kuda putih 01
Kuda Putih
(Pek Ma Siauw Sie
Hong)
I
Dengan bersuara berketoprakan dalam maka dua
ekor kuda telah dikaburkan di antara tanah yang berpasir kuning di
gurun dari wilayah Hweekiang, hingga di belakangnya menaik
mengutaklah debu tinggi sekira dua tombak. Dua ekor kuda itu kabur
bagaikan berkejar-kejaran, karena yang seekor di depan, yang lainnya
disebelah belakang.
Kuda yang di sebelah depan itu, yang tinggi,
berbulu putih dan tinggi besar badannya. Penunggangnya adalah
seorang nyonya muda di dalam tangan siapa ada terangkul seorang nona
umur tujuh atau delapan tahun. Kuda yang di belakang, yang berbulu
merah marong, penunggangnya adalah seorang pria yang tubuhnya
jangkung kurus. Hanya di punggung kiri dia ini ada menancap sebatang
anak panah, terus mengeluarkan darah, hingga darahnya itu mengalir
ke kudanya, terus menetes jatuh ke pasir, terus meresap ke dalam
tanah...
Tidak berani pria itu mencabut anak panah
yang mencelakainya itu. Ia jeri. Ia menginsafinya, asal ia
mencabutnya, pasti ia bakal roboh
dari kudanya itu. Ia tidak takut mati apabila itu perlu, hanya...
Siapa nanti mengurus isterinya yang cantik itu, serta anaknya yang
manis, yang tengah kabur di sebelah depannya itu? Sedang di belakang
mereka ada lagi mengejar musuh-musuh mereka yang telengas...
Kuda merah itu sudah lari beberapa puluh li,
hampir habis tenaganya, bekas dicambuki dan didupaki, atau dijepit
perutnya, dia sampai susah bernapas, badannya bermandikan keringat,
mulutnya mengeluarkan busa putih. Toh dia masih dipaksa lari keras.
Maka akhir-akhirnya, kaki depannya lemas dan tertekuk, menyebabkan
badannya roboh ngusruk!
Si pria mempertahankan diri, ia tidak kurang
suatu apa, akan tetapi kudanya itu, setelah meringkik menyayatkan
satu kali, rebah tanpa berkutik lagi...
"Engko!..." ia memanggil. "Engko, kau...
kau... bagaimana?"
Pria yang dipanggil engko itu mengerutkan
kening dan menggelengkan kepala.
Di belakang mereka, jauhnya masih beberapa
lie, terlihat debu mengepul tinggi. Itulah tanda dari rombongan si
pengejar...
Nyonya muda itu memutar balik kudanya, untuk
menghampirkan suaminya. Ia sekarang melihat anak panah di punggung
suami itu, melihat darah hidupnya bercucuran. Sang suami hampir
pingsan. Ia menjadi sangat kaget.
"Ayah!... ayah!" si anak berkata kaget.
"Punggungmu ada anak panahnya..."
"Tidak apa!" berkata si pria, menyeringai,
lantas tubuhnya mencelat, berlompat naik ke punggung kuda di
belakang isterinya. Dia telah terluka tetapi gerakannya masih gesit
dan lincah.
Sang isteri menoleh, mengawasi dengan mata
menyayang.
"Engko, kau..." katanya halus. Sang engko
tidak menyahuti, hanya kedua kakinya menjepit perut kuda mereka,
atas mana si kuda putih berjingkrak dan lari kabur pula.
Kuda ini kuda jempolan, dia telah lari pesat
berpuluh-puluh lie, dia masih terus dapat lari keras, hanya kali
ini, larinya menjadi berkurang kecepatannya. Semenjak tadi dia belum
dapat mengaso sedikit juga,
sekarang penunggangnya bertambah, tidak heran apabila sangat sulit
untuknya dapat mempertahankan kekuatannya terus menerus, tetapi dia
tetap kabur, dia seperti mengerti yang majikannya itu tengah
menghadapi ancaman mara bahaya...
Di sebelah belakang, rombongan pengejar
mendatangi semakin dekat, setindak demi setindak. Sama sekali mereka
itu berjumlah enam puluh tiga orang, mereka pun membekal seratus
sembilan puluh ekor kuda, dengan begitu setiap ada kuda yang letih,
kuda itu lantas ditukar. Benar semua kuda itu sama-sama lari tetapi
tanpa penunggangnya, letihnya kurang banyak. Dari caranya mereka itu
mengejar, terang sudah, mereka bertekad bulat untuk mendapatkan
orang-orang yang dikejar itu, ialah si suami isteri serta anak
daranya yang masih kecil itu.
Selagi mengaburkan kudanya, si pria jangkung
kurus itu berpaling ke belakang. Ia mengawasi. Dengan datangnya
orang semakin dekat, ia bisa melihat kepada mereka itu, makin lama
makin tegas.
"Adik Hong, aku hendak mohon sesuatu dari
kau!" katanya kemudian. Sebelumnya membuka mulut, ia menggigit dulu
kedua giginya erat-erat. "Sudikah kau meluluskannya?..."
Si nyonya muda, sang isteri, menoleh. Ia
tertawa manis.
"Selama hidup kita bersama, pernahkah sekali
jua aku menampik keinginanmu?" ia balas menanya, suaranya halus.
"Bagus!" berkata suami itu. "Hong, sekarang
kau bawa kabur si Sioe, anak kita ini. Biarlah dia dapat melindungi
darah daging kita berdua! Biarlah dia pun dapat menyelamatkan peta
Istana Rahasia Kobu!..."
Isteri itu menyahuti, suaranya bergemetar.
"Engko," katanya, "apa tidak baik peta ini
kita serahkan pada mereka dan kita menyerah kalah? Dirimu... dirimu
lebih penting..."
Mendadak sang suami mencium pipi kiri
isterinya itu.
"Hong...," katanya, suaranya lembut, "kita
berdua sudah mengalami banyak sekali bahaya, selamanya kita dapat
lolos, maka mungkin kali ini kita bakal lolos juga... Kau harus
ketahui, Luliang Samkiat bukan melainkan mengarah peta ini,
mereka... mereka juga menghendaki parasmu yang cantik!"
"Justeru karena itu, mungkin aku dapat minta
mereka..."
"Tapi!" memotong suami itu, "apakah kita
menunduki kepala untuk memohon sesuatu dari lain orang? Kuda ini
tidak kuat membawa kita bertiga, maka itu lekaslah kau pergi!..."
Sekonyong-konyong ia mencelat, kedua
tangannya dilepaskan, tubuhnya terangkat dari punggung kuda, maka
jatuhlah ia ke tanah, terdengar jeritannya: "Aduh!..."
Nyonya itu terkejut. Segera ia menahan
kudanya, untuk dikasih balik, guna menghampirkan suaminya. Ia
mengulurkan sebelah tangannya, dengan niatan menarik suami itu untuk
naik pula atas kudanya. Tapi sang suami menolak, matanya
bersorot gusar, dia mengawasi bengis! Adalah
biasanya, ia senantiasa menurut kepada suaminya itu, maka juga kali
ini, dengan merasa sangat tertindih hatinya, ia memutar pula
kudanya, untuk dikasih lari pergi, meninggalkan suami itu bercokol
seorang diri di tanah pasir dengan lukanya yang parah itu...
Rombongan pengejar yang terdiri dan enam
puluh tiga orang itu melihat orang jatuh dari kudanya dan
ditinggal pergi isterinya, mereka itu bersorak-sorai, di
antaranya ada yang berteriak-teriak: "Pekma Lie Sam roboh! Pekma Lie
Sam roboh!" Mereka lantas terpecah menjadi dua rombongan, yang
belasan menghampirkan langsung Pekma Lie Sam itu, yang empat puluh
lebih mengejar terus si nyonya dan puteri ciliknya.
Laki-laki itu rebah meringkuk di atas pasir,
tubuhnya tidak bergerak, seperti dia telah putus jiwanya.
Salah satu pengejar, yang memegang tombak,
sudah lantas menombak pundak orang yang kanan. Mangsa itu tidak
bersuara, juga tidak bergerak, dan tempo tombak dicabut, dia tetap
berdiam saja.
"Dia sudah mampus!" berkata seorang, yang
berewokan. Rupanya dialah si pemimpin. "Jangan takut! Geledah
tubuhnya! Lekas!"
Dua orang lompat turun dari masing-masing
kudanya, guna menghampiri tubuhnya Pekma Lie Sam, si Kuda Putih itu.
Dengan lantas mereka membalik tubuh orang, untuk digeledah seperti
dititahkan pemimpin mereka.
Sekonyong-konyong saja sebatang golok putih
mengkilap berkelebat, terus dua orang itu menjerit tertahan dan
roboh terguling. Itulah goloknya Pekma Lie Sam, yang meminta kurban!
Semua orang kaget sekali. Tidak satu di
antaranya menyangka, Lie Sam dapat berpura-pura mati demikian
sempurna, sampai dia tidak menghiraukan tombakan kepada pundaknya.
Dengan sendirinya semua orang mengasih mundur kuda mereka.
Si pemimpin yang berewokan itu memutar
goloknya, golok Ganleng to.
"Lie Sam, kau benar-benar tangguh!" serunya.
Lantas goloknya menyambar, ke arah kepala orang.
Lie Sam menangkis. Tapi ia telah terluka,
tenaganya berkurang banyak, ketika ia mundur hingga tiga tindak, ia
lantas muntah darah. Justeru itu, semua musuhnya merangsak, semua
menurunkan senjatanya masing-masing.
Benar-benar Lie Sam tangguh, dia gagah
sekali, dia melakukan perlawanan. Masih dua orang kena dirobohkan,
setelah mana, arwahnya berangkat pulang ke alam baka, tubuhnya
terlukakan tidak keruan...
Si nyonya muda belum lari jauh, maka itu ia
telah mendengar seman nyaring dari suaminya itu, hatinya bagaikan
diiris-iris.
"Dia telah mati, buat apa aku hidup terus?"
pikirnya. Ia menjadi nekat. Dari sakunya, ia menarik keluar sehelai
peta yang terbuat dari kulit kambing, ia belesaki itu ke dalam saku
puterinya yang masih kecil itu. Ia kata: "Anak Sioe, kau uruslah
dirimu!" Habis berkata, ia menepuk kudanya, untuk membikin binatang
itu lompat berjingkrak, ia sendiri membarengi mencelat dari punggung
kuda. Maka juga, selagi ia jatuh turun, kudanya itu terus kabur
bagaikan melesatnya anak panah. Agaknya ia puas, karena ia melegakan
hatinya: "Kuda itu kuat lari tak tandingan, anak Sioe pun bertubuh
enteng sekali, pastilah mereka ini tidak bakal dapat menyandak!"
Lantas ia memuji: "Thian, oh Thian, tolonglah lindungi anak Sioe,
semoga dia menjadi besar dan dapat menikah suami seperti suamiku
yang baik ini, biarnya hidup merantau tetapi
kita berbahagia!"
Segera setelah memuji itu, nyonya ini
merapikan rambutnya dan pakaiannya juga, terus ia memutar tubuhnya,
untuk menghadap rombongan pengejarnya yang dengan cepat telah tiba
di hadapannya.
Tentu sekali yang sampai terdepan ialah
Luliang Samkiat, tiga jago dari Luliang.
Merekalah tiga saudara angkat. Yang tertua
yaitu Sinto Tjin Kwansee Hok Goan Liong, jago Kwansee Golok Sakti.
Dialah si berewokan yang bertubuh besar, yang telah membinasakan
Pekma Lie Sam barusan. Yang kedua, Bweehoa Tjhio Soe Tiong Tjoen, si
Tombak Bunga Bwee. Dia bertubuh
kurus kering. Yang ketiga, yang termuda, Tjheebong Kiam Tan Tat Hian
si Pedang Ular Naga Hijau, tubuhnya kate dan kecil. Dia asal begal
kuda di Shoatang, belakangan dia tinggal menetap di Shoasay,
bersahabat erat dengan llok Goan Liong dan Soe Tiong Tjoen,
bersama-sama mereka mengusahakan perusahaan piauwkiok di kecamatan
Thaykok, Shoasay, dengan memakai merek tjhin Wie Piauwkiok.
Ada hubungannya di antara Soe liong Tjoen
dan isterinya Pekma Lie Sam itu. Nyonya Lie asalnya ialah Nona
Siangkoan Hong dan dengan Tiong Tjoen pernah soe-heng dengan
soemoay, kakak dan adik seperguruan. Semenjak masih kecil mereka
belajar silat bersama tidak heran kalau Tiong Tjoen kemudian
mencintai soemoay-nya yang cantik dan lemah-lembut itu. Mereka
memang setimpal. Sampai dengan kebetulan Siangkoan Hong bertemu sama
Pekma Lie Sam, keduanya lantas saling mencinta, hanya sayang, pihak
orang tua tidak menyetujui perjodohan mereka itu, lantaran mana
terpaksa mereka minggat. Tiong Tjoen jadi sangat berduka, ia
mendapat sakit, setelah sembuh, tabiatnya menjadi berubah.
Sepuluh tahun sudah berlalu semenjak lelakon
asmara mereka itu atau dengan cara kebetulan, Luliang Samkiat
bertemu sama Pekma Lie Sam suami isteri serta anak daranya yang
masih kecil itu di jalan Kamliang, rombongan sembilan kecamatan di
propinsi Kamsiok, bahkan karena perebutan sehelai peta, kedua pihak
menjadi benterok dan bertempur.
Soe Tiong Tjoen tetap tidak bisa melupai
adik seperguruannya itu, karena cintanya itu yang gagal, dia terus
tidak menikah, maka sekarang, justeru ada benterokan ini, dia jadi
sangat membenci Lie Sam, hingga dialah jadi lawan yang paling
bengis.
Dikepung enam puluh orang lebih, Lie Sam dan
isterinya tidak berdaya, dari itu, mereka melawan sambil melarikan
diri. Dari jalan Kamliang itu mereka dikejar terus-terusan sampai di
wilayah Hweekiang ini. Anak panah di punggung Lie Sam ialah anak
panah yang dilepaskan Soe Tiong Tjoen secara membokong. Akhirnya Lie
Sam menemui ajalnya secara menyedihkan itu. Kapan Tiong Tjoen
memandang Siangkoan Hong, hatinya tergerak, maka ia pikir: "Aku
telah membinasakan suaminya, maka selanjutnya aku harus merawati dia
baik-baik..."
Nyonya Lie Sam berdiri di atas pasir,
pakaiannya berkibar di antara desiran angin gurun. Dia masih sama
cantiknya seperti masa mudanya sepuluh tahun yang lampau, semasa
mereka masih sama-sama belajar silat. Dia bersenjatakan sepasang
pedang yang luar biasa, sebab yang satu bergagang emas, yang lain
bergagang perak, maka juga ia dijuluki Kimgin Siauwkiam Sam
Niotjoe," si Nona Pedang Emas Perak. Nyonya muda ini mengasih lihat
senyuman tawar.
Mendadak Soe Tiong Tjoen mendapat harapan,
dadanya dirasakan panas, mukanya merah sendirinya. Ia menancap
tombaknya di samping pelananya, lantas ia lompat turun dari kudanya,
guna menghampirkan si nyonya.
"Soemoay!" ia memanggil, seperti biasanya.
"Lie Sam telah mati," berkata si nyonya,
tenang.
Tiong Tjoen mengangguk.
"Soemoay," katanya, "sepuluh tahun kita
telah berpisah, aku... setiap hari aku memikirkan kau..."
"Benarkah itu?" si nyonya muda tertawa. "Kau
tentu lagi memperdayakan orang..."
Hatinya Tiong Tjoen goncang. Siangkoan Hong
tetap manis seperti pada sepuluh tahun yang telah berlalu itu, dia
mirip sebagai masa gadisnya.
"Soemoay," katanya, perlahan, "kalau
selanjutnya kau turut aku, aku tanggung kau tidak bakal ngalami
penderitaan, tidak sedikit juga..."
Matanya Siangkoan Hong mendadak bercahaya.
"Soeko, kau baik sekali!" ujarnya. Mendadak
ia mementang kedua tangannya, untuk menjatuhkan diri di dada si
bekas kekasih.
Bukan main girangnya Tiong Tjoen, ia lantas
membalas merangkul.
Hok Goan Liong, yang telah menyusul, tertawa
saling mengawasi dengan Tan Tat Hian. Di dalam hatinya, mereka kata:
"Dua puluh tahun mereka saling mencintai, baru sekarang harapan
mereka terkabul, cita-cita mereka tercapai..."
Pikirannya Tiong Tjoen melayang-layang.
Hidungnya telah mencium bau yang harum, yang menggiurkan hatinya. Ia
sampai beragu-ragu yang Siangkoan Hong pun merangkul ia demikian
erat. Hanya tengah ia kelelap itu, atau tak sadarkan diri, tiba-tiba
ia merasakan sakit pada perutnya, sakit sekali, seperti tertubles
sesuatu. Ia kaget hingga ia menjerit, kedua tangannya menolak tubuh
si kekasih. Akan tetapi Siangkoan Hong memeluk sangat keras,
tubuhnya itu tidak dapat ditolak terlepas. Karena jago Luliang
mencoba berontak, keduanya terguling bersama.
Hok Goan Liong dan Tan Tat Hian kaget bukan
main. Keduanya lompat turun dari kuda mereka, guna menghampirkan
saudara angkatnya itu.
Yang lainnya semua tidak kurang kagetnya,
mereka heran sekali.
Ketika tubuhnya Siangkoan liong diangkat
untuk dipisahkan dari tubuh Soe Tiong Tjoen, kelihatan dadanya
mengalirkan darah, yang disebabkan nancapnya sebuah pisau belati
kecil bergagang emas, sedang pada perutnya Tiong Ijoen nancap sebuah
pisau belati lain, yang bergagang perak. Maka (eranglah sekarang,
karena Sam Niotjoe hendak bersetia kepada suaminya, ia mengurbankan
dirinya sambil membalas sakit hati. I.i mencari mati karena pun
sudah putus asa. Hebat tikaman pisau belati itu, keduanya nancap
dalam sekali. Si nyonya mati seketika, si pria terlukakan hebat.
"Shatee, lekas bantui aku, supaya aku tidak
menderita lebih lama," Tiong Tjoen minta pada Tat Hian.
Adik itu mengawasi Goan Liong, kakaknya,
untuk mohon keputusan.
Kakak itu mengawasi adiknya yang terluka
parah itu, ia mengangguk. Atas itu, dengan mengertak gigi, Tat Hian
menikam uluhati kakaknya yang kedua itu, maka Tiong Ijoen meram
matanya, napasnya berhenti berjalan, la mati dalam kesedihan, karena
menjadi kurban soemoay-nya.
"Aku tidak sangka Kimgin Siauwkiam Sam
Niotjoe begini keras hatinya," kata Goan Liong berduka.
Ketika itu salah satu tauvvbak datang
melaporkan pada Goan Liong bahwa tubuhnya Lie Sam sudah diperiksa
terliti tetapi peta tak kedapatan.
"Kalau begitu, tentu ada di tubuhnya," kata
Goan Liong menunjuk tubuh Sam Niotjoe.
Pengggeledahan dilakukan atas tubuh si
nyonya, hasilnya sia-sia belaka, peta tidak ada, yang kedapatan
hanya perak hancur serta beberapa potong pakaian.
Goan Liong dan Tat Hian saling mengawasi,
mereka putus asa, mereka heran. Heran sebab tidak nanti peta itu
disingkirkan Lie Sam, baik dengan dipendam maupun dengan diserahkan
kepada lain orang. Mereka menguntit terus hingga pasti tidak ada
kesempatan suami isteri itu menyingkirkannya.
Tan Tat Hian penasaran, ia periksa pula
bungkusan si nyonya. Ketika ia mendapatkan beberapa potong pakaian
anak kecil, ia ingat anak orang.
"Toako, mari kita lekas kejar si bocah!"
katanya berseru. Ia baru ingat anaknya Lie Sam.
Hok Goan Liong pun mendusin. "Jangan
bingung," katanya. "Di gurun ini ke mana bocah itu bisa pergi? Dua
orang berdiam di sini, untuk mengurus jenazah Soe Djieya, yang
lainnya semua turut aku."
Ia lantas melarikan kudanya, diikuti
orang-orangnya kecuali yang dua itu.
Si nona telah dibawa lari kabur si kuda
putih, jauhnya sudah dua puluh lie lebih.
Di gurun pasir tidak ada pepohonan, orang
bisa memandang jauh sekali, maka itu, sembari mengejar, Goan Liong
semua memandang jauh ke depan. Mereka mengaburkan kuda mereka.
Mendekati magrib, mendadak Tan Tat Hian berseru: "Lihat! Itulah dia
di depan!"
Jauh di
tempat seperti bertemunya langit dan bumi, di sana
ada sebuah titik. Itulah si kuda putih, yang dari jauh-jauh toh
nampaknya hitam. Kuda itu letih sekali meskipun dia dapat lari keras
dan sekarang penunggangnya seorang bocah yang tubuhnya enteng. Di
lain pihak, Goan Liong semua terus main tukar kuda.
Bocah itu-ialah Lie Boen
Sioe-duduk mendekam di atas
kudanya, la pun sangat lelah, hingga tanpa
merasa, ia kepulasan di atas kudanya itu. Pula itu antero hari ia
tidak dahar dan minum, sedang matahari panas terik, dari itu mulut
dan lidahnya kering semua.
Kuda putih itu seperti dapat perasaan, dia
kabur ke arah timur di mana matahari yang bersinar merah marong
menggenclang. Tiba di suatu tempat, mendadak dia mengangkat kedua
kaki depannya, mulutnya meringkik keras, hidungnya pun
mengendus-endus. Dia membaui sesuatu. Suara meringkiknya itu seperti
menunjuk dia mengetahui apa-apa.
Hok Goan Liong dan Tan Tat Hian yang tenaga
dalamnya liehay pun merasakan sesuatu, yaitu napas mereka rasanya
sesak.
"Shatee, rasanya tak beres ini!" kata kakak
itu.
Sebelum menyahuti, Tat Hian melihat ke
sekitarnya. Di barat daya, di antara sinar layung Batara Surya,
nampak mega kuning bergelempang bagaikan kabut, di antara itu ada
sinar ungu yang berkilauan. Pemandangan itu luar biasa sekali.
"Mari, toako, kita melihat ke sana!" katanya
seraya ia melarikan kudanya.
Tidak antara lama, mega kuning itu telah
meluas seperti sudah menutupi separuh langit.
Ketika itu pun orang telah bermandikan
keringat dan napas mereka mendesak.
"Toako, mungkin badai bakal datang...,"
akhirnya kata Tat Hian.
"Benar!" Goan Liong insaf. "Mari lekas, kita
bekuk dulu bocah itu, baru kita mencari perlindungan!..."
Belum berhenti suara si berewokan ini, angin
telah meniup keras, pasir, terbang berhamburan, menyampok muka
mereka, sampai mereka tidak dapat membuka mulut. Lebih celaka ketika
tujuh atau delapan orang roboh dari atas kudanya tertiup angin itu.
"Semua turun dari kuda, berkumpul menjadi
satu!" Goan Liong paksakan berbicara.
Dengan serentak orang bekerja. Kuda mereka
ditarik, dikumpulkan menjadi satu dipaksa rebah, mereka sendiri
turut rebah juga, mcnyelindung di perut kuda. Sebisa-bisa mereka
saling berpegangan tangan. Mereka merasakan sakit
pada muka mereka, yang tersampok pasir, muka itu baret juga
lengan mereka. Semua ketakutan. Sebab angin makin besar, tubuh
mereka teruruk pasir...
Goan Liong dan Tat Hian pun berkuatir,
hingga mereka pikir: "Tidak keruan-keruan kita mencari Istana
Rahasia Kobu, dari Shoasay kita sampai di gurun ini... Mungkin di
sini kita terpendam di dalam pasir..."
Hebat suara badai itu, seperti itu suaranya
kawanan hantu...
II
Dari magrib itu, badai bekerja terus
Seantero malam, besoknya pagi baru reda. Kembali sang gurun menjadi
tenang.
Goan Liong beramai merangkak bangun. Syukur
mereka tidak menampak kerugian besar. Dua orangnya mati disebabkan
napas sesak dan lima ekor kuda menjadi bangkai. Tinggal semua letih
dan lemas. Dengan mengimbangi penderitaan mereka, mereka
menduga si bocah dan kuda putihnya tentulah, dalam sepuluh, sembilan
bagian telah mati menjadi kurban badai itu. Bukankah mereka semua
bertubuh tangguh tetapi mereka hampir tak kuat bertahan?
Mereka lantas menyalakan api untuk memasak
nasi, guna menangsel perut.
Mereka tidak putus asa. Hok Goan Liong telah
menyerukan: "Siapa yang mendapatkan bekas-bekasnya si bocah dan kuda
putihnya, dia bakal dapat upah uang emas lima puluh tail!"
Inilah hadiah besar, janji itu disambut
dengan tempik sorak. Bagaikan payung yang dibuka lebar, lima puluh
lebih orang itu lantas pergi berpencaran, untuk mencari di sekitar
gurun itu. Di setiap otak mereka terbentang: "Kuda putih... bocah
wanita... lima puluh tail emas..."
Lebih dulu daripada itu mereka telah
berjanji, di waktu magrib mereka harus berkumpul di barat enam puluh
lie dari tempat bermalam ini.
Liangtauw Tjoa Tang Yong, si Ular Kepala
Dua, dengan seekor kuda pilihan, menuju ke barat daya Ialah piauwsoe
yang telah berpengalaman belasan tahun, meski dalam ilmu silat ia
bukan tergolong kelas satu, ia cerdik sekali, untuk Luliang Samkiat,
ialah pembantu yang berharga. Sebentar saja ia telah pergi dua puluh
lie lebih, hingga ia mencil sendirian. Setelah itu baru ia merasa
jeri juga. Sunyi di sekitarnya. Ia mendaki sebuah bukit pasir, untuk
melihat kelilingan. Maka ia girang sekali kapan matanya melihat ke
ujung barat daya itu, di sana nampak cahaya hijau dari tujuh atau
delapan buah pohon kayu. Heran ia di gurun pasir ada
tumbuh-tumbuhan.
"Mungkin di situ tidak ada rumah orang,
dengan ada pepohonan, di situ tentu ada air," ia berpikir. "Itulah
tempat bagus untuk rombonganku beristirahat."
Maka ia naik pula kudanya, ia kabur ke ujung
barat daya itu.
Itulah seperjalanan sepuluh lie lebih. Dari
jauh-jauh telah terlihat banyak kerbau dan kambing di daerah
pegunungan yang tumbuh pepohonan dan rumput itu. Bahkan di baratnya
terdapat banyak sekali tenda gurun, mungkin dua sampai tiga ribu
buah. Ia menjadi heran, ia terkejut. Yang ia pernah lihat, paling
banyak gundukan tenda dari tiga atau empat puluh buah. Dan ini
ribuan. Inilah gundukan suku bangsa gurun pasir paling besar yang ia
pernah ketemukan. Dilihat dari macamnya tenda, itu pasti kepunyaan
suku Kazakh.
Untuk wilayah Hweekiang, suku Kazakh adalah
suku paling gagah. Anak-anaknya, lelaki atau perempuan, semenjak
umur enam atau tujuh tahun, sudah belajar menunggang kuda,
sesuatunya membawa golok, pandai main panah, alat-alat untuk membela
diri dan menyerang. Di antara mereka ada tersebar peribahasa: "Satu
orang Kazakh dapat melawan seratus orang. Seratus orang Kazakh dapat
malang melintang di Hweekiang."
Tang Yong ketahui peribahasa itu, maka ia
kata di dalam hatinya: "Aku berada di wilayah orang Kazakh ini, aku
harus berlaku hati-hati."
Di timur laut, di kakinya sebuah bukit, ada
sebuah rumah mencil sendirian, yang terbuat tembok tanah dan mirip
sama rumah-rumah di Tionggoan. Itulah beda sekali dari tenda-tenda
orang Kazakh.
"Baiklah aku pergi ke sana, untuk melihat,"
pikir Liangtauw Tjoa. Ia menduga-duga apa mungkin itu rumahnya orang
Hai. Ia mengeprak kudanya, untuk dikasih lari ke arah rumah itu.
Tapi kudanya melihat rumput di sepanjang jalan, dia repot gegares,
jalannya menjadi perlahan. Ia menjadi sengit, ia mendupak. Dengan
begitu barulah kuda itu lari ke arah rumah kecil itu.
Dengan matanya yang tajam, Tang Yong dapat
melihat seekor kuda putih tertambat di belakang rumah, kuda mana
tinggi dan besar dan surinya panjang. Ia segera mengenali kudanya
Pekma Lie Sam. Tanpa dapat mengendalikan diri, ia berseru
sendirinya: "Kuda putih! Kuda putih di sini!" Lantas ia mendapat
akal. Maka ia lompat turun dari kudanya. Dari kaos kakinya, ia
mencabut goloknya yang pendek dan tajam,
ia sembunyikan itu di tangan kirinya, tergubat ujung bajunya.
Setelah itu dengan berindap-indap, ia pergi ke belakang rumah itu.
la tengah mengintai di jendela ketika mendadak kuda putih itu
meringkik, sebagai juga tanda peringatan kepada tuan rumah bahwa ada
orang datang...
"Binatang!" Tang Yong mencaci di dalam
hatinya. Ia menciutkan diri sebentar ia mengintai pula. Justeru itu
ada kepala orang nongol di jendela, hingga hidung mereka hampir
beradu. Ia terkejut. Ia menampak sebuah muka yang keriputan, yang
matanya bercahaya tajam. Ia lantas lompat bangun. "Siapa?" ia
menegur. "Kau siapa?" balik tanya orang itu, suaranya dingin. "Apa
perlunya kau datang kemari?"
Orang itu bicara dalam bahasa Tionghoa.
Untuk sejenak, Tang Yong terdiam. Selekasnya
ia dapat menenangkan diri, ia lantas bersenyum.
"Aku Tang Yong," sahutnya. "Dengan kebetulan
saja aku tiba di sini dan mengganggu lootiang. Bolehkah aku mendapat
ketahui lootiang she dan nama apa?" "Aku she Kee," menyahut orang
itu.
"Oh, Kee Lootiang," kata Tang Yong pula. la
tertawa. "Aku girang sekali dapat bertemu orang bangsa sendiri di
sini. Kalau sudi, aku mohon seceglukan teh."
"Kau ada bersama siapa-siapa lagi?" si orang
tua tanya.
"Aku bersendirian saja."
"Apakah tuan dari perusahaan piauwkiok?" si
orang tua menanya pula.
Tang Yong terkejut. "Tajam matanya orang tua
ini," pikirnya. "Di jidatku toh tidak ada mereknya piauwkiok-ku..."
Ia memikir untuk mendusta tetapi sebab si orang tua telah
mengatakannya, ia membatalkan itu. Ia menjawab: "Benar. Bagaimana
lootiang
mengetahuinya?"
"Kebanyakan piauwsoe bermacam bangsat," kata
si orang tua tawar, sedang matanya yang bersinar dingin menyapu
beberapa kali ke muka orang.
Mukanya Tang Yong menjadi merah, tetapi ia
berpikir: "Biarlah, akan aku cari tahu dulu tentang dia..." Karena
itu, ia hanya menyeringai.
"Kalau mau minum, ambillah jalan pintu
depan, jangan merayap di jendela!" berkata pula si empee.
"Ya, ya," sahut si piauwsoe, yang terpaksa
merendahkan diri. Ia jalan mutar ke depan, untuk terus masuk ke
dalam, hingga ia melihat perlengkapan miskin dari rumah itu, hanya
semua ada bersih. Setelah duduk, ia mengawasi ke sekitarnya.
Tidak lama muncul seorang nona kecil, yang
membawa secangkir teh. Ketika sinar mata mereka benterok, nona itu
kaget, cawannya terlepas, jatuh ke tanah hingga pecah hancur!
Bocah itu pun berdiri melongo. Tang Yong
lantas mengasih lihat senyumannya. Ia girang bukan main. Inilah
bocah yang dicari mereka, untuk siapa Hok Goan Liong menjanjikan
upah lima puluh tail uang emas. Dengan melihat kuda putih tadi. ia
sudah menduga-duga, sekarang dugaannya itu merupakan kenyataan.
Lie Boen Sioe telah dibawa kabur kudanya,
hingga dia tak ingat suatu apa. Kuda putih dapat membaui bau rumput
dan air, dia kabur menerjang badai, sampai di tempat yang banyak
pepohonannya ini. Segera dia bertemu sama
orang tua she Kee itu, yang menolonginya.
Tengah malam Boen Sioe sadar, ia tidak
melihat ayah dan ibunya, lantas ia menangis, hingga Kee Loodjin
membujukinya. Orang tua itu lantas merasa suka, ia mengasihaninya.
Di dalam usianya itu, Boen Sioe belum
mengerti banyak. Ditanya ayahnya, ia menyebut Pekma Lie Sam. Ditanya
tentang ibunya, ia cuma dapat menyebut "ibu", atau "Sam Niotjoe",
seperti disebut berulang-ulang oleh "orang jahat" yang mengejar
mereka. Tentu sekali, ia pun tidak tahu apa perlunya mereka bertiga
datang ke wilayah Hweckiang ini.
"Pekma Lie Sam, Pekma Lie Sam..." Kee
Loodjin menyebut berulang-ulang. "Ya, aku ingat dia... Pada sepuluh
tahun yang lampau, dialah bandit haguna yang malang melintang di
Kanglam. Kenapa dia datang kemari?"
Orang tua ini mengasih si nona minum susu,
ia membujukinya hingga nona itu tidur pulas di pembaringannya. Ia
sendiri, sebaliknya, menjadi tidak dapat tidur, la memikiri segala
kejadian pada sepuluh tahun yang lampau itu.
Besoknya pagi, Boen Sioe mendusin dari
tidurnya. Segera ia minta si orang tua mengajak ia pergi mencari
ayah dan ibunya. Tepat selagi Kee Loodjin membujuki, dia mempergoki
lagak bangsat dari Liangtauw Tjoa Tang Yong si Ular Kepala Dua itu.
Dengan jatuh pecahnya cangkir, Kee Loodjin
muncul dengan segera. Melihat orang tua itu, Boen Sioe lari untuk
menubruk sambil berkata: "Yaya, yaya, dialah si orang jahat yang
mengejar-ngejar aku!..."
Orang tua itu mengusap-usap rambut si anak,
sikapnya lembut.
"Jangan takut, jangan takut," membujuknya.
"Dia bukan orang jahat..."
"Benar, dia si jahat!" kata nona itu. "Dia
bersama puluhan orang lain mengejar ayah dan ibu, mereka
menyerangnya..."
Kee Loodjin sementara itu berpikir: "Yang
satu bandit haguna, yang lainnya piauwsoe, tentulah karena urusan
piauw, mereka benterok, mereka menyusul sampai di sini... Tidak
dapat aku mencampuri urusan mereka itu."
Tang Yong mengawasi si orang tua, yang
rambutnya ubanan, tubuhnya bongkok melengkung, tubuh itu besar
melebihkan ia. Ia pikir: "Orang tua ini, kalau dia belum berumur
seratus tahun, sembilan puluh tentunya ada. Di sini
tidak ada lain orang, kalau aku hajar dia pingsan, dapat aku bawah
kabur bocah ini serta kuda putihnya. Aku
mesti bekerja cepat, supaya tak menanti terjadinya perubahan..."
"Apakah kamu kehilangan piauw?" si orang tua
tanya. "Berapa harganya itu?"
"Harganya tidak seberapa, hanya namanya
Tjhin Wie Piauwkiok menjadi runtuh. Syukur jumlah itu telah didapat
pulang seluruhnya," sahut orang yang ditanya.
Orang tua itu mengangguk. "Tjhin Wie
Piauwkiok?" katanya. "Jadi Luliang Samkiat pun datang semuanya?"
Tang Yong heran. Kenapa orang tua ini
ketahui piauwkiok-nya dan ketiga majikannya itu? Bukankah orang ini
tua dan wilayah Hweekiang ini jauh dari Tionggoan? Apa benar nama
Luliang Samkiat demikian tersohor, sampai di tanah perbatasan?
Mungkinkah ini orang tua asal piauwsoe juga?
"Ya," ia menyahuti. Terus ia memasang
kuping, kakinya pun bertindak ke jendela. "Nah, lihatlah! Bukankah
mereka di sana tengah mendatangi?"
Kee Loodjin tidak mendengar tindakan kaki
kuda, akan tetapi mendengar perkataan Tang Yong itu, ia bertindak ke
jendela, untuk melihat. Ia tidak menampak siapa juga di sekitarnya,
hanya kerbau dan kambing lagi memakani rumput di tegalan.
"Mana ada orang?" kata ia pada tetamunya
seraya ia menoleh.
Justeru itu Tang Yong mengasih dengar
tertawanya yang seram, yang disusuli angin serangannya. Sebab tengah
si aki melongok keluar, dia membokong.
Orang tua itu bongkok, agaknya dia bercacad,
akan tetapi dia berkuping terang, matanya celi, gerakannya sebat.
Ketika tinju hampir tiba di kepalanya, ia berkelit, sebelah
tangannya diangkat, untuk dipakai menangkis sambil membangkol. Ia
nyata menggunai jurus Kimnahoat, "Tangkapan", maka tangan kanan si
piauwsoe lantas kena dicekal.
Tang Yong terkejut, tetapi kepalang
tanggung, ia beraksi terus. Ia mengelit tangan kanannya itu, untuk
dilepaskan dari cekalan orang, ia gagal, atas mana, tangan kirinya
meluncur. Di tangan kiri ini tersembunyi golok pendeknya, maka golok
itu mengasih lihat sinar berkelebat, menyambar ke punggung yang naik
tinggi seperti punggung unta dari si empee, tepat kenanya.
Lie Boen Sioe kaget hingga dia menjerit,
lantas dia lompat, untuk dengan kedua tangannya menghajar punggung
si piauwsoe di betulan pinggang. Selama dua tahun, dia telah mulai
belajar silat dari ayah dan ibunya. Hanyalah, dua kepalannya masih
kecil, seperti tenaganya pun belum besar.
Kee Loodjin juga tidak berdiam saja. Ia
menyikut dengan tangan kirinya, mengenai uluhati dari Tang Yong,
hingga piauwsoe ini menjerit tertahan, tubuhnya membungkuk, terus
roboh terkulai di lantai.
"Yaya..." kata si nona, yang kaget dan ngeri
melihat golok nancap di punggung si orang tua, "golok di punggungmu
itu..."
Kee Loodjin berpaling, ia melihat roman si
nona.
"Anak ini berhati baik," pikirnya.
"Yaya, lukamu..." kata pula Boen Sioe.
"Nanti aku cabut golok itu..." Ia mengulur tangannya, niat mencabut
senjata tajam itu.
"Jangan pedulikan aku!" kata si orang tua.
Mendadak dia beroman gusar, suaranya pun keras. Dia memegangi meja,
tubuhnya terhuyung. Dengan limbung ia berjalan masuk ke dalam, di
sana terdengar suara berisik dari pintu yang ditutup menggabruk.
Boen Sioe heran dan takut melihat air
mukanya orang tua itu. la pun ngeri melihat Tang Yong rebah
melingkar, ia takut orang nanti bangun pula. Bagaimana kalau
piauwsoe ini bangun dan menerjang padanya? Saking takutnya ia
memikir untuk lari ke luar. Tapi, ketika ia ingat si orang tua, yang
terluka dan bersendirian saja, ia batalkan niatnya itu. Setelah
ragu-ragu sebentar, ia menghampirkan pintu dalam. Ia mengetuk
perlahan, beberapa kali, kupingnya dipasang. Tidak ada jawaban.
"Yaya," ia memanggil. "Yaya, apakah kau sakit?"
Baru sekarang terdengar suara kasar dari
dalam: "Pergi! Pergi! Jangan gerecoki aku!"
Boen Sioe heran dan kaget. Suara itu beda
sekali daripada semula. Ia lantas berduduk diam di lanah, saking
bingung, ia menangis.
Tiba-tiba pintu berbunyi, lalu terbuka.
Lantas si nona merasai rambutnya dielus-elus perlahan, kupingnya pun
mendengar bujukan halus: "Jangan nangis, jangan nangis. Luka yaya-mu
tidak berbahaya..."
Si nona mengangkat kepalanya. Ia melihat si
empee bersenyum. Dasar anak kecil, mendadak ia menjadi girang
sekali, hingga dari menangis, ia menjadi tertawa.
"Kau menangis, lalu tertawa, apa kau tidak
malu?" kata Kee Loodjin tertawa juga.
Boen Sioe menusupkan kepalanya di dada
aki-aki itu untuk sekejap itu, ia merasai kehangatannya orang tuanya
Kee Loodjin sendiri mengerutkan kening.
Matanya mengawasi ke mayatnya Tang Yong. Hebat sikutnya, yang telah
mengenai uluhati orang, hingga piauwsoe itu mati seketika. Ia
memikir: "Dia dan aku tidak bermusuh hebat, kenapa aku menurunkan
tangan jahat terhadapnya?" Ia seperti lupa bahwa justeru ia yang
disateroni dan ditikam terlebih dulu.
"Yaya, apa lukamu sudah baik?" kemudian si
nona cilik menanya pula. Ia ingat lukanya si aki.
Ketika itu Kee Loodjin telah menukar
bajunya, entah bagaimana lukanya, tapi ketika ditanya, mendadak ia
menjadi gusar kembali. Mungkin ia merasai tikamannya Tang Yong suatu
penghinaan untuknya.
"Mau apa kau rewel?" dia membentak.
Boen Sioe kaget, ia menjadi ketakutan pula.
Justeru itu, di luar terdengar suara
meringkiknya si kuda putih. Si aki sadar secara tiba-tiba. Maka ia
pikir: "Orang-orang Tjhin Wie Piauwkiok mencari bocah ini, maka itu
Tang Yong menurunkan tangan jahat atas diriku." Lalu ia berpikir
pula, habis mana dia lantas pergi ke dapur. Di sana ada tahang
dengan air berwarna kuning, ialah air sepuhan peranti penggembala
kambing memberi warna tanda kepada ternaknya, la bawa itu keluar, ia
menuntun si kuda putih, lantas bulu kuda yang bagus itu ia poles
kuning, dari kepala sampai di ekornya, hingga menjadi kuning
seluruhnya. Kemudian lekas-lekas ia pergi ke tendanya seorang
Kazakh, untuk minta seperangkat pakaian bocah laki-laki, dengan itu
ia menyuruh Lie Boen Sioe menyalin pakaian, hingga si nona
menjadi bersalin rupa.. Boen Sioe cerdas. "Yaya," katanya, "kau
hendak membikin si orang jahat tidak mengenali aku?"
Empee itu mengangguk, terus ia menghela
napas.
"Aku sudah tua, kalau tidak, biarnya si
jahat besar jumlahnya, aku tidak takut," ujarnya. "Lihat saja
barusan, dia toh berhasil membacok aku..."
Boen Sioe berdiam. Walaupun si empee yang
mulai bicara, ia tidak berani menyambuti.
Habis itu, Kee Loodjin bekerja pula, secara
kesusu. Ialah ia menggali tanah untuk memendam mayatnya Tang Yong,
sedang kuda orang, ia sembelih. Ia menyingkirkan segala apa, yang
dapat menjadi tanda. Akhirnya ia duduk bercokol di depan pintu,
duduk seraya menggosok sebilah golok panjang...
Tidaklah sia-sia siasat orang tua ini. Sore
itu Hok Goan Liong bersama Tan Tat Hian serta rombongannya tiba di
tanah datar berumput itu. Mereka melakukan perampasan atas beberapa
ratus ekor kerbau dan kambing yang gemuk-gemuk. Orang-orang Kazakh
seperti kena dibokong. Wilayah mereka aman, tidak biasanya datang
penyamun. Mereka melakukan perlawanan secara sia-sia, kecuali rugi
ternak, tujuh orang pria terbinasakan dan lima orang wanita kena
diculik.
Rombongan itu juga menyateroni Kee Loodjin,
hanya mereka tidak menyangka jelek kepada orang tua itu, yang
rumahnya buruk. Mereka juga tidak bercuriga terhadap Boen Sioe, yang
mirip anak Kazakh, yang sembunyi di pojokan rumah, mukanya dekil.
Pula tidak ada seorang juga, yang melihat matanya yang tajam. Ia
sebaliknya melihat tegas, golok ayahnya tergantung di pinggangnya
Tan Tat Hian dan pedang ibunya berada di pinggangnya Hok Goan Liong.
Ia mengenali baik senjata orang tuanya itu, yang tak pernah terpisah
dari tubuh mereka, maka tahulah ia, pasti ayah dan ibunya telah
bercelaka...
Besoknya, orang-orang Kazakh itu dapat
menggabung diri, mereka lantas mencari kawanan penyamun, untuk
menuntut balas, tetapi rombongan Tjhin Wie Piauwkiok telah pergi ke
mana tahu di gurun yang luas itu. Yang dapat diketemukan ialah
mayatnya ke lima wanita bangsanya, yang menggeletak di tempat
terbuka dengan tubuh telanjang bulat, keadaannya sangat menyedihkan.
Kemudian mereka menemukan juga mayatnya Lie
Sam dan isterinya.
Lie Boen Sioe ada bersama, ia menubruk dan
memeluki mayat ayah ibunya itu, ia menangis sedih sekali, sekalipun
begitu, ia toh dirangket seorang Kazakh, yang terus mendupak padanya
sambil mulutnya mengutuk: "Tuhan tidak memberkahi kamu penyamun
llan!"
Kee Loodjin memondong tubuh bocah itu, ia
tidak mau melayani orang Kazakh yang lagi seperti kalap itu. Boen
Sioe sendiri bersedih dan bingung, hingga ia kata di dalam hatinya:
"Kenapa ada begini banyak orang jahat? Kenapa siapa pun menghina
aku?..."
III
Lie Boen Sioe mendusin pada waktu tengah
malam, ia mendusin untuk lantas menangis. Rupanya ia bermimpi hebat.
Ketika ia membuka matanya, ia kaget hingga ia berteriak. Di atas
pembaringannya itu ada berduduk seorang lain. la pun bangun untuk
berduduk. Hanya sebentai ia terkejut.
Kee Loodjin mengawasi dengan romannya sabar,
tangannya pun mengelus-ngelus rambut perlahan sekali.
"Jangan takut, jangan lakui inilah
yaya-mu..." kata ia. Ia menyebut dirinya yaya, ia pun dipanggil
yaya. Yaya itu kakek. Memang tepat ia menjadi kakek mengingat
perbedaan usia mereka berdua.
Boen Sioe menangis, air matanya bercucuran
deras, ia nelusup di dada aki itu, hinga tangan baju si orang tua
basah
"Anak," kata si aki perlahan, "kau sudah
tidak punya ayah dan ibu, kau anggaplah aku sebagai kakekmu tulen.
Mari kita tinggal bersama, kakekmu sanggup merawati kau..."
Boen Sioe mengangguk. "Kenapa semua orang
menghina aku? Aku toh tidak berbuat jahat?" ia bertanya, la ingat
bagaimana ia dan orang tuanya dimusuhkan orang, ia sendiri pun
dibenci dan dianiaya si orang Kazakh yang kasar itu. Ia tahu ia
tidak bersalah.
Orang tua itu menghela napas. "Di dalam
dunia ini, mereka yang suka menderita justerulah mereka
yang belum pernah melakukan kejahatan..."
katanya. Ia menuang susu hangatnya, untuk diminum. Ia pun membagi si
bocah. Sembari merapikan tempat tidur bocah itu, ia menambahkan pula
"Anak Sioe, orang Kazakh yang menendangmu itu bernama Suruke,
sebenarnya dia seorang baik..."
Boen Sioe heran, ia mementang kedua matanya.
"Dia... dia orang baik?" ia menegaskan.
"Benar, dia orang baik," si kakek menyahuti,
"dia sama baiknya seperti kau. Di dalam satu hari, dia kematian dua
orang yang ia paling mencintakannya... Yang satu isterinya, yang
lain putera sulungnya... dan mereka semua terbinasa di tangannya
rombongan penyamun jahat dan kejam itu. Dia menyangka orang Han
orang jahat semua, maka juga didalam bahasanya, dia mengutuk kau
sebagai orang Han jahat yang tidak diberkahi Tuhan. Kau jangan
membenci dia, dia lagi sakit hatinya, seperti sekarang hatimu pun
sakit. Dia sudah berusia lanjut, bisalah dimengerti kalau dia jadi
terlebih sakit hatinya..."
Boen Sioe mendelong mendengar si orang tua.
Sebenarnya dia pun tidak membenci orang Kazakh berewokan itu, hanya
dia jeri melihat roman orang yang bengis. Sekarang dia ingat, di
matanya orang Kazakh itu pun ada mengembeng air mata. Tentu sekali
dia tidak mengerti perkataan yaya-nya, kenapa orang tua itu lebih
menderita daripadanya. Sekarang dia berkesan baik terhadap orang tua
itu...
Tidak antara lama, dari luar jendela
terdengar suara burung, halus dan menggiurkan hati. Suara itu agak
jauh tetapi tedas. Ia memasang kupingnya. Ia merasakan suara itu
manis. Itulah mirip nyanyiannya seorang nona...
Ia memasang kuping terus. Nyanyian burung
itu terdengar jauh, lalu lenyap. Ia menjadi masgul, hingga ia terus
berdiam saja Lama ia tidak bersuara, lalu: "Yaya, suara burung itu
enak didengarnya," katanya.
"Memang, merdu nyanyiannya burung itu,"
menyahuti si empee. "Itulah burung nilam malam di padang rumput ini.
Orang Kazakh membilang burung itu penitisan seorang nona paling
cantik dan yang paling pandai bernyanyi. Katanya dia
tidak disukai kekasihnya, dia mati mereras..." Boen Sioe
heran. "Dia paling cantik, dia juga paling pandai bernyanyi, kenapa
dia tidak dicintai?" ia tanya.
Ditanya begitu, orang tua itu agak kaget,
bahkan air mukanya segera berubah.
"Ya, dia demikian cantik, kenapa dia tidak
dicintai?" katanya keras.
Boen Sioe kaget, dia mengawasi, matanya
mendelong.
Hanya sejenak, si empee menghela napas. Ia
jadi sabar pula.
"Di dalam dunia ini, ada banyak sekali hal
yang kau tidak mengerti, anak," katanya kemudian.
Kembali Boen Sioe mendengar burung tadi
bernyanyi, suaranya semakin menggiurkan hatinya, manis tetapi sedih.
Ia sampai melupakan sikap aneh dari si orang tua...
***
Demikian Lie Boen Sioe tinggal ili rumah Kee
Loodjin, si orang tua vang hidup menyendiri di wilayah orang Kazakh
itu. Ia membantu menanak nasi dan menggembala kambing. Mereka hidup
sebagai kakek dan cucu. Hanya kalau malam, suka-suka
si nona mendusin dengan kaget, akan mendengar suara si
burung malam dari padang rumput itu, yang nyanyiannya mengagumkan
dia, yang membuatnya merasa tergiur dan berduka. Kalau dia bermimpi,
maka dia memimpikan keindahan wilayah Kanglam di mana dia berada
dalam rangkulan ayah atau ibunya...
Musim rontok lewat, musim dingin pun lewat,
selama itu, tenteram hidupnya puteri dari Pekma Lie Sam atau
Siangkoan Hong, selama itu, ia telah dapat bicara dalam bahasa
Kazakh, ia mulai mengerti banyak perihal segala apa di dataran
rumput itu.
Pada suatu malam, kembali Nona Lie mendengar
nyanyian si burung malam. Jauh suara burung itu, terbawa sang angin,
sebentar terdengar, sebentar lenyap Ia bangun
untuk mengenakan bajunya, diam-diam ia pergi
keluar di mana ia tuntun kudanya, si kuda putih, ia berlaku
hati-hati untuk tidak membikin Kee Loodjin kaget dan mendusin.
Setelah berada jauh dari rumah, baru ia naik atas kudanya, untuk
sambil menunggang kuda mengikuti suara burung itu.
Sang malam di dataran rumput, langit rasanya
tinggi sekali, warnanya biru, bintang-bintang terang berkilau.
Rumput segar dan bunga-bunga menyiarkan bau yang harum.
Suara nyanyian terdengar tegas sekarang,
benar-benar
menggiurkan. Di dalam hatinya, Boen Sioe
mengikuti bernyanyi. Ia menjadi girang sekali. Ia lompat turun dari
kudanya, membiarkan kuda itu mencari makan, ia sendiri rebah
telentang di atas rumput, matanya memandangi langit. Ia terbenam
dalam nyanyian sang burung...
Selang sekian lama, burung itu berpindah
tempat, suaranya terdengar jauh. Maka si nona merayap bangun, ia
bertindak menyusul, mengikuti, hingga sekarang ia menampak romannya
burung itu, yang bulunya kuning muda. Burung itu beterbangan di
tanah, mematuk sesuatu, lalu terbang, lalu mematuk pula, saban-saban
dia bernyanyi...
Mendadak terdengar satu suara keras, serupa
barang hitam menyambar kepada burung malam itu. Si nona kaget hingga
ia berseru, bercampur seruannya seorang lain. Kalau Boen Sioe kaget
maka orang itu kegirangan. Dia muncul dari gegombolan pohon. Nyata
dialah seorang anak laki-laki Kazakh, yang berseru: "Kena! Kena!"
Dengan baju luarnya, dia menungkrap burung
itu, yang kena ditangkap. Burung itu lantas berbunyi berisik sekali,
kaget dan ketakutan.
"He, kau bikin apa?" Boen Sioe menegur,
gusar.
"Aku menangkap burung ini," menjawab orang
yang ditegur. "Apakah kau juga menangkap burung?"
"Kenapa kau menangkap dia?" Boen Sioe
menegur pula. "Bukankah lebih baik membiarkan dia merdeka dan
bernyanyi?"
"Dengan ditangkap, dia dapat dibuat main,"
menyahut anak Kazakh itu. Dengan tangan kanannya merogoh ke dalam
bajunya, ia memegang burung kuning dan kecil itu, yang sia-sia saja
berontak untuk mencoba terbang pergi.
"Kau lepaslah!" kata Boen Sioe kemudian.
"Lihat, dia harus dikasihani..."
"Di sepanjang jalan aku menyebar gandum,
memancing dia makan hingga di sini," kata anak Kazakh itu. "Siapa
suruh dia makani gandumku? Haha!"
Boen Sioe terbengong. Inilah yang pertama
kali ia mengenal perangkap. Burung itu diberi umpan, dia memakannya,
dia mengantarkan diri, lalu tertangkap artinya, dia mencari matinya
sendiri. Ia masih terlalu muda dan mendapat tahu bunyinya pepatah:
"Djin wie tjay soe, niauw wie sit bong", ialah "Orang mati karena
harta, burung mampus karena makanan."
Bocah Kazakh itu membuat main burungnya,
hingga burung ini berbunyi tak hentinya.
"Maukah kau kasihkan burung ini padaku?"
akhirnya Boen Sioe minta. Ia merasa kasihan.
"Habis kau memberikan apa padaku?" tanya si
anak Kazakh. Dia minta penggantian atau penukaran.
Boen Sioe meraba sakunya, ia tidak mempunyai
apa-apa. Ia menjadi berdiam untuk berpikir. Kemudian ia menyahuti:
"Besok aku nanti menjahit, membikin kantung, untuk kau pakai..."
"Aku tidak mau diakali. Besok kau
menyangkal..."
Mukanya si nona menjadi merah.
"Aku telah berjanji, tentu aku akan
memberikan," ia mengasih kepastian. "Kenapa aku mesti menyangkal?"
"Ah, aku tidak percaya!" bocah ini
menggeleng kepala. Tapi di terangnya rembulan, ia melihat gelang
kumala, yang bersinar di lengan kiri orang, maka ia menambahkan:
"Kecuali kau berikan gelangmu itu!"
Itulah gelang yang Boen Sioe il.ipat dari
ibunya, kecuali itu, ia udak punya tanda mata apa jua dari ibunya.
Berat ia menyerahkan itu, akan tetapi, kalau ia melihat burung itu,
ia berkasihan.
"Baiklah, ini aku kasihkan kau," katanya
akhirnya. Ia meloloskan gelangnya dan menyerahkannya.
Bocah itu agaknya heran, la menyambuti.
"Apakah kau tidak bakal
memintanya pulang?" ia menegasi. "Tidak!"
"Baik!" Dan ia menyerahkan burungnya.
Dengan kedua tangannya, Boen Sioe menyambuti
burung itu.
Ketika tangan mereka beradu, si bocah Kazakh
merasakan sebuah tangan yang halus dan hangat, hingga ia seperti
merasakan guncangnya hati si nona.
Nona itu mengusap-usap sayap burung dengan
tiga buah jari tangannya, perlahan-lahan, kemudian ia melepaskan
tangannya seraya ia berkata: "Kau pergilah! Lain kali kau mesti
berhati-hati supaya orang tidak kena tangkap pula!"
Burung itu terbang, menghilang di gombolan
rumput.
Si bocah Kazakh heran.
"Kenapa kau lepas burung itu?" ia tanya.
"Bukankah kau telah tukar itu dengan gelang kumala?" Dia memegang
erat-erat gelangnya, kuatir si nona meminta pulang.
"Dia dapat terbang pula," menyahut Boen
Sioe, "dia bakal bernyanyi kembali! Tidakkah itu senang untuknya?"
Bocah itu heran dan kagum. Ia mengimplang.
"Kau siapa?" ia tanya kemudian. "Aku Lie
Boen Sioe. Kau sendiri?"
"Aku Supu." Habis menyahuti, dia berjingkrak
dan berseru nyaring.
Supu lebih tua dua tahun, tubuhnya jangkung,
kalau dia berdiri, nampaknya dia gagah.
"Tenagamu besar, bukankah?" Boen Sioe tanya.
Supu tengah kegirangan, pertanyaan si nona
membangkitkan keangkuhannya. Dari
pinggangnya, ia menarik keluar sebuah golok
pendek. Ia berkata: "Baru bulan yang sudah aku membunuh seekor
serigala!"
"Kau begitu kosen?" tanya Boen Sioe heran.
Supu jadi bangga sekali. Ia kata pula:
"Sebenarnya dua ekor serigala yang datang menyerbu kambing kami.
Ayahku kebetulan tidak ada di rumah, jadi aku yang keluar membawa
golok mengejarnya. Serigala yang besaran melihat api, dia kabur, aku
bunuh yang satunya."
"Jadi kau membunuh yang kecilan?'"
Supu likat, ia mengangguk, tetapi ia
menambahkan: "Jikalau serigala yang besar itu tidak kabur, tentu aku
bunuh juga padanya!"
Dari suaranya, ia agak ragu-ragu.
Boen Sioe percaya keterangan itu. Ia kata:
"Serigala yang jahat makan kambing, dia memang harus dibunuh. Kalau
nanti kau membunuh serigala pula, maukah kau memanggil aku untuk aku
melihatnya?" Supu girang.
"Baik! Lain kali aku akan mengeset kulitnya,
untuk dihaturkan padamu!"
"Terima kasih!" Boen Sioe pun girang. "Nanti
aku membikin alas kulit serigala peranti yaya duduk, kepunyaannya
telah diberikan padaku."
"Dengan begitu. Aku berikan itu pada kau,
itu artinya untukmu sendiri. Kepunyaan yaya-mu kau kembalikan saja."
"Begitu pun baik," si nona mengangguk.
Kedua bocah ini lantas menjadi sahabat satu
dengan lain. Erat pergaulan mereka, meski yang satu ada anak Kazakh
yang sikap dedaknya kasar, dan yang lain seorang nona Han yang
halus.
Lewat beberapa hari, Lie Boen Sioe
menganggap bocah itu sahabat, buat sebuah kantung kecil, yang ia
isikan kembang gula dan menghadiahkannya kepada Supu. Bocah ini
heran. Untuknya sudah cukup burungnya ditukar dengan gelang kumala.
Karena dia jujur, dia hendak membalas budi. Maka malamnya, satu
malam suntuk dia tidak tidur, dia menunggui burung, hasilnya, dia
dapat menjebak dua ekor burung nilam. Besoknya pagi, dia serahkan
burungnya itu pada sahabatnya.
Melihat perbuatan Supu, Boen Sioe menganggap
bocah itu salah mengerti, maka dengan banyak kata-kata ia
menjelaskan, ia menyukai burung bukan untuk dipiara, ia hanya
menyukai kemerdekaannya burung itu, sedang kalau dipiara, burung itu
jadi tersiksa. Supu dapat dikasih mengerti tetapi toh ia tetap heran
untuk sikap nona, yang ia kata aneh...
Dengan lewatnya banyak hari, mimpinya Boen
Sioe, mimpi ayah dan ibunya, menjadi berkurang. Itu berarti,
basahnya bantalnya karena air matanya pun jadi berkurang |uga. Di
lain pihak, pada parasnya lebih sering tertampak senyuman, ia jadi
lebih gemar bernyanyi. Demikian, kalau dia dan Supu menggembala
kambing, sering lei dengar nyanyian mereka,
nyanyian yang mengandung asmara. Sering
mereka bernyanyi saling sahutan. Tapi Boen Sioe bernyanyi karena
kegemarannya, artinya nyanyian belum masuk di olaknya. Ia bahkan
heran kenapa muda-mudi gemar bernyanyi
berdua-duaan, mereka tertarik satu kepada lain. Ia tidak mengerti
kenapa hatinya memukul kalau ia mendengar tindakannya si bocah
Kazakh. Tapi yang benar, suara nyanyiannya memang merdu, siapa yang
mendengarnya memuji: "Merdu suaranya bocah itu, mirip dengan
suaranya si burung nilam dataran rumput..."
Kapan telah datang musim dingin, burung
nilam terbang pindah ke Selatan, yang hawanya hangat, akan tetapi di
padang rumput itu, ada pengganti suaranya, sebab ada nyanyiannya
Boen Sioe yang merdu itu:
"Gembala muda yang manis, Aku tanya kau,
tahun ini usiamu berapa?
Kalau di tengah malam kau bersendirian di
gurun, Maukah kau ditemani olehku? "
Biasanya nyanyian berhenti sampai di situ,
sesaat kemudian barulah disambungi:
"Ah, kekasihku, jangan gusar. Siapa baik
siapa buruk, sukar dibilang, Kalau gurun hendak dijadikan teman.
Maka mestilah sepasang orang baik kumpul
bersama..."
Supu adalah orang yang paling sering
mendengar nyanyian itu. Dia juga tidak memahami artinya nyanyian
asmara itu, sampai pada suatu hari di atas salju mereka bersomplokan
sama seekor ajag.
Sangat mendadak munculnya binatang alas yang
jahat itu. Supu dan Boen Sioe tengah duduk berendeng di atas sebuah
tanjakan, mata mereka
memandang rombongan kambing mereka yang lagi mencari makan di padang
rumput. Seperti biasanya, si nona mendongeng, tiga bagian menurut
cerita ibunya, tiga bagian menurut cerita Kee Loodjin, yang lainnya
karangannya sendiri. Supu paling suka mendengar ceritanya Kee
Loodjin, sebab itu ada mengenai peristiwa-peristiwa hebat. Yang ia
paling tidak sukai ialah cerita karangannya si nona sendiri, karena
itulah semua cerita kekanak-kanakan. Mendadak Boen Sioe menjerit,
tubuhnya roboh ke belakang, sebab seekor serigala menerkam dengan
tiba-tiba. Binatang jahat itu datang dengan perlahan-lahan dari arah
belakang, kedua bocah masing-masing sedang asyik
bercerita dan mendengari, mereka tidak mendengar
apa-apa sampai terkaman datang. Si nona berkelit, karenanya dia
roboh.
Supu kaget. Serigala itu besar sekali. Tapi
melihat si nona didalam bahaya, ia menghunus golok pendeknya, terus
ia membacok. Binatang itu berkelit, punggungnya tergores kulitnya.
Karena itu dia menjadi gusar, sambil mementang mulutnya yang lebar,
memperlihatkan giginya yang tajam, dia menubruk bocah itu, dia
hendak menggigit muka orang!
Saking kaget, Supu roboh. Ia tentu telah
kena digigit kalau tidak Boen Sioe lompat maju, untuk menangkap ekor
binatang itu, untuk ditarik, hingga si serigala mundur setindak.
Tapi binatang ini kuat, dia berontak, dia menerkam pula. Kali ini
giginya nempel pada pundak kiri si bocah pria. Dalam kaget dan
takut, si nona menarik sekuatnya. Tidak urung, pundak Supu telah
mengucurkan darah.
Dalam keadaan seperti itu, Supu melupakan
segala apa, ia menikam. Tepat ia menikam perut, di bagian yang
berbahaya. Serigala itu berlompat, terus roboh. Supu masih hendak
menikam, ketika tubuh binatang itu terus berdiam.
Boen Sioe pun jatuh terguling. Ia bertahan,
si serigala menarik keras. Meskipun begitu, ia tidak melepaskan
cekalannya sampai binatang itu rebah tak berkutik lagi.
"Aku membunuh serigala!" seru Supu kemudian.
"Aku membunuh serigala!" Ia lantas mengasih bangun pada si nona,
seraya ia berkata: "Lihat, Sioe, aku telah bunuh mati seekor
serigala!". Ia gembira hingga ia melupakan pundaknya yang borboran
darah.
"Aku tidak takut sakit!" kata Supu sambil
menggeleng kepala, sikapnya gagah.
Sekonyong-konyong terdengar teguran di
belakang mereka: "Eh, Pu kau lagi bikin apa?"
Keduanya terkejut, sama-sama mereka
berpaling.
Boen Sioe melihat seorang yang mukanya
berewokan, yang tubuhnya besar bercokol di atas kuda. Supu sendiri
segera berkata: "Ayah, lihat! Aku telah bunuh seekor serigala!"
Nampaknya orang itu girang. Ia lompat turun
dari kudanya. Ia memandangi anaknya, Boen Sioe dan bangkai serigala.
"Kau kena digigit serigala?" ia menanya.
"Ya," si anak mengangguk. "Kita lagi duduk
di sini, aku mendengari dia mendongeng mendadak serigala itu muncul
dan menerkam dia..."
Si berewokan itu mengawasi pula Boen Sioe,
mendadak di menegur: "Kau toh si anak perempuan Han yang tidak
diberkahi Tuhan?" tegurnya.
Boen Sioe terkejut. Ia sekarang mengenali si
berewokan ini adalah mang yang telah menendang ia it-lagi ia
memeluki mayat ayah dan ibunya. Dialah Suruke yang menurut Kee
Loodjin, isteri dan anaknya telah dibinasakan penyamun didalam satu
malaman. Ia mengangguk, ingin ia mengatakan: "Ayah
dan ibuku juga telah dibunuh oleh kawanan penyamun itu..." atau
mendadak ia menjadi kaget. Tahu-tahu Supu telah dicambuk ayahnya,
hingga mukanya balan, sedang ayah itu berseru: "Aku telah menyuruh
kau turun-temurun membenci orang Han, mengapa kau melupai pesanku?
Kenapa kau justeru bermain-main sama anak Han ini dan mengadu jiwa
untuknya hingga kau mengucurkan darah?" Lalu cambuknya menyambar
pula secara membabi buta!
Supu berdiam saja, bahkan dia memandang Boen
Sioe dan bertanya: "Apakah dia si wanita Han yang tidak diberkahi
Tuhan?"
"Mustahil bukan?" bentak si ayah, yang
tangannya diayun ke samping, maka menjeritlah si nona yang kaget dan
kesakitan, sebab cambuk menyambar mukanya!
Justeru itu, Supu roboh, sebab tak tahan ia
akan sabatan ayahnya itu. Ia telah terluka diterkam serigala, ia pun
dirangket berulang-ulang, selagi ia telah mengeluarkan banyak darah
dan lelah, ia pun melihat si nona dicambuk, maka ia sakit, lelah dan
menceios hatinya berbareng.
Suruke kaget. Ia lompat kepada anaknya, ia
pondong tubuhnya, buat diajak naik ke atas kudanya, kemudian ia
kabur dengan mengalak bangkai serigala, maka ketika ia melarikan
kudanya itu, bangkai binatang itu terseret-seret pergi. Ia masih
menoleh kepada Boen Sioe, yang berdiri tercengang, di dalam hatinya
ia kata: "Kalau lain kali kau bertemu pula dengan aku, lihat apabila
aku tidak menghajar pula padamu!"
Boen Sioe tidak takut lagi si berewokan itu,
hanya hatinya kosong. Ia merasa bahwa selanjutnya ia bakal tidak
bertemu pula sama Supu, kawan satu-satunya dengan siapa ia dapat
bermain-main dengan gembira, kawan yang suka mendengari nyanyiannya.
Setelah itu, ia merasai mukanya sakit. Tidak lama ia berdiam di
situ, dengan tidak keruan rasa ia menggiring kambingnya pulang.
Kee Loodjin heran melihat tubuh si nona
kecipratan darah dan mukanya balan, bertanda bekas sabatan cambuk.
"Apakah sudah terjadi?" tanyanya lekas.
"Aku terjatuh..." Boen Sioe mendusta,
suaranya tawar.
Orang tua itu tidak mau percaya tetapi
setelah ditegasi, si nona tetap sama jawabannya itu, bahkan dia
lantas menangis, hingga ia menjadi kewalahan dan bingung.
Malam itu tubuh Boen Sioe panas sekali,
mukanya menjadi merah, berulangkah dia mengaco: "Serigala! Serigala!
Supu! Supu! Tolong! ....Orang Han yang tidak diberkahi Tuhan!"
Bukan main bingungnya orang tua ini. Maka
syukur, mendekati pagi, hawa panasnya si nona berkurang banyak,
lantas dia dapat tidur pulas.
Dengan sakitnya ini, satu bulan terus Boen
Sioe mesti rebah di pembaringan, ketika kemudian ia sembuh, musim
dingin sudah lewat, di tanah datar rumput telah mengeluarkan semi
baru yang halus...
Lewat beberapa hari, nona Lie merasa
tubuhnya sehat betul, maka itu ingin ia pergi menggembala seperti
biasa. Ketika ia heran akan mendapatkan ada sehelai kulit serigala
terletak di depan pintunya, kulit itu sudah dijadikan alas duduk,
lebih heran pula apabila ia periksa, di betulan perut kulit itu ada
pecahan bekas tusukan senjata tajam. Ia lantas mengenali itulah
serigala yang menerkam ia, yang dibinasakan Supu. Hatinya berdebaran
kalau ia ingat Supu tidak menyalahi janji, hanya bocah itu datangnya
secara diam-diam. Ia angkat kulit itu, untuk disimpan di dalam
kamarnya. Ia tidak mau memberitahukan pada Kee Loodjin. Habis itu
pergilah ia menggembala kambingnya, di tempat yang biasa.
Sampai magrib, Supu tidak muncul, ada juga
kambingnya, yang sekarang diangon oleh seorang muda lain umur tujuh
atau delapan belas tahun, la menjadi berpikir.
Mungkinkah lukanya Supu belum sembuh? Kalau
begitu, bagaimana dia dapat mengantarkan kulit serigalanya itu?
Ingin ia pergi melongok ke tenda kawan itu tetapi ia batal
sendirinya kapan ia ingat si berewokan yang bengis. Maka ia sudi
bersangsi.
Malam itu sampai tengah malam Boen Sioe
tidak dapat pulas. Akhirnya ia mengambil keputusannya juga.
Diam-diam ia pergi ke tendanya Supu, ke sebelah belakangnya. Ia
tidak tahu pasti apa perlunya ia menjenguk sahabatnya itu. Untuk
hanya menghaturkan terima kasih untuk kulit serigala itu? Untuk
menanyakan lukanya bekas digigit serigala? Ia berdiam di belakang
tenda, seperti Menyembunyikan diri. Tidak berani ia
memanggil-manggil kawannya ini Sampai ia disamperi anjingnya Supu,
yang mencium-cium Hibahnya. Anjing itu
tidak mengasih dengar suara apa-apa.
Di dalam tenda, lilin dipasang
terang-terang. Di situ terdengar suara keras dari Suruke. Kaget Boen
Sioe, setiap kali mendengar suara orang, hatinya berdenyutan.
Sebab orang Kazakh itu lagi murka.
"Kulit serigalamu kau kasihkan pada
perempuan itu?" demikian suara si ayah. "Binatang, kecil-kecil kau
sudah mengerti menyerahkan hasil pemburuanmu yang pertama kepada
nona kecintaanmu!"
Boen Sioe ingat ceritanya Supu hal
kebiasaannya bangsa Kazakh, bahwa pemuda bangsa itu paling
menghargai hasil pemburuannya yang pertama kali, bahwa itu selalu
diberikan kepada kekasihnya, untuk mengutarakan cintanya. Maka
mukanya menjadi merah sendirinya. Maka terbangunlah keangkuhannya.
Ia, seperti Supu juga, masih terlalu
muda, melainkan samar-samar mereka mengenal asmara.
"Bukankah kau memberikannya kepada itu nona
Han yang tidak diberkahi Tuhan, itu anak hina-dina?" terdengar pula
suaranya Suruke. "Kau tidak mau bicara? Baik! Kau lihat, kau yang
tangguh atau cambuk ayahmu!"
Lantas Boen Sioe mendengar rangketan
beberapa kali, suara cambuk mengenai tubuh.
Seperti kebanyakan orang Kazakh, demikian
Suruke. Ia percaya cambuk akan menciptakan orang bangsanya yang
gagah. Jadi untuk mendidik anak, tidak dapat kelunakan dipakai. Dulu
kakeknya telah menghajar dia, maka sekarang dia menghajar anaknya.
Itulah pengajaran, itu tidak melenyapkan kasih sayang orang tua pada
anaknya. Terhadap sahabat, kepalan dan cambuk yang dipakai.
Menghadapi lawan, ialah golok pendek dan pedang panjang.
Hanyalah, mendengar rangketan itu, Boen Sioe
merasai ialah yang tersiksa itu...
"Kau masih tidak mau menjawab? Kau masih
tidak mau menjawab? Baik! Aku merasa pasti kau menyerahkan kulit
serigala itu kepada perempuan Han itu! Kau rasai!"
Lalu hujan cambuk, terdengar nyata.
Akhir-akhirnya Supu menangis.
Tak dapat ia menahan sakit hanya dengan
mengertak gigi saja.
"Sudah, ayah, jangan pukul, jangan pukul,"
katanya. "Aduh... aduh..."
"Nah, bilanglah, bukankah kau menyerahkan
kulit itu pada perempuan Han itu? Ibumu mati di tangan penyamun Han!
Kakakmu terbinasa di tangan penyamun Han! Apakah kau tidak ketahui
itu? Orang menyebutnya aku orang kosen nomor satu dari bangsa Kazakh
tetapi isteri dan anakku dibunuh penyamun bangsa Han! Apakah
itu bukannya suatu kehinaan? Sayang hari itu aku justeru
tidak ada di rumah! Aku menyesal tidak dapat aku cari penyamun itu
untuk membalaskan sakit hatinya ibu dan kakakmu itu!"
IV
Cambuknya Suruke bukan lagi dipakai untuk
mengajar anak hanya guna melampiaskan kebenciannya, dia mencambuk
bukan lagi anaknya sendiri hanya musuh, la kata sengit: "Kenapa
kawanan anjing itu bukan menempur aku terang-terangan? Kau bilang,
bilanglah! Apakah aku tidak sanggup melawan beberapa bangsat anjing
Han itu?"
Anak yang dibinasakan rombongan Hok Goan
Liong ada anaknya Suruke yang paling disayang, dan isterinya yang
terbinasa itu adalah isteri yang mencintainya semenjak mereka masih
kecil dan biasa bermain-main bersama, sedang ialah orang Kazakh
tergagah, maka itu, bisa dimengerti kemurkaannya itu.
Boen Sioe berduka, la merasa sangat kasihan
terhadap Supu. Tidak dapat ia mendengar tangisan kawannya itu.
Dengan merasa berat, dengan tindakan perlahan, ia berjalan pulang.
Ia menarik keluar kulit serigala dari bawah kasurnya, ia memandangi
itu sekian lama. Dalam kesunyian itu, ia seperti mendengar
samar-samar
tangisannya Supu, meski terpisahnya tenda
Supu dan rumah Kee Loodjin ada sekira dua lie. Ia seperti mendengar
juga cambukannya Suruke, si orang tua berewokan yang romannya bengis
itu. la sangat menyukai kulit itu tetapi ia telah mengambil
keputusan untuk mengurbankannya.
***
Besoknya pagi Suruke keluar dari tendanya,
kedua matanya merah. Segera telinganya mendengar nyanyiannya Cherku,
yang sembari bernyanyi mengawasi kepadanya dengan kepala
dimiringkan, mukanya tersungging senyuman persahabatan.
Cherku pun seorang Kazakh termasuk jago.
Orang tahu dia pandai sekali membikin jinak kuda dan larinya sangat
keras, hingga orang mengatakannya, di dalam satu lie, tidak ada kuda
pilihan yang dapat menyandak padanya, atau sedikitnya, dia cuma
kalah sejarak Indung, sebab hidungnya yang mancung...
Sebenarnya di antara Suruke dan Cherku tidak
ada persahabatan erat, bahkan kesan mereka satu dengan lain tidak
baik. Inilah sebab kegagahannya Suruke membuatnya Cherku iri. Cherku
lebih muda sepuluh tahun, akan tetapi ketika satu kali mereka
mengadu golok, pundaknya kena dihampiri goloknya Suruke. Atas itu ia
kata: "Sekarang aku kalah, tapi lain kali, lagi lima tahun, atau
lagi sepuluh tahun, kita nanti bertanding pula!" Dan Suruke
menyahuti: "Lagi dua puluh tahun, kalau kita bertanding pula,
tanganku tak ada seenteng kali ini!"
Akan tetapi hari ini, sikapnya Cherku tidak
bermusuhan. Hanya kesan buruk dari Suruke belum lenyap, dia balik
mengawasi dengan mata mendelik.
Cherku tertawa dan berkata: "Sahabatku Su,
anakmu liehay matanya!"
"Kau maksudkan Supu?" Suruke tanya. Dia
meraba gagang goloknya, matanya bersinar bengis. Di dalam hatinya ia
kata: "Kau hendak menyindir aku karena anakku telah memberikan kulit
serigala kepada itu perempuan Han?"
Cherku mau menyahuti: "Kalau bukan Supu,
mungkinkah kau mempunyai anak yang lain?" tapi batal, sembari
bersenyum ia menjawab: "Memang Supu! Anak itu baik romannya, dia
pandai bekerja, aku senang dengannya."
Seorang tua pastilah senang anaknya dipuji
orang tetapi ia tak akur dengan Cherku maka Suruke kata: "Apakah kau
mengiri? Sayang kau tidak mendapatkan anak laki-laki."
Cherku tidak gusar, dia bahkan tertawa.
"Anak perempuanku, si Aman juga tidak ada
kecelaannya, kalau tidak, mustahil anakmu penuju kepadanya?"
sahutnya.
"Fui, jangan ngaco!" kata Suruke. "Siapa
bilang anakku penuju si Aman?"
Cherku mendekati, untuk menarik
tangan orang.
"Mari turut aku, aku memberi kau melihat
sesuatu!" katanya. Suruke heran, ia mengikuti. Sembari jalan, Cherku
kata: "Beberapa hari yang lalu anakmu membunuh seekor serigala
itulah hebat! Bukankah dia masih kecil? Maka kalau dia sudah besar,
tidakkah dia akan mirip seperti ayahnya? Ayahnya jago, anaknya
gagah!"
Suruke berdiam. Ia menduga orang lagi
memasang perangkap. Maka ia mau berhati-hati.
Kira-kira satu lie dua orang ini jalan di
padang rumput, tibalah mereka di tenda Cherku. Segera Suruke melihat
digantungnya sehelai kulit serigala di luar tenda. Segera ia
mengenali kulit serigala yang dibunuh anaknya itu. Ia menjadi
bingung.
"Aku, aku salah..." pikirnya. "Aku
menyalahkan si Pu, aku pun telah menghajarnya, kiranya kulit ini ia
menyerahkannya kepada si Aman, bukan kepada itu wanita Han... Anak
celaka, kenapa dia tidak mau bicara sebenarnya?
Mungkin kulitnya tipis, dia malu bicara? Ah,
kalau ibunya masih ada, ibunya tentu bisa membujuki aku, menasihati
aku jangan memukul dia. Memang anak-anak lebih bisa bicara dengan
ibunya..."
"Mari minum satu cangkir arak!" berkata
Cherku sambil ia menepuk pundak orang, selagi orang ngelamun. "Kau
belum pernah datang ke rumahku."
Tenda Cherku terawat baik dan bersih, di
sekitarnya digantungi permadani tenunan bulu kambing merah. Seorang
nona yang bertubuh langsing menyuguhkan arak.
"Aman, inilah ayahnya Supu," kata Cherku
tertawa pada si nona. "Kau takut atau tidak? Lihat berewokannya yang
menakuti!"
Muka si nona menjadi bertambah dadu, tetapi
matanya bersinar. Ia seperti menjawab: "Aku tidak takut..."
Suruke tertawa, ia kata: "Sahabat Cher,
orang membilang kau mempunyai seorang anak yang bagaikan bunga yang
bisa berjalan di padang rumput kita ini, benar-benar, inilah bunga
yang dapat berjalan!"
Setelah seperti saling mendendam belasan
tahun, maka dua orang ini sekarang menjadi sebagai sahabat-sahabat
kekal, keduanya bicara dan minum dengan gembira sekali. Akhirnya
Suruke mabuk keras dan pulang dengan mendekam di atas kudanya.
Selang dua hari, Cherku mengantarkan dua
helai permadani kulit kambing yang indah, katanya yang besaran untuk
si tua, yang kecilan untuk si muda-artinya, untuk Suruke dan Supu.
Ketika Supu memeriksa sehelai, ia
mendapatkan sulaman yang merupakan seorang laki-laki yang tubuhnya
besar, dengan sebilah golok panjang, lagi membacok seekor harimau,
sedang seekor harimau lain lari sambil menggoyang
ekor. Di permadani yang lain, sulamannya ialah halnya seorang bocah
menikam mati seekor serigala. Dua-dua orang itu, lua dan muda,
sama-sama beroman gagah.
"Bagus!" Suruke memuji kegirangan. "Sulaman
yang indah!"
Di wilayah Hweekiang ada sangat sedikit
harimau, tapi tahun i lu, entah dari mana datangnya, lelah muncul
dua ekor yang menjadi ancaman bencana untuk manusia dan ternak.
Ketika itu Suruke sedang gagahnya. Dengan membawa golok panjang, ia
memasuki gunung, ia cari binatang alas itu, ia membunuh yang seekor,
ia melukai seekor yang lain, yang kabur ke gunung bersalju. Dan
menyulamkan perbuatan gagah itu di atas permadaninya
Karena Cherku mengantar permadani itu,
ketika ia pulang, ia mabuk arak, ia menggantikan mendekam di atas
kudanya, hingga Suruke menyuruh Supu mengantarkannya pulang.
Di dalam tenda Cherku, Supu melihat kulit
serigalanya. Ia menjadi heran sekali. Sedang begitu Aman,
dengan muka dadu, menghaturkan terima kasih kepadanya. Ia heran
tetapi ia tidak berani menanyakan. Ia bicara sama Aman tanpa
junterungan. Karena ini besoknya, ia lantas pergi ke tempat di mana
ia membunuh serigala. Ia mau cari Lie Boen Sioe, untuk minta
keterangan, tetapi hari itu si nona tidak muncul.
Besoknya ia pergi pula, tetapi ia tetap
menantikan dengan sia-sia. Maka di hari ketiga, dengan memberanikan
diri, ia pergi ke rumah Kee Loodjin.
Boen Sioe membuka pintu, ketika ia melihat
anak Kazakh itu, ia kata: "Sejak sekarang ini tidak dapat aku
menemui kau pula!" Lalu ia menutup pintunya
Supu melongo, ia pulang dengan pikiran
ruwet, ia sangat bingung.
Pemuda ini pulang tanpa ia mengetahui, Boen
Sioe menangis di belakang pintunya itu. Si nona senang bergaul
dengannya tetapi dia takut kepada ayahnya yang galak itu. Dia tahu,
kalau mereka bergaul pula, Supu bakal dihajar lagi ayahnya.
Demikian, hari lewat hari, maka kedua bocah
itu pun, dengan lewatnya hari-hari itu, menjadi besar, menjadi
dewasa. Yang satu cantik manis, yang lain tampan dan gagah. Dan sang
burung nilam pun bernyanyi makin merdu, Hanya sekarang, nyanyiannya
jarang sekali, nyanyinya pun di tengah malam setelah tidak ada orang
lainnya, bernyanyi seorang diri di bukit di mana Supu telah membunuh
serigala...
Kalau dulu Boen Sioe tidak mengerti apa yang
ia biasa nyanyikan bersama Supu, sekarang ia mengerti berlebihan.
Coba ia masih tidak mengerti, kedukaannya mungkin berkurang.
Sekarang lain, sekarang sering ia tidak tidur semalaman...
Pada suatu malam di musim semi, seorang diri
Boen Sioe naik kuda putihnya pergi ke bukit yang ia kenal itu.
Berdiri di atas bukit, ia memandangi tenda-tenda orang-orang Kazakh
itu di mana orang tengah menyalakan unggun, di mana
mereka itu bergirang bersorak-sorai. Sebab
hari itu kebetulan hari besar mereka, yang mereka rayakan bersama di
tepi unggun, menari-nari dan bernyanyi-nyanyi.
"Pasti dia dan ia hari ini bergirang luar
biasa," Boen Sioe kata di dalam hatinya. Dengan "dia" taklah lain
orang kecuali Supu, dan dengan "ia" ialah si nona yang menjadi
"bunga yang dapat berjalan..."
Tapi terkaannya Boen Sioe salah. Ketika itu
Supu dan Aman tidak lagi bergirang hanya hati Supu sedang tegangnya.
Dia tengah bergulat bersama seorang muda lain, yang tubuhnya
jangkung dan kurus. Itulah adu gulat yang terpenting di harian pesta
itu. Siapa yang menang, dia memperoleh tiga buah hadiah, ialah:
seekor kuda pilihan, seekor kerbau gemuk, serta sehelai permadani
indah.
Supu telah menjatuhkan empat lawannya,
sekarang ia lagi menghadapi si jangkung
ini, Sangszer. Mereka ada sahabat-sahabat kekal, tapi sekarang
mereka mesti mencari keputusan. Sangszer juga telah mengalahkan
empat lawan lainnya. Pula Sangszer pun mengharap "si bunga yang
dapat berjalan", yang demikian cantik manis,
yang pandai menenun dan menyulam. Sangszer tahu Supu dan
Aman hidup rukun semenjak masih kecil tetapi ia ingin mendapatkannya
juga di tempat umum ini. Ia percaya, kalau ia menang, Aman akan
menyukainya. Maka selama tiga tahun, ia rajin berlajar ilmu gulat
itu, sedang gurunya ialah Cherku, ayah si Aman...
Supu sendiri ada murid ayahnya sendiri.
Gulat Kazakh bukan gulat belaka, kepalan pun
dapat dimainkan, juga kaki, untuk menggaet atau merengkas, guna
menyengkelit. Maka satu kali, ketika kepala Sangszer kena dihajar,
dia roboh terguling. Di lain pihak, tempo Supu digaet, dia roboh
juga. Sama-sama mereka bangun pula.
Suruke menyayangi kegagalan anaknya itu,
sampai ia merasakan tangannya dingin.
Cherku menyaksikan adu gulat itu dengan
pikiran kacau. Ia tahu Aman, anaknya, menyukai Supu, Di lain pihak,
Sangszer adalah muridnya yang disayang, ingin ia muridnya itu
menang, supaya ia mendapat muka terang. Kesudahan gulat ini pun akan
membuatnya si pemenang menjadi "orang kosen nomor satu". Ia menyukai
Supu tetapi ia ingin Sangszer yang menang...
Para penonton bersorak untuk para jago muda
itu. Supu bertubuh besar dan kuat, tapi Sangszer selain kuat pun
lincah. Jadi sukar untuk menerka, siapa bakal keluar sebagai juara
Ramai suara penonton di kedua pihak: "Supu,
lekas, lekas!..., ..Saszer, bangun, serang pula!" Masing-masing
menganjurkan jagonya. Samar-samar Boen Sioe mendengar: "Supu! Supu!"
Ia heran mengapa ia hanya mendengar suara untuk Supu itu. Maka
akhirnya, ia mengajukan kudanya, mendekati. Ia bersembunyi di
belakang sebuah pohon besar. Sekarang ia melihat Supu dan Sangszer
lagi berkutat dan para penonton ribut dengan sorak-sorai mereka.
Di antara penonton, Boen Sioe melihat Aman.
Nona itu tegang hatinya, dia pun sebentar bergirang dan sebentar
berkuatir. Terang dia menyukai Supu.
Mendadak orang bersorak ramai, lalu sirap.
Supu dan Sangszer bergumul di tanah, hingga tubuh mereka tak
tertampak si Nona Lie. Sekian lama orang bersikap tegang. Di
akhirnya riuhlah seruan orang banyak: "Supu! Supu!" Lantas terlihat
Aman menuntun tangannya si juara.
Boen Sioe girang berbareng berduka. Ia putar
kudanya, untuk dikasih jalan pulang dengan
perlahan-lahan. Tidak ada orang yang
melihatnya, atau memperhatikannya. Ia tidak menarik tali les, ia
membiarkan si kuda putih jalan sendiri. Ia baru terkejut ketika ia
mendapatkan ia berada di ujung padang rumput, atau di permulaan
Gobi, gurun pasir.
"Eh, perlu apa kau bawa aku kemari?" katanya
kepada kudanya. Tentu sekali ia tidak memperoleh jawaban, hanya di
lain pihak ia melihat munculnya dua penunggang kuda, disusul oleh
dua yang lain, yang semuanya membawa golok panjang. Mereka itu
dandan sebagai orang Han. Ia kaget sekali. Ia lantas ingat pada si
penyamun Han.
"Kuda putih! Kuda putih!" begitu ia
mendengar beberapa orang itu berteriak-teriak selekasnya mereka itu
melihat kudanya, lantas mereka kabur mendatangi. Antaranya ada yang
menyerukan: "Berhenti! Berhenti!"
Dalam takutnya, Boen Sioe menyerukan
kudanya: "Lari!" la mengeprak kuda itu lari ke jalanan kembali. Tapi
ia kaget akan melihat, sekarang di depannya pun ada beberapa
penunggang kuda lain, begitu pun di lain arah. Ia terpegat di timur,
selatan dan utara. Maka ia kabur ke barat, di mana gurun pasir tak
berujung pangkal...
Mengenai gurun itu, di antara orang Kazakh
ada ceritera atau dongeng, padang pasir ada memedinya, bahwa siapa
memasuki gurun, dia bakal tak kembali dengan masih hidup, bahwa
sekalipun telah menjadi memedi, si memedi tak akan dapat keluar lagi
dari wilayah tandus itu...
V
Boen Sioe pun pernah dengar ceritanya Supu
bahwa siapa memasuki Gobi, dia bakal jalan terputar-putar saja di
daerah pasir itu, sesudah berlari-lari sekian lama, dia bakal
menjadi girang berbareng duka. Girang sebab dia mendapatkan tapak
kaki. Tapi segera dia akan menjadi berduka. Sebab itulah tapak
kakinya sendiri. Katanya, akhirnya orang bakal mati, dan setelah
menjadi setan, dia tidak akan dapat beristirahat. Supu pernah
menambahkan: "Manusia masih beruntung. Dia mati, dia menjadi setan.
Tapi setan, kalau dia mati, dia tetap jadi setan juga..."
Juga pernah Boen Sioe menanya Kee Loodjin,
apa benar Gobi demikian menakuti, bahwa orang dapat memasukinya
tetapi tidak bakal keluar pula dari situ. Ditanya begitu, orang tua
itu menunjuk roman kaget dan suram yang menakuti, matanya mendelong
keluar jendela, seperti dia
menampak memedi. Belum pernah Boen Sioe melihat orang bersikap
demikian, maka ia
tidak mengulangi pertanyaannya itu. Ia mau percaya, orang tua itu
pernah melihat setan...
Sekarang dia kabur di Gobi itu, hatinya
takut bukan main. Toh dia lari terus. Dia lebih takut menghadapi
beberapa pengejarnya itu. Dia ingat kepada kematian ayah dan ibunya,
kebinasaan ibu dan kakaknya Supu. Kalau dia kecandak, pastilah dia
bakal terbinasa di tangan orang-orang jahat itu. Hampir dia menahan
kudanya kapan dia ingat memedi di gurun pasir itu...
Satu kali dia menoleh ke belakang, dia tidak
melihat lagi tenda-tendanya si orang-orang Kazakh, tak nampak pula
padang rumput yang hijau. Dia sekarang melihat, dua orang jauh
ketinggalan di belakang, lima lagi tetap menyusul, mereka itu
berseru-seru tidak berhentinya. Dia mendengar jelas: "Benarlah itu
kuda putih! Bekuk dia! Bekuk dia!"
Di saat berbahaya itu, Boen Sioe sempat
berpikir: "Teranglah aku tidak akan sanggup membalaskan sakit hati
ayah dan ibuku, maka biarlah aku pancing mereka ke i'iirun, untuk
kita mati bersama! Biarlah, satu jiwaku ditukar dengan lima jiwa
mereka! Laginya, apakah .ulinya hidup di dalam dunia kalau aku tetap
sebatang kara begini?"
Air matanya nona ini mengembeng, lalu
mengucur turun, tapi tekadnya telah bulat. Maka ia melarikan terus
kudanya, terus menuju ke arah barat, untuk tiba di tempat ada
memedi...
Kelima orang itu benar-benar
penyamun-penyamun yang menyerbu rombongannya Suruke. Merekalah lima
orangnya Hok man Liong dan Tan Tat Hian. Mereka pulang habis
membereskan Lie Sam dan isteri dan sia-sia belaka mencari Boen Sioe.
Peta dari istana rahasia Kobu membuatnya mereka penasaran, maka
mereka ingin sekali mendapatkan peta itu. Katanya di dalam istana
itu ada tersimpan banyak sekali mustika atau barang permata.
Demikian mereka mencari tak hentinya. Untuk hidupnya, di sana ada
kerbau, kambing dan untanya penduduk gurun, yang mereka dapat
menjadikan kurban mereka. Untuk itu cukup asal mereka menghunus
senjata mereka, membunuh, membakar, merampas, bahkan memperkosa...
Kuda putih sudah tua, tenaganya telah
berkurang, tetapi dia seperti mengerti majikannya terancam bahaya,
dia lari keras, maka itu mendekati fajar, dia membikin lima
pengejarnya jauh ketinggalan di belakang, mereka itu tidak nampak
lagi, suara mereka pun tak terdengar pula. Hanya Boen Sioe tahu,
mereka bisa mengikuti tapak kaki, mereka nanti menyusul pula, dari
itu, ia lari terus. Sampai lagi kira-kira sepuluh lie,
sekonyong-konyong kuda itu meringkik, lantas dia lari
luar biasa keras, tetap menuju ke barat. Dia seperti dapat mencium
bau rumput dan air...
Tidak lama, benarlah ilham bawaan kuda itu.
Di arah barat laut lantas terlihat gunung dengan pepohonannya yang
lebat. Tapi Boen Sioe terkejut. Ia ingat: "Apa inikah gunung memedi?
Kenapa di gurun ada tempat seperti ini? Belum pernah aku
mendengarnya... Tapi biarlah, gunung memedi lebih baik, ke sini aku
pancing kawanan penyamun kejam itu!"
Keras larinya kuda putih itu, segera dia
tiba di depan gunung, terus dia masuk ke dalam selat. Dia hendak
mencari air, untuk melenyapkan dahaganya. Di situ ada mengalir
sebuah kali kecil. Boen Sioe turut lompat turun, menghampirkan air,
untuk menyaup air dengan kedua tangannya, guna mencuci muka
menghilangkan debu, setelah mana ia minum beberapa ceglukan. Ia
merasa puas sekali. Air itu rasanya manis dan menyegarkan mulutnya.
Sekonyong-konyong ia menjadi terkejut.
Mendadak saja ia merasakan sesuatu yang berat menekan punggungnya.
Segera kupingnya pun mendengar pertanyaan dengan suara parau: "Kau
siapa? Mau apa kau datang ke sini?"
Itulah pertanyaan dalam bahasa Tionghoa.
Boen Sioe hendak memutar tubuhnya ketika ia
mendengar pula suara parau itu: "Inilah ujung tongkat di arah jalan
darahmu sinto hiat! Asal sedikit saja kau mengerahkan tenagamu,
jalan darahmu bakal terluka hingga kau bisa terbinasa!"
Boen Sioe benar-benar merasai ujung tongkat
terasa lebih berat, hingga ia menjadi sesemutan. Ia pernah belajar
silat sama ayah ibunya tetapi tentang tiamhiat hoat, ilmu menotok
jalan darah atau otot-otot yang penting, ia belum tahu sama sekali,
meski begitu, ia tidak berani bergerak. Ia hanya pikir: "Orang ini
dapat berbicara, dia pasti bukannya memedi. Dia juga menanya
aku apa perlunya aku datang kemari, pertanyaannya itu membuktikan
dia mestinya penduduk sini, dia bukannya penyamun.
Hanya, kenapa dia mendekati aku tanpa aku mengetahui?"
Lagi pertanyaan: "Aku tanya kau! Mengapa kau
tidak menjawab?"
"Ada orang jahat mengejar aku, aku lari
sampai di sini," akhirnya si nona menyahut.
"Orang jahat bagaimana?" tanya pula suara
itu.
"Sejumlah penyamun." "Penyamun apa itu?
Apakah nama mereka?"
"Aku tidak tahu nama mereka. Mulanya mereka
piauwsoe, sampai di wilayah Hwcekiang, mereka lantas menjadi
penyamun."
"Kau sendiri, apakah namamu? Siapa ayahmu?
Siapakah gurumu?" "Aku Lie Boen Sioe. Ayahku Pekma Lie Sam dan ibuku
Kimgin Siauwkiam Sam Niotjoe. Aku tidak mempunyai guru."
"Oh!" kata orang itu. "Kiranya Kimgin
Siauwkiam Sam Niotjoe telah menikah sama Pekma Lie Sam! Mana dia
ayah dan ibumu itu?"
"Ayah dan ibu telah dibunuh kawanan penyamun
itu dan sekarang mereka hendak membunuh aku juga..." "Ah! Kau
bangunlah!" Boen Sioe menurut, ia berdiri. "Kau putar tubuhmu!" Boen
Sioe menurut, ia memutar tubuh dengan perlahan.
Orang itu mengangkat tongkatnya, hanya
sekarang ia mengancam jalan darah khiesiahiat di kerongkongan.
Boen Sioe heran sekali. Ia menyangka orang
beroman bengis dan menakuti. Ketika ia sudah berpaling, maka ia
menampak seorang usia lima puluh tahun kira-kira, dandanannya
sebagai pelajar, tubuhnya sangat kurus, sepasang alisnya mengkerut.
Ia mendapatkan seorang yang romannya sangat berduka.
"Empee, apakah she-mu?" ia balik menanya.
"Tempat ini tempat apakah?"
Orang itu berdiri tercengang. Ia rupanya
tidak menyangka sekali akan berhadapan sama seorang anak dara
demikian cantik.
"Aku tidak mempunyai nama. Aku juga tidak
tahu tempat ini apa namanya," sahutnya sejenak kemudian.
Justeru terdengar suara samar-samar dari
tindakan kaki kuda. Boen Sioe kaget sekali.
"Penyamun datang!" serunya, takut. "Empee,
lekas sembunyi!"
"Kenapa kau menyuruh aku bersembunyi?" si
empee tanya.
"Kawanan penyamun itu sangat telengas,
melihat kau, dia akan membunuhmu!"
Orang kurus kering itu mengawasi tajam.
"Kita tidak mengenal satu dengan lain,
mengapa kau memperhatikan keselamatanku?"
Ketika itu, suara tindakan kuda terdengar
semakin nyata.
Boen Sioe takut sekali, maka tanpa
mempedulikan bahwa ia lagi diancam, ia memegang tongkat orang itu,
untuk ditarik, buat diajak pergi. Ia pun berkata mendesak: "Empee,
mari lekas! Kita naik kuda bersama! Ayal sedikit, kita bakal
terlambat..."
Orang itu menarik tongkatnya, untuk
melepaskannya dari cekalan, tetapi ia agaknya bertenaga terlalu
kecil, ia tidak berhasil.
"Apakah kau sakit, empee?" tanya Boen Sioe
heran. "Mari aku bantu kau naik atas kudaku..."
Nona ini benar-benar bekerja. Dengan
kedua tangannya ia mengangkat tubuh si kurus kering itu.
la mendapatkan, walaupun orang laki-laki, tubuh orang itu kalah
berat dengan tubuhnya. Di atas kuda, orang itu masih terhuyung,
duduknya tak tegak. Dia seperti lagi menderita sakit berat.
Boen Sioe naik belakangan, ia duduk di
belakang orang, maka itu, ia memegang kendali sambil membantui
menjagai tubuh si kurus itu untuk mencegah tergulingnya. Ia
mengaburkan kudanya ke sebelah dalam gunung.
Karena mesti berbicara sama si empee, Boen
Sioe telah mensia-siakan tempo. Ia lantas mendengar suara nyaring
dan bengis dari ke lima penyamun, yang telah memasuki selat.
Mendadak si empee menoleh.
"Kau datang bersama-sama mereka itu?" ia
menegur. "Benarkah? Kamu telah mengatur tipu daya, buat
memperdayakan aku?"
Boen Sioe terkejut, apapula akan menampak
roman orang mendadak menjadi bengis, sinar matanya sangat tajam.
"Bukan, bukan!..." ia menyangkal. "Belum
pernah aku kenal kau, buat apa aku memperdayakanmu?"
"Kau toh hendak memperdayakan aku supaya aku
ajak kau ke Istana Rahasia Kobu?" katanya pula tetap bengis. Hanya
ia menghentikan kata-katanya dengan tiba-tiba, agaknya ia telah
menyesal mengatakan demikian.
Boen Sioe heran. Tentang istana rahasia itu,
beberapa kali ia pernah mendengar dari mulut ayah dan ibunya
semenjak ia turut mereka menyingkir sampai di wilayah Hweekiang,
hanya ia tidak mengerti apa-apa. Sampai sekarang sudah belasan tahun
atau ia mendengarnya pula, hingga ia lupa sebenarnya ia pernah
mendengar dari siapa.
"Istana Rahasia Kobu?" tanyanya "Apakah
itu?"
Roman si kurus tak tegang lagi seperti tadi,
ia melihat si nona seperti tidak lagi mendusta.
"Benar-benarkah kau tidak tahu tentang
istana rahasia itu?" ia menegasi.
"Tidak," menyahut Boen Sioe, menggeleng
kepala. "Ah, ya..."
"Ya apakah?" membentak si kurus kering
cepat.
"Aku ingat sekarang," menyahut si nona,
polos. "Tempo ayah dan ibu mulai memasuki wilayah Hweekiang, aku
mendengar mereka menyebut-nyebut istana rahasia itu. Apakah itu
suatu istana yang indah?"
"Apa lagi ayah dan ibumu bilang?" tanya si
pelajar, tetap bengis. "Aku larang kau mendusta!"
"Sebenarnya ingin aku mengingat lebih banyak
kata-kata ibuku," menyahut Boen Sioe berduka. "Menambah satu
kata-kata saja, alangkah baiknya. Sayang aku tidak mendapat dengar
pembicaraan mereka terlebih jauh. Empee, memang sering aku pikirkan,
bahkan aku mengharap-harap ayah dan ibu dapat hidup lebih lama satu
hari saja, supaya dapat aku melihat mereka lagi. Asal ayah dan ibu
masih hidup, biarnya aku dirangket setiap hari, aku senang..."
Pelajar itu nampak menjadi sedikit sabar, la
mengeluarkan suara: "Ah ..." perlahan.
"Kau sudah menikah atau belum?" mendadak ia
bertanya, suaranya keras.
Mukanya si nona menjadi merah. Tidak dapat
ia menjawab, maka ia menggeleng kepala.
"Selama beberapa tahun, dengan siapa saja
kau ada bersama?"
"Dengan Kee Yaya." "Kee Yaya? Berapa umurnya
dia? Bagaimana macamnya?"
Ketika itu, Boen Sioe justeru membentak
kudanya: "Lekas lari! Penyamun datang!" Ia pun pikir, lusa melayani
pembicaraan yang ia anggapnya tak keruan nmterungannya itu? Meski ia
beipikir demikian, akhirnya ia toh menyahuti juga.
"Kee Yaya mungkin telah berusia delapan
puluh tahun. Dia bongkok dan mukanya keriputan. Ia perlakukan aku
baik sekali."
"Di Hweekiang ini, kau kenal siapa-siapa
lagi?" orang itu menanya pula. "Di rumah Kee Yaya itu masih ada
siapa?"
"Di rumah Kee Yaya tidak ada lain orang
lagi, seorang pun tidak. Jangan kata orang Han, orang Kazakh pun
tidak ada yang aku kenal." Ia tidak mau menyebutkan Supu dan Aman,
ia anggap itu tidak ada perlunya.
Selagi mereka bicara, lima penyamun pun
telah mendatangi semakin dekat. Juga mereka mendengar sar-sernya
suara anak panah, yang menyambar ke samping mereka kiri dan kanan.
Itulah panah gertakan belaka, sebab kawanan penyamun itu tidak
memikir untuk menangkap mayat.
"Kau pegang jarumku ini," berkata si pelajar
tiba-tiba. "Hati-hati jangan kau membikin dirimu tertusuk!"
Boen Sioe melihat orang mencekal sebatang
jarum, yang dijepit dengan dua jari tangannya. Ia menyambuti tanpa
ia mengerti maksud orang.
Si pelajar berkata pula: "Ujung jarum itu
ada racunnya yang liehay, begitu menusuk orang dan mengeluarkan
darah, racunnya akan bekerja
menutup tenggorokan. Kalau penyamun itu menangkap kau, kau tusuk
dia, biarnya ketusuknya perlahan, dia bakal segera terbinasa."
Si nona terkejut, sedang barusan selagi
menyambuti, ia kurang perhatian, la pun merasa, kalau si pelajar
tidak senang padanya, ia bisa lantas mati ditusuk dia. Ia lantas
berpikir: "Aku ada bagian mati, baik aku mati bersama kelima
penyamun itu, biar empee ini kabur seorang diri..."
Maka mendadak ia berlompat turun dari
belakang kuda, sembari lompat ia menepuk kempolan kudanya seraya
berseru: "Kuda putih, kuda putih! Lekas kau ajak empee menyingkirkan
diri!"
Si pelajar tercengang. Ia tidak menyangka
nona ini demikian murah hati.
Ketika itu kelima penyamun telah tiba dengan
segera dan Boen Sioe lantas dikurung. Mereka telah mendapati seorang
nona yang muda remaja dan cantik, tentu sekali mereka tidak
memperdulikan pula si pelajar tua bangkotan...
Berlima mereka lompat turun dari kuda mereka
masing-masing. Mereka mengurung si nona sambil mengasih lihat senyum
menyeringai.
Hatinya Boen Sioe berdenyutan. la berkuatir
dan bersangsi. Ia menyangsikan keterangannya si pelajar
perihal kemustajaban jarumnya itu. Bagaimana dengan
sebatang jarum itu ia dapat memberikan perlawanannya kepada lima
orang jahat itu. Umpama kata satu terbinasa, masih ada empat
lainnya. Ia menjadi menyesal telah tidak membekal pisau dengan mana
ia dapat membunuh diri, untuk menolong diri dari penghinaan.
"Sungguh cantik!" kata satu berandal.
"Sungguh manis!" Sedang dua ant. ranya berlompat maju.
Satu berandal, yang berada di sebelah kiri,
mendadak meninju orang yang di dekatnya hingga orang itu terguling.
Dia menegur: "Kau berani berebutan denganku?" Tanpa menanti jawaban,
ia menubruk Boen Sioe, untuk dirangkul.
Nona Lie kaget bukan main, ia melawan.
Dengan jarumnya la menusuk lengan orang seraya berseru: "Penyamun
jahat, lepaskan aku! Lepaskan aku!"
Orang itu, yang tubuhnya besar, berdiri
melengak, terus dia mundur dua tindak, mulutnya dipentang
lebar-lebar, matanya terbuka mengawasi si nona.
Penyamun yang roboh itu mengulur tangannya,
akan menyambar kaki si nona, untuk ditarik jatuh.
Boen Sioe menggunai tangan kirinya, guna
melawan, sedang dengan tangan kanannya, ia menusuk dada penyamun
yang ganas itu. Si penyamun tengah tertawa lebar sebab ia sudah
memegang erat-erat si nona ketika dadanya tertusuk, lantas ia
berhenti tertawa, mulutnya tinggal celangap, dengan membuka mulut
lebar itu dan mata mendelong, ia berdiri diam saja.
Boen Sioe lantas merayap bangun, untuk lari
ke arah seekor kuda, untuk segera lompat naik ke punggungnya, terus
ia melarikannya, keras, ke arah gunung.
Ketiga berandal lainnya berdiri tercengang.
Mereka menyangka si nona telah menotok kedua kawannya itu. Kalau si
nona demikian liehay, mana mereka berani maju mendekati? Dari itu
mereka membiarkan si nona kabur, mereka sendiri menghampirkan kedua
kawan itu, niatnya untuk dibawa kepada Hok Goan Liong, pemimpin
mereka, untuk ditolongi. Hanya ketika tubuh dua orang itu diraba,
ketiga kawan itu kaget tidak terkira. Tubuh mereka itu sudah lantas
mulai dingin dan napasnya telah berhenti berjalan...
Salah satu penyamun, seorang she Song,
memberanikan diri. Ia membuka baju seorang kawannya, lalu kawan yang
kedua, untuk diperiksa. Ia mendapatkan titik hitam di masing-masing
lengan dan dada mereka itu, pada itu ada liang kecil sebesar jarum.
Maka sadarlah dia. Terus dia kata nyaring: "Bocah itu mempunyai
jarum beracun!"
"Jangan takut!" kata kawannya, si orang she
Tjoan. "Kita jangan dekati dia, dari jauh-jauh kita menghajarnya
dengan senjata rahasia. Mari kita kejar dia!"
"Mari kita kejar!" berseru kawan yang
ketiga.
Bertiga mereka lompat naik atas kuda mereka,
dengan meninggalkan mayat kedua kawan itu, mereka kabur mengejar
Boen Sioe.
Nona Lie kabur dengan hatinya girang, heran
dan kagum. Sekarang ia membuktikan liehaynya jarum si pelajar. Tentu
saja, ia menjadi berani. Ia telah memikir untuk melawan
musuh-musuhnya. Ia hanya berkuatir orang nanti tidak memberikan
ketika ia menusuk mereka itu satu demi satu...
"Ke sini!" mendadak
ia mendengar selagi kudanya lari.
Suara itu datang dari sebelah kiri. Itulah
suara si pelajar tua.
Karena mengenali suara itu, Boen Sioe
menghampirkan. Dengan lantas ia lompat turun dari kudanya. Suara itu
datangnya dari sebuah gua kecil di pinggiran sebelah kiri itu.
"Bagaimana?" menanya si pelajar,
yang berdiri di mulut gua. "Aku... aku telah menusuk dua
penyamun..." sahut si nona gugup.
"Bagus!" kata si pelajar. "Mari masuk! Kita
sembunyi di sini!"
Tanpa bersangsi, Boen Sioe mengikut masuk.
Gua itu dalam, makin dalam makin sempit, sampai hanya muat sebuah
tubuh di mana orang mesti jalan merayap.
Sesudah jalan terus sekira beberapa puluh
tombak, mendadak terlihat cahaya terang di hadapan mereka berdua.
Nyata itulah tempat terbuka, yang lebar, yang dapat memuat kira-kira
dua ratus orang.
"Kita berjaga di mulut terowongan, tiga
penjahat itu tentulah tidak berani menyerbu masuk," berkata si
pelajar.
"Dengan begitu, kita juga sukar keluar dari
sini," kata Boen Sioe, masgul. "Apakah ada lain jalan keluar?"
"Ada jalan tetapi tidak terus," sahut si
pelajar.
Boen Sioe berdiam, hatinya berdebaran. la
membayangi bahaya yang tadi mengancamnya.
"Empee," katanya. "Dua penjahat itu kena aku
tusuk dengan jarum, lantas mereka tidak dapat bergerak. Apakah
mereka itu mati?"
"Mana ada orang yang dapat hidup karena
tusukan jarumku?" menyahut pelajar itu, romannya jumawa.
Boen Sioe mengulur tangannya. Ia
mengembalikan jarum orang.
Si empee telah mengulur juga tangannya
ketika mendadak ia menariknya pulang.
"Kau letaki di tanah!" katanya.
Si nona menurut.
"Kau mundur tiga tindak," katanya pula.
Boen Sioe heran tetapi ia mundur.
Pelajar itu menjemput jarumnya, untuk
dimasuki ke dalam satu bungbung kecil.
Baru sekarang Boen Sioe mengerti. Si empee
mencurigai padanya. Tapi ia diam saja.
"Kita tidak mengenal satu pada lain, kenapa
tadi kau menyerahkan kudamu padaku, supaya aku dapat menyingkirkan
diri?" si pelajar tanya.
"Aku juga tidak tahu," menyahut si nona
bersenyum. "Aku lihat kau lagi sakit, aku tidak tega kau terbinasa
di tangan orang-orang jahat itu..."
Tubuh orang itu limbung.
"Mengapa kau tahu aku... a... aku lagi...?"
katanya tertahan. Tiba-tiba jidatnya memperlihatkan pelbagai
ototnya, mukanya meringis, tanda bahwa ia lagi menahan rasa nyeri
yang hebat. Keringat pun lantas turun berketel-ketel dari jidatnya
itu. Tidak lama ia mempertahankan diri, mendadak ia berseru, terus
ia roboh bergulingan. Sekarang ia merintih-rintih.
Boen Sioe kaget hingga ia menjadi bingung
sekali. Ia lantas melihat tubuh orang melengkung, tangan dan kakinya
datang dekat satu pada lain.
"Apakah punggungmu sakit?" si nona tanya. Ia
lantas menumbuk perlahan-lahan punggung si pelajar itu, kemudian ia
menepuk-nepuk sambungan lengan dan kakinya.
Selang sedikit lama, si pelajar nampak rada
ringanan. Ia mengangguk kepada si nona, untuk menyatakan syukurnya.
Lagi sekian lama, barulah ia dapat bangun
berdiri. Terang telah lenyap penderitaannya barusan.
"Tahukah kau, aku ini siapa?" kemudian ia
tanya.
"Aku tidak tahu," menyahut si nona,
menggeleng kepala.
"Aku she Hoa, namaku Hoei," si empee
memperkenalkan diri. "Akulah yang orang kangouw menyebutnya Ittjie
Tjin Thianlam."
"Oh, Empee Hoa," berkata si nona.
"Apakah kau belum pernah mendengar namaku?"
Hoa Hoei tanya, agaknya ia kecewa.
Tentu sekali Boen Sioe tidak lahu yang Hoa
Hoei bergelar Ittjie Tjin Thianlam, si Jeriji Menggetarkan Langit
Selatan, atau jelasnya, jago Selatan, telah menggoncangkan selatan
dan utara Sungai Besar, dan namanya itu diketahui oleh dunia Rimba
Persilatan.
"Ayah dan ibuku pasti mengetahui nama
empee," Boen Sioe menambahkan. "Aku tiba di Hweekiang dalam usia
delapan tahun, apa juga aku tidak mengerti..."
"Itu benar," kata Hoa Hoei. Dari romannya,
nampak ia tak kecewa seperti tadi. "Kau..."
Baru ia berkata demikian, dari luar gua
terdengar suara: "Pasti dia sembunyi di dalam gua ini! Hati-hati
untuk jarumnya yang berbisa!..." Lantas terdengar tindakan kaki
berlari-lari dari tiga orang.
Hoa Hoei berhenti bicara, ia mengeluarkan
jarumnya tadi, yang ia terus pasang di ujung tongkatnya, kemudian
sembari menyerahkan tongkat itu pada Boen Sioe, ia menunjuk ke
samping mulut gua sembari berkata perlahan: "Kalau sebentar mereka
masuk, kau tikam punggungnya. Jangan terburu napsu hingga kau kena
menikam dadanya."
Si nona berdiam, karena hatinya berpikir:
"Mulut jalanan begini sempit, bukankah terlebih baik akan menikam
dadanya?"
Hoa Hoei rupanya dapat menduga kesangsian
orang, ia kata bengis: "Hidup atau mati kita adalah di sekejap ini,
maka beranikah kau tidak mendengar titahku?"
Hampir berbareng sama suaranya jago Selatan
ini, terlihat berkelebatannya golok, suatu tanda pihak penyamun
bersiap sedia menjaga diri dari serangan gelap. Menyusul itu,
sesosok tubuh nampak merayap masuk. Dialah si penjahat she In.
Boen Sioe lari bersembunyi di samping mulut
gua, ia bersiap tanpa berani berkutik.
Lantas terdengar suara dingin dari Hoa Hoei:
"Kau lihat di tanganku, aku mencekal barang apa?" Tangan itu pun
dikibaskan.
Penjahat she In itu mengawasi ke arah Hoa
Hoei, goloknya disiapkan terus, la maju dengan berhati-hati.
Boen Sioe menggunai saatnya yang baik, ia
menusuk punggung penjahat itu. Ia berlaku hati-hati, dan ia berhasil
menusuknya, perlahan tetapi tepat.
Penjahat itu merasakan punggungnya tertusuk
seperti diantup tawon, dia kaget dan merasa sakit, dia berteriak.
Cuma sekali, lantas dia berdiam, tubuhnya kejang.
Di belakang penjahat she In ini mengikut si
penjahat she Tjoan. la kaget bukan main. Ia menduga Hoa Hoei
menyerang dengan jarum beracun. Tanpa memutar tubuh lagi, ia merayap
mundur.
Menyaksikan itu, Hoa Hoei menghela napas.
"Jikalau ilmu silatku tidak ludas, baru lima
penjahat semacam mereka ini tidak ada artinya sama sekali..."
katanya menyesal. "Hari ini aku menang cuma sebab aku mempunyai
kedudukan yang baik."
Boen Sioe heran. Bukankah orang jago
Selatan, yang tangannya liehay? Kenapa empee ini menyingkir dari
lima penjahat itu dan sekarang bekerja sembunyi tangan?
"Empee Hoa," katanya, "karena kau lagi
sakit, kau tidak dapat bersilat. Benarkah?"
"Bukan, bukan," menyahut orang yang ditanya.
"Yang benar ialah aku telah mengangkat sumpah berat, kecuali di saat
mati atau hidup, aku tidak dapat sembarang menggunai ilmu
silatku..."
Boen Sioe heran sekali. Tadi empee
mengatakan ilmu silatnya ludas, sekarang dia menyebut-nyebut sumpah
berat. Karena orang sungkan bicara, ia tidak mau menanyakan pula.
Hoa Hoei rupanya merasa keterangannya
bertentangan, ia menyimpanginya. Katanya: "Kau tahu kenapa aku
menyuruh kau menikam punggungnya si penjahat? Selagi dia masuk, dia
mengutamakan perhatiannya ke depan. Kau tidak mengerti ilmu silat,
dengan menyerang dari depan, kau tidak bakal memperoleh hasil. Maka
aku sengaja menarik perhatiannya itu, supaya kau bisa menikamnya
dengan berhasil."
"Bagus akal empee!" memuji si nona
mengangguk.
Hoa Hoei tidak membilang apa-apa, hanya dari
sakunya ia mengeluarkan sebungkus manisan semangka kering, yang mana
ia angsurkan kepada si nona.
"Kau daharlah dulu," katanya. "Dua penjahat
itu tidak nanti berani lantas masuk pula, akan tetapi kita juga
tidak bisa lantas keluar dari sini. Biarlah aku memikirkan akal
untuk membinasakan mereka dua-duanya. Kalau mereka terbunuh cuma
satu, yang lainnya dapat pergi memberi kabar pada kawan-kawannya.
Jikalau mereka datang dalam jumlah besar, itulah berbahaya."
Boen Sioe menganggap orang bicara tepat,
karena itu, ia menurut saja. Ia makan semangkanya. Habis itu, ia
beristirahat sambil menyender di batu yang seperti tembok.
Berselang dua jam, Hoa Hoei dapat mencium
bau barang hangus, lantas dia batuk-batuk.
"Celaka!" ia berseru, kaget. "Penjahat
menggunai api untuk mempuput kita, agar kita mati karena asap. Lekas
tutup mulut terowongan!"
Boen Sioe mengerti, ia menginsafi bahaya,
maka ia lantas bekerja. Ia mengambil batu dan pasir, guna menyumbat
mulut terowongan itu. Karena mulut terowongan kecil, tidak lama
gangguan asap berkurang. Pula, karena lebarnya tempat di mana mereka
berada, begitu masuk, asap lantas buyar. Itulah menandakan, gua itu
mempunyai lain jalan keluar.
Dengan begitu, sang tempo berlalu tanpa
kejadian sesuatu.
Boen Sioe melihat sinar matahari dari bagian
belakang gua, ia menduga itu waktu sudah tengah hari.
Tiba-tiba Nona Lie menjadi kaget. Tidak
keruan-keruan, Hoa Hoei menjerit sendirinya, terus tubuhnya roboh,
kaki tangannya digerak-geraki kalang-kabutan. Dalam kagetnya, ia
ingat untuk menolongi. Maka ia
menghampirkan, untuk mengurut-urut dan
menepuk-nepuk pula seperti yang pertama kali.
Lewat beberapa saat, penderitaan Hoa Hoei
menjadi kurangan.
"Nona..." katanya, "kali ini mungkin aku
tidak dapat bertahan lagi..."
"Jangan memikir yang tidak-tidak, empee,"
Boen Sioe menghibur. "Kita bertemu sama orang jahat, empee jadi
menggunai tenaga terlalu besar. Baik empee beristirahat, sebentar
kesehatanmu akan pulih."
"Tidak, tidak bisa..." kata Hoa Hoei. "Biar
aku omong terus-terang. Sebenarnya jalan darah punggungku telah
terkena... telah terkena jarum berbisa!..." Boen Sioe kaget. "Ah,
terkena jarum berbisa?" ia mengulangi. "Kapankah terkenanya? Apakah
tadi?"
"Bukan," menjawab jago Selatan itu. "Aku
terkena pada dua puluh tahun dulu..."
Kembali Boen Sioe kaget, sekarang saking
heran.
"Adakah itu jarum beracun yang seliehay
ini?" ia tanya.
"Benar. Hanyalah karena tenaga dalamku
mahir, bekerjanya racun menjadi perlahan sekali. Aku pun telah makan
obat untuk melawannya, hingga aku dapat hidup sampai hari ini. Hanya
kali ini, aku tidak dapat bertahan terus. Karena di tubuhku telah
nancap jarum berbisa itu, maka selama dua puluh tahun, setiap tengah
hari aku mesti menderita kesakitan hebat seperti ini. Kalau tahu
begini, lebih baik aku tidak makan obat pemunahnya... Apakah gunanya
menahan sakit sampai dua puluh tahun?"
Mendengar itu, Boen Sioe pun ingat suatu
hal. Coba pada sepuluh tahun yang lampau ia pun turut ayah dan
ibunya mati, tentulah tak usah ia menderita sekian lama. Ya, apakah
faedahnya hidupnya bersengsara ini?
Hoa Hoei menggertak gigi, melawan rasa
nyerinya itu.
"Empee," kata Boen Sioe, "apa tidak baik kau
cabut saja jarum di tubuhmu itu, mungkin kau tidak usah menderita
lebih lama pula?"
"Ngaco!" mendadak si empee membentak.
"Bukankah siapa pun dapat mengatakannya demikian? Tapi aku berada
sebatang kara di gunung ini, siapakah yang dapat menolongi aku
mencabutnya? Lagi pula, siapa yang datang kemari, dia tidak
mengandung maksud baik! Hm!"
Boen Sioe melengak, ia heran bukan main.
Tanyanya dalam hatinya: "Kenapa dia tidak mau pergi mencari
pertolongan tabib? Mengapa ia tinggal bersendirian di gunung belukar
dan sunyi ini sampai sepuluh tahun? Apakah maksudnya? Mengapa untuk
memakai obat dia mesti main sembunyi-sembunyi?"
Biarnya orang mencurigai dia, nona ini tetap
merasa berkasihan.
"Empee," katanya pula, "mari kasih aku
mencoba. Kau jangan takut, aku tidak nanti mencelakai kau."
Hoa Hoei mengawasi, keningnya mengkerut. Ia
agaknya berpikir banyak tetapi tetap ia tidak dapat mengambil
keputusan.
Boen Sioe mencabut jarum beracun dari ujung
tongkat, untuk dipulangi.
"Mari kasih aku melihat luka di punggungmu
itu," katanya pula. "Jikalau aku mengandung maksud jahat, kau
tusuklah aku dengan jarummu ini!"
Hoa Hoei mengawasi tajam. "Baiklah!"
akhirnya ia kata. Dan ia lantas membuka bajunya, untuk
memperlihatkan punggungnya.
Mengawasi punggung orang itu, Boen Sioe
mengeluarkan seruan perlahan, la menampak banyak sekali titik hitam,
tanda luka. Entah berapa ratus jumlahnya titik itu.
Hoa Hoei rupanya dapat menduga apa yang si
nona pikir, ia kata: "Aku telah menggunai segala macam daya, aku
tetap tidak dapat mencabut semua jarum itu."
Lukanya Ittjie Tjin Thianlam ini disebabkan
kecuali jarum juga bekas terkena batu tajam, bekas digaruk. Boen
Sioe tidak mengenali, yang mana ada jarumnya yang berbisa. Ia ngeri,
terharu dan bingung.
"Sebenarnya di mana jarum itu nancapnya?"
akhirnya ia tanya.
"Semuanya tiga batang," Hoa 1 loei menjawab.
"Yang satu dijalan darah pekhoe hiat, satu lagi di jalan darah
tjiesit hiat, dan yang ketiga ialah di jalan darah tjeyang hiat..."
Sembari berkata begitu, ia mengusap ke
punggungnya, untuk menjelaskan ketiga jalan darah itu. Benar-benar
sulit untuk mengetahui
bekas tusukan jarum itu. Boen Sioe terkejut.
"Semuanya tiga batang?" katanya. "Empee
bilang satu..."
Kembali Hoa Hoei gusar, ia membentak:
"Mulanya kau tidak menyebut hendak mencabut jarum itu! Buat apa aku
omong terus terang padamu?"
Boen Sioe mengerti kenapa orang mendusta,
tiga batang dikatakan satu. Teranglah ia telah dicurigai keras
sekali. Rupanya dia terkena tiga batang, karenanya kepandaian
silatnya ludas, lalu dia membohong bersumpah tak sudi sembarangan
menggunai ilmu silatnya. Ia tidak suka cara orang ini tetapi ia
berkasihan, ingin ia memberikan pertolongannya. Maka ia tidak
memperdulikan sikap kasar dan aneh itu. Ia sekarang memikirkan daya
untuk mencabut ketiga batang jarum itu.
"Apakah kau telah dapat melihatnya?" Hoa
Hoei tanya.
"Aku tidak melihat gagangnya jarum, empee.
Bagaimana itu harus dicabutnya?"
"Seharusnya digunai senjata tajam memotong
dagingnya, baru jarum itu dapat dilihat. Jarum itu telah masuk
beberapa dim, memang sukar untuk melihatnya..."
Kata-kata yang belakangan dikeluarkan dengan
sedikit gemetar.
"Sayang aku tidak punya pisau kecil," kata
si nona.
"Aku juga tidak punya... Eh, itu golok
panjang!" ia menunjuk ke tanah. "Kau pakai itu saja!"
Golok itu tajam dan mengkilap, terletak
melintang di samping tubuhnya si penjahat she In. Si penyamun sudah
mati, goloknya masih ada, golok itu mendatangkan rasa jeri. Boen
Sioe pun bersangsi untuk memakai golok itu.
Hoa Hoei mengawasi, ia bisa menerka
kesangsian si nona, lalu ia kata perlahan dan sabar: "Nona Lie, asal
kau menolongi aku mencabut semua jarum itu, akan aku menghadiahkan
kau banyak barang permata. Tidak nanti aku memperdayakan kau.
Benar-benar aku mempunyai banyak sekali permata!"
"Aku tidak menghendaki barang permata, aku
pun tidak ingin ucapan terima kasihmu," menyahut Boen Sioe. "Asal
kau tidak merasa sakit, itu sudah cukup untukku."
"Baiklah kalau begitu!" kata Hoa Hoei.
"Sekarang kau boleh mulai!"
Boen Sioe mengambil golok itu.
"Empee," katanya, "aku akan perbuat apa yang
aku bisa, harap kau menahan sakit."
Lantas nona ini memotong-motong bajunya si
penyamun she In, untuk membuat juiran-juiran, guna nanti dipakai
menepas darah dan membalut, setelah itu, lebih dulu ia memperhatikan
jalan darah pekhoe hiat, lalu dia mulai bekerja.
Ketika kulit dan daging Hoa Hoei dipotong,
darahnya lantas mengalir keluar.
Hoa Hoei tidak kesakitan, mengeluh pun
tidak.
"Sudah kelihatan?" bahkan dia menanya.
Boen Sioe tidak lantas menyahuti, ia
mencabut tusuk kondenya, guna memakai itu untuk mencari jarum.
Selang sejenak, ia berhasil. Jarum itu telah nancap ke tulang. Maka
ia lantas memakai dua jari tangannya, akan menjepit gagang jarum,
buat terus menariknya.
Hoa Hoei menjerit, dia pingsan. Boen Sioe
tidak heran atau kaget, bahkan itu ada baiknya, untuk mengurangi
rasa nyeri orang, la menggunai ketika baik ini untuk lekas-lekas
membelek lagi dua kali, untuk mencabut dua batang jarum lainnya.
Maka tak lama, selesailah ia. Terus ia membalut luka-luka itu.
Selang sekian lama, Hoa Hoei tersadar
perlahan-lahan. Ia membuka matanya. Lantas ia melihat tiga batang
jarum, yang hitam warnanya, la tahu itulah jarum beracun, yang telah
menyiksa padanya. Maka ia kata sengit pada jarum itu: "Dua belas
tahun lamanya kamu mengeram di dalam dagingku, baru hari ini kamu
keluar!" Terus ia menghadapi Boen Sioe, akan berkata: "Nona Lie, kau
telah menolongku, aku tidak dapat membalas budimu, maka ini tiga
batang jarum aku haturkan kepadamu. Jangan kau mencela karena jarum
ini telah dua belas tahun terpendam di dalam tubuhku, sebenarnya
racunnya tidak menjadi berkurang."
Boen Sioe menggeleng kepala. "Aku tidak
menghendaki itu," bilangnya.
Hoa Hoei heran. "Bukankah kau telah
menyaksikannya sendiri liehaynya jarum ini?" katanya. "Dengan kau
mempunyai sebatang saja dari jarum ini, orang sudah jeri bukan main
terhadapmu."
"Aku tidak menginginkan lain orang takut
padaku," kata si nona perlahan. Di dalam hatinya, ia pikir: "Asal
orang menyukai aku, itulah terlebih baik daripada jarum ini..."
Hoa Hoei berdiam. Karena ia mengeluarkan
banyak darah bekas dibelek dagingnya ia menjadi lemah, akan tetapi
sebaliknya, ia merasa lega, semangatnya terbangun. Ia lantas
merapatkan matanya, untuk beristirahat, untuk tidur. Kira satu jam
kemudian, ia mendusin dengan kaget. Ia mendengar suara berisik, dari
cacian dan teriakan berulang-ulang di luar gua. Itulah suaranya si
penyamun she Song, yang rupanya telah datang pula.
Ia mengeluarkan kata-kata kotor, untuk
alamatnya Boen Sioe dan Hoa Hoei. Ia tidak berani lancang masuk, ia
sengaja memancing agar orang menjadi panas hatinya dan keluar.
Hoa Hoei berbangkit dengan hatinya panas.
"Jarum di tubuhku telah dicabut keluar,
orang mengira aku takut!" katanya mendongkol. Akan tetapi ketika ia
mengerahkan tenaganya, ia gagal. Ia masih terlalu lemah. Ia menghela
napas. Ia kata: "Sudah terlalu lama jarum mengeram di dalam tubuhku,
agaknya dengan beristirahat tiga empat bulan, belum tentukesehatan
dan tenagaku pulih kembali..."
Di luar, si Song masih saja memuntahkan
kata-katanya yang kotor. Berulangkali dia mendamprat: "Bangsat tua!
Bangsat tua bangka!"
Dalam panasnya, Hoa Hoei kata: "Apakah aku
mesti menanti kau mencaci aku sampai empat bulan lamanya?" Lantas ia
mendapat satu pikiran. Maka ia kata pada Boen Sioe: "Nona Lie, mari
aku ajarkan kau ilmu silat, lantas kau keluar, kau hajar binatang
itu!"
"Berapa lama aku mesti meyakinkannya untuk
aku bisa menggunainya?" Boen Sioe tanya. "Toh tidak dapat terlalu
lekas, bukan?"
"Jikalau aku mengajarkan kau ilmu jari
tanganku, untuk menotok," menjawab Hoa Hoei, "atau lainnya ilmu
seperti tangan kosong atau golok, sedikitnya kau membutuhkan tempo
setengah tahun, tetapi sekarang temponya mendesak, kau harus belajar
dengan cepat. Untuk ini ada jalannya, ialah kau membutuhkan senjata
yang istimewa. Cukup kau menggunai satu atau dua jurus. Hanya di
dalam gua ini, di mana bisa didapatkan alat senjata yang diperlukan
itu?"
Habis berkata begitu, Hoa Hoei berdiam,
otaknya bekerja. Boen Sioe pun berdiam saja, ia tidak tahu apa itu
yang dimaksudkan senjata istimewa.
Hanya sejenak Hoa Hoei berpikir, segera ia
mengasih lihat roman girang.
"Ada!" katanya. "Pergi kau ambil itu dua
buah labu dan juga sehelai rotan. Mari kita main bandering
lioesengtwie!" Ia menunjuk.
Boen Sioe melihat buah labu tergantung di
mulut gua, semuanya sudah kering. Ia pergi mengambil dua buah, yang
ia kutungi, lalu mengambil juga rotan yang diminta. Ia serahkan itu
kepada si empee kurus kering.
"Bagus!" kata Hoa Hoei girang. "Coba kau
membuat sebuah liang kecil pada labu itu, lalu isikan pasir."
Si nona menurut, ia lantas bekerja. Benarlah
labu itu, setelah diisi pasir dan beratnya masing-masing tujuh atau
delapan kati, dapat merupakan bandering.
"Sekarang aku akan mengajari kau satu jurus
Senggoat tjenghoei," kata Hoa Hoei sambil menyambut! buah labu dari
tangan si nona. "Aku akan menjalankan jurus itu, kau lihatlah
baik-baik dan ingati di luar kepala."
Benar-benar, dengan perlahan, jago Selatan
itu memutar banderingnya yang istimewa itu.
Boen Sioe mamasang mata, ia mengingat
baik-baik.
"Senggoat tjenghoei" itu, yang berarti jurus
"Bintang dan rembulan bersaingan kegemilangan", yang kiri untuk
menyerang jalan darah siangkiok hiat di antara dada dan perut, yang
kanan guna menyerang punggung di mana ada jalan darah lengtay hiat.
"Sekarang kau coba," kata si pelajar
kemudian.
Boen Sioe menuruti, menelad pelajar itu. Ia
telah mempunyai dasar, ia dapat mengingat dengan baik dan cepat.
Setelah beberapa kali penghunjukan, ia bisa menjalankannya dengan
baik, maka itu, mulai dari perlahan, ia mencepatkan. Sesudah paham
benar, ia baru berlatih dengan sungguh-sungguh. Ia telah bermandikan
keringat setelah berlatih satu jam tanpa salah.
"Aku bebal, belajar sebegini saja aku
memakai banyak tempo," katanya seraya menyusuri peluhnya.
"Kau tidak bebal, sebaliknya kau cerdas
sekali!" Hoa Hoei memuji. "Kau jangan meragukan kefaedahannya jurus
ini. Untuk lain orang, dia perlu tempo delapan sampai sepuluh hari
untuk dapat belajar lekas seperti kau ini. Untuk melawan seorang
ahli, jurus ini tidak berarti, tetapi buat merobohkan dua bangsat di
luar, itulah berlebihan. Sekarang kau beristirahat dulu, sebentar
kau ke luar dan kau labraklah mereka!"
Boen Sioe heran bukan main. "Cukup dengan
ini satu jurus?" ia tanya.
Hoa Hoei bersenyum. "Ya," sahutnya. "Dengan
ini satu jurus, kau telah terhitung sebagai muridku. Muridnya Ittjie
Tjin Thianlam tak memerlukan dua jurus guna menghadapi kedua kurcaci
itu! Apakah kau pun tidak kuatir nanti merusak nama gurumu?"
Boen Sioe girang sekali. Ia pun sangat
cerdik, maka lantas ia berlutut, untuk mengangguk-angguk dengan
hormatnya, guna mengangkat guru. Ia pun menghaturkan terima
kasihnya. Hoa Hoei girang berbareng duka.
"Tidak kukira, di saat kematianku, aku dapat
menerima murid secerdik kau ini," katanya, bersyukur.
"Murid pun, kecuali yaya Kee Loodjin itu,
tidak punya sanak atau kadang lagi," berkata Boen Sioe, menjelaskan.
"Aku justeru merasa sangat beruntung memperoleh guru sebagai
soehoe."
"Sudahlah," kata Hoa Hoei. "Hari bakal lekas
malam, pergi kau ke luar, kau labrak kedua kurcaci itu! Kau cari
tempat yang lega di mana kau bisa bersilat dengan leluasa."
Boen Sioe bersangsi. Sebenarnya, ia rada
jeri.
"Jikalau kau tidak percaya aku, buat apa kau
mengangkat aku jadi gurumu?" Hoa Hoei lantas menjadi gusar. "Kau
tahu, dulu hari, Binpok Sianghiong, yaitu dua jago dari Hokkian
Utara, telah terbinasa dua-duanya dengan jurus ini! Apakah kau kira
Binpok Sianghiong kalah daripada dua kurcaci itu?"
Boen Sioe tidak kenal dua jago dari Hokkian
Utara yang disebutkan itu tetapi karena orang bergusar, ia paksa
membesarkan nyalinya, ia membuka sumbatan pintu gua, lantas ia
nerobos keluar, tangan kanannya memegang banderingnya yang istimewa
itu, tangan kirinya mencekal jarum berbisa. Ia pun membarengi
berseru: "Kurcaci, lihat jarum berbisa!"
Penjahat itu, ialah si orang she Song
bersama si orang she Tjoan, yang menjaga di mulut gua, terkejut
mendengar disebutnya jarum berbisa, dengan lantas keduanya lari
mundur. Si orang she Song mundur juga meskipun ia telah memikir,
kalau si nona menyerang dengan jarum, tidak nanti nona itu mengancam
dulu...
Boen Sioe sampai di luar dengan terus lari
ke tempat lega jauhnya belasan tombak, ketika ia berhenti dan
berpaling, ia melihat si Tjoan memburu kepadanya, ia lantas mengayun
tangan kirinya ke arah penjahat itu. Si Tjoan terkejut, dia hendak
berkelit, apamau dia terpeleset, terus saja dia terguling.
Si Song melihat kawannya roboh, dia kaget,
dia lantas memburu. Tapi kawannya itu sudah lantas bangun pula. Maka
berdua mereka merangsak. Hampir berbareng mereka kata: "Di sini kita
bereskan budak ini! Kalau dia menggunai jarumnya, kita bisa
melihatnya!"
Ketika itu matahari telah bersinar layung,
kedua penjahat itu justeru menghadapi matahari, maka mereka lantas
melengos. Sekarang mereka dapat melihat nyata senjata di tangan si
nona. Keduanya tertawa.
Hatinya Boen Sioe berdebar juga. Ia
benar-benar menyangsikan ilmu banderingnya itu, sedang ilmu silat
ajaran ayah dan ibunya belum berarti. Kedua musuh itu sebaliknya
nampak sangat bengis. Tapi ia cerdik, ia berseru: "Jikalau kamu
tidak lekas mengangkat kaki, guruku bakal segera keluar! Kau
tahu guruku--Ittjie Tjin
Thianlam? Awas kamu terhadap jarum
berbisanya! Beranikah kamu menyaterukan guruku itu? Berapa besar
nyalimu? Guruku dapat mengambil jiwa kamu sama gampangnya seperti ia
merogoh sakunya!"
Meski mereka ada orang-orang kangouw, si
Tjoan dan si Song itu tidak kenal Hoa Hoei, dari itu sambil saling
melirik, mereka pikir: "Paling benar aku lekas-lekas membekuk dia
untuk dihadapkan kepada Hok Toaya dan Tan Djieya! Inilah jasa!
Peduli apa aku dengan Ittjie Tjin Thianlam?" Maka berbareng mereka
maju dari kiri dan kanan.
Hati Boen Sioe gentar. "Dia maju berbareng,
bagaimana aku mesti menghajar mereka?..." pikirnya, ragu-ragu dan
berkuatir. Maka bukan ia maju melawan, ia justeru lompat mundur tiga
tindak.
Si Tjoan, diikuti si Song, maju terus.
Nona Lie menjadi terdesak, ia merasa ia
terancam bahaya, tidak bisa lain, terpaksa ia menggeraki tangannya,
menggunai
banderingnya. Syukur ia masih ingat
latihannya.
Si Tjoan maju di sebelah kanan, ia belum
datang dekat ketika tahu-tahu dadanya ialah jalan darah siangkiok
hiat, kena terhajar bandering istimewa itu, sedang bandering yang
kanan menghantam terbang goloknya. Hanya celaka, labu itu pecah
terbacok, pasirnya lantas terbang berhamburan!
Si Song lagi maju, tentu sekali dia tidak
menduga kepada pasir itu, maka dengan lantas dia kelilipan, hingga
dia menjadi kelabakan, tangannya dipakai untuk menutupi matanya,
untuk dikucak-kucak. Justeru dia repot sendirinya, bandering yang
lain menyambar tubuhnya, hingga segera dia terhuyung ke arah si
nona, yang dia terus sambar.
Nona Lie kaget hingga ia berteriak, dengan
tangan kirinya ia menolak tubuh si kurcaci. Tepat jarum di tangannya
menusuk perut si Song itu, hingga dia menjerit. Cuma sekejap,
penjahat ini lantas roboh binasa. Hanya, karena dia telah dapat
menjambret, dia tetap masih memeluki, si nona sendiri tidak dapat
segera berontak melepaskan diri.
Ketika itu Hoa Hoei telah menyusul keluar,
ketika ia melihat keadaan muridnya itu, ia menghela napas dan
berkata: "Ha, budak tolol, budak tolol! Tadi kau dapat berlatih
bagus sekali, sekarang kau kaget dan bingung, kacau ilmu silatmu..."
Ia lantas maju mendekati, untuk mendupak si
Song, atas mana barulah penjahat itu melepaskan rangkulannya dan
roboh binasa.
Boen Sioe berdiri diam, saking bingung, ia
tidak dapat pulang ketabahannya dengan lekas. Sinar matanya telah
benterok sama matanya si Song, yang tubuhnya rebah jengkar, matanya
melotot, sebab dia pun mati tiba-tiba. Kemudian ia mengawasi mayat
si Tjoan. Hatinya lantas bekerja, memikirkan bagaimana dalam tempo
yang pendek ia telah membinasakan lima jiwa manusia. Benar dengan
begitu ia berhasil membalaskan sakit hati ayah dan ibunya, toh
hatinya tidak tenang. Ia agaknya berduka
"Bagaimana?" berkata Hoa Hoei tertawa.
"Bukankah telah terbukti kefaedahannya satu jurus ilmu silat
ajarannya gurumu ini?"
"Hanya sayang muridmu menjalankannya tidak
sempurna," kata si nona menyesal.
"Tidak apa," kata guru itu, sabar. "Kau
tunggu pulihnya tenaga dan kepandaianku, nanti aku mewariskan semua
itu kepadamu, setelah itu kita kembali ke Tionggoan,
untuk malang melintang! Siapa dapat menghalang-halangi kami?
Sekarang mari kita kembali ke rumah, untuk minum teh!"
Tanpa menanti jawaban, guru ini menarik
tangan muridnya. Mereka pergi ke kiri rimba, melewati sekumpulan
pohon yanglioe, lantas sampai di sebuah gubuk.
Boen Sioe turut masuk ke dalam gubuk yang
buruk
perlengkapannya tetapi segalanya bersih,
bahkan di tengah-tengah ruang ada sepasang papan dengan
masing-masing bertuliskan lian atau syair. Ia belum mengerti banyak
surat. Lian yang sebelah ia dapat baca, yang sebelah lagi, gelap
baginya. Tanpa ia merasa, ia membaca berulang-ulang lian yang
sebelah itu, yang berbunyi:
"Bersahabat sama-sama sehingga tua ada
seumpama memegang gagang pedang."
"Apakah kau pernah baca syair ini?" Hoa Hoei
tanya.
"Belum," menjawab si murid. "Soehoe, apakah
artinya itu?"
Guru itu berdiam sejenak. Ia menjadi ingat
bahwa telah dua belas tahun ia mengeram di wilayah Hweekiang ini.
Dulunya ia mempelajari ilmu surat, lalu batal, ia menukar dengan
ilmu silat, meski begitu, ia tetap dandan sebagai pelajar. Inilah
disebabkan ia masih menggemari pelajaran surat itu.
"Itulah syairnya Ong Wie," ia menyahut
sesaat kemudian. "Yang di atas itu berarti, meskipun kau mempunyai
seorang sahabat kekal dengan siapa kau hidup bersama-sama sampai di
hari tua, kau toh tetap tidak dapat mempercayai sahabatmu itu, sebab
secara diam-diam dia dapat mencelakai kau, maka, meskipun dia
berjalan di sebelah depan, baiklah kau terus meraba
gagang pedangmu. Tegasnya, hati manusia itu
jungkir balik bagaikan gelombang. Artinya syair yang di bawah yakni
bahwa sahabatmu itu telah menjadi beruntung dan telah menjadi orang
berpangkat besar, meski begitu seandai
kau mengharap bantuannya, untuk
membantu mengangkat kau, pengharapanmu itu melainkan membangkitkan
tertawaannya saja."
Mendengar keterangan itu, Boen Sioe mengerti
kenapa guru ini senantiasa mencurigai ia, meskipun terhadap si guru
tidak ada niatnya mencelakai. Maka ia mau percaya, mungkin tadinya
guru ini pernah dicelakai orang, karena mana dia menulis syair
peringatan itu untuk mencatat hati manusia yang gampang berubah.
Habis itu, Nona Lie masak air, untuk
menyeduh teh, maka tidak lama kemudian, setelah minum air panas,
mereka merasa segar sekali.
"Soehoe, aku hendak pulang," kata Boen Sioe
sekian lama.
Hoa Hoei melengak, ia mengawasi. Agaknya ia
putus asa.
"Kau mau pergi?" katanya, menyesal. "Jadi
kau tidak mau turut aku untuk belajar silat lebih jauh?"
"Bukan begitu, soehoe," kata si nona,
menerangkan. "Satu malam aku tidak pulang, tentulah Kee Loodjin
berkuatir dan memikirkannya tak habisnya. Sekarang aku hendak pulang
untuk memberi keterangan padanya, habis itu, baru aku akan kembali."
Mendadak Ittjie Tjin Thianlam menjadi gusar.
"Jikalau kau memberi keterangan padanya, nah
untuk selamanya kau jangan kembali padaku!" ia membentak.
Boen Sioe kaget dan takut, ia menjadi
bingung.
"Aku tidak dapat tidak memberi keterangan
pada Kee Loodjin," katanya perlahan. "Dia itu baik sekali dan sangat
menyayangi aku..."
"Terhadap siapa pun kau tidak boleh omong
tentang kita di sini!" kata Hoa Hoei, bengis. "Kau mesti angkat
sumpah untuk tidak menyebutkan apa juga mengenai kita, atau aku akan
tidak ijinkan kau berlalu dari sini!" Baru ia menyebut "sini" itu
atau ia menjerit "Aduh!" keras sekali dan tubuhnya segera roboh,
bahkan ia terus pingsan. Itulah disebabkan ia berbicara keras-keras,
lukanya mendatangkan rasa nyeri yang hebat.
Boen Sioe kaget sekali, tapi ia masih ingat
untuk mengasih bangun, guna menolongi. Ia membasahkan jidat orang
dengan air dingin.
Selang sesaat, Hoa Hoei mendusin.
"Eh, kau masih belum pergi?" tanyanya heran.
"Soehoe, apakah punggungmu masih sakit?" si
nona balik menanya. Ia tidak sempat menjawab.
"Sedikit mendingan," sahut guru itu. "Kau
membilang hendak pergi pulang, kenapa kau belum pergi?"
"Sebelum soehoe sembuh, aku tidak mau
pergi," sahut Boen Sioe. "Biar aku menanti pula beberapa hari lagi."
Di dalam hatinya, ia pikir: "Kee Loodjin paling juga memikirkan aku
tetapi soehoe perlu rawatan."
Senang Hoa Hoei mendengar jawaban itu,
karenanya ia tidak bergusar terus.
Boen Sioe pun senang. Ia hanya merasa sulit
untuk tabiat aneh guru ini. Ia lantas mencari rumput kering, untuk
dijadikan kasur darurat, yang mana ia gelar di ruang depan itu.
Ketika ia tidur pulas, beberapa kali ia mendusin dengan mendadak. Ia
terganggu impian-impian yang dahsyat, umpamanya penjahat datang
membekuk padanya, atau setannya si penjahat, dengan berlepotan
darah, datang menagih jiwa terhadapnya...
Besoknya pagi, Boen Sioe mendusin dengan
hati lega. Ia mendapatkan gurunya segar sekali. Ia lantas masak
nasi, untuk mereka dahar. Setelah datangnya waktu senggang, Hoa Hoei
lantas memberikan pelajaran silat. Dia mulai dengan pokoknya
lweekang, atau ilmu dalam.
"Kau telah berusia tinggi, untuk belajar
silat, kau memerlukan tempo lebih banyak daripada seharusnya," Hoa
Hoei memberi keterangan. "Tapi kau jangan kuatir, meski usiamu
tinggi, itu dapat ditutup dengan kecerdasanmu serta dengan adanya
guru bukan sembarang guru. Didalam lima tahun aku tanggung kau akan
jarang tandingannya di dalam Rimba Persilatan."
Boen Sioe tidak bilang apa-apa kecuali
menghaturkan terima kasih. Ia belajar dengan rajin dan tekun.
Didalam tempo delapan hari, ia telah memperoleh kemajuan, sedang
lukanya Hoa Hoei mulai sembuh. Baru setelah itu ia kasih tahu
gurunya ini untuk pulang dulu, guna menemui Kee Loodjin. Kali ini
Hoa Hoei tidak main bentakbentak lagi, dia tidak sampai memaksa
muridnya mengangkat sumpah. Begitulah ia pulang dengan menunggang
kuda putihnya. Ia menetapi janji, ia tidak mengasih tahu Kee Loodjin
tentang pertemuannya sama Hoa Hoei disebabkan ia terancam bahaya, la
mendusta bahwa ia kesasar di Gobi, sampai ia bertemu dan ketolongan
serombongan kafilah.
Kee Loodjin percaya keterangan itu, maka dia
tidak menanya melit-melit, dia hanya merasa girang.
Semenjak itu setiap sepuluh hari atau
setengah bulan, Boen Sioe pergi kepada Hoa Hoei, untuk berdiam
dengannya beberapa hari. Selama beberapa hari itu, ia belajar dengan
rajin sedang gurunya mengajari dengan sungguh-sungguh. Karena ia
tidak memikirkan lain, gangguan apa jua tidak ada, ia memperoleh
kemajuan pesat. Jadi benar pembilangan gurunya, ialah murid cerdas,
dan si guru bukan sembarang guru...
Tanpa merasa, tiga tahun telah lewat.
Satu kali dengan girang Hoa Hoei kata pada
muridnya: "Dengan kepandaian kau sekarang, kau telah termasuk kaum
kangouw kelas satu. Kalau kau pulaug ke Tionggoan, asal kau
memperlihatkan kepandaianmu, kau akan menjadi kesohor."
Boen Sioe merasa senang tetapi ia tahu ia
baru menyangkok kepandaian gurunya dua tiga bagian, maka ia belajar
terus dengan tetap rajin. Karena itu selanjutnya lebih sedikit
harinya ia berdiam sama Kee Loodjin, lebih banyak ia tinggal bersama
gurunya itu. Beberapa kali sudah Kee Loodjin menanya ia pergi ke
mana saja, ia menggunai pelbagai alasan untuk menutup rahasianya,
agar ia tidak melanggar pesan gurunya. Selanjutnya, Kee Loodjin
tidak pernah menanyakan lagi.
Pada suatu hari Boen Sioe pulang dari rumah
gurunya. Biasanya ia mengambil jalan mutar, tidak mau ia melintasi
bukit kecil tempat terbunuhnya serigala, tetapi kali ini, ia
terpaksa jalan di situ. Sebabnya ialah mega mendung dan angin utara
bertiup keras, tandanya bakal datang badai salju. Ia pun melarikan
kudanya keras-keras. Ia melihat kawanan penggembala repot menggiring
kambing mereka pulang. Di tengah udara tak nampak seekor jua burung
gagak. Justeru itu, untuk herannya, ia mendapatkan satu penunggang
kuda tengah mendatangi dengan binatang tunggangannya
dikaburkan. Ia menjadi heran.
"Badai salju segera bakal datang, kenapa dia
justeru keluar dari rumahnya?" ia pikir. Maka ia mengawasi.
Kapan penunggang kuda itu telah datang cukup
dekat, Boen Sioe melihat seorang nona Kazakh yang mengerobongi tubuh
dengan mantel merah. Ia pula lantas mengenali Aman, yang tubuhnya
langsing dan romannya cantik. Karena, ia tidak ingin menemui nona
itu, ia larikan kudanya ke belakang bukit, untuk mengintai.
Tiba di depan bukit, Aman bersiul nyaring,
atas mana, siulannya itu mendapat jawaban yang serupa, disusul
munculnya seorang anak muda, yang datang menghampirkan, maka
sebentar saja, keduanya sudah saling rangkul. Pula ramai suara
mereka tertawa.
"Badai salju bakal lekas datang, kenapa kau
keluar juga?" demikian si pemuda tanya.
Boen Sioe mengenali suaranya Supu, sahabat
kekalnya itu.
"Hai, si cilik tolol!" kata Aman, tertawa.
"Kau tahu badai salju bakal turun, kenapa kau juga keluar dan
menantikan aku di sini?"
Supu tertawa
"Setiap hari kita bertemu di sini” katanya,
gembira. "Pertemuan kita ini lebih penting daripada makan nasi!
Biarnya ada ancaman golok atau pedang, pasti aku akan menunggui kau
di sini!"
Aman tertawa pula.
Keduanya lantas duduk berendeng di bukit
kecil itu, keduanya bicara tak hentinya.
Mereka bicara tentang asmara
Boen Sioe mengintai di balik beberapa pohon
besar, ia berdiri tercengang. Ia telah mendengar nyata setiap
perkataan pemuda dan pemudi itu, kecuali di saat mereka itu seperti
berbisik. Kemudian lagi, ia terkejut ketika tidak keruan-keruan
pasangan muda-mudi itu tertawa dengan keras.
Nona Lie mendengar seperti tidak mendengar.
Melihat tingkah laku muda-mudi itu, di depan matanya berbayang
peristiwa dari masa ia masih kecil. Di situ pun ada berduduk
berendeng dua bocah, yang satu pria, yang lain wanita. Mereka itu
erat sekali perhubungannya. Merekalah Supu dan ia sendiri. Di sana
mereka biasa saling mendongeng, sampai itu hari mereka diserang
serigala yang ganas. Apa yang mereka biasa omongi, ia seperti sudah
lupa. Sebab sepuluh tahun telah berselang. Hanya sekarang, melihat
Supu bersama Aman itu, ia terkenang akan masa yang lampau itu.
Segera sang salju mulai turun, sedikit demi
sedikit, tetapi lama-lama, kuda mereka, pula kepala mereka bertiga,
mulai putih ketutupan bunga salju. Juga tubuh mereka mulai
ketutupan. Supu dan Aman seperti tidak menghiraukan salju itu. Dan
Boen Sioe pun tidak mempedulikannya.
Lagi sekian lama, barulah Supu dan Aman
dibikin kaget hingga keduanya berlompat bangun. Di pohon kayu di
dekat mereka terdengar suara berisik.
"Ha, air batu turun!" seru si pemuda. "Mari
lekas pulang!"
Aman menurut, tanpa banyak omong lagi,
mereka naik kuda mereka dan melarikannya.
Boen Sioe bagaikan tersadar mendengar seman
mereka itu. Ia pun lantas merasakan jatuhnya hujan air batu itu,
yang mengenakan kepalanya, mukanya dan tangannya, hingga ia merasa
sakit. Tanpa ayal lagi, ia lari pulang. Begitu ia tiba di depan
rumahnya, ia heran. Di muka rumah ada tertambat dua ekor kuda, satu
antaranya ia kenali adalah kudanya Aman.
"Mau apa mereka datang ke rumahku?"
pikirnya. Sambil menerka-nerka, ia turun dari kudanya, untuk
dituntun ke belakang. Hujan air batu bertambah keras turunnya.
Setelah ia memasuki ruang belakang dari
rumahnya, Boen Sioe mendapat dengar suaranya Supu, katanya: "Paman,
hujan es turun secara besar-besaran, terpaksa kita mesti berdiam
lamaan di sini."
"Tetapi ingat, di hari-hari biasa, walaupun
aku mengundang, tidak nanti kau datang ke mari," terdengar suaranya
Kee Loodjin.
"Tunggu, nanti aku mengambil air teh."
Memang juga, sekarang ini sukar untuk Kee
Loodjin, umpamanya...... hendak mengundang Supu. Semenjak
orang-orang Tjhin Wie Piauwkiok mengganas, orang Kazakh jadi sangat
mencurigai orang Han. Benar Kee Loodjin sudah tinggal lama di antara
mereka itu dan terkenal baik, tetapi orang jadi tidak suka bergaul
dengannya. Bagusnya, dia tidak sampai diusir pergi. Sebaliknya,
tendanya Supu dan Aman telah dipindah semakin jauh, hingga sukar
mereka datang ke rumah Kee Loodjin itu. Kali ini kebetulan saja
mereka ini ditimpa hujan es.
Kee Loodjin pergi ke dapur. Ia heran melihat
Boen Sioe sudah pulang dan lagi berdiri bengong muka merah.
"Kau... sudah pulang?" katanya. Orang tua
itu heran akan tetapi ia mengangguk.
Tidak lama maka Kee Loodjin sudah keluar
dengan membawa susu kambing, koumiss dan teh merah, untuk
menyuguhkan tetamunya.
Boen Sioe duduk di dekat dapur, sambil
menghangatkan diri, ia memasang kuping. Ia mendengar suaranya Supu
dan Aman, yang kadang-kadang tertawa. Hampir ia berbangkit, untuk
pergi ke luar, untuk berbicara sama mereka itu.
"Tidak ada halangannya toh?" pikirnya Hanya,
dalam sekejap, ia menahan hati. Itulah sebab ia lantas ingat
sikapnya ayah Supu, yang galak, mulutnya gampang mendamprat,
cambuknya gampang merangket.
Ketika Kee Loodjin kembali ke dapur, untuk
membagi susu dan teh pada si nona, ia heran melihat sinar mata nona
itu. Sudah belasan tahun mereka tinggal bersama, mereka mirip kakek
dan cucu sejati, tetapi mereka tetap bukan asal sedarah sedaging, si
empee sukar menjajaki hati si nona.
Setelah mengawasi, mendadak Boen Sioe kata
pada si empee: "Aku hendak menyamar sebagai seorang nona Kazakh, aku
akan datang untuk numpang berlindung dari hujan es, jangan yaya
membuka rahasia." Tanpa menanti jawaban, ia lekas pergi ke kamarnya,
untuk dandan, pula ia rubah sanggulnya. Sudah lama ia tinggal di
wilayah Hweekiang ini, ia jadi mirip dengan bangsa Kazakh. Habis
dandan, ia pergi pula ke dapur, kepada si empee, memberi tanda
dengannya. Baru ia pergi ke luar, untuk berlalu dengan kudanya
dengan manda ditimpa hujan es. Hanya kabur belum satu lie, ia sudah
lari kembali. Di depan rumahnya, ia mengetuk pintu. Ia jeri juga
ketika melihat cuaca yang luar biasa. Sudah sepuluh tahun lebih ia
tinggal di Hweekiang ini, belum pernah ada hujan es lebat begini,
dan awan pun mendung sekali. Sambil mengetuk-ngetuk pintu, ia
mengasih dengar suaranya: "Mohon numpang! Mohon numpang!"
Kee Loodjin membukai pintu. "Nona ada urusan
apa?" ia tanya.
"Hujan es hebat sekali, aku mohon menumpang
berlindung," menyahut Boen Sioe.
"Boleh, boleh!" menyahut si empee, yang
terpaksa main sandiwara. "Di dalam pun ada dua sahabat lagi
menumpang berlindung. Mari masuk, nona!"
"Aku hendak pergi ke Huangsha Weitze, dari
sini perjalanannya masih berapa jauh lagi?" Boen Sioe berlagak
menanya. Ia menggunai bahasa Kazakh. Ia senang si empee dapat main
sandiwara baik sekali. Kee Loodjin berlagak kaget. "Nona mau pergi
ke sana? Ah, tidak dapat! Dengan cuaca seburuk ini, tidak nanti kau
dapat tiba di sana. Lebih baik nona singgah satu malam di sini,
besok baru kau melanjuti perjalananmu. Kalau kau tersesat, itulah
celaka..."
Boen Sioe bertindak masuk, ia menggibriki es
dari bajunya. Ia melihat Supu dan Aman duduk berendeng menghadapi
api.
Aman melihat yang datang adalah seorang
nona, ia lantas berkata manis: "Kakak, kita ketimpa hujan,
mari
menghangatkan diri di sini!"
"Baiklah, terima kasih!" Boen Sioe
menyahuti. Ia lantas duduk di samping nona Kazakh itu. Supu
mengangguk seraya bersenyum. Ia tidak mengenali nona itu, yang telah
berpisah dari ianya selama delapan atau sembilan tahun. Sekarang si
nona cilik telah menjadi dewasa, dandanannya pun lain sekali.
Kee Loodjin menambah susu dan teh, ia bicara
sama tetamunya ini seperti mereka adalah orang-orang asing
benar-benar. Boen Sioe pun belajar kenal pada pemuda dan pemudi itu.
Ia sendiri mengaku bernama Tangsanli, gadisnya pemilik sebuah
peternakan di tempat jauhnya dua ratus lie dari situ.
Supu beberapa kali melongok ke jendela,
untuk melihat udara, meskipun sebenarnya, dengan mendengar suara
hujan, ia sudah dapat tahu hujan tak akan berhenti lekas-lekas.
Aman berkuatir, diam-diam ia tanya Supu
kalau-kalau gubuknya si orang tua ini tidak bakal ambruk diserang
hujan dan angin keras itu.
"Aku hanya menguatirkan wuwungan tidak dapat
menahan beratnya es dan salju," kata Supu. "Nanti aku naik ke atas,
untuk menyingkirkannya."
"Awas, nanti kau kena tertiup angin dan
terbawa pergi!" kata si pemudi.
Supu tertawa ketika ia menjawab: "Di tanah
telah bertumpuk banyak salju, umpama kata benar aku jatuh, toh tidak
nanti membahayakan!..."
Pikiran Boen Sioe kusut. Ketika ia
mengangkat cawannya, tangannya bergemetaran. Ia mesti menyaksikan
eratnya hubungan muda-mudi itu. Ia sendiri tidak tahu mesti
mengatakan apa. Sahabatnya di masa kecil duduk dekatnya tetapi
mereka tidak dapat bicara satu dengan lain dengan leluasa seperti
duluhari. la pun memikirkan apa benar-benar Supu tidak mengenalinya.
Di lain pihak, ia ingin Aman tidak mengetahui tentang persahabatan
mereka...
Hari makin gelap. Diam-diam Boen Sioe
menggeser diri, supaya Aman dan Supu dapat ketika untuk saling
menggenggam tangan mereka, untuk bicara tanpa terdengar lain orang.
Cahaya api, yang memain, pula memain di antara mukanya muda-mudi
itu. Cuma muka Boen Sioe tak terlihat, sebab ia berpisah cukup jauh
dari unggun itu.
Kembali Kee Loodjin menyajikan barang
makanan. Hanya mereka bertiga agaknya tidak ada napsu daharnya...
Selagi ruang ada sangat sunyi itu, di luar
terdengar suara larinya kuda di atas salju. Boen Sioe mendengar,
orang lagi mendatangi ke gubuknya itu. Ia pun mengetahui, kuda itu
seperti sudah letih sekali.
Kee Loodjin dapat mendengar suara kuda
setelah datangnya sudah dekat sekali.
"Kembali ada orang berlindung dari angin dan
hujan..." katanya
Supu berdua Aman mungkin mendengar dan
mungkin tidak, mereka tidak mempedulikan, mereka lebih asyik
menggenggam terus tangan mereka satu dengan lain, untuk bicara
saling berbisik...
Hanyalah sesaat, seorang penunggang kuda
tiba lebih dulu. Lantas terdengar ia menggedor pintu, bukan lagi
mengetuk, dan suaranya pun keras dan kaku, tidak miripnya orang yang
mau mohon menumpang singgah.
Dengan alis berkerut, terpaksa Kee Loodjin
membukai pintu. Di depannya terlihat seorang yang tubuhnya besar,
yang mengenakan baju lapis kulit kambing, sedang di pinggangnya
tergantung pedang.
"Angin dan salju besar sekali, kudaku tidak
dapat berjalan terus!" dia kata keras. Dia bicara dalam bahasa
Kazakh akan tetapi tidak lancar dan suaranya pun tidak wajar. Dengan
mata tajam, ia memandangi semua orang yang berada di dalam ruang
itu.
"Silahkan masuk," Kee Loodjin mengundang.
"Silahkan duduk! Mari minum arak!"
Tuan rumah yang tua ini ramah-tamah, ia
lantas menuangi arak dan menyuguhkannya.
Tetamu itu meminum araknya sekali cegluk,
lantas dia duduk di dekat api. Dia membuka baju luarnya, hingga di
kiri kanan pinggangnya terlihat juga sepasang pedang kecil dengan
gagang emas yang berkeredepan.
Boen Sioe dapat melihat sepasang pedang itu,
hatinya bercekat, kerongkongannya seperti tersumbat sesuatu. Yang
lebih hebat matanya menjadi kabur, kepalanya menjadi pusing. Tapi ia
masih dapat berkata di dalam hatinya: "Inilah pedang ibu!"
Meskipun waktu ibunya terbinasa ia masih
berusia belum sepuluh tahun, pedang ibunya itu Boen Sioe ingat baik
sekali, ia mengenalinya tanpa keliru. Maka ia lantas melirik pada
ini tetamu yang kasar. Segera ia ingat orang ini ada satu di antara
tiga kepala penyamun yang mengejar-ngejar mereka satu keluarga. Ia
sendiri telah berubah banyak tetapi penjahat itu, yang dulu berumur
tiga puluh lebih dan sekarang menjadi empat puluh lebih, sedikit
perubahannya. Tapi ia kuatir orang nanti mengenali padanya, ia tidak
mau mengasih lihat mukanya. Ia pikir pula: "Coba angin dan salju tak
sebesar ini tidak nanti aku bertemu sama Supu dan ini manusia
jahat."
"Tuan dari mana?" Kee Loodjin bertanya.
"Tentu dari tempat jauh ya?"
"Hm!" jawabnya tetamu itu, yang kembali
menenggak secawan arak.
Itu waktu tibalah penunggang kuda yang
kedua. Kali ini pintu diketuk dengan perlahan, seperti juga orang
itu takut membikin kaget tuan rumah.
Kee Loodjin kembali membukai pintu,
mengundang tetamunya masuk.
Tubuh orang itu menggigil, mukanya pun
ditutupi sabuk bulu kambing dan kopiahnya dibelesaki menutupi
seluruh jidatnya, hingga ia terlihat saja kedua matanya. Ia mengasih
dengar suara aa-oe-oe dan kedua tangannya digerak-geraki.
Nyata ia seorang gagu.
Dengan gerakan tangan, Kee Loodjin
mengundang orang berduduk, terus ia menyuguhkan arak.
Si gagu memberi hormat sambil menjura dalam,
kepalanya digoyangi. Ia menolak meminum arak. Dengan itu ia
menghaturkan terima kasihnya. Ia kedinginan sangat, meski sudah
mendampingi api, ia masih tidak mau membuka baju atau kopiahnya atau
sabuknya. Ia bahkan duduk merengkat.
"Kau minum arak, rasa dingin akan
berkurang," kata Boen Sioe, yang merasa berkasihan.
Kembali si gagu aa-oe-oe ia seperti tak
mengerti omongan orang.
"Siapa gagu, dia pun tuli," kata Kee
Loodjin. "Dia ini tidak mendengar suara orang." Boen Sioe tertawa
"Ya, aku lupa!" katanya Di situ berkumpul semuanya enam orang
bersama mereka, Supu dan Aman tidak dapat lagi berbisik-bisik.
Ketika Supu sudah mengawasi tuan
rumah sekian lama, ia berkata: "Empee, kaulah orang
Han. Dapatlah aku menanyakan
tentang sesuatu orang?"
"Siapa ya?" si empee balik menanya.
"Dialah seorang nona Han dengan siapa aku
pernah hidup bersama selagi kita masih kecil, sering kita main-main
berdua," menerangkan Supu.
Boen Sioe terkejut, ia lekas melengos.
"Dia bernama Lie Boen Sioe," Supu
menambahkan sebelumnya si orang tua menyahuti. "Sudah selang delapan
atau sembilan tahun kita berpisah lantas kita tidak bertemu pula
satu dengan lain. Aku ingat dia membilangnya bahwa ia tinggal
bersama seorang tua yang bungkuk punggungnya. Bukankah orang tua itu
empee adanya?"
Kee Loodjin batuk-batuk. Ia ingin memperoleh
penghunjukan dari Boen Sioe tetapi si nona lagi berpaling ke lain
arah. Ia menjadi bingung hingga ia cuma dapat berkata: "Ah, ah..."
"Dialah nona yang nyanyinya paling merdu,"
berkata pula Supu, "hingga orang mengatakan suaranya lebih merdu
daripada nyanyiannya si burung nilam. Selama beberapa tahun ini
tidak pernah aku mendengar pula nyanyiannya itu. Empee, apakah dia
masih tinggal bersama empee disini?"
"Tidak... tidak..." kata si empee, tak
lancar. "Dia tidak..."
"Oh, kau maksudkan si nona Han yang dulu
tinggal bersama empee ini..." tiba-tiba Boen Sioe campur bicara.
"Aku kenal dia Dia telah meninggal dunia pada enam atau tujuh tahun
yang lalu!"
Pemuda Kazakh itu kaget.
"Ah, dia telah meninggal dunia!" serunya.
"Kenapa dia mati?"
Kee Loodjin melirik Boen Sioe. "Dia sakit...
sakit..." ia menyahuti.
Matanya Supu menjadi merah.
"Ketika kita masih kecil, biasa kita
menggembala kambing bersama," ia bilang, suaranya parau. "Dia sering
bernyanyi untuk aku mendengari, dia juga gemar mendongeng. Baru
beberapa tahun tidak bertemu, aku tidak sangka dia telah menutup
mata."
"Ya, kasihan anak itu..." kata Kee Loodjin.
Supu mendelong mengawasi perapian.
"Dia pernah membilangi aku bahwa ayah dan
ibunya telah dibinasakan orang jahat," katanya pula kemudian,
"karenanya dia jadi hidup sebatang kara dan menderita di sini..."
"Apakah nona itu cantik?" Aman tanya. Baru
sekarang dia turut bicara.
"Ketika itu aku masih kecil, aku tidak ingat
jelas," menjawab Supu. "Aku cuma tahu dia pandai bernyanyi, suaranya
merdu, serta dia gemar bercerita, dan ceritanya menarik hati..."
Sekonyong-konyong si orang kasar menyeletuk:
"Kau maksudkan si bocah Han? Kau bilang dia she Lie? Bahwa ayah dan
ibunya terbinasakan orang hingga dia terlantar seorang diri?"
Nyerocos pertanyaannya orang asing ini.
"Benar. Kau juga kenal dia?" Supu menjawab
seraya balik bertanya.
Orang itu tidak menjawab, hanya dia menanya
pula: "Dia menunggang seekor kuda putih, bukankah?"
"Benar," menyahut Supu. "Jadi kau pun telah
mengenal dia."
Mendadak orang itu berbangkit.
"Dia mati di sini?" dia tanya Kee Loodjin,
bengis.
"Ya," menyahut si orang tua, yang terpaksa
bersandiwara terus.
"Kau tentunya menyimpan baik-baik segala
barang peninggalannya?" tanya orang asing itu.
Kee Loodjin heran, ia mengawasi orang sambil
melirik.
"Apa hubungannya barang orang itu denganmu?"
ia tanya.
"Ada serupa barangku telah dicuri nona itu!"
menyahut si tetamu kasar. "Aku telah cari dia di mana-mana kiranya
dia sudah mampus..."
Tiba-tiba Supu berbangkit.
"Kau ngoceh tidak keruan!" bentaknya. "Cara
bagaimana Nona Lie dapat mencuri barangmu?"
"He, kau tahu apa?" balik tanya orang itu.
"Nona Lie bersama aku hidup bersama-sama
semenjak masih kecil," kata Supu.
"Aku tahu dialah satu nona yang baik
hatinya, tidak nanti dia mencuri barang orang!"
Orang itu melirik, sikapnya tawar.
"Dia justru telah mencuri barangku!"
ejeknya.
Supu memegang gagang golok di pinggangnya.
"Siapa namamu?" dia tanya. "Aku lihat kau
bukan orang Kazakh! Mungkin kaulah si penyamun bangsa Han!"
Orang itu tidak menyahuti, dia hanya
bertindak ke pintu, lalu mementangnya, hingga angin dingin
menghembus masuk, membawa sekalian banyak lempengan salju. Di luar,
salju melulahan di mana-mana orang dan binatang pasti tidak dapat
berlalu-lintas lagi di sana Dia pikir: "Di waktu begini tentulah
tidak bakal ada orang datang kemari! Di sini ada dua nona yang
lemah, seorang tua yang lemah juga dan si gagu itu yang bercacad,
asal aku menggeraki tanganku, dia tentu roboh! Tinggal ini satu
pemuda, yang romannya kekar, dia mungkin memerlukan beberapa jurus
untuk merobohkannya." Karena berpikir demikian, ia lantas mengambil
keputusan.
"Benar aku orang Han!" katanya, menantang.
"Habis kau mau apa? Aku she Tan, namaku Tat Hian, orang kangouw
menyebutnya Tjheebong Kiam, si Pedang Ular Naga Hijau! Binatang
cilik, kau dengar tidak?"
Supu tidak mengetahui tentang kaum kangouw
ia menggeleng kepala.
"Aku belum pernah mendengar," sahutnya. "Kau
jadinya penyamun bangsa Han?"
"Tuan besarmu satu piauwsoe, hidupnya justru
membasmi perampokan!" kata Tat Hian pula "Mengapa kau bilang aku
penyamun?"
Mendengar orang bukannya penyamun dan
keterangan itu ia mau percaya, sikapnya pemuda Kazakh ini menjadi
sabar. Ia kata: "Bagus kalau kau bukan penyamun bangsa Han! Aku
memang tahu banyak orang Han orang baik-baik, tetapi banyak bangsaku
yang tidak mempercayainya. Untuk kau, baiklah kau jangan
menyebut-nyebut pula bahwa Nona Lie itu telah mengambil milikmu!"
Tapi Tan Tat Hian tertawa dingin.
"Perempuan itu sudah mati, untuk apa kau
masih mengingati dia?" katanya.
"Semasa hidupnya, kita adalah
sahabat-sahabat baik," berkata Supu, "maka itu setelah dia menutup
mata, dia tetap sahabatku. Aku melarang orang omong jelek
tentangnya!"
Tat Hian tidak ingin berebut mulut, maka ia
menoleh kepada Kee Loodjin.
"Mana barang-barangnya si nona?" tanyanya.
Sementara itu Boen Sioe bersyukur yang Supu
masih ingat ia dan membelanya. "Dia tidak melupai aku, dia tidak
melupai aku," katanya dalam hatinya "Dia tetap baik terhadapku..."
Tapi ia heran untuk sikapnya Tat Hian itu. Pikirnya: "Tidak pernah
aku mengambil barang dia, kenapa dia menuduh aku mencurinya?" Ia tak
sadar akan kelicikan orang.
"Kau kehilangan barang apa, tuan?" tanya si
empee Kee. "Nona kecil itu polos dan jujur, inilah aku ketahui, maka
itu tidak dapat dia mengambil barang lain orang."
"Itulah sehelai peta!" menyahut Tat Hian
setelah berdiam sejenak. "Untuk lain orang, peta itu tidak ada
artinya, sebab... Itulah gambar lukisan yang dibuat almarhum ayahku,
maka perlu aku mendapatkannya pulang. Nona Lie tinggal di rumahmu
ini kau tentunya pernah melihat itu."
"Bagaimana sebenarnya lukisan itu? Apakah
gambar sansoei atau orang?" Kee Loodjin menanya pula.
"Ya, gambar sansoei..." sahut Tat Hian.
"Hm!" Supu tertawa dingin. "Gambar atau peta
apa masih tidak tahu tetapi berani sembarang menuduh orang!"
Gusar Tat Hian, maka ia menghunus pedang
kecilnya.
"Bangsat kecil, apakah kau sudah bosan
hidup?" dia menegur. "Tuan besarmu biasa membunuh orang tanpa
menutup matanya!"
Supu pun menghunus golok pendeknya.
"Tidak gampang untuk membunuh seorang
Kazakh!" katanya menantang, suaranya dingin.
"Supu, jangan ladeni dia!" berkata Aman.
Supu mendengar kata, dengan ayal-ayalan ia
masuki goloknya ke dalam sarungnya.
Telah bulat tekadnya Tan Tat Hian
mendapatkan peta dari Istana Rahasia Kobu, untuk itu sudah belasan
tahun dia dan kawan-kawannya hidup di wilayah Hweekiang ini di mana
mereka merantau ke banyak tempat, sekarang dia mendapat endusan
tentang si Nona Lie, turunannya Pekma Lie Sam, mana dia mau
melepaskannya dengan gampang? Dia memang bangsa kasar, tetapi dia
bisa berpikir. Dia mengerti, tak sabar artinya gagal. Maka dia cuma
mendelik kepada Supu, lalu dia berpaling pula kepada tuan rumah yang
tua itu.
"Peta itu ialah sebuah gambar," katanya.
"Itulah lukisan dari pemandangan alam di suatu tempat di gurun
pasir, ada gunungnya, ada kalinya..."
Hati si empee terkesiap, sedang tubuh si
gagu menggigil.
"Kenapa kau ketahui peta atau gambar itu ada
di tangannya si Nona Lie?" empee Kee tanya pula kemudian.
"Apa yang aku bilang ini ada hal yang
benar," menyahut Tat Hian. "Jikalau kau serahkan peta itu padaku,
suka aku memberi hadiah besar padamu." Ia lantas merogoh keluar dua
potong goanpoo emas, yang ia terus letaki di atas meja. Uang emas
itu mengeluarkan sinar berkeredepan yang menggiurkan. Empee Kee
berdiam berpikir. "Sebenarnya aku belum pernah melihat barang itu,"
katanya.
"Aku hendak melihat semua barang
peninggalannya nona kecil itu!" kata Tat Hian.
"Ini... ini..." empee itu bersangsi. Tangan
kirinya Tat Hian bergerak, maka sebatang
pedang kecilnya nancap di meja.
"Ini... ini...apa?" bentaknya. "Nanti aku
lihat sendiri!" la menyulut sebatang lilin, dengan bengis ia menolak
pintu dalam, untuk masuk ke kamar. Paling dulu ia masuki kamarnya si
empee. Ia membalik-balik tempat pakaian. Kemudian ia masuk ke
kamarnya Boen Sioe. Di sini ia mendapatkan baju si nona, yang tadi
dia loloskan, untuk menyalin pakaian sebagai nona Kazakh.
"Ha dia mati sesudah besar!" katanya si
piauwsoe penyamun. Ia lantas memeriksa dengan terliti.
Di situ ada pakaiannya Nona Lie semenjak dia
masih kecil, benar pakaian itu sudah tidak dapat dipakai tetapi
sebab itu buatan ibunya sendiri, dia menyimpannya terus. Melihat
pakaian itu, Tat Hian samar-samar mengingat roman dan potongan tubuh
Boen Sioe semasa kecilnya itu, ketika mereka mengejar-ngejarnya di
gurun pasir.
"Benar! Benar!" katanya girang. "Benar dia!"
Hanya setelah mencari sekian lama, ia tidak mendapatkan barang yang
ia cari.
Supu gusar bukan main menyaksikan orang
mengaduk-aduk pakaian Boen Sioe, beberapa kali sudah ia memegang
goloknya, untuk dicabut, saban-saban Aman mencegahnya.
Kee Loodjin sendiri saban-saban melirik
kepada Boen Sioe, sinar mata siapa menyala bagaikan api, hanya nona
itu, mengenai sepak terjangnya Tat Hian, seperti tidak melihatnya.
Maka masgullah orang tua ini. Ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Bagaimana kalau penyamun ini mengenali si nona?
Boen Sioe memperhatikan sikapnya Supu. Ia
berduka, ia pun merasa puas.
"Benar-benar dia masih ingat aku," pikirnya.
"Agaknya dia bersedia bertempur untuk membelai barang-barangku." Di
lain pihak, ia tetap heran atas sikapnya si orang jahat. Pikirnya:
"Mengapa dia berkeras menuduh aku mencuri barangnya? Peta apakah
itu?"
Memang duluhari Boen Sioe disesapkan peta
oleh ibunya hanya ia belum tahu apa-apa, ibunya pun tidak sempat
lagi memberi keterangan padanya, la juga tidak tahu yang kawanan
piauwsoe dari Tjhin Wie Piauwkiok, yang berubah menjadi penyamun,
telah mencari itu selama sepuluh tahun lebih.
Sia-sia Tat Hian menggeledah sekian lama, ia
nampak masgul dan putus asa. Tapi tidak lama, mendadak dia menanya
bengis: "Di manakah kuburannya?"
Kee Loodjin melengak. Itulah pertanyaan yang
ia tidak sangka.
“Dia dikubur jauh, jauh sekali..." sahutnya
gugup.
Tat Hian menurunkan pacul dari dinding.
"Mari antar aku!" katanya.
Supu berbangkit.
"Kau hendak bikin apa?" ia tanya.
"Perlu apa kau campur urusanku?" bentak Tat
Hian. "Aku hendak membongkar kuburannya, untuk memeriksa. Mungkin
dia membawanya peta itu ke liang kubur!"
Supu menghunus goloknya, ia menghalang di
pintu.
"Aku larang kau menggali kuburannya!" ia
kata nyaring.
"Minggir!" bentak Tat Hian. la mengayun
paculnya, menyerang.
Supu berkelit ke kiri, terus ia menyerang.
Tat Hian melemparkan paculnya, ia mencabut
pedangnya.
Maka "Trang!" kedua senjata mereka beradu
keras. Atas itu keduanya sama-sama lompat mundur setelah mana,
mereka maju pula, untuk bertempur di dalam ruang yang tak lebar itu.
Kee Loodjin lantas menyingkir ke pinggiran,
juga si gagu dan Aman. Cuma Boen Sioe yang berdiri diam di dekat
jendela.
Kemudian Aman mencabut pedang pendeknya Tat
Hian, yang nancap di meja, dia berniat membantu Supu akan tetapi dia
tidak memperoleh kesempatan guna menyelak di antara mereka
Supu telah mendapatkan pelajaran dari
ayahnya, ia berkelahi bengis sekali.
Tat Hian heran hingga ia berpikir: "Aku
tidak menyangka bocah Kazakh ini gagah sebagai erang gagah dari
Tionggoan..."
Tengah ia berpikir itu, ia kaget akan
mendengar suara angin di belakangnya, dari datangnya senjata tajam.
Sebab Aman, yang tidak bisa maju, lantas menimpuk dengan pedang
pendek. Ia berkelit ke kanan. Justeru ia berkelit, justeru tiba
serangannya Supu, maka lengannya kena tergores golok, sia-sia ia
mencoba berkelit lebih jauh. Ia menjadi gusar sekali, lantas ia
membalas menyerang. Tiga kali beruntun ia menikam dengan jurus-jurus
dari ilmu silat pedangnya, "Tjheebong Kiamhoat" atau Ilmu Pedang
Ular Naga Hijau.
Supu kaget melihat datangnya serangan saling
susul, sedang sinar pedang membuat matanya silau. Tahu-tahu lehernya
telah kena dimampirkan pedang lawan itu hingga darahnya mengalir
keluar.
Tat Hian memperoleh hati, ia mendesak terus.
Di lain saat, lengan Supu kena kelanggar pedang, sampai dia
merasakan sakit, goloknya terlepas dari cekalannya dan jatuh.
Di saat tikaman yang ketiga mengancam dan
Supu agaknya mati daya, Boen Sioe maju satu tindak, untuk menolongi.
la hendak menggunai ilmu Tay Kimna Tjioe, guna menangkap tangannya
Tat Hian. Akan tetapi mendahului ia, Aman telah berlompat ke depan
Supu sambil berseru: "Jangan melukakan dia!"
Melihat nona Kazakh yang elok itu, tapi yang
romannya ketakutan, batal Tat Hian menikam terus. Dengan mengancam
sama ujung pedangnya, ia tertawa dan tanya nona itu: "Kau begini
memperhatikan dia! Adakah dia kekasihmu?"
Muka Aman merah tetapi ia mengangguk.
"Kau menyayangi dia, baik!" kata Tat Hian
pula. "Aku nanti memberi ampun padanya asal besok badai berhenti,
kau turut aku!"
Supu menjadi sangat mendongkol, sambil
berseru, ia maju ke depan Aman, hendak ia menerjang musuhnya itu.
Tat Hian berlaku awas dan sebat, dengan
ujung pedangnya masih mengancam, ia menggeraki kaki kirinya ke kaki
orang, maka tanpa ampun lagi, robohlah pemuda Kazakh itu. Coba
pedang ditusukkan terus, akan tertumblaslah tenggorokannya si anak
muda
Didalam keadaan seperti itu, Boen Sioe masih
mengawasi saja Ia memasang mata, ia bersiap sedia menggunai ilmu
totoknya, karena peryakinannya atas ilmu Ittjie Tjin Thianlam, telah
menyampai kemahiran tujuh atau delapan bagian. Hanya Aman tidak tahu
bahwa seorang penolong siap sedia di dampingnya, karena mana, ia
menyerah atas desakan si penyamun. Ia memberikan penyahutannya:
"Baiklah, aku terima permintaanmu, asal kau jangan bunuh dia!"
Tat Hian girang sekali. Tapi pedangnya ia
masih belum mau mengisarkannya.
"Kau menerima baik akan turut aku besok,
jangan kau menyesal," ia bilang.
"Aku tidak menyesal," jawab Aman seraya
menggigit giginya. "Singkirkan pedangmu!" Tat Hian tertawa lebar.
"Taruh kata kau menyesal dan menyangkal kau
toh tidak bakal lolos dari tanganku!" katanya, la menarik pedangnya,
untuk dikasih masuk ke dalam sarungnya, terus ia menjumput goloknya
Supu. Ia memandang ke luar jendela, lantas ia berkata: "Sekarang
kita tidak dapat pergi membongkar kuburan kita tunggu saja sampai
langit sudah terang." Ia menjadi berbesar hati, karena di situ cuma
ia sendiri yang bersenjata.
Sampai sebegitu jauh, ia belum melihat
gerak-geriknya Boen Sioe.
Aman mempepayang Supu untuk dibawa ke
pinggir. Ia melihat darah masih mengalir keluar dari leher si
pemuda. Ia menjadi bingung, hingga ia mau menyobek ujung bajunya
untuk dipakai membalut.
"Pakai ini saja," kata Supu, ia mengeluarkan
sehelai sapu tangan dari sakunya.
Aman membalut, habis itu, sendirinya ia
menangis. Ia memikirkan nasibnya, yang telah terjatuh ke tangan
penyamun itu. Dapatkah ia nanti meloloskan dirinya?
"Bangsat anjing! Jahanam!" Supu mendamprat
perlahan. Ia tidak berdaya tetapi ia tidak takut. Kalau terjadi
orang memaksa membawa Aman, ia bersedia untuk mengurbankan jiwanya
guna melindungi nona itu.
Setelah pertempuran itu, ke enam orang itu
duduk diam mengitari perapian, akan tetapi suasana tetap tegang.
Sebelah tangannya Tan Tat Hian tidak pernah melepaskan goloknya.
Untuk menenggak arak, ia menggunai tangan kiri. Senantiasa ia
memandang Aman dan melirik Supu.
Di luar, badai masih mengamuk. Sering
lempengan salju beterbangan menghajar tembok atau wuwungan hingga
mendatangkan rasa kaget dan kuatir. Semua orang menutup mulutnya.
Sang waktu dilewatkan Boen Sioe dengan
segala ketenangan hatinya. Sejak semula ia sudah pikir untuk berlaku
sabar. Tadi pun ia baru menindak atau Aman mendahului ia. Katanya di
dalam hatinya: "Biarlah jahanam ini bertingkah lagi sekian waktu,
tak usah aku tergesa-gesa..."
Dalam kesunyian itu, mendadak api meletus.
Ada kayu yang terbang terbakar meledak, mulanya gelap, lalu terang
luar biasa hingga mereka dapat melihat tegas sekali wajah
masing-masing.
Boen Sioe tercengang ketika ia mendapat
lihat sapu tangan di lehernya Supu, hingga ia mengawasi terus.
Kee Loodjin, yang memperhatikan nona ini,
turut melihat ke arah Supu, hingga ia melihatnya juga sapu tangan
itu. Bahkan ia lantas menanya: "Eh, Supu, dari mana kau dapatkan
sapu tanganmu itu?"
Si anak muda Kazakh melengak. Ia meraba ke
lehernya. "Kau maksudkan sapu tangan ini?" dia balik menanya.
"Inilah si nona Lie yang telah mati itu yang memberikannya padaku.
Di waktu masih kecil kita menggembala kambing bersama-sama, pada
suatu hari ada serigala yang menerkam kami berdua, lantas aku
membinasakan anjing liar itu. Aku terluka sedikit, si nona
membalutnya dengan sapu tangan ini..."
Boen Sioe mendengar kata-kata itu, matanya
terus mengawasi sapu tangan. Sekarang penglihatannya rada kabur.
Tanpa merasa, air matanya telah mengembeng.
Empee Kee masuk ke dalam kamarnya, untuk
mengambil sehelai sapu tangan putih. Si penyamun mengawasi
gerak-geriknya, ia tidak menghiraukan.
"Kau balut lukamu dengan sapu tangan ini,"
kata si empee pada si pemuda "Mari sapu tanganmu itu, kasih aku
lihat."
"Kenapakah?" tanya Supu heran.
Oleh karena pembicaraan itu, Tat Hian turut
memperhatikan sapu tangan di leher si
pemuda.
Mendadak ia berlompat bangun, goloknya
diangkat.
"Kau disuruh membuka sapu tangan itu, kau
bukalah!" ia membentak. Nampaknya ia seperti gusar sebab si anak
muda main ayal-ayalan atas permintaannya si tuan rumah.
Supu berdiam, dengan mata gusar, ia
memandangi penyamun itu.
Aman takut orang menggunai kekerasan, lantas
ia mewakilkan Supu membuka sapu tangan itu, untuk diserahkan kepada
Kee Loodjin, terus dengan sapu tangan yang putih, ia membalutnya
pula luka si pemuda
Tuan rumah lantas membeber sapu tangan yang
berlepotan darah itu di atas meja. Ia pun membesarkan pelita
minyaknya. Dengan terliti ia lantas mengawasi.
Tan Tat Hian turut mengawasi juga.
"Benar! Benar!" mendadak dia berseru seorang
diri, sesudah meneliti sekian lama. "Inilah itu peta Istana Rahasia
Kobu!" Dan ia mengulurkan tangannya untuk merampas!
Sebat tangannya piauwsoe ini tetapi lebih
sebat si empee Kee, ketika tangannya lagi tiga dim akan mengenai
sapu tangan itu, sapu tangannya sendiri sudah tersambar si empee.
Berbareng dengan itu, suatu sinar terang menyambar bagaikan kilat,
lantas Tat Hian menjerit kesakitan, sebab sebatang pisau belati
sudah nancap di belakang tangan kanannya itu, pisaunya tembus nancap
ke meja sebatas gagangnya Pula si empee menunjuki lain kesehatannya,
ialah dengan tangan kirinya ia sudah merampas golok panjang dari si
penyamun, untuk segera diancamkan ke tenggorokan penyamun itu!
Hebat empee bungkuk sebagai unta ini, ia
gesit luar biasa, ia liehay sekali.
Tan Tat Hian berdiri dengan muka meringis,
tubuhnya menggigil, tangan dan kakinya tidak berani digeraki,
terutama tangan kanannya yang terpanggang pisau belati itu. Cuma
matanya yang dapat main, mengawasi si empee dan ke sekitarnya
Boen Sioe kagum bukan main. Selama sepuluh
tahun ia tinggal bersama si empee, cuma satu kali ia menyaksikan
empee itu mempertunjuki kepandaiannya, yaitu ketika dia membinasakan
Liangtauw Tjoa Tang Yong si Ular Kepala Dua. Pula ketika itu dapat
dibilang karena kebetulan. Sekarang Kee Loodjin memperlihatkan
kepandaiannya yang istimewa. Pertama-tama tikaman pisau belatinya
yang sangat cepat dan tepat. Kedua ialah caranya ia merampas
goloknya Tat
Hian. Jurusnya ini ialah yang dinamakan
"Menunjang penglari, menukar tiang", suatu jurus liehay dari ilmu
tangan kosong merampas senjata tajam. Itulah sama dengan ilmu Kimna
Tjioe, yang gurunya Hoa Hoei mengajarinya. Ia sendiri, ia percaya,
tidak nanti dapat bergerak dengan sebat.
Habis itu Kee Loodjin mengulur pula
tangannya, untuk mengambil pedang pendek bergagang emas dan perak
dari pinggangnya si penyamun, terus ia menyerahkan itu kepada si
nona seraya ia berkata: "Nona, tolong kau mengambilkan sehelai
tambang."
Boen Sioe menyambuti pedang ibunya,
tangannya bergemetaran, lantas ia lari ke belakang, untuk mengambil
tambang yang diminta si empee, maka di lain saat empee itu sudah
lantas mencabut pisau belatinya yang memanggang tangan si penyamun,
tangan siapa terus ditelikung ke belakang sambil ia berkata pula:
"Nona, belenggulah bangsat jahat ini!"
Boen Sioe berdiri bengong, tangannya masih
memegangi pedang pendek ibunya, sedang kedua matanya basah dengan
air matanya. Ia seperti tidak mendengar perkataannya si empee.
Karena itu Supu yang menghampirkan, membantu tuan rumah mengikat Tat
Hian, kedua tangan dan kedua kakinya, kedua tangannya itu tetap
ditelikung.
Setelah itu, di antara sinar api, Kee
Loodjin mengawasi sapu tangan yang si penyamun menyebutnya peta
Istana Rahasia Kobu. Terang ia nampak heran.
"Bolehkah kau menyerahkan sapu tangan ini
padaku?" kemudian ia tanya Supu.
Supu memperlihatkan roman bersangsi dan
bersusah hati. Empee ini sudah menolongi ia dan Aman, sepantasnya ia
mesti membalas budi, tidak peduli dengan mustika. Hanya... hanya
inilah sapu tangan tanda mata dari si nona Lie. Mana dapat ia
menyerahkan itu kepada lain orang?
Empee Kee mengawasi, ia dapat menduga hati
orang.
"Begini saja," katanya kemudian. "Kau kasih
aku pinjam lihat untuk satu hari, besok aku akan membayar pulang
padamu."
Mendengar ini, girang Supu.
"Asal empee sudi membayar pulang, kau boleh
pinjam itu untuk sepuluh hari atau setengah bulan."
Aman tidak mengerti, ia heran sekali.
"Empee," ia tanya, "barusan penyamun ini
menyebut bahwa sapu tangan ini ialah peta, entah peta apa
Sebenarnya, apakah artinya ini?"
Kee Loodjin melirik kepada Boen Sioe.
"Sebenarnya aku pun belum mengerti jelas,"
sahutnya. "Aku masih hendak memikirkannya dahulu."
"Bangsat tua!" mendadak Tan Tat Hian mencaci
tuan rumah. "Kau telah menangkap aku! Mau apa sekarang? Kau hendak
membunuh aku atau menghukum picis? Lakukanlah! Kalau aku mengerutkan
saja alisku, aku si orang she Tan bukannya satu hoohan!"
Kee Loodjin mengawasi, ia menyahuti dengan
tawar: "Kita tidak berselisih, kita tidak bermusuhan,
perlu apa aku membunuh kau? Kau dan kawan-kawanmu telah mengganas di
gurun pasir ini, kamu main rampas, main membakar, main membunuh
manusia, sangat banyak kejahatanmu, untuk itu bakal ada orang yang
nanti membuat perhitungan denganmu. Kau tunggulah sampai besok
terang tanah, Supu nanti menggusur kau kepada ketuanya, di sana
orang nanti menghukummu!" Supu berjingkrak. "Empee!" katanya,
separuh berseru, "apakah manusia jahat ini dari rombongannya
penyamun itu?"
"Kau tanyalah dia sendiri!" menjawab si
empee singkat.
Supu mengangkat goloknya, ia menghampirkan
Tat Hian.
"Kawanan bangsat yang membunuh ibu dan
kakakku, jadi itulah rombonganmu, jahanam?" dia tanya.
"Memang kawanan penyamun di gurun pasir itu
ialah rombongan tuan besarmu ini!" menyahut Tat Hian dengan berani,
mulutnya dipentang lebar, untuk sekalian mencaci. "Jikalau kau
berani mengganggu selembar saja rambutku maka besok nusa semua
saudaraku bakal meluruk kemari untuk menuntut balas! Nanti semua
kamu dibasmi berikut segala ayam dan anjingmu!"
Supu gusar sekali, ia ingat sakit hati ibu
dan kakaknya. Maka ia mengayun goloknya.
Tan Tat Hian tertawa dingin, ia kata pula
mengejek: "Orang lain yang menangkap aku, kaulah yang enak saja
hendak membacoknya! Sudah aku bilang memang orang Kazakh bangsa
bernyali kecil dan sangat tidak tahu malu!"
Supu batal membacok, tapi ia pun tertawa
ewah, ia kata: "Baiklah, sekarang aku tidak akan bunuh mampus
padamu, tetapi besok, besok aku akan minta ayahku yang membikin
perhitungan denganmu! Kau tahu, orang tuaku itu telah mencari
kawanan bangsatmu sampai sepuluh tahun tetapi masih belum bertemu
juga! Besok kau nanti lihat sifatnya orang-orang gagah bangsa
Kazakh!"
Supu tahu memang keinginan utama dari
ayahnya ialah membinasakan dengan tangan sendiri musuh isteri dan
puteranya itu, maka adalah paling benar menyerahkan penyamun ini
kepada ayahnya. Karena itu, ia lantas kembali ke tempatnya duduk.
Tan Tat Hian tertawa dingin. Dia kata: "Anak
tolol, lekas kau rampas pulang sapu tanganmu itu! Dengan mengasih
pinjam sapu tangan itu satu hari pada tua bangka ini maka itu
berarti bahwa harta besar dan mustika bangsamu, bangsa Kazakh,
telah..."
"Tutup bacotmu!" menyelak Kee Loodjin. "Kau
ngaco belo! Apakah kau hendak adu kami satu dengan lain? Hm!"
Tan Tat Hian membandel.
"Itulah peta dari Istana Rahasia Kobu,
bukankah?" kata dia pula. "Eh, Supu, apakah kau menyangka tua bangka
ini manusia baik-baik? Haha! Anak tolol! Dia justeru hendak
mengangkangi harta karun kamu!"
Kee Loodjin seperti habis sabarnya, maka
sebelah tangannya terayun, sebilah pisau belatinya menyambar ke arah
uluhati penyamun besar kepala itu!
Tat Hian terikat kaki tangannya, ia melihat
datangnya serangan, ia tidak bisa berbuat lain daripada berkelit
bersama-sama tubuhnya. Mungkin, masih tidak dapat ia bebas
anteronya. Di saat ia terancam bahaya maut itu, tangannya Boen Sioe
terayun, lantas pedang pendeknya meleset, menyambar pisau belati si
empee, maka kedua senjata beradu, terus membentur tembok di mana
keduanya nancap!
Orang kaget menyaksikan kepandaiannya Boen
Sioe itu, seorang nona yang nampaknya bertubuh lemah, yang sekian
lama berdiam saja. Kee Loodjin heran hingga ia melongo, mulutnya
celangap. Bukankah ia telah tinggal bersama nona itu sepuluh tahun
lebih? Adalah si gagu yang tertawa a-a-oe-oe sambil bertepuk tangan.
"Kee Lootiang," berkata Boen Sioe tawar,
"saudara ini telah membilangnya besok pagi orang ini hendak
diserahkan kepada orang tuanya untuk diperiksa dan dihukum, oleh
karena itu sekarang ini tak usahlah kau membinasakan dia. Hanya,
mengenai istana Rahasia Kobu itu, aku ingin mendengarnya! Bagaimana
itu sebenarnya? Umpama dia hanya ngaco belo, kita boleh
membiarkannya, kita mengganda tertawa saja! Buat apa kita
bersungguh-sungguh terhadapnya?"
"Kakak ini benar," berkata Aman. "Supu,
tidakkah ini aneh? Kenapa sapu tangan sahabatmu itu justeru suatu
peta?"
Kee Loodjin kenal baik tabiatnya Boen Sioe,
biarnya dia lemah lembut, kemauannya keras, sukar dicegah, maka itu,
ia suka membiarkan Tan Tat Hian bercerita.
Penyamun itu kata dengan nyaring: "Tuan
besarmu telah terjatuh ke dalam tangan kamu, tuan besarmu tidak
takut apa juga! Biarlah aku menuturkan tentang peta ini! Lukisan di
dalam sapu tangan ini adalah lukisan atau peta dari Istana Rahasia
Kobu itu. Coba kamu mengawasinya dengan saksama, kamu meneliti
sutera dan benang yang dipakai menyulam dan menjahitnya, yang
merupakan gunung, air dan gurun. Tidakkah itu ada sutera dan benang
wol kuning, yang sama warnanya hingga sangat sukar untuk
dibedakannya? Coba itu sutera dan benang wol terkena darah, lantas
menjadi nyata perbedaannya. Lihatlah sekarang? Bukankah benang wol
itu lebih banyak menyedot darah daripada benang sutera?"
Boen Sioe mengangkat sapu tangan itu, untuk
meneliti. Benarlah keterangan Tat Hian itu. Benang yang menyedot
darah menjadi merah, yang tidak, tetap kuning, karena mana, gambar
nampak menjadi jelas sekali. Baru sekarang ia mengerti, sapu tangan
itu menggenggam rahasia, dan itulah peta Istana Rahasia Kobu.
Tan Tat Hian melanjuti kata-katanya:
"Rahasianya Istana Kohii itu dibawa oleh seorang edan. Inilah
kejadian pada belasan tahun yang lampau. Di kota Lokyang ada hidup
satu jago tua she The bernama Kioe In. Pada suatu hari dia
mengadakan pesta ulang tahun kedelapan puluh. Banyak orang gagah
yang datang untuk memberi selamat padanya. Selagi pesta berjalan,
muncullah si edan itu, dia tertawa lebar, tangannya menggenggam
pelbagai macam mutiara, kumala dan lainnya batu permata. Dia lantas
meletakinya semua itu di atas meja sambil berkata: 'Soehoe, aku
membawa hadiah untukmu!" Memang benar, ialah muridnya The Kioe In.
Semua tetamu menjadi berkunang-kunang matanya menyaksikan harta
besar itu, yang semuanya indah. Aneh adalah si edan itu, habis
tertawa, dia menangis, lalu dia tertawa pula, menangis lagi. Ketika
dia ditanya, dari mana dia memperolehnya barang-barang permata itu,
dia menjawab: "Istana Rahasia Kobu! Istana Rahasia Kobu!
Istana Rahasia Kobu!" Ketika itu The Kioe In tidak mau banyak
tanya-tanya lagi, ia menyuruh membawa muridnya itu
masuk untuk beristirahat."
Inilah cerita yang menarik hati, orang
banyak ketarik untuk mendengarinya.
Tat Hian melanjuti pula: "Di antara hadirin
ada banyak orang yang liehay, di antara mereka banyak juga yang
matanya menjadi merah sebab melihat permata-permata yang berharga
besar itu, mereka itu menanya si gila di mana letaknya Istana Kobu
itu. Si gila menjawab tidak keruan, omongannya putar balik.
Pertanyaan The Kioe In sendiri dijawab sama tidak keruan
junterungannya. Tiga hari telah lewat atau pada tengah malamnya tuan
rumah kedapatan terbunuh secara gelap. Berbareng dengan itu, si edan
pun lenyap. Di dadanya The Kioe In menancap senjata yang menyebabkan
kebinasaannya itu, ialah sebatang pusut yang menjadi senjatanya si
edan, sebelah sepatu siapa pun ketinggalan di depan pembaringan,
sepatu itu berlepotan darah. Di lantai ada tapak-tapak kaki, yang
cocok waktu diakuri sama sepatunya si edan. Maka orang menduga si
edan kalap dan membunuh gurunya sendiri dan terus menghilang. Karena
itu orang melainkan bisa menyesali nasibnya jago tua yang malang
itu. Hanya, apa yang heran, kenapa The Kioe In yang demikian liehay
kalah oleh muridnya dan kenapa di kamarnya tak ada bekas-bekasnya
pertempuran atau pergulatan? Keluarga The, dan juga beberapa
sahabatnya, lantas pergi mencari si edan itu, tetapi dia tidak
kedapatan, dia tidak ada tanda-tanda atau bekas-bekasnya, hingga
orang mau menduga, kalau dia tidak terjeblos di jurang mungkin dia
mati membuang diri ke sungai. Di lain pihak semenjak itu, halnya
Istana Rahasia Kobu itu lantas menjadi buah pembicaraan dan lantas
juga menjadi semacam gelombang di antara kaum Rimba Persilatan. Dua
tahun setelah itu, lalu tersiar kabar angin bahwa ada orang yang
menemui peta istana rahasia itu di tengah jalan. Peta itu dihubungi
sama harta besar itu, yang orang percaya masih tersimpan banyak di
dalam istana rahasia. Karena ini, peta itu menjadi perebutan di
antara jago-jago, hingga ada jago-jago yang membuang jiwanya secara
sia-sia. Kemudian lagi, ialah belasan tahun yang lalu, peta itu
terjatuh di tangannya Pekma Lie Sam dan isterinya Kimgin Siauwkiam
Sam Niotjoe. Sedapatnya peta itu, Lie Sam dan isterinya itu sudah
lantas berangkat ke Hweekiang. Hanyalah, entah kenapa, kemudian
kedapatan suami isteri itu telah mati di wilayah asing itu..."
VI
Mendengar sampai di situ, Boen Sioe kata
dengan dingin: "Menurut apa yang aku dengar, Lie Sam suami isteri
telah terbinasa di tangannya rombongan orang-orang Tjhin Wie
Piauwkiok. Itulah artinya perbuatan kau sendiri, Tan Toapiauwtauw!"
Tan Tat Hian bercekat hati, tubuhnya
menggigil. Ia pun merasa tertusuk dengan sebutan toapiauwtauw itu,
artinya, piauwsoe yang terbesar. Tapi ia berani, ia menjawab dengan
terus terang.
"Tidak salah!" katanya. "Suami isteri Lie
Sam itu dibinasakan oleh aku dan saudara-saudaraku itu. Kami telah
menggeledah tubuh suami isteri itu, peta tersebut tidak kedapatan
pada mereka Maka itu mestinya peta ada di tangan anak perempuan
mereka, yang lolos dari tangan kami. Maka kami lantas mencari anak
itu, sampai sekarang ini sudah belasan tahun, tanpa ada hasilnya.
Selama itu kami telah menjelajah bagian selatan dan utara pegunungan
Thiansan. Sungguh kebetulan, hari ini aku menemuinya di sini!
Bukankah itu berarti Thian telah menakdirkan kita berenam supaya
menjadi beruntung? Kamu hendak membunuh aku, tidak apa! Tapi,
kalau kamu memikir sebaliknya; umpama dari
musuh kita menjadi sahabat-sahabat, bukankah itu ada baiknya? Nanti
aku mengajak kamu pergi mencari Istana Rahasia Kobu itu, jikalau
kita berhasil, kita membagi rata. Tidakkah itu berarti
kita sama-sama memperoleh harta besar? Jikalau peta ini terjatuh ke
dalam tangan si tua bangka bongkok sebagai unta, pastilah dia
menelannya sendiri harta besar itu!"
Sengaja Tat Hian mengucapkan kata-kata
terakhir itu, untuk mengadu Boen Sioe sekalian terhadap Kee Loodjin,
supaya mereka berselisih dan saling bunuh. Ia mengharap mereka itu
timbul keserakahannya.
Kee Loodjin tertawa dingin. "Dengan
telah mempunyai petanya, mustahilkah kami tidak dapat pergi
mencarinya sendiri?" kata dia.
Tan Tat Hian berkata pula. Kalau tadi ia
menggunai bahasa Kazakh, sekarang ia mengubahnya dengan bahasa
Tionghoa. Ia kata: "Umpama kata kamu dapat mencari istana rahasia
itu dan mengambil memperolehnya harta besarnya, tetapi ingat, harta
itu ialah hartanya bangsa Kazakh, maka maukah bangsa ini
menyerahkannya kepada kamu? Kamu bangsa Han?"
"Menurut kau, bagaimana?" Kee Loodjin tanya
Ia ingin ketahui pikiran orang.
"Marilah kita bekerja sama," mengajak Tat
Hian. "Paling dulu kita binasakan semua orang Kazakh di dalam rumah
ini. Perbuatan ini cuma kau dan aku yang mengetahuinya, dari itu
tidak ada kekuatiran untuk nanti bocor. Lantas kita pergi mencari
harta karun itu. Kalau kita berhasil, kau boleh ambil tujuh bagian,
untukku cukup tiga bagian saja..."
"Kenapa kau suka mengalah demikian banyak?"
si empee tanya.
"Aku kalah gagah dari kau, kau berhak
mendapat lebih banyak. Umpama kata kau suka menyerahkan nona Kazakh
yang cantik ini padaku, aku suka mengalah lebih jauh, kau boleh
ambil delapan bagian."
Pembicaraan itu tidak dimengerti oleh Supu
dan Aman, mereka berdiam saja. Tidak demikian dengan Boen Sioe, yang
menjadi marah sekali. Di dalam hatinya, ia kata: "Bangsat, kau
sangat jahat! Bukankah kematianmu sudah di hadapan mata? Kenapa kau
masih memikir busuk sekali?"
Kee Loodjin berkata: "Ini satu nona Kazakh
liehay sekali, belum tentu kita dapat melawan dia..."
"Kau dapat membokong dia. Dia tentunya tidak
bersiaga."
Kee Loodjin berdiam, agaknya ia berpikir.
"Ah, begini saja," katanya sesaat kemudian.
"Diam-diam aku mengutungi tambang belenggumu, aku berikan kau golok,
lantas kau menghampirkan dia, untuk kau membacok punggungnya..."
"Nona ini sangat cantik, sayang kalau dia
terbinasa," kata Tat Hian. "Karena tidak ada lain jalan, baiklah..."
Boen Sioe dapat menerka maksudnya Kee
Loodjin. Terang si orang tua ingin ialah yang membinasakan penjahat
ini.
Selagi Tat Hian dan Kee Loodjin berdamai
sampai di situ, dari kejauhan terdengar suara orang memanggil:
"Supu! Supu!" disusul sama "Aman! Aman!"
Hampir berbareng, Supu dan Aman berlompat
bangun.
"Ayah, aku di sini!" mereka pun menyahuti.
Kemudian keduanya berlari-lari ke luar, Supu
di depan, Aman di belakang. Mereka tidak menghiraukan lagi angin
besar dan salju berhamburan, hingga mereka sukar bernapas.
Hari itu Cherku minum arak di rumah Suruke,
ketika turun hujan salju dan angin keras dan sampai sore anak-anak
mereka belum muncul, keduanya menjadi berkuatir, mereka lantas pergi
mencari, di sepanjang jalan mereka memanggil-manggil. Girang mereka
akan menemui anak mereka tidak kurang suatu apa. Supu dan Aman
lantas mengajak mereka ke rumah Kee Loodjin.
Tiba di depan pintu, mendadak Suruke
berkata: "Bukankah ini i umahnya si orang Han yang harus mampus?
Tidak, aku tidak sudi masuk ke rumahnya!"
"Tidak mau masuk?" kata Cherku. "Habis kita
berlindung di mana? Kupingku, hidungku, telah pada beku..."
Suruke ada membekal buli-buli berisi arak,
di sepanjang jalan ia menenggak araknya untuk melawan hawa dingin,
karena itu, ia sudah terpengaruhi susu macan. Maka ia kata: "Aku
lebih suka batok kepalaku beku semua, tidak nanti aku masuk ke rumah
orang Han ini!"
"Lihat anakku yang menjadi mustikaku ini,"
berkata Cherku. "Kalau dia kenapa-kenapa karena beku, akan aku
membuat perhitungan denganmu! Aman, mari kita masuk!"
Suruke tidak menyahuti, sebaliknya, ia
melirik puteranya. Mendadak ia berseru: "Hm, kau telah pergi ke
rumahnya orang Han, anak mau mampus!" Terus ia mengayun tangannya
hingga tubuh Supu terhuyung. Anak ini tidak menangkis atau berkelit.
Ia membentur Aman, hingga si nona roboh ke salju.
Cherku menjadi gusar. "He, kau berani
memukul anakku?" ia menegur. "Dia belum menjadi nona mantumu, sudah
berani kau memukulnya! Tidakkah di belakang hari dia bakal disiksa
mampus olehmu?"
"Kalau aku suka memukul, aku memukul, mana
dapat kau melarang aku?" kata Suruke sembarangan. Tidak dapat ia
mengatasi lagi pengaruh air kata-katanya.
Cherku pun menjadi gusar. "Kalau kau
laki-laki, mari kita bertempur pula!" dia menantang.
"Baik, mari, mari!" Suruke menyambut, dan
lantas kepalannya melayang, bahkan tepat mengenai dadanya lawan.
Cherku pun sudah mulai dipengaruhi arak,
maka beda dari biasanya, ia melayani. Ia tidak roboh karena tinju
itu, lantas ia membalas, dengan mengayunkan sebelah kakinya, guna
menggaet. Tanpa ampun, Suruke roboh. Tapi dia jatuh sambil tangannya
menyambar ke paha, maka keduanya jatuh berguling ke salju di mana
mereka berkelahi terus sambil bergulingan.
Supu dan Aman menjadi bingung, sia-sia
belaka mereka mencoba memisahkan. Dengan suara saja, mereka tidak
berhasil.
Selagi bergulat itu, Suruke menjumput salju,
ia menyumbat mulut Cherku, hingga lawan ini gelagapan. Ia tertawa
lebar. Justeru itu, Cherku memuntahkan salju di mulutnya itu, terus
dia meninju, telak mengenai hidung. Suruke tidak kesakitan, hanya
hidungnya mengeluarkan darah. Masih ia tertawa. Sekarang ia
menjambak rambutnya Cherku.
Merekalah orang-orang kosen bangsa Kazakh
tetapi di dalam sinting itu, lagak mereka mirip dua orang bocah.
Kee Loodjin bersama Boen Sioe lari ke luar,
mereka mendengar suara berisik dari dua orang yang bergulat itu. Si
gagu turut keluar juga.
Sekarang ini, Supu dan Aman tidak bingung
lagi, sebaliknya, mereka tertawa. Mereka ketahui ayah mereka lagi
sinting.
Dalam pergulatan lebih jauh, Suruke jatuh di
bawah, dia kena tertindih, sia-sia dia berontak, akhirnya dia diam
saja.
Supu kaget.
"Lepaskan ayahku!" ia berteriak seraya
menghampirkan, untuk menarik Cherku. Ia kuatir ayahnya terluka. Di
luar dugaannya, setelah mendekati, ia mendapatkan ayahnya itu lagi
tidur menggeros...
Akhirnya semua orang tertawa. Suruke dikasih
bangun, diajak masuk ke dalam. Cherku dipegangi Aman, ia turut
masuk. Suruke lantas ngoceh: "Haha! Kau tidak dapat melawan aku!
Akulah jago Kazakh nomor satu, Supu yang nomor dua, nanti anak Supu
yang nomor tiga! Kau, Cherku, kau yang nomor empat..." Lantas ia
bernyanyi.
Cherku pun sinting tetapi ia turut tertawa.
Begitu mereka tiba di dalam, Boen Sioe
berseru kaget. Di situ tidak ada Tan Tat Hian, yang ada hanya
beberapa helai tambang belengguannya, yang ujungnya pada hangus,
tandanya si penyamun membakar tambang itu untuk membebaskan diri dan
lalu kabur dari pintu belakang. Di atas meja, selainnya golok, sapu
tangan yang merupakan peta pun lenyap.
Dalam kagetnya, Kee Loodjin lari ke belakang
untuk mengejar.
Pintu belakang madap ke utara, begitu pintu
dipentang, angin dan salju meniup keras, sampai empee Kee itu
bersangsi untuk nerobos terus. Tengah ia bersangsi itu Boen Sioe
menghampirkan padanya, untuk berkata dengan perlahan: "Angin dan
salju begini besar, dia tidak dapat kabur jauh, kalau dia paksa
menyingkir juga, mesti dia mati di tengah jalan. Baiklah kita
menanti sampai langit sudah terang dan badai reda, baru kita pergi
mencari mayatnya."
Kee Loodjin setuju, ia mengangguk. Ia
menutup pula pintunya, lalu berdua mereka kembali ke ruang depan. Di
sana tak nampak si gagu yang agak tolol.
Boen Sioe merasa kasihan pada si gagu itu,
ia membuka pintu depan. Ia memanggil berulang-ulang, tanpa ada yang
menyahuti.
"Dia tuli, dia tidak mendengar!" kata empee
Kee.
Boen Sioe masih melihat kelilingan, baru ia
kembali ke dalam.
Sampai fajar, baru badai mulai reda.
Suruke sadar dengan tidak ingat lelakonnya
di waktu mabuk, melihat Kee Loodjin, ia menjadi gusar, tapi Supu dan
Aman segera membujuki seraya menuturkan bahwa orang tua bangsa Han
inilah yang menolongi mereka dari penyamun.
"Oh, kaulah yang menolongi anakku!" kata
Suruke. "Kau orang baik, aku berterima kasih padamu!" Ia lantas
memberi hormat. Kemudian ia menambahkan: "Mari kita susul penyamun
itu, agar dia tidak lolos!"
Cherku pun turut menghaturkan terima kasih.
Sebenarnya Kee Loodjin tidak setuju pergi
beramai-ramai tetapi sebab tidak dapat alasan untuk menolak, ia
terpaksa pergi bersama. Ia membekal rangsum kering.
Tan Tat Hian menyingkir selagi hujan salju,
tapak kakinya telah lenyap pula, tetapi Suruke dan Cherku ada
penduduk gurun asli, mereka bisa lihat tanda-tanda yang luar biasa,
tanda itu membuatnya menduga si orang jahat.
Tujuan mereka ke arah barat. Itu artinya
tujuan gurun pasir besar. Empat orang Kazakh itu lantas ingat
dongeng hal memedi di gurun, air muka mereka lantas bersinar lain.
Suruke besar nyalinya, ia kata nyaring: "Biarnya benar-benar kita
bertemu memedi, mesti kita bekuk manusia jahat itu! Supu, mau tidak
kau membalaskan sakit hati ibu dan kakakmu?"
"Tentu, ayah!" jawab sang anak. "Aku akan
turut ayah! Aman, kau baiklah pulang."
Si nona pun berani.
"Kau dapat pergi, aku dapat!" jawabnya. Di
dalam hatinya ia hendak membilang: "Kalau kau mati, mana bisa aku
hidup sendiri saja?"
"Aman, lebih baik kau turut ayahmu pulang,"
Suruke membujuk. "Cherku bernyali kecil, dia paling takut setan!"
Mata Cherku mendelik, dia lantas melombai
jalan di depan.
Berjalan di gurun, yang ditakuti ialah tidak
ada air, maka air itulah bekal utama. Kali ini habis hujan salju,
pasir pun tidak beterbangan, perjalanan rombongan ini tak ada
rintangannya.
Makin ke barat, tanda-tandanya Tan Tat Hian
makin nyata. Bahkan kemudian, terlihat tegaslah tapak kakinya, yang
tidak ketutupan salju lagi. Itulah bukti bahwa dia telah tiba di
situ sesudah salju berhenti.
"Sungguh liehay jahanam itu!" kata Kee
Loodjin seperti mendumal. "Tadi malam badai dahsyat tetapi dia tidak
mampus dan dapat berjalan terus hingga kemari!"
"Eh, masih ada tapak kaki seorang lain!"
Suruke berseru mendadak. Dia menunjuk tapak kaki Tan Tat Hian.
"Orang ini jalan tepat di tapak kakinya si manusia jahat! Tanpa
perhatian, tak akan terlihat tapak kaki yang menyusun ini."
Mendengar begitu, semua orang membungkuk,
untuk meneliti. Benar, tapak kaki itu berbekas lebih mendalam
daripada biasanya.
"Mustahilkah ini tapak kaki si gagu?" kata
Boen Sioe. Tadi malam ia telah melihat sinar mata aneh dari si gagu
dan itu mendatangkan kecurigaannya. Hanyalah tapak kaki yang kedua
ini rada enteng, bukti bahwa orang ringan tubuhnya. Mungkinkah benar
dia si gagu dan dia sebenarnya liehay?
Kee Loodjin tidak membilang apa-apa, dengan
mengikuti tapak kaki itu, ia berjalan terus. Ia ingin cepat
menyandak. Tat Hian seorang ia tidak begitu kuatirkan, ia takut
penyamun itu memperoleh kawan yang lebih liehay.
Jalan di salju ini sulit juga. Makin ke
depan, salju makin tebal, sampai mendam ke lutut. Perlahan jalan
mereka, hingga kejadian mereka mesti singgah, bermalam di tengah
jalan. Mereka menggali salju, hingga nampak pasir, untuk rebah di
dalam liang, tubuh mereka digulung dengan permadani. Mereka tidur
bergeletakan di atas pasir.
Ketika besoknya pagi Boen Sioe mendusin, ia
mendengar Suruke dan Cherku membikin banyak berisik. Sebabnya ialah
Kee Loodjin telah lenyap, rupanya dia berangkat malam-malam atau
mendekati fajar. Ia heran sekali sedang ia tahu, selama perkenalan
kira-kira sepuluh tahun, empee itu agaknya tawar sama harta. Kenapa,
setelah mendengar halnya istana rahasia, dia menjadi demikian
ketarik hatinya, hingga dia seperti berubah menjadi seorang lain?
Dari enam orang, sekarang jumlah mereka
menjadi tinggal lima. Mereka melanjuti perjalanan mereka, untuk
menyusul si penjahat, untuk menyusul juga Kee Loodjin, si kawan yang
menjadi aneh kelakuannya itu.
Boen Sioe kemudian mengenali, jalanan yang
dilalui ialah jalanan yang ia kenal baik. Itulah jalanan untuk pergi
ke rumah Hoa Hoei, gurunya. Ia jadi berpikir: "Baiklah aku ajak
soehoe pergi bersama. Dia luas pengetahuannya, dia dapat membantu
banyak..."
Boen Sioe mau mencari Istana Rahasia Kobu
bukan untuk hartanya. Ia hanya ingin mewujudkan cita-cita ayah dan
ibunya, untuk dapat tiba di sana. Segera mereka mulai memasuki
daerah pegunungan. Di sini Boen Sioe sengaja berjalan perlahan
hingga ia ketinggalan jauh di belakang. Lekas-lekas ia pergi ke
gubuk gurunya. Untuk herannya, sang guru tidak kedapatan. Ia menduga
guru itu lagi pergi berburu atau mencari bahan obat-obatan.
Perbuatan itu biasa dilakukan setiap habis hujan salju. Karena ia
tidak dapat menanti, ia lantas mencoret-coret beberapa huruf di atas
tanah, untuk gurunya itu, lalu lekas-lekas ia menyusul rombongan
Suruke.
Mereka memasuki wilayah pegunungan, yang
makin lama makin sukar dilaluinya, banyak pohon duri dan lainnya.
Syukur, tapak kaki masih terlihat di antara sisa-sisa salju. Maka
mereka maju terus.
Herannya ialah, istana rahasia belum tampak
tanda-tandanya...
Aman memangnya berkuatir ia menjadi takut.
Ia ingat cerita halnya di gurun pasir ada mernedinya. Tapak-tapak
kaki yang mereka ikuti itu, di matanya, ada bagaikan jalanan untuk
ke neraka...
Juga Suruke dan Cherku bersangsi, mereka
berkuatir, hanya di mulut, mereka masih omong besar, mereka tidak
mau saling kalah, bahkan mereka bertengkar.
"Cherku, kau lihat, tubuhmu bergemetar,"
kata Suruke. "Kalau kau jatuh sakit karena ketakutan, inilah
bukannya main-main.
[bersambung]