dendam asmara 01
BAB 1 : TO HO JIAN BERTEMU
DENGAN MUSUH BESARNYA
Malam itu Puteri Malam sedang
memancarkan sinarnya yang indah sekali. Tak heran jika Gunung
Hong-san di Propinsi An-hui, Hok-kian, saat itu bagaikan sedang
bermandikan cahaya yang warnanya putih jernih bagaikan warna perak,
terlebih di kaki puncak Si-sin-hong. Bunga-bunga yang tumbuh di sana
juga rerumputan di sana tampak jelas sekali.
Hawa di
sekitar tempat itu terasa dingin karena angin terus bertiup walaupun
halus. Ketika itu sudah musim rontok.
Pada saat
suasana sesunyi itu, di lereng gunung tampak berkelebatnya bayangan.
Bayangan itu mengenakan pakaian seorang Too-su (imam), ia mengenakan
kopiah dan jubah suci. Tiba-tiba bayangan itu merandek sejenak, lalu
memandang ke sekitarnya. Sepasang matanya bersinar tajam, tak lama
dia menoleh ke belakang dan tiba-tiba ia tertawa riang. Lalu berkata
seorang diri.
"Nah,
anak-anak! Baru sekarang kalian bisa melihat keindahan daerah
Selatan. Jika bukan aku, gurumu yang mengajak kalian, seumur hidupmu
kalian tak akan bisa menyaksikan keindahan alam yang menakjubkan
seperti ini!" katanya.
Suara imam
itu terdengar jelas sekali.
Jawaban
dari ucapan imam itu tiba-tiba bermunculan tiga sosok bayangan
anak-anak, rambut mereka dijalin rapi. Mereka tampak lincah, mata
mereka pun bersinar terang.
"Suhu,
bukankah Suhu tinggal di atas gunung ini-? Mengapa Suhu tak langsung
mengajak kami ke atas? Memang benar kata Suhu, tempat ini indah
sekali. Tapi jika Suhu segera mengajak kami ke atas, di sana Suhu
bisa segera mengajari kami ilmu silat. Kami rasa untuk menikmati
keindahan pemandangan ini, masih banyak waktu nanti!" kata bocah
berbaju kuning.
Mendengar
ucapan bocah itu si imam tertawa. Begitu berhenti tertawa kedua
tangan si imam bergerak. Tangan yang kanan dipakai untuk menyambar
bocah berbaju kuning, sedang tangan kirinya dipakai untuk merangkul
dua bocah yang lainnya. Dengan cepat imam itu berlari ke arah kiri,
di tempat itu terdapat batu cadas agak besar. Tak lama imam itu
menghilang.
Baru saja
imam itu pergi, di tempat itu terdegar suara yang sangat perlahan
karena terbawa angin. Tak lama bermuncullan tiga sosok bayangan
orang yang berlari dengan cepat, gerakan mereka sangat lincah.
Orang yang
berlari paling depan rambutnya terurai, dia mengenakan pakaian
panjang, mirip seorang anak kecil. Dari gerak-geriknya jelas dia
pandai silat Sedang dua yang lainnya, seorang pria dan seorang lagi
perempuan. Yang pria sudah setengah umur. wajahnya keren tapi
tubuhnya sedang-sedang saja. Kawannya yang perempuan baru berumur
kira-kira 30 tahun, tubuhnya langsing dan wajahnya cantik sekali.
Saat ia melompat, wanita itu memegang tangan temannya yang pria.
Mereka sekarang sampai hingga di atas sebuah batu besar di dekat
jurang.
Di tempat
itu, si imam dan tiga orang bocah tadi sedang bersembunyi. Pantas
mereka bisa cepat menghilang, ternyata mereka tak pergi jauh, tapi
bersembunyi di balik batu besar itu.
Si imam
tersenyum ketika menyaksuikan tiga bayangan yang baru tiba itu,
sebuah senyuman mengejek. Karena senyumannya itu tampak wajahnya
jadi menyeramkan.
Pria
berumur pertengahan itu menoleh ke arah perempuan cantik sambil
terus memegangi tangan kiri si nona.
"Kau
lihat." kata si pria. "Inilah keindahan Hong-san!" katanya. "Di sini
selain tenang udaranya pun nyaman sekali, tentu berbeda dengan di
kota!"
"Beginilah
biasanya kau memutarbalikkan keadaan!" kata si nona sambil tertawa.
"Saat kau sedang berkelahi melawan jago Kun-lun-pai, kau ubah ilmu
silatmu yang disebut "Siao-yang-pat-it-si" dan berbalik kau gunakan
untuk menyerang orang! Hingga si imam geram dan mendongkol sekali
kepadamu. Lalu dia bersumpah akan menyembunyikan diri selama 10
tahun untuk belajar kembali ilmu silatnya. Tapi aku khawatir imam
itu tidak berumur panjang....Eh tadi kau memuji-muji keindahan
Hong-san, bukan?"
Mereka
akhirnya tertawa bersama-sama.
Tiba-tiba
mereka menghentikan tawa mereka, saat mereka melihat bocah yang
bersamanya menunjukkan wajah serius.
"Hai Tiang
Keng, ada apa?" tanya si nona atau si nyonya sambil mengerutkan
alisnya.
Bocah yang
dipanggil Tiang Keng tampak gelisah, tangannya menunjuk-nunjuk ke
arah batu yang sedang diinjak oleh pria dan perempuan itu.
"Dengar!
Suara apa itu? Bukankah itu suara yang aneh kedengarannya?" jawab
bocah itu.
Keduanya
memandang ke arah yang ditunjuk oleh si bocah, mereka mencoba
mendengarkan dengan baik. Si nyonya segera mendengar suara seperti
suara rintihan, tapi mirip suara binatang liar berkaki empat. Namun
entah binatang apa? Suaranya makin lama makin jelas dan rupanya
binatang itu sedang berlari ke arah mereka.
"Aneh!"
kata yang pria. "Setahuku di tempat ini jarang ada binatang buas.
Kalaupun ada dan mereka mencari makan, tidak semalam begini, ini
saatnya mereka tidur!"
Ketiganya
lalu berjalan ke tepi jurang untuk meyakinkan, binatang apa itu.
Si imam dan
tiga bocah yang bersembunyi di balik batu besar dan mereka berada di
atas ketiga orang itu, segera si imam memberi isyarat agar ketiga
bocah yang bersamanya menahan napas. Imam itu sendiri heran ketika
mendengar suara aneh itu. Wajahnya berubah jadi tegang.
Tak lama
terdengar suara ribut bagaikan suara badai. Tapi anehnya pohon-pohon
di tempat itu sedikitpun tak bergoyang seperti biasanya bila ada
badai atau angn kencang.
"Pasti
telah terjadi sesuatu," kata pria yang berada dekat jurang pada
rekannya yang perempuan. "Kita tak boleh sembarangan menampakkan
diri. Lebih baik kita bersembunyi untuk melihat keadaan, aku rasa
begitu lebih baik!"
Pria
yang bicara itu ialah Tiong-goan Tay-hiap To Ho J ian, jago silat
dari Tiongkok yang termasyur. Dia pernah menerobos ke ruang Lo Han
Tong milik Siao-lim-si dan ia berhasil mengalahkan Sam Leng To-jin.
ketua perguruan Kun-lun-pay dengan menggunakan Leng-coa-kiam (Pedang
lunak Ular Sakti). Dia juga pernah mengalahkan kaum Hek-to (Kaum
Hitam) atau para penjahat dari gunung Im-san. Kali ini ternyata dia
sedang mengalami pengalaman yang aneh.
Di atas
batu besar, si imam terus mengawasinya dengan hati-hati sekali.
"Entah apa
maksud kedatangannya?" pikir si imam. "Apakah dia pun datang dengan
tujuan yang sama dengan akur
Saat si
imam sedang berpikir. Tiba-tiba To Ho J ian melemparkan bocah yang
dipanggil Tiang Keng ke atas batu besar; pada saat bersamaan anak
itu sudah hinggap di atas batu yang letaknya tinggi itu. To Ho J ian
pun melompat dengan gesit sekali menyusul bocah itu. Itu adalah
lompatan yang disebut "Leng Khong Siang Thian Tee" atau "Melayang
Mendaki Tangga Langit".
Menyaksikan
kehebatan gerakan To Ho J ian itu, tiga bocah yang berada bersama si
imam hampir saja mengeluarkan pujian mereka, sedang si imam yang
sangat membanggakan kepandaian ilmu meringankan tubuhnya itu pun.
jadi keheranan dan tertegun kagum. Dia menghela napas.
Sesudah
berdiri tegak dia atas batu To Ho J ian merogoh ke kantung yang
tergantung di pinggangnnya. Dari kantung itu dia menarik seutas
tambang halus yang panjangnya belasan tombak. Tambang itu dia
lemparkan ke bawah, pada wanita yang ada di bawah, perempuan itu
segera menyambar tambang yang dilemparkan itu. lalu menariknya. Maka
di lain saat wanita itu sudah melayang naik bagaikan terbang ke arah
To H o J ian di atas batu besar.
Si imam
yang menyaksikannya sangat kagum berbareng kaget bukan main.
"Kemajuan
ilmu orang she To dan isteinya yang bernama Huai Hong-hong Touw It
Nio itu maju pesat sekali!" pikir si imam. "Padahal kami baru
beberapa tahun saja tak bertemu dengan mereka... Jika demikian
sia-sia saja aku memahami ilmu silatku itu...."
Suara
binatang buas semakin dekat, si imam memandang ke arah jurang dari
arah datangnya suara aneh itu
Sedan» I'o
Ho Jian bersama isterinya Hui Hong-hong (si Burung Hong Terbang)
mengawasi ke arah lembah. Tiang Kengsi bocah yang baru berumur 10
tahun turut mengawasi juga.
"Ayah.
suara apa itu? Aneh sekali!" tanya Tiang Keng.
"Ayah juga
belum tahu." jawab ayahnya.
Kemudian To
Ho Jian memandang ke arah isterinya.
"Isteriku
kau bisa melihatnya tidak?" tanya sang suami. "Tidak kusangka ucapan
Suhu tahun lalu, sekarang menjadi kenyataan. Mungkin belum pasti,
tapi aku rasa tak akan meleset dari dugaanku...."
Isteri To Ho
Jian mengawasi ke arah lembah. Tadi dia tak melihat apa-apa, tapi
sekarang dia sudah melihat dengan jelas. Entah berapa banyak
menjangan, kijang, kambing hutan, kelinci dan binatang lainnya.
Binatang-binatang itu berlari kencang ke arah mereka. Suaranya
gemuruh menyeramkan.
"Apa yang
terjadi?" tanya isterinya. "Apa terjadi kebakaran hutan di sana?
Tapi aku tak melihat ada cahaya api di sana!"
Suaminya
menggelengkan kepala tak menjawab.
Tiang Keng
yang penasaran pun diam tak berani bertanya.
Sesudah rombongan kijang dan
manjangan berlalu di belakang mereka tampak bergerak ular-ular,
jumlahnya mungjkin ribuan mereka terdiri dari yang besar dan kecil.
"Ayah!
Ular-ular itu berbahaya. Bukankah Ayah pernah bilang di tempat ini
banyak kuil dan rumah penduduk tukang kayu. Ular itu berbahaya bagi
mereka. Apa Ayah tak berniat mengusir atau membunuh mereka agar
penduduk tak celaka?" kata Tiang Keng.
Pertanyaan
Tiang Keng oleh To Ho Jian tak dijawab.
"Ayo maju
sedikit," kata Ho Jian. "Kita lihat lebih tegas. Tapi hati-hati
pasti banyak ular berbisa, bau bisanya saja sangat berbahaya!"
Begitu To
Ho Jian memperingatkan anak dan isterinya.
Sambil
berkata Ho Jian mengeluarkan sebuah botol berisi obat berwarna
hijau. Obat itu dia bagikan pada anak dan isterinya.
"Tutup
hidung kalian dengan pil ini. dan masukkan ke mulut kalian seorang
sebuah. Jangan ditelan biarkan dalam mulut saja. Jauhi ular-ular
berbisa itu. berbahaya!" kata To Ho Jian.
"Apa tak
lebih baik si Keng kita tinggalkan di sini saja?" tanya isteri Ho
Jian.
Dia
awasi anaknya tapi Tiang Keng justru seperti ingin sekali ikut
bersama mereka, maka Ho Jian pun tertawa.
"Dalam dua
tahun ini latihan tenaga dalam si Keng sudah maju pesat," kata
suaminya. "Ilmu meringankan tubuhnya juga sudah lumayan, kita ajak
saja dia aku rasa tidak terlalu berbahaya kok!"
Tiang Keng girang karena
ayahnya mau mengajaknya. Memang dia tak akan tahan menunggu
kedatangan kedua orang tuanya di situ, apalagi jika terlalu lama.
"Dasar! Kau
suka sekali memanjakan anakmu, sekarang tak apa. Bagaimana jika dia
sudah besar nanti?" kata isterinya menyalahkan Ho Jian.
To Ho Jian
tidak menjawab. Dia cuma tertawa. Lalu dia melompat ke bawah
kemudian disusul oleh isteri dan anaknya.
Debu tanah
yang dilewati binatang berkaki empat yang kabur seperti kalap itu
menyebabkan debu membubung ke atas.
Kepindahan
Ho Jian bersama isteri dan anaknya membuat si imam dan tiga bocah
atau muridnya itu jadi lega.
"Suhu,
siapa mereka itu?" tanya si baju kuning. "Ternyata mereka lihai
seperti Suhu. Apa yang sedang terjadi Suhu?"
Si imam
diam saja seolah ia tak mendengar pertanyaan muridnya yang cerdik
itu. Dia cuma mengerutkan alis dan menghela napas panjang. Tapi si
baju kuning terus mendesaknya, dan akhirnya si imam mengalah.
"Pria itu
she To, dia mengaku dirinya orang gagah nomor satu," jawab si imam.
"Yang perempuan itu isterinya, sedang bocah yang mengikutinya adalah
anaknya. Sekarang mereka menuju ke tempat yang sangat berbahaya itu.
Mungkin mereka sudah bosan hidup!"
Imam itu
tersenyum tawar. Tampak dia benci sekali pada To Ho Jian sekeluarga.
"Kalian
tunggu aku di sini! Aku akan ke sana sebentar, tak lama aku akan
kembali lagi!" kata si imam pada murid-muridnya. "Apapun yang
terjadi, kalian jangan meninggalkan tempat ini!"
"Baik,
Suhu!" jawab muridnya yang berbaju kuning. "Suhu mau mennbunuh
binatang berbisa itu! Jangan khawatir kami akan menunggu sampai Suhu
kembali ke sini!"
Imam itu
tersenyum dingin, wajahnya yang bengis dan menyeramkan menyeringai.
"Diam. kau
tahu apa. Nak. Ular itu memang jahat, tapi ada yang lebih jahat dari
mereka sepuluh kali lipat! Semua binatang buas itu sedang
mengantarkan jiwa mereka!" kata si imam.
Bocah baju kuning itu
keheranan.
"Apa benar.
Suhu?" mata si baju kuning membelalak ke arah sang guru.
"Sudah lama
aku tinggal di sini." kata si imam. "Aku tahu benar keadaan di
tempat ini. Di lembah ini hidup binatang yang sangat berbisa!"
"Binatang apa Suhu?"
"Aku belum
pernah melihatnya tapi aku yakin kelihaiannya!" jawab gurunya.
"Mungkin itu binatang purba. Jika lapar, katanya dia bersuara sambil
menyemburkan bisa! Bisanya bisa menyebar sampai 300 li jauhnya. Jika
binatang lain mencium bau itu. mereka akan berlarian menghampiri
binatang purba itu untuk dimangsa!"
Tiga bocah
itu keheranan. Mereka mengawasi gurunya dengan bengong.
Si imam tertawa tawar.
"Biasanya
binatang itu muncul di tempat yang banyak ular-ular berbisa," ata si
imam lagi. "Sesudah kenyang nakan biasanya binatang itu tidur
iyenyak sekali! Binatang yang tak ermakan jadi bisa kabur jauh-jauh.
Binatang itu berbisa tapi juga bisa digunakan untuk memusnahkan bisa
oerbahaya!"
Bocah
berbaju kuning sangat tertarik, dia senang mendengarkan cerita
gurunya yang seperti dongeng dalam buku "San Hay Keng". Memang dia
anak seorang terpelajar yang dibawa kabur oleh si imam.
"Suhu,
pengetahuanmu luas sekali," kata si baju kuning.
"Bukan aku
sombong, Nak," kata si imam. "Selain ilmu silat, aku juga mengerti
obat dan ilmu sihir."
"Kalau
begitu." kata si baju kuning. "Mengapa Suhu tak menunggu sampai
binatang buas itu kekenyangan dan tidur, baru Suhu turun tangan
membunuhnya. Dengan demikian Suhu bisa terhindar dari bencana!"
"Diam. kau
tahu apa!" kata gurunya. "Binatang itu hanya menyerang bisa dengan
bisanya. Dia tidak menggangguku untuk apa aku bunuh dia. Biar si
orang tolol yang mengaku gagah itu saja yang membunuhnya. Tapi jika
ada orang yang berani menghina Gurumu, dia harus menghadapiku.
Sekalipun dia bertangan enam, dia tak akan lolos dari tanganku!"
Si bocah
berbaju kuning kaget dan heran. Dia masih kecil hingga dia tak
mengerti dan tak tahu apa arti kata-kata gurunya itu.
Sesudah
berpesan lagi melompatlah si iman dengan pesat ke atas, ke tempat
Ho Jian dan anak isterinya
berdiri tadi. Lalu memasukan sebutir pil ke dalam mulutnya untuk
dikulum. Sesudah mengawasi ke sekitarnya lalu ia melompat, dan
bergerak untuk mengikuti jejak Ho Jian. anak dan isterinya.
Dia
bergerak dengan sangat hati-hati sekali dan ia berusaha menghindar
karena tak mau terlihat oleh To Ho Jian maupun isterinya. Dia sadar
To Ho Jian lihai, dia murid Tee-sian Ku-kun, seorang dari kalangan
Kang-ouw (Rimba persilatan) luar biasa.
To Ho Jian
sekeluarga berada di tepi jurang, mereka sedang mengawasi ke arah
lembah. Di sana sekarang tampak kawanan kelabang sedang bergerak. It
Nio merasa jijik dan juga ngeri hingga tubuhnya mengeluarkan
keringat dingin.
"Jangan
takut. Isteriku." kata Ho Jian.
Ketika Ho
Jian melirik ke arah anaknya, dia lihat anaknya tetap tegar
sedikitpun tak merasa takut.
Sesudah
rombongan kelabang berlalu kemudian rombongan ini diusul oleh
sekawanan kalajengking, lalu disusul oleh tokek dan cecak. Karena
sudah menutup hidung dan mulut dengan pil berwarna hijau, mereka
jadi tahan tak mabuk sampai semua binatang berbisa itu melewati
mereka semua.
"Isteriku,
kata Suhu semua binatang itu bakal binasa oleh binatang buas itu,
yang lolos mungkin hanya sedikit. Sesudah kekenyangan binatang itu
akan tidur lelap. Saat itu aku bisa membinasakannya. Untuk itu aku
minta kau dan si Keng menungguku di sini. Aku akan mengikuti jejak
binatang buas itu ke tempat binatang yang lebih buas itu!" kata To
Ho Jian.
Sang isteri
menggenggam tangan suaminya erat-erat.
"Kanda
jangan pergi sendiri! Lebih baik aku ikut bersamamu. Kau bilang
binatang itu buas sekali, aku takut kau...." isteri Ho Jian tak
melanjutkan kata-katanya.
Suaminya tertawa.
"Isteriku
jangan cemas. Seperti kau tak kenal aku saja. Saat inilah kesempatan
bagiku untuk menguji ilmu "Cap-i Touw-thian Sin-kang" yang aku
pelajari. Tenang, jangan takut!" kata suaminya.
It Nio tersenyum.
"Baiklah
kalau begitu. Tapi kau harus berhati-hati. Kanda. Kau harus
waspada!" kata isterinya.
Kembali To
I lo Jian tersenyum pada isterinya.
"Sungguh
beruntung aku menikahimu. sekarang aku pun punya si Keng. Jangan
cemas aku pergi dulu!" kata suaminya.
Sepergi To
Ho Jian isterinya menasihati puteranya.
"Keng kelak
kau harus segagah Ayahmu, Nak." kata sang ibu.
Tiang Keng mengangguk bangga.
"Baik, Bu.
Aku akan membuat kalian berdua kagum!" kata Tiang Keng.
Ibunya
senang sekali lalu merangkuInya.
Isteri To
Ho Jian senang sekali. Tapi sedikit pun mereka tak menyangka, tak
jauh dari tempat mereka ada sepasang mata sedang mengintai. Bahkan
orang itu berniat membinasakan mereka
berdua....
Orang yang mengintai mereka
itusebenarnya kenalan lama Hui Hong-hong, isteri To Ho Jian, dia
adalah Ban-biauw-jin In Hoan, yaitu si imam yang
sekarang ada bersama tiga
muridnya itu.
**
Dikisahkan
To Ho Jian yang berjalan seorang diri mengikuti bekas jejak
binatang-binatang itu. Dia kini telah sampai di sebuah selat yang
ternyata sebuah selat yang buntu. Diawasinya selat itu. menurut
gurunya selat itu bernama Tiat-coan-thauw. Bentuk selat itu mirip
dengan kepala perahu. Pada dasar tanah di tempat itu terdapat sebuah
lubang besar. To Ho Jian mengawasinya dengan seksama.
"Apa lubang
itu sarang si makhluk aneh itu?" pikir To Ho Jian.
Keadaan
selat ketika itu sudah sunyi. Tapi tiba-tiba terdengar suara nyaring
seperti suara tangisan bayi, Ho Jian kaget. Ia bertambah kaget
sesudah ia maju beberapa langkah dan melihat makhluk yang seumur
hidupnya belum pernah dia lihat itu.
Tak jauh
dari situ ada sebuah lapangan yang luas, di situ telah berkumpul
berbagai binatang isi rimba yang tadi berdatangan ke tempat itu dan
menimbulkan kegaduhan yang luar biasa. Anehnya binatang yang
biasanya saling terkam itu, sekarang semua diam, seolah mereka tidak
bermusuhan lagi.
Tak jauh
dari tempat itu tampak beberapa ekor ular raksasa tergeletak tidak
bernyawa. Kepalanya sudah pecah berlumuran darah. Dari empang darah
itu tampak ular yang bentuknya aneh,tidak panjang tapi perutnya
sangat besar. Kepalanya sebesar gantang, dan pada kepala ular itu
terdapat daging lebih seperti tanduk.
Tiba-tiba
To Ho Jian mendengar suara berisik dari dalam lubang muncullah
makhluk aneh mirip ikan rakssa Sulit untuk menggambarkan binatang
buas ini seperti apa. Kepala binatang itu pipih, mulutnya besar dan
giginya tajam-taam. Lubang hidungnya tiga buah. Di badannya tumbuh
lima buah tanduk yang tajam. Kukunya bengkok seperti arit. Binatang
itu tidak berkaki, ketika ia bergerak dia hanya mengandalkan tanduk
dan cakarnya itu.
To Ho Jian
kagum tapi juga kaget menyaksikan binatang itu. Tak lama kedua
makhluk aneh itu saling mendekat. Kemudian mereka bertarung dengan
hebat. Mereka bertarung hebat sambil bergulingan, hingga ular-ular
berbisa yang tertindih oleh mereka mati semua.
To Ho Jian
belum pernah menyaksikan kejadian seaneh itu. Kedua binatang yang
bertarung itu makin lama makin lemah. Tubuh ular yang panjang itu
dibanting-banting ke tebing dan tanah oleh makhluk aneh yang
menjepitnya.
Korban
pertarungan hebat itu makin banyak. Malah harimau dan binatang buas
lain pun mati karena tertindih. To Ho Jian menganggap sudah tiba
saatnya bagi dia untuk turun tangan. Maka melompatlah To Ho Jian ke
sebuah batu besar. Lalu batu itu dia hajar hingga hancur. To Ho Jian
girang, dia senang karena itu berarti ilmu yang dia pelajari telah
sempurna.
Tapi
tiba-tiba Ho Jian mencium bau amis. Buru-buru ia melompat menjauh.
Saat dia berbalik, dia lihat binatang seperti ikan itu sudah
mendekatinya. Dari mulutnya menyembur asap hijau, yang merupakan
bisanya. Buru-buru Ho Jian melemparkan potongan batu yang dia sambar
ke arah binatang itu untuk menghalau.
Tapi
lontaran batu itu disampok oleh makhluk aneh itu. Terpaksa To Ho
Jian menghunus pedang lunaknya untuk dipakai melakukan perlawananan.
Makhluk aneh itu bergulingan mendekati To Ho Jian yang telah siap
menikamnya. Namun dari mulut makhluk aneh itu keluar hawa bau bacin
yang membuat orang ingin muntah apabila menciumnya.
Makhluk
aneh itu menyambar ke arah tangan Ho Jian yang memegang pedang lunak
dan mengeluarkan cahaya kehijauan. Buru-buru Ho Jian menghindar dari
sambaran makhluk aneh itu, hingga ia luput dari serangan itu.
To Ho Jian
menimpuk binatang itu dengan batu yang dia jemput dengan cepat dari
tanah. Timpukan Ho Jian itu jitu sekali. Ternyata binatang itu
kebal. Batu yang mengenai dirinya mental.
Ular dalam
jepitan makhluk aneh itu kembali melawan hingga keduanya bertarung
hebat lagi. Ketika To Ho Jian akan menyerang, makhluk aneh itu. tapi
makhluk aneh itu buru-buru masuk ke dalam goa.
"Sayang!" pikir Ho Jian
menyesal.
Saat dia sedang berdiri ia
kaget sendiri.
"Celaka aku!" teriaknya
Kepalanya terasa pening sekali. Mendadak ia merasa haus bukan main.
Buru-buru Ho Jian duduk untuk mengatur pernapasannya. Dia sadar
mungkin dia terkena racun sang makhluk aneh itu. To Ho Jian mencoba
berusaha menolong dirinya... Tiba-tiba...
"Ha, ha, ha , ha,!" terdengar suara orang tertawa nyaring.
"Hai sahabat baik, sudah lama kita tak saling bertemu!" kata suara
itu. "Apakah kau baik-baik saja. hai sahabat lamaku?"
To Ho Jian mencari-cari arah datangnya suara itu. Tak lama terdengar
lagi suara orang itu.
"Pertemuan kita ini membuat aku si orang she In gembira sekali!"
kata suara itu.
To Ho Jian memutar tubuhnya dengan cepat. Orang yang menyebut
dirinya orang she In itu adalah si imam yang bernama BiaoCin-jin In
Hoan. Dia tertawa girang sekali
"Tidak kusangka, sesudah lama kita tidak bertemu, aku salah ucap.
Aku mengatakan kau baik-baik padahal kau dalam bahaya 1" kata In
Hoan.
"Hai orang she In, apa kau
tidak salah? Tujuh tahun yang lalu kau tak mau bertemu lagi
denganku. Tapi sekarang malah kau menemuiku lagi. Apa maumu?" kata
To Ho Jian In Hoan masih tertawa terus. "Walaupun adikmu bodoh, dia
tak akan lupa pada apa yang dia pernah ucapkan," kata In Hoan.
"Sekarang adikmu berdiri di sini, terserah apa yang hendak kau
lakukan terhadapku. To Tay-hiap!"
Ucapan In
Hoan itu suatu tantangan hingga To Ho Jian jadi kaget.
"Hai
mengapa kau diam saja. Apakah kau tak mau menghukumku?" kata In Hoan
lagi. "O, aku tahu sekarang. Karena kau akan menyelamatkan orang
banyak dan kau mau membunuh makhluk aneh itu. lapi ternyata kaulah
yang terkena racunnya!"
Nada suara
In Hoan sangat mengejek dan merendahkan dirinya, hal ini membuat To
Ho Jian gusar bukan main. Diam-diam dia salurkan tenaga dalamnya
untuk mengusir bisa yang ada di dalam tubuhnya. Dia tidak takut pada
In Hoan, hanya sedikit cemas saja. Jika imam itu menyerang dan dia
sedang terkena racun bagaimana ia harus bisa bertarung lama. dia
khawatir tenaganya akan berkurang. Cuma itu.
"Sudah lama kita tak pernah
bertemu, dulu kau sering mengatakan aku licik dan licin! Ternyata
memang sifatku belum berubah sampai sekarang ini. Tadi sebelum aku
menemuimu. karena aku khawatir kau mencelakakan aku. Maka aku telah
menyandera isteri dan anakmu itu. Mereka baru akan kugunakan jika
aku terdesak olehmu. Ternyata sekarang aku berpendapat tindakanku
itu terlalu berlebihan. Karena sekarang kau telah terluka kena bisa
makhluk aneh. jadi kau tak berdaya!" kata In Hoan.
Mendengar
ucapan lawan To Ho Jian kagert bukan main. Ucapan imam itu berarti
bahwa dia telah menawan isteri dan anaknya. Karena bingung dan
khawatir To Ho Jian jadi lupa diri. Tak pikir panjang lagi dia
melompat menerjang ke arah si imam.
"Orang she
In! Ingat baik-baik, asal kau tahu saja. Jika kau berani mengganggu
selembar saja dari bulu tubuh isteri dan anakku, maka sekalipun
tubuhku hancur-lebur, akan kucincang kau sampai lumat!" kata To Ho
Jian.
Lima jari
tangan kirinya menyerang ke arah In Hoan, sedang tangan kanannya
yang memegang pedang lunak sudah langsung bekerja, ia menusuk ke
arah tubuh In Hoan. Serangan itu sangat berbahaya. Itu sebabnya In
Hoan pun sudah langsung melompat tinggi dan berusaha menjauh sekitar
tujuh kaki jauhnya dari tempatnya berdiri.
Mengetahui
serangan berbahayanya gagal, Ho Jian kaget sekali. Biasanya dia tak
pernah gagal. Mungkin pengaruh bisa makhluk aneh itu membuat
gerakannya jadi kurang cekatan lagi.
In Hoan
mentertawakannya hingga Ho Jian makin panas.
"Hai
Tay-hiap, kau galak amat. Aku tak bisa membiarkan kau berbuat
semau-mau. Tapi ingat jangan katakan aku kejam. Atau katakan aku
menyerangmu saat kau terluka kena bisa! Tapi permusuhan kita memang
hebat, maka serahkanlah nyawamu!" kata In Hoan.
In Hoan
yang licik ini sangat lihai, begitu dia berhenti bicara tangannya
langsung bekerja. Dia serang To Ho Jian secara hebat, hingga
keduanya jadi bertarung mati-matian. Sekarang In Hoan bertarung
sungguh-sungguh. Sebab dia lihat tadi sekalipun sudah terkena bisa,
Ho Jian masih tangguh.
Ho Jian
bertarung mati-matian. Tapi ucapan In Hoan memang benar, dia
sudah terkena bisa makhluk
aneh.
Lama-lama tenaganya akan habis.
Sudah belasan jurus telah lewat. Tapi keduanya masih saling serang.
Ho Jian bingung dia mencemaskan keadaan isteri dan anaknya
In Hoan
seorang yang sudah berilmu tinggi. Terutama ilmu meringankan
tubuhnya. Dalam pertarungan itu Ho Jian seolah sudah dikurung oleh
bayangannya yang terus mengitarinya.
Dalam gugup
dan panik Ho Jian teringat masa lalunya. Ketika dia belum menikah
dengan isterinya. In Hoan mengenal isterinya lebih dahulu dari
padanya. In Hoan hampir berhasil menggaet Hui Hong-hong. Tapi tak
lama Hui hong-hong mengetahui, bahwa In Hoan laki-laki jahat yang
sering mengganggu anak gadis orang. Sejak itu Hui Hong-hong mencoba
menjauhinya.
Karena
penasaran In hoan hendak menggunakan akal busuk untuk mendapatkan
Hui Hong-hong It Nio ini. Untung datang To Ho Jian. Dia
menyelamatkannya, bahkan It Nio jatuh cinta padanya. Maka mereka pun
menikah atas perantaraan In Kiam. seorang jago silat dari Bu-ouw.
**
BAB 2 : TO TIANG KENG
DISELAMATKAN OLEH SU-KHONG GIAUW
Bukan main panasnya hati In
Hoan karena maksudnya tak tercapai. Pada malam pernikahan To Ho Jian
dengan It Nio. In Hoan menyatroni kamar pengantin.
Agar dia
bisa berhasil merebut pengantin perempuannya, dia menggunakan cara
rendah dan hina. Dia gunakan hio wangi yang mengandung obat tidur
bernama Ngo-kouw Kee-beng Hoan-hun-hio. Untung Ho Jian tidak mudah
diakali dan dipermainkan, ternyata dia sangat waspada, sebelum hio
itu dinyalakan, dia sudah mendahului menyerang In Hoan.
Hio obat
tidur itu disebut juga "Sian Ho Ki" atau "Sayap Jenjang Sakti".
Karena bubuk hio itu dimasukkan ke dalam alat mirip burung terbuat
dari kuningan. Jika bubuk hio itu dinyalakan maka kedua sayap burung
kuningan itu bergerak-gerak, bagaikan sayap burung sedang terbang
dan asap hionya segera mengepul masuk ke dalam kamar seseorang,
hingga orang itu akan tidur nyenyak karena terbius.
Ho Jian
menyerang In Hoan dengan serangan pukulannya sebanyak tiga kali
secara beruntun, serangan itu berhasil melukai lengan kanan si imam
bernama In Hoan tersebut. Ho Jian tidak ingin membinasakan In Hoan
yang jahat itu.
pertama malam itu merupakan
pertama, yang kedua dia ingin menjaga nama baik isterinya.
Sesudah
lengannya terluka In Hoan kabur. Dia tidak berani melayani si Jago
Tiong-goan yang gagah itu. Dia sakit hati sekali. Dia kabur ke
daerah Biauw-kiang yang termasuk wilayah suku Biauw.
Ketika In
Hoan muncul kembali, dia telah salin rupa. Sekarang dia sudah
menjadi seorang Too-su atau seorang imam agama Too. Selain ilmu
silatnya telah mendapat kemajuan yang pesat, hati busuknya pun tidak
berkurang buruknya. Dia tak pernah melupakan rasa penasarannya itu.
maka tak heran dia jadi sering mengganggu Ho Jian dan It Nio. Untung
bagi In Hoan. Ho Jian selalu berlaku sabar, dia cuma sekadar diancam
agar jangan mengulangi kejahatannya.
Di luar
dugaan, kali ini In Hoan muncul lagi. Setelah dia mengikuti Ho Jian
dan tahu Ho Jian sedang terkena racun makhluk aneh yang sangat
berbisa, maka lawannya ini dia serang. Tapi dia jadi kaget dan kagum
karena ternyata Ho Jian tangguh sekalipun ia dalam keadaan sedang
keracunan yang hebat. Ternyata Ho Jian tak dapat diperlakukan
sembarangan. dia masih gagah dan gesit. Untuk menghadapi Ho Jian
maka terpaksa In Hoan cuma main kelit dan menghindar saja, si imam
berharap lama-lama Ho Jian akan kepayahan dan pada saat itu akan
diserangnya secara habis-habisan.
Mata Ho
Jian merah berapi-api. Dia sudah menduga siasat si imam licin itu
dan ia juga tahu apa maunya. Dia juga sadar lama-lama dia bakal
kehabisan tenaga dan akan roboh sendiri. Maka itu, setelah melakukan
serangan berbahaya secara beruntun tanpa hasil, mendadak Ho Jian
melompat mundur jauhnya sekitar satu tombak dari si imam.
"Orang she
In," kata Ho Jian, dengan kedua tangan diturunkan. "Aku menyesal
ternyata aku terlalu lemah dan dulu aku telah membiarkan kau bebas.
Sekarang akibatnya aku harus menerima nasib buruk darimu, tapi aku
tak akan menyesali nasib burukku hari ini. Dan aku harap kau masih
punya sedikit rasa pri-kemanusiaan, aku siap binasa di tanganmu
dengan tak mengerutkan alis
In Hoan tertawa dingin.
"Bagus,
bagus sekali kata-katamu itu. Tay-hiap!" kata In Hoan. "Memang
penasaran sekali Tay-hiap harus binasa di tanganku si orang rendah
ini."
Imam ini
melayani Ho Jian bicara. Dia sadar benar bahwa makin berlama-lama,
itu berarti makin hebat kerjanya sang racun di tubuh Ho Jian. In
Hoan pun tahu diri ia tak mau mendekat pada lawannya, dan ia sengaja
berdiri sedikit jauh dari jago lawannya itu.
Tubuh Ho Jian gemetar menahan
sakit dan geram hatinya. Dia coba menahan amarahnya sambil
mengerahkan tenaga dalamnya, ini agar dia bisa bertahan dari
serangan sang racun.
"Orang she
In. memang kita bermusuhan, jika benar kau seorang yang terhormat,
kau boleh membuat perhitungan denganku seorang saja! Aku bersedia
mati dengan cara apa pun juga. asal kau berani berjanji!"
In Hoan
tertawa keras dan panjang. matanya menyala tingkahnya menyebalkan
sekali.
"Jangan
khawatir. To Tay-hiap!" kata In Hoan. "Sekalipun di matamu aku ini
manusia rendah, aku tidak akan main gila terhadap seorang bocah
anakmu itu! Mengenai puteramu, sekarang dia sedang tidur dengan
tenang bersama murid-muridku! Jika Tay-hiap telah pergi ke alam
baka, dia bakal hidup bahagia. Tentang
In Hoan
sengaja bicara dengan sangal ayal-ayalan, dan matanya menatap dengan
tajam ke arah Ho Jian. untuk melihat bagaimana perubahan air muka
lawannya. Sambil tertawa, dia meneruskan kata-katanya: "Tentang
isterimu, aku berani jamin, setelah kau menutup mata, dia bakal
hidup senang dan lebih berbahagia disbanding ketika bersamamu! Aku
si orang she In akan melayani dia dengan telaten sekali, maka itu
lebih baik legakan saja hatimu!"
Tanpa
menunggu orang berhenti bicara Ho Jian sudah melompat menerjang In
Hoan. Rupanya sudah habis kesabaran Ho Jian saat itu. tiba-tiba dia
jadi nekat. Dia membentak dengan nyaring sambil
menyerang.
In Hoan
buru-buru berkelit untuk menghindari serangan tersebut. Ketika Ho
Jian secara beruntun menyerangnya, dia berkelit terus men ghindar
Sambil berkelit dia tertawa dingin. Dia cukup cerdik. Dia berpikir,
dia ingin agar lawannya roboh sendiri tanpa dia serang.
Tatkala itu
angin terus bertiup halus. Dari arah timur, tampak tanda tibanya
sang fajar. Tidak berapa lama segera terlihat jelas wajah si imam.
yang menyeringai menakutkan dan bengis. Itu roman licik dan tak
kenal belas kasihan!
Di dalam
lembah, kecuali berbagai bangkai binatang yang telah binasa, sisanya
yang masih berjumlah cukup banyak sudah mulai mengundurkan diri.
mereka menyingkir ingin dari mara bahaya. Semua mundur dengan kepala
ditundukkan dengan ekor bergoyang-goyang, suatu tanda mereka masih
jeri. Anehnya macan tutul dan harimau pun seolah semuanya jadi jinak
seperti binatang peliharaan saja .
Tepat saat
itu, dari kejauhan terlihat dua sosok bayangan orang sedeang
berlari-lari mendatangi. Di tempatjauh, mereka tampak seperti dua
sosok bayangan saja. Begitu cepat mereka berlari, mirip mereka
sedang terbang. Baru setelah dekat, tubuh mereka kelihatan jelas
terpeta.
Salah
seorang dari kedua orang itu, tubuhnya jangkung, dia mengenakan
pakaian berwarna merah dan ringkas atau ketat. Rambutnya memakai
konde tinggi seperti wanita zaman Tong. Itu konde nona-nona. yang
diberi nama
"Kuda Jatuh". Sedang
pinggangnya dililit oleh ikat pinggang yang digantungi gelang yang
dapat berbunvi nyaring manakala dibawa berlari-lari. Wajah perempuan
ini jelek dan dapat mengagetkan orang yang melihatnya. Selain
mulutnya lebar sekali, bibirnya pun dipulas dengan yan-cie (pemerah
bibir) yang tebal, merah seperti darah.
Tangan
kanan wanita itu sedang menuntun seorang bocah perempuan yang baru
berumur 12-13 tahun, anehnya bocah ini lain dengan wanita itu. Dia
cantik manis, matanya jeli. sepasang sujen menghiasi kedua pipinya
yang montok.
Begitu
sampai, wanita berbaju merah itu acuh saja pada mereka yang sedang
bertarung mengadu jiwa itu. Matanya terus mengawasi ke arah lembah
di tempat banyak berbagai bangkai binatang, juga ke arah lubang goa.
Baru kemudian dia menoleh ke arah In Hoan dan Ho Jian yang sedang
bertarung mati-matian. Wanita itu mengerutkan alisnya, lalu menoleh
ke arah bocah cantik itu.
"Anak Kin,
kau takut tidak?" kata si wanita berbaju merah pada si bocah cantik
itu.
Suara
perempuan jelek itu halus tapi nyaring dan lembut suatu tanda dia
amat sayang pada bocah perempuan cantik itu.
Kedua mata
bocah manis itu memain, pertama matanya di arahkan ke lembah, ke goa
itu baru kemudian ke gelanggang pertempuran. Wajahnya menunjukkan
sedikit jeri. tapi ketika ditanya dia menggelengkan kepalanya
perlahan.
"Aku tidak takut. Bu!" kata si
bocah.
Wanita
jelek itu tertawa hingga gigi-giginya kelihatan jadi menakutkan.
"Kalau
begitu kau diam di sini. jangan ke mana-mana!" kata si wanita
berbaju merah pada si bocah.
"Ibu mau ke mana?" tanya si
bocah.
"Aku akan
menemui dua pria busuk itu, aku akan menanyai mereka!" jawab wanita
jelek itu.
Bocah itu mengangguk.
Sekali
bergerak wanita jelek itu sudah berada di tempat In Hoan dan Ho Jian
yang sedang berkelahi. Tangannya meluncur ke arah dua lelaki yang
sedang bertarung, seketika itu juga perkelahian menjadi terhenti.
Keduanya terdorong dan terpisah menjadi agak berjauhan.
Ketika
wanita jelek itu datang Ho Jian tak mengetahuinya, saat itu dia
sedang sibuk menangkis serangan In Hoan. Ditambah lagi bisa ular
yang ada di tubuhnya makin keras menyerang dirinya. Ketika ia tahu
ada yang datang, dia mengira wanita jelek itu kawan In Hoan.
In Hoan
terpaksa melompat mundur, dia juga berpikir sama dengan Ho Jian, ia
mengira orang itu kawan Ho Jian yang hendak membantu lawannya. Tapi
sesudah melihat jelas pada si wanita jelek itu. In Hoan buru-buru
tertawa manis.
"O kiranya
Nona Un!" kata In Hoan setengah kaget. "Aku tak menyangka. Nona Un
ada di sini! Mengapa Nona tak tinggal di daerah Biauw-kiang saja?
Dulu ketika aku bertemu denganmu, aku senantiasa mengenang wajahmu
setiap saat. Tidak aku duga. Nona. Wajahmu tetap seperti dulu bahkan
mirip seorang Dewi saja!"
Wanita
jelek yang dipanggil Nona Un itu menatap tajam ke arah In Hoan. Dia
bersikap dingin tak marah juga tidak tertawa. Tiba-tiba dia
membentak nyaring.
"Hai bocah
tak perlu kau memuji-mujiku, aku tak butuh itu!" bentak Nona Un.
"Aku Un Jie Giok tak butuh pujianmu!"
In Hoan tak
menghiraukan bentakan kasar dari Nona Un, dia tetap bersikap hormat.
"Kau sudah
tiba, pelajaran apa yang hendak Nona berikan padaku?" kata In Hoan.
"Hml" Nona
Un mengeluarkan suara di hidung. "Kalian mau bertarung, silakan! Aku
tak peduli. Hanya aku ingin tahu ke mana perginya makhluk aneh di
lembah itu?!"
"O maaf
Nona Un, aku tidak tahu ke mana perginya makhluk aneh itu. Tapi jika
Nona mau. tanyakan saja padanya!" kata In Hoan sambil tertawa
menunjuk ke arah Ho Jian. "Dia adalah Tay-hiap To Ho Jian yang
namanya termasyur di seluruh Tiongkok. Apakah Nona kenal dengannya?"
Sejak tadi
Ho Jian diam saja, karena matanya terasa ingin dipejamkan saja. Saat
itu dia sedang menyalurkan tenaga dalamnya berusaha untuk mengusir
racun di tubuhnya. Ketika dia sudah tahu nama wanita jelek itu, dan
ternyata dia adalah wanita jago yang aneh dari tanah
Biauw-kiang. Orang-orang biasa
memberi nama "Siu Jin" atau si "Wanita Jelek", tapi ia lebih dikenal
dengan sebutan Ang-Ie Un Jie Giok, "Si Wanita Berbaju Merah" Sifat
jago wanita ini sangat aneh. dia menyebut dirinya "Wanita Jelek"
tapi jika ada yang mencela wajahnya jelek, dia marah dan dengan
berbagai cara ia akan membunuh si jahil yang mencela wajahnya itu.
Karena sudah tahu tabiat wanita itu maka tak ada orang yang berani
usil padanya. Bahkan kebanyakan orang Kang-ouw menyebut dia sebagai
"Ang-i Nio-nio" atau "Ratu Berbaju Merah" atau Ang-ie Sian-cu atau
si "Dewi Berbaju Merah".
Ho Jian
sadar tak mudah ia bias lolos dari tangan si imam jahat In Hoan. Itu
sebabnya dia diam saja. Dia sedang mengumpulkan tenaga untuk
bertarung lagi agar ia bisa lolos atau paling tidak bisa mati
bersama-sama dengan musuhnya itu.
Mendengar
saran dari In Hoan itu Un Jie Giok menoleh ke arah Ho Jian. Saat dia
lihat orang diam saja dia langsung menegur.
"Hai. kau!
Kau dengar tidak pertanyanku?!" kata Un Jie Giok dengan bengis.
Ho Jian
mencoba membuka matanya. Buru-buru dia memberi hormat. Dia berpikir
dia tidak perlu mencari musuh baru, maka itu dia akan segera membuka
mulut.
Tapi
sebelum Ho Jian bicara, In Hoan sudah mendahuluinya.
"Nona Un."
kata In Hoan yang licik ini "Dia seorang jago Tiong-goan.
biasanya dia tak peduli pada
kata-kata orang lain!"
"Hm!"
terdengar wanita jelek itu mengeluarkan suara dari hidungnya.
Kemudian
dia awasi Ho Jian dengan teliti.
"Kau dengar
tidak ucapanku tadi?" kata Un Jie Giok.
Ho Jian
kurang puas diperlakukan demikian. Dia anggap orang itu sangat
memandang rendah kepadanya. Dia mendongkol, menyesal bercampur malu.
Jika dia tak ingat isteri dan anaknya berada di tangan musuh, saat
itu juga dia sudah bunuh diri karena tak mau terhina.
"Un
Tay-hiap!" kata Ho Jian dengan terpaksa. "Aku sedang terkena bisa
ular hingga aku tidak memperhatikan ucapanmu tadi.
Maka aku. ..."
Ho Jian tak
bisa menghabiskan kata-katanya. Berat rasanya bagi dia untuk minta
maaf padahal dia tak melakukan kesalahan apapun pada Nona Un
tersebut.
Ban Biauw
Cin-jin In Hoan yang licik dan cerdik itu berniat meminjam tangan
untuk membunuh Ho Jian. Dia berharap Un Jie Giok marah dan segera
turun tangan, maka itu dia akan membuka mulut. Tapi tak sempat
karena Un Jie Giok sudah mendahuluinya.
"Aku tanya
kau, ke mana perginya makhluk aneh bernama Cian-lian Seng-cu (katak
yang berusia ribuan tahun) itu?" kata Un Jie Giok.
Mendengar keterangan itu Ho Jian jadi terkejut berbareng juga kagum
Ia tak mengira Un Jie Giok sudah--memburu
binatang itu. bahkan dia sendiri
tahu nama binatang itu.
"Binatang
itu berhasil kulukai," kata Ho Jian scara merendah dan terpaksa.
"Malah dua kali!"
"Benarkah
begitu?" menegaskan Un Jie Giok.
Ho Jian
mencoba menenangkan hatiiua. Lalu ia mengisahkan pengalamannya
ketika bertarung dengan kodok raksasa yang sudah berumur seribu
tahun itu.
"Jadi kodok
itu masih berada di lembah sana?" kata Un Jie Giok.
Ho Jian mengangguk mengiyakan.
Dengan tak
bicara lagi Un Jie Giok melompat ke dalam jurang. Ho Jian kaget, dia
menduga di tubuh kodok raksasa itu pasti terdapat benda mustika. Un
Ji Giok dan In Hoan rupanya menginginkan benda mustika itu.
Sesudah Un
Jie Giok pergi. In Hoan mengawasi ke arah Ho Jian. Sesudah tertawa
dingin dia berbalik dan pergi meninggalkan musuhnya. Rupanya dia
kabur untuk menyusul Un Jie Giok karena ia takut keduluan
mendapatkan mustika itu.
Buru-buru
Ho Jian mengerahkan sisa kekuatannya. Dia memaksakan diri untuk
berlari ke tempat tadi dia meninggalkan isteri dan anaknya. Karena
dia sendiri sudah tak punya harapan bisa hidup lebih lama lagi. Dia
akan membawa isteri dan anaknya ke tempat yang aman.
Begitu
sampai di tempat itu dia kaget, karena isteri dan anaknya tak ada di
situ. Ditambah lagi dadanya terasa sesak seakan mau muntah. Tapi dia
paksakan untuk mencari isteri dan anaknya.
Tiba-tiba
Ho Jian mendengar ada orang bicara. Buru-buru Ho Jian melompat ke
arah suara itu. Di situ dia lihat ada tiga orang bocah sedang bicara
di balik sebuah batu besar.
Begitu Ho Jian
sampai ketiga bocah itu kaget dan menghentikan bicaranya. Mata
mereka mengawasi dengan mendelong keheranan. Ho Jian kaget tak jauh
dari mereka dia lihat isteri dan anaknya sedang tergeletak tidak
berdaya. Ho Jian sadar isteri dan anaknya itu telah ditotok. Ketika
Ho Jian menolong akan membebaskan mereka, dia menjerit kaget karena
seolah tulang-tulangnya lepas dari sambungannya. Tubuhnya jadi lemas
bukan main. Dari mulut Ho Jian menyembur darah segar.
It Nio
kaget melihat suaminya datang dan tiba-tiba muntah darah, tapi dia
juga girang karena dengan tibanya sang suami maka jiwanya tak akan
terancam bahaya lagi. Karena tubuhnya kaku ditotok oleh In Hoan,
sang isteri hanya bisa mengawasi tak berdaya.
Ho Jian
sadar dia sedang menghadapi bahayn maut. maka yang ada di otaknya
saal itu adalah buru-buru membebaskan totokan pada isteri dan
anaknya. Dengan sisa tenaganya dia akan membebaskan jalan darah
khi-hav Sambil mengutuk musuhnya dia bergerak ke arah isterinya.
tapi mendadak ada orang yang menahan tubuhnya....
Tenaga
orang itu keras sekali. Ketika Ho Jian menoleh dia mengenali suara
In Hoan dan Un Jie Giok. Rupanya sesudah mereka tak berhasil mencari
makhluk aneh itu mereka kembali ke situ. Kebetulan Ho Jian baru
membebaskan isterinya dari totokan In Hoan.
"Ke mana
larinya binatang aneh itu?" tegur In Hoan dan Un Jie Giok hampir
bersamaan.
Tapi
mendadak It Nio bangun sambil mendamprat ke arah In Hoan.
"Hai
bangsat yang harus mampus!" kata It Nio. "Kau tak berbeda dengan
babi atau anjing....Kau....kau..
Sebagai
perempuan baik-baik It Nio tidak bisa terus mengeluarkan kata-kata
tak senonoh di depan umum seperti itu.
Un Jie Giok
mengawasi ke arah In Hoan \ang sedang menarik tubuh Ho Jian.
"Lepaskan
tanganmu!" bentak Un Jie Giok pada Ban Biauw Cin-jin In Hoan.
Terpaksa ia
lepaskan cekalan pada tubuh Ho Jian dan In Hoan pun tertawa dingin..
Ketiga
bocah berbaju kuning segera menghampiri In Hoan. Sebaliknya Un Jie
Giok mengawasi dengan tajam ke arah Ho Jian.
"Hai aku
tanya kau, ke mana perginya makhluk aneh itu?" bentak Un Ji Giok.
Ho Jian
diam saja. Tubuhnya lemas dan gemetar.
Bukan main
marahnya Ang-ie Siu Jin ini. Wajahnya berubah merah padam, kelihatan
wajahnya bertambah buruk. Dia gerakan tangannya ke arah Ho Jian.
"Nah
rasakan Kiu lm Ciat Kut Ciu ini!" kata Un Jie Giok. "Jika kau tetap
membungkam, jangan salahkan aku kejam!"
Ho Jian
tetap diam hingga Un Jie Giok keheranan. Ketika dia hampiri jago
Tiong-goan itu, ternyata Ho Jian telah meninggal karena ia telah
kehabisan tenaga.
Hui
Hong-hong It Nio menjerit ketika melihat wanita jelek itu
menghampiri suaminya.
"Hai
perempuan jelek mau kau apakan suamiku0" bentaknya.
It Nio
belum mengetahui kalau suaminya sudah meninggal. Ketika itu It Nio
tanpa sengaja telah menyinggung perasaan Un Jie Giok yang dikatai
jelek. Saat itu Ang-ie Sian-cu memang sedang mendongkol. Lalu dia
lemparkan Ho Jian dan dengan tangan yang lain dia serang It Nio.
"Nona Un
tahan! Jangan bunuh dia!" teriak In Hoan saking kaget.
Dia akan
mencoba menyelamatkan wanita cantik isteri Ho Jian yang dicintainya
itu. Tapi sudah terlambat.
Tubuh
It Nio langsung terpental jauh terkena hajaran tangan Un Jie Giok
yang kejam itu In Hoan kaget melihat tubuh It Nio terbanting ke
tanah dengan keras dan putus jiwanya. Buru-buru In Hoan menghampiri
tubuh It Nio yang sudah tidak bernyawa itu. Ternyata It Nio teluh
menyusul arwah suaminva ke alam baka....
Dengan
sangat menyesal In Hoan bangun sambil mengawasi ke arah Un Jie Giok,
sebaliknya Jie Giok pun sedang mengawasi ke arahnya dengan tajam.
Hingga kedua pasang main iiu saling mengawasi dengan tajam
"Bagaimana bocah?" tanya Un Jie
Giok pada si imam.
Sementara
To Tiang Keng. putera To Ho Jian yang tak berdaya karena ditotok
jalan darahnya, hanya bisa mengawasi kejadian yang mengharukan
mengenai kedua orang tuanya itu. Tapi dia tidak berdaya.
Tatkala itu
matahari sudah tinggi, angin bertiup kencang sekali...
"It Nio
telah mati, apa gunanya aku bentrok dengan Un Jie Giok?" pikir Bian
Biauw Cin-jin In Hoan.
Baru
berpikir begitu mendadak dia mendengar suara tawa, dan disusul oleh
suara nyaring gelang yang terikat di pinggang Ang-ie Sian-cu.
Suara itu
membuat ketiga bocah itu buru-buru menutupi telinga mereka.
Menyusul
suara tawa Un Jie Giok tiba-tiba muncul seorang berpakaian dari
bahan rumput dan agak longgar, dia mengenakan sepatu rumput juga.
Tubuhorang itu tinggi tapi punggungnya bungkuk seperti unta.
Wajahnya berewok. Sepasang mata orang itu tajam luar biasa. Pada
tangan orang itu tergenggam seekor ular yang sudah mati. ular aneh
yang bertarung dengan Seng-cu si kodok aneh. Ular itu berlumuran
darah.
Belum habis
suara tawa orang itu dia sudah ada di depan In Hoan dan Un Jir Giok,
hingga kedua orang itu kaget. Wajah mereka berubah pucat-pasi.
Buru-buru
Un Jie Giok mundur selangkah sambil menarik bocah perempuan cantik
yang ikut bersamanya.
Dalam
kagetnya Ban Biauw Cin-jin In Hoan tertegun sejenak; tapi buru-buru
dia membungkuk untuk memberi hormat. Sesudah itu In Hoan menghampiri
ketiga bocah yang ikut bersamanya, lalu mereka pergi.
Orang tua
itu berdiri tegap. Angin meniup baju rumputnya. Dia awasi tubuh It
Nio dan Ho Jian yang sudah tak bernyawa itu. Sepasang alisnya
dikerutkan. Sesudah menggelengkan kepala, orang tua itu lalu
mengawasi ke arah To Tiang Keng yang rebah tak berdaya karena
ditotok. Orang tua itu lalu menghampirinya, kemudian dua kali
mengusap tubuh Tiang Keng. Sesudah batuk-batuk Tiang Keng bisa
merangkak bangun. Tiba-tiba Tiang Keng menangis, ini adalah tangis
pertamanya selama ini. Dia berduka karena orang tuanya binasa di
depan matanya sendiri.
Dengan
tubuh sempoyongan Tiang Keng menghampiri kedua orang tuanya itu.
Lalu ia berlutut untuk memberi hormat, penghormatan yang terakhir.
'Terima
kasih Loo-peh, terima kasih." kata Tiang Keng pada si orang bungkuk.
Mayat
ibunya lalu dipindahkan dan didekatkan ke dekat mayat ayahnya.
Sesudah itu Tiang Keng menangis lagi dengan diawasi oleh orang tua
itu yang juga ikut berduka.
Orang tua
itu menghampiri Tiang Keng untuk mengusap kepalanya.
"Sudahlah,
Nak.Kau jangan menangis terus. Orang yang sudah mati tak akan bisa
hidup kembali!" kata si orang tua. "Percuma saja kau menangis, malah
kau harus bangga pada ayah dan ibumu yang gagah itu. Kau harus
meniru hidup mereka dan menjadi laki-laki sejati!"
Sambil
menangis Tiang Keng mengangguk perlahan. Dia sangat berduka.
'Takdir, takdir.. " kata si orang tua. "Jika aku tak buru-buru
menutup lubang goa, tak akan terjadi peristiwa semacam ini Sudah 30
tahun lamanya aku tidak mencelakakan orang, hari ini hampir-hampir
aku tak sanggup mengendalikan diriku...."
Suaranya
perlahan tapi jelas. Mendadak dia ingat sesuatu.
"Nak.
jangan menangis!" kata si orang tua. "Kau busungkan dadamu, nanti
akan kubantu kau menguburkan kedua mayat orang tuamu..."
Dia sangsi
sejenak, akhirnya dia melanjutkan kata-katanya.
"Sesudah
mayat orang tuamu aku kuburkan, kau boleh ikut denganku. Aku akan
mengajarimu berbagai ilmu agar di kemudian hari kau bisa membalaskan
sakit hati orang tuamu...."
Sambil berlutut Tiang Keng
berkata. "Terima kasih, Loo-peh." kata Tiang Keng.
Sang paman
tua pun menangguk senang.
"Tak kusangka aku Su-khong
Giauw yang sudah tua ini bisa punya seorang
murid lagi
" kata si orang tua.
**
Di bagian
utara kota Bu-ouu. sebuah kota yang terletak di daerah Kang-lam. di
pinggir sebuah jalan besar yang menghadap ke arah selatan, ada
sebuah rumah berukuran besar. Pagarnya tinggi dan pintu pagarnya
yang dicat hitam juga besar. Pada pintu itu masih terlihat tulisan
ucapan Selamat lahun Baru Imlek (Selamat Musim Semi), tertulis pada
sehelai kertas merah yang menempel di pintu besar itu.
Di depan
pintu tampak dua buah patung batu singa yang besar yang tampak
menyeramkan Karena hanya orang besar yang pintunya dipasangi Cio-say
(patung batu singa-singaan).
Ketika itu
hampir magrib hingga sinar matahari yang menyinari kedua cio-say itu
bayangannya mengarah ke arah timur. Kedua pintu pekarangan yang
besar itu jibi terpentang lebar, karena dari situ hilir-mudik
kereta-kereta tamu dan tamu-tamu keluar masuk. Orang-orang yang
datang pada umumnya bertubuh kekar atau wajahnya keren, di antaranya
ada yang berpakaian seperti saudagar.
Gedung itu
milik To-pi Sin-kiam In Kiam (Si Pedang Sakti Berlengan Banyak). Dia
seorang guru silat ternama di daerah Kang-lam, hari itu dia sedang
merayakan hari ulang tahunnya yang ke-70; itu sebabnya orang banyak
berdatangan untuk mengucapkan selamat panjang umur kepadanya. Selain
para pembesar, para hartawan juga berdatangan, juga para jago silat
dari berbagai penjuru negeri ikut hadir.
Selain In
Kiam sangat terkenal, anak sulungnya yang bernama In Tiong Ten pun
cukup dikenal orang. Dia berhasil hingga namanya diperhitungkan
orang. Dia mengepalai 18 kota di Kang-lam.
Mereka datang untuk menghormati
piaue-su muda itu. Para tamu disambut saat baru datang dan saat di
depan pintu pagar rumah besar itu
Gedung itu
terdiri dari lima tingkat, ruang yang dipakai tempat pesta ialah
lantai pertama yang luas, di tempat itu terdapat banyak meja yang
penuh dengan berbagai hidangan lezat. Ruang pesta terang benderang
karena di tempat itu sudah dinyalakan beratus-ratus buah lilin besar
dan terdapat dua batang lilin yang sangat besar. Di tempat itu
diletakkan buah siu-toh (persik) terbuat dari tepung berukuran
besar. Buah itu dimaksudkan sebagai lambang panjang umur.
Tuan
rumah In Kiam duduk di tengah ruangan, rambutnya sudah kelihaian
terdapat y ang sudah putih, tapi dia masih tampak sehat dan segar
Hingga dia tak mirip dengan mang yang sudah berumur 70 tahun. Tampak
In kiam girang sekali dan selalu menebal senyumnya. Dia melayani
tamu-tamunya dengan sangat ramah.
Ketika itu
In Tiong Teng putera sulung In Kiam duduk mendampingi ayahnya. Tiong
Teng ketika itu mengenakan baju ungu. Dia memelihara kumis pendek,
jika tak kenal orang akan mengura ia seorang sastrawan saja. Tiong
Teng selain sebagai pendamping ia juga orang yang memperkenalkan
tamu-tamunya pada sang ayah yang tak semua dikenai oleh ayahnya
Tak
hentinya tamu-tamu itu berdatangan sampai akhirnya muncul seorang
pemuda yang mengenakan pakaian kuning, tamu ini luar biasa, la
bertubuh jangkung dan wajahnya keren sekali. Di depan tuan rumah dia
hanya memberi salam tanpa membungkukkan tubuhnya, ini sangat berbeda
dengan tamu-tamu sang lain yang memberi hormat sambil membungkukkan
badannya.
In Kiam
tidak peduli pada tamu itu. tapi Tiong Teng lain. Dia awasi pemuda
baju kuning yang bermata tajam dan bertubuh jangkung itu. Tamu itu
langsung mencari tempat duduk tanpa memperkenalkan diri lagi.
"Siapakah
dia ini?" pikir liong Teng. "Tampaknya dia mempunyai kepandaian
silat cukup tinggi''"
Sekalipun
heran dan tidak puas. liong Teng terpaksa diam. Dia sibuk harus
menyambut tamu-tamu lainnya Akhirnya liong Teng pun melupakan tamu
aneh itu
Tak
berapa lama pesta sudah dimulai, di ruang itu terdapat _>(> buah
meja besar sedangkan jumlah tamu yang hadir tak kurang dari 300
orang banyaknya. Sekarang In Kiam sedang ditemani oleh tujuh orang
jago tua. Enam dari mereka sudah mengundurkan diri dan Dunia
Persilatan; kecuali yang seorang lagi. Dia baru berumur 40 tahun,
hidungnya bengkok ke bawah, matanya tajam.
Orang itu
duduk diapit oleh In Kiam. tuan rumah dan seorang jago di perairan
sungai Viang-kang. yaitu Heng-kang kiin-so Ciok Ciam Liong (Si
Rantai Emas), lak jauh dari situ tampak seorang jago terkenal. Dia
bernama Bu-ci Sin-eng Koan It Cay atau Si Rajawali Tak Bersayap; dia
menjadi Cong-to-cu (Ketua) perkumpulan "Hek Bie Tan" di daerah
Kang-lam.
Orang heran ketika mengawasi ke
arahnya. Mereka tak percaya pada penglihatan sendiri. Karena mereka
tahu It Cay sangat sombong dan tak menghargai orang lain. In Kiam
tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh tamu-tamunya itu. In Kiam
menyilakan tamu-tamunya makan dan minum. Dia angkat cawannya dan ia
mengajak tamu-tamunya bersulang. Kemudian mereka makan
sepuas-puasnya.
"Koan To-cu
kau bersedia meringankan kakimu datang dari tempat yang jauh," kata
In Kiam pada It Cay. "Selayaknya kau minum lebih banyak."
Mata It Cay bersinar terang.
"Terima
kasih. In Loo-eng-hiong!" kata It Cay sambil mengucapkan selamat
ulang tahun.
In Kiam tiba-tiba menghela
napas.
"Tamu-tamuku sangat banyak, tapi sayang masih kurang satu yang aku
harap-harap...." kata In Kiam.
Sikap In
Kiam ini membuat heran para tamunya.
"Saudara In
aku tahu apa yang kau keluhkan itu...." kata seorang yang
bertubuh pendek.
Ketika dia menoleh dia tertawa
"Baik Rubah Tua. aku ingin tahu apa
kau mampu menebaknya atau
tidak?"kata In Kiam. "Jika kau gagal kau buang
saja gelarmu sebagai Leng-ho
Tie Sie (si Rubah Sakti)."
Tie Sie tertawa.
"Kau memikirkan
To Ho Jian. bukan?" kata Tie Sie.
"Dasar
Rubah Tua. kau menebaknya tepat sekali!" kata In Kiam. "Sudah 10
tahun dia pergi, sampai hari ini dia belum kembali juga!"
Kelihatan In Kiam bingung.
"Aku tak
tahu ke mana perginya dia? Khabarnya pun tak kita peroleh...." kata
In Kiam.
Melihat
tuan rumah berduka memikirkan saudara angkatnya atau kakak angkatnya
itu. Ciok Ciam Liong malah tertawa.
"In
Toa-ko." kata Ciam Liong. "'Jangan berduka ini hari ulang tahunmu!
In Toa-ko, mari minum!"
**
BAB 3 : PU-BU ANTARA KOAN IT
CAY DAN IN TIONG TENG
In Kiam menyambut ajakan untuk
minum arak itu.
Dia ingin melegakan dan menyenangkan
hatinya yang sedang kusut tersebut.
Tiba-tiba
Koan It Cay memperdengarkan suara tawanya yang dingin, tanpa
diminta. Dia berkata perlahan tetapi nadanya angkuh.
"Memang To Ho Jian gagah sekali, tetapi jika dikatakan tak bisa
dikalahkan, itu tidak mungkin! Tapi heran sekali ke mana larinya dia
sampai sepuluh tahun lamanya tanpa ketahuan bayangannya lagi?
Mustahil dia bisa terbang naik ke langit atau masuk ke dalam tanah?"
kata Koan It Cay.
Suaranya
terdengar tidak sedap. Sepasang alis tuan rumah bangun, ia lantas
bangkit dari tempat duduknya
"Sayang, sayang!" kata In Kiam dengan keras.
Dia
menengadah sambil tertawa kemudian dia berkata lagi. "Sayang Hek Bie
Tan baru bangkit selama dua tahun ini! Kalau tidak. Koan To-cu,
mungkin sebutan To Ho Jian itu menjadi milik To-cu (ketua)!"
Koan It Cay
tidak gusar oleh ucapan itu. tapi dia berkata dengan dingin, "Itu
mungkin saja!"
Dilawan
secara tawar dan dingin begitu. To Pi Sin-Kiam jadi mendongkol juga.
Tadi dia sudah duduk, tetapi dia menepuk meja sambil bangkit kembali
dari kursinya. Lantas dengan suara dalam dia berkata.
"Koan
To-cu. hari ini kau datang untuk memberi selamat kepadaku, aku
menghaturkan banyak terima kasih! Sekarang upacara ini sudah
selesai, aku si Tua tak bisa menahanmu lama-lama di sini. karena
itu. silakan, silakanlah!"
Dia terus
menoleh kepada putera-nya. untuk memerintahkan pada sang pulera
mengantarkan tamunya itu pergi. Dengan demikian dia telah mengusir
tamunya itu secara halus.
"Tiong
Teng. kau wakili aku mengantarkan tamuku itu pulang!" kata In Kiam.
Bukan main
gusarnya tuan rumah hingga dia mengusir tamunya itu dengan kasar
sekali
It Cay
seorang yang luar biasa. Mula-mula dia tidak menerima perlakuan tuan
rumah yang dianggapnya kasar itu. Entah bagaimana cara dia mendapat
semacam kepandaian, karena itu dia telah mendirikan perkumpulan Hek
Bie Tan (Pemujaan Ketan Hitam).
Dengan
berdirinya perkumpulan itu dia melakukan sesuatu hingga dia berhasil
mengangkat namanya. Sebagai seorang ternama, dia tidak merasa malu
diusir oleh tuan rumah. Dia tidak mau mengerti padahal dia yang
mula-mula mencari gara-gara dan usilan. Dia telah menghina tuan
rumah. Wajahnya jadi suram. Tapi pada wajahnya tetap kelihatan
tersenyum sinis. Sambil menuding ke arah tuan rumah, dia membentak,
"Orang she In. kau pikir baik-baik! Kau berani kurang ajar begini
kepadaku, rupanya kau si Tua Bangka sudah bosan hidup ya! Sebentar
lagi, di hadapan semua orang gagah, aku hendak memberi pelajaran
kepadamu!"
Koan It Cay
berdiri sambil menggulung tangan bajunya.
In
Kiam gusar bukan main dia dorong meja yang ada di hadapannya, sampai
meja itu terbalik. Piring dan mangkuk yang ada di atas meja itu
berjatuhan hingga makanannya pun berantakan di lantai. Untung orang
yang duduk di situ bisa segera melompat mundur hingga tak terkena
tumpahan sayur panas.
Semua orang
terkejut, mereka tampak mulai tak puas.
Dengan muka
pucat saking gusar, liong Teng menegur tamunya itu.
"Sahabat
she Koan, apa yang kau lakukan? Rupanya kau hendak membuat malu
keluarga In!"
"Lalu kau
mau apa?" tanya Koan It Cay sambil tertawa mengejek. "Lain orang
jerih terhadap keluarga In, tapi aku tidak sama sekali! Bocah she
In, jika kau tetap mau mengurus piauvv-kiok (perusahaan ekspedisi)
kau boleh catat namaku si orang she Koan!"
Leng Ho maju ke tengah
gelanggang, kedua tangannya dilambai-lambaikan.
"Koan
To-cu. aku minta kau suka memandang muka Tie Sie!" kata Leng Ho.
"Dan kau. Kakak ingatlah hari ini hari apa?"
Kemudian
dia berkata pada orang banyak.
"'Saudara-saudara, silakan semua mengambil tempat duduk kalian
masing-masing! Mari kita ucapkan selamat kepada tuan rumah!"
Ajakan Tie
Sie tidak bisa membujuk para tamu, sebab orang telah jadi kacau.
To Pie Sin
Kiam masih mendongkol, dia berkata dengan suara keras.
"Kalian
boleh main gila terhadapku, tapi tidak terhadap saudara Ho Jian!
Siapa yang berani menghinanya, aku harus ikut campur, aku ingin
menguji dia!"
Tiong Teng
membujuk ayahnya, di lain pihak, dia pun menegur Koan It Cay.
Ketua
"Hek Bi Tan" tidak takut, dia tetap membawa sikap angkuhnya. Dia
kelihatan garang sekali. Melihat demikian. Jin Gie Kiam-kek In Tiong
Teng habis sabar. Maka ia menuding dan berkata. ""Orang she Koan,
kau benar-benar mau mengacau di sinf! Mari. mari. hadapi aku In
Tiong Teng. aku ingin belajar kenal denganmu!"
Sesudah itu dia singkap ujung
bajunya. In Tiong menjejak lantai dan melompat. Gerakannya sangat
gesil hingga orang-orang yang menyaksikan memuji ilmu meringankan
tubuhnya itu Koan It Cay menyusul keluar. Kali ini dia melompat
membuat para hadirin heran. Dia bisa bergerak dengan lebih gesit
lagi dibanding Tiong Teng. Melihat itu In Kiam buru-buru ikut
keluar.
Karena itu,
semua tamu meninggalkan kursinya masing-masing, kecuali seorang yang
duduk di pojok meja Orang itu seperti tidak meng-hiraukan apa yang
terjadi saat itu, orang itu terus sibuk dengan makanan yang sedang
dinikmatinya. Dia seperti tak melihat dan tak mendengar apa-apa. Dia
adalah tamu yang masih muda berbaju kuning. Wajahnya tampan,
sikapnya angkuh. Kemudian ia baru bangun, matanya masih mengawasi ke
piring daging ayam. Dia menghela napas, terus dia menyambar sepotong
ayam, untuk dirobek dan dimasukkan ke mulutnya. Dia menikmati daging
ayam itu dengan lahapnya. Sesudah itu, dia bertindak keluar,
menyelak di antara tamu-tamu lainnya.
Ketika itu
pekarangan depan menjadi sangat sunyi. Orang yang ratusan jumlahnya
itu semuanya bungkam. Karena tak lama pertempuran sudah dimulai,
pertempuran di antara jago Ciat-kang Timur dengan tuan rumah yang
masih muda itu.
Dengan
langkah perlahan, si pemuda berbaju kuning berjalan keluar. Kedua
jago yang bertempur itu tidak membuka baju mereka yang panjang.
Ujung bajunya mereka selipkan saja di pinggang mereka. Sepatu mereka
pun tak sempat ditukar lagi. Toh gerak-gerik mereka tidak terganggu
karenanya.
Tiong Teng
tampak sangat gesit, Koan ItCay malah kelihatan lebih gesit. Mata
orang banyak hampir kabur melihat gerak-gerik
kedua orang itu.
Ciok Ciam
Liong mendampingi tuan rumah, tetapi tidak ada seorang pun yang
berani bertindak apa-apa. Mereka cuma berharap Tiong Teng bisa
memenangkan pertarungan itu.
Ketika itu
hari sudah malam, tak heran di atas tembok dan di sekitarnya telah
ditambah dengan puluhan obor. ini membuat seluruh pekarangan menjadi
terang sekali. Karena semua obor itu terbuat dari cabang pohon
cemara, sehingga saat obor menyala senantiasa terdengar suara
pereteknya yang berisik.
Tanpa
terasa, kedua pihak sudah bertempur seratus jurus lebih. Ini tidak
mengherankan, semua orang sudah menduga tidak mungkin pertempuran
akan berakhir dalam tempo singkat.
Lama-lama,
Koan It Cay jadi tidak sabaran. Ia segera mendesak dengan
serangannya yang hebat.
Semua mata
ditujukan terutama kepada Tiong Teng yang selama ini
sikapnya sangat tertutup. Orang
ingin tahu apa yang akan terjadi dan
bagaimana kepandaian putera In
Kiam ini
In Kiam
tampak tenang-tenang saja. padahal sebenarnya hatinya sangat tegang,
In Kiam sudah siap sedia untuk menolong puteranya andaikata
puteranya itu dikalahkan oleh Koan It Cay.
It Cay
menyerang dengan kedua tangannya secara berbareng. Itu adalah
pukulan maut.
Tiong Teng
tidak menangkis serangan itu. Ketika serangan It Cay tiba. mendadak
tubuh Tiong Teng berputar, hingga dalam tempo singkat, dia sudah
berada di belakang lawannya. Kedua tangan It Cay ternyata meluncur
ke tempat kosong, angin serangannya membuat sebuah obor di atas
tembok hampir padam.
Gesit
sekali, jago Ciat-kang itu pun segera bergerak menghindari serangan
dari Tiong Teng. Dengan demikian dia bebas dari serangan balasan
Tiong Teng. Dia menggunakan jurus "Thian Onggi-kah" atau tipu silat
"Raja Langit melepaskan jubah perang".
In Kiam
menyaksikan adegan itu dengan hati mencekam. Sekarang dia sadar
mengapa ketua "Hek B i Tan" begitu cepat bisa mengangkat namanya
hingga jadi termasyur. Kiranya dia benar-benar sangat lihay. Nyata
sudah, sekalipun anaknya telah mewarisi kepandaiannya, dia masih
kalah unggul oleh Koan It Cay. Dia jadi masgul sendiri. Terutama ia
sangat menyesal, di hari baiknya itu, ada orang yang datang mengacau
pesta ulang tahun di rumahnya. .
Pertempuran
berlanjut terus. Tiong Teng berada di bawah angin dan terdesak oleh
lawannya. Tapi dia masih dapat bertahan.
Dalam
keadaan yang sangat gawat itu, tiba-tiba orang mendengar suara
tertawa dingin. Suara itu datang dari ambang pintu. Suara itu sangat
tidak sedap di telinga. Menyusul suara tawa itu, terdengar pula
kata-kata orang yang tertawa tadi, dia bicara dengan ayal-ayalan.
"Pertempuran macam begini mana ada artinya? Aku yang bodoh
diherankan oleh ilmu silat kalian berdua! Jelas banyak celah yang
bisa diserang oleh lawan! Mengapa kalian tidak bisa saling melihat
celah dan kelemahan kalian masing-masing?"
Mendengar
ucapan orang itu semua jadi keheranan Semua berpaling. Mereka
melihat orang yang tertawa mengejek itu. Ternyata orang itu adalah
si baju kuning. Lagaknya temberang. Dia berdiri di anak tangga di
muka pintu, kedua tangannya digendong ke belakang. Dia bicara dengan
roman acuh tak acuh, karena dia bertubuh tinggi, jadi dia kelihatan
jelas di antara orang banyak. Pinggangnya ceking, di mukanya masih
terlihat sisa senyum ejekannya!
Orang jadi
heran. Di mata mereka, dia seorang pemuda yang tidak dikenal. Dia
sebaliknya tenang-tenang saja. Dia juga tidak menghiraukan semua
mata diarahkan kepadanya.
Di dalam
kesunyian, sekalipun suara orang ini perlahan, kata-katanya itu
terdengar jelas oleh dua orang yang sedang bertempur itu. Mereka pun
jadi heran Saking tertarik hatinya, mendadak keduanya sama-sama
melompat mundur, hingga pertempuran mereka itu tertunda seketika.
Para
penonton, karena herannya, banyak yang menduga-duga mungkin si baju
kuning seorang yang otaknya miring, sebab dia berani mencela dua
orang jago yang bertarung mati-matian. Sedang orang lain tidak
melihat cacat dari ilmu silat kedua jago yang sedang bertarung itu.
Cuma In Kiam berpikir lain. dia
sependapat dengan pandangan anak muda itu. Dia melihat sendiri
gerakan puteranya. Mungkin karena anaknya itu letih, gerakkannya
jadi kacau. Karena itu. anaknya sedikit lengah, untung lawannya tak
melihatnya.
Gelanggang
jadi bertambah sunyi. Semua hadirin kaget.
Koan It Cay
dan Tiong Teng berdiri diam. Sebagai orang-orang gagah, mereka tidak
bisa memaki pada tamu yang jahil dan telah mencela ilmu silat
mereka.
Si baju
kuning tertawa terbahak-bahak.
"Bagus,
Tuan, bagus! Kalian pandai merendahkan diri!" kata si baju kuning.
"Cuma bagaimana aku bisa memberi petunjuk padamu dalam tempo begini
singkat? Celah itu banyak sekali!"
Sesudah itu
si baju kuning berpaling ke arah Tiong Teng sambil tertawa dan dia
menambahkan. "Kepandaianmu sama dengan kepandaiannya, itu yang
dikatakan setengah kati ialah delapan tail, maka itu jika kau tidak
belajar lebih jauh dengan sungguh-sungguh, ada kemungkinan di
kemudian hari, jika kau bertemu dengan orang lihay, kau bakal tak
sanggup bertahan hanya untuk tiga jurus saja! Bukankah itu akan
sangat memalukan?"
Muka Koan
It Cay dan Tiong Teng jadi pucat, keduanya merasa sangat malu.
Tiong Teng
memandang dengan tajam, dia tertawa dingin, akan tetapi ketika dia
mau membuka mulut, tiba-tiba dia mendengar ayahnya berdehem dan
batuk-batuk. Dia mengerti itu cegahan untuk dia agar tak melakukan
apapun. Terpaksa Tiong Teng membatalkan niatnya akan melakukan
sesuatu terhadap tamu yang lancang ini.
Sebaliknya
Koan It Cay si ketua "Hek Bi Tan" yang takabur itu tak bisa
menguasai diri lagi.
"Sahabat!"
kata Koan It Cay sambil tertawa dingin. "Dengan kata-katamu ini
rupanya cuma kaulah orang pandai itu! Jika benar, aku minta kau suka
mempertunjukan kepandaian itu di hadapan orang banyak ini! Aku si
orang she Koan yang tidak berguna, aku ingin benar-benar yakin bahwa
aku tidak sanggup bertahan hanya dalam tiga jurus olehmu!"
Sesudah itu
jago Ciat-kang ini sudah bersiap untuk bertarung lagi. Orang banyak
mengawasi kedua orang itu. Mereka tak puas terhadap si anak muda
berbaju kuning, tapi juga berbareng mereka khawatir untuknya. Mereka
semua mengetahui kelihayan si "Rajawali Tak Bersayap", yang kejam
itu
Sedikitpun
anak muda berbaju kuning itu tidak jerih pada lawannya, malah
kembali dia tertawa terbahak-bahak.
"Aku bukan
orang gagah!" kata si baju kuning. "Akan tetapi, untuk melayanimu.
rasanya cukup dengan tiga sampai lima jurus saja! Jika kau tidak
percaya, mari kita coba! Hanya, menurutku, lebih baik sudahi saja
masalah ini! Bukankah Tuan berada di hadapan begini banyak orang?
Buat apa memaksakan diri mencari malu sendiri0"
Sambil
berkata si baju kuning tertawa!
Orang-orang
benar-benar keheranan. Pemuda berbaju kuning ini sangat jumawa.
In Kiam, Ciok Ciam Liong dan
Tie Sie juga heran, mereka pikir anak muda berbaju kuning itu bukan
orang sembarang. Jika tidak, mana mungkin dia begitu sombong.
In Kiam
senang Tiong Teng mau mendengar kata-katanya. Karena Tiong Teng tak
bereaksi, In Kiam memperkirakan Koan It Cay yang akan menggantikan
menjadi lawan si baju kuning. Terkaannya ternyata memang tepat. Maka
In Kiam jadi diam terus, untuk menyaksikan perkembangan lebih jauh.
"Sahabat,
kau baik sekali!" kata jago dari Ciat-kang itu. Koan It Cay mencoba
menyabarkan diri sekalipun hatinya sangat panas. "Baiklah, aku suka
belajar kenal dengan kepandaiamu! Mari, sahabat, aku tak
sungkan-sungkan lagi!" kata Koan It Cay.
Anak muda
berbaju kuning itu tertawa terbahak. "Jika Tuan memaksa, baiklah!"
ia menerima tantangan itu sambil tertawa.
Mendadak
dia berhenti tertawa, sekarang terlihat sinar matanya yang bengis.
"Harap Tuan
tidak menyalahkan aku! . Ayo, siapa yang mau menjadi saksi? Jika
dalam tiga jurus aku tidak bisa merobohkannya, aku akan pergi dari
sini dengan cara merangkak sampai di luar! Kalau . . ."
Dia awasi Koan It Cay dengan
sinar matanya dan dia memandang rendah pada sang lawan.
"Bagaimana
kalau Tuan ini yang kalah?" kata Tiong Teng.
Meluap
amarah Koan It Cay mendengar kata-kata Tiong Teng hingga dia
membentak.
"Terserah kau!" kata It Cay.
Dia
melompat maju seraya menantang: "Silakan mulai, sahabat!"
Sekali
bergerak Koan It Cay sudah berada di sisi kiri anak muda berbaju
kuning itu, tangan kanannya tiba-tiba meluncur ke bahu kiri si anak
muda, sedang kedua jari tangan kanannya menotok ke jalan darah
hiat-hay!
Saat itu
Koan It Cay langsung menyerang. Sekalipun dia sedang marah, It Cay
bersikap sungguh-sungguh dan waspada, perhatiannya dipusatkan.
Tenaganya dikerahkan. Dia turun tangan dengan sangat cepat.
Si baju
kuning tidak menangkis atau mengelak, anak muda itu cuma berkelit
dan menghilang dalam sekejap. Bu Ki Sin Eng terkejut, karena
tiba-tiba dia mendengar suara nyaring di belakang dia.
"Ini jurus
pertama!" kata si baju kuning.
Dalam
kagetnya. Koan It Cay membuang diri, tanpa memutar tubuh lagi. dia
jungkir balik berakrobat ke depan, mengulingkan tubuhnya dan
melompat bangun. Itulah tipu silat "Lay louw ta kun" atau "Keledai
malas bergulingan".
Tipu silat
itu tidak hebat dan biasanya digunakan oleh orang bukan ahli silat,
dan tak pernah dipakai oleh seorang jago silat pada umumnya.
Terdengar
suara tawa para penonton yang menyaksikan kejadian itu.
Bukan saja
orang menganggap tipu silat itu tidak pantas digunakan oleh seorang
jago silat, kali ini malah digunakan pada jurus yang pertama
serangan si baju kuning! Sangat memalukan sekali.
Ketika Koan
It Cay memandang ke arah lawannya, ternyata si baju kuning sedang
tersenyum ke arahnya.
"Masih ada
dua jurus lagi!" kata si baju kuning.
Koan It Cay
mendongkol dan malu bukan main, tetapi dalam gusarnya, hatinya toh
jadi sedikit ciut. Hanya dalam segebrakan saja dia sudah mengerti
bahwa musuhnya benar-benar lihay.
To Pie
Sin-Kiam juga berubah paras mukanya, la mengawasi si anak muda
berbaju kuning, mendadak dia ingat pada seseorang. Dia yakin dan dia
tidak akan salah lihat.
Anak muda
berbaju kuning mengangkat kepalanya, mengawasi jago dari Ciat-kang
itu.
"Masih ada
dua jurus!" dia mengulang kata-katanya, suaranya terang dan jelas.
Mendengar
ucapan itu, hati Koan It Cay tercekat. Kata-kata itu seperti anak
panah yang menikam ke ulu hatinya. Sekarang dia telah banyak
pengalaman. Tiba-tiba matanya yang tajam-bengis berubah menjadi
layu, terus dia menghela napas.
"Sayang aku
si orang she Koan. punya mata tetapi tidak ada bijinya, hingga tidak
bisa mengenali kau ini sebenarnya orang lihay, sahabatku." kata Koan
It Cay perlahan. "Sahabat, aku menyerah kalah, dua jurus selanjutnya
tak usah dilanjutkan lagi!"
Semua orang
jadi keheranan, mereka saling berbisik. Namun, hanya sebentar,
mereka bungkam kembali.
Alis In
Kiam rapat satu pada lain, dia berbisik pada Ciok Ciam Liong. Atas
bisikan itu, Heng Kang Kim So. Ciok Ciam Liong mengawasi ke arah
anak muda berbaju kuning itu.
"Oh!" kata
si baju kuning tak lebih saat menanggapi ucapan Koan It Cay.
Atas
pengakuan menyerah dari "Bu Ki Sin Eng" itu si baju kuning tidak
berubah sikap, dan tidak jadi galak atau menyesal.
"Sahabatku!" kata Koan It Cay kemudian, "Tolong beritahukan nama
besarmu yang mulia? Supaya semua orang gagah di sini mengetahui,
karena kini telah muncul satu bintang baru!"
Sikap jago
Ciat-kang ini sungguh luar biasa, dalam tempo yang singkat itu,
sikapnya jadi lain sekali. Dari sangat jumawa dia jadi bersedia
merendahkan diri.
Tentu saja,
semua orang memasang telinga mereka masing-masing. Memang, mereka
juga ingin mengetahui siapa sebenarnya pemuda ini. Sekarang mereka
tak menghiraukan lagi sikap orang yang angkuh atau takabur itu.
Anak muda
berbaju kuning itu mengawasi ke sekitarnya. Mendadak dia tertawa
nyaring.
"Sahabat
she Koan, kau baik sekali, kau tidak kecil hati karena kekalahanmu
ini, kau sangat terbuka!" kata si baju kuning "Sahabat, kau membuat
aku kagum! Aku harap kau suka memaafkan aku."
Koan It Cay
diam, tetapi hatinya lega. Tahulah dia, pemuda itu masih hijau dan
senang dipuji.
Si baju
kuning mengawasi, baru dia berkata lagi.
"Sahabat,
namaku Gim Soan. Aku baru muncul di dunia Kang-ouw. maka aku minta
kau mau melindungiku Tadi kau menyebut tentang bintang baru. itulah
sebutan yang aku tidak berani menerimanya."
Sesudah itu
Gim Soan tertawa, matanya menyapu ke arah orang banyak, seolah dia
ingin mengetahui bagaimana reaksi orang banyak sesudah dia
memperkenalkan diri.
Orang
banyak masih terus mengawasi pemuda asing ini.
Saat si
baju kuning tertawa, dari luar terlihat orang berlari masuk sambil
melompat Sambil lari dia berseru berulang-ulang, "Oh, oh. Aku orang
she Kiauw datang terlambat! Celaka, celaka betul! In Loo-ya-cu.
kedatanganku untuk menghaturkan selamat panjang umur kepadamu!"
Semua orang
heran, semuanya berpaling Mereka lihat orang yang kalanya datang
terlambat ini ternyata seorang bertubuh kecil dan kurus, dia memakai
baju sulam, tangan yang satu memegang sebuah kotak kayu cendana,
tangan yang lain memegang tiga gulung gambar. Dia berlari-lari cepat
sekali.
Melihat
kedatangan orang she kiauw. riuhlah suara tawa para hadirin. Karena
bagi yang telah lama hidup merantau, mereka sudah kenal siapa orang
she Kiauw itu? Lain lagi dengan si baju kuning, dia menghentikan
tawanya, sepasang alisnya berkerut sambil mengawasi ke arah orang
yang baru datang itu.
Orang she
Kiauw menghampiri In Kiam. dia memberi hormat sambil berlutut.
"Keponakanmu Kiauw Cian menghaturkan selamat kepada Loo-ya-cu.
semoga murah rejeki dan panjang umur!"
I n Kiam
tertawa terbahak-bahak. Dia membungkuk untuk membangunkan orang yang
mengaku keponakan itu.
"Bagus,
keponakanku!" kata In Kiam girang dan dia menoleh pada puteranya.
"Tiong
Teng. lekas kau bangunkan Kakak ketigamu itu!" kata In Kiam.
Tiong Teng
melompat maju. dia bangunkan Kiauw Cian
"Bangun,
sha-ko'" kata Tiong Teng. "Ah, kau membawa barang apa itu?"
Si kate
kurus bangun sambil tertawa. Memang namanya Kiauw Cian. Dia bukan
orang gagah tetapi di kalangan Rimba Hijau, namanya terkenal sekali.
Dia bergelar "Kwi Eng-j i" si "Bayangan Iblis". nama itu diperoleh
karena ilmu meringankan tubuhnya yang mahir sekali. Sedang
kepandaiannya sebagai pencopet atau pencuri membual dia mendapat
gelar Sin Tay im (Malaikat copet).
Dia bukan
turunan orang sembarangan. orang tuanya seorang hartawan, sekalipun
dia suka mencuri, tapi tak pernah merugikan orang miskin, maka itu.
dia dianggap maling budiman.
Kiauw Cian
berdiri. Dia mengawasi ke seputarnya, dia tertawa lagi.
"'Lihat,
bukankah In Loo-ya-cuku berbahagia sekali?" kata dia. "Bukankah aku
telah berdosa? Semua sahabat Rimba Persilatan sudah datang semua,
tetapi aku malah datang terlambat.
Dia awasi
si baju kuning, yang berdiri dengan wajah tak puas. Dia diam saja.
Ketika dia awasi Koan It Cay, dia sadar apa yang telah terjadi di
tempat itu. Kembali dia tertawa
"Mula-mula
aku heran mengapa bukan berpesta tapi kalian berdiri diam di sini.
kiranya ada orang yang mengadu kepandaian di sini untuk meramaikan
pesta ulang tahun In Loo-ya-cu! Nah, silakan Koan Toa-ya, silakan
lanjutkan pertunjukannya, adikmu akan berdiri di pinggir
menyaksikannya!"
Tiong Teng batuk-batuk.
"Kiauw Cian
sudah tua bangka tapi tabiatmu masih seperti bocah cilik saja. tak
pantas kau mengadukan orang lain .. "? pikir Tiong Teng.
"Kiauw
Sha-ko, kau keliru!" kata Tiong Teng dengan cepat untuk mencegah
kekacauan bertambah rumit.
Baru saja
Tiong Teng berkata begitu, Koan It Cay sudah memotong sambil berkata
dengan suara keras.
"In Tiong
Teng, tak perlu kau menolong muka terangku! Aku Koan It Cay. tidak
bisa menerima kebaikanmu'
Kiauw Loo Sam, aku beritahukan
dengan terus terang kepadamu, tadi kita sudah bertempur!"
Mata Kwi
Ing-ji berputar, dia agaknya heran.
"Kiauw Loo
Sam, mari aku beritahukan lebih jauh!" kata orang she Koan ini.
"Kita baru bertempur satu gebrak, tapi aku sudah dikalahkannya! Kau
beruntung hari ini! Mari, akan kuperkenalkan kau dengan pemuda gagah
yang menggemparkan dunia! Ini dia si pemuda gagah, she Gim namanya
Soan!"
Kiauw Cian
membuka lebar kedua matanya. Ia benar-benar heran Bu-ki Sin Eng
roboh hanya dalam segebrakan saja. Dia awasi si baju kuning.
Gim Soan
kurang puas tetapi mendengar Koan It Cay memujinya, dia merasa
senang, dia tersenyum. Karena ini, dia jadi terkesan baik terhadap
lawannya itu.
Pemuda
berbaju kuning ini meniru gurunya, seorang yang lihay dan tabiatnya
luar biasa. Dia dibawa dari rumahnya lebih dari sepuluh tahun yang
lalu, dia diajari ilmu silat, sekarang ia mulai merantau. Dia kurang
pengalaman, sepak terjangnya cuma menuruti hatinya saja, sesenang
hatinya, dia tidak peduli perbuatannya itu, tepat atau tidak.
***
Saat Kiauw Cian diam, Koan It
Cay memandang ke sekitarnya, sambil menjura. dia berkata dengan
suara nyaring,
"Tuan-tuan, izinkanlah aku mohon diri!" kata Koan It Cay.
Dia
langsung berjalan, lewat di samping Gim Soan, dan berbisik. Anak
muda berbaju kuning itu tersenyum. Menyaksikan kejadian itu, Kwi
Eng-ji heran, dia menduga-duga. pikirnya. "Aneh It Cay yang tadi
besar kepala! Sesudah kalah, mengapa dia bersikap manis pada musuh
yang mengalahkannya?"
Koan It Cay
menurunkan ujung bajunya yang tadi dia selipkan di pinggangnya.
Sesudah itu tanpa menoleh lagi kepada tuan rumah, dia memutar tubuh
dan segera pergi meninggalkan tempat pesta....
In Tiong
Teng tidak puas. dia awasi orang itu dari jauh, tiba-tiba tubuhnya
bergerak. Akan tetapi sebelum dia melangkah, lengannya sudah dicekal
orang dan ditarik. Ketika dia menoleh, dia ternyata dicegah oleh
ayahnya.
Mata Kiauw
Cian berputar seketika, tak lama dia pun tertawa.
"Tuan-tuan,
jangan berdiri saja!" kata Kiauw Cian. "Mari kita masuk untuk
melanjutkan minum arak! Kedatanganku selain membawa bingkisan untuk
In Loo-ya-cu. juga untuk memberi selamat pada beliau, aku membawa
kabar baru untuk Tuan-tuan semua!"
Tiong Teng
menenangkan diri, dia mengundang semua tamu-tamunya masuk lagi k
ruang pesta. Mereka duduk kembali di tempatnya masing-masing.
In Kiam
saling melirik dengan Ciok Ciam Liong. lalu keduanya menghampiri Gim
Soan, untuk memberi hormat sambil mengangguk kepada tamu muda itu.
"Heng-tay,
kau masih muda dan gagah!" kata tuan rumah sambil tertawa, "Aku
sebagai orang tua. kagum sekali kepadamu!"
Anak muda
itu membalas hormat dari In Kiam. Mendadak dia tertawa dan berkata
"Loo-cian-pwee, apakah kau tidak puas oleh sikapku barusan?"
Mata In
Kiam bersinar, lantas sirna. Dia tertawa terbahak-bahak.
"Jangan
berkata begitu, Gim Siauw-hiap," kata In Kiam. "Kau lihat, semua
orang sudah masuk ke dalam, mengapa kau tidak mau ikut masuk? Mari
kita minum! Aku pun ingin menanyakan sesuatu kepadamu!"
Gim Soan
tertawa, dia mengangguk, terus dia berjalan masuk. Dia langsung ke
kursi bekas Koan It Cay. Ketika dia mengawasi ke sekelilingnya,
orang banyak pun sedang melirik ke arahnya.
In Kiam
tertawa, dia mengundang tamunya minum arak.
Ketika itu
Tiong Teng berdiri berendeng dengan Leng-ho Tie. Si Rubah Sakti dan
Kwi Eng-ji Kiauw Cian. Tamu ini segera menghampiri In Kiam. Dia
mengepit gulungan gambar dan mengangkat kotak yang dibawanya.
"Keponakan
Kiauw Cian menghaturkan selamat kepada Loo-jin-kee!" kata dia sambil
tertawa. "Aku cuma menghaturkan sepasang buah poan-toh."
In Kiam
tertawa, sambil menyambut pemberian itu.
Semua mata
diarahkan kepada kotak itu. semua ingin tahu apa isinya.
Begitu tuan
rumah membuka tutupnya, di dalam kotak itu lantas melesat keluar
sepasang anak-anakan, boneka anak lelaki dan perempuan, tingginya
tidak sampai satu kaki. Kedua boneka itu bagus dan mungil sekali,
tangannya masing-masing memegang sepasang buah poan-toh kemala.
Anak-anakan itu sendiri terbuat dari kumala. Kedua boneka itu
merupakan boneka pelayan Ong Bo Nio-nio, yang diberi nama Kim Tong
dan Giok Lie.
Semua tamu
sangat gembira, In Kiam sendiri tertawa lebar. Kemudian tuan rumah
meletakkan hadiah itu di atas meja
Kiauw Cian tampak puas.
"Tadi telah
kukatakan aku datang terlambat. Aku menyesal sekali. Sebenarnya itu
tak selayaknya terjadi Jika yang terlambat tamu lain, itu bisa
dimaklumi," kata Kiauw Cian. "Apa boleh buat malah aku yang
terlambat, itu terjadi karena sangat terpaksa."
Lalu dia ulurkan tangannya.
"Karena aku
mendengar sebuah berita dan aku yakin semua Tuan-tuan pun pasti
ingin tahu. bukan? Tapi mungkin Tuan-tuan tak akan percaya. Aku pun
mula-mula berpendapat begitu. Itu sebabnya aku terpaksa pergi ke
gunung Thian-bak-san untuk menyaksikan sendiri. Setiba di sana. baru
aku percaya!"
Kiauw Cian
baru berkata sampai di situ, orang-orang sudah sangat tertarik,
termasuk anak muda berbaju kuning ikut tertarik juga.
Kwi Eng-ji
menarik tongkatnya, sambil tersenyum, dia menyambung kata-katanya.
"Tuan-tuan.
siapa yang merasa mempunyai kepandaian, aku anjurkan untuk
membungkus barang bawaan kalian dan segera pergi ke gunung
Thian-bak-san! Kuingatkan supaya kalian jangan menyesal jika tak
pergi ke sana! Aku jamin pasti puas." kata Kiauw Cian.
Dia awasi
semua tamu dan dia lihat mereka sangat penasaran sekali.
"Hian-tit, (keponakan) teruskan Kau jangan bicara separuh-separuh!"
kata In Kiam.
Kiauw Cian tertawa geli.
"Bukan begitu, Loo-ya-cu." kata
dia.
"Aku pergi ke sana dan tak
sia-sia. Bagaimana pendapat Tuan-tuan? Jika aku membuka rahasia itu,
apa yang akan kau hadiahkan untukku?"
Ucapan
Kiauw Cian membuat orang tertawa.
"Kiauw
Sam-ya, (Tuan Kiauw ketiga), kami bersedia memberimu hadiah!" kata
seorang tamu, karena dia kenal baik tabiat si Bayangan Iblis. "Cuma
aku mau tanya, apakah kau setuju pada bingkisan kami itu?"
Seorang
yang lain berkata sambil tertawa.
"Kiauw Sam-ya, kau senang bergurau, aku yakin sekarang pun kau
sedang bergurau! Aku senang mengembara, tapi aku tak tahu apa yang
kau maksudkan menyesal jika kami tak ke sana?"
Kembali
terdengar riuh suara gelak tawa tamu-tamu In Kiam itu. Seolah
sekarang orang-orang seperti sudah melupakan peristiwa yang baru
saja terjadi tadi.
In Kiam pun
kelihatan tidak percaya, ia kira keponakannya sedang bergurau.
Kiauw Cian
mendorong cawan arak yang ada di atas meja, maksudnya agar meja
bebas dari gelas-gelas itu, dan meja itu pun jadi leluasa untuk
menaruh apa-apa. Dengan hati-hati dia meletakkan tiga buah gulungan
gambar yang dia bawa-bawa ke atas meja. Sesudah itu dia menengadah
dan kemudian berkata, "Tuan-tuan, kalian sangka aku sedang bergurau,
bukan? Kalian keliru! Sekarang di Thian-bak-san telah dibangun
sebuah lui-tay
(panggung untuk mengadu silat).
Jika Tuan-tuan berani naik ke lui-tay dan berhasil keluar sebagai
juara. Tuan-tuan berhak atas semua gambar-gambar ini!"
Kwi Eng-ji
mengangkat sebuah gulungan gambar itu, terus dia beberkan di depan
para tamu. Ketika semua orang melihatnya, semuanya kagum. Itu adalah
lukisan uang emas yang jumlahnya sangat banyak, entah berapa
jumlahnya, karena lukisannya bagus, gambar itu indah sekali. Emas
yang ada dalam gambar pun gemerlap mirip emas tulen.
Anak muda
berbaju kuning segera mengeringkan arak dari cawannya. Dia menjepit
sepotong hay-som. (tripang/ lintah laut) untuk dimasukkan ke dalam
mulutnya dan dia kunyah makanan itu. Dia cuma melirik sekilas ke
arah gambar uang emas itu. lalu sikapnya jadi acuh tak acuh.
Sebaliknya
di antara hadirin banyak yang penasaran dan melotot melihatnya.
Tidak
berapa lama, Kiauw Cian sudah mulai menggulung kembali gambar itu
dengan hati-hati sekali.
"Ini belum
mengherankan!" kata dia kemudian. "Sekarang silakan lihat gambar
yang kedua!"
Dia
letakkan gambar pertama, dia angkat gambar yang kedua untuk terus
dibeberkan. Sekali lagi para hadirin jadi kagum dan gempar, semua
mata mereka dipentang lebar-lebar. Hingga si anak muda berbaju
kuning pun ikut melirik.
Gambar itu
melukiskan gambar pedang yang jumlahnya cukup banyak. Semua gambar
pedang itu bercahaya.
entah bahan apa yang dipakai
melukisnya.
Kiauw Cian
memegang gambar dengan tangan kirinya, dengan telunjuk tangan
kanannya, dia menunjuk, "Ini Kim Coa Kiam, ini TengCoa Kiam, Hui
Hong Kiam dan Yu Liong Kiam! Tuan-tuan tentu pernah mendengar nama
semua pedang ini, tetapi belum tentu Tuan-tuan semua pernah melihat
pedangnya itu sendiri! Atau, siapakah di antara Tuan-tuan yang
pernah melihatnya?" Dia sengaja membuat suaranya keras dan lama,
kemudian dia tertawa dan menambahkan, "Tapi sekarang, jika Tuan-tuan
pergi ke Thian-bak-san dan naik ke atas panggung pertandingan untuk
memperlihatkan kepandaian Tuan-tuan, nah, pasti sebuah pedang ini
bakal menjadi milik Tuan-tuan!"
"Eh, Kiauw
Sam-ya!" kata seorang tamu, "Apa tak salah? Bukankah kau sekarang
sedang memperdaya kami?"
Sin Tiauw
berpaling dengan cepat, dia mengenali orang itu, yang suaranya
nyaring sebagai Kwee Tok Peng, jago pedang Sam Cay Kiam dari
Kamg-lam.
Kiauw Cian
tertawa sambil berkata, "Kwee Toa-ya, kapan Kiauw Cian pernah
memperdayai kau? Jika kau bersilat menggunakan pedang Hui Hong Kiam,
ah, pasti tak akan ada orang yang sanggup melayanimu!"
Dengan
tidak menunggu ucapan Kiauw Cian selesai. Tok Peng sudah maju, ke
arah si Malaikat Copet, dia mengawasi dengan tajam. Sesudah itu dia
memberi hormat kepada tuan rumah baru ia berkata, "In Loo-ya-cu,
harap kau maafkan aku yang rendah hendak berangkat lebih dahulu!"
Kemudian
dia memberi hormat ke empat penjuru, tanpa menunggu tuan rumah
mencegah atau mengiyakan, dia sudah angkat kaki.
Orang
tersenyum. Mereka sudah tahu bagaimana tabiat Tok Peng memang ia
orang yang sembrono.
Si baju
kuning kelihatan tetap tenang, dia tetap asyik makan seolah dia tak
tertarik sedikit pun pada harta karun itu.
In Kiam
mengerutkan alis ketika menyaksikan tamunya sudah menghilang.
"Kiauw
Hian-tit," katanya kemudian. "Bukankah kau sengaja sedang membual?
Hebat sekali permainan sandiwaramu itu!"
Kiauw Cian
tidak meladeni teguran tuan rumah yang menyangka dia sedang
bergurau. Lalu dia gulung gambar itu. untuk diganti dengan gambar
nomor tiga, sesudah itu dia tertawa.
"Jangan
khawatir, Loo-ya-cu!" kata dia. "Jika keponakanmu cuma bergurau, kau
boleh memerintahkan Tiong Teng menghajar batok kepalaku sampai
hancur!" Dengan hati-hati. dia membeber gambar itu.
Kali ini si
baju kuning sangat tertarik. Dia mendorong cawan yang sedang
dipegangnya dan bangkit, untuk bisa melihat lebih jelas.
Para hadirin bersorak riuh.
Gambar itu
bukan gambar emas atau pedang, tapi gambar seorang nona yang
wajahnya cantik sekali. Seperti dua gambar yang pertama, lukisannya
pun tampak hidup dan indah sekali. Nona di dalam gambar itu memakai
konde tinggi, mukanya berwarna dadu dan di pipinya ada sujennya.
Alisnya lentik, hidungnya bangir, sepasang matanya jeli sekali.
Sedangkan kedua baris giginya putih dan rata serta bibirnya berwarna
merah. Pakaian nona itu pun indah sekali. Rambutnya hitam mengkilat.
Sorakan
para hadirin tiba-tiba berhenti mereka semua berdiri mematung dan
terkesima, mata mereka melongo memandang kosong. Ruangan pesta yang
luas itu pun tiba-tiba jadi sunyi senyap.
Tie Sie
orang pertama yang paling dulu membuka suara. Mula-mula dia menghela
napas.
"Kiauw
Sam-ya, kau telah membuat aku si orang tua harus membuka mata!"
demikian kata Tie Sie. "Aku sudah pernah merantau ke selatan dan
utara tetapi belum pernah aku menemui nona cantik manis seperti yang
ada di gambar itu!"
Kiauw
Cian terus memegangi gambar itu dengan tangan kirinya, dengan tangan
kanannya dia urut kumisnya sambil tertawa dia berkata lagi.
"Tuan-tuan,
dengar baik-baik! Aku katakan terus terang, jika aku tidak
melihatnya sendiri nona itu, akupun tidak akan percaya seperti
kalian sekarang! Baik kalian ketahui, meskipun si pelukis seorang
ahli, dia tak mampu melukiskan kecantikan yang sebenarnya dari si
nona tersebut." kata Kiauw Cian.
Si baju
kuning perlahan-lahan duduk lagi, dia benar-benar keheranan dan jadi
sangat tertarik oleh gambar itu. Ada sesuatu yang membuatnya
berpikir keras. Itu karena dia seperti pernah kenal pada si nona,
tapi dia lupa kapan dan di mana dia pernah bertemu dengannya?
Kiauw Cian
tertawa, gambar itu dia angkat lebih tinggi.
"Tuan-tuan!" kata Kiauw Cian dengan suara nyaring. "Jika Tuan-tuan
pergi ke gunung Thian-bak-san dan kalian naik ke atas lui-tay sambil
menunjukkan^kegagahan juga bisa mengalahkan semua lawan pasti kalian
akan jadi pemenang
ha, ha, ha!"
Kiauw Cian tak meneruskan
kata-katanya karena dia tertawa keras. Dia tunjuk gambar nona itu.
"Bukan saja ribuan mutiara dan laksaan potong uang emas bakal
menjadi milikmu, tapi juga si cantik ini akan menjadi teman hidupmu
di gedungmu yang indah! Cuma... ya. cuma. " kembali Kiauw Cian tak
meneruskan kata-katanya.
Seperti
sengaja Kiauw Cian menghentikan kata-katanya sejenak. Gambar tadi
diangkat perlahan-lahan dan biji mata Kiauw Cian berputar-putar.
Semua
hadirin berdiri, semuanya mengawasi sambil pasang telinga.
To Pie Sin Kiam tertawa.
"Kiauw
Hian-tit. bicaralah!" dia menganjurkan keponakannya bicara terus.
"Lekas, jangan kau buat orang jadi tak sabar semua!"
Kwi Eng Ji Kiauw Cian tertawa.
"Cuma bagi
barang siapa yang berpikir ingin menjadi suami si nona cantik manis
ini." dia meneruskan, "Orang itu tidak boleh orang tua dan dia juga
harus masih bujangan. Misal orang sepeitiku, apalagi ilmu silatku
rendah, seandainya lihay pun. aku cuma bisajadi penonton saja! Aku
sudah beristeri dan punya anak. Jika dulu aku tahu bakal ada
kejadian seperti ini, aku terus terang tak akan terburu-buru
menikah! Ha, ha, ha.ha."
Orang semua
tertawa hingga suasana jadi ramai. Karena si Bayangan Iblis jadi
jenaka sekali.
"Benarkah syaratnya harus seorang jejaka?" seseorang bertanya.
Kiauw Cian
menoleh. Dia awasi orang yang bertanya itu, dia mengenaInya sebagai
Touw-Eng In Loo-ngo si Rajawali Botak, guru silat termasyur di
Kang-pak. Sebelum mejawab, Kiauw Cian tertawa.
"'Benar,
tidak salah!" sahut Kiauw Cian "Jangankan orang sepertimu, sekalipun
dia jelek atau matanya picek pun asal dia lihay dia bisa jadi suami
nona itu!"
In Loo Ngo
menepuk kepalanya, mukanya yang merah jadi bersinar.
"'Kalau
benar begitu, aku In Loo Ngo harus pergi ke Thian-bak-san!" katanya.
Kembali dia
duduk untuk menghirup arak, kemudian dia tarik ikat kepalanya yang
model swastika, hingga terlihat kepalanya yang botak!
Orang bersorak, sesudah itu
mereka duduk kembali.
Kiauw Cian
menggulung gambar itu lalu dia kumpulkan menjadi satu. Lalu dia ikut
duduk.
"Kiauw
Hian-tit," kata tuan rumah kemudian. "'Kau sudah bicara, maka
sekarang datang giliranku untuk bertanya. Sebenarnya, bagaimana
duduk perkaranya? Siapakah yang membangun panggung pertandingan
silat itu? Aku heran! Kenapa orang sampai menyediakan harta dan
dirinya sendiri siap untuk menjadi isteri sembarangan lelaki?"
Kwi Eng Jie
Kiauw Cian mengangkat cangkir araknya, dia tenggak isinya.
"In
Loo-ya-cu," kata Kiauw Cian sambil tertawa. "'Kejadian yang
sebenarnya, aku sendiri tidak tahu secara jelas. Tapi ini
benar-benar bukan isapan jempol. Siapa yang mau pergi ke sana. baik
yang lihay maupun tidak, dia tidak akan rugi!"
Sepasang alis In Kiam berkerut.
"Jika
begitu katamu, mungkin aku juga bakal pergi ke sana untuk
melihat-lihat," kata In Kiam. "Aku yakin sebelum dua bulan di
Thian-bak-san bakal berkumpul dan muncul orang-orang gagah dari
seluruh negeri!"
Baru saja
In Kiam berhenti bicara terdengar suara tawa nyaring. Ketika orang
menoleh, mereka segera tahu yang tertawa itu adalah si pemuda
berbaju kuning.
"Menurutku
yang tak berkepandaian tinggi, sebaiknya jangan pergi!" kata dia.
"Karena percuma saja, selain buang waktu juga buang biaya saja!
Membuang beras untuk umpan ayam yang sia-sia, karena ayamnya tak
berhasil ditangkap."
In Tiong
Teng, yang sejak tadi berdiri diam, dia ikut campur bicara.
"Kalau
begitu katamu. Tuan," katanya. "'Bukankah sudah cukup andaikata kau
sendiri saja yang pergi ke sana?"
In Kiam
mengerutkan alisnya, dia menoleh ke arah anaknya. In Kiam seperti
menyesalkan ucapan puteranya itu. Karena ucapan itu bagaikan orang
seolah mencari gara-gara. Dia merasa yakin sudah tahu asal-usul si
baju kuning itu.
•"Benar,
benar!" jawab Gim Soan sambil tertawa dingin. "Contohnya orang
sepertimu. Tuan. lebih baik tidak pergi ke sana!"
Alis Tiong
Teng bangun. Banyak orang yang parasnya segera berubah. Sebaliknya
si baju kuning bersikap tenang-tenang saja. Dia seperti tak
menghiraukan orang-orang itu. Semua orang diam, kemudian dia
berpaling pada Kiauw Cian.
"Tuan. tiga
buah gambarmu itu sebaiknya jangan kau bawa-bawa terus!" kata si
baju kuning sambil tertawa.
Sesudah itu
dia ulurkan tangannya, akan mengambil ketiga gambar itu. Kiauw Cian
terkejut.
"Tak perlu
kau usil. Tuan!" kata Kiauw Cian, dengan tangan kanan yang memegangi
cawan arak. dia tekan keras ketiga gambarnya itu.
Si baju kuning tertawa dingin.
tangan kirinya sudah tiba pada
gambar itu. Mendadak Kwi Eng-Ji Kiauw Cian kaget sekali. Tangannya
yang dipakai menekan gambar terasa panas sekali. Mendadak arak dalam
cawannya menyembur naik seperti air mancur, muncrat mengenai tubuh
Kiauw Cian.
Semua orang
kaget. Itu bukti dari lihaynya tenaga dalam si anak muda berbaju
kuning. Tanpa bisa dicegah lagi, ketiga gambar sudah berpindah
tangan ke tangan si anak muda itu, sambil tertawa dia berkata,
"Lebih baik gambar ini diserahkan kepadaku!"
Muka Kiauw
Cian pucat. Sudah biasa baginya, jika tidak sangat terpaksa, dia
tidak mau berkelahi dengan siapa pun juga. Sekarang keadaannya jadi
lain, dia telah sangat dihina. Mendadak dia membungkuk seraya kedua
tangannya diluncurkan ke rusuk pemuda itu.
“Sahabat,
kau terlalu angkuh!" bentak Kiauw Cian.
"Eh, kau
mau turun tangan?" tegur Gim Soan. Matanya mendelik, suaranya keras.
Dengan cepat tangan kirinya yang memegang gambar diluncurkan ke nadi
si Malaikat Copet! Sambil duduk, kedua orang jago itu telah mulai
bertarung.
Ciok Ciam
Liong, yang duduk di sisi Gim Soan, jadi tidak senang.
"Sahabat,
di sini bukan gelanggang pertempuran!" dia tegur si baju kuning.
Ciok Ciam
Liong menyikut dengan tangan kirinya ke iga kanan lawan.
Pemuda itu
gesit. Dengan tangan kirinya yang sedang memegang gambar, dia jagai
tangan Kiauw Cian, dengan tangan kanan, dia dahului menotok jalan
darah kiok-ti Ciam Liong. Hingga gagallah serangan orang she Ciok
itu.
Waktu itu
terlihat sesuatu berkelebat menyerang ke arah muka si baju kuning,
dengan begitu dia jadi diserang dari tiga arah. Dia benar-benar
lihay, ketika tubuhnya mencelat, dia telah lenyap dari sasaran
lawannya!
Serangan
Kiauw Cian dan Ciam Liong gagal, sedang sinar yang banyaknya dua
buah itu melayang ke arah batok kepala botak In Loo-Ngo!
Si Rajawali
Botak kaget. Dia bangun sedang kedua tangannya mengebuti pakaiannya.
Syukur dia berhasil menangkis serangan itu, hingga kedua senjata
rahasia itu mental ke luar ruangan.
Ternyata
senjata itu sepasang sumpit, yang ditimpukkan oleh tuan ramah, yang
hatinya jadi panas.
Melihat si
baju kuning menyingkir bersama-sama kursinya, waktu itu Tiong Teng
duduk tepat di depan meja Pat-sian (Delapan Dewa) yang terdapat
siu-toh, "buah" persik sebagai lambang panjang umur. Si baju kuning
duduk sambil tersenyum tawar.
Cian Liong
dan Kiauw Cian mendorong cangkir arak mereka. Keduanya berdiri.
Si baju
kuning tetap duduk tenang, bahkan perlahan-lahan dia buka satu
gulung lukisan itu. Kelihatan sinar matanya bengis luar biasa.
Seorang
pelayan. yang membawakan makanan di atas nampan, berdiri bengong.
Saat
suasana demikian tegang, dari luar terdengar suara tertawa nyaring
disusul dengan kata-kata merdu.
"Sepasang sumpit ini indah sekali, sayang kalau sampai jatuh dan
rusak!..
Semua orang
heran, semuanya berpaling ke arah luar.
Di ambang
pintu terlihat berjalan masuk dua orang perempuan memakai konde
tinggi, berbaju merah, romannya cantik dan pinggangnya langsing.
Setiap nona itu pada tangannya yang putih memegang sumpit yang
disampok oleh si kepala gundu.!
Setelah
melihat si nona, Kiauw Cian terperanjat heran. Setelah melengak
sejenak, dia berjalan menghampiri untuk menyambut kedua wanita itu.
Kedua nona
itu memandang ke seluruh ruangan, mereka mengangkat tangan kirinya
menutup mulut mereka. Mereka tertawa tertahan yang satunya terus
berkata, "Kiranya Kiauw Sam-ya ada di sini!" katanya.
Sesudah
berkata begitu, dia tertawa lagi.
Orang
terpesona mendengar suara tawa yang merdu itu, semua mata diarahkan
ke arah kedua nona itu.
Kiauw Cian
mendekati kedua nona itu, dia memberi hormat sambil men jura.
"Mengapa
nona-nona malah datang ke mari?" tanyanya dengan sangat hormat.
Kedua nona
itu mengulur masing-masing tangannya menyerahkan sumpit yang ada di
tangan mereka pada si Malaikat Copet, lalu dengan
tangannya itu mereka menyingkap rambut mereka. Kembali keduanya
tertawa.
"Kami juga
datang untuk menghaturkan selamat!" kata nona yang satu. "Kiauw
Sam-ya, tolong kau perkenalkan kepada kami! Mana In Loo-ya-cu yang
menjadi tuan rumah dan tengah merayakan ulang tahunnya itu?"
Ketika itu
ruang yang lebar itu tetap terang bagaikan siang hari. Di pekarangan
luar, obor pun tidak disingkirkan. Ruang sunyi lagi. Para hadirin
kagum oleh kedua wanita itu. lebih-lebih untuk romannya yang mirip
satu dengan yang lain. Sejenak tak ada yang bisa memilih mana yang
lebih istimewa .
In Kiam
segera berjalan menghampiri mereka secara perlahan-lahan. Dia
menduga kedua nona itu ada sangkut-pautnya dengan nona pada lukisan
yang dibawa-bawa oleh Kiauw Cian.
Kedua nona
itu pun berjalan ke arah tuan rumah, mereka buru-buru memberi hormat
sambil membungkuk, pada wajah mereka tersungging senyuman manis.
"Pasti kami
sedang berhadapan dengan In Loo-ya-cu!" kata mereka sambil tertawa
"Kami kakak beradik datang terlambat untuk memberi selamat, kami
mohon diberi maaf!"
Tuan rumah
menyingkap janggutnya sambil tertawa.
"Kalian
baik sekali. Nona-nona!" kata In Kiam. "Kedatangan kalian ini suatu
kehormatan besar yang aku tidak berani menerimanya
Tuan rumah
berlaku tenang walaupun semua kejadian di rumahnya itu sangat
mengherankan.
Kedua nona
itu berdiri, mulut mereka ditutup dengan tangannya. Mereka tertawa
geli. "Kata-katamu membuat kami malu, Loo-ya-cu!" kata mereka. "Nona
kami sering berkata bahwa pada zaman sekarang ini. Loo-ya-cu adalah
Loo-cian-pwee nomor satu. sudah sepantasnya nona kami mengutus kami
memberi selamat. Kami menerima tugas ini senang luar biasa. Kami
minta Loo-ya-cu jangan sungkan-sungkan."
Para
hadirin heran ketika mengetahui kedua nona itu pelayan si nona yang
ada di Thian-bak-san. Oleh karena itu mereka menduga-duga. entah
bagaimana roman si "nona" majikan mereka. Mereka pun menduga
jangan-jangan si nona majikan itu si nona dari Thian-bak-san. karena
itu mereka bertambah bersemangat ingin pergi ke gunung itu .
In Kiam
tertawa. Ketika dia mau berkata lagi, kedua nona itu pun tertawa,
dan yang satu berkata. "Kami terlalu banyak bicara, sampai kami
lupa!"
Mereka
berjalan ke ambang pintu, sesudah itu salah seorang bertepuk tangan
perlahan beberapa kali, sambil berbuat begitu, nona yang satu
berkata lagi. "Nona kami menyuruh menyerahkan bingkisan beberapa
macam barang untuk Loo-ya-cu. Nona juga minta disampaikan maafnya
karena dia tak dapat datang sendiri."
In Kiam merendahkan diri.
Ketika itu
di muka pintu terlihat dua budak perempuan yang masih muda sekali,
pakaian mereka juga merah, dan tangan yang satu membawa sebuah kotak
emas yang berkilauan. Entah isi kotak itu apa, tetapi kotaknya saja
sudah berharga sekali. .
Para tamu
keheranan. Tapi, sebelum lenyap keheranan mereka itu, tiba-tiba
mereka melihat muncuInya dua budak perempuan yang lain. yang
pakaiannya sama berwarna merah dan tangannya membawa kotak emas
juga, bahkan kali ini sepasang!
In Kiam bertindak ke pintu.
"Nona-nona,
tak usah . . " kata In Kiam tapi belum sempat bicara terus sudah
berhenti karena dari luar sudah terlihat datangnya delapan pasang
nona-nona yang membawa sebuah kotak emas, mereka semua berpakaian
merah, langkah mereka rapi. Setiba di depan tuan rumah, dengan sikap
menghormat sekali mereka menyerahkan kotak itu.
Semua tamu
keheranan hingga mereka jadi melongo. Cuma si baju kuning yang tetap
duduk tenang di kursinya, tangannya membeber gambar, matanya
mengawasi tajam pada lukisan si nona cantik di dalam gambar itu.
Kelihatan dia sedang berpikir keras.
"Beberapa
barang bingkisan ini tidak berarti apa-apa." kata salah satu di
antara kedua nona itu. Sambil berkata mereka selalu sambil tersenyum
manis. "Karena itu harap Loo-ya-cu jangan sungkan menerimanya. Kami
pun ingin memberikan secangkir arak kebahagiaan kepada Loo-ya-cu!"
Mereka
menghampiri meja untuk mengambil arak, kemudian mereka dilayani
seorang pria. In Kiam sendiri sudah berjalan menghampiri mereka,
untuk menyambut arak pemberian selamat itu sambil berkata. "Baiklah,
aku terima ucapan selamat kalian. Terima kasih!"
Dia teguk kering isi cawannya.
Kedua nona
mencicipi arak itu dari cawan mereka masing-masing, kemudian yang
satu berkata kepada orang banyak. "Loo-ya-cu merayakan hari ulang
tahun hingga banyak orang gagah yang datang dari berbagai tempat,
maka itu. harap terima salam hormat dari kami berdua! Mari kita
keringkan cawan kita!"
Semua tamu
menyambut kata-kata itu dan mereka pun meneguk arak mereka
masing-masing. Mereka tidak bilang apa-apa, mereka seperti telah
terpengaruh oleh kedua nona itu.
Sesudah
itu. kedua nona tersebut mengawasi pada si anak muda berbaju kuning
yang tak menghiraukan sesuatu yang sedang terjadi. Melihat demikian.
Kwi Eng-ji Kiauw Cian menghampiri kedua nona itu dan berkata dengan
suara perlahan. Mata kedua nona terangkat, tapi cuma sekejap, mereka
sudah tertawa lagi.
"Sungguh
kami tidak menyangka!" kata nona yang satu. "Kedatangan kami ke mari
masih sempat bertemu seorang tamu yang masih muda dan gagah! Karena
itu kami semua saudara, harus memberi selamat juga!"
Berbareng
dengan berhentinya kata-kata si nona. nona yang berdiri di pojok
kanan sudah segera melemparkan cawan araknya ke arah si anak muda
bebaju kuning. Arak itu melayang namun tidak tumpah, bahkan sambil
berpaling anak muda itu menyedot dan meniupnya kembali ke arah para
nona itu!
Semua tamu
jadi heran, tidak terkecuali kedua nona itu. Tak lama nona yang
berada di kanan sudah menyambut cawan kosong yang menyambar ke
arahnya.
Habis minum
arak itu, si anak muda tertawa.
"Arak yang
harum dan nikmat!" dia memuji. "Jika nona tidak suka gambar ini ada
di tanganku, akan kukembalikan!"
Dia tertawa sejenak kedua tangannya diluncurkan untuk melemparkan
gambar itu ke arah kedua nona berbaju merah itu. Bagaikan senjata
rahasia, gambar itu melesat ke arah kedua nona itu.
Melihat
kejadian itu, Ciok Ciam Liong terkejut, dia ingin mengibaskan
tangannya untuk menangkis serangan gambar yang ditujukan pada kedua
nona itu, tapi batal karena dia lihat aksi kedua nona itu.
Mereka
tidak berani menyambut serangan anak muda itu. lalu mereka berkelit,
saat gambar sudah lewat baru mereka melompat untuk menyusul.
Anak muda
itu bertepuk tangan, dia tertawa dan bersorak
"Bagus!"
serunya. "Kalian menghormati aku dengan secawan arak. aku
membalasnya dengan segumpal mega untuk dipakai mengantar dewi-dewi
terbang melayang hingga sang angin meniup kun-nya!"
Kedua nona
itu tiba di luar, mereka pun tertawa dan berkata. "Kami menginjak
mega. Tuan menjadi si Dewa Mabuk! Kalau Tuan sudi, mengapa Tuan
tidak turut kami naik mega bersama untuk pergi pesiar mendaki
langit?"
Enam belas
nona-nona pembawa berbagai kotak tadi semuanya tertawa, mereka
meletakkan kotak mereka, lalu mereka berlari-lari menyusul kedua
nona yang membawa gambar bagaikan mega itu. Mereka berputar-putar di
pekarangan rumah yang luas itu. Semua tamu keheranan dan kagum
sekali. Mereka berlarian menuju ke pintu depan untuk menonton. Anak
muda berbaju kuning itu menyusul keluar sambil tertawa.
"Sungguh
kalian mirip dengan Dewi di atas mega!" kata si baju kuning.
Dia melompat akan menyusul
kedua nona itu. Akan tetapi kedua nona itu
tertawa dan menyambutnya dengan
serangan empat tangan mereka ke pundak dan dada si pemuda berbaju
kuning! Mau tak mau, pemuda berbaju kuning itu membatalkan niatnya
menyusul mereka.
**
Enam belas nona-nona cantik itu
bergerak terus, sekarang mereka berputar-putar mengurung si anak
muda. Gaya mereka bagaikan orang sedang menari. Pakaian mereka yang
berwarna merah berkibaran. Karena kedua nona bernyanyi, mereka turut
bernyanyi juga.
Anak muda
ini berdiri diam, tegak bagaikan patung dan tegar seperti sebuah
gunung. Para tamu sebaliknya jadi takjub, mata mereka bagaikan
berkunang-kunang karena silau. Kepala mereka terasa sedikit pusing
menyaksikan orang berputaran terus, cepat dan tak henti-hentinya.
Sambil
berputar, tangan semua nona-nona itu mengibas-ngibas ke arah si anak
muda Serangan mereka sangat keras, akan tetapi tak ada yang
mengenai. Serangan itu tak bisa sekalipun menyentuh ujung baju si
anak muda itu. Cuma api obor-obor yang bergerak-gerak karena
tersampok oleh kibasan nona-nona itu.
To=pie
Sin-kiam In Kiam berdiri di undakan tangga. Dia awasi mereka, selang
sekian lama. parasnya berubah, matanya bersinar. Kemudian mendadak
dia menghela nafas dan berkata dengan suara dalam. "Sungguh tidak
kusangka malam ini aku bisa menyaksikan larian Dewi Ni-tong Sian-bu
yang sudah lama menghilang dari rimba persilatan
Tie Sie dan
Ciok Ciam Liong mendampingi tuan rumah, mereka mendengar perkataan
tuan rumah, mereka pun terkejut dan keheranan.
"Ni-tong
Sian Bu?" tanya para tamu mengulangi ucapan In Kiam.
"Ya." sahut
tuan rumah sambil mengangguk, In Kiam menghela nafas ketika dia
menambahkan. "Setelah kuperhatikan gerak-gerik si anak muda berbaju
kuning itu, aku tahu dia menggunakan ilmu silat Li-cong Cit-cian
dari Ban Biauw Cu. Sedangkan gerak-gerik nona-nona itu menunjukkan
mereka murid-murid si Hantu Wanita dari Biauw-kiang. Aku khawatir,
kalangan Kang-ouw (Dunia Persilatan) yang sudah sekian lama tenang
ini bakal mengalami perubahan yang sangat besar dan kacau ..."
Tie Sie dan
Ciam Liong terkejut sekali.
"Aku rasa
tidak mungkin . ." kata Ciam Liong perlahan. "Menurut apa yang
kudengar, mereka itu tidak mempunyai murid. Ya. baru lewat sepuluh
tahun, keadaan telah berubah menjadi begini rupa .. ."
Dia diam
sebentar, kemudian Ciam Liong menambahkan: "Mungkin nona-nona itu
murid dari Biauw-kiang tetapi si baju kuning . aku sangsi apakah dia
murid Ban Biauw Cin-jin . . "
Pembicaraan
di antara orang-orang tua itu terhenti secara mendadak. Mereka
mendengar suara tawa yang nyaring, dan menyusul gerakan si anak
muda, tubuh si pemuda berbaju kuning tiba-tiba mencelat tinggi,
berputar dan kakinya ada di atas dan kepala di bawah, saat turun ke
bawah, dia menyerang bahu kedua nona itu.
Nona-nona
itu pun berseru nyaring, mereka berkelit, tidak menangkis atau
melawan, tapi mereka berputaran.
Kembali
terdengar seruan Gim Soan yang menyerang kedua nona itu. Demikian
gesitnya si anak muda berbaju kuning bergerak sehingga para tamu
menjadi kagum sekali.
Serangan si
baju kuning telah gagal. Tampak gerakan keenambelas nona-nona itu
jadi kacau, tetapi mereka berputaran terus, suara nyanyian mereka
terdengar semakin keras.
Sekarang
baru terlihat jelas si baju kuning bergerak, dengan begitu terlihat
warna kuning dari bajunya itu berkibar-kibar tidak hentinya,
menyaingi lambaian baju merah milik nona-nona itu.
Lagi-lagi
To-pie Sin Kiam menghela nafas, alisnya pun berkerut.
"Di dalam
ilmu meringankan tubuh," kata In Kiam perlahan pada Ciam Liong.
"Selain ilmu milik Thian San Pay yaitu Cit Kim Sin-Hoat dan Hui
Liong Ngo Sie serta Chong Eng Sip Sam
Si dari Seng Siang Kiam yang
paling tersohor ialah Ching Eng Pian dari Ban Biauw Cin-jin. Maka
itu. saudara Ciok. sekarang kau pasti sudah mengenali ilmu silat si
pemuda ini adalah kepandaian si Hantu Wanita yang aku sebutkan itu
..."
Ciam Liong
yakin, dia menghela nafas.
Ketika itu
mendadak kedua nona itu bertepuk tangan, maka berhentilah mereka
menyanyi. Sesudah itu, keenam belas nona yang gerakan-gerakannya
kacau segera memisahkan diri keempat penjuru. Di antaranya ada yang
mengerutkan alis dan bibirnya merah karena lengan mereka terluka.
Hanya luka mereka itu tidak terlalu parah, sebab si baju kuning
rupanya tidak menggunakan kekerasan karena dia merasa kasihan
terhadap lawan-lawannya.
Dengan
berhentinya tarian nona-nona itu, si anak muda memandang ke
sekelilingnya. Tak lama dia sudah tertawa terbahak-bahak. Dia
menyampok dengan tangan bajunya ketika dia berkata riang gembira.
"Di malaman musim semi di Kang-lam. di sana para Dewi sedang
menyebar bunga, dan mereka ditimpali oleh nyanyian dua nona cantik
manis! Mereka semua menarik hati! Tidak disangka-sangka aku bisa
tiba di sini dan mengalami malam yang indah ini!"
Kata-kata
itu bersajak dan berirama. Mendengar kata-kata itu kedua nona itu
tertawa. Mereka menutup mulut mereka dengan tangannya yang halus
untuk menahan suara tawa mereka. Namun.
sekarang mereka langsung maju
mendekat.
'"Ah, kau
tampaknya sungkan sekali!" kata salah satu nona cantik itu. "Suara
kami kasar tetapi kau katakan menarik hati, kau membuat kami merasa
malu "
Sambil
berkata begitu, mendadak tangan mereka bergerak menyerang dengan
sepuluh jari mereka. Mendadak sepuluh jari itu jadi keras dan tajam,
mirip dengan pisau belati. Gerakannya mencari jalan darah bun-hio,
su-pek. tie-chong dan hee-kwan dari si anak muda berbaju kuning.
Serangan
mendadak itu membuat kaget para hadirin. Mereka tidak menyangka,
sambil bicara manis, kedua nona itu menyerang lawannya dengan
demikian kejam. Orang-orang pun kagum oleh kehebatan serangan
mereka.
Anak muda
berbaju kuning itu tidak sedikitpun kaget atau gugup, sebaliknya dia
malah tertawa riang.
"Aku bukan
Dewa, tak sanggup aku menerima kebaikan kalian berdua. Nona-nona!"
kata dia sambil mekompat untuk berkelit jauhnya sampai lima kaki
hingga serangan nona-nona itu jatuh di tempat kosong.
Melihat
kejadian itu. To Pie Sin Kiam In Kiam menghela napas, alisnya
berkerut.
"Kelihatan
setelah sepuluh tahun tak muncul kini Ban Biauw Cin-jin telah
mendapat kemajuan yang sangat pesat," kata In Kiam masgul. "Lihat
saja muridnya yang luar biasa lihaynya ini. Dulu Ban Biauw tidak
selihay muridnya sekarang ini. Heran dia tidak
bisa dirobohkan ilmu silat tarian Ni-tong Sian Bu . . ya. dalam
tempo sepuluh tahun lamanya mengapa saudara Ho Jian-ku tetap tidak
ada kabar ceritanya? Kemanakah perginya dia? Mungkinkah dia pun
telah memperoleh kemajuan yang luar biasa?"
Kembali
orang tua ini ingat kepada saudara angkatnya itu.
Ketika itu
pertempuran di antara anak muda berbaju kuning dan kedua nona terus
meningkat menjadi puluhan jurus, akan tetapi anak muda itu tetap
bisa bergerak dengan gesit dan tetap tenang. Bahkan dia bukan
seperti sedang berkelahi, karena dia lebih banyak berkelit. Jelas
sekali kegesitan dan keringanan tubuhnya itu sangat luar biasa.
Akhirnya
kedua nona itu jadi gelisah sendiri. Rupanya kelihayan si anak muda
di luar dugaan mereka. Orang jarang menyerang tetapi setiap kali
menyerang pasti berbahaya sekali. Sebaliknya serangan mereka selalu
gagal. Diam-diam mereka jadi kuatir. Jelas mereka bukan lawan anak
muda itu.
Pertempuran
terus berlanjut. Mendadak anak muda itu tertawa. Dia berkelit atas
serangan si nona yang di sebelah kiri, tubuhnya mencelat ke arah
nona yang di sebelah kanan. Dia tertawa lagi dan berkata dengan
perlahan. "Nona, buat apa kita bertarung? Percuma saja hanya membuat
kita letih! Sebenarnya aku merasa tidak enak hati”
"Terima
kasih!" sahut si nona perlahan, juga sambil tertawa.
Suara si
nona merdu sekali dan tertawanya pun manis, toh kakinya bergerak dan
sambil melompat dia menendang. Ketika tendangan yang pertama gagal,
dia mengulangi hingga tiga kali saling susul.
Gim Soan
tertawa terbahak-bahak, tubuhnya berkelit dengan lincah sekali.
"Ah. Nona
yang kejam!" kata Gim Soan sambil tertawa.
Kali ini
dia mengibas dengan kedua tangannya ke arah dua nona itu.
Kedua
nona itu merasakan desakan yang keras, mereka saling melirik sambil
tersenyum, terus keduanya bergerak secara berbareng, melompat mundur
hingga ke pojok tembok.
Para
penonton terheran-heran, tak lama mereka mendengar salah seorang
dari nona itu sambil tertawa berkata. "Kami sudah letih, kami sudah
tak mau bertempur lagi! Jika kau mau bertempur juga. kau bertempur
saja seorang diri!"
Tatkala itu
obor sudah mulai guram cahayanya, belasan orang To Pie Sin Kiam In
Kiam datang untuk mengganti dengan obor-obor yang baru.
Saat itu
kedua nona itu berdiri di pinggir tembok, dengan tenang mereka
menyingkap rambut di dahi mereka serta merapikan pakaian mereka.
Di tengah
gelanggang yang luas itu tinggal anak muda berbaju kuning saja
seorang, matanya jelalatan ke sekitarnya. Agaknya dia bingung
bagaimana harus bertindak selanjutnya
Saat itu.
enam belas kotak yang dibawa oleh enam belas nona itu masih
tergeletak di depan tangga.
Setelah
semua diam sekian lama. baru kedua nona itu menghampiri semua kotak
itu. sambil tertawa. Salah satu nona berkata, "Kami datang untuk
mengucapkan selamat kepada In Loo-ya-cu, tidak kami kira malah
terjadi keributan, kami menyesal sekali. Sebenarnya kami berniat
tinggal lebih lama di sini akan tetapi kami khawatir Nona kami
menanti terlalu lama. maka..." Dia segera membungkuk dan bersama
kawan-kawannya, sambil tertawa dia melanjutkan. "... Maka itu kami
mohon diri!"
Kemudian
dia membungkuk lagi, dengan tanpa menunggu tuan rumah bicara
apa-apa.dia sudah memutar tubuh untuk segera pergi.
Melihat hal
itu. anak muda berbaju kuning mengerutkan alis. Dia melangkah maju
mendekat. Melihat sikap itu. kedua nona tertawa.
"Kau lihay,
kau juga tampan!" kata nona yang satu, "Baiklah sebelum harian
Tiong-ciu, (Perayaan kue rembulan) kau boleh datang ke
Thian-bak-san, mungkin...." dan dia tertawa sambil menutup mulutnya.
" Mungkin kau beruntung bisa menjadi pasangan Nona kami! Nah, jangan
lupa. ya!"
Pemuda itu
mengawasi, kedua biji matanya berputar.
"Baik,
baik!" sahut Gim Soan sambil tertawa. "'Baiklah, aku akan menuruti
perintah kalian untuk pergi memenuhi janji kalian ini. Cuma... jika
Nona kalian sama telengasnya seperti kalian berdua, belum apa-apa
hatiku sudah jerih..."
**
Sesudah itu
pemuda yang luar biasa ini tertawa, tubuhnya bergerak, untuk
melompat pergi.
Melihat
kedua nona itu mau pergi, Kiauw Cian berjalan menghampirinya, tetapi
tiba-tiba dia jadi kaget. Di depan matanya ada bayangan yang
berkelebat, sebelum ia sadar apa yang dilihatnya, pipinya sudah
tertampar hingga mengeluarkan suara nyaring. Kiauw Cian jadi
gelagapan karena heran dan kesakitan. Sesudah itu dia melihat sebuah
cahaya kuning berkelebat ke atas tembok. Sekarang tahulah dia bahwa
dia telah dihajar oleh si baju kuning, yang telah angkat kaki. Dia
berdiri melengak. mukanya merah dan pucat bergantian. Dia merasa
malu sekali. Akhirnya dia menghela napas, terus melompat sambil
pergi .
Tiong Teng melompat maju.
"Kiauw
Sha-ko!" Tiong Teng memanggil. "Kiauw Sha-ko!"
Tapi Kiauw
Cian sedang mendongkol dan malu. dia pergi tanpa menoleh lagi.
Setelah menginjak tembok dan melompat turun ke bagian luar, dia
lenyap di dalam kegelapan.
Para
hadirin menghela nafas, sebab mereka tidak mengira Kiauw Cian dibuat
malu seperti itu.
Kedua nona
itu saling pandang keheranan, keduanya segera berjalan perlahan ke
luar. di belakang mereka itu mengiringi keenam belas nona pembawa
kotak, begitupun empat yang lainnya yang sejak tadi diam saja.
In Kiam
menghela napas. Dia berjalan ke luar dan dia lihat orang sudah pergi
semua. Jelas mereka itu datang dengan empat buah kereta dan pintu
keretanya telah segera ditutup rapat. In Kiam cuma sempat mengawasi
dengan masgul dan batuk-batuk ke arah rombongan nona-nona itu.
Kemudian
dia masuk ke dalam, dia lihat para tamu sedang bicara kasak-kusuk
atau diam sambil menundukan kepala mereka. Hanya Tie Sie dan Ciam
Liong, yang menghampirinya, mereka menghibur In Kiam agar tidak
berduka. Mereka tidak bisa bicara banyak lantaran mereka sendiri pun
sedang masgul dan bingung ...
Tiong Teng
mengawasi ayahnya, kemudian dia tertawa.
"Makanan
sudah dingin tetapi masih bisa dihangatkan!" kata Tiong Teng dengan
nyaring. "Tuan-tuan. silakan masuk ke dalam untuk duduk bersantap
dan minum lagi! Fajar akan segera menyingsing, mari kita makan
sampai pagi!"
Undangan
Tiong Teng itu diterima baik. semua masuk kembali ke dalam untuk
duduk di mejanya masing-masing.
In Kiam
memandang pada semua tamunya, dia berkata sambil menghela napas.
"Ini dia yang dikatakan, gelombang yang di belakang mendorong ombak
yang ada di depannya. orang yang baru menggantikan orang lama! Ah.
saudara Tie, saudara Ciok, aku benar-benar sudah tua dan sudah tidak
berguna. Lihatlah beberapa orang muda barusan, semuanya gagah luar
biasa, maka dunia
Kang-ouw selanjutnya bakal
menjadi dunia mereka ..." Tie Sie tertawa.
"Kakak In!"
kata Tie Sie, "Bukan aku sombong, sekalipun kita sudah tua.
tulang-tulang dan otot-otot kita masih belum terlalu tua, jika cuma
menghadapi sesuatu, kita masih dapat menggunakan kepandaian kita!
Kakak, buat apa kau angkat-angkat orang lain?"
"Meskipun
kau benar, saudara Tie," kata Ciam Liong, "Akan tetapi orang gagah
seperti si baju kuning barusan, belum pernah aku menemuinya. Mungkin
dia berimbang dengan Tiong-goan Tay-hiap (Jago ternama dari
Tiongkok) To Ho Jian. Aku kira orang lain tidak ada yang dapat
menimpalinya
In Kiam
menghela nafas. Para tamu lainnya diam. Tapi mendadak terlihat
seorang melompat turun dari payon rumah, dia langsung berkata dengan
lantang.
”Pemuda baju
kuning barusan terlalu sombong! Memang benar dia gagah, akan tetapi
jika dia mau disebut orang gagah nomor satu sekarang ini. aku bilang
sangat keliru. Sebab dia masih berbeda jauh sekali!"
In Kiam dan
semua tamunya keheranan. Orang itu mengenakan baju panjang berwarna
biru, bertubuh gemuk sekali, perutnya besar, kakinya pendek, hingga
dipandang seumumnya, dia mirip buah anggur.
"Aku kira
siapa, tak tahunya Souw Hian-tit!" kata In Kiam sambil tertawa
Ciam Liong
dan Tie Sie diam. Mereka tidak puas oleh lagak orang ini.
Mereka pun mengenali orang
pendek itu. dia seorang piauw-su (pegawai ekpedisH dari sebuah
piuw-kiok (perusahaan ekpedisi) di Kang-lam. Namanya dikenal juga
tapi tak terlalu tersohor.
Si kate
terokmok itu tertawa ketika dia berkata lagi, "In Loo-ya-cu, apakah
kau tidak tahu sekarang ini telah muncul seorang yang benar-benar
luar biasa? Kalau orang she Gim dibanding dengan dia. perbedaannya
sangat jauh!"
Ciam Liong
tidak puas hingga terpaksa dia buka mulut.
"Souw Sie
Peng!" kata Ciam Liong tawar. "Apakah kau pernah bertemu sendiri
dengan orang itu? Mengapa aku si orang tua belum pernah
mendengarnya? Siapakah dia?"
Sie Peng itu tertawa.
"Jika aku
belum melihatnya, mana berani aku menyebut-nyebut dia di hadapan
para Loo-cian-pwee?" kata Sie Peng.
Suara Sie
Peng tidak sedap didengar dan dengan mata dikecilkan dia melirik ke
arah Ciok Ciam Liong. Dia tertawa lalu dia menambahkan. "Kalau aku
mengatakannya, mungkin orang tidak akan percaya! Cukup apabila aku
menyebut tentang ilmu meringankan tubuhnya saja. Dia dapat melompat
tinggi lima tombak! Bagaimana Loo-ya-cu, tidakkah itu luar biasa?"
Alis si
jago tua In Kiam mengerut. Dia melengak.
"Seperti
apa romannya?" Tanya In Kiam. "Berapa usianya sekarang? Bukankah dia
pendek juga memelihara kumis dan jenggot panjang? Bukankah dia
bermuka lebar dan umurnya kira-kira lima puluh tahun lebih?"
Sie Peng
mengeluarkan kedua tangannya yang dia goyang-goyangkan.
"Bukan,
bukan!" sahut Sie Peng berulang-ulang. "Dia belum tua. bahkan
paling-paling baru berumur kira-kira dua puluh tahun saja. Romannya
tampan sekali, dan dia memakai pakaian kuning sama dengan pakaian si
pemuda she Gim. cuma tubuhnya sedikit lebih pendek dan lebih kurus."
In Kiam menghela napas.
"Kalau begitu
dia bukan Ho Jian adikku ..." kata In Kiam masgul.
Tie Sie jadi tertarik.
"Bukankah
dia memakai baju kuning panjang?" Tie Sie menegaskan.
Sie Peng
mengangguk berulang-ulang. Tapi Ciam Liong masih mendongkol.
"Kau telah
melihat orang itu." kata Ciam Liong. "Tapi apa kau tahu she dan
namanya? Apa kau kenal pribadi dengannya?"
Mulut Sie
Peng terbuka lebar Dia tertawa.
" Tapi aku
tidak tahu pasti!" kata Sie Penu. "Bicara sebenarnya, aku baru
pernah bertemu satu kali saja dengannya, aku tidak kenal padanya.
Hanya ketika itu aku sedang mengantar piauw (kiriman barang) dan
sedang lewat di gunung Gan-tong-san, mendadak
Ciam Liong
menjadi tidak sabaran, berulang kali terdengar suara dinginnya.
"Hm!" kemudian dia berkata singkat. "Kalau kau tidak kenal padanya,
kau tak usah mengatakannya lagi!"
Sie Peng
mempermainkan mulutnya, dia berpikir. "Tua bangka. jangan
bertingkah!" pikirnya. Buru-buru dia mengambil tempat duduk, untuk
minum dan makan.
Sang fajar
telah tiba, maka itu, obor-obor pun segera disingkirkan.
Kotak-kotak
kiriman nona-nona itu pun sekarang telah dibawa masuk ke dalam,
hingga di pedalaman terdengar kaum wanita memuji dan bertanya-tanya,
siapa yang mengantarkan bingkisan seistimewa itu
Dengan
tibanya sang pagi. tamu-tamu satu persatu pulang, cuma satu hal yang
sama yaitu di hati mereka, mereka terus memikirkan tentang lui-tay
di atas gunung Thian-bak-san. Hampir semua dari mereka berniat pergi
mengunjunginya, terutama bagi yang merasa dirinya pandai silat dan
mereka ingin mencoba keberuntungan mereka. Bagi mereka yang berhati
kecil akan datang hanya untuk menonton saja . . .
Tak lama
ruang pesta pun telah menjadi sepi. Di sana hanya terlihat tinggal
para pelayan saja. Mereka sedang sibuk merapikan ruangan. Beberapa
pelayan sedang repot menyajikan sebuah meja baru. Di sini tuan rumah
duduk berkumpul bersama sahabat-sahabatnya yang sudah berusia
lanjut. Tiong Teng ikut menemani ayahnya. Mereka melupakan rasa
kantuk, mereka asyik membicarakan urusan lui-tay itu, terutama
tentang si Tay-cu (Ketua) yang membangun lui-tay. Satu hal telah
diduga oleh In Kiam, Tay-cu itu pasti ada sangkut-pautnya dengan Un
Jie Giok, si Manusia Aneh
Rimba Persilatan yang dulu
sangat terkenal namanya terutama di selatan dan utara sungai besar.
(Maksudnya sungai Tiang-kang)
Hanya dalam
sebulan Dunia Kang-ouw digemparkan oleh berita tentang apa yang akan
terjadi di gunung Thian-bak-san dan telah muncuInya seorang nona
cantik dan kaya raya. Dia memiliki emas dan mutiara serta beberapa
"serdadu sakti".
Demikian
juga dijalan umum Kang-lam, hampir tidak putusnya orang berjalan
atau menunggang kuda. Mereka orang-orang Kang-ouw dan datang dari
berbagai Propinsi atau kota besar. Semua punya tujuan sama yakni
akan pergi ke Propinsi Kang-souw yang terletak di wilayah
pegunungan.
Ketika itu
sedang musim panas. Untuk sampai pada pertengahan bulan delapan,
ternyata masih sebulan lebih lagi. Tapi rumah-rumah penginapan di
sekitar Thian-bak-san sudah penuh terisi. Di tempat-tempat ramai
terlihat orang-orang membawa berbagai macam senjata tajam. Roman
mereka tampak gagah. Di lain pihak banyak yang bertemu musuh mereka.
Mereka telah bertempur sebelum acara dimulai hingga banyak yang
terluka bahkan binasa
Dengan
demikian pembesar negeri, terutama pihak keamanan jadi bertambah
kerjaan .
Ketika
bulan tujuh sudah lewat, suasana di tengah jalan jadi semakin ramai,
terutama di kota Lim-an. kota yang letaknys di sebelah kanan gunung
Thian-bak-san. Di kota Lim-an, di sebuah warung teh ramai suara
tamu-tamu. Sambil minum teh mereka berbincang-bincang.
Seorang
yang kepalanya botak dan bertubuh tinggi besar. In Loo Ngo berkata.
"Bukan aku hendak merendahkan kemampuan sendiri, tapi memang benar
anak muda berbaju kuning itu lihay sekali. Buktinya Sin Eng Koan It
Cay dikalahkannya sebelum sampai tiga jurus. Yo Lao-tee. ilmu pedang
Go Bie Pay memang lihay. tapi dibanding kepandaian anak muda itu.
masih jauh kehebatannya!" kata In Loo Ngo.
Si botak
bicara dengan salah satu di antara beberapa orang kawannya yang
duduk semeja dengannya. Sang kawan berada di sisinya, tubuhnya
kurus, matanya celong. air mukanya dingin. Dia menenggak arak, habis
itu, dia tersenyum.
"Kalau
demikian katamu. In Ngoko, kau pasti tak salah!" kata dia. "Cuma
sebaiknya Ngo-ko ketahui, beda dengan di lain tempat, di kota Lim-an
ini banyak orang lihay. Aku khawatir sekalipun dia gagah, sahabat
she Gim itu sulit untuk menjadi pemenang!"
In Loo Ngo tertawa
terbahak-bahak.
"Belum
tentu, Yo Lao-tee!" kata In Loo Ngo. "Sayang saat kejadian kau tidak
hadir, jika kau hadir, kau pasti menyaksikan sendiri, hingga aku tak
usah bicara lagi di sini. Benar aku tidak bohong!"
Suara In
Loo Ngo sangat keras hingga menarik perhatian orang banyak. Dia
tidak menghiraukan mereka itu, dia minum dan makan. Ketika dia
berpaling ke arah pintu, dia lihat datangnya dua orang baru. Dia
terperanjat sampai hampir saja dia kesimpatan.
Orang-orang
melihat dua orang baru itu. dalam sepuluh, sembilan dari mereka
bangun, untuk menyapa dan mengundang mereka duduk di meja mereka
masing-masing. Touw Eng bahkan bangun dan menghampirinya.
"In Loo-ya-cu!"
dia memanggil. "Oh. Loo-ya-cu pun datang? Silakan duduk di mejaku!"
Memang dua
orang itu ialah In Kiam bersama Tiong Teng, anaknya. Mereka melihat
ke sekitarnya, lalu mengangguk pada orang banyak, kemudian mereka
duduk di meja In Loo Ngo. Tiong Teng kelihatan tidak puas. Ada satu
orang yang duduk terus, tidak menyapa dan tidak bergerak. Dia awasi
Loo Ngo dan bertanya, "Saudara, siapa saudara ini? Sungguh aku asing
benar padanya!"
In Loo Ngo
memanggil pelayan untuk menambah cangkir dan araknya, kemudian dia
menoleh pada Tiong Teng sambil tertawa.
"In Toa-ko.
mari aku perkenalkan kau dengan seorang sahabat yang sudah ternama!"
kata In Loo Ngo.
Kemudian ia
awasi orang yang duduk diam saja itu seraya berkata lagi, "Yo
Lao-tee, tahukah kau siapa yang sedang duduk di depanmu ini? Mereka
Loo-ya-cu bergelar To-pie Sin-kiam In Kiam dan ini In Toa-ko yang
bergelar Jin Gie Kiam-kek."
In Loo Ngo
tertawa, sebelum memperkenalkan mereka.
"Yo Lao-tee ini Yo Cin bergelar
Yo It Kiam. murid pertama dari Partai Ngo (Go) Bi Pay yang namanya
tersohor di seluruh Tanah Siok! Ha, ha. ha. ha. tidak kusangka
kalian belum saling kenal satu sama lain, hingga tak kusangka,
akulah yang mengajar kenal kalian berdua!"
To-pie Sin-kiam In Kiam
tersenyum.