kuda putih 01

 

Kuda Putih

(Pek Ma Siauw Sie Hong)

I

Dengan bersuara berketoprakan dalam maka dua ekor kuda telah dikaburkan di antara tanah yang berpasir kuning di gurun dari wilayah Hweekiang, hingga di belakangnya menaik mengutaklah debu tinggi sekira dua tombak. Dua ekor kuda itu kabur bagaikan berkejar-kejaran, karena yang seekor di depan, yang lainnya disebelah belakang.

Kuda yang di sebelah depan itu, yang tinggi, berbulu putih dan tinggi besar badannya. Penunggangnya adalah seorang nyonya muda di dalam tangan siapa ada terangkul seorang nona umur tujuh atau delapan tahun. Kuda yang di belakang, yang berbulu merah marong, penunggangnya adalah seorang pria yang tubuhnya jangkung kurus. Hanya di punggung kiri dia ini ada menancap sebatang anak panah, terus mengeluarkan darah, hingga darahnya itu mengalir ke kudanya, terus menetes jatuh ke pasir, terus meresap ke dalam tanah...

Tidak berani pria itu mencabut anak panah yang mencelakainya itu. Ia jeri. Ia menginsafinya, asal ia mencabutnya, pasti ia bakal roboh dari kudanya itu. Ia tidak takut mati apabila itu perlu, hanya... Siapa nanti mengurus isterinya yang cantik itu, serta anaknya yang manis, yang tengah kabur di sebelah depannya itu? Sedang di belakang mereka ada lagi mengejar musuh-musuh mereka yang telengas...

Kuda merah itu sudah lari beberapa puluh li, hampir habis tenaganya, bekas dicambuki dan didupaki, atau dijepit perutnya, dia sampai susah bernapas, badannya bermandikan keringat, mulutnya mengeluarkan busa putih. Toh dia masih dipaksa lari keras. Maka akhir-akhirnya, kaki depannya lemas dan tertekuk, menyebabkan badannya roboh ngusruk!

Si pria mempertahankan diri, ia tidak kurang suatu apa, akan tetapi kudanya itu, setelah meringkik menyayatkan satu kali, rebah tanpa berkutik lagi...

"Engko!..." ia memanggil. "Engko, kau... kau... bagaimana?"

Pria yang dipanggil engko itu mengerutkan kening dan menggelengkan kepala.

Di belakang mereka, jauhnya masih beberapa lie, terlihat debu mengepul tinggi. Itulah tanda dari rombongan si pengejar...

Nyonya muda itu memutar balik kudanya, untuk menghampirkan suaminya. Ia sekarang melihat anak panah di punggung suami itu, melihat darah hidupnya bercucuran. Sang suami hampir pingsan. Ia menjadi sangat kaget.

"Ayah!... ayah!" si anak berkata kaget. "Punggungmu ada anak panahnya..."

"Tidak apa!" berkata si pria, menyeringai, lantas tubuhnya mencelat, berlompat naik ke punggung kuda di belakang isterinya. Dia telah terluka tetapi gerakannya masih gesit dan lincah.

Sang isteri menoleh, mengawasi dengan mata menyayang.

"Engko, kau..." katanya halus. Sang engko tidak menyahuti, hanya kedua kakinya menjepit perut kuda mereka, atas mana si kuda putih berjingkrak dan lari kabur pula.

Kuda ini kuda jempolan, dia telah lari pesat berpuluh-puluh lie, dia masih terus dapat lari keras, hanya kali ini, larinya menjadi berkurang kecepatannya. Semenjak tadi dia belum dapat mengaso sedikit      juga,       sekarang penunggangnya bertambah, tidak heran apabila sangat sulit untuknya dapat mempertahankan kekuatannya terus menerus, tetapi dia tetap kabur, dia seperti mengerti yang majikannya itu tengah menghadapi ancaman mara bahaya...

Di sebelah belakang, rombongan pengejar mendatangi semakin dekat, setindak demi setindak. Sama sekali mereka itu berjumlah enam puluh tiga orang, mereka pun membekal seratus sembilan puluh ekor kuda, dengan begitu setiap ada kuda yang letih, kuda itu lantas ditukar. Benar semua kuda itu sama-sama lari tetapi tanpa penunggangnya, letihnya kurang banyak. Dari caranya mereka itu mengejar, terang sudah, mereka bertekad bulat untuk mendapatkan orang-orang yang dikejar itu, ialah si suami isteri serta anak daranya yang masih kecil itu.

Selagi mengaburkan kudanya, si pria jangkung kurus itu berpaling ke belakang. Ia mengawasi. Dengan datangnya orang semakin dekat, ia bisa melihat kepada mereka itu, makin lama makin tegas.

"Adik Hong, aku hendak mohon sesuatu dari kau!" katanya kemudian. Sebelumnya membuka mulut, ia menggigit dulu kedua giginya erat-erat. "Sudikah kau meluluskannya?..."

Si nyonya muda, sang isteri, menoleh. Ia tertawa manis.

"Selama hidup kita bersama, pernahkah sekali jua aku menampik keinginanmu?" ia balas menanya, suaranya halus.

"Bagus!" berkata suami itu. "Hong, sekarang kau bawa kabur si Sioe, anak kita ini. Biarlah dia dapat melindungi darah daging kita berdua! Biarlah dia pun dapat menyelamatkan peta Istana Rahasia Kobu!..."

Isteri itu menyahuti, suaranya bergemetar.

"Engko," katanya, "apa tidak baik peta ini kita serahkan pada mereka dan kita menyerah kalah? Dirimu... dirimu lebih penting..."

Mendadak sang suami mencium pipi kiri isterinya itu.

"Hong...," katanya, suaranya lembut, "kita berdua sudah mengalami banyak sekali bahaya, selamanya kita dapat lolos, maka mungkin kali ini kita bakal lolos juga... Kau harus ketahui, Luliang Samkiat bukan melainkan mengarah peta ini, mereka... mereka juga menghendaki parasmu yang cantik!"

"Justeru karena itu, mungkin aku dapat minta mereka..."

"Tapi!" memotong suami itu, "apakah kita menunduki kepala untuk memohon sesuatu dari lain orang? Kuda ini tidak kuat membawa kita bertiga, maka itu lekaslah kau pergi!..."

Sekonyong-konyong ia mencelat, kedua tangannya dilepaskan, tubuhnya terangkat dari punggung kuda, maka jatuhlah ia ke tanah, terdengar jeritannya: "Aduh!..."

Nyonya itu terkejut. Segera ia menahan kudanya, untuk dikasih balik, guna menghampirkan suaminya. Ia mengulurkan sebelah tangannya, dengan niatan menarik suami itu untuk naik pula atas kudanya. Tapi sang suami menolak, matanya  bersorot  gusar,   dia mengawasi bengis! Adalah biasanya, ia senantiasa menurut kepada suaminya itu, maka juga kali ini, dengan merasa sangat tertindih hatinya, ia memutar pula kudanya, untuk dikasih lari pergi, meninggalkan suami itu bercokol seorang diri di tanah pasir dengan lukanya yang parah itu...

Rombongan pengejar yang terdiri dan enam puluh tiga orang itu melihat orang jatuh dari kudanya dan  ditinggal  pergi isterinya, mereka itu bersorak-sorai, di antaranya ada yang berteriak-teriak: "Pekma Lie Sam roboh! Pekma Lie Sam roboh!" Mereka lantas terpecah menjadi dua rombongan, yang belasan menghampirkan langsung Pekma Lie Sam itu, yang empat puluh lebih mengejar terus si nyonya dan puteri ciliknya.

Laki-laki itu rebah meringkuk di atas pasir, tubuhnya tidak bergerak, seperti dia telah putus jiwanya.

Salah satu pengejar, yang memegang tombak, sudah lantas menombak pundak orang yang kanan. Mangsa itu tidak bersuara, juga tidak bergerak, dan tempo tombak dicabut, dia tetap berdiam saja.

"Dia sudah mampus!" berkata seorang, yang berewokan. Rupanya dialah si pemimpin. "Jangan takut! Geledah tubuhnya! Lekas!"

Dua orang lompat turun dari masing-masing kudanya, guna menghampiri tubuhnya Pekma Lie Sam, si Kuda Putih itu. Dengan lantas mereka membalik tubuh orang, untuk digeledah seperti dititahkan pemimpin mereka.

Sekonyong-konyong saja sebatang golok putih mengkilap berkelebat, terus dua orang itu menjerit tertahan dan roboh terguling. Itulah goloknya Pekma Lie Sam, yang meminta kurban!

Semua orang kaget sekali. Tidak satu di antaranya menyangka, Lie Sam dapat berpura-pura mati demikian sempurna, sampai dia tidak menghiraukan tombakan kepada pundaknya. Dengan sendirinya semua orang mengasih mundur kuda mereka.

Si pemimpin yang berewokan itu memutar goloknya, golok Ganleng to.

"Lie Sam, kau benar-benar tangguh!" serunya. Lantas goloknya menyambar, ke arah kepala orang.

Lie Sam menangkis. Tapi ia telah terluka, tenaganya berkurang banyak, ketika ia mundur hingga tiga tindak, ia lantas muntah darah. Justeru itu, semua musuhnya merangsak, semua menurunkan senjatanya masing-masing.

Benar-benar Lie Sam tangguh, dia gagah sekali, dia melakukan perlawanan. Masih dua orang kena dirobohkan, setelah mana, arwahnya berangkat pulang ke alam baka, tubuhnya terlukakan tidak keruan...

Si nyonya muda belum lari jauh, maka itu ia telah mendengar seman nyaring dari suaminya itu, hatinya bagaikan diiris-iris.

"Dia telah mati, buat apa aku hidup terus?" pikirnya. Ia menjadi nekat. Dari sakunya, ia menarik keluar sehelai peta yang terbuat dari kulit kambing, ia belesaki itu ke dalam saku puterinya yang masih kecil itu. Ia kata: "Anak Sioe, kau uruslah dirimu!" Habis berkata, ia menepuk kudanya, untuk membikin binatang itu lompat berjingkrak, ia sendiri membarengi mencelat dari punggung kuda. Maka juga, selagi ia jatuh turun, kudanya itu terus kabur bagaikan melesatnya anak panah. Agaknya ia puas, karena ia melegakan hatinya: "Kuda itu kuat lari tak tandingan, anak Sioe pun bertubuh enteng sekali, pastilah mereka ini tidak bakal dapat menyandak!" Lantas ia memuji: "Thian, oh Thian, tolonglah lindungi anak Sioe, semoga dia menjadi besar dan dapat menikah suami seperti suamiku yang baik ini, biarnya hidup   merantau   tetapi   kita berbahagia!"

Segera setelah memuji itu, nyonya ini merapikan rambutnya dan pakaiannya juga, terus ia memutar tubuhnya, untuk menghadap rombongan pengejarnya yang dengan cepat telah tiba di hadapannya.

Tentu sekali yang sampai terdepan ialah Luliang Samkiat, tiga jago dari Luliang.

Merekalah tiga saudara angkat. Yang tertua yaitu Sinto Tjin Kwansee Hok Goan Liong, jago Kwansee Golok Sakti. Dialah si berewokan yang bertubuh besar, yang telah membinasakan Pekma Lie Sam barusan. Yang kedua, Bweehoa Tjhio Soe Tiong Tjoen, si Tombak   Bunga   Bwee.   Dia bertubuh kurus kering. Yang ketiga, yang termuda, Tjheebong Kiam Tan Tat Hian si Pedang Ular Naga Hijau, tubuhnya kate dan kecil. Dia asal begal kuda di Shoatang, belakangan dia tinggal menetap di Shoasay, bersahabat erat dengan llok Goan Liong dan Soe Tiong Tjoen,  bersama-sama mereka mengusahakan perusahaan piauwkiok di kecamatan Thaykok, Shoasay, dengan memakai merek tjhin Wie Piauwkiok.

Ada hubungannya di antara Soe liong Tjoen dan isterinya Pekma Lie Sam itu. Nyonya Lie asalnya ialah Nona Siangkoan Hong dan dengan Tiong Tjoen pernah soe-heng dengan soemoay, kakak dan adik seperguruan. Semenjak masih kecil mereka belajar silat bersama tidak heran kalau Tiong Tjoen kemudian mencintai soemoay-nya yang cantik dan lemah-lembut itu. Mereka memang setimpal. Sampai dengan kebetulan Siangkoan Hong bertemu sama Pekma Lie Sam, keduanya lantas saling mencinta, hanya sayang, pihak orang tua tidak menyetujui perjodohan mereka itu, lantaran mana terpaksa mereka minggat. Tiong Tjoen jadi sangat berduka, ia mendapat sakit, setelah sembuh, tabiatnya menjadi berubah.

Sepuluh tahun sudah berlalu semenjak lelakon asmara mereka itu atau dengan cara kebetulan, Luliang Samkiat bertemu sama Pekma Lie Sam suami isteri serta anak daranya yang masih kecil itu di jalan Kamliang, rombongan sembilan kecamatan di propinsi Kamsiok, bahkan karena perebutan sehelai peta, kedua pihak menjadi benterok dan bertempur.

Soe Tiong Tjoen tetap tidak bisa melupai adik seperguruannya itu, karena cintanya itu yang gagal, dia terus tidak menikah, maka sekarang, justeru ada benterokan ini, dia jadi sangat membenci Lie Sam, hingga dialah jadi lawan yang paling bengis.

Dikepung enam puluh orang lebih, Lie Sam dan isterinya tidak berdaya, dari itu, mereka melawan sambil melarikan diri. Dari jalan Kamliang itu mereka dikejar terus-terusan sampai di wilayah Hweekiang ini. Anak panah di punggung Lie Sam ialah anak panah yang dilepaskan Soe Tiong Tjoen secara membokong. Akhirnya Lie Sam menemui ajalnya secara menyedihkan itu. Kapan Tiong Tjoen memandang Siangkoan Hong, hatinya tergerak, maka ia pikir: "Aku telah membinasakan suaminya, maka selanjutnya aku harus merawati dia baik-baik..."

Nyonya Lie Sam berdiri di atas pasir, pakaiannya berkibar di antara desiran angin gurun. Dia masih sama cantiknya seperti masa mudanya sepuluh tahun yang lampau, semasa mereka masih sama-sama belajar silat. Dia bersenjatakan sepasang pedang yang luar biasa, sebab yang satu bergagang emas, yang lain bergagang perak, maka juga ia dijuluki Kimgin Siauwkiam Sam Niotjoe," si Nona Pedang Emas Perak. Nyonya muda ini mengasih lihat senyuman tawar.

Mendadak Soe Tiong Tjoen mendapat harapan, dadanya dirasakan panas, mukanya merah sendirinya. Ia menancap tombaknya di samping pelananya, lantas ia lompat turun dari kudanya, guna menghampirkan si nyonya.

"Soemoay!" ia memanggil, seperti biasanya.

"Lie Sam telah mati," berkata si nyonya, tenang.

Tiong Tjoen mengangguk.

"Soemoay," katanya, "sepuluh tahun kita telah berpisah, aku... setiap hari aku memikirkan kau..."

"Benarkah itu?" si nyonya muda tertawa. "Kau tentu lagi memperdayakan orang..."

Hatinya Tiong Tjoen goncang. Siangkoan Hong tetap manis seperti pada sepuluh tahun yang telah berlalu itu, dia mirip sebagai masa gadisnya.

"Soemoay," katanya, perlahan, "kalau selanjutnya kau turut aku, aku tanggung kau tidak bakal ngalami penderitaan, tidak sedikit juga..."

Matanya Siangkoan Hong mendadak bercahaya.

"Soeko, kau baik sekali!" ujarnya. Mendadak ia mementang kedua tangannya, untuk menjatuhkan diri di dada si bekas kekasih.

Bukan main girangnya Tiong Tjoen, ia lantas membalas merangkul.

Hok Goan Liong, yang telah menyusul, tertawa saling mengawasi dengan Tan Tat Hian. Di dalam hatinya, mereka kata: "Dua puluh tahun mereka saling mencintai, baru sekarang harapan mereka terkabul, cita-cita mereka tercapai..."

Pikirannya Tiong Tjoen melayang-layang. Hidungnya telah mencium bau yang harum, yang menggiurkan hatinya. Ia sampai beragu-ragu yang Siangkoan Hong pun merangkul ia demikian erat. Hanya tengah ia kelelap itu, atau tak sadarkan diri, tiba-tiba ia merasakan sakit pada perutnya, sakit sekali, seperti tertubles sesuatu. Ia kaget hingga ia menjerit, kedua tangannya menolak tubuh si kekasih. Akan tetapi Siangkoan Hong memeluk sangat keras, tubuhnya itu tidak dapat ditolak terlepas. Karena jago Luliang mencoba berontak, keduanya terguling bersama.

Hok Goan Liong dan Tan Tat Hian kaget bukan main. Keduanya lompat turun dari kuda mereka, guna menghampirkan saudara angkatnya itu.

Yang lainnya semua tidak kurang kagetnya, mereka heran sekali.

Ketika tubuhnya Siangkoan liong diangkat untuk dipisahkan dari tubuh Soe Tiong Tjoen, kelihatan dadanya mengalirkan darah, yang disebabkan nancapnya sebuah pisau belati kecil bergagang emas, sedang pada perutnya Tiong Ijoen nancap sebuah pisau belati lain, yang bergagang perak. Maka (eranglah sekarang, karena Sam Niotjoe hendak bersetia kepada suaminya, ia mengurbankan dirinya sambil membalas sakit hati. I.i mencari mati karena pun sudah putus asa. Hebat tikaman pisau belati itu, keduanya nancap dalam sekali. Si nyonya mati seketika, si pria terlukakan hebat.

"Shatee, lekas bantui aku, supaya aku tidak menderita lebih lama," Tiong Tjoen minta pada Tat Hian.

Adik itu mengawasi Goan Liong, kakaknya, untuk mohon keputusan.

Kakak itu mengawasi adiknya yang terluka parah itu, ia mengangguk. Atas itu, dengan mengertak gigi, Tat Hian menikam uluhati kakaknya yang kedua itu, maka Tiong Ijoen meram matanya, napasnya berhenti berjalan, la mati dalam kesedihan, karena menjadi kurban soemoay-nya.

"Aku tidak sangka Kimgin Siauwkiam Sam Niotjoe begini keras hatinya," kata Goan Liong berduka.

Ketika itu salah satu tauvvbak datang melaporkan pada Goan Liong bahwa tubuhnya Lie Sam sudah diperiksa terliti tetapi peta tak kedapatan.

"Kalau begitu, tentu ada di tubuhnya," kata Goan Liong menunjuk tubuh Sam Niotjoe.

Pengggeledahan dilakukan atas tubuh si nyonya, hasilnya sia-sia belaka, peta tidak ada, yang kedapatan hanya perak hancur serta beberapa potong pakaian.

Goan Liong dan Tat Hian saling mengawasi, mereka putus asa, mereka heran. Heran sebab tidak nanti peta itu disingkirkan Lie Sam, baik dengan dipendam maupun dengan diserahkan kepada lain orang. Mereka menguntit terus hingga pasti tidak ada kesempatan suami isteri itu menyingkirkannya.

Tan Tat Hian penasaran, ia periksa pula bungkusan si nyonya. Ketika ia mendapatkan beberapa potong pakaian anak kecil, ia ingat anak orang.

"Toako, mari kita lekas kejar si bocah!" katanya berseru. Ia baru ingat anaknya Lie Sam.

Hok Goan Liong pun mendusin. "Jangan bingung," katanya. "Di gurun ini ke mana bocah itu bisa pergi? Dua orang berdiam di sini, untuk mengurus jenazah Soe Djieya, yang lainnya semua turut aku."

Ia lantas melarikan kudanya, diikuti orang-orangnya kecuali yang dua itu.

Si nona telah dibawa lari kabur si kuda putih, jauhnya sudah dua puluh lie lebih.

Di gurun pasir tidak ada pepohonan, orang bisa memandang jauh sekali, maka itu, sembari mengejar, Goan Liong semua memandang jauh ke depan. Mereka mengaburkan kuda mereka. Mendekati magrib, mendadak Tan Tat Hian berseru: "Lihat! Itulah dia di depan!"

Jauh    di    tempat    seperti bertemunya langit dan bumi, di sana ada sebuah titik. Itulah si kuda putih, yang dari jauh-jauh toh nampaknya hitam. Kuda itu letih sekali meskipun dia dapat lari keras dan sekarang penunggangnya seorang bocah yang tubuhnya enteng. Di lain pihak, Goan Liong semua terus main tukar kuda.

Bocah itu-ialah Lie Boen

Sioe-duduk mendekam di atas

kudanya, la pun sangat lelah, hingga tanpa merasa, ia kepulasan di atas kudanya itu. Pula itu antero hari ia tidak dahar dan minum, sedang matahari panas terik, dari itu mulut dan lidahnya kering semua.

Kuda putih itu seperti dapat perasaan, dia kabur ke arah timur di mana matahari yang bersinar merah marong menggenclang. Tiba di suatu tempat, mendadak dia mengangkat kedua kaki depannya, mulutnya meringkik keras, hidungnya pun mengendus-endus. Dia membaui sesuatu. Suara meringkiknya itu seperti menunjuk dia mengetahui apa-apa.

Hok Goan Liong dan Tan Tat Hian yang tenaga dalamnya liehay pun merasakan sesuatu, yaitu napas mereka rasanya sesak.

"Shatee, rasanya tak beres ini!" kata kakak itu.

Sebelum menyahuti, Tat Hian melihat ke sekitarnya. Di barat daya, di antara sinar layung Batara Surya, nampak mega kuning bergelempang bagaikan kabut, di antara itu ada sinar ungu yang berkilauan. Pemandangan itu luar biasa sekali.

"Mari, toako, kita melihat ke sana!" katanya seraya ia melarikan kudanya.

Tidak antara lama, mega kuning itu telah meluas seperti sudah menutupi separuh langit.

Ketika itu pun orang telah bermandikan keringat dan napas mereka mendesak.

"Toako, mungkin badai bakal datang...," akhirnya kata Tat Hian.

"Benar!" Goan Liong insaf. "Mari lekas, kita bekuk dulu bocah itu, baru kita mencari perlindungan!..."

Belum berhenti suara si berewokan ini, angin telah meniup keras, pasir, terbang berhamburan, menyampok muka mereka, sampai mereka tidak dapat membuka mulut. Lebih celaka ketika tujuh atau delapan orang roboh dari atas kudanya tertiup angin itu.

"Semua turun dari kuda, berkumpul menjadi satu!" Goan Liong paksakan berbicara.

Dengan serentak orang bekerja. Kuda mereka ditarik, dikumpulkan menjadi satu dipaksa rebah, mereka sendiri turut rebah juga, mcnyelindung di perut kuda. Sebisa-bisa mereka saling berpegangan tangan. Mereka merasakan   sakit  pada  muka mereka, yang tersampok pasir, muka itu baret juga lengan mereka. Semua ketakutan. Sebab angin makin besar, tubuh mereka teruruk pasir...

Goan Liong dan Tat Hian pun berkuatir, hingga mereka pikir: "Tidak keruan-keruan kita mencari Istana Rahasia Kobu, dari Shoasay kita sampai di gurun ini... Mungkin di sini kita terpendam di dalam pasir..."

Hebat suara badai itu, seperti itu suaranya kawanan hantu...

 

II

 

Dari magrib itu, badai bekerja terus Seantero malam, besoknya pagi baru reda. Kembali sang gurun menjadi tenang.

Goan Liong beramai merangkak bangun. Syukur mereka tidak menampak kerugian besar. Dua orangnya mati disebabkan napas sesak dan lima ekor kuda menjadi bangkai. Tinggal semua letih dan lemas.   Dengan mengimbangi penderitaan mereka, mereka menduga si bocah dan kuda putihnya tentulah, dalam sepuluh, sembilan bagian telah mati menjadi kurban badai itu. Bukankah mereka semua bertubuh tangguh tetapi mereka hampir tak kuat bertahan?

Mereka lantas menyalakan api untuk memasak nasi, guna menangsel perut.

Mereka tidak putus asa. Hok Goan Liong telah menyerukan: "Siapa yang mendapatkan bekas-bekasnya si bocah dan kuda putihnya, dia bakal dapat upah uang emas lima puluh tail!"

Inilah hadiah besar, janji itu disambut dengan tempik sorak. Bagaikan payung yang dibuka lebar, lima puluh lebih orang itu lantas pergi berpencaran, untuk mencari di sekitar gurun itu. Di setiap otak mereka terbentang: "Kuda putih... bocah wanita... lima puluh tail emas..."

Lebih dulu daripada itu mereka telah berjanji, di waktu magrib mereka harus berkumpul di barat enam puluh lie dari tempat bermalam ini.

Liangtauw Tjoa Tang Yong, si Ular Kepala Dua, dengan seekor kuda pilihan, menuju ke barat daya Ialah piauwsoe yang telah berpengalaman belasan tahun, meski dalam ilmu silat ia bukan tergolong kelas satu, ia cerdik sekali, untuk Luliang Samkiat, ialah pembantu yang berharga. Sebentar saja ia telah pergi dua puluh lie lebih, hingga ia mencil sendirian. Setelah itu baru ia merasa jeri juga. Sunyi di sekitarnya. Ia mendaki sebuah bukit pasir, untuk melihat kelilingan. Maka ia girang sekali kapan matanya melihat ke ujung barat daya itu, di sana nampak cahaya hijau dari tujuh atau delapan buah pohon kayu. Heran ia di gurun pasir ada tumbuh-tumbuhan.

"Mungkin di situ tidak ada rumah orang, dengan ada pepohonan, di situ tentu ada air," ia berpikir. "Itulah tempat bagus untuk rombonganku beristirahat."

Maka ia naik pula kudanya, ia kabur ke ujung barat daya itu.

Itulah seperjalanan sepuluh lie lebih. Dari jauh-jauh telah terlihat banyak kerbau dan kambing di daerah pegunungan yang tumbuh pepohonan dan rumput itu. Bahkan di baratnya terdapat banyak sekali tenda gurun, mungkin dua sampai tiga ribu buah. Ia menjadi heran, ia terkejut. Yang ia pernah lihat, paling banyak gundukan tenda dari tiga atau empat puluh buah. Dan ini ribuan. Inilah gundukan suku bangsa gurun pasir paling besar yang ia pernah ketemukan. Dilihat dari macamnya tenda, itu pasti kepunyaan suku Kazakh.

Untuk wilayah Hweekiang, suku Kazakh adalah suku paling gagah. Anak-anaknya, lelaki atau perempuan, semenjak umur enam atau tujuh tahun, sudah belajar menunggang kuda, sesuatunya membawa golok, pandai main panah, alat-alat untuk membela diri dan menyerang. Di antara mereka ada tersebar peribahasa: "Satu orang Kazakh dapat melawan seratus orang. Seratus orang Kazakh dapat malang melintang di Hweekiang."

Tang Yong ketahui peribahasa itu, maka ia kata di dalam hatinya: "Aku berada di wilayah orang Kazakh ini, aku harus berlaku hati-hati."

Di timur laut, di kakinya sebuah bukit, ada sebuah rumah mencil sendirian, yang terbuat tembok tanah dan mirip sama rumah-rumah di Tionggoan. Itulah beda sekali dari tenda-tenda orang Kazakh.

"Baiklah aku pergi ke sana, untuk melihat," pikir Liangtauw Tjoa. Ia menduga-duga apa mungkin itu rumahnya orang Hai. Ia mengeprak kudanya, untuk dikasih lari ke arah rumah itu. Tapi kudanya melihat rumput di sepanjang jalan, dia repot gegares, jalannya menjadi perlahan. Ia menjadi sengit, ia mendupak. Dengan begitu barulah kuda itu lari ke arah rumah kecil itu.

Dengan matanya yang tajam, Tang Yong dapat melihat seekor kuda putih tertambat di belakang rumah, kuda mana tinggi dan besar dan surinya panjang. Ia segera mengenali kudanya Pekma Lie Sam. Tanpa dapat mengendalikan diri, ia berseru sendirinya: "Kuda putih! Kuda putih di sini!" Lantas ia mendapat akal. Maka ia lompat turun dari kudanya. Dari kaos kakinya, ia mencabut goloknya yang  pendek  dan   tajam,   ia sembunyikan itu di tangan kirinya, tergubat ujung bajunya. Setelah itu dengan berindap-indap, ia pergi ke belakang rumah itu. la tengah mengintai di jendela ketika mendadak kuda putih itu meringkik, sebagai juga tanda peringatan kepada tuan rumah bahwa ada orang datang...

"Binatang!" Tang Yong mencaci di dalam hatinya. Ia menciutkan diri sebentar ia mengintai pula. Justeru itu ada kepala orang nongol di jendela, hingga hidung mereka hampir beradu. Ia terkejut. Ia menampak sebuah muka yang keriputan, yang matanya bercahaya tajam. Ia lantas lompat bangun. "Siapa?" ia menegur. "Kau siapa?" balik tanya orang itu, suaranya dingin. "Apa perlunya kau datang kemari?"

Orang itu bicara dalam bahasa Tionghoa.

Untuk sejenak, Tang Yong terdiam. Selekasnya ia dapat menenangkan diri, ia lantas bersenyum.

"Aku Tang Yong," sahutnya. "Dengan kebetulan saja aku tiba di sini dan mengganggu lootiang. Bolehkah aku mendapat ketahui lootiang she dan nama apa?" "Aku she Kee," menyahut orang

itu.

"Oh, Kee Lootiang," kata Tang Yong pula. la tertawa. "Aku girang sekali dapat bertemu orang bangsa sendiri di sini. Kalau sudi, aku mohon seceglukan teh."

"Kau ada bersama siapa-siapa lagi?" si orang tua tanya.

"Aku bersendirian saja."

"Apakah tuan dari perusahaan piauwkiok?" si orang tua menanya pula.

Tang Yong terkejut. "Tajam matanya orang tua ini," pikirnya. "Di jidatku toh tidak ada mereknya piauwkiok-ku..." Ia memikir untuk mendusta tetapi sebab si orang tua telah mengatakannya, ia membatalkan itu. Ia menjawab: "Benar. Bagaimana lootiang

mengetahuinya?"

"Kebanyakan piauwsoe bermacam bangsat," kata si orang tua tawar, sedang matanya yang bersinar dingin menyapu beberapa kali ke muka orang.

Mukanya Tang Yong menjadi merah, tetapi ia berpikir: "Biarlah, akan aku cari tahu dulu tentang dia..." Karena itu, ia hanya menyeringai.

"Kalau mau minum, ambillah jalan pintu depan, jangan merayap di jendela!" berkata pula si empee.

"Ya, ya," sahut si piauwsoe, yang terpaksa merendahkan diri. Ia jalan mutar ke depan, untuk terus masuk ke dalam, hingga ia melihat perlengkapan miskin dari rumah itu, hanya semua ada bersih. Setelah duduk, ia mengawasi ke sekitarnya.

Tidak lama muncul seorang nona kecil, yang membawa secangkir teh. Ketika sinar mata mereka benterok, nona itu kaget, cawannya terlepas, jatuh ke tanah hingga pecah hancur!

Bocah itu pun berdiri melongo. Tang Yong lantas mengasih lihat senyumannya. Ia girang bukan main. Inilah bocah yang dicari mereka, untuk siapa Hok Goan Liong menjanjikan upah lima puluh tail uang emas. Dengan melihat kuda putih tadi. ia sudah menduga-duga, sekarang dugaannya itu merupakan kenyataan.

Lie Boen Sioe telah dibawa kabur kudanya, hingga dia tak ingat suatu apa. Kuda putih dapat membaui bau rumput dan air, dia kabur menerjang badai, sampai di tempat yang banyak

pepohonannya ini. Segera dia bertemu sama orang tua she Kee itu, yang menolonginya.

Tengah malam Boen Sioe sadar, ia tidak melihat ayah dan ibunya, lantas ia menangis, hingga Kee Loodjin membujukinya. Orang tua itu lantas merasa suka, ia mengasihaninya.

Di dalam usianya itu, Boen Sioe belum mengerti banyak. Ditanya ayahnya, ia menyebut Pekma Lie Sam. Ditanya tentang ibunya, ia cuma dapat menyebut "ibu", atau "Sam Niotjoe", seperti disebut berulang-ulang oleh "orang jahat" yang mengejar mereka. Tentu sekali, ia pun tidak tahu apa perlunya mereka bertiga datang ke wilayah Hweckiang ini.

"Pekma Lie Sam, Pekma Lie Sam..." Kee Loodjin menyebut berulang-ulang. "Ya, aku ingat dia... Pada sepuluh tahun yang lampau, dialah bandit haguna yang malang melintang di Kanglam. Kenapa dia datang kemari?"

Orang tua ini mengasih si nona minum susu, ia membujukinya hingga nona itu tidur pulas di pembaringannya. Ia sendiri, sebaliknya, menjadi tidak dapat tidur, la memikiri segala kejadian pada sepuluh tahun yang lampau itu.

Besoknya pagi, Boen Sioe mendusin dari tidurnya. Segera ia minta si orang tua mengajak ia pergi mencari ayah dan ibunya. Tepat selagi Kee Loodjin membujuki, dia mempergoki lagak bangsat dari Liangtauw Tjoa Tang Yong si Ular Kepala Dua itu.

Dengan jatuh pecahnya cangkir, Kee Loodjin muncul dengan segera. Melihat orang tua itu, Boen Sioe lari untuk menubruk sambil berkata: "Yaya, yaya, dialah si orang jahat yang mengejar-ngejar aku!..."

Orang tua itu mengusap-usap rambut si anak, sikapnya lembut.

"Jangan takut, jangan takut," membujuknya. "Dia bukan orang jahat..."

"Benar, dia si jahat!" kata nona itu. "Dia bersama puluhan orang lain mengejar ayah dan ibu, mereka menyerangnya..."

Kee Loodjin sementara itu berpikir: "Yang satu bandit haguna, yang lainnya piauwsoe, tentulah karena urusan piauw, mereka benterok, mereka menyusul sampai di sini... Tidak dapat aku mencampuri urusan mereka itu."

Tang Yong mengawasi si orang tua, yang rambutnya ubanan, tubuhnya bongkok melengkung, tubuh itu besar melebihkan ia. Ia pikir: "Orang tua ini, kalau dia belum berumur seratus tahun, sembilan puluh tentunya ada.   Di sini tidak ada lain orang, kalau aku hajar dia pingsan, dapat aku bawah kabur  bocah  ini  serta  kuda putihnya. Aku mesti bekerja cepat, supaya tak menanti terjadinya perubahan..."

"Apakah kamu kehilangan piauw?" si orang tua tanya. "Berapa harganya itu?"

"Harganya tidak seberapa, hanya namanya Tjhin Wie Piauwkiok menjadi runtuh. Syukur jumlah itu telah didapat pulang seluruhnya," sahut orang yang ditanya.

Orang tua itu mengangguk. "Tjhin Wie Piauwkiok?" katanya. "Jadi Luliang Samkiat pun datang semuanya?"

Tang Yong heran. Kenapa orang tua ini ketahui piauwkiok-nya dan ketiga majikannya itu? Bukankah orang ini tua dan wilayah Hweekiang ini jauh dari Tionggoan? Apa benar nama Luliang Samkiat demikian tersohor, sampai di tanah perbatasan? Mungkinkah ini orang tua asal piauwsoe juga?

"Ya," ia menyahuti. Terus ia memasang kuping, kakinya pun bertindak ke jendela. "Nah, lihatlah! Bukankah mereka di sana tengah mendatangi?"

Kee Loodjin tidak mendengar tindakan kaki kuda, akan tetapi mendengar perkataan Tang Yong itu, ia bertindak ke jendela, untuk melihat. Ia tidak menampak siapa juga di sekitarnya, hanya kerbau dan kambing lagi memakani rumput di tegalan.

"Mana ada orang?" kata ia pada tetamunya seraya ia menoleh.

Justeru itu Tang Yong mengasih dengar tertawanya yang seram, yang disusuli angin serangannya. Sebab tengah si aki melongok keluar, dia membokong.

Orang tua itu bongkok, agaknya dia bercacad, akan tetapi dia berkuping terang, matanya celi, gerakannya sebat. Ketika tinju hampir tiba di kepalanya, ia berkelit, sebelah tangannya diangkat, untuk dipakai menangkis sambil membangkol. Ia nyata menggunai jurus Kimnahoat, "Tangkapan", maka tangan kanan si piauwsoe lantas kena dicekal.

Tang Yong terkejut, tetapi kepalang tanggung, ia beraksi terus. Ia mengelit tangan kanannya itu, untuk dilepaskan dari cekalan orang, ia gagal, atas mana, tangan kirinya meluncur. Di tangan kiri ini tersembunyi golok pendeknya, maka golok itu mengasih lihat sinar berkelebat, menyambar ke punggung yang naik tinggi seperti punggung unta dari si empee, tepat kenanya.

Lie Boen Sioe kaget hingga dia menjerit, lantas dia lompat, untuk dengan kedua tangannya menghajar punggung si piauwsoe di betulan pinggang. Selama dua tahun, dia telah mulai belajar silat dari ayah dan ibunya. Hanyalah, dua kepalannya masih kecil, seperti tenaganya pun belum besar.

Kee Loodjin juga tidak berdiam saja. Ia menyikut dengan tangan kirinya, mengenai uluhati dari Tang Yong, hingga piauwsoe ini menjerit tertahan, tubuhnya membungkuk, terus roboh terkulai di lantai.

"Yaya..." kata si nona, yang kaget dan ngeri melihat golok nancap di punggung si orang tua, "golok di punggungmu itu..."

Kee Loodjin berpaling, ia melihat roman si nona.

"Anak ini berhati baik," pikirnya.

"Yaya, lukamu..." kata pula Boen Sioe. "Nanti aku cabut golok itu..." Ia mengulur tangannya, niat mencabut senjata tajam itu.

"Jangan pedulikan aku!" kata si orang tua. Mendadak dia beroman gusar, suaranya pun keras. Dia memegangi meja, tubuhnya terhuyung. Dengan limbung ia berjalan masuk ke dalam, di sana terdengar suara berisik dari pintu yang ditutup menggabruk.

Boen Sioe heran dan takut melihat air mukanya orang tua itu. la pun ngeri melihat Tang Yong rebah melingkar, ia takut orang nanti bangun pula. Bagaimana kalau piauwsoe ini bangun dan menerjang padanya? Saking takutnya ia memikir untuk lari ke luar. Tapi, ketika ia ingat si orang tua, yang terluka dan bersendirian saja, ia batalkan niatnya itu. Setelah ragu-ragu sebentar, ia menghampirkan pintu dalam. Ia mengetuk perlahan, beberapa kali, kupingnya dipasang. Tidak ada jawaban. "Yaya," ia memanggil. "Yaya, apakah kau sakit?"

Baru sekarang terdengar suara kasar dari dalam: "Pergi! Pergi! Jangan gerecoki aku!"

Boen Sioe heran dan kaget. Suara itu beda sekali daripada semula. Ia lantas berduduk diam di lanah, saking bingung, ia menangis.

Tiba-tiba pintu berbunyi, lalu terbuka. Lantas si nona merasai rambutnya dielus-elus perlahan, kupingnya pun mendengar bujukan halus: "Jangan nangis, jangan nangis. Luka yaya-mu tidak berbahaya..."

Si nona mengangkat kepalanya. Ia melihat si empee bersenyum. Dasar anak kecil, mendadak ia menjadi girang sekali, hingga dari menangis, ia menjadi tertawa.

"Kau menangis, lalu tertawa, apa kau tidak malu?" kata Kee Loodjin tertawa juga.

Boen Sioe menusupkan kepalanya di dada aki-aki itu untuk sekejap itu, ia merasai kehangatannya orang tuanya

Kee Loodjin sendiri mengerutkan kening. Matanya mengawasi ke mayatnya Tang Yong. Hebat sikutnya, yang telah mengenai uluhati orang, hingga piauwsoe itu mati seketika. Ia memikir: "Dia dan aku tidak bermusuh hebat, kenapa aku menurunkan tangan jahat terhadapnya?" Ia seperti lupa bahwa justeru ia yang disateroni dan ditikam terlebih dulu.

"Yaya, apa lukamu sudah baik?" kemudian si nona cilik menanya pula. Ia ingat lukanya si aki.

Ketika itu Kee Loodjin telah menukar bajunya, entah bagaimana lukanya, tapi ketika ditanya, mendadak ia menjadi gusar kembali. Mungkin ia merasai tikamannya Tang Yong suatu penghinaan untuknya.

"Mau apa kau rewel?" dia membentak.

Boen Sioe kaget, ia menjadi ketakutan pula.

Justeru itu, di luar terdengar suara meringkiknya si kuda putih. Si aki sadar secara tiba-tiba. Maka ia pikir: "Orang-orang Tjhin Wie Piauwkiok mencari bocah ini, maka itu Tang Yong menurunkan tangan jahat atas diriku." Lalu ia berpikir pula, habis mana dia lantas pergi ke dapur. Di sana ada tahang dengan air berwarna kuning, ialah air sepuhan peranti penggembala kambing memberi warna tanda kepada ternaknya, la bawa itu keluar, ia menuntun si kuda putih, lantas bulu kuda yang bagus itu ia poles kuning, dari kepala sampai di ekornya, hingga menjadi kuning seluruhnya. Kemudian lekas-lekas ia pergi ke tendanya seorang Kazakh, untuk minta seperangkat pakaian bocah laki-laki, dengan itu ia menyuruh Lie  Boen Sioe menyalin pakaian, hingga si nona menjadi bersalin rupa.. Boen Sioe cerdas. "Yaya," katanya, "kau hendak membikin si orang jahat tidak mengenali aku?"

Empee itu mengangguk, terus ia menghela napas.

"Aku sudah tua, kalau tidak, biarnya si jahat besar jumlahnya, aku tidak takut," ujarnya. "Lihat saja barusan, dia toh berhasil membacok aku..."

Boen Sioe berdiam. Walaupun si empee yang mulai bicara, ia tidak berani menyambuti.

Habis itu, Kee Loodjin bekerja pula, secara kesusu. Ialah ia menggali tanah untuk memendam mayatnya Tang Yong, sedang kuda orang, ia sembelih. Ia menyingkirkan segala apa, yang dapat menjadi tanda. Akhirnya ia duduk bercokol di depan pintu, duduk seraya menggosok sebilah golok panjang...

Tidaklah sia-sia siasat orang tua ini. Sore itu Hok Goan Liong bersama Tan Tat Hian serta rombongannya tiba di tanah datar berumput itu. Mereka melakukan perampasan atas beberapa ratus ekor kerbau dan kambing yang gemuk-gemuk. Orang-orang Kazakh seperti kena dibokong. Wilayah mereka aman, tidak biasanya datang penyamun. Mereka melakukan perlawanan secara sia-sia, kecuali rugi ternak, tujuh orang pria terbinasakan dan lima orang wanita kena diculik.

Rombongan itu juga menyateroni Kee Loodjin, hanya mereka tidak menyangka jelek kepada orang tua itu, yang rumahnya buruk. Mereka juga tidak bercuriga terhadap Boen Sioe, yang mirip anak Kazakh, yang sembunyi di pojokan rumah, mukanya dekil. Pula tidak ada seorang juga, yang melihat matanya yang tajam. Ia sebaliknya melihat tegas, golok ayahnya tergantung di pinggangnya Tan Tat Hian dan pedang ibunya berada di pinggangnya Hok Goan Liong. Ia mengenali baik senjata orang tuanya itu, yang tak pernah terpisah dari tubuh mereka, maka tahulah ia, pasti ayah dan ibunya telah bercelaka...

Besoknya, orang-orang Kazakh itu dapat menggabung diri, mereka lantas mencari kawanan penyamun, untuk menuntut balas, tetapi rombongan Tjhin Wie Piauwkiok telah pergi ke mana tahu di gurun yang luas itu. Yang dapat diketemukan ialah mayatnya ke lima wanita bangsanya, yang menggeletak di tempat terbuka dengan tubuh telanjang bulat, keadaannya sangat menyedihkan.

Kemudian mereka menemukan juga mayatnya Lie Sam dan isterinya.

Lie Boen Sioe ada bersama, ia menubruk dan memeluki mayat ayah ibunya itu, ia menangis sedih sekali, sekalipun begitu, ia toh dirangket seorang Kazakh, yang terus mendupak padanya sambil mulutnya mengutuk: "Tuhan tidak memberkahi kamu penyamun llan!"

Kee Loodjin memondong tubuh bocah itu, ia tidak mau melayani orang Kazakh yang lagi seperti kalap itu. Boen Sioe sendiri bersedih dan bingung, hingga ia kata di dalam hatinya: "Kenapa ada begini banyak orang jahat? Kenapa siapa pun menghina aku?..."

 

III

 

Lie Boen Sioe mendusin pada waktu tengah malam, ia mendusin untuk lantas menangis. Rupanya ia bermimpi hebat. Ketika ia membuka matanya, ia kaget hingga ia berteriak. Di atas pembaringannya itu ada berduduk seorang lain. la pun bangun untuk berduduk. Hanya sebentai ia terkejut.

Kee Loodjin mengawasi dengan romannya sabar, tangannya pun mengelus-ngelus rambut perlahan sekali.

"Jangan takut, jangan lakui inilah yaya-mu..." kata ia. Ia menyebut dirinya yaya, ia pun dipanggil yaya. Yaya itu kakek. Memang tepat ia menjadi kakek mengingat perbedaan usia mereka berdua.

Boen Sioe menangis, air matanya bercucuran deras, ia nelusup di dada aki itu, hinga tangan baju si orang tua basah

"Anak," kata si aki perlahan, "kau sudah tidak punya ayah dan ibu, kau anggaplah aku sebagai kakekmu tulen. Mari kita tinggal bersama, kakekmu sanggup merawati kau..."

Boen Sioe mengangguk. "Kenapa semua orang menghina aku? Aku toh tidak berbuat jahat?" ia bertanya, la ingat bagaimana ia dan orang tuanya dimusuhkan orang, ia sendiri pun dibenci dan dianiaya si orang Kazakh yang kasar itu. Ia tahu ia tidak bersalah.

Orang tua itu menghela napas. "Di dalam dunia ini, mereka yang suka menderita justerulah mereka   yang   belum   pernah melakukan kejahatan..." katanya. Ia menuang susu hangatnya, untuk diminum. Ia pun membagi si bocah. Sembari merapikan tempat tidur bocah itu, ia menambahkan pula "Anak Sioe, orang Kazakh yang menendangmu itu bernama Suruke, sebenarnya dia seorang baik..."

Boen Sioe heran, ia mementang kedua matanya.

"Dia... dia orang baik?" ia menegaskan.

"Benar, dia orang baik," si kakek menyahuti, "dia sama baiknya seperti kau. Di dalam satu hari, dia kematian dua orang yang ia paling mencintakannya... Yang satu isterinya, yang lain putera sulungnya... dan mereka semua terbinasa di tangannya rombongan penyamun jahat dan kejam itu. Dia menyangka orang Han orang jahat semua, maka juga didalam bahasanya, dia mengutuk kau sebagai orang Han jahat yang tidak diberkahi Tuhan. Kau jangan membenci dia, dia lagi sakit hatinya, seperti sekarang hatimu pun sakit. Dia sudah berusia lanjut, bisalah dimengerti kalau dia jadi terlebih sakit hatinya..."

Boen Sioe mendelong mendengar si orang tua. Sebenarnya dia pun tidak membenci orang Kazakh berewokan itu, hanya dia jeri melihat roman orang yang bengis. Sekarang dia ingat, di matanya orang Kazakh itu pun ada mengembeng air mata. Tentu sekali dia tidak mengerti perkataan yaya-nya, kenapa orang tua itu lebih menderita daripadanya. Sekarang dia berkesan baik terhadap orang tua itu...

Tidak antara lama, dari luar jendela terdengar suara burung, halus dan menggiurkan hati. Suara itu agak jauh tetapi tedas. Ia memasang kupingnya. Ia merasakan suara itu manis. Itulah mirip nyanyiannya seorang nona...

Ia memasang kuping terus. Nyanyian burung itu terdengar jauh, lalu lenyap. Ia menjadi masgul, hingga ia terus berdiam saja Lama ia tidak bersuara, lalu: "Yaya, suara burung itu enak didengarnya," katanya.

"Memang, merdu nyanyiannya burung itu," menyahuti si empee. "Itulah burung nilam malam di padang rumput ini. Orang Kazakh membilang burung itu penitisan seorang nona paling cantik dan yang paling pandai bernyanyi. Katanya   dia   tidak   disukai kekasihnya, dia mati mereras..." Boen Sioe heran. "Dia paling cantik, dia juga paling pandai bernyanyi, kenapa dia tidak dicintai?" ia tanya.

Ditanya begitu, orang tua itu agak kaget, bahkan air mukanya segera berubah.

"Ya, dia demikian cantik, kenapa dia tidak dicintai?" katanya keras.

Boen Sioe kaget, dia mengawasi, matanya mendelong.

Hanya sejenak, si empee menghela napas. Ia jadi sabar pula.

"Di dalam dunia ini, ada banyak sekali hal yang kau tidak mengerti, anak," katanya kemudian.

Kembali Boen Sioe mendengar burung tadi bernyanyi, suaranya semakin menggiurkan hatinya, manis tetapi sedih. Ia sampai melupakan sikap aneh dari si orang tua...

 

***

 

Demikian Lie Boen Sioe tinggal ili rumah Kee Loodjin, si orang tua vang hidup menyendiri di wilayah orang Kazakh itu. Ia membantu menanak nasi dan menggembala kambing. Mereka hidup sebagai kakek dan cucu. Hanya kalau malam,   suka-suka   si   nona mendusin dengan kaget, akan mendengar suara si burung malam dari padang rumput itu, yang nyanyiannya mengagumkan dia, yang membuatnya merasa tergiur dan berduka. Kalau dia bermimpi, maka dia memimpikan keindahan wilayah Kanglam di mana dia berada dalam rangkulan ayah atau ibunya...

Musim rontok lewat, musim dingin pun lewat, selama itu, tenteram hidupnya puteri dari Pekma Lie Sam atau Siangkoan Hong, selama itu, ia telah dapat bicara dalam bahasa Kazakh, ia mulai mengerti banyak perihal segala apa di dataran rumput itu.

Pada suatu malam, kembali Nona Lie mendengar nyanyian si burung malam. Jauh suara burung itu, terbawa sang angin, sebentar terdengar, sebentar lenyap  Ia bangun    untuk    mengenakan bajunya, diam-diam ia pergi keluar di mana ia tuntun kudanya, si kuda putih, ia berlaku hati-hati untuk tidak membikin Kee Loodjin kaget dan mendusin. Setelah berada jauh dari rumah, baru ia naik atas kudanya, untuk sambil menunggang kuda mengikuti suara burung itu.

Sang malam di dataran rumput, langit rasanya tinggi sekali, warnanya biru, bintang-bintang terang berkilau. Rumput segar dan bunga-bunga menyiarkan bau yang harum.

Suara nyanyian terdengar tegas sekarang, benar-benar

menggiurkan. Di dalam hatinya, Boen Sioe mengikuti bernyanyi. Ia menjadi girang sekali. Ia lompat turun dari kudanya, membiarkan kuda itu mencari makan, ia sendiri rebah telentang di atas rumput, matanya memandangi langit. Ia terbenam dalam nyanyian sang burung...

Selang sekian lama, burung itu berpindah tempat, suaranya terdengar jauh. Maka si nona merayap bangun, ia bertindak menyusul, mengikuti, hingga sekarang ia menampak romannya burung itu, yang bulunya kuning muda. Burung itu beterbangan di tanah, mematuk sesuatu, lalu terbang, lalu mematuk pula, saban-saban dia bernyanyi...

Mendadak terdengar satu suara keras, serupa barang hitam menyambar kepada burung malam itu. Si nona kaget hingga ia berseru, bercampur seruannya seorang lain. Kalau Boen Sioe kaget maka orang itu kegirangan. Dia muncul dari gegombolan pohon. Nyata dialah seorang anak laki-laki Kazakh, yang berseru: "Kena! Kena!"

Dengan baju luarnya, dia menungkrap burung itu, yang kena ditangkap. Burung itu lantas berbunyi berisik sekali, kaget dan ketakutan.

"He, kau bikin apa?" Boen Sioe menegur, gusar.

"Aku menangkap burung ini," menjawab orang yang ditegur. "Apakah kau juga menangkap burung?"

"Kenapa kau menangkap dia?" Boen Sioe menegur pula. "Bukankah lebih baik membiarkan dia merdeka dan bernyanyi?"

"Dengan ditangkap, dia dapat dibuat main," menyahut anak Kazakh itu. Dengan tangan kanannya merogoh ke dalam bajunya, ia memegang burung kuning dan kecil itu, yang sia-sia saja berontak untuk mencoba terbang pergi.

"Kau lepaslah!" kata Boen Sioe kemudian. "Lihat, dia harus dikasihani..."

"Di sepanjang jalan aku menyebar gandum, memancing dia makan hingga di sini," kata anak Kazakh itu. "Siapa suruh dia makani gandumku? Haha!"

Boen Sioe terbengong. Inilah yang pertama kali ia mengenal perangkap. Burung itu diberi umpan, dia memakannya, dia mengantarkan diri, lalu tertangkap artinya, dia mencari matinya sendiri. Ia masih terlalu muda dan mendapat tahu bunyinya pepatah: "Djin wie tjay soe, niauw wie sit bong", ialah "Orang mati karena harta, burung mampus karena makanan."

Bocah Kazakh itu membuat main burungnya, hingga burung ini berbunyi tak hentinya.

"Maukah kau kasihkan burung ini padaku?" akhirnya Boen Sioe minta. Ia merasa kasihan.

"Habis kau memberikan apa padaku?" tanya si anak Kazakh. Dia minta penggantian atau penukaran.

Boen Sioe meraba sakunya, ia tidak mempunyai apa-apa. Ia menjadi berdiam untuk berpikir. Kemudian ia menyahuti: "Besok aku nanti menjahit, membikin kantung, untuk kau pakai..."

"Aku tidak mau diakali. Besok kau menyangkal..."

Mukanya si nona menjadi merah.

"Aku telah berjanji, tentu aku akan memberikan," ia mengasih kepastian. "Kenapa aku mesti menyangkal?"

"Ah, aku tidak percaya!" bocah ini menggeleng kepala. Tapi di terangnya rembulan, ia melihat gelang kumala, yang bersinar di lengan kiri orang, maka ia menambahkan: "Kecuali kau berikan gelangmu itu!"

Itulah gelang yang Boen Sioe il.ipat dari ibunya, kecuali itu, ia udak punya tanda mata apa jua dari ibunya. Berat ia menyerahkan itu, akan tetapi, kalau ia melihat burung itu, ia berkasihan.

"Baiklah, ini aku kasihkan kau," katanya akhirnya. Ia meloloskan gelangnya dan menyerahkannya.

Bocah itu agaknya heran, la menyambuti.

"Apakah  kau  tidak  bakal memintanya pulang?" ia menegasi. "Tidak!"

"Baik!" Dan ia menyerahkan burungnya.

Dengan kedua tangannya, Boen Sioe menyambuti burung itu.

Ketika tangan mereka beradu, si bocah Kazakh merasakan sebuah tangan yang halus dan hangat, hingga ia seperti merasakan guncangnya hati si nona.

Nona itu mengusap-usap sayap burung dengan tiga buah jari tangannya, perlahan-lahan, kemudian ia melepaskan tangannya seraya ia berkata: "Kau pergilah! Lain kali kau mesti berhati-hati supaya orang tidak kena tangkap pula!"

Burung itu terbang, menghilang di gombolan rumput.

Si bocah Kazakh heran.

"Kenapa kau lepas burung itu?" ia tanya. "Bukankah kau telah tukar itu dengan gelang kumala?" Dia memegang erat-erat gelangnya, kuatir si nona meminta pulang.

"Dia dapat terbang pula," menyahut Boen Sioe, "dia bakal bernyanyi kembali! Tidakkah itu senang untuknya?"

Bocah itu heran dan kagum. Ia mengimplang.

"Kau siapa?" ia tanya kemudian. "Aku Lie Boen Sioe. Kau sendiri?"

"Aku Supu." Habis menyahuti, dia berjingkrak dan berseru nyaring.

Supu lebih tua dua tahun, tubuhnya jangkung, kalau dia berdiri, nampaknya dia gagah.

"Tenagamu besar, bukankah?" Boen Sioe tanya.

Supu tengah kegirangan, pertanyaan si nona membangkitkan keangkuhannya. Dari

pinggangnya, ia menarik keluar sebuah golok pendek. Ia berkata: "Baru bulan yang sudah aku membunuh seekor serigala!"

"Kau begitu kosen?" tanya Boen Sioe heran.

Supu jadi bangga sekali. Ia kata pula: "Sebenarnya dua ekor serigala yang datang menyerbu kambing kami. Ayahku kebetulan tidak ada di rumah, jadi aku yang keluar membawa golok mengejarnya. Serigala yang besaran melihat api, dia kabur, aku bunuh yang satunya."

"Jadi kau membunuh yang kecilan?'"

Supu likat, ia mengangguk, tetapi ia menambahkan: "Jikalau serigala yang besar itu tidak kabur, tentu aku bunuh juga padanya!"

Dari suaranya, ia agak ragu-ragu.

Boen Sioe percaya keterangan itu. Ia kata: "Serigala yang jahat makan kambing, dia memang harus dibunuh. Kalau nanti kau membunuh serigala pula, maukah kau memanggil aku untuk aku melihatnya?" Supu girang.

"Baik! Lain kali aku akan mengeset kulitnya, untuk dihaturkan padamu!"

"Terima kasih!" Boen Sioe pun girang. "Nanti aku membikin alas kulit serigala peranti yaya duduk, kepunyaannya telah diberikan padaku."

"Dengan begitu. Aku berikan itu pada kau, itu artinya untukmu sendiri. Kepunyaan yaya-mu kau kembalikan saja."

"Begitu pun baik," si nona mengangguk.

Kedua bocah ini lantas menjadi sahabat satu dengan lain. Erat pergaulan mereka, meski yang satu ada anak Kazakh yang sikap dedaknya kasar, dan yang lain seorang nona Han yang halus.

Lewat beberapa hari, Lie Boen Sioe menganggap bocah itu sahabat, buat sebuah kantung kecil, yang ia isikan kembang gula dan menghadiahkannya kepada Supu. Bocah ini heran. Untuknya sudah cukup burungnya ditukar dengan gelang kumala. Karena dia jujur, dia hendak membalas budi. Maka malamnya, satu malam suntuk dia tidak tidur, dia menunggui burung, hasilnya, dia dapat menjebak dua ekor burung nilam. Besoknya pagi, dia serahkan burungnya itu pada sahabatnya.

Melihat perbuatan Supu, Boen Sioe menganggap bocah itu salah mengerti, maka dengan banyak kata-kata ia menjelaskan, ia menyukai burung bukan untuk dipiara, ia hanya menyukai kemerdekaannya burung itu, sedang kalau dipiara, burung itu jadi tersiksa. Supu dapat dikasih mengerti tetapi toh ia tetap heran untuk sikap nona, yang ia kata aneh...

Dengan lewatnya banyak hari, mimpinya Boen Sioe, mimpi ayah dan ibunya, menjadi berkurang. Itu berarti, basahnya bantalnya karena air matanya pun jadi berkurang |uga. Di lain pihak, pada parasnya lebih sering tertampak senyuman, ia jadi lebih gemar bernyanyi. Demikian, kalau dia dan Supu menggembala kambing, sering lei dengar   nyanyian   mereka, nyanyian   yang   mengandung asmara. Sering mereka bernyanyi saling sahutan. Tapi Boen Sioe bernyanyi karena kegemarannya, artinya nyanyian belum masuk di olaknya. Ia bahkan heran kenapa muda-mudi   gemar  bernyanyi berdua-duaan, mereka tertarik satu kepada lain. Ia tidak mengerti kenapa hatinya memukul kalau ia mendengar tindakannya si bocah Kazakh. Tapi yang benar, suara nyanyiannya memang merdu, siapa yang mendengarnya memuji: "Merdu suaranya bocah itu, mirip dengan suaranya si burung nilam dataran rumput..."

Kapan telah datang musim dingin, burung nilam terbang pindah ke Selatan, yang hawanya hangat, akan tetapi di padang rumput itu, ada pengganti suaranya, sebab ada nyanyiannya Boen Sioe yang merdu itu:

"Gembala muda yang manis, Aku tanya kau, tahun ini usiamu berapa?

Kalau di tengah malam kau bersendirian di gurun, Maukah kau ditemani olehku? "

Biasanya nyanyian berhenti sampai di situ, sesaat kemudian barulah disambungi:

"Ah, kekasihku, jangan gusar. Siapa baik siapa buruk, sukar dibilang, Kalau gurun hendak dijadikan teman.

Maka mestilah sepasang orang baik kumpul bersama..."

Supu adalah orang yang paling sering mendengar nyanyian itu. Dia juga tidak memahami artinya nyanyian asmara itu, sampai pada suatu hari di atas salju mereka bersomplokan sama seekor ajag.

Sangat mendadak munculnya binatang alas yang jahat itu. Supu dan Boen Sioe tengah duduk berendeng di atas sebuah tanjakan, mata     mereka     memandang rombongan kambing mereka yang lagi mencari makan di padang rumput. Seperti biasanya, si nona mendongeng, tiga bagian menurut cerita ibunya, tiga bagian menurut cerita Kee Loodjin, yang lainnya karangannya sendiri. Supu paling suka mendengar ceritanya Kee Loodjin, sebab itu ada mengenai peristiwa-peristiwa hebat. Yang ia paling tidak sukai ialah cerita karangannya si nona sendiri, karena itulah semua cerita kekanak-kanakan. Mendadak Boen Sioe menjerit, tubuhnya roboh ke belakang, sebab seekor serigala menerkam dengan tiba-tiba. Binatang jahat itu datang dengan perlahan-lahan dari arah belakang, kedua bocah   masing-masing sedang asyik bercerita dan mendengari, mereka    tidak mendengar apa-apa sampai terkaman datang. Si nona berkelit, karenanya dia roboh.

Supu kaget. Serigala itu besar sekali. Tapi melihat si nona didalam bahaya, ia menghunus golok pendeknya, terus ia membacok. Binatang itu berkelit, punggungnya tergores kulitnya. Karena itu dia menjadi gusar, sambil mementang mulutnya yang lebar, memperlihatkan giginya yang tajam, dia menubruk bocah itu, dia hendak menggigit muka orang!

Saking kaget, Supu roboh. Ia tentu telah kena digigit kalau tidak Boen Sioe lompat maju, untuk menangkap ekor binatang itu, untuk ditarik, hingga si serigala mundur setindak. Tapi binatang ini kuat, dia berontak, dia menerkam pula. Kali ini giginya nempel pada pundak kiri si bocah pria. Dalam kaget dan takut, si nona menarik sekuatnya. Tidak urung, pundak Supu telah mengucurkan darah.

Dalam keadaan seperti itu, Supu melupakan segala apa, ia menikam. Tepat ia menikam perut, di bagian yang berbahaya. Serigala itu berlompat, terus roboh. Supu masih hendak menikam, ketika tubuh binatang itu terus berdiam.

Boen Sioe pun jatuh terguling. Ia bertahan, si serigala menarik keras. Meskipun begitu, ia tidak melepaskan cekalannya sampai binatang itu rebah tak berkutik lagi.

"Aku membunuh serigala!" seru Supu kemudian. "Aku membunuh serigala!" Ia lantas mengasih bangun pada si nona, seraya ia berkata: "Lihat, Sioe, aku telah bunuh mati seekor serigala!". Ia gembira hingga ia melupakan pundaknya yang borboran darah.

"Aku tidak takut sakit!" kata Supu sambil menggeleng kepala, sikapnya gagah.

Sekonyong-konyong terdengar teguran di belakang mereka: "Eh, Pu kau lagi bikin apa?"

Keduanya terkejut, sama-sama mereka berpaling.

Boen Sioe melihat seorang yang mukanya berewokan, yang tubuhnya besar bercokol di atas kuda. Supu sendiri segera berkata: "Ayah, lihat! Aku telah bunuh seekor serigala!"

Nampaknya orang itu girang. Ia lompat turun dari kudanya. Ia memandangi anaknya, Boen Sioe dan bangkai serigala.

"Kau kena digigit serigala?" ia menanya.

"Ya," si anak mengangguk. "Kita lagi duduk di sini, aku mendengari dia mendongeng mendadak serigala itu muncul dan menerkam dia..."

Si berewokan itu mengawasi pula Boen Sioe, mendadak di menegur: "Kau toh si anak perempuan Han yang tidak diberkahi Tuhan?" tegurnya.

Boen Sioe terkejut. Ia sekarang mengenali si berewokan ini adalah mang yang telah menendang ia it-lagi ia memeluki mayat ayah dan ibunya. Dialah Suruke yang menurut Kee Loodjin, isteri dan anaknya telah dibinasakan penyamun didalam satu malaman. Ia    mengangguk, ingin ia mengatakan: "Ayah dan ibuku juga telah dibunuh oleh kawanan penyamun itu..." atau mendadak ia menjadi kaget. Tahu-tahu Supu telah dicambuk ayahnya, hingga mukanya balan, sedang ayah itu berseru: "Aku telah menyuruh kau turun-temurun membenci orang Han, mengapa kau melupai pesanku? Kenapa kau justeru bermain-main sama anak Han ini dan mengadu jiwa  untuknya hingga kau mengucurkan darah?" Lalu cambuknya menyambar pula secara membabi buta!

Supu berdiam saja, bahkan dia memandang Boen Sioe dan bertanya: "Apakah dia si wanita Han yang tidak diberkahi Tuhan?"

"Mustahil bukan?" bentak si ayah, yang tangannya diayun ke samping, maka menjeritlah si nona yang kaget dan kesakitan, sebab cambuk menyambar mukanya!

Justeru itu, Supu roboh, sebab tak tahan ia akan sabatan ayahnya itu. Ia telah terluka diterkam serigala, ia pun dirangket berulang-ulang, selagi ia telah mengeluarkan banyak darah dan lelah, ia pun melihat si nona dicambuk, maka ia sakit, lelah dan menceios hatinya berbareng.

Suruke kaget. Ia lompat kepada anaknya, ia pondong tubuhnya, buat diajak naik ke atas kudanya, kemudian ia kabur dengan mengalak bangkai serigala, maka ketika ia melarikan kudanya itu, bangkai binatang itu terseret-seret pergi. Ia masih menoleh kepada Boen Sioe, yang berdiri tercengang, di dalam hatinya ia kata: "Kalau lain kali kau bertemu pula dengan aku, lihat apabila aku tidak menghajar pula padamu!"

Boen Sioe tidak takut lagi si berewokan itu, hanya hatinya kosong. Ia merasa bahwa selanjutnya ia bakal tidak bertemu pula sama Supu, kawan satu-satunya dengan siapa ia dapat bermain-main dengan gembira, kawan yang suka mendengari nyanyiannya. Setelah itu, ia merasai mukanya sakit. Tidak lama ia berdiam di situ, dengan tidak keruan rasa ia menggiring kambingnya pulang.

Kee Loodjin heran melihat tubuh si nona kecipratan darah dan mukanya balan, bertanda bekas sabatan cambuk.

"Apakah sudah terjadi?" tanyanya lekas.

"Aku terjatuh..." Boen Sioe mendusta, suaranya tawar.

Orang tua itu tidak mau percaya tetapi setelah ditegasi, si nona tetap sama jawabannya itu, bahkan dia lantas menangis, hingga ia menjadi kewalahan dan bingung.

Malam itu tubuh Boen Sioe panas sekali, mukanya menjadi merah, berulangkah dia mengaco: "Serigala! Serigala! Supu! Supu! Tolong! ....Orang Han yang tidak diberkahi Tuhan!"

Bukan main bingungnya orang tua ini. Maka syukur, mendekati pagi, hawa panasnya si nona berkurang banyak, lantas dia dapat tidur pulas.

Dengan sakitnya ini, satu bulan terus Boen Sioe mesti rebah di pembaringan, ketika kemudian ia sembuh, musim dingin sudah lewat, di tanah datar rumput telah mengeluarkan semi baru yang halus...

Lewat beberapa hari, nona Lie merasa tubuhnya sehat betul, maka itu ingin ia pergi menggembala seperti biasa. Ketika ia heran akan mendapatkan ada sehelai kulit serigala terletak di depan pintunya, kulit itu sudah dijadikan alas duduk, lebih heran pula apabila ia periksa, di betulan perut kulit itu ada pecahan bekas tusukan senjata tajam. Ia lantas mengenali itulah serigala yang menerkam ia, yang dibinasakan Supu. Hatinya berdebaran kalau ia ingat Supu tidak menyalahi janji, hanya bocah itu datangnya secara diam-diam. Ia angkat kulit itu, untuk disimpan di dalam kamarnya. Ia tidak mau memberitahukan pada Kee Loodjin. Habis itu pergilah ia menggembala kambingnya, di tempat yang biasa.

Sampai magrib, Supu tidak muncul, ada juga kambingnya, yang sekarang diangon oleh seorang muda lain umur tujuh atau delapan belas tahun, la menjadi berpikir.

Mungkinkah lukanya Supu belum sembuh? Kalau begitu, bagaimana dia dapat mengantarkan kulit serigalanya itu? Ingin ia pergi melongok ke tenda kawan itu tetapi ia batal sendirinya kapan ia ingat si berewokan yang bengis. Maka ia sudi bersangsi.

Malam itu sampai tengah malam Boen Sioe tidak dapat pulas. Akhirnya ia mengambil keputusannya juga. Diam-diam ia pergi ke tendanya Supu, ke sebelah belakangnya. Ia tidak tahu pasti apa perlunya ia menjenguk sahabatnya itu. Untuk hanya menghaturkan terima kasih untuk kulit serigala itu? Untuk menanyakan lukanya bekas digigit serigala? Ia berdiam di belakang tenda, seperti Menyembunyikan diri. Tidak berani ia memanggil-manggil kawannya ini Sampai ia disamperi anjingnya Supu, yang mencium-cium Hibahnya.   Anjing   itu   tidak mengasih dengar suara apa-apa.

Di dalam tenda, lilin dipasang terang-terang. Di situ terdengar suara keras dari Suruke. Kaget Boen Sioe, setiap kali mendengar suara orang, hatinya berdenyutan.

Sebab orang Kazakh itu lagi murka.

"Kulit serigalamu kau kasihkan pada perempuan itu?" demikian suara si ayah. "Binatang, kecil-kecil kau sudah mengerti menyerahkan hasil pemburuanmu yang pertama kepada nona kecintaanmu!"

Boen Sioe ingat ceritanya Supu hal kebiasaannya bangsa Kazakh, bahwa pemuda bangsa itu paling menghargai hasil pemburuannya yang pertama kali, bahwa itu selalu diberikan kepada kekasihnya, untuk mengutarakan cintanya. Maka mukanya menjadi merah sendirinya. Maka terbangunlah keangkuhannya. Ia, seperti Supu juga,   masih   terlalu   muda, melainkan samar-samar mereka mengenal asmara.

"Bukankah kau memberikannya kepada itu nona Han yang tidak diberkahi Tuhan, itu anak hina-dina?" terdengar pula suaranya Suruke. "Kau tidak mau bicara? Baik! Kau lihat, kau yang tangguh atau cambuk ayahmu!"

Lantas Boen Sioe mendengar rangketan beberapa kali, suara cambuk mengenai tubuh.

Seperti kebanyakan orang Kazakh, demikian Suruke. Ia percaya cambuk akan menciptakan orang bangsanya yang gagah. Jadi untuk mendidik anak, tidak dapat kelunakan dipakai. Dulu kakeknya telah menghajar dia, maka sekarang dia menghajar anaknya. Itulah pengajaran, itu tidak melenyapkan kasih sayang orang tua pada anaknya. Terhadap sahabat, kepalan dan cambuk yang dipakai. Menghadapi lawan, ialah golok pendek dan pedang panjang.

Hanyalah, mendengar rangketan itu, Boen Sioe merasai ialah yang tersiksa itu...

"Kau masih tidak mau menjawab? Kau masih tidak mau menjawab? Baik! Aku merasa pasti kau menyerahkan kulit serigala itu kepada perempuan Han itu! Kau rasai!"

Lalu hujan cambuk, terdengar nyata.

Akhir-akhirnya Supu menangis.

Tak dapat ia menahan sakit hanya dengan mengertak gigi saja.

"Sudah, ayah, jangan pukul, jangan pukul," katanya. "Aduh... aduh..."

"Nah, bilanglah, bukankah kau menyerahkan kulit itu pada perempuan Han itu? Ibumu mati di tangan penyamun Han! Kakakmu terbinasa di tangan penyamun Han! Apakah kau tidak ketahui itu? Orang menyebutnya aku orang kosen nomor satu dari bangsa Kazakh tetapi isteri dan anakku dibunuh penyamun bangsa Han! Apakah   itu   bukannya suatu kehinaan? Sayang hari itu aku justeru tidak ada di rumah! Aku menyesal tidak dapat aku cari penyamun itu untuk membalaskan sakit hatinya ibu dan kakakmu itu!"

 

IV

 

Cambuknya Suruke bukan lagi dipakai untuk mengajar anak hanya guna melampiaskan kebenciannya, dia mencambuk bukan lagi anaknya sendiri hanya musuh, la kata sengit: "Kenapa kawanan anjing itu bukan menempur aku terang-terangan? Kau bilang, bilanglah! Apakah aku tidak sanggup melawan beberapa bangsat anjing Han itu?"

Anak yang dibinasakan rombongan Hok Goan Liong ada anaknya Suruke yang paling disayang, dan isterinya yang terbinasa itu adalah isteri yang mencintainya semenjak mereka masih kecil dan biasa bermain-main bersama, sedang ialah orang Kazakh tergagah, maka itu, bisa dimengerti kemurkaannya itu.

Boen Sioe berduka, la merasa sangat kasihan terhadap Supu. Tidak dapat ia mendengar tangisan kawannya itu. Dengan merasa berat, dengan tindakan perlahan, ia berjalan pulang. Ia menarik keluar kulit serigala dari bawah kasurnya, ia memandangi itu sekian lama. Dalam kesunyian itu, ia seperti mendengar samar-samar

tangisannya Supu, meski terpisahnya tenda Supu dan rumah Kee Loodjin ada sekira dua lie. Ia seperti mendengar juga cambukannya Suruke, si orang tua berewokan yang romannya bengis itu. la sangat menyukai kulit itu tetapi ia telah mengambil keputusan untuk mengurbankannya.

 

***

 

Besoknya pagi Suruke keluar dari tendanya, kedua matanya merah. Segera telinganya mendengar nyanyiannya Cherku, yang sembari bernyanyi mengawasi kepadanya dengan kepala dimiringkan, mukanya tersungging senyuman persahabatan.

Cherku pun seorang Kazakh termasuk jago. Orang tahu dia pandai sekali membikin jinak kuda dan larinya sangat keras, hingga orang mengatakannya, di dalam satu lie, tidak ada kuda pilihan yang dapat menyandak padanya, atau sedikitnya, dia cuma kalah sejarak Indung, sebab hidungnya yang mancung...

Sebenarnya di antara Suruke dan Cherku tidak ada persahabatan erat, bahkan kesan mereka satu dengan lain tidak baik. Inilah sebab kegagahannya Suruke membuatnya Cherku iri. Cherku lebih muda sepuluh tahun, akan tetapi ketika satu kali mereka mengadu golok, pundaknya kena dihampiri goloknya Suruke. Atas itu ia kata: "Sekarang aku kalah, tapi lain kali, lagi lima tahun, atau lagi sepuluh tahun, kita nanti bertanding pula!" Dan Suruke menyahuti: "Lagi dua puluh tahun, kalau kita bertanding pula, tanganku tak ada seenteng kali ini!"

Akan tetapi hari ini, sikapnya Cherku tidak bermusuhan. Hanya kesan buruk dari Suruke belum lenyap, dia balik mengawasi dengan mata mendelik.

Cherku tertawa dan berkata: "Sahabatku Su, anakmu liehay matanya!"

"Kau maksudkan Supu?" Suruke tanya. Dia meraba gagang goloknya, matanya bersinar bengis. Di dalam hatinya ia kata: "Kau hendak menyindir aku karena anakku telah memberikan kulit serigala kepada itu perempuan Han?"

Cherku mau menyahuti: "Kalau bukan Supu, mungkinkah kau mempunyai anak yang lain?" tapi batal, sembari bersenyum ia menjawab: "Memang Supu! Anak itu baik romannya, dia pandai bekerja, aku senang dengannya."

Seorang tua pastilah senang anaknya dipuji orang tetapi ia tak akur dengan Cherku maka Suruke kata: "Apakah kau mengiri? Sayang kau tidak mendapatkan anak laki-laki."

Cherku tidak gusar, dia bahkan tertawa.

"Anak perempuanku, si Aman juga tidak ada kecelaannya, kalau tidak, mustahil anakmu penuju kepadanya?" sahutnya.

"Fui, jangan ngaco!" kata Suruke. "Siapa bilang anakku penuju si Aman?"

Cherku   mendekati, untuk menarik tangan orang.

"Mari turut aku, aku memberi kau melihat sesuatu!" katanya. Suruke heran, ia mengikuti. Sembari jalan, Cherku kata: "Beberapa hari yang lalu anakmu membunuh seekor serigala itulah hebat! Bukankah dia masih kecil? Maka kalau dia sudah besar, tidakkah dia akan mirip seperti ayahnya? Ayahnya jago, anaknya gagah!"

Suruke berdiam. Ia menduga orang lagi memasang perangkap. Maka ia mau berhati-hati.

Kira-kira satu lie dua orang ini jalan di padang rumput, tibalah mereka di tenda Cherku. Segera Suruke melihat digantungnya sehelai kulit serigala di luar tenda. Segera ia mengenali kulit serigala yang dibunuh anaknya itu. Ia menjadi bingung.

"Aku, aku salah..." pikirnya. "Aku menyalahkan si Pu, aku pun telah menghajarnya, kiranya kulit ini ia menyerahkannya kepada si Aman, bukan kepada itu wanita Han... Anak celaka, kenapa dia tidak mau bicara sebenarnya?

Mungkin kulitnya tipis, dia malu bicara? Ah, kalau ibunya masih ada, ibunya tentu bisa membujuki aku, menasihati aku jangan memukul dia. Memang anak-anak lebih bisa bicara dengan ibunya..."

"Mari minum satu cangkir arak!" berkata Cherku sambil ia menepuk pundak orang, selagi orang ngelamun. "Kau belum pernah datang ke rumahku."

Tenda Cherku terawat baik dan bersih, di sekitarnya digantungi permadani tenunan bulu kambing merah. Seorang nona yang bertubuh langsing menyuguhkan arak.

"Aman, inilah ayahnya Supu," kata Cherku tertawa pada si nona. "Kau takut atau tidak? Lihat berewokannya yang menakuti!"

Muka si nona menjadi bertambah dadu, tetapi matanya bersinar. Ia seperti menjawab: "Aku tidak takut..."

Suruke tertawa, ia kata: "Sahabat Cher, orang membilang kau mempunyai seorang anak yang bagaikan bunga yang bisa berjalan di padang rumput kita ini, benar-benar, inilah bunga yang dapat berjalan!"

Setelah seperti saling mendendam belasan tahun, maka dua orang ini sekarang menjadi sebagai sahabat-sahabat kekal, keduanya bicara dan minum dengan gembira sekali. Akhirnya Suruke mabuk keras dan pulang dengan mendekam di atas kudanya.

Selang dua hari, Cherku mengantarkan dua helai permadani kulit kambing yang indah, katanya yang besaran untuk si tua, yang kecilan untuk si muda-artinya, untuk Suruke dan Supu.

Ketika Supu memeriksa sehelai, ia mendapatkan sulaman yang merupakan seorang laki-laki yang tubuhnya besar, dengan sebilah golok panjang, lagi membacok seekor harimau, sedang seekor harimau    lain lari sambil menggoyang ekor. Di permadani yang lain, sulamannya ialah halnya seorang bocah menikam mati seekor serigala. Dua-dua orang itu, lua dan muda, sama-sama beroman gagah.

"Bagus!" Suruke memuji kegirangan. "Sulaman yang indah!"

Di wilayah Hweekiang ada sangat sedikit harimau, tapi tahun i lu, entah dari mana datangnya, lelah muncul dua ekor yang menjadi ancaman bencana untuk manusia dan ternak. Ketika itu Suruke sedang gagahnya. Dengan membawa golok panjang, ia memasuki gunung, ia cari binatang alas itu, ia membunuh yang seekor, ia melukai seekor yang lain, yang kabur ke gunung bersalju. Dan menyulamkan perbuatan gagah itu di atas permadaninya

Karena Cherku mengantar permadani itu, ketika ia pulang, ia mabuk arak, ia menggantikan mendekam di atas kudanya, hingga Suruke menyuruh Supu mengantarkannya pulang.

Di dalam tenda Cherku, Supu melihat kulit serigalanya.  Ia menjadi heran sekali. Sedang begitu Aman, dengan muka dadu, menghaturkan terima kasih kepadanya. Ia heran tetapi ia tidak berani menanyakan. Ia bicara sama Aman tanpa junterungan. Karena ini besoknya, ia lantas pergi ke tempat di mana ia membunuh serigala. Ia mau cari Lie Boen Sioe, untuk minta keterangan, tetapi hari itu si nona tidak muncul.

Besoknya ia pergi pula, tetapi ia tetap menantikan dengan sia-sia. Maka di hari ketiga, dengan memberanikan diri, ia pergi ke rumah Kee Loodjin.

Boen Sioe membuka pintu, ketika ia melihat anak Kazakh itu, ia kata: "Sejak sekarang ini tidak dapat aku menemui kau pula!" Lalu ia menutup pintunya

Supu melongo, ia pulang dengan pikiran ruwet, ia sangat bingung.

Pemuda ini pulang tanpa ia mengetahui, Boen Sioe menangis di belakang pintunya itu. Si nona senang bergaul dengannya tetapi dia takut kepada ayahnya yang galak itu. Dia tahu, kalau mereka bergaul pula, Supu bakal dihajar lagi ayahnya.

Demikian, hari lewat hari, maka kedua bocah itu pun, dengan lewatnya hari-hari itu, menjadi besar, menjadi dewasa. Yang satu cantik manis, yang lain tampan dan gagah. Dan sang burung nilam pun bernyanyi makin merdu, Hanya sekarang, nyanyiannya jarang sekali, nyanyinya pun di tengah malam setelah tidak ada orang lainnya, bernyanyi seorang diri di bukit di mana Supu telah membunuh serigala...

Kalau dulu Boen Sioe tidak mengerti apa yang ia biasa nyanyikan bersama Supu, sekarang ia mengerti berlebihan. Coba ia masih tidak mengerti, kedukaannya mungkin berkurang. Sekarang lain, sekarang sering ia tidak tidur semalaman...

Pada suatu malam di musim semi, seorang diri Boen Sioe naik kuda putihnya pergi ke bukit yang ia kenal itu. Berdiri di atas bukit, ia memandangi tenda-tenda orang-orang Kazakh itu di mana orang tengah menyalakan unggun, di mana   mereka   itu   bergirang bersorak-sorai. Sebab hari itu kebetulan hari besar mereka, yang mereka rayakan bersama di tepi unggun, menari-nari dan bernyanyi-nyanyi.

"Pasti dia dan ia hari ini bergirang luar biasa," Boen Sioe kata di dalam hatinya. Dengan "dia" taklah lain orang kecuali Supu, dan dengan "ia" ialah si nona yang menjadi "bunga yang dapat berjalan..."

Tapi terkaannya Boen Sioe salah. Ketika itu Supu dan Aman tidak lagi bergirang hanya hati Supu sedang tegangnya. Dia tengah bergulat bersama seorang muda lain, yang tubuhnya jangkung dan kurus. Itulah adu gulat yang terpenting di harian pesta itu. Siapa yang menang, dia memperoleh tiga buah hadiah, ialah: seekor kuda pilihan, seekor kerbau gemuk, serta sehelai permadani indah.

Supu telah menjatuhkan empat lawannya,   sekarang   ia   lagi menghadapi si jangkung ini, Sangszer. Mereka ada sahabat-sahabat kekal, tapi sekarang mereka mesti mencari keputusan. Sangszer juga telah mengalahkan empat lawan lainnya. Pula Sangszer pun mengharap "si bunga yang dapat berjalan", yang demikian cantik   manis,   yang   pandai menenun dan menyulam. Sangszer tahu Supu dan Aman hidup rukun semenjak masih kecil tetapi ia ingin mendapatkannya juga di tempat umum ini. Ia percaya, kalau ia menang, Aman akan menyukainya. Maka selama tiga tahun, ia rajin berlajar ilmu gulat itu, sedang gurunya ialah Cherku, ayah si Aman...

Supu sendiri ada murid ayahnya sendiri.

Gulat Kazakh bukan gulat belaka, kepalan pun dapat dimainkan, juga kaki, untuk menggaet atau merengkas, guna menyengkelit. Maka satu kali, ketika kepala Sangszer kena dihajar, dia roboh terguling. Di lain pihak, tempo Supu digaet, dia roboh juga. Sama-sama mereka bangun pula.

Suruke menyayangi kegagalan anaknya itu, sampai ia merasakan tangannya dingin.

Cherku menyaksikan adu gulat itu dengan pikiran kacau. Ia tahu Aman, anaknya, menyukai Supu, Di lain pihak, Sangszer adalah muridnya yang disayang, ingin ia muridnya itu menang, supaya ia mendapat muka terang. Kesudahan gulat ini pun akan membuatnya si pemenang menjadi "orang kosen nomor satu". Ia menyukai Supu tetapi ia ingin Sangszer yang menang...

Para penonton bersorak untuk para jago muda itu. Supu bertubuh besar dan kuat, tapi Sangszer selain kuat pun lincah. Jadi sukar untuk menerka, siapa bakal keluar sebagai juara

Ramai suara penonton di kedua pihak: "Supu, lekas, lekas!..., ..Saszer, bangun, serang pula!" Masing-masing  menganjurkan jagonya. Samar-samar Boen Sioe mendengar: "Supu! Supu!" Ia heran mengapa ia hanya mendengar suara untuk Supu itu. Maka akhirnya, ia mengajukan kudanya, mendekati. Ia bersembunyi di belakang sebuah pohon besar. Sekarang ia melihat Supu dan Sangszer lagi berkutat dan para penonton ribut dengan sorak-sorai mereka.

Di antara penonton, Boen Sioe melihat Aman. Nona itu tegang hatinya, dia pun sebentar bergirang dan sebentar berkuatir. Terang dia menyukai Supu.

Mendadak orang bersorak ramai, lalu sirap. Supu dan Sangszer bergumul di tanah, hingga tubuh mereka tak tertampak si Nona Lie. Sekian lama orang bersikap tegang. Di akhirnya riuhlah seruan orang banyak: "Supu! Supu!" Lantas terlihat Aman menuntun tangannya si juara.

Boen Sioe girang berbareng berduka. Ia putar kudanya, untuk dikasih jalan  pulang  dengan perlahan-lahan. Tidak ada orang yang       melihatnya, atau memperhatikannya. Ia tidak menarik tali les, ia membiarkan si kuda putih jalan sendiri. Ia baru terkejut ketika ia mendapatkan ia berada di ujung padang rumput, atau di permulaan Gobi, gurun pasir.

"Eh, perlu apa kau bawa aku kemari?" katanya kepada kudanya. Tentu sekali ia tidak memperoleh jawaban, hanya di lain pihak ia melihat munculnya dua penunggang kuda, disusul oleh dua yang lain, yang semuanya membawa golok panjang. Mereka itu dandan sebagai orang Han. Ia kaget sekali. Ia lantas ingat pada si penyamun Han.

"Kuda putih! Kuda putih!" begitu ia mendengar beberapa orang itu berteriak-teriak selekasnya mereka itu melihat kudanya, lantas mereka kabur mendatangi. Antaranya ada yang menyerukan: "Berhenti! Berhenti!"

Dalam takutnya, Boen Sioe menyerukan kudanya: "Lari!" la mengeprak kuda itu lari ke jalanan kembali. Tapi ia kaget akan melihat, sekarang di depannya pun ada beberapa penunggang kuda lain, begitu pun di lain arah. Ia terpegat di timur, selatan dan utara. Maka ia kabur ke barat, di mana gurun pasir tak berujung pangkal...

Mengenai gurun itu, di antara orang Kazakh ada ceritera atau dongeng, padang pasir ada memedinya, bahwa siapa memasuki gurun, dia bakal tak kembali dengan masih hidup, bahwa sekalipun telah menjadi memedi, si memedi tak akan dapat keluar lagi dari wilayah tandus itu...

 

V

 

Boen Sioe pun pernah dengar ceritanya Supu bahwa siapa memasuki Gobi, dia bakal jalan terputar-putar saja di daerah pasir itu, sesudah berlari-lari sekian lama, dia bakal menjadi girang berbareng duka. Girang sebab dia mendapatkan tapak kaki. Tapi segera dia akan menjadi berduka. Sebab itulah tapak kakinya sendiri. Katanya, akhirnya orang bakal mati, dan setelah menjadi setan, dia tidak akan dapat beristirahat. Supu pernah menambahkan: "Manusia masih beruntung. Dia mati, dia menjadi setan. Tapi setan, kalau dia mati, dia tetap jadi setan juga..."

Juga pernah Boen Sioe menanya Kee Loodjin, apa benar Gobi demikian menakuti, bahwa orang dapat memasukinya tetapi tidak bakal keluar pula dari situ. Ditanya begitu, orang tua itu menunjuk roman kaget dan suram yang menakuti, matanya mendelong keluar   jendela,   seperti   dia menampak memedi. Belum pernah Boen Sioe melihat orang bersikap demikian,    maka    ia    tidak mengulangi pertanyaannya itu. Ia mau percaya, orang tua itu pernah melihat setan...

Sekarang dia kabur di Gobi itu, hatinya takut bukan main. Toh dia lari terus. Dia lebih takut menghadapi beberapa pengejarnya itu. Dia ingat kepada kematian ayah dan ibunya, kebinasaan ibu dan kakaknya Supu. Kalau dia kecandak, pastilah dia bakal terbinasa di tangan orang-orang jahat itu. Hampir dia menahan kudanya kapan dia ingat memedi di gurun pasir itu...

Satu kali dia menoleh ke belakang, dia tidak melihat lagi tenda-tendanya si orang-orang Kazakh, tak nampak pula padang rumput yang hijau. Dia sekarang melihat, dua orang jauh ketinggalan di belakang, lima lagi tetap menyusul, mereka itu berseru-seru tidak berhentinya. Dia mendengar jelas: "Benarlah itu kuda putih! Bekuk dia! Bekuk dia!"

Di saat berbahaya itu, Boen Sioe sempat berpikir: "Teranglah aku tidak akan sanggup membalaskan sakit hati ayah dan ibuku, maka biarlah aku pancing mereka ke i'iirun, untuk kita mati bersama! Biarlah, satu jiwaku ditukar dengan lima jiwa mereka! Laginya, apakah .ulinya hidup di dalam dunia kalau aku tetap sebatang kara begini?"

Air matanya nona ini mengembeng, lalu mengucur turun, tapi tekadnya telah bulat. Maka ia melarikan terus kudanya, terus menuju ke arah barat, untuk tiba di tempat ada memedi...

Kelima orang itu benar-benar penyamun-penyamun yang menyerbu rombongannya Suruke. Merekalah lima orangnya Hok man Liong dan Tan Tat Hian. Mereka pulang habis membereskan Lie Sam dan isteri dan sia-sia belaka mencari Boen Sioe. Peta dari istana rahasia Kobu membuatnya mereka penasaran, maka mereka ingin sekali mendapatkan peta itu. Katanya di dalam istana itu ada tersimpan banyak sekali mustika atau barang permata. Demikian mereka mencari tak hentinya. Untuk hidupnya, di sana ada kerbau, kambing dan untanya penduduk gurun, yang mereka dapat menjadikan kurban mereka. Untuk itu cukup asal mereka menghunus senjata mereka, membunuh, membakar, merampas, bahkan memperkosa...

Kuda putih sudah tua, tenaganya telah berkurang, tetapi dia seperti mengerti majikannya terancam bahaya, dia lari keras, maka itu mendekati fajar, dia membikin lima pengejarnya jauh ketinggalan di belakang, mereka itu tidak nampak lagi, suara mereka pun tak terdengar pula. Hanya Boen Sioe tahu, mereka bisa mengikuti tapak kaki, mereka nanti menyusul pula, dari itu, ia lari terus. Sampai lagi kira-kira sepuluh lie, sekonyong-konyong  kuda  itu meringkik, lantas dia lari luar biasa keras, tetap menuju ke barat. Dia seperti dapat mencium bau rumput dan air...

Tidak lama, benarlah ilham bawaan kuda itu. Di arah barat laut lantas terlihat gunung dengan pepohonannya yang lebat. Tapi Boen Sioe terkejut. Ia ingat: "Apa inikah gunung memedi? Kenapa di gurun ada tempat seperti ini? Belum pernah aku mendengarnya... Tapi biarlah, gunung memedi lebih baik, ke sini aku pancing kawanan penyamun kejam itu!"

Keras larinya kuda putih itu, segera dia tiba di depan gunung, terus dia masuk ke dalam selat. Dia hendak mencari air, untuk melenyapkan dahaganya. Di situ ada mengalir sebuah kali kecil. Boen Sioe turut lompat turun, menghampirkan air, untuk menyaup air dengan kedua tangannya, guna mencuci muka menghilangkan debu, setelah mana ia minum beberapa ceglukan. Ia merasa puas sekali. Air itu rasanya manis dan menyegarkan mulutnya.

Sekonyong-konyong ia menjadi terkejut. Mendadak saja ia merasakan sesuatu yang berat menekan punggungnya. Segera kupingnya pun mendengar pertanyaan dengan suara parau: "Kau siapa? Mau apa kau datang ke sini?"

Itulah pertanyaan dalam bahasa Tionghoa.

Boen Sioe hendak memutar tubuhnya ketika ia mendengar pula suara parau itu: "Inilah ujung tongkat di arah jalan darahmu sinto hiat! Asal sedikit saja kau mengerahkan tenagamu, jalan darahmu bakal terluka hingga kau bisa terbinasa!"

Boen Sioe benar-benar merasai ujung tongkat terasa lebih berat, hingga ia menjadi sesemutan. Ia pernah belajar silat sama ayah ibunya tetapi tentang tiamhiat hoat, ilmu menotok jalan darah atau otot-otot yang penting, ia belum tahu sama sekali, meski begitu, ia tidak berani bergerak. Ia hanya pikir: "Orang ini dapat berbicara, dia pasti bukannya memedi.  Dia juga menanya aku apa perlunya aku datang kemari, pertanyaannya itu membuktikan dia    mestinya penduduk sini, dia bukannya penyamun. Hanya, kenapa dia mendekati aku tanpa aku mengetahui?"

Lagi pertanyaan: "Aku tanya kau! Mengapa kau tidak menjawab?"

"Ada orang jahat mengejar aku, aku lari sampai di sini," akhirnya si nona menyahut.

"Orang jahat bagaimana?" tanya pula suara itu.

"Sejumlah penyamun." "Penyamun apa itu? Apakah nama mereka?"

"Aku tidak tahu nama mereka. Mulanya mereka piauwsoe, sampai di wilayah Hwcekiang, mereka lantas menjadi penyamun."

"Kau sendiri, apakah namamu? Siapa ayahmu? Siapakah gurumu?" "Aku Lie Boen Sioe. Ayahku Pekma Lie Sam dan ibuku Kimgin Siauwkiam Sam Niotjoe. Aku tidak mempunyai guru."

"Oh!" kata orang itu. "Kiranya Kimgin Siauwkiam Sam Niotjoe telah menikah sama Pekma Lie Sam! Mana dia ayah dan ibumu itu?"

"Ayah dan ibu telah dibunuh kawanan penyamun itu dan sekarang mereka hendak membunuh aku juga..." "Ah! Kau bangunlah!" Boen Sioe menurut, ia berdiri. "Kau putar tubuhmu!" Boen Sioe menurut, ia memutar tubuh dengan perlahan.

Orang itu mengangkat tongkatnya, hanya sekarang ia mengancam jalan darah khiesiahiat di kerongkongan.

Boen Sioe heran sekali. Ia menyangka orang beroman bengis dan menakuti. Ketika ia sudah berpaling, maka ia menampak seorang usia lima puluh tahun kira-kira, dandanannya sebagai pelajar, tubuhnya sangat kurus, sepasang alisnya mengkerut. Ia mendapatkan seorang yang romannya sangat berduka.

"Empee, apakah she-mu?" ia balik menanya. "Tempat ini tempat apakah?"

Orang itu berdiri tercengang. Ia rupanya tidak menyangka sekali akan berhadapan sama seorang anak dara demikian cantik.

"Aku tidak mempunyai nama. Aku juga tidak tahu tempat ini apa namanya," sahutnya sejenak kemudian.

Justeru terdengar suara samar-samar dari tindakan kaki kuda. Boen Sioe kaget sekali.

"Penyamun datang!" serunya, takut. "Empee, lekas sembunyi!"

"Kenapa kau menyuruh aku bersembunyi?" si empee tanya.

"Kawanan penyamun itu sangat telengas, melihat kau, dia akan membunuhmu!"

Orang kurus kering itu mengawasi tajam.

"Kita tidak mengenal satu dengan lain, mengapa kau memperhatikan keselamatanku?"

Ketika itu, suara tindakan kuda terdengar semakin nyata.

Boen Sioe takut sekali, maka tanpa mempedulikan bahwa ia lagi diancam, ia memegang tongkat orang itu, untuk ditarik, buat diajak pergi. Ia pun berkata mendesak: "Empee, mari lekas! Kita naik kuda bersama! Ayal sedikit, kita bakal terlambat..."

Orang itu menarik tongkatnya, untuk melepaskannya dari cekalan, tetapi ia agaknya bertenaga terlalu kecil, ia tidak berhasil.

"Apakah kau sakit, empee?" tanya Boen Sioe heran. "Mari aku bantu kau naik atas kudaku..."

Nona ini benar-benar bekerja. Dengan  kedua  tangannya  ia mengangkat tubuh si kurus kering itu. la mendapatkan, walaupun orang laki-laki, tubuh orang itu kalah berat dengan tubuhnya. Di atas kuda, orang itu masih terhuyung, duduknya tak tegak. Dia seperti lagi menderita sakit berat.

Boen Sioe naik belakangan, ia duduk di belakang orang, maka itu, ia memegang kendali sambil membantui menjagai tubuh si kurus itu untuk mencegah tergulingnya. Ia mengaburkan kudanya ke sebelah dalam gunung.

Karena mesti berbicara sama si empee, Boen Sioe telah mensia-siakan tempo. Ia lantas mendengar suara nyaring dan bengis dari ke lima penyamun, yang telah memasuki selat.

Mendadak si empee menoleh.

"Kau datang bersama-sama mereka itu?" ia menegur. "Benarkah? Kamu telah mengatur tipu daya, buat memperdayakan aku?"

Boen Sioe terkejut, apapula akan menampak roman orang mendadak menjadi bengis, sinar matanya sangat tajam.

"Bukan, bukan!..." ia menyangkal. "Belum pernah aku kenal kau, buat apa aku memperdayakanmu?"

"Kau toh hendak memperdayakan aku supaya aku ajak kau ke Istana Rahasia Kobu?" katanya pula tetap bengis. Hanya ia menghentikan kata-katanya dengan tiba-tiba, agaknya ia telah menyesal mengatakan demikian.

Boen Sioe heran. Tentang istana rahasia itu, beberapa kali ia pernah mendengar dari mulut ayah dan ibunya semenjak ia turut mereka menyingkir sampai di wilayah Hweekiang, hanya ia tidak mengerti apa-apa. Sampai sekarang sudah belasan tahun atau ia mendengarnya pula, hingga ia lupa sebenarnya ia pernah mendengar dari siapa.

"Istana Rahasia Kobu?" tanyanya "Apakah itu?"

Roman si kurus tak tegang lagi seperti tadi, ia melihat si nona seperti tidak lagi mendusta.

"Benar-benarkah kau tidak tahu tentang istana rahasia itu?" ia menegasi.

"Tidak," menyahut Boen Sioe, menggeleng kepala. "Ah, ya..."

"Ya apakah?" membentak si kurus kering cepat.

"Aku ingat sekarang," menyahut si nona, polos. "Tempo ayah dan ibu mulai memasuki wilayah Hweekiang, aku mendengar mereka menyebut-nyebut istana rahasia itu. Apakah itu suatu istana yang indah?"

"Apa lagi ayah dan ibumu bilang?" tanya si pelajar, tetap bengis. "Aku larang kau mendusta!"

"Sebenarnya ingin aku mengingat lebih banyak kata-kata ibuku," menyahut Boen Sioe berduka. "Menambah satu kata-kata saja, alangkah baiknya. Sayang aku tidak mendapat dengar pembicaraan mereka terlebih jauh. Empee, memang sering aku pikirkan, bahkan aku mengharap-harap ayah dan ibu dapat hidup lebih lama satu hari saja, supaya dapat aku melihat mereka lagi. Asal ayah dan ibu masih hidup, biarnya aku dirangket setiap hari, aku senang..."

Pelajar itu nampak menjadi sedikit sabar, la mengeluarkan suara: "Ah ..." perlahan.

"Kau sudah menikah atau belum?" mendadak ia bertanya, suaranya keras.

Mukanya si nona menjadi merah. Tidak dapat ia menjawab, maka ia menggeleng kepala.

"Selama beberapa tahun, dengan siapa saja kau ada bersama?"

"Dengan Kee Yaya." "Kee Yaya? Berapa umurnya dia? Bagaimana macamnya?"

Ketika itu, Boen Sioe justeru membentak kudanya: "Lekas lari! Penyamun datang!" Ia pun pikir, lusa melayani pembicaraan yang ia anggapnya tak keruan nmterungannya itu? Meski ia beipikir demikian, akhirnya ia toh menyahuti juga.

"Kee Yaya mungkin telah berusia delapan puluh tahun. Dia bongkok dan mukanya keriputan. Ia perlakukan aku baik sekali."

"Di Hweekiang ini, kau kenal siapa-siapa lagi?" orang itu menanya pula. "Di rumah Kee Yaya itu masih ada siapa?"

"Di rumah Kee Yaya tidak ada lain orang lagi, seorang pun tidak. Jangan kata orang Han, orang Kazakh pun tidak ada yang aku kenal." Ia tidak mau menyebutkan Supu dan Aman, ia anggap itu tidak ada perlunya.

Selagi mereka bicara, lima penyamun pun telah mendatangi semakin dekat. Juga mereka mendengar sar-sernya suara anak panah, yang menyambar ke samping mereka kiri dan kanan. Itulah panah gertakan belaka, sebab kawanan penyamun itu tidak memikir untuk menangkap mayat.

"Kau pegang jarumku ini," berkata si pelajar tiba-tiba. "Hati-hati jangan kau membikin dirimu tertusuk!"

Boen Sioe melihat orang mencekal sebatang jarum, yang dijepit dengan dua jari tangannya. Ia menyambuti tanpa ia mengerti maksud orang.

Si pelajar berkata pula: "Ujung jarum itu ada racunnya yang liehay, begitu menusuk orang dan mengeluarkan darah, racunnya akan       bekerja menutup tenggorokan. Kalau penyamun itu menangkap kau, kau tusuk dia, biarnya ketusuknya perlahan, dia bakal segera terbinasa."

Si nona terkejut, sedang barusan selagi menyambuti, ia kurang perhatian, la pun merasa, kalau si pelajar tidak senang padanya, ia bisa lantas mati ditusuk dia. Ia lantas berpikir: "Aku ada bagian mati, baik aku mati bersama kelima penyamun itu, biar empee ini kabur seorang diri..."

Maka mendadak ia berlompat turun dari belakang kuda, sembari lompat ia menepuk kempolan kudanya seraya berseru: "Kuda putih, kuda putih! Lekas kau ajak empee menyingkirkan diri!"

Si pelajar tercengang. Ia tidak menyangka nona ini demikian murah hati.

Ketika itu kelima penyamun telah tiba dengan segera dan Boen Sioe lantas dikurung. Mereka telah mendapati seorang nona yang muda remaja dan cantik, tentu sekali mereka tidak memperdulikan pula si pelajar tua bangkotan...

Berlima mereka lompat turun dari kuda mereka masing-masing. Mereka mengurung si nona sambil mengasih lihat senyum menyeringai.

Hatinya Boen Sioe berdenyutan. la berkuatir dan bersangsi. Ia menyangsikan keterangannya si pelajar  perihal   kemustajaban jarumnya itu. Bagaimana dengan sebatang jarum itu ia dapat memberikan perlawanannya kepada lima orang jahat itu. Umpama kata satu terbinasa, masih ada empat lainnya. Ia menjadi menyesal telah tidak membekal pisau dengan mana ia dapat membunuh diri, untuk menolong diri dari penghinaan.

"Sungguh cantik!" kata satu berandal. "Sungguh manis!" Sedang dua ant. ranya berlompat maju.

Satu berandal, yang berada di sebelah kiri, mendadak meninju orang yang di dekatnya hingga orang itu terguling. Dia menegur: "Kau berani berebutan denganku?" Tanpa menanti jawaban, ia menubruk Boen Sioe, untuk dirangkul.

Nona Lie kaget bukan main, ia melawan. Dengan jarumnya la menusuk lengan orang seraya berseru: "Penyamun jahat, lepaskan aku! Lepaskan aku!"

Orang itu, yang tubuhnya besar, berdiri melengak, terus dia mundur dua tindak, mulutnya dipentang lebar-lebar, matanya terbuka mengawasi si nona.

Penyamun yang roboh itu mengulur tangannya, akan menyambar kaki si nona, untuk ditarik jatuh.

Boen Sioe menggunai tangan kirinya, guna melawan, sedang dengan tangan kanannya, ia menusuk dada penyamun yang ganas itu. Si penyamun tengah tertawa lebar sebab ia sudah memegang erat-erat si nona ketika dadanya tertusuk, lantas ia berhenti tertawa, mulutnya tinggal celangap, dengan membuka mulut lebar itu dan mata mendelong, ia berdiri diam saja.

Boen Sioe lantas merayap bangun, untuk lari ke arah seekor kuda, untuk segera lompat naik ke punggungnya, terus ia melarikannya, keras, ke arah gunung.

Ketiga berandal lainnya berdiri tercengang. Mereka menyangka si nona telah menotok kedua kawannya itu. Kalau si nona demikian liehay, mana mereka berani maju mendekati? Dari itu mereka membiarkan si nona kabur, mereka sendiri menghampirkan kedua kawan itu, niatnya untuk dibawa kepada Hok Goan Liong, pemimpin mereka, untuk ditolongi. Hanya ketika tubuh dua orang itu diraba, ketiga kawan itu kaget tidak terkira. Tubuh mereka itu sudah lantas mulai dingin dan napasnya telah berhenti berjalan...

Salah satu penyamun, seorang she Song, memberanikan diri. Ia membuka baju seorang kawannya, lalu kawan yang kedua, untuk diperiksa. Ia mendapatkan titik hitam di masing-masing lengan dan dada mereka itu, pada itu ada liang kecil sebesar jarum. Maka sadarlah dia. Terus dia kata nyaring: "Bocah itu mempunyai jarum beracun!"

"Jangan takut!" kata kawannya, si orang she Tjoan. "Kita jangan dekati dia, dari jauh-jauh kita menghajarnya dengan senjata rahasia. Mari kita kejar dia!"

"Mari kita kejar!" berseru kawan yang ketiga.

Bertiga mereka lompat naik atas kuda mereka, dengan meninggalkan mayat kedua kawan itu, mereka kabur mengejar Boen Sioe.

Nona Lie kabur dengan hatinya girang, heran dan kagum. Sekarang ia membuktikan liehaynya jarum si pelajar. Tentu saja, ia menjadi berani. Ia telah memikir untuk melawan musuh-musuhnya. Ia hanya berkuatir orang nanti tidak memberikan ketika ia menusuk mereka itu satu demi satu...

"Ke   sini!"   mendadak   ia mendengar selagi kudanya lari.

Suara itu datang dari sebelah kiri. Itulah suara si pelajar tua.

Karena mengenali suara itu, Boen Sioe menghampirkan. Dengan lantas ia lompat turun dari kudanya. Suara itu datangnya dari sebuah gua kecil di pinggiran sebelah kiri itu.

"Bagaimana?"  menanya  si pelajar, yang berdiri di mulut gua. "Aku... aku telah menusuk dua penyamun..." sahut si nona gugup.

"Bagus!" kata si pelajar. "Mari masuk! Kita sembunyi di sini!"

Tanpa bersangsi, Boen Sioe mengikut masuk. Gua itu dalam, makin dalam makin sempit, sampai hanya muat sebuah tubuh di mana orang mesti jalan merayap.

Sesudah jalan terus sekira beberapa puluh tombak, mendadak terlihat cahaya terang di hadapan mereka berdua. Nyata itulah tempat terbuka, yang lebar, yang dapat memuat kira-kira dua ratus orang.

"Kita berjaga di mulut terowongan, tiga penjahat itu tentulah tidak berani menyerbu masuk," berkata si pelajar.

"Dengan begitu, kita juga sukar keluar dari sini," kata Boen Sioe, masgul. "Apakah ada lain jalan keluar?"

"Ada jalan tetapi tidak terus," sahut si pelajar.

Boen Sioe berdiam, hatinya berdebaran. la membayangi bahaya yang tadi mengancamnya.

"Empee," katanya. "Dua penjahat itu kena aku tusuk dengan jarum, lantas mereka tidak dapat bergerak. Apakah mereka itu mati?"

"Mana ada orang yang dapat hidup karena tusukan jarumku?" menyahut pelajar itu, romannya jumawa.

Boen Sioe mengulur tangannya. Ia mengembalikan jarum orang.

Si empee telah mengulur juga tangannya ketika mendadak ia menariknya pulang.

"Kau letaki di tanah!" katanya.

Si nona menurut.

"Kau mundur tiga tindak," katanya pula.

Boen Sioe heran tetapi ia mundur.

Pelajar itu menjemput jarumnya, untuk dimasuki ke dalam satu bungbung kecil.

Baru sekarang Boen Sioe mengerti. Si empee mencurigai padanya. Tapi ia diam saja.

"Kita tidak mengenal satu pada lain, kenapa tadi kau menyerahkan kudamu padaku, supaya aku dapat menyingkirkan diri?" si pelajar tanya.

"Aku juga tidak tahu," menyahut si nona bersenyum. "Aku lihat kau lagi sakit, aku tidak tega kau terbinasa di tangan orang-orang jahat itu..."

Tubuh orang itu limbung.

"Mengapa kau tahu aku... a... aku lagi...?" katanya tertahan. Tiba-tiba jidatnya memperlihatkan pelbagai ototnya, mukanya meringis, tanda bahwa ia lagi menahan rasa nyeri yang hebat. Keringat pun lantas turun berketel-ketel dari jidatnya itu. Tidak lama ia mempertahankan diri, mendadak ia berseru, terus ia roboh bergulingan. Sekarang ia merintih-rintih.

Boen Sioe kaget hingga ia menjadi bingung sekali. Ia lantas melihat tubuh orang melengkung, tangan dan kakinya datang dekat satu pada lain.

"Apakah punggungmu sakit?" si nona tanya. Ia lantas menumbuk perlahan-lahan punggung si pelajar itu, kemudian ia menepuk-nepuk sambungan lengan dan kakinya.

Selang sedikit lama, si pelajar nampak rada ringanan. Ia mengangguk kepada si nona, untuk menyatakan syukurnya.

Lagi sekian lama, barulah ia dapat bangun berdiri. Terang telah lenyap penderitaannya barusan.

"Tahukah kau, aku ini siapa?" kemudian ia tanya.

"Aku tidak tahu," menyahut si nona, menggeleng kepala.

"Aku she Hoa, namaku Hoei," si empee memperkenalkan diri. "Akulah yang orang kangouw menyebutnya Ittjie Tjin Thianlam."

"Oh, Empee Hoa," berkata si nona.

"Apakah kau belum pernah mendengar namaku?" Hoa Hoei tanya, agaknya ia kecewa.

Tentu sekali Boen Sioe tidak lahu yang Hoa Hoei bergelar Ittjie Tjin Thianlam, si Jeriji Menggetarkan Langit Selatan, atau jelasnya, jago Selatan, telah menggoncangkan selatan dan utara Sungai Besar, dan namanya itu diketahui oleh dunia Rimba Persilatan.

"Ayah dan ibuku pasti mengetahui nama empee," Boen Sioe menambahkan. "Aku tiba di Hweekiang dalam usia delapan tahun, apa juga aku tidak mengerti..."

"Itu benar," kata Hoa Hoei. Dari romannya, nampak ia tak kecewa seperti tadi. "Kau..."

Baru ia berkata demikian, dari luar gua terdengar suara: "Pasti dia sembunyi di dalam gua ini! Hati-hati untuk jarumnya yang berbisa!..." Lantas terdengar tindakan kaki berlari-lari dari tiga orang.

Hoa Hoei berhenti bicara, ia mengeluarkan jarumnya tadi, yang ia terus pasang di ujung tongkatnya, kemudian sembari menyerahkan tongkat itu pada Boen Sioe, ia menunjuk ke samping mulut gua sembari berkata perlahan: "Kalau sebentar mereka masuk, kau tikam punggungnya. Jangan terburu napsu hingga kau kena menikam dadanya."

Si nona berdiam, karena hatinya berpikir: "Mulut jalanan begini sempit, bukankah terlebih baik akan menikam dadanya?"

Hoa Hoei rupanya dapat menduga kesangsian orang, ia kata bengis: "Hidup atau mati kita adalah di sekejap ini, maka beranikah kau tidak mendengar titahku?"

Hampir berbareng sama suaranya jago Selatan ini, terlihat berkelebatannya golok, suatu tanda pihak penyamun bersiap sedia menjaga diri dari serangan gelap. Menyusul itu, sesosok tubuh nampak merayap masuk. Dialah si penjahat she In.

Boen Sioe lari bersembunyi di samping mulut gua, ia bersiap tanpa berani berkutik.

Lantas terdengar suara dingin dari Hoa Hoei: "Kau lihat di tanganku, aku mencekal barang apa?" Tangan itu pun dikibaskan.

Penjahat she In itu mengawasi ke arah Hoa Hoei, goloknya disiapkan terus, la maju dengan berhati-hati.

Boen Sioe menggunai saatnya yang baik, ia menusuk punggung penjahat itu. Ia berlaku hati-hati, dan ia berhasil menusuknya, perlahan tetapi tepat.

Penjahat itu merasakan punggungnya tertusuk seperti diantup tawon, dia kaget dan merasa sakit, dia berteriak. Cuma sekali, lantas dia berdiam, tubuhnya kejang.

Di belakang penjahat she In ini mengikut si penjahat she Tjoan. la kaget bukan main. Ia menduga Hoa Hoei menyerang dengan jarum beracun. Tanpa memutar tubuh lagi, ia merayap mundur.

Menyaksikan itu, Hoa Hoei menghela napas.

"Jikalau ilmu silatku tidak ludas, baru lima penjahat semacam mereka ini tidak ada artinya sama sekali..." katanya menyesal. "Hari ini aku menang cuma sebab aku mempunyai kedudukan yang baik."

Boen Sioe heran. Bukankah orang jago Selatan, yang tangannya liehay? Kenapa empee ini menyingkir dari lima penjahat itu dan sekarang bekerja sembunyi tangan?

"Empee Hoa," katanya, "karena kau lagi sakit, kau tidak dapat bersilat. Benarkah?"

"Bukan, bukan," menyahut orang yang ditanya. "Yang benar ialah aku telah mengangkat sumpah berat, kecuali di saat mati atau hidup, aku tidak dapat sembarang menggunai ilmu silatku..."

Boen Sioe heran sekali. Tadi empee mengatakan ilmu silatnya ludas, sekarang dia menyebut-nyebut sumpah berat. Karena orang sungkan bicara, ia tidak mau menanyakan pula.

Hoa Hoei rupanya merasa keterangannya bertentangan, ia menyimpanginya. Katanya: "Kau tahu kenapa aku menyuruh kau menikam punggungnya si penjahat? Selagi dia masuk, dia mengutamakan perhatiannya ke depan. Kau tidak mengerti ilmu silat, dengan menyerang dari depan, kau tidak bakal memperoleh hasil. Maka aku sengaja menarik perhatiannya itu, supaya kau bisa menikamnya dengan berhasil."

"Bagus akal empee!" memuji si nona mengangguk.

Hoa Hoei tidak membilang apa-apa, hanya dari sakunya ia mengeluarkan sebungkus manisan semangka kering, yang mana ia angsurkan kepada si nona.

"Kau daharlah dulu," katanya. "Dua penjahat itu tidak nanti berani lantas masuk pula, akan tetapi kita juga tidak bisa lantas keluar dari sini. Biarlah aku memikirkan akal untuk membinasakan mereka dua-duanya. Kalau mereka terbunuh cuma satu, yang lainnya dapat pergi memberi kabar pada kawan-kawannya. Jikalau mereka datang dalam jumlah besar, itulah berbahaya."

Boen Sioe menganggap orang bicara tepat, karena itu, ia menurut saja. Ia makan semangkanya. Habis itu, ia beristirahat sambil menyender di batu yang seperti tembok.

Berselang dua jam, Hoa Hoei dapat mencium bau barang hangus, lantas dia batuk-batuk.

"Celaka!" ia berseru, kaget. "Penjahat menggunai api untuk mempuput kita, agar kita mati karena asap. Lekas tutup mulut terowongan!"

Boen Sioe mengerti, ia menginsafi bahaya, maka ia lantas bekerja. Ia mengambil batu dan pasir, guna menyumbat mulut terowongan itu. Karena mulut terowongan kecil, tidak lama gangguan asap berkurang. Pula, karena lebarnya tempat di mana mereka berada, begitu masuk, asap lantas buyar. Itulah menandakan, gua itu mempunyai lain jalan keluar.

Dengan begitu, sang tempo berlalu tanpa kejadian sesuatu.

Boen Sioe melihat sinar matahari dari bagian belakang gua, ia menduga itu waktu sudah tengah hari.

Tiba-tiba Nona Lie menjadi kaget. Tidak keruan-keruan, Hoa Hoei menjerit sendirinya, terus tubuhnya roboh, kaki tangannya digerak-geraki kalang-kabutan. Dalam kagetnya, ia ingat untuk menolongi. Maka ia

menghampirkan, untuk mengurut-urut dan menepuk-nepuk pula seperti yang pertama kali.

Lewat beberapa saat, penderitaan Hoa Hoei menjadi kurangan.

"Nona..." katanya, "kali ini mungkin aku tidak dapat bertahan lagi..."

"Jangan memikir yang tidak-tidak, empee," Boen Sioe menghibur. "Kita bertemu sama orang jahat, empee jadi menggunai tenaga terlalu besar. Baik empee beristirahat, sebentar kesehatanmu akan pulih."

"Tidak, tidak bisa..." kata Hoa Hoei. "Biar aku omong terus-terang. Sebenarnya jalan darah punggungku telah terkena... telah terkena jarum berbisa!..." Boen Sioe kaget. "Ah, terkena jarum berbisa?" ia mengulangi. "Kapankah terkenanya? Apakah tadi?"

"Bukan," menjawab jago Selatan itu. "Aku terkena pada dua puluh tahun dulu..."

Kembali Boen Sioe kaget, sekarang saking heran.

"Adakah itu jarum beracun yang seliehay ini?" ia tanya.

"Benar. Hanyalah karena tenaga dalamku mahir, bekerjanya racun menjadi perlahan sekali. Aku pun telah makan obat untuk melawannya, hingga aku dapat hidup sampai hari ini. Hanya kali ini, aku tidak dapat bertahan terus. Karena di tubuhku telah nancap jarum berbisa itu, maka selama dua puluh tahun, setiap tengah hari aku mesti menderita kesakitan hebat seperti ini. Kalau tahu begini, lebih baik aku tidak makan obat pemunahnya... Apakah gunanya menahan sakit sampai dua puluh tahun?"

Mendengar itu, Boen Sioe pun ingat suatu hal. Coba pada sepuluh tahun yang lampau ia pun turut ayah dan ibunya mati, tentulah tak usah ia menderita sekian lama. Ya, apakah faedahnya   hidupnya bersengsara ini?

Hoa Hoei menggertak gigi, melawan rasa nyerinya itu.

"Empee," kata Boen Sioe, "apa tidak baik kau cabut saja jarum di tubuhmu itu, mungkin kau tidak usah menderita lebih lama pula?"

"Ngaco!" mendadak si empee membentak. "Bukankah siapa pun dapat mengatakannya demikian? Tapi aku berada sebatang kara di gunung ini, siapakah yang dapat menolongi aku mencabutnya? Lagi pula, siapa yang datang kemari, dia tidak mengandung maksud baik! Hm!"

Boen Sioe melengak, ia heran bukan main. Tanyanya dalam hatinya: "Kenapa dia tidak mau pergi mencari pertolongan tabib? Mengapa ia tinggal bersendirian di gunung belukar dan sunyi ini sampai sepuluh tahun? Apakah maksudnya? Mengapa untuk memakai obat dia mesti main sembunyi-sembunyi?"

Biarnya orang mencurigai dia, nona ini tetap merasa berkasihan.

"Empee," katanya pula, "mari kasih aku mencoba. Kau jangan takut, aku tidak nanti mencelakai kau."

Hoa Hoei mengawasi, keningnya mengkerut. Ia agaknya berpikir banyak tetapi tetap ia tidak dapat mengambil keputusan.

Boen Sioe mencabut jarum beracun dari ujung tongkat, untuk dipulangi.

"Mari kasih aku melihat luka di punggungmu itu," katanya pula. "Jikalau aku mengandung maksud jahat, kau tusuklah aku dengan jarummu ini!"

Hoa Hoei mengawasi tajam. "Baiklah!" akhirnya ia kata. Dan ia lantas membuka bajunya, untuk memperlihatkan punggungnya.

Mengawasi punggung orang itu, Boen Sioe mengeluarkan seruan perlahan, la menampak banyak sekali titik hitam, tanda luka. Entah berapa ratus jumlahnya titik itu.

Hoa Hoei rupanya dapat menduga apa yang si nona pikir, ia kata: "Aku telah menggunai segala macam daya, aku tetap tidak dapat mencabut semua jarum itu."

Lukanya Ittjie Tjin Thianlam ini disebabkan kecuali jarum juga bekas terkena batu tajam, bekas digaruk. Boen Sioe tidak mengenali, yang mana ada jarumnya yang berbisa. Ia ngeri, terharu dan bingung.

"Sebenarnya di mana jarum itu nancapnya?" akhirnya ia tanya.

"Semuanya tiga batang," Hoa 1 loei menjawab. "Yang satu dijalan darah pekhoe hiat, satu lagi di jalan darah tjiesit hiat, dan yang ketiga ialah di jalan darah tjeyang hiat..."

Sembari berkata begitu, ia mengusap ke punggungnya, untuk menjelaskan ketiga jalan darah itu. Benar-benar sulit untuk mengetahui

bekas tusukan jarum itu. Boen Sioe terkejut. "Semuanya   tiga   batang?" katanya. "Empee bilang satu..."

Kembali Hoa Hoei gusar, ia membentak: "Mulanya kau tidak menyebut hendak mencabut jarum itu! Buat apa aku omong terus terang padamu?"

Boen Sioe mengerti kenapa orang mendusta, tiga batang dikatakan satu. Teranglah ia telah dicurigai keras sekali. Rupanya dia terkena tiga batang, karenanya kepandaian silatnya ludas, lalu dia membohong bersumpah tak sudi sembarangan menggunai ilmu silatnya. Ia tidak suka cara orang ini tetapi ia berkasihan, ingin ia memberikan pertolongannya. Maka ia tidak memperdulikan sikap kasar dan aneh itu. Ia sekarang memikirkan daya untuk mencabut ketiga batang jarum itu.

"Apakah kau telah dapat melihatnya?" Hoa Hoei tanya.

"Aku tidak melihat gagangnya jarum, empee. Bagaimana itu harus dicabutnya?"

"Seharusnya digunai senjata tajam memotong dagingnya, baru jarum itu dapat dilihat. Jarum itu telah masuk beberapa dim, memang sukar untuk melihatnya..."

Kata-kata yang belakangan dikeluarkan dengan sedikit gemetar.

"Sayang aku tidak punya pisau kecil," kata si nona.

"Aku juga tidak punya... Eh, itu golok panjang!" ia menunjuk ke tanah. "Kau pakai itu saja!"

Golok itu tajam dan mengkilap, terletak melintang di samping tubuhnya si penjahat she In. Si penyamun sudah mati, goloknya masih ada, golok itu mendatangkan rasa jeri. Boen Sioe pun bersangsi untuk memakai golok itu.

Hoa Hoei mengawasi, ia bisa menerka kesangsian si nona, lalu ia kata perlahan dan sabar: "Nona Lie, asal kau menolongi aku mencabut semua jarum itu, akan aku menghadiahkan kau banyak barang permata. Tidak nanti aku memperdayakan kau. Benar-benar aku mempunyai banyak sekali permata!"

"Aku tidak menghendaki barang permata, aku pun tidak ingin ucapan terima kasihmu," menyahut Boen Sioe. "Asal kau tidak merasa sakit, itu sudah cukup untukku."

"Baiklah kalau begitu!" kata Hoa Hoei. "Sekarang kau boleh mulai!"

Boen Sioe mengambil golok itu.

"Empee," katanya, "aku akan perbuat apa yang aku bisa, harap kau menahan sakit."

Lantas nona ini memotong-motong bajunya si penyamun she In, untuk membuat juiran-juiran, guna nanti dipakai menepas darah dan membalut, setelah itu, lebih dulu ia memperhatikan jalan darah pekhoe hiat, lalu dia mulai bekerja.

Ketika kulit dan daging Hoa Hoei dipotong, darahnya lantas mengalir keluar.

Hoa Hoei tidak kesakitan, mengeluh pun tidak.

"Sudah kelihatan?" bahkan dia menanya.

Boen Sioe tidak lantas menyahuti, ia mencabut tusuk kondenya, guna memakai itu untuk mencari jarum. Selang sejenak, ia berhasil. Jarum itu telah nancap ke tulang. Maka ia lantas memakai dua jari tangannya, akan menjepit gagang jarum, buat terus menariknya.

Hoa Hoei menjerit, dia pingsan. Boen Sioe tidak heran atau kaget, bahkan itu ada baiknya, untuk mengurangi rasa nyeri orang, la menggunai ketika baik ini untuk lekas-lekas membelek lagi dua kali, untuk mencabut dua batang jarum lainnya. Maka tak lama, selesailah ia. Terus ia membalut luka-luka itu.

Selang sekian lama, Hoa Hoei tersadar perlahan-lahan. Ia membuka matanya. Lantas ia melihat tiga batang jarum, yang hitam warnanya, la tahu itulah jarum beracun, yang telah menyiksa padanya. Maka ia kata sengit pada jarum itu: "Dua belas tahun lamanya kamu mengeram di dalam dagingku, baru hari ini kamu keluar!" Terus ia menghadapi Boen Sioe, akan berkata: "Nona Lie, kau telah menolongku, aku tidak dapat membalas budimu, maka ini tiga batang jarum aku haturkan kepadamu. Jangan kau mencela karena jarum ini telah dua belas tahun terpendam di dalam tubuhku, sebenarnya racunnya tidak menjadi berkurang."

Boen Sioe menggeleng kepala. "Aku tidak menghendaki itu," bilangnya.

Hoa Hoei heran. "Bukankah kau telah menyaksikannya sendiri liehaynya jarum ini?" katanya. "Dengan kau mempunyai sebatang saja dari jarum ini, orang sudah jeri bukan main terhadapmu."

"Aku tidak menginginkan lain orang takut padaku," kata si nona perlahan. Di dalam hatinya, ia pikir: "Asal orang menyukai aku, itulah terlebih baik daripada jarum ini..."

Hoa Hoei berdiam. Karena ia mengeluarkan banyak darah bekas dibelek dagingnya ia menjadi lemah, akan tetapi sebaliknya, ia merasa lega, semangatnya terbangun. Ia lantas merapatkan matanya, untuk beristirahat, untuk tidur. Kira satu jam kemudian, ia mendusin dengan kaget. Ia mendengar suara berisik, dari cacian dan teriakan berulang-ulang di luar gua. Itulah suaranya si penyamun she Song, yang rupanya telah datang pula.

Ia mengeluarkan kata-kata kotor, untuk alamatnya Boen Sioe dan Hoa Hoei. Ia tidak berani lancang masuk, ia sengaja memancing agar orang menjadi panas hatinya dan keluar.

Hoa Hoei berbangkit dengan hatinya panas.

"Jarum di tubuhku telah dicabut keluar, orang mengira aku takut!" katanya mendongkol. Akan tetapi ketika ia mengerahkan tenaganya, ia gagal. Ia masih terlalu lemah. Ia menghela napas. Ia kata: "Sudah terlalu lama jarum mengeram di dalam tubuhku, agaknya dengan beristirahat tiga empat bulan, belum tentukesehatan dan tenagaku pulih kembali..."

Di luar, si Song masih saja memuntahkan kata-katanya yang kotor. Berulangkali dia mendamprat: "Bangsat tua! Bangsat tua bangka!"

Dalam panasnya, Hoa Hoei kata: "Apakah aku mesti menanti kau mencaci aku sampai empat bulan lamanya?" Lantas ia mendapat satu pikiran. Maka ia kata pada Boen Sioe: "Nona Lie, mari aku ajarkan kau ilmu silat, lantas kau keluar, kau hajar binatang itu!"

"Berapa lama aku mesti meyakinkannya untuk aku bisa menggunainya?" Boen Sioe tanya. "Toh tidak dapat terlalu lekas, bukan?"

"Jikalau aku mengajarkan kau ilmu jari tanganku, untuk menotok," menjawab Hoa Hoei, "atau lainnya ilmu seperti tangan kosong atau golok, sedikitnya kau membutuhkan tempo setengah tahun, tetapi sekarang temponya mendesak, kau harus belajar dengan cepat. Untuk ini ada jalannya, ialah kau membutuhkan senjata yang istimewa. Cukup kau menggunai satu atau dua jurus. Hanya di dalam gua ini, di mana bisa didapatkan alat senjata yang diperlukan itu?"

Habis berkata begitu, Hoa Hoei berdiam, otaknya bekerja. Boen Sioe pun berdiam saja, ia tidak tahu apa itu yang dimaksudkan senjata istimewa.

Hanya sejenak Hoa Hoei berpikir, segera ia mengasih lihat roman girang.

"Ada!" katanya. "Pergi kau ambil itu dua buah labu dan juga sehelai rotan. Mari kita main bandering lioesengtwie!" Ia menunjuk.

Boen Sioe melihat buah labu tergantung di mulut gua, semuanya sudah kering. Ia pergi mengambil dua buah, yang ia kutungi, lalu mengambil juga rotan yang diminta. Ia serahkan itu kepada si empee kurus kering.

"Bagus!" kata Hoa Hoei girang. "Coba kau membuat sebuah liang kecil pada labu itu, lalu isikan pasir."

Si nona menurut, ia lantas bekerja. Benarlah labu itu, setelah diisi pasir dan beratnya masing-masing tujuh atau delapan kati, dapat merupakan bandering.

"Sekarang aku akan mengajari kau satu jurus Senggoat tjenghoei," kata Hoa Hoei sambil menyambut! buah labu dari tangan si nona. "Aku akan menjalankan jurus itu, kau lihatlah baik-baik dan ingati di luar kepala."

Benar-benar, dengan perlahan, jago Selatan itu memutar banderingnya yang istimewa itu.

Boen Sioe mamasang mata, ia mengingat baik-baik.

"Senggoat tjenghoei" itu, yang berarti jurus "Bintang dan rembulan bersaingan kegemilangan", yang kiri untuk menyerang jalan darah siangkiok hiat di antara dada dan perut, yang kanan guna menyerang punggung di mana ada jalan darah lengtay hiat.

"Sekarang kau coba," kata si pelajar kemudian.

Boen Sioe menuruti, menelad pelajar itu. Ia telah mempunyai dasar, ia dapat mengingat dengan baik dan cepat. Setelah beberapa kali penghunjukan, ia bisa menjalankannya dengan baik, maka itu, mulai dari perlahan, ia mencepatkan. Sesudah paham benar, ia baru berlatih dengan sungguh-sungguh. Ia telah bermandikan keringat setelah berlatih satu jam tanpa salah.

"Aku bebal, belajar sebegini saja aku memakai banyak tempo," katanya seraya menyusuri peluhnya.

"Kau tidak bebal, sebaliknya kau cerdas sekali!" Hoa Hoei memuji. "Kau jangan meragukan kefaedahannya jurus ini. Untuk lain orang, dia perlu tempo delapan sampai sepuluh hari untuk dapat belajar lekas seperti kau ini. Untuk melawan seorang ahli, jurus ini tidak berarti, tetapi buat merobohkan dua bangsat di luar, itulah berlebihan. Sekarang kau beristirahat dulu, sebentar kau ke luar dan kau labraklah mereka!"

Boen Sioe heran bukan main. "Cukup dengan ini satu jurus?" ia tanya.

Hoa Hoei bersenyum. "Ya," sahutnya. "Dengan ini satu jurus, kau telah terhitung sebagai muridku. Muridnya Ittjie Tjin Thianlam tak memerlukan dua jurus guna menghadapi kedua kurcaci itu! Apakah kau pun tidak kuatir nanti merusak nama gurumu?"

Boen Sioe girang sekali. Ia pun sangat cerdik, maka lantas ia berlutut, untuk mengangguk-angguk dengan hormatnya, guna mengangkat guru. Ia pun menghaturkan terima kasihnya. Hoa Hoei girang berbareng duka.

"Tidak kukira, di saat kematianku, aku dapat menerima murid secerdik kau ini," katanya, bersyukur.

"Murid pun, kecuali yaya Kee Loodjin itu, tidak punya sanak atau kadang lagi," berkata Boen Sioe, menjelaskan. "Aku justeru merasa sangat beruntung memperoleh guru sebagai soehoe."

"Sudahlah," kata Hoa Hoei. "Hari bakal lekas malam, pergi kau ke luar, kau labrak kedua kurcaci itu! Kau cari tempat yang lega di mana kau bisa bersilat dengan leluasa."

Boen Sioe bersangsi. Sebenarnya, ia rada jeri.

"Jikalau kau tidak percaya aku, buat apa kau mengangkat aku jadi gurumu?" Hoa Hoei lantas menjadi gusar. "Kau tahu, dulu hari, Binpok Sianghiong, yaitu dua jago dari Hokkian Utara, telah terbinasa dua-duanya dengan jurus ini! Apakah kau kira Binpok Sianghiong kalah daripada dua kurcaci itu?"

Boen Sioe tidak kenal dua jago dari Hokkian Utara yang disebutkan itu tetapi karena orang bergusar, ia paksa membesarkan nyalinya, ia membuka sumbatan pintu gua, lantas ia nerobos keluar, tangan kanannya memegang banderingnya yang istimewa itu, tangan kirinya mencekal jarum berbisa. Ia pun membarengi berseru: "Kurcaci, lihat jarum berbisa!"

Penjahat itu, ialah si orang she Song bersama si orang she Tjoan, yang menjaga di mulut gua, terkejut mendengar disebutnya jarum berbisa, dengan lantas keduanya lari mundur. Si orang she Song mundur juga meskipun ia telah memikir, kalau si nona menyerang dengan jarum, tidak nanti nona itu mengancam dulu...

Boen Sioe sampai di luar dengan terus lari ke tempat lega jauhnya belasan tombak, ketika ia berhenti dan berpaling, ia melihat si Tjoan memburu kepadanya, ia lantas mengayun tangan kirinya ke arah penjahat itu. Si Tjoan terkejut, dia hendak berkelit, apamau dia terpeleset, terus saja dia terguling.

Si Song melihat kawannya roboh, dia kaget, dia lantas memburu. Tapi kawannya itu sudah lantas bangun pula. Maka berdua mereka merangsak. Hampir berbareng mereka kata: "Di sini kita bereskan budak ini! Kalau dia menggunai jarumnya, kita bisa melihatnya!"

Ketika itu matahari telah bersinar layung, kedua penjahat itu justeru menghadapi matahari, maka mereka lantas melengos. Sekarang mereka dapat melihat nyata senjata di tangan si nona. Keduanya tertawa.

Hatinya Boen Sioe berdebar juga. Ia benar-benar menyangsikan ilmu banderingnya itu, sedang ilmu silat ajaran ayah dan ibunya belum berarti. Kedua musuh itu sebaliknya nampak sangat bengis. Tapi ia cerdik, ia berseru: "Jikalau kamu tidak lekas mengangkat kaki, guruku bakal segera keluar! Kau

tahu guruku--Ittjie Tjin

Thianlam? Awas kamu terhadap jarum berbisanya! Beranikah kamu menyaterukan guruku itu? Berapa besar nyalimu? Guruku dapat mengambil jiwa kamu sama gampangnya seperti ia merogoh sakunya!"

Meski mereka ada orang-orang kangouw, si Tjoan dan si Song itu tidak kenal Hoa Hoei, dari itu sambil saling melirik, mereka pikir: "Paling benar aku lekas-lekas membekuk dia untuk dihadapkan kepada Hok Toaya dan Tan Djieya! Inilah jasa! Peduli apa aku dengan Ittjie Tjin Thianlam?" Maka berbareng mereka maju dari kiri dan kanan.

Hati Boen Sioe gentar. "Dia maju berbareng, bagaimana aku mesti menghajar mereka?..." pikirnya, ragu-ragu dan berkuatir. Maka bukan ia maju melawan, ia justeru lompat mundur tiga tindak.

Si Tjoan, diikuti si Song, maju terus.

Nona Lie menjadi terdesak, ia merasa ia terancam bahaya, tidak bisa lain, terpaksa ia menggeraki tangannya, menggunai

banderingnya. Syukur ia masih ingat latihannya.

Si Tjoan maju di sebelah kanan, ia belum datang dekat ketika tahu-tahu dadanya ialah jalan darah siangkiok hiat, kena terhajar bandering istimewa itu, sedang bandering yang kanan menghantam terbang goloknya. Hanya celaka, labu itu pecah terbacok, pasirnya lantas terbang berhamburan!

Si Song lagi maju, tentu sekali dia tidak menduga kepada pasir itu, maka dengan lantas dia kelilipan, hingga dia menjadi kelabakan, tangannya dipakai untuk menutupi matanya, untuk dikucak-kucak. Justeru dia repot sendirinya, bandering yang lain menyambar tubuhnya, hingga segera dia terhuyung ke arah si nona, yang dia terus sambar.

Nona Lie kaget hingga ia berteriak, dengan tangan kirinya ia menolak tubuh si kurcaci. Tepat jarum di tangannya menusuk perut si Song itu, hingga dia menjerit. Cuma sekejap, penjahat ini lantas roboh binasa. Hanya, karena dia telah dapat menjambret, dia tetap masih memeluki, si nona sendiri tidak dapat segera berontak melepaskan diri.

Ketika itu Hoa Hoei telah menyusul keluar, ketika ia melihat keadaan muridnya itu, ia menghela napas dan berkata: "Ha, budak tolol, budak tolol! Tadi kau dapat berlatih bagus sekali, sekarang kau kaget dan bingung, kacau ilmu silatmu..."

Ia lantas maju mendekati, untuk mendupak si Song, atas mana barulah penjahat itu melepaskan rangkulannya dan roboh binasa.

Boen Sioe berdiri diam, saking bingung, ia tidak dapat pulang ketabahannya dengan lekas. Sinar matanya telah benterok sama matanya si Song, yang tubuhnya rebah jengkar, matanya melotot, sebab dia pun mati tiba-tiba. Kemudian ia mengawasi mayat si Tjoan. Hatinya lantas bekerja, memikirkan bagaimana dalam tempo yang pendek ia telah membinasakan lima jiwa manusia. Benar dengan begitu ia berhasil membalaskan sakit hati ayah dan ibunya, toh hatinya tidak tenang. Ia agaknya berduka

"Bagaimana?" berkata Hoa Hoei tertawa. "Bukankah telah terbukti kefaedahannya satu jurus ilmu silat ajarannya gurumu ini?"

"Hanya sayang muridmu menjalankannya tidak sempurna," kata si nona menyesal.

"Tidak apa," kata guru itu, sabar. "Kau tunggu pulihnya tenaga dan kepandaianku, nanti aku mewariskan semua itu kepadamu, setelah  itu  kita kembali ke Tionggoan, untuk malang melintang! Siapa dapat menghalang-halangi kami? Sekarang mari kita kembali ke rumah, untuk minum teh!"

Tanpa menanti jawaban, guru ini menarik tangan muridnya. Mereka pergi ke kiri rimba, melewati sekumpulan pohon yanglioe, lantas sampai di sebuah gubuk.

Boen Sioe turut masuk ke dalam gubuk yang buruk

perlengkapannya tetapi segalanya bersih, bahkan di tengah-tengah ruang ada sepasang papan dengan masing-masing bertuliskan lian atau syair. Ia belum mengerti banyak surat. Lian yang sebelah ia dapat baca, yang sebelah lagi, gelap baginya. Tanpa ia merasa, ia membaca berulang-ulang lian yang sebelah itu, yang berbunyi:

"Bersahabat sama-sama sehingga tua ada seumpama memegang gagang pedang."

"Apakah kau pernah baca syair ini?" Hoa Hoei tanya.

"Belum," menjawab si murid. "Soehoe, apakah artinya itu?"

Guru itu berdiam sejenak. Ia menjadi ingat bahwa telah dua belas tahun ia mengeram di wilayah Hweekiang ini. Dulunya ia mempelajari ilmu surat, lalu batal, ia menukar dengan ilmu silat, meski begitu, ia tetap dandan sebagai pelajar. Inilah disebabkan ia masih menggemari pelajaran surat itu.

"Itulah syairnya Ong Wie," ia menyahut sesaat kemudian. "Yang di atas itu berarti, meskipun kau mempunyai seorang sahabat kekal dengan siapa kau hidup bersama-sama sampai di hari tua, kau toh tetap tidak dapat mempercayai sahabatmu itu, sebab secara diam-diam dia dapat mencelakai kau, maka, meskipun dia berjalan di sebelah depan, baiklah kau terus meraba    gagang    pedangmu. Tegasnya, hati manusia itu jungkir balik bagaikan gelombang. Artinya syair yang di bawah yakni bahwa sahabatmu itu telah menjadi beruntung dan telah menjadi orang berpangkat besar, meski begitu seandai      kau      mengharap bantuannya, untuk membantu mengangkat kau, pengharapanmu itu melainkan membangkitkan tertawaannya saja."

Mendengar keterangan itu, Boen Sioe mengerti kenapa guru ini senantiasa mencurigai ia, meskipun terhadap si guru tidak ada niatnya mencelakai. Maka ia mau percaya, mungkin tadinya guru ini pernah dicelakai orang, karena mana dia menulis syair peringatan itu untuk mencatat hati manusia yang gampang berubah.

Habis itu, Nona Lie masak air, untuk menyeduh teh, maka tidak lama kemudian, setelah minum air panas, mereka merasa segar sekali.

"Soehoe, aku hendak pulang," kata Boen Sioe sekian lama.

Hoa Hoei melengak, ia mengawasi. Agaknya ia putus asa.

"Kau mau pergi?" katanya, menyesal. "Jadi kau tidak mau turut aku untuk belajar silat lebih jauh?"

"Bukan begitu, soehoe," kata si nona, menerangkan. "Satu malam aku tidak pulang, tentulah Kee Loodjin berkuatir dan memikirkannya tak habisnya. Sekarang aku hendak pulang untuk memberi keterangan padanya, habis itu, baru aku akan kembali."

Mendadak Ittjie Tjin Thianlam menjadi gusar.

"Jikalau kau memberi keterangan padanya, nah untuk selamanya kau jangan kembali padaku!" ia membentak.

Boen Sioe kaget dan takut, ia menjadi bingung.

"Aku tidak dapat tidak memberi keterangan pada Kee Loodjin," katanya perlahan. "Dia itu baik sekali dan sangat menyayangi aku..."

"Terhadap siapa pun kau tidak boleh omong tentang kita di sini!" kata Hoa Hoei, bengis. "Kau mesti angkat sumpah untuk tidak menyebutkan apa juga mengenai kita, atau aku akan tidak ijinkan kau berlalu dari sini!" Baru ia menyebut "sini" itu atau ia menjerit "Aduh!" keras sekali dan tubuhnya segera roboh, bahkan ia terus pingsan. Itulah disebabkan ia berbicara keras-keras, lukanya mendatangkan rasa nyeri yang hebat.

Boen Sioe kaget sekali, tapi ia masih ingat untuk mengasih bangun, guna menolongi. Ia membasahkan jidat orang dengan air dingin.

Selang sesaat, Hoa Hoei mendusin.

"Eh, kau masih belum pergi?" tanyanya heran.

"Soehoe, apakah punggungmu masih sakit?" si nona balik menanya. Ia tidak sempat menjawab.

"Sedikit mendingan," sahut guru itu. "Kau membilang hendak pergi pulang, kenapa kau belum pergi?"

"Sebelum soehoe sembuh, aku tidak mau pergi," sahut Boen Sioe. "Biar aku menanti pula beberapa hari lagi." Di dalam hatinya, ia pikir: "Kee Loodjin paling juga memikirkan aku tetapi soehoe perlu rawatan."

Senang Hoa Hoei mendengar jawaban itu, karenanya ia tidak bergusar terus.

Boen Sioe pun senang. Ia hanya merasa sulit untuk tabiat aneh guru ini. Ia lantas mencari rumput kering, untuk dijadikan kasur darurat, yang mana ia gelar di ruang depan itu. Ketika ia tidur pulas, beberapa kali ia mendusin dengan mendadak. Ia terganggu impian-impian yang dahsyat, umpamanya penjahat datang membekuk padanya, atau setannya si penjahat, dengan berlepotan darah, datang menagih jiwa terhadapnya...

Besoknya pagi, Boen Sioe mendusin dengan hati lega. Ia mendapatkan gurunya segar sekali. Ia lantas masak nasi, untuk mereka dahar. Setelah datangnya waktu senggang, Hoa Hoei lantas memberikan pelajaran silat. Dia mulai dengan pokoknya lweekang, atau ilmu dalam.

"Kau telah berusia tinggi, untuk belajar silat, kau memerlukan tempo lebih banyak daripada seharusnya," Hoa Hoei memberi keterangan. "Tapi kau jangan kuatir, meski usiamu tinggi, itu dapat ditutup dengan kecerdasanmu serta dengan adanya guru bukan sembarang guru. Didalam lima tahun aku tanggung kau akan jarang tandingannya di dalam Rimba Persilatan."

Boen Sioe tidak bilang apa-apa kecuali menghaturkan terima kasih. Ia belajar dengan rajin dan tekun. Didalam tempo delapan hari, ia telah memperoleh kemajuan, sedang lukanya Hoa Hoei mulai sembuh. Baru setelah itu ia kasih tahu gurunya ini untuk pulang dulu, guna menemui Kee Loodjin. Kali ini Hoa Hoei tidak main bentak­bentak lagi, dia tidak sampai memaksa muridnya mengangkat sumpah. Begitulah ia pulang dengan menunggang kuda putihnya. Ia menetapi janji, ia tidak mengasih tahu Kee Loodjin tentang pertemuannya sama Hoa Hoei disebabkan ia terancam bahaya, la mendusta bahwa ia kesasar di Gobi, sampai ia bertemu dan ketolongan serombongan kafilah.

Kee Loodjin percaya keterangan itu, maka dia tidak menanya melit-melit, dia hanya merasa girang.

Semenjak itu setiap sepuluh hari atau setengah bulan, Boen Sioe pergi kepada Hoa Hoei, untuk berdiam dengannya beberapa hari. Selama beberapa hari itu, ia belajar dengan rajin sedang gurunya mengajari dengan sungguh-sungguh. Karena ia tidak memikirkan lain, gangguan apa jua tidak ada, ia memperoleh kemajuan pesat. Jadi benar pembilangan gurunya, ialah murid cerdas, dan si guru bukan sembarang guru...

Tanpa merasa, tiga tahun telah lewat.

Satu kali dengan girang Hoa Hoei kata pada muridnya: "Dengan kepandaian kau sekarang, kau telah termasuk kaum kangouw kelas satu. Kalau kau pulaug ke Tionggoan, asal kau memperlihatkan kepandaianmu, kau akan menjadi kesohor."

Boen Sioe merasa senang tetapi ia tahu ia baru menyangkok kepandaian gurunya dua tiga bagian, maka ia belajar terus dengan tetap rajin. Karena itu selanjutnya lebih sedikit harinya ia berdiam sama Kee Loodjin, lebih banyak ia tinggal bersama gurunya itu. Beberapa kali sudah Kee Loodjin menanya ia pergi ke mana saja, ia menggunai pelbagai alasan untuk menutup rahasianya, agar ia tidak melanggar pesan gurunya. Selanjutnya, Kee Loodjin tidak pernah menanyakan lagi.

Pada suatu hari Boen Sioe pulang dari rumah gurunya. Biasanya ia mengambil jalan mutar, tidak mau ia melintasi bukit kecil tempat terbunuhnya serigala, tetapi kali ini, ia terpaksa jalan di situ. Sebabnya ialah mega mendung dan angin utara bertiup keras, tandanya bakal datang badai salju. Ia pun melarikan kudanya keras-keras. Ia melihat kawanan penggembala repot menggiring kambing mereka pulang. Di tengah udara tak nampak seekor jua burung gagak. Justeru itu, untuk herannya, ia mendapatkan satu penunggang kuda tengah mendatangi dengan binatang tunggangannya

dikaburkan. Ia menjadi heran.

"Badai salju segera bakal datang, kenapa dia justeru keluar dari rumahnya?" ia pikir. Maka ia mengawasi.

Kapan penunggang kuda itu telah datang cukup dekat, Boen Sioe melihat seorang nona Kazakh yang mengerobongi tubuh dengan mantel merah. Ia pula lantas mengenali Aman, yang tubuhnya langsing dan romannya cantik. Karena, ia tidak ingin menemui nona itu, ia larikan kudanya ke belakang bukit, untuk mengintai.

Tiba di depan bukit, Aman bersiul nyaring, atas mana, siulannya itu mendapat jawaban yang serupa, disusul munculnya seorang anak muda, yang datang menghampirkan, maka sebentar saja, keduanya sudah saling rangkul. Pula ramai suara mereka tertawa.

"Badai salju bakal lekas datang, kenapa kau keluar juga?" demikian si pemuda tanya.

Boen Sioe mengenali suaranya Supu, sahabat kekalnya itu.

"Hai, si cilik tolol!" kata Aman, tertawa. "Kau tahu badai salju bakal turun, kenapa kau juga keluar dan menantikan aku di sini?"

Supu tertawa

"Setiap hari kita bertemu di sini” katanya, gembira. "Pertemuan kita ini lebih penting daripada makan nasi! Biarnya ada ancaman golok atau pedang, pasti aku akan menunggui kau di sini!"

Aman tertawa pula.

Keduanya lantas duduk berendeng di bukit kecil itu, keduanya bicara tak hentinya.

Mereka bicara tentang asmara

Boen Sioe mengintai di balik beberapa pohon besar, ia berdiri tercengang. Ia telah mendengar nyata setiap perkataan pemuda dan pemudi itu, kecuali di saat mereka itu seperti berbisik. Kemudian lagi, ia terkejut ketika tidak keruan-keruan pasangan muda-mudi itu tertawa dengan keras.

Nona Lie mendengar seperti tidak mendengar. Melihat tingkah laku muda-mudi itu, di depan matanya berbayang peristiwa dari masa ia masih kecil. Di situ pun ada berduduk berendeng dua bocah, yang satu pria, yang lain wanita. Mereka itu erat sekali perhubungannya. Merekalah Supu dan ia sendiri. Di sana mereka biasa saling mendongeng, sampai itu hari mereka diserang serigala yang ganas. Apa yang mereka biasa omongi, ia seperti sudah lupa. Sebab sepuluh tahun telah berselang. Hanya sekarang, melihat Supu bersama Aman itu, ia terkenang akan masa yang lampau itu.

Segera sang salju mulai turun, sedikit demi sedikit, tetapi lama-lama, kuda mereka, pula kepala mereka bertiga, mulai putih ketutupan bunga salju. Juga tubuh mereka mulai ketutupan. Supu dan Aman seperti tidak menghiraukan salju itu. Dan Boen Sioe pun tidak mempedulikannya.

Lagi sekian lama, barulah Supu dan Aman dibikin kaget hingga keduanya berlompat bangun. Di pohon kayu di dekat mereka terdengar suara berisik.

"Ha, air batu turun!" seru si pemuda. "Mari lekas pulang!"

Aman menurut, tanpa banyak omong lagi, mereka naik kuda mereka dan melarikannya.

Boen Sioe bagaikan tersadar mendengar seman mereka itu. Ia pun lantas merasakan jatuhnya hujan air batu itu, yang mengenakan kepalanya, mukanya dan tangannya, hingga ia merasa sakit. Tanpa ayal lagi, ia lari pulang. Begitu ia tiba di depan rumahnya, ia heran. Di muka rumah ada tertambat dua ekor kuda, satu antaranya ia kenali adalah kudanya Aman.

"Mau apa mereka datang ke rumahku?" pikirnya. Sambil menerka-nerka, ia turun dari kudanya, untuk dituntun ke belakang. Hujan air batu bertambah keras turunnya.

Setelah ia memasuki ruang belakang dari rumahnya, Boen Sioe mendapat dengar suaranya Supu, katanya: "Paman, hujan es turun secara besar-besaran, terpaksa kita mesti berdiam lamaan di sini."

"Tetapi ingat, di hari-hari biasa, walaupun aku mengundang, tidak nanti kau datang ke mari," terdengar suaranya Kee Loodjin.

"Tunggu, nanti aku mengambil air teh."

Memang juga, sekarang ini sukar untuk Kee Loodjin, umpamanya...... hendak mengundang Supu. Semenjak orang-orang Tjhin Wie Piauwkiok mengganas, orang Kazakh jadi sangat mencurigai orang Han. Benar Kee Loodjin sudah tinggal lama di antara mereka itu dan terkenal baik, tetapi orang jadi tidak suka bergaul dengannya. Bagusnya, dia tidak sampai diusir pergi. Sebaliknya, tendanya Supu dan Aman telah dipindah semakin jauh, hingga sukar mereka datang ke rumah Kee Loodjin itu. Kali ini kebetulan saja mereka ini ditimpa hujan es.

Kee Loodjin pergi ke dapur. Ia heran melihat Boen Sioe sudah pulang dan lagi berdiri bengong muka merah.

"Kau... sudah pulang?" katanya. Orang tua itu heran akan tetapi ia mengangguk.

Tidak lama maka Kee Loodjin sudah keluar dengan membawa susu kambing, koumiss dan teh merah, untuk menyuguhkan tetamunya.

Boen Sioe duduk di dekat dapur, sambil menghangatkan diri, ia memasang kuping. Ia mendengar suaranya Supu dan Aman, yang kadang-kadang tertawa. Hampir ia berbangkit, untuk pergi ke luar, untuk berbicara sama mereka itu.

"Tidak ada halangannya toh?" pikirnya Hanya, dalam sekejap, ia menahan hati. Itulah sebab ia lantas ingat sikapnya ayah Supu, yang galak, mulutnya gampang mendamprat, cambuknya gampang merangket.

Ketika Kee Loodjin kembali ke dapur, untuk membagi susu dan teh pada si nona, ia heran melihat sinar mata nona itu. Sudah belasan tahun mereka tinggal bersama, mereka mirip kakek dan cucu sejati, tetapi mereka tetap bukan asal sedarah sedaging, si empee sukar menjajaki hati si nona.

Setelah mengawasi, mendadak Boen Sioe kata pada si empee: "Aku hendak menyamar sebagai seorang nona Kazakh, aku akan datang untuk numpang berlindung dari hujan es, jangan yaya membuka rahasia." Tanpa menanti jawaban, ia lekas pergi ke kamarnya, untuk dandan, pula ia rubah sanggulnya. Sudah lama ia tinggal di wilayah Hweekiang ini, ia jadi mirip dengan bangsa Kazakh. Habis dandan, ia pergi pula ke dapur, kepada si empee, memberi tanda dengannya. Baru ia pergi ke luar, untuk berlalu dengan kudanya dengan manda ditimpa hujan es. Hanya kabur belum satu lie, ia sudah lari kembali. Di depan rumahnya, ia mengetuk pintu. Ia jeri juga ketika melihat cuaca yang luar biasa. Sudah sepuluh tahun lebih ia tinggal di Hweekiang ini, belum pernah ada hujan es lebat begini, dan awan pun mendung sekali. Sambil mengetuk-ngetuk pintu, ia mengasih dengar suaranya: "Mohon numpang! Mohon numpang!"

Kee Loodjin membukai pintu. "Nona ada urusan apa?" ia tanya.

"Hujan es hebat sekali, aku mohon menumpang berlindung," menyahut Boen Sioe.

"Boleh, boleh!" menyahut si empee, yang terpaksa main sandiwara. "Di dalam pun ada dua sahabat lagi menumpang berlindung. Mari masuk, nona!"

"Aku hendak pergi ke Huangsha Weitze, dari sini perjalanannya masih berapa jauh lagi?" Boen Sioe berlagak menanya. Ia menggunai bahasa Kazakh. Ia senang si empee dapat main sandiwara baik sekali. Kee Loodjin berlagak kaget. "Nona mau pergi ke sana? Ah, tidak dapat! Dengan cuaca seburuk ini, tidak nanti kau dapat tiba di sana. Lebih baik nona singgah satu malam di sini, besok baru kau melanjuti perjalananmu. Kalau kau tersesat, itulah celaka..."

Boen Sioe bertindak masuk, ia menggibriki es dari bajunya. Ia melihat Supu dan Aman duduk berendeng menghadapi api.

Aman melihat yang datang adalah seorang nona, ia lantas berkata manis: "Kakak, kita ketimpa hujan,        mari

menghangatkan diri di sini!"

"Baiklah, terima kasih!" Boen Sioe menyahuti. Ia lantas duduk di samping nona Kazakh itu. Supu mengangguk seraya bersenyum. Ia tidak mengenali nona itu, yang telah berpisah dari ianya selama delapan atau sembilan tahun. Sekarang si nona cilik telah menjadi dewasa, dandanannya pun lain sekali.

Kee Loodjin menambah susu dan teh, ia bicara sama tetamunya ini seperti mereka adalah orang-orang asing benar-benar. Boen Sioe pun belajar kenal pada pemuda dan pemudi itu. Ia sendiri mengaku bernama Tangsanli, gadisnya pemilik sebuah peternakan di tempat jauhnya dua ratus lie dari situ.

Supu beberapa kali melongok ke jendela, untuk melihat udara, meskipun sebenarnya, dengan mendengar suara hujan, ia sudah dapat tahu hujan tak akan berhenti lekas-lekas.

Aman berkuatir, diam-diam ia tanya Supu kalau-kalau gubuknya si orang tua ini tidak bakal ambruk diserang hujan dan angin keras itu.

"Aku hanya menguatirkan wuwungan tidak dapat menahan beratnya es dan salju," kata Supu. "Nanti aku naik ke atas, untuk menyingkirkannya."

"Awas, nanti kau kena tertiup angin dan terbawa pergi!" kata si pemudi.

Supu tertawa ketika ia menjawab: "Di tanah telah bertumpuk banyak salju, umpama kata benar aku jatuh, toh tidak nanti membahayakan!..."

Pikiran Boen Sioe kusut. Ketika ia mengangkat cawannya, tangannya bergemetaran. Ia mesti menyaksikan eratnya hubungan muda-mudi itu. Ia sendiri tidak tahu mesti mengatakan apa. Sahabatnya di masa kecil duduk dekatnya tetapi mereka tidak dapat bicara satu dengan lain dengan leluasa seperti duluhari. la pun memikirkan apa benar-benar Supu tidak mengenalinya. Di lain pihak, ia ingin Aman tidak mengetahui tentang persahabatan mereka...

Hari makin gelap. Diam-diam Boen Sioe menggeser diri, supaya Aman dan Supu dapat ketika untuk saling menggenggam tangan mereka, untuk bicara tanpa terdengar lain orang. Cahaya api, yang memain, pula memain di antara mukanya muda-mudi itu. Cuma muka Boen Sioe tak terlihat, sebab ia berpisah cukup jauh dari unggun itu.

Kembali Kee Loodjin menyajikan barang makanan. Hanya mereka bertiga agaknya tidak ada napsu daharnya...

Selagi ruang ada sangat sunyi itu, di luar terdengar suara larinya kuda di atas salju. Boen Sioe mendengar, orang lagi mendatangi ke gubuknya itu. Ia pun mengetahui, kuda itu seperti sudah letih sekali.

Kee Loodjin dapat mendengar suara kuda setelah datangnya sudah dekat sekali.

"Kembali ada orang berlindung dari angin dan hujan..." katanya

Supu berdua Aman mungkin mendengar dan mungkin tidak, mereka tidak mempedulikan, mereka lebih asyik menggenggam terus tangan mereka satu dengan lain, untuk bicara saling berbisik...

Hanyalah sesaat, seorang penunggang kuda tiba lebih dulu. Lantas terdengar ia menggedor pintu, bukan lagi mengetuk, dan suaranya pun keras dan kaku, tidak miripnya orang yang mau mohon menumpang singgah.

Dengan alis berkerut, terpaksa Kee Loodjin membukai pintu. Di depannya terlihat seorang yang tubuhnya besar, yang mengenakan baju lapis kulit kambing, sedang di pinggangnya tergantung pedang.

"Angin dan salju besar sekali, kudaku tidak dapat berjalan terus!" dia kata keras. Dia bicara dalam bahasa Kazakh akan tetapi tidak lancar dan suaranya pun tidak wajar. Dengan mata tajam, ia memandangi semua orang yang berada di dalam ruang itu.

"Silahkan masuk," Kee Loodjin mengundang. "Silahkan duduk! Mari minum arak!"

Tuan rumah yang tua ini ramah-tamah, ia lantas menuangi arak dan menyuguhkannya.

Tetamu itu meminum araknya sekali cegluk, lantas dia duduk di dekat api. Dia membuka baju luarnya, hingga di kiri kanan pinggangnya terlihat juga sepasang pedang kecil dengan gagang emas yang berkeredepan.

Boen Sioe dapat melihat sepasang pedang itu, hatinya bercekat, kerongkongannya seperti tersumbat sesuatu. Yang lebih hebat matanya menjadi kabur, kepalanya menjadi pusing. Tapi ia masih dapat berkata di dalam hatinya: "Inilah pedang ibu!"

Meskipun waktu ibunya terbinasa ia masih berusia belum sepuluh tahun, pedang ibunya itu Boen Sioe ingat baik sekali, ia mengenalinya tanpa keliru. Maka ia lantas melirik pada ini tetamu yang kasar. Segera ia ingat orang ini ada satu di antara tiga kepala penyamun yang mengejar-ngejar mereka satu keluarga. Ia sendiri telah berubah banyak tetapi penjahat itu, yang dulu berumur tiga puluh lebih dan sekarang menjadi empat puluh lebih, sedikit perubahannya. Tapi ia kuatir orang nanti mengenali padanya, ia tidak mau mengasih lihat mukanya. Ia pikir pula: "Coba angin dan salju tak sebesar ini tidak nanti aku bertemu sama Supu dan ini manusia jahat."

"Tuan dari mana?" Kee Loodjin bertanya. "Tentu dari tempat jauh ya?"

"Hm!" jawabnya tetamu itu, yang kembali menenggak secawan arak.

Itu waktu tibalah penunggang kuda yang kedua. Kali ini pintu diketuk dengan perlahan, seperti juga orang itu takut membikin kaget tuan rumah.

Kee Loodjin kembali membukai pintu, mengundang tetamunya masuk.

Tubuh orang itu menggigil, mukanya pun ditutupi sabuk bulu kambing dan kopiahnya dibelesaki menutupi seluruh jidatnya, hingga ia terlihat saja kedua matanya. Ia mengasih dengar suara aa-oe-oe dan kedua tangannya digerak-geraki.

Nyata ia seorang gagu.

Dengan gerakan tangan, Kee Loodjin mengundang orang berduduk, terus ia menyuguhkan arak.

Si gagu memberi hormat sambil menjura dalam, kepalanya digoyangi. Ia menolak meminum arak. Dengan itu ia menghaturkan terima kasihnya. Ia kedinginan sangat, meski sudah mendampingi api, ia masih tidak mau membuka baju atau kopiahnya atau sabuknya. Ia bahkan duduk merengkat.

"Kau minum arak, rasa dingin akan berkurang," kata Boen Sioe, yang merasa berkasihan.

Kembali si gagu aa-oe-oe ia seperti tak mengerti omongan orang.

"Siapa gagu, dia pun tuli," kata Kee Loodjin. "Dia ini tidak mendengar suara orang." Boen Sioe tertawa "Ya, aku lupa!" katanya Di situ berkumpul semuanya enam orang bersama mereka, Supu dan Aman tidak dapat lagi berbisik-bisik.    Ketika    Supu    sudah mengawasi tuan rumah sekian lama, ia berkata: "Empee, kaulah orang    Han.    Dapatlah    aku menanyakan   tentang   sesuatu orang?"

"Siapa ya?" si empee balik menanya.

"Dialah seorang nona Han dengan siapa aku pernah hidup bersama selagi kita masih kecil, sering kita main-main berdua," menerangkan Supu.

Boen Sioe terkejut, ia lekas melengos.

"Dia bernama Lie Boen Sioe," Supu menambahkan sebelumnya si orang tua menyahuti. "Sudah selang delapan atau sembilan tahun kita berpisah lantas kita tidak bertemu pula satu dengan lain. Aku ingat dia membilangnya bahwa ia tinggal bersama seorang tua yang bungkuk punggungnya. Bukankah orang tua itu empee adanya?"

Kee Loodjin batuk-batuk. Ia ingin memperoleh penghunjukan dari Boen Sioe tetapi si nona lagi berpaling ke lain arah. Ia menjadi bingung hingga ia cuma dapat berkata: "Ah, ah..."

"Dialah nona yang nyanyinya paling merdu," berkata pula Supu, "hingga orang mengatakan suaranya lebih merdu daripada nyanyiannya si burung nilam. Selama beberapa tahun ini tidak pernah aku mendengar pula nyanyiannya itu. Empee, apakah dia masih tinggal bersama empee disini?"

"Tidak... tidak..." kata si empee, tak lancar. "Dia tidak..."

"Oh, kau maksudkan si nona Han yang dulu tinggal bersama empee ini..." tiba-tiba Boen Sioe campur bicara. "Aku kenal dia Dia telah meninggal dunia pada enam atau tujuh tahun yang lalu!"

Pemuda Kazakh itu kaget.

"Ah, dia telah meninggal dunia!" serunya. "Kenapa dia mati?"

Kee Loodjin melirik Boen Sioe. "Dia sakit... sakit..." ia menyahuti.

Matanya Supu menjadi merah.

"Ketika kita masih kecil, biasa kita menggembala kambing bersama," ia bilang, suaranya parau. "Dia sering bernyanyi untuk aku mendengari, dia juga gemar mendongeng. Baru beberapa tahun tidak bertemu, aku tidak sangka dia telah menutup mata."

"Ya, kasihan anak itu..." kata Kee Loodjin.

Supu mendelong mengawasi perapian.

"Dia pernah membilangi aku bahwa ayah dan ibunya telah dibinasakan orang jahat," katanya pula kemudian, "karenanya dia jadi hidup sebatang kara dan menderita di sini..."

"Apakah nona itu cantik?" Aman tanya. Baru sekarang dia turut bicara.

"Ketika itu aku masih kecil, aku tidak ingat jelas," menjawab Supu. "Aku cuma tahu dia pandai bernyanyi, suaranya merdu, serta dia gemar bercerita, dan ceritanya menarik hati..."

Sekonyong-konyong si orang kasar menyeletuk: "Kau maksudkan si bocah Han? Kau bilang dia she Lie? Bahwa ayah dan ibunya terbinasakan orang hingga dia terlantar seorang diri?"

Nyerocos pertanyaannya orang asing ini.

"Benar. Kau juga kenal dia?" Supu menjawab seraya balik bertanya.

Orang itu tidak menjawab, hanya dia menanya pula: "Dia menunggang seekor kuda putih, bukankah?"

"Benar," menyahut Supu. "Jadi kau pun telah mengenal dia."

Mendadak orang itu berbangkit.

"Dia mati di sini?" dia tanya Kee Loodjin, bengis.

"Ya," menyahut si orang tua, yang terpaksa bersandiwara terus.

"Kau tentunya menyimpan baik-baik segala barang peninggalannya?" tanya orang asing itu.

Kee Loodjin heran, ia mengawasi orang sambil melirik.

"Apa hubungannya barang orang itu denganmu?" ia tanya.

"Ada serupa barangku telah dicuri nona itu!" menyahut si tetamu kasar. "Aku telah cari dia di mana-mana kiranya dia sudah mampus..."

Tiba-tiba Supu berbangkit.

"Kau ngoceh tidak keruan!" bentaknya. "Cara bagaimana Nona Lie dapat mencuri barangmu?"

"He, kau tahu apa?" balik tanya orang itu.

"Nona Lie bersama aku hidup bersama-sama semenjak masih kecil," kata Supu.

"Aku tahu dialah satu nona yang baik hatinya, tidak nanti dia mencuri barang orang!"

Orang itu melirik, sikapnya tawar.

"Dia justru telah mencuri barangku!" ejeknya.

Supu memegang gagang golok di pinggangnya.

"Siapa namamu?" dia tanya. "Aku lihat kau bukan orang Kazakh! Mungkin kaulah si penyamun bangsa Han!"

Orang itu tidak menyahuti, dia hanya bertindak ke pintu, lalu mementangnya, hingga angin dingin menghembus masuk, membawa sekalian banyak lempengan salju. Di luar, salju melulahan di mana-mana orang dan binatang pasti tidak dapat berlalu-lintas lagi di sana Dia pikir: "Di waktu begini tentulah tidak bakal ada orang datang kemari! Di sini ada dua nona yang lemah, seorang tua yang lemah juga dan si gagu itu yang bercacad, asal aku menggeraki tanganku, dia tentu roboh! Tinggal ini satu pemuda, yang romannya kekar, dia mungkin memerlukan beberapa jurus untuk merobohkannya." Karena berpikir demikian, ia lantas mengambil keputusan.

"Benar aku orang Han!" katanya, menantang. "Habis kau mau apa? Aku she Tan, namaku Tat Hian, orang kangouw menyebutnya Tjheebong Kiam, si Pedang Ular Naga Hijau! Binatang cilik, kau dengar tidak?"

Supu tidak mengetahui tentang kaum kangouw ia menggeleng kepala.

"Aku belum pernah mendengar," sahutnya. "Kau jadinya penyamun bangsa Han?"

"Tuan besarmu satu piauwsoe, hidupnya justru membasmi perampokan!" kata Tat Hian pula "Mengapa kau bilang aku penyamun?"

Mendengar orang bukannya penyamun dan keterangan itu ia mau percaya, sikapnya pemuda Kazakh ini menjadi sabar. Ia kata: "Bagus kalau kau bukan penyamun bangsa Han! Aku memang tahu banyak orang Han orang baik-baik, tetapi banyak bangsaku yang tidak mempercayainya. Untuk kau, baiklah kau jangan menyebut-nyebut pula bahwa Nona Lie itu telah mengambil milikmu!"

Tapi Tan Tat Hian tertawa dingin.

"Perempuan itu sudah mati, untuk apa kau masih mengingati dia?" katanya.

"Semasa hidupnya, kita adalah sahabat-sahabat baik," berkata Supu, "maka itu setelah dia menutup mata, dia tetap sahabatku. Aku melarang orang omong jelek tentangnya!"

Tat Hian tidak ingin berebut mulut, maka ia menoleh kepada Kee Loodjin.

"Mana barang-barangnya si nona?" tanyanya.

Sementara itu Boen Sioe bersyukur yang Supu masih ingat ia dan membelanya. "Dia tidak melupai aku, dia tidak melupai aku," katanya dalam hatinya "Dia tetap baik terhadapku..." Tapi ia heran untuk sikapnya Tat Hian itu. Pikirnya: "Tidak pernah aku mengambil barang dia, kenapa dia menuduh aku mencurinya?" Ia tak sadar akan kelicikan orang.

"Kau kehilangan barang apa, tuan?" tanya si empee Kee. "Nona kecil itu polos dan jujur, inilah aku ketahui, maka itu tidak dapat dia mengambil barang lain orang."

"Itulah sehelai peta!" menyahut Tat Hian setelah berdiam sejenak. "Untuk lain orang, peta itu tidak ada artinya, sebab... Itulah gambar lukisan yang dibuat almarhum ayahku, maka perlu aku mendapatkannya pulang. Nona Lie tinggal di rumahmu ini kau tentunya pernah melihat itu."

"Bagaimana sebenarnya lukisan itu? Apakah gambar sansoei atau orang?" Kee Loodjin menanya pula.

"Ya, gambar sansoei..." sahut Tat Hian.

"Hm!" Supu tertawa dingin. "Gambar atau peta apa masih tidak tahu tetapi berani sembarang menuduh orang!"

Gusar Tat Hian, maka ia menghunus pedang kecilnya.

"Bangsat kecil, apakah kau sudah bosan hidup?" dia menegur. "Tuan besarmu biasa membunuh orang tanpa menutup matanya!"

Supu pun menghunus golok pendeknya.

"Tidak gampang untuk membunuh seorang Kazakh!" katanya menantang, suaranya dingin.

"Supu, jangan ladeni dia!" berkata Aman.

Supu mendengar kata, dengan ayal-ayalan ia masuki goloknya ke dalam sarungnya.

Telah bulat tekadnya Tan Tat Hian mendapatkan peta dari Istana Rahasia Kobu, untuk itu sudah belasan tahun dia dan kawan-kawannya hidup di wilayah Hweekiang ini di mana mereka merantau ke banyak tempat, sekarang dia mendapat endusan tentang si Nona Lie, turunannya Pekma Lie Sam, mana dia mau melepaskannya dengan gampang? Dia memang bangsa kasar, tetapi dia bisa berpikir. Dia mengerti, tak sabar artinya gagal. Maka dia cuma mendelik kepada Supu, lalu dia berpaling pula kepada tuan rumah yang tua itu.

"Peta itu ialah sebuah gambar," katanya. "Itulah lukisan dari pemandangan alam di suatu tempat di gurun pasir, ada gunungnya, ada kalinya..."

Hati si empee terkesiap, sedang tubuh si gagu menggigil.

"Kenapa kau ketahui peta atau gambar itu ada di tangannya si Nona Lie?" empee Kee tanya pula kemudian.

"Apa yang aku bilang ini ada hal yang benar," menyahut Tat Hian. "Jikalau kau serahkan peta itu padaku, suka aku memberi hadiah besar padamu." Ia lantas merogoh keluar dua potong goanpoo emas, yang ia terus letaki di atas meja. Uang emas itu mengeluarkan sinar berkeredepan yang menggiurkan. Empee Kee berdiam berpikir. "Sebenarnya aku belum pernah melihat barang itu," katanya.

"Aku hendak melihat semua barang peninggalannya nona kecil itu!" kata Tat Hian.

"Ini... ini..." empee itu bersangsi. Tangan   kirinya   Tat   Hian bergerak, maka sebatang pedang kecilnya nancap di meja.

"Ini... ini...apa?" bentaknya. "Nanti aku lihat sendiri!" la menyulut sebatang lilin, dengan bengis ia menolak pintu dalam, untuk masuk ke kamar. Paling dulu ia masuki kamarnya si empee. Ia membalik-balik tempat pakaian. Kemudian ia masuk ke kamarnya Boen Sioe. Di sini ia mendapatkan baju si nona, yang tadi dia loloskan, untuk menyalin pakaian sebagai nona Kazakh.

"Ha dia mati sesudah besar!" katanya si piauwsoe penyamun. Ia lantas memeriksa dengan terliti.

Di situ ada pakaiannya Nona Lie semenjak dia masih kecil, benar pakaian itu sudah tidak dapat dipakai tetapi sebab itu buatan ibunya sendiri, dia menyimpannya terus. Melihat pakaian itu, Tat Hian samar-samar mengingat roman dan potongan tubuh Boen Sioe semasa kecilnya itu, ketika mereka mengejar-ngejarnya di gurun pasir.

"Benar! Benar!" katanya girang. "Benar dia!" Hanya setelah mencari sekian lama, ia tidak mendapatkan barang yang ia cari.

Supu gusar bukan main menyaksikan orang mengaduk-aduk pakaian Boen Sioe, beberapa kali sudah ia memegang goloknya, untuk dicabut, saban-saban Aman mencegahnya.

Kee Loodjin sendiri saban-saban melirik kepada Boen Sioe, sinar mata siapa menyala bagaikan api, hanya nona itu, mengenai sepak terjangnya Tat Hian, seperti tidak melihatnya. Maka masgullah orang tua ini. Ia tidak dapat berbuat apa-apa. Bagaimana kalau penyamun ini mengenali si nona?

Boen Sioe memperhatikan sikapnya Supu. Ia berduka, ia pun merasa puas.

"Benar-benar dia masih ingat aku," pikirnya. "Agaknya dia bersedia bertempur untuk membelai barang-barangku." Di lain pihak, ia tetap heran atas sikapnya si orang jahat. Pikirnya: "Mengapa dia berkeras menuduh aku mencuri barangnya? Peta apakah itu?"

Memang duluhari Boen Sioe disesapkan peta oleh ibunya hanya ia belum tahu apa-apa, ibunya pun tidak sempat lagi memberi keterangan padanya, la juga tidak tahu yang kawanan piauwsoe dari Tjhin Wie Piauwkiok, yang berubah menjadi penyamun, telah mencari itu selama sepuluh tahun lebih.

Sia-sia Tat Hian menggeledah sekian lama, ia nampak masgul dan putus asa. Tapi tidak lama, mendadak dia menanya bengis: "Di manakah kuburannya?"

Kee Loodjin melengak. Itulah pertanyaan yang ia tidak sangka.

“Dia dikubur jauh, jauh sekali..." sahutnya gugup.

Tat Hian menurunkan pacul dari dinding.

"Mari antar aku!" katanya.

Supu berbangkit.

"Kau hendak bikin apa?" ia tanya.

"Perlu apa kau campur urusanku?" bentak Tat Hian. "Aku hendak membongkar kuburannya, untuk memeriksa. Mungkin dia membawanya peta itu ke liang kubur!"

Supu menghunus goloknya, ia menghalang di pintu.

"Aku larang kau menggali kuburannya!" ia kata nyaring.

"Minggir!" bentak Tat Hian. la mengayun paculnya, menyerang.

Supu berkelit ke kiri, terus ia menyerang.

Tat Hian melemparkan paculnya, ia mencabut pedangnya.

Maka "Trang!" kedua senjata mereka beradu keras. Atas itu keduanya sama-sama lompat mundur setelah mana, mereka maju pula, untuk bertempur di dalam ruang yang tak lebar itu.

Kee Loodjin lantas menyingkir ke pinggiran, juga si gagu dan Aman. Cuma Boen Sioe yang berdiri diam di dekat jendela.

Kemudian Aman mencabut pedang pendeknya Tat Hian, yang nancap di meja, dia berniat membantu Supu akan tetapi dia tidak memperoleh kesempatan guna menyelak di antara mereka

Supu telah mendapatkan pelajaran dari ayahnya, ia berkelahi bengis sekali.

Tat Hian heran hingga ia berpikir: "Aku tidak menyangka bocah Kazakh ini gagah sebagai erang gagah dari Tionggoan..."

Tengah ia berpikir itu, ia kaget akan mendengar suara angin di belakangnya, dari datangnya senjata tajam. Sebab Aman, yang tidak bisa maju, lantas menimpuk dengan pedang pendek. Ia berkelit ke kanan. Justeru ia berkelit, justeru tiba serangannya Supu, maka lengannya kena tergores golok, sia-sia ia mencoba berkelit lebih jauh. Ia menjadi gusar sekali, lantas ia membalas menyerang. Tiga kali beruntun ia menikam dengan jurus-jurus dari ilmu silat pedangnya, "Tjheebong Kiamhoat" atau Ilmu Pedang Ular Naga Hijau.

Supu kaget melihat datangnya serangan saling susul, sedang sinar pedang membuat matanya silau. Tahu-tahu lehernya telah kena dimampirkan pedang lawan itu hingga darahnya mengalir keluar.

Tat Hian memperoleh hati, ia mendesak terus. Di lain saat, lengan Supu kena kelanggar pedang, sampai dia merasakan sakit, goloknya terlepas dari cekalannya dan jatuh.

Di saat tikaman yang ketiga mengancam dan Supu agaknya mati daya, Boen Sioe maju satu tindak, untuk menolongi. la hendak menggunai ilmu Tay Kimna Tjioe, guna menangkap tangannya Tat Hian. Akan tetapi mendahului ia, Aman telah berlompat ke depan Supu sambil berseru: "Jangan melukakan dia!"

Melihat nona Kazakh yang elok itu, tapi yang romannya ketakutan, batal Tat Hian menikam terus. Dengan mengancam sama ujung pedangnya, ia tertawa dan tanya nona itu: "Kau begini memperhatikan dia! Adakah dia kekasihmu?"

Muka Aman merah tetapi ia mengangguk.

"Kau menyayangi dia, baik!" kata Tat Hian pula. "Aku nanti memberi ampun padanya asal besok badai berhenti, kau turut aku!"

Supu menjadi sangat mendongkol, sambil berseru, ia maju ke depan Aman, hendak ia menerjang musuhnya itu.

Tat Hian berlaku awas dan sebat, dengan ujung pedangnya masih mengancam, ia menggeraki kaki kirinya ke kaki orang, maka tanpa ampun lagi, robohlah pemuda Kazakh itu. Coba pedang ditusukkan terus, akan tertumblaslah tenggorokannya si anak muda

Didalam keadaan seperti itu, Boen Sioe masih mengawasi saja Ia memasang mata, ia bersiap sedia menggunai ilmu totoknya, karena peryakinannya atas ilmu Ittjie Tjin Thianlam, telah menyampai kemahiran tujuh atau delapan bagian. Hanya Aman tidak tahu bahwa seorang penolong siap sedia di dampingnya, karena mana, ia menyerah atas desakan si penyamun. Ia memberikan penyahutannya: "Baiklah, aku terima permintaanmu, asal kau jangan bunuh dia!"

Tat Hian girang sekali. Tapi pedangnya ia masih belum mau mengisarkannya.

"Kau menerima baik akan turut aku besok, jangan kau menyesal," ia bilang.

"Aku tidak menyesal," jawab Aman seraya menggigit giginya. "Singkirkan pedangmu!" Tat Hian tertawa lebar.

"Taruh kata kau menyesal dan menyangkal kau toh tidak bakal lolos dari tanganku!" katanya, la menarik pedangnya, untuk dikasih masuk ke dalam sarungnya, terus ia menjumput goloknya Supu. Ia memandang ke luar jendela, lantas ia berkata: "Sekarang kita tidak dapat pergi membongkar kuburan kita tunggu saja sampai langit sudah terang." Ia menjadi berbesar hati, karena di situ cuma ia sendiri yang bersenjata.

Sampai sebegitu jauh, ia belum melihat gerak-geriknya Boen Sioe.

Aman mempepayang Supu untuk dibawa ke pinggir. Ia melihat darah masih mengalir keluar dari leher si pemuda. Ia menjadi bingung, hingga ia mau menyobek ujung bajunya untuk dipakai membalut.

"Pakai ini saja," kata Supu, ia mengeluarkan sehelai sapu tangan dari sakunya.

Aman membalut, habis itu, sendirinya ia menangis. Ia memikirkan nasibnya, yang telah terjatuh ke tangan penyamun itu. Dapatkah ia nanti meloloskan dirinya?

"Bangsat anjing! Jahanam!" Supu mendamprat perlahan. Ia tidak berdaya tetapi ia tidak takut. Kalau terjadi orang memaksa membawa Aman, ia bersedia untuk mengurbankan jiwanya guna melindungi nona itu.

Setelah pertempuran itu, ke enam orang itu duduk diam mengitari perapian, akan tetapi suasana tetap tegang. Sebelah tangannya Tan Tat Hian tidak pernah melepaskan goloknya. Untuk menenggak arak, ia menggunai tangan kiri. Senantiasa ia memandang Aman dan melirik Supu.

Di luar, badai masih mengamuk. Sering lempengan salju beterbangan menghajar tembok atau wuwungan hingga mendatangkan rasa kaget dan kuatir. Semua orang menutup mulutnya.

Sang waktu dilewatkan Boen Sioe dengan segala ketenangan hatinya. Sejak semula ia sudah pikir untuk berlaku sabar. Tadi pun ia baru menindak atau Aman mendahului ia. Katanya di dalam hatinya: "Biarlah jahanam ini bertingkah lagi sekian waktu, tak usah aku tergesa-gesa..."

Dalam kesunyian itu, mendadak api meletus. Ada kayu yang terbang terbakar meledak, mulanya gelap, lalu terang luar biasa hingga mereka dapat melihat tegas sekali wajah masing-masing.

Boen Sioe tercengang ketika ia mendapat lihat sapu tangan di lehernya Supu, hingga ia mengawasi terus.

Kee Loodjin, yang memperhatikan nona ini, turut melihat ke arah Supu, hingga ia melihatnya juga sapu tangan itu. Bahkan ia lantas menanya: "Eh, Supu, dari mana kau dapatkan sapu tanganmu itu?"

Si anak muda Kazakh melengak. Ia meraba ke lehernya. "Kau maksudkan sapu tangan ini?" dia balik menanya. "Inilah si nona Lie yang telah mati itu yang memberikannya padaku. Di waktu masih kecil kita menggembala kambing bersama-sama, pada suatu hari ada serigala yang menerkam kami berdua, lantas aku membinasakan anjing liar itu. Aku terluka sedikit, si nona membalutnya dengan sapu tangan ini..."

Boen Sioe mendengar kata-kata itu, matanya terus mengawasi sapu tangan. Sekarang penglihatannya rada kabur. Tanpa merasa, air matanya telah mengembeng.

Empee Kee masuk ke dalam kamarnya, untuk mengambil sehelai sapu tangan putih. Si penyamun mengawasi gerak-geriknya, ia tidak menghiraukan.

"Kau balut lukamu dengan sapu tangan ini," kata si empee pada si pemuda "Mari sapu tanganmu itu, kasih aku lihat."

"Kenapakah?" tanya Supu heran.

Oleh karena pembicaraan itu, Tat Hian turut memperhatikan sapu tangan  di   leher  si   pemuda.

Mendadak ia berlompat bangun, goloknya diangkat.

"Kau disuruh membuka sapu tangan itu, kau bukalah!" ia membentak. Nampaknya ia seperti gusar sebab si anak muda main ayal-ayalan atas permintaannya si tuan rumah.

Supu berdiam, dengan mata gusar, ia memandangi penyamun itu.

Aman takut orang menggunai kekerasan, lantas ia mewakilkan Supu membuka sapu tangan itu, untuk diserahkan kepada Kee Loodjin, terus dengan sapu tangan yang putih, ia membalutnya pula luka si pemuda

Tuan rumah lantas membeber sapu tangan yang berlepotan darah itu di atas meja. Ia pun membesarkan pelita minyaknya. Dengan terliti ia lantas mengawasi.

Tan Tat Hian turut mengawasi juga.

"Benar! Benar!" mendadak dia berseru seorang diri, sesudah meneliti sekian lama. "Inilah itu peta Istana Rahasia Kobu!" Dan ia mengulurkan tangannya untuk merampas!

Sebat tangannya piauwsoe ini tetapi lebih sebat si empee Kee, ketika tangannya lagi tiga dim akan mengenai sapu tangan itu, sapu tangannya sendiri sudah tersambar si empee. Berbareng dengan itu, suatu sinar terang menyambar bagaikan kilat, lantas Tat Hian menjerit kesakitan, sebab sebatang pisau belati sudah nancap di belakang tangan kanannya itu, pisaunya tembus nancap ke meja sebatas gagangnya Pula si empee menunjuki lain kesehatannya, ialah dengan tangan kirinya ia sudah merampas golok panjang dari si penyamun, untuk segera diancamkan ke tenggorokan penyamun itu!

Hebat empee bungkuk sebagai unta ini, ia gesit luar biasa, ia liehay sekali.

Tan Tat Hian berdiri dengan muka meringis, tubuhnya menggigil, tangan dan kakinya tidak berani digeraki, terutama tangan kanannya yang terpanggang pisau belati itu. Cuma matanya yang dapat main, mengawasi si empee dan ke sekitarnya

Boen Sioe kagum bukan main. Selama sepuluh tahun ia tinggal bersama si empee, cuma satu kali ia menyaksikan empee itu mempertunjuki kepandaiannya, yaitu ketika dia membinasakan Liangtauw Tjoa Tang Yong si Ular Kepala Dua. Pula ketika itu dapat dibilang karena kebetulan. Sekarang Kee Loodjin memperlihatkan kepandaiannya yang istimewa. Pertama-tama tikaman pisau belatinya yang sangat cepat dan tepat. Kedua ialah caranya ia merampas goloknya Tat

Hian. Jurusnya ini ialah yang dinamakan "Menunjang penglari, menukar tiang", suatu jurus liehay dari ilmu tangan kosong merampas senjata tajam. Itulah sama dengan ilmu Kimna Tjioe, yang gurunya Hoa Hoei mengajarinya. Ia sendiri, ia percaya, tidak nanti dapat bergerak dengan sebat.

Habis itu Kee Loodjin mengulur pula tangannya, untuk mengambil pedang pendek bergagang emas dan perak dari pinggangnya si penyamun, terus ia menyerahkan itu kepada si nona seraya ia berkata: "Nona, tolong kau mengambilkan sehelai tambang."

Boen Sioe menyambuti pedang ibunya, tangannya bergemetaran, lantas ia lari ke belakang, untuk mengambil tambang yang diminta si empee, maka di lain saat empee itu sudah lantas mencabut pisau belatinya yang memanggang tangan si penyamun, tangan siapa terus ditelikung ke belakang sambil ia berkata pula: "Nona, belenggulah bangsat jahat ini!"

Boen Sioe berdiri bengong, tangannya masih memegangi pedang pendek ibunya, sedang kedua matanya basah dengan air matanya. Ia seperti tidak mendengar perkataannya si empee. Karena itu Supu yang menghampirkan, membantu tuan rumah mengikat Tat Hian, kedua tangan dan kedua kakinya, kedua tangannya itu tetap ditelikung.

Setelah itu, di antara sinar api, Kee Loodjin mengawasi sapu tangan yang si penyamun menyebutnya peta Istana Rahasia Kobu. Terang ia nampak heran.

"Bolehkah kau menyerahkan sapu tangan ini padaku?" kemudian ia tanya Supu.

Supu memperlihatkan roman bersangsi dan bersusah hati. Empee ini sudah menolongi ia dan Aman, sepantasnya ia mesti membalas budi, tidak peduli dengan mustika. Hanya... hanya inilah sapu tangan tanda mata dari si nona Lie. Mana dapat ia menyerahkan itu kepada lain orang?

Empee Kee mengawasi, ia dapat menduga hati orang.

"Begini saja," katanya kemudian. "Kau kasih aku pinjam lihat untuk satu hari, besok aku akan membayar pulang padamu."

Mendengar ini, girang Supu.

"Asal empee sudi membayar pulang, kau boleh pinjam itu untuk sepuluh hari atau setengah bulan."

Aman tidak mengerti, ia heran sekali.

"Empee," ia tanya, "barusan penyamun ini menyebut bahwa sapu tangan ini ialah peta, entah peta apa Sebenarnya, apakah artinya ini?"

Kee Loodjin melirik kepada Boen Sioe.

"Sebenarnya aku pun belum mengerti jelas," sahutnya. "Aku masih hendak memikirkannya dahulu."

"Bangsat tua!" mendadak Tan Tat Hian mencaci tuan rumah. "Kau telah menangkap aku! Mau apa sekarang? Kau hendak membunuh aku atau menghukum picis? Lakukanlah! Kalau aku mengerutkan saja alisku, aku si orang she Tan bukannya satu hoohan!"

Kee Loodjin mengawasi, ia menyahuti dengan tawar: "Kita tidak   berselisih, kita tidak bermusuhan, perlu apa aku membunuh kau? Kau dan kawan-kawanmu telah mengganas di gurun pasir ini, kamu main rampas, main membakar, main membunuh manusia, sangat banyak kejahatanmu, untuk itu bakal ada orang yang nanti membuat perhitungan denganmu. Kau tunggulah sampai besok terang tanah, Supu nanti menggusur kau kepada ketuanya, di sana orang nanti menghukummu!" Supu berjingkrak. "Empee!" katanya, separuh berseru, "apakah manusia jahat ini dari rombongannya penyamun itu?"

"Kau tanyalah dia sendiri!" menjawab si empee singkat.

Supu mengangkat goloknya, ia menghampirkan Tat Hian.

"Kawanan bangsat yang membunuh ibu dan kakakku, jadi itulah rombonganmu, jahanam?" dia tanya.

"Memang kawanan penyamun di gurun pasir itu ialah rombongan tuan besarmu ini!" menyahut Tat Hian dengan berani, mulutnya dipentang lebar, untuk sekalian mencaci. "Jikalau kau berani mengganggu selembar saja rambutku maka besok nusa semua saudaraku bakal meluruk kemari untuk menuntut balas! Nanti semua kamu dibasmi berikut segala ayam dan anjingmu!"

Supu gusar sekali, ia ingat sakit hati ibu dan kakaknya. Maka ia mengayun goloknya.

Tan Tat Hian tertawa dingin, ia kata pula mengejek: "Orang lain yang menangkap aku, kaulah yang enak saja hendak membacoknya! Sudah aku bilang memang orang Kazakh bangsa bernyali kecil dan sangat tidak tahu malu!"

Supu batal membacok, tapi ia pun tertawa ewah, ia kata: "Baiklah, sekarang aku tidak akan bunuh mampus padamu, tetapi besok, besok aku akan minta ayahku yang membikin perhitungan denganmu! Kau tahu, orang tuaku itu telah mencari kawanan bangsatmu sampai sepuluh tahun tetapi masih belum bertemu juga! Besok kau nanti lihat sifatnya orang-orang gagah bangsa Kazakh!"

Supu tahu memang keinginan utama dari ayahnya ialah membinasakan dengan tangan sendiri musuh isteri dan puteranya itu, maka adalah paling benar menyerahkan penyamun ini kepada ayahnya. Karena itu, ia lantas kembali ke tempatnya duduk.

Tan Tat Hian tertawa dingin. Dia kata: "Anak tolol, lekas kau rampas pulang sapu tanganmu itu! Dengan mengasih pinjam sapu tangan itu satu hari pada tua bangka ini maka itu berarti bahwa harta besar dan mustika bangsamu, bangsa Kazakh, telah..."

"Tutup bacotmu!" menyelak Kee Loodjin. "Kau ngaco belo! Apakah kau hendak adu kami satu dengan lain? Hm!"

Tan Tat Hian membandel.

"Itulah peta dari Istana Rahasia Kobu, bukankah?" kata dia pula. "Eh, Supu, apakah kau menyangka tua bangka ini manusia baik-baik? Haha! Anak tolol! Dia justeru hendak mengangkangi harta karun kamu!"

Kee Loodjin seperti habis sabarnya, maka sebelah tangannya terayun, sebilah pisau belatinya menyambar ke arah uluhati penyamun besar kepala itu!

Tat Hian terikat kaki tangannya, ia melihat datangnya serangan, ia tidak bisa berbuat lain daripada berkelit bersama-sama tubuhnya. Mungkin, masih tidak dapat ia bebas anteronya. Di saat ia terancam bahaya maut itu, tangannya Boen Sioe terayun, lantas pedang pendeknya meleset, menyambar pisau belati si empee, maka kedua senjata beradu, terus membentur tembok di mana keduanya nancap!

Orang kaget menyaksikan kepandaiannya Boen Sioe itu, seorang nona yang nampaknya bertubuh lemah, yang sekian lama berdiam saja. Kee Loodjin heran hingga ia melongo, mulutnya celangap. Bukankah ia telah tinggal bersama nona itu sepuluh tahun lebih? Adalah si gagu yang tertawa a-a-oe-oe sambil bertepuk tangan.

"Kee Lootiang," berkata Boen Sioe tawar, "saudara ini telah membilangnya besok pagi orang ini hendak diserahkan kepada orang tuanya untuk diperiksa dan dihukum, oleh karena itu sekarang ini tak usahlah kau membinasakan dia. Hanya, mengenai istana Rahasia Kobu itu, aku ingin mendengarnya! Bagaimana itu sebenarnya? Umpama dia hanya ngaco belo, kita boleh membiarkannya, kita mengganda tertawa saja! Buat apa kita bersungguh-sungguh terhadapnya?"

"Kakak ini benar," berkata Aman. "Supu, tidakkah ini aneh? Kenapa sapu tangan sahabatmu itu justeru suatu peta?"

Kee Loodjin kenal baik tabiatnya Boen Sioe, biarnya dia lemah lembut, kemauannya keras, sukar dicegah, maka itu, ia suka membiarkan Tan Tat Hian bercerita.

Penyamun itu kata dengan nyaring: "Tuan besarmu telah terjatuh ke dalam tangan kamu, tuan besarmu tidak takut apa juga! Biarlah aku menuturkan tentang peta ini! Lukisan di dalam sapu tangan ini adalah lukisan atau peta dari Istana Rahasia Kobu itu. Coba kamu mengawasinya dengan saksama, kamu meneliti sutera dan benang yang dipakai menyulam dan menjahitnya, yang merupakan gunung, air dan gurun. Tidakkah itu ada sutera dan benang wol kuning, yang sama warnanya hingga sangat sukar untuk dibedakannya? Coba itu sutera dan benang wol terkena darah, lantas menjadi nyata perbedaannya. Lihatlah sekarang? Bukankah benang wol itu lebih banyak menyedot darah daripada benang sutera?"

Boen Sioe mengangkat sapu tangan itu, untuk meneliti. Benarlah keterangan Tat Hian itu. Benang yang menyedot darah menjadi merah, yang tidak, tetap kuning, karena mana, gambar nampak menjadi jelas sekali. Baru sekarang ia mengerti, sapu tangan itu menggenggam rahasia, dan itulah peta Istana Rahasia Kobu.

Tan Tat Hian melanjuti kata-katanya: "Rahasianya Istana Kohii itu dibawa oleh seorang edan. Inilah kejadian pada belasan tahun yang lampau. Di kota Lokyang ada hidup satu jago tua she The bernama Kioe In. Pada suatu hari dia mengadakan pesta ulang tahun kedelapan puluh. Banyak orang gagah yang datang untuk memberi selamat padanya. Selagi pesta berjalan, muncullah si edan itu, dia tertawa lebar, tangannya menggenggam pelbagai macam mutiara, kumala dan lainnya batu permata. Dia lantas meletakinya semua itu di atas meja sambil berkata: 'Soehoe, aku membawa hadiah untukmu!" Memang benar, ialah muridnya The Kioe In. Semua tetamu menjadi berkunang-kunang matanya menyaksikan harta besar itu, yang semuanya indah. Aneh adalah si edan itu, habis tertawa, dia menangis, lalu dia tertawa pula, menangis lagi. Ketika dia ditanya, dari mana dia memperolehnya barang-barang permata itu, dia menjawab: "Istana Rahasia Kobu! Istana Rahasia  Kobu!  Istana Rahasia Kobu!" Ketika itu The Kioe In tidak mau banyak tanya-tanya lagi,  ia menyuruh membawa muridnya   itu   masuk   untuk beristirahat."

Inilah cerita yang menarik hati, orang banyak ketarik untuk mendengarinya.

Tat Hian melanjuti pula: "Di antara hadirin ada banyak orang yang liehay, di antara mereka banyak juga yang matanya menjadi merah sebab melihat permata-permata yang berharga besar itu, mereka itu menanya si gila di mana letaknya Istana Kobu itu. Si gila menjawab tidak keruan, omongannya putar balik. Pertanyaan The Kioe In sendiri dijawab sama tidak keruan junterungannya. Tiga hari telah lewat atau pada tengah malamnya tuan rumah kedapatan terbunuh secara gelap. Berbareng dengan itu, si edan pun lenyap. Di dadanya The Kioe In menancap senjata yang menyebabkan kebinasaannya itu, ialah sebatang pusut yang menjadi senjatanya si edan, sebelah sepatu siapa pun ketinggalan di depan pembaringan, sepatu itu berlepotan darah. Di lantai ada tapak-tapak kaki, yang cocok waktu diakuri sama sepatunya si edan. Maka orang menduga si edan kalap dan membunuh gurunya sendiri dan terus menghilang. Karena itu orang melainkan bisa menyesali nasibnya jago tua yang malang itu. Hanya, apa yang heran, kenapa The Kioe In yang demikian liehay kalah oleh muridnya dan kenapa di kamarnya tak ada bekas-bekasnya pertempuran atau pergulatan? Keluarga The, dan juga beberapa sahabatnya, lantas pergi mencari si edan itu, tetapi dia tidak kedapatan, dia tidak ada tanda-tanda atau bekas-bekasnya, hingga orang mau menduga, kalau dia tidak terjeblos di jurang mungkin dia mati membuang diri ke sungai. Di lain pihak semenjak itu, halnya Istana Rahasia Kobu itu lantas menjadi buah pembicaraan dan lantas juga menjadi semacam gelombang di antara kaum Rimba Persilatan. Dua tahun setelah itu, lalu tersiar kabar angin bahwa ada orang yang menemui peta istana rahasia itu di tengah jalan. Peta itu dihubungi sama harta besar itu, yang orang percaya masih tersimpan banyak di dalam istana rahasia. Karena ini, peta itu menjadi perebutan di antara jago-jago, hingga ada jago-jago yang membuang jiwanya secara sia-sia. Kemudian lagi, ialah belasan tahun yang lalu, peta itu terjatuh di tangannya Pekma Lie Sam dan isterinya Kimgin Siauwkiam Sam Niotjoe. Sedapatnya peta itu, Lie Sam dan isterinya itu sudah lantas berangkat ke Hweekiang. Hanyalah, entah kenapa, kemudian kedapatan suami isteri itu telah mati di wilayah asing itu..."

 

VI

 

Mendengar sampai di situ, Boen Sioe kata dengan dingin: "Menurut apa yang aku dengar, Lie Sam suami isteri telah terbinasa di tangannya rombongan orang-orang Tjhin Wie Piauwkiok. Itulah artinya perbuatan kau sendiri, Tan Toapiauwtauw!"

Tan Tat Hian bercekat hati, tubuhnya menggigil. Ia pun merasa tertusuk dengan sebutan toapiauwtauw itu, artinya, piauwsoe yang terbesar. Tapi ia berani, ia menjawab dengan terus terang.

"Tidak salah!" katanya. "Suami isteri Lie Sam itu dibinasakan oleh aku dan saudara-saudaraku itu. Kami telah menggeledah tubuh suami isteri itu, peta tersebut tidak kedapatan pada mereka Maka itu mestinya peta ada di tangan anak perempuan mereka, yang lolos dari tangan kami. Maka kami lantas mencari anak itu, sampai sekarang ini sudah belasan tahun, tanpa ada hasilnya. Selama itu kami telah menjelajah bagian selatan dan utara pegunungan Thiansan. Sungguh kebetulan, hari ini aku menemuinya di sini! Bukankah itu berarti Thian telah menakdirkan kita berenam supaya menjadi beruntung? Kamu hendak membunuh aku, tidak apa! Tapi,   kalau   kamu   memikir sebaliknya; umpama dari musuh kita menjadi sahabat-sahabat, bukankah itu ada baiknya? Nanti aku mengajak kamu pergi mencari Istana Rahasia Kobu itu, jikalau kita berhasil,  kita membagi  rata. Tidakkah itu berarti kita sama-sama memperoleh harta besar? Jikalau peta ini terjatuh ke dalam tangan si tua bangka bongkok sebagai unta, pastilah dia menelannya sendiri harta besar itu!"

Sengaja Tat Hian mengucapkan kata-kata terakhir itu, untuk mengadu Boen Sioe sekalian terhadap Kee Loodjin, supaya mereka berselisih dan saling bunuh. Ia mengharap mereka itu timbul keserakahannya.

Kee Loodjin tertawa dingin. "Dengan  telah mempunyai petanya, mustahilkah kami tidak dapat pergi mencarinya sendiri?" kata dia.

Tan Tat Hian berkata pula. Kalau tadi ia menggunai bahasa Kazakh, sekarang ia mengubahnya dengan bahasa Tionghoa. Ia kata: "Umpama kata kamu dapat mencari istana rahasia itu dan mengambil memperolehnya harta besarnya, tetapi ingat, harta itu ialah hartanya bangsa Kazakh, maka maukah bangsa ini menyerahkannya kepada kamu? Kamu bangsa Han?"

"Menurut kau, bagaimana?" Kee Loodjin tanya Ia ingin ketahui pikiran orang.

"Marilah kita bekerja sama," mengajak Tat Hian. "Paling dulu kita binasakan semua orang Kazakh di dalam rumah ini. Perbuatan ini cuma kau dan aku yang mengetahuinya, dari itu tidak ada kekuatiran untuk nanti bocor. Lantas kita pergi mencari harta karun itu. Kalau kita berhasil, kau boleh ambil tujuh bagian, untukku cukup tiga bagian saja..."

"Kenapa kau suka mengalah demikian banyak?" si empee tanya.

"Aku kalah gagah dari kau, kau berhak mendapat lebih banyak. Umpama kata kau suka menyerahkan nona Kazakh yang cantik ini padaku, aku suka mengalah lebih jauh, kau boleh ambil delapan bagian."

Pembicaraan itu tidak dimengerti oleh Supu dan Aman, mereka berdiam saja. Tidak demikian dengan Boen Sioe, yang menjadi marah sekali. Di dalam hatinya, ia kata: "Bangsat, kau sangat jahat! Bukankah kematianmu sudah di hadapan mata? Kenapa kau masih memikir busuk sekali?"

Kee Loodjin berkata: "Ini satu nona Kazakh liehay sekali, belum tentu kita dapat melawan dia..."

"Kau dapat membokong dia. Dia tentunya tidak bersiaga."

Kee Loodjin berdiam, agaknya ia berpikir.

"Ah, begini saja," katanya sesaat kemudian. "Diam-diam aku mengutungi tambang belenggumu, aku berikan kau golok, lantas kau menghampirkan dia, untuk kau membacok punggungnya..."

"Nona ini sangat cantik, sayang kalau dia terbinasa," kata Tat Hian. "Karena tidak ada lain jalan, baiklah..."

Boen Sioe dapat menerka maksudnya Kee Loodjin. Terang si orang tua ingin ialah yang membinasakan penjahat ini.

Selagi Tat Hian dan Kee Loodjin berdamai sampai di situ, dari kejauhan terdengar suara orang memanggil: "Supu! Supu!" disusul sama "Aman! Aman!"

Hampir berbareng, Supu dan Aman berlompat bangun.

"Ayah, aku di sini!" mereka pun menyahuti.

Kemudian keduanya berlari-lari ke luar, Supu di depan, Aman di belakang. Mereka tidak menghiraukan lagi angin besar dan salju berhamburan, hingga mereka sukar bernapas.

Hari itu Cherku minum arak di rumah Suruke, ketika turun hujan salju dan angin keras dan sampai sore anak-anak mereka belum muncul, keduanya menjadi berkuatir, mereka lantas pergi mencari, di sepanjang jalan mereka memanggil-manggil. Girang mereka akan menemui anak mereka tidak kurang suatu apa. Supu dan Aman lantas mengajak mereka ke rumah Kee Loodjin.

Tiba di depan pintu, mendadak Suruke berkata: "Bukankah ini i umahnya si orang Han yang harus mampus? Tidak, aku tidak sudi masuk ke rumahnya!"

"Tidak mau masuk?" kata Cherku. "Habis kita berlindung di mana? Kupingku, hidungku, telah pada beku..."

Suruke ada membekal buli-buli berisi arak, di sepanjang jalan ia menenggak araknya untuk melawan hawa dingin, karena itu, ia sudah terpengaruhi susu macan. Maka ia kata: "Aku lebih suka batok kepalaku beku semua, tidak nanti aku masuk ke rumah orang Han ini!"

"Lihat anakku yang menjadi mustikaku ini," berkata Cherku. "Kalau dia kenapa-kenapa karena beku, akan aku membuat perhitungan denganmu! Aman, mari kita masuk!"

Suruke tidak menyahuti, sebaliknya, ia melirik puteranya. Mendadak ia berseru: "Hm, kau telah pergi ke rumahnya orang Han, anak mau mampus!" Terus ia mengayun tangannya hingga tubuh Supu terhuyung. Anak ini tidak menangkis atau berkelit. Ia membentur Aman, hingga si nona roboh ke salju.

Cherku menjadi gusar. "He, kau berani memukul anakku?" ia menegur. "Dia belum menjadi nona mantumu, sudah berani kau memukulnya! Tidakkah di belakang hari dia bakal disiksa mampus olehmu?"

"Kalau aku suka memukul, aku memukul, mana dapat kau melarang aku?" kata Suruke sembarangan. Tidak dapat ia mengatasi lagi pengaruh air kata-katanya.

Cherku pun menjadi gusar. "Kalau kau laki-laki, mari kita bertempur pula!" dia menantang.

"Baik, mari, mari!" Suruke menyambut, dan lantas kepalannya melayang, bahkan tepat mengenai dadanya lawan.

Cherku pun sudah mulai dipengaruhi arak, maka beda dari biasanya, ia melayani. Ia tidak roboh karena tinju itu, lantas ia membalas, dengan mengayunkan sebelah kakinya, guna menggaet. Tanpa ampun, Suruke roboh. Tapi dia jatuh sambil tangannya menyambar ke paha, maka keduanya jatuh berguling ke salju di mana mereka berkelahi terus sambil bergulingan.

Supu dan Aman menjadi bingung, sia-sia belaka mereka mencoba memisahkan. Dengan suara saja, mereka tidak berhasil.

Selagi bergulat itu, Suruke menjumput salju, ia menyumbat mulut Cherku, hingga lawan ini gelagapan. Ia tertawa lebar. Justeru itu, Cherku memuntahkan salju di mulutnya itu, terus dia meninju, telak mengenai hidung. Suruke tidak kesakitan, hanya hidungnya mengeluarkan darah. Masih ia tertawa. Sekarang ia menjambak rambutnya Cherku.

Merekalah orang-orang kosen bangsa Kazakh tetapi di dalam sinting itu, lagak mereka mirip dua orang bocah.

Kee Loodjin bersama Boen Sioe lari ke luar, mereka mendengar suara berisik dari dua orang yang bergulat itu. Si gagu turut keluar juga.

Sekarang ini, Supu dan Aman tidak bingung lagi, sebaliknya, mereka tertawa. Mereka ketahui ayah mereka lagi sinting.

Dalam pergulatan lebih jauh, Suruke jatuh di bawah, dia kena tertindih, sia-sia dia berontak, akhirnya dia diam saja.

Supu kaget.

"Lepaskan ayahku!" ia berteriak seraya menghampirkan, untuk menarik Cherku. Ia kuatir ayahnya terluka. Di luar dugaannya, setelah mendekati, ia mendapatkan ayahnya itu lagi tidur menggeros...

Akhirnya semua orang tertawa. Suruke dikasih bangun, diajak masuk ke dalam. Cherku dipegangi Aman, ia turut masuk. Suruke lantas ngoceh: "Haha! Kau tidak dapat melawan aku! Akulah jago Kazakh nomor satu, Supu yang nomor dua, nanti anak Supu yang nomor tiga! Kau, Cherku, kau yang nomor empat..." Lantas ia bernyanyi.

Cherku pun sinting tetapi ia turut tertawa.

Begitu mereka tiba di dalam, Boen Sioe berseru kaget. Di situ tidak ada Tan Tat Hian, yang ada hanya beberapa helai tambang belengguannya, yang ujungnya pada hangus, tandanya si penyamun membakar tambang itu untuk membebaskan diri dan lalu kabur dari pintu belakang. Di atas meja, selainnya golok, sapu tangan yang merupakan peta pun lenyap.

Dalam kagetnya, Kee Loodjin lari ke belakang untuk mengejar.

Pintu belakang madap ke utara, begitu pintu dipentang, angin dan salju meniup keras, sampai empee Kee itu bersangsi untuk nerobos terus. Tengah ia bersangsi itu Boen Sioe menghampirkan padanya, untuk berkata dengan perlahan: "Angin dan salju begini besar, dia tidak dapat kabur jauh, kalau dia paksa menyingkir juga, mesti dia mati di tengah jalan. Baiklah kita menanti sampai langit sudah terang dan badai reda, baru kita pergi mencari mayatnya."

Kee Loodjin setuju, ia mengangguk. Ia menutup pula pintunya, lalu berdua mereka kembali ke ruang depan. Di sana tak nampak si gagu yang agak tolol.

Boen Sioe merasa kasihan pada si gagu itu, ia membuka pintu depan. Ia memanggil berulang-ulang, tanpa ada yang menyahuti.

"Dia tuli, dia tidak mendengar!" kata empee Kee.

Boen Sioe masih melihat kelilingan, baru ia kembali ke dalam.

Sampai fajar, baru badai mulai reda.

Suruke sadar dengan tidak ingat lelakonnya di waktu mabuk, melihat Kee Loodjin, ia menjadi gusar, tapi Supu dan Aman segera membujuki seraya menuturkan bahwa orang tua bangsa Han inilah yang menolongi mereka dari penyamun.

"Oh, kaulah yang menolongi anakku!" kata Suruke. "Kau orang baik, aku berterima kasih padamu!" Ia lantas memberi hormat. Kemudian ia menambahkan: "Mari kita susul penyamun itu, agar dia tidak lolos!"

Cherku pun turut menghaturkan terima kasih.

Sebenarnya Kee Loodjin tidak setuju pergi beramai-ramai tetapi sebab tidak dapat alasan untuk menolak, ia terpaksa pergi bersama. Ia membekal rangsum kering.

Tan Tat Hian menyingkir selagi hujan salju, tapak kakinya telah lenyap pula, tetapi Suruke dan Cherku ada penduduk gurun asli, mereka bisa lihat tanda-tanda yang luar biasa, tanda itu membuatnya menduga si orang jahat.

Tujuan mereka ke arah barat. Itu artinya tujuan gurun pasir besar. Empat orang Kazakh itu lantas ingat dongeng hal memedi di gurun, air muka mereka lantas bersinar lain. Suruke besar nyalinya, ia kata nyaring: "Biarnya benar-benar kita bertemu memedi, mesti kita bekuk manusia jahat itu! Supu, mau tidak kau membalaskan sakit hati ibu dan kakakmu?"

"Tentu, ayah!" jawab sang anak. "Aku akan turut ayah! Aman, kau baiklah pulang."

Si nona pun berani.

"Kau dapat pergi, aku dapat!" jawabnya. Di dalam hatinya ia hendak membilang: "Kalau kau mati, mana bisa aku hidup sendiri saja?"

"Aman, lebih baik kau turut ayahmu pulang," Suruke membujuk. "Cherku bernyali kecil, dia paling takut setan!"

Mata Cherku mendelik, dia lantas melombai jalan di depan.

Berjalan di gurun, yang ditakuti ialah tidak ada air, maka air itulah bekal utama. Kali ini habis hujan salju, pasir pun tidak beterbangan, perjalanan rombongan ini tak ada rintangannya.

Makin ke barat, tanda-tandanya Tan Tat Hian makin nyata. Bahkan kemudian, terlihat tegaslah tapak kakinya, yang tidak ketutupan salju lagi. Itulah bukti bahwa dia telah tiba di situ sesudah salju berhenti.

"Sungguh liehay jahanam itu!" kata Kee Loodjin seperti mendumal. "Tadi malam badai dahsyat tetapi dia tidak mampus dan dapat berjalan terus hingga kemari!"

"Eh, masih ada tapak kaki seorang lain!" Suruke berseru mendadak. Dia menunjuk tapak kaki Tan Tat Hian. "Orang ini jalan tepat di tapak kakinya si manusia jahat! Tanpa perhatian, tak akan terlihat tapak kaki yang menyusun ini."

Mendengar begitu, semua orang membungkuk, untuk meneliti. Benar, tapak kaki itu berbekas lebih mendalam daripada biasanya.

"Mustahilkah ini tapak kaki si gagu?" kata Boen Sioe. Tadi malam ia telah melihat sinar mata aneh dari si gagu dan itu mendatangkan kecurigaannya. Hanyalah tapak kaki yang kedua ini rada enteng, bukti bahwa orang ringan tubuhnya. Mungkinkah benar dia si gagu dan dia sebenarnya liehay?

Kee Loodjin tidak membilang apa-apa, dengan mengikuti tapak kaki itu, ia berjalan terus. Ia ingin cepat menyandak. Tat Hian seorang ia tidak begitu kuatirkan, ia takut penyamun itu memperoleh kawan yang lebih liehay.

Jalan di salju ini sulit juga. Makin ke depan, salju makin tebal, sampai mendam ke lutut. Perlahan jalan mereka, hingga kejadian mereka mesti singgah, bermalam di tengah jalan. Mereka menggali salju, hingga nampak pasir, untuk rebah di dalam liang, tubuh mereka digulung dengan permadani. Mereka tidur bergeletakan di atas pasir.

Ketika besoknya pagi Boen Sioe mendusin, ia mendengar Suruke dan Cherku membikin banyak berisik. Sebabnya ialah Kee Loodjin telah lenyap, rupanya dia berangkat malam-malam atau mendekati fajar. Ia heran sekali sedang ia tahu, selama perkenalan kira-kira sepuluh tahun, empee itu agaknya tawar sama harta. Kenapa, setelah mendengar halnya istana rahasia, dia menjadi demikian ketarik hatinya, hingga dia seperti berubah menjadi seorang lain?

Dari enam orang, sekarang jumlah mereka menjadi tinggal lima. Mereka melanjuti perjalanan mereka, untuk menyusul si penjahat, untuk menyusul juga Kee Loodjin, si kawan yang menjadi aneh kelakuannya itu.

Boen Sioe kemudian mengenali, jalanan yang dilalui ialah jalanan yang ia kenal baik. Itulah jalanan untuk pergi ke rumah Hoa Hoei, gurunya. Ia jadi berpikir: "Baiklah aku ajak soehoe pergi bersama. Dia luas pengetahuannya, dia dapat membantu banyak..."

Boen Sioe mau mencari Istana Rahasia Kobu bukan untuk hartanya. Ia hanya ingin mewujudkan cita-cita ayah dan ibunya, untuk dapat tiba di sana. Segera mereka mulai memasuki daerah pegunungan. Di sini Boen Sioe sengaja berjalan perlahan hingga ia ketinggalan jauh di belakang. Lekas-lekas ia pergi ke gubuk gurunya. Untuk herannya, sang guru tidak kedapatan. Ia menduga guru itu lagi pergi berburu atau mencari bahan obat-obatan. Perbuatan itu biasa dilakukan setiap habis hujan salju. Karena ia tidak dapat menanti, ia lantas mencoret-coret beberapa huruf di atas tanah, untuk gurunya itu, lalu lekas-lekas ia menyusul rombongan Suruke.

Mereka memasuki wilayah pegunungan, yang makin lama makin sukar dilaluinya, banyak pohon duri dan lainnya. Syukur, tapak kaki masih terlihat di antara sisa-sisa salju. Maka mereka maju terus.

Herannya ialah, istana rahasia belum tampak tanda-tandanya...

Aman memangnya berkuatir ia menjadi takut. Ia ingat cerita halnya di gurun pasir ada mernedinya. Tapak-tapak kaki yang mereka ikuti itu, di matanya, ada bagaikan jalanan untuk ke neraka...

Juga Suruke dan Cherku bersangsi, mereka berkuatir, hanya di mulut, mereka masih omong besar, mereka tidak mau saling kalah, bahkan mereka bertengkar.

"Cherku, kau lihat, tubuhmu bergemetar," kata Suruke. "Kalau kau jatuh sakit karena ketakutan, inilah bukannya main-main.

 [bersambung]