Oey See 2 PDF Print E-mail

KAPAL yang berlayar dari Pekalongan sudah sampe di Betawi, tuan Vigni bersama penumpang yang lain turun di sekoci tambangan pada sesudahnya memberi tangan kepada Oey Se, seraya katanya: "Sekarang saya baru bisa percaya sobat, bahwa dunia ini penjusta besar jarang sekali ada perkara yang patut sudah terjadi di dalam dunia ini boleh dibilang semua terbalik jadinya. Dalam perut manusia memang penuh dengan dosa, tida ada satu manusia yang tida tau berbuat durhaka, semua orang berlomba lomba memburu kekayaan, banyak manusia yang berdengki hati kalu melihat sesamanya mendapat senang, ha, ha, ha!
Tapi percayalah, sobat, orang begitu tiada akan selamat, jalan orang yang terkutuk, Allah itu maha adil, segala apa perbuatan tida ada yang akan tida dibalas, kita sendiri tida dapat, tapi tiada urung anak cucu kita akan dapat rasain keadilan Tuhan. Ha! ha! ha! ha! sobat, selamat sampe bertemu kombali!!" Oey-Se sembari pegang tangannya itu tuan, turut juga tertawa, tapi "daek medu" orang Sunda bilang, hatinya seperti dijepit, sampe ia tida bisa berkata barang sepatah kata, akan sambut perkataannya tuan Vigni yang sebagi menyumpahi. Oey Se rasain kepalanya jadi pusing dan keringat dingin membasahi tubuhnya yang jadi ber-gumetar, ia merasa juga dosanya amat besar hingga berdiri bulu kuduknya, ia dapat rasa tentu yang segala hukuman yang tertulis dalam kitab "Cu In Giok Lek" akan menimpali semua ke atas kepalanya. Sebab ingat hal itu semua, maka ia berniat di Singgapur hendak membeli patung berhala "Kam Yang Hut Couw" akan disujudnya setiap hari, supaya kemudian hari ia dapat terlepas dari pada siksa neraka. Memang manusia yang berdosa, selamanya mau menyangkal dari tuduhan orang tapi kalu sudah merasa betul dosanya, ia lantas mau cari jalan buat mengentengkan dosanya.
Tapi itu sudah kasep, semua tiada berguna, orang Cina pun ada peri bahasa kata: "Hek Cwe I, Thian, Bu Se To la" artinya: "Kalu ada berdosa pada Tuhan, tida ada tempat buat minta ampun." Kasihan itu tuan Vigni, coba lihatlah ia sekarang sedang berdayung dengan perahu ke pantei, kutika ia naik ke darat, datanglah satu tuan yang berpakeian putih dengan mesem ia sodorkan tangannya kepada tuan Vigni yang sambut itu dan digoncang goncangkannya seraya katanya: "Selamat datang Vigni, kami senang sekali sebab nyata angkau berselamat dalam pelayaran."
"Terima kasih, Pix, angkau bawa juga kereta?" "Tentu, kami tida mau angkau yang sudah cape musti berjalan kaki, apa lagi ini waktu ada begini panas hawanya." "Terima kasih, memang angkau sobatku yang paling baik." "Ha, ha, begitulah satu sobat dari satu persero, nah, marilah kita tunggu di loods sampe itu barang semua sudah beres!" Kedua tuan tuan berjalan menuju di loods, di situ banyak sekali kuli kuli Banten yang sedang bekerja, hingga jadi rame sekali suaranya. Setelah sudah beres barang barang diangkat, ke 2 tuan tuan Vigni dan Pix naik di kereta yang lantas di larikan, tiada lama kereta itu sudah masuk di suatu pekarangan dari satu rumah besar, ke 2 tuan tuan turun dari kereta dan masuk ke dalam rumah.
Di rumah itulah tuan Vigni dan Pix tinggal berumah. "Permisi, kami mau ganti pakeian" berkata tuan Vigni dan masuk ke dalam kamernya. "Ya, kamermu semua tinggal beres," berkata tuan Pix yang berduduk pada satu krosi panjang. Sedang begitu, satu suara "der" yang kerasa sekali ada terdengar yang membikin Pix jadi kaget sekali, sigera ia memburu ke dalam dari mana suara itu ada terdengar, sampe di depan suatu kamer, ia dapat cium bau obat bedil, Pix jadi pucat, hatinya seperti melompat keluar, dengan gugup ia tolak itu pintu dan melongok ke dalam. Aduh! dengan senapan di tangan kanan dan satu envelop di tangan kiri tuan Vigni terbaring di atas darahnya yang mengumpyang di dasar. "Aduh! Vigni! Vigni! Sobatku, ach...binasalah!..." treak Pix sembari menghampirkan mayit itu ia tempelkan tangannya pada hidung, dada dan tangannya Vigni, tapi napasnya sudah tida ada. "Kecil! Kecil! Datang lekas!!" Si Kecil masuk seraya katanya dengan gugup: "Tuan ...tuan!" "Doctor...sini panggil datang...lekas!" Sebagi kancil si kecil melompat keluar sedang Pix masih tinggal di dalam kamer: beberapa lamanya ia tinggal bengong, ia dapat lihat envelop pada tangannya mayit, sama sekali ia dapat ingetan, ia pukul kepalanya dengan ke dua jerijinya dan segira ambil itu envelop dan masukkan ke dalam saku celana, sementara itu Doktor datang dan manggutkan kepalanya di hadepan Pix yang tinggal diam saja dengan muka pucat dan mata terbuka besar. Doktor tidak perdulikan itu, ia lalu berjongkok di hadepan itu mayit, sedang begitu datanglah Resident dan Assistant Resident yang lantas menanya kepada Doktor.
Jawabnya sudah mati sebab bunbunannya berlobang bekas pelor jalan. Dari pada tuan Pix didapat kenyataan yang tuan Vigni sudah bunuh diri dengan tida ada satu sebab. Besoknya, tuan Vigni yang kemaren sudah bicara dengan muka senang pada Oey Se, sekarang ada diletakken dalam peti ditarik dengan kereta dan diiring ke kubur. Pulang dari tempat kuburan, Pix ada berduduk sendiri di dalam rumah dengan hati susah sebab nyata aer mukanya gelap dan membuang napas panjang beberapa kali, kemudian ia keluarkan envelop yang kemaren ia simpan dalam saku, ia buka itu dan baca surat yang ada di dalamnya; bunyinya: "Sobatku Pix!"
"Tatkala kami masih ada di dalam kapal, memang kami sudah rasa tiada akan lama lagi hidup di dunia, maka sigera kami menuliskan surat ini akan jadi saksi dari ketulusan hati kami, maka kami harap angkau suka dengar dan timbang baik baik apa yang ada dituturkan di bawah ini." "Pertama kutika kami sampe di Pekalongan kami dapat tau yang seorang Cina di itu tempat ada jual itu barang yang kita harep lantas juga kami datang di rumahnya itu orang Cina yang kaya besar, setelah seleseh berdami dengan itu orang, kami lantas kirim simpan padanya itu 2 peti uang, sebab kami sampe percaya kepadanya, inilah salah kami.
Kutika sampe pada hari yang barang itu musti dimuat ke dalam kapal, kami minta ia keluarkan itu 2 peti yang kami kirim padanya, serta kami buka satu peti,...ach, sobatku! Cilaka sungguh, sebab uang itu sudah berganti sipatnya jadi uang perak semua. Apa kami musti bikin, sebab konci dari itu peti, kami yang pegang? Durhaka, terkutuklah itu Cina, boleh jadi ia sudah gunakan konci palsu buat buka itu peti dan tukar isinya dengan uang perak, tapi ini perkara gelap sekali. Begitulah keadaanku sampe kami pulang dengan tangan kosong, sebab begitu, kami dapat rasa malu akan hidup lebih lama, haraplah angkau sobatku yang tercinta dan bercinta suka ampunkan dosaku, supaya kami boleh tutup mata dengan senang. Sebab itu Cina masih ada harapan besar buat hidup di dunia, maka kami tiada suka sebutkan namanya, biarlah ia puaskan bersuka suka sebab kami sampe percaya Tuhan tiada nanti lepaskan ia dari keadilannya. Selamat tinggal." Dari sobatmu VIGNI Yang bercilaka "Aduh!" teriak Pix sesudahnya membaca itu surat dan menggerung serta tumpah aer mata. "Ach. Vigni! Vigni... sobatku! Cumah ini saja lantarannya, hingga angkau ...ach, memang angkau selamanya baik, mengapa angkau begitu tega membuang jiwa percumah cumah toch uang gampang dicari lagi, ia terkutuk sungguh itu orang.'...Ya Allah, ya Tuhan tunjukkanlah keadilanmu akan hukum itu manusia yang amat durhaka! Ha, apa boleh buat... ach... nasib..."
KUTIKA kapal berangkat membawa orang orang dari Betawi, dari orang orang itu Oey Se dapat kabar dari halnya tuan Vigni yang sudah membunuh diri, begitu nyata orang itu bercerita sampe Oey Se jadi gemetaran seperti sudah melihat dengan mata sendiri hal yang amat ngeri itu; ia merasa jadi lebih besar dosanya sebab kematiannya tuan Vigni yang terjadi sebab ia punya perbuatan. Pada waktu ia ada sendiri di dalam kamer, ia merasa berkelebatan saja rupanya Vigni berbayang bayang di bulu mata, sampe ia tidur jadi kaget mendusin dengan berteriak teriak, sebab ia rasa sunggu sunggu seperti dapat lihat tuan Vigni datang berdiri di hadepannya dengan badan penuh darah dan tangan memegang bedil sembari berseru seru dan mengancam, Oey Se jadi takut dan lari sekuat kuatnya tapi dari belakang senantiasa dikejar oleh Vigni, sebab sudah terlalu cape, Oey Se tida kuat berlari lari lagi, ia jatoh kesumpat dan berguling di tanah, sementara itu Vigni sudah sampe lalu angkat senapannya mau pukul pada Oey Se, sebab takut, ia berteriak, lalu ia kaget dan mendusin, kiranya ia mengimpi dan sudah ada berbaring di dasar jatoh dari pembaringan, ia lihat di kolong ada gelap, ia jadi mengkirik dan buru buru melompat ke atas pembaringannya, ia tinggal berduduk bengong dengan hati berdebar debar seperti orang yang baru habis lari, dan badannya basah dari pada keringat dingin.
Sekutika lamanya baru ia berani berkisar sedikit, seraya katanya: "Aay...aiy...cikoa. Hampir kepalaku hancur dihantam gagang senapan, hoooo...itu iblis, biar aku nanti sem-bayangin dia." Sampe pagi Oey Se tiada berani tidur lagi, sebab tiap tiap ia meramkan matanya, lantas kelihatan tupanya Vigni.
Baik juga Oey Se ada sedikit taba hatinya, kalu tida begitu, sudah tentu ia musti dapat sakit demam; sedari itu waktu, selamanya ia merasa kurang senang hatinya, sampe ia naik di darat di Singapur. Begitu memang kalu orang berbuat jahat, tentu hatinya tida bisa senang, itulah suatu hukuman yang amat besar, biasa disebut orang "naraka" bukan di kolong bumi atau di langit sebagi orang banyak suka berkata, tapi sesunggunya di dalam dunia orang sudah musti dapat rasain hukuman itu.
PADA suatu hari di waktu malam rumahnya Oey Se di Pekalongan ada amat terang dari pada cahaya api lampu yang banyak dipasang, dan ada banyak tetamu yang sedang bermakan minum, antara mana ada tuan tuan Olanda dan priyai priyai Jawa semua sobatnya Oey Se Regent pun tiada ketinggalan.
Oey Se sudah bikin feesta itu, maksudnya akan merayakan:
1. Ia sudah dapat tambah jumblahnya isi rumah dengan satu perampuan bangsa makau
2. Nonah Oey Kim Nio anak dari Oey Se sudah tetap bertundangan dengan babah Tjoa Beng Sek anak dari Tjoa Hoeh.
Itu tempo amat rame tetamu saling sunte angkat gelas champagne minum selamatnya Oey Se yang dapat isteri muda dan nona Kim yang bertundangan; sampe jauh malam, barulah sekalian tetamu itu bubar pulang ke-rumahnya masing masing.
Antara sekalian tetamu itu, cumah adalah seorang yang tiada merasa senang hati, orang itu ialah regent Pekalongan yang sembari berjalan pulang ia angkat angkat genggeman tangannya dan mengertak giginya, ia merasa sangat panas dalam hati, sebab sekarang luputlah pengharepannya semua, ia punya ingat ingatan yang begitu bagus, sekarang musti dibongkar semua, bukankah pembaca juga tau, bahwa regent itu sangat tergila gilakan nona Oey Kim Nio dengan tiada setaunya yang punya diri? Tapi sekarang nona yang sangat ia cintakan itu terserah ketangan lain orang.
Kutika pecah kabar yang nona Kim sudah bertun-dangan, kabar ini sudah didengar oleh regent dengan marah besar, kalu boleh ia mau putus saja butir kepalanya itu lelaki yang sudah rebut ia punya kecintaan, hingga ia jadi berseru seru, katanya: "Akulah musuhnya orang sedunia!" Tetapi terpaksa ia musti datang ke rumahnya Oey Se kutika trima undangan, yaitu supaya tiada kentara ia benci kepada itu orang, lagi ia sudah terlalu banyak makan rejekinya Oey Se jadi tiada baik kalu ditampik ondangannya.
***

PEMBACA tentu jadi heran, apa ertinya "Tambah jumblahnya isi rumah dengan satu perampuan bangsa Makau?" Ya, memang ini musti diterangkan, di bawah inilah keterangannya. Bukankah pembaca tau yang Oey Se pergi ke Singa-pur? Na, lagi...ia dapat susah hati lantaran mengimpi kutika ada di kapal, bukan? Itu dia, maka tatkala ia sampe di Singapur negeri yang begitu rame, begitu eilok, hampir segala keeilokan dunia ada semua di situ, tempat bersuka suka tida usah dicerita lagi, inilah obat penawar bagi Oey Se yang sedang bersusah hati. Perampuan perampuan kepelesiran memang jadi seperti garamnya di dalam dunia, nah, garam itulah Oey Se mau cari, buat dapat itu tiada susah, Oey Se yang tau betul selak seluknya lantas juga masuk di suatu rumah besar yang berloteng tiga tingkat, tida usah dicerita lagi yang orang orang di dalam rumah itu sudah hormatin Oey Se sebagi hormatin satu raja.
Tuan rumah yang disebut Ba taw (kepala sundel)5 datang dengan terbongkok bongkok tunjukkan pada Oey Se gambar gambar dari perampuan perampuan eilok yang ada dalam rumah itu. Oey Se musti pilih itu dan tunjuk nommor 17. Tuan rumah itu jadi kaget, maka katanya: "Ha, ha, taw-ke betul awas sekali, ini nona Hiang Nio namanya memang nommor satu sekali, bagus, eilok, kecil, molek . . . ach sudahlah di dunia tida ada dua, lagi ...masih baik, orang semua berebut dia, cumah ia ini baru sekali datang berapa hari ini, sebab baru dibeli di Makau." Oey Se tersenyum katanya: "Jadi Hiang Nio punya cawan mas masih tertutup rapat belon sekali meles?" "Ya, begitu, orang berebut tawar, tapi sia sia, nah, sekarang saya mau tau tawke dari Jawa berapa berani bayar?" "Aku mau lihat dulu buktinya."
"Boleh, boleh sekali," kata si Ba taw sembari naik ke loteng diikut oleh Oey Se. As...! Kalu mau dikata syorga, ya inilah syorga di dunia, Oey Se berjalan itu ada meliwatin banyak kamer kamer, ada yang terbuka dan tertutup pintunya: yang tertutup ialah ada tetamunya di dalam, yang terbuka menandakan kosong masih menunggu muatan; dari kamer kamer yang terbuka itu keluar bau bauan yang amat sedap yang seumur hidup Oey Se belon tau dapat cium baunya, di rumahnya ia biasa bakar dupa setanggi Makassar yang kesohor, tapi wanginya, tida ada separonya dari yang ia dapat bauin sekarang, itu saja sudah bikin Oey Se punya hati berketak ketik seperti ada kidangnya di dalam sampe lupa sama sekali sama anak isteri di rumah, apa lagi kutika ia masuk di kamer no. 17, ach! Jadi muda kombali rasanya.
Satu tempat tidur besi yang besar ada terdiri pake kelambu dari kain jala jala yang halus dan terbuka kanan kiri hingga kelihatanlah spreynya dan sarung bantalnya yang putih seperti kembang melati, dalamnya ada tergantung gubaan kembang siantan di tenganya ditaro bunga karang yang basah dari pada aer wangi, baunya lipat ganda harum mempenuhi dalam kamer itu. Di depan tempat tidur ada tergantung lampu pake kap biru hingga sorot apinya jadi blauw muda, dasarnya di tutup pake permadani tebal.
Lian-lian, 6 kaca besar, pigura pigura meja toilet peranti berias, tempat cuci muka dan banyak lagi, pendeknya periasan dalam kamer itu lengkap sekali, lebih bagus dari pada kamer penganten. Oey Se jadi bengong, tambah lagi kutika nona Hiang Nio datang menghampirkan seraya katanya: "Selamat datang taw-ke, duduklah." Aduh! Itu perkataan "taw-ke" yang keluar dari mulut yang kecil antara bibir yang merah delima lagi gigi yang kecil putih sebagi perak dan rata berbaris; alah, manis sekali, empuk sekali, sampe ingetannya Oey Se jadi melayang les lesan, lemaslah sendi tulangnya, urat uratnya berkedutan dan hatinya memukul keras sekali, Oey Se lalu berduduk dan pada tuan rumah katanya: "Betul sekali"
"Ya, apa saya bilang?" Sementara itu, nona Hiang Nio bawain dengan dua tangan satu cangkir terisi aer the yang masih panas dan amat panas dan amat harum baunya, Oey Se terima dan minum itu dengan enak, tetapi tiada luput matanya tetap memandang kepada Hiang Nio yang teramat eilok sem-babat betul dengan lehernya yang junjang dan badannya yang langsing kecil molek, sama sekali Oey Se tepak dadanya sendiri seraya katanya kepada tuan rumah yang masih tinggal berdiri: "Kalu aku bawa dia ke Jawa boleh sekali bukan?" "Memang boleh" kata si Bataw 7 sembari meringis. "Nah, bilang, berapa angkau mau?"
"Sunggu mati taw-ke, saya keluarkan uang 2000 ringgit buat dapat ini nona Hiang Nio, tae ke taw-ke di sini berebut mau piara dan sudah taro harga 3000 ringgit." Berpikirlah Oey Se, 3 atau 4000 perkara kecil, apa guna uang banyak kalu tiada dipake, lagi orang hidup jarang sampe 100 tahon, ach! Uang panas dari Vigni. Setelah mendapat pikiran itu lalu katanya: "Hah, aku bayar 3500 ringgit, bagimana sekarang?" Sebab si bataw cumah goyang kepala saja, maka Oey Se berkata lagi: Seperti lelang ini, "Nah, 4000 ringgit." Si Bataw diam sebentar, kamudian katanya dengan suara sebagai orang susah: "Ya...apa boleh buat, sebetulnya saya masih merasa berat, tapi sebab saya tau taw-ke ada kaya besar maka saya suka kasih Hiang Nio pada taw-ke, yaitu supaya nona Hiang Nio dapat senang sampe di hari tua, nah, nona terima untung saja, ini taw-ke sekarang jadi suamimu." Nona Hiang Nio dengan malu malu rupanya datang samperin lalu bersoya pada Oey Se yang bales itu dengan hati yang tiada terbilang girangnya.
Tadinya Oey Se mau menginap di situ tapi ia pikir sebab Hiang Nio sudah jadi isterinya, tiada pantas sekarang ini musti tinggal di rumah begitu, maka ia suru si bataw sediakan kereta rambangan, dan pada Hiang Nio disuru bereskan ia punya barang semua sebab ini malam juga musti pulang ke tumah sendiri. Tiada lama lagi 3 peti yang berisi barang barangnya nona Hiang Nio sudah dibawa turun dari loteng dan ditaro dalam kereta, Oey Se dandan tangannya Hiang Nio turun dari loteng ketemukan tuan rumah ia kasih sepotong kertas, katanya: "Ini wissel basarnya 4100 ringgit, besok angkau boleh terima di bank, tapi ada lebih 100, biarlah angkau ambil saja buat pembeli the, nah, selamat tinggal." Dengan terbongkok bongkok si bataw terima itu dengan senyumnya yang sebagai iblis seraya katanya: "Owc.weh, taw-ke, terima kasih oweh. Ha, ha, selamat jalan oweh, aaih, nona Hiang Nio selamat ya, biar bisa tumpangin diri ya, ai gelap ini nanti owe ambil lampu."
Sembari berkata ia bawa lampu anter tetamunya sampe naik di kereta, kutika kereta itu hampir berangkat si bataw menjura beberapa kali seraya katanya: "Baik baik jalan, taw-ke, nona, Kionghi ya sin Kiam cay, wah, kalu begini bagus jalannya, sudah tentu aku musti pergi lagi ke Makau buat jadi culik, curi lagi anak anak perawan yang bagus." Oey Se jadi senang sekali, dalam kereta yang ada berdamping dengan nona muda yang begitu eilok dan cantik, pengrasaannya sendirilah laki laki dalam dunia ini, lebih lagi girangnya nona Hiang Nio sebab sekarang dirinya sudah terlepas dari kurungan yang boleh membawa cilaka dan nama busuk seumur hidup. Memang juga nona Hiang Nio anak orang baik baik di Macau yang sudah kena ditipu dan dibawa lari ke Singapur oleh itu bataw, sering sekali kejadian sebegitu rupa dengan perampuan perampuan bangsa Macau yang kemudian terpaksa jadi perampuan jahat. Tiada lama; kereta itu sudah sampe di toko, Oey Se turun sembari memimpin isterinya dan masuk ke tokonya, orang orang di itu toko jadi kaget melihat tuannya pulang membawa satu perampuan muda, tapi semua musti tinggal diam saja, hanya musti turunkan 3 peti barang barang dari dalam kereta yang lantas pergi sesudanya diberi uang sewa, dan barang barang itu musti dibawa masuk ke dalam. Liwat tiga hari dari watas itu malam, Oey Se bersama nona Hiang Nio turun ke kapal akan berlayar pulang ke Pekalongan. Setelah sampe di rumah sendiri, tentu sekali sang isteri menggusari dia, tapi nasi sudah jadi bubur, lagi menurut aturan orang Cina boleh beristeri lebih dari seorang jadi si isteri tiada boleh bicara apa apa lagi, hanya ia musti sediakan saja apa apa yang perlu buat bikin feesta merayakan anaknya punya hari bertundangan atau anter panjer namanya. Begitulah sudah jadi, yang Oey Se membuat feesta, sebagimana pembaca sudah dapat tau di atas ini. Tiada berselang lama lagi, Oey Se membuat feesta lebih besar lagi, yaitu merayakan hari kawinnya nona Kim Nio dengan Tjoa Beng Sek, pada waktu feesta itu, bukan saja sudah diundang tetamu tetamu orang Cina, tetapi juga orang orang Belanda dan Jawa pun sekalian ambtenaar dan priyai priyai sudah datang mengunjungi feesta itu dan memberi selamat kepada penganten, hingga bukan bukanlah ramenya feesta kawin itu, sebab wayang Makau saja dan cap ji ki satu bulan lamanya, Oey Se tiada pandang ongkos buat meramekan feesta itu, yang mana sampe sekarang belon pernah ada orang membuat feesta begitu besar dan rame.
EMPAT tahon sudah liwat dari apa yang sudah diceritakan di atas, pada suatu hari pada pintu luar dari rumah Oey Se ada tergantung kain putih, dan di depan pintu itu ada dibakar sepotong kayu besar. Itulah tanda ada kematian.
Di dalam rumah ribut suara orang menangis, orang orang itu semua berkumpul di dalam suatu kamer dan rata menangis menghadap pembaringan dalam mana ada terbaring mayitnya Tjoa Beng Sek suami dari nona Kim. Itu tempo dengan rambut terurei urei nona Kim ada berguling di tanah dengan menangis terlalu amat sedih, ia banting banting dirinya, lebih pula kutika ia dapat lihat di sampingnya ada satu babu tua yang sedang mendukung satu anak kecil umur 3 tahon, yaitu anak dari nona Kim, Tjoa Liem Nio namanya, ia jadi makin keras menangis sesambatan dengan memanggil nama suaminya yang sudah begitu tega hati meninggalkan ia dan anaknya yang masih begitu kecil.
Orang orang yang mendengar ratap tangisnya nona Kim, semua pun turut tumpah aer mata sebab mereras sekali kedengarannya, Oey Se dan isterinya sembari menepes aernya mata membujuk seberapa boleh dengan perkataan lemah lembut kepada Kim Nio supaya ia jangan terlalu bersedihan. Tetapi Kim Nio tiada dapat dihiburkan kalu di waktu duduk makan, ia lihat suaminya tida ada bersama sama, ia lantas menangis, apa pula di waktu malam, sering Kim Nio tutup mukanya dengan bantal dan menangis sedih.
Dalam hatinya Kim Nio merasa kesepian amat sangat ia rasa seperti hidup sendiri diri di dalam dunia, ia sering lihat berkelibat seperti suaminya masuk ke dalam kamer, ia lekas buru ke dalam, tapi tida ada apa apa, maka menggerunglah ia menangis; sebentar lagi ia dengar seperti suara suaminya memanggil di belakang, ia buru ke belakang setelah dilihat tida ada, ia menggerung lagi menangis, ach! Perampuan memang hatinya kurang taba, di itu tempo yang Kim Nio dapat kesusahan, peng-rasaannya kalu boleh ia pun mau turut mati saja, lebih lagi kutika peti mati dari suaminya dibawa ke kubur, alah, Kim Nio menangis sesambatan seumpama hendak menembuskan bumi rasanya. Oey Se dan isterinya tiada tega melihat anaknya begitu, maka ia jaga, ia hiburkan ia bujuk bujuk anaknya dengan kartu dengan rupa rupa permainan, dengan bepergian ke lain lain tempat, hingga Kim Nio jadi terhibur juga hatinya yang susah.
Akan tetapi adalah seorang yang jadi suka hati mendengar hal kematiannya Tjoa Beng Sek, orang itu ialah regent, ia rasa inilah suatu tempo yang baik akan menyam-pekan niatnya, sebab sudah tida ada yang memalangin. Atsal saja yang punya sendiri diri mau, betul Kim Nio ada tinggal di rumah orang tuanya, tetapi ...ach, anak yang sudah sampe umur tida usah lagi musti taluk di bawah perentah orang tuanya, peri bahasa pun ada bilang: "Cilik anak - gede sanak", apa yang kita mau, boleh lantas dikerjakan, begitulah pikirannya itu regent.
Sekarang tinggal saja musti dicari akal cara bagimana supaya bisa dapat persambungan antara ia dan Kim Nio, ach! Tiada lebih baik pake saja kuasanya aer ludah (jopo = guna-guna) ia dapat ingat khiai Sentono di Dijeng (Dieng), itu orang tua yang masyhur dari pada pekerjaannya jadi dukun besar, kalu perkara pengrangkap buat orang perampuan belon tau gagal, lantas juga regent suruan orang pergi panggil itu dukun. Tiada berapa hari kemudian, orang suruan itu sudah kembali bersama sama khiai Sentono yang diterima oleh regent dengan sangat suka cita, regent minta dukun itu siang malam musti berdamping saja di dekatnya, kemudian regent lantas ceritakan resiah hatinya dan minta ditulung oleh itu dukun besar.
Dukun itu berjanji mau menulung seberapa boleh, tapi lebih dulu musti ada persumbangan, perampuan perampuan tua yang biasa berdagang itulah yang musti dipake, kalu sudah ada itu, ach! Gampanglah semua, ibarat pintu yang sudah terbuka, kita tinggal masuk saja. Mendengar itu regent jadi suka hati sekali, ia lantas atur itu, maka kejadianlah ada satu perampuan tua tukang ngeber (cengkau) sering datang kerumahnya Oey Se, orang itu memang dari kebupaten suruan regent, perlunya cumah buat ketemukan Kim Nio, sebab orang itu pandei membuang tingkah dan pintar bicara, jadilah disukai oleh orang orang di rumah Oey Se, Kim Nio pun jadi suka kepadanya, seringkah Kim Nio minta dipijetin oleh itu perempuan tua, nah, sembari pijat itulah si orang tua leluasa beromong omong, pertama tama ia omongin dari hal kesusahannya Kim Nio, kemudian ia puji puji Kim Nio, nona yang begitu eilok, badannya begitu halus kecil molek, kulitnya langsep putih kuning, sayang masih begitu muda sudah musti berpisah dari kepelesiran dunia.
Lama kelamaan hawa terlalu sering digosok gosok hingga jadi tergerak juga hatinya, alah sepuntul puntulnya piso, kalu digosok ya tajam juga. Kim Nio pikir betul juga seperti katanya itu orang tua, ia yang masih begitu eilok, begitu muda, mengapa sudah jadi tersia sia dirinya. Aduh! Inilah alamatnya angin yang bederu deru membawa asap hitam itu sudah hampir sampe, kalu Kim Nio ingat itu, lantas juga ia dapat ingat suaminya yang sudah tida ada lagi, maka menangislah ia seorang diri: adapun si orang tua yang pande melihat gelagat, ia jadi suka hati melihat halnya Kim Nio, maka buru buru ia kabarkan pada regent.
Khiai Sentono mendengar itu lantas katanya: "Sekarang itu pintu seudah terbuka, tapi masih juga musti.tinggal bersyabar, buah buah yang banyak disuka oleh orang di sini yaitu buah delima, tapi buah itu musti dibeli dari Batang, dalam buah itu nanti di bacakan jampe dan musti dikasih makan pada itu nona sampe tiga kali, sudah itu barulah Kanjeng sendiri musti berkeramas dan berpuasa 40 kepal nasi, kedua 39 kepal dan seterusnya sampe ke 40 harinya l kepal nasi, dan setiap malam musti membakar kemenyan sembari berdoa, bacaannya nanti saya kasih, paling perlu sekali musti syabar dan sekali kali tiada boleh berdekat dengan orang perampuan. Sesudahnya berpuasa dapat 3 hari musti pergi ketemukan itu nona, tapi lebih dulu musti berdoa dan taro minyak pada alis, minyak itu ada juga pada saya, yaitu minyak perbuatan Sunan Mang-kurat, lagi kalu mau keluar dari pintu akan pergi ke rumah itu nona, musti makan sirih dan musti dibuang di dalam rumahnya itu nona, pada sebelonnya dibuang ampasnya, aernya musti diludahkan dulu seberapa boleh musti biar kena pada pakeiannya itu nona, dari situ lantas tida usah diketemukan lagi kalu belon cukup 40 hari".
Regent itu yang sangat keras maksudnya, turut saja apa yang diajarkan oleh itu khiai, ia suruh orang beli buah delima dan sesudahnya didoakan oleh itu khiai lantas juga disuru itu perampuan tua bawa ke rumahnya Kim Nio.
Sebab Kim Nio sudah kenal baik dengan itu perampuan tua, jadi tiada curiga lagi, hanya dengan senang hati Kim Nio sudah terima itu buah delima, dari wates itu saban minggu itu perampuan tua bawakan pada Kim Nio satu buah delima.
***

SEKALI peristiwa pada suatu hari sedang Kim Nio berduduk menjait seorang diri di galeriy sebelah dalam, sekunyung-kunyung kupingnya berbunyi nging nging, dan hatinya berdebar debar, sementara dadanya senantiasa berkedutan, dalam dirinya dirasa tiada keruan seperti orang bingung, tiada tau bagimana ia jadi sedih dan tiada dirasa aer matanya turun sebagi ujan lebat. Kim Nio sendiri jadi heran hal apa yang sudah membikin ia jadi begitu sedih. Di waktu makan, ibunya panggil ia, tapi ia tida mau, hanya ia bilang saja masih kenyang, sampe malam di pembaringan pun ia tida bisa tidur, bulak balik saja menggelesahan sementara dalam dirinya sudah dirasa jadi lebih tiada keruan, ia tinggal duduk di atas pembaringan dengan binggung, sekunyungkunyung ia pelok anaknya dengan tangisnya yang amat sedih sampe tersedu sedu, sampe anak itu yang lagi tidur jadi kaget den mendusin dan pakeiannya basah dari pada aer mata, Kim Nio cumah bisa berkata saja: "Ach, kasihan anakku!" Besoknya itu perampuan tua datang lagi pada ini orang, Kim Nio cerita apa yang suda jadi dengan dia di hari kemaren dan paginya juga, apa sebab maka boleh jadi begitu. Jawabnya: "Ach! Memang seperti nona orang masih begitu muda sudah paksakan diri mau bikin hati sendiri jadi tua, mana boleh, sudah tentu saja jadi begitu apa pula non, pun saya sendiri yang sudah begini tua, alah, sunggu saya langsung ngamuk kalu bapanya anak anak berani tinggalkan saya sendiri di rumah." Kim Nio tida kata apa apa, ia tinggal diam saja dengan tundukkan kepalanya, tiba tiba ia jadi sedih dan aer matanya turun berhamburan. Si orang tua jadi girang melihat begitu dalam hatinya ia puji Khiai Sentono betul manjur doanya, pada Kim Nio ia ajak omong omong dan dibujuk dengan perkataan yang boleh menyenangkan hati, tapi sebentar bentar ia putar bicaranya akan membirahikan hatinya Kim Nio. Liwat dua hari dari apa yang sudah diceritakan, ada berhenti satu kereta pake kuda dua di depan tangga rumahnya Oey Se, satu oppas ada berdiri pegang payung yang dibukanya di depan kereta yang dari dalamnya turunlah regent berjalan dipayungin masuk ke rumah Oey Se yang sambut dia dengan hormat dan manis bahasa dan disilahkan masuk ke pertengahan sebelah dalam. Baru saja regent mau duduk di krosi, ia berdiri lagi dan menjura pada orang orang yang baru masuk. "Tabe nyonya! Tabe Kacung! Aai tabe nona Kim . . .! Kutika dapat lihat regent, mukanya Kim Nio berobah jadi pucat dan jadi menunduk, tapi ia jadi kaget dan angkat kombali mukanya ketika ia merasa tangannya dipegang oleh regent dengan dikutik kutik pake jerijinya, Kim Nio diam saja, cumah kedengarannya ia membuang napas panjang sekali, tapi ia tida merasa pada bajunya ada titik titik tanda merah dari pada aer sirih yang berlompat dari mulutnya regent, kemudia semua orang rata berduduk dengan muka tertawa tanda suka hati. Tiada lama lagi, datanglah jongos membawa aer teh dan kuwe kuwe, kutika Oey Se ajak tetamunya dahar kuwe, regent itu berkata: "Aai, saya makan sirih...as...as! Permisi sobat!" Ia tundukkan mukanya pada mulut tempolong di bawah meja akan buang itu ampas sirih, tapi cilaka, sebagian dari ampas sirih itu mengenai kainnya Kim Nio sampe dia ini jadi kaget. Regent itu pun seperti kaget rupanya, mukanya jadi merah, seraya katanya: "Aai! Maafkan nona, sunggu saya ..." "Tida apa," jawab Kim Nio dengan suara perlahan sekali. Sesudahnya sedikit lama bercerita cerita sembari dahar kuwe kuwe, regent itu bangun dari krosinya dan minta permisi buat pulang, sekali lagi orang orang bertabeian dan dikutik kutik lagi tangannya Kim Nio dengan jerijinya, maka regent itu keluarlah naik dikeretanya dan berjalan pergi. Tapi Kim Nio ...aih! tida tau sebab apa Kim Nio masuk di kamarnya dan menangis amat sedih terus saben hari Kim Nio bersedihan saja, ibu bapanya kira ia bersedihan itu sebab kematian suaminya, jadi dibujuknya supaya ia jangan terlalu ingat saja musti jaga diri supaya tinggal sehat dan pandang saja Liem Nio yang masih kecil, kasihan apa nanti jadi dengan itu anak, kalu ibunya senantiasa tinggal bersedihan saja. Maski bagimana juga orang memberi ingatan, tapi percumah, Kim Nio masih juga tinggal begitu sampe badannya jadi kurus, ingatannya cumah kepingin lari keluar saja dan di matanya terbayang bayang saja rupanya itu regent tiada barang sekejap ia bisa lupakan.
***

TATKALA pada suatu hari si perempuan tua datang ketemukan Kim Nio, ia lantas pura pura bikin dirinya jadi seperti orang berkaget sekali, maka katanya: "Aai, mengapa beberapa hari ini nona ada begitu sedih?" Kim Nio tida jawab dengan mulut, hanya ia jawab dengan aer mata yang berhamburan membasahi bajunya.
Si orang tua menanya lagi dengan membujuk, katanya: "Ach, nonaku yang eilok, sungguh hancurlah rasanya hati saya di dalam melihat nona begitu betsedihan, saya sudah terima nona punya budi terlalu banyak, maka saya senang sekali kalu bisa bantu pikul nona punya kesusahan yang amat berat itu, bukankah nona sampe percaya pada saya, baiklah ceritakan hal apa yang menjadikan nona begitu bersedihan ceritakanlah, supaya jadi lega nona punya hati, lagi barangkali saja saya si tua ini bisa bantu cari pikiran buat kebaikan nona ..."
Kutika Kim Nio tiada juga mau berkata, maka si tua berkata lagi dengan suara perlahan: "Barangkali nona bersedihan sebab ada suatu maksud yang resiah dan yang dikira tiada bakal menjadi, tetapi jangan kurang pengharapan, barangkali saja Allah nanti kabulkan, coba saja ceritakan, saya nanti pergi kunjungkan keramat keramat yang angker, supaya sigera terkabul nona punya maksud".
Kim Nio angkat mukanya, sembari menepas aer matanya, ia berkata dengan susah, katanya: "Haaah! ...susah jadi orang," kemudian ia tunduk lagi. "Mana boleh kata begitu" kata si orang tua dengan bersorot girang.
"Nona sudah kira kita saja begitu, tetapi sering kejadian apa yang bermula dikira susah, kemudian gampang saja didapatnya." "Ya, tapi aku punya...ach, susah!" jawab Kim Nio yang menangis lebih sedih lagi. Si tua tempelkan mulutnya pada kuping Kim Nio, katanya dengan berbisik: "Apa sebab suami yang sudah wafat?" Kim Nio goyang kepala dan tiada menjawab suatu apa. Si tua jadi girang sekali maka ia berbisik lagi, katanya: "Sekarang saya dapat duga apa yang bikin nona begitu sedih, barangkali !...a...i...itu orang yang...kapan hari."
"Siapa?" tanya Kim Nio dengan kaget. "Yang pake kereta." Kim Nio melompat bangun dan tarik tangannya itu orang tua bawa masuk ke dalam kamernya yang lantas dikonci pintunya dari dalam. "Siapa angkau mau bilang?" tanya Kim Nio.
Si orang tua jadi kaget, tapi mau atau tida ia musti bilang juga, maka ia tabakan hatinya, katanya: "Jangan gusar, nona, saya mau bilang ...regent." Kim Nio seperti limbung, kemudian ia duduk di atas tempat tidur, ia tarik tangannya si tua supaya jadi lebih dekat, maka katanya: "Begimana angkau boleh tau?" "Sebab dari Kanjeng datang menenamu di sini, saya lihat nona senantiasa bersedihan saja, apa salah dugaan saya?" Mukanya Kim Nio jadi merah dan bertunduk sekutika lamanya, sedang si tua awasi n dia dengan mata teramat tajem, kemudian katanya: "Betul awas sekali angkau ini, Mak!" "Nah, apa saya kata" kata si tua dengan teramat girang.
"Memang susah orang muda musti paksakan hatinya jadi tua, syukur nona mau percayakan itu resiah pada saya, jangan selempang saya punya mulut tida bocor, tapi apa betul nona ada cinta pada regent?" Kim Nio manggutkan kepalanya , seraya katanya: "Tapi susah sebab lain bangsa."
"Nah, begitu, senanglah saya punya hati, sebab coba nona pikir apa bedanya Cina dan Islam, lagi nona belon tau bagimana bagus agama Islam yang begitu suci, wah, kalu nona sudah dapat tau itu, tentu nona lantas mau masuk Islam dan pergi ke tanah suci naik haji, sudah tentu nona akan naik syorga. Kalu nona percaya sama saya; nona punya maksud itu perkara kecil, saya tanggung musti kesampeian pendeknya nona tau ada saja sama saya, asal saja jangan nona minta ambil atau petik bintang di langit, itu saya tida sanggup, tapi ini perkara ach!...seperti caplok nasi ke dalam mulut begitu punya gampang, memang pantas nona berpasangan dengan regent, alah, sama juga matahari dan bulan rupa, lagi kurang bagimana disembah oleh orang setanah Jawa, tida gampang kalu bukan bidadari yang menyurup (titis) masa ada itu rejeki begitu besar jadi ratu." Kim Nio jadi bengong mendengar itu semua, tapi si tua senantiasa membujuk dan ceritakan hal agama sampe Kim Nio jadi tergerak sunggu hatinya; kemudian si tua berjanji akan bersanggup akan sampekan itu maksud. Kutika si tua bilang mau pulang dan janji besok akan kombali, Kim Nio pesan padanya jangan sampe resiah pecah, si tua berjalan pulang sesudahnya terima dari Kim Nio satu ringgit. Besoknya ia datang lagi dan bujuk lagi pada Kim Nio sembari ceritakan terus hal agama, dari watas itulah Kim Nio dan regent mulai berbales balesan surat yang dibawa oleh itu orang tua. Oey Se dan isterinya jadi senang sedikit melihat anaknya sudah mulai segar dan suka tertawa, maka kedua orang tua itu lepas saja Kim Nio saben hari duduk berkumpul dengan itu perampuan tua.
***

PADA suatu malam di rumahnya Oey Se ada rame rameian feesta nayub, ronggengnya dipake yang masyhur sekali, nyai Dasiah namanya, semua tetamu rata bersuka hati sekali masing masing angkat gelas minum selamatnya Oey Se yang sudah dapat putera lagi lelaki dari isteri yang muda, yaitu nona Hiang Nio sebagimana pembaca sudah dapat tau, setelah itu, sekalian tetamu lantas mengibing ganti berganti, cuma regent tida datang di itu feesta sebab katanya ada halangan.
Sedang begitu dari dalam rumah ada kelihatan dua orang yang berpakaian serba hitam ada berjalan pelahan pelahan ke belakang meliwatin kebon dan sampelah di ujung kebon yang berpagar tembok pake satu pintu, itu orang buka itu pintu dan lantas dua dua sudah ada di luar pagar, kutika itu di udara ada amat gelap, bintang bintang hampir tiada kelihatan sinarnya, sementara angin malam senantiasa meniup amat dingin, keadaannya amat sepi sekali, cumah kedengaran saja suara balang dan jangkrik dan suara aer yang mengalir di sungai di luar pagar itu: satu dari itu dua orang yang berpakeian hitam, berdehem tiba tiba dari dalam sungai ada orang sautin, katanya: "Ehem!...di sini." O, kiranya orang itu ada di dalam perahu, setelah mendengar itu suara, kedua orang yang di darat lantas turun di tangga dan melompat ke dalam perahu yang lantas didayung ke tengah. Setelah ada di dalam perahu, satu dari itu dua orang yang di darat dan seorang yang ada dalam perahu jadi berpelokan satu sama lain, cumah kedengaran saja orang berkata kata: "Kim!" "Dhen!" "Aai...Kim Nio ku yang tercinta sudah lama sekali aku menunggu di sini."
"Ach, Dhen! Hampir saja jadi gagal aku dari pagi ..."
Kemudian tida ada kedengaran apa apa lagi, cumah ada kedengaran suara seg segan seperti suara orang menangis dan suara dayung (penggayuh) yang naik turun di atas aer.
***

MALAM itu sudah liwat, maka pagi pagi sekali sudah ada kedengaran suara orang ribut ribut di rumahnya Oey Se, kutika orang bangun pagi pagi di dapat pintu kebon semua tinggal terbuka, dikira ada maling masuk, lantas orang periksa barang barang di dapur dan di dalam rumah, tapi semua tinggal beres sebagimana adanya. Oey Se merasa heran sekali dari itu perkara, lebih lagi ia jadi heran, sebab sampe di itu waktu Kim Nio belon juga keluar dari kamernya, ia lantas suru isterinya pergi tengok. Astaga! Pintu kamer itu pun suda terbuka, Kim Nio hilang! "Ach! Binasa! Anakku buang diri di kali!!" teriak nyonya Oey Se sembari menangis keras.
"Apa sudah jadi!" tanya Oey Se dengan gugup. "Kim Nio hilang, barangkali sudah mati buang diri di kali!" Orang orang jadi lebih kalang kabut, tiada lama lagi di pinggir kali sudah penuh orang dan politie sementara di tengah sungai penuh perahu yang mau cari mayitnya Kim Nio, sampe matahari sudah tinggal di langit belon juga didapat apa yang dicari. Nyonya Oey Se sudah tida dapat ditahan lagi, ia menangis sesambatan, pun Oey Se sudah hilang sama sekali pengharapannya, maka ia pun menangis juga, hingga jadi riuh rendah suaranya orang menangis di dalam rumah itu.
Begitulah memang cinta orang tua kepada anak anaknya, tetapi tiada kurang anak yang berdurhaka kepada orangtuanya, lihat saja itu Kim Nio, orang tuanya di rumah sedang ribut tangisin dia, tapi dia si anak sedang bersenang hati bercinta cintaan dengan si lelaki kecintaannya dengan tiada sekali ingat kepada orang tuanya dan nona Lien Nio anaknya yang masih kecil.
Ach! Jahat sekali ilmunya khiai Sentono itu, tapi adakah lebih jahat dari pada suka membuat konci palsu? Allah itu maha adil.
***

REGENT senang sekali, itu boleh dikata tentu, lebih lagi sebab Kim Nio ada bawa juga uang banyak sekali, katanya buat mengamal kepada fakir miskin menurut titahnya Nabi Muhamad supaya kemudian hari ia boleh diterima dalam syorga pada langit yang ketujuh, pun Khiai Sentono dan itu perampuan tua dapat hadiah dan persalin banyak sekali. Beberapa hari kemudian Penghulu datang di kabupaten akan nikahkan regent dan Kim Nio yang sudah masuk Islam dan bergelar Siti Fatimah Radhen Ayu Kanoman. •
Mulut manusia lebih nyaring dari pada suara gong itu memang betul, dan asap itu tiada boleh ditutup. Oey Se dan isterinya yang sudah beberapa hari tinggal bermasgul sebab memikirkan anaknya yang hilang yang dikira sudah mati, sudah jadi makanan buaya di sungai, tiba tiba ia dapat kabar dari orang yang boleh dipercaya, bahwa Kim Nio tiada mati, tapi sudah masuk Islam dan sudah dinikah oleh regent jadi Radhen Ayu Kanoman.
Oey Se jadi berjingkrak jingkrak seperti kena di antuk kalajengking kutika ia dengar itu kabar, ia lantas kasih tau pada isterinya yang dua dua jadi menangis sedih. Bukan bukan marahnya Oey Se, tapi apa mau bikin? Cumah ia bisa berkata: "Cawa cawa cat!" (anak perampuan memang bangsat).
Oey Se dapat ingat kutika ia bikin feesta nayub, regent diondang tida datang, jadi ini sebabnya, nyata si bangsat dan si sundel sudah berjanji dan si perampuan tua itulah yang jadi tengahnya antara itu dua orang dalam dirinya ia berkata: "Ya, Allah, ya Tuhan, berat sekali tanganmu menimpa kepalaku, ach! Vigni. Vigni...O, inilah pembalesannya. Ya Tuhan.. .ampun". Tapi dalam hatinya Oey Se masih merasa penasaran, ia belon percaya betul itu kabar, maka ia suruh anaknya yang lelaki babah Kacung pergi cari tau lebih terang.
Kebetulan sang regent pergi meronda bersama tuan Resident, maka Kacung datang di Kebupaten yang amat lebar sekali perkarangannya dan ada terdiri dua tiga rumah gedong, dengan pertunjukkannya oppas. Kacung masuk di salah satu rumah itu. Kim Nio alias Fatimah dapat tau yang datang itu sudaranya, lalu ia datang di luar akan ketemukan, serta Kacung melihat sudara perampuannya ada berpakeian seperti perampuan Jawa, lantas juga ia jadi marah, katanya: "Ach! Busuk sunggu perbuatanmu ini, Kim! Angkau tau apa nanti jadi dengan orang tua kita dari pada perbuatanmu ini, hah?"
Mendengar ini Kim Nio jadi limbung dan jatohkan dirinya di atas suatu bangku divan seraya menutup mukanya ia menangis tersedu sedu, Kacung berkata lagi: "Sunggu tiada beruntung orang tuaku dapat ini satu anak perampuan geladak, akan menurutkan nafsu hati angkau lebih suka hinakan diri sendiri begitu rupa, angkau masih ada itu muka buat hidup di dunia? Ya... tebal sekali kulit mukamu ini, geladak!" Kim Nio menepas aer matanya dan angkat mukanya seraya memandang kepada sudaranya, katanya: "Cung! Cung! Ingat sama siapa angkau ada bicara, cukuplah angkau katai n aku, tapi aku sudah jadi begini, ya apa boleh buat...aku tida bisa..robah lagi."
"Tutup mulutmu, anjing!" teriak Kacung dengan lebih marah lagi. "Aku tau sama siapa aku ada bicara, yaitu dengan seorang perampuan hina sisa dunia, lebih baik lekas turut aku sekarang pulang ke rumah, masih angkau boleh dapat ampun, ayoh!" "Tida bisa," jawab Kim Nio dengan suara susah. "Angkau tida bisa?"
"Sunggu Cung, tida bisa." "Begitu? Nah, dari sekarang terputuslah tali persaudaraan antara kita orang, muga muga Allah nanti kutuk angkau!" Kacung keluar dari pintu dan berjalan pergi, sedang Kim Nio menangis keras, sebab ada juga rasa menyesal di dalam hatinya atas perbuatannya yang sangat tiada patut itu. Baru sekarang ia bisa menyesal, tetapi percumah, Cina tanggung Jawa wurung mati tergantung di awang awang (udara). Peribahasa pun ada bilang: "Sesal dahulu pen-dapetan, sesal kemudian tida ada gunanya." Kutika Kacung sampe di rumah ia lantas ceritakan pada ibu bapanya bagimana ia sudah bertemu dengan sudaranya. Oey Se jadi marah sekali, ia lantas suru gantung kain putih di depan pintu rumahnya seperti ada kematian, Oey Se upamakan anaknya yang perampuan si Kim Nio sudah mati, lagi dibikinnya boneka rumput dimasukkan ke dalam peti mati yang lantas dikubur di belakang kebon dan di pakein batu bong paiy (batu nisan) dipahat namanya Kim Nio, diupamakan Kim Niolah yang dikubur di situ. Liwat satu bulan dari apa yang sudah diceritakan, Oey Se dan sekalian anak isterinya naik di kapal dan berlayar akan pergi mengalih ke Betawi, sekalian tanah dan rumahnya yang di Pekalongan semua dijual dilelang, ia punya rumah besar dapat dibeli oleh seorang Cina bangsawan kaum Oey juga.
***

SEBAGIMANA pembaca sudah dapat tau, bahwa Oey Se sudah mengalih ke Betawi sebab ia merasa amat malu dari pada perbuatan ia punya anak perampuan si Kim Nio, sekarang Oey Se sudah bangunkan lagi rumah besar di kampung Cina Kali Besar di Betawi dan dagang besar lebih dari kutika dulu tatkala ia masih berumah di Pekalongan, sebab ia ada kaya besar, maka Betawi pun tiada kurang orang yang bersobat dengan dia. Oey Se sudah tiada mau ingat lagi pada anaknya yang perampuan yang ia pandang sudah tida ada lagi di dalam dunia, sekarang ia pikirin saja halnya ia punya anak lelaki yang babah Kacung yang sekarang sudah besar dan sedangnya musti beristeri, ia sudah juga berdamikan atas hal itu dengan isterinya, tapi Kacung tida mau terima, ia tiada mau kawin kalu tida ada perampuan yang betul betul ia penuju, pendeknya ia mau cari sendiri satu nona yang terlalu eilok dan cantik buat isterinya dan yang paling ia penuju, kalu belon dapat itu, ia tiada mau kawin biar selama lamanya. Pada suatu hari Kacung dapat dengar dari sobat sobatnya yang di Senen ada seorang Cina miskin mempunyai seorang anak perampuan yang amat eilok dan cantik hingga susah dicari tandingannya, lagi anak perampuan itu sekarang sedang maja puteri dan belon terima peminang orang. Kabar ini sudah didengar oleh Kacung dengan sangat suka cita, ia bermaksud mau lihat dengan mata sendiri halnya itu nona, maka cari daya upaya akan sampekan maksudnya.
***

SEKALI peristiwa pada suatu hari, Kacung sedang ada di dalam rumahnya, ia dapat satu surat dari seorang yang tiada dikenal, dalam suratnya orang itu minta Kacung datang di suatu rumah makan sebab ada kabar perlu sekali buat kebaikannya Kacung. Kutika terima itu surat, Kacung merasa kurang senang di dalam hati, ada ingatannya tida mau pergi ketemukan, tapi itu surat ada begitu perlu rupanya sampe Kacung kepingin sekali dapat tau maksudnya itu orang, jadi ia suruh kusier pasang kereta akan pergi di itu rumah makan yang ditunjukin di dalam surat. Tuan rumah makan terima Kacung punya datang dengan hormat dan tunjukin di kamer mana tetamu itu ada yang minta Kacung datang. Setelah Kacung masuk di kamer itu. Ia jadi kaget sekali. "Astaga! Aku kira siapa, angkau Kim yang panggil aku, angkau masih berani datang di sini buat ketemuin aku?" Kim Nio alias Fatimah jadi girang sekali ketika dapat lihat sudaranya, maka katanya: "Ach, Cung duduklah! Bagimana Entia dan Encim ada baik" "Ya! Habis apa angkau mau?" "Duduklah dulu, nanti aku mau cerita." "Ayo lekas, aku tida ada tempo!" "Aai, Cung! Cung!" berserulah Kim Nio dan mulai menangis sedih. "Dari jauh aku datang cumah sebab kangen pada orang tua, pada si Lien anakku dan pada angkau sudaraku, habis angkau masih juga berkerasan, ai keliwatan sekali, ach! Kenapa Malaikat maut tida lekas ambil saja aku..." Kacung melihat begitu jadi dapet rasa kasihan juga, maka ia lantas duduk di krosi dan katanya: "Sudah! Nah, sekarang bagimana, cuma aku heran, cara bagimana angkau bisa dapat tau aku punya tempat tinggal?" "Ach, angkau memang baik," kata Kim Nio dengan suara girang. "Apa angkau tida tau yang kecintaan ibu kepada anaknya tida bisa terputus begitu juga ibu kita, kalu ia tulis surat padaku, apa tiada boleh? Tapi aku tida puas hati cumah dapat suratnya saja, aku kepingin ketemu betul betul orangnya, dari itu aku datang sekarang ini." "Apa angkau punya Jawa..." "Sudah, aku tau apa angkau mau bilang" kata Kim Nio sembari memutusin bicara sudaranya. "Hal itu tida usah disebut sebut lagi, sudah dasar aku punya untung, cumah harap saja angkau anak laki laki bisa bikin senang orang tua." "Baik jadi angkau mau datang ke rumah?" "Ya, bagimana pikiranmu?" "Hm, itu tida boleh, Entia boleh muntah darah kalu lihat angkau, tapi sebab angkau begitu sunggu hati, baik, aku nanti tulung, nanti malam aku datang di sini sama sama Encim dan si Lien." "Angkau baik sekali sudaraku." Berseru Kim Nio sembari pelok sudaranya. "Tapi jangan salah ya." Kacung lepaskan dirinya dari pelokan sudaranya dan lantas berdiri katanya: "Nah, Kim aku pulang sampe nanti malam!" Betul pada itu malam Kacung datang bersama ibu dan keponakannya perampuan akan ketemu Kim Nio di luar taunya Oey Se, sedih sekali pertemuannya itu ibu dengan anak, aer mata yang tumpah banyak sekali, sudah kenyang menangis, lantas bercerita cerita sampe Kacung bilang sudah laat musti pulang. Tapi Kim Nio dengan nangis nangis minta nona Lien ia punya anak, tinggal buat temankan ia di ini malam. Permintaan itu dikabulkan juga, maka jadi Kacung saja dengan ibunya yang pulang. Besoknya Oey Se baru keluar dari pintu lantas datang seorang Selam kasihkan satu surat padanya, yang lantas disuru Kacung baca; Kacung jadi kaget sekali, sama sekali ia banting banting kaki dengan marahnya, katanya: "Tia! Cilaka besar sudah jadi dalam ini rumah, tadi malam ia sudah bawa lari si Lien Nio dan tadi pagi dengan pertulungan kapal ia sudah berangkat pulang ke Pekalongan!" "Ha!" teriak Oey Se dengan kaget dan napsu. "Itu geladak sudah datang curi anaknya dari rumahku, ayo cari! Darimana jalannya." Kacung diam saja sebab sudah merasa dia punya salah, kemudian katanya: "Mungkin sudah lama Kim Nio bersembunyi di dekat sini dan sudah dapat bujuk si Lien, tentu si Lien jalan dari jendela kamer buat turut ibunya minggat." Oey Se pikir boleh juga begitu, maka ia tida mau ambil pusing lagi, dalam hatinya ia pikir, cucu perampuan yang tida pake kita punya she (nama kaum) bukan kita punya darah, biara apa dia punya suka boleh bikin, cumah pada Kacung dipesan jangan sampe orang luar dapat tau ini perkara. Nyonya Oey Se kaget sekali kutika ia dengar itu kabar, tapi Kacung hiburkan seberapa boleh, familie luar persetan sama dia, guna apa dibuat pikiran.
***

ANTARA orang orang Cina yang banyak berumah di Senen, ada juga seorang Cina miskin penghidupannya dari pada menjual tawhu dan piara babi, orang itu Tjan Pu namanya, isterinya sudah lama meninggal dunia dan tinggalkan seorang anak perampuan Tjan Song Khiauw namanya yang amat eilok sekali parasnya, jarang didapat keduanya lagi anak gadis yang begitu eilok pada zaman cerita ini Pada suatu hari yang nona Song Khiauw ada di kandang sedang piara babi, masuklah seorang selam kuli Banten (orang Bantam) pikul aer katanya: "Nona, Encek di luar suruh saya pikul aer bawa kemari."
"Ya, bawa kemari, masukkan di dapur, lu tau tempayan, nah, tuang di situ."
"Yang mana, nona, tempayannya?" Nona Song Khiauw masuk ke dapur dan tunjukkan itu tempayan, nona Song Khiauw kasih pada si Banten uang tembaga satu sent yang terima itu lantas pergi menuju ke pinggir kali, sembari mandi dan ganti pakeian, ia berkata pada diri sendiri: "Alah, pundakku sampe lecet, tapi tida mengapa, kalu aku tida pake ini akal, di mana bisa ketemu itu nona yang begitu eilok dan boto, tiada salah seperti katanya sobat sobatku sunggu eilok sekali barangkali Ong Ciauw Koen7 yang menjelma, aduh! Aku lebih suka mati kalu tida bisa dapat itu nona buat isteriku, sunggu aku Oey Jin em she (tida mau jadi orang she Oey) kalu tida bisa dapat dia, baik sekarang juga kasih tau pada ibuku."
"O! kiranya orang itu ialah Kacung alias Oey Sek Lan puteranya Oey Se, yang sudah menyaru jadi kuli Banten pikul aer cumah buat dapat lihat rupanya nona Song Khiauw, sekarang ia merasa penuju sekali pada itu nona, maka kutika ia sampe di rumahnya lantas juga ia kasih tau pada ibunya yang lantas pergi lamar itu nona, ach! Dasar jodo, maka hal itu sudah dibikin dengan gampang sekali. Tiada lama kemudian, Oey Se bikin feesta besar sekali akan merayakan hari kawinnya ia punya anak Oey Sek Lan dengan nona Tjan Song Khiauw.
Dari watas itu Oey Se dan sekalian kulawarganya ada hidup dengan beruntung sekali di Betawi. Nyonya Oey Se sudah lama tiada dapat kabar dari anaknya yang perampuan di Kim Nio alias Fatimah, cumah yang belakangan sekali ia tulis surat pada ibunya akan memberi tau, bahwa suaminya yaitu regent Pekalongan sudah pensiun yang gantikan dia anaknya yang nommer dua dari Padmi, dan yang paling tua jadi Patih di Pekalongan juga, pun ia punya anak nona Tjoa Lien Nio sudah masuk Islam dan dapat sama sudara tiri.
***
KIM NIO alias Fatimah bekas Radhen Ayu Kanoman, maski ia sudah jadi Islam tapi masih juga ia suka berkenalan dengan nyonya nyonya Cina yang panggil dia Radhen Ayu. Juga ada banyak orang orang Cina lelaki perampuan yang sudah dibujuk oleh Fatimah dan masuk Islam, maka sekalian mualap itu sekaliannya ditulung oleh Radhen Ayu Fatimah orang modal akan berdagang, ada juga yang turut tinggal di Kabupaten dengan tiada bekerja suatu apa, tapi dapat penghidupan cukup dan senang sekali hingga di antaranya ada juga yang dapat titel Radhen. Pada suatu hari Radhen Ayu Fatimah datang bersanja dibekas ia punya rumah dulu yang sekarang sudah dipunyai oleh seorang hartawan kaum Oey juga yang memang ada bersobat baik dengan dia.
Nyonya Oey bawa Fatimah jalan jalan di kebon, di situ ia dapat lihat suatu kuburan pake batu bongpaiy yang dipahatkan ia punya nama Cina, yaitu Oey Kim Nio anak dari Oey Se.
Fatimah jadi kaget sekali, dalam dirinya ia berkata: "O, ayahku pandang, bahwa aku ini sudah tida ada di dalam dunia, yaitu sudah mati dan dikubur di sini." Kutika Fatimah pulang sampe di rumahnya ia lantas jatoh sakit keras sekali, sebab kaget melihat kuburannya sendiri, suaminya yaitu regent pensiun panggil dukun dukun dan doktor yang pande buat tulung dan obatkan Fatimah, tapi semua percumah, sampe pada suatu hari baik Fatimah sudah tiada dapat di tulung lagi, kepandeiannya dukun dan doktor tiada kuat menangkis tangannya Malaikat maut yang kuat sebagi besi menekam dadanya Fatimah hingga melayanglah jiwanya ke dunia yang baka.
Oey Kim Nio alias Fatimah bekas Radhen Ayu Kanoman, puteri dari sudagar besar Oey Se sudah mati...
Cumah setiap malam sampe beberapa bulan lamanya di kuburannya Fatimah orang dapat denger suara perampuan menangis, dan merintih, katanya: "Gatel! Gatel! Gatel!!!!"
Sebab itu, orang bilang akan Fatimah itu. Cina tanggung-Jawa wurung mayitnya tida diterima oleh bumi.
TAMAT

PERINGATAN Barang siapa tuan tuan pembaca yang sudi ini cerita, haraplah seboleh-boleh ambil kiasnya, yaitu bagaimana orang yang suka berbuat jahat, yang mana achirnya pun menerima pembalasannya juga. Amin!!!

 
Banner
 

Info Gadget

New Interactive TV E...

BOSTON – May 21, 2012 – Next-generation TV has arrived. At The Cable Show in Boston (May 21-23, Booth #733), Motorola Mobility, Inc. (NYSE: MMI) is showcasing the revolutionary entertainment discovery experience that will be launching in North American homes later this year.


Read More...

Panasonic's Premium ...

SECAUCUS, NJ (May 21, 2012) – Today, Panasonic announced a new digital interchangeable standard zoom lens, the LUMIX G X VARIO 12-35mm/F2.8 ASPH./POWER O.I.S. (H-HS12035). The newest addition to the company's premium lens brand "X," which is compatible with the Panasonic LUMIX G Series and complies with the Micro Four Thirds™ system standard, this lens offers a versatile zoom range of 12-35mm (35mm camera equivalent: 24-70mm) and features constant F2.8 aperture brightness at entire zoom range.


Read More...

VIA Announces Ultra ...

Delivers power efficient dual core processing in a ruggedized chassis system for a diversified range of embedded applications Taipei, Taiwan, May 17, 2012 - VIA Technologies, Inc, a leading innovator of power efficient computing platforms, today announced the VIA AMOS-3002, an ultra compact, fanless system designed around the tiny VIA EPIA-P900 Pico-ITX board. The VIA AMOS-3002 provides embedded customers with a system that delivers all the latest features and digital media standards required for a diversified range of embedded applications including telematics, in-vehicle control, machine to machine controller (M2M), digital signage and kiosks.


Read More...
012

Info Kesehatan

Glaucoma
27/09/2011 |
article thumbnail

Glaucoma is a serious eye condition characterised by an increase of pressure within the eye ball, called intraocular pressure. It is  [ ... ]


Therapeutic Value of Massage
24/09/2011 |
article thumbnail

Massage is an excellent form of passive exercise. The word is derived from the Greek word ‘massier’ which means to knead. It invo [ ... ]


Artikel Lainnya

Jualan Produk Herbal?

Peluang Usaha Bisnis Herbal