|
DELAPAN XEROX DAN LISA Antarmuka Pengguna Grafis Seorang Bayi Baru Komputet Apple II membuat perusahaan Apple pindah level, dati garasi rumah Jobs ke puncak sebuah industri baru. Penjualannya mening-kat tajam, dari 2.500 buah pada 1977 menjadi 210.000 buah pada 1981.
Namun, Jobs merasa gelisah. Apple II tidak mungkin sukses untuk selama-nya. Dia juga tahu bahwa sebesar apa pun usaha yang dilakukannya untuk mengemas komputer tersebut—rnulai dari menyambungkan kabel daya hingga membuat kotak—komputer tersebut akan selalu dianggap sebagai karya besar Wozniak. Dia membutuhkan mesinnya sendiri. Lebih dari itu, dia menginginkan sebuah produk yang dalam kalimatnya sendiri, memnggalkan kesan mendalam di benak masyarakat. Pada awalnya, dia berharap Apple III akan berperan seperti apa yang diimpikannya. Komputer tersebut akan memiliki memori dengan kapasi tas yang lebih besar; layar yang akan menampilkan 80 karakter, bukannya 40 karakter; dan layar yang dapat menampilkan huruf besar maupun hu-ruf kecil. Dalam rangka menuruti hasratnya terhadap desain industri, Jobs memutuskan sendiri ukuran dan bentuk kotak luar komputernya. Dia juga tidak memperbolehkan siapa pun mengubahnya, bahkan ketika kelompok insinyur menambahkan beberapa komponen lagi ke dalam papan sirkuit. Hasilnya adalah papan penuh dengan tempelan konektor buruk yang sering mati. Ketika Apple III mulai dikirimkan kepada distributor pada bu-lan Mei 1980, komputer tersebut dianggap sebagai produk gagal. Randy Wigginton, salah seorang insinyur, mengatakan, "Apple III mirip seorang bayi yang dikandung karena pesta seks bersama, dan kemudian semua orang menderita sakit kepala yang parah. Lalu, lahirlah makhluk kecil menyebalkan, dan semua orang berkata bahwa dia bukan anakku." Pada saat itu Jobs menjauhkan diri dari Apple III dan berusaha keras mencari cara untuk memproduksi sesuatu yang sangat berbeda. Pada awalnya, dia tergoda dengan ide layar sentuh, tetapi dia merasa frustrasi. Pada salah satu peragaan teknologi tersebut, dia datang terlambat, merasa sedi-kit gelisah, kemudian mendadak menyela para insinyur di tengah-tengah presentasi mereka. Dia, dengan kasar mengatakan, "Terima kasih." Mereka bingung. "Kau ingin kami pergi?" tanya salah seorang insinyur. Jobs men-jawab, "Ya," kemudian dia berbisik kepada para rekannya bahwa mereka membuang-buang waktunya untuk mendengarkan presentasi itu. Selanjutnya, Jobs dan Apple mempekerjakan dua insinyur dari Hewlett-Packard (HP) untuk melahirkan komputer yang benar-benar baru. Nama yang dipilih oleh Jobs untuk komputer tersebut akan membuat psi-kiater yang paling lesu sekalipun menjadi terkesiap, yaitu Lisa. Beberapa komputer lain ada yang diberi nama sesuai dengan nama putri pembuat-nya, tetapi Lisa adalah seorang putri yang ditinggalkan oleh Jobs dan be-lum sepenuhnya diakui sebagai putrinya. "Mungkin dia melakukannya karena merasa bersalah," kata Andrea Cunningham, yang bekerja untuk Regis McKenna dalam mempromosikan proyek tersebut. "Kami harus mencari kepanjangan untuk kata tersebut sehingga kami dapat mengatakan bahwa komputer tersebut tidak diberi nama Lisa seperti nama anak Jobs." Salah satu kepanjangan yang mereka temukan adalah "Local Integrated Systems Architecture (Arsitektur Sistem Terpadu Lokal)." Meskipun kepanjangan itu tidak memiliki arti apa pun, perpaduan kata itu menjadi penjelasan resmi bagi nama komputer baru mereka. Di antara Para insinyur, nama tersebut diplesetkan menjadi, "Lisa: Invented Stupid Acronym (Akronim Ngawur yang Ditemukan)." Beberapa tahun kemudian, ketika saya bertanya tentang nama tersebut, Jobs mengakui bahwa, "itu Jelas nama putriku." Lisa diproduksi sebagai sebuah komputer seharga $2.000 yang gunakan mikroprosesor 16 bit, bukan 8 bit seperti yang digunakan pada Apple II. Tanpa keahlian Wozniak, yang masih mengerjakan penyempurnaan Apple II secara diam-diam, para insinyur mulai memproduksi komputer sederhana dengan tampilan teks konvensional. Komputer sederhan, itu tidak mampu mendorong mikroprosesor yang lebih kuat untuk melakukan hal-hal yang lebih menyenangkan. Jobs mulai tidak sabar karena melihat betapa membosankannya komputer tersebut. Ada seorang ahli pemrograman yang membuat komputer tersebut menjadi lebih hidup, yaitu Bill Atkinson. Pria tersebut adalah mahasiswa S-3 di bidang ilmu saraf, yang pernah bereksperimen dengan banyak sekali LSD. Ketika pria tersebut diminta untuk bekerja di Apple, dia menolak. Namun, Apple kemudian mengiriminya tiket pesawat yang tidak dapat di-uangkan kembali. Maka, Atkinson memutuskan untuk menggunakan tiket tersebut, lalu membiarkan Jobs berusaha membujuknya. "Kami sedang roenciptakan masa depan," kata Jobs kepada Atkinson di akhir pembicara-an mereka selama tiga jam. "Bayangkan Anda berselancar di depan ombak. Hal itu benar-benar menyenangkan, bukan? Sekarang, bayangkan jika ada seekor anjing yang mendayung di ujung ombak itu. Tidak akan ada yang lebih menyenangkan dibandingkan peristiwa seperti itu. Bekerjalah di sini dan tinggalkanlah kesan yang mendalam di benak orang," bujuk Jobs. Atkinson pun menerima tawaran tersebut. Dengan rambut berantakan dan kumis tebal yang tidak bisa menyem-bunyikan wajahnya yang lucu, Atkinson memiliki perpaduan antara kepan-daian Woz dan hasrat Jobs untuk memproduksi produk yang sangat keren. Tugas pertama Atkinson adalah mengembangkan sebuah program yang berfungsi untuk menelusuri portofolio saham. Dia, secara otomotis merit" lepon layanan Dow Jones untuk mendapatkan beberapa informasi, kemu dian menutup teleponnya. "Aku harus membuat program tersebut dengan cepat karena sud ada iklan majalah untuk Apple yang menanti. Calon iklan Apple itu memperlihatkan seorang suami yang sedang berada di depan meja dapur- Ia terlihat memandangi layar Apple II yang dipenuhi dengan grafik harga saham, dan istrinya menatapnya dengan berseri-seri—tetapi program komputer semacam itu belum ada, jadi aku harus segera menciptakannya." Kemudian, Atkinson rnenciptakan versi Pascal, yaitu bahasa pemrograman tingkat tinggi untuk Apple II. Jobs menolak program tersebut, karena menganggap Apple II hanya membutuhkan BASIC. Akan tetapi, dia kemudian mcngatakan kepada Atkinson, "Karena kau sangat bersemangat dengan program tersebut, kuberi kau waktu enam hari untuk mcmbukti-kan kalau aku salah." Atkinson melakukannya, dan Jobs menghormati pria tersebut sejak saat itu. Pada musim gugur 1979, Apple melahirkan tiga produk yang berpo-tensi menjadi penerus kesuksesan Apple II. Ada Apple III yang ditakdirkan sebagai produk gagal. Ada proyek Lisa, yang mulai membuat Jobs merasa kecewa. Dan tanpa sepengetahuan Jobs,—setidaknya pada saat itu—ada proyek percobaan kecil untuk mesin berharga murah, yang saat itu diberi nama sandi Annie. Proyek percobaan kecil itu sedang dikembangkan oleh Jef Raskin, seorang mantan profesor yang pernah mengajar Bill Atkinson. Tujuan Raskin adalah membuat "komputer murah untuk seluruh lapisan masyarakat". Komputer yang ingin dibuatnya itu akan mirip dengan sebuah perkakas—sebuah alat lengkap dengan komputer, keyboard, monitor, dan perangkat lunak yang digabungkan menjadi satu—dan memiliki antarmuka grans. Dia berusaha mengajak para rekannya di Apple untuk mengunjungi sebuah pusat penelitian bergengsi, tepat di jantung kota Palo Alto.
Xerox PARC Pusat Penelitian Palo Alto milik Perusahaan Xerox—yang dikenal dengan Xerox PARC— telah didirikan sejak 1970 dan berfungsi sebagai tempat pengembangan berbagai ide digital. Pusat penelitian tersebut ter-letak di tempat yang aman, yaitu 4.827 kilometer dari kantor pusat per-usahaan Xerox di Connecticut, bagian timur laut Amerika, yang penuh dengan tekanan masalah penjualan. Salah satu pegawainya yang berwawas-an ke depan adalah ilmuwan Alan Kay. Dia memiliki dua cara pandang yang dipercayai oleh Jobs. Dua pandangan itu adalah, "Cara terbaik untuk meramalkan masa depan adalah dengan rnenciptakan masa depan itu sen-diri,"dan "Orang-orang yang serius menekuni perangkat lunak, seharusnya membuat perangkat keras mereka sendiri." Kay ingin mewujudkan visinya mengenai sebuah komputer pribadi kecil yang disebut dengan Dynabook. Rencananya, komputer itu akan cuku mudah digunakan oleh anak-anak dari segala usia. Maka, para perekayasa perangkat lunak Xerox PARC mulai mengembangkan grafts yang mudah di-gunakan dan dapat menggantikan semua barisan perintah, termasuk perintah DOS yang membuat layar komputer tampak menakutkan. Metafora yang mereka hasilkan adalah sebuah komputer kecil. Layarnya dapat menampilkan banyak dokumen dan berkas, dan Anda juga bisa menggunakan tetikus untuk menunjuk atau memilih dokumen yang ingin Anda gunakan. Antarmuka pengguna grafis ini—atau Grafbical User Interface (GUI), yang dibaca gooey—dipermudah oleh konsep lain yang dipelopori di Xenx PARC, yaitu pemetaan byte. Sampai saat itu, sebagian besar komputer ma-sih berbasis karakter. Jika Anda mengetik karakter di keyboard maka komputer akan menampilkan karakter tersebut di layar. Karakter tersebut bi-asanya berwarna kehijau-hijauan seperti fosfor di atas latar belakang yang gelap. Karena pada saat itu jumlah huruf, angka, dan simbolnya terbatas, Anda tidak membutuhkan seluruh kode atau kekuatan pemrosesan komputer untuk melakukannya. Sebaliknya, pada sistem pemetaan byte, setiap dan semua fixel di layar dikendalikan oleh byte dalam memori komputer. Untuk menampilkan sesu-atu di layar—seperti sebuah huruf—komputer hams memberi tabu setiap pixel agar menjadi lebih terang atau lebih gelap. Jika kasusnya berkenaan dengan tampilan warna maka komputer akan memberi tahu fixel mengenai warna apa yang harus keluar. Proses tersebut memang membutuhkan banyak daya komputer, tetapi akan menghasilkan grafis yang indah, serta tulisan dan tampilan layar yang luar biasa. Pemetaan byte dan antarmuka grafis menjadi fitur dari prototipe komputer buatan Xerox PARC (seperti Alto), dan bahasa pemrograman-nya berorientasi pada objek (seperti Smalltalk). Jef Raskin menyimp*" bahwa beberapa bagian dari fitur tersebut akan menjadi bagian masa depa" bagi komputer. Jadi, dia mulai mendorong Jobs dan rekan lainnya di Apple untuk mengunjungi Xerox PARC. Raskin menghadapi satu masalah. Jobs menganggapnya sebagai teoretikus angkuh, atau Jika menggunakan istilah Jobs, "orang genius yang menyebalkan, oleh karena itu, Raskin meminta temannya, Atkinson— orang yang termasuk salah satu dari kelompok yang dianggap genius oleh Jobs —untuk meyakinkan Jobs agar mau mengamati apa yang terjadi di PARC Salah satu hal yang tidak diketahui oleh Raskin adalah kenyataan bahwa Jobs sedang menghadapi tawaran yang lebih rumit. Divisi modal usaha bersama milik Xerox ingin menjadi bagian dari putaran kedua pembiayaan Apple selama musim panas 1979. Jobs memberikan sebuah penawaran,"Aku akan mengizinkan kalian menginvestasikan satujuta dolar di Apple Jika kalian membuka kain penutup Xerox PARC."Xer.ox menerima penawaran tersebut. Perusahaan tersebut setuju untuk menunjukkan kom-ponen teknologinya kepada Apple dan sebagai imbalannya, Xerox diperbo-lehkan membeli 100.000 lembar saham dengan harga $10 per lembar. Pada saat Apple menjual sahamnya satu tahun kemudian, saham Xerox sebesar SI juta menjadi $17,6 juta. Namun, Apple mendapatkan ke-unuingan dari penawaran tersebut. Jobs dan para rekannya datang untuk melihat teknologi Xerox PARC pada Desember 1979. Ketika Jobs menya-dari bahwa dia belum puas dengan apa yang ditunjukkan oleh mereka, dia mendapatkan peragaan yang jauh lebih lengkap beberapa hari kemudian. Larry Tesler adalah salah satu ilmuwan Xerox yang bertugas memberikan peragaan tersebut, dan pria itu dengan senang hati menunjukkan karya yang tampaknya tidak pernah dihargai oleh pimpinannya di negara timur. Akan tetapi, ilmuwan lain yang bernama Adele Goldberg, terkejut ketika mengetahui bahwa perusahaan Xerox bersedia memberi tahu karya be-sarnya. "Sikap itu sangat bodoh, benar-benar tidak masuk akal, dan aku berusaha keras untuk mencegah agar Jobs tidak mendapatkan banyak in-formasi," kata wanita tersebut. Idberg melaksanakan rencana pencegahannya itu pada saat peragaan pertama. Jobs, Raskin, dan ketua tim Lisa yang bernama John Couch, mengantarkan memasuki lobi utama, di mana Xerox Alto telah dipersiapkan. aat itu, yang ditunjukkan oleh mereka hanya beberapa aplikasi, terutama aplikasi pemrosesan kata," kenang Goldberg. Jobs merasa tidak puas sehingga menelepon kantor pusat Xerox untuk meminta peragaan lagi. Jobs pun diundang kembali beberapa haii kemudian. Pada kali kedua, mengajak tim yang lebih banyak, termasuk Bill Atkinson dan Bruce Horn, ahli pemrograman Apple yang pernah bekerja di Xerox PARC. mereka berdua tahu apa yang harus diperhatikan. "Saat aku tiba di kantor ada banyak sekali kehebohan. Aku diberi tahu bahwa Jobs dan sekelompok ahli pemrogramannya sedang berada di dalam ruang rapat," kata Goldberg, Salah satu perekayasa perangkat lunak berusaha agar mereka terus merasa terhibur dengan menampilkan lebih banyak program pemrosesan kata. Akan tetapi, Jobs menjadi semakin tidak sabar. "Hentikan semua omong kosong ini!" teriaknya berkali-kali. Oleh karena itu, para pegawai Xerox diam-diam berkumpul dan memutuskan untuk memberikan scdikit lebih banyak informasi, tetapi secara perlahan. Mereka sepakat bahwa Tes-ler bisa menunjukkan bahasa pemrograman Smalltalk, tetapi dia hanya akan melakukan apa yang disebut dengan versi peragaan "tidak bersifat rahasia". "Itu akan membuat Jobs terpesona, dan dia tidak akan pernah tahu kalau dia tidak mendapatkan informasi rahasianya," kata ketua tim Goldberg. Mereka salah. Atkinson dan yang lain telah membaca beberapa doku-men yang dikeluarkan oleh Xerox PARC sehingga mereka mengetahui kalau mereka tidak mendapatkan deskripsi secara lengkap. Jobs menelepon pimpinan divisi modal usaha bersama Xerox untuk menyampaikan keluh-an. Seketika itu juga, ada telepon dari kantor pusat perusahaan Xerox di Connecticut yang memerintahkan tim hams menunjukkan semua deskripsi secara lengkap kepada Jobs dan kelompoknya. Kemarahan Goldberg pun meledak. Ketika akhirnya Tesler menunjukkan kepada mereka mengenai apa yang sebenarnya ada di bawah penutup tersebut, orang-orang dari Apple terkejut. Atkinson menatap layarnya sambil mengamati setiap pixel dengan saksama, bahkan Tesler bisa merasakan napas pria itu di lehernya. Jobs bergerak ke sana kemari dan melambaikan tangannya dengan penuh semangat. "Jobs melompat ke sana kemari berkali-kali sehingga aku tidak mengerti bagaimana sebenarnya dia melihat sebagian besar peragaan tersebut. Akan tetapi, dia ternyata benar-benar mengamatinya, karena dia terus-menerus bertanya," kata Tesler. "Dia adalah orang yang terus berseru setiap melihat langkah yang kutunjukkan."Jobs terus mengatakan bahwa dia tidak percaya kalau Xerox belum menjual teknologi tersebut. "Kalian sedang duduk di atas tambang emas," serunya. "Aku tidak percaya Xerox tidak memanfaatkannya." Peragaan Smalltalk menunjukkan tiga firur yang mengagumkan. Salah satunya menunjukkan bagaimana komputer tersebut dapat disambungkan dengan komputer lain. Fitur mengagumkan kedua menunjukkan bagaimana cara kerja program yang berorientasi pada objek. Namun, Jobs dan tim-nya tidak begitu memperhatikan berbagai fitur tersebut karena mereka sangat kagum dengan antarmuka grafts dan layar yang dapat memetakan byte. "Pikiran saya langsung terbuka," kenangnya. "Aku bisa melihat masa depan komputer akan ditakdirkan menjadi seperti apa." Ketika rapat Xerox PARC selesai, setelah lebih dari dua jam, Jobs meng-antarkan Atkinson kembali ke kantor Apple di Cupertino. Mobilnya bergerak dengan kecepatan tinggi, begitu pula pikiran dan mulutnya. "Itu dia!" teriaknya, sambil menekankan setiap kata. "Kita harus membuatnya!" Itulah terobosan yang selama ini dicarinya, yaitu memproduksi komputer untuk masyarakat, dengan desain yang menyenangkan, tetapi murah seperti milik arsitek modern Eichler, dan menggunakannya semudah peralatan dapur yang mengilap. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menerapkan ide ini?" tanya Jobs. "Aku tidak yakin,"jawab Atkinson. "Mungkin enam bulan."Itu merupakan penilaian yang terlalu optimis, tetapi juga sangat memotivasi.
"Para Seniman Besar yang Mencuri” Serangan Apple terhadap Xerox PARC terkadang digambarkan sebagai salah satu pencurian terbesar dalam sejarah industri. Terkadang, dengan bangga Jobs membenarkan pendapat tersebut. "Peristiwa itu sama dengan berusaha menunjukkan kepada dirimu sendiri mengenai hal terbaik yang pernah dilakukan oleh manusia, dan kemudian berusaha untuk menerap-kannya ke dalam apa yang sedang kau lakukan," katanya. "Maksudku, pe-lukis Picasso pernah berkata, 'seniman hebat itu meniru, sedangkan seniman besar mencuri. Dan, kami tidak pernah merasa malu karena mencuri berbagai ide hebat." Pendapat lain, yang terkadang juga dibenarkan oleh Jobs, mengatakan bahwa apa yang terjadi bukanlah pencurian yang dilakukan oleh Apple, melainkan kesalahan yang dilakukan oleh Xerox. "Mereka adalah ahli pembuat mcsin fotokopi yang tidak tahu-menahu tentang apa yang bisa dilakukan oleh sebuah komputer," kata Jobs mengenai manajemcn Xerox "Mereka hanya kalah dalam kemenangan terbesar industri komputer sebenarnya, Xerox bisa saja memiliki seluruh industri komputer." Kedua pendapat tersebut mengandung banyak kebenaran, tetapi masih ada banyak kebenaran yang lain lagi. Ada perbedaan yang tidak jelas antara konsep dan produk jadi, seperti yang dikatakan oleh T.S. Elliot. DaJan, sejarah inovasi, berbagai ide baru hanyalah sebagian dari proses tersebut, tetapi faktor pelaksanaan juga mcnjadi sama pentingnya. Jobs dan para perekayasa perangkat lunak Apple banyak memperbail(j ide antarmuka grafts yang mereka Hhat di Xerox PARC, dan kemudian mereka mampu menerapkannya dengan cara yang tidak pernah bisa dilakukan oleh Xerox. Misalnya, mereka memperbaiki tetikus Xerox yang memiliki tiga tombol rumit dengan harga $300 per buah, tetapi tidak bisa bergulir dengan mulus. Setelah beberapa hari kunjungan keduanya ke Xerox PARC, ]obs pergi ke sebuah perusahaan desain industri setempat. Dia mengatakan kepada salah satu pendirinya, Dean Hovey, bahwa dia menginginkan model tetikus dengan satu tombol sederhana seharga $15, dan dia ingin tetikus itu dapat berfungsi di atas mika Formica atau celana jinnya. Hovey pun menurutinya. Perbaikan yang dilakukan terhadap model tetikus itu tidak hanya dari segi detail, tetapi juga dari seluruh konsepnya. Tetikus milik Xerox PARC tidak dapat digunakan untuk menarik sebuah window ke arah sekeliling layar. Para perekayasa perangkat lunak Apple menemukan sebuah antarmuka grafts yang tidak hanya memungkinkan Anda untuk menarik -window dan arsip ke sekeliling layar, retapi Anda bahkan dapat memasukkan-nya ke dalam arsip. Sistem Xerox mewajibkan Anda untuk memilih sebuah perintah agar dapat melalcukan apa pun, mulai dari mengecilkan sebuah •window hingga mengubah ekstensi yang berisi sebuah dokumen. Sistem Apple mengubah metafora komputer menjadi sebuah kenyataan virtual dengan membuat Anda dapat langsung menyentuh, mengubah, menarik, dan menyimpan apa pun. Para perekayasa perangkat lunak Apple bekerja berdampingan dengan para desainer—yang mendapat dorongan semangat dari Jobs setiap hari—, memperbaiki konsep komputer rancangan mereka. Mereka menamkan berbagai ikon menyenangkan. Tambahan itu berupa menu turunan . setbuah garis yang ada di bagian atas setiap tampilan dan kemampuan untuk membuka dokumen atau arsip dengan mengeklik dua kali. Hal itu bukan berarti bahwa para eksekutif Xerox mengabaikan apa yang telah diciptakan oleh para ilmuwannya di PARC. Sebenarnya, mereka berusaha untuk memanfaatkan ide tersebut—dan dalam prosesnya, mereka menunjukkan mengapa faktor mengenai pelaksanaan yang baik sama pentingnya dengan ide yang baik. Pada 1981, jauh sebelum komputer Lisa atau Macintosh diproduksi oleh Apple, mereka tclah mcmperkcnalkan Xerox Star. Xerox Star mcrupakan sebuah mesin yang menampilkan antarmuka pengguna grafts; tetikus; tampilan yang memetakan byte, window, dan metafora di layar komputer. Namun, mesin tersebut sangat lambat (butuh beberapa menit untuk menyimpan dokumen besar), mahal (harganya $16,595 di toko eceran), dan hanya dijual untuk jaringan pasar konsumen perkantoran. Pada akhirnya, mesin tersebut menjadi produk gagal dan hanya terjual sejumlah 30.000 buah. Jobs dan timnya pergi kc sebuah gerai Xerox untuk melihat komputer jenis Star, sesaat setelah mesin tersebut dijual ke pasaran. Namun, mereka menganggap mesin tersebut tidak berguna sehingga Jobs mengatakan kepada para rekannya bahwa mereka tidak bisa mengeluarkan uang untuk membeli mesin tersebut. "Kami sangat lega," kenang Jobs. "Kami tahu bahwa mereka tidak membuatnya dengan benar, dan bahwa kami bisa mem-buatnya—dengan harga yang lebih murah." Beberapa minggu kemudian, Jobs menelepon Bob Belleville, salah satu desainer perangkat keras dalam tim Xerox Star. "Semua yang pernah kau produksi sepanjang hidupmu adalah sampah," kata Jobs, "jadi, mengapa kau tidak bekerja saja untukku?" Belleville pun melakukannya, dan begitu juga dengan Larry Tesler. Dengan perasaan senang. Jobs mulai mengambil alih manajemen harian proyek Lisa, yang saat itu dikelola oleh John Couch, mantan insi-nyur HP. Tanpa menghiraukan Couch, Jobs mulai berhubungan langsung dengan Atkinson dan Tesler untuk memasukkan beberapa idenya sendiri, khususnya mengenai desain antarmuka grafts Lisa. "Dia menelepon tanpa kenal waktu. Dia bisa menelepon pukul 2 atau 5 pagi," kata Tesler. 'Aku sangat menvukainya. Tetapi, itu membuat jengkel para pemimpinku divide Lisa, Jobs diminta untuk tidak menelepon diluar jam kerja, ia bisa menahan diri sesaat, tenpi hal itu tidak bertahan lama. Salah saw pertikaian penting terjadi ketika Atkinson bahwa layar komputer tersebut harus memiliki latar belakang putih, bukan hitam Sehingga, Atkinson dan Jobs dapat memasukkan fitur yang inginkan, yaitu WYSIWYG, yang dibaca wiz-ee-wig. WYSIWYG raeru. pakan singkatan dari "WhatYmi Seel, What You Get". Apa yang Anda lihat di layar adalah apa yang akan Anda dapatkan ketika Anda mencetaknya. "Tim perangkat keras memprotesnya dengan sangat keras," kenang Atkinson. "Mereka mengatakan bahwa hal itu akan memaksa kami untuk menggunakan fosfor yang jauh tidak tahan lama, dan akibatnya layar akan lebih sering berkedip." Oleh karena itu, Atkinson memanggil Jobs yang memihaknva. Semua anggota tim perangkat keras menggeruru, tetapi kemudian tetap pergi untuk mengerjakannya. "Steve sendiri bukanlah seorang ahli rekayasa, tetapi dia sangat pandai dalam menilai jawaban orang. Dia tahu apakah para perekayasa itu membela diri atau tidak yakin dengan dirinya sendiri." Salah satu prestasi mengagumkan Atkinson (saat ini kita sangat ter-biasa dengan fitur itu sehingga kita jarang memujinya) adalah membuat window yang ada di layar saling tumpang tindih sehingga window yang "di atas" dapat memotong window yang berada "di bawah". Atkinson mem-buatnya sedemikian rupa sehingga Anda bisa menggerakkan window ini sama seperti menarik kertas di atas meja. Window yang ada di bawah dapat terlihat atau tidak terlihat ketika Anda berpindah ke window yang berada di atasnya. Tentu saja, apa yang Anda lihat di layar komputer bukanlah lapisan pixel di bawah fixe! sehingga tidak ada window yang benar-benar bersembunyi "di bawah" window yang terlihat ada "di atas". Untuk mencip-takan ilusi window yang saling tumpang tindih tersebut, dibutuhkan program yang rumit, termasuk program yang disebut dengan "regions1 (wilayahj-Atkinson menyemangati dirinya sendiri agar cara tersebut bisa ber-hasil, karena dia pikir pernah melihat kemampuan seperti itu selama kunjungannya ke Xerox PARC. Sebenarnya, orang-orang di PARC tidak pernah mdakukan hal itu, dan kemudian mereka memberi tahu Atkinson betapa kagumnya mereka melihat dia berhasil membuatnya. "Aku merasa seperti orang yang naif," kata Atkinson. "Karena aku tidak tahu kalau hal itu tidak dapat dilakukan, tetapi aku bisa melakukannya." Atkinson bekerja sangat keras Akibatnya, pada suatu pagi, dalam keadaan linglung, dia menabrak-kan Corvettenya ke truk yang sedang parkir dan hampir membunuh dirinya sendiri. Seketika itu juga, Jobs pergi ke rumah sakit untuk menengok- "Kami sangat mencemaskanmu," kata Jobs ketika Atkinson sadar. Atkinson tersenyum kesakitan dan menjawab, "Jangan khawatir, aku masih ingat regions.” Jobs juga ingin sekali agar tetikusnya bisa bergulir dengan lancar. Beberapa dokumen tidak akan bergerak secara bersamaan, ketika Anda menggulirkan tetikus untuk melihatnya. "Dia bersikeras agar semua fitur antarmuka tersebut membuat pengguna komputer merasa senang," kata Atkinson. Mereka juga menginginkan sebuah tetikus yang dapat menggerakkan kursor dengan mudah ke arah mana pun, bukan hanya ke atas-ba-wah atau kiri-kanan. Tetikus seperti ini membutuhkan penggunaan sebuah bola, bukan dua roda seperti yang ada pada tetikus biasanya. Salah seorang insinyur mengatakan kepada Atkinson bahwa mereka tidak mungkin membuat tetikus semacam itu. Setelah Atkinson mengeluhkan hal tersebut kepada Jobs sambil makan malam, keesokan harinya Atkinson datang ke kantor dan menemukan bahwa Jobs telah memecat insinyur tersebut. Ketika pengganti insinyur tersebut bertemu dengan Atkinson, kalimat pertama yang dikatakan pria tersebut adalah, "Aku bisa membuat tetikus itu." Atkinson dan Jobs menjadi sahabat selama bcberapa saat. Beberapa malam dilalui mereka dengan makan bersama di restoran Good Eart. Akan tetapi, John Couch dan para insinyur profesional lain dalam tim Lisa, yang sebagian besar berasal dari HP, membenci campur tangan Jobs. Mereka marah karena sering dihina. Selain itu, ada juga perselisihan mengenai ma-salah visi. Jobs ingin memproduksi VolksLisa, sebuah produk sederhana yang murah untuk masyarakat luas. "Terjadi tarik ulur antara orang-orang seperti aku dan mereka. Aku menginginkan sebuah mesin sederhana, se-dangkan mereka yang berasal dari HP, seperti Couch, ingin membidik pa-sar konsumen perusahaan," kenang Jobs. Baik Scott maupun Markkula, menginginkan agar Apple mendapat-kan beberapa pesanan produk. Mereka menjadi semakin khawatir dengan sikap Jobs yang dianggap mengganggu. Oleh karena itu pada Sept 1980 diam-diam mereka merencanakan reorganisasi. Couch ditempatkan sebagai manajer yang tidak dapat diganggu gugat dan divisi Lisa. Jobs kehilangan kendalinya terhadap komputer yang dia beri nama sesuai dengan nama putrinya. Dia juga dibebastugaskan dan posisinya sebagai Wakil Direktur penelitian dan pengembangan. Jobs dijadikan sebagai anggota direksi non-eksekutif sehingga dia tetap bisa menjadi juru bicara Apple. Itu artinya Jobs tidak dapat mengendalikan perusahaan. Hal itu tcntu saja menyakitkan. "Aku marah dan merasa ditinggalkan oleh Markkula," kata Jobs "Dia dan Scotty merasa aku tidak bersungguh-sungguh dalam memimpin divisi Lisa. Aku sering sekali memikirkan hal itu." |