibekuk tanpa perlawanan. Hanyalah, ketika
penjahat yang terakhir muncul, dia tidak diikuti Tan Tat Hian.
"Ke mana dia pergi?" tanya Boen
Sioe kepada setiap penjahat "Entahlah," dia mendapat jawaban. "Kita
tak melihat dia selama beberapa hari yang paling belakang. Mungkin
dia terbinasa di perangkap dalam istana."
Keterangan itu tidak lantas di
percaya. Sang ketua masih bersabar menanti lagi dua hari. Habis itu
barulah ia berlega hati
"Sekarang mari kita masuk ke
istana," katanya, la mengajak orang untuk mengambil harta besar itu.
Boen Sioe sendiri memikirkan
Kee Loodjin. Sudah beberapa kali ia memasuki istana, tidak juga ia
dapat menemui orang tua itu. Ia jadi sangat berkuatir si orang tua
telah roboh di tangan jahat dari Tat Hian. Tentu sekali sukar ia
melupai budi orang tua itu, yang ia telah pandang sebagai kakeknya
sendiri. Ia telah menanyakan beberapa penjahat, semua menerangkan
tidak pernah melihat orang tua yang bertubuh bongkok bagaikan unta
itu..
Yang aneh untuk nona Lie ini
yang juga ia buat pikiran, ialah lenyapnya Hoa Hoei, gurunya. Guru
itu bilang tidak keruan paran. Pernah Boen Sioe pergi ke tempat
kediamannya, di sana dia tidak kedapatan. Pula tidak ada tanda-tanda
bahwa guru itu pernah pulang.
Orang-orang Kazakh itu lebih
dulu mengurus mayatnya orang-orang bangsanya serta mayat-mayat si
penjabat, selesainya itu baru mereka mengangkut harta karun itu.
Ketiga ketua mereka telah memutuskan, semua orang memperoleh hak
sama rata. Artinya, mereka tidak boleh berebutan. Keluarga kurban
jiwa mendapatkan bagian dua lipat
Selagi orang mengambil harta,
Supu melihat Lie Boen Sioe diam saja di pinggiran, la lantas membawa
sekantung harta dan meletakinya di depan orang.
"Saudara Lie," katanya, "ketua
kami membilang, tanpa pertolongan kau, kami semua pasti membuang
jiwa di sini, maka itu ia mengatakan, kau boleh mengambil harta ini
sesukamu, umpama kata kau tidak dapat mengangkutnya, nanti kami
menolong kau membawanya."
Boen Sioe menggelengkan kepala.
"Aku tidak menghendaki emas dan
perak serta mutiara," sahutnya.
"Kau menginginkan apa, nanti
aku pergi mengambilkan," berkata Supu.
"Yang aku kehendaki, itu tak
terdapatkan. Yang aku dapatkan, aku tidak
menghendakinya,” berkata Boen Sioe. Dan ia
menuntun kudanya. "Sekarang aku mau pergi...”
"Jangan, jangan, saudara Lie!”
berkata Supu. "Kau mesti mengambil
sesuatu! Barang apa itu yang kau tidak mendapatkannya?"
"Itulah kejadian yang telah
lama. Yang aku kehendaki itu ialah sehelai kulit serigala."
Tadinya Supu masgul, tetapi
mendengar kata-kata orang, air mukanya menjadi terang.
"Kulit serigala?" katanya,
gembira. "Itulah gampang sekali. Nanti aku mengambilkan sepuluh
helai untukmu!"
"Hanya sekarang ini aku tidak
menghendaki itu..."
Kembali orang Kazakh itu
menjadi heran, hingga ia menggaruk-garuk kepala. Ia menganggap orang
aneh sekali.
Mau, tidak mau-tidak mau, mau.
Habis bagaimana? Maka ia membuka
kantungnya,
memperlihatkan isinya, semua
mutiara bergemerlapan.
"Nah, ambillah apa saja!"
bilangnya
Lie Boen Sioe mengawasi harta
besar itu, ia menjumput sepotong gelang kumala yang kecil.
"Biarlah aku ambil ini saja,"
bilangnya. Ia berhenti sebentar, untuk menambahkan: "Dulu juga aku
mempunyai sepotong gelang semacam ini, gelang itu aku telah berikan
kepada seorang, yang telah membikinnya pecah hancur, hingga sekarang
ini lenyaplah!"
Ia masuki gelang itu ke
lengannya, terus ia melarikan kudanya.
Supu heran. Ia menggaruk
kepalanya pula. Ia bengong mengawasi punggung orang sampai orang tak
nampak lagi.
Lewat beberapa hari, selesai
sudah orang-orang Kazakh mengangkut harta karun, lantas mereka
berangkat pulang. Mereka menyembelih kerbau dan kambing, untuk
membikin pesta besar. Itu waktu salju sudah lumer, maka di padang
rumput mereka menyalakan unggun. Terutama rombongan muda-mudi,
gembiranya luar biasa. Cuma Aman yang berada bersendirian.
"Aman," kata si ketua, yang
menghampirkannya, "kau sebatang kara, baiklah kau menikah sama
Supu."
"Apa, Supu?" Aman kata. "Dia
telah membunuh ayahku! Mana dapat aku menikah padanya?"
"Memang benar dia telah
membunuh ayahmu akan tetapi kemudian dia telah menolong kau dan kita
semua,” berkata si ketua, membujuk. "Kejadian itu ialah kehendak
Allah junjungan kita dan sekarang permusuhan hendaknya dibikin
habis.”
"Jadi bapak membilang itulah
kehendak Junjungan kita?" Aman tanya.
"Benar.”
"Bapak... Sebenarnya aku
menyukai Supu, tetapi, tetapi, dia telah membunuh ayahku, hatiku
jadi... aku selalu penasaran terhadapnya... Kalau peristiwa benar
ada kehendak Junjungan kita, kalau aku mesti menikah pada Supu, itu
baru bisa terjadi setelah satu pertandingan besar dan tak ada orang
lain yang dapat mengalahkannya. ..”
Ketua itu tertawa bergelak.
"Jadi kau menghendaki diadakan satu pertandingan besar, untuk
melihat siapa yang paling kosen?"
"Untuk itu aku hendak
bersembahyang dahulu kepada Allah Yang Maha Kuasa," berkata Aman.
"Jikalau Junjungan kita dapat mengampuni dia, dia bakat menjadi si
pemenang, jikalau tidak, dia bakal kena dikalahkan, dengan begitu,
tidak dapat aku menikah dengannya."
"Bagusi” memuji si ketua. "Kau
percaya kepada Junjungan kita, itulah bagus sekail Pasti Junjungan
kita akan memilihkanmu seorang suami jempolan."
Justeru orang-orang bangsanya
itu lagi berkumpul, ketua ini berbangkit menghadap mereka, untuk
menepuk tangan tiga kali.
Dengan serempak, semua orang
berdiam, mengawasi dan mendengari.
Ketua itu mengawasi semua
orang, ia berkata: "Kita telah mendapatkan istana rahasia, kita
berhasil mendapatkan harta besar serta membekuk juga musuh-musuh
kita, dalam pada itu, orang yang paling berjasa ialah lima orang.
Pertama-tama saudara Lie si orang Han. Sayang dia tidak ada di sini.
Yang kedua ialah Suruke dan Cherku. Sayang sekali, mereka berdua
telah menutup mata di dalam istana Yang dua lagi ialah Supu dan
Aman. Jasa Supu sangat besar, sayang ia telah membunuh Cherku,
hingga jasanya itu mesti dipakai menebus dosanya. Karena itu
sekarang tinggal Aman satu orang. Bagaimana kita harus menghargai
jasanya Aman ini?"
"Baiklah dia mendapatkan
mutiara dua lipat!" seorang usulkan.
"Tambahkan dia dua puluh ekor
kerbau serta seratus ekor kambing!" kata yang lain.
"Boleh kita memberikannya pula
lima puluh pikul bulu kambing!" yang lainnya lagi memberi pikiran.
Si ketua menggoyangi tangan, ia
tertawa riang,
"Tidak, tidak tepat!" katanya.
"Aman tidak menghendaki kerbau dan kambing atau bulu kambing!
Mutiara pun ia telah mempunyai banyak! Habis, dia membutuhkan apa?
Dia masih belum menikah, maka perlulah kita mencarikan dia seorang
suami!"
Semua orang girang sekali,
semuanya bersorak.
"Akur! Akur!" seru mereka.
"Mari kita mencarikan suami jempol untuk Aman!"
Hati Supu berdebaran. Semenjak
mereka pulang, tidak pernah Aman bicara padanya. Ia telah menanya
dia, dia tidak mau menyahut Kalau ia mendekati, dia menyingkir.
Sekarang ada usul si ketua ini! Bagaimana akhirnya? Siapa yang si
ketua pilih? Atau, siapa yang Aman telah pilih sendiri? Mungkinkah
Sangszer?
"Siapakah bakal jadi suami
paling baik bagi Aman?" berkata si ketua. "Kami bangsa Kazakh, pria
kami semuanya baik-baik sebagai penggembala, sebagai pemburu,
sebagai penunggang kuda, sebagai orang kosen juga! Hanyalah,
siapalah yang paling diberkahi Junjungan kita? Seharusnya saja,
orang muda yang paling kosen dialah yang mesti mendapatkan isteri
paling cantik!"
"Benar, benar!" orang banyak
berseru-seru. "Pemuda kita yang paling gagah mesti menikah dengan
pemudi kita paling cantik!"
Semua mata lantas dialihkan
kepada Supu dan Sangszer, ada juga kepada beberapa pemuda lainnya.
Aman, dengan wajah merah, juga
memandang kepada setiap anak muda. Setiap pemuda, yang sinar matanya
bentrok, hatinya berdenyutan, otaknya bekerja, dia kata dalam
hatinya: "Siapa dapat menjadi suami nona begini cantik, ia sungguh
beruntung!"
Sementara itu, Aman tidak
memandang Supu, ia menyingkir dari sinar matanya si pemuda.
"Maka itu sekarang aku ingin
diadakan pertandingan guna memilih pasangannya
Aman," berkata pula si ketua kemudian. "Untuk itu orang harus dapat
turut ambil bagian di dalam empat macam pertandingan. Tiga yang
pertama ialah pacuan kuda, mengadu panah dan rebutan kambing. Untuk
merebut kambing lima ekor, orang mesti tinggal lima Inilah calon
terakhir, yang akan mengadu tenaga dan kepandaian satu dengan lain.
Siapa yang menang dialah orang yang paling kosen."
"Dan dialah yang mendapatkan
nona kita paling cantik!" orang banyak menyambungi.
Si ketua mengangguk. Ia berkata
pula: "Sekarang sudah jauh malam! Siapa sudah mempunyai isteri,
siapa sudah mempunyai kekasih, kamu boleh terus pelesiran! Siapa mau
turut pertandingan, pergilah masuk tidur, untuk beristirahat untuk
bersiap sedia! Kita akan mulai besok pagi! Nanti kita lihat,
siapakah yang dipilih Junjungan kita!"
Bangsa Kazakh beragama Islam,
maka itu mereka percaya, mati dan hidup mereka ada di tangan Tuhan
Yang Maha Kuasa, Junjungannya.
Besoknya pagi di padang rumput
telah berkumpul seratus lebih pemuda, semua dengan kudanya
masing-masing, kuda pilihan. Cuma Supu yang berduduk dengan masgul.
Ia kata di dalam hatinya: "Aman membenci aku, percuma aku
mengalahkan orang, dia tidak bakal menikah padaku...” Tidak lama
terdengarlah suara terompet. Semua anak muda, dengan menuntun kuda
mereka, lantas berdiri berbaris. Supu tetap berduduk saja, ia
ragu-ragu. Mendadak kupingnya mendengar teguran: "Kenapa kau tidak
turut bertanding?" Ia terperanjat. Itulah suaranya Aman. Ia menoleh.
Ia masih mau menduga nona itu bicara dengan lain orang. Tapi di situ
cuma ada ia sendiri. Ia lantas melihat mata Aman ditujukan tajam
kepadanya. Mendadak ia menjadi girang sekali.
"Oh, Aman, kiranya kau dapat
memaafkan aku?..." katanya.
Nona itu menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu..." sahutnya.
Ia berhenti sejenak, lalu ia menanya: "Kau... kenapa kau tidak turut
bertanding?"
Supu tidak menyahut, hanya dia
berjingkrak bangun, terus dia menuntun kudanya dan pergi berbaris.
Segera juga terdengar pula
suara terompet, setelah tiga kali, maka seratus lebih penunggang
kuda itu sudah mulai membalap, dari barat mereka kabur ke timur.
Matanya Aman tidak pernah
berpisah dari kuda bulu dawuk dari Supu. Setindak derra setindak,
kuda itu melewati yang lain-lainnya. Tiba di timur, batas ujung,
orang lari kembali dengan memutar. Ketika orang akhirnya tiba di
barat, di batas penghabisan, kuda Supu ialah yang kedelapan. Kuda
nomor satu, yang bulunya putih, penunggangnya mengenakan topeng dari
sapu tangan, hingga nampak sepasang matanya saja yang bercahaya.
Si ketua segera mengumumkan,
yang dapat bertanding terus ialah yang kudanya terhitung sampai
nomor lima puluh. Sekarang orang mulai dengan adu panah. Untuk itu
di tengah padang rumput itu ditancap papan sebagai tameng atau
sasaran. Sambil menunggang kuda, pemuda-pemuda itu. memanah
bergantian. Setiap kali sasaran terkena tepat, orang semua bertepuk
tangan bertampik sorak.
Setelah penghitungan ternyata,
di dalam sepuluh kali panah, Supu dapat mengenai delapan kali. Yang
sepuluh kati memanah tanpa lolos ialah si penunggang kuda bertopeng.
"Eh, siapakah dia?” demikian orang
saling bertanya. "Kudanya lari paling
keras, ilmu panahnya pun paling mahir!”
Si ketua sudah lantas
mengumumkan siapa dalam sepuluh kali dapat memanah enam, dia berhak
turut dalam pertandingan yang ketiga. Acaranya ialah merebut
kambing.
Lalu ternyata, dari lima puluh
calon, tiga puluh berhak bertanding lebih jauh.
Rebutan kambing adalah olah
raga kepelesiran paling digemari bangsa Kazakh. Cara merebutnya
ialah seekor kambing dilepas di tengah kalangan, lantas sambil
menunggang kuda orang merebutnya, siapa yang akhirnya mendapatkan
itu, dialah yang menang,, dia berhak memiliki kambing itu serta
diakui juga sebagai orang kosen. Untuk ini orang mesti pandai
menunggang kuda, bermata celi, bertenaga besar dan sebal Itulah
perebutan di antara puluhan lawan.
Kali ini digunakan lima ekor
kambing. Nampaknya perlombaan menjadi terlebih riang. Tentu sekali,
yang diperebuti bukan kambing lagi hanya Aman. Maka juga perasaan
setiap peserta menjadi tegang luar biasa. Pula setiap sanak atau
keluarga atau sahabatnya si pemuda bersorak menganjurkan anak atau
sanaknya itu. Maka ramailah gemuruh sorak-sorai. Siapa telah
mendapatkannya, kambing itu masih dapat dirampas lain orang. Maka
siapa berhasil, dia mesti bisa kabur naik ke atas bukit ialah tempat
terakhir di mana orang tidak dapat merampasnya lebih jauh.
Kemudian ternyata, di antara
lima calon yang berhasil itu, ada Supu, ada Sangszer, ada si
penunggang kuda bertopeng itu.
Sampai di sini orang mulai
dengan acara terakhir: Mengadu kepandaian berkelahi. Menurut undian,
Sangszer dapat lawan seorang pemuda yang dijuluki si "banteng gede”.
Lawannya Supu ialah seorang pemuda tinggi sekali dan kurus, hingga
dia biasanya jalan dengan punggung melengkung agar tidak terlalu
menyolok kalau dia jalan beramai-ramai. Dia dipanggil si "unta”.
Meski lawannya Sangszer ada satu banteng tetapi ia sangat gesit dan
cerdik, belum lama, dengan satu gaetan kaki, ia dapat membikin lawan
itu roboh, lalu ditindih hingga tidak berdaya.
Si unta sebaliknya sulit untuk
dijatuhkan Supu. Beberapa kali dia kena dirobohkan, saban-saban dia
dapat meronta dan bangun pula, hingga dia mendatangkan ramai tempik
sorak. Tadinya orang menyangka Supu bakal menang, kemudian lalu
menduga si unta yang ulat ini.
Supu bermandikan peluh, kaki
dan tangannya berkurang kecekatannya, napasnya pun memburu. Lawannya
sebaliknya nampak lebih segar hanya dia pun tidak bisa merebut
kemenangan. Maka mereka jadi bertarung seru sekali.
Saking letih, kemudian Supu
kena dibanting jatuh, tubuhnya terus ditindih. Ia berontak, sia-sia
saja. Banyak orang lantas berkaok-kaok: “Si unta menang! Si unta
menang!*'
Supu bergelisah bukan main.
Tiba-tiba sinar matanya bentrok sama sinar matanya seorang lain.
Itulah sinar mata yang bergelisah, yang seperti sangat memperhatikan
padanya. Mendadak ia mendapat tenaga baru, ketika ia berontak, ia
dapat menggulingkan si unta, hingga sekarang ialah yang berbalik
menindih lawannya.
Dengan tangan kirinya ia
menekuk tangan kanan si unta, lehernya dia itu ia tekan. Maka
habislah tenaga si jangkung kurus itu!
Di antara sorakan riuh sekali,
Supu dinyatakan menang, la bangun berdiri dengan napas menggotong.
Justeru itu Sangszer berkata padanya: "Supu, kau beristirahatlah!
Aku akan melayani dulu ini saudara!” Dia berbicara tanpa memberi
ketika lawannya beristirahat dulu. Habis berkata, dia menghampirkan
si calon yang nomor lima, yang belum ada tandingannya. Dia berkata
dengan tangannya: "Saudara, mari aku melayani kau bertanding.
Sekarang kau tentu dapat meloloskan topengmu..."
"Tak dapatkah tanpa
diloloskan?" menjawab si lawan.
Supu mendengar suara orang,
hatinya bertekat Semenjak tadi ia menduga kepada si pemuda yang
menyebut dirinya Lie Pekma, sekarang ia mendapat kepastian. Hanya,
karenanya, ia menjadi berpikir: "Sudah terang Sangszer dan aku bukan
tandingannya. Dia selalu berada di antara kita, kiranya dia pun
mengarah Aman..."
Pemuda itu memang Lie Boen
Sioe.
Sangszer tertawa dan berkata:
"Untukku sendiri, tidak ada halangannya aku tidak melihat wajahmu,
tapi kita tinggal bertiga. kalau aku dan Supu kalah, mungkinkah Aman
menikah suami yang tidak ada mukanya?"
"Baiklah “ menjawab Boen Sioe.
yang lantas menarik sapu tangannya.
"Lie Pekma!" Sangszer berseru
kaget
Orang banyak pun heran.
"Lie Pekma! Lie Pelana!" mereka
berseru-seru. "Dialah orang Han!"
"Tidak! Gadis cantik kita tidak
dapat menikah sama orang Han!" ada lagi yang berteriak-teriak.
Yang hebat adalah yang
berteriak: "Orang Han menjadi penjahat! Orang Han telah merampok dan
membunuh orang bangsa kita!" Mereka kurban-kurban keganasannya
rombongan Hok Goan Liong.
"Orang gagah she Lie mi bukan
orang jahat!" ada juga yang mengasih dengar suara lain.
"Dialah yang menolong kita di
istana rahasia!"
"Dialah penolong bangsa kita!
Dia lain dari orang-orang Han yang jahat!"
Maka ramailah suara-suara yang
bertentangan itu.
"Baiklah kita mendengar ketua
kita!" akhirnya ada yang berteriak.
St ketua berbangkit, tiga kali
ia menepuk tangan.
"Saudara-saudara, tenang!" ia
berkata, nyaring. "Saudara Lie ini bukannya orang jahat! Tanpa dia,
kita semua tentu telah habis terbinasa di dalam istana rahasia! Maka
itu benar, dialah penolong kita! Pula harus diketahui, di antara
orang Han juga ada banyak yang baik, dan saudara Lie ini orang baik
itu!" Ia berhenti sejenak, lalu ia meneruskan: "Sekarang mari kita
bicara dari hal pertandingan ini. Inilah pertandingan yang
mengenakan jodohnya Aman. Di dalam ini hal, kita mengharap petunjuk
Allah Junjungan kita, ingin kita mendapat tahu Tuhan berkenan
memberi ampun atau tidak kepada Supu. Jikalau Supu diberkahi, dia
tentulah yang menang dan dia bakal menikah sama Aman. Kita ada
penganut-penganut dari agama Islam, kita tidak dapat menikah sama
orang dari lain agama."
Mendengar itu, Lie Boen Sioe
campur bicara.
"Di antara orang Han juga ada
yang memeluk agama Islam," katanya. "Aku mempunyai minat untuk
memuja Tuhan Junjungan kamu!"
Ketua itu menjadi serba salah.
Tidak ada alasan untuk menolak Boen Sioe. Pula, sebagai seorang
budiman, ia tetap bersyukur dan berterima kasih pada pemuda ini.
Boen Sioe bukan hanya menolong dia tetapi semua bangsanya. Di
sebelah itu, ia hanya terpengaruh sama hari kecilnya. Ia juga tidak
puas yang gadis bangsanya yang paling cantik dinikahkan kepada orang
Han. Ia terpengaruh keras rasa kebangsaannya.
"Soal ini sangat sulit, tidak
dapat aku memutuskan sendiri," akhirnya ia kata. "Di dalam ini hal
kita harus menanyakan pendapatnya Hapulam, tertua kita yang paling
terpelajar*'
Hapulam itu adalah orang tua
suku bangsa Tiehyen yang paling paham tentang kitab suci. Si ketua
lantas menghampirkan ahli kitab itu, yang berada di antara mereka
"Hapulam," tanyanya, lantas,
"pernahkah bangsa kita mengalami peristiwa seperti ini? Aku minta
sukalah kau memberikan keterangan yang jelas."
Ditanya begitu, Hapulam tunduk.
Ia berpikir.
"Pelajaranku sangat rendah, apa
pun aku tidak mengerti," sahutnya selang sesaat.
"Jikalau Hapulam yang
terpelajar masih menyebutkan tidak tahu apa-apa maka lain orang
pastilah terlebih tidak tahu apa-apa lagi!" kata si ketua.
Didesak demikian, Hapulam
berkata juga: "Kuran Surah 49 ayat 13 mengajarkan:-'Manusia, seorang
pria dan seorang wanita, membuatmu menjadi sekian bangsa dan agama,
untuk menggampangkan kamu saling mengenal, maka dalam pandangan
Tuhan, yang paling mulia di antara kamu ialah yang paling baik. Di
dalam dunia ini, pelbagai bangsa dan agama, semua ada ciptaan Allah,
maka juga Allah bilang, yang paling baik ialah paling mulia. Pula
ada ajaran yang menganjurkan untuk kita mencintai tetangga kita
dekat dan jauh, kawan, dan melayani baik-baik tetamu kita. Orang Han
ialah tetangga kita yang jauh, asal mereka tidak mengganggu kita,
kita harus mencintai serta melayaninya."
"Kau benar," berkata si ketua.
"Tetapi anak perempuan kita, dapatkah dia dinikah orang Han?"
"Surah 2 ayat 221 membilang,"
berkata Hapulam: "'Jangan kamu nikah wanita yang memuja boneka
sampai mereka telah mempercayai agama kita-jangan kamu
menikahkan anak perempuan kepada
pria yang memuja boneka sampai pria itu mempercayai agama kita.
Surah 4 ayat 23 pun melarang menikah
dengan wanita yang ada suaminya atau sanak langsung, selainnya itu,
semua diperbolehkan sampai pun pada bujang dan budak. Maka kenapa
dia tidak dapat menikah sama orang Han?"
Selama Hapulam berkhotbah itu,
orang banyak berdiri mendengari dengan tenang dan perhatian, maka
itu mereka menjadi mengerti baik sekali. Dari itu, lantas
mereka pada membilang: "Petunjuk
Alto tidak bisa salah lagi!" Pula ada yang memuji Hapunun dengan
berkat* "Apa pun yang kita tidak mengerti, kita boleh pergi
menanyakan kepada Hapolam, dia pasti dapat rnenjehtskannya dengan
baik."
"Baiklah!" berkata si ketua.
"Kuran menyatakan demikian maka orang Han yang baik ialah saudara
yang baik dari kita bangsa Kazakh! Saudara Lie hendak menikah sama
Aman, Junjungan kita telah mengizinkannya, maka itu sekarang kamu
boleh mulai!"
Semenjak kecil Lie Boen Sioe
tidak dapat melupai Supu,
rintangannya ayah Supu membuat mereka renggang, sebab ayah Supu
membenci orang Han, sekarang ia maju untuk memperebuti Aman, sengaja
ia dandan sebagai pemuda, ingin ia membikin bangsa ini mempercayai
bahwa orang Han juga ada yang baik. Dengan begitu juga dengan
sendirinya dapat ia memberi penjelasan kepada Supu hal kekeliruan
pandangan ayah pemuda itu. Mengenai pertandingan
ini, ia mempunyai maksudnya sendiri, meski di muka umum terang
nampak ia menyalak di antara Supu dan Sangszer untuk merebut Aman.
Sangszer ketahui liehaynya Lie
Boen Sioe di dalam hal mengguaai senjata tajam, la telah melihat
bagaimana nona itu menempur kawanan berandal. Maka ia bersangsi.
Sebaliknya, ia mempercayai benar ilmu gulat atau peluk
banting bangsanya, dari itu ia memilih ilmu kepandaiannya ini.
Lantas ia memasang kuda-kudanya.
"Saudara Lie, silahkan maju!"
ia menantang.
"Baik!" menyahut Boen Sioe,
yang lantas menyingkap ujung bajunya yang panjang, untuk diselipkan
ke pinggangnya, setelah itu ia bertindak ke gelanggang, berdiri di
depan penantangnya itu Di mana kedua pihak sudah siap sedia,
Sangszer lantas membuka kedua tangannya, sambil mementang, ia maju
untuk menubruk. Atau mendadak Boen Sioe berseru kaget, terus dia
lari ke arah kiri dimana ada-pepohonan lebat Dia seperti melihat
sesuatu, yang dia lantas kejar.
Semua orang menjadi heran,
terutama Sangszer. Semua orang tidak mengerti, kenapa di saat
seperti itu, si pemuda Han lari kabur. Hingga ada yang menduga-duga
mungkin dia jeri terhadap si pemuda Kazakh...
Sangszer berdiri sekian lama,
kemudian ia kata kepada Supu: "Supu, saudara Lie telah pergi, maka
itu marilah kita berdua saja yang bertempur.''
Supu menerima baik tantangan
itu, meski sebenarnya ia masih mengherani Boen Sioe.
"Ya, marilah!” ia menjawab, bahkan
ia terus maju. Maka tidak tempo lagi,
keduanya lantas bergulat.
Dua orang muda ini ada
tandingan yang setimpal. Semenjak masih kecil mereka suka berkelahi,
mereka menang dan kalah bergantian, hanya kali ini, dalam usia
dewasa, mereka harus mencari keputusan,. Maka bisa dimengerti yang
mereka berkelahi dengan sungguh-sungguh.
Sedari berumur lima belas
tahun, Sangszer sudah menaruh hati kepada Aman, disebabkan rapatnya
pergaulan Aman dengan Supu, ia menjadi tidak dapat menyelak di
antara mereka, ia cuma bisa menindas hatinya sendiri. Sampai
sekarang ia masih tidak berani mendekati Aman walaupun Supu telah
menjadi musuh Aman, disebabkan Supu dibuang karena tuduhan telah
membunuh Cherku. Barulah menit ini harapannya timbul. Bukankah Aman
sendiri yang menghendaki ini pertarungan umum? Dengan ini nanti
terlihat kesudahannya Allah mengampuni Supu atau tidak...
Umumnya Supu menang unggul
sedikit daripada Sangszer, tetapi setelah tadi ia mesti membanting
tulang melayani si untai ia masih terpengaruh keletihannya, dari
itu, segera ternyata, lawannya itu menang di atas angin. Pula ia
keras memikirkan Lie Boen Sioe, yang pergi tanpa sebab.
Sebenarnya Boen Sioe kabur
karena sejenak itu matanya melihat satu orang yang berkelebat di
dalam rimba, berkelebat cepat bagaikan bayangan tetapi toh ia
mengenali baik potongan tubuh Tan Tat Hian, tanpa pikir panjang
lagi, ia lari mengubar. Laginya untuk ia, pertandingan itu tidak ada
artinya. Taruh kata ia menang, ia toh tidak- bisa menikah dengan
Aman- Di samping itu, Tat Hian ialah musuh besarnya. Akan tetapi,
sesampainya ia di dalam rimba, Tat Hian telah lenyap tidak keruan
peran, sia-sia belaka ia mencarinya. Kemudian ia mendengar suara
kuda kabur ke arah barat daya, ia lantas menduga kepada musuh itu.
Saking tergesa-gesa, ia tidak dapat kembali kepada kuda putihnya, ia
kabur menyusul dengan menjembat seekor kuda yang lagi makan rumput
di dekatnya.
Sesudah berlari-lari beberapa
lie, Boen Sioe tiba di gurun pasir. Ia mendaki tanjakan pasir
bagaikan bukit, untuk melihat kehlingan. Di sini ia bisa memandang
ke sekitarnya dengan leluasa, tidak seperti tadi semasa di padang
rumput Ia lantas melihat di arah barat daya itu —- jauh letaknya
seekor kuda lagi berdiri diam dan di samping binatang itu ada satu
tubuh manusia rebah tak berkutik. Ia menduga kepada Tan Tat Hian, ia
lantas mengeprak kudanya untuk lari keras ke arah itu.
Tidak lama maka tibalah ia di
tempat kuda dan orang itu rebah menggeletak. Ia berkuatir orang
hanya berpura-pura mati, dari itu sebelum mendatangi dekat, ia
menggunai bandringnya, guna menotok jalan darah tiongteng dari orang
itu. Setelah mendapat kenyataan orang terus berdiam saja-suatu bukti
benar dia telah
mati - barulah ia datang
menghampirkan.
Benar-benar orang itu Tan Tat
Hian adanya!
"Heran!" pikirnya. Tat Hian
mati dengan mulut mengeluarkan darah, suatu tanda bahwa ia telah
teriuka di dalam. Ia sudah putus jiwa akan tetapi tubuhnya masih
hangat. Jadi dia mati belum lama. Boen Sioe menggeledah tubuhnya,
maka terlihat kulit dadanya bertanda mataag biru sebesar telapakan
tangan dan tujuh atau delapan tulang iganya patah.
"Entah siapa yang menghajar
dia?" pikir nona ini. "Liehay penyerang itu!"
Karena ini, ia lantas melihat
ke sekitarnya. Ia masih sempat melihat satu titik hitam di tempat
jauh. Inilah satu penunggang kuda, yang kudanya dilarikan. Ia
menjadi mencurigai penunggang kuda itu, sebab kantung gendolan dan
sakunya Tat Hian bekas dirobek dengan pisau, dan peta tidak ada di
tubuhnya itu.
"Istana rahasia sudah
didapatkan, apa perlunya orang itu dengan peta tersebut?" ia
berpikir. Ia berdiri berdiam sekian lama di samping tubuh musuhnya
itu. Lega juga hatinya walaupun musuh ini terbinasakan lain orang.
Kemudian ia lantas menaiki kudanya, untuk kembali
kepada orang-orang Kazakh. Tepat ia mendengar gemuruh
ramai: "Sangszer menang! Sangszer menang!" Ia terperanjat.
Pikirnya: "Kalau Sangszer menikah dengan Aman dan aku memberitahukan
Supu bahwa akulah kawannya semenjak masih kecil, bagaimana
pilarnya?'' Memikir begitu, ia likat sendirinya. Tapi ia berjalan
terus mendekati rombongan.
Supu masih rebah di tanah, ia
mencoba terbangkit bangun tetapi sukar. Ia merayap, ia berdiri, lalu
terhuyung dan roboh pula. Sangszer mengasih bangun "Supu," katanya,
"jikalau kau penasaran, kau beristirahatlah, nanti kita mengulangi
pertandingan kita ini."
Supu menggeleng kepala, matanya
mengawasi Aman, sinar matanya itu menandakan remuknya hatinya.
Aman bisa melihat sinar mata
itu, tanpa merasa, air matanya mengalir.
"Benar-benar mereka sangat
mencinta satu pada lain," pikir Lie Boen Sioe, yang bisa melihat
roman muda-mudi Itu. "Dalam hidupnya, pastilah Supu tidak dapat
mencintai lain orang lagi Pula Aman, kalau dia menikah sama
Sangszer, tidak nanti dia dapat melupai Supu, tidak nanti dia
menyenangi Sangszer, maka untuk kedua belah pihak tidak ada
kebaikannya..."
Kembali Boen Sioe mengawasi
Supu. Pemuda itu pergi ke pinggiran, jalannya masih rada limbung,
tangannya memegangi kepalanya, rupanya dia merasa pusing. Di
pinggiran itu, dia duduk dengan napasnya masih belum tenang. Ia
menjadi merasa kasihan pada kawannya itu. Maka ia masuk ke dalam
gelanggang.
"Sangszer," katanya, "tadi aku
pergi mengejar satu orang, pertandingan kita gagal. Maka itu mari
sekarang kita mengulanginya." Ia berhenti sejenak, baru ia
menambahkan: "Kau tentunya masih lelah, aku sebaliknya masih segar,
kalau kita bertanding sekarang, tidak adil. Maka ini baiklah kita
atur begini, hari ini pertandingan ditunda sampai besok!"
Sangszer rada jeri pada lawannya
itu.
"Baik," sahutnya. "Kita bertanding
besok."
Bangsa Kazakh mengira, setelah
Sangszer mengalahkan Supu, Aman bakal menikah sama si pemenang ini,
tidak tahunya si pemuda gagah she Lie telah muncul pula dan
menantang Sangszer, dengan begitu, urusan menjadi tertunda. Karena
itu, sampai malamnya, mereka masih menduga-duga entah siapa yang
bakal menjadi pemenang terakhir. Umumnya mereka menduga Boen Sioe
yang bakal menang, hanya mereka heran, pemuda itu bertubuh halus dan
romannya tampan sekali, siapa tahu, dia bertenaga kuat dan ilmu
berkelahinya mahir, lapi dia bakal berkelahi dengan tangan kosbng.
Dapatkah dia mengalahkan Sangszer? Kenapa tadi dia kabur tidak
keruan?
Besoknya lohor, orang berkumpul
pula di tegalan.
Setelah beristirahat dan dapat
tidur satu malaman, Sangsfeer menjadi segar sekali. Ia telah
memikirkan siasat berkelahinya: "Dia pandai silat, dari itu tidak
dapat aku berkelahi renggang, sebaliknya, aku mesti merapatkan dia.
Begitu bergerak aku mesti ringkus, untuk kita mengadu tenaga..."
Siasat ini benar-benar
digunakan.
lie Boen Sht berkem ketika ia
ditubruk, tangan kanannya dipakai menangkis berbareng menarik,
sedang kaki kanannya membentur kaki orang. Dengan begitu, tidak
ampun lagi, robohlah lawan itu
"Kau kurang berhati-hati!" ia
kata tertawa. “Mari maju lagi!"
Sangszer berlompat bangun. Ia
tetap sama siasatnya, yang ia telah pikir matang. Begitu berhadapan,
ia menubruk dengan gesit
Boen Sioe kembali menggunai
Kimnatjioe, ialah ilmu silat menangkap. Ia menangkap dan memutar,
tangan kirinya menolak. Lagi sekali Sangszer roboh terguling, bahkan
kali ini, tangannya keseleo sebab dia mencoba meronta. Karena merasa
sakit, terpaksa ia mendekam terus.
"Kau bangun!" berkata Boen Sioe
tertawa. "Mari mencoba lagi!"
Nona ini mempelajari Kimnatjioe
yang terdiri dari tiga puluh enam jurus berikut pecahannya tiga
puluh enam jurus lainnya, maka itu, mana bisa Sangszer melawannya?
Maka juga, lagi-lagi pemuda Kazakh itu kena dirobohkan. Delapan kali
dia diberikan ketika, akhirnya dia menggeleng kepala dan berkata:
"Aku tidak sanggup melawan kau, pergi kau nikah Amani..." -la
mengundurkan dai sambit tunduk.
Boen Sioe tidak lantas rnenunta
hadiahnya.
"Supu, mari!" ia kata pada si
anak muda. "Mari kini bertanding!" Supu menggeleng kepada. "Aku
tidak sanggup melawan kau," katanya. Ia tahu kekuatannya berimbang
sama Sangszer, percuma ia melawan.
"Belum tentu," kata Boen Sioe.
"Mari kita coba dulu;"
Supu melirik kepada Aman, ia
melihat sinar mata si nona seperti menganjuri.
"Baik!" sahurnya seraya terus
menyingsat pakaiannyn. Ia menggunai cara seperti Sangszer, begitu
berhadapan, ia menubruk.
Boen Sioe berkelahi seperti
melawan Sangszer tadi, empat kali beruntun ia membuat lawannya
mencium tanah, hanya ketika ke lima kalinya ia membikin orang roboh
dan ia menekan punggung orang, ia berbisik: "Kau meronta, kau sambar
punggungku, nanti kau menangi"
Supu heran, tetapi ia tidak
sempat berpikir lama. Mendadak ia mengerahkan tenaganya, ia bangun,
tangannya menyambar punggungnya lawan itu, maka di lain saat Boen
Sioe telah kena dirobohkan, ditekan pada tanah! Boen Sioe tidak
dapat berontak. Tapi Supu berpikir:
"Kemenangan ini bukannya
kemenangan." la mengasih orang bangun seraya berkata: "Mari kita
mencoba pula!"
Boen Sioe menerima baik. Mereka
kembali bergulat. "Ingat tipu-tipu tadi," kata Boen Sioe, perlahan.
"Jangan lupa!”
Di saat genting, kembali Boen
Sioe membiarkan ia dirobohkan. Saban-saban ia mengisiki akan lawan
ingat tipunya itu. Semua itu terjadi hingga enam kali. Selama itu,
tidak ada seorang jua yang mendengar kisikan itu, hingga orang cuma.
heran, tidak ada yang bercuriga. Kelihatannya wajar Supu menjatuhkan
lawannya itu. Hanya Supu sendiri yang heran bukan main. Terang ia
kalah tetapi ia diajari tipu dan dibiarkan menang. Ia tidak dapat
membade hati orang. Ia heran kenapa pemuda ini tidak mengharapi Aman
yang demikian cantik manis.
Di akhirnya, habis dirobohkan,
Boen Sioe bangun berdiri dan berkata nyaring: "Sudah, tidak sanggup
aku melawan kau, aku tidak mau memperebuti Aman!"
Supu jujur, ia merasa tidak
enak. "Kau mengalah," katanya.
"Jangan sungkan," kata Boen
Sioe. "Aku sudah kalah! Aku menyerah! Kalah dari kau, aku tidak
malu!"
Si ketua pun heran, ia menjadi
bingung juga. Siapa si pemenang terakhir? Supu kalah dari Sangszer,
Sangszer terkalahkan Lie. Boen Sioe, tetapi Supu menang dari pemuda
Han ini? Bagaimana?
Beberapa orang menyatakan
pikirannya: "Kalau begitu, biarlah Supu dan Sangzer mengulangi
pertandingannya. Mereka itu sama-sama kalah dan sama-sama menang."
Pikiran ini dapat kesetujuan
umum .dan lantas diterima baik. Bahkan pertandingan lantas diadakan
seketika juga. Kali ini mereka itu sama-sama habis bertempur, jadi
mereka sama letihnya.
Supu dan Sangszer menerima baik
pertimbangan itu.
Pertandingan dimulai setelah
kedua pihak sudah siap sedia dan pertandaan diberikan.
Selama itu Supu mencoba
mengingat-ingat tujuh jurus ajarannya Lie Boen Sioe, ia mengingat
baik hanya tiga tipu, tetapi ini pun sudah cukup. Demikian, di saat
ia terancam bahaya, ia menggunai tipu ajaran orang Han itu,
karenanya, saban» saban ia menang di saat terakhir. Sangszer
kewalahan, akhirnya dia menyerah kalah.
"Sesudah bergulat dua hari,
Supu memperoleh kemenangan terakhir!" berkata si ketua dengan
keputusannya. "Itulah bukti yang Allah telah mengampuni Supu, maka
dapatlah dia menikah- sama Aman"
Muka Aman merah tetapi hatinya
girang tidak terkira-kirakan.
Orang banyak pun bergirang.
Itulah perjodohan yang hebat
Supu hendak memberi hormat
kepada Boen Sioe, untuk menghaturkan terima kasih, tidak tahunya,
ketika ia mencari pemuda itu, si pemuda sudah naik atas kuda
putihnya dan pergi dengan diam-diam hingga dia tidak dapat disusul
lagi!
Malam itu, dengan mengitari
unggun, bangsa Kazakh membuat pesta.
Sangszer kalah tetapi dia
terbukti gagah, ada empat nona manis lainnya yang mengerumuni, yang
menghibur dan menyanyi untuknya. Mulanya ia berduka. Lama-lama ia
terhibur juga. Akhirnya ia bingung, siapa yang ia mesti pilih di
antara empat nona-nona itu. Mereka itu, kecuali cantik,
masing-masing mempunyai kelebihannya sendiri, umpama yang satu halus
budi pekertinya, yang lain' merdu nyanyiannya, yang lain lagi lemah
gemulai tariannya...
"Apakah baik aku memilih yang
lainnya saja?" demikian ia pikir. Lalu, dia pun mengingat, yang
kitab sucinya mengizinkan ia menikah empat isteri...
Tengah pesta berlangsung itu.
sekonyong-konyong ada terdengar tiga kail suara jeritan mengerikan
seperti suara burung malam, datangnya dari arah barat. Semua orang
terkejut, semua mata memandang ke barat itu.
Suara yang membangunkan bulu
roma itu keluarnya dari satu orang yang luar biasa. Dia datang
menyusuli suara anehnya itu, datangnya sambil berlari-lari keras,
tubuhnya nampaknya putih. Lantas dia berhenti di jarak empat tombak
dari orang banyak. Sekarang terlihat tegas dia mengenakan jubah
putih yang berlepotan darah, seperti mukanya berdarah juga. Dia
lebih tinggi dua kaki dari orang yang kebanyakan. Ketika
dia mengangkat dan mengulur kedua tangannya, terlihat sepuluh
jarinya panjang sekali dan sepuluh jari itu pun berdarah.
Semua orang mejengak, hati
mereka berdebaran.
Hanya sebentar, manusia luar
biasa itu lantas mengasih dengar suaranya yang tajam "Siapa sudah
curi mustika dari istanaku? Lekas bayar pulang! Kalau tidak, satu
demi satu, aku akan membuatnya mati tak wajar! Sudah seribu tahun
aku tinggal di dalam istanaku itu, siapa juga tidak berani
memasukinya, tetapi kamu, kamu besar sekali nyali kamal"
Habis berkata, dengan perlahan
dia memutar tubuhnya,
dia menunjuk -kepada seekor kuda terpisah tiga tombak
jauhnya, dia berkata: "Mampuslah kau!" Setelah itu mendadak dia
memutar tubuhnya dan lari, sekejap saja, tubuhnya lenyap.
Semua -orang kaget dan tercengang.
Manusia aneh itu muncul dan leayap secara
mendadak dan kelakuannya juga aneh. Lantas menyusul lain keanehan.
Ialah kuda yang dia tunjuk itu mendadak roboh dan mati, ketika orang
merumuninya, binatang itu tidak terluka, tidak keluar darah dari
mulut dan hidungnya, agaknya mati wajar.
"Hantu.. Hantu!" kate banyak
orang.
"Telah aku kata di Gobi ada
setannya!"
"Sudah seribu tahun istana tua
itu tidak didatangi manusia, pasti ada memedi yang menjaganya!"
"Katanya hantu tidak ada
kakinya, mari kita lihat, dia ini ada tapaknya atau tidak..."
Beberapa orang membesarkan
hati, dengan membawa obor mereka maju. Tidak tampak tapak kaki, ada
juga liang kecil setiap jarak lima kaki. Tapak kaki manusia tidak
sekecil itu. Juga jarak tepak kaki tidak dapat serenggang itu.
Sampai di situ, orang menduga
iblis penunggu istana main gila, maka ada yang berkata: "Semua yang
memasuki istana, dia akan celaka... Lihatlah Suruke dan Cherku!
Bukankah mereka terbinasa di. sana? Tentu si hantu membikin Cherku
kalap, Cherku disuruh, membinasakan Suruke, kemudian Supu dibikin
tak sadar dan diperintahkan membunuh Cherku..."
"Ya, lihat itu kawanan penjahat
Han, sudah sepuluh tabun mereka mengganas di gurun pasir, Orang
kewalahan karenanya, tetapi sekali mereka memasuki istana rahasia
itu, beginilah kesudahannya..."
"Dan orang bangsa kita,
bukankah telah banyak yang mati di dalam istana itu?" kata lagi
suara lainnya.
Di
akhirnya ada yang
memperingatkan suatu dongeng tua, begini: Seorang secara mendadak
mendapati harta karun di padaag pasir, harta itu diangkut pulang,
hanya aneh, unta yang menjadi binatang tunggangannya tidak dapat
pulang, cuma mondar-mandir di situ-situ juga. Katenya, si penunggu
tidak membiarkan orang mencuri harta itu, kaki unta "dipegangi".
Setelah harta itu dikembalikan, baru orang itu dapat pulang. Inilah
dongeng yang setiap orang Kazakh mengetahuinya.
Maka akhirnya seorang
mengusulkan kepada ketuanya: "Baiklah semua harta itu dikembalikan,
supaya mereka terhindar dari mara bahaya. Tapi orang berat ' .untuk
mengembalikannya, mereka bersangsi.
Malam itu tidak ada
kepatutannya.
Segera datang malam yang kedua.
Kembali orang berkumpul di tegalan itu. Semua berkuatir "hantu" tadi
malam nanti datang pula. Maka itu mereka lebih suka berkumpul
bersama, hati mereka menjadi terlebih tenang. Karena tidak ada orang
suka berdiam sendirian di tenda mereka, jumlah mereka menjadi jauh
terlebih besar.
Mulai tengah malam, dari arah
barat daya terdengar suara jeritan seperti malam pertama. Datangnya
juga dari jurusan yang sama. Semua orang menjadi kaget, bulu roma
mereka lantas pada bangun. Mereka tidak usah menanti lama akan
melihat munculnya si "hantu" yang kemarin itu, yang bajunya putih
dan berdarah. Dia datang bagaikan terbang, lantas dia terdiri di
muka orang banyak. Dia pun segera mengasih dengar suaranya seperti
kemarinnya: "Siapa sudah mencuri mustika dari istanaku? Lekas bayar
pulang! Kalau tidak, satu demi
satu, akan aku
membuatnya mati tak wajar! Sudah seribu tahun aku tinggal di dalam
istanaku itu, siapa juga tidak dapat memasukinya, tetapi kamu, kamu
besar sekali nyali kamu!"
Sehabis berkata, si hantu
memutar tubuhnya. Dengan perlahan ia mengangkat tangannya, untuk
menunjuk satu pemuda, yang terpisah jauh juga darinya. Lantas ia
kata nyaring: "Kau matilah!" Kata-kata itu disusul sama gerakan
tubuhnya, yang diputar balik, terus dia berjalan pergi, maka di lain
derik lenyaplah dia dari pandangan mata semua orang!
Menyusul itu terjadi hal aneh
dan hebat atas diri si anak muda yang ditunjuk tadi. Dengan
sendirinya pemuda itu menjadi lesu, sepatah kata juga dia tidak
mengeluarkannya, lantas dia berubah kulit mukanya menjadi hitam, dan
dia mati! Kecuali itu, tidak ada tanda lainnya lagi. Dia tidak
terluka.
Tidak cukup kemarin malam
membunuh seekor kuda, kali ini hantu itu membinasakan seorang muda
segar bugar. Ialah salah satu anak muda yang pernah turut memasuki
istana rahasia.
Orang semua menjadi takut dan
bingung, semua terbenam dalam kekuatiran.
Benar selewatnya tidak ada bahaya lagi, akan tetapi di lain
malamnya-malam ketiga tidak
ada seorang jua yang berani
muncul di tegalan, semua menyekap diri-di dalam tenda, yang ditutup
rapat-rapat Malam itu jadi sangat sunyi senyap.
Malam tenang-tenang saja sampai
tiba jam haysie, seperti kemarin-kemarinnya. Dengan
tiba-tiba terdengar pula jeritan yang menakuti itu, disusul sama
kata-kata yang serupa, disusul sama seman terakhir: "Kau matilah!"
Habis ancaman itu kembali malam
rnembuat.sunyi, hanya tidak lama, ketenangan terganggu tangisan
sedih yang keluar .dari sebuah tenda. Itulah bukti bahwa si hantu
telah datangi tenda itu, menyingkap tendanya dan membunuh mati
seorang mudai
Orang menjadi takut, tetapi
mereka tidak berdaya. Juga di waktu siang, ketakutan mereka tetap
tidak berubah. Mereka lantas berdoa, memuji kepada nabi mereka
memohon perlindungan. Lain jalan tidak ada.
Sia-sia belaka doa mereka, di
malam keempat, kembali seorang muda binasa secara serupa. Maka itu,
ketika tiba kurban yang ke empat, si ketua menjadi putus asa,
terpaksa ia mengajak semua orang bangsanya mengangkut pulang harta
karun ke istana rahasia, tidak ada orang yang berani menyembunyikan
sekalipun sepotong kecil emas atau perak. Sepulangnya barulah hati
mereka lega sedikit. Mereka mau percaya si hantu tidak bakal datang
pula untuk mengganggu. Akan tetapi, peristiwa tidak gampang-gampang
habis...
Untuk pulang dari istana
rahasia, di malam pertama, mereka mesti bermalam di tengah gurun
pasir. Malam itu si hantu muncul di antara mereka, bantu itu
berkata: "Kamu baik sekali, semua harta telah kamu kembalikan
padaku. - Aku memajikan Semak kamu makmur, kamu sendiri selamat
tidak kurang suatu apa! Hanya itu anak
perempuan, yang mengantarkan kamu ke istaa rahasia, dia hendak aku
menghukumnya!" Habis berkata begitu, dia lantas lenyap.
Aman adalah si anak perempuan yang
dimaksudkan itu, maka bukan main takutnya ia.
Dengan ia, turut berkuatir juga Supu, maka
besoknya malam- bersama empat kawannya pemuda lain, dengan
menyiapkan golok, Supu menjagai kekasihnya Itu.
Kapan sang tengah malam tiba,
si hantu putih yang berlepotan darah itu muncul pula. Supu berlima
mengitari Aman, akan tetapi belum sempat mereka berbuat apa-apa,
lantas mereka merasakan punggung mereka sesemutan dan kaku, lantas
mereka roboh tak sadarkan diri. Ketika mereka mendusin sesudah
langit menjadi terang, Aman lenyap tidak keruan paran. Mereka
menjadi kaget Si empat anak muda lantas naik kuda mereka, untuk
kabur pulang. Supu pun menunggang kuda dan kabur, hanya dia
mengambil arah kembali ke istana
rahasia*
*Wah, Supu, kau mau bikin apa?"
orang bertenak-teriak menanya.
Sambil kabur terus, Supu
menyahuti: "Aku hendak mati bersama Aman!...”
Orang; hendak mencegah tapi pemuda
itu sudah kabur jauh.
Supu hancur hatinya. Ia pergi ke
istana bukan untuk menolong kekasihnya, hanya benar-benar buat mati
bersama
Magribnya di hari keempat,
tibalah Supu di depan pintu emas dari istana rahasia. Dia
benar-benar telah menjadi nekat. Tepat di
depan pintu, dia berteriak-teriak: “Hai, hantu jahat dari istana
rahasia! Kau telah membikin mati kepada
Aman, maka kau bunuhlah aku sekaitan! Akulah
yang bersama Aman mengantarkan orang-orang bangsaku datang, kemari
untuk mengangkut harta karun! Aku Supu,
aku tidak-takut mati!"
Supu telah menunjuk
keberaniannya itu, akan tetapi sia-sia belaka ia berkaok-kaok di
muka pintu emas dari istana itu, tidak ada orang yang menyahuti
padanya, tidak ada orang yang melayani bicara. Ia penasaran, maka ia
berseru pula: "He, hantu jahat, apakah kau takut padaku? Haha!
Aku justeru tidak takuti kau, tidak takut
meski kau hantu jahat!” Ia lantas
membulang-balingkan goloknya bagaikan orang kalap.
Selagi pemuda ini masih kalap,
mendadak ia mendengar suara halus di sebelah belakangnya: "Supu, kau
lagi bikin apa?” Ia terperanjat; dengan segera ia memutar tabuhnya.
Maka ia melihat seorang wanita Han. Malam remang-remang, sinarnya si
pulen malam tidak cukup kuat untuk membikin wajah orang nampak
jelas.
"Kau mencaci kalang kabutan,
siapakah yang kau maki?" tanya pula wanita itu.
Sapu mendengar nyata suara orang.
Itulah suara yang ia kenal baik.
"Kau... kau toh tuan Lie?"
tanyanya akhirnya. "Mengapa kau... kau kembali menjadi wanita?"
Nona itu memang Lie Boen Sioe.
Dia bersenyum
"Sebenarnya kau bikin apa di
sini?" dia menanya tanpa menjawab.
"Lekas kau menyingkir!" kata
Supu, yang jnga tidak menyahuti. "Istana rahasia ini ada hantunya
yang jahat! Kalau sebentar dia keluar, dia dapat membikin celaka
padamu..."
"Kenapa kau sendiri tidak
takut?" balik tanya si nona. Supu menjadi sengit. "Setan jahat itu
telah mencelakai Aman!" sahurnya. "Aku tidak ingin hidup pula!"
Boen Soei nampak kaget .
"Bagaimana bisa ada bantu jahat di istana?” katanya-: "Kenapa din
mencelakai Aman?" .
Supu lantas memberi penjelasan
hal munculnya si hantu baju putih, yang mengganggu orang Kazakh
hingga ada yang mati dan Aman diculik, karena mana ia datang
menyusul, guna menyerahkan jiwanya juga.
Boen Sioe berdiam untuk
berpikir. Ia heran dan curiga.
"Ada tanda apa di tubuhnya
kurban-kurban jiwa itu?" ia tanya kemudian. "Benar-benarkah tidak
teriuka sama sekali?"
"Benar tidak ada tanda
apa-apa," menyahut Supu. "Hanya….." tiba-tiba ia ingat suatu apa,
"hanya kulit muka mereka menjadi hitam seperti dilabur lumpur..."
Boen Sioe berdiam, hatinya
bekerja: "Aku tidak percaya ada hantu di dalam dunia ini... Mungkin
seorang liehay tengah main sandiwara dengan menyamar menjadi iblis.
Hanya, mengapa tidak ada tapak kakinya di atas pasir? Kenapa hanya
dengan satu kali mengulur tangan dia dapat membinasakan orang?..."
"Tuan Lie," berkata Supu selagi
orang berpikir, "kau baik sekali, kau membantu aku mendapatkan Aman,
maka sayang peruntunganku tipis, sekarang Aman dibikin celaka
hantu.-Aku datang kemari untuk mengantarkan jiwa, biar si hantu -
jahat membinasakan aku sekalian. Tuan Lie,
mari kita berpisah, agar kita bertemu pula nanti di lain
penitisan..."
Boen Sioe terharu dan bingung.
Menurut penuturan Supu, "hantu” itu sangat
liehay. Rasanya tidak sanggup ia melawan
bantu itu. Ia bingung mengingat anak muda ini mengurbankan diri
untuk Aman. Itulah cinta sejati. Itu membuatnya terbaru. Ia kata di
dalam hatinya: "Kau bersedia mati untuk Aman, kenapa aku tidak
bersedia mati juga untuk kau?..."
Maka ia lantas kata: "Mari aku
temani kaul"
Supu terkejut Ia heran. Ia
lantas mementang matanya lebar-lebar, sedang hadnya berpikir "Kenapa
kau begini baik terhadap aku? Mustahilkah..." Ia tidak berani
memikir terus, hanya segera ia berkata: "Lekas kau menyingkir dari
sini! Lebih jauh lebih baiki" Tapi si nona tidak pergi. "Kau dengar
aku," ia berkata. "Itulah bukannya hantu! Aku percaya dialah
orang yang menyamarnya! Mari kita bekerja sama untuk menempur
dia!" Supu menggeleng, kepala. "Kau belum pernah melihat hantu itu!"
katanya. "Kau tidak tabu dia liehay sekali! Tuan Lie, aku sangat
berterima kasih kepada kau.
tetapi..
kau baiklah lekas pergi, lekas!"
Lie Boen Sioe tertawa, walaupun
tertawa dengan air naiki berduka. Ia menghunus pedangnya, sedang
dengan tangan yang lain ia menolak pintu istana rahasia itu.
"Kau pasang obor!" ia pun
berkata. "Mari kita menolongi Aman!”
Hati Supu tergetar mendengar
suara orang itu. Tiba-tiba ia mendapat harapan
"Apakah Aman belum mati?" dia
bertanya, matanya mendelong.
"Aku percaya belumi" menjawab
Boen Sioe.
Tiba-tiba pemuda Kazakh itu
bergembira.
"Baik" dia berseru. "Mari kita
tolong! Aman!"
Dia lantas menyulut obor,
bahkan dia mendahului masuk ke istana.
Demikian muda-mudi ini masuk ke
dalam istana. Mereka jalan berliku-liku. Sudah sekian lama, mereka
belum juga memperoleh hasil, Supu tidak takut, saban-saban ia
berteriak-teriak memanggil-manggil: "Aman! Aman! Kau di mana?" Tapi
tidak juga ia memperoleh jawaban.
"Kau teriak bahwa pasukan besar
kita datang menolongi," Boen Sioe menganjur.
"Mungkin si hantu takut dan nanti menyingkirkan dirinya..."
Supu menurut, ia berteriak-teriak
pula: "Aman! Aman! Jangan takut! Kami
datang dalam jumlah besar untuk meoolongi kau!"
Masib tidak ada jawaban, maka
mereka maju terus.
Sekonyong-konyong terdengar
jeritan di sebelah depan. Itulah jeritan wanita. Mungkin sekali
itulah Aman. Maka Supu lantas lari. Di depan sebuah kamar, ia segera
menolak daun pintu. Untuk kagetnya, ia melihat Aman di satu pojok,
tangan dan kakinya dibelenggu. Dia kaget melihat Supu, dia menjerit,
Supu juga menjerit saking terkejut, dan girangnya.
Supu lompat maju, untuk
mendekati. Dengan cepat ia meloloskan belengguan si nona.
"Mana dia si hantu jahat?"
tanya dia selagi menolongi membebaskan.
"Dia bukannya hantu, hanya
manusia," Aman menjawab. "Hanya di dalam gelap, aku tidak bisa
melihat tegas wajahnya. Dia bertangan panas. Barusan dia ada di
sini, begitu dia mendengar suara kau, lantas dia pergi menyingkir!"
Supu bernapas lega. "Orang macam bagaimana dia itu?" ia menanya.
"Kenapa dia menangkap dan menculik kau?"
"Entahlah," Aman menjawab.
"Selama di tengah jalan dia telah menutup mataku. Di dalam istana
ini, seluruh ruangan gelap sekali, dari itu belum pernah aku dapat
melihat jelas mukanya."
Supu berpaling kepada Boen
Sioe, sinar matanya menunjuki sangat bersyukur. Sebab benar katanya
si nona. Aman belum mati.,.
Boen Sioe juga memandang si anak
muda, ketika ia berkata: "Supu! Bukankah
kau bilang bukannya kau yang membunuh ayahnya Aman? Sekarang aku
percaya kau! Si pembunuh mungkinlah.ini.manusia jahat yang menyamar
menjadi hantu!”
. Supu berjingkrak. Ia seperti
telah disadarkan.
"Tidak salah! Tidak salah!"
serunya. "Mungkin dia jugalah yang membunuh ayahku! Mari kita cari
dia!”
Begitu lekas mengetahui si
hantu jahat hanya manusia belaka, keberaniannya pemuda Kazakh ini
bangkit pula. Tapi, cuma sejenak, ia lantas ingat suatu hal lainnya.
"Tuan Lie, dapatkah kita melawan
dia?” ia menanya. Ia baru ingat bahwa
penjahat itu liehay sekali.
Boen Sioe pun berpikir, ia
bersangsi, terus ia menggeleng kepala.
"Dalam sepuluh, sembilan kita
susah menang," sahutnya terus terang. "Supu, baiklah kau bersama
Aman lekas pulang, lantas kau mengajak rombongan bangsamu datang
kemari, kau pasti bakal dapat membekuk dia."
"Rasanya sulit," berkata Supu,
juga Aman. "Mereka,itu takut bantu, mana bisa mereka diajak datang
kemari?" Boen Sioe berpikir pula.
"Aku ada akal, entahlah kau,
kau berani atau tidak." katanya.
"Bilanglah, apa aku mesti
kerjakan, nanti aku kerjakan!" kata si anak muda.
Boen Sioe berduka. Ia .kata di
dalam batinya: "Kalau aku menyuruh kau jangan mencintai Aman hanya
aku, dapatkah kau mendengar kata-kataku?" Tapi ia tidak mengatakan
demikian. Dengan perlahan ia kata: "Mari kita berdua berpura-pura
bertengkar dan bertempur, kita pergi ke itu kamar di mana ayahmu dan
Cherku telah terbinasa. Mungkin si orang jahat muncul. Kalau benar,
kita serang dia secara mendadak" Supu setuju.
"Bagusi" katanya. "Mari kita
mulai!"
"Dia liehay sekali, kau mesti
waspada," Boen Sioe pesan.
Supu mengangkat kepalanya,
sikapnya gagah.
Boen Sioe lantas tertawa
dingin.
"Kau bernyali besar! lihat
golok!" dia berseru, lantas dia menyerang.
Supu kaget, dia lompat berkelit
"Tuan Lie...” serunya. Atau ia mendusta. Maka ia membalas membacok
sambil menegur. “Kau berani kurang ajar? Kau berani menyerang aku?
Lihat, aku bunuh mampus padamu” la lantas mengangkat goloknya.
Aman sudah lantas
mengerti peranannya. Ia mengangkat obor
tinggi-tinggi ia berteriak-teriak: "Jangan berkelahi!
Jangan berkelahi! Eh, kenapa tidak keruan-keruan
kamu berkelahi?"
Cegahan itu tidak diambil
mumat, keduanya lantas saling bacok. Golok
dan golok bentrok, berbunyi nyaring tidak hentinya.
Dari kamar itu mereka berkisar ke arah kamar di
mana Cherku dan Suruke terbinasa. Supu di depan, Boen Sioe di
belakang. Supu terdesak, dia lari, Boen Sioe merangsak, mengejar.
Meskipun mereka bersandiwara,
kedua muda-mudi ini kurang tenteram hatinya. Bukankah mereka lagi
bersandiwara untuk menghadapi ancaman bencana?
Tengah mereka "bertarung" itu,
mendadak terdengar suara apa-apa yang nyaring di tembok, terus
terasa menyambarnya angin dingin Hebat tiupan angin itu, obor di
tangannya Aman padam seketika.
Supu dapat menjalankan
peranannya baik sekait Ia menjerit "Aduh!" dan tubuhnya terus roboh
terguling
Di lain pihak Boen Sie terkejut.
Di dalam kamar yang gelap itu, ia merasa
ada tangan yang dingin mengenakan lengannya, tangan mana mau
merampas senjata di tangannya itu. Ia memang sudah siap sedia, maka
sambil mencoba mengelit tangannya, kaki kirinya terangkat, menendang
ke perut orang. Sebat gerakannya, tepat
tendangannya, yang mengenai sasarannya hingga terdengar Suara keras.
Tapi penyerang gelap itu keras cekalannya,
dia tidak mau melepaskan tangan orang tidak perduli dia telah
tertendang.
Boen Sioe mengayun tangan
kirinya ke muka musuh.
Musuh itu berkelit sambil
mendak, dengan tangan larinya, ia membalas menyerang.
Dengan begitu, mereka lantas
bertempur.
Supu tidak lantas bangun, ia
hanya berguling menghampirkan untuk menyambar kaki musuh itu. Tapi
ia salah memekik
"Salah" berseru Boen Sioe lekas.
"Inilah kakiku! Aman, nyalakan api!"
Justeru ia membuka suara,
pundaknya Boen Sioe kena ditinju. Ia merasakan sakit hingga ia
menjerit. Atas itu, musuh bekerja terus. Ia memegang keras lengan
kanan si nona untuk mencoba merampas golok orang.
Di dalam keadaan yang berbahaya
kembali terdengar siuran angin, tanda dari datangnya seorang lain,
lantas terdengar bentakan; "Jangan bergerak!"
Suara bentakan itu belum
berhenti, atau menyusul yang lain: "Jangan bergerak!"
Agaknya dua orang itu kaget,
sebab berbareng terdengar suara mereka: "Siapa kau?"
Inilah suara saling tanya. Tapi
mereka tidak menjawab satu pada lain sebaliknya, sebagai gantinya,
terdengar suara beradunya senjata-
Boen Sioe terkejut dan heran.
Dengan mendadak ia menghajar dada orang. Telak tinjunya ini, hanya
orang itu berdiam saja, dia tidak berkelit, dia tidak berteriak
kesakitan.
Karena orang berdiam saja dan
tangannya yang dicekal pun bebas, Boen Sioe lantas menyalakan api,
maka sekarang ia bisa melihat dengan nyata keadaan di dalam kamar
itu. Tentu sekali, ia menjadi bertambah heran.
Dua orang yang lagi berkelahi
itu ialah Kee Loodjin serta Hoa Hoei, yang satu penolongnya, yang
lain gurunya: dua-duanya orang yang ia buat pikiran, yang ia hendak
cari.
"Soehoe!" ia lantas berteriak.
"Kakek Kee! Tahan! Tahan! Semua orang sendiri!"
Teriakan itu membikin dua orang
itu heran, keduanya sama-sama lompat mundur.
Boen Sioe sendiri segera
mengawasi orang yang mau merampas goloknya, yang masih berdiri diam
saja Sebab dia kurban totokan pada jalan darahnya. Ia tidak dapat
mengenali orang, yang usianya kurang lebih empat puluh tahun,
mukanya berewokan, rambutnya awut-awutan, dan mukanya itu juga
tersilangkan tapak golok.
"Soehoe! Kakek Kee!" kemudian
si nona berkata. "Syukur kamu datang menolongi aku, jikalau tidak,
aku bisa mati di tangannya ini manusia yang menyamar menjadi hantu!"
Orang itu tidak dapat berkutik
tetapi ia bisa membuka mulutnya. Dia tertawa dingin dan berkata:
"Yang menyamar menjadi hantu bukannya aku hanya Ma Kee Tjoenl" Dan
tangannya menunjuk Mendengar disebutnya nama "Ma Kee Tjoen" itu,
dua-dua Hoa Hoei dan Kee Loodjin terperanjat, mereka seperti
merasakan tubuh mereka ditusuk jarum panas, keduanya sama-sama
berlompat mundur. Wajahnya Kee Loodjin nampak bengis tetapi
bergelisah, dan wajah Hoa Hoei gusar sekali. Kemudian Kee Loodjin
nampak menjadi kurangan bengisnya, tertukar dengan roman jeri.
Hoa Hoei mengawasi orang tua
she Kee itu, dan atas ke bawah dan sebaliknya.
Kee Loodjin bertindak mundur lebih
jauh. sinar matanya berjelalatan. Ia
agaknya berniat mencari jalan untuk lari kabur.
Sekonyong-konyong Hoa Hoei
berseru; "Kee Tjoen, diam!"
Kee Loodjin berdiam, ia
mengangkat goloknya, sikapnya mengancam. Ia mengawasi Hoa Hoei.
"Bagus, bagus!" katanya. "Kau
benar belum mati!" Suaranya perlahan.
Hoa Hoei juga mengawasi tajam
sekali, tak sekejap jua ia mengedip.
Kee Loodjin tidak mundur lagi,
ia terus menatap, rubuhnya lantas bergemetaran.
"Soehoe!" tiba-tiba ia berseru,
lalu dia menjatuhkan diri, berlutut di depan si orang she Hoa.
Lie Boen Sioe heran bukan
kepalang.
"Kenapa Kee Yaya pun memanggil
guru kepada guruku?" ia tanya dalam hatinya. "Dia jauh terlebih tua
daripada soehoe..." Hoa Hoei tertawa dingin "Hm! kau masih ingat aku
sebagai guru?" katanya tajam. "Ketika dulu kau menggunai jarum
beracun menyerang aku, kau toh tidak ingat gurumu, bukan?"
Kee Loodjin mengangguk
berulang-ulang.
"Ya, muridmu bersalah, muridmu
bersalah" katanya. "Muridmu harus mati."
Lie Boen Sioe baru sadar. "Ah, kiranya tiga batang jarum di punggung
soehoe dilepaskan oleh Kee Loodjin/' “pikirnya.
Selagi yatim piatu, dan usianya
demikian kecil, ia dirawat si kakek itu hingga sepuluh tahun, tentu
sekali ia ingat budi kebaikan itu, maka sekarang, melihat sikap
demikian galak dari gurunya kepada si kakek penolongnya itu, ia
merasa berkasihan.
"Soehoe," ia berkata, "Kee
Loodjin telah membokong kau, perbuatannya itu sangat tidak
selayaknya, akan tetapi aku minta sukalah kau memberi ampun
kepadanya. Selama sepuluh tahun Kee Yaya telah merawat aku
baik-baik."
Hoa Hoei tertawa dingin.
"Hm, apa itu Kee Yaya?"
katanya, bengis. "Dia she Ma, namanya Kee Tjoenl Apakah kau kira dia
benar-benar bungkuk unta?" Tanpa hening lagi, ia membentak pada Kee
Loodjin: "Lekas singkirkan semua penyamaranmu"
Kee Loodjin berbangkit dengan
perlahan-lahan, terus ia membuka bajunya, hingga di punggungnya
tertampak tergemblok sebuah buntalan besar. Ia turunkan buntalan
itu. Kemudian ia menyusut mukanya dengan tangan bajunya, maka di
lain detik, tampak mukanya yang putih dan tampan, la sekarang
terlihat tegas sebagai seorang umur tiga puluh lebih, romannya
gagah.
Lie Boe Sioe sangat heran.
"Kee Yaya, kiranya.." katanya tertahan, "kiranya kau
masih begini muda?.,."
Kee Loodjin menyeringai. "Aku
bernama Ma Kee Tjoen," bilangnya. "Bukankah selama sepuluh tahun aku
telah merawati kau tanpa kecelaan?" Boen
Sioe mengangguk. "Kau memperlakukan aku baik sekali," sahutnya.
"Selanjutnya baiklah aku memanggil kau paman Ma."
Hoa Hoei mengambil buntalan
orang, yang dijadikan alat membikin punggung bungkuk, ia membuka
ikatannya dan membelarakkan, maka disitu terlihat sepotong jubah
putih yang berlepotan darah, yang dilihatnya mendatangkan rasa ngeri
"Ohl" Supu berseru sedang sedari
tadi dia berdiam saja. "Kiranya kaulah
yang menyamar menjadi si hantu jahat"
Terhadap Hoa Hoei, Ma Kee Tjoen
bersikap sangat menghormat, akan tetapi mengawasi Supu, ia beroman
sangat garang.
"Benar aku!" jawabnya, jumawa.
"Dengan menyamar sebagai si bungkuk, aku berdiam di gurun pasir
selama belasan tahun, selama itu aku sangat menderita; maka itu apa
kau kira aku suka membiarkan harta karun di dalam istana rahasia
diangkut kamu?"
Supu pun gusar.
"Dengan menggunai ilmu siluman
kau telah membinasakan tidak sedikit orang bangsaku!" katanya
bengis. "Kenapa kau juga menculik Aman?"
Kee Tjoen tetap berlaku jumawa.
"Aku mempunyai harta besar
begini, bagaimana aku bisa tidak mendapatkan isteri yang cantik
sebagai kawan?" dia balik tanya. Dia lantas berpaling kepada Hoa
Hoei, gurunya, untuk berkata terus: "Soehoe, harta di istana rahasia
ini, semua ada kepunyaanmu, aku melainkan ingin minta dibagi satu
bagian saja dalam sepuluh, jumlah itu sudah dapat memuaskan batiku.
Nanti aku membinasakan dulu ini bocah Kazakh, lantas kita berempat
mengangkut harta ini pulang ke Tionggoan..."
"Tidak..
tidak dapat kau membunuh dia!"
Boen Sioe menyelak.
Ma Kee Tjoen menghela napas.
"Baiklah," katanya. "Aku tahu kau memang menyayangi bocah Kazakh
ini. Bersama dia kau menggembala kambing dan bernyanyi, semua aku
telah melihatnya! Jikalau bukannya kau sangat menyayangi dia, aku
juga, tidak nanti menculik Aman. Baiklah, aku tidak akan membunuh
dia. Kau dapat Supu, aku mendapat Aman, dan soehoe mendapatkan harta
besar! Jadi kita bertiga telah mendapatkan masing-masing
bagiannya..."
“Kee Yaya..." berkata Boen Sioe
menghela napas: "Eh, salah, aku harus memanggil paman padamu! Paman,
suatu benda bukan kepunyaanmu, kau ingin memiliki itu untuk
selama-lamanya, itulah tak dapat.."
Selagi orang berbicara, Supu
mengawasi si nona..la pun lantas mengingat banyak hal... Tapi Hoa
Hoei gusar. "Anak Sioel" katanya keras, "orang ini berdosa besar,
apakah kau masih mau meminta keampunan
baginya? Kau tahu, semua kepandaiannya akulah yang mengajari, aku
mengajak dia datang ke gurun pasir ini mencari istana rahasia,
justeru kita mulai mendapat endusan, dia lantas timbul
keserakahannya terhadap harta karun, dia menurunkan tangan jahat
membokong aku dengan tiga batang jarum beracun, maka selama beberapa
tahun, entah berapa hebat penderitaanku, coba aku tidak ditolong
kau, tidak nanti aku hidup sampai sekarang ini." Boen Sioe memandang
Ma Kee Tjoen.
"Paman, inilah salahmu!"
katanya.
"Nona Lie," kata Supu
tiba-tiba, "dia pandai menggunai ilmu siluman, awasi"
"Dia bukan menggunai ilmu
siluman," si nona bilang. "Dia hanya menggunai senjata rahasia yang
berupa jarum berbisa yang halus, yang mengenai tenggorokan, maka
kurban-kurbannya tidak memperlihatkan tanda luka apa-apa. Bahwa dia
menjadi bertubuh tinggi, itu juga disebabkan kakinya ditambah sama
jejangkungan dan jubahnya panjang dan gerombongan hingga kaki
palsunya itu tak nampak"
Supu mengangguk. "Kau benar
juga," bilangnya.
"Kau telah membokong aku dengan
jarum," berkata Hoa Hoei, dingin, kepada muridnya itu, "meski kau
tahu bahwa aku tidak bakal hidup lama, kau tetap jeri kepadaku, kau
takut aku mencarimu, dari itu kau menyamar menjadi si
bungkuk. Hm! Coba habis berbuat jahat itu kau menyesal, lantas kau
pulang ke Tionggoan, pasti aku tidak bakal dapat mencarimu, tetapi
kau berat meninggalkan harta karun di sini! Coba kau tidak datang
kemari, habis perkara, tetapi kau loba, tamak hatimu, maka itu, mana
bisa kau lolos dari pengawasanku? Haha! Kau dapat menakut-nakuti
bangsa Kazakh kau membuatnya mereka itu mengantar pulang harta karun
ini, akalmu itu .bagus sekali! Kau telah membinasakan Tan Tat Hian,
juga tindakanmu itu baik! Hanya sayang kau tidak mengetahui, selama
itu, gurumu senantiasa mengutil di belakangmu tanpa kau mengetahui!”
Ma Kee Tjoen tunduk, ia masgul
sekali, ia menutup mulut
Ketika itu Supu mendadak
berlompat maju, goloknya ia cekal keras.
"Kenapa kau membunuh ayahku?"
ia tanya, bengis. "Kenapa kau membinasakan Cherku?”
Belum lagi Ma Kee Tjoen
menjawab, maka orang yang ditotok hingga tidak berdaya itu tertawa
berkakak dan berseru: "Akulah yang membunuh! Akulah yang membunuh!
Haha! Haha!"
"Kau siapa?" tanya Supu. "Kau
siapa?" Boen Sioe pun menanya, berbareng.
"Akulah si edan!" menjawab
orang itu. "Orang membunuh guruku, maka aku
membunuh orang! Eh, Hoa Hoei, bukankah
guruku terbinasakan kau?"
"Benar!" menjawab Hoa Hoei,
dingin. "Kau jadinya bukan edan!"
Mendadak tangan kanannya
terayun, tiga batang jarumnya menyamber.
Orang yang mengaku edan itu
lagi tertawa, sekejap juga, terhentilah tertawanya itu, jiwanya
terbang melayang. Karena ia tertawa, wajahnya terus masih tertawa...
' "
Boen Sioe kaget dan heran.
Ia tidak menyangka gurunya bertindak demikian
bengis.
"Dia... dia siapakah?" ia
tanya. Hoa Hoei agaknya berpikir, ia tidak lantas dapat menjawab.
Tapi Ma Kee Tjoen mendadak
campur bicara.
"Si edan ini muridnya The Kioe
In!" katanya.
Hoa Hoei mengangguk "Benar,
dialah murid The Kioe In," ia bilang. Ia mengawasi kurbannya itu,
yang wajahnya tetap tertawa, lantas ia membayangkan wajahnya The
Kioe In yang disebutkan muridnya itu. "Ketika itu jago tua she The
merayakan hari ulang tahunnya, banyak tetamunya yang hadir, aku
ialah satu di antaranya. Tengah
pesta berlangsung, si edan ini muncul secara tiba-tiba dan dia
membawa banyak sekali batu permata dengan apa dia menghadiahkan
gurunya itu. Dia mengatakan tidak jelas, dia cuma menyebut-nyebut
Istana Rahasia Kobu... Malam itu juga aku menyatroni kamar tidur The
Kioe In. Aku ingin mencari tahu tentang istana rahasia itu. The Kioe
In mendusin, dia mempergoki aku, sambil tertawa dingin, dia kata
padaku: “Tok tjie Tjin Thianlam, kau juga mengarah harta karun? Aku
menganggap turun tangan terlebih dulu paling baik, maka tanpa
membilang suatu apa, aku serang ia dengan jarum rahasiaku. Lantas
aku mengatur akal, ialah goloknya si edan ini aku tancap di dada The
Kioe In, sedang si edan aku culik Aku mau membikin orang percaya si
edan membunuh gurunya. Aku menculik si edan, aku membawanya ke
tempat yang sunyi. Di sana aku mengorek keterangan dari mulutnya.
Aku mesti menggunai segala macam akal. Sampai tiga bulan barulah aku
berhasil. Si edan membilang! aku bahwa ia mendapat peta istana.
rahasia secara kebetulan saja, karena ketarik hatinya, dia berangkat
ke wilayah Hweekiang ini. Dia berhasil mendapatkan istana rahasia
berikut harta karunnya yang berjumlah besar luar biasa. Lantas dia
mengingat gurunya, maka dia berniat pulang dengan membawa
oleh-olehnya itu. Meski begitu, dia terganggu rahasianya istana ini,
dia tidak bisa keluar, dia terputar-putar, kelaparan dan berdahaga.
Selanjurnya dia tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya dia dapat
keluar dan pulang ke Tionggoan. Setelah memperoleh keterangannya
itu, aku bawa dia datang kemari. Aku pun mengajak Ma Kee Tjoen
bersama. Di luar sangkaan ku, pada suatu malam, Ma Kee Tjoen
membokong aku hingga aku terluka parah. Hanya ketika itu, sambil
mengerahkan tenaga dalamku, untuk
mempertahankan diri, aku dapat bersikap seperti tak terluka. Kee
Tjoen ketakutan, dia kabur. Justeru itu si
edan juga kabur dengan membawa peta istana itu.
Ah, aku tidak sangka murid yang aku paling
percaya, yang aku pandang sebagai anak sendiri, telah mendurhaka
terhadapku... Tidak lama kemudian maka di dalam kalangan kangouw
tersiarlah berita halnya aku membokong The Kioe In. Mungkin si edan
yang telah membuka rahasia itu. Kemudian lagi, setahu bagaimana
duduknya, peta itu telah terjatuh ke dalam tangannya Pekma Lie
Sam... Karena aku terluka parah dan aku takut keluarga dan
murid-muridnya The Kioe In nanti mencari aku untuk menuntut balas,
aku tidak berani pulang ke Tionggoan. Pula, aku pun tidak berhasil
mencari pula jalanan ke istana rahasia ini... Selanjutnya aku mesti
tersiksa karena luka di punggungku, sampai itu hari aku bertemu kau,
Boen Sioe, dan kau menolong aku mengeluarkan jarum itu... Aku tidak
menduga, selang banyak bulan, aku mendapatkan orang-orang Kazakh
mengangkut harta karun dari istana ini Lalu, aku pun menyaksikan
sepak terjang si orang tua bungkuk unta... Haha! Aku telah melihat
dia mencelakai orang dengan jarum rahasianya, maka aku lantas ingat
dia siapa. Jikalau tidak, tidak nanti aku mendapat tahu bahwa dialah
Ma Kee Tjoen, murid yang aku sayang."
Sembari mengatakan yang paling
belakang ini, Hoa Hoei memandang tajam-tajam muridnya itu, kemudian
ia memandang si edan, mayat yang tertawa. Katanya di dalam haunya:
"Kau sudah mati, perlu apa kau tertawa terus?" Habis itu, ia
melanjuti pula keterangannya: "Aku tidak tahu kapan kumatnya si edan
ini dan bahwa dia telah bersembunyi di dalam ini istana. Mungkin dia
hendak mencari balas untuk gurunya sebab dia membenci aku, yang
memfitnah padanya. Begitu, dengan meneladi caraku, dia membunuh si
orang Kazakh yang bernama Suruke, begitu juga yang bernama Cherku
itu. Dengan perbuatannya itu, meniru aku, si edan ini berlaku
Jenaka... Karena harta karun ini, telah banyak jiwa yang melayang,
dan sekarang- haha!-semua adalah milikku!-Aku Tok tjie Tjin Thianlam
Hoa Hoei si Jeriji Satu Menggetarkan Langit Selatan! Tapi ini si Kee
Tjoen yang berhati serigala berjantung anjing, dia mengharap satu
bagian dari harta ini, dia benar-benar lagi bermimpi! Ha-hai Haha!
Mesti aku mengasih rasa padanya, supaya dia mati perlahan-lahan...
Haha! Haha!"
Tepat tengah tertawa itu,
tiba-tiba mata Hoa Hoei seperti kabur, di depannya itu ia seperti
melihat The Kioe In yang ia binasakan, mata Kioe In mengancam
padanya. Mendadak ia berseru-seru: "Setan! Setan! Kau toh The Kioe
In?"
Hoa Hoei bukan melihat Kioe
Soe, ia hanya melihat mukanya Kee Tjoen. Muka Kee Tjoen masih belum
bersih betul bekas penyamarannya. Matanya seperti kabur, ia menjadi
salah melihat. Ia pun sedang jeri sebab mengingat Kioe In. Maka
menjeritlah ia tanpa merasa...
"Aku bukannya The Kioe In!" Kee
Tjoen pun berkata, dingin suaranya. "The Kioe In berdiri di
belakangmu!"
Hoa Hoei kaget, segera ia
memutar tubuhnya.
"Mana? Mana?" tanyanya. Justeru
orang berbalik, Kee Tjoen membacok ke punggung gurunya itu.
Hoa Hoei menjerit keras, sambil
memutar pula, kedua tangannya melayang!
"Buk!" demikian satu suara
nyaring. Serangan itu mengenai dada si murid.
Boen Sioe kaget sekaji, hendak
ia menolong, tetapi sudah kasep.
Guru dan murid itu pun rubuh
berbareng. Ia lantas memeriksa gurunya, Guru
itu sudah lantas berhenti bernapas. Ketika ia melihat Kee Loodjin,
orang tua palsu ini masih dapat membuka matanya dan berkata dengan
sukar. "Boen Sioe, sebenarnya aku hendak menyerang dengan jarum
rahasia, sayang ada kau berdiri di dekatnya, aku kualir jarumku
nyasar melukai kau-" Boen Sioe lantas menangis.
"Paman Ma, keliru segala perbuatanmu..." katanya,
"tetapi kau baik sekali terhadap aku..."
Kee Tjoen menyeringai, lantas
kepalanya teklok. Maka pergilah arwahnya.
Boen Sioe berduka bukan main.
"Harta ini bukan kepunyaanmu,
buat apa kau memperebutinya?..." katanya perlahan.
***
Lewat beberapa hari, Supu dan
Aman telah pulang kepada bangsanya. Ia menuturkan segala apa, tetapi
ketika ia membilang di dalam Istana Rahasia Kobu tidak ada setannya,
tidak ada seorang juga yang mau percaya. Karena ini selanjutnya
harta karun itu tetap terpendam di dalam istana yang hilang itu.
***
Sementara itu di padang pasir
yang menuju ke kota Giokhoenkwan, di sana nampak seorang penunggang
kuda yang dari barat berjalan ke timur. Ialah seorang nona cantik,
yang di pinggangnya tergantung pedang. Kudanya kuda berbulu pulih,
kuda itu besar dan bagus.
"Jalanan istana rahasia
berliku-liku tetapi hati manusia melebihkan itu," demikian si nona
ngelamun. "Siapa sangka Kee Yaya yang bungkuk itu baru berusia tiga
puluh lebih? Siapa menduga, guru dan murid yang dulu bagaikan ayah
dan anak, akhirnya menjadi seperti musuh, hingga setelah menderita,
mereka sama-sama terbinasa di dalam istana rahasia? Toh Paman Ma
memperlakukan aku baik sekali... Soehoe seorang buruk, dia juga baik
sekari terhadap aku... Dan Supu demikian baik hati, sayang dia cuma
mengingat Aman satu orang-"
Si kuda putih tidak tahu apa
yang nonanya pikirkan, dia bertindak terus menuju ke wilayah
Tionggoan, untuk berjalan pulang, ia tidak gentar untuk perjalanan
yang jauh dan sukar...
TAMAT