|
18 JEBU berdiri bersandar pada pohon yangliu ketika empat orang prajurit bertombak bangsa Cina itu mengepungnya. Mereka semua kelelahan. Tenakan dan dentang pedang dan tombak beradu terdengar keras di sekitarnya.
Bagi Jebu kabut terialu tebal sehingga ia tak dapat melihat apa-apa. Mereka telah bertarung selama berjam-jam. Jebu kehabisan tenaga dan terengah-engah. Gemuruh air sungai terdengar di sebelah kanannya menembus kabut. la mengangkat pedangnya dan keempat parjurit bertombak itu mundur. Kemudian Jebu mengangkat kedua lengannya, berjongkok dan melompat Hampir saja ia gagal. Batang pohon yang liu yang kasar terasa sakit di telapak tangan kirinya. Untuk sesaat ia bergantung dengan tangan kiri. Lalu ia berhasil memeluk cabang itu dengan tangan kanannya, yang memegang pedang. Yang liu tak akan membuatku gagal, pikirnya. la terus naik, seperti monyet. Keempat tombak menusuk tempat kosong, yang tadi didudukinya. Ketika cabang itu tak dapat lagi menahan tubuhnya yang berat, ia menjatuhkan diri, tercebur di sungai. Arus sungai membawanya menjauh dari orang-orang bertombak yang berteriak-teriak. Walaupun jatuh di tepi sungai, sungai itu dalam. Jebu berenang dengan susah payah karena baju perangnya yang berat. Ia mencapai tepian sungai.Terdampar pada dua batu besar yang menjorok ke sungai dan sengaja ditaruh orang disitu. Jebu memanggil dua orang samurai yang berada di dekatnya. "Kita menang shike" kata salah seorang dan mereka, "Mereka lari." "Bukan begitu," kata yang lain. "Sejauh yang dapat kita lihat dalam kabut ini, kitalah yang melarikan diri. "Di mana Yang Mulia Yukio?" Tanya Jebu "Di suatu tempat," kata samurai yang kedua itu. "Saya bahkan tidak tahu di mana saya berada." Jebu berjalan di sepanjang tepian itu memanggil-manggil Yukio. Akhirnya ia men-dapatkan Yukio sedang duduk di atas sebongkah batu. Tudung kepala berlambang naga berada di tanganya. Jebu memandang sekehlingnya. Di mana-mana kabut tebal seperti tembok putih. Di dekat kaki Yukio bergelimpangan tiga mayat "Apakah kita telah memukul mereka mundur?" Jebu bertanya. Ia menyarungkan pedangnya dan duduk di samping Yukio. "Jika tidak, mana mungkin aku duduk di sini melepaskan tudung kepalaku. Sebentar lagi aku akan berdiri dan memanggil orang kita berkumpul supaya tahu berapa banyak kita kehilangan orang kali ini. Aku muak dengan semua inL Aku mau bilang seharusnya kita menuju ke selatan ke arah Nan Chao." "Kita akan menemukan apayang kita can jika kita harus pergi ke utara," kata Jebu. "Selama delapan bulan kita mengembara di negeriyangpenuhkabut, sungai dan sawah-sawah, apa yang kita can? Hanya kamu yang tahu. Aku bosan padamuyang main-main sebagai shikeyang penuh misteri dengan ilmu nujum yang terus mendesak kami agar pergi ke utara tanpa mengerri mengapa." Jebu menarik nafas dan nenggelengkan kepak. "Aku telah memberi tahu Anda segalanya yang kutahu Gubernur Liu dengan sungguh-sungguh memberi nasihat padaku bahwa masa depan kita berada di kawasan utara. Itu saja. la tidak mengatakan hal-hal lainnya Aku tak tahu ilmu nujum. Jika Anda pikirnasihatkukeliru, berilahperintah. Kita akan pergi ke selatan dan me-nawarkan bantuan kepada Raja Nan Chao melawan Annam. Atau sebaliknya membantu Raja Annam mekwan Nan Chao." "Aku membawa beban berat untuk me-mutuskan masa depan kita semua dan kamu mengejekku." "Anda sendiri yang membuat hal itu menjadi beban." "Kita cuma bandit di sini. Penguasa Cina menjanjikan hadiah untuk setiap kepala kita. Berkali-kali mereka mengirim tentara memburu beberapa teman kita. Sutera dan perak kita habis dan kita terpaksa mencari makan dan kebutuhan kuda-kuda kita dari petard. Semuaorang membenci kita." "Dan Anda tidak tahan berdiri di antara orang-orang yang tidak memuja Anda seperti yang dilakukan penduduk Kweilin," Jebu memotong Yukio berdiri. "Kamu menertawakan diriku?" Jebu tetap duduk. "Ya!" Yukio meraba gagang pedangnya. "Aku Muratomo no Yukio, anak Muratomo no Domei, kepala marga Muratomo, petarung paling hebat di Kepulauan Suci." "Itu tidak berarti di sini." "Kamu membuatku marah. Aku memainkan pedang lebih baik dari kamu." "Mungkin." la benar, pikir Jebu. Aku mem-buatnya marah. Enam bulan terakhir tidak meninggalkan jejak seperti kabut putih di sekitar. Hal itu menggangguku dan mengganggu dia juga. Hal itu menyebabkan semuanya bergantung pada perasaan melulu. Tidak ada arah, tidak ada tujuan. Aku tersesat, Tak ada yang menjadi pegangan. Moko tiba-tiba muncul, tampak lucu me-ngenakan topi model Cina, tudung kepala yang luas tapi pipih. "Maafkan saya, tuan-tuan, jangan berkelahi. Satu-satunya yang tersisa bagi orang-orang kita adalah kepercayaan mereka pada ke pemimpinan tuan-tuan. Bagi saya, jika tuan-tuan saling melukai, lebih baik saya bunuh diri saja." "Kamu lebih cocok terbunuh oleh salah seorang dari kami," kata Jebu agak masam, tapi senang melihat Moko, "karena kamu memakai topi model Cina itu." "Siapa saja yang cukup dekat untuk mem-bunuh saya dapat mengenali saya." Kata Moko. "Dan saya tidak berhak memakai tudung kepala samurai." Dalam perjalanan panjang mereka Moko menjadi seperti pengurus perlengkapan untuk samurai. la memimpin gerobak barang bawaan, mengurus persediaan makanan dan berdagang barang-barang, berunding tentang pertukaran dengan petani untuk mendapatkan beras dan sayur-sayuran. Memberi mereka surat utang dan meyakinkan mereka bahwa samurai pasti kembali pada suatu hari untuk membayar apa yang telah mereka ambil. Jujur atau tidak, cara itu me-mudahkan para petani untuk memberi dan para samurai untuk mengambil sesuatu. Ia juga mengurus keperluan parawanita dan pelayan. "Pasukan yang baru saja anda kalahkan dikirimkan oleh Gubernur Hochwan." Moko menjelaskan. "Ia tidak tahu apakah ia diperintah oleh Kaisar Sung ataukah oleh bangsa Mongol. Seperti orang-orang Szecwhan ia tak pernah mendapat pesan dari kedua penguasa selama enam bulan. Tetapi ia tahu bahwa kedua penguasa itu menganggap kita sebagai musuh, jadi ia ingin berjasa kepada kedua-duanya, siapa pun nantinya yang ternyata menjadi atasannya, dengan melenyapkan kita." "Bagaimana kamu mengetahui semua itu, Moko?" Yukio bertanya "Petarung kita menawan beberapa orang... dan mereka diserahkan kepada saya untuk saya jaga. Mereka mau bicara dengan saya." "Bagus, sekarang bunuh mereka semua." Perut Jebu mulas. "Kenapa tidak mem-bebaskan mereka saja?" "Kami samurai. Kami tak mau dibingungkan oleh pertanyaan apakah kita ini petarung atau biarawan. Moko, kumpulkan enam orang samurai yang kamu temui lalu katakan pada mereka bahwa mereka diperintahkan untuk memenggal kepala semua tawanan." Lalu ia berpaling kepada Jebu, matanya yang bulat berkilatan. "Jangan berbantah denganku." Jebu menahan lidahnya dan berpaling, bahunya lemas. Menggelengkan kepalanya sedikit, Moko membungkuk. "Satu hal lagi," katanya. "Ada seorang biarawan tua yang tnencari tuan-tuan berdua. Orahgnya pendek, rambutnya putih, mengenakan jubah abu-abu, seperti seorang Zinja." Jebu merasa jantunganya berdetak lebih cepat "Akhirnya," kata Yukio "Apakah beliau dapat segera saya pertemukan dengan tuan-tuan?" "Cepatlah!" kata Jebu Orang tua itu muncul dari kabut, tampak berubah sedikit dari malam itu, bertahun-tahun yang lalu, ketika Jebu meninggalkannya di pantai di bawah Kuil Bangau yang sedang terbakar. Janggutnya bertambah panjang nyaris sampai ke pinggangnya, menyembunyikan kalung dari tali putih di lehernya. Usia membuat rambut putihnya makin tipis. Dia dan Jebu saling memandang cukup lama dalam sepi. Tetes-tetes air menitik dari lobang sebuah pohon, jatuh di suatu genangan di tanah. "Mengapa Bapak tidak menemui saya dari dulu, sensed" Jebu berbisik. "Ada hal-hal lain yang harus kulakukan." Jebu berpaling kepada Yukio, yang matanya lebar penuh rasa heran. "Yang MuliaMuratomo no Yukio, saya memperkenalkan ayah saya, Taitaro, mantan Kepala biara Kuil Bangau." Yukio membungkuk dalam-dalam. "Sensei". Taitaro membalas dengan membungkuk juga, "Yang Mulia Yukio, nama anda telah terkenal di seluruh Kepulauan Suci dan di sebagian dari Cina. Angkatan-angkatan selanjutnya dari Muratomo, jika mereka terjun ke dalam peperangan, akan bangga menyebut anda sebagai leluhur." "Sensei sangat memuji," kata Yukio dengan membungkuk lagi untuk mengatakan peng-hargaannya kepada Taitaro. "Saya telah banyak mendengar tentang Ketua Taitaro yang mulia sejak saya bertemu putera Bapak." Jebu dan Taitaro berpelukan. Jebu merasa bahagia dan damai untuk pertama kalinya sejak beberapa bulan terakhir. Perasaan yang memenuhi dirinya seperti suatu sumber air yang memancar dari dalam tanah dan menyebar kepada Taitaro, kepada Yukio, kepada Moko. Moko yang belum pernah bertemu dengan Taitaro sebelumnya, berdiri di satu sisi, memegang topi model Cinanya, dan menangis. "Apakah Gubernur Liu memberi tahu sensei tempat kami ini ?" tanya Yukio. "Pesan beliau sampai kepadaku melalui biara," kata Taitaro. "Namun perlu Andaketahui. Bahwa orang yang baik, bijaksana dan kuat itu telah tiada. Beliau bersama jenderal yang dikirim untuk menangkap anda dihukum mati oleh Chia Szu-tao karena membiarkan Anda melarikan diri." Penyesalan membebani dada Jebu lagi. "Saya telah memperingatkan beliau agar tidak kembali ke ibu kota dengan jenderal itu. Hati saya berduka karena beliau." "Beliau adalah seorang dari kita, Jebu." Kata Taitaro. "Beliau tak perlu lagi kita sesali seperti abu mereka yang telah mati yang kita sebarkan dalam angin. Beliau tidak menghendaki kesedihan." "Chia Szu-tao mau membiarkan Kweilin jatuh ke tangan bangsa Mongol," kata Yukio. "la justru mau menghukum kami karena mempertahankan KweiJin. Kini ia membunuh salah seorang pejabat terbaik. la seperri racun di jantung kekaisaran Sung. Bagaimana kekaisaran Sung akan tetap hidup di bawah orang seperti itu?" "Aku lebih memikirkan kelangsungan hidup anda semua," kata Taitaro. "Aku mengundang kahan semua ke kuil Chlnda, yang letaknya di ujung sungai ini sebelum percabangannya jauh dari sini. Kira-kira sehari dari sini. Disana kuharapkan kita temukan suatu penglihatan yang akan menjadi pedoman Anda semua" "Hanya Bapak, Jebu dan saya?" Tanya Yukio. "Daerah pedalaman ini memusuhi kami." "Hanya kelihatannya saja seperti itu. Setelah memukul mundur pasukan dari Hochwan, Anda tak perlu khawatir lagi." "Mungkin hanya Jebu saja yang perlu ke sana," kata Yukio. "Dia putera Bapak dan anggota biara." "Tetapi....." Jebu hendak berkata, tapi dengan tangannya Taitaro mencegahnya. "Andalah pemimpin para samurai ini," kata Taitaro. "Tidaklah tepat jika seorang biarawan yang melayani Anda menguasai pengetahuan tertentu yang ridak Anda ketahui sepenuhnya." Tampaknya Taitario telah mengetahui apa yang terjadi di antara mereka berdua, pikir Jebu. |