Home Pendekar-2 Negeri Tayli Pendekar-2 Negeri Tayli 9
Pendekar-2 Negeri Tayli 9 PDF Print E-mail

Jilid 5
Tak terduga belum lagi setombak mendekati Toan Ki, tahu-tahu lebih 20 orang itu sudah dipapak pula oleh sambaran senjata rahasia, seketika ramai dengan suara mendesir, hujan panah terjadi, sekejap saja orang-orang itu sama menggeletak terbinasa.
Orang-orang itu adalah sisa kawanan Sin-long-pang yang masih kuat, tapi dalam sekejap saja sudah mati semua, keruan Sikong Hian sangat terkejut. Apalagi sebelumnya sudah berpuluh anak buahnya terpagut Kim-leng-cu, sisa anak buahnya sekarang hanya tinggal kelas rendahan saja.

"Hiang ... Hiang-yok-jeh, sungguh tak bernama kosong, keji amat cara turun tanganmu!" dengan dendam Sikong Hian berkata.

Mimpi pun Toan Ki tidak menyangka bahwa dalam sekejap saja penyerang sebanyak itu bisa roboh dan mati semua, terang diam-diam ada orang kosen telah menolongnya, tapi sekitarnya sunyi senyap, di mana ada orang kosen?

Ketika melihat kematian orang-orang itu cukup mengenaskan, ia merasa tidak tega, maka katanya, "Sikong-pangcu, engkaulah yang memaksa aku, sungguh aku merasa men ... menyesal."

Sikong Hian menjadi gusar, katanya, "Jiwaku hanya satu ini, hendak kau bunuh atau disembelih boleh silakan. Sin-long-pang hancur di tangan Sikong Hian, memangnya aku pun tidak ingin hidup lagi."

"Aku tiada bermaksud mencelakaimu," sahut Toan Ki menyesal. "Le ... lekas kau bebaskan nona Ciong saja."

Dalam keadaan terharu, nada suara Toan Ki menjadi berbeda sekali daripada suara Bok Wan-jing yang dingin.

Tapi Sikong Hian sudah kalap menyaksikan anak buahnya habis terbunuh, tak diperhatikan lagi apakah suara Toan Ki itu suara orang laki-laki atau perempuan, tulen atau palsu, segera ia membentak, "Akhirnya juga mati, Thio-hiati, kau bunuh dulu anak perempuan she Ciong itu!"

Anak buahnya yang she Thio itu mengiakan terus mendekati Ciong Ling, golok terangkat terus membacok kepala Cong Ling. Tapi belum lagi senjata itu diayunkan, sekonyong-konyong suara mendesir berjangkit lagi sekali, di mana panah kecil itu sampai, kontan orang she Thio itu roboh terjengkang, golok membacok di muka sendiri hingga berlumuran darah.

Sebenarnya orang she Thio itu sudah menduga bahwa "Hiang-yok-jeh" pasti akan menimpukkan panahnya untuk merintangi bacokannya itu, maka waktu membacok, ia sudah mencurahkan segenap perhatian ke arah Toan Ki, asal tangan "Hiang-yok-jeh" itu sedikit bergerak, segera ia bermaksud berjongkok untuk menghindar. Siapa duga datangnya panah itu sedikit pun tiada tanda apa pun.

Tadi waktu berpuluh orang mengepung Toan Ki, dalam keadaan hiruk-pikuk hujan anak panah, semua orang juga tidak jelas dari mana datangnya panah berbisa itu. Kini secepat kilat orang she Thio itu jatuh binasa pula, dari mana menyambarnya panah terlebih tiada seorang pun yang tahu. Keruan sisa anak buah Sin-long-pang menjadi ketakutan, beberapa di antaranya yang bernyali kecil menjadi lemas kakinya hingga dan terkulai tak sanggup berdiri.

"Kau lepaskan nona Ciong," Toan Ki tunjuk seorang laki-laki setengah umur.

Orang itu tahu bila tidak menurut perintah, sekejap saja jiwanya pun akan melayang seperti kawan-kawan lain. Sekalipun disiplin Sin-long-pang cukup keras, tapi demi keselamatan jiwa sendiri, terpaksalah ia mendekati Ciong Ling dengan takut-takut, ia lolos sebilah pisau dan memotong tali pengikat gadis itu.

Setelah bebas, Ciong Ling mendekati Sikong Hian, katanya, "Keluarkan obat di dalam kotak emas itu dan kembalikan kotaknya padaku."

Meski Sikong Hian sangsikan khasiat obat di dalam kotak itu, tapi toh dikoreknya juga semua isi kotak di telapak tangannya, lalu menyerahkan kotak kosong itu kepada Ciong Ling.Diam-diam ia cari akal cara bagaimana melawan panah berbisa Hiang-yok-jeh.

Setelah terima kotak emas itu, kembali Ciong Ling ulurkan tangan dan berkata, "Serahkan sini!"

"Apa lagi?" tanya Sikong Hian mendongkol.

"Obat pemunah racun Toan-jiong-san," sahut Ciong Ling. "Toan-kongcu telah mencarikan obat bagimu, harus kau berikan obat penawarnya pula."

Tergerak pikiran Sikong Hian, ia mendapat akal, serunya lantas, "Ambilkan obatnya!"

Lalu ia sebut beberapa nama ramuan obat.

Cepat dua anak buahnya mengeluarkan ramuan obat yang dimintanya itu dari peti obat. Setelah dicampur dan dibungkus. Sikong Hian berkata pula, "Serahkan pada nona Ciong."

Setelah terima obat itu, Ciong Ling berkata, "Kalau obat ini tidak manjur, akan kubunuh habis Sin-long-pang kalian!"

"Sudah tentu obat ini tidak bisa menyembuhkan racun Toan-jiong-san," sahut Sikong Hian dingin.

"Apa katamu?" tanya Ciong Ling dengan kaget.

"Obat ini hanya menunda bekerjanya racun Toan-jiong-san selama tujuh hari, habis itu kalau aku tidak mati, bolehlah kau minta obat penawarnya padaku," sahut Sikong Hian.

Sungguh gusar Ciong Ling tidak kepalang, ia berpaling pada Toan Ki dan berkata, "Bok-cici, tua bangka ini tidak bisa dipercaya, boleh kau panah mampus dia."

"Ingar, di dunia ini hanya aku seorang yang sanggup meracik obat penawar Toan-jiong-san," kata Sikong Hian.

Toan Ki menjadi khawatir, pikirnya, "Obat yang kuberikan padanya memangnya palsu, hanya adukan dari sisa nasi dan tanah, dengan sendirinya tidak manjur, nanti kalau racun Kim-leng-cu dalam tubuhnya bekerja, seketika dia akan mati, lalu bagaimana baiknya?"


Ciong Ling memandang Toan Ki tanpa berdaya, dalam gugupnya tiba-tiba timbul sifat keremajaannya, tangan Sikong Hian terus ditariknya sambil berkata, "Sikong-pangcu, marilah ikut padaku untuk menjenguk Toan-kongcu."

"Hei, macam apa pakai tarik-tarik begini?" seru Sikong Hian gusar.

"Saat ini Toan-kongcu tentu berada di rumahku, marilah kita pergi melihatnya," sahut Ciong Ling. "Bila racun Kim-leng-cu bekerja dalam tubuhmu, ayah bisa juga mengobatimu."

Toan Ki pikir akal si gadis itu bagus sekali, maka ia pun berkata dengan dingin, "Marilah kita berangkat bersama, kau takkan mati!"

Sikong Hian memandangnya sekejap, ia pikir kalau membangkang hingga membikin marah "Hiang-yok-jeh," bukan mustahil jiwanya akan melayang di bawah panah beracun orang. Tapi dirinya adalah seorang Pangcu, anak buahnya sudah banyak yang jadi korban, kini dirinya kena dibekuk orang pula, apa jadinya kalau kelak jiwanya selamat?

Karena itu ia menjadi serbasalah.

"Sikong-pangcu," Ciong Ling tak sabar, ia terus menyeretnya, "marilah berangkat lekas! Kau sendiri boleh minum obat penawar itu dulu, sisanya berikan kepada anak buahmu."

Walaupun ragu, namun Sikong Hian minum juga sebagian "obat penawar" tadi, ia khawatir khasiat obat kurang manjur, maka sebagian besar ia minum sendiri, sisanya tinggal sedikit baru diberikannya kepada anak buahnya.

Tanpa bicara lagi Ciong Ling menyeret pergi Pangcu Sin-long-pang yang sial itu.

Walaupun terluka parah, tapi kalau Sikong Hian mau mengipatkan tangan Ciong Ling, dengan mudah ia dapat bebaskan diri. Cuma, pertama ia jeri pada "Hiang-yok-jeh" yang ganas itu, kedua, khawatir obat penawar yang diminum tadi tidak manjur, biarpun bisa meloloskan diri, akhirnya juga mati, maka lebih baik ikut pergi saja dengan mereka.

"Memangnya aku ingin bertemu dengan ayahmu, ingin kuminta keadilan padanya," dengan mengucapkan kata-kata yang bersifat menutupi malunya, segera ia melangkah lebih dulu.

Cepat Ciong Ling memegang lengan ketua Sin-long-pang. Ketika lewat di samping Toan Ki, sekalian ia gandeng tangan pemuda itu pula.

Melihat sang Pangcu diseret pergi orang, sisa anak buah Sin-long-pang menjadi ribut dan berisik membicarakannya. Keruan Sikong Hian merasa malu dan menundukkan kepala.

Dengan bungkam Ciong Ling menggandeng tangan kedua orang dan berjalan terus, diam-diam ia pikir, "Kalau kubongkar rahasia Toan-kongcu, tentu si tua Sikong Hian ini akan berontak dan kami berdua jelas bukan tandingannya. Namun Bok-cici terang bersembunyi di sekitar sini, tadi anak buah Sin-long-pang banyak yang terbunuh, dengan sendirinya akibat perbuatannya."

Berpikir begitu, segera ia berseru dengan suara yang sengaja diperkeras, "Banyak terima kasih atas pertolongan Bok-cici tadi."

Toan Ki terperanjat ketika mendadak mendengar seruan si nona, sejenak kemudian dengan suara yang dibuat-buat baru ia menjawab, "Ah, orang sendiri, tak perlu sungkan."

"Huh, masih berani bersandiwara," pikir Ciong Ling geli.

Tiba-tiba ia puntir tangannya hingga Toan Ki kesakitan, hampir saja ia menjerit.Ketika melirik si gadis, tampak Ciong Ling lagi tersenyum-senyum geli. Berbareng itu, diam-diam gadis itu jejalkan kotak emas dan bungkusan obat penawar yang diterimanya dari Sikong Hian tadi ke tangan Toan Ki.

Toan Ki tahu gadis itu sudah mengetahui rahasianya, maka ia mengangguk tanda terima kasih.

Pada saat itulah, tiba-tiba di jurusan barat sana ada suara suitan orang, menyusul dari sebelah selatan ada suara orang bertepuk tangan pula. Habis itu, sesosok bayangan secepat terbang tampak memapak dari depan.

Kira-kira beberapa meter di depan Toan Ki bertiga, mendadak orang itu berhenti dan membentak dengan suara yang serak, "Hiang-yok-jeh, memangnya kau bisa melarikan diri?"

Dari suaranya, Toan Ki dapat mengenali adalah Sam-ciang-coat-beng Cin Goan-cun, si raja pengaduk sungai.

Pada saat lain, terdengar pula suara seorang tertawa dingin di belakang, waktu Toan Ki menoleh, di bawah sinar bulan yang remang-remang tertampaklah seorang nenek dengan golok terhunus dan tangan lain memegang sebatang gurdi baja bersinar kemilau.

"Celaka!" diam-diam Toan Ki mengeluh. "Semoga nona Bok lekas datang menolong!"

Ia menjadi bingung, apakah harus tetap memalsukan nama Hiang-yok-jeh atau membuka baju hitam menunjuk muka aslinya sendiri?

Sedang ragu-ragu, sementara itu dari kanan-kiri sudah bertambah lagi masing-masing seorang.

Yang sebelah kiri adalah seorang Hwesio tua berjubah kuning, membawa senjata Hong-pian-jan atau sekop serbaguna, suatu alat yang lazim dibawa kaum padri. Dan orang yang di sebelah kanan kurang jelas wajahnya, agaknya seorang laki-laki berusia belum lanjut, punggung menyandang pedang.

Ternyata dalam sekejap saja Toan Ki alias Hiang-yok-jeh palsu sudah terkepung dari empat jurusan. Ia kenal Cin Goan-cun, si nenek dan si Hwesio itu adalah kawanan pengeroyok di rumah Bok Wan-jing, kini mereka mengejar pula sampai di sini, dengan sendirinya laki-laki satunya tentu adalah komplotan mereka juga.

"Kalian hendak cari Bok-cici, bukan?" tanya Ciong Ling tiba-tiba.

"Benar," sahut si Hwesio. "Siapakah nona ini dan Cianpwe itu? Silakan menyingkir ke samping saja."

Belum lagi Ciong Ling menjawab, cepat Sikong Hian menimbrung, "Taysu tentu adalah Hui-sian Taysu dari Siau-lim-si, bukan? Dan yang ini tentunya No-kang-ong Cin-loyacu, dan yang itu adalah Sin-sipopo. Cayhe Sikong Hian dari Sin-long-pang. Maafkan kedangkalan pengalamanku, numpang tanya siapa pula nama yang mulia saudara yang ini?"

Laki-laki tak dikenal itu melangkah maju dua tindak hingga wajahnya kini jelas kelihatan, lalu sahutnya, "Cayhe she Su ...."

"Ah, kiranya adalah Oh-pek-kiam Su An, Su-tayhiap!" belum orang selesai memperkenalkan diri, cepat Sikong Hian sudah memotong. "Selamat bertemu, selamat bertemu!"

Su An itu balas hormat orang, sahutnya, "Sudah lama kudengar nama besar Sikong-pangcu dari Sin-long-pang, betapa bahagia hari ini bisa berjumpa di sini."

Toan Ki kini dapat melihat usia Su An itu kira-kira baru 30-an tahun, perawakannya sedang tapi gagah perkasa, jiwa kesatrianya tampak nyata pada sikapnya yang kereng, berbeda sekali dengan sifat Cin Goan-cun dan Sin-sipopo yang sombong tak mau kalah itu. Diam-diam timbul rasa suka Toan Ki kepada pendekar muda itu.

Sebagai seorang tokoh Bu-lim yang sudah lama menetap di daerah Hunlam, banyak juga jago silat terkemuka yang dikenal Sikong Hian, cuma sedikit yang tak dikenalnya. Di antara empat tokoh itu hanya Cin Goan-cun yang sudah pernah bertemu, ketiga orang yang lain hanya dikenalnya dari senjata serta diterka dari umur mereka, tapi nyatanya tepat juga dugaannya.

Ia tahu betapa lihai ilmu pukulan Cin Goan-cun, sedang Hui-sian Taysu itu adalah satu di antara delapan Hou-hoat atau pembela agama dari Siau-lim-si, ilmu permainan Hong-pian-jan terhitung nomor satu di kalangan murid Buddha.

Adapun Sin-sipopo mempunyai kepandaian khas tunggal juga dengan golok dan gurdi bajanya yang dapat dimainkan sekaligus dengan ganas dan keji.

Su An terkenal dengan julukan Oh-pek-kiam atau pedang hitam putih, paling akhir ini namanya sangat cemerlang di daerah Kanglam. Walaupun ilmu silatnya yang sejati belum diketahui sampai di mana tingkatannya, namun dapat diduga juga pasti bukan jago keroco.

Yang paling kebetulan adalah keempat tokoh ini sekaligus datang mencari Hiang-yok-jeh, tentu saja Sikong Hian tidak sia-siakan kesempatan bagus ini untuk meminjam tangan keempat tokoh itu melenyapkan suatu penyakit bagi dunia persilatan.

Dengan keputusan itulah segera ia pura-pura angkat tangan memberi hormat sambil berkata, "Dan entah ada keperluan apakah kedatangan kalian berempat ke Bu-liang-san sini?"

Berbareng itu, tanpa menunggu jawaban Cin Goan-cun berempat mendadak ia kipatkan tangannya hingga Ciong Ling dan Toan Ki tersentak mundur, bahkan Toan Ki yang tak bisa ilmu silat terus terjungkal roboh.

Sementara itu Sikong Hian sudah lantas melompat ke samping. Tapi karena racun Kim-leng-cu teramat berat mengeram dalam tubuhnya, kakinya masih terasa lemas, ia sempoyongan dan hampir jatuh.

Semula Hui-sian berempat mengira Sikong Hian adalah begundalnya Bok Wan-jing, walaupun tahu ilmu silatnya belum termasuk kelas wahid, tapi Sin-long-pang adalah suatu klik paling berkuasa di daerah Hunlam, orangnya banyak, pengaruhnya besar, suka main obat racun dan asap berbisa, untuk itu agak susah juga untuk dilawan. Kini demi tampak Sikong Hian melompat menyingkir dengan sempoyongan, mereka baru tahu Pangcu Sin-long-pang itu dalam keadaan terluka parah.

Sekali Sikong Hian putar tubuh, sambil bersandar di samping Hui-sian ia berkata dengan pedih, "Teramat keji cara turun tangan Hiang-yok-jeh, sekaligus berpuluh anak buah Sin-long-pang sudah menjadi korban keganasannya, sakit hatiku ini pasti kubalas."

"Nona cilik," segera Hui-sian berkata. "Lekas menyingkir ke samping."

"Kalian takkan mampu melawan Bok-cici, lebih baik lekas pergi saja," sahut Ciong Ling.

"Dia adalah putrinya 'Kian-jin-ciu-sat' Ciong Ban-siu," Sikong Hian coba mengisiki Hui-sian. "Kabarnya ayahnya masih hidup, paling baik kalau tawan dia saja."

Nyata ia berharap Hui-sian dapat menawan Ciong Ling sebagai jaminan agar kelak Ciong Ban-siu terpaksa mengobati racun Kim-leng-cu di dalam tubuhnya itu.

Mendengar "Kian-jin-ciu-sat" Ciong Ban-siu masih hidup, Hui-sian rada tercengang. Ia tahu iblis besar itu sangat sukar dilawan, sekali terlibat bermusuhan dengan dia, selanjutnya Siau-lim-pay pasti takkan pernah aman, maka sesungguhnya ia tidak ingin mengikat musuh yang lihai itu.

Mendadak "ser" sekali, Hong-pian-jan atau sekop serbaguna, menyambar ke atas kepala Ciong Ling.

Cepat gadis itu mengegos, tak terduga sekop itu terus ditarik kembali hingga punggung sekop menggantol kuduk si gadis.

Jurus serangan ini disebut "Sui-ong-sit-hoan" atau seperti maju ke depan, tapi sebenarnya putar kembali. Yaitu suatu tipu serangan paling lihai di antara 36 jurus "Hok-mo-jan-hoat" atau permainan sekop penakluk iblis. Gerak tipunya di luar dugaan orang, cepatnya luar biasa pula, maka musuh sukar menghindarkan diri.

Baru saja Ciong Ling menjerit kaget, tahu-tahu punggung sekop sudah menempel tengkuknya. Sekonyong-konyong sinar putih berkelebat, "cring", Su An telah lolos pedang menyampuk jatuh sebuah panah kecil.

Sementara itu Hui-sian sudah tarik sekopnya hingga Ciong Ling ikut terseret ke sampingnya, sekali pegang, tangan kiri Hui-sian telah pencet pergelangan tangan si nona hingga tak bisa berkutik, lalu katanya, "Terima kasih atas pertolongan Su-tayhiap."

Bila membayangkan kejadian barusan, tanpa tertahan padri itu berkeringat dingin. Coba kalau Su An tidak awas dan cekatan hingga panah gelap itu tersampuk jatuh, mungkin jiwanya sekarang sudah melayang.

Tampak Su An berpaling ke arah datangnya panah gelap itu sambil membentak, "Silakan keluar saja, Bok-kohnio!"

Diam-diam Cin Goan-cun dan lain-lain sama malu diri, "Kiranya orang berbaju hitam ini bukan Hiang-yok-jeh, untung Su An cukup cerdik dan cekatan."

Ketika mereka memandang ke sana, namun di situ keadaan sunyi senyap, gelap gulita tiada bayangan seorang pun.

Mendadak, di sebelah kiri terdengar suara "tek" sekali, sepotong batu kelihatan jatuh di tanah, cepat semua orang berpaling, tapi pada saat yang sama, kembali terdengar suara mendesirnya panah menyambar, "cring", lagi-lagi Su An menyampuk dengan pedang hingga sebatang panah kecil yang mengincar belakang kepala Sin-sipopo dapat dipukul jatuh.

Ternyata sehabis menyerang Hui-sian, dengan cepat penyerang tadi sudah mengisar ke kanan, ia pancing orang memandang ke kiri dengan sepotong batu, berbareng ia membokong Sin-sipopo pula.

Keruan nenek itu terkejut dan gusar, ia putar goloknya dengan kencang hingga tubuhnya seakan-akan terbungkus segulung sinar putih, terus menerjang ke semak-semak rumput di sebelah kanan sana. Rumput alang-alang di situ menjadi bertebaran kena dipapas goloknya, tapi tiada bayangan seorang pun kelihatan.

Tiba-tiba terdengar Su An bersuit nyaring, segera ia melayang ke atas sebatang pohon besar di arah barat sana, menyusul terdengarlah suara "crang-creng" beberapa kali, sekaligus pedang Su An sudah menyerang empat kali.

Selagi Hui-sian pentang mata dan pasang kuping mengikuti pertarungan kawan di atas pohon itu, mendadak dari udara menubruk turun sesosok bayangan hitam ke atas kepalanya. Cepat juga reaksi Hui-sian, sekali tangan kanan terangkat, Hong-pian-jan lantas menyabet ke arah bayangan itu.

Namun bayangan itu sempat mengentak kakinya ke batang sekop, dengan tenaga pantulan itu, tahu-tahu pedangnya menusuk si nenek alias Sin Si-nio.

Sekuat tenaga Sin Si-nio ayun goloknya menangkis, "cret", tahu-tahu ujung golok putus tertebas pedang musuh, menyusul sinar pedang musuh menyambar mukanya.

Karena tak keburu menolong, cepat Cin Goan-cun menghantam punggung musuh.

Agaknya orang itu pun tahu betapa lihai ilmu pukulan Cin Goan-cun, maka tidak berani menangkis dari depan, cepat pedangnya menepuk pundak Sin Si-nio, sekali tahan, sekali loncat, dengan enteng orangnya sudah melayang pergi.

Kalau orang itu tidak terpaksa karena digencet oleh pukulan Cin Goan-cun dari belakang, tentu pedangnya itu tidak menepuk melainkan menebas, jika begitu tentu tubuh Sin Sin-nio sudah terbelah menjadi dua.

Namun walaupun sudah dua kali jiwanya hampir melayang, Sin Si-nio masih belum kapok, ia menubruk maju pula dengan kalap. Berbareng itu Cin Goan-cun dan Hui-sian pun menyerang dari kanan-kiri.

Tapi biarpun dikeroyok tiga, orang itu masih bisa menyusup kian kemari di antara lawan-lawan itu dengan lincah dan luwes, nyata itulah dia Hiang-yok-jeh tulen alias Bok Wan-jing.

Sementara itu Su An sudah melompat turun dari atas pohon, tapi ia tidak ikut mengeroyok sebaliknya masukkan pedangnya ke sarung, lalu berdiri di samping untuk menonton.

"Su-heng," kata Toan Ki tiba-tiba mendekati Su An, "harap kau suruh mereka jangan berkelahi."

Sungguh di luar dugaan Su An ucapan Toan Ki itu. Ia coba melirik "Hiang-yok-jeh" palsu itu lalu bertanya, "Siapakah saudara sebenarnya?"

"Cayhe bernama Toan Ki. Sungguh aku tidak paham percekcokan di antara Bok-kohnio dengan kalian ini," demikian sahut Toan Ki. "Cuma cara bertempur mati-matian begini rasanya bukanlah jalan yang baik. Salah atau benar, seharusnya bisa diselesaikan secara berunding saja."

Su An memandang sekejap pada pemuda itu, pikirnya, "Benar juga ucapannya ini. Tapi percekcokan di antara orang Kangouw selamanya diselesaikan dalam ilmu silat, bila pakai berunding segala, buat apa lagi orang belajar silat. Namanya Toan Ki? Siapakah dia ini, belum pernah kudengar nama seorang tokoh demikian."

Selagi ia hendak tanya Toan Ki pula, tiba-tiba terdengar Ciong Ling sedang memanggil pemuda itu di sebelah sana.

Segera Toan Ki mendekati nona itu dan tanya, "Ada apa?"

"Marilah lekas kita lari, kalau ayal mungkin tak keburu lagi," ajak si gadis.

"Tapi Bok-cici lagi dikeroyok orang, mana boleh kita tinggal lari?" sahut Toan Ki.

"Kepandaian Bok-cici teramat lihai, dia pasti ada jalan buat meloloskan diri," ujar Ciong Ling.

Namun Toan Ki masih geleng-geleng kepala, katanya, "Tidak, dia datang kemari untuk menolong jiwa kita, kalau kita tinggal pergi begini saja, hatiku merasa tidak enak."

"Tolol," omel si gadis mendongkol. "Kau tinggal di sini, apakah bisa kau bantu Bok-cici?"

Dalam pada itu Cin Goan-cun, Sin Si-nio dan Hui-sian bertiga masih sengit menempur Bok Wan-jing. Kedua telapak tangan Cin Goan-cun sedemikian gencar mengerahkan tenaga pukulannya. Sekop serbaguna Hui-sian menyambar kian kemari dengan hebat, golok Sin Si-nio pun tidak ketinggalan membacok dan membabat di mana ada lubang. Namun Bok Wan-jing tampak sedikit pun tidak kewalahan, bahkan percakapan Toan Ki, Su An dan Ciong Ling barusan dapat diikutinya.

Ia dengar Toan Ki sedang berkata pula, "Ciong-kohnio, bolehlah kau lari dulu. Bukanlah semestinya aku mengingkari kebaikan Bok-cici dengan meninggalkannya di bawah keroyokan orang, Biarlah kutinggal di sini, bila akhirnya ternyata Bok-cici tak bisa melawan mereka, aku akan menasihati mereka dengan baik-baik, boleh jadi keadaan masih bisa dikendalikan."

"Masih kau berlagak? Paling-paling jiwamu akan ikut melayang nanti!" seru Ciong Ling gusar.

"Memangnya jiwaku ini sejak tadi sudah melayang kalau bukan ditolong oleh Bok-cici, aku orang she Toan kalau lupa pada kebaikan orang, ayah dan pamanku sendiri juga takkan mengampuni aku," sahut Toan Ki tegas.

"Tolol benar-benar! Percuma banyak bicara denganmu!" kata si gadis. Terus saja ia tarik tangan anak muda itu dan diseret lari.

"Tidak, tidak! Aku tak mau pergi!" teriak Toan Ki.

Tapi tenaga Ciong Ling lebih kuat daripadanya, ia menjadi sempoyongan kena diseret oleh gadis itu.

Melihat itu, diam-diam Su An terheran-heran, pikirnya, "Orang ini terang sedikit pun tak bisa ilmu silat, tapi jiwa setia kawannya sungguh harus dipuji. Lama kudengar bahwa 'Hiang-yok-jeh' ganas dan keji, tiada punya seorang teman pun, entah mengapa orang she Toan ini sedemikian berani hendak bicara tentang kebaikan dan setia kawan dengan momok perempuan itu?"

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Bok Wan-jing berseru, "Ciong Ling, kau sendiri lekas enyah, dilarang menyeret dia!"

Ciong Ling semakin ketakutan, ia seret Toan Ki terlebih cepat.

Mendadak terdengar suara mendesing sekali, tahu-tahu di atas kundai Ciong Ling menancap sebatang panah kecil. Berbareng terdengar Bok Wan-jing membentak, "Kalau tidak lepaskan dia, awas, akan kupanah biji matamu!"

Ciong Ling kenal watak Bok Wan-jing, sekali berkata tentu bisa dilakukannya juga, tidak pernah omong main-main. Jika dirinya tetap bandel, bukan mustahil biji matanya akan dipanah sungguh-sungguh. Karena itu, terpaksa Ciong Ling lepaskan tangan Toan Ki.

"Lekas kau enyah dan pulang, lekas!" bentak Bok Wan-jing pula.

Ciong Ling tak berani membantah, katanya kepada Toan Ki, "Toan-heng, harap engkau jangan berbuat kejahatan, jagalah dirimu baik-baik."

Habis bicara, dengan rasa berat ia berlari pergi dan sekejap saja sudah menghilang di tempat gelap.

"Tunggu dulu, Ciong-kohnio!" teriak Sikong Hian. "Obat penawar dari ayahmu tadi manjur atau tidak?"

Mana Ciong Ling mau peduli. Segera Sikong Hian bermaksud mengejar, tapi baru melangkah dua tindak, kaki sendiri terasa lemas dan jatuh tersungkur.

Sambil membentak pergi Ciong Ling, Bok Wan-jing tetap bergerak kian kemari di antara ketiga pengeroyoknya dengan cepat, ia tetap di atas angin.

Menyaksikan itu diam-diam Su An menimbang, "Kegesitan perempuan ini ternyata masih jauh di atas kepandaianku. Hanya dalam hal ilmu pedang belum tentu dia mampu melawan aku."

Dan karena jaga martabat sendiri, ia tidak sudi ikut mengeroyok seorang perempuan, ia tunggu bila nanti ketiga orang itu dikalahkan baru ia sendiri akan maju.

Tak lama kemudian, mendadak permainan pedang Bok Wan-jing berubah, sinar pedang menyambar ke sana-sini bagai hujan mencurah dari langit dan sukar ditentukan arah serangannya.

Su An terkejut, serunya, "Kiam-hoat bagus!"

Di tengah sorak pujiannya itu, tiba-tiba terdengar Hui-sian menjerit sekali, iganya kena tusukan pedang. Menyusul pedang Bok Wan-jing menyambar pula ke depan beruntun tiga kali hingga Cin Goan-cun terpaksa melompat keluar kalangan untuk menghindar. Ketika arah pedang Bok Wan-jing berganti pula, tanpa ampun lagi Sin Si-nio sudah terkurung di tengah sinar pedangnya.

Tampaknya sekejap pula jiwa Sin Si-nio pasti akan menghadap raja akhirat, Su An tidak bisa tinggal diam lagi, cepat pedangnya bergerak, bagai kilat menyambar, ia menyela di antara lingkaran sinar pedang Bok Wan-jing, terdengarlah suara gemerencing beberapa kali, kedua pedang saling beradu beberapa kali dengan kecepatan luar biasa.

Meski Su An turun tangan tepat pada waktunya, namun tidak urung tubuh Sin Si-nio terluka tiga tempat. Sedikit pun nenek itu tidak menghiraukan lukanya, dengan kalap ia menubruk pula ke arah Bok Wan-jing.

Dalam pada itu pedang Bok Wan-jing sedang bertempelan dengan pedang Su An. Sejak gebrakan di atas pohon tadi ia sudah tahu ilmu pedang orang tidak boleh dibuat mainan, maka begitu Su An terjun ke kalangan pertempuran, antero perhatiannya lantas dicurahkan pada lawan tangguh ini, sedikit pun tidak berani ayal.

Siapa duga cara bertempur Sin Si-nio itu ternyata sedemikian nekatnya, begitu menubruk maju, ia jatuhkan diri terus menggelinding ke samping Bok Wan-jing, gurdi baja di tangan kanan terus menikam betis lawan itu.

Syukur Bok Wan-jing sempat ayun kakinya dan berbalik Sin Si-nio terdepak pergi.

Dan karena sedikit ayal itu, tusukan pedang Su An sudah sampai di depan mukanya. Dalam detik bahaya itu, pedang Bok Wan-jing secepat kilat menangkis ke atas, ia sadar menyusul mana serangan musuh pasti akan lebih gencar, maka ia tidak mau didahului, berbareng 3-4 jurus mematikan sekaligus dilontarkan ke arah Su An.

Cara serangan Bok Wan-jing itu adalah karena dalam keadaan kepepet, musuh dipaksa harus menyelamatkan diri lebih dulu. Maka terpaksa Su An berkelit sambil menarik kembali pedangnya untuk menjaga diri.

Melihat gerakan musuh itu. Bok Wan-jing menarik napas lega. Selagi hendak ganti serangan pula, mendadak "nyes," pundak kiri terasa kesakitan, ternyata kesempatan tadi telah digunakan Sin Si-nio untuk menikam dengan gurdi bajanya. Tapi Bok Wan-jing pun tidak tinggal diam, kontan tangannya menggaplok ke belakang hingga muka Sin Si-nio seketika hancur luluh dan terbinasa.

Sementara itu Cin Goan-cun dan Hui-sian lantas mengerubut maju lagi hingga keadaan kembali menjadi tiga lawan satu.

"Hai, hai! Tiga laki-laki mengeroyok seorang perempuan, apa kalian tidak merasa malu?" segera Toan Ki bergembar-gembor.

Su An memang ada maksud menarik diri dari pertempuran keroyokan itu, demi mendengar teriakan Toan Ki, seketika ia melompat mundur setombak jauhnya sambil berseru, "Bok Wan-jing, lekas buang pedangmu dan menyerah saja!"

Tapi semakin gencar permainan pedang Bok Wan-jing, ia tidak sempat mencabut gurdi baja yang menancap di pundaknya itu, dengan menahan sakit secepat kilat ia serang Cin Goan-cun dua kali dan menusuk Hui-sian sekali. Betapa lihai ketiga jurus serangan itu, tanpa ampun lagi pipi kanan Cin Goan-cun kontan tersayat suatu garis luka, begitu pula leher Hui-sian lecet keserempet pedang.

Walaupun luka kedua orang hanya ringan saja, tapi tempat yang terluka itu adalah tempat mematikan, sedikit ayal saja jiwa mereka tentu sudah melayang. Saking kagetnya kedua orang, berbareng mereka melompat pergi dengan napas terengah.

"Sayang, sayang!" diam-diam Bok Wan-jing gegetun tak berhasil mampuskan kedua lawan itu.

Tiba-tiba ia bersuit nyaring, segera terdengar suara derap kaki kuda, tahu-tahu Oh-bi-kui muncul dari balik bukit sana. Sekali cemplak, Bok Wan-jing melompat ke atas kuda itu. Ketika lewat di samping Toan Ki, sekali ulur tangan, Bok Wan-jing cengkeram kuduk Toan Ki dan diangkat ke atas kuda pula. Dua orang satu tunggangan terus berlari ke barat dengan cepat.

Tidak jauh, sekonyong-konyong dari dalam hutan di tepi jalan terdengar hiruk-pikuk bentakan, berpuluh orang mendadak melompat keluar mengadang di tengah jalan. Seorang kakek tinggi besar yang berdiri di tengah lantas membentak, "Hiang-yok-jeh! Sudah lama kutunggu di sini!"

Berbareng tali kendali si mawar hitam terus hendak ditariknya.

Namun sedikit Bok Wan-jing kesampingkan kudanya, berbareng tangan lain terayun, tiga panah kecil terus disambitkan. Kontan di antara gerombolan pengadang itu terjungkal tiga orang.

Tengah kakek tadi terkesiap oleh serangan mendadak itu, Bok Wan-jing sudah sendal tali kendalinya hingga Oh-bi-kui sekonyong-konyong melompat ke depan melalui atas kepala gerombolan orang itu. Dan sekali si mawar hitam mencongklang, mana bisa lagi kawanan pengadang itu mengejarnya?

Sebenarnya tidak kurang jago pilihan di antara para pengadang itu, tapi semuanya jeri pada panah berbisa Bok Wan-jing yang lihai, walaupun masih coba mengudak juga, namun sebentar saja mereka sudah ketinggalan jauh.

Toan Ki mendengar gerombolan orang itu mencaci maki kalang kabut di belakang, "Perempuan bangsat, para kesatria Hok-gu-ceh tidak ingin hidup bersamamu!"

"Biarpun kau lari sampai ujung langit juga akan kami bekuk kau!"

"Marilah kejar, kawan-kawan! Bekuk perempuan bangsat itu dan cencang dia untuk membalas sakit hati Co-toako!"

Suara caci maki itu lambat laun menjauh dan tidak terdengar lagi. Tapi rasa dendam kesumat yang terkandung dalam caci maki mereka itu masih terus mengiang di telinga Toan Ki.

Selama beberapa hari ini ia sudah banyak mengalami bahaya, tapi caci maki dengan rasa dendam yang tak terimpas baru sekali ini paling hebat. Karena itu, diam-diam ia mengirik.

Bok Wan-jing membiarkan Oh-bi-kui berlari sesukanya di lereng yang gelap itu.Sampai di suatu bukit, ia lihat di depan sana ada jurang, terpaksa ia turun dari kuda untuk mencari jalan lain.

Jalan pegunungan di Bu-liang-san itu ternyata berliku-liku, mendadak di depan sana ada suara seruan orang pula, "Itu dia, kudanya sudah kelihatan!"

"Awas, cegat sebelah sana!"

"Ya, jangan sampai perempuan hina itu lolos lagi!"

Dalam keadaan terluka, Bok Wan-jing tidak ingin bertempur lagi, cepat ia belokkan kuda ke arah lain. Walaupun bukan lagi jalan pegunungan, syukur si mawar hitam cukup tangkas, di lereng bukit yang penuh batu padas itu ia masih terus berlari secepat terbang.

Setelah berlari tak lama lagi, mendadak kaki depan si mawar tersandung sepotong batu, seketika larinya menjadi lambat, dengan kaki pincang binatang itu mulai tampak payah.

Toan Ki menjadi khawatir, katanya, "Bok-kohnio, harap turunkan aku saja, biar kau sendiri mudah melarikan diri. Aku tiada permusuhan apa-apa dengan mereka, andaikan aku tertangkap juga tidak menjadi soal."

"Hm, kau tahu apa?" jengek Bok Wan-jing. "Jika kau tertangkap orang Hok-gu-ceh, biarpun sepuluh nyawamu juga akan melayang."

"Tapi mereka teramat dendam pada nona, ada lebih baik nona menyelamatkan diri lebih dulu," ujar Toan Ki.

Memangnya pundak Bok Wan-jing lagi kesakitan, Toan Ki masih terus mencerocos saja, keruan nona itu menjadi gusar, "Hendaklah kau tutup mulut, jangan banyak bicara."

Toan Ki tertawa, sahutnya, "Tempo hari aku tidak suka bicara dan justru kau paksa aku buka mulut. Kini aku ajak bicara padamu, sebaliknya malah kau larang aku bicara. Ai, sungguh nona yang susah diladeni."

Saking kesakitan, Bok Wan-jing menjadi gemas, sekali cengkeram, pundak Toan Ki diremas hingga berkeriutan, jika keras lagi sedikit, boleh jadi tulang pundak Toan Ki akan remuk.

"Ya, sudahlah, aku takkan buka mulut lagi!" cepat Toan Ki berteriak sambil meringis.

Tiba-tiba si mawar hitam mendaki jalan pegunungan, karena jalanan cukup rata, langkah binatang itu menjadi cepat.

Sementara itu sudah menjelang fajar, cuaca sudah remang-remang, Toan Ki dapat mengenali jalanan itu, katanya, "He, jalan ini menuju ke Kiam-oh-kiong, apakah nona ada permusuhan dengan orang Bu-liang-kiam?"

Ia merasa dengan segala orang Bok Wan-jing suka bermusuhan, andaikan tiada permusuhan dengan Bu-liang-kiam, rasanya nona itu pun takkan bersahabat dengan mereka.

Maka Bok Wan-jing menjawab, "Hm, untuk bermusuhan bukanlah sangat mudah, bunuh saja beberapa orang mereka, bukankah lantas jadi?"

Tengah bicara, Kiam-oh-kiong yang megah sudah tampak dari jauh.

 
Banner
 

Info Gadget

New Interactive TV E...

BOSTON – May 21, 2012 – Next-generation TV has arrived. At The Cable Show in Boston (May 21-23, Booth #733), Motorola Mobility, Inc. (NYSE: MMI) is showcasing the revolutionary entertainment discovery experience that will be launching in North American homes later this year.


Read More...

Panasonic's Premium ...

SECAUCUS, NJ (May 21, 2012) – Today, Panasonic announced a new digital interchangeable standard zoom lens, the LUMIX G X VARIO 12-35mm/F2.8 ASPH./POWER O.I.S. (H-HS12035). The newest addition to the company's premium lens brand "X," which is compatible with the Panasonic LUMIX G Series and complies with the Micro Four Thirds™ system standard, this lens offers a versatile zoom range of 12-35mm (35mm camera equivalent: 24-70mm) and features constant F2.8 aperture brightness at entire zoom range.


Read More...

VIA Announces Ultra ...

Delivers power efficient dual core processing in a ruggedized chassis system for a diversified range of embedded applications Taipei, Taiwan, May 17, 2012 - VIA Technologies, Inc, a leading innovator of power efficient computing platforms, today announced the VIA AMOS-3002, an ultra compact, fanless system designed around the tiny VIA EPIA-P900 Pico-ITX board. The VIA AMOS-3002 provides embedded customers with a system that delivers all the latest features and digital media standards required for a diversified range of embedded applications including telematics, in-vehicle control, machine to machine controller (M2M), digital signage and kiosks.


Read More...
012

Info Kesehatan

Nepthritis
27/09/2011 |
article thumbnail

Nepthritis refers to an inflammation of the kidneys. It is a serious condition and may be either acute or chronic. A synonym for nephthritis is ” Bright [ ... ]


Depression
25/09/2011 |
article thumbnail

Depression is the most prevalent of all the emotional disorders. This may vary from feelings of slight sadness to utter misery and dejection. It brings toge [ ... ]


Artikel Lainnya

Jualan Produk Herbal?

Peluang Usaha Bisnis Herbal