templatemo.com

 

WELCOME TO Pojok eBook

Mencari Bende Mataram

 Mencari Bende Mataram
Karya : Herman Pratikto
MENCARI BENDE MATARAM - 1
Gubahan: Herman Pratikto
Kupersembahkan untuk :
- HIDUPKU
- kebebasanku
- dunia baru
- ayah bunda
- anak istri
dan siapa saja yang mau kusebut keluar gaku
KINANTI :
riwayat rineggeng kidung macapat sekar kinanti kang bade gumantya nata
sakwise dahuru mbenjing SATRIA TRAHING KUSUMA kang sinung panggalih SUCI
alih bahasa
riwayat tergubah dengan nyanyian macapat dengan lagu kinanti yang akan mengganti raja setelah kelak terjadi malapetaka SATRIA KETURUNAN LUHUR yang berhati SUCI
PROLOG
TIADA MANUSIA DI JAGAD INI yang mengetahui, apakah Bende Mataram sesunguhnya masih ada dalam percaturan manusia ataukah sudah lenyap dari persada bumi. Kecuali Sangaji. Dialah satu-satunya manusia yang dapat menjadi sumber pertanyaan. Hanya saja tak dapat ia menerangkan, bagaimana sebenarnya yang sudah terjadi.
Seperti diketahui, oleh rasa marah ia menghancurkan keris Kyai Tunggulmanik dan Bende Mataram dengan tenaga saktinya. Tenaga sakti Sangaji bukan main hebatnya. Di jagad ini pada hakekatnya tiada yang mampu menandingi. Namun pada detik ia meremas luluh kedua pusaka tanah Jawa itu, mendadak muncul suatu keajaiban di luar akal manusia. Setelah bumi berderak-derak, di depannya muncul suatu makhluk tinggi besar. Tubuhnya hampir mencapai lapis udara. Dan makhluk itulah yang merampas pusaka Bende Mataram dari tangannya dan membuangnya ke udara. Dia mengaku bernama Patih Lawa Ijo 1.
Selanjutnya, tak dapat ia membawa saksi. Baik Titisari maupun yang lain hanya melihat suatu letupan cahaya. Malahan mereka meyakini, bahwa cahaya itu masuk ke dalam tubuhnya, la jadi ternganga-nganga. Dan terus menerus mengganggu benaknya dari tahun ke tahun. Tetapi karena ia tak pandai berbicara, semuanya itu
1 Bende Mataram Jilid 15
hanya disimpannya di dalam hati. Teka-teki itu kemudian menyibukkan setan, iblis dan siluman...
1
SEBUAH PESAN RAHASIA
KURANG LEBIH dua belas kilometer dari Sigaluh terdapat sebuah kota yang cukup ramai. Kota itu bernama Kota Waringin. Terletak di tepi Kali Serayu termasuk Kabupaten Banjarnegara. Kota itu sebenarnya lebih tepat kalau di sebut kota kecil setengah dusun. Meskipun demikian merupakan urat nadi lalu lintas perdagangan.
Tatkala itu sudah menjelang mahgrib. Para pedagang, tukang sayur, penjual ikan dan penjual-penjual kebutuhan dapur lainnya sudah berkemas-kemas hendak bubaran. Pikulan, keranjang dan tenggok2 sudah tersusun rapi di dekat dasarannya. Tiba-tiba terdengarlah suatu derap kuda dari arah tenggara. Meskipun kuda belum nampak dalam penglihatan, namun suara derapnya ramai dan sibuk. Terang sekali bahwa kuda itu dilarikan dengan cepat, dan jumlahnya tidak hanya satu atau dua ekor.
Kota Waringin kerapkali dilalui rombongan penunggang kuda. Maklumlah kota itu kota lalu lintas perdagangan. Itulah sebabnya derap kaki kuda yang begitu ramai tidak termasuk di dalam perhatian. Masing-masing sibuk dengan kepentingannya sendiri. Tetapi setelah mereka melihat debu tebal membumbung ke angkasa dan suara derap kuda yang luar biasa ramainya, barulah mereka terkejut. Itulah suara rombongan penunggang kuda yang berjumlah lebih dari dua puluh
2 Tenggok = bakul
lima orang. Mereka heran, karena kuda-kuda itu dilarikan begitu cepat, seolah-olah sedang berlomba.
"Hai! Apakah pasukan Kompeni?" teriak salah seorang.
Mendengar bunyi dugaan itu, yang lain lantas terkesiap. Seseorang menyeletuk:
"Kalau begitu, cepat kita menyingkir! Dagangan kita bisa rusak terinjak-injak."
"Hayo... hayo...daripada runyam bubar, kita menyingkir dahulu!"
"Hayo! Hayo! Mendingan kalau hanya diinjak-injak. Kalau kena pajak, anak bini kita bisa mati kering!" sahut yang lain dengan gopoh.
Dewasa itu Gubernur Raffles telah memerintah di lndische. Gubernur Inggris itu hanya membutuhkan biaya. Ia bertindak keras terhadap Sultan Banten dan Cirebon. Kedua Sultan itu bahkan dipaksanya untuk menyerahkan daerah kekuasaannya. Setelah itu ia pun mengasingkan Sri Sultan Hamengku Buwono II ke Pulau Pinang. Dia juga belum puas. la memecah Kerajaan Yogyakarta menjadi dua bagian. Daerah Kesultanan dan Praja Paku Alam. Kemudian memungut pajak terhadap penduduk. Pajak tanah dan pajak kepala. Masih juga menguasai perdagangan pembuatan garam, candu, arak dan menjual tanah kepada orang-orang yang mempunyai uang. Karena yang beruang kebanyakan kaum Cina, maka banyakiah tanah-tanah luas jatuh ke tangan orang-orang Cina.
Mendadak di antara suara gemuruh kuda terdengarlah suara suitan melengking tajam. Dan suara suitan itu
sambung-menyambung dari delapan penjuru. Tiba-tiba saja Kota Waringin telah terkepung rapat.
Menyaksikan kejadian itu, orang-orang jadi kaget. Seorang laki-laki berusia pertengahan lalu berteriak: "Jangan-jangan gerombolan Gunung Tugel."
Seorang pegawai toko kelontong "Terang Bulan" berteriak, "Benar, benar! Mungkin sekali kedua-duanya."
Majikan toko semenjak tadi sudah bergemetaran. Mendegar teriakan pegawainya, keruan saja ia membentak: "Mengapa cerewet! Kau bilang dua-duanya bagaimana?"
"Dua-duanya kan sama saja? Baik kompeni maupun perampok kan mengarah harta benda rakyat?" jawab pegawainya.
"Monyet! Kalau begitu baik aku maupun kau bakal mati mampus.Tetapi mustahil! Mustahil kalau perampok masakan bekerja di tengah hari bolong begini? Kalau kompeni
Ah, benar-benar aneh!" kata majikan toko "Terang Bulan" dengan suara gemetar.
Belum lagi ia habis berpikir, dari arah barat datanglah lima penunggang kuda berpakaian hitam. Mereka mengenakan topi gede dan semuanya bersenjata golok mengilat.
"Hai penduduk Kota Waringin, dengarkan!" teriak salah seorang dari mereka.
"Kami sudah berhasil menelanjangi satu regu Kompeni Inggris yang sedang mengangkut harta benda rakyat. Kalian diam-diamlah. Siapa yang berani bilang ke arah
mana kami melarikan diri, awas! Senjata kami tidak bermata dan tidak memandang bulu!"
Mereka terus melarikan diri ke arah selatan. Suara beradunya tapak kuda dan jalan berbatu menggetarkan hati sekalian penduduk. Belum lagi suara derap kudanya lenyap dari pendengaran, derapan penunggang kuda lewat pula dengan cepat. Mereka mengenakan pakaian hitam dan topi gede seragam. Muka mereka tidak terlihat jelas. Orang-orang ini pun membentak-bentak agar sekalian penduduk tetap berada di tempatnya masing-masing. Mereka mengancam dengan senjatanya hendak memangkas setiap mulut yang usilan.
Tetapi dasar mulut pegawai toko "Terang Bulan" tadi memang cerewet dan usilan, ia tak betah membungkam mulut. Kembali ia mengoceh kepada majikannya.
"Tuan! Apakah Tuan belum mengerti gerombolan berpakaian hitam itu? Goloknya memang tajam dan enak sekali. Tahukan Tuan apa sebab mereka kabur ke selatan? Mereka...."
Belum habis ucapannya. Sekonyong-konyong salah seorang penunggang kuda yang datang belakangan, mengayun cambuknya Taar! Juang cambuk menyelonong ke dalam toko lalu melilit pegawai cerewet itu. Tatkala cambuk tertarik larinya kuda, si pegawai yang usilan tu terangkat naik dan terbanting bergelundungan di tengah jalan raya.
Hebat hukuman pegawai toko "Terang Bulan" itu. Belum lagi ia dapat menguasai diri, barisan kuda yang berada di belakang punggungnya datang berderapan. Ia kaget sampai menjerit minta pertolongan. Tapi belum habis suaranya, ia kena terlempar dan terinjak-injak kaki
belasan kuda yang lewat bagaikan batu gunung runtuh berguguran. Tak usah lama, ia mati terbanting-banting dengan perut terobek-robek.
Melihat betapa jahat kawanan berkuda itu, seluruh penduduk terpukau. Mereka tak berani memekik apalagi bergerak. Yang tadinya bermaksud menutup dagangannya batal dengan Sendirinya. Yang hendak lari pulang, kedua kakinya mendadak menjadi lemas.
Beberapa belas meter dari toko "Terang Bulan" adalah dagangan Kakek Wasiman. Orang tua itu berdagang minuman hangat dan goreng pisang. Sebuah wajan selalu bergemericik menggoreng pisang-pisang panjang dan pendek.
Di atas meja panjang tersedia tumpukan goreng pisang, tempe, ketela dan tahu. Semuanya masih nampak hangat. Uapnya yang tipis menguap ke udara.
Kakek Wasiman terkenal cekatan. Namun agak tuli. Melihat kesibukan di jalan, ia seperti tak mengindahkan. Masih saja ia sibuk menggoreng pisang dagangannya dan merebus air. Dengan telaten ia memotong pisang menjadi dua bagian. Kemudian memasukkannya ke dalam adukan tepung.
Setelah itu dengan hati-hati ia menceburkannya ke dalam minyak yang sudah mendidih, la menunggu dengan sabar. Kedua matanya tertuju kepada wajan. Derap kuda yang berlari-larian kencang tidak menarik perhatiannya.
Pada saat itu sekonyong-konyong terdengarlah suara suitan panjang. Setelah sambung menyambung sebentar, lantas mereda. Gemuruh derap kuda tak terdengar lagi.
Dan suasana kota Kota Waringin menjadi sunyi mati. Kemudian terdengarlah suara derap sepatu dari jurusan barat.
Makin prihatin seluruh penduduk Kota Waringin mendengar suara sepatu itu. Tak usah menebak-nebak lagi—itulah derap barisan Kompeni. Entah Kompeni Belanda entah Inggris. Kebanyakan mereka terdiri dari serdadu-serdadu Bumi Putera atau Cina. Kekejamannya melebihi majikannya. Sering sekali mereka merampas atau menggebuki penduduk. Itulah sebabnya, hati penduduk Kota Waringin kian menciut. Hanya si Kakek Wasiman seorang yang masih nampak aman tenteram tak terganggu.
Tak lama kemudian muncul seorang laki-laki berperawakan tinggi besar, la berjalan menyusur tepi jalan. Kawan-kawannya ditinggalkan jauh di belakang. Setelah menebarkan penglihatan, akhirnya berhenti di depan warung Kakek Wasiman. Ia mengamat-amati wajah Kakek Wasiman. Kemudian perawakannya. Sesudah itu kedua kakinya. Sejenak kemudian, ia tertawa dengan sekonyong-konyong.
Perlahan-lahan Kakek Wasiman mengangkat kepala dan memutar penglihatan menghadap padanya. Ia heran melihat seorang laki-laki berperawakan begitu tegap dan tinggi—besar. Usianya kurang lebih 45 tahun, la mengenakan pakaian seragam serdadu. Bersenjata pedang pendek. Gagah dan perkasa. Hanya sayang mukanya buruk. Bentuk mukanya bulat seperti jeruk dan kulitnya hitam kasar. Penuh dengan jerawat pula. Kedua matanya kecil, tapi berkilat-kilat. Suatu tanda bahwa ia memiliki ilmu kepandaian tak rendah.
"Apakah Tuan mau beli pisang goreng? Silakan! Silakan! Sebentar kubuatkan secangkir air teh hangat."
Laki-laki itu tertawa dingin. "Berapa harganya?"
"Satu biji dua sen," ujar Kakek Wasiman. Dengan tangan agak gemetaran, ia menyerok beberapa goreng pisang dan ditaruh hati-hati di atas meja yang beralas daun pisang.
"Baik. Satu biji dua sen. Mana? Berikan!" kata laki-laki berparas buruk itu.
Kakek Wasiman memanggut dan terus menaruhkan pisang goreng yang baru diangkat dari wajan ke dalam tangannya, keruan si muka buruk berjingkrak karena kepanasan. Membentak. "Kurangajar, sampai saat ini kau masih pandai main sandiwara dihadapanku?"
Terang sekali ia bergusar sampai kedua alisnya tegak kaku. Tiba-tiba ia menyambitkan pisang goreng itu. Ternyata ia bertenaga besar. Pisang goreng itu membawa kesiur angin. Kalau muka Kakek Wasiman sampai kena sam-barannya pastilah paling tidak akan melepuh bengkak.
Tetapi dengan memiringkan kepala sedikit saja, Kakek Wasiman dapat meloloskan diri dari sambitan itu. Pisang goreng lewat dengan suara deras dan menghantam tiang warung sampai jadi bergoyangan.
"Bagus!" bentak orang yang bermuka buruk. Ia lalu menghunus pedang pendeknya yang berkilat-kilat. Dengan menudingkan ujungnya, ia berkata: "Sorohpati! Masih saja kau bermain sandiwara dihadapanku. Kau kira hari ini masih bisa menyelamatkan nyawamu? Kau serahkan tidak wasiat itu?"
Mendengar namanya yang sesungguhnya kena dipanggil, Kakek Wasiman lantas menatap wajah tetamunya dengan pandang berkilat-kilat.
"Hm, biasanya berandal dari Gunung Tugel terkenal kejam. Tapi bangsat yang bersembunyi di belakang pakaian seragam, lebih kejam lagi. Aneh apa sebab orang semacam engkau masih bisa lolos dari pendekar Sangaji. Kartawirya, dari wilayah barat kau datang. Apa perlu keluyuran sampai di sini?" sahut Kakek Warsiman dengan tenang.
Gusar orang yang berperawakan tinggi besar itu. Tadinya ia hendak mengertak Kakek Wasiman dengan menyebut namanya. Tak tahunya, si Kakek mengenal diriya juga. Padahal dia sudah mengenakan pakaian seragam. Malahan kakek tua itu tahu darimana dia datang.
Seperti diketahui Kartawirya dahulu anak buah sang Dewaresi. Dialah dahulu yang menguntit Sangaji tatkala memasuki wilayah Jawa Tengah. Kemudian kena dipermainkan Titisari sampai babak belur Selanjutnya dia dianggap sebagai pendekar tiada harganya untuk dilawan. Setelah majikannya—Kebo Bangah dan sang Dewaresi—mati dia bertekad hendak meneruskan cita-citanya. Itulah perkara pusaka keramat Bende Mataram yang ternyata menjadi sumber kesaktian Sangaji. Pikirnya, kalau bisa memiliki pusaka warisan itu bukankah dia akan sesakti Sangaji. Kalau sudah memiliki kesaktian demikian, dunia ini berarti berada dalam genggamannya. Untuk mencapai angan-angannya itu, ia berlindung dibawah organisasi militer. Dengan mengenakan pakaian seragam ia dapat bebas melakukan penyelidikan. Karena tekunnya, ia mencium suatu kabar
yang menggirangkan hati. Sekarang ia hendak mencoba mengompres keterangan dari mulut Kakek Warsiman yang sebenarnya seorang pendekar bernama Sorohpati.
"Sorohpati, kau jangan berlagak goblok!" , bentaknya bengis. "Kau serahkan wasiat itu dan kau akan kuampuni."
"Hm! Enak saja kau mengoceh. Kamu merasa dirimu apa sampai ikut-ikutan membicarakan perkara wasiat segala. Enyahlah, sebelum aku mengambil kepalamu."
Dengan menggerung pedang pendeknya menyambar pundak Sorohpati. Cepat Sorohpati mengelak, sehingga pedang Kartawirya menikam, udara kosong. Tetapi tak memalukan karena betapa pun juga dia adalah anak murid sang Dewaresi. Begitu tikamannya luput, mendadak ia menyabet dengan serangan susulan empat kali beruntun. Dan dengan gesit ujung pedangnya mengancam punggung Sorohpati.
Bidang gerak Sorohpati kala itu terbatas. Ia tidak hanya terhalang meja dasaran saja, tapi juga luas warungnya. Namun ia tidak kehilangan akal. Dengan merendahkan badan, ia membiarkan pedang Kartawirya menyambar diatasnya. Lalu kakinya mendupak. Tapi ia bukan mendupak pedang atau kaki lawan. Yang didupak adalah anglo pembakar minyak kelapa dalam wajan.
Kena dupakannya, anglo berapi buyar berhamburan. Dan wajan yang penuh miyak mendidih dan goreng pisang menyambar ke depan.
Kartawirya kaget bukan kepalang. Dengan berteriak tertahan, ia melesat mundur jumpalitan. Kemudian melesat tinggi di udara dan hinggap di atas genting
diseberang jalan dengan masih menggenggam pedangnya erat-erat.
"Bagus! Rupanya dalam beberapa tahun ini, maju ilmu kepandaianmu. Tapi jangan bermimpi bisa mengambil nyawaku," kata Sorohpati. Dan begitu selesai berbicara, ia pun melesat tingi. Seperti burung sedang melayang ia mengejar dan hinggap di atas genting tak jauh dari lawannya. Tangannya memegang besi penggoreng pisang goreng.
Dan baru saja ia menetapkan berdirinya, Kartawirya sudah menyerang. Cepat ia mengerahkan tenaga dan menangkis: Trang! Lelatu3) meletik.
Ternyata penggoreng pisang goreng itu, sebatang tongkat baja yang murni. Pedang Kartawirya kena dipentalkan miring. Tetapi pada saat itu, dua batang golok menyerang dari kiri dan kanan.
"Ah! Semenjak dahulu begundal-begundal Dewaresi senang main keroyok. Sekarang pun begitu. Dasar anak-anak kadal. "
Dikatakan sebagai binatang bengkarung, keruan saja rekan-rekan Kartawirya bergusar. Dengan menggerung mereka mengulangi serangannya yang kena tangkis. Sorohpati mundur selangkah. Sret! Kedua tangannya kini sudah menggenggam sebatang pedang dan sebatang tongkat baja berbentuk penggoreng pisang goreng.
Cepat gerakannya. Begitu berada ditangannya, kedua golok lawan disapunya balik.
Dua orang pengerubut itu pun mengenakan pakaian seragam. Mereka kaget berbareng heran. Tadinya,
mereka hanya membantu kawan yang sedang bertempur dengan seorang kakek bongkok. Diluar dugaan, si kakek itu ternyata dapat berdiri tegak. Malahan pandangannya begitu berwibawa dengan mata berkilat-kilat.
"Kartawirya, siapakah dia?" teriak salah seorang dari mereka.
"Tangkap hidup-hidup atau ambil nyawanya," sahut Kartawirya pendek. "Dialah yang tahu benar dimanakah pusaka keramat majikan kita dulu."
"Oh!" Mereka terkejut. Setelah tertegun sejenak lalu menyerang dengan berbareng.
Hebat pertempuran itu. Satu dikerubut tiga.
Sedangkan di bawah, barisan serdadu bersiaga di jalan raya. Penduduk yang menyaksikan peristiwa mengherankan itu pun membatalkan niatnya hendak pulang cepat-cepat. Mereka kenal si Kakek Wasiman penjual pisang goreng. Setelah melihat betapa kakek bongkok itu tiba-tiba bisa berdiri dengan gagah dan pandai pula berkelahi, hati mereka tertarik. Terdorong oleh ingin tahu siapa dia sesunguhnya, mereka melupakan rasa takutnya.
Dengan memutar pedang, tongkat baja Sorohpati mengincar tempat-tempat bahaya lawannya. Walaupun dikerubuti tiga, namun ia ternyata lebih tangguh.
"Kamu semua tidak mengenal tingginya langit. Enyahlah!" teriaknya. Dan dengan memutar pedangnya untuk menggertak, tongkat bajanya menikam. Suatu jeritan terdengar menyayat hati. Salah seorang pembantu Kartawirya jatuh ke bawah dengan bergelundungan.
Buru-buru barisan serdadu memburu untuk menanggapi. Orang itu sudah mandi darah dan segera digotong di tepi jalan. Seorang laki-laki berperawakan kecil mengawasi dengan tajam. Setelah menimbang-nimbang, ia berteriak: "Hai Sorohpati! Dengarkan suaraku! Aku Dadang Kartapati murid pendekar Watu Gunung, dengan ini menyampaikan salam. Kau memang hebat! Tapi pertimbangkan baik-baik. Kalau kau mengenal kebaikan penduduk Kota Waringin, lekas kau serahkan wasiat itu. Kalau membandel, sekalian penduduk di sini akan kuludaskan sampai kebayi-bayinya. Kau dengar kata-kataku ini?"
"Hm, iblis!" Maki Sorohpati. "Jangan bermimpi aku bisa kau gertak demikian."
'"Baik. Aku sudah memberi peringatan. Ingin aku lihat, apakah kau bisa melindungi penduduk atau tidak," ancam Kartapati.
"Tahan!" bentak Sorohpati dengan bergusar. "Untuk memperebutkan suatu wasiat, seorang laki-laki boleh mati tanpa liang kubur. Tapi janganlah menyeret-nyeret orang yang tidak berdosa."
"Bagus. Itulah namanya laki-laki jempolan." puji Dadang Kartapati.
"Aku Sorohpati. Aku mati atau hidup seorang diri. Kalian boleh memusuhi aku, boleh mencincang, boleh merajang diriku tapi jangan mengganggu penduduk yang tak berdosa."
"Bagus, bagus, bagus! Nah, serahkan wasiat itu. Bukankah suatu jual beli yang adil?"
"Kau memang bangsat!" teriak Sorohpati. "Kau menghendaki wasiat itu? Baik akan kuserahkan, tapi setelah kita melalui suatu perkelahian secara laki-laki. Begini saja. Nanti malam aku datang menemui kalian. Dimanakah pesanggrahan kalian?"
Dadang Kartapati diam menimbang-nimbang. Mengingat kegesitannya pastilah Sorohpati bisa meloloskan diri dari kepungannya. Kalau sudah lolos, biarpun membunuhi penduduk tiada guna. Maka ia lalu memutuskan: "Baik. Kami tunggu kedatanganmu di tepi Serayu dua puluh kilometer dari sini. Kau akan lihat tanda lima pelita di atas rumpun bambu. Sebaliknya kalau kau kabur, mampusnya seluruh penduduk Kota Waringin adalah tanggung jawabmu. Nah, ingin kulihat sampai di mana termasyurmu sebagai pendekar pelindung rakyat."
Sorohpati mengangguk. "Harga mulut laki-laki melebihi harga sebuah kota. Satu bilang satu. Dua bilang dua. Aku pun ingin pula membuktikan, apakah kau pantas menerima wasiat ini. Sampai bertemu." Setelah berkata demikian, ia melesat ke udara. Dengan berjungkir balik ia turun ke tanah dan pergi dengan cepat. Sebentar saja bayangannya tiada nampak.
"Hai, sekalian penduduk!" teriak Dadang Kartapati nyaring. "Kalian telah mendengar sendiri. Mulai saat ini, kalian kularang meninggalkan kota meskipun satu langkah pun. Siapa yang melanggar, aku bisa menggunakan kekuatan Kompeni untuk membasmi seluruh kota ini. Kalian dengar?" Ia berhenti menunggu kesan. Sesudah mendengar sahutan tak jelas, ia meneruskan: "Serombongan berandal telah merampas harta negara. Dalam pengejaran, kami menjumpai manusia
tadi. Dialah musuh negara. Karena itu, wajib kami berantas. Kalian dengar? Dengan kurang ajar ia membuat kalian menjadi jaminannya. Doakan semoga kami dapat mengambil nyawanya pada malam hari nanti."
Sudah barang tentu keterangannya berputar balik. Betapa seorang tolol pun akan segera mengetahui kelicikan Dadang Kartapati. Namun mereka tak berani membuka mulut.
Dadang Kartapati—meskipun tidak segolongan dengan Kartawirya—namun satu tujuan. Seperti diketahui pendekar Watu Gunung parnah mendaki Gunung Damar menemui Kyai Kasan Kesambi untuk minta keterangan tentang pusaka Bende Mataram. Karena segan terhadap orang tua itu, ia membatalkan niatnya. Tetapi setelah memperoleh laporan tentang sepak terjang Sangaji di Gunung Cibugis mengalahkan semua pendekar Jawa Barat, ia jadi panas hati. Angan-angannya hendak memiliki pusaka sakti itu, tergugah kembali, la lantas memerintahkan puluhan anak muridnya untuk menguntit Sangaji pulang ke Jawa Tengah. Sadar, bahwa Sangaji tidak boleh dibuat gegabah, mereka sengaja menyamar sebagai pasukan Kompeni. Kartawirya tahu akan hal itu. Tapi ia sengaja membiarkan diri. Dalam hatinya ia hendak menunggu-kesempatan yang baik. Apabila Bende Mataram benar-benar sudah berada di tangan Dadang Kartapati barulah ia bertindak dengan menggunakan kedudukannya sebagai serdadu Kompeni. Dengan begitu benarlah kata-kata Ki Hajar Karangpandan dahulu, bahwa untuk memperebutkan pusaka sakti itu entah sudah berapa banyak nyawa para pendekar mati tiada liang kuburnya. (Baca kembali Bende Mataram)
Malam itu cepat saja datangnya. Di tengah-tengah Kali Serayu bergeraklah sebuah rakit. Penumpangnya berjumlah tujuh orang. Empat orang mengayuh galah dan yang tiga berdiri tegak dengan penglihatan mengarah ke barat.
Yang berdiri di depan seorang laki-laki tegap agak tipis perawakannya. Usianya sudah melampaui setengah abad. Dialah Sorohpati. Yang kedua: seorang laki-laki pula berperawakan tinggi besar dan kekar. Usianya kurang lebih tiga puluh empat tahun. Kulitnya hitam lekam bermata tajam. Dia berdiri di sebelah kanan Sorohpati, namanya: Gandarpati, murid Sorohpati. Sebenarnya nama kecilnya berbunyi Sariman. Tapi semenjak berguru kepada Sorohpati ia menyematkan nama Gandarpati. Artinya bersedia mati untuk suatu tujuan tertentu.
Yang berdiri disebelah kiri Sorohpati seorang gadis kecil kira-kira dua belas tahun. Perawakan gadis ini kecil ramping. Alisnya lentik, matanya hidup, parasnya cantik. Ia memiliki potongan wajah puteri Jawa Barat. Penuh gairah dan kemauan hidup.
Ketiga-tiganya memandang jauh ke barat dengan berdiam diri. Tiada seorang pun yang mencoba memulai memecahkan kesunyian malam dengan membuka mulut. Waktu itu musim panen. Udara penuh dengan angin tajam. Kadang-kadang meniup rendah menebarkan hawa udara yang panas. Pakaian mereka berkibar-kibar tertiup angin, sehingga pedang mereka yang tergantung pada pinggangnya masing-masing nampak menjadi jelas.
Tiba-tiba Sorohpati mendongak merenungi langit.
Lama ia berdiam diri. Kemudian berkata setengah berbisik!
"Esok hari, matahari akan muncul ke langit seperti semenjak zaman Nabi Adam. Anakku, kau bergembiralah!"
Mendengar ucapan Sorohpati, Gandarpati menundukkan kepala. Ia nampak berduka. Sebagai seorang dewasa, tahulah dia apa maksud ucapan gurunya itu. Ingin ia membuka mulut, tetapi Sorohpati mendahului berkata lagi: "Dunia ini ibarat sebuah kandang yang sudah bobrok, usang dan menjemukan. Tetapi yang harus kita masuki dan kita lalui. Anakku, kau mengerti maksudku ini? Ah, anakku usiamu masih sangat muda. Tetapi malam ini sengaja kau kuajak serta agar dapat menyaksikan, bahwa aku tidak akan membiarkan siapa saja menghina kita."
Berbareng dengan ucapannya yang terakhir, gadis kecil itu menghunus pedangnya. Dibolang-balingkan pedang itu dan dibabatkan ke udara beberapa kali sehingga jadi berkilauan. Katanya ketus: "Siapa berani menghina ayahku, dia akan kutikam dengan pedang ini."
Sorohpati memutar pandang. Ia menatap wajah gadis itu dengan penuh kasih. Kulit mukanya yang sudah kisut membersitkan cahaya terang. Katanya dengan berbisik, "Astika! Sewaktu berangkat dari rumah bukankah aku sudah berpesan kepadamu agar jangan memedulikan semua dan apa yang bakal terjadi? Sekarang kuulangi lagi dan kuharap dengan sangat agar kau mematuhi pesanku itu."
Gadis kecil yang dipanggil Astika itu memangut kecil. Dengan perlahan-lahan ia menyarungkan pedangnya.
"Ayah, aku berjanji akan patuh terhadap setiap katamu. Hanya saja mereka...."
Tiba-tiba wajah Sorohpati nampak angker. Memotong dengan keras: "Sudah! Jangan berbicara lagi!"
Astika tidak puas. Mulutnya bergerak-gerak hendak meledakkan isi hatinya. Tapi tatkala itu Gandarpati lantas berkata menyabarkan: "Astika, adikku. Kali ini engkau harus mendengarkan pesan ayahmu. Di dalam satu malam ini, janganlah engkau menarik pedangmu. Sewaktu hendak berangkat, engkau sudah berjanji akan patuh, bukan?"
Astika melototi. Menungkas: "Aku tak boleh menarik pedang. Kalau engkau bagaimana? "
Gandarpati membuang pandang kepada Sorohpati. Ia tidak menjawab. Dan melihat sikap Gandarpati yang menganggap dirinya sebagai anak belum pandai beringus, membuat hatinya menjadi panas. Dengan mata menyala, ia tiba-tiba berkata setengah menangis kepada Sorohpati: "Ayah! Aku ikut engkau mati!"
Setelah berkata demikian, ia menubruk dan memeluk tubuh Sorohpati. Lalu menangis sedu-sedan dengan hati pedih. Mau tak mau air mata Sorohpati melompat keluar. Ia memeluk puterinya dengan sebelah tangan, sedang tangan yang lain mengusap-usap rambutnya yang bagus. Ia berduka tetapi ia memperdengarkan tertawanya. Walaupun demikian, masih saja terdengar kesedihan dan kepiluan hatinya.
Mendengar tertawa ayahnya, perlahan-lahan Astika mengangkat kepalanya. Semenjak beberapa hari ini, belum pernah ia mendengar suara tertawa ayahnya. Itulah sebabnya begitu mendengar tertawa itu hatinya timbul suatu harapan. Terus berkata dengan penuh semangat. "Perjalanan ini tiada bahayanya, bukan?"
"Tidak," sahut Sorohpati dengan tertawa. "Siapakah yang bilang ada bahayanya."
Astika jadi girang. Seketika itu juga, tangisnya lenyap dari pendengaran. Katanya ringan, "Kalau begitu, berjanjilah Ayah kepadaku."
"Berjanji bagaimana?" tanya ayahnya.
"Ayah mau berjanji tidak? Kalau mau berjanji, aku akan patuh. Patuh sekali!"
Sorohpati menatap wajah Astika dengan alis terbangun. Melihat paras Astika tak terasa orang tua itu menghela napas. Teringatlah dia kepada suatu wajah yang mengharukan hatinya. Itulah wajah ibu Astika yang gugur dengan kecewa. Dan teringat akan wajah itu, lantas saja ia berkata menyahut: "Astika, kau berkatalah. Aku harus berjanji bagaimana?"
Astika menatap wajah Sorohpati. "Ayah harus berjanji, bahwa Ayah tidak bakal mati dalam perjalanan ini?"
Mendadak saja seluruh tubuh Sorohpati bergidik. Pelukannya pun terlepas dengan tak dikehendaki sendiri. Dengan pilu ia menatap wajah Astika. Sejenak kemudian, matanya berkilat-kilat. Katanya di dalam hati: "Ah, anakku. Masakan kau tak tahu, bahwa perjalanan ini merupakan perjalananku terakhir? Ah, baiklah kubuka saja riwayat hidupnya agar semuanya jadi jelas."
Dengan keputusan itu, hati Sorohpati menjadi tetap. Lalu berkata dengan sungguh-sungguh. "Astika, tahukah engkau bahwa perjalanan ini sebenarnya perkara perebutan sebuah wasiat yang tiada ternilai dalam hidup ini. Inilah suatu rahasia yang hendak kubeberkan kepadamu. Malam ini. Saat ini juga."
"Suatu rahasia? Rahasia apakah itu?" Astika terbelalak.
"Dengarkan, anakku." Sorohpati mulai. "Dahulu hari— semasa mudaku—aku ikut menghamba kepada Adipati Surengpati yang memerintah Pulau Karimun Jawa.
Adipati Surengpati mempunyai seorang puteri yang sangat disayanginya. Namanya, Titisari. Pada dewasanya Titisari kawin dengan pendekar besar, Sangaji. Tatkala Titisari melarikan diri dari Pulau Karimun Jawa aku diperintahkan untuk mencarinya. Aku jadi merantau tak keruan tujuanku."
"Cantikkah Titisari puteri Adipati Surengpati itu?" potong Astika tiba-tiba.
Sorohpati tertegun. Sama sekali tak diduganya, bahwa Astika akan memotong dengan pertanyaan demikian. Sadar bahwa gadis itu masih berbau kanak-kanak, maka segera ia menjawab: " Tentu saja cantik. Secantik engkau, anakku."
Mendengar jawaban ayahnya, wajah Astika menjadi merah. Namun hatinya girang. Ya, gadis manakah di dunia ini yang tidak senang mendengar pujian demikian. Namun perempuan bukan perempuan kalau tidak dapat bermain sandiwara. Maka katanya manja.
"Ah, Ayah bisa saja... Masakan aku secantik Titisari?"
"Hm, hm, apakah kau kira dirimu tidak cantikl?" sahut Sorohpati menyenangkan hatinya.
Memang Astika seorang gadis yang cantik penuh gairah. Tujuh tahun lagi, pastilah dia akan tumbuh menjadi seorang gadis berdarah panas. Tetapi apabila dibandingkan dengan kecantikan Titisari sebenarnya masih kalah. Sebab selain cantik jelita, Titisari memiliki kecerdasan luar biasa yang tak dapat ditandingi siapa saja. Inilah suatu kecantikan yang sempurna. Perpaduan antara kejelitaan dan kecerdasan otak yang jarang terdapat dalam sejarah manusia.
"Dalam perantauanku, aku berkenalan dengan sepasang suami-isteri Suhanda dan Rostika, namanya. Mereka sepasang pendekar. Himpunan Sangkuriang di Jawa Barat. Mereka mempunyai seorang anak perempuan mungil dan meresapkan hati. Dialah engkau anakku."
"Apa?" Astika setengah memekik. Gadis ini seperti tak percaya kepada pendengarannya sendiri.
Sorohpati menatapnya sambil menguatkan hatinya. Berkata sabar dan sungguh-sungguh. "Sekian tahun lamanya aku hidup berkumpul dengan engkau... Apakah engkau menyesal?"
"Menyesal? Tidak!" Astika jadi terheran-heran.
"Sayangkah engkau kepadaku?"
"Tentu saja. Engkau adalah ayahku! Tapi Ayah tadi berkata apa?"
"Anakku," kata Sorohpati. "Sebenarnya engkau bukan anakku. Engkaulah anak sahabatku Suhanda dan Rostika yang mati dengan sangat kecewa10).
Sekonyong-konyong dikejauhan terdengar suara menggelegar. Angin meniup sangat tajam. Tak lama kemudian tersusullah rintikan hujan. Inilah yang dinamakan penduduk hujan kiriman. Artinya hujan tiba pada musim tak semestinya. Dan kena ditiup angin tajam rakit yang berada di tengah Kali Serayu hampir berputar separoh. Buru-buru ke empat pengayuhnya menguasai rakitnya dengan mati-matian.
Hati Astika pun menggelegar pula mendengar ucapan Sorohpati. Ia berdiri tergugu dan tertegun. Tubuhnya bergemetaran. Pikirannya tepat pada saat itu juga. la tak memedulikan suara guntur, rintik hujan, angin tajam dan rakitnya yang hampir kena diputar deras arus sungai.
"Ayah! Kau sedang bergurau, bukan? Kau bergurau bukan?"
"Tidak, anakku. Tidak!" sahut Sorohpati dengan menggelengkan kepala. Berkata meneruskan dengan menguatkan hati. "Aku tidak bergurau. Kau anak sahabatku Suhanda dan Rostika. Rostika dibunuh gurunya yang ganas seperti iblis, karena kawin dengan ayahmu. Karena kematian ibumu, ayahmu terganggu kewarasan akalnya. Dia pun meninggal dengan sangat kecewa di lereng Gunung Cibugis."
Wajah Astika menjadi pucat lesi. Seluruh tubuhnya mendadak saja terasa dingin. Hebat penderitaannya. Hatinya terpukul dengan tiba-tiba. Sorohpati mengetahui belaka kegoncangan Astika. Namun ia harus membeber rahasia riwayat hidup gadis itu dengan jelas daripada
membawanya ke liang kubur. Seolah-olah tidak menghiraukan kegoncangan hati gadis itu, ia berkata meneruskan: "Mula-mula engkau dirawat seorang pemuda. Manik Angkeran, namanya. Dialah sesungguhnya kakakmu."
"Kakakku?" Astika berguman.
Sorohpati mengangguk. Menguatkan, "Ya, kekakmu. Dia ikut merantau sampai ke Jawa Barat. Di sana ia belajar menjadi tabib kepada seorang tabib sakti bernama Maulana Ibrahim. Setelah itu ia mengikuti pendekar besar Sangaji mendaki Gunung Cibugis. Kemudian.... Ia menyerahkan engkau kepada pendekar Sangaji yang baru saja kawin dengan Titisari. Karena mereka berdua belum berpengalaman merawat kanak-kanak, kau diserahkan kepadaku. Aku tertarik kepada kemungilanmu selain pula teringat kepada ayah bundamu. Aku menyanggupi, tetapi aku pun mohon agar anakku diterima menjadi murid. Pendekar Sangaji dan Titisari menerima permohonanku. Dan begitulah, engkau kubawa pulang ke rumahku, Astika, atau Atika anakku... Karena itu, aku mempunyai pesan. Apabila pada suatu kali engkau menemukan suatu kesukaran, carilah Manik Angkeran. Dia tak beda dengan kakak kandungmu, ayah bundamu dan diriku sendiri."
"Ayah! Mengapa Ayah berkata begitu? Bukankah Ayah sudah berjanji tidak bakal mati dalam perjalanan ini?" tungkas Astika.
"Bukankah tiap orang bakal mati?" bentak Sorohpati. "Masakan aku akan dapat menungguimu selama-lamanya?" Ia berhenti mengesankan. Tapi setelah membentak demikian, timbullah rasa sesalnya. Bukankah
gadis itu seorang yatim piatu dan hidup sebatang kara? Teringat akan perjalanan yang terakhir ini, hatinya jadi terharu. Dengan menggapai tangan Gandarpati, ia berkata: "Gandarpati, engkau adalah muridku. Selama engkau kuasuh dan kudidik, pernahkah aku minta sesuatu kepadamu?"
"Tidak pernah," jawab Gandarpati cepat.
"Sekarang perkenankan aku memohon sesuatu kepadamu."
"Mengapa memohon?" Gandarpati terkejut. "Berilah kami perintah dan kami akan melakukan meskipun harus menerjang lautan golok."
"Hm, hm. Jangan banyak menggunakan adat usang dengan kata-kata merendahkan diri. Apa itu kami, kami, kami...." kata Sorohpati galak. "Sekarang dengarkan permohonanku. Pertama, engkau harus mengawasi Astika seperti bagian hidupmu sendiri. Sanggupkah engkau?"
"Tentu!" jawab Gandarpati sungguh-sungguh.
"Bagus. Yang kedua, apa yang bakal terjadi nanti, kau tak boleh menarik pedangmu. Kau bawalah adikmu ini, menyeberang ke Karimun Jawa dan kau sendiri, larilah mencari perlindungan ke Gunung Damar. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Setelah engkau benar-benar berkepandaian tinggi, barulah aku mengijinkan engkau merantau menuruti suara hatimu. Kau berjanji?"
Dengan membungkuk hormat, Gandarpati menyatakan janjinya. Dan mendengar janji itu, hati Sorohpati lega. la berputar kepada Astika. 'Sekarang dengarkan sebuah pesanku lagi, anakku. Malam ini aku harus menghadapi
gerombolan manusia yang berangan-angan besar.
Mereka ingin memiliki pusaka Bende Mataram. Aku sendiri belum pernah melihat bentuk pusaka Bende Mataram. Menurut kabar, Bende itu memuat kumpulan guratan rahasia ilmu sakti dan entah apalagi. Di dunia ini, hanya seorang belaka yang hafal guratannya. Dialah junjunganku, Titisari yang mempunyai daya ingatan luar biasa. Kabarnya sewaktu menolong menyembuhkan luka pendekar besar Sangaji, Titisari diam-diam menghafalkan di luar kepala. Kemudian dicatat dan wasiat itu dititipkan kepadaku untuk disimpan. Sekarang, gerombolan manusia itu hendak mencoba merebutnya. Masakan aku gampang menyerahkan wasiat itu? Meskipun badanku bakal dirajang, dicincang atau disiksanya dengan cara apa saja, tak bakal aku menyerah kalah. Karena itu demi wasiat itu—aku tak mengijinkan engkau menarik pedang. Apa saja yang bakal terjadi, simpanlah di dalam ingatanmu. Kemudian hari akan besar gunanya. Kau dengar pesanku ini?"
Dengan air mata bercucuran, Astika mengangguk. Hatinya bergoncangan tak keruan. Ingin ia menyatakan perasaannya, tiba-tiba di sebelah barat nampak lima cahaya diketinggian.
"Ha, itulah sarang gerombolan manusia iblis," kata Sorohpati. "Gandarpati, ingat-ingatlah pesanku."
Dengan suatu isyarat, Sorohpati memberi perintah agar rakit menepi dengan perlahan-lahan. Selama hidupnya baru untuk pertama kali itu, Astika menghadapi sesuatu yang menegangkan hatinya. Tanpa merasa ia menghunus pedangnya. Dan melihat kegopohan Astika, Sorohpati tertawa perlahan.
"Astika, bukankah aku sudah berpesan kepadamu agar kau jangan menghunus pedangmu? Mengapa engkau lupa?"
Astika menoleh.
"Ayah!" katanya gopoh. "Ayah, eh.... Aku harus menyebutmu bagaimana? Ah, lebih baik aku tetap menyebutmu sebagai Ayah. Ayah, apa sebab engkau memasuki sarang iblis itu?"
"Aku sudah berjanji, anakku," sahut Sorohpati meyakinkan. "Harga ucapan laki-laki seharga sebuah kota. Lagipula apabila malam ini aku tak menepati janji, mereka akan membasmi penduduk Kota Waringin. Sampaikah hatimu menyaksikan mereka mencelakai penduduk yang tak tahu-menahu demi kepentingan diriku sendiri?"
Astika menggigit bibirnya. Hatinya masgul bercampur dengki. Setengah mengutuk. "Alangkah jahatnya! Tapi Ayah pasti selamat, bukan?"
Sorohpati menghela napas. Kemudian berkata perlahan: "Kalau hanya menghadapi mereka ayahmu tak kurang suatu apa. Yang kutakuti, apabila dibelakang mereka bersembunyi seorang tokoh Gunung Mandalagiri yang disegani di Jawa Barat."
"Siapakah dia?" Astika kaget.
"Watu Gunung. Dialah pendekar sakti anak murid Resi Budha Wisnu. Pada zaman mudanya, Ratu Bagus Boang yang menguasai daerah Jawa Barat merasa kuwalahan. Apalagi aku." ujar Sorohpati. "Dia pernah mendaki Gunung Damar untuk mencoba mendengar-dengar kabar tentang pusaka sakti Bende Mataram. Tetapi karena
segan terhadap Kyai Kasan Kesambi, tak berani ia mengumbar adat. Karena itu anakku, selain engkau harus mencari Adipati Surengpati untuk melindungimu, ingat-ingatlah dua nama lagi. Yang satu Wirapati, murid Kyai Kasan Kesambi dan guru pendekar besar Sangaji. Yang kedua, Demang Sigaluh: Jaga Saradenta. Dia pun guru pendekar besar Sangaji. Dari mereka berdua engkau bakal memperoleh petunjuk-petunjuk yang tulus ikhlas dan dapat dipercayai...."
Astika mendengar pesan Sorohpati dengan berdiam diri. Pikirannya terbenam dalam. Ia baru sadar, tatkala mendengar suara keras melengking dalam pendengarannya. Tatkala menajamkan penglihatan, ditepi sungai sudah berjajar beberapa belas orang bersenjata lengkap. Seorang di antara mereka menyerukan selamat datang kepada ayahnya.
Hm, benar.... Mereka hanya sebangsa kurcaci yang tiada harganya untuk diperhatikan, pikir Astika di dalam hati. Hanya siapakah Watu Gunung itu? Ayah nampaknya takut kepadanya.
Rakit yang ditumpangi sudah menepi. Suara berisik orang-orang ditepi sungai membangunkan semangat tempur dalam diri Astika. Namun teringat akan nama Watu Gunung, hatinya gelisah, ia berkata minta keyakinan kepada ayahnya.
"Ayah! Sanggupkah engkau melawan orang yang bernama Watu Gunung?"
Sorohpati tercengang mendengar pertanyaannya. Menjawab tak tegas. "Kau camkan saja pesanku tadi ke dalam hati sanubarimu! Adipati Surengpati, Wirapati, Demang Jaga Saradenta... mereka bertiga adalah
pelindungmu. Sebenarnya leoih tenteram hatiku kalau kau mampu mencari pendekar Sangaji dan Titisari.
Tetapi di mana mereka berdua berada, aku sendiri kurang terang.
Astika mengangguk. Hatinya pedih dan air matanya berlinangan. Tak berani ia membuka mulut lagi. Sementara itu, Sorohpati berpesan cepat pula kepada Gandarpati.
"Kau pun tak usah menghunus pedangmu. Kau mengerti maksudku?"
Gandarpati memanggut dengan muka penuh prihatin. Kemudian menyahut, "Guru, kau berpesan apalagi?"
Sorohpati tidak berkata lagi. la memusatkan seluruh perhatiannya ke tepi sungai. Berkata berbisik kepada mereka berdua. "Empat langkah di depanmu adalah musuh. Janganlah kita perlihatkan kelesuan semangat tempur kita... Bangun!"
Sesudah berkata demikian, ia berpikir di dalam hati, malam ini aku masuki sarang mereka. Entah jebakan apa yang sedang mereka siapkan. Pendeknya sembilan bagian, aku pasti mati. Oleh karena itu, mengapa aku tidak mempertontonkan kepandaianku kepada mereka? Seumpama aku nanti binasa, namaku akan tetap disebut-sebut.
Memperoleh pikiran demikian, ia berkata nyaring:
"Hai, sahabat! Kami biasa hidup di dekat air. Untuk mendarat ke tepi sungai apa perlu pakai upacara segala. Papan-papan penyambut itu biarlah kalian singkirkan saja."
Gandarpati mengerti maksud gurunya. Lantas saja ia membungkuk seraya berkata: "Guru, biarlah aku berangkat dahulu."
Begitu selesai berbicara dengan menjejak rakit, ia terbang berjungkir balik ke udara dan mendarat dengan gerakan yang manis sekali.
"Bagus!" seru rombongan penyambut dengan kagum.
Sekarang Astika hendak pula memamerkan kesanggupannya. Tetapi ia baru beberapa tahun saja belajar ilmu kepada Sorohpati. Kesanggupannya tidaklah sebesar kakak seperguruannya. Namun hatinya keras dan tak sudi mengalah terhadap siapa saja. Dengan menguatkan hati, ia menjejak rakit yang jadi bergoyangan. Tubuhnya terbang ke udara. Ia jadi terkejut tatkala tubuhnya terasa turun sebelum dikehendaki. Pastilah akan tercebur di dalam sungai atau paling tidak bakal terbanting di atas tebing.
Sorohpati mengerti kesulitan anak angkatnya. Ia membarengi melompat ke udara. Di dekat Astika, ia berbisik: "Pegang kakiku!"
Mendengar bisik ayahnya, Astika lantas menjambret kaki Sorohpati yang sengaja diulurkan. Begitu kakinya kena raba, Sorohpati mengebaskan tangannya. Dan seperti burung elang menggondol mangsanya, ia membawa Astika mendarat jauh melewati tebing dengan selamat.
"Bagus!" Orang-orang kembali memuji dengan kagum.
Sorohpati tidak mengindahkan suara pujian itu. Cepat ia menjelajahkan pandangannya; la sudah menduga, tapi tak urung heran juga. Ternyata mereka yang datang
menyambut bukan mengenakan pakaian seragam. Tetapi berseragam pakaian hitam polos. Inilah tadi rombongan berkuda yang menginjak-injak tubuh pegawai toko "Terang Bulan" dengan kejamnya.
Seorang laki-laki berperawakan tinggi jangkung berseru nyaring. "Kawan-kawan, lihatlah! Si orang tua sedang mengumbar kebisaannya."
Setelah berseru demikian, ia menghampiri Sorohpati dan mengulurkan tangan mengajak bersalaman. Tetapi Sorohpati mengibaskan tangannya. Kena kibasan tangannya, orang itu mundur sempoyongan. Buru-buru dia berkata hormat: "Maaf, maaf. Aku bernama Yusuf. Dengan ini aku diperintahkan ketua kami untuk menyambut kedatanganmu."
"Tak usah banyak beradat," potong Sorohpati tegas. "Di mana ketuamu kini berada? Tolong, tunjukkan!"
"Mari, Tuan kami antarkan," sahut Yusuf dengan takzim.
Senang hati Astika menyaksikan, betapa ayahnya menghajarnya. "Hei, apakah kau tidak menyebut ayahku
dengan si orang tua lagi? Ha ha.... kau ini bangsa kurcaci
mengapa banyak berlagak? Ayahku sudah menjagoi sekitar wilayah Kota Waringin semenjak belasan tahun yang lalu. Tiada yang mampu menandingi. Apalagi tampangmu."
Merah padam muka Yusuf mendengar ucapan Astika. Selagi hendak membalas menyemprot, terdengar Sorohpati berkata kepada Astika.
"Janganlah bergurau tiada gunanya. Mari!"
Yusuf melototi Astika. Kemudian berputar dan berjalan mendahului untuk memimpin tetamu yang diharapkan ketuanya. Meskipun mendongkol, ia harus bisa menguasai diri.
Disepanjang jalan, Astika melihat beberapa orang bersenjata bergerombol-gerombol. Mereka bersiaga penuh seperti lagu menghadapi serangan musuh. Tetapi ayahnya tidak memedulikan mereka. Dengan mengangkat muka ia Derjalan tenang-tenang.
Tak lama kemudian sampailah mereka pada suatu lembah yang diapit dua gundukan tanah. Sebuah perkemahan besar nampak berdiri tegak menjulang udara. Melihat mereka datang, seseorang datang menyambut. "Ha, benar-benar jempolan. Aku kagum! Mari, mari."
Dialah Kartawirya yang membawa lagaknya ksatria, la mendahului berjalan memasuki perkemahan. Dan membawa Sorohpati menghadapi Dadang Kartapati.
"Sorohpati, terimalah hormatku!" kata Dadang Kartapati menyambut.
Sorohpati mengelanakan pandangnya. Hatinya tercekat, tatkala melihat seseorang yang berberewok tebal. Orang itu duduk di atas kursi menghadapi sebatang tongkat panjang dan sebilah pedang. Cepat Sorohpati mengingat-ingat ciri-ciri orang itu. Pikirnya di dalam hati, ah... bukankah dia yang di sebut Brajabirawa? Dia tersohor kelicikannya. Berhadapan dengan dia aku harus berhati-hati."
Brajabirawa dahulu tidak ikut rombongan Gunung Mandalagiri mendaki Gunung Cibugis dalam pembasmian
Himpunan Sangkuriang. Karena itu, dia masih membawa lagaknya. Tatkala mendengar kabar kekalahan rekan-rekan seperguruannya, dengan menggerung ia bersumpah hendak mengejar Sangaji di mana dia berada. Gurunya—Watu Gunung, menasihati, agar terlebih dahulu merampas pusaka saktinya, la mendengarkan nasehat itu. Dan malam itu ia berada di antara rombongannya.
"Selamat datang!" Ia menyambut dengan suara menggelegar.
"Aku Sorohpati, pekerjaanku tukang jual goreng pisang di sebuah kota kecil Kota Waringin. Malam ini aku memperoleh penghargaan untuk datang menemui Tuan. Sungguh pertemuan yang membanggakan," sahut Sorohpati dengan membungkuk hormat.
"Aha, tak kusangka bahwa pendekar di Jawa Tengah ini bersopan santun tebal," tungkas Brajabirawa dengan tertawa berkakakkan.
"Perkenalkan pula, inilah muridku Gandarpati dan anakku Astika." Sorohpati tak menghiraukan tertawanya. "Kami bertiga datang kemari untuk menemui pendekar besar Watu Gunung. Dapatkah kami berjumpa?"
Brajabirawa tertawa mendongak. Menyahut, "Memang benar, guruku Watu Gunung berada di sini. Tapi mengapa buru-buru? Marilah kita minum teh dahulu. Aku tanggung sebentar lagi Beliau akan menemui kalian."
Hati Sorohpati tercekat. Benar saja, Watu Gunung berada di antara mereka. Inilah berarti, bahwa jiwanya sukar ditolong lagi. Justru demikian, hatinya menjadi
tenang luar biasa, la mengangguk pendek dan duduk di atas kursi yang sudah disediakan.
Astika yang berada disampingnya mengamat-amati wajah Brajabirawa. Orang itu berperawakan tinggi besar. Alisnya tebal. Brewoknya lebat dan berkumis jembros. Meskipun nampak gagah, raut mukanya tidak begitu angker. Itu disebabkan matanya yang terlalu kecil, sehingga mirip seekor tikus mengintip dari balik dinding bambu. Diam-diam ia tertawa geli di dalam hati, apa sebab Tuhan menciptakan potongan manusia semacam dia. Pikirnya jahil, ia lebih mirip seorang badut daripada seorang pendekar yang diagul-agulkan.
"Aku datang semata-mata untuk menemui pendekar Watu Gunung," kata Sorohpati di atas kursinya. "Kalau dia tidak sudi menemui aku, nah, kami bertiga akan segera berangkat pulang." Setelah berkata demikian, ia berdiri dan memutar tubuh hendak berjalan.
Brajabirawa tertawa berkakakan. Berkata nyaring, "Sorohpati! Kau mempunyai keberanian untuk datang kemari. Maka mustahil, apabila tidak berani pula minum teh bersama aku."
Sorohpati mengembarakan matanya. Ruang perkemahan ternyata sudah terkepung rapat. Kartawirya dan Dadang Kartapati nampak meraba senjatanya, bersiaga untuk bertempur. Mereka mengawaskan dirinya dengan pandang tajam. Menyaksikan hal itu, mau tak mau Sorohpati berpikir keras demi keselamatan muridnya dan Astika. Selagi memeras otak, tiba-tiba Astika yang masih membawa lagak kekanak-kanakan berkata keras.
"Hai! Berandal tak tahu adat, masakan kami gentar menghadapi kalian? Coba ingin kulihat, apakah kau
mempunyai keberanian pula meneguk air tehmu dihadapan kami?"
Lagi-lagi Brajabirawa tertawa berkakakan. Serentak ia berdiri dan membungkuk hormat kepada Astika. Katanya nyaring, "Nona kecil, terimalah hormatku. Kau benar-benar berhati polos." Kemudian memutar pandang kepada pelayannya. "Hai, mana tehnya?"
Sorohpati mengangkat kedua tangannya seraya berkata menyanggah. "Tak usah. Kalau kau mau berbicara, bicaralah!"
"Oho, aku. Aku mau berbicara perkara apa?" tungkas Brajabirawa dengan suara licik. "Aku hanya ingin minta keterangan kepadamu, dimanakah surat wasiat puteri Adipati Surengpati? Nah, kau dengar bahwa kami tidak menginginkan pusaka Bende Mataram."
Mendongkol hati Sorohpati mendengar kelicikan orang. Astika yang beradat panas sampai mau mengumbar mulutnya. Ia tadi sudah memperoleh keterangan tentang surat wasiat Titisari. Itulah guratan ilmu sakti Bende Mataram yang sudah dihafalkan diluar kepala. Meskipun Brajabirawa tidak menghendaki pusaka Bende Mataram, pada hakekatnya bukankah setali tiga uang? Hanya saja dia heran, darimanakah orang itu mengetahui rahasia tersebut?
Dalam pada itu diam-diam Sorohpati melirik kepada Gandarpati. Murid berkulit hitam itu pun melirik kepada gurunya. Dua-duanya berubah parasnya. Sorohpati lantas berlagak pilon.
"Kau menyinggung-nyinggung tentang pusaka Bende Mataram. Benar-benar aku tak mengerti."
Brajabirawa tertawa terbahak-bahak. Sahutnya, "baiklah kujelaskan agar kau tidak penasaran. Bukankah engkau mempunyai seorang anak laki-laki bernama Manik Angkeran? Nah, dari mulutnya kami memperoleh berita."
"Bohong!" bentak Sorohpati dengan gusar.
Kiranya semuanya itu adalah tipu-muslihat Titisari di luar pengertian Sorohpati sendiri. Seperti diketahui, setelah kawin Sangaji kembali ke Jawa Barat dengan Titisari. Di sana ia menghimpun suatu kesatuan perjuangan melawan Kompeni Belanda. Karena anggota-anggotanya terdiri dari berbagai golongan, Titisari yang cermat dan cerdas luar biasa diam-diam mengadakan suatu penyaringan. Sengaja ia menguarkan berita desas-desus tentang pusaka sakti itu. Siapa yang berangan-angan besar, pasti akan mengubernya ke Jawa Tengah. Dengan begitu akan diketahui, siapa kawan perjuangan yang sunguh-sungguh dan yang berpura-pura. Ternyata Watu Gunung kena jaring jebakannya. Dengan sekalian anak muridnya ia memburu ke Jawa Tengah. Sekarang diketahui dengan jelas, bahwa Watu Gunung lebih mengutamakan kepentingan pribadinya daripada perjuangan mengusir Kompeni Belanda dari bumi Nusantara. Titisari lantas membunyikan tanda bahaya ke seluruh wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.
"Kau tak percaya, itulah urusanmu sendiri," Kata Brajabirawa. "Tapi kami berada di sini, itulah suatu bukti."
"Hm," dengus Sorohpati. "Coba kau suruh Watu Gunung keluar menemui aku. Aku akan berbicara dengan dia."
"Itu gampang. Mengapa buru-buru?" kata Brajabirawa tertawa lebar. Ia lantas bertepuk tangan dan terdengarlah suara berisik sekali di luar tenda perkemahan. Itulah suatu tanda, bahwa tenda perkemahan telah terkepung rapat. Meskipun demikian, air muka Sorohpati tidak berubah sedikit pun juga. Dengan nyaring ia berkata: "Aku dan kamu sekalian, selama hidup belum pernah berhubungan ibarat air laut dan air telaga.
"Sekarang kau mau apa? Bilanglah!"
"Sorohpati!" kata Brajabirawa. "Meskipun kau terkenal sebagai seorang ahli pedang semenjak belasan tahun yang lalu, tapi malam ini kau telah terkurung rapat. Aku khawatirkan bahwa pedangmu tidak dapat membantu meloloskan dirimu. Bukankah sayang? Hi haaa................"
Mendengar perkataan Brajabirawa, wajah Sorohpati berubah hebat. Serunya, "Bagus! Jadi kau memaksa aku untuk bertempur?"
"Bukan begitu. Asal saja kau serahkan wasiat puteri Adipati Surengpati kepadaku, semua urusan kubuat selesai. Nah, bukankah aku bertindak adil?"
"Jahanam! Kau bermimpi," teriak Sorohpati sambil menghunus pedangnya. Astika yang berada disampingnya, ikut pula menghunus medang. Bentaknya, "Meskipun kau mengandalkan pada jumlah banyak, tapi jangan berharap akan dapat menangkap ayahku. Aku bersama ayahku akan mengadu nyawa di sini."'
Brajabirawa tercengang mendengar ucapan Astika. Sejenak kemudian tertawa panjang.
"Kau bilang apa, nona kecil? Dia ayahmu? Nanti kubilangi bahwa sebab musabab terbinasanya ibumu adalah gara-garanya semata."
"Jahanam, tutup mulutmu!" teriak Sorohpati dan pedangnya menikam.
Tetapi Brajabirawa rupanya sudah bersiaga semenjak tadi. Begitu melihat suatu tikaman, ia mengelak dengan gampang. Sambil tertawa dingin ia mengancam.
"Kau berhenti menyerang atau tidak? Kalau tidak, kau pun bakal mati kecapaian juga... Tapi untuk segera mati di sini, tidaklah mudah. Kami -mempunyai cara-cara sendiri untuk menyelamatkan jiwamu sebelum berbicara habis. Hayo seranglah aku, bila kau mempunyai keberanian!"
Benar-benar Sorohpati menghentikan serangannya. Katanya menyabarkan diri. "Brajabirawa, jika kau ingin berbicara, bicaralah terus terang! Kau tahu, aku tidak dapat kau paksa menuruti kehendakmu."
Lagi-lagi Brajabirawa tertawa berkakakkan.
"Baiklah. Sudah kukatakan tadi, bahwa aku akan membuat urusan semua ini selesai asal saja kau serahkan surat wasiat itu. Aku menjamin, bahwa murid dan anak angkatmu itu pun akan kubebaskan pula. Kau pikirlah baik-baik!" la berhenti mengesankan. Berkata meneruskan, "Jangan kau kira aku tak mengerti segala yang bersembunyi di belakangmu. Kau telah menerima surat wasiat dari puteri Adipati Surengpati, Bukankah begitu?"
"Benar. Lantas bagaimana?" potong Sorohpati dengan mata merah.
"Aku tadi kau suruh berbicara terus terang. Bukankah begitu?" '
"Lekas! Berbicaralah! Dan jangan main bukan, bukan, bukan tak keruan juntrungnya!" Sorohpati tak bersabar lagi. Dan melihat Sorohpati kehilangan kesabarannya, Brajabirawa tertawa senang.
"Kau mengira, aku ini masih murid Watu Gunung bukan? Hiahaa.... Memang benar aku akan tetap murid Watu Gunung. Tetapi, aku sendiri mempunyai kepentingan hari depan. Watu Gunung yang terkenal semenjak sebelum Ratu Bagus Boangll) bukanlah Watu Gunung sekarang. Beliau sekarang ini, adalah murid keturunan ketiga. Untuk memperingati jasa leluhur. Beliau masih menyematkan nama itu. Nah, kau sekarang sudah tahu bukan?"
"Hm. Kau mengoceh tak keruan."
"'Demi Iblis! Setan atau siluman! Aku berkata benar. Kau tak tahu apa sebabnya?
Karena malam ini kau toh takkan bisa berlalu dari sini dengan selamat, bukan? Bukan?"
Jengkel hati Sorohpati mendengar lagu suaranya. Apalagi Astika yang beradat panas . Dengan mendelik, gadis itu membentak: "Hai, si Bukan! Kau ini seperti setan, bukan? Bukan? Hm. Matamu yang sipit itu mengingatkan aku kepada tikus bukan? Benar begitu, bukan? Bukan? Bukan?"
"Tutup mulut!" bentak Brajabirawa. "Kau ingin aku berbicara atau tidak?"
Sorohpati mengedipi Astika yang hendak mengumbar mulutnya. Gadis itu lantas terdiam, tapi matanya tetap mendelik.
"Baiklah kuteruskan," kata Brajabirawa berlagu lagi. "Meskipun aku ini masih mempunyai sangkut paut dengan Watu Gunung, tapi perkara wasiat itu aku mempunyai jalanku sendiri. Aku sekarang bekerja di bawah perintah Letnan Jendral Gubernur Raffles. Beliau ini seorang pembesar tinggi yang gemar mengumpulkan pusaka-pusaka kuno.12) Maka, kalau aku mempersembahkan wasiat itu kepada Beliau, bukankah kau pun berarti ikut menyumbang kepada kesejahteraan dunia?"
"Jahanam tak mempunyai malu!" bentak Sorohpati. Kemudian membantin: Hari ini—meskipun Watu Gunung tidak muncul—tampaknya aku tak gampang-gampang pula lolos dari sini. Baiklah aku bersabar dahulu. Dia mau apa? Karena memikir demikian, tiba-tiba ia menyarungkan pedangnya kembali. "Jadi kau hendak menangkap aku untuk kau serahkan kepada tentara Inggris?"
"Bukan! Bukan!"sahut Brajabirawa cepat. Dan Dadang Kartapati yang semenjak tadi berdiam diri, ikut menimbrung.
"Kami hanya pinjam surat wasiat itu saja."
Sederhana bunyi kata-katanya. Terlalu sederhana, malah. Ia menggunakan istilah pinjam seperti hendak meminjam sekaleng beras. Wajah Sorohpati lantas saja menjadi pucat lesi, kemudian merah padam, la heran, kaget, mendongkol dan bergusar menyaksikan kelicikan dan kelicinan mereka. Saking mendongkolnya, mulutnya sampai terkunci rapat.
Berkatalah Dadang Kartapati lagi. "Kami ini semua segolongan dengan engkau bertiga. Bedanya, kami dilahirkan di Jawa Barat dan kalian disini. Kau pun seperti kami, kalau bilang satu memang satu. Dua memang dua. Aku bilang pinjam, maka aku meminjam benar. Kau tak perlu berbicara. Cukup mengangguk! Dan perkara Watu Gunung, tak usah kaupusingkan. Kami akan sanggup membereskan."
Mendengar keterangan Dadang Kartapati, Tahulah Sorohpati bahwa di belakang mereka terjadi suatu peristiwa yang hebat dalam perguruannya. Entah siapa yang di sebut Watu Gunung itu. Dia sendiri belum pernah melihat Watu Gunung yang termasyhur di Jawa Barat. Seumpama sekarang muncul seorang yang mengaku ternama Watu Gunung, ia sendiri tak dapat memperoleh kepastian tulen atau palsunya.
Mendadak saja Kartawirya ikut berbicara. "Sadarlah! Semua orang di seluruh penjuru ini sedang mencari dirimu. Kami, mencarimu. Pendekar Watu Gunung mencarimu. Brajabirawa mencarimu. Dadang Kartapati mencarimu. Tentara Inggris mencarimu. Entah, siapa lagi yang bakal mencarimu. Dan meskipun engkau mempunyai tujuh kepala dan kepandaian setinggi langit, dapatkah engkau mempertahankan hidupmu? Paling baik, kau serahkan wasiat itu!"
"Benar," sambung Dadang Kartapati. "Kepada tentara Inggris! Dengan begitu kau bisa mengandalkan kepada kekuatannya dan perlindungannya.
Beragam tiga orang itu cara berbicaranya. Mereka berbicara bergantian dengan gaya dan lagu suaranya masing-masing. Astika yang mendengar bunyi kata-
katanya jadi pusing. Pikirnya diam-diam—wasiat apakah itu, sampai semua orang mencari Ayah? Dan kenapa Ayah dituduhnya sebagai biang keladi terbunuhnya Ibu. Ah, pastilah itu suatu fitnah belaka!—Dalam bingungnya, ia menggenggam hulu pedangnya erat-erat.
Sorohpati melihat gerakan tangan Astika. Dia pun terbenam dalam kesangsian. Meskipun licik dan licin mereka, tetapi ada benarnya juga. Ia jadi beragu untuk mengambil suatu keputusan. Kalau ia menyerahkan surat wasiat itu, berarti mensia-siakan kepercayaan puteri Adipati Surengpati yang kini sedang sibuk menyusun kekuatan mengusir semua bentuk penjajahan dari bumi Nusantara. Entah di mana beradanya puteri itu kini. Sebaliknya kalau bersitegang, suatu pertempuran mati hidup bakal terjadi. Ia sendiri sudah tidak memikirkan mati hidupnya. Tetapi bagaimana dengan Gandarpati? Bagaimana pula Astika? Anak sebatang kara itu, masakan hanya diberi kesempatan hidup selama dua belas tahun saja? la jadi terharu dan pilu. Mendadak timbullah kejantanannya.
"Biar bagaimana juga, tak boleh aku mensia-siakan suatu kepercayaan." Lalu berbisik kepada Astika.
"Anakku, lebih baik hidup satu hari menjadi harimau daripada hidup satu tahun menjadi kambing. Kau mengerti maksudku?"
Semenjak tadi, Astika sudah tahu bahwa pertempuran akan segera terjadi. Walaupun tidak mengerti benar apa hikmah kata-kata itu, dia lantas menyahut dengan cara berpikirnya sendiri. Ayah, biar bagaimana pun juga jangan dengarkan bujukan mereka. Mereka semua bukan makhluk baik-baik. Mereka kumpulan setan dan iblis yang hendak menghina Ayah. Aku tidak akan
membiarkan Ayah terhina. Biar seuntai rambut pun akan kupertahankan nama baik Ayah."
Bukan main terharunya hati Sorohpati. Kalau saja tidak dihadapan orang banyak, pastilah ia akan memeluknya dan mengusap-usap rambutnya. Tak pernah disangkanya, bahwa keadaan yang tegang itu bisa mematangkan cara berpikir gadis itu begitu cepat.
Sebaliknya Kartawirya lantas membentak. "Hai, nona kecil! Kau berhak apa berbicara dihadapan kami?"
Astika tiada gentar, la malahan bergusar. Sambil memasang pedangnya dia melompat maju. Katanya menantang, "Kau manusia apa sampai berani menegur aku?"
Kartawirya terhenyak mendengar tantangan si bocah ingusan yang begitu ketus. Hatinya mendongkol. Karena mendongkolnya, ia sampai tertawa terbahak-bahak.
"Apa! Kau menantang aku? Kau tak pantas menjadi tandinganku!" Lalu menoleh kepada salah seorang. "Hai, Ujang! Kau hajarlah bocah yang tak tahu adat itu!"
Orang yang dipanggil Ujang berusia kurang lebih 24 tahun. Ia terkenal berani, tapi sembrono. Begitu dipanggil, lantas saja melompat dengan menyabetkan goloknya.
Sorohpati hendak membuka mulut mencegah, tetapi Astika sudah terlanjur maju. Alis gadis itu yang lentik terbangun sekaligus. Dengan suatu gerakan, pedangnya menyambar. Sasarannya mengarah dada.
ujang mengayunkan tangan kirinya untuk menangkis. Akan tetapi sesungguhnya hanya suatu gertakan belaka.
Maksudnya agar Astika membatalkan tikamannya. Berbareng dengan itu, tangan kanannya menyambar menghantam kepala. Hebat tenaganya. Itulah jurus menggempur Gunung Jamur Dwipa. Dengan gempuran itu, ia memandang enteng lawannya. Dan sengaja menggunakan gerak tipu yang sederhana. Kalau berhasil dengan sekali gebrak saja sudah menjatuhkan lawan.
Akan tetapi, Astika sedikit banyak sudah mewarisi ilmu pedang Sorohpati. Meskipun usianya lagi dua belas tahun, tetapi dia bukan dara yang belum pandai beringus. Dengan sebat ia berkelit13). Tapi kelihatannya bukan untuk menyingkirkan diri. Sebaliknya ia memperlihatkan kegesitannya. Tiba-tiba maju selangkah membalas menyerang. Kedua tangannya bergerak. Kakinya bergerak pula. Kelihatannya dia sedang menangkis tak tahunya kakinya membangkol.
"Awas kaki!" teriak Kartawirya memberi peringatan.
Ternyata gerakan kaki Astika sangat cepat. Sebelum Ujang sadar akan peringatannya, dia sudah roboh terjengkang. Dan melihat robohnya Ujang, Astika puas. Dasar masih kanak-kanak ia menggertak Ujang. "Hai, badut! Kau gaploklah kedua telingamu pulang pergi. Dan aku akan ampuni jiwamu."
Keruan saja, Ujang seperti diguyur air panas. Dengan murka ia melompat. Sekarang ia jadi mata gelap. Kaki dan tangannya bekerja dengan berbareng. Tenaga yang dikerahkan sangat besar. Ingin ia meremuk tulang belulang dara bermulut jahil itu.
Astika pun lantas mengumbar adatnya. Melihat Ujang membangkang kemauan baiknya, ia jadi bergusar. Mengapa dia masih melawan juga selagi telah
kukalahkan, pikirnya, la tak tahu bahwa dalam suatu perkelahian benar-benar tidaklah mirip berkelahi di atas panggung latihan. Tatkala mendengar kesiur angin tenaga lawan, diam-diam ia menyiapkan senjata bidiknya yang berwujud jarum, la berpura-pura berkelit dengan teriakan cemas. Tangan kanannya yang membawa pedang menangkis. Tahu-tahu tangan kirinya melepas jarumnya.
Ujang berani tapi sembrono, la percaya betul kepada tenaga dan kemampuannya sendiri. Pastilah kali ini akan berhasil. Tatkala kedua tangannya hendak mencengkeram dada, tiba-tiba ia menjerit. Talapak tangannya nyeri dan gatal. Tatkala diperiksa ternyata kena jarum berbisa.
"Manusia rendah!" makinya. "Mengapa kau menggunakan senjata berbisa. Kalau begitu, kau harus membayar dengan nyawamu!"
Setelah berkata demikian, ia melompat sambil menggerung. Astika tidak takut. Ia bahkan iertawa.
"Engkaulah yang menyerang aku dan bukannya aku. Kau ini sudah terluka, apakah masih serani maju pula!" katanya.
Astika berlagak sebagai seorang pendekar besar. Sambil mengoceh tangan dan kakinya bekerja melayani Ujang. Memang ilmu warisan Sorohpati bukan bernilai rendah. Sekali lagi, kaki kirinya berhasil menjejak perut. Kemudian kaki kanannya mendupak. Bres! Ujang terpental dan terbanting di atas tanah. Kali ini ia tak dapat bangun dengan segera.
Astika tertawa senang. Namun hatinya belum puas. Katanya menegur Kartawirya: "Eh, kau! Kau pun harus menggaploki mukamu sendiri sampai matang biru!"
"Astika, jangan sembrono! Mundur!" teriak Sorohpati.
Kartawirya sudah merah padam kena direndahkan Astika. Dengan perlahan-lahan ia maju mendekati. Namun Astika masih saja tertawa.
"Nona kecil, kau hebat. Bukankah kau menggunakan jarum berbisa," kata Kartawirya dengan bergusar.
Astika menegakkan kepala. Diam-diam ia menyiapkan jarumnya lagi. Tiba-tiba hatinya terkesiap, la mendengar rintih Ujang. Inilah untuk yang pertama kalinya ia melukai seseorang. Betapa pun juga, ia bukan seorang gadis yang kejam. Maka ia menyesal apa sebab tadi ia buru-buru menggunakan senjata beracunnya.
Senjata rahasia yang digunakan, sesungguhnya senjata rahasia Sorohpati. Pendekar ini memperoleh senjata beracun itu dari anaknya yang sudah mewarisi ilmu tabib sakti Maulana Ibrahim.
Racunnya jahat dan bekerja sangat cepat. Dan jarum itu sendiri sangat halus. Panjangnya setengah dim. Apabila mengenai sasarannya akan menembus sampai kejalan darah. Untuk mencabutnya kembali harus menggunakan besi berani. Dan untuk mengobati lukanya, akan membutuhkan waktu selama satu dua bulan. Inilah pengalamannya Astika yang belum disadari betapa hebat akibatnya.
Dan pengalamannya ini kelak akan tersimpan terus di dalam hatinya, sehingga tujuh tahun kemudian tak sudi lagi ia menggunakan senjata be--acun.
"Paman! Bolehkah aku membantu mengobati lukanya?" katanya dengan setulus-tulusnya.
Tetapi Kartawirya tertawa lebar. "Bagus! Hatimu sangat baik."
Astika tidak menduga buruk, la merobek ujung bajunya dan menghampiri Ujang yang merintih-rintih kesakitan, la berjongkok hendak menolong korbannya, la seorang gadis yang berpengalaman. Tak tahu ia akan keburukan orang-orang yang hidup dalam petualangan. Baru saja membungkuk tiba-tiba ia merasakan sesuatu sambaran angin yang dibarengi dengan berkelebatnya bayangan hitam. Terdengar bentakan nyaring pula.
"Perempuan rendah! Hari ini kau akan kubuat mati tidak wajar."
Dalam keadaan demikian, sudah barang tentu Astika tak berdaya menghadapi serangan gelap itu. Ia hanya dapat menjerit kaget. Matanya dimeremkan menunggu maut. Mendadak terdengar suara gedebrukan. la menoleh dan melihat Kartawirya terbanting bergulingan diatas tanah.
"Kartawirya! Benar-benar engkau seorang pendekar hebat sampai perlu membokong 14) gadis yang belum pandai beringus!" terdengar suara bentakan.
Dialah Sorohpati yang melesat dari tempat duduknya dan menghantam Kartawirya dengan kibasan tangannya.
Setelah bergelundungan, Kartawirya meletik bangun, la tidak terluka parah. Maka dengan cepat pula ia sudah berhadapan dengan Sorohpati.
"Sorohpati, kau datang kemari untuk mengumbar adat. Huh!" tegurnya. "Kau memang seorang pendekar jempolan. Bukankah kau berjanji hendak menyerahkan surat wasiat itu? Mengapa sekarang begini?"
'Bagus! Rupanya dalam beberapa tahun ini, —laju ilmukepandaianmu. Tapi jangan bermimpi bisa mengambil nyawaku," kata Sorohpati. Dan begitu selesai berbicara, ia pun melesat tinggi..
Dengan sekali gerak, Kartawirya menarik goloknya yang panjang. Ia terus maju menyerang dengan dahsyat. Besar tenaganya, sampai angin terasa bergulungan.
Sorohpati masih mendongkol melihat puterinya hampir kena serangan gelap. Ia mencabut pedangnya dan menyapu serangan Kartawirya. Kedua senjata beradu. Trang! Hebat kesudahannya. Lengan Kartawirya menjadi pegal dan terasa nyeri sampai menusuk jantung. Sedangkan Sorohpati tidak sudi menyudahi gebahannya sampai di situ saja. la bergerak menikam. Kakinya maju mengadakan serangan balasan. Ujung pedangnya selalu bergerak dan berputar-putar mencari kelemahan lawan.
Walaupun tangannya sakit, namun Kartawirya masih sempat untuk mengelak. Tapi Sorohpati benar-benar gesit di luar dugaannya. Sesudah gagal menikam, ia menyabet. Kemudian menyusuli dengan serangan berantai tiga kali beruntun. Dan diberondong terus-terusan begitu. Kartawirya benar-benar jadi kelabakan. la hanya mampu menangkis dengan mundur. Bayangan maut selalu memburunya dari tempat ke tempat. Mau tak mau hati Kartawirya kebat kebit tak keruan rasanya.
"Orang ini benar-benar hebat," katanya di dalam hati. "Pantas puteri Adipati Surengpati mempercayakan surat wasiatnya." Memikir demikian, tak malu lagi ia berteriak minta bantuan.
"Tahan!" teriak Brajabirawa sambil melompat. Dengan tongkat bajanya ia menghantam ujung pedang Sorohpati yang jadi miring.
Sorohpati kaget. Pikirnya, selain terkenal licik, tampaknya ia tangguh pula di luar dugaanku sendiri. Hm, aku bakal ketemu tandingku.
la lantas mencelat mundur. Sambil melintangkan pedangnya di depan dadanya, katanya, Brajabirawa! Meskipun anakku bandel dan nakal, tapi membokong dengan pukulan maut adalah keterlaluan."
Kartawirya waktu itu lagi mengatur napas. Benar-benar ia baru terlepas dari lubang jarum, a mundur tiga langkah meskipun hatinya gentar, namun masih bisa ia membawa lagaknya. Dia tertawa seram sambil menyahut: "Itulah urusan kcecil. Apa perlu kau pusingkan. Sorohpati, kita semua sudah berusia lanjut. Marilah kita membicarakan hal-hal yang menyangkut urusan kita saja."
"Hm. Sekarang kalian mau apa? Coba bicarakan lagi!" bentak Sorohpati.
"Bukankah sudah terang?" kata Kartawirya. "Kami ingin pinjam surat wasiat itu. Semuanya ini demi kebaikanmu sendiri. Aku sudah bilang, seluruh penjuru dunia orang mencarimu. Kau akan mengungsi ke mana?"
"Ih! Bisa saja kau berbicara begini baik seolah-olah engkau malaikat penyelamat," bentak Sorohpati yang sudah mengambil suatu keputusan. Berkata nyaring, "Dengarkan jawabanku. Aku Sorohpati sudah biasa hidup malang-melintang seorang diri. Mati hidup bukanlah soal. Siapakah yang tidak bakal mati? Karena itu, meskipun kau hendak mengutungi kepalaku, aku tidak akan menyesal. Kau jangan bermimpi yang bukan-bukan!"
Hebat kata-katanya, sampai mereka yang mendengar berubah wajahnya. Mereka lantas saling pandang menunggu sesuatu keputusan. Dan sejenak kemudian, Brajabirawa tertawa tinggi. Katanya menggertak. "Jadi benar-benar engkau tidak memikirkan hari depanmu?
Ingat, anakmu masih di rantau orang. Pada suatu kali dia mesti datang mencarimu. Kau pertimbangkan hal itu! Apakah tidak terpukul hatinya, manakala dia hanya menemui kuburanmu?" la berhenti mengesankan. "Sekarang begini saja.
Biarlah atas nama Pemerintah Inggris aku mengganti biaya jerih payahmu. Kau sebutkan jumlahnya. Dan aku berjanji tidak akan menawar-nawar."
Sorohpati sudah tak dapat terbujuk lagi. Baik hati dan raut mukanya sedikit pun tidak goyang-goyang. Dengan pandang menyala ia menyahut. "Brajabirawa! Benar-benarkah kau menghendaki barang itu?"
Inilah suatu penyahutan yang sama sekali tak terduga sama sekali, sehingga membuat Brajabirawa tercengang. Suatu harapan timbul dalam dadanya.
"Benar. Di mana wasiat itu?" katanya menegas.
Sorohpati tertawa terbahak-bahak lama sekali. Baru menjawab. "Kalau kau benar-benar menghendaki surat wasiat itu, aku bersedia menunjukkan."
"Di mana? Lekas, katakan!" Brajabirawa kini yang berganti tak sabar. "Kau sanggup?" "Katakan! Cepat!"
Dengan mengelus-elus jenggotnya, Sorohpati berkata di tekan-tekan: "Wasiat itu kini sudah berada di dasar lautan. Nah, gerayangi dasar lautan di seluruh penjuru dunia. Kau pasti akan menemukan."
Dan mendengar keterangan Sorohpati, Brajabirawa menggerung karena meluapnya hawa marah. "Bagus! Bagus!" ia berseru seraya tertawa panjang saking marahnya. "Benar-benar engkau manusia kurang ajar.
Kalau tidak diberi hajaran setimpal, kau belum mengerti siapa aku sebenarnya. Dadang Kartapati, Kartawirya, maju!"
Setelah berkata demikian, tongkat bajanya bergerak, la menyapu pinggang Sorohpati dengan hati geram. Hebat tenaganya. Angin bergulungan melanda dada Sorohpati. Namun Sorohpati tidak gentar, la pantang mundur biar selangkah pun juga. Dengan mata menyala ia melintangkan pedangnya. Kemudian membabat.
2
ORANG BERJUBAH KELABU
DADANG KARTAPATI dan Kartawirya segera maju pula. Melihat lawannya tidak boleh dibuat gegabah, mereka hanya mengambil sikap mengurung.
"Sorohpati!" teriak Dadang Kartapati. "Kau datang kemari karena memegang janji hendak menyerahkan surat wasiat itu. Aku pun memegang janji pula tidak membasmi sekalian penduduk Kota Waringin. Tapi ternyata kau ingkar janji. Maka jangan sesalkan! Kami terpaksa merajang tubuhmu menjadi bergedel!"
"Kau berani? Boleh coba!" tantang Sorohpati.
Dadang Kartapati jadi panas hati. Berbareng dengan Brajabirawa, ia melompat menyerang dengan cempulingnya. Dikerubut dua orang dengan sekaligus, Sorohpati tidak takut. Masih bisa ia berbicara. Serunya, "Aku telah berusia lanjut. Sudah waktunya aku merangkaki liang kubur.
Legakan hati kalian—aku tidak akan menyesal atau berpenasaran."
Dengan gesit ia mengelakkan serentetan serangan, kemudian membalas. Pedangnya bergerak seperti kitiran dan mencecar dari samping. Sasarannya kini kepada Kartawirya yang didengkinya.
Kartawirya buru-buru menangkis. Ia tahu, dirinya berada di antara teman-temannya. Lagi-pula disarangnya sendiri. Di luar tenda puluhan anak buahnya berbaris rapat menunggu perintah. Karena itu hatinya gede. Walaupun agak jeri terhadap Sorohpati, namun bisa ia berlagak. Setelah terbebas dari suatu serangan mendadak, ia maju mendesak.
Brajabirawa bersenjata sebatang tongkat panjang semacam tombak. Bersama Dadang Kartapati yang bersenjata cempuling, ia mendesak dari samping.
Dengan begitu, Sorohpati kini benar-benar terkurung.
Namun jago tua itu sedikit pun tiada gentar. Pedangnya berkeredepan mengundurkan Kartawirya dahulu, kemudian balik menikam Dadang Kartapati dan Brajabirawa dengan berbareng. Hebat dan gesit gerakan pedangnya. Tiba-tiba suatu samberan angin terasa berada dibelakangnya. Ia menoleh dan melihat seorang berperawakan tinggi jangkung datang menimbrung. Rupanya dia salah seorang ketua pasukan yang sengaja datang membantu rekan-rekannya. Tak peduli siapa dia, pedang Sorohpati terus menyapu. Trang! Pedangnya terpental balik dan memapas cempuling Dadang Kartapati sambil berseru, "Bagus!"
Itulah salah satu tipu muslihat menggunakan tenaga lawan. Begitu pedangnya kena terpental balik, tiba-tiba
menyambar dada Brajabirawa yang tidak berjaga-jaga. Hebatnya lagi, ujung pedangnya hanya menggores lengan. Sasarannya yang benar ialah dada Kartawirya. Orang ini lantas saja menjerit tinggi.
"Bangsat! Dadang Kartapati. Di sini kau mau mengumbar adatmu?"
Panas hatinya pendekar ini. Cempulingnya lantas berkesiur menghantam kepala. Tapi Sorohpati hanya cukup memiringkan kepala. Pedangnya bergerak memukul tangkainya. Kemudian mental menghantam tongkat baja Brajabirawa.
"Lepas atau kutung lenganmu!" teriaknya garang.
Brajabirawa kaget kena serangan yang sama sekali tak terduga. Dalam keadaan tak bersiaga, buru-buru ia mengangkat tongkat bajanya melintang untuk melindungi dirinya. Tetapi lengannya tadi sudah tergores pedang. Betapa pun juga mengurangi pemusatan pikiran. Tiba-tiba saja tongkat bajanya terlepas dari genggaman dan terlempar tinggi ke udara.
Inilah kesempatan yang bagus. Sorohpati lantas maju dan membabatkan pedangnya. Brajabirawa menjerit tinggi. Lengannya kutung, sehingga ia terbanting di atas tanah dan mengerang-erang kesakitan.
Tetapi pada saat itu juga, Sorohpati mundur pula dengan sempoyongan. Ia memekik tertahan. Matanya berkunang-kunang dan kedua kakinya terasa lemas. Hampir saja ia tak sanggup mempertahankan diri. Sebab selagi ia tadi menghajar Brajabirawa, Dadang Kartapati dan si Jangkung menyerang pula dengan berbareng. Tentu saja gabungan mereka bukan main besarnya.
"Tahan!" seru Sorohpati setelah terhajar. "Aku hendak berbicara."
Selagi membuka mulut demikian, ia melontakkan darah, jelaslah, bahwa ia terkena hajaran berat. Dan melihat ia terluka parah, orang-orang yang mengepung arena menjadi lega. Mereka yakin, bahwa dia bakal merubah sikap.
"Sorohpati, berbicaralah!" kata Dadang Kartapati dengan tertawa.
Sorohpati melontakkan darah lagi. Kemudian sambil menuding Gandarpati dan Astika, ia berkata: "Kau dengarkan, kata-kataku ini. Aku semenjak berangkat kemari, tak lagi aku memikirkan mati hidupku. Mula-mula aku bermaksud untuk mencoba menjalin suatu persahabatan dengan kamu bertiga. Betapa pun juga, kamu bertiga sebenarnya adalah tuan-tuan budiman. Tetapi ternyata kesudahannya lain sekali. Namun aku tetap percaya, bahwa kamu semua adalah tuan-tuan yang terhormat. Yang dapat membedakan antara denda dan budi. Yang dapat memisahkan antara yang tersangkut dan tidak. Maka itu tuan-tuan dalam hal ini murid dan anakku hendaklah jangan kamu bawa-bawa. Sebagai pengganti mereka, nah majukanlah lagi dua orang untuk mengembut aku."
"Hm!" Dadang Kartapati menggerendeng. Ia tahu maksud Sorohpati yang hendak menyelamatkan murid dan anaknya. Dasar ia licin, justru terbangunlah akalnya. Sahutnya, "Dalam hal ini kita lihat saja nanti bagaimana nasib mereka. Bagus atau tidak, tergantung kepada keadaan."
Sekian lama, Gandarpati tidak membuka mulut atau meraba pedang karena patuh terhadap perintah gurunya. Tapi begitu mendengar ucapan Dadang Kartapati, ia tak dapat membungkam terus.
"Guru!" serunya sambil meraba hulu pedangnya. Benar-benar ia tak dapat berdiam diri menyaksikan luka parah gurunya.
"Jangan bergerak!" teriak Sorohpati.
Akan tetapi Astika yang beradat panas telah melompat dengan teriak nyaring. Cepat Gandarpati menyambar lengannya dan ditariknya. Katanya perlahan, "Adik, dengarlah dulu kata ayahmu."
Astika merenggut tangannya sambil membentak sengit. "Hm, pengecut!"
Masih dapat Gandarpati menguasai mulutnya. Dasar ia memang seorang pendiam. Lalu membuang mukanya ke arah gelanggang. Di sana babak baru mulai lagi.
"Tua bangka, kau hendak berpesan apalagi?" teriak Dadang Kartapati. Sambil berteriak, cempuling bergerak menghantam dahsyat.
Buru-buru Sorohpati menangkis sambaran cempuling itu. Sekarang ia merasakan kuat tenaga lawan, sehingga seluruh sendi-sendi tulangnya terasa nyaris lumpuh. Tetapi menyaksikan kelicikan Dadang Kartapati tak dapat ia tinggal menyerah saja. Insyaflah sekarang, saat mati hidup terjadi dalam babak baru ini. Lolos atau mati. Maka dengan mengerahkan semangat tempurnya, ia membalas menyerang. Dengan rapat ia membela diri dengan ilmu-ilmu simpanannya dan dengan ganas ia menikam dan mendesak.
Dadang Kartapati benar-benar kagum atas ketangguhannya. Coba dia tak terluka, pastilah akan lebih hebat. Katanya dalam hati. "Tidak kusangka ia begini tangguh. Untung aku tadi berhasil menghajar kepungannya. Kalau tidak..." Teringatlah dia, bahwa Sorohpati tadi memperkenankannya mengajukan dua orang lagi sebagai pengganti kedudukan Gandarpati dan Astika. Karena licik, segera ia memanggil empat orang pembantunya sekaligus. Kemudian barulah ia menyerang berbarengan seperti turunnya hujan lebat.
Dalam keadaan mati hidup, Sorohpati memperlihatkan kemampuannya. Pedangnya ber-keredep menghadapi keroyokan mereka. Air mukanya tenang berwibawa. Meskipun diserang bagaikan hujan badai, sama sekali tak bergeming. Inilah suatu pertempuran mati-matian yang tidak memikirkan lagi keselamatan jiwa. Tujuannya hanya satu: mati berbareng dengan sekalian musuhnya.
Melihat pertarungan itu, tergoncang hati Astika. Ia pilu terharu, cemas dan panas. Benar-benar keterlaluan pengeroyok itu. Beberapa kali ia hendak melompat maju, namun setiap kali Gandarpati mencegahnya. Dengan suara tenang Gandarpati menghibur.
"Legakan hatimu, Guru belum kalah."
"Tapi kalau Ayah sudah keteter4), bagaimana kita akan menolongnya?" Astika menegas.
Gandarpati tidak menjawab. Tangannya hanya menuding. Katanya, "Lihatlah! Itulah suatu tipu-muslihat ilmu simpanan ayahmu!"
") keteter: terdesak
Memang benar. Pada saat itu Sorohpati menggunakan ilmu simpanan warisan tabib sakti Maulana Ibrahim yang diwarisi lewat anaknya: Manik Angkeran. Tiba-tiba ia mendesak Dadang Kartapati tiga langkah. Kemudian melesat menikam Kartawirya yang sudah terluka dan berada di pinggir arena. Orang ini kelabakan kena diserang dengan mendadak. Belum lagi dapat berbuat sesuatu, kembali lagi dadanya berlubang.
la terbanting tertengkurap dengan mengaduh sedih.
Sorohpati tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Mendadak tubuhnya melesat mundur dan menghantam dua lawannya dengan sikunya. Kemudian merabu Dadang Kartapati yang sedang tercengang-cengang menyaksikan kegesitannya. Untung, dia bukan orang lemah. Buru-buru ia mengayun cempulingnya dan menangkis dengan mengadu tenaga.
Serangan pembalasan yang cepat ini benar-benar diluar dugaan mereka. Itulah jurus sakti berasal dari perguruan Sadewata, guru Maulana Ibrahim, Tatang Manggala dan Diah Kartika. Dengan jurus itu pula, Diah Kartika pernah melukai dua puluh lawan dengan sekali gerak5) Maka tak mengherankan, bahwa dalam gerakan itu Sorohpati dapat melukai tiga lawannya secara cepat sekali.
Brajabirawa yang menggeletak di pinggir arena berseru keras karena kagetnya. Serunya tak jelas. "Dadang! Awas!"
Waktu itu Dadang Kartapati sedang maju mengayunkan cempulingnya. Karena penasaran ia
’5) baca Bende Mataram jilid 12
hendak membuat perhitungan. Ia yakin dalam hal mengadu tenaga ia menang seurat, karena Sorohpati telah terluka. Itulah sebabnya, ia ber-besar hati. Tanpa memedulikan kemampuan diri ia lantas menghantam.
Sorohpati ternyata masih gesit. Melihat berkelebatnya cempuling Dadang Kartapati, ia berkelit, pedangnya lempang ke depan dan menikam dengan mendadak. Dan pada saat itu juga, Dadang Kartapati menjerit kesakitan. Lengan kirinya kena tertikam dan hampir rantas dari tubuhnya sehingga ia terus mengiang-iang.
Astika yang tadinya berkecil hati, berbalik menjadi bangga. Terus saja ia bertepuk-tepuk girang. Dasar masih kanak-kanak, ia lalu berteriak: "Ah, benar-benar hebat! Kalau begini mana bisa kawanan tikus melawan ular?"
Sorohpati sendiri terbangun pula semangat tempurnya. Dalam keadaan demikian, masih bisa ia merobohkan seorang lawan lagi di luar dugaannya sendiri. Dengan begitu, tekanan terhadap dirinya agak jadi ringan. Dengan mulut dan pedang yang berlepotan darah, ia memutar menghadapi empat lawan lagi yang datang mengepung.
Sekarang dari luar tenda, masuklah sepuluh orang lagi dan terus bergerak mengepung. Meskipun Sorohpati tangguh namun ia tak dapat berkelahi terus menerus. Mulutnya terus-menerus menyemburkan gumpalan darah pula. Lambat-laun tenaganya nampak habis. Entah berapa lama lagi ia dapat mempertahankan diri.
Brajabirawa waktu itu telah digotong anak buahnya dan didudukkan di atas kursi. Ia pingsan beberapa kali. Tetapi setiap sadar dari pingsannya, masih ia ingat
rencana kelicikannya. Serunya: "Jangan... dibunuh... kamu mengerti maksudku?"
Seruan ini segera disampaikan kepada siapa saja yang mendengar. Maka sebentar kemudian terdengar pula suatu jawaban.
"Baik, baik. Kami tahu maksud Tuan..... "
Sorohpati dapat menebak maksud lawannya. Katanya dengan tertawa: "Kalian hendak menangkap aku hidup-hidup untuk kalian tukarkan dengan pangkat... jangan harap!"
Semua orang tahu, bahwa jago tua itu berkepala batu. Mereka tak sudi meladeni. Dengan secara bergiliran dan bergantian mereka menyerang dan mundur. Dan diserang dengan cara demikian habislah tenaga Sorohpati: Matanya mulai berkunang-kunang. Kepalanya puyeng dan telinganya pengang. Kembali lagi ia memuntahkan darah. Namun tak sudi ia menyerah mentah-mentah. Masih saja ia berusaha mengeluarkan ilmu simpanannya sambil berseru kepada muridnya.
"Gandarpati, kau perhatikan semuanya ini. Di kemudian hari akan besar faedahnya."
Sebenarnya tidak boleh ia bergerak di luar batas sisa tenaganya, mengobral tenaga dengan cara demikian, berarti membunuh diri sendiri. Tetapi pada saat itu, ia tak mengharapkan hidup lagi. Tujuannya sekarang hendak memperlihatkan semua ilmu simpanannya yang belum sempat diwariskan kepada murid satu-satunya itu. Ia sadar, bahwa hal itu sebenarnya hanya merupakan hiburan pengantar perjalanannya yang terakhir. Dalam keadaan demikian, alangkah terasa nikmat.
Dengan mengobral latihannya selama empat puluh tahun lebih, ia mendesak belasan lawannya dalam tiga puluh jurus. Setelah itu mulailah ia membela diri. Guru Maulana Ibrahim, memang seorang ahli pedang pada zaman Ratu Bagus Boang. Ilmu pedangnya berisi tiga puluh enam jurus pokok. Di samping menyerang, ingat pula untuk membela diri. Dengan ilmu pedang itu pulalah Diah Kartika menjagoi di seluruh Jawa Barat. Edoh Permanasari satu-satunya pewaris ilmu pedang Ratu Fatimah sukar menandingi. Dan ilmu pedang guru besar Sadewata itu, diwarisi Sorohpati lewat anaknya Manik Angkeran. Dasar mempunyai bakat baik, dapat ia menyelami sampai kedasarnya. la mencampur adukkan dengan ilmu pedang ajaran Adipati Surengpati. Maka tak mengherankan- meskipun dalam keadaan luka parah-belasan pengeroyoknya tak dapat mendekatinya. Mereka hanya menunggu kelelahannya belaka.
Setelah lewat beberapa jurus lagi, mendadak Sorohpati menyampok lima batang golok yang mengancam dengan berbareng. Begitu ber-gelontangan di atas tanah, segera ia berseru: "Tahan sebentar! Aku hendak berbicara.... "
"Kau mau ngomong apa lagi?" bentak salah seorang.
"Mana Dadang Kartapati? Apakah dia masih bisa diajak berbicara?"
Kala itu, lengan Dadang Kartapati yang yaris rantas sudah mendapat pertolongan.
Meskipun agak mendingan, namun sakitnya luar biasa. Ia mengatupkan giginya untuk menahan rasa sakit. Tak urung kedua matanya merah berlinangan juga. Tapi begitu mendengar suara Sorohpati, tak sudi ia berada di
bawah pengaruh. Dengan membusungkan dada, ia memaksa menyahut. "Aku di sini. Kau mau pesan apa?"
"Apakah kau benar-benar menghendaki barang itu?"
"Hm, apakah kau sangka, aku cuma main-main saja?" Dadang Kartapati mendongkol.
"Baik," tungkas Sorohpati. "Akan kuserahkan barang itu, asal saja kau sudi menerima dua syaratku."
"Syarat apakah itu? Coba bilang!" sahut Dadang Kartapati dengan mengatupkan giginya.
"Yang pertama, kau menjamin keselamatan dua pengikutku ini. Bagaimana?"
Menuruti hati, ingin ia mengutuk dan memakinya. Tapi kemudian ia berpikir di dalam hati, tujuanku untuk memperoleh surat wasiat. Kalau dipikir, buat apa menginginkan kedua pengikutnya? Bisa-bisa membuat repot. Memikir demikian, ia segera memanggut.
"Sekarang yang kedua," kata Sorohpati berlega hati. "Kau menghendaki barang itu.
Seharusnya kau harus merebutnya secara ksatria. Asal dalam seratus jurus kau dapat memenangkan aku, surat wasiat itu lantas menjadi milikmu. Nah, bagaimana?"
"Bagus..." Hampir Dadang Kartapati memaki. Itulah disebabkan ia sudah terluka.
Jangan lagi dalam keadaan demikian. Seumpama segar bugar pun belum tentu dapat memenangkan ilmu pedang orang tua itu. Meskipun orang tua itu berada dalam keadaan luka parah. Syukur ia licin. Setelah mengasah otak, ia memaksa diri untuk tertawa meskipun peringisan menahan rasa nyeri.
"Kau sudah tahu, aku tak dapat melawanmu lagi. Mengapa kau berbicara perkara adu kepandaian?"
Sorohpati terdiam sejenak, la seperti lagi menimbang-nimbang. Pikirnya di dalam hati, Brajabirawa sudah terluka. Kartawirya juga. Kau pun begitu. Kurasa didalam perkemahan ini tiada lagi yang dapat diandalkan, selain main kerubut menunggu habisnya tenagaku. Baiklah aku suruh dia mencari orang yang dapat melawan aku. Siapa lagi? Memikir demikian, lantas ia menyahut: "Siapa saja boleh melawan aku."
"Bagus! Jadi aku kau perkenankan memilih tandingmu?" Dadang Kartapati menegas.
"Benar." Sorohpati membenarkan tanpa pikir lagi.
Astika terharu mendengar pembenaran ayahnya. Hatinya penuh syukur pula. Bukankah ayahnya sedang berjuang demi keselamatannya, meskipun dalam keadaan luka parah? Mengingat ketangguhannya tak usah berkhawatir lagi. Tapi mengingat luka parahnya ia meragukan ketahanan tenaganya.
Dalam pada itu, Dadang Kartapati telah berkata: "Sorohpati, apakah kau memegang janjimu?"
"Aku seorang laki-laki seperti kau juga," sahut Sorohpati.
"Bagus! Jadi, kalau dalam seratus jurus kami menang kau harus menyerahkan surat wasiat itu, bukan?"
"Benar."
"Tapi selain itu, kau pun harus tunduk kepada peraturan kami. Bukankah kau mengajukan dua syarat pula?"
"Tak usahlah kau berkepanjangan," potong Sorohpati. "Kalau aku kalah, kau boleh memotong kepalaku, merajang atau merebus diriku dalam minyak mendidih. Sesukamulah. Sebaliknya kalau kau kalah, aku masih mau berbicara lagi."
Sorohpati memang sengaja hendak mengulur waktu untuk sedikit merebut tenaganya kembali. Meskipun dia sendiri sudah memutuskan untuk mati, tapi mengingat keselamatan Astika dan Gandarpati ia mencoba mencari jalan keluar. Dalam pada itu, mendadak Brajabirawa yang dalam keadaan lupa-lupa ingat ikut berbicara pula. Katanya menimbrung.
"Dadang Kartapati! Kita pun laki-laki. Mengapa mengoceh tak keruan juntrungnya? Bilang, kalau kita kalah dia pun bisa memperlakukan kita sekehendaknya."
Mendengar suara Brajabirawa yang gagah sedang dirinya sudah terluka parah, tiba-tiba ingatan Astika seperti tergugah. Teringatlah dia tadi kepada kata-kata ayahnya, bahwa ayahnya hanya menyegani satu orang. Itulah pendekar Watu Gunung yang selama pertemuan ini belum menampakkan batang hidungnya. Maka dengan gopoh ia berseru, "Ayah! Jangan sampai kena jebak!"
"Apa?" Sorohpati kaget. "Jebak apa?"
"Bukankah Watu Gunung yang katanya berada dalam perkemahan ini belum muncul?"
Sorohpati benar-benar kaget sampai telinganya pengang. Hampir saja ia pingsan.
Pikirnya, Celaka! Kalau wasiat puteri Adipati Surengpati jatuh ke tangan Brajabirawa atau Dadang
Kartapati tidaklah apa. Mereka berkata hanya akan dipersembahkan kepada Gubernur Inggris. Tetapi kalau jatuh ke tangan Watu Gunung, inilah lain. Dunia semesta akan menjadi geger. Ya Tuhan... celaka! Pendekar Sangaji untung seorang yang berbudi luhur. Tapi Watu gunung ... Ih! Benar-benar hebat akibatnya....
Ia jadi menyesal atas kecerobohannya. Maklumlah, ia dalam keadaan luka parah. Dirinya dalam keadaan lupa-lupa ingat pula. Namun ia sudah berjanji. Sebagai seorang Ksatria tak boleh ia menarik ucapannya.
Sungguh pun demikian pikirannya kini kacau. Hatinya gelisah bukan main.
Astika berduka melihat perubahan wajah ayahnya. Hampir sepuluh tahun lamanya ia hidup serumah dengan ayahnya. Selama itu belum pernah ia melihat perubahan wajah ayahnya sehebat ini. Tahulah dia, bahwa hati ayahnya sedang terpukul hebat. Diam-diam ia menarik lengan Gandarpati. Bertanya dengan berbisik:
"Wasiat itu sebenarnya berharga sampai di mana? Mengapa Ayah rela menukar dengan jiwanya sendiri?"
Gandarpati membuka mulut. Tapi aneh jawabannya. la tidak langsung memberi keterangan tentang arti wasiat itu bagi keselamatan hidup manusia.
"Ayahmu datang kemari, sebenarnya untuk menemui pendekar Watu Gunung untuk diajak berunding.
Sekarang keadaannya sudah lain. Rupanya mereka sudah bersekongkol sebelumnya, meskipun masing-masing mempunyai kepentingannya sendiri. Ah, adikku. Mulai saat ini, engkau harus mendengarkan semua kata-kata kakakmu ini. Dan barulah jiwamu terjamin...."
Astika mendongkol mendengar bunyi jawabannya. Katanya keras: "Kau mengoceh sendiri. Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Sst!" Gandarpati mencegah. "Tentang surat wasiat itu lambat laun kau mengerti sendiri. Baiklah kuterangkan sedikit. Barangsiapa dapat memahami bunyi dan isi surat wasiat itu, ia akan menjagoi seluruh dunia. Kalau manusia bertabiat buruk, dunia ini bakal terbakar musnah. Itulah yang diprihatinkan ayahmu sekarang "
Astika kaget mendengar keterangan Gandarpati. Setelah kaget, ia tercengang.
Kepalanya lantas sibuk menebak-nebak, rahasia apakah yang tersimpan dalam surat wasiat itu sampai dapat menyulap manusia begitu hebat.
Sorohpati mendengar semua pembicaraan itu, meskipun hanya berbisik-bisik. Lalu berkata nyaring. "Brajabirawa, Dadang Kartapati! Perkenankan aku berbicara sebentar dengan muridku dan anakku. Bolehkah?"
"Boleh! Mengapa tidak? Masakan kau bisa kabur dari kepungan kita?" sahut Dadang Kartapati mewakili Brajabirawa.
Sorohpati segera menghampiri Astika dan Gandarpati. Kemudian dibawanya menyendiri. Katanya perlahan, "Astika, masih aku hendak berpesan kepadamu. Kalau aku nanti mati, orang yang terdekat denganmu harus ditambah seorang lagi. Dialah Demang di galuh, Ki Jaga Saradenta. Dan untukmu Gandarpati ceritakanlah kejadian ini kepada Kyai Kasan Kesambi. Nah, kalian jangan lupa. Ingat-ingatlah nama itu!"
Astika pilu. la lantas menangis sesenggukan. Katanya sedih, "Ayah! Benar-benarkah Ayah tak dapat meloloskan diri?"
Sorohpati tidak menjawab. Dengan melempangkan pedang ke udara ia berteriak nyaring: "Adipati Surengpati, junjunganku! Semenjak muda aku mengabdi padamu. Kau didik. Aku... Kau asuh aku... untuk menjadi seorang pendekar bangsa, musuh segala bentuk angkara murka di persada bumi ini. Sayang, otakku terlalu tumpul untuk dapat mewarisi semua ilmu kepandaiannya. Sekiranya begitu, apakah arti bangsa kurcaci ini. Hm, hm! Puterimu Titisari yang berotak cerdas luar biasa, kini mendampingi suaminya pendekar besar Sangaji, entah di mana dia sekarang berada. Aku diberi kepercayaan puterimu untuk menyimpan sepucuk surat wasiat yang paling berharga di dunia ini. Meskipun ilmu kepandaianku dangkal, aku tidak akan memalukan engkau. Demi namamu dan kesejahteraan umat manusia, aku bersedia mengorbankan jiwaku. Moga-moga kau dengar suaraku ini...
Hebat kata-kata Sorohpati. Semuanya jadi tercengang-cengang. Sorohpati sendiri setelah meledakkan isi hatinya, terus melompat ke tengah gelanggang kembali. Pedangnya berkelebat hendak memagas lehernya sendiri.
"Ayah! Jangan!" teriak Astika memburu tapi seluruh tenaganya seperti punah.
Sehingga ia hanya tertegun dengan pandang kejang.
Brajabirawa, Dadang Kartapati, Kartawirya dan sekalian bawahannya tak dapat mencegah. Mereka hanya kaget dan sibuk tak keruan. Dan pada detik itu, tiba-tiba pedang Sorohpati terpental ke udara. Sesosok
bayangan berkelebat menyambar pedang itu. Dan berdirilah seorang laki-laki yang berperawakan tinggi besar di depan Sorohpati sambil membentak.
"Hai, binatang! Kau hendak bunuh diri? He, he, hee... tidaklah gampang, sebelum kau membuka mulut dan menyerahkan surat wasiat itu. Mana barang itu!?"
Laki-laki itu berusia kurang lebih tujuh puluh tahun. Namun masih nampak gagah sekali. Romannya bengis dan matanya tajam luar biasa. Astika yang beradat panas begitu melihat perawakan dan kesan mukanya, kuncup hatinya.
"Guru! Syukurlah Guru datang tepat pada waktunya," seru Brajabirawa dan Dadang Kartapati hampir berbareng.
Dialah pendekar Watu Gunung. Brajabirawa dan Dadang Kartapati tadi menyatakan, bahwa Watu Gunung itu bukanlah Watu Gunung pada zaman Ratu Bagus Boang. Dialah murid Watu Gunung angkatan ketiga. Namun sudah mewarisi seluruh kepandaian gurunya. Selain ilmu kepandaiannya tinggi, memiliki ilmu racun pula. Ia termasyur di seluruh wilayah Jawa Barat.
Tatkala Sangaji berada di atas Gunung Cibugis mempertahankan Himpunan Sangkuriang, ia hanya mengirimkan serombongan muridnya. Karena itu, belum pernah ia berjumpa dengan Sangaji. Mendengar ketangguhan Sangaji, hatinya penuh penasaran. Karena tahu darimana sumber ilmu Sangaji, ia berjanji hendak merebutnya. Dahulu tatkala berhadap-hadapan dengan Kyai Kasan Kesambi, ia masih segan-segan. Kini, setelah merasa diri ilmu kepandaiannya maju berlipat ganda,
tiada lagi yang ditakuti. Meskipun demikian, masih ia ragu-ragu mencoba mengadu tenaga dengan Sangaji.
Ia berjanji di dalam hati, manakala sudah memperoleh surat wasiat puteri Adipati Surengpati, hendak segera mencari pendekar yang bisa mentaklukkan suara Raja Muda Himpunan Sangkuriang itu. Dalam hati, tak rela ia menyerahkan mahkota pendekar besar dalam tangan seorang yang berasal dari daerah lain.
Sorohpati terkejut. Ia mundur sempoyongan tiga langkah. Perlahan-lahan ia menurunkan lengannya. Setelah memanggut hormat, ia berkata: "Tuanlah yang bernama Watu Gunung?"
"Benar. Nah, lihatlah yang terang!" sahut Watu Gunung dengan membusungkan dada.
"Tuanlah yang kabarnya dahulu mendaki Gunung Damar menemui Kyai Kasan Kesambi?" "Benar."
"Hm. Kyai Kasan Kesambi dahulu mengira, bahwa kaulah murid Resi Buddha Wisnu. Alihkan engkau adalah murid angkatan ketiga. Benarkah itu?"
"Benar. Aku memang murid angkatan ketiga. Aku pun berani menyematkan nama Watu Gunung. Artinya, meskipun mereka ketiga angkatan seumpama bisa bangun dari liang kuburnya, saat ini ilmu kepandaiannya masakan bisa menjajari aku? "
Sorohpati tercengang mendengar kata-katanya yang begitu sombong. Namun hantamannya dari jauh tadi, memang luar biasa kuat sampai pedangnya kena terpental ke udara, la teringat kepada tenaga sakti Adipati Surengpati yang jarang tandingannya di dunia ini.
"Tuan pun ingin memiliki surat wasiat puteri Adipati Surengpati?"
"Binatang!" tungkas Watu Gunung dengan suara bergelora. "Belasan tahun aku mencari wasiat warisan itu. Mustahil kau tak tahu. Nah, sekarang kau hendak berbicara apa?"
"Tidak banyak," sahut Sorohpati pendek. "Hanya saja aku heran. Apa sebab Tuan ingin memiliki warisan itu yang sebenarnya bukan hak Tuan?"
"Binatang, kau bilang apa?" bentak Watu Gunung dengan mendelik. "Apakah Sangaji pun berhak mengangkangi warisan sakti itu? Coba bilang, apa haknya?"
"Pangeran Semono dahulu bertahta di Jawa Tengah. Kalau warisannya kini jatuh kepada Sangaji yang dilahirkan di Jawa Tengah, itulah sudah wajar. Tapi Tuan...."
"Tutup mulutmu!" potong Watu Gunung. Kemudian ia tertawa terbahak-bahak sampai pesanggrahan jadi bergoncang. "Kau rupanya tahu satu tapi tidak tahu dua. Pangeran Semono dahulu anak siapa? Bukankah putera Dewi Rengganis? Dewi Rengganis anak siapa? Bukankah keturunan Kyai Bagelen? Kyai Bagelen keturunan siapa? Bukankah keturunan Sri Panuwun? Dan Sri Panuwun adalah Raja Pejajaran Purba. Kalau sekarang aku memburu wasiat itu, bukankah berarti aku sedang berusaha mengembalikan kerbau ke kandangnya? Kau bilanglah salah atau tidak?"
Sorohpati tercengang-cengang. Tak pernah ia menduga, bahwa Watu Gunung mempunyai alasan
begitu teguh dan paham akan lika-liku sejarah. Inilah hebat! Katanya di dalam hati, aku tadi berkata bahwa pendekar Sangaji pantas memperoleh warisan sakti Pangeran Semono, karena dia dilahirkan di Jawa Tengah. Itulah hanya suatu akal untuk mengendorkan nafsunya. Tak tahunya, ia bisa menjawab dengan tepat. Kalau aku tidak bisa mengatasi keterangannya, akan jelek akibatnya. Sedikit banyak akan menimbulkan semangat perasaan daerah, yang tidak dikehendaki pendekar besar Sangaji maupun puteri Titisari... Dan setelah itu, dia berkata nyaring.
"Pendekar Watu Gunung yang kuhormati. Memang benar kata Tuan, bahwa siapa saja boleh memiliki warisan itu bila mampu. Soalnya di sini, apakah pewaris itu berbudi luhur atau tidak. Tuan termasyur di seluruh wilayah Jawa Barat sebagai keturunan dan pewaris pendekar besar yang bertahta di atas Gunung Mandalagiri. Bagus. Bagus! Hanya sayang...."
"Sayang apa?" Watu Gunung menggerung.
"Di dalam nilai budi, kau tidak nempil dengan budi pendekar besar Sangaji yang mengagumkan tiap insan. Baiklah kubuktikan, Tuan. Karena demi surat wasiat ini, engkau telah mengerahkan semua murid dan pengikutmu. Tak peduli dengan jalan bagaimana, surat wasiat itu haruskau peroleh. Hm, sampai membiarkan murid-murid Tuan mengenakan pakaian seragam serdadu VOC dan Inggris. Terpaksalah aku mendampratmu sebagai seorang pengkhianat terkutuk. Sungguh sayang! Meskipun andaikata kau berhasil menongkrong sebagai Raja karena memiliki surat wasiat sakti itu, hm aku Sorohpati akan tetap menganggapmu tak melebihi boneka tanpa jiwa."
Watu Gunung menjadi gusar sekali. Ia mengumbar adatnya. Tangannya bergerak. Tapi yang diarah bukan Sorohpati. Sebaliknya Gandarpati yang sedang memegangi tangan Astika. Maksudnya jelas, hendak membuat semangat Sorohpati runtuh. Bukankah orang tua itu sedang berjuang mempertaruhkan jiwa demi keselamatan murid dan anaknya? Begitu tangannya bergerak, Gandarpati terpental tinggi dan jatuh bergedubrakan di atas tanah berbatu.
"Watu Gunung, tahan! Aku ingin berbicara." Sorohpati buru-buru menengahi.
"Kau binatang mau berbicara apa?" bentak Watu Gunung. Romannya berkerut-kerut bengis sekali, sehingga Astika yang mendongkol tak berani berkutik.
Sorohpati sendiri berlaku tenang. Ia tidak memikirkan nasibnya lagi. Katanya, menguji sekali lagi.
"Kau datang untuk surat wasiat itu bukan?"
"Kurang ajar! Dengan aku kau masih berani berputar mulut." Watu Gunung mendongkol. "Kau berlututlah meminta maaf!"
Tentu saja, Sorohpati tak sudi mendengarkan. Dengan gagah ia tetap berdiri tegar.
"Dalam hal usia, memang akulah sepatutnya membungkuk-bungkuk hormat padamu. Tapi kau seorang pengkhianat bangsa. Buat apa aku berlutut dihadapanmu?"
Bukan kepalang gusarnya Watu Gunung. Ia mengira dirinya sudah bisa membuat kuncup hati pendekar itu. Tak tahunya ia menumbuk batu. Keruan mukanya merah
padam dan pucat lesi bergantian. Dengan menggerung ia melompat menyambar pantat Sorohpati.
"Berjongkok!" bentaknya dengan suara keras. Dan tubuh Sorohpati terpelanting meskipun sudah berusaha memperteguh kuda-kudanya. Justru ia mengambil sikap bersitegang, membuat lukanya kian menjadi parah.
Kedua matanya lantas saja menjadi gelap, la melontakkan darah lagi. Tubuhnya menggigil dan tak tahan lagi ia berdiri tegak. Kedua kakinya lemas dan ia lantas roboh dengan berjongkok.
Gandarpati yang baru tertatih-tatih bangun dan Astika yang kuncup hati kaget menyaksikan kejadian itu.
Mereka sampai memekik dengan berbareng. Kemudian berbareng pula mereka menubruk tubuh Sorohpati. Setelah itu berputar menghadap Watu Gunung.
"Mari kita mati berbareng!"
Sorohpati yang berada dalam lupa-lupa ingat, mendengar teriakan murid dan anaknya.
Gugup ia berseru menegur: "Apakah kalian lupa kepada pesanku?"
Mendengar teguran itu, Gandarpati segera sadar akan kecerobohannya. Cepat ia sambar lengan Astika dan dibawanya melompat mundur.
Dadang Kartapati yang menyaksikan peristiwa itu, tertawa mengejek meskipun dengan menahan rasa sakit. Katanya mengangkat diri, "Sorohpati, kau bilang kalau bisa mengalahkanmu dalam seratus jurus, kau akan menyerah. Sekarang, marilah kita bertanding. Kau mampu mengalahkan kami atau tidak?"
Sorohpati sedang merayap bangun. Tatkala mendengar kata-kata bernada merendahkan itu, tiba-tiba saja ia mencelat bangun. Tangannya berkelebat menyambar kepala Dadang Kartapati. Semua orang yang melihat serangan mendadak itu, terkesiap. Darimanakah dia memperoleh tenaganya?
Dadang Kartapati sendiri sudah terluka parah. Secara wajar ia harus mengelak. Namun tubuhnya tidak mau membawanya pergi. Tahu-tahu, bres! Lehernya kena pukulan telak dan ia terbanting bergulingan.
Anak buahnya segera memburu. Begitu melihat mukanya, mereka memekik tertahan. Wajah Dadang Kartapati pucat bagaikan kertas. Napasnya telah lenyap pula. Keruan saja mereka bergusar. Serentak mereka menoleh kepada Sorohpati. Tetapi pada saat itu, Sorohpati roboh pula. Kedua kakinya berkelejatan. Sejenak kemudian tubuhnya tak berkutik. Ia menarik napas panjang. Panjang sekali. Lalu berhenti untuk selama-lamanya.
Astika kaget. Ia menjerit dan roboh pingsan. Memang, Sorohpati telah menggunakan seluruh sisa tenaganya. Itulah sebabnya, begitu melepaskan tenaganya yang penghabisan, ia kehilangan nyawanya juga. - .
Astika pingsan tidak seberapa lama. Tatkala memperoleh kesadarannya kembali, ia melihat Gandarpati tengah memondong tubuh ayahnya. Kakak-seperguruannya itu memandang padanya.
"Astika, adikku. Mari kita berangkat!" ia berkata mengajak setelah melihat Astika sadar dari pingsannya.
Terhadap Gandarpati, Astika merasa jemu. Tapi tadi, ia melihat kegagahannya tatkala kena dihantam Watu Gunung. Sekarang pun ia menyaksikan betapa dia setia terhadap ayahnya. Rasa jemu terhadapnya lantas saja buyar berderai. Kesannya berbalik menjadi rasa terharu.
"Kita pergi kemana?" Astika menangis.
"Pulang .... " sahut Gandarpati pendek. Kemudian berputar kepada Brajabirawa. "Perkenankan kami pergi."
Tiba-tiba terdengarlah suara tertawa bergemuruh. Itulah pendekar Watu Gunung.
"Gampang kau kuijinkan pergi. Tapi tinggalkan dahulu surat wasiat itu!"
"Hai! Apakah laki-laki tidak bisa memegang janji?" damprat Astika.
"Aku pernah berjanji apa padamu?" Watu Gunung mendelik. Sambil menuding Dadang Kartapati, ia meneruskan: "Bukankah dia yang kalian ajak berbicara. Dia sudah mampus. Bisa apa lagi? Tapi aku Watu Gunung mempunyai caraku sendiri. Nah, kau serahkan tidak surat wasiat itu?"
Bukan main mendongkolnya hati Astika. Namun ia tak berdaya menghadapi pendekar sakti itu. Segera ia melirik kepada Gandarpati yang nampak mengkerutkan keningnya. Dasar tak pandai berbicara kena desak demikian, ia bertambah bungkam. Dan menyaksikan bungkamnya Gandarpati, kembali rasa jemu Astika menjalari tubuhnya. Dengan kalap ia menatap wajah Watu Gunung yang bengis. Ia terkesiap sewaktu melihat puluhan orang bergerak mengepung atas pimpinan seorang laki-laki pendek kecil berjenggot panjang.
Selagi demikian, tiba-tiba di luar tenda terdengar suatu kesibukan. Mereka semua menoleh. Seorang laki-laki berambut rereyapan masuk dengan pandang beringas. Ia mengenakan pakaian pendeta. Namun kesannya awut-awutan6) Begitu masuk ia lantas berkelebatan menghantam mereka yang sedang bergerak mengepung. Cepat dan tangkas gerakannya. Dengan mendadak saja, mereka semua kebagian pukulan telak.
"Siapa?" bentak Watu Gunung.
Pendeta awut-awutan itu tidak sudi menjawab pertanyaannya. Gesit ia menerjang dan mengirimkan pukulan. Astika mengira, bahwa pukulanya ini pun akan mengenai telak. Tak terduga, dengan sedikit menggeserkan tubuhnya, Watu Gunung terbebas dari pukulan mendadak itu.
Pendeta awut-awutan itu tercengang menyaksikan kepandaian Watu Gunung. Dengan penasaran ia mengulangi serangannya, tapi kala itu si Jenggot Panjang menghadang didepannya. Tangannya bergerak cepat menyodok bawah ketiak pendekar itu dan dengan gerakan itu terpunahlah serangannya.
"Bangsat! Kau mempunyai kepandaian juga. Siapa kau?" bentak pendeta awut-awutan itu.
"Siapa kau?" si Jenggot membalas pertanyaan dengan pertanyaan pula.
Pendeta awut-awutan itu terhenyak sejenak.
Kemudian tertawa berkakakkan seperti orang gendeng.
5) awut-awutan = baca edan-edanan
Tiba-tiba Kartawirya yang berada di luar arena, berseru kaget.
"Awas! Dialah Ki Hajar Karangpandan! Dia pulalah yang dahulu merampas kedua pusaka sakti dari tangan anak buah sang Dewaresi. Jangan biarkan lolos!"
Pendekar awut-awutan itu memang Ki Hajar Karangpandan. Seperti diketahui, ia tak pernah menetap di padepokannya. Sebagian besar hidupnya, berkelana tak keruan juntrungnya. Kerapkali ia melintasi daerah Banyumas. Dahulu dalam perantauannya ia bertemu dengan rombongan sang Dewaresi yang membawa pulang dua pusaka sakti itu dari Cirebon, la menghadangnya dan merampasnya yang kemudian diserahkan kepada Wayan Suage dan Made Tantre.7) Sekarang pun, secara kebetulan pula ia mendengar peristiwa yang mirip pula.
Itulah disebabkan, lonceng tanda bahaya Titisari yang disebarkan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Begitu mendengar dan menerima lonceng tanda bahaya itu, segera ia berangkat menuju ke Kota Waringin. Ia meskipun nampak edan-edanan, sesungguhnya seorang yang berotak cerdas. Di Kota Waringin segera ia mencium berita pertempuran yang menarik. Pertempuran antara Kakek Wasiman dan serdadu-serdadu Kompeni. Dan Kakek Wasiman yang bongkok tiba-tiba bisa berdiri tegak. Dari mulut ke mulut kejadian aneh itu dibicarakan orang. Karena perjanjian adu kepandaian mereka diumumkan secara terang-terangan, maka gampanglah ia memperoleh keterangan. Segera ia menyusul dengan menjejak perjalanan rakit Sorohpati. Ditepi sungai ia
7baca Bende Mataram jilid 1
mendengar keterangan para pengayuhnya. Cepat ia melesat dan menyatroni perkemahan.
Kartawirya kenal Ki Hajar Karangpandan. Karena itu segera ia mengenalnya pula. Sebaliknya Ki Hajar Karangpandan semenjak dahulu tidak begitu menggubrisnya. Itulah sebabnya ia heran, mengapa dirinya segera dikenal. Namun sebagai seorang pendekar yang berpengalaman, ia hanya tercengang sejenak. Kemudian kumatlah sifat gendengnya. Dengan tertawa berkakakkan ia berkata mengguruh.
"Hai! Hai! Di sini pun ada binatang yang mengenal aku. Bagus, bagus! Ini kumpulan binatang dari mana?"
Orang berjenggot panjang yang justru berada didepahnya merasa paling tersinggung kehormatannya. Terus membentak.
"Bangsat! Aku Didi Kartasasmita, kau anggap binatang?"
"O, tidak! Tidak! Kau cuma binatang berjenggot! Bukankah kambing sembelihan?" sahut Ki Hajar Karangpandan. Dalam hal mengadu mulut jahil, Ki Hajar Karangpandan paling ahli. Jaga Saradenta dan Wirapati dahulu kena terikat perjanjian selama dua belas tahun karena pandainya memutar balik dan melagui kata-kata jahil.
"Bangsat! Kau benar-benar harus dihajar mampus!" teriak Didi Kartasasmita.
Setelah berkata demikian, ia menerjang dengan geram. Hajar Karangpandan tentu saja tak mau dirinya kena diserang. Dengan tertawa berkakakkan, ia melawan. Hebatnya masih bisa ia merabu yang lain-lain,
sehingga masing-masing kebagian gaplokan pulang pergi.
Ki Hajar Karangpandan memang memiliki serupa ilmu yang sangat luar biasa. Dia bisa bergerak cepat sambil menghantam. Tangan dan kakinya nampak berserabutan, tetapi tiap gerakannya mengenai sasarannya dengan jitu. Walaupun sedang dikerubut puluhan orang, ia bisa tertawa berkakakkan seolah-olah sedang bermain olahraga. Dan menyaksikan ketangguhannya, diam-diam Watu Gunung terkesiap. Pikirnya, "Melawan dia, tak usah aku kalah. Tapi kalau sampai terlibat bisa membuat runyam. Baiklah aku mengompres anak Sorohpati terlebih dahulu." Dan setelah memperoleh pikiran demikian, dengan sekali melesat ia menyambar tubuh Astika dan dibawanya kabur.
Hajar Karangpandan kaget mendengar suara kesiur angin dahsyat. Cepat ia menoleh.
Begitu melihat Astika kena dibawa kabur Watu Gunung, segera hendak ia memburu. Tetapi Didi Kartasasmita menghadangnya.
"Kau hendak kabur kemana?" bentaknya.
KI Hajar Karangpandan tercengang sejenak. Kemudian berbalik sambil menghantam.
Bentaknya pula. "Kurang ajar kau kambing berjenggot berani berlagak didepanku?"
Hebat pukulannya sampai Didi Kartasasmita terpaksa mundur tiga langkah. Dan kesempatan itu dipergunakan Ki Hajar Karangpandan. Sekali melompat ia mendekati Gandarpati dan berkata perlahan.
"Kenapa kau tidak lantas lari? Menunggu apa lagi?!"
Gandarpati seperti tersadar. Cepat ia memeluk tubuh gurunya dan melesat menerjang barisan pengepung. Sebentar saja tubuhnya hilang dari pengamatan.
Sekarang tinggallah Ki Hajar Karangpandan menghadapi mereka. Hati pendeta gendeng itu jadi berlega kini. Dengan tertawa lebar ia membagi pandang. Sebaliknya Didi Kartasasmita mendongkol bukan main. Seperti seorang pemain kartu, ia merasa sudah kehilangan pokoknya. Namun ia tak sudi kepalang tanggung. Dengan menggerung ia menerjang. Walaupun demikian, melihat kegesitan lawan tak berani ia terlalu mendesak.
Brajabirawa yang menggeletak di atas pembaringan, kagum menyaksikan pertarungan itu. Untuk sesaat ia melupakan rasa sakitnya karena hatinya tegang. Setelah menghela napas, ia berkata kepada dirinya sendiri: Di dunia yang lebar ini, benar-benar terdapat orang pandai banyak sekali. Kalau aku tidak kabur sekarang, tunggu apalagi?
Memikir demikian, dengan beringsut ia turun dari pembaringan. Ia menggapai dua orang bawahannya dan membisiki suatu perintah. Buru-buru dua orang bawahannya melindungi. Kemudian menggotongnya keluar perkemahan. Ia bebas kini. Tetapi dunia selanjutnya memberi kesempatan lagi padanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan licik dikemudian hari. Beberapa tahun kemudian setelah melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, ia kedapatan mati di tengah jalan.Tak terang sebab musabab kematiannya. Entah kena penyakit sampar entah kena aniaya orang. Maka
terasalah dalam hati manusia ini, bahwa sesungguhnya babak perjalanan terakhir tiap insan sebagian besar ditentukan oleh laku perbuatannya sendiri.
Dalam pada iiu, Ki Hajar Karangpandan merasa cukup sudah merintangi mereka mencapai tujuannya. Tiba-tiba saja ia tertawa terbahak-bahak.
"Hai, sudahlah, sudahlah! Cukup aku berkenalan dengan moncongmu. Hm, hm! Seekor pun tiada yang berharga." Setelah berkata demikian, kedua kakinya menjejak. Tubuhnya melesat tinggi dan hinggap di atas palang langitan.8)
Di atas penglari ia tertawa terbahak-bahak lagi sambil mengelus-elus perutnya. Tinggi penglari itu kurang lebih empat meter. Meskipun di antara anak buah Brajabirawa terdapat ahli-ahli silat, namun mereka tak sanggup melompat ke atas penglari dengan sekali melesat.
Didi Kartasasmita yang berjenggot panjang sesungguhnya seorang pendekar jempolan. Meskipun kedudukannya dalam perkemahan itu menjadi bawahan Brajabirawa, namun sesungguhnya dialah paman gurunya. Tegasnya, dialah adik seperguruan pendekar Watu Gunung. Karena itu, ilmu kepandaiannya paling tinggi di antara mereka. Maka dapatlah dimengerti, bahwa ia bergusar setinggi langit kena dikocok Hajar Karangpandan. Dengan gregetan ia menghampiri tiang. Maksudnya hendak memanjat menyusul. Dasar Ki Hajar Karangpandan berwatak edan-edanan, ia girang luar biasa melihat maksud Didi Kartasasmita. Ia menunggu
J) palang langitan = penglari
sampai Didi Kartasasmita merayap ke atas. Tapi belum sampai mencapai penglari, kakinya lantas mendupak.
Untung Didi Kartasasmita bukan orang lemah. Buru-buru ia memiringkan kepalanya. Tangannya bergerak hendak menotok urat nadi. Sudah barang tentu Hajar Karangpandan mengenal bahaya. Segera ia menutup jalan darahnya, sehingga totokan Didi Kartasasmita tidak seperti yang diharapkan. Sadar bahwa ia kena suatu jebakan, buru-buru menarik jarinya. Tapi pada saat itu, kaki kiri Hajar Karangpandan mendupak. Kali ini Didi Kartasasmita mati kutu. Itulah disebabkan tangan kirinya terpaksa dipergunakan untuk menggelendot tiang. Bres! Mukanya kena dupak dan tubuhnya lantas melorot.
Lucu keadaan Didi Kartasasmita. Karena tubuhnya pendek kecil, ia nampak meringkas sewaktu melorot turun. Mulut jahil Hajar Karangpandan lantas mengoceh.
"Hooeee binatang! Lihatlah! Kambing berjenggot bisa berak juga. Horeee..."
Bukan main mendongkolnya Didi Kartasasmita.
Dengan memaksa diri ia memeluk tiang erat-erat untuk mempertahankan diri. la berhasil dan dengan mengerahkan tenaga beringsut-ingsut memanjat lagi.
"Hai, hai, hai! Monyet bisa merangkak pula! Cuh! Cuh! Cuh!" teriak Ki Hajar Karangpandan. Ludahnya lantas menyemprot bagaikan hujan deras.
Dengan memejamkan mata, Didi Kartasasmita menerima hujan ludah itu. Karena sangat lebatnya, ia mengguncang-guncangkan kepalanya. Jenggotnya yang panjang menyabet-nyabet kalang kabutan seperti seekor
anjing. Hebat sabetan janggut itu. Suatu kesiur angin tajam menghantam dada.
Hajar Karangpandan kaget. Namun selain edan-edanan, ia berani pula. Ingin ia mencoba tenaga lawan. Tangannya dikibaskan dan terdengarlah suatu bentrokan nyaring. Heran, Hajar Karangpandan. Segera insyaflah dia, bahwa jenggot itu tidak boleh dibuat gegabah. Dengan tangan kiri menyekal19) penglari, ia membuang dirinya ke bawah dan bergelantungan seperti anak kecil bermain ayun-ayunan.
Dalam gebrakan itu, semua orang tahu bahwa Didi Kartasasmita bukan tandingan Hajar Karangpandan. Jika mau bersungguh-sungguh gampang saja ia mendupak Didi Kartasasmita terpelanting dari ketinggian. Kartawirya yang menyaksikan hal itu segera berteriak, "Naik, naik, naik!"
Empat orang bawahannya buru-buru memanjat tiang. Enam orang lagi menyusul dari tiang lainnya. Dan melihat naiknya orang-orang itu, timbullah kegembiraan dalam hati Hajar Karangpandan yang berwatak angin-anginan. Kenakalannya lantas saja kumat. Dengan sekali berayun ia berdiri di atas penglari. Lalu membuka celananya. Berteriak nyaring.
"Hayo, cepatan naik! Hayo, cepat naik!"
Dan begitu mereka berada di tengah perjalanan, kencing Hajar Karangpandan berhamburan. Keruan saja mereka jadi kelabakan. Tanpa menghiraukan segala, mereka lantas melorot buru-buru dan jatuh di atas tanah dengan tumpang tindih. Dan melihat hal itu, Hajar Karangpandan tertawa berkakakkan. Hatinya puas bukan main.
"Nah, kalian sudah kebagian semua. Sekarang, selamat tinggal!" katanya. Kemudian membentak dengan bengis. "Aku mau pergi. Tapi awas, siapa yang berani mengejar benar-benar aku tak segan-segan lagi menghajar batok kepala kalian. Kalian dengar? Nah, selamat malam!" Dengan gerakan cepat, tiba-tiba tangannya sudah menggenggam sebatang pedang.
Sekali pedangnya digerakkan, tenda perkemahan rantas. Tubuhnya lalu melesat membobol atap. Sebentar terdengar langkahnya. Kemudian lenyap.
Kadatangan Hajar Karangpandan mengacau perkemahan Brajabirawa, benar-benar merupakan malaikat penolong bagi Gandarpati. Meskipun memanggul tubuh gurunya, masih dapat ia membobol kepungan. Itulah disebabkan perlindungan pendeta edan-edanan itu. Maka untuk kesekian kalinya terbuktilah, bahwa meskipun nampaknya edan-edanan sesungguhnya Hajar Karangpandan adalah seorang pendekar yang pandai menggunakan kecerdasannya.
Sewaktu Hajar Karangpandan mempermain-mainkan Didi Kartasasmita, Gandarpati sudah jauh meninggalkan perkemahan. la lari terus mengarah ke timur. Niatnya hendak kembali pulang ke pondok gurunya. Hatinya tegang luar biasa, takut kalau-kalau ia diburu. Justru hatinya tegang, ia melupakan segalanya. Tapi setelah merasa dirinya aman, barulah ingatannya terbuka.
"Guru! Benar-benar Guru sampai hati meninggalkan aku?" katanya perlahan. Hatinya pilu mendengar ucapannya sendiri. Tak terasa ia menangis menggerung-gerung. Tiba-tiba teringatlah dia kepada Astika yang dibawa kabur Watu Gunung. Entah bagaimana nasib adik seperguruannya itu. Hatinya berduka, kacau, kecewa,
menyesal dan bingung. Ia merasa diri tak berdaya sama sekali. Maka tangisnya tambah menggerung-gerung.
Adalah pada saat itu di belakang suatu ketinggian mendadak terdengar suara luar biasa. Kemudian terdengar suara seorang wanita yang sangat merdu.
"Siapa menangis di tengah malam buta begini?" Gandarpati waktu itu dalam puncaknya suatu kesedihan. Ia tak memedulikan pertanyaan itu. Namun mendengar suara itu, hatinya seperti terhibur. Tanpa merasa ia melirik.
Kala itu di atas, bulan sipit menghias udara. Walaupun cahayanya semu, tapi cukup terang benderang bagi seorang seperti Gandarpati yang memiliki mata tajam, la melihat munculnya seorang wanita yang bersikap agung dan cantik luar biasa. Baru wanita itu mengucap demikian, suatu bayangan berkelebat mendampingi. Dia seorang laki-laki berperawakan tegap dan berpembawaan tenang.
"Aji, lihatlah! Siapa yang dipanggul itu!" ujar wanita itu sambil menuding.
Laki-laki yang berada disampingnya melayangkan pandang, dengan berdiam diri. Luar biasa tenang sikapnya. Dan melihat ketenangan itu, tak terasa tangis Gandarpati berhenti dengan mendadak. "Siapakah mereka?"
Selagi Gandarpati sibuk menduga-duga, sepasang pria wanita itu datang menghampiri. Begitu melihat tubuh siapa yang berada dalam panggulan, wanita itu kaget sampai memekik perlahan.
"Hai, Paman Sorohpati! Engkaukah muridnya?"
Mendengar pertanyaan itu, entah apa sebabnya tiba-tiba Gandarpati membanting dirinya dan menangis menggerung-gerung kembali dengan amat pedihnya.
Kedua suami isteri itu sesungguhnya Sangaji dan Titisari. Setelah kawin, mereka kembali ke Jawa Barat untuk memimpin perjuangan melawan Kompeni Belanda. Pengaruh Himpunan Sangkuriang makin lama makin luas. Banyak pendekar datang menggabungkan diri.
"Aji! Lihatlah! Siapa yang dipanggul itu?" ujar wanita itu sambil menuding. Laki-laki yang berada disampingnya melayangkan pandang, dengan berdiam diri. Luar biasa tenang sikapnya.
Justru hal itu, membuat hati Titisari curiga. Sebagai seorang wanita yang berakal, ia lebih banyak menggunakan kecerdasan otaknya daripada perasaannya belaka. Untuk mengetahui siapa lawan siapa kawan, ia lantas membuat suatu jebakan. Sengaja ia menulis ukiran pusaka Bende Mataram di atas suatu kertas yang telah dihafalkan diluar otaknya kala menolong Sangaji sewaktu luka parah di dalam benteng kuno dahulu.9) Surat itu lalu dipercayakan kepada Sorohpati dan diperintahkan menyimpan di Jawa Tengah. Kemudian, dengan pertolongan Manik Angkeran, ia sengaja membuat berita desas-desus tentang wasiat tulisan sakti itu. Watu Gunung kena terjebak. Ia memburu ke Jawa Tengah dengan membawa pengikut-pengikutnya yang terpercaya. Titisari segera membunyikan lonceng tanda bahaya. Ayahnya dan sekalian pendekar bekas rekan-rekannya dahulu dihubungi dengan surat pemberitahuan. Ia sendiri menyusul ke Jawa Tengah bersama Sangaji. Demikianlah malam itu mereka berdua melintasi wilayah Banyumas. Dan dengan tidak terduga-duga bertemu Gandarpati yang sedang berlari-larian dengan menangis menggerung-gerung. Menangis menggerung-gerung di tengah malam buta dengan berlari-larian ditambah pula dengan menggendong sesosok tubuh, benar-benar menarik perhatian. Sekaligus terbangunlah sifat usilan
J) baca Bende Mataram jilid 9
Titisari. Sekali melesat ia menghampiri Gandarpati dan melepaskan pertanyaan tadi.
Gandarpati sendiri, belum pernah melihat wajah Titisari dan Sangaji. Ia hanya mendengar nama mereka dari tutur kata gurunya. Seperti diceritakan di atas, entah apa sebabnya, mendadak ia membanting dirinya dan menangis menggerung-gerung makin menghebat, la merasa diri seperti bertemu dengan malaikat pelindung jagad.
"Eh, siapa engkau?" Titisari mengulangi pertanyaannya. "Kau murid Paman Sorohpati?"
Dalam tangisnya, Gandarpati memanggut. Dan melihat anggukan itu, hati Titisari tercekat.
"Kenapa gurumu? Coba terangkan! Kami berdua orang sendiri. Kau pernah mendengar nama Sangaji dan Titisari? Inilah kami berdua."
Mendengar keterangan itu, Gandarpati kaget luar biasa sampai mencelat bangun. Tangisnya berhenti dengan mendadak setelah mengamat-amati wajah mereka berdua dengan terlongong-longong sejenak, kemudian ambruk memeluk kaki mereka. Dan kembali ia melagukan tangisnya.
"Tuhan memang adil! Tuhan memang adil!" katanya di antara sedannya. Meskipun menangis tapi tangisnya kali ini tidaklah sesedih tadi. Ada rasa syukur terbesit di antara sedu-sedannya.
Sangaji yang selamanya berhati sabar dapat membiarkan Gandarpati memuntahkan semua perasaannya. Sebaliknya Titisari yang berhati lincah sebentar saja sudah merasa risih. Tetapi dasar otaknya
cerdas luar biasa, segera ia dapat menebak sembilan bagian.
"Ini perbuatan Watu Gunung, bukan?"
Gandarpati tercengang. Dan kembali lagi tangisnya berhenti. Katanya tak jelas.
"Bagaimana tuanku puteri mengerti?"
"Pendekar mana yang dapat mengalahkan gurumu selain Watu Gunung?" sahut Titisari dengan gampang. Kami berangkat kemari untuk menyusulnya. Dimana dia sekarang berada? Pastilah dia sudah mengantongi sesuatu."
"Benar." Gandarpati heran. "Tapi yang dibawa kabur adalah adik seperguruan kami, Astika. Surat wasiat tuanku puteri dibawa Guru ke liang kubur.
Mendengar keterangan Gandarpati, Sangaji nampak bergerak. Memang dialah yang tahu benar asal-usul Astika. Karena itu hatinya tergetar.
"Mari kita susul!" ajaknya dengan perkataan pendek.
"Benar," sahut Titisari. Tiba-tiba menggoda, "Kau berani melawan Watu Gunung?"
Dalam kesengitannya dahulu, pernah Sangaji menghantam dada Watu Gunung dengan ilmu pukulan ciptaan Kyai Kasan Kesambi.10) Namun mendengar godaan Titisari dengan pendek ia menjawab, "Entahlah."
"ldih! Makin tua, kau makin jadi penakut."
Sangaji tertawa.
10) baca Bende Mataram jilid 7
"Kau hendak membawa jenasah gurumu kemana?" Titisari mengalihkan pembicaraan kepada Gandarpati.
"Pulang," jawab Gandarpati sederhana.
"Baiklah. Kau rawat jenasah gurumu baik-baik.
Perkara anak asuhnya, kamilah nanti yang mencarinya," kata Titisari.
Perlahan-lahan, Gandarpati melepaskan pelukannya. Lalu mundur beberapa langkah.
Baru saja ia menegakkan kedua kakinya, mereka berdua telah hilang dari pengamatan. Bukan main herannya Gandarpati. Selama hidupnya baru kali itu menyaksikan kesanggupan sepasang manusia yang terdiri dari darah dan daging seperti dirinya juga. Kalau saja ia tak menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, pastilah hanya pantas menjadi suatu dongengan belaka. Masakan manusia bisa bergerak secepat itu. Tiba-tiba saja terdengarlah suara bergelora menusuk udara. Hebat suara itu, sampai hatinya tergetar. Itulah suara Sangaji dan Titisari yang mengumandangkan tantangan terhadap Watu Gunung. Dan mendengar suara bagaikan guruh itu, Gandarpati kian terlongong-longong. la menjadi bengong lama sekali.
Tatkala itu Watu Gunung sudah lari belasan pal dari perkemahan. Ia seorang pendekar yang sudah banyak makan garam. Tak sudi ia lari mengarah ke barat, sebaliknya ia malahan ke timur. Maksudnya terang. Meskipun tak takut bakal kena buru, tetapi ia perlu menjalankan suatu tipu muslihat. Selagi demikian, Astika yang berada dalam pelukannya berontak.
"Tua bangka! Hendak kau bawa kemana aku?" Watu Gunung tertawa mendengus.
"Tergantung kepada keadaanmu sendiri. Kalau kau mau terus terang, jiwamu bakal selamat. Sebaliknya kalau tidak "hm" aku bisa membuatmu mati tidak, hidup pun tidak. Kau tak percaya?"
"Aku bukan anakmu. Lepaskan aku!" teriak Astika.
"Itulah gampang. Nah, tunjukkan dahulu di mana ayahmu menyimpan surat wasiat itu!"
"Bagaimana aku tahu?" sahut Astika. Memang, ia benar-benar tidak mengetahui.
Tapi mana bisa Watu Gunung percaya kepada keterangannya. Sengit ia mengancam.
"Untuk sementara kubiarkan engkau berlagak pilon. Tapi rasakan sebentar lagi. Aku akan membuatmu menjadi boneka permainan...."
Astika yang beradat panas tidak takut. Ia berontak dan menghantam serabutan. Meskipun hantamannya tidak bisa menyakiti, namun hati Watu Gunung mendongkol. Tangannya bergerak dan menampar pipi Astika sampai melempuh.
Astika menjerit.
"Tolong!"
Nyaring jeritannya dalam malam buta. Tiba-tiba berkelebatlah suatu bayangan yang langsung menubruk Watu Gunung.
"Berhenti!" bentak bayangan itu seraya melintangkan tongkatnya.
"Binatang! Siapa?" Watu Gunung membalas membentak. Tangannya bergerak menangkap tongkat yang dilintangkan didepannya. Diluar dugaan, bayangan itu dapat menggerakkan tongkatnya dengan gesit pula tak ubah sebilah pedang. Watu Gunung kaget. Buru-buru ia menarik tangannya dan menyampok. "Lepaskan!"
Gerakan Watu Gunung adalah gerakan meminjam tenaga lawan. Ia menyampok sambil menyambar. Tapi kali ini pun, sambarannya memukul udara kosong. Watu Gunung heran dan kaget bukan main.
"Siapa?" bentaknya.
"Kau siapa membawa-bawa seorang gadis kecil?" pertanyaannya dibalas dengan pertanyaan.
"Hm! Kau kira siapa aku? Coba terka!" damprat Watu Gunung.
"Siapa sudi main tebak di malam hari buta begini? Aku Demang si Galuh Jaga Saradenta selamanya main terang-terangan," kata bayangan.
Memang dialah Jaga Saradenta yang dahulu, rekan Wirapati, Guru Sangaji semasa umur belasan tahun. Setelah Sangaji dan Titisari terangkap jodohnya, ia pulang ke kandang, la jadi dapat mengurus wilayahnya kembali. Pada suatu hari ia menerima sepucuk surat edaran dari Titisari yang memberitahukan tentang sepak terjang Watu Gunung. Begitu menerima surat edaran itu, sering ia meronda wilayahnya sendiri. Dan malam itu ia justru ke sampok Watu Gunung yang sedang kabur dengan membawa anak asuh Sorohpati.
"Ah! Kaulah Jaga Saradenta guru si tolol dahulu?" ujar Watu Gunung dengan tertawa. "Inilah justru kebetulan sekali."
"Sebenarnya kau siapa?"
Watu Gunung tidak menjawab. Di luar perhitungan, Astika yang berada dalam pelukannya membuka mulutnya.
"Tolong! Dialah si bangsat Watu Gunung yang..... "
"Tutup mulut!" bentak Watu Gunung dan membanting Astika ke tanah sampai bergelundungan. Untung, pendekar itu tidak bermaksud membunuhnya. Ia hanya menggunakan dua bagian tenaganya. Walaupun demikian, Astika jatuh bergulingan dengan tak sadarkan diri.
Sekarang, Jaga Saradenta tidak bersangsi-sangsi lagi. Dengan membentak, ia menyodok-kan tongkatnya. Watu Gunung menangkapnya berbareng membetot. Ia percaya akan tenaga sendiri. Tapi mimpi pun tidak, bahwa lawannya adalah seorang pendekar ahli tenaga luar. Meskipun ia mengerahkan tenaga sampai tujuh bagian, tetap saja tongkat itu tak dapat terbetotll) dari genggaman. Namun ia tidak menjadi gugup. Cepat ia menyodokkan dengan membarengi suatu sambaran.
Jaga Saradenta kaget bukan kepalang. Dadanya tiba-tiba menjadi sesak dan ia terdorong mundur sampai terhuyung tiga langkah. Memang selain usianya kini sudah bertambah menjadi lanjut, tenaganya masih kalah. Namun ia masih tetap galak dan berangasan seperti
11) terbetot = terlepas
dahulu, la cepat penasaran. Tanpa memperhitungkan kemampuan diri, tongkatnya berputar membuat serangan balasan.
Watu Gunung sendiri tidak sudi kena libat. Begitu berhasil mengundurkan Jaga Saradenta, ia melompat menyambar Astika dan dibawanya melesat kabur.
"Binatang! Kau hendak lari ke mana?" bentak Jaga Saradenta.
Watu Gunung tidak memedulikannya. Ia mengerahkan tenaga dan lari secepat kilat.
Pikirnya di dalam hati, "Dia guru Sangaji. Kalau aku melukai apalagi sampai membunuhnya, aku bisa disatroni sebelum aku berhasil menekuni surat wasiat. Inilah artinya aku mencari penyakitku sendiri. Lebih baik aku kabur jauh-jauh."
Dan dengan pikiran itu, ia kabur seperti dikejar iblis.
"Hm, keparat anak ini." Ia menggerendeng. "Karena gara-garanya hampir saja membuat runyam...."
Astika kala itu telah memperoleh kesadarannya sendiri. Teringatlah dia, bahwa ia tadi kena banting. Meskipun terasa masih sakit, namun hatinya lebih sakit lagi. Dengan menggertak gigi ia memaki kalang kabut.
"Kau Watu Gunung benar-benar seperti batu gunung! Kau biadab! Kau tak tahu malu, kau tua-bangka...
Kau... "
"Binatang kecil! Masih saja kau mengumbar mulut? Apakah kau mencari mampusmu sendiri?" bentak Watu Gunung geregetan. "Lihat, apakah ini?" Ia memperlihatkan sebatang jarum. "Inilah jarum beracun.
Kalau sampai menusuk kulitmu, kau bakal kelojotan seperti cacing kena bara. Dan kau bakal tidak hidup dan tidak mati selama tiga hari. Dagingmu akan membusuk dan kau bakal mampus dengan kesakitan luar biasa. Apakah kau menghendaki aku mencobamu?"
Melihat jarum dan keterangan Watu Gunung, betapa pun juga hati Astika mencelos. Teringat akan wajahnya yang bengis, pendekar itu bisa membuktikan ancamannya. Seluruh tubuhnya lantas saja jadi bergidik.
Mendadak saja, pada saat itu terdengarlah suara kesiur angin tajam. Serupa benda melesat di udara dan memancarkan cahaya terang. Itulah panah berapi Jaga Saradenta yang mengabarkan tanda bahaya.
Watu Gunung mengutuknya kalang kabut. Justru pada detik itu suatu benda melesat menyambar dadanya. Secara wajar, tangannya bergerak menangkis. Tahu-tahu jarum beracunnya terlepas dari tangannya dan runtuh di tanah.
Bukan main kagetnya Watu Gunung sehingga tanpa merasa ia melepaskan pelukannya. Ia terus meloncat dan memungut benda yang dapat menyambar jarumnya sampai runtuh.
Ternyata hanya sebutir batu kerikil, la jadi ternganga keheranan.
"Ilmu kepandaian orang yang menimpuk aku ini, tak dapat kujajagi berapa dalamnya. Ah, tak kusangka bahwa di Jawa Tengah ini terdapat banyak orang pandai. Kalau aku tidak cepat-cepat kabur, malam ini belum tentu aku bisa menolong jiwaku sendiri, pikir Watu Gunung.
Setelah memperoleh pikiran demikian, tangannya diangkat hendak menghabisi nyawa Astika. Tiba-tiba teringatlah dia akan surat wasiat itu. Kalau ia sampai menghabisi nyawa dara cilik itu, bukankah berarti sia-sia perjalanannya ke Jawa Tengah? Memikir demikian, ia membatalkan niatnya.
Mendadak, selagi tangannya menurun sepotong batu menyambar padanya. Buru-buru ia menyampok. Batu itu dapat disampok sampai hancur berpuing. Tetapi tangannya terasa panas dan pegal. Mengingat batu itu sangat kecil dapat membawa tenaga begitu besar, pastilah orang yang menyerang padanya memiliki kepandaian yang luar biasa tinggi. Segera ia memutar kepalanya menyiratkan pandang. Tak jauh daripadanya berdiri sesosok tubuh menyandang jubah. Dengan pertolongan cahaya rembulan, matanya yang tajam dapat menangkap warnanya. Jubah itu berwarna kelabu. Siapa? la menajamkan penglihatan menatap wajahnya. Tiba-tiba hatinya bergidik. Wajah orang itu bukan main jeleknya. Pucat lesi seperti mayat. Ia teringat sesuatu. Maka tanpa berani berayal lagi, segera ia meyambar tubuh Astika dan dibawanya kabur kembali.
la sekarang tak berani lagi lari mengarah ke timur, la merasa diri tidak aman. Setelah berlari-larian beberapa waktu lamanya, sampailah ia di tepi Sungai Serayu, la lantas lari menyusur tepi sungai. Entah sudah berapa lama ia berlari-lari kencang, tiba-tiba fajar hari datang dengan diam-diam. Udara makin nampak cerah dengan cahaya gemilang.
Ia berhenti dan menoleh. Hatinya mencelos. Ternyata orang berjubah kelabu itu berada tak jauh daripadanya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia lari kembali.
Demikianlah—Watu Gunung yang ditakuti lawan dan disegani kawan—pada fajar hari itu, kena diubar-ubar lawan yang tidak menampakkan diri.
Kini pagi hari telah datang. Ia menetapkan hati.
Segera menoleh. Orang berjubah kelabu tetap menguntitnya. Dengan penasaran ia mengamat-amati wajah orang itu. Ah, ternyata dia mengenakan topeng mayat yang menakutkan. Pantas wajahnya nampak kejang dan menggigilkan hati dalam gelap malam hari.
la jadi tertawa terbahak-bahak teringat dirinya sendiri yang ketakutan tak keruan. Dengan nyaring ia berkata: "Hm, aku Watu Gunung berani mengembara sampai di sini. Masakan takut menghadapi orang semacam engkau?"
Ia maju menghampiri beberapa langkah. Tiba-tiba tangannya bergerak. Belasan jarum beracun menyambar bagaikan hujan gerimis.
Orang aneh itu tidak menyangka, bahwa dirinya bakal diserang dengan jarum beracun secara mendadak.
Namun dalam bahaya, ia berlaku sangat tenang. Dengan sekali menotolkan ujung kakinya, badannya melesat mundur. Jarum Watu Gunung terkenal cepat semenjak belasan tahun yang lalu. Namun gerakan orang berjubah kelabu itu lebih cepat lagi. Dan jarum-jarum itu runtuh ke tanah tanpa sasaran.
"Bagus! Kau bisa membebaskan diri," bentak Watu Gunung. Kemudian tertawa terbahak-bahak. "Kau pendekar darimana sampai menguntit aku? Bukankah engkau bermaksud merebut bocah ini? Baiklah, ini kuberikan!"
Setelah berkata demikian, ia melemparkan Astika ke tanah semacam barang rongsokan. Lalu kabur secepat angin.
"Celaka!" seru orang berubah kelabu itu kaget. Cepat ia menghampiri Astika dan memeriksanya sejenak. Ia terlongong sebentar. Kemudian menggendongnya dan lari kejurusan timur.
Dan pada saat itu, terdengarlah suara gemuruh bergulungan. Bumi seolah-olah berderakderak hendak runtuh. Dan mendengar suara gemuruh itu, Watu Gunung mempercepat larinya. Juga orang berjubah kelabu.
"Aji! Aji! Lihat! Bukankah ini jarum beracun, semacam jarum beracunnya Edoh Permanasari?" terdengar suatu suara. Dialah Titisari.
Sangaji menghampiri. Melihat hebatnya jarum beracun, ia terbengong sejenak. Kemudian berkata perlahan. "Siapakah yang mengunakan jarum sejahat ini?" Wajahnya lantas berubah hebat. Dengan menarik napas ia mendongak ke udara. Kemudian berteriak tinggi. Suaranya bergelora menyusup udara.
3
SUATU PERTARUNGAN YANG ANEH
DALAM MEMBURU SUATU BURUAN, baik Sangaji maupun Titisari tergolong ahli. Itulah disebabkan, keuletan dan kesabaran Sangaji disamping ilmu
kepandaiannya yang sudah mencapai tataran sempurna. Sedangkan Titisari memiliki otak cemerlang yang tiada bandingnya pada zamannya.
Demikianlah —begitu menaruh curiga, pandang mata mereka yang tajam luar biasa, terus saja mengarah ke barat. Watu Gunung boleh merasa diri seorang cerdik, namun menghadapi mereka berdua tiada mungkin sanggup mengingusi. Seperti berjanji, mereka berdua lantas melesat tak ubah bayangan. Sekonyong-konyong, Titisari berseru setengah memekik.
"Aji, lihat!"
Mendengar suara Titisari, Sangaji menghentikan langkahnya, la menoleh ke arah timur laut. Samar-samar nampak asap tebal membumbung ke udara. Pada saat itu, ia mengerinyitkan dahi.
"Bukankah suatu kebakaran besar-besaran?"
Titisari berpaling kepadanya. Ia tidak menyahut. Setelah menyenak napas, lalu berkata mengajak.
"Biarlah kita menitipkan kepalanya dahulu. Sepuluh tahun lagi belum kasep. Sekarang kita lihat, siapakah yang main gila?"
"Apakah engkau memperoleh firasat buruk?" Sangaji terkesiap.
Selamanya, Sangaji menganggap Titisari berada di atas kepandaiannya sendiri. Itulah disebabkan, ia merasa kalah cerdas. Malahan ia menganggap otak Titisari seencer otak malaikat yang tak pernah salah melihat dunia. Sebenarnya hal ini berlebih-lebihan. Namun dalam hal mengadu kecerdasan, ia benar-benar merasa takluk.
"Mari, kita lihat saja!" sahut Titisari mengangguk.
Mereka berdua lantas mengarah ke timur laut. Ternyata yang sedang mengalami kebakaran besar-besaran adalah Kota Waringin. Tatkala mereka hampir mencapai perbatasan kota, perjalanan pepat oleh penduduk yang lari pontang-panting tanpa tujuan.
Untunglah, Sangaji dan Titisari bukan manusia baru lagi. Begitu merasa diri terhalang, terus saja menerjang pagar dan halaman. Dari sana mereka menyaksikan Kota Waringin terbakar ludas serata tanah. Benar-benar mengherankan! Siapa yang berbuat sekejam itu?
"Aji! Paman Sorohpati menyembunyikan diri di kota ini," kata Titisari. "Setelah ia terbunuh semalam, rupanya ada tangan kotor lain membakar kotanya."
"Apakah Watu Gunung?" Sangaji memotong.
"Mustahil!" sahut Titisari cepat. "Meskipun dia termasuk manusia yang besar angan-angannya, namun tak mungkin ia melakukan perbuatan rendah.
Alasan Titisari masuk akal. Sangaji jadi sibuk sendiri.
"Apakah engkau mengira, perbuatan gerombolan penjahat atau Kompeni Inggris?" Titisari tak segera menjawab. Setelah merenung sejenak berkata: "Mari kita lihat!"
Memeriksa kota dalam kebakaran besar, tidaklah mudah. Itulah disebabkan, mereka tak dapat menghampiri dekat-dekat. Selagi mereka menebarkan penglihatan, mulailah terdengar suara kentung tanda kebakaran dikejauhan. Kentung itu lantas jadi sambung-menyambung.
"Mengapa begitu?" Sangaji terkejut. "Hidup tanpa engkau apalah artinya? Itulah sebabnya aku memburumu sampai ke Jawa Barat."
"Aneh! Kutaksir kebakaran ini sudah terjadi semenjak pagi belum menyingsing. Tetapi kentung tanda bahaya lagi berjalan sekarang," gerendeng Titisari. "Rupanya,
ada lagi hal yang menekan hati penduduk. Eh, Aji!
Apakah semenjak kita meninggalkan wilayah Jawa Tengah telah terjadi hal-hal diluar pengamatan kita?"
Sangaji tidak mengemukakan pendapatnya, la membiarkan isterinya berpikir dan ia percaya akan memperoleh suatu penglihatan yang benar.
"Pusaka warisan Bende Mataram memang hebat!" kata Titisari lagi. "Tadinya aku hanya bermaksud untuk memancing musuh-musuhmu di Jawa Barat. Tapi rupanya, di sini kita bakal melihat suatu keramaian baru!"
Perlahan Titisari berjalan mengarah ke timur. Dan Sangaji mengikuti dibelakangnya dengan pikiran penuh. Pikirnya di dalam hati, "Mengusut kebakaran ini, sebenarnya mudah. Dengan meminta keterangan penduduk, bukankah akan jadi terang-gamblang? Mengapa Titisari tak mau berbuat demikian? Barangkali dia mempunyai pikiran lain."
Memang, dugaan Sangaji benar belaka. Sebagai seorang wanita yang memiliki otak cemerlang pada zaman itu, mustahil Titisari tidak mempunyai pikiran demikian. Soalnya tujuannya bukan untuk mencari keterangan tentang terjadinya kebakaran belaka. Sebaliknya, ia hendak menyingkap alasan pembakaran itu. Pastilah ada latar belakangnya yang hebat.
Sebab musababnya, sudah terang. Itulah yang bersangkut-paut dengan wasiat sakti Bende Mataram. Tadinya, dia bermaksud hendak memancing musuh-musuh Sangaji keluar dari sarangnya. Itulah Watu Gunung dengan sekalian anak muridnya. Tetapi melihat kebakaran itu, Titisari kini berpikir lain.
Watu Gunung boleh berani. Boleh pula yakin kepada kepandaian sendiri. Namun kalau sampai berani membakar kota di wilayah Jawa Tengah adalah mustahil. Itulah lonceng kematiannya sendiri. Sebab berani mengumandangkan tantangan dengan terang-terangan, sebelum bersiaga. Di Jawa Tengah dia bakal diubar pendekar-pendekar sakti. Di Jawa Barat ia diserbu pendekar-pendekar Himpunan Sangkuriang yang kini berada di bawah bendera Sangaji.
Siapakah yang tak tahu, bahwa di atas Gunung Damar bermukim pendekar kelas wahid Kyai Kasan Kesambi beserta kelima muridnya yang terkenal? Mereka ini tak boleh dibuat gegabah.
Siapa yang tak tahu pula, sepak terjang Gagak Seta dan Adipati Surengpati yang namanya menggetarkan jagad? Siapa tak kenal akan lagak lagu Ki Hajar Karangpandan dan Jaga Saradenta? Mereka akan keluar dengan serentak, manakala wilayahnya kena rusak tangan-tangan kotor. Oleh pertimbangan itu—Titisari ya-kin—bahwa Watu Gunung tidak akan berani membakar sebuah kota di Jawa Tengah. Sebaliknya kalau bukan dia, lantas siapa?
Inilah suatu hal masih merupakan teka-teki bagi pendekar wanita itu yang memiliki otak paling cemerlang pada zamannya. Pastilah yang membakar Kota Waringin mempunyai andalan yang luar biasa tangguh. Dan bukan gerombolan kurcaci yang hanya mengadu untung belaka.
Sekonyong-konyong Titisari menegakkan mukanya. Seperti terkejut ia berseru: "Ah! Benar-benar tolol aku!"
Heran Sangaji mendengar bunyi seruan Titisari.
"Kau berkata apa?"
"Kau ingat bunyi kentungan itu, tidak?"
Sangaji mengangguk dengan pandang penuh pertanyaan.
"Mengapa tidak semenjak tadi dibunyikan?" kata Titisari berteka-teki. "Itulah suatu kesengajaan yang ditujukan kepada kita."
"Kepada kita?" Sangaji tambah tak mengerti.
Titisari tertawa geli seakan-akan menertawakan ketololannya sendiri. Berkata mengajak, "Mari, kita kembali ke tempat Gandarpati! Entah siapa memancing kita agar menjauhi Gandarpati. Kalau ini suatu kerja sama, kita bakal menghadapi lawan yang tersusun baik."
Sesudah berkata demikian, Titisari mendahului berlari. Ia kembali ke tempat Gandarpati tadi. Dan Sangaji segera mengikuti dengan meningkatkan kewaspadaannya. Baru saja sampai ditanjakan, di atas bukit sekonyong-konyong terdengar suatu teriakan dahsyat yang kemudian disusul dengan suara gelak panjang. Hebat suara teriakan dan suara tertawa itu sampai seluruh tanah pegunungan terasa bergetaran.
Mendengar teriakan dan suara tertawa itu. Sangaji kaget bercampur girang. Itulah suara yang dikenalnya dan sudah lama dirindukan. "Bukankah Guru?" ia berkata kepada Titisari.
Titisari tersenyum dengan memanggut kecil.
Sahutnya, "Benar. Sudah selang sekian tahun, namun suara Paman Gagak Seta masih saja tetap angker. Hanya entah apa sebabnya, dia terdengar sedang bergusar."
Buru-buru Sangaji mendaki pegunungan itu tanpa berpikir panjang lagi. la melompat ke atas batu besar dan menebarkan penglihatannya.
Di atas gundukan lain—tempat mereka tadi bertemu dengan Gandarpati nampak empat orang bersenjata sedang mengepung seorang berusia lanjut yang berperawakan tegap ramping. Dan orang yang sedang dikepung itu, benar-benar Gagak Seta pendekar sakti dan besar yang namanya berendeng dengan Kyai Kasan Kesambi, Adipati Surengpati, Kyai Haji Lukman Hakim, Mangkubumi I, Pangeran Sambernyawa dan Kebo Bangah.
Meskipun usianya kini tambah menanjak, namun menghadapi kerubutan empat orang tak usahlah Sangaji mengkhawatirkan. Tidak hanya satu dua kali, Sangaji pernah menyaksikan gurunya bertempur menghadapi lawan kelas wahid. Dan selamanya ia kagum. Malahan, meskipun kini sudah memiliki ilmu sakti di atas gurunya sendiri, masih saja ia mengagumi ke-gagahannya. Tak mengherankan bahwa nama Gagak seta akan tetap abadi sampai kemudian hari. Gagah dan berwatak ksatria sejati.
Diluar dugaan, keempat pengeroyoknya ternyata bukan lawan enteng. Karena jauh, Sangaji tak dapat melihat muka mereka. Mereka mengenakan pakaian seragam hitam. Bersenjata pedang dan golok panjang. Tiga orang lainnya berdiri menonton. Mereka mengenakan pakaian seragam hitam. Nampaknya mereka mengatur pertarungan itu dengan bergiliran. Sekiranya keempat rekannya kena dikalahkan, mereka bertiga lantas melompat menggantikan kedudukannya.
Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang.
"Eh! Buat apa kau melindungi murid Sorohpati? Kau bujuklah saja, agar dia menyerahkan surat wasiat Bende Mataram... Kami akan melindungi nyawamu! Bukankah adil pertukaran ini?"
Ia masih berbicara selintasan lagi. Tapi meskipun Sangaji bertelinga tajam, tak dapat ia menangkap kata-katanya terakhir. Yang terang ia tahu maksud mereka. Mereka hendak merampas surat wasiat tulisan Titisari yang mungkin berada dalam saku Gandarpati murid Sorohpati.
Mendengar teriakan itu, Gagak Seta tertawa panjang.
"Kamu kumpulan binatang apa sampai berani mengancam aku si orang tua? Surat wasiat memang berada di sini. Niiih disakuku. Ambillah sendiri kalau mampu." Sambil berbicara, ia menggebu kembali tiap serangan lawan-lawannya.
Mendadak saja, dari arah timur muncullah seorang nenek dengan berbatuk-batuk. Dibelakangnya menguntit seorang gadis yang berambut rereyapan. Dan melihat perawakan gadis itu, hati Sangaji tercekat. Ia seperti pernah melihat dan mengenalnya. Segera ia menajamkan matanya. Namun lantaran jaraknya sangat jauh, belum berhasil ia memperoleh pengamatan terang.
Setelah berbatuk-bauk, nenek itu berteriak nyaring. "Para pendekar Tunggul Wulung! Apa maksud kalian? Kalian datang dengan begini saja, tanpa mengajak aku berunding. Apakah kalian menganggap aku sudah mampus?"
Mendengar bunyi teriakan nenek itu, Sangaji heran. Kalau tiada hubungan dengan mereka, pastilah nenek itu bukan orang sembarangan. Pikirnya di dalam hati, baru beberapa tahun aku meninggalkan Jawa Tengah. Rupanya di sini telah muncul pendekar-pendekar sakti baru di luar pengamatanku. Ah, hebat!
Mendengar teriakan nenek-nenek itu, keempat pengeroyok Gagak Seta menjadi bingung. Dalam usaha menjatuhkan Gagak Seta, mereka memperhebat serangannya. Terang sekali tujuannya. Mereka ingin cepat-cepat menguasai Gagak Seta. Dan melihat hal itu Sangaji tersenyum.
Hm, pikirnya di dalam hati, rupanya kamu belum mengenal siapa Gagak Seta. Kalau kamu sampai membangkitkan amarahnya, masakan bisa menolong jiwamu. Bertempur begitu bernafsu menghadapi Gagak Seta, memang suatu kesalahan besar. Tadi, Gagak Seta masih bisa main bersenyum. Tetapi begitu melihat datangnya si nenek, wajahnya berubah menjadi tegang. Ia menangkis serangan keempat pengeroyoknya selintasan. Sekonyong-konyong ia membentak dan tinjunya mendarat di dada salah seorang lawan yang berada dikirinya. Dan begitu kena gempurannya, orang itu terpental tinggi dan jatuh menggelinding ke bawah. Kepalanya terbentur batu dan pecah berantakan.
Menyaksikan perubahan itu, orang yang berteriak tadi lantas membentak.
"Mundur!"
Berbareng dengan bentakannya, ia melesat maju sambil mengirimkan pukulan aneh.
Nampaknya seperti meninju udara kosong, tapi akibatnya di luar dugaan. Seperti suatu gelombang yang tiada nampak, pukulannya datang menghampiri Gagak Seta.
Gagak Seta pada saat itu sedang repot menggebu ketiga sisa pengeroyoknya. Meskipun demikian, telinganya yang tajam mendengar sambaran angin. Ia lantas tertawa.
"Kepandaian semacam ini hendak kau pamerkan kepada aku si orang tua? Hm, kau jangan bermimpi yang bukan-bukan!"
Tangannya lantas mengusap udara. Suatu benturan kemudian terjadi. Dan si penyerang terpental mundur. Syukur ia kena ditahan seorang kakek-kakek yang berdiri menonton di luar garis. Dengan demikian, ia tidak sampai mengalami nasib seperti kawannya. Meskipun demikian baik dia maupun kakek itu, berkisar dari tempatnya berpinjak. Itulah membuktikan betapa hebat tenaga balasan Gagak Seta. Tak mengherankan bahwa ketika sisa pengeroyoknya cepat-cepat melompat mundur berjaga-jaga.
Pukulan udara kosong bagi Gagak Seta tidak asing lagi. Adipati Surengpati memiliki ilmu itu. Mereka berdua pernah mengadu kepandaian. Itulah sebabnya, Gagak Seta tidak perlu repot menghadapi pukulan demikian.
"Wira Kuluki! Alpikun!" teriak si Nenek. "Kalian bangsa pendekar mahaperwira. Mengapa menggunakan ilmu pukulan udara? Kalau hanya pukulan wajar, tidak apalah. Mengapa kalian menggunakan beracun terhadap seorang ksatria sejati seperti Gagak Seta?"
Setelah berteriak demikian, ia melesat mendaki bukit tak ubah bayangan. Gadis yang berada dibelakangnya berusaha mengikuti dengan mengerahkan segenap tenaganya.
Sangaji kaget mendengar bunyi teriakan nenek itu. Khawatir akan keselamatan gurunya, Sangaji segera menyusul. Titisari memburunya dan menangkap pundaknya. Bisiknya, "Aji! Mengapa kau jadi bingung tak keruan! Dengan hadirnya nenek itu, kau tak usah cemas. Yang paling penting kau jangan memperkenalkan diri atau muncul dengan tiba-tiba."
Sangaji mengangguk mengerti. Sambil memegang pergelangan tangan Titisari, ia terus berlari-lari dibelakang gadis berereyapan itu. Sambil mengikuti, mencoba mengumpulkan semua ingatannya. Gerak-geriknya yang gesit dan sifatnya yang tak pedulian. Ia kaget, tatkala Titisari berbisik di tengah telinganya.
"Kau memikirkan siapa?"
"Aku?" sahut Sangaji gugup.
"Kau lagi mengingat-ingat gadis di depan itu, bukan?" potong Titisari.
"Benar," kata Sangaji dengan muka merah.
"Kau tak usah bersegan-segan. Dialah bibiku..... Bibi
kita berdua."
"Bibi kita berdua?" Sangaji heran. "Siapa?"
"Fatimah, adik gurumu Paman Wirapati dan dahulu pernah mengaku sebagai murid Paman Suryaningrat.23)
"Ah, benar!"
"Hm," dengus Titisari bernada mendongkol. "Bisa saja dia membawa lagaknya yang ketolol-tololan dan angin-anginan. Kau percaya dia murid Paman Suryaningrat
benar-benar? Paling tidak..... Dengan diam-diam, ia
berguru kepada seorang pendekar lain?" . "Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan nenek itu."
"Siapa dia?"
"Siapa tahu?" sahut Titisari dengan bisikan tinggi.
Sangaji tercengang mendengar kata-kata Titisari. Dengan Fatimah ia mempunyai kesan baik dan aneh. Mula-mula bertemu di dalam sebuah benteng kuno, tatkala ia menderita luka parah. Kemudian menolongnya tatkala gadis itu menderita luka parah. Yang terakhir, Fatimah mengantarkan keberangkatannya ke Jakarta di lereng pegunungan Gunung Damar. Aneh gerak gerik dan lagak lagu Fatimah. Sayang karena dia bukan seorang pemuda yang berwatak usilan kesannya yang aneh tidak begitu menjadi buah pikirannya. Tapi kini setelah memperoleh penglihatan aneh lagi, perhatiannya jadi tergugah. Mungkin pula kisikan Titisari yang menyebabkan.
"Ya, benar. Dia seorang gadis tanpa perlindungan tanpa bekal hidup. Namun berani hidup menyendiri dengan seorang diri pula di dalam benteng kuno. Alasannya lantaran menunggu makam orang tuanya. Benarkah itu? Atau bukankah dia lagi menekuni suatu ilmu sakti di luar ajaran paman gurunya, Suryaningrat? Jangan-jangan benar dugaan Titisari. Ucapannya pun aneh pula tatkala mengantarkan aku berangkat ke Jakarta. Ia bercerita tentang seorang kekasih yang dirahasiakan. Yang dikatakan, bercita-cita menjadi
seorang raja. Benarkah dia lagi membicarakan Manik Angkeran?24)
Sibuk pikiran Sangaji. Sayang, dia bukan Titisari. Meskipun ilmunya kini tinggi, namun jalan pikirannya masih sangat lamban dibandingkan dengan Titisari. Sekian lamanya ia mencoba mencari suatu pegangan, namun masih saja merupakan suatu teka-teki besar baginya.
Tak lama kemudian, ia sudah tiba dipinggang pegunungan. Dari sini ia nampak jelas, betapa cara gurunya mempertahankan diri dari pukulan udara. Ternyata gurunya mempertahankan diri dengan pukulan-pukulan pendek. Terang sekali, itulah suatu siasat untuk memunahkan pukulan lawan yang berbahaya. Hanya saja ia tak mengerti, apa sebab gurunya begitu sabar menghadapi suatu keroyokan. Kalau mau, pastilah dia bisa mengusir sekalian lawannya dengan satu pukulan geledek yang pernah dilakukan terhadap lawan-lawannya yang setaraf. Menimbang demikian, tahulah Sangaji bahwa Gagak Seta pastilah menggenggam suatu maksud rahasia.
Dengan hati tegang, Sangaji mengikuti jalannya pertarungan itu dari belakang gerombol pohon. Tiba-tiba Titisari berbisik menasehati.
"Kau dandanlah sebagai petani. Aku pun begitu supaya bisa bebas dari pengamatan Fatimah. Kau mengerti?"
Terang sekali, Titisari menaruh purbasangka terhadap Fatimah. Gadis itu memang menimbulkan suatu teka-teki. Makin dikenangkan, makin menjadi buah pikiran yang berbelit. Maka segera ia melepas ikat kepalanya
dan menanggalkan pakaian luarnya. Kemudian dengan berjingkit-jingkit ia kembali ke tempat persembunyiannya.
"Hai!" kata Titisari berbisik. "Kau masih belum bisa menyamar sebagai petani. Rupamu masih seperti seorang raja."
"Raja?"
"Kau bisa memerintah sekalian Raja Muda Himpunan Sangkuriang. Apakah namanya bukan seorang raja?" sahut Titisari menggoda.
Sewaktu Sangaji hendak membuka mulut, sekonyong-konyong ia mendengar nenek itu berkata dengan suara nyaring.
"Rekan Alpikun! Pukulan udara kosongmu sudah termasyur semenjak belasan tahun yang lalu. Mengapa engkau perlu menebarkan bubuk racun? Hm, sayang! Sayang! Sungguh sayang! Bukankah lantas nampak kelemahannya? Dan kau Wira Kuluki! Kau menggunakan langkah tipu muslihat bintang penjuru. Apakah kau mengira, pendekar Gagak Seta bisa kau ingusi. Hm, jangan harap! Oh, oh, oh! CIh,uh...." ia berhenti berbatuk-batuk. Berkata lagi, "Dahulu, sewaktu pendekar Kebo Bangah masih hidup, golonganmu sangat dihormati dan disegani. Meskipun pendekar Kebo Bangah terkenal sebagai seorang pendekar licin, namun dia tak pernah menggunakan racun secara menggelap.
Sayang... sungguh sayang Kau merusak nama besarnya!"
Mendengar kata-kata nenek itu, Gagak Seta seperti tersadar. Memang, dahulu di atas padepokan Kyai Kasan
Kesambi ia pernah melihat saudara-saudara seperguruan pendekar Kebo Bangah, yang berkepandaian tinggi pula. Karena itu, tak sudi lagi ia berkelahi dengan ayal-ayalan. Terus saja tangannya berputar dan melepaskan pukulan geledek.
Hebat pukulan Gagak Seta. Mengherankan lagi adalah kedua lawannya. Dengan berbareng mereka menyambut pukulan itu. Ternyata mereka hanya kena digeser dari tempatnya dan mundur dengan sempoyongan. Mereka tak sampai roboh. Maka teranglah, bahwa ilmu kepandaiannya hampir dapat mengimbangi Kebo Bangah dalam masa jayanya.
Diam-diam Sangaji mengamat-amati mereka yang di sebut Alpikun dan Wira Kuluki. Alpikun berperawakan gemuk bulat. Badannya pendek. Mukanya menyinarkan warna merah. Muka ini mengingatkan kepada muka Keyong Buntet adik seperguruan pendekar Kebo Bangah. Dan orang yang disebut Wira Kuluki berperawakan seperti Maesasura. Badannya agak kurus. Sekalipun demikian, pandang matanya samalah berbahayanya dengan adik seperguruan Kebo Bangah itu. Benar-benar merupakan lawan yang tak boleh dibuat gegabah. Dan orang yang tadi berkata nyaring adalah seorang pemuda berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Ia pun mengenakan pakaian seragam tak beda dengan rekan-rekannya. Hanya saja dia nampak bersih. Bahwasanya orang semuda itu bisa berhadap-hadapan dengan Gagak Seta, membuktikan ilmu kepandaiannya tidak lemah. Pastilah dia berada di atas kepandaian sang Dewaresi pada zaman jayanya.
Tiba-tiba pemuda itu berkata kepada si nenek.
"Nenek Sirtupelaheli! Memang kau tidak sudi membantu Gagak Seta dengan terang-terangan. Sebaliknya membantu dengan diam-diam. Apakah caramu itu tidak curang?"
"Apakah Tuan seorang anggauta Tunggul Wulung pula?" Nenek Sirtupelaheli menegas. "Maaf, belum pernah aku melihat mukamu."
"Tentu saja Nenek belum pernah melihat aku.
Sewaktu Nenek sedang mencari nama, aku masih belum pandai beringus. Aku bernama, Daniswara adik sang Dewaresi. Akulah putera bungsu Kebo Bangah."
"Kau putera pendekar Kebo Bangah, apa perlu memasuki perkumpulan Tunggul Wulung yang tak keruan tujuannya?" bentak Nenek Sirtupelaheli.
Daniswara tertawa. "Lucu! Sungguh lucu!" katanya. "Dunia ini begini luas, masakan aku harus tetap menyimpan diri seperti katak dalam tempurung?" Kata-katanya diucapkan dengan mantram sakti warisan Kebo Bangah. Hebat pengaruhnya sampai bumi terasa tergetar.
Sangaji terkejut. Benar-benar hebat pemuda itu! Pastilah dia bukan sembarang orang. Pantaslah gurunya melayani keragaman ilmu kepandaiannya dengan hati-hati.
Dalam pada itu, gelanggang pertempuran mengalami suatu perubahan. Tiba-tiba saja dua orang lagi memasuki gelanggang. Dengan demikian, Gagak Seta dikerubut enam musuh tangguh. Itulah tak mengapa. Tapi ternyata mereka mulai menggunakan bubuk beracun seperti peringatan Sirtupelaheli. Dan kena bubuk beracun itu Gagak
Seta nampak limbung. Ia jadi terdesak selangkah demi selangkah.
Melihat limbungnya Gagak Seta, hati Sangaji gelisah. Lantas saja ia bersiaga hendak menolong.
"Ssst! Kau tak usah bingung!" bisik Titisari. "Kau kira siapa Paman Gagak Seta. Ilmu kepandaiannya sejajar dengan Ayah. Kalau hanya menghadapi racun, bukankah dia jauh lebih berpengalaman daripada engkau? Ingat saja Paman Kebo Bangah yang memiliki ilmu beracun tiada bandingnya. Meskipun demikian, Paman Kebo Bangah tak mampu mengalahkan Paman Gagak Seta."
Diingatkan kepada Kebo Bangah, Sangaji jadi tersadar. Kalau begitu limbungnya Gagak Seta sebenarnya hanya suatu tipu muslihat belaka. Selagi berpikir demikian, Titisari berbisik lagi.
"Sirtupelaheli, pasti tidak akan tinggal diam. Dia pasti menolong. Kau percaya tidak?"
"Mengapa menolong?"
"Hm, lihat sajalah! Justru itulah yang dikehendaki Paman Gagak Seta. Kalau tidak begitu, apa perlu Paman Gagak Seta berlagak limbung segala. Dia bermaksud hendak menepuk dua lalat sekali jadi... "
Tetapi Nenek Sirtupelaheli nampak masih tenang-tenang saja. Ia hanya bersenyum pendek sambil menyandarkan diri pada tongkat bajanya. Dan menyaksikan sikapnya, hati Sangaji ber-gelisah.
Pada saat itu, tiba-tiba Gagak Seta tertawa terbahak-bahak.
"Kamu semua ini sebenarnya kumpulan binatang yang tak tahu diri. Kalau sampai sekarang kepalamu masih bercokol dilehermu masing-masing itulah disebabkan aku belum mengetahui diri kamu. Sekarang semuanya sudah terang. Nah, kalian mau pergi atau tidak? Aku sudah bosan!"
Mendengar perkataan Gagak Seta, Alpikun dan keempat rekannya tertawa terbahak-bahak pula.
"Kau tua bangka sudah linglung. Jiwamu sudah diambang pintu, masih saja mengoceh tak keruan..."
Sangaji tercekat. Pikirnya, "Ah, benar-benar mereka belum kenal Paman Gagak Seta! Dahulu saja hati sang Dewaresi kuncup begitu mendengar namanya. Angkatan mudanya ini, mengapa begini gegabah? Rupanya mereka dididik asal berani saja."
Benar saja, Gagak Seta sudah mulai bosan, la langsung mundur mendekam. Begitu kelima pengeroyoknya menyerang, dengan satu kali gerak tangannya membabat. Inilah pukulan ilmu sakti Kumayan Jati yang disegani lawan dan kawan. Dan dengan didahului suara patahnya senjata mereka, lima tubuh terpental di udara. Seperti layang-layang putus mereka jatuh ber-gedebrukan dilereng bukit. Empat orang mati dengan berbareng. Hanya Wira Kuluki seorang masih nampak berkempas kempis. Walaupun demikian ia menderita luka berat. Sebelah tangannya putus seperti terbabat.
Daniswara kaget bukan kepalang. Dengan mengerahkan tenaga-ia melompat tinggi ber-jungkir-balik. Begitu mendarat terdengar Gagak Seta membentak.
"Hai, binatang! Ayahmu sendiri tidak berani sembrono melawan aku. Kau bersikap tak memandang mata kepadaku. Bagaimana?"
Dengan sikap gagah Daniswara menguasai rasa kagetnya. Lalu menyahut, "Paman! Jiwaku memang pantas kau ambil. Tapi perkenankan aku mengajukan satu permohonan."
"Kau berkatalah! Cepat!"
"Ampunilah Paman Wira Kuluki. Aku bersedia mengganti dengan nyawaku sendiri. Silakan. Ambil nyawaku!"
Semua yang mendengar kata-kata Daniswara kaget. Sama sekali mereka tak menyangka, bahwa pemuda itu mempunyai perasaan setia kawan. Inilah suatu kejantanan sejati. Sangaji yang tadinya berkesan kurang senang terhadapnya, saat itu berbalik mengagumi.
"Bagus!" seru Gagak Seta. "Mengingat ayahmu dan keberanianmu, engkau menang setingkat dengan kakakmu, Dewaresi. Nah, pergilah. Bawalah pula kawanmu itu. Aku takkan mengganggu selembar rambutmu. Hanya saja, dengan berbekal ilmumu itu kau jangan mencoba-coba mencari penyakit dengan anakku, Sangaji."
"Terima kasih atas budi Paman," kata Daniswara. "Tetapi sakit hati ayahku harus terbalas. Aku belajar, menekuni ilmu warisan keluargaku sepuluh atau dua puluh tahun lagi. Dan aku akan mencari Paman atau Sangaji untuk menuntut balas."
Gagak Seta tertawa panjang. Katanya memotong, "Bagus, bagus! Ayahmu kerbau bangkotan mampus
karena kesalahannya sendiri. Mengapa kau mempersalahkan aku?"
"Tentu saja. Coba, kalau Paman membiarkan Ayah memiliki pusaka warisan, bukankah tak perlu ia mati dengan penasaran?"
Kembali lagi Gagak Seta tertawa panjang.
"Baiklah! Kau boleh menimbuni aku si orang tua dengan tuntutan balasanmu. Masakan aku takut? Nah, pergilah sebelum hatiku berubah!"
Daniswara berputar menghadapi Nenek Sirtupelaheli. Berkata dengan sikap menghormat.
"Nenek, maaf aku sampai lancang memasuki wilayahmu. Kalau kau ingin menguji kepandaianku, tunggulah barang empat lima tahun lagi. Aku pasti datang mencarimu."
Setelah berkata demikian, dengan memanggul Wira Kuluki, Daniswara lari menuruni bukit. Cepat gerakannya. Sebentar saja, tubuhnya hilang dari pengamatan.
Nenek Sirtupelaheli mengawaskan hilangnya Daniswara sejenak. Kemudian berputar menghadap Gagak Seta.
"Adikku, kau masih hebat seperti dahulu. Maaf, aku tak dapat membantumu. Karena kau manusia yang tak senang dibantu. Apalagi hanya menghadapi musuh-musuh sebangsa kurcaci. Kau bergusar terhadapku atau tidak?"
Kaget bercampur heran, Sangaji mendengar Sirtupelaheli memanggil adik terhadap gurunya. Tentu saja ia menajamkan telinganya.
"Tak usah kau mengungkat-ungkat soal lama," sahut Gagak Seta.
"Apakah kau datang pula untuk surat wasiat anakku Titisari?"
Sirtupelaheli tertawa terbatuk-batuk.
"Aku akan masuk liang kubur sebentar lagi. Buat apa ikut-ikutan memperebutkan surat wasiat yang tiada gunanya bagiku. Hanya saja..."
"Hm... Kau berkatalah!" desak Gagak Seta.
Sirtupelaheli meruntuhkan pandang kepada Fatimah. Lalu berkata perlahan. "Pastilah engkau sudah pernah bertemu dengan anak ini. Dialah sesungguhnya cucuku. Untuk dia aku berjuang."
Lagi-lagi Gagak Seta tertawa panjang. "Sirtupah! Masakah aku tak kenal dirimu. Hm, hm! Kau berlagak hendak berjuang bagi masa depan bocah ini. Aku pun saat ini lagi melindungi seseorang yang hendak mengubur tubuh gurunya. Baiklah, mari kita bersimpang jalan."
Setelah berkata demikian, tubuh Gagak Seta berkelebat, la mengarah ke timur laut. Apakah Gandarpati pada saat itu berada di timur laut? Mengingat letak Kota Waringin—nampaknya dia berada di rumah gurunya.
Nenek Sirtupelaheli menarik napas. Dengan mata melotot ia memandang wajah Fatimah.
Katanya setengah mengutuk. "Dasar! Kaulah yang membuat perjalanan ini sampai sial begini. Hayo, jalan!"
Dengan menurut Fatimah mengikuti gurunya. Sangaji dan Titisari yang mengenal lagak lagu Fatimah heran menyaksikan sikap penurutnya. Mereka tahu, adat Fatimah sangat panas. Ia tak takut terhadap ancaman bagaimana pun besarnya. Tetapi terhadap Nenek Sirtupelaheli apa sebab adatnya berubah? Mengherankan lagi adalah Gagak Seta.
Pendekar besar ini kenal Fatimah. Betapa tolol pun orang akan segera melihat, bahwa gadis itu dalam kesukaran. Apa sebab Gagak Seta tak mau turun tangan? Nampaknya dia bersegan-segan terhadap Nenek Sirtupelaheli.
Sangaji menunggu beberapa saat lamanya. Kemudian muncul sambil memperbaiki letak pakaiannya.
"Kau hendak kemana?" tegur Titisari.
"Aku mau menengok Fatimah."
"Apakah engkau tak melihat sinar mata nenek itu yang sangat ganas?"
"Masakan aku harus takut kepadanya?"
"Eh, semenjak kapan kau jadi galak begini? Bagus!" tungkas Titisari. "Kau tak takut kepadanya. Tapi aku justru takut."
Mendengar kata-kata Titisari, Sangaji heran.
Selamanya belum pernah ia mendengar puteri Adipati Surengpati itu menyatakan rasa takutnya. Mau tak mau ia menatap wajah Titisari dengan pandang penuh pertanyaan.
Titisari tak menunggu pertanyaannya, la segera memberi alasannya. "Aji! Justru sekarang ini, aku merasa
seperti lagi menghadapi sesuatu kejadian yang diliputi kabut rahasia. Siapa yang membakar Kota Waringin? Siapa Nenek Sirtupelaheli dan apa sebab Paman Gagak Seta segan terhadapnya? Mengapa Fatimah berada pula dengan dia dan sikapnya begitu penurut? Kita membutuhkan jawaban dan keterangannya. Dan bukan dugaan-dugaan belaka. Memang tak sukar engkau membinasakan nenek itu. Tetapi begitu dia mati, semua teka-teki ini akan tersimpan untuk selama-lamanya."
"Aku pun bukan mau membunuh nenek itu," tungkas Sangaji dengan sunguh-sungguh. "Aku hanya ingin menengok Fatimah seperti kataku tadi. Kukira aku bisa memperoleh keterangan lebih banyak dan gampang daripada nenek itu."
"Belum tentu!" kata Titisari dengan suara tegas.
"Mengapa belum tentu?"
"Aji!" Titisari tersenyum. "Selamanya kau mengukur manusia dengan dirimu sendiri. Mana bisa begitu? Belum tentu wajah baik, hatinya masti baik. Belum tentu kata-kata gagah, orangnya gagah pula. Coba, kita harus lebih berwaspada terhadap Nenek Sirtupelaheli atau Daniswara?"
"Menurut pendapatku, Daniswara seorang ksatria tulen, la lebih mengabdi kepada budi persahabatan daripada nyawamu sendiri."
Titisari tertawa perlahan.
"Aji! Kau sekarang bukan Sangajiku dahulu. Lantaran kau sekarang memimpin kancah perjuangan di Jawa Barat. Mengapa engkau main tipu terhadapku?"
"Main tipu?" Sangaji benar-benar tak mengerti.
"Benarkah engkau berkata dengan setulus hati?"
"Tentu! Tentu saja! Coba—Daniswara berani mengganti dengan jiwanya sendiri demi sahabatnya Wira Kuluki yang menderita luka parah. Apakah itu bukan suatu perbuatan jantan tulen? Manusia semacam dia, sukar kita jumpai lagi. Karena itu aku menghormati dan mengagumi."
Titisari menatap wajah Sangaji. la menghela napas dan wajahnya tiba-tiba nampak berprihatin.
"Itulah sebabnya engkau kupilih. Itulah sebabnya pula aku tak boleh meninggalkan dirimu lama-lama. Aji, ah, Ajiku... Kau seorang pemimpin besar yang harus membina perjuangan rakyat Jawa Barat. Engkau pulalah pemimpin para Raja Muda Himpunan Sangkuriang dan orang-orang gagah di seluruh bumi Pasundan. Mengapa engkau bisa dikelabui dan ditipu seseorang dengan cara begitu mudah?"
"Ditipu? Siapa yang menipu aku?" Sangaji tambah tak mengerti.
"Daniswara. Siapa lagi?"
"Daniswara?"
"Benar. Paman Gagak Seta pun kena ditipunya pula. Hebat! Hebat dia! Dihari terang-benderang begini, ia bisa menipu dua pendekar besar pada zaman ini dengan sekaligus. Hebatnya lagi, baik kau maupun Paman Gagak Seta belum juga sadar sampai kini. Hm, hm.... benar-benar kau belum tersadar juga? Bukankah engkau melihat dengan terang benderang?"
"Aku dan guru kena tipunya?" Sangaji berjingkrak.
"Dengan sekali gerak saja Paman Gagak Seta dapat membinasakan empat orang jago dan melukai seorang pendekar seperti Wira Kuluki," kata Titisari menerangkan. "Andaikata Daniswara memiliki ilmu kepandaian lebih tinggi daripada ilmunya sekarang, dia pun tak dapat lolos dari serangan balasan Paman Gagak Seta yang dahsyat. Menghadapi kenyataan demikian, siapa saja akan berpikir untuk memilih dua jalan. Melawan dengan tekat mati atau minta ampun dengan bertekuk lutut."
Sangaji mengangguk menyetujui. Dan Titisari meneruskan. "Mereka kenal, siapa Gagak Seta. Itulah seorang ksatria besar yang benci kepada perbuatan licik dan sikap pengecut. Mereka datang untuk merebut surat wasiatku, surat wasiat Bende Mataram yang tiada keduanya di dunia. Paman Gagak Seta pasti tidak akan membiarkan seorang pun lolos dari tangannya. Karena gurumu itu mempunyai kepentingan besar. Ialah: dirimu."
"Diriku?" Sangaji terharu.
"Tentu saja, tololku. Guru di seluruh dunia ini akan sangat bangga dan berbesar hati, manakala muridnya menjadi manusia satu-satunya di dunia. Sebab namanya akan ikut naik tinggi pula. Bukankah begitu, tololku?"
Sangaji tersenyum. Memang semenjak dahulu, dia di sebut si tolol oleh Titisari yang nakal.
Bagi pendengarannya, alangkah nikmat. Untuk kenikmatan itu, dia tersenyum.
"Karena itu, walaupun Daniswara bersedia berlutut dan bersembah mengangguk-anguk sampai ratusan kali
"Paman Gagak Seta tidak bakal mengampuni jiwanya," kata Titisari melanjutkan. "Ah, benar-benar Daniswara seorang manusia luar biasa. Pada detik itu, otaknya yang cerdas memperoleh suatu jalan kemungkinan satu-satunya. Yaitu: ia harus berlagak seorang ksatria tulen dihadapan pendekar besar Gagak Seta yang berwatak laki-laki sejati. Sangaji! Meskipun aku senang menyebutmu dengan si tolol, tapi sesungguhnya engkau bukan tolol dengan arti sebenarnya. Otakmu cerdas dan cermat. Kalau tidak, masakan bisa mewarisi ilmu tersakti di dunia dan kini dapat memimpin seluruh Raja Muda Himpunan Sangkuriang di Jawa Barat. Coba, kau melihat apa? Mustahil penglihatanmu bisa dikelabui lama-lama... "
Hebat teka-teki Titisari yang ditumpukan kepada otak Sangaji yang lamban. Pemuda itu lantas saja berdiri dengan terlongong-longong. la percaya, keterangan Titisari pasti mempunyai dasar yang kuat. Sebaliknya sikap Daniswara yang benar-benar jantan, menyangsikan kekacauan Titisari. Ah, masakan Daniswara hanya berlagak? Apakah buktinya?
"Baikiah, aku akan mengajukan suatu pertanyaan kepadamu," Titisari memutuskan. Sewaktu dia lagi berbicara dengan Paman Gagak Seta, bagaimana sikap tangan dan kakinya?"
Sangaji tertegun, tak dapat ia menjawab pertanyaan Titisari. Waktu Daniswara berbicara dengan gurunya, ia hanya memperhatikan wajahnya dan paras muka gurunya. Sama sekali ia tidak mengindahkan sikap kedua tangan dan kedua kaki pemuda itu. Tentu saja ia melihat, tetapi seperti tak melihat. Dan sekarang, setelah Titisari mengemukakan pertanyaan itu, terbangunlah ingatannya. Di depan matanya muncul kembali bayangan
Daniswara tatkala berbicara dengan gurunya. Segera ia mengerahkan ingatannya. Bayangan kaki dan tangan Daniswara dicetaknya kembali dalam benaknya. Selang beberapa saat kemudian, mendadak ia kaget. Katanya bergumam. "Ya, benar. Ingatlah aku sekarang. Tangan kanannya terangkat sedikit, sedang tangan kirinya melintang di depan dadanya. Ha! Inilah gaya gerakan ilmu kepandaian sang Dewaresi dahulu di gedung pesanggrahan Desa Gebang... Kakinya? Hai, benar!
Kedua kakinya menduduki jurus Kala Lodra, ilmu sakti pendekar Kebo Bangah. Inilah gerakan kaki Kebo Bangah apabila sedang bertempur melawan Guru. Apakah dia bermaksud melawan Guru, meskipun mulutnya sudah berkata hendak mengganti keselamatan Wira Kuluki dengan jiwanya sendiri? Tapi... Ah, mustahil! Mustahil dia mempunyai kepercayaan bisa melawan Guru, manakala Guru benar-benar bermaksud mengambil jiwanya...."
Titisari tertawa manis sekali.
"Aji! Pengetahuanmu tentang hati manusia, benar-benar sangat menyedihkan. Inilah disebabkan hatimu sangat sederhana dan mulia."
"Hayoooo Kau mau menggoda apalagi?"
potong Sangaji.
"Bukan! Masakan aku menggodamu. Kau memang seorang berhati mulia. Karena itu, aku memilihmu," sahut Titisari dengan wajah bersemu dadu. Kemudian cepat-cepat mengembalikan persoalan. Katanya menggurui. "Betapa tinggi ilmu Daniswara, dia pun sadar takkan mampu menangkis gempuran Paman Gagak Seta. Jika demikian, sikap tangan dan kakinya itu dipersiapkan untuk siapa? Hayo coba terka!"
Sangaji sesungguhnya bukan manusia tolol.
Karena hatinya memang mulia, ia menganggap manusia ini sama mulianya dengan dirinya sendiri. Itulah sebabnya, ia tak melihat kebusukan Daniswara. Tetapi begitu disadarkan, segera ia dapat memecahkan teka-teki itu. Pada saat itu, ia merasa dirinya seakan-akan kena terguyur angin dingin sampai paras mukanya menjadi pucat.
"Ya, Tuhan.... Celaka!" ia mengeluh saking kagetnya. "Sekarang aku mengerti.... la akan menendang tubuh Wira Kuluki yang berada di depannya. Sedang kedua tangannya dipersiapkan untuk menubruk Fatimah... Tetapi mengapa begitu? Mengapa begitu?"
"Benar. Apakah kau baru tersadar?" Titisari tersenyum. "Memang, dalam saat terpaksa, ia akan menendang Wira Kuluki ke arah Paman Gagak Seta. Berbareng dengan itu, ia akan menubruk Fatimah dan dilemparkan pula ke arah Guru. Dengan tipu demikian, ia akan memperoleh kesempatan untuk melarikan diri. Itulah kemungkinan satu-satunya. Kemungkinan, kataku. Sebab belum tentu dia berhasil. Tetapi kecuali itu, tiada jalan lain yang lebih baik. Andaikata aku menghadapi saat kritis demikian. Aku pun akan berbuat begitu juga. Sampai pada saat ini, belum aku memperoleh jalan yang lebih baik. Ah, benar-benar luar biasa! Bahwa dalam sekejap mata, dia bisa memperoleh tipu begitu hebat— membuktikan betapa licin dan cerdas dia." Setelah berkata demikian, Titisari menghela napas kagum.
Dengan hati berdebaran, Sangaji mendengarkan keterangan. Semenjak kanak-kanak, entah sudah berapa puluh kali ia berjumpa dengan manusia-manusia licin dan
cerdik luar biasa. Namun manusia sehebat Daniswara, belum pernah ia berjumpa. Sesudah tertegun karena rasa kagum dan kaget, akhirnya ia berkata perlahan.
"Titisari.... Kau pun hebat pula. Dengan sekali melirik, engkau sudah dapat melihat tipu-muslihatnya yang luar biasa. Itulah suatu bukti, bahwa engkau lebih unggul dari dia."
"Ih! Kau mengejek aku?" tungkas Titisari dengan wajah merah tua. "Kalau kau takut kepadaku, nah—kau pergilah jauh-jauh dari-ku.. "
Sangaji tertawa. "Otakmu cemerlang, tapi tidak beracun. Selamanya aku tak pernah melihat kejahatanmu."
"Belum tentu!" kata Titisari cepat. "Coba kau berani meninggalkan aku benar-benar, pasti kau akan kuracuni."
"Mengapa begitu?" Sangaji terkejut.
"Hidup tanpa engkau, apakah artinya? Itulah sebabnya aku memburumu sampai ke Jawa Barat. Seumpama kau pergi keseberang dunia, aku pun akan menyusulmu."
Terharu hati Sangaji mendengar pengakuan Titisari yang memang berhati polos. Itulah suatu tanda rasa cinta kasih yang besar luar biasa. Terus saja ia memeluknya dengan rasa penuh syukur.
"Hai, apa-apaan nih?" tegur Titisari nakal. "Masakan di tengah jalan? Hm, kau ini memang benar-benar tolol. Apakah kau belum tersadar juga, bahwa gurumu Paman Gagak Seta akan menghadapi lawan tangguh lagi....... "
"Lawan tangguh lagi? Siapa?" Sangaji kaget.
Titisari tiada menjawab. Tapi dengan menjejak tanah ia lari mengarah ke timur laut, Sangaji segera mengikuti. Ia merasa heran dan aneh. Bukan lagak lagu Titisari, tetapi mengenai gurunya. Gurunya semenjak mudanya terkenal sebagai pendekar, seumpama seekor harimau hanya terdengar suaranya tetapi tiada tubuhnya. Gerak-geriknya sukar diduga-duga. Dia bisa datang dan pergi seperti iblis. Tapi kali ini, mengapa mengubah adat? Dia seperti terkait dan merasa tak leluasa lagi terhadap Nenek Sirtupelaheli. Mengapa demikian?
Dengan pikiran itu, sampailah ia pada suatu ketinggian. Dari jauh nampaklah sebuah gubuk yang berdiri di antara dua batu raksasa. Pastilah itu gubuk Sorohpati. Sangaji ingin segera menghampiri. Tiba-tiba Titisari mencegahnya.
"Jangan dulu!"
"Mengapa? Kalau kau takut, biarlah aku sendiri." Sangaji heran.
"Hm—meskipun maksudmu baik, tetapi aku tak bakal mengijinkan."
"Mengapa?"
"Entahlah. Nenek Sirtupelaheli sukar ditebak maksudnya. Disamping itu masih ada pula Daniswara. Apakah kau mengira, dia benar-benar pergi? Hm, belum tentu. Dan munculmu dengan tiba-tiba akan menyukarkan gurumu Paman Gagak Seta dan... "
"Dan siapa?"
Titisari tertawa geli. Sahutnya tak pedulian. "Itumu."
"ltuku siapa?" Sangaji gelisah dan dengki. "Bibi kita, Fatimah."
Sangaji terhenyak, la tertawa geli. Namun keras keinginannya hendak segera menemui gurunya. Karena itu, ia mencoba memperoleh keterangan Titisari. Tanyanya minta penjelasan.
"Kau berkata, bahwa kedatanganku akan menyukarkan Guru. Bagaimana bisa begitu?"
"Eh, apakah kau tak mengenal tabiat gurumu?" Titisari menyesali. "Sekali dia sudah mengijinkan Sirtupelaheli dan Daniswara berbicara. Tetapi tidak untuk yang kedua kalinya. Dan disinilah justru kita bakal memperoleh keterangan siapa mereka berdua sesungguhnya dari sikap Paman Gagak Seta sebentar nanti," kata Titisari. Tiba-tiba ia berhenti berpikir. Kemudian memutuskan. "Baiklah. Kau boleh pergi seorang diri. Aku pun akan berada di sebelah sana. Hanya saja, kurasa kali ini engkau harus bersiaga. Bawalah pedang Sokayana. Barangkali ada gunanya."
Sesudah berkata demikian, Titisari melemparkan pedang Sokayana yang selalu dibawanya. Kemudian melesat mendahului mengarah dibalik gundukan.
Dengan jantung memukul, Sangaji menerima pedang Sokayana. Semenjak Titisari berada di Jawa Barat, ia menghadiahkan pedang itu kepadanya untuk menolongnya berlatih menghimpun tenaga sakti. Untuk kaum pendekar, pedang Sokayana adalah merupakan benda mustika tiada tara. Sekarang pedang tersebut diberikan kepadanya. Itulah suatu ramalan, bahwa dia bakal menghadapi suatu kejadian yang pelik. Tak
mengherankan, jantungnya memukul dan kepalanya penuh dengan teka-teki.
Setelah menyisipkan pedang Sokayana dipunggungnya, dengan menggunakan ilmu berlari ringan Sangaji mendaki mengarah utara. Dia pun menelan gerak-gerik Titisari yang menghampiri bukit secara tak langsung. Teringat kepada Manik Angkeran, timbullah dugaannya bahwa padepokan Sorohpati pasti pula banyak ragam serba bisa serta racun. Seperti diketahui Manik Angkeran adalah murid tabib sakti Maulana Ibrahim yang selain seorang ahli obat-obatan juga seorang ahli racun. Tiada mustahil bahwa Manik Angkeran pandai membuat racun dan bisa pula. Karena Sorohpati adalah ayahnya, kemungkinan besar ia mempersembahkan ilmu kepandaiannya kepadanya. Sangaji tiada takut kepada racun atau bisa betapa jahatnya. Itulah disebabkan getah sakti Dewadaru mengalir dalam tubuhnya. Tapi daripada akan memperoleh kesukaran, lebih baik ia berhati-hati. Maka setiap kali meloncat, kakinya mendarat pada batu-batu yang menconggakkan diri.
Gubuk Sorohpati sudah nampak jelas kini. Ia lantas berhenti dan menunggu. Waktu itu matahari sudah condong ke barat. Karena awan hitam nampak membayangi udara, suasana alam cepat sekali nampak suram.
Selagi berbimbang-bimbang, telinganya yang tajam mendengar suara langkah. Segera ia mendekam. Kemudian merangkak maju mendekati gubuk. Tiba-tiba suara langkah itu lenyap. Secara kebetulan angin meniup keras dan sedang membungkuk-bungkukkan mahkota daunan sehingga menerbitkan suara gemersak. Inilah
suatu tanda bahwa hujan sebentar lagi akan turun atau jatuh sebaliknya.
Sangaji tidak memedulikan ancaman alam. Dengan menggunakan kesempatan itu, ia melesat mendekati datangnya suara langkah tadi yang tiba-tiba menghilang. Sewaktu hampir tiba di dekat dua batu raksasa, ia mendengar suara orang sedang berbicara berbisik.
"Fatimah! Kenapa kau berdiam saja semenjak tadi?" Sangaji kaget. Itulah suara Sirtupelaheli. Cepat-cepat ia merandek sambil menahan napas. Ia memasang telinganya tajam-tajam mengikuti pembicaraan itu. Terdengar Fatimah menyahut dengan nada prihatin.
"Bibi.... Gubuk ini, adalah gubuk calon mertuaku.
Kalau aku berbuat yang tidak-tidak.... Bukankah berarti aku berani menentang orang tua?"
Sirtupelaheli tertawa perlahan di antara batuknya.
"Eh! Semenjak kapan adatmu berubah? Sorohpati itu manusia macam apa sampai kau merasa hormat kepadanya? Toh, dia belum jadi orang tuamu."
Fatimah tiada menjawab. Dan Sirtupelaheli berkata lagi: "Coba jawab, aku ini siapa?"
"Bibi, puteri seorang bupati. Adik Gusti Ayu Mangkarawati. Bibi Pangeran Diponegoro."
"Bagus! Kau sudah mengerti. Mana yang lebih terhormat, aku ataukah Sorohpati?"
"Tentu saja.... Ah, dalam hal ini tak berani aku menjatuhkan pilihanku. Baik Bibi maupun Paman Sorohpati, kuhormati dengan setulus hatiku."
Mendengar pembicaraan mereka, terbangunlah ingatan Sangaji. Yang disebut Pangeran Diponegoro adalah Pangeran Ontowiryo, dahulu tunangan Retnaningsih. Puteri ini adalah murid paman gurunya, Suryaningrat. Juga Fatimah murid Suryaningrat. Teringat betapa rapat hubungannya antara Fatimah dan Retnaningsih, samar-samar ia seperti mengerti. Hanya saja kurang jelas. Hal itu disebabkan dengan hadirnya Nenek Sirtupelaheli.
"Fatimah! Benar-benarkah engkau mencintai Manik Angkeran anak Sorohpati? Hm... hm! Mana Bisa kau mengelabuhi aku," kata Sirtupelaheli dengan berbatuk-batuk. "Hayo! Bukankah engkau ingin mengabdikan dirimu kepada anakku, Diponegoro? Coba bilang tidak!"
"A... Aku...? Mana berani aku begitu! Pangeran Diponegoro adalah suami saudara-seperguruanku, Puteri Retnaningsih," jawab Fatimah sulit.
Sekonyong-konyong terdengar suara tamparan. Lalu Sirtupelaheli membentak. "Kalau kau berhati jujur, apa sebab engkau mempelajari ilmu racun? Bukankah engkau bermaksud hendak meracuni Retnaningsih?"
Hebat tuduhan ini. Jangan lagi Fatimah, Sangaji pun merasa telinganya pengang. Inilah disebabkan ia teringat akan kata-kata gadis itu tatkala mengantarkan keberangkatannya ke Jakarta. Fatimah membicarakan perkara kekasihnya yang bercita-cita menjadi seorang raja dan juga perkara racun.25) Apakah yang dimaksudkan Pangeran Ontowiryo yang kini bergelar Pangeran Diponegoro? Mustahil! Meskipun demikian, Fatimah tak terdengar membantah, la hanya mengerang kesakitan.
"Pikirkan masak-masak! Kalau perbuatanmu ini kubongkar dihadapan Retnaningsih, apakah jadinya?" ancam Sirtupelaheli. "Sebaliknya, kau hanya kusuruh minta surat wasiat itu dari murid Sorohpati. Untuk siapa surat wasiat itu? Sesungguhnya hendak kupersembahkan kepada anakku, Pangeran Diponegoro. Jika engkau benar-benar bersih hati. Nah, tunjukkan buktinya kepadaku, ketulusan hatimu kepadaku."
"Bibi, tak dapat aku berbuat begitu," sahut Fatimah dengan suara mengeluh.
"Binatang!" bentak Sirtupelaheli. "Kalau begitu, perlu apa aku menghidupi engkau? Tahukah engkau, apa sebab surat wasiat itu harus jatuh ketangan anakku Diponegoro? Ini demi cita-cita negara dan bangsa. Lihat, ayahnya Hamengku Buwono III wafat sebelum waktunya. Juga kakeknya Sultan Sepuh. Mahkota sekarang kosong. Yang dicalonkan adalah seorang kanak-kanak lemah, Pangeran Jarot. Kau belum juga menyadari bahaya ini?"
Fatimah tak segera menjawab. Selang beberapa saat lamanya, ia terdengar berkata perlahan:
"Tak dapat. Bibi, tak dapat aku berbuat begitu."
Sangaji tersenyum mendengar jawaban Fatimah.
Inilah watak gadis itu yang dikenalnya dahulu. Sekali berkata tidak, dia pasti akan tetap membandel biar mendapat siksaan betapa berat pun.
"Mengapa tidak? Mengapa tidak?" Sirtupelaheli kuwalahan.
"Jangan-jangan... Surat wasiat itu akan Bibi serahkan kepada Patih Danureja IV atau Paman Tumenggung
Pringgadiningrat atau Paman Tumenggung Mertanegara. Kalau sampai demikian... Bagaimana kau berbicara dengan anak-anakku Titisari dan Sangaji."
Tercekat hati Sangaji mendengar keterangan Fatimah mendengar pula namanya disinggung-singgung. Sekonyong-konyong ia mendengar bentakan Sirtupelaheli. Suara tamparan kemudian menyusul. Sesudah Fatimah mengerang kesakitan, ia menghela napas panjang.
Dewasa itu, Sultan Sepuh Hamengku Buwono II telah lama ditawan dan dibuang ke Penang oleh Pemerintah Inggris. Kemudian dipindah ke Ambon. Kanjeng Raja diangkat kembali menjadi Sultan Hamengku Buwono III pada tanggal 28 Juni 1812. Untuk jasa ini, Sultan Hamengku Buwono III kehilangan haknya atas tanah-tanah di Kedu, Pacitan, Japan, Jipang dan Grobogan. Dalam usia 43 tahun, Beliau wafat pada tanggal 3 November 1814. Sebagai penggantinya, Pemerintah Inggris memilih Pangeran Jarot yang baru berumur 10 tahun (lahir tanggal 3 April 1804) Tata pemerintahan diserahkan kepada Dewan Perwakilan yang terdiri dari Patih Danureja IV, Tumenggung Pringgadiningrat dan Tumenggung Mertanegara.
Akan tetapi Pemerintah Inggris tidak setuju. Yang dipilihnya adalah Pangeran Natakusuma seorang untuk menjadi wali Sultan. Hal ini ada sebabnya. Karena Pangeran Natakusuma pernah membuat jasa terhadap Pemerintah Inggris tatkala berperang melawan Sultan Sepuh. Inggris menghadiahi sebagian tanah Sultan dan memberinya gelar Paku Alam I pada bulan Maret 1813. Dan semenjak itu, terjadilah pertentangan-pertentangan
hebat di dalam kalangan keluarga raja. Mereka saling menggunakan tipu muslihat, fitnah dan racun.
Sangaji pada saat-saat itu berada di Jawa Barat. Tidak mengherankan bahwa ia belum mengetahui perkembangan di wilayah Kerajaan Yogyakarta. Hanya saja, sebagai seorang yang pada saat itu mengendalikan tata perjuangan di Jawa Barat, ia merasa curiga mendengar Fatimah kena tamparan setelah menyebut-nyebut serentetan nama.
Diluar dugaan, tiba-tiba ia mendengar suara Sirtupelaheli berubah menjadi sabar. Kata nenek itu: "Baiklah. Kau memang benar-benar mencintai anak Sorohpati tak apalah, meskipun sebenarnya aku mempunyai rencana sendiri. Bakal mertuamu Sorohpati, mestinya orang baik-baik. Anaknya pun pasti demikian pula. Ingatlah Fatimah, tunanganmu, Manik Angkeran kini berada di Jawa Barat. Kalau dia pulang kemari, mestinya akan membawamu ke Jawa Barat. Karena itu, perlu apa engkau berpusing-pusing perkara surat wasiat? Sebaliknya, anakku Pangeran Diponegoro memerlukan wasiat itu demi keselamatan bangsa dan negara. Kalau tidak, Pangeran Jarot bakal menjadi raja boneka belaka. Kau pertimbangkan hal ini. Apakah engkau sampai hati, bila rajamu sampai menjadi boneka? Sebaliknya kalau kau bisa membawa surat wasiat itu... hm... setidak-tidaknya engkau terhitung sebagai wanita yang berjasa bagi kebangunan bangsamu...."
Fatimah menghela napas. Lama sekali ia berdiam diri. Sekonyong-konyong dia berkata: "Tapi surat wasiat itu kini sudah berada di tangan pendekar Gagak Seta."
"Jangan banyak mulut! Bawa kemari kaleng itu!" bentak Sirtupelaheli.
Sangaji melongokkan kepalanya. Tiba-tiba bulu kuduknya meremang. Lapangan didepannya nampak berasap setelah Sirtupelaheli menuangkan isi kalengnya. Itulah suatu racun yang hebat.
Kalau begitu, nenek itu sudah bersiaga untuk bertempur. Karena merasa diri belum tentu bisa memenangkan Gagak Seta, ia menebarkan racun di seluruh lapangan. Kemudian dia hendak menantang Gagak Seta agar bertempur di atas tanah beracun itu.
Dia sendiri sudah barang tentu telah bersiaga untuk melawan racun. Sebaliknya begaimana dengan Gagak Seta?
Mengingat kasih sayang gurunya Gagak Seta terhadap dirinya, darahnya lantas saja mendidih menyaksikan kejahatan dan kebusukan hati nenek itu. Teringat akan masalah yang mengehantui, ia jadi menyesal. Mengapa orang ini mendadak jadi linglung begitu mendengar guratan rahasia ilmu sakti berada dalam surat wasiat Titisari?
"Benarlah kata Ibu dahulu," kata Sangaji di dalam hati. "Benda keramat itu akan menerbitkan suatu kekeruhan saja. Karena itu aku menghancurkannya. Eh tak tahunya, Titisari membuat gara-gara lagi."
Hati-hati Sangaji merangkak-rangkak maju. Makin mendekat, makin terasa hatinya seperti terguyur air dingin. Tanah yang tadi nampak menguap, kini tiada tanda-tandanya lagi. Benar-benar hebat racun itu. Nenek Sirtupelaheli dan Fatimah nampak mengenakan sepatu. Dengan demikan, meraka berdua bebas dari hawa tanah.
Ah, benar-benar jahat. Tatkala melihat wajah Fatimah yang matang biru, ia jadi iba. Fatimah dikenalnya sebagai gadis setengah liar, karena wataknya angin-anginan. Tetapi terhadap orang tua itu, ia mati kutu. Pastilah ada sebabnya yang beralasan kuat. Alasan apakah itu, sampai sekarang Sangaji belum jelas.
Sangaji adalah seorang yang sangat sabar. Tapi darahnya sekarang meluap-luap. Dengan mati-matian ia mencoba menguasai pergolakan hatinya. Ia sadar bahwa sekali mengumbar nafsu akan merusak urusan besar yang sedang bermain di depan matanya.
"Nenek itu memanggil adik terhadap guru.
Pastilah dahulu mempunyai hubungan yang sangat erat. Sekarang biarlah mereka berdua bertengkar dahulu. Baru aku muncul. Hari ini— hidupku membuka mataku— untuk melihat tontonan yang pasti menarik. Nenek ini terus menerus membawa-bawa nama Pangeran Diponegoro. Benarkah hatinya setulus ucapannya?"
Setelah mengambil keputusan demikian, hatinya menjadi tenang kembali. Segera ia bersender pada batu dengan melindungi dirinya dengan gerombol rumpun alang-alang.
Angin yang semenjak tadi membawa berita hujan, datang lagi dengan sangat keras. Tiba-tiba telinga Sangaji yang tajam luar biasa, mendengar suatu suara seperti jatuhnya selembar daun. Kaget Sangaji mendengar suara seringan itu. Kalau suara ini suara langkah kaki pastilah orang itu berkepandaian sangat tinggi. Segera ia mengelanakan pandang. Pada saat itu, ia melihat berkelebatnya sesosok bayangan. Segera ia mengenalnya. Itulah Daniswara yang datang dengan
membawa sebatang golok panjang. Golok itu sangat tipis. Bentuknya agak melengkung dan dibungkus dengan kain tipis pula. Menyaksikan lagak-lagunya, diam-diam Sangaji memuji ketajaman penglihatan Titisari. Pikirnya di dalam hati:
Benar-benar dia bukan manusia baik. Aku harus berwaspada.
Mendadak terdengar Nenek Sirtupelaheli berseru tinggi.
"Adikku Gagak Seta! Anjing yang tak kenal terima kasih tadi, datang kembali."
Sangaji terkejut. Nenek Sirtupelaheli benar-benar tak boleh dibuat gegabah. Pikirnya di dalam hati: "Jangan-jangan dia sudah mengetahui kedatanganku semenjak tadi."
Ia melihat Daniswara merebahkan diri di atas rerumputan tanpa berani bergerak.
Sejenak kemudian, maju merayap dengan sangat hati-hati kira-kira dua puluhan langkah ke depan. Melihat hal itu, ia maju pula mendekati Nenek Sirtupelaheli untuk menjaga kemungkinan terjadinya penyerangan gelap terhadap gurunya.
Pada saat itu Gagak Seta muncul dari dalam gubuk dengan mengucak-ucak matanya sambil menguap beberapa kali. Katanya bermalas-malasan:
"Kenapa kau mengganggu orang lagi tidur?"
"Adikku!" sahut Sirtupelaheli. "Kau percaya kepada orang lain, sebaliknya mencurigai aku. Lihatlah—tadi
siang kau melepaskan Daniswara. Tapi sekarang dia balik kemari lagi."
Kembali lagi Gagak Seta menguap lebar. Berkata di antara uapnya. "Alrtupah! Tombak terang gampang dikelit. Tapi anak-panah gelap sukar dijaga. Hm, puluhan tahun Gagak Seta malang-melintang seorang diri. Selama itu, aku sering menderita karena perbuatan kawan sendiri yang menusuk dari belakang. Itulah termasuk kau pula. Kalau Daniswara mau mencari aku, biarlah dia mencari aku. Kau tak usah berpura-pura berbaik hati kepadaku."
"Mengapa kau mencurigai aku?" Sirtupelaheli bergusar.
Gagak Seta tertawa terbahak-bahak selintasan.
"Bocah yang mengikuti engkau saja, semenjak tadi menaruh curiga kepadamu. Apa lagi aku..."
Sirtupelaheli terkejut. Teringat akan pembicaraannya tadi, sadarlah dia bahwa Gagak Seta sudah mendengar dengan terang. Teringat pula akan racunnya, diam-diam ia mengeluh. Cepat ia mencoba mengatasi.
"Jangan kau dengarkan omongan yang bukan-bukan. Anak ini cuma seorang gadis yang kebetulan kupungut di tengah jalan. Betapa aku mencoba mengangkatnya, tetapi loyang tetap loyang."
"Hm," dengus Gagak Seta.
"Adikku! Kau dengarkan aku!" Sirtupelaheli mengalihkan pembicaraan. "Kau sendiri pasti tahu, bagaimana sikap kaki dan tangan binatang Daniswara, tatkala lagi berbicara gagah kepadamu. Bukankah dia
berhati palsu?" Setelah berkata demikian, Sirtupelaheli tertawa nyaring tinggi.
Kaget Sangaji mendengar ucapannya. Pikirnya, kalau begitu nenek itu benar-benar hebat pula. Kelicinannya tak beda dengan Daniswara sendiri. Kata-katanya membuktikan pula, bahwa ia memiliki otak cemerlang seperti Titisari.
Sebaliknya Gagak Seta tiada berubah sikapnya. Hanya wajahnya tiba-tiba nampak bersunguh-sungguh. Tangannya meraba saku, mengeluarkan kain hitam yang segera dibebatkan pada kedua belah matanya. Aneh perbuatannya. Sebelum Sangaji tahu maksudnya, ia mendengar Gagak Seta berkata angker.
"Sirtupah, tak usah kau berkata aku pun masakan tidak tahu. Tetapi aku seorang laki-laki. Selamanya membiasakan diri menghargai kata-kata ucapan seorang laki-laki pula. Sebaliknya, aku hanya heran terhadap sikapmu. Terang-terangan kau sudah mengerti maksud busuknya.
Mengapa kau berdiam saja? Maka teranglah, sesungguhnya kau menggenggam maksud apa terhadapku. Hm, hm! Kalau begitu, kau pun menganggap enteng Gagak Seta. Lihat, sekarang semuanya sudah kasep. Aku telah mengenakan pita hitam untuk menutupi kedua mataku. Artinya, aku sudah tidak mengenal sahabat atau golongan sendiri." Sesudah berkata demikian, tiba-tiba ia melesat cepat luar biasa. Tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan Daniswara.
Dengan sekali menggerakkan tangan kirinya, ia merampas golok bengkok. Sedang tangan kanannya mencengkeram leher Daniswara. Bentaknya, "Binatang!
Aku bisa mengambil nyawamu segampang memutar leher ayam. Tetapi aku sudah meluluskan engkau untuk belajar sepuluh dua puluh tahun lagi agar dikemudian hari bisa menuntut balas kepadaku. Dengan kejadian ini, engkau kuberi waktu lima tahun. Pada saat itu manakala aku bertemu dengan dirimu, engkau hanya mempunyai dua pilihan. Kalau mampu kau harus melawan aku mengadu kepandaian sampai mampus. Sebaliknya, kalau kau merasa diri belum mampu, kau harus pergi cepat-cepat sebelum aku melihatmu. Sebab kalau mataku sampai melihat, aku akan membunuhmu."
Setelah berkata demikian, ia mengangkat tubuh Daniswara dan dilontarkan. Apa mau, Daniswara justru melayang hendak menjatuhi tanah yang sudah tersiram racun. Keruan Sirtupelaheli kaget setengah mati. Kalau Daniswara sampai jatuh di atas tanah jebakan itu, artinya rencananya gagal. Secepat kilat ia melompat dan memukul punggung Daniswara dengan tongkatnya.
"Pergi!" bentaknya. ""Aku pun benci kepadamu."
Kena pukulan Sirtupelaheli, Daniswara terpental tinggi dan tubuhnya melayang keluar tanah beracun. Terdengar Sirtupelaheli membentak lagi. "Kamu kumpulan binatang berpura-pura menjadi pembantu Sultan Sepuh dengan melindungkan diri dibawah panji-panji Tunggul Wulung. Uh, uh, uh! Masakan aku bisa kalian ingusi? Kau bawalah bala-bantuan untuk mencari aku. Nih, biar aku menghadiahi sebatang senjata bidikanku."
Dengan sekali gerak, Sirtupelaheli menyambitkan sebuah benda yang berkeredep kuning keemas-emasan. Dan menancap pada urat leher Daniswara. Sangaji tertegun menyaksikan kelicinan nenek itu. Pikirnya,
dilihat sepintas lalu, dia seperti membantu guru. Tetapi sebenarnya ia bergulat demi kepentingannya sendiri. Dia perlu memukul urat leher Daniswara untuk menjaga mulut pemuda itu kalau-kalau membuka rahasianya. Ah, benar-benar licin!
Untunglah; begitu kena senjata bidik, Daniswara lari lintang-pukang turun bukit, sejenak Sangaji mengawaskan kepergiannya. Kemudian kembali mengintip wajah Gagak Seta yang nampak angker. Pada saat itu, ia benar-benar kagum kepada kegagahan gurunya. Dia sendiri sudah memiliki ilmu sakti tertinggi dijagad. Namun dibandingkan dengan kecerdikan gurunya ia merasa kalah. Katanya di dalam hati,
"Tahulah aku sekarang, apa sebab guru belum meninggalkan Nenek Sirtupelaheli? Dia berpura-pura bermusuhan dengan Daniswara, tetapi sebenarnya bidikan hatinya kepada si nenek. Guru merasa curiga, hanya saja belum memperoleh bukti. Tetapi sekarang pastilah lain."
Memang benarlah pendapat Sangaji. Gagak Seta bukanlah seorang pendekar lumrah. Namanya sejajar dengan Adipati Surengpati dan Kebo Bangah yang terkenal serba pandai, licin dan licik. Karena itu, sudah barang tentu mengetahui belaka sikap tangan dan kaki Daniswara tatkala berbicara kepadanya. Hanya saja ia berpura-pura goblok. Tetapi sebenarnya justru lagi menjebak Sirtupelaheli.
Sekiranya Sirtupelaheli masih mengingat hubungan lama, pastilah dia bakal memberi peringatan kepadanya. Sebaliknya, tidak. Untuk meyakinkan lagi, Gagak Seta membuat gerakan diluar dugaan. Sengaja ia melemparkan tubuh Daniswara ke arah Sirtupelaheli. Tetapi tidak langsung mengarah tempatnya. Sebaliknya
hanya dilemparkan sekeliling tempat beradanya. Karena takut ketahuan rahasianya, cepat-cepat Sirtupelaheli mengadakan reaksi. Justru hal itu, malahan membuka kedoknya. Dan sebagai seorang pendekar besar yang cukup berpengalaman, Gagak Seta lantas saja tertawa terbahak-bahak dengan mendongak ke udara.
"Ah! Guru benar-benar manusia hebat!" Sangaji kagum dalam hati. "Nenek Sirtupelaheli boleh merasa diri seorang manusia cerdik, licin dan banyak akal. Tetapi Guru terbukti lebih pandai daripadanya. Titisari pun ternyata dilagaki Guru pula, sehingga mengira Guru belum sadar akan tipu daya Daniswara. Hm, inilah yang dinamakan menggunakan racun untuk melawan racun. Guru, kau benar-benar manusia jempolan!"
Dalam pada itu terdengar Gagak Seta berkata nyaring. "Sirtupah! Entah berapa banyak manusia busuk di dunia ini seperti Daniswara. Membunuhnya atau tidak bukanlah suatu soal pelik, yang berbahaya sekarang, justru menghadapi engkau."
"Adikku..." potong Sirtupelaheli. "Kita berdua adalah saudara-saudara seperguruan. Sampai sekarang masih aku teringat ucapan Guru yang memuji hari depanmu. Ternyata benar. Menyaksikan ketajaman telinga dan matamu, aku percaya engkau masih bisa malang melintang tanpa tandingan sepuluh tahun lagi.... "
"Hm, Sirtupah! Dalam hal kelicinan, kau memang sepuluh kali lipat dari padaku," potong Gagak Seta. "Tapi lihatlah kedua mataku ini. Bukankah sudah kubebat? Kalau kau masih teringat ucapan Guru, pasti pula masih teringat adat-istiadat perguruan kita. Apa artinya aku membebat kedua mataku dengan kain hitam?"
Tertarik hati Sangaji mendengar pembicaraan itu. Sadar, bahwa ia lagi menghadapi dua tokoh manusia yang berilmu sangat tinggi, segera ia menggunakan ilmu saktinya yang tertinggi pula untuk meniadakan dirinya.
Sirtupelaheli berbatuk-batuk sekian lamanya. Lalu berkata menyesali.
"Benar-benarkah engkau akan melupakan saudara seperguruanmu?"
"Kau jawablah yang terang!" Gagak Seta tidak memedulikan. "Meskipun kau memanggil diriku adik, sesungguhnya hanyalah disebabkan suatu pertalian keluarga. Kau sepuluh atau lima belas tahun lebih muda dari padaku. Aku ingin minta keteranganmu yang jelas, apa sebab engkau senang memakai topeng yang tak keruan macamnya."
"Ih! Pertanyaanmu ini sungguh memalukan!" gerendeng Sirtupelaheli. "Aku memakai kedok atau tidak, apa pedulimu?"
"Juga terhadap aku?"
"Justru terhadapmu, aku harus memakai topengku kuat-kuat. Karena semuanya ini justru engkaulah yang menyebabkan," jawab Sirtupelaheli.
Sangaji adalah seorang yang berhati sederhana.
Tetapi begitu mendengar serentetan tanya jawab itu, ia seperti bisa menangkap. Tetapi sebelum mengerti dengan jelas, wajahnya terasa panas. Dan pada saat itu, ia mendengar Gagak Seta menghela napas prihatin. Kata pendekar besar itu, "Sirtupah! Baikiah, aku mengingat hubungan kita dahulu, aku masih mau memberimu peluang untuk sekali ini saja. Hanya saja cobalah kau
berbicara yang benar, apa sebab kau ikut-ikutan mengincar surat wasiat?"
"Itulah karena kemenakanku, Pangeran Diponegoro," sahut Sirtupelaheli.
Mendengar jawaban itu. Gagak Seta tertawa terbahak-bahak. Lalu berkata dengan bergusar.
"Sirtupah! Benar-benar kau manusia yang tidak seharusnya hidup lama-lama lagi." Setelah berkata demikian, ia maju selangkah mendekati tanah yang sudah beracun, la berdiam sejenak. Kemudian berkata dengan suara agak lunak.
"Sirtupah! Lihatlah, bahwa engkau sudah menjadi seorang isteri tingkatan atas. Itulah sebabnya pula, kau berhak memanggil aku adik, karena suamimu tingkatan darahnya lebih tua daripadaku. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, betapa engkau dahulu sangat cinta kepadanya. Coba terangkan, apa sebab pada suatu hari suamimu mati dengan mendadak?"
"Eh, manusia manakah yang tidak akan mati?" Sirtupelaheli bergusar.
"Benar. Manusia ini pasti mati. Tetapi mati dan mati ada bedanya. Suamimu masih segar-bugar. Kutaksir dia masih bisa hidup empat atau lima puluh tahun lagi. Apa sebab tiba-tiba mati tanpa sakit. Bukankah engkau yang meracuni? Hayo, bilanglah!"
"Gagak Seta! Kau ikut-ikutan pula menuduh aku?" bentak Sirtupelaheli. "Lihatlah, aku sampai mengenakan topeng. Untuk apa? Karena aku hampir gendeng kena tuduhan itu. Untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah, aku bersumpah tidak akan kawin lagi. Lalu
mengenakan topeng seburuk ini dan berlagak seperti nenek-nenek tua bangka benar-benar. Bukankah aku sudah cukup menyiksa sendiri. Lihat, lihatlah yang terang. Kalau aku berangan-angan membunuh suami sendiri untuk mencari suami yang lain, bukankah wajahku masih lumayan juga? lihat!"
Setelah berkata demikian dengan sekali menggerakkan tangan, ia melocoti topengnya.
Sangaji bukan seorang pemuda bongor. Tetapi karena merasa tertarik, ia melongokkan pandang. Dan begitu topeng terlocot ia melihat suatu wajah .yang cantik luar biasa. Sayang dia bukan seorang pemuda yang berpembawaan romantis sehingga tiada dapat melukiskan kejelitaan wajah Sirtupelaheli.
Gagak Seta sendiri tetap berdiri tegak. Kedua
"Lihat! Lihatlah yang terang. Kalau aku berangan-angan membunuh suami sendiri untuk mencari suami yang lain, bukankah wajahku masih lumayanjuga! Lihat"
matanya tetap terbebat kencang-kencang. Terang sekali, ia tak sudi melihat wajahnya saudara-seperguruannya lagi. Sesudah menjenak napas, ia berkata: "Sirtupah! Meskipun kedua mataku terbebat, tetapi jangan khawatir. Masih saja aku teringat akan kecantikanmu. Tapi... Ah! Moga-moga tidaklah benar warta yang pernah kudengar. Kudengar, engkau menutupi mukamu dengan topeng, justru untuk menutupi kebusukan hatimu. Benarkah engkau sudah
mengabdikan cintamu kepada almarhum Kanjeng Raja? 26)
Mendadak dua benda kuning keemas-emasan berkeredep menyambar dada Gagak Seta. Kedua mata Gagak Seta terbebat kain hitam. Walaupun demikian— perasaannya yang sudah peka—mendengar suara sambaran. Tongkatnya mengibas dan dua senjata rahasia Sirtupelaheli lenyap masuk ke dalam lengan baju.
Senjata bidik Sirtupelaheli terbuat dari emas lapisan, sedangkan tongkat Gagak Seta mengandung besi berani. Tak mengherankan—begitu dikibaskan—kedua senjata bidik Sirtupelaheli kena tertarik. Dan dengan mudah dapat dimasukkan ke dalam lengan baju. Inilah suatu hal yang tak pernah terduga, bahwa tongkat Gagak Seta yang nampaknya tiada berharga sebenarnya merupakan alat penakluk segala macam senjata rahasia. Pantas, Titisari dahulu pernah tertarik.
Dengan beruntun, Sirtupelaheli telah melepaskan tujuh sampai delapan senjata rahasianya. Dan semuanya dapat disedot lenyap oleh tongkat Gagak Seta. Tatkala itu, matahari sudah tenggelam. Dalam kemuraman cuaca, senjata rahasia Sirtupelaheli berkeredep seperti kunang-kunang.
Sekonyong-konyong, dengan berbatuk-batuk Sirtupelaheli meraup segenggam senjata rahasianya kemudian ditebarkan dengan sekaligus. Dengan bersiul Gagak Seta menyambut serangan itu. Sebagian masuk ke dalam lengan baju. Sebagian lagi menempel pada tongkatnya atau runtuh di atas tanah.
"Sirtupah! Ada tetamu harus dibalas!" seru Gagak Seta dengan nada girang. "Kuingat, selamanya Guru sayang
padamu sampai engkau mewarisi senjata rahasia semahal sebuah kota. Aku sih manusia miskin, manusia jembel. Karena kepingin mempunyai senjata bidik pula, pada suatu hari seorang muridku mencarikan bahan yang murah. Itulah biji-biji sawo. Tadinya kusediakan untuk menggebah tabuhan si Kerbau bangkotan27) Eh, biarlah hari ini kucoba untuk menguji ketangkasanmu."
Setelah berkata demikian, tangan kirinya tiba-tiba bergerak. Sifat biji sawo lain dengan senjata bidik yang terbuat dari bahan logam. Pada malam hari, sama sekali tidak nampak. Tiba-tiba saja seperti hujan lebat biji-biji sawo Gagak Seta menyerang dengan berbondongan.
Bukan main kagetnya si nenek. Untunglah, dia pun seorang pendekar wanita tangguh. Kepandaiannya barangkali hanya setingkat di bawah gagak Seta. Maka begitu melihat bahaya, dengan berbatuk-batuk ia melompat tinggi ke udara. Tangannya berserabutan kalang kabut. Setelah berjuang mati-matian, ia dapat turun kembali ke tanah dengan selamat.
"Bagus! Bagus! Kau pun tidak menyia-nyiakan kasih sayang Guru. Hanya saja kalau penyakitku kumat, belum tentu kau bisa berhasil menyelamatkan diri."
Sirtupelaheli bergidik. Ucapan Gagak Seta bukan omong kosong belaka. Kalau bermaksud jahat benar-benar, sewaktu tubuhnya melayang turun, dia bisa kena serang kembali. Rasanya sekalipun mempunyai sayap, belum tentu bisa lolos. Terlebih-lebih apabila kain pembebat mata tiba-tiba dibukanya. Bisa dibayangkan betapa bertambah berbahaya.
Memperoleh pertimbangan demikian, segera ia sadar tidak boleh menyia-nyiakan suatu kesempatan bagus.
Mumpung Gagak Seta masih membebat kedua matanya, cepat-cepat ia menyerang. Dan dengan suatu kecepatan luar biasa, tongkatnya bergerak menyabet pundak. Inilah suatu serangan tak terduga. Tetapi seumpama kedua mata Gagak Seta tidak tertutup, betapa cepat Sirtupelaheli tidak akan seberapa me-nyukarkan pendekar besar itu. Sebaliknya, kini kedua matanya terbebat, la hanya mengandal kepada suara sambaran angin. Itulah sebabnya tak berkesempatan lagi ia mengelakkan serangan mendadak itu. Tiba-tiba pundaknya kena terpukul miring. Dengan mengaduh, ia terhuyung mundur beberapa langkah.
Melihat hal itu, Sangaji kaget bercampur girang. Itulah disebabkan ilmu saktinya yang tinggi. Pada waktu itu, Sangaji sudah menduduki suatu tingkat sangat tinggi dalam ilmu silat. Selain pengalamannya bertambah, ia pun mewarisi salah satu ilmu sakti warisan Pangeran Semono. Dengan sekali melihat, ia bisa menduga bahkan meramalkan pukulan-pukulan kedua belah pihak yang bakal mendatang. Maka begitu melihat limbungnya Gagak Seta tahulah dia, bahwa gurunya sedang melakukan suatu tipu. Pikirnya di dalam hati, Guru membiarkan dirinya kena pukulan, la mundur terhuyung beberapa langkah.
Sebenarnya dengan diam-diam, ia sedang mengumpulkan senjata rahasia Sirtupelaheli, yang berada dalam lengan bajunya. Kalau ia menimpuk, Sirtupelaheli pasti akan mundur ke kiri. Pada saat itu, guru pasti membabatkan tongkatnya. Dan karena segan terhadap tongkat guru, Sirtupelaheli pasti akan mundur lagi ke kiri. Setelah dua kali mundur, tak dapat lagi ia mundur untuk yang ketiga kalinya.
Inilah suatu kesempatan bagus bagi Guru, untuk mengerahkan segenap himpunan tenaga saktinya. Dengan tenaga sakti itu, Guru akan menggebah senjata rahasia Sirtupelaheli yang menempel pada tongkatnya. Meskipun belum tentu bisa membinasakan Sirtupelaheli, tetapi setidak-tidaknya akan bisa melukai berat. Ah, Guru benar-benar cerdik!
Apa yang diduga, ternyata benar belaka. Tiba-tiba terlihatlah berkeredipnya senjata rahasia Sirtupelaheli menyerang majikannya. Dan seperti dugaan Sangaji, Sirtupelaheli mundur ke kiri. Dan pada saat itu, Gagak Seta membabatkan tongkatnya. Diluar dugaan, tongkat itu mengenai pundak.
"Ih!" Sangaji terkejut. Mestinya dia bisa mundur ke kiri sekali lagi. Tapi mengapa pundaknya sudah kena?
Celaka! Dia pun membalas tipu dengan tipu pula."
Sesudah mengaduh kesakitan, Sirtupelaheli mundur ke kiri. la sengaja menyakiti diri dengan membiarkan kena babatan tongkat untuk memancing Gagak Seta mendekati. Dan mendekati dirinya, berarti pula mendekati tanah beracun. Pancingannya berhasil. Karena perhitungan Gagak Seta agak meleset, ia lantas melompat menubruk. Ini disebabkan, babatan tongkatnya sudah mengenai sasaran di luar perhitungan.
Dengan demikian tidak perlu ia menimpukkan senjata rahasia Sirtupelaheli yang menempel pada tongkatnya. Justru inilah yang dikehendaki Sirtupelaheli. Coba dia tadi mengelakkan babatan tongkat, pastilah dia bakal diserang senjata rahasianya sendiri yang menempel pada tongkat Gagak Seta. Cepat ia mundur. Pada saat itu
Gagak Seta menubruk. Tubuhnya melayang dan tongkatnya menyambar.
Mendadak terdengarlah suatu teriakan nyaring.
"Awas! Tanah dibawah beracun!"
Gagak Seta kaget. Inilah tipu Sirtupelaheli yang dapat ditangkap Sangaji. Begitu melihat Gagak Seta menubruk ia sudah mengeluh.
Pada detik itu, belasan senjata rahasia menyambar tubuh Gagak Seta. Hebat! Hebatlah Nenek Sirtupelaheli.
Sebenarnya dialah tadi yang terancam bakal kena serangan senjata rahasia. Tak tahunya, Gagak Seta kini justru terancam bahaya. Inilah berkat kecerdasan otaknya. Gerak-geriknya sukar diduga seperti peringatan Titisari.
Tubuh Gagak Seta pada saat itu berada di tengah udara. Tiada kesempatan lagi untuk menghindari atau mundur dengan jungkir-balik. Makiumlah, ia berada dalam gerakan menubruk. Betapa mungkin bisa mundur berjumpalitan. Dan tanah beracun dibawahnya mengancam jiwanya.
Sekali ini, Gagak Seta benar-benar berada dalam saat-saat tak berdaya. Dia dapat menyapu runtuh belasan senjata rahasia yang menyerang dirinya. Tetapi untuk mengelakkan tanah yang berada dibawahnya tidak mungkin lagi. Tiba-tiba pada saat kakinya hendak meraba tanah, suatu kesiur angin dahsyat mengangkat tubuhnya berbalik tinggi ke udara. Dan oleh pertolongan angin itu, dia bisa berjungkir-balik dan hinggap di atas batu yang berada di luar tanah beracun.
Gagak Seta bergusar bercampur kaget, la bergusar, karena tak mengira bahwa saudara seperguruannya benar-benar menghendaki nyawanya. Sedangkan dia sendiri, meskipun sudah membebat kedua matanya tetapi untuk membinasakan Sirtupelaheli dengan sungguh-sungguh—masih belum sampai hati. Sebaliknya ia kaget, karena telah memperoleh suatu pertolongan dari seseorang yang berkepandaian sangat tinggi. Malahan, mungkin sekali kepandaian si penolong berada diatasnya.
"Hebat sungguh kepandaian orang ini. Sudah lama dia menonton, namun aku tidak mengetahui. Sekiranya ilmu kepandaiannya tidak berada diatasku, mustahil dia luput dari pengamatanku," pikirnya di dalam hati. Tak terasa keringat dingin membasahi sekujur dahinya.
Maklumlah, selamanya ia tak pernah gentar menghadapi siapa saja. Pada zaman itu, pendekar tingkat wahid adalah Kyai Kasan Kesambi, Adipati Surengpati, Mangkubumi I, Kyai Haji Lukman Hakim,
Kebo Bangah dan Pangeran Sambernyawa. Ilmu kepandaian mereka setataran dengan ilmu kepandaiannya. Tiga puluh tahun yang lalu, mereka pernah mengadu kepandaian. Masing-masing memiliki keunggulannya sendiri. Tiada yang menang maupun yang kalah.
Sebaliknya, kali ini adalah lain. Kepandaian si penolong benar-benar berada diatasnya. Tak mengherankan, hatinya menjadi ciut.
"Baru sepuluh tahunan aku menyekap diri. Tak kusangka, dunia melahirkan seorang tokoh lain yang melebihi diriku. Benar-benar tulangku sudah "keropos!"
Sekarang, baik Gagak Seta maupun Sirtupelaheli— telah menderita luka pada pundaknya masing-masing. Meskipun tidak berat, betapa pun juga mengganggu ketegarannya.
Setelah berbatuk-batuk sambil mengenakan topengnya kembali, Sirtupelaheli berputar
Ke arah tempat persembunyian Sangaji. "Siapakah kau, Tuan yang berani mengacau kegembiraanku? Kalau kau seorang jantan, nah, muncullah dihadapanku," bentaknya. -
Mendengar teguran Sirtupelaheli, Sangaji segera hendak menjawab. Tiba-tiba ia mendengar teriakan menyayat hati. Nanar ia menoleh dan melihat Fatimah rebah terkapar di atas tanah. Tiga batang senjata rahasia Sirtupelaheli menancap di dadanya. Inilah kejadian diluar dugaan dan terjadi dengan sangat cepat.
Rupanya Sirtupelaheli mendongkol, karena teriakan peringatan Fatimah tadi kepada Gagak Seta agar berwaspada terhadap tanah beracun. Inilah yang membuat rencananya buyar. Coba Fatimah tidak berteriak memperingatkan pastilah Gagak Seta bakal mampus keracunan di atas tanah jebakan. Itulah sebabnya selagi mulutnya membentak ke arah Sangaji, tangannya bekerja. Tiga batang senjata rahasianya ditimpukkan ke arah dada Fatimah. Benar-benar sukar diduga gerak-gerik Sirtupelaheli. Pantaslah, Gagak Seta yang biasanya berwatak terbuka, tak berani gegabah menghadapi Sirtupelaheli yang ternyata adalah adik seperguruannya.
Sangaji terkejut bukan kepalang. Mimpi pun tidak, bahwa nenek itu bisa berbuat sekejam itu. Tanpa berpikir
panjang lagi, ia terus melesat tinggi ke udara. Sirtupelaheli menimpukkan dua batang senjata rahasianya lagi. Dengan mengibaskan tangan, kedua senjata rahasia itu dapat tersapu runtuh. Kemudian dengan hati pilu, Sangaji mendarat dan memeluk tubuh Fatimah. Ia tak gentar menghadapi racun betapa jahat pun, karena dalam dirinya mengalir getah sakti pohon Dewadaru.
Dalam keadaan lupa-lupa ingat, Fatimah menyenakkan mata. Begitu melihat wajah Sangaji, matanya terbelalak. Serunya parau: "Eh kau Tolol! Benarkah engkau si Tolol?"
"Benar aku," sahut Sangaji dengan hati terharu.
Seperti diketahui, Fatimah selalu memanggilnya dengan si Tolol, la pernah ditolong, tatkala kena siksaan Keyong Buntet dan Mahesasura. Kali ini pun demikian. Tak mengherankan, ia lega luar biasa. Justru demikian, ia jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Sangaji tak berani mencabut tiga batang senjata rahasia Sirtupelaheli yang menancap pada dada Fatimah. Dengan sekali melihat tahulah dia, bahwa luka yang diderita Fatimah sangat berat.
Satu-satunya jalan pertolongan pertama hanya menyekat aliran darah dan melindungi tempat-tempat penting dari bahaya racun.
"Benarkah engkau?" terdengar Gagak Seta berkata. Kedua matanya masih terbebat kain. Namun pendengarannya mengenal suara Sangaji.
"Benar aku," sahut Sangaji.
Mendengar tanya jawab itu, Sirtupelaheli berbatuk-batuk. Selagi hendak membuka mulut, tiba-tiba terdengarlah suara gemerincing di kejauhan. Kemudian disusul dengan kata-kata mantram. Aneh, suara itu. Perlahan, tapi berpengaruh hebat dan merdu. Tiba-tiba saja bisa menusuk telinga.
Mendengar suara itu, jantung Sangaji, Gagak Seta dan Sirtupelaheli sekonyong-konyong terlonjak-lonjak seolah-olah mendengar ledakan halilintar yang dahsyat luar biasa. Mereka bertiga adalah pendekar-pendekar yang sudah memiliki ilmu sakti tertinggi pada zaman itu. Masing-masing ilmunya sudah mencapai tataran sempurna. Segala kekotoran yang datang dari luar tidak akan dapat merasuk. Namun heran! Suara mantram itu, dapat menggetarkan jantung.
Di antara ketiga pendekar itu, Sangajilah yang paling terkejut. Selamanya ia yakin, bahwa dialah manusia satu-satunya di jagad ini yang sudah memiliki ilmu warisan tertinggi. Ilmu saktinya memang lebih tinggi daripada ilmu sakti Gagak Seta. Kyai Kasan Kesambi dan rekan-rekannya yang lain pun berada di bawahnya. Walaupun demikian, begitu mendengar bunyi mantram yang aneh— mendadak saja dirinya terasa seperti terombang-ambingkan di angkasa. Itulah suatu kejadian yang benar-benar luar biasa.
"Ting! Ting! Ting!" terdengar bunyi suara yang dibarengi dengan bunyi mantram. Di detik lain, suara itu sudah terdengar mendekat. Setiap detik bisa berpindah tempat. Inilah suatu perpindahan cepat di luar kemampuan manusia.
Selagi demikian, suara mantram itu kini berubah nada. Kalau tadi begitu kaku, sekarang dengan berlagu. Enak, nyaman, merdu dan lembut. Dalam cuaca malam dan hembusan angin, alangkah menyedapkan. Hanya anehnya iramanya seakan-akan kuasa membetot28) nyawa.
Sangaji segera sadar, bahwa ia lagi menghadapi seorang manusia luar biasa. Entah kawan entah lawan, dia belum tahu. Dengan memeluk Fatimah, ia berdiri tegak. Bersiaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.
Pada saat itu terdengarlah suara berbareng: Auuum...! Dan dengan didahului suara dua batang pedang dibenturkan, muncullah tiga orang dari bawah alang-alang. Dua diantaranya bertubuh jangkung dan yang berada di sebelah kiri seorang wanita. Mereka berdiri dengan membelakangi rembulan, sehingga wajah mereka tidak nampak jelas. Namun pakaian yang dikenakan cukup jelas, karena serba putih dengan potongan jubah panjang.
Tatkala itu, Gagak Seta sudah melepaskan bebatan kain yang menutupi kedua matanya. Begitu melihat mereka, ia lantas tertawa panjang.
"Ah, kukira siapa," katanya. "Bukankah kalian yang di sebut tiga Pedande undangan Sultan Sepuh?"
"Benar dan bukan," sahut yang berada di tengah.
"Benar dan bukan bagaimana? Didepanku kau jangan berlagak main teka-teki tak keruan," bentak Gagak Seta sambil tertawa panjang.
"Dahulu memang kami mengabdi kepada Sultan Sepuh. Sekarang kami adalah pengawal pribadi Sultan Hamengku Buwono III."
"Eh, bunglon!" ejek Gagak Seta. "Sultan Hamengku Buwono III sudah wafat."
"Karena itu, kami kini mengabdi kepada Pangeran Jarot," kata yang tengah dengan suara ayem29.)
Mendengar jawaban itu, Gagak Seta tertawa terkekeh-kekeh.
"Aku ini terkenal sebagai manusia edan-edanan. Tak tahunya, kalian lebih gendeng dari-padaku. Bagaimana kalian yang memiliki ilmu kepandaian tinggi bisa berpindah majikan sampai tiga kali dalam waktu kurang dari sepuluh tahun? Bukankah benar-benar bunglon?"
"Benar dan bukan."
"Benar dan bukan bagaimana?"
"Orang yang bisa melihat gelagat, dialah laki-laki sejati," jawabnya.
Gagak Seta hendak membuka mulutnya kembali, tetapi tiba-tiba mereka mengarah kepada Sirtupelaheli.
"Puteri! Kau adalah bekas kekasih raja. Tapi raja yang lama sudah wafat. Karena itu, wajiblah engkau bersembah terhadap kami seumpama kami mewakili raja baru."
"Aku bukan seorang anggota istana. Kau siapa Tuan?" Sirtupelaheli berlagak pilon.
Mendengar perkataan Sirtupelaheli, mereka saling memandang sebentar. Kemudian berkatalah yang berada di kanan.
"Kalau kau bukan anggota istana seperti yang dikabarkan kepada kami, nah, pergilah dari sini. Pergi! Pergi!"
Sirtupelaheli berbatuk-batuk riuh.
"Selamanya belum pernah aku dihina orang. Raja dari tiga zaman memperlakukan aku dengan hormat. Hm, hm! Sebenarnya apa, sih, kedudukan kalian dalam istana?"
Tiba-tiba ketiga orang itu bergerak dengan serentak. Mereka mendekati dan tangan kirinya mencoba mencengkeram. Buru-buru Sirtupelaheli menyapu dengan tongkatnya. Entah bagaimana cara mereka menggeser kaki, tahu-tahu kedudukan mereka sudah berubah. Tongkat Sirtupelaheli yang berbahaya ternyata hanya menyambar udara kosong.
Kaget Sirtupelaheli memutar badan. Ternyata mereka sudah berada dibelakangnya dan mencengkeram.
Dengan sekali gerak, ketiga tangan menerkam tubuh Sirtupelaheli dan dilontarkan tinggi ke udara.
Sangaji terkejut bukan main. Sirtupelaheli adalah adik seperguruan Gagak Seta. Ilmu kepandaiannya tidak usah kalah ditandingkan dengan pendekar-pendekar kelas satu. Andaikata dia dikerubut tiga jago yang paling hebat, belum tentu kena dirobohkan dalam satu gebrakan. Tidak demikian halnya kali ini. Gerakan kaki ketiga orang itu sangat aneh bin ajaib. Dengan
segebrakan saja, mereka dapat melontarkan Sirtupelaheli tanpa daya.
"Ih!" Sangaji terperanjat. "Bukankah itu:.."
la ragu-ragu. la seperti melihat gerakan demikian. Tapi di mana? Di mana? Di mana? Tiba-tiba suatu gambaran berkelebat didalam benaknya. Bukankah gerakan mereka senyawa dengan kelompok-kelompok ukiran keris Kyai Tunggulmanik? Hanya anehnya, bagaimana bisa dimainkan oleh tiga orang yang bergerak begitu serasi, la berbimbang-bimbang. Sebab, kadang-kadang bukan begitu. Ataukah karena mereka sudah menguasai intinya? Pada saat itu mendadak saja ia membutuhkan hadirnya Titisari.
Z4) Bende Mataram jilid 11 mulai halaman 114 -124
!)Bende Mataram jilid 11, halaman 114-124
"') Kanjeng Raja = Sultan Hamengku Buwono 111, ayah Pangeran Diponegoro
') Pendekar Kebo Bangah
**) membetot = menjebol, menarik
!) ayem = acuh tak acuh.
!) Baca Bende Mataram mulai jilid 7
4
SEMBILAN JURUS PUKULAN SAKTI
WAKTU TERDENGAR suara gemerincing benda logam yang ketiga kalinya, Fatimah tersadar dari pingsannya. Ia menyenakkan mata. Dadanya terasa sakit luar biasa seperti kena tusuk dari luar. Namun karena berada dalam pelukan Sangaji, hatinya terhibur. Dan kembali ia memejamkan matanya.
Sangaji kini dapat melihat wajah mereka. Yang bertubuh jangkung memiliki hidung bengkok seperti patuk elang. Yang lainnya berambut keriting dan berjenggot tebal. Sedang yang wanita, bermata tajam. Umurnya paling tinggi dua puluh empat tahun.
"Guru menyebut mereka dengan Pedande. Apakah mereka pendeta dari Bali?"
Sekarang ia memperhatikan senjata yang dibawanya. Yang laki-laki menggenggam senjata mirip tongkat tetapi agak tipis. Tongkat itu nampaknya bersambung-sambung seperti berengsel. Setiap digerakkan berbunyi gemerincing. Sedang yang wanita bersenjata logam bulat seakan-akan piring keemas-emasan. Jumlahnya dua. Setiap kali hendak bergerak, kedua piringnya digeserkan sehingga bersuara nyaring nyeri.
"Gagak Seta! Bukankah engkau mengenal kami?" tegur laki-laki yang berhidung bengkok.
Gagak Seta tertawa melalui hidungnya. "Tentu. Mengapa tidak? Bukankah kalian orang-orang yang datang dari Pegunungan Kapakisan?"
"Benar. Nah, sesudah kau mengenal anak-keturunan Empu Kapakisan yang termasyur semenjak zaman Majapahit, mengapa tidak cepat-cepat berlutut?"
Mendengar ucapannya, Gagak Seta tertawa terbahak-bahak. "Kalian merasa diri apa sampai berani berbicara begitu terhadap aku? Biar pun kalian keturunan malaikat, apakah dasarnya sampai aku si Jembel harus bertekuk lutut? Hm, hm! Kalian jangan berlagak yang bukan-bukan di depanku. Aku dan kalian seperti telaga dan laut. Masing-masing mempunyai jalannya sendiri."
Empu Kapakisan hidup pada zaman Majapahit. Dia saudara seperguruan Mapatih Gajah Mada. Tatkala Mapatih Gajah Mada menyerbu Pulau Bali, Empu Kapakisan membantunya, sehingga Bali dapat dikuasai. Itulah sebabnya, dia dihormati sebagai pahlawan negara dan sahabat Mapatih Gajah Mada yang berilmu sangat tinggi.
"Guru!" Sangaji menungkas. "Apakah Guru kenal mereka? Mengingat ilmu kepandaiannya, apa sebab Guru tak pernah menyinggung-nyinggung nama mereka!"
"Hm! Terhadap manusia-manusia bunglon yang tidak berwatak, gurumu tidak mempunyai waktu untuk mengingat-ingat namanya," sahut Gagak Seta. "Kalau kau ingin mengenal namanya, nah, tanyakanlah sendiri!"
Sangaji memutar pandangnya. Orang yang berhidung bengkok lantas mengeluarkan dua potong logam dari dalam sakunya. Logam itu bukan baja, bukan pula besi. Tatkala digeser, mendadak berbunyi: Ting! Ting! Ting! Suara inilah tadi yang mengejutkan jantung Sangaji, Gagak Seta dan Sirtupelaheli. Dalam jarak dekat aung dan getarannya terasa lebih hebat.
"Anak keturunan Empu Kapakisan mesti mempunyai tanda ini," kata orang berhidung bengkok. "Inilah pusaka turun-temurun."
Sangaji mengamati-amati benda logam itu.
Tatkala orang itu merapatkan dua potongan logam dikedua tangannya, hatinya kaget sampai berjingkrak. Itulah sebuah bende yang terbelah menjadi dua.
"Kami berasal dari Pulau Lombok. Tahukan kau nama ibukota Lombok?" kata si Hidung bengkok lagi. "Itulah Mataram. Karena itu, benda ini kami namakan Bende Mataram."
Tak terasa Sangaji memutar pandang kepada Gagak Seta. Gagak Seta demikian pula. Mereka saling memandang untuk memperoleh pertimbangan. Berkatalah si Hidung bengkok lagi. "Kami bertiga bernama Mohe, Jahnawi dan Jinawi. Utusan suci untuk membuat perdamaian dunia."
"Siapa yang bernama Mohe?"
"Aku," sahut yang berhidung bengkok.
"Mohe! Agaknya kau serumpun dengan jahe," kata Gagak Seta dengan tertawa terbahak-bahak.
Mohe menggeram. Kedua matanya berputar. Terang sekali hatinya bergusar. Namun ia berusaha menyabarkan diri.
"Semenjak lama padepokan Kapakisan kehilangan tiga pusaka. Sebuah jala, sebuah bende dan sebuah keris. Karena itu, anak keturunannya wajib menemukan ketiga pusaka tersebut. Kami mendengar berada di pusat Pulau Jawa. Itulah sebabnya kami sudi menjadi hamba raja Jawa. Nah, tahulah kau sekarang—bahwa tujuan kami adalah hendak mencari ketiga pusaka leluhur kami. Jadi bukan berangan-angan memperoleh pangkat-derajat
atau kekayaan orang-orang Jawa. Karena itu, istilah bunglon sungguh kurang tepat!"
"Benar! Memang bukan bunglon, tetapi cuma bunglon perantauan," sahut Gagak Seta cepat. Terang sekali mulutnya yang jahil hendak membakar hati mereka. "Hm.... Tiap orang memang bisa mengaku sebagai anak-keturunan Empu Kapakisan. Tetapi Kapakisan yang mana? Di Jawa Timur ada Kapakisan. Di Bali ada Kapakisan. Sekarang, di Lombok kalian menyebut-nyebut Kapakisan pula. Hm, hm! Aku si tua bangka paling benci terhadap mulut-mulut bunglon."
"Tuan!" bentak Jahnawi yang semenjak tadi berdiam diri. "Di sini bukan sebuah surau tempat mengajarkan ilmu dan pengetahuan hidup. Kapakisan tetap Kapakisan. Biarpun berada di Pulau Bali atau Pulau Jawa atau di Pulau Lombok. Kapakisan tetap Kapakisan. Sebab nama Kapakisan hanya satu."
"Benar, benar! Sinting memang tetap sinting!" bentak Gagak Seta pula.
"Kami mendengar nama Gagak Seta dari pembicaraan orang," sambung Jahnawi si wanita. "Dari mulut orang, kami mendengar kabar, bahwa engkau pernah mempunyai seorang murid yang secara kebetulan memiliki pusaka-pusaka Kapakisan tersebut. Benarkah itu?"
"Hm, hm! Kalau benar bagaimana? Kalau tidak kalian mau apa?" sahut Gagak Seta pendek.
Pendekar ini lantas bersiaga. Teringatlah dia, bahwa ketiga orang itu dapat melontarkan Sirtupelaheli dalam satu gebrakan. Itulah suatu ilmu kepandaian yang tak
boleh dibuat gegabah. Ilmu kepandaiannya sendiri memang masih berada di atas Sirtupelaheli. Namun untuk dapat melemparkan Sirtupelaheli dalam satu gebrakan, rasanya tidak mungkin. Oleh pertimbangan itu, ia merasa diri belum dapat melawan mereka apalagi berangan-angan untuk menang. Rasanya belum mendapat pegangan. Kecuali apabila dia bisa menimpali gerakan-gerkan Sangaji yang aneh pula seperti yang pernah disaksikan tatkala bertempur melawan Kebo Bangah di padepokan Gunung Damar.
Ketiga orang itu lantas saja menjadi habis kesabarannya. Mohe mengibaskan tangan kirinya. Jahnawi dan Jinawi segera mengerti maksud kibasannya. Dengan serentak ketiga orang itu bergerak. Mereka melompat tinggi dan tahu-tahu sudah berada di depan Sirtupelaheli. Diserang dengan mendadak Sirtupelaheli tidak tinggal diam. Segera ia menimpukkan enam senjata rahasianya dengan sekaligus. Tetapi dengan mudah mereka dapat menyelamatkan diri. Mohe merangsak dan mencoba mencengkeram leher Sirtupelaheli. Dengan sebat Sirtupelaheli membabat tongkatnya. Entah apa sebabnya, tiba-tiba saja Sirtupelaheli kena terangkat tinggi-tinggi— dan punggungnya kena dicengkeram Jahnawi dan Jinawi dengan berbareng.
Kena cengkeraman itu, Sirtupelaheli habis tenaganya. Tubuhnya lantas kena diputar-putarkan pula. Mohe lantas menghampiri dan melumpuhkan jalan darahnya dengan pukulan tujuh kali.
Menyaksikan pertarungan segebrakan itu, berpikirlah Sangaji: Melihat gerakannya, tidak terlalu luar biasa. Mereka hanya bisa bergerak dengan lancar, licin dan serasi. Yang luar biasa adalah cara memancing Nenek
Sirtupelaheli. Begitu kena terpancing, dengan kerja sama yang rapih kedua rekannya lantas menerkam punggung. Meskipun Nenek Sirtupelaheli kena diruntuhkan lagi dalam segebrakan, namun apabila diadu dengan perseorangan, tidak bakal kalah. Aku yakin, ilmu kepandaian mereka perorangan tidak akan melebihi Nenek Sirtupelaheli.
Dalam pada itu, Mohe telah melemparkan tubuh Sirtupelaheli kepada Gagak Seta.
"Tuan, meskipun Tuan akan membungkam seribu bahasa, namun kami tahu—dia adalah adik seperguruanmu. Menurut peraturan tata tertib dan peradaban dimana saja, seorang murid tidak boleh mengkhianati perguruannya. Tetapi dia cuma menuruti hawa nafsunya belaka. Lantas meninggalkan perguruan untuk mengabdikan nafsunya kepada seseorang. Eh, tahu-tahu dia meracuninya pula. Lantas pindah majikan berbareng menjual jasa-jasa baik. Kutungkan kepalanya!"
Gagak Seta terkejut." Bukan tentang keputusan untuk mengutungkan kepala adik seperguruannya. Tetapi, bahwasanya mereka tahu belaka riwayat perjalanan hidup adiknya seperguruan itu begitu jelas seperti membaca buku. Namun ia tak sudi kalah gertak. Sahutnya setelah tertawa panjang. "Maaf! Perguruan kami tidak mempunyai peraturan begitu. Sebab orang ini lahir tanpa ada yang memerintah. Juga mati tiada yang menyuruh. Dia bebas seperti awan bergerak di atas kepala kita. Seumpama benar keteranganmu, itulah urusan rumah tangga kami. Siapa kesudian minta jasa baikmu."
"Tapi mulai malam ini kami perintahkan kepadamu. Semua tata tertib perguruan dan peradaban baru, harus tunduk kepada peraturan kami. Kau dengar?"
Mendengar kata-katanya, Gagak Seta tercengang sejenak. Kemudian tertawa terbahak-bahak sampai terbatuk-batuk. Katanya mengguruh: "Hai! Semenjak kapan otakmu sinting tak keruan? Kau sadar akan kata-katamu itu?"
"Mengapa tidak?" bentak Mohe. "Bukankah kami sudah menyatakan, bahwa kami adalah utusan suci untuk perdamaian dunia? Kedamaian bakal terjadi, apabila tiap orang mengerti akan tata tertib. Kedamaian bakal terjadi, manakala tiap insan sadar akan peradabannya."
"Eh, kau ngoceh seperti burung!" potong Gagak Seta. "Aku Gagak Seta paling benci kepada mulut besar."
Mohe tertawa terkekeh-kekeh. "Kau benar-benar rewel! Aneh dan lucu! Semenjak tadi kami tahu, bahwa dia berusaha hendak mengambil nyawamu dengan jalan meracuni tanah. Mengapa kau tak mau mengambil nyawanya? Benar-benar aku tak mengerti!"
Sangaji tercekat. Teringat akan bunyi ringan seringan jatuhnya selembar daun di atas tanah tadi, hatinya terasa meringkas. 'Jadi benar-benar bunyi langkah manusia," pikirnya. "Benar-benar tinggi kepandaiannya. Syukur, aku tadi sudah berada di dalam persembunyiannya. Kalau tidak, aku pun bakal kena intip. Ah, kusangka tadi langkah Daniswara...."
Dalam pada itu terdengar Gagak Seta membentak. "Aku Gagak Seta entah sudah berapa banyak membunuh
orang karena kesalahan tangan. Tetapi aku tak bakal membunuh saudara seperguruan betapa jahat pun."
"Baik! Sungguh baik hatimu!" tungkas Mohe. "Tapi kau mesti membunuhnya. Kalau kau menolak, artinya melanggar perintah."
"Perintah siapa?"
"Perintah kami. Dan barang siapa berani melanggar perintah, kami akan mengambil nyawanya," sahut Mohe. "Karena kau kini ternyata berani melanggar perintah, maka kami akan mengambil nyawamu dulu. Kemudian baru adikmu."
Gusar dan geli berkecamuk dalam hati Gagak Seta. Saking tak betahnya, dia lantas tertawa terbahak-bahak. Sejenak kemudian berkata sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Eh, benar-benar gendeng! Semenjak dahulu sampai sekarang, aku baru mendengar peraturan edan ini. Coba jawablah! Siapa yang memberi kuasa kepadamu untuk melakukan kebajikan suci mendamaikan dunia? Siapa yang memberi hak padamu untuk melakukan hukum mengambil nyawa."
"Tata tertib dan peradaban Kapakisan," sahut Mohe.
Gagak Seta merasa seperti lagi berhadapan dengan rombongan manusia edan. Namun mengingat kepandaian mereka, tak berani ia berlaku sembrono. Meskipun demikian, tak dapat ia menguasai kemendongkolannya.
"Baiklah, taruh kata kalian ini utusan suci pembuat perdamaian. Tetapi mengapa belum-belum sudah menghukum orang dengan mengambil nyawa?"
"Kami tidak hanya membunuh. Kalau perlu membakar kota. Apa bedanya?"
"Hm, jadi begitulah cara kalian hendak menegakkan perdamaian. Bagus, bagus! Aku si orang jembel paling muak terhadap peraturan-peraturan kosong. Kalian mau bikin apa terhadapku?"
"Gagak Seta! Kau berani melawan kami?" bentak Mohe dengan mendelik.
Gagak Seta tidak segera menjawab. Ia tertawa lagi panjang-panjang untuk memuntahkan perasaan mendongkolnya. Sangaji sendiri yang berwatak sabar luar biasa, pada saat itu merasa jijik terhadap mereka. Jadi mereka inilah yang membakar Kota Waringin? Sadar, bahwa gurunya bakal menghadapi bencana, ia meletakkan tubuh Fatimah hati-hati di atas tanah. Kemudian berdiri tegak dengan meraba pedang Sokayana.
"Hai! Kau pun berani melawan kami?" bentak Mohe kepada Sangaji.
"Hei! Kau boleh main gila di pulaumu sendiri, tetapi jangan mencoba-coba di sini," kata Gagak Seta. "Tanpa sebab tanpa perkara, kalian menantang aku. Biar iblis pun akan mengkentuti mulutmu yang kotor."
"Binatang!" bentak Mohe. "Kesalahanmu sudah terang. Yang pertama tidak mau memberi keterangan tentang muridmu yang dikabarkan mewarisi pusaka-pusaka kami. Dan yang kedua: melanggar dan
membangkang perintah kami untuk mengutungi kepala adik seperguruanmu. Manakah yang kurang terang?"
Gagak Seta mendongak dan tertawa nyaring luar biasa sampai bumi tergetar.
"Aku Gagak Seta, selamanya hidup malang melintang seorang diri. Aku Gagak Seta, selamanya bekerja dengan cara seorang laki-laki. Kau boleh mencincang aku, membunuh aku tapi kau tak bisa memaksa aku untuk membunuh salah seorang saudara seperguruanku. Apalagi dia kini dalam keadaan tak berdaya. Gagak Seta selama hidupnya belum pernah membunuh seorang yang tidak bisa melawan lagi."
"Bagus! Benar-benar kau berani membangkang perintah kami," teriak Mohe.
"Meskipun Gagak Seta seorang jembel, seorang yang tak kebagian pangkat dan derajat, namun setidak-tidaknya Gagak Seta masih sadar akan tujuan hidup, sebisa-bisanya melakukan perbuatan baik dan menyingkiri segala kejahatan. Demi menjunjung peradaban manusia, Gagak Seta bersedia runtuh di atas tanah. Kepala Gagak Seta boleh jatuh menggelinding di tanah, tapi Gagak Seta tidak akan melakukan perbuatan busuk membunuh adik seperguruan meskipun dia hendak mengambil nyawaku sendiri."
Sirtupelaheli tidak bisa bergerak, tetapi pendengarannya masih terang benderang. Begitu mendengar ucapan Gagak Seta yang gagah luar biasa, tak terasa air matanya menetes di atas tanah.
Sangaji sendiri merasa kagum sekali. Memang semenjak dahulu, ia tahu gurunya berwatak ksatria
sejati. Sepak terjangnya jauh berlainan dengan Kebo Bangah atau mertuanya sendiri. Tetapi pada saat itu, kegagahan dan keperwiraan gurunya benar-benar nampak lebih tegas.
Mohe dan Jahnawi tertawa dengan berbareng. "Gila! Gila!" kata mereka. Manusia ini hidup dengan angan-angannya belaka."
"Dia lagi bermimpi," Jinawi menambahi.
Sekonyong-konyong dengan membentak keras, mereka menyerang dengan berbareng.
Gagak Seta segera memutar ilmu tongkatnya yang termasyur untuk melindungi diri. Tiga jurus mereka mendesak, namun tidak juga berhasil seperti tatkala merobohkan Sirtupelaheli. Sadar bahwa ilmu kepandaian Gagak Seta lebih tinggi daripada Sirtupelaheli, mereka lantas mengeluarkan senjatanya masing-masing. Kemudian merangsak dengan berbareng.
Mohe mengancam batok kepala, sedang Jahnawi menyerang dari samping. Cepat luar biasa, Gagak Seta menangkis. Traang! Pada detik itu Mohe menggelundung di atas tanah sambil memukul betis. Gagak Seta melompat tinggi. Di luar dugaan Jinawi yang bersenjata piring logam sudah mendahului melayang ke udara. Dengan suara gemerincing, senjatanya yang aneh mengancam leher.
Menghadapi serangan mendadak itu, Gagak Seta mengayunkan tongkatnya. Begitu berbentrok, tahu-tahu Jahnawi menggebukkan tongkatnya. Mendadak saja, sebelum tongkatnya tiba pada sasaran, suatu tenaga luar
biasa telah membetotnya dari belakang. Dan tongkatnya kena rampas.
Inilah kejadian di luar dugaan. Hampir berbareng Jahnawi dan Mohe berputar. Ternyata yang merampas senjata Jahnawi adalah Sangaji yang tadi tidak begitu dipandang mata.
Perampasan senjata Jahnawi sendiri, dilakukan Sangaji dengan gerakan yang cepat luar biasa. Dengan gusar Mohe dan Jahnawi menyerang dari kiri dan kanan. Untuk menyelamatkan diri, Sangaji melompat mundur ke sebelah kiri. Diluar dugaan, Jinawi yang kena terpukul balik oleh lontaran tenaga sakti Gagak Sakti, pada deik itu sudah berada dibelakangnya. Ia tidak hanya bersenjata piring logam lagi, tetapi tangan kanannya telah mengayunkan senjata rantai yang berkilauan. Dan begitu berkelebat, cepat-cepat Sangaji membungkuk. Punggungnya kena terhajar.
Hebat pukulan itu. Meskipun Sangaji memiliki tenaga sakti yang tiada keduanya dalam jagad ini, tetapi begitu kena pukulan rantai berkilau matanya lantas berkunang-kunang. Kejadian itu membuktikan, bahwa Jinawi memiliki tenaga sakti tak boleh dianggap ringan. Untunglah, dalam dirinya mengalir tenaga sakti Bayu Sejati, Kumayan Jati dan Getah sakti Dewadaru. Sambil melompat ke depan, segera ia menghimpun ketiga tenaga itu. Kemudian menenteramkan hatinya.
Mohe, Jahnawi dan Jinawi yang menamakan diri tiga tusan suci itu, tidak sudi memberi napas kepadanya. Segera mereka mengurung dengan rapat. Sesudah serang-menyerang beberapa jurus, dengan senjata rampasan di tangan kanan—Sangaji melepaskan pukulan
gertakan kepada Mohe. Berbareng dengan itu, tangan kirinya menjambret senjata tongkat Jinawi. Baru saja ia hendak membetot, mendadak saja Jinawi melepaskan genggamannya sehingga ujung senjatanya membal ke atas dan menghantam pergelangan.
Seperti diketahui, senjata mereka berbentuk seperti tongkat. Tapi agak tipis dan berengsel. Itulah sebabnya bisa membal ke atas dan menghantam pergelangan. Dan kena hantaman itu, jari tangan Sangaji kesemutan. Mau tak mau, terpaksalah ia melepaskan senjata itu yang telah digenggamnya erat-erat. Dan begitu terlepas dari -genggaman, Jinawi segera menyambutnya.
Semenjak memiliki ilmu sakti Kyai Tunggul-manik dan memperoleh pula petunjuk-petunjuk dari Kyai Kasan Kesambi, belum pernah Sangaji memperoleh tandingan. Di luar dugaan, dalam menghadapi wanita muda seperti Jinawi, dua kali beruntun ia kena pukulan. Pukulan kedua tadi lebih hebat daripada pukulan pertama yang mengenai punggung. Seumpama dalam dirinya tidak mengalir himpunan tenaga sarwa sakti, pastilah pergelangan tangannya akan patah.
Sekarang—setelah memperoleh pengalaman—tak berani lagi ia melayani keras dengan keras. Segera ia merubah tata berkelahinya. Ia kini membela diri sambil mengamat-amati serangan-serangan mereka bertiga.
Dilain pihak, ketiga utusan suci itu pun merasa kaget. Belum pernah, mereka bertemu lawan seperti Sangaji. Tiba-tiba Mohe menundukkan kepalanya dan menyeruduk. Inilah serangan yang bertentangan dengan semua ajaran tata berkelahi. Menyeruduk dengan bagian
tubuh yang terpenting tidak akan diakukan oleh seseorang yang bisa berkelahi.
Meskipun aneh, Sangaji tak mau masuk perangkap. Ia berdiri tegak bagaikan gunung, la mengerti, bahwa serudukan itu pasti hanya digunakan untuk mengelabui lawan. Dan serangan susulan yang bakal datang itulah serangan yang benar-benar.
Dugaannya ternyata benar. Tatkala batok kepala Mohe terpisah kira-kira satu kaki dari perutnya, tiba-tiba ia mundur selangkah sambil menggeserkan letak kaki. Sekonyong-konyong Jahnawi melompat tinggi dan tatkala tubuhnya melayang turun, ia mencoba duduk di atas kepala Sangaji. Ini pun serangan yang aneh bin ajaib.
Buru-buru Sangaji mengegos ke samping. Mendadak ia merasa dadanya nyeri. Itulah serangan Mohe yang dilepaskan dengan kepala ditundukkan. Tetapi Mohe sendiri pun kaget. Ia kena terdorong himpunan tenaga sakti Tunggulmanik sampai terhuyung mundur beberapa langkah.
Ketiga utusan suci itu lantas saja berubah wajahnya. Kalau tadi percaya kepada ketangguhan sendiri, kini menjadi pucat. Tetapi mereka segera merangsak lagi. Selagi Mohe membabat dengan senjatanya, Jahnawi terbang tinggi dan berungkir-balik di udara sampai tiga kali. Mau tak mau Sangaji heran menyaksikan cara mereka berkelahi. Apa sebab Jahnawi berjungkir-balik sampai tiga kali di udara tanpa alasan?
Tetapi sadar bahwa lawannya bisa menyerang di luar dugaan, cepat-cepat ia mengegos ke kiri. Mendadak seleret sinar putih berkelebat dan pundaknya kena pukulan senjata Jahnawi. Ia terkesiap. Itulah pukulan
yang sangat aneh. Bagaimana cara dia bisa memukul selagi berjungkir-balik? Herannya lagi, apa sebab ia tak berdaya untuk menangkis atau mengelakkan?
Pukulan itu sangat hebat. Meskipun seluruh tubuhnya dilindungi himpunan tenaga sarwa sakti, rasa sakitnya dapat menggigit sampai ke tulang sungsumnya. Kalau bisa, ingin ia mundur. Tetapi sekali mengundurkan diri, gurunya pasti dalam bahaya. Memperoleh pertimbangan demikian, ia jadi nekat. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia melompat menghantam dada Jahnawi dengan telapak tangannya.
Pada detik yang bersamaan, mendadak Mohe yang bersenjata rangkap melompat ke depan sambil memukulkan kedua senjatanya. Trang! Sungguh aneh! Himpunan tenaga sakti Sangaji yang dahsyat seumpama dapat merobohkan gunung, lenyap tak keruan perginya, sebelum sadar apa sebabnya, tiba-tiba punggungnya kena hanjar rantai Jinawi. Bres!
Karena sakit secara wajar kakinya bergerak. Sekonyong-konyong selagi hendak mengadakan serangan balasan, pinggangnya terasa sakit luar biasa. Itulah tendangan kaki si Brewok Jahnawi yang dikirim dengan mendadak. Tetapi kena tenaga tolak himpunan sakti, ia terpental berjungkir-balik. Dan saat itu, Mohe berhasil mendaratkan senjatanya di pundak Sangaji lagi.
Gagak Seta yang berada di pinggir tahu Sangaji dalam kesukaran. Berkali-kali ia menyaksikan Sangaji kena pukulan telak. Ia sendiri tak dapat membantu, karena mengingat kedudukannya sendiri maupun Sangaji. Mereka berdua kini menduduki tingkat teratas. Meskipun lawannya berjumlah tiga, namun satu pengucapan.
Sebaliknya apabila dia turun ke gelanggang, itulah suatu pengeroyokan. Sebab ilmu kepandaiannya berbeda dengan ilmu kepandaian Sangaji sekarang. Dan apabila peristiwa pengeroyokan itu sampai terdengar diluaran, akan meruntuhkan martabat orang-orang gagah di seluruh tanah air.
"Anakku! Coba kau minggir! Biar kulawannya lagi...." serunya.
Sangaji hendak berseru agar gurunya menjauhi atau melarikan diri. Tiba-tiba teringatlah dia, bahwa ia tak boleh memanggil Guru dengan terang-terangan di depan mereka. Bukankah gurunya merahasiakan perhubungannya?
Pada saat itu, Mohe menghantam dengan senjata engselnya. Sangaji segera menangkis dengan senjata rampasannya. Trang! Senjata Mohe terlepas dari genggaman. Cepat Sangaji melesat tinggi. Tangannya menjambret. Mendadak bret— baju di punggungnya terobek oleh cengkeraman Jinawi. Goresan kukunya sangat tajam dan pedih. Tatkala darahnya keluar, rasa perih menusuk sampai ke jantungnya. Apakah beracun?
Sangaji tak gentar menghadapi sarwa racun. Namun karena serangan itu, gerakannya agak terlambat. Tangan Mohe dapat menyambar senjatanya kembali.
Sesudah bertempur beberapa gebrakan lagi, tahulah Sangaji bahwa tenaga himpunannya menang jauh daripada mereka bertiga. Yang sukar dilawan adalah ilmu tata berkelahinya. Selain kerjasamanya, senjata mereka aneh pula.
Tata kerja mereka cepat rapih dan caranya sangat luar biasa. Sangaji tahu apabila bisa merobohkan salah seorang dari mereka, akan memperoleh kemenangan. Tetapi hal itu ternyata mudah dipikir, sebaliknya sukar dilakukan.
Dengan menggunakan tenaga himpunanya, Sangaji melepaskan pukulan Kumayan Jati yang dahulu disegani tidak hanya Kebo Bangah tapi pun pendekar-pendekar jempolan lainnya. Dan kena pukulan Kumayan Jati, baik Jahnawi maupun Mohe hanya terhuyung mundur. Tetapi sama sekali tidak terluka. Bukan karena mereka kebal atau memiliki tenaga sakti melebihi pendekar Kebo Bangah atau Adipati Surengpati, tapi tertolong berkat suara benturan senjata Jinawi. Bunyi benturan itu gemerincing bening. Anehnya, tenaga dorong Kumayan Jati yang terkenal dahsyat seperti punah sebagian besar di tengah jalan.
Lambat laun Sangaji jadi penasaran juga. Ia kini mengarah kepada Jinawi. Hanya saja setiap kali bidikannya terlepas, dua rekan lainnya dengan cepat datang membantu. Salah seorang dari mereka mengeluarkan bunyi senjatanya yang dapat melarutkan tenaga sakti. Demikianlah terus menerus terjadi. Apabila yang satu kena serang, dua lainnya segera menolong. Kalau dua-duanya diserang, yang satu menyekat dengan bunyi senjatanya yang aneh. Sesungguhnya benda logam apakah yang dibuat bahan senjata itu sampai bisa mempunyai tenaga pelarut himpunan tenaga sarwa sakti?
Sebaliknya setelah berkali-kali mengadu tenaga, tiga utusan suci itu tidak berani lagi membentur kulit daging Sangaji. Setiap kali dipaksa mengadu tenaga, buru-buru
mereka menghindari. Sebab setiap kali mencoba, selalu kalah jauh. 1
Tentu saja, Gagak Seta mengetahui kelemahan itu. Segera ia memperoleh pikiran. Terus saja berteriak: "Anakku! Kau gunakan pedangmu itu!"
Dengan sekali melihat tahulah Gagak Seta, apa daya guna pedang Sokayana yang memiliki ukuran melebihi pedang lainnya. Itulah sebatang pedang yang bagus untuk alat menyalurkan tenaga sakti agar terhimpun manunggal. Apabila tenaga saktinya bisa tersalur dengan manunggal, akan bisa mengimbangi tenaga gabungan mereka. la tak percaya, bahwa di jagad ini masih terdapat semacam tenaga sakti yang bisa berlawanan dengan tenaga himpunan Sangaji.
"Ia benar!" pikir Sangaji. "Senjata mereka bisa melarutkan tenaga himpunanku. Tapi masakan bisa pula memunahkan berat pedang Sokayana yang terdiri dari logam pula?"
Memikir demikian, tangannya segera meraba pedang Sokayana yang tersisip dipunggungnya. Tapi begitu tangannya bergerak, Mohe mendadak menyerang dengan tinjunya. Duk! Dengan mengaduh Sangaji mundur. Isi perutnya seperti terbalik.
Benar-benar ajaib! Tenaga sakti apakah yang bisa membodol himpunan tenaga sakti keris Kyai Tunggulmanik yang melindungi-seluruh tubuhnya?
Secara wajar ia menatap wajah penyerangnya. Sekarang ia mendapat suatu kenyataan, bahwa setiapkali mereka melepaskan serangan, mulutnya berkomat-kamit membunyikan mantram. Ah! Adakah mantram sakti di dunia ini yang benar-benar melahirkan tenaga gaib.
Mendadak teringatlah dia kepada ceramah Panembahan Tirtomoyo dahulu tentang adanya tenaga mantram tak kelihatan. Bahwasanya dengan mantram, seseorang bisa memukul lawan dari jauh. Bahwasanya dengan mantram, seseorang tahan bertapa beberapa tahun lamanya. Bahwasanya dengan mantram, seseorang bisa kebal dari senjata.30)
Teringat akan hal itu, segera ia menggigit bibir menahan rasa sakit. Kemudian dengan sekali tarik ia membabatkan pedang Sokayana. Suatu kesiur angin bergulungan dahsyat, Mohe dan si Brewok Jahnawi kaget. Dengan berbareng mereka menghantamkan senjatanya pada bagian pedang Sokayana. Inilah kesempatan yang bagus untuk segera mengerahkan dan menyalurkan tenaga himpunannya buat menggempur. Diluar dugaan, mendadak saja tangan Sangaji tergetar, sehingga pedang Sokayana hampir terlepas dari genggaman. Hatinya mencelos, dan pada saat itu benar-benar ia mengemposkan tenaga saktinya yang meruap keluar bagaikan gugur gunung.
Merampas senjata lawan dengan mengandalkan senjata engselnya adalah salah satu ilmu keahlian mereka. Selamanya belum pernah gagal. Sebab bahan senjata itu sendiri sudah mempunyai pengaruh ajaib yang berada di luar nalar manusia. Benda apa saja yang kena ditempel senjata engselnya akan kena dirampas dengan mudah. Tetapi sekarang mereka menumbuk batu. Ternyata Sangaji tidak bergeming. Keruan mereka berdua kaget bukan kepalang. .
Melihat hal itu, si Brewok Jahnawi buru-buru merogoh saku Mohe dan mengeluarkan dua benda gabungan yang berbentuk sebuah bende. Dengan membentak, ia segera
menempelkan. Tenaga berat pedang Sokayana lantas saja menjadi larut seperti terhisap.
Sangaji sudah menderita luka. Walaupun tidak berat, namun mengurangi tenaganya juga. Sesudah bertahan beberapa saat lamanya, mendadak Jinawi membantu kedua rekannya pula dengan mengerahkan tenaga saktinya lewat senjata rantainya. Pada saat itu, tubuh Sangaji merasa panas seperti terbakar. Dan tangannya yang menggenggam pedang Sokayana bergemetaran.
Heran Gagak Seta menyaksikan kejadian itu. Ia hampir-hampir tak mempercayai penglihatannya sendiri. Pada hakekatnya di jagad ini, tiada manusia lain yang memiliki tenaga sedahsyat Sangaji. Biarpun bergabung sepuluh dua puluh orang. Tapi kini, dengan dilawan tiga tenaga gabungan saja, tenaga himpunan Sangaji yang biasanya tiada habis-habisnya bisa terdesak. Orang tua itu, tidak melihat bahwa senjata-senjata mereka yang aneh, sesunguhnya mempunyai kadar kimia yang bisa melarutkan tenaga berat benda berbareng pemunah tenaga sakti. Tak ubah air raksa ditambah tenaga gaib pelarut sarwa sakti.
Paras muka Mohe waktu itu pucat luar biasa. Juga si Brewok Jahnawi. Dengan mati-matian, mereka mencoba menggosok-gosokkan belahan bendenya pada pedang Sokayana.
Sekarang sedikit demi sedikit, Sangaji berhasil menyatukan tenaga himpunan saktinya. Meskipun dikerubut tiga, ia tak bergeming. Perlahan-lahan mulailah ia mengamat-amati senjata mereka bertiga. Ternyata masing-masing memiliki senjata rangkap. Mohe dan Jahnawi bersenjata engsel rangkap. Syukur, Sangaji tadi
berhasil merampas sebatang senjata engsel Jahnawi. Dengan demikian tenaga perlawanan mereka berdua jadi berkurang. Tapi sebagai gantinya, Jahnawi menggenggam senjata belahan berbentuk sebuah bende yang terus menerus bergerak untuk digesek-gesekan. Sedangkan Jinawi selain bersenjata dua piring logam keemasan, juga sejalur rantai yang berkilauan.
Dengan tubuh tak bergerak mereka mengerahkan tenaga saktinya yang paling tinggi. Sedangkan Sangaji sudah mulai memasuki tingkatan sakti tataran kelima dan kemudian keenam. Maka jelaslah, bahwa tiada maksudnya hendak membunuhnya benar-benar. Seperti diketahui, kelompok ukiran sakti keris Kyai Tunggulmanik berjumlah empat belas. Dia kini baru menggunakan tingkat kelima dan lagi mulai memasuki tingkat enam. Meskipun demikian, mereka bertiga sudah berkutat mati-matian. Coba ia menggunakan tingkat kesembilan atau kesepuluh, maka tulang-belulang mereka akan hancur berantakan. Dengan kenyataan itu, benarlah dugaan Gagak Seta tadi. Sebenarnya dalam jagad ini, hakekatnya tiada yang dapat menandingi tenaga himpunan sakti Sangaji. Kalau tadi kelihatan repot, sebenarnya Sangaji hendak mengukur sampai dimana tenaga sakti gabungan mereka, selain ia memang benar-benar sulit mencari titik-tolak dan rahasia ilmu tata berkelahi mereka.
Tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar mulut mereka berkomat-kamit. Lapat-lapat mereka menyemburkan kata-kata mantram:
"Auuum Auuum hawastut purnaum sidha...
Aauuum... —Sebelum mengerti apa maksudnya, mendadak saja ia merasa dadanya kena ditusuk suatu
tenaga tak nampak. Rasanya seperti ruji baja atau jarum panjang yang menelusup memasuki tulang dan terus menggerayangi perut. Hampir berbareng pedang Sokayana kena ditarik tenaga gabungan mereka lewat senjata engsel dan kedua piring logam si gadis.
Sangaji kaget. Tetapi sebagai seorang jago kelas utama, dalam kagetnya tak menjadi bingung. Cepat ia meningkatkan himpunan tenaga saktinya ketataran tujuh. Kemudian tangan kirinya meraba senjata rampasannya yang tadi dimasukkan ke dalam saku. Begitu terpegang, ia menggunakan ilmu sakti ciptaan Kyai Kasan Kesambi yang bernama Sura Dira Jajaningrat Lebur Dening Pangastuti. Seperti diketahui, ilmu sakti itu berpangkal pada gerak hidup yang tiada berkeputusan. Maka begitu senjata rampasan terangkat dari saku, terus dibawanya berputar berlingkaran. Tiba-tiba memapas kempungan ketiga utusan suci.
Diserang dengan mendadak, mereka kaget dan serentak melompat mundur. Sangaji terus memasukkan senjata rampasannya kesakunya kembali dan dengan sekali bergerak ia menyambar pedang Sokayana yang terlepas dari genggaman.
Benar-benar indah gerakan Sangaji yang dilakukan dengan secepat kilat. Ahli silat dimana pun juga tidak akan dapat melakukan gerakan tersebut. Melepaskan pedang Sokayana—memutar pedang rampasan, memapas dan berbareng memasukkan kembali ke dalam saku— dan menangkap kembali pedang Sokayana yang telah melayang runtuh dari genggaman. Gerakannya cepat dan berkesan lembut Itulah gerakan hidup yang berasal dari tataran ketujuh tataran sakti kelompok
ukiran keris Kyai Tunggulmanik warisan Pangeran Semono di zaman purba.
Bukan main kaget dan herannya ketiga orang itu yang menamakan dirinya tiga utusan suci pembuat perdamaian. Begitu kaget mereka, sampai mengeluarkan seruan tertahan. Mimpi pun tak pernah, bahwa di tanah Jawa ini ilmu saktinya yang tinggi bakal kena dikalahkan oleh seorang pemuda yang berusia belum melebihi - tiga puluh tahun.
Begitu berteriak, senjata mereka yang masih melekat pada badan pedang Sokayana kena terbetot Sangaji. Buru-buru mereka mengerahkan tenaga himpunan saktinya dan keadaan mereka pulih seperti sedia kala. Keempat orang lantas saja saling menarik.
Beberapa saat kemudian, kembali lagi dada Sangaji terasa sakit seperti tertusuk jarum panjang yang tajam luar biasa. Tetapi sekarang ia sudah bersiaga. Meskipun kena serang, pedang Sokayana tidak bakal terlepas dari genggaman.
Untuk menangkis serangan jarum tak nampak itu, cepat-cepat ia melindungi dirinya dengan hawa getah sakti Dewadaru berbareng mengerahkan ilmu sakti Bayu Sejati yang berendeng dengan Kumayan Jati. Heran! Mendadak serangan jarum yang tak nampak itu berubah sifatnya menjadi sejalur benang yang bergerak seperti cacing panjang. Dan cacing panjang itu sedikit demi sedikit bisa menyelusup memasuki ini perut.
Sangaji tahu, bahwa itulah tenaga sakti mereka bertiga yang merayap keluar melalui senjata-senjata mereka yang aneh. Seluruh tubuh Sangaji sudah terlindungi himpunan sarwa sakti tak ubah selimut hawa
yang membungkus rapat-rapat. Sifatnya panas dan membal. Sebaliknya tenaga sakti mereka bertiga merupakan tenaga manunggal yang bersifat dingin kaku.
Sasaran serangannya hanya satu. Karena itu, tenaga himpunan mereka tidak terbagi-bagi. Apabila kena tenaga membal ilmu sakti Sangaji, sifatnya yang kaku berubah lemas dan terus menyusup masuk tak ubah angin memasuki pori-pori. Inilah pengalaman Sangaji yang terhebat dalam sejarah hidupnya, "bahwasanya tenaga raksasa belum tentu bisa menangkis tenaga tusukan jarum. Maka benarlah dongeng kanak-kanak bahwa pada suatu kali seekor gajah dapat dikalahkan seekor semut karena semut itu dapat memasuki telinganya.
Biarpun demikian, ketiga utusan suci itu kaget dan heran bukan kepalang menyaksikan , ketangguhan Sangaji. Sekian lamanya mereka menyerang, masih saja Sangaji bertahan. Bahkan tenaga perlawanannya makin lama makin tinggi. Ilmu sakti apakah yang tak bisa dilarutkan senjata ajaibnya? Mereka tak pernah menduga, bahwa senjatanya adalah alat untuk memunahkan tenaga sakti yang meruap keluar. Dan bukan untuk menyedot tenaga sakti yang bergolak seumpama di belakang tembok bendungan. Itulah sebabnya, mereka merasa seakan-akan menghadapi tembok baja yang kokoh luar biasa.
Memang ada keinginan mereka untuk merampas pedang Sokayana itu. Bahkan Jahnawi yang penasaran berangan-angan ingin merampas senjatanya kembali yang berada dalam saku Sangaji. Namun angan-angan itu tinggal angan-angan belaka. Sekali berani mengalihkan perhatian atau menggerakan tangan,
mereka akan kena dibobol himpunan tenaga sakti Sangaji yang bergolak hebat.
Tatkala itu Sangaji berpikir di dalam hati, "Aku bisa bertahan—kalau perlu—satu dua minggu lagi. Tetapi bagaimana dengan urat nadiku yang kena tusuk tenaga sakti tak kelihatan? Barangkali aku pun kena runtuh terkulai sebelum menjelang pagi. Namun dia tidak dapat berbuat lain, kecuali mempertahankan diri."
Gagak Seta yang semenjak tadi masih belum memperoleh keputusan mendadak berseru: "Hai, binatang! Sekian lamanya aku bersikap diam, masakan kalian tidak sadar? Sekali aku memukul kamu bertiga, apakah jadinya! Apakah kamu bisa membagi tenaga?"
Hebat ancaman Gagak Seta itu. Kalau benar-benar dilakukan, mereka akan mati kutu.
"Hai, binatang! Kamu mau bertekuk lutut atau tidak?" bentak Gagak Seta lagi. "Memang kalau aku memukul dengan tongkatku, semuanya akan terluka. Tetapi aku mempunyai cara lain. Kalian ingin mencoba? Baik! Hai anakku, biarlah aku mencoba menguji kebandelannya. Aku ingin memecahkan kepala mereka dengan Kumayan Jati. Begitu aku mendorong. Lepaskan pedangmu?"
Sangaji kenal ilmu Kumayan Jati gurunya. Hebatnya tak terkatakan. Jangan lagi manusia yang terdiri dari darah dan daging, sedangkan batu raksasa bisa rontok berguguran. Memang mereka tadi bisa memunahkan tenaga sakti Kumayan Jati lantaran bunyi gesekan senjata ajaibnya. Tetapi senjata mereka kini telah melekat pada pedang Sokayana. Kecuali itu, tenaga mereka sedang dikerahkan habis-habisan untuk melawan dirinya. Dengan begitu, keadaan mereka tak ubah tiga batang
tiang yang keropos. Jangan lagi bakal dihantam ilmu sakti Kumayan Jati, pukulan seorang anak kecil pun bisa mencelakakan.
Menurut hati, pantas mereka dihajar demikian. Tetapi mengingat pembicaraan mereka. Sangaji memperoleh keterangan yang jelas siapakah mereka sebenarnya. Siapa pula yang berada di belakang mereka. Dan apa sebab mereka kenal Nenek Sirtupelaheli dengan lika-liku hidupnya serta gurunya sendiri. Bahkan mereka pun menyinggung-nyinggung dirinya secara langsung mengenai pusaka warisan. Di samping itu, ia tertarik pula terhadap ilmu tata berkelahi yang senyawa dengan ilmu sakti warisan Pangeran Semono. Terngiang-ngianglah istilah Titisari di dalam pendengarannya. Memang gampang membunuh mereka. Tetapi semenjak itu, teka-teki besar bakal lenyap untuk selama-lamanya. Memperoleh pikiran demikian, segera ia berseru menyanggah.
"Tahan! Berilah aku kesempatan untuk berbicara dengan mereka."
Gagak Seta tertawa terbahak-bahak.
"Berbicara dengan kumpulan binatang apakah faedahnya!"
"Tapi mereka manusia. Masakan manusia tak sudi diajak berbicara?"
"Ah, hatimu masih semulia dahulu. Kau dengarkan kata-kataku. Kemuliaan belum menjamin keselamatanmu. Berapa banyak pendekar-pendekar bangsa yang mati karena menjadi korban kemuliaannya sendiri."
Ketiga utusan itu kagum dan kaget luar biasa mendengar Sangaji berani berbicara begitu leluasa. Dimana saja seorang yang lagi mengerahkan himpunan tenaga sakti untuk menghadapi suatu perlawanan tidak berani membuka mulut atau memecah perhatian. Sebab begitu berbicara, tenaga himpunannya akan buyar berderai.
Sebaliknya Sangaji dapat berbicara dengan leluasa.
Dan desakan himpunan tenaga saktinya sama sekali tidak terganggu.
Dalam pada itu terdengar Sangaji berkata: "Mari kita berhenti dahulu untuk sementara waktu. Aku ingin berbicara dengan kalian. Bagaimana? Setuju?" Mohe memanggut.
"Bagus!" Sangaji Girang. "Dengan saudara-saudaraku di Pulau Lombok, aku sebangsa dan setanah air. Sama sekali tiada permusuhan atau mendendam angan-angan yang tidak baik. Kalau aku kini berkutat melawan kalian, itulah lantaran terpaksa. Kalian yang memaksa aku. Meskipun demikian perkenankan aku memohon maaf. Sekarang, marilah kita menarik tenaga sakti kita masing-masing. Apakah kalian setuju?"
Kembali lagi Mohe mengangguk mewakili kedua rekannya.
Sangaji bersyukur. Segera ia menarik himpunan tenaga saktinya yang tersalur lewat pedang Sokayana. Mereka bertiga pun menarik pulang tenaga saktinya.
Di luar dugaan, mendadak saja semacam tenaga dingin setajam pisau menikam urat dada Sangaji.
Seketika itu juga sesaklah napas Sangaji. Ia tak dapat bergerak lagi.
"Ah, tak pernah mengira, bahwa aku bakal mati di sini. Baikiah dimana saja, orang boleh mati, pikirnya di dalam hati. "Tetapi bagaimana dengan Himpunan Sangkuriang? Ah, suatu malapetaka dahsyat bakal terjadi lagi di seluruh Jawa Barat."
Selagi berpikir demikian, Mohe sudah mengangkat senjatanya. Terang sekali ia hendak menghantam batok kepala Sangaji. Pada saat itu Gagak Seta membentak bagaikan guntur. Dan berbareng dengan bentakannya, sekonyong-konyong berkelebat sesosok bayangan.
"Utusan Suci berada di sini!" terdengar suatu suara nyaring merdu.
Mohe terkejut. Karena kena bentakan Gagak Seta dan munculnya bayangan itu, senjatanya yang tinggal menabas turun berhenti di tengah jalan.
Bagaikan kilat, bayangan itu mencabut pedangnya dan menubruk Mohe. Sangaji terperanjat berbareng girang. Ternyata bayangan itu, Titisari yang tiba dengan pedang Sanggabuwana. Seperti seekor singa betina Titisari menyerang pukulan ilmu sakti Witaradya warisan ayahnya. Itulah pukulan liar yang berintikan mati berbareng dengan lawan.
Mohe mencelos hatinya, la tak pernah bermimpi, bahwa sesudah memperoleh kemenangan dengan jalan licik, kena diserang dengan mendadak. Buru-buru ia menangkis dengan senjata engselnya. Traang!
Hebat akibatnya. Seperti diketahui, pedang Sanggabuwana adalah sebatang pedang yang tajam luar
biasa. Titisari memperoleh pedang itu dari tangan Edoh Permanasari. Sebaliknya senjata Mohe ajaib pula bahannya. Ternyata senjatanya tahan berlawanan dengan pedang Sanggabuwana.
Dengan bergulingan di tanah, Mohe menyelamatkan diri. Tatkala bangun berdiri dagunya terasa dingin-dingin lengket. Ternyata kulit dagunya kena terpapas pedang Sanggabuwana. Benar pedang Sanggabuwana kena dilontarkan balik oleh tenaganya, tapi buktinya masih bisa menyerempet dagunya. Hal itu membuktikan betapa tajam pedang Sanggabuwana. Seumpama bukan kena tangkis senjatanya yang luar biasa pula, saat itu lehernya telah terkutung.
Titisari pun tak bebas dari ancaman pedangnya sendiri. Begitu terpental balik, mendadak saja memapas rambutnya. Syukur, dia gesit. Detik itu ia memiringkan kepalanya. Yang kena hanya ikatan sanggulnya. Rambutnya lantas saja buyar berurai menutupi punggung dan sebagian pundaknya. Karena wajahnya memang cantik jelita, maka pada saat itu ia nampak agung berwibawa.
Munculnya Titisari memang pada saat yang tepat sekali. Setelah menyerahkan pedang Sokayana kepada Sangaji, dia sendiri lantas menyisipkan pedang Sanggabuwana yang tajamnya tiada keduanya di dunia, la menaruh curiga terhadap Sirtupelaheli, Daniswara dan Fatimah. Disamping itu, ia heran menyaksikan sikapnya Gagak Seta. Pendekar besar itu tidak seperti biasanya, la nampaknya berusaha mengekang dan mengendalikan diri. Hal itu, pasti ada alasannya.
Tatkala Sangaji lari mengarah ke utara, ia berada di sebelah selatan. Kebusukan Sirtupelaheli menaburi bubuk racun pada tanah di depan gubuk, diketahuinya belaka. Juga pembicaraan Fatimah.
Sesudah Sangaji bertempur melawan ketiga orang utusan itu. Perhatian Titisari bertambah. Aneh gerakan mereka. Namun otak Titisari bukan sembarang otak. Ingatannya tajam luar biasa. Meskipun masih samar-samar, tetapi ia sudah mendapat pegangan untuk menyingkap tabir.
la girang tatkala melihat Sangaji mulai mengadu tenaga himpunan sakti. Seperti Gagak Seta ia yakin bahwa Sangaji bakal memperoleh kemenangan. Mendadak terjadilah penundaan adu himpunan tenaga sakti, la kenal watak Sangaji yang mengukur tabiat dan perangai manusia seperti dirinya sendiri. Segera ia hendak meneriaki agar berwaspada. Tetapi sudah tak keburu. Demikianlah, pada detik-detik berbahaya—ia lantas melesat menyambarkan pedangnya.
Setelah berhasil dalam jurus pertama, ia membuat setengah lingkaran dan menikam Jahnawi dengan menubrukkan badannya sendiri.
"Hai!" Gagak Seta dan Sangaji kaget.
Itulah jurus bunuh diri yang bertekat mati berbareng dengan musuh. Darimanakah dia memperoleh jurus itu? Gagak Seta dan Sangaji tak pernah mengira, bahwa jurus itu adalah warisan Ratu Fatimah lewat muridnya Edoh Permanasari yang kemudian bersahabat dengan Titisari. Jurus itu dipersiapkan Ratu Fatimah untuk menghadapi
Ratu Bagus Boang. Tekatnya hendak mati berbareng dengan lawannya berbareng kekasihnya.12)
Karena watak Titisari mewarisi sebagian besar watak ayahnya, ia mencatat jurus tersebut dengan diam-diam. Sebenarnya dia pun merencanakan bunuh diri seperti yang hendak dilakukan Ratu Fatimah, manakala Sangaji benar-benar mengawini Sonny de Hoop.
Sekarang untuk menolong suaminya dari bencana, dia bersedia mati. la tahu, bahwa lawan Sangaji sangat tinggi ilmu kepandaiannya. Jangan lagi dirinya, Sangaji sendiri nampak berada di bawah angin. Tapi dasar otaknya cerdas dan berwatak liar, masih ia menemukan suatu kemungkinan. Waktu itu suatu penglihatan terbesit dalam hatinya.
"Entah siapa mereka ini sampai Sangaji kuwalahan. Mengingat mereka mengumandangkan diri sebagai utusan suci pembawa perdamaian, terang sekali mereka berangan-angan besar. Orang yang berangan-angan besar paling takut bila mati terlalu cepat."
Begitu memperoleh penglihatan itu, diam-diam ia sudah bersiaga. Demikianlah ia segera membentur senjata engsel lawan dan kemudian barulah menikam dengan pedang Sanggabuwana.
Diserang dengan jurus bunuh diri itu, baik Mohe maupun Jahnawi kaget sampai terpaku. Begitu kecil hatinya, sampai pula tidak berdaya lagi. Betapa tidak?
Setelah membentur senjata engsel, gerakan yang kedua ialah menikam. Seumpama senjata Mohe sebatang pedang, Titisari menembuskan dadanya sendiri dengan
tubrukannya tadi dan baru menikam. Biarpun berkepandaian tinggi, seseorang takkan bisa meloloskan diri diserang dengan cara demikian. Kecuali manakala dia memiliki kecepatan kilat, sehingga tatkala pedangnya kena tubruk, cepat-cepat melepaskan genggaman berbareng meloncat mundur. Dengan begitu lawan akan tercublas mati tanpa dapat membalas.
Mohe sadar akan gerakan berikutnya. Namun ia seakan-akan sudah kehilangan diri. Untunglah, senjatanya bukan pedang yang berujung tajam. Sebaliknya mirip tongkat yang berengsel. Begitu kena bentur, membal bergoyangan. Saat itulah yang memberi kesempatan bagi Mohe untuk melesat mundur dengan tetap menggenggam senjata engselnya.
Sebaliknya, Titisari tiada terluka akibat menubrukkan diri tadi. Namun tatkala pedang Sanggabuwana digerakkan untuk menikam, mendadak Jahnawi memeluknya dari belakang. Dengan pelukan itu, Titisari tak dapat menikam lagi. Saat itu insyaflah dia, bahwa bahaya kematian tak dapat dielakkan lagi. Tapi lagi-lagi ia ditolong otaknya yang cerdas bukan kepalang. Dengan berpangkal pada kerelaan hendak membunuh diri demi menolong suaminya, timbullah pikirannya untuk membalikkan pedangnya menikam dirinya sendiri.
Pedang Sanggabuwana sangat tajam. Mengandal kepada ketajamannya, ia mengharap menembus sedalam hulunya sehingga masih dapat menikam Jahnawi yang memeluk punggungnya.
Benar-benar suatu ketekatan yang luar biasa. Sebagai seorang ahli silat, tentu saja Jahnawi sadar begitu melihat tangan Titisari bergerak membalikkan hulu pedangnya. Begitu melihat berkelebatnya pedang
membalik menikam diri, hatinya mencelos. Saking takutnya, tangannya menggelendot dan melompat kesamping. Kena gerakan itu, tubuh Titisari terputar. Inilah justru yang menolong nyawanya. Pedang Sangga-buwana menikam meleset dari sasaran yang dikehendaki. Tidak menembus dada tetapi menyerempet lengan dekat ketiak. Seketika itu darah Titisari mengucur deras.
Jahnawi pun tidak luput dari suatu goresan karena gerakan Titisari yang penuh nafsu benar-benar cepat diluar dugaan seorang ahli seperti dia. Tahu-tahu pundaknya mengucurkan darah. Untung dia tadi membuang diri kesamping. Seumpama hanya mundur, dadanya akan kena tertembus.
Pada saat itu, Sangaji sudah berhasil membebaskan diri dari totokan gelap. Melihat ketekatan Titisari, dengan menjejakkan ia melesat dan merampas pedang Sanggabuwana.
"Titisari, mengapa kau...?"
Titisari masih membungkam. Wajahnya pucat lesi. Namun dalam keadaan demikian masih saja otaknya bekerja dengan cemerlang. Agar memperoleh waktu untuk bernapas, ia merogoh senjata rampasan dalam saku Sangaji. Setelah dikeluarkan, segera melemparkan ke dalam tanah beracun.
Ketiga utusan suci begitu besar sayangnya kepada senjata andalannya melebihi nyawanya sendiri. Semenjak tadi, mereka berprihatin tentang senjata Jahnawi yang kena dirampas Sangaji. Sekarang senjata itu dilemparkan Titisari di atas tanah terbuka. Keruan saja mereka bergirang bukan main. Seperti anjing mencium tulang
penuh daging bakar, mereka berlari-larian hendak mengambilnya. Tapi begitu melihat tanah, mereka sadar akan bahaya. Terpaksalah mereka maju lambat-lambat sambil menahan napas untuk melawan racun. Inilah yang dikehendaki Titisari.
"Biarkan mereka mengambil senjatanya kembali," kata Titisari. "Dan begitu mereka memasuki tanah itu, mereka akan kehilangan kegalakannya satu malam ini.
Sementara itu, kita bisa berunding Mari kita mencari tempat!"
3°) Baca Bende Mataram jilid 3 bagian belakang
1) Baca: Bunga Ceplok Clngu dari Banten.
1) Kegelisahan Titisari dapat dibaca kembali di Bende Mataram dimulai jilid 11-halaman 95
MENCARI BENDE MATARAM - 2 5
SIRTUPELAHELI
TIADA BEDA DENGAN REKAN-REKANNYA Gagak Seta adalah seorang pendekar yang angkuh hati. Tetapi mendengar anjuran Titisari, tak berani ia
menganggapnya enteng. Pasti ada alasannya yang mendasar. Tanpa ragu-ragu lagi, ia terus menguatkan.
"Benar!"
Setelah berkata demikian, ia membungkuki Sirtupelaheli yang masih meringkuk tak berkutik di atas tanah. Segera ia membebaskan.
Sangaji mengira, bahwa setelah mengalami perjuangan antara hidup dan mati bersama-sama, pastilah permusuhannya dengan gurunya akan terhapus dari ingatannya. Maka kebebasannya disambutnya dengan rasa syukur.
"Mari!" katanya mengajak sambil mendukung Fatimah.
Setelah berlari-larian beberapa puluh meter, ia menyerahkan Fatimah kepadanya. Sebab meskipun antara Fatimah dan dia tiada terdapat suatu perhubungan istimewa, rasanya ia canggung membawa-bawa seorang gadis dalam dukungannya. Apalagi ia berada disamping Titisari. -
Titisari waktu itu telah mendahului lari paling depan. Kemudian Gagak Seta, Sirtupelaheli dengan mendukung Fatimah berada ditengah-tengah, sedangkan Sangaji di belakang sebagai pelindung.
Sekonyong-konyong terdengarlah bentakan Gagak Seta. Orang tua itu ternyata tidak hanya membentak, tetapi tangannya bergerak meninju punggung Sirtupelaheli.
"Sirtupah! Mengapa lagi-lagi engkau mencoba membunuh Fatimah?"
Sirtupelaheli kaget. Untuk menangkis pukulan Gagak Seta, ia melemparkan tubuh Fatimah ke tanah. Dia sendiri lantas tertawa mendengus.
"Mengapa engkau mencampuri urusanku?"
Sangaji terkejut menyaksikan kejadian diluar dugaannya. Segera ia mendekati Fatimah sambil berkata keras.
"Kularang kau membunuh manusia dengan serampangan!"
"Siapa engkau sebenarnya sampai berani melarang aku? Apakah belum cukup engkau mencampuri urusan yang sebenarnya bukan urusanmu?"
"Belum tentu bukan urusanku," sahut Sangaji. "Musuh akan segera mengejar. Apakah kau ingin mati tanpa liang kubur?"
Nenek Sirtupelaheli mendengus lalu lari ke jurusan barat. Sekonyong-konyong tiga benda berkeredep menyambar kepala Fatimah. Sangaji mengebutkan lengan bajunya. Dan senjata berkeredep itu berbalik menyambar majikannya dengan suara mengaung. Dahsyat tenaga balik itu. Menyambarnya cepat tak ubah tiga pelor yang meletus lewat larasnya.
Sirtupelaheli kaget setengah mati. Mimpi pun tidak, bahwa Sangaji memiliki tenaga dahsyat demikian besarnya. Ia tak berani menyambut. Buru-buru ia menggulingkan badannya ke tanah. Ketiga benda itu melesat lewat punggungnya dan merobek pakaiannya. Jantung Sirtupelaheli bergetar melonjak-lonjak tak keruan. Terus saja ia kabur tanpa menoleh lagi.
Selagi Sangaji membungkuki Fatimah untuk mendukungnya, tiba-tiba Titisari mengeluh sambil menekap pinggangnya.
"Kau kenapa?" Sangaji tercekat dan terus mendekati.
Ia terkejut tatkala melihat tangan Titisari berlepotan darah. Ternyata tikaman tipu membunuh diri tadi, benar-benar melukai pinggangnya, meskipun sasarannya kurang penuh.
"Bagaimana? Parah?" tanya Sangaji dengan cemas.
Sebelum Titisari sempat menjawab, tiba-tiba terdengar Jahnawi berteriak girang.
"Ha, ini dia! Sudah kembali? Sudah kembali!"
"Ah!" Titisari mengeluh. Parasnya pucat dan membayangkan rasa putus asa. Katanya tersekat-sekat. "Jangan pedulikan aku! Cepat lari! Kau dakilah bukit itu!"
Pada saat itu, dari suatu tikungan muncul seorang tinggi besar. Dialah Gandarpati murid Sorohpati. Dia terus menghampiri Sangaji sambil menyerobot tubuh Fatimah. Katanya, "Biarlah aku yang membawanya. Marilah kutunjukkan suatu tempat yang aman."
Tanpa berkata lagi, Sangaji meninggalkan Fatimah dan segera memeluk pinggang Titisari. Setelah itu ia membawanya kabur mendaki bukit.
"Kau ikuti dia..." bisik Titisari. "Gurunya dahulu setia kepada Ayah. Aku percaya, dia pun akan berusaha menyelamatkan kita dengan sungguh-sungguh."
Sangaji mengangguk. Dengan memapah Titisari, ia lari sekeras-kerasnya. Gandarpati yang tadi berada di depan,
tertinggal jauh. Dengan napas tersengal-sengal, ia berteiak: "Ke kanan!"
Sangaji lantas berhenti. Ia memandang ke kanan dan melihat sebuah gubuk berada di seberang jurang curam. Tebing jurang itu berbatu licin. Ditengah-tengah melintang sebuah jembatan batu yang hanya cukup untuk dilintasi seorang. Ia berbimbang-bimbang sebentar. Akhirnya mengambil keputusan untuk menunggu tibanya Gandarpati dan Gagak Seta yang lari sambil melindungi dari belakang.
"Anakku!" kata Gagak Seta sambil tertawa nyaring. "Kau sangat memikirkan isterimu, sampai lari membabi-buta seperti kuda binal. Kau bisa lari, tapi bagaimana dengan murid Sorohpati ini?"
Sangaji tertawa menyeringai. Segera ia turun menyambut tibanya Gandarpati. Kemudian dengan sekali tarik, ia membawa Gandarpati naik melompati suatu ketinggian.
Betapapun juga, Gagak Seta kagum kepada tenaga dahsyat bekas muridnya itu, ia tahu muridnya tiada mempunyai kesombongan hati untuk memamerkan kesanggupannya. Semuanya itu terjadi karena rasa gopohnya memikirkan keadaan Titisari dan Fatimah. Kalau salah seorang tidak dapat ditolongnya, hatinya akan menyesal seumur hidupnya. Sambil melompat menyusul, ia berdoa semoga tiada terjadi sesuatu atas diri mereka berdua.
Dalam pada itu, setelah ketiga utusan suci mendapatkan senjatanya kembali, mereka segera mengadakan pengejaran. Ternyata racun Sirtupelaheli tak dapat mengusiknya karena larut kena perbawa
senjata ajaibnya. Untung, dalam hal kecepatan berlari mereka kalah jauh dibandingkan dengan Sangaji dan Gagak Seta. Melawan kegesitan Gandarpati saja, mereka masih kalah seurat. Dengan demikian, mereka baru sampai pada tanjakan pertama tatkala Sangaji, Gagak Seta dan Gandarpati telah tiba di tebing jurang.
"Itulah pondok Guru," kata Gandarpati dengan napas terengah-engah. "Mari kita menyeberang!"
Setelah memasuki pondok, Sangaji segera merebahkan Titisari di pembaringan. Fatimah pun diletakkan pula di atas pembaringan yang berada tak jauh dari pembaringan Titisari. Ia kemudian memeriksa luka mereka berdua. Tikaman pedang Sangga Buwana kurang lebih setengah ibu jari dalamnya. Meskipun mengeluarkan darah segar, namun luka itu sendiri tidak membahayakan jiwa. Tetapi tidaklah demikian halnya yang diderita Fatimah. Tiga senjata rahasia Nenek Sirtupelaheli menancap dalam di dadanya. Apakah nyawa Fatimah dapat tertolong, masih merupakan suatu teka-teki. Dengan dibantu Gandarpati, Sangaji membubuhi obat luka dan membalutnya. Gadis itu masih saja tak sadarkan diri. Sedangkan Titisari merintih perlahan.
"Anakku!" kata Gagak Seta. "Kau kini agaknya mempunyai pengetahuan pula tentang ilmu ketabiban. Syukurlah!"
"Aku hanya sedikit mempelajari pengetahuan orang tabib pandai yang katanya tunangan Fatimah. Dia bernama Manik Angkeran. Kabarnya, dialah putera satu-satunya Paman Sorohpati, guru saudara Gandarpati ini," sahut Sangaji.
Gagak Seta tertawa perlahan sambil mengurut-urut jenggotnya. Wajahnya sangat puas. Katanya perlahan, "Dengan tambah satu pengetahuan lagi, kau tidak bakal lagi disebut si Tolol!"
Titisari terganggu kesehatannya oleh tikamannya sendiri. Badannya mulai terasa panas. Tetapi mendengar ucapan Gagak Seta, tak dapat ia menguasai mulutnya. Katanya dari atas pembaringan.
"Siapakah yang berani menyebut suamiku si Tolol?"
Gagak Seta tercengang sejenak. Menyahut sambil tertawa berkakakkan. "Setidak-tidaknya ayahmu sendiri. Bukankah ayahmu selalu menganggap dirinya sebagai seorang yang paling pandai di jagad ini?"
Titisari tahu, bahwa antara ayahnya dan gurunya selalu timbul rasa saingan dalam dirinya masing-masing. Itulah disebabkan riwayat hidupnya semenjak masa mudanya. Mereka berdua pernah mengadu kepandaian selama tujuh hari tujuh malam untuk memperebutkan nama. Kedua-duanya tiada yang kalah dan menang.
"Menjelang fajar hari kemarin, aku melihat ayahmu," kata Gagak Seta
"Ah, ya." Titisari seperti diingatkan. "Bagaimana Paman sampai berada di sini?"
"Itulah karena surat pengumumanmu," sahut Gagak Seta pendek. "Waktu aku lewat di daerah ini, kebetulan aku melihat cahaya tanda bahaya di udara. Ternyata si Dogol Jaga Saradenta yang melepaskan. Katanya dia lagi memburu Watu Gunung. Tepat pada saat itu, aku melihat berkelebatnya seseorang yang mengenakan jubah abu-abu. Siapa lagi kalau bukan ayahmu. Dialah
yang merebut seorang nona kecil dari tangan Watu Gunung."
Mendengar keterangan Gagak Seta, wajah Gandarpati berseri-seri. Dengan suara gemetaran ia menyambung. "Ah! Kalau Gusti Adipati Surengpati sudah turun tangan dan sudi melindungi jiwa adikku, dia pasti selamat."
"Kau begitu memikirkan bocah itu. Sebenarnya siapakah dia?" Gagak Seta menegas.
Belum lagi Gandarpati memberi keterangan, di luar terdengar berisiknya langkah mendatang. Gandarpati lantas saja mencelat keluar gubuk sambil berkata, "Untuk mengusir mereka, cukuplah dengan tenagaku seorang."
Gagak Seta tersenyum mendengar kejumawaannya. la melemparkan pandang kepada Sangaji. Pemuda itu nampak menjadi gugup. Itulah disebabkan ia mendengar langkah banyak. Tatkala melongok keluar pintu, ia melihat puluhan obor merentep seperti kunang-kunang. Pikirnya di dalam hati, " Melawan tiga orang saja, belum tentu aku dapat merebut kemenangan. Sekarang mereka membawa teman-temannya."
Ia tidak bisa berbuat lain, kecuali menunggu kedatangan mereka. Ia berharap semoga bukit ini tidak memungkinkan ketiga utusan suci itu bisa bekerja rapi dan secepat tadi. Ia lantas mengamat-amati sifat jembatan batu yang menghubungkan tebing seberang-menyeberang.
Setelah itu, cepat ia memindahkan pembaringan Titisari dan Fatimah memipit dinding belakang yang agak sentosa. Kemudian melesat keluar gubuk mendampingi Gagak Seta yang berdiri tegak mengawaskan kedatangan
mereka. Dalam hati ia memutuskan hendak bertempur mengadu jiwa sendiri.
Tiba-tiba mereka bersorak-sorai sambil mengacung-acungkan obornya. Hebat perbawanya. Sekitar jurang lantas menjadi terang benderang. Selagi demikian, mendadak terdengar suara berdesing.
"Ah, senapan!" Sangaji terkejut. "Sebenarnya siapakah mereka?"
Gagak Seta tidak menjawab. Dengan tubuh tak bergeming ia menatap ke bawah. Dan pada saat itu, sekali lagi terdengar suara letupan. Kali ini bukan senapan lagi. Tetapi suatu meriam berukuran sedang yang jatuh meledak di samping rumah.
Sangaji jadi bingung. Pada saat itu, Gandarpati mendekati.
"Tuanku tak perlu berkecil hati. Guruku dahulu mempunyai sebuah alat simpanan untuk menggebu musuh yang berjumlah terlalu banyak."
"Apakah itu?" Sangaji menegas.
"Biarlah aku bekerja," Gandarpati menjawab tak langsung.
Murid Sorohpati itu, lantas lari melesat melalui jembatan penghubung. Sampai di seberang ia lari pontang-panting ke kiri dan ke kanan, la membungkuki sesuatu seperti lagi memeriksa sesuatu. Ia nampak puas. Kemudian berkata nyaring kepada Sangaji
"Tuanku! Inilah alat penggebu yang tepat. Tumpukan batu pegunungan yang segera akan menggelundung ke bawah."
Mendengar keterangan Gandarpati, Sangaji girang. Terus saja ia lari melintasi jembatan. "Aku akan membantumu," katanya penuh semangat. Sekarang ia mengerti, kata-kata kejumawaannya13) Gandarpati tadi. Memang dengan menggelundungkan tumpukan batu-batu dari atas tebing akan bisa mengusir beberapa puluh musuh dengan seorang diri. Sebab jalan yang menuju ke tebing tinggi hanya sebuah. Sempit dan licin. Dan diapit jurang curam pula.
Pada saat itu, kembali lagi mereka bersorak-sorai dengan mengacung-acungkan obornya. Dan melihat hal itu, terbitlah kegembiraan dalam hati Gagak Seta.
Dengan tertawa berkakakkan, ia berseru nyaring.
"Anakku! Kau tunggu saja sampai mereka berada tepat di bawahmu. Lantas hujani dengan batu pegunungan. Aku ingin tahu, apakah mereka bangsa malaikat yang tak mempan kena guguran batu."
Seruan Gagak Seta yang nyaring itu, rupanya menyadarkan mereka yang berada di depan. Mereka lantas berhenti dengan tiba-tiba. Dan melihat mereka berhenti, Sangaji tak sudi memberi kesempatan berpikir. Terus saja ia memberi isyarat kepada Gandarpati agar mulai bekerja.
"Batu-batu yang diatur guru hanya dijagangi dengan dua cagak besi sebagai penyangga," Gandarpati menerangkan. "Sekali kita merobohkan cagak itu, tumpukan batu di atasnya akan meluruk ke bawah."
"Bagus!" Sangaji berseru girang. "Kau atau aku yang menggempur cagaknya?" Seperti kuda kena lecut,
') dari perkataan jumawa. Artinya: sombong berkepala besar
Gandarpati lantas saja mendepak cagak penyangga. Dan begitu kena sentuh kakinya, cagaknya roboh. Batu yang berada di atasnya bergoyang-goyang. Kemudian menggelundung ke bawah. Dan batu-batu sampingan yang agak kecilan, ikut meluruk ke bawah pula.
Hebat akibatnya gugurnya batu-batu itu. Dengan suara bergemuruh, barisan batu menggelundung ke bawah. Makin lama makin cepat. Dan melihat hal itu, barisan yang berada di depan berteriak kaget.
"Mundur!" mereka berseru dan lari ber-balik.
Tetapi gerakan mundur mereka, betapa bisa menandingi kecepatan menggelundungnya batu-batu yang meluruk tanpa rintangan. Sebentar saja terdengarlah suara jerit menyayatkan hati. Mereka disapu bersih. Dilontarkan dan dilemparkan. Yang tak sempat menyingkir, lantas saja kena gilas serata tanah.
Di antara mereka yang jatuh terbalik susun tindih, nampaklah tiga orang berkelebat melompati kepala-kepala mereka. Merekalah Mohe, Jahnawi dan Jinawi, ketiga utusan suci yang sakti. Mereka bertiga merupakan benteng teguh yang dahsyat tatkala melawan ilmu sakti Sangaji. Tetapi menghadapi barisan batu, mereka mati kutu. Syukur, mereka dapat bergerak cepat. Tubuhnya ringan pula. Dan dengan mengandalkan kecepatan itu, mereka berhasil menyelamatkan diri dengan mengorbankan teman-temannya.
"Sayang! Sayang! Sayang!" kata Gagak Seta nyaring. "Mestinya mereka pantas kena giling...."
Selama hidupnya baru untuk pertama kali itu Sangaji menggunakan batu untuk mengusir musuh. Ia mengerti
betapa hebat akibatnya, tetapi tak pernah mengira bahwa dahsyatnya melebihi gambaran pikirannya.
"Gandarpati, sudahlah!" perintahnya.
Untuk mengusir mereka tadi, Gandarpati baru melepaskan dua tumpukan batu. Walaupun demikian, kedahsyatannya sudah cukup untuk menghadapi mereka. Maklumlah, tiap tumpukan berisi lima batu besar dan ratusan batu-batu kecil sebesar kepala. Bisa dibayangkan betapa hebat perbawanya, sewaktu meluruk berguguran ke bawah. Seperti dilontarkan, batu-batu itu menggelundung melalui jalan berbatu yang licin. Setelah melindas semua rintangan yang berada di depan, terus melompat ke dalam jurang pada tikungan pertama.
Coba, seumpama jalan tiada tikungan, korban yang akan terjadi akan berjumlah berlipat ganda.
Ketiga utusan suci yang berhasil menyelamatkan diri, sebenarnya tertolong berkat tikungan jalan yang bertebing tinggi. Tebing tinggi itulah yang merupakan benteng perlindungan yang tak terusik. Setelah menguasai ketenangannya, mereka segera memberi perintah mengundurkan diri.
"Padamkan obor!" teriak Mohe dengan menggerung dahsyat. "Biarlah malam ini kita beri mereka kesempatan menyenak napas..... "
Gagak Seta adalah seorang pendekar yang sedikit banyak berwatak setengah liar. Melihat mundurnya ketiga utusan, ia lantas berteriak nyaring sambil tertawa berkakak-kan. "Hai, Jahe...! Kenapa lari ngacir14) Hayo,
14) ngacir = berbirit-birit
tongolkan kepalamu! Aku ingin melihat apakah kalian masih bisa mengumbar mulutmu yang besar... "
Mohe menggerung dan memaki-maki tak jelas dari bawah bukit. Dan mendengar makian itu, suara tertawa Gagak Seta bertambah riuh.
"Paman!" tiba-tiba terdengar suara merdu. "Malam ini, mereka takkan mengusik. Esok pun mereka belum tentu berani mencoba-coba mengadu untung. Mari kita beristirahat."
Gagak Seta menoleh. Ia melihat Titisari berdiri dengan bersandar pada tiang pintu. Putri Adipati Surengpati itu, tak tahan berada di atas pembaringan, begitu mendengar suara hiruk-pikuk menggelundungnya batu-batu. Tanpa memedulikan luka yang sedang dideritanya, ia turun dari pembaringan dan sempat menyaksikan adegan terakhir tadi.
"Kau puas tidak?" sahut Gagak Seta.
Titisari tersenyum. Pandangnya berseri-seri. Sebagai anak Adipati Surengpati yang terkenal ganas ibarat harimau, ia mewarisi sedikit banyak ayahnya, la bisa merasakan kegembiraan hati Gagak Seta seperti kegembiraan hatinya sendiri.
Sebaliknya Sangaji yang berhati mulia, mempunyai kesan sendiri terhadap peristiwa yang berlaku di bawahnya. Alangkah cepat kejadian itu. Begitu sederhana. Batu digelundungkan. Lantas semuanya lenyap. Dilindas atau dilontarkan ke dalam jurang. Dan semuanya itu manusia—tak beda dengan dirinya sendiri. Itulah sebabnya, ia segera memberi perintah menghentikan menggelundungkan batu.
Kala itu, alam kembali gelap. Bulan di atas mulai suram. Udara hanya dipenuhi bintang-bintang yang bergetar lembut. Dengan sedikit menundukkan kepala, Sangaji melintasi jembatan batu, Gandarpati mengiringkan beberapa langkah di belakangnya. Murid Sorohpati ini nampak puas luar biasa. Bukankah jasa itu berada padanya?
"Titisari! Kenapa kau turun dari pembaringan?" Sangaji menegur isterinya dengan kata-kata halus.
"Kenapa?"
"Lukamu."
"Memang lukaku kenapa?" sahut Titisari nakal.
"Aku dapat berdiri tegak. Artinya lukaku tidak seberapa. Kau tak perlu khawatir."
Sangaji tertawa syukur. Lalu menoleh kepada Gagak Seta. "Guru, sebenarnya mereka ini rombongan dari mana? Mereka memiliki senapan dan meriam."
Gagak Seta tertawa. "Semenjak kanak kanak kau bergaul dengan kompeni. Kemudian para pendekar. Sekarang memimpin kancah perjuangan laskar Jawa Barat. Siapa lagi yang memiliki senjata begitu, kecuali Kompeni Belanda?"
"Inggris, maksud Guru?" Sangaji menegas. .
"Belanda," jawab Gagak Seta.
Sangaji heran. Dewasa itu yang memegang pemerintahan di Jakarta adalah Gubernur Raffles. Pemerintah Belanda sudah tiada lagi. Maka heranlah ia, apa sebab gurunya menyebut Kompeni Belanda. Menegas.
"Kompeni Belanda masakan masih berkeliaran di sini?"
Gagak Seta tertawa. "Isterimu menyuruh kita beristirahat dahulu. Mari kita gunakan kesempatan ini untuk memulihkan tenaga. Tentang Kompeni Belanda berada di belakang mereka, nanti kujelaskan dengan perlahan-lahan.... "
Menuruti kata hati, sebenarnya ingin memperoleh penjelasan dengan segera. Banyaklah kejadian-kejadian yang masih merupakan teka-teki besar baginya. Seperti: siapakah Sirtupelaheli? Mengapa puteri itu mengenakan kedok? Mengapa gurunya bersikap segan terhadapnya? Apakah hubungannya antara Fatimah dan Sirtupelaheli? Dan apa sebab tiba-tiba Fatimah hendak dibunuhnya? Siapa sebenarnya ketiga utusan suci itu yang ternyata kini mendapat dukungan Kompeni Belanda? Untunglah, dia seorang pemuda yang berhati sabar. Maka ia bisa menahan gejolak hatinya.
"Mari kudukung!" katanya mengalihkan perhatiannya sendiri kepada Titisari.
Titisari tersenyum senang, la tak menolak tatkala Sangaji memeluk pinggangnya dan mendukungnya ke pembaringan. Gagak Seta yang berada d belakangnya, tertawa senang. Katanya menjahili, "Hai anak iblis? Kalau ayahmu melihat engkau kena didukung oleh pemuda tolol itu, ingin aku melihat tampangnya."
"Memangnya kenapa, Paman?" sahut Titisari cepat. "Bukankah muridmu kini suamiku?"
"Benar. Tetapi aku si orang tua jadi dengki dan iri hati. Baiklah. Aku berjanji hendak mencari seorang pengemis
perempuan yang gagah biar bisa mendukung-dukung aku.
Kalau aku sampai kena didukung seorang perempuan ketat, bukankah ayahmu jadi jelus juga?"
Titisari dan Sangaji tertawa mendengar kata-kata Gagak Seta. Mereka kenal adat gurunya yang liar dan senang berkelakar. Sebaliknya, Gandarpati tak berani mengumbar bibirnya, la takut kena salah. Syukur, ia seorang pendiam. Maka dapatlah ia menguasai diri.
"Hai, anak iblis!" kata Gagak Seta lagi kepada Titisari. "Sebenarnya ingin aku mendengar alasanmu apa sebab kau menggunakan jurus nekat-nekatan untuk menolong si Tolol? Sebelum tidur, cobalah dengarkan dugaanku. Jurusmu yang pertama bukankah kau ambil dari salah satu jurus ilmu sakti Witaradya gubahan ayahmu sendiri? Itulah pukulan liar yang berintikan mati bersama, dengan lawan. Ayahmu seorang siluman. Meskipun begitu, belum pernah aku melihat dia teringat kepada jurus edan itu. Mengapa kau lebih edan dari ayahmu? Yang kedua, bukahkah salah satu jurus bunuh diri dari Banten? Kukira engkau memperoleh jurus itu dalam perantauanmu ke Jawa Barat kala mencari Sangaji. Bukankah begitu? Dan yang ketiga, hm... hm... darimana kau peroleh jurus terkutuk itu?"
Titisari terkejut. Ia tak pernah menduga, bahwa dengan sekali melihat saja gurunya mengenal jurus-jurus tersebut yang mungkin takkan nampak di depan umum dalam waktu sepuluh tahun untuk satu kali saja. Sebab jurus itu hanya muncul bilamana keadaan sudah sangat memaksa.
"Guru menebak kedua jurus dengan tepat" katanya. "Yang ketiga adalah ciptaanku sendiri. Inilah jurus yang kupersiapkan untuk menghadapi Sangaji. Aku kalah jauh dengan dia. Aku tahu, dia takkan menyakiti aku. Pastilah dia akan memelukku dari belakang. Dan pada saat itu, aku menikam diriku dalam-dalam sampai ujung pedang menikam dada Sangaji yang memelukku rapat-rapat. Dengan begitu, bukankah aku dan dia bakal berangkat ke dunia lain dengan berbareng."
Menggeridik bulu roma Sangaji mendengar keterangan isterinya. Itulah jurus bunuh diri dengan berbareng, apabila dirinya benar-benar mengawini Sonny de Hoop. Syukur, ia tak jadi kawin. Dan jurus terkutuk itu sendiri, membuktikan batapa besar cinta kasih isterinya kepadanya. Dan memperoleh kesan demikian, ia lantas memeluk isterinya rapat-rapat.
Gagak Seta tertawa terbahak-bahak. "Dasar kau anak siluman! Tapi mengapa kini kau gunakan dalam menghadapi ketiga utusan itu?"
"Karena aku tak rela Sangaji kena dikalahkan. Aku melihat tidak sungguh-sungguh melayani mereka," sahut Titisari tegas.
"Tak bersungguh-sunguh?" Gagak Seta tercengang. "Apa maksudmu?"
"Bukankah dia hanya menggunakan tenaga saktinya tujuh bagian saja? Kalau aku kena dibunuh mereka, aku percaya dia akan menentukan dendamku."
Gagak Seta terkejut mendengar keterangan itu. Ia memang tahu, muridnya seorang pemuda yang berhati mulia. Dalam menghadapi musuh betapa jahat pun, tak
pernah terlintas di ingatannya untuk membunuhnya. Sebenarnya ini suatu kelemahan yang akan digunakan oleh musuh-musuhnya yang cerdik. Sebaliknya, keputusan Titisari hanya bisa terjadi dalam diri seorang siluman belaka. Memperoleh pertimbangan itu, ia menghela napas. Dan ia tak berkata-kata lagi.
Menjelang tengah malam, keadaan alam berubah. Hujan tiba-tiba turun dengan deras. Turunnya hujan, membuat hati mereka kian tenteram. Setelah memperoleh pengalaman pahit, pastilah laskar Utusan Suci tak berani mengulangi perbuatannya dengan mencoba-coba mengepung buruannya dekat dekat. Yakin akan hal itu, mereka lantas tidur dengan nyenyak.
Kira-kira mendekati fajar hari, Gagak Seta yang berusia lanjut tersadar lebih dahulu dari tidurnya. Kala itu, hujan telah reda. Dengan penuh kasih, ia mendengarkan suara napas keempat orang yang saling menyahut seakan-akan sedang berlomba. Napas Fatimah terdengar agak sesak. Napas Titisari perlahan dan panjang. Napas Gandarpati pendek-pendek penuh kekuatan. Dan yang luar biasa adalah suara napas Sangaji. Suara napasnya terdengar seperti terputus dan bersambung. Antara ada dan tiada.
Dan mendengar napas Sangaji, bukan main rasa kagumnya Gagak Seta. Dia adalah seorang pendekar besar yang jarang menemukan tandingan. Beberapa manusia yang dikenalnya, tidaklah terhitung lagi jumlahnya. Tetapi mendengar napas Sangaji yang luar biasa itu, berkatalah dia di dalam hati. "Benar-benar hebat ilmu warisan yang diperolehnya. Pantaslah orang-orang berani mengadu jiwa untuk mendapatkannya."
Napas Fatimah pun lambat laun berubah aneh pula. Mula-mula sesak karena lukanya yang parah. Kemudian berubah sangat cepat dan perlahan. Itulah suatu tanda, bahwa gadis itu telah memiliki ilmu sakti yang bersifat luar biasa.
"Aneh," pikirnya heran. "Apakah dia diam-diam memperoleh semacam kesaktian di luar pengetahuan Kyai Kasan Kesambi?"
Gagak Seta tahu, gadis itu murid Suryaningrat dan Suryaningrat adalah murid Kyai Kasan Kesambi kelima. Dengan sendirinya, macam ilmu sakti yang diajarkan kepada Fatimah pastilah sealiran pula. Apa sebab, gadis itu memiliki tata napas yang jauh berlainan dengan anak-anak murid Kyai Kasan Kesambi ?
Tiba-tiba suatu ingatan berkelebat dalam benak Gagak Seta. Tak terasa terloncatlah perkataannya: "Ah! Apakah dia..."
Pada saat itu, mendadak Fatimah membentak-bentak: "Sangaji! Kau memang anak setan cilik! Kau bilang mau membawa isterimu kepadaku. Tapi sekian lamanya aku menunggu, kau tak pernah muncul. Kalau tahu begini, siang-siang aku harus meracunimu..."
Sangaji, Titisari dan Gandarpati tersadar dari impiannya begitu mendengar suara bentakan. Dengan berbareng mereka menoleh.
"Sangaji!" bentak Fatimah. "Kau memang anak tolol! Tapi untungmu besar. Kau tahu, aku hidup sebatang kara dalam benteng batu. Mengapa engkau cepat-cepat
pergi, begitu bertemu dengan gadis pilihanmu?.... Gadis
pilihanmu itu memang cantik luar biasa. Tapi mengapa
engkau hendak kawin dengan anak seorang Kompeni Belanda. Dasar kau anak setan! Seumpama aku jadi Titisari, kau sudah kupotong-potong menjadi dua puluh tujuh bagian... Kau... Kau... "
Sangaji menghampiri dan meraba pipinya. Bukan main panasnya. Tak ubah bara menyala. Maka tahulah dia, bahwa Fatimah mengigau karena pengaruh suhu badannya. Setelah bergaul dengan Manik Angkeran, ia mengerti ilmu ketabiban. Tapi pada saat itu, ia tidak membawa ramuan obat dalam. Satu-satunya jalan yang dapat dikerjakan, hanyalah merobek ujung bajunya dan dicelupkan ke dalam kubang air. Kemudian meletakkan di atas dahi Fatimah sebagai kompres.
Kena dingin air, tetap saja Fatimah mengigau. Bahkan makin hebat. Ia berteriak-teriak tak keruan. Jeritnya: "Kakak.... Kakak... Kak Wirapati! Mengapa engkau meninggalkan kami? Ayah Bunda mati karena memikirkan engkau... Hm! Bukankah kau pergi ke barat lantaran bocah bau itu?"
Terharu hati Sangaji mendengar bunyi igauan Fatimah. Ia tahu siapakah yang dimaksudkan dengan bocah bau. Itulah dia sendiri. Seperti diketahui, gurunya—Wira-pati dan Jaga Saradenta bertaruh dengan Ki Hajar Karangpandan. Selama dua belas tahun,
Wirapati harus bisa menemukan Sangaji dan Ki Hajar Karangpandan menemukan Sanjaya. Mereka bertiga harus mengasuh anak didiknya masing-masing untuk diadu kepandaiannya setelah selang dua belas tahun. Karena pertaruhan itu, Wirapati tak berkesempatan berpamit. Ia pergi tanpa kabar selama dua belas tahun. Dan teringat akan hal itu, bukan main gejolak hati Sangaji. Ia merasa diri berhutang budi setinggi gunung.
"Fatimah! Kakakmu sangat besar budinya kepadaku," kata Sangaji. "Untuk membalas budinya, aku bersedia melakukan apa saja."
Tentu saja, Fatimah yang berada di bawah sadar tak dapat dibuatnya mengerti. Setelah mengucapkan beberapa patah perkataan yang sukar ditangkap, terdengarlah kata-katanya yang agak terang.
"Sangaji...Kau ini memang membuat aku susah saja. Coba kau tak berada di dalam bentengku, pastilah aku tidak bakal terseret-seret dalam peristiwa ini. Semua orang lantas tahu, bahwa kau telah menemukan semacam ilmu sakti terhebat dalam dunia ini, berkat mengeram di bentengku. Untuk mencoba-coba mencarimu, mereka tak berani. Lalu akulah yang menjadi kambing hitamnya.... Aku ditawan.... Disiksa.... lantaran mereka yakin, aku mengerti tentang bunyi-bunyi bait ilmu saktimu. Untunglah aku ditolong Bibi Sirtupelaheli. Kau tahu siapa dia? Dialah adik Ratu Mangkarawati.... Kabarnya dia puteri Bupati Pacitan."
Sangaji menoleh kepada Gagak Seta. Orang tua itu mengangguk membenarkan. Dan ia jadi tertarik. Segera ia menatap wajah Fatimah kembali. Tetapi gadis itu, tiba-tiba membungkam. Ia tak berkata-kata lagi. Wajahnya nampak mengharukan. Dan melihat wajah demikian, Sangaji yang berperasaan halus tergetar hatinya. Tak dikehendaki sendiri ia menghela napas. Berkata kepada Titisari: "Bagaimana pendapatmu!"
Puteri Adipati Surengpati itu mengkerutkan keningnya. Sejenak kemudian menjawab: "Bibi kita ini, rupanya menderita sengsara begitu berpisah dengan kita. Hanya
sayang, kata-katanya belum begitu jelas untuk dimengerti."
Sangaji mengangguk. Pada saat itu, mendadak Fatimah menjerit tinggi. Lalu berteriak: "Mengapa kau memaksa aku meneguk minuman ini? Bukankah ini mengandung racun?... Oh Bibi, jangan kau berkata bukan-bukan. Pangeran Ontowiryo adalah suami saudaraku, Retnaningsih. Mengapa kau menuduh aku hendak merebut suaminya? Aku ini anak apa?.... Tidak, bukan itu yang kau maksudkan. Kau hanya menginginkan benda itu pula. Ah, kau pun akhirnya seperti yang lain-lain.... Sangaji! Sangaji! Tolong! Tolong aku. Aku harus meneguk minuman ini. Tolong... aku takut...."
"Fatimah! Fatimah! Jangan takut! Aku berada disampingmu ' ' seru Sangaji dengan hati tersayat-sayat.
"Sangaji " bisik Fatimah. "Kau merantau ke Jawa Barat. Apakah kau bertemu dengan tunanganku, Manik Angkeran?
Bilang padanya, bahwa racun yang mengeram dalam diriku makin lama makin parah.
Kalau dia belum berhasil juga menemukan obat pemunahnya... sudahlah. Suruhlah dia pulang menemui aku.... Dan aku akan mati meram...."
Sangaji terkejut. Minum racun? Ia menoleh kepada Gagak Seta dan Titisari untuk memperoleh pendapatnya. Kedua-duanya ternyata membungkam mulut.
"Baiklah kukatakan kepadamu...." bisik Fatimah. "Aku pernah didatangi seorang yang mengaku bernama Dipajaya. Dialah yang mengajarkan aku semacam ilmu sakti. Untuk bisa mewarisi ilmu saktinya, aku diwajibkan
minum obat ramuannya Manik Angkeran bilang, itulah racun. Tapi ia tak bisa menyembuhkan. Lantaran itu, ia minggat lagi entah kemana. Dia bilang mau balik kembali setelah dapat memunahkan racun jahat yang mengeram dalam diriku. Baiklah, hal tu bisa dimengerti. Tapi mengapa engkau yang sudah memiliki ilmu sakti, tidak sudi menolong aku? Iddiih... bukankah engkau sudah memakan habis dua ekor ayamku15) Kau ini memang anak setan!"
Setelah berbisik demikian, ia lalu bersenandung. Jernih suaranya. Di atas bukit dalam alam kelam, suara senandung itu terasa meraba-raba perasaan.
kalau maut tiba nanti siapakah, yang sanggup melarikan diri maka nikmatilah, hari-hari bahagiamu kalau bisa seratus dua ratus tahun sekiranya engkau telah pergi kemanakah tujuanmu—sayang kau pergi laksana angin tanpa bekas tanpa tujuan danaku...
siapakah lagi yang bakal menjadi temanku menunggu hari-hari maut tiba ah, sayang...
semuanya bakal pergi satu demi satu
dan aku bakal kesepian
bakal pergi
ke tempatmu juga
Ia mengulangi senandung itu berulang kali. Makin lama makin perlahan. Dan akhirnya bibirnya tak bergerak
15) Sewaktu Sangaji teriuka parah, ia membawakan dua ekor
ayam. Baca Bende Mataram jilid 9.
lagi. Dan napasnya yang sebentar cepat dan sebentar perlahan, mulai terdengar kembali.
Mereka yang mendengar bunyi senandung Fatimah diam dengan merenung-renung. Memang benar semua orang yang pernah dilahirkan akan pergi entah kemana. Tak peduli ia seorang gagah, sakti, mulia atau jahat. Kemana mereka bakal pergi, siapakah dapat menjawabnya. Semuanya tak bakal diketahuinya seperti darimana mereka tadinya tiba di dunia.
Sangaji merenungi Fatimah sebentar. Kemudian balik ke pembaringan memeriksa pergelangan tangan Titisari. Ia bersyukur, karena ketegaran tubuh isterinya tidak terganggu lagi.
Sekonyong-konyong di kesunyian itu, Gagak Seta berkata:
"Ah, benar. Aku sudah mengira. Jadi dia masih hidup?"
"Siapa?" Titisari minta keterangan.
"Dipajaya. Siapa lagi?"
"Siapakah Dipajaya?"
Gagak Seta menghela napas. "Itulah berhubungan dengan Sirtupelaheli. Senandung yang dinyanyikan Fatimah adalah ajarannya. Beberapa puluh tahun yang lalu, pernah aku mendengar Sirtupelaheli menyanyikan senandung itu. Hai! Sama sekali tak kusangka, Sirtupelaheli bisa berlaku sangat kejam terhadap anak ini."
"Paman," kata Titisari. "Kau belum memberi keterangan, siapakah orang yang bernama Dipajaya. Kau malah menghubung-hubungkan dengan Nenek
Sirtupelaheli. Kemudian Fatimah. Mengapa Paman memberi keterangan terpotong-potong?"
"Kau ini memang anak siluman! Selamanya kau memaksa aku." Gagak Seta meng-gerendeng. "Tapi mengingat ayahmu, biarlah kujelaskan. Apakah kau tak dapat menduga bahwa ketiga orang itu berhubungan pula dengan datangnya mereka bertiga yang menamakan diri Utusan Suci?"
Mendengar ucapan Gagak Seta, baik Sangaji maupun Titisari terkejut. Serentak mereka berkata menegas: "Mempunyai hubungan dengan ketiga Utusan Suci?"
Gagak Seta tertawa melalui dadanya. Kemudian berkata menerangkan: "Kamu tahu darimanakah aku datang? Aku ini anak Jawa Timur. Sirtupelaheli anak Jawa Timur. Dipajaya pun anak Jawa Timur. Umur kami bertiga hampir sebaya. Sebenarnya aku lebih tua daripada Sirtupelaheli. Tetapi aku membiarkan diriku dipanggil adik. Hal ini ada sebab-musababnya. Begini... "
Sampai di sini Gagak Seta nampak ragu-ragu. Sangaji dan Titisari kenal watak serta tabiatnya. Mereka tidak berani terlalu mendesak. Kalau ingin memperoleh apa yang dikehendaki, mereka harus berani menunggu kerelaan hatinya. Kalau Gagak Seta tak ingin berbicara, siapa pun tak dapat memaksanya. Sebaliknya kalau senang mengumbar mulut, orang akan dipaksanya untuk mendengarkan omongannya.
Pada waktu itu, fajar hari telah menyingsing. Hawa pegunungan yang segar dingin mulai menggerayangi kulit dan tulang. Gntung mereka yang berada dalam gubuk itu adalah manusia-manusia kuat. Mereka tak
terpengaruh oleh hawa betapa dingin pun. Secara wajar, ilmu saktinya melindungi tubuhnya.
Fatimah tiada terdengar suaranya. Gandarpati yang berada di dekat pintu tetap membungkam mulut seperti sikapnya semalam. Ia lagi dirundung malang, karena ditinggalkan gurunya untuk selama-lamanya. Tetapi berada di tengah mereka hatinya terhibur. Apalagi dia tadi mendengar kabar, bahwa Astika telah diselamatkan Adipati Surengpati. Kegelisahan hatinya sirna sebagian.
"Baiklah kumulai saja siapakah sebenarnya mereka yang menamakan diri Utusan Suci." Gagak Seta tiba-tiba membuka mulutnya lagi. "Itulah sebuah aliran suatu kepercayaan. Suatu kepercayaan, bahwa mereka yang bernaung di bawah panji-panji alirannya menganggap diri sebagai pembina kedamaian dunia. Terjadinya kepercayaanitu, lantaran sejarah leluhurnya. Ceritanya begini: Alkisah pada zaman Raja jayanegara bertahta di Majapahit, terdapatlah seorang guru besar bernama: Empu Suradharma. Dia mempunyai lima orang murid terkemuka. Gajah Mada, Purusyadasyanta yang kelak terkenal dengan nama Empu Kapakisan, Prapanca, Kertayasya dan Brahmaraja.
Prapancha mengutamakan ilmu sastra. Dikemudian hari ia menjadi pujangga istana yang meninggalkan warisan sastera sangat banyak. Tapi sejarah hanya menemukan sebuah karyanya, ialah: Negarakertagama.16) Kertayasya dan Brahmaraja menjadi pujangga pula, tetapi lebih mengutamakan pada ilmu keprajuritan dan ketuhanan. Mereka berdua menjadi
4) Diketemukan di Lombok pada tahun 1904
pendeta pada hari tuanya dan membuka suatu perguruan dengan pahamnya masing-masing.
Sebaliknya, Gajah Mada lebih mengutamakan pada soal-soal tata negara dan ilmu negara. Sedangkan Purusyadasyanta unggul dalam hal ilmu kawiryan.17) Mereka berlima bersahabat erat, malahan dikemudian hari bersumpah seia-sekata untuk sama-sama suka dan duka.
Setelah turun dari rumah perguruan, Gajah Madalah yang paling beruntung. Ia menjadi Mantrimukya18) Raja Hayam Wuruk. Waktu keempat sahabatnya datang bukan main girangnya. Segera ia memohon kepada Raja, agar Prapancha, Kertayasya dan Brahmaraja diangkat menjadi pujangga-pujangga istana.
Mereka semua menerima pengangkatan itu dengan gembira. Sebaliknya Purusyada-syanta malahan menghilang dalam perjalanan ke istana. Gajah Mada menyesal dan kecewa bukan main. Namun ia tak dapat menghalang-halangi atau mencoba mencari kembali sahabatnya seorang itu.
Ternyata Purusyadasyanta sudah semenjak lama mendirikan suatu padepokan di atas Gunung Kapakisan. Dan selanjutnya ia menyebut diri sebagai Empu Kapakisan. Di dalam padepokannya itu ia menggubah bermacam-macam ilmu kepandaian yang ditulisnya pada dinding gua. Di antara gubahannya terdapat ilmu sakti bernama Witaradya. Itulah ilmu sakti kebanggaan Adipati Su-rengpati. Bukankah begitu?"
17) Kesaktian
18) Perdana Menteri
Titisari tercengang. Hatinya begitu tertarik sampai ia terbangun dari pembaringan.
Namun tak berani ia membuka mulut, lantaran takut memotong cerita Gagak Seta. Diluar dugaan Gagak Seta menegas padanya.
"Bukankah begitu?"
"Benar." Titisari lantas menyahut.
Gagak Seta tertawa menang.
"Ayahmu mengira, bahwa catatan Witara-dya yang ada padanya dikiranya tiada lagi keduanya di jagad ini. Karena itu, ayahmu menganggap ilmu sakti Witaradya melebihi jiwanya sendiri. Sewaktu kehilangan sebagian ia sampai menyiksa berpuluh-puluh orang yang tidak berdosa. Malahan suamimu hampir-hampir dituduh mencuri naskah catatannya. Untung, waktu itu aku hadir di sana. Kalau tidak, suamimu sekarang ini bakal cacat jasmaninya selama hidupnya.19)
Teringat pengalaman itu, Sangaji bergidik. Memang hebat tuduhan Adipati Surengpati kala itu. Apalagi ia kena dibakar Kebo Ba-ngah. Untung, Gagak Seta berpihak padanya. Dengan gagah orang tua itu mempertahankan dirinya. Tak tahunya, dia pun sesungguhnya mengerti tentang latar belakang ilmu sakti Witaradya. Maka tak mengherankan, ia bisa melawan kesaktian Adipati
Surengpati. Sampai pun ia mengenal, jurus bunuh diri ilmu sakti Witaradya yang diperlihatkan Titisari semalam.
19) baca Beride Mataram jilid 8
"Kalau ayahmu dahulu tidak terlalu besar kepala, aku akan menunjukkan dimanakah dia bisa memperoleh catatan ilmu sakti Witaradya," kata Gagak Seta lagi.
"Dimana?" terloncat pertanyaan Titisari.
"Tentu saja di gua Kapakisan," jawab Gagak Seta. "Pada dinding gua sebelah dalam, Empu Kapakisan meninggalkan warisannya. Tapi di luar dugaan, terjadilah suatu keajaiban, seseorang yang menamakan diri Lawa ljo menulis pula sebuah warisan ilmu sakti. Katanya, itulah ilmu sakti yang dapat menindas Witaradya."
Mendengar Gagak Seta menyebut nama Lawa ljo, paras Sangaji berubah menjadi pucat. Ingatlah dia pengalamannya dahulu tatkala seorang tinggi besar yang mengaku bernama Patih Lawa ljo merampas kedua pusaka sakti warisan Pangeran Semono dari tangannya. Sayang. Kejadian itu hanya dia seorang yang mengalami. Ia tak dapat membawa persoalan itu kepada orang lain.20)
"Paman!" potong Titisari. "Paman sudah mengetahui belaka dimanakah rahasia ilmu sakti Witaradya tersimpan. Apa sebab Paman tak mau menekuni sendiri?"
"Buat apa? Ayahmu sudah memiliki ilmu sakti tersebut. Masakan aku sudi berebutan? Lagipula, apakah di dunia ini hanya Witaradya yang dapat menjagoi? Hm, hm!" Gagak Seta mendengus.
Titisari tak berani menarik panjang lagi. la kenal watak gurunya itu. Sekali tersinggung kehormatannya, semuanya bisa buyar di tengah jalan. Ia mencoba mengerti, bahwa hal itu terjadi karena alasannya
') Baca Bende Mataram jilid 15
kehormatan diri. Baik ayahnya maupun gurunya ini adalah dua pendekar yang berkepala besar, angkuh dan tinggi hati. Tak sudi mereka mencuri ilmu sakti orang lain untuk merebut suatu kemenangan. Mereka tahu, bahwa semua, ilmu sakti di dunia adalah baik dan sempurna. Tinggi rendahnya hanya ditentukan oleh bakat yang mempelajari.
"Semenjak kejadian itu, dinding gua Kapakisan lantas menjadi medan pertarungan mengadu pengetahuan ilmu sakti." Gagak Seta melanjutkan. "Sebab seorang sakti lain meninggalkan corat-coret. Ilmu saktinya bernama Brahmasakti. Penulisnya bernama Empu Brahmacarya. Dan ilmu sakti ini kena tindih ilmu sakti Brahcarya.
Kemudian muncul lagi ilmu sakti Garuda Winata, Witaradya Sandhy Yadi-putera, Panca Yoga, Panca Kumara dan lain-lainnya. Anak keturunan Empu Kapakisan dikemudi-an hari mengira, bahwa corat-coret ilmu sakti yang terdapat pada dinding goa Kapakisan diperkirakan buah tangan beberapa orang sakti saudara seperguruan Empu Kapakisan.
Prapanca, Brahmaraja, Kertayasya dan dengan sendirinya Gajah Mada. Tetapi yang mencemaskan anak-keturunan Empu Kapakisan adalah buah peninggalan orang sakti yang manamakan diri Lawa ljo. Ternyata ilmu saktinya benar-benar hebat dan kuasa menindih lainnya. Hanya saja sangat sukar dipelajari. Karena takut kena dipelajari orang luar, maka anak keturunan Empu Kapakisan memindahkan corat-coret ilmu saktinya pada tiga pusaka tanah Jawa. Itulah Jala Karawelang, keris Kyai Tunggul-manik dan Bende Mataram." Sampai disini Gagak Seta berdiri. Dan dengan mata berkilat-kilat ia
memandang Sangaji. Wajahnya membayangkan suatu rasa syukur tiada taranya.
"Apakah Paman mau berkata, bahwa ilmu sakti yang diwarisi Sangaji merupakan ilmu sakti tertingi di dunia?" Titisari minta ketegasan.
"Kalau tidak, masakan aku sudi mengalah?" jawab Gagak Seta.
"Paman mengenal sejarah itu. Apa sebab tidak mempelajari ilmu sakti warisan Patih Lawa ljo?"
"Pertama-tama, ilmu sakti itu sudah dipindah ke dalam tiga benda pusaka. Pada dinding gua Kapakisan, tiada lagi bekasnya. Lagipula setelah melampaui masa berabad-, abad, terdengarnya seperti dongeng." Gagak Seta memberikan alasannya. "Kedua, masakan mudah orang mempelajarinya. Sebab orang itu harus bisa melebur dan manunggalkan tiga sumber sakti lainnya. Rangsang naluriah manusia, pengendapan naluriah pertahanan jenis dan tenaga gaib yang tersekap dalam tiap insan. Sangaji memperoleh ilmu Kumayan Jati dariku. Kumayan Jati bersifat menyerang. Itulah seumpama rangsang kodrat manusia. Kemudian Bayu Sejati dari Ki Tunjungbiru. Sifatnya bertahan. Itulah pengendapan naluriah pertahanan jenis. Dan secara kebetulan ia menghisap getah sakti De-wadaru yang mempunyai tenaga gaib seumpama mantram sakti yang aneh luar biasa. Setelah kena cekik pendekar Bagas Wilatikta,ketiga unsur ilmu sakti itu melebur diri dan manunggal.21) Dan kemudian berkat kecerdasanmu, Sangaji menekuni ilmu sakti warisan Patih Lawa ljo yang
5) Baca Bende Mataram jilid 9 halaman 85
berada pada benda sakti pusaka Pangeran Semono pada zaman dahulu. Coba ia mempelajari pula rahasia yang terukir pada pusaka Bende Mataram... Ah, di dunia ini siapakah yang dapat melawannya? Sebaliknya, justru ia tidak mempelajari rahasia yang terdapat pada pusaka Bende Mataram, ia kini bisa dibikin susah oleh keragaman ilmu sakti ketiga Utusan Suci. Bukankah ketiga Utusan Suci bersenjata belahan benda yang bentuknya mirip sebuah bende. Meskipun benda itu pasti bukan pusaka Bende Mataram yang pernah dimiliki Sangaji, tetapi setidak-tidaknya mempunyai tenaga sakti yang aneh luar biasa sifatnya.. "
Mendengar keterangan Gagak Seta, Titisari nampak berenung-renung. la melupakan rasa nyerinya. Sebaliknya ia menatap wajah Sangaji untuk mencari kesan. Tetapi Sangaji tiada terpengaruh sesuatu.
Katanya dengan suara rendah.
"Bahwasanya aku dapat mewarisi ilmu sakti tersebut, sudahlah merupakan suatu karunia besar. Aku menghendaki apa lagi?"
Gagak Seta tertawa perlahan. Bukan main kagumnya terhadap kemuliaan dan kesederhanaan hati muridnya itu. la bersyukur bukan kepalang memperoleh murid demikian. Kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Peristiwa yang terjadi di gua Kapakisan itu, dianggap sebagai suatu peringatan bagi anak-murid atau anak keturunan Empu Kapakisan dikemudian hari. Lima saudara-seperguruan yang seia-sekata akhirnya dengan diam-diam mengadu ilmu kepandaiannya. Meskipun mereka tidak pernah saling bertempur, tetapi dengan memperlihatkan ilmu kepandaiannya masing-masing
bukankah berarti sudah saling bentrok? Maka adanya warisan ilmu sakti di dinding gua Kapakisan, dianggapnya sebagai sumber perpecahan. Dibelakang hari, istilah sumber perpecahan, berubah menjadi sumber malapetaka. Maka kebajikan tiap murid aliran Kapakisan diwajibkan mengumpulkan semua keragaman ilmu berkelahi di seluruh negara sebagai pembantu menyirnakan malapetaka dunia."
"Mengapa begitu?" potong Titisari. "Setelah melampaui masa berabad-abad, pandangan hidup aliran Kapakisan berubah dari sikap ksatria menjadi sikap kebrahman-an," jawab Gagak Seta. "Mereka berpaham, bahwa yang membuat malapetaka dunia ini ialah: adanya ksatria. Karena seorang ksatria mempelajari ilmu kawiryan, mereka saling bertempur, saling membunuh, saling bentrok, saling mengagulkan diri dan akhirnya saling fitnah-memfitnah. Karena itu, untuk menggalang kedamaian dunia, mereka harus meniadakan ksatria-ksatria atau pendekar-pendekar dengan dalih apa pun juga. Tetapi untuk membunuh semua orang gagah di seluruh dunia, berapa banyak tenaga yang dibutuhkan? Selain itu untuk membunuh seorang pendekar, tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Maka mereka membentuk aliran yang bernama Utusan Suci. Tujuan Utusan Suci ialah untuk merampas dan melebur sumber kesaktian para pendekar. Itulah segala macam ilmu sakti yang terdapat di kolong dunia."
"Hebat! Sungguh hebat!" seru Titisari. "Mereka memusuhi segala bentuk ilmu sakti. Tapi apa sebab mereka justru mempelajari ilmu sakti untuk membuat susah orang lain?"
"Tentu saja mereka tak mau kau tuduh demikian. Sebaliknya mereka mempunyai alasannya sendiri. Umpamanya untuk mengatasi orang yang dianggapnya membandel perintahnya," jawab Gagak Seta.
Titisari mendengus tak puas.
"Sifat Nenek Sirtupelaheli menyerupai sifat tiga Utusan Suci itu. Paman mencintainya, tetapi dia hendak mencelakai Paman."
Gagak Seta menghela napas. Katanya berduka: "Di dalam dunia ini membalas suatu kebaikan dengan kejahatan adalah lumrah."
Kau tak usah heran "
"Menurut pengakuannya, Nenek Sirtupelaheli adalah adik seperguruan Paman. Mengapa waktu dia diserang ketiga Utusan Suci, roboh dalam segebrakan saja."
Gagak Seta menundukkan muka. la seperti malas membalas pertanyaan Titisari. Nampaknya ia capai karena berbicara teralu banyak. Memang tidak biasanya, Gagak Seta berbicara begitu berkepanjangan. Hal itu ada sebabnya, seperti yang dikatakan tak lama kemudian, "Anakku! Aku sudah berbicara terlalu banyak. Sangat banyak sampai lidahku terasa copot. Ini semua demi keselamatan Sirtupelaheli, adikku seperguruan dengan sendirinya bibimu pula."
Mendengar kata-kata Gagak Seta yang diucapkan dengan nada luar biasa, Sangaji menegakkan kepalanya. Menyahut:
"Guru kau menghendaki apa? Katakanlah! Kalau aku mampu, biarpun menyerbu lautan golok akan kutempuh juga... "
"Tidak. Masakan aku sampai minta yang bukan-bukan kepadamu?" kata Gagak Seta. "Aku hanya menghendaki agar kalian memperhatikan nasib Sirtupelaheli. Sebab kukira, pada saat ini dia sudah kena tangkap. Dan apabila tiada untung baik, dia akan menerima hukum bakar hidup-hidup."
"Ah!" Sangaji dan Titisari berseru tertahan.
Gagak Seta menatap wajah mereka berdua dengan sungguh-sungguh. Katanya mengesankan:
"Dialah adik-seperguruanku. Kesengsaraannya ini, lantaran seorang laki-laki bernama Dipajaya. Biarlah kujelaskan."
"Tetapi siapakah yang hendak menghukum bibi Sirtupelaheli ?—Titisari memotong Selamanya dia bisa membawa diri. Maka dengan cepat pula ia bisa merubah sebutan nenek menjadi bibi."
"Bukankah Utusan Suci?"
"Kenapa Utusan Suci?" Titisari tak mengerti.
"Kau seorang anak siluman. Masakan tak dapat menduga?" Gagak Seta tertawa.
"Apakah Paman hendak berkata, bahwa dia salah seorang anggota aliran itu?"
Gagak Seta mengangguk. Kemudian menarik napas panjang. Sejenak kemudian berkata dengan suara berduka: "Itulah terjadi pada waktu aku dan dia masih berkumpul di rumah perguruan."
Titisari dan Sangaji memusatkan perhatiannya. Mereka berdua adalah murid Gagak Seta. Tetapi Gagak Seta belum pernah menjelaskan asal-usul ilmu saktinya yang diwariskan kepadanya. Tak mengherankan, hati mereka sangat tertarik.
"Kakek gurumu bermukim di atas Gunung Lawu sebelah timur," Gagak Seta mulai. "Kakek gurumu bernama, Ki Gede Rangsang. Pada waktu itu nama perguruan kita lagi tenar-tenarnya. Pada suatu hari datanglah serombongan utusan dari Bupati Pacitan. Bupati Pacitan pada masa mudanya adalah sahabat karib kakek gurumu. Dalam suratnya, Beliau menitipkan puterinya agar diterima menjadi muridnya. Syukurlah apabila Guru sudi mengasuhnya sebagai anaknya sendiri. Guru lantas saja mengiakan dan minta agar puteri yang disebutkan dalam surat itu dibawa masuk. Begitu dia masuk, kami bertujuh menjadi gempar."
"Bertujuh?" Titisari minta keterangan.
"Itulah paman-paman gurumu, Tunggul, Gandring, Kumitir, Sotor, Kumbina dan Cakradara. Maklumlah, waktu itu kami bertujuh masih muda remaja. Selagi puteri itu membungkuk membuat sembah, kami bertujuh mengawasinya dengan mata membelalak dan hati berdebar-debar. Dialah Sirtupelaheli dan aku biasa memanggilnya Sirtu-pah. Setelah rombongan utusan pulang, selanjutnya ia menetap di rumah perguruan."
Titisari tertawa. Katanya menggoda:
"Guru! Pastilah Bibi Sirtupelaheli cantik luar biasa, sehingga Paman pun "
Gagak Seta menggelengkan kepalanya. Katanya mengakui: "Memang dia cantik luar biasa. Tetapi dia
puteri seorang bupati, sedangkan aku anak seorang jembel. Meskipun mempunyai hati, lebih baik kupendam dalam-dalam "
Titisari tersenyum. Mau ia menggodanya lagi, mendadak teringatlah dia bahwa gurunya itu tidak pernah kawin. Apakah karena patah cinta? Takut akan menyingung perasaannya, ia membatalkan niatnya.
"Guruku adalah seorang gagah sejati.
Hatinya terbuka pula. Sirtupelaheli waktu itu baru berusia tujuh belasan tahun. Dia memang pantas menjadi anaknya. Apalagi ayahnya meminta kepada Guru agar menganggap Sirtupelaheli sebagai anaknya sendiri. Maka semenjak datang di rumah perguruan, Sirtupelaheli diperlakukan sebagai anaknya sendiri. Guru sangat kasih sayang kepadanya. Begitu kasih dia kepada Sirtupelaheli sehingga kami bertujuh dimintanya untuk menjaga kesejahteraannya seumur hidupnya. CIntuk menjaga hal-hal yang tidak diharapkan, kami semua diwajibkan memanggilnya dengan kakak. Tak peduli umur kita jauh lebih tua daripadanya."
"Eh, mengapa begitu?" Titisari heran. "Apakah kakek guru sudah tahu, bahwa ada di antara murid-muridnya yang jatuh cinta begitu bertemu pandang yang pertama kalinya?"
"Benar. Dialah adik seperguruanku Cakra-dara," sahut Gagak Seta. "Cakradara seorang pemuda yang sangat tampan. Kami sering menyebutnya sebagai titisan Dewa Kamajaya. Tetapi sebenarnya yang jatuh cinta tidaklah dia seorang. Kukira, saudaraku seperguruan lainnya tak terkecuali. Tetapi karena kami bertujuh menghormati
Guru, maka rasa cinta kami hanya kami pendam dengan diam-diam. Diluar dugaan, hati Sirtupelaheli dinginnya seperti es. la bersikap galak dan ganas terhadap siapa saja yang berani menimbulkan soal cinta."
"Kala itu masa perang. Meskipun Perang Giyanti boleh dikatakan sudah selesai, tetapi pengaruhnya masih besar.22) Dimana-mana seringkali terjadi bentrokan-bentrokan antara Kompeni Belanda dengan laskar-laskar perjuangan. Karena itu Guru masih memandang perlu menghimpun laskar yang bisa menghadapi Belanda sewaktu-waktu. Kebanyakan mereka terdiri dari pemuda-pemuda sukarela yang gagah tampan. Namun melihat mereka, Sirtupelaheli seperti melihat gundukan batu yang tiada pengaruhnya sama sekali."
"Pada suatu kali isteri guru, pernah mencoba membicarakan perkara perjodohan. Maklumlah, usia Sirtupelaheli sudah tujuh atau delapan belas tahun. Bagi ukuran pedu-sunan, umur itu sudah terlalu tua. Kebanyakan gadis-gadis dikawinkan pada umur menjelang empat belas tahun. Malahan ada pula yang sudah berumah tangga sewaktu lagi berumur sepuluh atau dua belas tahun. Dan tatkala mendengar hal itu, diluar dugaan Sirtupelaheli menghunus sebilah belati. Di hadapan kami dia bersumpah siapa yang berani menimbulkan soal perjodohannya akan ditikamnya mati atau ia membunuh diri. Kami semua kaget menyaksikan kekerasan hatinya. Semenjak itu, tak berani lagi kami mencoba-coba
°) Perang Giyanti berakhir 13 Pebruari 1755. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Yogya dengan resmi (1755-1792).
menimbulkan soal cinta. Malahan mendekati nona galak itu, terasa segan.
Satu tahun kemudian datanglah seorang pemuda yang mengaku berasal dari Banyuwangi. Ia bernama Dipajaya anak seorang Pendekar Dipanala pada zaman dua puluh tahun yang lalu. Dipanala adalah musuh Guru di zaman mudanya.
Dengan membusungkan dada, Dipajaya menerangkan maksud kedatangannya. Ialah: hendak membalas sakit hati ayahnya. Perawakan dan tampang Dipajaya tidak luar biasa. Bahkan ia mirip-mirip pemuda dusun. Sekarang berani menantang Guru. Tentu saja kesannya menggelikan, sehingga banyak di antara kami yang tak dapat menahan rasa tertawanya. Sebaliknya, Guru sendiri, tidak berani memandang enteng terhadap pemuda itu. Ia bahkan menyambut
Dipajaya dengan hormat sekali dan menjamunya makan seperti terhadap seorang pembesar tinggi.
Adapun latar belakang pembalasan sakit hati itu adalah begini. Karena suatu salah paham, Guru bertempur dengan Dipanala ayah pemuda itu. Dengan pukulan Kumayan Jati, pendekar Dipanala kena dilukai Guru. Habislah sudah segala ilmu saktinya. Lalu bersumpah, bahwa pada suatu kali ia akan menuntut dendam. Kalau dirinya keburu mati, ia akan mengirimkan anaknya laki-laki atau perempuan, untuk membalas dendam. Guru menjawab, bahwa ia akan mengalah dalam tiga pukulan. Pendekar Dipanala berkata, bahwa Guru tak usah bersikap begitu. Ia hanya minta, agar meluluskan anaknya kelak untuk memilih macam pertandingan, tanpa berpikir panjang lagi, Guru melulus-
kan. Tak terduga sama sekali, bahwa belasan tahun kemudian, Dipanala benar-benar mengirimkan anaknya laki-laki untuk menantang Guru.
Waktu itu, Guru baru pada puncaknya kesanggupan manusia. Ilmu sakti Guru sedang mencapai puncak kesempurnaan. Dalam dunia kurasa tiada lagi terdapat tandingnya. Sebaliknya Dipajaya masih sangat muda.
Dalam usia semuda itu, tidak mungkin memiliki suatu kepandaian melebihi Guru. Bahkan merendengi saja mustahil. Menimbang hal itu, kami semua berhati lega. Tiada alasan untuk dikhawatirkan. Hanya saja satu hal yang masih mengganjal dalam hati. Ialah: macam pertandingan yang akan dipilihnya.
"Pada keesokan harinya, Dipajaya mengingatkan janji Guru kepada almarhum ayahnya. Ialah: Guru meluluskan dia untuk memilih macam pertandingan. Diingatkan janji itu, Guru tak bisa mundur lagi. Kemudian Dipajaya berkata lagi bahwa ia ingat kepada macam pertandingan antara Baron Sekeber dan Adipati Pragola. Mereka berdua menyelam dalam air, siapa yang betah berselam dalam air, dialah yang menang. Dan siapa yang kalah, dia harus bunuh diri di hadapan orang banyak.
Tantangan itu, bagaikan halilintar meledak di tengah hari bolong. Semua orang mence-los hatinya. Sebab siapa saja tahu, Guru tak bisa berenang. Celakanya, kolam yang dipilih Dipajaya adalah Telaga Sarangan. Pada musim hujan, dinginnya sampai merasuk ke dalam tulang sungsum. Kalau Guru menerima tantangan itu, berarti mengantarkan jiwa dengan sia-sia. Kami semua lantas saja ber-gusar dan memaki-maki pemuda itu..."
"Guru." Sangaji menyela. "Urusan ini memang sangat sulit. Ucapan seorang laki-laki harus ditepati. Kata orang harganya setinggi gunung. Sekali seorang laki-laki mengingkari perkataannya, dia tiada harganya lagi. Seumpama mati dalam hidup. Bukankah begitu? Kakek guru sudah berjanji. Sudah barang tentu, tak pantas Beliau mengingkari."
Titisari tersenyum mendengar kata-kata suaminya.
"Benar, benar...Ucapan seorang laki-laki memang harganya setinggi gunung. Kau sudah berjanji hendak mengambil aku sebagai isterimu, apa sebab hampir-hampir kau memeluk seorang gadis Indo? Kalau hal itu benar-benar terjadi anakmu bakal berambut pirang. Dia bakal bergelar Sinyo Sangaji. .
"Hayooo..." Sangaji memotong sambil memijit isterinya." Bukankah aku akhirnya menepati janji pula?"
"Iddiii... kalau tidak kuubar sampai ke Jawa Barat, masakan kau ingat aku."
"Sudahlah, sudahlah." Gagak Seta menengahi.
"Sangaji ke Jawa Barat bukankah untuk memperlihatkan kejantanannya? Kalian kini menjadi suami isteri. Hatiku bersyukur bukan kepalang. Coba, kalau Titisari sampai tidak jadi kawin... huh, huh! Pastilah bakal dikawinkan dengan iblis atau siluman."
"Mengapa begitu?" Titisari memberengut.
"Karena ayahmu seorang siluman. Masakan tak tahu?" Gagak Seta tertawa berkakak-kan.
Sakit hati Titisari, mendengar ayahnya disebut sebagai siuman. Tapi memang semenjak lama, ayahnya disebut
orang Siluman dari Karimun Jawa. Jadi kesalahan itu, tidak dapat ditimpakan ke pundak gurunya. Maka ia berdiam diri dengan pandang memberengut.
"Bagaimana? Kuteruskan tidak ceritaku ini." Gagak Seta menguji.
Titisari tertawa. Ia tahu, gurunya sedang menggodanya segera ia mengangguk. Sahutnya dengan wajah terang: "Masakan berhenti di tengah jalan? Apa sih enaknya?"
Gagak Seta mendehem. Kemudian meneruskan: "Sesudah berdiam beberapa waktu lamanya, guru akhirnya berkata mengakui: 'Dipajaya memang aku telah mengadakan perjanjian dengan ayahmu, seorang laki-laki tidak boleh menyalahi janji. Aku mengaku kalah. Kini aku bersedia patuh kepada semua keputusanmu'."
"Tangan Dipajaya tiba-tiba bergerak dan ia sudah menggenggam sebatang pisau berkilat yang terus ditudingkan ke arah jantungnya sendiri. Katanya, 'Pisau ini adalah warisan ayahku. Aku hanya minta, engkau berlutut dan bersembah di bawah pisau ini. Kupinta pula mulai dari tempat dudukmu sampai ke depanku, harus berjalan dengan merangkak-rangkak. Dengan begitu aku benar-benar yakin, bahwa engkau takluk sampai tujuh turunan terhadap keturunan ayahku'."
"Mendengar" perkataan Dipajaya, kami gusar bukan main. Ini adalah suatu hinaan luar biasa. Mana bisa Guru dihina begitu macam. Tetapi setelah Guru menyatakan kalah, memang dia harus patuh dan tunduk kepada segala keputusan pihak yang menang."
"Suasana dalam rumah perguruan itu berubah menjadi panas. Semuanya ingin mencincang tubuh Dipajaya. Tetapi Dipajaya sendiri, sudah tidak memikirkan hidup lagi.
Sekali kami bergerak, dia akan segera mencubleskan belatinya pada dadanya sendiri. Dan kalau ini sampai terjadi, biarpun Guru lahir ke dunia tujuh kali lagi tidak akan dapat menghapus aibnya."
"Untuk beberapa saat, ruang rumah perguruan sunyi senyap bagaikan kuburan. Cakradara dan Sotor yang biasanya pandai mencari akal, kali itu menghadapi jalan buntu. Pada saat itu, sekonyong-konyong Sirtupelaheli keluar dari ruang dalam dan berkata kepada guru: 'Ayah, orang lain mempunyai seorang anak yang berbakti. Masakan ayah tidak? Dipajaya datang untuk menuntut balas ayahnya. Biarlah aku yang melayani. Yang tua melawan yang tua. Yang muda biarlah berlawanan dengan yang muda.'
"Mendengar Sirtupelaheli memanggil guru dengan sebutan 'ayah' semua orang kaget berbareng heran. Tapi segera kami mengerti apa maksudnya. Untuk menyingkirkan marabahaya, Sirtupelaheli sudah mengambil tindakan demikian rupa. Ia mengaku Guru sebagai ayah kandungnya. Inilah suatu kejadian yang luar biasa pada masa itu. Benar, Guru adalah seorang pendekar besar. Tapi ayah Sirtupelaheli seorang Bupati Mancanegara. Kedudukannya sangat tinggi. Sebaliknya kami semua lantas mempunyai timbangan yang lain lagi. Dia berani melayani Dipajaya. Ia mempunyai kepandaian apa? Di rumah perguruan, dia lagi belajar satu tahun tidak penuh. Apakah dia mampu menyelam dalam air melebihi kemampuan Dipajaya."
Selagi berpikir-pikir demikian, Dipajaya terdengar berkata dengan tertawa.
"Untuk menuntut dendam ini kami sudah mempersiapkan diri siang-siang. Di dalam dasar Telaga Sarangan, Ayah telah membuat sebuah gua. Kesanalah aku bakal berenang dan memasuki. Ayah sudah menyimpan makan minum untuk satu tahun lamanya. Apakah Nona sanggup menyelam di dalam air selama satu tahun? Ha... ha...ha... Memang bagus seorang anak berani mewakili ayahnya sewaktu berada dalam kesulitan. Tetapi pikirkanlah yang lebih tenang lagi. Selain engkau bakal mati tak bernapas, ayahmu tetap kutuntut agar datang me-rangkak-rangkak di depan pisau belati ini untuk berlutut memohon maaf sebesar-besarnya...."
"Hm," dengus Sirtupelaheli. "Belum tentu aku kalah. Sebab begitu aku mencebur ke dalam telaga, kau akan kutikam dengan pedang dan belatiku...."
Lagi-lagi Dipajaya tertawa merendahkan. "Mudah dikatakan, tapi sukar dilakukan.
Benar-benarkah kau sanggup melawan aku di dalam permukaan air?"
"Mengapa tidak? Karena itu, kalau kau kalah bagaimana?"
"Kalau aku kalah, kau boleh mencincang aku atau membunuh aku," jawabnya.
"Baiklah. Mari kita pergi!" kata Sirtupelaheli dan ia mendahului berjalan.
Tentu saja Guru tidak membiarkan Sirtupelaheli mengorbankan jiwanya dengan sia-sia. Segera guru mencegah.
"Sirtupah! Tak usahlah engkau mencampuri urusan Ayah!"
Sirtupelaheli tersenyum. Sikapnya tenang luar biasa. Sahutnya seraya berlutut. "Ayah, tak usah kau cemas. Anakmu pasti kembali dengan selamat."
"Ketenangan Sirtupelaheli menarik perhatian kami. Nampaknya ia sudah mempunyai pegangan, sehingga kepercayaannya kepada diri sendiri sangat besar. Karena itu, guru tidak menghalang-halangi lagi. Memang, sebenarnya sudah tiada jalan lain lagi yang lebih baik daripada menerima tantangan Dipajaya. Maka dengan suatu isyarat, Guru memberi perintah kami semua agar mengikuti perjalanan Sirtupelaheli mengiringkan kemauan Dipajaya."
"Telaga Sarangan terletak di sebelah utara Gunung Lawu. Tatkala itu angin utara sedang meniup dengan kerasnya. Pada musim angin demikian seringkali penduduk kehilangan atap rumahnya. Selain itu, angin membawa hawa dingin pula. Beberapa orang yang tak tahan menggigil kedinginan. Apalagi air telaga yang nampak dingin berkerut-kerut. Betapa dinginnya sudah dapat dibayangkan."
"Melihat air berkerut-kerut, tiba-tiba Guru berseru kepada Sirtupelaheli: 'Sirtupah! Aku tahu hatimu sangat mulia. Tetapi biarlah aku saja yang melayani Dipajaya'."
Seraya berseru demikian, Guru sudah menanggalkan jubah luar siap untuk terjun. Dia merasa tak dapat membiarkan puteri Bupati itu berkorban untuknya.
"Sebaliknya Sirtupelaheli tersenyum. 'Ayah! Anakmu ini semenjak kanak-kanak sudah pandai berenang. Kau tak usah mencemaskan. Bukankah Pacitan berada di pinggir laut? Setiap hari aku bergurau dengan ombak kecil dan ombak besar'."
"Dengan menghunus pedangnya, Sirtupelaheli lantas meloncat ke dalam telaga. Gesit gerakannya. Sampai sekarang masih saja terkenang betapa indah gerakan tubuhnya sewaktu terjun ke permukaan air."
"Dia mengenakan pakaian biru muda. Kulitnya yang bersih dan kejelitaan wajahnya, kukira tiada yang menandingi pada dewasa itu. Barangkali dialah penjelmaan bidadari Ratih. Mungkin pula titisan Ken Dedes yang bisa menggugurkan hati Ken Arok. Kena tiupan angin utara, bajunya berkibar-kibar bergeribikan. Tatkala dengan tiba-tiba ia terjun ke dalam air, tidak hanya kami yang terkejut, tapi pun Dipajaya.
Pemuda itu yang tadinya bersikap angkuh, sirna kejumawaannya. Dengan memegang pisau belatinya, ia ikut terjun ke dalam telaga.
Menyaksikan suatu adu jiwa dengan berteka-teki merupakan siksaan batin sendiri. Betapa tidak? Kami tidak dapat melihat jalannya perkelahian. Yang nampak hanyalah goyangnya permukaan air. Mengingat kami seorang wanita muda, maka takmengherankan kami semua merasa cemas.
Mendadak saja tak lama kemudian nampaklah warna bentong-bentong merah tersembul di permukaan air. Terang, itulah darah. Tapi darah siapa? Dipajaya atau Sirtupelaheli yang terluka?
Pada saat itu, mendadak saja Dipajaya tersembul di permukaan air. Kemudian melompat ke tepi dengan napas tersengal-sengal. Tanpa merasa kami serentak bertanya: dimana Sirtupelaheli?'
Ia tak menjawab. Pisau belatinya sudah tiada dalam genggaman. Tetapi nampak tertancap pada dadanya. Kedua belah pipinya nampak terdapat beberapa goresan luka. Selagi hati kami bergelisah, permukaan air bergerak lagi. Seperti ikan terbang, Sirtupelaheli meletik keluar sambil memutar pedangnya. Ia nampak segar-bugar. Sudah barang tentu begitu mendarat di tepi telaga, ia kami sambut dengan sorak sorai.
Dengan mulut membungkam lantaran terharunya,
Guru menekap pergelangan tangan Sirtupelaheli. Mimpi pun tidak, bahwa puteri Bupati Pacitan itu memiliki suatu kepandaian di luar dugaan siapa saja. Ia membalas tekapan tangan Guru dengan pandang berseri-seri. Kemudian setelah mengerling kepada Dipajaya, dia berkata manja:
"Ayah! Pemuda itu sangat berbakti kepada ayahnya.
Ia berjuang bukan untuk kepentingan diri sendiri. Mengingat demikian, seyogyanya Ayah mengampuni jiwanya."
Sudah barang tentu Guru meluluskan permohonannyanya. Malahan, Guru lantas menyerahkan perawatannya kepadanya. Ia dibantu oteh salah seorang bidai kami yang pandai ilmu ketabiban.
Malam itu, guru mengadakan pesta besar.
Sirtupelaheli telah membuat jasa besar. Ia menjadi pahlawan kami. Coba, tanpa pertolongannya nama perguruan kami pada malam itu akan hapus dari permukaan bumi. Ibu guru menghadiahi pedang pusaka perguruan kepadanya. Itulah suatu pedang yang bersarung seperti tongkat. Meskipun nampaknya tak menarik, tapi mempunyai khasiat hebat. Pedang itu bisa melawan senjata macam apa saja betapa tajam pun.
Kami semua menyetujui. Malahan tatkala dia pun diangkat menjadi ketua murid perguruan, kami semua tiada yang menyatakan keberatan. Tetapi di luar dugaan, kejadian itu mempunyai ekornya yang panjang. Dipajaya telah dikalahkan. Tetapi sebenarnya dia menang seluruhnya...'"
"Menang seluruhnya bagaimana?" Titisari tertarik.
"Entah bagaimana caranya, ia berhasil merebut hati Sirtupelaheli. Rasa cinta Sirtupelaheli bersemi tatkala ia merawat lukanya. Atau mungkin jatuh cinta sewaktu lagi bertempur. Mungkin pula ia merasa menyesal sampai melukainya. Entahlah, semuanya merupakan teka-teki besar bagi kami. Yang terang, setelah sembuh Sirtupelaheli mengumumkan bahwa ia akan kawin dengan Dipajaya.
Pengumuman itu mengejutkan kami semua. Ada yang berduka, ada pula yang bersyukur. Ada yang dengki, ada pula yang bergusar.
Dipajaya adalah musuh besar Guru. Belum habis ia menghina Guru, kini malah merampas hati satu-satunya murid wanita guru. Keruan saja, beberapa saudara-seperguruan yang panas hati lantas melabrak. Mereka
mengira, Sirtupelaheli kemasukan jompa-jampi yang tidak wajar.
Diluar dugaan pula, dengan menghunus pedang di tangan Sirtupelaheli berdiri garang di depan pintu kamar. Katanya tegas: "Mulai hari ini Dipajaya adalah suamiku. Siapa yang berani menghinanya, boleh mencoba tajamnya pedang pemberian ibu guru... "
Melihat kenekatannya, kami semua mundur. Bukan kami tidak sanggup melawan, tapi kami merasa harus mengalah. Dan upacara pernikahan segera dilangsungkan beberapa hari kemudian.
Keenam saudara-seperguruan kami tidak sudi hadir. Yang hadir hanya aku seorang. Mengingat jasanya, Guru dan aku berusaha sedapat-dapatnya untuk memenuhi semua keinginannya. Demikianlah, perkawinan itu terjadi dengan tak kurang suatu apa. Tetapi masuknya Dipajaya ke perguruan, ditentang hebat oleh saudara-saudara seperguruan. Guru sendiri tak dapat menindih tentangan itu. Dia lantas merantau entah pergi kema-na. Sampai hari ini, aku belum berhasil menemukan beritanya...
"Jadi kakek guru menghilang dengan begitu saja sampai sekarang?" Titisari dan Sangaji terkejut.
Gagak Seta menghela napas seraya mengangguk. Sejenak kemudian ia bere-nung-renung. Kemudian meneruskan dengan suara berduka.
"Mengingat usiaku sendiri sudah lanjut, mestinya guru sudah wafat."
Sangaji dan Titisari ikut berduka mendengar suara Gagak Seta. Selamanya belum pernah mereka melihat wajah Gagak Seta semuram itu. Mereka mau menghibur,
tapi tak tahu bagaimana caranya. Selagi demikian, terdengar Gagak Seta berkata lagi.
"Kedukaan kami tidak hanya sampai disitu saja. Rupanya Sirtupelaheli mendendam terhadap keenam saudaraku seperguruan. Mereka berdua lantas berunding bagaimana hendak menghajar adat. Diluar dugaan Sirtupelaheli, Dipajaya mendatangi keenam saudaraku seperguruan dan mengajukan tantangan. Inilah kelak yang menyengsarakan hati Sirtupelaheli.
Dipajaya menantang keenam saudaraku seperguruan untuk menentukan siapa yang lebih unggul, dengan meminum racun. Hebat bunyi tantangan itu. Dan celakanya diumumkan di hadapan orang banyak. Demi menjaga pamor perguruan, keenam saudaraku seperguruan tidak dapat mundur lagi. Mereka lantas menerima tantangan itu. Hal itu terjadi, dua tahun kemudian dari hari perkawinan yang mengoncangkan rumah perguruan kami...
"Kemudian bagaimana, Guru?" Titisari bernapsu.
Gagak Seta menundukkan kepala. Lama ia berdiam diri. Kemudian menjawab dengan suara perlahan.
Waktu itu, aku baru saja datang dari perantauan dalam usaha mencari jejak Guru. Merasa tak berhasil, aku segera pulang ke rumah perguruan untuk memberi kabar.
Begitu tiba di perguruan aku mendengar tentang adu unggul itu. Tempat yang dipilihnya dekat persimpangan jalan sebelah timur petak hutan.
Selagi aku berjalan menuju ke tempat itu, aku melihat berkelebatnya bayangan Sirtupelaheli. Ia nampak
tergesa-gesa. Heran aku, apakah dia pun tidak mengetahui terjadinya adu unggul itu?
"Ini gila! Gila!" katanya. "Siapa yang suruh mengadu keunggulan dengan minum racun?"
Melihat wajahnya yang sungguh-sungguh dan gugup, aku percaya ia benar-benar berkata dengan tulus-hati. Katanya lagi:
"Memang siapa saja tidak menghina suamiku. Tapi kalau sampai mengambil kepu-tusan nekat-nekatan, adalah keterlaluan... "
Kami berdua lantas berlomba mencapai tempat pertandingan. Ternyata kami sudah kasep. Mereka tak terkecuali Dipajaya telah rebah di tanah tanpa berkutik..."
Melihat jalan ceritanya, Sangaji dan Titisari sudah dapat menebak apa yang bakal terjadi. Tetapi mendengar rebahnya ketujuh pendekar itu akibat racun, tak urung mereka masih kaget dengan memekik tertahan.
"Meninggal?" mereka menegas dengan serentak.
"Sewaktu aku memeriksa napasnya, keadaannya sangat menyedihkan," jawab Gagak Seta. "Mereka pun mati tak lama kemudian. Hanya pernapasan Dipajaya yang terdengar aneh. Kadang cepat, kadang pula perlahan. Ia masih dapat mempertahankan diri kala itu.
"Aneh," pikirku. "Meskipun dipaksa, aku takkan percaya bahwa tenaga saktinya lebih tinggi daripada keenam saudaraku seperguruan, sehingga dia dapat mempertahankan diri. Selain dia masih muda belia,
keenam saudaraku seperguruan hampir mencapai tataran kesempurnaan. Apakah dia sudah minum obat pemunah sebelumnya?"
Selagi aku dalam keragu-raguan, Sirtupelaheli menghampiri tubuh suaminya. Setelah memeriksa sebentar, ia berputar menghadap padaku. Katanya dengan air mata berlinangan:
"Adikku, aku menyesal atas terjadinya semua ini. Aku akan membawa Dipajaya pulang. Dan semenjak ini, jangan sebut aku sebagai salah seorang saudara seperguruanmu lagi.... "
Dia seorang gadis yang angkuh luar biasa.
Bahwasanya dia bisa mengeluarkan air mata dan berkata demikian, itulah sudah melanggar kebiasaannya. Waktu itu, hatiku sangat pepat sehingga aku hanya mengangguk dengan kepala kosong.
Masih teringat dalam benakku, betapa dia memanggul tubuh suaminya di atas pundaknya. Kemudian memasuki petak hutan dan menghilang dari pengamatan.
Aku sendiri jadi penasaran. Pada malam harinya, aku mengintip mereka. Ternyata Dipajaya masih menggeletak di atas tempat tidur dengan menyenak-nyenakkan napas. Kutaksir, dia pun tidak bakal dapat menyelamatkan jiwanya.
Sirtupelaheli berdiri tegak di tepi ranjang. Tangannya menggenggam semacam benda tipis. Setelah mengamat-amati tubuh Dipajaya, dia berkata seperti kepada dirinya sendiri:
"Dipajaya, kau membuat rusak seluruh hidupku. Kalau aku menolongmu, berarti aku sudah memihak. Guruku
pergi entah kemana, karena engkau. Sekarang adik-adikku seperguruan mati, karena kau pula. Maka demi menegakkan keadilan, mulai saat ini aku bukan milik siapa saja... "
Setelah berkata demikian, tangannya bergerak mengusap mukanya. Tiba-tiba ia sudah mengenakan topeng seorang nenek-nenek tua bangka bangka. Aku terkejut. Mengapa begitu? Pada saat itu, aku mendengar dia berkata lagi seorang diri: "Aku kawin denganmu. Untuk apa? Mengapa? Itulah demi tugas suci yang kita bawa bersama. Aku melihat kau datang. Hatiku bersyukur, karena ternyata kau dari aliran yang sama. Meskipun kita berpura-pura hidup sebagai suami isteri, namun upacara perkawinan benar-benar terjadi. Sekarang tugas yang harus kulakukan, gagal lantaran keceroboh-anmu. Dan aku tidak mau menerima hukum bakar hidup-hidup. Karena itu, mulai saat ini tiada lagi Sirtupelaheli..."
6
PERTARUNGAN YANG MENENTUKAN
TITISARI ADALAH seorang wanita yang berotak cemerlang. Mendengar cerita Gagak Seta, lantas saja ia sudah bisa menebak delapan bagian. Katanya untuk meyakinkan hatinya sendiri.
"Guru hendak berkata, bahwa baik Bibi Sirtupelaheli maupun Dipajaya adalah anggota aliran Utusan Suci sebelum tiba di perguruan?"
"Benar," jawab Gagak Seta.
"Menurut yang kudengar kemarin, mereka datang dari Pulau Lombok. Bagaimana mungkin Bibi menjadi anggota aliran itu? Apakah kau kira aliran itu hanya mendekam di atas pulaunya sendiri? Lihatlah sasaran bidikannya Pulau Jawa. Lagipula mereka menyematkan suatu elan: pembawa perdamaian dunia. Dengan sendirinya, sayapnya sangat luas," sahut Gagak Seta. Kemudian
menerangkan: "Tata kerja dan gerak-geriknya sukar diamat-amati. Anggota-anggotanya tingkat atas selalu membawa sikap seorang brahmana. Mereka sabar, penyayang dan telaten. Sasaran bidiknya terhadap kanak-kanak yang berbakat. Terlebih-lebih yang hidup sengsara. Umpamanya. Dipajaya. Ayah Dipajaya mati karena menderita luka oleh pukulan guruku. Dengan sendirinya, Dipajaya menjadi sasaran yang baik. Dengan dalih hendak mendidik Dipajaya menjadi manusia berkepandaian tinggi, ayahnya sebelum mati pasti merasa bersyukur. Malahan merasa berhutang budi pula. Sedangkan tujuan Utusan Suci yang benar ialah, hendak menggunakan Dipajaya sebagai alat untuk mencapai tujuannya;"
"Tapi Bibi Sirtupelaheli?"
"Meskipun alasannya lain, tapi dasarnya sama. Melihat bibimu bertulang bagus, mereka berusaha mendapatkan dengan jalan apa saja. Kabarnya, kalau perlu mencekoki dengan ramuan obat semacam bius. Dan semenjak itu, bibimu menjadi tawanannya. Sunguh kasihan....
Tergetar hati Sangaji mendengar keterangan Gagak Seta. Teringat akan bunyi igauan Fatimah, mau ia menduga bahwa gadis itu pun sudah menjadi korbannya
pula. Dalam mengigaunya, Fatimah menjerit tinggi. Ia dipaksa minum semacam obat oleh Dipajaya.
"Ah!" Titisari setengah mengeluh. "Jadi... Terjadinya perkawinan antara Bibi Sirtupelaheli dan Dipajaya sebenarnya atas perintah Utusan Suci?" Gagak Seta mengangguk. - ' Menurut kepercayaan itu, dalam alam semesta ini terdapat unsur Terang dan unsur Gelap. Unsur Terang dari Tuhan. Unsur Gelap dari setan. Utusan Suci itu menganggap bahwa yang membuat gelap adalah segala ilmu yang mengajar manusia melebihi kodrat. Karena itu anggotanya wajib memberantas ilmu-ilmu sakti. Mereka menggunakan semacam obat bius untuk menawan orang. Seperti apa yang pernah dilakukan oleh kaum Assassin pada tahun 1090 dengan ramuan obat hashish yang memabukkan.
"Bagaimana Guru mengetahui, bahwa mereka anggota aliran Utusan Suci?" Titisari menegas.
"Hal itu kuketahui dikemudian hari, setelah aku menerima sepucuk surat dari Guru," jawab Gagak Seta.
"Apakah kakek guru pulang?" Titisari setengah girang.
"Tidak. Guru tidak pernah kembali ke rumah perguruan. Aku menerima surat itu dari tangan seorang bidai." Gagak Seta memberi penjelasan." Bunyinya begini:
Betapa pun juga, anakku... kita harus bersyukur karena engkau masih hidup. Artinya ilmu perguruanmu bakal ada yang melanjutkan. Kakakmu Sirtupelaheli perlu kau tolong. Kalau tidak mungkin, kau cukup menjaga semua peninggalan perguruanmu agar jangan kena rampas. Kasihanilah dia! Kau kularang mengusik
selembar rambutnya. Dia bekerja di bawah sadarnya, karena dia kena bius aliran terkutuk...
"Sirtupelaheli sudah meniadakan dirinya sendiri dengan mengenakan topeng seorang nenek-nenek. Ia mengira, tiada yang melihat. Seringkali ia datang dengan diam-diam ke rumah perguruan. Mula-mula kukira lantaran rasa rindunya atau digerakkan oleh suatu kenangan tertentu. Lambat-laun aku curiga, karena dia selalu mengincar rumah perpustakaan Guru yang berada di dalam gandok tengah. Aku lantas menghadangnya. Tujuh kali aku bertempur melawan dia. Merasa diri tak ungkulan, ia lantas menghilang tiada menampakkan batang hidungnya."
Kudengar hidupnya lantas menjadi ber-larat-larat. Ia keluar masuk ke berbagai-bagai aliran ke perguruan. Akhirnya memasuki istana dan menjadi dayang-dayang. Kemudian menjadi selir... ah, entahlah. Benar-benar dia hidup seperti berada di bawah sadar. Aku tak pernah melihat Sirtupelaheliku dahulu..." sampai di sini Gagak Seta berhenti dengan menghela napas panjang sekali.
"Guru." Titisari mencoba menghibur. "Barangkali Bibi selalu gagal menunaikan tugas untuk merampas tiap sumber ilmu sakti yang dikehendaki ketua alirannya. Karena takut kena ancaman bakar hidup-hidup, ia mencoba mencari perlindungan di dalam kalangan istana. Kurasa dia mengenakan topeng bukan lantaran demi pernyataan duka cinta terhadap kematian paman-paman guru. Tapi demi kepentingan diri sendiri, agar luput dari pengamatan aliran Utusan Suci."
"Tepat! Kau memang anak siluman!" kata Gagak Seta.
"Sebenarnya dengan ilmu kepandaiannya, masakan Bibi tidak mampu merampas kitab sakti yang dikehendaki?" Titisari tak memedulikan pujian Gagak Seta.
"Tentu saja tidak. Karena kitab sakti yang diintipnya sudah berada dalam dada Sangaji."
"Pusaka warisan Pangeran Semono?" Titisari menegas.
"Ya," sahut Gagak Seta membenarkan.
Ketiga orang itu lantas berdiam diri dengan pikirannya masing-masing. Cahaya terang, mulai masuk ke dalam ruang gubuk. Gandarpati yang berada di belakang pintu, dengan diam-diam mengintip keluar. Suasana di sebelah jembatan batu sunyi lengang. Sebenarnya hal ini mengherankan, tapi merasa agaknya lagi tenggelam dalam kesan hatinya sendiri.
Sekonyong-konyong Sangaji menepuk lututnya sambil berseru tertahan.
"Benar. Ya, benar!"
"Benar bagaimana?" Titisari tertarik.
"Aku ini berotak lamban, biarlah aku mengulangi tutur kata Guru," katanya. "Jadi terangnya, sebelum Bibi Sirtupelaheli tiba di perguruan, sebenarnya ia sudah menjadi anggota aliran Utusan Suci semenjak lama. Bukankah begitu?"
Titisari menoleh kepada Gagak Seta. Dan Gagak Seta mengangguk.
"Bagus!" Sangaji girang lantaran mengagumi pikirannya sendiri. "Tugasnya untuk mencuri rahasia ilmu sakti kakek guru. Ia disambut terlalu baik oleh kakek
guru, sehingga ia dalam ragu-ragu. Ia bersyukur diangkat menjadi anak angkat. Dengan begitu, tak usahlah ia main mencuri. Dikemudian hari bisa mengharapkan sebagai pewarisnya. Benar tidak?"
"Benar." Titisari girang. "Otakmu kali ini cemerlang juga."
"Kemudian datanglah Dipajaya. Inilah kesempatan bagus untuk membuat jasa. Dengan begitu akan menghapus rasa jelus atau iri hati murid-murid kakek guru lainnya. Di luar dugaan ia jatuh cinta kepada Dipajaya."
Titisari mencubit pahanya sambil membenarkan.
"Benar. Otaknya kali ini cemerlang juga."
"Dalam perawatan, rupanya Dipajaya mulai memperkenalkan kartunya dan juga membuka kartu Bibi Sirtupelaheli. Mungkin pula Dipajaya membicarakan ancaman hukuman aliran Utusan Suci yang akan dijatuhkan kepada Bibi Sirtupelaheli, bila gagal dalam melakukan tugasnya. Karena merasa takut, Bibi Sirtupelaheli membutuhkan perlindungan atau setidak-tidaknya kawan sepaham. Maka ia mempercepat perkawinan. Bagaimana?"
"Sekalipun kurang tepat, tapi garis besarnya kurasa benar." Titisari memberikan pertimbangan. "Bagaimana Guru?"
Gagak Seta mengangguk menyatakan persetujuannya. Dan melihat gurunya menyetujui, hati Titisari bersyukur bukan main. Memang sebenarnya, Sangaji bukan seorang pemuda tolol dalam arti sesungguhnya. Kesederhanaannya hanyalah disebabkan kemuliaan
hatinya. Ia hanya lamban berpikir, bila dibandingkan dengan Titisari. Tetapi penglihatannya sesungguhnya tepat.
"Ternyata apa yang sesungguhnya diharapkan, meleset sekali," Sangaji meneruskan. Bibi Sirtupelaheli terpukul, tatkala kakek guru pergi dari rumah perguruan. Mungkin sekali, kakek guru sudah mencium rahasia hatinya-. Hanya, karena Bibi Sirtupelaheli mempunyai jasa lagipula puteri seorang sahabatnya yang dipercayakan kepadanya, ia tidak mau membuka kartu.
Satu-satunya jalan, kakek guru hendak meletakkan Bibi Sirtupelaheli pada kedudukannya semula, dengan meninggalkan rumah perguruan. Dengan begitu, Bibi Sirtupelaheli tanpa perlindungan lagi. Berarti pula, murid-murid lainnya boleh bertindak apabila Bibi Sirtupelaheli benar-benar hendak melaksanakan niatnya merampas atau mencuri rahasia ilmu sakti rumah perguruan. Karena itu, ia menganjurkan suaminya agar menyingkirkan ketujuh murid kakek-guru..."
"Eh, kau maksudkan—ia justru yang menganjurkan Dipajaya agar menantang mengadu racun?" Gagak Seta tiba-tiba terloncat bangun.
"Benar. Ia tidak hanya mengharap agar ketujuh murid kakek guru mati, tetapi Dipajaya juga."
"Benar, benar... benar..." Gagak Seta berbisik perlahan-lahan sambil berkerut-kerut. "Kalau begitu..."
"Kalau begitu, sesunguhnya ia tahu kena intip guru," Titisari meneruskan. "Dia benar-benar seorang wanita yang licin dan berbahaya."
"Benar! Kalau begitu kata-katanya hanyalah suatu permainan sandiwara untuk mengelabui mataku yang lamur," kata Gagak Seta dengan suara luar biasa. "Coba teruskan!"
"Selanjutnya terjadilah seperti ceritera guru. Dengan mengenakan topeng, ia mencoba menyateroni rumah perguruan. Ia bertempur sampai tujuh kali melawan Guru. Artinya, tekatnya sudah penuh. Kemudian dia menghilang. Apa sebab? Kurasa berhubungan dengan Dipajaya. Diluar dugaan Dipajaya ternyata masih hidup segar-bugar. Bukankah satu-satunya orang yang mengenal dia, hanyalah Dipajaya. Dia boleh menggunakan topeng dan tipu daya lainnya. Tapi Dipajaya pernah hidup berkumpul sebagai suami-isteri selama dua tahun. Masakan dia bisa dikelabui?"
"Eh, eh! Semenjak kapan suamimu ini pandai berbicara?" Gagak Seta heran.
"Semenjak jadi raja," sahut Titisari menggoda.
"Hayooo..." Sangaji menyanggah.
Titisari tertawa. Gagak Seta tertawa. Kedua-duanya lantas tertawa berbareng. Hanya Gandarpati yang merasa diri tak pantas mengangkat sama derajat, tak berani menarik mulutnya. Matanya hanya berseri-seri untuk menyatakan rasa senangnya.
"Aku benar-benar kagum kepada otakmu," kata Gagak Seta sungguh-sungguh. "Biasanya otakmu tolol, tapi kali ini cemerlang. Dengan sekali mendengarkan ceriteraku, kau sudah bisa tahu bahwa Dipajaya masih hidup. Sedangkan aku baru tersadar setelah mendengar napas Fatimah yang mengingatkan aku kepada napas Dipajaya.
Coba, aku sadar semenjak dahulu, pastilah akan lain jadinya."
Gagak Seta menyenak napas. Ia seperti memikirkan sesuatu.
"Bibi Sirtupelaheli mengenakan topeng. Bukankah untuk meluputkan diri dari incaran Utusan Suci?" Sangaji berkata" lagi. "Ia masuk ke istana pula dengan mengorbankan kecantikannya, bukankah untuk meluputkan diri? Kemarin dalam satu gebrakan saja, dia membiarkan diri kena ringkus. Bukankah untuk meluputkan diri?"
"Hai tak terduga, bahwa sampai berusia lanjut dia ternyata belum dapat meluputkan diri dari pengamatan Utusan Suci..."
Hebat pengaruh kata-kata Sangaji yang terakhir ini, sampai Gagak Seta nampak ter-longong-Iongong. Tetapi sejenak kemudian, sifatnya yang bergembira menindih semua perasaannya. Lalu tertawa terbahak-bahak.
"Hari sudah siang! Hai, kenapa mereka masih tenang-tenang saja? Celakalah, kalau mereka sengaja membiarkan kita mati kelaparan. Hai, Gandarpati!
Apakah gurumu tidak menyimpan makanan kering?"
Gandarpati seperti diingatkan. Segera ia melompat bangun dan lari ke belakang. Tak lama kemudian, ia balik sambil berkata:
"Makanan yang ada tiada berharga sama sekali. Guru dahulu menyamar sebagai penjual tahu, pisang goreng dan panganan keras lainnya. Karena itu yang ada hanya beberapa bongkok ketela, pisang dan tahu mentah... "
"Itu pun boleh. Disini ada seorang siluman yang pandai masak. Anakku Titisari, kau sudah bergerak atau belum?" kata Gagak Seta.
"Biarlah aku saja yang menyediakan makanan seadanya," tungkas Gandarpati.
Sambil menggerumuti bakaran ketela dan pisang, mereka kini mulai merundingkan ilmu sakti ketiga Utusan Suci yang aneh luar biasa.
"Guru!" kata Titisari. "Dalam satu gebrakan, Bibi Sirtupelaheli kena dirobohkan. Tetapi itulah hanya suatu akal untuk mengelabuhi mereka. Setelah ketiga Utusan Suci masih saja mengenal dia meskipun sudah mengenakan topeng, pastilah Bibi kini berdaya mati-matian menghadapi mereka bertiga. Apakah menurut pendapat Guru, ilmu silat mereka benar-benar hebat tak terlawan?"
"Sebenarnya, ilmu silat mereka tidak hebat. Hanya inti kerjasamanya yang aneh. Kalau ayahmu berada di sini apalagi ditambah Kyai Kasan Kesambi—hm, semuanya tidak akan menyukarkan lagi," jawab Gagak Seta.
Sekonyong-konyong Fatimah mengigau lagi dengan gigi berceratukan, Sangaji meraba dahi Fatimah yang masih panas luar biasa. Ia menghela napas. Nampaknya luka yang diderita gadis itu makin lama makin berat.
"Guru," kata Sangaji setelah berpikir sejenak.
"Keadaan Fatimah makin lama makin berat. Kalau kita tidak berhasil menolong Bibi Sirtupelaheli, Fatimah harus kita tolong."
"Tentu saja. Hanya dengan cara bagaimana?"
Sangaji menoleh kepada Titisari mencari bantuan. Puteri Adipati Surengpati itu lantas berkata: "Kalau kita selamat syukur pula bisa menolong Bibi Sirtupelaheli dia akan kubawa menyeberang ke Karimun Jawa. Sekiranya tidak mungkin, kita akan segera kembali ke Jawa Barat memberi kabar Manik Angkeran."
"Siapa Manik Angkeran?"
"Tunangan Fatimah."
"Dia bisa apa?"
"Selain sudah mewarisi ilmu ketabiban seorang tabib sakti, dia pun seorang pemuda yang mewarisi ilmu kepandaian tinggi."
"Kalau begitu, semuanya sudah beres. Tinggal menghadapi mereka. Hari sudah siang. Apakah kamu berdua sudah bersiaga bertempur?"
"Kami mengharapkan petunjuk-petunjuk Guru," sahut Sangaji. "Hanya senjata senapan dan meriamnya, menyukarkan kita."
"Tidak—kalau kita bisa mendekati— kedua senjata itu tidak banyak gunanya..." Gagak Seta meyakinkan.
Kata-kata Gagak Seta itu beralasan. Dewasa itu senjata bidik harus diisi dengan bubuk mesiu dahulu. Kalau seorang musuh bisa mendekati kemudian menubruk, orang takkan mempunyai kesempatan untuk mengisi bubuk mesiu dan menembak.
Setelah menyelimuti Fatimah dan memesan kepada Gandarpati agar menjaganya baik-baik, mereka bertiga lantas keluar dari gubuk. Matahari kala itu sudah sepenggalah tingginya. Kabut pegunungan sudah buyar
semenjak tadi. Semuanya jadi nampak segar. Kesejukan hawanya ditambah kelembutan angin pagi hari meresapi hati. Batu-batu yang masih meningalkan bekas hujan; nampak menghitam berkilat. Semuanya merupakan rangkuman pengucapan alam yang indah tapi menyendiri.
"Guru," kata Sangaji. "Satu hal yang masih belum kumengerti. Guru berkata, bahwa Kompeni Belanda ada di belakangnya. Mengapa bukan Inggris?"
"Aku hanya menduga saja. Tapi nanti kita buktikan," jawab Gagak Seta. "Melihat Inggris bercokol di bumi Jawa, masakan Belanda akan tinggal bertopang dagu saja?"
Titisari seorang wanita berotak cerdas. Meskipun menderita luka, tidaklah terganggu kecermelangannya. Segera ia dapat menebak. Katanya: "Keadaan di Jawa Barat kukira sama saja dengan yang terjadi disini. Dengan diam-diam Belanda membantu unsur-unsur perjuangan yang menentang pemerintahan sekarang. Sultan sekarang adalah buatan Inggris. Dengan sendirinya Belanda membantu mereka yang menentang. Apakah Guru mau berkata, bahwa mereka ini sesungguhnya gerombolan penentang Sultan sekarang?"
"Kalau tidak, Belanda membonceng di belakangnya... " jawab Gagak Seta.
Perlahan-lahan mereka menuruni bukit. Sangaji memeluk pinggang Titisari. Meskipun Titisari terluka dan belum dapat bergerak dengan leluasa, namun hatinya mantap apabila dia berada disampingnya. Sebab yang penting adalah otaknya.
"Gagak Seta berada di depan. Tatkala membeloki tikungan ia berseru tertahan: "Celaka! Mereka membakari kampung... atau mereka sedang membakar Sirtupelaheli hidup-hidup?"
Bukan biasanya Gagak Seta berseru mengandung kecemasan. Biasanya menghadapi bahaya betapa besar pun, masih saja ia nampak tenang. Malahan bisa berlagak kegila-gilaan. Tapi memikirkan keselamatan Sirtupelaheli ia jadi gugup.
Dengan mempercepat langkah, Sangaji dan Titisari menghampiri. Karena kena pantulan cahaya surya, sinar api yang menjilat udara hanya nampak lapat-lapat.
"Guru." Sangaji mencoba menghibur. "Kita pasti berusaha menolong Bibi. Hanya aku masih belum mengerti. Kalau yang terbakar ini sebuah kampung atau dusun, apa sebab sedikit-sedikit mereka main bakar?"
Titisari tertawa. Katanya: "Hai! Kau tadi sudah kelihatan pintar, mengapa kembali menjadi tolol lagi?"
"Selamanya, bukankah aku ini anak tolol?"
Tergetar hati Titisari mendengar jawaban Sangaji. Ia memeluk dan mencium pipi suaminya. Katanya setengah berbisik: "Maaf, Aji. Aku hanya bergurau. Mulutku.ini memang... "
"Bukan begitu. Kau berdua memang tolol!" Gagak Seta menimbrung. "Sudah terang, musuh berada di depan. Kalian berbicara yang bukan-bukan. Mereka membakari kampung untuk membuat kekacauan. Penduduk lantas tak puas terhadap pemerintahan sekarang. Nah, bukankah gampang jawabnya?"
Sangaji tertawa menyeringai. Titisari pun tertawa merasa. Kedua-duanya lantas tertawa berbareng.
"Tuuu...." bisik Titisari. "Kita jangan bergurau..."
"Bukankah kau yang mengajak bergurau?" Sangaji menjawab sambil menggelintik iga-iganya.
"Aji!" Titisari tiba-tiba bersungguh-sungguh. "Kukira mereka takkan membakar Bibi Sirtupelaheli dengan segera. Seumpama aku jadi mereka, Bibi Sirtupelaheli akan kugunakan sebagai perisai untuk mendekati gubuk di atas."
"Mengapa begitu?"
"Sebab tujuan mereka yang pokok ialah mendapatkan ilmu warisan Patih Lawa Ijo. Mereka tahu, Bibi Sirtupelaheli adik seperguruan Paman Gagak Seta.
Mereka tahu pula, Paman Gagak Seta mempunyai seorang murid yang sudah mewarisi ilmu sakti yang sedang diburunya."
"Ah, benar!" seru Sangaji. "Terlebih-lebih pula, kalau Bibi Sirtupelaheli bisa memberi keterangan bahwa akulah murid yang dimaksudkan mereka. Sekarang bagaimana baiknya?"
"Bibi Sirtupelaheli merupakan sandera yang berharga bagi kita. Kalau kau bisa merampas kembali senjata andalan ketiga Utusan Suci itu, mungkin dapat kita pertukarkan. Mohe, Jahnawi dan Jinawi menganggap senjata andalannya sebagai jiwanya sendiri," kata Titisari.
Mendengar kata-kata Titisari, timbullah semangat Sangaji. Lantas saja ia berseru: "Mari kita bekerja!"
Mereka bertiga adalah tokoh-tokoh yang berpengalaman. Kecuali itu, ilmu kepandaiannya sangat tinggi. Dengan berlindung pada batu-batu bukit, mereka dapat mendekati sasaran.
Ternyata mereka yang menamakan diri Utusan Suci berkemah di bawah bukit. Tenda yang didirikan berjumlah lima belas. Dengan menyamar sebagai penduduk kampung yang rumahnya kena bakar, Gagak Seta, Sangaji dan Titisari dapat mendekati sekelompok tenda yang berada di timur.
"Kami penduduk yang tidak berdosa, mohon diperkenankan lewat," kata Titisari. Ia memang sedang terluka. Kesan mukanya benar-benar nampak kuyu.
"Kenapa kemari?" bentak seorang yang mengenakan jubah biru muda.
"Untuk menyatakan terima kasih atas kebijaksanaan tuan-tuan."
"Bagaimana? Kau bilang apa?"
"Bahwasanya keluarga kami tidak Tuan ganggu. Kalau cuma rumah yang terbakar lain hari bisa kami bangun kembali. Tapi jiwa kami, ternyata Tuan lindungi," jawab Titisari mengada-ada.
Sudah barang tentu, orang itu setengah percaya setengah tidak mendengar ocehannya. Ia berpaling kepada pemimpinnya yang berdiri di dekat pintu tenda. Orang itu sedang memandang ke atas bukit. Tatkala sedag mendengarkan laporan si jubah biru dalam bahasa Lombok, tiba-tiba Gagak Seta melesat dan menghantam.
Pemimpin itu kaget bukan kepalang. Gesit ia melompat kesamping. Tetapi menghadapi Gagak seta, biarpun memiliki kepandaian sepuluh kali lipat daripada yang dimilikinya sekarang, masih merupakan makanan empuk. Begitu ia bergerak tiba-tiba iga-iganya sudah kena sambar dan dibanting di atas tanah, la lantas tak dapat berkutik lagi.
Puluhan anak buahnya yang berada di situ segera menjadi kalut. Mereka menghunus senjatanya dan segera mengepung. Nampaknya mereka mengenal ilmu silat. Tetapi dibandingkan dengan Mohe dan kedua temannya, terpaut masih jauh.
"Aji! Kau bawa orang itu mundur ke atas bukit!" seru Titisari.
Sangaji segera bekerja. Tangannya bergerak dan memanggul pemimpin mereka di atas pundaknya. Kemudian dengan tangan kirinya ia menyibakkan kepungan.
Titisari memutar pedangnya Sangga Buwana sambil mundur. Sedangkan Gagak Seta melindungi dengan sekali-kali melepaskan pukulan geledek. Ilmu sakti Kumayan Jati, bukanlah sembarang ilmu sakti.
Tenaganya sangat dahsyat. Jangan lagi manusia yang terdiri dari darah dan daging, sedangkan batu gunung bisa rontok berguguran. Maka begitu kena hantaman Kumayan Jati, puluhan orang Utusan Suci mati terkapar.
"Mari kita lari!" ajak Titisari.
Sangaji tahu, Titisari sedang menderita luka. Meskipun tidak membahayakan jiwanya, namun ia tidak boleh bergerak terlalu banyak. Gagak Seta tahu kesukaran itu.
Lantas berkata: "Kau lemparkan kemari orang itu. Biar aku yang mengurus."
Sangaji benar melemparkan orang itu. Kemudian menyambar pinggang Titisari. Dalam pada itu, terdengar Gagak Seta berteriak mengguruh.
"Hai, kamu binatang! Barangsiapa berani mendekati kami, akan kubinasakan orang ini terlebih dahulu... "
Orang yang kena tawan itu, ternyata mempunyai kedudukan tinggi. Titisari yang cerdik segera mengetahui. Mereka hanya berteriak-teriak, tetapi tiada yang berani bergerak mendekati.
"Bagus!" serunya girang. "Guru, kau jaga orang itu baik-baik. Mungkin sekali bisa kita tukarkan dengan Bibi...."
Tiba-tiba terdengarlah suara kesiur angin tajam. Sangaji memutar pinggang Titisari. Tangannya bergerak melindungi. Sepintas pandang, ia melihat berkelebatnya suatu senjata, la segera mengelak berbareng menendang. Sebelum sempat memutar tubuh, sebatang senjata berengsel berkelebat dari samping, la mengeluh. Itulah senjata andalan ketiga Utusan Suci yang disegani. Selagi mengerahkan tenaga sakti untuk pukulan yang tak mungkin dihindari, tiba-tiba Gagak Seta mendepak tawanannya. Orang itu terbang ke atas dan ternyata digunakan Gagak Seta sebagai perisai.
Orang yang memukul dengan senjata engsel adalah Mohe. la terkejut dan dengan mati-matian menarik senjatanya, la berhasil, tapi justru demikian terdapatlah bagian bawah tubuhnya yang terbuka. Tentu saja Sangaji tidak menyia-nyiakan lowongan itu. la
melepaskan pelukannya dari pinggang Titisari, kemudian kakinya menyerobot menendang.
Jahnawi dan Jinawi kaget. Cepat mereka menolong dengan serangan dahsyat, sehingga tendangan Sangaji meleset. Dengan begitu Mohe terlepas dari mara bahaya.
Mereka bertiga lantas mengepung Sangaji. Kerjasamanya yang rapi dan cepat tetap saja membingungkan Sangaji. Tetapi Sangaji tidak mau main coba-coba lagi. Teringat betapa Titisari memilih hendak bunuh diri daripada menyaksikan perlawanannya yang tidak sungguh-sunnguh, lantas saja ia mengerahkan tenaga saktinya sembilan bagian. Hebat kesudahannya.
Mohe, Jahnawi dan Jinawi tak dapat mendekati seperti semalam. Sesudah lewat beberapa jurus tiba-tiba Mohe menyabetkan senjatanya dengan pukulan yang sangat aneh. Sangaji memapaki senjata itu dengan berperisai tubuh si Pemimpin dengan gerakan yang aneh pula.
"Plak!"
Senjata engsel Mohe singgah tepat di pipi kiri orang itu.
Bukan main kagetnya Mohe. Mukanya sampai berubah pucat. Kedua temannya tak terkecuali. Mereka lantas berbicara dengan bahasa Lombok seraya membungkuk-bungkuk hormat kepada orang yang ditawan Sangaji.
"Ah, benar-benar seorang pemimpin yang berharga!" pikir Sangaji.
Susunan aliran Utusan Suci tataran atas terdiri dari tiga tingkat. Yang pertama seorang. Dia sebagai ketuanya. Kemudian tiga penasehatnya. Dan tingkat tiga
terdiri dari dua belas orang. Mereka ini berkedudukan sebagai pelindung.
Orang yang kena tawan tadi adalah seorang anggota dari tingkat kedua. Karena itu, kedudukannya sangat tinggi. Dia salah seorang penasehat yang dikirimkan ketuanya menyeberang ke Pulau Jawa, begitu mendengar kabar tentang beradanya tiga pusaka warisan Pangeran Semono yang dianggapnya sebagai warisan sah anak keturunan aliran Kapakisan.
Mohe telah memukul pipinya. Walaupun tidak sengaja, tetapi hal itu benar-benar mengejutkan dan menciutkan hati mereka bertiga. Mereka tidak berani meneruskan pertarungannya. Dan dengan saling memberi isyarat, mereka melompat mundur berbareng.
Sangaji segera menyerahkan tawanannya kembali kepada Gagak Seta. Ia tahu, bahwa orang itu mempunyai kedudukan penting di dalam aliran kepercayaannya. Ia berharap pula, orang itu bisa ditukarkan dengan Sirtupelaheli.
la memeriksa pipinya yang terluka kena sabetan engsel Mohe. Untung, tidak membahayakan jiwanya. Hanya bengkak dengan goresan melempuh. Rupanya pada detik terakhir, Mohe berusaha menarik pulang tenaga pukulannya, sehingga tidak sampai mematahkan tulang pipi.
Dalam pada itu laskar Utusan Suci sangat penasaran. Meriam dan senapannya mulai diarahkan. Ternyata tiada seorang serdadu Belanda berada di antara mereka. Dengan begitu benarlah dugaan Gagak Seta, bahwa Belanda hanya memboncengi kepentingan mereka.
Tujuan Belanda, hanyalah untuk mengeruhkan suasana dalam negeri.
Sekonyong-konyong, Mohe berteriak nyaring: "Gagak Seta! Dua belas Utusan Suci tingkat ketiga berada di sini semua. Kedosaan kalian melawan kami, sudah diampuni asal saja kau membebaskan tawanan itu. Sesudah kau mengembalikan tawanan itu, kau boleh pergi tanpa kami ganggu-ganggu lagi..... "
Gagak Seta tertawa berkakakan. Sahutnya: "Gagak Seta bukan anak kemarin sore yang belum pandai beringus. Begitu kami berjalan turun naik bukit, bukankah meriam kalian bisa mengejar punggung kami?"
"Kurangajar!" bentak Mohe bergusar. Kalau kau tidak sudi mendengarkan perkataan kami, apakah meriam kami tidak bisa meledak di hadapanmu?"
"Silakan! Orang ini pun juga bakal meledak seperti jagung bakar." Gagak Seta tertawa geli.
"Bangsat!" maki Mohe.
"Kau lepaskan Sirtupelaheli. Mana dia? Kalau dia sudah kau bebaskan, nah—kita bisa berbicara..."
Mereka lalu kasak-kusuk berbicara. Kemudian Jahnawi mewakili mereka: "Sirtupelaheli sudah lama membuat kesalahan. Dia harus dibakar hidup-hidup... "
"Apa kesalahannya?"
"Dia tidak menunaikan perintah atasan."
"Dia sudah bekerja sungguh-sungguh," kata Gagak Seta. "Hanya saja dia gagal, karena kepandaian kami. Coba pikirkanlah, baru saja kalian, menghadapi seorang pemuda kemarin sore, sudah tak sanggup mengalahkan.
Padahal pemuda seperti dia berjumlah ribuan di bumi Jawa ini."
"Hm, kau mengira begitu?" bentak Jahnawi. Kemudian ia memberi laporan kepada atasannya. Tiba-tiba dua orang yang bertubuh besar tinggi melompat menyerang. Teriak Jahnawi: "Siapa bilang kami tak mampu. Kau saksikan sekarang!"
Sangaji segera menyambut. Dengan telapak tangannya, ia mendorong. Kedua orang itu ternyata tidak menangkis. Mereka malahan membalas menyerang. Tangan kirinya menyambar dan yang kanan mencengkeram kepala. Hampir berbareng yang satunya menerjang sambil memapak tenaga dorong Sangaji.
Untuk menghindari cengkeraman, Sangaji terpaksa membatalkan terkamannya sambil melompat ke samping. Ia kaget. Ilmu silat kedua lawannya itu, aneh pula. Mereka merupakan suatu kerjasama yang rapih dan erat, sehingga ia seperti menghadapi seorang lawan yang mempunyai empat kaki dan empat tangan.
Tetapi kepandaian mereka agaknya masih kalah daripada Mohe dan kedua temannya. Meskipun gerakan-gerakannya aneh, tetapi tidak secepat Mohe, Jahnawi dan Jinawi.
Tadinya ketiga Utusan Suci bisa membuat Sangaji kelabakan dengan jurus tiga kosong tujuh berisi. Kini, Sangaji menggunakan jurus itu. "Aku seperti mengenal gerakan ini. Tapi dimana?" pikir Sangaji bolak-balik.
Tiba-tiba suatu ingatan menusuk benaknya sampai ia kaget berbareng heran. Pikirnya, hai! Bukankah ini gerakan ukiran keris Kyai Tunggulmanik bagian pertama?
Meskipun sudah memperoleh ingatan, namun hatinya masih sangsi. Segera ia memperhatikan gerak-gerik mereka dan perubahan gerak tipunya yang aneh. Setiap gerakannya sukar diraba. Tetapi setelah lewat beberapa puluh jurus, ia dapat mengatasi dan mengalahkan mereka.
Pada saat itu, mendadak Mohe membentak. Orang itu terus melesat hendak merampas pemimpinnya yang kena sabet senjata engsel. Hatinya penuh sesal apa sebab ia sampai melukai. Karena itu, ia bertekat untuk merebutnya kembali. Melihat Sangaji kena libat, ia merasa pasti dapat merampasnya dengan mudah. Kadua rekannya tahu maksudnya. Segera mereka berdua melesat pula mengiringkan.
Gagak Seta berpikir cepat. Tubuh si Pemimpin disambarnya dan diputar-putarkan dijadikan senjatanya. Sudah barang tentu, Mohe dan kedua rekannya tak berani menyerang dengan sembarangan.
Mereka hanya bisa berlari-lari mengitari Gagak Seta dengan harapan memperoleh lowongan.
Beberapa saat kemudian, terdengarlah suatu teriakan kesakitan. Sangaji berhasil menendang salah seorang lawannya. Mendadak. Mohe, Jahnawi dan Jinawi melesat dan menyerang Sangaji. Hebat dan dahsyat serangannya. Sangaji yang sedianya akan membungkuk untuk menawan lawannya yang kena dirobohkan, gagal oleh serangan itu. la terpaksa mundur. Dan pada detik itu, Mohe dan kedua kawannya berhasil menggondol orang yang sudah kena tendangan Sangaji. Sayang! Sungguh sayang! Ternyata orang yang kena dirobohkan
Sangaji, sebenarnya salah seorang anggota pelindung Utusan Suci tingkat tiga. Begitu Mohe dan kedua kawannya dapat merebutnya, mereka lantas mengundurkan diri.
Setelah menentramkan semangat, Sangaji berkata: "Guru, mari kita kembali dahulu ke bukit. Ada sesuatu yang hendak kubicarakan."
Dengan mendukung Titisari, Sangaji mendahului mendaki bukit. Gagak Seta pun segera mengikuti dari belakang sambil memanggul si Pemimpin, la tidak berani menyakiti, lantaran takut pembalasan mereka terhadap Sirtupelaheli. Sebaliknya laskar Utusan Suci tidak berani mengganggu mereka.
"Guru!" kata Sangaji setelah berada di dalam gubuk. "Orang-orang itu seperti sudah mempelajari ilmu sakti yang terdapat pada keris Kyai Tunggulmanik. Tetapi yang mengherankan, pukulan-pukulan mereka berbeda.
Mereka sudah sukar dilawan."
"Aku sudah memberi penjelasan kepadamu, bahwa warisan Patih Lawa Ijo yang dilukis pada dinding gua Kapakisan, dipindahkan ke dalam pusaka warisan Pangeran Semono. Mereka semua mengaku sebagai anak keturunan Empu Kapakisan. Tak mengherankan, sedikit banyak mereka mengenal ilmu sakti itu. Tapi menurut pendapatku, apa yang dipelajari mereka hanyalah kulitnya belaka. Sedangkan yang ada padamu adalah intinya. Itulah sebabnya, mereka menugaskan Sirtupelaheli untuk mencari ketiga pusaka warisan Pangeran Semono."
"Menurut Guru, apa yang kumiliki sekarang adalah intinya?" Sangaji menegas.
"Ya. Kulihat engkau hanya menguasai cara mengerahkan tenaga saktinya. Sedangkan ilmu tata berkelahi yang kau gunakan adalah ilmu kepandaian warisanku, warisan Kyai Kasan Kesambi dan gabungan ilmu kepandaian lain yang kau peroleh dari pengalamanmu belaka," kata Gagak Seta.
"Ah, benar!" Sangaji tersadar.
Memang keragaman ilmu silat Sangaji, sebenarnya berpangkal pada ajaran-ajaran Gagak Seta, Kyai Kasan Kesambi dan sari-sari ilmu kepandaian para pendekar Jawa Barat tatkala bertempur mengadu kepandaian di atas dataran tinggi Gunung Cibugis.
Sadar akan hal ini, ia jadi perihatin. Lantas saja ia bersila memejamkan mata. Ia berusaha mengumpulkan ingatannya untuk mencoba mengenal semua gerakan lawannya.
Benar-benar terasa sejalan dengan lekak-lekuk pamor keris Kyai Tunggulmanik. Hanya saja. cara menggunakannya sangat luar biasa.
Gagak Seta tahu, Sangaji sedang mengerahkan ingatannya. Ia mengedipi Titisari dan Gandarpati agar jangan mengganggunya. Setelah memeriksa tawanannya, ia kemudian duduk bersila pula menghimpun semangat.
"Guru!" tiba-tiba Titisari berkata kepada Gagak Seta. "Guru berkata, bahwa ilmu sakti Kyai Tunggulmanik yang ada pada Sangaji hanyalah cara mengerahkan tenaga sakti belaka. Aku hafal ukiran pamor Kyai Tunggulmanik. Cobalah Guru lihat, apakah gerakan mereka sama dengan gerakanku."
Sesudah berkata demikian, Titisari segera menggerakkannya tangan dan kakinya tanpa tenaga, la mengikuti lekak-lekuk pamor keris. Setelah berputar-putar beberapa saat lamanya, Gagak Seta menggaruk-garuk kepalanya.
"Ya benar, itu tidak hanya inti cara menggerakkan tenaga sakti. Tapi benar-benar merupakan ragam ilmu berkelahi yang tinggi," katanya.
"Apakah sama dengan gerakan mereka?" Titisari menegas.
"Ya dan tidak."
"Kalau begitu, aku berani bertaruh bahwa gerakan mereka bukan gerakan rahasia sakti ilmu Kyai Tunggulmanik. Memang mirip, sebabnya sumbernya sama. Semua-semuanya adalah warisan ilmu sakti Lawa Ijo, yang dialihkan kepada ketiga pusaka Pangeran Semono. Sebatang keris, sebuah bende dan jala. Apakah bukan ilmu sakti Jala Karawelang?
"Bagaimana kau bisa berkata begitu?" Gagak Seta minta keyakinan.
"Aku hafal pada guratan-guratan yang terdapat pada alas Bende Mataram. Ternyata berbeda jauh dengan gerakan mereka," jawab Titisari.
Sepercik cahaya bersinar pada mata Gagak Seta. Tetapi hanya sebentar. Setelah itu pudar kembali. Katanya: "Selamanya aku menganggap khabar itu tak beda dengan sebuah dongeng kanak-kanak. Kalau saja hari ini, aku tidak menyaksikan suatu kenyataan, sampai jadi setan pun aku tidakkan percaya bahwa warisan ilmu sakti tersebut benar-benar ada. Hai! Rupanya sampai
mati pun, aku tidak akan mengetahui semua rahasia hidup!"
Sekonyong-konyong di seberang jembatan—jauh di bawah tikungan jalan—terdengar suara sorak-sorai berulang kali. Gandarpati yang menjaga pintu, lantas lari menyeberangi jembatan dan melongok dari tikungan. Setelah mengamat-amati beberapa saat lamanya, ia balik kembali dan lapor.
"Mereka datang berarak-arak. Yang di depan membawa bendera putih. Mereka berteriak-teriak minta ijin untuk berbicara dari hati ke hati."
"Bagus!" kata Titisari. "Mereka mau berbicara itulah lebih baik. Tetapi jangan biarkan mereka mendekati jembatan batu. Lebih baik kita menyeberangi jembatan. Sekiranya mereka membandel senjata pemunah kita masih bisa bekerja seperti semalam."
Mereka lalu menyeberangi jembatan dengan membawa tawanannya. Tak lama kemudian mereka tiba dan berhenti di depan tikungan. Dua belas orang berpakaian putih berdiri berderet di belakang seorang yang mengenakan pakaian merah membara. Karena jalan sangat sempit, mereka terpaksa berbaris berempat berleret ke belakang. Dan melihat orang yang mengenakan pakaian merah itu, Titisari tersadar.
Katanya: "Pakaian tawanan kita sama rupanya dengan pakaian seorang itu . Kalau begitu kedudukannya lebih tinggi daripada yang mengenakan pakaian putih. Lihat, Mohe, Jahnawi dan Jinawi termasuk anggota dua belas yang berdiri megiringkan."
"Kurasa begitu," Sangaji membenarkan. "Tawanan kita berkedudukan sangat tinggi. Dengan begitu kupercaya,
sedikitnya untuk sementara waktu mereka tidak akan berani menyerang. Kalau sambil menyerang, kita bisa menggebahnya dengan batu. Tetapi mereka pun bisa menghancurkan gubuk kita dengan meriamnya."
Sampai di situ Sangaji berhenti dengan mendadak. Ia melihat Mohe bertiga datang menghadap orang yang berpakaian merah dengan membungkuk hormat. Mereka membawa seorang tawanan yang berjalan terbongkok-bongkok.
Sangaji, Titisari dan Gagak Seta terkejut. Mereka segera mengenali bahwa tawanan yang berjalan dengan terbongkok-bongkok itu adalah Sirtupelaheli.
Dengan membentak-bentak orang yang berpakaian merah mengajukan beberapa pertanyaan dengan bahasa Melayu. Sirtupelaheli berlagak tolol. Dengan memiring-miringkan kepalanya, ia menyahut: "Tuan berkata apa? Aku tidak mendengar...."
Yang berpakaian merah tertawa mendongkol.
Katanya: "Aku Mahendratta berani memasuki bumi Jawa, masakan bisa kau kelabui?"
Setelah berkata demikian, tangannya bergerak menyambar muka Sirtupelaheli. -Dengan sekali tarik, rambut palsu Sirtupelaheli jebol. Sekarang terlihatlah rambut aslinya yang masih hitam mulus.
Sirtupelaheli mencoba memiringkan kepalanya. Tapi tangan kanan Mahendratta dengan cepat singgah ke mukanya dan membeset selapis kulitnya. Pada saat itu, topeng Sirtupelaheli terlocot. Meskipun Sangaji sudah pernah melihat topeng Sirtupelaheli, namun tak urung
hatinya masih kaget juga menyaksikan Sirtupelaheli kena dilocoti.
Titisari biasanya mengagulkan kecantikannya sendiri. Kini setelah melihat wajah asli Sirtupelaheli, hatinya memukul keras. Katanya di dalam hati: Ah, benar-benar luar biasa kecantikan Bibi Sirtupelaheli. Guru tidak mengobrol tanpa alasan. Hai! Apakah Guru tidak sudi kawin, lantaran diam-diam menaruh hati kepadanya?
Sesudah kena dilocoti, sikap Sirtupelaheli menjadi garang. Dengan melintangkan tongkatnya di depan dadanya, ia mundur beberapa langkah. Katanya nyaring:
"Aku gagal membawa ilmu saktinya. Tetapi aku berhasil membawa pedang pusakanya."
Lantang ucapannya. Angin pegunungan kala itu meniup pakaiannya berkibaran. Melihat kegagahan Sirtupelaheli, Sangaji dan Titisari seperti berjanji teringat kepada cerita Gagak Seta tatkala Sirtupelaheli mengenakan pakaian biru muda siap bertanding di tepi telaga Sarangan. Sekarang saja dalam usia lanjut, kecantikannya masih mengejutkan. Apalagi pada zaman mudanya. Tak mengherankan kedatangannya di rumah perguruan, membuat gempar hati anak-murid Ki Gede Rangsang.
Mahendratta dan Sirtupelaheli terlibat dalam suatu perdebatan lagi. Sedangkan ke dua belas pelindung Utusan Suci yang berleret di belakang pemimpinnya, kadang-kala ikut membentak-bentak dengan memancarkan pandang mata berapi-api.
Jarak antara mereka dan Sangaji kurang lebih seratus meter. Meskipun suara perdebatan itu dapat didengar,
namun kurang jelas. Itulah disebabkan ikut campurnya ke dua belas anggota Pelindung yang membentak-bentak berserabutan. Mereka pun menggunakan bahasa daerahnya masing-masing.
Terdorong oleh rasa ingin mengetahui dengan jelas, Gagak Seta membawa tawanannya kesamping. Katanya "Kau dengarkan baik-baik, apa kata mereka!"
Sudah barang tentu, tawanan itu bersikap membandel. Sekonyong-konyong Titisari melompat menghampiri dan mengamat-amati pipinya yang kena pukul engsel Mohe. la mengawasi beberapa deretan bentong bekas pukulan senjata Mohe dengan pandang terlongong-longong. Dahinya berkerinyit sehingga menarik perhatian Sangaji.
Ttisari, kau melihat apa?" Sangaji minta keterangan.
Ia kenal lagak-lagu Titisari.
Manakala Titisari memperoleh kesan sesuatu, dahinya berkerinyit dan alisnya bangun pula.
"Aku seperti melihat goresan ini," bisik Titisari. "Tapi dimana? Ah! Bukankah ini huruf Palawa?"
Huruf Palawa berasal dari India. Umurnya sudah tiga atau empat ribu tahun yang lalu. Sewaktu pedagang-pedagang India datang ke Pulau Jawa, huruf Palawa mulai diperkenalkan. Tetapi huruf tersebut hanya hidup di kalangan para brahmana dan raja yang benar-benar terpelajar. Adipati Surengpati adalah seorang terpelajar. Ia bisa membaca huruf Palawa. Dan pengetahuan itu, diajarkan kepada puterinya.
"Goresan ini banyak miripnya dengan goresan keris Kyai Tungulmanik dahulu.
Juga sama rupa dengan goresan yang terdapat di Bende Mataram, sayang kata Titisari hanya mengenal abjadnya. Kalau kau suruh membaca aku membutuhkan waktu lama."
"Kau cobalah!" bujuk Sangaji.
Titisari segera memeriksa pipi tawanan itu yang bengkak. Ia melihat tiga baris huruf Palawa yang tercetak pada daging pipinya. Ternyata setiap bagian senjata Mohe yang berengsel, terdapat ukiran huruf-huruf Palawa seperti yang terdapat pada keris Kyai Tunggulmanik dan Bende Mataram. Dan pukulan Mohe yang keras meninggalkan bekas. Tapi yang yang membekas pada pipi hanyalah sebagian deretan huruf, sehingga sukar untuk dibaca.
Tetapi Tisari adalah seorang wanita berotak cerdas dan cemerlang pada zaman itu. Selain demikian, ia hafal pula ukiran huruf Palawa yang terdapat pada keris Kyai Tunggulmanik dan Bende Mataram. Ia sendiri tidak pernah melatihnya. Tapi oleh rasa cintanya kepada suaminya yang berotak lamban, ia merasa diri perlu untuk ikut mengingat-ingat.
Perlahan-lahan ia mencontoh huruf cetak itu di atas tanah. Deretan kalimatnya terputus-putus. Segera ia memeras ingatannya dengan merenungi beberapa saat lamanya. Mendadak berserulah dia: "Ah, benar! Inilah Jala Karawelang. Hai! Kalau kusambungkan dengan bunyi ukiran huruf Palawa yang terdapat pada keris Kyai Tunggulmanik, benar-benar serasi."
"Serasi bagaimana?" desak Sangaji dengan suara gemetaran.
Titisari tidak segera menyahut. Ia berenung-renung kembali. Sejenak kemudian barulah dia berkata perlahan. "Ah, bukan! Nampaknya tiada sambung-menyambungnya. Apakah memang diatur demikian?
Nanti dulu! Witaradya dibagi menjadi dua pula. Bagian atas dan bagian bawah. Apakah ilmu sakti Keris Kyai Tunggulmanik dan Jala Karawelang merupakan satu rumpun ilmu sakti yang memang dipisahkan menjadi dua bagian? Hai jangan-jangan, yang terdapat pada pusaka Bende Mataram adalah titik penyambungnya."
"Bagaimana bunyinya?" Sangaji tak sabar.
"Menyambut kiri berarti depan. Menyambut kanan berarti belakang. Tiga kosong, tujuh berisi. Langit persegi Bumi bulat. Ada di dalam tidak ada.... Begitulah kalau diterjemahkan. Yang di sebelah bawah tidak dapat dibaca lagi."
Mendengar bunyi kata-kata itu Sangaji merasa seperti ada hubungannya dengan dirinya. Ia seakan-akan melihat di antara gumpalan awan hitam mendadak mengejap suatu cahaya terang. Kemudian gelap kembali seperti semula. Meskipun demikian, cahaya itu memberi harapan kepadanya. Seperti orang linglung ia menghafal:
Menyambut kiri berarti depan. Menyambut kanan berarti belakang... "
Dia berotak lamban, tetapi cermat dan ulet. Ia mencoba menghubung-hubungkan dengan ukiran yang terdapat pada keris Kyai Tunggulmanik. Kemudian merenungi lekak-lekuk huruf Palawa yang tertulis di atas tanah. Ia mencoba membayangkan gerakannya. Selang beberapa saat, ia seperti sudah berhasil tapi belum
berhasil. Sudah bisa menembus kabut, tapi mendadak terbentur suatu kabut lagi.
Tiba-tiba terdengar suara Gagak Seta: "Anakku!
Mereka sudah mengeluarkan perintah untuk menyerang. Mohe akan menyerang engkau. Jahnawi akan menghadapi aku. Sedang Jinawi akan mencoba merebut tawanan kita."
Titisari terkesiap. Katanya kepada Sangaji: "Kau gunakan pedang Sokayana dengan sepenuh hati. Aku sendiri akan melintangkan pedang Sangga Buwana di atas kepala tawanan kita."
Sangaji hanya memanggut. Mulutnya masih berkomat-kamit. "Menyambut kiri berarti depan. Menyambut kanan berarti belakang. Tiga kosong tujuh .berisi. Langit persegi bumi bulat. Ada di dalam tidak ada..."
"Aji tol... Sekarang bukanlah waktu untuk belajar silat. Kau harus bersiap!" potong Titisari. Hampir saja dia menyebutnya kembali dengan si Tolol.
Sangaji seperti tersadar. Melihat ketiga Utusan Suci bergerak dengan berbareng, ia berseru: "Guru, Titisari! Mundurlah ke seberang jembatan. Aku akan mencoba ketiga Utusan Suci itu di sini. Kalau terpaksa, aku akan melawannya di atas jembatan batu untuk mencegah kerjasama mereka."
Itulah pikiran yang bagus. Sebab jembatan batu hanya muat seorang belaka. Dengan begitu kemungkinan besar, mereka tidak bisa bekerjasama. Tetapi Titisari mempunyai perhitungan lain. Ia melihat tiga orang lagi mengiringkan ketiga Utusan Suci. Dengan begitu berjumlah enam orang. Untuk menggertak mereka dia
justru hendak menggunakan tawanannya. Kalau terpaksa mundur, rasanya belum kasep. Bukankah Gagak Seta bisa melindungi, selagi ia menggusur tawanannya menyeberangi jembatan?
Perhitungan Titisari ternyata tepat. Mereka tidak berani menggunakan senjata, karena takut melukai pemimpinnya yang kena tawan. Keenam orang itu hanya bergerak mengepung dengan tangan kosong.
Titisari melintangkan pedang Sangga Buwana di atas leher tawanannya yang ditengkurapkan di atas tanah. Sedang Gagak Seta mendampinginya dengan senjata tongkatnya untuk menjaga serangan mendadak.
Setiapkali dalam keadaan bahaya, Titisari menggerakkan pedangnya untuk menikam tawanannya. Melihat Titisari hendak menikam pemimpinnya, mereka membatalkan niatnya hendak mencoba merampas. Serangannya cepat-cepat dibelokkan ke sasaran lain. Dalam keadaan demikian, Gagak Seta menyapu dengan tongkatnya. Hebat kesudahannya. Meskipun bisa mengelak tapi kena tekanan tenaga Kumayan Jati, mereka jadi jungkir balik.
Di sudut lain, Sangaji sudah bertempur melawan Mohe dan Jahnawi. Sesudah mendapat pengalaman beberapa kali, mereka berdua tidak berani memandang enteng. Segera mereka memanggil Jinawi agar meninggalkan dahulu tugas merampas pemimpin keduanya. Dengan demikian, kembali lagi Sangaji menghadapi tiga sekawan Utusan Suci.
Lewat beberapa jurus, tiba-tiba Mohe memukulkah senjata engselnya. Melihat gerakannya, sasaran bidikannya akan mendarat pada pundak kiri. Tapi di luar
dugaan, waktu berada di tengah udara, arahnya berubah. Dengan gerakan yang luar biasa, haluan berbelok cepat dan menghantam leher.
Sangaji kesakitan hebat. Matanya berkunang-kunang. Tapi justru kena pukulan itu, otaknya yang lamban mendadak tersenak bangun. Tiba-tiba semua teka-teki menjadi terang baginya. Katanya di dalam hati: "Menyambut kiri berarti belakang. Menyambut kiri berarti belakang Menyambut kiri berarti belakang Ah, mengertilah aku sekarang. Ini adalah suatu tipu mengelabui lawan. Yang diincar belakang, tapi dimulai dengan gerakan menyabet dari depan.... Ya, benar. Benar. Benar begitu!"
Ternyata ilmu sakti ketiga Utusan Suci itu adalah lanjutan dari dasar pertama huruf Palawa yang terdapat pada keris Kyai Tungulmanik. Sejarah menyebutnya sebagai ilmu sakti Jala Karawelang. Karena harus dikerjakan menurut tata gerak yang rapih dan cepat. Sifatnya benar-benar seperti jala. Perubahan gerakannya menguasai danmenutup semua bidang. Tapi mengherankan bahwa gerakan mereka membuat lumpuh setiap lawannya. Tegasnya, ilmu sakti mereka sesungguhnya adalah pemecahan perincian ilmu sakti yang terdapat pada keris Kyai Tunggulmanik. Kalau yang terdapat pada keris Kyai Tunggulmanik adalah intinya maka yang terdapat pada senjata engsel mereka adalah perinciannya. Tak mengherankan, Sangaji kena dikelabui. Tetapi sekarang setelah dapat memecahkan teka-teki empat baris pertama yang lainnya terasa menjadi mudah. Itulah disebabkan, ilmu sakti yang dimilikinya adalah inti dari gerakan mereka. Yang masih belum bisa ditembus tinggal kalimat berikutnya. Yakni: Langit
persegi bumi bulat. Tiba-tiba timbullah pikirannya. Kalau hendak memecahkan ilmu sakti mereka secara menyeluruh, ia harus bisa merampas semua senjata engsel mereka. Memperoleh pikiran ini, terbangunlah semangat tempurnya.
Terus saja ia membentak dan mengerahkan tenaga saktinya sembilan bagian. Sekarang ia tak bersegan-segan lagi. Sekali menggerakkan tangan, ia menyerang bagaikan kilat tangannya menyambar. Dengan satu jurus tiga kosong tujuh berisi, ia berhasil merampas dua senjata engsel dari tangan Mohe dan Jinawi. Inilah namanya senjata makan tuan. Tadinya ketiga Utusan Suci bisa membuat Sangaji kelabakan dengan jurusnya tiga kosong tujuh berisi. Kini, Sangaji menggunakan jurus itu. Tiga kali ia memukul gertakan. Kemudian disusul dengan tujuh kali yang benar-benar berisi. Mereka tidak mengira, bahwa Sangaji bisa memiliki jurus demikian. Sebelum sadar apa sebabnya, dua senjata mereka sudah berpindah tangan.
Pada detik itu pula, dengan menggunakan jurus 'ada di dalam tidak ada', Sangaji berhasil merebut dua senjata Jahnawi dengan sekaligus. Dengan begitu, ia kini sudah mengantongi empat renteng senjata engsel dalam dua jurus saja.
Ketiga Utusan Suci itu terbang semangatnya. Mereka sampai berdiri terpaku. Bagaimana mungkin pemuda itu bisa merampas dalam dua gebrakan saja? Dia seperti menggunakan jurusnya sendiri. Malahan lebih dahsyat. Mereka tak tahu, bahwa tenaga sakti Sangaji pada hakekatnya tiada tertandingi di dalam jagad ini.
Dalam pada itu, setelah mengantongi empat renteng senjata rampasannya, Sangaji mendadak membalik dan mencengkeram pengeroyok Gagak Seta. Dengan sekali membentak, mereka dilontarkan balik ke bawah tanjakan. Mereka yang berada di tikungan jalan, berteriak kaget menyaksikan kejadian di luar perhitungannya. Mustahil! Sungguh mustahil bahwasanya di dunia ini terdapat seorang manusia yang bisa melawan ilmu sakti warisan Empu Kapakisan di zaman Majapahit. Tetapi kenyataan yang disaksikan tidak dapat dipungkiri. Akhirnya mereka berterian-teriak kalut.
Selagi mereka kalut, tubuh Sangaji telah melesat menghampiri. Mahendratta pemimpin berbaju merah kaget setengah mati. Buru-buru ia memutar badannya hendak melarikan diri. Tapi gerakkan Sangaji cepat luar biasa. Dengan sekali sambar, kedua kakinya kena tangkap. Tubuhnya lantas terbetot. Dan dua renteng senjata engselnya yang berada dalam sakunya lenyap. Sebelum ia sempat berteriak kaget, tubuhnya sudah kena dilemparkan ke belakang dan disambut oleh Gagak Seta dengan tertawa berkakakan.
Mohe, Jahnawi dan Jinawi terbang semangatnya. Dengan menggunakan seluruh kepandaiannya, mereka melompat dengan berbareng dan melarikan diri lewat samping Sangaji.
Kemenangan itu tidak hanya menggirangkan hati Sangaji sendiri, tapi pun Gagak Seta, Titisari dan Gandarpati yang berdiri berjaga-jaga di depan pintu gubuk. Dengan beramai-ramai mereka membawa kedua tawanannya menyeberangi jembatan. Sampai di gubuk Gagak Seta minta keterangan kepada Sangaji,
bagaimana caranya dapat merampas enam renteng senjata andalan kaum Utusan Suci dengan mudah.
"Semuanya ini berkat bantuan isteriku, Guru," jawab Sangaji dengan tertawa. Secara kebetulan Mohe memukul pipi pemimpinnya. Bekas lukanya kena dibaca Titisari. Lalu terbukalah rahasia ilmu silat mereka. Hanya ada sederet kalimat yang menyebutkan, Langit persegi bumi bulat— belum dapat kupahami."
Ia mengeluarkan enam renteng senjata rampasannya dan diserahkan kepada Titisari. Katanya penuh terima kasih, "Sekiranya kau sanggup, bacalah dan terjemahkan."
"Baik. Tapi harus ditukar," sahut Titisari.
"Ditukar bagaimana?" Sangaji tak mengerti.
"Tukar jasa," jawab Titisari sederhana. "Aku akan menterjemahkan. Dan kau harus membeli dengan cinta kasihmu yang penuh."
"Hai!" Sangaji tertegun. "Tentu saja."
Pembawaan Sangaji bukan romantis. Karena itu, ia hanya mampu menjawab dengan kata-kata pendek dan wajah bersemu merah. Bagi Titisari yang mengenal pribadinya, sudahlah lebih dari cukup.
Gagak Seta sendiri semenjak dahulu kenal lagak lagu mereka berdua. Dia malahan pernah menjadi comblang. Melihat mereka bermesra-mesraan, hatinya ikut bersyukur. Pikirnya di dalam hati: "Mereka sudah bukan pengantin baru lagi. Tetapi cara bergaulnya masih sepanas dahulu. Aku ingin tahu, apakah mereka akan tetap begini seumpama kelak sudah mempunyai telor...."
Memikir demikian, ia tersenyum-senyum sendirian. Kemudian mengalihkan perhatiannya kepada enam renteng senjata rampasan.
Senjata berengsel itu sebenarnya bernama Harda Dedali. Di sebut pula Pelangi Mustika Dunia. Maksudnya lambing kecerahan dunia. Bahannya bukan emas, bukan batu, bukan besi dan bukan baja. Itulah suatu logam yang mempunyai kadar aneh. Selain mengandung bahan-bahan keras, juga memiliki tenaga menarik. Anehnya pula terdapat kadar air raksa. Benar-benar suatu benda ajaib yang pernah dilahirkan di dunia.
Keenam Pelangi Mustika Dunia itu, tidak sama panjang dan berbeda pula ukurannya. Warnanya putih kebiru-biruan. Di dalamnya nampak sinar cerah seperti setengah berlian setengah emas murni. Warna-warninya selalu bergerak dan berubah-ubah. Kesannya sangat indah, bening serta meresapkan. Bentuknya logam padat yang bersambung-sambung. Setiap potongan terdapat ukiran huruf-huruf Palawa.
Mereka semua sadar, jika ingin meloloskan diri dari bahaya, harus dapat memahami rahasia ilmu silat kaum Utusan Suci. Karena itu—letak kuncinya—ada pada Titisari. Kalau dia sanggup menerjemahkan dalam waktu sesingkat-singkatnya, akan memberi waktu kepada Sangaji untuk dapat memahami.
"Gandarpati!" kata Gagak Seta. "Senjata batu gurumu benar-benar besar daya gunanya. Malam nanti kita membutuhkan bantuannya. Kau berjagalah di seberang jembatan. Jika mereka nampak mengadakan gerakan untuk mendaki bukit, kau guguri dengan batu seperti tadi malam."
Gandarpati memanggut dan terus menyeberangi jembatan.
"Guru!" Titisari berkata. "Sebenarnya siapakah yang memindahkan bunyi ilmu sakti dari dinding gua Kapakisan?"
"Kau berkata tepat, anakku. Kau memang anak siluman benar-benar," sahut Gagak Seta sambil tertawa. Memang ini adalah hasil pemindahan. Mungkin sekali penyalinnya, kekurangan bahan tulis. Setelah pusaka warisan Pangeran Semono terisi penuh, ia menulis pada pusaka ini. Atau mungkin, memang pusaka-pusaka yang dikehendaki sudah disiapkan sebelumnya."
"Apakah Guru menduga, penulisnya lebih dari satu orang?"
Gagak Seta mendongak mengawasi atap rumah.
"Bukankah saudara seperguruan Empu Kapakisan yang pandai menulis ada tiga orang? Prapancha, Brahmaraja dan Kertayasya? Bukan tidak mungkin, bahwa mereka bertiga bisa saling bersaing dan berebutan sehingga pusaka-pusaka itu bertebaran. Entahlah. Pokoknya warisan sakti yang terukir pada dinding gua Kapakisan, sudah dipindahkan oleh tangan-tangan yang mengenal Empu Kapakisan. Kalau tidak, masakan mungkin berani mendaki dan memasuki gua Kapakisan yang diceriterakan sangat gawat? Hanya saja aku tak mengerti apa sebab pusaka ini berada di Pulau Lombok."
Sangaji adalah seorang pemuda yang berotak sederhana. Ia tidak begitu gemar membicarakan sesuatu hal berkepanjangan. Teringat betapa bahaya keadaan
mereka, ia lantas memotong: "Bagaimana Guru, kalau Titisari segera menterjemahkan? Kurasa perlu pula kita membawa kedua tawanan ini diseberang jembatan. Mereka berdua harus diancam dengan menanggalkan pedang Sangga Buwana pada batang lehernya. Kalau mereka main tembak, kita harus mengancam untuk membunuhnya."
"Bagus! Biarlah aku yang menjaga... " sahut Gagak
Seta.
Gagak Seta segera membawa kedua tawanannya menyeberangi jembatan dengan pedang Sangga Buwana di tangan. Mereka berdua ditengkurapkan di atas batu besar yang dapat terlihat jelas dari bawah tanjakan. Pedang Sangga Buwana yang berkilauan, diancamkan di atas kepala mereka.
Titisari sendiri segera bekerja. Ia memilih Pelangi Mustika Dunia yang berukuran paling pendek. Jumlah hurufnya paling sedikit pula. Maksudnya agar dapat diterjemahkan dengan cepat. Setelah direnungi beberapa saat, ia menerjemahkan.
Diluar dugaan, kependekannya justru membuat sulit untuk ditangkap dan dimengerti. Beberapakali Sangaji mencoba menelaah artinya, tapi tetap saja ia gagal, la menjadi bingung.
"Titisari, otakku ini benar-benar tumpul!" katanya setengah mengeluh.
Kali ini Titisari malah menghibur. Katanya dengan tertawa manis luar biasa.
"Siapa bilang otakmu tumpul? Dalam hal ini, akulah yang salah duga. Lantaran pendeknya, sifatnya jadi
ringkas dan padat. Biarlah kumulai saja dari yang meninggalkan bekas pukulan pada pipi orang itu."
Memperoleh pikiran demikian, buru-buru ia mencari senjata yang dimaksudkan. Ternyata ukuran panjang senjata itu adalah yang nomor dua. Ia segera menerjemahkan. Kali ini, Sangaji dapat menangkap artinya tujuh delapan bagian. Hal itu disebabkan, ia telah paham sebagian kata-katanya.
Titisari bersyukur. Lantas ia beralih kepada yang berukuran paling panjang. Baru saja ia menerjemahkan beberapa patah perkataan, Sangaji sudah berseru gembira.
"Benar! Makin panjang, makin gampang dimengerti. Intisarinya samalah dengan ukiran huruf pertama pada keris Kyai Tunggulmanik. Sekarang aku mengerti. Ini semua adalah pecahannya. Teruskan!"
Senang Titisari menyaksikan suaminya jadi bernapsu. Sebab tidak biasanya ia begitu. Selamanya ia tidak tertarik terhadap soal-soal yang rumit?
Pelangi Mustika Dunia itu sendiri, sebenarnya adalah buah karya pujangga Prapancha. Menyaksikan pertengkaran antara Mapatih Gajah Mada dan Empu Kapakisan, pujangga itu membawa dua saudara seperguruannya mendaki bukit Kapakisan untuk merundingkan suatu perdamaian. Tetapi gua Kapakisan ternyata sudah kosong. Empu Kapakisan telah wafat. Setelah memeriksa gua, mereka bertiga terkejut melihat huruf-huruf Palawa yang ditulis oleh tangan lain pada dinding. Merasa keluarbiasaan hakekat kesaktiannya, segera mereka bertiga mengambil keputusan untuk menghapusnya. Dengan begitu akan menghilangkan
coreng rumah perguruannya. Tetapi kalau dihapus dengan begitu saja, mereka merasa sayang. Maklumlah—mereka golongan pujangga yang dapat menghargai arti sastera.
Lantas tulisan tangan lain itu dialihkan kepada dasar logam ketiga jenis pusaka dengan pertolongan seorang empu ter-masyur pada zaman itu. Dialah Empu Dadali. Itulah sebabnya, pusaka Pelangi Mustika Dunia bernama pula: Harda Dadali. Artinya selain untuk memperingatkan nama empunya, juga bermakna: napsu burung layang-layang.
Makin diselami kata-kata warisan sakti itu, hati mereka makin terasa seakan-akan kena guyur angin dingin.Ternyata warisan sakti itu benar-benar bisa menindih kehebatan ilmu sakti rumah perguruan mereka yang, diwarisi Empu Kapakisan. Tegasnya selagi Empu Kapakisan dan Gajah Mada mengadu ilmu kepandaian dan ilmu kesaktian, seorang lain yang tidak ternama melindas kedua-duanya. Inilah suatu kejadian yang menyedihkan. Syukur, mereka berdua sudah tiada di dunia.
Sekiranya menyaksikan hal itu, mati pun tidaklah meram.
Pusaka-pusaka warisan itu, lantas menjadi bahan perebutan yang mengakibatkan korban jiwa tak terhitung lagi jumlahnya. Dari zaman ke zaman, benda-benda itu berpindah tangan. Akhirnya hilang tak kabarkan lagi.
Yang berada di Lombok adalah kumpulan Pelangi Mustika Dunia tersebut. Entah siapa yang membawa menyeberang sampai di sana. Sejarah tiada mencatat.
Ternyata selain Pelangi Mustika Dunia buah karya Prapanca diketemukan pula di Pulau Lombok.
Mereka yang menemukan anak keturunan Empu Kapakisan, menganggap warisan sakti itu sebagai warisannya sekaligus musuh besarnya. Untuk dapat mengangkat derajat, mereka berkewajiban mempelajarinya dan menguasainya agar tidak jatuh di tangan orang lain. Inilah bahaya.
Tetapi sayang, apa yang terdapat pada Pelangi Mustika Dunia—hanyalah kulitnya saja seperti nama bendanya. Sarinya tak ubah seperti burung layang-layang yang berada di angkasa tanpa hinggapan. Karena intinya berada pada ketiga pusaka lain. Dalam hal ini, keris Kyai Tunggulmanik.
Itulah sebabnya, pewaris-pewarisnya makin lama makin kehilangan pokok dasarnya. Setiap jatuh pada angkatan mendatang, selalu menjadi kurang. Mohe, Jahnawi dan Jinawi sebenarnya hanya menguasai tiga atau empat bagian belaka. Sebab semuanya tergantung pada tenaga sakti pribadi masing-masing, sebagai dasar pokok. Makin kurang dasar pokoknya makin kurang pula tataran yang dicapainya.
Sadar akan hal itu, anak keturunan Empu Kapakisan lalu bertekat untuk bisa mendapatkan ketiga pusaka lain yang memuat inti mengerahkan tenaga sakti. Tekad ini diwariskan kepada angkatan ke angkatan yang mendatang.
Diluar dugaan siapa saja—apa yang diidam-idamkan mereka—diperoleh Sangaji secara mudah sekali. Sangaji mendapatkan dua pusaka di antara ketiga pusaka secara kebetulan. Malahan setelah merampas enam renteng
Pelangi Mustika Dunia, jadi lengkap. Karena enam renteng Pelangi Mustika Dunia itulah yang sebenarnya disebut Jala Karawelang.
Mengapa begitu? Sebab seseorang yang menemukan Pelangi Mustika Dunia adalah seumpama mendapatkan sebuah jala tanpa ikan. Meskipun sudah hebat, tapi belum terlalu hebat. Namun untuk mendapatkan ikannya, orang harus menggunakan jala tersebut. Tegasnya begini: Yang berada di keris Kyai Tunggulmanik dan Bende Mataram adalah—rahasia himpunan tenaga sakti.— yang berada pada Pelangi Mustika Dunia adalah jalur-jalur penuangan himpunan tenaga sakti.
Seseorang memperoleh keris Kyai Tunggulmanik dan Bende Mataram, adalah seumpama menemukan sebuah granat tanpa sumbu (dektonator). Kedua pusaka itu tak lebih hanya sebatang senjata tusuk dan sebuah bende untuk ditabuh. Di sini terbukti betapa dalam cara berpikir orang-orang zaman dahulu. Selain maknanya tinggi, dia pandai memilih bentuk dan sifat benda yang akan dibuat mengalihkan hakekat ilmu yang dikehendaki.
Sebaliknya seseorang yang memperoleh Pelangi Mustika Dunia, adalah seumpama menemukan sebuah granat tanpa isi. Pelangi Mustika Dunia terdiri dari beberapa renteng. Artinya dikesankan, bahwa untuk menyelami keseluruhan warisan ilmu sakti Patih Lawa ljo, seseorang harus sudah memiliki tenaga dahsyat seumpama tenaga gabungan beberapa orang sakti. Benar-benar mengagumkan orang yang memilih benda-benda ini sebagai penuang hakekat ilmu sakti warisan Patih Lawa ljo. Masing-masing mempunyai makna tinggi dan bisa mengelabuhi orang.
Sangaji dalam hal ini adalah tokoh yang dikehendaki sejarah hidup. Seumpama, dia tidak minum getah sakti Dewadaru. Seumpama dia tidak memiliki ilmu Bayu Sejati. Seumpama dia tidak memiliki ilmu Kumayan Jati. Seumpama dia tidak dicekik Bagus Wilatikta, sehingga membuat tiga
unsur tenaga sakti itu lebur menjadi satu keris Kyai Tunggulmanik dan Bende Mataram yang diperolehnya secara kebetulan pula, tiada artinya sama sekali. Maka terasalah dalam hati manusia, bahwa segala apa yang terjadi di atas dunia ini, sesungguhnya tergantung belaka pada nasib manusia yang sebenarnya sudah dikehendaki h i d u p itu sendiri. Seseorang tidak bisa mengada-ada atau mencapai tujuannya atas kehendaknya sendiri betapa sadar pun. Sebab ia akan digagalkan oleh suatu kekuasaan di atas kodrat manusia.
Demikianlah—tanpa memedulikan segalanya, Sangaji terus bersila. Sepatah demi sepatah, Titisari membisikkan kata-kata terjemahannya.
"Ohoi anakku!" terdengar Gagak Seta berseru.
"Mereka mencoba mendaki bukit. Kita ladeni tidak?"
Sangaji terus memeras otaknya tanpa memedulikan semua yang terjadi di sekitarnya. Memang ia pun mendengar seruan gurunya di seberang jembatan.
Namun tak berani ia membagi perhatian. Sebaliknya Gandarpati yang berada di seberang jembatan di samping Gagak Seta, gelisah bukan kepalang melihat persiapan-persiapan lawan. Gagak Seta sendiri menjadi bingung. Itulah lantaran ia melihat Sirtupelaheli diborgol kaki dan tangannya. Sebelas orang yang menamakan diri pelindung agama sucinya, sudah menanggalkan, pakaian
jubahnya. Mereka kini mengenakan pakaian singsat. Kemudian menyengkelit semacam benda lemas. Tak. usah dikatakan lagi, itulah senjata mereka dan mereka siap untuk bertempur.
Di atas dinding ketinggian, belasan orang memasang gendewa-gendewa yang sudah dipentang. Anak panah dibidikkan ke arah gubuk. Yang mengkhawatirkan empat orang bersenjata kampak raksasa berdiri tegak di belakang punggung Sirtupelaheli. Sebagai seorang pendekar yang berpengalaman tahulah Gagak Seta, bahwa mereka akan merencanakan suatu maksud dengan kekerasan. Jika hati mereka tak berkenan, maka empat orang itu akan menghabisi jiwa Sirtupelaheli dengan satu kali aba-aba.
Tatkala itu matahari telah condong ke barat! Sinarnya mulai terasa lembut. Hawa pegunungan jadi segar bugar. Angin melayah rendah menggeribiki mahkota semak belukar yang mencongakkan diri dari sela-sela batu. Suasana demikian, sebenarnya tidaklah cocok menjadi latar belakang suatu ancaman pertempuran yang bakal menentukan.
Sekonyong-konyong sebelas orang pelindung Utusan Suci membentak dengan berbareng. Lalu mereka merangsak dengan berbareng dengan menggusur punggung Sirtupelaheli semacam perisainya.
Sangaji yang berada di dalam gubuk kaget. Ia melemparkan pandang keluar pintu. Sebelas orang pelindung Utusan Suci sudah hampir sampai mencapai seberang jembatan. Gagak Seta nampak tenang, la melintangkan tongkat bajanya. Sedang Gandarpati telah
mendekati senjata pemunahnya—bukit batu yang bisa digugurkan ke bawah tanjakan.
"Gandarpati!" seru Gagak Seta. "Senjata gurumu itu tepat di waktu malam. Sekarang—lebih baik kau kutungi leher tawanan itu. Niih... pedang ini jauh lebih berguna daripada senjata tumpukan batu!"
Gagak Seta lantas mengangsurkan pedang Sangga Buwana. Dan buru-buru Gandarpati menerimanya dan ditandalkan di atas leher tawanannya. Pedang Sangga Buwana memangnya pedang mustika. Begitu dihunus, sinarnya berkilauan menyilaukan mata.
"Bagus! Bagus!" Gagak Seta lagi-lagi tertawa berkakakan. "Jika mereka berani majn gila, kau sabetkan pedang itu sedikit saja. Tanggung kepala mereka bakal copot!"
Jahil kata-kata Gagak Seta. Tapi dengan begitu, membuat gerakan mereka jadi merandek. Mereka mengawaskan dengan mata melotot. Wajahnya kelihatan gusar bukan kepalang.
Seorang laki-laki yang mengenakan jubah hijau, tiba-tiba tampil ke depan. Kemudian berseru dalam bahasa Melayu: "Dengarkan! Kami adalah Ketua dari semua orang yang berada di sini. Nah, kalian lepaskan orang-orang kami! Dan kami akan mengampuni jiwa kalian. Di mata kami, tawananmu itu tak lebih daripada seekor babi dan kambing sembelihan. Mereka tidak berharga sedikit pun. Apa perlu kalian mengandalkan pedang di atas leher mereka. Percayalah anjing buduk lebih berharga daripada rriereka. Kalian tak percaya? Baik, kalian bunuh saja! Di dalam aliran kami, terdapat puluhan ribu orang yang
derajatnya sama dengan mereka. Mampusnya mereka, tiada artinya.. "
"Kau mengoceh seperti burung!" tiba-tiba suatu suara bening jernih. Dialah Titisari yang telah keluar dari gubuk. Sambil berjalan melintasi jembatan batu, ia berkata meneruskan: "Kami tahu, mereka berdua adalah duta-duta suci kalian yang lebih tinggi kedudukannya.
Kau mengatakan anjing buduk jauh lebih berharga daripada mereka? Baik, itu kata-katamu sendiri. Memang mereka lebih menyerupai anjing kudisen!"
Alis orang berjubah hijau itu terbangun. Setelah menimbang-nimbang sebentar, lalu menyahut nyaring:
"Di dalam aliran kami, terdapat tiga ratus enam puluh pemimpin kelompok. Mahendratta dan Udayana menempati kedudukan yang ke tiga ratus enam puluh delapan dan sembilan. Kami mempunyai seribu dua ratus orang Utusan Suci. Nah, tahulah kami kini—bahwa mereka berdua bukan tokoh yang penting. Bunuhlah saja, kalau kamu bosan!"
"Baiklah!" kata Titisari. "Paman! Kau bunuhlah kedua tawanan itu. Kami sudah bosan!"
"Baik!" sahut Gagak Seta. Sekali meloncat ia merampas pedang Sangga Buwana yang berada di dalam genggaman Gandarpati. Kemudian menyabet kepala Mahendratta dan Udayana dengan berbareng. Sebelum Utusan Suci yang berada di belakang orang berjubah hijau itu, memekik kaget. Tetapi tebasan Sangga Buwana betapa dapat mereka rintangi. Mereka hanya melihat pedang Sangga Buwana. Dalam jarak setebal jari pedang itu menabas kepala Mahendratta dan Udayana dengan sekali gerak. Dan rambut mereka terpapas sebagian dan
terbang tertiup angin. Kembali lagi Gagak Seta mengangkat pedang Sangga Buwana dan menabas dua kali berturut-turut. Akibatnya sama pula. Setiap kali hendak mengenai batok kepala, tiba-tiba berbelok arah dalam satu detik saja. Kini menyentuh jubah mereka.
Dan kainnya terobek menjadi potongan berhamburan. Itulah suatu keahlian luar biasa. Mahendratta dan Udayana pingsan lantaran ketakutan.
Sedang sebelas orang rekannya berdiri terpaku oleh rasa kagum luar biasa.
"Apa kamu sudah pernah melihat ilmu sakti Gagak Seta?" teriak Titisari. "Dalam kalangan kami, Gagak Seta menduduki kursi pendekar yang ketiga ribu lima ratus empat puluh sembilan. Kepandaiannya belum boleh dikatakan berarti. Apabila dengan mengandalkan jumlah besar kamu menyerang kami, para pendekar di seluruh Pulau Jawa akan bangkit membalaskan sakit hati kami. Mereka akan menyapu bersih aliran kamu, meskipun kamu sudah mencoba lari mengungsi ditengah-tengah Pulau Lombok. Apakah kamu sanggup melawan kehebatan mereka? Itulah sebabnya jalan satu-satunya yang paling baik ialah berdamai dengan kami...."
Orang berjubah hijau itu, bukan manusia goblok. Ia tahu, Titisari sedang mengoceh seperti dirinya untuk menggertak. Tapi dia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukan. Mendadak seorang berperawakan tinggi besar yang membawa kampak di belakang punggung Sirtupelaheli, berkata nyaring: "Tiada gunanya kita mencoba menginsyafkan. Kita habisi saja nyawa perempuan ini..... "
Sangaji terkejut. Kalau ancaman itu benar-benar dikerjakan, Sirtupelaheli akan tewas seketika itu juga. Rasanya ia ikut bertanggungjawab. Gurunya yang terkenal berani dan gesit, bersikap hati-hati menghadapi mereka. Itulah suatu tanda bahwa dia mau mengalah demi keselamatan Sirtupelaheli. Menimbang demikian, ia lantas melesat keluar gubuk. Hebat gerakannya. Karena kaget, gusar dan bersungguh-sungguh—ia menggunakan sepenuh tenaga saktinya. Sekali menggenjotkan kaki, tubuhnya terbang melayang melintasi jembatan dan turun dengan manisnya di depan orang berjubah hijau itu.
"Mau apa kau!" bentak empat orang berkampak dengan berbareng. Mereka sekarang tidak hanya bersenjata kampak, tapi pun mengeluarkan cambuk, martil, pedang dan golok. Lalu menyerang dari samping.
Orang berjubah hijau sendiri, pada saat itu tertegun karena rasa kagum dan kaget. Karena rasa kagum dan kaget itulah, dia kehilangan dirinya. Untung—empat orang anak buahnya telah bergerak melindungi. Kalau tidak, dengan mudah saja Sangaji dapat menawannya.
Dalam pada itu melihat empat orang menyerang dengan berbareng, Sangaji membawa sikapnya yang tenang luar biasa, la kini sudah paham tentang kunci-kunci rahasia ilmu silat aliran Suci. Geraknya yang pertama hanya merupakan suatu gerakan tipu muslihat. Itulah sebabnya, ia tidak memedulikan. Sebaliknya dengan gerakan kilat, tangannya menyambar dan mencengkeram jalan darah dua orang yang menyerang mula-mula. Dengan menggunakan jurus ada di dalam tiada, sekonyong-konyong senjata mereka berbelok arah dan saling bentrok sangat nyaringnya. Begitu kebentrok,
serangan mereka lantas tiada mempunyai sasaran lagi. Kesempatan itu dipergunakan Sangaji untuk menyambar orang berjubah hijau. Dengan menghentakkan tangan, ia melemparkan tawanannya yang baru lewat di atas kepalanya. Tubuh orang itu melambung tinggi di udara. Begitu melayang turun, Gagak Seta menggantolnya dengan tongkat bajanya dan dilemparkan jungkir-balik menyeberangi jembatan batu.
Inilah suatu tontonan yang menarik. Seorang manusia yang berkedudukan tinggi kena dilontarkan jungkir balik di tengah udara tak ubah bola keranjang. Empat orang bawahannya terkesiap. Belum lagi tahu apa yang harus dikerjakan, kaki mereka kena kesapu. Dengan memekik kaget, mereka terpental jauh dan menggelundung ke dalam jurang bersusun tindih.
Tiba-tiba seorang berjubah putih yang bersenjata sepasang pedang pendek menikam. Sangaji mengelak dan menendang pergelangan tangannya. Secepat kilat orang itu menyilangkan kedua tangannya dan menikam kempungan. Tikaman itu cepat dan diluar dugaan. Untuk menyelamatkan jiwa, terpaksa Sangaji melompat tinggi.
Ternyata orang itu adalah pengawal pribadi si Jubah hijau. Dialah jago nomor dua dalam kalangan Utusan Suci. Setelah gagal, ia terus merangsak dan mengirimkan serangan berantai. Sangaji melayani dengan tenang. Setelah bertempur sembilan jurus, diam-diam Sangaji memuji kepandaian orang itu.
Biarpun sudah memahami ilmu sakti Utusan Suci, tetapi karena belum pernah berlatih Sangaji belum juga dapat mempergunakan dengan lancar. Dalam belasan jurus yang pertama, ia hanya bisa mempertahankan diri
dengan ilmu kepandaiannya sendiri. Setelah dua puluh jurus, barulah ia bisa menggunakan ilmu sakti Utusan Suci dengan agak licin.
Orang itu bernama Warmadewa. Sebenarnya itulah suatu gelar kehormatan. Warmadewa pada tahun 915, dikenal sebagai leluhur raja-raja Bali yang memerintah Pejeng dan Bedulu. Mamanya sendiri: Ugrasena. Karena ilmu kepandaiannya sangat tinggi, ia memperoleh gelar kehormatan itu. Tugasnya mewariskan semua ilmu sakti Utusan Suci. Tugas suci itu seumpama seorang keturunan dewa melahirkan anak keturunannya.
Dalam kalangannya, ia sudah mendapat lawan yang setanding. Itulah sebabnya begitu menghadapi Sangaji, ia kaget berbareng geram. Itulah pula pengalamannya yang pertama kali, ia berhadapan dengan seorang lawan yang luar biasa tangguhnya.
Sesudah bertanding kurang lebih tiga puluh jurus, tiba-tiba Sangaji menggunakan salah satu jurus yang terdapat pada senjata engsel pelangi mustika dunia. Ia memeluk betis Ugrasena. Jurus itu merupakan jurus rahasia yang belum pernah digunakan oleh Ugrasena sendiri. Begitu betisnya kena peluk, Sangaji mencengkeramkan tangannya. Ugrasena lantas saja roboh dengan lemas, la menghela napas dan menyerah kalah.
Mendadak saja, timbullah rasa sayang Sangaji terhadap kepandaian Ugrasena. Sambil melepaskan pelukannya, ia berkata: "Kepandaianmu sangat tinggi. Biarlah kau mempertahankan terus nama besarmu. Pergilah dengan damai!"
Ugrasena merasa sangat berterimakasih bercampur malu. Inilah kekalahannya untuk yang pertama kalinya. Buru-buru ia melompat balik memasuki gerombolannya.
Tatkala itu, Titisari dan Gandarpati telah menyeret si Jubah hijau menyeberang jembatan. Mahendratta dan Udayana dibawa pula menyeberang. Kemudian mereka berdua menjaga tawanan itu dengan Sangga Buwana terhunus.
Gagak Seta sendiri—setelah memperlihatkan kepandaiannya—tidak membutuhkan pedang tajam itu lagi. Dengan melintangkan tongkat bajanya di depan dadanya, ia berkata nyaring: "Lekas kalian antarkan Sirtupelaheli kemari! Ketiga orang ini akan kami serahkan pula..."
Sebelas pelindung Utusan Suci lantas sibuk berunding dengan suara perlahan.
Mereka menggunakan bahasa Lombok. Karena itu sesungguhnya tidak perlu mereka berbicara kasa-kusuk.
Setelah selesai berunding, Mohe mewakili mereka. "Kami bersedia meluluskan permintaan kalian. Tapi kalian harus menjawab pertanyaan kami. Ilmu kepandaian pemuda itu, terang sekali ilmu kepandaian kami. Darimanakah dia memperolehnya? Berilah kami keterangan sejelas-jelasnya!"
Sambil menahan rasa geli. Titisari menjawab, "Kamu semua sekumpulan manusia-manusia tolol. Dengarlah! Pemuda itu adalah murid ke delapan Paman Gagak Seta. Tujuh kakak seperguruan dan tujuh adik seperguruannya, tak lama lagi akan tiba di sini. Kalau mereka
semua tiba, kamu sekalian akan dibasmi. Nah—apa perlu rewel tak keruan?"
Mohe sebenarnya seorang yang cerdas otaknya.
Hanya saja ia kurang menguasai bahasa Melayu selancar Titisari. Ia tahu, gadis itu sedang mengarang suatu cerita. Setelah berpikir sejenak, ia berteriak: "Baiklah— kami menyerah. Saudara-saudara, antarkan Sirtupelaheli!"
Dua orang anggota Utusan Suci lantas mengantarkan Sirtupelaheli ke seberang jembatan. Tangan dan kakinya masih terborgol kencang dengan rantai besi. Titisari jadi mendongkol. Pikirnya, manusia-manusia yang menamakan diri Utusan Suci ini mengapa menganggap manusia lain seperti bukan manusia penuh-penuh? Mereka memborgol orang semacam binatang galak.
Kalau tidak diajar rasa, sampai kapan mereka terbuka matanya.... Memperoleh pikiran demikian, dengan dua kali menyabetkan pedang Sangga Buwana ia memutuskan rantai pengikat kaki dan tangan Sirtupelaheli. Dan melihat ketajaman pedang itu, kedua pengantar ketakutan setengah mati dan buru-buru kembali dalam rombongan mereka.
"Sirtupelaheli sudah kalian terima kembali. Sekarang tinggal menunggu janji kalian...." teriak Mohe.
Sangaji maju tiga langkah, sambil merangkapkan tangannya, ia menyahut: "Lombok—Bali—Sumbawa adalah negara Nusantara. Kita semua adalah sesama saudara, sesama bangsa dan setanah air. Kami mengharap dengan kejadian ini, janganlah mengecilkan hati tuan-tuan. Dengan demikian tidak akan menerbitkan suatu salah paham di kemudian hari.
Sebenarnya secara kebetulan, kami bersompokan dengan tuan-tuan. Seumpama gubuk itu adalah gubuk kami, maka kami akan mengundang tuan-tuan makan minum di sini. Untuk segala kesalahan dan kekurangan ini, kami mohon maaf sebesar-besarnya...."
Mohe tertawa terbahak-bahak. "Kami semua kagum kepada ilmu kepandaianmu yang . sangat tinggi. Apakah tidak semestinya, di kemudian hari kami akan terus mempelajari ilmu sakti leluhur kita itu? Kami datang dari jauh. Karena itu, izinkan kami pulang ke pulau kami...."
Mendengar kata-kata yang sopan itu, Sangaji membungkuk memberi hormat. "Tepat sekali kata-kata Tuan. Nah, selamat jalan...."
Setelah berkata demikian, ia memutar tubuh dan berjalan menyeberangi jembatan batu. Ia menjenguk Fatimah. Gadis yang bernasib malang itu masih dalam keadaan lupa-lupa ingat. Lukanya tidak menjadi parah, tapi pun tidak menjadi kurangan. Melihat keadaannya, hati Sangaji jadi berduka.
Sirtupelaheli kala itu berdiri termenung-menung di tepi jembatan, la sama sekali tidak menengok, tatkala mendengar langkah Sangaji menghampiri. Pemuda itu jadi memperoleh kesempatan untuk mengamat-amati perawakan tubuhnya dari belakang. Dia sebenarnya bukan seorang pemuda bongor. Tapi betapa pun juga, dia seorang laki-laki.
Dengan rasa kagum ia mengawaskan potongan tubuh Sirtupelaheli yang langsing gemulai. Sebagian rambutnya yang hitam lekam bergeribik kena tiup angin senja hari dan kulitnya yang kuning keputih-putihan seakan-akan batu pualam. Gurunya Gagak Seta - mengesankan,
bahwa Sirtupelaheli adalah seorang wanita tercantik yang pernah dilahirkan dunia. Pujiannya benar-benar terbukti. Pantaslah pada zaman mudanya dahulu rumah perguruan gurunya pernah tergoncang imannya.
Dalam pada itu, ketika tawanannya telah dibebaskan dari belenggunya, Sangaji lantas menghampiri dan membungkuk hormat berulangkali.
"Tuan-tuan sekalian kini bebas merdeka. Enam senjata warisan leluhur kita ini, biarlah kami bertiga yang menjaga. Sebab kalau sampai hilang atau kena rampas seorang jahat, kami jadi ikut bertanggungjawab."
"Tidak-tidak begitu!" potong si Jubah hijau. "Itulah pusaka turun-temurun kami. Biarlah kami yang menjaga. Tuan hidup dalam perantauan. Kemungkinan hilangnya jauh lebih besar daripada kami. Meskipun Tuan seorang berkepandaian tinggi, mustahil dapat melawan kawanan penjahat dengan seorang diri. Kalau sampai kena rampas, bagaimana kami harus bertanggung-jawab di depan leluhur kami kelak?"
"Pelangi Mustika Dunia adalah pusaka leluhur kami semua," sambung Gagak Seta. "Bukan pusaka segolongan orang. Kalau Tuan berebut hak—kamilah sebenarnya yang lebih tepat. Sebab pusaka itu berasal dari tanah Jawa. Kalau sekarang berada di sini artinya seperti kerbau kembali ke kandangnya. Bagaimana mungkin kami akan menyerahkan kepada Tuan-tuan?"
Tapi Mahendratta bertiga tidak mau mengerti. Si Jubah hijau terus memohon-mohon. Lambat-laun Sangaji berpikir di dalam hati. "Biarlah aku membuka matanya sedikit. Kalau tidak tersadar sekarang, di kemudian hari bisa menjadi penyakit." Berpikir demikian ia lantas
berkata memutuskan. "Kami sebenarnya bersedia mengembalikan barang ini kepada Tuan-tuan. Hanya saja kami khawatir, bagaimana cara Tuan-tuan menjaganya. Kepandaian Tuan-tuan masih sangat rendah. Mustika ini pasti bakal hilang. Daripada kena rampas orang, bukankah lebih baik berada dalam penjagaan kami?"
"Hm, bagaimana orang luar bisa merampasnya?" Mahendratta dan Udayana berkata berbareng.
"Jika tak percaya, boleh Tuan-tuan coba," sahut Sangaji. Ia lantas menyerahkan enam renteng pusaka Pelangi Mustika Dunia.
Si Jubah hijau girang. Tapi baru saja mengucapkan kata terima kasih, tiba-tiba saja Sangaji menyambarnya kembali dan merebut dengan mudah.
"Curang!" teriak Mahendratta dengan suara bergusar. "Tuan mendahului sebelum dia memegang erat-erat."
Sangaji tertawa. "Tak apa—boleh tuan coba." Dan ia menyerahkan enam senjata Mustika Dunia kepada Mahendratta.
Sesudah memasukkan empat renceng ke dalam sakunya, yang dua digenggamnya erat-erat pada tangannya. Kemudian ia memasang kuda-kudanya.
"Sekarang boleh coba!" tantangnya.
Serangan Sangaji dipapaki dengan pukulan pada pergelangan tangan. Jurus demikian ini memang akan berhasil terhadap lawan setaraf rekan-rekannya. Tapi Sangaji memiliki tenaga raksasa yang berada di luar
perhitungan nalar. Dengan mudah saja, ia membalikkan tangan.
Kemudian menyambar dua renceng Pelangi Mustika Dunia sekali renggut. Karena tenaga yang dipergunakan sangat besar, kedua senjata itu tergoncang dan saling berbenturan. Sudah demikian, Sangaji dengan diam-diam mengirimkan pula tenaga dahsyatnya melalui lengan. Tahu-tahu tenaga Mahendratta sirna larut. Kedua lengan Mahendratta bergantungan tanpa tenaga lagi. Dan dengan tenang, Sangaji merogoh keempat renceng Pelangi Mustika dari dalam sakunya. Setelah itu memungut dua renceng Pelangi Mustika lainnya, yang runtuh di tanah akibat suatu benturan tadi.
"Bagaimana? Apakah Tuan-tuan masih ingin mencoba lagi?" gertak Sangaji dengan suara rendah.
Paras muka Mahendratta, Udayana dan si Jubah hijau pucat lesi. Dengan berbareng mereka berkata gemetaran.
"Kkkau kau bukan manusia. Kau setan!"
Mahendratta lalu mendahului melompat. Di luar kesadarannya sendiri, ia roboh terguling. Udayana dan si Jubah hijau segera menolong membangunkan. Kemudian mendukungnya dan dibawanya lari menuruni tanjakan.
"Selamat jalan! Maafkan kami... kami telah membuat kesalahan terlalu banyak..." seru Sangaji dari seberang jembatan.
Mereka menggerutu dan memaki-maki kalang-kabut. Takut kalau makiannya kena didengar Sangaji, mereka mempercepat larinya seperti diubar setan. Sebentar saja tubuh mereka lenyap di balik tikungan jalan.
Lanjutan Bende Mataram


GUGURNYA SEORANG PAHLAWAN
TAK TERASA TUJUH TAHUN telah lewat dengan diam-diam. Banyak sekali yang telah terjadi. Sirtupelaheli telah hilang dari percaturan. Gagak Seta melanjutkan perantauannya seperti dahulu. Kedua pendekar angkatan tua
itu berada pada jalan hidupnya masing-masing. Dunia seolah-olah melupakan. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Pada saatnya nanti mereka pasti dimunculkan kembali di layar percaturan hidup oleh yang mengadakan kehidupan ini.
Juga Sangaji, Titisari, Fatimah dan Gandarpati. Mereka ikut disembunyikan pula di balik layar. Setelah peristiwa senja hari itu, Sangaji dan Titisari membawa Fatimah menyeberang ke Karimun Jawa. Gandarpati dengan sendirinya ikut serta. Di pulau itu, mereka bertemu dengan Adipati Surengpati yang sedang menolong jiwa Astika. Itulah kebetulan sekali. Fatimah lantas diserahkan. Setelah berada beberapa minggu di pulau itu, Sangaji dan Titisari balik kembali ke Jawa Barat. Mereka menunaikan tugasnya beberapa tahun lagi. Lalu pindah ke Jawa Tengah. Hal itu terjadi karena perubahan kancah perjuangan tanah air.
Kemudian tahun 1821 tiba dengan diam-diam.
WAKTU ITU pesta Hari Raya Idulfitri telah lewat tiga hari. Meskipun demikian suara keriuhan kanak-kanak masih terdengar memecahkan kesunyian Dusun Sigaluh. Rumah-rumah penduduk yang mencongakkan diri dari rumpun bambu dan pohon-pohon kelapa, masih nampak bersih terkapur. Kesannya semarak.
Sawah dan ladang yang membatasi perkampungan itu, kelihatan penuh-penuh. Padi menjanjikan musim panen yang bagus. Di pinggir pengempangan terdengar gemercik air pegunungan yang mengalir tiada hentinya. Itulah sebabnya, sebagian sawah yang terletak di bawah bukit sebelah timur mulai digarap lagi.
Pada pinggang bukit itu terdapat sebuah danau kecil. Penduduk mengairi sawah dan ladangnya dari danau itu. Karena danau itu tidak pernah kering sepanjang musim, penduduk menamakannya dengan Telaga Impian, sebagai pernyataan rasa syukurnya.
Sekawanan anak nakal pada pagi hari itu, sedang bermain-main di pinggir empang yang berair lendut. Mereka bermain juru silam berbareng berhantam baku. Tak peduli hawa pagi hari itu masih terasa dingin lembap, mereka bertelanjang bulat. Mukanya dipupuri Lumpur basah. Lalu berteriak-teriak atau menandak-nandak seperti sekumpulan anak siluman.
Di antara mereka terdapat seorang anak laki-laki kira-kira berumur dua belas tahun.
Perawakan anak ini tegap berwibawa.
Pandang matanya tajam. Kedua kakinya pengkuh23. Urat-uratnya berwarna hijau kelabu dan mendosol penuh. Ia bergaya seorang jagoan yang berani menentang malaikat. Tiba-tiba berdiri tegak sambil berseru nyaring :
"Hayoo.... siapa berani berlomba dengan aku mencari ikan dalam Telaga Impian. Hayoo... siapa berani?"
Setelah berkata demikian, ia melumpuri seluruh tubuhnya. Kemudian lari mendahului mendaki bukit. Kawan-kawannya lantas ikut serta, meskipun tiada seorang pun yang berani menerima tantangannya. Mereka hanya ikut berlari asal ikut saja. Mereka percaya, bahwa sebentar lagi si Jagoan itu bakal menciptakan suatu permainan yang menarik.
23 ) Pengkuh = kokoh
Setelah tiba di tepi Telaga Impian, seorang kanak-kanak yang sebaya umurnya mencelupkan kakinya ke dalam permukaan air. Lalu berseru sambil menarik kakinya.
"Kau gila! Air begini dingin. Kau mau mencebur? Nyeburlah sendiri!"
"Kenapa tidak?" si jagoan menyahut. "Kau ikut nyebur atau tidak?"
"Tidak!" jawab anak itu.
"Huuu... dasar semua setan-setan pengecut!" gerutu si jagoan kecil. "Tak ada seorang pun yang berani?"
Anak-anak menjawab koor: "Tidak."
Si Jagoan kecil itu nampak kecewa. Ia jadi uring-uringan. Dengan mata menyala ia menatap kepada seorang anak yang berperawakan gendut bulat. Berkata memerintah: "Bolot! Hayo, kau saja yang ikut aku mencari ikan. Jangan takut! Siapa saja yang ikut Sentot, pasti disayang Tuhan!"
"Aku lebih senang mencium kakimu daripada mencebur," sahut Bolot. "Senot! Kau seorang yang kuat. Engkau sakti seperti Ontoseno, mana bisa kita melawannya?"
"O, begitu? Baiklah. Mari sini!" perintah Senot.
Tanpa purbasangka Bolot mendekat. Sekonyong-konyong ia kena sambar dan dilemparkan ke dalam telaga. Senot lalu menyusul. Telaga itu sebenarnya lebih mirip dengan kubang air. Permukaan airnya setinggi pundak bocah belasan tahun. Dengan demikian, tidak membahayakan jiwa. Hanya saja airnya dingin luar biasa.
"Mati aku! Mati aku! Dinginnya luar biasa!" Bolot mengeluh.
"Kau bilang aku Ontoseno. Kau pun sakti pula!" kata Senot. Rupanya bocah itu tidak senang apabila diumpak. Dan kawan-kawannya yang berdiri di pinggiran, bersorak-sorak riuh. "Bawa saja menyilam! Bawa saja menyilam!" teriaknya menganjurkan.
Selagi ramai bersenda gurau, terjadilah suatu perubahan dengan tiba-tiba. Mereka tidak bersuara lagi. Dan seperti berjanji mereka berpaling ke arah barat. Senot heran oleh perubahan mendadak itu. Ia lantas berdiri tegak dan melemparkan pandang ke arah perhatian mereka. Dari celah-celah bukit muncullah tiga orang menunggang kuda.
Dusun Sigaluh boleh dikatakan terletak di tengah-tengah barisan gunung dan bukit-bukit. Di sebelah utaranya berdiri deretan Gunung Tugel dan Gunung Rogojembangan. Dan di sebelah timur lautnya Gunung Sindoro, Bhisma, Perahu dan pegunungan Dieng.
Di sebelah barat barisan bukit itu, terdapat sebuah jalan raya ke Kota Waringin— Wonosobo. Dahulu jalan raya itu terpelihara baik-baik. Setelah terkena serangan banjir, lebih merupakan sebuah jalan pegunungan. Penduduk mencoba memperbaiki sebisa-bisanya. Meskipun tak dapat pulih seperti sediakala, tapi lumayan juga. Pedagang-pedagang, para pembesar pemerintah dan tentara berkuda masih menggunakan jalan itu sebagai urat nadi perhubungan. Dengan begitu sebenarnya kedatangan tiga orang berkuda itu, tidak usah menarik perhatian kawanan kanak-kanak. Bukankah
mereka sering melihat rombongan orang berkuda pergi dan datang?
Tapi kanak-kanak di seluruh dunia ini cepat tertarik kepada penglihatan pertama. Mereka yang datang itu, terdiri dari seorang preman dan dua orang perwira.
Kedua perwira itu mengenakan sepatu tinggi. Dan yang preman berbrewok tebal. Ia nampak gesit. Pandang matanya terang. Usianya sekitar empat puluh tahun.
Ketiga orang itu berpakaian rapih, tapi compang-camping tak keruan. Di sana-sini nampak debu dan percikan darah. Terang sekali mereka habis berkelahi. Tatkala mereka harus melintasi sebuah parit pengairan sawah, mereka turun dari kudanya. Dan berjalan pelahan-lahan dengan muka kuyu. Penglihatan inilah yang menarik perhatian kawanan kanak-kanak.
Melihat kedatangan mereka, Senot dan Bolot segera melompat ke tepi. Kemudian buru-buru mengenakan pakaiannya kembali. Senot yang dianggap sebagai jagoan kawan-kawan sebayanya, benar-benar paling gagah dan berani. Dengan berdiri tegak di tepi telaga, ia mengawaskan ketiga orang itu. Matanya bersinar tajam. Namun mulutnya membungkam rapat-rapat.
"Letnan Johan!" kata si Brewok setelah memandang Senot selintasan. "Tadinya aku tak percaya—bahwa di dusun ini bersembunyi seorang pandai. Tapi sekarang, kabar itu makin meyakinkan hatiku. Benar-benar Demang Sigaluh tidak boleh dianggap enteng."
Orang yang dipanggil Johan itu, seorang perwira yang berkulit kuning keputih-putihan. Dia berasal dari Menado. Sedang kawannya, bernama Matulesi. Dia seorang
Ambon. Mendengar kata-kata si Brewok, mereka berdua mengamat-amati Senot sambil menuntun kudanya.
Tiba-tiba di belakang mereka, terdengar suara ringikan kuda. Serentak mereka menoleh dan melihat seekor kuda putih lari mendatangi dengan kecepatan kilat. Suara ringikannya tadi terang sekali masih berada jauh di belakangnya. Begitu menoleh, tahu-tahu suatu kesiur angin lewat di sampingnya. Lalu dengan suara berderap, kuda itu melintasi parit pengairan dengan penunggangnya sekaligus.
Johan dan Matulesi saling pandang dengan perasaan kaget. Sedang kawanan kanak-kanak bersorak-sorak kagum. Lalu seperti berjanji, mereka lari bersama meninggalkan telaga.
Begitu tiba di seberang parit, penunggangnya turun dari kudanya. Dia seorang pemuda yang berparas sangat cakap. Dengan menggeribiki pakaiannya ia mengusap-usap kudanya yang putih mulus tak ubah kapok.
Johan berubah wajahnya. Dengan mulut berkomat-kamit ia berkata berbisik kepada dirinya sendiri.
"Apakah mataku sudah lamur? Bukankah dia..... Eh,
masakan dia muncul pula di sini?"
Matulesi tak keruan pula kagetnya. Dengan mata tajam ia mengamat-amti pemuda itu. Usia pemuda itu, kurang lebih sembilan belas tahun. Badannya ramping dan parasnya cakap luar biasa. Kulitnya kuning langsat. Gerak-geriknya halus dan keayu-ayuan. Ia menuntun kudanya, dan menghampiri gerombolan kanak-kanak yang mengaguminya. Setelah menyiratkan pandang, ia tersenyum manis sekali. Kemudian menggapai Senot.
Katanya lembut, "Adik kecil! Kau naiklah ke punggung kuda ini!"
Senot maju dengan hati-hati. Pandangnya bercuriga. Sahutnya menaksir-naksir, "Aku belum kenal engkau. Mengapa kau memanggil aku?"
Perawakan tubuh Senot hanya kalah seibu jari tngginya daripada pemuda itu. Malahan ketegaran tubuhnya nampak lebih kokoh. Melihat kesan itu, kawan-kawannya menjadi berani pula. Mereka ikut mendekat.
Mendengar keangkuhan hati Senot, pemuda itu tertawa perlahan. Suaranya nyaring merdu meresapkan pendengaran. Sebaliknya, Senot merasa tersinggung kehormatannya. Dengan mata melotot, ia membentak:
"Hai! Kenapa kau tertawa? Apa. yang kautertawai? Apakah lantaran mukaku kaya badut?"
Pemuda itu masih tertawa selintasan. Sahutnya dengan muka bersemu merah, "Siapa yang bilang engkau bermuka badut? Mukamu tidak buruk. Malahan menarik. Pakaianmu basah kuyup. Apakah engkau tidak kedinginan?"
"Tidak," jawab Senot dengan suara ketus, "Hanya kawanan setan pengecut yang takut dingin. Hm... aku kini malah merasa kepanasan kena terik matahari."
Kembali lagi pemuda itu tersenyum. Katanya mengamini, "Benar. Aku pun merasa panas. Orang-orang gagah memang takkan merasa kedinginan pada pagi hari secerah ini."
Setelah berkata demikian, ia mengeluarkan saputangan dan mengusap keringat di dahinya.
Sikap Senot lantas berubah, la tertawa sambil mengawasi. Katanya tak kurang angkuhnya, "Ya, kau pun nampaknya orang gagah pula. Baiklah, kau boleh menyebut diri seorang gagah. Hm—untuk apa kau memanggil aku?"
"Aku hanya ingin bertanya—dimanakah rumah Demang Sigaluh?"
Pertanyaan pemuda itu disambut dengan suara tertawa berbareng. Kata seorang di antara mereka, "Dialah cucu Gelondong Sigaluh. Bukankah yang kau maksudkan: Kakek Jaga Saradenta?"
"Bukan... bukan," sahut pemuda itu. "Yang kumaksudkan ialah Paman Sanjaya. Kabarnya dia berada di rumah Demang Sigaluh. Dia pindah kemari dari Dusun Karangtinalang, setelah isterinya wafat."
"Benar. Dialah putera nDoromas Sanjaya," seru anak itu. "Mamanya Raden Mas Senot Muradi."
Pemuda itu nampak girang luar biasa. Ulangnya, "Senot Muradi? Kalau begitu, dia benar-benar adikku. Hayo, tolong antarkan aku kepada ayahmu!"
Senot Muradi membungkam mulut. Suara tertawanya lenyap. Sebaliknya ia mengamat-amati pemuda itu dengan pandang curiga. Lalu menegas. "Kau ingin bertemu dengan ayahku?"
"Benar," jawab pemuda itu. "Bukankah ibumu Bibi Nuraini? Nah, antarkan aku. Nanti kuperseni engkau dengan sekantung kembang gula... "
Tiba-tiba Senot Muradi menggerakkan tangannya. Sebelum orang sadar apa maksudnya, tahu-tahu kedua
tangannya menyambar ke arah muka pemuda itu.
Keruan saja kawan-kawannya terkejut dan mundur bubaran. Mereka memang tahu Senot Muradi anak nakal dan berani. Hanya saja tak pernah menduga, bahwa ia seberani itu. Memukul seorang tetamu yang bersikap sopan adalah sangat keterlaluan.
Pemuda itu nampaknya terkejut. Akan tetapi bibirnya terus menyungging senyuman manis. Katanya sambil mengibaskan sapu tangannya.
"Senot Muradi! Aku tak mempunyai waktu untuk bermain jago-jagoan."
Hebat kibasan sapu tangannya. Sekalipun tidak disertai tenaga penuh, namun berkelebatnya mengejutkan Johan dan kedua temannya. Sekarang muka Senot Muradi yang kena ancaman. Kibasan itu menghantam muka.
Cepat Senot Muradi mundur. Justru mundur, kakinya tercebur di dalam kubangan air. Namun ia tak sudi mengalah. Teriaknya gusar.
"Aku pun tak mempunyai waktu untuk mengantar engkau. Ayahku tak sudi menemui siapa saja. Apalagi engkau...!"
"Belum tentu. Ayahmu tak mungkin menolak kedatanganku," sahut pemuda itu dengan tertawa. "Dia justru ingin bertemu dengan aku."
"Tidak mungkin! Tidak mungkin!" jerit Senot Muradi dengan melotot. "Ayahku tak sudi bertemu dengan siapa saja. Pergi! Pergi!"
"Senot Muradi, janganlah kau tertalu nakal," kata pemuda itu menyabarkan. "Kau antarkan aku! Lihatlah— aku mempunyai sekantung kembang gula."
"Apa anehnya kembang gula? Apakah aku ini anak kelaparan sehingga ngilar melihat sebungkus kembang gula?" bentak Senot Muradi.
"Pergi! Jangan ganggu aku! Kalau berani hayo sini turun ke air?" Setelah berkata begitu, ia mundur ke tengah kubang air sambil menepuk-nepuk permukaannya.
Pemuda itu nampak berkerut, la jadi mendongkol. Katanya, "Senot? Kau benar-benar anak bandel. Aku akan memaksamu naik ke darat...."
"Boleh coba!" tantang Senot Muradi.
"Kau tak percaya?" pemuda itu tertawa geli. "Aku akan memaksamu."
Pemuda itu membungkuk dan memungut segenggam kerikil. Dengan sekali gerak, ia mengayunkan tangannya. Dan segenggam batu kerikil itu berhamburan ke udara. Heran sungguh! Nampaknya ia seperti seorang pemuda tak berdaya. Tak terduga tenaganya sangat besar. Segenggam batu kerikil itu meluruk ke pengempangan. Begitu runtuh di permukaan air, percikannya memukul muka Senot Muradi. Buru-buru Senot Muradi menjatuhkan diri dan menyelam. Tapi air terlalu dangkal. Benar kepalanya sudah berada di dalam permukaan air tetapi punggungnya masih menongol. Dan pemuda itu nampaknya seorang penyabar. Dia membiarkan Senot Muradi menyelam sepuas-puasnya. Begitu mukanya di angkat, kembali ia melunaki batu kerikil.
Diperlakukan begitu, Senot Muradi jadi kuwalahan. Ia terpaksa mundur dan mundur. Karena kena dikejar batu, tak terasa ia mundur berputar. Tahu-tahu ia sudah meloncat tinggi ke tepi kubangan air dengan pakaian basah kuyup.
"Nah—bagaimana?" kata pemuda itu dengan tertawa.
Bolot—si Gendut—menonton pertunjukkan itu dengan hati berdebar-debar. Meskipun tadi ia kena dijeburkan ke dalam telaga oleh Senot Muradi, tetapi dia tetap kawannya. Melihat kawannya kena di desak orang, ia sangat khawatir.
Tiba-tiba ia melihat Senot Muradi menggapai padanya. Tak memedulikan apa saja, ia lantas lari menghampiri. Untung pemuda itu tidak berniat menghajar Senot Muradi benar-benar. Khawatir kalau timpukannya mengenai Bolot, ia menghentikan dan membiarkan Bolot mendekati Senot Muradi.
Senot Muradi membisikkan sesuatu. Bolot memanggut. Lalu tiba-tiba didorong pergi. Dia sendiri lantas melompat kembali ke dalam kubang air.
Teriaknya, "Mana dapat kau memaksa aku naik ke darat? Boleh coba! Boleh coba!"
Pemuda itu jadi mendongkol. Ancamnya, "Aku tetap mengehendaki kau mengantarkan aku." Dan ia menimpuk makin gencar. Mau tak mau, Senot Muradi terpaksa berputar-putar lagi. Tahu-tahu ia sudah melompat ke darat. Pemuda itu tertawa girang, selagi demikian tiba-tiba ia mendengar suatu bentakan.
"Benar-benar tak tahu malu! Kenapa menggangu kesenangan seorang anak kecil?"
Pemuda itu menoleh dan melihat si Brewok datang menghampiri dengan muka gusar. Kedua perwira yang berada disampingnya terkejut melihat kawannya itu maju dengan gusar. Mereka ingin mencegah, tetapi sudah kasep.
"Aku hanya bermain-main. Kenapa kau usilan?" balas pemuda itu. "Kau lihat sendiri apakah aku mengenai seujung rambutnya?"
"Dia memang anak nakal. Tapi apakah kau pun bukan bocah liar?" bentak si Brewok tak menghiraukan ucapannya. "Aku Mundingsari, tidak akan membiarkan tindakan sewenang-wenang berlaku di depan mataku. Senot, "kau balaslah! Gebuk padanya. Apakah aku harus menggebuknya untukmu?"
Pemuda itu tertawa melalui hidungnya.
Gerendengnya: "Hm.... Orang gagah dari-mana kau ini, sampai berani berlagak di sini? Bulumu masih basah kuyup. Meskipun demikian masih berani berkokok di depan mataku."
Paras muka Mundingsari lantas menjadi merah. Bentaknya kasar, "Binatang kecil? Kau bilang apa?"
Setelah membentak demikian, tangannya berkelebat menghantam dada.
Pemuda itu yang masih menggenggam sapu tangan, mengibas menangkis. Buru-buru Mundingsari menancapkan kuda-kudanya untuk menghadapi segala kemungkinan. Tapi dia menyaksikan, bahwa tenaga pemuda itu bukan sembarangan tatkala menimpukkan segenggam kerikil kepada Senot Muradi. Ia menduga, pastilah pemuda itu memiliki tenaga sakti tersembunyi.
Dugaannya ternyata tepat. Nampaknya ia hanya mengibaskan sapu tangan. Akibatnya suatu kesiur angin menyambar mukanya. Ia lantas menyodok memunahkan.
Cepat-cepat pemuda itu membuat suatu lingkaran dengan sapu tangannya. Dengan mendadak ia menangkis dengan tangan kiri. Dan sapu tangannya menyapu muka.
Mundingsari terpaksa mundur selangkah. Dengan menggunakan tenaga sakti, ia menyambut kibasan itu dengan suatu tamparan. Itulah jurus membuka jendela melihat rembulan. Dalam segebrakan, kedua orang itu sadar bahwa lawannya bukan orang sembarangan.
Tetapi bila diamat-amati, ilmu kepandaian Mundingsari setingkat lebih rendah daripada pemuda itu. Lewat segebrakan lagi, ia kena diundurkan beberapa langkah.
Melihat kedua orang itu bergebrak makin lama makin seru, gerombolan kanak-kanak itu berdiri berpencaran jauh-jauh. Mereka menonton sambil bertepuk sorak.
Bolot yang basah kuyup juga ikut berdiri menonton di antara kawan-kawannya. Tiba-tiba Senot Muradi mendeliki. Dan kena pandang yang mengerikan itu, Bolot lantas menangis sambil lari pulang.
"Aku pulang... Aku pulang! Awas kau Senot.... Kubilangkan ayahmu..."
Kawan-kawannya pada heran mendengar dan melihat Bolot menangis pulang. Apa sebab dia menangis tak keruan? Mereka tahu—meskipun dia bukan sebandel Senot tapi pun tidak gampang-gampang menangis. Apalagi sampai menjadi pengecut cengeng. Sungguh! Belum pernah mereka melihat Bolot jadi seorang
pengecut cengeng. Tetapi mereka tak dapat berpikir berkepanjangan. Perhatian mereka segera terenggut oleh jalannya pertempuran.
Tatkala itu, tiga serangan berantai Mundingsari dapat dipunahkan oleh pemuda lawannya. Dan pemuda itu membalas satu serangan. Juga serangannya dapat dielakkan Mundingsari. Setiap kali Mundingsari maju, pemuda itu dapat mendesaknya ke tempatnya kembali. Sebaliknya setiapkali pemuda itu bergerak maju, ia kena dipukul mundur pula. Dia memang berada di atas angin. Tapi tak dapat segera menjatuhkan lawannya. Dengan demikian, kedua-duanya belum memperoleh kesempatan untuk memutuskan menang kalahnya.
Diam-diam Mundingsari mengeluh. Sebagai seorang kenamaan yang sudah berumur sekitar empat puluh tahun, ia merasa malu sekali tak dapat menjatuhkan lawannya semuda itu. Padahal dia sudah bertempur beberapa waktu lamanya. Dalam jengkelnya, ia lantas mengeluarkan ilmu simpanannya yang bernama: pukulan Arca. Hebatnya tak terkatakan. Setiap pukulannya mengandung angin dahsyat. Tetapi dengan begitu, terpaksa ia menggunakan tenaga yang berlebih-lebihan.
Sesudah lima gerbrakan, pemuda itu tiba-tiba berkata nyaring: "Maaf—aku tak mempunyai waktu untuk melayani kau. Sampai di sini saja!"
la melesat tinggi ke udara dan hinggap di atas kudanya. Kemudian melarikannya secepat kilat memasuki desa. Inilah suatu kegesitan luar biasa. Baik Mundingsari maupun kedua temannya, berdiri tertegun keheranan. Terang-terangan—pemuda itu menang di atas angin. Apa
sebab tiba-tiba kabur melarikan diri? Pasti dia menggenggam maksud tertentu.
Tatkala itu Senot Muradi sudah naik ke darat. Dengan menepuk-nepuk tangan, ia berseru nyaring: "Bagus!
Inilah baru pertarungan bagus sekali!"
Muka Mundingsari merah padam.
"Senot! Apakah ayahmu berada di rumah?"
"Kau pun menanyakan ayahku?" sahut Senot Muradi dengan melototi. Tiba-tiba tangannya menghantam dada Mundingsari. Mundingsari cepat-cepat mengelak. Kakinya menggaet. Dan Senot Muradi roboh terjengkang. Tapi begitu jatuh si Bandel meletik bangun dengan gagahnya.
"Apakah kau yang bernama Mundingsari, seorang pendekar bekas bawahan Ayah?" ia bertanya.
"Benar," Mundingsari menyahut sambil memanggut-manggut. "Jadi kau masih ingat aku?"
Sebenarnya Senot Muradi belum lagi dilahirkan di dunia tatkala Mundingsari menghamba kepada Pangeran Bumi Gede. Mundingsari adalah salah seorang pendekar Pangeran Bumi Gede. Hanya saja empat tahun yang lalu ia pernah datang mengunjungi ayah Senot di Karangtinalang. Ia menginap satu malam. Sebagai kenang-kenangan ia mengajari sejurus ilmu menggaet kepada Senot Muradi. Itulah sebabnya, begitu kena gaet dan jatuh terjengkang, bocah itu segera teringat kembali pada malam menerima ajaran jurus tersebut. Ia lantas mengamat-amati Mundingsari. Dahulu ia tidak berberewok seperti sekarang. Tetapi setelah mengamat-amati sejenak, ia lantas tertawa riang :
"Benar... engkau adalah kakakku. Bukankah aku berhak memanggilmu kakak setelah kau mengajari aku beberapa jurus ilmu pukulan kosong?"
Lega hati Mundingsari mendengar pertanyaan Senot Muradi. Ia membalas dengan tertawa bersyukur. "Benar, aku memang kakakmu seperguruan."
"Kau tadi memukul dengan tiga jurus berantai terhadap pemuda sombong itu. Dia kena kauundurkan setiap kali hendak merangsak maju. Kau ajari aku tiga jurus itu!"
Mundingsari tertawa terbahak-bahak sambil menggeribiki percikan lumpur akibat sambaran tangan Senot Muradi yang kotor. Kemudian menyahut :
"Adik Senot! Kau bocah jempolan. Selang dua tahun lagi, kakakmu bukan lagi tandinganmu. Baiklah aku berjanji akan mengajarimu. Mari kita berangkat sekarang!"
"Kau bertiga?" sahut Senot Muradi menegas.
"Benar," jawab Mundingsari. "Kedua perwira ini sahabat-sahabatku. Mereka bernama Letnan Johan dan Matulesi."
Mendengar pembicaraan itu, Letnan Johan dan Matulesi kagum pada si Bocah. Ia belum boleh dikatakan cukup umur, namun pengetahuannya tentang ilmu silat tak tercela. Malahan pengetahuannya berada di atas mereka. Mereka berdua lantas datang menghampiri mengulurkan tangan.
Di luar dugaan, si Bandel tidak sudi mengangsurkan tangannya. Ia hanya melirik seakan-akan seorang
pembesar tinggi. Sama sekali ia tak melihat pula.
Katanya kepada Mundingsari, "Kak Mundingsari! Lantaran memandang mukamu, aku akan mengantarkan engkau menghadap Ayah. Akan tetapi apakah Ayah mau menemuimu atau tidak, jangan salahkan aku."
Mundingsari tertawa geli dalam hati. Pikirnya, dia masih bocah ingusan. Tapi gayanya seperti seorang pendekar kawakan. Sebaliknya dua orang perwira yang terbentur tembok, mendongkol hatinya melihat sikap Senot Muradi. Tentu saja, ia tak dapat melampiaskan rasa mendongkolnya di depan Mundingsari. Terpaksa mereka menelan mentah-mentah.
Sambil menuntun kudanya, mereka bertiga mengikuti Senot Muradi. Setelah berjalan kurang lebih setengah jam, sampailah mereka pada jalan pedusunan yang berliku-liku. Ternyata dusun yang dihampiri bukan Dusun Sigaluh. Tetapi suatu perkampungan sendiri yang memencil. Letaknya dibawah bukit. Sebuah rumah batu berbentuk benteng kuno nampak menjulang tinggi di antara rumpun pohon. Pekarangannya luas. Dan di depannya terdapat beberapa batang pohon kamboja.
Mundingsari dan kedua kawannya segera menambatkan kudanya masing-masing. Kemudian menghampiri sebuah pintu masuk yang tertutup rapat. Senot Muradi kala itu sudah mendahului masuk dengan berlari-lari sambil berseru: "Ayah! Kakak Mundingsari datang berkunjung, la kini berberewok."
Tetapi seruan itu tiada yang menjawab. Di dalam rumah sunyi senyap. Tiada yang terdengar berkutik. Senot Muradi berpaling kepada tetamunya. Berkata mengajak :
"Kak Mundingsari, mari! Mari masuk!"
Mundingsari dan kedua perwira itu lalu memasuki ruang depan. Pada dinding sebelah kanan, mereka melihat tiga coretan kecil. Coretan kecil itu merupakan suatu rangkaian gambar. Gambar sebuah keris, jala berkembang dan bende.
Melihat tanda gambar itu, Mundingsari terkesiap. Terang sekali gambar itu baru saja tergambar pada dinding. Entah siapa yang membuat. Segera ia mengelanakan pandangnya ke seluruh pendapa. Ia memberanikan diri untuk menjenguki kamar-kamar.
Semuanya kosong dan tiada sesuatu yang terganggu atau kena sentuh tangan jahil.
"Mungkin sekali gambar itu tanda pengenal seorang penjahat yang terlalu percaya kepada kemampuannya sendiri," kata Letnan Johan.
Mendengar kata-kata Letnan Johan, Senot Muradi bersenyum merendahkan, la seperti hendak berkata, bahwa hal itu cukup terang benderang. Apa perlu dikatakan.
"Mungkin sekali tanda pengenal yang ditinggalkan pemuda tadi," kata Letnan Johan lagi.
"Benar!" Letnan Matulesi menyambung. "Mundingsari! Sembilan bagian pasti dia!"
"Pemuda itu berilmu tinggi," Letnan Johan mengakui. "Apakah tidak mungkin sahabat yang hendak kau temui kena dibinasakan olehnya?"
"Mana bisa!" bentak Senot Muradi. "Meskipun ayahku bercacat kaki tapi untuk membunuh penjahat semacam
pemuda tadi gampangnya seperti membalikkan tangannya sendiri. Apalagi, disamping Ayah masih ada Kakek. Kau bilang ayahku, kena dibinasakan pemuda tadi. Hm, apakah kau hendak main coba-coba adu kepandaian dengan Ayah?"
Letnan Johan jadi naik darah. Mukanya merah padam. Segera ia hendak melampiaskan rasa gusarnya. Tetapi Mundingsari sempat mencegah dengan menarik lengannya ke samping. Kemudian berkata membujuk kepada Senot Muradi.
"Maksud Letnan ini baik sekali, la tidak pernah mengatakan, bahwa ilmu kepandaian ayahmu rendah."
Senot Muradi tetap memberengut. Hatinya masih tersinggung. Mundingsari yang mengenal keadaan ayahnya, memaklumi. Seperti diketahui, Sanjaya kena senjata berbisa ayah angkatnya sendiri, tatkala sedang mengadu kepandaian dengan pendekar Kebo Bangah. Dengan tak sengaja, butiran senjatanya mengenai kakinya. Untuk merebut jiwanya, Wirapati memangkas kutung kaki kanannya. Kemudian ia dibawa pergi Nuraini ibu si Bocah itu.
"Adik Senot!" kata Mundingsari lagi. "Coba kau masuklah dahulu. Ayahmu sudah pulang atau belum. Kami menunggu di sini. Besok pagi aku akan mengajarimu tiga pukulan berantai. Dari jauh kakakmu ini datang. Masakan kau main bersungut-sungut terus-menerus?"
Mendengar kata-kata Mundingsari, Senot Muradi tertawa.
"Kak Mundingsari! Aku ingat, kau gemar minum-minuman keras. Waktu itu kau mengajari aku dengan diam-diam. Hampir-hampir ketahuan Ayah. Baiklah Kakek Jaga Saradenta mempunyai simpanan arak buatan sendiri. Nanti kucurikan barang sebotol. O ya kami masih mempunyai simpanan daging babi hutan."
"Aduh! Babi hutan?" Mundingsari mengambil-ambil hati. "Babi hutan di sini terkenal ganas. Pastilah engkau sendiri yang membunuhnya."
Mendengar sanjungan yang nyaman itu, Senot Muradi menjadi puas sekali. Ia lantas berjalan dengan langkah ringan. Katanya menambahi kegagahannya, "Babi hutan di sini memang biadab sekali. Entah sudah berapakali ia mencelakai orang-orang kampung. Ini adalah salah seekornya yang paling kecil."
"Ah!" Mundingsari memperlihatkan rasa kagumnya. "Kalau begitu engkau pernah membunuh yang lebih besar!"
Senot Muradi tertawa senang. Lalu mempersilakan duduk ketiga tetamunya dalam ruang tengah. Ia sendiri terus berjalan ke belakang dengan mengangkat mukanya. Setelah pintu ditutup, tak terdengar lagi langkah kakinya.
"Bocah itu berkepala besar. Entah bagaimana ayahnya," gerendeng Letnan Johan. "Mundingsari apakah pendekar besar yang kau sebutkan adalah ayahnya?"
"Tak salah," sahut Mundingsari. "Dalam rumah ini berdiam dua orang pendekar yang namanya pernah menggetarkan dunia. Yang satu seorang berusia tua, bekas Demang Sigaluh. Namanya Ki Jaga Saradenta.
Yang lain Raden Mas Sanjaya putera almarhum Pangeran Bumi Gede."
"Apakah benar-benar kita dapat mengharapkan bantuan mereka?"
"Itu tergantung kepada nasib kita belaka," sahut Mundingsari. "Ki Jaga Saradenta sebenarnya sudah menutup pintu, lantaran usianya sudah terlalu lanjut. Sedang Raden Mas Sanjaya tidak bersemangat lagi setelah kematian isterinya. Kalau sekarang masih mempunyai kemauan hidup, semata-mata mengingat pendidikan anaknya dan ketenangan hidup ibunya."
"Kalau begitu, apa perlu kau mengajak kami kemari?" Letnan Johan tidak puas.
"Urusan kami ini perlu mendapat pertolongan secepat mungkin. Sekiranya mereka sudah tak bersemangat lagi, bukankah perjalanan ini jadi sia-sia?"
"Mungkin sekali dengan mengingat diriku, Raden Mas Sanjaya akan mengulurkan tangan," Mundingsari menghibur. "Sekiranya kau berdua merasa kurang tepat mengharap pertolongannya. Baiklah kalian mencari orang lain saja! Aku sendiri tidak dapat melihat jalan lain lagi."
Kedua perwira itu saling memandang dengan membungkam mulut. Mereka lantas menarik kursi dan duduk dengan menghempaskan diri. Sekian lamanya mereka menunggu, tetapi Senot Muradi belum muncul juga. Mereka lalu membuka baju luarnya dan membedaki lukanya dengan obat bubuk baru.
"Bangsat bertopeng itu, benar-benar hebat!" terdengar Letnan Matulesi berkata setengah mengeluh.
"Di antara puluhan orang, ternyata kau sendirilah yang tidak menderita luka."
"Sekalipun demikian, bukan berarti aku bebas dari ancaman bahaya," tangkis Mundingsari. "Hampir-hampir saja aku kena sabet pedangnya."
"Apakah salah seorang dari pendekar yang mendiami rumah ini bisa melawan bangsat bertopeng itu?" Letnan Johan minta diyakinkan.
"Ki Jaga Saradenta adalah guru pendekar yang paling besar pada zaman ini. Dan Raden Mas Sanjaya adalah saudara angkat pendekar yang paling besar pada zaman ini. Kalau salah seorang dari mereka berdua mau tampil mengulurkan tangan semuanya akan menjadi besar," jawab Mundingsari dengan suara mantap.
"Kau menyebut orang pendekar paling besar pada zaman ini sampai dua kali berturut-turut. Sebenarnya siapakah dia?"
"Kuterangkan atau tidak, apakah faedahnya," kata Mundingsari dengan suara malas.
Kedua perwira itu tak berani terlalu mendesak. Mereka lantas membicarakan kegagahan orang yang di sebut sebagai bangsat bertopeng itu.
"Jika gagal, habislah sudah seluruh jiwa sanak-keluargaku," Letnan Johan mengeluh sedih. "Ya, Tuhan.... malapetaka begini mengapa justru meluruki aku."
"Karena itu, satu-satunya jalan hanya menjauhkan harapan kepada dua pendekar yang mendiami rumah ini," tungkas Letnan
Matulesi. "Kita masih beruntung bisa sampai di sini dan berusaha. Karena itu, janganlah kau meramalkan dahulu yang jelek-jelek."
Mundingsari bersikap dingin. Agaknya ia mendongkol mendengar pembicaraan mereka yang seolah-olah tidak menghargai jasanya. Selagi demikian, mendadak pintu dalam terjeblak lebar dan muncullah Senot Muradi. Anak itu melompat masuk dengan mulut terkunci rapat. Kesan mukanya tidak mengenakkan hati.
Mundingsari terkejut. Melihat Senot Muradi datang tidak membawa botol arak dan daging babi hutan seperti yang dijanjikan, ia segera bersikap hati-hati. Tanyanya mencoba :
"Adik—kau kenapa?"
"Kak Mundingsari! Sebenarnya kau menghargai persahabatan atau tidak?"
"Eh—apa katamu?" Mundingsari berdiri dari kursinya dengan pandang menebak-nebak.
"Kalau kau menghargai persahabatan kita, coba terangkan maksud kedatanganmu ini. Kalau kau tidak mau menerangkan, aku akan bilang kepada Ayah agar tak usah menemui kalian," sahut Senot Muradi dengan nada gusar.
"Kau tahu ayahmu kini berada dimana?" Mundingsari menegas.
"Tentu saja aku tahu," jawab Senot Muradi ketus. "Nah, katakan dan terangkan dengan jelas. Kau hendak mengajak ayahku bertempur melawan siapa?"
Heran Mundingsari mendengar ucapan anak itu. la tak tahu bahwa bocah itu sendiri mencari ayahnya ubek-ubekan. Setelah sekian lamanya mencari dan ayahnya tiada nampak, dalam otaknya yang kecil timbullah suatu dugaan. Pastilah menghilangnya ayahnya mempunyai hubungan rapat dengan kedatangan tetamu-tetamu itu. Juga kedatangan pemuda tadi. Ia lantas balik ke ruang tengah. Tepat pada saat itu, ia mendengar pembicaraan Letnan Johan dan Letnan Matulesi perkara bangsat bertopeng. Ia jadi curiga. Apakah mereka hendak mengajak ayahnya kena celaka pula? Itulah sebabnya, ia lantas menegur Mundingsari yang dikenalnya.
Beberapa saat lamanya, Mundingsari berbimbang-bimbang. Ia melirik kepada dua perwira itu. Kemudian menjawab perlahan.
"Baiklah—sekalipun kau masih kanak-kanak—tetapi engkau lain bila kuban-dingkan dengan bocah-bocah yang pernah kutemui. Aku akan berbicara terus terang kepadamu."
Ia mendeham dua tiga kali. Setelah memandang kedua perwira temannya berjalan, meneruskan: "Letnan Johan dan Letnan Matulesi ini masing-masing adalah komandan peleton kompi B yang berada di Cirebon. Aku diminta mereka untuk ikut mengawal barang angkutan ke Magelang. Tadinya kami bermaksud melalui jalan raya Semarang. Tapi berhubung jalan dimana-mana dilanggar banjir, kami lantas memutuskan melalui jalan Purwokerto-Magelang. Letnan Johan membawa tiga puluh anak buah. Letnan Matulesi tiga puluh dua orang. Eh, sama sekali tak terduga, bahwa setelah sampai di sebelah timur Banyumas, angkutan kami yang berisi
uang bernilai ratusan ribu ringgit, kena dirampas oleh seorang penjahat yang mengenakan topeng."
"Kak Mundingsari! Engkau pendekar gagah semenjak kau ikut Ayah. Apakah kau tak sanggup melawan?" potong Senot Muradi.
Mundingsari tertawa pedih. Sahutnya dengan muka bersemu merah: "Adik! Kalau aku bisa melawan dia, perlu apa aku datang kemari. Kedua perwira ini, menderita luka. Anak buahnya tersapu bersih. Ditawan atau dibunuh. Hanya kita bertiga masih beruntung, bisa merangkak-rangkak sampai di sini."
"Kalau begitu, penjahat itu tangguh luar biasa!" Senot Muradi jadi tertarik.
"Benar. Itulah sebabnya aku berani mengganggu ketenteraman ayahmu. Aku datang kemari untuk memohon pertolongan Beliau. Kalau ayahmu tidak mengulurkan tangan siapa lagi yang bisa membekuk penjahat itu?"
Betapapun juga, hati Senot Muradi ikut berbangga mendengar ayahnya disanjung puji. Tetapi dia ternyata seorang anak yang cukup cerdik dan tebal firasatnya. Ia lantas mundur ke ambang pintu sambil berkata: "Kak Mundingsari! Kau ternyata tidak sayang kepada seorang sahabat."
"Tak sayang bagaimana?" Mundingsari tak mengerti.
"Kau sudah tahu—Ayah seorang cacat kaki. Cacat ini diperoleh karena menghamba pemerintah. Karena itu Ayah kini benci kepada semua yang berbau pemerintah. Apalagi dengan segala pembesar yang suka menjilat-jilat pantat. Apa sebab engkau kini datang dengan bertujuan
hendak mengajak Ayah menolong seorang budak Belanda yang kehilangan barangnya? Seumpama Ayah bercelaka di tangan orang bertopeng itu, apakah kedua pembesar ini akan berduka cita? Huh! Mana bisa begitu. Tidak, aku tidak akan mengijinkan Ayah ikut campur!"
Mundingsari dan kedua perwira itu terbelalak. Mereka terlongong mendengar ucapan si anak di luar dugaan. Selagi terlongong demikian, tiba-tiba mereka tersadar oleh suara gabrukan pintu yang keras. Ternyata Senot Muradi melompat masuk dan menutup pintu rapat-rapat sebelum ketiga tetamu sadar dari rasa kagetnya.
Daun pintu itu terbuat dari kayu besi setebal satu kaki. Selain dilengkapi dengan gerendel, diganjal palang melintang terbuat dari balok. Kalau sudah diganjal, biarpun lima orang takkan kuat mendorong sehingga bisa terbuka.
Mundingsari dan kedua perwira itu buru-buru menghampiri pintu itu. Mereka mencoba mendorong. Selagi berkutat, pintu masuk di belakang tertutup pula. Mereka kaget setengah mati. Dengan satu lompatan mereka memburu pintu masuk. Tapi pintu ini pun sudah kena diganjal pula. Dengan begitu kini mereka kena terkurung seakan tiga ekor binatang galak. Mereka jadi mendongkol sekali.
"Adik Senot! Adik Senot!" Mundingsari mencoba memanggil dengan nada bujukan.
Mereka mendengar langkah ringan berlari-larian kian menjauh. Tahulah mereka, bahwa Senor Muradi justru lari menjauhi begitu mendengar panggilan itu. Kedua perwira itu jadi uring-uringan.
"Anak jahanam!" Letnan Johan memaki lantaran mendongkolnya. Lalu ia menubruk pintu. Namun pintu sama sekali tak bergeming. Rekannya mencoba membantu. Setelah berkutat sekian lamanya, tahulah mereka bahwa usaha itu sia-sia belaka. Mereka lantas memaki kalang kabut.
Ruang yang mirip ruang tengah itu, tidak berjendela. Di atas hanya terdapat sebuah lubang angin. Lubang angin itu menghadap ke dalam. Karena itu lebih tepat kalau dinamakan lubang keluar masuknya hawa.
Letnan Johan dan Letnan Matulesi gusar bukan main. Sesudah memaki kalang kabut, mereka menggerendengi Mundingsari "Mengapa mengajaknya kemari."
Kata Letnan Johan "Kau sudah tahu— sahabatmu itu benci kepada semua hamba negeri. Apa sebab kau membawa kami datang kemari?"
"Pastilah dia golongan penjahat pula,"
Letnan Matulesi menguatkan. "Mundingsari, sebenarnya apa maksudmu ini?"
Paras muka Mundingsari berubah menjadi gusar. Jawabnya dengan suara keras: "Saudara berdua jangan berkata yang bukan-bukan! Kalian tahu siapakah yang mendiami rumah ini! Kedudukannya dahulu lebih tinggi daripada majikan kalian."
Mendengar keterangan Mundingsari, kedua perwira itu kaget berjingkrak. Serentak mereka bertanya minta keterangan: "Siapa? Kau bilang sebagai sahabatmu. Kau menyebut-nyebut seorang Demang. Yang mana—yang berkedudukan tinggi melebihi majikan kami?"
Melihat kesangsian mereka, Mundingsari tersenyum. "Yang tua memang hanya seorang Demang. Artinya dia mengepalai sepuluh atau lima belas kepala kampung. Kalian berdua hanyalah seorang komandan peleton yang mengepalai beberapa puluh orang. Dibandingkan dengan kedudukkan-nya, dia lebih tinggi daripada kedudukan kalian berdua. Dan yang lain adalah putera seorang Pangeran. Artinya dia cucu Sultan yang memerintah kasultanan Jogjakarta. Kalian berdua tidak bisa dibandingkan. Seorang Kolonel Belanda tidak berani gegabah menghadapi dia," ia berhenti mengesankan. Meneruskan dengan suara ditekan-tekan. "Dia bernama Raden Mas Sanjaya. Ilmu kepandaiannya tinggi pula. Mula-mula belajar pada Ki Hajar Karangpandan. Kemudian diam-diam berguru kepada pendekar besar Pringgasakti. Setelah cacat kaki, dia mewarisi sebagian ilmu sakti saudara angkatnya yang menggemparkan seluruh dunia. Kalian tahu siapakah saudara angkatnya itu?" "Siapa?"
"Dialah Sangaji. Di Jawa Barat dia disebut Gusti Aji. Karena dialah raja yang menguasai laskar Himpunan Sangkuriang yang menggetarkan jantung Kompeni Belanda. Masakan kalian tak tahu?" kata Mundingsari dengan mulut mengulum ejekan.
"Sangaji," kedua perwira itu terkejut sampai mukanya pucat.
'"Tak salah! Sangaji—seorang pendekar besar pada zaman ini. Jangan lagi manusia yang terdiri dari darah daging. Iblis pun tak berani menyebut-nyebut namanya," sahut Mundingsari dengan suara menang.
Letnan Johan dan Letnan Matulesi makin nampak pucat. Keringat dingin membasahi sekujur badannya. Manusia di penjuru pulau Jawa ini, siapakah yang tak pernah mendengar nama Sangaji?
Mereka tadi mendengar pula, bahwa Demang Sigaluh Ki Jaga Saradenta adalah guru saudara angkat penghuni rumah ini. Kalau begitu, bukan sembarang orang.
Raden Mas Sanjaya dikabarkan sebagai saudara angkat Sangaji. Pada zaman mudanya ia berjuang di sisih Kompeni Belanda sebagai lawan Sultan HB II. Kedudukannya sangat tinggi di mata pemerintah Belanda. Teringat kata-katanya yang tidak enak terhadap tuan rumah, mereka merasa resah sendiri.
Mereka melihat Mundingsari duduk bersandar pada dinding dengan bersenyum-senyum tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi. Sikap diamnya kian meresahkan hati mereka.
Setelah saling pandang beberapakali akhirnya Letnan Johan berkata minta maaf.
"Saudara Mundingsari. Kami memang mempunyai mata, tetapi ternyata lamur. Kami tak tahu, bahwa saudara sebenarnya seorang berilmu tinggi yang tak mau menonjolkan diri. Kalau tidak, mustahil bisa bersahabat dengan kedua tuan rumah ini. Kami menyesal atas perlakuan kami yang Kurang baik terhadap saudara."
Permintaan maaf ini mempunyai latar belakangnya. Ia dan Letnan Matulesi dipercayai mengawal tiga laksa ringgit untuk uang belanja kompeni yang berada di Magelang. Sultan Kanoman dari Cirebon menyarankan, agar pengawalan ditambah dengan seorang yang
bernama Mundingsari. Dia adalah seorang pendekar kenamaan. Sudah barang tentu saran Sultan Kanoman ini memperoleh perhatian Komandan Kompeni B. Komandan itu menyetujui.
Sebaliknya mereka berdua jadi mendongkol. Mereka berdua mempunyai anak buah pilihan hampir mendekati enam puluh lima orang. Semuanya bersenjata dan merupakan peleton yang sudah berkali-kali berperang. Masakan perlu mendapat bantuan tenaga seorang lagi? Apalagi tenaga itu seorang preman. Tetapi di depan komandannya, tak berani mereka membuka mulut.
Sebelum berangkat, mereka mengadakan penyelidikan terlebih dahulu sebenarnya siapakah Mundingsari itu.
Hasil dari penyelidikan itu menyatakan, bahwa Mundingsari hidup tak lebih daripada seorang rakyat jelata. Sama sekali ia tak ternama. Meskipun demikian, mereka harus menerima tenaganya. Kalau menolak dengan terang-terangan, mereka bisa dipelototi komandannya.
Di sepanjang jalan, mereka bersikap dingin terhadap Mundingsari yang dianggapnya sebagai. saingannya. Di luar dugaan, Mundingsari ternyata mempunyai kepandaian yang sangat tinggi. Pada waktu terjadinya perampokan, hanya dia seorang yang dapat bertempur puluhan jurus melawan penjahat bertopeng tanpa mendapat luka. Sekarang ia pun mempunyai hubungan rapat dengan putera Pangeran Bumi Gede yang menyembunyikan diri di Dusun Segaluh. Kalau dia memang saudara angkat Sangaji yang menggemparkan persada bumi Jawa Barat, memang orang itu merupakan pilihan yang paling tepat untuk mengatasi kesukarannya. Penjahat bertopeng itu boleh hebat. Tapi menghadapi
saudara angkat guru Sangaji, masakan berani banyak bertingkah.
Mundingsari bersenyum mendengar permintaan maaf mereka.
"Ah, Tuan Letnan jangan bicara begitu. Aku hanya seorang rakyat jelata. Mana bisa tingkatanku sejajar dengan Tuan-tuan." Setelah berkata demikian, ia bersandar pada tembok sambil memejamkan matanya.
Hati kedua perwira tambah tidak enak, mendengar istilah tuan. Sebenarnya ingin mereka minta keterangan hubungannya dengan Ki Jaga Saradenta dan Sanjaya. Akan tetapi setelah mendengar nada suaranya yang tawar, mereka tak berani membuka mulut lagi.
Pada saat itu, otak Mundingsari sedang meraba-raba teka-teki yang terjadi pada diri Sanjaya. Ia kenal siapa Sanjaya. Dialah putera Pangeran Bumi Gede yang dahulu bercita-cita besar. Benarkah putera pangeran itu, kini membenci semua yang berbau pembesar negeri? Berkumpulnya Sanjaya dengan Ki Jaga Saradenta dalam, satu rumah, sebenarnya sudah merupakan suatu pertanyaan besar semenjak beberapa tahun yang lalu. Apakah alasannya?
Ia merasakan sesuatu yang mengerikan. Tetapi tak tahu apa yang menyebabkan ngeri itu. Apakah dia sudah kena bujuk Sangaji? Apakah dia berada di Sigaluh karena pesan istrinya? Apakah karena Senot Muradi kini menjadi murid Ki Jaga Saradenta? Pertanyaan yang lain-lain saling susul menyusul, lenyap tanpa jawaban.
Hai! la mengeluh di dalam hati, Kalau Raden Mas Sanjaya kini bukan Raden Mas Sanjaya yang dahulu ini artinya aku mencari penyakit sendiri.
Memang semenjak runtuhnya perjuangan Pangeran Bumi Gede, ia pulang ke Cirebon. Ia menyekap diri. Karena itu, tak tahu perkembangan yang terjadi. Ia hanya mendengar khabar selentingan. Raden Mas Sanjaya cacat kakinya akibat senjata ayahnya sendiri. Lalu kawin dengan Nuraini. Dari perkawinan itu, lahirlah Senot Miiradi. Ia pun pernah membuktikan. Kabar itu ternyata benar. Hanya saja ia tak tahu, bahwa Sanjaya dahulu bukanlah Sanjaya sekarang. Dia kini benci kepada pemerintah Belanda dan segalanya yang berbau pembesar negeri. Mungkin sekali, karena ia kecewa di dalam hidupnya. Angan-agannya dahulu bubar buyar kena diruntuhkan satu kenyataan.
Memperoleh pikiran demikian, ia mengeluh lagi di dalam hati. Ia menyesali diri sendiri, apa sebab mau menerima tugas pengawalan ini. Memang setelah hidup kembali menjadi orang preman, ia harus memperhatikan dua hal. Yang pertama: butuh perlindungan. Dalam hal ini Sultan Kanoman yang menguasai daerah tempat ia menumpang hidup. Yang kedua: uang untuk bekal hidup tenteram. Dan kedua-duanya ini dipenuhi oleh tugas pengawalan itu. la ditunjuk Sultan Kanoman berbareng menerima upah besar. Itulah sebabnya, ia tak memedulikan sikap kedua perwira temannya berjalan.
Di sepanjang jalan ia mengadakan perhubungan dengan pendekar-pendekar yang menguasai wilayah-wilayah tertentu. Kenalannya memang banyak. Selain para pendekar, juga para begal. Dengan demikian, kereta kawalannya selamat tiada yang mengganggu.
Sebaliknya Letnan Johan dan .Letnan Matulesi menganggap amannya perjalanan itu berkat keangkeran pasukannya. Waktu itu hari raya sedang meriah-riahnya. Mereka berdua lantas menghambur-hamburkan hadiah, sambil menggenderangkan berita bahwa pasukannya merupakan peleton pilihan. Di Banyumas mereka beristirahat. Tiba-tiba datanglah segerombol pengemis minta sedekah. Pengemis itu berkata, bila memberi sedekah kepada mereka, perjalanan akan selamat.
Letnan Johan dan Letnan Matulesi tersinggung. Mereka memberi perintah kepada anak buahnya agar mengusir dan menggebuki segerombol manusia yang tak tahu adat itu. Di luar dugaan, gerombolan pengemis itu pergi dengan meninggalkan suara nyaring.
Sebagai seorang pendekar berpengalaman, Mundingsari menaruh curiga. Ia menduga akan terjadi suatu akibat yang jelek. Maka buru-buru ia menghadap kedua letnan itu agar memanggil gerombolan itu kembali untuk minta maaf!
Tentu saja, rasa harga diri kedua letnan itu kian tersinggung. Dengan suara keras mereka berkata: "Kami kau suruh minta maaf kepada gerombolan pengemis? Eh, sebenarnya kau ini siapa sampai berani berkata lancang di depan kami?"
Mundingsari tak sudi berbicara lagi. Ia lantas memasuki kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam. Keesokan harinya, setelah menyeberangi tikungan Kali Serayu, segerombolan begal yang mengenakan pakaian pengemis menghadang di tengah jalan. Dan pertempuran segera terjadi dengan sengit.
Mula-mula Mundingsari bersikap acuh tak acuh. Tetapi setelah melihat kedua perwira itu terancam bahaya, segera ia memacu kudanya dan menghantam empat pembegal yang bersenjata golok, dengan pedangnya, la berhasil mengundurkan mereka dan menolong kedua perwira itu. Selagi demikian, tiba-tiba seorang penjahat bertopeng datang dengan memacu kudanya. Dia bersenjata sebatang tongkat panjang. Dengan sekali sabet, pundak kedua perwira itu kena dilukai.
Mundingsari melompat melindungi mereka. Suatu benturan terjadi dengan dahsyat. Sesudah bertempur seru kurang lebih tiga puluh jurus, pedang Mundingsari somplak sebagian.
Penjahat bertopeng itu tertawa terbahak-bahak. Katanya nyaring, "Kau boleh dihitung seorang gagah. Nah, pergilah! Aku takkan mengusik kulitmu!"
Setelah berkata begitu, ia menarik kendali kudanya dan menjauhi Mundingsari. Dengan cepat ia menghampiri tiga kereta yang penuh uang. Setelah tiga kali menghantam dengan tongkatnya, lapisan kereta itu pecah. Isinya berantakan dan berhamburan di tanah. Anak buahnya segera mengumpulkan dan memunguti hamburan uang itu.
Dalam pada itu—enam puluh dua anak buah peleton— kena terbunuh atau tertawan. Habislah sudah keangkeran peleton Kompeni B yang dibangga-banggakan kedua perwiranya. Letnan Johan dan Letnan Matulesi kala itu, tiada berdaya. Mereka
Penjahat bertopeng itu tertawa terbahak-bahak. Katanya nyaring: "Kau boleh dihitung seorang gagah. Nah, pergilah! Aku takkan mengusik kulitmu!"
jatuh tertelungkup mendekami tanah. Buru-buru, Mundingsari merampas dua ekor kuda dan diserahkan kepada mereka berdua.
"Lari sebelum kasep."
Dengan menguatkan diri, mereka melompati punggung kudanya. Dan melarikan diri dengan petunjuk Mundingsari. Di sepanjang jalan Mundingsari memutar otaknya menebak-nebak siapakah penjahat bertopeng itu. Teringatlah dia, bahwa wilayah itu termasuk daerah kekuasaan Demang Sigaluh. la tahu pula, bahwa Raden Mas Sanjaya berada pula di sana. Kalau dua pendekar itu sudi mengulurkan tangan, penjahat bertopeng yang berhasil merampas uang negara bukan merupakan soal lagi. Sama sekali tak terduga, bahwa kedua pendekar itu membenci segala yang berbau pembesar negeri. Sikap Ki Jaga Saradenta dapat dimengerti. Sebab semenjak mudanya ia bermusuhan dengan Belanda. Tetapi Raden Mas Sanjaya adalah lain. Benarkah dia ikut-ikutan membenci pembesar negeri?
Sekarang ia berada di dalam rumahnya. Ki Jaga Saradenta tidak muncul. Raden Mas Sanjaya tidak menampakan batang hidungnya. Sedang pintu kena terganjel dari luar oleh si bocah nakal. Benar-benar sial!
Selagi melamun demikian, tiba-tiba ia mendengar suara Letnan Matulesi :
"Bocah.... Bocah baik itu, kenapa belum juga balik kemari? Bisa-bisa.... kita mati kelaparan di sini." Sebenarnya ia ingin mengutuk Senot Muradi. Tapi ia menguasai diri.
Mundingsari tertawa geli. Ia membuka matanya. Di luar lubang angin tiada nampak lagi cahaya terang. Siang sudah berganti petang? Ia pun sebenarnya merasa lapar juga seperti kedua perwira itu. Cepat-cepat ia duduk bersemedi menenteramkan hati.
Diam-diam Mundingsari berkuatir. Dusun Sigaluh tidak boleh dikatakan terlalu besar. Tapi mengapa Senot Muradi belum berhasil menemukan ayahnya? Apakah dia tidak mencarinya? Atau apakah ayahnya menjumpai suatu perkara pelik! Teringatlah dia kepada kedatangan pemuda tadi pagi. Pemuda itu memang gagah. Tetapi tak mungkin dia bisa mengalahkan Raden Mas Sanjaya atau Ki Jaga Saradenta andaikata sampai terjadi suatu perselisihan. Kalau begitu, mengapa kedua-duanya belum juga pulang?
Petang kini sudah benar-benar memasuki malam hari. Ruang menjadi gelap ketat.
Hawa dingin mulai menyusup kulit, dan daging. Makin lama makin tajam. Itulah suatu tanda, bahwa malam hari kian merangkak-rangkak lebih jauh.
Kedua perwira itu menarik kursinya dan dipipitkan kepada dinding. Mereka lantas saling berdesakan untuk memperoleh hangat.
"Saudara Mundingsari!" bisik Letnan Johan.
"Ada apa?" sahut Mundingsari.
"Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan majikan rumah ini?" Letnan Johan minta keterangan.
"Empat tahun yang lalu, pernah aku datang kemari," jawabnya.
"Celaka!" Letnan Johan terkejut. "Kalau begitu, hubunganmu tidak serapat kusangka. Aku khawatir, mereka tidak hanya tidak sudi menolong tapi pun membiarkan kita bertiga mati kelaparan di sini. Sebenarnya, apa sebab mereka membenci pemerintah Belanda?"
Mundingsari mendongkol berbareng geli. Jawabnya dengan suara tawar: "Ki Jaga Saradenta adalah seorang pendekar besar. Raden Mas Sanjaya adalah putera seorang pangeran. Jika mereka menghendaki jiwa kita, tidak perlu menggunakan akal bulus dengan membiarkan mampus kelaparan di sini."
Kedua perwira itu menegakkan badannya. Terdengar Letnan Johan berkata dengan suara gemetaran: "Kau... kau bilang apa? Mereka memang menghendaki jiwa kita?"
Mundingsari tertawa bergerak. "Orang-orang yang mati di dalam tangannya adalah orang-orang besar yang mempunyai nama. Orang-orang semacam kita ini, tidak cukup berharga untuk mati di dalam tangannya. Kalian tak usah khawatir!"
"Tapi kenapa mereka tidak mau melepaskan kita?"
Letnan Matulesi menyambung. "Malahan si Bocah..... si
Bocah baik itu, tidak muncul lagi. Pastilah dia menerima kisikannya."
"Bagaimana aku tahu?" Mundingsari membalas dengan suara geram.
Baru saja kedua perwira itu hendak membuka mulut, tiba-tiba lubang angin di atas nampak suatu sinar cerah. Semangat hidup mereka lantas terbangun. Sekonyong-konyong mereka mendengar suara tertawa aneh mirip jeritan seekor babi kena sembelih. Dan mendengar bunyi suara demikian, bulu roma mereka bergidik.
"nDoro Mas Sanjaya!" terdengar suara seseorang. "Benar-benar nikmat hidup bersembunyi di tengah dusun yang sunyi ini. Hampir-hampir putus asa kami mencarimu."
Hati Mundingsari tercekat. Tahulah dia sekarang Sanjaya sudah pulang. Siapakah tetamu yang memiliki suara begitu jelek? Menilik lagu suaranya, dia bersikap memusuhi.
Sebagai seorang yang berpengalaman, segera ia merasakan suatu ancaman bahaya. Segera ia menekan pergelangan tangan kedua perwira itu agar jangan bersuara atau berkutik. Ia sendiri lantas menumpuk dua kursi pada tembok. Kemudian dengan hati-hati berdiri mengintip di atasnya—melalui lubang angin.
Kamar yang berada disebelah merupakan kamar gandok tempat penerima tetamu. Di tengah-tengah kamar terdapat sebuah meja bundar dan empat kursi pendek setengah bangku. Di pojok berdiri sebuah almari besar.
Tiga orang duduk di atas kursi berhadap-hadapan. Yang menghadap ke arah Mundingsari adalah Sanjaya. Waktu itu usia Sanjaya sekitar tiga puluh tujuh tahun, la
masih nampak cakap seperti pada zaman mudanya. Angkar dan berwibawa. Tetamunya yang duduk di sebelah kirinya berkepala luar biasa besarnya dan berperawakan pendek kecil. Kesannya lantas aneh dan lucu, yang berada di kanannya seorang yang berwajah beku. Kedua pipinya menonjol ke atas. Sekilas pandang tahulah Mundingsari, bahwa orang itu pasti memiliki suatu keistimewaan yang tersembunyi. "Sebenarnya apakah maksud kedatangan Tuan-tuan kemari?" Sanjaya bertanya sabar setelah mendeham beberapa kali.
"Hampir lima belas tahun, nDoromas menyekap diri di pedusunan. Meskipun cita-cita kita dahulu gagal, namun Sultan yang bertahta sekarang masih teringat padamu."
Sanjaya tertawa perlahan melalui hidungnya. Katanya malas: "Sewaktu kita mengadakan gerakan, Sultan yang bertahta sekarang baru belajar merangkak-rangkak."
"Benar," sahut si Kepala gede dengan cepat. "Tetapi nDoromas tahu, bahwa Sultan Jarot mempunyai perwalian yang terdiri dari tiga orang. Gusti Patih Danurejo IV, Raden Tumenggung Pringgadiningrat dan Raden Tumenggung Mertanegara. Beliau bertiga inilah yang selalu teringat kepada keberanian dan kepandaian nDoromas. Tiga kali, kami berdua diperintahkan mencari nDoromas. Tapi tiga kali pula kami gagal. nDoromas ternyata sudah lama pindah dari Desa Karangtinalang. Hai, tak tahunya nDoromas hidup begini senang di tempat ini. Kami mengetahui, bahwa hidup tanpa ikatan adalah senang. Tetapi sesudah lima belas tahun menganggur, sudah semestinya kini nDoromas membantu pekerjaan Beliau bertiga."
Sanjaya menatap wajah mereka dengan mata berkilat-kilat seakan-akan ingin menjenguk isi perutnya. Meskipun dia hidup memencil di sebuah dusun, pergolakan yang terjadi di kota raja diketahuinya belaka. Semenjak Gubernur Daendels memerintah di Batavia, istana Jogjakarta terguncang hebat. Patih Danureja II membantu Daendels menjatuhkan Sultan Sepuh. Sultan HB III lantas naik tahta. Tetapi tatkala Inggris menggantikan pemerintahan, Sultan Sepuh diangkat kembali menjadi raja. Dan Sultan HB III diturunkan dari tahta dan menduduki tempatnya semula sebagai Adipati Anom. Akibat dari pergantian-pergantian Sultan ini, terjadilah pengikut-pengikut yang saling bersaing dan bermusuhan.
Patih Danureja II mati terbunuh. Sebagai penggantinya Adipati Sindurejo diangkat menjadi patih oleh Sultan Sepuh. Lalu mulailah suatu pembersihan. Kemudian Inggris datang lagi, Sultan Sepuh dibuang ke Penang. Dan HB III diangkat kembali menjadi Sultan. Patih Sindurejo dipecat dan kedudukannya diganti oleh Raden Tumenggung Sumadipura—bupati Jipang— dan kemudian bergelar Patih Danurejo IV. Pemerintahan baru ini mengadakan pembalasan dendam terhadap pengikut-pengikut Sultan Sepuh. Tiba-tiba Sultan HB III wafat pada tanggal 3 November 1814. Dan kegoncangan terjadi lagi. Sultan Jarot lantas naik tahta. Lantaran masih belum cukup umur, pemerintahannya diwakili tiga orang Menteri.
Orang berkepala gede dalam pada itu, tertawa haha hihi.
"Negara memang kacau balau semenjak sepuluh tahun yang lalu. Sekarang, meskipun Sultan Jarot sudah
akil baliq, kekuasaannya masih menyangsikan. Itulah sebabnya Gusti Patih teringat kepada panglimanya dahulu yang pernah mengguncangkan pemerintahan Sultan Sepuh. Tegasnya kami khawatir, bahwa Beliau tidak akan mengijinkan nDoromas Sanjaya hidup terus secara begini."
"Saudara Taker Urip dan Ampyak Siti," kata Sanjaya. "Saudara berdua keliru alamat. Sekalipun berada di tengah-tengah dusun sesunyi ini, kebetulan aku tahu bahwa orang-orang yang mendampingi Gusti Patih tidak terhitung jumlahnya. Semuanya berkepandaian tinggi. Sedangkan saudara Taker Urip dan Ampyak Siti merupakan dua tiang agung penjaga kesejahteraan Gusti Patih. Apakah gunanya manusia seperti aku ini yang sudah buntung kakinya. Kecuali itu aku mengetahui pula, bahwa negara kini sudah aman tenteram. Karena itu, saudara keliru bila berkata bahwa negara kini masih dalam keadaan kacau balau. Sungguh! Aku kurang mengerti kata-kata kalian berdua."
Kata-kata Sanjaya bernada sopan-santun, tetapi tajam tak ubah sebatang golok tajam. Dan Ampyak Siti orang yang berwajah beku—lantas tertawa terbahak-bahak. Katanya sambil mendongak ke atap, "nDoromas Sanjaya! Kami adalah orang-orang yang berisi perut lurus dan tidak biasa berbicara berputar-putar tak keruan juntrungnya. Apakah nDoromas Sanjaya tahu, bahwa Sri Paku Alam telah menyerahkan kekuasaan pemerintahan satu tahun yang lalu kepada Sultan Jarot? Ha, inilah soalnya, apa sebab kami datang mencari nDoromas."
Sanjaya semenjak mudanya memiliki otak yang hidup. Kedua tetamu itu boleh licin. Tapi dibandingkan dengan keenceran otaknya, mereka belum nempil. Ia tahu—
pemerintah Inggris dahulu—tidak menyetujui perwalian tiga orang itu. Pangeran Natakusuma (Sri Paku Alam) ditunjuk untuk menggantikan mereka bertiga. Sudah barang tentu, mereka bertiga bersakit hati. Sekarang ia mendengar kata-kata Taker Urip dan Ampyak Siti yang mengesankan sebagai utusan Patih Danurejo IV. Dengan cepat saja, ia lantas tahu kedudukan mereka berdua.
"Sudah sepuluh tahun lebih aku hidup mengasingkan diri," kata Sanjaya dengan tenang. "Sebagai rakyat pegunungan, aku tak tahu menahu lagi perkara pemerintahan. Lebih-lebih urusan keluarga raja. Karena itu, rasanya kalian berdua salah alamat, apabila kalian berdua mengajak aku untuk membicarakan urusan pemerintahan."
"Ada yang berkata—diam-diam—nDoromas Sanjaya meninggalkan kawan perjuangan lama dan dengan diam-diam pula menjagoi Sultan Jarot. Benarkah itu?"
"Siapa yang menjadi raja, bagi aku tiada bedanya. Aku seorang rakyat pegunungan. Kalau sudah dapat hidup tenang dan tenteram, apa lagi yang hendak kuharapkan?"
Taker Urip—si Kepala gede—tertawa terkekeh-kekeh. Katanya sambil menyemburkan ludah: "Kalau begitu— benarlah kata orang. Kau memang menjagoi Sultan baru itu. Sebenarnya, apa sih yang kauharapkan dari Sultan yang masih berbau kanak-kanak itu?"
Suara tertawa dan lagu kata-kata Taker Urip benar-benar tidak sedap dalam pendengaran. Betapa Sanjaya berusaha menguasai hatinya, tak urung mukanya terasa panas. Dengan menerkam pinggiran meja, ia menjawab dengan suara keras :
"Jika Gusti Patih Danurejo IV sangsi kepadaku—perlu apa dia mengirim kalian berdua kemari? Panggil saja aku ke kota raja dengan suatu surat perintah. Bukankah lebih gampang untuk membunuh aku?"
"nDoromas berbicara terlampau berat," tungkas Ampyak Siti dengan suara dingin. "Justru Gustu Patih percaya kepadamu, Beliau memberi perintah kami berdua untuk mencarimu. Itulah membuktikan betapa bijaksana tindakan Gusti Patih. Coba—pertimbangkan baik-baik. Pemerintah Inggris sudah gugur. Kini tak dapat lagi ikut campur urusan pemerintahan Kasultanan. Inilah saatnya yang baik untuk menunjukkan gigi. Mumpung kekuasaan Sultan Jarot belum kuat," ia berhenti mengesankan. Kemudian meneruskan, "nDoromas Sanjaya seorang pejuang di sisi almarhum Gusti Patih Danurejo II. Otak nDoromas cemerlang. Terus terang saja, Gusti Patih Danurejo IV membutuhkan tenagamu..."
"Itu benar," Taker Urip menguatkan. "Tadi aku berkata, bahwa negara dalam keadaan kacau balau semenjak sepuluh tahun yang lalu. Bukan karena kena kericuan pergantian pemerintah di Batavia, tapi karena urusan dalam negeri. Terus terang saja, Gusti Patih sekarang lagi menyusun suatu kekuatan untuk membersihkan penjahat-penjahat yang berlindung di belakang Sultan sekarang. Sekiranya Gusti Patih tidak menganggap nDoromas sebagai orang sendiri, tak mungkin Beliau mengijinkan kami berdua untuk berbicara berkepanjangan mengenai urusan keruwetan dalam negeri kepada nDoromas."
Mendengar keterangan Taker Urip, darah Sanjaya makin bergolak. Dia sekarang memang bukan Sanjaya dahulu yang kemaruk kekuasaan. Semenjak hidup di
tengah desa bersama Nuraini dan semenjak bergaul agak rapat dengan Sangaji dengan guru-gurunya, penglihatan hidupnya sudah berubah. Ia merasakan suatu kekotoran yang menjijikkan bila seseorang membicarakan perkara angan-angan kekuasaan. Itulah sebabnya, saking bergusarnya ia duduk tak bergerak dengan mata berkilat-kilat.
Taker Urip tidak memedulikan keadaannya. Ia tertawa haha-hehe seperti orang gendeng. Berkata lagi dengan suara dikecilkan: "Dahulu—sewaktu nDoromas dan almarhum Pangeran Bumi Gede—mengalami malapetaka, kami berdua terpaksa membantu Gusti Patih Danurejo II mati-matian, alangkah berat! Tapi sekarang, aku boleh bersyukur. Karena tidak lama lagi, nDoromas akan menggantikan tugasku. nDoromas Sanjaya! Janganlah kau berpura-pura! Jabatan yang hendak nDoromas pangku, sangat tinggi dan mulia martabatnya. Inilah surat keputusan Perwalian Sultan. Coba dengar!— Mengangkat Pangeran Sanjaya dalam jabatannya semula sebagai pengganti almarhum ayahnya... Coba dengar! nDoromas disebut sebagai pangeran . Artinya, nDoromas diakui sebagai putera Sultan entah yang keberapa..."
Makin hebat pergolakan darah Sanjaya. Dadanya serasa akan meledak. Betapa goblok seseorang—pastilah akan segera mengerti—bahwa si Penulis surat perintah itu merencanakan hendak menggulingkan Sultan sekarang. Kemudian—belum-belum—sudah mengangkat dirinya menjadi puteranya dengan sebutan pangeran. Ah, dia sudah yakin akan berhasil menggulingkan tahta kerajaan, pikir Sanjaya dengan hati menggigil.
Mundingsari yang berada di belakang dinding, terkejut mendengar pembicaraan itu. Sanjaya dahulu semasa
perjuangan Patih Danurejo II berkedudukan sebagai panglima perang. Taker Urip dan Ampyak Siti menerangkan, bahwa Sanjaya akan menggantikan kedudukannya. Kalau begitu, mereka berdua ini panglima laskar kepatihan. Menjabat sebagai panglima perang, tidaklah mudah. Paling tidak, ilmu kepandaiannya harus tinggi.
Memang, mereka berdua adalah dua pendekar kelas berat. Pada zaman Patih Danurejo II, mereka merupakan pendekar andalan disamping Pringgasakti. Dengan mengandalkan pukulan-pukulannya yang berbisa, mereka pernah mematahkan lengan dua belas pengawal kepatihan. Itulah sebabnya nama mereka dengan cepat dikenal orang.
Taker Urip—si Kepala gede—mahir dalam ilmu pedang. Meskipun potongan tubuhnya lucu seperti badut, namun gesit luar biasa. Sedang Ampyak Siti termasyur dalam ilmu pukulan kosong.
Tatkala itu paras muka Sanjaya merah padam. Dengan sengit ia memotong kata-kata Taker Urip. "Surat pengangkatan itu, tak berani aku menerima. Kau bawalah pulang!"
"Apakah kurang tinggi," Taker Urip menegas.
"Seorang yang boleh dikatakan cendekiawan tidak boleh bekerja hanya menuruti kemauan majikannya. Sebaliknya dia akan membimbing majikan itu ke jalan yang benar," sahut Sanjaya. "Ingin aku bertanya kepada kalian berdua. Kalau negara pecah—kalau persatuan rakyat retak pecah, apakah yang kalian kerjakan? Mencoba mempersatukan kembali atau justru meniup api untuk mengobar-obarkan nafsu pertentangan?"
Kedua orang itu terkejut. Inilah suatu pertanyaan yang tajam luar biasa. Mereka tak pernah menduga, bahwa pertanyaan demikian akan meletus dari mulut Sanjaya. Itulah suatu kecaman yang terlalu berani terhadap kedua belah pihak. Baik pihak Patih Danurejo IV maupun pihak Sultan Jarot.
Tapi begitu hilang kagetnya, Taker Urip tertawa terbahak-bahak. Katanya, "Ah, benar-benar suatu kemajuan. Rupanya nDoromas Sanjaya kini banyak membaca buku, sehingga kata-katanya lebih menyerupai seorang sasterawan yang lemah. nDoromas Sanjaya terasa saja, pembicaraan tadi sebenarnya menyeleweng jauh dari suatu tata-santun."
"Apa?" bentak Sanjaya dengan mata mendelik.
"Perebutan tahta antara Sultan Sepuh dan Sultan Raja, siapa pun tak berani diungkiri. Kalau pengikut-pengikutnya masing-masing pihak kini meneruskan cita-cita pemimpinnya, bukankah sudah wajar," jawab Taker Urip dengan suara keras. "Inilah suatu kenyataan yang tak dapat dicegah atau dihalang-halangi. Sebab semuanya kini, sejarah yang menghendaki. Seorang ksatria akan tetap setia kepada satu majikan. Dan bukan berpindah-pindah dan membunglon. Sekarang jawablah terus terang, sebenarnya siapakah majikanmu?"
"Aku majikan dari diriku sendiri," jawab Sanjaya dengan suara dingin. "Kau belum puas? Baik, kuterangkan. Aku ini tak lebih dan tak kurang hanya seorang rakyat kecil yang kebetulan hidup di tengah dusun sunyi. Sudah kukatakan tadi, bagiku siapa yang menjadi penguasa tidak menjadi soal. Aku toh tetap membayar pajak."
Taker Urip menggaruk-garuk kepalanya. Ia benar-benar kuwalahan menghadapi seorang yang gagah dan cemerlang otaknya. Akhirnya dengan suara terpaksa, ia berkata pula: "Baiklah nDoromas berhak sepenuhnya menentukan keputusannya sendiri. Memang manusia ini kalau bisa, ingin menjadi majikan atas dirinya sendiri. Sebaliknya kami berdua ini memang budak-budak tak mempunyai guna-faedah. Bagaimanakah cara kami nanti memberi laporan kepada Gusti Patih?"
Sanjaya hendak menyumbangkan pikirannya. Tiba-tiba Ampyak Siti tertawa melalui dadanya. Kata si Wajah beku itu, "Aku bukan seorang peramal. Tapi satu hal aku bisa bilang. Jika Sultan Jarot berhasil menancapkan pengaruhnya ada seorang besar yang bakal mati tanpa liang kubur."
"Siapa?" Sanjaya terkejut.
"Pangeran Diponegoro," jawab Ampyak Siti dengan suara pasti.
"Mengapa Beliau?"
"Siapa saja tahu—Pangeran Diponegoro sebenarnya ingin pula naik tahta menggantikan kedudukan ayahandanya."
"Bohong!" bentak Sanjaya dengan suara gemetar.
"Itulah fitnah!"
Ampyak Siti tertawa haha-hehe beberapa saat. Lalu berkata, "Fitnah atau bukan, tetapi begitulah suara orang."
"Hm, siapa saja tahu, bahwa padamnya gerakan kita dahulu disebabkan munculnya Pangeran Diponegoro.
Coba tidak ada dia, Sultan Sepuh atau Sultan Raja akan runtuh," Sanjaya mempertahankan.
"Bagus!" teriak Ampyak Siti dengan suara setengah bersorak. "nDoromas sekarang tahu, bahwa di dalam Kasultanan terjadi tiga pihak yang kelak akan saling berhantam. Pihak satu, Sultan Jarot dengan begundal-begundalnya termasuk kompeni Belanda. Pihak kedua, Gusti Patih dengan bantuan kompeni Belanda yang insyaf. Dan pihak ketiga Pangeran Diponegoro. Karena Pangeran Diponegoro ikut terancam, pastilah Beliau akan bergabung dengan Gusti Patih. Karena itu... Kau sekarang berpihak pada yang mana?"
Sanjaya mengerinyitkan dahi. Ia benar-benar jadi sibuk. Kata-kata Ampyak Siti memang tajam luar biasa. Orang itu tahu, bahwa ia bermusuhan dengan Pangeran Diponegoro. Beberapakali pernah ia mengadu kekuatan senjata dalam medan peperangan. Pihaknya yang selalu kalah. Menurut jalan pikiran yang lurnrah, sedikit banyak ia menggenggam dendam. Tetapi ia teringat kata-kata Sangaji. Bahwa yang membuat kegelapan ini adalah Belanda.
Karena itu musuh utamanya harus Belanda. Itulah sebabnya Sangaji mengangkat senjata dengan memimpin seluruh perjuangan rakyat Jawa Barat. Dan Pangeran Diponegoro adalah musuh Belanda. Pikirnya, bukan mustahil yang meniup-niupkan kabar bohong ini akal Belanda. Aku tak percaya, bahwa Beliau berangan-angan ingin menjadi raja.
Pada saat itu, ia mendengar Taker Urip berkata membujuk: "nDoromas! Kau terima saja pengangkatan Gusti Patih ini. Percayalah Pangeran Diponegoro akan
berpihak kepada Gusti Patih. Kalau Pangeran Diponegoro berada di pihak kita, pahlawan siapa lagi yang dapat diandalkan Sultan Jarot?"
Tiba-tiba paras muka Sanjaya berubah. Ampyak Siti yang hendak membuka mulutnya, mengurungkan niatnya. Ia memasang telinga.
"Siapa?" tanyanya setengah berbisik.
Sanjaya menghela napas. Katanya setengah menggerendeng: "Ah, hari hampir mendekati tengah malam. Siapa lagi yang datang ini?"
Mundingsari yang sedang mengintip di belakang lubang angin, melihat Taker Urip dan Ampyak Siti menyimpan surat pengangkatan yang dibawanya.
Setelah dimasukkan ke dalam saku, Taker Urip berkata: "nDoromas Sanjaya! Celaka atau selamat, kini berada di dalam keputusanmu. Terserah!"
Sesudah berkata demikian, ia menarik lengan kawannya dan diajaknya bersembunyi di belakang almari. Dan menyaksikan gerak-gerik mereka, Mundingsari jadi keheran-heranan. Tatkala itu, Sanjaya berdiri dengan tertatih-tatih. Perlahan-lahan ia berjalan. Kaki kanannya yang buntung terselu-bung pipa celana yang panjang. Duk! Duk!
ftulah suara bamboo penyambung kakinya.
Nampaknya ia dapat menggerakkan kakinya tanpa suatu kesukaran. Tiba di ambang pintu, segera ia menjeblak daunnya. Lalu menyambar obor. Kerut wajahnya nampak seram.
Sekonyong-konyong berbareng dengan suatu gemeresak, dua bayangan berkelebat memasuki pintu.
Mereka mengenakan pakaian seragam. Gerakan mereka luar biasa cepatnya. Kepandaian mereka terang berada di atas Taker Urip dan Ampyak Siti yang berkesan licik.
Sanjaya membungkuk memberi hormat. Kedua tetamu itu tertawa terbahak-bahak. Kata yang seorang, "Ah kita sesama kalangan sendiri. Tidak perlu menggunakan adat-istiadat berlebihan."
"Hampir lima belas tahun aku sudah mendengar nama Sanjaya yang termasyur. Orangnya baru malam ini aku kenal," kata yang lain.
Sambil menekan pinggiran lubang angin, Mundingsari menjenguk lebih tinggi lagi untuk memperoleh penglihatan yang agak luas. Orang yang berbicara pertama kali, seorang laki-laki berwajah cakap. Perawakan tubuhnya singsat. Sedang yang lain, seorang laki-laki berberewok berperawakan tinggi besar.
"Kangmas Wiranegara!" sahut Sanjaya kepada orang yang berperawakan singsat. "Siapakah sahabat ini? Mataku kini sudah lamur."
Orang yang disebut Wiranegara tertawa berkakakan. la lantas memperkenalkan.
"Dialah wakil komandan Kompeni Belanda yang berada di Jogjakarta. Gampangnya dialah orang kepercayaan Residen Nahuys. Namanya Merta Sasmita. Dengan dimas Sanjaya memang baru untuk pertama kali ini bertemu muka. Tapi seperti katanya sendiri, nama dimas sudah dikenalnya semenjak lama."
Sanjaya tertawa seraya berkata: "Ah! Benar-benar malam ini aku seperti kejatuhan bintang. Bukankah saudara Merta Sasmita komandan kompeni yang dahulu
berkuasa di Cirebon? Dialah satu-satunya seorang bumi putera yang bisa berpangkat kapten. Kalau tidak besar jasanya, betapa mungkin dapat menduduki tempat setinggi itu."
Mundingsari terkejut. Wiranegara adalah komandan pasukan istana Jogjakarta. Sedang Merta Sasmita memang satu-satu orang Jawa yang berpangkat Kapten. Dia merupakan singa ganas. Tegasnya seorang pembunuh besar yang dilindungi undang-undang. Semua orang berasal dari Cirebon mengetahui belaka keganasannya. Sekarang dua orang komandan tentara datang menemui Sanjaya. Pastilah menggenggam tugas yang maha penting. Dan memperoleh pikiran demikian, hati Mundingsari berdenyutan.
"nDoromas Sanjaya!" seru Merta Sasmita dengan tertawa pula. "Mulai sekarang, kita adalah teman-teman seperjuangan di sisi pemerintah Belanda. Pemerintah Inggris sudah masuk kubur. nDoromas Sanjaya semenjak dahulu terkenal berotak tajam. Kami berdua membutuhkan petunjuk-petunjukmu. Ijinkanlah aku memberi hormat padamu."
Sanjaya terkesiap. Cepat ia melompat ke samping untuk menghindari pemberian hormat Merta Sasmita.
"Saudara Merta Sasmita! Apa artinya ini?" tanyanya menegas.
"Firman Sri Baginda Sultan Jarot ada di sini. Harap nDoromas Sanjaya menerimanya dengan baik," kata Merta Sasmita. Kapten Merta Sasmita bisa menggunakan adat pergaulan istana dengan manis. Ia tetap memanggil Sanjaya dengan ndoromas sebagai penghargaan keturunan darah.
Mundingsari yang berada di dalam kamar kurungan menjadi bingung. Dalam beberapa waktu saja, di depannya tergelar dua firman yang masing-masing menyatakan suatu kekuasaan yang terakui.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi di kota raja?" pikirnya di dalam hati. "Yang pertama firman dari perwalian pemerintahan Kasultanan. Yang kedua, firman Sultan Jarot. Apakah antara Sultan dan perwalian pemerintahan terjadi suatu perselisihan?"
Pada waktu itu, Sanjaya menerima surat firman Sultan dengan kedua belah tangannya, la membuat sembah terlebih dahulu. Kemudian dikembalikan lagi ke tangan Kapten Merta Sasmita. Katanya setelah menyembah lagi: "Aku mohon dengan sangat, sudilah saudara berdua memaafkan. Aku tak berani menerima firman itu.
Cobalah beri penjelasan dahulu, agar aku dapat mengerti."
Mundingsari sekarang jadi mengerti. Memang lantaran Sultan Jarot masih muda perwalian pemerintahan berada pada tangan Patih Danurejo IV, Tumenggung Pringgadiningrat dan Tumenggung Mertanegara. Tetapi kemudian Inggris tidak menyetujui. Yang ditunjuk adalah Pangeran Natakusuma yang sekarang menjadi Sri Paku Alam I. Kemudian menyerahkan pemerintahan kepada Sultan Jarot pada tanggal 27 Januari 1820, setelah dewasa. Semenjak itu Sultan Jarot berhak penuh membuat surat-surat pengangkatan atau surat perintah yang lazim sebagai surat firman raja.
Tatkala itu Wiranegara nampak terkejut. Berkata dengan suara tinggi.
"Dimas Sanjaya adalah putera seorang pangeran yang berani melawan Sultan Sepuh. Dan Sultan Jarot sekarang adalah putera Sultan Raja. Kalau Sultan Jarot kini masih ingat akan jasamu, itulah suatu bukti bahwa baginda menghargai perjuanganmu. Apa sebab engkau menolak firman Sri Baginda?"
Sanjaya tidak menjawab. Ia mendengarkan keterangan Wiranegara dengan sikap tenang. Dalam telinganya, kata-kata Sangaji masih terdengar nyata. Ia harus berhati-hati menghadapi siasat adu domba pemerintah Belanda. Sekarang ia melihat, Kapten Merta Sasmita datang dengan membawa surat firman Sultan.

Apakah tidak mungkin akal licin pemerintah Belanda? Kalau benar sebuah firman yang terlahir dari Sultan Jarot yang tulus bersih, apa sebab tidak utusan hamba sahajanya? Benar, Wiranegara adalah komandan tentara istana. Tetapi kedudukannya masih menyangsikan. Sebagai seorang yang pernah bekerjasama dengan Belanda, ia segera mencium keadaan yang tidak beres. Hanya saja masih samar-samar.
"Dimas Sanjaya, dengarkan!" kata Wiranegara. "Sekarang ini Sultan Jarot sudah memerintah penuh-penuh. Kata-katanya adalah undang-undang. Pemerintah Belanda menyetujui. Bahkan kini menaruhkan detasemennya di tengah-tengah kota untuk menjaga istana. Untuk apa detasemen ini? Semuanya ini demi menjaga tindakan Patih Danurejo IV yang mungkin bersakit hati. Tapi meskipun penjagaan sudah cukup kuat, Sri Baginda ternyata masih ingat kepadamu. Kuulangi lagi keteranganku. Kalau Dimas tidak mengangkat senjata melawan Sultan Sepuh, tak mungkin ayahanda Baginda berkesempatan naik tahta. Itulah sebabnya Sultan Jarot mengirimkan kami berdua meninjau rumahmu."
Sanjaya tertawa pahit. Hatinya seperti tersayat apabila diingatkan kepada tingkah lakunya dahulu mengangkat senjata melawan Sultan Sepuh. Itu semua adalah akibat bujukan ayah-angkatnya Pangeran Bumi Gede—yang bersekutu dengan Patih Danurejo II. Setelah sadar, ia menyesali perbuatan itu. Ia bersumpah tidak akan tahu menahu tentang segala hal yang menyangkut kenegaraan.
"Kangmas Wiranegara," katanya. "Sultan Jarot seorang yang paling dihormati di jagad ini. Apa perlunya
362

Sri Baginda menambah seorang bawahan lagi seperti aku?"
"Aku sendiri kurang tahu," jawab Wiranegara. "Yang kudengar, Dimas Sanjaya mempunyai pengalaman melawan laskar Pangeran Ontowirya. Terhadap tingkah-laku Patih Danurejo IV Sri Baginda tidak perlu. Takut. Yang harus dijaga adalah justru Pangeran Ontowirya yang kini bermukim di Tegalrejo. Dialah kakak Sri Baginda sekarang.
Sanjaya mengerutkan alisnya. Tanyanya menegas. "Lantas bagaimana?"
Wiranegara dan Kapten Merta Sasmita tertawa dengan berbareng. Kata Kapten Merta Sasmita, "Menurut pantas, bukankah dia yang berhak naik tahta kerajaan?"
Mendongkol hati Sanjaya mendengar ucapan Kapten Merta Sasmita. Terang—ini adalah fitnah. Memang ia belum pernah bertemu dengan Pangeran Diponegoro selain di tengah pertempuran. Tetapi ia kenal pribadinya lewat tutur kata Sangaji. Saudara-angkatnya itu boleh dikatakan sering bertemu pada akhir-akhir ini, berhubung dengan isteri Pangeran Diponegoro, Dyah Ayu Ratnaningsih isteri Pangeran Diponegoro—adalah adik seperguruan Sangaji. Dia murid Suryaningrat. Menurut tutur kata Sangaji, Pangeran Diponegoro justru memperihatinkan cara pemerintahan Patih Danurejo IV. Pangeran itu menaruh curiga kepadanya. Sebab— disengaja atau tidak—dia membebani pajak beraneka macam kepada rakyat. Dengan demikian, meninggalkan tata pemerintahan yang buruk kepada Sultan Jarot. Merasa diri tak sependapat dengan Patih Danurejo IV, Pangeran Diponegoro lalu hidup mengasingkan diri ke
363

Tegalrejo. Dengan demikian, apabila kepergiannya itu dianggap lantaran mempunyai idaman hendak naik tahta adalah suatu fitnah.
"Kangmas Wiranegara! Perhatian Sri Baginda terhadap diriku sangat mengharukan hatiku," kata Sanjaya yang lantas ingat kepada cara hidupnya sendiri. "Hanya saja, aku sudah biasa hidup mengasingkan diri. - Disini aku sudah memperoleh ketenteraman hidup. Lihatlah—aku sudah buntung kaki. Untuk apa manusia seperti aku ini?"
Begitu mengucapkan kata-kata yang terakhir, tiba-tiba suatu ingatan menusuk benaknya. Pikirnya di dalam hati, ah ya... aku sudah cacat kaki. Tapi aneh—apa sebab tiba-tiba aku menjadi bahan perebutan? Apakah tidak mungkin sebenarnya untuk mengkait saudaraku Sangaji! Ah! Jangan-jangan memang begitu!
"Saudaraku Sanjaya!" Kapten Merta Sasmita berkata lagi. Ia kini menyebut Sanjaya dengan suara untuk mengesankan keangkaran. "Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Coba baca dahulu surat Sri Baginda."
Sanjaya menurut, la menerima surat firman kembali dan dibacanya. Di dalam firman itu disebutkan, bahwa ia diangkat dalam jabatan lama sebagai pengganti kedudukan ayahnya. Dan setelah membaca surat keputusan tersebut, ia harus segera berangkat ke Jogja untuk menghadap.
"Bagaimana? Apakah saudara sudah mengerti bunyi surat firman itu?" Kapten Merta Sasmita menegas.
Sanjaya membungkuk membuat hormat.
364

"Bumi dan langit menyaksikan bahwa aku sangat berterima kasih. Hanya saja aku tak berani menerima tugas Sri Baginda. Tulang-tulangku sudah keropos."
"Jadi kau menolak?"
"Sanjaya adalah manusia biasa. Sebenarnya bukan anak seorang Pangeran," jawab Sanjaya dengan suara tegas. "Kalau dahulu aku ada harganya, lantaran ayahku bekerjasama dengan almarhum Patih Danurejo II."
"Ah, itulah yang kausangsikan?" Wiranegara dan Kapten Merta Sasmita tertawa berbareng. Kata Wiranegara dengan suara nyaring, "Dimas—kau dengarkan baik-baik. Kau mengira, bahwa di dalam kasultanan ada dwi pemerintahan. Itu tidak benar!
Semenjak kemarin, Patih Danurejo IV sudah masuk istana dengan disaksikan oleh Residen Nahuya!
Perwalian sudah hapus.
Sultan Jarot dan Patih Danurejo IV kini merupakan dwi-tunggal. Tidak lagi berpisah atau berdiri sendiri-sendiri."
Ini adalah suatu keterangan yang mengejutkan dan mengherankan Sanjaya. Baru saja—Patih Danurejo IV— mengirimkan utusannya, untuk membujuk dirinya. Belum lagi selesai berbicara, kini datanglah utusan lain lagi yang mengabarkan bersatunya Patih Danurejo IV dengan Sultan HB IV dengan pengawasan pemerintahan Belanda. Inilah aneh dan mencurigakan.
Mundingsari yang berada di dalam kamar kurungan, heran pula. Pikirannya ikut sibuk. Apakah artinya ini? Patih Danurejo IV terang-terangan bermusuhan dengan Sultan Jarot. Ia sengaja mengacau ketertiban dan
365

ketenteraman rakyat dengan membuat bermacam-macam pajak dan peraturan sewa tanah. Ini semua adalah suatu persiapan sendiri untuk menggulingkan kedudukan Sultan Jarot. Apa sebab dalam setengah malam saja, kedudukannya berubah dengan mendadak?"
Tatkala itu, Wiranegara terdengar berkata lagi: "Bagaimana? Dimas masih bersangsi? Apakah yang kausangsikan?"
Sanjaya berdiri tegak tak berkutik.
Pandang matanya tajam luar biasa seolah-olah ingin menjenguk isi perut mereka. Tiba-tiba suatu ingatan berkelebat di dalam benaknya. Terus saja bertanya, "Bagaimana dengan Pangeran Diponegoro?"
Wiranegera dan Kapten Merta Sasmita kaget seperti tersambar geledek. Inilah suatu pertanyaan di luar dugaan. Tapi mereka berdua adalah orang peperangan. Mereka segera dapat menguasai ketenangannya kembali. Lalu tertawa dengan saling memandang. Kata Wiranegara di antara tertawanya. "Hai! Kau menanyakan musuh besarmu? Ah, lebih baik kau tanyakan sendiri kepada Sri Baginda. Kami berdua hanya ingin memperoleh kepastian. Kau terima surat pengangkatan ini atau tidak?"
Sanjaya mendongak menatap atap rumah. Lalu menjawab dengan tegas. "Aku menolak."
Ketegangan lantas terjadi. Beberapa saat kemudian, Wiranegara berkata dengan suara lunak. "Dimas Sanjaya adalah seorang laki-laki. Dan seorang laki-laki akan berkata sekali saja. Kalau demikian keputusanmu, baiklah ijinkan kami berdua berpamit. Hanya saja kami
366

mengharap agar Dimas menjaga kesehatan diri sendiri sebaik-baiknya."
Heran Sanjaya mendengar kata-kata perpisahan itu. Di dalamnya bersembunyi suatu ancaman. Ia lantas berkata dengan hati-hati:
"Kangmas—maafkan aku! Aku mengharap saja agar Kangmas dapat mempersembahkan sujudku ke hadapan Sri Baginda dengan sungguh-sungguh. Syukur bila Kangmas sudi menyampaikan kata-kataku ini: hendaklah Sri Baginda memilih pembantu yang tepat."
"Kau maksudkan siapa," potong Wiranegara dengan suara tak senang.
"Pangeran Diponegoro."
Dengan berdiam diri, Wiranegara menggulung surat firman Raja kemudian diberikan kepada Kapten Merta Sasmita. Kapten ini lantas menyimpan surat itu di dalam sakunya. Selagi Sanjaya memperhatikan hal itu, tiba-tiba ia melihat tangan Wiranegara berkelebat menghantam pundaknya.
Kedua orang itu sebenarnya mendapat perintah rahasia untuk membunuh Sanjaya, apabila menolak. Sebab membiarkan orang sebagai dia hidup di tengah rakyat samalah halnya menambah jumlah duri. Daripada kelak akan menyukarkan jalan pemerintahan gabungan antara Belanda—Patih Danurejo IV dan Sultan Jarot, lebih baik dimusnahkan sekarang.
Sanjaya telah kehilangan ilmu sakti Pringgasakti karena dimusnahkan Adipati Surengpati. Untung—ilmu sakti warisan Ki Hajar Karangpandan tidak ikut termusna. Setelah cacat kaki, Sangaji mengajarkan rahasia ilmu
367

sakti yang terdapat pada keris Kyai Tunggulmanik. Sebab menurut pembagian, keris tersebut sebenarnya milik Sanjaya. Hanya secara kebetulan saja, Sangaji mewarisi. Untuk mewarisi ilmu sakti keris Kyai Tunggulmanik, seseorang harus sudah memiliki tenaga dahsyat seperti yang terdapat dalam diri Sangaji. Sebaliknya Sanjaya hanya memiliki ilmu warisan Ki Hajar Karangpandan yang belum sempurna. Meskipun demikian, ajaran keris Kyai Tunggulmanik lewat kesabaran Sangaji— tidaklah sia-sia. Lantaran tenaga saktinya terbatas, ia hanya bisa mewarisi tiga bagian. Walaupun demikian, bila dibandingkan dengan orang-orang sakti lainnya, Sanjaya tidak perlu kalah. Gerak-geriknya gesit dan tenaga saktinya bertambah tiga kali lipat dari semula.
Begitu ia melihat bahaya secara otomatis ia mengerahkan tenaga sakti keris Kyai Tunggulmanik untuk melindungi pundaknya yang terancam. Duk! Pundaknya terhantam. Tapi pada saat itu juga, Wiranegara terpental menumbuk dinding.
"Manusia rendah! Kau berani menyerang dengan menggelap!" bentak Sanjaya.
Dalam pada itu, Kapten Merta Sasmita sudah mencabut pedangnya yang istimewa. Bentuknya seperti pedang biasa. Hanya lencang sebesar jari. Sifatnya lemas. Begitu digerakkan, lantas saja memantul bergetaran.
Melihat serangan licik itu, Mundingsari yang berada di dalam kamar gusar bukan kepalang. Hanya sayang—ia tak dapat mendobrak pintu untuk membantu Sanjaya.
Wiranegara sendiri seorang komandan laskar istana. Tentu saja ia bukan orang lemah. Begitu terguling
368

dengan suatu gerakan ia meletik bangun. Lalu dua belatinya melesat dari tangannya. "Sanjaya! Meskipun engkau mempunyai kepandaian menembus langit, malam ini kau jangan bermimpi dapat meloloskan diri."
Dengan tangan kiri menindih pedang Merta sasmita, tangan kanannya mengebas. Dan belati Wiranegara terhantam balik mengancam majikannya.
MENCARI BENDE MATARAM Gubahan : HERMAN PRATIKTO
7
sambungan
Pedang Kapten Merta Sasmita bukan sembarangan pedang. Sudah sifatnya lemas, ulat pula. Begitu kena tindih, logamnya melengkung. Namun tidak patah.
Segera ia mengerahkan tenaga untuk membetotnya. Kulitnya terbeset dan darahnya mengucur seperti parit, la kaget bukan main. la memang tahu, setidak-tidaknya Sanjaya pasti mempunyai kepandaian. Tetapi sama sekali tak mengira, bahwa tenaga yang dimiliki tak ubah tenaga raksasa. Dalam kagetnya, tangannya yang kiri mencabut pistolnya.
Pistol zaman dahulu belum berisikan pelor.
369

Tetapi bubuk mesiu. Pistol itu harus diisi dahulu setelah ditembakkan sekali.
Tapi sebelum memasuki rumah Sanjaya—Merta Sasmita sudah mengisinya.
Sekarang ternyata ada gunanya. Begitu tercabut, lantas saja ia menarik pelatuknya.
Sanjaya terkejut. Tetapi ia membungkuk seraya menarik tindihannya. Karena goncangan tangan ditambah suatu kegesitan, arah bidikan menyasar mengenai lengan. Kapten Merta Sasmita terbang semangatnya. Ia adalah seorang Kapten bumi putera satu-satunya. Keistimewaannya menembak tepat. Ia bisa menembak runtuh burung sedang terbang dengan tubuh membalik. Selamanya tidak pernah meleset. Tapi kini ia menghadapi suatu kenyataan lain. Kegesitan Sanjaya ternyata melebihi gesitnya seekor burung. Tenaga goncangannya hebat pula. Sama sekali tak terduga, bahwa bidikannya bisa meleset. Benar—mesiunya masih mengenai lengan—tapi ia tidak puas.
Pada saat itu, Sanjaya merasakan lengannya menjadi pegal nyeri. Buru-buru ia menekan urat bahunya untuk menahan mengucurnya darah. Selagi demikian, Wiranegara membuat lompatan harimau. Dengan suara "heh" ia menghantam. Tapi kali ini, Sanjaya sudah bersiaga. Komandan laskar Istana itu tidak dapat membokong24) lagi. Dengan membalikkan tangannya,
370

Sanjaya memapak hantaman itu. Tenaga saktinya dikerahkan.
Wiranegara kaget bukan main. Ia mencoba menahan lompatannya. Tentu saja tidak keburu lagi. Pergelangan tangannya kena terhajar dan patah pada saat itu juga.
Kapten Merta Sasmita tidak tinggal diam. Tiga kali ia menikamkan pedangnya. Kemudian berputar hendak melarikan diri.
Terdengar Wiranegara berseru, "Jangan lari! Jangan beri kesempatan dia bernapas. Kalau hari ini dia tidak mampus, jiwa kita berdua sukar dipertahankan lagi."
Sanjaya menggerung karena marahnya. Dengan sekali menjejakkan tanah, ia melesat mendahului. Tahu-tahu, ia sudah berdiri tegak di ambang pintu keluar. "Apa sebab kalian berdua menyerang aku? Lekas bilang! Jika tidak, jangan harap kau bisa lolos dengan selamat."
Wiranegara ketakutan setengah mati. Ia melirik kepada Kapten Merta Sasmita yang berdiri dengan menggigil. Entah sudah berapakali perwira ini mengalami pertempuran-pertempuran mengadu jiwa. Tapi rasa ngerinya, tidaklah seperti menghadapi Sanjaya yang berdiri gagah tak ubah malaikat. Selagi hendak membuka mulut, tiba-tiba Wiranegara menjerit. Pergelangan tangan yang kena hantam tadi—tidak hanya patah—tapi pun getaran pukulan Sanjaya menggeser tulangnya. Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan itu. Meskipun dia seorang komandan laskar Istana, tak urung menjerit kesakitan juga.
Cepat-cepat Kapten Merta Sasmita memberi isyarat agar melarikan diri. Tetapi
371

Wiranegara ternyata seorang komandan yang bandel. Katanya sambil menahan sakit: "Saudara Sasmita, tak dapat kita melepaskan dia. Lebih baik kita mati berbareng.
Jangan takut! Dia sudah kena pelurumu. Bukankah bubuk mesiumu kau campuri bubuk beracun pula? Meskipun hanya mengenai lengan, tapi pada saat ini racunmu pasti sudah bekerja."
Kapten Merta Sasmita seperti diingatkan. Memang— bubuk mesiunya—tercampur bubuk racun ular berbisa. Ia memperoleh kepandaian itu dari seorang tawanan Kalimantan. Seseorang yang kena bubuk mesiunya tidak hanya terancam jiwanya, tapi pun terancam racun berbahaya. Sebenarnya lebih tepat apabila mesiu itu digunakan sebagai alat siksa. Tapi sadar bahwa musuh yang bakal dihadapi adalah seorang pendekar yang berkepandaian tinggi, teringatlah dia untuk menggunakan bubuk beracunnya itu. Mungkin sekali Sanjaya bisa mengelakkan sasaran tembakan karena kecepatannya. Tetapi bubuk racunnya bakal kena sedot pernapasannya. Ternyata perhitungannya hampir tepat. Sanjaya tidak hanya menyedot bubuk racun, tapi pun menderita luka.
Pada saat itu, lengan Sanjaya terasa menjadi kaku. Sebagai seorang yang pernah kena senjata berbisa, ia segera mengetahui dirinya terancam racun. Cepat-cepat ia mengerahkan tenaga penolak untuk menahan menjalarnya. Tetapi dengan demikian, pemusatan tenaganya jadi terbagi.
Dengan mati-matian ia melayani dua orang musuhnya. Satu lawan dua. Meskipun masih unggul, lambat laun ia
372

merasa payah juga. Itulah sebabnya ia segera mengeluarkan pukulan-pukulan maut.
Wiranegara yang telah menderita luka berkelahi dengan licik. Tak berani ia mendekati Sanjaya.
Sebaliknya ia menyerang dari jauh atau membokong. Berkali-kali ia berteriak :
"Sanjaya! Lebih baik kau membunuh diri saja. Dengan begitu namamu akan tetap terkenal sebagai seorang pendekar yang gagah. Sebaliknya, kalau kau sampai mampus di tangan kami—habis ludaslah keangkeranmu."
"Binatang!" maki Sanjaya dengan bergusar. "Kau boleh mencincang atau menyembelih aku, tetapi kalau sudah melalui mayatku."
"Sanjaya!" bentak Kapten Merta Sasmita.
"Malam ini kami berdua lagi melakukan perintah Raja untuk menghabisi jiwamu. Melakukan perintah, alangkah nikmat. Setidak-tidaknya ada yang dipegang. Sebaliknya engkau? kau bakal mati penasaran. Bakal mampus tanpa liang kubur!"
Terang sekali maksud Kapten Merta Sasmita. Sebagai seorang militer yang berpengalaman, ia hendak memecahkan pemusatan pikiran lawan dengan suatu ejekan. Kecuali itu, dia mempunyai maksud tertentu. Ia percaya bahwa di dalam diri Sanjaya pasti masih mempunyai sisa-sisa angan-angan suatu kekuasaan. Diingatkan demikian, dalam diri Sanjaya pasti terjadi suatu pertempuran dahsyat. Benar-benar cerdik dia. Hanya saja—ia tak pernah me-ngira-bahwa pengaruh Sangaji sangat besar dalam diri Sanjaya. Sanjaya yang
373

dahulu kemaruk25) kekuasaan, kini berubah menjadi manusia lain. Ia tak sudi lagi menjadi korban rumpun keluarga yang sedang berebut kekuasaan. Pengalamannya yang pahit banyak memberi pelajaran baginya.
Mendengar ejekan Kapten Merta Sasmita, darahnya naik tinggi. Lalu membalas membentak pula.
"Kau berkulit sawo matang seperti aku dan temanmu itu. Meskipun demikian, kau sudi berhamba kepada seorang kulit putih. Untuk pengabdianmu itu, kau rela mengorbankan kesejahteraan bangsamu. Apa sih enaknya makan minum kenyang di atas penderitaan orang lain? Kau manusia rendah, kini mencoba hendak mengambil darahku untuk menaikkan pangkat dan derajatmu. Bagus! Boleh kau coba!"
Sambil memaki, Sanjaya melepaskan pukulan berat dan cepat luar biasa. Tiba-tiba tangannya menghantam dada Wiranegara. Duk! Dan Wiranegara terpental untuk kedua kalinya menumbuk dinding. Kali ini hebat akibatnya. Begitu terbentur dinding, ia jatuh pingsan.
Melihat, robohnya Wiranegara, buru-buru Kapten Merta Sasmita melompat melindungi. Lalu berteriak, "Sanjaya! Sri Baginda benar-benar tepat perhitungannya. Siang-siang Beliau telah mengetahui, bahwa engkau mempunyai tulang punggung seorang berandal. Dimanakah Sangaji? Kau tahu, seorang berandal harus dihukum."
Sakit hati Sanjaya, mendengar Kapten Merta Sasmita menamakan saudara angkat nya sebagai berandal. Tapi
25) kemaruk = serakah
374

dengan demikian, kedudukan Kapten Merta Sasmita jadi jelas. Sekarang ia tahu pula, apa sebab dirinya dijadikan manusia rebutan. Itulah karena Sangaji, sebab kalau Sangaji mendengar khabar ia ditawan di Jogjakarta, pastilah tidak akan tinggal diam.
Dia pasti berusaha menyusul. Dan menyusulnya ke Jogjakarta, berarti meninggalkan kancah perjuangan Jawa Barat.
Memperoleh pikiran demikian, Sanjaya menggerung. Dengan hebat ia mengirimkan tiga pukulan berantai. Kapten Merta Sasmita boleh gagah. Tapi menghadapi pukulan ilmu sakti Kyai Tunggulmanik yang istimewa, ia mundur beberapa tindak.
"Kau tak mampu melawan kegagahan saudara angkatku. Kini hendak menjual omongan besar kepada majikanmu yang baru. Bagus!" ejek Sanjaya.
Kapten Merta Sasmita merah wajahnya. Membentak, "Bangsat! Siapa tak tahu engkau sebenarnya berandal pula? Setiap orang tahu, perhubunganmu dengan babi Sangaji. Apa sebab kau tak rela kena ringkus. Bukankah di dalam undang-undang berbunyi: barangsiapa bersekutu dengan pemberontak membantu atau melindungi akan dihukum sama beratnya dengan pemberontak itu sendiri."
"Baik. Kau boleh bilang aku seorang pemberontak. Seorang berandal. Kau mau apa? Kalau kau mempunyai kepandaian, cobalah ringkus aku!" potong Sanjaya dengan semangat bergelora.
Kapten Merta Sasmita tertawa lantaran mendongkol. Ia jengkel, karena tak dapat memperoleh kesempatan
375

untuk mengisi mesiu. Namun ia licin, la berbicara lagi untuk membuat lemah. Katanya, "Kau mengoceh perkara Pangeran Diponegoro. Manusia apa dia? Dia anak seorang selir. Apakah pantas berangan-angan menjadi Raja? Kau pun begitu juga. Siapa yang tak tahu, kau sebenarnya anak orang gelandangan. Karena bernasib baik saja, kau bisa diakui sebagai anak pangeran. Itulah lantaran jasa emakmu menjual diri. Bukankah begitu?"
Mendengar ucapan Kapten Merta Sasmita, gundu mata Sanjaya berputar. Rambutnya berdiri tegak oleh rasa gusarnya. Inilah suatu ejekan di luar batas kesopanan. Dengan suara bergelora ia membentak. "Benar! Meskipun aku anak seorang gelandangan, tapi lebih baik daripada anak kampungan yang bermulut kotor. Hm... jadi kau hendak bilang pula, bahwa Pangeran Diponegoro seorang berandal? Kau hendak bilang pula, bahwa dia jadi seorang pangeran lantaran ibunya kebetulan menjual diri kepada seorang Sultan? Bangsat!"
"Habis? Apa lagi yang harus dibilang?" ejek Kapten Merta Sasmita sambil bersenyum-senyum. "Lihat sajalah nanti. Sultan Jarot sudah bersatu dengan Patih Danurejo IV. Sebentar lagi Pangeran Diponegoro bakal masuk kurungan. Kau percaya, tidak? Dia kelak akan diseret di depan Mahkamah Agung. Dia bisa apa? Dia bisa membuka mulutnya, tapi Mahkamah Agung mempunyai caranya sendiri. Dosanya akan segera diumumkan."
"Apa dosanya?" bentak Sanjaya.
"Itukan perkara gampang. Membangkang pemerintah, umpamanya. Atau kita tuduh hendak menggulingkan kekuasaan Sultan. Ah, itu kan perkara gampang."
376

"Fitnah!"
"Lantas dia kita seret di tengah alun-alun untuk menerima hukuman picis. Hihi haha...," Kapten Merta Sasmita tak mendengarkan sangkalan Sanjaya.
Mata Sanjaya berkunang-kunang. Hampir saja ia roboh pingsan karena marahnya. Melihat kesempatan bagus itu Kapten Merta Sasmita segera menggerakkan pedangnya menyerang dengan bertubi-tubi.
Tiba-tiba Sanjaya berkata keras. "Sudahlah! Sudahlah! Jika Pangeran Diponegoro bisa diseret ke depan Mahkamah Agung sebagai seorang pemberontak memang pantas aku kau namakan berandal. Baiklah memang aku seorang berandal. Dan tindakan pertama yang harus dilakukan seorang berandal adalah mencabut jiwa seorang begundal Kompeni Belanda."
Berbareng dengan perkataannya. Sanjaya lantas menerjang dengan hebat. Ia kini menggunakan seluruh kepandaian dan pengalamannya dengan tenaga dahsyatnya. Hebat terjangannya.
Kapten Merta Sasmita belum mengenal ilmu kepandaian Sanjaya sebenarnya, la mengira, betapa tinggi ilmu kepandaiannya, tapi kakinya buntung sebelah. Betapa pun juga, tidaklah sehebat orang sangka. Maka begitu melihat Sanjaya menerjang dengan mengerahkan seluruh tenaga simpanannya, buru-buru ia menutupi dadanya dengan kedua belah tangannya dengan pedang dilintangkan. Kaki bambu Sanjaya menghantam pedang. Dan yang kiri membentur tangan kirinya pula, Prak! Seketika itu juga, kedua lengannya patah, la menyemburkan darah segar.
377

Meskipun demikian, mulutnya yang jahil masih saja bisa berkaok-kaok.
"Saudara Wiranegara, -bangun! Bangun! Jangan beri dia kesempatan untuk bernapas. Racun bubukku pasti sudah bekerja."
Pada saat itu, Wiranegara sudah siuman kembali. Melihat pedang Kapten Merta Sasmita terpelanting di atas tanah—segera ia memungutnya. Kemudian dengan mengandal kepada pedang panjang itu ia menyerang dengan berlari-larian.
Kaki Sanjaya buntung sebelah. Itulah sebabnya, tak dapat ia melawan kegesitan dengan suatu kegesitan. Ia hanya bisa berputar-putar menjaga diri. Sebaliknya— melihat kelemahan lawan—Wiranegara menambah kecepatannya, la berlari-larian memutari kamar sambil menyerang pada saat-saat tertentu. Dilawan secara demikian, untuk sementara Sanjaya habis dayanya.
Racun Kapten Merta Sasmita memang jenis racun yang hebat. Tatkala lagi mengenai sasaran hanya meninggalkan rasa kaku. Sanjaya masih bisa menahan menjalarnya.
Akan tetapi setelah bertempur sekian lamanya, lengannya yang terluka mulai kesemutan. Makin lama makin hebat. Kini terasa menjadi kejang dan tak dapat digerakkan dengan leluasa lagi.
Wiranegara celi26) matanya. Melihat Sanjaya menderita demikian, ia tertawa terbahak-bahak. Ia meniru cara Kapten Merta Sasmita mengacaukan
26' celi = tajam, awas
378

pemusatan pikiran lawan. Katanya dengan suara mengejek. "Sanjaya! Dian yang menyala terang akan segera padam. Saatmu sudah tiba. Kau mau berpesan apa? Cobalah katakan! Betapapun juga, kita berdua pernah bekerjasama. Mengingat hubungan itu, biarlah aku bersedia mendengarkan pesananmu...."
Sanjaya tahu, bahwa tujuan ejekan itu untuk membuat hatinya panas dan bergusar. Jika ia bergusar, darahnya akan bergolak. Artinya, racun yang sudah mengeram dalam dirinya akan segera menjalar dengan cepat. Namun ia sudah tidak memikirkan mati-hidupnya lagi. Hatinya terlalu mendongkol terhadap mereka berdua. Ejekan kapten Merta Sasmita tentang ibunya tadi, sangat menusuk perbendaraan rasanya. Dadanya terasa hendak meledak.
Ia lantas menghantam meja batu yang melintang di depannya. Dan kena hantamannya, meja batu itu rontok berguguran. Setelah itu ia meremukan perabot-perabot lainnya. Begitu hancur berantakan, kamar lantas menjadi lapang tiada sesuatu yang merintangi.
Semangat Wiranegara terbang sekaligus. Sekarang, tak dapat lagi ia lari berputar-putar mengelilingi meja dan perabot lainnya untuk membuat jarak. Ini artinya, bahaya besar mulai mengancam dirinya. Ia mundur dan melesat dari tempat ke tempat.
Sanjaya sudah kalap. Ia memburu dengan mengandal kepada kaki kirinya. Untuk sementara dua orang itu ibarat seekor kucing sedang mengubar-ubar seekor tikus. Beberapa kali si tikus dapat lolos dari sambarannya. Tetapi Sanjaya seorang cerdik semenjak zaman mudanya. Ia kini maju mempersempit daerah gerak. Lalu
379

menubruk dengan suatu bentakan keras. Tangannya berhasil menangkap gagang pedang Wiranegara.
Wiranegara kaget setengah mati. Buru-buru ia melepaskannya. Lalu mengulingkan diri sampai di bawah almari. Sanjaya tidak memberi kesempatan lagi. Ia melompat dan menendang. Dengan suara bergedubrakan, kakinya menghantam almari. Karena hebatnya tenaga yang dikeluarkan, almari itu roboh berantakan. Dan di antara suara hancurnya sebuah almari, tiba-tiba terdengar suara teriakan: "Awas!"
Hampir berbareng Taker Urip dan Ampyak Siti yang bersembunyi di belakang almari melompat keluar.
"Ampyak Siti!" seru Taker Urip dengan tertawa berkakakan. "Mampuskan berandal ini!"
Sanjaya kaget mendengar bunyi seruan itu. Ia tak pernah bermimpi bisa kejadian begitu. Taker Urip dan Ampyak Siti adalah komandan-komandan laskar Kepatihan. Selamanya mereka bermusuhan dengan Wiranegara. Kapten Merta Sasmita yang berpihak kepada Sultan, dengan sendirinya musuhnya pula. Menurut perhitungan Sanjaya, meskipun mereka berdua tidak bakal membantu padanya, tapi pun tidak akan membantu Wiranegara dan Merta Sasmita.
Ampyak Siti adalah seorang pendekar kelas satu semenjak belasan tahun yang lalu. Waktu itu ia berada dekat di belakang
Sanjaya. Begitu mendengar aba-aba rekannya, tangannya lantas mencengkeram pundak Sanjaya.
380

Sanjaya sama sekali tidak mengira akan terjadi demikian. Tahu-tahu pundaknya terasa sakit luar biasa. Tenaga tubuhnya bagian atas lemas tak bertenaga lagi.
Taker Urip si Kepala gede waktu itu telah mengeluarkan goloknya yang beracun. Ia melompat maju sambil membentak.
"Sanjaya! Hari ini tibalah saat mampusmu. Kau jangan menyesal."
"Bagus! Bagus!" seru Wiranegara sambil merangkak-rangkak bangun. Ia menyambar pedangnya kembali. Lalu berkata penuh semangat. "Saudara berdua! Mulai detik ini, memang kita sudah menjadi kawan sehidup semati. Kalian benar pandai melihat gelagat! Kalian dengar, majikanmu sudah berhamba kepada Sultan Jarot. Lantas kalian dengan cepat bisa mengambil keputusan. Itulah keputusan yang mengagumkan! Mari.... Mari kita mampuskan bangsat ini! Jasamu kulaporkan kepada Sri Baginda."
Setelah berkata demikian, dengan bergulingan ia menyabatkan pedangnya. Hebat ancaman ini. Dengan mati-matian Sanjaya mencoba membebaskan diri. Semua pengalaman dan keragaman ilmu kepandaiannya, ia gunakan dengan sepenuhnya. Tetapi ilmu cengkeraman Ampyak Siti benar-benar sukar dilawan. Lima jarinya seperti melengket pada pundaknya. Dalam pada itu, golok Taker Urip dan pedang Wiranegara merangsak tiada hentinya.
Pada detik yang sangat berbahaya itu, tiba-tiba saja Sanjaya membentak bagaikan guntur. Itulah ilmu sakti warisan keris Tunggulmanik bagian atas. Sayang, dia tidak memiliki tenaga dahsyat seperti Sangaji. Sekalipun
381

demikian perbawanya luar biasa besar. Dengan sekonyong-konyong pandang wajahnya berubah seperti harimau terluka.
Taker Urip, Ampyak Siti dan Wiranegara kaget sehingga tertegun. Pedang dan golok terhenti di tengah udara. Pada saat itulah kedua kaki Sanjaya menendang. Dua orang musuhnya terpental dan jatuh terbanting menumbuk tembok. Setelah menendang, ia menyikut dada Wiranegara. Tangan kanannya mencengkeram tengkuk, lalu membanting. Wiranegara jatuh bergulingan. Darah segar kembali terlontak. Dasar telah terluka, penderitaannya tak tertanggungkan lagi. Ia menjerit tinggi seperti babi terjepit.
Sebenarnya, apakah dasar alasan Taker Urip dan Ampyak Siti tiba-tiba berbalik membantu Wiranegara? Taker Urip adalah seorang manusia licik. Tadi, selagi bersembunyi di belakang almari, ia mengikuti pembicaraan utusan Sultan dengan jelas. Diluar pengetahuannya sendiri, ternyata Patih Danurejo IV sudah bersatu kembali dengan Sultan HB IV. Kalau majikannya sudah berhamba, perlu apa ia mengotot. Lantas saja mengambil keputusan untuk mengabdi kepada majikan baru. Pikirnya di dalam hati, Pemerintah Belanda—Sultan Jarot dan Gusti Patih Danurejo sudah bersatu. Pemerintah Belanda sangat benci kepada Sangaji dan semua sanak saudaranya. Meskipun Sangaji seorang pendekar besar yang berkepandaian sangat tinggi, tapi dimana dia kini berada hanya setan yang tahu. Yang ketinggalan di sini hanya Sanjaya. Sultan mencoba memancing dengan pangkat dan derajat untuk nanti dibekuk setelah tiba di Jogjakarta. Hai— iblis yang licik ini—seperti mempunyai mata. Ia menolak! Jika aku
382

bisa membekuk atau membinasakannya, bukankah aku mempunyai barang pengantar untuk mengabdi kepada Sultan?
Ia bergembira memperoleh pikiran demikian. Hanya saja, ia agak takut berlawan-lawanan dengan Sanjaya yang berkepandaian tinggi. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat lamanya, ia memperoleh pikiran baru. "Lebih baik aku menonton dahulu pertarungan antara harimau-harimau itu," katanya di dalam hati. "Setelah mereka rusak, barulah aku turun tangan. Kapten Merta Sasmita dan Wiranegara boleh hebat. Tetapi menghadapi Sanjaya, mereka bakal menderita luka berat. Aku tinggal menambahi beberapa tikaman saja, sudah beres. Lalu siapa lagi yang bakal mengantongi jabatan komandan istana, selain aku? Inilah yang dinamakan sekali tepuk dua lalat mampus."
Demikianlah ia menunggu sambil memasang telinga dan mata. Tak tersangka sama sekali, gelanggang pertarungan mendadak pindah di depan almari. Sanjaya menendang almari tempat persembunyiannya hingga hancur berantakan. Terpaksalah ia keluar sebelum waktunya. Ia mengetahui lengan Sanjaya sudah terluka kena mesiu bubuk beracun. Segera ia mengkisiki Ampyak Siti agar menerkam pundaknya. Jika pundak Sanjaya kena terkam cengkeraman Ampyak Siti yang terkenal berbahaya semenjak belasan tahun, ia sendiri akan turun tangan membinasakannya.
Akan tetapi perhitungannya ternyata meleset. Sebab dalam detik yang sangat berbahaya Sanjaya ternyata masih mempunyai tenaga membalas. Tiba-tiba dadanya kena tendang. Ia jatuh terpelanting menumbuk tembok. Baru saja hendak merangkak bangun, tangan Sanjaya
383

mencengkeram tulang pundak. Dengan suatu teriakan hebat, ia berontak. Tetapi tulang pundaknya tetap tercengkeram dengan keras. Ia kena dibanting untuk yang kedua kalinya.
"Awas!" terdengar suara teriakan peringatan. Itulah suara peringatan Mundingsari yang berada di kamar sebelah. Dengan berteriak demikian, Kapten Merta Sasmita yang terkapar kempas kempis terbangun kesadarannya. Kedua lengannya boleh dikatakan sudah hancur. Namun masih bisa ia menggerakkan sebelah kanannya meskipun sakit luar biasa. Dengan menguatkan diri ia mengisi pistolnya yang tadi terlempar di tanah. Kebetulan sekali berada dekat padanya. Setelah berkutat sekian lamanya, ia berhasil mengisinya. Kemudian dengan tangan gemetaran, ia menarik pelatuknya.
"Di kamar sebelah ada orang!" teriaknya membarengi.
Pistol meletus. Buru-buru Mundingsari mengendapkan kepalanya. Ia dapat menyelamatkan diri, karena Kapten Merta Sasmita sudah terluka hebat. Tetapi ia tak dapat membebaskan diri dari bubuk racunnya. Begitu mencium bahaya, tiba-tiba- saja matanya berkunang-kunang. Dan ia roboh terjungkal dari kursi bertangga.
Ampyak Siti yang membentur tembok mendengar pemberitahuan Kapten Merta Sasmita, la menguatkan diri untuk meletik bangun. Tetapi sebelum sempat bergerak dengan leluasa, Sanjaya sudah memegat jalan keluar. Bentak Sanjaya: "Mau lari kemana?"
Berbareng dengan bentakannya, Sanjaya menyapu dengan tangannya. Buru-buru Ampyak Siti berkelit, tetapi Sanjaya lebih cepat. Tangannya mendarat jitu pada pinggang lawan. Tenaga sapuannya tadi dapat merontokkan meja batu. Sekarang menggempur pinggang Ampyak Siti. Tak mengherankan pendekar itu berkunang-kunang matanya.
"Mati aku!" ia mengeluh tinggi.
Tiba-tiba terdengarlah suara Kapten Merta Sasmita. "Saudara, jangan gugup! Dia sudah terluka hebat, akibat racunku. Sebentar lagi tenaganya bakal kurang. Kau serang saja dia dengan berputaran!"
Mendengar perkataan itu, Ampyak Siti tersadar. Benar—meskipun ia kena gempuran—tapi lukanya tidaklah seberat Sanjaya yang kena digerumuti racun berbisa dari dalam. Buru-buru ia menarik napas dalam dan merangkak-rangkak bangun. Taker Urip yang terkapar di atas tanah, kelihatan bergerak pula.
Dengan matanya yang celi, Ampyak Siti mengawaskan lengan Sanjaya. Lengan Sanjaya seperti tergantung pada pundaknya tanpa tulang lagi. Itu suatu bukti bahwa lengan itu sudah tak dapat digerakkan dengan leluasa. Ternyata ia bertempur dengan menggunakan lengan kirinya saja. Namun lengan ini pun nampaknya kejang juga. Pastilah akibat racun yang mulai mengamuk dalam dirinya.
Memang—begitu kena racun bubuk mesiu Kapten Merta Sasmita lengan Sanjaya terasa menjadi kaku. Setelah bertarung sekian lamanya, menjadi kejang dan tak dapat lagi digerakkan dengan leluasa, la tahu—itulah akibat racun ular yang sudah menjalari lengan dan sebagian tubuhnya. Tadi—dalam pertempuran hidup dan mati—ia melupakan rasa kejang itu. Dan dapat menggempur musuh-musuhnya dengan tenaga penuh. Tapi setelah itu, lengannya tak dapat diperintahnya lagi.
385

Semenjak mudanya—Sanjaya mempunyai sifat yang agak membandel, la tak gampang-gampang mau menyerah. Sifat inilah yang pernah menjengkelkan Titisari dan Nuraini. Sekarang sifat itu timbul dalam saat-saat penentuan hidup dan matinya. Dengan mengerahkan tenaga ia menghantam Ampyak Siti. Pukulannya tepat mengenai sasarannya. Kalau pukulannya dapat menggempur sebuah meja batu, kini hanya mampu membuat mata Ampyak Siti berkunang-kunang saja. Diam-diam ia mengeluh dalam hati.
Pada saat itu, Taker Urip sudah dapat berdiri. Ia memungut goloknya kembali. Sambil menahan sakit, ia mengawaskan lawannya. Disampingnya berdiri Ampyak Siti yang sudah sempoyongan. Sedang kedua lengan Kapten Merta Sasmita nampak sudah rusak. Kapten itu mencoba berdiri dengan bersandar pada tembok. Mukanya pucat bagaikan mayat.
Lima orang yang berada dalam kamar itu sebenarnya sudah luka parah semua. Wiranegara sudah tak berkutik. Ia terkapar mencium tanah dengan napas kempas kempis. Kedua lengan dan dada Kapten Merta Sasmita telah rusak, tulangnya remuk. Taker Urip yang kena tendangan kaki, patah pula tulang pundaknya. Dan Ampyak Siti yang tergempur pinggangnya tak ubah sebuah dian berkelap-kelip. Sedang Sanjaya terancam bahaya bisa ular yang jahat. Kedua lengannya tak dapat digerakkan lagi. Seluruh anggota tubuhnya terasa copot. Dibandingkan dengan keempat lawannya, dialah sebenarnya yang menderita luka paling parah.
Kelima-limanya tadi sudah bertempur untuk menentukan hidup matinya. Kini tinggal empat orang, lantaran Wiranegara sudah tak dapat berkutik lagi.
386

Mereka bertarung lagi dengan dahsyat. Setelah melayani belasan jurus, Sanjaya merasa diri tak dapat lagi mengadakan perlawanan. Ia berpikir cepat. Katanya di dalam hati, aku masih bisa menggerakkan tangan kiriku. Tapi tidak untuk selamanya. Kalau aku tidak dapat menggunakan semanfaat-manfaatnya, aku akan mati di tengah jalan."
Memikir demikian ia segera menyimpan tenaga lengannya. Tiba-tiba ia melihat Ampyak Siti bergulingan. Dengan membekal tongkat gaetan, pendekar yang lukanya paling ringan itu menyapu kakinya. Buru-buru Sanjaya menjejakkan kakinya ia melesat tinggi untuk meloloskan diri. Tatkala melayang turun ia menubruk Taker Urip. Tubrukan ini berada diluar dugaan Taker Urip, sebelum dapat bergerak, Taker Urip kena tubruk dan tubuhnya terpental kesamping.
Tapi dia bukan tak berdaya sama sekali. Dalam kesibukannya tangannya yang masih menggenggam golok digerakkan. Sayang— tangan Sanjaya lebih cepat. Sebelum goloknya menemui sasarannya, pergelangan tangannya kena tangkap. Terdengar bentakan Sanjaya mengguruh!
"Kau rasakan betapa enaknya kalau lenganmu copot!"
Taker Urip kaget setengah mati. Dengan berteriak ia mencoba menarik dengan menggulingkan badannya.
Tapi gerakan ini justru mempercepat ancaman. Tahu-tahu, lengannya berbunyi krak—krak! Ia berteriak tinggi menyayatkan hati. Goloknya terlempar di tanah. Dan dengan bergulingan di tanah, tangan kirinya menekap lengan kanannya yang copot dari tulang pundaknya.
387

Hebat kejadian itu, Ampyak Siti dan Kapten Merta Sasmita tertegun karena kaget. Mereka berdua mempunyai kepandaiannya masing-masing. Mereka berdua pernah mengalami pertempuran mati-hidup entah sudah berapa kali. Tetapi malam itu, semangatnya benar-benar terbang. Mereka merasakan suatu kengerian yang menyeramkan.
Pada saat itu kembali Sanjaya melesat tinggi. Itulah salah satu jurus ilmu warisan Pringgasakti. Cengkeramannya mengarah batok kepala. Barangsiapa kena cengkeramannya akan mati tercublas. Apabila mencengkeram tulang, tulang itu akan patah berantakan. Buru-buru Ampyak Siti dan Kapten Merta Sasmita melompat menyibakkan diri. Di luar dugaan, serangan Sanjaya berhenti di tengah jalan. Tatkala mendarat di tanah, tangannya sudah menggenggam sebatang pedang berwarna kelabu. Itulah pedang warisan Pringgasakti.
Setelah ayah angkatnya mati sampyuh27) dengan pendekar Kebo Bangah dan kakinya buntung sebelah. Sanjaya menyimpan pedangnya. Ia bersumpah tidak akan menggunakannya lagi. Tapi sekarang—karena merasa diri sudah terdorong di garis mati hidup, ia tak memedulikan lagi. Dan begitu pedangnya tercabut dari sarungnya semangat tempurnya terbangun sekaligus. Ia seumpama seekor harimau tiba-tiba mempunyai sayap.
Bukan main kagetnya Ampyak Siti dan Kapten Merta Sasmita begitu melihat berkelebatnya sebatang pedang
berbSSSP^ =
388

di depan hidungnya. Dengan paras pucat lesi, mereka menjatuhkan diri dan menyingkir bergulingan.
"Binatang!" bentak Sanjaya kalap. "Jika hari ini kalian bisa lolos dari pintuku, aku akan membunuh diri. Dan semenjak ini, anggap saja dunia tak pernah melahirkan Sanjaya."
Baru saja Ampyak Siti melarikan diri, suatu kesiur angin tajam memburu punggungnya. Pada detik-detik itu—selagi Ampyak Siti membalikkan tubuh hendak menangkis—tiba-tiba terdengar Sanjaya mengerang kesakitan.
"Binatang!" bentak Sanjaya dengan suara seram. "Kau belum mampus?"
Sambil berteriak ia menendang. Hampir berbareng. Taker Urip menjerit tinggi. Tubuhnya bergulingan beberapa kali. Dan nyawanya terbang ke langit ketujuh.
Sanjaya tadi tidak memperhatikan Taker Urip yang menggeletak di atas tanah lantaran luka berat. Ternyata Taker Urip yang licik, masih bisa menggerakkan sebelah tangannya. Tatkala Sanjaya melesat menyambarkan pedangnya, ia menimpuk dengan belati beracunnya. Dan belati itu menancap pada lutut Sanjaya.
Menyaksikan hal itu, Kapten Merta Sasmita bersyukur di dalam hatinya. Serunya lantas, "Saudara Ampyak Siti, hayo bantulah aku! Dia kena belati beracun. Sekarang tinggal mampusnya saja!"
Dengan terpaksa Ampyak Siti maju menyerang. Pada waktu itu keadaan Sanjaya benar-benar sudah payah sekali. Racun yang mengamuk dalam dirinya jadi bertambah. Kaki dan tangannya terluka berat. Terasa
389

sekali—bisa dan racun yang mengamuk di dalam dirinya—mulai naik meraba jantung.
Sambil mengertak gigi, ia mengumpulkan sisa tenaganya. Lalu menerjang kedua musuhnya dengan berbareng. Sungguh tak memalukan Sanjaya menjadi saudara-angkat Sangaji dalam saat-saat hidupnya yang terakhir. Walaupun keadaannya tak ubah sebuah dian sudah kehabisan minyak, namun masih bisa ia melancarkan suatu serangan dahsyat.
"Jangan lawan dengan rapat. Mundur!" teriak Kapten Merta Sasmita. "Paling lama dia tinggal bisa bertahan setengah jam lagi."
Ampyak Siti segera meloncat menjauhi. Begitu juga Kapten Merta Sasmita.
Sanjaya sudah barang tentu mengetahui keadaannya sendiri. Tatkala itu, ia sudah tidak memikirkan mati hidupnya lagi. Tujuannya hanya satu. Hendak gugur berbareng musuh-musuhnya. Itulah sebabnya ia tak memedulikan penjagaan dirinya. Terus saja ia menyerang dengan menyam-barkan pedang.
Di antara dua orang itu, Ampyak Siti yang masih bisa bergerak agak leluasa. Ia tadi hanya tergempur pinggangnya oleh suatu tenaga yang sudah kurang kedahsyatannya. Itulah sebabnya ia bisa berlari-larian berputaran. Kadangkala melancarkan serangan balasan. Dalam hatinya, ia menunggu saat robohnya Sanjaya oleh serangan racun yang mulai meraba jantungnya.
Semakin lama, pandang mata Sanjaya makin menjadi kabur. Sekarang tak dapat lagi ia melihat perawakan tubuh kedua lawannya dengan tegas. Yang dilihatnya
390

hanya semacam gundukan remang-remang yang selalu bergerak.
Tiba-tiba ia mendengar pintu terbuka dari luar. Siapakah yang membuka pintu? Tak sempat ia berpikir banyak. Pada saat itu, ia melihat sesosok bayangan berkelebat melesat ke pintu. Dialah Ampyak Siti. Sanjaya menggerung dahsyat. Karena menggerung, pandang matanya menjadi terang selintasan. Begitu melihat melesatnya Ampyak Siti, tanpa berpikir panjang lagi ia menimpukkan pedangnya. Tepat timpukannya. Dada Ampyak Siti tertikam dari belakang, la roboh terjungkal tanpa bersuara lagi.
Mundingsari yang roboh kena sambaran racun, segera duduk bersila menenteramkan diri. Kepalanya pusing dengan mendadak. Untung ia hanya menyedot bubuk mesiu beberapa tarikan napas saja. Setelah mengatur perjalanan darah dan napasnya, tubuhnya terasa menjadi segar kembali.
"Saudara Mundingsari, bagaimana ini?" Letnan Johan menghampiri dengan me-rangkak-rangkak.
"Sahabatmu Sanjaya ternyata seorang berandal," sambung Letnan Matulesi yang mendekatinya juga. "Dia seorang pemberontak seperti Sangaji."
Mundingsari tak melayani mereka. Ia menempelkan telinganya pada dinding kamar, mendengarkan suara pertempuran. Sekarang ia mendengar beradunya senjata. Ia jadi bingung sekali karena tak tahu siapa yang berada dalam bahaya. Menyaksikan kelicikan utusan-utusan Patih Danurejo IV dan Sultan Jarot, ia ikut panas hati. Darahnya bergolak dan dadanya seakan-akan
391

hendak meledak. Dengan kalap ia menarik goloknya. Kemudian membacoki pintu kamar kalang kabut.
Suara bacokan golok Mundingsari terdengar di gelanggang pertempuran. Kapten Merta Sasmita mengira, bahwa pembantu Sanjaya datang hendak memberi bantuan. Karena pintu dikancing dari dalam, ia mengira pembantu Sanjaya sedang menjebol pintu dari luar.
Dalam pada itu, setelah Sanjaya membereskan kedua lawannya, ia berputar menghadap Kapten Merta Sasmita. Kapten itu kini baru mengerti artinya takut. Kena pandang mata Sanjaya, tenaganya lenyap seakan-akan terlolosi. la menjatuhkan diri dan merangkak-rangkak mendekati.
"Sekarang hanya ketinggalan kau seorang begundal dan budak Belanda!" bentak Sanjaya dengan suara menyeramkan.
"Ya—ya, benar. Aku memang begundal Belanda. Aku memang budak Belanda," sahut Kapten Merta Sasmita dengan suara gemetaran. Sekarang nampaklah pamor-nya28) dengan jelas. "Ampuni aku nDoro-mas. Ampuni aku. Aku berjanji akan selalu teringat budimu."
Sanjaya mendelik. Ia sadar musuhnya itu sangat licik. Dia mencoba mengajak berbicara berkepanjangan untuk menunggu saat padamnya tenaganya. Teringat akan racunnya yang sudah mengamuk ke seluruh tubuhnya, ia segera membungkuk menjemput pedang Wiranegara. Bentaknya: "Bukankah ini pedangmu?"
28> baca : kwalitas
392

"Benar nDoromas," sahut Kapten Merta Sasmita cepat. "Dahulu kuperoleh dari Aceh."
"Pedang bagus!" kata Sanjaya. Tiba-tiba tangannya bergerak menimpuk dengan tenaganya yang penghabisan. Tanpa dapat bergerak lagi, pedang itu menikam ulu hati majikannya sendiri sampai menembus punggung. Kapten Merta Sasmita roboh terguling. Lalu mati dengan berkelejotan.
Puas hati Sanjaya. la tertawa terbahak-bahak. Dengan tertatih-tatih ia mencabut pedangnya dari dada Ampyak Siti. Setelah menyingkirkan batu yang melintang di depannya, ia menghampiri pintu kamar kurungan sambil membentak.
"Siapa di dalam? Keluar semua!"
Mundingsari mendorong daun pintu. Karena tiada pengganjelnya lagi, pintu terjeblak dengan gampang. Ia berjalan keluar dengan diikuti dua perwira di belakangnya.
Melihat Mundingsari melintangkan golok di depan dadanya, Sanjaya lantas bertanya :
"Mundingsari! Kau datang kemari untuk apa? Siapakah yang mengirimkan dua orang perwira ini?"
Kedua perwira itu pucat lesi. Jawabnya dengan suara menggigil: "Kami... kami... datang untuk memohon pertolongan Paduka."
"Apa?" bentak Sanjaya. "Setelah kalian pandai memanggil paduka kepadaku, apa kalian kira mudah keluar masuk halaman rumahku sesuka hatimu?"
393

Kedua perwira itu menggigil seluruh tubuhnya. Sebaliknya, Mundingsari berduka melihat tubuh bekas majikannya itu. Tatkala itu, seluruh tubuh Sanjaya sudah berlumuran darah. Meskipun demikian, kewibawaannya masih seperti dahulu. Teringat akan kedudukannya dahulu, mata Mundingsari basah. Lantas saja ia memegang pergelangan tangan Sanjaya, setelah memindah goloknya ke tangan kiri. Katanya dengan suara terharu: "Denmas Sanjaya... bagaimana keadaanmu?"
"Kenapa kau ajak mereka kemari?" bentak Sanjaya tanpa memedulikan ucapannya.
"Denmas, kau beristirahat dahulu. Sebentar aku akan menuturkan kata," jawab Mundingsari.
Sanjaya berbimbang-bimbang sebentar. Sejenak kemudian memutuskan, "Baiklah!" la berjalan mendekati dinding. Kemudian duduk bersila.
Buru-buru, Mundingsari mengeluarkan obat lukanya untuk mengobati luka Sanjaya. Tapi baru saja tangannya diulur, Sanjaya membentak.
"Kau mau apa? Taruh! Siapa kesudian melihat lagakmu ini. Cepat katakan, siapa Tuan-tuan yang terhormat ini?"
Mundingsari segera meletakkan botol obatnya di atas tanah, la duduk berhadap-hadapan. Setelah menelan ludah beberapa kali, ia berkata: "Apa yang mereka katakan, memang benar belaka. Dari Cirebon mereka mengawal tiga kereta penuh muatan. Isinya tiga puluh laksa ringgit untuk belanja tentara di Magelang. Tapi di
394

tengah jalan, uang itu kena dirampok. Itulah sebabnya mereka datang kemari untuk mohon bantuan Denmas."
"Apa sangkut pautnya dengan dirimu?" tanya Sanjaya.
"Aku ikut melindungi eh, mengawalnya."
"Hai! Kenapa kau sudi jadi begundal?" bentak Sanjaya.
Buru-buru Mundingsari membungkuk hormat. "Itulah lantaran aku ditunjuk Sultan Kanoman untuk ikut serta mengawal. Mengingat daerah hidupku berada dalam kekuasaan Sultan Kanoman, tak dapat aku menolak.... Denmas! Bagaimana keadaan Denmas? "
Mundingsari kaget tatkala melihat tubuh Sanjaya bergoyang-goyang. Tadi karena mengira kedua perwira itu bermaksud jahat dapat Sanjaya mempertahankan dirinya oleh rasa tegang. Sesudah mengetahui bahwa kedatangan mereka tidak bermaksud jahat, hilanglah rasa tegangnya. Tapi begitu rasa tegangnya hilang, mukanya lantas berubah menjadi pucat. Dan tubuhnya bergoyang tak dikehendaki sendiri. Melihat hal itu, gugup Mundingsari mengulur tangannya hendak memberikan pertolongan.
"Tak usah!" Sanjaya menolak. "Selama aku masih dapat berbicara, kau hanya mendengarkan kata-kataku dengan baik. Nah, kau usirlah mereka dahulu keluar. Aku ingin berbicara."
Mundingsari menoleh dengan memberi isyarat mata. Kedua perwira itu tahu diri. Cepat-cepat mereka mundur dan keluar pintu. Di sana mereka menunggu di dalam kepekatan malam.
395

Mundingsari kenal wataknya Sanjaya. Bekas putera pangeran itu, biasanya bermanja-manja. Maka ia mencoba memegang bahunya. Tetapi kali ini Sanjaya benar-benar kukuh. Sifatnya dahulu tiada lagi bekasnya.
"Kau dengar saja!" bentak Sanjaya. "Kau mau mendengarkan perintahku tidak? Nah, —kau gerayangi saku Merta Sasmita. Mungkin di dalam saku terdapat obat pemunah racun."
Mundingsari seperti diingatkan. Setelah melompat, ia menghampiri mayat Kapten Merta Sasmita. Lalu menggerayangi sakunya. Benar saja di dalamnya terdapat sebotol obat pemunah yang encer. Buru-buru ia membawanya ke depan Sanjaya.
"Kau kena racun berbahaya. Kau minumlah cepat!" perintah Sanjaya.
Mundingsari terkejut. Memang tadi, ia menyedot racun selintasan. Siapa saja takkan melihat tanda-tandanya. Tetapi dengan sekali pandang ternyata Sanjaya melihat gejalanya.
"Denmas! Racun yang kusedot tidak begitu banyak. Denmas saja yang minum obat pemunah ini!"
Sanjaya tersenyum pahit. Jawabnya dengan suara berduka. "Kalau satu jam tadi, mungkin masih ada harapan. Sekarang meskipun memperoleh obat malaikat—tidak akan mempan lagi. Kau saja! Jangan kau kira, kau tidak terancam bahaya... "
Pucat wajah Mundingsari. Sebagai seorang pendekar berpengalaman, kata-kata Sanjaya pasti beralasan, la tak berani membangkang. Setelah dibuka penutup botolnya, segera ia meneguk isinya sampai habis. Kemudian ia
396

menatap wajah Sanjaya yang kini nampak berwarna abu-abu. Sejenak lagi, warna abu-abu itu berubah menjadi hitam. Terang sekali, seluruh tubuh Sanjaya sudah diamuk racun. Tanpa merasa botol obat pemunah yang berada dalam tangannya runtuh bergelontangan.
"Denmas Sanjaya!" pekiknya sambil berlutut. "Denmas mempunyai pesan apa?"
Sanjaya tertawa. "Budi dan sakit hati sudah terbalas semua. Isteri—aku pernah mempunyai. Ibu—pernah menduduki tataran mulia. Apalagi yang akan kupesankan? Hanya saja...? Hanya satu! Kau dengarlah!"
"Brt!" ia membesat bajunya yang ber-lepotan darah. "Bawalah baju ini dan pedangku kepada saudara angkatku Sangaji. Setelah uang kawalanmu dapat kau peroleh kembali, kau harus mengabdi kepada Sangaji."
Dengan air mata bercucuran, Mundingsari menerima robekan baju dan pedang Sanjaya. Dengan menguatkan diri ia berkata: "Denmas berpesan apa lagi?"
"Ketika kau tiba di sini, apakah bertemu dengan anakku Senot Muradi?" tanya Sanjaya.
"Katanya, dia pergi mencari Denmas," jawab Mundingsari.
Tubuh Sanjaya menggigil. Tetapi paras wajahnya tetap tenang. Dalam menghadapi maut, Sanjaya yang dahulu terkenal sebagai seorang licik, ternyata nampak gagah dan sama sekali tak gentar. Mundingsari kagum luar biasa. Alangkah besar perubahannya dalam belasan tahun terakhir ini.
397

Dengan hati pilu ia menatap wajah bekas majikannya itu. Keadaan Sanjaya ibarat nyala lilin mendadak terang benderang sebelum padam sama sekali. Ia memejamkan mata. Tiba-tiba menyenak. Lalu berkata dengan suara terburu-buru.
"Jika.... Senot masih hidup, berikan pedangku itu kepadanya. Kau suruh dia mencari saudara angkatku Sangaji. Setelah berkata demikian ia mengibaskan tangannya. Berkata lagi: "Aku mempunyai hubungan baik dengan penduduk dusun ini. Jenazahku pasti bakal dirawatnya dengan baik. Kau saja, berangkatlah malam ini juga. Aku telah membinasakan musuhku semua. Aku pun sudah berhasil berdiri tegak sejiwa dengan cita-cita almarhum ayahku. Meskipun kini mati, aku puas. Senot Muradi tak perlu berkecil hati mempunyai ayah seperti aku. Hanya satu hal yang mengganjel dalam hatiku Tak dapat lagi aku melihat ibuku... saudaraku Sangaji... dan belum sempat aku beramah tamah dengan Pangeran Diponegoro... Hai, sayang!"
Suaranya makin lama makin menjadi lemah. Begitu mengucapkan kata sayang, kedua matanya terpejam rapat. Dan pulanglah ia ke rahmattullah dengan tenang.
Mundingsari menangis menggerung-gerung. Beginilah akhir hidup Sanjaya. Pada zaman mudanya, ia hidup makmur dan menjadi pujaan. Kemudian kakinya buntung dan mengakhiri hidupnya hanya ditemani seorang teman belaka. Mundingsari menjadi sedih. Dimanakah putera satu-satunya kini berada? Maka terasalah dalam hati Mundingsari, bahwa sesungguhnya lahir dan matinya manusia ini seorang diri saja. Tanpa teman tanpa kawan.
398

Setelah kenyang menangis, Mundingsari segera berlutut di hadapan jenazah Sanjaya serendah tanah. Kemudian dengan hati-hati, ia menidurkan di atas dipan panjang. Di sini-kembali ia berlutut lagi sebagai pemberian hormat yang terakhir. Pada saat itu, mendengar suara gemeresak di luar.
"Ah, benar?" katanya di dalam hati. "Tak boleh aku lama-lama berada di sini."
Buru-buru ia memasukkan robekan baju Sanjaya ke dalam sakunya. Dan sambil menenteng29) pedang Sanjaya, ia berjalan keluar halaman.
Dua perwira yang tadi menunggu di luar, segera menghampiri. Melihat Mundingsari membawa-bawa pedang dengan wajah pucat, mereka kaget setengah mati. Dengan suara gemetaran Letnan Johan menegas hati-hati.
"Saudara Mundingsari... bagaimana?"
"Sebulan lagi, kalian tunggu kedatanganku di kaki Gunung Damar," jawab Mundingsari dengan pendek.
"Sebulan lagi?" Mereka setengah memekik.
"Denmas Sanjaya sudah meluluskan permohonanmu," kata Mundingsari dengan suara malas. "Satu bulan lagi— terhitung hari esok—kalian berdua menunggu kedatanganku di kaki Gunung Damar sebelah timur. Kalian akan mendengar khabar kesudahan-nya."
"Massya Allah! Sebulan lagi? Bagaimana kami berdua bisa menunggu selama itu?" kata mereka setengah merengek.
1B> menenteng = membawa-bawa, menjinjing
399

Mundingsari lagi berduka. Sekarang mendengar kerewelan mereka, ia jadi naik darah. Lantas membentak. "Kalian bisa menunggu atau tidak? Kalau tidak bisa menunggu, aku pun tak dapat menolong."
Suaranya keras dan dengan langkah panjang, ia berjalan mengitari halaman menuju ke pekarangan belakang. Kedua perwira itu tak berani menggerecoki lagi. Terpaksalah mereka menghampiri kudanya dan segera meninggalkan halaman rumah. Malam itu sangat pekat. Dengan menahan napas, ia menggeprak kudanya asal lari saja. Setelah membeloki sebuah tikungan, bayangannya lenyap dari penglihatan.
Dalam pada itu Mundingsari telah memasuki pekarangan samping. Tujuannya hendak mencari Senot Muradi. Tatkala hendak membeloki dinding belakang, tiba-tiba kakinya menyentuh sesosok tubuh. Ia kaget sampai berjingkrak.
"Siapa?" gertaknya.
Ia menunggu beberapa saat. Tubuh itu tidak bergerak. Ia membuka matanya lebar-lebar untuk menajamkan penglihatan. Tetapi malam itu benar-benar pekat. Tiada sesuatu yang bisa nampak di depan hidungnya. Karena penasaran, ia maju setindak. Kakinya dirabakan. Tubuh yang menggeletak di atas tanah lantas didorongnya. Ternyata tiada bertenaga sama sekali.
"Eh, di sini terdapat mayat. Mayat siapa?" ia berbisik di dalam hati.
Teringat lampu yang berada di dalam kamar tengah ia segera berbalik. Kemudian dengan hati-hati ia membawanya keluar. Membawa lampu di tengah
400

kegelapan malam, besar bahayanya. Siapa tahu, ada orang-orang tertentu yang bersembunyi. Tetapi ia cerdik. Ia menimpukkan tinggi di udara, lalu mendekam serendah tanah.
Lampu penerangan pada zaman dahulu semacam obor bertangkai. Tangkainya terbuat dari bambu dan berukuran panjang. Sebelum menimpukkan, Mundingsari menarik sumbunya panjang-panjang. Timpuk -annya ke udara tidak sampai memadamkan nyalanya. Dan begitu tiba di tanah, minyaknya muncrat berhamburan. Tanah sekitarnya lantas saja terbakar.
Hati-hati, Mundingsari menebarkan penglihatannya. Sekian lamanya ia menunggu, tiada yang terdengar berkutik. Ketegangannya lantas surut. Kini ia mengalihkan perhatiannya kepada pekarangan samping. Samar-samar ia melihat beberapa mayat bergelimpangan.
Apakah artinya ini? pikirnya sibuk. Sebagai seorang pendekar yang berpengalaman, ia dapat bertindak dengan cepat. Ia melesat ke atas genting dan mengintai dari atas. Sekarang ia dapat melihat sekitar rumah dengan leluasa. Mayat yang bergelimpangan berjumlah tujuh orang.
Yang enam bertebaran, sedang yang seorang bersandar pada lapisan batu ambang pintu. Orang itu nampaknya sudah berhasil membuka pintu dari luar. Tetapi kemudian roboh menghembuskan napasnya yang penghabisan. Karena perbuatannya itulah, membuat Ampyak Siti hampir dapat melarikan diri.
Kejapan sumbu obor yang terlepas dari tangkainya, memang kurang memberi penerangan yang cerah.
401

Namun Mundingsari tak berani sembrono. Setelah mendekam sekian lamanya di atas genting dan suasana sekitar pekarangan tetap sunyi senyap, barulah ia berani meloncat turun. Dengan cekatan ia memasukkan sumbu obor ke tangkainya. Lalu ia mulai mengadakan pemeriksaan. Tatkala menyuluti wajah orang yang hampir mencapai ambang pintu, ia menggigil. Tanpa merasa ia mundur setindak.
"Ki Jaga Saradenta!" bisiknya.
Dengan tubuh bergemetaran ia membungkuki dan memeriksa. Seluruh tubuh Ki Jaga Saradenta berlumuran darah. Ia telah tewas. Melihat enam mayat bergelimpangan dengan luka berat, Mundingsari lantas dapat menduga-duga. Rupanya—tidak hanya Sanjaya yang menghadapi lawan dengan tiba-tiba—tapi pun Ki Jaga Saradenta. Hanya saja siapakah lawan Ki Jaga Saradenta itu, tidaklah jelas.
Apakah Ki Jaga Saradenta sedang melindungi Senot Muradi? pikirnya. Memperoleh pikiran demikian, ia jadi kalap. Dengan membawa obor, ia lari mengitari rumah sambil berteriak-teriak: "Senot! Senot!"
Seluruh ruang rumah digeledahnya. Setelah ternyata tiada tanda-tandanya, segera ia lari menghampiri kudanya. Ia melompat ke atas punggungnya. Ditimpukkan tangkai berobor itu tinggi ke udara, kemudian menggeprak kudanya.
"Senot! Senot! Kau dimana?" teriaknya kalap.
402

8
PENGORBANAN WIRAPATI
EMPAT HARI KEMUDIAN, Mundingsari telah tiba di Kota Magelang. Perjalanan pada waktu itu tidak boleh dikatakan terlalu sukar. Jalan besar yang menghubungkan Banyumas dan Magelang telah cukup rata. Seseorang bisa mencapai Kota Magelang lebih cepat dua hari daripada perjalanan Mundingsari. Tetapi pikiran Mundingsari kala itu sangat kacau. Lagi pula perjalanan yang ditempuhnya tidak lumrah. Ia menaruh curiga kepada tempat-tempat tertentu untuk dijenguknya. Siapa tahu, ia memperoleh hisapan berita tentang lenyapnya Senot Muradi. Itulah sebabnya, perjalanan ke Magelang ditempuhnya dalam empat hari.
Jalan-jalan di Kota Magelang, terhias dengan rapih. Pagar dan rumah-rumah terlabur putih. Mula-mula Mundingsari mengira, itulah kerapihan untuk menyongsonghari raya beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba ia melihat suatu tulisan besar yang terpancang melintang di tengah jalan. Begini bunyinya:
Sultan HB IV dengan bantuan pemerintah Belanda naik tahta penuh-penuh. Rakyat Magelang mengucapkan syukur ke hadiran Tuhan Yang Maha Esa.
Naiknya Sultan HB IV ke tahta, sudah didengar jelas dari pembicaraan utusan-utusan yang datang ke rumah
403

Sanjaya. Kalau Bupati Danuningrat30) kini mengucapkan selamat naik tahta, sudahlah semestinya. Karena dia seorang hamba negeri. Tapi aneh adalah sikap penduduk. Mereka nampak acuh tak acuh. Pandang mukanya keruh dan berduka. Hal ini menarik perhatian Mundingsari.
Mundingsari memasuki rumah makan Tionghoa yang agak mentereng. Ia melihat secoret tulisan Tionghoa pada dnding. Tulisan itu sangat menyolok. Sayang tak dapat ia membacanya. Tapi ia tidak kekurangan akal. Ia menggapai seorang kacung31) Tionghoa. Setelah memberi persen ia minta tolong apa bunyinya tulisan itu. Segera anak itu membaca lancar.
"Jangan membicarakan urusan negara di sini."
Mundingsari memanggut-manggut. Ia tidak mengucapkan sesuatu. Hanya saja pikirannya jadi sibuk. Itulah disebabkan ia teringat kepada pertarungan hebat antara Sanjaya dan utusan Raja. Kemudian dengan mendadak utusan Patih Danurejo IV ikut bergabung pada pihak utusan Raja. Ini adalah suatu keruwetan yang terasa gawat. Dan kegawatan itu dikesankan lagi oleh tulisan tersebut. Melihat beberapa tetamu melirik kepadanya, ia jadi tak enak hati. Memang—pada waktu itu—jarang terjadi seorang penduduk memasuki sebuah rumah makan Tionghoa. Segera ia menggapai pelayan itu lagi. Ia berpura-pura memesan makanan Jawa yang tentu saja tak dapat disediakan di rumah makan Tionghoa. Dengan alasan itu, ia meninggalkan rumah makan tersebut.
30) Bupati Magelang yang setia kepada Belanda.
31) baca pelayan tanggung.
404

Di sebelah jalan jurusan Purwokerto, ia melihat sebuah warung. Segera ia memasuki. Beberapa orang bergerombol menggerumiti nasi dan lauknya. Segera ia ikut-ikutan memesan makanan.
Mula-mula tiada terjadi sesuatu yang menarik perhatian. Tiba-tiba kupingnya yang tajam mendengar suatu bisikan. Dan bisikan itu dijawab oleh si Penjual makanan dengan terang-terangan. "Siapa yang mempunyai telinga dan mata, masakan tak mengetahui kejadian ini. Pendekar Wirapati memang dimasukkan ke penjara."
"Benar. Cuma saja—apa alasannya?" menegas seseorang.
"Alasan kan bisa dibuat-buat. Siapa yang berkuasa, dia bisa mengumbar mulut!" jawab penjual makanan dengan suara sengit.
"Kang Karto!" kata seorang laki-laki yang duduk di pojok utara. Siapa saja memang bersedia dihukum untuk kebersihan nama pendekar Wirapati. Hanya saja, lebih baik kita berhati-hati. Dinding mempunyai mata dan telinga."
Kartodirun demikian nama penjual nasi itu merah padam mukanya. Namun oleh nasihat itu, ia berusaha mengendalikan diri. Setelah agak sabar ia berkata: "Menurut pendapat kalian apakah alasan Bupati Danuningrat menahan pendekar Wirapati?"
Beberapa saat lamanya tiada jawaban. Masing-masing sedang menggerumiti pesanan makanannya. Tiba-tiba seseorang menyeletuk.
405

"Bupati ini hendak mencari muka kepada pemerintah Belanda. Siapa saja tahu."
"Sst!" Temannya memperingatkan.
"Teruskan!" tungkas Kartodirun. "Peduli apa? Masakan kita perlu takut membicarakan yang benar?"
"Dia mungkin tahu, bahwa pendekar Wirapati adalah guru pendekar besar Sangaji yang mengangkat senjata di Jawa Barat," kata orang itu. "Kukira Bupati Danuningrat memaksa Wirapati agar menggunakan pengaruhnya untuk memanggil Sangaji mengabdi kepada Pemerintah Belanda. Tentu saja pendekar Wirapati tidak sudi. Itulah sebabnya ia dipenjarakan."
"Bagaimana kau tahu?" bantah seorang lagi.
"Kalau tidak begitu, lantas apa alasan Bupati Danuningrat menahan pendekar Wirapati?"
Mundingsari terkejut. Ia tahu pada zaman mudanya Sangaji berguru kepada Wirapati dan Jaga Saradenta. Teringat Ki Jaga Saradenta tewas tanpa keterangan yang jelas, ia jadi menaruh perhatian besar terhadap pembicaraan itu. Pikirnya di dalamhati: jangan-jangan, Ki Jaga Saradenta tewas oleh kaki tangan Bupati Magelang.... "
Mereka berbicara kasak-kusuk lagi. Tapi kali ini tak keruan juntrungnya. Mereka mengadakan tafsiran-tafsiran sendiri. Sekalipun demikian, jelasnya bahwa mereka menaruh simpati32) kepada Wirapati.
Mundingsari lantas meninggalkan warung nasi itu. Dari tempat ke tempat ia membuat penyelidikan keras. Sedikit
32) simpati = rasa tertarik
406

banyak ia memperoleh gambaran tentang keadaan Kota Magelang.
Bupati Danuningrat ini benar-benar seorang hamba Pemerintah Belanda yang setia. Dengan terang-terangan ia menyatakan rasa syukurnya atas bersatunya Patih Danurejo IV dan Sultan HB IV. Ia menyatakan itu semua terjadi atas jasa Pemerintah Belanda.
Sebagai seorang yang pernah pula bekerjasama dengan Belanda, Mundingsari tidak merasakan suatu keganjilan. Hanya saja setelah ia memperoleh pesan Sanjaya dan melihat matinya Ki Jaga Saradenta ia sibuk menduga-duga apakah alasan sebenarnya memenjarakan pendekar Wirapati. Agaknya tafsiran orang di warung Kartodirun ada benarnya.
Kira-kira menjelang jam tiga siang, ia balik kembali ke warung Kartodirun. Ia sekarang bersikap ramah. Dia seorang pendekar yang berpengalaman. Setelah berbicara kesana kemari, dapat ia memikat Kartodirun.
"Penjara tempat menahan pendekar Wirapati berada dimana?"
Kartodirun terkesiap. Inilah suatu pertanyaan tiba-tiba yang mengejutkan. Ia membalas bertanya pula.
"Saudara siapa?"
"Aku salah seorang sahabatnya. Kedatanganku kemari memang untuk meng-hisap-hisap berita tentang dirinya," jawab Mundingsari.
"Ah! Kalau begitu benar warta yang kudengar pagi tadi. Kabarnya nanti malam beberapa pendekar hendak datang membongkar penjara. Kiranya engkau pun ikut
407

golongan mereka. Selamat! Selamat!" kata Kartodirun dengan gembira.
la berbicara wajar saja, karena pada saat itu warungnya sepi tiada seorang pembeli pun. Lalu berkata lagi: "Memang mengherankan! Kabar yang kudengar adalah begini. Padepokan Gunung Damar berada di wilayah Menoreh. Bupati yang memerintah Menoreh, bernama Aria Sumadilaga33) Dengan mengandalkan pengaruhnya, dia memanggil pendekar Wirapati untuk diminta keterangannya tentang pendekar besar Sangaji yang mengangkat senjata di Jawa Barat. Apakah saudara pernah mendengar nama itu?"
"Tentu saja. Aku berasal dari Cirebon," jawab Mundingsari. "Dengan pendekar besar Sangaji, pernah beberapa kali aku bertemu muka."
Keterangan ini tidak terlalu membohong. Tatkala ia ikut hadir di Kabupaten Pekalongan dahulu atas panggilan Pangeran Bumi Gede, pernah ia melihat wajah Sangaji. Hanya saja ia berada di pihak lawan.
"Bagus!" seru Kartodirun. Orang itu lantas hilang rasa curiganya. "Pendekar Wirapati lantas diangkut ke kota ini. Entah apa alasannya, ia dipenjarakan di rumah penjara umum."
"Kabarnya pendekar Wirapati mempunyai saudara-saudara seperguruan."
"Tidak hanya mempunyai saudara-saudara seperguruan. Tapi pun pengaruhnya besar. Siapa saja kenal sepak terjangnya yang mulia. Raja memujanya
33) seperti Bupati Magelang, ia setia kepada Belanda
408

sebagai pahlawannya. Itulah sebabnya, berita penangkapannya tersiar dengan cepat."
Mundingsari mengela napas. Beberapa saat lamanya, ia berbimbang-bimbang. Kemudian berkata seperti kepada dirinya sendiri, "Kepandaian pendekar Wirapati sangat tinggi. Apa sebab dia tak mampu membebaskan dirinya?"
"Benar. Orang-orang gagah yang singgah disini pun membicarakan soal itu," sahut Kartodirun. "Kemungkinannya hanya satu."
"Apa?"
"Mungkin sekali penjagaan sangat kuat. Bukan mustahil Bupati Danuningrat mendapat bantuan orang-orang pandai."
Mendengar alasan itu, Mundingsari tak berkata lagi. Ia menunggu sampai malam hari tiba. Setelah ganti pakaian hitam, ia membawa pedang Sanjaya. Kemudian dengan mengindap-indap ia berjalan mengarah ke penjara.
Di luar penjara, serdadu-serdadu penjaga keamanan mondar-mandir tiada hentinya. Mundingsari mengawaskan dengan mata berkilat-kilat. Sekian lamanya ia mengasah otak untuk mencari cara yang baik untuk memasuki penjara yang berdinding tinggi itu. Tiba-tiba ia mendengar terompet. Berbareng dengan itu, ia melihat berkelebat-nya serombongan bayangan hitam yang berlari-larian mengarah ke barat daya. Heran Mundingsari melihat penglihatan itu. Apakah artinya gerakan itu?
Akan tetapi, itulah kesempatan yang luar biasa baik baginya. Sebagai seorang pendekar yang
409

berpengalaman, segera ia memungut dua butir batu. Kemudian dilemparkan tinggi ke udara. Dua butir batu itu berbenturan dengan agak nyaring. Dua penjaga pintu penjara melompat keluar hendak membuat penyelidikan. Tanpa bersangsi lagi, Mundingsari melesat ke atas dan hinggap di atas dinding penjara.
Malam itu—seperti malam kemarin. Gelap pekat, tiada bintang di langit. Bulan sisir yang berada di barat tertutup gumpalan awan hitam. Seluruh alam menjadi hitam. Dengan mengenakan pakaian hitam, Mundingsari dapat menyelinapkan dirinya. Gerakannya yang cepat lolos pula dari intaian penjaga-penjaga lainnya.
Hati-hati ia terus melesat ke atas genting. Sayup-sayup ia mendengar teriakan-teriakan arah barat daya. Sekarang tahulah dia, apa maksud gerakan serombongan bayangan hitam tadi. Mereka sengaja menyesatkan pengawasan penjagaan. Untuk kepentingan siapa, ia kurang jelas.
Memperoleh pikiran demikian, ia segera meloncat turun di halaman penjaga. Sekonyong-konyong terdengar kata-kata sandi menegurnya. "Apa khabar?"
Tentu saja Mundingsari tak dapat menjawabnya.
Tetapi ia seorang pendekar yang berpengalaman, la lantas menggerendeng.
"Kau bilang apa?" bentak orang itu sambil mendekat. "Keras sedikit!"
Mundingsari meloncat. Ia menyergap dengan belatinya. Dan orang itu roboh kena tikam tenggorokannya. Dan tidak sempat berteriak. Mulutnya kena sekap.
410

Mundingsari segera mebeleceti34) pakaian seragamnya. Setelah dikenakan, dengan buru-buru ia menyeret mayat penjaga itu ke tempat gelap. Ia mendepaknya sekali, lalu berjalan perlahan-pelahan. Ukuran sepatu penjaga itu ternyata agak kekecilan dibandingkan dengan ukuran kakinya, la agak kesakitan, namun tak dirasakan. Di tengah jalan ia berpapasan dengan seorang penjaga yang membawa lentera. Mundingsari meloncat menghampiri seraya mengibaskan pedangnya. Membentak perlahan.
"Di kamar mana Wirapati disekap?"
Penjaga itu kaget setengah mati. Tapi setelah mendengar pertanyaannya, wajahnya nampak girang. Sahutnya menegas. "Kau maksudkan pendekar Wirapati?"
"Benar. Lekas bilang!"
"Di dalam sel hukuman mati. Kamar nomor delapan dari samping. Dari sini jalan lencang. Tuu... kau beloklah ke kanan. Lantas hitung. Kamar ke delapan adalah sel pendekar Wirapati."
Tercengang Mundingsari mendengar keterangannya. Ia memasukkan pedangnya dengan penuh sangsi.
"Ssst! Kata sandi malam ini berbunyi: 'Apa khabar?' Kau harus menjawabnya! 'Naik tahta!' Ingat-ingatlah jangan sampai salah!"
Mendengar keterangan itu, hilanglah kesangsian Mundingsari. Segera ia menuruti petunjuknya dengan
231 mebeleceti = menelanjangi, diwudani
411

hati tetap. Benar saja. Begitu melintas satu gang35) terdengar teguran:
"Apa khabar?"
Dan dengan hati mantap, ia menjawab: "Naik tahta."
"Bagus! Selamat malam," kata pejaga itu.
Mundingsari tak memedulikan lagi. Ia meneruskan berjalan dengan agak berjingkit-jingkit lantaran ukuran sepatunya yang kekecilan.
Beberapakali ia bertemu dengan penjaga-penjaga. Semuanya beres tiada yang merintangi. Hanya saja di antara mereka ada yang menaruh curiga. Itulah disebabkan ukuran sepatunya dan lagu suaranya, yang asing. Namun mereka bersikap membungkam mulut.
Setelah membeloki sebuah tikungan, mulailah ia menghitung. Tepat, di depan kamar nomer delapan, ia melihat seorang penjaga dengan pedang terhunus. Mundingsari menubruk dengan membabatkan pedangnya. Di luar dugaan penjaga itu gesit luar biasa. Meskipun kena serangan gelap, dapat ia mengelak.
"Celaka!" Mundingsari mengeluh.
Setelah mengelak, penjaga itu memutar tubuhnya. Aneh! Dia nampak tersenyum dan sama sekali tiada mempunyai gerakan hendak menyerang.
"Kau lukai aku cepat!" katanya.
Mundingsari tercengang. Tapi lantas saja menjadi sadar. Rupanya penjaga itu menaruh simpati kepada Wirapati dan bermaksud hendak menolong membe-
M’ gang = simpang jalan (jalan kecil)
412

baskan pula. Entah apa alasanya. la jadi terharu.
Pikirnya, "Mulia sungguh orang ini." Hatinya tak sampai untuk melukainya.
"Cepat!" hardik penjaga itu. "Setengah jam lagi tukar penjagaan."
Sambil mengeraskan hati, Mundingsari menggerakkan pedangnya dan menggurat kaki penjaga itu.
"Jangan begini! Lebih dalam sedikit!" kata penjaga itu. Tiba-tiba ia merampas pedang Mundingsari dan menyabet lututnya sendiri hingga berdarah. "Sekarang pukullah aku sampai pingsan!"
Tapi Mundingsari tak bergerak, la tertegun-tegun. Melihat hal itu, penjaga yang merampas pedangnya menghantam urat nadi tulung rusuknya. Dan ia roboh lunglai di atas lantai dengan mulut tersenyum.
Mundingsari menghela napas. Sama sekali tak mengira, bahwa pendekar Wirapati begini besar pengaruhnya. Beberapa penjaga banyak yang menaruh simpati kepadanya. Menimbang pengorbanan itu, ia harus bekerja dengan sungguh-sungguh dan cepat. Setelah memungut pedangnya, ia menghantam gerendel pintu. Hebat pedang warisan Pringgasakti. Begitu kena pangkas, gerendel pintu rontok somplak. Cepat-cepat Mundingsari menyambarnya agar tak menerbitkan suara. Pada saat itu, ia mendengar orang bersenandung di dalam kamar. duh kulup putraningsun36) hidup satu tahun menjadi kambing apakah enaknya, lebih baik kau menjadi harimau meskipun hanya hidup untuk sehari karena namamu akan terukir terus sepanjang masa
36> Duhai anakku sayang..
413

dirimu ada gunanya dilahirkan ke dunia
Itulah kata-kata Wirapati dahulu kepada Sangaji sewaktu melepaskan muridnya berangkat pulang ke Batavia37)
Mundingsari tak mengerti hal itu. Namun mendengar bunyi senandung Wirapati, hatinya terharu berbareng kagum luar biasa. Alangkah gagah orang ini. Menghadapi fitnah dan maut, ia sama sekali tak gentar, pikirnya di dalam hati.
Perlahan-lahan ia menolak pintu dan tangannya meraba-raba ke dinding kamar. Ruang di dalam luar biasa gelapnya.
"Siapa? Kilatsih?" bentak Wirapati dengan suara perlahan, "Kenapa lagi-lagi datang kemari? Kau tak mendengarkan kata-kataku? Kalau aku tidak membiarkan diriku begini, anakku Sangaji akan tetap tidur bersenggur."
Oleh karena keadaan sangat mendesak, tak sempat Mundingsari menduga-duga siapakah yang di sebut Kilatsih. Buru-buru ia menyalakan korek api dan menyulut sumbu penyala, sebagai pelengkap manakala seseorang mengadakan perjalanan jauh pada dewasa itu, setelah kamar terang, ia menyahut dengan berbisik:
"Kakang38) Wirapati! Lihatlah yang terang. Aku Mundingsari... bukan orang yang kausebutkan. Kau nampaknya terluka. Bolehkah aku menggendongmu keluar?"
Di bawah penerangan nyala sumbu yang remang-remang Mundingsari menatap wajah Wirapati. Pendekar yang gagah perkasa itu, tidak seperti tatkala di Pekalongan dahulu. Ia kini sudah berusia hampir mencapai lima puluh tahun. Rambutnya sudah banyak yang ubanan. Ia duduk bersila dengan tangan diborgol. Itulah pemandangan yang menyedihkan. Meskipun demikian, keangkarannya tidak berkurang.
"Siapa?" ia membentak
Hati Mundingsari berdebaran. Hampir saja ia tidak kuasa menjawab oleh suatu keharuan, la lantas duduk bersimpuh di hadapannya. Katanya perlahan: "Di Pekalongan dahulu, memang aku berdiri sebagai lawanmu. Meskipun tidak langsung. Aku bekas pendekar undangan Pangeran Bumi Gede. Namaku Mundingsari. Aku datang kemari hanya secara kebetulan. Karena aku membawa pesan untuk menghadap tuanku Sangaji."
"Oh!" Wirapati mengerti. "Kau hendak menemui anakku Sangaji. Untuk apa? Dan siapa yang menyuruh?"
"Denmas Sanjaya dan... Ki.... Jagasaradenta," jawab Mundingsari tersekat-sekat.
Wirapati mengerutkan keningnya. Lalu menegas, "Kau berbicara tersekat-sekat. Kenapa?"
38> kakang = kakak
415

Dengan suara menggeletar, Mundingsari menjawab: "Mula-mula aku datang ke Sigaluh hendak memohon bantuan. Karena barang kawalanku kena rampas. Di luar dugaan, Denmas Sanjaya sedang bertarung seru melawan utusan Sultan Jarot dan Patih Danurejo yang bergabung dengan tiba-tiba. Di antara mereka terdapat pula seorang kapten kompeni. Mereka menyebut-nyebut nama Sangaji. Dan membujuk Denmas Sanjaya agar ikut mengabdikan diri kepada pemerintahan baru. Tapi Denmas Sanjaya menolak. Dan terjadilah pertarungan mati dan hidup."
"Bagus!" Wirapati bersyukur. Matanya berkilat-kilat. "Lalu bagaimana?"
"Keempat lawannya mati semua. Tetapi Denmas Sanjaya pun gugur pula. Inilah pedang warisan Beliau untuk disampaikan kepada tuanku Sangaji."
Mendengar kabar tewasnya Sanjaya, Wirapati tegak tak berbicara. Mundingsari tahu, hati pendekar itu tergerak. Khawatir uraiannya kurang jelas, ia segera menceritakan semua yang dilihat dan didengarnya.
"Ah, bagus!" kata Wirapati dengan suara perlahan. "Ki Hajar Karangpandan tak perlu malu lagi. Dia telah menemukan muridnya kembali," ia berhenti sebentar. Tiba-tiba matanya berkilat-kilat lagi. "Kau bilang ke Sigaluh. Sanjaya berkumpul dengan rekanku Ki Jaga Saradenta. Dimanakah dia waktu itu?"
"Kakang Wirapati," jawab Mundingsari dengan suara parau. "Sewaktu aku mencari putera Denmas Sanjaya, kutemui Ki Jaga Saradenta tewas bersandar pada batu tangga ambang pintu. Enam mayat mati bergelimpangan di sampingnya... Kakang! Kau kenapa?"
416

Mundingsari kaget. Ia melihat tubuh Wirapati menggigil. Wajahnya berubah hebat. Tatkala tangannya diulur hendak meraih Wirapati menolaknya.
"Tak usah," katanya. Ia nampak menguasai diri. Dengan wajah guram, ia menegas : "Kau sendiri apa perlu datang kemari?"
"Aku bermaksud hendak menolong Kakang," sahut Mundingsari dengan mencabut pedang Sanjaya.
"Apakah kau kira, aku tak dapat membebaskan diriku?"
Mendengar perkataan Wirapati, Mundingsari menjadi bingung. Tapi sebentar kemudian, ia jadi girang. Katanya dengan suara melonjak.
"Bagus! Kalau begitu, hayolah kita berangkat! Tunggu apa lagi?" Wirapati tak bergerak.
"Kau membawa berita tentang Ki Jaga Saradenta. Bagaimana agar aku bisa percaya?"
Itulah pertanyaan di luar dugaan. Sedetik Mundingsari menjadi bingung kembali. Lalu menjawab: "Di Jagad ini memang banyak bangsat. Untuk membuktikan kesungguhanku, aku hanya bisa membawa bukti robekan baju Denmas Sanjaya dan pedang ini. Kemudian pesan Denmas Sanjaya untuk puteranya. Bahwasanya Senot Muradi harus mengangkat tuanku Sangaji menjadi gurunya.... Aku telah menyaksikan suatu kemalangan besar yang menimpa tuanku Sangaji. Dia kehilangan seorang gurunya. Secara kebetulan aku lewat di kota ini. Mendengar kemalangan Kakang Wirapati, tak boleh aku berpeluk tangan. Kalau Kakang Wirapati membiarkan diri
417

kena siksa, akan membuat hati tuanku Sangaji berpenasaran.
"Aku justru menghendaki anakku Sangaji berpenasaran," potong Wirapati dengan tersenyum. "Dahulu—dengan tak memikirkan keselamatan diri—ia mencarikan obat pemunah racun yang mengeram dalam diriku. Kini aku mengharapkan dia berjuang dengan seluruh hatinya untuk menghancurkan penjajah Belanda dengan segenap kaki tangannya yang menyiksa aku dan mencincang aku."
"Kakang! Kau bilang apa," Mundingsari terkejut.
"Dengarkan!" tungkas Wirapati. "Dua kali aku kena jebak kelicinan musuh. Benar-benar aku ini manusia tak ada gunanya. Seekor kuldi takkan terantuk batu yang sama. Tapi aku manusia sampai kena tertipu dua kali. Coba katakan apakah manusia seperti aku ini masih perlu hidup terus?"
"Kakang! Pertimbanganmu terlalu berat!" kata Mundingsari.
Seakan-akan tidak mendengarkan, Wirapati berkata lagi: "Isteri Pangeran Diponegoro adalah murid adikku seperguruan. Ah, hebat Suryaningrat. Matanya jauh lebih tajam daripada aku. la seolah-olah sudah dapat meramalkan. Pada waktu ini, Suryaningrat berkumpul dengan muridnya di Tegalrejo. Pangeran Diponegoro sudah bersiap-siap menghadapi kelicinan Patih Danurejo. Aku lantas menyusul. Di tengah jalan aku disambut oleh Bupati Menoreh. Di kadipeten aku makan dan minum: Tak kukira, aku kena bubuk racun yang sangat halus. Tenagaku hilang. Lihatlah aku tak kuasa lagi
418

merenggutkan diri dari borgol ini. Manusia semacam aku ini, apa gunanya hidup terus!"
"Kakang! Kau jangan bilang begitu. Kau akan tersesat apabila manusia membenci dirimu sendiri."
Wirapati tertawa mengejek dirinya sendiri.
"Lantaran tiada bertenaga lagi, mereka lantas membuka kartunya. Mereka minta agar aku bisa membawa anakku Sangaji menghadap. Mereka berkata bahwa pada saat ini pembangunan besar-besaran untuk memakmurkan rakyat akan segera dilaksanakan dengan bantuan Pemerintah Belanda. Itulah sebabnya, Patih Danurejo dan Sultan Jarot menunggal karena sadar akan pentingnya kemakmuran rakyat. Sangaji diharapkan agar ikut menyingsingkan lengan baju untuk menggalang suatu kebangunan ini. Aku memakinya kalang kabut. Karena itu aku dilemparkan kemari. Di Kadipaten Magelang, Bupati Danuningrat masih mencoba membujukku. Kini berganti lagu. Akulah yang diharapkan membantu pelaksanaan pembangunan. Dengan masuknya aku ke gologan mereka, akan menjadi contoh anakku Sangaji di kemudian hari," katanya. Mereka berkata lagi, "Apakah sih enaknya menjadi berandal. Karena rasa gusar, aku ludahi mukanya. Lalu serdadu-serdadu Jawa memukuliku. Tahu-tahu aku sudah berada di sini."
"Kakang Wirapati!" potong Mundingsari dengan suara khawatir. Waktu sangat mendesak. Inilah kesempatan yang bagus. Mari kita berangkat!"
"Berangkat kemana?" bentak Wirapati.
419

Mundingsari terlongong sejenak. Berkata dengan tergagap-gagap, "Kakang! Apakah Kakang tidak menaruh iba kepada tuanku Sangaji. Kalau terjadi sesuatu pada diri Kakang, Dia bakal berduka dan berputus asa."
"Tidak! Aku justru ingin mati kena peluru Belanda," potong Wirapati galak.
"Mengapa begitu?" Mundingsari setengah memekik.
"Mengapa begitu?" ulang Wirapati dengan pandang heran. "Sudah beberapa tahun, kita kehilangan api perjuangan. Belanda makin melebarkan sayapnya. Sesudah Sultan Sepuh wafat, kasultanan mulai digerayanginya. Dan Pangeran Diponegoro mulai disingkirkan pula. Sebab dialah semenjak dahulu menjadi panglima kepercayaan Sultan Sepuh. Belanda tahu akan hal itu.
Patih Danurejo tahu pula. Kau tahu apakah yang dikerjakan Patih Danurejo IV selama pendudukan Inggris? Dia merusak mata pencaharian rakyat dengan membebani pajak beraneka warna. Rakyat mengeluh, lantaran pajak itu memberi kesempatan penguasa-penguasa pemerintahan mengumbar keserakahannya. Sekarang aku bertanya, dimanakah orang-orang gagah selama itu? Rakyat membutuhkan pimpinan yang tegas! Rakyat membutuhkan tangan kuat! Tapi mereka melempem seperti tempe kehujanan! Coba bilang padaku, dimanakan mereka kini berada?"
Mundingsari terlongong-longong. la kagum luar biasa mendengar pandangan dan sikap hidup guru Sangaji yang perkasa itu. Sewaktu hendak membuka mulut, Wirapati berkata lagi: "Sekarang tidak ada lagi waktu untuk berbicara berkepanjangan. Sangaji anakku berada
420

di jauh. Dan meninggalkan halamannya sendiri yang porak-poranda. Dia adalah seorang pendekar yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Dia seorang mulia hati. Hanya satu kelemahannya dia tidak mempunyai idaman cita-cita bangsa yang tegas. Ibunya tewas, kena peluru Belanda. Ia lantas bisa berpihak. Hanya sayang ibunya tewas bukan untuk suatu tujuan bangsa. Sekarang gurunya Ki Jaga Saradenta tewas kena perbuatan licik. Sayang lawan-lawannya belum tegas. Aku khawatir, sasaran Sangaji belum tegas. Karena itu perlu aku kini berkorban. Ingin aku mati di ujung senapan Belanda. Dan aku percaya anakku Sangaji bakal bangkit. Suruhlah dia bergabung dengan Pangeran Diponegoro! Inilah pesanku. Nah, kau pergilah!"
Mundingsari hendak berkata, tapi telinganya mendengar suara penjaga yang melukai dirinya tadi, bergulingan menumbuk pintu. Itulah suatu peringatan agar dia bekerja cepat.
"Kakang Kakang," ia mengeluh. "Kau akan membuat seluruh orang gagah berduka."
"Jangan kau mencoba membujuk aku lagi! Pergi!" bentak Wirapati. "Meskipun tenagaku lumpuh, aku bisa mendengar langkah orang-orang yang berkepandaian tinggi. Kau pergilah cepat atau semuanya menjadi gagal. Jika hal ini sampai gagal, arwahku akan mengutukmu sebagai seorang pengkhianat!"
Tubuh Mundingsari menggigil mendengar ancaman Wirapati. Itulah suatu ancaman yang mengerikan. Dengan setengah meratap, ia berkata: "Baiklah, Kakang. Maafkan semua kesalahanku zaman dahulu. Kau sekarang hendak berpesan apa?"
421

"Tak pernah aku berdosa terhadap siapa pun. Tuhan tahu akan keadaan diriku. Hidupku inilah saksinya," sahut Wirapati.
Mundingsari bangkit dengan perlahan-lahan. Pedang warisan Pringgasakti digenggamnya erat-erat. Ia berdiri dengan lunglai di depan Wirapati.
"O ya ada sebuah pesan," sekonyong-konyong Wirapati berkata.
"Apa?" semangat Mundingsari timbul.
"Carilah anakku Sangaji sampai bertemu. Dia harus kembali ke Gunung Damar untuk merawat kakek gurunya. Kemudian suruhlah dia bergabung dengan Pangeran Diponegoro! Katakan padanya, bahwa di alam baka aku akan tetap melindunginya."
Bukan main terharunya rasa hati Mundingari. Ia menunduk dengan air mata bercucuran. Sahutnya dengan suara parau: "Kakang! Kau legakan hatimu. Selama aku masih bisa bergerak, aku akan mencari muridmu Sangaji."
Baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, pintu sel kena tendang dari luar. Beberapa orang melompat masuk sambil berteriak: "Sel terbongkar. Siapa di dalam?"
Buru-buru Mundingsari meniup sumbu penerangannya. Menggunakan gelapnya kamar, ia melesat keluar sambil membabatkan pedangnya. Trang! Senjata mereka kena terbabat putus. Mereka kaget sampai meloncat mundur dengan berbareng. Dan kesempatan itu dipergunakan Mundingsari untuk meloncat ke atas genteng.
422

"Bangsat, jangan lari!" bentak seseorang.
Mundingsari tak menghiraukan bentakan itu. Ia sadar akan bahaya. Cepat ia melesat ke depan. Sekonyong-konyong suatu kesiur angin mengubar punggungnya. Cepat ia mengelak sambil menyambarkan pedangnya. Dengan suatu suara nyaring pedangnya berbenturan.
Dan lentikan api mengejap seakan-akan bunga api.
Mundingsari kaget bukan main. Pedang warisan Pringgasakti ternyata tidak mampu mengutungkan senjata lawan. Selain itu, tangannya sakit dan lengannya kesemuten. Siapa dia? Dengan mata mengejap-ejap ia mengamat-amati wajah lawan. Dia seorang laki-laki berperawakan cakap. Tangan kanannya terbebat kencang dan tergendong melintang dadanya. Sedang tangan kirinya menggenggam sebatang golok besar seberat lima puluh kati. Ia mengenakan pakaian seragam perajurit istana. Kesannya gagah berwibawa.
Golok besar yang dibawanya biasanya merupakan golok latihan berperang di atas kuda. Seseorang harus memegang dengan kedua belah tangannya semacam tombak. Bahwasanya perwira itu dapat menggerakkan golok sebesar itu dengan sebelah tangan dan mampu pula membawa meloncat ke atas genteng berbareng mengejar, membuktikan betapa tinggi ilmu kepandaiannya.
"Di sini Wiranegara. Bangsat, kau siapa?" bentaknya.
Mendengar dia menyebut diri dengan nama Wiranegara, Mundingsari kaget sampai berjingkrak mundur. Ia menajamkan penglihatannya. Tak salah. Melihat perawakan tubuh dan suaranya dia benar-benar Wiranegara empat hari yang lalu. Terang sekali, dia kena
423

gempur kaki Sanjaya. Rupanya dia tidak mati. Karena tulang pundaknya patah ia berpura-pura mati. Dengan begitu ia lolos dari pengamatan Sanjaya. Ah, benar-benar licik orang ini, pikir Mundingsari.
"Ah, kukira kau sudah mampus di tangan pendekar Sanjaya. Ternyata dengan sebelah tanganmu, masih bisa kau memanggul golok besar," sahut Mundingsari dengan suara mengejek.
"Hai, kau tahu?",Wiranegara kaget. "Kalau begitu tak peduli siapa dirimu kau harus mampus malam ini juga. Hai, penjaga! Mana lainnya?"
Dengan sebat Mundingsari mendahului menyabetkan pedangnya. Buru-buru Wiranegara melintangkan golok besarnya yang terbuat dari besi bercampur baja. Trang! Goloknya bergoyang-goyang. Heran Wiranegara kena benturan itu. Lawannya yang berberewok itu ternyata mempunyai tenaga dahsyat pula. la lantas membalas menyerang.
Mereka berdua lantas bertempur dengan serunya. Selagi Mundingsari bergerak hendak mundur, tiba-tiba dibelakangnya sudah berdiri dua orang lagi yang bersenjata pedang. Juga disamping Wiranegara bertambah seorang lagi. Dengan demikian ia kena keroyok empat orang sekaligus.
Gerakan empat lawannya bukan main gesitnya. Mau tak mau, ia jadi sibuk luar biasa. Dengan membolang-balingkan pedangnya, ia melindungi diri. Suatu kali suatu kesiur tajam mengarah kepalanya. Buru-buru ia menunduk. Tak urung serumpun rambutnya terbabat kutung. Hatinya terkesiap.
424

Dalam pada itu dari jarak sepanjang ombak Wiranegara segera melancarkan serangannya. Ia dibantu oleh rekanya yang berada di sampingnya. Orang itu bersenjata rantai panjang. Itulah piranti39) untuk membelenggu orang. Rupanya dia berkeyakinan pasti akan dapat meringkus Mundingsari dengan cepat. Setelah memutar rantainya berdesingan, ia mencambukkan.
Mundingsari kaget. Buru-buru ia melesat mundur sambil membabatkan pedangnya. Tepat pada saat itu, kedua lawannya menyerang punggungnya dengan berbareng. Suatu benturan senjata tak dapat dielakkan lagi. Untung dia memiliki pedang warisan Pringgasakti. Kedua pedang lawannya somplak seketika itu juga.
Tetapi dengan demikian, tak dapat ia meloloskan diri dari kepungan yang rapat luar biasa.
Tiba-tiba di sebelah kanan terdengar bentakan. Sesosok bayangan hitam berkelebat memasuki gelanggang pertempuran. Begitu bayangan itu menggerakkan senjatanya, kedua pundak Mundingsari terancam dengan sekaligus. Buru-buru Mundingsari membungkuk. Pedangnya memukul balik serangan lawan dan kakinya menendang. Lalu ia melesat ke samping.
Bayangan yang memasuki gelanggang itu, berperawakan pendek kecil. Dia mengenakan pakaian serdadu. Senjata yang digunakan sepasang pedang tipis. Bahwasanya orang sekecil itu menggunakan pedang tipis demikian—membuktikan bahwa ia bertenaga besar. Tiap gerakan pedangnya, mengeluarkan kesiur angin dahsyat.
39’ peranti = alat, perkakas
425

Mundingsari merinding40) bulu kuduknya. Seumpama ia memiliki ilmu kepandaian dua kali lipat lebih tinggi daripada sekarang, masih ia tak sanggup mengadakan perlawanan. Apalagi berangan-angan untuk mengalahkan.
Mereka yang membantu Wiranegara adalah orang-orang sebawahannya. Meskipun beradu di bawah komandonya, namun sebenarnya mereka anggota Kompeni Belanda. Mereka datang dari Aceh, Kalimantan, Makasar dan Ambon. Mereka termasuk serdadu kelas satu. Kepandaiannya tinggi dan menjadi pengawal pribadi Residen Nahuys yang berkedudukan di Jogjakarta.
Sebentar saja, mereka dapat melibat Mundingsari. Pendekar ini menjadi bingung sekali. Baru melampaui dua puluh jurus, ia sudah merasa tak tahan lagi.
Dalam pada itu, serdadu-serdadu penjaga lainnya yang berjumlah belasan orang sudah mulai meloncat ke atas genteng. Sedang di bawah atap belasan orang lagi berentep mengepung rapat. Mereka berteriak-teriak nyaring. Di antaranya terdengar teriakan untuk menembak mati saja dengan senapan.
"Jangan! Mereka sedang bergulat rapat. Siapa menjamin pelurumu tidak menyasar?" cegah yang lain.
Mundingsari mengertak giginya, la berkelahi seperti orang gila. Tanpa memedulikan keselamatan diri, ia mengamuk dengan menebaskan pedangnya asal jadi saja. Untuk sementara, musuh-musuhnya agak segan menyaksikan kekalapannya. Pada detik yang sangat
40> merinding = meremang
426

berbahaya, tiba-tiba berkelebatlah sesosok bayangan berpakaian serba putih di atas bubungan atap.
Melihat gerak-geriknya, Mundingsari pernah merasa bertemu. Hanya saja tak dapat ia teringat dengan segera.
Pada saat itu pula serdadu yang berperawakan pendek kecil tadi berhasil melancarkan serangan pedangnya. "Kena!" serunya girang. Sepasang pedangnya membabat. Mundingsari mengeluh. Karena baru saja menangkis golok Wiranegara, tak sempat lagi ia membela diri.
Dalam keadaan terdesak, ia menahan napasnya menunggu maut.
Matanya sudah dipejamkan. Tiba pada detik itu, serdadu yang hendak menghabisi nyawanya menjerit tinggi. Dan sepasang pedangnya terpental ke samping. Secara kebetulan kedua senjatanya itu menghantam golok Wiranegara dan pedang rekannya. Benturan itu membuat senjata mereka runtuh bergelontangan.
Mundingsari menyenakkan matanya. Apa yang telah terjadi? Ia mendengar suara tertawa nyaring halus. Dilemparkan pandangnya ke arah suara itu. Sejarak sepuluh langkah berdiri seorang pemuda berpakaian serba putih. Kedua tangannya bergerak menyambitkan sisiran bambu. Di dalam malam gelap gulita sama sekali tidak nampak. Tapi tiba-tiba ke empat musuhnya berteriak kesakitan.
Mereka yang kena bidikan—mimpi pun tak pernah— bahwa sisir bambu bisa mempunyai daya bidik setajam peluru. Siapa yang kena bidikannya, roboh pada detik itu juga. Dalam waktu sekejap saja belasan penjaga roboh bergelimpangan di atas genteng. Sasaran bidikan
427

pemuda itu tidak memandang bulu. Ia main menghantam saja. Sebab sisir bambu mengenai lengan Mundingsari. Dan lengan pendekar itu lantas saja lumpuh tak dapat digerakkan.
"Cepat panggil Letnan Mangun Sentika!" teriak Wiranegara. Sebuah sisir bambu berdesing menyambar lututnya. Ia sempoyongan beberapa langkah. Kemudian roboh tidak berkutik.
Mundingsari tak berani berayal-ayalan lagi. Sambil memindahkan pedangnya ke tangan kiri, ia menarik napas dalam-dalam. Lalu kabur dengan secepat-cepatnya. Setelah melewati dua bubungan atap, ia menoleh. Dua bayangan nampak berkejar-kejaran. Yang satu si Baju putih. Dan yang lain seorang perwira bersenjata pedang panjang. Mereka mengarah ke barat daya.
Mundingsari berdiri tertegun dengan memeras ingatannya. Tiba-tiba suatu ingatan menusuk benaknya. Ia terkejut sampai memekik tertahan. Katanya didalam hati: "Ah, dialah yang menggoda Senot dahulu. Benar... benar!"
Pada saat itu lonceng tanda bahaya bergema bersambung-sambung. Beberapa serdadu lari berserabutan dengan membawa obor. Mundingsari tak berani sembrono. Cepat ia melesat turun. Benar saja. Beberapa orang berteriak-teriak mencoba mengejarnya. Untung dia telah melesat mendahului. Merasa diri berkepandaian rendah, tak berani ia mengumbar adat menghadapi orang-orang yang berkepandaian tinggi.
428

"Ah, biarlah!" ia mengeluh di dalam hati. "Biarlah Wirapati kena ditolong pemuda itu." Ia lantas kabur secepat-cepatnya mengarungi kegelapan malam.
Sewaktu tiba di penginapan, angin fajar hari telah serasa meraba tubuhnya. Segera ia membuka bajunya. Syukurlah luka yang dideritanya hanya luka luar. Tapi baru saja ia menaruhkan bubuk obat luka di atasnya, mendadak kepalanya terasa pusing. Matanya berkunang-kunang pula. Dan ia roboh di atas pembaringan.
Berjam-jam, ia roboh pingsan. Tatkala siuman, ia melihat nyala dian berkelip-kelip. Ia memiringkan badannya. Hatinya tercekat. Kartodirun sudah berada di dekatnya dengan mengenakan pakaian serba hitam. Itulah pakaian berkabung. Dugaannya tak salah lagi. Kedua mata Kartodirun nampak merah bendul.
"Hai—aku belum mati! Kenapa kau menangis?" Mundingsari minta keterangan.
"Pendekar Wirapati....," sahut Kartodirun tersekat-sekat. "Pendekar Wirapati sudah pulang kembali ke alam baka."
"Kau bilang apa?" teriak Mundingsari sambil menegakkan badannya.
"Pagi tadi Beliau pulang," Kartodirun berkata menegaskan. Sambil menundukkan kepalanya, ia meneruskan: "Seluruh penduduk yang kenal siapakah dia berkabung pada hari ini. Hanya begundal-begundal bangsat yang bersuka ria di rumah-rumah makan."
Dengan satu teriakan menyayatkan hati, Mundingsari roboh pingsan kembali di atas pembaringan.
429

Serasa hanya sedetik, ia sadar kembali. Kartodirun masih berada di sampingnya.
"Jam berapa sekarang?" Mundingsari bertanya.
"Kau pingsan satu hari setengah malam," jawab Kartodirun. "Sekarang kau memasuki hari kedua."
Mundingsari menegakkan tubuhnya dengan berenung-renung. Hatinya seperti tersayat-sayat. Sama sekali tak pernah diduganya, bahwa Bupati Danuningrat menghukum sesama bangsanya begitu kejam demi perhambaannya kepada majikan yang menghidupi keluarganya.
"Saudara Mundingsari," kata Kartodirun. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Jika engkau sudah mampu berjalan, cepat-cepatlah meninggalkan kota terkutuk ini
"Mengapa?" Mundingsari tak mengerti.
"Pedangmu masih berlumuran darah. Pada saat ini desas-desus hebat mengumandang di seluruh kota. Khabarnya siapa saja yang mempunyai hubungan dengan pendekar Wirapati, harus ditangkap atau dibunuh. Karena itu lebih baik saudara menyingkir dahulu!"
Mundingsari melompat dari pembaringan sambil menyambar pedangnya, la menghela napas dalam. Berkata setengah mengutuki diri sendiri.
"Aku berlagak memasuki penjara dan membuat onar tak keruan. Akibatnya, aku mempercepat kematian pendekar Wirapati. Ah, apa guna aku hidup lebih lama lagi? Aku pun ternyata tak dapat menolong seorang
430

ksatria besar dari belenggu gerombolan penjilat Belanda... "
"Saudara! Tak boleh kau berpikir begitu cepat!" potong Kartodirun. "Yang mati tidak akan dapat hidup lagi. Sebaliknya yang masih hidup harus mempertahankan hidupnya untuk meneruskan perjuangannya. Pendekar Wirapati mempunyai seorang murid yang bisa menggoncangkan tanah Pasundan. Aku percaya, bahwa dia bakal datang kemari untuk menuntut balas. Saudara sudah memasuki penjara. Apakah belum bertemu dengan pendekar Wirapati?"
Diingatkan hal itu, Mundingsari kaget, la menatap wajah Kartodirun, menegas.
"Sebenarnya kau siapa?"
"Aku seorang penjual nasi. Tidak kurang tidak lebih," jawab Kartodirun.
Mundingsari menarik napas sambil menyarungkan pedangnya. Berkata kepada dirinya sendiri.
"Di saat-saat ini kawanan penjilat berkeliaran dimana-mana. Sebaliknya di antara rakyat jelata, masih terdapat seorang ksatria seperti engkau. Jelaslah.—bahwa pengucapan bangsa tidak dapat diwakili pembesar-pembesarnya melulu. Apalagi kalau pembesar-pembesar itu kena ancam senjata uang dan kekuasaan—dia justru berada di seberang hati nuraini rakyat," ia berdiam lama sekali. Kemudian bertanya, "Apakah jenazah Kakang Wirapati sudah terawat baik?"
"Terawat baik?" ulang Kartodirun dengan berduka. "Menurut khabar—atas perintah Bupati Danuningrat—
431

kepalanya dipancung. Kini berada di atas tembok pesanggrahan kompeni sebelah timur kota."
Mundingsari berjingkrak berbareng menjerit keras. Kedua matanya mendelik. Gundunya berputaran karena rasa gusarnya. Dengan tubuh gemetaran ia berkata memerintah.
"Berilah aku makanan sedikit!"
Kartodirun mengundurkan diri dan kembali dengan membawa makanan malam. Tak berkata sepatah kata lagi, Mundingsari menyapu bersih makanan malam itu. Kemudian - setelah membayar uang sewa kamar dan uang makan ia segera berkemas-kemas.
"Terima kasih atas segala budi kebaikanmu. Kita berharap dapat bertemu kembali,"katanya pendek. Setelah itu ia melompat keluar melalui jendela.
Gesit gerakan Mundingsari. Dengan cepat ia mengarungi kepekatan malam. Untunglah—malam itu bulan sisir muncul di langit sebelah barat. Meskipun cuaca remang namun matanya yang tajam dapat menembus tirai malam. Bagaikan terbang ia berlari-larian menuju ke timur kota. Sebentar saja sampailah dia di pesanggrahan kompeni. Pesanggrahan kompeni ternyata bertembok tinggi—merupakan sebuah benteng.
Mundingsari mendongak ke atas. Di atas pintu benteng sebelah utara, tertancap sebatang tiang bendera berukuran tinggi. Biasaya kompeni mengerek41) bendera kebangsaannya di atasnya. Tapi kali ini, bendera kebangsaannya tak nampak. Sebagai gantinya, pada
41' mengerek = menaikkan
432

ujungnya tergantung sebuah benda bulat seperti kepala manusia.
Melihat pemandangan itu, tak saggup lagi Mundingsari menguasai dirinya lagi. la lantas menangis tersedu-sedu. Tanpa menghiraukan segala bahaya, ia menjejak tanah. Tubuhnya melayang tinggi dan hinggap di atas pagar tembok. Dengan sekali tarik, ia mencabut pedang warisan Pringgasakti. Lalu membabat tiang bendera dengan hati meluap-luap.
Mulia maksud hatinya. Hanya saja kurang berwaspada. Sebab sesungguhnya kompeni sedang memasang jebakan. Kepala Wirapati yang digantung di ujung tiang bendera di atas tembok tinggi, dimaksudkan untuk menjerat kawan-kawan Wirapati yang memasuki penjara kemarin malam. Ternyata jebakannya berhasil. Mundingsari yang terlalu menuruti raungan hatinya masuk perangkap. Selagi pedangnya membabat, tiba-tiba sesosok bayangan menerjang dengan tertawa melalui hidungnya. Dan pedangnya kena terpukul balik.
Mundingsari kaget. Buru-buru ia melompat tinggi untuk menghindari sabetan golok lawan. Pedangnya dipapaskan ke bawah untuk membalas menerjang.
"Hiaa...," lawannya tertawa merendahkan. "Tepat sekali perhitungan Letnan Suwangsa. Seekor kodok buduk bakal masuk perangkap."
Mundingsari tak sempat berpikir siapakah Letnan Suwangsa itu. Hatinya diamuk rasa mendongkol setinggi gunung. Dengan gerakan ibarat angin puyuh, ia membabat dengan pedangnya.
433

"Eh, pedang bagus!" terdengar seseorang berseru. Mundingsari menoleh. Hatinya tercekat setelah mengenal orang itu. Dialah yang kemarin yang disebut Letnan Mangun Sentika. Kata Mangun Sentika lagi: "Tinggalkan pedangmu. Dan aku akan mengampuni engkau. Eh, tidak. Kau pun harus takluk pula."
"Kau hendak minta pedang ini?" bentak Mundingsari dengan mendongkol. "Nih, ambil!" Berbareng dengan ucapannya, ia memangkaskan pedangnya. Kaget Letnan Mangun Sentika, menghadapi serangan tiba-tiba itu. Untuk menyelamatkan diri ia bergulingan di atas genteng yang berada di sebelah tembok.
Mundingsari agak berbesar hati. Dengan mengandalkan pedang warisan Pringgasakti yang tajam dan ulat luar biasa, ia menghadapi dua pengeroyoknya, la mengincar kelemahan orang yang memental balik pedangnya. Orang itu mengenakan seragam militer. Senjatanya berbentuk setengah golok dan setengah pedang. Bentuknya melengkung seperti bulan sisir. Dengan gesit ia membabat betis Mundingsari.
Pada detik yang sangat berbahaya, Mundingsari meloncat tinggi. Pedangnya berkelebat menyambar leher. Orang itu kaget bukan main. Sama sekali tak diduganya, bahwa Mundingsari masih bisa membalas menyerang. Karena bingungnya, ia mengambil keputusan cepat. Dilepaskannya pedang bengkoknya dan ia lantas bergulingan menjauhi.
Mundingsari tidak sudi memberi kesempatan. Cepat dia hendak memburu. Sekonyong-konyong betis kirinya terasa sakit, sebatang belati menancap hampir sejari
434

dalamnya. Dengan mengertak gigi, ia mencabut belati itu. Kemudian disambitkan ke arah lawan gelap.
Orang yang melemparkan belati dengan cara menggelap tadi sama sekali tak mengira bahwa dia bakal dibalas begitu juga. Tahu-tahu belatinya sendiri berkelebat di depannya. Buru-buru ia hendak menggulingkan" diri. Tapi sudah kasep. Dengan berteriak kesakitan pundak kanannya termakan oleh belatinya sendiri.
Puas Mundingsari melihat timpukannya berhasil. Ia lantas berkelahi dengan kalap. Dan melihat kekalapannya, betapapun juga tiga orang lawannya menjadi gentar.
"Hm, benar-benarkan kalian tak dapat menangkap seekor katak buduk!" terdengar Letnan Mangun Sentika menggerutu. "Minggir! Biar aku sendiri yang menangkapnya."
Dengan mata merah Mundingsari berkelahi. Kini gerak-geriknya agak terganggu karena lukanya. Ia mundur setindak demi setindak. Dua rekan Letnan Mangun Sentika tak mau kehilangan kesempatan. Takut jasanya akan berkurang, mereka lantas ikut mengepung. Dan dikepung tiga orang, Mundingsari benar-benar dalam bahaya.
Pada saat itu, tiba-tiba suatu ingatan berkelebat di dalam benaknya. Pikirnya di dalam hati, "Aku biasa menggunakan golok, tapi kurang mahir menggunakan pedang. Apakah pedang ini tidak dapat kugunakan sebagai golok?" Memikir demikian, ia lantas sengaja membuka suatu lowongan. Dua serdadu pembantu Letnan Mangun Sentika, girang bukan main. Seperti
435

berlomba; mereka maju menerjang. Tapi begitu menerjang Mundingsari membacok dengan sekuat tenaga.
"Trang!"
Mereka berdua tercekat. Senjata mereka somplak sebagian. Tidak hanya itu. Tangan mereka berdarah dengan mendadak. Untung, mereka pun bukan orang sembarangan. Sekali pun tangannya berdarah, namun mereka masih bisa mempertahankan senjatanya masing-masing.
Mundingsari menggeram bagaikan seekor harimau terluka. Segera ia menerjang pula. Pada saat itu lawannya terancam bahaya. Letnan Mangun Sentika menangkis dengan pedangnya sambil membentak.
"Manusia tolol! Kalian berdua masakan tidak sanggup menangkap seekor katak buduk yang sudah terluka? Aku bilang tadi, minggir!"
Mundingsari berputar mengarah kepada Letnan Mangun Sentika. Hebat orang itu. Ia berperawakan tinggi semampai. Dengan pedang dibolang-balingkan ia berkata tajam.
"Pedang itu—bukankah pedang Sanjaya? Bagaimana bisa jatuh di tanganmu? Hayo serahkan!"
"Sanjaya meminjamkan pedangnya kepadaku. Beliau memberi perintah padaku untuk mengutungi lehermu," jawab Mundingsari sambil menabas.
Letnan Mangun Sentika gusar bukan main. Bentaknya nyaring: "Saat mampusmu sudah berada di depan
436

matamu—eh— mudah saja kau mengumbar mulut seenaknya sendiri."
Mundingsari malas melayani dengan mulutnya. Lagi-lagi ia menabas. Sebentar saja ia telah melancarkan serangan beruntun. Ternyata pedangnya digunakan sebagai golok. Gerakannya membacok dan membabat. Semua bacokannya mengancam maut. Tapi Letnan Mangun Sentika benar-benar hebat. Tapi—dalam suatu perkelahian pengeroyokan—kepandaiannya tidak nampak. Ia seperti memberi kesempatan kepada dua orang pembantunya. Tapi kini setelah dua orang pembantunya, diperintahkan minggir—ia mulai memperlihatkan kepandaiannya. Dengan gampang saja, ia dapat memunahkan setiap serangan Mundingsari.
"Bagaimana?" ejeknya dengan setengah tertawa. "Eh, kau membandel. Mengapa kalau kau tidak diberi hajaran sedikit, tidak akan tahu kepandaian Mangun Sentika. Lihatlah yang terang!"
Letnan Mangun Sentika adalah wakil Wiranegara. Beradanya di dalam pesanggrahan kompeni memang atas perintah atasannya. Dia diperintahkan membantu mengawasi keamanan. Ilmu kepandaiannya tinggi. Dibandingkan dengan Wiranegara terpautnya tidak banyak. Malah-malah dia bisa lebih berbahaya daripada komandannya itu.
Sebaliknya, Mundingsari yang gampang tersinggung terlonjak darahnya begitu kena ejek. Dengan hati berkobar-kobar, ia mengerahkan seluruh tenaganya. Pedangnya berkelebatan tiada hentinya. Kadang-kadang ia menggunakan ilmu pedang. Kadang ia menggunakan pedangnya sebagai golok.
437

Namun Letnan Mangun Sentika tetap saja membawa sikap tenangnya. Dengan gesit ia memukul balik setiap serangan Mundingsari. Pedangnya berkelebatan pula.
Dan tenaganya jauh lebih kuat daripada Mundingsari. Perwira itu lantas menggunakan pikirannya.
Pada saat itu, Mundingsari menabaskan pedangnya dengan tenaga yang luar biasa besarnya. Ia lantas menangkis dan menempelnya. Dan kena ditempel demikian, hati Mundingsari terkesiap. Buru-buru ia menariknya dengan sekuat tenaga. Tapi tetap saja pedangnya tak dapat membebaskan diri dari tempelan lawan.
Letnan Mangun Sentika tertawa ber-kakakkan. Pedangnya lantas dibolang-ba-lingkan. Anehnya pedang Mundingsari kena di bolang-balingkan juga. Dalam hal ini, Mundingsari kalah dalam beberapa hal. Selain tenaganya, juga ilmu pedangnya. Ia memang biasa menggunakan sebatang golok. Tadi dia bisa menggunakan pedangnya sebagai golok. Tapi setelah kena tempel, sifat pedangnya tak dapat dirubahnya.
Maka ia menjadi bingung bagaimana caranya bisa lolos dari tempelan itu. Setelah kena diputar-putar beberapa saat lamanya matanya jadi berkunang-kunang.
Dalam bingungnya dengan mendadak kedua kakinya bergerak sendiri menendang dua kali beruntun.
Berbareng dengan itu, tangannya menarik pedangnya. Inilah suatu gerakan naluriah di luar kesadarannya sendiri. Dan begitu terlepas dari tempelan, pedangnya dibacokkan kalang kabut.
Letnan Mangun Sentika boleh memiliki kepandaian dua kali lipat lagi. Tapi menghadapi renggutan naluriah itu,
438

untuk sementara ia menjadi kaget berbareng heran. Sama sekali tak diduganya bahwa lawannya berani menendang kedua kakinya selagi pedangnya kena tempel. Inilah gerakan melanggar ketentuan-ketentuan ilmu pedang yang pernah dikenalnya. Sebab tatkala itu sedang mengadu kekuatan kaki.
Sebenarnya ia dapat membalikkan tangannya dengan membalas menabas. Tapi bila tebasan itu dilakukan, Mundingsari akan mati terkutung. Hal ini tidak dikehendakinya. Untuk sedetik dua detik, ia menjadi bengong.
"Aku ingin manangkap untuk mengorek keterangannya. Dan bukan untuk membunuhnya," pikirnya dalam detik itu.
Dengan pikiran demikian ia melesat mundur sambil melintangkan pedangnya.
Akan tetapi Mundingsari berkelahi secara nekat. Tidaklah mudah menangkap orang dengan tata berkelahi demikian dengan mudah. Sesudah bertempur lagi dua puluh jurus, akhirnya Letnan Mangun Sentika berhasil menggores pundak Mundingsari. Dan tendangannya jitu mengenai pergelangan tangan.
Mundingsari kaget, karena pedangnya terpental. Dengan berteriak bergulingan ia memburu pedangnya.
"Ringkus!" perintah Letnan Mangun Sentika mengguntur.
Dua serdadu pembantunya segera melompat maju hendak meringkusnya. Tapi begitu hendak menyambar tubuh Mundingsari, sekonyong-konyong terdengarlah suatu suara gemertak yang luar biasa bunyinya, mereka menoleh dengan serentak.
439

Sesosok bayangan yang mengenakan topeng, muncul dengan tiba-tiba. Gerakannya gesit luar biasa. Dengan beberapa loncatan saja dia sudah berhasil berada di atas tembok. Lalu menghantam tiang bendera sehingga patah gemeretak.
Tiang bendera itu terbuat dari tembaga murni yang tak mudah patah kena sabetan padang maupun kampak. Bahwasanya dengan sekali menghantam saja orang itu dapat mematahkan tiang bendera—membuktikan betapa hebat tenaganya.
Dua serdadu yang hendak meringkus Mundingsari tertegun melihat kejadian itu. Mundingsari tak sudi menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Segera ia meletik bangun. Tangannya diayun hendak menebaskan pedangnya. Tapi ia kaget setengah mati. Pundaknya yang kena gores pedang Letnan Mangun Sentika terasa sakit luar biasa, sehingga tangannya tak mau mengikuti kemauan hatinya.
Pada saat itu, dua pembantu Letnan Mangun Sentika tersadar. Segera mereka meloncat menubruk dengan berbareng. Dengan sebelah tangan yang baru saja sembuh akibat bidikan pemuda berpakaian putih dahulu, dan kini dengan lengan yang tak dapat digerakkan dengan leluasa, masih Mundingsari berusaha mempertahankan diri sebisa-bisanya. Namun ia sudah boleh dikatakan setengah lumpuh. Dengan tak berdaya ia mengawaskan berkelebatnya senjata dua lawannya mengancam jiwanya. Hatinya mencelos, karena merasa diri tak sanggup lolos dari ancaman itu.
Akan tetapi di luar dugaan—pada detik yang sangat berbahaya—dua serdadu itu menjerit tinggi dan roboh
440

terguling di atas genteng. Tatkala Mundingsari menebarkan matanya, ia melihat Letnan Mangun Sentika sudah bertempur seru dengan seorang bertopeng di bawah tiang bendera.
Mundingsari heran bukan kepalang. "Siapa?" batinnya sibuk menduga-duga. "Bagaimana caranya ia menimpuk dua serdadu itu dengan pisau belatinya sambil melayani pedang Mangun Sentika?"
Jarak antara tiang bendera dan tempatnya bertempur, kurang lebih dua puluh meter. Sungguh ia tak mengerti, bahwa dengan jarak sejauh itu dia masih sanggup membunuh dua serdadu sambil melayani ilmu pedang Mangun Sentika. la tadi merasakan sendiri, betapa tinggi ilmu kepandaian Letnan Mangun Sentika. Dalam suatu pertempuran melawan seorang musuh berat, siapa pun takkan berani membagi perhatian.
Tapi nyatanya, orang bertopeng itu sanggup berbuat demikian. Itulah sebabnya ia kagum luar biasa.
"Terang sekali ia kena kurung pedang Mangun Sentika. Namun sambaran belatinya mengenai jitu. Ah, benar-benar hebat!" pikirnya. Mendadak saja semangat tempurnya terbangun degan sekaligus. Segera ia memindahkan pedangnya di tangan kiri. Lalu bergerak hendak memasuki gelanggang pertempuran.
Sekonyong-konyong ia mendengar Letnan Mangun Sentika berteriak kesakitan. Lalu lari terbirit-birit dan meloncat dengan terburu-buru dari atas pagar tembok. Dan orang bertopeng itu memperdengarkan tertawanya.
Dengan tangan kanan memegang tongkat panjang dan tangan kiri membawa kepala Wirapati, orang
441

bertopeng itu lantas melompat turun pula. Tubuhnya melayang bagaikan seekor burung elang menyambar mangsanya.
Hati Mundingsari tercekat. Ia seperti pernah mendengar suara tertawa itu. Dan menilik gerak-geriknya, dialah si Penjahat bertopeng yang merampas uang kawalannya di timur Banyumas dahulu.
Sebagai seorang pendekar yang berpengalaman, ia segera membuat suatu pemeriksaan. Ia melemparkan pandang kepada dua serdadu yang mati tanpa berkutik lagi di dekatnya.
Setelah kena didepak, punggung mereka tertembus sebatang sisir bambu masing-masing. "Hai," ia kaget. Sisir bambu ini adalah senjata bidik pemuda yang berpakaian putih. Apakah penjahat bertopeng dahulu sesungguhnya pemuda yang berpakaian putih?"
"Ah, tidak mungkin!" ia membantah pikirannya sendiri. "Perawakan tubuhnya lain. Suara tertawanya lain pula. Kalau begitu, apakah si Penjahat bertopeng itu dapat pula menggunakan sisir bambu sebagai senjata bidik!"
Mundingsari jadi terlongong-longong sendiri. Ia dibingungkan oleh suatu teka-teki yang tidak gampang-gampang dapat dijawabnya sengan pasti.
Tiba-tiba di tengah kesunyian malam, terdengarlah suatu suara suitan nyaring, la berpaling dan melihat dua batang sisir bambu lewat di kedua sisi badannya dan runtuh memukul genting sehingga pecah berantakan. Begitu menoleh kembali, dihadapannya sudah berdiri si Pemuda berpakaian putih. Ia kaget dan heran setengah mati.
442

"Apakah dia setan?" pikirnya. "Bagaimana mungkin! Belum habis suara sambaran senjata bidiknya, tahu-tahu orangnya sudah berdiri di hadapanku."
Pemuda itu tertawa nyaring halus. Tanyanya tegas.
"Apakah orang bertopeng itu temanmu berjalan?"
"Bukan," jawab Mundingsari.
Paras muka pemuda itu berubah. Dengan mendadak ia memutar badannya dan melesat turun ke bawah.
"Saudara! Nanti dulu. Bolehkah aku mendengar namamu?" seru Mundingsari dengan hormat.
Tetapi ia tak memperoleh jawaban. Dengan gerakan secepat kilat, bayangan putih itu berkelebat di depan matanya. Lalu hilang dari pengamatan memasuki tirai malam yang remang-remang. Mundingsari berdiri tertegun. Ia kagum luar biasa.
443

MENCARI BENDE MATARAM - 4
9
SEIRING SETUJUAN
PADA KEESOKAN HARINYA dengan seekor kuda dan sebatang pedang pemberian Sanjaya, Mundingsari meneruskan perjalanannya. Sebelum berangkat mening-
444

galkan Kota Magelang, ia memberi khabar tentang tercurinya kepala Wirapati kepada Kartodirun. Penjual nasi itu setengah girang, setengah berduka pula. Setelah berpikir dengan seksama, ia menganjurkan agar Mundingsari segera meninggalkan Kota Magelang untuk mencari Sangaji.
Kuda tunggangannya termasuk seekor kuda jempolan. Dalam waktu setengah hari saja, ia sudah meninggalkan Kota Magelang puluhan kilometer jauhnya. Ia mengambil jalan pegunungan dan jalan pedusunan yang sunyi. Itulah sebabnya, disepanjang jalan ia tak kena ganggu gugat.
Selagi melarikan kudanya kencang-kencang secara iseng ia menoleh. Ternyata dikuntit oleh seorang yang mengenakan pakaian saudagar. Bajunya potongan Cina1). Bercelana panjang, bersarung di atas lutut, dan mengenakan peci muslim. Semuanya dari bahan tipis. Ia seperti seorang perantau dari Minangkabau. Tunggangannya seekor kuda Kuningan2) kecil namun kuat. Ia bersikap acuh tak acuh.
Mundingsari biasanya senang mencari kawan berjalan. Tapi kini hatinya murung. Setelah memperoleh kesan siapa yang mengikuti dirinya, ia tak menaruh perhatian lagi.
Pada waktu magrib tiba, sampailah dia di kota kecil, lima puluh kilometer dari Banyumas. Ia berhenti di sebuah losmen. Sewaktu menambatkan kudanya, tak sengaja ia menoleh. Mendadak ia melihat saudagar tadi. Ia terkejut. Bagaimana mungkin saudagar itu dapat mengejar dirinya, sedang kuda tunggangannya kuda pasaran. Begitu memasuki losmen, ia lantas bersikap
445

waspada. Tapi ternyata saudagar itu tidak menginap di losmennya. Ia jadi tertawa sendiri.
Mundingsari memang seorang pendekar kawakan3). Meskipun saudagar itu tidak terlalu mencurigakan, akan tetapi bersikap waspada jauh lebih baik daripada tidak. Memperoleh pikiran demikian, ia segera mengobati lukanya. Kemudian duduk bersemadi menghimpun semangat. Tatkala tidur, ia berbantal pedang pemberian Sanjaya. Dan keesokan harinya, ia berangkat sebelum fajar menyingsing.
Si pelayan heran, apa sebab ia berangkat begitu tergesa-gesa. Setengah bergurau pelayan itu berkata, "Tuan! Pada zaman ini, banyak penyamun berkeliaran dimana-mana akibat pajak negeri yang bermacam-macam banyaknya. Karena itu, pernah aku mendengar suatu nasihat: 'Sebelum malam tiba, lekaslah cari penginapan. Dan berangkatlah setelah terang tanah'!"
Mundingsari tidak melayani. Ia hanya tersenyum. Setelah membayar sewa kamar, ia benar-benar berangkat menyongsong fajar hari. Jalan yang diambahnya sunyi sepi. Sampai di luar kota, ia mendongak ke angkasa. Bulan sisir masih memancarkan cahayanya. Bintang minting bergetar lembut.
Burung yang beristirahat dalam mahkota daun, belum memperdengarkan kicaunya. Itulah suatu tanda, bahwa pagi hari masih agak jauh. Cepat ia mengaburkan kudanya mengarah ke barat.
Menjelang tengah hari, sampailah dia di perbatasan Karesidenan Banyumas dan Jawa Barat. Karena matahari terasa terik, ia mencari pohon rindang. Ia menahan kudanya. Tatkala menjelajahkan pandangnya ke semua
446

penjuru, ia melihat saudagar kemarin, la kaget dan kecurigaannya makin kuat. Pikirnya, "Tidak mungkin secara kebetulan ia sejalan dengan jalan yang kuambah. Aku berangkat sebelum fajar hari. Masakan dia pun secara kebetulan merencanakan berangkat sebelum fajar hari pula? Agaknya ia sengaja mengikuti perjalananku."
Sekarang ia mengamat-amati orang itu lebih cermat. Ternyata paras mukanya agak berminyak. Penutup kepalanya tidak lagi sebuah peci muslim. Tapi topi besar dari daun pisang. Sebuah bungkusan memanjang menggamblok pada punggungnya. Dilihat sepintas lalu mirip kantong bekal makan berbentuk panjang. Kesan muka, dandanan dan kudanya tetap mengingatkan orang sebagai seorang saudagar. Kalau saja
Mundingsari tidak mempunyai prasangka yang bukan-bukan, orang itu tak lebih daripada manusia lumrah.
Setelah mengerling sekali lagi, Mundingsari melecut kudanya, dan kabur dengan secepat-cepatnya. Ia hendak mengujinya sekali lagi pula untuk memperoleh keyakinan. Satu jam kemudian, ia menoleh. Saudagar itu tak nampak bayangannya. Hatinya jadi lega.
Mundingsari adalah seorang pendekar yang sangat berhati-hati. Meskipun hatinya lega masih ia merasa perlu untuk menghindar sejauh mungkin. Kudanya dilarikan terus menerus. Ia memotong jalan atau menyeberangi sawah ladang. Pada waktu magrib, tibalah ia di Kota Banjar.
Banjar sebuah kota lebih kecil apabila dibandingkan dengan Banyumas. Rumah penginapannya hanya sebuah. Setelah mendapat kamar dan makan malam, segera ia hendak beristirahat. Ia merasa pasti, bahwa
447

saudagar itu tidak bakal sampai di kota secepat dia. Tapi baru saja ia hendak berbaring, mendadak ia mendengar suara pelayan ribut menyambut tetamu. Ia melongok. Ternyata saudagar itu sudah tiba di penginapan.
Sekarang benar-benar ia kaget. Ia tak bersangsi lagi. Saudagar itu memang sedang menguntitnya. Cepat-cepat ia mengunci pintu kamarnya sambil memasang kuping.
Ia mendengar saudagar itu memesan makan malam dan minta pula disediakan air panas pencuci muka. Dan setelah makan, ia memasuki kamar yang berada di depan kamarnya.
Hati Mundingsari jadi gelisah. Ia menenteramkan diri sambil memegang pedangnya erat-erat. Setelah malam ia menunggu. Keadaannya aman tenteram. Mau tak mau ia terpaksa berpikir. Katanya di dalam hati, "Bilamana ia bermaksud jahat, dalam dua hari ini pasti dia akan menyerang. Sebaliknya bilamana bermaksud baik semenjak tadi dia harus sudah menegurku. Apa sebab dia tidak menyerang maupun menegur aku? Lawan atau kawan?"
Karena belum memperoleh kepastian, ia perlu berlaku cermat. Buntalan pakaiannya yang berada di atas meja di hadapkan ke timur. Dan semua barang bekalnya, ditaruh dengan diberi tanda-tanda tertentu. Setelah selesai ia hendak memancing. Dengan membawa pedangnya, ia keluar kamar mencari kamar mandi. Perlahan-lahan ia mencuci mukanya agar memperoleh kesegarannya kembali. Tatkala membuka pintu kamar mandi, ia mengintip keluar. Tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan berkelebat. Dan berbareng dengan bergeraknya pintu kamar mandi, bayangan itu meloncat di atas genteng dan mendekam rendah. Cepat luar biasa Mundingsari
448

melesat keluar sambil menimpukkan butiran batu. "Siapa?"
Tetapi bayangan itu seperti bisa melenyapkan diri. Mundingsari bercuriga. Dia tadi bermaksud hendak mengintip. Tak tahunya, dia sendiri malah kena intip.
Dengan langkah panjang ia kembali ke kamarnya dan membesarkan nyala lampunya. Perubahan besar tiada, namun hatinya terkejut juga. Buntalan di atas meja yang tadi menghadap ke timur nampak bergeser kiblatnya. Terang sekali akibat kena sentuh orang, la lantas memeriksa. Ternyata tali ikatannya terlepas. Buru-buru ia membuka mulut kantong. Ia heran karena baik pakaiannya maupun uangnya tidak terganggu sama sekali.
Setelah menimbang-nimbang sebentar. Mundingsari memutuskan untuk kabur secepat mungkin. Setengah jam-an lamanya ia membiarkan kudanya lari menubras-nubras. Tatkala melihat sepetak hutan menghadang di depannya, ia melompat turun. Kemudian memasuki hutan belantara itu dengan menuntun kudanya.
Belum lama ia beristirahat, tiba-tiba terdengarlah ringkik kuda yang dilarikan cepat pula. Anehnya, kuda yang mendatang itu memasuki hutan pula. la melongo dan melihat si saudagar semalam.
Melihat saudagar itu tidak berkawan, hati Mundingsari jadi mantap. Sambil mencabut pedangnya, ia meloncat menghadang.
"Apa sebab Tuan menguntit aku?"
Saudagar itu tertawa melalui hidungnya berbareng menahan kendali kudanya. Ia menyalakan korek. Lalu dilemparkan pada tebaran rumput kering. Sebentar saja
449

rumput kering itu terbakar. Setelah mengembarakan pandangnya, barulah dia menjawab.
"Kau jalanlah menyusur jalanmu sendiri. Dan aku akan berjalan pula di atas jalanan sendiri. Mengapa Tuan bercuriga tak keruan?"
Mundingsari tahu, apa maksud orang itu membakar rumput di sekitarnya. Itulah cara untuk memeriksa keadaan di sekelilingnya. Siapa tahu ada musuh yang bersembunyi. Inilah suatu bukti, bahwa saudagar itu seorang perantau yang berpengalaman. Ia kagum atas tindakannya yang cepat dalam waktu sependek itu.
Mundingsari lantas melintangkan pedangnya. Ia tertawa terbahak-bahak.
"Perjalanan Tuan di tengah malam buta ini, benar-benar mengherankan aku. Eh— bagaimana bisa sama dengan keputusanku. Apakah ini suatu kebetulan belaka?"
Orang itu tertawa pula terbahak-bahak.
"Di tengah malam buta mengaburkan kuda tunggangannya begitu cepat, bukankah suatu perbuatan yang mengherankan aku pula?"
Mundingsari melengak4). Ia memuji kecerdikan orang itu. Mau tak mau ia menghela napas.
"Baiklah. Mari kita berbicara terus terang saja," akhirnya ia berkata mengalah. "Aku seorang buruan. Siapakah kau?"
"Kau buruan dan aku adalah seorang yang menguntit buruan," ujar orang itu.
450

"Jika begitu—paling tidak kau seorang alat negara," kata Mundingsari dengan tertawa besar. "Baiklah—aku bersiap sedia melayani engkau."
"Bukan aku—tapi engkau yang berkata begitu," ujar orang itu lagi. "Siapakah kesu-dian berkelahi denganmu? Jika engkau seorang buruan, mengapa tak cepat-cepat kabur?"
Mundingsari heran.
"Sebenarnya, siapakah engkau!"
"Di hadapan seorang ksatria seperti dirimu, tidak bakal aku berdusta. Tapi tolong katakan, sebenarnya engkau siapa?"
"Bukankah aku sudah memberi keterangan?"
"Apakah sebab musababnya engkau menjadi buruan?" Orang itu minta keterangan lebih jelas lagi, "Kau berdosa apa?"
"Aku menyelundup ke dalam pesanggrahan hendak mencoba mencuri kepala seorang pendekar, Wirapati namanya," jawab Mundingsari dengan berani.
"Kepala siapa kau curi? Wirapati?" Orang itu menegas.
"Nah, aku sudah berbicara terus terang kepadamu. Sekarang giliranmu, siapakah engkau!" tanya Mundingsari dengan hati mendongkol. Ia merasakan kelicikannya. Selalu saja dia main bertanya tanpa memberi keterangan tentang dirinya dengan berterus terang.
"Aku adalah seorang yang telah melindungimu dengan diam-diam," jawab orang itu di luar dugaan. "Kita sebenarnya adalah seiring dan sejalan. Ingin aku
451

bertemu dengan pendekar yang sudah berhasil mencuri kepala Wirapati. Aku mohon kau antarkan."
Gundu mata Mundingsari bergerak-gerak. Ia jadi beragu. Katanya di dalam hati, "Agaknya dia tidak bermaksud menangkap diriku. Tapi apa sebab ia ingin bertemu dengan si pencuri kepala?"
"Apakah engkau masih bersangsi terhadapku?" Orang itu menegas. "Pertimbangkan dan pikirkan! Seumpama aku ini seorang hamba pemerintah, pastilah aku sudah turun tangan terhadapmu. Aku mengikutimu dua hari dua malam. Namun aku belum turun tangan juga..."
Mundingsari tak menyahut. Ia mendekati kuda tunggangan orang itu dengan langkah perlahan. Ia mengamat-amatinya sebentar. Dan kuda itu lantas mengangkat kepalanya begitu kena didekati seorang asing.
"Kuda ini termasuk kuda Kuningan. Pendek kecil tapi kuat. Namun kalau diharapkan bisa berlari kencang...
Hm. Karena itu sungguh mengherankan, bagaimana caramu bisa membawanya berlari cepat."
Mundingsari kagum. Tiba-tiba ia menyambar sadainya.
"Hai! Mau apa?" bentak orang itu.
Begitu sadai kena raba, kuda itu berjingkrak sambil mengangkat kapalnya. Mundingsari mundur selangkah. Tetapi dengan selintas pandang, ia melihat sebuah cap api bersembunyi di belakang sadai. Itulah cap kesatuan Kompeni Mangkunegaran. Lantas saja ia tertawa berkakakkan.
452

"Sekarang tahulah aku, siapa dirimu," katanya nyaring.
Mundingsari memang seorang pendekar yang bersikap hati-hati, berwaspada dan cermat. Ia seorang berpengalaman pula. Pengalamannya tatkala ikut membantu Pangeran Bumi Gede, mengkisiki bahwa semua kuda kompeni atau kuda kesatuan militer pasti mempunyai tanda cap api. Ia bercuriga terhadap potongan kuda sekecil itu. Sebagai seorang pendekar yang dilahirkan di daerah Cirebon, ia kenal jelas kuda asal Kuningan. Kuda itu meskipun kuat, tetapi tak dapat berlari cepat. Keistimewaannya terletak pada keuletannya mendaki tanjakan. Karena Kuningan terletak di atas pegunungan. Teringat betapa dengan kuda demikian, saudagar itu bisa mengejar kepesatan kudanya—ia menduga—pastilah kudanya termasuk seekor kuda yang terlatih baik. Siapa yang bisa melatih kuda Kuningan menjadi kuda jempolan selain kesatuan militer? Dugaannya tepat. Ia lantas menyingkap sadai dan melihat cap api tanda kesatuan militer dalam waktu sekelebat.
Memang—orang yang menyamar sebagai saudagar itu sesungguhnya seorang perwira dari istana Mangkunegoro. Tidak hanya itu. Dia bahkan menantu Sri Mangkunegoro.5) Pangkatnya waktu itu letnan satu. Menjabat komandan kompeni kesatuan laskar Mang-kunegoro yang diperbantukan di Magelang. Sengaja ia membiarkan Mundingsari bebas bergerak. Tujuannya yang utama hendak menangkap si pencuri kepala Wirapati. Ia merasa pasti, bahwa pencuri kepala Wirapati setidak-tidaknya kawan Mundingsari. Dengan membiarkan Mundingsari bebas bergerak, ia berharap
453

akan bertemu dengan pencuri yang dikehendaki, apabila sudah bertemu dua-duanya akan dibereskan. Itulah yang dinamakan, sekali menepuk dua lalat mati sekaligus.
Begitu mendengar ucapan Mundingsari, hatinya tidak menjadi gugup. Kedoknya memang dapat terbongkar, namun ia bisa berkedok lain dengan tertawanya. Itulah suatu bukti, bahwa dia bukan seorang perwira biasa. Paling tidak—ia seorang perwira—yang mengenal politik. Dia mendadak bisa licin bagaikan belut. Katanya dengan suara nyaring.
"Benar-benar hebat mata Tuan. Kalau begitu Tuan cukup berharga untuk menjadi sahabatnya." la tertawa berkakakkan lagi. Sejenak kemudian meneruskan: "Apakah engkau pernah mendengar nama Letnan Suwangsa? Jika engkau mengharap agar aku tidak mengambil tindakan kekerasan terhadapmu, nah— antarkan aku kepada orang yang mencuri kepala Wirapati?"
Mundingsari tercekat hatinya. Pada dewasa itu terdapat empat orang perwira Kompeni Belanda yang terdiri dari bangsa sendiri. Keempat-empatnya terkenal sebagai ahli pedang kenamaan. Di Barat, Kapten Merta Sasmita yang tewas menghadapi Sanjaya. Di CJtara, Aria Prawira. Kelak diangkat menjadi Bupati Tegal. Di Selatan, Letnan Mangun Sentika. Dan di Timur, Letnan Suwangsa. Di antara empat orang tersebut, Suwangsa merupakan ahli pedang yang berbahaya dan paling unggul. Dengan pedangnya itulah, ia menarik perhatian Sri Mangkunegoro. Lalu dipungut menjadi menantunya.
Mundingsari pernah menyaksikan ketangguhan Kapten Merta Sasmita tatkala perwira itu bertempur mati-matian
454

melawan San-jaya. Dibandingkan dengan dirinya, ia kalah jauh dalam segala halnya. Kemudian ia pernah mengadu kepandaian melawan Letnan Mangun Sentika di atas dinding pesanggrahan Kompeni Magelang. Dalam beberapa gebrakan saja, ia sudah merasa tak berdaya. Kini ia berhadap-hadapan dengan Letnan Suwangsa. Dan kepandaian perwira ini, melebihi ketiga rekannya. Mau tak mau ia menarik napas dalam-dalam untuk menenteramkan hatinya.
"Baiklah," katanya setelah berdiam beberapa saat lamanya. "Aku akan mengantarkan engkau. Aku menjadi orang berjasa pula bukan?"
Ia maju mendekati dengan langkah kuyu. Mendadak di luar dugaan siapa saja— pedangnya menebas—Letnan Suwangsa kaget bukan kepalang. Dalam kagetnya ia melompat ke samping. Gerakannya cepat luar biasa.
Dengan tertawa merendahkan, jari-jarinya menyentil. Hebat akibatnya. Tebasan pedang Mundingsari mempunyai daya berat melebihi seratus kati. Namun kena sentilan Letnan Suwangsa, terpukul balik dengan sekaligus. Dan pada detik itu, tangan Letnan Suwangsa sudah menggenggam sebatang pedang yang bersinar hijau. Terang sekali itulah pedang istana Mangkunegoro.
"Kau jaga lututmu!"
Mundingsari sudah kenyang berlawanan dengan musuh-musuh tangguh. Detik-detik merupakan saat-saat yang menentukan. Maka ia terus mencecar dengan tikaman-tikaman maut. Namun Letnan Suwangsa sama sekali tak gentar. Dengan tertawa lebar, ia membalas menikam. Bret! Dan pundak Mundingsari. tergores pedangnya.
455

Hati Mundingsari tercekat, la tahu maksud lawannya itu. Sekiranya dia berkelahi dengan sungguh-sungguh, ia tadi dapat mencoblos tulang pundaknya. Sebaliknya dia hanya menggores pundaknya belaka. Maka teranglah maksudnya, bahwa dia hanya ingin menawannya untuk memperoleh keterangan-keterangan yang dikehendakinya.
Dahulu sewaktu mengabdi kepada Pangeran Bumi Gede, Mundingsari berkedudukan setingkat dengan Suwangsa. Ilmu kepandaiannya tidak boleh dipandang rendah. Ia mempunyai ilmu keturunan keluarga yang menjadi pamor dan ciri khas perguruannya. Itulah pukulan Menahan Laut Membongkar Bumi. Dalam keadaan terjepit, ia hendak menggunakannya. Tiba-tiba saja pedangnya menebas ke samping merupakan suatu babatan mengarah pinggang. Itulah gerakan menahan laut. Dan kedua kakinya membarengi dengan meloncat seraya menendang. Barangsiapa menghadapi serangan ini, tidaklah dapat terlolos. Bilamana dapat mengelakkan babatan pedangnya, dia akan termakan tendangan kakinya. Sebaliknya bila menghindari tendangan, pinggang atau lengannya bakal kena terbabat kutung.
Tetapi Letnan Suwangsa benar-benar seorang jago pedang yang tinggi ilmu kepandaiannya. Diserang secara demikian, dengan gampang ia melesat mundur. Dan mendorong kaki Mundingsari dengan tangan kirinya dari samping. Dan serangan Mundingsari menumbuk udara kosong.
Mundingsari sadar akan bahaya. Pukulan andalannya ternyata gampang digagalkan. Cepat-cepat ia melancarkan serangan berantai. Pedangnya diobat-abitkan6). Lalu melompat mundur dengan mendadak.
456

Letnan Suwangsa tahu, bahwa ia akan kabur. Letnan itu lantas memburu. Di luar dugaan, Mundingsari menghantam sebatang pohon kering yang kena jilat api. Batang kering itu dilemparkan kepada kuda lawan. Dan pada saat itu, ia sudah berada di atas punggung kudanya.
Inilah suatu tipu muslihat untuk memperoleh waktu. Begitu kena sambaran barang berapi, kuda Letnan Suwangsa berjingkrakan. Gntuk menguasainya kembali, Letnan Suwangsa membutuhkan waktu beberapa saat lamanya. Dan pada saat itu, Mundingsari telah kabur jauh.
Letnan Suwangsa tertawa berkakakkan untuk menghibur kemendongkolannya. Sebagai seorang jago pedang, keberaniannya melebihi manusia lumrah. Lantas saja ia mengeprak kudanya. Lalu mengubar buruannya dengan pedang diancamkan.
Mundingsari sibuk bukan kepalang. Dalam kekalapannya, ia menggunakan tipu muslihat gertakan, la berteriak-teriak.
"Kawan! Bantulah aku!"
Di luar dugaannya sendiri, di dalam hutan mendadak terdengar meringiknya seekor kuda, ia jadi tercengang. Inilah yang dinamakan orang: main-main jadi sungguhan. Sebaliknya Letnan Suwangsa tidak takut. Dengan berseru keras, ia menantang. "Suruh keluar semua kawan-kawanmu! Aku tak takut!"
Tetapi ia perlu berwaspada, karena Mundingsari benar-benar mempunyai kawan yang bersembunyi. Sekarang rasa mendongkolnya berubah menjadi gusar.
457

Pada saat itu ia mengambil keputusan cepat. Katanya di dalam hati, "Dialah barangkali yang mencuri kepala bangsat Wirapati. Kalau begini anjing itu harus kubunuh
dahulu, agar tak menyukarkan aku... " Dan berpikir
demikian ia menghantam perut kudanya berlari lebih cepat lagi.
Betapapun juga, Mundingsari berdoa juga di dalam hati. Mudah-mudahan pendatang yang masih berada di pinggir hutan itu seorang pendekar tangguh yang dapat diandalkan. Setelah berdoa demikian, ia kini berjuang untuk meloloskan diri dari kejaran Letnan Suwangsa. Ia lantas main petak, la menerobos pagar hutan, berbelok, menikung dan menerjang semak belukar. Dengan cara demikian, Letnan Suwangsa dapat dibuatnya terhambat gerakannya.
Meskipun demikian, Letnan Suwangsa memang bukan seorang perwira lumrah. Otaknya cerdas dan cemerlang. Melihat musuhnya main petak, ia pun segera mengimbangi dengan bermain potong. Beberapa kali ia berhasil. Hanya saja untuk segera dapat membekuk Mundingsari dalam dua tiga gebrakan, tidaklah mungkin.
Lambat-laun ia menjadi jengkel. Dengan mata merah, ia meraup segenggam peluru timah. Lalu ditimpukkan dengan sekaligus. Semuanya mengarah kepada bagian-bagian tubuh yang berbahaya. Dan mendengar sambaran peluru itu, buru-buru Mundingsari mendekam di atas punggung kudanya sambil menyapukan pedangnya, la berhasil menghalau beberapa butir peluruh timah. Tiba-tiba Letnan Suwangsa menabas empat batang pohon yang menjadi perintangnya. Begitu pohon-pohon itu roboh tertabas, sebuah pelurunya menyambar.
458

"Sekarang, cobalah elakkan! Aku ingin tahu!" serunya.
Mundingsari lagi menghalau sisa sambaran peluru yang terdahulu. Sekarang dengan tiba-tiba ia kena diserang selagi sibuk.
Maka tanpa dapat berdaya lagi punggungnya kena timpuk, la meloncat turun ke tanah sambil membolang-balingkan pedangnya. Kemudian lari dengan membungkukkan badan memasuki semak belukar.
Tatkala itu—ia sudah sampai di tengah hutan—yang penuh semak berduri. Tak menghiraukan segala, ia menusup masuk. Pedangnya ditabas-tabaskan untuk membuka jalan. Tentu saja tak dapat ia mengharapkan bisa kabur secepat-cepatnya. Tetapi Letnan Suwangsa pun tertambat-tambat duri semak-semak pula. Beberapa kali, pakaiannya terkait-kait ranting-ranting tajam. Ia memaki kalang kabut. Pedangnya terpaksa digunakan. Ia berhasil. Tetapi dengan demikian, buruannya jadi dapat kabur jauh.
Tatkala itu belum fajar penuh-penuh. Suasana hutan masih gelap pekat . Dengan cara menusup-nusup, gerakan Mundingsari tak mudah terlihat. Letnan Suwangsa murka bukan main. la menyalakan api dan membakar rumput-rumput kering. Beberapa saat lamanya petak itu lantas terbakar. Ia tak menunggu sampai apinya menjalar. Dengan tangkas melompat dari punggung kudanya, kemudian lari memotong. Setiap kali terintangi gerumbul belukar, ia main bakar.
Setelah berlari-larian ke segala penjuru, hutan jadi terbakar benar. Letikan dan jilatan api menebarkan cahaya terang benderang.
459

Makin lama Letnan Suwangsa makin lancar larinya. Sebentar saja ia hampir dapat menyusul buruannya. Itulah disebabkan ia memperoleh penglihatan terang, lagipula lari tanpa berkuda lebih leluasa, la dapat menerobos, membelok, menusup dan melompat semak belukar. Bilamana terhadang deret pohon, ia bisa memotong.
Selagi demikian, suara derap kuda terdengar makin nyata. Penunggang kuda itu berada di luar petak hutan, la tak takut. Malahan ia berharap agar musuh yang bersembunyi itu segera nampak di depannya. Sebaliknya, kala itu Mundingsari sedang berjuang mati-matian untuk meloloskan diri dari kaitan duri-duri dan kepadatan gerumbul hutan, la mencoba menerobos keluar dari petak hutan. Tetapi petak hutan itu panjangnya melebihi tiga kilometer. Tak dapat ia segera melintasi.
Sebagai pengejar, Letnan Suwangsa menang mantap. Melihat buruannya keri-puhan, ia tertawa tergelak-gelak untuk menciutkan hatinya.
"Hayo! Kau hendak kabur kemana lagi? Lihat yang terang!" Berbareng dengan ancamannya, ia menimpukkan butir-butir peluru timahnya.
Mundingsari dapat memukul balik peluru pertama dan kedua yang mengancam tenggorokannya. Pedang warisan Pringgasakti memang tajam. Setiap kali dipukulkan, peluru timah hancur berkeping-keping.
Tetapi peluru yang ketiga tepat mengenai lututnya. Tak dikehendakinya sendiri, ia jatuh berlutut.
Tatkala itu ia berada di batas tepi hutan. Rimbun hutan tidak sepadat tadi. Cahaya bulan sisir dan cuaca menjelang fajar, cukup - memberi kecerahan. Ia jadi
460

mengeluh. Pastilah penglihatan Letnan Suwangsa tak dapat lagi terkecoh.
Dugaannya benar. Dengan tertawa berka-kakan, perwira itu menghampiri buruannya.
"Hayo! Coba bergerak!" hardiknya penuh kemenangan.
Sekonyong-konyong suara derap kuda yang membayangi dari luar tadi, kian nyata. Letnan Suwangsa menoleh. Hatinya tercekat tatkala melihat seekor kuda putih lari mendekati dengan suatu kecepatan kilat. Penunggangnya nampak tak ubah bayangan putih. Dan melihat penglihatan itu, Letnan Suwangsa tertegun. Tatkala memperoleh kesadarannya kembali, bayangan putih itu telah berada di depannya dan meloncat ke tanah.
Ternyata dia seorang pemuda kira-kira berusia sembilan belas tahun. Perawakan tubuhnya langsing luwes. Parasnya sangat cakap. Dia mirip seorang anak ningrat yang baru untuk pertamakalinya keluar dari pagar dinding istana.
Pemuda berpakaian putih mengamat-amati Letnan Suwangsa. Begitu melihat, lantas ia berkata: "Ah! Kukira siapa. Tak tahunya Letnan Suwangsa dari markas Legiun7) Mangkunegaran. Kenapa kau mengubar-ubar dia?"
Letnan Suwangsa terkejut. Pemuda itu ternyata sudah mengenal dirinya, sedang dia sendiri tidak. Dalam hal ini ia sudah kalah satu gebrakan. Membentak sambil menudingkan pedangnya!
"Siapa kau?"
461

"Aku orang pelancongan," jawab pemuda itu sederhana.
"Baik. Kalau mengaku orang pelancongan, jangan mencampuri urusan orang lain!"
"Tiada niatku hendak mencampuri. Hanya saja, aku paling muak melihat orang menggunakan kekuatannya untuk menindas yang lemah," tangkis pemuda itu. Dan mendengar tangkisan itu, kembali Letnan Suwangsa tercekat hatinya. Ia jadi penasaran. Segera ia berpaling penuh-penuh kepadanya. Bantahnya, "Kata-katamu sungguh menggelikan. Lihatlah yang terang! Dia sudah dewasa penuh-penuh. Gsianya jauh melampaui dirimu yang masih belum pandai beringus. Kekuatannya melebihi kau pula. Bagaimana kau menuduh aku menindas yang lemah?"
Pemuda itu tertawa tawar. Berkata merendahkan, "Di seluruh penjuru dunia ini, siapakah yang tak kenal kebesaran namamu. Kau seorang ahli pedang kenamaan. Masakan melayani seorang rakyat yang sama sekali tak mempunyai nama? Apakah perbuatanmu bukan menindas yang lemah? Karena itu tak dapat aku membiarkan kebiasaanmu itu berlarut lagi dalam pergaulan hidup."
Tertarik hati Mundingsari mendengar kata-kata pemuda itu yang rata-rata mengandung falsafat umum. Dengan mengerahkan tenaga ia mencoba menghimpun kekuatannya. Kemudian memijat-mijat dan menggosok-gosok uratnya yang menjadi kejang oleh timpukan peluru timah. Ia merasa malu sendiri. Sebab pemuda itulah yang dahulu mengganggu Senot Muradi, mengacau penjara dan membunuh beberapa serdadu dengan tim-
462

pukan sisir bambu. Dan di depan Letnan Suwangsa ia di sebut sebagai seorang yang sama sekali tak mempunyai nama. Padahal Sultan Kanoman sendiri mengenal dirinya sebagai seorang pendekar andalannya.
Letnan Suwangsa tentu saja tidak mengerti apa yang bergolak di dalam hati Mundingsari. Ia mendongkol mendengar ucapan pemuda itu.
"Jadi kau kini hendak menjadi seorang pahlawan? Bagus! Tetapi jika aku mengambil tindakan terhadapmu, nanti aku dikatakan menindas yang lemah dengan suatu kekuatan. Sungguh menggelikan." Ia lantas tertawa berkakakan sampai tubuhnya terguncang-guncang.
Sebagai seorang ahli pedang kenamaan, benar-benar lagak lagumu mengecewakan hatiku," kata pemuda itu. "Sungguh! Sama sekali tak kuduga, bahwa Raden Mas Suwangsa yang terkenal sebagai seorang ahli pedang sebenarnya berotak setumpul kerbau."
"Kau bilang apa?" bentak Letnan Suwangsa bergusar.
"Aku berkata, otakmu setumpul kerbau," pemuda itu menekan kata-katanya. "Sebagai seorang perwira mestinya engkau sudah harus tahu apakah ukuran kuat dan lemah. Benarkah seseorang dikatakan sebagai orang kuat, manakala dia memiliki otot-otot mendongkol dan tubuh sebesar kerbau? Benarkah ukuran kuat dan lemah ditentukan pula oleh selisih usia? Hm... hm... Baiklah kunyatakan terus terang. Seumpama aku tidak mengingat dirimu seorang perwira Mangkunegaran, sudah semenjak tadi aku menghajar mulutmu."
Bukan main tajam kata-kata pemuda itu. Tapi justru demikian, Letnan Suwangsa menjadi sadar. Pikirnya di
463

dalam hati, "Bocah ini paling tinggi berusia dua puluh tahun. Aku sudah berusia empat puluh tahun lebih. Kalau aku melayani benar-benar tiada harga. Menang pun tiada mente-narkan nama. Sebaliknya kalau kalah, merosotkan harga diri."
"Hai!" hardik pemuda itu. "Mengapa kau menutup mulut?" Setelah menghardik demikian, pemuda itu menghunus pedangnya yang menyinarkan cahaya kemilau. Gku'ran pedang itu termasuk pendek. Tetapi perbawanya meresap ke dalam hati. Letnan Suwangsa terkesiap. Tak dikehendaki pula ia melemparkan pandang kepada kuda putih yang menunduk menggerumiti rerumputan. Pikirnya, "Bocah ini memiliki dua mustika yang tiada taranya. Kuda dan pedang. Murid siapakah dia?"
Memperoleh pikiran demikian, tak boleh ia memandang rendah. Lalu berkata menegas. "Jadi benar-benar engkau hendak mencampuri urusan ini?"
"Jangan mengumbar mulut tiada gunanya! Kau seranglah aku!"
"Bocah!" akhirnya Letnan Suwangsa membentak lantaran jengkel. "Lebih baik kau pulang mencari gurumu! Belajarlah sepuluh lima belas tahun lagi! Orang seperti aku ini, tidak boleh ikut-ikutan mempunyai cara berpikir seperti dirimu."
"Kau mau menyerang atau tidak?" Pemuda itu tidak menghiraukan kata-katanya. "Kalau tidak akulah yang akan mengambil kepalamu."
464

"Coba gerakkan pedangmu sejurus saja di depanku. Aku ingin tahu, siapakah gurumu!" kata Letnan Suwangsa.
"Baik. Kaulihatlah yang terang!" seru pemuda itu dan terus menikam.
Dengan tenang, Letnan Suwangsa menyentil serangan pedang itu dengan jari kirinya. Tapi sama sekali tak terduga! Mendadak tikaman pedang itu yang nampaknya menggunakan jurus biasa, mempunyai perubahan yang aneh dan cepat luar biasa. Di tengah jalan sekonyong-konyong berubah sasarannya. Kini tidak menikam, tapi memapas jari dengan mendadak.
Tetapi Letnan Suwangsa memang seorang ahli pedang yang tidak sembarangan. Pada saat pedang nyaris memapas jarinya, ia membalikkan tangan dan mencoba merampasnya. Sebaliknya pedang mustika pemuda itu merubah gerakannya lagi. Dengan suara berdesing, pedang lewat di sisi telinga Letnan Suwangsa. Dan Letnan Suwangsa membalas serangan itu dengan menyambar lengan lawannya.
Dalam suatu pertarungan antara para ahli, menang dan kalah hanya dtentukan oleh suatu selisih sehelai rambut terbagi tujuh. Pada saat itu Letnan uwangsa yang berada di atas angin, meskipun tadi ia keripuhan.
Dengan menyodokkan gerakannya, ia akan dapat mematahkan lengan si Pemuda. Menyaksikan hal itu, Mundingsari sampai berseru kaget. Tanpa memedulikan lututnya y c.-z rrasih terasa lunglai, ia meloncat de-- -renggenjotkan kedua tangannya pada
AKan tetapi selagi tubuhnya berada di udara, tiba-tiba ia mendengar suara Letnan Suwangsa menyatakan
465

kekagetannya. Ternyata pada saat terancam bahaya, pemuda itu menarik pedangnya untuk menghantam pergelangan tangan Letnan Suwangsa. Ini adalah suatu pembelaan diri yang bagus bukan main. Apabila Letnan Suwangsa tidak menarik pukulannya—dia pun akan menderita lengan patah. Cepat bagaikan kejapan kilat, Letnan suwangsa meloncat ke samping. Dengan begitu kedua-duanya lolos dari lubang jarum. Dan pada waktu itu, Mundingsari mendarat di atas tanah dengan napas lega.
Namun suatu gelombang baru terjadi lagi dengan tak terduga-duga. Biasanya—apabila kedua musuh terpencar—mereka akan memperbaiki kedudukannya dahulu sebelum mengulangi pertarungannya yang baru. Akan tetapi—baik pemuda berbaju putih itu maupun Letnan Suwangsa—mempunyai pikiran yang sama. Masing-masing hendak mendahului sebelum lawan sempat memperbaiki kedudukannya. Dalam hal ini
Letnan Suwangsa menang cepat. Itulah disebabkan, ia menang pengalaman. Baru saja pemuda berbaju putih menggerakkan pedangnya, kedua tangan Letnan Suwangsa sudah membuat lingkaran. Lalu memotong garis pembelaannya.
Pemuda berbaju putih itu lantas terkunci kedua tangannya. Ia tak dapat bergerak lagi. Sesungguhnya Letnan Suwangsa adalah ahli waris ilmu pedang seorang sakti yang bersembunyi di belakang layar. Dia telah menerima ajaran menggunakan tenaga keras dan lembek dengan berbareng. Dia pun mengetahui belaka tentang rahasia atau kunci-kunci rahasia ilmu pedang yang terdapat di persada bumi ini. Gerakan tangannya sukar di duga dia bisa merubah sasaran pada sembarang waktu yang dikehendaki.
Mundingsari tentu saja belum sampai pengertiannya pada rahasa inti pati suatu ilmu pedang. Dia pun bukan seorang ahli pedang. Dia biasa menggunakan senjata golok. Meskipun demikian secara naluriah ia merasakan suatu bahaya mengancam pemuda itu. Tak terasa ia menjerit, "Celaka! Awas!"
Hampir berbareng dengan jeritan Mundingsari, Letnan Suwangsa dan pemuda itu pun memekik pula. Pandang mata Mundingsari tak dapat mengikuti perkembangannya. Gerakan mereka berdua begitu cepat, sehingga mengaburkan penglihatan. Tahu-tahu Letnan Suwangsa mundur sempoyongan dengan lengan baju terobek. Menyaksikan hal itu jadi kaget. Mundingsari menjadi girang. Serunya penuh syukur: "Sahabat kecil, bagus! Sungguh bagus!"
Mundingsari tak tahu, bahwa sebenarnya pergelangan tangan jagonya kena terpukul. Kalau dihitung-hitung jagonya yang kalah seurat.
Dalam pada itu, wajah Letnan Suwangsa nampak menjadi guram. Melihat lengan bajunya kena robek, ia menjadi merah padam. Dadanya serasa ingin meledak. Maklumlah—dia seorang ahli pedang yang membawa keharuman namanya semenjak belasan tahun yang lalu. Tapi kini, lengan bajunya kena dirobek oleh seorang pemuda yang masih belum hilang pupuknya.
Selagi demikian, pemuda itu telah melancarkan serangan-serangan berantai yang cepat luar biasa.
Dalam keadaan tenang, mestinya Letnan Suwangsa dapat melayani dengan tangan kosong, belaka. Tetapi
467

hatinya sedang panas. Dengan tangan kirinya tak dapat ia melayani lagi. Mau tak mau terpaksa ia menggunakan pedangnya.
"Nah—apa yang kukatakan tadi," ejek pemuda itu. "Kalau siang-siang engkau menggunakan pedangmu, bukankah jauh lebih baik? Tapi kau membandel. Rasakan akibatnya!"
Selagi berbicara serangannya tak pernah kendor. Tiba-tiba menikam tenggorokan. Letnan Suwangsa terkesiap. Bagaikan kilat ia menangkis dengan satu elakan. Kemudian membalas menyerang dengan gerakan lebih cepat agi.
Setelah bergebrak beberapa jurus lagi, hilanglah kesabaran Letnan Suwangsa. Ia merasa malu tak sanggup merobohkan lawan pemuda itu. Terpaksalah ia menggunakan ilmu simpanannya. Tiba-tiba bergetar dan mengunci bidang gerak lawan. Dikunci demikian, pemuda itu malah sempat memuji, "Bagus!" katanya. Tiba-tiba tanpa memedulikan keselamatan diri, pedangnya didorong masuk menikam dada.
Letnan Suwangsa tercekat hatinya. Memang ia bisa menangkis dorongan itu. Tetapi dengan demikian, pedangnya terpaksa berbenturan. Ia tahu pula—mutu pedangnya kalah jauh dengan pedang mustika lawan. Memang—dengan mengandal pada tangannya—ia bisa meruntuhkan pedang lawan ke tanah. Tetapi pedangnya sendiri akan terkutung menjadi dua bagian. Bila terjadi demikian, alangkah besar malunya. Sebab sebagai seorang ahli pedang, pedangnya kena tertabas kutung oleh seorang lawan muda belia.
468

Biar bagaimana juga, justru benturan tak dapat dielakan lagi. CIntuk menolong akibatnya, cepat ia menarik tenaga kerasnya. Sebagai gantinya ia menggunakan tenaga lembek. Dengan suara nyaring, pedangnya kebentrok. Cepat ia mencoba menempel. Meskipun demikian, tak urung pedangnya somplak juga sedikit.
Dengan demikian, gebrakan ini dimenangkan pemuda itu. malahan sangat gemilang. Hanya saja sebagai seorang pemuda, ia belum mengenal batas, la seperti mendapat hati. Dengan cepat ia menahaskan pedangnya. Tujuannya kini hendak meng-utungkan pedang lawan. Trang! Pedangnya membentur. Tapi kali ini, akibatnya tidak seperti yang diharapkan. Suara benturan itu hampir tidak menerbitkan suara.
Mundingsari yang menonton pertarungan itu dari luar gelanggang, menajamkan matanya. Dengan pikiran tegang ia mencoba mengetahui sebab musababnya. Sekonyong-konyong dilihatnya pedang pemuda itu kena ditarik oleh pedang Letnan Suwangsa. "Ah!" pikirnya terkejut. "Perwira itu pandai menggunakan ilmu menghisap tenaga lewat pedangnya. Benar-benar ia sudah mencapai puncak kemahiran!"
Sesungguhnya demikianlah halnya. Dengan mengerahkan gabungan tenaga keras dan lembek,
Letnan Suwangsa berhasil menempel pedang lawan. Kemudian dengan hati-hati ia menghisapnya. Beberapa saat kemudian, butiran keringat telah memenuhi dahi pemuda itu.
"Ha... bagaimana?" ejek Letnan Suwangsa dengan suara menang.
469

"Apanya yang bagaimana?" sahut pemuda itu dengan tersenyum. Tiba-tiba saja di luar dugaan siapa pun pemuda itu mencelat tinggi. Dan pedangnya lolos dari himpitan tenaga musuh. Hal itu terjadi karena kesembronoan Letnan Suwangsa sendiri.
Setelah berhasil menghisap tenaga lawan, ia memandang rendah. Lalu timbullah kepuasannya untuk melampiaskan suatu ejekan. Selagi berbicara tentu saja, perhatiannya terpecah. Pemuda berbaju putih yang berilmu tinggi itu, tak sudi menyia-yiakan kesempatan bagus baginya. Cepat luar biasa ia mencelat tinggi berbareng membetot8) Begitu turun ke tanah ia menikam dari samping.
Penuh sesal dan rasa mendongkol, Letnan Suwangsa mengibaskan pedangnya untuk mengulangi hisapannya. Sudah barang tentu pemuda itu tak dapat dijebaknya lagi. Tak sudi ia membiarkan pedangnya kena tempel. Dengan gerakan gesit luar biasa ia kini melayani Letnan Suwangsa dengan berputaran seperti kupu-kupu mencium bunga. Letnan Suwangsa kagum luar biasa.
Beberapa kali pedangnya hampir-hampir dapat ditempelkan. Tapi setiap kali hendak bersintuh, bocah itu selalu dapat meloloskan diri. Setelah memperhatikan gerak-gerik pemuda itu, mendadak saja hatinya terguncang. Teringatlah dia kepada seorang pendekar yang sudah" mengundurkan diri dari pergaulan. Dan pendekar itu bermukim di sebuah pulau dan terkenal sebagai tokoh sakti kelas wahid. Apakah dia murid Adipati Surengpati? Pikirnya sibuk.
Gntuk meyakinkan dugaannya, segera ia mengubah tata berkelahinya. Tak mau lagi ia mengumbar nafsunya
470

untuk menyerang. Sebaliknya ia lebih banyak membela diri. Walaupun demikian, ia berlaku sangat waspada. Sebab gerakan pedang pemuda itu, cepat luar biasa dan perubahannya sukar diduga. Lambat-laun timbullah keputusan-nya untuk melawan dengan cara demikian saja. Sekali-kali ia menyerang, kemudian menutup diri dengan rapat. Ia berharap tenaga lawan akan habis sendiri.
Perhitungannya ternyata tepat sekali. Diperlakukan demikian, perlahan-lahan pemuda itu nampak menjadi lelah. Napasnya mulai tersengal-sengal. Dan perkembangan itu membuat hati Mundingsari berdebaran. Ia tahu, kedua belah pihak sudah menggunakan ilmu pedangnya tingkat tinggi. Meskipun bukan seorang ahli, namun dapat ia merasakan siapakah yang lebih unggul. Ternyata Letnan Suwangsa menang pengalaman dan latihan. Lambat-laun jagonya berada di bawah angin. Celakalah, kalau kena dirobohkan.
Tatkala itu, tenaganya sudah pulih kembali. Punggungnya yang tadi kena ganggu timpukan peluru timah, kini tak terasa nyeri lagi Setelah melancarkan aliran darahnya, segera ia memungut pedangnya. Kemudian sambil membentak ia memasuki gelanggang hendak membantu jagonya.
Tetapi Letnan Suwangsa bukan seorang perwira sembarangan. Matanya awas luar biasa. Begitu melihat gerakan Mundingsari, secepat kilat ia memindahkan pedangnya ke tangan kiri. Kemudian tangan kanannya meraup segenggam butir peluru timah dari sakunya. Setelah mendesak pemuda lawannya dengan dua tikaman beruntun, tangan kanannya memperoleh kesempatan untuk menimpukkan peluru timahnya. Ia tak
471

ragu-ragu berbuat demikian, karena merasa diri bakal kena kerubut. Daripada didahului, lebih baik mendahului.
Celakalah Mundingsari. la baru saja memperoleh tenaganya kembali. Meskipun tangan dan kakinya dapat bergerak dengan leluasa, tetapi tenaganya belum pulih seluruhnya. Kakinya masih terasa lemas, la melihat sambaran butiran peluru. Maksudnya hendak mencelat mengelak. Tetapi kakinya tak dapat mengikuti kehendak hatinya. Peluru timah Letnan Suwangsa lantas saja singgah di lehernya. Dan ia roboh terjungkal untuk yang kedua kalinya.
Walaupun demikian, sesungguhnya dia bukan seorang pendekar yang belum berarti. Begitu roboh, kakinya meletik. Dan pada saat itu ia mendengar seruan pemuda jagonya. "Bagus. Aku pun akan mencontoh..."
Bagaikan hujan gerimis, tiba-tiba tampaklah menyambarnya butir-butir berkilatan menghujani Letnan Suwangsa. Ternyata senjata bidik pemuda itu belasan biji-sawo yang berjarum pada ujungnya. Itulah senjata bidik istimewa. Mimpi pun tak pernah, bahwa biji sawo bisa digunakan sebagai peluru pembidik yang sangat berbahaya.
"Bagus!" teriak Mundingsari kegirangan.
Dengan meletik ke udara, Letnan Suwangsa mengebaskan pedangnya. Belasan senjata bidik pemuda itu, dapat disapunya runtuh. Tetapi dua butir di antaranya menghantam pundaknya.
"Lihatlah yang terang!" teriak pemuda itu sambil menikam.
472

Walaupun Letnan Suwangsa seorang ahli pedang kenamaan, namun untuk mengelakkan sambaran dua butir biji sawo beracun itu tidaklah mungkin lagi. Tetapi memang dia seorang jago yang namanya sejajar dengan pendekar-pendekar kelas satu pada dewasa itu. Dengan mengerahkan tenaga saktinya, ia membentak keras. Dan kena bentakan itu dua biji sawo yang menghantam pundaknya terpental balik dan rontok ke tanah.
Berbareng dengan itu ia menangkis pedang pemuda lawannya sambil terus melanjutkan tikaman balasan.
Pemuda berbaju putih itu kaget luar biasa. Sama sekali tak diduganya bahwa belasan biji sawonya bisa dielakkan. Malahan dua di antaranya rontok ke tanah oleh suatu tenaga bentakan. "Benar-benar mengagumkan", pujinya dalam hati.
"Benar-benar nama Raden Mas Suwangsa bukan nama kosong. Ilmu mujizatnya seperti guru. Tak mengherankan namanya dijajarkan orang dengan nama guru."
Melihat keadaan yang sangat berbahaya itu, Mundingsari tidak menghiraukan lukanya. Dengan memutar pedangnya ia masuk ke dalam gelanggang.
Pada saat itu, ia mendengar pemuda jagonya bersiul melengking. Kuda putihnya lari menghampiri bagaikan kilat. Segera pemuda itu mencecar Letnan Suwangsa dengan serentet serangan beruntun. Tiba-tiba tangannya menyambar lengan Mundingsari dan dibawanya mencelat tinggi. Begitu turun, ia berada tepat di atas sadai kudanya dengan menempatkan Mundingsari di belakangnya. Kemudian kudanya membawanya kabur bagaikan bayangan.
473

Buru-buru Letnan Suwangsa mencari kuda tunggangannya. Dengan berteriak keras ia melompat di atasnya. Dan dikaburkan secepat-cepatnya untuk mencoba memburu. Kudanya pun termasuk kuda pilihan. Tetapi dibandingkan dengan kuda putih pemuda itu, masih kalah jauh. Semakin lama jarak pengejaran semakin jauh. Dan akhirnya Letnan Suwangsa hanya dapat melihat satu titik putih di jauh sana. Kemudian lenyap dari penglihatan.
Mau tak mau Letnan Suwangsa menghela napas berulang kali. Sadar bahwa ia takkan dapat memburunya ia menarik kendali kudanya. Lalu turun ke tanah memeriksa pundaknya. Dua bentong merah menandai kulitnya yang kuning bersih. Ia merasa syukur, karena peluru pemuda tadi bukan mengandung racun. Walaupun hatinya mendongkol, namun terbintik rasa terima kasih juga.
Waktu itu fajar hari telah tiba. Mundingsari yang menggamblok di belakang punggung pemuda itu, kagum luar biasa menyaksikan kecepatan kuda yang membawanya kabur. Meskipun dibebani dua orang, namun tenaganya tak berkurang. Pohon-pohon dan semak belukar yang dilintasi seperti berterbangan terbawa angin. Mendadak teringatlah dia, bahwa kuda Letnan Suwangsa kuda jempolan. Ia menoleh. Selagi menoleh, punggung kuda ter-goncang hebat. Ternyata binatang itu sedang melompati sebuah parit lebar. Buru-buru ia menjepit perut kuda lebih kencang lagi. Meskipun demikian badannya terguncang juga nyaris terpelanting.
"Jangan bergerak!" pemuda itu memperingatkan. Oleh peringatan itu, tidak berani ia menggerakkan tubuhnya. Benar saja. Pada detik itu, kuda putih yang membawanya
474

kabur melesat lebih cepat lagi. Dan tak lama kemudian fajar hari tiba dengan diam-diam.
"Nah—sekarang kita boleh beristirahat!" kata pemuda itu sambil melompat turun. Paras mukanya tidak berubah. Napasnya pun tidak terdengar memburu pula.
"Benar-benar kuda mustika!" seru Mundingsari kagum. "Itulah yang dinamakan seekor kuda cocok dengan majikannya. Sekarang bolehkah aku mengenal namamu?"
Pemuda itu tidak menyahut. Sekonyong-konyong tangannya diulur hendak merampas pedang pemberian Sanjaya. Secara wajar, tangan Mundingsari bergerak hendak mempertahankan. Senjata bagi tiap pendekar merupakan jiwanya sendiri. Kehilangan senjata, artinya bakal kehilangan pegangan. Tetapi gerakan pemuda itu jauh lebih cepat. Sebelum dapat berbuat sesuatu pedang Sanjaya sudah pindah di tangan pemuda itu. Mundingsari benar-benar terkejut. Hendak ia membuka mulut, tapi kedahu-luan pemuda itu.
"Darimana kau peroleh pedang ini?" tanyanya sambil membolang-balingkan di depan mata.
"Ini adalah pedang pusaka tuanku Sanjaya," jawab Mundingsari menebak-nebak.
"Kenapa dia menyerahkan pedangnya kepadamu?" pemuda itu menegas dengan suara lembut.
Da mendengar suara lembut itu, Mundingsari agak tenteram hatinya. Ia yakin pemuda itu tidak bermaksud jahat. Maka ia menceritakan peristiwa yang terjadi di Sigaluh. Lalu mengakhiri dengan kata-kata, "Tapi aku sangat menyesal, karena tak dapat membantunya.
475

Apalagi menolongnya. Tuanku Sanjaya gugur kena kerubut empat orang...." Teringat akan peristiwa itu, kedua kelopak matanya basah kuyup. Meneruskan, "Dengan pikiran bingung aku tiba di Magelang. Di kota itu pun aku gagal hendak mencoba mencuri kepala pendekar Wirapati yang kukagumi."
Sampai di situ, tiba-tiba pemuda itu menabas-nabaskan pedang warisan Sanjaya di udara. Ia berputar mengarah matahari terbit. Kemudian berkata dengan perlahan, "Ah, Paman! Belum pernah aku melihat Paman. Tetapi aku pernah mendengar riwayat hidupmu. Kuyakinkan dari sini, bahwa perbuatan Paman itu tidak mengecewakan. Paman... Paman.... Paman Wirapati pasti ikut berbangga hati pula."
Mendengar kata-kata pemuda itu, hati Mundingsari terguncang.
Rasa tangisnya lenyap dengan mendadak. Didengar dari lagu suaranya, pemuda itu seperti mempunyai hubungan rapat baik dengan Sanjaya maupun Wirapati. Ia segera hendak menegas. Tetapi pemuda itu nampak menundukkan kepalanya diam-diam. Ia seperti lagi mengheningkan cipta. Setelah itu, di luar dugaan ia memasukkan pedang
Sanjaya ke dalam sarungnya. Kemudian digantungkan pada pinggangnya.
"Mohon dengan sangat Tuan mengembalikan pedang itu," kata Mundingsari setengah terkejut.
"Mengapa begitu?" sahut pemuda itu sambil berputar menghadapi.
476

Mundingsari menyapu keguraman wajahnya. Dengan suara rendah ia berkata, "Tuan adalah penolong jiwaku. Budi Tuan setinggi gunung. Entah dengan apa kelak aku
membalas budi itu.... Aku pun tahu, Tuan agaknya
berkenan kepada pedang ini. Sebenarnya harus aku menyerahkan demi budi Tuan. Tetapi.... tetapi.... maafkan. Tak dapat aku menyerahkan pedang itu kepada Tuan. Sebab menurut pesan tuanku Sanjaya yang penghabisan kali, aku harus menyerahkan pedang itu kepada puteranyai Lagipula di dalamnya tersembunyi suatu perkara besar."
"Perkara apa?" pemuda itu menegas dengan suara tawar.
"Pedang itu harus kuserahkan kepada pendekar besar Sangaji," jawab Mundingsari dengan suara mantap.
Sangaji adalah seorang pendekar besar yang terkenal pada zaman itu. Iblis pun segan kepadanya. Karena itu menurut ukuran lumrah pastilah pemuda itu akan segera mengembalikan pedang Sanjaya kepada Mundingsari begitu mendengar nama Sangaji disebut-sebut. Akan tetapi, ternyata pemuda itu bersikap tak pedulian. Malahan ia menegas lagi.
"Mengapa harus diserahkan kepada pendekar besar Sangaji?"
Mundingsari mengira, ia kurang meyakinkan pemuda itu. Maka ia menjawab dengan suara ditekan-tekan.
"Tidak hanya pedang itu. Tapi pun robekan baju yang berlumuran darah. Tuanku Sanjaya dan tuanku Sangaji adalah saudara angkat. Pada waktu tuanku Sanjaya hendak mengarungi perjalanannya yang terakhir,
477

teringatlah dia kepada saudara angkatnya itu, ia berpesan kepadaku agar mempersembahkan sobekan bajunya yang berlumuran darah. Tuanku Sanjaya ber-harap—setelah melihat bajunya yang berlumuran darah— tuanku Sangaji akan menun-tutkan dendam terhadap musuh-musuh yang bersembunyi di belakang layar. Setidak-tidaknya tuanku Sanjaya meninggalkan pesan agar tuanku Sangaji pandai menjaga diri—supaya tidak menjadi korban kelicikan lawan. Kecuali itu tuanku Sanjaya mohon dengan sangat agar tuanku Sangaji berusaha mencari putera satu-satunya yang tiba-tiba lenyap. Setelah bertemu hendaklah sudi menerimanya sebagai murid. Dan pedang itu hendaklah diserahkan kepadanya."
"Apakah putera Paman Sanjaya anak nakal dahulu yang bertemu dengan aku di tepi telaga?" pemuda itu menegas.
"Benar. Namanya Senot Muradi," jawab Mundingsari.
"Baiklah. Mana baju berdarah itu?"
"Ini," sahut Mundingsari cepat sambil memperlihatkan baju peninggalan Sanjaya.
Di luar dugaan, tiba-tiba sobekan baju berdarah itu kena sambar. Karena tak berjaga-jaga, pemuda tu dapat merampasnya.
"Kau...! Kau...," seru Mundingsari dengan suara bergemetaran. "Apakah maksudmu? Engkau memang penolong jiwaku. Tetapi pedang dan baju itu bukan milikmu. Tak dapat aku menyerahkan kepadamu."
478

Tetapi dengan sikap acuh tak acuh, pemuda itu memasukkan robekan baju Sanjaya ke dalam saku celananya.
"Pendekar besar Sangaji tidak mudah kautemukan.
Dia seorang pemimpin besar seluruh perjuangan bersenjata di Jawa
Barat. Kau belum kenal jalan dan perjuangan laskarnya. Sekali bertemu dengan salah seorang raja mudanya kau bisa celaka. Apalagi kalau mereka menaruh curiga kepadamu. Karena itu, biarlah aku yang mempersembahkan."
Alasan pemuda itu masuk akal. la jadi bingung.
Dengan suara tersekat-sekat, ia mencoba meyakinkan pemuda itu.
"Ini... ini." tapi kata-kata hatinya
macet di tenggorokan. la melihat pemuda itu memukul udara. Dan tiba-tiba ia kena didorong berputaran oleh pukulan angin yang tidak nampak. Buru-buru ia mencoba bertahan dengan menancapkan kedua kakinya. Tapi ia malah terjengkang, pemuda itu berkelebat di belakangnya. Ia memukul udara lagi. Dan tubuhnya kena terangkat dan tiba-tiba dapat berdiri bangun tegak. Diperlakukan demikian—sudah barang tentu Mundingsari kaget berbareng bergusar. Dengan mata merah ia berputar menghadapi pemuda itu.
"Inilah pukulan udara kosong," kata pemuda itu.
"Meskipun kau belum pernah melihatnya, tetapi setidak-tidaknya pasti mengenal siapa pemiliknya."
479

Mundingsari terkejut. Teringatlah dia dahulu kepada peringatan sang Dewaresi tatkala ia mencoba Titisari. Begitu Titisari memukul udara sang Dewaresi lantas tak berani gegabah lagi. Itulah pukulan udara kosong ilmu sakti Adipati Surengpati9). Sekarang pemuda itu menggunakan pukulan udara kosong pula. Maka ia segera bertanya minta keterangan.
"Apakah hubunganmu dengan Gusti Adipati Surengpati?"
Pemuda itu tersenyum. Tetapi jawabnya mengambil jalan berputar. "Setelah engkau kenal pukulan tadi, masihkah engkau tidak sudi menyerahkan pedang dan robekan baju berdarah kepadaku? Biarlah aku yang
membawanya..."
"Tapi ini... ini..."
"Ini apa?" bentak pemuda itu.
"Dengan membawa baju dan pedang itu sebagai bukti sebenarnya aku pun mempunyai suatu kepentingan pula. Ingin aku mohon pertolongan tuanku Sangaji agar merampas kembali uang kawalanku yang kena begal."
Pemuda itu mengerutkan alisnya. Menegas.
"Gang kawalan? Gang kawalan apa?"
Dengan menguasai diri, Mundingsari lalu mengisahkan perjalanannya dari Cirebon. Diceritakan pula bagaimana ia terpaksa membantu peleton Kompeni untuk mengawal uang belanja. Bagaimana terjadinya suatu perampasan. Dan akhirnya bagaimana cara orang bertopeng itu mempermainkan peleton Kompeni di sebelah timur Banyumas.
480

"Benarkah perampasan itu terjadi di sebelah timur Banyumas?" pemuda itu menegas lagi.
"Orang bertopeng itu pulalah yang berhasil mencuri kepala pendekar Wirapati." Mundingsari menguatkan. "Tetapi sungguh! Tak dapat aku menebak asal usulnya. Itulah sebabnya aku hendak mohon pertolongan tuanku Sangaji."
Sekonyong-konyong paras muka pemuda itu berubah hebat. Katanya sambil bersiul memanggil kudanya.
"Kalau begitu—kita harus balik kembali.... Jadi dialah yang mencuri kepala Paman Wirapati? Baiklah—urusan ini pun serahkan kepadaku. Mari kita berangkat mencarinya."
Selagi Mundingsari berbimbang-bimbang, pemuda itu telah melompat di atas punggung kudanya. Bentaknya, "Hayo!"
Dan mendengar ajakan setengah memaksa itu, tanpa bersangsi lagi ia melompat di belakangnya. Dan kuda putih itu segera kabur secepat angin.
Menjelang tengah hari—mereka tiba di Purwokerto. Waktu itu Purwokerto masih merupakan sebuah kota kecil. Dan begitu tiba di pinggir kota, pemuda itu berkata menerangkan.
"Kota ini termasuk kota penting di wilayah Banyumas. Esok hari kita bisa tiba di tempat tujuan dalam keadaan segar bugar. Biarlah aku membelikan seekor kuda untukmu."
Ia memasuki sebuah rumah makan. Setelah berpesan, ia segera pergi untuk membeli seekor kuda. Kudanya
481

sendiri ditambatkan di tepi ja4an. la minta tolong kepada seseorang untuk mencarikan serbuk kering dan gula tetes.
Selagi Mundingsari hendak bersantap, pemuda itu sudah kembali dengan menuntun seekor kuda hitam lekam. Kuda itu nampak gagah perkasa. Dan melihat hal itu, Mundingsari heran bukan main. Bagaimana cara pemuda itu bisa memperoleh seekor kuda begitu cepat?
"Paman Mundingsari!" seru pemuda itu. "Sebenarnya kita dapat menunggang seekor kuda bersama-sama. Tetapi karena kita akan melintasi sebuah kota ramai, takut aku menarik perhatian orang. Bagaimana? Kau senang tidak dengan kuda ini?"
Mundingsari tertawa. Pemuda ini gagah— pikirnya— tapi perasaannya agak lembut dan masih berbau kanak-kanak. Sebenarnya ia ingin memperoleh keterangan siapakah dia sebenarnya. Tapi melihat pemuda itu selalu menyembunyikan dirinya, tak berani ia bertanya melit-melit.
Pada keesokan harinya, sampailah mereka pada sebuah dusun bernama Kalijering. Pemuda itu mengajak bermalam di dusun itu. Dia mencari sebuah gubuk penjagaan sawah. Di gubuk itulah, ia merencanakan penyelidikan.
"Tak mungkin orang bertopeng itu berada di dusun sesunyi ini," Mundingsari meyakinkan. "Apa guna kita membuat penyelidikan di sini?"
Pemuda itu melototkan matanya.
"Paman seorang pendekar kawakan. Masakan tak pernah mendengar nama besar pendekar Kebo Bangah?"
482

"Apa hubungannya dengan dusun ini?" Mundingsari kaget sampai berjingkrak.
"Anak keturunannya bermukim di sekitar dusun ini. Masakan kau tak pernah mendengar kabar itu!"
Panas muka Mundingsari kena semprot demikian. Katanya sulit?
"Andaikata benar... tak mungkin anak keturunan pendekar besar itu merampas uang di tengah jalan. Seumpama benar pun—setelah merampas uang— pastilah tidak bakal berani bermukim pada tempat yang sudah terkenal."
"Ha—bagus!" Rupanya Paman pun pernah mempunyai pengalaman merampok. Kalau begitu, pastilah Paman bisa mencari dimanakah tempat persembunyiannya," tungkas pemuda itu.
"Bagaimana aku tahu?" sahut Mundingsari dengan suara tinggi. "Sekiranya tahu, sudah semenjak dahulu aku mencarinya sendiri."
"Kalau begitu, mari kita kembali ke tempat perampasan uang kawalanmu," pemuda itu memutuskan, la lantas melompat di atas punggung kudanya. Dan Mundingsari terpaksa mengikuti, meskipun hatinya mulai merasa kesal. Tapi pada saat itu ia merasa diri menjadi orang kalah maka tak berani ia membuka mulut.
Di sepanjang jalan, pemuda itu selalu menggariskan sederet kalimat tantangan dengan ujung pedangnya. Dan melihat hal itu hati Mundingsari jadi geli. Tak sanggup ia menguasai rasa usilnya. Lalu berkata meyakinkan!, "Pekerjaan begini ini adalah sia-sia belaka. Merasa
483

dirinya merampas uang, pastilah dia kabur sejauh mungkin. Masakan sempat membaca bunyi tantangan segala... "
"Dia berani merampas uang kompeni di tengah jalan. Itulah membuktikan bahwa ia seorang perampok yang berkepala besar," pemuda itu membela diri. "Dan seorang yang berkepala besar paling jengkel memperoleh tantangan. Jika ia membaca tulisanku ini, pasti dia bakal mencari aku untuk membuktikan kebesaran namanya."
Mundingsari membungkam mulut. Meskipun alasannya kekanak-kanakan, tetapi masuk akal pula. Tetapi dengan cara begitu, perjalanan jadi tak dapat cepat. Baru pada hari kedua, sampailah mereka di tempat orang bertopeng perampok uang.
"Tak jauh dari sini terdapat sebuah gunung bernama Gunung Tugel," kata pemuda itu. "Apakah kau pernah mendengar kawanan perampok Gunung Tugel yang mengenakan pakaian seragam hitam?"
"Sedikit-sedikit pernah aku mendengar khabarnya," sahut Mundingsari, "Tetapi yang merampok dahulu tidak mengenakan pakaian seragam. Lagipula mereka takkan berani berlawan-lawanan dengan pihak kompeni."
"Bagus alasanmu," kata pemuda itu dengan suara girang. Itulah disebabkan Mundingsari mau menerima cara berpikirnya. "Mari kita mencoba menyelidiki. Tak ada buruknya, bukan?"
Mundingsari mengemukakan alasannya, bahwa cara penyelidikan demikian tidak ada gunanya. Tapi pemuda
484

itu kokoh pendiriannya. Dia seperti mempunyai pegangan tertentu. Betapapun juga, ia jadi tertarik.
Gunung Tugel terletak di sebelah utara Sigaluh. Sebenarnya belum boleh disebut sebuah gunung penuh. Hanya saja lebih kurang daripada sebuah bukit. Setelah terkenal sebagai sarang gerombolan perampok, kesannya makin garang dan menyeramkan. Jalan besar yang melingkarinya makin hari makin sunyi dari keramaian lalu lintas. Hanya orang yang bosan hidup saja berani mengambah jalan tersebut.
Seperti semenjak di Kalijaring, pemuda itu selalu main menulis tantangan di tempat-tempat tertentu. Kini bahkan menggunakan kata-kata makian kalang kabut. Dan setiap kali membaca bunyi tantangan yang penuh dengan makian kalang kabut itu, Mundingsari tertawa geli dalam hatinya.
Tatkala tiba di kaki Gunung Tugel, dari kejauhan nampaklah serombongan saudagar mendatangi. Pemuda itu cepat-cepat menyelinap di belakang gerombolan belukar. Mundingsari tertawa lagi.
"Setelah kau mencari seorang penjahat, maka setiap orang yang bakal berpapasan lantas kau kira kawanan penjahat pula."
Pemuda itu tertawa mendengar teguran halus itu. "Gunung Tugel ini terkenal sebagai sarang perampok semenjak sepuluh tahun yang lalu. Penduduk sekitar gunung tahu belaka. Mereka kejam bagaikan iblis. Seka-rang—kita melihat—serombongan saudagar berani melintasi jalan ini. Bukankah mengherankan? Seorang tokoh seperti Letnan Suwangsa mengenakan pakaian saudagar pula... "
485

Mundingsari kaget. Alasannya pemuda itu masuk akal. Dan diingatkan cara penyamaran Letnan Suwangsa hatinya tercekat. Segera ia melompat di belakang gerombol belukar seraya menajamkan penglihatan.
Rombongan itu terdiri dari lima orang. Mereka mengenakan pakaian saudagar kaya.
Hal itu memang menarik hati benar-benar. Sayang mereka melintas dengan cepat, sehingga raut-mukanya tak mudah dikenal.
"Mari kita ikuti dari jauh," ajak pemuda itu.
"Jadi tidak mendaki gunung?" Mundingsari menegas.
"Bukankah tujuan kita mencari penjahat dan bukan mencari gunung?" sahut pemuda itu dengan mata didelikkan.
Mundingsari membungkam. Tapi aneh adalah adat pemuda itu. Kata-katanya seperti dibantahnya sendiri. Tiba-tiba saja di tengah jalan ia membelokkan kudanya berbalik mengarah ke gunung. Keruan saja Mundingsari jadi bingung. Tanyanya minta keterangan.
"Sebenarnya maksudmu bagaimana?"
"Katanya, aku kau suruh mendaki gunung. Nah— marilah kita daki."
"Hai! Bukankah kita lagi mencari seorang penjahat dan bukan mencari gunung?" kata Mundingsari. Itulah kata-kata si Pemuda itu sendiri. Dan mendengar perkataan itu, si Pemuda berbaju putih tertawa geli.
"Kita seiring sejalan. Karena itu—masing-masing harus berani berkorban—untuk melegakan kawan seiring dan sejalan."
486

Mau tak mau Mundingsari tertawa juga. Lucu cara berpikir pemuda itu. Tetapi cukup menarik hati.
10
PENJAHAT BERTOPENG
HAMPIR MENDEKATI WAKTU MAGRIB pemuda itu belum juga mendaki gunung. Masih saja ia berputar-putar tak keruan jun-trungnya. Lambat-laun Mundingsari menduga, bahwa dia hendak menunggu petang tiba. Dengan demikian tak gampang-gampang orang melihat gerak-geriknya.
Waktu itu musim "semi". Semua mahkota daun dan rerumputan nampak menghijau. Ratusan aneka bunga liar memenuhi persada bumi. Keharumannya menusuk hidung. Sekitar Gunung Tugel banyak terdapat tempat-tempat bersejarah.
Pemandangan dalam cuaca mendekati magrib indah bukan main. Tetapi pemuda itu nampak hilang kegembiraannya.
Sekonyong-konyong ia memutar kudanya, Mundingsari mengira, sekarang tibalah waktu mendaki gunung untuk menyelidiki kawananan perampok. Tetapi dugaannya ternyata meleset. Sekali menghardik kudanya, ia melesat turun ke tenggara. Buru-buru Mundingsari mengaburkan kudanya pula.
Sewaktu melintasi pohon-pohon yang digunakan sebagai papan kalimat tantangan, pemuda itu menarik
487

kendali kudanya. Ternyata di bawah tulisannya terdapat sederet tulisan yang cukup terang.
"Mari kita bertemu di Wonosobo."
Apakah artinya ini? Pemuda itu merenungi sejenak. Sesudah menimbang-nimbang ia membedalkan kudanya lagi. Lalu menje-nguki tempat-tempat ia menaruh kalimat tantangannya. Ternyata di bawah deret kalimat tantangannya terdapat tulisan tersebut sebagai jawaban. Yakin akan hal itu, alisnya terbangun dengan mendadak.
"Paman! Percaya tidak? Penjahat itu benar-benar berkepala besar. Mari kita susul!"
Tanpa menunggu jawaban Mundingsari, ia mendahului berjalan. Kudanya putih melesat bagaikan anak panah. Tujuannya kini mengarah ke timur. Kira-kira jam delapan malam, sampailah ia di sebuah dusun kecil yang agak ramai.
"Paman! Kita terus, ataukah mencari penginapan di sini?" tanyanya minta pertimbangan.
Mundingsari menjawab dengan suara setengah menggerendeng.
"Saudara kecil? Aku tahu, ilmu kepandai-anmu sangat tinggi. Akan tetapi rupanya engkau belum mempunyai pengalaman banyak dalam pergaulan. Karena itu lebih baik kita mencari penginapan."
"Hm," pemuda itu menggerutu. "Sekiranya aku takut, masakan aku berani mencarinya? Kalau begitu, mari kita terus!"
Tanpa menunggu persetujuan, kuda putihnya dilarikan lagi. Syukur waktu itu bulan agak gede. Kecerahannya
488

memancarkan cahaya merata ke seluruh alam. Dan selagi mereka hendak melintasi dusun itu, tiba-tiba terdengar suatu kesibukan di pendapa kelurahan.
"Eh, galak benar suara itu. Mari kita lihat!" ajak Mundingsari. Setelah berkata demikian, ia turun menambatkan kudanya. Dia kini berganti tidak usah menunggu persetujuan temannya berjalan. Bukankah tadi dia berkata sebagai teman seiring dan sejalan harus berani mengorbankan diri masing-masing untuk melegakan hati? Ternyata pemuda itu diri. Dia pun lantas turun dari kudanya dan menambatkan pada sebatang pagar.
Yang berada di pendapa itu ternyata hanya empat laki-laki. Yang tiga menyandang tak keruan. Sedang yang seorang, mungkin sekali kepala desa.
"Pak Lurah! Kau ini cuma menghargai pakaian. Melihat kami berpakaian begini lantas menolak kami untuk menginap di sini," teriak tiga tetamu itu. Kemudian yang tinggi jangkung menegas. "Apakah alasanmu menolak kami menginap di sini?"
"Tuan," sahut Kepala Desa. "Sungguh! Kami tidak berkeberatan menerima siapa saja bermalam di sini. Asal saja membawa surat keterangan lengkap. Kalau tidak, kami bakal kena salah."
"Dusta!" bentak si Tinggi jangkung. "Apakah seorang pelancong harus membawa surat keterangan dimana-mana? Peraturan apakah itu?"
"Benar! Peraturan apakah itu?" yang bertubuh ketat ikut menguatkan. "Semenjak bayi, kita dilahirkan di bumi ini. Bumi ini adalah bumi Tuhan. Selamanya Tuhan tidak
489

pernah mengadakan peraturan surat keterangan segala. Masakan kau berani berlaku begitu?"
"Ini adalah perintah Tuan," Kepala Desa mencoba memberi keterangan.
"Perintah apa? Perintah melanggar hak kebebasan orang!" bentak si ketat. "Siapa yang memberi perintah?"
"Tentu saja atasan kami."
"Cuh!" orang bertubuh ketat itu meludah ke tanah. "Jadi Kompeni? Atau begundal-begundal Kompeni, bukan? Binatang! Tanah ini, adalah tanah tiap insan. Tanah kita. Tanah leluhur kita. Kompeni itu datang dari mana? Apa haknya menjirat penduduk dengan tetek bengek?"
Temannya seorang yang semenjak tadi membungkam mulut, tiba-tiba menaruhkan setumpuk uang di atas meja. Katanya pela-han: "Dengan syarat ini dapatkah engkau kini menerima kami menginap di sini?"
Melihat tumpukan mata uang itu, mata Kepala Desa itu terbelalak. Lantas saja ia membungkuk hormat seraya berkata: "Kalau Tuan memaksa, terkecuali."
"Terkecuali bagaimana?"
"Boleh menginap di sini," jawab Kepala Desa.
"Hm," gerendeng orang itu. "Di matamu ini selain gemerincing uang tiada harganya. Kau mau memberi makan minum kepada kami atau tidak? Kalau mau, terimalah uang ini."
"Mau! Mau!" sahut Kepala Desa buru-buru.
490

Mundingsari pada saat itu, menarik lengan kawannya berjalan. Setelah dibawa menjauh, ia berbisik: "Sst... hati-hati! Perampasan uang dahulu, dimulai pula dari orang-orang yang mengenakan pakaian tak keruan itu.
"Bagus!" seru pemuda itu dengan berbisik. "Kalau begitu, mari kita menginap di kelurahan pula."
"Jangan!" Mundingsari tak setuju. "Rupanya penduduk di sini kena pengaruh lalu lintas umum sehingga menempatkan mata uang diatas harga manusia. Mari! Dengan uang pula kita mencari penginapan."
Pemuda itu mengangguk. Ia menganggap pertimbangan Mundingsari cerdik. Segera ia menghampiri kudanya. Tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar suara tertawa dingin di seberang jalan. Cepat ia menoleh. Pada saat itu melihat berkelebatnya sesosok bayangan. Gerakannya gesit luar biasa.
"Siapa?" bentak Mundingsari.
Hebat suara bentakkannya. Ketiga orang yang hendak menginap di kelurahan kaget dengan serentak. Mereka memburu keluar.
Tetapi pada saat itu, Mundingsari dan si baju putih telah lenyap dari penglihatan. Kedua pendekar itu menggertak kudanya dan memburu bayangan tadi. Arahnya ke timur.
BAIK PEMGDA ITU maupun Mundingsari termasuk pendekar-pendekar yang pandai menunggang kuda. Namun sekian lamanya mereka mengubar bayangan itu, tetap saja tak berhasil. Akhirnya seperti berjanji mereka berhenti di dekat gubuk di tepi sawah.
491

"Bagaimana?" pemuda itu minta pertimbangan. "Kudaku bukan kuda sembarangan kuda, namun kita tak berhasil mengejarnya."
"Soalnya bukan kita tak dapat menyandaknya10) tetapi karena kita kehilangan arah larinya," jawab Mundingsari dengan meng-gerendeng. "Dengan berkuda kita terpaksa mengambah jalan besar. Sebaliknya, dia mengandal kepada kecepatan berlarinya. Dia bisa menerjang sawah ladang. Kalau perlu bersembunyi di belakang gerumbul belukar. Sekalipun kudamu mampu menjajari kecepatan angin, kali ini engkau ter-kicuh."
10) menyusul *
"Terkicuh bagaimana?"
'Orang-orang yang hendak menginap di kelurahan tadi, mengingatkan aku kepada rombongannya. Bukan mustahil mereka sebenarnya anak buahnya. Apakah bayangan tadi tidak bermaksud memancing kita berdua agar menjauhi mereka?"
"Ah! Mengapa baru sekarang kau berkata begitu? Mari!" ajak pemuda itu. Dan tanpa menunggu jawaban Mundingsari, ia memutar kudanya dan balik kembali ke kampung.
Sebentar saja mereka sudah tiba di depan kelurahan. Seraya melompat dari punggung kudanya, pemuda itu menegas lagi kepada Mundingsari.
"Apakah Paman yakin, bahwa bayangan tadi mempunyai sangkut paut dengan mereka yang menginap di sini?"
492

"Aku curiga melihat gerakan bayangan tadi yang begitu gesit," jawab Mundingsari. "Gerakannya mengingatkan aku kepada orang bertopeng yang merampas uang perbekalan kawalanku."
"Kalau begitu biarlah aku mencaci mereka."
"Jangan! Di dalam dunia yang lebar ini, seringkali terdapat orang-orang luar biasa," Mundingsari mencegah. "Siapa tahu—mereka sebenarnya bukan segerombolan dengan penjahat bertopeng. Aku hanya menduga, bahwa menilik pakaian yang dikenakan dan gerak-geriknya...."
"Ah, bagaimana sih sebenarnya?" potong pemuda itu dengan suara jengkel. "Tadi Paman berbicara begitu— sekarang begini."
Ditegur demikian—Mundingsari agak keripuhan. Sahutnya dengan suara tersipu, "Demi Tuhan! Sebenarnya aku hanya menduga saja. Sedang maksudku yang benar, aku tak setuju engkau datang lantas mema-ki-makinya. Lebih baik kita usut dengan perlahan-lahan saja. Dengan begitu tidak akan mengejutkan penduduk."
Pemuda itu dapat dibuatnya mengerti. Katanya kemudian, "Baiklah, mari kita masuk! Aku tidak akan memaki mereka. Tetapi aku akan memaki bayangan yang lenyap tadi. Kalau mereka merasa tersinggung, pasti akan menegur aku."
Setelah berkata demikian, dengan suara nyaring ia mencaci bayangan tadi kalang kabut: Kemudian dengan diikuti Mundingsari, ia memasuki halaman kelurahan yang nampak remang-remang. Mundingsari berpikir di dalam hati, "Pemuda ini tinggi ilmunya. Tapi tingkah
493

lakunya seperti gadis brengsek". Memikir demikian ia tertawa geli dalam hati.
Datang di serambi depan, Kepala Kampung menyongsongnya. Katanya dengan membungkuk hormat.
"Tuan mencari siapa?"
"Mana mereka tadi yang mau menginap di sini?" sahut pemuda itu dengan suara tegas.
"Ah! Apakah Tuan tadi yang melarikan kuda mengarah ke timur?"
"Benar..."
"Kebetulan," ujar Kepala Desa itu. "Mereka tadi tidak jadi menginap di sini. Seorang tetamu datang membawa mereka melanjutkan perjalanan. Kemudian mereka meninggalkan suatu tanda perkenalan untuk disampaikan kepada Tuan."
"Siapa yang perintah?"
"Mereka bertiga tadi," jawab Kepala Kampung. "Aku tak berani banyak berbicara. Mereka bersikap galak. Mereka berkata, bahwa Tuan berdua pasti balik kemari."
"Hm," gerendeng pemuda berpakaian putih itu. la menoleh kepada Mundingsari. Pendekar itu menghampiri meja dan mengamat-amati sebuah kotak kecil yang dikatakan sebagai tanda perkenalan. Lama sekali ia tidak membuka mulut. Kemudian ia merogoh sakunya dan mengeluarkan se-genggam uang.
"Kami berdua akan menginap di sini. Bagaimana apakah engkau bisa menerima?"
494

"Tentu-tentu saja. Mereka telah pergi sedang kamar yang kami sediakan belum tersentuh. Silakan! Cuma saja—sewanya— tidak perlu uang sebanyak itu."
"Kau terima saja," sahut Mundingsari yang telah mengenal kelemahan Kepala Kampung itu.
Benar saja. Begitu mendengar ucapan Mundingsari, Kepala Desa yang mata duitan itu memancar matanya. Dengan mem-bungkuk-bungkuk ia berkata, "Terima kasih, terima kasih. Moga-moga Tuan berdua puas dengan kamar yang telah kami sediakan buat kamar penginapan para pelancong. Apakah Tuan membutuhkan makan dan minum?"
"Tidak! Kau berilah serbuk dan rumput kepada kuda-kuda kami. Kami akan segera beristirahat," kata Mundingsari.
Kepala Desa membungkuk lagi. Hendak ia menjalankan perintah tetamunya, tiba-tiba pemuda berbaju putih itu bertanya:
"Apakah empat tetamumu tadi benar-benar tiada lagi di dalam rumahmu?"
"Benar—demi Tuhan—mereka sudah pergi," Kepala Desa bersumpah. "Ah— walaupun kasar—tetapi sesungguhnya belum pernah aku mempunyai tetamu begitu dermawan. Segenggam uang yang sudah diberikan kepada kami, tak mau dimintanya kembali."
Kepala Kampung itu membahasakan diri dengan kami. Artinya itu ia menaruh hormat kepada empat tetamunya tadi. Mundingsari tak sudi kalah gertak. Ia mengeluarkan sepotong uang emas dan diangsurkan kepada tuan rumah seraya berkata, "Ini boleh kau ambil lagi."
495

Kepala Desa itu girang bukan main. Setelah membungkuk-bungkuk hormat beberapa kali, ia meninggalkan serambi rumah.
"Paman! Rupanya kau mau adu kedermawanan dengan keempat tetamu tadi," kata si Pemuda.
"Semenjak mencari jejak penjahat bertopeng, beberapa kali aku bertemu dengan orang-orang aneh dan luar biasa," sahut Mundingsari menyimpang. Lalu tangannya meraba-raba kotak di depannya.
"Kenapa tidak kau buka saja? kata pemuda itu dengan suara tak mengerti.
Tanpa menyahut, Mundingsari membawa kotak itu ke dalam kamar. Setelah mengajak pemuda itu memasuki kamarnya, segera ia menutup pintu rapat-rapat. Ia meletakkan kotak itu di atas meja. Kemudian mengeluarkan belatinya.
"Kenapa tidak kau buka saja?" kata pemuda itu dengan suara tak mengerti.
"Paman! Akan kau mengapakan kotak ini?" kata si Pemuda minta penjelasan.
Mundingsari tetap membungkam. Ia mundur beberapa langkah. Kemudian menyam-bitkan belatinya. Trak! Dan tutup kotak itu terpental jatuh di atas lantai.
Pemuda itu keheran-heranan menyaksikan pekerti Mundingsari. Apa sebab begitu rewel? Dibuka dengan tangan maupun degan belati bukankah setali tiga uang?
Mundingsari tak menghiraukan kesan rekanya, la menghampiri kotak yang telah terbuka, la menjenguk isinya. Lalu berkata dengan suara girang. "Tulen."
496

"Apanya yang tulen?" pemuda itu tambah tak mengerti.
"Inilah surat undangan Ki Jaga Saradenta," seru Mundingsari keheran-heranan.
"Aku melihat Ki Jaga Saradenta mati rebah bersandar pada tangga rumahnya. Masakan mataku sudah lamur? Apakah artinya ini? Jangan-jangan kepala pendekar Wirapati yang berada di atas tombak pesanggrahan Kompeni Belanda sebenarnya bukan kepala pendekar Wirapati yang tulen!"
Mendengar ucapan Mundingsari, pemuda itu kaget sampai berjingkrak. Sepasang alisnya lantas saja terbangun. Tangannya lantas berkelebat menyambar surat undangan itu.
"Jangan raba dulu!" cegah Mundingsari. "Siapa tahu kalau semua ini suatu jebakan belaka. Bukankah engkau datang di atas genteng pesanggrahan untuk merebut kepala pendekar mulia itu?"
Pemuda itu membatalkan niatnya. Ia menganggap cegahan Mundingsari beralasan.
"Benar," sahutnya penuh ingn tahu. "Bagaimana menurut pendapat Paman?"
"Entahlah. Ada hal-hal yang belum dapat kumengerti dengan segera," kata Mundingsari. "Terang sekali aku melihat orang bertopeng itu telah berhasil merebut kepala pendekar Wirapati. Seumpama surat undangan ini adalah permainan gilanya, apakah maksudnya? Sebaliknya bila surat undangan ini bukan dari dia, lantas siapa?
497

Apakah ada seorang gagah menggunakan nama Ki Jaga Saradenta untuk suatu maksud tertentu? Melihat kotak ini, sudahlah timbul rasa curigaku. Sebab aku kenal macam kotak ini. Aku pernah melihatnya tatkala beberapa tahun yang lalu berkunjung ke rumah nDoromas Sanjaya. Itulah sebabnya, aku berjaga-jaga dengan menggunakan belati sebagai alat pembuka. Kukira—pastilah akan tertuar suatu gumpalan racun atau suatu alat pembunuh lainnya yang bisa menikam dengan tiba-tiba. Tetapi kedua-duanya tiada. Lantas aku berani menyatakan, bahwa surat undangan ini adalah surat undangan tulen. Hanya saja—bagaimana aku menerangkan tentang Ki Jaga Saredenta yang pernah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia sudah mati disamping rumahnya."
Mendengar keterangan Mundingsari, diam-diam pemuda itu mengagumi kecermatannya. Baru saja ia hendak membuka mulut, Mundingsari berkata lagi: "Ada lagi sesuatu yang mencurigakan."
"Apa?"
"Ki Jaga Saredenta di Sigaluh. Tapi bunyi undangan ini meminta kedatangan kita berdua ke Wonosobo.
Bukankah jawaban maklumat tantanganmu berbunyi di Wonosobo pula?"
"Ah, benar!" pemuda itu terkejut. "Siapa yang main gila?"
"Kedua—bagaimana Ki Jaga Saradenta tahu bahwa kita memiliki kuda tunggangan yang hebat sehingga mampu mencapai Kota Wonosobo sebelum esok tengah hari? Kau pikirkan saja, jarak ke Wonosobo puluhan pai jauhnya. Bacalah yang cermat! Kita diminta datang untuk
498

menghadiri suatu pertemuan sebelum matahari mencapai titik tengah. Coba kuda kita ini macam kuda tunggangan lumrah—masakan bisa mencapai Kota Wonosobo secepat harapannya?"
Pemuda itu merenungi bunyi surat undangan. Kemudian tertawa geli.
"Paman boleh cermat, tetapi jangan keterlaluan. Rasa curiga Paman berlebih-lebihan. Kalau yang mengundang kita ini mempunyai niat menghabisi nyawa kita, apa perlu menunggu sampai kita tiba di Wonosobo? Sebaliknya aku malah kuat dugaanku— bahwa engkau salah lihat. Yang mengundang ini benar-benar Eyang Jaga Saradenta. Sebab Eyang kenal kuda putihku ini. Mari— malam ini kita beristirahat! Esok sebelum matahari muncul kita berangkat."
Setelah berkata demikian, pemuda itu keluar dari kamar Mundingsari dan memasuki kamarnya sendiri. Setelah mengen-dorkan pakaiannya, segera ia bersemadi menyegarkan badan.
Keesokan harinya sebelum fajar menyingsing mereka berdua sudah melarikan kudanya mengarah ke timur. Kuda putih milik pemuda itu, memang seekor kuda jempolan. Sebaliknya kuda Mundingsari adalah kuda pasaran. Walaupun demikian, larinya termasuk kuat dan ulat. Sesudah lari kencang-kencang, keempat kakinya seperti terlatih. Lantas saja dapat menjajari larinya kuda putih.
Tatkala matahari sepenggalah tingginya, mereka sudah memasuki wilayah Wonosobo. Agar tidak menarik perhatian orang, mereka berdua turun dari kudanya dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki sambil
499

menuntun kudanya. Di sepanjang jalan mereka bertemu dan berpapasan dengan orang-orang luar biasa yang menuntun kudanya pula. Itulah suatu peraturan tata tertib untuk menghormati tuan rumah. Diam-diam Mundingsari heran. Pikirnya bolak-balik, "Ki Jaga Saradenta seorang demang yang memerintah wilayah Sigaluh.
Tak kusangka pengaruhnya besar sampai meraba wilayah Wonosobo. Mereka ini nampaknya menerima undangannya pula. Eh, sesungguhnya Ki Jaga Saradenta lagi mengadakan suatu pertemuan apa?"
Tiba-tiba mereka berpapasan dengan empat tetamu yang dilihatnya semalam hendak menginap di kelurahan. Melihat mereka, pemuda berbaju putih lantas saja hendak bergerak. Buru-buru Mundingsari mencegah.
"Sst! Jangan gegabah dahulu. Kita melihat perkembangannya. Masakan takut bakal kehilangan mereka?"
Mendongkol hati pemuda berbaju putih itu. Dengan melirikkan matanya, ingin ia melototi temannya berjalan. Tapi Mundingsari membuang mukanya ke arah lain.
Tepat sebelum matahari mencapai titik tengah mereka telah tiba di Wonosobo. Wonosobo dahulu bukan Kota Wonosobo sekarang. Yang memerintah negeri bernama Jayanegara. Jayanegara seorang bupati yang terkenal sakti dan disegani orang. Tetapi pertemuan itu bukan berada di halaman kabupaten. Sebaliknya berada di sebuah perkebunan yang luas. Di tengan kebun terdapat sebuah lapangan terbuka. Di tengah lapangan itu berdirilah sebuah panggung yang dicat dengan tergesa-
500

gesa. Jelaslah bahwa panggung itu baru saja didirikan beberapa hari yang lalu.
Beberapa penyambut tetamu, mengantarkan Mundingsari dan pemuda berbaju putih itu masuk ke dalam arena. Kemudian dipersilakan duduk di belakang sebuah meja yang letaknya di sebelah timur.
Baik Mundingsari maupun pemuda berbaju putih itu, tak mengenal tetamu-tetamu yang ikut menghadiri pertemuan. Tetamu-tetamu itu pun seperti mereka berdua. Dengan berbicara kasak-kusuk mereka saling minta keterangan apa sebab Ki Jaga Saradenta dengan persetujuan Bupati Jayanegara mengadakan pertemuan besar itu.
Demikianlah tatkala matahari mencapai titik tengah seorang laki-laki tua naik ke atas panggung. Orang itu berusia kurang lebih sembilan puluh tahun. Meskipun demikian, gerakannya masih gesit. Setelah membungkuk memberi hormat kepada para hadirin, ia berkata lantang.
"Saudara-saudara datang dari jauh semata-mata karena surat undanganku. Benar-benar aku terharu dan kagum. Karena itu perkenankan aku si tua bangka ini menghaturkan rasa terima kasih tak terhingga. Kecuali anak-anak murid Gunung Damar yang sedang mempunyai urusan gawat, pendekar besar Sangaji, Adipati Surengpati dan pendekar Gagak Seta yang berhalangan datang semuanya, sudah tiba dengan selamat. Dengan demikian, pertemuan ini merupakan suatu pertemuan raksasa. Karena para hadirin datang dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Inilah untuk yang pertama kali pula, pendekar-pendekar gagah di penjuru tanah air berkumpul menjadi satu. Benar-benar
501

aku si tua bangka sangat terharu dan berbesar hati. Silakan saudara-saudara mencicipi hidangan seada-nya. Maklumlah aku si tua bangka bukan termasuk seorang yang berada."
Mundingsari semenjak tadi ternganga-nganga keheranan. Benar-benar orang tua itu Ki Jaga Saradenta. Kalau begitu siapakah yang pernah dilihatnya tewas bersandar pada dinding rumahnya? Apakah di dalam dunia ini ada dua orang yang sama rupa? Mengingat waktu itu malam gulita dan dengan Ki Jaga Saradenta ia tak pernah bertemu sekian tahun lamanya, ia jadi meragukan kesaksiannya sendiri.
"Mungkin sekali mataku lamur," pikirnya di dalam hati. "Sekarang Ki Jaga Saradenta mengumpulkan pendekar-pendekar gagah dari seluruh penjuru tanah air. Ini bukan suatu pekerjaan gampang. Walaupun Ki Jaga Saradenta terkenal sebagai seorang gagah, tapi mustahil dia mempunyai pengaruh begini besar. Apakah orang-orang ini rnemenuhi undangannya bukan karena mengingat kegagahan pendekar besar Sa-ngaji? Ya, pastilah begitu. Soalnya sekarang, apa maksud Ki Jaga Saradenta mengumpulkan pendekar-pendekar gagah ini?"
Setelah para tetamu undangan makan dan minum sepuasnya, Ki Jaga Saradenta naik lagi ke atas panggungnya. Kemudian berpidato dengan suara nyaring. "Saudara-saudara yang hadir di sini adalah para pejuang yang gagah dan sahabat yang kekal. Sewaktu mudaku, pernah aku ikut pula mencoba-coba mengadu untung dengan mengikuti Gusti Mangkubumill) merebut negeri. Karena itu meskipun usiaku sudah hampir mencapai seabad rasanya masih ingin aku ikut serta
502

membicarakan keadaan negeri. Saudara-saudara, keadaan dalam
11) Sultan HB 1
negeri kita makin buruk. Rakyat dmana-mana mengeluh karena dikejar-kejar demam pajak dan ancaman Kompeni Belanda. Ini semua akibat perbuatan Patih Danurejo. Sekarang Gusti Pangeran Diponegoro yang tadinya ikut mengendalikan pemerintahan pada zaman Sultan Hamengku Buwana II dan III terpaksa pulang kembali ke Tegalrejo. Tetapi justru Beliau pulang ke kampung, namanya dibuat kambing hitam oleh Patih Danurejo dengan begundal-begundalnya. Aku yakin, bahwa saudara-saudara yang berdarah ksatria sejati tidak akan tetap tinggal diam bertopang dagu belaka. Tetapi berjuang melindungi kesejahteraan rakyat dan negara secara perorangan dan tanpa pimpinan samalah halnya seekor ular tanpa kepala.
Tegasnya saudara-saudara—ingin aku meniru sepak terjang muridku Sangaji yang sudah berhasil menghimpun suatu himpunan orang-orang gagah di Jawa Barat. Sampai sekarang namanya menggetarkan bumi, dan laskar perjuangan Jawa Barat ternyata tidak gampang-gampang dapat dihancurkan Kompeni Belanda dengan kekuatan macam apa pun juga. Saudara-saudara—hayolah kita mencari seorang pemimpin yang pantas memimpin kita semua. Aku bukan seorang peramal. Tetapi pulangnya Gusti Pangeran Diponegoro ke Tegalrejo pasti mempunyai ekornya yang panjang. Pendek kata, sebelum hujan bukankah kita lebih baik bersedia payung?"
503

Undangan Ki Jaga Saradenta ternyata tidak kepalang tanggung. Mengingat kepentingan tanah air, tetamu-tetamu yang diundangnya tidak hanya terdiri dari kaum pecinta-pecinta negera saja tapi pun kepala-kepala begal yang bersembunyi di dalam rimba raya. Maka tak mengherankan, ajakan Ki Jaga Saradenta untuk bersatu di bawah satu bendera tidak segera memperoleh persetujuan. Bagi kepala-kepala begal yang hidupnya tergantung pada rejeki baik belaka, kekacauan negara merupakan sawah ladang yang subur. Sebaliknya ajakan Ki Jaga Saradenta disambut dengan penuh semangat oleh para pandekar. Tetapi jumlah mereka hanya tujuh bagian dari seluruh yang hadir.
Dalam pada itu, Ki Jaga Saradenta menyiratkan pandang kepada semua tetamunya. Sebentar ia membiarkan tetam-tetamu berbisik-bisik menyatakan isi hatinya. Apabila suara bisik itu makin lama terasa makin menjadi sibuk, segera ia mengetuk meja. Lalu berkata nyaring mengatasi suara mereka.
"Saudara-saudara, perkenankan aku menyumbangkan sedikit pendapatku. Hadirin di sini terdiri dari berbagai golongan yang mempunyai kepentingan hidup masing-masing. Baiklah begini saja. Perserikatan yang kita adakan ini sama sekali tidak mengganggu gugat pekerjaan atau mata pencaharian saudara-saudara masing-masing. Yang penting—himpunan ini merupakan suatu perserikatan di bawah satu bendera. Maaf— seumpama salah seorang anggota kita yang kebetulan menjadi seorang pamong desa mempunyai urusan dengan salah seorang anggota kita yang kebetulan bermata-pencaharian mengganggu ketertiban umum, hendaklah perkaranya diajukan kepada Ketua
504

Perserikatan yang bakal kita pilih nanti. Kepadanyalah semua perkara yang bertentangan kita serahkan. Dia akan memutuskan. Dan kita semua wajib patuh kepadanya."
"Bagus!" terdengar serombongan tetamu yang mengenakan pakaian seragam polisi desa.
Rombongannya dengan serentak dapat menyetujui saran Ki Jaga Saradenta.
Sebab apabila di kemudian hari terjadi suatu perampokan atau suatu perampasan di jalan, mereka tinggal mengadu kepada Ketua Himpunan. Dengan tak usah turun tangan sendiri barang yang kena dirampok atau dirampas bakal dikembalikan tak kurang suatu apa. Ini merupakan suatu keuntungan besar bagi pekerjaan mereka.
Golongan polisi pada waktu itu perlu mempunyai hubungan rapat dengan golongan perampok atau penyamun. Perlunya— manakala terjepit suatu kesukaran—mereka bisa minta pertolongan dan bantuan. Maka saran Ki Jaga Saradenta untuk mewajibkan calon Ketua Himpunan mengurus segala sengketa pada hakekatnya sangat menguntungkan mereka yang bekerja sebagai polisi atau pamong desa.
"Ki Jaga Saadenta!" Tiba-tiba terdengar suatu seruan nyaring. "Kalau begitu, lebih baik engkaulah yang menjadi Katua Himpunan."
Ki Jaga Saradenta tertawa meringis.
"Aku sudah terlalu tua. Lihatlah, rambutku sudah beruban. Dua atau tiga hari lagi, aku bakal masuk kubur. Bagaimana aku bisa kalian harapkan menjadi seorang
505

tokoh yang berarti? Biarlah aku mengusulkan seorang gagah yang mempunyai harapan gemilang di masa depan. Dialah seorang pemuda yang belum cukup berumur 25 tahun. Tapi ilmu kepandaiannya sudah tinggi. Dia putera seorang pendekar besar pula. Namanya Daniswara. Saudara Daniswara silakan naik ke atas panggung biar saudara-saudara pecinta tanah air mengenal wajah-mu.
Begitu mendengar ucapan Ki Jaga Saradenta, semua tetamu memanjangkan lehernya menoleh ke arah pandang mata tuan rumah. Dan pada saat itu, tiba-tiba melesatlah seorang pemuda ke atas panggung dengan suatu gerakan yang gesit luar biasa. Ia lantas berdiri di samping Ki Jaga Saradenta.
Perawakan pemuda itu tinggi besar. Alisnya tebal, matanya besar dan berbere-wok pendek kaku. Gsianya mungkin tidak tepat 25 tahun. Tapi terang sekali belum mencapai tiga puluh tahun. Dengan pandang matanya yang tajam ia menyapu semua hadirin. Mereka yang hadir heran dan terkejut. Kebanyakan dari mereka belum pernah mengenal pemuda yang mendapat pujian Ki Jaga Saradenta begitu tinggi. Di antara mereka adalah Mundingsari yang paling terperanjat. Mula-mula hatinya terkejut tatkala melihat gerakan pemuda berberewok itu. Setelah menyaksikan perawakan tubuhnya segera ia mengenalnya sebagai si penjahat bertopeng yang merampas uang kawalannya.
"Saudara-saudara!" seru Ki Jaga Saradenta kemudian. "Aku tahu, saudara Daniswara baru saja muncul dalam percaturan umum. Tetapi dengan berbekal ilmu kepandaiannya yang sangat tinggi namanya dengan cepat telah menggetarkan bumi. Beberapa kali sepak
506

terjangnya pernah mengejutkan hati kami kaum angkatan tua. Mula-mula dengan seorang diri, ia menaklukkan pendekar Watu Gunung dari Gunung Mandalagiri yang mencoba menyusup ke Jawa Tengah. Kemudian dengan sebelah tangannya, ia merobohkan rombongan Gtusan Suci dari Pulau Lombok. Dan pada beberapa hari yang lalu dengan dibantu beberapa orang saja dia berhasil merampas uang Kompeni Belanda yang harganya ribuan ringgit. Walaupun ilmunya sangat tinggi, namun saudara Daniswara ini segan memperlihatkan mukanya dengan terang-terangan di depan umum. Itulah sebabnya apabila sedang bekerja dia selalu mengenakan topeng."
Keterangan Ki Jaga saradenta disambut dengan perasaan kaget oleh para hadirin. Terutama golongan polisi dan golongan penyamun. Nama seorang penjahat yang mengenakan topeng akhir-akhir ini sangat terkenal dan menjadi pembicaraan mereka. Di luar dugaan sekarang muncul di sini.
"Saudara-saudara," Ki Jaga Saradenta meneruskan keterangannya. "Merampas uang negara bukanlah suatu pekerjaan mudah. Selain membutuhkan suatu keberanian juga harus berbekal ilmu kepandaian yang sangat tinggi. Sebab mereka bersenjata senapan. Tapi nyatanya— menghadapi kecekatan 'saudara Daniswara—mereka tewas semua. Hanya dua tiga orang yang berhasil meloloskan diri. Itu pun berkat kelapangan budi saudara Daniswara. Coba—apakah pemuda yang bijaksana begini—bukan pantas menjadi pemimpin kita?"
Mundingsari berdebaran hatinya. Wajahnya terasa panas. Dengan mata tajam ia mengamat-amati air muka Ki Jaga Saradenta. Ia mengenal Ki Jaga Saradenta seba-
507

gai seorang pendekar yang gagah, jujur, berangasan, tidak senang berbicara banyak dan benci kepada segala macam pujian.
Tapi apa sebab kali ini, dia meninggalkan adatnya?
Selagi berpikir demikian, tiba-tiba ia mendengar Ki Jaga Saradenta menangis menggerung-gerung. Pendekar yang sudah berusia tua itu, menangis dengan mem-bungkuk-bungkuk. Suara tangisnya terdengar sedih menyayatkan hati. Setelah menangis beberapa waktu lamanya, ia lalu berkata dengan sesenggrukan.
"Saudara-saudara, izinkan aku menangis. Menangisi rekanku Wirapati yang mati terpenggal tangan Kompeni biadab. Tapi di-balik itu, perkenankan aku menyatakan hormatku kepada pemuda ini. Seperti saudara ketahui, Wirapati adalah sahabatku yang berhati bersih, agung dan gagah. Tapi ia mati di tangan kaki tangan Patih Danurejo. Kepalanya dipancang pada sebuah tiang bendera yang ditaruh di atas tembok pesanggrahan Kompeni. Mendengar hal itu, aku masuk ke Kota Magelang hendak mencoba merebut kepala sahabatku. Aku berhasil membunuh sembilan orang begundal Kompeni Belanda, tetapi gagal merampas kepala sahabatku Wirapati. Juga saudara Daniswara ini. Dengan seorang diri ia memasuki penjara. Membunuh belasan orang, namun tak berhasil menolong sahabatku Wirapati. Walaupun demikian—dengan keberaniannya yang mengagumkan— ia berhasil merampas kepala sahabatku Wirapati dari tiang bendera. Itulah suatu pekerjaan luar biasa. Atas nama keluarganya, dengan ini aku menyatakan hormatku. Dengan demikian, kini aku dapat mengubur jenazah sahabatku dengan lengkap... Saudara-saudara sekalian, dengan bukti ini—cukuplah
508

sudah aku mempertaruhkan seluruh kepercayaanku kepadanya untuk memimpin himpunan kita ini. Dia benar-benar lawan Belanda dan musuh pemerintahan Danurejo yang terang-terangan merusak kesejahteraan rakyat... "
Mundingsari tercekat hatinya. Apakah karena alasan itu, Ki Jaga Saradenta rela meninggalkan adat kebiasaannya untuk menyatakan rasa terima kasihnya terhadap Daniswara. la mengerling kepada pemuda berbaju putih temannya berjalan. Wajah pemuda itu nampak berubah cepat. Tangannya menekan hulu pedangnya erat-erat.
"Saudara!" buru-buru ia mencegah, "Jangan terburu nafsu. Dengarkan dahulu sampai selesai. Baru kita melihat gelagat."
Untung—waktu itu hadirin sedang bersorak menyatakan rasa kagumnya terhadap Daniswara, sehinga bisikan Mundingsari tenggelam dalam riuh sorak sorai. Pemuda berbaju putih itu sendiri, agaknya patuh kepada peringatan Mundingsari. la melepaskan tangannya dari hulu pedangnya. Meskipun demikian pandang matanya tajam luar biasa. Dengan berkilat-kilat ia mengikuti semua gerak gerik yang terjadi di atas panggung.
Heran Mundingsari menyaksikan sikap pemuda itu yang garang. Sifat kekanak-kanakannya mendadak lenyap. Nampak sekali, bahwa pemuda itu menaruh curiga dan bersiaga bertempur. Apakah dia bernafsu untuk merebut kepala Wirapati? Teringatlah Mundingsari bahwa pemuda itu pun muncul di atas genteng pesanggrahan Kompeni, tatkala terjadi perjuangan
509

merebut kepala Wirapati. Apakah hubungannya pemuda itu dengan Wirapati? Mundingari sibuk menebak-nebak.
Sementara itu, Ki Jaga Saradenta sudah berhenti menangis. Sesudah mengusap air matanya kering-kering, ia berkata: "Saudara-saudara, tadi aku berkata bahwa saudara Daniswara adaah putera seorang pendekar besar. Pastilah banyak di antara para hadirin yang sudah kenal naman ayahnya."
"Siapa? Siapa? Siapa?" sahut para hadirin dari mulut ke mulut.
"Tiga puluh tahun yang lalu—kita mengenal tujuh orang sakti—yang namanya akan tetap abadi," kata Ki Jaga Saradenta dengan suara nyaring. "Yang pertama: Kyai Kasan Kasambi. Kedua: Gusti Mangkubumi 1.
Ketiga: Aria Singgela alias Kebo bangah. Keempat:
Adipati Surengpati. Kelima: Kyai Haji Lukman Hakim. Keenam: Adipati Aria Samber Nyawa. Dan ketujuh:
Gagak Seta. Dan saudara Daniswara ini adalah putera pendekar besar Aria Singgela alias Kebo Bangah. Siapa yang belum pernah mendengar nama pendekar besar itu?"
Mendengar keterangan Ki Jaga Saradenta, semua hadirin menyatakan kekagumannya dan rasa hormatnya. Sebaliknya gundu mata pemuda berbaju putih itu bergerak-gerak tiada hentinya. Mundingsari bertambah-tambah rasa herannya.
"Apakah Ki Jaga Saradenta sedang membual?" ia mencoba menebak.
Pemuda itu mendengus. Menjawab menyimpang, "Bagus! Apa sebab nama pendekar Gagak Seta ditaruh
510

paling bawah? Hm.... Kalau dia putera Kebo Bangah, lebih tepat kalau menjadi seorang ahli racun. Apa sebab dia bernafsu hendak memimpin orang mengangkat senjata melawan Kompeni Belanda? Apakah dia bukan lagi bermimpi di siang hari bolong?"
Sebagai bekas pengikut Pangeran Bumi Gede, sudah barang tentu Mundingsari kenal siapa Kebo Bangah. Bahkan ia pernah bertemu muka sebagai ayah sang Dewaresi yang gagah perkasa. Dan Kebo Bangah memang seorang pendekar yang terkenal sebagai pendekar beracun. Kalau pemuda itu berkata bahwa Daniswara lebih tepat menjadi seorang ahli racun, tidaklah terlalu salah. Hanya saja, kata-katanya seperti menggenggam suatu maksud tersembunyi. Lagi pula sungguh mengherankan. Pemuda itu usianya pasti belum mencapai dua puluh tahun. Tetapi agaknya dia paham akan sejarah asal-usul pendekar-pendekar besar.
Kebo Bangah sendiri namanya sesungguhnya sangat tenar. Kalau tidak, masakan namanya dijajarkan dengan nama-nama tokoh utama yang merajai bumi Jawa. Meskipun orangnya sudah tiada lagi, namun namanya yang cemerlang masih mengejutkan orang. Baru saja Ki Jaga Saradenta memperkenalkan nama ayah jagonya, seluruh hadirin menjadi sibuk. Mereka memperbincangkan dan merundingkan. Pada umumnya, mereka kagum dan menghormati nama pendekar Kebo Bangah. Tetapi terhadap puteranya yang baru saja muncul dalam percaturan hidup, belum dapat meyakinkan hati mereka. Walaupun menurut keterangan Ki Jaga Saradenta, Daniswara telah melakukan hal-hal yang mengagumkan.
511

Mundingsari yang berpengalaman segera dapat menebak gelagatnya. Pikirnya, "Orang-orang yang menghadiri pertemuan ini bukan terdiri dari sembarang orang. Mereka datang pula dari seluruh penjuru tanah air. Pastilah mereka tidak bisa dengan gampang disuruh tunduk dengan begitu saja. Ah, Daniswara harus bekerja keras untuk mentaklukkan mereka."
Daniswara sendiri tahu akan hal itu. Dengan matanya yang tajam, ia menyapu para hadirin. Kemudian berkata dengan suara nyaring angker: "Saudara-saudara waktu ini dunia terasa makin menjadi kalut. Hidup dalam zaman demikian adalah neraka bagi orang-orang yang gagah pecinta bangsa dan anah air. Sebaliknya mengharapkan kebahagiaan dari tangan seorang seperti Patih Danurejo untuk membereskan kekalutan dunia samalah halnya mengharapkan runtuhnya langit. Itulah sebabnya, saran Ki Jaga Saradenta untuk segera membentuk suatu perserikatan dapat kusetujui penuh-penuh. Hanya saja, kalau dia lantas menunjuk aku sebagai pemimpinnya, ooo— alangkah menggelikan. Bukankah di sini hadir para pendekar pecinta bangsa dan tanah air yang berkepandaian sangat tinggi? Kukira di antara para hadirin ada seorang lain yang lebih tepat daripada diriku."
Baru saja ia selesai berbicara, kesibukan segera terjadi lagi. Malahan kali ini diseling dengan suara teriakan-teriakan keras sewaktu mengemukakan pendapatnya.
"Kenapa saudara Daniswara bersikap segan-segan?" tegur Ki Jaga Saradenta dengan suara tak senang.
"Semenjak dahulu seorang pendekar besar muncul dari angkatan mudanya!" seru seseorang. "Saudara
512

Daniswara pantas malahan tepat sekali menjadi pemimpin perserikatan ini. Hayo saudara Daniswara jangan segan-segan. Aku mendukungmu."
"Benar kami pun mendukungnya. Siapakah yang bisa melawan keberaniannya sewaktu merampas uang belanja Kompeni Belanda," teriak seseorang lagi.
Seseorang berperawakan pendek bulat, berseru nyaring: "Aku ingin bertanya, siapa di antara kita yang berani mengacau pesanggrahan Kompeni Belanda di Magelang yang dijaga dengan berlapis-lapis? Karena itu aku membenarkan pendapat rekan Jaga Saradenta, bahwasanya dengan dua macam pekerjaan itu saja sudah cukup meyakinkan orang untuk mengangkat dia sebagai pemimpin perserikatan kita."
Tetapi seorang bertubuh kurus-jangkung yang duduk di sebelah utara, tiba-tiba berdiri serentak sambil berteriak: "Kedudukan sebagai seorang pemimpin perserikatan bukannya seperti seorang calon penjual tempe. Kedudukannya sangat penting. Sebab dia harus bertanggungjawab tidak hanya kepada bangsa dan tanah air saja, tetapi pun Tuhan semesta alam. Dia boleh gagah. Boleh sesakti malaekat, tetapi dia masih hijau. Pengalamannya masih kurang."
Si Pendek bulat menjadi panas hati. Balasnya sengit, "Siapa merasa tak puas, boleh main coba-coba melawan aku. Hayo, naiklah ke panggung!"
Sekonyong-konyong melompatlah seorang yang mengenakan pakaian pedagang ke atas panggung.
Dialah salah seorang yang hendak menginap di kelurahan semalam. Dengan tertawa lebar dia berkata nyaring, "Siapa yang hendak menjadi pemimpin
513

perserikatan ini, aku tak peduli. Sebaliknya—aku adalah seorang pedagang. Sebelum berangkat berdagang, aku harus mengetahui berapa kekuatan modalku. Seumpama aku menemukan seorang yang sanggup memberi modal melebihi modalku—ah, barulah aku sudi mengakuinya sebagai majikanku."
Mundingsari mengawaskan pedagang itu. Dialah orang yang berlaku dermawan kepada kepala desa semalam. Menyaksikan keberaniannya menggenderangkan tantangan, diam-diam ia bersyukur tidak sampai kebentrok semalam.
Baru selesai pedagang itu menggenderangkan tantangannya, si pendek bulat segera melompat ke atas panggung. Katanya membentak, "Aku seorang penyamun. Kebetulan sekali engkau mengumumkan diri sebagai seorang pedagang bermodal. Maukah engkau membagi modalmu itu?"
Lucu kata-kata si pendek bulat itu, meskipun ia berusaha untuk menggarangkan suaranya. Banyak di antara hadirin yang bersenyum lebar. Dalam pada itu si pedagang menjadi mendongkol. Bentaknya pula!
"Baiklah. Kau ingin aku membagi modalku? Ingin kulihat berapa besar kantongmu." Setelah membentak demikian, ia mengeluarkan senjatanya. Dan begitu melihat senjatanya, semua orang terkejut. Ternyata senjatanya berbentuk sebilah golok melengkung. Pada ujungnya, merentep segerombol bola-bola kecil. Semuanya terdiri dari emas murni.
"Ah kenapa dia tampil di atas pangung," gerutu seorang yang duduk di dekat Mundingsari.
514

"Sebenarnya siapakah dia?" Pemuda berbaju putih minta keterangan.
"Ah—adik masih terlalu muda. Pantas belum kenal siapa dia," kata orang itu. "Dialah yang terkenal bernama Amat Sodik pada tiga puluh tahun yang lalu. Hidupnya sebagai seorang perampok. Setelah berhasil mengumpulkan harta, dia mengubah cara hidupnya menjadi seorang pedagang. Menjadi perampok dia berhasil. Menjadi pedagang dia lebih berhasil lagi. Tak peduli harta dagangnya itu dari mana, tapi nyatanya dia menjadi seorang kaya raya. Sebutlah seorang milyarder. Maka ia mampu membuat sebilah golok melengkung dari emas murni. Orang-orang menyebut senjatanya dengan nama : Pulasari. Tajamnya luar biasa. Sekali menabas lantas cespleng."
"Cespleng bagaimana?'
"Artinya tidak sampai mengulang. Sekali jadi," jawab orang itu.
"Dia sudah menjadi seorang milyarder. Apa sebab ikut serta memperebutkan kedudukan sebagai seorang pemimpin perserikatan? Apa sih enaknya menjadi seorang pemimpin perserikatan?" tanya si Pemuda minta ketegasan.
Mundingsari tersenyum, sedang orang . yang berbicara tak menjawab. Memang pemuda itu masih muda belia. Belum banyak ia mengenal orang semacam Amat Sodik.
"Siapakah lawan Amat Sodik itu?" dia minta keterangan lagi.
515

"Seperti yang dinyatakan sendiri, dia hidup sebagai penyamun. Namanya Kari-mun. Tapi ia menyematkan nama Umarmaya agar jauh lebih mentereng. Kukira dia salah seorang anggota pimpinan gerombolan penyamun yang bersarang di atas Gunung Tugel."
"Nama itu menarik sekali. Benarkah Umarmaya nama seorang pahlawan Arabia dalam ceritera Menak?" kata si Pemuda dengan bersenyum. "Ingin kulihat apakah dia benar-benar seorang pahlawan hebat."
Tepat pada saat itu Karimun alias Umarmaya mengeluarkan senjatanya pula. Menurut hikayat Menak, Umarmaya bersenjata sebilah pedang bernama Sada Lanang. Tapi Umarmaya Gunung Tugel itu bersenjata sebatang tongkat panjang terbuat dari baja. Dengan demikian senjata mereka berdua bagaikan bumi dan langit. Yang satu terbuat dari emas murni. Yang lain dari baja yang nampak agak karatan. Tetapi begitu berhadapan—tanpa berbicara lagi—mereka lantas saja bertempur seru.
Dengan senjata golok emas murni yang berujung segerombol bola, pukulan-pukulan Amat Sodik sangat aneh. Gerombolan bola emas yang berada di ujung goloknya selalu berbunyi nyaring sekali. Dan bentuk goloknya yang melengkung berkali-kali digunakan untuk menggaet senjata lawan. Tetapi permainan tongkat baja Karimun alias Umarmaya hebat juga. Setiap kali kena kunci, selalu saja dapat membebaskan diri. Malahan bisa membalas menyerang.
Setelah kurang lebih lewat tiga puluh jurus, Amat Sodik mendadak menghantamkan goloknya. Dengan serta merta gerombolan bolanya gemerincing nyaring.
516

"Bagus!" seru Umarmaya Gunung Tugel. "Aku ingin tahu berapa jumlah modalmu."
Panas hati Amat Sodik diejek demikian, la meneruskan serangannya dengan menarik goloknya. Maksudnya hendak menggaet tongkat Karimun untuk dirampasnya. Tetapi Karimun alias Umarmaya ternyata mempunyai tangkisan simpanan di luar dugaan. Begitu merasa kena desak, mendadak saja mulutnya menyembur. Dan segumpal ludah menyambar ke depan. Bukan main terkejutnya Amat Sodik.
Dia kini seorang milyarder dan bukan lagi seorang penyamun. Hidupnya sudah teratur dan serba bersih. Melihat menyambarnya gumpalan, ludah, cepat-cepat ia mengelak karena takut kena dikotori. Tapi justru ia mengelak, tongkat baja Umarmaya menyabet. Seketika itu juga terdengar suara benturan, Trang! Dan golok Amat Sodik terpukul miring.
Kena pukulan demikian, buru-buru ia membalikkan tangannya. Dengan gerakan itu, ia hendak merampas tongkat baja. Tapi sekali lagi, Umarmaya menyemburkan ludahnya. Dan sekali lagi, terpaksalah Amat
Sodik mengelak. Dalam hati, ia mengutuk sampai ke langit tujuh.
Demikianlah—setelah memperhatikan gebrakan-gebrakan mereka—Mundingsari dan pemuda berbaju putih segera mengetahui bahwa Amat Sodik menang dalam keragaman tata berkelahi. Tetapi Umarmaya menang dalam hal mengadu tenaga.
Selama tiga puluh jurus lagi, Umarmaya berhasil mempertahankan diri dengan bersenjata ludah kental.
517

Lambat laun Amat Sodik menjadi kesal juga. Tatkala Umarmaya menghantamkan tongkatnya pada jurus yang keenampuluh delapan—tiba-tiba ia menggetarkan goloknya. Dua bola emasnya lantas menyambar. Berbareng dengan itu, terdengarlah teriakan Umarmaya. Kedua kakinya lumpuh dan ia jatuh di atas panggung dengan berlutut.
"Ha! Bagaimana dengan ludah emasku?" ejek Amat Sodik dengan tertawa melalui hidungnya. Setelah puas mengejek, kakinya bergerak hendak mengkait dua bolanya yang menggelundung di atas panggung.
Di luar dugaan, mendadak saja Umarmaya melompat bangun. Tangan kirinya menyambar dua bola emas itu. Dan dengan pertolongan tongkatnya, buru-buru ia melompat turun dari panggung sambil berkata nyaring.
"Hihaha...Untuk uang, banyak orang bersedia
berlutut atau memanggut-manggutkan kepala. Dengan memandang bola emas ini aku pun sudah bersedia berlutut. Nah—bukankah sudah terbayar lunas hutang piutang ini?"
Dengan terpincang-pincang, Umarmaya kembali ke tempatnya. Sudah barang tentu, Amat sodik mendongkol kehilangan dua bola emasnya. Kakinya bergerak hendak melompat mengejar. Sekonyong-konyong pada saat itu berkelebatlah sesosok bayangan memasuki panggung.
"Paman!" bisik pemuda berbaju putih kepada Mundingsari. "Bukankah dia seorang yang dahulu mengenakan pakaian pedagang—yang kita lihat di Gunung Tugel?"
518

Mundingsari terkejut. Benar—orang itu termasuk dalam satu rombongan—tatkala melintasi jalan di lereng Gunung Tugel. Dahulu ia mentertawai sikap pemuda itu yang mencurigai setiap orang. Kini rasa curiga pemuda itu beralasan juga.
Dalam pada itu Amat Sodik nampak terperanjat melihat masuknya orang. Cepat ia melintangkan goloknya di depan dadanya.
Setelah mengamat-amati orang itu, mendadak ia tertawa lebar.
"Eh, kukira siapa? Tak tahunya rekan Sembung Gilang. Apakah kau ingin meramaikan pertemuan ini pula?"
Banyak orang terperanjat mendengar disebutnya nama itu. Sembung Gilang menjabat sebagai kepala polisi daerah Karang-anyar. Semenjak belasan tahun yang lalu, namanya disegani orang-orang yang hidup membegal, merampok dan merampas.
Menurut khabar ilmu kepandaiannya sangat tinggi. Sekali tampil ke depan, semua buruannya pasti dapat dibekuknya. Sekarang—dia pun melompat ke atas panggung. Artinya, dia bakal menyusahkan golongan tetamu yang bermata pencaharian liar.
Sembung Gilang kala itu tertawa dengan mendongak. "Amat Sodik! Sudah belasan tahun kita tak pernah bertemu. Aku mendengar kabar, kau sudah menjadi seorang milyarder. Ah, biarlah aku mohon sedekah.
Boleh, bukan? Memang di sini hadir banyak milyarder-milyarder. Tetapi rasanya tidak ada yang melebihi dirimu. Mungkin sekali karena besar rejekimu, sehingga di tengah jalan pun engkau bisa memungut pajak."
519

Sudah barang tentu, itulah suatu ejekan.
Wajah Amat Sodik lantas berubah. Kafenya dengan tertawa pula. "Begitu? Apakah polisi negara sekarang memerlukan uang? Baik— kau ingin kubayar dengan uang perak atau uang emas?"
"Amat Sodik adalah seorang milyarder yang dermawan. Biarlah aku mohon uang emas saja. Sekiranya kebetulan engkau tidak membawa, gerombolan bola emas sungguh menarik hati."
Amat Sodik mendongkol bukan kepalang. Namun demikian, masih ia bisa bersenyum. Sahutnya, "Kalau begitu—silakan rekan Sembung Gilang mengambil sendiri!" Setelah berkata demikian, ia menggetarkan ujung goloknya. Dan bola-bola emasnya lantas bergerincing nyaring.
"Baiklah, jika engkau sudah mengizinkan," ujar Sembung Gilang. "Kau peganglah golokmu erat-erat. Dengan begitu aku tak segan-segan pula mengerahkan tenaga."
Tangannya lalu menyambar. Suatu kesiur angin bergulungan menumbuk dada. Cepat-cepat Amat Sodik memapaki serangan itu dengan menggaitkan goloknya. Niatnya hendak memapas, kutung pergelangan tangan Sembung Gilang. Akan tetapi Sembung Gilang bukan anak kemarin sore. Tangannya ditarik. Dan tiba-tiba ia telah menggenggam seutas rantai pembelenggu. Inilah suatu kecepatan luar biasa.
"Eh—kau begini kikir," katanya dengan tertawa riang. "Coba sekali lagi."
520

Rantai pembelenggunya menyambar. Dan sekali lagi Amat Sodik menggaetkan goloknya. Dengan demikian kedua senjata itu lantas saja saling mengkait. Segera terjadilah suatu adu tenaga, karena masing-masing berusaha membetot senjata lawan.
Baru selintasan saja, Amat Sodik terperanjat. Di luar dugaan, tenaga Sembung Gilang luar biasa kuatnya. Tangannya sampai terasa menjadi panas dan kesemutan. Memperoleh pengalaman itu, cepat-cepat ia menggerakkan goloknya. Kemudian ditariknya cepat-cepat. Alhamdulilah! Ia berhasil meloloskan senjatanya. Sesudah itu ia mundur dua langkah. Dengan memegang hulu goloknya erat-erat, ia mengadu kege-sitannya. Dalam hati, tak berani ia mencoba-coba mengadu tenaga seperti tadi.
Untuk sementara waktu, Sembung Gilang tak dapat berbuat banyak. Itulah sebabnya, hati Amat Sodik agak menjadi tenteram dan mantep. Asal saja, ia pandai menjaga diri, lawannya itu tidak bakal dapat berbuat sesuatu yang membahayakan.
Tepat pada saat itu, mendadak Sembung Gilang tertawa. Kemudian berkata dengan suara mengejek.
"Kau sudah kehilangan dua biji emasmu. Apakah engkau benar-benar rela?"
Belum habis perkataannya, tangan kiri Sembung Gilang nyelonong menyerang alis. Amat Sodik kaget luar biasa. Gugup ia menundukkan kepalanya sambil menghantamkan golok emasnya. Tetapi di luar dugaan, sambaran tangan Sembung Gilang yang mengarah alis sebenarnya hanya suatu pancingan dan gertakan belaka. Begitu golok emas Amat Sodik menyambar, rantai
521

pembelenggunya memotong pergelangan. Untuk kedua kalinya Amat Sodik terperanjat. Baru saja ia hendak menggetarkan golok emasnya, tiba-tiba tangan kiri Sembung Gilang mencengkeram gerombolan bola emasnya. Dua biji terpental dengan sekaligus. Begitu rontok dari tangkainya, tahu-tahu lenyap dari penglihatan. Sesudah diawasi ternyata masuk ke dalam kantong Sembung Gilang.
"Bagaimana?" gertak Sembung Gilang dengan tertawa lebar.
Bukan main mendongkol hati Amat Sodik. Tetapi dalam gebrakan itu—tahulah dia— bahwa ilmu kepandaiannya jauh berada dibawah lawannya. Segera ia ingin mengakhiri pertandingan itu. Tetapi Sembung Gilang mendesaknya terus, sehingga tiada dapat membebaskan diri. Dalam sekejap saja belasan biji emasnya terenggut dari tangkainya.
Hati Sembung Gilang bertambah besar memperoleh hasil gilang gemilang itu. Sambil mencecar serangan terus menerus, dia menghitung.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam...' tujuh...." Dan dalam sekejap saja empat -puluh satu biji emas murni terampas dengan sangat mudah. Kini tinggal enam atau tujuh biji saja.
Jumlah bola emas Amat Sodik lima puluh buah. Yang dua kena terampas Umarmaya. Menyaksikan bahwa bola emasnya kini tinggal tujuh buah, dada Amat Sodik terasa nyaris meledak. Namun ia seperti kehilangan daya tempur. Setelah berada dalam kebingungan beberapa waktu lamanya, akhirnya ia berteriak: "Baiklah—aku akan mengadu nyawaku!"
522

Sekonyong-konyong ia menggerakkan pedang emasnya dengan mengerakkan seluruh tenaganya. Dan ketujuh bola emasnya menyambar dengan berbareng. Menyaksikan kepandaian itu, semua penonton menyatakan kekagumannya. Dari mulut ke mulut terdengarlah berbagai pujian.
Sebaliknya sikap Sembung Gilang sangat tenang. Dengan tertawa melalui hidungnya, ia berkata mengejek.
"Setelah menjadi milyarder, ternyata engkau sangat royal. Aku pun tidak segan-segan lagi."
Tangan kirinya mengebas. Dan ketujuh bola emas itu lenyap memasuki kantongnya yang kini menjadi penuh. Dan melihat hal itu, wajah Amat Sodik pucat lesi. la berdiri tertegun kehilangan diri. Itulah pengalamannya untuk yang pertama kalinya kena dikalahkan orang dengan mata terbuka.
Dalam pada itu, terdengar sorak sorai bergemuruh. Sembung Gilang segera membungkuk hormat kepada hadirin. Wajahnya nampak berseri-seri. Mulutnya kemudian bergerak-gerak hendak berbicara. Mendadak pula saat itu terdengarlah suatu bentakan menyeramkan.
"Eh, kenapa kau begitu kejam? Kembalikan bola rampasanmu kepada pemiliknya. Inilah suatu perintah!"
Suara itu tidaklah begitu nyaring, namun besar perbawanya. Dan mendengar suara demikian, hati Sembung Gilang terperanjat. Seketika itu juga ia menoleh. Dan pada saat itu berkelebatlah seseorang berperawakan tegap semampai. Tinggi lompatannya dan gesit gerakannya. Beberapa orang yang menyaksikan kegesitan itu, tercekat hatinya.
523

"Saudara Sembung Gilang!" seru orang itu mengatasi suara sorak sorai. "Coba kau keluarkan biji-biji emasmu. Engkau seorang hamba negeri, masakan mengantongi barang milik orang lain."
Orang itu berdandan sebagai pedagang pula. Dan begitu melihat orang itu, baik Mundingsari maupun si Pemuda berbaju putih terkesiap. Sebab orang itu bukan lain adalah Raden Mas Suwangsa, Letnan Laskar Mangkunegaran. Si pemuda berbaju putih lantas saja meraba hulu pedangnya. Melihat hal itu buru-buru Mundingsari membenturkan sikunya.
"Eh, bukankah saudara menantu Sri Mangkunegoro?" tegur Ki Jaga Saradenta serta bergerak menghampiri. "Tak kusangka, engkau pun datang. Saudara Sembung Gilang ini adalah kawan kita—sesama hamba negeri."
Kaget Mundingsari mendengar ucapan Ki Jaga Saradenta. Ini bukan perangai Ki Jaga Saradenta seperti yang dikenalnya dahulu. Mustahil Ki Jaga Saradenta sudi mengambil hati terhadap seseorang meskipun gagah luar biasa. Dahulu saja—berani ia berlawan-lawanan dengan Pringgasakti seorang sakti yang ganas.12) Memang dia seorang Gelondong. Walaupun tidak langsung berada di bawah kekuasaan pemerintahan Belanda, tapi dia boleh menyebut diri sebagai seorang hamba negeri. Sekalipun demikian, tidak bakal dia mengambil-ambil dengan cara demikian. Apakah karena Letnan Su-wangsa menantu Sri Mangkunegoro? Pada zaman mudanya, Ki Jaga Saradenta laskar Mangkubumi I. Dan Sri Mangkunegoro 1 adalah menantu Pangeran Mangkubumi I. Pataslah seseorang mengingat sejarahnya dahulu. Tapi orang macam demikian bukan pula Ki Jaga Saradenta. Dia
524

bukanlah golongan manusia yang bersedia takluk kepada jabatannya sampai ke bulu-bulunya.
Dalam pada itu—begitu Ki Jaga Saradenta menyebut nama Raden Mas Suwangsa— semua tetamu yang hadir di pertemuan terkejut seperti mendengar ledakan petir di
12) Baca Bende Mataram
siang hari terang benderang. Memang nama Letnan Suwangsa pada waktu itu terkenal sebagai salah seorang ahli pedang yang namanya boleh dijajarkan dengan Sangaji, Adipati Surengpati, Gagak Seta dan Kyai Kasan Kesambi.
"Kau berkata apa?" bentak Letnan Suwangsa. "Kawanku? Hm—enak saja. Apakah kalau sudah menyebut diri sebagai hamba negeri sudah berarti kawan segolonganku? Baiklah—boleh dia mengaku sebagai seorang hamba negeri. Tetapi mengapa merampas bola emas milik saudara Amat Sodik yang terkenal jujur? Nah—kembalikan semua! Ini perintah, kataku. Perintahku!" Dan berbareng dengan perkataannya, ia menghunus pedangnya.
Mendengar perkataannya yang tidak memandang orang, Sembung Gilang mendongkol. Tanpa berbicara lagi, rantai pem-belenggunya menyambar mencoba meng-kait pedang lawan. Pukulannya dahsyat. Menilik kekuatannya tadi, tenaga yang dipergunakan kini tak olah-olah besarnya. Namun dengan sekali mengebaskan, Letnan Suwangsa membuat suatu lingkaran himpunan tenaga penghisap. Berapa besar tenaga penghisap itu susah sekali diperkirakan. Sebab kadang-kadang terasa ringan, tapi mendadak berubah menjadi dahsyat.
525

Sembung Gilang berbimbang-bimbang. Ia menarik arah bidikannya dan dengan diam-diam bersiaga menghadapi serangan balasan. Hanya saja ia tak tahu sasaran manakah yang dikehendaki lawan. Dan pada saat ia berada dalam kebimbangan, pedang Letnan Suwangsa berkelebat bagaikan kilat cepatnya. Sembung Gilang kaget. Buru-buru ia menyabetkan rantai pembelenggu-nya. Tapi tahu-tahu, kantongnya telah terobek. Dan bola emas rampasannya menggelinding ambyar di atas lantai panggung.
Sembung Gilang bergusar bukan kepalang. Dengan menggerung ia meloncat kesamping dan menghantam ke arah tulang rusuk. Letnan Suwangsa berputar mengikuti arah bidikan Sembung Gilang sambil membentak.
"Hai! Kau masih ingin mengangkangi harta rampasan? Baiklah biar aku sendiri yang mengambilnya."
Pedangnya berkelebat lagi. Nampaknya seperti mengancam pundak. Karena itu, buru-buru Sembung Gilang mengelak sambil melindungi. Tapi gerakan pedang Letnan Suwangsa terlalu cepat dan aneh. Mendadak saja di tengah perjalanan berbelok arah. Lalu terdengar suara memberebetnya kain. Ternyata kantungnya yang sebelah terobek pula. Dan sisa bola emas rampasannya ambyar bergelundungan.
Peristiwa itu benar-benar mengejutkan para tetamu.
Di mata mereka Sembung Gilang adalah seorang pendekar yang mempunyai ilmu kepandaian sangat tinggi, la boleh dimasukkan ke dalam golongan utama. Siapa mengira, bahwa dalam dua gebrakan saja hasil jerih payahnya tadi kena dirampas dengan mudah.
526

Sembung Gilang jadi kalap. Dengan lincah ia mulai melancarkan serangan badai. Sebenarnya ilmu kepandaian Sembung Gilang dan Letnan Suwangsa tidak terpaut terlalu jauh. Kalau dalam dua gebrakan tadi dia menderita kerugian adalah lantaran kedua saku celananya penuh dengan bola emas sehingga tak dapat bergerak leluasa. Letnan Suwangsa pandai menggunakan kelemahannya untuk menggertak. Sekarang setelah kedua kantongnya terobek dan semua bola emas menggelinding keluar, gerakan tubuhnya menjadi lebih gesit. Dia tidak hanya pandai membela diri, tapi pun membalas menyerang pula.
Beberapa jurus lewat dengan cepat. Sekonyong-konyong Letnan Suwangsa berseru memperingatkan. "Hati-hati." Pedangnya berkelebat dan menyambar cepat. Buru-buru Sembung Gilang bersiaga. Di luar dugaan tidak terjadi apa-apa. Pukulan Letnan Suwangsa hanya pukulan biasa. Tiada keistimewaannya atau sesuatu tipu yang luar biasa. Untuk menangkisnya sangat mudah. Apa sebab dia berteriak memperingatkan? Apakah hanya merupakan suatu tipu muslihat belaka?
Dengan tajam ia mengamat-amati. Ujung pedang Letnan Suwangsa menyambar ke bawah. Dengan suatu gerakan manis beberapa bola emas kena disonteknya dan terbang mengarah kepada Amat Sodik yang semenjak tadi berdiri tegak di tepi arena.
"Terima!" teriak Letnan Suwangsa sambil tersenyum.
Amat Sodik seakan-akan tersentak bangun dari tempat tidur. Sebagai seorang yang mengerti ilmu berkelahi, tangannya bergerak secara otomatis. Dan dengan ce-
527

katan bola-bola emasnya diterimanya kembali dan dimasukkan ke dalam saku celana dan bajunya.
Sorakan bergemuruh menggetarkan perkebunan itu. Dengan dada membusung, Letnan Suwangsa mencecar Sembung Gilang dengan serangan berantai. Setiap kali Sembung Gilang kena didesak mundur, pedangnya menyontek bola-bola emas yang bertebaran di atas lantai paggung. Dan dalam sekejap mata saja sekalian bola yang berjumlah empat puluh delapan biji terbang kembali kepada Amat Sodik. Dan majikan bola emas ini sibuk menerima, menanggapi dan mengantongi.
Dengan wajah pucat lesi, Sembung Gilang menarik rantai pembelengunya. Kemudian dengan membungkuk hormat dia berkata, "Dengan ini aku menyatakan takluk. Maafkan—karena aku tidak mempunyai kemampuan untuk melayani Tuan. Sekarang—biarlah aku pergi dahulu."
Sesudah berkata demikian, ia melompat turun dari panggung. Ki Jaga Saradenta dan Daniswara mencoba membujuk, namun ia tak sudi mendengarkan lagi. Dengan langkah panjang, ia meninggalkan pertemuan itu.
Dengan perginya Sembung Gilang terasa suatu kepahitan dalam hati Daniswara. Kata-kata Sembung Gilang yang berbunyi tidak mempunyai kemampuan untuk melayani tuan mempunyai dua alamat. Yang pertama untuk Letnan Suwangsa. Yang kedua untuk dirinya. Artinya dia kecewa tak dapat membantu cita-citanya, lantaran terbentur keperkasaan seorang perwira sahabat pemerintah Belanda. Memperoleh pikiran demikian, hatinya lantas terasa bergolak. Kebetulan
528

pula—semua pandang tetamunya—mengarah kepadanya menunggu reaksinya.
Letnan Suwangsa sendiri bersikap acuh tak acuh. Sambil mementil pedangnya ia berkata kepada Amat Sodik. "Saudara Amat Sodik, bagaimana? Apakah modalmu sudah kembali semua?"
Umarmaya yang merasa diri menyimpan dua biji emas, lantas tertawa terbahak-bahak. Katanya mengguruh, "Menyimpan barang haram, memang susah sekali. Baiklah—biar kali ini—aku mengalah."
Sebenarnya—menyaksikan ketanguhan Letnan Suwangsa—Umarmaya merasa diri bukan tandingannya. Dari pada bakal kena gebuk, lebih baik ia kembalikan dahulu. Dengan demikian, ia tak usah menanggung malu di hadapan umum. Tetapi dasar seorang kasar, tak sudi ia menyia-nyiakan kesempatan untuk membalas perlakuan
Amat Sodik terhadap dirinya tadi. Dua bola rampasannya lalu dikulumnya. Kemudian disemburkan dengan seluruh tenaganya. Tadi—Amat Sodik— menyegani gumpalan ludahnya. Kini pun ia berharap demikian. Hanya saja—sekarang ia kecelik13). Dengan gesit Amat Sodik menggerakkan goloknya.
Dalam hal ilmu tata berkelahi, kepandaian Amat Sodik berada di atasnya. Dihadapan umum tadi ia kena dikalahkan Sembung Gilang. Sekarang ia bermaksud untuk menghapus aib itu. Maka dengan sedikit memperlihatkan kecekatannya, goloknya bergerak melengkung. Dan dua bola emas yang disemburkan Umarmaya masuk ke dalam lengan bajunya. Tatkala lengannya diturunkan, kedua bola itu menggelinding
529

keluar lewat lengan baju. Kemudian terkait pada ujung goloknya pada tempatnya semula. Bukan main kagumnya para penonton yang berkepandaian masih rendah. Serentak mereka bertepuk tangan bergemuruh.
"Saudara Amat Sodik!" seru Umarmaya tak mau kalah gertak. "Modalmu kini sudah kembali semua. Apakah masih membutuhkan bunganya?"
13) baca kecewa
Amat Sodik tidak menghiraukan. Dengan perlahan-lahan ia memasukkan golok emasnya ke dalam sarungnya, la tahu maksud □marmaya. Maksudnya segera ia hendak pergi meninggalkan pertemuan itu sebagai pembayar bunganya.
Letnan Suwangsa yang berada di dekatnya menyahut, "Ah, benar. Selamanya seorang pedagang mengharapkan suatu keuntungan. Sekali terjun ke dalam kancah perdagangan dia harus bisa merebut barang dagangan yang menarik hatinya."
Mendengar ucapannya, semua orang terkejut. Apakah perwira Legiun14) Mangkunegara itu bermaksud pula hendak merebut kedudukan sebagai Ketua Perserikatan. Tepat pada saat itu Ki Jaga Saradenta berkata, "Ilmu pedangmu sangat tinggi. Hanya cara munculmu di hadapan umum kurang menarik. Apakah para hadirin bisa menerima maksudmu dengan tangan terbuka, tak tahulah aku."
Sebagian besar hadirin sependapat dengan Ki Jaga Saradenta. Perwira itu berkesan sangat sombong. Ilmu kepandaiannya memang sangat tinggi. Tapi untuk menjabat
530

14) Baca Legiun (Laskar)
sebagai ketua himpunan rasanya kurang tepat. Meskipun demikian, di antara para hadirin terdengar tepuk gemuruh mendukung Letnan Suwangsa. Mungkin sekali, mereka adalah kawan-kawannya.
Dalam pada itu dengan langkah perlahan, Daniswara menghampiri panggung. Dengan sekali menggerakkan kakinya tubuhnya melesat ke atas dan hinggap tepat di depan Letnan Suwangsa. Kedua matanya lantas menyapu tajam bagaikan sebilah pedang.
"Ha! Selamat bertemu," sambut Letnan Suwangsa dengan suara dingin.
"Apakah Tuan hendak menguji diriku? Siapakah Tuan? Benar-benarkah Tuan bernama Daniswara?"
Daniswara tertawa mendongak. "Sebenarnya aku adalah seorang yang tak pantas mempunyai nama. Kepandaianku pun tidak cukup berharga dipertontonkan di hadapan umum."
"Ah, bukankah engkau yang digenderangkan sebagai calon Ketua Perserikatan ini?" potong Letnan Suwangsa.
"Itulah maksud orang yang berlebih-lebihan. Kepandaian apakah yang hendak kuandalkan, sampai kau berani memimpikan kursi ketua himpunan pendekar-pendekar gagah seluruh pojok Nusantara. Saudaraku ini adalah seorang miskin sampai terpaksa menyamun segala untuk menyambung hidup. Karena itu, tak dapat ia membayar bunga. Nah, biarlah aku saja yang membayar bunganya. Bagaimana?"
531

Letnan Suwangsa tahu, bahwa lawannya kali ini memiliki kepandaian yang berarti. Maka tanpa segan-segan lagi, ia mendahului dengan tikamannya mengarah tenggorokan.
Dengan cepat Daniswara menangkis pedang Letnan Suwangsa dengan tongkatnya sebesar tinju orang dewasa. Dan tanpa merubah kuda-kudanya, ia membalas menyerang.
"Sungguh tepat!" puji Letnan Suwangsa sambil menangkis. Kedua senjata itu bentrok sangat nyaring. Daniswara terhuyung beberapa langkah, sedang Letnan Suwangsa mundur sempoyongan.
Sebenarnya Letnan Suwangsa menggunakan tenaga lembek dalam tangkisan itu. Kemudian dengan meminjam tenaga lawan ia hendak merobohkan dengan sekali jadi. Andaikata tenaga Daniswara seimbang dengan tenaganya, pastilah maksud itu akan tercapai dengan mudah. Tetapi Daniswara ternyata mempunyai tenaga dahsyat seakan-akan menjadi anak kesayangan Tuhan.
Pukulannya ternyata hebat tak terduga. Meskipun Letnan Suwangsa berhasil menangkisnya sampai miring, namun dia terpental oleh suatu arus tenaga sehingga terpaksa mundur sempoyongan. Sebaliknya bentrokan itu menyadarkan Daniswara, bahwa dirinya menghadapi suatu ancaman bahaya. Buru-buru ia memukulkan ujung tongkatnya di atas lantai panggung. Tubuhnya dimiringkan dan dengan menjejakkan kakinya ia melompat ke depan. Tatkala turun ke lantai masih saja ia sempoyongan. Itulah suatu kejadian yang baru dialaminya selama hidupnya.
532

Demikianlah masing-masing telah merasakan kekuatan lawannya. Yang satu mundur dan yang lain maju. Tetapi kedua-duanya tergempur kuda-kudanya sehingga berdiri dengan agak sempoyongan. Maka dalam gebrakan itu, tiada yang kalah dan tiada yang menang pula.
Dalam sekejap kedua-duanya memperbaiki kedudukannya masing-masing. Kemudian mereka maju dan bertempur dengan serunya. Pedang Letnan Suwangsa timbul tenggelam seakan-akan ular timbul dan menyilam dalam permukaan air. Sedang tongkat Daniswara berkelebat-kelebat seperti sambaran burung raksasa mengarah mangsanya.
Yang hadir dalam pertemuan itu termasuk orang-orang gagah dalam daerahnya masing-masing. Menyaksikan pertempuran itu, mereka kagum dan terpesona. Seumpama tidak menyaksikan sendiri mereka tidak akan percaya bahwa kedua-duanya yang berusia masih muda memiliki ilmu kepandaian begitu tinggi. Terlebih-lebih mereka kagum terhadap Daniswara. Pemuda itu terpaut agak jauh usianya bila dibandingkan dengan Letnan Suwangsa. Namanya belum terkenal pula. Meskipun demikian sanggup melayani ahli pedang nomor satu pada zaman itu dengan sempurna. Lima puluh jurus telah lewat dengan sangat cepat, namun kedua-duanya belum ada tanda-tanda menang kalahnya.
Tiba-tiba berbareng dengan suatu siulan panjang, Letnan Suwangsa merubah cara berkelahinya.
Pedangnya lantas bergerak-gerak luar biasa cepat. Begitu cepat gerakannya, sehingga nampak bagaikan ratusan pedang menikam atau menusuk tubuh Daniswara. Indah sekali kesannya. Orangorang yang berkepandaian rendah
533

seolah-olah sedang melihat rontoknya daun di musim angin kemarau.
Amat Sodik yang sudah turun dari panggung bergembira menyaksikan ilmu pedang Letnan Suwangsa yang hebat. Serunya kepada dirinya sendiri, "Bunganya pasti akan terbayar sebentar lagi."
Umarmaya yang berdiri tak jauh dari padanya, tertawa haha-hihi. Sahutnya panas hati.
"Merrjang benar. Bunga itu pasti akan terlunasi. Hanya saja entah siapa yang bakal menerima pembayaran itu."
Amat Sodik menoleh dengan pandang melototi.
"Eh kau begal miskin jangan terlalu mengumbar mulutmu". Setelah berkata demikian, ia memutar tubuhnya dan menghilang di balik rumun penonton yang berjejalan.
Sekonyong-konyong di atas panggung terjadi suatu perubahan. Malayani pedang lawan yang bergerak begitu cepat, Daniswara merubah tata berkelahinya. Tadi ia bersikap galak. Setiap waktu dipergunakan untuk membalas menyerang. Kini tongkat bajanya bergerak perlahan-lahan mengitari dirinya seolah-olah sedang melindungi saja. Sama sekali tiada nampak suatu serangan balasan.
Menyaksikan hal itu para tetamu yang memiliki kepandaian tinggi segera mengetahui bahwa Daniswara sedang melawan serangan Letnan Suwangsa dengan tenaga penghisap. Gerakan tongkatnya berlingkaran. Berkesan lemah gemulai seakan-akan seutas tali lemas.
534

Seorang berusia tua yang duduk di dekat seorang pemuda berkata setengah berbisik, "Nah lihatlah yang terang, anakku. Itulah yang kumaksudkan dahulu. Manakala engkau menjumpai seorang yang bisa menggunakan tongkat selemas tali atau seorang yang bisa menggunakan tali sekeras tongkat besi itulah suatu tanda bahwa orang itu telah mencapai suatu tataran kesaktian yang susah diukur tingginya. Kalau kebetulan dia seorang kawan, kau bergurulah kepadanya. Sebaliknya kalau kebetulan seorang lawan, cepat-cepatlah melarikan diri."
Memang demikianlah sebenarnya. Adalah suatu hal yang mengherankan bahwasanya tongkat yang terbuat dari besi bisa digerakkan selemas seutas tali. Dan begitu
Daniswara menggunakan ilmu sakti tersebut, pedang Letnan Suwangsa lantas saja tertindih. Gerakan pedangnya tidak lagi segesit tadi. Sedikit demi sedikit, pedangnya mulai tertekan-tekan. Ia nampak berkutat seolah-olah seorang lagi sibuk membebaskan diri dari suatu tindihan benda yang mempunyai berat seratus kilogram lebih.
"Paman!" bisik si Pemuda berbaju putih kepada Mundingsari. "Untuk bisa mengimbangi Daniswara, Letnan Suwangsa harus mengerahkan seluruh tenaganya. Ingin aku melihat bagaimana caranya seorang ahli pedang melawan ilmu tongkat Daniswara itu."
Baru saja ia selesai berbisik, sekonyong-konyong terdengarlah suatu bentrokan nyaring luar biasa. Lelatu meletik seperti air disemprotkan. Tongkat Daniswara terpental tinggi ke udara sehingga penonton memekik
535

kaget menyaksikan kejadian di luar dugaan itu. Anehnya Letnan Suwangsa berdiri seakan-akan terpaku pula.
Sama sekali ia tidak bergerak untuk melancarkan suatu serangan susulan. Apakah yang terjadi?
Daniswara menang tenaga, sedangkan Letnan Suwangsa menang pengalaman dan mahir mengatur tenaga tata sakti. Menghadapi lawan yang bertenaga dahsyat, Letnan
Suwangsa menggunakan seluruh pengalamannya untuk meminjam tenaga lawan. Pada jurus yang terakhir tadi, Daniswara menghantamkan tongkatnya dengan tenaga luar biasa besarnya. Letnan Suwangsa tak berani melawan keras dengan keras, la menggunakan tenaga lembek. Kemudian dengan perlahan-lahan ia mengerahkan sembilan bagian tenaga saktinya. Dalam suatu pertarungan antara jago kelas satu, masing-masing memang tidak berani mengerahkan seluruh tenaganya. Sembilan bagian tenaga adalah suatu ukuran yang paling tinggi. Sedang yang sebagian diper-siagakan manakala menghadapi serangan balasan tiba-tiba.
Menurut perhitungan Letnan Suwangsa— dengan mengerahkan sembilan bagian tenaganya—ia akan berhasil mematahkan tenaga Daniswara. Sebab selain tenaganya sendiri, ia meminjam tenaga lawan pula untuk digunakan memukul balik. Tetapi tongkat Daniswara adalah tongkat warisan pendekar Kebo Bangah. Tongkat itu bukan terbuat dari besi atau baja. Sebaliknya terbuat dari suatu dahan pohon yang terdapat di atas Gunung Sindara. Entah apa nama jenis pohon itu, tetapi ulatnya melebihi besi dan baja. Besi atau baja dapat patah pada saat-saat tertentu, sebaliknya kayu itu tidak. Makin tua umurnya, makin ulat. Dan kerasnya tidak kalah bila
536

dibandingkan dengan besi atau baja. Apabila berbenturan mampu mengeluarkan bunyi nyaring bagaikan logam.
Dahulu Kebo Bangah pernah menggunakan tongkat mustikanya melawan tongkat Gagak Seta. Pernah pula menghadapi pedang Sangga Buwana milik Titisari. Sekali kena bentrok, tongkatnya sama sekali tak dapat tertabas kutung. Sekarang pedang Letnan Suwangsa adalah suatu pedang yang sedikit lebih baik daripada pedang biasa. Sudah barang tentu tak sanggup meng-utungkan tongkat warisan Kebo Bangah itu.
Dalam bentrokan itu—berkat tenaga tata sakti—Letnan Suwangsa berhasil melontarkan tongkat baja Daniswara tinggi ke udara. Tetapi berbareng dengan itu, pedangnya somplak sebagian. Tangannya pun terbeset, sedang sembilan bagian tenaganya yang dikerahkan membanjir keluar ibarat air membobol sebuah bendungan. Itulah sebabnya dalam sesaat ia seperti kehilangan tenaga. Nampaknya seperti tidak mampu menggerakkan pedangnya lagi. Tetapi sesungguhnya, hal itu hanya berlaku dalam waktu singkat.
Dalam pada itu—berbareng dengan terlontarnya tongkat mustika tinggi ke udara— Daniswara pun terbang tinggi pula. Dengan suatu gerakan yang manis, ia menyambar tongkatnya dan digenggamnya erat-erat dalam tangannya yang perkasa. Dan sebelum kedua kakinya turun ke lantai laksana seekor elang mengibaskan sayapnya ia membabatkan tongkatnya menghantam kepala Letnan Suwangsa.
Serangan Daniswara itu terjadi sewaktu tubuhnya masih berada di tengah udara. Serangan demikian
537

mengejutkan sekalian penonton. Letnan Suwangsa cepat-cepat menghimpun tenaga saktinya kembali. Kemudian ia menyabet serangan dahsyat itu dengan pedangnya kembali. Semua orang mengira bahwa benturan senjata kali ini akan menerbitkan suatu suara yang nyaring luar biasa. Tapi di luar dugaan, bentrokan itu bahkan tiada mengeluarkan suara sama sekali.
Pedang Letnan Suwangsa menempel tongkat Daniswara. Itulah yang menyebabkan sama sekali tiada terdengar suatu suara. Tubuh Daniswara yang berada di udara terbawa gerakan Letnan Suwangsa yang memutar dengan perlahan.
Dipandang sepintas lalu, Letnan Suwangsa berada di atas angin. Tetapi sesungguhnya dia menemukan suatu kesulitan lagi di luar perhitungan.
Tenaga sambaran tongkat Daniswara yang lagi terjun dari udara tadi, dahsyat tak terkira. Kini ditambah dengan beban tubuh Daniswara. Maka bisa dibayangkan, betapa Letnan Suwangsa terpaksa menggunakan tenaga berlipat ganda sebagai penyangga. Maka ia membentak keras untuk membebaskan tempelan pedangnya. Di luar dugaan, tongkat Daniswara kinilah yang ganti menempel. Dengan demikian tubuh yang berputar-putar di tengah udara benar-benar merupakan beban sendiri.
Mereka yang belum pernah mengalami pertempuran demikian, senang menyaksikan pemandangan demikian. Sebaliknya penonton yang tinggi ilmunya tahu belaka betapa akibat pertarungan itu nanti. Si Baju Putih yang berdiri disamping Mundingsari mengerutkan alisnya. Tahulah dia, bahwa kedua-duanya sedang menggunakan
538

tenaga simpanannya. Letnan Suwangsa telah menggunakan ilmu sakti warisannya.
Sedang Daniswara yang menang tenaga dapat menambah tenaga tekanannya oleh berat badannya yang berada di udara. Itulah sebabnya—betapa usaha Letnan Suwangsa untuk membebaskan diri—tetap saja pedangnya kena tempel.
Tak lama kemudian, Letnan Suwangsa bergerak berputaran mengintari panggung sambil terus menerus menggetarkan pedangnya. Asal saja dapat memperoleh kelonggaran sedikit, ia akan sanggup melontarkan berat tubuh Daniswara ke tengah udara. Tapi sekian lamanya ia berputar-putar, tetap saja tak berhasil. Daniswara tak sudi memberi kesempatan. Dengan mati-matian ia menekankan tongkatnya kuat-kuat agar tidak sampai kena direnggangkan. Dengan demikian kedua jago itu mandi keringat.
Ki Jaga Saradenta mengeluh menyaksikan pertarungan mati-matian itu. Ia mengetahui—bahwa kedudukan Daniswara lemah dibandingkan dengan Letnan Su-wangsa—walaupun bisa menekan dari atas. Sebab, dia tak dapat mengadakan serangan balasan. Kecuali itu, tak dapat ia menarik tenaganya kembali untuk bisa diatur. Dengan kepala menjungkir ke bawah dan selalu dibawa berputar-putar, lambat-laun ia akan kehilangan sebagian besar tenaganya. Hal itu berarti bahwa ancaman bahaya bakal terjadi sewaktu-waktu.
Dengan mengerutkan kedua alisnya, Ki Jaga Saradenta menghampiri mereka. Kemudian membungkuk hormat seraya berseru, "Bila dua harimau berkelahi terus menerus yang satu pasti akan mengalami malapetaka.
539

Saudara Daniswara! Saudara Letnan Suwangsa! Silakan beristirahat dahulu. Mari kita berunding dengan baik-baik."
Tentu saja mereka tak sudi menyahut. Mereka tengah memusatkan seluruh perhatian dan tenaganya. Sedikit lengah akan memakan nyawanya sendiri.
"Saudara Letnan Suwangsa!" Ki Jaga Saradenta membujuk. "Engkau adalah seorang ahli pedang kenamaan. Selain itu, engkau pun menantu Sri Mangkunegoro. Jabatanmu bagus pula. Sebaliknya saudara Daniswara adalah seorang pendekar yang baru saja muncul kemarin. Tingkatannya lebih rendah daripadamu. Hm, apakah engkau benar-benar hendak ikut memperebutkan kursi pimpinan?"
Ki Jaga Saradenta terpaksa berkata demikian untuk menolong Daniswara. Sebenarnya sebagai seorang perwira Legiun Mang-kunegaran, sama sekali tak cocok apabila menjabat sebagai ketua himpunan laskar perjuangan yang justru bertentangan dengan kedudukannya. Pikirnya, biarlah dia menjadi calon ketua. Toh keputusannya nanti terletak kepada suara hadirin terbanyak. Apabila sebagian besar hadirin tak setuju, dia masakan bisa main paksa. Dia boleh perkasa, tapi apakah mampu menghadapi keroyokan orang banyak.
Di luar perhitungannya, ternyata Letnan Suwangsa tetap membungkam. Sikapnya bahkan tidak menggubris sedikit pun. Hal itu disebabkan ia sudah berada di atas angin. Menyia-nyiakan kesempatan yang bagus itu, alangkah sayang. Maka ia berputar-putar mengitari panggung makin lama makin cepat. 'Daniswara lantas nampak seakan-akan sebuah martil besar yang sedang
540

diputar-putar keras untuk segera dilepaskan.
Menyaksikan hal itu, Ki Jaga Saradenta menjadi putus asa. Ingin ia menolong, tetapi merasa diri tak mampu. Maklumlah, usianya sudah hampir mendekati seratus tahun.
Selagi semua orang mengikuti peristiwa itu dengan hati berdebar-debar dan sedang Ki Jaga Saradenta berada dalam puncak kebingungan, sekonyong-konyong terdengarlah suatu suara sangat nyaring.
"Ah, kedua-duanya benar-benar tidak tahu diri. Letnan Suwangsa betapa menginginkan kedudukan sebagai Ketua Perserikatan. Apa sih mulianya?"
Hampir berbareng dengan perkataannya yang penghabisan, nampaklah sebuah benda berkeredep menghantam titik pertemuan antara pedang dan tongkat Daniswara. Tring!
Kedua senjata itu terpukul miring. Dan pada saat itu, Daniswara berjungkir balik di tengah udara dan hinggap tak kurang suatu apa di atas panggung.
Peristiwa itu mengejutkan sekalian penonton. Belum lagi mengerti sebab-musababnya, tiba-tiba masuklah seorang pemuda berbaju putih ke dalam gelanggang. Gsianya masih muda. Gerakannya lincah dan pandang matanya jernih. Dialah yang menghantam titik silang antara pedang dan tongkat kedua jago yang sedang berkutat.
Penonton yang berada di barat heran bukan kepalang. Benarkah seorang pemuda seusia dia, sudah memiliki tenaga dahsyat melebihi tenaga sakti Letnan Suwangsa dan Daniswara sehingga adu tenaga mereka
541

Hampir berbareng dengan perkataannya yang penghabisan, nampaklah sebuah benda berkeredep menghantam titik pertemuan antara pedang dan tongkat Daniswara. Tring!
dapat disibakkan dengan mudah? Sebenarnya tidaklah demikian. Pemuda berbaju putih itu tahu mencari titik silang yang lemah. Sambitannya sebenarnya menggunakan tenaga mereka berdua sendiri. Yang patut dikagumi adalah ketepatannya memukul titik silangnya. Meleset sedikit, pastilah gagal. Apalagi senjata bidik yan digunakan ternyata hanya sebuah biji sawo.
Ki Jaga Saradenta terbelalak. Sedangkan Daniswara menyatakan kekagumannya. Pemuda berbaju putih itu sendiri bersikap tak memedulikan. Dengan langkah tenang ia menghampiri Letnan Suwangsa sambil menyiratkan pandang kepada semua yang berada di atas di atas panggung. Pandang matanya jernih bening. Kemudian dengan alis terbangun ia berkata kepada Letnan Suwangsa.
"Saudara Suwangsa. Engkau seorang perwira Laskar Mangkunegaran. Pada saat ini, Sri Mangkunegoro bekerjasama dengan pemerintah Belanda. Sedangkan perserikatan ini justru bertujuan mengecam kebijaksanaan Patih Danurejo yang mengabdi kepada kepentingan Pemerintah Belanda. Apakah engkau sanggup menjadi seekor ular berkepala dua, seumpama engkau berhasil menduduki jabatan Ketua Perserikatan?"
Baru saja selesai pemuda itu mengucapkan perkataannya, seluruh hadirin lantas menjadi gempar. Di antara mereka—termasuk Ki Jaga Saradenta tahu— bahwa Suwangsa adalah seorang perwira berbareng
542

menjadi menantu Sri Mangkunegoro. Pada hakekatnya mereka berkesan baik terhadap perjuangan Sri Mangkunegoro 1 tatkala berperang melawan Belanda disam-ping Sultan Hamengkubuwono 1. Sekarang— setelah tahta jatuh pada anak keturunannya—ternyata berbelok arah. Hal itu benar-benar mengejutkan dan menggemparkan mereka.
"Letnan Suwangsa! Benarkah itu?" Ki Jaga Saradenta menegas.
Dalam pada itu—sekalian orang-orang gagah—lantas saja berlomba-lomba menyatakan pendapatnya setelah rahasia itu kena dibuka si Pemuda berbaju putih. Mereka menyatakan kegusarannya. Lalu memaki dan mengejek. Ada pula yang mengutuk dan berbimbang-bimbang.
"Kamu disini mengadakan suatu perhimpunan. Maksudnya untuk memilih seorang ketua. Siapa yang kuat dan siapa yang gagah—dialah yang bakal kamu lantik," seru Letnan Suwangsa mengatasi kegaduhan. "Apa yang kulakukan tadi sebenarnya tiada sangkut pautnya dengan kepentingan kamu. Sebaliknya lantaran aku mempunyai kepentingan berhubung dengan tugasku. Apakah jeleknya seseorang yang bekerja dengan penuh semangat demi mengabdi kepada tugas jabatannya?"
Paras muka Ki Jaga saradenta lantas berubah menjadi merah padam, la nampak mendongkol. Saking mendongkolnya ia tertawa terbahak-bahak dengan mendongak. Lalu membentak, "Benar-benar hati manusia sukar diduga. Letnan Suwangsa, maafkan aku. Tak dapat lagi aku melayanimu."
Letnan Suwangsa bukanlah seorang perwira yang goblok. Dengan sekali melirik tahulah dia melihat
543

gelagatnya. Mereka yang tadi duduk di atas kursi, berdiri dengan serentak. Tangannya meraba senjatanya masing-masing, sedang pandang matanya menyatakan suatu kebencian yang meluap-luap. Inilah bahayanya!
Meskipun Ki Jaga Saradenta tidak berani menyatakan terus terang, bahwa perserikatan ini bertujuan menentang pemerintah—tetapi mereka yang hadir bukan tergolong manusia yang takut mati. Sekali mendengar aba-aba, mereka pasti akan meluruk bagaikan batu gunung runtuh. Menghadapi massa demikian—meskipun dia berkepandaian tinggi—tak akan mampu berbuat banyak. Maka dengan perlahan-lahan ia memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Kemudian tertawa lebar untuk mengatasi kegoncangan hatinya. Berkata kepada Amat Sodik.
"Saudara Amat Sodik! Barulah aku kini tahu, bahwa kedudukan kursi pimpinan bukan ditentukan oleh siapa yang menang dan yang lebih kuat. Aku tak mempunyai modal untuk membeli barang dagangan itu. Mari, lebih baik kita berlalu saja."
"Apakah yang kau maksudkan dengan barang dagangan?" Daniswara menegas. "Semua yang berada di sini bukan berkumpul untuk mengadakan jual beli. Apakah kau hendak merampas mereka agar sudi menjadi begundal Pemerintah Belanda dan Patih Danurejo? Hm, jangan bermimpi!"
"Orang itu memang terlalu sombong!" teriak seseorang. "Kau sama sekali belum mampu menjatuhkan saudara Daniswara. Bagaimana kau bisa menganggap dirimu orang kuat? Coba—kau boleh menjajalnya16)
544

kembali. Ingin aku melihat sampai dimana keperkasaanmu?"
Sekali ada yang berkata demikian, yang lain-lain seperti memperoleh jalan terang. Lantas saja terjadilah suatu makian kalang kabut. Menyaksikan hal itu, hati Letnan Suwangsa benar-benar gentar. Cepat ia menyambar lengan Amat Sodik dan dibawanya turun dari panggung. Kemudian ia berlalu cepat dengan disertai beberapa orang bawahannya. Sekarang barulah orang sadar, bahwa Amat Sodik termasuk salah seorang pengikutnya. Pantas saja dia ber-napsu untuk merebut kursi pimpinan.
Selagi semua orang diarahkan kepada kepergian Letnan Suwangsa dan kawan-kawannya, tiba-tiba di atas panggung terjadilah suatu kejadian di luar dugaan siapa pun.
Pemuda berbaju putih dengan mendadak menghunus pedangnya, kemudian ditudingkan ke arah dada Daniswara. Semua orang yang melihat, terkesiap hatinya. Sebab pedang itu bersinar berkilauan dan berukuran pendek. Itulah tanda-tanda bahwa pedang tersebut berasal dari istana.
Ki Jaga Saradenta terperanjat. Pikirnya di dalam hati, "Apakah bocah ini ingin merebut kursi pimpinan pula? Siapakah dia?"
Dalam pada itu di Pemuda berbaju putih berkata nyaring kepada Daniswara.
"Kau hendak menjadi Ketua Himpunan, aku tidak peduli. Tetapi benda curian di atas pesanggrahan
545

Kompeni Belanda di Magelang hendaklah kau serahkan kepadaku!"
Mendengar kata-katanya, Ki Jaga Saradenta heran bukan main. Apakah yang dimaksudkan dengan istilah mencuri? Sepanjang pengetahuannya, Daniswara tak tertarik kepada sarwa benda meskipun berharga laksaan ringgit. Benda apakah yang dimaksudkan sampai Daniswara mencurinya? Memang dia merampas uang belanja Kompeni Belanda. Tetapi hal itu dilakukan dengan terang-terangan—merampok dan merampas dengan mengandalkan ilmu kepandaiannya. Dan bukan mencuri. Maka itu ia segera membuka mulutnya.
"Saudara kecil! Seumpama saudara Daniswara berhutang sebuah benda kepadamu, itulah urusan gampang. Nanti akulah yang membayarnya kembali."
Ki Jaga Saradenta mengira, bahwa pemuda itu sedang meminta sejumlah uang atau benda yang kena dirampas Daniswara.
Maka tanpa berpikir panjang lagi, ia bersedia untuk membayar. Di luar dugaan pemuda itu tertawa-tawa. Katanya menegas, "Baiklah kau bersedia membayar hutangnya? Ia berhutang sebuah kepala. Nah—dapatkah engkau membayar?"
Ki Jaga Saradenta terkesiap. Ia mengawaskan pemuda itu dengan pandang mata tak berkedip.
"Apakah artinya ini? Apakah artinya ini?" dia bertanya tersekat-sekat.
Belum lagi pemuda itu memberi keterangan,
Daniswara mendahului berkata. Tanyanya menegas, "Apakah kepala itu milik keluargamu?"
546

Mata pemuda itu mendadak saja nampak menjadi basah. Bentaknya, "Kau mau mengembalikan atau tidak?"
"Tapi... Walaupun ingin aku mengembalikan sudah sangat sukar," jawab Daniswara dengan suara berduka.
Paras muka pemuda itu lantas berubah menjadi pucat. Tanpa mengeluarkan sepa-tah kata lagi, dia menikam dengan tiba-tiba. Daniswara melompat mundur sambil menangkis dengan tongkatnya. Tetapi gerakan pemuda itu gesit luar biasa. Dalam sekejap mata saja, ia memberondong dengan sembilan tikaman sekaligus. Diberondong dengan tikaman demikian, Daniswara kena didesak mundur.
Semua tetamu yang berada di bawah panggung terperanjat menyaksikan gerakan pedang pemuda itu. Cepat, gesit dan berbahaya gerakan pedangnya. Setiap kali pedangnya bergerak tubuh Daniswara seperti kena sambar kejapan kilat yang datang menyambar-nyambar tiada hentinya. Mutu serangan pedangnya malahan lebih tinggi daripada ilmu pedang Letnan Suwangsa yang termasyur.
"Saudara kecil! Nanti dulu! Nanti dulu! Jangan terburu nafsu!" seru Ki Jaga Saradenta dengan suara membujuk. "Seumpama engkau mempunyai piutang dengan saudara Daniswara, cobalah ceriterakan dahulu biar kita pertimbangkan. Seumpama saudara Daniswara kesalahan tangan, aku pun bersedia memohonkan maaf kepadamu. Biarlah aku yang sudah ubanan bersujud di hadapanmu."
Ki Jaga Saradenta menduga, bahwa Daniswara kesalahan tangan membunuh keluarga pemuda itu. Lalu
547

pemuda itu kini datang untuk menuntut dendam. Kejadian demikian adalah lumrah pada dewasa itu.
Orang saling mendendam dan saling membalas.
Tetapi pemuda itu sama sekali tidak menggubris kata-kata Ki Jaga Saradenta. Serangannya makin lama makin gencar. Sesudah lewat lima belas jurus, terpaksalah Daniswara membela diri dengan ilmu kepandaiannya yang sangat tinggi. Itulah ilmu sakti Badai Hitam warisan Kebo Bangah. Ilmu Badai Hitam adalah salah satu cabang dari ilmu sakti Kala Lodra yang terkenal dahsyat pada zaman dua puluh tahun yang lalu. Tongkatnya lantas saja menerbitkan angin bergulungan. Satu tenaga dahsyat membendung gerakan pedang pemuda itu yang lincah luar biasa. Kege-sitannya segera kena tindih.
"Apakah kau kira aku tidak sanggup melawanmu?" kata Daniswara dengan tertawa.
"Kabur sesudah mencuri kepala orang bukan perbuatan seorang pendekar sejati," bentak pemuda itu. "Kau kembalikan atau tidak?"
Daniswara tertawa terbahak-bahak. "Kalau hanya kepala saja, apakah gunanya? Aku bersedia mengembalikan seluruh jenazahnya. Apa yang hendak kau lakukan, sudah kulakukan."
"Apakah benar?" pemuda itu menegas dengan suara menggeletar. Dan ia lalu menarik pedangnya.
"Dengan mempertaruhkan jiwa, aku mencuri kepala itu dari tiang bendera pesanggrahan Kompeni Belanda yang tertancap di atas temboknya," jawab Daniswara. "Masakan aku mengobral kepadamu. "
548

Kedua mata pemuda itu kembali menjadi basahi Katanya dengan suara perlahan. "Kalau begitu, kau adalah pahlawanku. Kita tak usah bertempur lagi."
Semua orang termasuk Ki Jaga Saradenta heran bukan kepalang, karena tidak mengetahui persoalannya. Meskipun demikian, Ki Jaga Saradenta tidak mau minta keterangan lebih lanjut—mengingat pemuda itu baru saja dikenalnya.
Selanjutnya pertemuan pendekar-pendekar pencinta negeri itu berjalan dengan lancar. Awan gelap telah tersapu bersih. Dengan tegar Ki Jaga Saradenta lantas berbicara nyaring mewakili para hadirin. Katanya kepada Daniswara, "Saudara Daniswara! Meskipun engkau masih muda remaja, tetapi nampaknya mempunyai pengetahuan luas dan berkepandaian tinggi. Setelah menyaksikan kesanggupanmu, aku malah bertambah yakin bahwa engkau pantas menduduki jabatan sebagai Ketua Himpunan." Setelah berkata demikian, ia berputar menghadap kepada hadirin. Serunya nyaring, "Saudara-saudara, bagaimana? Semua telah menyaksikan sendiri kegagahan saudara Daniswara. Apakah kalian setuju apabila dia kita angkat menjadi ketua perserikatan?"
Semua orang lantas memberikan kata persetujuannya. Dan selagi Daniswara bergerak hendak menolak, Ki Jaga Saradenta mendahului.
"Saudara Daniswara tidak bisa menolak lagi, karena sekalian hadirin telah menyetujui. Sekali lagi kuharapkan jangan bersegan-segan!"
"Nanti dulu!" teriak Pemuda berbaju putih itu dengan mendadak. "Masih ada satu perkara lagi yang ingin kukemukakan."
549

Ki Jaga Saradenta mengerutkan keningnya. Ia khawatir akan muncul suatu perkara baru yang akan mementahkan masalah yang sudah menjadi matang. Maka buru-buru ia menungkas.
"Saudara kecil! Apakah perkara yang hendak kau ajukan itu mempunyai sangkut paut dengan kedudukan seorang Ketua Himpunan?"
"Saudara Ketua!" kata Pemuda itu tak menghiraukan pertanyaan Ki Jaga Saradenta. "Aku masih mempunyai satu perhitungan lagi kepadamu. Dan engkau harus menyelesaikan."
Ki Jaga Saradenta tenteram hatinya. Meskipun pertanyaannya tidak dihiraukan, tetapi pemuda itu menyebut Daniswara dengan kata-kata: Ketua. Itulah suatu pengakuan langsung. Maka diam-diam bersenyum di dalam hati. Lalu ia menaruh perhatiannya.
Daniswara yang tadi mengerutkan alis, kini tertawa melebar begitu begitu mendengar sebutannya sebagai ketua diucapkan pemuda itu. Katanya sabar, "Saudara— engkau begini rewel. Aku tahu apa yang hendak kau. kemukakan. Biarlah yang berkepentingan berbicara langsung kepadaku. Bukankah dia hadir disini pula?"
Ki Jaga Saradenta kaget. Menilik jawaban Daniswara, dia mengakui adanya persoalan yang hendak dikemukakan pemuda itu. Dan dengan dada terbuka dia mengundang pula orang yang berkepentingan, la khawatir— kalau persoalan yang hendak diselesaikan di depan umum—akan membawa suatu kerugian di kemudian hari. Maka segera ia hendak mencegah. Tetapi pada saat itu, munculan seorang laki-laki berperawakan kasar memasuki panggung. Orang itu berberewok kaku
550

dan pandang matanya cemerlang. Melihat munculnya orang itu, Ki Jaga Saradenta mengerutkan keningnya seperti lagi mengingat-ingat. Tatkala itu terdengarlah beberapa orang menyatakan keheranannya.
"Ah—bukankah dia saudara Mundingsari?"
Dan mendengar perkataan itu, buru-buru Ki Jaga Saradenta tertawa girang. Sambutnya ramah, "Hai— bukankah saudara Mundingsari? Malaikat manakah yang membawamu terbang kemari?"
Mundingsari memanggut dingin. Kemudian membungkuk hormat kepada Daniswara seraya berkata dengan suara merendah. "Saudara Daniswara! Barangkali engkau masih mengenal mukaku yang kotor ini. Benar-benar suatu karunia Tuhan, bahwa kita dipertemukan kembali pada hari ini. Dengan ini aku ingin memohon, sudikah Saudara mengembalikan uang kawalanku berjumlah empat puluh ribu ringgit?"
Begitu mendengar kata-kata Mundingsari, seluruh hadirin menjadi gempar.
"Eh—kenapa dia sudi melindungi uang Kompeni?" nyeletuk seseorang.
Mereka semua tahu, Mundingsari hidup di dalam daerah wilayah Kasultanan yang berlindung di bawah bendera Belanda. Pada zaman lima belasan tahun yang lalu, dia pun salah seorang pendekar undangan Pangeran Bumi Gede. Meskipun Pangeran Bumi Gede mendapat bantuan dari pemerintah Belanda, tetapi sebegitu jauh mereka belum pernah mendengar Mundingsari menghambakan diri kepada Kompeni Belanda.
551

Tak mengherankan orang-orang yang mengenal riwayat hidupnya jadi sibuk menebak-nebak.
"Sungguh luar biasa!" kata seorang lagi. "Apakah dia kena tekanan?"
Mundingsari.sendiri sebenarnya keturunan seorang pendekar yang bermusuhan dengan Belanda. Leluhurnya sangat terkenal dan termasyur sebagai pendekar bangsa yang patut ditiru. Selain berani, jujur dan teguh memegang cita-cita bangsa. Apa sebab keturunannya menjadi seorang lemah? Maka tak mengherankan— begitu persoalannya muncul di hadapan umum—mereka semua merasakan betapa sulit untuk dipecahkan. Dipandang dari sudut persahabatan, uang kawalan yang kena dirampas wajib dikembalikan. Akan tetapi uang Kompeni Belanda yang justru menjadi musuh turun-temurun semenjak zaman Hamengku Buwono 1. Mengembalikan uang rampasan itu berarti bersedia berdamai dengan pihak Pemerintah Belanda.
"Sebenarnya apakah alasan saudara Mundingsari sudi menjadi pelindung uang belanja Kompeni Belanda?" tanya seseorang.
"Itulah atas petunjuk Pangeran Girisanta," jawab Mundingsari pendek. Dan mendengar disebutkannya nama Pangeran Girisanta, semua orang mencaci maki kalang-kabut.
Pangeran Girisanta adalah anak keturunan Pangeran Surapati anak angkat Panembahan Cirebon pada zaman Untung Surapati. Dialah manusia busuk. Dia beker-jasama dengan pihak Belanda karena kemaruk kekuasaan dan gila harta. Maka tatkala Pemerintah Belanda mengumumkan suatu hadiah besar bagi siapa
552

yang dapat menangkap pemberontak Untung17), segera ia menyediakan diri. Panembahan Cirebon18) marah dan menghukum Surapati dengan hukuman picis. Dan nama Surapati disematkan pada Untung sebagai nama tambahan. Demikianlah semenjak itu, Untung terkenal dengan nama Untung Surapati.
Pangeran Surapati sudah lama mati terhukum. Tetapi anak-keturunannya tidak terbasmi. Maka lahirlah Pangeran Girisanta19) sebagai anak-keturunan Surapati yang keempat. Tatkala timbul perpecahan antara Sultan Kasepuhan dan Sultan Kanoman, anak keturunan Surapati itu diketemukan. Dan seterusnya dipanggil masuk ke dalam istana dan didudukkan kembali kepada martabatnya semula oleh persetujuan pihak Pemerintah Belanda. Maka semenjak itu— Raden Mas Girisanta berhak di sebut dengan pangeran. Artinya anak seorang Raja. Tetapi entah raja yang mana.
Riwayat hidup anak keturunan Surapati sangat termasyur di kalangan rakyat. Terutama dalam kalangan para pecinta-pecinta negara, la dikutuk dan dimaki sampai tujuh keturunan. Karena itu, seumpama Daniswara mengembalikan uang kawalan tersebut demi tali persahabatannya dengan
Mundingsari, benar-benar sangat mengecewakan.
Pada saat itu, semua jago-jago yang hadir menunggu keputusan Daniswara dengan hati berdebar-debar. Pandang mata mereka tak terlepas dari wajah Mundingsari yang nampak menjadi pucat, Daniswara sendiri bersikap diam dingin. Lama sekali ia tak membuka mulut, sehingga suasana terasa menjadi tegang. Mundingsari lantas berkata setengah memohon.
553

"Memang perkara ini... sebenarnya agak memalukan nama keluargaku. Akan tetapi... demi Tuhan... dengan sesungguhnya aku didesak keadaan. Sebenarnya ingin aku minta pertolongan Sa San... Sa... "
Daniswara memotong perkataannya dengan tertawa terbahak-bahak. Lalu berkata mengguruh. "Aku tahu.
Kau hidup dalam wilayah kekuasaan Sultan Kanoman. Dan kebetulan Girisanta adalah Mangkubumi Kasultanan yang besar pengaruhnya. Tetapi andaikata hal itu kau kabarkan kepada Sanjaya, dia pun takkan sudi mendengarkan. Walaupun Sanjaya dahulu bekas sahabat Kompeni Belanda. Lagipula, aku ini mempunyai suatu perangai yang aneh. Sekali bekerja aku takkan menghiraukan campur-tangan dari pihak mana pun juga. Sekalipun yang akan mencoba membujukku seorang pentolan yang berkepandaian sangat tinggi. Karena itu jangan kau berharap dengan menggunakan nama seorang pendekar gagah, engkau bakal bisa menggertak aku."
Yang dimaksudkan Mundingsari sebenarnya Sangaji dan bukan Sanjaya. Sayang ia berkata dengan tersekat-sekat sehingga Daniswara mengira dia lagi mengagul-agulkan Sanjaya. Mundingsari sendiri menjadi malu, kena selomot demikian di hadapan umum. Sedang pemuda berbaju putih itu, nampak meraba hulu pedangnya lagi.
Sekonyong-konyong Daniswara tertawa terbahak-bahak lagi. Katanya mengguruh, "Tetapi baiklah... Mengingat engkau sanggup menerima tiga pukulan tongkatku, masih aku ingin didamaikan."
554

"Terima kasih. Perkara ini biarlah Saudara ketua yang menyelesaikan," kata Mundingsari yang ikut-ikutan pula menyebut Daniswara dengan perkataan ketua.
Daniswara melayangkan pandangnya. Kemudian berseru kepada Karimun alias Umarmaya. "Bawa kemari orang itu!"
Setelah terjadi peristiwa-peristiwa baru di atas panggung, hadirin tidak teringat lagi kepada Karimun alias Umarmaya. Kini begitu Daniswara berbicara kepada si Gendut pendek itu barulah mereka menaruh perhatiannya kembali. Tatkala itu mereka melihat Karimun alias Umarmaya sedang menggusur seorang yang mengenakan pakaian seorang hamba negeri tingkat atas.
"Bagus! Bagus!" teriak Karimun. "Saudara Ketua! Memang tepat sekali pada hari pertama ini, engkau mengadili seorang pembesar negeri begundal Pemerintah Belanda."
Semua orang memutar kepalanya mengarah kepada orang yang sedang digusur naik ke atas panggung. Mundingsari terkejut. Orang itu bukan lain daripada Raden Mas Girisanta. Mangkubumi Sultan Kanoman.
Paras Raden Mas Girisanta nampak pucat kuyu bagaikan mayat. Tubuhnya bergemetaran. Matanya memancarkan pandang rasa takut. Begitu naik ke atas panggung, ia mengerling kepada Mundingsari. Kemudian dengan rasa takut ia menghadap Daniswara. Gerak-geriknya bagaikan seorang pesakitan menunggu hukuman.
"Saudara Mundingsari!" seru Daniswara dengan nyaring. "Aku mengundang majikanmu pula untuk ikut meramaikan hari pertemuan ini. Dia kupersilakan keluar
555

dari kantornya. Apakah perbuatanku itu tidak cukup hormat?"
Mundingsari kaget berbareng bergusar. Ia kaget, karena yang dikatakan mengundang sesungguhnya adalah menawan. Bagaimana dia bisa menawan Raden Mas Girisanta yang berkedudukan di tengah Kota Cirebon? Raden Mas Girisanta sendiri bukan manusia lemah. Ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada dirinya sendiri. Selain itu kantor tempat bekerjanya sehari-hari selalu terjaga rapat. Maka penculikan itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Ia bergusar pula, lantaran Daniswara tidak memberi muka kepadanya. Padahal dia sudah bersedia merendah dan sudi menyebutnya sebagai ketua himpunan. Uang kawalannya belum lagi dikembalikan, sebaliknya malah menggusur salah seorang majikannya.
"Saudara Girisanta!" kata Daniswara. "Selama beberapa hari mengikuti aku agaknya aku memperlakukan engkau kurang pantas. Sekarang perkenankanlah aku minta maaf kepadamu."
Raden Mas Girisanta nampak mendongkol, namun hatinya menjadi agak lega begitu mendengar Daniswara sudi minta maaf kepadanya. Artinya, ia mempunyai harapan besar untuk bisa dibebaskan kembali. Maka katanya angkuh. "Aku bukan orang sembarangan. Aku adalah anak keturunan seorang yang memerintah negeri. Dan aku sendiri seorang pembesar negeri. Kalau engkau mau membunuhku—nah, bunuhlah! Apa perlu minta maaf segalanya— Mundingsari! Aku hanya ingin berpesan kepadamu. Hendaklah nasibku yang buruk ini kaukabarkan kepada kakakku."
556

Raden Mas Girisanta menggunakan nama Sultan Kanoman untuk menggertak Daniswara. Tetapi Mundingsari sendiri, sebenarnya muak terhadap sepak-terjangnya semenjak dahulu. Dialah seorang yang kemaruk kekuasaan dan harta benda seperti leluhurnya pula. Demi menggendutkan perutnya sendiri seringkali ia menyengsarakan rakyat. Tetapi suatu bahaya dalam suatu wilayah asing, ia wajib seia-sekata. Namun karena bertentangan dengan tabiatnya yang jujur, tak terasa air matanya membasahi kelopak mata. Tatkala hendak membuka mulut, mendadak Daniswara tertawa nyaring.
"Hm! Kau benar-benar bermata lamur. Agaknya kau belum sadar, bahwa dirimu semenjak lama sudah kena incar Kompeni Belanda. Hanya saja Kompeni Belanda belum memperoleh alasan untuk menjebloskan dirimu ke dalam penjara. Maka kebetulan sekali, Kompeni hendak mengirimkan uang belanja ke Magelang. Dengan sengaja Kompeni menyerahkan kebijaksanaan pengiriman itu kepada Sultan Kanoman. Kompeni tahu, bahwa pekerjaan itu pasti akan diserahkan kepadamu. Perhitungannya ternyata tepat. Seumpama aku tidak menawanmu atau seumpama aku kini membebaskanmu, apakah engkau mengembalikan uang sebesar empat puluh ribu ringgit? Kalau tidak, bukankah seluruh keluargamu bakal dihukum kisas?20) Kau harus ingat, Sultan Kasepuhan tidak akan tinggal diam, mengingat leluhurmu dahulu adalah seorang yang tidak dikehendaki bermukim di dalam wilayah kekuasaannya. Sebab leluhurmu membawa aib nama keluarga Sultan Cirebon. Girisanta! Kalau engkau seorang yang mampu, tidaklah perlu orang ikut berduka atau disesalkan. Akan tetapi
557

kalau sampai menyangkut anak isteri-mu yang tidak berdosa—bagaimana perasaanmu?"
Raden Mas Girisanta pucat bagaikan mayat. Perkataan Daniswara bukan suatu gertakan kosong seperti yang tadi diperbuatnya. Memang benar—bilamana dia tak sanggup mengganti uang belanja yang terampas di tengah jalan—seluruh keluarganya pasti akan terancam bahaya kemusnahan. Teringat akan ancaman itu, jantungnya seperti berhenti berdetak. Tanpa merasa ia berkata dengan suara mohon dikasihani.
"Dimas—aku mohon belas kasihmu."
"Daniswara mengerling kepada Mundingsari. Berkata sambil tertawa, "Empat tahun kau memangku jabatan Mangkubumi Ka-sultanan Kanoman. Sudah berapa puluh ribu uang rakyat kau keduk ke dalam perutmu?"
"A...aku?" Raden Mas Girisanta tergagap-gagap.
"Sungguh mati.... tidak banyak."
Pertanyaan Daniswara itu sungguh di luar dugaan. Karena itu ia menjadi gugup. Wajahnya berubah-ubah. Kadang merah kadang putih. Ia malu berbareng takut. Selagi demikian, Daniswara tertawa terbahak-bahak lagi sambil berkata setengah membentak. "Menurut perhitunganku seluruhnya berjumlah tujuh puluh delapan ribu ringgit empat ratus tiga puluh lima rupiah. Jumlah ini belum termasuk harga rumahmu yang mewah, pekarangan, sawah ladang dan perhiasan yang dikenakan anak isteri-mu, hayo—benar, tidak!"
Raden Mas Girisanta terperanjat bukan kepalang. Bagaimana Daniswara bisa mengetahui begitu tepat? Mimpi pun tidak, bahwa di dalam dunia ini ada seorang
558

manusia yang bermata tajam bagaikan malaikat. Dalam keadaan demikian tentu saja tak berani ia minta keterangan secara melit bagaimana cara Daniswara mengetahui rahasianya. Tiada jalan lain, kecuali ia memanggut membenarkan. "Benar," katanya perlahan.
Daniswara tersenyum puas mendengar pengakuannya. Katanya dengan suara berpengaruh. "Pastilah kau heran, bagaimana aku mengetahui rahasiamu dengan terang. Itulah keterangan yang kuperoleh dari Kasultanan Kasepuhan. Nah—tahulah kau kini—bahwa dengan diam-diam seluruh keluarga Kasultanan Kasepuhan mengawasi gerak-gerik dan sepak terjangmu sehingga tiada satu pun perbuatanmu yang luput dari pengamatannya. Tetapi—mengingat leluhur rekan Mundingsari ini—aku sudah mengirimkan uang itu ke Magelang. Dengan demikian, kau tidak usah takut lagi."
Itulah suatu keterangan di luar dugaan, baik Raden Mas Girisanta maupun Mundingsari ternganga-nganga mulutnya. Benarkah keterangan itu? Selagi hendak minta ketegasan, tiba-tiba suara Daniswara berubah seram. Katanya menggeledek, "Akan tetapi harta-harta yang kau tumpuk di dalam gedungmu, terpaksa aku ambil. Aku hanya menyerahkan dua puluh ribu ringgit kepada Kompeni Belanda. Sedang yang dua puluh ribu ringgit kuambil dari harta tumpukanmu. Kemudian yang empat puluh ribu ringgit kukembalikan kepada rakyat yang telah lama hidup sengsara kena cengkeram kekuasaanmu. Kau mau bunuh diri, tatkala mendengar uang tanggung-jawabmu kena kurampas di tengah jalan. Kau pun berdoa siang dan malam agar Tuhan mengembalikan uang yang sudah kau peras sebesar itu, tidak seperasaan dengan apa yang kau derita sekarang? Bagaimana?"
559

Raden Mas Girisanta tak kuasa menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya.
"Dengan kembalinya uang belanja kepada pihak Kompeni, hatimu kini pasti lega dan bersyukur. Demikian pulalah hati rakyat sekarang yang pernah kau garuk kekayaannya," kata Daniswara lagi. "Untuk kelangsungan hidupmu, anak isterimu masih mempunyai gedung, pekarangan, sawah ladang, perhiasan dan uang sebesar delapan belas ribu ringgit empat ratus tiga puluh lima rupiah. Jumlah harta ini cukup untuk biaya selama hidupmu. Hanya saja—atas ketele-doranmu itu— Pemerintah Belanda menghendaki engkau dipecat dari jabatanmu maupun hak-hakmu. Jadi sekarang, engkau bukan lagi seorang pembesar negeri maupun termasuk keluarga Sultan. Kau kembali seperti kedudukan leluhur dahulu. Seorang rakyat jelata kemudian dipungut sebagai anak angkat oleh Sultan Sepuh. Tetapi dengan demikian, engkau selamat. Anak isterimu selamat pula. Apakah engkau menerima kebijaksanaanku ini?"
Pertanyaan Daniswara itu seperti dialamatkan kepada Raden Mas Girisanta. Tetapi sebenarnya kepada Mundingsari. Pendekar kasar itu, kagum bukan main dan merasa takluk kepada kebijaksanaan Daniswara. Teringatlah dia kepada sepak terjang Raden Mas Girisanta sewaktu masih memegang kekuasaan dahulu. Seringkali ia memperingatkan dan memberi nasehat, karena ia menganggapnya tidak saja sebagai majikan tapi pun sebagai saudara sendiri. Namun semua peringatan dan nasehatnya tidak digubris. Sekarang dia ketemu batunya. Itulah suatu karunia besar. Memang nampaknya kasar dan mengecewakan tetapi Daniswara telah menunjukkan suatu jalan terang bagi hari depan
560

anak keturunan Surapati itu. Maka dengan wajah terang Mundingsari memanggut seraya menjawab, "Puas. Puas sekali. Aku kagum atas kebijaksanaan Saudara," katanya dengan setulus hati.
"Saudara Girisanta!" kata Daniswara. "Sekarang kau boleh pulang ke Cirebon. Hanya saja kau tak berhak lagi mengenakan pakaian seragam Kasultanan Kanoman. Kau sudah dipecat. Kau sudah kembali hidup sebagai rakyat biasa. Maka itu, lebih baik kau tanggalkan pakaian seragammu itu. Karimun—tolong antarkan Tuan ini berlalu dari lapangan pertemuan."
Sudah lama Raden Mas Girisanta menghamba kepada Kasultanan Kanoman. Tanpa merasa ia menjawab, "Terima kasih. Terima kasih atas kebijaksanaan Sri Baginda eh salah—terima kasih atas budi Saudara."
Hadirin tertawa bergegaran mendengar kesalahan lidah itu. Wajah Raden Mas Girisanta merah padam seperti kepiting ter-rebus. Mundingsari yang merasa diri menjadi teman berbareng hamba sahayanya, segera menutupi.
"Aku pun ingin menghantarkan."
Daniswara mengerling sambil bersenyum.
"Kau antarkan selintasan. Aku menunggu di sini."
Hati Mundingsari terkesiap. Apa maksudnya dia menahan diriku, pikirnya. Namun sebagai seorang yang sudah berpengalaman, tak sudi ia memperlihatkan kesan hatinya, la lantas tertawa lebar. Katanya meyakinkan, "Saudara Danis, janganlah khawatir. Pasti aku akan segera kembali."
561

Setibanya di luar pintu pagar, Mundingsari menggenggam pergelangan tangan Raden Mas Girisanta. Katanya dengan mata basah: "Ndoromas—walaupun nampaknya menderita, tetapi sebenarnya inilah permulaan kebahagiaanmu. Mulai sekarang tak usahlah nDoromas mencoba bekerjasama dengan Pemerintah Belanda. Nampaknya rakyat mulai terbangun semangat perlawanannya seperti yang pernah terjadi di Banten dan di negeri kita sendiri."
Mendengar nasihat yang tulus ikhlas dan bantuan Mundingsari melindungi mukanya di hadapan umum, Raden Mas Girisanta menjadi terharu. Sahutnya dengan napas sesak.
"Nasihatmu, akan kugenggam sampai ke liang kubur."
Pada saat itu Karimun alias Umarmaya datang mengantarkan seperangkat pakaian preman. "Silakan ganti saja," katanya. "Agar Tuan tidak menjumpai suatu kesukaran di tengah jalan."
Nasihat itu sebenarnya tulus, tetapi terasa menyakitkan hati. Segera ia menanggalkan pakaian seragam istana Cirebon dan menyatakan rasa terima kasih berulang kali. Kemudian dengan diantar Mundingsari, ia membeli seekor kuda tunggangan. Setelah berpamit, kudanya dibiarkan lari seenaknya.
Mundingsari menghela napas. Ia seperti merasakan kepahitan majikannya itu. Namun di dalam hati kecilnya terbintik sesuatu rasa bahagia. Entah apa sebabnya. Demikianlah setelah tubuh Raden Mas Girisanta hilang dari penglihatan, perlahan-lahan ia kembali. Tatkala itu, orang-orang sedang sibuk menghadapi meja perjamuan yang panjang. Daniswara duduk di atas kursi
562

Ketua Himpunan yang resmi. Ia nampak gagah dan berwibawa. Dengan cekatan ia menyelesaikan soal-soal dan masalah-masalah yang diajukan kepadanya. Mereka yang mengajukan persoalan merasa puas. Dengan demikian kewibawaan Ketua Perserikatan yang baru itu, makin teguh dan meresap ke dalam hati.
Malam itu—Mundingsari dan pemuda berbaju putih— menginap di dalam pesanggrahan yang sudah disediakan. Hampir satu malam penuh tak dapat Mundingsari memejamkan matanya. Berbagai pikiran berkelebat di dalam benaknya. Dan ia pun tak sanggup memecahkan semua yang merupakan teka-teki pelik.
Sehari tadi, dengan diam-diam ia memperhatikan Ki Jaga Saradenta. Makin diperhatikan, makin yakinlah dia bahwa orang itu bukan Ki Jaga Saradenta yang aseli. Lantas siapa? Dan apa keuntungannya menyulap dirinya menjadi Ki Jaga Saradenta? Itulah teka-teki yang pertama.
Yang kedua—mengenai pemuda berbaju putih temannya berjalan. Pemuda itu berani melakukan apa saja untuk merebut kepala pendekar Wirapati. Apa sebabnya dan apa hubungannya dengan pendekar Wirapati?
Dia menyembunyikan dirinya sangat rapat. Lebih mengherankan lagi adalah sikap Daniswara. Pendekar gagah ini seperti sudah mengenal pemuda itu, tapi berpura-pura tak mengenal. Apakah maksudnya?
Dan yang ketiga: apakah hubungannya semuanya itu dengan pertemuan para pendekar ini. Terasa sekali betapa besar latar belakang yang tersembunyi di belakangnya.
563

Pada hari esoknya—Daniswara memerintahkan orang untuk menjemputnya. Daniswara, Ki Jaga Saradenta, pemuda berbaju putih dan beberapa orang telah berada di meja perjamuan menunggunya. Mereka kini berada di serambi depan sebuah gedung besar. Agaknya gedung bekas kelurahan. Dan begitu dia tiba, Daniswara menyambut.
"Saudara Mundingsari! Beberapa saudara seperjuangan sudah menunggu kehadiranmu semenjak pagi buta tadi. Mereka datang sebagai saksi. Silakah makan."
Setelah makan dan minum selintasan, Daniswara mulai berkata lagi: "Saudara ini meminta padaku agar aku mengembalikan sebuah kepala orang yang kucuri. Memang benar—akulah yang mencuri kepala itu. Kepala seorang pendekar kenamaan Wirapati yang menemui nasib buruk. Dengan mempertaruhkan jiwa, aku serbu pesanggrahan Kompeni Belanda. Waktu itu— saudara ini dan saudara Mundingsari—ikut hadir pula. Tetapi saudara Mundingsari, pernahkah engkau mengamat-amati kepala pendekar Wirapati tatkala terpancang di tiang bendera dahulu?"
Inilah suatu pertanyaan yang mengejutkan. Mundingsari memang berada di atas tembok. Menuruti hati yang meluap-luap, ia lantas bergerak hendak merebut. Tentu saja tak sempat ia mengamat-amati, karena pada saat itu beberapa serdadu penjaga merabunya. Maka oleh pertanyaan itu, ia membalas dengan suatu pertanyaan pula.
"Apakah maksud Saudara?"
564

Daniswara tertawa perlahan melalui dadanya. Katanya sambil menunjuk beberapa orang yang berada di sampingnya.
"Saudara-saudara ini adalah saksinya. Merekalah yang menjarum kepala yang kucuri dengan tubuhnya. Baiklah kukabarkan kepadamu bahwa jenazahnya sudah lengkap. Mereka inilah.yang mencuri tubuh yang kehilangan kepala. Sedangkan aku yang mencuri kepalanya. Kemudian merekalah yang melekatkan kepala dan tubuhnya dengan jaruman benang. Dengan demikian lengkaplah sudah. Mari kita lihat!"
Dengan langkah panjang, Daniswara mendahului mereka memasuki gedung bagian ruang tengah. Model rumah pada dewasa itu belum banyak jendelanya. Maka orang-orang menyulut beberapa buah penerangan untuk menerangi kegelapan ruang tengah. Setelah melintasi ruang tengah, Daniswara membawa mereka ke serambi belakang. Di tengah taman bunga nampaklah sebuah peti mati membujur dengan tenangnya.
Peti mati itu berada di atas sebuah meja panjang.
Asap kemenyan mengepul-kepul lebar menebarkan bau harumnya yang khas.
"Lihatlah!" kata Daniswara kepada Pemuda berbaju putih. "Aku sudah mengurusnya."
Dengan wajah berubah-rubah Pemuda berbaju putih itu melayangkan pandangnya kepada peti mati. la berdiri tegak bagaikan tugu. Selagi demikian, Daniswara menghampiri peti mati dengan sikap hormat. Katanya kepada Mundingsari.
565

"Dengan sesungguhnya—belum pernah aku bertemu muka dengan pendekar Wirapati. Hanya mengandalkan kepada pembicaraan orang, aku berjuang untuk merebutnya. Aku berhasil merenggut kepalanya dari tiang bendera. Kemudian kubawa kemari. Dua hari kemudian datanglah saudara-saudara ini membawa tubuhnya. Mereka disertai seorang pegawai penjara yang gagah. Tapi alangkah terkejutku—setelah aku mendapat keterangan— bahwa yang mati terpangkas sebenarnya bukan pendekar Wirapati.
"Kau berkata apa?" Pemuda berbaju putih itu berubah wajahnya.
"Saudara Mundingsari—coba kau lihat. Apakah kau kenal dia?" Daniswara tidak menanggapi pertanyaan Pemuda berbaju putih.
Dengan berbimbang-bimbang dan penuh pertanyaan, Mundingsari menghampiri peti jenazah. Begitu peti terbuka, ia tertegun-tegun. Lalu berputar mengarah Daniswara. Katanya dengan suara curiga.
"Tidak... tidak... aku tidak mengenalnya. Jenazah siapa ini?"
Mendengar ucapan Mundingsari, mendadak Pemuda berbaju putih itu meraba hulu pedangnya. Dan melihat gerakan itu, Daniswara buru-buru berkata, "Nanti dulu jangan keburu nafsu. Benar-benar aku tidak main gila. Untuk ini—bersedia aku mengganti dengan kepalaku sendiri. Coba panggil tetamu kita masuk!"
Seorang laki-laki yang berdiri di pojok petamanan bergegas memasuki ruang samping. Tak lama kemudian masuklah seorang laki-laki yang mengenakan pakaian
566

seragam pegawai penjara. Dan melihat orang itu, Mundingsari memekik perlahan.
"Hai! Bukankah Saudara yang memberi jalan kepadaku—tatkala aku meraba pintu tahanan?" serunya heran.
Pegawai penjara itu tertawa seraya memanggut. Memang dialah dahulu yang berpura-pura menyakiti diri, tatkala penjaga-penjaga datang memekikkan suatu bahaya.
"Saudara—tolong berilah mereka keterangan yang sesungguhnya, agar jangan terjadi salah paham," kata Daniswara dengan suara nyaring.
"Aku bernama Anom Suparman. Demi Tuhan—aku adalah anak murid Gunung Damar. Aku pun menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Aku bersedia bersumpah dengan cara apa pun juga, bahwa keteranganku ini adalah benar," orang itu mulai. "Sebagai anak murid Gunung Damar aku bekerja menjadi laskar jaga penjara Magelang untuk menuntut penghidupan. Sebagai anak murid Gunung Damar pula, tentu saja aku tidak tinggal diam melihat pendekar Wirapati terkurung di dalam penjara. Sebab Beliau adalah paman guruku. Baiklah kunyatakan dengan terus terang, bahwa aku adalah murid ketujuh pendekar Suryaningrat adik seperguruan pendekar Wirapati. Aku bekerja di dalam penjara— sebenarnya atas anjuran guru pula. Guru telah mempunyai firasat—bahwa akan terjadi sesuatu mengenai suami kakakku seperguruanku. Itulah Pangeran Diponegoro yang kini benar-benar disingkirkan ke Tegalrejo— Maka aku menerima tugas-tugas tertentu untuk persiagaan hari depan. Penjara itulah tempat yang
567

paling tepat." Setelah berkata demikian, ia menghunus pedangnya dan diletakkan di atas peti mati. Katanya mengarah kepada Mundingsari. "Tatkala Saudara memasuki penjara, aku bersyukur bukan main. Lantas saja— Saudara kupersi-lakan masuk untuk menemui paman guruku. Tetapi benarkah yang meringkuk di dalam penjara adalah benar-benar paman guruku? Tidak. Dialah seorang pahlawan yang tubuhnya kini menggeletak di dalam peti mati ini. Saudara mungkin sudah lama sekali tidak pernah bertemu dengan paman guruku. Buktinya— meskipun Saudara menyulut api penerangan belum juga bisa mengetahui dengan segera. Saudara muda ini pun pernah masuk pula ke dalam sel satu jam sebelum Saudara Mundingsari tiba. Bukankah aku yang menolong mengantarkan ke dalam sel? Hanya saja aku melarang saudara muda itu menyulut api penerangan. Benar tidak keteranganku ini?"
Pemuda berbaju putih melepaskan tangannya dari hulu pedangnya. Ia tidak membenarkan maupun membantah. Tetapi melihat tangannya menjauhi hulu pedang— tahulah Daniswara—bahwa ia sudah dapat dibuatnya mengerti.
"Saudara!" kata Anom Suparman dengan suara tegas. "Kunyatakan di sini, bahwa Paman Wirapati telah tiba di atas Gunung Damar dengan tak kurang suatu apa."
"Kalau begitu—siapakah dia yang menggantikan kedudukan pendekar Wirapati dengan suka-rela?" tanya Mundingsari dengan hati terharu.
"Mula-mula ia masuk ke dalam sel. Kemudian membius Paman Wirapati. Setelah menyerahkan Paman Wirapati kepadaku, dia masuk ke dalam sel,"
568

jawab Anom Suparman. "Membawa Paman Wirapati yang kena bius keluar penjara bukanlah pekerjaan mudah. Aku membutuhkan waktu satu hari satu malam. Setelah berhasil, segera aku kembali menemui pahlawan ini. Sayang—waktu tidak memberi kesempatan lagi. Berturut-turut penjara diserbu para pendekar yang ingin menolong Paman Wirapati. Penjara lantas mendapat penjagaan ketat. Hanya ini—sewaktu dia dibawa keluar sel untuk menerima hukuman pancung—aku menemukan segumpal kertas."
Anom Suparman menggerayangi saku celana dan mengeluarkan segumpal kertas sebesar gundu. Ia hendak menyerahkan kepada Daniswara. Tiba-tiba Pemuda berbaju putih itu melesat dan menyambar gumpalan kertas. Anom Suparman bukanlah seorang yang lemah. Tetapi gerakan pemuda berbaju putih itu gesit luar biasa dan di luar dugaan, sehingga gumpalan kertas yang digenggamnya kena terampas.
Dengan tangan agak bergemetaran— pemuda itu membuka gumpalan kertas. Samar-samar terbacalah sederet kalimat yang berbunyi: "Adikku, kau tengoklah pekuburan ayah angkatmu! Beliau tidur dengan tenang di sebelah timur gubuk kita."
Dan membaca bunyi tulisan itu* pemuda berbaju putih itu memekik dengan wajah pucat lesi. Terus saja ia melesat menubruk peti mati dan dibukanya dengan sekali hentak. Ia menjenguk. Lalu berteriak menyayat hati.
"Kakang! Kakang Gandarpati! Perlukah engkau berkorban begini?"
Setelah berteriak demikian pemuda itu rebah terkulai memeluk peti mati.
569

Mereka yang berada disitu, belum jelas sebab musababnya. Tapi segera mengetahui, bahwa yang berada di peti jenazah adalah kakak pemuda itu. Entah kakak bagaimana.
Daniswara bermata tajam. Ia melihat runtuhnya gumpalan kertas yang dibawa Anom Suparman. Ia menghampiri dan memungutnya. Sebentar ia membacanya dan menge-rinyit dahinya. Dengan mengerlingkan mata ia menyiratkan pandang kepada Ki Jaga Saradenta. Orang tua itu lalu menghampiri peti mati dengan tertatih-tatih. Ia menjenguk. Sebentar kemudian memanggut-manggut dengan penuh pengertian.
Melihat hal itu, rasa curiga Mundingsari kian menjadi-jadi. Setiap orang tahu perhubungan antara Ki Jaga Saradenta dan Wirapati melebihi saudara kandung sendiri. Apa sebab semenjak tadi, tidak menunjukkan kesan-kesan tertentu begitu melihat peti jenazah Wirapati. Satu-satunya kesan kejadian yang pernah diperlihatkan kepada umum ialah tatkala dia menangis seseng-grukan di atas panggung. Tapi dibandingkan dengan keadaan sekarang, terasalah bahwa tangisnya kemarin adalah suatu sandiwara belaka. Namun Mundingsari seorang yang berpengalaman. Tak mau ia gegabah dan berlaku sembrono. Sebab—nampaknya antara orang tua itu dengan Daniswara— seakan-akan mempunyai suatu kerja sama yang erat.
"Ah—Kakang Gandarpati," terdengar pemuda itu mengeluh. "Selamanya aku menyesalimu sebagai seorang pemuda yang menyembah kepada kepentinganmu sendiri. Tak pernah kusangka—bahwa engkau sanggup berkorban begini besar."
570

Daniswara menghampiri peti jenazah. Perlahan-lahan ia menutupnya kembali. "Betapa pun juga, engkau seorang pahlawan. Hanya saja seorang pahlawan yang tiada gunanya."
Mendengar ucapannya, pemuda berbaju putih itu meletik bangun. Dengan pandang berapi-api dia menyemprot.
"Kau bilang apa? Sebagai seorang yang berjasa merebut jenazah kakakku, patut aku memujamu di dalam hati. Tetapi apakah yang kaukatakan tadi?"
Semua orang menyaksikan—betapa sedih pemuda itu. Dan ucapan Daniswara sungguh tak tepat. Itulah menusuk perasaan orang yang mempunyai hubungan rapat dengan jenazah tersebut. Tetapi Daniswara bersikap tawar saja. Bahkan ia tersenyum.
"Saudara! Orang ini agaknya mempunyai hubungan rapat denganmu. Maafkan kata-kataku tadi. Nah, katakan kepadaku dimana aku harus menguburnya."
"Kau tadi bilang apa?" Tetap saja pemuda itu mengotot. Maka jelaslah bahwa dia seorang pemuda yang mudah sekali tersinggung perasaannya.
Melihat hal itu, buru-buru Ki Jaga Saradenta menengahi.
"Saudara kecil, dengarkan. Saudara Daniswara ini adalah seorang pengagum pendekar Wirapati. Dengan tak menghiraukan bahaya, dia mencuri kepalanya. Ternyata kepala itu bukan kepala pendekar
Wirapati. Pantasnya, dia akan mencampakkan lantaran kecewa. Namun ia tak berbuat begitu. Tetap saja ia
571

menghormatinya. Kini malah ditidurkan di dalam peti mati kayu cendana. Bukankah ini suatu penghormatan yang mengharukan?"
Diingatkan hal itu, si Pemuda dapat menyabarkan diri. Lantas saja ia membungkuk hormat.
"Maafkan aku. Maafkan semua perlakuanku yang kasar dan kurang patut. Tentang dimana kakakku—harus dikubur— sebaiknya didekatkan saja di samping gurunya. Gurunya bernama Sorohpati yang tewas akibat suatu pengeroyokan. Menurut bunyi tulisannya tadi, gurunya dikebumikan di sebelah timur gubuknya yang berada di atas jurang. Letaknya di sebelah selatan Kota Waringin. Kesanalah jenazah ini harus dibawa."
Setelah pertemuan itu Daniswara benar-benar membawa jenazah Gandarpati ke atas bukit yang disebutkan. Dia dikebumikan di dekat kuburan gurunya.
"Pengorbanan saudaramu Gandarpati memang mengagumkan," kata Daniswara waktu itu. "Hanya saja—menurut penda-patku—itulah suatu pengorbanan yang siasia. Suatu pengorbanan akibat kegoblokan-nya. Maka jelaslah, dia bukan seorang gagah yang patut dicatat sejarah."
Pemuda berbaju putih yang tadi sudah dapat bersabar hati, kembali menjadi beringas. Paras mukanya berubah merah menyala dan pandang matanya berkilat-kilat. Mundingsari yang berada di dekatnya ikut tersinggung pula perasaannya.
"Sebenarnya, apakah maksud Saudara?"
Daniswara tertawa gelak.
572

"Sungguh sayang. Sayang sekali! Nampaknya saudara Gandarpati ini mempunyai rasa kesetiaan dan rasa berbakti yang berlebih-lebihan terhadap seseorang yang dihormati. Pendekar Wirapati memang seorang pendekar yang tinggi ilmu kepandaiannya. Pribadinya luhur pula. Tetapi dia toh bukan manusia yang pantas kita puja-puja. Coba—dia pernah bekerja apa untuk tanah air dan bangsa? Seorang yang bisa membangkitkan semangat perjuangan bangsa—barulah boleh kita puja dan kita sujudi dengan sepenuh hati. Tegasnya dia bukan seorang pendekar sejati."
Mundingari terkesiap mendengar perkataan Daniswara. Sebagai seorang pendekar yang berpengalaman, ia seperti menangkap sesuatu maksud yang bersembunyi di belakang kata-katanya. Apakah sepak terjangnya sekarang ini adalah suatu permulaan perjuangan merebut kekuasaan pemerintahan?
"Hm!" Pemuda berbaju putih itu mendengus. "Kalau begitu, kau ini ingin menjadi seorang Sultan. Orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang Sultan pun belum tentu seorang ksatria sejati. Malahan mungkin sekali ia seorang pendekar godogan."
Sekarang paras muka Daniswara lah yang berganti menjadi merah menyala. Dengan suara agak kaku ia memotong.
"Lantas menurut pendapatmu, siapakah yang patut disebut seorang ksatria sejati?"
"Pada saat ini ada seorang kstria yang namanya menggetarkan bumi. Dia pemimpin perhimpunan para raja muda. Pengaruhnya luas sampai meraba seluruh pojok pulau Jawa. Dialah sebenarnya yang mempunyai
573

kesempatan bagus untuk mengangkat diri menjadi seorang raja. Namun ia tak sudi. Cita-citanya hanya hendak mengusir Kompeni Belanda dari bumi Nusantara. Kemudian hendak menyerahkan hasil jerih payahnya kepada rakyat banyak. Orang yang berjuang tanpa pamrih seperti dia itulah, baru pantas disebut seorang ksatria sejati dan seorang pendekar tulen."
"Dialah pendekar besar Sangaji," Mundingsari menyeletuk tanpa merasa.
Paras muka Daniswara berubah hebat. Kadang-kadang merah menyala, kadang pucat lesi, gugup. Ki Jaga Saradenta menye-lak. "Dahulu dan sekarang memang berbeda. Zaman selalu bergerak dan berubah-rubah," katanya. "Sangaji memang seorang pendekar besar pada zamannya. Tetapi pada saat ini belum tentu dia sudi mengulurkan tangan membantu membangunkan cita-cita baru. Memang dialah seorang pendekar yang tidak mempunyai cita-cita."
Pemuda berbaju putih itu terbangun sepasang alisnya. Dahinya berkerinyit seakan-akan sedang berpikir. Sekonyong-konyong Daniswara meledak hebat.
"Sangaji! Pendekar apakah Sangaji itu? Menurut pendapatku, dialah seorang yang berkhianat. Dia dilahirkan di sini, di Jawa Tengah. Lagi dia hidup di tengah tangsi Kompeni Belanda. Sekarang bermukim di Jawa Barat. Hm—pendekar macam apakah dia itu?
Dialah seorang pendekar yang palsu!"
Pada dewasa itu, nama Sangaji sangat diagung-agungkan orang. Baik kawan maupun lawan mengagumi sampai ke dasar hati. Maka cacian Daniswara itu mengejutkan mereka yang hadir. Terutama Anom Suparman
574

yang merasa diri ada sangkut-pautnya. Selagi ia hendak membuka mulut, Pemuda berbaju putih itu membentak.
"Sebenarnya engkau ini manusia macam apa?"
Berbareng dengan bentakannya, ia menghunus pedangnya dan menikam secepat kilat. Itulah suatu tikaman di luar dugaan. Mundingsari memekik tertahan. Pada saat itu, Daniswara tak dapat bergerak lagi. Selain jaraknya sangat dekat—kejadian itu di luar dugaan. Dan dalam saat yang sama, tangan Ki Jaga Saradenta berkelebat menangkis. Sebenarnya ingin ia memukul lengan pemuda itu. Tetapi karena ia berada di samping, tangannya menyelonong menyambar kepala.
Pedang pendek pemuda itu terus menikam sasarannya. Kena getaran pukulan Ki Jaga Saradenta, bidikannya agak mencong. Meskipun demikian lengan Daniswara tak dapat membebaskan diri. Segumpal dagingnya terpapas dan menyemburkan darah. Sudah begitu, pedang si Pemuda berbelok arah memapas paras muka Ki Jaga Saradenta. Bret!
Baik pemuda itu maupun Ki Jaga Saradenta terhantam kepalanya masing-masing. Dan begitu kena pukul, kedua-duanya lantas berubah jenis. Topi penutup kepala berbaju putih itu runtuh di tanah. Ikatan kepalanya terlepas. Dan terlihatlah segebung rambut panjang terurai lembut menutup telinga. Ternyata dia seorang gadis yang bermata cemerlang dan berparas cantik luar biasa.
Pada saat itu, Ki Jaga Saradenta pun memekik perlahan. Paras mukanya kena terpapas dan kepalanya kena ketok gagang pedang, la menundukkan kepalanya. Tatkala terangkat, kepalanya penuh dengan rambut
575

panjang rereyapan. Dia pun seorang wanita pula. Cantik dan berwibawa. Hanya saja umurnya sudah melebihi lima puluh tahun.
"Hai!" pekiknya. "Bukankah engkau Astika anak pungut Adipati Surengpati?"
Semua orang tertegun keheranan. Pemuda berbaju putih itu yang ternyata benar Astika, melesat meninggalkan ruangan. Tatkala kakinya tiba di ambang pintu, ia menoleh.
"Eyang Sirtupelaheli... terimalah salam mesra Eyang Gagak Seta. Pada saat ini, Beliau sedang merundingkan sesuatu dengan guruku Adipati Surengpati."
Setelah berkata demikian, ia menghilang melalui ruang tengah. Gerakannya gesit luar biasa.
"Astika! Tunggu dulu!" teriak suatu suara nyaring. Itulah suara Sirtupelaheli yang merubah diri menjadi Ki Jaga Saradenta.
Astika tidak meladeni. Setibanya di luar halaman, ia bersiul nyaring. Kuda putihnya yang semenjak kemarin berada di dekat gedung itu, datang berlarian menghampiri. Astika lantas melompat ke atas punggung. Pada saat itu terdengarlah suara Sirtupelaheli memburu.
"Kau bilang apa tadi?"
Astika tersenyum.
"Semenjak berada di Pulau Karimun Jawa aku bernama Kilatsih."
Setelah berkata demikian ia menjepit perut kudanya. Dan kudanya lantas terbang secepat kilat. Sebentar saja bayangannya telah hilang dari pengamatan mata.
576

Gadis remaja yang berpakaian sebagai pemuda berbaju putih itu, memang Astika anak angkat Sorohpati. Seperti diketahui, dalam suatu pertempuran yang menentukan, ia kena dibawa lari pendekar Wau Gunung. Adipati Surengpati berhasil menolongnya, tetapi dalam keadaan luka parah lantaran kena jarum beracun. Segera ia dibawa menyeberang ke Karimun Jawa. Di kepulauan itu, ia dirawat dengan tekun dan cermat.
Beberapa hari kemudian Sangaji, Titisari dan Gagak Seta datang pula mengunjungi Pulau Karimun Jawa. Masing-masing membawa orang asing. Sangaji dan Titisari membawa Fatimah dan Gandarpati murid Sorohpati yang setia. Sedang Gagak Seta membawa Sirtupelaheli. Mereka membantu mempercepat sembuhnya Astika.
Dalam penyembuhan sarwa racun, Sirtupelaheli yang berjasa besar. Sebab pendekar wanita itu mengenal sarwa racun dengan baik. Setelah beberapa waktu lamanya berdiam di pulau itu, ia berangkat kembali ke Jawa bersama Gagak Seta.
Pergaulan Astika dan Sirtupelaheli tidak terjadi terlalu lama. Tetapi masing-masing mengenal pribadinya dengan baik. Itulah sebabnya begitu topi penutup kepala terpangkas kutung segera Sirtupelaheli mengenal Astika. Begitu pula sebaliknya.
Astika berdiam di Pulau Karimun Jawa hampir tujuh bulan lamanya. Selama itu ia memperoleh warisan ilmu pedang Witaradya dari Adipati Surengpati. Rahasia menggunakan senjata bidik biji-biji sawo dan ilmu petak Retno Dumilah warisan Gagak Seta. Lantaran sudah mendapat latihan dasar dari Sorohpati yang ternyata
577

salah seorang sentana21) Adipati Surengpati, maka ia bisa menerima semua pelajaran dengan cepat dan tepat. Adipati Surengpati berkenan dalam hatinya. Nama Astika lantas diganti dengan nama Retno Kilatsih, seorang pahlawan wanita pertama di zaman Panembahan Senopati di samping Retno Kumala. Kilatsih sendiri bagi Adipati Surengpati berarti suatu kecepatan bagaikan kilat, la berharap agar Astika di kemudian hari dapat bergerak secepat kilat.
Pada masa mudanya, Adipati Surengpati tak dapat mewariskan ilmu kepandaiannya yang tinggi kepada puterinya sendiri. Karena Titisari seorang yang bandel. Untunglah pada dewasanya Titisari bertemu dengan Gagak Seta. Kemudian menjadi murid pendekar jembel itu. Selain itu, memperoleh sedikit ilmu sakti Sangaji yang didapatnya dari keris Kyai Tunggulmanik. Maka dialah seorang pendekar wanita yang paling cemerlang pada zamannya. Walaupun demikian, Adipati Surengpati masih saja mempunyai rasa kecewa dalam hati kecilnya. Sebab ilmu kepandaiannya yang tinggi tiada yang mewarisi. Maka begitu melihat bakat dan kemampuan Astika hatinya runtuh dan terhibur. Terus saja ia menggemblengnya dan mewariskan semua rahasia ilmu saktinya yang luar biasa.
Watak Astika hampir mirip dengan Titisari. Panas membara, gampang tersinggung, berani, bandel, angkuh dan berkepala batu. Watak ini cocok dengan watak Adipati Surengpati sendiri yang serba aneh. Maka rasa kasih sayang Adipati Surengpati, bertambah sangat subur.
Titisari tahu kekecewaan hati ayahnya. Maka ia membantu mewujudkan cita-cita ayahnya hendak
578

mengabadikan ilmu saktinya. Dalam kesibukannya membantu suaminya mengatur kancah perjuangan di Jawa Barat, setiap tiga bulan atau setengah tahun sekali—ia datang berkunjung ke Karimun Jawa. la ikut mendidik dan menurunkan ajaran rahasia ilmu petak dan senjata biji sawo. Ia berhasil membantu Astika menjadi seorang pendekar wanita berkepandaian tinggi. Tetapi satu hal, Titisari tak sanggup mewariskannya. Itulah kecerdasan otaknya yang cemerlang. Hal ini bukannya berarti bahwa Astika seorang gadis yang bebal otaknya. Tetapi lantaran otak Titisari yang cemerlang itu, sesungguhnya adalah karunia Tuhan.
Dengan membekal beberapa macam ilmu kepandaian yang tinggi itu, Astika yang kini bernama Retno Kilatsih cepat sekali memperoleh nama. Dalam beberapa bulan merantau di daratan Pulau Jawa, namanya ditakuti kaum pencoleng dan disanjung puji oleh mereka yang membutuhkan perlindungannya.
Dalam menekuni dan mendalami ilmu Witaradya, beberapa kali ia bertemu dengan Sangaji, Ia tertarik terhadap kemuliaan hati pendekar besar itu. Tak setahunya sendiri, wataknya yang agak liar dapat terkenda-likan. Sekarang ia menempatkan diri di antara sifat-sifat dan sepak terjang suami isterP Sangaji yang besar pegaruhnya di dalam hatinya. Ia menganggap Sangaji dan Titisari tidak hanya sebagai guru—tetapi pun berbareng orang tuanya sendiri. Itulah sebabnya—begitu mendengar nama Sangaji dicemoohkan Daniswara—tak dapat lagi ia menguasai diri. Hatinya yang panas bagaikan api lantas saja meledak, walaupun tahu Daniswara berjasa besar merebut kepala kakak seperguruannya Gandarpati.
579

Demikianlah—dalam waktu sekejap saja—ia sudah meninggalkan Kota Wonosobo jauh-jauh. Kuda putihnya memang kuda jempolan. Kuda itu anak kuda si Willem kuda tunggangan Sangaji yang perkasa. Selain gagah perkasa dan kuat, larinya seperti iblis.
Kilatsih mendongkol hatinya. Caci maki Daniswara terhadap Sangaji, memanaskan kupingnya. Tetapi setelah membedalkan kudanya beberapa waktu lamanya, perlahan-lahan ia dapat menguasai diri. Lantas mulailah dia bisa berpikir dan menimbang-nimbang. Katanya di dalam hati, "Sesungguhnya siapakah Daniswara itu? Mengapa Eyang Sirtupelaheli membantunya?"
Dari tutur kata Titisari, ia mendengar riwayat hidup Sirtupelaheli lengkap dengan sepak terjangnya yang aneh dan liar. Pendekar wanita—adik seperguruan Gagak Seta itu—pandai mengelabui orang dengan penyamarannya. Di seluruh dunia ini, hanya pandang mata Gagak Seta seorang yang tidak dapat dikecohnya.
"Eyang Sirtupelaheli menyamar sebagai Ki Jaga Saradenta. Pasti mempunyai tujuan dan maksud tertentu," katanya di dalam hati. "Hanya apa tujuan dan maksudnya, masih kurang jelas. Aku telah menggagalkannya. Meskipun tidak kusengaja— tetapi apakah aku tidak keliru? Jangan-jangan aku menghancurkan rencananya yang besar. Ah—kalau benar-benar begitu— aku jadinya manusia yang tak mengenal budi. Dia ikut serta merebut nyawaku tatkala aku kena racun. Tapi aku malahan.... "
Dengan hati pepat dan cemas, ia terus melarikan kudanya ke barat. Dalam benaknya berkelebatlah bayangan Daniswara yang kasar berberewok tetapi
580

gagah perwira. Akan tetapi meskipun gagah perwira, dia sama sekali tak merasa takluk. Apakah sebabnya, ia tak tahu sendiri. Dia berlaku ganas terhadap pendekar itu. Entah benar entah tidak, dia pun tak tahu sendiri.
Kilatsih kala itu lagi berumur sembilan belas tahun lebih sedikit. Cara berpikirnya seorartg gadis sebaya dia, pastilah masih serba remaja. Tetapi dia adalah seorang gadis yang hidup dalam penderitaan dan pernah menyeberangi peristiwa-peristiwa dahsyat yang mengguncangkan hatinya. Betapapun juga cara berpikirnya jauh lebih dewasa daripada gadis sebayanya.
Meskipun demikian^menghadapi persoalan yang rumit baginya—hatinya menjadi kecil lantaran takut kena salah. Maka tujuannya yang melintas dalam benaknya, hendak ia mencari Sangaji dan Titisari. Mereka berdua itulah yang dianggapnya sebagai orang tua pelindungnya. Hendak ia memuntahkan semua rasa resahnya di pangkuan Titisari. Kemudian memeluk kedua kaki Sangaji mohon perlindungan.
Selagi demikian, tiba-tiba kuda putihnya meringkik sedih, la keget dan tersadar. Kuda putihnya yang diberinya nama—Mega-nanda—biasanya larinya seumpama bisa mengejar angin. Sekarang setelah ia tersadar, barulah diketahuinya bahwa semenjak tadi kegesitan Megananda jauh lebih berkurang daripada biasanya. Ia meliuk memeriksa mulutnya. Mulut Megananda ternyata mengeluarkan buih putih bercucuran. Dengan hati berdebaran ia menepuk-nepuk punggung dan leher binatang itu. Kemudian membujuk dengan suara halus.
581

"Megananda—kau kenapa? Rupanya kau sakit. Coba larilah cepat lagi. Aku harus menjauhi mereka secepat mungkin!"
Megananda seperti mengerti kata-katanya. Dengan mengeluarkan buih putih ia berbenger,22) lalu memanjangkan kakinya. Seketika itu juga, ia lari sepesat angin. Namun sebentar saja, ia kehilangan tenaga. Keempat kakinya seakan-akan enggan digerakkan.
Megananda adalah sebangsa kuda yang jarang terdapat di dunia. Dialah kuda mustika sebenarnya.
Dalam satu hari, dia bisa berlari tanpa berhenti sejauh tiga ratus kilo meter. Pada jarak pendek, kecepatan larinya seringkali malahan menggiriskan hati Kilatsih. Sekarang Megananda tak dapat lari cepat seperti biasanya. Keruan saja, hati Kilatsih terguncang.
Wanita adalah makhluk yang halus perasaannya. Melihat Megananda dalam keadaan demikian, cepat sekali Kilatsih merasakan sesuatu yang kurang wajar. Segera ia menarik kendali dan turun ke tanah. Dengan lembut tangannya meraba-raba leher dan mulut Megananda. Ia tercengang tatkala tangannya merasakan suatu hawa panas yang menyengat dari hidung dan mulut yang berbuih.
'Hai! apakah kau sakit! Kapan kau mulai sakit?
Kemarin kau masih segar bugar," katanya tak mengerti.
Megananda meringik-ringik perlahan seakan-akan sedang mengadu. Dan Kilatsih menjadi bingung. Sewaktu belajar menunggang kuda, sebenarnya dia memperoleh pengetahuan tentang penyakit kuda lengkap dengan pantang-pantangannya. Tapi penyakit yang menyerang Megananda kali ini, bukanlah penyakit biasa. Akhirnya ia
582

memeluk Megananda dengan penuh sayang. Lalu membesarkan, "Megananda— kau kuatkan lagi sampai mencapai kota di depan itu. Aku akan mencarikan obat bagimu."
Megananda mendongakkan kepalanya seolah-olah mengerti bujukan majikannya. Setelah Kilatsih melompat ke atas punggungnya, ia berbenger sekeras-kerasnya seperti hendak menguatkan diri. Kedua kaki depannya diangkatnya tinggi-tinggi. Lalu melompat ke depan. Dengan seluruh tenaganya ia lari bagaikan terbang. Tapi belum sebegitu jauh, kembali tenaganya punah. Buih yang meruap dari mulutnya bagaikan busa laut membasahi dada dan kakinya. Benar-benar mengejutkan!
Oleh rasa iba, Kilatsih menahan lesnya. Selagi hendak meloncat turun ke tanah, sekonyong-konyong ia mendengar derap kuda menyusul dari belakang.
"Nona Kilatsih! Kudamu sebentar lagi tak dapat menggerakkan kakinya. Mari kita berbicara dahulu!" terdengar suatu teriakan nyaring.
Kilatsih menoleh. Orang yang menyarunya bukan lain adalah Daniswara. Ia menunggang kuda warna kecokelat-cokelat-an.
"Kau mau berbicara apa lagi?" Kilatsih memberengut seraya menahan kudanya.
"Tadi aku memaki-maki Sangaji, sehingga membuat hatimu marah," sahut Daniswara, "Tapi tahukah engkau apa sebab aku memakinya?"
Darah Kilatsih meluap lagi. Memang dia seorang gadis yang gampang sekali tersinggung hatinya. Dahulu saja
583

sewaktu menemani ayah-angkatnya melabrak gerombolan Kartawirya—walaupun belum pandai memegang pedang, seringkali hendak menerjang mengadu jiwa. Apalagi, kini ia sudah menjadi seorang pendekar wanita ahli pedang. Maka sambil membentak, tangannya terus meraba hulu pedangnya.
"Tak sudi aku mendengarkan segala ocehanmu," katanya sengit. Kemudian suaranya berubah agak sabar. "Kau sudah kesudian mengurus jenazah kakakku. Budi ini bukan main besarnya bagiku. Karena itu, janganlah kau merusak arti jasamu ini. Lebih baik jangan kau sebut-sebut nama Sangaji."
"Hai—sungguh mengherankan!" ujar Daniswara mendekat. "Sebenarnya engkau mempunyai hubungan bagaimana dengan Sangaji?"
"Aku bilang—janganlah kau menyebut-nyebut nama Sangaji!" tungkas Kilatsih dengan pandang menyala. "Daniswara—marilah kita mengambil jalan kita masing-masing. Budimu akan selalu kuingat sepanjang hidupku. Di kemudian hari aku pasti membalas budimu. Inilah janjiku."
"Baiklah," Daniswara tertawa, "Kau tak sudi mendengarkan kata-kataku. Aku pun tidak akan memaksa. Tetapi cobalah, dengarkan. Aku mempunyai sebuah kisah. Kau sudi mendengarkan atau tidak?"
Betapapun juga, bau kanak-kanak belum hilang seluruhnya dari hati Kilatsih.
Mendengar istilah kisah, hatinya lantas tertarik. Sahutnya dengan mengulum senyum.
584

"Kalau sebuah kisah, ceritera atau dongeng—itu lain perkara. Tetapi meskipun hanya dongeng, harus yang bermutu. Kalau tidak, aku pun tak sudi mendengarkan."
"Itu pun tergantung pada cara tanggap-anmu belaka," ujar Daniswara dengan tertawa tawar, "Nah—dengarkan! Ada dua orang perantau dari Pulau Bali bekas peraju-rit Kerajaan Kalungkung. Mereka berdua menetap di Pulau Jawa dalam satu rumah. Mereka pun kawin dengan dua gadis dari desa tempat tinggalnya yang baru. Dua tahun kemudian, masing-masing mempunyai anak. Secara kebetulan anak mereka laki-laki semua. Umurnya pun hampir sebaya. Pada suatu hari datanglah seorang pendeta membawa dua buah pusaka tanah Jawa. Sebilah keris sakti dan sebuah bende usang. Karena dua orang perantau dari Bali itu menyambut dengan baik, maka dua benda itu diberikan kepada anak-anaknya sebagai pembalas budi. Yang satu menerima bende. Yang lain menerima keris. Setelah pendeta itu pergi dari rumah mereka, terjadilah suatu malapetaka. Rumah mereka, dibakar gerombolan. Dan dua benda warisan itu lenyap tak keruan."
Sampai di situ paras muka Retno Kilatsih berubah. Potongnya sengit, "Lagi-lagi engkau hendak membicarakan keluarga Sangaji."
"Hai! Kapan aku menyebut namanya? Bukankah engkau sendiri?" Daniswara tertawa terbahak-bahak.
"Kau kini sungguh lucu! Nah—bukankah benar kataku tadi— bahwa ceritaku ini nanti tergantung belaka kepada caramu menanggapi. Baiklah— karena engkau sudah menyebut namanya— biarlah aku menyebutnya sekali, agar menjadi jelas."
585

MENDONGKOL HATI KILATSIH dibalikkan dengan mudah. Tapi kalau dipikir, dia sendirilah yang terlalu ringan mulut sehingga tak pandai menguasai diri. Maka diam-diam ia berjanji hendak bersikap mendengarkan saja. Sejenak kemudian, Daniswara meneruskan ceritanya.
"Biarlah kupertegas lagi. Pendeta yang datang di rumah keluarga Bali itu mewariskan sebuah bende kepada Sangaji dan sebilah keris kepada Sanjaya.
Setelah rumah kena dibakar gerombolan dari Banyumas, kedua pusaka itu lenyap tak keruan. Tetapi dua belas tahun kemudian, secara tak disengaja Sangaji mendapatkan kembali kedua benda warisan tersebut. Ternyata kedua pusaka itu mengandung warah sakti dan merupakan ilmu sakti tertinggi di dunia. Sesudah Sangaji berhasil mewarisi, kedua benda itu hilang lagi. Khabarnya, kedua benda tersebut dihancurkan oleh Sangaji dengan alasan tertentu. Tapi beberapa tahun kemudian, isteri Sangaji yang mempunyai daya ingatan luar biasa—menyalin guratan sakti yang terdapat pada bende itu. Dan kata-kata sandinya yang dialihkan pada selembar kertas diberikan kepada seorang pendekar bernama Sorohpati. Hal itu menghebohkan orang. Pendekar-pendekar yang bercita-cita datang dari seluruh penjuru tanah air dan menggeledah rumah Sorohpati, ternyata mereka tidak menemukan sesuatu...... "
Kembali lagi Kilatsih terperanjat mendengar tutur kata itu. Lantas teringatlah dia dahulu kepada sepak terjang ayah angkatnya. Secara samar-samar memang ia pernah mendengar hal itu. Surat salinan Titisari di sebut sebagai surat wasiat. Dan surat itu dibawa ayah angkatnya masuk ke liang kuburnya.
586

Eh—siapa mengira—bahwa setelah peristiwa itu, rumah ayah angkatnya tempat dirinya dibesarkan, kena geledah orang. Ia tahu ayah angkatnya seorang miskin. Penghidupannya sehari-hari menjual goreng tahu dan pisang. Rumah tempat tinggalnya boleh dikatakan kosong tiada isinya, selain kitab bacaan kuno dan dongeng kanak-kanak. Daniswara ini nampaknya pernah pula menggeledah rumah ayah angkatnya untuk mencari surat wasiat Titisari. Pasti pula semua sudut rumahnya dibongkar dan diaduknya. Memperoleh dugaan demikian, hatinya mendongkol dan sakit.
Kiltasih adalah seorang gadis yang masih polos dan bersih. Setelah memperoleh dugaan demikian, ia mendapat kesan tertentu terhadap sepak terjang Daniswara. Tadinya dia mengira keberaniannya pemuda itu merebut kepala kakaknya seperguruan adalah perbuatan seorang pendekar sejati yang sangat mengharukan dan membuat hatinya merasa hormat. Tak tahunya— semuanya itu—termasuk dalam perhitungannya untuk mencari tujuan tertentu. Itulah dalam usaha mencari surat wasiat Titisari.
"Paman Wirapati adalah guru Kangmas Sangaji," pikir Kilatsih. Sebenarnya ia harus menyebut Wirapati dengan eyang dan Sangaji dengan paman. Lantaran dia menganggap Sangaji dan Titisari sebagai orang tua yang melindungi. Tetapi setelah menjadi murid Adipati Surengpati—dalam pergaulan ia menyambut Sangaji sebagai kakaknya. Begitu juga terhadap Titisari. Daniswara mengira kepala kakak Gandarpati adalah kepala Paman Wirapati. Ia berharap setelah dapat mencuri dan mengurus jenazahnya dengan baik-baik pastilah akan meruntuhkan hati Kangmas Sangaji yang
587

sangat menghormati gurunya. Mungkin pula— mengingat jasa itu—Kakak Titisari akan sudi mengabulkan harapannya. Ah, sungguh licin orang ini.
Memikir demikian—rasa terima kasihnya terhadap Daniswara—lantas berkurang bartyak. Dan sebagai seorang gadis masih polos dan bersih hati, rasa kecewanya nampak jelas pada wajahnya.
"Sangaji kini berkepandaian tinggi berkat keris Tunggulmanik yang sebenarnya milik Sanjaya," kata Daniswara meneruskan ceri-teranya. "Apa sebab ia bertindak seperti pemiliknya yang sah? la menghancurkannya, sedangkan sebenarnya harus mengembalikan kepada Sanjaya. Apakah ini bukan perbuatan yang serakah dan memalukan? Itulah sebabnya, aku memakinya dengan kata-kata pengkhianat!"
Dada Kilatsih hampir meledak. Namun ia bisa menguasai diri. Lalu berkata menyimpang.
"Kukira dongengmu sudah selesai. Nah— perkenankan aku meneruskan perjalananku."
Tatkala mengucapkan kata-kata itu, wajahnya nampak manis luar biasa. Tetapi Daniswara seorang yang licin dan cerdas. Justru melihat ketenangan kemanisan Kilatsih yang luar biasa itu, tahulah dia bahwa hati gadis itu sesungguhnya menjadi tawar sekali. Diam-diam ia mengeluh.
Dalam pada itu Kilatsih mengusap-usap leher Megananda. Setelah membujuknya lembut, ia menuntunnya dengan hati-hati.
588

"Nanti dulu!" teriak Daniswara. "Engkau melupakan satu hal."
"Apa?" Kilatsih menoleh dengan memutar tubuhnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi."
"Pertanyaan yang mana?"
"Bagaimana pendapatmu tentang Sangaji itu? Bukankah dia seorang pendekar palsu yang mengangkangi haknya orang lain?"
Bibir Kilatsih nampak bergemetaran menahan rasa amarahnya. Namun masih bisa juga ia menahan hatinya mengingat jasanya. Sahutnya menyabarkan diri.
"Aku tadi sudah melarangmu jangan menyebut nama Sangaji, agar aku tetap bisa menghargaimu."
Daniswara tertawa gelak. "Baiklah. Kau agaknya mencintai kakakmu itu sampai pula berani mengorbankan kepetinganmu. Hanya sayang, ternyata kau masih belum merupakan seorang adik yang benar-benar berbakti."
"Kenapa begitu?" Kilatsih tak mengerti.
"Kakakmu mati dengan penuh penasaran. Rakyat mengira, yang mati terpancung di atas tiang bendera adalah pendekar Wirapati. Karena itu tiada seorang pun di antara mereka yang tidak menaruh penasaran," kata Daniswara.
"Tapi engkau kini tahu, bahwa yang mati justru adalah kakakmu. Kenapa sikapmu tenang-tenang saja—malah nampak acuh tak acuh? Lihatlah—rakyat yang tidak mempunyai hubungan darah—bisa mengutuk dan berpenasaran. Engkau yang mempunyai hubungan rapat
589

dengan yang mati, justru tinggal melempem seperti goreng pisang kuyu."
"Apa katamu!" bentak Kilatsih dengan mata berapi-api.
"Siapakah yang membunuh kakakmu?" Daniswara mengesankan. "Kenapa kau tak mau membalas dendam? Pada saat ini rakyat justru sedang berada di dalam api kemarahan karena mengira yang mati adalah pendekar Wirapati. Itulah kesempatan bagus bagimu. Kau akan dianggap sebagai pahlawannya apabila kau mempertunjukkan rasa balas dendammu. Kecuali itu, rakyat pun sedang gelisah lantaran mendengar kabar tentang pengusiran pihak penguasa terhadap Pangeran Diponegoro. Maka tinggallah di sini bersama aku. Aku akan mengatur suatu balas dendam yang lebih sempurna dengan menggunakan tenaga rakyat." *
"Hm!" dengus Kilatsih. "Jadi maksudmu, engkau ingin menahan aku di sini, agar me-ngakuimu sebagai ketuaku? Bagus maksud itu!" sahut Kilatsih dengan sengit.
Daniswara mengerutkan alisnya. Dengan suara kecewa ia berkata meyakinkan.
"Rakyat di seluruh negeri sedang bergolak dengan alasannya masing-masing. Mereka berpenasaran terhadap matinya pendekar Wirapati. Ada sebagian golongan rakyat yang mengutuk tindakan pemerintahan Danurejo mengusir Pangeran Diponegoro ke Tegalrejo. Dan ada pula yang beralasan, karena emoh lagi dibebani pajak berat. Keragaman pengucapan kemarahan rakyat ini, adalah suatu kesempatan yang baik sekali. Belum tentu kau temukan keadaan demikian dalam seratus
590

tahun lagi. Dalam keadaan demikian inilah, waktunya untuk mewujudkan satu cita-cita suci."
"Eh—apakah engkau berangan-angan menjadi seorang raja?"
"Apakah kau mengira aku berjuang untuk kepentingan pribadiku?"
"Hm—semenjak dahulu sampai sekarang —orang yang memimpikan kekuasaan tunggal—selalu menyanyikan lagu begitu."
Danfswara tertawa berkakakan untuk menghapus kesan hatinya sendiri. Berkata menyindir. "Oh, Tuhan! Kukira engkau ini seekor pendekar wanita jempolan. Namamu Retno Kilatsih. Itulah nama seorang pendekar wanita di zaman Panembahan Senopati. Tak kusangka, bahwa namamu itu terlalu mentereng bagimu. Sayang! Sungguh sayang!"
Hebat sindiran itu bagi Kilatsih yang masih berusia muda. la menjadi bingung, panas dan penasaran. Namun pada detik itu, tak dapat ia memilih jalan pengucapan hatinya. Ia lantas nampak tergugu dengan wajah yang sebentar berubah-ubah.
"Apakah manakala berdiam bersama aku di sini, namamu sebagai pendekar wanita akan ternoda?" kata Daniswara yang merasa memperoleh kemenangan. "Kau bandingkan dirimu dengan Sangaji. Ia seorang yang dilahirkan di Jawa Tengah. Sekarang bersinggasana di Jawa Barat. Nama besarnya tetap tak ternoda."
"Sangaji—adalah seorang pendekar yang mulia dan bersih. Meskipun kedudukannya sangat tinggi, namun ia masih menambal celananya sendiri," kata Kilatsih sengit,
591

"la memperbaiki rumahnya sendiri. Membetulkan atapnya yang tiris dan makan minum tak menentu. Kau memperbandingkan diriku dengan dia. Lantas kau anggap apa aku ini?"
Daniswara menundukkan kepalanya, la terpekur sebentar. Lalu berkata memutuskan.
"Kalau begitu—baiklah pembicaraan ini kita ringkaskan saja. Kau ingin membalaskan kakakmu yang mati penasaran atau tidak? Kau bersedia berdiam di antara kami atau tidak? Jawablah dua pertanyaan ini."
"Soal membalas dendam dan berdiam bersamamu adalah dua soal yang berdiri sendiri-sendiri. Tak dapat kau mem-peradukkan," jawab Kilatsih. "Biarlah aku menunggu petunjuk-petunjuk kakakku berbareng guruku."
Daniswara tertawa terbahak-bahak.
"Ah—benar. Aku sudah menduga demikian. Engkau adalah murid dan adik angkat Sangaji bukan? Pantaslah engkau membela namanya mati-matian."
"Kalau sudah tahu demikian, sepantasnya tak boleh kau merendahkan keagungan nama guru dan pelindungku itu," bentak Kilatsih.
"Hm—Sangaji! Sangaji! Engkau adalah seorang pendekar tak berwatak," maki Daniswara dengan suara menggigit. "Ah. Nona—harapan apa lagi yang bakal kau peroleh—dari manusia semacam dia?"
Alis Kilatsih berdiri tegak. Itulah suatu tanda dari rasa gusar yang tak dapat ter-kendalikan lagi. "Guruku itu mempunyai dendam setinggi gunung terhadap Belanda.
592

Ibunya tewas akibat perlakuan serdadu-serdadu Belanda. Meskipun demikian, tak mau dia mengajak seluruh rakyat untuk membantu dirinya mengadakan pembalasan dendam pribadinya. Itulah seorang pendekar sejati.
Alangkah lain dengan engkau ini. Rakyat marah dan berpenasaran, lantaran mengira pamanku Wirapati yang mati ter-pancung. Setelah ternyata tidak, engkau justru hendak mengelabui rakyat untuk kau gunakan api penasaran mencapai angan-anganmu sendiri. Coba bilang—kau ini pendekar macam apa?"
"Seorang yang cerdik tidak akan mengandalkan kekuatan tenaganya seperti seorang kerbau. Dia akan menggunakan pikiran. Dan seorang boleh di sebut seorang pendekar sejati manakala pandai, melihat dan menggunakan gelagat," jawab Daniswara. "Sekarang ini rakyat bangkit terhadap pemerintahan sewenang-wenang. Apakah kau bisa berkata, bahwa kebangkitan itu disebabkan genderang pembalasan dendam perorangan?"
"Soalnya bukan mereka, tapi dirimu. Kau jenguklah tengkukmu sendiri. Kau manusia macam apa? Bukankah engkau hendak menggunakan tenaga rakyat demi tujuan * sendiri? Eh—kenapa kau mencoba memberi alasan yang menyimpang?" serang Kilatsih.
Ucapan dan kata-kata Kilatsih itu bagaikan pisau belati menikam dada. Paras muka Daniswara berubah hebat. Tatkala mulutnya hendak meledak, Kilatsih tiba-tiba membungkuk hormat meminta diri. Melihat hal itu, hatinya yang terangsang rasa panas reda sebagian besar.
"Kau hendak kemana?" tanyanya menegas.
593

"Maafkan. Aku hendak segera berangkat melanjutkan perjalananku," jawab Kilatsih dengan suara manis.
"Meskipun aku mengizinkan, kau takkan dapat melanjutkan perjalananmu," kata Daniswara dengan tertawa menang. "Kudamu takkan dapat berjalan lagi."
Sesudah berkata demikian, ia menghampiri Megananda. Tiba-tiba Daniswara melayangkan kakinya. Daniswara melompat mundur sambil berkata memuji.
"Kuda luar biasa. Dia mestinya sudah harus lumpuh. Namun masih bisa ia bersikap garang. Benar-benar kuda mustika."
Kilatsih bukanlah seorang gadis yang goblok. Mendengar lagak lagu kata-kata Daniswara, sudahlah ia dapat menebak
teka-teki mengenai kudanya. Katanya dengan suara mengejek.
"Saudara Daniswara adalah seorang besar di kemudian hari. Hari depanmu sangat cemerlang, sampai-sampai seekor kuda pun dimusuhi demi membutuhkan tenagaku seorang perempuan lemah kuyu......."
Daniswara terkejut. Tadinya ia menghampiri kuda itu dengan membawa lagak sebagai seorang penolong.
Kalau ia bisa menolong, Kilatsih berarti hutang budi untuk yang kedua kalinya. Tak tahunya, gadis itu sangat cerdas.
Memang dialah yang memerintahkan orang-orangnya agar memasukkan bubuk beracun dalam serbuk makanan. Hal itu dilakukan setelah menyaksikan betapa Kilatsih mempunyai ilmu kepandaian sangat tinggi. Kalau
594

dia bisa memperoleh bantuan tenaganya, alangkah akan besar manfaatnya. Dengan meracun kudanya, gadis itu tidak bakal bisa pergi. Itulah tujuannya. Untuk memulihkan kesegaran kuda itu, dia sudah mengantongi obat pemunahnya. Penyembuhan itu akan dilakukan demikian rupa, sehingga Kilatsih merasa berteri-makasih kepadanya.
Demikianlah karena gandrung kepada ilmu kepandaian Kilatsih, Daniswara sampai melupakan kedudukannya sebagai Ketua Himpunan Pencinta Negeri, sehingga memerintahkan meracun seekor kuda. Sudah begitu dia gagal pula. Gadis itu tak dapat dikelabui dengan tata sandiwara. Ia malah kena disemprot dengan berhadap-hadapan muka.
Tak mengherankan ia merasa malu bukan kepalang. Hanya anehnya berbareng dengan rasa malunya, hatinya malahan kian tertarik kepada Kilatsih. Hal itu dise-babkan—karena Kilatsih tidak hanya murid seorang pendekar besar—tetapi memiliki daya pikir yang cerdas dan polos.
Sesungguhnya—tiada maksud jahat di dalam dirinya— dengan meracun kudanya. Tujuannya sebenarnya baik sekali. Tentu saja dipandang dari sudut kepentingannya sendiri. Maka dengan menebalkan mukanya, ia mengeluarkan sebuah kantong berwarna hitam dan digantungkan pada pelana kuda. "Benar—benarkah engkau mau pergi? Baiklah—minumkan bubuk yang berada di dalam kantung ini. Kau aduk dengan serbuknya, boleh juga. Dan kudamu akan sehat seperti sediakala dalam waktu satu jam lagi."
Ia menghela napas.
595

Dengan pandang luar biasa, Kilatsih menatap wajah Daniswara. Pikirnya di dalam hati, "Memang benar dia yang meracun. Tapi agaknya tidak bermaksud jahat. Dia hanya ingin menahan aku."
Tatkala itu, tiba-tiba Daniswara mengangkat kepalanya. Minta ketegasan. "Tujuh tahun yang lalu— pernah aku berpapasan dengan gurumu Sangaji. Eh— coba katakan yang lebih jelas lagi—benarkah Sangaji itu gurumu?"
Menimbang bahwa Daniswara sesungguhnya bukan manusia jahat, Kilatsih lalu menjawab, "Guruku yang benar adalah Adipati Surengpati. Tetapi Kangmas Sangaji sering-kali memberi petunjuk-petunjuk pula kepadaku. Karena itu, dia pun kuakui sebagai guruku."
"Baiklah," kata Daniswara menyerah. "Dengan setulus-tulus hatiku, ingin aku menahan dirimu. Tapi agaknya, engkau ingin berangkat juga. Aku tak dapat menahanmu lagi. Aku ini memang orang kasar. Cara-caraku menahan dirimu, mungkin sekali menyinggung perasaanmu. Maklumlah, engkau diasuh oleh tangan-tangan yang halus. Sedang ayahku adalah seorang pendekar yang berwatak kasar. Dapatkah kita menjadi sahabat untuk selama-lamanya?"
Kata-katanya terdengar lembut dan lemah. Ia mencoba menerangkan apa sebab ia sampai meracun kuda di samping menyatakan bahwa hatinya sangat tertarik. Tetapi Kilatsih adalah seorang gadis yang masih polos dan bersih. Belum dapat ia menangkap rasa hati Daniswara yang bersembunyi di belakang kata-katanya yang lemah lembut. Apa yang terasa di dalam hatinya, hanyalah rasa geli. Karena Daniswara adalah seorang
596

kasar dan tiba-tiba bisa berbicara lembut seperti seorang banci.
Namun betapa pun juga—Kilatsih adalah seorang wanita sampai ke dasar hatinya. Perasaan seorang wanita jauh lebih halus daripada perasaan seorang pria. Setelah dihinggapi rasa geli, tiba-tiba jantungnya berdebaran.
"Saudara Daniswara," katanya dengan suara lembut pula. "Kau adalah seorang yang berbudi bagiku. Tak peduli—bagaimana tujuanmu semula—tetapi engkau • telah menolong mengurus penguburan jenazah kakakku. Budi ini tidak akan kulu-pakan. Karena itu, meskipun kau mencaci-maki orang yang kuhormati tetap saja aku merasa berterima kasih kepadamu. Aku berjanji akan mendoakan kebahagiaanmu dari jauh. Semoga cita-citamu berhasil."
Setelah berkata demikian, ia mengulurkan tangannya. Ia heran, tatkala tangan pemuda itu terasa bergemetaran. Buru-buru melepaskan tangannya. Kemudian mengalihkan perhatiannya kepada kudanya yang segera diberinya obat pemunah dari dalam kantung pemuda itu.
"Jika bertemu dengan kakakmu Sangaji sampaikan salamku. Kau pun boleh menyampaikan kata-kataku tadi kepadanya," kata Daniswara. "Katakan pula, bahwa tiada maksud burukku, lsteri kakakmu itu mempunyai daya ingatan dan kecerdasan otak melebihi manusia lumrah. Aku mohon agar dia sudi membuatkan selembar salinan surat wasiat yang pernah diberikan kepada ayah angkatmu Sorohpati. Aku bukan memimpikan menjadi seorang yang sakti luar biasa. Hanya saja—ayahku per-
597

nah menderita hebat—karena kedua pusaka tersebut, Sangaji pernah memukulnya sampai menjadi gila. Kemudian dengan pikiran tak waras itulah ayahku menemui ajalnya."
Kilatsih mengangguk menyanggupi. "Aku akan menyampaikan perkataanmu kepada kakakku sekalian."
Setelah menjawab demikian, ia melompat keatas Megananda. Kuda itu telah meneguk obat pemunah. Perlahan-lahan ia memperoleh tenaganya kembali. Dan begitu tenaganya mulai meresapi tubuhnya, binatang itu lantas memanjangkan kakinya tanpa menunggu perintah lagi.
"Sampai bertemu!" seru Daniswara dari kejauhan. Suaranya terdengar mengalun sedih. Dan mendengar suara itu, Megananda kaget berjingkrak. Lalu melesat bagaikan terbang. Sebentar saja, ia telah membawa majikannya lenyap dari pengamatan Daniswara.
Sepuluh hari kemudian sampailah Kilatsih di Cianjur. Dia mengenakan pakaian sandarannya kembali, sehingga nampak menjadi seorang pemuda yang cakap. Cianjur pada dewasa itu menjadi pusat kebudayaan Jawa Barat. Kota itu dipandang sebagai keramat, berkat kemasyuran Adipati Arya Wira Tanu Datar yang hidup pada zaman dua ratus tahun yang lalu. Dan di kota itulah, Sangaji mendirikan salah satu markas perjuangan yang berkesan dari luar sebagai gedung kesenian.
Gedung itu bernama: Paguyuban Sunda. Sebelum jatuh di tangan Sangaji merupakan gedung sarang perjudian. Dahulu kepunyaan seorang Tionghoa perantauan. Kemudian dijual kepada seorang pembesar Belanda. Tatkala pembesar Belanda itu pulang ke
598

negerinya, gedung tersebut dilelang. Dan jatuh kepada Sangaji atas nama Himpunan Laskar Perjuangan Jawa Barat.
Segera gedung itu diperbaharui dan dihias dengan tata warna. Lalu oleh anjuran para raja muda Himpunan Sangkuriang, disulap menjadi sebuah Gedung Kesenian. Tapi sebenarnya menjadi markas besar pengintaian lalu lintas Kompeni Belanda.
Sangaji sendiri tetap berada di atas gunung. Karena hatinya sangat sederhana dan mulia, tak mau ia mendiami bekas markas besar Himpunan Sangkuriang yang berada di dataran ketinggian Gunung Cibugis. Sebaliknya ia mendirikan sebuah rumah sederhana di celah-celah Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Dari celah gunung itulah ia memimpin dan mengendalikan seluruh perjuangan laskar Jawa Barat.
Menurut warta terakhir, Gedung Kesenian yang berada di dalam kota Cianjur diserahkan kepada Manik Angkeran. Pemuda yang memiliki ilmu ketabiban tinggi itu membuka prakteknya di sebelah gedung tersebut merangkap menjadi pemimpin perjuangan wilayah Cianjur.
Tetapi begitu sampai di depan gedung tersebut,
Kilatsih terperanjat. Pintu pagar tertutup rapat. Pada daun pintunya tertempel selembar tulisan pemberitahuan yang berbunyi begini:
TELAH TERJUAL — DITUTUP UNTUK SEMENTARA WAKTU Pemilik baru Gho Sing Hiap dengan Isteri.
"Kakak memimpin seluruh laskar perjuangan. Kedudukannya seumpama seorang raja besar. Mustahil ia
599

kekurangan keuangan. Kenapa gedung ini dijualnya kepada seorang Tionghoa?" Kilatsih heran. "Siapakah Gho Sing Hiap suami-isteri ini?"
Di depan Gedung Paguyuban Sunda itu terdapat sebuah kedai. Untuk membuat penyelidikan lebih lanjut, Kilatsih menambatkan kudanya. Kemudian memasuki kedai tersebut. Beberapa orang duduk menggeru-miti panganan dengan bercakap-cakap. Seseorang berkata nyaring. "Sen. Husen!
Gedung ini bakal pulang asal. Asalnya dari tangan seorang Tionghoa. Kini jatuh ke tangan orang Tionghoa pula. Apa pendapat-mu?"
Orang yang dipanggil Husen menyahut, "Jatuh ke tangan siapa, aku tak peduli. Cuma saja gedung itu bakal menjadi sarang perjudian lagi. Begitu pula kabar yang kudengar. Surat izin dari Kompeni sudah diperolehnya."
"Ah, bagus!" tungkas orang pertama dengan tertawa berkakakkan. "Bakal ramai seperti dahulu. Bakal banyak orang mencuri. Dan bakal banyak orang bercerai."
Mendengar percakapan itu Kilatsih makin tak mengerti. Perlahan-lahan ia duduk menyendiri di sebuah kursi menghadap meja kosong. Pikirnya di dalam hati, "Seumpama kakak butuh uang, ia pun akan memilih pembelinya. Kakak bukan seorang mata duitan. Lagipula disampingnya berkerumun para raja muda yang kaya raya. Tapi kenapa bisa jatuh di tangan seorang Tionghoa yang kebetulan pula merencanakan akan membuat gedung itu menjadi sarang perjudian? Benar-benar mengherankan."
600

"Yah," keluh pemilik kedai dengan menghela napas. "Kalau benar kabar itu sekitar kampung ini menjadi tidak aman. Menurut tutur kata Paman sewaktu gedung itu sarang perjudian setiap hari pasti terjadi suatu pembunuhan dan parampasan. Anak-anak muda pada berkelahi tanpa alasan yang berdasar. Lalu halamannya penuh dengan wanita-wanita muda berkeliaran tak keruan juntrungnya. Ah—kedaiku ini bakal bangkrut."
"Mengapa pasti bangkrut?"
"Mengapa tidak? Kalau orang sudah mata gelap masakan tidak bakal maluruk sampai di sini? Bagaimana bisa hidup aman tenteram seperti sekarang ini, kalau setiap kali melihat orang berkelahi atau mati terbunuh. Aku mungkin tahan melihat darah. Tapi anak isteriku?"
"Memang benar," sambung orang ketiga. "Bagi orang miskin seperti aku ini, lebih baik gedung itu berada di tangan juragan Manik Angkeran. Waktu dia mengurus gedung ini— rakyat boleh keluar masuk—dengan merdeka dan senang. Habis orang menonton kesenian, sih. Selain itu, Beliau pandai mengobati. Pembayarannya rendah dan cekatan. Tapi sekarang, ah! Rasa-rasanya akan terjadi suatu perubahan besar. Kemarin saja, gedung itu dijaga beberapa orang serdadu yang bermabuk-mabukan. Bagaimana kami orang miskin berani menginjakkan kaki di halaman gedung itu lagi? Hai—kami bakal kesepian!"
Mendengar percakapan itu, Kilatsih tak dapat lagi menguasai hatinya. Terus saja menimbrung:
"Sebenarnya gedung itu dahulu—milik siapa?"
Seorang pemuda yang sebaya dengannya—dan duduk di sebelah timur— menyahut, "Rupanya Saudara bukan
601

penduduk di sini. Tak mengherankan saudara belum kenal seorang gagah bernama Manik Angkeran. Benar-benarkah Saudara belum pernah mendengar nama Manik Angkeran? Dia tidak hanya termahsyur lantaran ilmu ketabibannya, tapi pun ilmu saktinya. Dialah yang memimpin seluruh laskar perjuangan wilayah Cianjur ini. Dialah seumpama seoarang jenderal yang mengatur siasat menggempur lawan. Dialah.... "
"Ssstt! Jangan mengumbar mulut di sini!" bentak orang pertama tadi. Dan kena bentak demikian, pemuda itu meringkas. Pandang matanya resah seakan-akan kena salah.
Kilatsih tertawa. "Aku belum kenal Manik Angkeran," katanya di dalam hati. "Dialah justru yang menolong aku—yang membawa aku—yang menyelamatkan aku— sewaktu aku belum pandai beringus. Dialah murid kakakku Sangaji."
"Kenapa kau tertawa?" bentak orang itu.
"Kalau gedung itu dahulu milik Manik Angkeran, masakan bisa jatuh di tangan seorang Tionghoa yang gemar berjudi? Dia seorang jenderal—kata saudara itu— masakan sampai kekurangan uang?" sahut Kilatsih. "Eh— sebenarnya apa sih alasannya sampai menjual gedungnya kepada seseorang yang gemar berjudi?"
"Saudara!" kata pemuda yang meringkus di sebelah timur tadi. "Aku bernama Dadang Sumantri. Memang aku tadi kelepasan omong. Di sini kita tak bisa membuka mulut dengan sembarangan. Tapi biarlah untukmu aku beri kabar, bahwa pemilik gedung—eh juragan Manik Angkeran—sudah pindah. Dan tuan Gho Sing Hiap itu.... hm... adalah .. Hm.... "
602

Baru sampai di situ, Dadang Sumantri kena pandang galak dari seorang yang duduk bertentangan dengan dia. Wajahnya berubah dan dia nampak menjadi gentar. Lalu cepat-cepat memperbaiki, "...eh... Tuan Gho Sing Hiap itu sesungguhnya seorang dermawan. Sudah lama ia ingin menyalurkan kegemaran rakyat. Itulah suatu perjudian. Maka dengan sekuat tenaga dia berusaha membeli gedung tersebut. Akhirnya berhasil juga.
Kilatsih heran bukan main. Kenapa Manik Angkeran berpindah tempat? Dengan mata terbelalak ia menegas. "Pemilik yang lama pindah kemana?"
Orang pertama menyahut dengan tertawa berkakakkan. "Saudara jangan sampai kena pincuk!23) Kau kira siapakah Dadang Sumantri itu? Dia bukan pemuda pentolan atau pemuda yang berhati nabi. Kalau dia seorang pemuda yang bersih hati, tidak bakal berteman dengan manusia-manusia seperti aku ini. Masakan terhadap pemuda semacam dia, juragan Manik Angkeran perlu memberi kabar kepadanya kemana dia berpindah tempat?"
Dadang Sumantri pucat wajahnya kena ejek demikian. Katanya dengan hati mendongkol. "Meskipun juragan Manik Angkeran seorang pendekar yang berkepandaian tinggi, tapi dia selalu bersikap hormat terhadap siapa pun. Meskipun aku ini bukan termasuk golongan nabi seperti kata-katamu tapi setidak-tidaknya aku pun bukan termasuk golonganmu. Dengan juragan Manik Angkeran, seringali aku bercakap-cakap."
Tetapi sebenarnya Dadang Sumantri tak tahu perginya Manik Angkeran. Karena itu orang pertama tadi terus saja tertawa dengan gundu mata berputaran. Ia meludah
603

beberapa kali, sehingga Dadang Sumantri benar-benar merasa terhina. Namun dia pun tidak berani berbuat sesuatu, selain duduk bergelisah.
Kegembiraan Kilatsih lantas saja buyar. Suatu kemuakan terasa di dalam hatinya, menyaksikan hawa perselisihan itu. Lantas saja ia meninggalkan kedai itu. Dan dengan menuntun kudanya, ia berjalan perlahan-lahan. Pikirannya terasa menjadi kusut. Tatkala sampai di pinggiran kota, tiba-tiba ia melihat dua orang berpakaian seragam Kompeni Belanda. Kilatsih merandek dan mengawaskan kedua orang itu. Segera ia dapat mengenalnya. Merekalah Letnan Johan dan Letnan Matulesi yang pernah dilihatnya di perkampungan Sanjaya.
Kedua perwira itu teringat pula kepadanya. Segera mereka menghampiri dan membungkuk hormat. Seru Letnan Johan dengan suara tertahan: "Hai! Angin musim apakah yang membawa Saudara sampai tiba di sini?
Bukankah Saudara dahulu pernah bertempur melawan saudara Mundingsari di dekat kolam sebelah selatan Sigaluh?"
"Kenapa? Apakah Saudara mau membalaskan sakit hatinya?" sahut Kilatsih dengan suara sengit.
Letnan Johan tertawa riuh. Ia mengerling kepada Letnan Matulesi yang tertawa lebar pula.
"Apakah Saudara pernah bertemu dengan saudara Mundingsari?" tanya Letnan Matulesi.
Dengan mereka, Kilatsih tiada mempunyai kesan tertentu. Hanya saja melihat mereka merantau sampai ke pedalaman Jawa Barat sungguh menarik hatinya.
604

Sahutnya sengit lagi. "Kalau bertemu kenapa? Kalau tidak bertemu bagaimana?"
"Bukan begitu," Letnan Matulesi agak gugup. "Dia berjanji hendak bertemu dengan kami satu bulan lagi. Karena iseng lantas kami berdua melancong sampai di sini."
Kilatsih tertawa geli.
"Siapakah kesudian mendengarkan alasanmu. Bukankah kalian berada di sini untuk menghindari hukuman atasanmu yang mengancam dirimu? Hayo bukankah begitu?"
Wajah mereka berubah seperti pencuri kesompok seorang polisi. Mereka berdua perwira-perwira yang mempunyai kedudukan baik. Perintahnya merupakan undang-undang bagi serdadu-serdadunya. Tapi kena semprot Kilatsih, tak dapat mereka menunjukkan kegarangannya. Itulah disebabkan teringat akan kepandaian Kilatsih yang sangat tinggi tatkala mencoba mengukur kepandaian dengan Mundingsari. Kata Letnan Johan dengan suara mengalah.
"Benar selama hampir satu bulan ini, kami berdua hidup bergelisah. Pernah terlintas dalam pikiran kami berdua untuk mencoba mohon bantuan pendekar Sangaji. Ya Saudara, demi keselamatan keluarga kami, kami terpaksa melupakan hidup kami yang bertentangan dengan cita-cita pendekar Sangaji. Itulah sebabnya, kami berada di-sini."
"Lantas apakah kalian sudah bisa bertemu dengan dia?"
605

"Belum, belum. Yang pertama: kami mendengar kabar selentingan, bahwa dia tidak lagi berada di Jawa Barat. Yang kedua: kami pun tidak mempunyai keberanian untuk menghadap," jawab Letnan Johan.
Melihat wajahnya yang kuyu dan pakaian seragamnya yang lungsat, timbullah rasa iba dalam hati Kilatsih. Teringatlah dia dahulu kepada ucapan kakaknya Sangaji: "Kita memang bermusuhan dengan Pemerintah Belanda. Tapi jangan sekali-kali engkau membenci orang-orangnya." Ucapan Sangaji itu meresap benar dalam hati sanubarinya. Maka berkatalah dia, "Saudara! Mulai malam nanti tak usah saudara bergelisah lagi. Tidurlah yang nyenyak."
"Kenapa?" Mereka berdua berubah wajahnya.
"Uang kawalanmu sudah dikembalikan dengan tak kurang suatu apa. Hanya saja Mangkubumi Girisanta terpaksa harus meninggalkan kedudukannya. Sebab dialah yang kena salah."
Mereka berdua terperanjat berbareng girang luar biasa. Benarkah uang kawalan-nya kembali dengan selamat? Kalau saja bukan Kilatsih yang mengucapkan, tak mau dia percaya.
Kilatsih sendiri tak menghiraukan perasaan mereka, la melangkahkan kakinya lagi sambi menuntun kudanya.
"Saudara! O, terima kasih," seru Letnan Johan sambil membungkuk. Sikapnya itu ditirukan temannya pula. Tatkala mereka mengangkat kepalanya, matanya berlinangan oleh rasa syukur. "Dengan ini aku menghaturkan rasa terima kasih tak terhing-ga. Sebenarnya eh kemana tujuan Saudara?"
606

Kilatsih tak menjawab, la hanya membalas dengan mengulum senyum.
"Apakah.... apakah... Saudara mempunyai hubungan rapat dengan pendekar besar Sangaji?" Letnan Johan menegas dengari ragu-ragu. "Kalau benar.... Dengan ini kami nyatakan, bahwa Beliau tiada lagi di tempatnya. Apakah alasannya, tak tahulah kami. Tapi pernyataan kami ini boleh Saudara percaya. Kami bersedia mengganti dengan leher kami, apabila kami membohong atau berdusta."
Kilatsih merandek. Ia tertegun sebentar. Kemudian tersenyum lagi.
"Baiklah. Mari kita mengambil jalan kita masing -masing."
Letnan Johan dan Letnan Matulesi membungkuk hormat lagi. Wajah mereka terang benderang. Dan mereka tak berani bergerak dari tempatnya sampai tubuh Kilatsih menghilang di tikungan jalan.
Dengan pikiran terus berteka-teki, Kilatsih melanjutkan perjalanannya tanpa tujuan lagi. Kadang ia ingin mendaki celah gunung
Gede, tapi pada saat itu hatinya berbimbang-bimbang. Kalau kakaknya Sangaji sudah berpindah tempat, tiada gunanya mendaki gunung lagi. Letnan Johan dan Letnan Matulesi adalah musuh seluruh laskar perjuangan Jawa Barat. Dengan sendirinya berlawanan pula dengan kakaknya Sangaji. Dia bisa melahirkan khabar desas-desus. Akan tetapi menilik kesungguhannya, agaknya keterangannya boleh dipercaya.
607

Di depan matanya terbentang sepetak hutan ringan. Hawanya berkesan sejuk menyegarkan. Tempatnya berada di atas ketinggian, sehingga langit biru yang berada dibaliknya menjadi suatu latar belakang yang indah menarik hati.
Perlahan-lahan Kilatsih memasuki hutan itu. Baru saja ia melintasi beberapa gerombol pohon, sekonyong-konyong ia mendengar kesiurnya sesuatu yang menyambar kepalanya. Cepat ia menahan kudanya seraya membungkukkan badan. Sebatang pohon tiba-tiba roboh melintang di depannya. Ia terperanjat dan menoleh. Sekelilingnya sepi tiada sesuatu yang nampak. Apakah angin? Ah, mustahil! Waktu itu tiada angin keras. Seumpama angin keras pun tiada dapat menumbangkan sebatang pohon di antara gerombolannya. Memperoleh pertimbangan demikian, hatinya menjadi panas. Ia membentak, "Siapakah yang ingin memamerkan kepandaiannya di hadapanku?"
Tiada jawaban. Ia masih menunggu, dengan menajamkan pendengarannya. Kemudian meruntuhkan pandang kepada batang pohon yang melintang di depannya. Ia kaget tatkala melihat selembar kertas terpaku rapih pada dahannya. Kapan?
Hati-hati ia melompat turun dan menghampiri. Kemudian ia membaca.
MARKAS BESAR KOSONG KACI KEMBALI SAJA KE JAWA TENGAH.
Hatinya memukul, karena bunyi tulisan itu terang sekali ditujukan kepadanya. Ia heran melihat cara orang itu memberi kabar kepadanya. Tadi dia mendengar suatu kesiur, lalu sebatang pohon roboh. Tatkala menoleh
608

tahu-tahu selembar kertas terpancang rapih. Selain kecepatan luar biasa orang itu terang sekali memiliki suatu tenaga dahsyat. Siapa?
Teringatlah dia akan tutur kata Titisari, bahwa para Raja Muda bawahan kakaknya
Sangaji memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi. Kecuali berani, senang pula menggoda orang. Apakah yang sedang menggodanya itu salah seorang Raja Muda bawahan Sangaji. Ia agak ragu-ragu. Sebab menilik bunyi tulisan itu, yang sedang menggodanya, kenal akan asal-usulnya. Bila kenal asalnya datang, pasti pula mengerti bahwa dia adalah adik pemimpinnya. Mustahil seorang Raja Muda bawahan kakaknya berani bermain gila kepadanya.
Heran dan penasaran, Kilatsih memutar kudanya. Lalu melompat ke atas sebatang pohon untuk mengintip. Ditebarkan pandang matanya. Tetap saja tiada sesosok bayangan yang nampak berkelebat di depan matanya. Mau tak mau ia menghela napas kagum. Katanya di dalam hati, "Benarlah kata orang—di balik gunung masih terdapat gunung lainnya yang lebih tinggi. Siapa mengira, bahwa di atas pegunungan ini aku bertemu dengan seorang yang berilmu sangat tinggi...."
Hatinya yang penasaran lantas saja menjadi reda. Segera ia turun dari pohon itu. Megananda masih setia menunggu tak jauh dari pohon. Dengan suitan pendek, binatang itu menderap menghampiri. Dan setelah majikannya berada di atas punggungnya, ia lari kencang bagaikan terbang.
609

11
PENUNGGANG KUDA HITAM
MENJELANG SORE HARI—sampailah Kilatsih di Padalarang. Hampir satu hari penuh ia melarikan kudanya. Perutnya kini berontak. Maka ia menahan kudanya.
"Kata orang—penduduk Padalarang pandai memasak. Biarlah kucicipinya," katanya di dalam hati. Lalu ia menghampiri sebuah rumah makan yang berdiri di tepi jalan besar. Ia menambatkan kudanya pada sebatang pohon. Tatkala menoleh, ia melihat seekor kuda hitam lekam yang berkesan gagah perkasa. Keempat kaki kuda
610

itu berbelang putih. Itulah kuda Pancalpanggung— demikian kata orang Jawa. Karena tertarik ia menghampiri.
Justru pada saat itu—ia melihat suatu corat-coret kata sandi, yang sering digunakan oleh orang-orang tertentu memanggil temannya. Setelah diamat-amati ia menjadi heran.
Gaya tulisan itu mirip tulisan pengumuman yang terdapat pada daun pintu Gedung Paguyuban Sunda. Ia lantas berwaspada.
Dengan langkah tenang ia memasuki rumah makan itu. Di sebelah selatan dekat jendela duduklah seorang pemuda berpakaian serba biru muda. Kainnya terbuat dari sutera halus, la duduk seorang diri menghadapi makanan dan minuman.
Di meja sebelah barat, duduk dua orang laki-laki yang bertubuh dan berwajah kasar. Yang satu kurus panjang. Yang lain gemuk pendek. Keduanya meneguk minuman keras dengan asyiknya. Tetapi pandang mata Kilatsih sangat tajam. Sekali melihat tahulah dia, bahwa kedua orang itu seringkali melirik kepada pemuda berbaju biru muda.
Pemuda yang berdandan serba biru itu pantaslah sebagai anak seorang hartawan. Parasnya sangat cakap, namun tidak peduli-an terhadap segala. Dengan berdiam diri, ia meneguk minuman keras secawan demi secawan. Belum seberapa ia menghabiskan botol minumannya, mukanya telah nampak merah. Dan gerakan tubuhnya menjadi limbung.
611

"Orang-orang di sini agaknya biasa minum minuman keras. Tapi mengapa ia sudah limbung hanya oleh beberapa cawan saja," pikir Kilatsih di dalam hati. Ia lantas menarik kursi dan memesan sepiring masakan, sepiring buah-buahan dan segelas anggur penghangat badan. Maklumlah—hawa di Padalarang terasa sangat dingin untuk ukuran seorang yang datang dari Jawa Tengah. Apalagi Kilatsih yang biasa hidup di tengah kepulauan Karimun Jawa yang berhawa terik. Maka minuman hangat untuk melawan dingin hawa, sangat perlu. Walaupun demikian, tak berani ia meneguk minuman keras lantaran tak biasa minum.
Sekonyong-konyong pemuda itu menyanyi sangat keras. Lalu berkata mengulum: "Tuhan mewariskan semua kepandaiannya kepada manusia. Pastilah ada maksud dan rencananya. Aku memiliki seribu kepingan emas. Untuk apa? Ah—untuk menggerumiti daging kambing, kerbau, lembu dan minuman hangat. Mari! Mari kita berpesta pora. Hayo teguklah tiga ratus cawan! Sikatlah setumpuk daging kerbau dan sekeranjang daging kambing. Agar badan kita panas membara.....Hiha!"
Setelah berkata demikian, ia berdiri menggoyang-goyangkan tangan. Pelayan-pelayan lantas tertawa lebar, la melihat suatu kelucuan. Dan pemuda itu nampak sangat tolol. Secawan demi secawan lagi, ia meneguk minuman kerasnya. Lalu minta dua puluh botol sekaligus sambil mengge-rincingkan uangnya yang berada dalam saku baju dan celananya. Tiba-tiba ada yang jatuh menggelinding. Ternyata uang emas murni. Buru-buru ia membungkuk hendak memungutnya. Tapi uangnya yang berada dalam kantong celananya seperti tersontak
612

keluar. Ia lantas sibuk mengumpulkan menjadi seonggok dengan gerakan tangannya yang nampak limbung. Lalu diterkamnya dan ditaruh di atas meja menjadi onggokan lagi. Tatkala itu, petang hari telah tiba. Pemilik rumah makan telah menyalakan penerangan. Dan kena penerangan, onggokan uang itu memantulkan cahaya kemilau.
"Ah—pemuda ini begitu tolol," pikir Kilatsih di dalam hati. "Perbuatannya itu membahayakan dirinya. Apakah dia tak sadar kena incar dua penjahat di sampingnya? Hm... masih saja ia meneguk minuman yang memabukkan."
Orang yang berperawakan kurus kering lalu menyahut dengan suara lantang: "Bagus! Bagus! Tiga ratus cawan dihabiskan ludas—ya—itulah baru pesta pora sesungguhnya. Hai, saudara! Aku sudah meneguk habis tujuh cawan. Kau belum lagi lima cawan. Mana bisa engkau menghabiskan tigaratus cawan?"
Kawannya yang berperawakan gemuk pendek menyahut sambil berjingkrak: "Jadi kau sudah menyedot minumanku tujuh cawan?"
"Benar. Apa kau merasa rugi? Mari—kau perseni dua botol arak agar pesta pora saudara itu—tambah ramai?"
"Ah, benar!" si gemuk pendek tertawa riang. Lalu melototi kawannya. "Tapi aku tahan minum banyak. Kau sajalah mewakili aku."
"Nah, apa kubilang? Kau ini memang cerewet. Kau merasa rugi, lantaran ini botolmu kusedot sampai tujuh cawan. Sekarang aku bermaksud mengembalikan dengan
613

dua botol - kau malahan menolak. Memang kau ini pantas digebuk lehermu."
Gusar si Pendek gemuk disemprot demikian. Apalagi ia melihat pelayan-pelayan mentertawai dengan pandang merendahkan. Maka ia menolak dada temannya itu seraya membentak: "Kau cuma besar mulut. Mana dapat kau membelikan aku dua botol arak. Hayo buktikan!"
' Tak senang si Kurus kena tolak dadanya, la pun kena hina di hadapan umum. Maka dengan muka merah, ia menyambar cawannya dan disiramkan ke muka si Gemuk.
"Nih, kukembalikan!"
Si Gemuk menjadi mata gelap. Terus saja ia melompat menerjang dan kedua orang itu lantas bergumul. Nampaknya mereka sama kuat. Masing-masing kena bogem mentah dan terhuyung mendekati pemuda berbaju biru itu. Sekali lagi mereka berhantam. Kali ini mereka terpental mundur dan melanggar kursi pemuda itu.
"Kurang ajar!" gerutu pemuda itu seraya berbangkit. Berbareng dengan gerakannya, kantung uangnya jatuh di atas lantai. Isinya meletik keluar. Ternyata tidak hanya emas, tetapi batu-batu permata pula.
Buru-buru pemuda itu mengangkat kakinya dan diinjakkan ke kantungnya. Lalu membungkuk memungut emas dan permatanya. Membentak: "Kamu hendak merampas?"
Dua orang itu berhenti bergumul. Yang gemuk pendek membalas membentak: "Merampas? Merampas uangmu? Kau berani menuduh aku? Bangsat!"
614

Beberapa tetamu dan dua orang pelayan datang melerai mereka dan Kilatsih tertawa menyaksikan pertunjukan itu. la tahu akan kelicinan dua penjahat itu. Mereka sengaja bergumul untuk menjatuhkan kantung uang untuk dirampas. Apabila gagal setidak-tidaknya mengetahui berapa banyak isi kantung pemuda itu, tetapi maksud itu gagal. Pikir Kilatsih di dalam hati, "Di sini masih ada aku. Tak nanti aku membiarkan kantung uang pemuda itu kena kalian rampas."
Memikir demikian, Kilatsih bangkit dari kursinya. Kemudian menghampiri mereka. Dengan kedua tangannya ia menolak mundur kedua penjahat itu. Tegurnya, "Kamu mabuk arak—lalu bergumul sampai mengganggu kesenangan orang lain. Itu perbuatan tercela."
Ia ingin menghajar mereka berdua. Sambil menegur tangannya berkelebat menggerayangi kantong baju mereka. Gang mereka kena dirampasnya. Gerakan tangannya begitu cepat, sehingga tiada seorang pun yang dapat mengetahui perbuatannya.
Setelah ia menolak kedua orang itu mundur lagi, mereka kaget, karena tolakan itu sangat sakit. Maka tak berani mereka mengumbar mulut atau berusaha main keras.
"Dia menuduh kami yang bukan-bukan, sih," gerutu si Gemuk.
"Sudahlah, sudahlah!" bujuk seorang tetamu. "Kamu menubruk seorang tetamu yang sedang menikmati minuman dan hidangannya. Kamu salah. Maka kamu wajib minta maaf padanya. Kalau masih mau minum,
615

lebih baik menikmati minuman di rumah. Jangan di sini! Ah—kamu bikin ribut saja, sih...."
Pemuda berbaju biru yang agak setengah sinting itu, tertawa lebar. Serunya sambil mengangkat cawannya: "Saudara! Mari minum!"
Ia mengarah kepada Kilatsih. Bau araknya menguar dari mulutnya.
"Terima kasih." Ia duduk kembali ke atas kursinya sambil mengawasi gerak-gerik kedua orang itu.
Sebenarnya dua orang itu masih mendongkol terhadap Kilatsih. Tapi mengingat rasa sakit yang dideritanya, tak berani ia mengumbar adat. Dengan menahan diri, ia berseru kepada pemilik kedai untuk membuat perhitungan.
"Berapa?" katanya angkuh.
Si Kurus menggerayangi saku bajunya. Tiba-tiba ia kaget. Wajahnya berubah pucat.
Melihat perubahan wajah si Kurus, si Gemuk heran. Ia pun segera meraba sakunya pula. Wajahnya lantas nampak melongo. Gangnya sama sekali tiada lagi. Keduanya lantas saling pandang dengan mulut membungkam. Kemudian seperti berjanji, mereka melirik ke arah tanah tempat mereka tadi bergumul.
"Semuanya dua ringgit,'1 kata pemilik kedai sambil menghampiri tetamunya.
Kedua orang itu menyeringai. Keringatnya membasahi leher. Tangan mereka masih berada di dalam sakunya masing-masing. Pemilik kedai mengira, mereka
616

tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Maka ulangnya, "Semuanya dua ringgit."
Sejenak kemudian si Kurus menyahut dengan suara iba.
"Bolehkah aku membayar besok?"
Pemilik kedai itu heran. Lalu tertawa melalui hidungnya. Katanya, "Kalau semua tetamu main hutang—masakan kami bisa membuka kedai lagi."
Seorang pelayan yang berada di sampingnya, lalu menimbrung: "Memangnya kami harus makan angin? Hah—kamu berdua datang kemari sengaja hendak membuat gaduh saja, bukan? Kami sudah melayani kamu makan-minum dengan puas. Masakan kamu tak mempunyai perasaan? Kalau tak punya uang, semestinya semenjak tadi kamu harus membuka baju dan celana untuk membayar."
Kasar kata-kata pelayan itu. Tetapi hal itu membuat tertawa geli tetamu lainnya. Ruang kedai itu lantas saja menjadi ramai.
"Siang-siang sudah kuduga bakal begitu," seru seorang tetamu. "Mereka lantas berlagak bergumul dan berpura-pura mabuk. Perlunya bisa menggaglak makan dan minuman tanpa membayar."
Kedua penjahat itu pucat lesi. Terpaksa mereka membuka bajunya masing-masing.
"Dua baju usang begitu—mana cukup," bentak pelayan itu. "Hayo lepas celana! Hu... Dasar kita yang sial. Coba—berapa sih harga celana kalian yang kotor begitu?"
617

Seperti pesakitan yang tak mempunyai hak suara, mereka melepaskan celananya. Kemudian dengan celana dalam, mereka mengeloyor keluar kedai seperti seseorang habis buang air.
Puas hati Kilatsih menyaksikan kejadian itu. Dasar masih berbau kanak-kanak. Lantas saja ia meneguk cawannya sampai kering. Tatkala mengerling kepada pemuda berbaju biru itu, ia melihatnya masih sibuk meneguki minuman kerasnya. Dia sama sekali tidak memedulikan pertunjukan yang lucu tadi. Tiba-tiba suatu pikiran menusuk benaknya: "Dua penjahat tadi berkepandaian rendah, tetapi berani berlagak disini. Apakah mereka bukan merupakan orang-orang sebawahan belaka yang lagi menjalankan tugas? Sepulangnya ke sarang, pasti mereka mengadu kepada yang memerintahkan. Aku sendiri tidak takut. Akan tetapi bagaimana dengan pemuda itu?"
Ia menimbang-nimbang sebentar. Kemudian memutuskan, "Baiklah kususul saja, agar tidak menelorkan ekor yang bukan-bukan. Setelah memperoleh keputusan demikian, segera ia berteriak kepada pemilik kedai: "Sudah. Berapa aku harus membayar?"
Dengan wajah berseri-seri pemilik kedai menghampiri. Semenjak tadi ia tertarik kepada Kilatsih. Sebab selain nampak cakap, pakaiannya berkesan mentereng dan bersih. "Semuanya hanya satu rupiah seta-len," katanya dengan hormat.
Kilatsih segera merogoh saku bajunya yang kanan. Di dalam saku kanan itulah ia selalu menyimpan uang bekalnya. Sakunya ternyata kosong melompong. Hatinya
618

tercekat. Cepat-cepat ia menggerayangi saku kirinya. Di dalam saku kiri ia menyimpan uang copetan kedua penjahat tadi. Kembali hatinya tercekat. Gang itu pun lenyap dari sakunya. Seketika itu juga, keringat dingin membasahi lehernya.
Pemilik kedai itu mengawasi dengan pandang heran, la melihat kesibukan Kilatsih dan perubahan wajahnya. Menilik dandanannya, ia tak percaya dia bahwa Kilatsih adalah semacam tetamu yang suka mengalapi) barang dagangan.
1) mengalap = makan tanpa membayar (nggabrus : Jawa)
"Apakah Tuan tidak mempunyai uang kecil?" tanyanya mencoba. "Biarlah kutu-karkan."
Kilatsih benar-benar bingung. Dalam sekelebatan teringatlah dia, bahwa kedua penjahat tadi harus membuka baju dan celananya sebagai pengganti pembayaran. Kalau sampai terjadi demikian—ah—tak sanggup ia membayangkan.
Sebentar—pemilik kedai—mengawaskan kedua tangan Kilatsih yang menggerayangi kedua sakunya dengan cermat. Tapi uang yang diharapkan tidak nampak di depan hidungnya. Akhirnya ia menaruh curiga.
"Sebenarnya bagaimana, Tuan?" ia minta keterangan dengan suara tawar.
Justru pada saat itu si Pemuda berbaju biru muda menghampiri. Lalu berkata di antara suara tertawanya: "Di delapan penjuru angin semua manusia yang merasa hidup— sebenarnya adalah saudara sesama hidup pula. Gang gampang dicari. Tetapi perasaan—sukar diperoleh.
619

Biarlah aku yang membayar semua hidangan adik kecil ini."
Ia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan ringgitan emas dua keping. Kemudian dilemparkan kepada pemilik kedai.
"Ini uang pembayarannya. Selebihnya boleh kau ambil."
"Terima kasih terima kasih," sahut pemilik kedai berulangkali dengan kepala memang-gut-manggut. Betapa tidak? Kilatsih hanya menghabiskan uang hidangan sebesar satu rupiah setalen. Sedang pemuda berbaju biru muda itu membayarnya dengan dua keping uang ringgit emas murni.
Merah muka Kilatsih, tetapi ia pun segera menghaturkan rasa terima kasih dengan menahan hatinya.
"Tak usah," kata pemuda itu. "Hanya saja perkenankan aku memberikan peringatan sedikit kepadamu. Lain kali kalau memasuki kedai minuman arak, hendaklah engkau mengenakan pakaian rangkap. Dengan demikian, tidak bakal memberi peluang kepada tangan jahil."
Sewaktu berbicara kembali lagi mulutnya menguarkan uap minuman keras. Namun sikapnya sangat tenang. Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia kembali ke mejanya dengan tubuh limbung.
Hati Kilatsih mendongkol bukan main. Namun karena merasa di bawah pengaruh, tak berani ia mengumbar adatnya. Terpaksa ia menelan nasihat atau peringatan itu dengan memanggut kecil. Dalam hati ia mengutuk.
620

"Benar-benar orang tak mengerti diri. Coba bukan aku tadi yang menolong, pastilah uangmu bakal kena rampas. Sekarang berlagak memberi nasihat segala. Huh!"
Dengan penasaran ia melayangkan matanya membuat penyelidikan. Tetapi di antara para tetamu, tiada seorang pun yang mencurigakan. Ia menjadi heran dan berputus asa. Dengan hati mendongkol, ia bangkit dari kursinya dan meninggalkan kedai.
"Megananda maaf. Kupinta kau menahan perutmu barang sebentar," bisiknya kepada kudanya. Kemudian ia melarikannya dengan cepat. Sepanjang jalan ia mencoba mengingat-ingat semua kejadian yang berlaku di kedai tadi. Terang sekali ia memasukkan uang rampasan dalam saku kirinya. Juga uang bekalnya sendiri yang berada di saku kanan tak pernah dikutiknya. Mengapa semua-semuanya lenyap tak keruan. Seumpama ada yang mencopet lantas siapa? Masakan bisa luput dari pengawasannya?
Setibanya di luar kota ia melihat berkele-batnya kuda hitam. Ia heran, karena penunggangnya pemuda berbaju biru muda tadi. Sewaktu ia meninggalkan kedai, dia masih nongkrong di atas kursinya. Sekarang tiba-tiba berada di sebelah depannya. Apakah ada jalan simpang yang memotong jalan besar?
Dengan penasaran ia membedalkan Mega-nanda hendak mengejarnya. Ia bercuriga. Jangan-jangan pemuda itulah yang main gila. Setelah dekat, ia mengayunkan cambuknya. Apabila dia seorang berilmu, pastilah bisa mengelakkan. Kalau tidak, cambuknya akan
621

mengenai sasaran. Ia bertekat menguji demikian, untuk memperoleh kepastian.
Melihat kesiurnya cambuk, pemuda itu memekik ketakutan. Tak dapat ia mengelak atau mencoba menghindari kecuali kedua tangannya berserabutan bergantian. Tubuhnya lantas terhuyung dan hampir saja ia roboh dari punggung kudanya.
"Maaf!" seru Kilatsih. "Tak sengaja aku mencambukmu."
Pemuda itu menoleh. Menyemprot, "Hidiiih... kaulah seorang pemuda tukang nganglap makanan warung. Idiiih tak punya malu.... Kau hendak merampas uangku, bukan? Tadinya dengan uangku aku hendak menjalin suatu persahabatan. Tak tahunya kau tukang nganglap yang tak mempunyai budi. Tak sudi lagi aku bersahabat dengan tampangmu! Sana pergi!"
Mendongkol hati Kilatsih yang dikatakan sebagai tukang nganglap makanan. Tetapi ia pun merasa lucu melihat lagak lagunya.
"Kau masih sinting?" tanyanya.
Pemuda itu tidak menyahut, la mengoceh seorang diri.
"Di depan kehijauan menghadang perjalananku. Di belakang gunung-gunung telah kutinggalkan. Ingin aku meneguk minuman sepuas hatiku. Tetapi di dunia ini dimanakah ada suatu kepuasan? Walaupun demikian, akan kucoba. Kalau tidak, hatiku akan terus dirundung suatu kedukaan. Hayo minum arak. Ah—tak sudi aku minum bersamamu....... "
622

Setelah berkata demikian, tubuhnya limbung di atas kudanya. Kilatsih ingin memegangnya agar jangan sampai jatuh. Mendadak pemuda itu menjepit perut kudanya. Kena jepit perutnya, kudanya meloncat dan kabur secepat angin.
Kilatsih bercemas hati. Ingin ia memburu dan menolong turun dari kudanya. Sebab menunggang kuda dalam keadaan demikian, sangat membahayakan. Maka ia me-ngeprak Megananda. Perintahnya, "Susul!"
Megananda adalah kuda jempolan. Jangan lagi sampai kena gertak. Maka dengan berbenger Megananda memanjangkan keempat kakinya dan lari secepat-cepatnya. Namun betapa dia berusaha mengejar, kuda hitam pemuda berbaju biru muda itu tetap berada di depan. Malahan makin lama makin jauh dan akhirnya lenyap dari penglihatan.
Dengan perasaan heran Kilatsih menahan kudanya. Pikirnya di dalam hati, "Hebat kudanya. Kuda macam apa sebenarnya? Dia sama sekali tak mengerti ilmu silat. Namun kudanya jempolan sekali. Megananda sampai tak sanggup mengejarnya...."
Mau tak mau Kilatsih terpaksa meneruskan perjalanan dengan pikiran pepat dan penuh teka-teki. Malam hari kala itu kian bertambah gelap dan gelap. Karena belum paham akan lika-liku jalannya, tak berani ia melarikan kudanya kencang-kencang. Tak jauh di depannya nampak asap mengepul di tengah ladang. Pastilah seorang petani lagi membakar sesuatu sebagai perdiangan malam. Ia lantas mengarah ke sana. Hanya saja begitu teringat bahwa dirinya tak beruang lagi, lenyaplah kegembiraannya.
623

Selagi pikirannya sibuk tak keruan, sekonyong-konyong ia mendengar meringkiknya seekor kuda. la menajamkan matanya. Samar-samar ia melihat sebuah bangunan kuno yang berhalaman luas. Seekor kuda sedang menggerumiti seonggok rumput. Ia segera mengenal kuda itu.
"Eh—dia pun berada di sini," pikirnya di dalam hati dengan menebak-nebak. "Tempat apakah ini? Biarlah kujenguknya."
Ia menambatkan kudanya di luar pekarangan, kemudian menghampiri bangunan itu dengan berjingkit-jingkit. Perlahan-lahan ia menolak daun pintunya yang tertutup rapat. Segera ia melihat api perdiangan yang menerangi seluruh ruangan. Bau harum daging bakar menusuk hidungnya pemuda tadi. Ternyata pemuda tadi lagi membakar daging kambing dengan menongkrongkan kakinya di tepi perdiangan. Nampaknya nikmat sekali.
Melihat dia—Kilatsih mendadak menjadi dengki. Tanpa segan-segan lagi dia terus masuk. Mendadak pemuda itu menegur. "Setan alas! Dunia ini begini lebar, tapi lagi-lagi kita bertemu."
Kilatsih tambah dengki. Membalas menegur, "Apakah sintingmu belum juga pudar?"
"Kapan aku sinting?" Tanya pemuda itu. "Sampai sekarang masih ingat aku, bahwa engkau adalah seorang pemuda tukang nganglap makanan orang.......... "
Mendongkol hati Kilatsih ditanggapi demikian.
Sahutnya dengan suara gemas, "Aku tak bisa membayar, karena uangku hilang. Ada orang jahat yang mencopet uang. Kau mengerti?"
624

Pemuda itu kaget sampai berjingkrak. Ia terbangun sambil berseru setengah memekik.
"Apa orang jahat? Rumah ini tiada penghuninya. Kalau penjahat datang-waduh-celaka! Kalau begitu tak mau aku berteduh di sini..."
Kilatsih tersenyum. Sahutnya menang, "Kau mau pergi kemana? Begitu kau berada di jalan kau bakal kena pegat. CJangmu amblas dan jiwamu mungkin amblas pula. Sebaliknya dengan aku berada disini, seratus penjahat tidak akan dapat mengganggu sehelai rambutmu."
Pemuda itu terbelalak matanya. Sekonyong-konyong ia tertawa terbahak-bahak. Serunya tak percaya, "Jika kau mempunyai kepandaian membekuk penjahat seratus orang—masakan kau sampai sudi menjadi seorang penganglap makanan warung makan?"
"Sudah kuterangkan tadi sebab uangku kena copet," Kilatsih memberi penjelasan dengan perkataan ditekan-tekan.
Pemuda itu tertawa terpingkal-pingkal. Katanya sambil menuding, "Katamu seratus penjahat tidak akan dapat mengganggu sehelai rambutku. Tapi nyatanya kau kena digerayangi tangan jahil. Massya Allah... mulutmu ternyata lebih hebat daripada meng-anglap makan. Kau benar-benar seorang pembual paling besar di dunia ini." Setelah berkata demikian, ia memperbaiki pakaiannya hendak berlalu. Tiba-tiba batal sendiri. Lalu kembali membakar dagingnya sambil menggerendeng.
625

"Ada-ada saja. Mana ada penjahat? Dunia begini aman tenteram, masakan ada penjahat. Jangan mencoba mengelabui dan mengibuli aku!"
Bukan kepalang mendongkolnya hati Kilatsih. Seumpama mampu, ingin ia menelannya. Tetapi alas an pemuda itu, masuk akal. Maka tak dapat ia mengumbar rasa mendongkolnya. Sebaliknya menahan rasa hatinya itu—alangkah sakit. Akhirnya mencoba meyakinkan.
"Kau tak percaya? Baiklah. Aku pun tidak mengharap engkau percaya kepada kata-kataku."
Daging bakar itu bukan main hebatnya menusuk hidung Kilatsih. Di warung makan tadi, dia tak sempat makan dan minum dengan kenyang. Tak mengherankan—begitu hidungnya mencium bau daging bakar—lantas saja terbangunlah nafsu makannya. Tak dikehendaki sendiri, ia menelan ludah. Tentu saja tak berani ia memperdengarkan suara mulutnya itu. Ia pun segan pula hendak mencoba minta bagian. Bukankah dia sudah mencap dirinya sebagai tukang menganglap makanan?
Kilatsih benar-benar kena siksa. Tatkala melihat pemuda itu mulai menggerumiti bakar daging dengan lezatnya, hatinya sakit bukan main. Celakanya pemuda itu benarbenar kurang ajar. Dengan memutar-mutar lidahnya dia berkata seolah-olah kepada dirinya sendiri.
"Minuman keras dapat membuat manusia waras menjadi sinting. Kelezatan daging pun dapat membuat orang sakit perut. Habis— perut jadi berkereruyuk tak keruan... "
626

Kilatsih mendeliki pemuda itu. Kemudian membuang mukanya.
Sejenak kemudian, pemuda itu mendadak seperti teringat sesuatu. Katanya. "Hai tukang nganglap! Ini— kau kuberi bagian pula."
Berbareng dengan perkataannya, ia melemparkan segumpal daging bakar yang masih hangat dan berlemak.
"Siapa kesudian makan dagingmu?" bentak Kilatsih dengan panas hati. Tak sudi ia menerima pemberian yang memang diharapkan. Tetapi berbareng dengan sikap galaknya itu, ia menelan ludah untuk menguasai diri. Lalu duduk perlahan-lahan di atas lantai. Ia bersila bersemadi dengan memejamkan mata untuk menyingkirkan pemandangan yang menggugah nafsu makannya.
Ia memang tidak melihat lagi. Tetapi hidung mempunyai tata kerja lain. Dengan memasukkan uap daging bakar ke dalam rongga tubuhnya perangsang nalurinya terbangun. Perutnya merasa melilit-lilit. Inilah suatu siksaan terkutuk. Tetapi Kilatsih seorang yang angkuh hati. Makin terdorong ke pojok makin angkuhlah dia. Dia pun murid seorang pendekar kelas pertama pada zaman itu. Maka uap daging bakar itu seumpama uap racun lawan yang datang menyerang. Cepat-cepat ia menenggelamkan diri dalam tata semadinya untuk melawannya.
Keangkuhan hatinya merupakan sendi ketabahannya. Lambat laun ia berhasil. Rasa laparnya dapat dikuasainya. Hatinya lantas terasa menjadi lega. Perlahan-lahan ia membuka kedua matanya dan berani
627

memandang penglihatan yang menggiurkan. Pemuda berbaju biru itu ternyata sedang rebah tidur. Daging bakarnya menggeletak di sampingnya.
Melihat daging bakar yang nampak empuk itu, lidahnya bergerak-gerak. Liur lembut meleleh dan membasahi dinding mulut. Hati-hati tangannya diulurkan hendak menyambar daging itu. Pada saat itu mendadak pemiliknya menggeliat.
"Setan!" maki Kilatsih di dalam hati. Bukan main rasa dengkinya terhadap pemuda itu. "Baiklah—tak apa. Masakan aku akan mati kelaparan melihat daging bakarnya."
Pemuda itu sendiri tidak menghiraukan penderitaan Kilatsih. Enggan nikmat sekali ia mendengkur. Lantaran ruang bangunan itu tidak terlalu lebar, suara dengkurnya terasa berisik.
"Pemuda ini sebenarnya datang dari mana?" Kilatsih berteka-teki pada dirinya sendiri setelah merenungi pemuda itu. "Dia berpakaian mentereng dan bersih. Apa sebab dia menginap di sini dengan membiarkan dirinya tidur di atas lantai begini kotor? Dia membawa uang emas dan permata pula. Setolol-tololnya orang pastilah sadar, bahwa hal itu membahayakan dirinya manakala sampai kena pandang orang. Tapi dia memilih tempat penginapan yang justru memen-cil. Kalau dengan tiba-tiba kena keroyok penjahat, kepada siapa ia hendak minta pertolongan? Menilik gerak-geriknya, terang sekali ia tak pandai berkelahi... "
Kilatsih bangkit dari semadinya. Timbullah keinginannya hendak menggeledah tubuh pemuda itu. Maka perlahan-lahan ia mendekati. Mendadak pemuda
628

itu bergeliat lagi dengan membalikkan tubuhnya. Kilatsih merandek. Hatinya beragu. Pikirnya di dalam hati, "Dia mencap aku sebagai seorang penganglap makanan. Sekarang aku hendak menggeledahnya. Kalau sampai terbangun, bukankah dia bertambah yakin bahwa aku seorang jahat?"
Memperoleh pertimbangan demikian ia mundur lagi dua langkah. Sekonyong-konyong ia mendengar suara gemeretak di pekarangan. Ia menoleh menajamkan telinganya. Suara gemertak itu tiada bersambung. Ia lantas melirik kepada pemuda itu. Tetap saja dia mendengkur dengan enaknya.
"Eh—benar-benar seekor babi!" maki Kilatsih di dalam hati. "Sebenarnya tak perlu aku berpusing-pusing memikirkan dia. Dia kena gebuk atau kena rampas—apa peduliku? Tetapi sebenarnya kalau sampai terjadi demikian—kasihan juga. Ah-"-nasibmu memang bagus. Biarlah aku menangkis penjahat yang datang itu."
Setelah mendapat keputusan demikian, Kilatsih melesat di belakang daun pintu. Hati-hati ia membuka pintu dan melesat lagi keluar. Dengan lincah ia melompat ke atas dahan. Sambil melindungkan dirinya di belakang dahan, ia menebarkan penglihatannya.
Tatkala itu bulan sipit sudah di udara bersih. Cahaya remangnya menyibakkan kepekatan malam. Samar-samar matanya yang tajam melihat berkelebatnya dua bayangan manusia. Mereka mengenakan topeng.
"Sst! Dua orang di dalam," bisik yang berada di kanan. "Siapa pemilik kuda putih dan kuda hitam itu selain mereka. Apakah pemilik kuda putih temannya?"
629

"Tidak. Secara kebetulan mereka bertemu di dalam kedai. Mungkin pula di dalam perjalanan, mereka berkenalan. Lalu menginap bersama-sama di sini."
"Bagaimana—seumpama dia membandel tidak mau menyerahkan uangnya."
"Kalau bisa—jangan sampai kita terpaksa memecah kepalanya."
"Benar. Tetapi lebih baik kita lukai sedikit saja. Biarlah dia mampus di perjalanan daripada di sini."
Kilatsih gusar mendengar pembicaraan itu. Kutuknya di dalam hati, "Benar-benar jahat kalian ini. Selain mengincar hartanya masih ingin pula merenggut jiwanya."
Tiba-tiba yang di sebelah kiri berseru kaget memberi peringatan.
"Awas! Di atas pohon ada orang!"
Dengan sebat Kilatsih melepaskan dua biji sawonya. Mereka ternyata gesit. Sambaran biji sawo dapat dielakkan. Kilatsih menjadi penasaran. Dengan menghunus pedangnya, ia melompat turun. Begitu tiba di atas tanah, ia lantas menyerang.
Kedua orang itu buru-buru mengeluarkan senjatanya masing-masing. Seutas rantai berkepala bola berpaku dan sebatang tongkat panjang alat pengemplang kepala. Melihat menyambarnya pedang, mereka menangkis dengan berbareng. Mereka kaget melihat akibatnya. Baik rantai maupun tongkat mereka terpapas sebagian.
Kecuali itu mereka terpental mundur. Hampir-hampir senjata mereka terpental pula dari genggamannya.
630

"Mereka bukan orang lemah," pikir Kilatsih di dalam hati setelah merasakan tangkisan mereka. Terus saja ia memberondong dengan serangan berantai. Pedang Kilatsih adalah pedang warisan leluhur Adipati Surengpati. Sebenarnya Titisari yang berhak menjadi pemiliknya. Tetapi karena dia bukan mewarisi ilmu kepandaian ayahnya dan telah pula memiliki pedang mustika Sangga Buwana— maka pedang itu diberikan kepada Kilatsih sebagai pewaris ilmu pedang Witaradya. Pedang itu sendiri diberi nama Witaradya oleh Adipati Surengpati. Tajamnya luar biasa. Sekali bentrok dengan senjata lawan, pasti kena dikutungkan. Akan tetapi tongkat dan
Sambaran biji sawo dapat dielakkan. Kilatsih menjadi penasaran. Dengan menghunus pedangnya, ia melompat turun. Begitu tiba di atas tanah ia lantas menyerang.
rantai dua penjahat itu, terbuat dari tumpuan bahan yang tebal. Meskipun demikian Sambaran biji sawo dapat dielakkan. Kilatsih menjadi penasaran. Dengan menghunus pedangnya, ia melompat turun. Begitu tiba di atas tanah, ia lantas menyerang—kena terpa-pas sedikit—rantai dan tongkat mereka som-plak sebagian.
Mereka segera memperbaiki kedudukan diri. Sedianya mereka hendak minta keterangan, siapakah Kilatsih. Tetapi karena terus dicacar dengan serangan-serangan berbahaya, tiada mereka berkesempatan membuka mulutnya. Yang bersenjata seutas rantai memiliki kesehatan tak tercela. Dia pun bertenaga dan cerdik. Sadar akan ketajaman pedang Witaradya tak berani lagi ia mengadu rantainya. Setiap kali terancam suatu tebasan, cepat-cepat ia menariknya dan membalas menyerang dengan sabetan melengkung.
631

Kilatsih berkelahi dengan menggunakan ilmu Petak Ratna Dumilah warisan Titisari digubahnya menjadi ilmu pedang. Gerak-geriknya gesit dan sukar ditebak kemana sasarannya. Tubuhnya berkelebatan di antara kesiur rantai dan tongkat.
Dilawan dengan kegesitan demikian, dua penjahat bertopeng itu kuwalahan. Mereka habis daya. Syukur mereka licin dan berpengalaman. Meskipun terpaksa bermain mundur namun tak sampai kena sambaran pedang.
Kilatsih yang berwatak panas, menjadi penasaran. Dasar murid Adipati Surengpati, keliarannya betapapun juga diwarisinya. Kalau tadi dia bermaksud memberi hajaran—kini timbullah rangsang hendak merenggut jiwa mereka. Dan memperoleh pikiran ini, pedangnya berkelebat. Senjata rantai lawan dihantamnya dengan kencang. Ia hendak membunuh pemilik senjata rantai itu dahulu. Kemudian baru yang satunya.
Di luar dugaan, pemilik senjata rantai itu sebat luar biasa. Melihat serangan pedang— ia memindahkan rantainya ke tangan kiri. Lalu menggubat hulu pedang Kilatsih dengan tiba-tiba. Berhasil demikian, cepat-cepat ia menarik dengan mengerahkan seluruh tenaganya.
Kilatsih kaget setengah mati. Hampir saja pedangnya terlepas dari genggaman Ia seperti pernah melihat tipu daya demikian. Gerakannya mirip tipu muslihat ilmu sakti Sirtupelaheli. Lalu membentak, "Hai! Apakah kau anak murid Dipajaya?"
Kilatsih mendengar kisah Sirtupelaheli—
632

Dipajaya, tatkala berada di Pulau Karimun Jawa. Kisah itu didengarnya tatkala Titisari memberi keterangan tentang Sirtupelaheli kepada ayahnya. Dasar ia seorang cerdas, begitu teringat gerakan rantai itu lantas saja teringat pula kepada Sirtupelaheli. Menimbang tenaga yang digunakan orang itu, ia menduga sebagai teringat lagi kepada Dipajaya. Sebab gaya tata berkelahinya adalah gaya khas ajaran seorang pria. Tebakannya ternyata tepat sekali.
Orang itu berjingkrak kaget. Lalu berseru menyeramkan.
"Kau datang dari mana sampai mengenal nama itu? Bagus! Karena kau mengenal kami—maka terpaksalah kami melunasi jiwamu."
Pengakuan itu mengejutkan hati Kilatsih. Benar-benarkah dia murid atau setidak-tidaknya orangnya Dipajaya? Dia mendengar Dipajaya dan sepak terjangnya sebagai suatu dongeng belaka. Kabarnya dia hidup di Jawa Timur. Apa sebab salah seorang murid atau bawahannya merantau sampai di bumi Jawa Barat? Teringat dongeng kejadian Dipajaya dan tujuan hidup Dipajaya, meledaklah amarah Kilatsih. Bentaknya dengan mata berapi-api.
"Kau manusia beracun apa sebab sampai berkeliaran di Jawa Barat? Kau hendak meracun siapa? Jangan bermimpi kau bisa melebarkan pengaruh Aliran Suci di sini."
Dengan mengerahkan tenaga ia menghentakkan pedangnya. Begitu terlepas, segera ia memberondong dengan lima tikaman berturut-turut. Orang itu ternyata gesit pula. Ia menggerung tinggi dan membalas
633

menyerang pula. Tapi Kilatsih kali ini tidak sudi lagi berkelahi dengan setengah hati. Terus saja ia menggunakan Ilmu pedang Witaradya.
Dengan perubahan tata berkelahi itu, pertempuran segera berjalan amat sengitnya. Selang sekian lamanya Kilatsih menggunakan ilmu pedang Witaradya—tetap saja ia belum berhasil. Diam-diam hatinya meringkas. Sudah beberapa hari ini, dia membuang tenaga dan kurang tidur. Malam itu bahkan diganggu perut lapar. Maka akibatnya ia cepat menjadi lelah. Keringatnya mulai membasahi seluruh tubuhnya. Tadi ia mengira, bahwa mereka adalah penjahat-penjahat kecil tak bernama. Tak tahunya, mereka anak murid Dipajaya. Dengan dikerubut dua—sekalipun memiliki pedang mustika— nampaknya tiada gunanya.
"Pedang bocah ini bagus!" kata yang bersenjata tongkat. "Pedang ini untukku."
"Boleh," sahut temannya. "Hanya saja kau harus berjanji. Setelah berhasil membekuknya—orangnya harus kau serahkan kepadaku. Kau tak boleh mencampuri."
"Baik, aku berjanji."
Mendongkol hati Kilatsih mendengar percakapan mereka. Itulah percakapan merendahkan dirinya, seolah-olah sudah dapat dipastikan bahwa dirinya bakal kena dibekuknya. Orang yang bersenjata rantai itu, tentu saja tak mengerti bahwa dirinya seorang gadis. Tapi dengan tak sengaja—kata-katanya menyinggung perasaan seorang gadis. Dalam telinga Kilatsih terdengar sangat busuk dan kotor. Maka dengan hati meledak, ia mengulangi serangannya yang dahsyat. Kali ini ia mencecar yang bersenjata tongkat.
634

"Aduh!" jerit orang itu. Tiba-tiba saja lengannya tergantung lumpuh di depan perutnya. Kilatsih memperlihatkan kesehatannya. Dengan suatu serangan kilat ia menikam tenggorokan. Tak ampun lagi, orang itu roboh. Ia tewas pada detik itu juga.
Temannya kaget setengah mati. Begitu kaget dia, sampai tertegun sejenak. Hatinya mencelos tatkala melihat berkelebatnya pedang Kilatsih menyambar dirinya. Untung-untungan ia menangkis. Rantai ter-papas kutung. Kali ini ia tersentak sadar. Cepat ia mundur. Kemudian melompat lari tunggang - langgang.
Hati Kilatsih sedang panas. Ia dengki terhadap ucapan orang itu yang hendak melawannya. Segera ia menimpuk dengan tiga biji sawonya. Lalu terdengarlah suara berisik. Ketiga biji sawonya runtuh-di atas tanah dan orang itu kabur dengan selamat.
Kilatsih jadi keheranan. Orang itu tak nampak mencoba menangkis sambaran biji sawonya. Tetapi apa sebab sambitannya runtuh di atas tanah? Apakah ada seorang yang menolong menyelamatkan jiwanya?
Ia menoleh kepada orang yang mati ter-tumblas pedangnya. Matinya orang itu pun mengherankan dirinya. Sebenarnya masih mampu dia menangkis. Tapi apa sebab, lengannya mendadak lumpuh lunglai? Apakah ada orang yang membantu dirinya dengan diam-diam? Kilatsih menjadi bingung. Sebab orang yang menolong dirinya membantu pula menyelamatkan lawannya yang justru mendengkikan hatinya.
Dengan hati-hati ia menghampiri mayat lawannya. Ia menyontek topeng yang dikenakan dengan ujung pedangnya. Ia kaget— karena orang itu—ternyata
635

seorang Tionghoa. Apakah artinya ini? Pastilah dia bukan seorang penjahat lumrah.
"Aneh orang ini. Aneh pula orang yang membantuku. Dia membantu aku membunuh dia, berbareng menggagalkan aku menimpuk yang satu," pikirnya bolak-balik.
Dengan penasaran ia menggeledah sakunya. Ia memperoleh empat ringgit uang perak. Pikirnya dengan tertawa geli di dalam hati, "Salahmu sendiri. Kupinta keikhlasanmu. Saat ini aku membutuhkan uang bekal."
Baru saja ia memasukkan uang rampasannya itu, sekonyong-konyong terdengar suara gemeresak di atas pohon. Kaget ia mendongak. Dua bayangan muncul di antara silang dahan.
"Hai, tunggu!" seru bayangan itu. Mereka melompat turun dan lari mengarah ke pintu bangunan.
"Dalam perjalanan, wajib engkau membagi rejeki kepada teman sejalan. Mana bagian kami?"
Kilatsih berdiri tegak dengan menggenggam pedangnya. "Inilah bagianmu."
Kedua orang itu bertopeng pula. Dengan tertawa terbahak-bahak mereka menghampiri.
"Bagus! Bagus! Itulah namanya seorang yang mengerti menghargai arti suatu persahabatan. Kalau ada makanan kita makan bersama. Kalau ada minuman, kita minum bersama."
Orang yang berkata demikian, lalu mendekat dengan mengangsurkan tangannya. Kilatsih menyambut dengan
636

tertawa melalui hidungnya. Kemudian pedangnya menyabet dengan tiba-tiba.
Sudah barang tentu—orang itu kaget setengah mati. Cepat ia menarik tangannya. Lalu meliukkan tubuhnya sambil melompat mundur. Begitu kakinya meraba tanah, tiba-tiba ia membalas menyerang. Itulah suatu gerakan gesit di luar dugaan. Kini Kilatsih yang berganti menjadi terkejut. Buru-buru ia melintangkan pedangnya dan menabas.
"Awas! Pedangnya!" seru temannya memberi peringatan. Orang itu lalu menghunus goloknya dan maju membantu.
Kedua orang itu merupakan lawan lagi yang tidak ringan, mereka lebih sebat dan lebih berbahaya daripada kedua lawannya tadi. Syukur ilmu pedang Witaradya adalah ilmu pedang yang bernilai tinggi. Betapa mereka mencoba merangsak, tak dapat juga memasuki daerah geraknya.
Setelah lewat lima puluh jurus, orang yang berkelahi dengan tangan kosong berkata memutuskan.
"Baiklah. Biarlah kau menelan mangsamu sendiri. Tapi kau wajib memberitahukan namamu. Dengan begitu, kita jadi bersahabat sampai di kemudian hari."
"Siapa kesudian bersahabat dengan kamu?" bentak Kilatsih dengan mata melotot. "Kejahatanmu hendak merampas barang milik seseorang, dapat dimaafkan.
Tapi kamu ternyata anak buah Dipajaya yang beracun. Si Tua bangkotan itu mempunyai tujuan yang berbahaya. Bukankah kamu diperintahkan untuk mengganggu
637

pendekar besar Sangaji untuk merebut sebuah pusaka warisan?"
"Hihaaaa... monyet, kau lancang mulut!" bentak orang itu. Tangannya bergerak dengan sebat hendak mematahkan lengan.
Tentu saja Kilatsih tak sudi menyerah. Pedangnya berkelebat secepat kilat. Ia menyambar ke kiri, tapi bidikannya sudut kanan. Itulah salah satu macam tipu muslihat pedang Witaradya yang sukar diraba sasarannya.
Tapi musuh itu benar-benar licin. Bagaikan seekor belut. Tubuhnya dapat meringkas dan lolos dari setiap serangan pedang yang datang dengan bertubi-tubi.
Ilmu pedang Witaradya—memang ilmu sakti yang luar biasa sifatnya. Selain lincah dan gesit, mengandung perubahan yang tiba-tiba. Kilatsih berhasil mengurung mereka sehingga tak berdaya sama sekali. Tatkala ujung pedangnya hampir berhasil menikam kempungan, mendadak lengannya terasa kesemutan. Serangannya berhenti di tengah jalan dan kedua orang itu berhasil menyelamatkan diri. Kemudian kabur dengan secepat-cepatnya. Sebentar saja tubuh mereka lenyap dari penglihatan.
"Kurangajar," maki Kilatsih. "Hai! Setan manakah yang bersembunyi di sini. Jangan main gelap. Hayo keluar!"
Kilatsih penasaran. Serangannya tadi gagal, karena lengannya tiba-tiba kesemutan. Itulah akibat suatu serangan gelap dari luar gelanggang. Ia menunggu. Lalu memakinya. Tapi makiannya hening tiada yang menanggapi.
638

Masih ia menunggu dengan bersiaga. Kemudian tangan kirinya meraba lengannya. Terasa kulit dagingnya menonjol sedikit sebesar butir kedele. Teranglah— seseorang menyerangnya dengan menggunakan alat penyambit. Tetapi siapa—penyerang gelap itu—ternyata tak berani mencongakkan diri.
Tak puas hati Kilatsih, walaupun berhasil mengusir dua orang tadi. Dengan hati uring-uringan ia memasuki rumah bangunan. Tiba di dalam—pemuda berbaju biru muda itu— masih saja tidur dengan mendengkur. Suara napasnya naik turun sangat berisik.
"Hai, anak mampus!" tegur Kilatsih dengan suara menghentak. "Enak sekali kau tidur!'
Pemuda itu menggeliat panjang sambil membalikkan badannya. Dengan pandang malas ia mengawaskan Kilatsih.
"Hai—ada penjahat!" Kilatsih memberi kabar dengan suara nyaring.
Pemuda itu lantas menegakkan badannya dengan menyenakkan mata. Kedua kelopak matanya masih nampak melengket. Katanya seperti sedang mengigau.
"Enak benar tidur di atas lantai. Ah, aku bermimpi bagus tadi. Sayang hanya aku sendiri yang mengetahui."
"Kau mengetahui apa?" tungkas Kilatsih dengan memberengut. Kemudian tertawa geli. "Ada penjahat datang kemari. Kau tahu?"
Pemuda itu menguap lebar sekali. Meng-gerendeng.
639

"Lagi-lagi kau membicarakan perkara penjahat.
Kenapa sih begitu jahil sampai mengganggu orang sedang tidur? Apa sih dosanya orang lagi tidur?"
Ia menganggap pemberitahuan Kilatsih sebagai suatu bualan kosong. Karena itu—ia menggerendenginya. Kilatsih mendongkol berbareng geli. "Cobalah kau lihat di luar— kalau kau tak percaya."
Pemuda itu menggeliat lagi seraya menguap.
"Seumpama benar ada penjahat datang— manakah buktinya? Tujuanmu kan hanya ingin mengganggu aku. Kau memang jahil."
"Akulah yang mengusir mereka," bentak Kilatsih dengan suara sengit. "Kau kira aku menjual bualan kosong?"
"Eh—apakah benar?" pemuda itu terbelalak. "Kalau begitu makanlah sepotong dagingku itu. Tidak lagi aku mencap engkau sebagai penganglap. Sebab itulah upah jasamu."
Berkata demikian, ia menyambar sepotong daging bakar dan dilemparkan. Kilatsih menyampoknya jatuh dengan hati mendongkol.
"Hm—benar-benar engkau mengira aku sedang membual? Bagus! Sebenarnya siapa namamu dan datang darimana?"
Pemuda itu menggerakkan gundu matanya. Sekonyong-konyong ia mencontoh Kilatsih. Dengan menuding ia bertanya, "Siapa namamu dan datang dari mana?"
640

Kali ini Kilatsih tidak hanya mendongkol, tapi bergusar pula.
"Apa?" bentaknya.
Pemuda itu tertawa lebar.
"Kau bertanya tentang nama dan asalku datang. Tapi caramu memeriksa seperti terhadap seorang pesakitan. Apakah aku pun tak bisa berbuat begitu?"
Ingin sekali Kilatsih mengumpat. Tetapi alasannya benar. Karena itu, ia membungkam. Pikirnya di dalam hati, "Mustahil aku akan memberi keterangan tentang nama dan asalku datang." Ia mengawaskan pemuda itu yang mengerling padanya. Pikirnya lagi, "Aku tak sudi memberi keterangan tentang diriku. Dia pun berhak bersikap begitu."
"Aku tak bisa memaksanya. Tapi penjahat-penjahat yang datang itu, terang sekali anak murid atau bawahan Dipajaya. Menurut tutur kata Kakak Titisari, Dipajaya adalah seorang pendekar yang kena pengaruh bius Aliran Suci. Dia mengacau dimana-mana untuk mencari rahasia semua ilmu sakti yang berada di Pulau Jawa. Apakah pemuda ini tidak mempunyai hubungan dengan mereka? Jangan-jangan dia pun seorang pemuda yang memimpikan surat wasiat Kakak Titisari pula. Ah, mustahil! Mustahil! Surat wasiat Kakak Titisari berada jauh di Jawa Tengah dalam genggaman ayah angkatku. Sedangkan ia berada di sini. Kukira dia anak seorang hartawan yang lagi iseng. Kalau dia mempunyai hubungan dengan penjahat-penjahat tadi, apa sebab mereka memusuhi?"
641

Memperoleh pertimbangan demikian, timbullah rasa persahabatannya. Mau ia bersikap lunak dan mengalah. Tapi begitu melirik ke arah pemuda itu, hatinya jemu. Wajah pemuda itu tampak tolol dan tingkah lakunya mendengkikan hati. Dengan setengah tertawa dia memandangnya. Kedua matanya dirapatkan setengah-setengah sehingga berkedip-kedip seakan-akan kena silau cahaya. Alangkah menjemukan!
"Baiklah masing-masing mempunyai tujuannya sendiri," kata Kilatsih. "Kau tadi bilang, tak sudi kau bersahabat dengan seorang penganglap. Aku memang seorang pe-nganglap. Sampai di sini saja kita bertemu."
"Hai! Hai! Kau kenapa?" pemuda berbaju biru muda itu terperanjat.
"Aku berkata dengan sebenarnya tentang datangnya penjahat. Tapi engkau menganggap diriku seorang pembual besar. Baiklah mulai sekarang kau bakal dimangsa penjahat atau bakal ditelan, aku tidak peduli lagi. Selamat tinggal."
Setelah berkata demikian, Kilatsih memutar tubuhnya. Kemudian dengan cepat dia keluar pintu. Ia bersakit hati karena direndahkan. Sedangkan maksudnya baik sekali hendak melindungi.
Pemuda itu lalu berbangkit. Dengan sepasang matanya yang tajam ia mengikuti keluarnya Kilatsih dari pintu. Mulutnya bergerak hendak memanggilnya. Tapi mendadak batal. Kemudian tertawa pelahan-lahan dan kembali berbaring di tempatnya tadi.
Di atas kudanya, hati Kilatsih masih uring-uringan. Tatkala fajar mulai menyingsing, ia sudah jauh
642

meninggalkan bangunan semalam, la menahan lesnya. Kemudian melompat turun. Di sebuah sungai yang jernih airnya, ia membasuh diri. Seluruh tubuhnya meremang begitu menyentuh air. Alangkalj dingin!
Selamanya Kilatsih adalah seorang gadis yang angkuh. Ia gampang sekali tersinggung dan tak sudi mengalah. Begitu rasa dingin menusuk kulitnya timbullah gairahnya untuk melawan. Terus saja ia menanggalkan pakaiannya dan mencebur di dalam sungai. Hampir tujuh tahun ia menetap di pulau Karimun Jawa. Meskipun belum dapat melawan kepandaian Titisari, tetapi ia termasuk seorang gadis yang pandai berenang. Dengan lincah ia menyelam dan timbul seakan-akan seekor ikan bergurau di bawah permukaan air. Mula-mula dingin air nyaris membekukan tulang belulangnya. Lambat laun ia bisa menyesuaikan diri. Akhirnya ia merasakan suatu kesegaran yang menyejukkan. Maka lupalah dia kepada perutnya yang semalam terasa sangat lapar.
Megananda sendiri mendapat kebebasan penuh. Setelah menghirup air sungai—ia menggerumiti rerumputan pegunungan yang hijau meriah. Tatkala majikannya sudah berdandan rapih, matahari bersinar terang ke seluruh persada bumi.
"Hayo—kita berangkat!" kata Kilatsih dengan lembut. Ia meraba pelana untuk dikencangkan tali pengikatnya. Tiba-tiba tangannya menyentuh sebuah bungkusan yang di bawah pelana. Ia kaget. Karena bungkusan itu adalah bungkusan uangnya. Segera ia membukanya. Di dalamnya tidak hanya berisi uangnya sendiri, tapi pun uang copetan-nya pula.
643

Heran dan penasaran, Kilatsih melompat tinggi menyambar dahan pohon. Ia memeriksa sekitarnya. Tiada sesosok bayangan yang nampak, selain kabut pegunungan yang bergulungan dan sirna kena sinar surya.
"Ah! Apakah perjalananku ini ada yang mengikuti?" ia berteka-teki dalam hati.
Ia lantas melarikan kudanya mengarah ke timur laut. Pagi hari kini menyongsongnya dengan kegairahannya. Karena penglihatan terang benderang, ia tak ragu-ragu untuk mempercepat lari kudanya. Segera ia memasuki suatu daerah yang indah meresapkan hati. Di dekat persimpangan jalan ia berpapasan dengan beberapa orang yang berperawakan gagah. Mereka menunggang kuda pula dan searah. Melihat mereka, Kilatsih memperlambat kudanya. Namun ia bersikap tak menghiraukan agar tidak menarik perhatian mereka.
"Menilik pakaian yang dikenakan, agaknya mereka hendak menghadiri suatu pesta.
Apakah kakakku Sangaji memanggil mereka untuk menghadiri suatu pertemuan? Jangan-jangan inilah yang dikhabarkan orang—kakakku Sangaji—berpindah tempat," pikirnya di dalam hati.
Mereka melampaui Kilatsih. Pandang mata mereka bersungguh-sungguh dan tidak menghiraukannya. Mungkin sekali Kilatsih dianggapnya sebagai seorang pemuda biasa yang berpesiar di waktu pagi. Tapi justru sikapnya itu, menarik perhatian Kilatsih. Ia yakin—bahwa kepergian mereka—mempunyai hubungan rapat dengan kegiatan Sangaji.
644

Setelah berjalan serintasan, Kilatsih merasa lapar. Segera ia mencari warung makan. Ia memesan makanan pagi seadanya. Minumnya teh pahit. Karena perutnya kosong semenjak semalam, ia makan dengan lahap sekali.
"Hari ini nampaknya lalu lintas perdagangan bakal ramai," katanya iseng.
"Eh—apakah Tuan hendak pergi pula ke Sumedang?" ujar penjual nasi itu dengan tertawa riang.
"Sumedang? Ada apa di sana?" Kilatsih minta keterangan.
"O, kalau begitu—Tuan bukan orang sini,' kata orang itu. "Hari ini Raja Muda Dwijendra dari panji-panji Bintang Pedang bersilang mengadakan pesta ulang tahun. Banyak sekali sahabat dan handai taulannya yang dipanggil datang."
Kilatsih mengerutkan dahinya. Teringatlah dia kepada susunan laskar perjuangan Himpunan Sangkuriang. Himpunan Sangkuriang semenjak zaman Ratu Bagus Boang terbagi menjadi dua sayap. Sangaji pun tidak membahunya. Adapun yang menduduki dua sayap pemerintahan itu, enam orang raja muda. Yang pertama Dadang Wiranata—kemudian Otong Surawijaya, Ratna Bumi, Dwijendra, Andangkara dan Walisana. Masing-masing mempunyai panji kebesaran bergambar: Obor Menyala, Kuda Sembrani, Keris Sakti, Bintang, Garuda dan Bunga Merekah.
"Ah, Paman Dwijendra! Apakah dia berempat tinggal di Sumedang?" Kilatsih menegas.
645

Mendengar pertanyaan Kilatsih, penjual nasi itu lantas saja membungkuk hormat.
"Oh, kiranya Tuan sahabat tuanku Raja Muda Dwijendra."
"Siapakah yang belum kenal nama Paman Dwijendra? Aku menyebut paman, karena usiaku lebih muda. Aku sendiri datang dari Jawa Tengah."
Penjual nasi itu memanggut. Tetap saja dia bersikap hormat, meskipun Kilatsih mencoba menghindari.
Katanya dengan lirih. "Benar. Tuanku Dwijendra luas pergaulannya. Tata susilanya genap. Beliau seorang pendekar pendiam. Karena itu— tetamunya yang datang—bukan main banyaknya. Semuanya orang-orang gagah. Asalnya dari berbagai daerah."
Kilatsih memanggut. Tentang keperkasaan Dwijendra, ia mendengarnya dari tutur kata Titisari. Dia tidak hanya seorang ahli pedang—tapi pun seorang yang mahir dalam ilmu tangan kosong. Senjata rahasianya disebut orang dengan istilah "Geledak menggetarkan langit." Bentuknya semacam bola—terbuat dari baja pilihan. Beratnya limapuluh kati. Jangan lagi manusia yang terdiri dari darah dan daging, tiang besi pun bisa patah kena sambitannya. Walaupun memiliki senjata* rahasia begitu dahsyat, jarang ia menggunakannya. Itulah sebabnya dia dihormati orang. Dasar pandai bergaul pula. Namun— betapapun—tabiatnya aneh.2)
"Dia seorang maha penting dalam Himpunan Sangkuriang. Namanya sangat
2) Lebih jelas bacalah Bende Mataram mulai jilid XIII hal. 119 - XV hal. 53
646

menakutkan Kompeni Belanda. Tak tahunya dia tinggal di Sumedang," pikir Kilatsih di dalam hati.
"Baiklah aku datang pula ke-sana. Siapa tahu, Kangmas Sangaji berada pula disana. Seumpama tidak—aku bisa memperoleh keterangan yang pasti."
Teringatlah dia kepada bunyi tulisan pada selembar kertas yang dibacanya kemarin. Mungkin yang memiliki kepandaian tinggi itu, hadir pula di rumah Dwijendra. Maka segera ia minta keterangan, dimanakah letak istana Dwijendra.
"Rumahnya memang sebuah gedung yang mentereng. Tapi belum boleh disebut sebuah istana," ujar penjual nasi. "Aku sendiri belum pernah memasuki pekarangannya. Lebih baik Tuan mengikuti rombongan tetamu lainnya. Aku yakin, bahwa tuanku raja muda akan menerima kunjungan Tuan dengan tangan terbuka."
Sesudah membayar harga makanan, Kilatsih melanjutkan perjalanan. Tetamu undangan sangat banyaknya. Tatkala tiba di pekarangan gedung raja muda Dwijendra hampir semua kursi telah ditempati orang. Namun dengan pertolongan seorang penyambut tetamu yang ramah, ia bisa memperoleh tempat pula yang berada di dekat taman bunga. Sambil minum dan mengge-rumiti makanan ia mendengarkan pembicaraan orang.
"Hari ini tuanku Dwijendra tidak saja hendak merayakan hari ulang tahunnya yang kelimapuluh enam, tetapi akan memilih pula calon menantunya," kata seorang yang berada di sebelah kanannya.
Temannya yang diajak berbicara tertawa lebar.
647

"Benar tapi Beliau bisa pusing kepalanya. Kudengar kemenakan-kemenakan tuanku Otong Surawijaya, Walisana dan Ratna Bumi—dengan berbareng memajukan surat lamaran. Hayo bagaimana cara Beliau hendak memutuskan."
Seorang lain menyambung.
"Tuanku. Dwijendra pernah memimpin laskar perjuangan mulai dari timur sampai mencapai batas pantai barat. Masakan perkara memutuskan siapa yang bakal menjadi menantu dapat memusingkan Beliau.
Lihat! Kau melihat apa?"
Kilatsih ikut berpaling ke arah telunjuknya. Di tengah taman berdiri sebuah panggung pertunjukan gendang-pencak. Tetapi ukurannya jauh lebih tinggi dan jauh lebih lebar.
Orang kedua tertawa mengerti.
"Rupanya tuanku Dwijendra masih memegang teguh adat-istiadat kita. Meskipun kedudukannya sangat tinggi, masih mau menerima adat leluhur. Jadi Beliau hendak mengadakan arena adu kepandaian untuk memilih calon menantu? Wah—bakal ramai ini nanti. Tetapi bagaimana caranya?"
"Lihatlah saja bagaimana tuanku Dwijendra mempertunjukkan keadilannya. Beliau tidak memandang bulu. Siapa saja yang mampu memperlihatkan kepandaiannya, akan berhak disebut sebagai menantunya."
"Bagus! Bagus! Sayang cucuku sudah lima orang.
Kalau tidak, mau aku mencoba-coba mengadu untung."
648

Kilatsih tertawa. Pikirnya di dalam hati, "Inilah cara mencari menantu yang aneh. Sekiranya yang menang rupanya jelek dan sudah mempunyai anak sepuluh— bagaimana? Bukankah kasihan anak gadisnya?"
Kilatsih dilahirkan di bumi Jawa Barat. Namun setelah berumur tiga tahun, ia dibawa Sorohpati ke Jawa Tengah. Selanjutnya sampai dewasa ia hidup di Karimun Jawa. Tak mengherankan—ia tak mengenal adat kebiasaan rakyat Jawa Barat—pada dewasa itu. Mencari menantu dengan mengadu kepandaian, bukanlah suatu kejadian yang aneh. Hampir setiap hari, orang dapat melihatnya.
Tatkala matahari condong ke barat terdengarlah suara sambutan riuh suatu sambutan ucapan selamat serempak. Para tetamu pada bangkit dari tempat duduknya. Juga Kilatsih ikut berdiri tegak sambil melayangkan matanya.
Seorang tua berpakaian muslim muncul di antara kerumun orang. Ia mengenakan jubah putih. Jenggotnya panjang memutih. Wajahnya kemerah-merahan. Sorbannya putih bersih. Ia berjalan perlahan-lahan dengan menggandeng tangan seorang gadis remaja. Begitu berada di bawah panggung, dengan gesit ia melompat ke atas panggung. Gadis yang digandengnya tadi meniru pula melompat ke atas panggung.
Sekarang jelaslah perawakan gadis itu. Kilatsih mengamat-amati. Pandang wajahnya cantik lembut. Mulutnya mungil dan selalu menyungging suatu senyum. Sepasang alisnya lentik dan panjang. Matanya yang cemerlang berambut panjang. Gerakan gundu matanya tenang dan pandangnya tajam. Sedang rambutnya
649

terurai panjang pula menutupi bagian punggungnya. Alangkah serasi. Perawakan tubuhnya tinggi semampai. Warna kulitnya kuning keputih-putihan. Bersih meresapkan hati.
Tertarik kepada keserasian itu, Kilatsih menghampiri panggung dan mendongar. Gadis itu nampak polos. Pandangnya berani. Tidak pemalu suatu bukti bahwa dia sering bergaul dengan orang-orang penting yang mempunyai kedudukan. Maka terhadap para tetamunya yang datang memenuhi pekarangan rumahnya, ia melayangkan pandang dengan tegas dan dengan wajah tak berubah.
"Selamat datang, selamat datang!" kata seorang tua berjubah panjang itu.
Para tetamu menyambut dengan gemuruh. Dari pembicaraan mereka tahulah Kilatsih, bahwa orang itu adalah Raja Muda Dwijendra. Dan gadis yang berdiri di sampingnya bernama Sekar Kuspaneti.
"Heran," pikir Kilatsih di dalam hati. "Ayahnya seperti bola tanding. Tapi puteri-nya begitu cantik bagaikan bidadari. Apakah ibunyalah yang cantik jelita?"
Tak sempat lagi Kilatsih main menebak-nebak. Pada waktu itu Dwijendra mulai berbicara menyambut para tetamunya.
"Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku sangat terharu menyaksikan perhatian saudara-saudara. Terima kasih, terima kasih! Silakan mencicipi hidangan kami se-adanya. Maklumlah! kami bukan termasuk seorang yang berada."
650

Orang-orang tertawa lebar. Seru seorang: "Pengaruh tuanku menjangkau seluruh daratan Pulau Jawa. Pengaruh itu harganya melebihi sebelas orang jutawan!"
Seruan itu disambut dengan tepuk tangan bergemuruh. Lalu dengan gembira mereka menikmati hidangan makan dan minum. Dwijendra sendiri tetap berada di atas panggung sambil mengurut-ngurut jenggotnya yang sudah putih bagaikan segumpal kapuk. Katanya, "Sumedang bukanlah sebuah kota impian. Sebaliknya sebuah perkampungan yang sepi di celah-celah pegunungan tandus. Disini tiada suatu pertunjukan yang pantas untuk dipamerkan. Maka pastilah kami akan membuat kecewa saudara-saudara yang datang dari seluruh penjuru." la berhenti sebentar. Setelah menoleh kepada puterinya, dia melanjutkan, "Anakku ini mengerti sedikit tentang tarian gendang pencak. Ilmu silatnya kasar pula. Biarlah dia mempertunjukkan kebisaannya beberapa jurus agar menghangatkan minuman saudara-saudara sekalian."
Kembali para tetamu bertepuk tangan bergemuruh. Itulah suatu tanda, bahwa mereka sangat setuju. Tak mengherankan Dwijendra tertawa sangat puas.
"Akan tetapi bersilat seorang diri rasanya hambar seperti sayur kekurangan bumbu. Maka itu, kami persilakan kemenakan-kemenakan saudara-saudaraku seperjuangan: rekan Otong Surawijaya, Dadang Wiranata dan Ratna Bumi. Ingin kami melihat mereka memberi pelajaran kepada anakku, agar di kemudian hari tahu diri. Siapa di antara mereka yang bisa mempertunjukkan kemahirannya lebih bagus, akan kami pilih menjadi jodohnya. Saudara-saudara bagaimana? Apakah setuju?"
651

Setelah berkata demikian ia memutar badannya mengarah kepada tiga tetamu yang duduk di depan panggung. Di antara suara teriakan tanda setuju, ia tersenyum kepada tetamu bertiga itu. Mereka adalah Sastradir-ja—Wirakusuma dan Podang Winangsi. Sastradirja adalah adik Otong Surawijaya. Ia membawa anak asuhnya bernama Andi Basanta. Sedang Wirakusuma salah seorang pembantu Dadang Wiranata, membawa anak didiknya bernama Dadang Sumantri. Dialah yang bertemu dengan Kilatsih di depan Gedung Paguyuban Sunda. Dan yang ketiga utusan Ratna Bumi bernama Podang Winangsi. Dia pun membawa calon pelamar. Mamanya Sukra Sakurungan.
Sastradirja, Wirakusuma dan Podang Winangsi adalah pendekar-pendekar yang berpengalaman, la tahu maksud Dwijendra, walaupun tidak dikatakan terus terang. Menantu yang dipilihnya adalah yang paling tinggi ilmu-ilmu kepandaiannya.
"Bagus! Bagus!" seru Wirakusuma dan Podang Winangsi. Keduanya lalu membawa anak asuhnya masing-masing maju ke depan. Mereka minta jalan di antara tetamu yang berjubel di depannya. Kemudian dengan saling susul mereka melompat ke atas panggung dengan memperlihatkan kegesit-annya. Dan menyaksikan kegesitan itu, teta-mu-tetamu bertepuk tangan dengan riuh sekali.
Sastradirja tidak sudi mengalah. Mula-mula ia nampak bersangsi melihat tingginya panggung. Menurut taksirannya panggung itu setinggi dua meter lebih dari atas tanah. Setelah menimbang-nimbang sebentar, ia berkata kepada anaknya.
652

"Mari!" Lalu dengan gesit ia memberi contoh melompat ke atas pangung. Andi Basanta segeTa mengikuti. Tapi ujung kakinya membentur tepi panggung. Hampir saja ia jatuh tergelincir. Menyaksikan hal itu, semua tetamu heran.
Di kalangan laskar perjuangan, nama Otong Surawijaya sangat termahsyur. Dialah raja muda yang memimpin laskar panji-panji Kuda Semberani. Orangnya berani, kasar—tetapi berkepandaian sangat tinggi. Ia mendidik anak buahnya sangat keras. Sudah barang tentu termasuk Andi Basanta. Tetapi apa sebab pemuda itu hampir gagal melompat ke atas panggung?
Sastradirja nampak mengerutkan alis. Hendak ia membuka mulut, tapi batal sendiri. Akhirnya ia berkomat-kamit seperti mengucapkan sesuatu dengan berbisik.
Anak didik Podang Winangsi—Sukra Sa-kurungan— adalah seorang pemuda yang berperawakan tegap. Dia dari golongan laskar panji-panji Keris Sakti. Kedatangannya membawa nama panji-panji laskarnya. Karena itu ia disebut orang sebagai putera Raja Muda Ratna Bumi. la seorang pemuda yang nampaknya ramah dan tidak pemalu. Dengan sikap hormat ia menghampiri Raja Muda Dwijendra. Katanya dengan sedikit membungkuk.
"Tuanku sangat baik dan adil. Biarlah kali ini aku diberi pelajaran beberapa jurus dari adik Sekar Kuspaneti. Kami harap adik Kus-paneti jangan terlalu bersungguh-sungguh..... "
Dwijendra memotong dengan tertawa riuh.
"Bagus! Aku paling senang berbicara dengan seorang yang berterus terang. Sekarang ini—tak. perlu lagi—
653

memegang tata sopan yang berlebih-lebihan sehingga masing-masing jadi segan-segan. Perlihatkan semua kepandaian kalian. Manakala sampai terluka aku sudah menyediakan obatnya."
"Baik," sahut Sukra Sakurungan. Kemudian ia berputar menghadap Sekar Kuspaneti seraya memberi hormat tanda sudah bersiaga.
"Bagus!" Dwijendra memuji tata santun itu. la lalu melompat ke tepi arena dengan wajah terang.
Sastradirja menoleh kepada anaknya. Anaknya—Andi Basanta—berpaling pula kepadanya dengan wajah menyeringai seolah-olah lagi kesakitan. Keduanya saling pandang. Kemudian saling memberi isyarat mata. Setelah itu menonton jalannya pertandingan.
Tanpa segan-segan Sukra Sakurungan menyerang terlebih dahulu. Sekar Kuspaneti ternyata seorang gadis yang tenang selaras dengan kesan wajahnya, la tidak menangkis. Sebaliknya hanya mengelak ke samping. Lalu melompat ke belakang punggung Sukra Sakurungan dengan tiba-tiba. Gerakannya gesit dan pasti.
Buru-buru Sukra Sakurungan memutar tubuhnya. Tinjunya melepaskan pukulan keras. Kali ini pun sasarannya kosong. Terus saja ia menyodok ke kiri ke kanan. Kedua kakinya pun mulai membantu pula. Akan tetapi jangan lagi bisa mengenai sasarannya, menyentuh baju Sekar Kuspaneti sedikit pun tidak.
"Hai!" pikir Kilatsih di dalam hati. "Gerakan kakinya sama dengan pelajaranku. Jangan-jangan ia pernah menerima ajaran Kakak Titisari.... "
654

Memang—injakan kaki Sekar Kuspaneti— mirip dengan ilmu petak Ratna Dumilah warisan pendekar Gagak Seta yang sudah dimiliki Titisari dengan sempurna. Dan menghadapi gerak-gerik Sekar Kuspaneti yang lincah luar biasa—pandang mata Sukra Sakurungan mulai berkunang-kunang. Ia mencoba menerkam, memotong, menghantam dan menubruk. Tapi tubuh Sekar Kuspaneti berkelebatan bagaikan bayangan.
Menyaksikan hal itu, Podang Winangsi yang berdiri di pinggir arena mengerutkan dahinya.
"Anak tolol! Sudah! Berhenti! Kau bukan tandingannya anakku Sekar Kuspaneti. Hai! Apakah kau masih membandel?"
Mendengar bentakan Podang Winangsi— Sekar Kuspaneti—segera memperlambat gerakannya. Justru pada waktu itu, Sukra Sakurungan menyerang dengan dua tangannya.
Kilatsih yang berada di bawah panggung tertawa di dalam hati. Pikirnya, "Pemuda itu benar-benar tolol. Kuspaneti sudah mengalah—tetapi dia masih membandel."
Pada saat itu, dengan gesit Sekar Kuspaneti melejit dari samping begitu diserang dengan dua tangan berbareng. Sikut kirinya digerakkan masuk membentur tubuh Sukra Sakurungan yang tegap. Seketika itu juga, Sukra Sakurungan terhuyung mundur dan roboh dengan terbanting.
Cepat-cepat Dwijendra maju hendak melerai pertandingan itu.
"Netty! Kau pintalah maaf!"
655

"Tidak! Tidak apa," tungkas Sukra Sakurungan dengan meletik bangun. "Adik... ternyata kau lebih hebat daripadaku. Aku... aku..."
Sukra Sakurungan menutup mulutnya kena pandang Podang Winangsi. la memang seorang pemuda yang polos. Hampir saja di depan umum ia berkata, bahwa dia tidak pantas memperisteri Sekar Kuspaneti.
Dadang Sumantri anak didik Wirakusuma segera maju mengganti. Dia datang dari golongan laskar panji-panji Obor Menyala. Ia menyebut diri sebagai anak Raja Muda Dadang Wiranata. Tetapi sebenarnya ia keponakan isteri Raja Dadang Wiranata. Pemuda inilah yang dahulu bertemu dengan Kilatsih di depan Gedung Paguyuban Sunda. Waktu itu dengan perlahan-lahan ia berkata kepada Sekar Kuspaneti.
"Aku pun ingin mohon pelajaran darimu. Hanya saja kuharap kau sudi mengalah......"
Nampaknya halus gerak-geriknya, lemah dan tidak berdaya. Di luar dugaan suaranya menyeramkan. Tahu-tahu tangannya menggenggam sebatang tusuk bambu. Dengan suatu gerakan tiba-tiba ra menusuk ke arah urat nadi.
Sekar Kuspaneti mengelak. Ia melawan dengan gerakan kaki mirip Ilmu Petak Ratna Dumilah. Tujuannya hendak membuat pandang mata lawannya kabur atau berkunang-kunang. Dadang Sumantri ternyata seorang pemuda yang cerdik. Tak mau ia menyerang dengan sembrono. Dengan tenang ia melindungi dirinya. Ia pun tak sudi memutar-mutar tubuhnya seperti Sukra Sakurungan tatkala menghadapi perlawanan demikian. Cara bertahannya hanya memasang matanya. Itulah
656

sebabnya sewaktu-waktu, ia bisa menyerang dengan tusuk bambunya.
Diperlakukan demikian, kesabaran Sekar Kuspaneti hilanglah. Pikirnya, "Anak ini nampaknya halus lemah lembut. Tapi pandang matanya mengapa begitu meng-giriskan. Ah, kalau kubiarkan dia menjamah diriku... ah, tidak! Tidak! Dia tak boleh mencapai maksudnya memperisteri aku."
Karena memperoleh keputusan demikian, perlawanannya menjadi hebat. Dengan lincah tubuhnya berkelebatan mengitari pemuda itu. Tetapi Dadang Sumantri benar-benar memiliki kepandaian yang tidak memalukan, la tabah dan cermat pula. Dengan sabar ia menunggu kesempatan dan ia melindungi tubuhnya rapat-rapat.
Limapuluh jurus lewat dengan cepat. Sekar Kuspaneti belum berhasil menjatuhkan pelamarnya. Sebaliknya Dadang Sumantri hendak menguras tenaga gadis itu. dengan mengitari tubuhnya terus menerus masakan tenaganya tidak akan habis dalam waktu dua atau tiga jam lagi?
Mereka bertempur dengan serunya dua-puluh jurus lagi. Mendadak saja, Sekar Kuspaneti tersenyum dengan mengocakkan gundu matanya. Giginya yang putih seakan-akan seleret mutiara. Dia memang seorang gadis canik. Kini tersenyum manis sekali. Tentu saja kecantikannya jadi bertambah-tambah. Dan melihat kegairahan itu, hati Dadang Sumantri tergoncang. Pikirnya di dalam hati, "Dia bersenyum kepadaku.
Apakah hendak berkata, bahwa hatinya berkenan padaku. Aku adalah calon suaminya. Kalau aku kini tidak
657

memperlihatkan kepandaianku di kemudian hari tidak ada kesempatan lagi. Biarlah dia mengagumi diriku.
Kalau sudah kagum, tinggal memetik manisnya belaka..."
Untuk meyakinkan hatinya, ia membalas senyum. Pikirnya kalau Sekar Kuspaneti tetap bersenyum kepadanya itulah isyarat yang dikehendaki. Sekonyong-konyong Sekar Kuspaneti berbisik halus. "Maaf Abang!" Tangan irinya menyodok maju dengan mendadak. Kemudian tangan kanannya menyusul dengan cepat. Dadang Sumantri kaget setengah mati. Dia lengah karena kena madunya suatu senyum. Tahu-tahu keningnya kena pijat. Dan pandang matanya kabur seketika itu juga. Ia berkaok kesakitan. Lalu roboh dengan tertelungkup.
Wirakusuma jengkel menyaksikan kekalahan itu. Dadang Sumantri sebenarnya tinggal menunggu saat kemenangannya. Apa sebab mendadak bisa dikalahkan dengan gampang? Namun sebagai orang luar, tak dapat ia berbuat apa-apa. Pertandingan adu kepandaian dilakukan dengan cukup terang. Sama sekali tiada permainan curang.
"Tidak apa... tidak apa," kata Dwijendra. "Eh, Nett'y! Apa sebab tanganmu kau gerakkan begitu sembrono. Kalau keras sedikit, tulang kening kakakmu ini bakal remuk."
Pada saat itu Dadang Sumantri telah bangkit. Katanya dengan dada terbuka, "Adik Kuspaneti, aku menyerah kalah. Terimalah hormatku."
Dan dengan pengasuhnya, ia melompat turun dari panggung. Penonton bersorak sorai karena menyaksikan sikap jantannya. Raja Muda Dwijendra nampak
658

menggeleng-gelengkan kepala. Dengan mengurut-ngurut janggutnya yang putih ia lalu berkata penuh sesal.
"Anakku telah menang dalam dua pertandingan. Sekarang datang giliran anakku Andi Basanta kemenakan rekanku Otong Surawijaya. Cobalah anakku Andi Basanta berkelahi dengan sungguh-sungguh, agar puteriku jangan berkepala besar!"
Dwijendra kenal siapakah Andi Basanta. Dialah kemenakan isteri Otong Surawijaya. Pemuda itu sifatnya liar, bengis kejam dan meniru sepak terjang pamannya yang ganas. Pekerjaannya mengawasi lalu lintas umum untuk mencegat perbekalan Kompeni. Tapi tak jarang pula menyalahgunakan tugasnya dengan menyamun harta benda saudagar yang bernasib sial. Untuk menghilangkan jejak, biasanya korbannya selalu diambil jiwanya. Manusia semacam Andi Basanta menurut Dwijendra adalah manusia yang hidup melanggar Gndang-undang Maha Suci. Tetapi ia masih berharap dapat memperbaiki akhlaknya. Sebab manusia semacam dia, sebenarnya memancarkan sifat-sifat laki-laki. Maka tidaklah terlalu kecewa menjadi pelindung anaknya di kemudian hari.
Dwijendra tahu pula, bahwa ilmu kepandaian Andi Basanta berada di atas Sekar Kuspaneti. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa dialah yang bakal merebut kemenangan. Sekarang tinggal mengawasi, jangan sampai ia menurunkan tangan kejam. Akan tetapi begitu Andi Basanta memasuki gelanggang ia heran bukan kepalang. Sebab dengan tiba-tiba Andi Basanta menyeringai lalu berkata: "Paman.... aku tak ikut mengadu nasib. Sebab akhirnya aku pun akan dikalahkan."
659

Semua tetamu yang mendengar ucapannya, heran. Mereka tahu Otong Surawijaya adalah seorang Raja Muda yang paling ditakuti orang. Masakan kemenakannya menyerah sebelum bertanding. Ini bukan sifat anak buah Otong Surawijaya yang pantang menyerah.
Dwijendra sendiri menjadi kaget. Dengan perasaan tak puas ia minta keterangan.
"Basanta mengapa engkau memutuskan demikian? Pamanmu bukan seorang banci. Mungkinkah anakku kurang menarik hatimu?"
Andi Basanta tertawa meringis. Dengan perlahan ia mengangkat lengannya, kemudian menggulung lengan bajunya. Dan tampaklah seleret luka panjang yang dalam. Tulang lengannya hampir saja kena sintuh.
"Hai! Kau kenapa?" Dwijendra terperanjat.
Andi Basanta melayangkan pandangnya ke bawah panggung.
"Kemarin—keponakanmu ini—lagi ber-tiduran di atas perahu. Tak tahunya seorang pencoleng datang menikam selagi aku tertidur lelap."
Mendengar keterangan itu, semua tetamu menjadi gempar. Pantaslah, dia tadi hampir-hampir tak dapat melompat ke atas panggung. Sastradirja—paman pengasuhnya— menyambung.
"Tuanku—kemarin—atas persetujuan saudara-saudara kita, kami ditugaskan untuk memburu seekor kambing yang memasuki daerah terlarang. Sama sekali tak
660

terduga, bahwa kambing itu ada penggembalanya yang tangguh. Andi Basanta kena dilukai."
Istilah kambing merupakan kata-kata sandi. Maksudnya dia lagi memburu mangsanya. Tentu saja Dwijendra terkejut berbareng heran. Sastradirja adalah salah seorang kepercayaan Otong Surawijaya. Ilmu kepandaiannya tinggi. Masakan tak mampu melindungi Andi Basanta? Ini merupakan kabar yang menggemparkan. Siapakah penggembala yang dapat mengalahkan mereka berdua?"
"Bagaimana menurut pendapat tuanku?" Sastradirja minta keputusan.
Dwijendra diam sejenak. Kemudian tertawa panjang.
"Penggembala kambing itu benar-benar tinggi ilmu kepandaiannya. Siapa dan sekarang berada dimana, aku tak tahu. Hm, ingin aku menemuinya—agar aku dapat mendamaikan."
Wajah Andi Basanta merah padam, la tahu akan arti kata mendamaikan. Artinya—dia diharapkan mengalah. Maka katanya dengan penuh kedengkian.
"Paman—selamanya belum pernah aku memikirkan tentang perdamaian. Yang benar—dia harus dibekuk."
Setelah berkata demikian, ia melayangkan pandangnya ke arah bawah panggung. Kemudian dengan tangan kirinya, ia menuding. Berteriak sengit.
"Binatang itu sekarang berada disini. Dia besar kepala sampai berani mengunjungi pesta Paman. Apakah ini bukan suatu penghinaan lantaran memandang rendah kewibawaan Paman?"
661

Sastradirja pun lantas berseru pula.
"Hai orang pandai! Kami paman dan kemenakan ingin berdamai denganmu. Kau hendak pergi kemana? Ha! Kemari?"
Bagaikan dilemparkan—Sastradirja dan
Andi Basanta—melompat turun dengan gesit. Semua hadirin heran dan memutar kepalanya mengarah ke arah gerakan mereka.
"Dimana dia?" berteriak seorang yang bercambang tebal. Dia bernama Cecep Suraya—teman sekerja Sastradirja. Maka ia bermaksud membantu. Tepat pada saat itu, Sastradirja melompat ke depan Kilatsih. Dengan sebelah tangannya ia menyambar sedang tangan kanannya terbuka untuk mencengkeram.
Kilatsih mengelak ke samping dengan memutar tubuhnya. Tepat ada detik itu belati Andi Basanta menikam dari samping, la tak gentar—bahkan sambil menangkis—ia tertawa. "Ooo.... jadi kalianlah penjahat-penjahat bertopeng semalam?"
Di antara suara kagetnya hadirin, terdengarlah suara berkelontangan. Ternyata belati Andi Basanta terlempar di atas batu-batu kerikil. Dan hampir pada saat itu pula, Cecep Suraya dan seorang temannya kena ditendang Kilatsih saling susul. Mereka jatuh ber-gabrukan menelungkupi meja. Sesudah itu dengan ringan sekali, ia melesat di atas meja.
Sastradirja menghunus goloknya, la pun memburu dengan melompat pula. Kilatsih gusar.
"Orang bermuka tebal! Kamu main keroyok lagi?"
662

Setelah membentak demikian, Kilatsih melompat turun sambil mendepak meja. Meja yang penuh mangkok-mangkok sayur terbalik berhamburan. Sastradirja sedang melompat. Tak dapat ia berkelit di tengah udara. Tak ampun lagi. Muka dan bajunya tersiram kuah sayur yang muncrat seperti disemprotkan. Ia memekik lantaran mendongkol dan gusar. Begitu turun di tanah, ia mengulangi serangannya kembali.
Kilatsih terpaksa mencabut pedang pendeknya yang bersinar kemilauan. Sebat ia menangkis sambil membentak. "Eh—benar-benar engkau manusia kejam!"
Dengan menjejakkan kaki, ia meletik ke udara. Pedangnya menyambar. Prak! Dan golok Sastradirja terkutung menjadi dua. Untung Kilatsih tiada niatnya hendak membunuh. Dengan demikian, selamatlah jiwa Sastradirja. Tapi Sastradirja ternyata seorang yang mau menang sendiri. Jangan lagi ia merasa berterimakasih. Sebaliknya— sesudah terperanjat sejenak—tangannya menyambar. Kilatsih membabatkan pedangnya. Melihat terkelebatnya pedang, dengan hati kecut Sastradirja terpaksa menarik tangannya. la gentar terhadap pedang Kilatsih yang tajam luar biasa.
Meskipun demikian Sastradirja tak sudi mundur. Dihadapan orang banyak hendak ia memperlihatkan kegarangan dan kegagah-annya. Dia tetap melibat dengan serangan-serangan kaki dan tangan. Dalam pada itu teman-temannya meluruk membantunya. Dengan demikian, Kilatsih tak dapat meloloskan diri dari suatu kepungan rapat.
"Nah—sekarang rasakan!" ancam Sastradirja setelah melihat Kilatsih kena libat.
663

Kilatsih terkejut, la melihat tangan Sastradirja biru kehitam-hitaman. Itulah suatu ilmu tangan beracun. Di Jawa Tengah orang menyebutnya dengan istilah Aji Kembang Teleng. Barang siapa kena pukulan atau cengkeraman tangan yang memiliki Aji Kembang Teleng, akan kejalaran racun berbisa. Dia seumpama kena pedut ular berbisa ia tewas dalm waktu seperempat jam. Cepat reaksi Kilatsih. Begitu melihat menyambarnya tangan, dia pun menyambar lengan seorang lawan dan ditubrukkan sebagai perisai.
Tentu saja Sastradirja tak mau melukai kawan. Buru-buru ia menarik tangannya dengan hati mengutuk kalang kabut. Dan kesempatan itu dipergunakan Kilatsih untuk melesat ke meja satunya dan satunya. Setiap kali mendarat di atas meja, ia menyambar mangkok-mangkok berkuah dan dihantamkan kalang kabut. Muka pembantu-pembantu Sastradirja lantas saja menjadi matang biru kena hantaman mangkok yang berkuah panas. "
"Hebat! Hebat!" terdengar seorang memuji di antara keriuhan hadirin.
Memang—tetamu-tetamu—yang berada di sekitar pertempuran itu, jadi kacau balau. Mereka menyibak berdesakan, dengan teriakan-teriakan kaget. Dalam pada itu dengan diam-diam, Andi Basanta mengangkat sebuah kursi sebagai alat pemukul. Kilatsih bermata tajam. Pedangnya menyambar dan kursi Andi Basanta terkutung menjadi dua bagian. Tepat pada saat itu Sastradirja mengulangi serangan tangannya yang beracun.
Tatkala Kilatsih berputar arah untuk menghadapi Sastradirja, berkelebatlah sesosok bayangan di antara
664

kerumun penge-royok-pengeroyok. Dengan tangan terpentang, bayangan itu. mendorong mereka sehingga terpental mundur. Dialah Raja Muda Dwijendra. Kata raja muda itu dengan suara berpengaruh.
"Sastradirja—coba mundur. Dan engkau anak muda— kau tariklah seranganmu. Aku hendak berbicara sedikit."
Sastradirja dan teman-temannya lantas berhenti berkelahi. Dwijendra sendiri lantas berpaling kepada Kilatsih. Dengan pandang kagum, ia berkata di dalam hati :
"Pemuda apakah ini—begini cakap. Seumpama aku tidak menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, tidak bakal aku percaya bahwa Sastradirja, Andi Basanta dan semua teman-temannya bisa dikalahkan." Sesudah berkata demikian di dalam hati, ia lalu membuka mulut. Tapi belum lagi bersuara, Kilatsih mendahului. Kata gadis ini dengan membungkuk hormat.
"Tuanku Dwijendra—maafkan aku. Aku telah berbentrok dengan tetamu-tetamu tuanku. Sedang sebenarnya aku datang kemari dengan maksud untuk ikut mengucapkan selamat panjang umur terhadap tuanku. Tak kusangka disini terjadi suatu peristiwa di luar keinginanku sendiri. Aku terpaksa mempertahankan diri lantaran diserang beberapa orang. Sekarang aku menghadapkan diri kepada tuanku. Silakan tuanku menghukum aku.....".
Tergerak hati Dwijendra mendengar katakata Kilatsih. Sebagai tuan rumah, dia akan bertanggungjawab terhadap semua tetamu undangannya. Meskipun Kilatsih bukan termasuk tetamu yang diundang, tetapi sebenarnya dia termasuk seorang tetamu yang sopan.
665

Maka sudah selayaknya ia harus mempertanggungjawabkan.
Sebaliknya Sastradirja mendongkol mendengar kata-kata Kilatsih. Kutuknya di dalam hati, "Licin benar binatang ini!"
Gundu matanya berputaran. Tiba-tiba suatu ingatan menusuk benaknya. Segera ia menghadap Dwijendra dengan membungkuk hormat pula. Katanya dengan suara rendah.
"Tuanku—sebenarnya—kami belum pernah kenal dengan saudara ini. Siapa namanya dan dari mana asalnya, kami masih buta. Kami terpaksa bertindak demi memberi sedikit hajaran kepadanya."
"Apakah engkau hendak minta keterangan kepadaku?" tegur Dwijendra tak senang hati.
Sastradirja tertawa berkakakan. Katanya puas, "Kalau begitu—tuanku belum kenal kepadanya. Saudara-saudara hadirin—siapakah di antara saudara-saudara yang kenal dengan anak muda itu?"
Mereka yang segan terhadap Raja Muda Dwijendra, segera datang merumum atau mengamat-amati. Mereka semua menggelengkan kepala atau membungkam mulut.
Kembali Sastradirja tertawa senang. Lalu berkata kepada Raja Muda Dwijendra:
"Tuanku—baiklah tuanku ketahui. Jahanam ini menyusup kemari, sebenarnya dalam usahanya melarikan diri. Tak apa dia menganglap makan dan minum. Tetapi dia mengacau dalam daerah pengintaian tuanku Otong Surawijaya."
666

Dwijendra nampak berbimbang-bimbang, la pun lantas tak senang terhadap Kilatsih.
"Lalu bagaimana sikap Otong Surawijaya?" ia menegas. "Dan engkau sendiri menghendaki apa?"
"Dia harus dipaksa untuk menyerahkan semua barang orang yang dikawalnya," jawab Sastradirja. "Suruh dia pula menyerahkan kuda Lang-lang Bhuwana. Setelah itu dia pun harus menyerahkan lengannya pula untuk ditikam anakku Andi Basanta sebagai piutang. Dengan begitu—perkara ini—bisa didamaikan."
Tercekat hati Kilatsih mendengar Sastradirja menyebut nama kuda Lang-lang Buwa-na. Menurut ceritera yang di dengarnya, kuda Lang-Iang Bhuwana adalah kudanya Ratu Bagus Boang. Sedang kuda yang ditunggangi pemuda semalam berwarna hitam lekam dengan gelang putih pada keempat kakinya. Apakah kudanya keturunan kuda Ratu Bagus Boang yang termah-syur? Seketika itu juga terbayanglah wajah pemuda semalam yang cakap dan polos. Sekarang ia menaruh curiga kepadanya.
Karena teringat kepada pengalamannya semalam, Kilatsih tertegun seperti kehilangan diri. Dwijendra mengira, ia kaget mende-. ngar tuntutan itu. Pelahan ia menepuk pundaknya seraya berkata:
"Bagaimana anakku? Apakah engkau menerima tuntutannya?"
Kilatsih tersadar. "Dia menyamun seorang pemuda.
Aku lalu menolong. Begitulah duduk perkaranya. Jikalau mereka tidak puas, biarlah mereka maju. Asal mereka— anak dan paman—dapat mengalahkan aku, jangan lagi
667

baru ditikam sekali dua kali, meskipun aku diranjam sampai mati pun, takan aku menyesal.
Mendengar pernyataan Kilatsih, Dwijendra tercekat hatinya. Pikirnya, "bocah ini ternyata baru keluar dari kandangnya. Ia belum mengerti bahwa pertengkaran dalam suatu pesamuan, tuan rumahlah yang bertang-gungjawab. Dia menantang mereka. Artinya menantang aku."
Sastradirja menang pengalaman. Ia tertawa terbahak-bahak. Dan mendengar tertawa itu, Kilatsih melotot. Bentaknya: "Kau mentertawakan apa? Kamu ayah dan anak silakan maju! Apakah kamu kira aku takut?"
Kilatsih sengaja menantang mereka berdua saja.
Itulah pesan Adipati Surengpati— manakala ia menghadapi orang-orang tersohor diusahakan agar yang berkepentingan saja dan jangan sampai melibat yang lain. Terhadap Sastradirja dan Andi Basanta, ia merasa diri cukup untuk melawannya. Ia merasa cerdik dapat mengucapkan tantangan terhadap mereka berdua di depan umum. Sebaliknya pesan Adipati Surengpati itu bukan demikian pengetrapannya. Di dalam suatu pesamuan adalah lain sifatnya. Menantang salah seorang tetamu berarti menantang tuan rumahnya. Kesalahan itu segera dipergunakan Sastradirja. Katanya membakar. "Tuanku Dwijendra! Tuanku menyaksikan sendiri betapa besar kepalanya. Tuanku sendiri tidak dipandang mata."
Wajah Dwijendra lantas berubah. Sahutnya, "Aku tahu." Kemudian kepada Kilatsih. "Kau menantang aku dengan pedang atau pukulan kosong?"
Tentu saja, Kilatsih kaget tak terkira. Jawabnya gugu: "Apa? Aku harus bertanding dengan Tuan? Tuan seorang
668

raja muda yang namanya menggetarkan dunia. Bagaimana aku anak kemarin sore berani berlawanan dengan tuanku. Yang kutantang adalah mereka berdua."
"Tutup mulutmu!" bentak Dwijendra. "Siapa yang ingin bertempur di tengah halamanku ini?"
Matanya kemudian menyapu ke semua hadirin. Bentakannya sendiri itu dialamatkan kepada Sastradirja— walaupun pandangnya tadi menatap Kilatsih.
Kilatsih tercengang. Tak tahu dia—harus menjawab bagaimana. Ia lantas nampak tertegun dengan mulut membungkam. Dwijendra sendiri tidak menggubrisnya. Katanya menghardik. "Jika kau gentar menghadapi pedangku—mari kita mencoba-coba mengadu kepalan."
"Mengadu tinju pun aku tak berani," jawab Kilatsih.
Wajah Dwijendra berubah sengit lagi. "Jadi kau menghindari suatu pertarungan?
Itu tidak bisa. Tapi mengingat engkau seorang muda yang berkelakuan baik—biarlah aku tidak usah melayanimu. Hai, Sekar Kuspaneti—coba tolong ayahmu melayani anak ini. Nah, kau naiklah ke panggung!"
Keputusan Raja Muda Dwijendra membuat semua hadirin keheran-heranan. Kalau pu-terinya disuruh mewakili dirinya menghajar pemuda itu, artinya pertarungan yang bakal terjadi di atas panggung termasuk pemilihan bakal menantu. Karena itu Sastradirja dan Andi Basanta mendongkol bukan main. Tetapi terhadap Raja Muda Dwijendra, tak berani mereka mengumbar adat.
669

Pada saat itu—Dwijendra—kembali menatap wajah Kilatsih. Desaknya: "Hai bocah. Jika kau berani menyelundup ke dalam pekarangan rumahku—kau un harus berani pula naik ke atas panggung. Eh, apakah kau masih tak berani naik ke atas panggung? Apakah kau hendak memaksa aku melemparkan tubuhmu ke atas panggung!"
Dwijendra mendesak dengan wajah bengis. Hati Kilatsih gentar. Tetapi di dalam hati para hadirin terbintiklah suatu tertawa geli. Jelaslah sudah—bahwa Raja Muda Dwijendra berkenan terhadap pemuda pendatang itu.
Kilatsih mendongak. Di atas panggung Sekar Kuspaneti menunggunya dengan wajah bersemu merah. Pandang mata mereka lantas kebentrok. Tiba-tiba saja, Kilatsih seperti memperoleh akal. Lalu berkata memutuskan.
"Baiklah aku patuh pada perintah tuanku—untuk menerima pelajaran dari puteri tuanku."
Begitu ia mengambil keputusan, para tetamu segera menyibakkan diri memberi jalan. Kilatsih segera menjejakkan kakinya. Tubuhnya melesat tinggi melebihi ketinggian panggung dan mendarat dengan diiringi tepuk tangan bergemuruh.
Dwijendra lalu duduk di antara pembantunya. Sastradirja lalu dipersilakan duduk pula di sampingnya. Berkata sambil meng-urut-urut jenggot.
"Kau duduklah. Aku adalah sahabat pe-mimpinmu. Masakan aku akan membuatmu kecewa."
670

Sastradirja sedang mendongkol. Tetapi terhadap seorang raja muda seperti Dwijendra—tak berani ia membangkang perintah dan kehendaknya. Ia pun menggapai anak buahnya dan diajak duduk pula di belakangnya.
"Kami sudah tua," kata Dwijendra. "Sudah selayaknya memupuk bakat-bakat muda yang bakal tumbuh. Kalau kita main bunuh seperti dahulu—sungguh tidak tepat...."
Dwijendra adalah seorang pemimpin laskar panji-panji Bintang Nusantara. Karena itu betapa mendongkol hati Sastradirja— terpaksa ia harus menunjukkan muka terang. Maka jawabnya menyetujui.
"Pendapat tuanku sangat bijaksana. Sekarang—biarlah kami memohon diri."
Baru saja Sastradirja hendak bangkit dari tempat duduknya Dwijendra berkata memerintah.
"Kau saksikan dahulu pertandingan ini. Kau tak perlu tergesa-gesa. Waktu masih banyak. Lihatlah—mereka bertempur sangat serunya."*
Sesungguhnya—tatkala itu—di atas panggung Kilatsih sudah bertempur melawan Sekar Kuspaneti. Kedua-duanya mempunyai kegesitan melebihi manusia lumrah. Itulah sebabnya tubuh mereka berkelebatan bagaikan bayangan. Banyak penonton yang menjadi kabur penglihatannya. Mereka hanya menangkap pakaian mereka yang saling beraduk dan bergulungan. Yang satu putih bersih. Yang lain hijau muda—sehingga perpaduan dua warna itu mirip pelangi di senja hari.
Dengan ilmu kepandaian warisan Adipati Surengpati, sebenarnya Kilatsih dapat merobohkan Sekar Kuspaneti
671

dengan mudah. Akan tetapi dia tadi melihat Sekar Kuspaneti bisa melakukan gerakan ilmu petak Ratna Dumilah. Karena itu, ingin ia menyelidiki. Sesudah melampaui lima puluh jurus, berpikirlah Kilatsih di dalam hati.
"Benar—inilah ciri-ciri Ratna Dumilah. Hanya saja belum sempurna. Apakah Kakak Titisari mengajarinya tidak penuh?"
la mencoba mendesak. Dan seratus jurus telah lewat dengan sebentar saja. Dalam pada itu—Sekar Kuspaneti mempunyai pikirannya sendiri. Ia mengerti kehendak ayahnya. Ayahnya berkenan pada pemuda ini. Ilmu kepandaiannya ternyata berada di atas dirinya sendiri. Tetapi dengan sengaja, ia tak mau bertempur sungguh-sungguh. Nampaknya seakan-akan sedang berlatih.
"Aku calon isterinya," katanya di dalam hati. "Kalau aku tidak memperlihatkan ketangguhanku—di kemudian hari—ia akan memandang rendah padaku."
Memperoleh pikiran demikian, tiba-tiba ia menyerang dengan dahsyat. Sekarang ia tidak hanya menggunakan ilmu petak, tapi pun bergabung dengan ilmu cengkeraman warisan ayahnya sendiri. Gesit gerakannya. Tangannya kadang-kadang memapas, membabat dan menyodok. Inilah berbahaya. Asal saja menyentuh tubuh, pastilah Kilatsih akan roboh terjungkal.
Menghadapi perlawanan demikian, betapapun juga hati Kilatsih menjadi gusar. Tak berani lagi ia main selidik atau bergurau. Terpaksa ia mengeluarkan ilmu sakti Witaradya ajaran Adipati Surengpati. Biasanya ilmu sakti itu dipergunakan sebagai ilmu pedang. Tetapi sebenarnya, ilmu sakti Witaradya sendiri bukanlah Ilmu
672

Pedang. Di tangan Adipati Surengpati Ilmu sakti Witaradya menjadi ganas. Kedua tangan dan kedua kakinya bergerak sangat lincah dan bahayanya melebihi pedang sendiri. Akan tetapi mengingat muridnya seorang gadis, maka Adipati Surengpati memperlengkapi dan menggubahnya sebagai ilmu pedang.
Sekarang Kilatsih tidak berniat membunuh lawannya. Maka di luar dugaan gurunya sendiri, ia menggunakan ilmu sakti Witaradya tanpa pedang. Justru itulah aslinya. Maka dengan tiba-tiba saja gerakannya menjadi gesit dan ganas. Angin lantas terasa bergulungan dan memperdengarkan suara menderu-deru. Sebentar saja kegesitan Sekar Kuspaneti habis perbawanya. Setiap gerakannya kena dipegat gerakan tipu Ilmu sakti Witaradya yang memang dahsyat luar biasa.
"Ah kiranya dia masih mempunyai simpanan ilmu kepandaian cukup tinggi," pikir Kilatsih. "Biarlah kupaksanya lagi mengeluarkan kepandaiannya yang lain."
Sedikit demi sedikit, Kilatsih merangsak dan mempersempit daerah gerak Sekar Kuspaneti. Karena gerakannya sangat gesit, dengan tiba-tiba saja Sekar Kuspaneti masuk ke dalam pelukannya. Dan gadis itu lalu menyambar lengannya.
Kaget Kilatsih menghadapi kejadian di luar perhitungannya. Tak dapat lagi ia mundur. Dalam kebingungannya—mau tak mau—ia harus memeluk Sekar Kuspaneti dengan tangan kirinya. Tiba-tiba tangan Sekar Kuspaneti menyambar lengan dan nyaris mencengkeram dadanya. Buru-buru tangan kanan Kilatsih menusuk
673

tulang rusuk. Tubuh Sekar Kuspaneti tergetar dan gerakan tangannya macet di tengah jalan.
Oleh rasa malu, Kilatsih memekik pela-han. Tetapi penonton di bawah panggung sudah bersorak mengguntur. Itulah suatu kesaksian mereka, bahwa dia telah memperoleh kemenangan mutlak. Maka cepat-cepat ia melepaskan pelukannya sambil membebaskan tusukan jarinya. Lalu dengan halus ia mendorong tubuh Sekar Kuspaneti mundur terpisah.
"Maaf, neng," bisiknya sambil memberi hormat.
Di bawah panggung Raja Muda Dwijendra tertawa dengan wajah berseri-seri. Dengan hati puas ia mengurut-urut jenggotnya. Sebaliknya—tampang muka Sastradirja merah padam seperti kepiting terebus. Tapi masih ia bisa memaksa diri.
"Selamat! Selamat! Akhirnya tuanku memperoleh calon menantu yang tepat. Sekarang perkenankan kami memohon diri."
Sastradirja berdiri tegak di sampingnya. Kemudian membungkuk hormat. Ia melihat Raja Muda Dwijendra memanggil Pasong Grigis pembantunya yang setia. Lalu berkata kepada Sastradirja.
"Kau hendak pergi juga? Maafkan kami tetapi kebetulan sekali kami mempunyai sebungkus permata. Hitung-hitung sebagai pengganti kerugianmu. Tentang kuda Langlang Bhuwana janganlah engkau terlalu kikir. Kau jenguklah kandang kuda kami. Pilihlah sepuluh ekor yang paling berkenan di dalam hatimu. Adapun permintaan kami hanya begini, kau bebaskan calon
674

menantu kami itu—dari pertanggunganjawabnya terhadap seorang yang kebetulan sedang dilindungi."
Dwijendra sudi mengalah dan bermurah hati karena dua sebab. Yang pertama, mengingat hubungannya dengan Raja Muda Otong Surawijaya untuk menghindari suatu perselisihan. Kedua ia bermurah hati, lantaran sudah memperoleh menantu yang sangat berkenan di dalam hatinya.
Sastradirja waktu itu terperanjat sampai tergugu.
Sama sekali tak terduga, bahwa dia memperoleh rejeki begitu besar. Dasar licin dan berpengalaman segera ia dapat menebak latar belakangnya. Lalu tertawa terbahak-bahak.
"Terima kasih tuanku. Tetapi dengan setulus hati kami tak berani menerima pengganti tuanku. Kami masih mempunyai majikan. Kalau kejadian ini sampai terdengar tuanku Otong Surawijaya jiwa kami susah kami pertahankan. Hanya saja perkenankan kami mengajukan suatu permohonan. Hendaklah tuanku mentaati undang-undang persahabatan. Tegasnya manakala kambing itu pada suatu hari menyelundup kemari, sudilah tuanku menangkapnya. Sekarang perkenankan kami mohon diri."
Sesudah berkata demikian, Sastradirja membungkuk rendah. Kemudian dengan menarik tangan Andi Basanta ia meninggalkan perjamuan itu dengan langkah panjang.
Dwijendra tidak puas namun tak sudi ia menahannya. Dengan perintah pendek ia memberi perintah kepada Pasong Grigis agar mengantarkan tetamunya. Ia sendiri lantas melesat naik ke atas panggung.
675

Merah wajah Sekar Kuspaneti begitu ayahnya naik ke atas panggung. Dengan meruntuhkan pandang tangannya meremas-remas ujung bajunya. Kilatsih sendiri merasa dirinya kikuk.3) Tak tahu dia—harus berbuat bagaimana.
Tetapi Dwijendra tidak menghiraukan keripuhan hati mereka. Dengan tertawa ber-kakakkan ia berkata, "Inilah yang dikatakan orang—bahwa tulang-tulang muda bakal menggantikan tulang-tulang keropos. Kau anakku— adalah seorang pemuda yang gagah dan berkepandaian tinggi. Engkaulah seorang pemuda yang sukar dicarikan bandingannya—sehingga hari depanmu sangat cemerlang. Siapakah namamu, anakku?"
Sebenarnya—nama Dwijendra sudah dikenal Kilatsih semenjak tumbuh menjadi seorang dara remaja.
Ayahnya Suhanda dan ibunya Rostika, pada akhirnya menjadi salah seorang kepercayaan laskar perjuangan yang tergabung dalam Himpunan Sangkuriang. Hanya saja ayahnya termasuk di dalam laskar panji-panji Garuda pimpinan Raja Muda Andangkara. Karena itu—ia bingung menghadapi pertanyaan Dwijendra. Selamanya belum pernah terpikirkan bahwa pada suatu kali ia bakal terpaksa memperkenalkan nama samarannya. Padahal ' belum terlintas dalam pikirannya bahwa ia perlu mempunyai nama seorang laki-laki. Tetapi dasar seorang gadis cerdas, tiba-tiba terlintaslah namanya sendiri: Kilatsih. Lantas saja dia menjawab.
"Paman, namaku Guntur."
Bukankah Guntur segolongan dengan kilat. Dalam selintasan itu, ia mengumpamakan kilat adalah sifat
676

perempuan. Dan guntur yang serba dahsyat bersifat laki-laki.
"Bagus! Namamu bagus!" Dwijendra tertawa lagi. "Nama itu cocok dengan ilmu kepandaianmu yang dahsyat. Orang semuda dirimu dan sudah memiliki ilmu kepandaian sedahsyat tadi mempunyai hari depan sangat cemerlang. Apa sebab engkau memilih pekerjaan sebagai pengawal pribadinya seseorang?"
"Aku bukan seorang pengawal," ujar Kilatsih. "Secara kebetulan saja kemarin aku berkenalan dengan seorang sahabat di tengah perjalanan. Aku menolong dia mengusir serombongan penjahat. Sama sekali tak menyangka, bahwa rombongan penjahat itu pimpinan paman tadi."
"Oh, begitu!" Dwijendra berlega hati. "Berapa jumlah saudaramu? Apakah engkau sudah gantung kawin4) dengan seseorang?"
Kilatsih berbimbang-bimbang. "Sekarang aku hidup seorang diri. Aku sendiri belum dijodohkan orang tuaku."
"Ah, bagus. Tapi, benarkah itu?" Dwijendra minta suatu keyakinan. "Biasanya seorang pemuda malu apabila ditanya bakal jodohnya. Tapi anakku, engkau kini memperoleh kemenangan. Maka wajib aku memberikan suatu hadiah padamu."
Dwijendra merogoh sakunya, la mengeluarkan serenceng kalung berlian.
"Inilah tasbeh sembahyang. Peninggalan almarhum isteriku, ibu anakku itu. Sebelum pulang ke Rahmatullah—dia berpesan agar menghadiahkan tasbeh
677

ini kepada seseorang yang berkenan di dalam hati anakku. Itulah engkau sendiri, anakku."
"Tetapi tasbeh itu adalah benda pusaka keluarga tuanku. Tak berani aku menerimanya," jawab Kilatsih. Itulah alasannya belaka. Sebagai seorang gadis yang sudah menanjak' dewasa penuh—tahulah dia— bahwa benda pemberian itu sendiri, merupakan ikatan nikah. Setidak-tidaknya ikatan pertunangan. Karena merasa diri seorang gadis pula, ia jadi risih sendiri.
Dwijendra tertawa gelak.
"Ini bukan suatu perampasan atau suatu j'ual-beli. Tapi suatu tanda mata pertunanganmu berdua. Mengapa kau tak berani menerimanya? Sekalian tetamu itu adalah saksimu—bahwa benda ini kuterimakan padamu—atas kerelaan kami.
Alasan pemberian hadiah itu—tiada tercela. Akan tetapi betapa Dwijendra mengetahui perasaan Kilatsih pada saat tu. Dia boleh berpengalaman dan merupakan seorang pimpinan laskar yang kenamaan. Namun dia tak pernah mengira, bahwa pemuda di hadapannya adalah seorang gadis remaja seperti puterinya. Itulah sebabnya—apabila Kilatsih tetap menolak pemberian hadiahnya—wajahnya berubah seketika.
"Apakah anakku kurang pantas menjadi isterimu?" tanyanya perlahan.
"Ah—siapa bilang puteri tuanku—kurang
menarik? Hanya saja..." sahut Kilatsih
berbimbang-bimbang, la mengerling kepada Sekar Kuspaneti yang tetap menundukkan kepalanya. Pikirnya
678

lantas menjadi sibuk tak keruan. Terhadap Raja Muda Dwijendra ia menaruh hormat. Karena kedudukan raja muda bukan main tingginya. Selain itu—tak patut ia mempermainkan. Kalau di kemudian hari sampai terbongkar, akan besar akibatnya. Maka ia hendak membuka kedoknya. Tetapi di depan umum—alangkah tak mungkin! Besar sekali kemungkinannya akan membahayakan dirinya. Kalau Dwijendra sampai tersinggung kehormatannya—dia bisa lupa daratan— akibatnya ia bakal..
"Tapi.... Tapi... dapatkah aku memenuhi harapan tuanku di kemudian hari?" ujarnya tersekat-sekat.
"Mengapa?" sepasang alis Dwijendra terbangun.
Kilatsih tergugu. Tiba-tiba ia melihat kedua mata Sekar Kuspaneti basah. Setitik air mata menetes di bajunya. Ia jadi iba hati. Sebagai seorang gadis ia dapat merasakan penderitaannya dan perasaannya. Alangkah sakit hatinya—bahwa dirinya ditolak seorang pemuda—di depan umum. Seketika itu juga terbangunlah rasa nalurinya. Pikirnya, "baiklah—demi untukmu dan untuk kehormatan ayahmu—aku akan menerima tanda mata pengikat ini. Sedikit demi sedikit aku akan berusaha melepaskan diri. Bukankah tidak perlu tergesa-gesa?
Memperoleh keputusan demikian, ia lantas tersenyum seraya maju selangkah.
"Sebenarnya—aku mempunyai seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan—yang kuanggap sebagai orang tuaku sendiri. Betapa aku bisa menerima ikatan perjodohan ini sebelum memperoleh izin mereka. Bukankah aku menjadi seorang pemuda yang tercela?"
679

"Dimanakah kakakmu berdua sekarang?" Dwijendra agak mempunyai harapan.
Kilatsih berbimbang-bimbang lagi. Mau ia menyebut nama Sangaji dan Titisari. Mereka berdua berkedudukan sebagai pemimpin Raja Muda Dwijendra sendiri. Tetapi suatu pertimbangan lain menyekat maksud itu. Maka segera ia menjawab: "Aku berpisah dengan orang tuaku semenjak kanak-kanak. Dimana mereka kini berada—tak tahulah aku."
Kilatsih tidak terlalu membohong. Kedua orang tuanya Suhanda dan Rostika— meninggal sewaktu dia masih kanak-kanak.
Dwijendra mengerutkan keningnya. Menegas.
"Lantas dimana dan kepada siapa lagi— aku hendak memberi khabar tentang ikatan perjodohan ini?"
"Biarlah kuterangkan dengan jelas— Orangtuaku sendiri sudah meninggal. Tinggal kedua kakakku. Tapi dimana mereka kini berada, tak tahulah aku." Ia berhenti mengesankan. Memang ia tak tahu dimana Sangaji dan Titisari kini berada. Lalu meneruskan, "Aku masih mempunyai seorang kakek— berbareng guruku. Maka aku sendiri yang akan datang menghadap Beliau untuk mengabarkan peristiwa ikatan perjodohan ini."
"Siapakah nama kakekmu itu?"
"Tak dapat aku menyebutnya di sini. Dia seorang kenamaan," jawab Kilatsih.
Dwijendra tercengang sejenak. Kemudian tertawa gelak.
680

"Kalau dia seorang kenamaan—pastilah dia mengetahui siapa aku. Atau setidak-tidaknya kenal namaku. Baiklah—tentang permohonan izinmu—tak usah kau berce-mas hati. Aku sendiri nanti bersedia membicarakan."
Tak dapat lagi Kilatsih menghindari. Ia benar-benar terdesak. Maka tiada jalan lain, kecuali cepat-cepat berlutut dan menyebut Dwijendra sebagai bakal mertua. Sorak-sorai bergemuruh seumpama hendak meruntuhkan langit.
Dwijendra puas luar biasa. Wajahnya nampak cemerlang. Dengan kedua tangannya ia mengalungkan tasbeh berlian itu ke leher Kilatsih.
"Semenjak kini—kau menyebut aku sebagai ayah atau paman. Dan kepada Sekar Kuspaneti—kau panggilah namanya saja atau adik. Terserah kepadamu. Dia kini sudah menjadi setengah milikmu."
Sesudah berkata demikian, ia menggandeng tangan Kilatsih. Kemudian diajaknya berdiri tegak menghadap hadirin di atas panggung. Katanya nyaring: "Saudara-saudaraku —ini adalah bakal menantuku. Karena dia bakal menjadi bagian dari tubuhku— maka mulai saat ini dia sudah menjadi setengah anakku sendiri. Karena itu kupinta bantuan saudara-saudara sekalian. Apabila dia lagi melakukan perjalanan—tolong saudara-saudara membantu memberinya petunjuk-petunjuk yang dibutuhkan atas namaku."
Hadirin menyambut dengan tepuk tangan dan suara meriuh. Disamping itu banyak pula yang menyerukan ucapan selamat dan syukur, Dwijendra menunggu keredaan mereka. Kemudian berkata lagi: "Aku sudah
681

berusia lanjut. Karena itu—baiklah kami umumkan— bahwa pesta perjamuan ini, kami rubah menjadi pesta perjamuan pernikahan. Dengan begitu—di kemudian— kami tidak akan menyusahkan saudara-saudara untuk menghadiri hari pernikahan mereka."
Mereka bersorak-sorai. Beberapa pendekar melompat ke atas penggung dan menjabat tangan Kilatsih dengan mengucapkan selamat, Kilatsih menjadi bingung. Katanya dengan suara menggeletar: "Tapi... tapi... usiaku masih terlalu muda... Pernikahan ini, baiklah ditunda dahulu!"
"Anakku:—ayahmu ini sudah terlalu tua," sahut Dwijendra dengan bernafsu. "Belum tentu ayahmu mampu mengumpulkan kehadiran sahabat-sahabat ayahmu. Karena itu lebih baik pernikahan ini kita rayakan pada saat ini pula. Apalagi yang kau tunggu-tunggu? Bukankah ayahmu mendirikan sebuah panggung arena untuk memilih calon menantu? Kau masuki penggung ayahmu ini. Artinya—siang-siang sudah ada keputusan di dalam hatimu—bahwa engkau sudah merencanakan membentuk mahligai rumah tangga. Bukankah begitu? Kalau belum mempunyai cita-cita hendak menikah, mustahil engkau membiarkan dirimu berada di atas panggung arena pemilihan calon menantuku."
Hadirin tertawa. Mereka tahu belaka— bahwa Raja Muda Dwijendra—mau menang sendiri. Sebenarnya Kilatsih tadi melesat naik ke atas panggung untuk memenuhi tantangannya. Tetapi sebaliknya—apabila ditimbang-timbang—nasib Kilatsih yang bagus.
Seumpama Raja Muda Dwijendra tidak berkenan melihat dirinya—seumpama Raja Muda Dwijendra bukan berkepentingan mencari seorang calon menantu—sikap Kilatsih yang menantang kedua tetamunya mempunyai
682

akibat sendiri. Dia tidak bakal bisa keluar dari rumah pekarangannya dengan selamat. Kecuali itu—puteri Raja Muda Dwijendra—bukan momok yang menakutkan. Puterinya sangat cantik melebihi anak jin atau anak setan. Dwijendra sendiri adalah seorang raja muda. Meskipun main paksa—tapi tidak tercela. Siapa saja akan merasa bahagia menjadi menantunya. Hari depannya bakal terjamin. Puterinya cantik jelita pula.
Sebaliknya—mereka semua—tak tahu, siapakah Kilatsih sebenarnya yang mengenakan pakaian pria. Pada saat itu, Kilatsih gelisah bukan main. la mengeluh di dalam hati. Tak dapat ia meloloskan diri—seolah-olah ia berada di tengah-tengah dinding batu yang tebal dan tinggi. Tatkala digandeng para hadirin beramai-ramai untuk diajak turun dari panggung, ia tak sanggup menolak. Tiba-tiba suatu pikiran menusuk benaknya. Dia lantas main sandiwara. Dengan gembira ia ikut minum arak. Sebentar saja hampir menghabiskan satu botol penuh. Tiba-tiba ia limbung. Dengan mengerahkan tenaga saktinya, ia memuntahkan araknya kembali. Hadirin lantas berseru-seru: "Tuanku Guntur mabuk... Tuanku Guntur mabuk...."
KILATSIH MEMANG TAK biasa minum minuman keras, meskipun dia seorang gadis yang dilahirkan di bumi Priangan yang dingin—kemudian dibesarkan di tengah pulau Karimun Jawa yang banyak anginnya. Kecuali itu hatinya gelisah tak keruan. Inilah yang dinamakan main-main menjadi sungguh-sungguh. Maka tak mengherankan—begitu menghabiskan minuman keras hampir satu botol penuh—ia lantas menjadi limbung. Dasar cerdik—maka sasaran robohnya—berada dalam pelukan Sekar Kuspaneti. Sebab kalau sampai kena
683

periksa para ahli minum, pastilah sandiwaranya bakal ketahuan. Sebaliknya dalam pelukan Sekar Kuspaneti, ia aman tenteram. Pastilah tiada seorang pun yang berani mendekati calon mempelai perempuan.
Dwijendra sendiri kala itu terlalu gembira. Melihat calon menantunya menjatuhkan diri dalam pelukan gadisnya, ia tertawa berka-kakkan. Teringatlah dia pada masa mudanya sendiri yang seringkali bermanja-manja terhadap kekasih hati. Dengan demikian ia kena dikelabuhi khayalnya sendiri.
"Eh, anak-anak muda memang belum tahan minum-minuman keras," katanya dengan tertawa berkakakkan.
"Kuspaneti, bawalah calon suamimu ke dalam kamar temanten. Hihaha..." Lalu berteriak girang kepada para hadirin. "Anak menantuku belum-belum sudah mau rukun. Silakan kalian minum sepuas-puas hati!"
Para hadirin bersorak dan tertawa bergegaran. Kilatsih tak berani mendengarkan semua olok-olok mereka. Memandang pun tak berani pula. Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat dan meletakkan kepalanya di atas pundak Sekar Kuspaneti. Dan tatkala para pelayan datang memayangnya, ia tak membantah. Hanya dengan diam-diam ia melindungi dadanya, lantaran takut kena intip.
Ia direbahkan di atas pembaringan yang lunak harum. Tanpa menanggalkan pakaian, ia terus melakukan peran sandiwaranya. Ia berpura-pura mabuk terus. Tetapi karena memang tak biasa minum, lambat-laun kepalanya terasa pusing juga dan ia tertidur dengan tak setahunya sendiri.
684

Tatkala menyenakkan mata—kamar tidurnya sudah terang benderang. Ia melihat cahaya lampu berkelap-kelip dan Sekar Kuspaneti duduk di tepi pembaringan. Gadis itu pun belum menanggalkan pakaiannya. Rupanya dia berniat menemaninya.
Dengan memejamkan mata lagi, ia mulai mengingat-ingat semua peristiwa yang dialami. Pertandingan memilih calon menantu tadi dimulai tatkala matahari condong ke barat dan ia berhasil memenangkan pertandingan hampir memasuki petang hari. Sekarang ia melihat lampu kamar berkelap-kelip dan suasananya sunyi hening. Apakah sudah jauh malam? Sekonyong-konyong ia mendengar ayam berkokok. Kemudian dingin hawa merayapi seluruh tubuhya. Maka tahulah dia— bahwa hari sudah mendekati pagi hari.
Sekar Kuspaneti ternyata tidak pernah melepaskan pandangnya dari wajah calon suaminya yang cakap luar biasa. Begitu melihat Kilatsih menyenakkan matanya sebentar tadi dan kemudian memejam kembali, segera ia berkata dengan tertawa girang.
"Akang mabuk tadi. Iddiii...salahnya sendiri, kenapa
minum berlebih-lebihan. Akang, kau minumlah teh keluaran Majalengka. Pastilah rasa mabukmu akan sirna. Biarlah aku meminumkan!"
Kilatsih menurut, la hanya mengangkat kepalanya sedikit dan Sekar Kuspaneti menyangga punggungnya. Kemudian membawa secawan air teh pahit ke mulutnya.
Kilatsih menurut. Ia hanya mengangkat kepalanya sedikit dan Sekar Kuspaneti menyangga punggungnya. Kemudian membawa secawan air teh pahit ke mulutnya.
685

Dan begitu Kilatsih meneguknya, rasa segar menyelimuti dirinya. Teh itu ternyata masih hangat dan harum. Sekarang pandang matanya dapat menangkap sekalian perabot kamar temanten.
Kamar itu ternyata terbuat dari dinding batu dan bertiang kokoh dari kayu jati. Hiasannya sangat cemerlang. Di depannya terpaku lima piring besar terbuat dari emas murni. Di tengahnya diteretes permata ratna mutu manikam. Itulah sebabnya hiasan tersebut mampu memantulkan cahaya kemilau begitu kena sinar pelita.
Di pojok sebelah barat berdiri sebuah almari kecil yang terbuka. Di dalamnya tergantung sebatang pedang bersarung emas dan berteretes berlian pula. Kemudian penutup pembaringan dihiasi dengan mutiara-mutiara yang mahal harganya.
Kilatsih tahu—Dwijendra—salah seorang Raja Muda Himpunan Sangkuriang. Ia seorang pendekar yang gagah perkasa. Ternyata ia kaya raya pula. Tak mengherankan Kilatsih tercengang melihat hiasan kamar yang serba berlebihan. Dan melihat rasa tercengangnya, Sekar Kuspaneti tertawa lembut.
"Akang! Apakah yang membuat hatimu heran? Apakah segala perhiasan ini?
Sebenarnya bosan aku melihatnya. Sudah semenjak kanak-kanak aku melihat hiasan semuanya ini. Katanya— kamar ini disebut kamar temanten. Mengapa hiasannya hanya itu-itu saja?"
Heran Kilatsih mendengar ujar Sekar Kuspaneti. Barang-barang-hiasan yang dilihatnya itu, harganya
686

mahal luar biasa. Memang—tadinya ia mengira—hiasan kamar ini merupakan pepajangan kamar temanten. Tak tahunya hiasan semuanya itu rupanya merupakan hiasan dinding belaka yang sudah ada semenjak Kuspaneti masih kanak-kanak. Maka bisa dibayangkan betapa kaya Raja Muda Dwijendra. Pantaslah dia sanggup membiayai pasukannya yang jumlahnya lebih dari sepuluh ribu orang.
"Paman Dwijendra adalah bawahan Kang-mas Sangaji. la kaya raya begini. Kalau begitu—sungguh mengherankan—apa sebab Kakak Manik Angkeran menjual Gedung Paguyuban Sunda? Walaupun Kang-mas Sangaji seorang pendekar sejati, akan tetapi bawahannya pastilah tidak rela apabila dia sampai menjual rumah," pikir Kilatsih di dalam hati.
Tatkala itu, mendadak Sekar Kuspaneti berkata mengalihkan perhatiannya.
"Akang! Sebenarnya Akang putera siapa?"
Kilatsih terkejut. Inilah pertanyaan tak terduga sehingga terasa sulit. Terhadap orang lain, ia bisa menolak pertanyaan itu dengan leluasa. Akan tetapi terhadap Sekar Kuspaneti—bakal isterinya—tidaklah mungkin. Maka terasalah di dalam hati, makin lama ia bakal terancam pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab.
"Untuk apa kau menanyakan ayah bundaku?"
Sepasang alis Sekar Kuspaneti terbangun. Menyahut dengan suara agak heran :
"Bukankah Beliau berdua bakal ayah-bun-daku pula? Lagipula, aku wajib mengenal siapakah suamiku."
687

Kilatsih memanggut. Dalam hati terasa pahit. Lalu menjawab sekenanya saja. "Ayah-Bunda telah lama wafat tatkala aku masih kanak-kanak. Kata orang, Ayah seorang pembesar negeri."
Sebenarnya keterangannya bukan sekenanya saja. Memang orang tua Kilatsih tewas, tatkala dia masih kanak-kanak. Hanya ia menjawab dengan sikap acuh tak acuh sehingga berkesan sangat tawar. Itulah sebabnya Sekar Kuspaneti menjadi tak' senang hati. Setelah menatap wajahnya, dia minta ketegasan. ,
"Akang, katakan terus terang—sebenarnya Akang bisa mencintai aku atau tidak?"
"Kau cantik sekali!" jawab Kilatsih gugup. "Pandang matamu lembut. Kukira tidak hanya aku belaka yang menaruh perhatian. Pemuda-pemuda lain pun akan cepat jatuh cinta."
"Tidak! Aku hanya untukmu," tungkas Sekar Kuspaneti. "Aku ingin minta ketegasan hatimu. Aku menunggu pengucapan perasaanmu dan bukan perasaan orang lain. Apa peduliku?"
"Ah benar, adikku," kata Kilatsih dengan suara setengah berbisik. "Seumpama kakakku..... "
"Kakak? Kau berkata apa?" potong Sekar Kuspaneti dengan wajah berubah.
"Aku mempunyai kakak. Baik kepandaian maupun roman wajahnya melebihi diriku. Hanya sayang, aku berpisah semenjak 'belum pandai beringus."
Sekar Kuspaneti tercengang. Ia merasakan sesuatu yang tak wajar. Pikirnya di dalam hati, "Berpisah
688

semenjak belum pandai beringus. Akan tetapi bisa meyakinkan kepadaku, bahwa baik kepandaian maupun roman wajahnya—melebihi dirinya. Sebenarnya apakah maksudnya?" Setelah berpikir demikian, dengan alis terbangun Sekar Kuspaneti berkata, "Akang! Dia kakakmu atau bukan—sama sekali tiada hubungannya dengan diriku. Sebenarnya apakah maksud Akang? Ah, mengertilah aku sekarang. Sebenarnya Akang menolak diriku. Pantaslah semenjak bertemu pandang, Akang selalu bersikap menolak. Bukankah Akang enggan menerima hadiah tasbeh mustika ayahku?"
Ditegur demikian, hati Kilatsih benar-benar gugup. Hatinya berdebar-debar. Dia sendiri seorang perempuan. Secara wajar bisa merasakan keadaan hati Sekar Kuspaneti. Maka cepat-cepat berkata mayakinkan.
"Bukan begitu. Bukan begitu. Siapa bilang, aku menolak dirimu? Maksudku....Cobalah dengar dahulu!"
Malu, mendongkol, gusar dan rasa sesal berkecamuk di dalam hati Sekar Kuspaneti sehingga dengan tiba-tiba ia menangis sedih.
"Aku ingin mendengar kata hatimu dan bukan orang lain. Sekali lagi Akang menyinggung-nyinggung diri kakakmu lagi, aku akan membunuh diri di hadapanmu. Katakanlah dengan terus terang, apabila Akang tak senang padaku! Mengapa Akang mesti melalui jalan yang berputar-putar," gerendeng Sekar Kuspaneti.
"Nanti dahulu! Dengarkan aku! Dengarkan aku!" potong Kilatsih.
"Memang aku anak seorang pemberontak! Anak seorang berandal. Anak seorang yang melawan undang-
689

undang negeri. Sebaliknya engkau putera seorang Pembesar Negeri. Pastilah ayahmu anak emas majikan-majikan besar di Jakarta."
"Nanti dahulu!" Kilatsih kuwalahan. Akhirnya ia tersenyum dan membiarkan Serkar Kuspaneti mengirimkan rasa gusar dan mendongkolnya. Setelah agak reda, dia mencoba.
"Ayahmu seorang pendekar yang sangat kukagumi. Dia seorang kusuma bangsa yang hidup bukan semata-mata untuk diri sendiri. Tetapi andaikata ayahmu seorang penjahat besar pun, aku tidak peduli..."
Sekar Kuspaneti membuang pandang. Hatinya mendongkol amat. Dengan pandang cemberut, ia menggerendeng lagi.
"Kau selalu menyebut-nyebut kakakmu. Sebenarnya apakah sih maksud Akang?"
Kilatsih mengawasi wajahnya. Tahulah dia, Sekar Kuspaneti panas hatinya. Memang wajar dan tak dapat dipersalahkan.
Masakan pada malam temanten membicarakan seorang pemuda lain? Oleh pertimbangan itu, tak terasa ia menarik napas.
Lalu berkata di dalam hati.
"Khabarnya Kangmas Manik Angkeran masih hidup menyendiri. Kalau Sekar Kuspaneti ini kujodohkan dengan dia, alangkah pantas. Akan tetapi aku tak boleh terburu nafsu. Menyambar ikan jangan sampai keruh airnya."
690

Setelah berpikir demikian, perlahan-lahan ia berkata mengalihkan pembicaraan.
"Kuspaneti! Eh, bukan begitu namamu?"
Sekar Kuspaneti mengangguk. Hatinya sedikit lega, karena calon suaminya sudah sudi memanggil namanya, la mendengarkan kata-kata calon suaminya sambil mengusap air matanya perlahan-lahan.
"Sekarang ini umurmu sudah berapa?" Kilatsih minta keterangan.
"Duapuluh tahun lebih sedikit. Bagaimana? Apakah sudah terlalu tua bagimu?" Sekar Kuspaneti kembali akan menjadi salah paham.
"O, tidak tidak," kata Kilatsih cepat. "Suamimu bukankah wajib mengerti berapa tahun usia isterinya?"
Kembali lagi hati Sekar Kuspaneti tenteram lega. Kilatsih sudah sudi menyebut dirinya seorang suami dan dia pun sudah disebut isterinya. Alangkah terasa nikmat. Lantas saja ia berpaling dan minta keterangan.
"Dan Akang sudah berumur berapa?"
"Aku sudah tua," jawab Kilatsih dengan tertawa. "Gmurku sudah dua puluh dua. Eh malahan hampir mencapai dua puluh tiga." Tetapi di dalam hati, ia berkata: "Aku baru berumur sembilan belas tahun. Dia sudah berumur duapuluh atau duapuluh satu. Benar:benar pantas apabila kuperjodohkan dengan Kangmas Manik Angkeran."
"Akang dua puluh tiga dan aku dua puluh. Bukankah pantas dan seimbang?" ujar Sekar Kuspaneti.
691

"Benar. Hanya saja engkau belum kenal aku," kata Kilatsih. "Semenjak aku lagi belajar berjalan, ayah bundaku tiada di sampingku lagi. Beliau berdua telah wafat karena mengalami bencana. Kemudian aku dipungut seorang tua yang kelak menjadi guruku. Namanya Sorohpati. Aku bersama dia sampai berumur empat belas tahun. Dia mati kena fitnah. Aku lantas pindah rumah lagi. Aku dibawa ke sebuah pulau dan hidup dengan kakek berbareng guruku. Kakakku ka-dangkala menjenguk diriku. Tetapi jarang sekali. Pendek kata aku ini seorang... seorang pemuda yang tak mempunyai harta dan kepandaian. Apakah engkau tidak menyesal mempunyai seorang suami seperti aku?"
"Akang pun belum mengenal diriku," Sekar Kuspaneti menimpali. "Semenjak kanak-kanak aku mengikuti ayah menjelajah pegunungan, hutan dan jurang. Setelah dewasa entah sudah berapa banyak orang yang melamar diriku. Tetapi aku tak sudi menikah dengan siapa pun, kecuali manakala hatiku berkenan. Seumpama seorang yang berkenan di hatiku kemudian dia menolak diriku, aku bersumpah hendak membunuh diri di hadapannya. Dialah engkau, Akang. Aku telah menyerahkan hatiku kepadamu. Tadi di atas panggung pertandingan, engkau memeluk aku. Kau letakkan kepalamu di atas pundakku, ih hampir-hampir saja menyentuh dadaku. Tetapi sekarang di dalam kamar ini, engkau membicarakan seorang pemuda lain. Apakah engkau bermaksud hendak menghina diriku semata untuk kesenanganmu belaka?"
Kilatsih tercengang. Sama sekali tak terduga, bahwa Sekar Kuspaneti seorang gadis yang keras hati.
Mengingat ayahnya seorang Raja Muda yang keras hati
692

pula, ia jadi mulai mengerti. Katanya di dalam hati, "Aku sendiri belum pernah melihat Kangmas Manik Angkeran dan aku dengan sembrono hampir menyerahkannya kepadanya dengan terus terang. Apakah hati seseorang bisa dipaksa-paksa? Perkawinan merupakan tangga hidup yang paling penting di dalam hidup ini. Sekali menjatuhkan pilihannya, dia akan memikul akibatnya untuk selama hidup. Ah, kalau begitu tak boleh aku menimbulkan masalah Kangmas Manik Angkeran di hadapannya. Seumpama kelak dia sudi menjadi isterinya lantaran permintaanku lalu menyesal di dalam hati karena pekerti kangmas Manik Angkeran yang buruk dapatkah aku mengembalikan kegadisannya? Malaikat sendiri barangkali tak dapat menolongnya."
"Katakanlah dengan terus terang!" kata Sekar Kuspaneti mendesak lagi. "Akang sudi menerima diriku sebagai isterimu atau tidak?"
Kilatsih benar-benar menjadi bingung. Tak dapat ia mengambil keputusan dengan segera. Tadinya dia merasa bisa menjawab dengan tegas bahwa ia sudi memperisteri dirinya karena kelak akan diperjodohkan dengan Manik Angkeran. Akan tetapi setelah menimbang bahwa soal perkawinan adalah suatu soal yang gawat tak berani dia main gegabah. Itulah sebabnya, ia tergugu. Mulutnya membungkam dan pandang matanya gelisah. Dan melihat hal itu, Sekar Kuspaneti salah tafsir lagi. Ia mengira, Kilatsih menolak cinta kasihnya. Maka ia lantas menangis sedih, pilu, malu dan gusar.
"Kuspaneti!" akhirnya ia membujuk. "Siapa kata aku tak sudi memperisterimu? Coba—kau menghendaki apa? Atau—aku harus berbuat bagaimana agar engkau tidak menangis lagi!"
693

Mendengar bujukan Kilatsih, tangis Sekar Kuspaneti berhenti dengan mendadak. Mulutnya bergerak hendak menyatakan sesuatu, akan tetapi batal. Wajahnya nampak bersemu merah, ia malu untuk memohon penyerahan cinta kasih suaminya pada malam-malam temanten.
Kilatsih masih berhati polos. Tak dapat ia menggerayangi keadaan hati seorang gadis seusia Sekar Kuspaneti. Melihat dia membungkam, ia meraih tangannya.
"O, ya—kau tadi berumur berapa?"
"Dua puluh tahun," sahut Sekar Kuspaneti pendek sambil mengusap air matanya.
"Kalau begitu aku harus memanggilmu kakak," kata Kilatsih. Sebenarnya itulah pernyataan hatinya yang jujur. Sebab umurnya sendiri belum mencapai sembilan belas tahun penuh-penuh. Sebaliknya, Sekar Kuspaneti tercengang. Mendadak ia tertawa di antara sedannya.
"Ah, kutahu sekarang—mabukmu belum hilang!"
Hati Kilatsih tercekat. Segera ia sadar ucapannya tadi. Maka cepat-cepat ia membenarkan sambil menggolekkan badannya.
"Benar... apakah aku masih mabuk? Baiklah aku tak berbicara lagi. Jam berapa sekarang?"
Sekar Kuspaneti kena dikelabui. Gadis itu tertawa bersyukur.
"Benar-benar kau masih mabuk. Mulutmu masih meruapkan bau minuman. Kalau memang tak tahan minum, janganlah minum terlalu banyak. Kau tidurlah
694

lagi. Tanggalkan pakaianmu dahulu. Lihat! Selimut kasur jadi begini kotor kena kakimu.. "
Cepat sekali hati Sekar Kuspaneti bisa menyesuaikan diri. Tadi dia merasa berkecil hati dan segan-segan terhadap calon suaminya. Tetapi setelah tahu, bahwa calon suaminya masih dalam keadaan mabuk—ia jadi bisa memaafkan semua kata-katanya yang menyakitkan hati. Sikapnya lantas menjadi berani dan wajar. Berkata setengah menegur.
"Hai! Kenapa tak cepat-cepat ganti pakaian? Apakah... apakah harus aku pula yang menanggalkan pakaianmu?"
"Berkata demikian, wajahnya merah muda. la merasa kelepasan kata. Gntunglah— Kilatsih seolah-olah tidak menghiraukan. Dia memejamkan mata dan berpura-pura berusaha mengusir rasa mabuknya.
"Baiklah—kau boleh tidur tanpa membuka pakaian. Sebentar kalau mabukmu benar-benar sudah hilang, aku akan menjengukmu," kata Sekar Kuspaneti sambil menyelimuti. Kemudian dengan tertawa perlahan ia keluar kamar dan menutup pintunya.
Kilatsih tetap memejamkan matanya. Sesudah berada dalam kamar seorang diri, pikirannya sibuk lagi. Memang pengaruh minuman keras sebenarnya belum lenyap seluruhnya. Setelah bergulak-gulik beberapa saat lamanya, ia benar-benar tertidur.
Entah berapa jam, ia tidur di dalam selimut yang hangat. Tatkala menyenakkan mata, matahari telah melampaui titik tengah. Ia terperanjat tatkala melihat sinar cerah menembus dinding kamar. Selama hidupnya belum pernah ia tidur begitu lama.
695

Benar-benar hebat arti minuman itu. Akan tetapi dalam dirinya kini terasa suatu kesegaran luar biasa. Serentak ia bangun sambil mengucak-ucak matanya. Dan pada saat itu, ia mendengar suara Sekar Kuspaneti berkata kepada pelayannya.
"Kau ganti selimut kasurnya!"
Sekar Kuspaneti mendahului masuk kamar. Begitu melihat Kilatsih, ia tertawa manis.
"Bagaimana Kangmas?5) Apakah rasa mabukmu kini benar-benar telah lenyap?"
Geli hati Kilatsih dipanggil dengan kangmas. Akan tetapi kali ini, ia dapat lebih bersikap tenang dan wajar daripada semalam. Maka ia membalas suatu senyum pula.
Dalam pada itu seorang pelayan perempuan segera menarik seprei kasur. Melihat tapak-tapak bekas kaki Kilatsih, ia mengira yang bukan-bukan. Dengan mendekap mulut ia bergegas keluar kamar.
Kilatsih yang masih muda belia tentu saja tak mengerti arti tertawanya si pelayan. Malahan Sekar Kuspaneti sendiri yang pandai merajuk, tidak menaruh perhatian khusus. .Mereka berdua mengira, bahwa pelayan itu tertawa geli menyaksikan cara pergaulannya yang sudah berkesan rukun.
Dengan berjalan berendeng, Sekar Kuspaneti mengantarkan Kilatsih ke kamar mandi. Selama Kilatsih mandi, gadis itu tetap menunggu dengan duduk di atas batu.
696

"Kangmas! Kalau sudah siap, Kangmas dipanggil Ayah. Ayah menunggumu di atas."
"Di atas bagaimana?" Kilatsih menyahut dari dalam kamar mandi.
"Di kamar loteng."
"Eh, apakah rumahmu bertingkat?"
"Kau lihat saja nanti," ujar Sekar Kuspaneti dengan tertawa geli.
Kilatsih tak menyahut lagi. Untuk berdandan ia membutuhkan waktu yang lama.
Maklumlah, dia harus pandai mengatur rambut dan dadanya agar tak nampak menyolok. Kepandaian menyamar diperolehnya dari Sirtupelaheli tatkala nenek itu berada di tengah kepulauan Karimun Jawa. Karena dia berperawakan singsat dan padat, maka penyamarannya boleh dikatakan sempurna.
Demikianlah setelah makan siang ia diajak keluar Sekar Kuspaneti menghadap ayahnya. Dengan cermat, Kilatsih melayangkan pandangnya. Mula-mula ia melewati beberapa ruang besar. Kemudian menyeberangi petak rumput yang teratur rapih. Itulah sebuah taman khusus untuk kamar-kamar tamu. Tatkala lewat beberapa tetamu yang menginap memberi hormat dan ucapan selamat. Ia membalas dengan ramah pula. Agar tak terlibat suatu pembicaraan, cepat-cepat ia meraih lengan Sekar Kuspaneti untuk dibawanya berjalan. Justru demikian, para tetamu tertawa lebar.
697

"Selamat! Selamat! Moga-moga tahun depan Raja Muda Dwijendra dianugerahi dua cucu sekaligus," kata mereka.
"Iddih dua cucu?" gerendeng Kilatsih di dalam hati.
Betapapun juga ia seorang gadis. Mendengar olok-olok itu, wajahnya cepat sekali bersemu merah. Maka ia mempercepat langkahnya, sehingga ia menginjak jari-jari isterinya. Dan orang-orang bertambah tertawa berani.
Setelah menyeberangi petak taman itu, nampaklah sebuah gedung tinggi bertingkat dua. Sekar Kuspaneti membawanya naik melalui tangga. Dan ruang tingkat dua ternyata hanya merupakan sebuah kamar yang sangat sederhana. Di pojok sebelah timur berdiri sebuah almari terbuat dari besi.
Perabot lainnya tiada, kecuali sebuah meja tulis dan empat kursi tetamu. Di dinding tergantung sebuah lukisan Cisadane yang menggambarkan suatu pertempuran seru di seberang menyeberang sungai itu. Tiada keistimewaannya kecuali kesan kunonya.6)
Raja Muda Dwijendra telah menunggunya di belakang meja tulis. Begitu melihat menantunya memasuki kamar kerjnya, ia lantas berdiri dengan tertawa menyambut. Katanya penuh syukur, "Anakku Guntur dan kau Sekar Kuspaneti. Ayahmu mengucapkan selamat. Cobalah lihat apa yang berada di atas meja itu."
Kilatsih memalingkan kepala. Di atas meja nampaklah puluhan butir permata dan seonggok emas dan benda-benda kuno yang mahal harganya. Pikirnya, "Benar-benar kaya raya dia. Apakah maksudnya ia memperlihatkan harta bendanya kepadaku? Apakah dia
698

hendak menghadiahkan semuanya kepadaku sebagai bekal hidup?"
"Kau berdua sudah menjadi setengah suami isteri. Hatiku sangat bersyukur. Kamu berdua boleh memilih yang paling baik. Masing-masing sebuah saja. Sebab lainnya bakal untuk sahabat-sahabat kita yang datang dari jauh."
Kilatsih heran. Tak dapat ia membuka mulutnya. Sekar Kuspaneti rupanya tahu keadaan hatinya. Cepat-cepat ia menerangkan maksud ayahnya.
"Inilah kebiasaan Ayah. Kau pilihlah sebuah benda yang kau senangi!"
Kilatsih menurut. Ia memilih sebatang cundrik7) yang berteretes berlian. Sarungnya terbuat dari emas murni. Barang demikian tidak ternilai harganya. Sedangkan Sekar Kuspaneti memilih sebatang tusuk-konde emas bermata berlian pula.
Sesudah menggenggam benda pilihannya, Kilatsih melayangkan pandangnya kepada* lukisan yang tergantung pada tembok itu. Ia merenungi pertempuran seru yang berlangsung di seberang sungai yang agung airnya. Karena tertarik kepada lukisan itu, alisnya terbangun.
"Apakah engkau menaruh perhatian kepada lukisan kuno itu?" kata Raja Muda Dwijendra dengan tertawa penuh pengertian. "Besok aku akan mengisahkan isi lukisan itu. Walaupun nampaknya sederhana akan tetapi inilah lukisan yang mempunyai harga sejarah. Baiklah sekarang kamu berdua boleh kembali ke kamar. Atau,
699

eh, Kuspaneti kau bawalah suamimu berjalan-jalan menjenguk pertamanan."
Sekar Kuspaneti memanggut dan segera membawa Kilatsih menuruni rumah tingkat. Begitu sampai di tangga, tiba-tiba Kilatsih yang bertelinga tajam mendengar salah seorang tetamu berkata kepada temannya.
"Katanya tuanku Dwijendra, kali ini merupakan hubungan dagang kita yang terakhir....... "
"Apakah tuanku hendak pindah tempat?"
"Bagaimana aku tahu? Kabarnya gedung Paguyuban Sunda pun telah ada yang membelinya."
Kilatsih terkejut. Ingin ia mendengarkan pembicaraan itu lebih lanjut. Akan tetapi Sekar Kuspaneti sudah menarik tangannya untuk diajak menuruni tangga rumah tingkat.
Sampai petang hari Kilatsih diajak berkuda mengelilingi perkampungan dan pegunungan yang merupakan pagar alam istana Raja Muda Dwijendra. Tatkala tiba kembali di rumah, hari sudah malam.
Seprei sudah diganti, sehingga pembaringan itu nampak lebih indah dan menarik.
Bau harum semerbak memenuhi kamar te-manten. Pada saat itu, terdengarlah kentong sembilan kali.
"Hai! Hampir satu hari penuh kita berkuda!" kata Sekar Kuspaneti. "Kau capai tidak?"
"Malam ini tidak ingin aku tidur mendengkur seperti kemarin malam," sahut Kilatsih. "Sekarang ceriterakan
700

apa arti perdagangan ayahmu tadi siang. Apakah ayahmu seorang pedagang?"
"Seorang pedagang?" Sekar Kuspaneti tertawa. "Bukankah sudah kuterangkan, bahwa ayahku seorang penjahat besar yang memerintah hampir separo bumi Priangan?"
"Baiklah—kalau begitu, aku pun menantu seorang penjahat besar. Karena itu, aku ingin pula menjadi seorang penjahat gede," ujar Kilatsih mengambil hati.
Pada malam hari kedua itu, Sekar Kuspaneti sudah berani bermanja-manja. Mendengar kata-kata suaminya, lantas saja ia merebahkan diri pada pundaknya. Cepat-cepat Kilatsih menyambut dengan lengannya dan dipeluknya untuk menghindarkan dadanya. Bujuknya, "Hayo ceriterakan! Kalau tidak— aku akan mencari kabar sendiri."
"ldih!" Sekar Kuspaneti memberengut sambil menegakkan badan.