|
Dalam keluarga monyet, ada jenis kera yang disebut orang utan, dan ada pula jenis lain yang bernama babon.
Meskipun mereka termasuk golongan monyet, tetapi jenisnya berbeda. Orang utan dan babon punya banyak sekali perbedaan dalam kebiasaan hidup, suasana hati, dan lain sebagainya. Mereka hidup di dua gunung yang berbeda, karena itu tidak bisa akur, dan saling mengacuhkan.
Sebagian besar orang utan bersifat tenang, tingkah lakunya tidak berangasan, suasana hati mereka hangat, suka bergerombol menjadi satu. Tua, muda, lemah, dan kuat, semuanya saling jaga dan melindungi. Ada makanan, mereka saling mengalah satu sama lainnya. Saat pergi keluar mereka jalan berbaris, sangat teratur; saat berada di tepi sungai minum air juga bergiliran. Apabila di perjalanan ada yang tersesat atau hilang, para orang utan mengeluarkan suara sedih untuk memanggil teman yang hilang. Ketika mereka menemui bahaya, para orang utan langsung bergerombol menjadi satu, menjaga yang lemah dan yang kecil berada di tengah gerombolan agar tidak terluka. Orang utan juga baik terhadap manusia. Mereka tidak merusak sawah dan tidak akan menghancurkan sayur-sayuran yang ditanam manusia. Di hutan tempat tinggal mereka, tumbuh banyak sekali buah-buah liar. Saat buah-buahan belum masak, mereka tidak akan merusaknya, bahkan bergantian menjaga pohon buah itu. Setelah buah menjadi masak, para orang utan memanggil teman-teman mereka, kemudian memakan
buah-buahan itu bersama-sama, hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat akur. Rerumputan dan bunga-bunga yang tumbuh di atas gunung pun tidak akan dirusak, tidak dipetik maupun diinjak oleh orang utan. Ketika mereka akan melewati bunga dan rumput yang sedang tumbuh, mereka pasti akan memutarinya, berusaha sebisa mungkin melindungi tanaman. Karena itu, hutan yang ditinggali orang utan selalu terlihat subur.
Sedangkan kehidupan babon sama sekali berbeda. Sifat mereka berangasan dan seenaknya sendiri. Sekalipun berada di gerombolan yang sama, selalu tidak bisa akur. Saat mereka makan, mereka saling berebutan dan saling gigit, siapa pun tidak mau saling mengalah. Saat berjalan keluar, para babon tidak berbaris dan tidak beraturan. Waktu minum air, semuanya kacau balau, saling rebut dan bertengkar. Apabila ada teman yang tersesat dan hilang, jangan harap ada yang memikirkan dan mengasihani. Lebih-lebih saat bertemu bahaya, mereka pasti akan menjadikan yang lemah dan yang kecil sebagai kambing hitam serta mengorbankan mereka demi keselamatan diri sendiri. Mereka seringkali menginjak dan merusak ladang manusia, merasa tindakan mereka ini sangat menyenangkan. Setiap tempat yang didatangi, pasti jadi hancur dan kacau balau. Dalam hutan pegunungan, buah-buahan di atas pohon yang masih belum masak, digigit dan ditempar sembarangan, dan mereka masih sering mengambil makanan mttik sesama temannya. Semua bunga dan rerumputan di hutan pegunungan pasti pernah diinjak mereka. Mereka sering sembarangan mempermainkan rumput dan pepohonan, membengkokkan pohon, dipatahkan, sampai pohon itu jatuh baru ditinggal. Karena itu, hutan pegunungan yang ditinggali para babon seringkali terlihat tandus dan kering.
Lingkungan membentuk seseorang, manusia juga mempengaruhi lingkungan. Supaya lingkungan kita rukun dan indah, kita harus pandai meng-atur tingkah laku dan pola bicara, janganlah sesuka hati, tidak memperhatikan perasaan orang lain, apalagi hanya mengharapkan keuntungan pribadi semata. |