Home Shike II Shike II - 9
Shike II - 9 PDF Print E-mail

9. "SAMPAI kemarin, saya belum pernah melihat Arghun lagi sejak malam itu," kata Jebu. "la tidak meneruskan usahanya memburu saya lebih lanjut, tapi ia meninggalkan Kepulauan Suci." "Kapankah itu?" tanya Walikota Liu.
"Pada akhir tahun monyet, Yang Mulia"
'"Sebelas tahun yang lalu," kata Liu. "Saat itu Khan Kuyuk Yang Agung meninggal. Setiap kali seorang Khan Yang Agung meninggal maka pasukan Mongol menghentikan apa pun yang tengah mereka kerjakan, di mana pun mereka berada, dan kembali ke tanah air mereka untuk memilih Khan Yang Agung yang baru. Kuyuk adalah cucu dari Jenghis Khan. la adalah Khan Yang Agung ketiga. Mangu adalah yang keempat."
Seorang pejabat Cina memasuki ruang pertemuan Walikota, "Pemimpin Mongol telah mengirimkan kabar baru Yang Mulia. la ingin bertemu dengan Walikota dan pemimpin pasukan perang kota Kweilin."
Liu menoleh pada Jebu, "Anda telah bertemu dengan lelaki ini sebelumnya. Pengamatan Anda mungkin akan berguna. Silakan bergabung bersama kami."
"Saya merasa tersanjung," jawab Jebu. Yukio berkata, "la telah berhasrat untuk membunuhmu sejak kamu masih seorang prajurit. Bila kita menyeberangi park untuk berunding dengannya, kemungkinan besar ia akan membunuhmu di tempat"
"Kita tidak akan menyeberangi park," kata Liu. "Kita akan bertemu dengannya di pulau biara di danau Shan Hu. la tidak dapat membawa anak buahnya dan ia akan terus menerus diawasi oleh pasukan pemanah kita dari atas tembok."
"Jika saya datang sebagai utusan, ia tidak akan menyakiti saya," Jebu menenangkan. "Itulah peraturan bangsa Mongol."
Di sebuah pulau yang terletak di tengah-tengah danau Shan Hu, terdapat sebuah biara Buddha yang kecil dan sangat indah, didirikan berabad-abad yang lalu. Baik bangsa Mongol maupun Cina tidak ingin menghancurkannya, dan stupa bersegi delapan dengan hiasan tembaga itu secara ajaib telah terlepas dari semua kerusakan yang mungkin dapat menimpanya, mengingat begitu banyak batu dan api yang berterbangan di atasnya. Ajaran Buddha tentang jalan tengah, yang bukan merupakan kesenangan diri sendiri ataupun penghancuran diri sendin, masih diterapkan dan para biarawan di biara itu bukanlah orang-orang yang berani berbuat tanpa perhitungan. Menurut ajaran jalan tengah, mereka telah membiarkan biara itu terbengkalai sekian lama. Liu dan Arghun sepakat untuk bertemu di sana.
Sebuah kapal berwarna emas dan merah dengan hiasan kepala naga berlayar menyusuri parit melalui gerbang sungai, membawa Liu, Yukio dan Jebu menuju ke pulau. Dua pembawa bendera, satu orang Cina membawa bendera naga putih Kweilin dan seorang samurai membawa naga putih Muratomo, membuka jalan bagi rombongan itu. Mereka turun dari kapal dan berdiri di depan gerbang masuk tembok yang rendah di sekeliling biara kecil itu.
Arghun dan seorang prajurit pembawa panji tiga ekor kuda putih, menaiki sampan dari pesisir yang berlawanan. Satu-satunya perhiasan yang dikenakan Arghun adalah keping emas berbentuk
persegiempat, tandapangkatnyayangtinggi.yang dipakainya di seutas rantai yang mengelilingi lehernya.
Wajahnya sedikit berubah sejak Jebu terakhir kali melihatnya sebelas tahun yang lalu. Bagian samping kumisnya yang merah menggantung ke bawah dagunya yang tidak berjanggut. Matanya, sipit dan berwarna biru bagai es, menatap Jebu penuh kebencian. Jebu membalas tatapannya, Jebu mendengar Yukio menghela nafas kemudian bergerak mendekatinya, siap membelanya.
Jebu mencoba mengendalikan perasaannya sepertiyang diajarkan padanya. la mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia merasa takut. la tidak dapat membayangkan dirinya melawan Arghun dalam pertarungan. Pada saat yang bersamaan, ia tak dapat melupakan pepatah kuno, "Seorang lelaki tidak dapat hidup di langit yang sama dengan pembunuh ayahnya." Cepat atau lambat, ia harus membunuh Arghun.
Tapi bukan itu yang dikatakan Zinja. Sebagai seorang Zinja, dia bukanlah putera Jamuga. Dia bukanlah orang yang ingin dibunuh Arghun, dia bukanlah orang yang punya hutang darah untuk membunuh Arghun. Dia merupakan perwujudan Diri Sejati yang sederhana, dan Diri Sejati berada
di mana-mana, di dalam Arghun seperti halnya di dalam Jebu.
la masih tak dapat menahan din untuk tidak menyapa Arghun dalam bahasa Mongol yang telah dipelajari dan dihafalnya, "Salam, pembunuh ayahku."
Arghun berhenti melangkah ke arah mereka dan memandang Jebu dengan matabirunyayang dingin. Dalam bahasa Mongol ia membalas, "Jadi kamu telah belajar bahasa Ayahmu. Lalu kamu bertarung melawan bangsa ayahmu sendiri."
"Aku bertarung melawan pembunuh ayahku."
"Tidak ada lagi tempat bagimu di dunia ini. Kamu tidak akan menemukan rumahmu di muka bumi ini sampai kamu terkubur di dalamnya."
Liu menengahi, "Apakah Anda datang untuk bertukar ancaman dengan biarawan ini atau untuk bertemu dengan pemerintah Kweilin?"
Arghun membungkuk hormat pada sang Walikota. "Biarawan ini adalah alasan bagi saya untuk berunding dengan Anda," jawabnya dalam bahasa Cina. "Saya harus menunaikan sebuah tugas. Roh Jenghis Khan Yang Agung tak akan beristirahat dengan tenang sebelum biarawan ini mati."
"Kelihatannya Khan Yang Agung menginginkan kematian kita semua," kata Yukio. "Dan keinginan khusus anda untuk membalas dendam pada salah seorang teman seper juangan kami tidak berarti apa-apa."
Mulut Arghun yang tadinya mengeras kini melengkungkan senyum dingin. "Kalian kelira Hal itu penting bagi kalian semua. Itu akan menyelamatkan nyawa kalian. Apabila keputusan ada di tangan saya, saya pasti akan membantai kalian saat kota ini runtuh."
"Anda menghina kami," tegur Yukio. "Anda bicara seolah-olah hasil akhirnyatelah ditentukan."
Arghun mengangguk, "Sayahanyamengatakan apa adanya. Saya tidak pernah berpikir akan mengalami banyak kesulitan untuk menundukkan kota ini. Sayatelah menaklukkan empat belas kota semenjak Khan Yang Agung dengan kemurahan hati beliau telah mengangkat saya sebagai salah seorang Tbarkan beliau. Beberapa kota itu jauh lebih besar dan lebih dipersenjatai dibandingkan dengan kota yang satu ini. Saya tidak berpikir sekelompok prajurit dari Negeri Orang Cebol akan menyulitkan kami dalam waktu yang lama."
"Kamu tahu lebih baik dibanding itu, Arghun," kata Jebu. "Kamu pernah berada di negeri kami.
Kamu telah melihat samurai bertarung. Kamu pernah bertempur di sisi mereka."
"Apakah kamu, separuh Mongol dan separuhnya orang cebol, menganggap negeri itu sebagai negerimu?"
Arghun membicarakan perasaan terdalam yang kadangkala membuat hidup Jebu terasa suram saat ia sendirian - selalu menjadi orang asing di mana pun la berada. Ada saat-saat di mana bahkan ajaran Zinja, bahkan renungan Permata Hidup dan Mati, tidak cukup kuat untuk menghapus kesedihannya. Dia mengingatkan aku akan hal ini sekarang, pikir Jebu, karena dia ingin membuatku lemah dan menakut-nakuti aku, untuk membuatku lebih mudah terbunuh. Aku harus ingat bahwa aku adalah Diri Sejati, dan hanya itulah yang perlu aku ketahui.
Arghun menoleh pada Liu dan Yukio, "Orang-orang dari Negeri Orang Cebol adalah petarung-petarungyang ganas. Tapi mereka tidak tahu apa-apa tentang perang dalam pengepungan."
"Kami akan membagikan ilmu kami yang bermanfaat bagi mereka," kata Liu.
"Meskipun demikian, saya akan merebut kota Anda. Dan saat saya merebutnya, kecuali bila kalian menyetujui satu syarat yang saya ajukan, saya akan
meratakannya dengan tanah dan membantai seluruh makhluk liidup yang ada."
"Syarat apa?" tanya Liu.
Arghun menuding Jebu, "Biarkan saya membawa biarawan itu bersama saya saat saya kembali ke perkemahan. Dia akan mati dengan terhormat. Dia adalah keturunan keluarga penguasa Mongol. Menurut aturan Yassa, darah orang-orang seperti itu tidak boleh tercecer. Dia akan dicekik dengan tali busur. Itulah kematian yang layak bagi kaum bangsawan."
"Biarlah aku membela diriku sendiri dengan pedangku dan kamu boleh berusaha mem-bunuhku dengan tali busur," tantang Jeba
"Kamu bergurau," katanya pada Jebu. la berpaling dan berbicara pada Liu, "Tapi anda memiliki kekuasaan untuk menyelamatkah nyawa anakbuahyangberada di sini, para samurai teman-teman seperjuangan anda dan seluruh penduduk kota."
"Kami tidak akan mempertimbangkannya," jawab Liu tenang.
Mereka membicarakan kematianku, batin jebu, rasanya sukar dipercaya.
"Seandainya kami menyerah demi seluruh kota saat ini juga," pancing Liu.
"Serahkan kota ini dan biarawan itu, maka Anda akan tetap menjadi Walikota. Kami akan menahan orang-orang cebol ini, tapi mereka akan di-perlakukan dengan baik Adik Khan Mangu Yang Agung, Kublai Khan sangat ingin bertemu dengan mereka."
"Tetapi Jebu akan mati?"
"Biarawan itu harus mati."
"Dan bila kami membiarkan dia melarikan diri, kemudian kami menyerah?" Liu bersikeras.
"Kota akan dihancurkan dan rakyat anda akan dibunuh dengan pedang."
Liu menyimpulkan, "Karena anda berniat membunuh biarawan ini, anda memilih untuk mengorbankan nyawa ribuan prajurit anda yang pasti tewas saat mencoba merebut kota ini. Kemudian anda akan membuang kota ini serta menghilangkan nyawa tiap penduduk."
Arghun mengangkat tangannya yang terlindung sarung tangan, memohon ke surga. "Mereka tidak mengerti apa pun." la menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menatap Liu. "Jenghis Khan memberi amanat untuk menghancurkan seluruh keturunan Jamuga. Setiap orang Mongol akan mati dengan bahagia untuk melaksanakan amanat beliau."
Tiba-tiba Jebu mendapatkan keyakinan yang besar tentang apa yang harus ia lakukan. Dia melihatnya dengan sangat jelas. Dia tahu pasti itulah yang disebut Taitaro sebagai kemampuan Zinja untuk memahami persoalan secara mendalam.
Jebu maju ke depan, "Bersumpahlah pada kami bahwa kamu akan membiarkan kota ini, baik bila kota ini diserahkan kepadamu atau bila kamu merebumya dengan kekerasan, dan aku akan ikut bersamamu sekarang."
Jebu berharap tak ada seorangpun di antara merekayang dapat mendengar getaran pelan dalam suaranya sepertiyang dirasakannya. Terlihat jelas bahwa Yukio dan Liu akan berpikir nyawanya senilai dengan nyawa seluruh penduduk Kweilin dan para prajurit yang membela mereka, Mungkin mereka yakin betapa tidak terhormatnya me-nyerahkan seorang teman seperjuangan untuk man di tangan musuh. Tetapi, bila banyak nyawa yang dapat diselamatkan dengan cara seperti itu, sungguh tak masuk akal untuk mempertahankan satu nyawa saja.
"Tidak," bantah Yukio. "Saya melarangnya."
"Saya juga," kata Liu. "Anda akan mati sia-sia.
Dia akan menemukan cara lain untuk meng-hancurkan Kweilin."
"Saya percaya dia akan menepati sumpahnya."
Liu berkata, "Saya ingin berbicara dengan anda."
Liu merangkul Jebu dan membimbingnya ke pantai karang pulau itu. Yukio dan Arghun menunggu dalam kebisuan.
Jebu berkata, "Saya adalah biarawan Txnja, Yang Mulia. Saya tidak terikat pada apa pun, bahkan pada hidup."
"Di negeri kami, sekte anda disebut Ch'in-cha," kata Liu. "Saya tahu sebagian ajarannya. Bila anda tidak menawarkan diri untuk mati demi ke-selamatan nbuan nyawa, anda tak akan menjadi seorang Ch'in-cha sejati. Namun sebenamya bila anda mengorbankan hidup anda sendiri, anda melakukan kebodohan. Dan itu akan me-nunjukkan bahwa anda kurang memiliki ke-bijaksanaan Cb'in-cha."
Jebu mempelajari wajah tenang orang tua itu dengan rasa ingin tahu. Mata hitam Liu berbinar.
"Saya siap mendengarkan," kata Jebu.
"Bila anda menerima pandangan Arghun akan banyak hal, dia telah memenjarakan pikiran anda, dan dia dapat membunuh anda kapan saja dia mau.
Masa depan begitu dekat dengan anda. Tetapi sebagai anggota sekte, anda harus tahu bahwa tidak ada satu pun pandangan yang benar tentang segala hal. Jumlah pintu gerbang yang kita hadapi selalu tak terbatas. Bila anda memutuskan vmtuk terus hidup, banyak hal yang mungkin akan terjadi. Mungkin akhirnya anda juga akan terbunuh, dalam perang. Kaisar mungkin akan mengirimkan bala bantuan dan mengusir Mongol dari sini. Arghun mungkin akan terbunuh dalam pertempuran dan keinginannya yang terkutuk untuk membunuh anda mungkin akan ikut mari bersamanya. Penyakit pes mungkin akan mewabah dan menghabisi kita semua, para pengepung dan yang bertahan. Atau bangsa Mongol tiba-tiba memutuskan untuk menghentikan pengepungan dan menyingkir."
"Hal itu tak akan terjadi. Kaum Mongol tak pemah menyerah."
"Anda memiliki darah penguasa Mongol, biarawan muda. Tetapi saya lupa bahwa anda sendiri adalah keturunan Mongol. Dengan penawaran anda untuk mengorbankan diri pada Arghun, sayayakinbahwakehidupan masih harus mengajarkan banyak hal pada anda dan bahwa saat ini bukanlah saat yang tepat bagi anda untuk mati."
"Saya tidak dapat melihat masa depan yang terbentang bagi saya."
Jebu telah merasakan manisnya hidup dan saat ini hidup kelihatannya terasa pahit. la telah mengenal Taniko dan kehilangan wanita itu. la telah meraih kemenangan dalam perang dan kemudian terpaksa keluar dari negerinya dalam kekalahan."
Liu berkata, "Ch'in-cha menemukan ke-bahagiaan dalam ketiadaan."
"Anda tahu itu?"
Liu tersenyum, "Dan Chin-cha tidak mem-percayai apa pun. Tapi anda percaya anda telah melakukan hal yang benar bagi anda dengan mengorbankan diri anda sendiri. Namun anda telah mendapatkan pelajaran bahwa sebenarnya benar dan salah itu tidak ada. Ch'in-cha tidak percaya pada kebaikan atau kejahatan," ia berhenti, mata hitamnya menguasai mata Jebu. "Ch'in-cha adalah iblis."
Jebu tidak pernah menyangka, setelah semua yang telah dilihat dan dilakukannya, bahwa ia dapat merasa sangat terkejut lagi. Tetapi, saat ini ia benar-benar tidak mampu bicara. la hanya bisa berdin dan memandang Liu. Bertanya-tanya. la tidak tahu apakah ia berani mengucapkan sepatah kata pun.
"Tidak semua golongan kita memakai jubah kelabu dan tinggal di biara," kata Lm. "Apakah saya sudah berhasil meyakinkan anda untuk tidak melepaskan hidup anda hanya karena Arghun?"
Jebu membungkuk, "Untuk saat ini anda berhasil, Yang Mulia, Saya tidak tahu mengapa anda berbicara seperti itu pada saya. Saya tidak tahu apakah ada alasan bagi saya untuk mendengarkan anda. Saya tidak punya cara untuk tahu apakah anda benar-benar salah satu anggota kami atau hanya seorang lelaki yang telah mempelajari beberapa rahasia kami. Tetapi kata-kata anda telah meyakinkan saya, dan saya harus mengikuti apa yang saya yakini."
"Hanya itu yang saya harapkan."
Mereka kembali ke tempat Arghun dan Yukio berdiri. Liu berjalan di depan. Jebu berjalan di belakangnya, menjaga jarak dengan hormat.
"Biarawan muda ini memutuskan bahwa anda tidak punya hak untuk merampas hidupnya," Liu berkata pada Arghun. Yukio tersenyum lebar penuh kelegaan.
Air muka Arghun tak berubah. "Dia akan membawa kota Anda menuju kematian."
"Bila anda menaklukkan kota kami dan membunuh seluruh penghuninya," kata Liu.
"Dosa-dosa akan dibebankan pada anda. Tak ada keharusan bagi anda untuk membunuh begitu banyak orang, kecuali anda sendiri yang haus darah."
Arghun berbalik pada pembawa panji dan memberikan perintah. Prajurit itu kembali ke sampan mereka dan mengambil kotak mahoni besar dari haluan sampan. la membawanya pada Arghun kemudian meletakkannya di samping kaki Arghun.
"Saya membawa hadiah ini untuk anda, Walikota Liu Mai-tse," kata Arghun. "Anda telah mengharapkan bala bantuan untuk menolong anda mempertahankan kota ini dari serbuan para pengepung. Sekarang anda bisa memahami bahwa anda berada di ambang kehancuran." Arghun berlutut, membuka pengait kotak kemudian melangkah mundur.
Yukio menatap Liu penuh tanda tanya. Jebu menahan nafasnya, sebuah kecurigaan yang mengerikan menyelimuti diri Jeba Walikota Liu rnemberi isyarat pada Jebu untuk membuka kotak itu.
Di dalamnya terbaring kepala putera Liu yang Pucat tanpa aliran darah di atas tumpukan jerarm.

 
Banner
 

Info Gadget

New Interactive TV E...

BOSTON – May 21, 2012 – Next-generation TV has arrived. At The Cable Show in Boston (May 21-23, Booth #733), Motorola Mobility, Inc. (NYSE: MMI) is showcasing the revolutionary entertainment discovery experience that will be launching in North American homes later this year.


Read More...

Panasonic's Premium ...

SECAUCUS, NJ (May 21, 2012) – Today, Panasonic announced a new digital interchangeable standard zoom lens, the LUMIX G X VARIO 12-35mm/F2.8 ASPH./POWER O.I.S. (H-HS12035). The newest addition to the company's premium lens brand "X," which is compatible with the Panasonic LUMIX G Series and complies with the Micro Four Thirds™ system standard, this lens offers a versatile zoom range of 12-35mm (35mm camera equivalent: 24-70mm) and features constant F2.8 aperture brightness at entire zoom range.


Read More...

VIA Announces Ultra ...

Delivers power efficient dual core processing in a ruggedized chassis system for a diversified range of embedded applications Taipei, Taiwan, May 17, 2012 - VIA Technologies, Inc, a leading innovator of power efficient computing platforms, today announced the VIA AMOS-3002, an ultra compact, fanless system designed around the tiny VIA EPIA-P900 Pico-ITX board. The VIA AMOS-3002 provides embedded customers with a system that delivers all the latest features and digital media standards required for a diversified range of embedded applications including telematics, in-vehicle control, machine to machine controller (M2M), digital signage and kiosks.


Read More...
012

Info Kesehatan

Gastritis
27/09/2011 |
article thumbnail

Gastritis is an inflammation of the lining of the stomach. It is a troublesome condition which may lead to many complications includi [ ... ]


Fatigue
27/09/2011 |
article thumbnail

Fatigue refers to a feeling of tiredness or weariness. It can be temporary or chronic. Almost every person has to work overtime on ce [ ... ]


Artikel Lainnya

Jualan Produk Herbal?

Peluang Usaha Bisnis Herbal