Home Sentuhan Hati Hidup kembali setelah "mati"
Hidup kembali setelah "mati" PDF Print E-mail

SEBELUM benar-benar meninggal dunia pada tahun 2003 lalu, penulis Ensiklopedi Keris Bam-bang Harsrinuksmo mengalami peristiwa yang jarang dialami orang lain. Dalam budaya Cina, Bambang dikatakan mengalami apa yang disebut orang sebagai tut-tsi.

Sebuah proses kelahi-ran kembali setelah mati. Orang yang mengalami tut-tsi dipercaya mengem-ban tugas atau misi tertentu dari Tuhan. Peristiwa tut-tsi ini dialami Bambang Harsrinuksmo setelah ia menderita sakit selama setahun lebih dan bahkan sempat koma, antara akhir tahun 1995 sampai awal 1997.
Berikut ini, adalah penuturan ter-tulis Bambang Harsrinuksmo pada naskah awal buku otobiografinya yang belum sempat terbit. Naskah ditulis pada tahun 2003, berjudul Bambang Harsrinuksmo: Orang Biasa. Proses "mati" dan lahir kembali itu dituliskan dalam judul tulisan, Siapa Saya?
Ketika mata saya terbuka, yang pertama kali terlihat adalah langit-la-ngit dari bahan asbes berwarna putih. Pandangan mata saya makin ke bawah, terlihat seorang perempuan meman-dangi saya. Dari pandangannya, saya kira dia mengenal saya. Tetapi..., siapa dia? Dan..., siapa saya?
Pikiran saya kosong sama sekali waktu itu. Putih, kosong. Seandainya ada sesuatu yang ada di pikiran. Pelan-pelan, muncul di memori ingatan saya, suasana dan pemandangan yang be-gini ini, rasanya adalah suasana rumah sakit. Saya berbaring, dikelilingi gordin, sebuah meja kecil di sebelah kanan ran-jang, di atasnya ada termos, botol berisi air putih dan beberapa benda lainnya.
Pasti ini rumah sakit. Dan, karena saya yang berbaring, tentulah saya yang sakit. Mestinya, perempuan yang duduk di tepi ranjang itu adalah istri saya. Istri? Saya sudah punya istri? Lalu apa saya juga punya anak?
Berbarengan dengan munculnya beragam pertanyaan itu, memori di otak saya rupanya mulai menyusun rang-kaian data yang terserak. Pelan-pelan, logika saya jalan, lalu ingatan mulai ter-susun. "Kamu siapa?" tanya saya pada perempuan itu.
Dia bukan menjawab, tetapi lang-sung memeluk saya dengan tangisnya. Dalam dekapan hangat itu, hati saya bersorak girang: "Benar! Dia istri saya," Tentunya tadi duduk di tepi ranjang ini karena sedang menunggui saya yang sedang sakit. Sakit apa saya?
Badan saya rasanya segar, walau-pun waktu itu saya juga merasa agak lemah. Tetapi saya tidak merasa pusing, tidak mual, tidak ada keluhan apa-apa.
Pikiran saya berjalan lagi. Kalau perempuan itu istri saya, siapa na-manya? Melihat penampilannya, ia sudah tidak muda lagi, jadi mestinya kami sudah punya anak. Tetapi berapa anak saya? Laki-laki apa perempuan? Lalu, siapa saja nama mereka?
Saya merasa telah kehilangan memori saya, sehingga rasanya otak saya seperti disket atau hardisk kosong, karena datanya telah terhapus. Waktu saya membuka mata tadi, bahkan nama sendiri pun tidak ingat.
Lalu anak saya Soni bercerita, em-pat hari sebelum ini saya dibawa dengan ambulans dari RS Polri Kramatjati ke RS Mitra Keluarga di Jatinegara untuk di-scan otak saya. Katanya saya meronta-ronta sambil marah-marah saat dima-sukkan dalam tabung scan. Soal ini pun, saya sama sekali tidak ingat.
Setelah merasa bahwa otak saya mulai bekerja normal, saya mencoba merekonstruksi apa yang telah saya alami pada hari terakhir sebelum saya masuk rumah sakit. Yang kemudian masih saya ingat adalah ketika saya merasa kesakitan karena tidak bisa buang air kecil. Waktu itu saya berbaring di kamar depan. Begitu sakitnya, sampai akhirnya saya merasa tidak sadarkan diri. Saya merasa kehilangan kontak dengan dunia luar.
Ketika kemudian saya merasa sadar dan terbaring di rumah sakit, itu ternya-ta sudah enam hari kemudian. Sampai saat naskah ini saya tulis, tahun 2003, tujuh tahun kemudian, saya merasa tidak sadarkan diri sejak tanggal 9 hing-ga 15 September 1996.
Namun menurut istri dan anak-anak saya, selama enam hari itu saya tetap sadar dan dapat diajak berkomunikasi. Mereka bercerita banyak hal mengenai diri saya, tetapi saya tetap tidak bisa mengingatnya.
RUMAH Sakit Persahabatan, Rawamangun, akhir Mei 1996. Setelah mengalami kenaikan suhu badan yang tinggi, akhirnya saya be-rada dalam keadaan koma. Menurut istri saya, pada saat itu seluruh keluarga praktis sudah hampir kehilangan hara-pan. Nafas saya bunyinya seperti orang ngorok, mata saya hitamnya sudah membalik ke atas, sudah tidak dapat diajak berkomunikasi.
Selain anak istri, bapak Manggarai dan adik-adik saya juga sudah dipang-gil untuk hadir pada "saat-saat terakhir". Untuk mengurangi suhu badan yang tinggi, tubuh saya ditelanjangi. Adik bungsu saya Irawan mengguyuralkohol di sekujur tubuh saya. Dalam keadaan seperti itu, saya sudah tidak merasakan apa-apa lagi...
Putus sudah hubungan saya dengan dunia ini. Saya merasa seperti berada di sebuah ruang pengap, tertutup dan penuh asap yang baunya tidak enak, Ruangan itu serupa lorong atau gua panjang dengan dinding dari batu pa-das. Cahaya yang menerangi ruangan itu hanya berasal dari bara api yang ber-serakan di mana-mana.
Suara yang terdengar hanyalah ra-ungan kesakitan, jerit ketakutan, erang-an orang yang menahan sakit, suara rantai di kaki yang diseret-seret, ber-sahut-sahutan dan tumpang tindih silih berganti. Pemandangan menyedihkan, menakutkan, mengharukan, dan memi-lukan terlihat dimana-mana, di sepan-jang lorong pengap itu.
Saya melihat orang-orang disiksa, atau menyiksa diri. Tidak ada algojo. Akan tetapi bola api menyambar-nyam-bar membakar kepala laki-laki dan perempuan, Ada perempuan membetot lidahnya sendiri, lalu memotong-mo-tongnya dengan kukunya. Ada orang duduk di bara api, lalu berteriak kesakitan sambil cepat-cepat berdiri, tetapi kemudian duduk lagi di bara api itu. Terus diulang-ulang perbuatan itu, se-hingga bau daging hangus tercium oleh saya, berbarengan dengan bau anyir nanah dan bebauan tak sedap lainnya.
Selama melihat dan merasakan sua-sana itu, hati dan pikiran saya kacau balau. Ada desakan-desakan dalam hati yang ingin agar saya segera bisa pergi dari tempat itu, tetapi ada pula desakan lainnya yang menginginkan segela keke-jian itu dihentikan.
Akhirnya saya condong pada desakan yang kedua. "Ya Allah, ya Tu-hanku, saya memohon kepadaMu, hen-tikan siska dan kekejian itu. Kasihani mereka. Ampuni dosa-dosa mereka," saya berdoa dalam hati.
Tiba-tiba dinding bagian atas ruangan itu merekah dan dengan cepat ter-buka lebar. Cahaya yang amat terang, tetapi tidak menyilaukan seketika me-menuhi sekitar saya. Hening sejenak. Seakan waktu berhenti. Dan, sesaat kemudian dari kejauhan ada ratusan,
mungkin bahkan ribuan benda mela-yang-layang tidak beraturan mendekati saya. Benda yang melayang itu seperti daun gugur ditiup angin itu makin dekat, dan ternyata adalah ratusan lembarpas-foto, kira-kira ukuran 4X6 cm.
Selembar pasfoto melayang men-dekat, lalu berhenti sekitar setengah detik, begitu dekat sehingga saya dapat mengamati gambar siapa yang ada di situ. Bukan famili, bukan keluarga, a/can tetapi sahabat dekat saya: Moham-mad Sugiharto. Pasfoto itu melayang lagi menjauhi saya, dan pasfoto yang lain mendekat, lagi-lagi foto Sugiharto. Demikian berulang kali, mungkin sam-pai belasan kali.Setelah ratusan pasfoto itu perlahan-lahan menjauh, cahaya yang tadi sangat terang makin mere-dup. Suasana saya rasakan makin da-mai, makin tenteram di hati. Sebentar kemudian, saya tersadar...
***
HINGGA sekarang saya tidak tahu, apa arti segala yang saya lihat dan saya rasakan ketika saya berada dalam keadaan koma itu. Jelas bahwa apa yang saya lihat dan saya rasakan ketika itu terjadi atas kehendak Tuhan. Tetapi apa maksudnya?
Apa yang saya saksikan ketika dalam keadaan koma itu, sepertinya bukan mimpi, karena setelah saya sadar rasanya telinga saya masih mendengar suara rantai kaki yang diseret-seret, serta rintihan orang kesakitan. Saya tanyakan pada Dik Nuk, isteri saya, dan Soni anak saya. Apakah mereka mendengar? Jawab mereka: tidak.
Mungkin rintihan kesakitan itu me-mang benar-benar ada, karena bagai-mana pun tempat itu adalah rumah sakit. Jadi, bisa saja pasien di kamar sebelah yang merintih. Tetapi bagaima-na dengan suara rantai besi itu?
Saya yakin saya tidak bermimpi. Tetapi kenapa orang lain di sekitar saya tidak? Jika begitu, tentulah saya mendengar segalanya itu dengan telinga batin saya. Demikian pula, apa yang saya saksikan, saya rasakan, dan saya cium di ruangan yang penuh siksa itu adalah sesuatu hasil dari indera yang lain, yang bukan panca indera.
Saya berpendapat, selain panca indera penglihatan, pendengaran, penci-uman, perasaan, dan peraba, manusia juga diberi penglihatan batin, pendengaran batin, dan panca indera batin lainnya. Itulah sebabnya orang lain tidak merasakan apa yang saya rasakan.
Lalu apa artinya semua itu? Menga-pa saya harus mengalaminya? Saya tidak tahu. Mengapa selama enam hari pertama di Rumah Sakit Polri saya ke-hilangan kesadaran, kehilangan memo-ri, tetapi selama enam hari itu kata mereka saya masih tetap sadar? Lalu apakah pada tubuh saya yang hanya satu ini ada dua "saya"? Saya yang satu tidak sadar, dan pada saat yang sama, ada saya yang lain yang tetap sadar?
Lalu manakah saya yang sebenar-nya di antara dua "saya" itu? Apakah yang tetap sadar, ataukah yang me-ngalami black out selama enam hari? Karena saya penganut Islam, dan Islam tidak mengakui adanya reinkarnasi, ber-arti soal tut-tsi itu hanya cukup saya dengar, tidak harus saya percaya.
Saya anggap bahwa tidak semua yang terjadi pada diri saya, harus saya ketahui dan saya mengerti. Ada bagian-bagian dari pengalaman dan sejarah hidup saya yang tidak akan dapat saya jelaskan. Karena saya sendiri memang tidak tahu, dan tidak mengerti. Saya anggap itu sebagai rahasia Tuhan, yang mungkin akan saya mengerti nanti, en-tah kapan, karena izin dan ridlo Illahi.
Setelah terbebas dari suasana pengap yang mengerikan di ruangan seperti gua itu, mengapa yang muncul jus-tru ratusan pasfoto Sugiharto, sahabat saya? Mengapa bukan keluarga saya? Bukan bapak, atau ibu misalnya. Dan mengapa harus dalam bentuk pasfoto hitam putih yang tepinya bergerigi?
Soal inipun juga saya anggap sebagai rahasia Tuhan.

"mengenang alm mas Bambang Harsrinuksmo, dari majalah KERIS"

 
Banner
 

Info Gadget

New Interactive TV E...

BOSTON – May 21, 2012 – Next-generation TV has arrived. At The Cable Show in Boston (May 21-23, Booth #733), Motorola Mobility, Inc. (NYSE: MMI) is showcasing the revolutionary entertainment discovery experience that will be launching in North American homes later this year.


Read More...

Panasonic's Premium ...

SECAUCUS, NJ (May 21, 2012) – Today, Panasonic announced a new digital interchangeable standard zoom lens, the LUMIX G X VARIO 12-35mm/F2.8 ASPH./POWER O.I.S. (H-HS12035). The newest addition to the company's premium lens brand "X," which is compatible with the Panasonic LUMIX G Series and complies with the Micro Four Thirds™ system standard, this lens offers a versatile zoom range of 12-35mm (35mm camera equivalent: 24-70mm) and features constant F2.8 aperture brightness at entire zoom range.


Read More...

VIA Announces Ultra ...

Delivers power efficient dual core processing in a ruggedized chassis system for a diversified range of embedded applications Taipei, Taiwan, May 17, 2012 - VIA Technologies, Inc, a leading innovator of power efficient computing platforms, today announced the VIA AMOS-3002, an ultra compact, fanless system designed around the tiny VIA EPIA-P900 Pico-ITX board. The VIA AMOS-3002 provides embedded customers with a system that delivers all the latest features and digital media standards required for a diversified range of embedded applications including telematics, in-vehicle control, machine to machine controller (M2M), digital signage and kiosks.


Read More...
012

Info Kesehatan

Therapeutic Baths
24/09/2011 |
article thumbnail

Water has been used as a valuable therapeutic agent since time immemorial. In all major ancient civilizations, bathing was considered [ ... ]


Hysteria
24/09/2011 |

Hysteria is a mental and nervous disorder arising from intense anxiety. It is characterised by a lack of control over acts and emotions [ ... ]


Artikel Lainnya

Jualan Produk Herbal?

Peluang Usaha Bisnis Herbal