Home Pendekar-2 Negeri Tayli Pendekar-2 Negeri Tayli 22
Pendekar-2 Negeri Tayli 22 PDF Print E-mail

Kembali mengenai keadaan di istana Tin-lam-ong.
Si Pek-hong alias Yau-toan-siancu menjadi sangat khawatir atas diri sang putra yang digondol kawanan Su-ok itu, tanyanya pada Po-ting-te, "Hong-heng, di manakah letak Ban-jiat-kok itu, apakah Hong-heng sudah tahu?”


"Nama Ban-jiat-kok juga baru kudengar hari ini,” sahut Po-ting-te Toan Cing-beng. "Tapi rasanya tidak jauh dari Tayli ini.”

"Dari nada ucapan Ciong Ban-siu itu, agaknya tempat itu sangat dirahasiakan,” kata Pek-hong dengan khawatir. "Dan kalau terlalu lama Ki-ji berada dalam cengkeraman musuh, mungkin ....”

"Ki-ji terlalu dimanjakan di rumah, biarkan dia mengalami sedikit gemblengan juga ada baiknya,” demikian sela Po-ting-te dengan tersenyum.

Si Pek-hong tidak berani banyak bicara lagi meski dalam hati khawatir sekali.

Maka Po-ting-te berkata pula kepada Toan Cing-sun, "Sun-te, suruh keluarkan santapan lagi, mari kita menjamu diri sendiri dahulu.”

Cing-sun mengiakan dan memberi perintah, hanya sebentar saja perjamuan lengkap sudah disediakan lagi.Segera Po-ting-te suruh semua orang duduk semeja untuk makan minum.

Meski dia diagungkan sebagai raja, tapi tempatnya bukan di istana, biasanya ia tidak suka banyak adat, maka Toan Cing-sun, Si Pek-hong dan Ko Sing-thay lantas sama duduk mengiringinya tanpa rikuh.

Dalam perjamuan itu, mereka sama sekali tidak bicara tentang kejadian tadi.

Ketika dekat fajar, tiba-tiba seorang pengawal masuk melapor, "Pah-sugong ingin menghadap Hongsiang!”

Maka masuklah seorang laki-laki kehitam-hitaman, bertubuh pendek kurus. Ia memberi hormat kepada Po-ting-te dan berkata, "Lapor Hongsiang, untuk ke tempat itu harus melalui Sian-jin-toh dan jembatan rantai, mulut lembahnya adalah sebuah kuburan.”

"Wah, bila tahu Pah-sugong sudah turun tangan, masakah sarang musuh takkan diketemukan dan aku pun tidak perlu khawatir lagi,” seru Pek-hong dengan tertawa.

"Onghui terlalu memuji, Pah Thian-sik tidak berani terima,” sahut laki-laki hitam itu.

Kiranya Pah Thian-sik ini meski bermuka jelek dan potongannya kecil, tapi dia sangat cerdik dan pintar, sudah banyak berjasa bagi Po-ting-te. Pangkatnya sekarang di negeri Tayli adalah Sugong.

Gelar pangkat Suto, Suma dan Sugong sangat terhormat dalam kerajaan kecil ini. Pah Thian-sik sendiri ilmu silatnya sangat tinggi, lebih-lebih dalam ilmu Ginkang. Kali ini ia ditugaskan Po-ting-te untuk menguntit jejak musuh, dan benar juga ia dapat mengetahui tempat Ban-jiat-kok itu.

"Thian-sik, duduklah dan makan yang kenyang,” kata Po-ting-te kemudian dengan tertawa. "Habis makan, kita lantas berangkat.”

Thian-sik cukup kenal watak sang raja yang biasanya tak suka orang berlutut dan menyembah padanya, kalau terlalu kukuh pada adat-adat kolot itu, sang raja malah kurang senang. Maka ia hanya mengiakan sekali dan ambil tempat duduk, terus saja ia serbu apa yang tersedia di atas meja itu.

Setetes arak pun Pah Thian-sik tidak minum, tapi takarannya makan ternyata sangat mengejutkan, hanya sekejap saja hampir sepuluh mangkuk nasi telah dilangsir ke dalam perutnya.

Toan Cing-sun, Ko Sing-thay dan lain-lain sudah lama bersahabat dengan Pah Thian-sik, maka mereka tidak menjadi heran akan kelakuan orang aneh itu.

Habis makan, segera Thian-sik berbangkit, ia usap mulutnya yang berlepotan minyak itu dengan lengan baju, lalu berkata, "Marilah Hongsiang, biar hamba menunjukkan jalannya.”

Dan segera ia mendahului melangkah keluar.

Berturut-turut Po-ting-te, Toan Cing-sun suami istri dan Ko Sing-thay lantas mengikuti di belakangnya.

Sampai di luar istana, tampak tokoh-tokoh Hi-jiau-keng-dok sudah menanti di situ sambil menuntun kuda, di samping itu ada belasan pengawal lain yang membawakan senjata Po-ting-te.

Nyata, biarpun kedua saudara Toan ini mempunyai kedudukan terpuji, namun mereka tidak pernah meninggalkan etiket sebagai orang persilatan daerah Tionggoan yang diwariskan leluhur mereka. Sering kali mereka pun menyamar sebagai rakyat jelata untuk pesiar keluar, kalau ketemukan orang Bu-lim hendak menuntut balas atau mencari mereka, selalu mereka pun menghadapinya menurut peraturan Bu-lim, selamanya tidak gunakan pengaruh kedudukan mereka untuk menghina orang.

Sebab itulah, maka keluarnya Po-ting-te sekarang ini sedikit pun tidak mengherankan para pengiringnya, mereka anggap sudah biasa.

Melihat di antara beberapa orang pengiring itu ada yang membawa pacul dan sekop, dengan tertawa Si Pek-hong tanya, "Pah-sugong, apakah kita hendak pergi menggali pusaka pendaman?”

"Pergi menggali kuburan!” sahut Pah Thian-sik.

Begitulah segera rombongan mereka berangkat beramai-ramai, kuda yang mereka pakai adalah pilihan, maka tidak sampai tengah hari mereka sudah tiba di tanah pekuburan di luar Ban-jiat-kok itu.

"Gali situ!” kata Pah Thian-sik segera sambil menunjuk kuburan besar yang ketujuh.

Terus saja pengiring-pengiring yang membawa alat-alat galian itu bekerja cepat.

"Wah, penghuni di Ban-jiat-kok ini rupanya dendam tiada tara terhadap keluarga Toan kita!” demikian kata Po-ting-te dengan tertawa sambil menuding batu nisan yang bertuliskan "Kuburan Ban Siu Toan” atau kuburan orang beribu sakit hati pada orang she Toan.

Dalam pada itu Jay-sin-khek Siau Tiok-sing sudah lantas ayun kapaknya dengan cepat pada batu nisan itu hingga batu kerikil bertebaran, hanya sebentar saja batu nisan itu sudah dihancurkan olehnya dan melulu tertinggal huruf "Toan” yang masih tetap utuh.

Sementara itu para pengiring juga sudah meratakan sebagian besar kuburan itu hingga kelihatan jalan masuk ke bawah tanah itu.

Segera Siau Tiok-sing mendahului masuk ke dalam, lalu keempat tokoh Hi-jiau-keng-dok mendahului membuka jalan, di belakangnya adalah Pah Thian-sik dan Ko Sing-thay, menyusul lantas Toan Cing-sun suami istri dan paling akhir Po-ting-te.

Setelah masuk ke dalam lembah itu ternyata keadaan sunyi senyap tiada seorang pun yang menyambut kedatangan mereka.

Pah Thian-sik menuruti peraturan Kangouw, ia bawa kartu nama Toan Cing-beng dan Toan Cing-sun menuju ke depan rumah utama di lembah itu, serunya keras-keras, "Dua saudara she Toan dari negeri Tayli ingin bertemu dengan Ciong-kokcu!”

Baru selesai ucapannya, sekonyong-konyong dari semak-semak pohon sisi kiri sana berkelebat keluar sesosok bayangan orang yang panjang sekali, dengan cepat luar biasa tahu-tahu melayang ke arah Pah Thian-sik terus hendak menyambar kartu nama yang dipegangnya itu.

Namun Thian-sik cukup cepat juga gerakannya, ia menggeser ke samping sambil membentak, "Siapa?”

Kiranya itulah "Kiong-hiong-kek-ok” In Tiong-ho. Sekali sambar tidak kena, ia tidak berhenti tapi terus putar balik dan menubruk ke arah Thian-sik.

Melihat Ginkang orang sangat hebat, timbul keinginan Pah Thian-sik untuk menjajal kepandaian orang yang sesungguhnya, maka cepat ia geser pula ke samping lain. Segera In Tiong-ho mengudak juga.

Maka tertampaklah dua bayangan orang, yang satu jangkung dan yang lain pendek, dalam sekejap saja sudah saling uber kian kemari beberapa kali. Meski langkah In Tiong-ho sangat lebar, namun dengan gesit sambil berlompatan, Pah Thian-sik dapat menyusup pergi datang dengan lincah, jarak kedua orang tetap terpisah lebih satu meter. In Tiong-ho tak bisa menyusul Pah Thian-sik, sebaliknya Thian-sik juga tak mampu melepaskan diri dari kejaran Tiong-ho.

Biasanya kedua orang itu sama-sama sangat mengagulkan Ginkangnya sendiri, tapi kini ketemukan lawan setanding, diam-diam mereka sama terkejut. Makin berlari makin cepat, begitu cepatnya hingga baju mereka berkibaran menjangkitkan angin yang menderu-deru.

Meski hanya dua orang yang kejar-mengejar, namun bagi penglihatan orang menjadi seperti beberapa orang yang sedang saling udak kian kemari. Sampai akhirnya, saking cepatnya lari mereka hingga orang merasa bingung apakah sebenarnya In Tiong-ho yang lagi mengejar Pah Thian-sik atau Thian-sik yang sedang mengudak Tiong-ho?

Tiba-tiba terdengar suara keriut pintu dibuka, Ciong Ban-siu tampak keluar dari rumah itu.

Melihat tuan rumah itu, tanpa berhenti berlari, Pah Thian-sik mengerahkan tenaga dalam terus menyambitkan kartu nama yang enteng dan lemas, tapi Thian-sik ternyata dapat menimpuknya dengan lurus enteng, apalagi dia sedang berlari diuber musuh, angin yang terjangkit karena larinya itu cukup keras, tapi kartu nama itu mampu menembus sambaran angin dan tetap menuju ke arah Ciong Ban-siu, maka dapatlah dibayangkan betapa lihai Lwekang Pah Thian-sik.

Ban-siu lantas tangkap kartu yang terbang ke arahnya itu, serunya dengan gusar, "Orang she Toan, jika kau datang ke lembah ini menurut peraturan Kangouw, mengapa kau rusak peralatan pintu lembahku?”

"Hongsiang mahaagung, mana boleh menerobos liang kuburmu dan peti matimu yang busuk itu?” demikian sahut Bu-sian-tio-toh Leng Jian-li.

Si Pek-hong sendiri paling khawatir keselamatan putranya, maka segera ia tanya, "Di manakah anakku, kalian mengurungnya di mana?”

Belum lagi Ciong Ban-siu menjawab, sekonyong-konyong dari belakangnya tampil seorang wanita, dengan suara yang tajam ia berseru, "Kedatanganmu sudah terlambat, bocah she Toan itu sudah kami sembelih dadanya dan isi perutnya kami buang sebagai umpan anjing!”

Kedua tangan wanita itu tampak memegangi sepasang golok, batang golok itu sangat ciut bagai daun pohon Liu, tapi bersinar kemilau. Itulah dia Siu-lo-to yang ditakuti orang Kangouw bila melihatnya.

Kedua wanita ini, Si Pek-hong dan Cin Ang-bian, pada masa belasan tahun yang lalu sudah saling bermusuhan. Meski Si Pek-hong tahu apa yang dikatakan Cin Ang-bian tadi tidak benar, namun ucapan orang yang mengerikan atas diri putranya, membuat Si Pek-hong menjadi gusar, dendam lama dan benci baru meledak sekaligus, dengan dingin ia balas berolok-olok, "Huh, aku bicara sendiri dengan Ciong-kokcu, siapa yang sudi omong-omong dengan perempuan rendah tak kenal malu hingga mengotorkan diri sendiri.”

"Creng-creng,” sekonyong-konyong kedua golok Cin Ang-bian membacok secepat kilat ke atas kepala Si Pek-hong. Serangan "Sip-ji-gam” atau bacokan bersilang, yang satu malang ke sana dan yang lain melintang ke sini, jurus ini adalah kepandaian khas Cin Ang-bian yang telah banyak menjungkalkan jago dunia Kangouw.

Maka lekas Si Pek-hong ayun kebut pertapaannya untuk menangkis, berbareng tubuhnya bergeser ke samping, ujung kebut lantas balas menyabet punggung lawan.

Menyaksikan itu, Toan Cing-sun menjadi serbasalah. Yang seorang adalah istri kesayangannya, dan yang lain adalah bekas kekasih. Dalam pertarungan sengit itu, siapa pun terluka, dirinya yang sudah pasti akan menyesal selama hidup. Maka segera ia membentak, "Berhenti, berhenti dulu!”

Ia terus melompat maju dengan pedang terhunus hendak memisah.

Melihat Toan Cing-sun, marah Ciong Ban-siu lantas berkobar, ia lolos golok "Tay-goan-to,” golok tebal yang bergelang hingga menerbitkan suara gemerantang nyaring, tanpa bicara lagi terus membacok kepala Toan Cing-sun.

"Tak usah Ongya maju sendiri, biar hamba membereskan dia saja,” kata Leng Jian-li sambil menjuju dengan senjata pancingnya.

"Haha,” Ban-siu tertawa mengejek. "Memang kutahu orang she Toan hanya besar omong saja, paling-paling cuma pandai main keroyokan.”

"Mundur Jian-li!” seru Cing-sun dengan tertawa, "biar kubelajar kenal sendiri dengan kepandaian Ciong-kokcu yang lihai.”

Berbareng ia lantas menangkis tangkai pancing Leng Jian-li, sekalian pedang terus menempel punggung Tay-goan-to lawan yang dipakai menangkis tangkai pancing Leng Jian-li tadi, untuk memotong jari tangan Ciong Ban-siu.

Ban-siu terkejut oleh tiga gerakan yang dilakukan sekaligus, yaitu menangkis, menempel dan memotong, diam-diam ia harus mengaku orang she Toan ini benar-benar lihai. Maka ia tidak berani marah lagi, tapi ia hadapi lawan dengan sungguh-sungguh. Meski wataknya kasar, namun kalau sudah berhadapan dengan musuh, ia bisa berlaku hati-hati.

"Coba kalian masuk dan geledah sana!” perintah Po-ting-te kepada Leng Jian-li.

Jian-li mengiakan, segera tokoh-tokoh Hi-jiau-keng-dok menyerbu ke dalam rumah orang. Tapi baru sebelah kaki Siau Tiok-sing melangkah masuk, tiba-tiba dari depan menyambar sebatang golok tipis ke mukanya. Untung ia sempat mengkeret kembali dengan cepat, kalau tidak tentu mukanya sudah rata terpotong, paling tidak batang hidungnya pasti terpapas.

Saking kagetnya sampai Siau Tiok-sing berkeringat dingin. Ia coba perhatikan siapa gerangan penyergap itu. Kiranya seorang wanita yang berparas cantik, itulah dia Bu-ok-put-cok Yap Ji-nio adanya.

Golok yang dipakai Yap Ji-nio itu bentuknya sangat aneh, enteng tipis, senjata tajam luar biasa. Sambil memegangi gagang golok yang pendeknya cuma belasan senti itu, hanya sedikit diputar seketika terjadilah segulung sinar putih.

Kaget Siau Tiok-sing semula memang luar biasa, tapi sesudah tenangkan diri, segera ia membentak, kapak baja diayun, terus saja ia bacok senjata musuh.

Namun Yap Ji-nio lekas putar goloknya yang tipis tajam itu, ia tidak berani adu senjata dengan kapak lawan.

Siau Tiok-sing mainkan 36 jurus "Khay-san-po-hoat” atau ilmu permainan kapak membelah gunung, ia membacok ke atas dan membabat ke bawah. Sebaliknya Yap Ji-nio terus-menerus mengejeknya dengan kata-kata yang menusuk hati.

Melihat perempuan itu sambil bicara seenaknya saja melayani serangan Tiok-sing, Cu Tan-sin menjadi khawatir jangan-jangan kawannya teperdaya musuh. Maka cepat ia pun menerjang maju, kipasnya berputar terus menutuk.

Tatkala itu In Tiong-ho masih tetap main putar kayun dengan Pah Thian-sik. Ginkang kedua orang sama lihainya, mereka tahu juga dalam waktu singkat sukar untuk menentukan kalah menang, tapi yang diuji sekarang adalah tenaga dalam, siapa yang tahan lama, dia akan menang.

Tapi Thian-sik tahu lawan sudah mengerahkan sepenuh tenaga untuk mengejar, berbeda seperti dirinya yang main melompat dan melejit, tenaga dalam masih terpelihara, bila sewaktu-waktu dirinya mendadak berhenti berlari terus menyerang serentak, tentu lawan tak kuat menahannya.

Cuma tujuannya memang ingin menguji Ginkang lawan, maka ia masih terus berlari dan belum ingin menundukkan lawan dengan ilmu pukulan.

"Setan alas, dari mana datangnya kawanan anjing ini, bikin berisik melulu hingga aku tak bisa tidur!” demikian tiba-tiba terdengar suara makian orang. Lalu tertampak Lam-hay-gok-sin melompat datang dengan senjatanya yang istimewa, yaitu Gok-cui-cian atau gunting moncong buaya.

Segera Tiam-jong-san-long menjawabnya dengan suara keras, "Ini dia ayah gurumu yang datang kemari!”

"Apa ayah guruku?” bentak Lam-hay-gok-sin dengan bingung.

"Ini,” sahut Tiam-jong-san-long sambil tunjuk Toan Cing-sun, "Tin-lam-ong adalah ayah Toan-kongcu, dan Toan-kongcu adalah gurumu, masakah kau berani menyangkal, ayo?”

Biarpun perbuatan Lam-hay-gok-sin mahajahat, tapi ada suatu sifatnya yang baik, yaitu apa yang pernah dia ucapkan, tentu ditepatinya.

Maka demi mendengar jawaban itu, mukanya menjadi merah padam saking gusar, tanpa menjawab benar atau tidak, segera ia membentak pula, "Aku angkat guru padanya adalah urusanku sendiri, peduli apa dengan anak kura-kura macam kau ini?”

"Hahaha! Aku toh bukan anakmu, kenapa kau panggil aku anak kura-kura?” sahut San-long bergelak tertawa.

Lam-hay-gok-sin tertegun, ia bingung akan jawaban itu. Tapi kemudian ia menjadi sadar bahwa secara tidak langsung orang telah memaki dia sebagai kura-kura alias germo.

Sadar akan hal itu, keruan ia berjingkrak gusar, senjatanya yang aneh itu menggunting beberapa kali ke arah musuh.

Walaupun otaknya rada bebal, tapi ilmu silat Lam-hay-gok-sin memang sangat lihai. Gok-cui-cian yang dipakai itu penuh dengan gigi buaya yang tajam, baru Tiam-jong-san-long menangkis tiga jurus dengan pacul garuknya, kedua lengannya sudah mulai terasa linu pegal.

Melihat kawannya terdesak, segera pancing Bu-sian-tio-toh Leng Jian-li bergerak, sekali terayun, cepat kait pancingnya melayang ke mata kiri Gok-sin.

"Huh, senjata apaan ini?” jengek Lam-hay-gok-sin.

"Aku berjuluk Lam-hay-tio-toh, kerjaku memancing buaya!” sahut Leng Jian-li dengan tertawa.

"Kau paham kentut, masakah buaya dapat dipancing, sekali gigit sudah putus pancingmu ini,” sahut Gok-sin tak mau kalah.

"Baik, boleh kau coba-coba,” ujar Jian-li tertawa. Kembali tali pancingnya terayun dan kait pancing hendak mencantol mulut Lam-hay-gok-sin.

Namun Gok-sin tidak lengah, mendadak Gok-bwe-pian atau ruyung ekor buaya terus dilolos, sekali sabat, segera tali pancing lawan hendak digulungnya.

Ruyung lawan kasar antap, sedang tali pancingnya halus enteng, maka Leng Jian-li tak berani sembrono, cepat ia tarik pancingnya dan putar sekali di udara, menyusul batok kepala belakang Gok-sin hendak dikait lagi.

Menyaksikan situasi pertarungan itu, Po-ting-te menaksir pihaknya tidak berbahaya, cuma sepasang Siu-lo-to Cin Ang-bian yang dimainkannya dengan cepat luar biasa dengan aneka macam perubahannya, di atas golok-golok tipis itu dilumasi racun pula. Dalam hal ilmu silat sejati tidak nanti Si Pek-hong kalah, tapi kalau tersentuh senjata lawan yang beracun, itulah yang dikhawatirkan.

Segera Po-ting-te berkata pada Ko Sing-thay, "Jaga dan awasi keadaan di sini, kalau perlu boleh kau rampas sebilah golok nyonya itu.”

Ko Sing-thay mengiakan, dengan tenang ia berdiri mengawasi kalangan pertempuran dengan gagahnya.

Po-ting-te lantas masuk ke dalam rumah, serunya keras-keras, "Ki-ji, apakah kau berada di sini?”

Tapi sama sekali tiada jawaban orang. Ia coba membuka pintu kamar sebelah kiri dan berseru pula, "Ki-ji!”

Belum hilang suaranya, sekonyong-konyong sesosok bayangan hijau berkelebat, seutas tali panjang secepat kilat menyambar lehernya.

Walaupun benda hijau itu menyambar dengan terapung di udara, tapi ternyata adalah makhluk hidup. Po-ting-te terkejut, segera ia dapat melihat jelas bahwa benda itu adalah seekor ular hijau yang panjang.Dengan lidahnya yang mulur mengkeret, ular itu hendak menggigit tenggorokannya.

Tanpa pikir lagi Po-ting-te segera menyelentik dengan jarinya hingga tepat kena bawah leher ular itu.

Tenaga selentikan Po-ting-te ini sungguh bukan main hebatnya, biarpun ular hijau itu keras sebagai kawat baja, sekali kena diselentik, seketika patah juga tulang lehernya, ular itu jatuh ke lantai, setelah mengesot beberapa kali, lalu mati.

Maka terdengarlah suara jeritan kaget seorang gadis cilik, "Haya, kau bunuh aku punya Jing-leng-cu!”

Waktu Po-ting-te memerhatikan tertampak seorang nona cilik berusia 15-16 tahun muncul dari balik pintu dengan wajah yang kaget tercampur takut.

"Di mana Toan-kongcu berada?” tanya Po-ting-te.

"Untuk apa kau cari Toan-kongcu?” berbalik gadis itu tanya.

"Aku hendak menolongnya keluar!” sahut Po-ting-te.

"Engkau takkan dapat menolongnya,” ujar gadis itu. "Ia terkurung di dalam sebuah rumah batu, di luar ada yang jaga pula.”

"Harap bawa aku ke sana,” kata Po-ting-te, "akan kurobohkan orang yang jaga, membuka rumah batu itu dan menolong keluar Toan-kongcu.”

"Tidak bisa!” sahut si gadis cilik. "Kalau aku membawa engkau ke sana, tentu ayah akan membunuh aku!”

"Siapa ayahmu?” tanya Po-ting-te.

"Aku she Ciong, ayahku adalah tuan rumah lembah ini,” sahut si gadis cilik yang bukan lain adalah Ciong Ling itu. "Dan engkau sendiri siapa?”

Po-ting-te hanya mengangguk tanpa menjawab. Ia pikir terhadap seorang nona cilik begini, baik memancingnya dengan kata-kata atau mengancam dengan kekerasan, semuanya tidak pantas digunakan atas diri gadis cilik ini. Kalau Toan Ki sudah terang dikurung di dalam lembah itu, tentu tidak sulit untuk mencarinya.

Karena itu, ia lantas keluar lagi dari rumah itu dengan maksud mencari jalan lain untuk menemukan Toan Ki ....

Kembali mengenai Toan Ki dan Bok Wan-jing yang dikurung di dalam kamar batu sebagai "ternak” yang disuruh mengembang biak itu. Ketika mengetahui bahwa Jing-bau-khek yang mengeram mereka dengan muslihat keji itu adalah "Ok-koan-boan-eng” atau kejahatan sudah melampaui takaran, tentu saja mereka bertambah kejut dan khawatir.

Dan karena pikiran kacau, keteguhan iman mereka semakin tipis, sampai akhirnya, entah bagaimana jadinya, tiba-tiba mereka duduk saling berdekapan.

"Jing-moay,” demikian Toan Ki berkata perlahan, "kita sudah jatuh dalam cengkeramannya, mungkin sukar menyelamatkan diri.”

Wan-jing hanya mengiakan sekali, ia merasa pipinya panas bagai dibakar, terus saja ia susupkan kepalanya di pangkuan Toan Ki.

Perlahan Toan Ki membelai rambut si nona, keringat kedua orang sudah membasahi baju masing-masing hingga mirip orang habis kecemplung dalam air.Dan begitu mencium bau badan masing-masing, keruan makin bertambah daya tariknya.

Jangankan mereka adalah muda-mudi yang belum berpengalaman, seumpama tidak terpengaruh oleh racun, tentu mereka pun sukar mengendalikan diri, apalagi racun "Im-yang-ho-hap-san” yang mereka minum itu sangat banyak, biarpun nabi sekalipun kalau sudah minum racun itu juga akan gugur imannya.

Untunglah dalam keadaan lupa daratan itu, dalam benak Toan Ki masih timbul setitik sinar terang yang mengingatkan nama baik dan kehormatan keluarga Toan mereka, maka sekuatnya ia terus bergulat dengan nafsu kebinatangannya.

Yang paling celaka adalah si baju hijau alias "Ok-koan-boan-eng” itu masih terus membakar dari luar, katanya, "Ayolah lekas kalian laksanakan cita-citamu. Lebih cepat kalian mempunyai anak lebih cepat pula kalian akan keluar dari kurungan ini. Nah, aku akan pergi!”

Habis itu, terdengar suara daun pohon berkeresekan, agaknya orangnya sudah pergi jauh.

Toan Ki berteriak-teriak, "Gak-losam! Gak-losam! Gurumu ada kesulitan, lekas menolongnya!”

Namun sampai tenggorokannya bejat tetap tiada seorang pun yang menyahut, pikirnya, "Dalam keadaan begini, biarpun aku harus angkat guru padanya juga tidak soal lagi. Soal salah mengangkat orang jahat sebagai guru adalah urusan pribadiku dan tak ada sangkut paut dengan ayah dan paman.”

Segera ia berteriak-teriak pula, "Gak-losam! Lam-hay-gok-sin! Aku rela mengangkat guru padamu, terima menjadi ahli waris Lam-hay-pay, lekas menolong muridmu ini. Kalau tidak cepat, tentu takkan kau peroleh murid berbakat!”

Tapi sampai ia capek sendiri, tetap tiada suatu bayangan setan pun yang kelihatan.

"Toan-long,” tiba-tiba Wan-jing berkata, "sesudah kita kawin, engkau lebih suka anak pertama kita nanti laki-laki atau perempuan?”

"Laki-laki,” sahut Toan Ki dalam keadaan sadar tak sadar.

"Hai, Toan-kongcu, engkau adalah Engkohnya, tidak boleh kalian kawin!” tiba-tiba suara seorang gadis cilik menyela dari luar.

Toan Ki terperanjat, cepat ia tanya, "Ap ... apakah Ciong-kohnio adanya?”

"Ya, benar, memang akulah!” demikian sahut gadis itu yang memang benar adalah Ciong Ling. "Sudah kudengar semua ucapan Jing-bau-khek yang jahat itu, tapi jangan khawatir, aku pasti akan berdaya untuk menolongmu!”

"Bagus!” seru Toan Ki girang. "Nah, lekas kau pergi mencuri obat penawarnya untuk kami.”

"Akan lebih baik kugeser batu besar ini untuk menolong kalian keluar dahulu,” demikian ujar Ciong Ling.

"Tidak, tidak! Lekas kau curikan obat penawar dahulu,” sahut Toan Ki cepat. "Seb ... sebab aku tak tahan lagi, aku ham ... hampir mati!”

"Mengapa tak tahan? Apakah engkau sakit perut?” tanya Ciong Ling khawatir.

"Bu ... bukan,” sahut Toan Ki.

"Habis, apakah sakit kepala?” Ciong Ling menegas pula.

"Juga bukan,” sahut Toan Ki.

"Habis, apamu yang tidak tahan?”

Toan Ki menjadi sulit menjawab, masakah urusan begituan boleh diterangkan pada seorang nona cilik yang masih hijau? Terpaksa ia menjawab, "Seluruh badanku terasa tidak enak, cukup asal kau berusaha mendapatkan obat penawarnya.”

"Tapi engkau tidak terangkan apa penyakitnya, dari mana kutahu obat penawar apa yang diperlukan?” ujar Ciong Ling berkerut kening. "Ayahku pandai mengobati segala macam penyakit, tapi dia harus tahu dulu apakah kau sakit perut, sakit kepala, atau sakit jantung?”

"Ak ... aku tidak apa-apa,” sahut Toan Ki sambil menghela napas. "Tapi aku salah ... salah minum semacam racun yang disebut ‘Im-yang-ho-hap-san’.”

"Bagus,” seru Ciong Ling, "asal kau tahu namanya, mudahlah urusan diselesaikan.”

Lalu dengan cepat gadis itu pulang ke rumah hendak minta obat penawar "Im-yang-ho-hap-san” pada ayahnya.

Tak tersangka begitu Ciong Ling menyebut tentang "Im-yang-ho-hap-san”, belum lagi ia menerangkan lebih lanjut, kontan Ciong Ban-siu terus menarik muka yang berbentuk muka kuda itu, dampratnya, "Anak perempuan sekecil ini untuk apa tanya ini dan itu, kalau berani sembarangan omong lagi, sebentar kujewer kupingmu.”

Dan sebelum Ciong Ling sempat bicara lebih lanjut, saat itulah Po-ting-te dan rombongannya menyerbu ke dalam lembah Ban-jiat-kok, maka cepat Ban-siu keluar menghadapi musuh sehingga Ciong Ling ditinggal sendirian di dalam kamar.

Ketika mendengar di luar sudah terjadi pertarungan sengit, Ciong Ling tidak ambil pusing sama sekali, ia asyik membongkar lemari obat simpanan sang ayah. Ia ubrak-abrik beratus botol obat Ciong Ban-siu yang tersimpan di dalam lemari, setiap botol obat itu tertempel etiket yang menunjukkan nama obat masing-masing, tapi obat penawar "Im-yang-ho-hap-san” itu justru tidak terdapat.

Dan sedang Ciong Ling bingung entah ke mana harus mencari obat penawar yang dibutuhkan, tiba-tiba terdengar suara orang mendobrak pintu dan melangkah masuk. Tanpa pikir lagi ia lepaskan Jing-leng-cu, siapa tahu badan Jing-leng-cu yang kuat seperti besi itu, sekali diselentik Po-ting-te lantas binasa.

Dalam pada itu, Toan Ki yang menunggu-nunggu kembalinya Ciong Ling hingga lama itu, pikiran tak senonohnya sudah semakin berkobar-kobar, beberapa kali hampir saja ia menubruk maju untuk memeluk Bok Wan-jing. Sampai akhirnya, saking tak tahan, segera ia berteriak, "Jing-moay, aku tidak ingin hidup lagi, lekas berikan panahmu yang berbisa itu!”

"Tidak, aku tak mau memberi,” sahut Wan-jing dengan suara serak dan mata merah.

Toan Ki terus memukul dada dan perut sendiri sambil berteriak pula, "Mati, matilah aku!”

Dan mendadak kepalan yang menghantam dada sendiri itu memukul sebuah benda keras, itulah kotak kemala yang berada dalam bajunya. Seketika pikirannya tergerak, "Hah, biarlah kugunakan Bong-koh-cu-hap ini untuk memanggil ular beracun, biarlah aku digigit mati ular berbisa saja.”

Segera ia keluarkan kotak kemala itu dan membuka tutupnya. Benar juga sepasang katak aneh itu lantas menguak keras-keras.

Namun di lembah Ban-jiat-kok itu berhubung Ciong Ling suka main Kim-leng-cu dan Jing-leng-cu, maka ular berbisa lainnya sudah jauh menyingkir ke tempat lain sehingga tidak mungkin mendengar suara menguaknya katak raja ular ini.

Sampai lama Toan Ki menunggu, namun tiada seekor ular pun yang muncul. Sebaliknya badan semakin panas, mulut terasa kering, keringat membasah kuyup bajunya. Pikirnya, "Sepasang Cu-hap ini bisa mengatasi ular berbisa, agaknya racun pada badan binatang ini pasti jauh lebih lihai daripada ular beracun yang paling jahat.”

Karena dia sudah ambil keputusan hendak membunuh diri, dalam keadaan pikiran gelap, tanpa banyak pikir lagi ia terus comot seekor katak merah itu, ia masukkan binatang itu ke dalam mulut terus dikunyahnya.

Ia merasakan air segar mengalir masuk tenggorokannya, rasanya sangat enak. Ternyata katak-katak itu adalah binatang berdarah dingin. Maka hanya sekejap saja seekor katak merah yang merupakan makhluk mestika yang jarang ada di jagat ini sudah dimakannya habis. Bahkan ia belum lagi puas, segera katak yang kedua dimakannya pula.

Melihat muka Toan Ki sangat beringas sambil makan katak hingga mulutnya penuh berlepotan darah, rambutnya kusut masai pula, Bok Wan-jing menjadi rada takut.

Sementara itu setelah makan dua ekor Cu-hap mestika itu, pernapasan Toan Ki bertambah megap-megap, ia justru berharap racun binatang itu lekas bekerja agar dirinya lekas mati, supaya terhindar daripada siksaan yang sukar ditahan itu ....

(Oo^o^dwkz^http://kangzusi.com/^o^oO)


Kembali mengenai Po-ting-te. Sesudah tinggalkan Ciong Ling, ia coba mencari pula terkurungnya Toan Ki. Tiba-tiba dari belakang terdengar suara tindakan orang, cepat ia menoleh, ternyata Ciong Ling yang sedang menyusulnya. Segera ia pun berhenti menanti gadis cilik itu.

Sambil mendekat, Ciong Ling berkata, "Aku tidak menemukan obat penawarnya, marilah kubawa engkau ke sana. Tapi entah batu itu dapat kau geser atau tidak?”

Sudah tentu Po-ting-te tidak tahu tentang obat penawar segala, tanyanya, "Obat penawar apa? Dan batu apa lagi?”

"Marilah ikut padaku, sebentar engkau akan tahu sendiri,” sahut Ciong Ling dan mendahului jalan ke depan.

Meskipun jalanan di Ban-jiat-kok itu berliku-liku penuh rahasia, namun di bawah petunjuk Ciong Ling, sebentar saja ia sudah membawa Po-ting-te sampai di depan pagar pohon yang mengelilingi rumah batu itu.

Dengan enteng Po-ting-te pegang bahu Ciong Ling, sama sekali tidak tampak raja itu bergerak, tahu-tahu ia sudah melintasi pagar pohon itu dengan enteng dan anteng sambil membawa Ciong Ling.

Keruan gadis itu kagum dan kegirangan, ia bertepuk tangan memuji, "Bagus, bagus, engkau seperti bisa terbang saja, sungguh hebat! Wah, celaka!”

Tiba-tiba seruannya ditutup oleh jeritan khawatir. Kiranya tiba-tiba dilihatnya di depan rumah batu itu berduduk seorang, itulah dia Jing-bau-khek atau si baju hijau yang aneh itu.

Rupanya Ciong Ling sangat takut terhadap manusia yang setengah-mati setengah-hidup itu, ia membisiki Po-ting-te, "Marilah kita pergi dulu, nanti kalau orang itu sudah enyah, barulah kita kembali lagi.”

Po-ting-te sendiri rada heran juga melihat Jing-bau-khek yang luar biasa itu. Ia coba menghibur si gadis, "Jangan khawatir, ada aku di sini. Apakah Toan Ki terkurung di dalam rumah batu ini?”

Ciong Ling mengangguk, lalu sembunyi di belakang Po-ting-te.

Perlahan Po-ting-te mendekati Jing-bau-khek, tegurnya dengan ramah, "Dapatkah saudara menyingkir sedikit?”

Namun Jing-bau-khek itu anggap tidak melihat dan tidak mendengar, ia tetap duduk bersila dengan tenang di tempatnya.

"Jika saudara tidak suka menyingkir, maaf kalau aku berlaku kasar,” kata Po-ting-te pula. Sekali miringkan tubuh, segera ia melayang lewat di samping Jing-bau-khek terus hendak mendorong batu penutup pintu rumah.

Tapi sebelum Po-ting-te mengeluarkan tenaga, sekonyong-konyong Jing-bau-khek menarik keluar sebatang tongkat bambu terus menutuk ke "Koat-bun-hiat” di bawah ketiaknya. Anehnya tongkat bambu itu bergetar terus dan tidak lantas ditutukkan, bila Po-ting-te mengerahkan tenaga untuk mendorong batu, sekali tongkat itu ditusukkan, tentu Po-ting-te sukar menghindarkan diri.

Keruan Po-ting-te terkesiap, pikirnya, "Ilmu Tiam-hiat orang ini sungguh sangat pandai. Di zaman ini, siapakah gerangan tokoh kosen selihai ini?”

Cepat ia ayun tangan yang lain untuk membelah tongkat bambu orang, sedang tangan lain tetap menahan di atas batu untuk sewaktu-waktu mendorongnya. Namun reaksi Jing-bau-khek itu benar-benar sangat cekatan, sekali tongkatnya berputar, kembali ia ancam "Thian-ti-hiat” di dada lawan.

Secepat kilat Po-ting-te berganti serangan sampai beberapa kali, tapi selalu diatasi lebih dulu oleh tongkat bambu si baju hijau yang tetap mengancam sesuatu tempat Hiat-to berbahaya di tubuhnya.

Pertarungan di antara kaum ahli memang tidak perlu setiap serangan mesti mengenai sasarannya dengan telak. Maka sesudah belasan kali berganti tipu serangan, selalu Jing-bau-khek berhasil membuat Po-ting-te tidak sempat mengerahkan tenaga untuk mendorong batu besar itu. Betapa jitu caranya mengincar Hiat-to, Po-ting-te harus mengakui lawan itu tidak kalah daripada dirinya, bahkan masih di atas adiknya, yaitu Toan Cing-sun.

Sekonyong-konyong Po-ting-te memotong miring ke bawah dengan tangan kiri, menyusul mata telapak tangan itu mendadak berubah dengan tutukan jari. "Cus”, ia keluarkan Lwekang It-yang-ci untuk menutuk tongkat lawan. Kalau tutukan ini kena, jangankan hanya tongkat bambu, biarpun tongkat baja juga akan dibuatnya bengkok.

 

 
Banner
 

Info Gadget

New Interactive TV E...

BOSTON – May 21, 2012 – Next-generation TV has arrived. At The Cable Show in Boston (May 21-23, Booth #733), Motorola Mobility, Inc. (NYSE: MMI) is showcasing the revolutionary entertainment discovery experience that will be launching in North American homes later this year.


Read More...

Panasonic's Premium ...

SECAUCUS, NJ (May 21, 2012) – Today, Panasonic announced a new digital interchangeable standard zoom lens, the LUMIX G X VARIO 12-35mm/F2.8 ASPH./POWER O.I.S. (H-HS12035). The newest addition to the company's premium lens brand "X," which is compatible with the Panasonic LUMIX G Series and complies with the Micro Four Thirds™ system standard, this lens offers a versatile zoom range of 12-35mm (35mm camera equivalent: 24-70mm) and features constant F2.8 aperture brightness at entire zoom range.


Read More...

VIA Announces Ultra ...

Delivers power efficient dual core processing in a ruggedized chassis system for a diversified range of embedded applications Taipei, Taiwan, May 17, 2012 - VIA Technologies, Inc, a leading innovator of power efficient computing platforms, today announced the VIA AMOS-3002, an ultra compact, fanless system designed around the tiny VIA EPIA-P900 Pico-ITX board. The VIA AMOS-3002 provides embedded customers with a system that delivers all the latest features and digital media standards required for a diversified range of embedded applications including telematics, in-vehicle control, machine to machine controller (M2M), digital signage and kiosks.


Read More...
012

Info Kesehatan

Hydrocele
27/09/2011 |
article thumbnail

Hydrocele is a common condition of men in which there is accumulation of fluid in the tunica vaginalis, the sac which surrounds the t [ ... ]


Bronchitis
15/09/2011 |
article thumbnail

Bronchitis refers to an inflammation of the mucous membrane lining the bronchi and bronchial tube within the chest. It is a breathing disorder affecting the [ ... ]


Artikel Lainnya

Jualan Produk Herbal?

Peluang Usaha Bisnis Herbal