Cesar Rirz lahir di desa Niederwald di pegunungan Swiss, dan pada usia enam belas tahun bekerja di sebuah ruang makan hotel di kota terdekat, Brieg. Beherapa bulan kemudian, dia dikeluarkan. "Dalam bisnis perhotelan," demikian komentar atasannya,
"kita membutuhkan bakat—bakat alam. Kamu sama sekali tidak memilikinya."
Ritz mendapatkan pekerjaan lain sebagai pelayan restoran—dan lagi-lagi dipecat. Dia berangkat ke Paris, dan di negeri itu dia mendapatkan—dan kehilangan lagi—dua pekerjaan. Kariernya baru mulai menanjak pada pekerjaannya yang kelima, di sebuab restoran kecil yang asri di dekat Madeleine. Di situ kariernya menanjak, mulai dari pesuruh, menjadi pelayan, dan akhirnya manajer. Usianya baru sembilan belas tahun ketika majikannya mengajaknya bermitra. Bagi pemuda lain, tawaran ini mungkin dianggap peluang istimewa. Tetapi, sekarang Ritz sudah tahu apa yang diinginkannya: dunia yang menyandang nama hebat, jamuan makan dan rninum.
Dengan menggulung celemeknya, dia berjalan menuju restoran nomor satu di masa itu, Voisins, dan bekerja sebagai pemhantu pelayan, sekali lagi merangkak dari bawah. Dia memperhatikan dan belajar—cara menangani bebek dan mengukir daging panggang; cara menuangkan Burgundy; cara menyajikan makanan sehingga memikat mara dan juga indra pengecap.
Pada tahun 1871, Ritz meninggalkan Paris dan selama tiga tahun bekerja di sebuah restoran resor terkemuka di Jerman dan Swiss. Pada saat itu dia menjabat sebagai manajer restoran di Rigi-Kulm, sebuah hotel di Alpine yang terkenal karena pemandangannya yang indah dan hidangannya yang lezat. Pada suatu hari, alat pemanas ruangan rusak. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan tiba sebuah pesan—empat puluh hartawan Amerika sedang dalam perjalanan menuju restoran itu untuk makan siang!
Suhu di ruang makan menukik tajam sampai hampir membeku. Ritz, yang tubuhnya dibalut jas panjang, memerintahkan agar meja makan siang dicata di ruang duduk—kamar yang bcrtirai merah dan terlihat lebih hangat. Ke dalam empat wadah tembaga raksasa, yang biasanya digunakan untuk pot pohon palem, dituangkannya alkohol dan dinyalakannya- Batu bata dimasukkan ke dalam oven.
Ketika para tamu itu tiba, ruang duduk sudah terasa hangat dan di bawah kaki sctiap orang diletakkan bata panas yang dibungkus dengan tarn flanel. Makanannya adalah mahakarya cuaca-dingin, dimulai dengan sup bening panas beraroma lada dan diakhiri dengan crepes suzette yang menyala-nyala.
Kejaiban kecil yang dihasilkan oleh pemikiran kilat ini menjadi buah bibir pada setiap acara kumpul-kumpul kalangan perhotelan. Akhimya, berita itu terdengar oleh pemilik hotel besar di Lucerne yang terus merugi. Dia meminta Ritz menjadi general manager, Dalam waktu dua tahun, orang desa berusia dua puluh tujuh tahun itu berhasil memulihkan kondisi keuangan hotel itu sehingga mulai meraup keuntungan.
Bagi Ritz, tidak ada hal kecil yang terlalu remeh, tidak ada perusahaan yang terlalu besar jika dia harus menyenangkan tamu. "Orang senang dilayani," begitu Ritz pernah berkata, "tapi tanpa terlihat." Aturan yang di-rumuskannya adalah empat perintah pengelolaan hotel terbaik dewasa ini: melihat semuanya tanpa memperhatikan; mendengar semuanya tanpa mendengarkan; menaruh perhatian tanpa merendahkan diri; meng-antisipasi tanpa bersikap angkuh.
Jika ada tamu yang mengeluh karena tagihan yang terlalu tinggi, dia tersenyum dengan ramah, membawa pergi kwitansi itu dan lupa membawanya kembali. Jika tamu tidak suka hidangan atau wine, maka hidangan dan wine itu disingkirkan dari mejanya. Ritz memiliki daya ingat yang luar biasa. Dia ingat tamu mana yang suka rokok Turki merek tertentu, siapa yang suka chutney (acar India)—dan di saat mereka tiba, rokok dan chutney kegemaran mereka sudah tersedia.
Ia juga sangat lelaten melayani para tamu semuanya- Tamu yang berperawaknn tinggi mendapati tempat tidur ekstra panjang di kamar- nya Ny. Smith, yang tidak tahan bunga, tidak pernah merasa kcsal karena tidak pemah ada bunga di kamarnya, tetapi Ny. Jones, sangat menyukai gardenia, selalu mendapatkan satu pot bunga kesayangannya itu pada baki sarapannya.

Carlton Hotel - London
Pada tahun 1892, Ritz pergi ke London untuk mengambil-alih Hotel Savoy yang sedang sekarat. Masyarakat menanggapinya dan hotel itu berhasil diselamatkan dalam waktu yang sangat singkat, yang mencengangkan semua orang. Dengan menjelajahi satu demi satu kamar. nya, Ritz membereskan kembali tempat tidur untuk memastikan bahwa sudah rapi; suatu kali, ketika memenksa ruang makan, dia mencium bau sabun pada sebuah gelas dan menyuruh orang untuk mencuci kembali ratusan gelas.
Suatu bari, dia sedang menata kembali dekorasi di kamar pengantin, dan lampu kandil kuningan yang menggantung dari langit-langit membuatnya risi. Ketika dia mencari cara lain untuk menerangi kamar itu agar tidak terlalu mencolok, tembok hias yang menjorok ke dalam memunculkan sebuah gagasan. Dia memasang lampu di dalam dinding ini—maka pencahayaan tak langsung pun mulai dikenal.
Ketika mengelola sebuah pesta untuk Alfred Beit, raja berlian dan Atrika Selatan, Ritz membanjiri ballroom Savoy—mengubahnya menjadi sebuah Venesia mini. Para tamu dilayani sambil mereka duduk santai di dalam gondola.
Zaman keemasan Ritz di Savoy berakhir dengan pertengkaran antara dirinya dengan para direktur. Dia kembali ke kota Paris yang dicintainya dan mewujudkan impian yang telah dipendamnya selama bertahun-tahum: dia mendirikan, di Place VendUme, hotel Ritz yang paling mewah. Untuk menghalau para pemalas, dia merencanakan sebuah lobi kecil. Untuk mcnggairahkan orang mengobrol sambil minum teh atau kopi, dia merancang sebuab kebun. Karena menginginkan kebersihan, dia mengecat dinding, bukan mcnutupmya dengan kertas dinding karena cat bisa dicuci. Untuk rancangan perabotannya, dia mengunjungi Versailles dan Fountainblau. Untuk skema wama, dia meminjamnya dari lukisan Van Dyck.
Terobosan barunya herupa kamar-kamar yang dilengkapi kamar mandi sendiiri. Pada hari pembukaannya, orang berduyun-duyun datang melalui koridor seperti memasuki museum, terutama untuk melihat kamar.
Keberhasilan Ritz Paris tidak pemah diragukan. Pada sebuah buku menu makan malam yang disimpan oleh seorang karyawan Ritz yang sudah tua, tertera tanda tangan empat orang raja, tujuh orang pangeran, dan beberapa orang terpandang. Pada semua bidang, Ritz menumpahkan perhatian yang luar biasa terhadap setiap suasana hati dan harga.
Di sini Ritz menerapkan pakaian seragam pelayan tradisional: dasi putih untuk pelayan pria, dasi hitam untuk kepala pelayan. Dia juga mendandani pengantar tamu dengan kancing kuningan.

Pada peralihan abad, Ritz mendirikan dan membuka Carlton Hotel di London, dan beberapa tahun kemudian, dibangun hotel di Piccadilly, yang menyandang namanya. Hotel di Piccadilly ini adalah bangunan pertama di Inggris yang menggunakan konstruksi rangka baja, yang diterapkan oleh Ritz karena dia sangat menyukai Menara Eiftel. Sekelompok penyandang dana bergabung dengan Ritz untuk mencipta-kan Ritz Hotel Development Corporation, yang membangun sebagian besar hotel Ritz yang tersebar di seluruh penjuru dunia.
Pada saat dia terbaring menjelang ajalnya, pada Oktober 1918, Ritz bergumam, mengira istrinya ada di sampingnya, "jagalah putri kita." Mereka punya dua orang putra, tapi tidak punya anak perempuan. Bagi suami-istri itu, yang disebut "putri" adalah Hotel Ritz di Paris.