Home Motivasi Pertandingan Terakhir John Baker
Pertandingan Terakhir John Baker PDF Print E-mail

William J. Buchanan

Masa depan tampak cerah bagi John Baker, dua puluh empat tahun, di musim semi 1969. Pada puncak karier atletiknya yang mengagumkan, dipuji oleh para penulis rubrik olahraga sebagai salah seorang pelari tercepat di dunia,

 

John telah mematok impiannya untuk mewakili Amerika Serikat pada Oiimpiade 1972.

Tidak ada satu pun hal yang pada saat dia masih kecil mengisyaratkan keistimewaannya tersebut. Dengan perawakan kecil dan lebih pendek dari sebagian besar teman-teman remajanya di Albuquerque, dia pernah dianggap "sama sekali tidak punya konrdinasi" sehingga tidak masuk hitungan sebagai atlet lari di sekolah menengahnya. Namun, sesuatu terjadi pada tahun keduanya di SMA, sesuatu yang mengubah jalan hidupnya.

Untuk beberapa waktu lamanya, pelatih lari di SMA Manzano, Bill Wolffarth, berusaha membujuk pelari berperawakan tinggi yang sungguh menjanjikan, John Haaland—sahabat John Baker—untuk bergabung dalam tim lari. Haaland menolak. "Aku sajalah yang bergabung dalam tim lari," begitu John Baker menyarankan pada suatu hari. "Mungkin nanti Haaland mau juga bergabung." Wolffarth setuju, dan cara itu berhasil. Dan John Baker pun menjadi pelari.

Energi yang bergelora

Kesempatan pertama tahun itu adalah lomba lari lintas alam 2,5 km melalui kaki bukit di bagian timur Albuquerque. Sebagian besar mata penonton tertuju pada juara lari lintas alam negara bagian, Lloyd Goff. Segera setelah pistol ditembakkan, para pelari tampak lari ber-urutan sesuai dengan perkiraan, dengan Goff berada di posisi depan

Jan Haaland lari di belakangnya. Setelah empat menit berlalu, para pelari menghilang satu demi satu ke balik bukit landai di tikungan lintasan yang jauh. Satu menit berlalu. Dua menit. Lalu, seorang pelar, muncul sendirian. Pelatih Wolffarth menyenggol seorang asisten. "Ini dia, Goff," katanya. Lalu, dia mengangkat teropongnya. "Astaga!" dia herteriak. "Itu bukan Goff! Itu Baker!"

Dengan meninggalkan sekelompnk pelari yang  tercengang, jauh di belakangnya, Baker melewati garis finis sendirian. Waktunya— 8:03,5— mencatat rekor baru.

Apa yang terjadi di sisi jauh bukit itu? Belakangan Baker menceritakannya. Ketika lornba sudah berlangsung setengah jalan, sambil berlari di belakang para pelari di depannya, dia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku sudah melakukan yang terbaik? Dia tidak tahu. Dengan me-musatkan pandangan matanya ke punggung pelari yang berada tepat di depannya, Baker menyingkirkan semua hal lain dari pikirannya. Hanya satu hal yang dipikirkannya: kejar dan susul pelari itu, lalu laku-kan hal yang sama pada pelari berikutnya. Energi cadangan yang tidak disadarinya langsung muncul melalui tubuhnya, "Rasanya seperti terhipnotis," Baker mengingat-ingat lagi. Satu demi satu dia menyusul pela­ri lainnya. Sambil tidak memedulikan kelelahan yang mencabik-cabik ototnya, dia rnempertahankan laju larinya sampai melewati garis finis dan tersungkur karena kelelahan.

Apakah hasil lomba tersebut hanyalah sebuah kebetulan belaka! Seiring dengan bergulirnya musim, Wolffarth mengikutsertakan Baket dalam beberapa lomba lari lain dan hasilnya selalu sama. Begitu berada di jalur lomba, pemuda remaja rendah hati dan periang ini menjadi pesaing yang gigih dan pantang menyerah — seorang pelari yang berlari dengan "hati" yang tidak sudi kalah. Menjelang berakhirnya tahun pelajaran di kelas 2 SMA, Baket berhasil memecahkan enam rekor lari dan selama tahun pelajaran di kelas 3 SMA, dia dianggap pelari terandal yang pemah ada di negara hagiannya. Saat itu usianya belum genap 18 tahun.

Pada musim gugur 1962, Baker kuliah di New Mexico University di Albuquerque dan mernpergiat latihannya. Setiap pagi buta, dengan membawa kaleng semprot untuk menakut-nakuti anjing yang meng-gonggong, dia berlari melalui jalanan kota, taman, dan lapangan golf— empat puluh kilometer setiap hari. Latihan itu terbukti bermanfaat. Tidak lama kemudian, di Abilene, Tutsa, Salt Lake City, di mana pun New Mexico Lobos (tim New Mexico University) bertanding, "John si Geram" Baker membuat para peramal tercengang dengan mengalahkan para pelari unggulan.

Pada musim semi 1965, ketika Baker masih di tingkat dua, tim lari yang paling ditakuti di seluruh negeri adalah Southern California University. Jadi, ketika tim Trojans yang perkasa dari universiras terse-but bertandang ke Albuquerque untuk pertandingan antar-regu, para peramal olahraga meramalkan kejatuhan tim Lobos. Kemenangan, begitu kata mereka, akan direbut "Tiga Besar" U.S.C—Chris Johnson, Doug Calhoun, dan Bruce Bess, dengan urutan seperti itu. Ketiganya memiliki waktu yang lebih baik daripada Baker.

Baker memimpin untuk satu putaran, lalu dengan sengaja melambat ke posisi keempat. Dengan agak kebingungan, Calhoun dan Bess berge­rak dengan kurang nyaman ke jajaran depan yang ditinggalkan Baker. Johnson, yang tampak lelah, tetap berada di belakang. Di tikungan pada posisi jauh di putaran ketiga, secara serempak, Baker dan Johnson bergerak untuk memimpin—dan bertabrakan. Sambil bertahan untuk tetap berdiri, Baker kehilangan beberapa meter yang berharga dan John­son bergerak untuk memimpin. Ketika jarak lari tinggal sekitar 300 me­ter lagi, Baker melesat melakukan sprint-nya yang terakhir. Mula-mula Bess yang disusul, lalu Calhoun. Di tikungan terakhir terlihat John­son dan Baker berlari nyaris berdampingan. Dengan lambat tapi pasti, Baker beringsut ke depan. Dengan kedua tangan membentuk V sebagai tanda kemenangan di atas kepalanya, dia menyentuh pita garis finis—pemenang dengan perbedaan waktu tiga detik. Terinspirasi oleh kemenangan Baker, tim Lobos menyapu bersih setiap lomba berikutnya, menghancurkan semangat tim Trojans yang dipaksa menelan kekalahan terburuk ketiga dalam kurun waktu enam puluh lima tahun.

Sesudah lulus, Baker mempertimbangkan beberapa pilihan. Ada ta-waran untuk menjadi pelatih universitas, tetapi dia sudah lama merenca-nakan untuk melatih anak-anak. Selain itu, dia juga harus memikirkan kegiatannya sebagai pelari. Apakah dia cukup baik untuk mengikuti Olimpiade? Pada akhirnya, dia menerima pekerjaan yang membuatnya dapat mewujudkan kedua ambisi tersebut—dia menjadi pelatih di SD Aspen di Albuquerque, dan pada saat yang sama dia memperbarui la-tihan kerasnya dengan sasaran bisa mengikuti Olimpiade 1972.

Di Aspen, aspek lain dari watak Baker muncul. Di lapangan yang menjadi arena pelatihannya, tidak ada anak yang menjadi bmtang yang menonjol sendirian, dan tidak ada kecaman jika ada anak yang kurang kemampuannya. Tuntutannya hanya satu: setiap anak harus melakukan yang terbaik sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Sikapnya yang adil ini, ditambah dengan kepedulian yang tulus bagi kemajuan murid-muridnya, memicu reaksi yang sangat positif. Keluhan anak-anaklah yang pertama kali disampaikan kepada Pak Pelatih Baker. Dan, baik keluhan itu nyata ataupun dibuat-buat, setiap keluhan ditanggapi seakan-akan pada saat itu keluhan tersebut merupakan tnasalah yang paling pentmg di dunia. Dan kata-kata yang menyebar adalah: "Pelatih peduli."

Di awal Mei 1969, tidak lama sebelum ulang tahunnya yang ke-25, Baker menyadari bahwa dia sering merasa terlalu cepat letih pada sa­at sedang berlatih. Dua minggu kemudian, dia merasakan sakit dada, dan pada suatu pagi menjelang akhir bulan, dia bangun dengan selangkangan bengkak yang terasa nyeri. Dia membuat janji untuk memeriksakan diri ke dokter.

Menurut urolog Edward Johnson, gejala yang dialami Baker sangat berbahaya, dan harus segera dilakukan operasi untuk menyelidikinva. Operasi itu mempertegas kekhawatiran Johnson. Sebuah sel di salah satu buah zakar Baker tiba-tiba pecah dan tumbuh menjadi kanker dan tcelah menyebar. Walaupun Dr. Johnson tidak mengatakannya, dia memperkirakan Baker memiliki kesempatan hidup kira-kira 6 bulan lagi, walaupun operasi kedua dilakukan.

Saat berada di rumah selama masa penycmbuhan untuk menjatani operas! kedua, Baker menghadapi kenyataan hidupnya yang memilukan itu. Tidak akan ada lagi kcgiatan lari, dan tidak ada Olimpiade baginya. Hampir dapat dipastikan kariemya sebagai pelatih sudah berakhir. Yang paling buruk, keluarganya menghadapi bulan-bulan penuh penderitaan.

Pada hari Minggu sebelum operasi kedua dilaksanakan, Baker pergi sendirian dari rumah menuju pegunungan dengan mengendarai mobil. Dia pergi selama beberapa jam. Ketika dia pulang di senja hari, terlihat perubahan jelas dalam semangatnya. Senyuman khasnya, yang akhir-akhir ini hanya muncul seperti sebuah topeng, kembali lagi nampak alami dan tulus. Lebih-lebih, untuk pertama kalinya dalam dua minggu, dia membicarakan rencana masa depannya. Agak larut pada malam itu, dia menceritakan kepada Jill, adiknya, apa yang terjadi pada hari yang cerah di bulan Juni itu.

Dia mengendarai mobil ke Sandia Crest, puncak gunung megah se-tinggi tiga ribu meter yang menjulang menghiasi langit Albuquerque bagian timur. Sambil duduk di dalam mobilnya dekat ujung tebing yang curam, dia memikirkan penderitaan berkelanjutan yang akan dialami keluarganya akibat kondisinya tersebut.

Dia dapat mengakhiri penderi­taan itu, dan juga penderitaannya, dalam sekejap mata. Sambil berdoa dalam hati, dia menghidupkan mesin mobil dan hendak menginjak rem darurat. Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat di depan matanya—wajah anak-anak SD Aspen, anak-anak yang diajarnya untuk melakukan yang terbaik, meskipun sulit. Warisan apakah yang ditinggalkannya bagi mereka jika dia bunuh diri? Karena rasa malu yang amat mendalimi yang menghunjam kalbunya, dia mematikan kunci kontak, terkulai di tempat duduknya dan menangis. Setelah beberapa lama, dia sadar bah-wa ketakutannya sudah mereda, dan dia merasakan kedamaian. Berapapun umur yang masih kumiliki, akan kubaktikan umtik anak-arak, bcgitu katanya dalam hati.

Pada bulan September, setelah menjalani operas, menyeluruh dan pe-rawatan selama musim panas, Baker kembali menekuni pekerjaannya dan ke dalam jadwalnya yang sudah padat itu dia menambahkan sebuah tekad—olahraga bagi penyandang cacat. Apa pun keterbatasan yang di-sandang anak-anak, mereka yang tadinya hanya bisa berdiri tanpa punya peran apa-apa di pinggir lapangan, saat ini diberi tugas sebagai "Pencatat Waktu Pelatih" atau "Ketua Pengawas Peralatan." Semuanya mengenakan kaus resmi SD Aspen, semua berhak mendapatkan pita Pak Pelatih Baker karena telah berusaha keras. Baker membuat sendiri pita itu di rumah pada malam hari, dan baban yang dibeli dengan uangnya sendiri.

Menjelang Hari Bersyukur, surat-surat yang memuji Baker dan para orang-tua yang bertenma kasih berdatangan hampit setiap hari di Aspen (lebih dari 500 surat yang diterima di situ dan di kediaman Baker, dalam waktu kurang dari satu tahun), "Dulu, putraku bagaikan monster di pagi hari" tulis seorang ibu. "Membangunkannya, memberinya makan, dan memaksanya berangkat ke sekolah adalah hal yang paling sulit. Sekarang, dia tidak sabar untuk berangkat ke sekolah. Dia Ketua Infield Raker."

"Meskipun putraku sermg mengatakannya, aku tidak percaya kalau ada Superman di Aspen," tulis ibu yang lain. "Diam-diam aku lewat dengan mengendarai mobil untuk melihat Pak Pelatih Baker bereama anak-anak. Anakku temyata benar." Dan yang ini dari dua orang kakek dan nenek: "Di sekolah lain, cucu perempuan kami sangat sengsara ka­rena sifatnya yang canggung. Lalu, pada tahun yang menakjubkan di Aspen, Pak Pelatih Baker memberinya nilai "A" karena cucu kami te­lah berusaha dengan sebaik-baiknya. Semoga Tuhan memberkati anak muda ini, yang telah membangkitkan rasa percaya diri pada seorang anak yang pemalu."

Pada bulan Desember, ketika kunjungan rutin ke Dr. Johnson, Baker mengeluh sakit tenggorokan dan sakit kepala. Uji laboraumum menunjukkan bahwa keganasan kankernya telah menyebar ke leher dan otak. Selama empat bulan. Johnson tahu bahwa Baker menyembunyikan sakit parahnya dengan menggunakan kekuatannya yang menakjubkan unruk berkonsentrasi mengabaikan rasa sakitnya, sama seperti yang digunakannya untuk mengabaikan rasa lelah ketika dia lari. Johnson menyarankan suntikan penghilang rasa sakit. Baker menggelengkan kepalanya. "Aku ingin melatih anak-anak selama aku mampu," ujarnya. "Suntikan itu akan menumpulkan daya reaksiku."

"Sejak saat itu," Johnson belakangan mengatakan, "aku memandang John Baker sebagai salah seorang yang paling tidak egois yang pernah kukenal."

Di awal tahun 1970, Baker diminta untuk membantu melatih klub at-letik kecil khusus untuk murid perempuan dari tingkat SD sampai SMA di Albuquerque. Nama klub iru: Duke City Dashers. Baker langsung se-tuju dan seperti para murid di SD Aspen, murid-murid perempuan di Dashers menanggapi pelatih baru mereka dengan penuh semangat.

Suatu hari Baker datang ke sesi latihan sambil membawa sebuah dus sepatu. Dia mengumumkan bahwa dia membawa dua buah penghargaan, satu untuk anak yang walaupun tidak pernah menang, tetapi pantang menyerah. Ketika Baker membuka kotak itu, para murid menahan napas. Di dalamnya tetdapat dua piala emas yang mengilap. Mulai saat itu, anggota klub Dasher yang layak mendapatkannya, menerima piala tersebut. Berbulan-bulan kemudian, keluarga Baker mengetahui bahwa piala-piala itu adalah milik Baker dari hasil berbagai lomba yang diikutinya, yang namanya dihapus dengan hati-hati.

Menjelang musim panas, Duke City Dashers adalah klub yang sulit dikalahkan, memecahkan rekor demi rekor dalam berbagai pertanding-an di seluruh penjuru New Mexico dan negara-negara bagian yang ber-tetangga. Dengan bangga Baker membuat ramalan yang berani: "The Dashers akan berhasil maju ke final AAU di tingkat nasional."

Namun sekarang masalah baru mengadang Baker. Suntikan kemoterapi rutinnya menyebabkan rasa mual yang parah untuk makan. Walaupun staminanya terus menurun, dia tetap mengawasi The Dashers sambil biasanya duduk di sebuah bukit kecil di atas area latihan, berteriak-teriak untuk memacu semangat.

Pada suatu satu sore di bulan Oktober, dengan mengikuti kerumunan anak di lintasan di bawah, salah seorang anak perempuan lari ke atas bukit menghampiri Baker. "Hei Pak Pelatih!" dia berseru. "Ramalan Bapak menjadi kenyataan! Kita diundang ke final AAU di St. Louis bulan depan."

Dengan penuh rasa gembira, Baker mengutarakan kepada teman-temannya hahwa dia memiliki satu harapan yang tersisa—ingin bisa hidup cukup lama agar bisa ikut.

Namun, hal itu tidak terjadi. Pada tanggal 28 Oktober pagi di Aspen, Baker tiba-tiba mencengkeram perutnya dan jatuh pingsan di lapangan. Pemeriksaan menunjukkan bahwa tumor yang menyebar itu pecah, memicu syok. Baker menolak dirawat, dan memaksa untuk kembali ke sekolah untuk satu hari terakhir. Dia berkata kepada orangtuanya bahwa dia ingin anak-anak mengenangnya dalam keadaan berjalan tegap, bukan tergeletak tak berdaya di atas tanah.

Dalam keadaan mampu bertahan dengan bantuan transiusi darah da­lam jumlah banyak dan obat penenang, Baker sadar bahwa dia tidak mungkin bisa ikut ke St. Louis. Jadi, dia mulai meneleponi anggota klub Dashers setiap malam dan baru berhenti setelah berhasil membesarkan hati setiap anak untuk melakukan yang terbaik di final.

Di awal malam 23 November, Baker jatuh pingsan lagi. Dalam keadaan nyaris tidak sadarkan diri ketika para pembantu memasukkannya ke am-bulans, dia herbisik kepada orangtuanya, "Pastikan lampu mobilnya ber-kedip-kedip. Aku ingin meninggalkan lingkungan im dengan penuh gaya." Sesaat setelah dini hari, pada 26 November, ditempat tidurnya di rumah sakit, dia menoleh kepada ibunya yang memegang tangannya dan berkata, "Maafkan aku karena sering merepotkan." Dengan embusan napasnya yang terakhir, dia menutup matanya. Hari itu Hari Bersyukur tahun 1970, delapan belas bulan setelah kunjungan pertama John Baker ke dokter Johnson. Dia berhasil hertahan hidup dua belas bulan lebih lama dari waktu yang diramalkan dokter.

Dua hari berikutnya, dengan air mata membasahi pipi mereka, Duke City Dashers memenangi kejuaraan AAU di St. Louis—"untuk Pak Pelatih Baker."

Kemenangan itu bisa menjadi akhir dari kisah John Baker, kalau saja tidak ada sebuah fenomena yang muncul setelah pemakamannya. Beberapa anak di Sekolah Aspen mulai menyebut sekolah mereka "Sekolah John Baker" dan peruhahan nama tersebut menyebar dengan sangat cepat. Lalu, sebuah gerakan dimuiai agar nama baru itu bisa menjadi nama resmi. "Ini sekolah kami," anak-anak itu berkata, "dan kami ingin menamakannya John Baker." Pihak berwenang di SD Aspen mengajukan hal ini ke dewan sekolah Albuquerque dan dewan menyarankan diadakan referendum pemungutan suara. Di awal musim semi 1971, 520 keluarga di wilayah Aspen memberikan suara atas pertanyaan tersebut. Terdapat 520 suara yang mendukung dan nol suara menolak.

Pada bulan Mei, daiam sebuah upacara yangdihadiri oleh ratusan teman Baker dan semua anak didiknya, SD Aspen dengan resmi menjadi Sekolah Dasar John Baker. Sampai sekarang sekolah itu berdiri sebagai sebuah monumen nyata bagi seorang pemuda berani yang, dalam masa-masa hidupnya yang paling sulit, mengubah tragedi pahit menjadi se­buah warisan abadi.

John Baker tidak memilih untuk mengidap kanker, namun dia memilih cara menyikapinya. Dia memilih untuk ber-kontribusi. Dengan memusatkan energi terakhirnya pada hati dan semangat anak-anak, dia pergi meninggalkan wa­risan terakhirnya dalam kehidupan orang-orang yang pernah disentuhnya. Dengan demikian, dapat dipastikan dia mendapatkan imbalan dalam dirinya yang menyertai kehi­dupan yang bermakna.

“The Race to Death”

By John Baker

Many thoughts race through my mind

As I step up to the starting line.

Butterflies thru my stomach fly,

And as I free that last deep sigh,

I feel that death is drawing near,

But the end of the race, I do not fear.

For when the string comes across my breast,

I know it’s time for eternal rest.

The gun goes off, the race is run,

And only God knows if I’ve won.

My family and friends and many more

Can’t understand what it was for.

But this “Race to Death” is a final test,

And I’m not afraid, for I’ve done my best.

(This poem was written by John Baker during His freshman year at University of New Mexico, Six years prior to his death).

 
Banner
 

Info Gadget

New Interactive TV E...

BOSTON – May 21, 2012 – Next-generation TV has arrived. At The Cable Show in Boston (May 21-23, Booth #733), Motorola Mobility, Inc. (NYSE: MMI) is showcasing the revolutionary entertainment discovery experience that will be launching in North American homes later this year.


Read More...

Panasonic's Premium ...

SECAUCUS, NJ (May 21, 2012) – Today, Panasonic announced a new digital interchangeable standard zoom lens, the LUMIX G X VARIO 12-35mm/F2.8 ASPH./POWER O.I.S. (H-HS12035). The newest addition to the company's premium lens brand "X," which is compatible with the Panasonic LUMIX G Series and complies with the Micro Four Thirds™ system standard, this lens offers a versatile zoom range of 12-35mm (35mm camera equivalent: 24-70mm) and features constant F2.8 aperture brightness at entire zoom range.


Read More...

VIA Announces Ultra ...

Delivers power efficient dual core processing in a ruggedized chassis system for a diversified range of embedded applications Taipei, Taiwan, May 17, 2012 - VIA Technologies, Inc, a leading innovator of power efficient computing platforms, today announced the VIA AMOS-3002, an ultra compact, fanless system designed around the tiny VIA EPIA-P900 Pico-ITX board. The VIA AMOS-3002 provides embedded customers with a system that delivers all the latest features and digital media standards required for a diversified range of embedded applications including telematics, in-vehicle control, machine to machine controller (M2M), digital signage and kiosks.


Read More...
012

Info Kesehatan

Constipation
26/09/2011 |
article thumbnail

Constipation is a common disturbance of the digestive tract, in this condition, the bowels do not move regularly, or are not completely emptied when they mo [ ... ]


Gastritis
27/09/2011 |
article thumbnail

Gastritis is an inflammation of the lining of the stomach. It is a troublesome condition which may lead to many complications includi [ ... ]


Artikel Lainnya

Jualan Produk Herbal?

Peluang Usaha Bisnis Herbal