|
INDONESIA RAYA Kwee Thiam Tjing bertjerita (I) Saja tida tahoe apa jang terkandoeng dalem pikiran Giam Loo Ong (malaikat maoet), ketika kepadanja disodorkan satoe kotak ketjil bekas tempat rokok tjeroetoe “Havana”. Di dalamnja terdapat satoe djari djempol kaki kiri jang disertai permohonan, soedilah djari djempol itoe disimpan dahoeloe karena lain2 bagian toeboeh dari manoesia jang bersangkoetan masih hidoep.
Dikirimnja lebi dahoeloe djari djempol itoe adalah sebage pengoeboeran majat dengen tjara di tjitjil. Dengen kedoea matanja jang boender dan bersinar, Giam Loo Ong mengambil seboeah boekoe tebal disebelah kirinja dan moelai memboeka lembaran2nja seraja meng-oesap2 djenggotnja jang pandjang sebatas poeser. Darah wartawan dalem toeboeh saja dirasaken mengalir lebih deras; ingin sekali saja tjoeri liat apa jang lagi dibatja oleh Giam Loo Ong. Moengkin ada apa2 jang berharga oentoek disoegoehken kepada pembatja. Begitoelah dengen sekali lontjat sampelah saja berdiri dipahanja si Malaikat maoet jang maha heibat. Saja merasakan ada beberapa pembatja, selagi membatja apa jang saja toetoerken ini, memandang dengen sorot mata tida pertjaja. Boeat menambah pengetahoean pembatja2 itoe saja ingin terangkan, berada dideket Giam Loo Ong berat badan saja sedikit lebi dari berat badan se-ekor njamoek. Bisa dimengerti, Giam Loo Ong tida rasaken apa2 waktoe saja berdiri diatas pahanja. Dan saja ikoet batja riwajat manoesia jang djempol kakinja dikirim lebi dahoeloe karena haroes dipotong oleh dokter, dan boekan tjoema djari djempol sadja, tetapi lain2 bagian toeboehnja mengikoetin satoe demi satoe sampe achirnja penjakitnja mendjoeroes ke djantoeng dan... tamatlah djoega riwajat hidoep dari manoesia itoe jang pengoeboerannja dilakoeken dengen tjara mentjitjil. Tetapi baiklah pembatja ikoeti sadja dari itoe boeke tebal. Di kalalangan kenalan2nja ia biasa diseboet `ngko A Liong kendati ia sendiri lebi soeka didjoeloeki sebage A Liong-ko. Barangkali boeat menoedjoeken ajahnja totok dan ia sendiri lahir di Indonesia. Ketika riwajat hidoepnja moelai saja toeroenken disini dari boekoe tjatetan malaikat maoet, A Liong-ko beroesia koerang lebi 40 taon. Orangnja berperawakan tegap dengen tampang moeka jang selaloe keliatan gembira dan peramah tamah. Tetapi itoe semoea tjoema beroepa kedok meloeloe boeat toetoepin sinar matanja jang tida bisa diselimoetin oleh segala senjoem dan ramah tamah palsoe. Sinar mata itoe oendjoeken hati jang kedjem, tamaha zonder mengenal rasa kasihan barang sedikitpoen. Kira2 lima taon berselang sebelon menandjak sampe masoek dalam keadaan serba tjoekoep, serba mewah dan serba kaja, A Liong-ko moelai poenja peroesahaan dengen modal koerang lebi 10.000 goelden, boeat sebagian dibantoe oleh ia poenja saoedara2 lelaki jang berniaga dalam peroesahaan biasa, A Liong-ko memang berasal boekan dari keloearga miskin. Dengen ketjerdasannja berpikir, ketjepatannja ia poetarkan oewangnja menoeroet tjara2 seperti jang dioendjoeken oleh ia poenja sioepwa jang bisa garisken tepat tjara bagaimana ia koedoe poeterken oewangnja lebih2 dari “computer” zaman sekarang, dalem tempo tjoema satoe taon sadja A Liong-ko bisa bikin ia poenja modal pokok djadi berlipat ganda doea tiga kali. Memang sjsteem poterken oewang ada poeloehan kali lebi heibat dari sjsteem TTT (tien twaalf teroeg), seperti jang dipakai oleh segala Tionghoa dan Arab “mindring” jang tjari korban2nja di antara pedagang2 ketjil di pasar2. Tien twaalf teroeg, sepoeloeh, balik doea belas. Kalaoe itoe pedagang2 ketjil hoetang satoe goelden, tiap hari si Tionghoa dan Arab “mindring” akan dateng menagih ia poenja 4 sen, 30 hari loenas. Hingga ka-oentoengan dari si Tionghoa dan Arab “mindring” (asal dari perkataan Belanda mindering) beroepa 20 sen. Atawa tiap goelden bisa ber-anak doea pitjis. Tjoema sadja tentoe itoe TTT sjsteem tida bisa besar karena paling banjak oewang jang disediaken boeat tiap pemindjam hanja sepoeloeh goelden. Dengen hadepin risiko jang lebih besar. Karena segala pindjeman tjoema beroepa satoe bidji strip potlod dalem boekoe notisnja oentoek si pengelepas oewang panas. Kalaoe oewang pindjem itoe dianggap ilang, si toekang oewang boleh isep djari sadja. Tetapi djarang sekali ada pemindjam jang maoe sikoet oewang pindjemannja, karena mereka aken maloe pada bajangan-nja sendiri, aken maloe pada kawan dan kenalannja djika ia sampe di tjap sebagai toekang sikoet. Dan sikap hidoep ini jang kasih tanggoengan koeat pada itoe segala toekang mindring jang oewangnja pasti aken kombali berikoet rentenja. A Liong-ko poenja tjara djalankan oewang ada lain sekali, boeat tiap pindjeman paling sedikit 100 goelden, si pemindjam haroes teken akseptasi (soerat hoetang) dengen di koeatken oleh doea orang jang masing2 toeroet pikoel tanggoengan penoeh bila pindjeman terseboet sampe tidak di-bajar hingga loenas. Teken hoetang 100 goelden, tetapi jang dikasih dalem tangan tjoema toedjoeh poeloeh goelden, karena rentenja 30 goelden soedah di sirik lebi dahoeloe oleh si toekang oewang. Dan tiap boelan haroes bajar poela 10 goelden, sepoeloeh boelan habis dan soerat aksep bole diterima kombali. Dari sini bisa diliat alangkah berat-nja rante besi jang di kaloengken di leher kita bila satoe kali kepaksa pindjem pada A Liong-ko. Dan masih ada lain. Dengen potong lebi dahoeloe rentenja, A Liong-ko seperti sengadja djebelosken lebi dalam korban-nja ke dalam perangkap-nja, sebab kalaoe oempama kita perloe seriboe, kepaksa kita haroes teken akseptasi 1500, terima 1050 dan sampe sepoeloeh kali tiap boelan bajar balik 150 goelden, makin besar djoemlah pindjeman jang kita perloeken, makin besar oewang panas jang dihiroep oleh si lintah darat. Tentoe sadja kalaoe mengenaken djoemlah pindjeman sampe riboean atawa poeloehan riboe, tanggoengan perseorangan sadja tida tjoekoep lagi dalam tjara A Liong-ko poeterken oewangnja. Disebelah tanggoengan orang, si pemindjem haroes bisa beriken sebagai tanggoengan barang miliknja, seperti barang permata, roemah, tanah dan sebagainja sebagai borg. Ini mengenakan oetang riboe-an sampe meliwati satoe ton. Dan semoea pidjeman toendoek kepada satoe matjam peratoeran; dipotong 30 prosen lebi dahoeloe. Pembatja tentoe tida soekar bajangkan bagaimana heibatnja A Liong-ko kasih bekerdja ia poenja pompa pengisep darah segar boeat soeboerken diri sendiri. Dengen bangga ia bisa toetoerken pada orang2 jang ia kenal jang di waktoe bintangnja lagi memantjar terang seterang-nja, oewang jang ia poetarken soedah lebi dari anam ton, anam ratoes riboe goelden; asalnja belon sepoeloeh riboe tjoema dalem beberapa taon sadja “berdagang”. Seperti di permoelaan soedah dibilang, A Liong-ko adalah orang jang kedjem, zonder mengenal rasa kasian pada siapapoen, ketjoeali pada diri sendiri dan anak istrinja. Berapa banjak barang permata, roemah, tanah jang ia soedah “keremoes” sampe hantjoer dalem moeloetnja dan kamoedian telan itoe semoea dalem peroet-nja jang gendoet dan karena itoe mendjadi tambah gendoet lagi. Karena dalem soerat hoetang dengen djelas di terangken, sebegitoe lama pindjeman itoe belon loenas, segala barang tanggoengan ada mendjadi hak milik A Liong-ko. Kalaoe sampe pindjeman ditambah dengen segala ongkos perkara. Dan dibajar dari pendapetan pendjoealan barang2 tanggoengan itoe jang harganja poen ditekan serendahnja bisa kalaoe ia sendiri “sir” pada barang tanggoengan itoe. Baroe sisa pendapetan pendjoealan dengen paksa itoe diterimaken pada korbannja. Berapa roemah tangga jang soedah dibikin hantjoer oleh A Liong-ko, tjoema Toehan sadja jang tahoe. Dalam rasa dan hati A Liong-ko soedah tida terdapat kasian lagi. Kalaoe maoe peroesahaan kita madjoe, pakelah hati besi begitoelah oedjarnja.
(II) Kedjadian berikoet bisalah mengambarkan bagaimana kedjam A Liong-ko berlakoe terhadap orang jang pernah hinakan dan bikin maloe ia didepan orang banjak. Diantara korban2nja terdapat satoe pemoeda jang baek tingkah lakoenja. Ia berdagang sendiri kendati tida besar dan loeas. Pada satoe waktoe boeat oeroesan perdagangan-nja, ia perloe koerang lebi 10 riboe goelden. Karena keoentoengan jang bisa didapat djika ia bisa dapat barang itoe ada tjoekoep menarik, maka seberapa bisa pemoeda itoe tjoba koempoelken djoemlah terseboet. Tetapi sia2 belaka; djoemlah 10 riboe goelden di waktoe itoe meroepaken kapitaal jang loemajan besarnja. Achirnja kepaksa ia haroes pergi ke A Liong-ko jang terima kedatengan dengen senjoeman dan ramah tamah jang soedah terkenal. Apa lagi ia tahoe pemoeda itoe ada seorang jang djoedjoer dan serioes tingkah lakoenja. Dengen madjoeken 2 kawan dan beberapa barang permata dari iboe dan kakaknja perempoean. Pemoeda itoe bisa djoega koempoel djoemlah jang ia perloeken, malah masi lebih 500 goelden. Boeat mana ia dan 2 borg-nja koedoe tanda tangan-in soerat hoetang sebesar 15.000 goelden, di tjitjl 1500 goelden tiap boelan, 10 boelan loenas. Ketika beroesaha, Toehan jang poetoesken! Menoeroet perkiraan, barang jang dibeli sampe hoetang “oewang panas” itoe bisa datangken kaoentoengan jang tjoekoep besar hingga sampe tida segan boeat terdjang segala lintah darat. Tetpi apa maoe, si bakal pembeli soedah berangkat ke lain tempat, sebab toenggoe terlaloe lama pada itoe pemoeda belon bisa adaken barang jang di ingini. Kendati adanja ini kegagalan, pemoeda itoe tetep beroesaha sebisa-bisanja boeat lempar itoe barang boeat mana ia sampe kepaksa gadaiken barang permata iboenja dan saoedaranja. Djoega tjitjilan 1500 goelden tiap 30 hari sekali ada sanget berat. Soedah 3 boelan ia men-tjitjil; pikirannja kaloet dan napsoe amarahnja terhadap A Liong-ko makin hari makin bertoempoek dalam dadanja. Apa maoe, di itoe sore di deket tokonja ada berenti A Liong-ko poenja Packard: dibangkoe belakang ada doedoek A Liong-ko dengen istrinja jang memang setiap sore biasa keliling kota boeat pesiar dengen aoetonja jang di zaman itoe masih banjak jang open-kap, boekan sedan. Meliat bagaimana ia senjoem dengen manggoet2 kekiri dan kekanan, mendadak si pemoeda samperin A Liong-ko poenja aoeto dan dengen toeding2 A Liong-ko itoe pemoeda dengen soeara keras bilang pada orang disekiternja boeat djaoehkan diri dari si lintah darat jang tjoema bisa hiroep darah sesama boeat bikin gendoet peroet sendiri. Perkataan pemoeda itoe disamboet dengen gelak ketawa oleh semoea orang jang memang soedah tahoe siapa adanja A Liong-ko. Dengen cepet Packard meloentjoer pergi. Itoe pemoeda tida saban2 ditagih tjitjilannja seperti biasa. Satoe kali ditolak, toekang tagihnja A Liong-ko tida moentjoel lagi, sampe lain boelan. Ditolak; ia menghilang. Ini memang ada A Liong-ko poenja taktiek. Ia toenggoe sampe datang saatnja boeat lakoeken pembalesan terhadap itoe pemoeda jang tjatji maki ia sebage lintah darat di hadepan oemoem. Saat itoe tiba satoe boelan sebelon pemoeda itoe haroes menikah. A Liong-ko dengen perantara-an sardjana hoekoem-nja, bisa dapat poetoesan gijzel (boewi hoetang) boeat itoe pemoeda jang teroes sadja dibawa ke pendjara bagian orang2 jang ditahan karena poenja pindjeman oewang. Bisa di bajangken bagaimana riboet keadaan keloearga-nja si pemoeda waktoe itoe. Hari perkawinan soedah ditetepken, masa semoea moesti gagal karena bakal kemanten lelaki di gijzel? Ajah dari itoe pemoeda sendiri, satoe kakek jang oesianja soedah lebih dari 70 taon, sampe dateng di kantor A Liong-ko jang tetap menolak. Bajar loenas atawa anaknja teroes di boewi hoetang! Achirnja tida segan2 lagi tekoek kedoea loetoetnja memohon A Liong-ko poenja belas kasian, karena tanggal masoek-nja kemanten soedah deket. Meliat bagaimana si kakaek berloetoet di hadepannja dengen saban2 angkat kedoea tangannja boeat sodja, boekannja A Liong-ko merasa kasian, mala sebaliknja dengen gebrak medja-toelisnja ia berbangkit bangoen serta dengen soeara keras bentak2 si kakek jang ia itoe boekan-nja berada di kelenteng dan A Liong-ko sendiri boekan toapekkong. Di sini ada kantornja lintah darat, treak A Liong-ko dengen bernapsoe. Antero pamilie dan semoea kawan2nja itoe pemoeda marah. Mereka pada koempoelin oewang sampe ackhirnja tjoekoep boeat angkat itoe pemoeda poenja sisah pindjeman sekaligoes dan bawa balik barang2 permata serta hari itoe djoega di bebasken. A Liong-ko sendiri makin lama makin makmoer. Roemah tinggalnja meroepakan satoe gedong besar di kelilingin oleh pekarangan loeas. Aoetonja packard, satoe merek jang meloeloe bisa di boenjiken oleh orang berdoeit banjak. Boeat pakai dan makan soedah lebi dari tjoekoep, teroetama makanan. Tjoema jang ledzat dan mahal sadja jang mendjadi A Liong-ko poenja hidangan tiap hari. Tida heran jang badannja makin lama makin gemoek, teroetama peroet gendoetnja melebihi boentingan sembilan boelan anak kembar tiga. Di roemah A Liong-ko masi soeka pakai pijama-nja seperti dahoeloe di waktoe masih “biasa” sadja. Dan dengen telandjang kaki karena dengen telandjang kaki rasakan badannja lebi njaman. Apa lagi sekarang sasoedah toeboehnja, karena banjaknja makanan istimewa jang di sodorken kedalem moeloetnja, mekar dan mekar teroes oleh setahoe berapa banjak lapisan gadjih jang berkoempoel di bawah koelitnja. A Liong-ko adalah seorang jang teliti; segala pekerdjaan jang ia soeroeh lakoeken haroes menoeroet kemaoeannja. Pada soeatoe sore, selagi liat pembongkaran garasinja jang akan di bikin mendjadi lebih besar lagi, djempol kakinja kesandoeng papan dimana ada menatjap pakoe jang soedah karatan. Loekanja tida berarti, hingga oleh A Liong-ko di anggap remeh sadja. Habis di tjoetji di polesin minjak kajoe-poetih. Tetapi doea hari kamoedian itoe loeka jang tadinja dianggep remeh, ternjata mendjadi, sebab seloeroeh kaki kirinja A Liong-ko keliatan bengkak. Teroetama si djempol di rasaken amat sakit. Dokter diminta dateng dan kenjataan........ A Liong-ko poenja sakit kentjing goela jang tinggi sekali. Dan loeka si djempol kaki kirinja soedah tida bisa ditolong lagi. Sekarang sadja loeka jang bermoela seperti baret bikin djempol-nja bengkak dan berwarna dadoe serta ada djaloeran2 merah toewa jang seperti merambat naek keatas. Ini jang berbahaja sebab kalaoe djaloeran2 itoe soedah naek keatas, seloeroeh kaki haroes dipotong. Sekarang boeat tjegah itoe ratjoen goela merangsang naek, djempol kaki jang haroes di koentoengi. A Liong-ko rasakan kepalanja seperti disambar petir toedjoeh kali. Bermoela ia tetep tida maoe djempol kakinja di koentoengin, tetapi atas desakan istrinja dan anak2nja dan teroetama karena rasa sakit hampir tida tertahan, A Liong-ko manda diangkat ke roemah-sakit. Dan disana dilakoeken pekerdjaan sampe bikin Giam Loo Ong di sodorin djempol kaki kiri dalem kotak bekas tjeroetoe Havana.
(III) Hampir satoe boelan A liong-ko ada di roemah-sakit dengen dimestiken meloeloe makan dan minoem menoeroet pengoedjoken dokter. Ini boeat seberapa bisa koerangin ratjoen goela jang mengamoek dalem toeboehnja. Waktoe poelang lagi A liong-ko benar tjoema poenja satoe djempol kaki; benar badannja banjak koeroes dan keliatan poetjat, tetapi anehnja ia rasakan badannja seperti lebi sehat dan seger. Ketika ia datang dikantornja lagi tida seorang loear poen tahoe jang sepatoe kiri tjoema boengkoes empat djari kaki. Tetapi roepanja rentetan kemalangan jang moelai keroeboetin A liong-ko tida terbatas sampe disini sadja. Biar dokter larang ia makan ini minoem itoe, tetapi sesampenja di roemah A liong-ko seperti satoe djago lari jang tjoba soesoel katinggalannja, makan extra enak dan minoem extra banjak. Kombali gadjihnja disoesoen lapis berlapis. Tida apa, asal ia tida sampe loeka, pikir A liong-ko. Djempol kaki kiri toch soedah dipotong halangan apa boeat ia makan minoem sasoekanja? Seperti biasa, setiap pagi ia masih kekantornja (“Pedjagalan” kata pihak pioetangnja); setiap sore pesiar dengen ia poenja packard sembari keboelken asep tjeroetoe Havana dengen siapa boleh di bilang ia tida pernah berpisah katjoeali djika lagi makan atawa tidoer. Tetapi sial soekar di tjegah, soekar didjaga datengnja. Soeatoe hari A liong-ko siboek preksa siapa pioetangnja jang soedah haroes “didjalankan” sebab menoenggak tjitjilan. Karena siboeknja ia tjaboet tjeroetoenja dan taro itoe sekenanja. Apa maoe apinja Havana soedah moelai membakar kertas2 aksep dari mereka jang ponja pindjeman. Saking kagetnja A liong-ko loempat berdiri dari kerosinja, tanganja hendak samber si Havana, tida tahoe sentoek satoe boneka perhiasan medja-toelis, hingga barang itoe djatoh tepat kena kaki kanannja. Itoe boneka dibikin dari tembaga dan berat djoega, seperti jang bisa diliat dari loekanja A liong-ko. Boneka tembaga itoe meroepaken satoe poenggawa perang di zaman lampaoe, lengkap dengen toembak dan tamengnja. Apa maoe djoesteroe oedjoengnja si toembak itoe temboesin koelit sepatoenja A liong-ko dan karena beratnja sampe bikin oedjoeng toembak itoe hampir moentjoel di bawah kakinja. Poen kaki A liong-ko meroepaken satoe loeka besar, mala, ada toelang ketjil jang patah. Dengen keloearken djeritan ngerih A liong-ko djatohkan dirinja di kerosi. Pegawai-pegawainja pada dateng dan dengen bantoean mereka A liong-ko lantas dibawa ke packard jang teroes menoedjoe ke roemahnja. A liong-ko tida maoe minta pertolongan dokter; sekarang jang ia kasih dateng ada seorang “koenthauw sayhu” achli silat jang djoega pandai dalem soal obat-obatan. A liong-ko poenja kaki dioeroet, dibobokinsedang sisakit sendiri disoeroeh minoem obat, katanja boeat poenahken ratjoen kalaoe itoe ada. Tetapi itoe semoea ternjata tida bisa tolong apa2, sebaliknja bengkaknja makin naek keatas, sekarang bikin antero kaki gadjah. A liong-ko kepoetoesan akal, sampe achirnja ia kasih datang satoe doekoen jang terkenal pande. Tetapipoen ini segala djampe dan bakar menjan tida bisa koerangin rasa sakit jang seperti mendjadi-djadi. Dan karena soedah tida ada laen djalan lagi, achirnja dokter dahoeloe diminta datang. Begitoe liat si sakit, dokter bilang ia tida bisa berboeat apa-apa lagi, karena infeksi soedah mendjalar kebagean atas. Kalaoe sampe naek diperoet, A liong-ko tida bisa ditolong lagi. Djalan satoe-satoenja jalah potong kakinja sampe sedikit diatas loetoet. Boeat reboet djiwanja A liong-ko achirnja manda diangkoet keroemah-sakit dimana ia haroes tinggal hampir tiga boelan, tetapi..... dengen kaki kanan boentoeng sebatas paha. Sekarang ia diam sadja diroemah, tida pergi kekantor lagi; poen tida pernah pesiar. Satoe-satoenja kasenangannja jalah tjeroetoe Havana dan makan minoem seperti biasa lagi. Dalem hal ini A liong-ko berkepala batoe; kalaoe ia toch mesti mati, soedahlah itoe kehendak takdir. Djempol kaki kiri soedah dipotong; kaki kanan tjoema tinggal setengah paha, masa makan minoem masih ditjegah segala? Benar ia setia telan obat anti sakit kentjing goela, tetapi itoe semoea dipisahkan oleh tjara ia makan dan minoem. Setahoe lantaran apa soeatoe pagi A liong-ko rasakan bekas tempat dimana djempol kakinja dipotong, seperti daging jang soedah setengah boesoek djika dipidjet dagingnja ambles kedalem dan tida timboel lagi. Poen rasa sakit moelai timboel dengen teges bisa diliat bagaimana betisnja moelai penoeh dengen goeratan2 warna sawo mateng, jang semoa meloeloe keatas, A liong-ko poenja njawa tida aken bisa ditolong. Dan begitoe lah A liong-ko kombali mesti manda kaki kirinja dikoentoengin sebatas loetoet. Apa jang doea boelan bisa di djoempai di roewangan belakang dari roemahnja soedah hampir tida bisa dikenalin sebage A liong-ko seperti jang biasanja ia pesiar dengen packard, bersenjam-senjoem kekiri dan kekanan, koeroesnja boekan maen seperti waktoe diletakan diatas kerosi malasnja seraja bagean bawah dari toeboehnja ditoetoepin selimoet. Kegembiraannja lenjap sama sekali; poen napsoe makan dan minoemnja tida ada. Jang masih ia gemari jalah tjeroetoe Havana jang ia tida berenti2nja keboelken asapnja. Kadang2 seperti dibelakang asap Havana itoe ia nampak apa2 jang bikin ia bergerak seperti hendak bangoen, seperti orang2 lagi tolak apa2, seperti orang jang lagi menangis sesenggoekan. Memang dibelakang asap tjeroetoenja A liong-ko seperti nampak djelas sekali barisan dari korban2nja, ada jang teroesir dari roemah satoe2nja jang mereka poenjai, seperti itoe sepasang soeami istri jang soedah landjoet oesianja dan tida poenja pamili dan tempat pondokan lain; seperti itoe soeami jang gantoeng diri; seperti itoe bapak jang banjak anak jang kamoedian sampe mendjadi gila dan banjak lagi A liong-ko poenja korban2. sekarang A liong-ko moelai sadar jang tjara hidoep jang ia toentoet ada kliroe. Meloeloe doeit ia pandang sebage poedjaannja. Sekarang lengan kirinja moelai mendjadi-djadi. Gigitan njamoek jang digaroek terlaloe keras sampe bikin baret koelitnja ada permoelaan dari si lengan kiri bengkak dan kakoe serta sakitnja tida kepalang. Dokter bilang darah dalem badan A liong-ko soedah seperti darah majit oentoek bitjara setjara kasar. Potong lagi A liong-ko poenja “kompoeter” tjoema ketinggalan sedikit diatas sikoet. Apa jang achirnja meroepaken A liong-ko jalah tjoema satoe toeboeh koeroes kering, lengan kiri boentoeng, kaki kiri idem, kaki kanan idem dito. Tetapi Havana teroes mengeboel. Pada soeatoe hari boedjang jang melajani A liong-ko ketemoeken madjikan doedoek lempang di kerosi malasnja; kedoea matanja terboeka lebar seperti lagi awasin apa2 jang datang dari djaoeh. Tjeroetoe Havana masi menjalah dan djatoh diatas pangkoeannja dengen tida dirasa lagi oleh A liong-ko jang ternjata soedah mendjadi almarhoem. Membatja sampe disini memdadak Giam Loo Ong singkirken dengen getas itoe boekoe tebel; alisnja pada berdiri dan mendjoeroeh; seperti serentetan djaroem; kedoea matanja jang boender terboeka lebar dan keloearken sinar jang bisa bikin silaoe mata. Ia gebrak medjanja. Kaget saja tida kepalang; boeroe2 saja lontjat toeroen dan teroes lari menoedjoe pintoe samping. Dari pengalaman di Giam Loo Ong poenja singgasana saja dapet ini peladjaran : Hendaklah djangan doewit meloeloe jang mendjadi poedjaanmoe!.
|